Eps 8 Rahasia Peti Wasiat - Gan KL
Baca online Rahasia Peti Wasiat - Gan KL
Cersil Rahasia Peti Wasiat - Gan KL.
Waktu It-hiong memandang sekitarnya, terlihat lantai penuh berserakan anak panah yang tadi berhamburan dari atas.
Ketika ia pandang Pang Bun-hiong, kawan itu rebah di tepi dinding sana.
Pundak kirinya juga terkena sebatang panah "Hei, bagaimana keadaanmu?"
Segera It-hiong bertanya.
"Wah, aku bisa mati."
Rintih Bun-hiong "Dasar, hanya kena panah, saja mau mati"
Omel It-hiong.
"Oo. alangkah sakitnya "keluh Bun-hiong pula It-hiong merangkak keluar kolong ranjang dan berusaha bangun sekuatnya, katanya kepada Kah-thaykun.
"Tua bangka hari ini kami baru tahu siapa dirimu. Selama gunung tetap menghijau dan sungai tetap mengalir kami..."
"Huh, jangan mimpi,"
Potong Kah-thaykun "Biarpun kalian sekarang mau pergi pun tidak bisa lagi "
"Memangnya apa kehendakmu?"
Tanya It-hiong "Aku justru hendak menahan kalian di sini "
Jengek Kahthaykun.
"Untuk apa?"
Tanya It-hiong dengan gegetun."Jelas kami sudah tidak berguna lagi bagimu, memangnya menahan kami di sini untuk makan melulu?"
"Hendak kutahan kalian di sini untuk menghadapi si rase tua Toh Po-sit,"
Kata Kah-thaykun It-hiong duduk di tempat tidur sambil memegang paha kanan yang terkena panah, tanyanya "Apa yang kau harapkan dari Toh Po-sit"
"Ingin kudapatkan dia,'' kata Kah-thaykun "Dia sudah tua renta, masa cocok bagi seleramu...?"
Berkata sampai di sini, mendadak It-hiong mengertak gigi, panah yang masih menancap di paha itu dicabutnya Seketika darah segar mengucur bagai mata air.
la merobek ujung seprei untuk mebalut lukanya, lalu berdiri, katanya dengan tertawa "Sampai bertemu lagi, 50 tahun kemudian bila mana engkau masih tetap semuda dan secantik ini mungkin aku ...
Mendadak Kah-thaykun menudingnya sambil membentak dengan bengis.
"Jangan bergerak, jika berani bergerak lagi sedikit saja segera kubikin kau mati di bawah hujan panah"
It-hiong mendongak memandang langit-langit kamar dan menarik napas dingin, katanya.
"Jadi benar engkau ingin menahan kami di sini ?"
"Betul,"
Ucap Kah-thaykun ketus.
"Tapi kukira ada satu orang tidak mengizinkan "
"Hm, siapa?"
Jengek Kah-thaykun "Orang di atas kepalamu itu'"
Kata It-hiong.
Kah-thaykun terkejut, tanpa terasa ia mendongak ke atas.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Liong It-hiong, panah yang masih dipegangnya itu terus disambitkan.
Sama sekali Kah-thaykun tidak menyangka akan tindakan Liong It-hiong ini, ketika dia menyadari dirinya dikibuli karena di atas tidak ada bayangan seorang pun tahu-tahu tenggorokannya sudah tertancap oleh panah.
Ia menjerit aneh, tubuhnya melonjak ke atas tapi segera terbanting ke lantai, ia meronta dan berkelejatan beberapa kali lalu tidak bergerak lagi.
It-hiong merobek lagi kain seperti tadi dan mendekati Pang Bun-hiong, tanyanya dengan tertawa.
"Bagaimana, kamu belum mati bukan?"
"Selama hidupku tidak pernah mengalami cidera apa pun, baru sekarang kurasakan terluka memang tidak enak..."
Keluh Bun-hiong "Dasar Kongeuya yang hidupnya selalu diladeni, baru menderita sedikit saja sudah bertobat "ucap It-hiong dengan tertawa Bun-hiong melototinya sekejap, katanya 'Hm, jika bukan lantaran hendak menolongmu tentu aku takkan terluka sekarang kamu malah menyindir diriku?"
"Biar kucabut panahmu,"
Kata It-hiong, segera ia pegang panah yang menancap di pundak kawannya itu. Tapi Bun-hiong lantas berteriak.
"Wah, jangan, bisa mati kesakitan aku"
"Tahanlah sebentar saja, kalau tidak dicabut bisa tambah parah."
Kata lt-hiong."Coba kau lihat bukankah aku sendiri mencabut panahku ini."
"Apakah tidak ada cara lain yang lebih baik. Maksudku cara yang tidak menimbulkan sabit ?"
Tanya Bun-hiong "Hanya ada satu cara saja,' kata It hiong "Cara apa?"
Tanya Bun-hiong pula.
"Daripada sakit lama lebih baik sakit sebentar,"
Sembari bicara mendadak It-hiong menarik sekuatnya panah yang menancap di pundak orang. Keruan Bun-hiong menjerit, segera ia mencacimaki.
"Brengsek, kenapa tidak permisi dulu ? Sengaja hendak kau bikin aku mati kesakitan bukan?'' It-hiong membuang panah kecil itu dan membiarkan darah mengucur sedikit, lalu luka Bun-hiong dibalutnya dengan kain seprei.
"Huh, tampaknya kamu ini sama sekali tidak memenuhi syarat untuk ikut menerjang Cap-pek-pan-nia bersamaku"
Sembari membalut It-hiong berolok "Kukira lebih baik kau pulang saja untuk menjadi tuan muda di rumah,"
"Kentut."
Omel Bun-hiong "Tempat yang dapat kau datangi, pasti juga aku sanggup pergi kesana."
Selesai membalut luka orang, It-hiong berdiri katanya.
"Baiklah ayo bangun!"
Bun-hiong berdiri, dipandangnya mayat Kah-thaykun yang telanjang itu tanyanya.
"Dia sudah mati?"
"Ya. sebenarnya dia boleh tidak mati, tapi dia sendiri yang mencari mati. apa boleh buat!"
Kata It-hiong sambil angkat pundak "Jika dia seorang nona jelita tentu kamu tidak tega membunuhnya,"
Kata Bun-hiong.
"Tentu saja,"
Ucap It-hiong "Di atas sana masih ada beberapa penjaga entah mereka masih berada di situ atau sudah lari"
"Apakah betul Lo-ang-nio sudah kau bunuh ?"
Tanya It-hiong "Betul, dia mahir menggunakan ilmu sihir, kalau tidak kubunuh dia, selanjutnya tentu akan banyak jatuh korban lagi."
"Sesungguhnya di manakah letak tempat ini ?"
Tanya It-hiong.
"Coba kau terka,' kata Bun-hiong dengan tertawa.
"Dalam keadaan samar-samar aku dibawa kesini, sama sekali aku tidak tahu dibawa ke mana dan berselang berapa lamanya, cara bagaimana aku dapat terka?"
"Hampir satu jam kamu menumpang kereta itu dan akhirnya sampai di sini"
"Jika begitu jarak tempat ini dengan Jiciu sedikitnya kan 30 li lebih?"
Bun-hiong tersenyum.
"Tidak, tempat ini justru terletak di pusat kota, hanya berjarak beberapa ratus kaki saja dengan kantor kabupaten Jiciu".
"Hah, jadi tempat kediaman Kah-thaykun yang megah ini terletak di tengah kota"
Seru It-hiong dengan melenggong.
"Betul, supaya tempat kediamannya tidak diketahui orang, untuk mengelabui mata orang maka Lo-ang-nio itu sengaja membawa mangsanya dalam kereta dan berputar kayun di tengah kota, akhirnya baru diantar ke sini."
It-hiong memandang perabotan yang menghias ruangan ini katanya.
"Rumah ini sangat mewah. serupa, istana raja saja "
"Ruangan ini adalah kamar di bawah tanah,"
Tutur Bun-hiong.
"Biar kita bakar saja,"
Ruangan semewah ini, jika kita bakar rasanya kan sayang,"
Kata lt-hiong.
"Sudahlah, kalau mau bakar harus lekas bakar, buat apa banjak pertimbangan"
It-hiong meraba dagu dia termenung sejenak.katanya kemudian"Di tempat ini tentu banyak tersimpan harta benda jika hendak kita bakar, paling tidak harus kita keluaikao dulu harta benda.
yang berharga, kalau tidak kan sayang terbuang pereuma begini saja'"
"Haha, betul juga,"
Seru Bun-hiong tertawa.
"Ayo kita coba menggeledahnya,"
Ajak It-hiong.
Kedua orang lantas membongkar seluruh isi ruangan itu, benar juga diketemukan sejumlah harta benda bernilai beberapa laksa tahil perak, dengan sepotong kain Liong Ithiong membungkus harta benda itu dan dipanggulnya.
Habis itu ia angkat mayat Kah-thaykun ke atas tempat tidur dan api lantas dinyalakan "Mari pergi!"' seru it-hiong kepada Bun-hjong "Masa dengan begini saja kau pergi "
Ujar Bun-hiong dengan tertawa.
"Memangnya apa yang tidak betul?"
It-hiong melengak.
"Hendak kau berangkat dengan pamer pantat?"
Tanya Bunhiong.
Baru sekarang It-bioug menyadari tubuh sendiri hanya semampir sepotong kimono saja, apa jadinya nanti jika berangkat dalam keadaan demikian, keruan ia kelabakan dan berseru "Aha, betul, aku lupa berpakaian.Tapi, wah, di manakah bajuku ?"
"Ikut saja padaku,"
Kata Bun-hiong dengan tertawa Habis berkata ia lantas mendahului meninggalkan ruangan itu.
Meski pundaknya terluka, tapi tidak beralangan untuk berjalan.
Sebaliknya It-hiong terluka pada pahanya sehingga jalannya kurang leluasa.
Ia ikut di belakang Ban-hiong dengan langkah pincang.
katanya.
"Hei, kan seharusnya kau papah diriku'' Namun Buo-hiong tidak menggubrisnya sebaliknya mengejek.
"Hm, kamu ini memang sudah terbiasa dilayani di rumah baru sakit sedikit saja lantas berkeluh-kesah, tampaknya kamu tidak memenuhi syarat untuk menerjang Cap-pek-pau-nia bersamaku, kukira lebih baik kamu pulang saja ke rumah untuk menjadi tuan muda'"
"Kurang ajar"
Omel It-hiong "Awas, lain kali bila kamu terluka lagi lihat saja apakah akan ku pedulikan dirimu"
Bun-hiong tidak menanggapinya, ia terus mendaki undakundakan ujung lorong dan membuka pintu rahisianya sehingga sampailah mereka diruang yang berdinding marmer itu.
Kagum dan gegetun sekali It-hiong, ucapnya,"Ai, Kab-thaykun sungguh pandai menikmati hidupnya, begitu bagus dan megah rumah kediamannya ini "
Bun-hiong memandang kian kemari, ucapnya.
"Beberapa pelayan itu mungkin sama kabur, sungguh sayang ..."
"Sayang apa?*"
Tauya It-hiong "Kan salah seorang pelavan yang bernama Keng-hoa itu berwajah lumayan, ia pernah melayanimu mandi, sepantasnya kau temui dia dulu."
"Busyet, memang samar-samar kurasakan dilayani mandi seorang nona, kusangka dalam mimpi, rupanya memang terjadi sungguh sungguh?"
Ucap It-hiong dengan kikuk.
Sampai di ujung serambi, Bun-hiong mendorong pintu sebuah kamar dan berkata "Bajumu berada di dalam, lekas pakai!".
It-hiong masuk ke kamar itu, dilihatnya Loh-ang-nio menggeletak di lantai bermandi darah, diatas sebuah meja rias tertaruh pakaiannya sendiri.
cepat ia melepaskan bungkusan yang dipanggulnya dan menanggalkan kimono, baju sendiri dipakai lalu bungkusan diangkatnya lagi dan keluar kamar.
"Apakah bagian atas sini perlu dibakar juga,"
Tanya Bun-hiong.
"Kukira tidak perlu lagi,' ucap it-hioag.
"Jika rumah ini terletak di tengah kota, bila kebakaran tentu akan merembet ke rumah tetangga dan membikin susah orang lain yang tidak bersalah."
"Apakah perlu kita geledah lagi isi rumah ini ?"
Tanya Bunhiong pula "Tidak perlu lagi, sudah cukup, biarlah sisanya diambil orang lain saja."
Kata It-hlong sambil menggeleng "Jika begitu ayolah kita keluar,"
Kata Bun-hiong sambil mendahului menuju ke halaman depan, setelah pintu gerbang dibuka, benar juga di luar adalah jalan raya.
"Coba kau lihat,"
Kata Bun-hiong dengan te tawa.
"itulah jalan raya utara, ke sana lagi beberapa ratus kaki adalah kantor kabupaten"
"Marilah kita mencari sebuah hotel,"
Ajak It-hiong.
"Apakah Iuka kakimu tidak beralangan?"
Tanya Bun-hiong "Silahkan,"
Omel It-hiong.
"justru lantaran tidak tahan sakit karena luka ini, maka ingin kucari hotel untuk istirahat."
"Jika begitu, marilah kita mencari toko obat dulu untuk membeli obat luka habis itu baru mencari hotel,"
Kata Bunhiong Meski sudah larut malam, namun jalan raya ini masih cukup ramai, mereka mendapatkan sebuah toko obat, mereka membeli obat luka luar dan dibubuhkan pada luka masingmasing serta dibalut kembali, habis itu baru mencari hotel.
Lalu mereka merawat luka di hotel sehingga hampir sembuh seluruhnya, lalu mereka melanjutkan perjalanan.
Sepanjang jalan bila bertemu dengan orang miskin, diam-diam It-hiong lantas meninggalkan satu-dua putong uang perak ke rumah miskin itu sebab itulah, beberapa hari kemudian, harta benda yang mereka kuras dari rumah Kah-thaykun itu sudah sebagian besar dibagi-bagikan Suatu hari mereka sampai di tapal batas provinsi Soatang terlihat banyak orang berkerumun di tepi jalan dan ramai membicarakan sesuatu.
Melihat gelagatnya agaknya telah terjadi sesuatu peristiwa.
Mereka coba mendekat dan ikut mendengarkan cerita orang ramai, terdengar seorang petani tua sedang bicara.
"Perkara ini menyangkut jiwa manusia, kukira harus kulaporkan kepada yang berwajib di kota".
"Ya betul, harus dilaporkan agar mayat ini diperiksa,"
Tukas seorang lagi. Orang ketiga menambahkan.
"Mayat ini sudah membusuk, tampaknya orang ini sudah mati beberapa hari yang lalu mengapa tidak diketahui orang "
"Di sana adalah hutan lebat, kalau tidak berkepentingan jarang ada orang datang ke sana, sebabnya kuperiksa tempat itu juga Iantaran mengendus bau buruk,"
Kata si petani tua. Mendengar ada orang menemukan mayat Bun-hiong coba bertanya.
"Sapakah yang mati dan apa sebab kematiannya ?"
"Ada dua orang mati tampaknya orang kangouw, yang seorang terbacok senjata tajam dan yang lain kepalanya pecah."
Tutur si petani tua "Di mana""
Tanya Bun-hiong pula.
"Itu, di sana,"
Jawab si petani sambil menuding hutan di tepi jalan sana. Bun-hiong berpaling dan berkata kepada It-hiong.
"Bagaimana kita coba melihatnya ke sana?"
"Ah orang mati apanya yang dilihat?'' ujar It-hiong dengan tak acuh "Jika yang mati katanya orang kangauw, kukira perlu kita lihat, bisa jadi orang kenalan kita"
Kata Bun-hiong "Baiklah, lihat sekejap saja segera angkat kaki aku tidak tahan bau mayat yang sudah busuk "
Kata It-hiong Bun-hiong terus menarik It-hiong ke dalam hutan, belum sampai di tempat tujuan sudah tereium bau busuk.
Belasan langkah lagi segera terlihat dua sosok mayat menggeletak di bawah pohon yang rindang.
Mayat sudah mulai mengeluarkan cairan rambut pun sudah mulai rontok, yang seorang jelas kelihatan hulu hatinya tertancap sebilah pisau, seorang lagi jidatnya ambles seperti pecah kena pukulan keras.
Selain itu masih ada lagi yang menarik, yaitu di tengah kedua sosok mayat itu tertaruh sebuah kotak hitam yang diikat dengan rantai besi.
Padahal tanpa melihat kotak hitam itu.sekali pandang saja Bun-hiong dan It-hiong sudah dapat mengenali kedua orang mati itu Bun-hiong mengeluarkan saputangan untuk mendekap hidungnya, katanya dengan tertawa.
"Coba lihat ternyata benar dua orang kenalan kita ". Rupanya kedua orang yang mati nii bukan kain daripada Cian-in-jiu Loh Bok-kong dan Kim-ci-pa Song Goan-po. Yang pertama tertusuk pisau dan yang lain pecah kepalanya. lt-hiong terkejut, katanya.
"Sungguh aneh. mengapa mereka bisa mati di sini?"
"Masa tidak dapat kau lihat,"
Ujar Bun-hiong "Ya, tidak perlu disangsikan lagi, jelas pada waktu mereka sedang istirahat di hutan sini mendadak muncul tokoh persilatan kelas tinggi dan melakukan penyergapan terhadap mereka dan akhirnya mereka terbunuh"
"Tidak, bukan begitu."
Kata Bun-hiong "Tidak betul katamu?'' It-hiong menegas "Mengapa tokoh persilatan itu perlu membunuh mereka?"
Tanya Bun-hiong "Dengan sendirinya lantaran ...".
Mestinya It-hiong hendak bilang lantaran kotak pusaka itu, tapi demi melihat kotak pusaka yang dimaksudkan masih berada di tanah, segera ia tahu dirinya salah sangka, maka ia hanya angkat pundak dan coba menjawab sendiri.
"Dahulu Toh Po-sit ada maksud mencalonkan diriku untuk bekerja sebagai pembantunya, untung tidak kuterima permintaannya"
"Boleh kau pikirkan lagi. tentu tidak sulit bagimu untuk mengetahui cara bagaimana mereka terbunuh"
Kata Bunhiong pula dengan tersenyum.
It-hiong coba memandang mayat Loh Bok-kong dan Song Goan-po, dilihatnya yang seorang tergeletak telentang dan yang lain tiarap, jarak kedua orang sangat dekat, segera ia paham duduknya perkara, tanpa terasa ia menggeleng kepala dan berkata.
"Ya, tentu lantaran sebuah kotak itulah mereka saling membunuh, akhirnya keduanya gugur bersama, sungguh terlalu"
Bun-hiong tertawa, katanya.
"Demi sebuah kotak pusaka mereka Lok-lim-jit-coat sudah mati enam orang, sekarang tersisa seorang Ang-hu-soh Ban Sam-hian saja, bilamana diketahui si perencana intrik itu, tentu dia akan sangat senang"
Lt-hiong menjemput kotak pusaka palsu itu.
katanya dengan tertawa.
'"Betapa besar rejeki seseorang biasanya sudah ditakdirkan, kasihan mereka sampai sebuah kotak palsu begini saja tidak sanggup mempertahankannya, akhirnya tetap juga kembali kepada tangan kita."
Bun-hiiong cehngukan beberapa kali, lalu mendesis "jjka ingin membawa lari kotak pusaka ini sabaiknya sekarang juga beraangkat, jangan sampai dilihat orang lain"
"Baik,' It-hiong mengangguk.
"Biarlah kita mengeluyur keluar melalui sebelah sini "
Begitulah mereka meneruskan perjalanan ke dalam hutan, setelah menembus hutan lebat, lalu mereka membelok ke utara dan putar balik ke jalan raya.
"Kedua keparat Loh Bok-kong dan Song Goan-po itu membawa lari kotak pusaka palsu itu, dari daerah selatan mereka lari ke wilayah Soatang. menurut pendapatmu, kemana tempat tujuan mereka?"
"Siapa tahu?"
Bun-hiorg angkat pundak "Mungkin mereka hendak pergi ke Cap-pek-pan-nia?"
Tanya lthiong "Untuk apa mereka pergi ke sana?"
Kata Bun-hiong.
"Mana kutahu, aku juga cuma menduga-duga saja,"
Jawab Ithiong "Menurut pendapatku, mereka pasti tidak berani pergi ke Cappek-pari-nia. mereka juga tidak ada alasan untuk pergi kesana'"
"Tapi jarak dari tempat ini ke Cap-pek-pan-nia sudah tidak jauh lagi "
"Oo, kira-kira perjalanan berapa hari lagi"
"Paling-paling tiga hari lagi"
"Jika begitu jelas tempat ini sudah berada di dalam wilayah pengaruh Cap-pek-pan-nia, betapa mereka berani menginjak daerah kekuasaan orang lain, sungguh mereka pun terlampau berani"
"Dan setelah mereka sampai di tempat ini mereka justru saling membunuh sendiri, sungguh aneh juga.'' kata It-hiong.
"Memangnya cuma kemaruk ingin mengangkangi kotak pusaka saja?"
"Ya akupun tidak mengerti bahwakotak ini ternyata memiliki daya tarik sebesar ini sehingga mereka saling membunuh."
Ucap It-hiong dengan tertawa.
"Manusia di dunia ini kebanyakan tamak harta, maka kuharap setelah kotak pusaka ini kita bawa ke Cap-pek-pan-nia sedikitnya akan dapat membuat Cap-pek-pan-nia juga terjadi kacau balau"
It-hiong terbahak.
"Haha, semoga demikian halnya"
Lok-lim-jit-coat yang terkenal di daerah selatan sudah hancur tanpa ditumpas, di antara tujuh orang sudah mati enam, bila kawanan bandit utara yang bereokol di Cap-pek-pan-nia itu juga terjadi pertarungan sendiri maka dunia ini dapat diharapkan akan aman sentosa Jika demikian halnya, mula mula orang yang membuat kotak pusaka ini boleh dikatakan mempunyai tujuan yang luhur"
"Tapi aku justru berharap dapat menangkap dia."
Kata Bunhiong "Aku juga "
Tukas It-hiong "Bisa jadi orang yang membuat kotak ini justru adalah orang yang hendak ditangkap Toh Po-sit itu,"
Kata Bun-hiong "Dan orang ini sangat mungkin juga si gembong iblis misterius yang bereokol di Cap-pek-pan-nia itu.' ujar It hiong. Sungguh sekarang kuharap bisa segera terbang ke Cap-pekpan-nia."
"Jika ingin lekas sampai di sini kukira Cuma ada satu cara."
Ujar It-hiong "Cara bagaimana? tanya Bun-hiong "Berjalan lebih cepat"
Kata It-hiong.
Habis berkata segera ia mendahului mempereepat langkahnya.
OooooO Tiga hari kemudian sampailah mereka di kabupaten Tongkoan daerah barat Soasai letak Cap-pek-pan-nia sudah di depan mata.
Kedua orang istirahat dulu satu hari di dalam kota, setelah cukup mengumpulkan tenaga, esok paginya barulah mereka berangkat keluar kota menuju ke Cap-pekpan-nia.
Kira-kira 60 li ke barat lagi menjelang lohor sampailah mereka di kaki bukit Cap-pek pan-nia Di bawah gunung suasana sunyi senyap, sejauh mata memandang tidak terlihat bayangan orang maupun rumah penduduk.
Pegunungan ini cukup tinggi puncaknya tertutup awan, hutan lebat meliputi lereng gunung, hanya terlihat ada sebuah jalan setapak yang melingkar-liku naik-turun Inilah Cap-pek-pan-nia atau 18 bukit lingkar,di sinilah markas besar pemimpin besar yang menguasai 36 sarang bandit yang terbesar di daerah utara.
Kedua orang berhenti dan memandang ke atas, kata It-hiong dengan tertawa.
"Tampaknya pegunungan ini juga tidak ada sesuatu yang luar biasa "
"Maksudmu Cap-pek-pan-nia ini ?"
"Ya, apalagi?"
Dipandang dari keadaan, Cap-pek-pan-nia ini dengan sendirinya belum terhitung berbahaya cuma jangan lupa, gunung tidak terletak pada tingginya, ada pertapanya akan menjadi angker, itulah pepatah yang berlaku di kalangan bandit "Sarang pimpinan Cap-pek-pan-nia ini tentu terletak di puncak yang tertinggi, kita harus naik ke sana secara terang-terangan atau diam-diam menyusup ke atas ?"
"Kukira lebih baik mengirim kartu nama dan minta berkunjung merupakan cara lebih terpandang,"
Kata Bun-hiong It-hiong mengangguk, 'Baik.marilah kita naik ke atas mengikuti jalan setapak itu."
Jalan itu terus melingkari pinggang gunung pepohonan rindang hampir mengalingi langit pemandangan terasa indah permai dan sunyi.
Baru saja mereka melintasi lingkaran pertama sekonyong-konyong terdengar suara mendenging.
sebatang panah menyambar tiba dan menancap didepan mereka.
Itulah tanda peringatan agar pendatang berhenti di tempat.
It-hiong tersenyum.
segera ia berteriak lantang.
"Sahabat di atas, silahkan memperlihatkan diri untuk bicara "
"Katakan dulu namamu'"
Seru orang di atas suaranya berkumandang dari balik pepohonan yang terletak tidak jauh "Kami Liong It-hiong dan Pang Bun-hiong "
Seru It-hiong lantang "Kami berdua mendapat pesan oleh sahabat kalian, Si Him, kami membawakan sebuah kotak pusaka dan harus dipersembahkan langsung kepada pemimpin besar kalian harap sudi dilaporkan"
"Baik, silahkan tunggu sebentar"seru orang di atas It-hiong berpaling, katanya kepada Bun-hiong dengan tertawa.
"Menurut perkiraanmu apakah pemimpin besar Cappek-pan-nia sendiri akan menyambut kadatangan kita?"
"Jika kamu terhormat selaku seorang ketua perguruan, bisa jadi akan disambut kedatanganmu, cuma sayang, kamu bukan seorang ketua perguruan segala "
It-hiong angkat pundak.
"Tapi kita kan membawakan sebuah kotak pusaka baginya, sepantasnya dia melayani kita dengan terhormat.'' Bun-hiong tidak menanggapi lagi, ia memandang ke atas, ucapnya tersenyum.
"Tempat ini adalah lingkaran pertama, di atas sana masih ada 17 lingkar, entah harus menunggu berapa lama baru akan mendapat izin naik ke atas."
"Kuyakin mereka mempunyai cara berkomunikasi yang cepat, misalnya dengan pos merpati dan sebagainya, kukira kita takkan menunggu terlampau lama,"
Kata It-hiong Begitulah mereka bicara dengan suara perlahan mereka menunggu hampir setengah jam barulah terdengar dan hutan sana berkumandang suara lantang."Silahkan kalian naik ke atas"
Lt-hiong menggeleng kepala, gerundelnya dengan tertawa.
"Ternyata benar tidak ada penyambutan, tampaknya nama Liong-hiap dan Hou-hiap kita belum cukup berbobot. Ayolah berangkat'"
Mereka terus mendaki gunung mengikuti ja lan setapak itu.
Kira-kira beberapa puluh langkah tiba-tiba terlihat sebuah benteng pagar kayu di luar benteng berdiri dua barisan liaulo (anak buah) bergolok, di tengah berdiri seorang lelaki kekar dengan wajah kereng Melihat kedatangan It-hiong berdua, lelaki kekar itu memberi hormat dan berkata.
"Maaf.karena tidak tahu akan kunjungan anda berdua sehingga tidak diadakan penyambutan yang layak "
Karena orang bersikap ramah, lt-hiong juga ikut sungkan, katanya.
"Terima kasih, kunjungan kami yang mendadak ini hendaknya tidak menimbulkan salah sangka"
Segera lelaki kekar itu menyingkir ke samping. ia menuding ke dalam benteng dan berkata.
"Silahkan masuk langsung melalui sini, selewatnya pintu belakang benteng, hendaknya naik lagi ke atas mengikuti jalan yang ada "' "Terima kasih atas petunjukmu, numpang tanya, sahabat ini "
"Caihe Cu Ing,"
Sahut lelaki kekar itu.
"bertugas menjaga pos pertama ini."
"Dari sini sampai di atas masih harus melalui berapa pos penjagaan lagi ?"
Tanya It-hiong' "Masih ada 16 pos jaga, markas besar terletak pada bagian terakhir,"
Tutur Cu lng yang berjuluk "Ji-po-tau"
Atau si kapak.
"Numpang tanya lagi satu hal,"
Kata It-hiong.
"Bolehkah kutahu apa sebutan nama terhormat pemimpin besar kalian ?"
Cu Ing tersenyum, jawabnya.
"Bila kalian telah sampai ditempatnya, tentu kalian akan tahu sendiri siapa beliau "
It-hiong mengangguk, ia menoleh dan memberi tanda kepada Bun-hiong, katanya.
"Ayo berangkat. masih belasan pos rintangan yang harus kita lalui kita harus berjalan lebih cepat."
Mereka masuk ke dalam tenteng, terlihat di dalam benteng yang dilingkari pagar kayu itu terdapat belasan rumah, tapi tidak kelihatan seorangpun.
Ia menduga segenap anggota sarang bandit ini tentu sudah disembunyikan.
Karena tidak bermaksud mencari perkara disini, It-hiong dan Bun-hiong tidak menghiraukan keadaan luar biasa itu, dengan tenang mereka terus menuju ke jalan yang langsung menembus ke atas gunung itu.
Sampai di belakang benteng dan keluar pintu belakang benar juga terlihat sebuah jalan setapak terbentang ke atas puncak gunung, mereka melanjutkan perjalanan mengikuti jalan setapak itu.
"Wah, melihat gelagatnya.kalau ingin menyusup ke atas gunung jelas tidak mungkin."
Kata Bun-hiong dengan tertawa.
"Ya, memang,"
Sahut It-hiong.
"Untuk menghancurkan sarang bandit ini juga tidak sederhana,"
Ujar Bui-hiong "Lebih dulu harus membobolkan pos rintangan, habis itu baru dapat menyerbu ke pusat sarangnya,"
"Untung kita tidak mempunyai rencana serbuan demikian,"
Kata It-hiong "Hm, apakah maksudmu karena kita tidak bermaksud menyerang Cap-pek-pan-nia, lalu kita dapat datang dan pergi lagi dengan bebas, begitu'' jengek Bun-hiong "Dengan sendirinya bukan begitu maksudku,"
Kata It-hiong.
"Kedatangan kita ini jelas penuh risiko, datang terlebih mudah daripada pergi,"
"Asal kau tahu saja."
Kata Bun-hiong "Kukira pada saat gembong iblis itu mengetahui kotak yang kita bawa itu palsu, pada saat itu juga mungkin harus main senjata."
"Dan kita berdua harus menghadapi lawan sebanyak itu, jelas pasti akan kalah,"
Ujar It-hiong "Memangnya kau harapkan menang?"
Jengek Bun-hiong "Kamu takut tidak ?"
Tanya It hiong "Takut apa? Kalau aku mati toh kamu juga takkan hidup. Mati ditemanimu, menjadi setan juga tidak bakal kesepian "
"Hahaha, aku justru tidak ingin mati,"
Seru It-hiong dengan tergelak."Giok nio sedang menunggu kedatanganku, mana boleh kumati begitu saja?!"
Tengah bicara kembali mereka sudah berputar satu lingkaran, di depan muncul lagi sebuah benteng kayu.
Seperti tadi, di luar benteng juga berdiri seorang komandan jaga dengan dua barisan anak buah bergolok, keadaan serupa dengan pos jaga pertama.
Bun-hiong dan It-hiong sudah, tahu untuk menuju ke markas pusat harus menembus 17 pos jaga, maka mereka tidak bicara lagi dengan komandan ini, mereka hanya mengangguk saja dengan tersenyum, lalu masuk ke dalam benteng sana ..Dan begitulah seterusnya, setiap kali mendaki sebuah lingkar bukit lantas muncul sebuah benteng kayu keadaannya juga hampir sama.
Lebih setengah harian baru akhirnya ke-17 pos jaga itu dilalui, sampailah mereka di puncak teratas Cap-pekpan-nia, sampai ddi depan benteng ke-18.
Maskas pusat pimpinan Cap-pek-pan-nia memang lain daripada yang lain, tertampak pintu gerbang benteng dibangun serupa gapura benteng berloteng, kedua sisi berdinding batu setinggi tiga tombak lebih, bangunan megah dan kuat tak terbobolkan.
Pada saat itu, di depan pintu gerbang juga berdiri seorang komandan jaga berpuluh liaulo yang berbaris di kedua sisi lengkap bersenjata golok dan tombak, semuanya gagah dan kereng, jauh lebih seram daripada ke-17 pos jaga sebelumnya.
Kuancu atau komandan jaga itu berusia 60-an, kepalanya sudah rada botak, perawakannya tegap meski senyuman menghiasi wajahnya, namun tidak terasa simpati sedikit pun It-hiong dan Bun-hiong mengira orang inilah si pemimpin besar Cap-pek-pan-nia yang misterius itu, selagi mereka hendak mendekat untuk memberi hormat, mendadak orang tua itu memberi salam lebih dulu dan menyapa.
"Caihe Liok Wi-yang, atas perintah Congcecu (pemimpin besar) kami siap menyambut kedatangan kalian di sini"
"Oo, kiranya Liok-kuancu,"
Ucap It-hiong sambil membalas hormat "Terima kasih dan selamat bertemu "
Orang tua yang bernama Liok Wi-yang itu berkata dengan senyum tak senyum.
"Congcecu kami sudah menanti di Cio-gi tia (ruang pendopo), silahkan kalian ikut padaku."
Habis bicara ia lantas membalik dan menuju ke tengah benteng.
lt-hiong dan Bun-hiong saling mengedip mata lalu ikut masuk ke sana.
Bangunan di dalam benteng sangat megah, perumahan berloteng yang terlihat berjumlah ratusan, di tengah tengah adalah sebuah lapangan luas, di depan sebuah bangunan yang berbentuk serupa istana terdapat sebuah panggung besar, di atas panggung terpancang sehelai bendera segi tiga di atas tiang bendera yang tinggi, bendera warna merah berkibar tertiup angin, pada bendera itu tertulis empat huruf yang berarti "melaksanakan keadilan bagi Thian"
Lt-hiong tertawa, katanya "Kebanyakan bandit sama suka menggunakan istilah ini, seperti perbuatan mereka yang suka membunuh dan bakar juga atas perintah Thian,"
Pelahan Bun-hiong menyentuh lengan sang kawan, maksudnya supaya jangan sembarang omong Namun lt-hiong seperti tidak menghiraukannya, katanya pula dengan tertawa.
"Memangnya kenapa. Apakah salah ucapanku?"
Mendadak Liok Wi-yang berpaling dan berkata dengan terkekeh.
"Hehe, ucapan Liong-hiap sangat tepat, tempat kami ini memang menggantung kepala domba dan menjual daging anjing'"
"Haha, dengar tidak, mereka sendiri sudah mengakui kebenaran ucapanku,"
Seru It-hiong dengan terbahak sambil menepuk bahu Bun-hiong.
Bun-hiong cuma menyengir saja tanpa bersuara Liok Wi-yang membawa mereka menuju ruang pendopo, katanya pula dengan terkekeh "Hehe, barangkali tempat ini tidak cocok bagi pandangan Liong-hiap bukan ?"
"Ah. masa "
Ucap It-hiong dengan tertawa "Aku cuma sedang pikir bilamana aku menjadi bandit, rasanya pasti takkan kugunakan poster begitu, sebab keempat huruf itu tidak lebih hanya omong kosong belaka!"
Liong Wi-yang tertawa, katanya.
"Sebentar setelah bertemu dengan Congcecu kami silahkan Liong-hiap mengemukakan lagi urusan ini, Congcecu biasanya suka menerima gagasan yang baik bilamana maksudmu memang bagus, tentu beliau akan menanggalkan panji merah itu "
"Ah, itu mah tidak perlu, biarkan dia runtuh sendiri kan lebih baik,"
Ujar It-hiong "Tidak, dia takkan runtuh."
Jengek Liong Wi-yang. It-hiong tidak bicara lagi, sebab sekarang mereka sudah berada di depan undakan batu di depan ruang pendopo. Liok Wi-yang berhenti dan berpaling, katanya.
"Silahkan kalian menunggu sementara di sini biar kulaporkan dulu."
Habis berkata ia lantas menaiki anak tangga dan masuk ke ruang pendopo. It-hiong mengangkat pundak dengan tertawa "Tampaknya kita ini tetamu yang tidak disukai."
"Tidak pantas kau sindir mereka,"
Ujar Bun-hiong "Masa ucapanku terhitung sindiran?"
Kata It-hiong tertawa. Tengah bicara, terlihat Liok Wi-yang telah muncul kembali, sambil menuruni anak tangga batu ia berkata.
"Congcecu sudah menunggu di dalam ruangan, silahkan kalian masuk ke sana."
It-hiong dan Bun-hiong saling pandang sekejap dan tertawa, Ialu menaiki undakan bersama dan masuk ke ruang pendopo.
Ruangan itu memang sangat luas dan megah, resik tanpa kotoran setitik pun, hampir sama indahnya dengan istana raja.
Di dalam ruangan sekarang hanya duduk tiga orang, yang di tengah jelas Congcecu Cap-pek-pan-nia cuma mukanya pakai kerudung, ia duduk di sebuah kursi besar berlapis kulit harimau, karena tidak terlihat wajahnya, maka menimbulkan kesan misterius.
Yang duduk di kanan-kirinya adalah dua orang yang berpotongan tubuh berbeda, yang satu gemuk, sebaliknya yang lain kurus, keduanya sama berambut panjang semampir di pundak, dua orang yang aneh, tampaknya dia pengawal pribadi sang Congcecu.
It-hiong berdua melangkah lebih dekat dan berdiri di depan mereka, melihat orang tidak berdiri menjambutnya, It-hiong pun bersikap angkuh tanpa memberi hormat, ia cuma menyapa dengan tersenyum.
"Apakah anda ini Congcecu?"
Orang berkedok itu mengangguk tanpa bersuara "Kami tidak disilahkan duduk ?"
Tanya It-hiong pula dengan tertawa.
Kedua mata orang berkedok itu memancarkan cahaya yang menggetar sukma, ia pandang It-hiong berdua sampai sekian lama tanpa bicara.
Ebook oleh .
Dewi KZ Scan book oleh .
BBSC
Jilid 19 Sampai sekian lama orang berkedok itu menatap mereka, lalu berucap dengan suara berat.
"Silahkan duduk'"
"Nah, beginilah baru mirip gaya seorang pemimpin besar kaum lok-lim,"
Kata It-hiong dengan tertawa sambil menyurut mundur dan duduk di kursi barisan kanan.
Bun-hiong juga mundur dan duduk di kursi barisan kiri, keduanya bersikap wajar dan tenang, sedikit pun tidak terpangaruh oleh perbawa lawan.
Pelahan orang berkedok itu bicara pula.
"Ada keperluan apa kalian datang kemari menemuiku?"
"Kalau tidak keberatan, numpang tanya dulu siapa nama dan she Congtocu yang terhormat'' tanya It-hiong Dengan kurang senang orang itu menjawab.
"Apakah maksud kedatangan kalian hanya ingin tahu siapa diriku ini?"
"O, tidak,"
Jawab It-hiong dengan tertawa "Soalnya ada semacam barang hendak kami persembahkan kepada Congtocu, namun kita baru pertama kali ini bertemu, sepantasnya mesti saling memperkenalkan nama masingmasing, inilah sopan santun pergaulan "
"Tapi aku tidak suka bicara tentang sopan santun segala,"
Kata orang itu "Ada barang apa yang hendak kau berikan padaku, boleh keluarkan saja."
It-hiong lantas menanggalkan bungkusan yang dibawanya sambil bertanya.
"Apakah ada seorang anak buah Congtocu yang bernama Si Him ?"
"Ada,"
Jawab orang berkedok itu It-hiong membuka bungkusan dan mengeluarkan kotak palsu, katanya.
"Di suatu tempat ia di serang dan terluka parah oleh dua kawan bu-lim yang tidak diketahui asal usulnya, sebelum menghembuskan napas terakhir ia ininta kubawa kotak ini untuk diserahkan padamu "
"Oo,"
Orang berkedok itu bersuara tak acuh "Demi memenuhi pesannya akibatnya banyak pahit getir yang ku alami..."
"Oo,"
Kembali orang itu bersuara singkat. It-hiong meraba kotak palsu itu, katanya pula dengan tersenyum.
"Apakah kau tahu benda mestika apa isi peti ini?"
"Tahu."
Jawab orang berkedok "Oo.. dapatkah kami diberitahu?"
Pinta It-hiong "Boleh,"
Jawab orang itu "Peti ini berisi sehelai peta pusaka harta karun, asal peti ini dapat dibuka dan mendapatkan peta, tentu akan dapat menemukan harta karun tinggalan Eng-jiauong Oh Kiam-lam sesuai petunjuk dalam peta.
Nilai harta karun itu berjumlah beberapa juta tahil perak "
"Apa betul?"
It-hiong menegas dengan tertawa.
"Tentu saja betul, aku tidak menghendakinya, sudah kuputuskan akan kuberikannya untukmu,"
Kata orang itu "Hahaha.. sebab apa ?"
Tanya It-hiong dengan terbahak "Sebab peti yang kau pegang itu palsu, tiada berisi apa pun dalam peti,"
Kata orang berkedok Mau-tak-mau It-hiong melengak. tanyanya.
"Dan mana kau tahu peti ini palsu?"
"Sebab peti yang asli sudah kudapatkan "
Ujar orang itu dengan tertawa "Oo, di mana ?"
Tanya It-hiong.
Orang berkedok membalik ke sana dan mengeluarkan sebuah peti besar dari bawah meja, peti besar itu dibuka dan dikeluarkan sebuah kotak hitam dan dilemparkan kepada Ithiong, katanya dengan tertawa.
"Coba kau lihat, petiku inilah yang tulen "
Setelah menerima kotak hitam itu dan diperiksa. It-hiong tambah terkesiap, serunya.
"Hah aneh. dari mana kau dapatkan kotak pusaka ini?"
"Kudapatkan dan tangan Tui-beng-poan-koan Toh Po-sit,"
Tutur orang berkedok itu dengan tertawa Seketika it-hiong melonjak kaget, serunya.
"Apa katamu? Jadi engkau sudah mendatangi Ma-cik-san?"
Orang berkedok itu mengangguk pelahan jawabnya.
"Betul, baru kemarin kupulang kemari. Tentu kalian mengalaini sesuatu dalam perjalanan sehingga terlambat dan baru sekarang sampai disini"
Berdesak jantung it-hiong, tanyanya pula dengan terkesiap.
"Masa Toh Po-sit mau memberikan kotak pusaka ini kepadamu?"
Orang itu tertawa.
"Silahkan duduk dulu, biar kuceritakan duduknya perkara "
Sedapatnya It-hiong menahan perasaannya yang bergolak, ia duduk lagi dan bertanya.
"Apakah engkau telah membunuh Toh Po-sit?"
Orang berkedok itu sengaja mengelak tanpa menjawab, dengan senyum ejek ia berkata.
"Urusan ini harus kuceritakan mulai dan awal. Apakah kau tahu apa maksud tujuan Toh Posit menyuruhmu menangkap Oh Beng-ai " ' "Nona Oh hendak digunakannya sebagal umpan untuk memancing dan menangkap seorang."
Tutur It-hiong "Betul,"
Kata orang itu.
"Tapi apakah kau tahu siapa yang hendak dipancingnya?"
"Wah, hal itu aku tidak tahu,"
Jawab It-hiong sambil menggeleng "Biar kuberitahukan padamu,"
Ucap si orang berkedok.
"Orang yang hendak dipancingnya adalah kakak nona Oh sendin, yaitu Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam "
It-hiong melenggong.tanyanya.
"Hah, masa begitu? Bukankah Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam sudah mati?"
"Tidak, meski dia memperalat sesosok mayat untuk memalsukan dia sendiri, namun tetap tidak dapat mengelabui mata Toh Po-sit,"
Tutur si orang berkedok.
"Sebab apa Oh Kiam-Iam sengaja pura-pura mati?"
Tanya Ithiong tidak mengerti.
"Sebab banyak orang mengincar harta bendanya,"
Kata orang itu.
"Terutama ketujuh saudara angkatnya, yaitu Lok-lim-jitcoat, setiap saat mereka senantiasa mengincarnya dan berdaya akan mencelakai nyawanya serta merampas harta kekayaannya, sebab itulah Oh Kiam-lam mengguna-kan akal, ia memperalat sesosok mayat untuk menyamar sebagai jenazahnya agar Lok-lim-jit-coat mengira Oh Kiam-lam benar sudah mati terbunuh musuh, lalu ia membuat lagi sebuah kotak pusaka serta menyiarkan berita bohong bahwa di dalam kotak pusaka berisi sebuah peta harta karunnya, tujuannya supaya Lok-lim-jit-coat berusaha merampas kotak itu hingga saling membunuh, dengan begitu akan tercapai maksud tujuannya menumpas Lok-lim-jit coat. Sekarang tujuannya sudan tercapai Lok lim-jit-coat memaug sudah mati seluruhnya."
"Tidak, tidak betul,' tukas It-hiong.
"Di antara Lok-lim-jit-coat masih ada seorang yang belum mati, yaitu Ang-siu-soh Ban Sam-hian "Tidak betul, Ban Sam-hian juga sudah mati,"
Kita orang itu dengan tertawa "Ah, dan cara bicaramu ini, pahamlah aku sekarang,"
Seru Bun-hiong mendadak.
"Jelas engkau sendiri inilah Eng-jiauong Oh Kiam-Iam, betul tidak ?"
Orang itu menanggalkan kedoknya sehingga terlihat wajah aslinya yang kereng, mata besar, alis tebal, ia menyeringai dan berkata.
"Betul, aku inilah Oh Kiam-lam "
It-hiong membuang kotak palsu tadi, ia melolos pedang sambil melonjak bangun, teriaknya.
"Jika demikian, jadi Toh Po-sit sudah kau bunuh bukan?"
Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam duduk tenang tanpa bergerak, mendadak ia tertawa keras, katanya.
"Hahuha, janganlah tegang, anak muda. Ingin kutanya dulu padamu, bukankah sejauh ini Toh Po-sit tidak mau memberitahukan padamu siapa gerangan yang ingin ditangkapnya, bukan?"
"Memangnya kenapa kalau betul? "jawab It-hiong dengan mendelik gusar.
"ltu menandakan dia mempunyai pikiran busuk,"
Kata Oh Kiam-larn dengan tertawa "Ia ingin memperalat adik perempuanku untuk memaksa aku masuk perangkapnya dan mengincar seluruh harta kekayaanku "
"Omong kosong"
Teriak It-hiong bengis "Sama sekali bukan omong kosong."
Ujar Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam dengan tertawa.
"Tempo hari waktu kupergi ke Macik-san. jelas-jelas dia sudah bilang padaku bahwa selama hidupnya dia mengabdi untuk kepentingan umum, sampai tua tetap tidak mendapat sesuatu keuntungan apa pun, maka sekarang dia ingin meraih sejumlah harta untuk kelangsungan hari tua, ucapan itu juga didengar oleh adik perempuanku, kalau tidak percaya boleh kau tanya padanya"
"Tidak aku tidak percaya"
Seru It-hiong sambil mengentak kaki "Dia pasti bukan orang macam begitu jika dia ingin menangkapmu, hal itu juga deini kepentingan umum"
"Haha.. percaya atau tidak terserah padamu."
Seru Oh Kiamlam dengan tergelak.
"Cuma aku ikut penasaran bagi kalian berdua, kalian terkenal sebagai pendekar naga dan harimau, tokoh muda dunia persilatan yang menonjol, tapi kalian mau diperalat olehnya tanpa sadar, sungguh lucu dan menggelikan '' Mana It-hiong mau percaya Toh Po-sit adalah manusia yang kemaruk harta benda, segera ia tuding orang dan mendamperat.
"Lekas katakan. apakah dia sudah kau bunuh ?"
Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam menyeringai, ucapnya.
"Ia berusaha menperalat adik perempuanku untuk menangkap diriku, padahal sebelumnya setiap tindak-tanduknya sudah kuketahui dengan jelas. Memang betul, dia sudah kubunuh "
Kejut dan gusar It-hiong tidak kepalang, serentak ia melolos pedang dan berteriak bengis.
"Ayo maju kemari, biar ku tempur bangsat tua macam dirimu ini!"
"Hehe. buat apa?"
Ujar Oh Kiam-lam dengan tertawa, sikapnya tetap sabar.
"Kabarnya hubunganmu dengan adik perempuanku cukup intim, malahan aku juga sangat berharap akan mempunyai ipar semacam dirimu, bilamana ..."
"Tutup mulut"' bentak It-hiong "Hubunganku dengan adik perempuanmu hanya sampai di sini saja. Sukarang harus kupenggal kepalamu untuk membalas sakit hati Tohlocianpwe"
"Hehe.apa betul begini kehendakmu?"
Jengek Oh Kiam-lam dengan menarik muka.
"Sekalipun bukan untuk Toh-locianpwe juga akan kubinaskan bangsat tua yang licik dan licin serupa dirimu ini."
Teriak Ithiong tegas Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam berdiri dan berkata "Baik, dengan senang hati akan kupenuhi kehendakmu, anak muda. Mari kita keluar saja."
Segera lima orang sama keluar ruangan pendopo dan menuju ke lapangan.
Segenap anak buah sarang bandit itu sudah menerima kabar tentang datangnya kedua pendekar naga dan harimau dan sejauh ini sama memperhatikan perkembangan keadaan, kini melihat pemimpin besar mereka menuju ke lapangan bersama kedua tamu muda itu, segera para anak buah tahu bakal ada tontonan menarik, seketika suasana menjadi riuh ramai dan berkerumun maju.
Satu di antara penonton itu ternyata dikenal Pang Bun-hiong, orang ini seorang perempuan, dia bukan lain daripada Coakat-bijin Loan Kiau-kiau, si wanita cantik berbisa.
Perempuan ini sebenarnya terkurung di ruang bawah tanah di Ma-cik-san oleh Toh Po-sit, tapi sekarang sudah muncul di sarang bandit ini.
Maka dapat dimengerti apa yang dikatakan Oh Kiam-lam bukan bualan belaka.
Toh Po-sit memang benar telah terbunuh olehnya.
Melihat Coa-kat-bijin Loan Kiau-kiau muncul di situ, segera Pang Bun-hiong memberi salam dan menegur dengan tertawa.
"Aha, selamat berjumpa pula nona Loan"
Kiau-kiau hanya mendelik sekejap saja padanya tanpa menjawab. Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam memandang mereka berdua, katanya kemudian dengan rasa curiga.
"Mengapa kau kenal istriku ini.anak muda?"
Bun-hiong menjawab dengan tertawa.
"Bukan cuma kenal saja malahan ..."
Kiau-kiau tampak gugup dan membentak "Pang Bun-hiong, hendaknya kau tahu batas kalau omong, meski kita memang sudah lama kenal, tapi perkenalan kita berlangsung secara bersih "
"Kiau-kiau,"
Sela Oh Kim-lam dengan kurang senang.
"dia yang kutanya dan bukan tanya dirimu"
Lalu ia berpaling dan tanya Bun-hiong.
"Anak muda, kau bilang tidak hanya kenal saja, malahan apa?"
"Malahan timbul semacam ...semacam perasaanku,"
Kata Bunhiong dengan tertawa. Sinar mata Oh Kiam-lam tampak mencorong tajam, tanya dengan suara berat.
"Perasaan apa?"
"Begini, aku ini ada semacam ciri yaitu bilamana melihat perempuan cantik lantas kukejar terus menerus,"
Tutur Bunhiong.
"Beberapa tahun yang lalu secara kebetulan kulihat dia, aku terkejut akan kecantikannya, maka segera kuatur siasat dan mulai melancarkan serangan padanya. Namun dia bilang aku terlampau muda dan tidak sudi menerima cintaku. Tentu saja aku sangat kecewa karena bertepuk sebelah tangan, aku sakit rindu dendam dan hampir saja jiwa melayang."
Keterangan ini membuat Oh Kiam-lam tersenyum kembali, katanya.
"Hm, dengan muka tebese serupa dirimu juga ingin meinikat perempuan cantik, huh, jangan inimpi'"
"Ya, ya, memang!"
Kata Bun-hiong dengan tertawa. Hati Loan Kiau-kiau merasa lega karena Bun-hiong tidak bercerita kejadian yang sesungguhnya. Lalu Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam berpaling dan berkata kepada Liong It-hiong.
"Kau tahu anak muda, Toh Po-sit saja bukan tandinganku, apalagi dirimu. Jika kamu tetap ingin menantangku maka bagimu cuma ada satu jalan, yaitu kematian. Biarlah sekarang kusuruh seorang anak buahku coba-coba beberapa jurus denganmu "
Segera ia menoleh dan berkata kepada si gemuk yang aneh itu.
"Ong-siwi, boleh coba kau layani dia."
Si gemuk aneh itu mengiakan, segera ia melolos senjata andalannya, yaitu toya tiga ruas, ia melangkah maju, katanya sambil terkekeh.
"Hehe, anak muda, biar kuantar kamu pulang ke nenekmu. Nah, boleh serang lebih dulu?"
It-hiong acungkan pedangnya, ucapnya dengan mendongkol.
"Mengingat kamu dapat dipilih jadi jago pengawalnya tentu kepandaianmu tidak rendah "
Si gemuk putar toyanya sehingga menerbitkan suara gemuruh, katanya sambil menyeringai.
"Hehe asal kan cukup untuk membereskan anak muda seperti dirimu ini kan bolehlah! ' "Baik, akan kuberi tiga kali serangan padamu "
Kata It-hiong.
"Huh, masa kau mampu?"
Ejek si gemuk "Tentu saja mampu, coba saja."
Jawab It-hiong. Panas juga hati si gemuk, ia terkekeh dan membentak.
"Baik, ingin kulihat apakah kau mampu menahan sampai tiga kali seranganku'"
Begitu melangkah maju langsung toya ruas pertama menghantam batok kepala It-hiong.
Cepat, it-hiong mengegos ke samping sehingga serangan lawan terelak.
Namun toya tiga ruas itu memang senjata serba banyak variasinya baru saja lthiong menghindarkan jurus pertama tahu-tahu serangan kedua si gemuk sudah menyabet pinggangnya, betapa cepat perubahan serangannya sungguh sukar dibandingi senjata umumnya.
Selain cepat dan aneh jurus serangan si gemuk, tenaganya juga sangat kuat.
Baru saja It-hiong menyurut mundur, kembali ia dipaksa harus menghindar lagi ke samping.
"Roboh'"
Bentak si gemuk, berbareng jurus ketiga menyabot pinggang lagi.
Justru jurus serangan inilah merupakan serangan maut andalannya, dipandang sepintas babatan toya tiga ruas itu menyambar pinggang It-hiong, tapi pada detik hampir mengenai sasarannya itulah, sekonyong-konyong pada ruas toya kedua tiba-tiba berbunyi "cret", tahu-tahu menjeplak keluar sepotong belati terus memkam dada It-hiong.
It-hiong tidak menyurut mundur, juga tidak melompat ke atas, tapi mendadak ia berputar cepat serupa gasingan, sekaligus ia berputar ke sisi kanan lawan, pedang berputar dan langsung balas menusuk.
"Aduhh!"
Si gemuk menjerit dengan mata melotot tertampak wajahnya yang meringis menahan derita, tubuh sempoyongan akan roboh.
Rupanya ia terkena tusukan maut It-hiong.
Pedang masuk melalui pingang kanan dan tembus pinggang kiri.
Air mukanya yang meringis penuh derita itu dengan cepat membeku, setiap orang dapat melihat napasnya sudah putus, namun dia tidak roboh, eebab pedang yang menembus pmggangnya itu masih terpegang di tangan It-hiong.
Dengan sikap gagah perkasa it-hiong berdiri diam sejenak, habis itu baru pedang ditariknya berbareng sebelah kakinya mendepak.
"blang'' tubuh si gemuk terpental lebih setombak jauhnya. Air muka Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam berubah merah padam, ia tatap It-hiong sampai sekian lama, lalu mendengus.
"Hm. tidak nyana kamu memang mempunyai sejurus dua, bagus, bagus sekali". Sembari bicara sambiI menanggalkan jubahnya, nyata ia siap maju sendiri "Congtocu,"
Seru seorang mendadak.
"biar kucoba dia dulu'"
Kiranya si kurus aneh yang ininta izin untuk menantaog Liong It-hiong. Oh Kiam-lam berpaling, ia mengangguk peelahan dengan tersenyum katanya.
"Boleh juga, cuma jangan meremehkan lawan serupa Ong-siwi."
Si kurus aneh mengiakan, segera ia lolos senjatanya, yaitu cambuk kulit, sekali lompat ia maju ke depan Liong It-hiong "Babak ini serahkan padaku saja, Liong It-hiong,"
Seru Bunhiong berbareng ia pun melompat menghadapi si kurus.
"Enyah, keparat!"
Teriak si kurus dengan gusar "Aku ingin menuntut balas bagi kawanku !". Bun-hiong tertawa, katanya.
"Hari ini hanya ada permusuhan dinas dan tidak ada dendam pribadi, terlalu sempit jiwamu bila kau bicara tentang menuntut balas. Lebih baik kita berdua pun coba main-main beberapa jurus."
"Apakah kaucari mampus?!"
Si kurus berjingkrak murka, sekali cambuk kulit berputar.
"tarr", langsung terus menyabet ke pinggang Pang Bun-hiong. Cepat Bun-hiong melompat ke atas, ia tidak balas menyerang dengan pedang, katanya dengan tertawa "Aku pun memberi tiga jurus serangan padamu, nah, satu kali..."
Tambah kalap si kurus karena ejekan Bun-hiong itu kembali cambuk berputar dan berbunyi nyaring, ujung cambuk terus membabat kedua kaki Bun-hiong serupa ular hidup.
Namun kaki Bun-hiong keburu ditarik ke atas sehingga sabetan lawan terhindar pula, serunya dengan terbahak,."Haha, ini jurus kedua ...
"Tarrr", secepat kilat cambuk si kurus menyambar pula, sekail ini cambuk dapat membelit tubuh Bun-hioag dan menyeretnya ke bawah. Melihat kejadian tak terduga ini. lt-hiong terkejut, teriaknya cepat.
"Hei,awas!"
Terlampau cepat kejadian itu untuk diceritakan, tahu-tahu tubuh Pang Bun-hiong sudah terseret jatuh di tanah, siapa tahu anak muda itu lantas membentak, begitu tubuh jatuh di tanah mendadak ia menggelinding ke dekat kaki si kurus, menyusul melihat sinar pedang berkelebat, lalu terdengar suara jeritan, kontan si kurus roboh terjungkal.
Kiranya kedua kakinya tertabas buntung sebatas dengkul oleh pedang Pang Bun-hiong, darah segar pun muncrat serupa air mancur.
Semua orang sama melongo kaget sebab mereka tidak sempat melihat Bun-hiong melolos pedang, yang terlihat cuma berkelebatnya cahaya perak dan tahu-tahu kedua kaki si kurus sudah buntung, sungguh tabasan pedang secepat kilat.
Bun-hiong membuang cambuk kulit yang membelit tubuhnya itu dan melompat bangun, ia kebut debu yang mengotori tubuhnya, katanya dengan tertawa.
"Tidak cukup tegang, tidak cukup terangsang. Muka Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam tambah merengut, sorot matanya seakan-akan menyemburkan api, ia memberi tanda kepada anak buahnya agar membawa pergi si kurus yang terluka parah dan si gemuk yang sudah menjadi mayat.
"Baik, jika kalian mencari rangsangan kukira kalian takkan kecewa,"
Katanya kemudian sekata deini sekata "Di mana Cappek-to-jiu (18 ahli golok)?".
Serentak terdengar suara orang di sana-sini, seketika 18 orang lelaki tegap tampil ke muka.
Ke-18 lelaki kekar ini semuanya berdada lebar dan telanjang perut, otot daging kelihatan padat kuat, masing-masing membawa golok tebal sikapnya garang sekali jelas mereka adalah jago golok yang telah mengalaini latihan keras Eng jiau-ong Oh Kiam-lam tampak menyerengai, ucapnya dengan geram.
"Apakah kalian tidak berani menempur ke-18 jago golok ini?"
It-hiong mengangkat pedangnya dan menjawab dengan tertawa.
"Jika mereka sudah kau tampilkan, kenapa main sungkan lagi?". Segera Oh Kiam-lam memberi tanda sambil membentak.
"Maju'"
Sejak tampil ke18 orang itu sudah mengepung Bun-hiong di tengah, begitu menerima aba-aba, serentak mereka melangkah maju dengan teratur sehingga It-hiong berdua terkurung semakin rapat It-hiong rapatkan punggung dengan Bun-hiong dengan sikap sewajarnya ia berkata.
"Pang Bun-hiong, apakah sekarang kamu menyesal?"
"Haha, menyesal apa?"
Jawab Bun-hiong dengan tertawa "Menyesal karena kamu ikut kemari bersamaku "
Kata Ithiong.
"Kentut!"
Omel Bun-hiong "Tempat yang dapat kau datangi tentu aku pun berani datang'"
"Tapi kedatanganmu sekali ini mungkin cuma akan mati tanpa hidup lagi"
Kata It-hiong.
"Hari ini mati, 20 tahun kemudian kan sudah tumbuh kembali, takut apa ?"
Jawab Bun-hiong dengan tertawa.
Keduanya bicara dengan santai, ke 18 ahli golok yang terus mendesak maju itu seakan-akan tidak terpandang oleh mereka.
Sebaliknya ke-18 ahli golok itu kelihatan sangat prihatin dengan sikap serupa sedang menghadapi musuh besar, sungguh sangat kontras bila dibandingkan sikap It-hiong berdua yang acuh-tak acuh itu Menyusul jarak kedua pihak yang semakin dekat, suasana pertempuran sudah hampir membuat sesak napas orang, namun It-hiong dan Bun-hiong masih terus bicara seenaknya seperti tidak terjadi apa-apa "Ciaatt""
Terdengar teriakan ramai, dua ahli golok bagian tengah mendahului melancarkan serangan, golok tebal segera membacok.
Bun-hiong dan It-hiong tertawa panjang, serentak mereka berkelit, tanpa berjanji tapi bergerak serupa keduanya sama menggeser ke samping.
Akan tetapi dengan cepat luar biasa mereka memperlambat langkah dan kembali berdiri tegak dengan santai.
Sebaliknya kedua ahli golok yang membacok tadi serupa kena ilmu sihir, wajah keduanya menampilkan rasa kejut dan bingung tak terkatakan, biji mata mereka melotot serupa hendak melompat keluar, sampai sekian lama baru terdengar suara "blak-bluk", berturut-turut keduanya roboh terkapar, darah segar pun menyembur keluar dari perut mereka.
Sisa ke-16 jago itu sama terkesiap, tanpa terasa sama menyurut mundur satu langkah, nyata mereka sama gentar terhadap ilmu pedang It-hiong dan Bun-hiong yang Iuar biasa itu.
"Jangan takut, maju bersama'' bentak Oh Kiam-lam dengan bengis. Segera terdengar suara bentakan dan teriakan dari sana sini ke-16 ahli golok terus menyerbu maju dengan ganas. Maka terjadilah pertarungan sengit, sinar golok dan cahaya pedang berkelebat kian kemari. Di tengah gerak kelebat bayangan manusia. terdengar pula gema suara jeritan dua kali, kembali dua ahli golok itu terkena pedang, seorang kontan roboh binasa, seorang lagi terguling keluar kalangan pertempuran dan melolong kesakitan sambil memegangi perut. Namun sebenarnya tidak ringan cara It-hiong dan Bun-hiong menghadapi kawanan jago golok itu, keadaannya sama bertempur mati-matian dan mengeluarkan segenap kemahiran masing-masing, dengan begitu barulah sekadar di atas angin. Maklumlah, apa pun juga sukar melawan kerubutan gerombolan kera. Jika setiap orang harus melayani tujuh golok dengan sebatang pedang, betapapun memang tidak sederhana. Setelah bertarung sengit sebentar lagi, sedikit meleng, tahutahu paha kanan Bun-hiong terkena golok, la menjerit kesakitan, pedang menangkis sekuatnya tiga golok yang membacok tiba, menyusul tubuh berputar cepat, telapak tangan kiri meraih dan dapat mencengkeram punggung golok seorang lawan terus didorong sekuatnya "Aduhh!"
Terdengar jeritan orang itu Rupanya karena didorong sekuatnya oleh Bun-hiong, dengkul sendiri terbacok golok sehingga jatuh terkulai.
Tanpa ayal Bun-hiong berputar lagi, pedang bekerja cepat, kembali seorang lawan kena tertutuk lehernya Di sebelah lain It-hiong juga harus menghadapi tujuh orang lawan, ia masih sempat tanya Bun-hiong.
"Hai, kawan apakah kamu dapat tanda jasa?"
"Ya, cuma terluka ringan, tidak apa,"
Jawab Bun-hiong.
Mendadak It-hiong berguling di tanah, pedang berputar, sekaligus betis dua lawan tertusuk olehnya.
Meski kaki lawan tidak sampai terkutung tapi sudah membuiat mereka terluka dan berdarah dan cepat melompat pergi.
"Hah hebat benar, kawan"
Seru Bun-hiong dengan tertawa Segera It-hiong melompat bangun, tangan kiri memampok golok yang menyabet dari samping, pedang terus menusuk ke belakang sambil tertawa.
"Haha, kukira engkau terlebih hebat dari padaku"
"Aduhh'"
Terdengar jago golok yang menyerang dan belakang itu menjerit.
sebab perutnya tertusuk oleh pedang It-hiong dan kontan roboh terkapar.
Sekarang di antara ke 18 jago golok itu tersisa sembilan orang saja.
Sampai di sini Eng-jiauong Oh Kiam-lam menyadari ke-18 jago golok itu jelas takkan menang, segera ia membentak.
"Mundur semuanya !"
Kesembilan jago golok itu seperti menerima pengampunan tanpa perintah lagi cepat mereka melompat mundur.
It-hiong dan Bun-hiong juga tidak melancarkan serangan lagi, mereka sama berdiri tegak dengan pedang terhunus wajah mereka tampak tersenyum cerah.
Sebaliknya wajah Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam justru beringas murka, kesepuluh jari tangannya terpentang dan mengeluarkan suara pletak-pletuk, ucapnya sambil menyeringai.
"Pendekar naga dan harimau ternyata benar tidak bernama kosong, agaknya aku telah salah menilai kalian ..."
It-hiong membungkuk tubuh sebagai rendah hati katanya "Terima kasih atas pujian mu, sungguh sangat beruntung dan bahagia sekali "
Oo Kiam-lam melangkah ke tengah kalangan dengan semangat tempur yang menyala-nyala ia menjengek.
"Baik, bilamana dalam sepuluh jurus tak dapat kubereskan kalian, biar kupotong kepala dan kuserahkan kepada kalian'' "Sekali bicara harus pegang janji,"
Ucap It-hiong dengan tertawa. Lalu ia berpaling dan memberi tanda kepada Bunhiong.
"Minggir dulu, biar kubelajar kenal dengan gembong Liok-lim yang ter masyhur ini!"
Namun Bun-hiong tetap berdiri di tempatnya katanya dengan tertawa.
"He, telingamu kan cukup sehat bukan?"
"Oo...ada apa?"
Tanya It-hiong bingung "Kan jelas dia menyatakan akan membereskan 'kalian' dan tidak bilang cuma dirimu seorang saja"
Ucap Bun-hiong.
"Tapi kakimu terluka.orang yang terluka kan layak bila mundur dan istirahat dulu,"
Ujar It-hiong Bun-hiong tertawa, jawabnya sambil menuding luka pada kaki sendiri.
"Coba kau lihat, kakiku cuma terluka lecet oleh ujung golok, hanya luka ringan begini, biarpun anak kecil juga tahan "
It-hiong menghela napas ucapnya dengan gegetun.
"Kamu ini memang orang aneh, mengapa sengaja hendak mengantar nyawa bersamaku?'* "Jika kamu saja tidak takut antar nyawa, masa aku mesti takut?"
Jawab Bun-hiong. It-hiong tidak bicara apa-apa lagi, ia berpaling dan memberi salam kepada Oh Kiam-lam, katanya dengan tertawa.
"Sadah lama kudengar Eng-jiau-kang Oh-congtocu maha lihai, beruntung hari ini diberi kesempatan untuk belajar kenal, sungguh sangat bahagia dan menggembirakan"
"Jika kalian sudah siap silahkan serang saja'"
Jengek Ob Kiamlam.
It-hiong tahu lawan yang dihadapinya sekarang adalah tokoh golongan hitam yang sangat menakutkan, sebab itulah meski tampaknya dia bersikap santai, tapi di dalam hati sebenarnya sangat tegang, ia berpaling dan tanya Bun-hiong dengan tertawa.
"Apakah engkau sudah siap kawan?"
"Ya, siap"
Bun-hiong mengangguk.
"Jika begitu, ayolah maju'"
Begitu kata terakhir itu terucap, serentak pedang bergerak, dengan lurus "hek-hou-tau-sim"' atau harimau kumbang mencuri hati, langsung ia tusuk hulu hati Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam.
Pang Bun-hiong tidak tinggal diam, berbareng pedang juga menyabat ke bagian kaki Oh Kiamlam dengan jurus "Cui-te-Iau-gwe"
Atau meraih bulan di bawah air.
Kedua orang membagi serangan bagian atas dan bawah dengan kerja sama yang sangat rapi.
Oh Kiam-lam bersuit panjang, serentak ia meloncat ke atas, kaki kanan terus mendepak dada Pang Bun-hiong, tangan kiri menghantam batok kepala Liong It-hiong, gerakannya indah, serangannya jitu dan berbahaya.
It-hiong dan Bun-hiong kenal kelihaian lawan, cepat mereka menarik senjata dan menghindar.
Oh Kiam-lam memang tidak malu sebagai tokoh lok-lim nomor satu, begitu serangan sudah mendahului segera ia berputar lagi, serupa angin puyuh cepatnya mendadak ia menubruk ke arah It-hiong, kelima jari terpentang terus mencengkeram muka anak muda itu Inilah Eng-jiau-kang atau takar earng sakti yang maha lihai, kelima jari sekeras baja, entah sudah Berapa banyak tokoh dunia persilatan yang dicederai oleh tenaga cakar elang sakti yang lihai ini.
Dengan sendirinya Liong It-hiong kenal akan kelihaian kungfu lawan, cepat ia mendak ke bawah, dengan gaya "pan-liong-jihou"
Atau naga melingkar menanduk harimau, pedang berputar terus balas menusuk ke atas.
"Plak", kelima jari Oh Kiam-lam yang mencengkeram itu mendadak menggenggam batang pedang Ii-hiong dengan erat.serupa tangan memegang toya saja, sedikit pun tidak takut akan ketajaman pedang Keruan It-hiong terkejut, sekuatnya ia mendorong, lalu ditarik ke bawah, tapi dirasakan pedang sendiri seakan akan lengket dengan tangan lawan, satu senti pun tidak dapat ditolak, satu inci pun sukar ditarik. Bun-hiong tidak tinggal diam, mendadak ia membentak keras, pedang terus menusuk pinggang kiri musuh, tujuannya memaksa Oh Kiam-lam melepaskan pedang Liong It-hiong. Oh Kiam-lam menyeringai, dengari cekatan telapak tangan kiri terus meraih ke bawah, kembali terdengar "plak", tahu-tahu pedang Bun-hiong juga tercengkeram olehnya. Dengan kesepuluh jari telanjang Oh Kiam-lam dapat menangkap mata pedang yang tajam dan sama sekali tidak kuatir jari dan telapak tangan akan tersayat oleh mata pedang kedua lawan. Tentu saja Bun-hiong rada cemas, cepat ia angkat kaki kanan terus mendepak pinggang musuh.
"Blang", dengan tepat pinggang terdepak. Betapa hebat tendengan Bun-hiong itu, biasanya biarpun pohon juga akan terguncang bila tidak tumbang, tapi sekarang Oh Kiam-lam ternyata berdiri tegak tanpa cedera apa pun, malahan kedua kaki sama sekali tidak bergeser selangkah pun. Mendadak Oh Kiam-lam tertawa panjang, tenaga dalam dikerahkan serentak pada kedua tangan sambil membentak "Patah"
Terdengar suara "pletak"
Dua kali, kedua pedang Liong Ithiong dan Pang Bun-hiong seketika patah menjadi dua.
Merinding kedua anak muda itu melihat kesaktian lawan, cepat mereka melompat mundur dan menatap lawan dengan terkesiap.
"Hm, kalian mau lari ?"
Ejek Oh Kiam-lam sambil menyeringai.
Sekali bergerak, dengan cepat luar biasa ia memburu maju, kelima jarinya lantas mencengkeram, 'crat", tanpa ampun bahu kiri Liong It-hiong tercengkeram.
Seketika It-hiong merasa sepotong daging bahu seperti terbeset, saking kesakitan ia menjerit dan langsung roboh terjungkal.
Melihat kawannya roboh, kuatir lawan turun tangan keji lebih lanjut, tanpa pikir keselamatan sendiri Bun-hiong menerjang maju, dengan pedang kutung yang masih dipegangnya ia menabas kuduk musuh.
Namun Oh Kiam-lam sempat putar telapak tangan ke belakang dan menabas pergelangan tangan Bun-hiong yang memegang pedang sehingga pedang kutung tergetar ke samping, menyusul tangan yang lain terus mencengkeram pula ke depan, katanya dengan tertawa.
"Kaupun roboh saja."
Kontan Bun-hiong menjerit sambil memegang perut dan berjongkok, keringat tampak mengucur dari dahinya.
"Hm,"
Oh Kiam-lam mendengus, ia memberi tanda kepada anak buahnya yang berkeliling di luar kalangan, katanya, 'Ringkus mereka dan gantung"
Terdengar suara ramai mengiakan segera beberapa orang berlari ke tengah kalangan dan meringkus lt-hiong dan Bunhiong dengan erat.
Di samping kiri lapangan Itu ada sebuah kerekan bayu, beberapa anggota bandit segera meringkus kaki dan tangan It-hiong berdua, lalu menyeret mereka ke bawah kerekan, tali keretkan ditarik turun untuk diikat lagi pada kedua tangan It-hiong dan Bun-hiong, lalu tali ditarik, mereka dikerek ke atas.
Kiranya It-hiong dan Bun-hiong cuma terluka oleh cakaran Eng-jiau-kang Oh Kiam-lam sehingga kehilangan daya perlawanan, mereka tidak mati, malahan pikiran mereka masih cukup jernih.
Oh Kiam-lam ikut ke depan kerekan, dengusnya.
"Tanggalkan baju mereka, naga takut di keletek sisiknya, harimau takut dibetot uratnya sekarang hendak kukeletek sisik dan membetot otot mereka."
Dua anak buahnya mengiakan dan berlari maju, dengan pisau mereka merobek baju It-hiong berdua, baju mereka ditarik sehingga terlepas semua hanya tersisa celana dalam saja.
Coa-kat-bijin Loan Kiau-kiau menggelendot di samping Oh Kiam-lam ucapnya dengan tertawa genit.
"Bocah she Pang ini punya urat, tapi bocah she Liong itu tidak bersisik, cara bagaimana juragan akan mengeletek sisiknya"
"Membeset kulitnya sama artinya mengeletek sisiknya."
Jawab Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam dengan tertawa.
"Oo, kiranya begitu."
Kiau-kiau tertawa ngikik "Belum pernah kulihat orang dibeset kulitnya, kukira pasti sangat menarik "
"Ya, memang sangat menarik,"
Kata Oh Kiam-lam dengan mengangguk.
"Lantas cara bagaimana kulitnya akan dibeset?"
Tanya Kiaukiau "Mudah..."
Tutur Oh Kam-lam "Sayat saja sebuah lubang pada kulit kepalanya, dari situ dituang air raksa, kau tahu lubang betapa kecil pun akan disusupi air raksa.
Maka begitu air raksa dituangkan, dia akan terus mengalir ke bawah melalui bawah kulit sehingga kulit akan berpisah dengan urat daging, dengan sendirinya, pada waktu air raksa mengalir ke bawah menyusupi bawah kulit akan menimbulkan sedikit derita''"
Kiau kiau terkikik-kikik, ucapnya.
"Ai, juragan kita ini, kalau bicara selalu lucu dan menarik. memangnya cuma menimbulkan sedikit derita saja ?"
"Apakah sangat sakit atau tidak hanya diketahui orang yang langsung bersangkutan"
Kata Oh Kiam-lam dengan tersenyum. Perlahan Kiau-kiau mendekati Liong It-hiong, ia memandangnya sekejap dengan tersenyum, katanya.
"Liong lt-hiong, kukira sekarang engkau tentu sangat meuyesal karena memakai gelar Pendekar Naga, betul tidak ?'' Meski tubuh tergantung, namun sifat It-hiong yyang nakal tidak berubah, ia tertawa dan menjawab.
"Aku cuma menyesal satu hal....."
"Hal apa?"
Tanya Kiau-kiau "Aku menyesal salah lahir,"
Kata It-hiong.
"Apabila aku dilahirkan menjadi Pang Bun-hiong, wah, alangkah baiknya".
"Kamu berharap dirimu menjadi Pang Bun-hiong?"
Kiau-kiau menegas dengan melengos.
"Ya,"
It-hiong mengangguk ' "Sebab apa ?"
Tanya Kiau-kiau "Sebab Pang Bun-hiong pernah tidur denganmu,"
Kata Ithiong.
"Dapat tidur dengan orang secantik serupa dirimu, sungguh boleh di katakan mati pun tidak perlu menyesal "
Seketika muka Kiau-kiau menjadi merah teriaknya gusar.
"Ngaco-belo sembarangan omong, Orang macam apa diriku ini, mana ku sudi tidur dengan Pang Bun-hiong "
Tiba-tiba Bun-hiong menyambung dengan tertawa, ''Kiau-kiau, perempuan cantik macam dirimu memang menyenangkan cuma sayang, di antara kecantikanmu yang mulus terdapat setitik kekurangan."
Kiau-kiau berpaling dia melotot kepada Bun-hiong, damperatnya dengan gusar.
"Berani lagi kamu sembarangan omong seketika dapat ku binasakanmu "
Namun Bun-hiong tidak peduli ia bicara pula.
"Harus diakui sekujur badanmu cukup sempurna hanya saja setitik tahi lalat yang terdapat di bawah perutmu itulah yang kurang menarik"
Kejut dan murka Kiau-kiau, sambil membentak segera sebelah tangannya menghantam muka Pang Bun-hiong.
"Berhenti"
Bentak Oh Kiam-lam mendadak Pukulan Kiau-kiau itu sudah hampir mengenai sasarannya, bilamana diteruskan, seketika muka Bun-hiong bisa hancur dan binasa.
Tapi demi mendengar bentakan Oh Kiam-lam itu.mau-tak mau Kiau kiau harus menahan pukulannya.
Sebab ia cukup paham perangai Oh Kiam-lam setiap orang harus tunduk kepada perintahnya.
Dengan sikap manja diam minta dikasihani Kiau-kiau menoleh dan berkata kepada Oh Kiam-lam.
"Juraganku, janganlah engkau percaya kepada ocehannya, hamba tidak pernah berbuat sesuatu yang tidak setia terhadapmu "
Sikap Oh Kiam-lam kelihatan kaku dan dingin katanya.
"Jika benar kamu tidak pernah berbuat sesuatu yang tidak setia padaku dari mana ia tahu di bawah perutmu ada setitik tahi lalat?"' Muka Kiau-kiau tampak merah jengah, jawabnya dengan gelagapan.
"O..itu.. itu karena ...karena kebetulan dilihat olehnya "
"Kebetulan dilihatnya bagaimana'"
Desak Oh Kiam-lam dengan ketus. Beberapa bulan yang lalu mendadak ia menerobos masuk ke tempat tinggal kita di Hoai-giok-tan, waktu itu hamba sedang ...sedang mandi "
"Kemudian"?"
Desak Oh Kiam-lam "la bilang...ia bilang dalam perjalanan tidak mendapatkan rumah penginapan, maka mohon mondok semalam, tapi hamba tidak mengizinkan dan dia lantas...lantas pergi,"
Tutur Kiau-kiau dengan tergegap.
"Apakah betul begini, anak muda?"
Tanya Kiam-lam terhadap Bun-hiong/ Bun-hiong hanya menjawab dengan tersenyum tanpa bicara Mata Oh Kiam-lam mendelik, bentaknya bengis.
"Lekas bicara''"
"Sabar, jangan terbaru nafsu,"
Kata Bun-hiong dengan tertawa "Engkau ini sungguh sangat aneh.
jika engkau kuatir dia menyeleweng, seharusnya jangan kautinggalkan dia di pegunungan sunyi tanpa diawasi".
Oh Kiam-lam mendesak maju satu langkah tanyanya dengan gregetan.
"Coba katakan, apa benar pernah kau tidur dengan dia?"
"Oo. tidak, aku tidak suka kepada perempuan yang ada tahi lalat di bawah perut' jawab Bun-hiong sambil menggeleng Wajah Oh Kam-lam yang gusar itu tampak rada mereda, seperti merasa lega. Sungguh Loan Kiau-kiau tidak percaya Pang Bun-hiong masih mau menjaga rahasianya, tertarik juga hatinya, ia melirik sekejap ke arah anak muda itu dengan sorot mata penuh terima kasih.
"Meski kamu tidak mengganggu perempuanku tapi anak buahku telah kau bunuh, tetap akan kubeset kulitmu."
Bentak Kiam-lam.
"Wah, caramu ini bukankah membalas susu dengan tuba?'"
Jawab Bun-hiong Oh Kiam-lam tidak menggubrisnya lagi, mendadak ia berteriak kepada anak buahnya.
"Lekas siapkan alat-alat untuk membeset kulit dan membetot urat "
Serentak dua orang anak buahnya mengiakan terus berlari pergi "Ambilkan sebuah kursi"' teriak Kiam-lam pula Kembali seorang anak buahnya mengiakan dan berlari pergi lagi.
Tidak lama kemudian kursi dan peralatan yang diperlukan sudah dibawa kemari.
Oh Kimn-lam duduk di kursi yang dibawa datang itu, lalu membentak "Lebih dulu beset bocah she Liong itu'' Dua orang anak buahnya mengiakan dan melangkah maju, Ithiong di kerek turun beberapa kaki sehingga kedua kakinya masih mengambang beberapa inci dari permukaan tanah.
Salah seorang anggota bandit itu merangkul erat kedua kakinya agar It-hiong tidak mampu meronta.
Lalu kawannya membuka sebuah peti dan mengeluarkan sebilah pisau serta sebuah botol porselin la buka sumbat botol, lalu botol ditaruh di samping, kemudian pisau dipegang dan segera hendak memotong kulit kepala Liong It-hiong Pada detik berbahaya itulah sekonyong terdengar teriakan nyaring seorang.
"Nanti dulu'"
Menyusul sesosok bayangan ramping kecil berlari dalang dengan cepat.
Ternyata yang datang ini tak-Iain-tak-bukan adalah Oh Beng-ai.
Melihat yang muncul ini adalah adik perempuan sendiri, bekernyit kening Oh Kiam-lam, katanya dengan tidak senang.
"Untuk apa kau keluar ke sini?"
Beng-ai lari ke samping sang kakak terus berlutut dan menyembah, ratapnya sambil menarik tangan Oh Kiam-lam, '"Koko kumohon dengan sangat, janganlah engkau membunuh dia "
Sinar mata Oh Kiam-lam mencoreng bengis dengusnya.
"Hm, dia pernah menawanmu dan diserahkan kepada Toh Po-sit, tapi sekarang kamu malah mintakan ampun baginya"
Dengan air mata berlinang Beng-ai berucap."Koko, percayalah padaku, dia orang baik.dia senantiasa sangat baik padaku"
"Hm, kau bilang dia orang baik?"
Jengek Oh Kiam-lam "Jadi kakakmu ini orang busuk begitu'"
"Tidak, adik tidak bilang kakak kurang baik, adik cuma memohon engkau sudi mengampuni jiwanya"
"Budak hina dina enyah lekas"
Bentak Oh Kiam-lam dengan bengis "Bila tidak ingat antara saudara eakundung, hm, tentu kau pun kubunuh sekalian,"
Beng-ai malengak, ucapnya dengan terbelalak "Ka...kakak mencaci adikmu hina dina?"
"Kamu sudah terjerumus ke dunia pencomberan dan melakukan perbuatan yang memalukan, apakah itu bukan hina dina?"
Kata Oh Kiam-lam.
Tertampi rasa derita pada wajah Oh Beng-ai tak tertahan lagi air matanya bercucuran, ucapnya pedih "Mengapa kakak tega bicara hal-hal begini?.Jika kakak sejak dulu sudi menjaga kehidupan adik, tentu adik tidak sampai terjerumus ke limbah kolor itu "
Mendadak Oh Kiam-Iam menarik muka, dampratnya.
"Berani kau bicara lagi segera ku usir, lekas enyah!"
Hancur hati Oh Beng-ai, ratapnya.
"Koko, boleh kau maki atau pukul diriku, aku cuma memohon agar engkau jangan mencelakai mereka, lepaskan mereka pergi saja "
Oh Kiam-lam tidak menggubrisnya pula ia memberi tanda dan berseru "Turun tangan.. beset"
"Jangan!"
Jerit Beng-ai sambil menubruk ke tubuh Oh Kiamlam.
Seketika Oh Kiam-Iam tampak melongo, menyusul lantas terunjuk rasa derita yang aneh.
La duduk mematung sekian lamanya baru mendadak menggertak dengan keras, kedua tangan menyengkelit sekuatnya sehingga Beng-ai terlempar dua tombak jauhnya.
Beng-ai menjerit ngeri, serupa layang-layang putus ia terlempar, waktu terbanting ke tanah orangnya sudah pingsan, dari ujung mulut tampak mengeluarkan darah Baru sekarang semua orang melihat jelas sebab apa wajah Oh Kiam-lam menampilkan rasa derita, kiranya tepat pada hulu hatinya tertikam sebuah gunting, cukup dalam tikaman gunting itu sehingga darah pun mengucur.
Ia berdiri dengan terhuyung-huyung dan melangkah ke tempat menggeletak Oh Beng-ai, sorot matanya tampak beringas menakutkan, sesudah berada di depan nona itu, pelahan ia angkat telapak tangannya dan bermaksud menghantam......
Akan tetapi akhirnya pukulannya tidak sempat dijatuhkan, sebab tubuhnya lantas tergeliat,lalu roboh dan mengembuskan napas terakhir.
Meski sudah mati namun kedua matanya masih mendelik, agaknya mati pun dia tetap tidak rela.
Keruan kawanan bandit yang menyaksikan itu lama melenggong.tidak ada seorang pun yang menyangka akan terjadi begitu sungguh tak terduga bahwa Oh Beng-ai yang lemah itu ternyata punya kaberanian membunuh kakak sendin, sedang gembong iblis dunia bandit yang disegani dan jarang ada tandingannya itu ternyata bisa mati di tangan adik perempuan sendiri yang sama sekali tidak mahir ilmu silat.
Semua orang sama berdiri terkesima dan melongo, sampai sekian lama baru ada seorang melompat ke samping Oh Kiamlam dan berjongkok untuk merangkul jenazahnya sambil berteriak dengan emosi.
"Oo, Congtecu, engkau "
Orang yang memburu maju ini adalah Liok Wi-yang yang bertugas menjaga pos ke-18 itu, belum lanjut teriakannya tidak diteruskan lagi, sebab telah dilihatnya keadaan Oh Kiam lam yang sudah mati itu, biarpun dewa turun dari kayangan juga tidak mampu menghidupkannya kembali.
Pelahan ia menaruh kembali jenazah Oh Kiam-lam, lalu berdiri tegak dan berpaling kepada kedua anak buah yang hendak membeset kulit Liong lt-hiongg, teriaknya dengan bengis "Ayo kenapa diam saja, lekas turun tangan!'.
Kedua orang itu mengiakan dengan gugup dan segera mereka hendak menguliti Liong lt-hiong "Tunggu dulu'"
Teriak seorang mendadak kiranya Loan Kiaukiau adanya. Liong Wi-yang menoleh, tanyanya.
"Nona ada pendapat lain?"
"Begini,"
Kata Kiau-kiau.
"Ada suatu caraku yang lebih bagus."
"Oo, cara apa?"
Tanya Liok Wi-yang.
Kiau-kiau melangkah maju dengan lenggang-lenggok, sesudah berhadapan dengan Liok Wi-yang, ia berlagak hendak membisikinya tapi diluar dugaan mendadak sebelah tangannya terus menghantam.
"Biang", tepat dada orang kena digenjotnya dengan keras Liok Wi-yang menjerit, tubuhnya yang besar itu mencelat jauh ke sana dan terbanting serta tidak mampu bangun lagi. Kawanan bandit terperanjat, beramai-ramai mereka melolos semata. Loan Kiau-kiau lantas membentak.
"Jangan bergerak, sekarang akulah yang menjadi pemimpin besar Cap-pek-pannia. Asal kalian tunduk padaku tentu kalian akan mendapat hadiah yang setimpal' Seketika kawanan bandit menjadi ragu dan sangsi, namun tidak ada semangat untuk bertempur lagi. Kiau-kiau lantas melolos sebilah belati, ia mendekati Pang Bun-hiong ucapnya dengan tertawa terkikik.
"Hihi, Pang Bun-hiong, tentu kamu tidak menyangka akan berakhir dengan demikian bukan?"
"Ya, memang,"
Jawab Bun-hiong.
Habis bicara ia terus memejamkan mata dan menunggu ajal.
Mendadak Kiau-kiau ayun belatinya dengan cepat, tapi bukan membunuh Pan Bun-hiong melainkan memotong tali pengikat tangan anak muda itu.
setelah Bun-hiong jatuh terbanting ke lantai, cepat pula ia memotong tali pengikat kakinya.
Segera Bun-hiong pulih akan kebebasannya, ia merasa seperti habis mimpi saja dan tidak percaya kapada apa yang baru terjadi, sembari meraba pergelangan tangannya yang masih pedas ia pandang Kiau-kiau dengan melenggong.
"Sering kudengar cerita tentang sifat orang perempuan yang gampang berubah pendirian, tapi tidak kusangka ada perempuan bisa berubah pikiran sejauh ini"
Ucap Bun-hiong sambil menggeleng kepala Kiau-kiau tidak menjawab, kembali ia menyayat tali pengikat kaki dan tangan Liong It-hiong.
setelah anak muda itu juga sudah bebas barulah ia berkata dengan tertawa.
"Bagaimana, kalian sudah dapat bergerak bukan ?"' Bahu It-hiong terluka oleh cakaran Eng-jiau-kang Oh Kiamlam, meski tidak begitu parah sehingga sukar bergerak, ia tidak menjawab pertanyaan Kiau-kiau, tapi segera berlari ke samping Oh Beng-ai dan mengangkatnya bangun sembari berseru.
"Giok-nio!... Giok-nio!"
"Hah, masih kau panggil dia Giok-nio'"
Kata Kiau-kiau dengan tertawa Segera It-hiong berganti panggilan, serunya.
"Beng-ai, sadarlah Beng-ai. Lekas sadar, engkau tidak boleh mati!"
Tubuh Beng-ai terasa lemas lunglai tanpa reaksi sedikitpun cuma dapat terlihat jelas dia tidak mati, masih bernapas dengan lancar.....
Kiau-kiau ikut mendekat ke sana, ia mengeluarkan sebuah botol porselin kecil dan menuang keluar satu biji pil merah serta disodorkan kepada It-hiong katanya.
"Ini Tai-hoan-tan. mungkin dapat menyelamatkan nyawanya"
Lekas It-hiong menerima obat itu dan dijejal kan ke dalam mulut Oh Beng-ai, katanya dengan rasa kuatir.
"Tulang iganya patah tiga, entah melukai isi perut atau tidak, bilamana isi perut juga terluka, wah ..."
"Jika isi perut terluka tentu sejak tadi ia meninggal, ujar Kiaukiau. Namun apa pun juga memang harus cepat ditolong."
Bicara sampai di situ ia berpaling dan tanya kepada kawanan handit yang berdiri di sekelilingnya.
"Ke mana perginya Hoa-loji ?"
"Hamba berada di sini"
Seru seorang. Lalu seorang tua tampil ke muka "Harap kau periksa keadaannya."
Pinta Loan Kiau-kiau Orang tua alias Hoa-loji itu mendekat dan berjongkok, diperiksanya kelopak mata Beng-ai lalu meraba lagi tulang iganya, katanya kemudian sambil mengangguk.
"Rasanya masih besar harapan akan tertolong."
"Jika begitu lekas kau tolong dia."
Kata Kiau-kiau cepat.
"Baik, harap Liong-hiap membawanya ke da lam rumah "
Kata Hoa-loji. Habis berkata ia lantas mendahului melangkah ke sana "Siapa dia?"
Tanya lt-hiong Dia seorang tabib di markas kami ini, ia suka mengaku sebagai keturunan Hoa To (tabib sakit di jaman Sam-kok),' tutur Kiau kiau dengan tertawa "'Meski kebanyakan orang tidak percaya.namun kepandaiannya mengobati orang memang terbukti nyata "
Cepat It-hiong mengangkat Oh Beng-ai dan ikut Hoa-loji ke dalam rumah Melibat mereka sudah masuk ke sana, Bun-hiong mendekati Kiau-kiau dan bertanya dengan suara tertahan.
"Apakah dapat kau atasi orang banyak?"
Kian-kiau tersenyum, katanya "Untuk sementara ini dapat kuatasi mereka yang berada di sini, tapi anak buah ke-17 markas yang lain apakah mau tunduk padaku atau tidak belum berani ku jamin"
"Mengapa engkau menolong kami?"
Tanya Bun-hiong dengan tertawa .
"Biasa."
Ucap Kiau-kiau dengan tertawa manis."Aku tidak suka kepada Oh Kiam-lam lagi, dia kan sudah tua "
Tersenjum Bun-hiong, tanyanya.
"Mulai kapan kamu tidak suka padanya?"' "Tadi."
Jawab Kiau-kiau.
"pada waktu engkau tidak mengaku pernah tidur bersamaku ketika ditanya Oh Kiam-lam." ''Hah, perempuan semacam dirimu memang menarik,"
Seru Bun-hiong dengan terbahak Tiba-tiba Kiau-kiau bicara dengan serus.
"Sekarang aku sudah menjadi pemimpin besar Cap-Pek-pan-nia maka kamu harus tunduk kepada perintahku. Kalau tidak sekali kuberi perintah, betapapun kamu tetap tidak terbebas dari kematian"
"Baik,"
Kata Bun-hiong sambil membungkuk.
"Ada perintah apa.silahkan bicara "
Kiau-kiau tertawa geli katanya, Sekarangg belum ada, namun sebentar lagi sangat mungkin ada,"
"Oo?"
Bun-hiong bersuara heran.
Dengan suara tertahan Kiau-kiau berkata.
Bila pemimpin ke-I7 markas yang lain tidak mau tunduk kepada pimpinanku, maka harus kau bela diriku.'' "Cara bagaimana membelamu?'' tanya Bun-hiong dengan suara pelahan "Tolol."
Omel Kiau-kian "Dengan sendirinya menolongku kabur dari sini"
"Masa engkau tidak ingin tetap bercokol di singgasana pemimpin basar Cap-pek-pan-nia ini?' tanya Bun-hiong "Asalkanada orang suka padaku, segala apapun tidak kuminta lagi,' jawab Kiau-kiau.
"Yang kuharapkan sekarang adalah menjadi menantu orang.".
"Jika kara ingin menjadi menantu keluarga Pang kami. maka kamu harus setia pada tata susila orang perempuan."
Ujar Bun-hiong "Hal ini kuyakin dapat kulaksaaakan."
Jawab Kiau-kiau "Dan cara bagaimana akan kau selesaikan beratus anak buah ini''"
Tanya Bun-hiong.
"Bubarkan saja dan beri pesangon."
Jawab Kiau-kiau "Baik, biar kita tunggu dulu sampai ke-17 pemimpin markas yang datang ke sini, kita lihat bagaimana sikap mereka habis itu baru mengarnbil keputusan."
Kiau-kiau mengangguk setuju, segera ia memandang kawanan bandit yang berdiri di sekeliling. teriaknya.
"Dengarkan saudara-saudara. Congtocu kita tanpa terduga telah dibunuh oleh adik perempuannya sendiri sekarang aku menjabat tugas Congtocu untuk sementara, asalkan kalian tunduk kepada punpinanku, mulai bulan ini gaji kalian diIipatkan satu kali"
"Hora! Bagus!"
"Setuju! Kami mendukung Hujin' Demikian segera didengar sorak-sorai orang banyak Rupanya janji kenaikan gaji satu kali lipat itu sangat menggembirakan kawanan bandit itu, tanpa pikir mereka bersorak dan menyatakan dukungan kepada Loan Kiau-kiau "
"Tapi ada suatu syarat,"seru Kiau-kiau pula dengan tertawa "Bila nanti ke-17 pemimpin markas yang lain menyatakan tidak setuju atas kepemimpinanku, kalian harus bersedia membantuku menghadapi mereka "
"Setujuu!"
Serentak kawanan bandit bersorak gemuruh pula.
"Dan sekarang hendakkya kalian menyingkirkan jenazah Coogtocu dulu ke-18 jago golok,' kata kiau-kiau pula. ''Nanti kita kuburkan mereka setelah memilih hari yang baik"
Kawanan bandit serentak bekerja keras, mayat Oh Kiam-lam dan beberapa jago golok itu diusung keluar lapangan.
Sampai di sini barulah Loau Kiau-kiau menghela napas, katanya kemudian terhadap Pang Bun-hiong.
"Semoga ke 17 gembong markas itu tidak naik kemari dan urusan pun akan mudah diselesaikan."
"Apakah mereka terhitung orang kepercayaan Oh Kiam-lam"'' tanya Bun-hiong Mungkin begitu, cuma aku sendiri pun tidak begitu jelas, baru dua-tiga hari kudatang kemari"
Tutur Kiau-kiau "Sebelum ini mengapa tidak kau katakan padaku tentang muslihat Oh Kiam-Iam yang pura-pura mati itu?"
"Aku sendiri tidak tahu dia pura-pura mati, baru kuketahui hal ini ketika ia muncul di Ma-cik-san, saat itulah kutahu dia masih hidup di dunia ini. Di sini pula timbulnya perasaanku yang tidak suka padanya, ternyata dia seorang licin dan culas, yang terpandang olehnya hanya harta benda belaka dan tidak peduli sanak keluarga "
"Apakah Toh Po-sit benar telah dibunuh olehnya?"
Tanya Bunhiong "Entah aku tidak menyaksikan sendiri, menurut cerita Oh Kiam-lam. Toh Po-sit terkena cakar elangnya dan telah jatuh ke dalam danau Thay-oh,"
Jawab Kiau-kiau.
"Menurut cerita Oh Kiam-lam, katanya Toh Po-sit juga mengincar harta kekayaannya, entah betul tidak keterangannya ini''' tanya Bun-hiong "Memang betul"
Kata Kiau-kiau "Kemarin juga nona Oh memberitahukan padaku akan hal ini, katanya Toh Po-sit memang pernah menggunakan dia sebagai sandera dan memaksa Oh Kiam-lam membayar satu juta tahil perak kepadanya."
"Ai.sungguh tidak nyana Toh Po-sit juga manusia yang tamak dan kemaruk harta,"
Kata It-hiong dengan gegetun.
"Pantas sejauh itu dia tidak mau menjelaskan orang yang hendak di pancing dan ditangkapnya adalah Oh Kiam-lam "
"Kamu dan Liong It-hiong sama tololnya, diperalat dia sama sekali tidak sadar"
Kata Kiau-kiau.
"Soalnya dia seorang detektif ulung yang sudah pensiun, sebab itulah kami percaya penuh kepada pribadinya."
Jawab Bun-hiong.
"Sungguh tak terduga pada masa tua dia justru hidup tidak prihatin dan rela mengorbankan nama baik selama hidupnya, sungguh harus disayangkan"
Tengah bicara, tiba-tiba dua sosok bayangan orang melayang masuk dari gerbang sana dan berlari ke arah lapangan sini secepat terbang. Air muka Loan Kiau-kiau tampak berubah, serunya.
"Itu dia sudah datang, mereka It-jiau-hoan-thian (dengan satu tangan membalik langit) Sun Pek-hong dan Kuitui (kaki setan) Hoan Ciaug, pemimpin markas ke-16 dan ke-"
"Jangan takut,"
Kata Bun-hiong.
"Jika mereka berani ngotot dan melawan, biar kubereskan mereka "
"Apakah lukamu tidak beralangan,"
Tanya Kiau-kiau dengan penuh perhatian.
"Tidak menjadi soal."jawab Bun-hiong.
"Meski pukulan Oh Kiam-lam itu sangat lihai, tapi sebelumnya aku sudah siap mengerahkan tenaga untuk melawan, maka terluka tidak parah "
Baru habis bicara, tahu-tahu It-jiu-hoan-thian Sun Pek-hong dan Kui-tui Hoan Ciang sudah sampai di depan mereka dan berhenti serentak.
Yang namanya Sun Pek-hong dan berjuluk sebelah tangan membalik langit itu berwajah lebar dan penuh daging menonjol, dengan sorot mata beringas ia tatap Loan Kiau-kiau sambil bertanya "Nona Loan, kabarnya Congtocu meninggal?' "Betul,"
Jawab Kiau-kiau dengan mengangguk "Dia kutikam mati secara mendadak dengan gunting."
"Lantas bagaimana dengan adik perempuannya?"
Tanya Sun Pek-hong pula dengan sorot mata jelalatan memandang sekelilingnya "Dia juga terluka parah, mungkin sukar hidup lagi,"
Tutur Kiaukiau. Sun Pek-hong menuding Pang Bun-hiong dan bertanya pula dengan gusar.
"Dan kenapa kau lepaskan bocah ini?"
"Congtocu sudah mati kita kan tidak ada permusuhan apa-apa dengan mereka berdua, memangnya mau apa kalau tidak lepaskan mereka saja' ujar Kiau-kiau "Hm,"
Jengek Sun Pek-hong.
"namun menurut berita yang kuterima konon Congtocu sebenarnya sudah memberi perintah agar mereka dihukum mati"
"Sekarang aku yang mengambil alih kedudukan congtocu dan keputusan itu kubatalkan aku tidak ingin menghukum mati mereka,"
Jawab Kiau-kiau dengan tertawa "Hah apa katamu? Kau ambil alih kedudukan Congtocu?"
Teriak Kui-tui Hoan Ciang mendadak "Ya, mana tidak boleh "
Ujar Kiau-kiau dengan tersenyum.
"Cuhh'"
Mendadak Kui-tm Hu.tn Ciang meludah "Memangnya kamu terhitung apa? Berani menjadi Congtocu segala, untuk itu perlu kau tanya dulu kami bertujuh belas orang apakah setuju atau tidak"
"Memangnya kalian tidak setuju?' tanya Kiau-kiau.
"Huh, orang macam dirimu mendingan jika kau mau jadi babuku, tapi.....aduhhh "
Belum lanjut ucapannya, mendadak ia menjerit sambil memegangi perut, lalu mundur dengan terhuyung-huyung, akhirnya jatuh terduduk dengan muka pucat.
Kiranya pada perutnya telah menancap sepotong tusuk kundai kemala.
"Hihi apa yang kaukatakan tadi tidak jelas bagiku coba ulangi bicara lagi satu kali,"
Ucap Kiau-kiau dengan tertawa ngikik Si kaki setan Hoan Ciang berteriak.
"Sun tua, lekas turun tangan dan binasakandia tunggu apa lagi? Serentak It-jiu-hoan-thian Sun Pek-hong meraung murka, dengan gaya "harimau lapar menerkam kambing", segera ia menubruk maju dan menghintam muka Loan Kiau-kiau Bun-hiong tidak tinggal diam ia menyelinap maju dan menangkisnya sambil membentak.
"Jangan kurang ajar'" 'Biang", kedua tangan berada, kontan lt-jiu hoan-thian Sun Pek-hong terpental, ia berjumpalitan di udara sekali dan terlempar ke sana. Namun dia pun cukup cekatan waktu turun bisa kaki lebih dulu sehingga tidak sampai terbanting. 'Bagus,"
Puji Pang Bun-hiong.
"ternyata kamu lebih hebat daripada ke-18 jago golok, tapi kamu tetap tak terhindar dan kematian"
Sembari bicara segera ia membayangi orang, ia menubruk maju sebelah telapak tangan lantas menabas leber Sun Pek-hong Namun It jiu-hoan-thian Sun Pek-hong memang bukan jago rendahan, cepat ia mengegos sehingga tabasan tangan Bunhiong terhindar, menyusul tangan kanan terus menghantam, ia balas menggenjot perut Bun-hiong.
Mendadak Bun-hiong angkat dengkul kanan sehingga pukulan lawan tertahan, menyusul ia pun ganti serangan, sekali ini ia mencolok kedua mata musuh.
Cepat It-jiu-hoan-thian Sun Pek-hong menyurut mundur setengah langkah, tangan kiri terus berputar ke atas, maksudnya hendak menangkap pergelangan tangan Bunhiong "Hah, mimpi!"
Ejek Bun-hiong dengan tertawa mendadak ia berbalik meraih urat nadi pada pergelangan tangan musuh, menyusul dengkul kanan terangkat lagi dan "huk", Sun Pekhong bersuara tertahan, dengan tepat pinggang kena didengkul Keruan Sun Pek-hong meringis kesakitan lagi dan terpental ke belakang hingga beberapa meter jauhnya dan akhirnya jatuh terjengkang, ia bermaksud merangkak bangun, tapi hanya setengah saja segera terkapar lagi, tampaknya kalau tidak mati juga paati akan menjadi cacat selama hidup.
Kiau-kiau sangat senang, ia bersorak, 'Bagus sekarang tinggal 15 orang saja"
"Asalkan mereka tidak datang bersama ku yakin dapat membereskan mereka, datang satu bunuh satu, datang dua sikat sepasang,'seru Bun-hiong dengan tertawa "Kukira mereka takkan datang bersama, sebab setiap markas itu berjarak sebuah bukit,' kata Kiau-kiau. Tengah bicara, It-hiong tampak memburu keluar dari sana sambil bertanya.
"Siapa itu yang datang?"
Bun-hiong menuding kedua orang yang menggeletak dan merintih kesakitan di tanah itu, katanya dengan tertawa.
"Ini, kedua bangsat keparat ini "
"Masih ada 15 orang lagi, mungkin serentak akan menyusul kemari,"
Kata It-hiong.
"Ya, cuma mereka tidak tinggal bersama di satu tempat, maka tidak mungkin akan datang sekaligus,"
Ujar Bun-hiong "Eh, bagaimana dengan nona Oh'' lt-htong tampak sedih, katanya.
"Dia masih belum sadar, sekarang Hoa-Ioji sedang berusaha menolongnya" .
"Kuyakin dia akan sembuh."
Kata Bun-hiong dengan prihatin "Semoga demikian adanya,"
Ucap It-hiong dengan cemas.
"Ilmu pertabiban Hoa-loji sangat tinggi, asalkan ...ah, itu dia, datang lagi dua orang,"
Seru Kiau-kiau mendadak. Memang betul, kembali ada dua Koancu atau kepala pos jaga berlari lagi ke arah lapangan ini.
"Mereka Koancu ke-14 dan ke-15, bukan?"tanya Bun-hiong.
"Betul,' jawab Kiau-kiau "Yang di depan bernama Siangciang-kek (si tombak) Nyo Hun hoan, dan yang di belakang bernama Peng-niau (si kucing sakit) Li Sam, sebaiknya kalian menyikat mereka dengan segera, kalau tidak, bila ke-13 Koangeu yang lain menyusul tiba, tentu kita bisa repot " 'Betul"
Seru Bun-hiong sambil berkeplok, lalu ia lolos pedang dan memapak kedatangan kedua orang itu.
Dengan sendirinya Liong It-hiong tidak tinggal diam, ia pun melolos pedang dan ikut menyongsong ke sana.
Sementara itu Siang-ciang-kek Nyo Hun-hoan dan Peng-niau Li Sam sudah mendekat juga, melihat Sun Pek-hong dan Hoan Ciang menggeletak di situ, pula melihat It-hiong dan Bun-hiong memapak mereka dengan pedang terhunus, tanpa bicara lagi segera mereka membentak terus melabrak lt-hiong berdua.
Bun-hiong langsung menghadapi Siang-jiang-kek Nyo Hunhoan, sedang It-hiong menandangi si kucing sakit Li Sam.
Ithiong dan Bun-hiong menyadari berharganya waktu sekarang, mereka tidak boleh main-main dengan lawan, maka begitu maju mereka terus mengeluarkan segenap kepandaiannya, pedang berputar secepat kilat, hanya beberapa gebrakan saja Nyo Hun-hoan dan Li Sam sudah dicecar hingga cuma mampu menangkis dan tidak sanggup balas menyerang sama sekali.
Melihat kelihaian ilmu pedang Liong It-hiong, si tombak Nyo Hun-hoan menyadari bukan tandingan orang, segera timbul maksudnya untuk ngacir.
Mendadak tombaknya menangkis pedang It-hiong yang sedang menusuk, berbareng itu ia terus melompat mundur sambil berteriak, ' Losam, ayo mundur dulu!"
"Jangan lari'"
Bentak It-hiong.
Pedang berputar dan orangnya lantas memburu maju, secepat kilat pedang menyabet.
'Cret'", di mana sinar pedang berkelebat, tahu-tahu si tombak Nyo Hun-hoan sudah roboh sambil menjerit ngeri iamiasih mampu merangkak bangun dan melompat ke depan, ia kabur dengar menderita luka.
Si kucing sakit Li Sam juga ingin kabur, namun gagal, dengkulnya tertusuk pedang Pang Bun-hiong, seketika ia meraung kesakitan dan terguling di tanah.
Mendadak Loan Kiau-kiau melompat maju, ia jemput tombak yang ditinggalkan Nyo Hun-hoan, dengan cepat ia putar ke samping si kucing sakit Li Sam, tanpa ampun ia tusuk hulu hati orang dengan tombak "Crait",darah muncrat.
Li Sam menjerit ngeri.
kaki dan tangan meronta sejenak, lalu tidak bergerak lagi.
Kemudian Kiau-kiau melompat ke depan Sun Pek-hong dan Hoan Ciang tombak bekerja cepat, susul menyusul kedua orang itu pun dibunuhnya.
Bun-hiong menggeleng-geleng kepala, katanya.
"Ai. orang perempuan janganlah sekejam itu, mereka kan sudah kehilangan daya perlawanan, tidak perlu dibinasakan cara begitu "
Kiau-kiau tertawa ucapnya.
"Babat rumput tidak seakarakarnya setelah hujan segera tumbuh kembali. Orang-orang ini memang manusia berlamuran dosa apa salahnya mereka dihabiskan saja. Tidak kau sikat mereka, kelak tentu akan mendatangkan penyakit.
"Meski beralasan menumpas kejahatan, tapi aku tidak setuju membunuh orang yang sudah terluka dan tak bisa berkutik kata It-hiong."Terlebih dirimu, orang perempuan mana boleh main bunuh begitu saja, kan. ....huh... itu. dia dalang lagi tiga"
Benar juga waktu mereka berpaling tertampak tiga orang berlari datang pula.
Mereka adalah Koancu ke-11, ke-12 dan ke-13, mereka masing-masing bersenjata pedang, golok dan toya, dengan cepat mereka menerjang tiba.
Ebook oleh .
Dewi KZ Scan book oleh .
BBSC
Jilid 20 Segera Loan Kiau-kiau tampil kemuka dan menuding mereka dengan menghardik.
"Hai, dengarkan kalian bertiga, Congtocu sudah mati, sekarang ku ganti kan kedudukannya sebagai pimpinan, bila kalian tunduk padaku tentu akan mendapat pahala setimpal, jika berani melawan, kalian pasti akan binasa. Ketiga Koancu itu berhenti beberapa meter di depan Kiau-kiau, koancu yang berdiri di tengah dan bersenjata pedang mendengus.
"Huh, berdasarkan apa kau berani mengangkat dirimu sebagai Congtocu untuk mengganti Oh-congtocu?"
"Kan aku ini istri Oh Kam-Iam, maka aku berhak mewarisi segala hak miliknya,"
Jawab Kiau-kiau. Koancu yang berpedang itu menengadah dan tertawa latah teriaknya.
"Hahahaha, istri Congtocu kami, setahuku terlampau banyak dan hampir sukar dihitung kalau boleh kutanya, kamu ini terhitung istrinya yang nomor berapa?"
"Hm, dari nada ucapanmu, agaknya kamu tidak mau tunduk padaku'' jengek Loan Kiau-kiau kurang senang Koancu itu memutar pedang yang dipegangnya dan tergelak, katanya.
"Jika kau ingin ku tunduk padamu lebih dulu boleh kau tanya kepada pedangku ini?"
"Baik, akan kutanya padanya,"
Kata Loan Kiau-kiau.
Habis berkata dengan berlenggang ia melangkah maju.
Koancu berpedang itu memberi tanda kepada kedua Koancu yang lain, ia sendiri lantas memapak Loan Kiau-kiau pedang terangkai dan segera menabas.
Kedua Koancu yang bergolok dan bergada gigi serigala juga lantas menerjang Liong It-hiong, dan Pang Bun-hiong.maka terjadilah pertarungan tiga partai dengan serunya.
Meski Loan Kiau-kiau bertangan kosong, namun sejak mulai ilmu pukulannya sudah memberi kesan Iain daripada yang lain, kedua telapak tangan bergerak naik-turun tidak menentu, serupa kupu-kupu menari di antara kuntum bunga, ia hadapi musuh bersenjata pedang dan, ternyata masih lebih sering menyerang daripada bertahan.
Kedua Koancu yang lain bagi Liong It-hiong dan Pang Bunhiong juga bukan lawan yarg kuat, baru bergerak beberapa jurus saja It-hiong berdua sudah di atas angin.
Sembari melayani serangan lawan yang cukup gencar, Bun-hiong sempat berolok dengan tertawa.
"Huh, orang yang bisa lihat gelagat adalah pahlawan. Apakah berangkah kamu sengaja hendakantar nyawa di sini?"
Lawannya yang bersenjata gada gigi serigala itu diam saja tanpa menanggapi, ia terus menyerang dengan nekat "Baik, mulai sekarang, awas telinga kananmu'"
Kata Bun-hiong dengan tertawa.
Mendadak gerak pedangnya berubah ia tidak mematahkan serangan lawan lagi melainkan mulai melancarkan serangan balasan.
Hanya tiga-empal jurus saja Koancu bergada gigi serigala sudah mulai kelabakan, namun dia sangat bandel, sedikitpun ia pantang menyerah.
"Kena'"
Terdengar Bun-hiong membentak nyaring, sinar pedang berkelebat dan darah segar pun Muncrat. Seketika Koancu bersenjata gada gigi serigala merasa telinga kanan "nyes"
Dingin, waktu ia meraba barulah diketahui daun telinga sudah lenyap.
Baru sekarang ia terkejut dan cepat melompat mundur untuk mencari selamat.
Pang Bun-hiong tidak memburu musuh yang sudah kalah, ia memberi tanda malah.
"Ayo lekas lari, kalau tidak nyawamu bisa melayang!'' Koancu besenjata gada gigi serigala itu ternyata sangat penurut, langsung ia kabur sipat kuping. Pada saat itu juga Liong It-hiong pun sudah lebih unggul, mendadak ibu jari kanan Koancu bergolok itu tertabas putus, ia pun tidak mendesak lebih lanjut melainkan lantas membentak, 'Ayo lekas enyah. Kalau tidak, bisa kupenggal kepalamu!"
Cepat Koancu bergolok itu melompat mundur dan memeriksa ibu jari sendiri yang terkutung, dengan murka ia mengucap.
"Awas sampai lain kali "
Habis itu segara ia kabur ke bawah gunung.
Melihat Liong Ithiong dan Pang Bun-hiong sudah mendapat kemenangan, timbul juga rasa ingin menang Loan Kiau-kiau serentak ia melancarkan jurus serangan maut "hingga lawan terdesak mundur berulang ulang.
Bun-hiong tahu bilamana Koancu itu tidak lekas angkat kaki.
akhirnya pasti akan mati di bawah pukulan Kiau-kiau.segera ia bersuara "Hai,kedua kawanmu sudah kabur, mengapa kamu tidak lekas angkat langkah seribu, memangnya kamu ingin gugur sebagai pahlawan?"
Koancu berpedang itu tentu saja juga ingin cari selamat, segera ia putar haluan dan lari secepatnya "Lari ke mana?!"
Bentak Loan Kiau-kiau mendadak, secepat kilat ia memburu maju, suatu pukulan langsung dilancarkan "Prak"
Dan "Auhh'"
Koancu berpedang itu tidak sempat mengelak, batok kepala bagian belakang kena pukulan dan pecah dengan otak berantakan setelah menjerit terus terbanting dan binasa.
Kening Bun-hiong bekernyit melihat keganasan Loan Kiau-kiau namun ia lantas tersenyum dan berkata.
"Wah, hendaklah kau tahu, aku tidak akan menikahi perempuan yang suka main bunuh Lain kali bila kau bunuh orang lagi, terpaksa kita harus berucap selamat tinggal"
"Baiklah, lain kali aku takkan membunuh orang lagi,"
Jawab Loan Kiau-kiau dengan tertawa. Tapi hendaknya kaupun maklum, masih ada sepuluh orang Koancu belum kemari, apakah kalian yakin dapat menasihati mereka agar menurut dan tunduk kepada kita'"
"Jika mereka membangkang, tentu saja boleh kita memberi hajaran setimpal, biarlah nanti aku dan It-hiong saja yang melayani mereka,"
Kata Bun-hiong Kiau-kiau hanya tersenyum saja tanpa menanggapi lagi. Ithiong memprihatinkan keadaan luka Oh Beng-ai, setelah simpan kembali pedangnya segera ia berkata.
"Biar kupergi menjenguk Beng-ai dan segera kukembali ke sini."
Habis berkata segera ia berlari masuk ke dalam rumah.
Waktu ia masuk ke sebuah kamar, dilihatnya Hoa-Ioji sedang duduk di tepi tempat tidur Oh Beng-ai dan sedang memeriksa denyut nadi nona itu.
Beng-ai kelihatan masih belum sadar, tentu saja It-hiong merasa cemas, ia coba tanya.
"Bagai mana keadaannya?"
Hoa-loji menggeleng kepala, katanya.
"Denyut nadinya sangat lemah, bisa jadi....."
Perasaan It-hiong serasa disayat-sayat, katanya kuatir.
"Pokoknya harus kau sembuhkan dia tidak boleh mati begitu saja."
"Tapi ....tapj aku sudah berusaha sekuat tenaga,"
Ujar Hoa-loji dengan menyengir. It-hiong mendekati tempat tidur, serunya perlahan.
"Beng-ai, Beng-ai, aku Liong It-hiong disini dengar, tidak suaraku? Sadarlah lekas sadarlah!' Namun Beng-ai sama sekali tidak menyahut atau memberi reaksi.
"Tulang iganya yang patah sudah kusarnbung dengan baik, cuma mungkin ada tulang iga patah lain yang melukai isi perut....."
Hoa-loji berlutut dengan menyesal. Tentu saja It-hiong tambah cemas, tanyanya.
"Wah. lantas bagaimana akibatnya?"
"Baru saja kuberi minum obat luka dalam yang berkhasiat menghentikan pendarahan "
Tutur Hoa-loji pula
"Bila luka bagian dalam tidak terlalu parah, ku yakin lumbat-laun lukanya akan sembuh, namun ...."
"Namun apa ?"
Desak It-hiong.
"Menurut keadaan secara umum, saat ini seharusnya dia sudah siuman,"
Tutur Hoa-loji ''Sebab itulah kusangsikan sangat mungkin luka dalamnya tidak ringan "
"Adakah obat mujarab yang dapat menyembuhkan dia'' tanya It-hiong "Tan-hoa tan milik nonh Oh sendiri dan obat luka buatanku cukup manjur, apabila obat kami ini tetap tidak dapat membuatnya siuman, wah rasanya sukar...."
Sampai di sini, Hoa-loji tidak melanjutkan melainkan cuma menyengir saja. Sampai lama It-hiong diam saja dengan kening bekernyit, ucapnya kemudian.
"Engkau boleh berusaha sekuat tenaga, asalkan dapat menyelamatkan jiwanya, tentu akan kuberi tanda terima kasih sebesarnya ' Hoa-loji menyengir dan berkata.
"Tentu saja akan ku usahakan sebisanya, jika dapat menyembuhkan nona Oh, tidak perlu kuminta hadiah apa-apa, kumohon dibebaskan pulang saja dan sudah cukup bagilku."
"Kamu bukan anak buah Oh Kiam-lam?'' tanya Liong It-hiong.
"Bukan,"
Jawab Hoa-loji sambil menggeleng "Sebabnya ku tinggal di sini karena diculik kemari. kata mereka di markas mereka memerlukan seorang tabib tetap..."
"Sudah berapa lama kamu tinggal di sini?"
Tanya lt-hiong "Tiga tahun."
Tutur Hoa Ioji "Baik, jika dapat kau sembuhkan nona Oh. kujamin kamu akan pulang dengan selamat, bahkan akan kuberi pesangon yang memuaskan, percayalah padaku,"
Kata It-hiong. Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula.
"Jika keadaan nona Oh ada perkembangan hendaknya segera aku diberi tahu, sekarang kukeluar dulu melihat keadaan sana."
It-hiong kembali lagi ke pelataran sana, dilihatnya Pang Bunhiong dan Loan Kiau-kiau masih berdiri di tempat tadi mayat yang menggeletak di situ juga tetap mayat tadi, semua itu menandakan kesepuluh Koancu yang lain belum lagi datang.
Ia mendekati Bun-hiong dan bertanyanya.
"Mengapa mereka belum datang ?"
"Siapa tahu?"
Jawab Bun-hiong. Tapi dia sudah mengirim orang untuk mencari kabar, Eh, nona Oh sudah siuman belum''"
Dengan perasaan berat It-hiong menjawab.
"Belum, menurut keterangan Hoa-loji, denyut nadinya sangat lemah, mungkin jiwanya sukar tertolong "
"Wah dia seorang nona baik, tidak boleh mati begitu saja,"
Kata Bun-hiong. It-hiong menengadah, memandang langit, gumamnya "Jika usiaku dapat dikurangi untuk menyelamatkan jiwanya, kurela berbuat demikian"
Selagi Loan Kiau-kiau hendak bicara, tiba-tiba terlihat seorang anak buah lari datang dengan gugup. Cepat It-hiong menyongsong ke sana dan menegurnya.
"Hei ada apa?"
Kiranya anak buah inilah orang yang dikirim ke bawah gunung untuk mencari informasi, wajah anak buah ini tampak kuatir, serunya, 'Wah. celaka, Hujinl Mereka mulai menyerbu ke atas sini!"
Air muka Loan Kiaukiau berubah, tanyanya "Berapa banyak jumlah mereka?"
"Kesepuluh Koancu ditambah delapan ratusan anak buah."
Tutur anak buah tadi Saat ini kira kira berjarak berapa jauh dari sini?."
Tanya pula Kiau-kiau dengan gugup juga "Sudah sampai di pos jaga ke-15 dan segera akan sampai di sini,"
Lapor anak buah itu "Lekas beri perintah agar segenap anggota disini membawa senjata dan panah, semuanya berkumpul di lapangan depan, seru Kiau-kiau segera.
Liaulo atau anak buah tadi mengiakan, segera ia berlari ke dalam markas untuk menyampaikan perintah itu Dengan prihatin Pang Bun-hiong coba bertanya.
"Berapa banyak seluruh liaulo yang berada disini ?"
"Cuma seratus lebih,"
Tutur Kiau-kiau "Wah.cuma seratus orang dan harus menghadapi serangan delapan ratus orang, apa sanggup ?"
Ucap Bun-hiong dengan kuatir "Sabar jangan kuatir "
Ujar Kiau-kiau "Kita berada di bagian atas, dapat kita bendung serbuan mereka dengan panah, tentu dapat mengakibatkan korban besar di pihak mereka.
Apabila cara begitu masih juga kewalahan, dapat pula kita gunakan kayu gelondongan dan batu padas untuk menghujani musuh."
Tengah bicara, tertampak serombongan liaulo dengan golok terhunus dan menyandang busur dan panah telah muncul dari berbagai jurusan, semuanya menuju dan berkumpul di lapangan depan.
Segera Kiau-kiau berteriak.
"Wahai para saudara kesepuluh Koancu di bawah tidak mau tunduk kepada ptmpinanku, mereka telah memberontak dan membawa 800 anak buahnya menyerbu kemari dan bermaksud menduduki markas pusat kita ini, tentu juga mereka berniat merampas harta benda milik kita. Ayolah, beramai-ramai kita menghadapi mereka, harus kita gempur mereka, asalkan mereka sudah kita runtuhkan, setiap orang akan kuberi hadiah seratus tahil perak"
Menyusul ia mengayun sebelah tangannya dan berteriak pula.
"Ayo ikut padaku!' Segera ia mendahului berlari ke pintu gerbang perbentengan. Para liaulo ikut dia berlari naik benteng yang terbuat dari kerangka kayu, semuanya Iantas siap tempur, masing-masing membentang busur dan memasang panah, dengan penuh waspada mereka menanti kedatangan musuh. It-hiong dan Bun-hiong juga ikut semua orang ke atas "benteng", waktu mereka memandang jauh ke depan sana, tertampak bayangan orang di bawah bukit berseliweran ke 800 anak yang dipimpin kesepuluh Koancu itu sudah merayap sampai di pos jaga yang k e16. Bun-hiong coba mendekati Kiau-kiau dan bertanya.
"Di mana kayu gelondong dan batu padas yang kau katakan siap menggilas musuh itu?"
"Itu di sebelah sana."
Jawab Kiau-kiau sambil menuding semak pohon di sebelah kiri benteng.
"Asalkan tali ikatannya dipotong, seketika beratus kayu gelondong dan batu padas besar akan menggelinding ke bawah serupa air bah dan tentu musuh akan digilas habishabisan."
"Eh, semula kau bilang baru tiga hari kamu berada di tempat ini, mengapa sekarang kamu sedemikian apal terhadap keadaan sarang bandit ini. terutama pertahanannya? tanya Bun-hiong Semua ini kudengar dari Oh Kiam-lam, pada hari pertama kudatang kemari dia lantas memberitahukan padaku semua yang teratur di sini,"
Tutur Kiau-kiau "Oh Kiam-lam membawaku berkeliling memeriksa sarangnya ini dia memperlihatkan padaku setiap tempat yang telah diaturnya dengan baik "
Sementara ilu kesepuluh Koancu dan delapan ratus anak buahnya sudah membanjir sampai di pos jaga ke 17, mereka merayap serupa barisan ular, berbondong-bondong menyerbu ke atas gunung sambil berteriak-teriak sehingga suaranya menggema angkasa raya pegunungan 'Hendaknya kalian berdua yang memimpin pertahanan di sini, biar kupergi ke sana untuk menyiapkan kayu gelondong dan batu padas agar serentak dapat digunakan untuk menghancur-kan musuh,"
Cepat Kiau-kiau berseru. Habis berkata, dengan enteng ia melompat turun dan berlari ke semak pohon sana bersama beberapa anak buah "Wah, sekali ini pasti akan jatuh korban yang tidak sedikit,"
Kata Liong It-hiong dengan menyesal.
"Ya, memang,"
Ucap Bun-hiong.
"Tapi peduli amat, kalau mereka tidak dihancurkan, tentu kita yang akari diganyang mereka"
"Apakah kamu benar-benar berniat menikahi dia? ' tanya Ithiong.
"Bagaimana pendapat mu jika aku berbuat demikian?"
Jawab Bun-hiong dengan tersenyum.
"Aku tidak tahu,"
Kata It-hiong.
"semua itu bergantung kepadamu sendiri, jika kamu anggap dia dapat menjadi istri dan ibu yang bijaksana maka apa salahnya kauambil dia sebagai istri."
Bun-hiong hanya tersenyum saja tanpa menanggapi. Mendadak terdengar suara teriakan ramai "Serbu!" -"Bunuh" -"Sikat habis'"
Ternyata kesepuluh Koancu bersama delapan ratus anak buahnya telab menyerbu ke atas gunung serupa air bah, hanya dalam waktu sekejap jalanan di luar benteng pertahanan itu sudah penuh dengan manusia It-hiong menjawil Liong Bun-hiong, tanyanya.
' Bagaimana, kau kira dia sanggup menjadi istri baik dan ibu bijaksana atau tidak"
Pasukan musuh membanjir tiba, tapi dia justru ikut memperhatikan urusan kawin Liong It-hiong Bun-hiong angkat pundak, katanya.
"Kukira masih bolehlah. Orang perempuan bilamana busuk bila jadi sangat busuk, apalagi baik pun bisa sangat baik. Apabila kuda galak harus juga ditunggangi orang galak, kuyakin masih mampu mengendalikan dia, dapat kubuat dia tunduk sepenuhnya padiku "
Sementara itu dilihiatnya kesepuluh Koancu bersama delapan ratusan anak buahnya sudah menyerbu tiba, cepat ia memberi tanda sambil berteriak.
"Ayo sikat para saudara'' Begitu menerima perintah. Serentak para liaulo yang berjaga di atas benteng segera berdiri dan melepaskan anak panah. Terdengar suara mendesir riuh, seketika anak panah berhamburan seperti hujan deras, berapa puluh liaulo yang paling depan kontan roboh terkena panah, terdengar jeritan ngeri berjangkit di sana sini.
"Ayo serbu!"
"Terjang ke atas!"
"Hancurkan benteng musuh!"
Namun begitu mereka sukar menghadapi hujan parah yang bertebaran dari atas, dalam waktu singkat beberapa ratus orang kembali dirobohkan pula.
Koancu yang memimpin penyerbuan dari belakang itu juga berteriak teriak dengan bengis dan mendesak anak buahnya menerjarg ke atas dan dilarang mundur.
Karena itu serombongan liaulo terpaksa menerjang maju dengan mati-matian sambil putar senjata masing-masing "Terjang'"
"Serbu"' "Panjat ke atas!"
Demikian teriakan ramai tidak berhenti henti, segera seorang Koancu mendahului menyerbu ke atas, ia putar senjatanya berbentuk golok tebal berkepala setan, ia tangkis anak panah yang menyambar tiba bagai hujan, dengan gagah berani ia dapat menerjang hingga di depan benteng "Yang ini harus disikat'' kata Bun-hiong ke pada kawannya.
Berbareng ia lolos sebatang panah dari tempat panah yang tersandang di punggung seorang liaulo terus disambitkan Jika Koancu dapat menghalau hujan anak panah yang dihamburkan kawanan liaulo, ternyata dia tidak mampu menyampuk jatuh panah yang disambitkan Pang Bun-hiong dengan tepat dahinya terkena panah itu, ia menjerit dan roboh terjungkal.
Anak buahnya menjadi gentar melihat salah seorang Koancu mereka roboh binasa, betapapun nyawa mereka sendiri lebihh penting, maka tanpa menghiraukan bentakan Koaucu yang memimpin di belakang, beramai-ramai mereka sama menyurut mundur, masing-masing, sama mencari tempat sembunyi untuk menghindarkan hujan anak panah yang deras itu Beberapa Koaucu lain yang berbaur di tengah para liaulo menjadi murka semuanya menerjang kalap ke kaki benteng, mereka bermaksud menyerbu ke dalam benteng untuk menggempur kawanan liaulo yang berjaga di atas.
Akan tetapi baru saja mereka menerjang sampai di kaki benteng, dua orang sudah roboh lagi terkena panah, Dua orang lagi sempat membobol pintu gerbang dan menyerbu ke dalam benteng, segera mereka melompat ke atas benteng untuk membunuh musuh Cepat Bun-hiong dan It-hiong memapak dan megempur mereka.
Seketika terjadilah pertarungan sengit antara mereka berempat.
Tapi seru bergabrak beberapa jurus, kedua Koancu itu tidak mampu melawan It-hiong yang lebih lihai, dengan ilmu pedang mereka It-hiong berdua mendesak, kedua Koancu itu terpaksa melompat keluar benteng lagi.
pada saat itulah kembali serombongan liaulo musuh menerjang ke dekat benteng.
"Lepas panah lagi'' cepat It-hiong memberi perintah. Serentak sebaris anak panah dihamburkan lagi. sehingga sedikitnya 50 liaulo terbunuh yang menyerbu tiba itu dirobohkan dan jelas takkan hidup lagi. Malahan kedua Koancu yang baru saja melompat turun ke sana juga ikut terpanah dan binasa di tengah pertempuran gaduh itu. Sampai di sini, kesepuluh Koancu itu sudah mati lima orang melihat gelagat tidak menguntungkan, Maka kelima Koancu yang lain segera berteriak-teriak.
"Mundur, lekas mundur, saudara"
Tak terduga, belum lenyap suaranya, mendadak terdengar suara gemuruh berjangkit dari semak pohon sebelah kiri sana.
sekonyong-konyong beratus kayu gelondong menggelinding dari atas bagai gugur gunung dahsyatnya, seketika bumi bergetar dan langit seakanambruk.
Keruan para liaulo yang sedang mundur itu terperanjat dan ketakutan, suasana menjadi kacau balau, namun lebih celaka lagi seketika mereka tidak sempat menghindar dan juga sukar mencari tempat berlindung.
Dalam sekejap saja ratusan orang telah tergilas oleh kayu gelondong, ada yang kepala pecah dan tubuh hancur, kulit daging bertebaran di mana-mana.
Ada sebagian lagi yang ikut tergulung oleh kayu gelondong dan tergusur ke bawah.
suasana sungguh mengerikan, membuat orang tidak sampai hati menyaksikannya.
"Lekas jongkok Lekas tiarap!"
Demikian salah seorang Koaucu memberi komando.
Beberapa ratus liaulo yang berada di belakang cepat merebahkan diri.
Dengan demikian korban yang jatuh banyak berkurang, banyak jiwa liaulo itu selamat.
paling-paling cuma terluka saja.
Maklumlah pada waktu kayu gelondong menggelinding ke bawah, kecepatannya makin lama makin bertambah, tapi bila kebentur batu padas kayu gelondongan itu lantas melejit tinggi ke atas untuk kemudian jatuh ke bawah.
Karena itulah banyak kawanan liaulo itu terbebas dan kematian.
Melihat kedelapan ratus liaulo musuh dalam sekejap saja sudah mati dan terluka lebih dari separoh, hati Liong it-hiong merasa tidak tega, dengan kening bekernyit ia berkata.
"Mereka sudah diperintahkan mundur, mengapa dia menghamburkan lagi kayu gelondong untuk membunuh musuh?"
"Entah, dari mana kutahu?"
Jawab Bun-hiong.
"Akan kucegah dia'"
Habis berkata segera ia berlari secepat terbang ke sana.
Siapa tahu pada saat itu juga suara gemuruh keras kembali berjangkit lagi.
Seketika bumi seakan gempa, batu padas besar yang sangat menakutkan tahu-tahu berhamburan juga ke bawah bukit.
Batu padas itu ada besar ada kecil, namun yang paling kecil sedikitnya juga berbobot ratusan kati, kini digusur dari atas bukit dan menggelinding ke bawah, keruan dahsyatnya sukar dilukiskan.
Seketika bumi serasa gempa dan gunung seperti meletus.
"Aduh!"
"Mati aku!' Begitulah jeritan ngeri seketika bergema memenuhi angkasa pegunungan. Pang Bun-hiong tidak jadi berlari ke sana, ia berhenti dan berdiri terkesima. Menyaksikan beberapa ratus liaulo itu kembali digilas hancur lebur oleh bujan batu padas itu, betapapun hatinya tidak tega dan pedih seperti disayatsayat, berbareng juga timbul rasa gusar yang tak terkatakan Dia serupa Liong It-hiong, meski lahirnya kelihatan dugul dan suka menuruti kehendak hatinya, namun batinnya sebenarnya sangat manusiawi, ia tidak sanggup menerima cara membunuh dengan kejam serupa ini. la berdiri terkesima sekian lama. baru saja ia bermaksud mencari Loan Kiau-kiau, tiba-tiba dilihatnya nona itu sudah naik ke atas benteng. Dengan tertawa senang Kiau-kiau berucap "Lihat, semuanya sudah beres bukan ? Sederhana dan cepat". Sampai sekian lama Bun-hiong memandangi nona itu tanpa bicara, mendadak sebelah tangannya menggampar "Plak", dengan telak muka Kiau-kiau tertampar hingga jatuh terduduk. Keruan Kiau-kiau terkejut dan juga marah sambil meraba pipinya yang kesakitan ia tanya."Kenapa kau pukul diriku?"
Kau lihat sendiri, mereka kan sudah siap untuk mundur mengapa kamu malah menghujani mereka dengan kayu gelondong dan batu besar sehingga timbul korban sebanyak ini?' jengek Bun-hiong.
"Kamu tolol, maha tolol,"
Damperat Kiau-kiau dengan gusar "Mereka menyerbu sekalap itu, kalau kita tidak membunuh mereka, kita yang akan terbunuh.
Kesempatan ini harus kita hancurkan mereka, kalau tidak tentu mereka akan menerjang kemari lagi "
"Benar, alasanmu pun benar "
Kata Bun-hiong.
"Akan tetapi, coba kaulihat .."
Ia tuding mayat yang berserakan di lereng bukit dan banyak bagian mayat yang hancur lebur, dengan gusar ia menyambung pula.
"Nah, semua itu mati kau bunuh, apa kamu tidak punya rasa kasihan terhadap sesamanya? Meski mereka menjadi anak buah bandit, dosa mereka kan juga tidak harus dihukum mati semua?"
"Tapi, seperti sudah kukatakan, tidak kau bunuh mereka, kamu yang akan dibunuh mereka. apakah kamu lebih rela mati dibunuh mereka?"
Jawab Kiau-kiau Dengan suara berat Bun-hiong berkata, 'Menangkap penjahat harus tangkap gembongnya, asalkan para Koancu itu sudah kita tangkap, anak buahnya dengan sendirinya tidak ada artinya lagi."
Mendadak Kiau-kiau menangis sedib, katanya.
"Oo, jadi manusia memang serba susah. Bermaksud baik ternyata tidak mendapatikan ganjaran baik pula. Demi orang banyak kugempur mundur musuh, kamu berbalik menyalahkan tindakanku ini dan menghajarku malah, Kau berani memukulku, ini menandakan pada hakikatnya kamu tidak suka padaku, buat apa...buat apa aku hidup lagi?"
Habis berkata, mendadak ia merampas sebatang golok dari seorang liaulo terus hendak meng-gorok leher sendiri. Cepat It-hiong merampas goloknya dan berkata.
"Ah, sudahlah, buat apa urusan begini dipersoalkan. Ia cuma menamparmu sekali dan engkau malah hendak membunuh diri. Bagaimana pula kalian akan sanggup hidup bersama selama hidup?"
Kiau-kiau mendekap mukanya dan menangis terlebih sedih.
Caranya menangis, rupanya juga ada seninya.
begitu memelas sehingga menimbulkan rasa iba orang yang melihatnya.
Akhirnya hati Bun-hiong dibuat lunak juga, katanya kemudian.
"Ya, sudahlah, aku berjanji selanjutnya takkan memukulmu lagi. Sekarang boleh kau pulang dulu ke markas"
Pelahan Kiau-kiau berbangkit lalu melangkah pergi dengan masih menangis. Bun-hiong menyengir terhadap It-hiong dan angkat pundak sebagai tanda apa boleh buat, katanya.
"Sialan, aku memang tidak sampai hati bila ditangisi orang perempuan. Bagaimana jika kamu menjadi aku ?'"
"Sama saja,"
Jawab lt-hiong dengan tertawa.
"Aku juga lunak bilamana ditangisi orang perempuan. Tangis orang perempuan bagiku rasanya seperti langit sudah hampir runtuh."
Lalu ia pandang kawanan liaulo yang masih berjaga di atas benteng, teriaknya segera.
"Wahai, saudara-saudara. harap kerja bakti lagi sebentar, ayolah beramai-ramai keluar sana untuk pembersihan. Yang sudah mati hendaknya dikubur, yarg belum mati supaya dibawa masuk kemari untuk diberi pertolongan."
Kawanan liaulo ternyata sangat menurut, perintah itu segera dilaksanakan, mereka menaruh senjata dan berbondong-bondong lari keluar benteng untuk membersihkan mayat yang berserakan itu.
Segera It-hiong berpaling dan berkata kepada Bun-hiong.
"Akan kujenguk keadaan Beng-ai, hendaknya kamu mengawasi keadaan di sini "
Habis berkata ia terus meninggalkan perbentengan dan lari masuk ke dalam rumah.
Setiba di kamar Oh Beng-ai, dilihatnya kedua mata si nona masih terpejam rapat, sama sekali tidak kelihatan ada kemajuan oleh pengobatan Hoa-loji tadi, dengan menyesal ia berkata.
"Hoa-locianpwe, hendaknya engkau bicara terus terang padaku, sesungguhnya bagaimana keadaannya, masih ada harapan atau tidak akan kesembuhannya?"
Hoa-loji menggeleng kepala sahutnya ke mudian.
"Sukar kukatakan dengan pasti, keadaannya memang agak gawat. Biarlah sampai besok mungkin akan dapat kukatakan dengan pasti."
"Bagaimana denyut nadinya'' tanya it-hiong pula dengan cemas.
"Sama saja, masih lemah,"
Tutur Hoa-loji.
Kembali lt-hiong menghela napas, la duduk di tepi tempat tidur dan memandangi Oh Beng-ai yang tidak sadar itu dengan termangu-mangu dan tidak keruan perasaannya.
-ooo-Pelahan cuaca sudah mulai gelap, malam sudah tiba.
Seluruh lereng kedelapan belas bukit (Cap-pek-pan-nia) tenggelam dalam suasana sunyi kelam.
Mayat kawanan liaulo penyerbu sudah dikumpulkan dan dikubur, liaulo yang terluka juga sudah mendapatkan pertolongan seperlunya.
Suasana lereng bukit sekarang tidak ada lagi berbau anyirnya darah Bun-hiong masuk ke kamar dan mendekati tempat tidur untuk menjenguk keadaan Oh Beng-ai, ia tanya.
"Sudah lebih dua jam dia tidak sadarkan diri, kukira sudah waktunya dia harus siuman "
"Dia, mungkin dia sukar hidup lagi,"
Ucap It-hiong dengan muram Bun-hiong menghiburnya.
"Ah, jangan putus asa, juga jangan menyerah begitu saja, kita tetap berusaha, kuyakin dia pasti akan sembuh, kamu harus mempunyai keyakinan "
"Dia seorang nona yang harus dikasihani.
"ujar It-hiong.
"Hidupnya selalu dirundung malang banyak sekali penderitaan yang telah dialaminya. Thian seharusnya memberi kesempatan hidup bahagia baginya dan janganlah merenggut nyawanya...."
Pada saat itulah mendadak Kiau-kiau masuk ke dalam hamar, ucapnya dengan tertawa manis "Eh, sudah waktunya makan, ayolah makan dulu kalian "
"Silahkan kalian saja sana,"
Jawab It-hiong "Kamu tidak makan ?"
Kiau-kiau menegas dengan melenggong.
"Biar kutunggui dia,"
Kata It-hiong "Kutahu perasaanmu tentu engkau sangat sedih baginya,"
Kata Kiau-kiau pelahan.
"Tapi kesehatanmu sendiri juga harus dijaga, kau perlu makan agar tidak masuk angin "
"Tidak aku tidak ada nafsu makan,"' jawab It-hiong. Kiau-kiau berpaling dan tanya Bun-hiong "Dan bagaimana engkau?"
"Aku juga tidak bernafsu makan,"
Ucap Bun-hiong tanpa emosi "Ai, bagaimana kalian ini,"
Ujar Kiau-kiau dengan kening bekernyit "Masa kalian tidak pikirkan kesehatan sendiri lagi? Mana boleh tidak makan"
"Melihat keadaan gawat nona Oh, siapa yang punya nafsu makan lagi?"
Ucap Bun-hiong "Tapi sedikit banyak kan harus makan, perut jangan sampai kosong,"
Kata Kiau-kiau "Begini saja, akan kusuruh masak tiga mangkuk mi pangsit,"
"Baiklah"
Jawab Bun-hiong. Segera Kiau-kiau berlari pergi ke dapur untuk menyiapkan santapan itu. Melihat orang sudah pergi, tiba-tiba Hoa-loji tersenyum kecut dan berkata.
"Ai, perempuan ini sungguh sangat lihai, pandai melihat arah angin dan putar haluan dengan cepat!"
"Oo, ada apa?"
Tanya Bun-hiong "Anda lihat sendiri,"
Kata Hoa-Ioji.
"Siang tadi, waktu kalian berdua diringkus oleh Oh Kiam-lam. sama sekali perempuan itu tidak ada maksud menolong kalian. Tapi selelah nona Oh menikam mati Oh congtocu, seketika sikapnya berubah arah sama sekali. coba, tindakannya itu bukankah Iicin dan pintar putar haluan menurut arah angin?"
"Betul,"
Kata Bun-hiong.
"Kalau saja saat itu dia tidak membebaskan kami, rasanya kami tetap tidak terhindar dari Kematian. Sebab itulah..."
Sampai di situ mendadak ia tidak melanjutkan lagi melainkan cuma tersenyum saja penuh arti. Hoa-loji menjadi bingung katanya pula.
"Sebenarnya hamba tidak jelas apa hubungan kalian dengan dia, hanya saja kurasakan dia rada-rada....hehe, pendek kata. .hendaknya ..kalian berlaku hati-hati sedikit terhadap dia "
"Ya kutahu,' kata Bun-hiong.
"Ada maksudku hendak mengambil dia sebagai istri"
"Ahhh..!"
Seketika Hoa-loji agak kelabakan sikapnya menjadi kikuk, serba susah. Katanya cepat.
"Kiranya begitu. Maaf jika hamba sembarangan omong, mohon Pang-siaubiap jangan marah padaku,' "O, tidak, tidak apa,"
Jawab Bun-hiong tertawa "Kutahu kamu bermaksud baik, aku sangat ber-terima kasih atas peringatanmu, tidak nanti ku marah "
"Sekarung tempat ini serupa naga kehilangan kepala Ialu apa tindakan kalian selanjutnya?"
Tanya Hoa-loji.
"Apakah kalian akan tinggal pergi atau tetap tinggal di sini ?"
"Tidak, kami takkan menetap di sini."
Jawab Bun-hiong.
"Bila sakit nona Oh sudah sembuh. kami bermaksud membubarkan segenap liaulo. Lalu kami pun meninggalkan tempat ini "
Kabarnya dari hasil usaha Oh-congtocu dulu banyak sekali harta benda yang disembunyikan di sini. lalu cara bagaimana kalian akan mengatur kegunaannya?"
Tanya Hoa-loji.
"Tentu saja akan kuatur dengan baik,"
Jawab Pang Bun-hiong.
"Akan kukeluarkan sebagian untuk dibagi-bagikan kepada para liaulo dan membubarkan mereka. Sisa harta benda yang lain akan kami gunakan untuk dana sosial, membantu kaum miskin dan menolong rakyat yang tertimpa musibah bencana alam dan sebagainya "
"Wah, bagus, sungguh ide yang bagus"
Kata Hoa-loji sambil manggut-manggut.
Tengah bicara, datanglah Loan Kiau-kiau dengan membawa nampan yang berisi tiga mangkuk besar mi pangsit kuah.
Nampan ditaruhnya dimeja, ketiga mangkuk mi pangsit disuguhkan kepada it-hiong bertiga, tatanya dengan tersenyum.
"Ayo, silahkan, makanlah mumpung masih panas "
Masakan mi pangsit itu ternyata berbau lezat tidak kalah dibanding mi pangsit di restoran besar "Kau sendiri sudah makan belum?"
Tanya Bun-hiong dengan tertawa "Sudah,"
Jawab Kiau-kiau dengan tersenyum manis "Makan lagi sedikit mau?"
Tanya Bun-hiong "Ah. sudah kenyang, masa makan lagi"
Sahut Kiau-kiau manja. Bun-hioug berdiri, ia menuju ke samping pintu kamar, di situ ia berdiri dengan bertolak pinggang lalu berseru dengan senyum ejek.
"Loan Kiau-kiau"
"Ada apa?"
Jawab Kiau-kiau sambil menoleh seketika ia melenggong dengan air muka berubah pucat demi melihat sikap Bun-hiong.
"Berapa banyak racun yang kau tarub di dalam mi pangsit itu?"
Tanya Bun-hiong dengan ketus Dari pucat muka Kiau-kiau berubah merah padam, teriaknya dengan berjingkrak murka.
"Apa katamu? Ngaco-belo"
"Tidak sama sekail aku tidak ngaco."
Jawab Bun-hiong "Hm, jangan kau kira kami gampang ditipu dan dijebak.
Terus terang, siang tadi ketika kamu membebaskan kami berdua, saat itu juga sudah kuduga ada intrikmu yang keji, kutahu maksud tujuanmu adalah ingin memperalat kami untuk menghadapi ke-18 Koancu yang tidak mungkin mau tunduk padamu itu.
Bila kami sudah mem-bantumu menumpas ke-18 Koancu itu dan kawanan liaulo yang anti dirimu, kemudian kamu akan membunuh kami dengan cara keji umpamanya dengan racun dalam mi pangsit seperti sekarang ini.
Dengan begitu dapatlah kamu mengangkangi harta karun tinggalan Oh Kiam-lam.
Nah, betul tidak ucapanku?"
Kembali Kiau-kiau berjingkrak murka dan berteriak-teriak.
"'Omong kosong, ngaco-belo belaka, Kamu memfitnah! Dengan maksud baik kuselamatkan kalian, dengan setulus hati aku ingin hidup bersamamu sampai tua, mengapa kamu berbalik sembarangan omong mengenai tindakanku? Apabila kamu menyangsikan kejujuranku, baiklah, biar kupergi saja". Habis berkata, dengan cepat ia berputar terus hendak melangkah keluar. Namun Bun-hiong lantas pentang kedua tangan dan merintanginya.
"Eh, nanti dulu, tunggu sebentar'"
Kata anak muda itu dengan tertawa "Memangnya kau mau apa?"
Teriak Kiau-kiau dengan gusar "Kau bilang dengan setulus hati ingin hidup bersamaku hingga tua, jika betul begitu, hendannya dapat kau beri bukti nyata padaku"
Kata Bun-hiong "Memangnya kau minta bukti nyata apa ?. Apa perlu kukorek hatiku untuk diperlihatkan padamu!"
Kata Kiau-kuau. Bun-hiong menggeleng kepala ia berpaling kepada Hoa-loji dan berucap.
"Hoa-losiansing bilamana ada racun di dalam mi pangsit, apakah dapat engkau mengujinya?"
"Tentu saja dapat,"
Kata Hoa-Ioji, Sembari berkata ia lantas mengeluarkan sepasang sumpit perak, lalu mendekati meja makan.sumpit perak itu segera dicelupkan ke dalam mi pangsit itu Mendadak Loan Kiau-kiau membentak murka, sebelah tangan bergerak, dari jauh ia hantam Pang Bun-hiong.
Tampaknya dia seperti memukul dari jauh yang benar menghamburkan am-gi atau senjata rahasia.
Cepat Bun hiong mengegos ke samping jari tangan kanan terus terangkat ke atas, dengan tepat sebuah tusuk kundai kemala dapat dicepitnya.
"Hah, ada berapa banyak senjata rahasia yang kau bawa boleh coba hamburkan seluruhnya,"
Kata Bun-hiong dengan tertawa.
Air muka Kiau-kiau berubah hebat, kembali la membentak nyaring, kedua tangan bekerja sekaligus terus menubruk maju tampaknya ia menjadi nekat dan ingin mengadu nyawa.
Namun baru saja ia menubruk maju, tahu-tahu roboh terbanting.
"blang", hanya berkelojotan beberapa kali, lalu tidak bergerak lagi. Kiranya tepat di tengah keningnya tertancap oleh tusuk kundai, cukup dalam tusuk kundai itu ambles ke dalam kepala sehingga hampir lenyap, terlihat darah tegar menitik keluar dari lukanya. Bun-hiong menghela napas, ucapnya pelahan.
"Kamu sebenarnya seorang perempuan cantik, bilamana kamu mengerti cara hidup layak tentu kamu dapat hidup dengan bahagia "
It-hiong memberi tanda kepada kawannya itu.
"Lekas kau seret mayatnya keluar, aku tidak suka melihat dia lagi."
Bun-hiong tersenyum, ia berjongkok dan menyeret mayat Kiau-kiau keluar, tapi belum lagi keluar pmtu, di mana ia memandang, seketika ia melenggong.
Kiranya pada saat itu juga di depan pintu kamar muncul seorang kakek.
Ternyata kakek ini bukan lain daripada Tui-beng poan-koan Toh Po-sit.
Kemunculan, Tuh Po-sit juga dilihat Liong it-hiong, dengan tercengang ia berdiri dan menyapa.
"Toh-lociaopwe, engkau tidak meninggal?"
Wajah Toh Po-sit menampilkan senyum misterius, jawabnya pelahan.
"O, tidak, aku tidak mati. Selama hidupku bersusah payah da belum pernah menikmati kehidupan yang menyenangkan mana boleh kumati begitu saja?"
Kejut dan girang Liong it-hiong, serunya "Tetapi mengapa ....mengapa Oh Kiam-lam bilang engkau sudah meninggal?"
"Ah, dia membual."
Kata Toh Po-sit menggeleng.
"Aku cuma terkena suatu pukulannya dan jatuh terjerumus ke dalam danau "
"Ah, bagus,"
Kata It-hiong.
"Oh Kiam-lam bilang engkau mengincar harta bendanya, tapi aku tidak pecaya kepada ocehannya yang tidak berdasar itu "
"Tapi kamu harus percaya, sebab apa yang dikatakan itu memang benar,"
Ujar Tui-beng-poan-koan Toh Po-sit.
"Hahhh!"
Lt-hiong melenggong.
"Ah, janganlah Toh-locianpwe bergurau "
"Tidak, aku tidak bergurau,"
Kata Tui-beng-poan-koan Toh Posit.
"Sebab aku sudah bukan lagi Tui-beng-poan-koan yang dulu. Tui-beng-poan-koan Toh Po-sit yang lama terlampau bodoh, selama beberapa puluh tahun dia menjabat kepala polisi, tidak terhitung jumlahnya penjahat yang pernah ditangkapnya, dia mengabdi bagi kepentingan umum, berjasa bagi pemerintah, sebaliknya tidak sedikit tokoh dunia persilatan yang dimusuhinya, banyak gembong penjahat yang dendam padanya, namun apa manfaat yang dipetiknya?'' "Tidak ada, sama sekali tidak ada. Waktu dia minta pensiun, sama sekali dia tidak mendapat anugerah apapun, tidak ada hadiah, tidak ada pujian. Dengari tangan hampa ia meninggalkan kota raja dan pulang ke kampung halaman.
"Sebab itulah, ia masa bodoh. la tidak peduli tentang memberantas kejahatan dan membela kaum lemah serta mengabdi bagi rakyat jelata apa segala, semuanya, itu cuma omong kosong belaka. Jadi bertekad akan mencari rejeki besar, ia ingin hidup nikmat sebaik-baiknya "
It-hiong berkerut kening mendengar ucapan orang tua itu, katanya.
"Jadi, maksud tujuanmu tidak ada lain kecuali ingin merampas harta karun tinggalan Oh Kiam lam itu?' "Betul, hartanya kan juga hasil merampok, harta benda yang diperoleh secara tidak halal, bila ku ambil dari dia kan tidak merugikan pihak lain ?"
Kata Toh Po-sit.
"Ah, engkau salah,"
Kata It-hiong.
"Bahwa sejak mula ku rela bekerja bagimu, apakah engkau tahu apa sebabnya?"
"Aku tidak tahu coba jelaskan."
Pinta Tui-beng-poan-koan Toh Po-sit "Yaitu lantaran ku hormati dirimu, ku segan padamu mengingat jasa-jasamu yang sering kudengar,"
Tutur It-hiong.
"Apa yang pernah kau lakukan itu telah mendapatkan penghormatan dan kekaguman orang banyak, ini jauh lebih berharga daripada harta benda."
"Tidak, omong kosong"
Ucap Toh Po-sit.
"Nama baik kan tidak dapat dimakan, tidak dapat membuat perut kenyang'' "Tapi betapapun engkau kan tidak perlu kuatir tidak bisa makan'' ujar It-hiong "Jika engkau sampat tidak bisa makan, tentu sudah lama engkau mati kelaparan "
Mendadak Toh Po-sit menarik muka, jengeknya.
"Hm, pokoknya tidak ada maksudku hendak bicara peraturan denganmu. Aku cuma ingin bicara suatu bisnis padamu "
"Tidak, tidak ada bisnis apapun yang dapat dibicarakan,' jawab It-hiong dengan ketus sambil menggeleng. Tui-beng-poan-koan melirik sekejap Oh Beng-ai yang ternggetak di tempat tidur itu. lalu berucap dengan dingin.
"Ada semacam obat mujarab padaku yang dapat menyelamatkan jiwa budak itu apakah kau mau?"
"Obat apa'' Dan bagaimana syaratnya?"
Tanya It-hiong dengan hati tergetar "Mudah saja,"
Jawab Tui-beng-poan-koan Toh Po-sit.
"Segera kalian angkat kaki dan sini dan sama sekali tidak boleh ikut campur urusanku "
"Oo, atau dengan lain perkataan, engkau hendak menggunakan semacam obat penyelamat Oh Beng-ai untuk menukar segenap harta karun tinggalan Oh Kiam-lam, begitu?"
It-hiong menegas.
"Ya betul, pinter juga kamu."
Jawab Tui-beng-poan-koan Toh Po-sit sambil mengangguk "Dan bilamana kutolak ?"
Kata It-hiong "Wah, jika begitu, terpaksa harus ditentukan secara kekerasan."
Kata Tiu-beng-poan-koan Toh Po-sit, Mendadak Liong It-hiong bergelak tertawa, katanya "Hahaha untung aku tidak jadi mengangkat guru padamu, sebab itulah pertarungan ini tidak sulit untuk dilangsungkan "
"Tapi hm, urusan ini menyangkut keselamatan jiwamu, sebaiknya kau pikirkan lagi lebih masak "
Jengek Tui-beng poan-koan Toh Po-sit.
"Kukira tidak perlu pikir apa lagi, ucap It-hiong.
"Marilah, boleh kita bereskan di lapangan luar sana "
"Baik.ayo keluar,'' kata Toh Po-sit. Segera ia mendahului membalik tubuh dan melangkah keluar. It-hiong melolos pedangnya dan menyusul keluar menuju ke lapangan. Dengan suara tertahan Bun-hiong berkata kepada Hoa-loji.
"Hendaknya kau jaga nona Oh dengan baik.aku harus keluar dan membantunya sekuat tenaga "
Habis bicara mayat Loan Kiau-kiau diseret keluar terus menyusul ke lapangan untuk membantu Liong it-hiong.
Ketika ketiga orang sampai di lapangan, banyak kawanan liaulo juga sudah ikut berkerumun di Iapangan yang luas itu untuk menonton pertempuran.
Kawanan liaulo itu sekarang mengambil sikap netral, mereka ingin menunggu dan melihat dulu hasil pertarungan itu.
Setelah membuang mayat Loan Kiau-kiau segera Bun-hiong mendahului bicara.
"Toh-losiansing, aku pun ingin belajar kenal dengan kungfumu yang terkenal ".
"Hah, bagus, boleh saja'"
Jawab Toh Po-sit dengan tertawa "Jago kelas tinggi serupa Kim-kong Taisu dan Koh-ting Tojin saja sudah ku bunuh, masa menghadapi dua anak muda serupa kalian tidak mampu kubereskan?"
"Oo..apa betul? Engkau benar telah membinasakan Kim-kong Taisu dan Koh-ting Tojin?"Bun-hiong menegas dengan terkejut.
"Kenapa tidak benar? Kalau tidak percaya boleh kau periksa mayat mereka di bawah gunung."
Kata Toh Po-sit. Diam-diam Bun-hiong terkejut, tapi ia berlagak tertawa dan berkata.
"Jika mereka dapat kau bunuh, suatu tanda kungfumu memang luar biasa. Jika sekarang kami berdua menghadapi engkau seorangkan juga pantas "
Begitu selesai ucapannya, serentak pedang terangkat, secepat kilat ia lantas menusuk muka orang tua itu.
Cepat Toh Po-sit menggeser ke samping, berbareng tangan kiri balas memotong pergelangan tangan Bun-hiong.
Melihat mereka sudah bergebrak, It-hiong tidak tinggal diam.
segara ia pun menusuk dengan pedangnya sambil membentak "Awas serangan'"
Namun Toh Po-sit sempat berputar, sebelah kaki terus balas mendepak.
Nyata setiap gerakannya membawa tipu serangan yang mematikan, sungguh sangat lihai.
Begitulah terjadi pertarungan sengit antara ketiga orang.
Dengan satu lawan dua tiada kelihatan Toh Po-Mt kewalahan, sebaliknya ia menyerang terlebih gesit dan dahsyat sehingga It-hiong berdua tidak memperoleh keuntungan apa pun.
Gelisah juga it-hiong melibat kelihaian lawan, segera ia ganti siasat, ia tidak lagi keras lawan keras melainkan menggunakan kelincahan ilmu pedangnya untuk mengulur waktu dan bertempur jangka lama mengingat usia lawan yang sudah tua.
la bertekad harus menang, sebab rasa bencinya terhadap Toh Poh-sit ini sekarang jauh lebih mendalam daripada terhadap Oh Kiam-lam.
Ia benci karena orang telah mempermainkan dia, semula ia sangka dirinya membantu orang tua itu melakukun tindakan terpuji siapa tahu yang diperbuatnya sama sekali kebalikannya, hanya untuk mencapai ambisi pribadi.
Karena rasa menyesalnya, maka serangan Bun-hiong tidak sungkan lagi dan diluncarkan sekuat tenaga.
Beberapa puluh jurus kemudian, suatu pukulan cepat Toh Posit tak dapat dihindarkan Bun-hiong "plak", anak muda itu terpental beberapa tombak jauhnya "Hei.bagaimana keadaanmu kawan'' tanya It-hiong kejut dan kuatir.
"Huh. sempat kau perhatikan orang lain?!"
Jengek Toh Po-sit sambil menubruk maju dan membentak.
"Kena'"
"Plok", dengan tepat bahu It-hiong juga kena dihantamnya dengan keras, kontan anak muda itu terjungkal. Malahan Toh Po-sit lantas memburu maju pukulan kedua disusulkan lagi tanpa kenal ampun. Apabila terpukul lagi, pasti jiwa It-hiong akan melayang. Siapa tahu mendadak tubuh Toh Po-sit gemetar dan kaku serupa terkena aliran listrik. Kedua matanya terbelalak lebar penuh rasa kejut dan bingung, pukulan yang sudah,dilontarkan gagal setengah jalan. Kiranya pada waktu roboh terjungkal tadi Liong It-hiong telah menggunakan sarangan maut terakhir, pedng telah disambitkan dan tepat masuk perut Tob Po-sit dan tembus. Setelah menimpukkan pedang It-hiong terus menggelinding jauh ke sana, waktu melompat bangun baru dilihatnya timpukan pedangnya berhasil, rasa tegangnya menjadi longgar. It-hiong tidak menyangka akan membunuh orang tua yang pernah dihormatinya sebagai malaikat dewata, hatinya terasa pedih, ia menghela napas dan berkata.
"Coba lihat, apabila engkau tahu mawas diri, tentu takkan terjadi seperti ini "
Perlahan Toh Po-sit menengadah, kulit mukanya tampak berkejang. ucapnya lemah "Terima kasih pudamu!"
"Terima kasih padaku?"
Lt-hiong menegas.
"Ya. Sudah....sudah lama aku sendiri ingin membunuh ..membunuh Toh Po-sit yang berubah busuk, namun...namun aku tidak sanggup turun tangan"
Ucap orang tua itu dengan senyum getir.
"Tapi han ini engkau telah...telah mewakilkan diriku membunuhnya, aku sangat ... sangat berterima kasih "
Habis bicara, kepalanya terkulai ke bawah dan tidak bergerak lagi Timbul perasaan bimbang dan bingung, dengan sendirinya Ithiong dapat menangkap makna ucapan Toh Po-sit itu, hal ini membuatnya sangat terharu.
la menggeleng kepala dan bergumam.
"Selama hidup engkau berbuat kebaikkan, waktu tua engkau justru tidak sanggup menahan nafsu angkara murka mengapa bisa begitu?'' Sementara itu Pang Bun-hiong yang rebah di tanah itu sedang bertanah.
"Hai, kawan, coba kemari, periksalah lukaku!"
"Bagaimana terluka?"
Tanya It-hiong.
"Di sini,"
Bun-hiong meruding bagian pinggang. Setelah diraba, Bun-hiong mengomel.
"Tulangnya tidak patah masa berkaok-kaok serupa anak kecil"
Bun-hiong merintih kesakitan. Mendadak terdengar teriakan.
"Liong-siauhiap....Liong-Siauhiap, nona Oh sudah siuman"
Berbareng itu tampak Hoa-loji berian keluar sambil berkaokkaok. Tentu saja It-hiong kegirangan, tanpa terasa melonjak dan bersuit terus berlarian ke dalam rumah secepat terbang.
"Hai,apa apaan kamu, teringat pada perempuanmu lantas tidak pedulikaudiriku lagi?!"
Teriak Bun-hiong. It-Hiong menoleh sambil melambai tangan dan tertawa ngakak. TAMAT
Baca Juga: Bakti Pendekar Binal 6
Baca Juga: Pedang Ular Emas Yin Yong