Eps 7 Rahasia Peti Wasiat - Gan KL
Baca online Rahasia Peti Wasiat - Gan KL
Cersil Rahasia Peti Wasiat - Gan KL.
"Cret", terdengar suara ketikan api, segera cahaya terang menerangi keadaan situ. Ternyata benar, Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui berdiri di luar terali besi. Nyata orang ini serupa hantu saja yang pergi-datang tanpa bersuara. Melihat tampang orang, ngeri Kiau-kiau, serunya.
"Oo, Thian, alangkah buruk mukamu?!"
Setelah menyalakan lampu, Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui lantas menyeringai sehingga kelihatan barisan giginya yang putih, ia tertawa terkekeh-kekeh dan berkata.
"Meski buruk rupa, tapi pasti bukan seorang kakek loyo yang nafsu besar tenaga kurang!"
Muka Kiau-kiau tampak pucat.
"Wah, tak tersangka usiamu sudah selanjut ini, apakah benar engkau ini Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui?"
Kiu-bwe-hou tersenyum, ucapnya perlahan.
"Berhadapan dengan nona cantik serupa dirimu, sungguh aku berharap diriku ini bukan Kiu-bwe-hou."
Mendadak Kiau-kiau tertawa menggiurkan, katanya.
"Cuma, setelah dipandang lagi, wajahmu juga tidak terlalu buruk. Asalkan rambutmu disisir rapi, kuyakin pasti akan sedap dipandang."
Kiu-bwe-hou mengangguk dengan tertawa.
"Baik, aku bersedia mencobanya menurut saranmu. Sekarang apakah boleh beri tahukan namamu kepadaku?"
"Hamba she Loan bernama Kiau-kiau."
"Haha, Loan Kiau-kiau, indah dan sedap didengar namamu ini...."
Kiu-bwe-hou tertawa senang.
"Terima kasih atas pujianmu,"
Ujar Kiau-kiau sambil memberi hormat. Kiu-bwe-hou menuding Pang Bun-hiong, tanyanya dengan tertawa.
"Ada hubungan apa antara dia denganmu?"
"Tidak ada hubungan apa-apa, cuma kenalan biasa saja,"
Jawab Kiau-kiau. Tertawa Kiu-bwe-hou mulai lenyap, tanyanya.
"Lalu, untuk apa kedatanganmu ini?"
"Kudatang mencari seorang...."
Seketika Bun-hiong merasa tegang, cepat ia menukas.
"Sudah berulang kuperingatkan padamu agar jangan ikut kemari, tapi kau tidak menurut dan tetap menyusul ke sini, sungguh runyam."
Tak terduga Loan Kiau-kiau lantas mencibir padanya dan menjawab.
"Ala, jangan sok, memangnya kedatanganku ini hendak mencari dirimu?"
Keruan Bun-hiong melengak, katanya dengan mendongkol.
"Baik, tampaknya kau sudah bosan hidup."
Kiau-kiau tidak gubris padanya, ia pandang Kiu-bwe-hou, ucapnya dengan tertawa genit.
"Coba kau terka kudatang kemari untuk mencari siapa?"
"Mencari diriku?"
Kiu-bwe-hou menegas.
"Hah, tepat!"
Seru Kiau-kiau. Kiu-bwe-hou tertawa.
"Oo, barangkali kau sengaja melamar menjadi teman tidurku?"
"Ai, kuharap janganlah engkau pakai kata-kata tidak enak begini,"
Ujar si nona dengan lagak malu-malu.
"Paling-paling cuma di mulut saja hamba suka bicara agak lepas, tapi sesungguhnya aku ini orang perempuan yang baik-baik."
Kiu-bwe-hou bergelak tertawa, lalu bertanya.
"Lantas, ada urusan apa kau cari diriku?"
"Aku ingin mengangkat guru padamu,"
Jawab Kiau-kiau. Seketika suara tertawa Kiu-bwe-hou lenyap dan berganti dengan wajah yang tercengang, ia menegas.
"Apa katamu? Kau ingin mengangkat guru padaku?"
"Betul,"
Kiau-kiau mengangguk.
"Kudengar engkau ini tokoh dunia persilatan kelas top yang jarang ada bandingannya, maka berharap dapat mengangkat dirimu sebagai guru untuk belajar kungfu sakti."
"Oo, kiranya begitu...."
Kiu-bwe-hou tertawa senang. Segera Loan Kiau-kiau memohon lagi.
"Apakah engkau sudi menerimaku sebagai murid?"
Dengan tertawa Kiu-bwe-hou menjawab.
"Ehm, lumayan dapat menerima nona secantik dirimu sebagai murid...."
Terbeliak mata Loan Kiau-kiau, serunya dengan girang.
"Jadi engkau sudi?"
Kiu-bwe-hou merogoh saku, entah hendak mengambil barang apa, katanya sembari tersenyum.
"Asalkan cocok syaratnya, tentu saja dapat kuterima."
Habis berkata, mendadak ia lemparkan sesuatu ke dalam kamar tahanan.
"Blang", terdengar letusan yang tidak terlampau keras, seluruh kamar tahanan itu lantas penuh asap kuning tebal dengan bau yang menusuk hidung.... ***** Entah sudah berselang berapa lama, waktu Loan Kiau-kiau siuman, ia merasakan dirinya berbaring di suatu tempat tidur yang terletak di ruangan bawah tanah yang sangat luas. Sebabnya dia sekali pandang lantas tahu berada di ruang bawah tanah adalah karena sekeliling ruangan adalah dinding batu belaka, tiada sebuah jendela atau lubang hawa. Namun ruang bawah tanah ini terpajang sangat indah dan teratur dengan istimewa, tampaknya serupa kamar tidur, juga serupa ruang tamu, segala macam perabotan tersedia lengkap, minta apa pun dapat didapatkan di situ. Kiau-kiau sangat heran, perlahan ia merangkak bangun dan duduk. Pada saat itulah, bagian tengah ruang bawah tanah ini, tempat yang terpajang serupa kamar tamu itu, sebuah kursi dengan sandaran tinggi mendadak berputar. Maka terlihatlah Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui duduk tenang di kursi itu, dengan senyum misterius ia menegur.
"Kau sudah mendusin?"
Sampai sekian lama Loan Kiau-kiau melenggong, akhirnya ia tanya.
"Cara bagaimana engkau membawaku ke sini?"
Kiu-bwe-hou meraba jenggotnya dan menjawab dengan tertawa.
"Tempat ini bukankah jauh lebih baik daripada kamar tahanan itu?"
Kiau-kiau coba mengamat-amati sekitar ruangan, lalu tanya dengan sangsi.
"Apakah tempat inikah kamar tidurmu?"
"Ehm,"
Kiu-bwe-hou mengangguk.
"Ada apa engkau membawaku ke sini?"
Tanya Kiau-kiau.
"Tadi kau bilang ingin mengangkat guru padaku, makanya sekarang hendak kubicarakan syarat-syaratnya denganmu...."
"Asalkan engkau sudi menerimaku sebagai murid, syarat apa pun akan kupenuhi,"
Ujar Kiau-kiau dengan tersenyum manis.
"Bagus jika begitu,"
Kata Kiu-bwe-hou.
"Nah, boleh kita mulai bicara lagi dari awal.... Siapa namamu?"
"Hamba bernama Loan Kiau-kiau."
"Apa hubunganmu dengan Pang Bun-hiong?"
"Tidak ada hubungan apa-apa, hanya kenalan biasa saja, kami berkumpul beberapa hari, lain tidak."
"Jika begitu, jelas kau bukanlah perempuan baik-baik. Sudah pernah bersuami tidak?"
Tanya Kiu-bwe-hou.
"Tidak pernah, hanya pernah hidup bersama sekian lama saja."
"Siapa lelaki yang tinggal bersamamu itu?"
"Dia sudah mati, kukira tidak perlu mengungkatnya lagi."
"Tidak, justru aku ingin tahu siapa dia?"
"Dia... dia... namanya...."
Kiau-kiau sengaja berlagak gelagapan. Tiba-tiba Kiu-bwe-hou terkekeh-kekeh aneh, katanya.
"Sebaiknya kau jangan bohong, sebab Pang Bun-hiong sudah mengaku seluruhnya."
Kiau-kiau melenggong.
"Oo, dia sudah mengaku seluruhnya?"
"Ya,"
Kiu-bwe-hou mengangguk.
"Dia sangat bodoh, dia ngotot terus, setelah kupotong sebelah kakinya baru mau mengaku terus terang."
Muka Kiau-kiau menjadi pucat demi mendengar sebelah kaki Bun-hiong terkutung, katanya.
"Wah, jika dia sudah mengaku sebenarnya, betapa pun hamba juga tidak berani dusta lagi. Lelaki yang pernah hidup bersamaku dahulu itu, dia... dia adalah musuhmu, ialah Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam."
"Oo, memang pernah kudengar dia mempunyai simpanan wanita cantik, kiranya yang dimaksud ialah dirimu,"
Kata Kiubwe-hou dengan tertawa.
"Tapi hamba tidak suka padanya,"
Cepat Kiau-kiau menukas.
"Dia pelit dan pemberang, hidup bersama dia sungguh tidak enak."
"Hm, jangan bohong,"
Jengek Kiu-bwe-hou.
"Perangai Oh Kiam-lam pemberang memang tidak salah, orangnya pelit juga betul. Tapi setahuku, terhadap orang perempuan dia sangat royal."
"Sungguh, dia tidak begitu baik padaku,"
Ujar Kiau-kiau.
"Setiap bulan dia hanya memberi uang belanja seratus tahil perak padaku dan tidak pernah lebih sepeser pun. Sebab itulah, begitu dia mati hamba lantas tak sanggup hidup lagi."
"Selama ini kau tinggal di mana?"
Tanya Kiu-bwe-hou.
"Di Hoay-giok-san."
"Cara bagaimana pula kau berkenalan dengan Pang Bunhiong?"
"Ia bilang melihat engkau membawa lari adik perempuan Oh Kiam-lam, yaitu Oh Beng-ay, lalu dia menyiarkan berita tersebut dan dapat kudengar lalu kuminta dia membawaku ke sini...."
"Untuk apa?"
Tanya Kiu-bwe-hou.
"Hamba ingin bertemu dengan Nona Oh dan minta beberapa duit padanya, sebab harta peninggalan Oh Kiam-lam sangat mungkin jatuh padanya, sedangkan masa remajaku telah kukorbankan di tangan Oh Kiam-lam, kan berhak minta sedikit uang pensiun padanya."
"Oo, kiranya begitu...."
Kiu-bwe-hou mengangguk-angguk dengan tertawa.
"Apakah boleh dia kutemui?"
Tanya Kiau-kiau. Kiu-bwe-hou menggeleng kepala.
"Sebab apa?"
"Sebab aku tidak pernah menculik Nona Oh, sudah tujuh tahun aku mengasingkan diri di Ma-cik-san ini dan selama itu tidak pernah meninggalkan tempat ini selangkah pun."
"Apa betul?"
Kiau-kiau melengak.
"Jiwamu berada dalam cengkeramanku, apakah perlu kudusta padamu?"
Ujar Kiu-bwe-hou dengan tersenyum. Kiau-kiau tampak sangsi, ucapnya.
"Tapi Pang Bun-hiong bilang dia menyaksikan sendiri engkau mengunjungi rumah pelesiran Liu-jun-ih dan membawa lari Giok-nio, yaitu Oh Beng-ay."
"Dia sengaja membikin desas-desus demikian, tentu ada maksud tujuannya, biar sebentar kutanyai dia,"
Jengek Kiubwe-hou.
"Sialan,"
Omel Kiau-kiau.
"Dia bercerita seperti terjadi sungguhan, kiranya bohong belaka. Ayo biar kita tanyai dia sejelasnya."
"Tentu akan kutanya padanya,"
Kata Kiu-bwe-hou.
"Sekarang boleh kita bicara suatu urusan lain. Kecuali dirimu, apakah Oh Kiam-lam masih mempunyai simpanan lain?"
"Tidak ada,"
Jawab Kiau-kiau.
"Berdasarkan apa kau berani memastikan tidak ada?"
"Sebab dia memimpin 72 sarang bandit, setiap hari sibuk bukan main, mana ada waktu luang terlalu banyak untuk main perempuan?"
Kiu-bwe-hou mengangguk-angguk.
"Ya, memang betul. Jika begitu, tentu kau tahu siapa saja yang merupakan sahabat baiknya?"
"Tidak tahu,"
Jawab Kiau-kiau.
"Agaknya dia tidak mempunyai sahabat karib, sebab dia suka curiga dan tidak memercayai siapa pun."
Kiu-bwe-hou memandangnya sejenak dengan tatapan tajam, tiba-tiba ia tersenyum dan berkata.
"Apakah benar-benar kau ingin mengangkat guru padaku?"
"Benar,"
Jawab Kiau-kiau.
"Perempuan seperti hamba ini kan perlu seorang yang dapat dijadikan sandaran."
"Baik, dapat kuterima dirimu, cuma di antara kita tidak cuma guru dan murid saja, tapi juga dapat menjadi suami istri. Bagaimana pendapatmu?"
Kiau-kiau menunduk malu, ucapnya dengan tersenyum.
"Asalkan engkau sudi, hamba sih menurut saja."
Kiu-bwe-hou meraba dagu Kiau-kiau, katanya.
"Wajahmu sangat cantik, tapi entah bagaimana perawakanmu?"
"Aii, engkau ini...."
Gerutu Kiau-kiau dengan tertawa genit.
"Bila kau mau buka baju dan coba perlihatkan tubuhmu kepadaku, segera akan kuterima permintaanmu,"
Kata Kiubwe-hou.
"Ini... ini...."
Muka Kiau-kiau berubah merah.
"Justru inilah salah satu syaratku!"
"Kan waktu masih panjang, kenapa engkau terburu-buru?"
"Soalnya ingin kulihat apakah ada cacat pada tubuhmu, apabila ada cacat, terus terang aku tidak mau."
"Untuk ini tidak perlu engkau khawatir,"
Ujar Kiau-kiau.
"Bila tubuhku ada cacat, tidak nanti Oh Kiam-lam menerima diriku."
"Tapi aku harus melihatnya sendiri baru mau percaya,"
Kata Kiu-bwe-hou. Kiau-kiau ragu sebentar, mendadak ia tertawa cerah, katanya.
"Baik, jika engkau ingin lihat bolehlah kau lihat sesukamu."
Segera ia menjulurkan kaki ke bawah tempat tidur, ia berdiri dan benarlah segera ia mulai membuka ikat pinggang dan menanggalkan baju.
Hanya sekejap saja ia sudah telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.
Meski dia sudah seorang perempuan yang "mulus di luar dan bobrok di dalam", namun perawakannya memang benar indah tanpa cela, malahan ia terus bergaya dan dapat membuat orang lupa daratan.
Ia tidak malu, sebab ia memang sudah biasa telanjang bulat di depan kaum lelaki.
Sekarang demi untuk memikat hati Kiubwe-hou, ia sengaja beraksi dengan macam-macam gerakan menggiurkan.
Namun Kiu-bwe-hou ternyata tidak terpikat oleh tubuhnya yang penuh daya tarik itu, ia cuma menikmatinya dengan duduk tenang.
Selang sekian lama barulah ia berdiri, lalu mendekati tempat tidur, baju Kiau-kiau yang ditanggalkan semua itu diambilnya.
Mata Kiau-kiau terbelalak lebar, tanyanya dengan melenggong.
"Untuk apa engkau mengambil pakaianku?"
"Nona cantik seperti dirimu ini sungguh tidak perlu pakai baju,"
Ucap Kiu-bwe-hou dengan tertawa.
"Harus kau pertunjukkan di mana bagian keunggulanmu...."
Sembari bicara, baju Kiau-kiau terus dirobeknya sepotong demi sepotong. Keruan Kiau-kiau terkejut, serunya.
"Hei, hamba tidak membawa baju serep, jika bajuku kau robek semuanya, lalu hamba pakai apa?"
"Kau tidak perlu pakai apa-apa,"
Jawab Kiu-bwe-hou sambil melemparkan potongan baju terakhir yang dirobeknya.
"Kan di sini tak ada orang lain lagi."
Ia terus melangkah ke depan pintu satu-satunya di ruangan bawah tanah ini, lalu menoleh dan menyambung lagi.
"Di dalam kamar ini, tersedia ransum yang cukup kau gunakan selama dua bulan, maka sementara ini boleh kau tinggal saja di kamar ini."
Habis berkata ia terus melangkah keluar.
"Blang", pintu lantas anjlok dari atas begitu dia berada di luar ruangan. ***** Di lain pihak, ketika Pang Bun-hiong siuman, ia merasa dirinya berbaring di tepi sebuah danau. Semula ia mengira dirinya sedang mimpi, ketika angin malam mengusap mukanya dan terasa agak dingin barulah ia tahu bukan lagi mimpi. Cepat ia bangun duduk dan terkesiap.
"He, mengapa aku berada di sini?"
Teringat olehnya semula dirinya terkurung di ruangan bawah tanah, kemudian Kiu-bwe-hou melemparkan sesuatu benda dan segera dirinya tak sadarkan diri.
Mengapa sekarang bisa berbaring di tepi danau?
Jangan-jangan ada orang menolongnya keluar?
Tapi di manakah tuan penolong itu?
Ia coba berpaling dan memandang sekitarnya, suasana kelihatan sunyi senyap tiada terlihat bayangan seorang pun.
Ia terheran-heran, gumamnya.
"Sesungguhnya apakah yang terjadi?"
Ia menengadah, memandang langit, bulan sudah tidak kelihatan, rasanya tidak lama lagi fajar akan tiba.
Ia berdiri dan memandang lagi ke depan, terlihat tanah datar membentang ke depan, tidak terlihat lagi bayangan pegunungan, maka tahulah dia ada orang menolongnya meninggalkan Ma-cik-san serta ditinggalkan di tepi danau.
Ia garuk-garuk kepala, lalu bergumam pula.
"Sungguh lucu, ternyata ada orang menolongku keluar, tapi mengapa dia tidak tinggal di sini untuk bertemu denganku?"
Tiba-tiba terpikir olehnya mungkin "tuan penolong"
Itu meninggalkan sesuatu tulisan, maka ia coba mencari sekitar tempat dia berbaring tadi.
Segera pula ia lantas merogoh saku sendiri, benarlah ditemukan secarik kertas, segera ia membentang kertas itu dan dibaca, ternyata ada tulisan singkat di situ, bunyinya.
"Mengingat kau telah mengantarkan seorang perempuan cantik kepadaku, biarlah sekali ini kuampuni jiwamu. Tapi kalau berani menginjak Ma-cik-san lagi, pasti akan kucabut nyawamu."
Kiranya "tuan penolong"
Ini bukan lain dari Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui.
Hal ini sangat di luar dugaan Bun-hiong, sama sekali tak terpikir olehnya Kongsun Siau-hui dapat melepaskan dia begitu saja.
Ia menggeleng kepala dan menyengir, gumamnya.
"Jelas dia tahu kepergianku ke Ma-cik-san bukan untuk mencari Kui-ih To Thian-lau apa segala, mengapa dia lepaskan diriku begitu saja tanpa tanya sesuatu keterangan? Ah, ya, pasti Loan Kiaukiau telah menceritakan semua kepadanya. Tapi sengaja dia tidak menaruh perhatian terhadap cara Tui-beng-poan-koan To Po-sit mengalihkan bencana kepada orang lain, malahan mau melepaskan diriku, jangan-jangan...."
Ia seperti memahami sesuatu, tiba-tiba ia merasa ngeri, pikirnya.
"Wah, celaka! Tentu dia bersembunyi di sekitar sini dan siap membuntuti diriku. Sekali ini rasanya bisa repot."
Semula ia mengira yang hendak dipancing dan ditangkap To Po-sit adalah Coa-kat-bijin Loan Kiau-kiau, sebab itulah ia membawa perempuan itu ke Ma-cik-san, tapi tak terduga olehnya To Po-sit tidak memasang sesuatu perangkap di Macik-san, sebaliknya malah bertemu dengan Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui yang tulen, seyogianya sekarang juga dia mesti pulang ke Bok-kan-san dan melaporkan pengalamannya kepada To Po-sit.
Tapi bila diam-diam Kiu-bwe-hou membuntutinya, jelas dirinya sukar lagi pulang ke tempat To Po-sit.
Sampai sekian lama ia termenung, ia ambil keputusan paling baik pergi dulu dari Thay-oh.
Segera ia jemput pedangnya dan melangkah pergi.
Sepanjang jalan ia tidak berani menoleh, sebab ia pikir hanya dengan pura-pura tidak tahu saja baru dapat mencari kesempatan untuk lolos dari penguntitan Kiu-bwe-hou.
Beberapa li ia menuju ke arah barat, hari sudah mulai terang, Kota Gihin sudah kelihatan dari kejauhan.
Ia percepat langkahnya, tidak lama kemudian sudah sampai di depan gerbang kota, ia mencampurkan diri di tengah orang banyak yang sibuk menuju ke pasar, setiba di dalam kota dengan cepat ia menyelinap masuk ke sebuah tikungan jalan, lalu mencari tempat sembunyi untuk mengintip.
Tapi sekian lamanya ia menunggu tetap tidak terlihat Kiu-bwehou ikut masuk kota, yang berbondong masuk kota kebanyakan orang udik yang mau ke pasar.
Aneh, mengapa Kiu-bwe-hou tidak muncul?
Jangan-jangan dugaan sendiri salah dan sama sekali orang tidak melakukan penguntitan padanya.
Padahal, bilamana Kiu-bwe-hou tahu tipu muslihat To Po-sit yang "lempar batu sembunyi tangan"
Itu pasti dia tidak mau menyudahi urusan dengan begini saja melainkan akan mencari To Po-sit untuk ditanyai.
Dan untuk bisa bertemu dengan To Po-sit harus menguntit jejaknya....
Begitulah Bun-hiong terus berpikir sekian lamanya, namun Kiu-bwe-hou tetap belum tertampak bayangannya.
Hati Bun-hiong penuh tanda tanya, tapi juga merasa tenteram.
Bahwa Kiu-bwe-hou tidak menguntitnya jelas kejadian yang baik baginya.
Ia mengangkat pundak, lalu keluar dari tempat sembunyinya dan meneruskan ke tengah kota.
Ia mendapatkan penjual sarapan pagi di tepi jalan, ia minum semangkuk bunga tahu panas dan makan sepotong siopia, lalu mengeluyur keluar kota melalui pintu selatan, setiba di luar kota ia terus berlari dengan kencang.
Sekali ini sembari lari ia pun berulang menoleh ke belakang, namun bayangan Kiu-bwe-hou tetap tidak kelihatan.
Maka dapatlah ia memastikan Kiu-bwe-hou memang tidak membuntutinya.
Dan mengapa Kiu-bwe-hou tidak mengikuti jejaknya?
Hanya ada satu jawaban, yaitu dia terpikat oleh kecantikan Loan Kiau-kiau.
Terhadap keselamatan Loan Kiau-kiau sama sekali tidak menjadi perhatian Bun-hiong, sebab kalau dalam suratnya Kiubwe-hou sudah menyatakan "mengingat kau telah mengantarkan seorang perempuan cantik kepadaku", itu menandakan Kiau-kiau takkan mengalami siksa derita, sebab itulah tidak terpikir olehnya untuk kembali ke Ma-cik-san untuk menolong Kiau-kiau.
Begitulah ia terus berlari cepat ke depan, setiba di setiap tempat yang strategis ia lantas berhenti dan sembunyi di tepi jalan untuk mengintai, setelah nyata-nyata tidak ada orang menguntit barulah ia melanjutkan perjalanan.
Petang hari itu ia sampai di kaki gunung Bok-kan-san, kembali ia sembunyi di balik hutan untuk mengintai sekian lamanya, setelah jelas tidak ada orang membuntutinya barulah beranjak naik ke atas gunung.
Dengan tertawa ia bergumam.
"Sekian hari kutempuh perjalanan 200 li dan selama ini tidak tampak bayangannya, bilamana dia masih juga membuntuti aku, maka dia pasti bukan manusia melainkan setan."
Meski begitu, ia tetap tidak mengendurkan kewaspadaannya, ia masih berulang menoleh ke belakang untuk mengamati setiap gerak-gerak yang terjadi.
Setelah melintasi beberapa puncak, hari sudah gelap.
Ia sangat hafal akan keadaan pegunungan ini, maka tidak mengalami sesuatu kesulitan.
Akhirnya ia sampai di kaki puncak selatan Bok-kan-san, tiba di depan rumah bambu tempat tirakat Tui-beng-poan-koan To Po-sit.
Di dalam rumah ada cahaya lampu, agaknya To Po-sit belum tidur.
Ia mendorong pintu pagar bambu sambil berseru lantang.
"Tolocianpwe, aku sudah pulang!"
Ia khawatir To Po-sit menyangkanya sebagai musuh dan menyerangnya secara mendadak, maka ia berteriak memberitahukan siapa dirinya. Terdengar suara To Po-sit bertanya di dalam.
"Apakah Pang Bun-hiong di situ?"
"Betul,"
Jawab Bun-hiong.
"Masuk!"
Seru To Po-sit.
Bun-hiong menuju ke ruang tamu dan mendorong pintu.
Cahaya lampu sangat terang di dalam ruangan.
Begitu Bunhiong melangkah masuk, seketika air mukanya berubah hebat, serupa hiat-to mendadak tertutuk dan berdiri melongo kaku.
"Mengapa baru sekarang kau datang?"
Tanya To Po-sit dengan mengulum senyum.
Tidak, dia bukan Tui-beng-poan-koan To Po-sit melainkan Kiubwe-hou Kongsun Siau-hui adanya.
Dengan aman tenteram ia duduk di atas kursi bambu, serupa duduk di rumah sendiri, sikapnya tenang dan sangat wajar.
Muka Bun-hiong berubah pucat dan mata terbelalak lebar, sungguh seperti melihat setan saja, sekujur badan merinding.
Setelah tercengang sekian lama barulah ia berucap.
"Hah, engkau ternyata benar membuntuti aku."
Karena melihat pihak lawan duduk tenang di tengah ruangan, ia yakin To Po-sit pasti sudah dicelakai, sebab itulah ia sangat berduka.
Ternyata Kiu-bwe-hou lantas menggeleng kepala, jawabnya dengan tersenyum.
"Tidak, aku tidak pernah menguntit dirimu, sudah lebih satu jam kupulang ke sini."
Pang Bun-hiong tambah kejut dan bingung, tanyanya.
"Dari mana kau tahu Tui-beng-poan-koan tinggal di sini?"
Kiu-bwe-hou tertawa, katanya.
"Sejak mula kutahu dia tinggal di sini."
Hati Bun-hiong terasa pedih seperti disayat-sayat, ucapnya dengan gusar.
"Jadi sudah kau bunuh dia?"
Kiu-bwe-hou mengangguk.
"Ehm, kedua kakinya sudah hampir lumpuh, tapi masih suka cari perkara...."
"Sret", serentak Bun-hiong melolos pedangnya dan berteriak dengan bengis.
"Dan di mana Nona Oh?!"
"Hamba berada di sini!"
Suara nyaring merdu menanggapi pertanyaannya.
Tertampaklah Oh Beng-ay alias Giok-nio melangkah keluar dengan membawa satu nampan bakpao yang masih mengepulkan asap.
Ia tersenyum senang, tampaknya seperti sudah lengket dengan Kiu-bwe-hou.
Keruan Bun-hiong tidak habis mengerti, matanya terbelalak terlebih lebar serupa mata ikan mas yang akan melompat keluar, tanyanya dengan tercengang.
"Ken... kenapa engkau jadi begini?"
"Memangnya ada yang tidak benar?"
Jawab Oh Beng-ay sambil tertawa mengikik dan menaruh bakpao di atas meja. Bun-hiong menuding Kiu-bwe-hou dengan pedangnya dan berteriak.
"Apakah kau tahu siapa dia?!"
"Tahu,"
Jawab Beng-ay dengan mengangguk dan tertawa.
"Jika tahu siapa dia, kenapa kau sebaik ini kepadanya?"
Teriak Bun-hiong dengan berjingkrak.
"Eh, kalau bicara hendaknya yang sopan,"
Ujar Beng-ay.
"Hamba cuma membuatkan beberapa biji bakpao untuk dia, kenapa kau bilang aku baik padanya?"
Bun-hiong menarik muka, jengeknya.
"Hm, kiranya kalau memang sudah kenal, pantas sudah kurasakan ada sesuatu yang tidak beres di antara kalian dan dugaanku ternyata tidak salah. Biarlah kubinasakanmu lebih dulu dan urusan belakang!"
Sekali pedang bergerak segera ia hendak menyerang. Cepat Beng-ay sembunyi di belakang Kiu-bwe-hou, jeritnya takut.
"Hei, jangan sembrono, kan engkau sendiri yang memperkenalkan dia kepadaku?!"
Bun-hiong melenggong dan menahan serangannya, tanyanya dengan bingung.
"Apa katamu?"
"Coba kau pandang yang cermat, beliau sendiri kan Tui-bengpoan-koan To-locianpwe,"
Kata Beng-ay. Kembali Bun-hiong melenggong.
"Apa betul?"
Segera Kiu-bwe-hou menukas dengan tertawa.
"Jika kau sudah pangling padaku, sedikitnya kan dapat kau bedakan suaraku, sungguh goblok!"
Bun-hiong terkesima, dengan kebingungan ia mengeluh.
"O, Tuhanku, kiranya engkau sendirilah To-locianpwe."
"Kiu-bwe-hou"
Lantas menarik rambut sendiri yang panjang itu, kiranya dia pakai rambut palsu, lalu menyingkap kedok mukanya yang berupa sehelai kulit tipis sehingga tertampaklah wajah aslinya sebagai To Po-sit, katanya dengan tertawa.
"Ai, tak kusangka kau sedemikian bodoh."
Bun-hiong menghela napas, ucapnya dengan kikuk.
"Ya, seharusnya dapat kuduga engkau bisa menyamar sebagai Kiubwe-hou, cuma...."
"Cuma apa?"
Jengek To Po-sit dengan menarik muka. Mestinya Bun-hiong hendak melampiaskan rasa dongkolnya, tapi melihat orang tua itu menarik muka, cepat ia tertawa dan berkata.
"O, tidak, tidak apa-apa."
Dia serupa Liong It-hiong, sedikit banyak mempunyai semacam rasa segan dan hormat terhadap Tui-beng-poankoan ini, apalagi berhadapan, sama sekali ia tidak berani bersikap keras.
To Po-sit mendengus lagi.
"Hm, tentu kau keki karena merasa telah kupermainkan dirimu, begitu bukan?"
"Ah, tidak, mana kuberani,"
Jawab Bun-hiong dengan menyengir.
"Memangnya kau berani?"
Jengek Tui-beng-poan-koan dengan mendelik.
"Hm, ini sungguh sukar dimengerti. Kusuruh kau sebarkan desas-desus, tapi sengaja kau bawa seorang perempuan yang tidak ada sangkut paut ke Ma-cik-san, sungguh ngaco!"
"Engkau bilang seorang perempuan tidak ada sangkut paut?"
Tanya Bun-hiong dengan melenggong.
"Ya,"
Jawab To Po-sit. Bun-hiong memandang Oh Beng-ay sekejap, lalu berpaling lagi ke arah Tui-beng-poan-koan To Po-sit dan berkata.
"Namun dia adalah...."
"Tutup mulut!"
Bentak To Po-sit mendadak. Seketika Bun-hiong urung bicara, ia pun merasa tidak boleh menyebut urusan Oh Kiam-lam di depan Oh Beng-ay. To Po-sit lantas berkata kepada Beng-ay.
"Sudahlah, di sini tidak ada urusanmu lagi, bolehlah kau kembali ke kamarmu."
Beng-ay seperti sangat jeri kepada orang tua itu, sedikit pun tidak berani membangkang, segera ia mengiakan dan memberi hormat, lalu mengundurkan diri.
To Po-sit mengambil sebiji bakpao dan mulai makan, katanya.
"Ayo, makan dulu baru bicara lagi."
Sehari suntuk menempuh perjalanan, perut Pang Bun-hiong memang sudah lapar, maka tanpa sungkan ia lantas duduk dan ikut makan, satu per satu bakpao dilangsir ke dalam mulut.
Watak Tui-beng-poan-koan To Po-sit sungguh sukar diraba, sebentar marah, lain saat tertawa.
Mendadak sekarang ia tertawa senang dan berucap.
"Tak nyana dia mahir membuat bakpao selezat ini."
Bun-hiong mengiakan.
"Tinggal di sana sungguh sangat menyusahkan, ingin makan apa pun harus kukerjakan sendiri,"
Keluh To Po-sit.
"Mengapa tidak kau bawa dia ke sana?"
Tanya Bun-hiong.
"Mana boleh,"
Jawab To Po-sit sambil menggeleng.
"Eh, cara bagaimana engkau membereskan Loan Kiau-kiau?"
Tanya Bun-hiong dengan suara tertahan. Tui-beng-poan-koan To Po-sit mencomot lagi sepotong bakpao, digerogotinya separuh ke dalam mulut, sambil mengunyah ia menjawab.
"Telah kukurung dia di suatu ruangan bawah tanah...."
"Siapa yang menjaga dia?"
"Tidak ada."
"Wah, kan dia bisa mati kelaparan?"
Ujar Bun-hiong.
"Tidak, di ruang bawah tanah itu tersedia perbekalan yang cukup dimakan olehnya selama dua bulan,"
Tutur To Po-sit.
"Jika dia orang perempuan yang tiada sangkut paut dengan urusan kita, mengapa engkau tidak mengusirnya saja?"
"Sebenarnya dia juga bukan sama sekali tidak ada sangkut paut,"
Ujar Tui-beng-poan-koan.
"Dengan mengurungnya di sana, sedikit banyak ada juga faedahnya bagiku."
"Apakah ruang di bawah tanah itu sangat kuat?"
Tanya Bunhiong.
"Ya, tidak mungkin dia dapat lolos, sebab tiada sepotong baju pun yang dipakainya,"
Tutur Tui-beng-poan-koan To Po-sit.
"Hei, kenapa bisa jadi begitu?"
Bun-hiong tercengang.
"Aku telah berbuat sesuatu yang kurang bermoral,"
Kata To Po-sit dengan tersenyum.
"Sebab telah kupaksa dia telanjang bulat, lalu kurobek pakaiannya."
"Hah, memang perbuatan tidak pantas,"
Kata Bun-hiong dengan tertawa geli. Tiba-tiba Tui-beng-poan-koan berdiri, katanya.
"Cahaya bulan cukup terang di luar, marilah kita jalan-jalan keluar."
Lalu ia mendahului beranjak keluar. Lebih dulu Bun-hiong comot dua potong bakpao baru menyusul keluar, sembari makan ia tanya.
"Apakah Liong Ithiong belum pulang?"
"Belum, kukira selekasnya dia akan pulang,"
Jawab To Po-sit. Keduanya berjalan keluar rumah bambu itu menyusuri jalan setapak pegunungan dengan santai, dengan tertawa To Po-sit berkata pula.
"Kau sangka Loan Kiau-kiau itu adalah orang yang hendak kutangkap, begitu bukan?"
"Betul,"
Jawab Bun-hiong.
"Kupikir engkau menggunakan Nona Oh sebagai umpan, maka dapat diduga orang yang hendak kau tangkap pasti sanak famili keluarga Oh. Sedang Loan Kiau-kiau jelas adalah perempuan yang hidup bersama Oh Kiam-lam, maka kusangka dia yang kau incar."
"Dia bilang padamu hendak menolong Nona Oh?"
Tanya To Po-sit.
"Ya, dia mengaku mendiang Oh Kiam-lam cukup baik padanya, maka ia ingin menyelamatkan nyawa Nona Oh sekadar membalas kebaikan Oh Kiam-lam."
"Hm, dan kau percaya kepada ocehannya?"
Jengek To Po-sit.
"Aku memang rada sangsi, tapi selain alasan itu memang sukar dimengerti apa alasan yang lain?"
Tui-beng-poan-koan To Po-sit menengadah, memandang rembulan yang menghiasi langit, katanya kemudian.
"Biar kukatakan padamu, alasan atau tujuannya adalah harta."
Bun-hiong merasa tidak paham, tanyanya.
"Maksudnya menolong Nona Oh apakah akan mendatangkan keuntungan baginya?"
"Dia memang mengira begitu,"
Tutur To Po-sit.
"Sebab Oh Kiam-lam memang meninggalkan suatu partai harta karun yang besar, mungkin dia tidak kebagian, maka bermaksud mengorek keterangan dari Nona Oh tentang ke mana perginya harta tinggalan Oh Kiam-lam itu."
"Apakah Nona Oh mengetahui di mana beradanya harta peninggalan kakaknya?"
Tanya Bun-hiong.
"Jika ia tahu disembunyikan di mana harta peninggalan sang kakak, tentu dia tidak terjerumus menjadi pelacur,"
Ucap To Po-sit. Bun-hiong mengangguk.
"Ya, benar. Ada suatu jalan pikiranku, yaitu harta peninggalan Oh Kiam-lam sangat mungkin disembunyikan di dalam kotak hitam itu, makanya banyak orang berusaha merampas kotak itu."
"Salah,"
Kata Tui-beng-poan-koan To Po-sit dengan tertawa.
"Aku berani bertaruh denganmu, isi kotak hitam itu mutlak pasti bukan harta peninggalan Oh Kiam-lam."
"Habis apa isi kotak itu?"
"Entah, yang jelas kutahu isi kotak itu pasti juga bukan peta pusaka segala."
"Jika begitu, jadi kotak itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Oh Kiam-lam?"
"Juga tidak betul, kotak itu justru sangat erat hubungannya dengan Oh Kiam-lam."
"Hubungan erat bagaimana?"
Tanya Bun-hiong dengan bingung. Tui-beng-poan-koan hanya menggeleng saja tanpa menjawab.
"Sesungguhnya siapa orang yang hendak kau tangkap itu?"
Tanya Bun-hiong pula.
"Sekarang tidak dapat kukatakan padamu, cuma tidak lebih dari setengah tahun tentu akan kau ketahui,"
Tutur To Po-sit perlahan.
"Apakah Nona Oh tahu engkau memperalat dia untuk memancing dan menangkap seseorang?"
Tanya Bun-hiong.
"Dia tidak tahu, maka selanjutnya juga jangan kau sebutsebut lagi tentang kakaknya,"
Pesan To Po-sit.
"Apakah masih perlu kupergi lagi ke selatan untuk menyebarkan desas-desus?"
"Tidak perlu lagi. Sekarang akan kuberi suatu tugas lain kepadamu. Esok boleh kau pergi ke kota, pesanlah sebuah kotak hitam pada salah sebuah bengkel, bentuknya harus serupa dengan kotak hitam aslinya. Apakah tugas ini dapat kau laksanakan?"
"Kukira dapat,"
Jawab Bun-hiong.
"Untuk apakah engkau membuat sebuah kotak tiruan begitu?"
To Po-sit tersenyum, katanya.
"Jika Liong It-hiong berhasil merampas kembali kotak hitam itu segera kita dapat menukar yang asli itu dengan kotak tiruan yang kita bikin itu. Umpama Liong It-hiong pulang dengan bertangan kosong, kalian juga dapat membawa kotak palsu itu ke Cap-pek-pan-nia."
"Aha, akal bagus!"
Seru Bun-hiong dengan tertawa. To Po-sit menyambung lagi.
"Kuharap kalian dapat membereskan gembong iblis di Cap-pek-pan-nia yang misterius itu. Sudah tentu, sebaiknya kalau kalian dapat menangkapnya hidup-hidup, sebab kuingin lihat orang macam apakah dia itu?"
"Baik, aku dan Liong It-hiong pasti akan berbuat sepenuh tenaga,"
Jawab Bun-hiong dengan mengangguk. Tui-beng-poan-koan To Po-sit berhenti melangkah, katanya dengan tertawa.
"Kau kira perangkap yang kuatur di Ma-ciksan itu bagus atau tidak?"
"Bagus sekali,"
Jawab Bun-hiong tertawa. To Po-sit memutar balik ke arah rumah bambu, ucapnya pula dengan tersenyum senang.
"Sebabnya tempo hari aku tidak memperlihatkan diriku untuk menemuimu, maksudku ingin menguji daya guna perangkap itu. Akhirnya terbukti memang sangat efektif."
"Yang paling bagus adalah jerangkong di tempat tidur itu,"
Ujar Bun-hiong.
"Tanpa jerangkong itu tentu takkan berhasil menawan orang yang terpancing ke sana."
Ia pun ikut putar balik, tanyanya kemudian sambil memandang kedua kaki orang tua itu.
"Sekarang kedua kakimu sudah kuat untuk berjalan?"
"Sebenarnya kakiku tidak ada penyakit,"
Jawab To Po-sit.
"Kukhawatir Liong It-hiong tidak mau membantuku, maka sengaja kutipu dia."
Diam-diam Bun-hiong mendongkol akan kelicikan orang, seharusnya tua bangka inilah yang pantas berjuluk "Kiu-bwehou"
Dan bukan Tui-beng-poan-koan. Teringat kepada Kiu-bwe-hou, ia coba tanya.
"Engkau menyaru sebagai Kiu-bwe-hou, apakah engkau tidak khawatir Kiu-bwe-hou yang tulen muncul mendadak?"
"Tidak takut,"
Jawab To Po-sit.
"Sebab dia takkan muncul untuk selamanya."
"Apakah Kiu-bwe-hou sudah mati?"
"Ya."
"Cara bagaimana matinya?"
Tanya Bun-hiong.
"Dibinasakan orang."
"Orang yang mampu membunuh Kiu-bwe-hou pasti seorang tokoh yang mahasakti."
"Terima kasih atas pujianmu,"
Ujar To Po-sit dengan tertawa. Bun-hiong melengak.
"Jadi engkau yang membunuh dia?"
To Po-sit mengangguk dan berkata dengan tak acuh.
"Kejadian itu sudah dua tahun yang lalu. Dia kan seorang iblis mahajahat, sudah lama ada maksudku hendak membereskan dia. Sampai dua tahun yang lalu baru kutemukan dia."
"Tidak ada orang lain yang tahu kejadian itu?"
Tanya Bunhiong.
"Ehm,"
To Po-sit mengangguk.
"Jerangkongnya sudah kau lihat, yaitu jerangkong yang berada di tempat tidur itu."
"Apakah dia memang bertempat tinggal di sana?"
Tanya Bunhiong.
"Ya, harimau itu adalah piaraannya, kemudian dapat ditundukkan."
Bicara sampai di sini mereka sudah pulang sampai di luar rumah bambu itu.
"Bilakah engkau akan kembali lagi ke sana?"
Tanya Bun-hiong pula.
"Tunggu nanti kalau Liong It-hiong sudah pulang baru kembali ke sana."
"Dalam pada itu, kalau orang yang hendak kau tangkap itu sudah pergi ke sana, lalu bagaimana?"
To Po-sit tersenyum.
"Jangan khawatir, meski aku tidak berada di sana, tapi perangkap itu tetap akan bekerja sepenuhnya. Malahan sudah kutaruh bahan makanan di dalam kamar tahanan itu, bila dia kejeblos ke ruangan itu, dalam sepuluh hari saja dia takkan mati kelaparan."
Sembari bicara ia sudah masuk ke dalam rumah. Bun-hiong ikut masuk sambil bertanya.
"Malam ini kutidur di mana?"
"Tidur saja di kamar semula,"
Kata To Po-sit.
"Sekarang bolehlah kau pergi mengaso, urusan lain boleh kita bicarakan esok."
Maka Bun-hiong lantas menuju ke ruang belakang, ia cuci badan dulu, lalu masuk kamarnya. Tapi baru saja berbaring, segera terdengar suara Oh Beng-ay berseru tertahan di luar kamar.
"Pang-kongcu, apakah engkau sudah tidur?"
Bun-hiong mengenakan baju dan turun dari tempat tidur untuk membuka pintu kamar, tanyanya dengan tertawa.
"Engkau belum tidur?"
Sikap Beng-ay kelihatan malu-malu, jawabnya.
"Hamba tidak dapat pulas, ingin kubicara denganmu...."
"Baiklah, masuk,"
Kata Bun-hiong. Perlahan Beng-ay masuk ke kamar, sekalian ia membentang daun pintu yang setengah terbuka, lalu ia mengambil kursi dan duduk di dekat pintu, katanya dengan tersenyum malu.
"Hamba ingin tanya sedikit urusan padamu...."
"Bicara saja,"
Kata Bun-hiong. Si nona menatapnya dengan tajam, katanya.
"Sesungguhnya untuk urusan apakah kalian menipuku ke sini?"
"Pertanyaanmu ini harus dijawab oleh Liong It-hiong saja,"
Ucap Bun-hiong dengan tertawa.
"Dia tidak berada di sini, maka hamba tanya saja padamu,"
Kata Beng-ay. Bun-hiong berdehem perlahan, katanya.
"Tidak pantas kau curigai ketulusannya, dia memang berniat memperistri dirimu, sebab itulah ia membawamu ke sini."
"Tapi ada semacam perasaanku yang cukup keras, kukira kalian seperti sedang melakukan sesuatu urusan secara diamdiam,"
Kata Beng-ay.
"Apa pun yang sedang kami lakukan pasti tidak merugikanmu, untuk ini kau tidak perlu khawatir,"
Kata Bun-hiong.
"Bolehkah kutahu apa yang sedang kalian lakukan?"
Tanya Beng-ay.
"Untuk ini... hanya dapat kuceritakan begini, To-locianpwe adalah seorang detektif sangat ternama, lantaran lanjut usia beliau telah pensiun, namun, beliau tetap tidak melupakan tugasnya yang harus menumpas kejahatan untuk keamanan umum, sebab itulah beliau menyuruh Liong It-hiong dan diriku membantunya menangkap seorang gembong iblis dunia hitam."
"Siapakah gembong iblis itu?"
Tanya Beng-ay. Bun-hiong menggeleng.
"Entah, beliau tidak mau menjelaskan."
"Di ruangan tadi engkau bilang dia menyamar sebagai Kiubwe-hou, apakah Kiu-bwe-hou...."
"Ada apa?"
Tanya Bun-hiong.
"Sesungguhnya siapakah dia?"
Tanya Beng-ay. Bun-hiong tahu orang sengaja berlagak pilon, tapi ia pun tidak mau membongkarnya, katanya dengan tertawa.
"Kiu-bwe-hou itu seorang busuk, namun dia sudah mati."
"Oo, Kiu-bwe-hou sudah mati?"
Beng-ay tampak tergerak hatinya.
"Betul, dia dibunuh oleh To-locianpwe, sebab itulah beliau berani menyaru sebagai Kiu-bwe-hou tanpa khawatir akan kepergok yang asli."
"Untuk apa dia menyaru sebagai Kiu-bwe-hou?"
Tanya Beng-ay pula.
"Mungkin ada sebabnya, tapi aku tidak tahu."
"Dia tidak memberitahukan padamu?"
"Tidak,"
Kata Bun-hiong.
"Perangainya sangat aneh, berbagai urusan tidak dijelaskannya kepadaku."
"Bukankah pernah kau bawa seorang perempuan menemuinya di suatu tempat?"
"Betul...."
"Siapa perempuan itu?"
"Seorang perempuan busuk."
"Siapa namanya?"
"Dia she Be dan bernama Hiau-bwe,"
Bun-hiong berdusta.
"Dia seorang perempuan bejat moral, suka memikat lelaki dan berbuat cabul."
"Untuk apa kau bawa perempuan begitu untuk menemui dia?"
Tanya Beng-ay.
"Sebab kukira dia mempunyai hubungan dengan gembong iblis yang diincar To-locianpwe itu, maka...."
"Jika engkau sendiri tidak tahu siapa gembong iblis itu, dari mana kau tahu perempuan itu ada hubungannya dengan iblis tersebut?"
Potong Beng-ay. Seketika Bun-hiong tak dapat menjawab, cepat ia menutupi rasa kikuknya dengan tergelak.
"Haha, tentang ini... boleh coba kau terka."
Beng-ay tersenyum hambar, katanya.
"Hamba tidak sanggup menerkanya, silakan kau jelaskan saja."
Otak Bun-hiong bekerja cepat dan mendapat alasan, katanya dengan tertawa.
"Begini kisahnya. Beberapa hari yang lalu kebetulan aku bertemu dengan perempuan itu, berulang ia mencari keterangan padaku tentang tempat kediaman Tolocianpwe, kukira dia ada urusan hendak menemui beliau maka kubawa dia ke sana."
"Kau bawa dia ke mana?"
Tanya Beng-ay pula.
"Ke suatu tempat,"
Tutur Bun-hiong.
"Tempat mana?"
Desak si nona.
"Ai, hendaknya jangan kau korek-korek keteranganku lebih dalam. Kau kan seorang gadis, ada sementara urusan lebih baik tidak perlu tahu."
"Tapi urusan ini rasanya kan tidak perlu dirahasiakan terhadapku bukan?"
Bun-hiong angkat pundak, katanya.
"Sudah larut malam, silakan kembali kamarmu dan tidur saja."
"Jadi tetap takkan kau katakan padaku?"
Tanya Beng-ay.
"Urusan yang dapat kukatakan padamu dengan sendirinya akan kuberi tahu tanpa kau minta,"
Ujar Bun-hiong. Beng-ay seperti mau omong sesuatu, tapi urung, lalu berkata.
"Baiklah, sampai bertemu besok."
Habis memberi salam ia lantas mengundurkan diri.
Esok paginya, Bun-hiong berdiam di kamarnya dan melukis sebuah gambar konsep kotak hitam, dengan contoh gambar itu ia pamit kepada To Po-sit terus turun gunung.
Kira-kira 20 li jauhnya, sampailah dia di Kota Hou-hong, ia mencari sebuah bengkel paling besar dan masuk ke situ....
Tiga hari kemudian ia datang lagi ke bengkel itu, kotak hitam yang dipesannya sudah jadi, meski tidak seluruhnya mirip kotak hitam yang asli, namun sudah cukup untuk mengelabui pandangan orang awam.
Ia bungkus kotak itu dengan sepotong kain, dibayarnya sepuluh tahil perak, lalu meninggalkan kota.
Baru sampai di kaki gunung Bok-kan-san sebelah selatan, tibatiba dilihatnya sesosok bayangan berlari datang dari arah timur, dari jauh bayangan orang itu serupa Liong It-hiong adanya, maka ia coba berhenti dan memandangnya lebih cermat.
Sesudah orang agak dekat, ternyata benar Liong It-hiong adanya, tentu saja Bun-hiong kegirangan, segera ia berteriak.
"Hai, Liong It-hiong, kau sudah pulang?!"
Tangan kiri Liong It-hiong mengempit sebuah bungkusan, agaknya sudah berlari setengah harian sehingga sekujur badan mandi keringat, melihat yang menyapanya ialah Pang Bun-hiong, ia pun sangat girang, serunya.
"Aha, kebetulan sekali kedatangan Pang-heng, lekas bantu menahan mereka sementara!"
Bun-hiong melengak oleh keterangan itu, ia menegas.
"Kau dikejar orang?"
"Coba kau lihat belakang sana!"
Kata It-hiong.
Waktu Bun-hiong memandang jauh ke sana, benar juga dua orang sedang menguber tiba dengan cepat, dilihat dari gerak tubuh dan kecepatan mereka, jelas tergolong jago silat kelas tinggi, ia menjadi khawatir dan bertanya.
"Siapakah mereka?"
"Nomor enam dan nomor tujuh dari Lok-lim-jit-coat, yaitu Tokgan-bu-siang Ong Sian-ho dan Coh-jing-bin Sing It-hong."
"Sebab apa mereka mengejarmu?"
Tanya Bun-hiong.
"Apa lagi, tentu saja ingin merampas kotak hitam ini,"
Kata Ithiong sambil menuding bungkusan yang dikempitnya.
Waktu Bun-hiong menoleh, terlihat Tok-gan-bu-siang Ong Sian-ho, Si Setan Jangkung Mata Satu, dan Coh-jing-bin Sing It-hong, Si Tembong Hijau, sudah mengejar tiba.
Mendadak ia mendapat akal, cepat ia sodorkan kotak hitam palsu yang dibawanya itu kepada It-hiong dan berkata.
"Ini kotak palsu, lekas ambil dan berikan kotak aslinya kepadaku."
"Dari mana kau dapatkan kotak hitam palsu ini?"
Tanya It hiong tercengang.
"Biar kuberi tahukan nanti saja,"
Kata Bun-hiong gelisah. Segera ia "rebut"
Bungkusan yang dikempit Liong It-hiong, berbareng ia tukar dengan bungkusan yang dibawanya, lalu melompat ke sana dan menyelinap ke dalam hutan di kaki gunung.
Selagi It-hiong masih merasa bingung, sementara itu Tok-ganbu-siang dan Coh-jing-bin sudah mengejar tiba.
Tok-gan-bu-siang Ong Sian-ho, usianya antara 38-39 tahun, sesuai julukannya, perawakannya tinggi kurus, matanya buta sebelah kiri dan ditutup dengan sepotong kain, ia pakai senjata pedang, sekilas pandang memang mirip setan jangkungan.
Adapun usia Coh-jing-bin Sing It-hong lebih muda dua-tiga tahun daripada Ong Sian-ho, tampangnya sangat aneh dan lucu, muka sebelah kiri hampir seluruhnya hijau biru serupa orang liar yang muncul dari pegunungan.
Begitu mereka lari sampai di depan Liong It-hiong, serentak mereka berhenti dan mengambil posisi mengepung.
Mata si setan jangkung yang tinggal satu itu menyipit, lalu bertanya dengan menyeringai.
"He, siapa itu yang bicara denganmu tadi?"
Wajah It-hiong memperlihatkan senyuman lelah, jawabnya.
"Ah, seorang sahabat biasa, kuminta tolong padanya, siapa tahu dia segera lari ketakutan begitu mendengar nama kalian berdua...."
Melihat It-hiong masih mengempit bungkusannya, si setan jangkung mata satu tidak memerhatikan bahwa bungkusan itu sudah bukan barang semula lagi, ia menyeringai dan berkata.
"Makanya, setelah kau kepergok oleh kami mau tak mau kau harus menerima nasib. Nah, kalau ingin selamat, lekas serahkan kotak pusaka itu."
It-hiong menggeleng, jawabnya.
"Wah, tidak bisa. Kotak pusaka yang kuperoleh dengan susah payah mana boleh kuserahkan begitu saja kepada kalian."
Senjata si tembong Sing It-hong adalah ruyung beruas tujuh, sekali ia putar ruyungnya, katanya dengan terkekeh aneh.
"Hehe, memangnya kau ingin bergulat dengan jiwamu?"
It-hiong mengangguk.
"Ya, betapa pun aku penasaran jika harus menyerah begitu saja. Biarlah kucoba kepandaian kalian lagi."
Ruyung Sing It-hong lantas menyabet sambil membentak.
"Ayo, Loliok (si nomor enam), bereskan dia saja!"
Tanpa menunggu perintah lagi, kontan pedang si setan jangkung juga menusuk ke dada Liong It-hiong.
Pedang pandak Siau-hi-jong oleh It-hiong sudah dikembalikan kepada Kiong-su-sing Sun Thian-tik, maka sekarang ia sama sekali tidak bersenjata, untuk melayani serangan dua macam senjata lawan jelas sangat sulit.
Cepat ia melompat ke samping untuk menghindari sabetan ruyung si tembong, lalu kotak palsu digunakan untuk menangkis pedang si setan jangkung, menyusul ia terus melayang sejauh beberapa tombak ke samping.
Mana Ong Sian-ho dan Sing It-hong mau tinggal diam, cepat mereka membayangi It-hiong, kembali mereka melancarkan serangan maut.
Sekuatnya It-hiong menghindar lagi beberapa kali, ia merasa tidak perlu berkorban jiwa bagi sebuah kotak palsu, segera ia berlagak kelabakan dan sengaja memberi kesempatan kepada lawan untuk menyerang, lalu membiarkan kotak terjatuh ke tanah.
Tentu saja si tembong sangat girang, cepat ia menubruk maju, sekali tendang ia bikin kotak itu mencelat jauh, lalu memburu ke sana untuk mengambilnya.
Begitu meraih bungkusan itu, cepat ia buka kain pembungkusnya dan melihat memang betul berisi sebuah kotak, dengan tertawa lebar ia berseru kepada kawannya.
"Loliok, sudah cukup, ayo kita pergi!"
Tok-gan-bu-siang masih terus melancarkan serangan kepada Liong It-hiong sembari menjawab.
"Nanti dulu, tampaknya bocah ini perlu juga diberi hajaran, biarkan kubereskan dia sekalian!"
"Boleh juga,"
Kata si tembong.
Ia mengeluarkan kotak palsu itu, rantai yang bergandeng pada kotak dibelitnya di pergelangan tangan sendiri, lalu putar ruyung dan menerjang maju lagi, bersama si mata satu mereka mengerubuti Liong Ithiong.
Sembari bertempur Liong It-hiong mendamprat.
"Keparat, jahanam! Jarang kulihat penjahat berhati keji serupa kalian, sudah merampas kotak orang masih mengincar jiwaku pula."
"Memang betul, mau apa?!"
Si mata satu menyeringai, serangannya tambah gencar.
Ruyung si tembong juga menyabet kian-kemari dengan dahsyatnya, setiap jurus serangan selalu mengincar bagian mematikan.
Liong It-hiong telah mengeluarkan segenap kepandaiannya untuk menghindar dan balas menyerang, namun tetap kewalahan, satu ketika pinggangnya keserempet ruyung Siang It-hong, keruan ia berkaok kesakitan.
"Pang Bun-hiong,"
Terpaksa ia berteriak minta tolong.
"kalau tidak segera keluar, akan kumakimu!"
"Ini dia!"
Seru Bun-hiong sambil menerobos keluar dari tempat sembunyinya, begitu mendekat pedang lantas menebas dan menangkis, seketika si mata satu didesak ke samping dan terjadilah satu lawan satu.
Setelah saling gebrak beberapa jurus, dapatlah si setan mata satu melihat ilmu pedang lawan cukup lihai, ia terkesiap, bentaknya.
"Hei, siapa bocah ini?!"
"Inilah Hou-hiap Pang Bun-hiong adanya!"
Jawab Bun-hiong dengan tertawa. Berbareng pedang lantas menebas dan menusuk sehingga si mata satu terkejut, cepat ia mengegos dan melompat mundur.
"Lojit, lawan keras, lekas angkat kaki!"
Teriaknya sembari berputar dan mendahului kabur secepatnya.
Kalau satu lawan satu si tembong juga merasa tidak mampu mengalahkan Liong It-hiong, segera ia melancarkan suatu serangan untuk mendesak mundur It-hiong, kesempatan itu lantas digunakan untuk melompat ke samping dan segera angkat langkah seribu alias kabur.
"Kejar, lekas kejar! Jangan sampai mereka lolos, lekas kejar!"
Demikian Liong It-hiong berteriak-teriak.
Di mulut ia berkaok "kejar", tapi kakinya justru tidak bergerak selangkah pun.
Ia merasa cuma kehilangan sebuah kotak palsu dan dapat menggertak lari dua lawan tangguh, betapa pun masih berharga.
Bun-hiong juga tidak mengejar, ia saksikan kedua lawan ngacir dan menghilang di kejauhan, katanya dengan tersenyum sambil mengangkat pundak.
"Dirodok, uangku sepuluh tahil perak harga kotak palsu itu hilang percuma begitu saja."
"Hm, kau cuma kehilangan sepuluh tahil perak saja lantas mengeluh, jiwaku malahan hampir amblas!"
Ucap It-hiong sambil menyengir. Bun-hiong simpan kembali pedangnya, katanya.
"Marilah pergi, bisa jadi mereka akan mengetahui kotak itu adalah barang palsu dan putar balik lagi, lekas kita kembali ke atas gunung."
Keduanya lantas lari masuk ke dalam hutan, dari balik semaksemak rumput Bun-hiong mengeluarkan kotak asli dan dikembalikan kepada Liong It-hiong, lalu keduanya berlari ke atas gunung dengan cepat.
Sembari lari It-hiong bertanya.
"Bilakah kau pulang?"
"Sudah pulang selama empat hari,"
Jawab Bun-hiong.
"Dan untuk apa kau bikin kotak palsu itu?"
Tanya It-hiong heran.
"Itu gagasan To Po-sit,"
Tutur Bun-hiong.
"Ia bermaksud menyuruh kita membawa kotak palsu ke Cap-pek-pan-nia."
"Banyak juga akal bulusnya,"
Ujar It-hiong dengan tertawa.
"Memang dia benar-benar seekor rase tua yang licik dan licin, sungguh aku kagum padanya,"
Kata Bun-hiong.
"Apakah tugasmu sudah kau laksanakan dengan baik?"
Tanya It-hiong.
"Hanya boleh dikatakan selesai setengah saja, sebab di Hoaygiok-san aku bertemu dengan Coa-kat-bijin Loan Kiau-kiau, dia itu perempuan simpanan Oh Kiam-lam, ketika mendengar berita diculiknya Oh Beng-ay oleh Kiu-bwe-hou, segera ia mengirim orang mengundangku ke tempatnya...."
Lalu ia ceritakan pengalamannya. Heran juga Liong It-hiong mendengar To Po-sit menyamar sebagai Kiu-bwe-hou dan memasang perangkap di Ma-cik-san, tanyanya.
"Adakah dia menceritakan siapa sesungguhnya orang yang ingin ditangkapnya?"
"Tidak,"
Jawab Bun-hiong.
"Caranya itu sungguh tidak enak,"
Ujar It-hiong.
"Kita yang bekerja mati-matian, tapi dia tetap main teka-teki, tidak mau menjelaskan siapa yang hendak ditangkapnya."
"Ya, dia memang suka jual mahal, katanya setengah tahun kemudian tentu kita akan tahu sendiri."
"Bagaimana dengan Oh Beng-ay?"
"Tidak apa-apa, baik-baik saja."
"Dia tidak menyatakan sendiri bahwa dia adalah adik perempuan Oh Kiam-lam?"
"Tidak."
"Sungguh kuharap dia mau bicara terus terang,"
Ujar It-hiong dengan tertawa.
"Ini merupakan permintaan pelik baginya,"
Bun-hiong juga tertawa.
"Jika aku menjadi dia, pasti juga aku tidak mau mengaku kakak sendiri adalah benggolan bandit."
"Adakah dia tanya akan diriku?"
Tanya It-hiong.
"Ada,"
Kata Bun-hiong.
"Apakah si tua she To itu cukup baik kepadanya?"
"Aku cuma tinggal semalam saja di atas gunung, keadaan di sana tidak begitu jelas bagiku, kukira tidak terjadi sesuatu."
"Tabiatnya sangat buruk, salah sedikit saja lantas dicaci maki olehnya, semoga Nona Oh tidak sampai dicaci maki olehnya."
"Soal dicaci maki kukira sukar dihindar,"
Kata Bun-hiong dengan tertawa.
"Baru saja kupulang ke sana langsung didamprat habis-habisan olehnya. Kalau kupikir lagi, sungguh penasaran."
"Hal ini kan sudah kuberi tahukan padamu sebelumnya. Bekerja baginya bukan saja tanpa balas jasa, sebaliknya akan sering didamprat olehnya. Jika kau tidak tahan boleh saja mengundurkan diri."
"Tidak, aku tidak ingin mengundurkan diri. Aku masih akan terus bekerja baginya, ingin kulihat sesungguhnya apa maksud tujuannya,"
Kata Bun-hiong dengan tertawa.
Begitulah sembari bicara sambil lari, tanpa terasa mereka sudah sampai di depan rumah bambu.
Tui-beng-poan-koan To Po-sit sedang membetulkan sebuah pot bunga di atas rak, melihat kedatangan mereka, dengan tersenyum ia memapaknya dan menegur.
"Kau sudah pulang, It-hiong?"
Sambil memberi hormat It-hiong mengiakan. Melihat bungkusan yang dibawa It-hiong, dengan tertawa To Po-sit tanya pula.
"Itukah kotak pusakanya?"
"Ya,"
Jawab It-hiong. Orang tua itu lantas mengambil bungkusan itu dan dibukanya, setelah memeriksa kotak itu, dengan tertawa puas ia berkata.
"Pembuatan kotak ini memang sangat bagus dan cermat sekali...."
Ia berpaling dan bertanya kepada Pang Bun-hiong.
"Kalian bertemu di mana?"
"Di bawah gunung,"
Tutur Bun-hiong.
"Waktu itu baru saja kupulang sampai di kaki gunung, kebetulan kulihat dia...."
"Kotak palsu yang kusuruh bikin di kota itu apakah belum jadi?"
Sela Tui-beng-poan-koan To Po-sit.
"Sudah jadi,"
Jawab Bun-hiong.
"Mana barangnya? Kenapa tidak dibawa pulang?"
Tanya To Posit pula.
"Sudah kubawa pulang,"
Kata Bun-hiong.
"Di mana?"
To Po-sit terkesiap.
"Sudah jatuh di tangan orang lain,"
Tutur Bun-hiong.
"Hei, sesungguhnya apa yang telah terjadi?"
Tanya To Po-sit terkejut.
"Kotak itu dibawa lari orang,"
Jawab Bun-hiong sambil menyengir. Seketika mata To Po-sit mendelik, ucapnya dengan gusar.
"Apa katamu? Liong It-hiong yang jauh-jauh pulang dari Tengciu saja tidak sampai kehilangan kotak itu, tapi sebuah kotak palsu kau bawa pulang dari Hou-hong ternyata begitu saja dirampas orang, sungguh kau ini terlampau tidak becus."
"Eh, janganlah To-locianpwe marah dulu,"
Tutur Bun-hiong dengan tertawa.
"coba dengarkan penjelasanku...."
"Penjelasan? Penjelasan kentut!"
Damprat To Po-sit.
"Sejak mula juga dapat kuterka kau ini pasti tidak becus. Sudah setua ini usiaku, belum pernah kulihat orang segoblok dirimu."
Makin damprat makin bengis dia sehingga air liurnya bertebaran.
"Jika To-locianpwe mau memaki, silakan memaki diriku saja, sebab kotak palsu itu akulah yang menghilangkannya,"
Sela Ithiong dengan tertawa. Tui-beng-poan-koan melenggong dan menegas.
"Apa katamu?"
"Kubilang akulah yang menghilangkan kotak palsu itu,"
Tukas It-hiong. Seketika To Po-sit melongo bingung.
"Kenapa kotak palsu itu bisa berada padamu?"
"Begini kisahnya,"
Tutur It-hiong.
"Eh, bagaimana kalau kita bicara saja di dalam rumah?"
Tui-beng-poan-koan To Po-sit lantas melangkah ke dalam rumah.
Waktu It-hiong dan Bun-hiong ikut masuk, tertampaklah Oh Beng-ay berdiri di tengah ruangan dengan wajah gembira.
It-hiong mendekati si nona, tanyanya dengan tertawa.
"Bagaimana Giok-nio, baik-baik saja?"
Beng-ay tersenyum dan mengangguk. To Po-sit lantas memberi tanda dan berkata kepada si nona.
"Lekas menanak nasi, di sini tidak ada urusanmu."
Beng-ay menjulur lidah dan cepat berlari ke belakang. Sesudah ambil tempat duduk, dengan sikap kereng To Po-sit lantas berkata.
"Nah, sesungguhnya apa yang terjadi, lekas ceritakan!"
It-hiong berdehem perlahan, lalu menceritakan apa yang dialaminya setelah tiba di Tengciu, sampai Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan terbunuh dan sebelum mengembuskan napas terakhir memberitahukan tempat simpanan kotak pusaka, yaitu di dalam sumur tua di depan kelenteng....
"Lalu bagaimana?"
Tanya To Po-sit.
"Lalu kuturun ke sumur tua itu dan berhasil menemukan kotak ini,"
Tutur It-hiong.
"Dan selanjutnya tidak ada lagi orang lain yang berusaha merampas kotak lagi?"
"Pada belasan hari pertama memang aman tenteram, tapi belasan hari kemudian setelah menyeberangi Tiangkang, tibatiba muncul Tok-gan-bu-siang Ong Sian-ho dan Coh-jing-bin Sing It-hong berdua, entah dari mana mereka mendapat kabar, mendadak mereka muncul dan mencegat perjalananku."
"Menurut ceritamu dulu, kan Hui Giok-koan juga pernah membuat sebuah kotak palsu dan hendak menipu orang lain, kemudian pada waktu menggali, mendadak muncul Ang-liusoh Ban Sam-hian dan membawa lari kotak palsu. Dengan begitu, bilamana ada orang ingin merampas kotak pusaka seharusnya Ban Sam-hian yang menjadi sasaran, mengapa kau lagi yang diincar?"
"Memang hal inilah yang membuatku sangat heran,"
Jawab Ithiong.
"Kurasakan seperti ada seorang yang sangat misterius yang selalu mengikut ke mana perginya kotak pusaka tulen ini. Setiap kali kotak ini jatuh di tangan siapa, segera ia menyiarkan beritanya supaya diketahui orang lain, agaknya dia sengaja hendak melihat orang saling berebut kotak pusaka dan saling bunuh tanpa berakhir."
Tui-beng-poan-koan To Po-sit manggut-manggut, ucapnya dengan tersenyum.
"Ya, ini menandakan di balik urusan kotak pusaka ini terdapat sebuah intrik keji, mungkin sekali dalam waktu singkat segera ada orang akan mencari ke sini."
"Betul, maka kita perlu siap siaga."
Kata It-hiong.
"Kemudian bagaimana sesudah Ong Sian-ho dan Sing It-hong muncul merampas kotakmu?"
"Karena sendirian tidak mampu melawan empat kepalan mereka, terpaksa aku angkat langkah seribu alias kabur secepatnya. Sepanjang jalan aku berusaha sembunyi kiankemari, tampaknya hampir terlepas dari uberan mereka, siapa tahu mereka muncul lagi dan terpaksa aku lari pula.
"Tadi baru saja sampai di kaki gunung, kebetulan bertemu dengan Pang-heng, kuberi tahu apa yang terjadi, segera Pang-heng menukarkan kotak palsu yang dibawanya dengan kotak asli, lalu Pang-heng pura-pura lari ketakutan. Sementara itu Ong Sian-ho berdua menyusul tiba, kutempur mereka lagi beberapa jurus, akhirnya kupura-pura kewalahan dan membiarkan kotak direbut mereka sehingga semua urusan pun terakhir."
Setelah mengetahui semua seluk-beluk kejadian ini barulah Tui-beng-poan-koan To Po-sit tahu salah marah kepada Pang Bun-hiong, dengan tertawa ia berkata kepada pemuda itu.
"Kenapa tidak kau katakan sejak tadi, kalau kau katakan tentu tidak dicaci maki, sungguh tolol."
Bun-hiong menyeringai, katanya.
"Selanjutnya boleh kita saling berjanji saja, bilamana To-cianpwe hendak memaki orang, kuharap dapat diberi kesempatan untuk memberi penjelasan. Setuju?"
"Tampaknya kau masih penasaran karena kumaki,"
Kata To Po-sit dengan tertawa.
"Jika demikian, supaya kau puas, boleh kau balas caci maki diriku. Meski sering kumaki orang, tapi hampir tidak pernah tahu rasanya dimaki orang."
It-hiong dan Bun-hiong sama tertawa.
"Lantas apa tindakan To-locianpwe setelah kotak pusaka dapat kita rebut kembali?"
Tanya It-hiong dengan tertawa. To Po-sit tidak segera menjawab, berulang-ulang ia mengamati kotak pusaka itu, katanya kemudian.
"Tampaknya kotak ini sukar dibuka, cuma, dibuka atau tidak toh sama saja...."
"Apakah To-locianpwe tahu apa isi kotak ini?"
Tanya It-hiong.
"Entah, aku tidak tahu, cuma dapat kupastikan isinya mutlak bukan peta rahasia harta karun segala,"
Jawab To Po-sit.
"Konon di dalam kotak terdapat obat peledak, bilamana tidak dibuka menurut cara yang sudah diatur, kalau menyentuh obat peledak seketika kotak akan meledak."
"Ya, sangat mungkin,"
To Po-sit mengangguk.
"Jika kotak ini cuma semacam intrik keji saja, lalu siapakah yang mengatur intrik ini?"
Tanya It-hiong.
"Mungkin adalah orang yang hendak kutangkap itu,"
Kata To Po-sit.
"Siapakah dia?"
Tanya It-hiong pula.
"Tidak dapat kuberi tahukan sekarang,"
Ucap Tui-beng-poankoan To Po-sit.
"Menurut cerita Pang-heng, To-locianpwe hendak menyuruh kami membawa kotak palsu ke Cap-pek-pan-nia?"
"Betul,"
Jawab Tui-beng-poan-koan.
"Tapi sekarang kotak palsu itu sudah dibawa lari orang, terpaksa kalian harus membuat satu lagi."
"Apa yang harus kami lakukan setiba di Cap-pek-pan-nia?"
Tanya It-hiong.
"Begitu berhadapan dengan gembong iblis misterius itu segera kalian tangkap dia dan membawanya menemuiku di sini."
"Tidak perlu disangsikan lagi Cap-pek-pan-nia pasti sebuah sarang harimau atau kubangan naga,"
Ujar It-hiong dengan tertawa.
"Kalau melulu tenaga kami berdua jelas tidak gampang untuk menangkap gembong iblis misterius itu."
"Tidak dapat menangkapnya dengan kekuatan kan dapat membekuknya dengan akal,"
Kata To Po-sit.
"Betapa pun kalian adalah orang cerdik, kuyakin kalian sanggup melaksanakan tugas."
"Jika begitu, besok juga kami pergi ke Hou-hong untuk membuat lagi sebuah kotak palsu, habis itu kami lantas berangkat,"
Kata It-hiong. To Po-sit mengangguk setuju.
"Apakah masih ada petunjuk lain?"
Tanya It-hiong.
"Tidak ada lagi,"
Jawab To Po-sit.
"Jika begitu sementara kumohon diri dulu,"
Segera It-hiong memberi hormat dan menuju ke ruangan belakang.
Setiba di dapur, melihat Oh Beng-ay sedang mengolah santapan, perlahan It-hiong mendekati si nona dan mendadak merangkul pinggangnya dari belakang.
"Aiii!"
Beng-ay menjerit kaget. Waktu melihat Liong It-hiong, ia menjadi marah dan memukuli dadanya sambil mengomel.
"Sialan, bikin kaget saja...."
It-hiong menangkap kedua tangan si nona dan mendadak mencium pipinya sekali, katanya dengan tertawa.
"Rindu padaku tidak, sayang?"
Muka Beng-ay berubah merah, omelnya.
"Huh, untuk apa kurindu padamu!"
"Haha, benar tidak merindukan daku?"
"Tidak!"
"Juga tidak senang karena kepulanganku?"
"Ya!"
"Wah, jika begitu, terpaksa kupergi saja,"
Kata It-hiong dengan tertawa. Beng-ay melengak.
"Apa katamu? Kau mau pergi lagi?"
"Ya, besok juga segera berangkat,"
Kata It-hiong. Mulut si nona menjengkit, katanya dengan kurang senang.
"Hm, sesungguhnya apa yang sedang kalian lakukan? Masa baru pulang segera mau pergi lagi?"
"Toh kau tidak senang akan kepulanganku, terpaksa besok juga kulanglang buana lagi,"
Kata It-hiong.
"Ah, omong kosong!"
Omel Beng-ay dengan tertawa.
"Eh, sayurmu hangus,"
Seru It-hiong sambil melepaskan tangan si nona. Cepat Beng-ay mengaduk sayurnya, lalu menciduknya ke dalam piring, lalu wajan kosong dituangi minyak sembari bertanya.
"Apa benar engkau hendak pergi lagi?"
"Betul, besok kupergi menyelesaikan suatu urusan, selang dua hari lagi baru pulang kemari...."
"Bagaimana kalau kau bawa serta diriku?"
Tanya Beng-ay sambil berpaling setelah mengisi wajan dengan air dan memberi tutup.
"Kau sudah bosan tinggal di gunung?"
Tanya It-hiong. Ebook oleh . Dewi KZ Scan book oleh . BBSC
Jilid 17
"Meski bagus pemandangan tempat ini, tapi aku tidak tahan pada wataknya yang sebentar marah dan sebentar gembira itu,"
Tutur Beng-ai "Walaupun sifatnya rada aneh, tapi hatinya sangat baik,"
Kata It-hiong "Kutahu, namun ...."
"Sudahlah, jangan disebut-sebut lagi,"
Potong It-hiong dengan tertawa "Ingin kutanya padamu, Kau mau kawin denganku atau tidak?"
Beng-ai mengangguk, lalu menunduk dan meliput ujung baju "Jika begitu, hendaknya bersabar sementara. nanti katau semua urusan sudah kita selesaikan, tentu akan kubawa dirimu meninggalkan tempat ini "
Beng-ai mengambil dua butir telur ayam dan dipecah kulitnya, dituang ke dalam mangkuk, lalu diaduk dengan sumpit, katanya.
"Sesungguhnya apa yang kalian lakukan di sini?"
"Sekarang kamu jangan tanya, kelak tentu akan tahu sendiri,"
Ucap It-hiong. Beng-ai membuka tutup wajan dan menuangkan adukan telur sembari berkata pula.
"Dan mengapa kalian harus mengelabui diriku."
"Kamu kan orang perempuan, ada sementara urusan tidak perlu kau tahu."
Beng-ai menunduk diam Pelahan It-hiong menepuk bahunya dan menghiburnya.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, jika benar kamu ingin hidup bersamaku, hendaknva kau sabar sementara ini, pasti takkan kuperlakukan dirimu dengan jelek."
Setelah termenung sejenak, pelahan Beng-ai berkata.
"Ingin ... ingin kuberitahukan satu hal padamu ..."
"Urusan apa?"
Tanya It-hiong Kembali Beng-ai termenung sejenak, tiba-tiba ia menggeleng kepala dan berkata.
"Ah, sudahlah. lebih baik tidak kukatakan"
It-hiong tertawa.
"Baiklah, jika hendak kau katakan tentu akan kudengarkan, katau tidak kau katakan juga takkan kupaksa."
Lalu dia menggerayangi lagi si nona, kemudian meninggalkan dapur Setiba di ruangan depan dilihatnya Tui-beng-poan-koan Toh Po-sit asyik mempelajari kotak pusaka itu, ia coba tanya.
"Sudah dapat kau buka?"
"Tidak."
Jawab Toh Po-sit "Lain kali bila bertemu lagi dengan orang yang hendak rebut kotak ini, tentu akan kutanya sesungguhnya apa isi kotak ini."
Kata It-hiong.
"Memangnya siapa yang mau memberitahukan padamu,"
Ujar Toh Po-sit dengan tertawa "Tempo hari mestinya Kiong-su-sing Sun Thian-tik hendak memberitahukan padaku, tapi aku tidak mau terima,"
Tutur Ithiong. Tui-beng-poan-koan Toh Po-sit melenggong.
"Mengapa kau tolak?"
It-hiong mengangkat pundak.
"Sebab kukuatir bila kutahu isi kotak, ada kemungkinan akan timbul angkara murka dan ingin kukangkanginya Kim-kong Taisu dan Koh-ting Tojin saja sangat ingin mendapatkan kotak ini. padahal aku merasa tidak lebih hebat daripada mereka "
"Sungguh manusia tidak becus!"omel Toh Po-sit mendadak. It-hiong menyengir tanpa menjawab. Ia sudah biasa dicacimaki, maka makian orang tidak dihiraukannya Mendadak Tui-beng-poan-koan melemparkan kotak itu ke atas meja dan berkata pula.
"Sudah lanjut begini usiaku, tapi ..."
"Belum pernah melihat anak bodoh seperti diriku, begitu bukan?"
Tukas lt-hiong dengan tertawa.
"Betul,"
Kata Toh Po-sit "Bukan maksudku sengaja membual, dahulu waktu aku masih muda seperti dirimu sekarang . ."
Sekali ini It-hiong tidak menimbrung, tapi Beng-ai tidak bicara lebih lanjut, tiba-tiba sorot matanya berkilau dan mendesis.
"Ssst, ada orang datang!"
Tergerak hati It-hiong dan Bun-hiong, segera mereka pasang kuping mendengarkan dengan cermat. Benar juga suara orang itu dari jauh mendekat "Ah, memang benar terdiri satu keluarga!"
"Bagaimana kita papak mereka?"
Tapi mendadak It-hiong mendesis dengan suara tertahan.
"Ssst, ternyata rombongan mereka. Tok-gan-bu-siang dan Co jing-bin."
Dengan tenang Toh Po-sit berkata,"
Lekas kalian sembunyi saja, juga nona Oh suruh sembunyi, biar kupermainkan mereka, lekas masuk!"
It-hiong dan Bun hiong tahu betapa hebat kepandaian orang tua itu, untuk melayani Tok-gan-bu-siang berdua tentu bukan soal, segera mereka menurut dan cepat menyelinap ke ruangan dalam.
Sejenak kemudian terdengar suara langkah Tok-gan-bu-siang Ong Sian-ho dan Co Jing-bin Sing It-hong sudah sampai di luar pagar bambu, terdengar Sing It-hong sedang berkata.
"Loliok, kukira tuan rumah di sini pasti seorang sastrawan yang suka kepada ketenangan dan kesunyian "
"Peduli dia sastrawan atau bukan, biarlah kita masuk saja dan minta disediakan makanan,"
Demikian Tok-gan-bu-siang Ong Sian-ho menanggapi Lalu terdengarsuara pintu digedor dengan keras "Siapa itu?"
Teriak Tui-beng-poaa-koan Toh Po-sit dari dalam "Orang lalu!"
Jawab Ong Sian-ho "Ada keperluan apa?"
Tanya pula Toh Po-sit "Ingin numpang minum "
Jawab si mata satu "Oo, silakan masuk!"
Lalu Ong Sian-ho dan Sing It-hong mendorong pintu dan masuk ke ruangan tamu, melihat Toh po sit duduk di kursi bambu, tanpa memberi hormat mereka lantas duduk juga di samping tuan rumah "Saudara tinggal sendirian di sini ?"
Tanya Tok-gan-bu-siang dengar, menyeringai Pada pundaknya tergantung sebuah bungkusan.
melihat bentuknya jelas itulah kotak pusaka palsu yang dirampasnya dari Liong It-hiong.
Sambil mengangguk Toh Po-sit menjawab.
"Betul, kalian datang dan mana?"
"Dari bawah gunung,"
Kata si mata satu Toh Po-sit tertawa.
"Jika kalian ingin minum silakan ambil sendiri saja. Kakiku ada penyakit, tidak leluasa bergerak, maaf tidak kuladeni "
Segera si mata satu Ong Sian-ho mendekati meja dan menuang dua cangkir toh. secangkir disodorkan kepada si tembong Co-jing-bin, sembari minum ia tanya lagi.
"Saudara she apa ?"
"She Toh,"
Jawab Tui-beng-poan-koan.
"She apa?"
Si mata satu menegas dengan melengak.
"Toh,"
Kata Toh Po-sit Terpancar sinar mata satu dengan aneh, dengan menyeringai ia berkata.
"Sangat sedikit orang she Toh, namun pernah kutahu ada seorang she Toh. yaitu kepala polisi terkenal di Tiang-an, namanya Tui-beng-poan-koan Toh Po-sit. Apakah saudara kenal dia' ?"
"Kenal,'' Toh Po-sit mengangguk. Air muka si mata lalu terubah pucat.
"Ada hubungan apa antara dia denganmu?"
"Ada hubungan sangat erat,"
Jawab Toh Po-sit "Oo, betul ?"
Si mata satu menegas.
"Ya, sekarang dia sudah pensiun dan mengasingkan diri di suatu tempat "
"Kutanya, ada huhungan apa antara kalian ?"
Tui-heng-poan-koan menatapnya dan balas tanya dengan tersenyum
"Untuk apa kau tanya urusan ini?'
"Ada seorang saudara misanku..."
Mendadak si tembong menyela.
"Loliok. bicara urusan yang benar saja "
Seketika suara si mata satu berubah, dengan wajah tersenyum ramah ia berkata.
"Rumah penduduk di sekitar sini sangat sedikit, bukan?"
"Ya, cuma satu rumah in saja,"
Toh Po-sit menagangguk.
"Jika begitu, ingin kutanya, kira-kira satu jam yang lalu pernah kau lihat dua pemuda lewat disini?"
"Oya, ada, bukankah dua pemuda yang masih muda belia?"
Jawab Toh Po-sit.
"Aha, betult"
Seru si mara satu dengan gembira "Mereka juga datang kesini dan minta minum, seorang di antaranya membawa sebuah kotak yang aneh...."
Segera si mata satu membuka bungkusannya dan berkata, 'Serupa kotak ini bukan?"
"Ya betul ..!"seru Tui-beng-poan-koan dengan lagak terkejut "He... aneh mengapa kalian juga mempunyai kotak seperti ini?"
Si mata satu tidak menjawab, tapi tanya dengan cepat.
"Mereka masih berada di sini? "Tidak, sudah pergi."
Jawab Toh Po-sit.
"Pergi ke mana?"
Cepat si mata satu tanya pula. Toh Po-sit menggeleng.
"Entah, cuma malam ini mereka akan datang lagi "Dan mana kau tahu ?"
Seru si mata satu dengan girang "Mereka tanya padaku apakah malam ini boleh mondok semalam di smi, kujawab boleh saja, lalu mereka pergi dengan riang gembira,"
Tutur Toh Po-sit "Mereka menuju ke jurusan mana?"
Tanya si mata satu "Ke atas gunung,"
Tutur Toh Po-sit Si mata satu alias Ong Sian-bo lantas tanya si tembong.
"Aneh. untuk apa mereka menuju ke atas gunung?"
"Tentu ada urusan penting."
Jawab si tembong Memangnya urusan apa?"
Si mata satu merasa tidak habis mengerti "Siapa tahu!"
Kata sj tembong "Eh. ada urusan apa kalian mencari mereka?"
Tanya Toh Po-sit "Mereka itu penipu, kami hendak mencari mereka untuk membikin perhitungan,"
Tutur si mata satu.
"Oo. penipu? Memangnya barang apa yang mereka tipu dari kalian ?"
Tanya Toh Po-sit dengan melengak. Si mata satu menuding kotak palsu yang di bawanya, jawabnya dengan gemas.
"Mereka menggunakan kotak palsu ini untuk menipu sebuah kotak pusaka asli milik kami sehingga kami rugi besar, coba pantas mampus tidak perbuatan mereka ?"
"O kiranya begitu, mereka memang pantas mampus"
Kata Toh Po-sit "Sungguh rendah mereka, masih muda belia, tidak belajar baik, tapi main tipu, sungguh pantas mampus!'' "Mereka bilang malam ini akan mondok disini?"
Tanya si mata satu "Betul,"
Toh Po-sit mengangguk.
"Kau kira mereka benar akan kembali lagi ke sini?"
"Bisa saja, mereka kan tidak perlu dusta padaku? Lalu si mata satu berkata pula pada si tembong.
"Lojit, kukira mereka bermaksud menyembunyi-kan kotak itu di suatu tempat, lalu kembali dan minta mondok di sini, bagaimana pendapatmu?"
"Ya, aku sependapat denganmu."' si tembong mengangguk "Jika begitu, biarlah kita tunggu saja di sini untuk membekuk mereka,"
Kata si mata satu dengan tertawa Kembali si tembong mengangguk setuju. Si mata satu menoleh kepada Toh Po-sit dan berkata.
"Eh, dapatkah saudara membantu kami"' "Membantu apa?"
Tanya Toh Po-sit.
"Biarkan kami sembunyi di dalam rumah, bila mereka pulang, hendaknya engkau pura-pura tidak tahu dan tetap melayani mereka."
"Kemudian?"
Tanya Toh Po-sit Si mata satu mengeluarkan sebuah botol porselen kecil, dituangkan sebiji pil hitam dan diberikan kepada Toh Po-sit, katanya.
"Ini obat tidur, hendaknya diam-diam kau campurkan.dalam makanan mereka sehabis mereka makan tentu akan jatuh pingsan "
Tui-beng-poan-koan menerima pil itu dan diperiksa dengan teliti, tanyanya kemudian.
"Ini bukan racun?"
"Bukan, bukan,"
Sahut si mata satu Toh Po-sit menyimpan pil itu dipandangnya cuaca di luar. katanya.
"Hari sudah hampir gelap setiap saat mereka bisa datang. Jika kahan hendak sembunyi, sebaiknya sekarang juga lekas sembunyi."
"Sebaiknya sembunyi di mana?"
Tanya si mata satu. Dengan terhuyung-huyung Toh Po-sit berdiri, katanya.
"Sembunyi saja di dalam kamarku, tidak nanti mereka menerobos ke dalam kamarku "
Sembari bicara ia membawa mereka masuk ke kamar Ia melangkah dengan sangat lambat, satu tindak cuma bergeser sekian senti.
serupa seorang lumpuh Si mata satu merasa heran, ia tanya.
Kedua kakimu ini kenapa?"
"Dua tahun yang lalu aku pernah sakit lumpuh, tutur Toh Posit dengan menyesal "Meski jiwaku dapat dipertahankan, tapi kedua kaki tidak mau turut perintah lagi "
"Jika gerak-gerikmu tidakleluasa mengapa tinggal sendirian di sini?"' "Soalnya aku suka ketenangan, sebab itulah kuminta anakku membangun gubuk ini"
"Kenapa tidak menggunakan pelayan?'' tanya si mata satu "Ada seorang mak tua, kebetulan kemarin pulang kampung karena punya cucu "
Tengah bicara mereka sudah sampai di depan sebuah kamar, Toh Po-sit membuka pintu dan berkata, 'Inilah kamar tidurku, silakan kalian sembunyi saja di dalam "
Tok-gan-bu-siaug dan Co-jing-bin lantas masuk ke situ.
"Kalian lapar tidak?"
Tanya Toh Po-sit "Ada sedia makanan di sini?"
Tanya Tok-gan-bu-siang alias si setan jangkung mata satu.
"Ada sekadarnya, silakan kalian duduk sebentar, akan kuambilkan,"
Habis berkata Toh Po-sit lantas merapatkan pintu kamar dan menuju ke dapur la geser langkahnya yang pelahan serupa siput menuju ke dapur, dibukanya lemari makan dan mengeluarkan sepiring bakmi goreng sisa siang tadi.
Dipanaskan sisa bakmi itu di dalam wajan, ditambahnya air, lalu menyalakan api tungku Tidak lama sisa bakmi goreng itu telah dimasaknya menjadi bakmi kuah, ia tuang bakmi kuah di dalam dua mangkuk dan dilengkapi dua pahang sumpit lalu dibawanya ke kamar, dengan bahu ia dorong pmtu kamar, katanya dengan tertawa.
"Sudah kubuatkan dua mangkuk bakmi kuah. silahkan kalian makan seadanya"
Si mata satu dan si tembong sedang duduk di tepi ranjang, melihat dia masuk dengan membawa dua mangkuk bakmi kuali, cepat mereka menyongsong dan menerimanya, kata si mata satu dengan tertawa.
'Terima kasih!"
"Ah, jangan sungkan,"
Jawab Toh Po-sit Si mata satu memandang mi kuah yang dipegangnya, tibatiba ia tanya dengan tertawa.
"Eh, di manakah pil yang kuberikan padamu tadi1?'' "Ada, di sini,"
Sabut Toh Po-sit.
"Di mana?"
Tanya si mata satu Toh Po-sit merogoh keluar pil yang dimaksud. katanya.
"Ini, betul tidak?"
Maka tertawalah si mata satu. katanya.
"Baiklah. jangan hilang "
"Tidak, tentu tidak,"
Kata Toh Po-sit "Sebentar bila mereka datang, hendaknya kau bicara dengan mereka dengan suara keras supaya kami dengar di dalam kamar".
"Baik, baik,"
Dengan tersenyum Toh Po-sit mengundurkan diri dari kamar dan kembali keruangan depan serta duduk di tempat semula diambilnya sebuah pipa tembakau panjang, lalu menyalakan api dan mulai udut.
Di dalam kamar si mata satu dan si tembong tidak segera makan mie kuah itu, mereka menaruh mangkuk mi di atas meja, lalu si tembong berkata.
"Loliok, kurasa tua bangka itu agak aneh baiknya kita jangan makan bakmi ini " 'Memang kurasakan juga dia agak aneh,"
Kata si matasatu."
Cuma kita kan tidak ada permusuhan dengan dia, tentunya dia takkan meracuni kita."
"Untuk meracuni kita kan tidak perlu harus bermusuhan dulu,"
Ujar si tembong "Ya, tapi kan tidak ada tanda-tanda dia orang jahat?"
"Biar kulihat dulu apa yang sedang dilakukannya sekarang, kalau tidak ada yang mencurigakan barulah kita makan mi kuah ini,"
Habis berkata si tembong lantas membuka pintu, dengan pelahan ia menyelinap keluar Dengan langkah berjinjit jinjit ia merunduk ke samping pintu dia coba mengintip keluar, dilihatnya Tui-beng-poan-koan sedang duduk dan asyik udut, sikapnya tenang dan santai, sama sekali tidak ada sesuatu tanda mencurigakan.
Pelahan ia menyurut mundur kembali ke dalam kamar katanya dengan suara lirih.
"Ia sedang udut di ruang depan, tampaknya tiada sesuatu apa "
"Jika begitu marilah kita makan,"
Ajak si mata satu "Nanti dulu,"
Kata si tembong 'Ai, ada apa lagi?"
"Sebaiknya dicicipi dulu satu sumpit."
"Kamu sungguh terlampau hati-hati,"
Ujar si mata satu sambil mengangkat mangkuk dicicipinya satu sumpit mi kuah itu. sambil mulut mengunyah dan mata berkedip, katanya dengan tertawa.
"Ehm, lumayan rasanya!"
"Tidak ada rasa yang ganjil ?"
Tanya si tembong sangsi.
"Tidak ada,"
Si mata satu menggeleng Setelah berulang tanya lagi baru si tembong merasa lega, segera ia ikut duduk dan makan bakmi kuah itu Baru saja selesai mereka makan, mendadak pintu kamar diketuk orang Si tembong berjingkat, teriaknya "Siapa itu?"
Sebabnya dia kaget adalah karena sebelum pintu diketuk, pada hakikatnya ia tidak mendengar sesuatu suara orang mendekati pintu "Aku!'' terdengar jawaban Tui-beng-poan-koan di luar kamar Dengan was-was si tembong memandang si mata satu, tanyanva dengan suara tertahan.
"Adakah kaudengar suara langkahnva tadi ?"
Si mata satu menggeleng.
Seketika si tembong merasa prihatin, sejenak ia tatap pintu kamar, habis ini barulah ia membuka Pintu.
DilihatnyaTui-beng-poan-koan berdiri di depan pintu dengan tersenyum, tanpa terasa si tembong menyurut mundur selangkah dan bertanya.
"Ada urusan apa?"
"Kalian sudah makan ?"
Tanya Toh Po-sit dengan tertawa Si tembong mengangguk.
"Ya, kepandaian masakmu memang boleh juga, cukup enak bakmi kuah tadi.
"Ha..ha "
Tui-beng-poan-koan terbahak "Terima kasih atas pujianmu."
"Mereka mungkin takkan datang kemari,"
Segera si mata satu menyambung "Hari baru saja gelap, tunggulah sebentar lagi,"
Kata Toh Posit ia merandek sejenak, lalu menyambung dengan tertawa.
"Ai, aku ini memang sudah pikun, sejauh ini belum lagi mengetahui nama kalian yang terhormat"
"Aku she Ong bernama Sian-bo, ini saudara angkatku, namanya Sing It hiong."
"O, selamat berkenalan,"
Kata Toh Po-sit sambil memberi hormat "Dan saudara sendiri bernama siapa?"
Tanya si mata satu Ong Sian ho Toh-beng-poan-koan tersenyum dan menjawab,"Namaku Posit'"
"Hahhh!"
Si mata satu terperanjat "Jadi jadi engkau Ini Toh Po-sit ?'' Orang tua itu mengangguk dengan tersenyum "Jadi engkau ini Tui-Beng-poan-koan ?"
Si tembong ikut menegas Kembali Toh Po-sit mengangguk Serentak si mata satu meraba tangkai pedang katanya dengan kejut dan curiga.
"Kabarnya engkau sudah mati, kiranya masih hidup di dunia ini ' "
Pensiun dan mati tidak banyak bedanya,"
Kata Tui-bengpoan-koan tersenyum.
"Seorang kalau sudah pensiun kan tidak ada bedanya serupa mayat hidupbelaka..."
Segera si tembong juga menarik rujungnya dan siap tempur, ucapnya.
"Waktu kami masuk kemari tadi, kenapa tidak kaukatakan terus terang?"
"Kalian kan tanya padaku kenal Toh Po-sit tidak, kujawab kenai, kalian juga tanya ada hubungan apa antara Toh Po-sit denganku kubilang sangat erat hubungannya. Pula sudah kuberitahukan kepada kalian bahwa dia sudah pensiun dan mengasingkan diri di suatu tempat, apakah semua itu belum cukup jelas?"
"Kukira engkau pasti kenal kami, betul tidak?"
Tanya si mata satu dengan sikap bermusuhan "'Lok-lim-jit-coat, sudah lama kudengar julukan kalian,"
Jawab Po-sit "Kau tahu sahabat kalangan liok-lim yang terjungkal di tanganmu berjumlah tidak sedikit' "Ya, sedikitnya sudah lebih 300 orang,"
Ucap Po-sit tak acuh Seketika si mata satu menarik muka, ucapnya dengan seram.
"Tentu kaupun tahu tidak sedikit sahabat jang ingin mencari dan membikin perhitungan denganmu."
"Ya, kutahu."
"Dan aku ini termasuk satu di antaranya,' kata si mata satu.
"OoT?"
Toh Po-sit tetap tak acuh Seketika timbul nafsu membunuh pada air muka si mata satu katanya.
"Tentang alasanmu mengundurkan diri dan dunia kangouw. apakah benar karena penyakit kakimu?"
"Bukan,"
Jawab Po-sit sambil menggeleng. 'Habis, apa sebabnya?"
Tanya si mata satu.
Sebagai pejabat polisi, meski secara resmi dapat ku tumpas kaum penjahat, tapi banyak pula urusan yang tidak dapat kulakukan secara leluasa alasanku minta pensiun justru agar aku dapat bekerja dengan bebas dan leluasa"
Si mata satu menjengek.
"Hm, sungguh aku tidak mengerti, mengapa kau selalu memusuhi sahabat lok-lim kami?"' "Hanya karena minat saja."
Jawab Toh Po-sit "Tapi minat demikian pada suatu hari pasti dapat membuat jiwamu melayang,'' kata si mata satu sambil menyeringai.
"Untuk ini aku sendiri cukup maklum,"
Kata Toh Po-sit 'Seorang panglima pun setiap saat dapat gugur di garis depan, hal ini tidak pernah kupikirkan lagi, umpama aku mati juga tidak rugi malahan sudah banyak untung"
"Ada seorang adik misanku mati di tanganmu beberapa tahun yang lalu sejauh ini ingin kubikin perhitungan denganmu, kemudian ku dengar kamu sudah mati. tak tersangka sebenarnya kamu masih hidup, sungguh sangat kebetulan hari ini dapat bertemu di sini denganmu tanpa susah payah kucari "
"He-he, boleh juga"
Ucap Toh Po-sit tak gentar 'Creng', serentak si mata satu melolos pedangnya, dengusnya.
"Hm, hari ini biar kubelajar kenal denganmu!"
Habis berkata segera pedang bergerak dan bermaksud menyerang.
"Nanti dulu Loliok'"
Seru si tembong alias Sing It-hong "Harus kita tanya dia sejelasnya sesungguhnya Liong It-hiong dan Pang Bun-hiong itu apakah benar pernah datang kemari?'"
"Tidak perlu tanya lagi,"
Ujar si mata satu "Yang dikatakannya pasti dusta."
"Haha. kamu salah, yang kukatakan justru sejujurnya,"
Seru Toh Po-sit denga tertawa. 'Kalau tidak percaya, silakan kalian melihatnya sendiri keluar, itu dia, mereka sudah di situ."
Begitu selesai bicara serentak ia menggeser mundur keluar halaman Ternyata di halaman memang betul sudah berdiri dua orang pemuda, siapa lagi katau bukan Liong It-hiong dan Pang Bun-hiong.
Cepat si maia satu dan si tembong juga mengejar keluar, melibat Bun-hing dan It-hiong berdiri di situ dengan senyum dikulum, air muka mereka berubah seketika.
"Ayo maju kemari, jika kalian masih mau bergebrak, silakan di sini saja lebih luas."
Kata Toh Po sit tertawa. Mendedak si tembong menarik ujung baju si mata satu. desisnva dengan kuatir.
"Wah, Loliok. kepalaku terasa agak pusing'"
Saat itu si mata satu sendiri juga meresa kepala pening, dada sesak dan mual. kedua kaki terasa lemas pula, keruan ia sangat terperanjat, serunya.
"Wah, celaka, kita keracunan, lekas lari"
Segera ia mendahului melompat ke luar halaman, tapi baru saja ia meloncat ke atas, kontan ia jatuh terbanting di tanah serupa burung yang kena pelinteng Begitu pula si tembong mengalami nasib yang sama.
Air muka si mata satu berubah pucat pasi, sekuatnya ia coba mengangkat tubuhnya dan meraung.
"Toh Po-sit, caramu ini terhitung ksatria macam apa? Huh. ternyata kau juga suka bertindak secara rendah begini, pakai racun segala!"
"Ini namanya senjata makan tuan"
Jawab Toh Po-sit dengan tersenyum "Kalian kan bermaksud membunuh orang dengan racun, maka aku pun menggunakan racun supaya kalian tahu bagaimana rasanya "
"Lekas berikan obat penawarnya'' teriak si mata satu beringas "Tidak ada obat penawar."
Jawab Toh Po-sit sambil menggeleng Muka si mata satu pucat serupa mayat, kontan ia mencacimaki "Dirodok, sesungguhnya apa kehendakmu?.
Lekas buka kartu, apa syaratmu"' "Aku tidak menghendaki lain.
hanya minta jiwa kalian,"
Jawab Toh Po-sit ketus "Kejahatan kalian sudah kelewat takaran, sudah tiba waktunya kalian mendapatkan ganjaran setimpal "
Cemas dan gugup si mata satu, teriaknya parau 'Kamu tidak berhak menjatuhkan kematian kepada kami, jika kauanggap kami pantas mati, harus kauserahkan kami kepada pihak yang berwajib"
"Diserahkan pihak yang berwajib berarti ada kesempatan bagi kalian untuk kabur, begitu bukan? jengek Toh Po-sit Karena isi hatinya tepat tertebak, seketika si mata satu bungkam Tui-beng-poan-koan mendengus.
"Hm. tadi kan sudah kukatakan, sebabnya aku pensiun adalah karena aku ingin bekerja secara bebas dan leluasa. Dahulu bilamana buronan kutangkap, karena terbatas oleh ketentuan undang-undang sukar bagiku untuk menjatuhkan hukuman mati bagi mereka, seringkah memberi kesempatan kepada mereka untuk kabur. Sebab itulah sengaja kuminta pensiun saja Sekarang kedudukanku adalah rakyat biasa. aku dapat bertindak se sukaku tanpa terikat. Si mata satu mulai merasakan perut melilit, ia tahu racun mulai bekerja, ajalnya sudah dekat, tanpa teraba tubuh bergemetar, ucapnya dengan terputus-putus.
"Aku ...kami tidak ada permusuhan apa pun denganmu mengapa ...mengapa engkau memperlakukan kami sekeji ini?"
Pada waktu kalian melakukan kejahatan, apakah pernah kalian pikirkan bahwa para korban itupun tidak pernah ada permusuhan apa pun dengan kalian?"
Tanya Toh Po-sit Kembali si mata satu tidak mampu menjawab "Toh Po-sit,"
Dengan memelas si tembong memohon.
"harap engkau suka membebaskan kami, seterusnya kami akan kembali ke jalan yang benar, boleh?"
"Ya, mohon ampuni kami sekali saja, kami bersumpah akan menjadi manusia baru,"
Tukas si mata satu cepat Tui-beng-poan-koan menggeleng kepala, tanpa bicara ia melangkah keluar It-hiong dan Bun-hiong juga ikut keluar.
Mereka menuju ke depan rak bunga di ruangan depan, Tuibeug-poan-koan mengangkat turun satu pot tanaman pohon cemara kerdil, ia berjongkok dan merawat tanaman bougsai itu.
Agaknya dia tak mau lagi memikirkan si mata satu dan si tembong yang sedang bergelut dengan elmaut.
"Apakah engkau benar-benar menghendaki mereka mati keracunan'"
Tanya It-hiong 'Ehm,' Tui-beng-poau-koan mengangguk.
"Tidak kautanya mereka sedikit urusan lagi"' kata it-hiong "Tanya apa?"
"Mereka tentu tahu apa isi kotak pusaka,bukankah engkau pun ingin tahu?' '"Tidak, setelah minta keterangan mereka, lalu menyaksikan mereka mati begitu saja, kurasa terlampau tidak berperikemanusiaan."
"Jika aku, rasanja lebih suka mengampuni jiwa mereka untuk mendapatkan rahasia isi kotak."
Kata Bun-hiong tiba tiba "Bagiku justru lebih suka kehilangan seratus buah kotak begitu dan tetap akan menghukum mati mereka,"
Tukas Tui-bengpoan-koan 'Sebab apa?"
Tanya Bun-hiong "Sebab aku kan Tui-beng poan-koan (jaksa penuntut nyawa), barangsiapa yang pantas mampus pasti takkan kulepaskan dia "
"Selain itu apakah masih ada alasan lain?"
Tanya Bun-hiong.
"Sejak umur delapan aku sudah yatim piatu, sebabnya adalah karena pada suatu hari rumahku kedatangan sekawanan bandit. mereka membunuh ayah-bundaku dan saudaraku, mereka merampok harta benda milik kami, kemudian aku berguru dan belajar kungfu, aku bersumpah selama hidupnya akan menumpas kawanan penjahat pada umumnya "
Ia menengadah, lain berkata pula dengan tersenyum.
"Itulah salah satu alasanku mengapa harus kuhukum mati mereka, apakah alasanku ini tidak cukup kuat?"
Wajah Bun-hiong tidak ada senyum lagi, dengan khidmat ia mengangguk "Kutahu,' kata Toh Po-sit pula dengan menghela napas.
"dengan menghukum mati mereka sesungguhnya aku membantu si gembong iblis perencana intrik itu untuk membasmi lawan-lawannya, tapi terpaksa aku tidak dapat berpikir banyak lagi "
"Sesungguhnya siapakah si perencana intrik itu?"
Tanya Ithiong.
"Yaitu orang yang membuat kotak mi,"
Kata Toh Po-sit.
"Menurut pendapatmu, selain berisi intrik, kotak itu tiada berisi barang lain lagi?"
Tanya It-hiong "Ya, hampir mutlak dapat dikatakan begitu,"
Toh Po-sit mengangguk "Jika begitu, untuk apalagi kita mencari gembong iblis yang misterius itu di Cap pek pan-nia?"
Tui-beng poan-koan tersenyum ."Tidak, harus kau pergi ke sana, sebab perencana intrik itu sangat mungkin adalah dia sendiri "
Ia merandek sejenak, lalu berkata pula.
"Nah sekarang boleh kalian seret mayat mereka keluar dan ditanam"
It-hiong dan Bun-hiong menuju ke halaman, terlihat si mata satu dan si tembong sudah kaku tak berkutik lagi, hidung, mata, mulut dan telinga mereka keluar darah.
Sedang Oh Beng-ai tampak berdiri bingung di situ 'Mestinya jangan kau keluar.' kata li-uiong mendekati wanita itu "Kedua orang iin mereka..."
Ucap Beng-ai dengan muka pucat "Kau kenal mereka?"
Tanya It-hiong dengan tertawa. Cepat Beng-ai menggeleng.
"Tidak kenal mereka. Maksudku, mereka mati dengan sangat mengenaskan.
"Tidiak,"
Ujar It-biong.
"Cara mati mereka memang betul menakutkan, tapi kematian mereka tidaklah mengenaskan. Sebab selama hidup mereka telah membunuh orang tak terhitung jumlahnya, kematian mereka adalah ganjaran yang setimpal."
"Mengapa mereka bisa datang kemari'"
Tanya Beng-ai.
"Apalagi selain ingin mendapatkan kotak itu,"
Tutur It-hiong. Beng-ai menghela napas dan bergumam.
"Manusia mati karena harta, burung mati karena mencari pangan, pameo ini memang tidak salah . It-hiong mengangkat mayat si mata satu, katanya kepada Bun-hiong.
"Boleh kau angkat mayat satunya, ayo'"
Begitulah mereka mengangkat kedua mayat itu keluar rumah, mereka mencari suatu tempat dan menggali sebuah liang untuk menguburnya Setiba kembali di rumah gubuk itu, Beng-ai sudah menyiapkan santapan, mereka berempat lantas makan malam "Setelah kotak itu ditemukan kembali, besok juga boleh kalian membawanya ke Cap-pek-pan-nia,"
Kata Tui-beng-poan-koan Toh Po-sit sambil makan.
"Esok juga aku akan pulang ke sana, selanjutnya boleh kalian menemuiku di sana."
Habis bicara ia lantas hendak kembali ke kamar "Eh, nanti dulu,"
Kata It-hiong. Lantas bagaimana dengan nona Oh?"
"Biarkan dia tinggal saja di ini"
Ucap Toh Po-sit "Kurasa kurang aman membiarkan dia tinggalan sendirian di sini,"
Ujar It-hiong.
"Kenapa engkau tidak membawanya ke sana sekalian?"
Toh Po-sit berpikir sejenak, katanya kemudian sambil mengangguk.
"Ehm, boleh juga kubawa dia ke sana, di sana memang juga perlu seorang perempuan yang dapat menanak nasi."
Habis berkata ia lantas kembali ke kamarnya. Beng-ai tampak kurang senang, ia menggerundel terhadap Ithiong.
"Kenapa bukan engkau saja yang membawaku pergi?' Kau minta kubawa dirimu ke Cap-pek-pan-nia ?'' tanya Ithiong 'Ya,'"
Si nona mengangguk "Ai, jangan bercanda."
Ujar It-hiong tertawa Jika kamu mahir kungfu masih mendingan, tapi dirimu cuma seoraug nona yang lemah dan tidak tahan sekali pukul"
"Aku tidak takut,"
Jawab Beng-ai. Namun It-hiong tetap menggeleng Mulut si nona menjengkit, ia bersihkan meja makan, sesudah mencuci mangkuk piring, ia kembali lagi ke ruangan dan berkata.
"Bagaimana kalau kita berjalan-jalan keluar?"
"Baiklah,"
Jawab It-hiong sambil berbangkit Keduanya lantas meninggalkan Pang Bun hiong dan keluar, mereka menyusur sebuah jalan setapak yang menuju ke lereng gunung.
Cuaca malam ini sangat Indah, cahaya bulan terang dan lembut, angm meniup sepoi basah mengiringi bayang pohon bergoyang pelahan, Mereka berjalan berendeng melintasi jalan setapak tesebut serupa sepasang kekasih Sekian lamanya mereka berjalan dengan diam kemudian Liong It-hiong yang membuka suara lebih dulu.
"Ada urusan apa hendak kau bicarakan denganku?"
Beng-ai seperti tenggelam dalam lamunannya. selang sejenak barulah menjawab.
"Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan"
"Jika kau rasa tidak ada sesuatu yang perlu dirahasiakan, segala apa tentu dapat kau katakan"
Ujar It-hiong. Si nona mendadak berheti dan menatapnya dengan tajam, tanyanya kemudian dengan suara lirih.
"Apakah ben ... benar engkau suka padaku?" '"Apakah kauminta kusumpah lagi?"
Tanya It-hiong dengan tertawa. Beng-ai tertawa malu, ucapnya.
"Soalnya aku selalu merasa tidak setimpal menjadi istrimu "Sebab apa?"
Lanya It-hiong "Adu dua sebab,"
Jawab Beng-ai
"Pertama. aku kan perempuan yang sudah..."
"Soal pertama tidak perlu kau pikirkan,"
Potong lt-hiong dengan tertawa "Kutahu engkau masih suci bersih, dan itu sudah cukup. Katakan saja yang kedua"
Beng-ai ragu sejenak, lalu berkata.
"Kedua asal-usulku tidak bersih, sudah lama mestinya hendak kukatakan padumu namun aku merasa takut dan...."
"Jangan takut katakan saja terus terarig."uiar lt-hiong "Sesudah kukatakan, biaa jadi engkau akan terus melengos dan tinggal pergi "
"Tidak, pasti tidak "
"Betul ?"
"Ya!"
"Aku....aku adik perempuan Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam'"
Habis berkata demikian Beng-ai lantas menunduk.
It-hong sangat senang, pelahan ia angkat dagu Si nona.diciumnya berulang bibir Beng-ai yang tipis itu Muka si nona menjadi merah, malu dan girang, ia membenamkan mukanya di dada anak muda itu dan bertanya.
'Engkau tidak menvesal ?*' "Tidak, sama sekali tidak,"
Jawab It-hiong mantap sambil merangkulnya erat-erat "Tentu sangat di luar dugaanmu. Bukan?'"
Tanya Beng-ai.
"Tidak, sudah lama kutahu kamu adik perempuan Oh Kiamlam. selama ini sengaja kutunggu Kau bicara sendiri padaku."
"Oo. jadi engkau sudah tahu sebelum ini ?"
Terbelalak mata Beng-ai "Ya,"
Kata It-hiong Beng-ai menjadi curiga, 'Hah, jadi kunjunganmu ke Liu-jun-ib dulu memang sengaja hendak mendekati aku?"
"Kau bicara dengan terbalik"
Kata It-hiong tertawa "Kamu yang sengaja mendekati aku.
Waktu itu kamu berkomplot dengan In-tiong-yan Pok Yang-thian dan muncul di kelenteng itu dengan nama samaran Ni Beng-ai dan menipu kotak pusakaku "
"Betul, sampai kulupa pada peristiwa tersebut,"
Kata Beng-ai dengan tertawa "Cuma apa yang kulakukan itu adalah karena dipaksa oleh Pok Yang-thian. Dia kan saudara angkat kakakku terpaksa harus kukerjakan baginya" 'Kautahu apa isi kotak itu?"
Tanya It-hiong "Tidak tahu,"
Jawab Beng-ai sambil menggeleng.
"Berulang pernah kutanya dia, namun dia tidak mau menjelaskan " 'Biar kuberitahukan padamu. Mereka yakin di dalam kotak itu tersimpan shelai peta rahasia tinggalan kakakmu, yaitu peta rahasia harta karun. maka terjadilah perebutan kotak itu dengan saling membunuh."
"Oo ..."
Beng-ai terkejut "Apakah kau tahu kakakmu dibunuh oleh siapa?"
Tanya Ithiong "Tidak tahu."
Beng-ai menggeleng "Konon kakakmu meninggalkan satu partai harta itu?"
"Aku tidak tahu. meski aku ini adiknya, tapi selamanya aku tidak berani tanya urusannya,"
Jawab si nona dengan menggeleng pula.
"Sebab apa engkau sampai terjerumus ke rumah hiburan?"
Tanya it-hiong "Kautahu, meskiki Bu-lim-jit-coat adalah saudara angkat kakakku tapi sebenarnya persaudaraan di antara mereka cuma akur di luar dan renggang di dalam sering mereka bertengkar karena pembagian rejeki yang tidak merata, mereka menuduh kakak terlampau serakah dan sesungguhnya kakak memang rada rakus"
"Sebagai pemimpin besar ke 72 sarang bandit ketujuh propinsi selatan, adalah layak jika bagiannya lebih besar daripada yang lain."
Ujar It-hiong "Sering kuberi nasihat agar cuci tangan saja dan jangan bekerja pula, namun dia tidak mau menurut, tebaliknya aku didamperat habis-habisan.
Kemudian aku pun tidak berani omong lagi.
Namun kutahu Lok-lim-jit-coat merasa dendam kepada kakak tampaknya ada maksud mereka akan memakna kakak mengundurkan diri dari pimpinan."
"Bisa jadi kakakmu dibunuh oleh mereka bertujuh?"
Ujar Ithiong "Tidak, waktu kakak meninggal mereka sama berada di markas besar, kukira tidak mungkin dilakukan oleb mereka.
Cuma ketika mereka menerima berita kematian kakak, mereka memang kelihatan sangat gembira, malahan mengadakan pesta perayaan.
Kutahu tak dapat lagi tinggal di sana, cepat kularikan diri Aku kabur ke Hangciu untuk mondok di tempat seorang saudara ibuku, siapa tahu paman itu sudah pindah tempat, terpaksa kutinggal di hotel tanpa berdaya, akhirnya aku kehabisan sangu orang hotel mengusirku, karena tiada jalan lain, terpaksa ku ..."
Bertutur sampai di sini. pecahlah tangisnya dengan sedih "Jangan menangis, dalam keadaan begitu, apa yang kaulakukan memang dapat dimaklumi."
Dengan lembut Ithiong menghiburnya 'Engkan tidak memandang hina padaku?"
Tanya Beng-ai sambil mendongak dengan air mata masih meleleh "Pasti tidak,"
Jawab lt-hnmg, Maka Beng-ai bertutur pula.
"Meski aku terjerumus di rumah hiburan, namun nasibku tidak terlampau jelek, karena induk semang melibat wajahku cukup lumayan maka aku tidak boleh sembarangan menerima tamu, lantaran itulah aku dapat bertahan kebersihan tubuhku hingga kini. Ini sesungguhnya, hendaknya engkau percaya padaku "
"Kupercaya,"
Tukas It-hiong dengan tersenyum Beng-ai tertawa sambil mengusap air matanya "Aku sangat bahagia berkenalan denganmu "
"Aku juga,"
Kata It-hiong "Tapi ingin kutanya padamu, aku kau bawa kesini apakah ada maksud tujuan tertentu?"
Tanya Beng-ai tiba-tiba "Kau kira aku ada maksud tujuan lain ?"
It-hiong tersenyum.
"Sebaiknya tidak ada,"
Si nona merasa terhibur "Hendaknya kau percaya saja padaku "
Kata it-hiong.
"Selaputnya tidak peduli apa yang terjadi, yang pasti, tidak akan kubikin susah padamu.' Gembira sekali Oh Beng-ai kembali ia membenamkan kepalanya di dada anak muda itu Esok paginya, dengan membawa kotak palsu itu It-hiong dan Bun-hiong meninggalkan lagi Bokkan-san dan menuju ke utara. Setelah perjalanan dua hari, tibalah mereka di kota Kimleng, Bun-hiong mengundang It-hiong mampir ke rumahnya untuk bermalam esoknya mereka melanjutkan perjalanan menuju ke utara Berturut-turut empat-lima hari telah lalu selama itu "tidak terjadi sesuatu, hal ini rada di luar dugaan Liong It-hiong, katanya dengan tertawa.
"Sekail ini agaknya kita dapat sampai di Cap-pek-pan-nia dengan selamat."
"Ya, semoga,'' kata Bun hiong. Sebelum ini. setiap kali kotak ini berada ditangan siapa pun, dalam waktu singkat tentu akan muncul perampas, tapi sekali ini ternyata tidak terjadi gangguan, maka sekali ini kita mungkin dapat mencapai tempat tujuan dengan aman."
Mungkiri orang tahu kotak yang kita bawa ini barang palsu,"
Kata Bun-hiong dengan tertawa.
"maka ......"
"Kukira hal ini tidak mungkin,"
Potong it-hiong.
"Seumpama ada seorang misterius selalu mengikuti jejak kotak pusaka ini, sekali ini kecuali dia pernah menyusup ke rumah gubuk tempat tinggal Toh-locianpwe itu, kalau tidak, tak mungkin dia tahu barang yang kita bawa ini adalah palsu. Padahal kau tahu betapa hebat kepandaian Toh Po-sit, jika ada orang menyatroni tempat tinggalnya, betapapun sulit terlepas dan mata telinganya "
"Jika begitu, mungkin tokoh yang misterius itu telah membuntuti jejak Ang-liu-soh Ban Sam-hian."
Ucap Bun-hiong dengan tertawa It-hiong mengangguk, '"Betul, mungkin kotak palsu yang dibuat Hui Giok-koan itu selain dapat menipu Ban Sam-hian, bisa jadi tokoh misterius itu pun ikut tertipu sehingga ia pun mengikuti jejak Ban Sam-hian."
Tapi segera ia membantah alibi sendiri, katanya pula denga menggeleng.
"Namun jika demikian halnya, kenapa Tok-ganbu-siang dan Cojing-bin justru mengikuti diriku?' "Mungkin secara tidak sengaja dia melihat kotak yang kaubawa itu,"
Kata Bun-hiong "Tidak aku tidak peceaya bisa terjadi kebetulan seperti itu..."
"Memangnya kau suka ada orang muncul untuk merampas kotak palsu ini?"
"Ah, jangan bercanda, masa aku suka terjadi begitu"' "Jika tidak suka hendaknya engkau jangan sangsi dan curiga macam-macam lagi."
Liong It-biong memandang sekitarnya, katanya kemudian.
"Tampaknya kita sudah hampir sampai di Jiciu bukan?"
"Ya kira kira tujuh atau delapan li lagi.' kita Bun-bong. Apakah malam ini kita akan tinggal di Jiciu....."sampai di situ, mendadak ucapannya terputus dan mendadak berhenti melangkah. Bun-hiong juga ikut berhenti, ia pandang hutan di kedua samping jalan, katanya dengan tertawa.
"Sungguh aneh.tempat ini bukan hutan lebat di tengah pegunungan, darimana datangnya suara binatang buas?"
Kiranya serentak mereka mendangat suara auman serupa suara harimau, sebab itulah mereka terkejut dan sama berhenti "Mungkinkah suara guruh?"
Kata It-hiong sambil celingukan kian kemari. Sekonyong-konyong terdengar lagi lebih jelas raungan harimau berkumandang dan dalam hutan sana.
"Masa ini suara guntur''"
Ucap Bun-luoug dengan tertawa. It-hiong memegang pedang yang buru dibelinya, katanyn dengan prihatin.
"Aku tidak percaya di sini ada harimau "
"Hauungg'' suara auman itu semakin dekat.
"Ini bukan suara harimau "Ucap Bun-hiong dengan air muka berubah "Habis apa kalau bukan harimau."
Tanya it-hiong kuatir ''Macan tutul!"
Kata Bun hiong "Darimana kau tahu ?"
Tanya it-hiiong dengan terkesiap "'Tahun yang lalu pernah akuu berburu bersama beberapa kawan dan banyak melihat binatang buas sebangsa harimau kumbang dan macan tutul maka dapat kubedakan suara mereka"
"Jika benar macan tutul tentu terlebih sulit dihadapi."
Kata lthiong dengan kuatir.
Tiba-tiba terdengar lagi suara raungan yang terlebih keras suaranya sudah semakin dekat malahan sudah mulai terdengar suara ''Srek-srek"' suara langkah harimau Segera Bun-hiong melolos pedang, katanva.
"Jika di tempat ini ada macan tutul, mau-tak-mau kita harus memberantasnya kalau tidak ..."
Ucapnya terputus mendadak, sebab dia sudah melihat munculnya macan tutul.
Seekor macan tutul yang menakutkan.
Binatang buas ini muncul dari hutan yang berdekatan, kedua buah matanya yang hijau berkilat itu menatap It-hiong berdua dengan buas.
Namun macan tutul ini tidak muncul dengan sendirinya melainkan dituntun orang, yang menuntun macan tak-laintak-bukan adalah Kim-ci-pa Song Goan-po "Aha.
kiranya engkau, Song-tangkeh!' teriak It-hiong "Ya, kembali kita berjumpa pula,"
Jawab Song Goan-po sambil terkekeh Ia menuntun macan tutul ini dan berhenti di tengah jalan dengan sikap mengadang. It-hiong bekernyit kening, katanya.
"Dari mana kau dapatkan macan tutul ini ?"
"Ini macan piaraanku "
Tutur Song Goan po dengan tertawa. Kupiara dia sejak kecil, maka dia sangat penurut pada perintahku "' "Kau gunakan dia untuk mencelakai orang?"
Tanya It-biong "Tidak mesti,"
Kata Song Goan-po.
"Tanpa perintahkudia takkan sambarangan mengganggu orang. Tapi sekali kuberi perintah, hehe..."
It-hiong menuding Bun-hiong dan berkata pula.
"Dia ini sahabatku. Pendekar Harimau Pang Bun-hiong "Haha, sayang dia bukan harimau tulen!"
Ejek Song Goan-po dengan tertawa lebar. Dia memang bukan harimau tulen, tapi dia mempunyai kesaktian untuk menundukkan macan tutul tulen,"
Kata Ithiong dengan tertawa. Berputar biji mata Song Goan-po, ia tatap Pang Bun-hiong, katanya sambil menyeringai.
"Apakah betul, anak muda?"
Bun-hiong melototi It-hiong sekejap, tegurnya "Hai, kenapa kau timpakan kesulitan kepadaku ?"
It-hiong terbahak-bahak "Hahaha...engkau kan sudah, berpengalaman memburu macan tutul, dan aku tidak."
"Hai Liong It-hiong, tentu kau tahu maksud kedatanganku,"
Seru Song Goan-po.
"Nah, lekas lemparkan bungkusan yang kaubawa itu kepadaku ' It-hiong mengangkat pundak. jawabnya.
"Sumber beritamu ternyata makin lama makin cepat dan juga tajam ternyata kamu sudah tahu aku bernama Liong it-hiong"
"Ketika di luar Liong-coan-ceng tempo hari bilamana kutahu kamu ini Liong It-hiong, tentu sekali hantam sudah kubinasakan dirimu,"
Kata Song Goan-po "Oya ?"
It-hiong tertawa "Sekarang tidak perlu banyak omong, kau mau beri kotak itu atau tidak?"
Tanya Song Goan-po tak sabar "Coba katakan dulu kepadaku cara bagaimana kau tahu kami mendapatban kotak pusaka ini. Dari mana kau tahu kami akan lalu di sini?"
Tanya lt-hiong "Ada orang menyampaikan berita padaku,"
Tutur Song Goanpo.
"Siapa?"
Tanya lt-hiong pula.
"Entah..."
"Kenapa tidak tahu?'' "Tidak ada alangannya kukatakan terus terang padamu,"
Tutur Song Goan-po.
"Tempo hari setelah ku kabur dan Liong-coanceng, langsung ku datang ke selatan. Beberapa hari yang lalu ku lewat di suatu tempat dan bermalam di suatu hotel. pada waktu tengah malam mendadak ada orang membisiki aku dari atas rumah, katanya kamu sudah mendapatkan kotak pusaka ini,aku disuruh mencegat dirimu di uni. Habis bicara orang itu lantas menghilang waktu kususul ke atas rumah sudah tidak terlihat lagi bayangan orang itu ' "Dan suaranya tidak dapat kau kenali dia?"
Tanya It-hiong "Tidak,"
Kata Song Goan-po.
"Mengapa kau percaya kepada kisikan seorang yang tidak jelas asal-usulnya?"
Tanya It-hiong Song Goan-po tertawa.
"Lantaran aku sudah kehilangan petunjuk jejak kotak pusaka, tiba-tiba datang orang memberi kabar begitu, terpaksa harus kupercayai ucapannya. Tapi sekarang sudah terbukti orang itu tidak dusta padaku." ''Jika orang itu dapat membisikimu dari jarak jauh, ini menandakan kungfu orang itu pasti sangat tinggi, jika dia tahu di mana beradanya kotak pusaka dan dia sendiri tidak merampasnya melainkan cuma menyampaikan berita itu padamu, apakah kau tahu sebab apa dia berbuat demikian"
"Tahu,' jawab Goan po "Coba katakan, sebab apa?"
"Ia bilang setelah kudapatkan kotak pusaka harus memberi tiga bagian rejeki padanya sebab itulah kupercaya dia pasti seorang dari kalangan putih yang cukup ternama disampntg ingin mendapat bagian, di lain pihak kuatir pula diketahui orang akan maksudnya itu sehingga merusak nama baiknya, sebab itulah dia berbuat begitu secara diam-diam "
"Apakah rekaanmu ini masuk di akal?"
Tanya It-hiong.
"Masuk di akal,"
Jawab Song Goan-po tertawa.
"Jika begitu, biar kutanya lagi satu soal padamu,"
Kata Ithiong.
"Apakah kau tahu apa isi kotak itu?"
"Kau sendiri tidak tahu'"
Jawab Song Goan-po dengan heran "Kutahu, tapi rahasia yang menyangkut kotak itu terlalu banyak cerita yang.tersebar, maka ingin kudengar juga pendapatmu "
Song Goan-po tertawa cerdik, katanya.
"Kiranya kamu belum mengetahui apa isi kotak itu. tapi ingin memancing pengakuanku "
"Setahuku, kolak itu berisi sehelai peta rahasia harta karun tinggalan Oh Kiam-lam, betul tidak"
Air muka Song Goan-po berubah.
"Jika kamu sudah tahu, mengapa tanya lagi padaku ?"
"Jika yang kau ketahui juga cuma sekian saja. maka biarlah kukatakan padamu bahwa mutlak kotak itu tidak berisi peta rahasia segala, yang ada cuma intrik belaka "
"Intrikk?"
Song Goan-po melengak "Intrik apa?"
"Begini, menurut kenyataan yang sudah terjadi, di katangan liok-lim daerah utara akhir-akhir ini tampil seorang tokoh misterius, ia telah menjagoi berpuluh sarang bandit di beberapa propinsi utara, tapi dia masih bermaksud menaklukkan ke 72 sarang bandit daerah selatan. Karena dia tahu setelah Oh Kiam-lam mati, lalu kalian sedang sibuk mencari harta peninggalan Oh Kiam-lam. Maka ia sengaja membuat, sebuah kotak pusaka untuk mengadu domba agar antara kalian Lok-lim-jit-coat saling membunuh, bilamana kalian bertujuh sudah menggeletak semua, maha dapatlah ia menarik keuntungan tanpa susah payah dan menundukkan ke 72 sarang bandit sebagai anak buahnya."
"Dari mana kau tahu hal ini?"
Tanya Song Goan-po dengan prihatin.
"Berdasarkan perkiraanku,"
Jawab It-hioug "Aku berani bertaruh denganmu, orang yang menyampaikan bisikan padamu bahwa kotak pusaka berada di tanganku bukan lain daripada gembong iblis Cap pek-pau-nia itu."
Song Goan-po termenung sejenak, katanya dengan tertawa.
"Perkiraanmu memang cukup beralasan, tapi aku baru mau percaya bilamana kotak pusaka itu sudah kulihat sendiri.
"Kotak itu berada di sini."
Kata It-hiong sarnbil menuding bungkusan di atas punggungnya "Tapi apakah kamu mampu membukanya?"
"Serahkan padaku, dengan sendirinya ada akalku untuk membukanya,"
Kata Goan-po "Kotak ini juga berisi obat peledak, bila tidak dibuka menurut cara yang sudah diatur setiap saat kotak ini bisa meledak."
"Ada caraku dapat membuatnya tidak meledak,"
Ujar si botak alias Song Goan-po "Bagaimana caranya?"
"Tak dapat kukatakan padamu" ''Ya sudah jika tidak mau kau katakan lekas menyingkir.'"
Song Goan-po menepuk punggung macan tutul di sampingnya, katanya sambil menyeringai "Boleh kau tanya kawanku ini apakah mau menyingkir atau tidak."
It-hiong berpaling dan berkata kepada Pang Bun-hiong dengan tertawa.
"Pang heng, engkau adalah ahli memburu binatang buas. sekarang giliranmu u ntuk beraksi."
"Buiyet!"
Omel Bun-hiong dengan tertawa "Orang sengaja datang demi dirimu, untuk itu dia sengaja mengajak kawannya yang kereng itu mengapa.. ?"
Mendadak Soug Goan-po mendorong macan tutul itu sambil membentak.
"Gigit saja kepala bocah itu, kawan'"
Serentak macan tutul itu meraung sekali serupa anak panah terlepas dari busurnya, langsung ia menerkam Pang Bun-hiong Keruan Bun-hiong terkejit cepat ia mengeos dan melompat ke samping. makinya.
"Binatang, aku tidak punya kotak pusaka untuk apa kau cari diriku?' Gerak-gerik macan tutul terlebih gesit daripada harumau umumnya, tubrukannya tadi sungguh secepat kilat, tapi di sini pula letak kelemahannya, lantaran terlampau cepat, biIa sekali terkam tidak kena sasarannya, seketika ia pun tak dapat berhenti dan begitulah keadaannya sekarang, waktu Pang Bun-biong melompat ke samping, dengan cepat macan tutul itu melompat lewat di tempat berdiri Bun-hiong tadi dia rnenyelonong ke depan dua tombak jauhnya. Kesempatan itu digunakan Bun-hiong untuk memburu ke sana, pedang terus menusuk pantat binatang itu. Siapa tahu macan tutul ini bukanlah macan tutul biasa, jelas dia pernah mengalami latihan yang keras, ternyata dengan gesit ia dapat menghindari serangan, sekali ekornya bergerak, seperti kitiran ia putar balik sambil meraung, sebelah cakarnya terus mencengkeram. Dalam keadaan demikian bila pedang Pang Bun-hiong tetap menusuk, macan tutul itu tetap akan kena tertusuk, tapi ia sendiri tentu juga akan tercakar mati, terpaksa ia menarik kembali pedangnya sambil melompat mundur. Dua kali menubruk mencakar tidak kena sasaran, macan tutul itu tambah buas, kembali ia mengeluarkan suara auman galak dan menubruk lagi. Tetap Bun-hiong tidak berani memapak tubrukan yang dahsyat itu, ia mendak ke bawah untuk menghindar, dengan jurus "Kim-sian-toh-hong"
Atau katak emas menjulur lidah, ia angkat pedang untuk menusukk perut binatang itu .
Begitulah terjadi pertarungan sengit antara manusia dan macan tutul.
Sama sekali macan tutul itu tidak dapat menyentuh Pang Bun-hiong.sebaliknya Bim-hiong juga tidak mampu membereskan dia dalam waktu singkat dan pertarungan bertambah seru.
Melihat macan tutul itu cukup kuat menghadapi Pang Bun hiong, Song Goan-po tertawa senang, ia tepuk tangannya yang berbulu dan berteriak.
"Nalh Liong It-hiong boleh juga kita main-main beberapa jurus"
Segera ia menerjang maju.
sebelah telapak tangan lantas menabas It-hiong mengegos ke samping, pedang lantas dilolos, sekali sabat ia tebas, pinggang lawan.
Mendadak Song Goan-po meloncat ke atas.
selagi terapung kedua kakinya menendang beruntun-runtun mengincar kedua mata Liong It-hioiig.
Akan tetapi Liong It-hiong mendoyong ke belakang, pedang berputar, dari menabas berubah menjadi mencungkil, perut lawan yang diarah.
Song Coan-po tidak malu berjuluk "Kim-ci-pa"
Atau si macan tutul, gerak-geriknya sama gesitnya serupa macan tutul tulen, kedua kakinya memancalsehingga tubuh melejit ke samping, berbareng itu sebelah tangannya menghantam dengan dahsyat It-hiong merasakan tenaga pukulan jauh itu sangat kuat cepat ia pun melompat mundur, tapi cepat ia menerjang maju dan melancarkan serangan lagi, pedang berputar, sebentar menusuk dan sebentar lagi menabas tanpa putus.
Ternyata pertarungan mereka berdua tidak kalah sengitnya dibandingkan pertarungan Pang Bun hiong melawan macan tutul.
Meski Bun-hiong sudah pernah berburu macan tutul, tapi hal itu dilakukan dengan memasang perangkap, sesungguhnya ia tidak pernah bertarung melawan harimau atau macan tutul.
Sebab itulah semula ia rada jeri dan tidak berani melancarkan serangan secara bebas sehingga sampai sekian lamanya macan tutul itu tidak terkena satu pukulanpun.
Sebaliknya macan tutul itu seperti memiliki tenaga yang tidak habis-habisnya, berturut ia menubruk belasan kali meski tetap tidak dapat menerkam Pang Bun-hiorg namun, masih tetap tidak berhenti menubruk dan mencakar dengan garangnya.
Sembari menghindar Pang Bun-hiong juga mencari peluang untuk balas menyerang, namun beberapa kali pedang menyerang tetap sukar mengenai bagian mematikan di tubuh binatang buas itu, mau-tak-mau ia mulai gelisah "Haungg'"
Sambil mengaum, mendadak serangan harimau tutul itu berubah ia tidak menubruk dan mencakar lagi melainkan mendesak maju dengan pelahan.
sikapnya kelihatan licik dan menakutkan Bun-hiong merinding sambil menyurut mundur selangkah demi selangkah, omelnya.
"Binatang, memangnya kamu akan main gila cara lain?"
"Haunggg!"
Macan tutul itu meraung pula terus menerjang lurus ke depan Cepat Bun-hiong bergeser ke samping, berbareng pedang menusuk ke perut binatang buas itu.
Sekali ini perut macan tutul itu tertusuk, ia menggerang keras lantaran ia sedang menyeruduk dengan cepat mata ujung pedang Bun-hiong juga sempat menyayat luka kecil kulitnya malahan kaki belakang harimau itu sempat mendepak "plok".
batang pedang terpental lepas dari pegangan dan jatuh ke dalam hutan.
Karena kagetnya, Bun-hiong ikut terpelanting dan jatuh terjengkang.
Untung harimau tutul itu terus menerjang ke depan dan tidak sempat putar balik untuk menerkamnya lagi.
Cepat Bun-hiong melompat bangun Setelah menyelonong ke sana beberapa tombak jauhnya, segera macan tutul itu putar balik dan main tubruk dan mencakar lagi.
Akhirnya Pang Bun-hiong juga kehabisan kesabaran, mendadak ia membentak, sebelah kaki terus mendepak "'Bluk', tepat pinggang harimau terdepak, kontan ia terguling.
Bun-hiong tida sia-siakan kesempatan itu, sembari membentak secepat kilat ia melompat keatas punggung harimau, dengan telapak tangan ia hantam batok kepala binatang itu sekuatnya, sekaligus ia melancarkan tujuh-delapan kali pukuIan.
Akhirnya macan tutul itu tidak bergerak lagi sebab batok kepalanya pecah.
Bun-hiong menghela napas lega, ia mengusap air keringat yang membasahi jidatnya, gumamnya "Keparat, bilamana tahu pakai telapak tangan terlebih cepat selesai daripada pedang tentu sejak tadi beres.
Melihat kawannya sudah membereskan macan tutul itu.
Liong It-hiong yang agak kerepotan melayani Song Goan-po lantas berteriak.
"Hei jangan diam saja di situ lekas bantu diriku'" .
"Kenapa terburu-buru? Kan perlu kuganti napas dulu!"
Ucap Bun-hiong.
Pelahan ia berjalan ia mengambil kambali pedang yang terpental ke hutan tadi, dilihatnya serangan Song Goan-po semakin ganas, sebaliknya Liong ithiong mulai kelihatan kewalahan.
Segera ia berseru.
"He, Song botak, jika kamu tidak lekas enyah, sebentar boleh kau susul macan tutulmu pulang ke rumah nenek moyangmu'' Melihat harimau kasayangan sendiri terpukul mati. tidak kepalang rasa murka Song Goan-po. Sungguh kalau bisa ia ingin segera menghantam mampus Liong lt-hiong lalu membuat perhitungan dengan Pang Bun-hiong. Akan tetapi disini mendengar ucapan Pang Bun-hiong. dirasakan kata-kata orang masuk diakal juga. Terpikir olehnya untuk mengalahkan Liong It-hiong saja tidak mudah, apalagi kalau bertambah lagi seorang Pang Bun-hiong, jelas dirinya pasti akan keok. Meski watak Song Goan-po kasar dan pemarah, tapi ia pun tahu perlu sayang akan jiwa sendiri. Maka mendadak ia melompat mundur sambil membentak.
"Berhenti dulu!"
Segera Liong It-hiong berhenti menyerang, katanya dengan tertawa.
"Kau mau apa?"
Dengan muka cemberut Song Goan-po diam saja.
tapi mendekati bangkai macan tutulnya, ia berjongkok dan meraba-rabanya sejenak dengan wajah sedih dan gemas, ia pandang Pang Bun-hiong dangan gusar, katanya.
"Keparat, kau bunuh harimauku, utangmu ini hendaknya dicatat' "Hah, tidak perlu basa-basi. lekas enyah saja"
Jawab Bunhiong dengan tertawa Song Goan-po mendengus, dipanggulnya bangkai harimau, lalu hendak melangkah pergi "Nanti dulu, Losi!"
Mendadak bergema suara orang di dalam hutan.
Menyusul muncul seorang kakek berbaju hitam Usia kakek ini kira-kira 60-an, mukanya lonjong serupa muka kuda, matanya terbelalak bercahaya serupa mata ular, sikapnya dingin dan seram Melihat si kakek, Song Goan-po terkejut dan bergirang, ia berhenti dan berseru.
"Aha....Jiko kiranya engkau .."
Si kakek baju hitam mendengus pelahan.
"Ehm, jangan pergi dulu. Jelek-jelek kita kan bersaudara, marilah kita bersatu membereskan mereka "
"Kenapa tidak?"
Si kakek mengangguk.
"Bagus,"
Seru Song Goan-po dengan girang.
"Tapi cara bagaimana kita bagi rejeki setelah mendapatkan barang itu?"
"Satu dibagi dua."
Jawab si kakek.
"Baik, setuju!"
Seru Song Goan-pu sambil membuang bangkai harimau, lalu ia berpaling kepada It-hiong dan Bun-hiong, katanya dengan terkekeh.
"Nah, kawan, sekali ini kita dua lawan dua boleh coba lagi!"
It-hiong tersenyum.
"Apabila tidak keliru dugaanku, yang ini tentunya Cian-in-jiu Loh Bok-kong bukan'.'"
"Haha. tepat dugaanmu,"
Seru Song Goan-po It-hiong menjura terhadap Cian-in-jiu Loh Bok-kong, katanya.
"Sudah lama kudengar nama besar Juragan Loh, sungguh beruntung dapat berjumpa di sini "
V Loh Bok-kong menjengek.
"Hm. tidak perlu banyak omong. Pendek kata, kalau ingin seIamat harus lekas serahkan kotak pusaka itu. Mengingat tidak mudah kau hidup sampai sebesar ini, biar kuampuni jiwamu!"
"Ah, jangan sungkan,"
Kata It-hiong tertawa "Ada kemampuan apa yang kau kuasai, silahkan coba ambil saja jiwaku dan kotak pusaka ini."
"Kurang ajar, sungguh bocah yang tak tahu mati hidup,"
Damperat Loh Bok-kong sambil terkekeh "Baik. ingin kulihat kamu mempunyai berupa lembar nyawa serep"
Habis berucap, sekali berkelebat, tahu-tahu ia sudah melompat ke depan Liong It-hiong.langsung kelima jarinya yang terangkum serupa pisau terus menjojoh ke muka Liong It-hiong.
Gerak serangannya sungguh secepat kilat lagi lihai.
lt-biong menyurut mundur, pedang berputar cepat untuk menangkis la tahu gerak serangan lawan yang pertama itu pasti cuma pancingan belaka, tapi ia tidak tahu serangan berikutnya akan mengincar bagian mana, sebab itulah it-hiong putar kencang pedangnya untuk berjaga Benar jaga, baru setengah jalan segera serangan Loh Bokkong berubah telapak tangan kanan ikut menyerang juga, tetap dengan juri terangkap untuk memotong pinggang Liong It-hiong.
Tapi karena It-hiong sudah tahu sebelumnya dengan putar pedang untuk melindung seluruh tubuhnya tanpa memberi peluang, maka kedua kali serangan Loh Bok-kong dapat dipatahkan seluruhnya Baru sekarang Loh Bok-kong tahu It-hiong bukan lawan empuk.Namun dia terhitung tokoh kelas tinggi kalangan bandit, selama hidupnya entah berapa kali pernah mengalami pertempuran sengit.
pengalamannya luas.
Iwekangnya kuat, Setelah dua kali serangan gagal, mendadak sebelah kaki menendang.
Tendangan ini telah mengacaukan pertahanan Liong It-hiong terpaksa ia bergeser mundur, lalu pedang balas menabas kaki lawan Namun reaksi Loh Bok-kong cepat dan gesit sekali, baru saja pedang It-hiong menabas, cepat ia menarik kembali tendangannya, berbareng kedua telapak tangan menghantam ke depan secara mengacip, gayanya seperti gunting atau kacip mengarah leher Inilah kungfu andalan Loh Bok-kong sesuai julukannya Cianin-jiu atau tangan kacip, jurus serangan itu di sebut "Tui-inkiu-cian"
Atau sembilan kali kacip pemburu awan.
Baru pertama kali ini Liong It-hiong kenal Loh Bok-kong, tapi sebelumnya sudah diketahuinya tangan kacip orang yang merupakan kungfu lihai di dunia persilatan, maka sebelumnya ia sudah berjaga-jaga, dan begitu melihat orang menyerang dengan mengacip, cepat melompat mundur sehingga serangan orang terpatahkan.
Biasanya tangan kacip Loh Bok-kong itu jarang gagal, kini Liong It-biong ternyata dapat menghindar begitu saja, diam-diam ia mendongkol dan merasa malu, tapi lantaran itu juga merangsang amarahnya, dengan mata mendelik ia membentak, mendadak ia melompat ke atas, dengan gaya "harimau Iapar menerkam kambing"
Segera ia menubruk Melihat tubrukan lawan yang lihai itu, mendadak It-hiong mendak sedikit, ia pun mengertak sekerasnya, pedang menegak menyambut tubrukan orang dengan suatu tusukan Loh Bok-kong seperti sudah menduga akan jurus serangan lawan ini.menadak telapak tangan kanan menyampok.
"plak"
Batang pedang It-hiong tertolak ke samping, menyusul telapak tangan yang lain terus menghantam batok kepala anak muda itu Cepat It-hiong mengegos, menyusul pedang balas menusuk leher musuh.
Pertarungan mereka berlangsung dengan sengit serupa duel dua orang musuh bebuyutan, kedua pihak sama mengeluarkan serangan maut.
Makin lama makin dahsyat.
Melihat gelagatnya serangan Loh Bok-kong terlebih ganas, tapi setiap kali menghadapi serangan berbahaya, pada detik gawat selalu It-hiong dapat menyelamatkan diri Nyata untuk dapat menentukan kalah dan menang, antara mereka berdua masih diperlukan waktu pertarungan yang lama.
Setelah mengikuti beberapa jurus pertarungan mereda.
Sung Goan-po yakin kakek yang kedua itu pasti akan menang, maka ia lantas mendekati Pang Bun-hiong.
katanya sambil menyeringai "'Nah.
sekarang aku akan menuntut balas bagi macan tutul kesayanganku, lekas serahkan nyawamu"
Bun-hiong tertawa.
"Eh. Kau sendiri harus hati-hati, jangan sampai kepalamu juga kuhantam remuk serupa macan tutulmu,"
Ejek Bun-hiong Song Goan-po membentak murka, mendadak ia menubruk maju kedua tangan menghantam sekaligus sehingga menerbitkan angin pukulan dahsyat.
Bun-hiong tidak ingin keras lawan keras ia megeos ke samping, dengan cekatan ia berputar ke samping kiri lawan pedang terus menusuk pinggang si botak.
Song Goan-po mendengus sekali sambil berputar, tangan kiri menyarnpuk tangkai pedang lawan menyusul kaki kanan terus menendang "Aduhh."
Baru saja kedua orang mulai bergebrak, segera terdengar suara jeritan.
Song Goan-po mengira Loh Bok-kong kecundang.
ia terkejut dan cepat melompat mundur serta menoleh ke sana.
Sebaliknya Bun-hiong dapat mengenali jeritan itu adalah suara Liong It-hiong ia pun terkejut dan coba memandang ke sana terlihat It-hiong sudah mengeletak di tanah agaknya jatuh pingsan Tentu saja Bun-hiong terkesiap, sembari membentak segera ia bermaksud menerjang ke sana untuk menolong "Jangan bergerak"' mendadak Loh Bok-kong menggertaknya dengan sebelah kaki menginjak batok kepala Liong It-hiong.
Seketika Bun-hiong tidak berkutik, sebab ia tahu jika dirinya menerjang ke sana asalkan pihak lawan sedikit menggunakan tenaga, seketika kepala It-hiong akan remuk.
Tentu saja ia cemas, cepat katanya "Juragan Loh, jika sampai kau celakai jiwanya, tentu akan kulabrak dirimu mati-matian'"
"Hm, kamu setimpal melabrakku?"
Ejek Loh Bok-kong. ' "Sedikitnya engkau kan sudah tua dan aku masih muda kuat, biarpun sekarang belum dapat menandingimu pada suatu hari kelak pasti setimpa! kulabrakmu "
"Hahahaha. betul juga ucapanmu ini..."tiba-tiba Loh Bok-kong tergelak "Maka boleh kau ambil saja barangnya dan lekas pergi.'' kata Bun-hiong Benar juga, segera Loh Bok kong berjongkok dan melepaskan bungkusan yang tersandang dipunggung Liong lt-hiong. habis itu mendadak ia putar tubuh terus lan pergi secepat terbang. Keruan Sung Goan-po melenggong cepat ia mengejar sambil berteriak.
"Tunggu dulu, Jiko!"
Dengan cepat sekali bayangan kedua orang itu lantas menghilang di kejauhan.
Bun-hioag lantas mendekati lt-hiong.
ia berjongkok dan coba membalik tubuh kawannya itu, terlihat kedua mata It-hiong terpentang lebar, pikirannya sega.r Keruan ia melenggong bingung "Hei.
engkau tidak apa apa?"
"Coba periksa hiat-to kelumpuhanku,'' kata It-hiong. Pandangan Bun-hiong beralih ke hiat-to kelumpuhanan, ditemukan pada hiat-toto yang dimaksud tertancap sebatang jarum kecil warna perak, segera ia cabut jarum itu dan diperiksa katanya kemudian "Tampahnya tidak beracun"
"Kalau beracun, sejak tadi jiwaku sudah amblas "
Ujar It-hiong sambil menyengir. Bun-hiong lempar jarum itu dan memijat Hiat-to sembari tanya, 'Tua bangka itu yang menimpuk dengan jarum itu?"
"ya siapa lagi."
Sahut It-hiong "Sungguh rendah caranya, di luar tahuku senjata rahasianya menyambar keluar dari dalam lengan baju"' Ebook oleh . Dewi KZ Scan book oleh . BBSC
Jilid 18
"Itu namanya jarum di dalam lengan baju yang paling sukar dilayani."
Ujar Bun-hiong dengan tertawa.
"Padahal tanpa menggunakan senjata rahasia, lambat-laun aku pun akan kalah Loh Bok-kong itu jauh lebih tangguh daripada Song Goan-po. aku memang bukan tandingannya "Mendingan dia punya perasaan, tidak menyambar sekalian nyawamu,"
Kata Bun-hiong It-hiong merasa sudah dapat bergerak, segera ia berdiri, katanya,"
Ayo berangkat, kita tidak boleh kehilangan kotak itu. Lekas kita cari mereka"
"Saat ini mungkin mereka sudah beberapa li jauhnya, dapatkah kau menyusulnya? ' "Tidak dapat menyusul juga harus kita kejar. memangnya kotak itu dibiarkan dibawa lari begitu saja?"
Bun-hiong mengangkat pundak.
"Mau kejar silahkan kau kejar sendiri, aku tidak mau.'' "Oo, kau takuT?"
Tanya It-hiong.
"Tidak,"
Bun-hiong menggeleng.
"Aku tidak ingin buang-buang tenaga pereuma "
"Mengapa kau anggap buang tenaga pereuma'' "Coba jawab jika sudah dapat kita susul mereka, lalu mau apa?"
"Labrak mereka, apalagi ?"
"Tadi kan sudah kau labrak ?"
It-hiong garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ucapnya sambil menyengir.
"Habis bagaimana kalau menurut pendapatmu?"
"Yang hilang itu tidak lebih hanya sebuah kotak palsu, maka tidak perlu disayangkan, marilah kita langsung menuju ke Cap-pek-pan-nia saja."
"Tanpa membawa, kotak pusaka, cara bagaimana kita ke sana?"
"Kenapa tidak?. Ke sana dengan membawa sebuah kotak palsu dan pergi dengan bertangan kosong kan tidak banyak bedanya."
It-hiong berpikir sejenak, katanya kemudian sambil mengangguk.
"Baiklah, biar kita berkunjung ke sana dengan bertangan kosong tapi hendaknya kau tunggu sebentar"
Ia lantai mendekati bangkai macan tutul, dipegang ekornya dan diseret ke dalam hutan. Bun-hiong heran melihat kawannya menyeret bangkai macan tutul itu ke dalam hutan, tanyanya.
"Hei, kau mau apa?"
"Kata pepatah, manusia mati meninggalkan nama, harimau mati meninggalkan kulit,"
Jawab lt-hiong dengan tertawa.
"Maka kulit macan tutul ini kan harus kita manfaatkan "
"Untuk apa?"
Tanya Bun-hiong pula it-hiong melolos belati yang tipis tajam, ia berjongkok, belati lantas menubles tenggorokan bangkai macan, lalu belati bekerja cepat menyayat bagian perut, sembari bekerja ia berkata dengan tertawa.
"Kamu ini putra keluarga berada, tentu tidak tahu berharganya kulit macan tutul, sehelai kulit macan tutul ini laku beberapa tahil perak "
"Ah...kampungan!"
Omel Bun-hiong tertawa Setelah kulit macan ini kujual nanti kita makan minum sepuasnya,"
Kata It-hiong Sehabis menyayat perut harimau, lalu mulai dikuliti, gerak tangannya sangat trampil serupa seorang alih "Tampaknya kamu ini berasal dari keluarga pemburu?"
Tanya Bun-hiong heran.
"Memang betul,"
Jawab It-hiong.
"Aku pernah menguliti lima ekor harimau, tiga ekor macan tutul dan dua ekor singa ..."
"Bussyet!"
Omel Bun-hiong.
"jadi kamu ini mahir menguliti macan tutul, tapi mengaku tidak pandai berburu, sungguh brengsek'"
"Jangan marah, kawan, sebentar kutraktir kamu makan sepuasnya."
Ucap it-hiong dengan cengarcengir Tidak lama.sehelaikulit macan tutul sudah berhasil dibencinya dengan utuh, dicucinya hingga bersih pada air sungai kecil, lalu digulung serta dipanggul bernama dengan rangselnya, lalu meneruskan perjalanan bersama Bun-hiang Sampailah mereka di kota Jiciu tidak lama kemudian, It-hiong mendapatkan sebuah toko kulit, kulit macan tutul itu dijualnya dengan harga 30 tahil perak.
Segera ia mengajak Bun-hiong ke sebuah restoran, mereka berpesta pora di situ Takaran minum kedua orang sama kuatnya tapi setelah minum beberapa mangkuk, sedikit banyak mereka sudah mulai terpengaruh arak, sebelah tangan It-hiong merangkul pundak Bun-hiong.
katanya dengan tertawa.
"Eh malam ini kita tinggal saja di kota, bagaimana pendapatmu?"
"Baik."
Jawab Bun-hiong "Apakah kau tahu tempat pesiar yang bagus?' tanya it-hiong.
"Jangan kuatir, serahkan saja kepadaku,"
Jawab Bun-hiong sambil menepuk dada "Sebentar akan kubawamu ke tempat yang kau inginkan"
"Tapi harus yang kelas tinggi, barang kualitas rendah aku tidak mau1"
Kata It-hiong "Oo, tanggung!"
Ucap Bun-hiong.
"Bagaimana, sudah kenyang belum?"
"Sudah cukup!"
Segera It-hiong berseru memanggil pelayan "Hai, hitung"
Seorang pelayan mengiakan dan datang menghitung harga santapan mereka, dengan hormat ia berkata, seluruhnya tiga tahil lebih lima duit"
"Coba libat, sehelai kulit macan cukup untuk kita makan minum sepuluh kali,"
Kata It-hiong dengan tertawa. Lalu ia mengeluarkan empat tahil perak dan berkata kepada pelayan.
"Ambil saja kelebihannya! ' Tentu saja pelayan kegirangan, berulang ia mengucap terima kasih. Mendadak It-hiong menarik pelayan itu sebelum pergi, tanyanya.
"Eh, apakah kau tahu tempat pesiar yang paling bagus di kota ini?"
"Dalam hal apa yang tuan tanya?"
Si pelayan tampak ragu "Apalagi, tentu saja perempuan "
Kata lt-hiong Pelayan itu tertawa.
"Yang paling top di kota.ini adalah Cionghiang-kok (negeri serba harum) nona penghuni tempat itu semuanya cantik molek dan lemah lembut."
"Di mana letak Ciong-hiang-kok?' tanya It-hiong pula "Kutahu, sebentar ku bawamu ke sana,"
Tukas Bun-hiong. lt-hiong lantas berdiri, ucapnya dengan bau arak.
"Baik, boleh kita mencari kesenangan ke Ciong-hiang-kok "
Tiba-tiba pelayan tadi menambahkan dengan tertawa.
"Masih ada suatu tempat yang terlebih bagus daripada Ciong-hiang-kok, cuma sayang tempat pesiar itu hanya bisa bertemu secara ke betulan dan tidak dapat dicari"
"Oo, tempat macam apakah itu?"
Tanya It-hiong dengan terbelalak "Kedua tuan tamu bukan penduduk sini?"
Tanya pelayan "Omong kosong!"
Kata It-hiong."Jika penduduk sini, buat npa kuminta keterangan padamu "
Dengan tertawa si pelayan lantas bertutur "Akhir-akhir ini di kota tersiar cerita aneh yang mengasyikkan, konon ada seorang janda kembang.
Muda lagi molek, sering keluar dengan menumpang kereta untuk memikat pemuda cakep.Pemuda yang dipenujui oleh dia lantas dipancingnya naik keretanya lalu matanya ditutup, kemudian membawanya pulang.
Dengaa bajuk rayu maut janda molek itu menggunakan segala tingkah kecabulannya untuk mengeram mangsanya sampai sekian malam, bila dapat memuaskan, dia, konon waktu berpisah akan banyak diberi persen benda mestika pula "
"Hah, masa bisa terjadi begitu?"
Seru It-hiong melenggong.
"Memang betul,"
Kata si pelayan.
"Di mana tempat tinggal janda molek itu?"
Tanya It-hiong.
"Entah, konon sehabis dia puas main dengan mangsanya lalu pemuda cakap itu ditutup lagi matanya untuk diantar pulang sehingga sejauh ini tidak ada seorang pun yang tahu dimana tempat tinggalnya, hanya diketahui rumah kediamannya sangat megah dan mewah, ada orang menduga janda kembang itu pasti anak putri bangsawan. lantaran kematian suami, saking kesepian, maka cari makan di luar"
"Haha, sungguh menarik,'' seru It-hiong tertawa.
"Cuma sayang, tempat tinggalnya tidak diketahui, kalau tahu, sungguh aku ingin mencalonkan diri "
"Kabarnya sudah ada belasan pemuda tampan yang pernah menemukan pengalaman menarik itu. tapi dua di antaranya tidak pernah lagi pulang bisa jadi telah dibunuh oleh janda molek itu,' tutur si pelayan "Oo... dia juga bisa membunuhorang'"
It-hiong melonjak kaget.
Ada dugaan kedua pemuda cakap itu mungkin dapat meraba asal-usul janda cantik itu.
sebab itulah mereka dibunuh untuk menghilangkan saksi atau mungkin kepandaian mereka kurang tinggi dan tidak mampu membuat puas si janda, karena marah si janda bunuh kedua mangsanya itu."
"Dan bagaimana dengan pemuda lain yang dapat pulang dengan selamat itu, apakah mereka pernah bereerita berapa lama mereka menumpang kereta untuk bisa sampai di tempat tinggal janda kembang itu?"
Tanya It-hiong "Kabarnya makan waktu kurang lebih satu jam,"
Tutur si pelayan "Oo, jika begitu, tempat tnggalnya mungkin di luar kota ' ujar Bun-hiong "Ya,"
Kata si pelayan "Wali, boleh juga jika dapat menjadi tamu kesayangan singkatnya.'' ujar Bun-hiong dengan tertawa.
'Cuma sayang serupa apa yang kaukatakan, hal itu hanya dapat bertemu secara kebetulan dan tidak bisa dicari "
Ia mendorong It-hiong dan berkata pula.
"Ayolah berangkat, mendingan kita pergi ke Ciong-hiang-kok saja lebih sip'' Begitulah keduanya meninggalkan restoran itu, sepanjarg jalan mereka bersenda gurau "Cerita pelayan tadi membuat hatiku tergelitik,"
Kata It-hiong dengan tertawa "Apabila kita dapat bertemu dangan dia wah, entah betapa senangnya'' "Kamu, tidak takut mati ?"
Tanya Bun-hiong "Tidak ku yakin mampu membuatnya senang dan puas,"
Kata It-hiong.
"Ai. perempuan yang ditinggal mati suami memang pantas dikasihani,"
Ucap Bun-hiong dengan gegetun.
"Aneh juga mengapa dia tidak kawin lagi?"
"Jika dia putri bangsawan, kalau kawin lagi akan mencemarkan nama baik keluarga, terpaksa ia main curi makan keluar,"
Tutur It-hiong "Setelah berjalan lagi sekian jauhnya, tiba-tiba Hun-hiong berhenti dan berkata "Eh. tunggu sebentar, aku mau kencing"
"Baiklah, cepat'"
Sahut It-hiong Bun-hiong masuk ke sebuah gang kecil dan gelap untuk buang air.
It-hiong berdiri di jalan raya memandangi suasana malam, selagi pikirannya melayang-layang.
tiba-tiba pundaknya ditepuk orang sekali, berbareng itu seorang memanggilnya.
"Liong It-hiong!"
Semula It-hiong mengira Bun-hiong sudah kembali, tapi suaranya ternyata lain. Sembari mengiakan ia putar tubuh dan bertanya.
"Ada apa?"
Ternyata yang muncul di belakangnya memang bu tui bukan Pang Bun-hiong melainkan seorang nenek yang sudah tua renta, kulit mukanya penuh keriput.
"Kau suka orang perempuan tidak?"
Tanya nenek itu dengan tertawa "Suka sekali,"
Jawab lt-hiong tanpa pikir "Bagaimana kalau kubawa kau mencari orang perempuan?"
Kata si nenek.
"Bagus!' jawab It-hiong "Jika begitu, mari ikut padaku."
Kata si nenek sambil menarik tangan anak muda itu.
Dengan cepat si nenek menyeretnya masuk ke sebuah jalan simpang, lalu membelok lagi ke sebuah gang sunyi, tertampak di ujung gang sana berhenti sebuah kereta kuda.
Si nenek langsung membawa It-hiong ke kereta itu ia membuka pintu kereta dan berkata.
"Lekas naik ! "
Tanpa banyak cingeong It-hiong naik ke atas kereta.
Menyusul nenek itu pun masuk ke dalam kereta dan menutup pintunya.
Kusir kereta adalah seorang lelaki kekar,melihat pintu sudah ditutup si nenek, segera ia menarik tali kendali, kereta terus berangkat melintas jalan simpang Di tengah perjalanan si nenek mengeluarkan sepotong kain hitam, katanya dengan tertawa.
"Liong It-hiong, terpaksa harus kututup matamu!"
"Oo..."
It-hiong bersuara bingung dan masa bodoh "Kamu tidak keberatan bukan? "
Tanya pula si nenek "Tentu saja tidak,"
Jawab It-hiong tak acuh Maka si nenek lantas mengikat muka It-hiog dengan kain hitam, ucapnya dengan tertawa "Hendaknya kau tunggu dengan sabar, tidak lama lagi akan kau lihat seorang perempuan secantik bidadari!"
"Oo.."
It-hioag bersuara singkat.
Si nenek pun tidak bicara lagi.
Kereta berjalan pula, hanya sering membelok ke kanan dan mendadak ke kiri, seperti berputar kian kemari di tengah kota.
Namun It-hiong sama sekali tidak memperlihatkan rasa gelisah ia tetap duduk tenang saja seperti pasrah nasib.
Setelah berputar kayun hampir satu jam, akhirya sampai tempat tujuan, mendadak kereta itu berhenti.
Si nenek membuka pintu kereta dan melompat turun lebih dulu, lalu berkata.
"Liong It-hiong. silahkan turun!"
It-hiong mengiakan dengan bingung, sambil meraba-raba ia merosot turun, lalu bertanya "Sudah sampai?"
Kembali si nenek menarik tangannya dan berkata "Hampir sampai, jalan saja mengikuti aku "
Beratus-ratus langkah pula lt-hiong dibawa berjalan belok sana dan putar sini, ia merasa melintasi beberapa pintu, habis itu barulah si nenek membuka kain kedoknya dan berkata.
"Sudah sampai "
Seketika mata It-hiong menjadi silau oleh cahaya lampu sehingga hampir sukar terbentang, dengan sebelah tangan ia mengalingi cahaya lampu dan bertanya tempat apakah di sini''"
"Jangan tanya, lihat saja."
Kata si nenek Waktu It-hiong mengawasi, ternyata dirinja sudah berada di tengah sebuah kamar yang terpajang sangat indah dan mewah serupa dalam istana.
Namun ia tetap tidak memperlihatkan rasa kejut dan heran, dengan ketolol-tololan ia tanya.
"Hei, tempat apakah di sini?"
"Ini surga,"
Kata si nenek dengan tersenyum "Untuk apa kau bawa diriku ke sini?"
Tanya lt-hiong dengan lagak bingung.
"Thaykun kami ingin bertemu denganmu.."
Kata nenek itu "Thaykun itu siapa? ' "Kah-thaykun."
"Kah-thaykun ..rasanya seperti penah kudengar nama ini. Si nenek tersenyum, ia tepuk tangan tiga kali Ialu terlihat seorang genduk dengan muka manis masuk dan memberi hormat kepada si nenek sambil menyapa.
"Lolo (nenek) sudah pulang."
"Keng-hoa,"
Kata si nenek.
"layani Liong-hiap ini mandi dan ganti pakaian baru. habis itu baru membawanya menghadap Thaykun "
"Baik. Lolo."
Sahut si genduk yang bernama Keng-hoa itu.
Dengan tersenyum si nenek lantas tinggal pergi.
Keng-hoa lantas membuka almari pakaian dan dan mengeluarkan seperangkat baju mewah, ditaruhnya di atas meja rias, dengan tersenyum ia mendekati Liong It hiong dan berkata.
"Liong-hiap, engkau harus mandi dulu dan ganti baju habis itu baru boleh menemui Thaykun kami". Sembari bicara ia terus menanggalkan baju Liong It-hiong. Soal buka baju di depan orang perempuan bukan sesuatu yang asing bagi It-hiong, maka ia membiarkan dirinya dibelejeti oleh Keng-hoa Hanya sebentar saja It-hiong sudah dalam keadaan bugil. Segera tubuh It-hlong dibungkus sehelai kimono, lalu dibawanya ke depan sebuah pintu lain dan masuk ke sana Di balik pintu adalah tabir kain merah, setelah tabir disingkap, tertampak di situ ada sebuah kolam mandi dinding sekelilingnya adalah ubin marmer putih dan dihiasi cermin besar di kedua sisi dinding. Sungguh sebuah kolam mandi yang sangat indah. Air dalam kolam menjebarkan bau harum memabukkan "Hei. tempat apakah ini ? tanya It-hiong dengan bingung 'Ini namanya Wan-yang-ti (kolam merpati) dengan tersenyum Keng-hoa menjelaskan "Ehm, nama yang bagus,"
Kata It-hiong.
"Orang yang dapat mandi dikolam ini boleh diikatakan besar sekali rejekinya."
Tutur Keng-hoa
"Oo, ."
It-hiong bersuara linglung 'Nah, lekas terjun "
Kata Keng-hoa pula.
"Hahh, apa ?" 'Maksudku terjunlah ke dalam kolam untuk mandi! ' kata Keng-hoa sambil menanggalkan kimono anak muda itu. Ithiong melangkah ke dalam kolam dan duduk Segera Keng-hoa menyingsing lengan baju, ia ambl sepotong handuk dan duduk di tepi kolam pelahan ia mencuci dan menggosok tubuh It-hiong. Anak muda itu membiarkan dirinya diperlakukan bagaimana pun, ia duduk kaku tanpa ambil pusing serupa dalam mimpi saja. Tidak lama kemudian Keng-hoa sudah membersihkan sekujur badan It-hiong, lalu minta anak muda itu keluar dan kolam, kimono disemampirkan lagi pada tubuhnya dan dibawanya pulang ke kamar. It-hiong disuruhnya duduk menghadapi meja rias, perlahan Keng-hoa menyisir rambutnya dan di beri minyak wangi segala It-hiong memang pemuda ganteng, setelah di dandani lagi oleh Keng-hoa, seketika tambah cakep Selesai Keng-hoa mendandani It-hiong, segera menuju ke pintu kamar dan berseru.
"Pelayan lentera! Terdengar seorang pelayan mengiakan dan datang dengan membawa sebuah tenglong atau lentera berkerudung dengan lukisan bunga indah, pelayan cilik ini pun tampak manis "Bawa dia ke sana'"
Kata Keng-hoa tertawa. Pelayan lentera itu melirik It-hiong sekejap tanpa tertahan ia memuji "Wah, yang ini sungguh cakap"
"Hei, kau pun tergelitik ya?"
Omel Keng-hoa dengan tertawa Pelayan cilik itu menjulur lidah.
"Ah, mana kuberani!"
"Memangnya kau berani" ' kata Keng-hoa "Jika diketahui thaykun, mustahil kulitmu takkan di besetnya. Ayo lekas membawa dia ke sana."
Pelayan lentera itu mengiakan dan menggapai Liong It-hiong. katanya.
"Mari ikut padaku, Liong-hiap'"
Segera ia mendahului keluar.
Tanpa terasa It-hiong mengikutinya.
Dengan pelayan lentera ilu sebagai penunjuk jalan, mereka melintasi serambi yang resik dan indah serta masuk ke sebuah ruangan yang sangat megah, setiba di depan dinding batu, entah cara bagaimana pelayan itu membuka pesawatnya, mendadak dinding batu itu terbuka dan tertampaklah sebuah jalan menuju ke bawah tanah dengan undak-undakan batu.
Kembali pelayan itu menggapai It-hiong dan mengajaknya masuk ke lorong bawah tanah itu.
It-hiong menurut saja serupa kerbau yang dicocok Indungnya, tanpa sangsi ia ikut masuk.
Setelah menuruni belasan anak tangga, jalan lorong itu berubah datar, setelah menembus sebuah pintu, mendadak pandangan terbeliak, mereka berada di sebuah kamar yang sangat luas.
Kamar ini terlebih mewah dan megah, sekeliling tergantung kain kelambu bersulam, langit-langit kamar tergantung berbagai lampu istana yang berwarna-warni, di tengah kamar terbentang sebuah tempat tidur yang besar, segala perabotannya boleh dikatakan terlampau mewah dan mempesona Pada saat itulah di atas tempat tidur berbaring miring seorang perempuan cantik dengan alis lentik dan mata besar, sanggul tinggi menghias kepalanya, melihat usianya mungkin sudah lebih 30 namun garis tubuhnya masih ramping menggiurkan.
Apalagi pada tubuhnya cuma melekat sehelai baju sutera tipis tembus pandang sehingga kulit badannya yang putih laksana salju samar terlihat dan membuat jantung orang berdebar serta menggetar sukma.
Tidak perlu dijelaskan lagi, perempuan cantik ini pastilah "Kahthaykun"
Yang disebut-sebut si nenek tadi. Pelayan lentera itu membawa Liong It-hiong masuk ke kamar, lalu berdiri di sisi pintu serta memberi hormat dari jauh, katanya.
"Lapor Thay-kun, Liong It-hiong sudah berada di sini."
Perempuan cantik itu menggeliat sehingga pinggulnya yang padat itu terangkat, katanya dengan suara merdu.
"Baiklah, boleh kau pergi!"
Pelayan mengiakan sambil memberi hormat lalu mengundurkan diri Dengan tersenyum perempuan cantik itu memandang It-hiong sekejap, katanya kemudian "Coba kemari, Liong It-hiong'.
Tanpa bersuara lt-hiong mendekat ke sana.
"Duduklah di sini'"
Dengan senyuman menggiurkan perempuan cantik itu menepuk tepi tempat tidurnya. It-hiong duduk di situ "Kau tahu siapa aku?"
Tanya si perempuan cantik dengan tesenyum "Tidak, memangnya siapa engkau?"
Jawab lt-hiong "Aku Kah-thaykun!"
"Oo,"
Li-hiong manggut-manggut "Tentu pernah kau dengar istilah It-kun, Ji-ni, sam lolo (satu nyonya besar, dua Nikoh, tiga nenek), nah, aku inilah It-kun yang dimaksud,"
Tutur Kah-thaykun. Kembali It-hiong hanya bersuara.
"Oo..."
"Kau suka padaku tidak?"
Tanya Kah-thaykun dengan tersenyum.
"Suka,"
It-hiong mengangguk "Nenek yang membawamu ke sini itu berjuluk Lo-ang-nio (si comblang tua), mungkin kaupun kenal namanya ?"
Lagi-lagi It-hiong hanya bersuara.
"Ooo . .."
Lo-ang-nio mahir macam-macam ilmu gaib, dia biasa membawakan lelaki yang kugemari untukku"
"Oo . .."
Lt-hiong tidak memberi komentar Kah-thaykun meraba pipi anak muda itu katanya dangan tertawa genit, 'Kamu sangat ganteng dan cakep, tubuhmu juga kekar dan kuat "
"Ooo ..."
"Biasanya bila Lo-ang-nio membawakan lelaki yang kukehendaki ke sini, selalu kubikin sadar pikiran mereka, namun keadaanmu lain dari pada yang lain, sungguh menyesal tak dapat segera kubikin sadar padamu."
"Oo.."
"Untuk mempertahankan kondisi badanku dan agar selalu awet muda, setiap hari aku memerlukan orang lelaki untuk kuisap sari mereka."
"Oo.."
Tangan Kah-thaykun bergeser dan muka It-hiong turun ke dadanya, katanya dengan terkekeh.
"Sekarang kesadaranmu masih berada di bawah pengaruh ilmu gaib Lo-ang-nio, sebab itulah dapat kukatakan terus terang padamu usiaku kini sudah 68 tahun "
"Ooo.."
"Kau suka kepada seoiang nenek berumur 69 atau tidak?"
Tanya Kah-thaykun dengan tertawa "Suka,"
It-hiong mengangguk "Bagus jika benar kausuka padaku, maka pasti juga takkan kubikin kecewa dirimu.
Cuma ingin kutanya dulu suatu urusan padamu, dan kamu harus memberi jawaban sejujurnya jadi?' "Baik,"
Kembali It-hiong mengangguk "Kabarnya kamu dan Hou-hiap Pang Bun-hiong hendak menuju ke Cap-pek-pan-nia dengan membawa sebuah kotak pusaka, betul tidak?"
"Betul "
"Di manakah kotak pusaka itu ?"
"Kotak ... kotak itu.."
"Di mana?"
Desak Kah-thaykun "Yang satu berada di tangan Tui-beng-poan koan Toh Po-sit, satu lagi dibawa Cian Ciau-in-jiu Loh Bok-kong."
"Oo, kotak pusaka itu ada dua?"
Kah-thaykun menegas dengan melenggong "Mengapa bisa timbul dua buah kotak?"
Desak Kah-thaykun pula "Yang satu tulen, yang lain palsu "
"O..kiranya begitu. Jika begitu, kotak yang tulen berada di tangan siapa?"
"Yang asli berada di tangan Tui-beng-poan koan Toh Po-sit "
"Toh Po-sit tinggal di mana?"
"Di Ma-cik-san.'' "Ma-cik-san yang terletak di tengah danau Thay-oh itu?"
"Betul."
"Jika kotak pusaka yang asli telah dirampas oleh Toh Po-sit, mengapa kalian tidak berusaha merebutnya kembali, sebaliknya malah membawa sebuah kotak palsu ke Cap-pekpan-nia, memangnya untuk apa?"
"Ini... ini"
"Ini bagaimana?"
Desak Kah-thaykun "Toh Po-sit yang menyuruh kami bertindak demikian"
"Oo, ada hubungan apa antara Toh Po-sit dengan dirimu?"
"Aku sedang membantu dia membongkar suatu perkara."
"Membongkar suatu perkara apa''"
"Menangkap satu orang."
"Menangkap siapa?'' "Entah, aku tidak tahu"
"Tidak tahu orangnya, cara bagaimana dapat kau tangkap dia?"
"Tapi orang itu akan datang ke Ma-cik-san"
"Maksudmu, Toh Po sit menggunakan kotak pusaka itu sebagai umpan untuk memancing orang itu pergi ke Ma-cik-san?"
"Bukan"
"Habis, cara bagaimana orang akan pergi Ke Ma-cik-san?"
"Dia sangat mungkin akan ke sana untuk mencari Oh Beng-ai"
"Siapa itu Oh Beng-ai?"
Tanya Koh-thaykun "Adik perempuan Oh Kiam-lam.'' "Ah, kiranya demikian,"
Baru sekarang Kah-thaykun tahu duduknya perkara.
"Tapi Oh Kiam-lam kan sudah mati. memangnya siapa yang hendak ditangkap Toh Po-sit?"
"Entah, aku tidak tahu "
"Toh Po-sit tidak memberitahukan padamu?"
Tanya Kahthaykun pula.
"Ya, tidak "
"Hm, Toh Po-sit sungguh seekor rase tua yang licin,"
Jengek Kang-thaykun. It-hiong diam saja Sejenak kemudian, wajah Kah-thaykun berhias senyum menggiurkan lagi. katanya.
"Sudahlah, sementara ini jangan kita bicara tentang kotak pusaka segala. Boleh kau...kau rebah saja"
It-hiong menurut, ia rebah di samping Kah-thaykun "Sst, kabarnya kamu sudah berpengalaman bukan?"
Desis Kah-thaykun dengan terkikik "Ya, begitulah!"
"Jika begitu, mengapa di depanku sekarang tampaknya kamu serupa anak kemarin saja yang masih hijau?"
"Apa itu,"
Jawab It-hiong bingung "Ah, benar, pikiranmu belum jernih, pantas perasaanmu tidak terangsang."
Kata Kah-thaykun dengan tertawa.
"Cuma, sungguh menyesal, demi keamanan, tidak dapat kubuat sadar dirimu"
Sembari bicara ia mulai mencumbui it-hiong dengan belaian "Au.. jangan, geli!"
Seru It-hiong dengan tertawa. Mendadak Kah-thayknn merangkulnya erat-erat, bibirnya menempel telinganya dan mendesis lirih.
"Jantung hatiku, baru saja kau bilang padaku, mengapa tidak lekas mulai."
"Mulai apa'"
Tanya It-hiong.
"Bukalah bajuku."
Kata Kah-thaykun It-hiong mengiakan dan segera membuka baju tipis yang dipakai Kah-thaykun, dalam sekejap saja keadaan Kahthaykun pun sudah telanjang bulat.
Biarpun seorang idiot, berhadapan dengari perempuan cantik, apalagi dalam keadaan telanjang bulat, betapapun hatinya pasti juga akan tergelitik, apalagi Kah-thaykuo tidak berhenti membelai dengan berbagai macam gerak rangsangan keruan seketika nafsu It-hiong berkobar.
Dengan pandangan beringas lt-hiong menatap sejenak Kah-Thaykun, mendadak dengan gerakan "harimau menerkam domba"
Serentak ia terkam mangsanya.
Tapi pada saat dia sudah di atas tubuh Kah-thaykun, sekonyong-konyong ia merasa seperti keselomot api.
ia menjerit kaget terus jatuh terpental ke lantai.
Tentu saja Kah-thaykun melengak, tanyanya.
"Hei ada apa?"
Wajah It-hiong menampilkan perasaan serupa orang yang baru tersadar dan mimpi, serunya dengan tereengang.
"Hai. siapa engkau?'' Kah-thaykun tahu pikiran orang telah sadar kembali, dengan kening bekernyit ia mengomel.
"Lo-ang-nio. Kau main gila apa?"
La tahu sebabnya pikiran Liong It-hiong bisa pulih kembali karena ilmu gaib Lo-ang-nio diakhiri sebab itulah ia bersuara menegur.
Bayangan orang segera berkelebat di pintu kamar, dengan pelahan masuklah seorang pemuda.
katanya dengan tertawa.
"Maaf. Lo-ang-nio sudah mati'"
Pemuda ini tak-lain-tak-bukan ialah Hou-hiap Pang Bun-hiong. Keruan Kah-thaykun terperanjat, cepat ia meraih baju untuk menutupi tubuhnya, tegurnya dengan bengis.
"Siapa kau ?'"
Dengan sopan Pang Bun-hiong memberi hormat dan menjawab.
"Harap Thaykun maklum hamba ini Bun-hiong adanya!' "Cara bagaimana, dapat kau masuk ke sini ?"
Tanya Kahthaykun dengan terbelalak "Mudah saja, kuikuti kereta kuda itu dan akhirnya sampai di sini,"
Jawab Bun-hiong. It-hiong merasa bingung, tanyanya "
He..sesungguhnya apa yang terjadi ?"
Bun-hiong tertawa.
"Masih ingat tidak kepada cerita pelayan restoran itu? Wah, kawanku, besar amat rejekimu dan benarbenar dapat bertemu dengan dia?"
"Tetapi cara ... cara bagaimana aku bisa berada di sini''"
Kata It-hiong bingung.
"Kamu terkena sihir Lo-ang-mo itu. dan dia membawamu ke sini "
Tutur Bun-hiong It-hiong tambah bingung, ia garuk-garuk kepala yang tidak gatal, ucapnya.
"Namun kuingat setelah kita meninggalkan restoran, kita terus jalan. Betul, dalam perjalanan kulihat ada seorang nenek diam-diam membuntuti kita,"
Tutur Bun-hiong "Maka tergerak pikiranku, segera aku pura-pura mau kencing, ku belok ke sebuah gang kecil dan diam-diam kuawasi gerak-gerik nenek itu."
"Ah...betul sekarang aku pun ingat kejadian itu,' seru It-hioug tertawa "Waktu itu ada seorang menepuk pundakku dari belakang, lalu apa yang terjadi tidak kuketahui lagi."
"Yang menepuk bahumu itulah Lo-ang nio"
Kata Bun-hiong dengan tertawa "Dan sekarang dia sudah kubunuh. It-hiong memandang Kah-thaykun sekejap jelas kelihatan kecantikannya yang menggiurkan tanpa terasa hati terguncang, katanya.
"Sialan'.
"Masa kamu lupa kepada pepatah yang mengatakan 'lebih baik membongkar sepuluh kelenteng daripada merusak perjodohan satu orang'. Kebetulan aku mendapat kesempatan bagus, mengapa kamu mengacaukan urusanku ?"
Bun-hiong angkat pundak, katanya.
"Sebenarnya aku tidak ingin merusak urusanmu yang menyenangkan, tapi mengingat kamu pasti tidak suka kepada seorang nenek reyot berumur 68. maka segera kubunuh saja Lo-ang-nio itu "
"Yang mengincar diriku bukan Lo-ang-nio itu, peduli dia 68 atau 78.'' ucap It-hiong dengan serius "Yang ku maksudkan bukan Lo-ang-nio"
Kata Bun-hiong. Baru sekarang It-hiong melengak, cepat ia berpaling ke arah Kah-thaykun dan berseru.
"Hah. jadi engkau yang sudah berusia 68 tahun?"
Muka Kah-thaykun tampak kecut dan tidak menjawab.
"Dia lnilahh It-kun dari kawanan It-kun, Ji-ni dan Sam-lolo. yakni Kah-thaykun adanya"
Tutur Bun-hiong. Seketika It-hiong merasa mual, teriaknya.
"Busyet' nenek berusia 68 masih segenit dan menggiurkan seperti ini, sungguh nenek yang awet muda"
Apalagi kalau bukan keahliannya mengisap Yang untuk menopang lm,"
Tukas Bun-hiong.
Dengan sendirinya it-hiong tahu ada semacam ilmu orang perempuan yang suka mengisap sari orang lelaki untuk membuat si perempuan awet muda, akibatnya lelaki korbannya akan menjadi loyo dan kering Ia menjadi gusar, makinya sambil menuding Kah-thaykun.
"Tua bangka cabul, hampir saja aku menjadi korban kecabulanmu. hari ini harus kubereskan dirimu1"
Sembari memaki ia terus menghantam.
Mendadak Kabthaykun berguling ke sebelah tempat tidur sana, dengan pantat telanjang ia lari ke pojok ruangan dan berdiri menempel dinding, teriaknya dengan bengis "Kalian mau enyah atau tidak?"
"Tidak,'' jawab It-hiong. Berbareng ia melompati tempat tidur dan menubruk lawan.
"Kau cari mampus'"
Bentak Kah-thaykun bengis.
Belum lenyap suaranya, serentak lampu dalam kamar padam semua, seketika suasana berubah gelap gulita disertai gemerincing suara sambaran senjata rahasia.
Bun-hiong terkejut, serunya cepat.
"Lekas rebah "
Reaksi Ithiong juga sangat cepat, begitu melompat lewat kesana, seketika juga ia jatuhkan diri dan berguling ke samping, walaupun gesit sekali gerakannya, tapi lantaran dalam kegelapan entah dari arah mana datangnya, pada saat dia berguling ke samping itulah tiba-tiba paha kanan terasa sakit, ia tahu paha terkena senjata rahasia tanpa terasa ia menjerit Hampir pada saat yang sama terdengar juga jeritan Pang Bunhiong jelas kawan itu pun terluka.
"Hahaha!"
Terdengar gelak tertawa Kah-thaykun dalam kegelapan.
"Sekarang baru kalian berdua setan cilik ini tahu akan kelihaianku'"
It-hiong coba meraba senjata rahasia yang menancap di pahanya, dari bentuknya diketahui sebatang panah kecil, ia tahu panah begitu terbidik dari alat rahasia, diam-diam ia merangkak masuk ke kolong ranjang dan diam saja tanpa bergerak serta siap mencari kesempatan untuk bilas menyerang Siapa tahu baru saja ia menyusup ke kolong ranjang, mendadak berbagai lampu gantung di langit-langit itu menyala pula dengan terang benderang.
Terlihat Kah-thaykun masih berdiri di kaki dinding sana dan sedang mengejek.
"Hm.. panjang juga umur kalian, ternyata tidak mampus terpanah'"
Baca Juga: Elang Terbang Di Dataran Luas Tjan Id
Baca Juga: Harimau Kemala Putih 11