Ceritasilat Novel Online

Romantika Sebilah Pedang 2

Eps 2 Romantika Sebilah Pedang - Gu Long Tjan Id

Baca online Romantika Sebilah Pedang - Gu Long Tjan Id

Cersil Romantika Sebilah Pedang - Gu Long Tjan Id.

Seluruh serangan yang dilancarkan hampir semuanya ditujukan ke tubuh Cong Hui-miat, ketika Cong Hoa baru saja ingin maju memberi bantuan, tiba-tiba si nona bergaun merah yang baru saja membeli bedak itu sudah melemparkan bedak ditangannya ke wajah perempuan itu.

Dalam waktu singkat bedak beterbangan di udara, menutupi seluruh pemandangan disitu, untung sebelum datangnya serangan dia sudah menyadari kalau atap rumah merupakan tempat yang paling aman untuk meloloskan diri.

Maka sambil memejamkan matanya dia melejit ke udara, sesaat sebelum melompat, ia menyempatkan diri berteriak ke arah Cong Hui-miat.

"Cepat sembunyi ke atap rumah!"

Dalam suasana yang amat kabur dia seolah menyaksikan Cong Hui-miat melompat naik ke atap rumah, dia pun lamat-lamat menyaksikan si tauke penjual barang kelontong meloloskan sebatang cambuk panjang kemudian diayunkan ke udara untuk menggulung tubuh Cong Hui-miat.

Bagaikan seekor ular berbisa, cambuk panjang itu langsung menjerat tengkuk orang she-Cong itu.

Bagaimana kejadian selanjutnya, dia tidak tahu.

Waktu itu, meski tubuhnya sudah berada diatap rumah, namun matanya tidak mampu dibuka lantaran kemasukan bedak.

Dalam keadaan begini, dia hanya bisa mendengar dengan menggunakan telinga, tapi tempat yang semula ramai dan penuh suara hiruk pikuk itu tiba tiba berubah jadi hening, sepi, tidak kedengaran sedikit suara pun, sedemikian sepinya hingga mirip dengan suasana di tanah pekuburan.

...

Sebenarnya apa yang telah terjadi disitu?

...Apakah Cong Hui-miat berhasil kabur dari sergapan itu?

...Mengapa orang-orang dikota ini menyerang Cong Hui-miat secara serentak?

...

Kenapa secara tiba-tiba suasana jadi hening, sama sekali tidak kedengaran suara?

Cong Hoa ingin sekali segera mengetahui jawabannya, apa mau dikata sepasang matanya yang kemasukan bedak terasa pedih sekali, sedemikian pedihnya sehingga tidak mampu dibuka kembali.

Ada angin berhembus lewat.

Sebuah papan nama yang ada disisi jalan bergoyang kencang ketika terhembus angin, goncangan keras menimbulkan suara denyutan yang nyaring.

Papan nama itu sebenarnya merupakan papan nama sebuah toko, tapi kini keadaannya sudah rongsok dan lapuk, persis seperti gigi orang tua.

Dibalik noda darah yang mengotori papan nama itu, lamat-lamat masih terbaca berapa tulisan.

"toko keluarga Li". Sayang suasana dijalan raya itu jauh lebih parah ketimbang keadaan papan nama tersebut. Cong Hoa berdiri ditengah jalan dengan termangu, berdiri sambil mengawasi papan nama yang bergoyang dihembus angin, menanti hembusan angin telah berlalu, dia baru perlahan-lahan mengalihkan pandangan matanya ke ujung jalan. Walaupun tempat itu bukan sebuah kota besar, namun kota ini amat ramai, tamu yang kebetulan dalam perjalanan dari utara ke selatan atau sebaliknya, selalu akan menginap selama dua-tiga hari disitu. Tapi sekarang, keadaan kota itu seolah sebuah kota kecil yang sudah tiga tahun tidak pernah dihuni manusia. Coba kalau bukan masih terlihat sisa-sisa barang dagangan yang berserakan di sepanjang jalan, Cong Hoa akan mengira dia sedang bermimpi buruk. Seburuk apa pun mimpi itu suatu ketika orang akan mendusin kembali dari tidurnya, tapi impian buruk yang dialami Cong Hoa, sampai kapan baru bisa mendusin dari tidurnya? Apakah Cong Hui-miat masih hidup? Atau sudah mati? Mengapa penghuni kota itu berniat membunuhnya? Kini, kemana perginya orang-orang itu? Mengapa dalam waktu sekejap sudah lenyap tidak berbekas? Mengapa Cong Hui-miat mengajaknya kemari? Mungkinkah kota kecil ini adalah kota dimana Ku-heng-ceng menemui ajalnya? Iblis bengis macam apa yang bersembunyi dalam kota itu? Apakah dia sedang menanti kedatangan orang asing, lalu menelannya bulat-bulat? Tengah hari baru saja lewat, ada sinar matahari, ada angin, tapi tidak ada salju. Dalam akhir musim gugur yang sangat dingin ini, hari ini merupakan hari yang paling hangat udaranya, namun sayang Cong Hoajustru merasakan munculnya hawa dingin dari dasar telapak kakinya dan merasuk ke dalam tulang sumsumnya. Dalam keheningan yang mendekati suasana mati, hanya angin yang berhembus melewati jendela menimbulkan suara desis, tapi dalam suasana dan keadaan seperti ini, suara itu justru lebih mirip suara depakan sayap kelelawar yang sedang terbang keluar dari pintu neraka. Mengapa Cong Hoa masih berdiri tenang disana? Dia sedang memikirkan semua peristiwa yang baru saja dialami? Ataukah sedang menantikan sesuatu? Kalau sedang membayangkan kembali semua peristiwa yang baru lewat, sejak awal hingga akhir dia tidak pernah bisa menyaksikan secara jelas, lalu apa pula yang mesti dibayangkan? Jika sedang menantikan sesuatu, apa pula yang sedang dia nantikan? Menanti kemunculan orang-orang tadi? Atau kematian? Kalau kematian? Apakah kematian yang kedua kalinya? Langit sudah mendekati senja, salju mulai turun membasahi permukaan tanah. Ada salju, angin pun tetap berhembus. Diantara deru angin, mendadak dia menangkap suara nyanyian... Suara nyanyian yang muncul dari balik keheningan, muncul dari balik kemisteriusan, seolah-olah nyanyian yang datang dari neraka.

"Diujung jalan kehidupan, lenyap musnahkan manusia. Manusia tengah diujung jalan kematian, belum putus nyawa sudah terlanjur musnah. Begitu mendengar suara nyanyian itu, dari balik pandangan mata Cong Hoa yang kosong, tiba-tiba terbesit cahaya yang sangat aneh. ...Terlepas seaneh apapun penampilannya waktu itu, yang pasti bukan penampilan kesedihan atau penderitaan. Suara nyanyian makin lama semakin mendekat, akhirnya muncullah sang penyanyi, ternyata dia adalah seorang pengemis. Ternyata pengemis itu berjalan keluar dari dalam ruang toko dimana masih tergantung papan namanya.

"toko keluarga Li". Pengemis itu bernyanyi sambil menundukkan kepalanya, dalam genggaman tangannya dia memegang sebiji goanpo, langkahnya tidak terhitung cepat, namun dia pun tidak pernah memperhatikan jalanan. ... Apakah dia sudah tahu kalau kota kecil ini tidak berpenghuni? Apakah dia tahu kalau sesosok mayatpun tidak ada disitu maka dengan perasaan lega dia berjalan sambil menundukkan kepala? Cong Hoa masih berdiri disitu, berdiri di satu-satunya tempat dijalanan itu yang masih bisa dilewati, maka tidak ampun pengemis itupun menumbuk tubuh Cong Hoa.

"Kenapa kau berdiri disitu sehingga tertabrak aku?"

Teriakan pengemis itu ternyata keras sekali. Cong Hoa sangat geli, biasanya dia memang geli bila bertemu manusia macam begini.

"Sobat, siapa namamu?"

"Aku bukan sahabatmu, kaupun bukan sahabatku!"

Pengemis itu melotot besar.

"Buat apa kau menanyakan namaku?"

Cong Hoa masih tetap tersenyum.

"Sobat, siapa kau?"

Kembali bertanya.

"Aduuh... bagaimana sih kau ini? Aku paling benci kalau ada orang bertanya begitu kepadaku, siapa pula kau?"

Teriakan pengemis itu semaian keras.

"Aku justru paling senang bertanya begitu, siapa kau?"

Tampaknya pengemis itu memang bloon, biarpun satu pertanyaan yang sederhana namun dia mesti mengulangnya berulang kali seperti orang kebingungan saja.

Sementara Cong Hoa akan berganti cara lain, pengemis itu sudah berkata duluan.

"Dengarkan baikbaik, sekarang akan kukatakan siapa aku."

Sambil menunjuk hidung sendiri, katanya.

"Aku she-Ui, bernama Sauya, Ui sauya adalah aku, aku adalah Ui Sauya."

"Ui sauya?"

Cong Hoa sedikit tercengang. Ternyata pengemis itu bernama Ui sauya atau Tuan muda Ui! "Sudah ingat baik-baik?"

Pengemis itu seakan kuatir gadis itu lupa dengan namanya, kembali dia bertanya.

"Siapa namaku? Siapa aku?"

"Sudah kuingat baik-baik, kau adalah Ui sauya, Ui sauya adalah kau."

"Betul, lain kali jangan bertanya lagi kepadaku, siapa kau?"

Pengemis itu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku paling benci kalau ada yang bertanya kepadaku, siapa kau. Tapi orang lain justru selalu bertanya kepadaku, siapa kau? Aaai....!"

Pengemis itu menghela napas panjang, tiba-tiba dia menyusup melalui bawah ketiak Cong Hoa kemudian kabur secepat cepatnya meninggalkan tempat itu.

Cepat sekali lari orang itu, bahkan kecepatannya tidak berada dibawah orang yang punya dasar ilmu meringankan tubuh.

Tampaknya lari cepat memang merupakan kepandaian khas para pengemis.

Sayang Cong Hoa dapat berlari jauh lebih cepat darinya.

"Hey, mau apa sih kau ini?"

Sambil belari pengemis itu berseru dengan napas terengah.

"Apakah kau hendak merampas goanpo yang ada ditanganku?"

Cong Hoa tertawa geli, tiba-tiba dia menyambar ke muka dan betul-betul meram-pas goanpo yang berada dalam genggaman pengemis itu.

"Tolong, tolong... ada rampok merampas uangku!"

Kontan pengemis itu menjerit keras.

Masih untung jalanan itu sepi dan tidak ada orang, kalau tidak entah apa yang akan dilakukan Cong Hoa, kalau sampai uang milik seorang pengemis pun dirampas, bukankah dia sudah menjadi seorang bandit kelas teri?

"Cepat kembalikan uang itu kepadaku!"

Teriakan si pengemis semakin keras.

"Kalau tidak, aku akan beradu nyawa denganmu."

"Asal kau bersedia menjawab berapa pertanyaanku, bukan saja uang ini akan kukembalikan, bahkan akan kutambah dengan sekeping goanpo yang jauh lebih besar dari yang ini."

Pengemis itu mengerdipkan matanya berulang kali, setelah mempertimbangkan lama sekali dia baru mengangguk.

"Baik, apa yang ingin kau tanyakan?"

"Sudah lama kau berdiam di kota kecil ini?"

"Benar."

"Apakah kau ikut menyaksikan semua peristiwa yang telah terjadi di jalanan ini tengah hari tadi?"

Pengemis itu kelihatan agak gemetar, tapi dia segera mengangguk.

"Coba ceritakan, apa yang telah terjadi di kota ini? Apakah sahabatku itu masih hidup atau sudah mati? Ke mana perginya semua penghuni kota ini? Secara beruntun Cong Hoa mengajukan tiga buah pertanyaan, tapi ketiga buah pertanyaan itu seolah tiga batang tiang salju yang menghujam ke tubuh pengemis itu, tubuhnya seketika gemetar keras, bahkan giginya pun seakan sedang berkelahi.

"Aaku.. .aku.. .melihat.. .tidak.. .tidak.....melihat..."

Pada dasarnya dia memang tidak pernah bicara secara jelas, apalagi sekarang, dalam keadaan ketakutan setengah mati, ucapannya semakin melantur tidak jelas.

Mendadak Cong Hoa mengeluarkan sekeping goanpo besar lalu digoyang-goyangkan dihadapan pengemis itu.

Ternyata goanpo itu jauh lebih berkasiat ketimbang obat mujarab, bukan saja pengemis itu sudah tidak gemetar, sepasang matanya terbelalak lebar lebar, mengawasi goanpo yang ada ditangan perempuan itu tanpa berkedip.

"Dapatkah kau menceritakan kembali peristiwa yang terjadi tengah hari tadi?"

Tanya Cong Hoa perlahan.

"Dapat... boleh..."

Baru saja pengemis itu akan mengambil goanpo tersebut, Cong Hoa telah menariknya kembali, ujarnya.

"Ceritakan dulu kejadiannya, kemudian baru kuberikan kepadamu."

"Baik!"

Pengemis itu menengok sekejap ujung jalanan, wajahnya mulai diselimuti perasaan ngeri, tampaknya dia sedang mengenang kembali kejadian yang dialaminya tengah hari tadi.

"Ketika kau melompat ke atap rumah, sobat yang punya bekas bacokan di alis matanya juga ikut melompat..."

Kejadian sebelum itu sudah diketahui semua oleh Cong Hoa, justru yang dia ingin tahu adalah peristiwa yang terjadi kemudian.

"Ketika tauke penjual gincu melihat sobatmu ikut melompat, tiba-tiba dari dalam tangannya me.... melompat keluar seutas cambuk yang amat panjang..."

Makin berbicara pengemis itu nampak semakin ketakutan.

"Cambuk panjang yang meliuk-liuk di udara itu seakan mempunyai mata, dengan cepatnya dia menyambar tengkuk sahabatmu, kemudian..."

"Kemudian...kemudian bagaimana?"

Tanya Cong Hoa gelisah.

"Kemudian... kemudian..."

Pengemis itu menelan air liurnya sambil menatap si nona tanpa berkedip.

"Kemudian tidak ada lagi."

"Tidak ada lagi? Barang apa yang tidak ada lagi?"

"Tidak ada lagi yaa tidak ada lagi,"

Pengemis itu menyengir lirih.

"Tak ada lagi maksudnya aku hanya menonton sampai disitu saja, karena selanjutnya aku pingsan."

"Kau..."

Saking jengkelnya Cong Hoa sampai tidak mampu berbicara.

"Kau... kau kenapa kau? Aku pun manusia yang terdiri dari darah dan daging. Memangnya kau suruh aku menyaksikan semua peristiwa tragis itu dengan mata melotot? Karena aku tidak sanggup menolong sahabatmu, maka aku pun jatuh tidak sadarkan diri."

Cong Hoa hanya bisa mengawasi pengemis itu dengan mata melotot, dia tidak tahu mesti mendongkol atau geli? Mendadak pengemis itu merebut goanpo yang ada ditangannya sambil berseru.

"Kau berjanji akan berikan goanpo ini kepadaku begitu selesai aku menjawab pertanyaanmu, sekarang aku sudah selesai menjawab, maka goanpo ini sudah menjadi milikku."

Biarpun sudah ditanyakan, hasilnya tetap percuma, karena apa yang dia katakan, diketahui juga oleh nona itu, tapi apa yang ingin dia ketahui justru tidak terjawab oleh pengemis itu.

Jika kejadian ini dialami dimasa dulu, mungkin dia sudah merampas balik goanpo itu kemudian menghadiahkan pula dua tempelengan keras.

Untung Cong Hoa sekarang bukan manusia semacam itu, dia hanya menghela napas sambil ujarnya sedih.

"Pergilah, goanpo itu sudah menjadi milikmu."

"Sungguh?"

Pengemis itu sedikit kurang percaya. Cong Hoa m anggut m anggut.

"Kau tidak akan merampasnya kembali?"

Sambil melangkah pergi, tiada hentinya pengemis itu berpaling. Cong Hoa menggeleng.

"Aku boleh pergi dari sini?"

Kembali dia menggeserkan tubuhnya. Sekali lagi Cong Hoa mengangguk.

"Aku pergi dulu?"

Kali ini Cong Hoa sudah malas untuk mengangguk.

"Aku betul-betul boleh pergi?"

Tampaknya pengemis itu seakan tidak percaya, kali ini dia malah berjalan balik satu langkah.

Cong Hoa merasa muak, dia benar benar sudah sebal untuk mendengarnya.

Sekali lagi pengemis itu melangkah pergi, bisiknya.

"Kali ini aku benar benar akan pergi?"

"Sudah selesai belum ributmu?"

Cong Hoa mulai mendidih hatinya.

"Sudah, sudah selesai,"

Pengemis itu segera kabur terbirit birit, dari kejauhan sana dia masih menyempatkan diri untuk berpaling memandang kearah Cong Hoa, kalau ditinjau dari mimik mukanya, mungkin dia sudah menganggap gadis itu sebagai satu makhluk aneh.

Cong Hoa masih berdiri tenang ditengah jalan, paras mukanya sama sekali tidak menampilkan perubahan apa pun.

Namun perasaan hatinya amat kalut.

Walaupun Tu Bu-heng bisa menebak kalau dia bakal menolong Cong Hui-miat dari tangan Nyoo Cing, namun tidak seorang pun yang tahu dengan cara apa dia menyelamatkan Cong Hui-miat dari dalam penjara.

Tentu saja kecuali Nyoo Cing seorang.

Tapi sekarang, jangan lagi berbicara soal Cong Huimiat, apakah dia masih hidup atau sudah mati pun sama sekali tidak diketahui olehnya, bagaimana mungkin dia bisa menghadap Nyoo Cing?

Dengan cara apa pula dia memberikan tanggung jawabnya kepada Nyoo Cing?

Kabur.

Bisa saja dia melarikan diri ke ujung langit, sekalipun Nyoo Cing punya kekuasaan sehebat seorang Kaisar pun belum tentu dia bisa berbuat banyak.

Tapi gadis itu tidak sudi kabur, dia pun tidak bisa kabur.

Karena itulah prinsip hidupnya selama ini.

Betapa pun serius dan beratnya suatu masalah, dia tetap akan menghadapinya secara jantan, betapa beratnya hukuman yang bakal dilimpahkan kepadanya, dia tetap akan menjalaninya.

Yang pasti, dia tidak akan melarikan diri.

"Siapa pun tidak akan mengabulkan permintaanmu yang kelewatan ini,"

Nyoo Cing berkata sambil menatap tajam wajah Cong Hoa.

"Tapi aku percaya kepadamu, kau boleh membawa pergi Cong Hui-miat, tapi setengah bulan kemudian harus kau bawa kembali kemari."

"Aku pasti akan mengembalikan kemari, membawanya balik dalam keadaan utuh!"

Dengan nada serius dan meyakinkan Cong Hoa berjanji.

"Bila hingga waktunya kau belum juga membawa balik, aku akan menuduhmu sebagai komplotan yang bersekongkel untuk membawa kabur narapidana penting kerajaan,"

Sepatah demi sepatah kata Nyoo Cing berkata.

"Kau bisa dijatuhi hukuman mati, bahkan seluruh keluargamu akan ditumpas!"

Hari ini, kendatipun jaraknya dengan setengah bulan masih ada tiga belas hari, namun Cong Hoa tidak tahu Cong Hui-miat berada di mana, bahkan mati hidupnya pun tidak diketahui.

Dengan cara apa dia akan mencarinya?

Kemana dia harus pergi untuk mencari jejaknya?

Kegelapan malam hari akhirnya mulai menyelimuti seluruh jagad.

Walaupun salju sudah lama berhenti, namun hawa yang dingin dan membeku telah mengubah jalan raya itu seakan lapisan salju yang keras, tiang salju yang bergelantungan di wuwungan rumah persis seperti gigi serigala yang sedang menyeringai, seolah sedang bersiap-siap akan menggigit manusia.

Tidak ada manusia yang berlalu lalang di jalanan, seluruh kota kecil itu tercekam dalam keheningan yang luar biasa, keheningan bagaikan sebuah tanah pekuburan, seluruh angkasa dan bumi seolah telah diselimuti oleh selapis hawa "kematian"

Yang membeku.

Tiada angin, bahkan air hujan pun seakan ikut membeku jadi bongkahan salju.

Cong Hoa duduk didalam sebuah rumah makan, rumah makan diujung jalan, ternyata diatas meja tersedia arak dan hidangan.

Hidangan ditemukan dari dalam dapur, tentu saja arak diperoleh dari guci dibelakang meja kasir.

Dia duduk disisi jendela, saling berhadapan dengan jalanan yang sepi dan mati, sorot matanya dialihkan keujung langit, mengawasi bayang bayang kegelapan nun jauh di sana.

Dia masih tetap berada di kota kecil itu, bukan berarti dia sedang menunggu munculnya "kemukjijatan", dalam keadaan seperti ini, dia butuh sebuah tempat yang tenang, duduk manis sambil mereka ulang seluruh kejadian yang dialaminya, dari awal hingga akhir.

...

Tempat mana lagi yang jauh lebih tenang ketimbang tempat ini?

Cong Hoa memang manusia macam begitu, diwaktu biasa, tingkah lakunya macam orang sinting, perbuatan apapun berani dilakukan, terhadap masalah apa pun tidak acuh.

Tapi setelah menjumpai persoalan yang pelik, dia dapat berpikir secara tenang dan kepala dingin, dia dapat menganalisa dan mengambil kesimpulan, kemudian mengatur strategi guna menyelesaikan persoalan itu.

Diambilnya cawan arak dimeja, lalu pelan pelan meneguk isinya.

Dia mulai mereka ulang semua peristiwa itu, sejak dia mencari Tu Thian dan mengajaknya bertaruh, hingga Tu Thian dan Un-hwee sianseng mengemukakan identitas sebenarnya serta tujuan mereka.

Diantara peristiwa ini, semestinya tidak ada bagian yang pantas dan patut dicurigai, satu satunya yang mencurigakan hanya munculnya seorang lelaki gelandangan yang batuk tiada hentinya disaat dia sedang bertaruh dengan Tu Thian, waktu itu si gelandangan mengucapkan berapa kata yang hingga kini masih belum dipahami maksudnya.

"Buat apa?"

"Kenapa harus begitu?"

Sebenarnya siapakah lelaki gelandangan itu?

Apa maksud dia mengucapkan dua kata itu?

Kembali Cong Hoa meneguk habis isi cawannya, kendatipun kota kecil ini amat sepi dan terpencil, ternyata arak yang tersedia disitu adalah arak kenamaan Tiok-yap-cing.

Tentu saja hidangan yang tersedia bukan terhitung lezat dan mewah, tapi dalam situasi seperti ini, hidangan tersebut sudah lebih dari cukup.

Cong Hoa meletakkan kembali cawan araknya, sekali lagi dia mengalihkan sepasang matanya yang bening dan penuh kehangatan itu memandang ke tempat kejauhan sana.

Tu Bu-heng telah menggunakan Ti Cing-leng sebagai umpan, memancing hingga kegembiraannya mulai berkobar maka dia pun menceritakan rahasia yang menyangkut Cong Hui-miat dengan boneka 'mummi' itu.

Kalau urusan sudah menjadi begini, biar Cong Hoa tidak ingin mencampuri urusan juga sudah tidak mungkin...

siapa suruh dia punya watak ingin tahu yang kelewat besar?

Dia menggunakan cara yang paling tidak masuk akal berhasil 'meminjam' Cong Hui-miat dari tangan Nyoo Cing, maka diapun bersama Cong Hui-miat tiba di kota kecil ini.

Kemudian pada hari ini terjadilah peris-tiwa yang membuat kepalanya pusing tujuh keliling, kejadian aneh yang sangat mencengangkan hati.

Dan akibatnya dia pun jadi perempuan linglung yang harus menunggu macam orang bodoh di tempat gersang, dimana burungpun enggan bertelur, meneguk arak 'pengangguran' yang masam.

Walaupun persoalan ini menyangkut masalah 'mummi' yang penuh misteri, tapi secara keseluruhan rasanya tidak ditunggangi rencana busuk lainnya.

Semakin berpikir Cong Hoa merasa semakin aneh dan keheranan, dia sendiri tidak tahu dimana letak keanehan itu, tapi dia sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan kejadian ini.

Malam, tiada rembulan tiada bintang.

Rembulan dan bintang yang biasanya menghiasi angkasa, saat ini pada sembunyi semua, seolah merasa takut juga dengan suasana 'kematian' yang mencekam kota kecil itu.

Hembusan angin gunung membawa bau tanah lumpur dari tanah perbukitan dike-jauhan sana, membawa pula suara batuk yang lirih.

Cong Hoa seketika membelalakkan matanya lebarlebar, dia segera pasang telinga sambil mendengarkan dengan seksama.

Kembali suara batuk bergema memecahkan keheningan, kali ini suara tersebut muncul dari tengah jalan raya.

Tidak tahan lagi Cong Hoa melongok ke luar jendela.

Dari balik kegelapan malam, lamat-lamat dia seperti melihat ada sesosok bayangan manusia sedang berjalan mendekat dari ujung jalan sana, setiap berjalan dua langkah, orang itu kembali terbatuk batuk hingga membungkukkan tubuh.

Setiap kali setelah meludahkan riak kentalnya, dia baru meluruskan tubuhnya dan melanjutkan perjalanan menuju ke rumah makan itu.

Menanti dia sudah muncul di depan pintu, Cong Hoa baru dapat melihat jelas raut mukanya.

Dia mengenakan sebuah jubah panjang berwarna putih yang kini telah berubah jadi keabu-abuan lantaran kelewat sering dicuci, perawakan tubuhnya tinggi kurus, wajahnya pucat pias persis seputih bunga ombak samudra yang memecah ditepian karena menghantam batu karang.

Usianya sudah tidak muda, diujung matanya terlihat banyak kerutan, dari setiap kerut matanya seakan tersimpan kepedihan dan kesendirian yang dideritanya selama perjalanan hidup.

Biarpun wajahnya tidak memperlihatkan perubahan perasaan apa pun, tapi meninggalkan kesan hampa dan murung bagi siapa pun yang memandangnya.

Hanya sepasang matanya yang kelihatan masih muda.

Sepasang mata anehnya itu seakan berwarna biru tua, sebiru langit disiang hari, mata itupun seakan hembusan angin musim semi yang menggoyangkan ranting pohon liu, lembut tapi lincah.

"Ada tamu yang datang dari jauh, kenapa tuan rumah tidak menyapa?"

Itulah ucapan pertama yang diutarakan begitu memasuki pintu rumah makan.

Ternyata dia telah menganggap tempat itu sebagai rumah kediaman Cong Hoa dan menganggap gadis itu sebagai tuan rumah.

Mula-mula Cong Hoa agak melengak, tapi segera disahutnya sambil tertawa.

"Telah kusiapkan arak kasar dan hidangan seadanya, anggap saja sebagai rasa hormatku."

Orang itu menarik napas panjang, lewat lama kemudian dia baru berbisik.

"Ehmm, arak bagus, jelas tiok-yap-cing ini paling tidak telah berusia dua puluh tahunan."

Benar benar seorang setan arak, hanya dari bau nya saja dia sudah dapat membedakan kwalitas arak itu. Cong Hoa menuangkan secawan arak dan disodorkan kepadanya, lalu memenuhi juga cawan arak sendiri.

"Keringkan secawan arak ini!"

Ujar Cong Hoa.

"Perduli siapa kah kau dan apa tujuanmu kemari, memandang kemampuan yang baru saja kau perlihatkan, aku sudah putuskan untuk bersahabat denganmu."

Selesai menghabiskan secawan arak itu, lelaki setengah umur itu kembali batuk tiada hentinya, batuk yang hebat dan tiada putusnya membuat paras mukanya yang semula memucat muncul semu merah membara.

...Cahaya merah yang mirip jilatan api dari neraka, api neraka yang sedang membakar tubuh dan sukmanya.

"Aneh, sungguh aneh..."

Cong Hoa mulai bergumam.

"Aku seakan pernah bertemu dengannya?"

Akhirnya berhenti juga batuk lelaki setengah umur itu, dia menarik napas dalam-dalam, mengatur napas, kemudian memenuhi kembali cawan araknya dan mengangkat cawan itu dengan penuh keriangan.

"Sekali lagi kita telah berjumpa muka, terima kasih banyak atas hadiah arakmu."

"Berjumpa sekali lagi?"

Cong Hoa mulai berpikir, mendadak dia teringat akan sesuatu, kontan teriaknya.

"Yaaa. Sekarang teringat sudah aku! Bukankah kau adalah lelaki gelandangan yang berjalan keluar dari belakang pohon ketika hari itu aku sedang bertaruh dengan Tu Thian?"

Sekulum senyuman segera menghiasi ujung bibir lelaki setengah umur itu.

"Tadi aku malah sempat terpikir akan dirimu, tidak tahunya kau benar-benar telah muncul!"

Seru gadis itu lagi.

"Oya?"

"Apa maksud perkataan yang kau ucapkan pada hari itu?"

"Kau benar benar tidak mengerti?"

"Tidak mengerti."

Lelaki setengah umur itu meneguk araknya lalu tertawa, tampaknya dia ingin batuk lagi, tapi akhirnya ditahan, ditatapnya wajah Cong Hoa sambil tertawa.

"Buat apa?"

Senyuman secerah udara yang baru diguyur hujan kembali tersungging diujung bibirnya.

"Padahal kau sudah tahu dengan jelas, tidak perlu menjatuhkan diri kebawah, buat apa kau tetap membiarkan tubuhmu tersiksa rasa sakit dan penderitaan?"

"Ooh, jadi kau telah melihatnya?"

Ujar Cong Hoa.

"Bayangkan saja, dalam sepuluh menit aku harus selesai memanjat tiga puluh batang pohon. Aku hanya rikuh untuk membuat dia kalah secara mengenaskan."

"Kau anggap Tu Thian benar-benar telah kalah bertaruh?"

Kembali lelaki setengah umur itu bertanya.

"Memangnya tidak?"

"Sekalipun dia tidak kalah dalam pertaruhan ini, kujamin Tu Thian tetap akan pergi mencarimu."

"Mencari aku?"

Cong Hoa tercengang.

"Lantaran urusan Cong Hui-miat?"

"Sebetulnya persoalan itu hanya satu urusan kecil diantaranya."

"Jadi masih ada urusan lain?"

Berkilat sepasang mata Cong Hoa.

"Berarti urusan lain itulah baru persoalan besar yang sebenarnya?"

"Nah begitu baru agak mirip Cong Hoa yang sebenarnya."

Perkataan apa itu?

Tapi Cong Hoa sangat memahaminya.

Jika harus ditukar dengan perkataan lain, kira kira dia sedang berkata begini,"Nah begitu baru mirip Cong Hoa yang konon sangat pintar dan cekatan."

Cong Hoa meneguk habis isi cawannya, kemudian menatap cahaya lentera dengan termangu.

"Jadi cerita tentang Mummi dan pengkhianat penjual negara yang dikisahkan Tu Bu-heng, semuanya hanya cerita bualan belaka?"

"Tidak, semuanya merupakan kenyataan, bahkan kejadian sebenarnya jauh lebih serius daripada apa yang dia kisahkan."

"Kelihatannya aku harus sedikit mengubah sifat rasa ingin tahuku."

"Sudah terlambat!"

Kata lelaki setengah umur itu hambar.

"Menurut apa yang kuketahui, dalam lima hari mendatang, paling tidak akan muncul enam tujuh orang yang mencarimu."

"Mencari aku? Demi persoalan besar itu?"

"Kalau demi urusan besar itu, mungkin Coh Liu-hiang dan Siau-Li si pisau terbang sudah ikut datang sejak dulu,"

Senyuman yang menghiasi bibir lelaki setengah umur itu makin tebal.

"Mereka datang karena persoalan mummi."

"Aneh, kenapa dari jaman dulu hingga sebelum kejadian ini belum pernah ada orang yang bicara soal mummi itu, tapi sekarang, tiba tiba saja benda itu seolah merupakan harta karun, setiap orang ingin mendapatkannya."

"Masalah ini disebabkan ada orang yang sengaja menyiarkan berita ini ke dalam dunia persilatan."

"Benarkah rahasia seputar mummi itu sangat menarik perhatian orang banyak?"

"Jaman dulu, raja Chin Shi-huang saja sampai mengirim utusan untuk mencari obat panjang umur, apalagi kalau sekarang terdapat ilmu rahasia yang bisa membuat orang yang sudah mati bisa bangkit kembali,"

Ujar lelaki setengah umur itu sambil tertawa getir.

"Sesungguhnya bukan masalah seseorang bisa hidup panjang umur atau tidak, yang penting justru hidupmu cukup berharga atau tidak? Mendatangkan makna yang berarti atau tidak?"

"Jika setiap orang bisa memiliki pemikiran seperti kau, dunia ini pasti aman."

"Manusia itu memang tidak kenal puas!" ... Tidak kenal puas memang merupakan salah satu kelemahan manusia yang terbesar. Musim gugur telah berakhir, namun malam belum kelewat larut. Hembusan angin terasa makin kencang, membuat satu satunya papan nama yang masih tersisa di kota kecil itu bergoyang tiada hentinya.

"Kau bilang dalam lima hari mendatang ada enamtujuh orang akan datang mencariku,"

Kata Cong Hoa.

"Manusia macam apa sih ke enam orang itu?"

"Tentu saja jagoan yang memiliki kungfu hebat, terutama tiga orang diantaranya."

Cong Hoa tidak memberi komentar, tapi dia mendengarkan dengan asyik.

"Kau pernah mendengar tentang Say Siau-li?"

Tanya lelaki setengah umur itu.

"Say Siau-li?"

"Benar!"

Lelaki setengah umur itu meneguk secawan arak.

"Sudah enam tahun dia terjun ke dalam dunia persilatan, tapi pisau terbangnya baru digunakan sebanyak enam belas kali."

"Tidak pernah meleset?"

"Tidak pernah meleset!"

Sorot mata lelaki itu menerawang ke tengah jalan raya.

"Sekalipun pisau terbangnya lebih hebat pun, ada satu hal dia tidak akan mampu menandingi Li Sin-huan."

"Dalam hal apa?"

"Pisau terbang Li Sin-huan digunakan untuk menolong orang, sementara pisau terbang dia digunakan untuk membunuh orang,"

Kata Cong Hoa.

"Dalam hal ini jelas dia tidak akan mampu mengungguli Siau-Li si pisau terbang."

Lelaki setengah umur itu manggut-manggut, lanjutnya.

"Nama orang yang kedua amat tersohor diseantero jagad, jarang yang tidak pernah mendengar namanya."

"Benarkah?"

"Betul, dia adalah Liong-ngo kongcu!"

"Liong Ngo dari Kwangtong?"

Cong Hoa berkerut kening.

"Rasanya Cuma ada seorang Liong Ngo di dunia kangouw saat ini."

"Waaah, tampaknya sangat menarik..."

Seru Cong Hoa, setelan termenung sejenak bertanya lagi.

"Lantas siapakah orang ketiga?"

Lelaki setengah umur itu tidak langsung menjawab, sebaliknya malah perlahan-lahan mengangkat cawannya lalu menghirup isinya dengan santai, dari mimik mukanya bisa diduga kalau dia sedang mempertimbangkan sesuatu.

Entah sedari kapan angin telah berhenti berhembus, suasana terasa hening dan sepi, sedemikian heningnya hingga mendatangkan perasaan tidak enak bagi siapa pun.

Kendatipun angin telah berhenti, hawa dingin justru semakin merasuk tulang.

Setelah ditunggu sekian waktu belum juga kedengaran lelaki setengah umur itu berbicara, Cong Hoa tidak sanggup menahan diri lagi, teriaknya keras.

"Malaikat darimana sih orang ketiga itu?"

"Aku tidak tahu."

Jawaban dari lelaki setengah umur itu kontan membuat Cong Hoa terperanjat, ia memandang orang itu dengan mata terbelalak.

"Tidak tahu?"

"Sebenarnya akupun berharap bisa tahu siapakah dia,"

Kata lelaki setengah umur itu sambil meletakkan kembali cawannya ke meja.

"Konon orang itu bertingkah laku macam orang sinting, setiap hari dia selalu mondar mandir ke sana kemari sambil memegang sekeping goanpo ditangannya."

Dalam benak Cong Hoa segera terlintas bayangan si pengemis cilik yang dijumpainya sore tadi.

"Jika dia berikan goanpo miliknya kepadamu sambil tertawa cengar-cengir, itu berarti sebentar lagi kau akan berpesta bersama raja akhirat,"

Kata lelaki setengah umur itu lebih jauh.

"Biasanya tidak sampai tiga hari, orang itu akan lenyap tidak berbekas!"

"Memangnya kalau lenyap lantas berarti sudah mampus?"

Tanya Cong Hoa.

"Mati atau tidak, paling tidak mesti ada mayatnya, tapi kalau bertemu dengan orang ini, kau tidak akan menemukan apa-apa lagi."

"Maksudmu selain nyawanya diambil, mayatnya pun ikut diambil?"

"Rasanya begitu."

Bayangan tentang si pengemis cilik itu semakin jelas melintas dalam benak Cong Hoa.

Benarkah seorang pengemis cilik yang begitu menarik sesungguhnya adalah seorang raja iblis pembunuh manusia?

"Darimana kau bisa mengetahui semua persoalan itu secara jelas?"

Dengan sorot mata setajam sembilu Cong Hoa mengawasi lelaki setengah umur itu.

"Siapa pula dirimu?"

"Aku hanya seseorang yang sudah mati,"

Sekilas perasaan pedih melintas diwajah lelaki setengah umur itu.

"Semestinya aku adalah seseorang yang sudah mati."

"Kau orang mati? Orang mati berarti setan?"

Lelaki setengah umur itu tidak menjawab, namun senyuman dingin segera tersungging diujung bibirnya.

"Kau ini termasuk setan gantung atau setan penasaran? Atau mungkin setan penuntut balas?"

Kembali Cong Hoa menggoda.

"Namanya adalah setan yang sepantasnya mampus!"

Mendadak seseorang menanggapi, suara itu seakan datang dari ujung jalan, tapi seperti juga berasal dari dalam ruangan rumah makan itu. BAB 7. Kehilangan satu hari.

"Namanya adalah setan yang sepantasnya mampus!"

Mendengar teriakan tersebut, kembali lelaki setengah umur itu menghela napas panjang, namun kepedihan diwajahnya sudah jauh berkurang, sebagai gantinya terlintas perasaan hormat yang tebal.

Sementara itu Cong Hoa sudah tertawa terbahakbahak, dia merasa amat geli dengan seman itu.

Bersamaan dengan bergemanya suara teriakan itu, terendus juga bau ikan bakar yang harum semerbak.

...

Ikan bakar mana yang bisa menangkan ikan bakar hasil olahan Lo Kay-sian?

"Sekarang aku baru sadar, ternyata menilai orang jangan hanya menilai dari wajahnya,"

Kata Cong Hoa sambil menghela napas panjang.

"Kenapa?"

Suara itu masih mengalun ditengah udara.

"Bukan saja kepandaianmu memanggang ikan terhitung nomor wahid, pura-puramu jadi orang bodoh jauh lebih hebat lagi."

"Darimana kau bisa tahu kalau aku...?"

"Aku toh bukan seekor kucing, siapa yang tahan dengan bau amis ikanmu?"

Ejek Cong Hoa tertawa.

"Sekalipun bukan kucing, tapi hidungmu lebih tajam daripada hidung seekor anjing,"

Menyusul perkataan itu, Lo kay-sian muncul dari mulut tangga.

"Tapi ada sementara orang yang justru jadi anjing pun tidak pantas!"

Kata Cong Hoa uring-uringan.

"Sudah jelas memiliki kemampuan untuk melacak jejak orang, tapi dia masih bersikeras tidak mau mengakui."

"Dia tidak punya kemampuan untuk melacak,"

Kata lelaki setengah umur itu sambil tertawa.

"Akulah yang telah mengundangnya kemari."

Sambil tertawa terkekeh Lo Kay-sian mengambil tempat duduk, ternyata ditangannya telah membawa sebuah cawan.

"Orang ini memang kebangetan, memangnya dia anggap kita tidak bakal mengundangnya minum arak? Masa membawa cawan sendiri!"

Seru Cong Hoa lagi.

"Kau toh sudah tahu kalau aku ini malas sekali,"

Kata Lo Kay-sian sambil memenuhi cawannya dengan arak.

"Kalau urusan bisa sekaligus diselesaikan, kenapa aku mesti mengerjakannya dua kali?"

"Tapi kau pandai berlagak edan, sudah puluhan tahun kau berlagak begitu."

"Dia bukan berlagak edan, sesungguhnya dia hanya pegang janji,"

Lelaki setengah umur itu menerangkan.

"Pegang janji siapa?"

"Cong Poan-long."

"Cong Poan-long? Siapa Cong Poan-long?"

"Cong Poan-long adalah bapanya Cong Hui-miat, yaitu pendeta Ku-heng-ceng,"

Lelaki setengah umur itu mulai batuk-batuk. Setelah meneguk secawan arak dan menarik napas panjang, dia melanjutkan.

"Ketika pertama kali masuk ke daratan Tionggoan, orang pertama yang hendak dijumpai Cong Poan-long adalah dia!"

Dia menuding ke arah Lo Kay-sian, kemudian terusnya.

"Mereka adalah sahabat yang amat karib."

Lo Kay-sian tertawa, namun tertawanya amat sedih dan getir.

"Tempat pertemuan yang mereka janjikan kebetulan adalah tempat ini."

Berarti disinilah Ku-heng-ceng menemui celaka.

"Dia datang selangkah lebih awal ketimbang Tu Buheng serta Un-hwee, tapi toh tetap terlambat!"

Kata lelaki setengah umur itu.

"Ketika tiba disini, dia jumpai Cong Poan-long sudah tergeletak bersimbah darah, buru buru dia bertanya siapakah pembunuhnya, tapi Cong Poan-long hanya mengawasinya dengan sinar mata penuh ketakutan."

"Aku cukup mengerti apa yang menjadi kehendaknya,"

Kata Lo Kay-sian pula hambar.

"Dia tahu kepandaian silatku masih kalah jauh bila dibandingkan pembunuh itu, dia takut setelah kuketahui namanya maka akan pergi mencarinya dan balaskan dendam sakit hatinya."

"Cong Poan-long memohon kepadanya agar merawat Cong Hui-miat secara baik baik,"

Ujar lelaki setengah umur itu.

"Untuk melaksanakan permohonan tersebut maka selama puluhan tahun dia berlagak bodoh."

"Kalau memang Cong Poan-long datang dengan membawa rahasia, kenapa dia tidak langsung bertemu dengan Tu Bu-heng sekalian?"

Tanya Cong Hoa.

"Inilah salah satu sebab yang tidak kami pahami,"

Kata lo Kay-sian.

"Dia takut kau tidak mampu melawan pembunuh itu, kenapa dia tidak beritahu kepada Tu Bu-heng sekalian? Masa dengan kekuatan kerajaan, merekapun tidak sanggup menghadapinya?"

Persoalan inipun merupakan salah satu hal yang mencurigakan.

"Kalau dia memang membawa rahasia itu untuk diserahkan kepada Pemerintah, kenapa setelah dibunuh, rahasia tersebut malah tidak disampaikan? Kemudian jika masalah ini menyangkut satu kejadian yang luar biasa, kenapa hingga akhir-akhir ini persoalan tersebut baru mencuat?"

Setelah berhenti sejenak, kembali Cong Hoa berkata kepada lelaki setengah umur itu.

"Jika kau memang orang yang sepatutnya mati, kenapa sekarang bisa bangkit dan hidup kembali? Kenapa kau pun mengetahui dengan sangat jelas semua seluk beluk mengenai peristiwa ini?"

Setelah menarik napas, lanjutnya.

"Kenapa Cong Huimiat mengalami kejadian begitu sampai disini? Kenapa pula kau mengundang Lo Kay-sian untuk berjumpa disini?"

Tiada rembulan, tiada bintang, yang tersisa hanya awan gelap yang bergeser terhembus angin.

Pikiran dan perasaan Cong Hoa pun diliputi pelbagai kecurigaan dan perasaan tidak habis mengerti.

Lelaki setengah umur itu meski sedang memandang Cong Hoa, namun ditinjau dari mimik mukanya yang penuh diliputi kedukaan, seakan dia sedang melamunkan kembali kejadian lama...

Tiga puluh enam orang bocah berbaju putih dengan membawa tujuh puluh dua batang tempat lilin yang terbuat dari tembaga hijau perlahan-lahan berjalan masuk, meletakkan tempat lilin itu disekeliling dinding ruangan, kemudian mengundurkan diri dari situ.

Tempat itu merupakan sebuah bangunan rumah yang luas, dindingnya berwarna putih bersih tanpa debu, lantainya terbuat dari keramik yang bening bagaikan cermin.

Dalam ruangan itu tidak ada benda lain, kecuali dua buah alas duduk.

Ing Bu-oh duduk bersila diatas salah satu alas duduk, sebuah tongkat bambu hijau yang didalamnya terselip sebilah pedang ular berbisa, diletakkan diatas lututnya, dia duduk tidak bergerak, seakan sedang berada dalam keadaan 'tenang'.

Ti Cing-ling juga duduk di sebuah alas duduk yang lain, mereka berdua duduk saling berhadapan, siapa pun tidak tahu sudah berapa lama mereka duduk disitu.

Malam semakin larut...

saat itupun akhir musim gugur.

Tiba-tiba Ti Cing-ling bangkit berdiri, dengan sangat hormat dia menjura ke arah Ing Bu-oh, ujarnya.

"Tecu Ti Cing-leng akan melakukan percobaan pedang untuk ke sebelas kalinya, mohon suhu sudi memberi petunjuk."

Pertarungan antara dua jago tangguh seringkah akan selesai dalam satu gebrakan, mati hidup menang kalah pun akan ditentukan sesaat.

Tapi sekarang mereka sedang menjajal pedang, menjajal pedang milik Ti Cing-ling.

Cahaya fajar sudah mulai mencorong masuk melalui atap ruangan, Ti Cing-ling memutar cahaya pedangnya satu lingkaran, tiba-tiba dia menghentikan serangannya.

Mereka sudah bertempur semalam suntuk.

Ing Bu-ok mundur beberapa langkah kemudian perlahan lahan duduk diatas alas duduk, tampaknya dia amat kelelahan.

Paras muka Ti Cing-ling sama sekali tidak berubah, pakaiannya yang berwarna putih tetap bersih tanpa debu, setetes keringat pun tidak nampak membasahi wajahnya.

"Kali ini adalah kali ke sebelas kau menjajal pedang, tidak kusangka kau telah berhasil!"

Kata Ing Bu-ok perlahan, dia tidak tahu harus gembira atau sedih karena kejadian ini.

Ti Cing-ling tidak mengucapkan sepatah kata pun, tiba-tiba dia berjalan keluar dengan langkah lebar, sewaktu lewat disamping Ing Bu-ok, tiba tiba dia membalikkan pedangnya dan menusuk punggung gurunya hingga tembus ke jantung.

Kembali lelaki setengah umur itu termenung, dia merasakan juga sakit yang luar biasa di bekas lukanya persis disisi jantung, sorot matanya yang semula dipenuhi kehangatan kini mulai suram dan dicekam kesedihan, matanya redup seakan mata seorang lelaki buta.

Tiba-tiba paras muka Lo Kay-sian berubah amat serius, sambil menatap lelaki setengah umur itu perlahan-lahan ujarnya.

"Dialah Ing Bu-ok!"

Ku-bok sinkian (pedang sakti mata buta) Ing Bu-ok.

Ketika nama besar Ing Bu-ok menggetarkan sungai telaga, mungkin orang tua Cong Hoa belum lagi mulai 'berpacaran'.

Tentu saja diapun tahu kalau Ing Bu-ok tewas diujung pedang Ti Cing-ling.

Tapi, kenapa Lo Kay-sian mengatakan kalau lelaki setengah baya ini adalah Ing Bu-ok?

"Bukankah Ing Bu-ok sudah dibunuh oleh Ti Cing-ling?"

Tanya Cong Hoa.

"Benar, Ing Bu-ok memang sudah dibunuh!"

"Lalu... kenapa bisa muncul seorang Ing Bu-ok lagi?"

Tanya Cong Hoa sambil melirik lelaki setengah baya itu sekejap.

"Dia adalah guru Ti Cing-ling, Ing Bu-ok. Dia juga Ing Bu-ok yang telah dibunuh Ti Cing-ling."

Cong Hoa semakin kebingungan, dengan termangu diawasinya kedua orang itu, lama kemudian ia baru bertanya lagi.

"Memangnya waktu itu Ti Cing-ling merasa tidak tega sehingga memperingan tusukannya? Atau Ing Bu-ok yang memiliki dua buah jantung?"

"Aku tidak mempunyai dua buah jantung, serangan Ti Cing-ling pun tidak lembek,"

Lelaki setengah umur itu berkata hambar.

"Tapi, aku mempunyai seorang sahabat karib."

Sepasang mata lelaki setengah baya yang sudah bagaikan mata orang buta itu kembali bersinar, dia memandang ke arah Lo Kay-sian kemudian katanya lagi.

"Meskipun aku sudah tahu dengan jelas manusia macam apakah Ti Cing-ling, namun aku tetap melengak juga sewaktu dia membalikkan tubuh sambil menghadiahkan sebuah tusukan ke tubuhku, aku tidak menyangka kalau dia bisa menggunakan saat, tempat dan situasi semacam itu untuk melancarkan tusukannya."

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

"Mungkin lantaran aku melengak itulah tusukan yang dilancarkan Ti Cingling jadi sedikit melenceng." ... Disaat orang melengak bercampur kaget, konon jantung seseorang bisa menyusut kecil lantaran terkena rangsangan.

"Oleh sebab itu ketika Bong Si-khong datang kesitu, kendatipun napasku sudah tinggal satu dua, namun setelah berusaha hampir tiga hari tiga malam lamanya, akhirnya dia berhasil juga menarik keluar diriku dari pintu gerbang Kui-bun-kwan."

"Ooh, pendekar pedang rindu?"

Cong Hoa menghela napas panjang.

"Biarpun jantungku sudah berapa kali berdebar hari ini, namun debaran jantungku benar-benar menghebat setelah tahu kalau kau adalah Bong Si-khong."

"Puluhan tahun sudah lewat, tidak kusangka masih ada orang yang masih teringat akan diriku,"

Gumam Lo Kay-sian sambil meneguk isi cawannya.

'Pendekar pedang rindu, satu tusukan bikin orang selalu rindu'.

Dengan sebilah pedangnya, dulu dia pernah mengalahkan tujuh orang jago pedang paling kosen dalam dunia persilatan.

Jurus pedangnya bukan Cuma ganas dan telengas, reaksi dan gerakannya luar biasa cepatnya, membuat orang tidak menyangka kalau serangan itu telah merenggut nyawanya.

Pendekar ini memang selalu membuat orang merasa rindu....

khususnya kaum wanita.

"Aku berani jamin, dari seratus orang paling tidak ada sembilan puluh sembilan setengah orang tidak akan percaya jika Pendekar pedang rindu telah menjadi seorang kepala sipir penjara,"

Kata Cong Hoa sambil menatap orang tua itu.

"Pendekar pedang rindu sudah mati lama sekali,"

Ucapan Lo Kay-sian lirih tidak bertenaga.

"Sudah mati semenjak belasan tahun berselang."

Dengan termangu Cong Hoa mengawasi Lo Kay-sian, setelah lama kemudian dia baru berkata.

"Benar, pendekar pedang rindu sudah mati!"

Dengan perasaan berterima kasih Lo Kay-sian melirik sekejap ke arahnya.

Tidak gampang bagi seseorang mendapat 'nama besar', untuk mempertahankannya juga teramat sulit, tapi untuk memusnahkannya, ternyata dapat dilakukan dalam waktu sekejap.

"Mari kita bersulang satu cawan arak!"

Cong Hoa mengangkat cawannya.

"Manusia yang tidak dapat dipercaya tidak akan bisa tancapkan kaki di dunia ini, ucapan tersebut bisa saja diucapkan setiap orang, tapi ada berapa banyak yang sanggup melaksanakannya?"

Sekali teguk menghabiskan isi cawan, hawa kehangatan seketika muncul dari perut dan menyebar ke seluruh bagian tubuh.

"Darimana kau bisa tahu kalau aku akan kemari?"

Tanya Cong Hoa kemudian sambil berpaling ke arah Ing Bu-ok.

"Mau apa kau undang Bong Si... Lo Kay-sian datang kemari?"

"Seandainya kau menjadi Cong Hui-miat, setelah keluar penjara, pertama-tama tempat mana yang akan kau kunjungi?"

Bukannya menjawab, Ing Bu-ok malah baik bertanya.

"Tentu saja datang kemari,"

Jawab Cong Hoa setelah berpikir sejenak.

"Itulah dia, aku pun mengajak Lo Kay-sian untuk berjumpa disini, kami bermaksud bersama-sama pergi mencari Cong Hui-miat dan menerangkan beberapa masalah, kemudian merundingkan bagaimana langkah berikut, tidak disangka...."

"Tidak disangka telah terjadi peristiwa di pagi hari tadi,"

Sambung si nona.

"Betul, tidak kusangka tindakan yang dilakukan pihak lawan jauh lebih cepat daripada apa yang kuduga."

"Siapa sih pihak lawan?"

"Perkumpulan naga hijau, Cing-liong-hwee."

"Perkumpulan naga hijau?"

Tampaknya Cong Hoa agak terperanjat.

"Wah, tampaknya aku mesti membayar mahal untuk mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya!" ... Ada benarnya juga perkataan ini, sebab peristiwa tesebut merupakan sebuah intrik paling besar yang pernah terjadi selama seratus tahun terakhir dalam dunia persilatan, bukan saja menyangkut banyak pihak, yang mati dan terluka pun sudah banyak sekali, sebuah peristiwa yang tidak mudah dibayangkan.

"Hampir selama belasan tahun lamanya aku selalu melacak dan menyelidiki sebab musabab kematian Cong Poan-long,"

Ujar Ing Bu-ok.

"Hasil analisaku adalah terdapat dua hal yang sangat aneh!"

"Hal aneh? Apa itu?"

"Ternyata sebelum tiba disini, Cong Poan-long telah bertemu lebih dulu dengan Cong Hui-miat."

"Mereka sudah berpisah hampir belasan tahun lamanya, kenapa begitu sampai di daratan Tionggoan, dia langsung dapat menemukan jejaknya?"

Kata Cong Hoa.

"Kenapa selama ini Cong Poan-long selalu merahasiakan kejadian nya?"

"Ketika Lo Kay-sian tiba di tempat kejadian, kendatipun kondisi Cong Poan-long sudah kritis dan napasnya tinggal satu dua, namun kaki dan tangannya masih dapat bergerak, anehnya, kenapa ketika Tu Buheng sekalian berjumpa dengan Cong Poan-long, kaki dan tangannya sudah dipotong orang? Kenapa pula dia meninggalkan tulisan "Tidak berdosa"

Dua patah kata?"

Arak sudah tidak jelas mengisi poci yang ke berapa, namun ketiga orang itu sama sekali belum menunjukkan pertanda mabuk.

Rahasia dibalik peristiwa ini tampaknya jauh lebih manjur ketimbang "air teh penyadar mabuk", membuat peredaran darah ditubuh mereka beredar lebih cepat dan panas.

Cahaya fajar sudah mulai menghiasi ufuk timur, kini angin telah berhenti berhembus, namun bunga salju belum lagi beterbangan.

Seluruh bumi dicekam dalam keheningan dan udara beku.

...Mengapa udara selalu terasa dingin membeku, suasana selalu dicekam keheningan disaat malam hampir lewat, fajar hampir menyingsing?

"Aku pernah bertemu dengan Ui sauya,"

Kata Cong Hoa sambil menerawang ujung jalan.

"Kau pernah bertemu?"

Tanya Ing Bu-ok keheranan.

"Kapan? Di mana?"

"Kemarin, disini. Dia adalah seorang lelaki yang bertubuh mungil tapi punya kepala yang sangat besar, waktu bicara senang membalikkan bola matanya sehingga sekilas pandang, dia lebih mirip dengan seorang bocah idiot."

"Dia tidak menghadiahkan goanponya kepadamu?"

Tanya Lo Kay-sian agak tegang.

"Tidak!"

Sahut Cong Hoa sambil menarik kembali pandangan matanya dan berpaling ke arah Lo Kay-sian.

"Justru dia yang telah melarikan goanpoku."

Lo Kay-sian maupun Ing Bu-ok segera menghembuskan napas lega. Ui Sauya tidak menghadiahkan goanpo nya kepada gadis itu, berarti untuk sementara waktu nyawa si nona masih dapat dipertahankan.

"Ui sauya sangat percaya dengan hukum karma, dia tidak pernah mau berhutang pada orang lain, maka setiap kali hendak membunuh seseorang, dia selalu akan menyerahkan dulu sejumlah uang, uang untuk membeli nyawa orang tersebut,"

Ing Bu-ok menerangkan.

"Anehnya, kalau toh dia tidak berniat membunuhmu, kenapa pula malah merebut uangmu?"

Sambung Lo Kay-sian.

"Jangan jangan...dia pernah menyelamatkan nyawamu, maka uangmu baru dibawa lari?"

Cong Hoa berpikir sejenak, kemudian menggeleng.

"Tidak mungkin, dia mengambil uangku lantaran aku mengajukan pertanyaan kepadanya."

"Bertanya soal apa?"

"Tanya apa yang telah terjadi setelah aku melompat naik ke atap rumah."

"Apakah dia telah menyaksikan peristiwa itu sejak awal hingga akhir?"

"Dia hanya bilang..."

Mendadak Cong Hoa menghentikan perkataannya, perasaan terkejut, kaget, ngeri dan tidak percaya berkecamuk diatas wajahnya.

Dia mengawasi ujung jalan tanpa berkedip, seakanakan ditempat itu sudah menyaksikan sesosok bayangan setan yang gemar makan manusia.

Sebenarnya apa yang telah dia saksikan?

Kejadian berharga apa yang telah dia saksikan di jalanan itu sehingga membuatnya terkesiap?

Bukan hanya di kota propinsi atau kota besar saja, di desa kecil pun pasti ada rumah penduduk, juga ada pertokoan.

Dimana ada rumah penduduk dan pertokoan, ibarat muncul cahaya terang dari balik kegelapan, suasana pasti lebih hidup dan ramai.

Tatkala cahaya pertama memancar keluar dari ufuk timur, ayam pun mulai berkokok dan anjing pun mulai menggonggong.

Bunga salju yang melapisi permukaan jalan kini sudah mulai mencair, lamat lamat dapat terlihat alas batu hijau yang tertanam dibalik lapisan salju.

Hari kesibukan untuk penduduk kota pun dimulai.

Para pedagang mulai membuka pintu toko nya dan berharap dagangannya hari ini laris manis.

Asap mulai mengepul dari arah dapur, para ibu mulai mempersiapkan sarapan untuk keluarganya, sementara bocah bocah nakal mulai kelayapan di tengah jalan.

Tapi keramaian semacam itu tidak dijumpai di kota kecil ini, suasana yang mencekam tempat itu sangat berbeda dengan suasana di kota kota lain.

Semenjak usaha pembunuhan terhadap Cong Huimiat terjadi dikota itu, seluruh penduduk kota seakan ikut lenyap tak berbekas.

Suasana yang mencekam kota itu sedemikian sepi dan heningnya hingga melebihi suasana di tanah pekuburan, jangan lagi manusia, kokokan ayam dan gonggongan anjing pun sama sekali tidak kedengaran.

Mengapa setelah lewat satu malaman, orang-orang itu kembali muncul disitu?

Bahkan seolah tidak pernah terjadi peristiwa di siang kemarin?

Tauke penjual bedak dan gincu masih dengan pakaian yang dikenakan kemarin, menjajakan barang dagangannya ditepi jalan.

Tiga orang kakek masih tetap duduk di kaki lima, berbincang tentang kegagahan mereka di masa lampau.

Bahkan nona bergaun merah yang melemparkan bedaknya ke arah Cong Hoa pun, hari ini muncul kembali dengan senyuman yang penuh keriangan.

Semua orang, semua kejadian, sama persis seperti keadaan kemarin siang, bayangkan saja bagaimana mungkin Cong Hoa tidak terperanjat dibuatnya?

Sinar sang surya menebarkan kehangatan ditengah suasana yang dingin membeku, tapi gadis ini justru merasakan tubuhnya makin menggigil, semakin kedinginan, seakan akan tubuhnya telah terjerumus ke dalam sebuah jurang yang dalamnya mencapai ribuan kaki.

Dia seakan merasakan tubuhnya terperosok ke dalam neraka.

Apa yang dia saksikan di jalan raya itu bahkan jauh lebih menakutkan daripada apa yang terdapat di dalam neraka.

"Apakah orang-orang itu yang kau saksikan kemarin?"

Bisik Lo Kay-sian. Cong Hoa tidak menjawab, dia hanya mengangguk.

"Jadi merekalah yang menyerang Cong Hui-miat kemarin siang?"

Tanya Ing Bu-ok pula.

Meski Cong Hoa sudah mengangguk, namun dia merasa tubuhnya seakan sudah membeku kaku.

Dengan termangu Ing Bu-ok mengawasi orang yang berlalu lalang ditengah jalan, entah lewat berapa saat kemudian, sekilas perasaan aneh melintas diatas wajahnya.

Pada saat itulah terdengar ada orang sedang berbicara.

"Tuan bertiga, tampaknya kalian sedang bergembira, sepagi ini sudah datang minum arak?"

Dengan mata masih mengantuk dan berjalan sambil menguap, seorang pelayan muncul dari belakang ruangan, kendatipun dia berbicara dengan penuh sopan namun nadanya jelas sedang menegur, mengapa sepagi ini Cong Hoa sekalian sudah datang mengusik tidurnya.

Menyaksikan munculnya pelayan rumah makan itu, rasa kaget dan tercengang yang semula menghiasi wajah Cong Hoa seketika hilang lenyap.

"Kau keliru besar, bukan sedari pagi tadi tapi sejak semalam aku sudah minum disini,"

Sahut Cong Hoa sambil tertawa.

"Memangnya semalam kau sedang libur? Tidak ada ditempat?"

"Kekkoan, kau sedang bergurau nampaknya, tamu terakhir yang meninggalkan rumah makan ini adalah Sam sauya keluarga Tan yang tinggal di seberang jalan,"

Kata si pelayan cepat.

"Dia malah minum sampai menjelang kentongan pertama, akulah yang memayangnya pulang."

"Benarkah begitu? Masa kau tidak melihat peristiwa yang terjadi ditengah jalan siang kemarin? Masa kau tidak mengetahuinya?"

"Peristiwa yang terjadi kemarin siang?"

Walaupun sang pelayan tidak paham apa maksud perkataan itu, namun sahutnya juga sambil tertawa.

"Tempat kami adalah kota kecil, jarang orang yang berlalu lalang disini, sekalipun pernah terjadi urusan kecil, paling tidak kejadian tersebut akan menjadi bahan perbincangan sampai tiga hari tiga malam. Boleh tahu kejadian mana yang kekkoan maksudkan?"

Sikap maupun nada bicaranya masih amat jujur dan sopan, namun dalam hati kecilnya dia sudah menganggap ketiga orang tamunya itu sebagai orang sinting.

Ing Bu-ok berlagak memandang sekejap cahaya sang surya diluar ruangan, lalu katanya sambil menghela napas panjang.

"Aaaai... melihat sang surya pada tanggal satu bulan sepuluh, dikemudian hari pasti akan terjadi bencana besar."

"Untung hari ini baru akhir bulan Sembilan,"

Sambung pelayan itu sambil tertawa.

"Ooh, aku sangka hari ini sudah tanggal satu bulan sepuluh!"

Ing Bu-ok diam-diam memberi tanda kepada Cong Hoa dan Lo Kay-sian, kemudian terusnya.

"Kelihatannya aku sudah mulai pikun, masa sampai hari apa pun tidak jelas."

Hari ini jelas sudah tanggal satu bulan sepuluh, mengapa pelayan itu masih ngotot mengatakan hari ini baru akhir bulan sembilan?

Jangan-jangan dia pun mengidap penyakit lupa hari?

Atau mungkin ada sebab yang lain?

"Kelihatannya mereka sudah kehilangan satu hari,"

Ketika beranjak keluar dari rumah makan itu Ing Bu-ok berbisik.

"Kehilangan satu hari?"

Tanya Cong Hoa.

"Maksudmu, semua penduduk kota yang muncul di hari kemarin bukan orang-orang ini?"

Dia memandang sekejap orang yang sedang berlalu lalang di jalanan, kemudian lanjutnya.

"Berarti orang yang membunuh Cong Hui-miat adalah anggota perkumpulan naga hijau yang menyamar jadi penduduk kota?"

Tidak menunggu Ing Bu-ok menjawab, kembali dia menambahkan.

"Ini berarti semua penduduk kota telah dibius dengan semacam obat pemabuk sehingga mereka tertidur sehari semalam, karena itulah mereka jadi kehilangan satu hari."

"Rasanya memang begitu,"

Kata Ing Bu-ok tertawa getir.

"Dan memang kejadiannya juga begitu."

Ketika sinar matahari menyinari wajah Ing Bu-ok, siapa pun semestinya dapat melihat betapa sangsi perasaan hatinya, dia merasa curiga, merasa serba salah...

Cong Hoa berlagak seakan tidak melihat apa-apa, tiba di tengah jalan, dia menarik napas panjang lalu membenahi bajunya yang kusut.

Salju yang melapisi permukaan jalan kini sudah mencair, entah darimana datangnya hembusan angin, selembar daun kering melayang dari udara dan jatuh ke tanah.

Cong Hoa memungut daun itu dan diselipkan disisi bajunya, kemudian setelah berjumpalitan beberapa kali di tengah udara, dia menghampiri Lo Kay-sian dan katanya sambil tertawa.

"Coba tebak, apa yang sedang kupikirkan sekarang?"

Lo Kay-sian bukan Cuma terperanjat, tampaknya ia sudah tertegun dibuatnya. Ing Bu-ok pun tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

"Aku ingin mencari sebuah tempat dan tidur."

"Saat ini kau ingin tidur?"

Lo Kay-sian semakin terkejut.

"Besok aku masih ada urusan, tentu saja aku harus menyimpan tenaga."

"Memangnya kau bisa.... bisa tidur?"

"Kenapa tidak bisa...."

"Tapi kota ini...Cong Hui-miat lenyap di kota ini..."

"Bagaimana pun sekarang kita sudah tahu kalau Cong Hui-miat tewas ditangan perkumpulan naga hijau, jadi urusan yang lain bisa kita bicarakan dikemudian hari."

Dengan wajah melongo Ing Bu-ok mengawasi gadis itu, dia seolah belum pernah berjumpa dengan manusia semacam ini.

Tapi sejujurnya, manusia macam begini memang jarang sekali dijumpai.

Bila orang lain yang sedang menghadapi masalah semacam ini, mereka tentu murung, kesal dan sedih, tapi gadis itu?

Dia seakan sudah melupakan semua persoalan, seolah semua kemurungan dan kesedihan telah dibuangnya jauh jauh.

Setelah menghela napas panjang dan tertawa getir, kata Lo Kay-sian.

"Kelihatannya meski sedang menghadapi persoalan yang lebih besar pun, dia sanggup membuang semuanya dalam waktu singkat."

"Di dunia ini sesungguhnya memang tidak ada persoalan yang berharga untuk dirisaukan."

"Aaai, manusia macam kau memang orang yang paling hokki,"

Ing Bu-ok menghela napas panjang. Cong Hoa tidak menyangkal.

"Besok kau masih ada urusan apa lagi?"

Tidak tahan Lo Kay-sian bertanya.

"Sebuah urusan yang amat penting."

Sambil tersenyum Cong Hoa menggapaikan tangannya, lalu seakan selembar pelangi yang menyambar lewat, tahu-tahu dia sudah jauh meninggalkan tempat itu.

Mengawasi hingga bayangan tubuh nona itu lenyap diluar kota, Lo Kay-sian baru menghela napas panjang, ujarnya sambil tertawa getir.

"Sekarang aku baru tahu kenapa dia tidak pernah risau, rupanya dia bisa berjumpalitan, setiap setelah berjumpalitan maka semua kerisauan pun ikut lenyap."

Cong Hoa memang memiliki kemampuan itu, bila tidak menguasai kepandaian ini, mungkin sekarang dia sudah menumbukkan kepalanya diatas dinding.

BAB 8.

Dia sudah mengerti.

Tanggal dua, tengah hari.

Cong Hoa sudah balik ke kota propinsi, dengan langkah lebar dia memasuki rumah makan Cin-cun-wan.

Bila berganti orang lain yang menjumpai pelbagai kejadian seperti apa yang dialaminya sekarang, mungkin orang itu sudah mampus sejak dulu, tapi ketika memasuki rumah makan, wajahnya masih tetap berseri, semangatnya bugar seakan akan baru saja mendapat rejeki nomplok.

Begitu melihat kehadirannya, sang pelayan segera maju menyambut dengan hormat.

"Selamat pagi nona."

"Pagi!"

Sambil tersenyum Cong Hoa men-cari tempat duduk yang dekat jendela.

"Selama dua hari belakangan mencari rejeki di mana? Sudah tidak kelihatan selama berhari-hari."

"Aaah, menemani teman lama keluar kota."

"Silahkan duduk, silaukan duduk, segera akan kupersiapkan hidangan."

Matahari bersinar cerah, hari ini udara memang nampak segar.

Setelah balik ke sana, Cong Hoa merasakan perasaan hatinya jauh lebih riang, jauh lebih gembira.

Dia memang patut gembira, sebab dia sudah mengerti, telah berhasil memahami sesuatu..."

Jika bukit tidak datang ke hadapanmu, kaulah yang mendatangi bukit itu."

Sekalipun peristiwa ini aneh dan penuh misteri, asal mau rajin melacak dan menyelidiki, Cong Hoa yakin akhirnya dia pasti akan berhasil mencapai tujuan.

Tapi Cong Hoa tetap bingung, kejadian ini nampaknya saja sederhana tanpa liku liku, akan tetapi dia tidak tahu harus dimulai dari mana.

Karena bingung tidak tahu harus berbuat apa, maka diapun putuskan untuk menunggu disitu....

biar orang lain yang datang mencarinya.

Tapi mimpi pun Cong Hoa tidak menyangka kalau orang pertama yang datang mencarinya ternyata adalah dia.

Meskipun agak kepagian untuk minum arak sepagi ini, namun ditengah udara yang begini dingin, tidak ada salahnya untuk meneguk satu dua cawan arak guna menghangatkan tubuh.

Setelah melahap sesuap sayur dan menghirup seteguk arak, Cong Hoa menghembuskan napasnya perlahan.

Ditepi jalan tumbuh sebatang pohon, seseorang duduk disisi pohon sambil memegang sebuah cupucupu berisi arak, anehnya orang itu tidak menenggak isinya tapi hanya mengendusnya dengan hidung, kemudian setelah menghirup napas dalam dalam, dia membuang napas itu perlahan.

Kalau dilihat dari tampangnya, orang itu seperti ingin sekali meneguk arak wangi itu, tapi dia pun merasa sayang untuk menghabiskan isinya, maka dia hanya mengendusnya untuk memenuhi hasratnya.

Menyaksikan orang itu Cong Hoa langsung tertawa, bahkan tertawanya sangat gembira.

"Orang persilatan menyebut Ui sauya, hanya sayang otaknya sedikit miring."

Ternyata orang yang sedang duduk dibawah pohon itu tidak lain adalah si pengemis yang tidak tahu diri itu, Ui sauya.

Hari ini dia tidak muncul sambil mem-bawa goanpo tapi memegang sebuah cupu-cupu berisi arak, apakah kehadirannya hari ini bukan untuk membunuh orang?

Benarkah dia seseram apa yang diberitakan dalam dunia persilatan?

Cong Hoa merasa dia tidak mirip, sekalipun wajah senyum tidak senyumnya memang kelihatan sangat jelek, tapi jelek yang menarik, jelek yang tidak mendatangkan rasa muak, jelek yang membuat orang jadi tertarik.

Baru saja Cong Hoa hendak membawa arak menghampiri Ui sauya yang menarik itu, mendadak dia merasakan hawa pembunuhan yang sangat kuat muncul dari seberang jalan.

Diseberang jalan sanapun terdapat sebatang pohon, dibawah pohon berdiri manusia.

Empat orang manusia.

Seorang sedang minum arak, dua orang sedang bermain catur dan seorang lagi pemuda berbaju putih sedang menggunakan sebilah pisau belati untuk membersihkan kukunya.

Paras muka pemuda itu memang kelihatan seperti pisaunya, dibalik warna putih terselip semu hijau, hijau yang sangat menakutkan.

Dari dua orang yang sedang bermain catur, seorang adalah hwesio, meski alis matanya sudah memutih namun wajahnya merah bagaikan wajah bayi, sementara seorang yang lain memakai baju hijau celana putih, sebuah cincin menghiasi jari tangannya, cincin itu adalah sebuah batu kemala putih Pek-hangiok yang tidak ternilai harganya.

Pupil mata Cong Hoa tiba-tiba menyusut kencang, wajahnya yang munggil pun men-dadak berubah jadi semu merah.

Ternyata orang yang sejak tadi hanya tundukkan kepala sambil minum arak itu, kini sedang mendongakkan kepalanya dengan perlahan.

"Bagaimana daganganmu akhir-akhir ini?"

Cong Hoa segera menegur.

"Masih lumayan...sejelek apa pun, masih ada juga suami istri bodoh yang menyumbang uang minyak untukku,"

Sahut hwesio beralis putih itu cepat.

"Apalagi mendekati musim gugur, inilah musim makmur bagi kami."

Biarpun dandanannya adalah seorang pendeta, namun lagak dan cara berbicaranya persis seperti seorang toa tauke.

"Banyak toa tauke yang tidak menyenangkan, tidak nyana kau justru amat menyenangkan,"

Cong Hoa tertawa terkekeh kekeh.

"Hahahaha... aku memang bernama Yu Ki (menyenangkan)"

Hwesio beralis putih itu ikut tertawa.

"Yu Ki? Kau dari marga apa?"

Senyuman Cong Hoa mulai nampak agak dipaksakan.

"Aku she-Bwee!"

"Bwee? Bwee Yu Ki?"

Sekarang Cong Hoa tidak bisa tertawa lagi.

Dia cukup mengenal nama orang itu.

Dua puluh tahun berselang, dia adalah salah satu dari empat pelindung hukum kuil Siau-lim-si, bukan saja tingkah lakunya sedikit sinting bahkan ambisi nya besar sekali.

Waktu itu hongtiang kuil Siau-lim, Un-sim taysu sudah mengetahui akan rencana busuknya, tapi sayang tidak punya bukti atau saksi.

Setiap hari Bwee Yu-ki menyembunyikan diri bagaikan seorang gadis pingitan, jangan lagi mendekatinya, mau bertemu saja susahnya setengah mati.

Tapi suatu ketika, akhirnya dia masuk perangkap hingga diusir keluar dari pintu siau-lim-si.

Cong Hoa mengawasi Bwee Yu-ki tanpa berkedip, dia tidak berani bersikap gegabah bahkan mengendorkan perhatiannya sekejap pun tidak berani.

Siapa tahu baru saja dia berpaling, bidak catur yang ada ditangannya telah diletakkan diatas papan catur.

Tapi baru dia letakkan biji bidak tadi, dengan cepat tangannya kembali mengobrak abrik seluruh bidak yang ada di papan catur sembari berseru.

"Aku mengaku kalah!"

"Kau kalah karena perhatianmu sudah terpecahkan, mana boleh dianggap satu kekalahan,"

Sahut lelaki setengah umur berbaju hijau bercelana putih itu cepat.

"Hanya gara-gara salah langkah, seluruh permainan jadi berantakan, mana boleh dianggap tidak kalah?"

"Betul, apalagi bermain catur sama seperti bermain pedang, tidak seharusnya pikiran bercabang, kalau konsentrasi sampai buyar, mana mungkin bisa menjadi seorang jagoan tangguh?"

Sambung lelaki setengah umur penjual gincu dan pupur itu cepat.

"Masih untung kendati sewaktu bermain catur pikiran taysu bisa bercabang, namun setelah menggenggam tombak Ciang-liong-ngo-bwee-ciang (tombak lima bunga bwee penakluk naga), konsentrasi mu tidak pernah buyar."

Cong Hoa memandang sekejap lelaki setengah umur berbaju hijau bercelana putih itu, kembali perasaan keheranan melintas diatas wajahnya.

"Jadi kau dari marga Li?"

Tanyanya kemudian.

"Bok Cu-li,"

Jawab lelaki itu sambil mengangguk.

"Ooh, jadi kau adalah Li Ki-tong (Li si bocah catur)?"

"Persoalan di dunia ibarat permainan catur, apalah arti dari sebuah nama?"

Li Ki-tong menghela napas panjang.

"Aku tidak lebih hanya seorang anak catur."

Siapa pun tidak akan menyangka kalau orang yang kelihatannya sangat sederhana ini ternyata adalah seorang pembunuh bayaran yang paling misterius dan paling tinggi bayarannya dalam dunia persilatan.

Mungkin saja namanya kalah tenar bila dibandingkan Bwee Yu-ki, namun tidak akan lebih bijaksana dan welas kasih daripada dirinya.

...

Pembunuh bayaran memang selalu hidup dalam kesepian dan keterpencilan.

Asal tawaran harganya cocok, tidak ada sasaran yang ditolak untuk dibunuh.

Konon untuk membantai si pisau kilat Tan Beng, dia telah menghabiskan waktu selama tujuh tahun enam bulan lewat tiga hari.

Ketika usaha pembunuhannya gagal maka dia akan mengulang untuk kedua kalinya, ketika usahanya yang kedua kembali gagal maka dia akan mengulang yang ketiga dan seterusnya hingga usaha pembunuhannya berhasil, untuk membinasakan si pisau kilat Tan Beng, dia telah melakukan dua puluh lima kali percobaan pembunuhan.

Menghadapi manusia penyabar dan tidak kenal putus asa macam dia, siapa lagi manusia di dunia ini yang tidak mampu dibunuhnya?

Biarpun senyuman masih menghiasi bibir Cong Hoa, namun perasaan hatinya sudah gelisah bagai semut yang ada di kuali panas.

Kelihatannya dalam gerakan kali ini perkumpulan naga hijau telah mempertaruhkan jumlah uang yang sangat banyak.

Bagi Cong Hoa, dia tidak lebih hanya mendapat titipan untuk membawa Cong Hui-miat keluar dari "penjara bawah tanah", sedang masalah yang menyangkut kabar angin serta hubungannya dengan pihak pemerintah, baginya sama sekali tidak ada sangkut pautnya.

Tapi sekarang, mengapa perkumpulan naga hijau mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki untuk menghadapi dirinya?

"Kemarin, bukankah kalian sudah berhasil membunuh Cong Hui-miat?"

Kata Cong Hoa kepada lelaki penjual gincu itu.

"Andaikata menginginkan juga nyawaku, bukankah kalian bisa melakukan bersamaan waktunya? Kenapa harus menunggu hingga hari ini?"

"Sebetulnya dalam operasi yang dilakukan waktu itu, kami memang berencana akan membunuh kau dan Cong Hui-miat,"

Ujar lelaki setengah umur itu hambar.

"Tapi secara tiba-tiba kami tidak berani melakukannya."

"Kenapa?"

"Karena bila kami membunuhmu maka kamilah yang bakal mampus!"

"Kalian yang bakal mampus?"

Cong Hoa membelalakkan matanya lebar-lebar.

"Memangnya kalian anggap kemampuanku sanggup untuk membunuh kalian?"

"Mungkin kau memang tidak sanggup, tapi dia sanggup,"

Kata lelaki itu sambil memandang ke arah seberang jalan, lamat-lamat perasaan ngeri dan takut memancar keluar dari balik matanya.

Tanpa berpaling pun Cong Hoa tahu siapa yang dimaksud, tapi, benarkah hari itu Ui sauya yang telah menyelamatkan jiwanya?

Tiba tiba dia teringat kembali dengan perkataan Ing Bu-ok...

"Dia mengambil uang milikmu, jangan-jangan dia telah selamatkan jiwamu?"

Dalam pada itu Ui sauya telah berjalan mendekat sambil tertawa cengengesan, ketika dekat disamping gadis itu sapanya.

"Waah, kelihatannya kita memang punya jodoh, baru berpisah kemarin, hari ini sudah bertemu lagi."

"Ada apa? Apa goanpo mu sudah habis dipakai?"

Tegur Cong Hoa sambil tertawa.

"Apakah hari ini kau ingin merampas goanpo milikku lagi?"

"Kau? Tentu saja kau, goanpo siapa lagi yang bisa dirampas segampang milikmu?"

"Ehmm, betul juga perkataanmu itu,"

Cong Hoa mengangguk.

"Sincia sudah hampir tiba, kalau tidak merampas sedikit goanpo lagi, bagaimana caraku merayakan tahun baru kali ini?"

Kembali Ui sauya menghela napas.

"Kami mempunyai banyak goanpo, apakah anda tertarik untuk mengambilnya?"

Mendadak lelaki setengah umur itu menawarkan.

"Goanpo milik perkumpulan naga hijau "susah diperoleh", kalau kau dermakan sembarangan, apa tidak kuatir si naga yang ada diatas loteng itu mencak-mencak marah?"

Berubah hebat paras muka lelaki setengah umur itu, baru saja akan berkata lagi, Bwee Yu-ki sudah memotong duluan.

"Kalau soal itu mah kau tidak perlu kuatir, dia sama seperti kau, percaya akan karma dan reinkarnasi."

"Lalu berapa banyak goanpo yang telah dia sediakan untuk membeli karma baikku ini?"

Tanya Ui sauya.

"Paling tidak cukup untuk membuat sebuah peti mati dari emas murni untukmu."

"Waah, itu sih kebanyakan, kalau aku hanya pingin mendapat goanpo yang cukup membuatku merayakan tahun baru dengan gembira."

"Hmm!"

Bwee Yu-ki segera tertawa dingin.

Cong Hoa cukup memahami maksudnya, apakah Ui sauya masih bisa hidup melewati hari inipun masih menjadi tanda tanya besar, buat apa dia memikirkan tahun baru?

Cong Hoa segera berpaling dan mengawasi Ui sauya, tapi pengemis itu masih menampilkan tampangnya yang bloon dan acuh tidak acuh.

Say Siau-li masih membersihkan kuku jarinya, tangan itu masih tetap tenang dan mantap, namun dibalik sinar mata kejinya kini sudah mulai menampilkan perasaan gelisah dan tak tenangnya.

Ternyata Ui sauya sedang mengawasi dirinya.

Lamat-lamat otot hijau sudah mulai mengejang keras dibalik tangannya, seakan dia harus menggunakan tenaga yang ekstra besar untuk membuat sepasang tangannya itu tetap tampil mantap.

Gerakannya masih tetap sangat ringan dan lamban, bahkan gayanya sama sekali tidak berubah, memang tidak gampang baginya untuk tetap tampil dalam sikap seperti ini.

"Tanganmu amat stabil!"

Tiba-tiba Ui sauya menegur.

"Memang selamanya stabil,"

Jawab Say Siau-li hambar.

"Seranganmu tentu cepat sekali,"

Kembali Ui sauya tertawa cengir.

"Bahkan setelah golok lepas dari tangan pun, golok itu masih dapat melakukan pelbagai perubahan."

"Kau dapat melihatnya?"

"Aku dapat melihat kalau kau melempar pisaumu dengan menggunakan tiga jari, oleh sebab itu diatas mata pisau masih tersisa tenaga untuk berputar,"

Kata Ui sauya.

"Akupun dapat melihat kalau kau melempar pisaumu dengan tangan kiri, mula-mula bergerak lewat samping lalu baru mengarah ke sasaran."

"Bagaimana mungkin kau dapat melihatnya?"

Akhirnya Say Siau-li menghentikan juga kegiatannya membersihkan kuku jari.

"Ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah tangan kirimu kelewat bertenaga."

"Tajam amat pandangan matamu,"

Say Siau-li tertawa, walau tertawanya sangat dipaksakan.

"Pisau bagus!"

"Pisau ini memang bagus!"

"Biarpun pisau itu bagus, sayang kau bukan Li Sinhuan."

Tentu saja Say Siau-li mengerti apa yang diartikan Ui sauya dengan perkataan itu, tidak heran kalau otot hijau pada punggung tangannya pada menonjol semua.

Ui sauya tidak menggubrisnya lagi, sambil tertawa dia berpaling ke arah Li Ki-tong dan menegur.

"Mana pedangmu?"

"Pedangku ada disini."

Bersamaan dengan perkataan itu, Li Ki-tong meloloskan sebilah pedang dari balik bajunya ...

Pedang bunga mawar!

Biasanya pedang itu disembunyikan di-balik bajunya sebagai sebuah sabuk, pedang itu memang lembek, sarung pedangnya juga lembut lagi lembek, warnanya merah menyala.

Warna merah itu tidak ubahnya seperti bunga mawar merah di musim semi.

"Inikah pedang bunga mawar, pedang yang dulu digunakan Yan Lam-hui?"

Ui sauya memandang pedang itu sekejap.

"Walaupun pedangnya memang pedang bunga mawar, tapi sayang..."

"Tapi sayang aku bukan Yan Lam-hui?"

Sambung Li Kitong. Ui sauya tidak menanggapi, dia hanya tertawa.

"Mana kapakmu?"

Kini giliran Li Ki-tong yang mengawasi Ui sauya.

"Akupun tahu kalau kau menggunakan senjata kapak."

"Hahahaha... kapan kau pernah melihat ada orang mencabut bunga dengan menggunakan kapak?"

Ui sauya tertawa tergelak.

"Mencabut bunga?"

"Memangnya mawar bukan termasuk bunga?"

"Kalau kau ingin mencabut bunga mawar, semestinya tidak lupa dengan duri ditangkai mawar bukan? Bukan saja duri itu bisa melukai tanganmu, juga dapat melukai perasaan hatimu."

"Aku sudah tidak punya perasaan hati yang bisa dilukai lagi,"

Tukas Ui sauya.

"Tapi tanganmu bisa terbuka!"

"Jika dia melukai tanganku, akupun akan melukai hatinya,"

Kembali Ui sauya tertawa tergelak.

"Mana mungkin hati pedang bisa terluka?"

"Pedang sih tidak punya, tapi kau punya."

Pertama kali bertemu Ui sauya, Cong Hoa merasa orang ini agak dogol, tidak pintar, ketika barusan melihat dia sedang minum arak di bawah pohon, diapun merasa orang ini menarik, tapi setelah menyaksikan tampang mukanya sekarang, dia merasa penampilan orang ini seakan seorang pendekar kenamaan.

Sebetulnya manusia macam apakah dia?

Tidak kuasa Cong Hoa mulai mengamati wajahnya dengan seksama.

Dia mempunyai perawakan tubuh yang tidak terlampau tinggi, bentuk kepalanya kelewat besar, kulit mukanya mirip kulit jeruk, dibawah lubang hidungnya terlihat kumis yang tidak terlalu tebal.

Cara dia tertawa amat istimewa, pun amat menarik dipandang.

Kalau orang lain mulai tertawa, ada yang matanya tertawa duluan, ada juga mulutnya tertawa duluan.

Tapi jika dia yang mulai tertawa maka hidungnya yang tertawa duluan, mula-mula hidungnya sedikit berkerut kemudian dari pipinya pelan pelan muncul lesung pipitnya yang amat dalam.

Sekarang dia sedang tertawa, dikala lesung pipinya menampilkan senyuman yang paling dalam itulah si lelaki setengah umur penjual gincu yang selama ini hanya berdiri tenang disamping mulai melancarkan serangan.

Sebatang cambuk lemas yang sangat panjang secara diam-diam melingkar ke tengkuk Ui sauya, persis seperti lilitan yang menggulung tengkuk Cong Hui-miat ketika berada di jalan raya tempo hari.

Menanti Cong Hoa menyadari akan hal itu, ujung cambuk sudah berada tiga inci dari tengkuk Ui sauya, dalam jarak sedekat ini, biar dia memberi peringatan pun sudah tidak ada gunanya.

"Plaaak!"

Cambuk panjang itu sudah melingkar ke depan.

Ternyata yang digulung bukan tengkuk Ui sauya melainkan buli-buli arak yang berada dalam genggamannya.

Padahal ancaman itu jelas mengarah ke atas tengkuk dan serangan itu serasa mustahil untuk dihindari, tapi entah mengapa tiba-tiba saja cambuk itu hanya berhasil melilit buli-buli arak.

Lelaki setengah umur itu tampak terperanjat, buruburu dia buang buli-buli itu ke tanah, tapi pada saat itulah Ui sauya sudah melempar buli-buli itu ke depan, secepat petir benda itu menerjang ke arah Bwee Yu-ki.

Dalam pada itu Bwee Yu-ki telah mempersiapkan tombak lima bwee penakluk naganya, begitu ujung tombak bergetar, segera muncullah lima kuntum bunga bwee yang menyelimuti angkasa.

Ketika buli-buli itu masuk ke balik pusaran bunga bwee, seakan kuntum bunga yang diterbangkan angin topan, seketika membuyar jadi beribu keping dan berhamburan kemana-mana.

Li Ki-tong tertawa dingin, dia menyerang dengan pedangnya, serangan dilancarkan cepat lagi tepat sasaran.

Pengalamannya menghadapi pelbagai pertempuran sengit membuat dia sangat menguasahi jurus serangannya, setiap gerakan yang digunakan biasanya akan mendatangkan hasil yang luar biasa.

Ui sauya masih tertawa tapi tangannya sudah mulai bergerak, gerakannya sangat lamban, pada setiap gerakannya disertai irama yang aneh, seakan pohon Yang-liu yang berkibar terhembus angin, sama sekali tidak terlihat tenaga kekuatan yang bisa merenggut nyawa.

Saat itu pedang bunga mawar dari Li Ki-tong sudah menusuk ke wajah lawan, tapi ketika ujung pedangnya hampir menyentuh tubuh lawan, tiba-tiba saja senjatanya sudah tergulung masuk ke balik pusaran angin yang sangat aneh itu, seakan sebuah kerang yang berbentuk tajam digulung oleh ombak samudra.

Tatkala air mulai surut, seluruh tenaga serangan yang disertakan pun turut hilang lenyap tidak berbekas.

Menyusul kemudian Li Ki-tong seperti mengendus semacam bau yang sangat aneh, semacam bau yang anyir seperti bau darah.

Pandangan matanya tiba-tiba berubah jadi selapis warna merah, kecuali warna merah menyala, nyaris dia tidak dapat melihat apa-apa, dia pun merasa seakan ada sekilas bayangan merah yang tiba-tiba bergerak naik didepan matanya.

Perasaan hatinya terkesiap, dia ingin menyingkirkan kabut merah itu dengan pedang bunga mawarnya, menusuk dan menembusnya, tapi reaksinya sudah amat lamban, gerak-geriknya jadi lambat sekali, menanti cahaya merah itu hilang lenyap, dia baru menjumpai kalau tenggorokannya terasa amat kering, mulutnya terasa getir bercampur pahit.

Disamping itu dia pun merasa amat lelah, sedemikian lelahnya hingga nyaris mau muntah.

"Trinng!"

Diiringi dentingan nyaring, pedang bunga mawar itu sudah rontok ke tanah.

Cong Hoa menghembuskan napas panjang, tampaknya barusan dia pun merasakan juga tenaga tekanan yang sangat lembut tapi aneh itu.

Bwee Yu-ki menghembuskan napas panjang, keringat dingin telah membasahi jidatnya, sekalipun dia sudah empat puluh tahun belajar silat namun tidak sedikitpun bisa melihat gerak serangan apa yang barusan digunakan Ui sauya.

Say Siau-li masih berdiri ditempat sembari membersihkan kukunya, ternyata sejak tadi dia belum juga bergerak.

"Kepandaian macam apa itu?"

Gumam lelaki setengah umur itu sambil mengawasi Li Ki-tong yang tergeletak di tanah.

"Apa benar di dunia ini terdapat kungfu macam ini?"

Belum habis dia bergumam, tiba-tiba Ui sauya sudah membalikkan badan mengawasi Say Siau-li.

Seketika itu juga Say Siau-li menghentikan semua gerak-geriknya.

Lama Ui sauya mengawasi wajahnya, kemudian baru berkata.

"Seandainya Yap Kay yang melepaskan pisau terbangnya, mungkin hanya satu orang dalam dunia persilatan saat ini yang bisa menghadapinya."

"Bagaimana dengan pisau terbangku?"

"Paling tidak ada dua orang yang hadir disini saat ini dapat menghadapi pisau terbangmu itu!"

Sahut Ui sauya hambar.

"Apa salah satunya dirimu?"

Tanya Sau Siau-li sambil menatap tajam lawannya.

"Tentu saja."

Perlahan-lahan Ui sauya membalikkan tubuhnya, menarik tangan Cong Hoa dan tanpa berpaling lagi segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Bwee Yu-ki dan lelaki setengah umur itu tidak bergerak, ternyata Say Siau-li juga tidak bergerak, bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Pisau terbang sudah siap, tangan pun sudah siap, tapi pisau terbangnya tidak pernah dilepaskan, dia hanya mengawasi bekas kaki yang membekas diatas permukaan salju.

Dari balik paras mukanya yang tanpa perasaan, tersungging segulung senyuman yang sangat dingin.

Bekas telapak kaki membekas sangat dalam, bekas kaki yang ditinggalkan Ui sauya, sebab dia harus menghimpun segenap tenaga yang dimilikinya untuk bersiap siap menghadapi pisau terbang dari Say Siau-li.

Namun Say Siau-li sama sekali tidak turun tangan, dia tidak pernah melepaskan pisau terbangnya.

Setelah meninggalkan jalan raya itu Ui sauya baru mendongakkan kepalanya sambil menghembuskan napas panjang, tampaknya dia merasa amat kecewa.

...

Bukan Cuma kecewa, bahkan sedih dan murung.

"Kau sedang sedih? Murung?"

Tegur Cong Hoa.

"Ternyata Say Siau-li jauh lebih menakutkan daripada siapa pun yang telah kujumpai berapa tahun terakhir."

"Kenapa?"

"Sebenarnya aku sudah melihat jelas aliran pisau terbangnya, aku sudah berusaha memanasi hatinya agar dia turun tangan,"

Kata Ui sauya.

"Jika dia turun tangan saat ini, mungkin aku masih bisa menghadapinya, aku punya keyakinan itu." ... Siapa tahu sikap dingin dan tenang dari Say Siau-li jauh lebih dingin ketimbang pisau terbang yang berada dalam genggamannya, jauh lebih menakutkan.

"Bila tiga tahun kemudian dia baru turun tangan, aku tidak tahu apakah masih sanggup untuk menghadapinya?"

Walaupun di pagi hari matahari masih bersinar cerah, tapi begitu lewat tengah hari cuaca sudah mulai berubah, ketika malam menjelang tiba, angin dan salju mulai berhamburan.

Bunga salju beterbangan diseluruh angkasa, hembusan angin puyuh membuat seluruh benda serasa bergoncang keras.

Dalam cuaca separah ini, tidak seorang pun yang bersedia keluar dari rumah.

Tentu saja Tu Bu-heng juga tidak bisa keluar dari rumah, sejak tadi dia sudah memasak air panas untuk mandi, kemudian setelah berganti pakaian bersih, dia membaringkan diri diatas bangku berselimut bulu domba, meneguk arak hangat dan menikmati bunga salju yang beterbangan diluar jendela.

"Menikmati bunga salju yang beterbangan di angkasa, benar-benar merupakan satu perbuatan yang amat seni,"

Tentu saja perkataan semacam ini hanya diucapkan mereka yang mengenakan pakaian tebal, duduk dalam ruangan yang hangat dan menikmati arak wangi yang panas.

Coba kalau kau melepaskan seluruh pakaiannya kemudian melemparkan dia ke tengah jalan dan menyuruhnya minum secangkir air dingin, lihat saja apakah dia masih sanggup mengucapkan perkataan tersebut.

Meskipun Tu Bu-heng tidak mengucapkan "perkataan"

Itu, tapi dia dapat merasakan juga bahwa apa yang dialaminya sekarang benar benar merupakan satu kenikmatan.

Dia tidak pernah mau membagi kenikmatan semacam itu dengan orang lain, termasuk juga Un-hwee sianseng.

"Lewat berapa hari lagi musim salju akan tiba,"

Tu Buheng memandang ke tempat kejauhan.

"Waktu itu, persoalan tersebut pasti sudah beres!"

Setiap kali teringat akan hal ini, dengan penuh riang gembira dia akan meneguk habis isi cawannya kemudian dengan cepat meme-nuhi lagi cawannya dengan arak.

Inilah tuangan araknya yang paling akhir dalam masa kehidupannya sekarang.

Gaya tubuhnya masih sama persis seperti ketika dia menuang arak itu, senyuman masih menghiasi wajahnya, akan tetapi sepasang matanya sudah tidak bersinar, pupil matanya lambat laun berubah jadi pucat keabu-abuan.

Arak masih tetap memenuhi cawannya, tidak setetes pun yang tumpah keluar, sekarang biar kau membalik cawan araknya pun arak dalam cawan tidak akan tumpah.

Karena arak dalam cawan itu sudah membeku jadi es.

Seluruh wajah Yu Bu-heng dilapisi juga oleh selembar salju yang amat tipis.

Suhu udara didalam ruangan itu seakan anjlok secara tiba-tiba, entah sejak kapan, entah datang dari mana, tahu tahu selapis kabut telah menyelimuti tempat itu.

Ketika kabut sudah menyelimuti seluruh ruangan, lamat lamat terlihat ada sesosok bayang manusia, tapi seakan juga bayangan manusia itu terbentuk dari kabut yang membeku.

Bayangan manusia ditengah kabut itu melayang perlahan dihadapan Tu Bu-heng, sepasang matanya yang berada ditengah kabut terlihat seakan cahaya bintang yang muncul ditengah hujan.

Biarpun kemampuan Un-hwee sianseng mengolah arak sangat hebat, dia sendiri tidak pernah minum arak yang dihangatkan.

Seperti juga koki yang sangat jarang menikmati hidangan yang dimasak sendiri.

Kamar tidurnya tidak lebih besar dari kamar milik Tu Bu-heng, tapi jauh lebih nyaman, waktu itu dia pun sedang minum arak.

Dia tidak sedang menikmati bunga salju di luar jendela, dia sedang membaca buku, se

Jilid buku yang tebal, buku cerita "Kim-ping-bwee"

Yang menceritakan lakon Phoa Kiem-lian dan Seebun Khing.

Ketika capai membaca, dia letakkan kembali bukunya dan pejamkan mata untuk beristirahat sejenak.

Tapi ketika dia membuka matanya kembali, dijumpai seluruh kamar tidurnya telah diselimuti kabut yang amat tebal.

Dia berpaling mengawasi sekejap daun jendelanya yang terbuka, sudah pasti kabut masuk melalui jendela itu, dia bangkit berdiri dan menutup rapat daun jendela ruangannya.

"Dalam udara sedingin ini masa ada kabut setebal ini?"

Bukan hanya ada kabut, disitu pun ada seseorang.

Sesosok bayangan manusia sedang duduk ditempat dimana dia membaca buku tadi.

Biar kaget bercampur tercekat, Un-hwee sianseng masih bersikap sangat tenang.

"Sobat, siapa namamu? Ada urusan apa datang kemari?"

Orang dibalik kabut masih duduk tidak bergerak disitu.

Perlahan-lahan Un-hwee berputar menuju ke depan meja, menanti dia dapat melihat jelas wajah orang dalam kabut itu dia nampak terperangah, mulutnya melongo seperti akan mengucapkan sesuatu, namun tidak sepotong suara pun yang bisa diucapkan.

Dia sama seperti Tu Bu-heng, berdiri kaku dan tidak mampu bergerak lagi, wajahnya tiada rasa kaget atau ngeri, yang tertinggal hanya perasaan tidak percaya.

Tidak percaya apa?

Tidak percaya orang itu bisa membunuhnya?

Atau tidak percaya orang itu bisa muncul di tempat itu?

Kabut sudah mulai menipis, orang dibalik kabut juga telah lenyap tidak berbekas, saat itulah terdengar seseorang menghela napas.

"Aaaai! Rahasia hanya akan membawa kematian bagi seseorang, mengapa kalian masih juga tidak mengerti?"

Ucapan telah lenyap, kabut pun sudah buyar. Di dalam ruangan hanya tersisa tubuh Un-hwee sianseng yang sudah membeku serta se

Jilid kitab yang sangat tebal, buku cerita Kim-ping-bwee.

Apa yang dimaksud rahasia?

Rahasia adalah sesuatu yang bisa kau nikmati seorang diri.

Mungkin dia bisa membuat kau gembira, mungkin bisa membuat kau menderita, apa pun dia, seluruhnya menjadi milikmu seorang.

Bila dia adalah penderitaan, hanya kau seorang yang menanggung.

Bila dia adalah kegembiraan, kau juga yang akan menikmati tanpa membagi rasa dengan orang lain.

Bahkan tidak untuk sahabat karibmu sekalipun.

Sebab jika ada orang kedua yang mengetahui rahasiamu, maka rahasia tersebut sudah tidak bisa dianggap sebagai rahasia lagi.

Ada sementara rahasia memang benar-benar merupakan semacam kenikmatan.

Ketika kau selesai bersantap, selesai mandi air panas, mengenakan baju yang lebar, duduk seorang diri di kursi malas yang empuk, memandang sinar senja diluar jendela kemudian teringat kembali rahasiamu dimasa lalu, dari hati kecilmu akan muncul semacam perasaan hangat yang tidak terlukiskan dengan kata...

Bila rahasiamu hanya satu macam, maka simpanlah baik-baik untuk selamanya, atau cepatlah kau ungkap keluar rahasia tersebut.

Tapi jika rahasiamu adalah kau mengetahui "rahasia dari seseorang"

Atau "rahasia dari suatu gerakan gelap", kuanjurkan kepadamu, lebih baik cepatlah mencari tempat yang sangat jauh, sangat tersembunyi untuk menyembunyikan diri, makin cepat makin baik.

Lebih baik lagi jika kau dapat bersem-bunyi sepanjang hidupmu.

Kalau tidak, bagaimana akhir dari nasibmu, tentunya kau lebih jelas dari siapapun.

"Rahasia"

Tidak mungkin bisa dinikmati bersama orang lain.

Cong Hoa duduk dibawah emperan rumah, dia sudah lama sekali duduk disitu.

Selama masih ada pekerjaan yang bisa dilakukan, tidak nanti dia bisa duduk ditempat itu.

Ada orang yang lebih suka kelayapan diluaran, menyaksikan orang lain berlalu lalang, melihat anjing liar berkelahi disudut jalan, ketimbang mengunci diri didalam rumah.

Cong Hoa adalah type manusia semacam ini.

Tapi sekarang, satu-satunya perbuatan yang bisa dia kerjakan hanya duduk disitu, sebab dia butuh mencari sebuah tempat yang tenang untuk memikir ulang seluruh peristiwa yang dialaminya selama ini.

Lagipula malam sudah semakin larut, udara pun dinginnya setengah mati, bukan saja dijalanan tidak dijumpai sesosok manusia pun, bahkan anjing anjing liarpun entah sudah pada sembunyi dimana.

Dia sudah hidup selama dua puluh tahun, sudah menjalani dua puluh kali musim dingin, tapi belum pernah dia alami musim dingin sedingin sekarang.

Seluruh permukaan bumi seolah sudah kembali ke jaman es dulu, semuanya beku, semuanya dingin setengah mati.

Lamunan Cong Hoa pun terbawa kembali ke setiap kunci persoalan yang menyangkut peristiwa aneh ini.

Sepintas lalu, kelihatannya Cong Hoa lah yang berkemauan pergi mencari Tu Bu-heng, tapi bila dipikirkan kembali dengan seksama, dia seakan sejak awal sudah terjerumus ke dalam sebuah perangkap.

Kepicikan Tu Bu-heng, kegemarannya bermain judi dan segala sesuatu tentang Tu Bu-heng, dia peroleh dari sang pelayan yang ada di Sim-cun-wan.

Maksud pelayan itu, manusia macam Tu Bu-heng sudah sepantasnya mendapat ganjaran.

Maka Cong Hoa pun pergi mencari Tu Bu-heng dan menantangnya bertaruh, karena itu diapun mulai memanjat pohon, minum arak sambil kongkouw dan pembicaraan pun mulai berlangsung.

Dengan termangu Cong Hoa menerawang memandang kegelapan malam, pikirannya terbayang kembali ke wajah sang pelayan yang dijumpainya di Sim-cun-wan.

Sepintas lalu pelayan itu kelihatan seperti orang di luar garis, tapi Cong Hoa percaya kalau kejadian ini merupakan satu jebakan maka pelayan itu pastilah umpannya.

Bila ingin mengungkap kejadian yang sesungguhnya dari kejadian ini, dia mesti turun tangan dimulai dari sang umpan.

Berpikir sampai disitu, bagaikan kelinci yang terkena panah, Cong Hoa segera melompat bangun dan berlarian menuju keluar.

Dia tidak ambil perduli sekarang sudah jam berapa, dia pun tidak mau tahu apakah pelayan itu sudah tertidur atau belum.

Dia tidak berani membuang waktu lagi, biar sekejap pun, dia takut jika kenyataan sesuai dengan apa yang dibayangkan maka keselamatan jiwa pelayan itu pasti terancam.

Dia harus secepat mungkin menemukan pelayan itu, kalau tidak...

Kebanyakan pelayan yang bekerja di rumah makan adalah para bujangan, sebab mereka harus berdiam didalam rumah makan, disamping lebih leluasa, pun sekalian menjaga rumah makan itu.

A-ci juga tinggal didalam rumah makan, meskipun malam sudah kelam, jarak dengan fajar pun semakin dekat, namun A-ci tidak bisa tidur, dia kelewat gembira sehingga tidak sanggup memejamkan matanya.

Selesai tutup warung tadi, dia bermain judi dengan berapa orang rekannya, hari ini adalah hari keberuntungannya, dia berhasil menang besar.

Baru pertama kali ini dia berhasil menang besar, dia berencana besok malam akan menantang berapa orang rekannya untuk sekali lagi bertaruh.

Kemudian dia pun mencari Siau Tho-hong untuk kembali ke dalam biliknya yang kecil, memasak berapa macam sayur, dan mereka berdua bersembunyi disitu sambil berpacaran.

Kejadian semacam ini memang selalu menjadi kejadian yang paling menggembirakan, apalagi bila membayangkan tubuh Siau Tho-hong yang begitu bahenol, Aci merasakan bagian tubuh tertentunya mulai mengalami perubahan.

Dia benar-benar ingin sekali kalau sekarang adalah besok malam.

Disaat bagian tubuh tertentunya berubah mencapai "puncak"

Nya itulah, tiba-tiba Cong Hoa menerjang masuk ke dalam kamarnya. Begitu menyaksikan kemunculan gadis itu, buru-buru Aci menutupi "tubuh bagian tertentu"

Nya dengan sepasang tangan, sementara paras mukanya berubah jadi merah padam bagaikan buah apel yang ranum.

Begitu bertemu dengan Aci, perasaan Cong Hoa pun ikut lega sekali, setelah mengatur sebentar napasnya yang tersengal, ujarnya sambil tertawa.

"Kalau lelaki memikirkan perempuan, itu adalah kejadian lumrah, sejak dulu hingga sekarang selalu begitu. Buat apa pipimu jadi semu merah?"

"Aku... aku..."

Aci gelagapan dan tidak tahu apa yang harus diucapkan.

"Biarpun kaum cewek suka jual mahal, tapi uang jauh lebih menarik ketimbang orangnya,"

Cong Hoa mulai duduk dihadapan Aci.

"Asal ada uang, biar ditengah malam buta pun kau tetap bisa menyeretnya keluar dari balik selimut, dan dia tetap akan melayanimu sambil tertawa."

Betul, kenapa tidak terpikir sejak tadi?

Aci betul betul menyesal, tahu begini, mungkin saat ini dia sudah berbaring disamping Siau Tho-hong, bahkan mungkin bisa dapat menya-lurkan hasratnya sejak tadi dan tidak perlu merasa jengah seperti saat ini.

Akhirnya "perubahan"

Yang dialami Aci mulai mereda dan pulih jadi normal kembali, dia menuangkan secawan arak untuk Cong Hoa.

"Walaupun aku tahu kalau cara kerjamu rada sedikit sinting, tapi aku benar-benar tidak habis mengerti, ada urusan apa kau menerjang masuk ke dalam kamarku ditengah malam buta begini macam seekor kuda liar?"

"Menurutmu?"

"Tidak perlu ditebak lagi, siapa sih yang bisa menebak cara kerja serta sepak terjangmu!"

"Sebenarnya aku ingin mengucapkan beberapa patah kata yang enak didengar, tapi kau pasti tidak akan percaya."

"Belum tentu,"

Sahut Aci sambil meneguk araknya.

"Aku tidak pernah melarang orang lain mengucapkan kata-kata pujian padaku!"

"Terus terang aku takut kau mati secara mendadak!"

Kata Cong Hoa dengan wajah serius. Begitu mendengar perkataan itu, Aci pun balas memandangnya dengan serius, lewat berapa saat kemudian dia baru menghela napas panjang.

"Apakah siang tadi aku sudah salah menghitung uang rekeningmu?"

"Tidak, malah untung aku!"

"Jadi aku telah menyalahimu?"

"Mana mungkin?"

"Atau temanmu kurang senang terhadapku?"

"Tidak ada!"

"Kalau tidak ada urusan, kenapa kau malah menyumpahi aku cepat mati?"

Cong Hoa tidak menjawab, dia hanya mengawasi wajahnya, lewat sesaat kemudian ia baru mengambil cawan araknya, menghirup setegukan kemudian baru berbisik.

"Cepat beritahu urusan mengenai Tu Thian, sebetulnya waktu itu kehendakmu sendiri atau ada orang menyuruh kau berbuat begitu?"

"Tu Thian? Kau maksudkan si pelit?"

Tanya Aci tak habis mengerti.

"Benar!"

"Tentu saja maksudku, juga maksud semua orang."

"Apa artinya?"

"Dia kelewat pelit, kelewat itungan, setiap orang yang pernah dirugikan selalu ingin mengerjai dirinya."

"Benarkah begitu?"

"Kelihatannya kau seperti tak percaya?"

"Aku hanya curiga, curiga ada orang minta bantuanmu untuk mengerjai aku."

"Mengerjaimu?"

Aci tertawa terbahak-bahak.

"Yaa, memang ada satu orang."

"Siapa?"

Berbinar sepasang mata Cong Hoa.

"Belum lahir,"

Jawab Aci cepat.

"Asal dia adalah manusia hidup, tidak seorang pun berani mengerjai dirimu."

Kelihatannya cara inipun tidak berjalan lancar, Cong Hoa merasa sedikit kecewa bercampur sedih. Tapi ada satu hal yang membuatnya sedikit terhibur, merasa agak lega, ternyata Aci bukan "umpan"

Seperti apa yang semula dibayangkan.

Persahabatan tidak pernah dinilai dari kaya miskin terhormat tidaknya seseorang, juga bukan dinilai dari tinggi rendahnya jabatan serta status sosial seseorang.

Teman tetap teman.

Teman adalah mereka yang bisa mendatangkan kehangatan setiap kali kau terbayang akan dirinya ditengah bekunya cuaca.

Dalam hati kecil Cong Hoa pun lamat-lamat terasa munculnya secerca perasaan hangat.

Betapa pun tebalnya bunga salju yang beterbangan ditengah jalan, betapa pun kencangnya angin dingin yang berhembus lewat, betapa dinginnya hawa beku yang merasuk ke tulang sumsum melalui lapisan pakaiannya, namun Cong Hoa tidak merasa kedinginan.

Baru saja nyaris dia "kehilangan"

Seorang sahabat, kehilangan sahabat yang mana pun merupakan kejadian yang sangat tidak diharapkan Cong Hoa.

Bunga salju yang tertimpa cahaya bintang membiaskan sinar putih keperak perakan, begitu putih sehingga mirip buih ombak yang memecah ditepian.

Segumpal salju jatuh diatas kepala Cong Hoa, melayang lewat diujung hidungnya, perlahan ia membersihkan bunga salju itu, seakan dia sedang membersihkan debu yang mengotori dedaunan.

BAB 9.

Ikan dalam jala.

Bintang sudah makin memudar, malam sudah mencapai pada ujungnya.

Dari balik kegelapan malam yang masih menyelimuti angkasa, secerca cahaya merah tampak bersinar dari ufuk timur.

Sinar fajar memang selalu mendatangkan cahaya, kegembiraan dan pengharapan bagi umat manusia.

Tapi yang dibawa Lu Siok-bun hanya kesedihan, hanya duka dan nestapa.

"Kembali fajar telah menyingsing,"

Gumam Lu Siokbun sambil duduk di pembaringan dan mengawasi malam hari yang segera berakhir.

"langit pasti akan terang benderang!"

Langit tentu saja akan terang benderang, sama seperti manusia tetap akan mati juga.

...

Bila perjalanan hidup manusia hanya singkat, jadi orang buat apa berpikiran sempit dan berhati picik?

Ketika angin berhembus lewat, embun pagi baru saja melayang naik dari balik kegelapan malam, membasahi pepohonan bunga bwee.

Kini bintang telah lenyap di balik kabut.

Hari ini adalah bulan sepuluh tanggal tiga.

Sebuah hari yang amat sederhana.

Namun bagi Lu Siok-bun, tanggal itu merupakan tanggal yang paling menyakitkan hatinya, membuat dia pedih, membuat dia selalu tenggelam dalam kenangan.

Dua puluh tahun sudah lewat.

Hari ini pada dua puluh tahun berselang, didalam sebuah hutan bunga bwee yang persis seperti hutan ditempat ini, dalam sebuah rumah kayu yang tidak beda dengan rumah sekarang, dia dan dia telah menanamkan kenangan, sebuah kenangan yang penuh kegembiraan, sebuah kenangan yang penuh penderitaan.

Hari sudah terang tanah, minyak lentera sudah mengering, asap hijau yang membumbung tinggi tak ubahnya seperti embun dipagi hari.

Lu Siok-bun sudah semalaman suntuk duduk terpekur ditempat itu.

Semalam tanpa tidur sudah cukup membuat badan jadi kurus, apalagi ditambah kenangan pahit yang sangat membekas dalam hatinya, bagaimana mungkin tidak membuatnya lesu dan layu?

"Cinta"

Terkadang membuat orang terbuai, membuat orang mabuk, tapi terkadang mendatangkan juga perasaan sedih yang menyayat.

Bagaimana pula rasanya "cinta yang tidak kesampaian"?

Mungkin hanya orang yang pernah merasakan, pernah mengalaminya, baru bisa memahami bagaimanakah rasanya waktu itu.

Bunga bwee ditengah kabut pagi nampak jauh lebih dingin, menambah kemurungan, menambah kemasgulan.

Apakah bunga bwee di sana sama dinginnya?

Sama menambah kemurungan dan kemasgulan?

Apakah orang yang ada disana sama seperti orang yang ada disini, dipenuhi kenangan, dipenuhi perasaan rindu yang meluap?

Siapa bilang tidak ada setan di dunia ini?

Siapa bilang?

Didalam hutan di belakang pepohonan tampak kabut tebal menyelimuti permukaan bumi, ada manusia dibalik kabut, orang itu berada didalam hutan bunga bwee.

Bayangan yang sedang melayang ditengah kabut, apakah sukma gentayangan yang untuk memasuki pintu neraka pun ditolak?

Tubuh Nyoo Cing seakan telah menyatu dengan kabut dingin yang menyelimuti permukaan bumi, mulutnya serasa terbenam dalam kabut, hidungpun terbenam didalam kabut.

Yang tersisa saat itu hanya sepasang matanya yang memancarkan sinar tajam.

Cahaya dibalik matanya sudah tidak secerah tadi, kini sinar matanya dibalut dalam kepedihan dan kesedihan.

Sekarang matanya sedang menyapu perlahan sekeliling tempat itu, setiap pohon bunga bwee, setiap jengkal tanah, tidak satupun yang dilewatkan.

Menyusul kemudian secerca senyuman lega terpancar dari balik matanya.

Bunga bwee masih mekar menyambut datangnya sinar fajar, rumah kayu kecil masih berdiri kokoh diatas permukaan bumi.

Pemandangan masih sama seperti dulu, tapi bagaimana dengan manusianya?

Nuyoocing nyaris sudah menelusuri setiap jengkal tanah disekitar sana, sudah menginjak setiap kuntum bunga bwee yang ada dalam hutan itu.

Setiap pohon, setiap jengkal tanah yang ada disana telah mendatangkan kenangan yang tak sanggup dihadapinya, kenangan masa lalu yang sangat memabukkan.

Embun pagi telah membasahi bajunya, setiap ayunan langkahnya segera menimbulkan suara mencicit dari sepatu yang dia kenakan, alas sepatu telah basah oleh embun pagi.

Hari ini, hari ini pada dua puluh tahun berselang, untuk pertama kalinya dia mengajak Lu Siok-bun mendatangi tempat ini.

Pada malam itulah dia telah menanamkan bibit cintanya dalam rahim sang kekasih.

Pada hari itu juga, untuk pertama kalinya dia mengeluarkan senjata kait perpisahan andalannya.

Nyoo Cing membongkar sekeping papan dari permukaan tanah, dari lubang dibawah papan itu mengeluarkan sebuah peti besi yang mulai berkarat.

Ternyata didalam peti besi itu tersedia korek api.

Ketika Nyoo Cing menyulut obor, Lu Siok-bun pun menyaksikan sebuah senjata yang belum pernah dijumpai sebelumnya.

Dibawah cahaya api, didalam peti besi itu tersimpan sebilah senjata yang sangat aneh bentuknya, membiaskan cahaya dingin yang amat tajam, membuat alis mata Lu Siok-bun segera berkerut.

"Benda apakah itu?"

Tidak tahan dia bertanya dengan tubuh gemetar.

"Sebilah senjata, senjata yang pernah digunakan ayahku semasa hidupnya,"

Nyoo Cing menjelaskan dengan wajah sedih.

"Inilah satu satunya barang yang diwariskan ayah kepadaku, tapi berulang kali dia orang tua berpesan, kalau bukan mengancam jiwamu, jangan sekali kali kau gunakannya bahkan menyinggung nama senjata inipun jangan."

"Sudah banyak orang persilatan yang kujumpai, pelbagai jenis senjata tajam telah kusaksikan,"

Kata Lu Siok-bun.

"Tapi belum pernah kusaksikan bentuk senjata seaneh ini."

"Tentu saja kau tidak pernah menjumpainya, sebab senjata langka semacam ini tiada duanya dikolong langit."

"Sebenarnya senjata ini sebilah pedang atau senjata kaitan?"

"Sebetulnya sebilah pedang, tapi ayahku telah memberikan sebuah nama istimewa padanya, senjata ini disebut Kait perpisahan."

"Kalau memang sebuah kaitan, seharusnya senjata itu disebut kaitan, kenapa harus ditambahi dengan kata perpisahan?"

"Sebab bagian tubuh manapun yang terkena kaitan, bagian itu pasti akan menimbulkan perpisahan,"

Ucap Nyoo Cing sambil mengamati senjatanya.

"Bila dia mengait tanganmu maka tanganmu akan mengucapkan selamat berpisah, bila kakimu yang digaet maka kakimu akan menyampaikan salam perpisahan."

"Bila tenggorokanku yang terkait, apakah aku akan mengucapkan salam perpisahan dengan dunia ini?"

"Benar."

"Mengapa kau harus menggunakan senjata yang begitu kejam, begitu sadis?"

"Karena aku tidak ingin berpisah,"

Nyoo Cing menatap wajah Lu Siok-bun lekat lekat.

"Aku tidak ingin berpisah denganmu."

Nada ucapannya mengandung semacam perasaan lembut yang nyaris mendekati penderitaan.

"Aku sengaja menggunakan kait perpisahan karena aku ingin selalu berkumpul denganmu, sepanjang hidup sepanjang masa selalu berkumpul denganmu, selamanya tidak akan berpisah lagi."

"Aku sengaja menggunakan kait perpisahan karena aku ingin selalu berkumpul denganmu,"

Kata-kata inilah yang selama dua puluh tahun selalu melekat dalam benak Lu Siok-bun.

Dia sudah menyimpan selama dua puluh tahun dalam hatinya.

Dua puluh tahun berselang, ketika dia pergi membawa kait perpisahan, tidak sepatah kata pun yang dia katakan, dia lebih suka seorang diri tetap tinggal ditempat itu, menantinya kembali dalam keadaan putus asa, daripada memaksanya untuk tetap tinggal disitu.

Sebab dia tahu, dia harus melakukan tugasnya, melakukan kewajibannya, jika dia tetap tidak mengijinkannya pergi maka dia pasti akan tersiksa sepanjang masa, menderita dan menyesal sepanjang hidup.

Dia lebih rela dirinya yang merasakan penderitaan ini daripada mencegah lelakinya melakukan pekerjaan yang dia anggap harus dikerjakan.

...

Dibutuhkan berapa besar keberanian bagi seorang wanita untuk melakukan hal tersebut?

Hari ini, walaupun tidak ada cahaya matahari, salju pun belum turun, suhu udara terasa sedikit lebih hangat.

Lu Siok-bun mendongakkan kepalanya memandang cuaca, sinar fajar telah menyelimuti seluruh bumi.

Dia menghela napas panjang, baru saja akan turun dari ranjang, mendadak teringat olehnya, diwaktu biasa pada saat seperti ini Lan It-ceng selalu berada di hutan bunga bwee sambil merawat bunga, mengapa sampai saat ini belum nampak juga dia munculkan diri?

Apakah semalam dia tidur agak larut sehingga pagi ini tidak dapat bangun?

Atau dia sakit?

Dengan perasaan sangsi Lu Siok-bun turun dari ranjangnya, mengenakan mantel dan keluar dari pintu kamarnya.

"Lan toako!"

Tiada jawaban, di ruang tamu pun tidak nampak Lan It-ceng.

Dia berjalan menuju ke depan pintu lalu perlahanlahan mengetuk pintu kamarnya.

Suasana didalam kamar sangat hening, sekali lagi Lu Siok-bun mengetuk, kali ini dia mengetuk lebih keras.

Tetap tiada jawaban, suasana tetap hening.

Dia membuka pintu kamar lalu melongok ke dalam.

Seprei pembaringan masih tertata rapi, seakan tidak pernah digunakan semalam, atau malam tadi dia tidak tidur?

Apakah dia terjaga sepanjang malam?

Lu Siok-bun masuk ke dalam kamar, celingukan kesana kemari, tapi makin memandang keningnya makin berkerut.

Gejala semacam ini belum pernah dijumpai sebelumnya, selama dua puluh tahun Lan It-ceng merawat dan menjaganya, belum pernah sekalipun dia melakukan tindakan yang membuatnya merasa kuatir.

Ke mana dia pergi?

Sepagi ini kenapa sudah tak nampak batang hidungnya?

Baru saja akan beranjak keluar, menda-dak Lu Siokbun menemukan sepucuk surat, sepucuk surat yang ditujukan kepadanya.

Membaca isi surat itu Lu Siok-bun merasakan matanya mulai basah, lelehan air mata tak terbendung lagi, dari ujung matanya mengalir turun ke bawah.

"Dua puluh tahun pun sudah terlewatkan, mengapa kau tidak menggubris aku hanya untuk dua tahun yang terakhir?"

Gumam perempuan itu.

"Lan toako, buat apa kau harus mengingkari janjimu?"

Nyoo Cing perlahan-lahan berjalan keluar dari hutan.

Mengunjungi kembali tempat lama, tiada perubahan yang terpancar dari balik wajahnya.

Kendatipun dalam hati dia merasa amat sedih, amat pedih dan sangat menderita, namun dia tak akan memperlihatkan diatas wajahnya.

Siapa pun itu orangnya, bila dia pernah merasakan penderitaan dan siksaan seperti apa yang dialaminya, sudah pasti mereka pun akan belajar bagaimana menyembunyikan perasaan didalam hati.

Pelbagai perasaan disembunyikan di dalam hati.

Tapi sayang perasaan sama seperti arak, semakin dalam kau simpan dia, semakin lama kau simpan dia maka dia akan berubah lebih kental, berubah lebih keras.

Dia berjalan sangat lamban, sudah tiga kali dia mengelilingi tempat itu.

Angin masih berhembus, udara terasa sangat dingin, sedingin mata pisau, mata pisau yang sedang menyayat kulit wajahnya.

Perlahan dia menembusi hutan bunga bwee, diamdiam menghitung kuntum bunga yang mekar sepanjang ranting.

Berapa banyak kuncup bunga yang telah mekar?

Berapa kuncup yang belum mekar?

Dia mengetahui dengan sangat jelas.

Dia menghentikan langkah kakinya sambil mengawasi sekuncup bunga bwee, didalam kelopak bunganya masih tersisa air embun kemarin malam.

Butiran embun yang bening, sebening biji mata "nya", setegas sorot matanya.

...

Bila saat ini usiaku sepuluh tahun lebih muda, aku pasti akan berkata begini, pasti akan kuusahakan dengan pelbagai cara untuk menahanmu, minta kepadamu untuk membuang jauh jauh semua persoalan, tinggal bersamaku disini dan hidup berbareng hingga akhir jaman.

Perkataan itulah yang ia dengar sebagai perkataannya yang terakhir.

Waktu itu, seandainya dia benar-benar berbuat demikian, perasaan hati Nyoo Cing mungkin malah jauh lebih lega, tapi dia begitu dingin, dia begitu tenang.

...

berapa besar pengorbanan yang harus dilakukan seseorang untuk memperoleh ketenangan dan sikap sedingin itu?

Perasaan hati Nyoo Cing sedang sakit, namun tiada pancaran perasaan diatas wajah.

Selama dua puluh tahun dia telah berusaha dengan sepenuh tenaga, mencari dengan pelbagai cara, tapi tetap gagal untuk menemukan jejak Lu Siok-bun.

Sejak perempuan itu diculik perkumpulan naga hijau, dia seolah hilang lenyap tidak berbekas, sejak itu dia tidak pernah lagi mendengar kabar beritanya.

Masih hidupkah Lu Siok-bun?

Atau dia sudah mati?

Persoalan inilah yang amat merisaukan perasaan hati Nyoo Cing.

Berapa hari berselang, Ti Cing-ling telah muncul secara tiba-tiba bukan saja membawa kabar berita tentang dirinya, juga mengajak serta satu satunya putri Nyoo Cing...

Hoa U-gi.

Lu Siok-bun kawin lagi dengan Hoa Ciok, dia pasti berbuat demikian karena suatu alasan yang sulit dijelaskan.

Dia dapat memahami perasaan hatinya, dia pun mau memahami situasi yang sedang dihadapinya, kendatipun hingga kini belum sempat bersua, asal sudah memperoleh berita mengenainya, dia sudah merasa lebih dari cukup.

Nyoo Cing menghela napas panjang, dia melangkah masuk ke dalam rumah kayunya, menyusul kemudian dia menjumpai seseorang yang membuatnya terkesiap, membuat hatinya amat gembira.

Orang itu duduk di bangku depan meja, dia mengenakan jubah panjang berwarna biru, baju bagian lengan kirinya nampak kosong melompong.

Waktu itu dia sedang mengawasi Nyoo Cing yang berdiri didepan pintu dengan pandangan tidak berkedip.

Nyoo Cing balas menatapnya, memandang tanpa bicara.

Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya Nyoo Cing berkata.

"Aku masih ingat, kau pun pernah berjanji akan menantiku disini?"

"Benar."

"Sungguh tidak kusangka, janji ini baru bisa terpenuhi setelah dua puluh tahun kemudian."

"Akupun tidak menyangka!"

"Sahabat lama kembali berjumpa, perjumpaan ini tidak boleh tidak ada arak!"

"Aku membawa arak!"

Orang berlengan tunggal itu mengeluarkan sebotol arak kemudian meneguknya satu tegukan, setelah itu dia baru melemparkan botol araknya ke tangan Nyoo Cing.

Nyoo Cing tidak banyak bicara, dia sambut botol itu, meneguk isinya kemudian baru menyapa.

"Dua puluh tahun tidak berjumpa, apakah penghidupanmu cukup baik?"

"Baik sekali, akupun sudah terbiasa hidup dengan tangan sebelah."

Dengan termangu Nyoo Cing mengawasi lengannya yang kutung, lengan itu kutung karena terbabat oleh kait perpisahan, senjata andalannya.

Tentu saja orang berlengan buntung itu tidak lain adalah Lan It-ceng.

Dengan amat seksama Lan It-ceng mengawasi Nyoo Cing, mengamatinya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.

Dua puluh tahun sudah lewat, ada berapa banyak dua puluh tahun dalam kehidupan manusia?

Usia tidak meninggalkan bekas diwajah Nyoo Cing, yang ada hanya telah terhapusnya sikap angkuh dan jumawa yang pernah dimilikinya.

Nyoo Cing menatap pula Lan It-ceng lekat lekat, dia merasa jagoan pedang yang disebut orang sebagai sinwan-sin-kiam (pedang mata sakti) Lan toa sianseng ini sudah tidak kegagah dan kekeren dulu.

Sekarang dia ibarat seekor singa ompong yang hanya bisa mendekam diatas bukit sambil menyaksikan kelinci liar berlarian dihadapannya, mau menerkam sayang sudah tidak punya tenaga.

Jalannya usia telah meninggalkan bekas yang amat mendalam ditubuhnya.

Walaupun saat itu matahari sudah berada diatas angkasa, namun cuaca serasa kelam, seakan selapis kabut abu abu menyelimuti seluruh permukaan bumi.

Kedua orang itu berdiri saling berhadapan bagaikan patung arca, lama, lama sekali, akhirnya Lan It-ceng baru berkata.

"Dulu kau hanya seorang opas desa yang tidak punya nama, tapi sekarang kau sudah menjadi seorang raja muda, seorang pembesar yang berkedudukan tinggi."

"Kau keliru, aku masih tetap Nyoo Cing yang dulu!"

"Tapi sayang aku sudah bukan Lan It-ceng yang dulu."

"Kau tetap Lan It-ceng yang dulu, berjalannya usia telah menyelimuti cahaya diwajahmu tapi tidak menutupi kegagahanmu, bila perlu, kau pasti bisa bangkit kembali seperti yang dahulu."

"Sungguh?"

Berbinar sepasang mata Lan It-ceng.

"Kapan aku pernah berbohong kepadamu?"

"Sekarang, saat ini kau sedang berbohong, sekarang kau sedang berpura-pura!"

Nyoo Cing tidak menanggapi, dia hanya mengawasi Lan It-ceng tanpa menjawab.

"Bukankah kau sangat ingin mengetahui kabar beritanya?"

Seru Lan It-ceng agak emosi.

"Bukankah kau ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang? Mengapa kau tidak bertanya?"

Nyoo Cing tahu siapakah "dia"

Yang dimaksud, sahutnya tetap tenang.

"Aku sangat memahaminya."

"Memahaminya?"

Lan It-ceng tertawa dingin.

"penderitaan selama dua puluh tahun hanya ditukar dengan kata memahami?"

Nyoo Cing tidak menjawab, padahal dalam dua puluh tahun terakhir dia sendiripun hidup dalam penderitaan, apa pula yang dia peroleh?

...Kata-kata yang menyakitkan hati mengapa selalu mendatangkan perasaan kecut?

Mengapa membuat jantung orang berdebar keras?

Nyoo Cing mengambil cawannya, meneguk habis isi cawannya kemudian baru berkata.

"Kau bilang akan menungguku disini, tapi ketika aku kembali, bukan saja tidak menjumpai kau, bahkan Lu Siok-bun pun ikut lenyap..."

Ditatapnya wajah rekannya lekat lekat.

"Pernahkah aku bertanya kepadamu apa yang telah terjadi? Pernahkah aku mencurigaimu?"

"Tidak pernah."

"Tahukah kau mengapa? Sebab aku percaya kepadamu, seperti aku memahami perasaan Lu Siokbun."

Lan It-ceng membungkam, apa yang diucapkan rekannya memang satu kenyataan, ucapan sejujurnya yang muncul dari sanubari.

"Kau tidak menungguku disini, diapun lenyap tidak berbekas, dua kejadian yang cukup membuatku sewot, naik darah dan marah marah, tapi kenyataannya aku tidak berbuat begitu, tahukah kau mengapa? Karena kau adalah sahabatku."

Kata "sahabat"

Kedengaran begitu lembut, begitu hangat, begitu menawan tapi juga begitu menakutkan.

Sahabat tidak bedanya dengan arak, dapat membuat orang mabuk, dapat membuat orang pikun, dapat membuat orang melakukan kesalahan.

Walaupun sahabat adalah "orang dekat"

Mu, tapi sebagian besar merupakan juga "musuh"

Mu, kalau bukan sahabatmu, dari-mana dia bisa mengetahui "segala sesuatu"

Tentang dirimu?

Tapi dalam dunia dewasa ini jarang sekali ada sahabat yang benar benar mau sehidup semati denganmu.

Suami istri saja jarang yang mau sehidup semati, apalagi teman?

Walaupun dari dulu hingga sekarang amat jarang ada teman yang benar benar mau sehidup semati bukan berarti teman semacam ini sama sekali tidak ada.

Tapi ada satu hal yang tidak bisa disangkal, yang bisa membuat kau "sedih".

"menderita"

Dan "menyesal"

Biasanya hanya "sahabat". Lan It-ceng tertawa, ketika Nyoo Cing mulai mengucapkan kata "kau adalah sahabatku", dia mulai tertawa, mengawasi Nyoo Cing sambil tertawa.

"Jadi kau menegur aku karena tidak menjalankan kewajiban sebagai seorang sahabat, menyalahkan aku karena tidak sepenuh tenaga melindungi Lu Siokbun? Terlebih menyalahkan dia karena pergi meninggalkan tempat ini dengan begitu saja?"

"Cuaca saja gampang berubah, bunga gampang gugur, pohon gampang mengering, apalagi manusia?"

"Tahukah kau sepeninggalmu dari sini, apa yang telah terjadi ditempat ini?"

"Mungkin sedikit yang kuketahui."

"Mungkin sedikit? Seberapa sedikitnya?"

"Sepeninggalku dari situ, meski orang-orang perkumpulan naga hijau datang membuat onar dan mungkin saja kalian sempat bertarung, tapi mengapa kalian tidak mencoba untuk kabur? Memangnya secara tiba-tiba kalian lupa kalau bisa menggunakan kaki untuk kabur?"

"Aaai...! "

Lan It-ceng menghela napas panjang.

"kalau sudah tahu siapa yang muncul waktu itu, mungkin sekarang kau akan bersyukur karena kami masih tetap hidup."

"Oya?"

"Tidak usah menyebut yang lain, cukup menyinggung salah satu diantaranya saja sudah cukup membuat hati orang bergidik."

"Siapa?"

"Seng Sam!"

Begitu mendengar nama tersebut, mendadak Nyoo Cing memperlihatkan semacam sikap yang sangat aneh.

Seng Sam mungkin saja bukan bermarga Seng dan tidak menempati urutan ketiga, orang lain menyebutnya Seng Sam lantaran orang yang pernah dia "permak"

Biasanya hanya ada "tiga"

Hal yang bisa "tersisa". Ketiga hal yang mana? Orang yang sudah dia "permak"

Biasanya akan berada dalam kondisi....

kehilangan nyawa, rambutnya rontok semua, matanya dicongkel keluar, hidung lidah telinga nya dipotong orang, gigi dan kuku sudah dicabut keluar, kulit sudah dikelupas, anggota badan dikutungi bahkan tulang belulang pun dipukul hingga hancur.

Lalu tiga hal apa pula yang tersisa dari manusia macam begini?

Biasanya tidak pasti, bagian mana yang ingin disisakan Seng Sam maka bagian itulah yang akan disisakan.

Selesai "permak"

Seseorang, biasanya dia akan meninggalkan tiga jenis barang untuk orang itu.

"Aku ini penuh welas kasih,"

Seringkali Seng Sam berkata demikian kepada orang lain.

"Aku sangat perasa dan tahu penderitaan orang, maka aku paling tidak suka melakukan pembantaian hingga seakar akarnya."

Malah dia sering berkata begini.

"Apa pun yang kulakukan, aku selalu akan menyisakan sedikit untuk orang lain, malah terkadang yang kutinggalkan bukan Cuma tiga macam benda."

Suatu kali dia memang meninggalkan lebih dari tiga macam benda untuk orang yang baru "dipermak"

Nya yaitu selembar rambut kepala, sebiji gigi, sebiji kuku dan sebuah lubang dari hidung.

"Seng Sam?"

Dengan perasaan terperanjat Nyoo Cing berseru.

"sungguh tidak kusangka perkumpulan naga hijau berhasil mengundangnya."

"Bukan mengundangnya, tapi dia memang anggota perkumpulan naga hijau,"

Lan It-ceng menerangkan.

"bahkan dia adalah Tongcu dari Jit-gwee-tong (ruang bulan ke tujuh) dari Cing-liong-hwee."

"Tampaknya perkumpulan naga hijau benar benar merupakan sarang naga gua harimau,"

Keluh Nyoo Cing.

"Sebetulnya aku adalah seekor naga, tapi dalam perkumpulan naga hijau aku tidak lebih hanya dianggap sebagai seekor tikus,"

Mendadak terdengar seseorang berkata.

Suara itu berasal dari luar pintu.

Suara itu selain tinggi melengking, bahkan sangat tak enak didengar, seperti suara tikus yang keinjak ekornya.

Ketika Nyoo Cing berpaling, seseorang telah berdiri di depan pintu.

Orang itu tampak seperti seorang yang ramah dan saleh, wajahnya bundar, waktu tertawa matanya hanya kelihatan bagaikan sebuah garis.

Sekarang dia sedang tertawa, sepasang matanya kelihatan merapat bagai sebuah garis, garis panjang itu sedang memandang ke arah Lan It-ceng.

Mendengar suara orang itu, paras muka Lan It-ceng seketika berubah hebat, begitu bertemu orangnya, dia seakan membeku karena tercebur ke dalam kubang salju, bukan Cuma putih memucat bahkan mulai gemetar.

Menjumpai orang itu, Nyoo Cing pun ikut tertawa, sepasang matanya seakan membentuk sebuah garis panjang juga.

"Kenapa orang lain menyebutmu sebagai seorang ahli permak?"

Tegur Nyoo Cing kemudian.

"Karena aku memang tukang permak."

"Kau pandai permak apa?"

"Manusia!"

"Manusia juga perlu dipermak?"

"Tentu saja, justru benda yang paling perlu dipermak di dalam dunia ini adalah manusia!"

"Betul juga perkataanmu itu,"

Ternyata Nyoo Cing setuju dengan pendapatnya.

"Tempat sampah perlu dibersihkan, tahi juga perlu dibersihkan, kalau semua tidak disapu bersih, bagaimana mungkin dunia ini bisa bersih dari segala yang berbau, tapi memang manusia yang perlu dikerjakan nomor satu, sebab ada sementara orang bila tidak segera dibersihkan, kujamin dunia ini pasti akan bertambah bau, bukan begitu Seng Sam sianseng?"

"Tepat sekali,"

Jawab Seng Sam.

"Tapi siapa yang kau maksud?"

"Yang kumaksud adalah mereka yang telah melanggar hukum tapi tidak mau mengakui kesalahannya, mereka yang berhati busuk, pinginnya membongkar rahasia orang lain, serta mereka yang jelas harus dihukum seberat beratnya tapi masih saja dapat keluyuran secara bebas."

"Manusia macam begitu memang patut dibersihkan,"

Agak berubah wajah Seng Sam.

"Tapi ada semacam orang yang terlebih harus dibereskan lebih dulu."

"Manusia macam apa?' "Orang mampus, jika orang mati tidak dibereskan, mana ada tempat di dunia ini bagi orang lain?"

Suhu udara tampaknya anjlok berapa derajat semenjak kemunculan Seng Sam ditempat itu, hawa dingin yang membeku serasa mencekam setiap sudut ruangan.

"Hari ini merupakan kunjunganmu yang pertama disini, boleh tahu siapa yang akan kau permak? Siapa yang akan kau bereskan?"

Tanya Nyoo Cing.

"Sebenarnya sih Cuma satu orang, tapi kalau ditambah seorang lagi pun tidak masalah."

"Satu orang harus dibersihkan, dua orang tetap harus dibersihkan, bahkan sepuluh orang pun tetap harus dikerjakan, kalau toh memang bermaksud melakukan pembersihan, jumlah sebetulnya bukan masalah."

"Tepat sekali!"

"Yang menjadi persoalan sekarang adalah dengan kekuatanmu seorang, bagaimana mungkin kau bisa membereskan kami berdua?"

Seng Sam hanya tertawa, sama sekali tidak menjawab.

Bangunan rumah kayu yang sebetulnya kokoh dan kuat itu tiba tiba hilang lenyap bersamaan dengan senyuman dari Seng Sam tadi.

Biarpun kau memiliki peralatan yang paling bagus pun mustahil bisa membongkar rumah kayu itu dalam waktu singkat, tapi kenyataannya sekarang, rumah kayu itu sudah roboh terbongkar hanya dalam waktu sekejap.

"Orang mampus, jika orang mati tidak dibereskan, mana ada tempat di dunia ini bagi orang lain?"

Suhu udara tampaknya anjlok berapa derajat semenjak kemunculan Seng Sam ditempat itu, hawa dingin yang membeku serasa mencekam setiap sudut ruangan.

"Hari ini merupakan kunjunganmu yang pertama disini, boleh tahu siapa yang akan kau permak? Siapa yang akan kau bereskan?"

Tanya Nyoo Cing.

"Sebenarnya sih Cuma satu orang, tapi kalau ditambah seorang lagi pun tidak masalah."

"Satu orang harus dibersihkan, dua orang tetap harus dibersihkan, bahkan sepuluh orang pun tetap harus dikerjakan, kalau toh memang bermaksud melakukan pembersihan, jumlah sebetulnya bukan masalah."

"Tepat sekali!"

"Yang menjadi persoalan sekarang adalah dengan kekuatanmu seorang, bagaimana mungkin kau bisa membereskan kami berdua?"

Seng Sam hanya tertawa, sama sekali tidak menjawab.

Bangunan rumah kayu yang sebetulnya kokoh dan kuat itu tiba tiba hilang lenyap bersamaan dengan senyuman dari Seng Sam tadi.

Biarpun kau memiliki peralatan yang paling bagus pun mustahil bisa membongkar rumah kayu itu dalam waktu singkat, tapi kenyataannya sekarang, rumah kayu itu sudah roboh terbongkar hanya dalam waktu sekejap.

Nyoo Cing juga sedang mengawasi ke delapan sembilan orang lelaki setengah baya itu, dia mengawasi mereka dengan seksama, mengawasi setiap bagian tubuh mereka dengan teliti, seakan seorang lelaki hidung bangor yang sedang mengawasi seorang gadis perawan yang sedang bertelanjang bulat.

Sejak Seng Sam muncul disitu sampai rumah kayu itu dibongkar orang, Lan It-ceng hanya duduk tenang ditempat semula tanpa melakukan suatu gerakan pun, dia hanya mengawasi gerak-gerik orang-orang itu tanpa komentar.

Apapun yang dilakukan orang-orang itu, Lan It-ceng merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri, peluh dingin jatuh bercucuran membasahi tubuhnya, bahkan sekarang, setiap jengkal otot dan daging tubuhnya mulai menyusut, termasuk pantatnya pun mulai mengejang keras.

Namun bila kau perhatikan mimik mukanya, dia seakan tidak menunjukkan perubahan perasaan apa pun.

Terhadap cara kerja dan sikap yang diperlihatkan anak buahnya, Seng Sam merasa sangat puas.

Dia senang melakukan pekerjaan semacam ini, tapi dia tidak senang menjumpai kejadian diluar dugaan, kini jumlah anak buahnya sudah tidak banyak, dia berharap mereka masih bisa hidup hingga usia delapan puluh tahun.

Kendatipun situasi saat ini sudah berada dalam kendalinya, akan tetapi dia tetap tidak ingin melakukan sedikit kesalahan pun, bagi mereka yang melakukan pekerjaaan semacam ini, kesalahan sedikitpun berarti akan mendatangkan bencana kematian.

Oleh sebab itu dia ingin mengajukan pertanyaan terlebih dulu, mencari keterangan sejelas jelasnya sebelum bertindak lebih jauh, tentu saja yang menjadi sasaran pertanyaan adalah Nyoo Cing.

"Benarkah sahabatmu bernama Lan It-ceng?"

"Benar!"

"Jadi kau adalah Nyoo Cing?"

"Benar."

"Putra dari Nyoo Heng?"

"Rasanya begitu."

"Tidak bakal salah?"

"Rasanya tidak."

"Kalau begitu tampaknya aku tidak salah masuk dan tidak salah mencari orang,"

Seng Sam menghembuskan napas panjang.

"Kau memang tidak keliru,"

Nyoo Cing turut menghela napas.

"Kau tidak salah tempat, juga tidak salah orang, tapi kau telah melakukan satu kesalahan."

"Kesalahan apa?"

"Kau tidak seharusnya membongkar rumah kayu ini."

Begitu dia selesai bicara, tidak menunggu Seng Sam memahami maksud ucapannya, dia sudah mulai melakukan tindakan.

Serangan yang dilancarkan Nyoo Cing bukan ditujukan ke arah Seng Sam, juga bukan terhadap ke delapan sembilan orang lelaki setengah baya itu, tinju nya langsung disodokkan ke tubuh Lan It-ceng.

Mengapa dia malah menyerang Lan It-ceng?

Tindakan diluar dugaan yang dilakukan Nyoo Cing ini seketika membuat Seng Sam serta anak buahnya melengak, tidak habis mengerti, dengan wajah melongo mereka saksikan kepalan dari Nyoo Cing menghajar perut Lan It-ceng.

Pukulan itu sangat kuat.

Bukan saja Lan It-ceng dibuat melengak, dia bahkan terperanjat dan melongo.

Dia benar benar tidak habis mengerti, mengapa Nyoo Cing malah menghajarnya?

Dalam keadaan begini dia hanya bisa mengawasi pukulan itu bersarang telak diatas perutnya...

sebuah pukulan yang amat bertenaga.

Ketika melayangkan pukulannya itu, gaya Nyoo Cing tak ubahnya seperti seorang jagal yang sedang mengayunkan goloknya.

Sedemikian keras pukulan itu, mungkin termasuk pukulan paling bertenaga yang pernah dilancarkan Nyoo Cing sepanjang hidupnya.

Dia harus memukul dengan sepenuh tenaga, bila kekuatannya berkurang sedikit saja maka pengharapannya tak akan tercapai.

Apa pengharapannya dengan pukulan itu?

Tatkala tenaga pukulan Nyoo Cing yang sangat kuat itu hampir menghantam perut Lan It-ceng, mendadak tenaga serangannya yang keras berubah jadi lunak, jotosan berubah jadi dorongan.

Rupanya dia sedang melontarkan tubuh Lan It-ceng dengan sekuat tenaga, melemparnya keluar dari kepungan, melemparnya ke dalam hutan bunga bwee.

Tubuh Lan It-ceng bagaikan sebuah batu kerikil yang dilempar ke tengah udara, langsung meluncur ke dalam hutan lebat itu.

Menanti Seng Sam sadar akan apa yang telah terjadi, bayangan tubuh Lan It-ceng sudah lenyap dibalik pepohonan yang lebat.

Terdengar Nyoo Cing berkata sambil tertawa.

"Sekarang, kau pasti sudah tahu bukan dimana letak kesalahanmu?"

Paras muka Seng Sam saat ini persis seperti seseorang yang mulutnya sekaligus dijejali tiga butir telur ayam.

Ke delapan sembilan orang lelaki setengah baya itu tetap berdiri ditempat, sebelum ada perintah dari Seng Sam, mereka tak bakalan melakukan suatu gerakan.

Perlahan lahan Nyoo Cing duduk kembali, mengambil cawan araknya dan seteguk demi seteguk menikmati isinya.

"Sewaktu kau munculkan diri tadi, aku masih kuatir dengan cara apa bisa menghantar Lan It-ceng keluar dari tempat ini, sungguh tidak disangka rekan rekanmu itu telah membantu aku,"

Kata Nyoo Cing sambil tertawa.

"Hal ini menjadi pelajaran bagimu bahwa segala kejadian pasti ada sisi untungnya diluar sisi rugi."

Angin dingin berhembus lewat membawa udara yang sangat dingin, tapi seakan membawa pula keluh kesah yang datang dari utara.

Lamat-lamat dari balik hutan pohon bwee itu seakan terdengar juga suara jeritan ngeri yang memilukan hati.

Dalam situasi dan kondisi tertentu, reaksi yang ditunjukkan setiap orang ketika mendengar suatu suara selalu berbeda-beda.

Bila kau sedang berjalan seorang diri disebuah lorong sempit ditengah malam buta, bila scara tiba-tiba mendengar suara rintihan, apa reaksimu waktu itu?

Ada orang akan tercengang, ada orang terperangah, ada orang ingin tahu, ada orang tidak acuh bahkan ada orang merasa gembira atau bahkan menangis.

Tapi terlepas bagaimana reaksi dan perubahan mimik wajah orang-orang itu, yang pasti tidak akan seperti reaksi yang ditunjukkan Nyoo Cing saat ini.

Sorot mata yang semula terang cemerlang tiba tiba saja berubah jadi redup, alis matanya yang tebal mulai berkerut bahkan hidungnya ikut berkerut.

Bibirnya yang digigit kuat-kuat kini mulai terluka dan berdarah, otot-otot hijau di tengkuknya pada menonjol keluar semua bagai kawat baja.

Paras mukanya juga berubah, berubah menjadi warna yang kelabu, warna yang mendekati "kematian".

...

Warna kematian sesungguhnya berbentuk warna apa?

...

Benarkah warna kematian termasuk satu jenis warna yang tidak bisa dilukiskan dengan perkataan?

Ketika berkumandang suara jeritan ngeri yang terbawa hembusan angin utara, paras muka Nyoo Cing mulai berubah hebat.

Suara itu datang dari balik hutan pohon bwee, bukan saja Nyoo Cing sangat mengenal suara tersebut bahkan tahu suara itu berasal dari mulut siapa.

Sebenarnya dia mengira dengan tenaga dorongannya yang kuat tadi, dia telah mengirim Lan Itceng menuju ke suatu tempat yang aman.

Paling tidak dia mengira hutan pohon bwee itu merupakan sebuah tempat yang cukup aman.

Tapi kenyataannya?

Ketika hembusan angin utara membawa suara jerit kesakitan, Nyoo Cing sadar bahwa dugaannya ternyata keliru besar.

Inilah kesalahan kedua yang pernah dilakukan sepanjang hidupnya.

Dua kali kesalahan yang dilakukan dari tempat yang sama.

Kesalahan pertama adalah meletakkan Lu Siok-bun ditempat ini, tempat yang dianggapnya paling aman.

Untuk kedua kalinya lagi lagi dia melakukan kesalahan yang sama, dia mengira hutan pohon bwee itu merupakan tempat yang "aman", oleh karena itulah dia mengirim Lan It-ceng ke tempat itu.

Kini dia hanya bisa "bersumpah", sejak hari ini tidak akan melakukan kesalahan lagi, kesalahan yang pertama sudah membuat dia harus menuai penderitaan selama dua puluh tahun.

Lalu bagaimana dengan kesalahan yang kedua?

Apakah dia harus menjalani penderitaan lagi selama dua puluh tahun?

Tidak!

Nyoo Cing tidak ingin mengalami hal semacam ini, dia sudah tidak punya cukup waktu untuk menanti selam dua puluh tahun lagi.

Oleh sebab itu begitu jeritan ngeri berkumandang, tubuhnya bagaikan anak panah yang terlepas dari busur telah menerjang menuju ke dalam hutan.

Pada saat tubuhnya melambung ke udara itulah, Seng Sam beserta anak buahnya ikut melambung ke tengah udara.

Tubuh Seng Sam beserta anak buahnya segera membentuk selembar jaring ditengah udara.

-selembar jaring yang sukar ditembus.

-selembar jaring yang dipenuhi ancaman bahaya.

Menyusul kemudian lembaran jaring itu menggulung ke tubuh Nyoo Cing, persis seperti sebuah jala yang menjaring seekor ikan.

Ketika sang ikan masuk ke dalam jaring, tak seekor pun akan berhasil meloloskan diri.

Tapi bagaimana dengan Nyoo Cing?

Kini sang jaring sudah mulai mengencang, Nyoo Cing terjebak di dalam jaring itu.

Mungkinkah sang ikan yang terjaring dalam jala manusia berhasil meloloskan diri?

BAB 10.

Pesanggrahan Tabib sakti.

Manusia macam apakah orang yang sedang sakit?

Penjelasannya sangat banyak, ada yang bilang.

Orang sakit adalah seseorang yang sedang menderita suatu penyakit.

Tentu saja keterangan semacam ini sangat masuk diakal, namun penjelasannya masih kurang begitu pas, kurang tepat.

Terkadang orang yang tidak menderita suatu penyakit pun disebut orang sakit.

Seperti misalnya, orang yang terluka, orang yang keracunan, apakah mereka tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori orang sakit?

Tentu saja tidak mungkin bukan?

Setiap jaman, dalam dunia persilatan pasti akan muncul pendekar besar, pahlawan, pencuri sakti bahkan seorang pendekar wanita.

Dalam setiap kasus pasti akan terjadi pula proses kelahiran, ternama, terluka akhirnya kematian, oleh karena itu dalam setiap jaman pasti akan muncul juga seorang tabib sakti.

Tabib sakti yang muncul dari jaman mana pun selalu disanjung dan dihormati orang, akan tetapi tidak akan ada yang lebih termashur daripada Hong Coan-sin.

Hong Coan-sin adalah tabib sakti jaman itu, namun namanya masih sering disebut orang pada jaman berapa generasi kemudian.

Manusia macam apakah dia?

Mengapa begitu termashur namanya?

Karena ilmu tabibnya yang luar biasa?

Atau karena orangnya?

Dia disebut orang Tabib sakti, tentu saja ilmu pengobatannya luar biasa, tapi nama besarnya bukan ilmu pengobatan, juga bukan dirinya.

Pengobatan adalah "pekerjaan"nya.

Pesanggrahan Coan-sin-ie-khek dibangun bersandar pada bukit.

Pintu gerbangnya berada di kaki bukit, begitu masuk ke pintu depan maka sejauh mata memandang yang terlihat hanya jalan besar yang tegak lurus beralaskan batu granit hijau.

Dikedua sisi jalan besar tumbuh aneka pohon, bunga dan rumput, disitu pun banyak dipelihara unggas terbang yang langka..

Ketika tiba diujung jalan maka sampailah di pesanggrakan lapis pertama, Tee-it-tiong-khek.

Tee-it-tiong-khek merupakan sebuah ruangan yang besar, besar sekali, ditengah ruangan yang sangat besar itu terdapat sebuah kolam air yang tidak terhitung kecil, tentu saja dalam kolam dipelihara pelbagai jenis ikan.

Disebelah kiri ruang utama itu terdapat sebuah meja yang amat panjang, di belakang meja duduk empatlima orang gadis berbaju putih.

...Semua penghuni pesanggrahan Coan-sin-ie-khek memang mengenakan pakaian seragam berwarna putih.

Meja panjang itu disebut para penghuni pesanggrahan pengobatan sebagai "Leng-ho-so" (tempat mengambil nomor).

Semua pasien yang datang ke pesanggrahan itu untuk memeriksakan penyakitkan, mereka wajib menuju ke Leng-ho-so untuk mendaftarkan diri kemudian mengambil nomor urut sesuai dengan urutan terdepan.

Didalam ruang utama banyak tersedia kursi dan meja, selesai mendaftarkan diri dan mengambil nomor urut mereka bisa menunggu dalam ruangan itu sambil menunggu panggilan.

Baca Juga: Pendekar Binal 4

Baca Juga: Rumah Judi Pancing Perak 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert