Ceritasilat Novel Online

Rahasia Peti Wasiat 6

Eps 6 Rahasia Peti Wasiat - Gan KL

Baca online Rahasia Peti Wasiat - Gan KL

Cersil Rahasia Peti Wasiat - Gan KL.

"Tak tersangka kawanan centeng kalian serupa mata anjing yang suka menghina orang miskin, mereka tidak mau melaporkan atas kedatanganku, karena terpaksa, aku lantas masuk sendiri saja ke sini."

Liap Siong-giam tersenyum.

"Bila kedatangan Songtoatangkeh benar untuk mengucapkan selamat kepada Cengcu, tentu saja centeng di sini akan melapor dan memberi pelayanan sebaiknya. Kukhawatir bukan mustahil kedatangan Song-toatankeh ini mempunyai tujuan tertentu."

"Selain mengucapkan selamat kepada Wi-cengcu, kedatanganku memang ada maksud lain lagi dan bukan hendak melancong, yaitu minta orang kepada Cengcu kalian,"

Jawab Song Goan-po.

"Dan sekarang pesta ulang tahun Cengcu sudah lewat,"

Kata Liap Siong-giam.

"Jika begitu, apakah aku tidak dapat bertemu lagi dengan Wicengcu?"

Tanya Song Goan-po alias si kakek berbaju kulit macan tutul.

"Soalnya sepanjang hari kemarin Cengcu terlalu sibuk melayani tamu sehingga terlampau lelah, terpaksa untuk beberapa hari beliau tidak mau terima tamu,"

Tutur Liap Sionggiam.

"Bila Song-toatangkeh benar ada urusan, silakan bicara saja denganku, kukira sama saja."

"Baik, kedatanganku adalah untuk minta dia menyerahkan satu orang kepadaku,"

Kata Song Goan-po.

"Seorang siapa?"

Tanya Liap Siong-giam.

"Saudara angkatku, Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan.

"Hah, kukira Song-toatangkeh ada salah informasi,"

Ucap Liap Siong-giam dengan tertawa.

"saudaramu Hui Giok-koan tidak pernah datang ke tempat kami ini, mengapa Song-toatangkeh mencarinya kemari dan minta orangnya kepada kami?"

"Hm, kemarin dia hadir di sini dan mengucapkan selamat kepada Wi-cengcu, sejak itu tidak pernah terlihat dia meninggalkan perkampungan ini, lantas ke mana perginya kalau tidak berada di sini?"

Jengek Song Goan-po. Liap Siong-giam berlagak pilon, jawabnya.

"Ah, masa saudaramu kemarin juga hadir dan mengucapkan selamat kepada Cengcu?"

"Sudahlah, tidak perlu berlagak bodoh,"

Jengek Song Goan-po dengan menarik muka.

"Kemarin tetamu yang berkunjung kemari berjumlah limaenam ratus orang, kami benar-benar tidak ingat lagi apakah saudaramu pun hadir,"

Ujar Liap Siong-giam.

"Cuma, bila betul kemarin saudaramu berkunjung kemari, tentunya juga siang kemarin dia sudah pergi."

"Tidak, dia tidak meninggalkan perkampungan kalian ini, dia masih tinggal di sini,"

Ucap Song Goan-po tegas. Liap Siong-giam terkekeh.

"Wah, Song-toatangkeh kan tidak melihat sendiri, mengapa berani memastikan saudaramu masih berada di sini?"

"Aku justru melihatnya sendiri,"

Kata Song Goan-po.

"Apakah kemarin Song-toatangkeh juga berkunjung kemari?"

Tanya Liap Siong-giam.

"Betul, malahan kujual seekor pesut kepada kalian,"

Jawab Song Goan-po. Berubah air muka Liap Siong-giam, dengan muka masam ia menjengek.

"Hm, kiranya kakek yang menjual pesut kemarin itu ialah dirimu ...."

"Nah, apa abamu sekarang?"

Jengek Song Goan-po sambil menyeringai.

"Ada, ingin kutanya, untuk urusan apa sampai Songtoatangkeh perlu menyamar sebagai nelayan dan berlagak menjual pesut segala?"

Jawab Liap Siong-giam.

"Ingin kulihat apakah saudara angkatku itu berada di sini atau tidak?"

"O, bila waktu itu Song-toatangkeh sudah melihat saudara angkatmu, mengapa tidak kau bawa pergi dia, tapi perlu menunggu sampai sekarang, sesudah dia pergi baru kau datang kemari untuk minta orang kepada kami?"

Tanya Liap Siong-giam dengan ketus.

"Waktu itu dia sedang menyampaikan selamat kepada Cengcu kalian, demi sopan-santun kan tidak pantas kubikin ribut di sini dan membawanya pergi?"

"Dan sekarang dia tidak berada lagi di sini, sebaliknya Songtoatangkeh sengaja minta orangnya kepada kami, apakah ini bukan sengaja hendak mencari perkara?"

Song Goan-po tertawa keras, katanya.

"Soalnya terletak bahwa dia belum lagi meninggalkan tempat kalian ini, yang benar, dia telah kejeblos dalam kurungan kalian."

"Dan ini pun dilihat dengan mata kepala sendiri oleh Songtoatangkeh?"

Jengek Liap Siong-giam.

"Tidak,"

Jawab Song Goan-po perlahan.

"Tapi kutahu jelas, tidak pernah dia meninggalkan tempat kalian ini, dan itu berarti dia pasti masih berada di sini."

"Tidak ada,"

Kata Liap Siong-giam sambil menggeleng kepala. Tertampil rasa gusar pada wajah Song Goan-po, katanya.

"Liap Siong-giam, belum sesuai bagimu untuk bicara denganku. Hendaknya lekas panggil keluar Wi-cengcu kalian!"

"Maaf, Cengcu kami tidak menerima tamu,"

Sahut Liap Sionggiam tidak kurang ketusnya.

"Tidak menerima tamu?"

Song Goan-po menegas dengan menyeringai.

"Hm, kukira yang benar dia tidak berada di sini lagi. Dia sudah memaksa saudara angkatku itu mengaku di mana kotak pusaka itu disembunyikan dan sekarang dia telah berangkat pergi mengambil kotak pusaka itu, betul tidak?"

"Huh, omong kosong, tampaknya kau memang sengaja mencari perkara, memangnya Song-toatangkeh mengira Liong-coan-ceng kami ini boleh sembarangan diganggu?"

Jawab Liap Siong-giam dengan aseran.

"Bebaskan saudara angkatku itu dan segera kuangkat kaki dari sini, kalau tidak, terpaksa aku akan coba-coba belajar kenal dengan kalian,"

Kata Song Goan-po.

"Kalau Song-toatangkeh sedemikian meremehkan kami, terpaksa kami tunggu apa yang akan kau lakukan,"

Jawab Liap Siong-giam dengan ketus.

"Baik, lihat pukulan!"

Teriak Song Goan-po.

Dan begitu menyatakan pukul kontan ia pun menubruk maju terus menghantam.

Angin pukulannya menderu, gerakannya cepat, nyata cukup lihai.

Liap Siong-giam tahu ilmu pukulan orang tidak boleh diremehkan, sama sekali ia tidak berani gegabah, maka begitu melihat orang bergerak cepat ia mengegos ke samping, berbareng sebelah tangan juga terangkat terus menebas pundak lawan.

Kungfu andalan Liap Siong-giam adalah Hong-lui-kun atau ilmu pukulan angin dan petir, tebasan yang dilancarkan ini bernama "Jit-loh-hong-sing"

Atau matahari tenggelam angin bertiup, tenaga tebasannya cukup mengejutkan.

Namun Song Goan-po tidak gentar, sambil mengeluarkan suara bentakan yang menggelegar, cepat ia berputar, tangan kiri menangkis dan tangan kanan menghantam pula ke pinggang-orang dengan jurus "Tan-hong-tiau-yang"

Atau burung hong menyembah matahari.

"Bagus!"

Bentak Liap Siong-giam. Dengan tangan kiri menahan ke bawah, ia balas menebas lengan kanan lawan, berbareng dua jari tangan kanan bermaksud mencolok kedua mata Song Goan-po.

"Bagus!"

Teriak Song Goan-po.

Sambil mendoyong ke belakang, sebelah kaki terus menendang sehingga tebasan dan serangan jari Liap Siong-giam terpatahkan.

Agaknya Song Goan-po aslinya jebolan perguruan Siau-lim-si, sebab tendangannya tadi gaya Kungfu Siau-lim, malahan ia terus mendesak maju, sebentar menghantam dan lain saat menendang lagi.

Setelah menangkis beberapa kali, lambat laun Liap Siong-giam merasa kewalahan, tanpa terasa ia berteriak kepada kawankawannya.

"Hebat juga musuh kita, ayolah maju semua!"

Mendengar seruan Liap Siong-giam yang minta dibantu itu, tiga di antara keenam kawannya yang menonton di samping itu serentak menubruk maju, seketika Song Goan-po terkepung di tengah dan dikerubut.

Namun Song Goan-po tidak gentar sedikit pun, ia malah terbahak-babak keras, serunya.

"Haha, bagus sekali! Mengapa yang lain tidak maju saja sekalian? Biasanya aku memang suka bertarung secara serabutan, makin banyak yang maju makin baik."

Ketiga orang lagi yang tidak ikut mengerubut adalah Song Kim-ho, Kim Soh-bun dan Thio Lok-tong, mereka hanya berjaga saja di samping, sebab mereka cukup paham, bilamana tujuh orang mengeroyok satu orang, akibatnya akan serupa satu porsi capcay di atas meja dikerubut sekawanan pelahap yang mengelilingi meja makan, bukannya teratur dan semua mendapat bagian, sebaliknya malah akan kacau-balau dan terjadi perebutan.

Tapi kalau empat orang mengeroyok satu orang, inilah posisi yang paling ideal.

Ketiga orang yang baru ikut mengerubut itu ialah Ciang Suliong, Oh Jing-peng dan Uh Lam-san, ketiganya sama bersenjata.

Yang digunakan Ciang Su-liong adalah tombak berkait, Oh Jing-peng memakai golok besar bergelang, sedangkan Uh Lam-san memakai pedang panjang.

Tiga macam senjata ditambah lagi kedua tangan kosong Liap Siong-giam, tentu saja daya tempur mereka menjadi lain, dengan cepat dapatlah mereka di atas angin dan Song Goanpo terkepung rapat di tengah.

Walaupun terdesak di bawah angin, namun Song Goan-po tetap bertempur dengan penuh semangat, kedua tangan dan kedua kaki bekerja silih berganti, makin lama makin perkasa.

Pada waktu itu di luar wisma tamu sana berdiri Long-giok dan Le-hui menonton dari jauh, melihat ketangkasan Song Goanpo, diam-diam-mereka terkejut dan heran.

Le-hui menghela napas, katanya.

"Tua bangka gundul ini sungguh sangat lihai, sesungguhnya siapakah dia?"

"Bukankah tadi dia menyebut namanya sebagai Kim-ci-pa Song Goan-po?"

Kata Long-giok.

"Song-goan-po (mengantar emas), hihi, lucu juga namanya,"

Kata Le-hui dengan tertawa geli.

"Yang benar dia she Song, namanya Goan-po,"

Tutur Longgiok.

"Song sama dengan dinasti Song dan bukan song antar."

"Eh, bagaimana kalau kita menonton lebih dekat ke sana?"

Saja Le-hui.

"Baiklah,"

Jawab Long-giok.

Keduanya lantas melangkah maju ke tengah halaman dan berhenti dalam jarak beberapa tombak dari kalangan pertempuran.

Dalam pertarungan sengit, tiba-tiba Song Goan-po melihat munculnya dua gadis jelita, ia terkesiap dan heran.

Dasar lelaki, meski sudah tua dan gundul kelimis, rupanya dia juga lelaki bangor, asal melihat perempuan cantik lantas tergelitik hatinya.

"Wah, cantik benar kedua nona ini!"

Demikian tanpa terasa ia bersorak memuji.

"Mereka ini bini siapa ...."

Belum lanjut ucapannya.

"blang", tahu-tahu punggung kena digebuk sekali oleh Liap Siong-giam. Tidak ringan pukulan ini, seketika ia sempoyongan dan menyuruk ke depan. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Ciang Su-liong, tombaknya bekerja cepat dan kena menusuk di pantat Song Goan-po, kontan pantatnya berbunga. Song Goan-po menjerit, ia masih hendak melawan, akan tetapi tidak kuat lagi dan segera roboh. Pedang Uh Lam-san terangkat dan bermaksud membinasakan lawan itu. Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara bentakan menggelegar berkumandang dari pintu gerbang perkampungan sana.

"Tahan dulu!"

Terpaksa Uh Lam-san menahan pedangnya, sebab ia khawatir yang berteriak itu adalah kawan sendiri, bilamana Song Goanpo dibunuhnya tentu kurang enak terhadap maksud baik kawan.

Waktu mereka berpaling, tertampaklah seorang Hwesio dan seorang Tosu sedang berlari datang secepat terbang.

Lantaran tidak kenal siapa kedua pendatang ini, air muka mereka sama berubah.

Kiranya Hwesio dan Tosu yang datang ini tak-lain-tak-bukan ialah Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin.

Hanya sekejap saja mereka sudah sampai di tengah halaman dan berhenti di situ, Kim-kong Taysu mendahului memberi hormat dan bersuara.

"Omitohud! Thian Maha Pengasih, hendaknya para Sicu janganlah main bunuh!"

Meski Liap Siong-giam dan kawan-kawannya tidak kenal siapa Koh-ting dan Kim-kong, tapi melihat kecepatan Ginkang mereka, tentu saja dapat diduga mereka pasti bukan tokoh sembarangan, maka dia tidak berani kurang adat, cepat ia balas menghormat dan menyapa.

"Numpang tanya siapakah gelaran Taysu dan Totiang? Ada keperluan apa kiranya berkunjung ke tempat kami ini?"

Dengan tangan kiri memegang tongkat pertapa, tangan kanan Kim-kong Taysu terangkat di depan dada sebagai tanda hormat, lalu menjawab.

"Pinceng bergelar Kim-kong."

"Dan pinto bergelar Koh-ting."

Sambung Koh-ting Tojin.

Manusia itu dihormati karena namanya, pohon besar dari bayangannya.

Demi mendengar kedua pendatang ini adalah Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin yang namanya gilanggemilang di dunia persilatan zaman ini, kembali air muka Liap Siong-giam dan lain-lain sama berubah, diam-diam mereka mulai merasakan gelagat tidak enak.

Sedapatnya Liap Siong-giam menenangkan diri, katanya dengan ramah.

"Ah, kiranya kedua tokoh kosen dunia persilatan yang termasyhur. Maaf, kami tidak tahu akan kunjungan Taysu dan Totiang sehingga tidak ada penyambutan yang layak, sekali lagi mohon maaf."

Koh-ting Tojin tertawa lantang, katanya.

"Ah, jangan sungkan. Apakah kalian bertujuh ini ketujuh jago andalan Wi-cengcu?"

"Ah, Totiang terlampau memuji,"

Jawab Liap Siong-giam.

"Numpang tanya, ada keperluan apakah Totiang dan Taysu berkunjung kemari?"

"Oo, kami mendengar Wi-cengcu berulang tahun, maka sengaja berkunjung kemari untuk mengucapkan selamat,"

Jawab Koh-ting Tojin.

"Tak terduga terjadi sedikit urusan di tengah jalan sehingga tidak keburu tiba pada saat yang tepat, sungguh kami sangat menyesal."

Perasaan Liap Siong-giam agak lega demi mendengar kedatangan kedua orang ini hanya ingin mengucapkan selamat kepada sang Cengcu, cepat ia menjawab dengan tertawa.

"Ah, terima kasih atas maksud baik Totiang dan Taysu, silakan duduk di dalam saja!"

"Apakah Wi-cengcu berada di rumah?"

Tanya Kim-kong Taysu. Liap Siong-giam ragu sejenak, akhirnya menjawab.

"Wah, maaf, karena ada urusan, kebetulan Cengcu sedang keluar, mungkin perlu beberapa hari lagi baru dapat pulang."

"Aha, bagus!"

Teriak Song Goan-po mendadak.

"Ternyata tidak salah dugaanku, dia pasti sudah mendapatkan pengakuan saudara angkatku, maka ... aduhh!"

Belum lanjut ucapannya mendadak ia menjerit kesakitan.

Rupanya Ciang Su-liong tidak membiarkan dia meneruskan ucapannya dan mendadak menusuk pahanya dengan tombak, kontan dia menjerit sehingga perkataannya terputus.

Pandangan Kim-kong Taysu beralih ke wajah Song Goan-po, ia tersenyum dan berkata.

"Sicu ini jangan-jangan ialah Kimci-pa Song Goan-po yang menjagoi dunia Lok-lim daerah selatan itu?"

"Betul,"

Jawab Song Goan-po. Kim-kong Taysu berlagak tidak mengerti dan bertanya.

"Baru saja-Sicu bilang apa? Kenapa dengan saudara angkatmu?"

"Saudara angkatku Hui Giok-koan kemarin juga hadir ke sini untuk menyampaikan selamat ulang tahun kepada Wi Ki-tiu,"

Tutur Song Goan-po.

"Siapa tahu Wi Ki-tiu telah timbul pikiran jahat, dia telah ... aduhh!"

Kembali ucapannya terputus dan menjerit kesakitan, rupanya Ciang Su-liong telah menusuknya pula sekali. Kening Kim-kong Taysu bekernyit, ia pandang Ciang Su-liong dan berkata.

"Sicu ini, bagaimana kalau membiarkan dia selesaikan keterangannya?"

"Taysu jangan percaya kepada ocehannya,"

Kata Ciang Suliong.

"Tentang Hui-cecu, kemarin dia memang benar pernah datang untuk mengucapkan selamat kepada Cengcu, tapi kemudian dia pergi lagi seperti tetamu yang lain, tapi sekarang tua bangka ini berani menuduh kami menahan Huicecu di sini, sungguh terlalu, jelas dia sengaja hendak cari perkara saja."

"Ai, sudahlah,"

Bujuk Kim-kong Taysu.

"Kata pepatah, permusuhan sebaiknya dihapus daripada dipererat. Hendaknya kedua pihak kalian bicara dengan lebih jelas, biarlah kujadi juru damai bagi kalian. Nah, Song-sicu, silakan kau bicara lebih dulu."

Dengan menahan rasa sakit pada pantat dan pahanya, Song Goan-po berdiri dan berkata.

"Terus terang, saudara angkatku itu akhir-akhir ini mendapatkan sebuah kotak, dengan membawa kotak itu hendak menuju ke suatu tempat dan tempo hari sampai di Tengciu sini. Kebetulan didengarnya Wi Ki-tiu mengadakan pesta ulang tahun, lantaran dia juga kenal cukup baik dengan Wi Ki-tiu, maka sengaja menyiapkan kado berharga dan datang mengucapkan selamat kepada sahabat lama.

"Siapa tahu, entah dari mana Wi Ki-tiu mendapat berita bahwa saudara angkatku itu menemukan sebuah kotak pusaka, maka sehabis pesta ulang tahun usai, dengan pura-pura kangen dengan sahabat lama, saudara angkatku itu ditahan untuk tinggal beberapa hari lagi di sini.

"Kutunggu saudara angkatku itu di luar kampung selama sehari semalam dan tetap tidak melihat dia keluar, terpaksa pagi tadi kudatang kemari untuk minta keterangan, tapi mereka malah menjawab saudara angkatku itu sudah pergi. Namun kutahu jelas dia belum lagi meninggalkan kampung ini, bilamana dia tidak dibunuh oleh Wi Ki-tiu, tentu dia dikurung di sini untuk dipaksa menyerahkan kotak pusaka yang dimaksud itu."

Kim-kong Taysu lantas tanya pula.

"Dan apa isi kotak yang dimaksudkan itu?"

Dengan tergegap Song Goan-po menjawab.

"Oo, isinya cuma sedikit ... sedikit barang berharga."

"Kau lihat dengan mata kepala sendiri saudara angkatmu itu ke sini untuk menyampaikan selamat kepada tuan rumah?"

Tanya Kim-kong Taysu pula.

"Betul,"

Jawab Song Goan-po tegas sambil mengangguk.

"Dan seusai pesta ulang tahun, kau yakin bahwa dia memang tidak pernah meninggalkan tempat ini?"

"Betul, sebab aku sengaja menyamar sebagai seorang nelayan dengan membawa pesut untuk dijual ke sini, kulihat sendiri dia berada bersama dengan Wi-Ki-tiu dan Sun Thian-tik."

Mencorong sinar mata Kim-kong Taysu, ia menegas.

"O, kau bilang Kiong-su-sing Sun Thian-tik juga berada di sini?"

"Betul, tidak keliru lagi,"

Jawab Song Goan-po.

"Cuma dia sudah pergi sekarang."

Kim-kong Taysu manggut-manggut, lalu berkata kepada Liap Siong-giam.

"Bagaimana pembelaan Liap-sicu terhadap tuduhan Song-sicu tadi?"

"Hendaknya Taysu jangan percaya kepada ocehannya yang asal bunyi,"

Kata Liap Siong-giam.

"Tentang kotak Hui-cecu itu, andaikan penuh berisi intan permata juga takkan terpandang oleh Cengcu kami, sama sekali tidak ada alasan bagi Cengcu kami untuk merampas kotaknya itu."

"Habis, ke mana perginya Wi-cengcu sekarang?"

Tanya Kimkong Taysu.

"Cengcu memang ada urusan dan sedang keluar, ke mana perginya, bawahan seperti kami ini tentu saja tidak tahu, sebab beliau tidak memberi pesan apa-apa."

"Dia baru saja berulang tahun kemarin, dan hari ini juga dia lantas pergi keluar kampung, kalau tidak ada urusan penting masa dia perlu pergi dengan terburu-buru begitu?"

Ujar Kimkong Taysu.

"Urusan penting apa pun kepergian Cengcu kami mutlak tidak ada sangkut-pautnya dengan Hui-cecu,"

Jawab Liap Sionggiam.

"Sebab Cengcu kami kan sudah lama cuci tangan dan mengundurkan diri dari dunia persilatan."

"Bilakah Wi-cengcu meninggalkan kampung?"

Tanya Kim-kong Taysu.

"Kira-kira setengah jam yang lalu,"

Jawab Liap Siong-giam.

"Apakah keluar melalui pintu gerbang depan?"

Tanya Kim-kong Taysu pula.

"Betul,"

Sahut Siong-giam. Kim-kong Taysu tertawa mengakak.

"Haha, keterangan Liapsicu ini jelas tidak benar. Terus terang, kami berdua sudah ada satu jam tiba di luar kampung, selama itu kami tidak melihat Wi-cengcu keluar dari kampung."

Muka Liap Siong-giam menjadi merah, ucapnya dengan terkekeh.

"Hehe, jika Taysu berdua sudah tiba di sini sekian lama, mengapa tidak sejak tadi masuk kemari?"

"Soalnya waktu masih pagi, kami menaksir Wi-cengcu belum bangun tidur, maka tidak berani langsung masuk dan mengganggu,"

Jawab Kim-kong Taysu.

"Ah, Taysu terlampau sungkan tampaknya,"

Ujar Liap Sionggiam.

"Padahal dengan kedudukan Taysu dan Totiang berdua, biarpun kalian datang di tengah malam juga akan disambut Cengcu dengan segala hormat. Sebabnya kalian tidak segera masuk ke sini kukira ada sebab lain bukan?"

Tiba-tiba Koh-ting Tojin menyambung.

"Hendaknya Liap-sicu jangan dulu mengusut maksud kedatangan Kim-kong Taysu dan diriku. Sekarang fakta sudah nyata, jelas Wi-cengcu tidak pernah keluar, tapi Liap-sicu berkeras menyatakan Wi-cengcu keluar melalui pintu gerbang depan, sesungguhnya apa maksudmu?"

Liap Siong-giam tertawa, katanya.

"Haha, padahal Cengcu kami suka keluar melalui pintu gerbang depan atau pintu belakang kan sama saja, sebab ini kan rumahnya, siapa pun tidak berhak mengurusnya."

"Tentu saja,"

Ujar Koh-ting Tojin.

"Tapi kalau bukan sengaja hendak menghindari mata-telinga orang, tentu tidak ada alasan untuk keluar melalui pintu belakang. Maka dari sini dapat diketahui tuduhan Song-sicu tadi memang bukan omong kosong belaka, terang Wi-cengcu memang telah menyandera Hui-cecu dan memaksanya menyerahkan kotak pusaka."

"Hm, kedatangan Totiang kemari ini sesungguhnya ingin menyampaikan selamat kepada Cengcu kami atau ada maksud lain?"

Jengek Liap Siong-giam.

"Hahaha!"

Koh-ting Tojin tergelak.

"Soal apa maksud kedatanganku ini tidak penting, yang jelas manusia harus dapat membedakan antara yang benar dan salah, bilamana kupandang tidak benar, betapa pun aku ingin ikut campur."

"Cengcu kami tidak di rumah, jika Totiang ingin ikut campur urusan tetek bengek, tunggu saja nanti kalau Cengcu kami sudah pulang boleh Totiang datang lagi."

"Hehe, menurut perkiraanku, Wi-cengcu tentu masih berada di dalam kampung,"

Kata Koh-ting dengan tertawa.

"Maka lebih baik silakan kalian mengundangnya keluar saja untuk menerima ucapan selamat kami."

"Hm, kalau Totiang tidak percaya, boleh juga silakan masuk untuk mencarinya,"

Jengek Liap Siong-giam. Koh-ting Tojin lantas berpaling dan berkata kepada Kim-kong Taysu dengan tertawa.

"Toasuhu, dia menyuruh kita coba mencarinya ke dalam kampung, bagaimana kalau kita terima dan coba kita mencarinya?"

Mendadak Kim-kong Taysu menuding Long-giok dan Le-hui yang berdiri di dekat sana, tanyanya kepada Liap Siong-giam.

"Siapakah kedua nona itu?"

"O, mereka itu nona yang tinggal di dalam kampung kami,"

Jawab Liap Siong-giam.

"Ada hubungan apa antara mereka dengan Wi-cengcu?"

Tanya Kim-kong pula.

"Ah, famili biasa,"

Tutur Siong-giam.

"Famili dekat atau jauh?"

"Famili ya famili, untuk apa Taysu bertanya sedemikian jelas?"

Kim-kong Taysu tertawa, katanya.

"Soalnya kudengar kabar bahwa Wi-cengcu punya banyak simpanan, sangat mungkin mereka adalah perempuan Wi-cengcu."

"Bukan,"

Jawab Liap Siong-giam. Lalu ia menoleh ke sana dan memberi tanda kepada Long-giok dan Le-hui, serunya.

"Kedua nona silakan pulang ke kamar saja, tidak boleh kalian ...."

Kesempatan itu mendadak digunakan Kim-kong Taysu untuk menubruk maju, sekali tangan kanan meraih, langsung kuduk Liap Siong-giam dicengkeramnya. Keruan Ciang Su-liong terkejut, teriaknya.

"Awas, Liap-toako!"

Pada saat yang sama Liap Siong-giam juga mendengar angin dahsyat menyambar dari belakang, segera ia angkat sikut kiri untuk melindungi dada, sambil berputar berbareng telapak tangan kanan menolak ke depan.

Meski reaksinya tidak lambat, toh tetap agak kasip, baru saja tangan menolak ke depan, kuduk tahu-tahu sudah kena dicengkeram musuh.

Keruan Ciang Su-liong dan kelima kawannya terkejut, serentak mereka memburu maju hendak menolong, tapi Kim-kong Taysu lantas meraung.

"Berhenti semua! Barang siapa berani melangkah maju segera kumampuskan dia!"

Sembari membentak terus saja Liap Siong-giam diangkatnya.

Padahal hanya bagian kuduk Liap Siong-giam saja yang dipegangnya, namun Kim-kong Taysu dapat mengangkatnya di atas kepala, serupa mengangkat sepotong barang yang enteng saja.

Kiranya pada saat kuduk Liap Siong-giam kena dicengkeramnya, secepat kilat ia tutuk sekalian Hiat-to kelumpuhan orang dengan tongkatnya, sebab itulah Liap Siong-giam sama sekali tak bisa berkutik.

Melihat kawannya sama sekali berada di bawah cengkeraman musuh, Ciang Su-liong berenam menjadi jeri dan tak berani sembarangan bertindak lagi, terpaksa mereka hanya mengelilingi Kim-kong Taysu dan siap tempur.

Kim-kong Taysu terbahak-bahak, sama sekali ia tidak menghiraukan keenam orang yang mengepungnya, ia malah berkata kepada Koh-ting Tojin.

"Koh-ting Toheng, dengan caraku ini kan jauh lebih cepat hasilnya daripada menggeledah seluruh perkampungan ini, betul tidak?"

"Betul, betul!"

Jawab Koh-ting Tojin dengan tertawa. Kim-kong Taysu lantas mendongak dan berkata kepada Liap Siong-giam yang terangkat tinggi itu.

"Liap-sicu, paling baik katakan terus terang saja, sesungguhnya Wi-cengcu berada di rumah atau tidak?"

Sudah berpuluh tahun Liap Siong-giam berkecimpung di dunia Kangouw bersama Wi Ki-tiu dan belum pernah kecundang, apa lagi dibekuk dan dipermainkan orang seperti sekarang ini, keruan ia sangat kejut, gugup dan juga malu.

Namun dia pantang menyerah, kontan ia mencaci maki.

"Bangsat tua gundul, jika gagah perkasa, boleh kau bunuh saja diriku. Jika kau pikir aku dapat dipaksa untuk bicara, huh, mimpi di siang bolong!"

"Apa betul?"

Jengek Kim-kong Taysu dengan terkekeh, berbareng ia tambahi tenaga pada cengkeramannya.

Seketika tulang leher Liap Siong-giam berbunyi keriang-keriut, rasanya seperti mau remuk, saking kesakitan kembali ia menjerit pula seperti babi hendak disembelih.

Kim-kong Taysu mengendurkan cengkeramannya, lalu bertanya lagi.

"Nah, mengaku atau tidak?"

Liap Siong-giam sempat berganti napas, tapi ia tidak kapok, kembali ia meraung lagi.

"Mengaku apa? Kau bangsat gundul, maknya dirodok ... aduhhh!"

Ia menjerit lagi ketika cengkeraman Kim-kong Taysu diperkeras sehingga kelima jari hampir ambles ke lehernya.

"Benar-benar tidak mau mengaku?"

Ancam Kim-kong Taysu. Namun Liap Siong-giam sudah tidak sanggup bersuara lagi. Mendadak Kim-kong melemparkan Liap Siong-giam yang tak bisa berkutik itu kepada Koh-ting Tojin sambil berseru.

"Kohting Toheng, boleh juga kau pun memberi sedikit tahu rasa kepadanya."

Sekali raih, kedua kaki Liap Siong-giam kena ditangkap Kohting Tojin, katanya dengan terbahak-bahak.

"Hahaha, baik sekali, boleh kau lihat caraku! Sembari bicara ia pentang kedua kaki Liap Siong-giam dan ditarik. Kontan, Liap Siong-giam merasa selangkangan seakan-akan robek, tanpa terasa ia menjerit dan melolong. Tentu saja Ciang Su-liong berenam terperanjat sekali, sambil membentak serentak mereka menerjang maju. Tapi Kim-kong Taysu lantas putar tongkatnya untuk mengalangi Ciang Su-liong, Oh Jing-peng dan Uh Lam-san bertiga, serunya dengan tertawa.

"Eh, kalian ingin berkelahi? Boleh, biar kumain-main dengan kalian!"

Dalam keadaan begini, mau tak mau Ciang Su-liong bertiga terpaksa harus bergebrak dengan Hwesio tua itu.

Maka terjadilah pertempuran sengit tiga lawan satu.

Song Kim-hu, Kim Soh-bun dan Thio Lok-tong bertiga juga sudah menerjang ke depan Koh-ting Tojin, tapi mereka tidak berani segera menyerang, sebab saat itu tubuh Liap Sionggiam lagi terangkat oleh Koh-ting dengan kedua kaki terpegang dan dipentang seakan-akan hendak dibeset.

Mereka menjadi khawatir jika menerjang maju begitu saja, bisa jadi Liap Siong-giam akan benar-benar terbeset menjadi dua.

Karena itulah mereka lantas berhenti di tempat dan saling pandang dengan cemas.

Tiba-tiba Kim Soh-bun mendapat akal, cepat ia melompat ke depan Song Goan-po, sekali kaki menyapu, Song Goan-po yang sudah terluka itu diserampang hingga roboh terjungkal, lalu dengan pedang ia mengancam di leher orang sambil membentak bengis.

"Ayo, lepaskan kawanku, kalau tidak, sekali tusuk kumampuskan orang she Song ini!"

Rupanya ia mengira Koh-ting dan Kim-kong berdua adalah sekomplotan dengan Song Goan-po, maka ia menirukan cara orang dengan main ancam, Song Goan-po hendak dibunuhnya sebagai syarat untuk memaksa Koh-ting Tojin membebaskan Liap Siong-giam.

Tak terduga Koh-ting Tojin sama sekali tidak menghiraukan mati-hidup Song Goan-po, melihat ujung pedang mengancam di leher orang, ia malah mengakak dan berkata.

"Hah, bagus sekali! Ayo kita berlomba cepat, kita turun tangan berbareng, kau bunuh orang she Song itu dan kubinasakan orang she Liap ini!"

Seraya bicara, kedua tangan membentang lebih lebar lagi, kedua kaki dibesetnya terlebih keras sehingga tubuh Liap Siong-giam serasa mau robek.

Keruan Liap Siong-giam menjerit lagi kesakitan dan melolong seperti serigala lapar.

Seketika Kim Soh-bun merasa bingung malah dan tidak tahu apa yang harus diperbuat lagi.

Dalam pada itu Kim-kong Taysu yang dikerubut Ciang Su-liong bertiga sudah berada di atas angin, tongkatnya berputar cepat, menyerampang dan mengemplang dengan dahsyatnya sehingga Ciang Su-liong bertiga hanya mampu menangkis dan tidak sanggup balas menyerang.

Melihat keadaan demikian, Le-hui tahu ketujuh jago pengawal Liong-coan-ceng pasti bukan tandingan Koh-ting Tojin dan Kim-kong Taysu, ia menjadi khawatir, cepat katanya kepada Long-giok.

"Wah, bagaimana baiknya? Bagaimana kalau kita ikut maju dan membantu mereka?"

Namun Long-giok justru berharap semoga ketujuh orang itu mati seluruhnya, hal ini akan kebetulan baginya, maka ia menggeleng kepala dan menjawab.

"Jangan, kalau kita ikut maju, paling-paling juga cuma antar nyawa percuma ...."

"Akan tetapi, kita kan tidak boleh berpeluk tangan belaka?!"

Ucap Le-hui.

"Jangan gelisah."

Ujar Long-giok.

"Mereka orang beragama, kuyakin mereka takkan sembarangan membunuh orang."

Namun Le-hui tidak sependapat, sebab dilihatnya serangan Kim-kong Taysu sedemikian lihai tanpa kenal ampun, katanya.

"Tidak, coba kau lihat betapa buas Hwesio tua itu, kukira dia takkan memberi ampun kepada Ciong Su-liong bertiga, marilah lekas kita maju membantu mereka!"

Ebook oleh . Dewi KZ Scan book oleh . BBSC

Jilid 14

"Sabar dulu, tunggu lagi sebentar,"

Ujar Long-giok.

"Hei, engkau ini bagaimana Long-giok?!"

Tanya Le-hui, tampaknya kurang senang.

"Aku kenapa?"

Ujar Long-giok.

"Engkau seperti ... seperti sudah berubah,"

Kata Le-hui.

"Berubah bagaimana?"

Ucap Long-giok dengan tertawa.

"Ah, sudahlah, jangan omong kosong, masa aku bisa berubah?"

"Tampaknya engkau sama sekali tidak lagi memerhatikan keamanan perkampungan kita ini, bukankah itu menandakan engkau sudah berubah?"

Ujar Le-hui. Long-giok tersenyum hambar.

"Kita tidak lebih cuma perempuan yang dibuat permainan Wi Ki-tiu saja, urusan keamanan Liong-coan-ceng bukanlah tugas kita, buat apa kita mesti ikut maju untuk mengantar nyawa belaka?"

"Sarang yang tumpah tidak ada telur yang selamat, bila ketujuh jago pengawal itu tamat riwayatnya, apakah kita dapat menyelamatkan diri?"

Ujar Le-hui.

"Dapat,"

Kata Long-giok.

"Maksud tujuan Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin itu jelas cuma urusan kotak pusaka saja dan takkan sembarangan membunuh orang."

Dalam pada itu Le-hui melihat Ciang Su-liong bertiga sudah mulai kelabakan tercecar oleh Kim-kong Taysu, ia tambah khawatir, katanya dengan mendongkol.

"Sudahlah, jika engkau tidak mau maju, biarlah kubantu mereka."

Sembari bicara ia terus hendak menerjang ke sana. Tapi Long-giok keburu menariknya, katanya dengan tertawa.

"Eh, sabar dulu, apa susahnya jika ingin menyelamatkan mereka ...."

"Apa katamu?"

Tanya Le-hui melengak.

"Begini, lihat saja caraku,"

Kata Long-giok dengan tertawa. Lalu ia gandeng Le-hui dan melangkah ke sana dengan gaya berlenggang, serunya merdu.

"Eh, harap Taysu ini suka berhenti dulu, dengarkan perkataanku!"

Benar juga, Kim-kong Taysu lantas berhenti menyerang, tanyanya dengan tertawa.

"Ada petunjuk apa, Lisicu?"

Long-giok tertawa manis, katanya.

"Perbolehkan kuperkenalkan diri dulu, namaku Long-giok, perempuannya Wi-cengcu."

"Haha, Wi Ki-tiu memiliki perempuan secantik dirimu, sungguh beruntung sekali dia,"

Ujar Kim-kong Taysu dengan tertawa.

"Kedatangan Taysu berdua ingin bertemu dengan Wi-cengcu, bukan?"

Tanya Long-giok.

"Betul,"

Kim-kong Taysu mengangguk.

"Tapi sayang, dia memang benar tidak berada di dalam kampung,"

Kata Long-giok.

"Apa betul?"

Kim-kong Taysu menegas dengan tertawa, tampaknya kurang percaya.

"Kukira Taysu berdua perlu lebih mengenal pribadi Wicengcu,"

Ujar Long-giok.

"Beliau sama sekali bukanlah tokoh yang suka sembunyi kepala kelihatan ekor, bilamana dia berada di rumah, mana mungkin dia mengizinkan kalian berbuat sesukamu, betul tidak?"

"Hahaha, betul juga ucapanmu,"

Seru Kim-kong dengan tergelak.

"Jika dia berada di rumah, saat ini kukira dia sudah keluar."

"Nah, makanya kubilang dia memang betul tidak di rumah, sejak pagi tadi dia keluar melalui pintu belakang,"

Kata Longgiok.

"Pergi sendirian?"

Kim-kong Taysu menegas.

"Tidak, dia pergi dengan membawa Hiat-pit-siucay,"

Tutur Long-giok.

"Semalam Hui Giok-koan sudah kena dikerjai, Wi cengcu telah memaksa dia mengaku tempat penyimpanan kotak pusaka dan pagi tadi lantas membawanya berangkat untuk mengambil kotak."

"Dirodok, betul kan dugaanku?!"

Teriak Song Goan-po.

"Sudah jelas orang she Wi itu berniat jahat, tapi kalian kawanan budak piaraan biang anjing ini masih juga menyangkal!"

"Tutup mulutmu, Song Goan-po!"

Bentak Kim-kong Taysu.

"Sekarang mereka sudah mengaku saudara angkat telah disandera, untuk apa gembar-gembor lagi?"

Tampaknya Song Goan-po sangat jeri terhadap Kim-kong Taysu, seketika ia tidak berani bersuara lagi. Lalu Kim-kong Taysu berpaling dan tanya Long-giok.

"Lantas, menurut pengakuan Hui Giok-koan, di mana dia menyembunyikan kotak itu?"

"Cong-beng-to,"

Tutur Long-giok.

"Apa betul?"

Kim-kong Taysu menegas dengan tersenyum.

"Mungkin dusta,"

Kata Long-giok.

"Sebab pada waktu Wicengcu mengompes Hui Giok-koan tidak disaksikan oleh orang ketiga. Waktu kutanya dia pagi tadi juga cuma keterangan demikian saja yang dikatakan padaku, sebab itulah aku pun tidak tahu keterangan ini benar atau dusta."

"Kau anggap dia mendustaimu?"

Tanya Kim-kong Taysu.

"Mungkin saja, tapi bisa jadi juga benar keterangannya,"

Ujar Long-giok.

"Jika kalian ingin menemui dia, boleh kalian mencarinya ke Cong-beng-to, kalau tidak bertemu di sana boleh putar balik lagi ke sini."

Kim-kong Taysu memandangnya sejenak dengan tertawa, lalu bertanya lagi.

"Mengapa tanpa ditanya kau beri keterangan sebanyak ini?"

Long-giok menuding Liap Siong-giam yang terangkat tinggi oleh Koh-ting Tojin, katanya.

"Demi menolong dia."

"Kau tidak takut akan dijatuhi hukuman oleh Wi Ki-tiu?"

Tanya Kim-kong.

"Demi menolong orang, tidak dapat kupikirkan lagi sejauh itu,"

Sahut Long-giok. Kim-kong Taysu termenung sejenak, lalu berkata kepada Kohting.

"Bagaimana menurut pendapat Toheng?"

"Selama hidupku paling tidak percaya kepada ucapan orang perempuan,"

Kata Koh-ting Tojin dengan tertawa.

"Cuma sekarang terpaksa kupercaya satu kali."

"Ya, ucapannya juga betul,"

Ujar Kim-kong Taysu.

"Kita boleh menyusul ke Cong-beng-to, bila tidak menemukan dia segera kita putar balik ke sini, toh penghuninya dapat lari, rumahnya tetap sukar kabur."

Koh-ting Tojin melemparkan Liap Siong-giam, katanya dengan tertawa.

"Aha, betul, marilah kita berangkat!"

Sekali loncat, langsung ia melayang keluar.

Cepat Kim-kong Taysu ikut melayang lewat di atas kepala orang banyak dan menyusul kencang di belakang Koh-ting Tojin menuju ke luar pintu.

Keruan Song Goan-po kelabakan, cepat ia memburu ke sana sambil berteriak-teriak.

"Tunggu, harap kalian tunggu padaku, aku pun ikut pergi!"

Pantatnya tadi kena diserang oleh Ciang Su-liong sehingga babak-belur, untuk berjalan saja sebenarnya sukar, tapi sekarang karena Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin pergi begitu saja, dengan sendirinya ia tidak berani tertinggal di situ, terpaksa ia mengejar ke sana dengan terincang-incut sambil menahan rasa sakit.

Pertarungan sengit tadi kini telah berakhir, Ciong Su-liong berenam berdiri melenggong sekian lamanya barulah berusaha membuka hiat-to Liap Siong-giam yang tertutuk.

Serupa seekor ayam aduan yang telah keok, dengan lemas lesu Liap Siong-giam berkata.

"Bedebah, kita benar-benar terjungkal habis-habisan, bila Cengcu pulang, cara bagaimana kita akan memberi pertanggungjawaban?"

"Kedua tua bangka tadi adalah tokoh kelas wahid dunia persilatan zaman ini, biarpun Cengcu sendiri berada di rumah juga belum tentu mampu melawannya,"

Kata Ciong Su-liong.

"Apalagi kita telah mengadakan perlawanan mati-matian dan tidak pernah menyerah, kuyakin Cengcu pasti takkan menyalahkan kita."

Liap Siong-giam berpaling ke arah Long-giok, tanyanya.

"Nona Long-giok, tadi kau bilang Cengcu pergi ke Cong-beng-to, apakah betul keteranganmu ini?"

"Dengan sendirinya tidak benar,"

Jawab Long-giok dengan tertawa.

"Hamba sendiri tidak tahu Cengcu hendak pergi ke mana, hamba cuma memberi alasan sekenanya saja."

Mendadak Le-hui menyambung dengan dingin.

"Engkau tidak bicara sekenanya, Cengcu kita memang betul pergi ke Congbeng-to."

"Tidak, tidak betul,"

Bantah Long-giok.

"Cengcu mengatakan padaku, tempat tujuannya adalah Ngo-tay-san."

"Tapi Cengcu kita memang benar pergi ke Cong-beng-to,"

Jengek Le-hui.

"sebab Hui Giok-koan mengaku kotak pusakanya disembunyikan di Cong-beng-to."

"Oo, apa betul?"

Long-giok berlagak kaget.

"Semalam waktu Cengcu mengompes Hui Giok-koan memang aku tidak ikut menyaksikan, ketika kutanya Cengcu pagi tadi, beliau bilang padaku mau pergi ke Ngo-tay-san."

"Hm, engkau diam-diam pernah menyusup ke Cui-ci-kiong dan mencuri dengar pengakuan Hui Giok-koan tersebut,"

Jengek Le-hui mendadak.

"Omong kosong,"

Jawab Long-giok dengan gusar.

"Semalam hamba mendapat perintah menemani Sun-tayhiap, buat apa hamba menyusup ke Cui-ci-kiong? Pula umpama kutahu Cengcu hendak pergi ke Cong-beng-to juga tidak nanti kuberi tahukan terus terang kepada orang luar, memangnya kau kira aku bersekongkol dengan musuh?"

"Memang,"

Seru Le-hui.

"kau memang bersekongkol dengan musuh luar. Pagi tadi sebelum Cengcu berangkat aku dipesan di luar tahu orang lain agar menaruh perhatian terhadap gerak-gerikmu, katanya pikiranmu telah bercabang, sekarang sengaja kau beri tahukan kepada musuh tentang jejak perjalanan Cengcu, ini membuktikan bahwa kau memang bersekongkol dengan musuh. Nah, Liap-wisu, hendaknya lekas kau tangkap dia!"

Liap Siong-giam tampak melenggong bingung dan tidak turun tangan.

"Ayo lekas,"

Teriak Le-hui.

"itulah pesan Cengcu, kata beliau bila menemukan sesuatu tanda pengkhianatannya harus segera membekuknya dan akan diputus urusannya bila Cengcu pulang."

"Hm, sungguh kebetulan sekali, Cengcu juga memberi pesan begitu kepadaku, katanya akhir-akhir ini gerak-gerikmu sangat mencurigakan, maka hamba disuruh mengawasi tindak tandukmu,"

Jengek Long-giok.

"Sekarang terbukti kau sengaja mengadu domba, jelas kau memang berniat jahat. Nah, Liapwisu, lekas kau bekuk dia!"

"Ngaco-belo!"

Teriak Le-hui dengan wajah pucat. Long-giok mencibir dan berkata.

"Hm, kau sendiri ngaco-belo! Tujuanku tadi justru ingin menyelamatkan jiwa Liap-wisu, maka sengaja sembarangan mengarang sebuah nama tempat untuk menipu Kim-kong dan Koh-ting agar lekas pergi dari sini, tapi hal ini berbalik kau tuduh sebagai bersekongkol dengan musuh luar, jelas maksudmu hendak mengadu domba dan mencari perkara. Hm, tampaknya dugaan Cengcu memang tidak keliru, kau memang sudah berubah sama sekali!"

Saking gemas Le-hui mengentak kaki dan berteriak.

"Perempuan bejat yang tidak tahu malu, berani kau putar balik urusan, biar kucekik mampus dirimu!"

Sembari bicara terus saja ia menubruk maju dan mencakar.

Tentu saja Long-giok tidak mau mengalah, tangan kiri menangkis, kontan tangan kanan balas menghantam muka lawan.

Begitulah kedua betina itu lantas saling labrak dengan sengit.

Liap Siong-giam bertujuh tidak dapat membedakan sesungguhnya siapa di antara kedua nona itu yang bersekongkol dengan musuh, sebab itulah mereka serbasalah untuk membantu salah seorang, mereka sama gelisah dan bingung serta berteriak.

"Berhenti, berhenti semua, bicaralah dengan baik!"

Namun Long-giok dan Le-hui anggap tidak mendengar, perkelahian mereka bertambah sengit, keduanya sama ingin membinasakan lawan dengan segera.

Dasar perempuan, lambat laun cara bertempur mereka tidak lagi menurut peraturan jago silat, tapi berubah menjadi perempuan kampungan, keduanya saling jambak rambut dan mencakar muka serta menarik baju ....

Tidak lama kemudian kedua orang sudah babak belur dengan baju robek dan rambut semrawut, dada terbuka dan paha kelihatan.

Ciong Su-liong jadi rikuh sendiri melihat keadaan kedua betina itu, ia melompat maju untuk memisah mereka sambil membentak.

"Berhenti, jangan berkelahi lagi!"

Baju atas Le-hui terobek sehingga dadanya setengah tersingkap, keadaannya agak runyam, ia tuding Long-giok dan memaki dengan napas terengah.

"Perempuan hina, lihat saja nanti, bila Cengcu pulang berarti pula tiba ajalmu!"

Habis itu ia mengentak kaki terus berlari ke wisma tamu sana. Long-giok menutupi pahanya dengan gaunnya yang robek, lalu balas memaki.

"Sundal busuk, kalau berani janganlah lari, ayolah kita tentukan siapa yang akan mampus!"

Pada saat itulah mendadak Lokoankeh muncul di situ, ucapnya dengan tertawa.

"Sudahlah kalian sudah cukup berkelahi dan saling caci maki, sekarang bolehlah pulang ke kamar masingmasing untuk istirahat."

Seketika Long-giok mewek-mewek, katanya.

"Silakan Lokoankeh memberi keadilan, hamba hendak menolong Liapwisu dan sengaja menyebut sesuatu nama tempat, tapi si perempuan hina Le-hui itu berani memfitnahku, katanya hamba bersekongkol dengan musuh, coba siapa yang terima dituduh demikian?"

"Ah, sudahlah, itu cuma salah paham saja, setelah jelas persoalannya anggaplah selesai dan jangan bicara lagi,"

Kata Lokoankeh dengan tertawa. Namun Long-giok masih penasaran, katanya.

"Hamba tidak mau tinggal bersama lagi dengan dia, harap Lokoankeh mengantarku kembali ke Cui-ci-kiong saja."

"Wah, mana bisa,"

Jawab Lokoankeh sambil menggeleng.

"Cui-ci-kiong sudah tertutup rapat, tidak dapat lagi masuk ke sana."

"Masa engkau tak dapat membukanya?"

Tanya Long-giok.

"Tidak, tidak bisa,"

Kembali Lokoankeh menggeleng kepala.

"Sebab apa?"

Tanya Long-giok.

"Sebab aku pun tidak tahu di mana letak alat tutup-bukanya,"

Kata Lokoankeh.

"Wah, lantas siapa yang tahu?"

"Hanya Cengcu sendiri yang tahu."

Long-giok berpaling dan tanya Liap Siong-giam.

"Liap-wisu, apakah engkau tahu?"

Liap Siong-giam menggeleng sambil tersenyum getir.

"Maaf, malahan bagaimana bentuk Cui-ci-kiong saja sampai saat ini aku tidak tahu."

Long-giok berlagak gemas, ucapnya dengan manja.

"Jika begitu, suruh dia pindah, aku tidak sudi tinggal sekamar dengan dia."

"Untuk ini bisa kuatur,"

Kata Lokoankeh.

"Kamar kosong di wisma tamu itu sangat banyak, biarlah kalian tinggal terpisah saja."

Malam sudah tiba, cahaya lampu di Liong-coan-ceng terang benderang serupa siang, peronda mondar-mandir terus berkeliling menyusuri pagar tembok tanpa berhenti, tampaknya biarpun seekor tikus saja yang menyusup ke dalam perkampungan juga pasti akan kepergok.

Tapi belum lagi tengah malam Kiong-su-sing Sun Thian-tik sudah berada di wisma tamu Liong-coan-ceng.

Ia mengenakan baju centeng Liong-coan-ceng dan membawa bende, dengan lagak peronda ia masuk ke wisma itu.

Setiba di luar kamar Long-giok, ia mengetuk pintu.

Saat itu Long-giok sedang bicara dengan Liong It-hiong dari balik dinding, ia terkejut demi mendengar suara ketukan pintu, cepat ia tanya.

"Siapa?!"

"Aku!"

Jawab Thian-tik dengan suara tertahan. Mengenali suara Sun Thian-tik itu, cepat Long-giok membukakan pintu, desisnya.

"Cepat masuk!"

Dengan senyum dikulum Sun Thian-tik menyusup ke dalam kamar. Setelah merapatkan pintu kamar, Long-giok melihat dandanan Sun Thian-tik itu, ucapnya dengan kejut dan girang.

"Apakah kedatanganmu tidak kepergok orang?"

"Ada,"

Tutur Thian-tik.

"Beberapa kali aku dipergoki orang, malahan dua kali di antaranya aku diajak bicara."

"Dari mana timbul gagasanmu untuk menyamar sebagai peronda?"

Tanya Long-giok dengan tertawa geli. Perlahan Thian-tik menaruh bende dan angkat pundak, jawabnya.

"Kecuali cara ini tiada jalan lain lagi untuk menyusup ke dalam perkampungan ini."

Segera ia menarik Long-giok dan dipeluknya, diciumnya mesra sekali pada pipinya, lalu bertanya.

"Dan di mana Liong Ithiong?"

Long-giok menuding sebelah dinding, jawabnya lirih.

"Di kamar sebelah, baru saja aku berunding dengan dia bagaimana tindakan selanjutnya, tak terduga engkau lantas muncul."

Ia membawa Thian-tik ke samping kanan tempat tidur dan berjongkok, ia tuding sebuah liang kecil di pojok dinding, dari liang itulah dia mengadakan pembicaraan dengan Liong Ithiong.

"Liong-hiap, ini Sun-tayhiap sudah datang!"

Seru Long-giok.

"Ya, sudah kudengar,"

Jawab Liong It-hiong di kamar sebelah. Sun Thian-tik tertawa, katanya.

"Liong It-hiong, bikin susah padamu ya!"

"Ah, tidak apa-apa,"

Kata It-hiong.

"Pagi tadi aku bersembunyi di dalam hutan di belakang kampung,"

Tutur Sun Thian-tik.

"kulihat Wi Ki-tiu menyamar sebagai saudagar dan diam-diam mengeloyor keluar kampung melalui pintu belakang, telah kukuntit dia sekian jauhnya, lalu kuputar balik ke sini, sekarang sangat mungkin dia sudah berada beberapa ratus li jauhnya, marilah kita boleh mulai beraksi."

"Tapi Wi Ki-tiu telah menutup Cui-ci-kiong, konon selain dia tiada orang lain yang mampu membuka istana kristal di bawah tanah itu,"

Kata It-hiong.

"Kukira ada satu orang dapat membuka Cui-ci-kiong,"

Ujar Thian-tik.

"Siapa?"

Tanya It-hiong.

"Lokoankeh,"

Kata Thian-tik.

"Menurut Nona Long-giok, siang tadi dia sudah coba tanya kepadanya, Lokoankeh itu menyatakan tidak tahu cara bukatutup Cui-ci-kiong itu."

"Ya, tentu saja ia tidak mau bicara terus terang kepada sembarangan orang,"

Ujar Thian-tik dengan tertawa.

"Jika begitu, umpamakan dia paham cara buka-tutup Cui-cikiong, lalu cara bagaimana kita akan bertindak?"

Tanya Ithiong.

"Dapat kita menculik dia ke sini dan memaksa dia membukakan pintu Cui-ci-kiong."

"Wah, cara ini kurang baik,"

Ujar It-hiong.

"Tampaknya dia sangat setia terhadap Wi Ki-tiu, bilamana dia tidak mau mengaku biarpun dibunuh sekalipun, kan juga tidak ada untungnya bagi kita. Maka sebaiknya kita mencari akal untuk memancingnya agar secara sukarela dia mau membuka Cui-cikiong."

"Jika ingin memancing dia membukakan Cui-ci-kiong tanpa dipaksa, kukira ada satu cara,"

Kata Thian-tik.

"yaitu dibikin seakan-akan di dalam Cui-ci-kiong terjadi sesuatu, tentu dia akan membuka pintu istana itu untuk memeriksanya. Tapi dengan cara bagaimana supaya dia mengira telah terjadi sesuatu di dalam Cui-ci-kiong?"

"Aku ada akal,"

Kata It-hiong.

"Cuma tidak tahu dapat dilaksanakan atau tidak."

"Coba uraikan,"

Pinta Thian-tik.

"Di dalam wisma ini masih tinggal seorang nona bernama Lehui,"

Tutur It-hiong.

"Ia sengaja dikirim oleh Wi Ki-tiu untuk menemani Nona Long-giok, sekarang dia tinggal di kamar nomor tiga serambi barat ...."

Sun Thian-tik melengak, tukasnya.

"Jika dia disuruh menemani Long-giok mengapa mereka tidak tinggal bersama?"

"Sebab siang tadi telah terjadi perkara, boleh kau minta Nona Long-giok menceritakan apa yang terjadi siang tadi,"

Kata Ithiong.

"Memangnya apa yang terjadi?"

Segera Thian-tik berpaling dan tanya Long-giok.

Maka berceritalah Long-giok tentang datangnya Song Goanpo, Koh-ting Tojin, dan Kim-kong Taysu serta dilabraknya ketujuh jago andalan Liong-coan-ceng itu.

"Oo, bisa terjadi demikian,"

Ucap Thian-tik dengan kening bekernyit.

"Jika dia menuduh kau bersekongkol dengan musuh luar, maka mutlak kau tidak dapat tinggal lagi di sini."

"Hamba memang tidak ingin tinggal lagi di sini, sekarang justru ingin kutahu apakah engkau sudi membawa pergi diriku atau tidak?"

Kata Long-giok. Sun Thian-tik tertawa sambil menepuk bahu si nona, katanya.

"Jangan khawatir, jika aku tidak mau membawa kabur dirimu, tentu malam ini aku tidak datang lagi ke sini."

Lalu ia bicara terhadap Liong It-hiong di kamar sebelah.

"Eh, tadi kau bilang ada akal, coba jelaskan akalmu itu?"

Liong It-hiong lantas menguraikan rencananya. Thian-tik manggut-manggut, ucapnya dengan tertawa.

"Ehm, tidak jelek akalmu ini, aku setuju."

Segera ia berbangkit, diambil lagi bende tadi lalu membuka pintu kamar, ia melongok keluar, setelah yakin tidak ada orang di luar barulah ia menyelinap keluar dan menuju ke kamar di serambi barat.

Setelah membelok ke ujung serambi, sampailah dia di deretan kamar sebelah barat, dilihatnya ada cahaya lampu di kamar nomor tiga, ia tahu itulah kamar tempat tinggal Le-hui, segera ia mengetuk pintu.

Tapi ketika tangan hampir menyentuh pintu mendadak ia urungkan maksudnya.

Sebab pada saat itu juga didengarnya di dalam kamar Le-hui ada suara orang lelaki.

Meski suara sangat lirih, tapi dapat didengarnya dengan jelas, kalimat pertama yang didengarnya berbunyi demikian.

"Coba katakan terus terang, bagaimana diriku dibandingkan Cengcu?"

Nadanya seperti dua orang yang sedang kelonan dan lagi begituan. Lalu terdengar Le-hui mengomel.

"Cis, tidak tahu malu."

Terdengar si lelaki tertawa bangor dan berucap pula.

"Jika tidak kau katakan, biarlah kupergi saja."

"Pergi ya pergi, memangnya kutahan?!"

Demikian terdengar Le-hui mengomel pula.

"Baik, kupergi sekarang .... Eh, untuk apa mengganduli diriku?"

Lelaki itu bersuara dengan tertawa. Agaknya Le-hui memukulnya satu kali sambil terkikik.

"Sudahlah, macam-macam saja engkau ini memangnya kau minta kubilang apa?"

"Katakan, bagaimana aku dibandingkan Cengcu?"

Ujar si lelaki. Kembali Le-hui seperti memukulnya sekali lagi sambil mengomel.

"Cis, begituan saja masa disebut-sebut, sudah tentu engkau lebih perkasa!"

Agaknya lelaki itu sangat senang, terdengar tertawanya mengakak.

"Ssst, jangan keras-keras, bila didengar Long-giok kan bisa celaka,"

Cepat Le-hui mendesis.

"Jangan khawatir, siang tadi ia berkelahi denganmu, sekarang tidak nanti dia mencarimu."

"Bukan mustahil dia mengintip gerak-gerikku,"

Kata Le-hui.

"Tidak, saat ini mungkin dia juga lagi sibuk seperti dirimu, sedang curi makan, mana ada waktu untuk mengintip dirimu segala?"

"Sungguh menggemaskan, dia memang benar bersekongkol dengan musuh luar, tapi kalian justru tidak percaya,"

Kata Lehui.

"Tanpa sesuatu bukti, kan tidak enak menangkapnya begitu saja,"

Ujar si lelaki. Le-hui berpikir sejenak, lalu berkata pula.

"Cuma, mungkin ... ai, tidak perlu lagi kita membicarakan dia. Sekarang ingin kutanya padamu, apakah engkau benar-benar suka padaku?"

"Mengapa tidak? Masa perlu kukatakan lagi?"

Jawab si lelaki.

"Lantaran rindu padamu, setiap hari aku tidak dapat tidur nyenyak, makan pun tidak nafsu, sungguh susah."

"Jika begitu, ayolah kita minggat saja!"

"Hah, minggat?"

Lelaki itu seperti terperanjat.

"Minggat ke mana?"

"Mana pun jadi,"

Ujar Le-hui.

"Pendek kata, kita kawin dan minggat dari sini untuk hidup layak di tempat lain."

Agaknya lelaki itu menjadi ragu, katanya dengan gelagapan.

"Wah, ini ... ini ...."

"Ini apa?"

Desak Le-hui.

"Masa kau takut? Huh, pengecut! Memangnya kau dapat ikut Wi Ki-tiu selama hidup? Kebaikan apa yang diberikannya kepadamu?"

"Tapi bilamana Cengcu mengetahui kita minggat bersama, mana dia mau tinggal diam, ke ujung langit pun kita akan diuber."

"Sungguh bodoh engkau ini,"

Ujar Le-hui.

"Kita kan dapat kabur sejauh-jauhnya, ke mana dia akan mencari kita?"

Tampaknya lelaki itu masih ragu.

"Tapi kukira ... kukira ... urusan ini harus kupikirkan dulu."

"Tidak perlu banyak pikir, kalau mau, sekarang juga kita angkat kaki!"

Kata Le-hui.

"Wah, ini ... ini ...."

"Kenapa? Kau tidak ingin meninggalkan Wi Ki-tiu? Atau memang tidak suka padaku?"

"O, ti ... tidak ...."

Lelaki itu gelagapan.

"Kalau tidak, mengapa kau sangsi dan perlu pikir apa lagi?"

Ujar Le-hui.

"Ingin kukatakan padamu, setelah engkau berhubungan denganku, bila diketahui Wi Ki-tiu, mungkin ...."

"Baik, baik, boleh kita angkat kaki,"

Cepat lelaki itu menukas.

"Cuma, bagaimana kalau berangkat dua hari lagi."

"Tidak bisa, bukan mustahil Wi Ki-tiu bisa putar balik mendadak, biarlah malam ini juga kita angkat kaki."

"Ai, kenapa terburu-buru amat?"

Ujar lelaki itu.

"Betapa pun kuingin lekas meninggalkan tempat seperti neraka ini,"

Kata Le-hui.

"Jika begitu, biarlah kukembali ke kamar dan berbenah seperlunya, hendaknya kau pun bersiap-siap,"

Kata lelaki itu.

"Baik, kutunggu di sini,"

Ujar Le-hui.

Sampai di sini, Thian-tik tahu orang itu selekasnya akan keluar, cepat ia menyurut mundur dan sembunyi di suatu pojokan yang gelap.

Benarlah, selang sejenak, pintu kamar dibuka perlahan, seorang berbaju hijau menyelinap keluar dengan tingkah serupa maling khawatir kepergok.

Dia ternyata satu di antara ketujuh jago pengawal Liong-coanceng, yaitu Kim Soh-bun.

Setelah celingukan kian-kemari dan melihat sekelilingnya tidak ada orang, cepat orang itu berlari keluar wisma tamu.

Sun Thian-tik bersembunyi tanpa bergerak, diam-diam ia merasa geli, pikirnya.

"Sungguh sangat kebetulan, aku tidak perlu turun tangan lagi ...."

Sedang berpikir, dilihatnya Long-giok muncul dari pengkolan serambi sana, ia tahu si nona ingin melihatnya sudah berhasil atau tidak, segera ia menongol dan memberi tanda padanya sambil mendesis.

"Ssst, di sini ...."

Long-giok merasa bingung melihat Thian-tik sembunyi di situ, cepat ia lari ke sini dan bertanya dengan suara tertahan.

"Kenapa engkau tidak turun tangan?"

"Tidak perlu lagi, sebentar juga dia akan minggat bersama Kim Soh-bun,"

Tutur Thian-tik dengan suara lirih.

"Kenapa bisa begitu?"

Tanya Long-giok dengan tidak mengerti.

"Begitu kusampai di luar kamarnya lantas kudengar suara seorang lelaki sedang bicara di dalam kamar ...."

Lalu Sun Thian-tik menceritakan apa yang didengar dan dilihatnya tadi.

"Hm, dasar perempuan bejat,"

Jengek Long-giok.

"Tadinya kukira dia benar-benar setia kepada Wi Ki-tiu, tak tahunya dia juga seekor kucing rakus."

"Dalam hal ini, kukira kau tidak dapat mengejek dia,"

Ujar Thian-tik dengan tertawa.

"Sebab dia serupa denganmu, tidak suka kepada seorang kakek loyo yang tidak mampu apa-apa meski banyak duitnya."

"Lantas, apakah Kim Soh-bun berjanji akan membawa minggat dia?"

Tanya Long-giok.

"Ya, makanya kita tidak perlu turun tangan lagi,"

Jawab Thiantik.

"Sebentar bila mereka sudah pergi barulah kita bertindak menurut rencana."

"Jika begitu, biar kuberi tahukan kepada Liong-hiap,"

Kata Long-giok.

"Dia merasa khawatir akan dirimu karena sekian lama engkau berangkat dan belum lagi kembali."

Habis bicara ia terus berlari pergi.

Tidak lama kemudian ia sudah kembali dengan membawa Liong It-hiong.

Baru saja mereka bertiga berjongkok di tempat gelap itu segera terlihat Kim Soh-bun masuk lagi ke halaman situ, pada bahunya menyandang sebuah ransel, melihat gelagatnya dia memang benar-benar hendak minggat bersama Le-hui.

Terlihat dia menuju ke kamar Le-hui, setiba di luar kamar, perlahan ia mengetuk tiga kali, segera pintu kamar dibuka dan Le-hui muncul dengan dandanan yang siap untuk berangkat.

"Apakah tidak dilihat orang?"

Terdengar Le-hui bertanya dengan suara tertahan.

"Tidak,"

Kim Soh-bun menggeleng.

"Penjagaan kan sangat ketat?"

Tanya Le-hui pula.

"Tidak apa, yang dinas jaga malam ini adalah Oh Jing-peng, asal tidak dilihat dia, centeng yang lain pasti tidak berani menegur kita,"

Ujar Kim Soh-bun.

"Sekarang Oh Jing-peng berada di mana?"

Tanya Le-hui.

"Agaknya sedang mengontrol di sebelah kiri perkampungan sana, mari kita keluar melalui sebelah kanan, pasti aman,"

Ajak Kim Soh-bun. Segera Le-hui mendahului melangkah, katanya.

"Baik, mari berangkat!"

Kim Soh-bun memandang ransel yang dibawa Le-hui, tanyanya dengan tertawa.

"Apa saja yang kau bawa?"

"Beberapa potong baju, ada lagi beberapa barang berharga pemberian Wi Ki-tiu,"

Tutur Le-hui.

"Jika demikian, jadi sesungguhnya sudah lama engkau siapsiap meninggalkan Cengcu?"

Kata Kim Soh-bun dengan tersenyum.

"Memang,"

Jawab Le-hui.

"Pagi tadi waktu ia tanya padaku mau keluar untuk menemani Long-giok atau tidak, kupikir inilah kesempatan baik yang sukar dicari, maka diam-diam kubawa keluar sekalian barang simpananku ini."

"Kira-kira berharga berapa?"

Tanya Kim Soh-bun pula.

"Jika diuangkan, sedikitnya bernilai satu laksa tahil perak, sedikitnya cukup untuk hidup nikmat selama beberapa tahun bagi kita."

"Baiklah, ayo cepat,"

Ajak Kim Soh-bun, tampaknya dia sangat senang.

Begitulah kedua orang lantas mengeluyur keluar wisma tamu itu melalui pintu belakang dan menghindari pos pengawas rahasia, akhirnya dapatlah mereka kabur meninggalkan Liongcoan-ceng.

Sun Thian-tik, Long-giok, dan Liong It-hiong bersembunyi pula sekian lama di tempat gelap, ditaksir Le-hui berdua tentu sudah meninggalkan Liong-coan-ceng dengan selamat barulah mereka menyusup masuk ke kamar Le-hui.

"Tampaknya orang she Kim itu bukan manusia baik-baik,"

Ujar Long-giok.

"kukira nasib Le-hui akhirnya pasti sengsara jika mengikuti kemauan orang she Kim itu."

"Betul, keparat itu seperti sangat memerhatikan harta benda yang dibawa Le-hui,"

Kata Thian-tik.

"Tampaknya dia memang tidak mengandung niat baik."

"Bagi Le-hui boleh diibaratkan orang yang kelaparan terpaksa tidak dapat memilih makanan,"

Kata It-hiong dengan tertawa.

"Sungguh aku ikut penasaran bagi Wi Ki-tiu. Percuma dia menguasai harta sebesar ini, kenyataannya tidak pernah mendapatkan kesetiaan perempuannya."

Long-giok melototinya sekejap, omelnya.

"Sengaja kau caci maki diriku ya?"

"O, tidak, bukan,"

Cepat It-hiong menyangkal.

"Maksudku, bila seorang lelaki ingin disukai orang perempuan, maka selain kekayaan masih perlu tersedia barang lain."

"Tapi sebabnya kuingin meninggalkan dia, dasar pertimbanganku adalah karena perbuatannya yang melampaui batas, sebab kami tidak dipandangnya sebagai manusia,"

Kata Long-giok.

"Sudahlah, bekerja lebih dulu,"

Kata Thian-tik.

"Adakah alat tulis di sini?"

"Kukira ada, akan kucari,"

Ujar Long-giok.

Ia mencari sebentar, akhirnya dari sebuah laci dapat ditemukan alat tulis lengkap, segera ia menuang air pada tatakan tinta dan mulai menggosok tinta bak.

Melihat tinta sudah siap, Sun Thian-tik tanya Liong It-hiong.

"Cara bagaimana menulisnya?"

"Apakah Le-hui pandai membaca?"

Tanya It-hiong.

"Tidak terlalu pandai,"

Tutur Long-giok.

"Jika begitu, tulis saja yang sederhana, jangan pakai bahasa tinggi, supaya mudah dipahami mereka,"

Ujar It-hiong.

"Coba kau katakan, akan kutuliskan,"

Sela Long-giok.

"Baik,"

Kata It-hiong.

"Lebih dulu kau tulis saja tiga huruf. Wi Ki-tiu."

Long-giok menurut, ia tulis ketiga huruf itu di atas sehelai kertas putih, lalu berucap.

"Lalu ...."

"Tulis saja,"

Kata It-hiong.

"Setelah kupertimbangkan, aku merasa tidak dapat menghabiskan masa mudaku di tanganmu, maka kuputuskan untuk minggat bersama Kim Soh-bun, berbareng itu kami membawa pergi juga Hui Giok-koan, sebab ia bilang bila kami mau menyelamatkan jiwanya, dia mau memberikan lima laksa tahil perak padaku. Menyesal sekali terpaksa harus mengkhianatimu, harap maaf."

Long-giok menulis semuanya seperti apa yang disebut Liong It-hiong itu, akhirnya bertanya.

"Lantas apa lagi?"

"Sudah cukup,"

Ujar It-hiong dengan tertawa.

"Beri saja nama Le-hui sebagai tanda tulisannya."

Kembali Long-giok membubuhi nama Le-hui sebagai penulis surat itu, katanya dengan tertawa.

"Wi Ki-tiu kenal tulisan Lehui, jika surat ini dibacanya tentu dia tahu akulah yang menulis."

"Tidak menjadi soal,"

Ujar It-hiong.

"Surat ini sengaja supaya dibaca oleh Lokoankeh dan bukan ditujukan kepada Wi Ki-tiu."

"Jika Lokoankeh tahu cara buka-tutup Cui-ci-kiong, setelah membaca surat ini tentu segera ia akan masuk ke Cui-ci-kiong untuk memeriksa keadaan di sana,"

Tutur Sun Thian-tik.

"Bilamana dia tidak masuk ke Cui-ci-kiong akan terbukti bahwa dia memang benar tidak paham buka-tutup istana kristal itu."

"Lalu bagaimana bila benar dia memang tidak tahu cara membuka Cui-ci-kiong?"

Tanya Long-giok.

"Jika betul begitu, biarlah kita mencari akal lain lagi,"

Kata Ithiong.

"Sekarang boleh kau pergi melapor kepada Lokoankeh tentang minggatnya Le-hui."

"Kalian akan sembunyi di mana?"

Tanya Long-giok.

"Biarlah kami sembunyi di tempat tadi saja,"

Kata It-hiong.

Long-giok mengangguk, ia taruh surat yang baru ditulisnya itu di atas meja, lalu keluar kamar menuju wisma tamu.

Langsung ia menuju ke halaman dalam sana, sampai di luar sebuah kamar segera ia mengetuk pintu sambil berteriak.

"Lokoankeh, Lokoankeh!"

Terdengar bunyi keriang-keriut tempat tidur di dalam kamar, lalu suara Lokoankeh bertanya.

"Siapa itu?"

"Aku, Long-giok, lekas buka pintu, Lokoankeh!"

Buru-buru Lokoankeh memakai baju dan turun dari tempat tidurnya untuk membuka pintu kamar, tanyanya dengan heran.

"Ada urusan apa?"

Long-giok berlagak gugup, serunya.

"Wah, celaka! Lekas Lokoankeh memeriksa ke sana!"

Sembari bicara ia tarik tangan orang tua itu terus diajak lari ke wisma tamu. Tentu saja Lokoankeh merasa bingung, tanyanya.

"Sesungguhnya ada urusan apa?"

Sambil menyeretnya berlari Long-giok menjawab.

"Le-hui minggat bersama orang!"

Lokoankeh terkejut, serunya.

"Hah ... dia minggat bersama orang? Minggat bersama siapa?"

"Kim Soh-bun!"

Jawab Long-giok.

"Hah, masa?"

Lokoankeh melengak.

"Tadi sebelum tidur masih sempat kulihat Kim Soh-bun di luar sana."

"Tapi benar-benar dia telah minggat bersama Le-hui,"

Kata Long-giok.

"Lantaran tidak dapat tidur, ingin kujenguk dia, siapa tahu begitu kumasuk ke kamarnya, keadaan kosong melompong, hanya di atas meja kulihat ada sehelai surat ...."

"Apa yang ditulisnya di situ?"

Tanya Lokoankeh cepat.

"Silakan Lokoankeh membacanya sendiri nanti,"

Ujar Longgiok. Ia tarik orang tua itu masuk ke wisma dengan tergesa-gesa, sampai di kamar Le-hui, ia tunjuk surat di atas meja dan berkata.

"Nah, lihat, itulah surat yang ditinggalkannya."

Lokoankeh mengambil surat itu dan dibaca, seketika air mukanya berubah hebat, serunya sambil mengentak kaki.

"Wah, celaka!"

"Lekas suruh para jago pengawal mengejar mereka, bisa jadi mereka belum terlalu jauh,"

Kata Long-giok. Tangan Lokoankeh tampak gemetar, ucapnya dengan khawatir.

"Wah, sungguh berani mereka, Hui Giok-koan juga dibawa lari mereka, urusan bisa runyam!"

"Makanya jangan tertunda-tunda lagi, lekas suruh Liap-wisu dan lain-lain mengejar mereka, juga perlu lekas periksa keadaan Cui-ci-kiong, mungkin Lik-cu berlima juga mengalami nasib malang dikerjai mereka,"

Seru Long-giok.

"Betul,"

Kata Lokoankeh.

"Boleh kau tunggu di sini, segera kukembali kemari."

Habis berkata ia terus berlari pergi.

Melihat orang tua itu sudah pergi, Long-giok tersenyum, ia duduk di dalam kamar dan menunggu dengan tenang.

Selang tak lama, terdengar suara orang lari di luar kamar, nyata Lokoankeh sudah kembali.

Cepat Long-giok berbangkit dan tanya.

"Bagaimana?"

"Sudah kuminta Liap-wisu dan lain-lain mengejar mereka,"

Tutur Lokoankeh.

"Semoga mereka dapat tersusul dan dibawa kembali ke sini."

"Kan sekarang hendaknya kita coba periksa keadaan di Cui-cikiong,"

Usul Long-giok.

"Sungguh sangat kukhawatirkan nasib Lik-cu berlima, bisa jadi mereka telah dibunuh perempuan bejat Le-hui dan gendaknya itu."

Lokoankeh mengangguk.

"Baiklah, alat tutup-bukanya terletak di kamar Cengcu, boleh kau ikut padaku."

Long-giok lantas ikut orang tua itu keluar kamar dan buruburu meninggalkan wisma tamu, sampai di luar kamar Wi Kitiu, Lokoankeh mengeluarkan kunci untuk membuka gembok, lalu membuka pintu.

Di dalam kamar tidak ada lampu, keadaan sangat gelap.

"Gelap amat, apakah tidak perlu memasang lampu?"

Tanya Long-giok. Tidak perlu ...."

Kata Lokoankeh.

Ia mendekati sebuah lemari buku, entah di mana ia meraba, lalu terdengar serentetan suara krak-krek, lemari buku itu bergeser perlahan dan tertampaklah sebuah pintu rahasia.

Kiranya lemari buku itu sendiri merupakan daun pintu, cara merancangnya sungguh sangat bagus.

Lokoankeh masuk ke dalam, entah di mana ia meraba dan menekan lagi beberapa kali, lalu keluar dan berkata pula.

"Sudah, cukup!"

"Kita masuk dari mana?"

Tanya Long-giok. Lokoankeh menekan tombol sehingga lemari buku itu bergeser ke tempat semula, lalu menjawab.

"Masuk dari sini juga bisa, tapi harus menembus beberapa tempat yang terpasang pesawat rahasia, maka kukira masuk melalui wisma tamu saja lebih leluasa."

Habis berkata ia terus lari keluar diikuti Long-giok, mereka berlari kembali ke wisma tamu.

Setelah berada di kamar sendiri, Lokoankeh mendahului menuju ke sebelah kanan tempat tidur, ia mengetuk tiga kali di dinding kamar, kontan dinding itu bergerak membuka ke atas dengan perlahan.

Tanpa menunggu dinding itu terbuka seluruhnya, segera Lokoankeh menyusup ke sana.

Cepat Long-giok menyusul ke situ, serunya mendadak.

"Lokoankeh!"

Orang tua itu melengak, jawabnya sambil berhenti dan menoleh.

"Ada apa?"

Baru selesai kata "apa"

Terucap, tahu-tahu hiat-to bagian dadanya sudah tertutuk oleh Long-giok, kontan ia jatuh terjengkang dan tidak sadarkan diri.

Baru saja ia hendak keluar untuk memanggil Sun Thian-tik dan Liong It-hiong, ternyata kedua orang itu sudah mendahului masuk ke kamarnya, dengan tertawa Long-giok lantas berseru.

"Lekas kemari, sudah berhasil kurobohkan dia!"

"Kau bunuh dia?"

Tanya Sun Thian-tik dengan tertawa.

"Tidak, hanya kututuk hiat-to pingsannya, hendaknya kau seret keluar,"

Kata Long-giok. Segera Sun Thian-tik menyusup ke lorong rahasia dan menyeret keluar Lokoankeh serta didorong ke kolong ranjang, katanya.

"Baiklah, sekarang lekas kita turun ke sana."

Ketiga orang lantas menuruni tangga batu lorong rahasia itu, tetap Long-giok yang menjadi petunjuk jalan, sepanjang jalan ia membuka beberapa pintu rahasia dan akhirnya masuk ke dalam kamar yang biasa dipakai Long-giok.

Kamar ini sudah pernah dimasuki sekali oleh Sun Thian-tik dan Liong It-hiong, maka keindahan pepajangan di dalam kamar tidak lagi mengherankan mereka, dengan suara tertahan Ithiong lantas berkata.

"Saat ini sudah menjelang tengah malam, mungkin mereka sudah sama tidur."

"Tidak tentu,"

Kata Long-giok.

"Kami bertujuh sudah lama berdiam di Cui-ci-kiong ini, sudah terbiasa hidup tanpa perbedaan siang atau malam, sering kami siang tidur dan malam bekerja."

"Di antara kalian bertujuh, ilmu silat siapa yang paling tinggi?"

Tanya Sun Thian-tik.

"Lik-cu,"

Tutur Long-giok.

"Aku dan Le-hui kira-kira sama kuat, selebihnya seperti Hiang-kun, Hi-moay, dan lain-lain tidak masuk hitungan, hanya bisa main beberapa jurus yang tidak ada artinya."

"Jika begitu kita tidak perlu khawatir lagi,"

Ujar Thian-tik.

"Ayolah kita masuk saja."

Sembari bicara ia terus membuka pintu batu yang menembus ke Cui-ci-kiong itu.

Begitu pintu terbuka, di mana mata memandang tertampaklah pemandangan kolam renang berbentuk bundar istana kristal yang menakjubkan, kelihatan Lik-cu berlima sedang berendam di tengah kolam dengan telanjang bulat.

Dengan tenang mereka berendam di dalam air kolam yang jernih sehingga tubuh mereka yang putih bersih laksana salju terlihat jelas, tapi ketika mereka mengetahui kemunculan Sun Thian-tik bertiga secara mendadak, seketika mereka gugup dan ribut, semuanya menjerit kaget dengan kelabakan.

Sun Thian-tik berkeplok tertawa, katanya.

"Jangan takut, para Nona, kami tidak bermaksud jahat kepada kalian."

Lik-cu menghambur-hamburkan air kepadanya sambil berteriak.

"Keluar! Keluar semua!"

Thian-tik menyurut mundur dua langkah sambil tertawa.

"Hahaha! Ada apa? Memangnya kalian malu segala?! Sudahlah, kan semalam kau pun bertelanjang bulat ketika menghajar Hui Giok-koan dengan cambuk?"

"Cengcu, lekas kemari!"

Teriak Lik-cu.

"Long-giok makan dalam bela luar, dia membawa musuh ke sini!"

"Jangan berteriak lagi, tidak ada gunanya,"

Ucap Thian-tik dengan tertawa.

"Saat ini sedikitnya Wi Ki-tiu sudah berada beberapa ratus li jauhnya, mana mungkin suaramu didengar olehnya."

Air muka Lik-cu berubah menjadi pucat sekali, ia berpaling dan membentak Long-giok.

"Sungguh terlalu engkau ini, Longgiok. Betapa sayang Cengcu kepadamu, tapi kau malah membawa musuh masuk ke Cui-ci-kiong ini, apakah kau ...."

Dengan tenang Long-giok menjawab dengan tertawa.

"Enci Lik-cu, soalnya aku sudah terlalu bosan dengan kehidupan gelap di Cui-ci-kiong ini, sebab itulah sudah kuputuskan untuk meninggalkan Wi Ki-tiu, hal ini kan tidak membikin susah dan merugikanmu, buat apa kau marah-marah padaku?"

"Jika kau mau pergi boleh lekas pergi, mengapa kau bawa orang luar masuk ke sini?"

Teriak Lik-cu dengan gusar.

"Sun-tayhiap dan Liong-hiap ingin membawa serta Hui Giokkoan, sedangkan aku sudah rela ikut Sun-tayhiap, maka ...."

"Apa katamu? Kalian hendak membawa lari Hui Giok-koan?!"

Teriak Lik-cu.

"Betul,"

Jawab Long-giok dengan tersenyum. Mata Lik-cu mendelik, teriaknya dengan bengis.

"Barangkali kau sudah bosan hidup, maka ...."

"Tidak, justru aku ingin hidup lebih lama dengan bahagia,"

Potong Long-giok.

"Masa kau sudah lupa betapa luas dan indahnya dunia di luar? Kalau ingin hidup bahagia harus meninggalkan neraka seperti ini. Sedangkan membawa pergi Hui Giok-koan akan dapat mendatangkan kekayaan bagiku ...."

"Hm, jangan mimpi,"

Jengek Lik-cu.

"Bila Cengcu pulang, mustahil kulitmu takkan dibesetnya?!"

Long-giok terkikik sambil sebelah tangan merangkul bahu Sun Thian-tik, ucapnya.

"Jangan kau gertak aku dengan nama Wi Ki-tiu, tiada setitik pun dia mampu menandingi Sun-tayhiap ini, apa yang ingin dia lakukan terhadapku masih harus permisi dulu kepada Sun-tayhiap ini. Betul tidak, Kakakku sayang?!"

"Betul,"

Jawab Sun Thian-tik dengan mengangguk dan tertawa.

"Orang lain tidak berani kukatakan, kalau cuma Wi Ki-tiu saja, hah, tidak nanti aku takut."

"Jika betul engkau tidak takut, mengapa kalian baru masuk ke sini untuk mengganggu kami pada waktu Cengcu pergi?"

Kata Lik-cu.

"Bilakah kami mengganggu kalian?"

Jawab Thian-tik.

"Kalian boleh terus mandi sepuasmu, tidak nanti kami mengganggu seujung bulu roma kalian."

Sampai di sini ia berpaling dan tanya Long-giok.

"Hui Giokkoan terkurung di kamar mana?"

Long-giok menuding ke depan dan menjawab.

"Di kamar rahasia sana, akan kubawamu ke sana."

Sun Thian-tik lantas berkata kepada Liong It-hiong.

"Lionglaute, hendaknya engkau tinggal di sini dan mengawasi mereka, akan kutolong keluar orang she Hui itu."

It-hiong mengangguk, jawabnya dengan tertawa.

"Baik, silakan pergi."

Thian-tik dan Long-giok lantas mengitar kolam mandi itu menuju ke sebuah pintu kamar yang terletak di seberang sana.

Sekejap kemudian mereka sudah menghilang di balik pintu itu.

Lik-cu dan keempat kawannya hanya menyaksikan mereka masuk ke sana untuk menolong Hui Giok-koan tanpa bisa bertindak apa-apa, maklum, mereka telanjang bulat, mereka tidak berani keluar dari kolam mandi.

Meski watak Liong It-hiong bengal dan sudah biasa main perempuan, tapi menghadapi lima gadis cantik telanjang bulat demikian, tidak urung merasa kikuk juga, maka ia berlagak mendongak dan tidak berani banyak memandang mereka.

"Hei, bolehkah kami naik ke situ dan memakai baju?"

Tanya Lik-cu tiba-tiba.

"Tidak, tidak boleh!"

Jawab It-hiong sambil tetap menengadah.

"Hm, cara kalian ini sungguh terlalu kotor,"

Omel Lik-cu.

"Masa kotor? Kan kami tidak pernah memaksa kalian membuka baju dan tindakan lain?"

Jawab It-hiong dengan tertawa.

"Hm, memangnya kau kira tanpa baju kami tidak berani naik ke atas?"

Jengek Lik-cu.

"Jika kalian tidak takut malu, dengan sendirinya boleh kalian naik ke sini,"

Ujar It-hiong.

"Cuma ingin kuperingatkan kalian, aku Liong It-hiong bukanlah lelaki yang mudah kasihan kepada orang perempuan."

"Maksudmu, bila kami naik atas lantas akan kau bunuh?"

Tanya Lik-cu.

"Ya, sangat mungkin,"

Jawab It-hiong.

"Aku justru tidak percaya,"

Ucap Lik-cu.

"Ayo para kawan, mari kita naik ke sana dan coba menempurnya."

Habis bicara serentak ia mendahului berdiri. Tentu saja Liong It-hiong terkejut, cepat ia melolos pedang pandak Siau-hi-jong, bentaknya.

"Berhenti! Barang siapa berani naik ke sini, segera kuberi sekali tusukan."

Melihat sikapnya yang bengis, Lik-cu terkikik-kikik, serunya.

"Coba lihat, para kawan, dia ketakutan!"

Sembari bicara, dengan tubuh telanjang ia terus melangkah maju dan menuju ke tepi kolam.

Serentak Hiang-kun dan Hui-hong berempat juga berdiri dan mendekati tepi kolam dengan langkah berlenggok.

Melihat beberapa sosok tubuh yang mulus menggiurkan itu, mata Liong It-hiong serasa berkunang-kunang, napas pun terengah, sekuatnya ia ayun pedang pandak dan berteriak.

"Bagus, boleh kalian coba naik kemari! Jangan kalian kira orang she Liong ini lelaki sopan, bicara terus terang, sejak kecil aku sudah biasa menghadapi orang perempuan dari berbagai kalangan!"

Lik-cu mulai melangkah ke atas kolam mandi dan tetap maju ke depan sembari mengeluarkan suara tertawa nyaring.

"Hihi, bagus sekali jika begitu, aku menjadi ingin belajar kenal denganmu!"

Sementara itu keempat kawannya juga sudah melangkah keluar kolam dan berdiri menjadi satu baris sehingga mirip pintu angin daging hidup, serentak mereka mendesak maju ke arah Liong It-hiong.

Sesungguhnya Liong It-hiong tidak sampai hati mencederai mereka, tanpa terasa ia menyurut mundur sembari berkaokkaok.

"Berhenti, jangan coba-coba maju lagi! Awas, pedangku ini tidak kenal ampun kepada siapa pun!"

Namun Lik-cu seakan-akan sudah nekat, dengan tersenyum ia malah mendesak maju, ucapnya dengan tertawa.

"Silakan turun tangan saja, hamba memang tidak ingin hidup lagi."

It-hiong menyurut mundur lagi dua tindak, punggungnya sudah mepet dinding, sudah menghadapi jalan buntu, keruan ia menjadi gugup.

"Berhenti, coba dengarkan dulu!"

Lik-cu lantas berhenti, katanya dengan tersenyum.

"Apa yang hendak kau katakan?"

Padahal tidak ada sesuatu yang hendak dibicarakan Liong Ithiong, tujuannya cuma untuk mengulur waktu saja, melihat orang berhenti melangkah, segera ia simpan kembali pedangnya dan berkata.

"Selamanya kita tidak punya permusuhan apa pun, tidak boleh kubunuh kalian, cuma kalian sungguh terlalu tidak tahu diri, biarlah kuberi tahu rasa kepada kalian "cakar naga"

Ini!"

Baru lenyap suaranya, serentak kesepuluh jarinya terpentang terus mencakar ke depan.

Melihat orang menyimpan kembali pedangnya, Lik-cu mengira anak muda itu tidak jadi pakai kekerasan lagi, sebab itulah cakaran Liong It-hiong itu sangat di luar dugaannya.

Dalam keadaan gugup tak terpikir olehnya cara bagaimana harus mengelak atau menangkis, terpaksa ia sambut sebisanya dengan kedua tangan.

Namun gerak tangan Liong It-hiong sungguh secepat kilat, sekali cengkeram seketika kedua gumpal daging kenyal alias buah dada Lik-cu terpegang, menyusul sebelah kakinya menjegal, kontan Lik-cu disengkelit jatuh terguling, kedua jari Liong It-hiong lantas menutuk pula hiat-to kelumpuhan Lik-cu tertutuk dan tidak bisa berkutik lagi.

"Hehe, bagaimana sekarang?"

Ejek It-hiong dengan terkekeh.

"Kan sudah kukatakan aku sudah terbiasa menghadapi perempuan dari berbagai kalangan, tapi kau tetap tidak mau percaya."

Lalu ia berpaling dan menatap keempat nona lain dengan sikap garang, bentaknya.

"Nah, siapa lagi yang ingin cobacoba maju pula?"

Kepandaian Hiang-kun berempat memang lebih rendah, mereka hanya mengikuti setiap tindakan Lik-cu saja, sekarang Lik-cu kena dirobohkan orang dan tidak bisa berkutik, seketika mereka merasa jeri dan sama menyurut mundur dengan ketakutan.

"Ayo, semuanya masuk kembali ke dalam kolam,"

Bentak Ithiong mendadak.

Sambil menjerit kaget keempat nona itu sama melompat ke dalam kolam dan meringkuk menjadi satu, tidak ada lagi yang berani berceloteh.

Lalu It-hiong menjengek terhadap Lik-cu yang menggeletak di lantai.

"Hm, di antara kalian bertujuh, kau ini terhitung paling nakal, kukira perlu kuhajar adat sedikit padamu."

Muka Lik-cu tampak merah padam dan tidak berani bersuara. It-hiong lantas melolos pedang pandak pula, katanya.

"Biarlah kupotong saja rambutmu dulu ...."

"Wah, jangan!"

Teriak Lik-cu gugup dan memohon.

"Harap ampun, jangan memotong rambutku."

"Jika begitu kupotong hidungmu saja,"

Kata It-hiong.

"Oo, jangan, juga jangan potong hidungku!"

Ratap Lik-cu.

"Hm, lantas, kau minta bagian mana yang kupotong?"

Jengek It-hiong.

"Jangan ... jangan potong mana pun,"

Pinta Lik-cu dengan suara gemetar.

"Hm, masa begitu enak?!"

Jengek It-hiong pula.

"Kutanggung takkan memusuhi kalian lagi,"

Kata Lik-cu.

"Dan mau menurut masuk lagi ke kolam mandi?"

It-hiong menegas. Lik-cu mengiakan. Selagi It-hiong hendak membuka hiat-to orang, tiba-tiba terlihat Long-giok keluar sendiri dari kamar sana, segera ia tanya padanya.

"Bagaimana?"

"Kedua kaki orang she Hui itu terbelenggu, tanpa kunci sukar untuk dibuka,"

Tutur Long-giok.

"Maka Sun-tayhiap menyuruhku tanya Lik-cu di mana kunci belenggu itu disimpan."

"Kuncinya dibawa Cengcu sendiri,"

Kata Lik-cu. Mendadak It-hiong meraih rambut Lik-cu dan berlagak hendak memotongnya, tanyanya.

"Coba katakan sekali lagi, kunci disimpan di mana?"

Lik-cu tampak gugup, jawabnya.

"Betul, hamba tidak dusta. Kunci memang benar selalu dibawa sendiri oleh Wi Ki-tiu, ia khawatir terjadi sesuatu, tidak pernah ia serahkan kunci kepada orang lain."

Melihat sikapnya yang ketakutan itu, It-hiong percaya orang tidak berani dusta, segera ia memberikan pedang pandak Siau-hi-jong kepada Long-giok, katanya.

"Pedang ini dapat memotong besi serupa memotong sayur, coba kau bawa kepada Sun-tayhiap."

Long-giok menerima pedang kecil itu dan putar balik ke kamar rahasia sana. It-hiong lantas berjongkok di samping Lik-cu, ucapnya dengan tertawa.

"Usiamu masih muda, wajahmu cantik, mengapa kau tidak mencari seorang suami baik-baik, tapi selalu ikut Wi Kitiu di sini?"

Mulut Lik-cu menjengkit dan menjawab.

"Habis tidak ada lelaki yang menghendaki diriku."

"Ah, masa?"

Kata It-hiong dengan tertawa.

"Nona secantik bidadari seperti dirimu ini jika tidak ada yang mau, maka lelaki di seluruh dunia ini jangan harap lagi akan menemukan perempuan yang cocok."

Mendadak Lik-cu memberikan lirikan yang bisa bikin semaput setiap lelaki, katanya.

"Jika engkau sudi padaku, kurela ikut pergi bersamamu."

"Wah, tidak bisa, sebab aku sendiri sudah punya pacar,"

Sahut It-hiong dengan tergelak.

"Dia tentu lebih cantik daripadaku, bukan?"

Tanya Lik-cu dengan kecewa.

"Selisih tidak banyak, antara kalian boleh dikatakan setali tiga uang alias sama kuat, sukar dibedakan mana yang lebih cantik,"

Kata It-hiong.

"Siapa namanya?"

Tanya Lik-cu pula.

"Wah, maaf, tidak dapat kukatakan padamu."

"Jika engkau sudi menerimaku, biarpun menjadi budakmu juga aku rela, mau?"

"Sayang, aku tidak punya rezeki sebesar itu untuk menerima budak semacam dirimu,"

Jawab It-hiong sambil menggeleng.

"Ya sudahlah kalau tidak sudi,"

Ucap Lik-cu sedih.

"Dan sekarang bolehkah kau buka hiat-to hamba?"

It-hiong mengangguk, ditepuknya perlahan hiat-to kelumpuhan si nona, lalu berdiri dan menyurut mundur dua tindak, katanya sambil memberi tanda.

"Nah, lekas masuk lagi ke dalam kolam."

Lik-cu tidak berani membangkang, segera ia merangkak masuk lagi ke dalam kolam mandi.

Pada saat itulah terlihat Sun Thian-tik dan Long-giok telah keluar dari kamar rahasia tadi dengan membawa Hui Giokkoan.

Kini Hui Giok-koan sudah berpakaian, cuma keadaannya agak loyo, serupa orang yang habis sakit keras, untuk berjalan saja kelihatan susah.

Begitu melihat Lik-cu yang berendam di kolam, seketika mata Hui Giok-koan menjadi merah serupa melihat musuh bebuyutan saja, langsung ia hendak terjun ke dalam kolam untuk menghajar nona itu.

Namun Sun Thian-tik keburu menariknya sambil berkata.

"Hei, kau mau apa?"

Hui Giok-koan mendeliki Lik-cu, ucapnya dengan penuh rasa dendam.

"Perempuan hina ini kemarin telah menghajarku hingga setengah mati, sekarang harus kubikin perhitungan dengan dia."

"Ah, dia kan cuma melaksanakan tugas atas perintah saja,"

Kata Thian-tik dengan tertawa.

"Jika kau ingin membalas dendam, seharusnya kau cari Wi Ki-tiu."

"Hm, tentu saja akan kucari Wi Ki-tiu untuk menuntut balas,"

Jengek Hui Giok-koan.

"Tapi perempuan hina yang berhati berbisa itu tidak dapat kuampuni."

Sun Thian-tik memeganginya erat-erat, ucapnya dengan tertawa.

"Sudahlah, seorang lelaki gagah tidak nanti berkelahi dengan orang perempuan. Lebih baik kau temui dulu sahabat lama."

Sembari bicara ia seret Hui Giok-koan mendekati Liong It hiong.

"Selamat berjumpa pula, Hui-cecu,"

Sapa It-hiong dengan tertawa. Hui Giok-koan kelihatan kikuk, katanya sambil menyengir.

"Konon engkau pun ikut berusaha menyelamatkan jiwaku."

"Ah, hanya menyumbang tenaga sekadarnya,"

Jawab It-hiong.

"Tidak perlu dijelaskan lagi, tujuanmu pasti terletak pada kotak pusaka itu?"

"Memang betul,"

Kata It-hiong.

"Jika begitu lekas kau pergi ke Cong-beng-to, kalau tidak tentu akan kedahuluan Wi Ki-tiu,"

Kata Giok-koan.

"Haha, janganlah bercanda lagi,"

Ucap It-hiong dengan tertawa.

"Kutahu tidak nanti kau sembunyikan kotak itu di Cong-beng-to, lantaran itulah kami menyelamatkanmu dari tempat Wi Ki-tiu ini ...."

"Tapi benar-benar kusembunyikan kotak itu di Cong-beng-to,"

Kata Giok-koan. It-hiong tertawa dan tidak berbantah lagi dengan dia, ia berpaling dan berkata terhadap Thian-tik.

"Sun-tayhiap, marilah kita berangkat."

Sun Thian-tik mengembalikan pedang pandak tadi, katanya.

"Baik, lebih dulu kita tinggalkan Liong-coan-ceng, kalau ada persoalan boleh diurus belakang."

Mereka tidak peduli lagi kepada kelima nona yang masih berendam di kolam renang itu, Hui Giok-koan digusur keluar dari istana kristal itu dan kembali ke ruangan depan wisma tamu itu melalui lorong rahasia.

Lebih dulu Long-giok memeriksa keluar, lalu masuk lagi dan berkata.

"Di luar sangat tenang, mungkin ketujuh jago pengawal itu belum pulang."

Mendadak Sun Thian-tik menutuk hiat-to kelumpuhan Hui Giok-koan, lalu orang dipanggulnya, katanya.

"Ayo berangkat!"

Mereka bertiga terus keluar dari wisma itu, mereka tidak lagi main sembunyi melainkan berlari dan melompat secara terang-terangan menuju ke luar kampung.

Seketika terdengarlah suara bende ditabuh dan teriakan orang di sana-sini.

"Tangkap maling! Itu dia! Jangan sampai lolos!"

Meski riuh ramai suara teriakan dan bunyi bende di sana sini, namun semua itu rupanya cuma untuk menakut-nakuti saja, sampai sekian lama tetap tidak kelihatan bayangan seorang pun yang muncul.

Melihat gelagatnya, karena ketujuh jago andalan Wi Ki-tiu itu belum pulang, di dalam kampung sekarang tiada seorang pun yang sanggup merintangi penyatron, sebab itulah tiada seorang pun berani menampakkan diri.

Begitulah Thian-tik bertiga dapat kabur dari Liong-coan-ceng tanpa rintangan apa pun, langsung mereka kembali ke kota.

It-hiong sudah membuka kamar di sebuah hotel, kudanya juga dititipkan di sana, maka dengan persetujuan Sun Thian-tik mereka memutuskan istirahat dulu ke kamar hotel, habis itu baru akan bertindak lebih lanjut.

Sementara sudah lewat tengah malam, suasana kota sudah sunyi senyap, ketika sampai di luar hotel, tertampak seorang pelayan sedang mengantuk bersandar meja kasir.

It-hiong memberi isyarat kepada Thian-tik, dengan langkah berjinjitjinjit ia mendahului masuk ke dalam.

Lalu Sun Thian-tik dan Long-giok ikut masuk dengan perlahan, pelayan itu masih tidur dan terlena.

Mereka terus masuk ke belakang dan masuk ke kamar Ithiong, Thian-tik menaruh Hui Giok-koan di atas ranjang, katanya dengan tertawa.

"Nah, sekarang boleh membangunkan pelayan tadi."

It-hiong mengangguk, ia keluar lagi ke depan dan mendorong si pelayan sambil memanggil perlahan.

"Siaujiko (kakak pelayan), bangun, lekas bangun!"

Pelayan melonjak bangun dengan kaget, serunya.

"Hahh, kiranya Kongcu sudah pulang? Mengapa pergi sekian lamanya?"

"Kupergi mencari kawan,"

Jawab It-hiong.

"dan baru saja pulang bersama ketiga sahabatku. Apakah kau dapat menyiapkan sedikit makanan bagi kami? Sudah seharian kami tidak makan apa-apa."

"Bagaimana kalau bakmi kuah saja, sederhana dan cepat,"

Tanya pelayan.

"Baiklah,"

It-hiong setuju.

"Boleh segera diantar ke kamarku."

"Ya, ya, akan kuantar secepatnya,"

Jawab si pelayan. Lalu It-hiong kembali ke kamarnya, setelah pintu kamar dirapatkan, dengan tertawa ia berkata.

"Sudah kuminta pelayan membuatkan bakmi, sehabis makan bolehlah kita berangkat."

"Ke mana?"

Tanya Thian-tik dengan tersenyum.

"Ke mana lagi, tentu saja pergi mengambil kotak itu!"

"Kau tahu tempat sembunyi kotak pusaka itu?"

Tanya Thiantik. It-hiong menuding Hui Giok-koan yang menggeletak di tempat tidur, katanya.

"Kan dapat tanya dia?!"

"Sudah kau tetapkan akan membagi rezeki kotak itu bersamaku?"

Tanya Thian-tik pula. It-hiong menggeleng kepala, jawabnya.

"Tidak, setelah menemukan kotak itu, boleh kita mencari suatu cara untuk menentukan kalah-menang lagi untuk memastikan kotak itu milik siapa."

"Boleh juga,"

Kata Thian-tik.

"Tidak, kurang baik,"

Tukas Long-giok mendadak.

"Kenapa kurang baik?"

Thian-tik melengak.

"Hamba mempunyai suatu cara yang terlebih baik,"

Kata Longgiok.

"Coba jelaskan,"

Kata Thian-tik.

"Begini menurut pendapatku,"

Tutur Long-giok.

"Jangan lagi kau pikirkan kotak pusaka apa segala, hendaknya segera kau bawa pergi diriku, marilah kita membangun sebuah rumah tangga dan hidup aman tenteram tanpa pusing terhadap urusan apa pun."

"Wah, mana boleh jadi?"

Thian-tik melenggong.

"Aku sudah bersusah payah, sekarang kotak pusaka itu sudah di depan mata, mana boleh kutinggalkan begitu saja."

"Kotak itu adalah barang sial,"

Kata Long-giok.

"barang siapa mendapatkannya segera akan tertimpa malang, maka jangan kau taksir barang itu lagi."

Agaknya Sun Thian-tik tidak menduga Long-giok dapat bicara seperti ini, mau tak mau timbul penilaian lain terhadap si nona, jawabnya dengan tertawa.

"Kau pikir aku harus melepaskan kotak itu?"

"Ya, harta benda kan tidak lebih berharga daripada nyawa,"

Long-giok mengangguk.

"Hamba tidak peduli apakah engkau kaya atau miskin, yang penting bila engkau benar-benar hidup bersamaku dengan setulus hati, maka kita jangan lagi memikirkan kotak itu dan lekas pergi dari tempat banyak perkara ini."

"Eh, apakah engkau tidak bercanda?"

Tanya Thian-tik, mau tak mau hati tergelitik juga.

"Tidak,"

Jawab Long-giok serius. Thian-tik garuk-garuk kepala, katanya.

"Biasanya kita tahu orang perempuan paling kemaruk harta, tak tersangka engkau justru cuma suka pada orangnya tanpa pikirkan harta benda, sungguh aneh bin ajaib."

"Sama sekali tidak aneh,"

Kata Long-giok.

"Harta benda sudah banyak kulihat, aku sudah bosan, sedikit pun tidak mengherankanku."

"Tapi ... tapi demi untuk mendapatkan kotak pusaka itu, selama hampir setengah tahun ini aku berusaha dengan susah payah, sekarang kau minta kulepas tangan begitu saja, kan terlampau penasaran."

"Tidak, sedikit pun tidak perlu penasaran,"

Ucap Long-giok.

"Oo?!"

Thian-tik merasa bingung.

"Umpamanya, jika engkau memang menyukaiku, maka bolehlah kukatakan, meski engkau kehilangan kotak pusaka, tapi kan mendapatkan diriku."

"Hehe, maksudmu hilang ini dapat itu?"

Thian-tik tertawa.

"Memangnya bukan begitu?"

Jawab Long-giok dengan tertawa manis. Sun Thian-tik lantas berpaling dan tanya Liong It-hiong.

"Liong-laute, bagaimana menurut pendapatmu?"

"Aku tidak tahu, itu kan urusan pribadimu dan harus ditentukan olehmu sendiri,"

Jawab It-hiong tertawa. Sun Thian-tik berpikir sejenak, akhirnya ia mengentak kaki dan berseru.

"Ya, sudahlah, dasar aku yang sebal, ketanggor seorang perempuan yang tidak kemaruk duit .... Ayo berangkat!"

Cepat It-hiong berseru.

"Nanti dulu, Sun-tayhiap, makan bakmi dulu!"

"Kotak pusaka saja aku tak mau, untuk apa makan bakmi segala,"

Kata Thian-tik dengan tertawa.

"Ayo, berangkat!"

Segera ia tarik Long-giok dan diajak melangkah pergi.

"Tunggu sebentar,"

Teriak It-hiong.

"Sun-tayhiap melupakan sesuatu."

Sun Thian-tik sudah menyeret Long-giok sampai di luar kamar, mendengar ucapan itu, ia merandek, tanyanya sambil menoleh.

"Melupakan apa?"

Liong It-hiong melolos pedang pandak Siau-hi-jong dan disodorkan kepada Sun Thian-tik, katanya.

"Ini milikmu, ambil kembali saja!"

Thian-tik melenggong, katanya kemudian.

"Eh, apa maksudmu?"

It-hiong serahkan pedang itu pada tangan Sun Thian-tik, katanya.

"Barang ini asalnya memang kepunyaanmu, bukan?"

"Namun ...."

Sun Thian-tik tampak sangsi.

"Tidak perlu ragu lagi,"

Kata It-hiong.

"Bukan barangmu memang tidak perlu kau ambil, tapi pedang ini milikmu, boleh kau bawa pergi saja."

Akhirnya Sun Thian-tik tertawa, katanya.

"Baik, kau ini memang anak muda yang baik, kalau ada jodoh kelak kita pasti bertemu lagi."

Habis berucap segera ia melangkah pergi dengan menarik Long-giok.

Tidak lama sesudah mereka berangkat, pelayan datang dengan membawa satu panci bakmi kuah, ia taruh panci di atas meja, lalu tanya It-hiong.

"Suami-istri yang baru saja berangkat itukah sahabat Kongcu?"

"Betul,"

It-hiong mengangguk.

"Mengapa terburu-buru, bakmi belum dimakan sudah lantas berangkat?"

"Mereka bilang tidak lapar,"

Ujar It-hiong dengan tersenyum. Pelayan memandang Hui Giok-koan yang meringkuk di tempat tidur, tanyanya dengan terperanjat.

"Hei, kenapa sahabat Kongcu ini?"

"O, dia tidak enak badan, masuk angin,"

Jawab It-hiong.

Pelayan tidak berani banyak bertanya lagi, ia menyiapkan sumpit dan mangkuk dan alat makan seperlunya, lalu mengundurkan diri.

It-hiong menutup pintu kamar, lalu mendekati tempat tidur, ia tepuk hiat-to Hui Giok-koan dan berkata.

"Mari makan bakmi."

Perlahan Hui Giok-koan bangun duduk, katanya dengan tersenyum licik.

"Engkau tidak khawatir aku akan kabur?"

"Kau tidak perlu kabur,"

Jawab It-hiong dengan tertawa.

"Bila kau tidak rela mengaku kalah, habis makan bakmi boleh kita berkelahi lagi, jika aku kalah, aku berjanji selamanya takkan minta kotak pusaka padamu."

"Hm, jangan engkau terlampau percaya kepada kemampuanmu sendiri,"

Jengek Hui Giok-koan.

"Aku memang sangat percaya atas kemampuanku sendiri,"

Jawab It-hiong.

"Kalau tidak percaya boleh kita coba-coba."

Hui Giok-koan tidak bicara pula, ia turun dari tempat tidur dan duduk di depan meja, ia ambil mangkuk untuk mengisi bakmi dan dimakan dengan lahap.

Liong It-hiong juga duduk dan makan, keduanya tidak bicara lagi.

Sembari makan, otak Hui Giok-koan terus bekerja, setelah berpikir sejenak, tiba-tiba ia menghela napas dan berkata.

"Baiklah, sekarang akan kukatakan di mana kusembunyikan kotak itu, yaitu di ...."

Mendadak It-hiong menggoyang tangan dan memotong ucapannya.

"Jangan, tidak perlu kau katakan."

Hui Giok-koan melengak.

"Masa engkau tidak inginkan kotak itu lagi?"

"Bukan begitu,"

Kata It-hiong.

"Habis ....."

"Soalnya aku tidak ingin menjadi Wi Ki-tiu kedua,"

Sela Ithiong dengan tersenyum.

"sebab kalau kau mau menyerahkan kotak itu dengan setulus hati, tentu akan kau bawaku ke sana. Maka sekarang tidak perlu kau sebutkan tempat sembunyi kotak itu."

Air muka Hui Giok-koan agak berubah, ucapnya sambil menyengir.

"Buset, pintar juga kau ini!"

"Terima kasih atas pujianmu,"

Sahut It-hiong tertawa. Kembali Hui Giok-koan menghela napas, katanya.

"Ai, sungguh aku tidak mengerti, mengapa engkau berkeras ingin mendapatkan kotak pusaka itu?"

"Sama sekali tidak ada maksudku hendak mengangkangi kotak itu sebagai milikku,"

Jawab It-hiong.

"Soalnya harus kulaksanakan pesan Si Hin yang minta kubawa kotak itu ke Cap-pek-pan-nia."

"Ai, engkau terlalu bodoh."

Ujar Giok-koan. It-hiong mengangkat pundak, jawabnya.

"Aku memang suka berbuat hal-hal yang bodoh, banyak urusan di dunia ini kalau tidak dikerjakan oleh orang bodoh akan terasa kurang sempurna."

"Bahwa engkau melaksanakan tugas sesuai pesan orang, hal ini memang pantas dipuji,"

Kata Giok-koan.

"Tapi perlu kau ketahui kotak pusaka itu bukanlah barang milik gembong dari Cap-pek-pan-nia itu, sebab Si Hin juga merampasnya dari orang lain dan hendak membawanya pulang untuk dipersembahkan kepada gembong itu."

"Lantas milik siapakah kotak itu?"

Tanya It-hiong. Ebook oleh . Dewi KZ Scan book oleh . BBSC

Jilid 15

"Terus terang aku sendiri tidak jelas,"

Jawab Hui Giok-koan.

"Ada orang bilang kotak itu asalnya milik Toako kami, sebab itu aku merasa berhak mendapatkannya".

"Toako yang kau maksudkan itu apakah mendiang Eng-jiauong Oh Kiam-lam?"

Tanya It-hiong. Hui Giok-koan mengangguk.

"Ya, kau tahu dia adalah kakak angkat kami yang dahulu terkenal Lok-lim-jit-coat (ketujuh jago top dunia bandit), beliau adalah pemimpin besar ke 72 sarang bandit ketujuh propinsi daerah Selatan. Harta benda yang dikumpulkannya selama ini sukar dihitung. Namun ketika kami mengadakan inventarisasi harta kekayaannya sesudah beliau meinggal, ternyata sisa kekayaannya tinggal tidak seberapa lagi dan entah kemana larinya ?".

"Menurut perkiraan kalian ada berapa harta kekayaannya ?"

Tanya It-hiong.

"Sedikitnya ada seribu laksa tahil perak,"

Tutur Giok-koan. It-hiong menghela napas, katanya.

"Wah sungguh suatu jumlah yang sangat memikat. Lalu, kalian mencurigai dia menyembunyikan harta kekayaannya, begitu?"

"Ya, meski dia mengangkat saudara dengan kami, tatapi dia memperlakukan kami tidak begitu baik. Kau tahu wataknya sangat keras, pemberang, segala urusan diputus dan ditindak sendiri. Sebab itulah diantara kami bersaudara; biasanya cuma kelihatan cocok diluar tapi renggang didalam. Mungkin ia juga kuatir kami akan mengincar harta bendanya, maka diam-diam ia menyembunyikannya dulu harta kekayaannya dan akhirnya dibinasakan orang".

"Apakah kalian tahu siapa yang membunuhnya ?", tanya Ithiong. Giok-koan menggeleng.

"Entah tidak tahu. Setiap tahun dia pasti meninggalkan markas untuk beberapa bulan lamanya. Pada suatu hari dia pergi lagi, kami tidak tahu kemana perginya. Selang lebih sebulan, tiba-tiba kami menerima kabar, katanya dia terbunuh diluar kota Tiang-an....".

"Dan kalian menyusul ke tempat kejadian itu?"

Tanya It-hiong.

"Ya, sudah kami lihat sendiri."

Giok-koan mengangguk.

"Bagaimana keadaannya ?"

Tanya It-hiong pula.

"Waktu kami sampai ditempat kejadian, pihak pemerintah sudah keburu menguburnya,"

Tutur Giok-koan.

"Demi untuk mengetahui sebab-musabab kematiannya, kami membongkar kuburannya dan memeriksa jenazahnya. Waktu itu mayatnya sudah mulai membusuk, tapi kami masih dapat menemukan sebab kematiannya, yaitu pada dadanya terdapat sebuah bekas telapak tangan. Jelas dia mati terkena pukulan tenaga dalam yang amat kuat sehingga menggetarkan rusak jantungnya".

"Tokoh dunia persilatan jaman ini rasanya sangat sedikit yang mampu membunuh dia,"

Ujar It-hiong.

"Bukan cuman sedikit saja, bahkan boleh dikatakan tidak ada,"kata Giok-koan.

"Dia punya Eng-jiau-kang sudah terlatih hingga mencapai tingkatan yang sempurna, meski kami bertujuh bergabung juga tidak mampu melawannya".

"Tadi kau bilang setiap tahun dia pasti meninggalkan rumah untuk beberapa bulan lamanya, bilamana kalian dapat menemukan tempat yang selalu didatanginya itu mungkin akan dapat pula tahu sebab musabab serta siapa pembunuhnya".

"Ya, sudah kami usust, namun sama sekali tidak menemukan sesuatu."

Tutur Giok-koan.

"Urusan ini sungguh sangat aneh,"

Kata It-hiong.

"Mungkinkah dia mempunyai simpanan orang perempuan disuatu tempat".

"Kamipun sama berpikir begitu, cuman tidak ada setitik indikasi yang kami temukan,"

Kata Giok-koan.

"Kemudian, siapakah yang menyiarkan berita tentang kotak pusaka itu adalah milik Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam ?,"

Tanya Ithiong.

"Hal itu didengar Pok Yang-thian ketika pada suatu hari makan disuatu restoran, ceritanya harta kekayaan Oh-toako kami disembunyikan didalam sebuah peti wasiat, dan peti wasiat itu berada dibawah penjagaan seorang kakek yang bernama Be si buta. Setelah mendengar berita itu, segera Pok Yang-thian pulang dan memberitahu kepada kami. Setelah kami selidiki, diketahui Be si buta itu tinggal di kaki gunung Ban-yang, dia terhitung sanak saudara Oh-toako kami. Segera kami berangkat ke Ban-yang-san untuk mencari Be buta, tapi setiba disana, kami menemukan Be buta sudah mati dirumahnya, tubuhnya luka terbacok, sudah mati satu-dua hari sebelumnya".

"Wah jika begitu, jadi kotak itu memang benar milik Oh-toako kalian ?,"

Tanya It-hiong seperti melengak.

"Betul,"

Jawab Giok-koan.

"Terbunuhnya Be buta membuktikan Oh-toako kami memang pernah menyerahkan sebuah peti wasiat di bawah penjagaannya. Dan pada sebelum kami tiba di rumah Be buta, lebih dulu sudah ada orang mendahului datang dan membunuhnya serta membawa lari peti wasiat tersebut".

"Orang yang membunuh Be buta itu mungkinkah Si Hin?,"

Tanya It-hiong.

"Entah, kamipun tidak tahu,"

Jawab Giok-koan.

"Malahan kami juga tidak berani apakah peti yang sedang kita perebutkan ini adalah peti wasiat yang diserahkan Oh-toako kepada Be buta itu, cuma, bila ternyata ada sebuah peti wasiat muncul didunia persilatan dan menjadi sasaran perebutan orang banyak, dengan sendirinya kami juga ingin mendapatkannya untuk memperjelas duduknya perkara". Tapi diantara kalian Lok-lim-lit-coat masing-masing juga mempunyai pikiran serakah dan ingin mencaplok sendirian peti wasiat itu, betul tidak ?"

Tanya It-hiong dengan tersenyum ejek.

"Betul,"

Jawab Giok-koan sambil menyengir.

"Kami bertujuh sudah berpisah dan menempuh jalannya sendiri dan menguasai wilayah masing-masing".

"Setelah kaudapatkan peti itu, apakah pernah kaubuka dan periksa isinya ?"tanya It-hiong pula.

"Belum,"

Giok-koan menggeleng.

"Kau tahu sendiri, peti itu terbuat dengan sangat bagus dan kukuh, samasekali aku tidak tahu dan tidak sanggup membukanya. Kudengar pula peti itu terpasang obat peledak yang berbahaya, maka tidak berani kubukanya secara paksa, kalau meledak kan aku bisa celaka sendiri".

"Lantas bagaimana tindakanmu selanjutnya ?", tanya It-hiong.

"Kudengar gembong yang menguasai Cap-pek-pan-nia yang tidak diketahui namanya itu paham cara membuka peti wasiat itu, maka ada maksudku hendak kesana untuk menemui dia."

Tutur Giok-koan.

"Kemarin dulu kulewat disini dan mendengar Wi Ki-tiu hendak merayakan ulang tahunnya yang ke-60, kugunakan kesempatan ini untuk mengucapkan selamat kepadanya, tak tersangka dia juga sudah tahu kudapatkan peti wasiat itu dan diam-diam mengatur tipu muslihat untuk menjebakku".

"Apakah tidak kaupikirkan bahwa semua ini sangat mungkin cuman sebuah tipuan belaka ?", tanya It-hiong.

"Tipuan bagaimana/", tanya Giok-koan.

"Mungkin ada orang mengharapkan kalian Lok-lim-jit-coat saling membunuh, sebab itulah dia sengaja mengatur tipu muslihat dengan menggunakan sebuah peti sebagai umpan, supaya kalian saling berebut dan saling genjot, ia sendiri hanya menonton dengan santai. Bilaman kalian bertujuh sudah sama bonyok, barulah ia muncul untuk mengeduk keuntungan yang tinggal diambil saja". Mata Hui Giok-koan terbelalak, tanyanya.

"Jika betul begitu, lantas siapakah gerangan yang mengatur tipu muslihat itu ?".

"Kupikir sangat mungkin adalah gembong misterius yang bercokol di Cap-pek-pan-nia itu", ujar It-hiong.

"Ia bermaksud merajai dunia Lok-lim daerah Selatan, namun kekuatannya belum mampu menaklukkan ke 72 sarang kalian, sebab itulah ia sengaja mengatur tipuan ini agar kalian saling membunuh lantaran berebut sebuah peti kosong. Muka Hui Giok-koan menjadi merah, ia merasa malu, katanya,"Jika betul begitu, maka maksud tujuannya boleh dikatakan sudah tercapai".

"Betul, sebab kamu sudah membunuh saudara angkatmu sendiri, si In-tiong-yan Pok Yang-thian,"

Kata It-hiong dengan tertawa. Tampaknya Hui Giok-koan merasa malu hati, ia menunduk dan tidak bersuara lagi. Perlahan It-hiong berucap pula.

"Cuman kalau sekarang kamu mau insaf masih keburu. Kuharap kauberikan peti itu kepadaku, biar kuantar dan menemui gembong iblis di Cappek-pan-nia itu, bukan mustahil dapat kubongkar tipu muslihatnya secara tuntas". Giok-koan termenung sejenak, katanya kemudian,"

Tapi bila kotak itu memang betul tersimpan harta karun Oh-toako kami dan engkau berikan kepada pihak sana, kan runyam ?".

"Tidak bisa,"

Ujar It-hiong dengan tertawa.

"Tentu aku mempunyai cara yang aman, kujamin dia takkan mendapatkan apa-apa".

"Baik, akan kubawamu untuk mengambil peti itu,"

Kata Giokkoan dengan ikhlas.

"Peti itu kusembunyikan tidak jauh dari sini". It-hiong menaruh mangkuk dan sumpitnya, ia mendekati jendela dan melongok keluar, katanya kemudian,"

Hari sudah hampir fajar, bagaimana kalau sekarang juga kita berangkat ?".

"Baik,"

Jawab Giok-koan.

Segera Liong It-hiong memanggil pelayan, selesai membayar rekening segera mereka meninggalkan hotel.

Melihat tenaga Hui Giok-koan belum pulih seluruhnya, It-hiong memberikan kuda sendiri padanya, ia sendiri berjalan kaki mengintil dari belakang.

Hui Giok-koan melarikan kuda keluar kota dan menuju ke Barat.

Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di tempat sepi diluar kota, Hui Giok-koan berpaling kebelakang, setelah memandang sejenak, tiba-tiba ia mendesis,"Ssstt, rasanya ada orang membuntuti kita".

"Dia tentulah saudara angkatmu sendiri, yaitu Kim-ci-pa Song Goan-po atau mungkin juga Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin,"

Ujar It-hiong dengan tertawa. Air muka Hui Giok-koan berubah, katanya ,"Jika Song-siko masih mudah dihadapi, tapi kalau Kim-kong Taisu dan Kohting Tojin, tentu urusan bisa gawat".

"Jangan kuatir, biar kita mencari akal untuk melepaskan diri dari penguntitan mereka,"ujar It-hiong. Kembali Hui Giok-koan menoleh kebelakang lalu bertanya."Apa akalmu ?".

"Marilah lebih dulu kita berlari sebentar,"

Kata It-hiong.

Habis berkata ia terus menabok pantat kuda sambil membentak.

Kuda itu terus membedal dengan cepat kedepan.

It-hiong juga lantas mengejar dengan kencang, mereka terus berlari kedepan secepat terbang, hanya sebentar saja beberapa li sudah dilalui.

Berualgn Hui Giok-koan menoleh, tiba-tiba ia mendesis lagi.

"Ssst, betul juga, memang ada orang membuntuti kita, seperti dua orang".

"Kau kenal siapa mereka?"

Tanya It-hiong.

"Tidak jelas, hanya terlihat dua sosok bayangan berkelebat menghilang dikejauhan,"

Tutur Giok-koan.

"Marilah kita melepaskan diri dari penguntitan mereka,"

Ujar It-hiong.

"Kau lihat didepan sana jalanan agak berliku, disebelah kanan jalan adalah hutan lebat, lihat jelas tidak ?". Giok-koan memandang ke depan, jawabnya mengangguk,"

Ya, kulihat".

"Begitu kita memasuki jalan beriku itu, segera kau lompat turun dari kuda dan menyusup ke dalam hutan, biarkan kuda tetap berlari kedepan,"

Tutur It-hiong.

"Nah, kau paham maksudku ?".

"Baik,"

Jawab Giok-koan.

"Kuharap mereka dapat kita tipu". Segera ia membedal kudanya terlebih cepat menuju kejalan berliku itu. It-hiong tetap mengintil kencang dari belakang dan baru saja mereka mencapai jalan berliku itu, serentak Giok-koan membelokkan kudanya menyusur hutan ditepi jalan, habis itu mendadak ia meraih dahan pohon yang melintang diatasnya, seketika kuda itu lari kedepan tanpa penunggang, sedangkan Giok-koan terus melompat keatas pohon. It-hiong masih sempat mendepak pantat kuda itu, karena kaget dan kesakitan, kuda itu membedal kesetanan kedepan. It-hiong sendiri terus menyusup kedalam hutan dan bersembunyi. Hui Giok-koan juga sembunyi diatas pohon tanpa bergerak. Terdengar detak lari kuda yang semakin menjauh. Sejenak kemudian tertampaklah dua sosok bayangan melayan lewat secepat terbang, hanya sekejap saja lantas menghilang didepan sana. Meski cuman sekilas saja, namau Liong It-hiong yang bersembunyi didalam hutan sudah dapat melihat jelas mereka bukan Kim-kong Taisu dan Koh-ting Tojin, juga bukan Kim-cipa Song Goan-po. Tentu saja ia terkejut dan heran, pikirnya "Wah, tampaknya yang mengincar peti wasiat ini tidak sedikit jumlahnya.... Setelah kedua pengejar tadi menghilang dikejauhan, barulah Hui Giok-koan melompat turun dari pohon, desisnya.

"Ayo lekas berangkat, kita menuju ke Utara!". Setelah berlari-lari satu-dua li jauhnya kearah Utara, kemudian mereka berhenti disuatu tempat sepi dikaki gunung. Lantaran tenaganya belum pulih seluruhnya dan tadi mengalami lari cepat sekian jauhnya, Hui Giok-koan merasa kepayahan, segera ia duduk mengaso disitu sambil mengembus napas, serunya,"

Mendingan kedua penguntit itu dapat kita tinggalkan". It-hiong juga duduk mengaso, tanyanya,"

Siapakah mereka tadi ?".

"Mereka juga saudara angkatku, Tok-gan-bu-siang Ong Siauho dan si tembong Seng It-hong,"

Tutur Hui Giok-koan. It-hiong tertawa, katanya,"

Ada satu hal sampai saat ini belum lagi dapat kupahami....

"Hal apa ?"

Tanya Giok-koan.

"Tempo hari kami membunuh Pok Yang-thian diluar kota Kimleng dan membawa lari kotak itu. Kejadian itu cuma dilihat olehku dan Pang Bun-hiong,"

Ucap It-hiong.

"Padahal kita tidak pernah menyiarkan kejadian itu, mengapa ada orang sebanyak ini mengetahui kotak pusaka jatuh ditanganmu dan beramai-ramai membuntutimu ?". Dengan air muka bingung Giok-koan mengangguk, katanya.

"Ya, aku sendiri tidak mengerti, memang sangat aneh......". Dengan senyum sinis It-hiong berucap pula,"Sebab itulah, kuyakin pasti ada satu orang yang senantiasa mengawasi kotak itu, kemana perginya itu selalu orang itupun mengikuti kesitu, bahkan menyampaikan berita kepada orang lain yang sedang mengincar kotak". Kening Giok-koan berkernyit, ucapnya,"

Jika demikian jadi terlebih terbukti bahwa semua ini memang cuma tipuan belaka, semuanya telah dapat kau terka dengan tepat".

"Cuma biarpun kotak itu memang kosong, juga tetap akan kubawa pergi ke Cap-pek-pan-nia, ingin kutemui gembong iblis yang misterius itu,"

Kata It-hiong. Giok-koan menengok sekelilingnya, lalu mendesis,"Jika sekarang juga kau mau, segara dapat kugali kotak itu untukmu".

"Kau tanam kotak itu disini ?", It-hiong menegaskan.

"Ya, kupendam dibawah pohon yang terletak kira-kira tiga tombak dibelakangku,"

Tutur Giok-koan It-hiong memandang kearah yang dimaksud; katanya.

"Jika begitu, ayolah lekas kau gali saja". Segera Hui Giok-koan beranjak menuju kedalam hutan. Ithiong ikut juga kesana. Setibanya dibawah sebatang pohon tua yang tinggi besar, Giok-koan berhenti dan bertanya.

"Apakah kau bawa senjata seperti belati dan sebagainya ?". It-hiong melolos belati yang tersembunyi dibalik baju dan disodorkan kepadanya, katanya dengan tertawa.

"Senjataku sekarang tersisa belati ini saja, hendaknya kau gunakan dengan baik-baik, jangan sampai patah". Giok-koan terima belati itu, segera ia berjongkok dibawah pohon dan mulai menggali. Dengan cepat sekali sudahsatu-dua kaki dalamnya liang galiannya; lalu diangkut keluar sebuah kotak besi berbentuk persegi. Melihat bentuk kotak yang tidak sama itu, It-hiong melenggong katanya.

"Hei, bukan kotak ini !".

"Tidak salah lagi,"

Ujar Giok-koan dengan tertawa.

"Memang kubeli kotak ini dan menyembunyikan kotak semula didalamnya...."

Belum lanjut ucapannya, mendadak terdengar suara mendesing nyaring dua kali menyambar dari kanan-kiri dalam hutan.

Dari suaranya yang mendenging tajam itu, jelas ada orang menyambitkan dua macam am-gi atau senjata rahasia.

It-hiong terkejut, cepat ia menjatuhkan diri dan menggelundung kesana sehingga am-gi yang menyambar dari belakang itu dapat dihindarkan.

"Crak", terlihat cahaya putih berkelebat, sebilah pisau tepat menancap di batang pohon. Adapun am-gi yang menyambar kearah Hui Giok-koan itu adalah sebatang panah kecil, begitu cepat dan jitu sambaran panah itu sehingga Hui Giok-koan tidak sempat mengelak, dengan tepat punggungnya tertancap panah, ia menjerit dan jatuh terguling. Pada saat itu juga dua sosok bayangan orang melompat keluar dari kanan-kiri dalam hutan, yang seorang menerjang kearah Liong It-hiong, seorang lagi menubruk Hui Giok-koan. Langsung ia rebut kotak besi yang masih dipegang Giok-koan. Yang hendak rmerebut kotak itu adalah seorang kakek berbaju kuning, bagian pelipis kanan terdapat sebuah uci-uci besar dan berwarna merah. Yang menerjang Liong It-hiong itu adalah seorang lelaki setengah umur, ia membawa golok; begitu menubruk maju langsung ia membacok kepala It-hiong. Cepat It-hiong berguling lagi kesamping, berbareng ia raup segenggam tanah terus dihamburkan kemuka lawan sambil membentak.

"Awas jimatku". Lelaki setengah baya itu tidak menduga akan akan kejadian ini, mukanya tertawur tanah sehingga berkaok-kaok kesakitan, ia kucek-kucek matanya yang kelilipan, tapi ia menjadi semakin beringas, segera ia angkat golok dan menebas lagi kepinggang It-hiong. Pada saat itulah tiba-tiba si kakek beruci-uci berseru.

"Ayolah kita pergi saja, kerbau !!". Mendengar itu cepat lelaki itu menarik kembali goloknya dan melompat mundur, lalu ikut si kakek kabur keluar hutan. Waktu It-hiong melompat bangun, dilihatnya kotak yang dipegang Hui Giok-koan tadi sudah hilang, ia tahu tentu dibawa lari si kakek baju kuning tadi. Keruan ia kuatir dan gusar, bentaknya.

"Jangan lari!!". Segera ia bermaksud mengejar kesana, namun Hui Giok-koan keburu berseru padanya.

"Jangan dikejar !". Sehabis berucap demikian , kepala Hui Giok-koan lantas terkulai lemas ketanah. Tampaknya luka pada punggungnya yang terkena panah itu sangat parah, sudah tidak jauh lagi dari ajalnya. Watak Liong It-hiong berbudi, ia tidak tega meninggalkan orang begitu saja, terpaksa ia urungkan maksud mengejar musuh dan coba memeriksa dulu keadaan luka Hui Giok-koan, tanyanya."Bagaimana perasaanmu ?". Muka Hui Giok-koan berkerut-kerut menahan sakit, ucapnya.

"Aku tidak.... Tidak tahan lagi". Panah yang menancap di punggung kiri Hui Giok-koan itu kelihatan sangat dalam, agaknya melukai juga jantungnya. Ithiong tahu orang sukar diselamatkan, diam-diam ia gegetun, ia coba tanya pula.

"Apakah kau kenal mereka ?". Mendadak darah segar merembes keluar dari mulut Hui Giokkoan, sorot matanyapun mulai guram, ucapnya dengan terputus-putus.

"Yang tua itu ialah... ialah Ang-liu-soh (si kakek uci-uci merah) Ban Sam....Ban Sam-hian dan lelaki... lelaki setengah baya itu adalah anak buahnya". It-hiong menggigit bibir, katanya.

"Keparat ! Sergapan mereka sungguh cepat sekali serupa angin lesus saja sehingga sukar ditahan !". Mulut Hui Giok-koan terbuka, wajahnya menampilkan senyuman sebelum ajal, ucapnya.

"Aku membu... membunuh Pok Yang-thian, pantas juga... pantas juga aku mati di tangan Ban Sam-hian.... .cuma...cuma kalau dia menyangka sudah berhasil mendapatkan kotak pusaka, jelas dia agak...agak kekanak-kanakan".

"Apa maksudmu ?",tanya It-hiong melenggong. Giok-koan tersenyum, katanya.

"Aku hampir... hampir mati, maka tidak perlu kudustaimu lagi. Kotak itu... kotak itu kusembunyikan di... di Jit-hian-tiam, disamping kelenteng Kwa-te-bio ada... ada sebuah sumur, kumasukkan kotak itu kedalam sumur, boleh... boleh kau ambil saja dari sana". Habis berucap, senyumnya lenyap dan napaspun putus. Sampai sekian lama Liong It-hiong termangu-mangu, lalu tertampil senyum kecut, gumamnya.

"Hm, orang ini sungguh banyak tipu akalnya, lebih dulu dia sengaja menanam sebuah kotak palsu untuk menipu orang...". Tapi orang sudah mati, betapapun ia tidak dapat marah lagi kepadanya. Segera ia menggali sebuah liang dibawah pohon dan mengubur mayat Hui Giok-koan. Dilihatnya fajar sudah menyingsing segera ia putar balik kearah datangnya tadi..... ---ooo000ooo---Disuatu petang hari musim panas, dikota Gi-hin yang terletak ditepi danau Thay kelihatan ada sebuah kereta kuda yang megah. Kereta kuda ini masuk kota dari pintu gerbang Barat dan berhenti didepan hotel "Thay-oh-khek-can"

Yang terbesar dikota ini.

Sekali pandang saja pelayan hotel yang sudah berpengalaman itu segera tahu kedatangan tamu yang berkantung tebal, maka cepat mereka menyambut keluar.

Dan begitu pitu kereta terbuka, seorang pemuda ganteng mendahului melompat turun.

Dia tak lain tak bukan Pang Bunhiong adanya.

Dengan senyum yang dibuat-buat pelayan memberi hormat dan bertanya.

"Kongcuya ini apakah cuma singgah saja atau ingin bermalam ?". Pang Bun-hiong memandang kepintu hotel dan berkata.

"Apakah ada kamar yang bersih ?"

"Ada, ada !!"

Cepat pelayan menjawab.

"Jika begitu, kami minta dua kamar yang satu untuk tinggal pengendara kereta ini...."

Bun-hiong menuding Siang Po-hok yang menjadi kusir itu, lalu berkata pula dengan tertawa kedalam kereta.

"Silahkan keluar, istriku !". Dibawah dukungan Bun-hiong, pelahan turunlah seorang perempuan cantik. Dia bukan lain daripada Kiau-kiau yang mengaku sebagai "si molek berbisa"

Itu.

Pada dasarnya dia memang sangat cantik, ditambah lagi sekarang memakai baju yang mentereng, siapapun yang melihatnya pasti menyangka dia seorang nyonya terhormat dari keluarga bangsawan.

Eberapa pelayan itupun sama silau menghadapi wanita anggun deimikian, mereka sama memberi hormat dengan menunduk.

"Ayolah menunjukkan jalannya,"

Seru Bun-hiong.

Pelayan mengiakan dan membawa mereka kedalam hotel.

Dihalaman belakang hotel tersedia kamar kelas utama yang tenang, pelayan membuka sebuah kamar menyilakan mereka masuk, habis itu lantas membawakan air minum dan memberikan servis yang menyenangkan.

Kiau-kiau merasa terganggu oleh hilir mudik kawanan pelayan itu, katanya.

"Bun-hiong, suruh mereka keluar saja". Segera Buh-hiong memberi tanda dan berkata.

"Ayo, keluar saja kalian, tanpa dipanggil jangan masuk kemari."

Beberapa pelayan itu sama mengiakan dan mengundurkan diri. Didalam kamar kini tinggal mereka berdua saja, Kiau-kiau melempar tubuhnya ditempat tidur, dengan lemah ia mengeluh.

"Oo, menumpang kereta selama 20-an hari, sungguh capek sekali". Bun-hiong duduk disampingnya, dipijatnya punggung si cantik, katanya dengan tertawa.

"Akhirnya sampai juga ditempat tujuan, bolehlah engkau mengaso dua-tiga hari".

"Tidak kita mengaso sebentar saja dan segera berangkat lagi,"

Kata Kiau-kiau.

"Ah, buat apa terburu-buru ?",kata Bun-hiong.

"Oh Beng-ai berada dalam cengkeraman Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui dan setiap saat jiwanya bisa melayan, urusan segawat ini masa tidak membuat gelisah?".

"Jika Kongsun Siau-hui hendak mencelakai Oh Beng-ai, biarpun ia mempunyai nyawa serep sepuluh juga sudah lama amblas", ujar Bun-hiong.

"Dan bila ia tidak bermaksud membunuhnya, biar kita kesana beberapa hari lagi juga masih keburu".

"Kau tahu apa?", omel Kiau-kiau dengan mendongkol.

"Yang kukuatirkan adalah Oh Beng-ai akan dinodai rase jahat itu. Betapapun dia kan masih perawan ting-ting, bila kesuciannya dilanggar, sungguh lebih gawat daripada dia terbunuh saja".

"Ya, aku tahu", ujar Bun-hiong dengan tertawa.

"Tapi sudah lebih sebulan dia berada dalam cengkeraman Kongsun Siauhui, apakah kau kira Kongsun Siau-hui akan bersikap ramah padanya. Huh, kukira bukan mustahil sudah....

"Sudah, cukup!", sela Kiau-kiau.

"Jangan banyak omong halhal yang menyinggung perasaanku. Bilamana Kongsung Siauhui sampai mengganggu seujung bulu romanya, hmm..., lihat saja kalau tidak kubeset kulitnya". Pang Bun-hiong tertawa, dipencetnya pelahan dagu si cantik, katanya.

"Sungguh aneh, mengapa perasaanmu terhadap perempuan lebih mesra daripada terhadap orang lelaki ?".

"Tidak perlu banyak omong", kata Kiau-kiau.

"Kita sudah berkumpul lebih 20 hari, namun sampai sekarang aku masih belum paham akan dirimu".

"Ini membuktikan engkau adalah seorang tolol besar", ujar Kiau-kiau. Bun-hiong tertawa.

"Apakah dapat kau beritahukan padaku maksud tujuanmu yang sebenarnya hendak menolong Oh Beng-ai ?".

"Kan tidak jelek Oh Kiam-lam terhadapku dan aku ingin membalas kebaikannya, inilah maksud tujuanku yang sebenarnya".

"Aku tidak percaya", ucap Bun-hiong dengan tersenyum. Mendadak Kiau-kiau membalik tubuh dan menghadapinya sambil mendamperat.

"Jadi kau anggap ada maksud tujuan tertentu sebabnya aku hendak menolong Oh Beng-ai?". Bun-hiong mengangkat pundak.

"Aku tidak tahu, makanya aku tanya padamu". Kiau-kiau melototinya sekejap.

"Hmm..., makin lama kamu semakin ceriwis, aku tidak suka kepada lelaki yang bawel. Jika kamu banyak omong lagi seperti ini bisa segera kusuruh kau enyah !".

"Ha ha ha, jika kausuruh aku enyah, pasti segera aku akan enyah, aku ini memang orang yang tahu diri", seru Bun-hiong dengan tertawa.

"Baik, sekarang juga enyah!", kata Kiau-kiau.

"Apa betul ?", Bun-hiong menegas.

"Betul!".

"Kau kira dengan kecantikanmu akan dapat menaklukkan Kiubwe-hou Kongsun-hui?".

"Ya, kenapa tidak?", jawab Kiau-kiau.

"Jika kamu ikut disampingku tentu akan mengganggu urusan malah".

"Baiklah, jika begitu. Terpaksa aku angkat kaki saja", ucap Bun-hiong sambil berbangkit.

"Ya, pergi saja", tukas Kiau-kiau. Bun-hiong menunduk dan mencium sekali dipipi si cantik, katanya dengan tertawa.

"Jika begitu, selamat tinggal !. Terima kasih atas kebaikan dan kenikmatan yang kauberikan padaku selama likuran hari ini. Semoga kelak masih diberikan kesempatan untuk bertemu lagi denganmu". Habis berkata ia lantas membalik dan menuju ke pintu kamar.

"Tunggu sebentar", kata Kiau-kiau. Bun-hiong membalik tubuh pula, tanyanya dengan tertawa.

"Apakah masih ada sesuatu yang perlu kukerjakan bagimu ?".

"Jika kamu perlu uang, dapat kuberi sedikit, apakah kau mau ?", tanya Kiau-kiau dengan tertawa. Bun-Hiong menggeleng.

"Tidak, tidak perlu. Terima kasih atas maksud baikmu. Diriku ini tidak dijual". Dalam keadaan demikian, Kiau-kiau berbalik merasa berat untuk ditinggal pergi malah, katanya segera.

"Jika begitu, boleh kau pergi lagi mencari aku di Hoai-giok-san, kedatanganmu akan tetap kusambut dengan gembira".

"Baik", jawab Bun-hiong.

"Apabila aku tidak mendapatkan perempuan lain pasti aku akan kesana dan mencarimu lagi". Kiau-kiau menjadi marah, ia tanggalkan sepatu dan dilemparkan kearah Bun-hiong sambil menjerit.

"Keparat, kamu pantas mampus!. Memangnya kau anggap aku ini perempuan macam apa ?". Bun-hiong mengegos untuk menghindari sepatu yang menyambar kepalanya, ia tergelak dan memberi salam, lalu membuka pintu kamar dan keluar. Ia tidak bilang kepada pelaya kemana dirinya akan pergi, juga tidak pamit kepada Siang Po-hok yang menjadi kusir, langsung ia meninggalkan hotel itu. Berkumpul selama lebih 20 hari dengan perempuan cantik itu, kini ia sudah tahu dia adalah seorang perempuan judes dan cerewet atau bawel, maka tadi ia sengaja membuatnya marah untuk memancing datanya pengusiran. Sebabnya ia bertindak demikian adalah karena ia ingin mendahului ke Ma-cik-san ditepi Thay-oh untuk memberitahu Tui-beng-poan-koan To Po-sit agar siap menghadapinya. Bahwa Tui-beng-poan-koan To Po-sit menyuruh dia menyiarkan isyu tentang Oh Beng-ai diculik oleh Kiu-bew-hou Kongsun Siau-hui dan dibawa ke Ma-cik-san di Thay-oh, tujuannya tentulah ingin memancing dan menawan seseorang. Sebab itulah Bun-hiong yakin Tui-beng-poan-koan tentu sudah mengatur perangkap di Ma-cik-san, sedangkan Kiau-kiau sangat mungkin adalah sasaran yang hendak ditangkap To Posit, maka ia merasa perlu mendahului menyampaikan berita itu. Begitulah ia berlari cepat sekian lamanya, akhirnya sampailah ditepi Barat danau besar itu. Ia mencari tempat berkumpulnya perahu nelayan ditepi danau. Dilihatnya ada beberapa orang sedang mengobrol iseng disitu. Ia mendekati mereka dan memberi salam, lalu bertanya.

"Numpang tanya saudara, ada urusan ingin kupergi ke Ma-cik-san, apakah dapat kusewa perahu disini ?". Seorang nelayan tua mengamat-amatinya beberapa kejap, lalu balas bertanya.

"Untuk apa adik ini mau pergi ke Ma-cik-san?".

"Kudengar pemandangan pegunungan itu sangat indah permai, maka ingin kucoba pesiar kesana", jawab Bun-hiong.

"Bilamana nanti keindahannya memang tidak tercela, ada maksudku akan membangun rumah disana untuk belajar". Nelayan tua itu tertawa geli, katanya"

"Masa adik ini belum tahu berita yang tersiar?".

"Berita apa?", tanya Bun-hiong.

"Di Ma-cik-san sudah lama ada orang bertempat tinggal disitu, malahan orang itu memiara seekor harimau untuk menjaga gunung itu sehingga tidak ada orang yang berani kesana", tutur si nelayan tua.

"Oo, apakah Lotiang tahu siapakah yang bermukim disana ?".

"Entah, aku tidak tahu, tidak ada orang yang pernah melihatnya", si nelayan tua menggelengkan kepala.

"Kukatakan terus terang saja, orang itu adalah pamanku", kata Bun-hiong dengan tertawa.

"Beliau sendiri yang menyuruhku belajar saja ketempatnya yang indah dan tenang itu, maka tentang harimau itu juga tidak perlu kutakuti".

"Oo, kiranya orang itu adalah paman adik sendiri", si nelayan tua bersuara heran.

"Dan mengapa pamanmu itu sengaja piara harimau buas ?".

"Harimau itu dipiaranya sejak kecil. Sebenarnya tidak sembarang menggigit orang", jawab Bun-hiong.

"Tapi beberapa bulan yang lalu ada seorang mati tergigit harimau itu".

"Ahh, masa terjadi begitu ?", Bun-hiong bersuara kaget.

"Memang betul terjadi", kata si nelayan tua sambil mengangguk. Bun-hiong memperlihatkan rasa menyesal, ucapnya.

"Wah, sungguh malang. Kejadian ini pasti akan kutanyakan kepada pamanku. Jika betul harimau itu suka mengganggu manusia, maka binatang itu tidak dapat dipiara lagi. Ai, pepatah bilang piara harimau hanya mendatangkan maut, tampaknya memang tepat". Ia berhenti sejenak, lalu tanya mereka.

"Siapa diantara kalian yang mau mengantarku ke Ma-cik-san dengan perahunya ?". Tidak ada seorangpun menyatakan mau. Bun-hiong mengeluarkan sepotong perak, katanya.

"Akan kubayar lima tahil perak ini, cukup sekali jalan saja; asal ada yang mau....

"Biarlah kuantar tuan kesana", sambung si nelayan tua tadi. Tidak lama kemudian Bun-hiong sudah berada diatas perahu si nelayan tua dan meluncur ke Ma-cik-san yang terletak ditengah danau. Bun-hiong duduk termenung di haluan perahu menghadapi kerlip air danau yang tenang, pemandangan danau dengan gunungnya yang indah.

"Kongcu", tiba-tiba si nelayan tua berkata.

"Apakah boleh kutahu nama pamanmu yang mulia itu?".

"Watak pamanku sangat aneh, dia tidak suka bergaul dengan orang...

"Beliau tinggal sendirian di Ma-cik-san sana ?", tanya pula si nelayan.

"Ya", Bun-hiong mengangguk.

"Ada orang bercerita, katanya beliau mahir ilmu silat, apakah betul ?".

"Ehm, paman pernah belajar".

"Pernah ada orang diam-diam mengunjungi Ma-cik-san dan melihat pamanmu naik harimau berkeliaran di pegunungan sana. Orang sama menyangka beliau adalah Toapekong, semuanya ketakutan dan cepat berlutut dan menyembah padanya". Bun-hiong tertawa.

"Kenapa menyangka paman sebagai Toapekong?".

"Sebab hanya Toapekong saja yang dapat naik harimau!", tutur si nelayan tua.

"Ha ha ha, bukan. Paman bukan Toapekong", kata Bun-hiong dengan terbahak.

"Paman memang gemar naik harimau, bilamana iseng beliau suka naik binatang itu dan berkeluyuran kian kemari sekedar mencari hiburan saja".

"Sekarang penduduk di sekitar sini sama menyebut pamanmu sebagai Losancu (penguasa gunung tua), semuanya menghormat dan juga segan padanya, siapapun tidak berani lagi mengunjungi Ma-cik-san". Bun-hiong hanya tertawa saja tanpa menanggapi, namun dalam hati sangat heran. Pikirnya.

"Sungguh aneh, To Po-sit adalah seorang jujur dan lurus, kenapa dia sengaja berlagak begitu untuk menakuti orang ?. Jika alasannya supaya tidak ada orang mengganggu ketenangannya kan juga tidak perlu piara harimau buas segala. Harimau hanya dapat mengganas terhadap orang biasa, terhadap jago persilatan sama sekali tidak ada gunanya". Pada saat itulah si nelayan tua menuding jauh kedepan, katanya.

"Lihat, itulah Ma-cik-san!". Waktu Bun-hiong memandang kesana, tertampak permukaan danau dikejauhan sana muncul barisan lereng gunung, ia coba tanya.

"Berapa lama lagi baru sampai disana ?".

"Mungkin perlu satu jam lagi", tutur si nelayan. Bun-hiong memandang cuaca, katanya.

"Tampaknya sang surya sudah hampir terbenam".

"Ya, setibanya di Ma-cik-san nanti mungkin juga waktunya matahari terbenam", ujar si nelayan tua. Benar juga, pada waktu matahari menghilang di ufuk Barat, saat itu juga perahu mereka tepat sampai di tempat tujuan. Bagian Barat lereng pegunungan itu banyak tebing yang terjal dan banyak pula gua batu. Lubang gua berbentuk bundar serupa telapak kaki kuda, maka gunung itu mendapat nama Ma-cik-san atau gunung telapak kaki kuda. Sudah tentu apapun namanya hanya berdasarkan dongeng saja. Setelah perahu menepi, Bun-hiong membayar sewa dan mengucapkan terima kasih kepada nelayan tua, lalu melompat ke daratan dan berlari cepat keatas gunung. Setelah mendaki sebagian tebing curam, yang terlihat didepan adalah hutan yang rimbun sehingga seolah-olah tertutup rapat, suasana seram menakutkan. Namun kepandaian Bun-hiong tinggi dan nyalinya besar. Ia yakin perjalanannya ini pasti tak akan berbahaya baginya, maka sama sekali ia tidak kuatir, langsung is menyusur hutan. Ia tidak tahu sesungguhnya dibagian mana Tui-beng-poankoan To Po-sit bertempat tinggal, tapi karena ia anggap Macik-san ini tidak luas, seharusnya tidak sulit untuk menemukan tempat tinggal orang. Siapa tahu, meski sudah cukup lama ia mencari kian kemari, yang terlihat olehnya tetap hutan lebat belaka dan sukar dijajaki serupa lautan, sama sekali tidak tertampak sebidang tanah kosong apapun. Mau-tak-mau hati Bun-hiong mulai kebat-kebit, pikirnya.

"Buset!. Kenapa hutan ini sedemikian luasnya?". Begitulah ia terus menerobos hutan sekian lama lagi dan tetap belum mencapai ujungnya. Ia merasa seperti masuk ketempat yang menyesatkan, tentu saja ia was-was. Ia coba berhenti dan membatin.

"Jangan-jangan hutan ini memang sebuah tempat yang bisa menyesatkan?!". Baru saja timbul pikiran demikian, sekonyong-konyong dalam hutan yang berdekatan bergema auman keras. Itulah auman harimau !. Keruan Bun-hiong terkejut, ia menoleh dan memandang kearah suara, namun tidak terlihat bayangan harimau. Tentu saja ia merasa tidak aman, ia coba bersuara.

"Toh-locianpwe, caihe Pang Bun-hiong adanya, mohon Locianpwe sudi tampil bertemu". Ia bicara dengan suara keras sehingga dapat berkumandang jauh. Siapa tahu baru saja lenyap suaranya, mendadak terdengar suara meraung keras, dari dalam hutan melompat keluar seekor harimau loreng dan langsung menerkamnya. Harimau itu sebesari kerbau, kelihatan sangat buas. Melihat keganasan harimau itu, berdiri bulu roma Pang Bunhiong.

"Jangan kurang ajar1", bentaknya sambil melompat jauh kesamping. Karena menubruk tempat kosong, kebuasan harimau itu tidak berkurang, sekali ekor melingkar, ia putar tubuh dan kembali menerkam lagi. Cepat Bun-hiong meloncat keatas dan hinggap diatas dahan pohon yang bercabang, teriaknya.

"Binatang kurang ajar!. Mana boleh sembarang kau ganggu manusia ?. Masa kamu tidak tahu aku ini sahabat majikanmu ?!". Pada hakikatnya harimau itu tidak tahu apa yang diucapkan Bun-hiong. Agaknya dia sangat marah karena mangsanya melompat keatas pohon. Beberapa kali harimau itupun melompat keatas, akhirnya rupanya tahu sukar mencapai tempat Bun-hiong terpaksa ia berhenti meloncat dan berbaring dibawah pohon sambil melototi Bun-hiong dan mengaum.

"Ayo pergi, panggil kemari majikanmu", bentak Bun-hiong sambil mengangkat tangan. Namun si harimau tidak menghiraukannya dan tetap mengawasi dia.

"Binatang yang tidak tahu adat", maki Bun-hiong.

"Kalau tidak mengingat majikanmu, tentu sekali hantam kumampuskanmu !". Harimau itu tetap diam saja. Bun-hiong pikir bila bertahan terus cara begini bukanlah jalan keluar yang baik. Kembali ia memaki.

"Binatang kurang ajar, barangkali kamu tidak pernah ketemu orang pandai, biar sekarang kau lihat kelihaianku !". Ia patahkan satu potong ranting kecil, dengan gerak menimpuk senjata rahasia ia sambitkan ranting kayu itu ke batok kepala harimau. Kencang sekali sambaran ranting kayu itu.

"plok", dengan tepat batok kepala harimau tertimpuk. Kungfu Pang Bun-hiong sudah mencapai tingkat tinggi, biarpun sehelai daun yang dilemparkannya juga cukup kuat untuk mencelakai orang. Untuk membunuh harimau dengan lemparan kayu inipun dapat dilaksanakannya, cuma dia tidak berniat membunuhnya, maka sambitannya itu tidak terlalu keras. Walaupun begitu toh harimau itu sudah kesakitan sehingga melonjak kaget dan menyurut mundur sambil meraung-raung seakan-akan sedang memaki dan menantang Bun-hiong bila berani ayolah turun kemari. Kembali Bun-hiong memotong setangkai ranting dan disambitkan pula, sekali ini tepat mengenai hidung harimau. Karena kesakitan, binatang itu mengerang sambil menyurut mundur lagi, lalu bergaya hendak menubruk.

"Memangnya kau berani ? Sekali ini hendak kutimpuk matamu !", kata Bun-hiong dengan tertawa. Sembari bicara kembali ia memotes setangkai ranting pula. Namun harimau itu rupanya sudah kapok. Melihat Bun-hiong hendak menimpuknya lagi, sambil meraung cepat ia putar haluan dan ngacir. Tujuan Bun-hiong justru hendak membuat harimau itu lari agar dia dapat menguntitnya. Maka begitu begitu harimau itu kabur, segera ia melompat turun dan mengejar dengan kencang. Harimau itu sudah takut padanya, ketika mengetahui Bunhiong mengejarnya, larinya semakin cepat. Ia menyelinap kian kemari ditengah hutan lebat dan lari pontang-panting. Sambil mengejar Bun-hiong mengeluarkan suara galak pula untuk menggertaknya. Setelah mengejar sekian lama, harimau itu menyusup masuk kebalik semak-semak lebat, lalu menghilang. Bun-hiong tidak berani mengejar kesitu. Ia coba melompat keatas pohon dan memandang kesekitarnya. Sekali pandang terlihatlah sebuah rumah yang tidak terlalu besar, tapi juga tidak kecil. Kiranya beberapa tombak lagi kedepan sana sudah sampai di ujung hutan lebat itu. Terlihat diluar hutan adalah sebidang tanah landai dengan rumput halus hijau, ditengah lapangan rumput berdiri sebuah gedung megah dengan halaman yang luas. Disekeliling gedung itu diberi pagar bambu dan ditanami berbagai macam bunga yang aneh, suasana tenang dan pemandangan indah. Bun-hiong yakin inilah tempat kediaman "Losancu"

To Po-sit. Segera ia melompat turun dan berlari ke rumah itu. Setibanya diluar pintu pagar bambu, terlihat didepan pintu ada pigura yang bertuliskan tiga huruf, To-kong-loh"

Atau villa megah. Ditepi pintu terdapat pula sebuah papan kecil dengan tulisan "dilarang mauk tanpa izin"

Dan dibawahnya tertulis "Hormat Kongsun Siau-hui".

Diam-diam Bun-hiong tertawa geli, ia pikir tulisan ini adalah perbuatan Toh Po-sit yang sengaja digunakan untuk memancing orang yang hendak dijebaknya, kalau tidak kan tidak perlu namanya ditulis disitu.

Ia coba mengetuk pintu sambil berteriak.

"Toh-locianpwe, silakan buka pintu, aku Pang Bun-hiong!". Namun keadaan rumah itu tetap sunyi senyap, tidak terlihat seorangpun yang menjawab atau muncul. Bun-hiong sangat heran, sukar dimengerti mengapa bisa begini. Ia pandang tulisan "dilarang masuk"

Yang terpampang disamping pintu itu, pikirnya.

"Mungkin ia sedang keluar karena ada urusan, maka dipasang papan ini. Padahal kedatanganku berkepentingan baginya, tentunya aku boleh masuk saja kesitu". Didalam pintu adalah jalan terbuat dari balok batu, kedua samping jalan banyak pot bunga diatas rak. Setelah melintasi jalan batu tersebut, sampai disebuah ruangan tamu yang terbuka. Sementara hari sudah gelap, namun didalam ruangan tidak ada penerangan, tampaknya penghuninya memang tidak berada dirumah. Bun-hiong berhenti sejenak diluar ruangan dan coba memandang kedalam. Tertampak pepajangan ruang tamu yang sangat serasi, perabotannya terbuat dari kayu cendana wangi. Bagian dalam melintang sebuah meja besar dan disambung dengan sebuah meja lain yang memanjang keluar. Kedua samping meja ada enam kursi diseling dengan meja kecil diantara kursi dan kursi. Ditengah ruangan tidak terdapat meja pemujaan melainkan tergantung sebuah lukisan lambang panjang umur dan dikanan-kiri meja panjang melintang itu terdapat dua vas bunga. Masih kelihatan segar bunga didalam vas. Ditengah ruangan terdapat sebuah lampu gantung, lampu kaca berukir bunga. Meskipun lampu tidak menyala, kacanya kelihatan cemerlang dan indah. Bun-hiong tidak berani sembarangan masuk, ia berseru dengan lantang.

"Toh-locianpwe, apakah engkau di rumah ?!". Tetap tidak ada suara jawaban. Bun-hiong ragu sejenak. Kemudian ia melangkah ketengah ruangan, dilihatnya disebelah kanan ada sebuah pintu tembus, ia coba melongok keluar pintu, tapi karena hari sudah gelap sehingga tidak terlihat apapun. Ia mendekati meja panjang dan mencari geretan api, dinyalakannya lampu gantung itu. Setelah lampu menyala, ia coba melongok lagi kebagian dalam. Sekarang terlihat jelas disitu ada sebuah jalan samping, yaitu yang menyusur serambi ke belakang. Kembali ia berteriak lagi dan tetap tidak kelihatan orang muncul. Segera ia menyusuri serambi, pada kamar serambi pertama ia coba mengetuk pintunya. Sekali ketuk, tahu-tahu pintu kamar terbuka sendiri. Didalam kamar juga tidak ada penerangan, namun lamat-lamat kelihatan sebuah tempat tidur dengan perabotan yang sederhana, hanya sebuah meja, kelambu tertutup rapat, didepan tempat tidur ada sepasang sepatu kain. Nyata sekali diatas ranjang ada orang tidur. Hal ini sangat diluar dugaan Bun-hiong, cepat ia menyurut mundur dan memberi hormat, serunya.

"Toh-locianpwe, apakah engkau disini ?". Tidak ada suara ditempat tidur, seperti orang tidur itu sudah mati. Sangsi dan heran, Bun-hiong kembali ia berteriak.

"Tohlocianpwe, engkau disitu ?"\ Teap tiada sesuatu reaksi apapun. Kening Bun-hiong berkernyit, pikirnya.

"Sungguh aneh. Didepan ranjang ada sepatu, jelas ada orangnya. Mengapa tidak terjaga bangun ?". Ia merasakan keganjilan, tapi yang terpikir olehnya adalah orang ditempat tidur itu mungkin mati mendadak. Maka ia coba mendekati tempat tidur. Begitu mendekat, mendadak dirasakan semacam hawa kematian yang membuatnya merinding. Mungkinkah Tui-beng-poan-koan Toh Po-sit mendadak mati sakit ditempat tidur ? Tidak, tidak mungkin terjadi kebetulan seperti itu!. Ia tenangkan diri, lalu menyingkap kelambu. Baru saja tersingkap sedikit, seketika ia menjerit kaget. Ternyata ditempat tidur menggeletak sesosok jerangkong. Jerangkong putih yang utuh. Jerangkong putih ini duduk tegak diatas tempat tidur, sungguh kaget Bun-hiong tak terkatakan, serentak ia menyurut mundur dua-tiga tindak. Waktu melangkah mundur itulah sekonyong-konyong kaki terasa menginjak tempat kosong, seluruh orangnya terus kejeblos kebawah. Pada saat menginjak tempat kosong itu, sekilas benaknya timbul pikiran telah menginjak papan putar, namun sudah kasip dan sukar menghindar lagi. Tanpa kuasa ia kejeblos kedalam sebuah gua yang gelap gulita. Setelah anjlok enam-tujuh tombak dalamnya, barulah sampai permukaan tanah. Kejadian yang mendadak dan diluar dugaan ini membuatnya kaget dan tidak sempat mengerahkan tenaga sehingga kepala terbentur dan pusing tujuh keliling, matapun berkunangkunang. Sampai sekian lama barulah pikiran jernihnya pulih kembali. Waktu ia memandang keatas, papan putar tadi sudah merapat seperti semula dan tiada setitik lubang lagi. Keadaan gelap gulita, jari sendiripun tidak kelihatan. Setelah termangu-mangu sejenak barulah ia berdiri pelahan. Ia coba meraba kedepan, sesudah maju dua-tiga tindak baru teraba dinding batu yang dingin dan keras. Ia merambat lagi kekiri, setelah membelok diujung dinding, akhirnya terasa sebuah pintu beruji besi. Terali besi sangat kuat, besarnya hampir sebulatan lengan manusia. Ia pegang dua potong terali besi itu dan diguncangkan sekuatnya, namun tidak bergeming sama sekali. Ia tahu terali besi itu sangat kuat dan sukar dijebol oleh tenaga manusia. Seketika hati Bun-hiong tertekan, pikirnya.

"Wah, celaka!. Sekali ini aku benar-benar menjadi kura-kura didalam tempurung orang !". Ia coba merambat lagi kekiri terali, kembali teraba dinding batu, maka tahulah dia bahwa dirinya terkurung didalam kamar penjara seluas setombak persegi, iapun maklum bilamana tidak mendapatkan pertolongan dari luar, betapapun sukar lolos dari penjara maut ini. Ia cemas dan bingung juga, sukar dimengerti mengapa Tuibeng-poan-koan Toh Po-sit sengaja memperlakukan dia cara demikian. Sekarang ia tahu jerangkong yang duduk ditempat tidur itu hanya semacam perangkap yang sengaja dipasang Toh Po-sit, bila orang melihat jerangkong secara mendadak, tentu kaget dan tanpa terasa menyurut mundur, dengan begitu pasti akan menginjak papan putar dan kejeblos kebawah. Tapi ia sudah berulang kali menyatakan siapa dirinya, mengapa Toh Po-sit masih memperlakukan dia cara demikian? Apakah mungkin yang memasang perangkap ini bukan Tuibeng-poan-koan Toh Po-sit . Karena pikiran ini seketika ia paham duduknya perkara. Tanpa terasa is bergumam.

"Aha betul, tuan rumahnya pasti bukan Toh-locianpwe, makanya dia tidak gubris teriakanku..."

Lalu teringat olehnya nama yang terpampang dipapan pada pintu pagar itu, ia terkesiap dan berseru.

"Wah, jangan-jangan tuan rumah disini ialah Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui ?". Tapi bilamana betul tuan rumahnya ialah Kongsun Siau-hui, apa maksud tujuan Toh Po-sit yang menyuruhnya menyiarkan berita bohong tentang diculiknya Oh Beng-ai oleh gembong iblis itu ke Ma-cik-sa sini ? Tidak perlu disangsikan lagi maksud tujuan Toh Po-sit adalah untuk memancing dan menawan seseorang, tapi mengapa perangkapnya diatur ditempat kediaman Kongsun Siau-hui ini ? Apakah mungkin dia dan Kongsun Sian-hui adalah satu komplotan ? Akan tetapi jelas tidak, karena Toh Po-sit dan Kongsun Siauhui adalah dua jenis manusia yang berbeda, tidak mungkin mereka bersekongkol untuk menghadapi orang lain. Jika begitu, sekarang hanya ada sebuah penjelasan, yaitu maksud tujuan Toh Po-sit bukan untuk menawan seorang melainkan sengaja memancing seorang untuk mencari Kongsun Siau-hui dan maksudnya mungkin supaya terjadi perang tanding antara mereka atau ada maksud lain. Ia merasa rekaan ini rada masuk di akal, sebab itulah ia mulai merasakan posisi sendiri sangat berbahaya, sebab kalau tuan rumahnya betul Kongsun Siau-hui, maka dirinya sudah menjadi musuh yang telah mengganggunya. Kongsun Siau-hui adalah tokoh yang terkenal kejam, tentu dia tak akan bersikap ramah terhadap musuh yang menyatroninya. Lantas bagaimana baiknya ? Baru saja ia berpikir bagaimana baiknya, tiba-tiba dari luar terali besi sana ada cahaya lampu. Itu dia, Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui sudah datang. Terdengar suara "srak-srek., suara langkah orang yang semakin dekat. Mendadak cahaya lampu terang benderang. Seketika Bun-hiong merasa bagai menatap cahaya matahari yang menyilaukan, hampir sukar mata terpentang, sebab itulah seketika tak jelas siapa pendatang ini. Terdengar orang itu mengeluarkan suara tertawa terkekeh aneh yang menusuk perasaan, habis itu berucap sekata demi sekata;

"Hei, siaucu, namamu Pang Bun-hiong ya ?". Bun-hiong mengalingi matanya dengan tangan, tanyanya dengan terkesiap.

"Siapakah engkau?".

"Apakah kamu buta-huruf?", jawab orang itu dengan terkekeh.

"Oo, jadi engkau benar Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui ?", Bun-hiong menegas.

"Betul,"

Kata orang itu.

"Wah, sungguh tak tersangka....

"Toh-locianpwe yang kau panggil berulang itu siapa ?", tanya Kongsun Siau-hui.

"Mohon engkau menyingkirkan dulu lampumu, boleh ?{", pinta Bun-hiong. Kongsun Siau-hui lantas gantung lampu yang dipegangnya itu di dinding. Karena itu cahaya lampu lantas bergeser dan orangnya dapat terlihat jelas sekarang. Usianya antara 67-69 tahun, perawakannya tinggi kurus, mukanya terasa dingin dan seram, rambutnya semampir dipundak dan memakai baju hitam, sekilas pandang serupa hantu yang mengerikan. Diam-diam Bun-hiong menarik napas dingin, ia memberi hormat dan berkata.

"Sungguh sangat beruntung dapat berjumpa dengan tokoh kosen dunia persilatan jaman kini". Kongsun Siau-hui tersenyum tak acuh, tanyanya pula.

"Coba jawab, siapakah Toh-locianpwe yang kaupanggil berulangulang itu ?".

"Toh Thian-lau namanya ", jawab Bun-hiong.

"Siapa itu Toh Thian-lau ?", tanya Kongsun Siau-hui pula.

"Seorang tabib terkenal, orang memberi julukan Kui-ih (tabib setan) padanya, sebab penyakit aneh dan betapa parahnya, asalkan diberi obat olehnya seketika akan sembuh".

"Aneh mengapa belum pernah kudengar nama seperti ini ?", ujar Kongsun Siau-hui sambil menyeringai.

"Dia bukan tokoh dunia persilatan", kata Bun-hiong.

"Oo, ia tinggal di Ma-cik-san sini ?", tanya Kiu-bwe-hou.

"Aku diberitahu orang, katanya dia pindah dan berdiam di Macik-san, tapi tampaknya aku tertipu, sungguh runyam !". Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui menyeringai, katanya pula.

"Siapa yang bilang padamu bahwa Kui-ih Toh Thian-lau pindah kesini ?".

"Hiat-pit-siucai Hui Giok-koan", kata Bun-hiong.

"O, kiranya dia. Darimana dia tahu aku mengasingkan diri disini ?".

"Ia tidak bilang Locianpwe mengasingkan diri disini, ia cuma bilang Kui-ih Toh Thian-lau pindah dan berdiam disini. Kongsun Siau-hui mengangguk, tanyanya pula.

"Untuk apa kaucari Toh Thian-lau?".

"Hendak kuminta tolong agar dia mengobati penyakit istri sahabatku", tutur Bun-hiong.

"Siapakah sahabatmu itu?", kembali Kongsun Siau-hui bertanya.

"Liong It-hiong", jawab Bun-hiong.

"Istrinya menderita sakit apa ?".

"Sakit cemburu !". Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui tertawa.

"Hah, dia singa betina yang sok cemburu !".

"Ya, asalkan sahabatku itu memandang sekejab perempuan lain, seketika istrinya ribut tidak berhenti", tutur Bun-hiong.

"Pernah satu kali sahabatku mengadakan pesta perjamuan untuk menghormati kawan, pesta dimeriahkan dengan musik dan nyanyi. Tapi istrinya membawa pentung dan mengobrakabrik pesta itu, bahkan memukul mati penyanyinya.

"Karena tidak tahan gangguan istri yang cemburu itu, sahabatku minta nasehat padaku. Kutahu Kui-ih Toh Thian-lau mempunyai obat mujarab yang dapat menyembuhkan perempuan cemburu, maka sengaja aku datang kemari mencarinya. Siapa tahu keterangan Hui Giok-koan ternyata tidak benar sehingga perjalananku ini cuma sia-sia belaka".

"Tapi perjalananmu ini tidaklah sia-sia, sebab akupun mahir mengobati penyakit cemburu", ujar Kiu-bwe-hoa dengan tertawa.

"Hah, apa betul ?", Bun-hiong menegas dengan berlagak girang.

"Tentu saja betul", kata Kiu-bwe-hou.

"Ada beberapa resepku yang cespleng untuk menyembuhkan penyakit cemburu".

"Wah bagus sekali", seru Bun-hiong bersemangat.

"Dapatkan Locianpwe memberikan padaku resep mujarab itu ?".

"Boleh. Nah, silahkan dengarkan dengan cermat...", lebih dulu Kongsun Siau-hui berdehem untuk membersihkan kerongkongan, lalu menyambung.

"Pertama, sup daging merpati, dimakan si perempuan tiap tengah malam, maka rasa cemburunya akan hilang. Kedua bungkus katak buduk dengan kain bekas datang bulan si perempuan dan ditanam didepan kamar, maka rasa cemburunya akan lenyap atau.....". Bun-hiong berlagak mengingat baik-baik beberapa resep yang diuraikan orang, katanya.

"Wah, beberapa resep Locianpwe itu tampaknya sangat mujarab, cuman agak sulit dilaksanakan..."

"Bila beberapa resep ini tidak manjur, masih ada satu resepku yang kutanggung cespleng seratus prosen", kata Kiu-bwe-hou dengan tertawa.

"Apa resepnya ?", tanya Bun-hiong.

"Resep ini namanya potong dan habis perkara", tutur Kiu-bwehou.

"Caranya adalah dengan membawa sebilah golok, pada waktu si perempuan lagi tidur nyenyak, sekali bacok penggal kepalanya dan rasa cemburunya lantas hilang sama sekali".

"Ha ha ha", Bun-hiong tergelak.

"Meski resep terakhir ini sangat manjur, cuman obatnya terlampau keras, kukira tidak cocok digunakan".

"Ya, maka lebih baik menggunakan resep yang kukatakan tadi", ujar Kiu-bwe-hou.

"Terima kasih atas petunjuk Locianpwe, tentu akan kusampaikan resepmu tadi kepada sahabatku biar dicobanya..."

"Cuma saya, mungkin sahabatmu itu tidak sempat lagi menyembuhkan penyakit cemburu istrinya", tukas Kiu-bwehou.

"Kenapa bisa begitu ?"

Bun-hiong melengak.

"Coba jawab, apa yang tertulis dipapan pintu tadi sudah kaubaca tidak ?".

"Ya, kubaca", Bun-hiong mengangguk.

"Cuma..."

"Jika begitu biar kukatakan padamu", potong Kiu-bwe-hou dengan tertawa.

"Barang siapa berani sembarangan menerobos masuk kesini tanpa izinku, semuanya harus mati disini". Habis berkata ia tanggalkan lentera tadi dan hendak melangkah pergi.

"Nanti dulu, Locianpwe", seru Bun-hiong.

"Kau mau bicara apa lagi ?", tanya Kiu-bwe-hou dengan tertawa.

"Peraturan Locianpwe itu terasa agak terlampau keras, seharusnya diperlonggar sedikit", ujar Bun-hiong. Kiu-bwe-hou meraba janggutnya, katanya perlahan.

"Dengan sendirinya dapat kuperlonggar sedikit, cuma hal itu harus tunggu sampai kamu mau bicara terus-terang siapa itu Tohlocianpwe yang kau sebut-sebut itu dan maksud tujuan kedatanganmu kesini". Sampai disini ia terus melangkah pergi. Cahaya lampu dari terang berubah menjadi guram dan akhirnya lenyap. Kembali Bun-hiong terkurung dikamar penjara yang gelap gulita. Dengan lesu ia duduk dikaki dinding dan bergumam.

"Tua bangka ini sungguh tidak malu sebagai seekor rase tua, tampaknya aku sudah ditakdirkan akan mati disini..."

Ia tahu hanya ada satu jalan mungkin dapat terhindar dari kematian, yaitu tunduk kepada kehendak Kiu-bwe-hou dan bicara terus terang segalanya tentang maksud kedatangannya adalah ingin mencari Tui-beng-poan-koan Toh Po-sit, sebab atas perintah Toh Po-sit dirinya menyiarkan desas-desus tentang diculiknya adik perempuan Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam oleh Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui...

Tapi mana boleh dia mengaku terus terang ?

Jika ia bicara terus terang, apakah bukan berarti menggagalkan rencana Toh Po-sit ?.

Padahal dengan susah payah barulah Toh Po-sit berhasil mengatur rencana ini, mana boleh dirinya merusaknya ?

Tidak boleh!.

Mutlak tidak boleh bicara terus terang.

Begitulah ia lantas berdiri dengan bersemangat, ia mendongak keatas, pikirnya.

"Mungkin dapat keluar melalu atas sana. Biarlah coba kupanjat keatas". Begitu ambil keputusan, segera ia gunakan ilmu cecak merayap dan merambat keatas. Kira-kira enam-tujuh tombak tingginya, sebelah tangannya sudah dapat meraba papan putas diatas. Dengan jari tangan kiri ia cengkeram celah dinding untuk menahan tubuhnya, lalau dengan tangan kanan ia pukul papan putar dibagian atas. Tenaga pukulannya tidak lemah, papa kayu setebal beberapa senti saja dapat dihantamnya hancur, tapi sekarang ia sudah memukul sekuatnya beberapa kali, dirasakan papan putar itu sekeras batu, sedikitpun tidak bergeming. Kenapa bisa begitu?. Jangan-jangan papan putar itu terbuat dari besi ? Ia coba menggores papan itu dengan kuku, ternyata benar papan putar itu memang terbuat dari besi. Hal ini membuat semangatnya gembos, segera ia kendurkan cengkeraman jari kiri dan merosot turun kebawah. Sekarang ia merasa hanya ada satu jalan saja baginya, yaitu menunggu ajal. Ia duduk dikaki dinding lagi dengan lesu. Diam-diam ia sesalkan nasib sendiri yang jelek sehingga kebentur Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui yang sialan ini. Kemudian teringat juga akan Coa-kat-bijin alias Kiau-kiau, mendadak terbangkit semangatnya. Pikirnya.

"Aha, betul tidak lama lagi iapun akan kemari, bisa jadi dia memang dapat menjatuhkan Kongsun Siau-hui dengan pikatan kecantikannya. Bila betul demikian ada harapan bagiku untuk hidup". Pada saat sedang berpikir itulah, tiba-tiba dari atas berkumandang suara orang memanggil perlahan.

"Kongsun Siau-hui.... Kongsun Siau-hui...".

Jelas itulah suara orang perempuan. Bun-hiong sangat girang, serentak ia berdiri, pikirnya.

"Itu dia, memang betul dia sudah datang!".

"Kongsun Siau-hui.... Kongsun Siau-hui... engkau dimana ?", terdengar suara Kiau-kiau sedang memanggil, agaknya dia sudah memasuki ruangan besar itu sehingga suaranya terdengar jelas. Tiba-tiba Bun-hiong mendapatkan pikiran lain untuk cepat meloloskan diri, segera ia merayap lagi keatas dan menunggu kesempatan. Cara meloloskan diri yang terpikir oleh Bun-hiong adalah kalau Kongsun Siau-hui tidak muncul untuk bertemu dengan Kiaukiau, tentu sebentar lagi sangat mungkin Kiau-kiau akan mengikuti caranya tadi, membuka kelambu dan kaget, lalu kejeblos kebawah. Jika terjadi demikian, maka pada saat Kiau-kiau kejeblos dan papan putar terbalik, peluang itu akan digunakannya untuk menerobos keluar. Sebab itulah pada waktu ia merambat sampai di ujung dinding segera ia kumpulkan tenaga pada kedua kakinya dan menunggu datangnya kesempatan baik.

"Hei, Kongsun Siau-hui, engkau ada disini atau tidak ?", terdengar suara Kiau-kiau sudah berada didalam kamar atas. Bun-hiong mendengarkan dengan cermat, terdengar suara kaki Kiau-kiau berhenti didepan tempat tidur. Tanpa terasa hati Bun-hiong ikut berdebar. Ia tahu bila pada saat itu dirinya bersuara memperingatkan, Kiau-kiau diatas pasti dapat terhindar dari bahaya kejeblos. Tapi ia tidak mau berbuat demikian, sebab ia tahu Kiau-kiau adalah perempuan yang tidak dapat dipercaya. Pada waktu ia tidak sanggup melawan Kiu-bwe-hou, yang dipikirnya tentu cuma menyelamatkan diri sendiri dan pasti tidak mau menyerempet bahaya menolongnya. Sebab itulah ia mengambil keputusan akan meloloskan diri lebih dulu, kemudian baru berdaya menolong perempuan itu dari ancaman bahaya.

"Kongsun Siau-hui, kaukah disitu?"

Terdengar suara Kiau-kiau memanggil pula, suaranya dekat tempat tidur. Nyata ia mengira ada orang tidur disitu.

"Hm, apakah engkau terlanjur mampus dalam tidurmu ?", omel Kiau-kiau, berbareng itu agaknya ia lantas menyingkap kelambu dan tentu juga lantas melihat jerangkong ditempat tidur. Serentak terdengar jeritan melengking, menyusul papan besi lantas ambles kebawah. Kiau-kiau benar-benar kejeblos kedalam kamar penjara itu. Tapi ketika Bun-hiong bermaksud menggunakan peluang itu untuk melompat keluar, mendadak terdengar suara "blang"

Yang keras, papan besi yang ambles kebawah itu tahu-tahu sudah merapat kembali.

Keruan Bun-hiong melenggong.

Kiranya papan jebakan itu berbeda dari papan putar umumnya.

Pada papan putar biasa, bagian tengah tentu diberi bersumbu.

Jika setengah bagian ambles kebawah, sebagian lagi lantas menjengkit keatas dan maksud Bun-hiong akan melompat keluar melalui lubang papan yang menjengat itu.

Namun papan jebakan ini ternyata tidak begitu buatannya.

Papan ini ambles seluruhnya kebawah, sehingga pada hakikatnya tidak ada peluang bagi orang untuk melayang keluar.

"Aduh!", terdengar Kiau-kiau menjerit kesakitan karena jatuh terbanting. Bun-hiong tercengang sejenak, akhirnya ia menegur dengan tersenyum kecut.

"Apakah kamu terluka ?". Karena kejeblok kedalam ruangan yang gelap gulita, memangnya hati Kiau-kiau lagi cemas, kini mendadak terdengar ada orang bersuara menegur dari atas, keruan ia tambah kaget setengah mati, jeritnya takut.

"Hei, siapa itu ? Siapa ?".

"Aku, bekas pacarmu !", jawab Bun-hiong dengan tertawa. Lalu ia melompat turun lagi kebawah. Karena tidak dapat melihat jelas, Kiau-kiau menyurut mundur ketakutan, serunya.

"Sia... siapa kau ?".

"Pacar yang kemarin baru saja kau enyahkan dari Thay-ihkhek-can itu!", jawab Bun-hiong dengan tertawa.

"Oo...."

Kiau-kiau bersuara lega, tapijuga tidak kurang kejut dan sangsinya.

"Ken... kenapa engkau juga berada disini ?".

"Sebenarnya hendak kujadi pelopor bagimu", tutur Bun-hiong.

"Tak terduga begitu sampai disini lantas masuk perangkap". Lalu ia mendekati Kiau-kiau dan berbisik padanya.

"Sebentar bila Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui muncul, jangan sekalisekali kau ceritakan maksud kedatanganmu, paham tidak ?".

"Sebab apa ?"

Tanya Kiau-kiau dengan melenggong. Bun-hiong berbisik pula ditepi telinga orang.

"Sekarang kita sudah tertawan olehnya, jika engkau bicara terus terang hendak menolong Oh Beng-ai, tentu dia akan memperlakukan kita sebagai musuh".

"Lantas bagaimana ?", tanya Kiau-kiau pula.

"Bagaimana ?", Bun-hiong mengulang dengan mendongkol.

"Hm, bisa jadi jiwamu akan amblas". Kiau-kiau meraba bagian pinggang yang kesakitan, katanya.

"Engkau juga terjeblos dari atas sana ?".

"Ya ", jawab Bun-hiong.

"Sebenarnya aku cukup hati-hati sejak datang kesini, tapi mendadak aku lihat jerangkong yang menakutkan itu, karena gugup aku jadi lengah dan terjeblos kesini".

"Ya, jerangkong itu memang menakutkan", ucap Kiau-kiau.

"Entah mengapa Kongsun Siau-hui menggunakan jerangkong untuk menakuti orang".

"Aku sendiri tidak tahu mengapa", ujar Bun-hiong.

"Sudah kaulihat dia atau belum ?", tanya Kiau-kiau.

"Sudah", jawab Bun-hiong.

"Bagaimana bentuknya ?".

"Sangat gagah dan ganteng".

"Apa betul ?".

"Kenapa kauperhatikan bagaimana bentuknya ?", tanya Bunhiong dengan tertawa.

"Ini sangat penting", ujar Kiau-kiau.

"Jika dia seorang tua yang sudah ompong, tentu tidak menguntungkan bagiku. Kau tahu, terhadap urusan begituan hampir semua orang tua cuman keinginan ada, tapi tenaga tidak cukup".

"Hm, banyak juga yang kau pikirkan", jengek Bun-hiong.

"Urusan ini adalah modal andalanku", kata Kiau-kiau dengan tertawa.

"Dengan wajah dan tubuhku yang memmikat ini, apa yang kulakukan selalu berhasil. Maka sekali ini akupun berharap dapat menyelamatkan diri berdasarkan modalku ini".

"Semoga dia terpikat olehmu, supaya akupun dapat ikut membonceng dan lolos dari sini", kata Bun-hiong.

"Eh, apakah dia tidak tanya untuk apa engkau datang kesini ?", tanya Kiau-kiau.

"Ada, kubilang kedatanganku ini ingin mencari Kui-ih Toh Thian-lau, namun dia tidak percaya".

"Lalu cara bagaimana dia memperlakukan dirimu ?".

"Ia bilang aku akan mati didalam kamar penjara ini. Tampaknya dia bermaksud membuatku mati kelaparan disini".

"Dan engkau berpikir bagaimana?", tanya Kiau-kiau. Bun-hiong menyengir.

"Tentu saja kuingin lari keluar dari sini, asalkan ada kesempatan...". Kiau-kiau memandang sekitar situ, katanya dengan bimbang.

"Tempat macam apakah ini ?".

"Sebuah kamar tahanan seluas setombak, tiga sisinya dinding batu, satu sisi terbuat dari terali besi", tutur Bun-hiong. Terali besinya berada disisi mana ?"

Tanya Kiau-kiau. Bun-hiong menariknya kedepan terali besi, katanya dengan tertawa.

"Coba kaupegang sendiri, cukup besar juga !". Setelah meraba terali besi, Kiau-kiau berucap dengan terkesiap.

"Wah, tampaknya sangat kuat..."

"Ya, pernah kucoba mengguncangnya, rasanya serupa kecapung hendak menggoyangkan pilar", ujar Bun-hiong. Kiau-kiau coba meraba-raba bagian luar terali besi, katanya kemudian.

"Diluar ini apakah lorong dibawah tanah ? "Ya", jawab Bun-hiong. Waktu Kiau-kiau meraba-raba lagi, tiba-tiba dirasakan tangannya menyentuh tubuh seseorang, keruan ia kaget dan cepat menarik kembali tangannya sambil menyurut mundur dan berteriak.

"Wah, ada setan!". Ebook oleh . Dewi KZ Scan book oleh . BBSC

Jilid 16

"Hah, ada setan?"

Bun-hiong melengak.

"Betul, baru saja kena kupegang,"

Kata Kiau-kiau dengan takut. Secara cerdik Bun-hiong menyurut mundur dua tindak, lalu berseru.

"Kiu-bwe-hou, kenapa lampu tidak kau nyalakan?"

Baca Juga: Pisau Terbang Li 1

Baca Juga: Senyuman Dewa Pedang 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert