Eps 1 Romantika Sebilah Pedang - Gu Long Tjan Id
Baca online Romantika Sebilah Pedang - Gu Long Tjan Id
Cersil Romantika Sebilah Pedang - Gu Long Tjan Id.
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com.
Romantika Sebilah Pedang (Na Yi Jian Di Feng Qing, 1982) Karya .
Gu Long, Ting Jing Saduran .
Tjan I D.
Pendahuluan.
Sebuah bilik, sebuah lampu lentera, sepoci arak, seorang kakek, seorang pemuda.
"Berpisah biasanya untuk bertemu kembali,"
Kakek itu berkata sambil menegak arak.
"Tiada perpisahan, darimana datangnya pertemuan?"
"Tiada pertemuan, apa ada perpisahan?"
"Betul."
"Senjata kait Nyo Cing dinamakan Kait perpisahan karena dia ingin bertemu dan berkumpul sepanjang masa dengan kekasih hatinya."
"Benar!"
"Lalu apa nama pisau setipis kertas milik Ti Cing-ling?"
"Ada bayangan tanpa jejak, ada bentuk tanpa wujud, cepat bagai sambaran kilat, lembut bagai rambut seorang gadis, pisau setipis kertas itu bernama Un-lo (Kelembutan)."
"Kelembutan? golok yang seperti pisau digunakan untuk membunuh disebut Golok Kelembutan?"
"Betul, sebab setiap kali membunuh, golok itu selalu melakukan dengan amat lembut, bagai pelukan lembut seorang kekasih."
"Shau Gong-cu telah membuat golok kelembutan dengan menggunakan lempengan baja ribuan tahun yang dibawa Ban Kun-bu, kemudian benda itu telah ditukar Ing Bu-ok dengan se
Jilid kitab ilmu pedang yang tidak utuh."
"Sisi kiri kitab pedang itu telah terbakar hangus, karena itu setiap jurus serangan yang tercantum dalam kitab pusaka itu tinggal setengah jurus, boleh dibilang mustahil untuk menguasai sebuah ilmu pedang yang sempurna."
"Justru lantaran ada kitab pedang yang tidak utuh, maka muncul senjata Kait perpisahan."
"Benar, dengan menggunakan inti baja milik Lan toasianseng yang tidak utuh, Shau Gong-cu telah menempanya menjadi sebilah senjata Kait perpisahan."
"Dengan cacad menutupi cacad, dengan tidak utuh menutupi tidak utuh, karena muncul kitab pedang yang tidak utuh maka muncul senjata pedang yang cacad kemudian berubah jadi senjata kaitan. Inikah yang dimaksud kehendak Thian?"
"Mungkin bukan kehendak Thian, mungkin saja kehendak Shau suhu pribadi?"
"Kalau memang ada golok dan senjata kaitan, bukankah seharusnya ada juga sebilah pedang?"
"Benar."
"Kalau memang ada pedang, kenapa tidak ada yang tahu kabar beritanya?"
"Menurut cerita yang beredar dalam dunia persilatan, Shau suhu menghabisi nyawa sendiri lantaran gagal menempa inti baja yang dibawa Lan Toa-sianseng menjadi sebilah pedang, padahal cerita itu keliru besar, Shau suhu bunuh diri bukan lantaran senjata kaitan, tapi karena senjata yang ketiga."
"Oh...?"
"Setelah golok kelembutan dan Kait perpisahan muncul dalam dunia persilatan, lamat-lamat seakan muncul sebuah kekuatan kasat mata yang mendesak Shau Gong-cu untuk melebur sisa dari baja yang dipakai untuk membuat golok kelembutan serta sisa baja yang dipakai untuk membuat kait perpisahan, ditambah cucuran darah yang meleleh keluar dari kawanan jago di bukit Thay-heng-san untuk menempa pedang ketiga."
"Pedang macam apa itu?"
"Nu-kiam (Pedang Amarah)!"
"Pedang itu bernama pedang amarah?"
"Benar, sebab ketika pedang itu selesai ditempa, garis yang timbul ditubuh pedang ruwet bagai serat ulat sutera, garis cahaya diujung pedang mirip cahaya api yang memancar ke empat penjuru, malah secara kebetulan ketika pedang itu baru diangkat dari perapian, langit tiba-tiba menjadi mendung gelap, halilintar menyambar-nyambar dan guntur menggelegar tiada hentinya, hujan musim semi jatuh setengah bulan lebih awal dari jadwal biasa."
"Ketika pedang diangkat dari perapian, hujan musim semi turun lebih awal dari jadwal?"
"Betul, karena itulah dinamakan Pedang amarah, disebut juga kemarahan musim semi."
"Berada dimana pedang itu sekarang?"
"Pedang tersebut adalah sebuah benda maksiat pembawa bencana, persis seperti orang yang dilahirkan dengan sifat buas, sejak lahir sudah membawa hawa sesat, karena itulah ketika selesai menempa pedang itu, Shau suhu tidak segan mengakhiri hidupnya sendiri."
"Dia mengubur pedang itu lalu mengubur dirinya sendiri?"
"Benar."
"Dikubur di mana?"
"Sebuah tempat yang menyeramkan!"
Sebuah penjara yang sempit, gelap, lembab dan penuh dengan kutu busuk, mendampingi seorang kakek cacad yang kurus, ceking, bau dan amis, seorang kakek yang cacad kedua belah kakinya dan batuk tiada hentinya.
Biarpun sinar matahari di bulan ke sembilan terasa cerah dan lembut, selembut belaian tangan gadis cilik yang mencorong masuk melalui jendela penjara, namun yang tersisa hanya bayangan tubuh si kakek yang terbias dipermukaan tanah, bayangan seorang kakek yang masih batuk tiada hentinya.
Kakek itu merangkak ditanah mengelilingi ruangan yang sempit, dia merangkak dengan kedua belah tangannya sambil menyeret sepasang kakinya yang cacad.
Memang hanya gerakan semacam ini yang bisa dia lakukan, inilah satu-satunya hiburan yang dia miliki dan bisa dia nikmati.
Dengan menyeret sepasang kakinya yang cacad, sepasang kaki yang sudah kehilangan perasa, dia sengaja menggesekkannya diatas dinding penjara yang kasar, menggesek diatas batu cadas yang tidak rata, membiarkan kulit kakinya robek lalu terkoyak, membiarkan darah bercucuran, meski terluka namun mimik muka kakek itu justru memperlihatkan kenikmatan, suatu kenikmatan yang diperoleh dari menyiksa diri, dari suatu perbuatan yang sadis.
.............Menyiksa diri, kadangkala merupakan semacam pelampiasan, semacam pelampiasan yang mengandung maksud mengejek diri sendiri.
Tampak selembar daun kering melayang dan meronta ditengah udara, ditengah hembusan angin musim gugur, seolah-olah sedang mencari tempat akhir bagi dirinya.
...........
daun yang rontok akhirnya akan jatuh ke tanah, dekat akarnya, tapi bagaimana dengan para perantau?
Para gelandangan?
Apakah kalian telah menemukan persinggahan yang terakhir?
Daun kering menembusi cahaya matahari, melayang masuk lewat daun jendela lalu melayang jatuh dihadapan orang tua itu tanpa daya.
Seakan dia tahu, kehidupan kakek itu pun segera akan berakhir, maka dia khusus datang untuk menemaninya.
Daun-daunan selalu rontok dimusim gugur, kakek itupun tahu, hari ini merupakan hari terakhirnya sejak dia menghuni penjaranya tujuh tahun berselang.
Memandang daun dilantai yang kering dan kuning, paras muka kakek itu nampak semakin layu, kusut, tua dan letih.
Tiba tiba dia bergumam, bergumam dengan penuh rasa syukur disamping perasaan duka yang mendalam.
"Thian dilangit Tee dibumi, tiada kejadian lain yang lebih nyata daripada sebuah kematian!"
Kembali kakek itu menghela napas, pelan-pelan memungut rontokan dedaunan kering itu lalu dipeluknya dengan lembut, selembut seorang pemuda yang sedang memeluk kekasihnya.
Mendadak terdengar Derap kaki manusia bergema dari serambi panjang yang hening, derap kaki manusia yang amat nyaring.
Kakek itu tidak bergumam lagi, dia terbungkam.
Langkah kaki kian mendekat lalu berhenti, disusul terdengar suara gemerincing gembokan yang dibuka orang, suara gemerincing yang bergema nyaring dalam penjara itu, bergaung tiada hentinya.
Daun-daunan kering semakin banyak berguguran ke tanah ketika tertimpa angin, musim gugur telah mendekati penghujung.
Tiada perasaan takut atau ngeri yang melintas diwajah kakek itu, yang tersisa hanya wajah pasrah, wajah tidak berdaya.
Komandan sipir penjara yang membuka gembokan kunci tadi sudah mulai berjalan menelusuri serambi panjang, dua orang petugas sipir dengan satu di kiri, satu di kanan, menggotong kakek yang cacad kedua belah kakinya, berjalan ikut di belakangnya.
Serambi itu panjang sekali, selama perjalanan yang terasa hanya keangkeran dan suasana seram, ditambah suara gemerincing borgol di kaki orang tua itu ketika bergesek dengan lantai batu.
Suara itu amat membuat pedih hati, bagaikan jeritan tikus menjelang ajalnya, membuat hati orang merasa miris, ngeri.......
Tatkala rombongan itu tiba dipertengahan jalan di serambi panjang itu, tiba-tiba komandan sipir itu membalikkan badan sambil berjongkok, entah sejak kapan ditangannya telah bertambah dengan dua batang jarum yang lembut tapi panjang ramping.
Dengan satu gerakan cepat dia menusukkan jarumjarum tajam itu ke atas jalan darah Giok-swan-hiat di tumit si kakek yang cacad.
Belum sempat dua orang sipir yang menggotong kakek cacad itu mengetahui apa yang lelah terjadi, tahu tahu mereka sudah dipukul roboh oleh komandan sipir itu, sementara kakek cacad itu mendadak berdiri sendiri, berdiri tegak setelah dua batang jarum tajam itu menancap di tumitnya.
Darah berwarna hitam memancar keluar dari jalan darah giok-swan-hiat, menetes ke lantai menelusuri batang jarum itu, sang komandan yang menggenggam jarum itu hanya mengawasi kakek tersebut dengan pandangan tenang.
Lambat laun kakek cacad yang terbatuk batuk itu mulai menunjukkan perubahan, mimik mukanya mulai berubah menjadi semu merah, pinggangnya yang semula terbungkuk kini mulai berdiri lurus dan tegak.
Mendadak dia merentangkan sepasang lengannya, kemudian terdengarlah serentetan bunyi ledakan yang beruntun, bagai bunyi mercon bambu bergemuruh dari balik tubuh kakek tua itu.
Wajah kuyuh, sayu dan lemah dari seorang kakek yang terbatuk-batuk telah hilang lenyap entah ke mana, orang yang berdiri dihadapannya sekarang adalah seseorang yang seolah-olah telah berganti rupa, seorang lelaki dengan wajah yang sangat dingin, hambar dan senyum tidak senyum.
Tiba-tiba komandan sipir yang menggenggam jarum itu kembali mencabut keluar sebilah pisau, sebilah pisau yang tipis bagaikan kertas, sebilah pisau tipis yang memancarkan cahaya kebiru-biruan, dengan sikap yang sangat hormat dia menpersembahkan pisau tersebut kehadapan kakek itu.
Cahaya kebiru-biruan yang tawar memantul diwajah kakek itu, membiaskan sekilas cahaya yang menyilaukan mata.
Disaat dia menggenggam pisau tipis bercahaya biru itulah, paras muka kakek itu seolah telah pulih kembali dengan wajah ganteng yang anggun seperti masa lalu, wajah Ti Cing-ling, Ti Siau-hoya yang memandang nama dan harta bagaikan sampah, memandang kuda jempolan dan wanita cantik bagaikan nyawa sendiri.
Cahaya pisau sangat tawar, amat tipis, setipis dan setawar cahaya bulan sabit yang tergantung diawangawang.
Kini pisau tidak bergerak, Ti Cing-ling pun tidak bergerak.
Kecuali sepasang matanya, dia seolah-olah telah berubah jadi sebuah patung arca, berubah menjadi patung semenjak menggenggam pisau itu.
Seluruh kekuatannya, semangatnya, hawa murninya, tenaganya, rohnya, sukmanya seakan telah terhimpun didalam pisau tipis yang berada dalam genggamannya itu, terhimpun dalam waktu singkat.
Ti Cing-ling mengawasi pisau tipis itu lekat-lekat, sampai lama kemudian dia baru membuka mulut dan berbicara, mengucapkan sepatah kata yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pisau tersebut.
"Kau tentu sudah lama... lama sekali tidak pernah makan dengan nikmat, makan dengan kenyang, karena raut mukamu sudah menunjukkan tanda-tanda kelaparan."
Komandan sipir yang menggenggam jarum itu berdiri tertegun, dia seakan tidak mengerti mengapa orang itu mengucapkan kata-kata yang sama sekali tidak dipahami.
"Setiap benda mestika yang diciptakan seorang ahli, seorang empu kenamaan, persis sama seperti kehidupan manusia biasa,"
Ujar Ti Cing-ling dengan sorot mata setajam sembilu.
"Bukan saja dia berwajah, bahkan punya aura, punya nyawa, bila lama sekali tidak menikmati segarnya darah manusia, dia pasti akan perlihatkan tanda-tanda kelaparan."
Sorot mata Ti Cing-ling pelan pelan mulai bergeser, dari atas pisau tipisnya dialihkan ke tempat kejauhan sana, tiba-tiba sekilas rasa benci dan dendam yang amat dalam memancar dari balik matanya.
"Nyo Cing, gembirakah kehidupanmu selama tujuh tahun terakhir ini?"
BAGIAN -1 Pedang amarah Bunga kalap.
BAB 1.
Pembicaraan ditengah hujan.
Perasaan hati Cong-hoa amat gembira, tapi sayang cuaca amat buruk.
Hujan sudah turun selama dua hari dua malam, kalau dilihat dari derasnya hujan yang turun, mungkin sampai hari ketiga pun belum tentu akan reda.
Walaupun hujan di musim gugur sangat meresahkan hati, bila Cong-hoa teringat kembali mimik muka Thi-juibu-cing (tangan besi tanpa perasaan) Tu Thian, Tu toaya sewaktu menderita kekalahan pagi tadi, dia pingin sekali berjumpalitan beberapa kali saking gembiranya.
Thi-jiu-bu-cing, Tangan besi tanpa perasaan memang sebuah julukan yang gagah dan keren, tapi tidak menjamin pemiliknya adalah seorang opas kenamaan atau seorang enghiong hohan yang gagah berani.
Namun juga tidak berarti Tu Thian adalah seseorang perampok ulung yang gampang marah, tidak berperasan dan selalu telengas bila turun tangan, tidak pernah membiarkan korbannya tetap hidup.
Thi-jiu-bu-cing, tangan besi tanpa perasaan hanya melukiskan kekikiran Tu Thian, orang yang kelewat hitungan dalam soal duit.
Tu Thian bukan nama aslinya, nama sesungguhnya adalah Tu It-toa.
Tapi lantaran dia anggap nama Tu Ittoa susah disebut, lagipula untuk menulis nama sendiri pun terlalu banyak membuang waktu, maka dia berpendapat mempunyai dua huruf jauh lebih berhemat ketimbang tiga huruf.
Apalagi bila diartikan secara harfiah, It-toa hanya mengartikan satu lembar yang besar, itu tidak cukup baginya, dia berharap bisa lebih besar daripada langit, oleh karena itulah dia pun mengubah namanya dari Tu It-toa menjadi Tu Thian.
Di kota ini, hampir sebagian besar pedagang dan tuan rumah kenal dengan Tu Thian, tapi jangan harap ada seorang pun yang mampu membawa pulang uang setengik pun dari tangannya, apalagi mendapatkan semacam barang.
Dia selalu ingin ikut campur dalam bisnis macam apapun yang bisa mendatangkan keuntungan, asal dia sudah ikut campur, biasanya rekan-rekan seprofesi yang ada disekelilingnya akan segera angkat kaki untuk mencari selamat.
Kalau tidak, bukan saja uang gagal diperoleh, pada akhirnya ceceran darah sendiri pun akan ikut mengering.
Untuk meminjam uang setengik saja dari orang ini jauh lebih susah ketimbang memanjat ke langit, apalagi untuk mendapatkan tiga puluh guci arak Li-ji-ang yang telah berusia banyak tahun.
Tapi hari ini, Cong-hoa telah berhasil menangkan tiga puluh guci arak Li-ji-ang dari tangannya.
Udara di pagi hari memang selalu paling segar, paling pas untuk dinikmati, pagi hari juga merupakan saat yang paling tenang dikala segala makhluk bumi belum mendusin dari tidurnya.
Tu Thian amat senang pagi hari, dia berpendapat pagi hari merupakan saat otak seseorang paling segar, paling terang, saat seperti inilah merupakan saat yang paling cocok untuk mengurusi segala persoalan dan menganalisa pelbagai masalah.
Oleh sebab itu dia selalu keluar dari rumah setiap pagi hari, mengunjungi pelbagai toko dan warung untuk memeriksa dan menyelesaikan pelbagai persoalan.
Walaupun hujan dimusim gugur telah turun selama dua hari berturut turut, tidak lantaran persoalan ini Tu Thian lantas menghentikan kebiasaannya melakukan pekerjaan di pagi hari.
Ketika keluar dari rumah pagi tadi, dia telah menjumpai satu kejadian yang sangat aneh, satu kejadian aneh yang dia anggap sangat lucu dan menggelikan.
Dia menjumpai seorang gadis, ditengah hujan yang amat deras sedang berusaha memanjat naik keatas salah satu diantara tiga puluh batang pohon besar yang tumbuh di kedua belah sisi pintu gerbang rumahnya.
Untuk memanjat ke atas sebatang pohon yang demikian besar memang amat sulit, apalagi ditengah hujan lebat, namun gadis itu masih tetap berusaha dengan sepenuh tenaga untuk memanjat ke atas.
Batang pohon itu amat licin, ditambah lagi perempuan itu memang tidak memiliki kekuatan tubuh yang kuat, tidak heran setiap kali memanjat sampai separuh jalan, tubuhnya selalu terpeleset jatuh lagi ke bawah.
Namun gadis itu tidak putus asa, setiap kali terpeleset jatuh ke bawah, dia selalu bangkit berdiri dan memanjat lagi, jatuh lagi, memanjat lagi...
Melihat caranya memanjat ke atas pohon yang begitu lucu, Tu Thian tidak tahan untuk tertawa geli.
"Ketiga puluh batang pohonku itu tidak pernah berbuah aneh, juga tidak pernah menghasilkan emas lantakan, kenapa sih kau terburu-buru ingin memanjat ke atas?"
Tiba tiba gadis itu berpaling sambil melotot besar, serunya.
"Pertama, aku tidak terburu-buru ingin memanjat ke atas, kedua aku pun tidak ingin mengambil buah mestika atau emas lantakan dari atas pohon, aku hanya ingin menikmati keindahan air hujan dari puncak pohon, ketiga aku ingin membuktikan bukan hanya lelaki yang mampu memanjat pohon."
"Baik, baik, tapi kalau memanjat dengan cara begitu, sampai tahun kapan baru bisa sampai diatas?"
"Ooh?"
Gadis itu berhenti memanjat, berpaling menengok Tu Thian dan serunya.
"Jadi maksudmu, kau dapat memanjat lebih cepat ketimbang aku?"
"Sebenarnya aku ingin sekali bertanding melawanmu, sayang kondisi tubuh dan usiaku sudah tidak mendukung untuk berbuat begitu."
Tu Thian tidak terhitung kelewat gemuk, bobot tubuhnya baru mencapai seratus enam puluh kati, usianya juga belum termasuk tua, paling banter baru empat-lima puluh tahunan.
Kalau suruh orang semacam ini bertanding minum arak, dia yakin pasti dapat memenangkan pertarungan itu, tapi kalau suruh dia memanjat pohon, tidak usah dijawab pun sudahjelas semuanya.
Apalagi dia adalah Tu Toaya, tauke Tu, mana mungkin Tu toaya mau bertanding memanjat pohon dengan orang lain?
Tentu saja tidak mungkin.
Tu Thian memang enggan memanjat, tapi dia bisa suruh orang lain memanjat, maka dia pun mengajukan usul kepada gadis tersebut.
"Asal dalam seperempat jam kau sanggup memanjat ketiga puluh batang pohon itu, apa pun yang kau inginkan pasti akan kuberi."
"Kalau gagal memanjat seluruh pohon itu?"
Gadis itu mulai bertanya dengan wajah tertarik.
"Kau mesti bekerja untukku selama tiga tahun!"
"Baik!"
Tentu saja gadis itu tidak lain adalah Cong-hoa.
Sudah lama Cong-hoa merasa sebal dengan watak kikir dan hitungan dari Tu Thian, ia berjanji suatu ketika pasti akan mengerjainya, dia selalu menunggu datangnya kesempatan seperti itu.
Tapi kehidupan pribadi Tu Thian seperti gadis perawan dalam pingitan, dia tidak pernah memberi kesempatan kepada orang lain.
................
Tapi, biarpun seorang perawan pingitan, suatu hari toh tetap harus menjadi seorang ibu.
Kelemahan terbesar dari Tu Thian adalah senang bertaruh, bertaruh sesuatu yang hasil kemenangannya seratus persen pasti berada dipihaknya.
Oleh sebab itu Cong-hoa sudah pasti akan kalah dalam taruhan ini, menyelesaikan panjatan tiga puluh batang pohon dalam seperempat jam?
Jelas bukan satu pekerjaan yang gampang.
Tentu saja Tu Thian tahu kalau gadis itu bakal kalah dalam taruhan ini, mustahil gadis itu dapat menyelesaikan panjatannya dalam waktu seperempat jam kepada ketiga puluh batang pohon itu.
Maka dia pun mengajaknya bertaruh.
Ketika Conghoa menyelesaikan panjatannya pada pohon keempat, Tu Thian mulai tidak dapat tertawa, namun ketika gadis itu mulai memanjat pohon yang kedua puluh lima, senyuman kembali menghiasi ujung bibirnya.
Dia yakin dan percaya, gadis itu paling banter Cuma mampu memanjat sampai pohon yang kedua puluh sembilan.
Pada satu setengah menit terakhir, Cong-hoa baru mulai memanjat pohon yang ketiga puluh, dia sudah pasti tidak punya waktu lagi untuk turun dari pohon itu.
Tertawa Tu Thian sangat lebar, dia sangat gembira.
Biarpun keberhasilan Cong-hoa untuk memanjati pohon yang ketiga puluh merupakan satu kejadian yang jauh diluar dugaannya, namun dia yakin gadis itu sudah kehabisan waktu untuk turun dari pohon tersebut.
Ketika dia sudah bersiap sedia menerima pekerja gratis itu bekerja rodi untuknya, mendadak satu peristiwa yang sama sekali tidak masuk diakal telah terjadi dihadapannya.
Dia menyaksikan Cong-hoa menjatuhkan diri dari atas pohon, dia bukan melompat turun tapi membiarkan badannya terbanting jatuh ke atas tanah.
Pada detik yang terakhir, tubuh Cong-hoa telah mencium bumi.
Karena itulah gadis ini berhasil memenangkan taruhan.
Mimik muka Tu Thian waktu itu persis seperti seorang jejaka yang baru saja menyaksikan seorang nenek berusia delapan puluh tahun telanjang bulat.
Dia sangat kecewa, sangat galau...
pada saat seperti itulah dia mendengar ada orang sedang terbatuk-batuk di belakang tubuhnya.
Seorang lelaki gelandangan yang memakai jubah panjang berwarna abu-abu muncul dari belakang pohon sambil batuk tiada hentinya.
Padahal tadi, mereka semua tidak pernah melihat kehadiran orang itu, di belakang pohon jelas tidak pernah ada orangnya, tapi...
mengapa pada saat ini orang tersebut bisa tiba-tiba muncul dari belakang pohon?
Orang itu berjalan lamban sekali, suara batuknya amat keras dan berat.
Bersama dengan munculnya orang itu, air hujan dimusim gugur seakan ikut berubah warna karena kehadirannya, langit tampak berubah jadi putih keabuabuan, kosong, hampa dan mengenaskan.
Orang itu mempunyai sepasang mata berwarna hitam, sepasang mata yang hitam pekat.
..............
Putih keabu-abuan atau hitam pekat, semuanya merupakan warna yang dominan ketika seseorang mendekati saat ajalnya!
Bukankah kematian merupakan batas akhir dari kekosongan, kehampaan dan kesepian?
Sambil terbatuk tiada hentinya lelaki gelandangan itu berjalan mendekat dengan langkah yang sangat lamban, tiba tiba dia berhenti, menghentikan langkahnya persis di hadapan Cong-hoa, suara batuknya juga tiba-tiba ikut berhenti.
"Apa artinya?"
Cong-hoa tidak mengerti apa maksud dari perkataan itu, belum sempat bertanya, orang itu sudah membalikkan tubuh dan berjalan menuju ke arah Tu Thian.
Dengan perasaan terkesiap Tu thian memandang lelaki gelandangan itu, tiba tiba orang itu tertawa kepadanya dan berkata pula.
"Buat apa?"
Baru selesai dia berkata, lelaki gelandangan itu sudah berbatuk-batuk lagi, bahkan pelan-pelan berjalan meninggalkan tempat itu.
Dengan wajah terkesima Tu thian mengawasi bayangan punggungnya, begitu juga dengan Conghoa, dia awasi orang itu dengan pandangan keheranan, dia seakan tidak paham apa maksud dari perkataannya itu.
Baru saja Cong-hoa hendak menyusulnya untuk bertanya lebih jauh, ternyata bayangan tubuh orang itu sudah hilang lenyap tidak berbekas.
Walaupun langkah kakinya sangat lamban, namun dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap tidak berbekas, bahkan suara batuknya juga sama sekali tidak kedengaran lagi.
"Aneh...sungguh aneh..."
Gumam Tu thian keheranan.
"Mengapa aku merasa seperti amat mengenal dengan wajah orang itu?"
Cong-hoa juga sedang bergumam.
"Aneh...sungguh aneh...sudah jelas aku yang menang, kenapa belum ada yang bertanya kepadaku mau minta apa?"
Benda yang diminta Cong-hoa tentu saja tiga puluh guci arak Li-ji-ang yang sudah berusia tua.
"Menjatuhkan diri"
Dan "melompat turun"
Adalah dua gerakan turun yang beda sekali unsur kecepatannya. Berbicara dari unsur kecepatan.
"melompat turun"
Jelas masih termasuk jenis gerakan yang lebih lamban, karena masih terbuka kemungkinan terhambat oleh rentangan batang dan ranting pohon.
Berbeda sekali dengan "menjatuhkan diri", gerakan tersebut adalah gerakan jatuh dengan punggung menghadap ke bawah, berhubung separuh tubuh atas manusia biasanya lebih berat ketimbang separuh tubuh bagian bawah, maka kecepatan meluncurnya jelas jauh lebih cepat.
Tapi, berhubung harus menjatuhkan diri dari atas pohon yang begitu tinggi dan besar, jelas tidak setiap orang berani dan mampu melakukannya.
Hingga kini, punggung Cong-hoa masih terasa sakit sekali, namun hatinya berbunga, sangat gembira, bagaimana pun juga belum pernah ada orang kedua di dunia ini yang mampu menipu Tu Thian hingga masuk perangkap.
Tidak heran bila perasaan hati Cong-hoa gembira sekali, amat riang.
Hujan dimusim gugur masih mengguyur permukaan bumi, sang surya sudah mulai condong ke langit barat.
Sinar matahari senja memang jarang muncul dibalik deraian air hujan.
Sinar matahari senja tampak begitu lembut, begitu halus menerobos keluar dari balik kabut hujan, sinar itu nampak begitu sepi, begitu menyendiri...
Begitu pula dengan manusia, selalu merasa kesepian, selalu terasing, tersendiri....
...............
Kecuali ada urusan penting, biasanya amat jarang ada orang mau berjalan-jalan ditengah hujan deras.
Sejak kecil Cong-hoa senang air hujan, terutama hujan dimusim gugur, dia senang sekali dengan perasaan kemalas-malasan yang terbias dari balik hujan dimusim gugur.
Hanya sewaktu berada ditengah curahan hujan, dia dapat melupakan untuk sementara semua kenangan yang sudah terkubur dalam-dalam di lubuk hatinya, terkubur dibalik tulang belulangnya yang paling dalam.
......................Apakah manusia macam dia juga memiliki penderitaan yang sudah merasuk hingga ke tulang sumsum?
...................
Benarkah semua penderitaan mudah dilupakan?
Sinar matahari seperti senjata memancar dari balik hujan, menerangi jalan raya, menerangi pula tubuh Cong Hoa, selain dia seorang, dijalan raya tidak nampak bayangan manusia lain, termasuk bayangan setan sekalipun.
Sementara Cong Hoa masih terbuai dalam mabuk ditengah curahan hujan yang deras, saat itulah tiba-tiba dia menyaksikan satu rombongan manusia.
Satu rombongan pemuda berusia tujuh-delapan belas tahunan, semuanya berwajah tampan, mereka muncul dari ujung jalan raya sana dan perlahan-lahan berjalan mendekat, ditangan mereka ada yang membawa tiang bambu, ada yang membawa permadani ada pula yang membawa perabot.
Selama hidup belum pernah Cong Hoa mempunyai kesempatan untuk menyaksikan satu rombongan besar pemuda tampan, maka dengan seksama dia awasi setiap pemuda itu, mengawasinya dengan bersungguh hati.
Agaknya kehadiran kawanan pemuda itu memang bertujuan mendatangi Cong Hoa, mereka berhenti persis dihadapannya, kemudian dengan cepat mendirikan sebuah tenda bambu, menyiapkan permadani merah dan menata rapi meja dan kursi.
Ketika semuanya telah selesai dipersiapkan, seorang pemuda yang agak jangkung perawakannya maju mendekat sembari mem-beri hormat.
"Hoa toa siocia, silahkan duduk!"
Katanya. Cong Hoa tidak mengucapkan perkataan apapun, dia maju mendekat, menarik sebuah bangku dan langsung duduk.
"Diatas meja tersedia aneka macam hidangan, tapi lebih baik kau jangan memakannya,"
Kata seorang pemuda lagi dengan hormat.
"Karena didalam aneka macam hidangan itu sudah dibubuhi sedikit racun."
Cong Hoa mengambil sumpit dan dengan cepat mencicipi semua hidangan yang tersedia dimeja.
"Racun didalam botol arak itu paling banyak, lebih baik jangan diminum!"
Cong Hoa tetap membungkam, dia sambar sebotol arak, membuka penutupnya dan langsung menuang isi botol itu ke dalam perutnya, nyaris tanpa berganti napas dia telah habiskan isi botol itu dalam sekali tegukan.
Tiba-tiba terdengar seseorang menghela napas panjang dari belakang tubuhnya.
"Arak yang begitu wangi ternyata diteng-gak dengan cara sekasar itu, benar benar telur busuk makan bakmi, hanya membuang percuma barang bagus."
"Kau keliru besar, bukan telur busuk yang makan bakmi, tapi seekor kura-kura yang sedang makan bakmi,"
Dengan kata yang sama Cong Hoa balas menjawab. Seorang kakek muncul sambil tertawa terbahakbahak.
"Hahaha... Ternyata kau bukan telur busuk, melainkan seekor kura-kura,"
Ejeknya.
"Kalau seekor telur busuk makan semangkuk bakmi, mungkin dia menyia-nyiakan makanan enak, tapi jika kura-kura yang minum arak, tidak mungkin dia menyianyiakan barang bagus. Apalagi kalau arak itu adalah arak Li-ji-ang yang telah berusia lima puluh tahun."
"Bagus, bagus sekali!"
Seru si kakek sambil tertawa riang.
"Ternyata Hoa toa-siocia memang tidak malu disebut Hoa toa-siocia."
Tiba-tiba Cong Hoa merasa kakek itu sangat menarik hati, bila bertemu orang yang menarik tanpa minum arak, keadaan tersebut persis seperti bermain catur melawan diri sendiri.
Maka Ciong Hoa pun kembali mengambil sebotol arak, kali ini dia meneguknya sedikit lebih lambat.
"Arak Li-ji-ang sebagus ini bila tidak diminum dalam keadaan hangat, sungguh patut disayangkan."
Katanya.
"Benar!"
Kakek itu segera mengulapkan tangannya memberi tanda, seorang pemuda segera muncul dengan membawa sebuah anglo, didalam anglo ada arang, arang itupun sudah menyala.
Kakek itu segera mengambil sebuah j apitan untuk menggeser arang arang menyala itu, kemudian meletakkan satu guci arak Li-ji-ang diatas anglo tersebut, setelah itu dia baru membuka mulut guci dengan sangat berhati-hati.
Semua perbuatan itu dilakukan si kakek dengan penuh kasih sayang, seakan seorang nenek yang sedang membelai cucu perempuannya.
Ketika penutup guci telah dibersihkan, kakek itu baru mengambil selembar kertas dan disegelkan di mulut guci tadi, kemudian dengan rasa puas katanya.
"Menghangatkan arak persis sama seperti membuat air teh, besar kecilnya api harus diperhatikan, suhu kehangatannya juga mesti pas,"
Kakek itu menerangkan.
"Bila api kelewat besar, suhu kelewat tinggi, maka rasa asli arak itu pasti akan turut menguap hingga rasanya jadi tawar."
Cong Hoa sangat setuju dengan perkataan itu, dia mengangguk cepat.
"Sebaliknya bila api kelewat kecil hingga tingkat kehangatannya berkurang banyak, arak itu pasti rasanya kecut,"
Kakek itu seakan sedang membicarakan satu masalah yang amat serius.
"Bila api nya cukup, kehangatannya juga cukup, bau asli arak itu baru akan terasa, dengan sendirinya arak itupun akan sangat bermanfaat bagi tubuh manusia."
Api yang cukup, waktu yang cukup dan kehangatan yang cukup, tidak gampang untuk mencapai taraf seperti ini, dibutuhkan kegagalan yang berulang kali untuk mendapatkan pengalaman yang semakin meningkat.
"Waktu hawa arak dalam gunci baru saja mengepulkan asap, kau mesti angkat guci itu dari atas anglo,"
Kakek itu meletakkan guci arak ke atas meja sambil menerangkan, kemudian tunggu sampai uap panas membasahi kertas segel diatas mulut guci, saat itulah usahamu telah berhasil."
Kakek itu menuangkan secawan arak hangat untuk Cong Hoa.
"Saat ini tingkat kehangatan dari arak tersebut persis selisih dua derajat setengah dibandingkan suhu badan manusia, dan itulah suhu yang paling ideal,"
Kakek itu melanjutkan.
Belum lagi arak diteguk, bau harum semerbak telah terendus diseluruh ruangan.
Begitu arak mengalir di dalam tenggorokan, terasa bagaikan ada sebuah cairan manis mengalir lewat secara perlahan masuk ke dalam rubuh, membuat seluruh badan serasa berada diatas awan.
"Bagus, arak bagus!"
Puji Cong Hoa dengan bersungguh hati.
"Tapi yang lebih bagus adalah karya sianseng."
"Terima kasih,"
Kakek itu menuding guci arak itu dan menambahkan.
"Guci arak tersebut merupakan salah satu diantara tiga puluh guci arak yang harus dibayar Tu toaya karena kekalahannya, sisanya yang dua puluh sembilan guci Hoa toa-siocia dapat mengambil setiap saat."
"Bisa menenggak arak hangat hasil karya lo-sianseng sudah merupakan satu kejadian besar bagi hidupku, apalah artinya sisa arak yang lain?"
"Bukan begitu maksudnya, mengapa kau harus membuat Tu toaya memikul beban sebagai orang yang ingkar janji?"
BAB 2.
Dongeng yang misterius.
Cong Hoa tentu saja tidak bermarga Cong, juga bukan merupakan julukan yang disandang sebagaimana para enghiong hohan pada umumnya.
Sejak kecil Cong Hoa memang bernama Cong Hoa.
Semenjak kecil dia senang dengan bunga, seringkali Dia berdiri termangu hanya demi sekuntum bunga yang tidak diketahui namanya.
Dia pernah cukup lama bersedih hati lantaran kuncup bunga yang layu sebelum berkembang, lalu mencari sebuah tempat yang tersembunyi dan mengubur kuncup bunga itu.
Justru lantaran Dia suka bunga maka ada orang yang memanggilnya siau-hoa, bunga kecil, ada juga yang memanggilnya Siau Cong-hoa, penyembunyi bunga kecil, bahkan ada yang memanggilnya Conghoa-ji.
Apa pun nama panggilannya, tidak ada seorangpun yang tahu dia datang dari mana dan berasal dari mana?
Cong Hoa tidak pernah menjelaskan soal itu, hingga akhirnya ada juga yang memanggilnya Siau Ya-hoa si bunga liar kecil.
Selain berarti bunga liar kecil, siau Ya-hoa sendiri juga mengartikan bahwa dia adalah bocah buangan, bocah yang tidak dikehendaki siapapun.
Tentu saja Cong Hoa tahu akan hal ini, juga mengerti, namun dia tidak pernah marah, jangan lagi berdebat, membantah pun tidak.
Namun anehnya, orang-orang yang sering memanggilnya si bunga liar kerapkali merasakan gebukan tongkat yang aneh dan tidak jelas sumbernya, malah kadangkala, ketika mendusin dari tidur, mereka jumpai mulutnya sudah penuh dijejali lumpur kotor.
Secara garis besar, orang kaya terbagi jadi berapa jenis.
jenis orang pelit, berjiwa kerdil, sayang keluar duit dan sering berlagak miskin dengan mencari keuntungan dari orang lain.
Ada pula yang berlagak macam orang kaya mendadak, kalau bisa dia ingin orang diseluruh dunia tahu kalau dia berduit, ada juga yang mau keluar duit tapi sering mencari kambing hitam.
Diantara sekian jenis orang kaya, tentu saja orang yang pandai menggunakan uang, pandai menikmati hidup dengan uangnya merupakan jenis yang paling ideal, Tu Thian termasuk orang kaya jenis ini.
Seluruh lantai rumah Tu Thian dilapisi dengan karpet berbulu putih yang khusus didatangkan dari negeri jauh yang bernama Persia, ketika orang berjalan melalui lapisan karpet itu maka terasa bagaikan sedang melayang-layang ditengah lapisan kabut putih yang nyaman.
Konon semua perabot rumahnya juga didatangkan dari negeri yang lebih jauh lagi, negeri barat.
Bukan saja tiap benda sangat indah, antik dan menawan, bahkan amat leluasa bila digunakan.
Ambil contoh kursi yang sedang diduduki Cong Hoa sekarang, ukuran kursinya khusus dirancang dan dibuat sesuai dengan perawakan tubuh manusia.
Punggung kursi sedikit dibuat melengkung ke dalam, bikin orang yang mendudukinya serasa bagaikan pedang yang masuk kedalam sarungnya, begitu rapat, begitu pas dan begitu nyaman.
Baru saja duduk dikursi itu, Cong Hoa sudah merasakan kenyamanan yang luar biasa, diam-diam dia punya rencana, bila ada uang nanti dia pun ingin membeli kursi semacam ini untuk dinikmati di dalam rumah.
Ada kursi tentu saja ada meja, meja yang berada dirumah Tu Thian ini jauh lebih hebat, jauh lebih menarik lagi.
Permukaan meja itu bulat, ditengah bulatan meja terdapat pula sebuah bulatan kecil yang bisa diputar, aneka macam hidangan diletakkan pada bulatan kecil ditengah meja itu.
Bulatan meja kecil itu dapat berputar, ketika kau pingin mengambil sejenis hidangan, tidak usah bangkit berdiri, asal kau putar bulatan itu maka hidangan yang kau inginkan segera akan berputar sendiri ke hadapanmu.
Cong Hoa memutar bulatan meja kecil itu tiada hentinya, bukan untuk mengambil hidangan yang ada disitu, dia hanya merasa aneh, lucu dan amat menarik hati.
"Meja ini khusus didatangkan dari negeri barat yang jauh sekali letaknya, sengaja dirancang untuk para bangsawan dan ningrat di negeri barat,"
Tu Thian menerangkan dengan penuh rasa bangga.
"Aku lihat cocok sekali bila digunakan sewaktu bersantap, maka aku telah memberi sebuah nama untuk meja ini."
"Apa namanya?"
"Meja makan ala barat."
"Jadi kursi yang disinipun ada namanya?"
Cong Hoa bertanya keheranan.
"Apakah dinamakan bangku makan raja barat?"
Sambil tersenyum Tu Thian manggut-manggut.
"Kalau begitu rumah makannya disebut rumah raja barat?"
Lanjut si nona cepat.
"Rasanya memang begitu,"
Dengan perasaan riang Tu Thian meneguk habis isi cawannya.
Kembali si kakek penghangat arak menuang penuh cawan araknya kemudian sekali lagi mundur ke samping.
Cawan itu terbuat dari kristal putih, sementara araknya berwarna merah muda.
Ketika arak berwarna merah muda dituang kedalam cawan kristal putih, kelihatan sekali bentuknya bagai bibir basah seorang gadis perawan.
"Cara membuat arak inipun berasal dari negeri barat,"
Kembali Tu Thian menerangkan.
"Apakah dinamakan arak raja barat?"
"Arak itu terbuat dari campuran sejenis arak anggur dengan beberapa macam cairan buah yang diaduk menjadi satu,"
Tu Thian angkat cawannya sambil mengawasi isi cawan dengan termangu.
"Sewaktu diramu, warnanya terdiri dari lima macam warna yang aneka ragam, persis seperti ekor ayam jago, karena itu arak semacam ini dinamakan Khee-wi-ciu arak ekor ayam."
"Khee-wi-ciu?"
Cong Hoa mengalihkan sorot matanya keluar jendela, memandang suatu tempat dikejauhan sana.
"Bila ada kesempatan, mungkin akupun akan berpesiar ke negeri barat itu."
"Kau pasti akan mendapatkan kesempatan ini, kemungkinan itu selalu terbuka untukmu."
"Apakah aku sudah mabuk, atau telinga ku ada penyakitnya?"
Suara Cong Hoa persis seperti orangnya, penuh keraguan dan rasa curiga.
"Aku seakan mendengar ada seseorang sedang mengucapkan perkataan yang amat menarik."
"Kujamin telingamu pasti normal,"
Kembali Tu Thian menenggak arak dicawannya.
"Aku lihat takaran minum arakmu tidak kelewat cetek."
"Maukah kau mengulang sekali lagi perkataan yang menawan itu?"
"Kau pasti akan mendapatkan kesempatan ini, kemungkinan itu selalu terbuka untukmu."
"Heran, aku tahu kalau itu omongan bohong, mengapa kedengarannya selalu nyaman di hati."
"Ini bukan omongan bohong tapi kata yang sejujurnya!"
Tu Thian menegaskan dengan wajah serius.
"Kaupun mesti perhatikan, tempat yang ingin kudatangi bukan dapur dirumahmu tapi sebuah tempat yang jauh sekali."
"Jangan bilang kau akan ke negeri barat untuk mengambil kitab seperti dalam cerita See-yu, mau belajar falsafat ajaran Khong-hu-cu pun tidak jadi soal,"
Ujar Tu Thian sambil menatap Cong Hoa serius.
"Asal kau selesaikan dulu satu hal."
Tiba-tiba Cong Hoa tidak bicara lagi, dengan sepasang matanya yang bulat besar dia awasi wajah Tu Thian, matanya mirip dengan bintang yang terang di ufuk timur.
"Maksudmu sudah kupahami,"
Kata Cong Hoa kemudian sambil menempelkan cawan araknya disisi hidung.
"Bukankah ada satu masalah yang tidak mampu kau selesaikan sendiri, maka kau minta aku yang tampil, asal dapat kuselesaikan persoalan itu maka kaupun bersedia menghantar aku pergi, bukan begitu?"
"Benar, ada sedikit urusan "kecil"
Yang harus kau selesaikan dulu, terlepas berhasil atau tidak, kau tetap akan peroleh imbalan yang setimpal, soal ke mana kau akan pergi, itu bukan urusanku!"
"Aku boleh tidak kesana?"
Tanya Cong Hoa serius.
"Tentu saja boleh,"
Tu Thian segera bertepuk tangan.
"Hantar tamu."
Kakek penghangat arak segera berjalan menuju ke tepi pintu dan berseru pelan.
"Siapkan kuda."
"Malam sudah menjelang tiba,"
Ujar Tu Thian pula sambil tersenyum.
"Selisih jarak dari sini hingga ke gerbang kota masih butuh waktu setengah jam, maka sering kusediakan kuda untuk digunakan para tamu yang mau berlalu.
"Terima kasih untuk pelayananmu, aku pergi dulu,"
Ujar Cong Hoa sambil bangkit berdiri.
"Tidak menghantar, tidak menghantar."
Dengan satu langkah cepat Cong Hoa keluar dari ruangan, tidak selang berapa saat kemudian terdengar suara ringkikan kuda yang semakin menjauh.
"Aaai..."
Sepeninggal Cong Hoa, Tu Thian menghela napas panjang.
"Kukira asal mencari dia maka urusan segera akan beres, ternyata dia jauh berbeda dengan apa yang tersiar dalam dunia persilatan selama ini."
"Manusia macam apa aku ini di dalam dongeng yang tersiar selama ini?"
Tiba tiba Cong Hoa berseru sambil melompat masuk lewat jendela.
"Haah, bukankah kau sudah pergi?"
Tu Thian kelihatan terkejut bercampur ragu.
"Sudah pergi? Itu mah kudanya yang pergi,"
Cong Hoa duduk kembali di bangkunya.
"Sedang aku? Aku pingin tahu manusia macam apa aku ini didalam dongeng yang tersiar dalam dunia persilatan."
"Latah, angkuh dan ngawur!"
"Aku ngerti maksud kata latah dan angkuh, tapi ngawur.....?"
Cong Hoa memenuhi cawan sendiri dengan arak.
"Kenapa aku dibilang ngawur?"
"Ngawur artinya jauh lebih berani bertindak daripada berani, berani berbuat berani menghadapi!"
Nada ucapan Tu Thian dipenuhi sindiran dan tertawa. Berani berbuat berani menghadapi memang terhitung perbuatan seorang lelaki sejati, bahkan dewasa ini tidak banyak "pendekar"
Yang sanggup melakukan hal tersebut.
Ada budi harus dibalas, ada dendam harus dituntut, kau menghadiahkan satu bacokan golok kepadaku dan akupun membalas satu tusukan pedang untukmu, mana budi mana dendam selamanya terpisah secara jelas, dalam kehidupan seorang pendekar, hal semacam ini adalah lumrah.
......
Selama hidup tidak pernah merugikan diri sendiri, menunggang kuda tercepat, mendaki gunung tertinggi, makan hidangan terpedas, minum arak terkeras, main golok tercepat dan membunuh orang terkejam.
Seperti misalnya Hong Su-nio sang pengantin wanita yang harus kabur pada malam pertama pengantinnya......KoYa-lam sang murid Hoa-san yang dikejar Oh Thi-hoa sampai dua-tiga tahun lamanya dan memaksanya untuk kawin.......
Yan Jit yang pernah mati tujuh kali dan menyamar jadi lelaki untuk merecoki Kweek Taylok.....
Cu toa-siocia Cu Jit-Jit.
yang mengembara hampir tiga puluh tahun dengan Sim Long, So Yong-yong si bunga anggrek malam yang dari cinta tumbuh rasa bencinya hingga berusaha membunuh Cho Lu-hiang.
Kesemuanya itu adalah jago-jago persilatan kenamaan yang sangat menggemparkan sungai telaga, mereka adalah pendekar wanita yang sulit dilupakan siapapun, namun bila dibandingkan dengan Cong Hoa, maka terasa mereka ada sedikit kekurangannya....
mereka kurang latah, kurang gila.
Angin malam dipermulaan musim gugur meski tidak terlampau dingin, namun mendatangkan suara yang mengibakan.
"Kau pernah tahu manusia yang bernama Ti Cingling?"
Tanya Tu Thian sambil mene-rawang keluar jendela.
"Ti Siauho bangawan Ti yang memandang harta kekayaan bagaikan sampah, tapi menganggap kuda jempolan dan wanita cantik melebihi nyawa sendiri?"
"Aku tahu,"
Sebuah jawaban yang dingin, hambar dan ringkas.
"Berarti kau pasti tahu juga tentang Nyoo Cing? Dulu dia hanya seorang opas tidak ternama,"
Sikap Tu Thian sedikit agak aneh. Sayang Cong Hoa tidak terlalu menaruh perhatian, ketika tahu pun kejadian tersebut sudah lewat sangat lama.
"Aku paling kagum dengan orang ini!"
Seru Cong Hoa penuh semangat.
"Dulu, dia hanya seorang opas kecil, tapi dengan kekuatan dan kemampuan seorang diri dia berhasil membongkar kebusukan yang dilakukan Ti Cingling, bangsawan nomor wahid masa itu."
Tu Thian tidak bicara, pelan-pelan dia letakkan kembali cawannya ke meja, seakan ada satu masalah serius yang sedang dipikirkan dan dipertimbangkan.
Masalah serius apa yang membuatnya berpikir begitu serius?
Rasa ingin tahu Cong Hoa semakin bertambah, apalagi persoalan tersebut sudah menyangkut masalah Nyoo Cing dan Ti Cing-ling.
"Aku minta kau pergi menolong Ti Cing-ling!"
Akhirnya sepatah demi sepatah kata Tu Thian berbisik. Cong Hoa tertegun, sampai lama kemu-dian dia baru berbisik.
"Tampaknya kau sudah mabuk berat..."
"Tidak, dia tidak mabuk!"
Sela kakek penghangat arak sambil memenuhi cawan Tu Thian dengan arak.
"Berarti dia pasti sedang sakit,"
Sambung Cong Hoa tertawa.
"Hanya pikiran orang yang sedang sakit ngawur dan tidak waras, hanya orang macam begini yang senang mengigau dan bicara tidak karuan."
"Sungguh tidak beruntung dia pun sama sekali tidak sakit,"
Kembali si kakek berkata sambil tertawa.
"Kalau begitu aku sendiri yang lagi bermimpi?"
"Malam belum larut, kaupun belum tidur, dari mana bisa bermimpi?"
Ujar Tu Thian sambil mengangkat cawannya.
"Daripada kau kebingungan, biar aku saja yang menuturkan masalahnya,"
Kakek penghangat arak akhirnya mengambil tempat duduk dan menuang secawan arak untuk diri sendiri.
"dulu ada sebuah negeri di timur jauh yang amat jauh dan misterius..." ................. Konon keluarga bangsawan di negeri misterius itu bila mati, jenasahnya selalu diawetkan dengan sejenis ramuan rahasia, kemudian seluruh tubuhnya diperban dengan memakai sejenis kain yang khusus. .............. Setelah melalui kedua proses pengawetan itu, mereka menyebut jenasah itu sebagai "Mummi". .............Mereka pun menyimpan "mummi"
Itu ke dalam sebuah peti berbentuk kotak.
........
dibawah bimbingan dan pengawasan seorang Hoatsu, mummi itu dikirim ke dalam sebuah bangunan piramida yang besar dan tinggi dan menyimpannya disitu.
........Konon bila dilakukan semua upacara ritual itu, biar sudah melewati ratusan bahkan ribuan tahun pun, dalam suatu kondisi dan situasi tertentu, mummi itu dapat bangkit dan hidup kembali.
"Ramuan dan resep rahasia pembuatan mummi itu dibawa masuk kenegeri kita oleh seorang pendeta asal negeri Thian-tok (India) dan konon akan dipersembahkan kepada Baginda raja,"
Si kakek menurut ceritanya dengan meneguk cawan arak ke tujuh.
"Tapi begitu memasuki wilayah negeri kita, tiba-tiba pendeta itu hilang lenyap tidak berbekas,"
Lanjut Tu Thian.
"Kabar beritanya hilang begitu saja bagai uap air yang lenyap di udara."
"Biarpun lenyap tidak berbekas, sebelumnya pasti ada orang yang pernah bersua dengannya bukan?"
Tanya Cong Hoa.
"Benar, memang ada, dia adalah Ti Cing-ling."
"Ti Cing-ling?"
Seru Cong Hoa tercengang.
"Benar, dia adalah utusan rahasia yang dikirim Sri baginda untuk menjemput pendeta itu, jadi hanya Ti Cing-ling seorang yang tahu jejak pendeta itu."
"Karenanya kalian minta aku untuk pergi menolong Ti Cing-ling?"
Ujar Cong Hoa sambil mengawasi kakek itu dan Tu Thian lekat-lekat.
"Tapi apa hubungannya urusan ini dengan kalian berdua?"
"Gara-gara persoalan ini, sudah hampir dua puluh tahun lamanya kami hidup mengasingkan diri dan menyembunyikan identitas asli,"
Kata si kakek sambil menghela napas panjang.
Cong Hoa menyumpit sepotong daging dan dikunyahnya perlahan-lahan, dia seperti mencoba meresapi apa yang dituturkan si kakek barusan.
Berapa saat kemudian dia baru berkata.
"Sudah dua puluh tahun? Aku dengar pada dua puluh tahun berselang, ketika Ti Cing-ling berhasil dijebloskan ke dalam penjara besar oleh Nyoo Cing, dua orang tokoh kenamaan dalam kerajaan pun ikut hilang lenyap secara tiba-tiba..."
Ditatapnya Tu Thian lekat-lekat, kemu-dian terusnya.
"Yang seorang adalah pengawal kelas satu dari istana terlarang, Tu Bu-heng."
"Satu tusukan pedang tanpa meninggalkan jejak, Tu Bu-heng,"
Sambung Tu Thian.
"Benar,"
Kata Cong Hoa manggut manggut, kemudian sambil berpaling ke arah kakek penghangat arak, lanjutnya.
"yang lain adalah wajah besi berhati lembut."
"Un-hwee sianseng,"
Sambung sang kakek.
"Yaa, aku dengar Un-hwee sianseng adalah ketua mahkamah termuda dalam sejarah kerajaan, sejak berusia dua puluh lima tahun sudah memangku jabatan, orang kejaksaan menyebutnya Un It-to, konon ilmu goloknya luar biasa dahsyat dan cepatnya!"
Lalu sambil menatap tajam wajah kakek itu, dia melanjutkan.
"Apa yang kuucapkan tidak keliru bukan Un-hwee sianseng?"
"Tepat sekali!"
Un-hwee sianseng manggut-manggut.
"Sungguh tidak kusangka setelah hidup mengasingkan diri hampir dua puluh tahun lamanya, masih ada juga orang yang teringat akan diriku."
Un-hwee sianseng berusia empat puluh tujuh tahun, dia adalah petugas mahkamah agung yang memegang peran penting dalam penyelidikan kasus besar.
Yang membuat banyak orang tidak habis mengerti adalah disaat namanya makin mero-ket dan jabatannya makin memegang peranan penting, tahutahu di usianya yang kedua puluh tujuh dia telah menyerahkan jabatannya kepada orang lain, bahkan sejak itu kabar beritanya hilang lenyap tidak berbekas.
Dibawah sinar lentera, wajah Un-hwee sianseng kelihatan jauh lebih tua dari usia sebenarnya.
.........
Alasan apa yang membuat wajahnya nampak jauh lebih tua dari usia yang sebenarnya?
Apakah lantaran dia terlalu banyak membunuh orang?
Sementara itu Cong Hoa telah berpaling ke arah Tu Thian, kemudian ujarnya lagi.
"Sinar pedang berkelebat, pinggang putus darah berhampuran, tiada bekas tertinggal dibadan... apakah kau adalah Tu Bu-heng?"
Tiba-tiba tampak cahaya tajam berkelebat lewat, entah sedari kapan tahu-tahu Tu Bu-heng sudah meloloskan sebilah pedang.
"Pedang ini sudah dua puluhan tahun tidak pernah menghirup darah,"
Ujar Tu Bu-heng kemudian sambil mengamati pedangnya.
"Tidak dinyana masih juga ada orang yang mengenalinya."
"Mengapa kalian berdua meninggalkan jabatan dan hidup mengasingkan diri justru disaat kedudukan kalian sedang tinggi dan pamor kalian sedang tersohor?"
"Aaai..... apa lagi kalau bukan lantaran Ti Cing-ling,"
Sahut Tu Bu-heng sambil menghela napas.
"Kami mendapat perintah rahasia dari Sri Baginda untuk menyelidiki kabar berita pendeta dari Thian-tok itu,"
Sambung Un-hwee sianseng perlahan.
"Tapi biarpun sudah peras tenaga dan keringat hampir tiga bulan lamanya, jangan lagi bayangan tubuhnya, bau kentutnya pun tidak berhasil kami temukan."
Gagal menyelesaikan tugas yang dititahkan sang Kaisar berarti harus potong kepala, sambil memegang tengkuk sendiri Tu Bu-heng berkata lebih jauh.
"Mengingat jasa kami bagi kerajaan sudah terlalu banyak maka hukum pacung dapat ditiadakan, namun karena kegagalan tersebut terpaksa kami harus lepaskan semuajabatan dan hidup mengasingkan diri."
"Oleh karena itu kalian hidup bersem-bunyi disini karena Ti Cing-ling memang berada dalam penjara besar di Lam-koen-ong-hu?"
Sela Cong Hoa cepat.
"Tapi ada satu hal yang membuat aku tidak habis mengerti, persoalan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kalian, mengapa kalian tetap ngotot akan menolong Ti Cingling?"
"Haai... sebelum pengharapan kami terpenuhi, masalah itu terasa masih mengganjal di dalam hati, membuat kami selalu tidak enak makan tidak nyenyak tidur."
"Oooh rupanya begitu,"
Cong Hoa manggut manggut.
"Dua puluh tahun berselang kalian tidak berhasil mengorek keterangan dari mulutnya, memangnya dua puluh tahun kemudian kalian punya cara untuk mendapatkan keterangan?"
"Kami berpendapat, sekeras apapun hati seseorang, bila sudah merasakan siksaan dan penderitaan selama dua puluh tahun dalam penjara, paling tidak pikiran dan hatinya akan berubah lebih lunak,"
Un-hwee sianseng menerangkan.
"Persoalannya sekarang, mengapa kalian tidak turun tangan sendiri melakukan pertolongan, mengapa harus aku yang tampil?"
"Karena Lo Kay-sian tidak takut kepada siapa pun, namun cuma takut kepadamu."
Padahal Ti Cing-ling sudah ditolong orang semenjak tiga belas tahun berselang, mengapa Tu Bu-heng dan Un-hwee sianseng masih tetap bersikeras minta Cong Hoa menyerbu ke penjara besar untuk menolong orang itu?
Apa yang sebenarnya terjadi dan ada rahasia apa dibalik kesemuanya itu?
BAB 3.
Bertemu lagi dengan Nyoo Cing.
Hujan di musim gugur baru saja berhenti, suasana di dalam hutan selain gelap pun amat becek dan lembab, bukan saja sinar matahari di siang hari tidak mampu menembus masuk, dimalam haripun tidak bisa tampak bintang dan rembulan, tidak heran kalau tidak seorang manusia pun berani memasuki hutan itu kelewat dalam, orang dusun disekitarnya juga karena takut, bisa tersesat hingga selama hidup jangan harap bisa keluar dari hutan itu dalam keadaan selamat.
Orang lain demikian takut, namun Nyoo Cing tidak takut.
Sejak kecil dia memang suka berjalan menelusuri hutan belantara itu, tatkala mencapai usia sembilan tahun, dia bahkan saban hari bermain satu dua jam lamanya dalam hutan itu, malah kadangkala ditengah malam buta dia juga berani menerobos masuk ke dalam hutan.
Tidak seorang pun tahu apa yang dia lakukan didalam hutan itu, dia pun tidak pernah mengijinkan siapa pun turut serta bersamanya.
Hingga dua puluh tahun berselang, gara-gara harus berduel melawan Ti Cing-ling, saat itulah dia baru mengajak Lu Siok-bun pindah ke situ.
Bila menelusuri jalan setapak dalam hutan lebat itu, setelah berbelok kiri kanan hampir setengah jam lamanya, maka akan tiba ditepi sebuah mata air yang muncul jauh ditengah hutan belantara, disamping mata air itulah berdiri sebuah rumah kayu kecil yang sudah kuno dan bobrok.
Setelah lewat puluhan tahun lamanya, hari ini untuk pertama kalinya Nyoo Cing datang kembali ke situ, tampak bangunan rumah kecil itu masih berdiri seperti sedia kala, tapi bagaimana dengan manusia yang dirindukan?
Pintu rumah masih berada dalam keadaan terkunci, dibalik ruangan hanya terdapat sebuah ranjang, sebuah meja, sebuah bangku, sebuah mangkuk kasar, sebuah lentera dan sebuah anglo yang terbuat dari tanah liat.
Semua benda sudah dipenuhi debu, sarang labalaba hampir menyelimuti seluruh sudut ruangan, lumut hijau yang tebal bagai permadani terhampar dipintu depan, hal ini membuktikan kalau sudah sangat lama tempat itu tidak pernah dijamah manusia.
"Dulu, sewaktu masih ada orang tinggal disini, tempat ini pasti amat sederhana, sepi dan susah,"
Tidak kuasa Lu Siok-bun bertanya kepada Nyoo Cing.
"Tempat apa ini? Kenapa kau bisa menemukan tempat seperti ini?"
"Karena dulu hampir setiap hari aku berada disini, kadangkala dalam sehari bisa datang berkunjung hampir dua kali."
"Mau apa datang kemari?"
"Datang menjenguk seseorang!"
"Siapa?"
Nyoo Cing termenung berapa saat lamanya, perasaan hormat dan tersiksa tiba-tiba melintas diatas wajahnya, lama kemudian dia baru menjawab, sepatah demi sepatah kata.
"Aku datang menjenguk ayahku."
Kemudian sambil mengawasi lapisan lumut diluar jendela, dia melanjutkan.
"Disaat dia orang tua akan meninggal dunia, hampir setiap hari aku selalu berdiri di muka jendela ini, menunggu dia datang menengokku."
Lu Siok-bun nampak agak tertegun.
Sejak Nyoo Cing masih bayi, dia sudah hidup didusun tepi hutan lebat ini, ibunya selalu hidup menjanda dan bekerja sebagai tukang cuci baju dan menjahit pakaian orang untuk menyambung hidup.
Selama ini Lu Siok-bun tidak tahu kalau Nyoo Cing mempunyai ayah, orang dusun pun tidak ada yang tahu.
Sebenarnya dia ingin bertanya kepada Nyoo Cing, mengapa ayahnya hidup seorang diri ditengah hutan lebat dan tidak mau bertemu dengan orang lain?
Namun dia tidak bertanya.
Setelah melalui pelbagai pengalaman hidup, dia sudah belajar ikut memikirkan orang lain, belajar menyimpan rahasia orang lain, tidak berusaha mencari tahu rahasia orang dan tidak mengajukan pertanyaan yang orang lain enggan untuk menjawab.
Untung saja Nyoo Cing mengatakannya sendiri.
...
Walaupun mereka tidak pernah menikah secara resmi, namun Nyoo Cing dan Lu Siok-bun selalu hidup bersama layaknya suami istri.
...
Diantara suami istri biasanya memang tidak akan saling merahasiakan sesuatu.
"Ayahku berwatak kasar dan berangasan, musuh besarnya tersebar diseantero jagad, ketika aku dilahirkan, orang tua kami bersembunyi dalam hutan karena kuatir disatroni orang,"
Cerita Nyoo Cing dengan wajah sedih.
"Ketika aku berusia delapan tahun, ayahku terluka sangat parah sehingga harus mengungsi ke dalam hutan untuk merawat lukanya, saat itulah aku baru berkesempatan untuk bertemu dengannya."
"Ap luka ayahmu berhasil disembuhkan?"
Dengan sedih Nyoo Cing menggeleng.
"Setelah dia mengungsi ke dalam hutan itu, para musuh besarnya yang tersebar di seantero dunia tidak pernah berhasil menemukannya kembali. Itulah sebabnya ketika kita mengha-dapi ancaman dulu, aku pun membawamu mengungsi kemari, sebab tidak akan ada orang yang bisa menemukan tempat ini."
Malam sudah semakin kelam, suasana disana amat gelap karena tidak ada lentera yang menerangi ruangan, ditengah kegelapan itulah Nyoo Cing mengenang kembali masa lalunya yang penuh dengan masalah.
------"Aku sengaja membawamu kemari karena setelah kepergianku nanti, tidak mungkin ada orang yang bisa menemukan dirimu disini."
Tiba-tiba Nyoo Cing merasa bibirnya seakan berubah jadi dingin dan membeku, namun dia berusaha keras untuk mengendalikan gejolak perasaan hatinya.
Ketika dia berhasil mengalahkan Ti Cing-ling dan balik kembali ke rumah gubuk ditengah butan itu, bukan Lu Siok-bun yang ditemukan didalam rumah gubuk itu, melainkan hanya selembar kertas.
Sepucuk surat ancaman yang isinya berbunyi begini.
"Karena kau menawan Ti Cing-ling, maka aku menawan Lu Siok-bun. Tertanda. Cing-liong-hwee"
Rembulan masih memancarkan sinarnya yang redup di angkasa, malam itu penuh bintang, angin malam pun berhembus kencang.
Sinar rembulan yang redup menembusi daun-daunan yang lebat, memancar masuk ke dalam ruang gubuk melalui jendela dan menerangi wajah Nyoo Cing yang murung.
Angin kencang berhembus menggoyangkan daun dan ranting sehingga menimbulkan suara gemerisik yang nyaring.
Tiba tiba Nyoo Cing merasakan munculnya segulung hawa panas dari belakang punggungnya, hawa panas itu segera menyebar ke seluruh tubuh dan seakan hendak mencabik cabik tubuhnya.
Dengan perasaan kaget Nyoo Cing berpaling, dia menyaksikan ada segulung semburan api telah menerjang masuk melalui pintu depan, semburan api itu bagaikan sebuah toya baja yang membara, langsung disodokkan keatas tubuhnya.
Bara api itu luar biasa panasnya, jangan lagi tubuh manusia, besi baja pun akan meleleh bila tersembur olehnya.
Belum lagi semburan api itu mengenai tubuhnya, Nyoo Cing sudah merasakan hawa panas yang luar biasa.
Buru buru dia menyambar permukaan meja dan menekannya ke bawah, tekanan yang kuat membuat kaki meja patah jadi dua.
Menggunakan kesempatan itu Nyoo Cing menerobos ke bawah untuk berkelit, semburan api itu dengan cepat menyambar lewat persis dari atas punggungnya.
Untung sejak kecil dia sudah melatih diri dengan tekun, reaksinya sangat cepat dan pendengarannya tajam, coba kalau bukan begitu, saat ini mungkin dia sudah mati tersembur kobaran api dahsyat itu.
Biarpun berhasil lolos dari maut, tidak urung baju yang dikenakan hangus sebagian, bahkan lamat-lamat dia merasakan punggungnya amat sakit.
Ketika gagal mengenai sasarannya, semburan api itu segera lenyap dibalik pohon-pohonan sana, namun sebagai gantinya muncul semburan air yang kuat dari balik jendela, semburan air itu menyambar datang dengan cepatnya, bahkan membawa suara gemuruh bagaikan ada beribu-ribu kuda yang sedang lari bersama.
Kembali Nyoo Cing berjumpalitan meloloskan diri dari sergapan semburan air itu, sementara tubuhnya masih melambung di udara, semburan api kembali muncul dan langsung menghantam tubuhnya yang masih berada di udara.
Pada saat bersamaan, serangan air muncul lagi dari arah bawah.
Tampaknya serangan air dan api itu berusaha menggencet tubuh Nyoo Cing yang sedang melambung, kini dia kehabisan jalan dan terdesak hingga musti mundur ke sudut ruangan.
Tampaknya tubuh Nyoo Cing segera akan tertelan oleh gulungan api dan air yang datang menyerang secara dahsyat itu.
Nyoo Cing memiliki sebuah kelebihan ketika sedang bertarung melawan orang, setiap waktu setiap saat dia bisa menyerang secara nekad, bila dia sudah nekad, biasanya cara yang digunakan jauh lebih nekad dari siapa pun.
Yang dia pergunakan bukan ilmu silat yang benar, belum pernah ada orang melihat dia bertarung menggunakan jurus silat yang benar, begitu pula ketika sedang menghadapi ancaman yang lain, modalnya hanya satu, nekad!
Tapi kali ini dia dibuat kelabakan, karena yang dihadapinya sekarang sama sekali berbeda, bukan manusia yang harus dihadapi melainkan semburan air dan api yang maha dahsyat.
Bagaimana mungkin dia bisa nekad?
Bagaimana mungkin dia bisa mengadu jiwa bila lawannya adalah benda yang tidak bernyawa?
Tapi Nyoo Cing tidak ambil perduli, dia tetap nekad, dia tetap menerjang tanpa memperdulikan nyawa sendiri.
Tentu saja yang dia terjang bukan semburan api, juga bukan semburan air, tiba-tiba ia membalikkan badan lalu menumbukkan batok kepalanya ke atas dinding ruangan, tumbukan yang keras sekali.
Dia harus menumbuk dinding itu kuat-kuat karena dinding yang tebal tidak akan jebol bila tidak diterjang dengan tenaga besar.
"Blaaaam....!"
Dinding tembok itu seketika jebol dan rontok ke tanah, namun sebagai gantinya darah segar menyembur keluar dari atas jidat Nyoo Cing.
Tapi dia tidak ambil perduli, lebih baik jidat sendiri terluka daripada mati konyol karena dibakar semburan api.
Dengan cepat Nyoo Cing merangkak bangun sambil bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.
"Bagus, bagus sekali, ternyata Nyoo Cing memang tetap nekad!"
Seseorang berbaju putih berwajah bersih berseru memuji dengan suaranya yang dingin.
Nyoo Cing segera berpaling, ternyata orang itu berdiri di bawah sebatang pohon, wajahnya tampak dingin membeku dan dihiasi dengan mimik muka senyum tidak senyum.
Begitu bertemu dengan orang itu, kontan Nyoo Cing merasakan tubuhnya dingin membeku, tubuhnya seolah olah sudah terperosok ke dalam bongkahan salju yang sudah berusia ribuan tahun.
Wajah yang dingin dengan mimik muka senyum tidak senyum itu sangat dikenal olehnya, biar sudah berubah jadi abu pun Nyoo Cing tidak bakal melupakan raut wajah orang itu.
Karena orang inilah terpaksa dia harus menggunakan Kait perpisahan.
Karena orang inilah terpaksa dia harus berpisah dengan Lu Siok-bun.
Orang ini tidak lain adalah..
.Ti Cing-ling.
"Sudah dua belas tahun tujuh bulan empat belas hari berlalu,"
Ujar Ti Cing-ling dengan nada dingin.
"Selama ini apakah kehidupanmu amat gembira?"
"Gembira, gembira sekali!"
Jawab Nyoo Cing sambil berusaha mengendalikan amarahnya.
"Bagaimana denganmu?"
"Walaupun kehidupanku jauh lebih baik ketimbang sewaktu hidup dalam penjara, namun setiap hari aku selalu paksakan diri untuk bergabung dengan Un-lo (kelembutan)"
Entah sejak kapan tahu-tahu Ti Cing-ling telah meloloskan sebilah golok yang tipis melebihi kertas, kemudian terusnya.
"Karena aku percaya suatu saat nanti kita bakal bertemu kembali."
Sekilas cahaya biru memancar keluar dari tubuh golok, sekilas cahaya yang sangat tawar, setawar cahaya fajar yang baru muncul diufuk timur.
...
Golok tipis itu adalah sebilah golok pembunuh, namun dia memberi nama senjata pembunuh itu sebagai kelembutan.
Dengan pandangan tajam Nyoo Cing mengawasi "kelembutan", sementara Ti Cing-ling mengawasi Nyoo Cing tanpa berkedip.
"Kini aku sudah mempersiapkan golokku, bagaimana denganmu?"
Jengek Ti Cing-ling dengan senyum tidak senyum.
"Mana kait perpisahanmu?"
Secara tiba-tiba Nyoo Cing merasa tidak mampu berbicara lagi, sebab dia sadar selama belasan tahun terakhir, genggamannya sudah bukan memegang kait perpisahan, bukan juga golok atau pedang melainkan cawan, cawan arak.
Dengan satu getaran ringan, pedang "kelembutan"
Kembali lenyap dari genggaman Ti Cing-ling.
"Dua puluh tahun berselang kau sudah kalah, bukan kalah oleh ilmu silatku,"
Nyoo Cing menatap tajam wajah Ti Cing-ling.
"Kau kalah karena kesombonganmu, yang tidak pernah memandang sebelah matapun kepada orang lain."
Ti Cing-ling memang seorang jago yang kelewat sombong, tapi dia mempunyai alasan yang nyata untuk bersikap sombong.
Kepandaian silatnya memang tidak nanti bisa ditandingi Nyoo Cing, diapun tidak menggunakan ilmu pedang yang luar biasa untuk menghadapi lawannya, senjata yang dipergunakan hanya sebilah golok yang amat pendek dan amat tipis.
"Kelembutan"
Tidak jauh berbeda dengan senjata Kait perpisahan milik Nyoo Cing, sama-sama hasil tempaan seorang empu yang sama, karena salah menempa sebilah pedang maka muncullah senjata kait perpisahan dan golok kelembutan.
Kepandaian Ti Cing-ling dalam memakai golok kelembutan telah mencapai tingkat yang luar biasa, setiap serangan dapat dia lancarkan sesuai dengan kehendak hatinya, seakan-akan gerakan golok itu sudah menyatu dengan jalan pikirannya, kemana dia berpikir, kesanalah golok itu menyambar, jika dia ingin menusuk ulu hati seseorang, tidak nanti golok itu akan melenceng biar setengah inci pun.
Tampak cahaya golok berkelebat lewat, ujung golok segera menembusi jalan darah ci-ti-hiat di tubuh Nyoo Cing, karena memang tempat itulah yang ingin Ti Cingling tusuk dengan golok kelembutannya.
Dia tidak ingin Nyoo Cing mati kelewat cepat, dia pun tahu bila jalan darah Ci-ti-hiat seseorang sampai tertusuk, maka separuh badan korbannya akan kesemutan, kaku dan akhirnya kehilangan rasa, dan dia tidak akan mampu mengerahkan tenaganya lagi.
Sebetulnya rencana dan jalan pemikirannya sudah tepat dan bagus, sayang dia tidak menyangka kalau Nyoo Cing bukan saja tidak menghindar, sebaliknya justru malah menerjang ke depan dengan penuh kekuatan.
Tidak ampun golok kelembutan langsung menusuk diatas jalan darah ci-ti-hiat hingga tembus ke dalam tulang belulangnya, menanti dia ingin mencabut goloknya, cahaya kilat yang memancar keluar dari senjata kait perpisahan telah menyambar tiba diatas tenggorokannya.
...
Siapa sombong dia pasti kalah, perkataan ini memang sangat tepat, sudah sewajarnya bila diingat oleh setiap manusia.
"Siapa sombong dia pasti kalah..."
Ti Cing-ling berbisik hambar.
"Aku telah mengorbankan waktu hampir dua puluh tahun lamanya untuk menebus hal ini."
Cahaya rembulan memancarkan sinarnya menembusi hutan belukar, menyinari jalan setapak yang tidak rata, menyinari pula wajah Nyoo Cing.
Tiba tiba satu perubahan mimik muka yang sangat aneh melintas diatas wajahnya.
Biarpun Ti Cing-ling hanya berdiri bermalas-malasan disitu, namun dia seperti mendatangkan tenaga tekanan seberat ribuan kati diatas dadanya.
Seandainya saat itu ada orang berdiri di belakang Nyoo Cing, dia pasti akan melihat kalau pakaiannya sudah basah kuyup oleh peluh yang jatuh bercucuran.
Sekalipun Ti Cing-ling belum menggerakkan senjata goloknya, bahkan dia masih berdiri agak jauh dihadapannya, namun secara lamat-lamat Nyoo Cing dapat merasakan hawa golok yang luar biasa tajamnya.
...
Dia merasa seluruh tubuh Ti Cing-ling seolah merupakah sebilah golok yang sedang diasah, dari seluruh tubuhnya memancarkan hawa pembunuhan yang mengerikan.
Mimpi pun Nyoo Cing tidak menyangka, setelah berpisah belasan tahun bukan saja Ti Cing-ling bertambah hebat bahkan berubah lebih tajam dan menggidikkan hati.
Angin malam berhembus lewat, mengibarkan ujung baju Ti Cing-ling, biarpun kakinya sama sekali belum bergeser, namun Nyoo Cing merasa seakan lawannya sudah mulai bergerak.
Dia tahu Ti Cing-ling telah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, mengubah tenaga dalam menjadi hawa setajam golok, membuat orang lain hanya bisa merasakan tekanan hawa goloknya yang mengerikan dan melupakan kehadiran dari wujud tubuhnya.
Tubuhnya seolah-olah telah menyatu dengan hawa golok, hawa tekanan maha dahsyat yang menyelimuti seluruh jagad, itulah sebabnya walaupun tidak bergerak, orang merasa dia sedang bergerak, ketika dia mulai bergerak, orang mengira dia sama sekali tidak bergerak.
Angin malam meski berhembus amat kencang, namun seluruh jagad seolah-olah telah membeku.
Nyoo Cing merasakan butiran keringat jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, dia merasa seluruh jagad telah berhenti, sama sekali tidak bergerak, bahkan waktu pun seperti ikut berhenti berputar.
Dia seakan merasa ada sebuah tangan tanpa wujud yang sedang mencekik tengkuknya, membuat dia tidak mampu bernapas.
Tidak seorang pun bisa membayangkan betapa tersiksa dan menderitanya Nyoo Cing, tapi pada saat itulah, tiba-tiba dia menghem-buskan napas lega kemudian menatap wajah Ti Cing-ling dengan pandangan tercengang.
Pada detik yang terakhir, disaat mati hidupnya segera akan ditentukan, tiba-tiba hawa golok yang mengerikan itu hilang lenyap tidak berbekas.
Sudah jelas Ti Cing-ling telah bersiap-siap menghabisi nyawa Nyoo Cing, bahkan dia bisa mencabut nyawa musuhnya secara gampang, mengapa secara tiba-tiba dia lepaskan kesempatan baik itu dengan begitu saja?
Dengan perasaan tidak habis mengerti Nyoo Cing mengawasi wajah Ti Cing-ling.
"Aku masih ingat, bulan sepuluh tanggal tujuh merupakan hari pertunanganmu dengan Lu Siok-bun"
Ujar Ti Cing-ling.
"Juga merupakan kali pertama Lu Siokbun memasuki rumah kayu kecil ini."
Nyoo Cing terbungkam, hatinya serasa diiris-iris dengan beribu bilah pisau tajam.
"Hari ini adalah bulan sembilan tanggal dua puluh enam, lewat berapa hari lagi merupakan ulang tahun pertunanganmu dengan Lu Siok-bun.
"suara Ti Cing-ling seolah datang dari tempat yang jauh sekali.
"Apakah kau ingin bertemu dengannya?"
Rindu memang merupakan siksaan batin yang amat berat bagi umat manusia.
Bagaimana pula rasanya bila seseorang berusaha mengendalikan rasa rindu yang mencekam hatinya?
Itu berarti kau harus memendam rasa cinta mu kedalam hatimu yang terdalam, harus dipendam dibalik tulang belulangmu.
Jika "Rindu"
Adalah sebilah golok yang mengiris hati maka "tidak berani rindu"
Merupakan sebilah golok yang sedang mengiris tulang belulangmu.
"Dia"
Mengiris dirimu dari dasar tulang belulang yang paling dalam, sekali demi sekali menyayat terus tiada hentinya, ketika kau gunakan arak untuk membuatnya membeku maka hanya penderitaan yang semakin menghimpit perasaan hatimu.
Nyoo Cing sesungguhnya bukan seseorang yang banyak pikiran dan gampang murung, dia selalu berpandangan terbuka terhadap masalah apa pun, mau kumpul, mau pisah, baginya bukan siksaan yang berat, sebab dia bisa menerima semua kenyataan.
Baginya, kehidupan manusia di dunia ini hanya berlangsung sesaat, seandainya dapat berkumpul, berapa lama kau bisa berkumpul?
Seandainya harus berpisah, berapa lama perpisahan itu harus berlangsung?
Cepat atau lambat semuanya akan beres sendiri, buat apa dia mesti memandang serius hal seperti itu?
Sekarang dia sadar bahwa pandangannya dulu adalah keliru besar.
Hubungan antar manusia ibarat bintang meteor yang melintas diangkasa, kau hanya akan menjumpainya dalam waktu sekejap, karena semuanya segera akan berlalu.
Nyoo Cing dapat menerima pandangan seperti ini, tapi dia pun bukan manusia yang tidak berperasaan.
Walaupun Lu Siok-bun sudah tidak berada disana, namun gerak-geriknya, luapan perasaan hatinya, keharuman tubuhnya seakan tetap tertinggal di atas ranjang, tersisa ditepi meja, tertinggal disetiap sudut ruangan rumah kayu itu.
Perasaan itu pun masih tertinggal di hati Nyoo Cing, dalam benaknya, dalam pandangan nya, dalam pikirannya, dia selalu dan selamanya tetap tertinggal pada dirinya.
Sekalipun dia tahu tidak mungkin istrinya akan balik, namun dia seperti masih mendengar dengus napasnya, tetap bisa merasakan kehadirannya.
Itulah sebabnya kenangan dalam kesepian telah dia ubah menjadi kenikmatan dalam kehangatan.
"Kau ingin bertemu dengannya?"
Nyoo Cing menatap tajam wajah Ti Cing-ling, bukan curiga akan keseriusan perkataan itu, tapi dia sedang menganalisa apa maksud dan tujuan perkataannya.
Ti Cing-ling adalah anggota perkumpulan naga hijau, dia pasti tahu kasus penculikan ini.
Lu Siok-bun jelas diculik oleh orang-orang perkumpulan naga hijau, sudah pasti Ti Cing-ling mengetahui kabar beritanya, tapi pada saat ini mengapa dia mengajukan pertanyaan seperti itu?
"Tadi, seharusnya kau bisa melihat, kalau aku ingin membunuhmu maka hal itu bisa kulakukan segampang memotong tahu,"
Sekulum senyuman licik menghiasi ujung bibir Ti Cing-ling.
"Tapi sebelum kulakukan hal tersebut, ada satu hal perlu kau ketahui, kini kau sudah menjadi seorang ayah."
Perkataan tersebut ibarat sebuah martil yang menghantam batok kepala Nyoo Cing keras-keras, sorot mata kegembiraan bercam-pur perasaan ngeri segera terpancar keluar dari balik matanya.
Dia gembira karena Lu Siok-bun terbukti belum mati, bahkan melahirkan seorang anak untuknya.
Dia merasa ngeri karena secara lamat lamat sudah dapat menebak maksud dan tujuan Ti Cing-ling.
Tiba-tiba muncul segulung kabut tebal dari balik hutan, kabut itu perlahan-lahan melayang datang dan menyelimuti sekeliling tempat itu.
Dibalik tebalnya kabut, dia melihat ada sesosok bayangan manusia sedang berkelebat.
Senyuman licik yang menghiasi ujung bibir Ti Cing-ling nampak semakin menebal, senyuman itu terasa semakin menggidikkan hati.
Tapi Nyoo Cing tidak ambil perduli, dia masih mengawasi bayangan manusia dibalik kabut tebal itu tanpa berkedip.
Kabut tebal telah menyelimuti angkasa, membungkus seluruh tubuh Nyoo Cing, menyelimuti pula seluruh hutan belukar itu.
Bayangan manusia yang muncul dari balik kabut kelihatan makin lama semakin mendekat sebelum akhirnya muncul dihadapannya.
Ternyata seorang gadis muda!
Dia memiliki pandangan mata yang lembut dan bening bagaikan sinar matahari dimusim semi.
Rambutnya halus mengkilap, pinggangnya ramping menawan, tidak ubahnya seperti ranting pohon liu yang berhembus angin sepoi.
Perempuan itu bukan jenis perempuan yang bisa mendatangkan rangsangan napsu ketika dipandang kaum lelaki, sebab pria mana pun yang pernah bertemu dengannya, dia seperti akan melupakan segalanya, melupakan semua persoalan kecuali raut mukanya.
Dan sekarang, perempuan itu sedang berjalan keluar dari balik kabut.
Berjalan dengan langkah yang amat lambat.
Meskipun perempuan itu melangkah dengan santai, namun gerak-geriknya menampilkan keindahan dan keanggunan yang menawan.
Pakaian yang dia kenakan bukan pakaian mewah, dia tidak mengenakan perhiasan apa pun, sebab benda-benda mewah semacam itu sama sekali tidak berguna baginya, sama sekali tidak akan mempengaruhi keanggunannya.
Betapa pun mahalnya perhiasan dan pakaian, tidak akan menutupi kecerahan dari penampilan tubuhnya.
Betapapun tebalnya dandanan yang dia kenakan juga tidak bakal menambah kecantikan wajahnya.
Kini, dia muncul dihadapan Nyoo Cing.
Begitu bertemu dengan perempuan itu, nyaris Nyoo Cing menjerit keras...betapa miripnya wajah perempuan ini dengan wajah Lu Siok-bun.
Terutama ujung matanya yang memancarkan kekerasan hati, satu penampilan yang mirip sekali dengan istrinya.
Ditengah remang-remangnya cahaya bintang yang menembusi ketebalan kabut, gadis itu seakan sedang mandi dibawah cahaya bintang.
Tangannya begitu lembut dan halus, wajahnya putih bersih dan mulus bagaikan sinar bintang.
Pakaian yang dikenakan berwarna putih, amat ringan, amat tipis, ketika terhembus angin, ujung baju yang tipis itu berkibar tiada hentinya.
Kecantikan wajah gadis ini tidak terlukiskan dengan kata-kata, semacam kecantikan yang mendekati kesempurnaan.
Kecantikan yang mendatangkan rasa mabuk bagi yang memandang, kecantikan yang gampang membuat perasaan manusia terkoyak koyak.
Dengan pandangan mata yang sayu gadis itu balas mengawasi wajah Nyoo Cing, dari balik pandangan matanya itu seakan terlintas perasaan sedih yang mendalam.
Nyoo Cing merasakan hatinya remuk, perasaan hatinya seakan tersayat-sayat, dia ingin sekali menerjang ke muka dan memeluknya erat erat, tapi dia tidak melakukannya karena (diantara mereka berdua seolah sudah dipisahkan oleh sebuah sekat, sebuah dinding pemisah yang amat tinggi dan tebal.
Dinding pemisah itu tidak lain adalah kehadiran Ti Cing-ling.
"Dia dari marga Hoa, bernama U-gi,"
Ti Cing-ling menerangkan. Dari marga Hoa? benarkah dia putriku? Tapi, mengapa wajahnya begitu mirip dengan Lu Siok-bun? Dengan pandangan ragu dan penuh tanda tanya Nyoo Cing melihat Ti Cing-ling.
"Sebetulnya dia dari marga Nyoo, tapi lantaran ibunya kuatir ditertawakan orang karena punya anak tidak punya bapak, maka sebelum kelahirannya, dia telah menikah dengan seorang lelaki yang bernama Hoa Ciok,"
Kembali Ti Cing-ling menerangkan.
Sorot mata Hoa U-gi memancarkan sinar kepedihan yang semakin tebal, setebal kabut yang sedang menyelimuti tempat tersebut.
Nyoo Cing tidak berani menatapnya, dia takut pertahanan batinnya runtuh.
Dia terlebih tidak berani menanyakan tentang kabar berita ibunya, semua pertanyaan, semua perasaan harus disimpan dalam dalam didasar hatinya.
"Dua puluh tahun berselang, sebenarnya kau punya kesempatan untuk membunuhku, tapi hal tersebut tidak kau lakukan,"
Kembali Ti Cing-ling berkata sambil menatap tajam wajah lawannya.
"Maka hari ini, akupun memberi satu kesempatan untukmu, bawalah putrimu dan pergilah dari sini, setahun kemudian bawa senjata kait perpisahanmu, tunggulah aku ditempat ini."
Begitu selesai bicara, bayangan tubuh Ti Cing-ling sudah lenyap dibalik tebalnya kabut.
Kini dalam hutan hanya tinggal Nyoo Cing dan U-gi berdua.
Dia tidak tahu bagaimana harus menghadapi gadis ini, dia tidak tahu apa yang harus diucapkan sekarang?
Menanti dia berpaling kembali, menatap wajah gadis itu sekali lagi, semua kenangan masa lalu yang sudah lama hilang dari pikirannya, kini muncul kembali dihadapan mata.
Oh Thian!
Betapa miripnya wajah nona ini dengan dirinya.
Sekali lagi Nyoo Cing merasakan hatinya hancur lebur.
Ulah CongHoa.
Senja telah menjelang, hanya sebuah cahaya lentera menerangi sebuah ruangan.
Api yang membara dibawah tungku tidak terlalu besar, Lo-kaysian seorang kakek tua sedang menggunakan sebuah garpu besi membakar ikan diatasnya, sambil memanggang ikan, tiada hentinya dia semir tubuh ikan dengan bumbu minyak.
Agaknya seluruh perhatian orang tua itu sedang tertuju pada bakaran ikan, dia seolah tidak memperdulikan suasana disekelilingnya.
Sewaktu Cong Hoa masuk ke dalam, lo-kaysian juga tidak tahu.
Setiap kali sedang memanggang ikan, biar langit runtuh pun dia tidak pernah ambil perduli, sekalipun terjadi peristiwa besar, urusan baru bisa dibicarakan setelah dia selesai membakar ikannya.
Bau harum makin lama semakin menyengat hidung, akhirnya Cong Hoa tidak kuasa menahan diri, dia menghela napas panjang.
"Kelihatannya panggang ikanmu sudah matang?"
Lo Kaysian tidak menggubris, dia tetap membungkam diri.
"Kalau dipanggang lebih lama apa tidak hangus?"
Kembali Cong Hoa bertanya. BAB 4.
"Aaai! Kenapa sih kau mengganggu terus?"
Keluh Lo Kaysian sambil menghela napas.
"Setelah perhatianku terpecah, rasa ikan ini tentu kurang sedap. Biar aku berikan untukmu saja!"
Sambil menyodorkan garpu besi berisi ikan panggang itu kembali Lo Kaysian bergumam.
"Orang yang tidak sabaran, mana mungkin bisa menikmati hidangan lezat?"
"Paling tidak, bagi orang yang tidak sabaran masih bisa menikmati hidangan gratis,"
Sela Cong Hoa sambil tertawa tergelak, tanpa sungkan dia menyambar pula dua guci arak.
"Kau memang seorang teman yang bermuka tebal..."
Sekali lagi Lo Kaysian menghela napas, dia mengambil seekor ikan dan mulai memanggangnya kembali.
"Bertemu manusia macammu, entah kesalahan siapa?"
Cong Hoa benar-benar tidak berlaku sungkan, dia langsung duduk bersila dan mulai melahap ikan panggang itu.
"Caramu makan pun jauh lebih cepat dari kecepatan orang biasa, berhadap manusia macam mu, aku benar benar mati kutu, orang lain baru menghabiskan seekor, kau sudah menghabiskan sepuluh ekor."
Kali ini Cong Hoa yang tidak ambil perduli, dia giat melahap ikan bakar itu, ketika selesai melahap, sorot matanya kembali mengincar ikan yang sedang dibakar Lo Kaysian.
"Sudah matang belum?"
Cong Hoa menelan air liurnya.
"Dimeja sebelah sana masih ada sedikit arak dan hidangan, Hoa toa-siocia, kenapa kau tidak mengisi perutmu dengan hidangan tersebut."
"Mana ada hidangan lain selezat ikan panggangmu?"
Cong Hoa pejamkan matanya seraya menggeleng.
"Telapak beruang pernah kucicipi, ikan paohi pernah kusantap, tapi bila dibandingkan ikan hasil bakaran Lo Kaysian, aku rela melepaskan telapak beruang dan ikan paohi."
"Ooh, tidak kusangka pengetahuanmu soal makan hebat juga!"
Bulan sembilan tanggal dua puluh enam, lewat tengah hari.
Udara hari ini amat cerah, matahari memancarkan sinarnya menerangi empat penjuru, meski tidak sampai menyinari ruang sempit yang lembab lagi remang itu, paling tidak masih ada sedikit cahaya yang menerobos ke dalam.
Cong Hoa mengisi dua cawan arak, satu diberikan kepada Lo Kaysian.
Sementara kakek tua itu sedang mengawasi si nona dengan mata melotot besar.
"Kau tahu sekarang sudah jam berapa?"
"Sudah tengah hari!"
"Tengah hari sudah mulai minum arak?"
"Memangnya minum arak harus melihat waktu?"
"Tengah hari tidak boleh minum, malam hari baru boleh, hari terang tidak boleh, harus menunggu sampai hujan turun, Je-it dan Cap-ngo juga tidak boleh minum, harus menunggu sampai ji (dua) Si (empat) lak (enam)"
Sambil mengoceh, Lo Kaysian mengangkat cawannya dan menegak habis isinya.
"Sekarang arak sudah kuhabiskan Hoa toa siocia!"
"Tidak bisa, kau mesti meneguk tiga cawan."
"Bagaimana kalau dua cawan saja?"
Cong Hoa menggeleng.
"Kalau begitu dua cawan setengah?"
Cong Hoa tetap menggeleng, dia tunjukkan ketiga jari tangannya.
"Aaai...kelihatannya pada penghidupanku yang lalu aku sudah banyak hutang kepadamu...."
Keluh Lo Kaysian sambil mengisi kembali araknya.
"Kau memang tidak tahu diri!"
Omel Cong Hoa.
"Padahal orang yang ingin minum arak denganku sampai berbaris dari sini hingga luar pintu gerbang kota, aku tulus mengundangmu minum, kau masih mengomel melulu..."
"Baik, baik...lain kali bisa kah kau tidak usah mengundangku minum?"
"Tidak bisa, aku harus mengundangmu!"
Cong Hoa kembali duduk, mengawasi hidangan diatas meja lalu gelengkan kepalanya.
"Kau tidak punya bini, tidak punya anak, tidak punya saudara, uang yang kau peroleh selama ini, untuk apa kalau tidak untuk dinikmati?"
"Justru lantaran tidak punya keluarga maka aku harus tinggalkan sedikit modal, kalau tidak, setelah mati nanti siapa yang sudi mengurusi diriku?"
"Benar juga perkataanmu,"
Cong Hoa mengangguk sambil menyumpit sepotong sayur.
"Tapi, bila kau benar-benar sudah mampus, siapa yang akan membantu menguburkan jenasahmu?"
"Aaah, pengetahuanmu benar-benar amat cetek, masa kau tidak tahu kalau ada semacam kuil yang bisa disewa?"
"Aku tahu, orang-orang yang sudah tua, yang tidak ingin hidup sendirian di rumah, bisa mengeluarkan sedikit uang untuk menyewa sebuah kamar didalam kuil, kemudian meminta penghuni kuil merawat mereka."
"Betul tahukah kau selain tempat untuk menumpang hidup, ada lagi semacam kuil yang disebut Ki-poan?"
"Ki-poan?"
Cong Hoa mengulang, dia segera menggeleng.
"Aku kurang tahu."
"Hahaha...rupanya ada juga persoalan yang tidak kau ketahui!"
Lo Kaysian tertawa senang.
"Kau tahu bukan, banyak anak yang tidak berbakti di dunia ini, seringkali mereka hidup berfoya-foya hingga menghabiskan semua harta orang tuanya, maka dari itu untuk menghindari setelah mati terlantar, orang bisa menitipkan dulu uangnya di kuil, agar setelah dia mati nanti, pihak kuil yang akan mengurusi segala urusan terakhir orang tersebut."
"Selain yang berkeluarga, ternyata ada juga jenis manusia lain yaitu orang macam kau, hidup sebatang kara di dunia ini,"
Sela Cong Hoa.
"Benar, sistim seperti inilah yang dinamakan Kipoan( titip untuk dikerjakan), mengerti?"
Cong Hoa manggut-manggut, mendadak tanyanya lagi.
"Kalau ada orang hukuman yang mati, siapa yang mengurusi layonnya?"
"Tentu saja keluarga dari terhukum."
"Kalau dia tidak punya keluarga?"
"Biasanya akan dilakukan pihak pemerintah, tentu saja penguburan secara sederhana dan ala kadarnya."
"Bagi komandan sipir penjara macammu, masa setelah meninggal, pihak pemerintah tidak membantumu?"
"Jangan bermimpi!"
Seru Lo Kaysian sambil mempertinggi suaranya.
"Tapi aku dengar Lam-ong-ya sangat menyayangi anak buahnya."
"Bagaimana dengan Nyoo Cing?"
"Dia amat menyayangi anak buahnya, selalu bijaksana dan bijaksana, siapa salah dihukum, siapa berjasa diberi hadiah."
"Konon dimasa lalu seorang diri dia berhasil membongkar rencana keji yang dilakukan bangsawan nomor wahid Ti Cing-ling?"
Tanya Cong Hoa.
"Kalau menyinggung soal sepak terjangnya, diceritakan selama tiga hari tiga malam pun tidak bakal habis,"
Ucap Lo Kaysian.
"Ketika itu Ong-ya pun tidak lebih hanya seorang komandan opas kota keresidenan itu, konon dia tidak kenal susah, tidak kenal menderita, dengan gagah berani dia lawan perbuatan semenamena bangsawan kaya itu..."
Mengenai kegagahan dan kepahlawanan Nyoo Cing, sudah banyak kali Cong Hoa mendengar orang bercerita, tapi setiap kali mendengar kisah itu, dia selalu merasakan darah ditubuhnya bergolak.
Dalam pandangannya, baik dia seorang pria atau wanita, patut meniru teladan dari Nyoo Cing, harus belajar memiliki keberanian, ketulusan dan kejujuran seperti dirinya.
-------Dalam beberapa hal, sepak terjang yang dilakukan Cong Hoa memang mirip sekali dengan perbuatan Nyoo Cing.
"Manusia busuk macam Ti Cing-ling, sudah sepantasnya dihukum pacung dari dulu, kenapa mesti dikurung dalam penjara?"
Tanya Cong Hoa.
"Itu semua merupakan keputusan atasan, kami orang bawahan tahu apa?"
Cong Hoa mendongakkan kepalanya mengawasi sekejap ruang penjara diujung lorong sebelah depan, lalu katanya lagi.
"Kalau aku yang mesti dikurung selama dua puluh tahun ditempat seperti ini, kalau bukan edan, aku pasti sudah mampus, mati konyol!"
"Aaai, siapa sih manusia di dunia ini yang rela masuk ke tempat semacam ini?"
Lo Kaysian menghela napas panjang.
"Asal tidak melakukan tindak pidana, sekalipun kau ingin masukpun belum tentu akan menemukan pintunya."
"Aku dengar Ti Cing-ling pada dua puluh tahun berselang adalah seorang pemuda yang tampan, perlente dan romantis, entah bagaimana keadaannya setelah melewati "tujuh"
Tahun siksaan disini?"
Gumam Cong Hoa.
"Kalau soal itu, aku kurang tahu."
"Aneh, bukankah dia dikurung dalam sel nomor satu? Bukankah setiap hari kau mengontrol penjara dan bertemu dengannya?"
"Siapa bilang dia dikurung disini?"
Lo Kaysian membelalakkan matanya.
"Kalau dia disekap disini, tidak nanti orang itu bisa kabur dari penjara."
"Jadi dia tidak dikurung disini?"
"Benar!"
"Dan dia berhasil kabur dari penjara?"
"Benar!"
Lo Kaysian balik bertanya.
"Masa berita seheboh itupun kau tidak pernah dengar?"
Cong Hoa mulai meraba ujung hidungnya. ...Setiap kali menghadapi kesulitan, dia punya kebiasaan suka meraba ujung hidungnya sendiri.
"Dulu, dia dikurung di mana? Sejak kapan kabur dari penjara?"
"Dia disekap dalam sebuah gua granit dibukit Bu-hoasan, sebelah barat kota. Kabur pada tiga belas tahun berselang, dimusim gugur."
"Bukit Bu-hoa-san? Tiga belas tahun berselang?"
Cong Hoa termenung sejenak.
"Lalu siapa yang dikurung dalam ruang penjara nomor satu itu?"
"Cong Hui-miat!"
"Maksudmu Hui-thian-miat-tee, thian-he-tok-cun (Penghancur langit pemusnah bumi, jago tunggal di kolong langit) Cong Hui-miat?"
"Benar!"
Cong Hoa mengangkat cawan araknya dan pelanpelan menegak habis isinya.
Ti Cing-ling tidak pernah dikurung dalam penjara ini bahkan sudah kabur dari penjara sejak tiga belas tahun berselang, apakah Tu Bu-heng dan Un-hwee mengetahui kejadian ini?
Mustahil kalau mereka tidak tahu.
Tapi seandainya mereka sudah tahu, kenapa masih memerintahkan Cong Hoa untuk datang menyelamatkan Ti Cing-ling?
Pesanggrahan salju penuh diliputi bunga salju, di situ pun ada bunga, aneka bunga yang mekar dengan indahnya.
Saat ini baru musim gugur, saat bunga seruni mekar dengan indahnya.
Keng Siau-tiap dengan mengenakan baju yang dibawanya dari negeri Hu-siang (Jepang) sedang merawat tanaman bunganya dalam pesanggrahan salju.
Dia sangat menguasahi ilmu pertanaman, dia tahu bunga itu jenis apa, kapan harus dirabuk, kapan harus disirami, kapan harus dipotong dan kapan harus dirawat, kemampuannya tidak ada yang mampu menandinginya.
Sejak kecil dia memang mendapat didikan yang ketat dari ayahnya, bahkan dia amat menguasahi kepandaian tentang "Hoa-liu."
"Hoa-liu"
Merupakan sejenis ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tanaman bunga dan berasal dari negeri Hu-siang, ilmu ini terbagi dalam dua kelompok besar, pertama tentang ilmu menanam dan kedua tentang ikebana yaitu ilmu merangkai bunga.
Oleh karena Keng Siau-tiap adalah seorang yang sangat ahli dalam hal tanam-menanam, ilmu merangkai bunga yang dimiliki juga nomor satu, maka Nyoo Cing tidak segan mengundang nya datang dari ngeri Husiang khusus untuk merawat pesanggrahan soat-lu nya.
Sinar senja di musim gugur meski cerah namun terasa lembut, sinar yang lembut menyinari diatas permukaan salju, menyinari juga diatas aneka bunga yang tumbuh dengan indahnya.
Saat senja merupakan saat untuk menyiram bunga dan memotong ranting, tidak heran kalau saat ini merupakan saat yang paling sibuk bagi Keng Siau-tiap.
Biasanya, saat inilah raja muda Lam-kun-ong Nyoo Cing datang ke kebun untuk menikmati keindahan aneka bunga.
"Bunga mawar itu ibarat kecantikan seorang wanita, bunga teratai melambangkan kesucian, bunga bwee melambangkan keteguhan dan kesabaran,"
Nyoo Cing berkata kepada Siau-tiap.
"Tahukah kau, kalau bunga seruni itu melambangkan apa?"
"Kesepian,"
Jawab Siau-tiap tanpa berpaling.
"Kesepian?"
Seru Nyoo Cing agak terperanjat.
"Kenapa?"
"Bunga seruni itu berbeda dari jenis bunga lainnya yang memiliki banyak kuntum bunga dalam satu ranting, bunga seruni hanya memiliki sekuntum bunga di setiap batangnya."
Siau-tiap memandang sekejap bunga seruni yang sedang bergoyang terhembus angin, kemudian terusnya.
"Tangkai bunga seruni ramping lagi panjang, bunga tumbuh dipuncak tangkainya, coba lihat sewaktu terhembus angin, mirip sekali dengan seorang manusia yang dengan susah payah mendaki sebuah puncak bukit, tapi setibanya diatas puncak, dia merasa bahwa dirinya hanya seorang diri, saat itulah dia baru menyadari bahwa dirinya telah mencapai kesuksesan dari sebuah kesepian."
"Kesuksesan dari sebuah kesepian?"
Gumam Nyoo Cing.
Apakah kesepian itu?
Hidup seorang diri?
Tidak ada yang menemani minum arak dan berbincang-bincang?
Inikah yang dinamakan kesepian?
Tiada orang yang bisa memahami perasaan hatimu, meski punya teman banyak tapi tidak seorang pun yang bisa memahami dirimu, tidak bisa diajak bertukar pikiran, mengeluarkan isi hati, apakah inipun yang dinamakan kesepian?
Kalau kau mengatakan benar, maka pendapatmu keliru besar, keadaan seperti itu bukan bernama kesepian, apa yang kau rasakan hanya merupakan perasaan yang kesepian.
Kesepian yang sebenarnya adalah sebuah perasaan hamba yang sudah merasuk ke tulang sumsum, membuat kau merasakan kehampaan yang luar biasa.
Walaupun kau sedang bergembira, meski kau sedang tertawa, namun perasaanmu tetap hampa, kau akan tetap merasa sedih, murung dan masgul dihati kecilmu.
Nyoo Cing bukan Cuma tahu, diapun sangat memahami, karena perasaan hampa seperti inilah yang setahap demi setahap menggerogoti tulang belulangnya.
"Orang bilang, menjumpai kegembiraan akan menyegarkan semangat, tapi aku lihat perkataan ini tidak sesuai untukmu,"
Ujar Siau-tiap sambil menatap wajah Nyoo Cing.
"Oya? Kenapa?"
Nyoo Cing balik bertanya sambil tertawa.
"Tidak ada angin tidak ada hujan, tahu-tahu muncul seorang anak perempuan yang bukan saja berwajah cantik, tubuhnya pun indah dan perangainya lembut, siapa sih yang tidak menginginkan perempuan seperti ini?"
"Benarkah begitu?"
U-gi memang seorang gadis yang sempurna, belum sehari tiba di pesanggrahan itu, dia sudah dapat bergaul hangat dengan semua orang.
Dia ramah, halus dalam bertutur kata bukan karena dirinya adalah putri dari seorang raja muda, dia tidak pernah berlagak sok.
Gadis semacam ini memang merupakan harapan dari setiap orang, tapi bagaimana dengan Nyoo Cing?
Ketika secara tiba-tiba dan diluar dugaan dia harus menerima seorang anak perempuan, untuk berapa waktu Nyoo Cing jadi kebingungan sendiri, dia tidak tahu harus bersikap bagaimana untuk menghadapinya.
Seandainya U-gi masih seorang bocah, mungkin dia bisa menggunakan waktu untuk membangun hubungan batin antara ayah dan anak.
Seandainya U-gi adalah seorang anak lelaki, hal ini lebih mudah lagi untuk menjalin hubungan, asal arak dan sayur dihidangkan, tiga empat cawan arak kemudian hubungan mereka akan mencair dan dapat berkembang makin akrab.
Tapi kenyataannya sekarang, U-gi adalah seorang gadis muda yang cantik jelita, apalagi gadis itu sudah memiliki jalan pikiran sendiri, punya kemampuan untuk mengambil keputusan.
Terbayang kembali sewaktu pertama kali bertemu didepan rumah kayu kecil, sorot mata kesedihan dan kemurungan yang terpancar dari balik mata gadis itu, hingga kini masih terkesan dalam benak Nyoo Cing.
Apa yang dia sedihkan?
Apa yang dia murungkan?
Apakah dia sedih dan murung karena dirinya tidak pernah menjalankan kewajibannya sebagai seorang ayah?
Dibalik kelembutan U-gi terpancar keteguhan hatinya, dia tidak pernah sembarangan mengutarakan perasaan hatinya, dia telah mewarisi watak dari Lu Siok-bun, ibunya.
Sebenarnya Nyoo Cing ingin sekali bertanya tentang kondisi Lu Siok-bun, dia ingin tahu istrinya kini berada dimana?
Dia pun ingin tahu apa yang telah terjadi selama dua puluh tahun perpisahan, dia ingin tahu setelah Lu Siokbun kawin lagi dengan Hoa Coat, apakah dia hidup dengan gembira dan bahagia?
Terlalu banyak persoalan yang sebenarnya ingin dia tanyakan, namun setiap kali terbentur dengan sorot matanya yang murung dan sedih, semua perkataan seolah tertelan kembali ke perut.
Inilah sebab utama mengapa dia tidak bersemangat walaupun sedang mengalami satu kejadian yang menggembirakan.
Sinar matahari senja masih memancarkan sisa cahayanya dari balik bukit, namun angin telah berhenti berhembus.
Aneka bunga dengan aneka warna tumbuh memenuhi seluruh tanah kebun, sejauh mata memandang aneka bunga itu mirip sekali dengan segerombol ikan yang sedang berenang ditengah samudra luas, penuh dengan tenaga kehidupan, penuh dengan keindahan dari sebuah kehidupan.
Dengan termangu Nyoo Cing mengawasi aneka bunga itu, sementara minum arak, menikmati bunga adalah sebuah acara yang tidak boleh ketinggalan.
Dari sakunya dia mengeluarkan sebuah botol kecil, membuka penutupnya dan mene-guk isinya, kemudian dia bergumam.
"Arak wangi, bunga indah, wanita cantik, apa lagi yang diharapkan seorang lelaki?"
Dia alihkan sorot matanya ke wajah Siau-tiap, lalu katanya lagi.
"Udara sangat dingin, bagaimana kalau kau juga meneguk secawan arak untuk menghangatkan tubuh?"
"Terima kasih atas pemberianmu."
Siau-tiap menerima botol itu dan meneguk satu tegukan, Nyoo Cing memang amat mengagumi type manusia semacam ini.
Ketika dia sedang menerima balik botol arak itu dari tangan Siau-tiap, mendadak Nyoo Cing mendengar sebuah suara yang aneh.
Semacam suara hancurnya lapisan salju yang tebal.
Menyusul kemudian lamat-lamat terlihat ada dua sosok bayangan manusia berjumpalitan ditengah udara kemudian langsung meluncur ke tubuh Nyoo Cing.
Kedua sosok bayangan manusia itu tidak membawa senjata, namun Nyoo Cing dapat merasakan tekanan hawa golok yang sangat menggidikkan, hawa golok yang semakin menghimpit tubuhnya sejalan dengan kemunculan bayangan itu.
Tatkala bayangan manusia itu semakin mendekat, tiba tiba Nyoo Cing menyaksikan adalahnya sekilas cahaya tajam dari balik tangan orang-orang itu.
...
Kalau tidak membawa senjata, darimana munculnya pantulan cahaya tajam?
Nyoo Cing yang sudah siap menangkis dengan tangannya tapi tiba-tiba mengurungkan niatnya, cepat dia mengegos ke samping.
Serangan pembunuh gelap yang muncul secara tibatiba itu tidak sampai membuat Siau-tiap ketakutan, dengan jelas dia dapat menyaksikan kalau pembunuh itu menggerakkan tangannya dengan cepat ketika selisih jarak dengan lengan kiri Nyoo Cing tinggal tiga depa jauhnya.
Gerakan itu mirip sekali dengan gerakan membabat, seakan-akan pembunuh itu sedang memegang sebilah golok dan waktu itu sedang membabat lengan kiri lawannya.
Apakah pembunuh itu tidak sadar kalau dia tidak memegang senjata?
Siau-tiap mulai tertawa, tapi belum selesai senyumannya mengembang, tiba-tiba wajahnya kembali membeku kaku.
Ternyata dia menyaksikan lengan kiri Nyoo Cing mulai berdarah, dia seakan tidak percaya dengan pandangan mata sendiri, setelah mengucak matanya berulang kali, dia coba memastikan penglihatannya.
Benar saja, ternyata lengan kiri Nyoo Cing sudah berlumuran darah.
Mungkinkah si pembunuh itu benar benar menyembunyikan sebilah golok tidak berwujud didalam genggamannya?
Setelah berhasil dengan serangannya, kawanan pembunuh itu tidak melanjutkan kembali serangannya, mereka hanya meng-awasi Nyoo Cing dengan pandangan dingin.
Sebaliknya Nyoo Cing sendiri masih bersikap malasmalasan, senyuman malas tersungging diujung bibirnya.
"Kau adalah satu-satunya korban yang berhasil lolos dari serangan golok salju,"
Kata pembunuh itu dingin.
Rupanya senjata yang mereka gunakan bukan senjata biasa melainkan golok yang terbuat dari salju.
Selain berwarna putih bening, ketika digunakan didaerah yang diliputi salju maka bentuknya jadi tidak nampak hingga sekilas pandang mirip sekali dengan sebuah senjata tak berwujud.
Tadi, apabila perkiraan Nyoo Cing keliru atau dia agak terlambat menganalisa situasi, mungkin saat ini sebuah lengannya sudah berpisah meninggalkan badannya.
"Peng-to-ji-sat (Dua pembunuh golok salju) sudah kutemui satu orang, mana pembunuh lainnya?"
Jengek Nyoo Cing kemudian.
"Hmmm, selamanya tidak pernah ada manusia hidup yang pernah berjumpa dengan pembunuh kedua!"
Suara seseorang menyahut dari balik pepohonan.
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, tiba-tiba tampak selapis tenaga tekanan yang maha dahsyat diiringi selapis demi selapis bunga salju yang tebal menyebar ke empat penjuru, menyusul kemudian tampak sekilas cahaya golok berkelebat lewat, langsung mengancam dada Nyoo Cing.
Serangan golok ini bukan saja meluncur datang dengan kecepatan luar biasa bahkan tanpa wujud, kehebatannya mengerikan, meski hanya satu bacokan namun membuat lawan serasa sulit untuk menghindari.
Sekalipun waktu itu Nyoo Cing mengenakan mantel yang tebal, tidak urung dia merasakan juga hawa tajam yang menggidikkan hati menekan badannya, tahu-tahu cahaya tajam dari golok salju itu sudah muncul di depan mata.
Dalam posisi demikian, andaikata dia berkelit kekiri maka tulang rusuk sebelah kanannya akan berlubang, sebaliknya bila dia menghindar kekanan berarti lengan kirinya harus di korbankan, sebaliknya jika dia berkelit ke arah timur maka dadanya bakal bertambah dengan dua lubang besar.
Atau dengan perkataan lain, ke arah manapun dia menghindar, sulit baginya untuk menandingi kecepatan gerak serangan maut itu.
Nyoo Cing adalah seorang jagoan yang sudah banyak pengalaman dalam menghadapi pelbagai pertarungan, namun sepanjang hidupnya belum pernah dia jumpai serangan golok seaneh dan secepat ini.
"Sreeet!"
Tahu-tahu golok salju itu sudah menyambar lewat dan merobek mantel bulu yang dia kenakan.
Pada saat yang bersamaan itulah dengan menempel disisi mata golok lawan Nyoo Cing menggeser badannya ke samping, ketika mata golok yang dingin menempel diatas kulit tubuhnya, ia merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Agaknya si pembunuh gelap kaget juga setelah mengetahui babatan goloknya mengenai sasaran kosong, golok salju yang lain segera diayunkan ke udara langsung membabat ke depan dengan gerakan mendatar, kali ini serangannya jauh lebih cepat dan tajam.
Kendatipun serangan yang pertama berhasil dihindari Nyoo Cing, sebenarnya dia sudah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya, belum lagi tenaganya pulih kembali, serangan kedua dari golok salju telah tiba di depan mata.
Siau-tiap yang mengikuti jalannya pertarungan itu dari tepi arena ikut bergidik juga setelah menyaksikan keadaan tersebut, tanpa sadar peluh dingin telah membasahi seluruh tubuhnya, dia merasa Nyoo Cing sudah tidak sanggup lagi untuk menghindarkan diri dari serangan yang kedua.
Pada detik terakhir yang amat kritis itulah tiba-tiba Nyoo Cing menyambitkan botol arak dalam genggamannya ke arah serangan golok yang kedua itu.
"Criiing!"
Begitu botol itu meluncur ke udara dan membentur diatas golok salju lawan, diiringi suara gemerincingan nyaring, golok salju itu hancur berantakan.
Meskipun Nyoo Cing berhasil memunahkan serangan golok yang kedua, namun hancuran golok salju yang berhamburan ibarat beribu-ribu keping senjata rahasia segera meluncur ke depan menyongsong tubuhnya.
Jurus serangan kedua dari golok salju itu sudah termasuk aneh dan luar biasa, namun perubahan jurus yang terjadi saat ini terlebih diluar dugaan siapa pun, tampaknya ancaman yang datang sulit untuk dihindari.
Dengan perasaan bangga dan puas kawanan pembunuh itu siap menyaksikan Nyoo Cing tewas dibawah serangan maut itu.
Mendadak hancuran golok salju yang berkepingkeping itu berguguran keatas tanah, seolah terhadang oleh sebuah lapisan dinding yang tidak berwujud, bukan saja serangan itu gagal menerjang lebih ke depan, bahkan seakan kehilangan kekuatan tahu tahu kepingan salju itu sudah rontok semua ke tanah...
Diantara hancuran salju yang berguguran, Nyoo Cing menyaksikan sesuatu yang aneh, dia melihat diantara guguran bunga salju itu ternyata terselip pula putik bunga seruni yang berwarna kuning.
Entah sejak kapan, tahu-tahu didepan pesanggrahan salju telah muncul seorang pemuda yang berbaju perlente, dalam genggaman orang itu terlihat sebatang bunga seruni berwarna kuning.
"Hei anak muda!"
Mendadak Nyoo Cing menegur sambil menatap wajah pemuda itu.
"sudah tahu bunga seruni itu berumur pendek, kenapa kau malah memetiknya?"
Sudah diselamatkan jiwanya oleh pemuda itu, bukan saja dia tidak tahu berterima kasih, sebaliknya malah menegur orang itu karena memetik bunga seruninya, kecuali Nyoo Cing, siapa lagi yang bisa bersikap begitu?
"Bunga seruni meski sudah kupetik, lain waktu dia akan tumbuh kembali,"
Sahut pemuda itu sambil tertawa ewa.
"Sebaliknya kalau orang sudah mati, memangnya dia bisa bangkit dan hidup lagi?"
Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya.
"Aku benar-benar heran, bagaimana mungkin kemunculan dua orang manusia salju di pesanggrahanmu bisa lolos dari pengamatanmu?"
"Mungkin lantaran kau kuatir aku terlalu lama hidup menganggur, maka dengan sengaja membiarkan mereka datang kemari untuk mengajakku melemaskan otot,"
Sahut Nyoo Cing tertawa.
Anak muda itu tersenyum dan tidak bicara lagi.
Dalam pada itu paras muka kedua orang pembunuh itu nampak berubah sangat hebat, seakan melihat ada delapan puluh ekor harimau yang siap menerkam mereka, dengan perasaan terkejut dan keheranan mereka berdiri mematung ditempat.
Semula mereka mengira serangan bokongan yang dilakukan kali ini pasti akan berhasil merenggut nyawa lawan, tidak disangka bukan saja serangannya gagal total, bahkan mereka berhasil dibikin keok secara gampang oleh pihak lawan.
Serangan maut yang selama ini mereka anggap luar biasa dan sangat mematikan, dalam kenyataan tidak sanggup membendung serangan lawan yang Cuma memakai sekuntum bunga seruni.
Kegagalan berarti kematian, inilah prinsip yang dipegang anggota persilatan selama ini.
"Kalian boleh pergi sekarang!"
Tiba-tiba Nyoo Cing berkata hambar.
"Semoga dengan pelajaran yang kalian terima hari ini, dikemudian hari kamu berdua bisa lebih memahami bagaimana cara bersikap sebagai seorang manusia."
Kedua orang pembunuh itu nyaris tidak percaya dengan pendengaran sendiri, mereka tidak menyangka pihak lawan mempersilahkan mereka berlalu dalam keadaan hidup.
Siau-tiap juga merasa keheranan, serunya tanpa sadar.
"Kau akan melepaskan mereka dengan begitu saja?"
"Hahahaha...kalau tidak dilepas, memang nya aku harus memelihara mereka sepanjang hidup?"
Nyoo Cing balik bertanya sambil tertawa tergelak.
"Aku pun tidak ingin tahu siapa dalang dibalik layar yang perintahkan mereka melakukan percobaan pembunuhan ini."
Setelah berhenti sejenak, dia menengok kearah dua orang pembunuh itu, kemudian lanjutnya.
"Segera pulang dan beritahu kepada tauke dibelakang layarmu, katakan, jika dia tidak ingin hidup tenteram, lebih baik utus orang yang lebih berguna."
Setiap masalah pasti ada si penghutang dan si terhutang, orang-orang diluar lingkup itu tidak lebih hanya boneka boneka yang bekerja berdasarkan perintah, lalu apa gunanya menyusahkan para boneka itu?
Inilah prinsip hidup yang dipegang Nyoo Cing selama ini.
Maka berlalulah kedua orang pembunuh itu tanpa kekurangan sesuatu apa pun, berbareng dengan menyingkirnya mereka berdua, Nyoo Cing mendengar pula suara tepuk tangan yang keras.
Pertama kali mendengar suara tepuk tangan, suara itu berasal dari rumah kayu kecil ditengah hutan, waktu itu yang bertepuk tangan adalah Ti Cing-ling, lalu siapa pula yang bertepuk tangan kali ini?
"Bagus, bagus sekali, Nyoo Cing memang tidak malu bernama Nyoo Cing,"
Suara tepuk tangan kali ini berasal dari atas dinding pekarangan yang dilakukan seorang nona.
"Anak perempuan tidak baik memanjat dinding pekarangan, apalagi yang kau panjat adalah dinding pekarangan orang!"
Tegur Nyoo Cing.
"Aach, perduli amat, asal aku senang, perduli baik atau tidak baik!"
Sahut perempuan itu yang tidak lain adalah Cong Hoa "Apalagi yang kupanjat bukan dinding pekarangan orang lain tapi dinding pekaranganmu."
"Apa bedanya?"
Seru Nyoo Cing keheranan.
"Aku memanjat pekaranganmu tentu saja karena mau mencari kau, masa ada tamu berkunjung, kau sebagai tuan rumah malah mengusir tamunya?"
"Itu tergantung tamu macam apa dia!"
Sang pemuda yang selama ini membungkam tiba-tiba ikut menimbrung.
"Selain itu juga mesti diketahui dulu ada urusan apa datang mencari tuan rumah."
"Hey, siapa kau?"
Tegur Cong Hoa.
"Aku bernama Thay Thian,"
Sahut sang pemuda.
"Suya dari ong-ya!"
"Ooh! Jadi kau adalah Thay Thian yang disebut orang sebagai siau-lautau si kakek kecil?"
Seru Cong Hoa sambil mengamati lawannya lekat-lekat.
"Siapa pula kau?"
"Aku? Aku bernama Cong Hoa!"
"Oooh, rupanya kau adalah Cong Hoa yang disebut orang sebagai Yajin Huang-hoa, Put-cong-ya-huang (manusia liar bunga latah, tidak disimpan pun tetap latah)"
Timbrung Nyoo Cing dari samping.
"Memangnya kau pernah berjumpa dengan Cong Hoa kedua?"
"Untung Cuma ada satu! Mau apa kau memanjat ke dinding pekaranganku?"
"Aku ingin minta bantuanmu,"
Ucap Cong Hoa sepatah demi separah.
"Aku ingin tahu bagaimana ceritanya semenjak kau selamatkan Cong Hui-miat dari penjara bawah tanah!"
BAB 5.
Daya pikat kekasih.
Salju kembali turun dengan derasnya.
Bunga salju telah menyelimuti seluruh permukaan tanah, menyelimuti juga daun jendela, begitu lembut bunga-bunga salju itu persis seperti bisikan lembut seorang kekasih.
Jalan raya tampak bersih bagaikan baru dicuci, walaupun tumpukan salju yang turun semalam sudah disapu ke tepian, namun bunga salju yang turun pagi ini kembali menyelimuti seluruh permukaan.
Dalam suasana seperti ini, tampak dua orang masih terjaga, semalaman suntuk mereka telah bergadang.
Tu Bu-heng duduk sambil memandang ke tempat kejauhan, meski dia memegang cawan arak namun tidak setegukpun yang dia minum, hidangan dimeja pun tidak disentuhnya, dalam cuaca sedingin ini tampak hidangan itu sudah mulai membeku.
Un Hwee duduk disampingnya sambil menikmati semangkuk bakmi tarik.
Dalam cuaca sedingin ini, bakmi tarik yang masih panas memang merupakan hidangan yang sangat nikmat.
Namun paras muka Un hwee sama sekali tidak menunjukkan perasaan gembira atau menikmati, berulang kali keningnya berkerut kencang, seolah-olah bakmi kuah yang sedang dimakannya sama sekali tidak lezat.
"Apa dia benar-benar bisa menyelamatkan Cong Hui-miat?"
Un Hwee bertanya kepada Tu Bu-heng.
"Kalau orang lain mungkin tidak sanggup,"
Perlahan Tu Bu-heng menghirup araknya.
"Tapi bagi Cong Hoa, urusan ini tidak terlalu sulit."
"Mengapa kau tidak terus terang beritahu kepadanya kalau orang yang akan diselamatkan adalah Cong Hui-miat? Kenapa kau harus membohonginya?"
"Kalau kita berterus terang, belum tentu dia bersedia menolongnya!"
"Setibanya di penjara bawah tanah, dia pasti akan tahu kalau kita sedang membo-honginya, bagaimana kalau saat itu dia menolak untuk menyelamatkannya?"
"Tidak mungkin, dia pasti akan menyelamatkannya,"
Kata Tu Bu-heng yakin.
"Setiap orang tentu mempunyai rasa ingin tahu, dia pasti akan berpikir mengapa kita harus membohonginya, apa tujuan membohonginya?"
Setelah memenuhi kembali cawan dengan arak, kembali dia melanjutkan.
"Dia pasti pingin tahu apa maksud dan tujuan kita dibalik kesemuanya itu, untuk mengetahui rahasia ini, mau tidak mau dia mesti selamatkan dulu Cong Hui-miat setelah itu baru melihat permainan apa yang sedang kita lakukan."
"Tapi Lo Kaysian yang menjaga penjara bawah tanah bukan lentera yang kehabisan minyak,"
Un Hwee masih sedikit sangsi.
"Dia tak nanti akan minta tolong kepada Lo Kaysian untuk selamatkan Cong Hui-miat."
"Terus dia akan minta tolong kepada siapa?"
"Nyoo Cing!"
"Nyoo Cing?"
Un Hwee tercengang.
"Belum pernah ada seorang manusiapun bisa menyelamatkan seseorang dari tangan Nyoo Cing."
"Ada! Dan Cong Hoa pasti berhasil!"
Sahut Tu Bu-heng sangat yakin. Baru selesai dia berkata, mendadak terdengar seseorang berseru lantang.
"Terima kasih, terima kasih atas pujianmu!"
Dengan wajah penuh senyuman Cong Hoa melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Bagus sekali,"
Tu Bu-heng turut tertawa.
"Kedatanganmu memang tepat waktu, jadi aku tidak perlu mengulang lagi apa yang barusan kukatakan."
"Kelihatannya kau sangat memahami watakku,"
Cong Hoa ambil tempat duduk, menyambar cawan arak dan meneguk isinya.
"Kau telah memperhitungkan watak dan jalan pemikiranku secara tepat sekali."
"Sayang aku tidak mengira kalau kau bakal datang seorang diri."
"Kadangkala watak dan jalan pemikiran seseorang bisa sedikit melenceng dari kebiasaan,"
Kata Cong Hoa sambil menatap tajam Tu Bu-heng.
"Kalau toch kau bisa meraba watakku sejelas itu, semestinya kau bisa menduga kalau aku pasti akan sangat penurut dengan kata-katamu bukan?"
"Lain kali aku pasti akan memperhatikan lebih seksama."
"Bagus, tahu salah dan mau berubah itu baru lelaki sejati!"
Jengek Cong Hoa tertawa.
Angin diluar rumah masih berhembus kencang, hembusan angin yang membawa bau lembab daundaunan yang telah membusuk.
Walau dipagi hari, lentera masih menerangi ruangan itu, Tu Bu-heng sedang mengawasi api lentera dengan termangu, seolah dia sedang memikirkan sesuatu.
Un Hwee tetap sibuk dengan anglo nya, mengkonsentrasikan diri menghangati arak, sikapnya seakan dia sama sekali tidak tersangkut dengan persoalan ini.
Cong Hoa menghirup araknya dengan santai, dia sama sekali tidak gelisah pun tidak usah terburu napsu, karena dia tahu Tu Bu-heng tentu akan memberikan sebuah jawaban yang memuaskan.
Untuk sesaat suasana jadi hening, ketiga orang itu sama sama membungkam, sama-sama tidak berbicara.
Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya Tu Bu-heng buka suara namun sorot matanya masih tetap bergeming, mengawasi lidah api diujung lentera.
"Cerita tentang kedatangan pendeta Ku-heng-ceng dari negeri Thian-tok yang membawa rahasia "mummi"
Sebenarnya bukan kabar bohong,"
Nada suara Tu Buheng seolah datang dari kejauhan sana.
"Tujuan kedatangannya yang paling utama adalah membawa sebuah tugas yang amat rahasia."
"Tugas rahasia apa?"
"Dia datang dengan membawa sebuah Sebuah nama? "Benar, nama seorang pengkhianat negara, seorang penjahat penjual negara,"
Tu Bu-heng menerangkan.
"Dua puluh tahun berselang, seorang pejabat kerajaan telah bersekongkel dengan seorang jenderal perang dari negeri Thian-tok, mereka berencana berkhianat dan melakukan pemberontakan."
Setelah berhenti sejenak, sambil mengalihkan sorot matanya mengawasi wajah Cong Hoa, lanjutnya.
"Nama yang dibawa pendeta Ku-heng-ceng adalah nama si pengkhianat kerajaan itu."
Tampaknya Cong Hoa menaruh minat yang besar terhadap kejadian yang menyangkut keamanan kerajaan. Terdengar Tu Bu-heng berkata lebih jauh.
"Jauh sebelum pendeta Ku-heng-ceng berjum-pa dengan Ti Cing-ling, kami telah melakukan kontak dengannya."
"Maksudmu, kau dan Un Hwee sianseng?"
"Betul, sayangnya ketika kami berhasil bertemu dengan pendeta itu, napasnya sudah tinggal satu dua."
"Kenapa?"
"Rupanya ada orang yang datang lebih awal daripada kami, di tempat yang dijanjikan kami jumpai pendeta itu sudah terkapar ditanah, saat itu dia sedang menulis sesuatu dilantai dengan menggunakan hidungnya yang penuh berpelepotan darah."
"Menulis dengan hidung?"
Gumam Cong Hoa keheranan.
"Hey, apa kau lupa, kalau ingin menulis sesuatu harus memakai tangan?"
"Tentu saja aku tahu, tapi saat itu dia sudah tidak mampu menulis dengan tangannya lagi,"
Un Hwee sianseng menerangkan.
"Sebab kedua tangan dan kedua kakinya sudah ditebas orang hingga kutung."
Cong Hoa paling benci dengan tindakan kejam seperti ini, tidak aneh dia langsung menggeram gusar.
"Kelihatannya orang yang berusaha membunuhnya mengira dia sudah mati,"
Ujar Tu Bu-heng lagi.
"Siapa sangka ilmu yang dilatih pendeta Ku-heng-ceng adalah kepandaian untuk mempertahankan diri, daya kemampuannya untuk tetap hidup luar biasa besarnya."
"Tapi sayang baru menulis dua huruf dia sudah keburu putus nyawa,"
Sambung Un Hwee sianseng.
"Selama hidup belum pernah kusaksikan satu sorot mata ketakutan yang begitu mengerikan daripada sorot matanya." ... Tidak jelas ketakutan itu lantaran dia merasa ngeri dengan sang pembunuh? Atau dia ketakutan karena harus menghadapi maut? "Mungkin saja perasaan takutnya lantaran alasan lain,"
Kata Tu Bu-heng sambil menghela napas panjang.
"Sayangnya, rahasia ini telah dia bawa pergi untuk selamanya."
"Tapi kadangkala satu huruf pun sudah bisa mengungkap banyak rahasia, apalagi dia telah menulis dua huruf, apa yang dia tulis?"
Tanya Cong Hoa.
"Dia hanya meninggalkan dua huruf, Tanpa dosa!"
"Tanpa dosa?"
Seru Cong Hoa tercengang.
"Benar!"
"Lalu apa arti dari kedua hurud itu? Dia melambangkan apa?"
Gumam Cong Hoa.
"Tanpa dosa itu dimaksudkan pembunuhnya yang tidak berdosa atau dia menjelaskan dirinya yang tanpa dosa?"
"Kami butuh tujuh belas tahun untuk berpikir dan menganalisa sebelum akhirnya berhasil memecahkan rahasia kedua huruf itu,"
Ucap Un Hwee sianseng.
"Tujuh belas tahun? Wouw... satu perjuangan yang luar biasa, lalu rahasia apa yang berhasil kalian singkap?"
"Ternyata kedua huruf itu melambangkan nama seseorang,"
Tu Bu-heng menerangkan.
"Nama dari si pengkhianat penjual negara itu?"
"Mula mula kamipun menduga begitu,"
Ujar Tu Buheng setelah menghirup arak setegukan.
"Semua arsip dan buku catatan yang ada didalam istana telah kami bongkar, namun tidak seorangpun yang ada hubungannya dengan kedua huruf itu."
"Kami butuh waktu dua tahun lamanya untuk membongkar pula arsip yang berhubungan dengan pendeta Ku-heng-ceng,"
Un Hwee sianseng berkata pula setelah memenuhi cawan Cong Hoa dengan arak.
"Ternyata pendeta itu berasal dari marga Cong, dia mempunyai seorang putra yang sudah belasan tahun hidup berpisah, putranya itu bernama Cong Bo-cui! (Cong tanpa dosa)"
"Cong Bo-cui? Cong si Tanpa dosa? Masa sang anak membunuh bapaknya sendiri?"
Seru Cong Hoa tercengang.
"Menurut hasil penyelidikan kami, ternyata maksud kedatangan Ku-heng-ceng masuk ke daratan kali ini selain hendak melaksanakan tugas rahasia itu, dia pun bermaksud untuk menjumpai putranya."
"Kini putranya berada di mana? Apa sangkut pautnya dengan masalah yang berhu-bungan dengan Cong Hui-miat ?"
"Ternyata Cong Hui-miat tidak lain adalah Cong Bocui!"
"Benar,"
Kata Un Hwee sianseng pula.
"Kami duga, setelah kematian pendeta itu, seluruh rahasia yang dia bawa tentu sudah terjatuh ke tangan putranya."
"Oleh sebab itu kami inginkan kau pergi menolong Cong Hui-miat,"
Sambung Tu Bu-heng.
"Cuma kamipun berharap jangan sampai kejadian ini diketahui pihak kerajaan, termasuk Nyoo Cing sekalipun."
Setelah melewati sebuah jembatan kecil yang berlapiskan salju, sebuah hutan bunga bwee terbentang luas.
Sisi hutan bwee adalah ujung dari sebuah air terjun.
Sebuah air terjun yang memuntahkan airnya dari tengah bukit, melatar belakangi sebuah hutan bunga bwee yang luas, pemandangan semacam ini persis seperti sebuah lukisan indah.
Di dalam lukisan itu terdapat pula sebuah rumah kecil, juga ada manusianya.
Manusia itu berpakaian panjang berwarna hijau, dandanannya amat rapi bahkan rambutnya juga disisir hingga berkilap.
Di tangan kanannya terlihat menggotong sebuah gentong air, sementara tangan kirinya nampak kosong....
karena dia memang berlengan tunggal.
Usianya seputar tujuh puluh tahunan, tapi bila diamati dengan teliti, usianya paling banter baru empat-lima puluh tahunan.
Usianya memang sukar diduga, waktu itu dia sudah menggotong tong berisi air melewati hutan bunga bwee memasuki rumah kayu.
Dalam bangunan itu meski tiada perabotan yang mewah namun segala sesuatunya nampak bersih mengkilap, tidak sedikit debu pun yang kelihatan.
Disudut ruangan terdapat sebuah meja bulat, lelaki setengah umur itu mengambil selembar kain lap dari dalam tong air kemudian mulai membersihkan meja.
Dia membersihkan dengan amat lambat tapi cermat, seakan-akan tidak satu debu pun yang boleh tertinggal disitu.
"Lan toako, kau sedang membersihkan ruangan?"
Dari balik ruangan terdengar suara teguran seorang wanita.
"Daripada menganggur hujin!"
Sahutnya sambil berpaling.
Orang ini tidak lain adalah Sin-gan-sin-kiam (mata sakti pedang sakti) Lan Toa-sianseng, Lan It-ceng.
Walaupun wajahnya nampak jauh agak tuaan namun mimik mukanya sama sekali tidak berubah, hanya sorot matanya tidak setajam tempo hari.
Sebagaimana diketahui, demi menjajal kepandaian Nyoo Cing dalam menggunakan senjata kait perpisahan, dia tidak segan telah mengorbankan sebuah lengannya.
Dia pernah berjanji kepada Nyoo Cing untuk tetap tinggal di rumah kayu diluar hutan belukar itu untuk menemani Lu Siok-bun hingga sepulangnya Nyoo Cing.
Tapi mengapa dia berada disana saat ini?
Apakah dia tersangkut dengan peristiwa lenyapnya Lu Siok-bun?
Tirai kamar disingkap orang dan muncullah seorang perempuan setengah umur.
Perempuan itu berparas putih pucat, sepasang matanya yang semula indah kini nampak sudah kehilangan pamornya, namun tidak menutupi sifat kekerasan hatinya.
Wajah itu hambar tanpa perasaan, seolah dia sudah merasa hambar dalam menghadapi hiruk pikuknya kehidupan duniawi.
Melihat kemunculan perempuan itu, Lan Toa-sianseng segera maju menghampiri sambil menegur.
"Hujin, kesehatanmu belum pulih, kenapa turun dari pembaringan?"
"Aku sudah bosan berbaring terus, tulang belulangku terasa pada kendor,"
Jawaban perempuan itu kedengaran begitu tawar, begitu kesendirian dan kesepian.
"Mumpung cuaca hari ini agak segar, aku ingin sedikit beroleh raga."
Lan Toa sianseng segera membimbingnya untuk duduk dibangku dekat jendela, perempuan itu duduk dengan perlahan lalu membuang pandangan matanya keluar jendela, mengawasi hutan bunga bwee dikejauhan sana.
"Tampaknya bunga bwee di tahun ini berkembang lebih awal,"
Katanya lagi perlahan.
"Ini artinya musim dingin akan datang pula lebih cepat."
"Benar,"
Lan Toa-sianseng mengangguk.
"Itulah sebabnya bunga bwee tumbuh lebih semarak dan lebat di tahun ini."
Kembali perempuan itu mengalihkan sorot matanya ke tempat kejauhan sana, setelah lama sekali dia baru berkata lagi.
"Aaai... entah bagaimana dengan bunga bwee di sana, apakah tahun ini ikut mekar dengan indahnya?"
"Pasti mekar sangat indah, suhu udara disana jauh lebih dingin daripada tempat ini."
"Kalau tidak ada yang merawatnya, apakah bungabunga itu bisa mekar?"
"Dia pasti akan merawatnya dengan baik!"
Sahut Lan Toa-sianseng setelah termenung berapa saat.
Suasana kembali hening berapa saat lamanya, tibatiba perempuan itu menarik kembali pandangan matanya dan mengawasi wajah Lan Toa-sianseng lekatlekat, tanyanya lirih.
"Apakah dia....dia masih hidup?"
"Pasti masih hidup!"
Jawab Lan Toa-sianseng penuh keyakinan.
"Ada semacam manusia di dunia ini yang tidak gampang mati, kebetulan dia termasuk manusia jenis ini."
"Hari ini sudah bulan sembilan tanggal dua puluh delapan, berarti dua puluh tahun telah lewat..."
Air mata mulai mengembang diujung mata perempuan itu.
"Hujin, apakah perlu aku menemanimu pergi ke sana?"
Tanya Lan Toa-sianseng perlahan.
"Waktunya belum tiba, mana mungkin kita boleh melanggar janji?"
Sahut perempuan itu sedih.
"Dua puluh tahun sudah kita lewati, kenapa mesti kita hiraukan sisa waktu yang terus berjalan?"
"Aaai, benar juga,"
Lan Toa-sianseng menghela napas panjang.
"Aku ingin tahu bagaimana keadaan Hoa-ji saat ini? Mungkin dia sudah tumbuh semakin dewasa..."
"Pasti dia tambah cantik dan pintar!"
Senyuman yang menghiasi ujung bibir Lan Toa-sianseng penuh diliputi kelembutan yang mendalam.
Walaupun dia tahu mengenang kembali masa lalu ibarat meneguk arak yang getir, namun perempuan itu seakan rela mencicipi arak kegetiran itu.
Bulan sembilan tanggal dua puluh delapan, selewat tengah hari, beruntung sinar matahari masih memancarkan cahayanya yang hangat.
Sinar sang surya yang lembut menembusi daun jendela, menerangi kulit tubuh Hoa U-gi yang halus licin bagaikan kaca, air dalam bak kayu masih tampak hangat, dia berbaring didalam air dengan bermalasmalasan.
Walaupun berada dalam suasana santai, namun perasaan Hoa U-gi sangat tidak gembira.
Padahal bisa mandi air hangat ditengah cuaca musim salju yang begini dingin merupakan satu kejadian yang sangat menggembirakan, namun apabila seseorang sedang dirundung pikiran dan perasaan seperti apa yang dialaminya saat ini, mungkin mereka pun ikut merasa murung.
Sejak tiba di istana Ongya-hu tiga hari berselang, dia baru dua kali bersua dengan ayahnya, apakah dia kelewat sibuk sehingga tidak punya waktu?
Ataukah sedang berusaha menghindarinya?
Sejak kecil dia sudah mendambakan bisa bersua dengan ayahnya, seringkaki dia menciptakan sebuah bayangan yang indah tentang ayahnya itu, bahkan kadangkala, ditengah mimpi pun dia berharap senyuman hangat ayahnya secemerlang bintang di langit.
Kadangkala diapun memungut daun kering yang berguguran di halaman rumah dan menganggapnya sebagai surat yang dikirim ayahnya, menyimpan surat itu dengan penuh seksama, lalu ketika malam sudah tiba, dia akan mengeluarkannya dan memandangnya dengan penuh kerinduan.
Segala sesuatu yang dia lakukan pertanda betapa besarnya dia mengharapkan kehadiran seorang ayah, tapi kini...?
Biarpun hidup seatap dengan ayahnya, namun hubungan mereka terasa lebih asing daripada orang dijalanan.
Pikir punya pikir, Hoa U-gi merasa semakin sedih, tanpa terasa butiran air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
...
Mengapa kenyataan selalu berbeda dengan impian?
Air hangat dalam bak kayu semakin mendingin, Hoa U-gi tidak melanjutkan lamunannya...
air yang dingin tidak lebih menyiksa daripada dinginnya perasaan hati.
"Daripada berjumpa, lebih baik tidak,"
Kini, Hoa U-gi dapat menyelami apa arti yang sebenarnya dari perkataan itu.
Butir air mata perlahan-lahan meleleh keluar membasahi pipinya dan menetes ke dalam air, riak air yang terjadi bagaikan pergolakan perasaan hatinya saat ini.
"Nona, kau baik-baik saja bukan?"
Tiba-tiba terdengar suara sapaan dayang dari luar pintu.
"Ong-ya sedang menunggu bersantap."
Berbinar sepasang mata Hoa U-gi, mimik mukanya sedikit berubah tapi tidak ketahuan dia sedang girang?
Ataukah kaget?
Dua orang dengan delapan macam hidangan tertata rapi dimeja, selain aneka macam sayuran, hidangan daging musang buah yang langka pun ikut dihidangkan diatas meja.
"Apa kau terbiasa dengan hidangan disini?"
Tanya Nyoo Cing.
"Asal kau temani, hidangan apa pun akan terasa lezat,"
Sahut Hoa U-gi dengan kepala tertunduk. Nyoo Cing merasakan hatinya pedih bagaikan ditusuk jarum tajam, dia awasi wajah gadis itu sekejap, kemudian baru katanya lagi.
"Mumpung masih panas, makanlah yang banyak, nanti kalau sudah dingin malah kurang lezat."
Sembari berkata dia menghabiskan isi cawannya kemudian menuang lagi secawan penuh arak.
"Ayah..."
Nada panggilan ini kedengaran begitu asing.
"Jangan banyak minum arak, kurang baik untuk kesehatan!"
"Jarang kita bisa makan bersama, aku... ayah sangat gembira, apa salahnya minum sedikit lebih banyak?"
Kembali dia meneguk habis isi cawannya. Langit semakin gelap, bunga salju kembali berhamburan diseluruh angkasa, udara yang semakin dingin membuat perasaan hatinya semakin gundah.
"Apa... apakah ibumu baik baik saja?"
Tanya Nyoo Cing lirih. Sebuah pertanyaan yang amat bodoh. Hoa U-gi mendongakkan kepalanya, mengawasi wajah Nyoo Cing sekejap lalu balik bertanya.
"Bagaimana pula dengan kehidupan ayah selama dua puluh tahun terakhir?"
"Aku..."
Nyoo Cing tidak tahu bagaimana mesti menjawab pertanyaan ini.
"Ibu pernah berkata begini kepadaku,"
Nada suara Hoa U-gi kedengaran sedih dan murung.
"Di dalam perjalanan hidupnya kali ini, dia pernah hidup, pernah mencintai, pernah datang dalam kehidupan ini, apa pun akibat yang harus dideritanya, dia tidak pernah akan menyesal."
Pernah datang dalam kehidupan, pernah hidup dan pernah mencintai seseorang, kalau seseorang sudah pernah mengalami ketiga hal itu, apalagi yang harus disesalkan?
"Pernah datang, pernah hidup, pernah mencintai?"
Nyoo Cing mengangkat cawannya sambil termangu, entah sampai berapa saat kemudian dia baru melanjutkan.
"Mengapa manusia harus hidup? Apa tujuan manusia hidup di dunia ini? Karena duit? Karena cinta? Atau karena ingin berkarya?"
Setelah menghela napas panjang, terusnya.
"Sayang sekali... apa pun tujuanmu hidup, kemurungan dan kemasgulan tetap akan menyertai kehidupanmu."
Dia teguk habis isi cawannya, arak yang mengalir masuk melalui tenggorokan ke dalam lambung terasa panas bagaikan dibakar, namun sepanas apa pun tidak akan mengatasi rasa sakit yang dia rasakan dalam hatinya.
Hoa U-gi mengawasi ayahnya dengan penuh rasa sayang, namun dia hanya termangu-mangu.
Air mata mengembang dalam kelopak matanya membuat pandangan jadi kabur, sekabur cahaya bintang di langit yang makin redup.
"Ayah, apakah dia... benar-benar selihay apa yang dikatakan orang selama ini?"
Tiba-tiba Hoa U-gi bertanya. Yang dia maksudkan sebagai "dia"
Adalah Ti Cingling.
"Aku hanya tahu, sejak dulu hingga sekarang, kaum sesat tidak akan bisa menangkan kaum lurus,"
Sahut Nyoo Cing.
"Lalu, mengapa kau tidak berusaha untuk mengalahkannya dan menangkap lagi dirinya?"
Setiap orang yang berlatih silat, disaat ilmu silatnya sudah mencapai puncak kesempurnaan maka dia akan mulai merasa kesepian, karena saat itu akan semakin sulit baginya untuk menemukan seorang lawan yang benar-benar sanggup menghadapinya.
Oleh karena itu ada sementara orang yang tidak segan "mengharapkan kekalahan", karena dia beranggapan, asal dapat berjumpa dengan seorang lawan yang betul-betul tangguh, biar kalah pun kekalahan itu akan diterima dengan gembira.
Sekalipun begitu, perasaan Nyoo Cing "saat itu"
Sama sekali tidak gembira, pikiran dan perasaan hatinya sangat kalut..
...
Ketika secara tiba-tiba dia mendapat tahu kalau orang yang dicintai belum tewas, ketika secara tiba-tiba dia tahu kalau dirinya punya keturunan dan keturunannya mendadak berdiri dihadapannya, bagaimana mungkin perasaan hatinya tidak kalut?
Waktu itu dia pun sadar, bila harus berduel melawan jago tangguh macam Ti Cing-ling dengan membawa perasaan hati sekalut ini, kecil sekali kemungkinannya untuk meraih kemenangan.
Dia bukan lelaki yang takut mati, tapi dalam keadaan begini, dapatkah dia mati dengan begitu saja?
BAB 6.
Pengalaman Cong Hoa.
Musim gugur sudah mencapai ujungnya, daun kering berguguran memenuhi seluruh permukaan bumi.
Biarpun angin yang berhembus sudah makin mereda, namun bunga salju mulai berguguran di seluruh udara.
Dalam suasana begini, langit terasa begitu suram, sesuram perasaan hati manusia yang sedang dirundung kesedihan.
Jalan perbukitan itu Berliku-liku tidak rata, namun sambung-menyambung dari kaki bukit menuju ke arah kota.
Meski Cong Hui-miat mengenakan satu stel baju yang masih baru, namun tidak dapat menutupi raut mukanya yang penuh kesendirian, kesepian dan penderitaan yang amat menekan batinnya.
Terutama bekas bacokan golok yang melintang diantara alis matanya, terkesan perasaan sendu yang mendalam.
Biarpun dia mengayunkan langkahnya cukup cepat, namun kecepatannya sangat terbatas, penghidupannya selama banyak tahun dalam penjara membuat semangat, kekuatan dan pamornya terlibas habis.
Dengan wajah penuh keheranan dan rasa ingin tahu yang besar Cong Hoa mengawasi cara Cong Hui-miat berjalan, dia merasa cara orang ini berjalan amat berbeda dengan kebanyakan orang, berjalan selangkah demi selangkah.
Kaki kirinya selalu melangkah lebih duluan kemudian baru disusul dengan ayunan langkah kanannya, setiap kali melangkah kelihatan sekali kalau dia amat tersiksa dan menderita.
Apakah dia berjalan dengan cara begini lantaran sudah kelelahan?
Ataukah sepasang kakinya memang sudah cacad?
Cong Hoa pingin sekali menanyakan persoalan ini, dia ingin tahu mengapa dia berjalan dengan cara begitu?
Namun akhirnya gadis itu mengurungkan niatnya, dia memang selalu menghargai rahasia pribadi seseorang.
Dia beranggapan, setiap orang berhak untuk merahasiakan masalah pribadinya yang tidak ingin diketahui orang lain, setiap orang pun berhak untuk menolak menjawab pertanyaan yang tidak berkenan di hatinya.
Sejauh mata memandang hanya salju putih yang menyelimuti seluruh permukaan, bunga salju yang masih melayang turun tiada hentinya salju telah mengotori rambut, wajah dan ujung hidung Cong Hui-miat, membuat ayunan langkahnya semakin melambat.
Anehnya, dia sama sekali tidak berusaha untuk menyeka wajahnya dari noda bunga salju, orang ini seakan sudah begitu malas untuk hidup sehingga dia enggan untuk melakukan perbuatan apapun.
Dengan susah payah Cong Hoa telah selamatkan dia dari siksaan penjara, walaupun nona ini tidak berharap orang lain menangis dihadapannya karena terharu, paling tidak orang itu harus mengucapkan rasa terima kasih kepadanya.
Tapi dia tidak melakukannya.
Dengan pandangan yang sangat tenang dia hanya mengawasi Cong Hoa sambil bertanya hambar.
"Kau ingin aku melakukan apa untukmu?"
Mula mula Cong Hoa melengak, akhirnya dengan rasa geli bercampur mendongkol ia tertawa getir dan menjawab.
"Tidak perlu melakukan apa pun, lakukan saja apa yang ingin kau lakukan."
Kembali Cong Hui-miat mengawasinya sesaat, setelah itu dengan cara berjalan yang sangat aneh ia mulai meninggalkan kota menuju ke tanah perbukitan itu.
Tentu saja Cong Hoa harus mengikuti dari belakangnya, tujuannya menolong orang ini tidak lain karena dia ingin tahu rahasia dibalik "Mummi"
Yang penuh misteri itu.
Dia masih berjalan terus, walaupun tidak terhitung lamban namun setiap langkahnya dilalui dengan penuh siksaan.
Kalau berjalan terus dengan cara begini, harus menunggu sampai kapan dia baru tiba ditempat tujuan?
Dia tidak tahu, bahkan untuk dibayangkan pun malas.
Setelah mulai berjalan, dia tidak ingin berhenti lagi, sekalipun ancaman maut sudah menanti dihadapannya, dia tidak akan menghentikan ayunan kakinya.
Sebelum mencapai tujuan, dia tidak akan berhenti.
Waktu itu hari masih pagi, memandang jauh ke kaki bukit didepan sana, lamat-lamat kelihatan bayangan sebuah kota.
Jalan raya yang membentang dalam kota itu meski tidak terlalu panjang dan lebar, namun disisi kiri kanannya terdapat puluhan buah warung dan toko.
Saat itu suasana dijalanan itu cukup ramai, bahkan seramai suasana di kotaraja, aneka macam barang dijual disitu, kaki lima memenuhi pinggir jalan.
Tiba di tempat seperti ini, sepasang mata Cong Hoa segera berbinar, dia tidak menyangka kalau Cong Huimiat akan menuju ke tempat seperti ini.
Sejak pandangan pertama Cong Hoa sudah menyukai suasana di kota ini, dia merasa setiap orang dan benda yang ada disitu mendatangkan kesan yang mendalam baginya, keramah tamahan penduduk disitu tebal dengan perasaan kemanusiaan.
Para nona dengan dandanan yang sederhana bergerombol dimuka penjual kelontong, mencari bedak dan gincu yang memenuhi selera mereka.
Sementara si tauke penjual kelontong, mencuri kesempatan untuk diam diam "melahap"
"tahu"
Si nona bergaun merah.
Nona bergaun merah itu segera tertawa cekikikan, dengan wajah memerah lantaran jengah dia buru buru berlalu dari situ.
Seorang nyonya setengah umur yang gemuk dengan membawa seorang bocah yang rambutnya dikuncir seperti sebuah mercon, mendekati penjaja makanan kecil dan membeli gula gulali.
Tiga orang kakek yang wajahnya sudah penuh keriput dimakan usia, duduk bergerombol disudut dinding dan menikmati air teh sambil mengisahkan kembali kegagahannya di masa muda dulu.
Seorang lelaki kekar berbaju kasar, dengan mendorong sebuah kereta barang bergerak dari ujung jalan sana menuju kemari, sambil mendorong keretanya dia berteriak minta jalan.
Sementara disudut lain, serombongan penjual akrobatik sedang memainkan topeng monyet.
Tempik sorak yang gegap gempita mengiringi pertunjukkan itu, banyak malah diantara penonton yang sudah kerogoh kocek dan melemparkan kepingan uang ke tengah arena.
Kehidupan yang manusia, suasana kota yang tebal mendatangkan perasaan yang nyaman bagi Cong Hoa, dia berpendapat, bila seseorang dapat mempertahankan suasana seperti ini, maka tidak nanti akan terjadi kejahatan disitu.
Bagi Cong Hui-miat sendiri meski dia tidak dapat mendalami suasana seperti itu, namun kepedihan yang tersirat diantara kerutan alis matanya, kini nampak jauh lebih tawar.
Tanpa terasa mereka telah tiba dibagian tengah dari jalan raya itu, persis dekat lapangan dimana pertunjukkan topeng monyet sedang berlangsung.
Pada saat itulah mendadak terdengar seseorang meneriakkan dua kata dengan lantang, kemudian semua peristiwa pun terjadi dalam waktu sekejap, sedemikian cepatnya sampai sebelum Cong Hoa mengetahui apa yang terjadi, semuanya telah berakhir.
Ternyata dua kata yang diteriakkan itu adalah kata.
"Tanpa dosa."
Belum habis teriakan itu, si monyet yang semula sedang melakukan pertunjukkan topeng monyet itu sudah melompat melewati gerombolan orang banyak dan langsung mencakar wajah Cong Hui-miat.
Bersamaan waktunya, perempuan setengah umur penjual gula gulali itu pun sudah turun tangan pula, dengan satu ayunan kuat, gulali yang ada ditangannya sudah disodokkan ke dada orang she-Cong.
Bukan Cuma begitu, tiga orang kakek yang sedang duduk bergerombol pun tiba-tiba melejit ke udara, lalu dengan gerakan tubuh yang gesit mereka menyerang sepasang kaki lawan, sedangkan lelaki yang mendorong kereta barang telah memutar keretanya lalu diterjangkan ke tubuh Cong Hui-miat.
Baca Juga: Lembah Nirmala 2
Baca Juga: Bara Maharani 8