Ceritasilat Novel Online

Rahasia Peti Wasiat 5

Eps 5 Rahasia Peti Wasiat - Gan KL

Baca online Rahasia Peti Wasiat - Gan KL

Cersil Rahasia Peti Wasiat - Gan KL.

Langsung ia menuju keluar kota mengikuti jalan raya, tidak lama kemudian, benar juga terlihat sebuah sungai, tertampak di kedua sisi tanggul sungai ada belasan rumah penduduk, ia pikir orang-orang ini tentu kaum nelayan yang biasa menangkap ikan dan pecut, segera ia datangi rumah-rumah penduduk itu.

Baru sampai di depan rumah-rumah itu, terdengar di tepi sungai sana ada orang berteriak.

"Aha, bagus, akhirnya berhasil menangkap seekor!"

Karena teriakan itu, serentak banyak orang berlari ke sana sembari berteriak senang.

"Wah, besar amat pesut ini. Ai, Malotia, mujur benar nasibmu, pesut ini sedikitnya laku terjual dua tahil perak."

Meski It-hiong pernah juga makan daging pesut, tapi belum pernah melihat bagaimana bentuk pesut hidup, segera ia melarikan kudanya ke sana.

Setiba di tepi sungai, ia turun dari kudanya dan ikut berjubel di tengah kerumunan orang banyak, dilihatnya seekor pesut telah diseret ke tepi sungai, panjang pesut itu hampir satu meter, tubuhnya bulat, bagian perut melembung, bentuknya jelek.

Akan tetapi Ma-lotia atau bapak Ma yang menangkapnya kelihatan kegirangan serupa menemukan benda mestika.

"Ayo, lekas, bawa pesut ini ke tempat Wi-cengcu,"

Seru seorang.

"Wah, jangan, sudah terlambat,"

Tukas seorang lagi.

"Terlambat katamu?"

Tanya seorang lain.

"Ya, sekarang kan sudah lewat tengah hari?"

Ucap orang kedua tadi.

"O, maksudmu sudah lewat waktunya perjamuan tengah hari?"

"Betul."

"Wah, benar juga. Sungguh sayang. Bilamana tertangkap dua jam yang lalu tentu keburu dijual kepada Wi-cengcu."

"Tidak menjadi soal, boleh dijual saja kepada restoran di kota, tetap mendatangkan rezeki."

"Hei, Ma-lotia, hendak kau jual ke mana?"

Demikian tanya seorang penduduk.

"Kupikir akan kujual kepada Wi-cengcu saja,"

Ucap Ma-lotia dengan tertawa.

"Akan tetapi dia menjamu tamu pada siang hari ini, sudah terlambat jika diantar sekarang."

"Tidak apa-apa,"

Ujar Ma-lotia.

"Biarpun tidak pesta juga Wicengcu biasa membeli, apalagi pesut sebesar ini."

"Betul juga, lekas kau antar ke sana,"

Seru yang lain.

"Ya, akan kucari dulu karung kosong,"

Ujar si kakek dan segera berlari pulang ke rumahnya. Liong It-hiong mendekati seorang tua dan coba tanya.

"Numpang tanya Lotiang, orang macam apakah Wi-cengcu itu?"

Si kakek memandangnya sekejap, lalu balas bertanya.

"Saudara cilik ini bukan penduduk daerah sini?"

"Ya, kudatang dari Kanglam,"

Jawab Bun-hiong.

"Pantas engkau tidak kenal siapa Wi-cengcu,"

Tutur kakek itu.

"Beliau adalah tokoh terkenal di daerah kami sini, seorang hartawan besar, orangnya juga berhati baik, suka menolong orang miskin dan membantu yang kesukaran, bulan yang lalu beliau malahan menyumbang seribu tahil perak untuk membangun sebuah jembatan."

"Jika demikian, jelas Wi-cengcu itu seorang dermawan, entah di mana tempat tinggalnya?"

Tanya It-hiong.

"Perkampungan tempat tinggalnya itu bernama Liong-coanceng, hanya belasan li dari sini,"

Tutur si kakek.

"Apakah hari ini dia mengadakan pesta?"

Tanya It-hiong pula.

"Betul, hari ini adalah ulang tahun Wi-cengcu yang ke-60,"

Tutur orang tua itu.

"Kabarnya ada beberapa ratus orang akan menyampaikan ucapan selamat ke Liong-coan-ceng, beberapa hari yang lalu beliau sudah memberi pesan agar berusaha menangkap beberapa ekor pesut, sungguh tidak kebetulan, selama beberapa hari ini cuma tertangkap dua-tiga ekor yang kecil dan baru sekarang tertangkap seekor sebesar ini."

Tengah bicara Ma-lotia sudah berlari kembali dengan membawa sebuah karung goni, beramai-ramai orang banyak membantunya memasukkan pesut itu ke dalam karung dan diikat dengan baik, lalu diterobos dengan sebuah pikulan.

"Jisiaucu, ayolah bantu gotong pesut ini ke Liong-coan-ceng,"

Seru Ma-lotia. Seorang pemuda tanggung berkepala borokan mendekat dan bertanya.

"Bisa minum arak tidak?"

"Tentu, sesudah terima uang, akan kutraktir minum sepuasnya,"

Ujar Ma-lotia.

"Ayolah kubantu,"

Kata pemuda itu.

It-hiong tidak menghiraukan mereka lagi, ia mencemplak ke atas kudanya dan dilarikan ke arah selatan.

Ia yakin Hui Giok-koan pasti berkunjung ke Liong-coan-ceng untuk memberi selamat kepada Wi-cengcu, sedangkan pesta ulang tahun Wi-cengcu itu diselenggarakan pada siang hari ini, maka dirinya harus cepat menuju ke sana, sebab sekarang sudah lewat tengah hari, mungkin pesta itu hampir bubar.

Bilamana hubungan Hui Giok-koan dengan Wi-cengcu kurang erat mungkin sehabis pesta akan terus mohon diri.

Dan kalau telanjur pergi, tentu tidak gampang lagi untuk mencarinya.

Sebab itulah langsung ia melarikan kudanya menuju Liongcoan-ceng.

Hanya sepertanak nasi lamanya sudah tibalah dia di tempat tujuan.

Ternyata Liong-coan-ceng bukan perkampungan biasa melainkan terhitung sebuah kota kecil karena banyak tempat wisata di tempat ini, terutama ada tempat mandi air belerang, maka di tempat ini banyak tersedia sarana bagi kaum pelancong seperti hotel, restoran dan sebagainya, sungguh sebuah kota yang ramai.

It-hiong mendapatkan sebuah hotel, kuda diserahkan kepada pelayan, lalu ia cari keterangan tentang tempat tinggal Wicengcu.

Kiranya tempat kediaman Wi-cengcu terletak di pinggir kota, dekat kaki gunung.

Segera ia berjalan kaki ke sana, dari jauh tertampak suatu kompleks bangunan di kaki gunung sana.

Sebuah jalan batu lurus menembus ke pintu gerbang perkampungan yang bergapura besar dengan papan bertulis empat huruf besar yang berarti "Keluarga Dermawan".

Sangat megah bangunan gapura itu, di kedua samping gapura adalah sederetan tembok berwarna merah, kelihatan memang keluarga yang kaya raya.

Saat itu suasana kompleks perumahan ini kelihatan riang gembira, suasana pesta pora dengan macam-macam hiasan, di luar pintu gerbang banyak berparkir kereta kuda, tandu dan puluhan ekor kuda.

Jelas kendaraan para tamu.

Orang di dalam perkampungan hilir mudik kian kemari tiada hentinya, suara riuh gemuruh, melihat gelagatnya pesta belum lagi usai.

Liong It-hiong tidak bermaksud masuk ke perkampungan itu, sebab ia tidak kenal orang macam apakah Wi-cengcu itu, ia pun tidak ingin kedatangannya dilihat oleh Hui Giok-koan, maka ia mengambil keputusan akan menunggu saja di luar perkampungan, nanti kalau Hui Giok-koan keluar, lalu akan dikuntitnya.

Sebab menurut perkiraannya, tidak mungkin Hui Giok-koan menyampaikan ucapan selamat kepada Wi-cengcu dengan membawa kotak hitam itu melainkan pasti disembunyikan di suatu tempat, maka kalau ingin merampas kembali kotak itu harus menunggu selesai Hui Giok-koan menghadiri pesta itu dan membuntutinya secara diam-diam.

Ia coba mengamat-amati keadaan sekitarnya, dilihatnya di sebelah kiri jalan sana adalah hutan yang cukup lebat, di antaranya ada sebatang pohon cemara tua dan tinggi, dari atas pohon itu dapat mengintai keadaan di dalam perkampungan serta jalan di luar kampung.

Segera ia menyelinap ke dalam hutan, ia melompat ke atas pohon cemara itu dan menongkrong di suatu dahan pohon yang teraling oleh daun lebat.

Tak terduga, baru saja ia duduk di dahan pohon, mendadak dari sebelah atas ada orang menegurnya.

"Hei, saudara cilik, kau mau apa datang ke sini?"

Tentu saja It-hiong kaget karena sama sekali tidak menyangka di atas pohon itu sudah ada orang. Cepat ia mendongak dan balas menegur.

"Siapa itu?!"

Setelah diawasi barulah diketahui pada sebuah dahan lain di bagian atas sana juga menongkrong seorang tua yang bertubuh tinggi besar.

Usia kakek ini antara 57-58 tahun, badan gemuk dan muka bulat serupa Buddha tertawa yang gendut itu, kepalanya botak plontos, hanya sekitar pelipis ada sedikit rambut pendek keriting sehingga mirip ikat kepala.

Baju orang tua ini terlebih aneh, hanya memakai sepotong baju kulit macan tutul yang tak berlengan, celana yang dipakainya berwarna kelabu dan berkaki telanjang, bentuknya seperti seorang pemburu.

Tapi sekali pandang saja Liong It-hiong lantas yakin orang tua ini pasti seorang tokoh persilatan kelas tinggi, sebab dahan pohon yang didudukinya itu sangat kecil, namun tubuhnya yang gede itu ternyata seringan kapas tanpa membuat dahan kecil itu melengkung ke bawah, ini menandakan Ginkang kakek gendut ini pasti luar biasa.

Meski kejut dan heran di dalam hati, namun It-hiong tidak gentar, sebab ia tahu jika orang bersembunyi di atas pohon, tentu bukan orang dari Liong-coan-ceng.

Setelah menenangkan perasaannya, dengan tertawa It-hiong lantas bertanya.

"Numpang tanya, siapa nama Locianpwe yang terhormat?"

Kakek berbaju kulit macan itu tertawa lebar, jawabnya.

"Eh, kita tidak perlu saling memberi tahu nama masing-masing, jadi?"

"Baik,"

Jawab It-hiong tertawa.

"Tapi apakah boleh kutahu untuk apa Locianpwe bersembunyi di atas pohon?"

"Jika aku yang tanya padamu akan kau jelaskan atau tidak?"

Si kakek balas bertanya. It-hiong melengak, tapi dengan tersenyum ia menjawab.

"Akan kujelaskan, yaitu menunggu orang di sini."

"Menunggu siapa?"

Tanya si kakek berbaju kulit macan. It-hiong mengangkat bahu.

"Wah, maaf, tak dapat kukatakan."

"Hehe, jika begitu, boleh juga kujelaskan, aku pun sedang menunggu orang, soal siapa yang kutunggu, hehe, juga tidak dapat kukatakan."

Lalu si kakek menunjuk sebuah dahan kecil di sebelahnya dan berkata pula dengan tertawa.

"Kenapa engkau tidak nongkrong saja di sini?"

It-hiong tahu orang hendak menguji kemampuannya, dengan sendirinya ia tidak mau dipandang lemah, dengan suatu lompatan ringan dapatlah ia mencapai dahan itu dan duduk di situ dengan santainya.

Dahan itu pun tidak melengkung sama sekali.

Air muka si kakek tampak rada berubah, ia manggut-manggut sebagai tanda memuji, katanya.

"Boleh juga, anak muda seperti dirimu mempunyai kepandaian sehebat ini."

"Terima kasih,"

Jawab It-hiong.

"Mengapa engkau tidak masuk ke perkampungan sana?"

Tanya pula si kakek.

"Dan Lotiang (bapak) sendiri kenapa tidak masuk ke sana?"

Ithiong balas bertanya.

"Sebab aku tidak kenal Wi Ki-tiu, tidak ada sesuatu hubungan apa pun."

Jawab si kakek berbaju kulit macan.

"Sama, Cayhe pun begitu,"

Kata, It-hiong. Si kakek memandangnya sejenak dengan tajam, lalu berucap pula dengan tersenyum.

"Tapi jika kau mau masuk ke sana untuk mengucapkan selamat ulang tahun, mereka pasti takkan menolak kedatanganmu."

"Ya, tapi Cayhe tidak bermaksud masuk ke sana untuk mengucapkan selamat,"

Ujar It-hiong. Si kakek diam sejenak, lalu tanya lagi.

"Orang yang kau tunggu itu kawan atau lawan?"

"Bukan kawan, juga bukan lawan."

Tutur It-hiong.

"Habis orang macam apa dan ada hubungan apa denganmu?"

"Kalau kita tidak perlu saling memberi tahu nama masingmasing, bagaimana kalau kita juga tidak saling tanya maksud kedatangan kita, oke?"

"Baik,"

Si kakek tertawa.

"Coba lihat, ramai sekali pesta di sana."

Suasana di tengah Liong-coan-ceng memang sangat ramai, dipandang dari atas pohon yang tinggi itu, tertampak jelas di pelataran perkampungan itu berjajar 50-60 buah meja perjamuan yang penuh dikelilingi tetamu, pelayan tampak sibuk membawakan hidangan kian kemari, suara tertawa tetamu riuh rendah menggema angkasa.

Setelah memandang sejenak, dengan tertawa It-hiong tanya.

"Apakah Locianpwe melihat orang yang engkau tunggu?"

"Tidak terlihat, cuma dia pasti berada di sana, tidak salah lagi,"

Ujar si kakek.

"Di tengah tetamu itu banyak tokoh dunia persilatan, bukan?"

Tanya It-hiong.

"Ya,"

Si kakek berbaju kulit macan mengangguk.

"Seorang hartawan yang terkenal berjiwa sosial ternyata banyak bergaul dengan tokoh dunia persilatan, ini menandakan Wi-cengcu sendiri pasti orang yang luar biasa,"

Ujar It-hiong.

"Ya, dia memang orang luar biasa, sebab ia sendiri tadinya juga tokoh dunia Lok-lim (rimba hijau alias kaum bandit), namanya tidak berada di bawah Oh Kiam-lam,"

Tutur si kakek.

"Oo, apa betul?"

It-hiong menegas.

"Tentu saja betul,"

Tutur si kakek dengan tertawa.

"Cuma dia sudah mengundurkan diri beberapa tahun yang lalu, tidak lagi melakukan pekerjaan membunuh dan membakar itu."

"O, Tuhanku, orang begini mana sesuai untuk disebut sebagai dermawan?"

Keluh It-hiong sambil menghela napas.

"Sebutan dermawan dipasang olehnya sendiri,"

Kata si kakek.

"Cuma akhir-akhir ini dia memang betul berbuat sedikit kebaikan, di sinilah letak kepintarannya. Bilamana seorang lebih dulu mencari jalan untuk memupuk kekayaan, kemudian mengasingkan diri di tempat lain, lalu muncul kembali dengan wajah yang tidak sama dan sengaja berbuat sedikit hal-hal yang kelihatan bajik untuk memperoleh pujian, orang, maka seterusnya dapatlah dia hidup aman tenteram dengan sebutan dermawan."

"Jika begitu, nama aslinya tentu bukan Wi Ki-tiu?"

Tanya Ithiong.

"Dia memang bernama Wi Ki-tiu dan berjuluk Kui-sui-poa (swipoa setan), cuma sekarang dia telah ganti nama menjadi Co-im (amal leluhur)."

"Wah, jika dia berjuluk Kui-sui-poa, itu menandakan dia ahli berhitung dan tidak mau rugi,"

Ujar It-hiong.

"Selain begitu, dia memang juga menggunakan swipoa sebagai senjata,"

Tutur si kakek berbaju kulit macan tutul.

"Malahan biji swipoanya dapat dilepaskan dan digunakan sebagai senjata rahasia. Kepandaiannya memang tidak rendah, selama berpuluh tahun dia malang melintang di kalangan Lok-lim daerah utara tanpa ketemukan tandingan yang berarti."

"Mungkin sekali dia tidak sungguh-sungguh mengundurkan diri,"

Kata It-hiong.

"Oo, apa dasarnya?"

Tanya si kakek.

"Bilamana benar dia sudah cuci tangan dari pekerjaannya dulu, seharusnya dia jauh meninggalkan pergaulan dengan tokoh dunia persilatan dan tirakat di tempat terpencil. Tapi sekarang dia mengadakan pesta ulang tahun ke-60 dan datang sekian banyak tokoh persilatan untuk mengucap selamat kepadanya, ini menandakan dia tidak pernah benarbenar mengundurkan diri."

"Ya, mungkin betul begitu, tapi masih ada alasan lain, yaitu dengan menggunakan kesempatan ini dia hendak menarik keuntungan sebanyak-banyaknya."

"Keuntungan sebanyaknya bagaimana?"

Tanya It-hiong.

"Kau tahu tokoh dunia persilatan yang datang mengucapkan selamat kepadanya kebanyakan adalah bekas anak buahnya dahulu,"

Tutur si kakek.

"Melihat betapa banyak tamu yang hadir itu, bilamana separuh di antaranya adalah kawan segolongannya, umpama saja ada 300 orang, kalau seorang menyumbang 100 tahil, maka sekaligus dia akan bertambah kaya 30 laksa tahil perak."

"Ya, betul juga,"

Tukas It-hiong.

"Padahal biaya perjamuannya yang 60 meja itu takkan lebih dari seribu tahil perak."

"Betul, belum lagi sebagian tetamu yang lain, sedikit banyak juga ada yang menyumbang, maka dapat dipastikan hari ini dia mendapat untung besar,"

Kata si kakek.

"Hah, pantas dia mau memberi derma untuk membangun jembatan, rupanya dia mempunyai sumber rezeki sendiri,"

Ujar It-hiong.

"Lihat itu, Kui-sui-poa Wi Ki-tiu sudah keluar,"

Seru si kakek tiba-tiba.

Waktu It-hiong memandang ke sana, benar juga dilihatnya seorang tua dengan pakaian mentereng di bawah iringan beberapa orang tampak keluar perkampungan besar itu, lalu berdiri di sisi pintu gerbang, melihat gelagatnya dia siap mengantar kepergian para tamunya.

"Kakek berpakaian perlente itukah Kui-sui-poa Wi Ki-tiu?"

Tanya It-hiong.

"Betul,"

Jawab si kakek.

"Tadi Locianpwe bilang tidak kenal Wi Ki-tiu, mengapa sekali pandang dapat kau kenali dia sebagai Wi Ki-tiu?"

Tanya Ithiong pula.

"Bila pesta usai, tuan rumah harus mengantar sendiri kepergian tetamu, itulah sopan santun pergaulan, maka dapat kuterka dia pasti Wi Ki-tiu."

Dalam pada itu sudah ada tamu yang keluar, terlihat Kui-suipoa Wi Ki-tiu sibuk memberi salam mengantar keberangkatan tetamunya, sikapnya cukup hormat dan rendah hati.

"Ssst, jangan bicara lagi, marilah kita mengamati sasaran kita masing-masing."

Desis si kakek.

It-hiong mengangguk.

Tidak lama kemudian, para tamu berbondong-bondong keluar, ada yang menumpang kereta, ada yang naik kuda, ada pula yang naik tandu, sebagian berjalan kaki, semuanya melalui jalan batu yang lurus ini sehingga memanjang serupa pawai.

Dari atas pohon yang tinggi Liong It-hiong dan kakek berbaju kulit macan tutul itu dapat mengawasi setiap tamu itu dengan jelas.

Hanya orang yang menumpang tandu dan kereta saja yang tak dapat terlihat wajahnya, tapi Liong It-hiong yakin Hui Giok-koan pasti tidak menumpang kereta atau naik tandu, maka yang diperhatikannya hanya tamu yang naik kuda dan berjalan kaki.

Rupanya si kakek juga mempunyai pikiran yang sama, ia tidak memerhatikan orang yang menumpang kereta dan naik tandu.

Begitulah beramai-ramai beberapa ratus tamu itu beriring menelusuri jalan batu kecil itu menuju ke arahnya masingmasing, cukup lama juga barulah tetamu itu pergi seluruhnya.

It-hiong merasa kecewa, sebab di antara tetamu itu ternyata tidak ditemukan jejak Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan.

Sungguh aneh, apakah dia memang tidak hadir ke sini?

Rasanya tidak begitu, sebab menurut keterangan pelayan hotel yang ditanyai Liong It-hiong, jelas diketahui Hui Giokkoan membeli kado untuk ulang tahun kawannya, kawan yang dimaksud itu pasti Kui-sui-poa Wi Ki-tiu adanya.

Bisa jadi Hui Giok-koan menumpang kereta atau naik tandu?

Rasanya juga tidak, sebab si pelayan hotel bilang dia berangkat dengan berjalan kaki, bahkan tempat Wi Ki-tiu berjarak tidak jauh, tidak nanti dia berkendaraan.

Habis ke mana perginya?

Mengapa tidak tertampak bayangannya?

Mungkinkah sehabis mengucapkan selamat kepada tuan rumah lalu pergi lagi tanpa ikut dalam perjamuan?

Ini pun sangat tidak mungkin, kedatangannya ke Tengciu jelas karena ingin makan enak, yaitu menikmati daging pesut, mustahil kalau dia pergi lagi secara tergesa-gesa sebelum tercapai maksud tujuannya.

Atau, ini sangat mungkin, yaitu sebagai satu di antara ketujuh gembong kalangan hitam di daerah selatan, nama dan kedudukannya tentu lain daripada yang lain, maka dalam pesta Wi Ki-tiu ini tentu dia termasuk tamu yang terhormat, mungkin sekali Wi Ki-tiu akan menahannya agar tinggal lagi beberapa hari di tempatnya.

Berpikir sampai di sini, dalam hati Liong It-hiong sudah ada kepastian.

Dilihatnya si kakek berbaju kulit macan tutul itu juga sedang termenung bingung, jelas orang tua ini pun tidak melihat orang yang ditunggunya, maka dengan tersenyum It-hiong bertanya.

"Apakah orang yang Locianpwe cari itu tidak kelihatan muncul?"

Si kakek bekernyit kening, katanya.

"Ya, sungguh bedebah! Padahal berita yang kuterima sangat dapat dipercaya dan jelas mengatakan dia akan datang ke sini untuk mengucapkan selamat kepada Wi Ki-tiu."

"Bisa jadi terjadi perubahan mendadak, umpamanya ada urusan lain yang lebih penting dan dia tidak jadi kemari,"

Ujar It-hiong.

"Tidak, justru kuyakin dia pasti kemari,"

Kata si kakek.

"Dia adalah sahabat lama Wi Ki-tiu, tidak bisa tidak hadir."

"Atau, mungkin juga dia sudah pergi dengan menumpang kereta atau naik tandu,"

Kata It-hiong pula. Si kakek menggeleng kepala.

"Tidak, ia tidak suka menumpang kereta, apalagi naik tandu, biasanya ia cuma suka naik kuda."

Mendadak ia menatap It-hiong dan balas bertanya.

"Dan bagaimana dengan orang yang kau tunggu? Terlihat?"

"Tidak, ia pun tidak tampak batang hidungnya,"

Jawab Ithiong dengan menyengir.

"Mengapa bisa begitu?"

Tanya si kakek.

"Entah,"

It-hiong juga menggeleng kepala.

"Sekarang tetamu sudah pergi semua, apakah engkau hendak menunggu lagi di sini?"

Tanya si kakek.

"Tidak, segera aku mau pergi saja,"

Sembari bicara segera Ithiong bergaya hendak melompat ke bawah.

"Eh, nanti dulu!"

Seru si kakek.

"Ada apa?"

Tanya It-hiong, diam-diam ia menghimpun tenaga untuk menjaga segala kemungkinan.

"Begini,"

Kata si kakek.

"Bilamana kau mau katakan siapa orang yang hendak kau tunggu, bisa jadi aku dapat bantu mencarinya bagimu."

"Ah, terima kasih, kukira tidak perlu,"

Ujar It-hiong.

"Apakah tidak terpikir olehmu, orang yang hendak kau cari itu sangat mungkin masih ngendon di tempat Wi Ki-tiu?"

Ucap si kakek tiba-tiba.

"Oo ...."

It-hiong melenggong.

"Makanya kubilang jangan pergi dulu,"

Kata si kakek dengan tertawa.

"Marilah kita menunggu lagi, bila hari sudah gelap dan mereka belum juga muncul, malam nanti kita masuk ke sana untuk mencarinya."

Sesungguhnya memang sudah ada niat Liong It-hiong akan menyelidiki Liong-coan-ceng malam nanti, namun usul si kakek terasa di luar dugaannya, sahutnya dengan tertawa.

"Apakah Locianpwe merasa kita dapat melakukan operasi bersama?"

"Kalau bisa saling membantu, apa alangannya?"

Ujar si kakek.

"Mengapa Locianpwe tidak masuk saja sendirian ke sana?"

"Masuk sendirian ke sana juga tidak menjadi soal bagiku, tapi kalau bertambah seorang teman kan lebih baik?"

Ujar si kakek.

"Nah, bagaimana, mau?"

It-hiong berpikir sejenak, katanya kemudian dengan mengangguk.

"Baik malam ini biar kita operasi bersama, akan kita selidiki perkampungan itu."

Si kakek tampak sangat senang, katanya dengan tertawa.

"Kepandaianmu tidak rendah, makanya kuajak kerja sama denganmu. Engkau anak murid dari perguruan mana?"

"Ah, asal usul diriku ini hina dina, tidak pernah berguru dan juga tidak masuk sesuatu aliran,"

Jawab It-hiong.

"Masa? Kukira engkau terlampau rendah hati,"

Ucap si kakek.

"Tampaknya Kungfumu pasti tidak di bawah Liong-hiap Liong It-hiong."

"Haha,"

It-hiong tergelak.

"Mana kuberani dibandingkan Liong-hiap Liong It-hiong. Orang kan pendekar termasyhur, sedangkan Cayhe cuma seorang keroco. Eh, Locianpwe kenal Liong-hiap Liong It-hiong?"

"Tidak, tidak kenal,"

Jawab si kakek.

"Cuma pernah kudengar kabar bahwa dia adalah toko angkatan muda yang paling menonjol. Terakhir kudengar dia pernah mengalahkan Kiong su-sing Sun Thian-tik, tampaknya dia memang punya Kungfu sejati."

"Locianpwe dengar dari siapa?"

Tanya It-hiong berlagak pilon.

"Kudengar di rumah makan."

"Ya, aku pun pernah dengar cerita seperti itu. Cuma kabarnya cara Liong It-hiong mengalahkan Kiong-su-sing Sun Thian-tik tidak dengan ilmu silat melainkan keduanya main catur dengan taruhan sebilah pedang mestika."

"Oo, kiranya begitu,"

Si kakek tercengang.

Selagi It-hiong hendak bicara pula, tiba-tiba terlihat si nelayan tua Ma-lotia bersama anak tanggung Jisiaucu menggotong karung yang berisi pesut itu lagi mendatangi melalui jalan di kaki gunung.

"Itu dia, ada orang datang,"

Desis It-hiong menuding ke sana. Si kakek melongok ke sana, katanya.

"Mereka bukan tetamu."

"Ehm, melihat dandanan yang tua, tampaknya seperti seorang nelayan,"

Ujar It-hiong.

"Entah barang apa yang mereka gotong itu?"

"Ya, entah apa?"

Kata si kakek.

"Mungkinkah pesut?"

Tukas It-hiong. Terbeliak mata si kakek.

"Pesut? Ehm, betul juga, Wi Ki-tiu memang terkenal gemar makan daging pesut, setiap nelayan di daerah sini bila berhasil menangkap pesut pasti membawanya ke sini untuk dijual kepadanya."

"Tampaknya Locianpwe sangat jelas terhadap segala sesuatu sifat Wi Ki-tiu,"

Kata It-hiong dengan tertawa.

Si kakek berbaju kulit macan tutul itu tidak menanggapi, mendadak ia melayang turun ke bawah dan melangkah cepat ke sana mengadang di depan Ma-lotia, dengan kereng ia menegur.

"Hei, ini jalan menuju Liong-coan-ceng, kalian berdua hendak ke mana?"

Ma-lotia mengira dia orang Liong-coan-ceng, ia berhenti dan menjawab dengan tertawa.

"Kami justru hendak ke tempat kalian."

Si kakek berbaju kulit macan berlagak garang dan bertanya lagi.

"Untuk apa kalian ke sana?"

"Ini, kami berhasil menangkap seekor pesut besar dan hendak dijual kepada Wi-locengcu,"

Tutur Ma-lotia alias si kakek Ma.

"Pesta ulang tahun Cengcu sudah usai, mungkin Cengcu tak mau membeli lagi,"

Kata si kakek berbaju kulit macan.

"Tentu akan dibeli, Wi-cengcu sering memberi pesan, bila berhasil menangkap pesut boleh antar kemari kapan pun,"

Ujar Ma-lotia.

"Lantas akan kau jual berapa duit?"

Tanya si kakek berbaju kulit macan. Ma-lotia tertawa.

"Ah, masa hamba berani pasang harga segala, Wi-cengcu adalah langganan kami, terserah beliau mau memberi berapa."

"Tampaknya tidak kecil pesut ini,"

Kata si kakek berbaju kulit macan.

"Bagaimana kalau kubayar lima tahil perak?"

Sebenarnya Ma-lotia hanya ingin menjual dua tahil perak saja, sekarang orang mau membayar lima tahil, keruan jauh melampaui harapannya, berulang ia mengangguk, katanya dengan tertawa.

"Boleh, boleh!"

Si kakek lantas menyodorkan sepotong uang perak lima tahil, katanya.

"Di tempat kami masih ada sebagian tamu yang belum pergi, kalian tidak perlu masuk ke sana, pesut ini serahkan saja kepadaku."

Tentu saja Ma-lotia kegirangan, berulang ia menyatakan terima kasih, karung berisi perut itu lantas ditaruh di atas tanah.

"Tinggalkan juga pikulanmu, sebentar akan kusuruh orang menggotong ke sana,"

Kata si kakek baju kulit macan.

Setelah mendapat lima tahil perak, dengan sendirinya Ma-lotia tidak keberatan meninggalkan pikulan dan karungnya, apalagi syarat jual-beli juga terjadi begini mudah dan menguntungkan baginya.

Berulang ia mengucapkan terima kasih pula, lalu tinggal pergi bersama kawannya.

Setelah kedua orang itu pergi, segera si kakek berbaju kulit macan mengangkat karung itu dan cepat menyusup masuk lagi ke dalam hutan.

It-hiong sudah dapat meraba maksud tujuan si kakek membeli pesut itu, jelas karena ingin menyamar dan supaya dapat masuk ke Liong-coan-ceng, diam-diam ia memuji.

"Tua bangka ini tampaknya kasar, rupanya juga banyak tipu akalnya."

Dalam pada itu si kakek telah menjinjing karung goni itu dan melompat lagi ke atas pohon, karung berisi pesut itu digantung di antara cabang pohon, lalu mendongak dan berkata kepada It-hiong dengan tertawa.

"Saudara cilik, kau mau makan daging pesut tidak?"

It-hiong tersenyum.

"Masa Locianpwe sudi mengundangku makan?"

"Ya, jika kau mau, nanti kita makan sepuasnya,"

Ujar si kakek tertawa.

"Ah, sudahlah,"

Ucap It-hiong.

"Ada maksudku hendak menyamar sebagai nelayan untuk menjual pesut ini kepada Wi Ki-tiu, kau berani ikut masuk ke sana atau tidak?"

Tanya si kakek.

"Kenapa tidak berani?"

Jawab It-hiong.

"Cuma, engkau tidak khawatir akan dikenali?"

"Kita dapat merias dan berganti rupa,"

Ujar si kakek.

"Ya, betul, harus mengubah dulu wajah kita, tapi apakah Locianpwe membawa alat-alat rias?"

Tanya It-hiong.

"Biarlah kita mencari suatu rumah penduduk dan membeli dua potong baju bekas, lalu ditambah sebuah caping, kan beres?"

"Setelah masuk ke sana, lalu apa yang akar kita lakukan?"

"Tujuanku hanya ingin tahu orang yang kucari itu berada di sana atau tidak. Kalau ada malam nanti akan kumasuk lagi ke sana Kalau tidak ada, ya tidak perlu repot lagi pergi ke sana."

"Baik, kalau begitu marilah kita menyamar,"

Ucap It-hiong.

Kedua orang lantas menerobos keluar hutan dan menuju ke suatu kampung yang terletak agak jauh sana.

Tidak lama, mereka sudah kembali lagi ke kaki gunung di dekat Liong-coan-ceng.

Kini keduanya sudah menyamar sebagai kaum nelayan, keduanya sama memakai caping, muka dan tangan diberi hangus hingga kelihatan hitam kotor, biarpun orang yang kenal mereka, kalau bertemu sekarang, bila tidak diawasi dengan teliti juga akan pangling.

Si kakek berbaju kulit macan itu melompat lagi ke atas pohon dan menurunkan karung berisi pesut itu, katanya.

"Marilah kita gotong ke sana."

Begitulah kedua orang lantas menggotong pesut itu menyusuri jalan batu itu menuju ke Liong-coan-ceng.

Hanya sebentar saja mereka sudah sampai di depan perkampungan itu.

Seorang centeng melihat kedatangan mereka dan segera memapak serta menegur.

"Apa yang kalian bawa?"

Si kakek menurunkan pikulannya dan menjawab dengan membungkuk hormat.

"O, pesut, kabarnya Wi-cengcu suka beli pecut, kebetulan hari ini kami berhasil menangkap seekor yang besar dan sengaja kami antar kemari."

Centeng itu mendepak perlahan karung yang berisi pesut itu.

"Wah, memang benar cukup besar. Cuma kedatangan kalian agak terlambat, pesta sudah bubar baru kalian antar kemari."

Si kakek berlagak kecewa.

"Wah, lantas bagaimana, tidak mau terima?"

"Coba tunggu dulu, akan kutanyakan,"

Kata si centeng. Lalu ia masuk ke dalam. Tidak lama keluarlah seorang Lokoankeh (kepala rumah tangga), ia suruh si kakek berbaju kulit macan membuka ikatan karung, sesudah memeriksa pesutnya ia tanya.

"Baru saja tertangkap?"

"Ya, ya,"

Jawab si kakek. Lokoankeh memberi tanda.

"Baik, gotong masuk saja!"

Si kakek mengiakan, cepat ia mengikat erat lagi karung goni itu dan bersama Liong It-hiong menggotongnya dan ikut masuk ke dalam perkampungan bersama Lokoankeh.

Dalam hati kedua orang sama rada kecewa, sebab melihat gelagatnya mereka hanya dapat berhubungan dengan Lokoankeh saja dan tidak diberi kesempatan bertemu dengan Kui-sui-poa Wi Ki-tiu pribadi.

"Kalau tidak dapat bertemu dengan Wi Ki-tiu, itu berarti juga tidak mungkin dapat bertemu dengan orang yang mereka cari sehingga perjalanan mereka ini hanya sia-sia belaka. Begitulah Lokoankeh membawa mereka melintasi pelataran yang luas dan memutar ke belakang sana, di situ terletak dapur. It-hiong pikir bilamana sampai di dapur, kesempatan untuk bertemu dengan Wi Ki-tiu dan tetamu yang lain tentu terlebih kecil. Tiba-tiba timbul akalnya, mendadak ia berteriak.

"Pesut, pesut besar! Ayolah lihat pesut besar!"

Karena gembar-gembor It-hiong, serentak banyak orang kampung sama berkerumun kemari hendak melihat. Lokoankeh tampak kurang senang, ia melototi It-hiong sekejap dan mengomel.

"Hus, ada apa berkaok-kaok?"

Tapi si kakek berbaju kulit macan itu sengaja melepaskan pikulannya malah, katanya dengan tertawa.

"Pesut sebesar ini memang jarang terlihat, tidak ada alangan biar ditonton sebentar oleh mereka."

Habis itu ia terus membuka ikatan karung hingga pesut terlihat jelas.

"Wah, besar amat pesut ini!"

"Ya, sungguh besar, sedikitnya ada 50 kati!"

"Pasti lebih!"

"Ini pesut harimau, betul tidak?"

"Ya, ini memang pesut harimau! Konon masih ada jenis pesut gajah!"

Begitulah macam-macam komentar orang kampung yang menonton itu, karena suara ramai inilah telah mengejutkan Kui-sui-poa Wi Ki-tiu yang sedang mengobrol dengan tetamunya di ruangan tamu sana, bersama kedua tamunya ia lantas keluar juga.

Kedua tamunya itu ternyata yang satu adalah Kiong-su-sing Sun Thian-tik dan yang lain ialah Hiat-pit-siucay Hui Giokkoan.

Girang sekali hati It-hiong melihatnya, tapi khawatir dikenali mereka, cepat ia melengos ke arah lain dan menunduk.

Kui-sui-poa Wi Ki-tiu adalah seorang kakek bermuka lebar dan bertelinga besar, sedikit pun tidak mirip orang yang licin dan licik.

Bisa lantaran sedang gembira berhubung ulang tahun ke 60, dia kelihatan berseri-seri, dengan tertawa cerah ia mendekat dan bertanya.

"Ada urusan apa?"

"Lapor Cengcu,"

Segera Lokoankeh tadi memberi hormat.

"kedua orang ini dapat menangkap seekor pesut besar, katanya hendak dijual kepada Cengcu, hamba pikir pesutnya memang besar, maka menyuruh mereka menggotong masuk ke sini."

Kui-sui-poa Wi Ki-tiu ikut melongok ke dalam karung, seketika ia merasa senang juga, katanya.

"Wah, memang pesut besar. Bagus, dibeli saja!"

Kiong-su-sing Sun Thian-tik dan Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan juga ikut berkerumun maju untuk melongok. Sun Thian-tik lantas bersorak juga.

"Aha, besar amat pesut ini! Wah, Wicengcu, mestinya aku sudah akan mohon diri, tapi sekarang rasanya berubah pikiran dan ingin merepotkanmu pula pada makan malam nanti."

"Hahaha, jika Sun-tayhiap sudi tinggal lagi di sini, tentu saja kusambut dengan senang hati,"

Seru Wi Ki-tiu dengan terbahak. Lalu ia pandang Hui Giok-koan dan menambahkan.

"Eh, apakah Hui-laute juga gemar makan daging pesut?"

"Betul,"

Jawab Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan dengan tertawa.

"Kedatanganku ke Tengciu selain untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada Wi-cengcu, sesungguhnya juga ingin makan pesut yang merupakan makanan khas daerah sini."

"Haha, bagus sekali, biarlah malam nanti kita bertiga minum arak dengan daging pesut,"

Seru Wi Ki-tiu dengan tertawa.

"Eh, saudara Giok-koan, orang bilang biji mata pesut sangat berbisa, apakah engkau berani makan matanya?"

Tiba-tiba Sun Thian-tik berseloroh dengan tertawa.

"Haha, asalkan Sun-heng berani makan, aku pasti juga berani,"

Jawab Hui Giok-koan. Seketika lenyap senyum Sun Thian-tik, ucapnya.

"Apa betul?"

"Tentu saja betul,"

Sahut Hui Giok-koan tanpa pikir.

"Baik, sekarang juga kita coba,"

Seru Sun Thian-tik penasaran. Dengan sendirinya Hui Giok-koan tidak mau dipandang lemah, kontan ia menjawab.

"Jadi!"

Segera Sun Thian-tik berpaling dan berkata kepada Wi Ki-tiu.

"Wi-cengcu, mohon engkau menjadi saksi, kami akan berlomba makan mata pesut, lihat saja nanti siapa yang tahan hidup dan siapa yang mati."

"Hahaha!"

Wi Ki-tiu tergelak.

"Jangan Sun-tayhiap berkelakar. Selama 60 tahun umurku belum pernah kudengar ada orang tidak mati makan mata pesut. Ayolah, kita mengobrol lagi di ruang tamu."

Habis bicara ia mendahului melangkah kembali ke tempat mengobrol semula.

Melihat tuan rumah tidak setuju pertandingan mereka, terpaksa Sun Thian-tik dan Hui Giok-koan hanya menyengir saja dan ikut masuk lagi ke ruang tamu.

Segera Lokoankeh tadi menyuruh si kakek dan Liong It-hiong menggotong pesut ke dapur, pesut dimasukkan ke dalam sebuah bak air, lalu bertanya.

"Berapa harganya?"

Si kakek menjawab dengan tertawa.

"Ah, terserah kemurahan hati juragan di sini, mana berani kupasang harga."

Lokoankeh menyodorkan dua tahil perak kepadanya dan berkata.

"Ini dua tahil perak, ambil saja!"

Cepat si kakek menerimanya dengan kedua tangan sambil mengucapkan terima kasih berulang-ulang.

"Baiklah, sekarang kalian boleh pulang,"

Kata Lokoankeh.

"Selanjutnya kalau dapat menangkap pesut lagi boleh antar saja kemari."

Si kakek mengiakan dengan hormat, lalu berkata kepada Ithiong.

"Ayo, nak, kita pulang!"

Begitulah kedua orang lantas pamit, yang satu memegang pikulan dan yang lain membawa karung, mereka meninggalkan Liong-coan-ceng dengan lagak gembira ria.

Setiba di tempat sepi si kakek menyusup lagi ke dalam hutan diikuti oleh Liong It-hiong.

Si kakek berbaju kulit macan tutul duduk di bawah sambil melempar-lemparkan kedua tahil perak hasil jualan pesut tadi, ucapnya dengan tertawa.

"Keparat! Belinya lima tahil perak dijual cuma dua tahil perak. Berdagang cara begini mustahil takkan bangkrut setiap hari."

It-hiong tertawa.

"Tapi kuyakin Locianpwe pasti takkan rugi."

"Ya, betul juga, tentu aku akan untung dengan cara lain,"

Kata si kakek dengan tertawa gembira.

"Siapakah kedua lelaki setengah baya yang muncul bersama Wi Ki-tiu tadi?"

Tanya It-hiong sengaja.

"Yang seorang bernama Kiong-su-sing Sun Thian-tik dan yang lain berjuluk Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan."

"Ahh, kiranya mereka berdua,"

It-hiong berlagak melengak.

"Lantas orang yang mana di antara mereka yang hendak kau cari?"

Si kakek tertawa.

"Coba kau katakan lebih dulu, siapa di antara mereka berdua yang hendak kau cari?"

It-hiong menggeleng.

"Kedua-duanya bukan orang yang ingin kucari."

"Oo, jika begitu orang hendak kau cari mungkin tidak datang ke Liong-coan-ceng, atau dia sudah pergi di luar tahumu,"

Ujar si kakek. It-hiong berlagak kecewa, katanya.

"Ya, tampaknya nasibku lagi jelek ...."

"Sebaliknya orang yang ingin kucari sudah kulihat tadi,"

Kata si kakek berbaju kulit macan dengan tertawa.

"Oo, yang mana?"

Tanya It-hiong cepat.

"Coba kau terka,"

Kata si kakek.

"Hui Giok-koan yang berjuluk Hiat-pit-siucay itu?"

Tanya Ithiong pula.

"Bukan, tapi Sun Thian-tik!"

Tutur si kakek.

Sejak mula dalam hati Liong It-hiong lamat-lamat dirasakan orang yang hendak dicari si kakek sangat mungkin orang yang sama dengan dirinya, sekarang setelah mendengar yang dicari si kakek bukan Hui Giok-koan, hal ini rada di luar dugaan malah, pikirnya.

"Apakah dia bicara sejujurnya? Betulkah orang yang dia cari ialah Sun Thian-tik dan bukan Hui Giokkoan?"

Sekilas pikir, lalu ia tanya.

"Locianpwe ada permusuhan dengan Kiong-su-sing Sun Thian-tik?"

"Ya,"

Si kakek mengangguk.

"Cara bagaimana bisa bermusuhan?"

Tanya It-hiong pula.

"Dia membawa minggat istriku, maka ingin kucabut nyawanya,"

Tutur si kakek.

"Hah, kan aneh,"

Ujar It-hiong tertawa.

"Usianya jauh Lebih muda daripadamu, umur istri Locianpwe tentu juga tidak muda lagi, masa dia membawa lari istrimu?"

"Istriku justru masih sangat muda, baru berumur likuran,"

Tutur si kakek dengan penuh rasa benci dan dendam.

"Wah, tentu sangat cantik, makanya Sun Thian-tik kepincut,"

Ujar It-hiong.

"Betul, istriku memang cantik molek, makanya Sun Thian-tik tergila-gila padanya, selagi aku tidak di rumah dia membawanya minggat."

"Sungguh perbuatan yang kotor dan rendah,"

Kata It-hiong.

"Begitulah, karena dia telah merusak rumah tanggaku, maka harus kubinasakan dia, tidak bisa tidak,"

Ucap si kakek dengan geregetan.

"Dan ketika melihat dia tadi, kenapa Locianpwe tidak segera turun tangan?"

Tanya It-hiong.

"Tidak boleh, kutahu kepandaiannya tidak rendah, apalagi dia menjadi tamu di Liong-coan-ceng, dalam keadaan begitu bila kulabrak dia tentu akan gagal total,"

Ujar si kakek.

"Lantas, cara bagaimana Locianpwe akan bertindak terhadapnya?"

Tanya It-hiong.

"Malam nanti dia tentu masih tinggal di tempat Wi Ki-tiu, diam-diam aku menyelundup ke sana, setelah dia tidur, akan kupenggal kepalanya."

"Waktu masuk ke sana tadi telah kuperiksa keadaan perkampungan itu, melihat gelagatnya penjagaan mereka cukup ketat, usaha Locianpwe mungkin sulit terlaksana,"

Ujar It-hiong.

"Betapa pun aku harus mencobanya, sekalipun harus menyerempet bahaya,"

Kata si kakek tegas.

"Kenapa tidak tunggu saja sampai besok bila dia meninggalkan Liong-coan-ceng, kan dapat kau cegat dia di tengah jalan?"

"Tidak, rasanya aku tidak sabar lagi,"

Kata si kakek.

"Wah, sangat menyesal, karena orang yang kucari tidak berada di sana, terpaksa malam nanti tidak dapat kubantumu."

"Ya, tidak apa-apa, bolehlah kau pergi!"

Ujar si kakek. Melihat orang berubah sikap dan tidak menanggalkan baju bekas yang dipakainya dan berkata.

"Jika begitu, maaf, kumohon diri lebih dulu."

Si kakek menatapnya dengan tajam dan berkata dengan nada mengancam.

"Awas, jangan kau pergi ke sana dan memberitahukan padanya, jika terjadi demikian, tentu jiwamu pun akan kurenggut."

"Locianpwe jangan khawatir, sama sekali tidak ada hubungan apa pun antara Sun Thian-tik denganku, untuk apa kuberi tahukan kepadanya?"

Sahut It-hiong.

Habis berucap demikian ia lantas meninggalkan hutan itu dan pulang ke tengah kota.

Setiba di hotel ia pesan pelayan menyediakan semangkuk mi babat, habis makan ia lantas tidur.

Nyenyak sekali tidurnya, waktu bangun ternyata sudah dekat tengah malam.

Meski dalam waktu begini masuk ke Liong-coan-ceng dirasakan terlampau dini, tapi ia memutuskan akan berangkat lebih pagi, sebab ia mencurigai orang yang ingin dicari si kakek sangat mungkin adalah Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan, tujuannya bukan mustahil juga kotak hitam itu, sebab itulah ia tidak atau didahului orang.

Setelah ganti baju hitam, baju yang biasa digunakan untuk bekerja malam hari, ia selipkan pedang pandak yang dulu didapatnya dari Sun Thian-tik itu di pinggang, lalu membuka daun jendela, setelah yakin keadaan di luar sepi tiada orang, segera ia melompat keluar, melintasi pagar tembok belakang hotel terus menuju ke Liong-coan-ceng.

Hanya sebentar saja ia sudah sampai di kaki gunung dekat Liong-coan-ceng, ia tidak ingin kepergok si kakek berbaju kulit macan lagi, maka ia sengaja menyusup ke dalam hutan di sisi lain dan merunduk ke perkampungan itu.

Ia tiba di kaki tembok yang terletak agak jauh dari pintu gerbang, dengan ilmu "cecak merayap di tembok"

Ia merayap ke atas pagar tembok.

Dilihatnya di dalam perkampungan terang benderang oleh obor, masih banyak orang yang bergerak kian kemari, ia menaksir bila sekarang juga menyelundup ke dalam akan sulit menyembunyikan jejak, maka ia mundur kembali ke dalam hutan dan mendekam di semak-semak yang lebat.

Tak terduga, baru saja ia berjongkok, segera didengarnya suara orang berjalan yang sangat perlahan dari tengah hutan di belakangnya.

Dari suaranya dapat diduga terdiri dari dua orang pejalan malam.

Cepat It-hiong bersembunyi dengan menahan napas, sedikit pun tidak berani bergerak, diam-diam ia terkesiap.

"Buset! Rupanya selain aku dan si kakek berbaju kulit macan itu masih banyak pula orang lain yang hendak menyusup ke sana."

Tengah berpikir, suara kaki orang sudah sangat dekat, dilihatnya beberapa langkah di sebelah kiri sana muncul dua orang pejalan malam.

Sekali pandang dan tahu siapa mereka, hati It-hiong tambah terkejut, pikirnya.

"Sungguh aneh, mengapa mereka pun datang ke sini?"

Kiranya kedua orang ini tak-lain-tak-bukan ialah Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin adanya.

Kim-kong Taysu tetap membawa senjata tongkat dan Koh-ting Tojin tidak lagi membawa wajan antiknya, melainkan cuma memegang sebatang kebut bulu.

Dengan langkah enteng mereka menerobos keluar hutan serupa Liong It-hiong, mereka pun menggunakan ilmu cecak merayap untuk merambat ke atas pagar tembok dan melongok keadaan di dalam perkampungan.

Habis itu, sama juga kelakuan Liong It-hiong, mereka menyurut mundur lagi ke dalam hutan.

Kim-kong Taysu duduk di bawah pohon, ucapnya lirih.

"Masih dini, biarlah kita duduk sementara waktu di sini."

Koh-ting Tojin ikut duduk di sebelah Kim-kong Taysu, ia pun mendesis.

"Tadi tentunya Taysu melihat seorang centeng membawa semangkuk makanan ke dalam sebuah ruangan."

"Ya, kulihat,"

Kim-kong Taysu mengangguk.

"Melihat gelagatnya, Wi Ki-tiu dan tetamunya masih asyik makan-minum,"

Kata Koh-ting Tojin.

"Ehmm,"

Kim-kong Taysu bersuara perlahan.

"Kau kira Wi Ki-tiu mengetahui atau tidak tentang kotak hitam yang dirampas Hui Giok-koan itu?"

Tanya Koh-ting dengan tersenyum.

"Entah, sebaiknya dia belum tahu,"

Ujar Kim-kong Taysu.

"Jika dia tahu, menurut pendapatmu, apa yang akan dilakukannya?"

"Hm, masa perlu dijelaskan lagi, tentu dia akan menahan orang she Hui itu dan memaksa dia menyerahkan kotak pusaka itu."

"Jika terjadi demikian, mungkin kita harus lebih banyak membuang tenaga lagi,"

Ujar Koh-ting sambil meraba jenggotnya. Kim-kong Taysu mengangguk sependapat. Mendengar sampai di sini, timbul rasa kejut dan heran dalam hati It-hiong, pikirnya.

"Sungguh aneh, dari mana mereka mendapatkan berita ini sedemikian cepat? Padahal tentang direbutnya kotak hitam itu oleh Hui Giok-koan hanya diketahui aku dan Pang Bun-hiong berdua, lalu dari mana mereka mendapatkan kabar ini? Selain tahu Hui Giok-koan berhasil merampas kotak hitam itu, malahan mengetahui pula kedatangan Hui Giok-koan ke Liong-coan-ceng sini dan segera menyusul kemari."

Belum habis terpikir, terdengar Koh-ting Tojin berkata pula.

"Menurut penglihatanku, keparat she Wi itu resminya saja mengundurkan diri, tapi dia tetap bercokol di wilayah kekuasaannya serta membagi rezeki dengan begundalnya. Kuyakin dia pasti juga sudah menerima berita tentang kotak hitam yang direbut Hui Giok-koan itu."

"Jika begitu, malam nanti dia tentu akan bertindak terhadap orang she Hui,"

Ujar Kim-kong Taysu.

"Untungnya orang she Hui itu tidak selalu membawa kotak pusaka itu sehingga masih besar harapan kita akan mendapatkannya,"

Kata Koh-ting Tojin. Kim-kong Taysu tersenyum.

"Dari mana Toheng mengetahui dia tidak membawa kotak hitam itu?"

"Hal ini dapat kupastikan, mutlak dia tidak berani membawa kotak itu dan berkeluyuran kian kemari,"

Jawab Koh-ting sambil meraba jenggot pula, lalu menyambung dengan tersenyum penuh keyakinan.

"Apa pun juga, akhirnya kotak pusaka itu pasti akan kita dapatkan."

Kembali Kim-kong Taysu tersenyum.

"Mungkin Miau-lolo dan Sun Thian-tik berdua juga sudah mendapat kabar, kedua orang ini agak sulit dihadapi."

"Tapi mereka berdua pasti takkan bergabung untuk operasi bersama seperti kita,"

Kata Koh-ting Tojin.

"Maka biarpun mereka datang kemari, tetap kita lebih unggul."

Kim-kong Taysu memandang pagar tembok yang mengelilingi Liong-coan-ceng itu, katanya.

"Kapan kita akan masuk ke sana?"

"Sebentar lagi, tunggu setelah mereka tidur,"

Jawab Koh-ting Tojin.

"Padahal kukira kita tidak perlu bertindak secara sembunyisembunyi begini,"

Ujar Kim-kong Taysu.

"Lebih baik kita datang saja terang-terangan ke sana dan membekuknya, kan beres?"

"Tidak, jangan,"

Kata Koh-ting.

"Soalnya bukan kutakut Wi Kitiu akan ikut campur, tapi kita harus menjaga gengsi, betapa pun kita berdua dalam pandangan orang persilatan kan bukan kaum bandit atau penjahat umumnya?"

Kim-kong Taysu tersenyum, katanya.

"Tapi tindak tanduk kita sekarang masa ada bedanya dengan kaum bandit atau penjahat?"

Koh-ting Tojin angkat pundak.

"Memangnya engkau Kim-kong Taysu yang termasyhur berharap dipandang orang sebagai bandit?"

"Asalkan bisa mendapatkan kotak pusaka itu, jangankan akan dipandang orang sebagai bandit atau penjahat, biarpun nanti harus masuk neraka juga kurela,"

Ucap Kim-kong Taysu.

"Ya, aku juga sependapat denganmu,"

Ujar Koh-ting.

"Tapi bilamana kotak itu dapat kita rebut tanpa diketahui siapa pun kan terlebih baik buat kita?"

Kim-kong Taysu tidak membuka mulut lagi, tampaknya ia memejamkan mata sedang mengheningkan cipta.

Koh-ting Tojin lantas bangun dan menuju keluar hutan, kembali ia merambat pagar tembok dengan ilmu cecak merayap, sejenak kemudian setelah melongok keadaan dalam perkampungan itu, ia mundur kembali ke tempat semula dan berkata.

"Sontoloyo! Sudah jauh malam mereka masih makanminum."

Kim-kong Taysu tetap duduk dengan mata terpejam, ucapnya.

"Biarkan saja, sebaiknya kalau mereka minum sampai mabuk sehingga lupa daratan, dengan begitu tindakan kita nanti bisa berjalan lancar."

"Tampaknya di sana-sini cahaya lampu sudah dipadamkan, kukira kita sudah boleh mulai bergerak,"

Kata Koh-ting. Mendadak Kim-kong Taysu membuka mata.

"Toheng tidak sabar lagi dan ingin masuk ke sana tanpa menunggu setelah mereka tidur?"

"Jika kita masuk ke sana sekarang, kan dapat pula mendengarkan apa yang dipercakapkan mereka,"

Ujar Kohting Tojin.

"Soalnya aku merasa sangsi orang yang makan minum bersama Wi Ki-tiu itu sangat mungkin tidak cuma seorang Hui Giok-koan saja."

Kim-kong Taysu termenung sejenak, lalu berdiri dan berkata.

"Baik, mari kita berangkat sekarang!"

Begitulah kedua orang lantas keluar hutan dan merayap ke atas pagar tembok, setelah memeriksa keadaan sejenak, mereka terus melompat ke balik tembok sana.

Melihat kedua orang itu sudah menyusup ke dalam Liongcoan-ceng, It-hiong tidak menjadi cemas atau gelisah karena ketinggalan, sebaliknya ia rada senang malah, sebab dengan masuknya Koh-ting dan Kim-kong ke Liong-coan-ceng lebih dulu serupa juga dia mengirim dua pengintai yang akan mencarikan jalan baginya.

Siapa duga, baru saja timbul pikiran demikian, sekonyongkonyong terdengar suara bende dibunyikan bertalu-talu di dalam perkampungan luas itu.

Berbareng itu lantas ada orang berteriak-teriak.

"Maling, maling. Tangkap maling, tangkap!"

"Itu dia, di sana, jangan sampai lolos!"

"Kepung dia, bekuk dan hajar dia!"

Begitulah suara orang ramai disertai gonggong anjing di sanasini.

Tentu saja It-hiong melengak.

Padahal kepandaian Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin sudah pernah dilihatnya, kalau cuma soal menyusup ke dalam perkampungan saja tidak mungkin begitu saja kepergok orang.

Tapi sekarang baru saja mereka masuk ke sana seketika lantas kepergok, sungguh sukar dimengerti.

Malahan segera dilihatnya Koh-ting dan Kim-kong berdua buru-buru melintasi pagar tembok lagi dan cepat menyusup kembali ke dalam hutan dan bersembunyi di balik semaksemak yang lebat.

Diam-diam It-hiong tertawa geli melihat kelakuan mereka, pikirnya.

"Manusia memang tidak boleh berbuat busuk. Contohnya kedua tokoh kelas tinggi yang berlainan agama ini, Kungfu mereka cukup memenuhi syarat untuk menjadi guru besar suatu aliran tersendiri, semuanya perkasa dan lihai, tapi begitu digembori orang sebagai "maling&;#8217;, seketika mereka pun ketakutan dan lari sipat kuping."

Tengah berpikir, terdengar suara teriakan tangkap maling perlahan mulai bergeser menjauh ke sebelah sana, mungkin maling yang kepergok orang kampung itu bukan Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin berdua, maka tidak mengejar ke jurusan sini.

Sebentar lagi suara teriakan pun mulai berhenti, agaknya malingnya keburu kabur, pemburuan pun dihentikan.

Segera It-hiong teringat kepada si kakek berbaju kulit macan tutul, pikirnya.

"Ah, jangan-jangan kakek itu yang kepergok ketika menyusup ke dalam kampung? Tapi jelas dia juga bukan tokoh sembarangan mengapa begitu gampang kepergok peronda kampung?"

Baru saja ia berpikir demikian, dilihatnya Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin telah merangkak keluar dari tempat sembunyinya, air muka kedua orang sama mengunjuk rasa bingung dan sangsi sambil memandang pagar tembok di luar hutan sana.

"Memangnya terjadi apa?"

Ucap Kim-kong Taysu dengan kening bekernyit.

"Siapa tahu?"

Jawab Koh-ting sambil menyengir kikuk.

"Maling yang hendak mereka tangkap mungkin bukan kita berdua,"

Ujar Kim-kong.

"Ya,"

Koh-ting mengangguk.

"Aku memang juga lagi heran, masa baru saja kita melompat turun ke situ, seketika suara bende berbunyi, apakah mungkin maling yang kepergok mereka itu bukan kita berdua ...."

"Bisa jadi,"

Ujar Kim-kong Taysu.

"Maling macam apa yang begitu besar nyalinya sehingga berani menggerayangi Liongcoan-ceng?"

"Ya, memang maling luar biasa,"

Tukas Koh-ting Tojin. Gemerdep sinar mata Kim-kong Taysu, katanya.

"Janganjangan ada tokoh dunia persilatan lain yang juga datang kemari dengan maksud tujuannya yang sama seperti kita?"

"Betul, sangat mungkin,"

Kata Koh-ting.

"Jika benar demikian, malam ini kita jangan harap lagi akan dapat masuk ke Liang-coan-ceng,"

Ucap Kim-kong Taysu.

"Maksudmu?"

Tanya Koh-ting Tojin.

"Setahuku, penghuni Liong-coan-ceng kecuali Wi Ki-tiu dan beberapa orang kepercayaannya, hampir seluruhnya tidak mahir ilmu silat, mana bisa mereka memergoki orang yang menyusup ke sana di tengah malam buta?"

"Bisa jadi kepergok secara kebetulan,"

Ujar Koh-ting Tojin.

"Tidak,"

Kata Kim-kong Taysu.

"Menurut dugaanku, tentu karena Wi Ki-tiu sudah tahu lebih dulu malam ini bakal kedatangan orang persilatan yang akan mencari perkara padanya, maka lebih dulu ia sudah mengatur persiapan."

"Wah, jika begitu, kita benar-benar tidak dapat masuk ke sana,"

Kata Koh-ting dengan kening bekernyit.

"Menurut pendapatku, bilamana Wi Ki-tiu tahu orang she Hui mendapatkan kotak pusaka dan menahannya di situ, kita tetap ada harapan akan merampas kotak itu,"

Tutur Kim-kong Taysu.

"Sebab kalau Wi Ki-tiu mendapat tahu tempat kotak pusaka itu disembunyikan, tentu dia sendiri akan pergi mengambilnya. Dan kita cukup menguntitnya secara diamdiam, begitu dia mendapatkan kotak itu, segera kita muncul merampasnya, kan cepat dan mudah?"

"Maksud Taysu malam ini kita tidak perlu masuk ke sana untuk menyelidiki?"

"Ya, kita sembunyi saja di luar sini dan diam-diam mengawasi gerak-gerik Wi Ki-tiu."

Koh-ting Tojin berpikir sejenak, katanya kemudian dengan mengangguk.

"Begini pun baik, kupercaya paling lambat esok pagi urusan pasti akan ketahuan dengan jelas. Jika besok orang she Hui meninggalkan Liong-coan-ceng tanpa terjadi sesuatu, dia yang akan kita buntuti, sebaliknya kalau yang meninggalkan perkampungan itu ialah Wi Ki-tiu sendiri, kita pun akan menguntit dia."

"Betul,"

Kata Kim-kong Taysu.

"Sekarang kita menunggu saja di jalan kecil sana."

Habis bicara ia lantas mendahului merunduk ke jalan batu kecil itu.

Cepat Koh-ting menyusul ke sana, hanya sekejap saja kedua orang lantas menghilang di balik kerimbunan hutan.

Ebook oleh .

Dewi KZ Scan book oleh .

BBSC

Jilid 12 Diam-diam Liong It-hiong menghela napas lega, pikirnya.

"Untung sudah pergi, kalau tidak malam ini aku tentu tidak dapat bergerak."

Ia menaksir Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin sudah pergi jauh, maka perlahan ia berdiri dan merunduk ke kaki pagar tembok.

Ia coba pasang telinga mendengarkan dengan cermat, tak terdengar sesuatu suara di balik pagar tembok, segera ia menggunakan lagi ilmu cecak merayap untuk merambat ke atas tembok, lalu melongok ke dalam.

Ternyata seluruh perkampungan itu sudah sunyi senyap.

Sejauh mata memandang tidak terlihat sesosok bayangan pun, serupa segenap penghuni perkampungan sudah tenggelam dalam impian masing-masing.

Tapi sekali pandang saja It-hiong lantas tahu di balik kesunyian itu penjagaan di dalam perkampungan pasti sangat ketat, di mana-mana terdapat pos pengawasan yang tersembunyi.

Namun dia tetap bertekad akan menyelidiki perkampungan itu, sebab ucapan Kim-kong Taysu tadi telah menimbulkan kepercayaan atas diri sendiri.

Tadi Kim-kong Taysu berkata.

"Penghuni Liong-coan-ceng itu kecuali Wi Ki-tiu dan beberapa orang kepercayaannya, yang lain tidak ada yang mengerti ilmu silat."

Ia yakin keterangan ini tidak perlu diragukan lagi, kalau tidak, tentu Wi Ki-tiu tidak perlu menggunakan suara bende untuk menakut-nakuti musuh yang datang menyatroninya.

Sebab itulah ia memutuskan akan masuk ke perkampungan ini untuk menyelidiki, umpama kepergok juga dapat melarikan diri dengan mudah.

Begitulah ia lantas mengamat-amati keadaan perkampungan itu, ia merasa menyusup masuk melalui belakang perkampungan akan lebih aman.

Maka ia mundur kembali ke dalam hutan, dikumpulkannya seonggok rumput kering dan diusung ke kaki pagar tembok sana, lalu mengeluarkan alat ketikan api, dibakarnya onggokan rumput kering itu.

Begitu api menyala, cepat ia lari ke belakang kampung mengitari pagar tembok.

Baru saja berpuluh langkah ia lari, segera terdengar suara bende berbunyi dengan ramai.

"Api, api! Kebakaran! Tolong, kebakaran!"

Demikian seorang lantas berteriak.

Dalam sekejap lantas riuh gemuruh suara orang ribut di dalam kampung.

Dengan beberapa kali lompatan Liong It-hiong melejit ke kaki tembok di belakang kampung, dari situ ia terus melompat ke atas pagar tembok, dilihatnya di kejauhan banyak centeng yang berlari ke tempat "kebakaran".

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Liong It-hiong, cepat ia melayang ke dalam kampung, lalu melompat lagi ke atas sederetan rumah dan mendekam di emper rumah.

Setelah mendekam sebentar dan tidak terdengar suara orang berteriak tangkap maling, ia tahu akalnya "bikin ribut di timur dan serang di barat"

Telah berhasil dengan baik.

Waktu ia menengadah dan memandang ke sana, dilihatnya di sebelah kiri ruangan depan sana ada sebuah gedung berloteng, dari pengalaman dapat diduganya gedung itu pasti wisma tamu.

Ia pikir Sun Thian-tik dan Hui Giok-koan malam ini pasti menginap di situ.

Dengan hati-hati ia lantas memberosot turun dari rumah itu, di bawah bayang-bayang deretan rumah itu ia merunduk ke wisma tamu itu.

Mendadak terdengar suara bende dibunyikan lagi dengan keras dan ramai, lalu ada orang berteriak.

"Wah, celaka! Kita tertipu! Itu bukan kebakaran sungguhan! Lekas geledah seluruh kampung, tentu ada maling menyusup kemari!"

"Tangkap maling, tangkap maling!"

Begitulah ramai orang sahut-menyahut di sana-sini, semuanya cuma untuk menggertak belaka, padahal tidak terlihat bayangan "maling"

Segala.

Sementara itu Liong It-hiong sudah melayang ke atas wisma tamu tadi, dengan kedua kaki ia menggantol di emper rumah, lalu tubuh bagian atas menggelantung ke bawah, ia mengintip ke dalam wisma melalui jendela.

Sekali pandang seketika jantungnya berdebar.

Kiranya terlihat Wi Ki-tiu, Sun Thian-tik dan Hui Giok-koan bertiga asyik mengobrol di dalam sambil minum teh.

Terlihat Wi Ki-tiu lagi berkata dengan tersenyum simpul.

"Mungkin dahulu aku pernah berbuat salah terhadap sementara orang, maka pada hari ulang tahunku ini mereka sengaja bikin ribut ke sini ...."

"Bisa jadi musuh sudah menyusup ke dalam kampung, apakah perlu kubantu Wi-cengcu mencarinya?"

Kata Hui Giok-koan. Wi Ki-tiu menggeleng kepala.

"Tidak perlu, paling-paling hanya sebangsa maling pencuri ayam, biarkan saja."

Sun Thian-tik menghirup teh, lalu berkata.

"Kampung Wicengcu kemasukan maling, tapi Cengcu sendiri sedemikian tenangnya, sungguh aku sangat kagum."

"Hahaha,"

Wi Ki-tiu terbahak.

"Selama hidupku ini tidak jarang menghadapi gelombang badai, kalau cuma satu-dua maling ayam saja tidak dapat mengertak diriku."

"Dari mana Wi-cengcu tahu pendatang ini cuma maling ayam saja? Bisa jadi tokoh kelas tinggi,"

Kata Sun Thian-tik dengan tertawa.

"Itu pun tidak menjadi soal,"

Ujar Wi Ki-tiu dengan tertawa.

"Jika yang dituju adalah diriku, cepat atau lambat dia pasti akan memperlihatkan tampangnya."

"Kukira lebih baik Wi-cengcu pergi memeriksanya dan tidak perlu lagi menemani kami di sini,"

Kata Hui Giok-koan.

"Baiklah,"

Wi Ki-tiu berdiri.

"Akan kupergi melihat apa yang terjadi, silakan kalian mengaso saja bila perlu."

Habis berkata ia memberi salam, lalu tinggal pergi.

Sun Thian-tik dan Hui Giok-koan berdiri mengantar kepergian tuan rumah, setelah Wi Ki-tiu keluar barulah mereka duduk kembali.

Sembari menghirup lagi seceguk air teh, Sun Thian-tik memandang Hui Giok-koan, katanya dengan tersenyum.

"Saudara Giok-koan, menurut perkiraanmu, siapakah penyatron ini?"

"Dari mana kutahu?"

Jawab Hui Giok-koan dengan hambar.

"Sudah berpuluh tahun Kui-sui-poa Wi Ki-tiu merajai Lok-lim (dunia bandit), meski sekarang dia menyatakan sudah mengundurkan diri, namun Kungfunya tidak pernah ditelantarkannya. Kupikir orang yang berani menyatroni Liongcoan-ceng ini pasti bukan tokoh sembarangan."

"Oo ...."

Hui Giok-koan hanya mengangguk-angguk saja.

"Tapi mungkin juga ... sasaran yang dituju oleh penyatron itu bukanlah dia melainkan aku atau engkau."

Hui Giok-koan tertawa, jawabnya.

"Kuyakin pasti bukan diriku, sebab aku merasa tidak punya musuh."

"Aku juga tidak punya musuh,"

Tukas Sun Thian-tik cepat.

"Jika begitu, jelas yang dicari pendatang itu bukan kita berdua,"

Kata Giok-koan.

"Seorang mencari seseorang terkadang juga bukan untuk menuntut balas melainkan bisa jadi mengincar barangnya ...."

Kata Sun Thian-tik.

"Apakah mungkin Hui-heng membawa sesuatu benda berharga?"

Cepat Hui Giok-koan menggeleng kepala.

"Tidak, tidak ada, barangkali Sun-heng sendiri membawa barang berharga?"

"Tidak, aku sendiri terkenal rudin, mana ada barang berharga yang kubawa?"

Ujar Sun Thian-tik.

"Walaupun dulu terkadang juga kudapatkan barang berharga, tapi semuanya kutaruh di suatu tempat."

"Tempat mana?"

Tanya Hui Giok-koan.

"Pegadaian,"

Jawab Sun Thian-tik.

"Haha, Sun-heng sungguh suka bergurau,"

Seru Giok-koan dengan tergelak.

"Aku bicara dengan betul,"

Sambung Sun Thian-tik.

"Setiap saat bila kupunya sesuatu benda berharga langsung saja kuantar ke pegadaian. Ai, rasanya selama hidupku sudah menjadi langganan tetap pegadaian."

"Itu menandakan keluhuran budi Sun-heng yang tidak suka memegang apa pun, hal itu sukar dilakukan oleh kebanyakan orang,"

Ujar Giok-koan.

"Ah, masa begitu, justru aku ingin mempunyai apa pun, soalnya sukar kuperoleh,"

Kata Thian-tik.

"Ah, sudah tidak sedikit arak yang kutenggak, sudah merasa ngantuk, marilah kita pergi tidur saja,"

Ujar Giok-koan.

"Eh, nanti dulu,"

Cegah Sun Thian-tik.

"Jika sebentar ternyata Wi-cengcu berhasil membekuk musuh yang menyatroni dia, kita kan perlu melihatnya juga siapa dia."

"O, tidak, aku tidak ingin ikut campur urusan orang lain, lebih baik kupergi tidur saja,"

Kata Hui Giok-koan.

"Bagaimana kalau kita tidur sekamar?"

Tanya Thian-tik sambil berdiri.

"Wah, maaf, aku tidak biasa tidur bersama orang lain, lebih baik kita tidur di kamar masing-masing saja,"

Ucap Hui Giokkoan.

"Bilamana yang hendak tidur bersamamu adalah orang perempuan?"

"Itu tentu tidak sama persoalannya,"

Ujar Hui Giok-koan dengan tertawa.

"Jika begitu, kenapa tidak menunggu lagi sebentar,"

Kata Thian-tik. Hui Giok-koan melenggong.

"Memangnya kau maksudkan di sini tersedia orang perempuan?"

"Betul,"

Jawab Thian-tik dengan tersenyum misterius.

"Oya, di mana?"

Tanya Hui Giok-koan, seketika sinar matanya berjelalatan.

"Tadi waktu makan-minum kan Wi Ki-tiu memberi isyarat bahwa dia dapat menyediakan beberapa orang perempuan untuk kita, kuyakin dia takkan melupakan ucapannya itu,"

Kata Thian-tik.

"Bisa jadi ia cuma omong iseng saja, masa kau anggap sungguhan?"

"Tidak, aku justru percaya dia bicara dengan serius,"

Ujar Thian-tik.

"Waktu perjamuan selesai kulihat dia berbisik memberi pesan kepada seorang anak buahnya, lalu centeng itu berlari pergi, sangat mungkin pergi memanggil cewek."

Hui Giok-koan hanya tertawa saja seperti tidak percaya, lalu ia menuju ke sebuah kamar di wisma tamu itu. Sun Thian-tik menggaruk-garuk kepala sambil bergumam sendiri.

"Masa bocah ini benar-benar mau tidur?"

Sembari mengomel ia sendiri juga menuju kamarnya.

Pada saat itulah tiba-tiba datang dua tandu, yang mengantar kedua tandu itu adalah centeng yang disuruh pergi tadi, ketika dilihatnya Sun Thian-tik hendak masuk ke dalam, cepat ia berseru.

"Sun-tayhiap, tunggu dulu!"

Sun Thian-tik berhenti dan berpaling, tanyanya.

"Ada apa?"

Centeng itu mendekatinya, lalu berucap dengan suara tertahan.

"Cengcu menyuruh hamba memanggilkan dua nona cantik, silakan Sun-tayhiap memeriksanya sendiri."

"Aha, bagus sekali!"

Seru Thian-tik kegirangan, segera ia ikut centeng itu mendekati tandu yang telah diturunkan di depan undak-undakan sana.

Centeng itu menyuruh penggotong tandu membuka pintu tandu, lalu berkata dengan tersenyum.

"Kedua nona silakan keluar!"

Segera dua nona jelita yang malu-malu kucing dengan lengan baju mengalingi mukanya melangkah keluar dari tandu.

Tertampak yang seorang berpinggang ramping dan berwajah cantik molek.

Seorang lagi beralis lentik dan beraut wajah bulat telur, tubuh bernas dan sexy, keduanya sama cewek pilihan.

Dengan bersemangat Sun Thian-tik menyapa.

"Eh, siapakah nama manis kedua nona cantik ini?"

Centeng itu menunjuk yang ramping dan berkata.

"Yang ini bernama Long-giok."

Lalu ia tuding satunya lagi dan menyambung.

"Yang itu bernama Lik-cu. Nah, lekas kalian memberi hormat kepada Sun-tayhiap."

Dengan gemulai Long-giok dan Lik-cu lantas memberi hormat sambil bersuara.

"Selamat bertemu, Sun-tayhiap."

Sun Thian-tik tertawa lebar.

"Jangan sungkan, jangan sungkan!"

"Dan di manakah Hui-tayhiap?"

Tanya si centeng dengan tertawa.

"O, dia sudah berada di kamarnya,"

Tutur Sun Thian-tik.

"Baiklah, silakan Sun-tayhiap pilih mana suka, yang lain akan kubawa untuk Hui-tayhiap,"

Kata si centeng. Pandangan Sun Thian-tik tertuju si molek yang bernama Longgiok, katanya dengan tertawa.

"Kusuka nona yang ramping, boleh kau bawa nona Lik-cu kepada Hui-heng."

Si centeng lantas memberi tanda kepada Lik-cu dan berkata.

"Mari, silakan nona ikut padaku."

Dengan kepala menunduk si sexy yang bernama Lik-cu ikut melangkah ke sana. Tampaknya Sun Thian-tik tidak sabaran lagi, ia terus menarik tangan Long-giok, katanya dengan tertawa.

"Mari, kamarku di sebelah sana, ayo kita bicara di dalam kamar."

Langsung ia mengajak Long-giok ke kamarnya.

Kamar pada wisma tamu itu terpajang sangat mewah, dari sini dapat terlihat betapa kaya raya Wi Ki-tiu.

Thian-tik menarik Long-giok duduk di tepi ranjang, dirangkulnya pinggangnya yang ramping serta diciumnya pipi orang yang harum, ucapnya.

"Ehm, engkau sangat cantik."

Setiap anak perempuan suka dipuji, rayuan Sun Thian-tik pun kena sasarannya, dengan malu-malu Long-giok menjawab.

"Terima kasih atas pujian Toaya."

Mendapat hati segera Sun Thian-tik merogoh rempela, Longgiok terus dipeluknya, tanyanya pula.

"Berapa umurmu?"

Long-giok ternyata sangat menurut dan pasrah, sambil meringkuk dalam pelukan orang ia menjawab.

"Tahun ini 20."

Tangan Sun Thian-tik lantas beraksi, kembali ia tanya dengan tertawa.

"Kau tinggal di kota Liong-coan-tin ini?"

"Ehm,"

Long-giok mengangguk.

"Di rumah hiburan mana?"

"Thian-hiang-ih."

"Wah, tentu engkau ratunya rumah hiburan tersebut."

"Ah, mana. Terima kasih."

"Dan bagaimana dengan nona Lik-cu itu?"

Tanya Thian-tik.

"Dia juga penghuni di sana,"

Tutur Long-giok. Thian-tik mencopot sepatu dan menurunkan kelambu, lalu si nona diangkatnya ke tempat tidur.

"Ai, Sun-toaya, kenapa engkau terburu nafsu begini,"

Terdengar Long-giok berucap dengan tertawa cekikak dan cekikik. Sun Thian-tik juga tertawa, jawabnya.

"Tentu saja aku terburu nafsu, habis kalau terlambat kan bisa runyam."

"Apa maksud ucapan Sun-toaya ini?"

Tanya Long-giok.

Sun Thian-tik tidak menjawab, agaknya sibuk beraksi ....

***** Pada saat yang sama Hui Giok-koan juga sedang menghadapi Lik-cu yang sexy itu.

Caranya main perempuan juga mempunyai gayanya sendiri.

Setelah si nona berdiri di depannya, sama sekali tidak disentuhnya melainkan cuma dipandangnya serupa seorang juri pemilihan kecantikan yang sedang menilai calon ratu, diamatinya dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas, dari tangan hingga ke dada dan bagian tertentu yang menggiurkan, sampai lama sekali ia mengamat-amatinya tanpa menyentuhnya.

Dengan sendirinya Lik-cu merasa agak risi, ucapnya dengan suara lirih.

"Hui-toaya, engkau ...."

"Ah, tidak ada apa-apa,"

Sela Hui Giok-koan dengan tertawa.

"Silakan duduk saja."

Tapi Lik-cu tetap berdiri tanpa bergerak, katanya dengan malu-malu.

"Apabila Hui-toaya tidak penujui hamba, bolehlah hamba pulang saja."

"O, tidak, engkau keliru,"

Seru Hui Giok-koan dengan terbahak.

"Aku justru sangat suka terhadapmu ...."

Lik-cu meliriknya sekejap, katanya.

"Jika demikian, mengapa ...."

"Rupanya kau salah paham,"

Kata Giok-koan.

"Aku sedang merenungkan suatu soal ...."

"Merenungkan soal apa?"

Tanya si nona.

"Kupikir sebab apakah Wi-cengcu melayaniku sedemikian hangat,"

Kata Giok-koan.

"Bukankah kalian sahabat karib?"

Giok-koan mengangguk.

"Betul, kami boleh dikatakan bersahabat baik, cuma sebelum ini dia tidak pernah berlaku sebaik kepadaku."

Lik-cu tertawa.

"Wi-cengcu berlaku baik padamu masa malah membuatmu tidak enak hati?"

"Betul, bagiku timbul semacam perasaan kikuk malah,"

Kata Giok-koan.

"Sudah biasa Wi-cengcu melayani tetamunya cara demikian, setiap kali ada sahabat berkunjung padanya dan tinggal di Liong-coan-ceng sini, selalu beliau menyuruh hamba melayani tamunya, apakah cara demikian tidak biasa bagi Hui-toaya?"

"Oo, tidak,"

Giok-koan menggeleng dengan tertawa. Lik-cu lantas duduk di samping Hui Giok-koan dan memperlihatkan senyum memikat, katanya.

"Sebenarnya pelayanan Wi-cengcu terhadapmu tidak terlalu spesial, kenapa Hui-toaya mesti kikuk malah?"

Hui Giok-koan mencium semacam bau harum yang merangsang, seketika perasaannya terguncang dan bagian tertentu pun timbul reaksi, dirangkulnya pinggang si cantik, katanya dengan tertawa.

"Engkau tidak dusta padaku?"

"Dusta apa?"

Lik-cu melengak. Giok-koan berbisik di tepi telinganya.

"Masa Wi-cengcu tidak memberikan sesuatu tugas rahasia padamu?"

"Ah, mana ada?"

Jawab Lik-cu dengan tercengang.

"Ssst, perlahan sedikit, tidak enak kalau didengar orang,"

Desis Giok-koan. Dengan mata terbelalak lebar Lik-cu berkata pula.

"Masa Huitoaya menyangka hamba melayanimu karena mengemban sesuatu tugas tertentu atas perintah Wi-cengcu?"

"O, tidak, jangan salah mengerti,"

Kata Giok-koan.

"Ah, indah benar rambutmu, apa kau sisir sendiri?"

Lalu Giok-koan membelai rambut si nona dengan perlahan. Lik-cu mengangguk dan tersenyum manis jawabnya.

"Ya, hamba selalu menyisir rambut sendiri, tidak puas rasanya kalau tidak menyisir sendiri."

Tangan Giok-koan terus memberosot ke bawah dan meremasremas perlahan leher si nona, ucapnya dengan tertawa.

"Ehm, kulitmu sangat putih dan halus, serupa kemala."

"Ah, mana, Hui-toaya terlampau memuji,"

Sahut Lik-cu dengan menunduk malu.

"Betul, belum pernah kulihat nona secantik dirimu,"

Kata Giok koan.

"Meski Nyo-kuihui (selir kaisar Tong-beng-cong pada dinasti Tong) juga akan merasa silau karena tak dapat menandingimu."

Raba punya raba akhirnya tangan Hui Giok-koan mencapai bagian dada. Lik-cu menggeliat risi, ucapnya.

"Ah, Hui-toaya jadi begini, aku tak mau ...."

Hui Giok-koan tambah terangsang, segera ia menariknya lebih merapat dan menatapnya dengan sinar mata mencorong serupa serigala kelaparan, ucapnya.

"Jangan mengelak, ai, engkau jadi mengobarkan api berahiku!"

Sembari bicara tangannya mulai menggerayang lagi dan melepas baju si nona.

Dengan lagak pura-pura tidak mau, tapi belum diminta sudah setuju, Lik-cu membiarkan bajunya dilucuti satu per satu sehingga akhirnya cuma tertinggal kutang dan celana dalam saja, tertampaklah kulit badannya yang putih mulus.

Napa Hui Giok-koan terdengar mulai ngos-ngosan, jelas nafsu berahinya berkobar-kobar dan tidak tahan lagi.

Mendadak Lik-cu meronta dan melepaskan tangan orang, lalu menyingkir dari tempat tidur, ucapnya dengan tertawa.

"Ayolah, sekarang giliran Hui-toaya."

"Giliranku apa?"

Giok-koan melenggong.

"Giliranmu membuka pakaian,"

Kata Lik-cu.

Baru sekarang Giok-koan tahu apa artinya, terus saja ia melepaskan pakaian sendiri, dengan cepat sekali dia sudah telanjang bulat.

Lalu dengan gerakan "harimau lapar menerkam domba", segera ia tubruk si nona.

Tentu saja sekali tubruk si dia lantas dirangkulnya, tapi mendadak dirasakannya yang terpeluk olehnya serupa seekor landak, kontan ia menjerit aduh dan jatuh terkulai di lantai.

Lik-cu tertawa, perlahan ia menggeser kedua kakinya yang indah, dengan langkah gemulai ia mendekati tempat tidur, perlahan ia mengambil pakaian, sepotong demi sepotong dikenakannya kembali, lalu menggeser ke dekat dinding sana dan mengetuk perlahan tiga kali.

Perlahan dinding bergerak naik ke atas sehingga berwujud sebuah jalan masuk.

Lalu ia putar balik ke samping Hui Giok-koan, tanpa permisi ia jambak rambut Hui Giok-koan dan diseret ke dalam terowongan itu.

***** Pada saat yang sama Sun Thian-tik masih berada di tempat tidur di kamarnya, cuma sekarang dia sudah selesai berpakaian, saat itu dia memegang sebilah belati dan lagi digosok-gosokkan kian kemari di atas tubuh Long-giok sambil mengancam.

"Nah, kau mau bicara atau tidak?"

Wajah Long-giok kelihatan pucat lesu karena takut.

Seluruh tubuhnya telanjang bulat, namun dia telentang lurus tanpa bergerak, agaknya selain dia telah dilalap oleh Sun Thian-tik, juga Hiat-to kelumpuhannya telah ditutuknya.

Jelas nona jelita itu sama sekali tidak mampu melawan dan juga sangat takut kalau belati Sun Thian-tik benar-benar ditubleskan padanya, dengan suara gemetar ia menjawab.

"Apa ... apa, yang harus kukatakan?"

Muka Sun Thian-tik tampak bengis, ujung belati diarahkan ke dada Long-giok, jengeknya.

"Hm, kukira tidak perlu kubinasakanmu, tapi bila belatiku ini bekerja, kuyakin akan membuatmu tidak mendapatkan kasih sayang Wi Ki-tiu lagi. Nah, boleh coba kau renungkan dulu."

Dengan muka pucat Long-giok berucap.

"Baik ... baiklah, akan kukatakan. Kami berdua memang betul perempuan piaraan Cengcu, dia menyuruh kami menyamar sebagai gadis panggilan untuk memikat kalian. Cuma sasarannya ialah Hui Giok-koan dan bukan Sun-toaya."

"Cara bagaimana dia suruh kau kerjai diriku?"

Tanya Thian-tik.

"Dia menaruh curiga padamu karena Sun-toaya tidak pergi melainkan masih tinggal di sini, aku disuruh mengawasi gerakgerikmu,"

Tutur Long-giok.

"Selain itu?"

Desak Sun Thian-tik.

"Tidak ada lagi,"

Jawab si nona.

"Dan cara bagaimana Lik-cu akan memperlakukan Hui Giokkoan?"

"Lik-cu diperintahkan menutuk Hiat-to Hui Giok-koan di luar dugaannya, lalu menawannya ke dalam Cui-ci-kiong (istana kristal air),"

Tutur Long-giok.

"Di mana letak Cui-ci-kiong itu?"

Tanya Thian-tik pula.

"Di bawah tanah."

"Mengapa disebut Cui-ci-kiong?"

"Tempat itu merupakan sebuah ruang di bawah tanah yang sangat luas,"

Tutur Long-giok.

"Di tengahnya dibangun sebuah kolam mandi dengan air hangat, di dalam ruangan itu terpajang sangat mewah dan megah, sebab itulah disebut istana kristal air."

"Biasanya kalian sama tinggal di Cui-ci-kiong itu?"

Long-giok mengiakan.

"Selain kau dan Lik-cu, terdapat siapa lagi?"

Tanya Thian-tik.

"Ada lagi Hiang-kun, Hi-moay, Hui-hong dan Ing-ing berlima, semuanya anak perempuan jelita."

"Cara bagaimana menuju ke istana kristal air itu?"

"Wah, tidak dapat kukatakan padamu, untuk itu Wi Ki-tiu bisa membunuhku."

"Dia akan membunuhmu atau tidak belum lagi diketahui dengan pasti, yang jelas sekarang engkau akan segera mati jika tidak kau katakan padaku."

Long-giok ragu sejenak, ucapnya kemudian sambil menghela napas.

"Ai, apa boleh buat. Setelah kuberi tahukan padamu, maukah engkau membawaku meninggalkan tempat ini?"

"Kau ingin meninggalkan kungkungan Wi Ki-tiu?"

Tanya Thiantik.

"Ya,"

Jawab Long-giok.

"Dia mempunyai hobi yang sangat berbeda dengan orang umumnya, pada hakikatnya kami tidak dipandangnya sebagai manusia, sungguh aku sudah cukup tersiksa di sini."

Sun Thian-tik termenung sejenak, katanya kemudian sambil mengangguk.

"Baik, aku berjanji akan membawamu meninggalkan tempat ini. Cuma kedatanganku ini adalah karena ingin merampas sebuah kotak yang diperoleh Hui Giokkoan, sekarang aku ingin coba melihat ke dalam Cui-ci-kiong, hendaknya kau bawaku ke bawah sana."

"Baiklah, harap bebaskan dulu Hiat-toku agar kudapat memakai baju,"

Ujar si nona.

"Biar kupakaikan bajumu,"

Ujar Thian-tik dengan tertawa.

Benar juga, segera ia mengambil baju si nona dan mulai membantunya memakai baju.

Bagi seorang lelaki, mendandani seorang perempuan dalam keadaan telanjang sesungguhnya semacam kenikmatan.

Tapi tujuan Sun Thian-tik bukan untuk kenikmatan melainkan karena khawatir bilamana Hiat-to orang dibuka dan mendadak akan balas menyerang padanya.

Selesai memberi berbaju, lalu Thian-tik menariknya bangun duduk, katanya.

"Kukira kamar ini pasti ada jalan tembus rahasia menuju ke Cui-ci-kiong. Di mana tempatnya?"

"Mohon bukanlah Hiat-to kelumpuhanku, biar hamba membawamu ke bawah,"

Pinta Long-giok.

"Tidak, cukup kau beri petunjuk, aku yang akan membawamu ke bawah,"

Ujar Thian-tik.

"Masa Sun-toaya belum lagi percaya kepadaku?"

Tanya Longgiok.

"Nanti setelah meninggalkan Liong-coan-ceng kan belum terlambat untuk mendapatkan kepercayaanku padamu?"

Ujar Thian-tik dengan tertawa. Terpaksa Long-giok berkata.

"Dinding sebelah kanan itulah jalan tembus rahasia menuju ke Cui-ci-kiong. Boleh kau ketuk tiga kali pada dinding itu dan segera jalan rahasianya akan muncul."

Thian-tik memakai sepatunya, lalu melangkah ke dinding yang dimaksud.

"Blang-blang-blang!"

Selagi ia hendak mengetuk dinding, mendadak pintu kamar digedor orang dari luar. Keruan Thian-tik terkejut, tanpa berpikir ia bertanya.

"Siapa itu?"

"Aku!"

Jawab orang di luar. Thian-tik tidak dapat mengenali siapa orang itu, ia coba tanya lagi.

"Engkau siapa?"

"Hamba centeng perkampungan ini, atas perintah Cengcu akan menyampaikan pesan kepada Sun-tayhiap, harap buka pintu!"

Seru orang di luar. Suaranya sangat lirih, seperti khawatir didengar orang lain. Setelah berpikir sejenak, lalu Sun Thian-tik menjawab.

"Baik, tunggu sebentar, segera kubuka pintu."

Ia terus melompat kembali ke depan tempat tidur, dengan sikap mengancam ia mengisiki Long-giok.

"Awas, setelah kubuka pintu, jika kau berani berteriak, seketika kucabut nyawamu."

Dengan suara lirih Long-giok menjawab.

"Tidak, hamba pasti takkan berbuat demikian, jangan khawatir."

Habis ini barulah Sun Thian-tik menuju lagi ke depan pintu, ditariknya palang pintu, daun pintu ditarik sedikit, melalui celah pintu ia tanya.

"Ada apa? .... Hei, kau?!"

Yang berdiri di luar ternyata Liong It-hiong adanya. Segera It-hiong mendorong pintu dan menyelinap ke dalam, ucapnya dengan tertawa tertahan.

"Di luar dugaanmu, bukan?"

Thian-tik menyurut mundur dan memandang It-hiong dengan melenggong, tanyanya dengan tidak mengerti.

"Cara ... cara bagaimana kau masuk kemari?"

It-hiong membalik tubuh dan merapatkan daun pintu, lalu menjawab dengan tersenyum.

"Untuk masuk ke Liong-coanceng ini tidaklah sulit, untuk memasuki Cui-ci-kiong itulah yang tidak gampang."

"Tadi yang berteriak tangkap maling di luar sana adalah engkau?"

Tanya Thian-tik. It-hiong menggeleng.

"Bukan, yang berteriak itu orang lain lagi. Dia sangat bodoh, begitu masuk kampung lantas kepergok."

"Siapakah dia?"

Tanya Thian-tik.

"Tidak kukenal, dia seorang kakek botak, memakai baju kulit macan tutul,"

Tutur It-hiong.

"O, dia Kim-ci-pa (si macan tutul) Song Goan-po,"

Kata Sun Thian-tik.

"Ahh, kiranya dia,"

Tergetar juga hati It-hiong.

"Mengapa tidak terpikir olehku akan dia?!"

"Jadi dia juga masuk ke perkampungan ini?"

Tanya Thian-tik.

"Tidak,"

Jawab It-hiong.

"Dia serupa Kim-kong Taysu dan Kohting Tojin, begitu masuk lantas kabur lagi karena suara bende."

Kening Sun Thian-tik bekernyit.

"Hm, tajam juga berita mereka, ternyata semuanya sudah tahu .... Eh, waktu kau masuk kemari, apakah tidak dilihat orang?"

"Tidak,"

Jawab It-hiong.

"Untuk apa kau datang kemari?"

It-hiong tersenyum.

"Sudah tahu kenapa Sun-tayhiap sengaja bertanya pula?"

"Jika begitu, untuk urusan apa kau cari diriku?"

Desak Thiantik.

"Kuharap akan dapat bekerja sama denganmu,"

Jawab Ithiong.

"Kita dapat masuk ke Cui-ci-kiong bersama dan menaklukkan Wi Ki-tiu, lalu memaksa Hui Giok-koan mengaku di mana di menyimpan kotak pusaka hitam itu."

"Dan bagaimana setelah berhasil mendapatkan kotak pusaka itu?"

Tanya Thian-tik.

"Boleh kita main catur lagi untuk menentukan siapa yang berhak memiliki kotak hitam itu,"

Jawab It-hiong.

"Hm, jangan mimpi,"

Jengek Thian-tik sambil menggeleng.

"Betapa pun tidak nanti kumain catur lagi denganmu."

It-hiong tersenyum.

"Jika begitu, boleh juga kita menentukan kalah-menang dengan cara lain. Pendek kata, menurut pendapatku, jika ingin merampas kembali kotak pusaka itu, tiada jalan lain kecuali untuk sementara ini harus bekerja sama denganmu."

Thian-tik berpikir sebentar, akhirnya mengangguk setuju.

"Boleh juga, biarlah kita bergabung dulu untuk menghadapi Wi Ki-tiu ...."

Ia menuding Long-giok, lalu menyambung dengan tertawa.

"Dia termasuk satu di antara ketujuh jelita simpanan Wi Ki-tiu, namanya Long-giok."

"Ya, kutahu,"

Ujar It-hiong.

"Oo, kau tahu? Sudah sejak tadi engkau mengintip kami?"

Tanya Thian-tik.

"Betul,"

It-hiong mengaku.

"Mestinya aku ingin mengintip keadaan Hui Giok-koan bersama Lik-cu, cuma kamar mereka terletak di tengah kamar wisma tamu ini dan sukar untuk diintip, terpaksa aku mengintip kalian di sini."

Lalu ia menyambung lagi dengan tersenyum.

"Rezekimu sungguh tidak jelek mendapatkan cewek semolek ini."

"Sontoloyo! Matamu bisa lamur kalau suka intip sana-sini,"

Omel Thian-tik dengan kikuk. It-hiong tergelak tertahan, katanya.

"Sudahlah, jangan omong iseng lagi. Mungkin Hui Giok-koan sudah tertawan ke dalam Cui-ci-kiong, mari kita lekas ke bawah sana."

Sun Thian-tik lantas membalik ke sana untuk mengangkat Long-giok, lalu mendekati dinding sebelah kanan, tanyanya.

"Ketuk bagian mana?"

"Tepat di depanmu ini,"

Kata Long-giok.

Segera Thian-tik mengetuk tiga kali pada tempat yang dimaksud, benar juga, perlahan dining lantas bergeser ke atas dan muncul sebuah lubang masuk, ia coba melongok ke dalam, terlihat sebuah lorong dengan undak-undakan batu yang menjurus ke bawah.

"Masa tidak ada alat perangkap di bawah?"

Tanya Thian-tik pula.

"Tidak ada,"

Jawab Long-giok. Sun Thian-tik lantas berpaling dan berkata kepada It-hiong.

"Gerak-gerikku tidak bebas karena membawa dia, bagaimana jika engkau yang menjadi pembuka jalan di depan?"

"Boleh,"

Jawab It-hiong tanpa pikir.

Segera ia mendahului melangkah ke bawah sana.

Jalan rahasia itu sangat sempit, hanya cukup untuk dilalui dua orang yang bersimpangan, namun penerangan cukup, setiap beberapa langkah tentu ada sebuah lampu gelas sehingga keadaan tertampak dengan jelas.

Liong It-hiong mendahului menuruni undak-undakan batu itu, dilihatnya di depan melintang sebuah lorong yang berliku-liku, sedangkan dinding lorong itu semuanya dipahat dari batu, sejauh mata memandang ke sana tertampak halus licin dan menyilaukan mata.

Ia berhenti di undakan dan melihat ke kanan-kiri lorong yang melintang itu, tidak sesosok bayangan pun terlihat, ia coba menoleh dari tanya Long-giok dengan suara tertahan.

"Menuju ke jurusan yang mana?"

"Lurus ke depan,"

Jawab Long-giok.

"Lurus ke depan?"

It-hiong menegas dengan melenggong.

"Kan menumbuk dinding?"

"Cui-ci-kiong justru terletak di balik dinding besar itu,"

Kata Long-giok.

"Tapi di mana letak pintunya?"

Tanya It-hiong pula.

"Tepat di depan situ, pencet saja tombolnya dan segera pintu akan terbuka,"

Tutur Long-giok. Segera It-hiong melangkah ke sana, hanya lima-enam langkah saja sudah sampai di depan dinding batu besar itu.

"Sun-tayhiap!"

Tiba-tiba Long-giok berkata.

"Ehm, ada apa?"

Tanya Sun Thian-tik.

"Maukah engkau bersumpah?"

Kata Long-giok pula. Keruan Sun Thian-tik melengak.

"Sumpah apa maksudmu?"

"Bersumpah bahwa engkau berjanji akan membawaku kabur meninggalkan Liong-coan-ceng ini, bahkan akan menerimaku untuk tinggal bersamamu,"

Ucap Long-giok. Sejenak Sun Thian-tik tertegun, katanya kemudian.

"Boleh saja membawamu meninggalkan tempat ini, tapi mengapa harus kuterima dirimu untuk tinggal bersamaku?"

"Sebab engkau sudah ada pergaulan tubuh denganku, bila ... bila engkau tidak menolak, biarlah kuikut padamu selama hidup,"

Kata si nona. Thian-tik merasa ragu, ucapnya.

"Apakah maksudmu minta kukawini dirimu?"

"Jika engkau keberatan juga tidak menjadi soal, cukup asalkan aku diperbolehkan ikut padamu,"

Ujar Long-giok.

"Wah, jika begitu, apa bedanya dengan mengawinimu?"

Kata Thian-tik.

"Kan banyak orang lelaki tidak suka kawin secara resmi, tapi ingin mempunyai seorang pacar tetap, maka biarlah kujadi pacarmu yang tetap dan tidak perlu menjadi istrimu. Dengan demikian engkau takkan punya beban pikiran."

Sun Thian-tik merasa tertarik oleh tawaran si nona, katanya dengan tertawa.

"Ehm, cara demikian terasa bagus. Aku memang tidak suka beristri, hanya suka mempunyai seorang pacar tetap."

"Jadi kau mau?"

Tanya Long-giok.

"Baiklah,"

Jawab Thian-tik.

"Jika begitu, ayolah bersumpah."

"Kenapa perlu bersumpah segala?"

"Setelah bersumpah barulah kuberi tahukan apa sebabnya."

Kembali Thian-tik tertawa, katanya.

"Baik. Aku Sun Thian-tik bilamana ucapan tidak sesuai dengan tindakan, tidak membawamu kabur meninggalkan tempat ini dan tidak menerimamu untuk tinggal bersamaku, biarlah malaikat dewata menghukumku mati tanpa terkubur."

"Bagus sekali!"

Sorak Long-giok dengan gembira.

"Nah, sekarang coba beri tahukan sebab apa kau minta aku bersumpah?"

"Masa engkau belum lagi paham?"

Tukas Liong It-hiong dengan tertawa.

"Ya, aku belum paham,"

Jawab Thian-tik.

"Dia minta engkau menyatakan perasaanmu dengan setulusnya, habis itu baru mau membawamu ke dalam Cui-cikiong,"

Kata It-hiong. Thian-tik tertawa.

"Ai, dasar perempuan, suka curiga."

Long-giok tersenyum.

"Habis, aku khawatir dibohongi."

"Baiklah, sekarang lekas katakan cara bagaimana untuk bisa masuk ke Cui-ci-kiong,"

Kata Sun Thian-tik.

"Di sini ada dua pintu tembus,"

Tutur Long-giok.

"Yang satu dapat mengejutkan Wi Ki-tiu, pintu yang lain tidak. Nah, coba katakan, kalian suka melalui pintu yang mana?"

"Dengan sendirinya melalui pintu yang takkan mengejutkan Wi Ki-tiu,"

Ujar Sun Thian-tik cepat.

"Jika begitu, di kaki dinding sana ada dua buah tombol, pencet saja tombol sebelah, dengan demikian dapatlah masuk ke Cuici-kiong tanpa di ketahui setan sekalipun."

Segera It-hiong berjongkok untuk mencari tombol yang dimaksud, benar juga dilihatnya di kaki dinding ada dua alat sebesar kacang menempel di situ berjajar, segera ia gunakan jari untuk memencet tombol yang sebelah kiri.

Maka terdengarlah suara "krek"

Perlahan, sepotong batu sepanjang enam kaki dan selebar empat kaki lantas berputar dan akhirnya terbentang sebuah pintu rahasia.

Di balik pintu rahasia ini ternyata adalah sebuah kamar tidur yang sangat indah dengan berbagai macam perabot yang mewah.

"Ayolah masuk saja!"

Kata Long-giok.

"Ssst, di dalam kamar tidak ada orang?"

Desis It-hiong.

"Ya, tidak ada,"

Tutur Long-giok.

"Inilah kamarku sendiri, kecuali diriku tidak ada orang lain."

It-hiong coba melongok dulu ke dalam, setelah jelas tidak ada orang di dalam kamar barulah ia melangkah ke situ.

Sambil memondong Long-giok cepat Thian-tik ikut masuk, melihat keindahan kamar tidur ini, ia tertawa, katanya.

"Ingat, selanjutnya jika engkau ikut diriku, tidak mungkin lagi akan mendiami kamar sebagus ini."

"Asalkan ada orang benar-benar suka padaku, biarpun tinggal di rumah gubuk atau di bawah jembatan juga kurela,"

Jawab Long-giok. Lalu ia berkata juga kepada Liong It-hiong.

"Di sebelah kiri ada sebuah tombol lagi, jika kau tekan tombol tersebut segera pintu akan menutup sendiri."

It-hiong melakukannya sesuai keterangan si nona, benar juga perlahan pintu lantas merapat kembali seperti semula, hampir sukar dicari celah-celahnya.

Sekeliling kamar itu juga dinding batu besar, tapi tidak berarti tertutup rapat sama sekali tak tertembus angin, sebab di kanan-kiri dinding ada lubang angin yang dirancang secara bagus sehingga sedikit pun tidak terasa sumpek.

Sun Thian-tik menaruh Long-giok di tempat tidur yang terbuat dari gading, lalu bertanya.

"Inikah yang dimaksud Cui-cikiong?"

"Ini hanya sebuah kamar di antara istana kristal dalam air yang dimaksud,"

Tutur Long-giok.

"Selain ini masih ada lagi sembilan buah kamar besar seperti ini dan sebuah ruangan bulat yang sepuluh kali luasnya daripada kamar ini, ruangan bulat itulah yang disebut Cui-ci-kiong."

"Keparat!"

Maki Sun Thian-tik.

"Untuk membangun istana kristal air ini tentu tidak sedikit biaya yang dikeluarkan oleh Wi Ki-tiu."

"Menurut pengakuannya, biaya bangunan istana kristal ini menghabiskan dua puluh laksa tahil perak,"

Tutur Long-giok.

"Mengapa dia sengaja hidup nikmat dengan bersembunyi di ruang bawah tanah?"

Tanya Liong It-hiong.

"Sebab dia tidak ingin orang lain mengetahui cara hidupnya, ia cuma menghendaki orang kenal dia sebagai seorang bajik, seorang dermawan,"

Kata Long-giok.

"Cara bagaimana bisa masuk ke ruangan bulat itu?"

Tanya Ithiong pula.

"Pintunya terletak di depanmu situ, cuma engkau hanya dapat membukanya satu celah saja dengan perlahan, sebab saat ini Wi Ki-tiu lagi berada di ruangan itu,"

Tutur si nona.

Sun Thian-tik mendekati dinding yang dimaksud dan coba memeriksanya dengan teliti, benar juga, dilihatnya di kaki dinding ada celah-celah sebuah pintu, di sebelah kirinya ada sebuah pegangan pintu terbuat dari perunggu dan berbentuk melengkung, ia coba pegang dan ditarik perlahan.

Namun tidak bergerak sedikit pun.

"Diputar ke kanan dulu, habis itu baru ditarik,"

Kata Long-giok.

Sun Thian-tik menurut petunjuk itu, diputarnya pegangan pintu itu, lalu ditarik, benar juga, pintu lantas bergerak, dengan perlahan ditariknya menjadi sebuah celah-celah, lalu mengintip ke sana, seketika tertampaklah segala apa yang dilukiskan Long-giok tadi.

Memang benar, di balik pintu adalah sebuah ruangan bulat yang sangat besar.

Luas ruangan ini sedikitnya adalah sepuluh tombak, tinggi tiga tombak, atapnya berbentuk kubah penuh dihiasi daun-daun warna emas sehingga mirip kulit kura-kura, pada ujung tengah bagian yang paling tinggi tergantung sebuah lampu kristal sebesar gantang dengan hiasan sembilan biji mutiara yang bercahaya menyilaukan mata dan menerangi seluruh ruangan sehingga serupa siang hari.

Sedangkan dinding batu sekeliling ruangan banyak bergantungan patung bersepuh emas, semuanya patung manusia telanjang, baik lelaki maupun perempuan dengan macam-macan gaya yang menarik, sekali orang memandangnya segera akan timbul pikiran yang bukanbukan.

Persis di tengah-tengah ruangan benar juga terdapat sebuah kolam mandi berbentuk bulat juga, air kolam kelihatan menguap, jelas sumber air panas yang mengalir dari tempat lain.

Pada saat itu Wi Ki-tiu dan lima orang perempuan cantik tampak sedang mandi di dalam kolam.

Dia dan kelima gadis cantik itu sama telanjang bulat, telanjang bulat seorang lelaki tentu saja tidak menarik bagi Sun Thiantik, berbeda dengan kelima gadis cantik itu, semuanya sangat menggiurkan, terlihat semuanya berdada padat dan berpinggang ramping, kulit putih bersih serupa salju, sungguh pemandangan yang menakjubkan dan sukar dicari.

Diam-diam Sun Thian-tik menarik napas, ia berpaling dan mendesis kepada Liong It-hiong.

"Buset! Coba lihat sini, tua bangka ini sungguh pintar menikmati hidupnya."

Liong It-hiong coba mendekat ke sana dan ikut mengintip, segera ia pun dapat melihat pemandangan yang memesona itu, tentu saja ia pun terangsang, desisnya.

"Wah, memang luar biasa. Bilamana aku dapat ikut berendam bersama mereka di sana, sungguh mati pun aku tidak menyesal."

Sun Thian-tik coba menarik sedikit lagi daun pintu itu, maka tertampaklah adegan pemandangan lain, ia memberi tanda kepada Liong It-hiong dan mendesis lagi.

"Coba lihat, Hui Giok-koan sedang tersiksa di situ."

Waktu It-hiong mengintip ke sana, betul juga, dilihatnya kedua tangan dan kedua kaki Hui Giok-koan sama terikat dan digantung terjungkir tepat di pojok atas kolam mandi itu.

Hui Giok-koan juga telanjang bulat dan tergantung terbalik oleh seutas tambang sehingga kelihatannya sangat lucu.

Malahan Lik-cu tepat berdiri di bawahnya dengan memegang cambuk, agaknya siap untuk menghajarnya.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Wi Ki-tiu yang berendam di kolam mandi itu bersuara.

"Nah, Hui Giok-koan, sudah kau pertimbangkan atau tidak?"

Kontan Hui Giok-koan mencaci maki.

"Wi Ki-tiu, engkau keparat, jahanam, maknya dirodok, pada hakikatnya aku tidak tahu-menahu tentang kotak pusaka apa segala, apalagi memperolehnya. Harus cara bagaimana baru engkau mau percaya kepadaku?"

"Hahahaha!"

Wi Ki-tiu terbahak-bahak.

"Berita yang kuperoleh sangat dapat dipercaya, bila malam ini engkau tidak mengaku terus terang di mana kau sembunyikan kotak pusaka itu, maka terpaksa ku ...."

"Mau bunuh atau mau kau cencang boleh terserah padamu, tidak perlu banyak bacot!"

Teriak Hui Giok-koan dengan murka.

"Hehe, apa betul?"

Ejek Wi Ki-tiu dengan menyeringai. Dengan mengertak gigi Hui Giok-koan berucap sekata demi sekata.

"Apabila Hui-toaya sampai bekernyit kening sedikit saja, jangan kau panggil aku Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan!"

"Bagus!"

Seru Wi Ki-tiu sambil memberi tanda kepada Lik-cu agar mencambuk.

"Justru ingin kulihat betapa daya tahanmu."

Karena mendapat isyarat, serentak Lik-cu mundur setindak, cambuk yang dipegangnya terus berayun dan menyabet.

"tarrr", tubuh Hui Giok-koan lantas terbelit oleh cambuk. Susul-menyusul cambuk Lik-cu bekerja pula.

"tar, tar, tarrr!"

Namun Hui Giok-koan tidak bersuara sana sekali, apalagi merintih.

"Lik-cu, memangnya engkau lagi menggelitiknya?"

Ucap Wi Kitiu perlahan.

Cepat Lik-cu menyabet sekerasnya, sekaligus ia memecut belasan kali sehingga sekujur badan Hui Giok-koan babak belur, darah segar pun mengucur.

Siapa tahu Hui Giok-koan benar-benar kepala batu, ia tetap mengertak gigi dan bertahan sekuatnya, sedikit pun tidak mengeluh dan merintih, kening pun tidak bekernyit, apalagi menjerit.

"Hajar terus!"

Ucap Wi Ki-tiu dengan tak acuh. Cambuk Lik-cu lantas bekerja berulang-ulang, terdengar suara "tar-tar"

Yang tiada hentinya serupa bunyi mitraliur.

Hanya sebentar saja tubuh Hui Giok-koan tiada satu bagian pun yang utuh.

Darah segar bertetesan serupa air hujan.

Mendadak Lik-cu berhenti menghajar orang, katanya.

"Loya, dia jatuh pingsan!"

"Ambil sebaskom air dingin dan siram dia,"

Perintah Wi Ki-tiu.

Mulutnya memberi perintah, tangannya juga tidak menganggur dan main gerayang sini dan remas sana di tubuh kelima gadis jelita.

Rupanya cara gerayang dan remas Wi Kitiu itu memang sadis sehingga kelima gadis itu sama menjerit dan berteriak sembari berusaha mengelak kian kemari dengan belingsatan.

Dalam pada itu Lik-cu telah mendekati kolam dan menciduk sebaskom air, lalu dibawa kembali ke samping Hui Giok-koan, ia merandek sejenak, akhirnya air itu disiramkan ke muka Hui Giok-koan.

Perlahan Hui Giok-koan siuman dan membuka mata.

"Hui Giok-koan,"

Kata Wi Ki-tiu.

"sungguh bodoh kau. Meski kotak itu sangat berharga, tapi jiwamu kan terlebih berharga. Jika jiwamu melayang, memangnya kotak itu akan kau bawa serta ke neraka?"

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung.

"Nah, akan kukatakan sekali lagi. Asalkan kau katakan di mana kau sembunyikan kotak itu, sebagai imbalannya akan kuberikan Liong-coan-ceng ini kepadamu. Coba pikirkan, mau tidak?"

Dengan geregetan Hui Giok-koan menjawab.

"Hm, jangan kau mimpi pada siang hari bolong, biarpun mati juga takkan kuserahkan kotak pusaka itu."

"Hahahaha! Bagus!"

Seru Wi Ki-tiu dengan terbahak.

"Akhirnya kau mengaku juga mempunyai sebuah kotak pusaka. Sekarang kuberi lagi kesempatan berpikir bagimu, hendaknya direnungkan dengan baik."

Habis bicara kembali ia melancarkan "serangan"

Terhadap kelima gadis jelita tadi dan bergumul menjadi satu dengan mereka. Mengintip sampai di sini, Liong It-hiong saling pandang sekejap dengan Sun Thian-tik, wajah mereka sama mengunjuk rasa kikuk.

"Neneknya,"

Desis Sun Thian-tik.

"Bangsat tua Wi Ki-tiu ini sungguh berengsek."

It-hiong juga berbisik dengan tertawa.

"Orang she Hui itu pun kepala batu benar. Jika aku jadi dia, sejak tadi aku sudah menyerah dan minta ampun."

"Dan cara bagaimana hendak kau turun tangan?"

Tanya Thiantik.

"Tunggu lagi sebentar dan lihat dulu, mungkir Wi Ki-tiu akan menggunakan siksaan lain untuk memeras Hui Giok-koan, aku tidak percaya dia mampu bertahan lagi,"

Jawab It-hiong.

"Ya, begitu dia mengatakan tempat sembunyi kotak pusaka itu, diam-diam kita lantas kabur dulu keluar Liong-coan-ceng dan mengambil kotak itu."

"Betul,"

It-hiong mengangguk.

"Bagus, coba kita mengintip lagi,"

Ujar Sun Thian-tik.

"Wah, coba lihat, apa yang sedang dilakukan Wi Ki-tiu? Neneknya, bangsat tua ini sungguh sadis, kotor dan rendah!"

Waktu It-hiong mengintip lagi, jantungnya berdetak keras juga, desisnya.

"Pantas Long-giok ingin melepaskan diri dari cengkeramannya, kiranya tua bangka mempunyai hobi yang sama sekali berbeda dengan orang biasa."

"Hm, barangkali dia sudah tidak mampu lagi atau nafsu besar tapi tenaga kurang, terpaksa mencari kepuasan dengan tangan ...."

It-hiong menoleh dan memandang sekejap Long-giok yang berbaring di tempat tidur, lalu menyenggol Thian-tik dengan tangan sambil bertanya dengan suara tertahan.

"Apakah benar hendak kau bawa pergi dia?"

Sun Thian-tik seperti ragu, ia balas tanya, Bagaimana menurut pendapatmu?"

"Entah, aku tidak tahu,"

Jawab It-hiong.

"Hanya saja, jika dia memang mau mengikutmu dengan setulus hati, apa salahnya kau terima dia."

"Namun dia adalah perempuan bebas Wi Ki-tiu, mana boleh kupakai sepatu bekas orang lain?"

Ujar Thian-tik.

"Bukan begitu soalnya,"

Kata It-hiong.

"Seorang asalkan hatinya, jiwanya suci bersih, yang lain boleh tidak perlu dipikirkan. Seperti kata orang, lebih baik mengambil pelacur sebagai istri, tapi tangan sekali-kali mengambil istri untuk dijadikan pelacur."

Hati Sun Thian-tik rada tergerak, katanya.

"Menurut pandanganmu, apakah dia berhati tulus terhadapku?"

It-hiong mengangguk.

"Kukira ada, kalau tidak, mengapa kesempatan baik sekarang tidak digunakannya untuk berteriak minta tolong?"

Thian-tik merasa ucapan It-hiong cukup masuk akal, katanya.

"Baik, asalkan hatinya tulus, nanti akan kubawa pergi dia."

Begitulah kedua orang berbicara dengan perlahan, sampai di sini, terdengar Wi Ki-tiu yang masih bercanda dengan kelima gadis itu tiba-tiba berkata pula.

"Nah, bagaimana Hui Giokkoan?"

Yang ditanya hanya tutup mulut saja bersuara. Muka Wi Ki-tiu tampak berubah bengis, jengeknya.

"Hm, kesabaranku tentu juga ada batasnya, jika kau kira akan mampu bertahan, biarlah kuberikan lagi kesempatan padamu untuk mencicipi rasanya air asin."

Selesai berucap, kembali ia memberi tanda kepada Lik-cu.

Lik-cu lantas membuang cambuknya dan mendekati kolam mandi, dituangnya isi ember tadi, lalu ditimbanya lagi seember penuh air hangat, kemudian mengeluarkan sebungkus garam dan dituang ke air hangat.

Sesudah mengaduk garam itu sehingga larut di dalam air hangat, lalu ia berseru kepada salah seorang gadis cantik di dalam kolam.

"Hui-hong, coba naik kemari untuk membantuku."

Gadis yang bernama Hui-hong mengiakan, dengan badan telanjang ia keluar dari kolam dan membantu Lik-cu menggotong ember air garam itu ke bawah Hui Giok-koan yang tergantung itu.

"Wah, sungguh luar biasa,"

Ucap Thian-tik dengan lirih.

"Ya, sungguh keji amat!"

Desis It-hiong.

"Tidak, yang kumaksudkan adalah gadis yang bernama Huihong itu,"

Kata Thian-tik.

"Coba kau lihat, dia berjalan kian kemari di depan orang banyak dengan telanjang bulat, sedikit pun tidak merasa malu."

"Mungkin dia sangat jarang mendapat kesempatan untuk berbaju, kalau sudah kulino kan menjadi biasa,"

Ujar It-hiong dengan tersenyum. Sun Thian-tik menjilat-jilat bibir dan berkata.

"Cuma, dia memang sangat molek, serupa bunga teratai yang basah."

"Eh, lihat, mereka sedang melepaskan Hui Giok-koan,"

Kata Ithiong.

Terlihatlah Lik-cu sedang membuka tali yang menggantung Hui Giok-koan itu dan dikerek turun dengan perlahan, akhirnya sekujur badan Hui Giok-koan terbenam dalam air garam.

Karena sekujur badan babak belur, bahkan darah pun masih mengucur, sekarang direndam dengan air garam, keruan dapat dibayangkan betapa perihnya.

Terdengarlah Hui Giokkoan menjerit ngeri, suaranya menyayat perasaan orang yang mendengarnya.

"Keluarkan, keluarkan aku! Akan ... akan kukatakan!"

Seru Giok-koan dengan suara terputus-putus. Segera Lik-cu menarik tali dan mengereknya lagi ke atas, ucapnya dengan tertawa.

"Jika begitu, ayolah lekas mengaku!"

Seluruh tubuh Hui Giok-koan serasa disengat tawon, saking sakitnya sampai mengejang dan mengerang tiada hentinya, seketika sukar baginya untuk bicara.

"Lik-cu,"

Kata Wi Ki-tiu.

"siram dia dengan air tawar!"

Lik-cu mengiakan, diciduknya lagi sebaskom air hangat di kolam, lalu disiramnya tubuh Hui Giok-koan, katanya dengan tertawa.

"Nah, tentu agak enak sedikit!"

Karena air garam sudah terguyur, benar juga penderitaan Hui Giok-koan agak berkurang, ia menghela napas, katanya.

"Orang she Wi, ingat saja utangmu ini!"

"Baik, akan selalu kuingat dengan baik dan setiap saat kutunggu kedatanganmu untuk menuntut balas,"

Ucap Wi Ki tiu dengan tertawa.

"Nah, sekarang lekas katakan, di mana kau simpan kotak pusaka itu."

"Tidak dapat kukatakan, tapi dapat kubawamu ke sana,"

Ujar Giok-koan.

"Apa maksudmu?"

Tanya Wi Ki-tiu dengan melengak.

"Artinya aku belum lagi mau mati,"

Jawab Hui Giok-koan.

"Kujanji takkan membunuhmu, boleh kau katakan saja di sini,"

Ujar Wi Ki-tiu.

"Tidak!"

Jawab Giok-koan tegas.

"Hm, meski kau bawaku ke sana, apakah dengan demikian engkau tidak perlu mati?"

Jengek Wi Ki-tiu.

"Jika hendak kubunuhmu, sesudah mendapatkan kotak pusaka itu tetap dapat kubunuhmu."

"Untuk itu sedikitnya aku masih dapat hidup beberapa hari lagi,"

Kata Giok-koan.

"Setiap orang bilamana menghadapi jalan buntu, kalau bisa hidup lebih lama beberapa hari kan juga baik."

"Selamanya aku bicara satu tidak pernah berubah menjadi dua,"

Kata Wi Ki-tiu.

"Jika sudah kukatakan takkan membunuhmu pasti takkan kubunuhmu. Engkau tidak perlu khawatir."

"Tidak, tidak bisa,"

Kata Giok-koan.

"Pendek kata, aku cuma dapat membawamu ke sana, tapi tidak dapat kukatakan."

"Berapa jauhnya dari sini?"

Tanya Wi Ki-tiu dengan ragu.

"Jika menumpang kereta diperlukan tujuh-delapan hari,"

Tutur Giok-koan.

"Wah, kukira agak repot,"

Ujar Wi Ki-tiu.

"Jangan-jangan di tengah perjalanan ada orang akan menolongmu, kan bisa runyam."

"Tidak ada orang yang mau turun tangan menolongku,"

Kata Giok-koan.

"Ah, sukar diramalkan, saat ini tidak sedikit orang yang sedang mengincar kotak pusaka itu,"

Ujar Wi Ki-tiu.

"Boleh kau bawaku pergi secara diam-diam, kan tidak akan diketahui orang luar?"

Kata Giok-koan.

"Andaikan diketahui satu-dua orang, dengan kehebatan Kungfumu masakah khawatir tidak dapat menghadapinya?"

"Tidak, aku tak mau mengambil risiko begitu,"

Ujar Wi Ki-tiu sambil menggeleng.

"Lebih baik kau katakan saja tempatnya, biar kupergi mengambilnya sendiri."

Hui Giok-koan tersenyum getir.

"Jika engkau berkeras demikian, apa yang dapat kukatakan lagi?"

"Jadi tidak mau kau katakan?"

Wi Ki-tiu menegas dengan sorot mata tajam.

"Apa boleh buat, bila perlu boleh kau bunuh aku saja,"

Jawab Hui Giok-koan tegas.

"Hm, tidak seenak itu,"

Jengek Wi Ki-tiu.

"Apakah kau tahu apa tindakan keji selanjutnya yang akan kulaksanakan?"

"Terserah padamu,"

Jawab Giok-koan dengan nekat.

"Baik. Lik-cu, lepaskan dia keluar!"

Seru Wi Ki-tiu.

Lik-cu mengiakan dengan tertawa, lalu mendekati dinding sana serta menekan sekali pada dinding itu.

Seketika dinding itu berputar dan terbuka sebuah pintu rahasia, Lik-cu melangkah masuk ke sana, tidak lama kemudian ia putar balik lagi.

Tapi di belakangnya ternyata ikut merayap keluar seekor buaya raksasa yang kelihatan sangat menakutkan.

Liong It-hiong menarik napas dingin, pikirnya dengan kaget.

"Buset! Ternyata dia memiara seekor buaya sebesar ini di Cuici-kiong ini!"

Setelah memandu keluar buaya besar itu, Lik-cu lantas memegang lagi cambuknya dan disabetkan ke udara.

"tarrr", cambuk berbunyi nyaring. Agaknya buaya itu sudah terlatih baik, seketika ia berhenti di tempat tanpa bergerak lagi. Dengan tertawa Wi Ki-tiu berkata.

"Buaya piaraanku ini sudah beberapa hari tidak kuberi makan, tentu dia sedang kelaparan sekali,"

Kata Wi Ki-tiu dengan tertawa. Muka Hui Giok-koan tampak pucat pasi, jelas sangat ketakutan. Segera Wi Ki-tiu menyambung lagi.

"Tapi buaya ini juga sudah lama terlatih dengan baik, jika kuperintahkan dia menggigit sekali, tidak nanti dia menggigit dua kali. Bila kusuruh dia menggigit pahamu, tidak mungkin dia menggigit tanganmu. Nah, Lik-cu, pertunjukkan kepadanya!"

Rupanya Lik-cu sudah biasa menjadi pawang buaya, segera ia angkat cambuknya dan berbunyi "tar-tar"

Dua kali. Seketika buaya itu menggelinding satu kali di lantai.

"Tar-tarr", cambuk berbunyi lagi dan kontan buaya berguling pula satu kali.

"Tar-tar-tarrr", cambuk berbunyi tiga kali, mendadak buaya itu menengadah dan membuka mulutnya lebar-lebar dengan lagak buas hendak mencaplok mangsanya. Keruan Hui Giok-koan ketakutan setengah hati, sukma pun seakan-akan terbang meninggalkan raganya, sekujur badan sama bergemetar hebat.

"Hahahaha!"

Ki-tiu tertawa senang.

"Nah, coba pikirkan lagi. Jika engkau tetap bandel dan tidak mau mengaku, segera akan kuberi perintah!"

Meski ketakutan dan keringat dingin memenuhi jidatnya, namun Hui Giok-koan tetap diam saja. Wi Ki-tiu menarik muka, bentaknya mendadak.

"Baik, suruh ganyang dulu anunya!"

"Tar-tar-tar-tarrr", kontan Lik-cu membunyikan cambuknya empat kali. Seketika kepala buaya terangkat lebih tinggi dan hampir mencapai selangkangan Hui Giok-koan, jika moncongnya terjulur lagi sedikit ke atas, alat vital Hui Giok-koan pasti akan diganyang mentah-mentah. Saking ketakutan akhirnya Hui Giok-koan berteriak.

"Ya, sudahlah! Akan kukatakan, lekas mengenyahkan dia!"

"Sekarang dia tidak akan menggigitmu sebelum kuberi perintah lebih lanjut,"

Ucap Wi Ki-tiu.

"Nah, coba katakan lekas!"

"Setelah kukatakan harus segera kau bebaskan kupergi,"

Kata Hui Giok-koan.

"Hah, masih pakai tawar-menawar segala?!"

Jengek Wi Ki-tiu.

"Tidak, tidak bisa. Jika sembarangan kau sebut suatu tempat dan aku tertipu kian kemari secara sia-sia, kan runyam. Maka harus menunggu setelah benar kudapatkan kotak hitam itu barulah akan kubebaskan dirimu."

Dengan mendongkol Hui Giok-koan berkata.

"Tempat simpanan kotak itu sangat jauh letaknya, pergi pulang dari sini diperlukan waktu setengah bulan, memangnya akan kau gantung diriku selama setengah bulan?"

"Tidak, takkan terjadi demikian, dapat kukurung dirimu di suatu kamar rahasia,"

Kata Wi Ki-tiu tertawa.

"Bilamana kotak itu sudah kau dapatkan dan nanti kau ingkar janji tidak mau membebaskan diriku, engkau ini adalah anak haram piaraan biang anjing, jadi?!"

Tanya Giok-koan.

"Boleh, jadi!"

Jawab Wi Ki-tiu sambil bergelak tertawa.

"Kotak pusaka itu kusembunyikan di bawah Jian-swe-siong (cemara seribu tahun) di Cong-beng-to, boleh kau ambil ke sana,"

Tutur Giok-koan akhirnya.

"Kutahu Cong-beng-to, tapi Jian-swe-siong itu barang macam apa?"

Tanya Wi Ki-tiu.

"Namanya Jian-swe-siong, dengan sendirinya menandakan pohon cemara yang teramat tua, setiap orang yang tinggal di pulau Cong-beng itu sama tahu di mana letak pohon raksasa itu,"

Jawab Giok-koan.

"Kotak itu kau tanam di bawah pohon?"

Wi Ki-tiu menegas.

"Tidak, kusembunyikan di dalam lubang batang pohon,"

Tutur Giok-koan.

"Tidak sampai ditemukan orang lain?"

Tanya Wi Ki-tiu.

"Tidak mungkin,"

Kata Giok-koan.

"Tempat itu dekat pantai, sekeliling pohon adalah batu karang belaka, suatu tempat yang jarang didatangi manusia."

"Keteranganmu ini tidak dusta?"

Tanya pula Wi Ki-tiu.

"Jiwaku berada dalam cengkeramanmu, apa gunanya berdusta?"

"Baik, apabila kotak hitam itu tidak kutemukan, nanti akan kusuruh buaya ini makan dagingmu sehari sepotong,"

Jengek Wi Ki-tiu.

"Kapan engkau akan berangkat?"

Tanya Giok-koan tiba-tiba.

"Tunggu nanti setelah Sun Thian-tik pergi,"

Jawab Ki-tiu. Mendengar sampai di sini, cepat Liong It-hiong memberi tanda agar Sun Thian-tik merapatkan pintu dan membisikinya.

"Suntayhiap, lekas kau bawa Long-giok kembali ke kamarmu."

Thian-tik melengak, tanyanya lirih.

"Untuk apa lagi membawanya kembali ke kamar? Kan sekarang juga dapat kita angkat kaki dari sini?"

"Tidak, kita takkan pergi sekarang, harus tinggal sementara dulu di sini untuk menolong orang,"

Desis It-hiong. Tentu saja Sun Thian-tik heran dan bingung.

"Apa artinya ini?"

"Jangan tanya dulu, sebentar akan kujelaskan,"

Kata It-hiong.

"Sekarang lekas kau bawa dia kembali ke kamar, sangat mungkin Wi Ki-tiu akan mendatangi kamarmu untuk memeriksa gerak-gerikmu."

Meski penuh diliputi rasa sangsi, tahu juga Sun Thian-tik bahwa tujuan It-hiong tetap tinggal di situ untuk menolong Hui Giok-koan pasti mempunyai alasan yang kuat.

Maka ia tidak berani ayal lagi, cepat ia memondong Long-giok dan membisikinya.

"Jangan khawatir, jantung hati, biarlah kita kembali dulu ke kamarku di wisma tamu tadi."

Dengan bingung Long-giok bertanya dengan lirih.

"Sebab apa? Kan Hui Giok-koan sudah mengaku tempat sembunyi kotak pusaka itu, dapatlah kau bawaku pergi dari sini!"

Thian-tik membawa si nona menuju ke pintu rahasia tadi, sembari memencet tombol ia menjawab.

"Dengan sendirinya akan kubawamu kabur, cuma tidak sekarang, apa alasannya biar sebentar lagi akan kukatakan padamu."

Waktu pintu terbuka, cepat ia membawa Long-giok berlari melalui lorong di depan sana.

Segera It-hiong ikut keluar dan menutup kembali pintu rahasia itu serta ikut lari masuk ke lorong.

Hanya sebentar saja mereka bertiga sudah berada kembali di kamar wisma tamu.

It-hiong memeriksa keadaan dalam kamar, dilihatnya cuma di kolong ranjang saja dapat bersembunyi, ia lantas berkata kepada mereka berdua.

"Lekas kalian naik ke tempat tidur dan pura-pura tidur, aku pun akan sembunyi di kolong ranjang. Sebentar kalau Wi Ki-tiu sudah memeriksa kemari barulah kita bicara lagi."

Habis bicara ia terus menyusup ke kolong tempat tidur.

Sun Thian-tik dan Long-giok juga tahu Wi Ki-tiu pasti akan datang mengontrol mereka, cepat mereka membuka baju dan berlagak tidur habis "bekerja berat".

Long-giok merasa tidak mengerti, dengan suara lirih ia coba tanya.

"Mengapa kalian tidak sekarang juga membawa lari diriku?"

"Tidak,"

Bisik Sun Thian-tik.

"Kawanku bilang harus tinggal dulu di sini untuk menolong Hui Giok-koan."

"Untuk apa menolong dia?"

Tanya Long-giok tidak paham.

"Aku pun tidak tahu,"

Ujar Thian-tik.

"Cuma dia pasti mempunyai alasan yang kuat, sebentar urusan pasti akan dibereskan olehnya."

Perlahan ia menepuk bahu si nona dan berkata pula.

"Jangan khawatir, pasti akan kubawamu meninggalkan tempat ini. Cuma sebentar kalau Wi Ki-tiu datang kemari hendaknya kau bantu main sandiwara dengan baik, jangan memperlihatkan sesuatu tanda mencurigakan, kalau tidak ...."

Long-giok tersenyum.

"Kalau tidak aku akan kau bunuh, begitu bukan?"

Dengan serius Thian-tik menjawab.

"Betul. Bila engkau berhati tulus padaku, pasti akan kubawamu melepaskan diri dari cengkeraman iblis tua itu. Tapi kalau engkau cuma pura-pura saja dan cinta palsu, tentu aku pun tidak segan bertindak keras padamu."

"Engkau jangan khawatir, hamba benar-benar ingin melarikan diri dari sini dan ikut padamu selama hidup,"

Jawab Long-giok mantap.

"Tadi aku mengintip cara bagaimana Wi Ki-tiu memperlakukan kawan-kawanmu di kolam mandi, caranya itu memang kotor dan sadis, pantas kau ingin minggat dari sini."

"Dahulu dia memang tangkas dan agresif, tapi akhir-akhir ini sudah keropos serupa kayu dimakan rayap, sebab itulah ... ai, kalau kuceritakan sungguh sangat menggemaskan. Pendek kata dia bukan lagi manusia melainkan tiada ubahnya serupa hewan."

Mendadak Sun Thian-tik mendesis.

"Sst, jangan bicara lagi, mungkin dia datang!"

Baru selesai ucapannya, benar juga lantas terdengar suara pintu kamar diketuk orang dari luar. Cepat Thian-tik menyingkap kelambu dan berseru.

"Siapa itu?"

"Aku!"

Ternyata benar suara Wi Ki-tiu. Segera Thian-tik melompat turun dan membukakan pintu, sapanya dengan hormat.

"Ah, rupanya Wi-cengcu belum tidur?"

Wi Ki-tiu melongok ke dalam kamar, melihat kelambu setengah tersingkap, ia tertawa d berkata.

"Ya, aku belum tidur. Habis pulang dan mengontrol keadaan seluruh kampung."

"Apakah menemukan jejak musuh?"

Tanya Sun Thian-tik.

"Tidak ada,"

Jawab Wi Ki-tiu dengan menggeleng.

"Kukira sudah lari ketakutan oleh suara bende tadi."

Lalu ia menuding Long-giok yang tergolek tempat tidur, tanyanya dengan suara tertahan.

"Bagaimana dia? Lumayan bukan?"

"Ya,"

Jawab Sun Thian-tik dengan cengar-cengir.

"Tak kusangka di Liong-coan-ceng terdapat cewek secantik itu. Sungguh tidak percuma kunjunganku ini, banyak terima kasih atas pelayananmu."

Wi Ki-tiu memperlihatkan senyum kikuk, katanya.

"Jika Suntayhiap cocok dengan dia, apa salahnya tinggal lagi beberapa hari di sini."

"Wah, tidak, jangan, aku masih banyak pekerjaan, besok juga ingin mohon diri,"

Cepat Thian-tik menjawab. Wi Ki-tiu juga tidak menahannya, katanya dengan tertawa.

"Jika begitu silakan tidur lagi, maaf jika kuganggu keasyikanmu. Sampai bertemu besok!"

"Sampai bertemu!"

Jawab Sun Thian-tik sambil memberi hormat.

Dengan tersenyum Wi Ki-tiu lantas tinggal pergi.

Setelah menutup pintu kembali, Thian-tik coba mendengarkan dengan cermat, demi mendengar tingkah tuan rumah sudah keluar wisma tamu barulah ia putar balik ke depan tempat tidur, ucapnya sambil melongok ke kolong ranjang.

"Sudah aman, bolehlah kau keluar!"

It-hiong merangkak keluar dari tempat sembunyinya, ucapnya dengan tertawa.

"Eh, bila engkau tidak keberatan, bagaimana kalau kita bertiga bicara saja di tempat tidur?"

Setelah menonton mandi telanjang kelima cewek ayu tadi, sebenarnya nafsu berahi Sun Thian-tik jadi terbakar sehingga sangat ingin bergumul lagi dengan Long-giok, maka ucapan Liong It-hiong itu membuatnya kurang senang, tanyanya.

"Apakah kita akan bicara sampai pagi?"

"O, tidak, tentu saja tidak,"

Ujar It-hiong dengan tertawa.

"Begitu selesai kita berunding, segera kuangkat kaki."

Karena janji ini barulah Sun Thian-tik mengangguk, katanya dengan tertawa.

"Baiklah, cuma jangan bicara terlampau lama, sebab aku sudah mengantuk dari ingin istirahat."

Begitulah mereka lantas naik ke tempat tidur dan duduk, kelambu diturunkan pula. Long-giok sendiri tidak merasa kikuk, katanya.

"Sub-toaya, sekarang engkau kan boleh membuka Hiat-toku?"

"Tidak, belum bisa,"

Jawab Sun Thian-tik.

"Bukan karena aku tidak percaya kepadamu, soalnya kita masih berada di sarang naga dan gua harimau yang berbahaya ini, terpaksa kita harus bertindak lebih hati-hati."

Lalu ia berpaling terhadap Liong It-hiong dan berkata pula.

"Mengapa hendak kau selamatkan Hui Giok-koan?"

"Sebab dia dusta, kotak pusaka itu pasti tidak disembunyikannya di Cong-beng-to,"

Kata It-hiong. Thian-tik melengak.

"Dari mana kau tahu?"

"Hal ini kutaksir menurut waktu perjalanannya,"

Tutur It-hiong.

"Tempo hari setelah dia berhasil merampas kotak pusaka itu, sampai sekarang baru sepuluh hari. Jika dia membawa kotak itu ke Cong-beng-to, sedikitnya dia perlu buang waktu tigaempat hari lebih banyak baru bisa sampai di sini. Sebab itulah pengakuannya kotak pusaka disembunyikan di Cong-beng-to pasti tidak betul."

Baru sekarang Sun Thian-tik paham maksud Liong It-hiong, katanya.

"Hah, dia ternyata berani berdusta, apa dia tidak takut pada buaya tadi?"

"Ia sengaja menipu Wi Ki-tiu meninggalkan perkampungannya, habis itu baru berdaya melarikan diri, dengan waktu setengah bulan mungkin ia yakin pasti akan mampu meloloskan diri."

"Wi Ki-tiu adalah manusia licik dan licin, masakah dia sama sekali tidak menaruh curiga akan muslihat Hui Giok-koan ini?"

Kata Thian-tik. Ia sendiri yakin Hui Giok-koan takkan mampu kabur dari Liong-coan-ceng, dengan sendirinya dia tidak perlu sangsi.

"Dan sekarang cara bagaimana akan kau tolong dia?"

Tanya Sun Thian-tik. Ebook oleh . Dewi KZ Scan book oleh . BBSC

Jilid 13 Liong It-hiong tidak segera menjawab, ia menoleh dan berkata kepada Long-giok.

"Nona Giok, dengan setulus hati kuharap engkau benar-benar akan kembali ke jalan yang baik, bilamana kau rusak rencana kerjaku, andaikan Sun-tayhiap mau mengampunimu juga aku tidak dapat memberi ampun."

"Hamba tidak pernah menyatakan hendak meninggalkan kejahatan dan kembali ke jalan yang baik, aku cuma ingin lekas meninggalkan tempat ini untuk seterusnya hidup bersama Sun-tayhiap,"

Jawab Long-giok.

"Walaupun tingkah Wi Ki-tiu berbeda dengan orang biasa, tapi kekayaannya jarang ada bandingannya, pula tidak jelek dia memperlakukan dirimu, mengapa kau ingin meninggalkan dia?"

Tanya It-hiong pula.

"Memangnya kau kira orang perempuan akan puas asalkan mendapatkan suami yang kaya?"

Kata Long-giok.

"Biarlah kukatakan terus terang, Wi Ki-tiu sudah tua lagi buruk rupa, selamanya tidak pernah membuatku puas, masa kupikirkan harta kekayaannya saja?"

Ia berhenti sejenak sambil melirik Sun Thian-tik sekejap, lalu menyambung dengan tertawa.

"Hamba cuma suka kepada orangnya. Sun-tayhiap menyenangkanku, makanya kurela ikut dia."

Sun Thian-tik merasa berjaya, dengan tertawa ia berkata.

"Terima kasih atas pujianmu, selama ini orang she Sun tidak pernah mendapatkan penghargaan orang perempuan, mereka sama menganggap aku miskin dan kotor, tidak ada yang mau menjadi istriku."

"Engkau tidak miskin,"

Kata Long-giok.

"Soal kotor, asalkan kuanggap hatimu tidak kotor kan cukup."

"Baik,"

Sela It-hiong.

"Sekarang Sun-tayhiap sudah mau padamu, maka seterusnya engkau tidak boleh berhati cabang, dengan sendirinya juga tidak boleh mengkhianati kami berdua, tahu?"

Long-giok mengiakan.

"Nah, sekarang akan kujelaskan rencanaku,"

Tutur It-hiong.

"Esok pagi hendaknya Sun-tayhiap mohon diri kepada Wi Kitiu, pura-pura meninggalkan Tengciu agar Wi Ki-tiu berangkat ke Cong-beng-to tanpa khawatir ...." ***** Begitulah esok paginya sewaktu Long-giok masih tidur nyenyak, Sun Thian-tik lantas bangun dan keluar, ia tanya kepada seorang centeng.

"Apakah Cengcu kalian sudah bangun?"

"Belum,"

Jawab centeng itu dengan hormat.

"Semalam Cengcu tidur sangat terlambat, mungkin sebentar lagi baru akan bangun."

"Di manakah Lokoankeh?"

Tanya Thian-tik.

"Kalau Lokoankeh sudah bangun pagi-pagi,"

Tutur si centeng.

"Bolehkah tolong panggil dia ke sini, aku ada urusan,"

Kata Thian-tik. Centeng itu mengiakan terus melangkah pergi. Tidak lama kemudian Lokoankeh sudah muncul, dengan tertawa ia memberi hormat dan berkata kepada Sun Thian-tik.

"Wah, pagi benar Sun-tayhiap bangun, apakah ada urusan penting?"

"Ya, ada sedikit urusan dan harus segera mohon diri,"

Jawab Thian-tik.

"Konon Cengcu belum bangun, maka ...."

"Sun-tayhiap kan belum sarapan pagi, mana boleh berangkat begini saja, silakan makan dulu baru berangkat,"

Kata Lokoankeh.

"Tidak usah,"

Ujar Sun Thian-tik.

"Aku tidak biasa sarapan pagi, pula aku memang ada urusan harus segera berangkat. Nanti kalau Cengcu bangun, tolong sampaikan tentang keberangkatanku ini, katakan aku tidak sempat mohon diri dan sampaikan terima kasihku atas segala pelayanan beliau yang baik ini."

"Tidak, jangan,"

Kata Lokoankeh.

"jika Sun-tayhiap terburuburu hendak berangkat, biarlah hamba laporkan saja kepada Cengcu."

Habis bicara segera ia masuk ke dalam untuk lapor. Tidak lama kemudian Kui-sui-poa. Wi Ki-tiu tampak keluar dengan wajah kelihatan baru bangun tidur, begitu masuk ruang tamu segera ia menegur.

"Ai, Sun-tayhiap, mengapa pagi-pagi begini engkau akan berangkat? Jangan-jangan karena ladenan Long-giok kurang memuaskanmu?"

"Ah, mana,"

Jawab Sun Thian-tik dengan tersenyum.

"Dia telah memberi servis dengan sangat memuaskan, soalnya aku memang ada urusan dan harus cepat-cepat kuselesaikan, biarlah lain kali saja kudatang lagi,"

Jawab Sun Thian-tik.

"Sun-tayhiap hendak menyelesaikan urusan penting apa?"

Tanya Wi Ki-tiu.

"Aku telah berjanji untuk bertemu di suatu tempat dengan seorang sahabat,"

Tutur Thian-tik.

"Jika tidak lekas kuberangkat mungkin akan terlambat."

"Jika begitu, berangkatlah setelah sarapan pagi,"

Ujar Wi Ki tiu.

"Jangan sungkan, Wi-cengcu,"

Kata Thian-tik.

"Aku pun tidak biasa makan pagi .... Ah, ya, sebentar bila Hui Giok-koan bangun, harap Cengcu sampaikan padanya bahwa aku sudah berangkat lebih dulu."

"Baiklah, akan kusampaikan padanya,"

Jawab Wi Ki-tiu.

"Bila kiranya Sun-tayhiap akan pesiar lagi ke Tengciu sini?"

"Begitu ada waktu luang pasti kudatang lagi,"

Kata Thian-tik dengan tertawa.

"Selain itu, bilamana Cengcu memerlukan tenagaku, silakan mengirim kabar saja, bahwasanya Cengcu telah memberi pelayanan sebaik ini kepadaku, adalah pantas bilamana kubalas."

"Ah, kenapa Sun-tayhiap bicara seperti ini, serupa baru saja kenal,"

Ujar Wi Ki-tiu sambil tergelak.

"Sungguh kunjungan Sun-tayhiap ini merupakan suatu kehormatan besar bagiku, selanjutnya, persahabatan kita sudah jelas tambah kekal, kenapa mesti sungkan dan rendah hati."

Sun Thian-tik menengadah dan terbahak-bahak, lalu memberi hormat dan berkata.

"Jika demikian, biarlah sekarang juga kumohon diri."

Wi Ki-tiu terus mengantarnya hingga keluar kampung, lalu memberi pesan pula.

"Selanjutnya bila Sun-tayhiap ada waktu luang hendaknya suka mampir kemari, mungkin tidak lengkap persediaan perkampungan kami ini, tapi kalau daging pesut pasti tidak pernah absen."

"Oya, pasti datang, pasti datang!"

Seru Thian-tik dengan tertawa.

"Di tempat Anda tidak cuma daging pesut saja sangat enak dimakan, juga di sini banyak nona cantik yang memikat."

"Haha, asal tahu saja!"

Wi Ki-tiu terbahak.

"Maaf, tidak antar lebih jauh."

"Sampai bertemu!"

Seru Thian-tik sambil memberi salam. Wi Ki-tiu memandangi kepergian orang hingga jauh barulah masuk kembali ke kampung. Tertampil rasa senang pada wajahnya, ucapnya dengan bergumam.

"Hm, semula kukira dia datang dengan tujuan tertentu, rupanya cuma ingin cari kesenangan saja ...."

"Dia sudah pergi, Cengcu?"

Tanya Lokoankeh sambil menyongsong sang Cengcu.

"Ehm, sudah pergi,"

Wi Ki-tiu mengangguk.

"Sekarang Loya (tuan besar) tentu tidak perlu khawatir lagi,"

Ujar Lokoankeh dengan tertawa. Wi Ki-tiu lantas menuju ke wisma tamu, sambil berjalan ia berkata.

"Ya, sekarang boleh kau berbenah seperlunya bagiku, sehabis menyamar segera aku akan berangkat."

Lokoankeh mengiakan dan balik ke rumah induk.

"Eh, nanti dulu,"

Seru Wi Ki-tiu mendadak.

"Loya ada pesan apa lagi?"

Tanya Lokoankeh.

"Pada waktu aku pergi nanti, hendaknya kau awasi dengan lebih hati-hati, pada waktu malam seluruh kampung tidak boleh memadamkan lampu, pos penjagaan juga tidak boleh dihapus, bila ketemu orang pejalan malam menyusup kemari, harus gunakan cara lama dengan membunyikan bende dan berteriak maling, dengan demikian musuh dapat digertak lari."

Lokoankeh mengiakan.

"Ada lagi, sesudah kupergi, Cui-ci-kiong harus ditutup, siapa pun dilarang rasuk,"

Pesan Wi Ki-tiu pula.

"Bagaimana dengan Lik-cu dan lain-lain?"

Tanya Lokoankeh.

"Mereka menjaga Hui Giok-koan di dalam sana, di situ sudah tersedia perbekalan yang cukup, maka tidak perlu kau urus mereka,"

Kata Wi Ki-tiu.

"Baik, dan apakah Loya juga sudah pesan kepada mereka dilarang keluar Cui-ci-kiong?"

Tanya Lokoankeh.

"Setelah Cui-ci-kiong kututup, segenap jalan keluar sudah buntu, biarpun mereka ingin keluar juga tidak dapat lagi."

"Betul, hamba jadi lupa kepada kehebatan pesawat rahasia yang terdapat di dalam istana kristal itu ...."

Lokoankeh tertawa senang.

"Baiklah, sekarang boleh kau pergi,"

Kata Ki-tiu. Sementara itu Wi Ki-tiu sudah sampai di depan wisma tamu, ia masuk ke situ, mendatangi kamar yang semalam dipakai oleh Sun Thian-tik, ia mendorong pintu dan melangkah ke dalam.

"Siapa itu?"

Terdengar suara Long-giok tanya dari balik kelambu dengan kemalas-malasan serupa orang yang terjaga dari tidurnya. Wi Ki-tiu mendekati tempat tidur dan menyingkap kain kelambu, ucapnya dengan tertawa.

"Long-giok, bangunlah!"

Melihat Wi Ki-tiu, cepat Long-giok bangun duduk dan berseru.

"Oo, Loya ...."

"Semalam tentu sangat menyenangkan bukan?"

Tanya Wi Kitiu dengan tertawa. Dengan malu-malu Long-giok menjawab.

"Kalau Loya sudah tidak suka lagi padaku, maka diriku diberikan untuk permainan orang lain, apa yang dapat hamba katakan pula?"

"Bukan begitu maksudku,"

Kata Wi-Ki-tiu.

"Engkau adalah orang yang paling kusayangi, akhir-akhir ini kulihat engkau suka murung, maka sengaja kuberi kesempatan untuk ganti cita rasa lain, supaya kau pun dapat bermain dengan senang."

Long-giok menjawab dengan lagak sedih.

"Hamba cuma suka kepada Loya seorang, tapi tanpa iri sedikit pun Loya memberikan hamba kepada orang lain, ini menandakan Loya sudah bosan padaku."

Wi Ki-tiu duduk di tepi tempat tidur, katanya sambil tepuktepuk bahu si nona dan berkata dengan tertawa.

"Salah, bukan begitu, justru aku sangat suka padamu, lantaran akhirakhir ini kesehatanku kurang baik, kukhawatir kau kurang puas, maka kuberi kesempatan padamu, sudah tentu masih ada alasan lain, yaitu supaya engkau mengawasi Sun Thiantik. Nah, semalam dia tidak pernah meninggalkan kamar, bukan?"

"Ya, tidak,"

Jawab Long-giok.

"Dan sekarang ke mana perginya?"

"Sudah angkat kaki,"

Kata Wi Ki-tiu.

"Angkat kaki?"

Long-giok melengak.

"Ya, dia sudah pergi. Ia bilang ada janji pertemuan dengan orang, harus segera pergi ke sana."

"Hm, dia benar-benar menganggap diriku sebagai pelacur belaka, mau pergi saja tanpa pamit sama sekali,"

Jengek Longgiok dengan tidak senang.

"Mungkin dilihatnya kau masih tidur dan tidak mau membangunkanmu,"

Kata Wi Ki-tiu dengan tertawa.

"Eh, apa saja yang dibicarakannya denganmu semalam?"

"Banyak yang dia bicarakan, cuma semuanya tidak ada yang penting, ia terus-menerus membual tentang kehebatan pribadinya. Hm, biasanya gentong kosong memang nyaring bunyinya, kukira paling-paling dia juga cuma begitu saja, masa Loya begitu jeri padanya?"

"Tidak, dia memang tokoh yang sukar direcoki,"

Ujar Wi Ki-tiu.

"Kalau bicara tentang ilmu silat, tentu saja aku tidak gentar padanya. Tapi dia banyak tipu muslihatnya, segala permainan dapat dilakukannya, sebab itulah harus berjaga-jaga segala kemungkinan tingkah ulahnya."

"Dan sekarang tentunya sudah terbukti kedatangannya bukan tertuju kepada Loya?"

"Ya,"

Jawab Ki-tiu.

"Dan bagaimana dengan Hui Giok-koan?"

Tanya Long-giok pula.

"Semalam Lik-cu telah menawannya ke dalam Cui-ci-kiong, dia sudah dikompes dan akhirnya mengaku tempat dia menyembunyikan kotak pusaka itu."

"Disembunyikannya di mana?"

Tanya Long-giok dengan girang.

"Di Ngo-tay-san,"

Tutur Ki-tiu.

"Dan Loya sudah membunuhnya?"

Tanya Long-giok pula.

"Tidak,"

Ki-tiu menggeleng.

"Sebelum kotak pusaka itu kudapatkan tidak boleh kubunuh dia, akan kukurung dia di kamar rahasia nomor sembilan."

"Sesungguhnya apa isi kotak pusaka itu?"

Tanya Long-giok.

"Biarlah kelak saja akan kuberi tahukan padamu,"

Ujar Wi Kitiu dengan tersenyum.

"Dan kapan Loya akan mengambil kotak pusaka itu?"

"Sebentar segera kuberangkat."

"Apakah boleh hamba ikut pergi bersama Loya?"

Tanya Longgiok.

"Tidak, hendaknya kalian tinggal saja di Cui-ci-kiong untuk menjaga Hui Giok-koan,"

Jawab Wi Ki-tiu.

"Bilakah Loya akan pulang?"

"Paling cepat setengah bulan lagi."

"Wah, apabila ada orang menyusup ke sini dan membawa lari Hui Giok-koan, lantas bagaimana?"

Tanya Long-giok.

"Tidak, tidak mungkin terjadi,"

Ujar Wi Ki-tiu.

"Sudah kuputuskan akan memblokir Cui-ci-kiong dengan ketat, siapa pun jangan harap akan masuk ke sana."

"Hah, memblokir Cui-ci-kiong, menutupnya dengan rapat?"

Long-giok menegas dengan melengak.

"Betul,"

Jawab Ki-tiu.

"Wah, dengan demikian bukankah kami akan hidup di dalam Cui-ci-kiong selama setengah bulan takkan melihat sinar matahari?"

Kata Long-giok dengan mulut menjengkit.

"Betul, cuma kau pun jangan sedih, hanya setengah bulan saja, dalam sekejap pun akan lalu."

"Tidak mau,"

Long-giok berlagak manja.

"hamba tidak mau. Berdiam selama setengah bulan di situ, bisa mati kesal."

"Ai, sabarlah sedikit,"

Bujuk Ki-tiu.

"Nanti setelah kupulang dengan membawa kotak pusaka itu, kau minta barang apa pun pasti akan kubelikan."

"Tidak, hamba tidak menghendaki apa pun,"

Kata Long-giok.

"Hamba cuma tidak ingin berdiam selama setengah bulan di Cui-ci-kiong .... Ai Loya, mohon engkau perbolehkan kutinggal di sini saja."

Wi Ki-tiu berkerut kening.

"Masa kau tidak ingin berkumpul dengan Lik-cu dan lain-lain?"

"Tidak, sudah lebih setahun hamba tinggal di Cui-ci-kiong, mendingan biasanya didampingi oleh Loya,"

Kata Long-giok.

"Tapi sekarang, bila Loya pergi, sungguh hamba tidak tahan berdiam di sana, makanya kumohon tinggal di sini saja agar dapat menghirup udara segar."

"Jika kau tidak turun ke sana, nanti kalau Cui-ci-kiong kututup, bila kau ingin turun ke sana harus menunggu lagi setengah bulan,"

Ujar Wi Ki-tiu.

"Baiklah, tidak menjadi soal,"

Kata Long-giok. Wi Ki-tiu mengawasi si nona, tiba-tiba ia tersenyum dan berkata.

"Apakah ada niatmu meninggalkanku pada waktu aku tidak di rumah.?"

"Ah, sama sekali hamba tidak punya niat begitu,"

Jawab Longgiok.

"Jika Loya khawatir hamba berubah pikiran, bolehlah Loya mengurung hamba saja di sini."

"Terkurung di sini, apakah akan lebih enak daripada tinggal di Cui-ci-kiong?"

"Begitulah menurut pikiran hamba, sesungguhnya hamba tidak ingin lagi hidup di tempat yang tidak pernah melihat sinar matahari itu, mohon Loya kasihan padaku."

Wi Ki-tiu termenung sejenak, katanya kemudian.

"Jika benar kau tidak suka lagi tinggal di Cui-ci-kiong, bolehlah kusuruh Lik-cu kemari untuk menemanimu ...."

"Jangan Lik-cu, panggil Le-hui saja, biasanya hamba lebih cocok berkumpul dengan dia,"

Pinta Long-giok.

"Boleh juga,"

Ki-tiu manggut-manggut.

"Akan kutanyai dia apakah dia mau naik ke sini untuk menemanimu."

Bicara sampai di sini ia lantas berbangkit.

"Jika Le-hui mau, tolong Loya suruh dia membawa sekalian pakaian dan barang lain milik hamba ke sini,"

Pinta Long-giok.

Wi Ki-tiu mengangguk, lalu dia mendekati dinding di kanan tempat tidur dan mengetuk pintu rahasia, lalu masuk ke sana.

Long-giok menaksir orang sudah sampai di bawah Cui-ci-kiong barulah dia melongok kolong ranjang dan mendesis.

"Lionghiap, dia bilang akan memblokir Cui-ci-kiong, wah, sungguh kabar tidak enak."

Kiranya Liong It-hiong masih sembunyi di kolong ranjang, dengan sendirinya ia dapat mengikuti seluruh percakapan antara Wi Ki-tiu dan Long-giok.

Setelah melangkah keluar kolong tempat tidur, It-hiong bertanya dengan perlahan.

"Apa yang disebut memblokir Cuici-kiong, sesungguhnya bagaimana jadinya?"

"Kau tahu, berbagai jalan keluar-masuk Cui-ci-kiong dikendalikan oleh sebuah pesawat sentral, asalkan pesawat sentral itu ditutupnya, orang luar lantas tidak dapat masuk ke sana dan orang di dalam pun tidak mampu keluar."

"Di mana letak pesawat sentral itu?"

Tanya It-hiong.

"Entah, aku pun tidak tahu. Kecuali dia sendiri, mungkin tidak diketahui oleh orang kedua."

"Mengapa kau minta dia memperbolehkan kau tinggal di sini?"

"Sebab dia menyatakan hendak memblokir Cui-ci-kiong, terpaksa hamba mengajukan permintaan demikian, kalau tidak, jelas aku tidak mampu membantu kalian."

"Apakah takkan menimbulkan curiganya atas permintaanmu itu?"

"Kuharap tidak,"

Kata Long-giok.

"Apakah engkau tidak punya akal untuk menyelidiki di mana letak pesawat sentral yang mengatur semua jalan keluarmasuk itu?"

"Tidak, tidak bisa,"

Jawab Long-giok.

"Pada waktu dia memblokir Cui-ci-kiong pasti tidak mengizinkan orang lain mendampingi dia."

"Tadi dia telah membohongimu, apakah kau tahu?"

Kata Ithiong.

"Membohongiku apa?"

Tanya Long-giok bingung.

"Waktu kau tanya dia di mana Hui Giok-koan menyembunyikan kotak pusaka, dia kan menjawab Ngo-taysan, begitu bukan?"

"Ya, maksudmu sesungguhnya tidak disembunyikan di Ngotay-san?"

Long-giok menegas.

"Ehmm,"

It-hiong mengangguk. Long-giok menghela napas perlahan.

"Makanya, dari sini pun terbukti bahwa sama sekali dia tidak menganggap diriku sebagai orang kepercayaannya."

"Dia pasti mempunyai beberapa orang kepercayaan, apakah kau tahu siapa-siapa mereka?"

Tanya It-hiong.

"Ada tujuh orang jago pengawalnya yang setia, seluruhnya adalah anak buahnya sejak dulu,"

Tutur Long-giok.

"Cuma orang yang paling dipercayanya adalah Lokoankeh yang bernama Eng Tiong-jin itu. Setiap urusan penting selalu diserahkan kepada Eng Tiong-jin untuk menyelesaikannya."

"Jika begitu, sangat mungkin Eng Tiong-jin tahu di mana letak pesawat sentral itu,"

Kata It-hiong.

"Ya, mungkin, tapi Eng Tiong-jin tidak pernah belajar ilmu silat,"

Kata Long-giok.

"Terkadang, memercayai seorang yang tidak paham ilmu silat akan jauh lebih dapat diandalkan daripada memercayai seorang yang mahir ilmu silat,"

Ujar It-hiong.

"Dia menyanggupi akan memanggil Le-hui ke sini untuk menemaniku,"

Kata Long-giok.

"Nanti kalau dia sudah berangkat apakah boleh kuceritakan segalanya kepada Lehui?"

"Wah, jangan,"

Kata It-hiong.

"Mungkin dia rada curiga terhadap permintaanmu, dan karena itu bisa jadi dia memberi perintah kepada Le-hui untuk mengawasi gerak-gerikmu, maka jangan sekali-kali kau ceritakan sesuatu kepadanya."

"Tapi kalau dia menemaniku di sini, cara bagaimana hamba dapat membantu kalian? Cara bagaimana pula untuk kabur dari Liong-coan-ceng sini?"

"Tunggu saja kalau malam nanti Sun-tayhiap datang, akan kami rundingkan suatu akal untuk menghadapi dia, untuk sementara ini hendaknya sabar dulu dan jangan memperlihatkan sesuatu yang mencurigakan."

"Baiklah,"

Bata Long-giok.

"Engkau lapar tidak?"

"Lapar sedikit, tapi tidak menjadi soal, nanti kalau Wi Ki-tiu sudah pergi baru kau cari kesempatan untuk mengambilkan makanan bagiku."

"Mungkin selekasnya dia akan naik ke sini lagi, lekas kau sembunyi."

Kata si nona.

It-hiong mengangguk dan segera merangkak masuk lagi dan sembunyi di kolong ranjang.

Benar juga, tidak lama kemudian pintu rahasia tadi perlahan naik ke atas dan terbuka, Wi Ki-tiu muncul bersama Le-hui, salah seorang di antara ketujuh nona cantik.

Segera Long-giok turun dari tempat tidur dan menegur.

"Lehui, kau bawah sekalian pakaianku atau tidak?"

"Ini, di sini semua,"

Jawab Le-hui dengan tertawa sambil menyodorkan sebuah bungkusan.

"Terima kasih,"

Kata Long-giok.

"Ai, saudara sendiri, pakai terima kasih apa segala?"

Ucap Lehui dengan tertawa.

"Nah, sekarang tentu kau senang, bukan?"

Tanya Wi Ki-tiu.

"Ya, terima kasih, Loya,"

Jawab Long-giok sambil memberi hormat.

"Sekarang kalian berdua boleh tinggal di wisma tamu ini, kalau tidak ada urusan boleh saja jalan-jalan di dalam kampung, tapi dilarang keluar kampung, tahu?"

Pesan Wi Ki-tiu.

"Tahu, Loya,"

Jawab Long-giok dengan lembut.

"Selama aku tidak di rumah, kalian menghendaki apa boleh minta saja kepada Lokoankeh, sebentar akan kuberi pesan kepadanya."

"Baiklah, apakah sekarang juga Loya akan berangkat?"

Tanya Long-giok.

"Aku mau kembali ke kamar untuk menyamar, habis itu akan berangkat melalui belakang kampung, kalian tidak perlu lagi mengantar,"

Kata Ki-tiu. Le-hui mendekat dan menciumnya sekali, ucapnya dengan tertawa.

"Selamat jalan Loya, lekas pergi dan cepat pulang."

Wi Ki-tiu terbahak-bahak.

"Tentu, tentu, hahaha! Kutahu kawanan budak seperti kalian ini tidak tahan kesepian, mana kala aku tidak lekas pulang, wah, bisa jadi kalian akan menyeleweng."

Long-giok juga memberi ciuman perpisahan sambil meraba pipi dan mengelus jenggot Wi Ki-tiu, ucapnya dengan tersenyum manis.

"Loya jangan khawatir, dalam hati kami hanya ada engkau seorang!"

Wi Ki-tiu terbahak-bahak senang dan tinggal pergi. ***** Segera Le-hui menutup pintu kamar, ia membalik dan memandang Long-giok sampai sekian lama, lalu bertanya.

"Di sini semalam engkau melayani Sun Thian-tik?"

Muka Long-giok menjadi merah, jawabnya sambil mengangguk.

"Ya."

"Bagaimana rasanya?"

Tanya Le-hui pula.

"Cis,"

Semprot Long-giok dengan melotot.

"Untuk apa kau tanya hal ini? Tidak malu!"

"Alaa, malu apa?"

Ujar Le-hui dengan tertawa.

"Sekarang Loya sudah pergi, apa alangannya kau katakan padaku."

"Tidak, takkan kukatakan,"

Jawab Long-giok.

"Tidak kau katakan takkan kutemanimu di sini,"

Le-hui berlagak ngambek terus hendak tinggal pergi. Cepat Long-giok menariknya, ucapnya dengan tertawa.

"Baik, baik, akan kuceritakan."

Lalu ia mendekap telinga Le-hui dan membisikinya, diuraikannya apa yang dialaminya semalam. Sembari mendengarkan Le-hui tertawa terkikik-kikik, juga heran dan kagum sekali, akhirnya ia menegas.

"Apa betul?"

Long-giok tertawa.

"Hubungan kita berdua sangat karib, untuk apa kubohongimu?"

Tampaknya Le-hui sangat terpikat, ucapnya.

"Sungguh nasibmu sangat baik."

"Tidak baik,"

Kata Long-giok dengan tertawa sambil menggeleng.

"Tidak baik?"

Le-hui melenggong.

"Ya,"

Jawab Long-giok.

"Tanpa sayang sedikit pun dia menyerahkan diriku untuk dibuat mainan orang lain, ini menandakan dia tidak suka lagi padaku,"

Tutur Long-giok.

"Selain itu, setelah pengalaman ini, bilamana aku bergaul lagi dengan dia tentu akan merasa cemplang."

"Memang betul,"

Tukas Le-hui dengan tertawa.

"Ibaratnya orang bila pernah minum arak, lalu minum air tawar, tentu akan dirasakan cemplang."

"Makanya kubilang tidak baik,"

Kata Long-giok.

"Namun aku tetap kagum akan keberuntunganmu,"

Ujar Lehui.

"Jika kau mau, kelak bila ada kesempatan tentu akan kuminta dia menugaskan dirimu,"

Kata Long-giok. Le-hui tertawa, ia coba ganti pokok pembicaraan.

"Kenapa kau minta dia mengizinkan kau tinggal di sini?"

"Bila turun ke Cui-ci-kiong, kukhawatir akan ditertawai oleh kalian,"

Jawab Long-giok.

"Ah, jangan kau dusta, bahwa engkau tidak mau masuk lagi ke Cui-ci-kiong tentu ada alasan lain,"

Kata Le-hui.

"Memang ada suatu alasan lagi,"

Tutur Long-giok.

"yaitu, dia kan mau pergi selama setengah bulan, bahkan dia bilang hendak memblokir Cui-ci-kiong. Jika terjadi demikian, coba pikir, kita kan serupa orang mati saja dikubur hidup-hidup di bawah tanah. Bilamana terjadi sesuatu di luaran dan dia takkan pulang untuk selamanya, kita kan benar-benar akan terkubur di situ?"

Le-hui menampilkan rasa menyadari duduknya perkara.

"Ah, kiranya begitu, aku tidak berpikir sampai ke situ. Memang betul, apabila dia mampus di luaran, kita pun jangan harap lagi akan keluar dari Cui-ci-kiong."

"Semula dia bilang hendak menyuruh Lik-cu untuk menemaniku di sini,"

Tutur Long-giok pula.

"Tapi aku menolak, kukatakan lebih cocok denganmu dan kuminta dia menyuruhmu ke atas untuk menemaniku."

"Wah, sungguh aku sangat beruntung,"

Seru Le-hui dengan gembira.

"Bilamana dia benar tidak pulang lagi, itu sama halnya engkau yang menyelamatkan jiwaku."

"Ya, tatkala mana kau harus terima kasih padaku,"

Kata Longgiok dengan tertawa. Le-hui coba mendekati jendela dan melongok ke luar, lalu berpaling dan mendesis.

"Long-giok, ada satu gagasanku, entah boleh, kukatakan kepadamu atau tidak?"

"Urusan apa, katakan saja,"

Jawab Long-giok. Le-hui menariknya untuk duduk di tepi ranjang, lalu berkata.

"Kau tahu, terhadap kehidupan di Cui-ci-kiong itu aku sudah merasa bosan, selama ini kuharapkan akan tiba ketika baik untuk melepaskan diri dari cengkeramannya. Nanti kalau dia sudah pergi, bagaimana kalau kita mencari kesempatan untuk minggat saja?"

"Wah, jangan!"

Jawab Long-giok.

"Kenapa?"

Tanya Le-hui.

"Setiap manusia harus punya perasaan dan tahu budi kebaikan,"

Ujar Long-giok.

"Meski dia sudah tua dan loyo, biasanya hanya nafsu besar dan tenaga kurang, tapi selama ini dia tidak jelek terhadap kita, mana boleh kita tinggalkan dia begini saja."

"Akan tetapi, kita kan harus berpikir juga bagi diri kita sendiri,"

Kata Le-hui.

"Kita masih muda, masih panjang hari depan kita, masa kita akan ikut dia selamanya?"

"Apa pun juga aku tidak setuju meninggalkan dia,"

Ucap Longgiok dengan tegas.

"Jika mau pergi, biarlah kita tunggu sampai dia mati."

"Wah, bisa jadi dia akan hidup lagi 20 tahun atau 30 tahun, waktu itu kita pun sudah keriput dan ubanan, siapa yang mau kepada kita?"

Kata Le-hui.

"Pendek kata, betapa pun aku tidak setuju meninggalkan dia,"

Ucap Long-giok sambil menggeleng kepala. Melihat tekad kawannya begitu teguh, Le-hui merasa kurang senang, ucapnya.

"Baik, tidak mau ya sudah, namun engkau jangan menyesal ...."

Ia terus berbangkit dan berkata pula.

"Entah sekarang Cui-cikiong sudah ditutupnya atau belum?"

"Kan mudah saja untuk mengetahuinya, coba ketuk pintu rahasianya,"

Kata Long-giok. Segera Le-hui mendekati kanan tempat tidur dan mengetuk tiga kali pada dindingnya, ternyata pintu rahasia itu tidak terpentang lagi seperti biasanya.

"Ya, benar, sudah tertutup,"

Katanya.

"Mungkin segera dia akan berangkat,"

Ucap Long-giok.

"Coba kupergi melihatnya,"

Kata Le-hui, lalu ia membuka pintu kamar dan keluar.

Long-giok ikut keluar, dilihatnya Le-hui sudah keluar wisma, cepat ia putar balik ke kamar dan berjongkok, katanya kepada Liong It-hiong yang mendekam di kolong ranjang.

"He, lekas keluar, biar hamba membawamu sembunyi di kamar sebelah, tidak boleh di sini."

It-hiong juga menyadari tidak mungkin bersembunyi terus di kolong ranjang, cepat ia merangkak keluar, katanya dengan tertawa.

"Dia benar-benar sangat baik denganmu?"

"Hanya agak cocok saja di antara kami berdua,"

Jawab Longgiok.

"Engkau sangat pintar, tadi engkau tidak setuju untuk minggat bersama dia,"

Kata It-hiong, dengan tersenyum.

"Kutahu dia sengaja menjajaki jalan pikiranku atas suruhan Wi Ki-tiu,"

Ujar Long-giok.

"Saat ini mungkin dia sedang memberi laporan kepadanya."

"Ya, bila Wi Ki-tiu mendengar engkau tidak mau minggat, rasa curiganya padamu tentu akan lenyap."

Long-giok mengangguk, katanya.

"Ayo, lekas ikut padaku."

Ia mendekati pintu kamar dan coba melongok keluar, setelah jelas wisma ini tidak ada orang lain, ia menggapai kepada Liong It-hiong terus melangkah cepat ke kamar sebelah.

Cepat It-hiong ikut keluar ke sana.

Setiba di kamar sebelah, Long-giok menolak pintu kamar sambil mendesis.

"Lekas masuk, dengan sembunyi di kamar ini mungkin takkan ketahuan, dan bila ada kesempatan tentu akan kuantarkan makanan kepadamu."

Liong It-hiong menyelinap ke dalam kamar, dilihatnya keadaan kamar ini lebih buruk daripada kamar tadi, ia tahu kamar ini jarang digunakan, tanpa pikir ia berjongkok terus menyusup ke kolong ranjang.

Long-giok menutup kembali pintu kamar dan kembali ke kamar tadi, ia mulai cuci muka dan berdandan, gerak-geriknya sangat tenang.

Tidak lama kemudian tampak Le-hui sudah kembali.

"Dia sudah pergi,"

Katanya dengan tertawa.

"Apakah dia jadi menyamar?"

Tanya Long-giok.

"Ya, dia menyamar sebagai saudagar,"

Tutur Le-hui.

"Kuharap kotak pusaka itu dapat ditemukannya dengan lancar,"

Ujar Long-giok.

"Apakah ia pernah memberitahukan padamu apa isi kotak itu?"

Tanya Le-hui.

"Tidak pernah,"

Jawab Long-giok.

"Tapi dapat diduga isi kotak pasti benda mestika yang sukar dinilai harganya, kalau tidak masakah dia berani menyatakan akan menukarnya dengan Liong-coan-ceng ini."

"Ai, orang she Hui itu sungguh harus dikasihani ...."

Kata Lehui.

"Apakah dia dikurung di kamar rahasia nomor sembilan?"

"Ya, dia ditelanjangi sehingga tidak tertinggal sehelai benang pun, kaki dibelenggu lagi."

"Mengapa tidak membiarkan dia mengenakan pakaian?"

"Dalam keadaan telanjang bulat, supaya dia tidak berani berusaha melarikan diri,"

Tutur Le-hui dengan tertawa.

"Wah, sungguh keterlaluan,"

Kata Long-giok.

"Memang, dalam keadaan telanjang bulat begitu, Lik-cu dan lain-lain mungkin akan terangsang, tapi mereka hanya dapat memandangnya dan tidak dapat memegangnya."

Mendadak pintu diketuk orang.

"Siapa itu?"

Tanya Le-hui.

"Hamba,"

Terdengar suara Lokoankeh Eng Tiong-jin.

"Masuk saja,"

Seru Le-hui. Segera Lokoankeh menolak pintu dan masuk dengan tertawa, ia tanya.

"Kedua nona bermaksud dahar di mana?"

"Biarlah kami makan di sini saja,"

Jawab Le-hui sambil memandang Long-giok sekejap.

"Baiklah, segera hamba akan menyuruh orang mengantar ke sini,"

Kata Lokoankeh. Habis berucap ia lantas mengundurkan diri. Pada saat itulah, tiba-tiba dari mulut kampung berkumandang suara ribut-ribut.

"He, ada apa?"

Seru Long-giok melengak.

"Mari kita coba melihatnya,"

Ajak Le-hui.

Kedua orang lantas keluar kamar, sampai di luar wisma, terlihat di depan kampung sana ada beberapa centeng mengerumuni satu orang dan sedang bertengkar.

Usia orang itu antara 57-58 tahun, muka bulat, kepala gundul, berbaju kulit macan tutul.

Kiranya si kakek berbaju kulit macan alias Kim-ci-pa Song Goan-po yang semalam gagal menyelundup ke Liong-coan-ceng itu.

Rupanya dia telah ganti haluan, tidak mau masuk kampung secara gelap-gelapan melainkan dilakukannya secara terang terangan dan menyatakan hendak bertemu dengan Wi Ki-tiu, akan tetapi kawanan centeng itu tidak mengizinkan dia masuk, maka terjadi keributan.

Tentu saja Song Goan-po sangat mendongkol, dengan bengis ia meraung.

"Keparat, lekas laporkan kepada Cengcu kalian, katakan Kim-ci-pa Song Goan-po ingin bertemu, kalau rewel lagi segera akan kuterjang masuk saja!"

Salah seorang centeng menjawab dengan ketus.

"Hari ini Cengcu kami tidak menerima tamu, hal ini sudah kukatakan sejak tadi, apakah kupingmu tuli?!"

Song Goan-po menjadi murka, bentaknya.

"Dirodok, bicara secara halus kalian tidak mau terima, boleh kalian coba saja mau apa?"

Sembari bicara ia terus melangkah ke depan. Beberapa centeng itu juga murka, serentak mereka mengadang di depan orang dan mendorong sambil membentak.

"Enyah!"

Siapa tahu meski tangan mereka dapat menolak dada Song Goan-po, namun tidak dapat menahan langkah maju kakek gundul itu, sebaliknya mereka malah tergetar oleh Lwekang Song Goan-po yang lihai, semuanya terpental serupa layanglayang putus benang dan jatuh tersungkur dua-tiga tombak jauhnya.

Song Goan-po tertawa keras dan langsung menuju ke tengah kampung.

Segera dilihatnya lagi dua orang centeng dengan membawa toya memburu tiba, sambil mengacungkan toya masingmasing segera mereka membentak.

"Enyah, pergi! Kalau berani sembarangan menerobos lagi, sekali kemplang bisa kami mampuskan kau tua bangka ini!"

Namun Song Goan-po anggap tidak mendengar dan melihat saja, ia masih terus melangkah ke depan.

Melihat sikap orang yang kepala batu itu, kedua centeng menjadi gusar, toya mereka serentak bekerja, yang seorang mengemplang batok kepala Song Goan-po, yang lain menyerampang kedua kakinya.

Dari gaya serangan mereka, jelas kedua centeng ini sudah pernah belajar Kungfu.

Akan tetapi Song Goan-po tetap anggap seperti tidak melihat dan mendengar, sebaliknya ia songsong serangan mereka.

Maka terdengarlah suara "brak-krek"

Dua kali, kedua toya tepat kena sasarannya, yang satu mengenai kepala dan yang lain mengenai kaki.

Namun kepala Song Goan-po yang gundul itu tetap halus kelimis, tidak merah, tanpa benjut, kedua kakinya juga tidak patah, yang patah sebaliknya kedua toya.

Sungguh luar biasa, serupa kepala tembaga dan tulang baja saja, sedikit pun tidak cedera.

Baru sekarang air muka kedua centeng itu berubah pucat, lekas mereka membuang sisa toya patah itu terus mengeluarkan belati, namun seketika mereka tidak berani menyerang lagi, mereka hanya bergaya siap tempur sambil menyurut mundur berulang-ulang.

"Berhenti, jangan maju lagi!"

Bentak mereka dengan lagak garang sambil menyeringai.

"Jika maju selangkah lagi terpaksa kami tidak sungkan lagi padamu!"

Song Goan-po tertawa ejek, dengan bersitegang leher ia malah memapak ke depan. Kedua centeng itu seperti binatang yang kepepet di jalan buntu, sembari menyurut mundur mereka berteriak-teriak.

"Keparat, apa benar kau sudah bosan hidup?!"

"Kukira kalian inilah yang sudah bosan hidup,"

Ucap Song Goan-po. Mendadak kedua tangan meraih ke depan, sekaligus ia cengkeram pergelangan tangan kedua centeng itu.

"Tahan!"

Tiba-tiba suara orang menghardik berkumandang dari halaman sana.

Mestinya Song Goan-po hendak memuntir patah pergelangan tangan kedua centeng, demi mendengar suara bentakan itu, ia urung bertindak dan coba berpaling, tertampaklah tujuh orang kakek berbaju ringkas muncul dari halaman sana.

Ia tahu ketujuh orang ini tentu tokoh menonjol di Liong-coanceng ini, segera ia dorong dan lepaskan kedua centeng itu hingga mereka tersuruk jatuh.

"Hahaha, kukira Liong-coan-ceng tidak ada orang lain lagi, rupanya baru sekarang muncul seluruhnya,"

Seru Song Goanpo dengan tergelak.

Ketujuh kakek berdandan ringkas itu adalah ketujuh jago pengawal Wi Ki-tiu, masing-masing bernama Liap Siong-giam, Ciang Su-liong, Oh Jing-peng, Uh Lam-san, Song Kim-hu, Kim Soh-bun dan Thio Lok-tong, semuanya adalah bekas bandit yang terkenal masa lalu.

Dengan sendirinya mereka kenal siapa Song Goan-po alias si macan tutul.

Sebagai kepala rombongan, setelah berhadapan segera Liap Siong-giam berkata sambil memberi hormat.

"Aha, kukira siapa, kiranya Song-toatankeh adanya. Maaf jika kami terlambat menyambut kedatanganmu."

Meski sungkan nada ucapannya, namun sikap mereka tidaklah ramah, seperti tidak gentar terhadap Song Goan-po. Sejenak Song Goan-po menatap Liap Siong-giam, katanya kemudian dengan tergelak.

"Aha, bilamana aku tidak salah ingat, Anda ini mungkin adalah Liap-cecu Liap Siong-giam?"

Liap Siong-giam tersenyum hambar, ucapnya.

"Wah, sungguh beruntung sekali bahwa Song-toatangkeh ternyata masih ingat kepada diriku."

Song Goan-po memandang lagi keenam orang lainnya, lalu menyambung lagi dengan tertawa.

"Wah, yang enam ini orang she Song tidak kenal semuanya, apakah Liap-cecu sudi memperkenalkannya kepadaku?"

Segera Liap Siong-giam memperkenalkan kawannya satu per satu kepada Song Goan-po, kemudian ia memberi salam lagi dan berkata.

"Maaf jika ingin kutanya, ada petunjuk apakah kiranya atas kunjungan Song-toatangkeh ke tempat kami ini?"

"Soalnya kudengar Wi-cengcu berulang tahun yang ke-60, maka sengaja kudatang kemari untuk mengucapkan selamat,"

Tutur Song Goan-po.

Baca Juga: Golok Halilintar 2

Baca Juga: Hati Budha Tangan Berbisa 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert