Ceritasilat Novel Online

Rahasia Peti Wasiat 3

Eps 3 Rahasia Peti Wasiat - Gan KL

Baca online Rahasia Peti Wasiat - Gan KL

Cersil Rahasia Peti Wasiat - Gan KL.

"Di ujung jalan sana ada sebuah restoran paling terkenal di kota ini, namanya Kim-boan-lau, boleh kau coba,"

Kata Bunhiong.

"Tapi aku tidak mau makan otak kera,"

Kata It-hiong.

"Jangan khawatir,"

Ujar Bun-hiong tertawa.

"Restoran itu khusus menyajikan masakan Sujwan, tidak menjual otak kera."

"Aha, bagus, aku memang suka makan hidangan Sujwan, rasanya pedas dan menyenangkan,"

Seru It-hiong.

"Cuma mahal harganya, sekali makan terkadang menghabiskan beberapa puluh tahil perak,"

Ujar Bun-hiong.

"Tidak menjadi soal, aku yang bayar,"

Kata It-hiong.

"Tidak, makan malam ini adalah giliranku untuk membayar,"

Seru Bun-hiong.

"Aku ini langganan lama Kim-boan-lau, malahan dulu pernah kubela mereka mengusir beberapa orang bicokok yang bikin rusuh di sana, maka mereka tidak berani menggorok terlalu mahal."

Tengah bicara, tanpa terasa mereka sudah tiba di luar restoran itu.

Benar juga, begitu melihat Pang Bun-hiong, serupa juga pelayan hotel, segera pelayan restoran menyapa dengan hormat dan menyilakan mereka naik ke loteng, ke tempat yang paling terhormat.

Setelah memilih sayuran, lalu Pang Bun-hiong menggoyang kipas lagi dan berkata.

"Habis makan, lebih dulu kita mencari Giok-nio atau mendatangi Siang-liong-piaukiok?"

"Pergi dulu ke Siang-liong-piaukiok,"

Kata It-hiong.

"Kuingin merampas kembali dulu kotak itu dan mengantarnya ke Cappek-pan-san, habis itu baru membereskan urusan Giok-nio ini."

"Jika sudah dapat mengetahui seluk-beluk si kakek baju kelabu lantas takkan kau cari Giok-nio lagi?"

Tanya Bun-hiong.

"Sebelum berangkat boleh juga mencarinya dulu, cuma tidak boleh memperlihatkan sesuatu tanda mencurigakan, agar tidak menyentuh rumput mengagetkan ular,"

Kata It-hiong.

"Dia tinggal di rumah hiburan mana?"

"Kabarnya di Boan-wan-jun."

"Aku tahu tempat itu, rumah hiburan itu memang bagus, ratarata cantik nona yang tinggal di situ."

"Buset, tampaknya tidak sedikit nona yang pernah kau kenal."

"Tidak banyak, soalnya aku suka pilih."

"Bagaimana pilihanmu?"

"Harus muda dan cantik, anggun dan bersih, harus yang masih baru."

"Tolol, nona begituan kan tidak pengalaman, masa baik?"

"Aku justru cocok yang jenis begitu, kau sendiri suka yang model apa?"

"Aku suka yang genit, makin genit makin baik."

"Hah, ada satu di Boan-wan-jun, namanya Kim-lian, dia terkenal paling genit, mau kuperkenalkan dia padamu?"

"Boleh sih boleh, cuma kalau jadi ke Boan-wan-jun, yang ingin kutemui dulu justru Giok-nio ...."

Tengah bicara, hidangan sudah diantar oleh pelayan. Maka mereka lantas makan minum dengan riangnya. Sembari makan It-hiong bertanya.

"Berapa jauhnya jarak Siang-liong-piaukiok dari sini?"

"Tidak jauh, ratusan langkah saja dari sini,"

Jawab Bun-hiong.

"Siapa nama Congpiauthaunya?"

"Mereka bersaudara, Lotoa Hang Tiong, Loji Hang Wi, orang memberi julukan Hang-keh-siang-liong (dua naga keluarga Hang) kepada mereka. Mereka memang tangkas juga, barang kawalan mereka tidak pernah hilang."

"Bagaimana hubunganmu dengan mereka?"

Tanya It-hiong pula.

"Tidak jelek, cuma mereka hidup serupa orang kaya mendadak, maka aku jarang mencari mereka."

Belum lenyap suaranya, mendadak terdengar suara orang naik tangga, menyusul seorang lantas berseru dengan lantang.

"Aha, Pang Bun-hiong, kau datang ke Kim-leng sini, kenapa tidak kau cari kami?"

Bun-hiong merasa girang, segera ia berdiri dan menyapa.

"Aha, baru disinggung segera muncul orangnya. Inilah Hangloji!"

Terlihat dari bawah naik dua orang.

Yang di depan berusia 40-an, bertubuh kekar, berwajah lebar, kumis menghias bibirnya, pakaiannya mentereng, tampaknya dia inilah Hang Wi, orang kedua dari Siang-liong-piaukiok.

Yang ikut di belakangnya adalah seorang muda, mukanya tidak luar biasa, tampaknya seorang pelajar.

Dengan tersenyum Bun-hiong memberi hormat dan menyapa.

"Baik-baikkah selama ini, Hang-jipiauthau?"

Hang Wi menjabat tangan Bun-hiong dengan akrab sambil menepuk pundak orang, katanya dengan tergelak.

"Haha, rasanya sudah lebih setengah tahun kita berpisah, sekali ini angin apakah yang membawamu ke sini?"

"Karena senang, lalu datang kemari,"

Ujar Bun-hiong dengan tertawa.

"Baru saja kulewat di bawah, pelayan bilang padaku akan kedatanganmu, kuheran mengapa engkau tidak mampir ke rumah kami?"

Tanya Hang Wi.

"Siaute juga baru sampai, sesudah makan memang ingin mengunjungimu,"

Bun-hiong memberi alasan. Lalu ia berpaling dan berkata kepada It-hiong.

"Ini, kuperkenalkan kalian. Inilah Hang-loji dari Siang-liong-piaukiok."

"Sudah lama kukagumi nama Anda, beruntung dapat berjumpa di sini,"

Segera It-hiong memberi hormat. Lalu Bun-hiong berkata pula kepada Hang Wi.

"Inilah Lionghiap Liong It-hiong yang termasyhur itu."

"Aha, kiranya Liong-hiap adanya,"

Seru Hang Wi sambil membalas hormat.

"Sudah sering kudengar nama Anda dari kawanku, sungguh bahagia hari ini dapat bertemu."

It-hiong lantas mengucapkan kata-kata merendah diri. Kemudian Bun-hiong memandang pemuda pelajar itu dan bertanya.

"Hang-heng, saudara ini ...."

"Dia bernama Lu Siau-peng, adik istriku,"

Cepat Hang Wi memberi tahu.

"Dia baru beberapa hari berada di Kim-leng, karena iseng malam ini, maka kubawa dia melancong keluar. Ayo Siau-peng, lekas menemui Pang-kongcu dan Liongtayhiap."

Lu Siau-peng itu seperti pemuda yang masih hijau, melihat orang asing masih kelihatan malu-malu, dengan kikuk ia lantas memberi hormat kepada Bun-hiong berdua tanpa bersuara.

"Mari silakan duduk dan minum beberapa cawan,"

Sapa Bunhiong pula.

"Hei pelayan, lekas tambah dua pasang sumpit dan mangkuk piring."

Pelayan mengiakan dan cepat menyiapkan apa yang diminta. Dengan akrab Bun-hiong menuangkan arak bagi mereka, lalu ia menuang secawan untuk diri sendiri, katanya.

"Mari, habiskan secawan!"

Sekali tenggak Hang Wi menghabiskan isi cawannya, lalu berkata sambil memandang Bun-hiong berdua.

"Kalian yang satu Liong-hiap dan yang lain Hou-hiap, kini dalam perjalanan bersama, sungguh kisah yang menarik bagi dunia persilatan."

"Ah, menarik apa,"

Ujar Bun-hiong tertawa.

"Orang bilang naga bertempur dengan harimau, bilamana naga bertemu harimau selalu berakibat tidak baik."

"Haha, tidak, tidak bisa,"

Hang Wi terbahak.

"Kalian yang satu naga langit dan yang lain harimau bumi, sesuai pemeo yang menyatakan air sumur tidak menggenangi air sungai, tidak nanti kalian saling bertempur. Jika kalian sama menggunakan julukan Liong atau Hou, kemungkinan untuk bertarung tentu akan besar karena satu gunung biasanya memang sukar dihuni oleh dua harimau sekaligus."

Bun-hiong memandang It-hiong, katanya dengan tertawa.

"Nah, kau dengar, maka perkelahian kita itu biarlah kita hapus saja."

It-hiong hanya tertawa tanpa menjawab.

"Bicara sesungguhnya, kedatangan kalian di Kim-leng ini apakah ada sesuatu urusan?"

Tanya Hang Wi.

"Ada, kami memang hendak mencari kalian,"

Jawab Bunhiong.

"Oo, ada petunjuk apa?"

Tanya Hang Wi.

"Kami ingin mencari keterangan seorang padamu,"

Kata Bunhiong.

"Siapa?"

Tanya Hang Wi. Bun-hiong menunjuk It-hiong dan berkata.

"Dia mempunyai semacam barang dan dirampas seorang tua, tapi tidak tahu nama dan alamat orang tua itu. Kupikir kalian sering kian kemari di dunia Kangouw, tokoh Bu-lim yang kalian kenal sangat banyak, mungkin kalian tahu seluk-beluk kakek itu, maka kuajak dia kemari, untuk minta keterangan padamu."

Hang Wi memandang It-hiong sekejap, tanyanya.

"Barang apa milik Liong-hiap yang dirampas orang?"

"Sebuah kotak,"

Tutur It-hiong.

"Itu pun sebenarnya bukan milikku melainkan barang titipan orang yang minta kukirim ke Cap-pek-pan-san ...."

"Cap-pek-pan-nia atau Cap-pek-pan-san?"

Mendadak Hang Wi memotong. It-hiong melenggong, perlahan timbul rasa kejut dan girang pada air mukanya, mendadak ia melonjak dan berseru.

"Aha, betul, Cap-pek-pan-nia dan bukan Cap-pek-pan-san, yang benar Cap-pek-pan-nia (Nia=bukit, San=gunung)."

Bun-hiong ikut bingung, katanya.

"Hei, bicaralah yang jelas, sesungguhnya Cap-pek-pan-nia atau Cap-pek-pan-san?"

"Yang betul adalah Cap-pek-pan-nia,"

Seru It-hiong dengan bersemangat.

"Karena pertanyaan Hang-jiko tadi, seketika teringat olehku yang tepat adalah Cap-pek-pan-nia."

"Kukira memang begitu,"

Kata Hang Wi tersenyum.

"Hanya Cap-pek-pan-nia yang bisa ada hubungan dengan kawan Bulim, kalau Cap-pek-pan-san pasti tidak."

"Kenapa bisa begitu!"

Tanya Bun-hiong.

"Sebab Cap-pek-pan-san hanya sebuah tempat yang terkenal indah pemandangan alamnya, tidak ada orang persilatan yang bercokol di pegunungan itu, sebaliknya Cap-pek-pan-nia menjadi pangkalan orang Kangouw,"

Tutur Hang Wi.

"Kudengar paling akhir ini ada sekawanan orang gagah yang baru saja menonjol di dunia Kangouw menduduki bukit itu sebagai pangkalan, pengaruhnya besar dan telah menguasai kalangan hitam di daerah utara dan menjadi pusat kekuasaan kaum bandit di lima provinsi utara."

"Siapa pemimpin besarnya?"

Tanya It-hiong cepat.

"Itu aku tidak tahu,"

Hang Wi menggeleng.

"Jarak Cap-pekpan-nia dari sini sangat jauh letaknya, tidak pernah kami mengawal barang lewat sana, maka keadaan di tempat itu kami hanya tahu sekadarnya saja."

"Jika begitu, tepatnya Cap-pek-pan-nia itu di mana letaknya?"

Tanya It-hiong.

"Kira-kira 60 li di sebelah barat laut Tong-hiang di barat provinsi Kamsiok, di sebelah utaranya adalah gerbang Ciheng-koan dari tembok besar, di sebelah baratnya adalah pegunungan Tay-bo-san dengan lereng gunungnya yang tinggi berderet, lereng gunungnya berderet delapan belas diliputi rimba raya yang sukar dijajaki, orang biasa tidak berani mendekati lereng gunung itu, sebab sangat mungkin akan kesasar, bahkan banyak sekali binatang buas di sana."

It-hiong menarik napas, katanya kepada Bun-hiong.

"Keparat, jika begitu, orang yang bernama Si Hin itu ternyata kawanan bandit dari Cap-pek-pan-nia."

"Betul atau tidak, sekarang belum dapat dipastikan, jika dia memang anggota bandit di pegunungan itu, apakah sekarang masih hendak kau antar kotak itu ke sana?"

Tanya Bun-hiong dengan tertawa. It-hiong mengangkat pundak.

"Tentang ini ... biarlah kuputuskan nanti kalau kotak sudah kurebut kembali."

"Orang yang bernama Si Hin itu minta Liong-hiap mengantar sebuah kotak ke Cap-pek-pan-nia, memangnya apa isi kotak itu?"

Tanya Hang Wi.

"Aku pun tidak tahu, sesudah kotak hitam itu diserahkan kepadaku segera ia mengembuskan napas terakhir karena lukanya yang parah ...."

Lalu ia menceritakan secara ringkas apa yang dialaminya dulu. Gemerdep sinar mata Hang Wi mendengar cerita yang aneh ini, katanya kemudian.

"Jika demikian, isi kotak itu pasti sesuatu barang yang sangat berharga, makanya menimbulkan incaran orang banyak. Lantas bagaimana bentuk orang yang merampas kotak itu?"

"Seorang kakek berusia 60-an,"

Tutur It-hiong.

"perawakannya kurus, berbaju warna kelabu, membawa senjata ruyung baja bersegi, Ginkangnya sangat tinggi."

Hang Wi berpikir agak lama, katanya kemudian.

"Tokoh Bu-lim yang memakai senjata ruyung baja kutahu ada beberapa orang, tapi kakek yang kau maksudkan ini sangat mungkin adalah In-tiong-yan Pokyang Thian ...."

"Orang macam apakah In-tiong-yan Pokyang Thian itu?"

Tanya It-hiong.

"Biasanya dia berkeliaran di daerah selatan, seorang bandit ternama, selain Kungfunya sangat tinggi, Ginkangnya juga sangat hebat, boleh dikatakan jarang ada bandingannya,"

Tutur Hang Wi.

"Dia tinggal di mana?"

Tanya It-hiong.

"Ini aku pun tidak tahu,"

Jawab Hang Wi.

"Dia adalah bandit yang bekerja sendiri dan pergi-datang tidak menentu, mungkin tidak ada tempat kediaman yang pasti."

"Mana dia tidak punya anak istri?"

Tanya It-hiong pula. Hang Wi menggeleng.

"Entah, tentang orang ini aku juga cuma mendengar dari cerita orang saja dan tidak pernah melihatnya, maka tidak begitu jelas mengenai pribadinya."

"Tidak tahu tempat kediamannya, ke mana akan mencarinya!"

Ujar It-hiong dengan kening bekernyit.

"Memang betul, untuk mencari orang ini mungkin sangat sulit,"

Kata Hang Wi. It-hiong memandang Bun-hiong, tanyanya.

"Bagaimana?"

"Jangan cari dia,"

Kata Bun-hiong.

"Tidak bisa, harus kutemukan dia,"

Kata It-hiong.

"Soalnya bukan melulu urusan kotak itu saja, tapi sebelum kuberi hajaran kepada budak itu rasanya belum puas hatiku."

"Eh, ya, di kota ini adalah seorang Cia-lotia penjual barang antik, bisa jadi dia tahu jejak In-tiong-yan Pokyang Thian itu,"

Kata Hang Wi. Seketika terbangkit semangat It-hiong, tanyanya.

"Cara bagaimana seorang penjual barang antik mengetahui selukbeluk In-tiong-yan Pokyang Thian?"

"Sebab barang antik yang dibelinya justru berasal dari barang curian kaum bandit dan perampok, atau dengan lain perkataan Cia-lotia adalah tukang tadahnya."

"Hah, jika begitu tentu barang rampasan Pokyang Thian itu akan dijual juga kepada Cia-lotia,"

Seru It-hiong girang.

"Entah, sukar dipastikan,"

Kata Hang Wi.

"Cuma kebanyakan tokoh Kangouw golongan hitam kenal juga pada Cia-lotia, maka tokoh seperti Pokyang Thian juga sangat mungkin pernah mengadakan transaksi dengan Cia-lotia."

"Di mana tempat tinggal Cia-lotia?"

Tanya It-hiong.

"Kutahu, sebentar dapat kubawamu ke sana,"

Kata Bun-hiong.

"Memang tidak sulit jika ingin menemui Cia-lotia,"

Tukas Hang Wi.

"Tapi bila ingin mengorek keterangan dari mulutnya kukira urusan tidak terlalu mudah. Jelek-jelek orang tua itu juga berjiwa setia kawan dan tidak sembarangan mengkhianati sahabat dunia Kangouw."

"Jangan khawatir, aku mempunyai cara sendiri supaya dia bicara,"

Kata Bun-hiong. Tahu mereka ada urusan penting, Hang Wi tidak mau banyak mengganggu lagi, segera ia berdiri dan berkata.

"Baiklah, silakan kalian makan, aku mohon diri dulu."

Cepat It-hiong berkata.

"Jangan pergi dulu Hang-jiko, kalian belum bersantap apa pun, masa lantas pergi begitu saja?"

"Terima kasih."

Kata Hang Wi dengan tertawa.

"Kami sudah makan di rumah. Kami hanya keluar untuk melancong saja dengan iparku ini supaya kenal keadaan kota ini, bilamana Liong-hiap sudi bersahabat denganku, besok bila bertemu lagi nanti kita minum sepuasnya."

It-hiong tidak menahannya lagi, katanya.

"Baiklah, bila sempat besok boleh kita minum lagi."

Lalu Hang Wi memberi hormat dan mohon diri. Sesudah rombongan Hang Wi pergi, It-hiong berdua meneruskan bersantap.

"Kau kira kakek berbaju kelabu itu In-tiong-yan Pokyang Thian atau bukan?"

Tanya It-hiong kemudian.

"Mungkin,"

Jawab Bun-hiong.

"Lekas kita makan, segera kita pergi mencari Cia-lotia,"

Kata It-hiong. Begitulah buru-buru mereka menyelesaikan makanan dan membayar lalu berangkat.

"Jika dari Cia-lotia tidak mendapatkan sesuatu keterangan, bagaimana kalau kita terus mencari Giok-nio?"

Tanya Bunhiong.

"Baiklah,"

Jawab It-hiong.

"Menurut pendapatku tidaklah perlu kau pikirkan urusan kehilangan kotak, jika kotak itu ada sangkut pautnya dengan kawanan bandit Cap-pek-pan-nia, maka bisa banyak mendatangkan persoalan bilamana engkau ikut campur."

"Tapi aku sudah menerima pesan orang mati, sebelum tugas terlaksana rasanya aku tidak rela,"

Kata It-hiong.

"Sejak mula juga engkau tidak pernah menyanggupi permintaannya, hanya lantaran mendadak kotak itu diborgolkan di tanganmu, maka tidak dapat dianggap engkau menerima pesannya."

"Soal kotak itu dapat kurebut kembali atau tidak adalah urusan lain, namun betapa pun harus kubekuk kembali si budak she Ni itu,"

Ucap It-hiong dengan gemas. Bun-hiong tertawa.

"Jika dia jatuh hati padamu, dengan sendirinya dia akan kembali mencarimu."

"Aku tidak berpikir demikian, aku cuma ingin menghajar dia untuk melampiaskan rasa dongkolku."

Kata It-hiong. Begitulah Bun-hiong lantas membawanya masuk ke sebuah gang kecil, katanya sambil menunjuk ke depan.

"Lihat, toko barang antik Cia-lotia itu terletak di situ."

Waktu It-hiong memandang ke sana, benar juga tidak jauh di depan ada sebuah toko, di depan pintu ada dua buah lampu kerudung bertulisan "barang antik", ia tanya.

"Kau kenal dia?"

"Kenal, pernah kubeli barangnya,"

Jawab Bun-hiong.

"Bagus jika begitu, sebentar boleh kau tanyai dia, sebaiknya pakai alasan bahwa engkau mempunyai urusan penting harus berunding dengan In-tiong-yan Pokyang Thian dan minta dia sebagai penghubung."

"Cia-lotia adalah rase tua yang licin, dia tidak mau sembarangan percaya kepada ocehan orang,"

Kata Bun-hiong.

"Tapi jangan khawatir, boleh kau lihat, aku mempunyai cara sendiri untuk menghadapi dia."

Tengah bicara mereka sudah sampai di depan toko barang antik Cia-lotia.

Dipandang dari luar cahaya lampu terang benderang di dalam toko yang penuh barang antik yang menarik, di dekat pintu masuk ada sebuah meja kerja, di belakang meja duduk seorang tua dengan kumis tebal melintang di atas bibir, muka kelihatan kurus, lagi sibuk main swipoa sehingga menimbulkan suara tik-tak-tik-tak.

Begitu masuk segera Bun-hiong berseru.

"Hai, Cia-lotia, ada barang bagus tidak?"

Cia-lotia atau kakek Cia mengangkat kepala dan mengenali Pang Bun-hiong, cepat ia berdiri dan memberi hormat, katanya.

"Aha, kiranya Pang-kongcu. Selamat, selamat! Silakan duduk!"

Bun-hiong tidak memperkenalkan It-hiong padanya, ia mendekati meja tulis dan bertanya.

"Bagaimana, ramai bisnismu?"

Cia-lotia berkerut kening, keluhnya.

"Wah, sepi! Lebih banyak beli daripada jual, bisnis ini rasanya makin lama makin sulit."

"Ah, sudahlah, jangan mengoceh di depanku,"

Kata Bun-hiong.

"Orang lain mungkin tidak tahu, tapi aku tahu dengan jelas, umpama kau beli sekaligus sepuluh potong barang, cukup kau jual sepotong saja sudah kembali modal. Memangnya siapa yang tidak tahu engkau ini lintah darat?"

"Ah, masa begitu,"

Cia-lotia menyengir Lalu ia membelokkan pokok bicara dan memberi hormat kepada It-hiong, katanya.

"Eh, Kongcu ini tentunya sahabat Pang-kongcu."

"Betul,"

Jawab It-hiong.

"Mohon tanya nama Anda yang mulia?"

Tanya si tua dengan tertawa.

"Ong It-hiong!"

"O, kiranya Ong-kongcu, selamat bertemu,"

Kata Cia-lotia.

"Nah, bagaimana, ada barang bagus tidak akhir-akhir ini?"

Tiba-tiba Bun-hiong menyela.

"Ada, ada,"

Berulang Cia-lotia mengangguk.

"Ada sebuah, sekali pandang saja Pang-kongcu pasti suka. Cuma harganya agak tinggi ...."

"Jangan banyak omong, lekas keluarkan coba kulihat,"

Sela Bun-hiong.

"Baik, baik, silakan kalian duduk sebentar, segera kuambilkan,"

Kata si tua sambil melangkah ke ruang belakang.

Tidak lama kemudian dia keluar lagi dengan membawa sebuah kotak persegi dan lonjong, dengan hati-hati ia taruh kotak itu di atas meja, katanya dengan tertawa.

"Pang-kongcu pasti tidak dapat menerka barang apakah ini."

"Seharusnya kau tahu aku suka barang apa,"

Kata Bun-hiong.

"Kacau bukan barang kuno, sedikitnya berumur 500 tahun ke atas, hendaknya jangan kau perlihatkan kepadaku."

"Wah, barang ini tidak cuma berumur 500 tahun, bahkan kukira sudah lebih seribu tahun,"

Kata Cia-lotia dengan tertawa.

"Masa? Coba buka!"

Ucap Bun-hiong tak acuh.

Perlahan Cia-lotia membuka kotak itu, terlihat bagian dalam kotak itu dilapisi beledu merah, setelah kain merah itu disingkap, tertampaklah sebuah pot bunga kristal yang sangat indah.

Pot bunga itu tingginya lebih satu kaki, bagian mulut melebar serupa kelopak bunga yang mekar, yang paling bernilai adalah seluruh tubuh pot berukir indah, biarpun orang awam juga tahu pot ini pasti benda antik yang sangat berharga.

Bun-hiong lantas mengangkat pot bunga itu dan diamat-amati sekian lamanya, lalu bertanya.

"Barang dari zaman apa?"

Melihat caranya Bun-hiong memegang pot cantik itu diputar balik seenaknya, si tua menjadi khawatir, serunya dengan tegang.

"Eh, hati-hati Pang-kongcu, jangan sampai jatuh!"

"Wah, melihat keteganganmu ini, tampaknya tidak sedikit harga pembelianmu, bukan?"

Tanya Bun-hiong.

"Memang,"

Jawab Cia-lotia.

"Pot kristal ini kubeli dengan tiga ribu tahil perak."

"Berasal dari mana barang ini?"

Tanya Bun-hiong.

"Istana!"

Desis Cia-lotia.

"Barang istana tidak seluruhnya benda mestika, tidak perlu kau gunakan nama istana untuk menggertak orang."

"Tapi asal-usul pot ini sungguh luar biasa, ini barang dari zaman dinasti Tong,"

Tutur Cia-lotia.

"Memangnya barang Nyo-kuihui?"

Ucap Bun-hiong dengan tertawa. Cia-lotia mengangguk.

"Ya, tepat sekali tebakanmu, pot ini memang barang kesayangan Nyo-kuihui."

"Sekarang hendak kau jual dengan harga berapa?"

Tanya Bunhiong.

"Jika Pang-kongcu mau, biarlah kuhitung murahan sedikit, bayar saja tiga ribu dua ratus tahil,"

Kata Cia-lotia.

"Wah, terlalu mahal,"

Bun-hiong menggeleng kepala.

"Tidak, tidak mahal,"

Kata si tua.

"Kubeli dengan tiga ribu tahil, sekarang kuberikan kepada Pang-kongcu dengan tiga ribu dua ratus, masa dianggap mahal?"

"Kau dusta,"

Kata Bun-hiong.

"Benda ini paling banyak kau beli dengan lima ratus tahil saja, hanya pindah satu tangan saja kau ingin untung dua ribu lebih, sungguh pintar menyembelih orang."

"Ai, jika demikian ucapan Pang-kongcu jelas jual-beli ini tidak bisa terlaksana,"

Kata si tua. Bun-hiong sengaja mengangkat pot itu ke atas dan membuatnya bergoyang-goyang seperti mau terlepas, katanya dengan tertawa.

"Bagaimana kalau kubayar tujuh ratus tahil saja?"

"Tidak mungkin jadi,"

Kata Cia-lotia.

"Masa kudusta, pot ini memang kubeli dengan tiga ribu tahil, satu peser pun tidak dapat kurang lagi."

"Jika begitu batal,"

Kata Bun-hiong.

"Silakan pilih yang lain saja, masih ada sedikit barang simpananku yang lebih kecil ...."

Sembari bicara si tua terus hendak mengambil kembali pot itu. Tapi Pang Bun-hiong sengaja menyurut mundur dan tetap mempermainkan pot itu seperti hendak jatuh, katanya dengan tertawa.

"Jangan buru-buru, biar kupikir dulu."

"Caramu memegang jangan begitu, bisa jatuh,"

Seru Cia-lotia khawatir.

"Jangan khawatir, takkan pecah,"

Kata Bun-hiong.

"Tidak, harus hati-hati,"

Kata si tua.

"Coba lihat mulut pot yang tipis itu, sedikit terbentur saja pasti pecah, apalagi jatuh. Dan kalau gempil sedikit saja pasti akan merosot banyak harganya."

"Tidak akan pecah, jangan khawatir,"

Kata Bun-hiong dengan tertawa.

Melihat cara Bun-hiong memegang pot itu tetap dengan acuh tak acuh dan bukan mustahil bisa segera pecah berantakan, si tua menjadi khawatir sehingga dahi berkeringat, serunya.

"Awas, awas!"

"Jangan khawatir,"

Kata Bun-hiong dengan tertawa.

"Ingin kutanya dulu padamu, kecuali pot bunga ini, barang aneh apa pula yang kau miliki?"

"Ada, ada, masih banyak,"

Sahut si tua.

"Biar kusimpan dulu pot ini, segera kuperlihatkan barang lain."

Habis berkata segera ia hendak mengambil kembali pot bunga kristal itu. Namun Bun-hiong tetap tidak mau mengembalikannya, sebaliknya ia angkat pot itu terlebih tinggi, katanya dengan tertawa.

"Aku minta sesuatu padamu, entah kau punya tidak?"

Cia-lotia khawatir pot itu benar-benar akan jatuh, dengan muka pucat ia berseru.

"Kau ... kau minta barang apa?"

"Sebuah kotak!"

Kata Bun-hiong.

"Sebuah kotak?"

Cia-lotia menegas dengan melenggong.

"Kotak apa?"

"Ya, sebuah kotak besi warna hitam, bentuknya serupa peti besi tempat menyimpan barang berharga, pada peti itu ada rantai besi dan ujungnya diberi borgol baja."

"Aneh, barang apakah itu?"

Tanya Cia-lotia dengan terbelalak. Bun-hiong tidak menjawab, sebaliknya tanya lagi.

"Adakah orang menyerahkan kotak begitu kepadamu? "Tidak ada,"

Jawab si kakek.

"Kotak yang Kongcu katakan itu apa isinya? Mungkinkah tersimpan sesuatu benda mestika?"

"Tidak perlu kau tanya,"

Kata Bun-hiong.

"Jika tidak ada orang memberikan kotak begitu padamu, maka aku ingin tanya lagi kabar seorang ...."

"Siapa?"

Tanya Cia-lotia.

"In-tiong-yan Pokyang Thian,"

Kata Bun-hiong.

"Kongcu hendak mencari dia?"

Si tua menegas. Bun-hiong mengangguk.

"Ya."

"Sudah lama sekali dia tidak datang kemari,"

Tutur Cia tua.

"Di mana tempat tinggalnya?"

Tanya Bun-hiong pula.

"Entah,"

Jawab Cia-lotia. Kembali Bun-hiong menggoyang-goyangkan lagi pot bunga itu di telapak tangan sehingga seperti mau jatuh, katanya dengan tertawa.

"Benar engkau tidak tahu?!"

Tentu saja Cia-lotia sangat khawatir.

"Hei, jangan bergurau, Pang-kongcu, bisa runyam bila jatuh!"

Bun-hiong tidak peduli urusan pot itu akan jatuh atau tidak, katanya.

"Aku ingin tahu tempat tinggal In-tiong-yan Pokyang Thian, kukira engkau pasti tahu, maukah kau beri tahukan padaku?"

"Jangan Kongcu bikin susah padaku,"

Kata Cia-lotia sambil menggeleng.

"Sesungguhnya orang macam apa In-tiong-yan Pokyang Thian itu tentu sudah cukup kau kenal, mana dia mau memberitahukan alamatnya kepadaku?"

"Jadi benar engkau tidak tahu?"

Bun-hiong menegas.

"Benar-benar tidak tahu,"

Jawab Cia-lotia. Mendadak pot bunga itu seperti mau terlepas dari tangan Bunhiong, katanya dengan tertawa.

"Lihat, pot ini seperti tidak puas atas jawabanmu, dia hampir saja jatuh terguling!"

Cia tua menjadi kelabakan, dengan sedih ia memohon.

"Ampun Pang-kongcu, kuharap janganlah engkau membikin susah padaku. Bilamana kutahu alamat In-tiong-yan masa berani kurahasiakan .... Auuhh!"

Mendadak pot bunga itu terlepas dari tangan Bun-hiong! Tampaknya segera pot itu akan hancur terbanting, tahu-tahu tangan Bun-hiong meraih ke bawah dan pot itu dapat ditangkapnya kembali.

"Coba kutanya sekali lagi .... Kau tahu di mana tempat tinggal In-tiong-yan Pokyang Thian?"

Tanya Bun-hiong pula. Muka Cia-lotia tampak pucat pasi, jawabnya dengan suara gemetar.

"Kongcu, hendak ku ... kutegaskan, bila ... bilamana kau pecahkan pot ini, tentu ... tentu kuminta ganti rugi."

"Jika aku mengaku memecahkan pot ini, dengan sendirinya harus kuganti,"

Kata Bun-hiong dengan tertawa.

"Tetapi kalau kubilang kau sendiri yang menjatuhkan pot ini, memangnya salah siapa?"

Gugup dan cemas Cia tua, serunya.

"Wah, jangan ... jangan ...."

"Ini, untuk penghabisan kali kutanya,"

Mendadak Bun-hiong menarik muka.

"Kau tahu di mana tempat tinggal In-tiong-yan Pokyang Thian?"

Kembali Cia-lotia menjawab.

"Oo, Thian! Kan sudah kukatakan, aku benar-benar tidak tahu, lantas apa yang dapat kukatakan?"

Mendadak Bun-hiong menaruh pot bunga kristal itu di atas meja. Lalu berkata kepada It-hiong.

"Rupanya dia memang tidak tahu, marilah kita pergi!" ***** Setengah jam kemudian, Liong It-hiong dan Pang Bun-hiong sudah berada di suatu jalan yang terkenal sebagai kompleks "lampu merah". Mereka jalan berjajar melalui rumah demi rumah sambil menilai setiap cewek penghuni rumah hiburan yang mereka lihat ....

"Tahun yang lalu pernah kudatang ke sini,"

Kata It-hiong.

"Kalau tidak salah di suatu rumah yang bernama Tho-hiang-ih kupenujui seorang ...."

"Bagaimana bentuknya?"

Tanya Bun-hiong dengan tertawa.

"Kurang cocok,"

Jawab It-hiong.

"Wajahnya sih lumayan, tapi badannya kerempeng, akhirnya aku tidak jadi bermain."

"Malam ini boleh ikut saja padaku, kujamin pasti pulang dengan puas,"

Kata Bun-hiong.

"Malam ini aku hanya mencari Giok-nio, yang lain aku tidak mau,"

Kata It-hiong.

"Setelah bertemu dengan dia, apakah akan kau tidur dengan dia?"

Tanya Bun-hiong.

"Lihat keadaan nanti,"

Ujar It-hiong.

"Dengan cara bagaimana akan kau bawa keluar dia?"

Tanya Bun-hiong pula.

"Belum terpikir olehku bagaimana caranya,"

Kata It-hiong.

"Biar kuajari suatu cara,"

Ujar Bun-hiong.

"Malam ini boleh kau tidur bersama dia, besok kau ajak dia melancong keluar kota, pada kesempatan itu dapat kau bawa pergi dia."

"Dia mau ikut keluar kota?"

Tanya It-hiong tertawa.

"Asalkan tanganmu agak terbuka, rasanya dia pasti tidak menolak."

"Baik, akan kucoba. Adakah tempat pesiar yang baik di luar kota?"

"Ada, Bok-jiu-oh (telaga jangan sedih),"

Kata Bun-hiong.

"Bagus, biar kuajak dia pesiar ke sana, tapi harus kau bantu, besok pagi hendaknya kau bawa dulu kudaku dan menunggu di tepi telaga sana."

"Boleh,"

Jawab Bun-hiong. Tiba-tiba It-hiong menuding ke depan.

"Lihat, itu kan Boanwan-jun? .... Ehm, memang hebat!"

Boan-wan-jun memang terhitung rumah pelacuran lebih tinggi kelasnya dibandingkan rumah hiburan lain yang terdapat di kompleks ini, tamu yang berkunjung ke sini kebanyakan juga cukong yang berduit.

"Kukenal germo Boan-wan-jun ini,"

Kata Bun-hiong.

"Dia punya julukan sebagai Cui-coa-yo (si pinggang ular), meski usianya sudah setengah baya, tapi kalau berjalan, lenggaklenggoknya bisa bikin semaput orang."

"Wah, tentu sangat genit,"

Kata It-hiong dengan tertawa.

"Ya, memang sangat genit,"

Bun-hiong mengangguk.

Bicara sampai di sini mereka sudah sampai di depan pintu Boan-wan-jun.

Demi melihat kedatangan dua tamu Kongcu muda dan gagah, segera seorang calo menyongsong Bun-hiong berdua, sambil memberi hormat ia menyapa.

"Silakan duduk di dalam kedua Kongcuya, silakan masuk ke dalam."

Lalu dia berteriak juga ke dalam rumah.

"Ada tamu?"

Segera ada orang menyahut di dalam, lalu muncul seorang perempuan setengah umur, melihat gaya berjalannya dengan pinggulnya yang lenggak-lenggok, jelas dia si germo Boanwan-jun yang dimaksudkan Bun-hiong tadi, yaitu si Cui-coayo.

Begitu melangkah ke dalam segera Bun-hiong menegur dengan tertawa.

"Hai, Cui-coa-yo, masih kenal padaku tidak?"

Cui-coa-yo mengamatinya beberapa kejap, serentak ia berseru girang.

"Aduh, kukira siapa, rupanya Pang-kongcu adanya! Kenapa sudah sekian lama tidak mampir ke sini? Tumben!"

"Sekarang aku kan sudah datang?!"

Kata Bun-hiong dengan tertawa.

"Silakan duduk, silakan!"

Kata Cui-coa-yo dengan tertawa.

"Dan Kongcu yang ini ...."

"Dia she Liong, sahabatku,"

Kata Bun-hiong. Cui-coa-yo memberi hormat dan menyapa.

"Oo, Liong-kongcu, selamat datang!"

"Jangan sungkan,"

Jawab It-hiong. Cui-coa-yo membawa mereka ke ruangan tamu dan menyilakan mereka duduk, lalu menyuruh kacung menyuguhkan teh, kemudian berkata dengan genit.

"Sudah sekian lama Pang Kongcu tidak berkunjung kemari, tentu karena engkau terpikat oleh nona cantik di tempat lain, betul tidak?"

Bun-hiong tertawa, katanya.

"Aku memang terpikat oleh seorang, cuma sayang dia tidak sudi padaku."

"Ah, masa,"

Ujar Cui-coa-yo dengan tertawa.

"Kongcu kan kaya dan berpengaruh, cakap pula, memangnya nona mana yang tidak tahu diri?!"

"Dia bukan nona lagi, tapi agak lebih tua sedikit daripada nona,"

Kata Bun-hiong.

"Ai, Kongcuya yang baik, bilakah engkau mulai ganti selera? Masa sekarang engkau menyukai yang tua?"

Seru Cui-coa-yo dengan tertawa.

"Ya, aku memang tidak menghendaki yang lain, hanya dia,"

Kata Bun-hiong.

"Sesungguhnya siapa dia?"

"Kau!"

Kata Bun-hiong. Cui-coa-yo melototinya sekejap, ucapnya dengan tertawa.

"Huh, apa-apaan Kongcu ini, datang-datang sudah lantas menggodaku!"

Lalu ia berpaling dan bertanya kepada Liong It-hiong.

"Eh, di mana tempat kediaman Liong-kongcu ini?"

It-hiong menjawab dengan tersenyum.

"Malam ini aku memondok di Kim-leng-khek-can, besok kupergi lagi entah ke mana, aku tidak punya tempat kediaman."

"Ai, kalian sungguh pintar berkelakar,"

Kata Cui-coa-yo.

"Bicara yang benar, di tempat kami ini baru saja datang beberapa barang baru, biarlah kupanggil mereka untuk menemui kalian."

"Nanti dulu,"

Kata Bun-hiong.

"Soalnya kawanku ini sudah penujui seorang anak buahmu."

"Oo, siapa?"

Tanya Cui-coa-yo.

"Yang baru datang dari Kim-tan, namanya Giok-nio,"

Kata Bun-hiong.

"O, kiranya dia, apakah Liong-kongcu dan Giok-nio sudah langganan lama?"

Tanya Cui-coa-yo dengan tertawa.

"Tidak, kucari dia karena sudah lama kukenal namanya,"

Ujar It-hiong.

"Baiklah, akan kupanggilkan,"

Kata Cui-coa-yo.

"Dan engkau bagaimana, Pang-kongcu?"

"Kau tahu nona jenis mana yang kusukai, maka bolehlah kau pilihkan satu bagiku,"

Ujar Bun-hiong dengan tertawa.

"Baik, akan kupanggilkan satu yang muda, cakap dan sexy, tanggung cocok,"

Kata Cui-coa-yo pula, lalu ia beranjak pergi. Seperginya Cui-coa-yo, Liong It-hiong menggeleng kepala dan berkata.

"Sungguh aku tidak berani percaya bahwa adik perempuan Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam bisa terjerumus menjadi pelacur ...."

"Ini menandakan pada masa hidup Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam tidak mempunyai seorang sahabat sejati,"

Kata Bun-hiong. It-hiong mengangguk sependapat.

"Bilamana Oh Kiam-lam tahu di alam baka bahwa adik perempuan sendiri terjerumus di kalangan pelacuran, dia pasti akan mati sekali lagi saking dongkolnya."

Kembali It-hiong mengangguk, desisnya.

"Betul. Cuma jangan kau sebut Oh Kiam-lam lagi. Lihat, Cui coa-yo sudah membawanya kemari."

Baru lenyap suaranya, benar juga Cui-coa-yo telah masuk dengan membawa seorang nona yang cantik.

Usia nona ini belum ada 20, perawakan ramping, wajah dan potongan tubuh tergolong pilihan.

Begitu membawanya masuk, segera Cui-coa-yo berkata kepada Pang Bun-hiong.

"Ini Pang-kongcu, seorang kongcu ganteng termasyhur, maka adalah rezekimu dapat meladeni dia, hendaknya jangan teledor."

Dengan lembut nona itu memberi hormat dan berucap.

"Selamat datang, Pang-kongcu!"

"Untukku?"

Bun-hiong menegas dengan melenggong.

"Betul, dia bernama A Sian, termasuk salah seorang anak penghuni rumah ini yang paling laris, hendaknya Pang-kongcu juga sayang padanya,"

Tutur Cui-coa-yo dengan tertawa.

"Dan di mana Giok-nio?"

Tanya Bun-hiong.

"Dia lagi ganti baju, segera datang,"

Jawab Cui-coa-yo.

"Lekas suruh datang kemari,"

Kata Bun-hiong. Cepat Cui-coa-yo mengiakan.

"Baiklah ... A Sian, boleh kau bawa Pang-kongcu ke kamarmu, biar kupergi mendesak Gioknio."

Habis berkata lekas ia pergi. A Sian itu memberi hormat lagi kepada Bun-hiong, katanya dengan malu-malu.

"Silakan, Pang-kongcu ...."

Bun-hiong ingin menemui Giok-nio, maka ia memberi tanda supaya A Sian duduk, katanya dengan tersenyum.

"Boleh duduk dulu, kalau Giok-nio sudah datang nanti kita pergi bersama."

A Sian mengiakan dan duduk di sampingnya. Tampaknya Bun-hiong cukup puas terhadap A Sian ini, ia coba tanya dengan tertawa.

"Nona asal orang mana?"

"Posia, provinsi Kamsiok,"

Jawab A Sian dengan menunduk.

"O, kiranya nona cantik dari utara, sungguh beruntung dapat berkenalan di sini,"

Ujar Bun-hiong dengan tertawa.

"Ah, hamba ini ibaratnya bunga sudah layu, sungguh sangat terima kasih atas kesudian Kongcu terhadap diriku,"

Kata A Sian dengan suara lemah lembut. Tanpa terasa It-hiong memuji juga.

"Nona ini sungguh menyenangkan."

"Eh, jangan iri,"

Kata Bun-hiong dengan tergelak.

"Kukira nona Giok-nio itu tentu juga lain daripada yang lain .... Dengarkan, itu dia sudah datang?"

Baru lenyap suaranya, benar juga Cui-coa-yo telah masuk dengan membawa "Giok-nio".

Ya, dia memang betul Giok-nio, sesuai namanya, nona seperti kemala.

Perawakannya ramping, kulitnya putih halus, mukanya bulat telur, alisnya lentik dan matanya jeli, mulutnya mungil, sikapnya anggun, sungguh sukar dilukiskan betapa cantiknya.

Begitu melihatnya, seketika Bun-hiong dan It-hiong melongo kaget.

Sebaliknya demi melihat mereka, seketika Giok-nio juga melenggong, serupa mendadak bertemu dengan kakak kandung sendiri di rumah pelacuran, seketika mukanya merah, dengan malu sekali segera ia hendak lari.

Tapi Cui-coa-yo keburu menariknya, katanya dengan tertawa.

"Giok-nio, kenapa?"

Malu dan gugup Giok-nio, ia meronta dan bermaksud lari lagi, serunya.

"Lepaskan, lepas .... Aku tidak mau melihat mereka."

Segera It-hiong melompat bangun juga dan berseru.

"Aha, sayangku, kiranya engkau inilah Giok-nio adanya?!"

Sembari bicara ia pun memburu maju dan memegangnya. Giok-nio meronta sekuatnya dan hampir saja menangis saking cemasnya, teriaknya.

"Ampun ... ampunilah diriku, aku ... aku ...."

"Sesungguhnya ada apa?"

Tanya Cui-coa-yo bingung. Mendadak It-hiong terbahak-bahak.

"Haha, tidak ada apa-apa, kami memang kenalan lama dan sedang bertengkar, selekasnya kami dapat akur lagi, boleh kau pergi saja."

Cui-coa-yo bersuara sangsi, tapi dilihatnya Giok-nio tidak melawan dengan "mati-matian", jelas memang di antara mereka sudah hubungan erat sebelumnya, maka ditinggalnya pergi tanpa khawatir lagi.

Dengan terheran-heran Bun-hiong memandang Giok-nio, sampai sekian lamanya barulah ia berucap dengan tertawa.

"Haha, sungguh lelucon yang tidak lucu, kiranya engkau inilah Giok-nio."

Agaknya Giok-nio menyadari tidak mungkin lolos dan menyangkal, maka ia tidak meronta lagi melainkan cuma menunduk dengan bungkam, tampaknya malu sekali.

Kiranya Giok-nio ini tak-lain-tak bukan adalah Ni Beng-ay yang berkomplot dengan si kakek berbaju kelabu dan berhasil menipu kotak hitam dari Liong It-hiong itu.

Sambil memegangnya dengan erat It-hiong bergelak tertawa, katanya.

"Haha, dunia ini sungguh demikian sempit, tak tersangka dapat bertemu denganmu di sini?!"

Giok-nio alias Ni Beng-ay tetap menunduk saja tanpa bicara. It-hiong menatapnya sejenak, tiba-tiba ia lepaskan pegangannya dan berkata.

"Ayo, ke kamarmu untuk bicara."

Beng-ay kelihatan ragu sejenak, akhirnya ia membalik tubuh dan melangkah pergi.

"Bolehkah aku ikut mendengarkan?"

Tanya Bun-hiong.

"Tidak, kau teruskan pekerjaanmu sendiri,"

Kata It-hiong sambil ikut pergi bersama Ni Beng-ay.

Beng-ay membawa It-hiong ke belakang, setelah menyusuri serambi, sampailah di sebuah kamar samping, begitu pintu kamar didorong, segera It-hiong mendahului menyelinap ke dalam, lalu Beng-ay ikut masuk.

Setelah merapatkan daun pintu, dengan menunduk seperti mau menangis Beng-ay berkata.

"Aku memang bersalah, boleh kau damprat atau pukul diriku, tapi janganlah ...."

It-hiong tidak membiarkan lanjut ucapan orang, sekali raih ia angkat tubuh si nona, ia duduk di bangku, lalu tubuh Beng-ay ditiarapkan di atas pangkuannya, ucapnya dengan mendongkol.

"Aku pernah bersumpah, bilamana kutemukanmu akan kupukul dulu pantatmu."

Habis berkata ia terus memukuli pantat Beng-ay dengan keras.

Tentu saja nona itu menjerit kesakitan.

Tapi suara jeritannya tidak mengagetkan orang lain, sebab seluruh isi rumah Boan-wan-jun lagi tenggelam di tengah kegembiraan masing-masing, ada yang ramai bergurau dan ada yang asyik menyanyi serta suara keributan lain, jeritan seorang nona biasanya tidak akan menarik perhatian orang.

Belasan kali It-hiong memukuli pantat Beng-ay, setelah puas baru berhenti, nona itu dilemparkannya ke tempat tidur, katanya.

"Nah, tadi kau bilang selain mendamprat dan memukul, jangan apa?"

Beng-ay meraba pantat sendiri yang kesakitan, katanya dengan air mata meleleh.

"Aku hanya menjual gurau dan tidak menjual tubuh, hal ini perlu kukatakan lebih dulu."

Bun-hiong sengaja bersikap garang, katanya.

"Omong kosong, aku hanya tahu engkau ini Giok-nio dan bukan Ni Beng-ay, maka malam ini harus kau tidur bersamaku."

Beng-ay ketakutan dan meringkuk di pojok tempat tidur, ia memohon belas kasihan.

"Jangan, harap ampuni aku, meski aku telantar di tempat seperti ini, tapi aku masih menghendaki berumah tangga dengan baik, tubuhku hanya akan kuserahkan kepada orang yang mau menikahi diriku, kumohon janganlah kau bikin susah padaku."

"Aku tidak diberi tahu hal-hal demikian oleh Cui-coa-yo, pokoknya harus tidur bersamaku."

"Jika begitu boleh kau tanya Cui-coa-yo dulu, tentu dia akan memberi penjelasan padamu,"

Kata Beng-ay.

"Tidak, tidak perlu kutanya,"

Ujar It-hiong.

"Aku telah dibohongimu, harus kau tidur bersamaku satu malam, kalau tidak rasa gemasku tak terlampias."

"Aku tidak sengaja membohongimu,"

Kata Beng-ay sambil menangis.

"Semua itu dia yang mengaturnya, ia memaksa aku berbuat begitu, jika tidak kulaksanakan aku akan dibunuhnya, maka ... maka ...."

Sampai di sini menangislah dia dengan sedih.

"Sekarang dia berada di mana?"

Tanya It-hiong dengan ketus.

"Entah,"

Jawab Beng-ay. It-hiong menudingnya dan mengancam.

"Jika tidak mengaku sejujurnya, segera kubelejetimu."

Beng-ay tampak mengkeret ke pojok tempat tidur, katanya dengan gemetar.

"Sung ... sungguh aku tidak tahu. Dia tidak memberitahukan padaku akan pergi ke mana, cuma esok atau lusa dia mungkin akan menjengukku lagi."

"Kotak itu sudah dibawa olehnya?"

Tanya It-hiong. Beng-ay membenarkan.

"Ada hubungan apa antara dia denganmu?"

Tanya It-hiong pula.

"Tidak ada sesuatu hubungan,"

Tutur Beng-ay.

"Beberapa hari yang lalu mendadak dia datang kemari mencariku, ia mengaku sebagai sahabat baik kakakku, katanya hendak menolongku keluar dari tempat pecomberan ini. Kupercaya pada ocehannya dan lantas ikut pergi bersama dia."

"Siapa kakakmu?"

Tanya It-hiong.

"Kakakku ... kakakku ialah kakak,"

Jawab Beng-ay dengan tergegap.

"Baik, coba lanjutkan ceritamu,"

Ucap It-hiong dengan tertawa.

"Sesudah kuikut dia meninggalkan Kim-leng, kemudian baru dia memberitahukan padaku bahwa dia berniat merampas kotak hitam yang berada padamu itu, maka aku diminta membantunya. Semula aku tidak mau, tapi dia lantas mengancam hendak membunuhku, lantaran itulah terpaksa aku menerima permintaannya."

"Lalu, apakah dia memberitahukan padamu apa isi kotak hitam itu?"

Tanya It-hiong.

"Dia tidak mau memberitahukan padaku,"

Jawab Beng-ay dengan menggeleng.

"Hendaknya kau bicara terus terang,"

Ancam It-hiong.

"Supaya kau tahu, pada suatu hari pasti akan kubekuk dia, bilamana terbukti kau dusta, nanti baru kau tahu rasa bila kubikin kau mati tidak dan hidup pun tidak."

"Aku tidak bohong, semua perkataanku adalah sejujurnya,"

Kata Beng-ay.

"Jika begitu, sesudah dia merampas kotak itu, mengapa tidak kau katakan padaku kejadian yang sebenarnya, tapi malah kabur secara diam-diam."

"Kukhawatir engkau tidak mau mengampuni aku,"

Kata Bengay.

"Sudah kutolong dirimu dan berjanji akan mengantarmu ke Wanpeng, seharusnya sudah cukup bagimu untuk mengenali pribadiku ini baik atau busuk, mengapa tidak kau katakan tipu muslihatnya kepadaku?"

"Berulang dia memperingatkan aku jangan sembarangan membocorkan tipu akalnya, kalau sampai bocor aku akan dibunuhnya, makanya aku takut dan tak berani bicara."

"Semula dia mengaku sebagai sahabat kakakmu, mengapa kau percaya begitu saja?"

Tanya It-hiong.

"Sebab dia dapat bercerita tentang kisah hidup mendiang kakakku, makanya kupercaya penuh tanpa sangsi."

"Siapa namanya?"

Tanya It-hiong.

"Tam Pek-sun."

"Bukan In-tiong-yan Pokyang Thian?"

"Entah aku tidak tahu, mungkin dia memakai nama palsu, tapi aku tidak tahu apakah dia memang bernama Tam Pek-sun atau sebenarnya In-tiong-yan segala."

"Dia berjanji besok lusa akan menjengukmu ke sini?"

Tanya It hiong.

"Betul,"

Jawab Beng-ay.

"Untuk apa?"

Tanya It-hiong pula.

"Dia berjanji akan memberi uang padaku,"

Tutur si nona.

"Mungkinkah begitu?"

"Bisa juga dusta,"

Ujar Beng-ay.

"Tapi bila engkau hendak menangkapnya, boleh juga tinggal saja satu-dua hari di sini, tunggu kedatangannya."

It-hiong menatapnya dengan tajam dan tidak bertanya lagi. Tentu saja Beng-ay merasa kikuk karena dipandang sedemikian rupa, ucapnya risi.

"Apa yang kukatakan adalah kejadian sebenarnya, hendaknya kau percaya padaku."

It-hiong berdiri dan mondar-mandir di depan tempat tidur, katanya kemudian dengan tersenyum.

"Aku pernah percaya kepadamu, akibatnya aku tertipu."

Beng-ay menunduk, katanya.

"Kejadian tempo hari itu sungguh aku, merasa sangat malu. Jika rasa gemasmu belum hilang, boleh kau pukul aku lagi."

It-hiong menggeleng, katanya.

"Tidak berguna, memukulmu lagi juga tak terlampias dongkolku."

"Habis mau apa?"

Tanya si nona. It-hiong merandek, katanya dengan tertawa.

"Kucium satu kali?"

"Jangan,"

Seru Beng-ay dengan muka merah. Seketika It-hiong menarik muka, omelnya.

"Hm, diajak tidur tidak mau, minta cium juga kau tolak?"

"Habis cara ... cara bagaimana akan kau cium?"

Tanya Beng-ay dengan malu-malu.

"Cium mulut tentunya,"

Kata It-hiong. Beng-ay menunduk diam, tampaknya tidak ada maksud menolak lagi. It-hiong lantas duduk di tepi tempat tidur, ucapnya.

"Kemari!"

Si nona menggeser maju sedikit.

"Kemari lagi!"

Kata It-hiong pula. Kembali Beng-ay menggeser maju lagi setitik.

"Lagi sedikit,"

Kata It-hiong. Terpaksa Beng-ay menggeser pula.

"Angkat kepalamu,"

Perintah It-hiong. Beng-ay mendongakkan kepala sedikit dan memejamkan mata dengan muka merah.

"Angkat lebih tinggi sedikit!"

Kembali It-hiong memberi perintah.

Sama sekali si nona tidak berani membantah, ia menurut dan mengangkat mukanya.

Segera It-hiong mendekatkan mulutnya, selagi nona itu hendak diciumnya, sekonyong-konyong terdengar suara "blang-blung"

Yang keras, suara pintu digedor. Keruan It-hiong kaget, ia berpaling dan membentak.

"Siapa itu?"

"Aku!"

Terdengar suara Pang Bun-hiong menjawab di luar. Tentu saja It-hiong mendongkol, teriaknya.

"Sialan, kau mau apa?"

"Kudatang menonton!"

Jawab Bun-hiong dengan tertawa.

"Enyah, apa yang akan kau tonton?!"

Teriak It-hiong.

"Lekas buka, memangnya kau minta kudobrak pintu?"

Kata Bun-hiong. It-hiong menjadi marah, dampratnya.

"Keparat, jika engkau sudah puas main, tunggu saja di luar kan bisa?"

"Tidak, aku tidak sabar menunggu lagi,"

Kata Bun-hiong.

"Jika pintu tidak lekas kau buka, segera kudobrak dan kumasuk ke situ."

Tiada jalan lain, terpaksa It-hiong membukakan pintu, dengan melotot segera ia mendamprat.

"Bedebah, kenapa kau ganggu saat bahagia orang, sungguh celaka kau ini."

"Memangnya kalian lagi upacara kawin?"

Goda Bun-hiong dengan tertawa.

"Ya, baru saja kami hendak main, mendadak kau datang, sungguh keparat,"

Omel It-hiong.

"Ai, waktu masih banyak, kenapa terburu nafsu?!"

Ujar Bunhiong, sambil bicara ia terus masuk ke kamar. Ketika dilihatnya muka Beng-ay ada bekas air mata, hati merasa tidak tega, ia memandang It-hiong dan bertanya.

"Masa engkau benar menghajar dia?"

"Ehm,"

It-hiong mengangguk.

"Seorang nona cantik jelita begini masakah kau tega memukulnya, sungguh kejam dan tidak berperikemanusiaan,"

Omel Bun-hiong.

"Kalau tidak kuberi hajar adat, tentu aku akan ditertawakan dia sebagai orang tolol,"

Kata It-hiong. Bun-hiong duduk di bangku, tanyanya lagi.

"Dan sudah kau dapatkan keterangannya atau tidak?"

"Sudahlah, jelas sejak tadi engkau sudah mendengarkan di luar kamar, memangnya kau kira aku tidak tahu, masa masih pakai tanya lagi?"

Kata It-hiong dengan tertawa. Bun-hiong bergelak tertawa, lalu katanya kepada Ni Beng-ay.

"Nona Ni, sungguh tidak patut engkau menipu dia. Sekali bertemu saja dia lantas jatuh hati padamu, sebaliknya engkau tega lari meninggalkan dia dan membuat berjingkrak kalap serupa kebakaran jenggot."

Beng-ay menunduk dan menangis, katanya.

"Maaf, kutahu dia orang baik ...."

"Sesungguhnya siapa namamu yang asli?"

Tanya Bun-hiong.

"Namaku memang Ni Beng-ay, Giok-nio adalah nama samaranku,"

Kata si nona.

"Siapa nama kakakmu?"

Tanya Bun-hiong pula.

"Kakak bernama Ni Lam-hui, sungguh malang sudah meninggal lima tahun yang lalu,"

Tutur Beng-ay.

"Semula dia bekerja apa?"

Tanya Bun-hiong.

"Dia bekerja sebagai pegawai perusahaan pengawalan."

"Sesudah kakakmu meninggal baru engkau terjerumus ke tempat begini?"

Beng-ay mengangguk, katanya dengan menangis sedih.

"Ya, jika kakak tidak mati, tentu aku takkan bernasib begini."

Bun-hiong memperlihatkan rasa simpatinya, katanya dengan menyesal.

"Sungguh kasihan, dan kedua orang tua kalian juga sudah tidak ada?"

"Ayah dan ibu sudah lama meninggal, pada waktu aku berumur delapan mereka sudah wafat,"

Tutur Beng-ay.

"Sejak itulah kami bersaudara lantas hidup sengsara, kemudian kakak menanjak dewasa, lalu bekerja di perusahaan pengawal, tak terduga dia juga jatuh sakit keras dan akhirnya ...."

Ia tidak sanggup meneruskan lagi dan menangis sedih.

"Jangan menangis, kami sangat simpati kepadamu, jika kau mau meninggalkan tempat ini, kami bersedia membantumu,"

Demikian Bun-hiong menghiburnya. Beng-ay mendongak dan memandang sekejap kepada Liong It-hiong, katanya dengan ragu.

"Jadi kalian tidak marah lagi padaku?"

Bun-hiong mengangguk.

"Tentu saja, engkau kan terpaksa berbuat begitu, masa menyalahkanmu?"

"Jika begitu barulah lega hatiku,"

Kata Beng-ay.

"Cuma, engkau harus membantunya membekuk bangsat tua yang bernama Tam Pek-sun itu agar kotak hitam itu dapat direbutnya kembali,"

Ujar Bun-hiong.

"Baik, jika dia datang besok atau lusa tentu akan kuberi kabar kepada kalian,"

Kata Beng-ay.

"Kalian tinggal di mana?"

"Di Kim-leng-khek-can,"

Jawab Bun-hiong.

"Dari mana kalian tahu aku berada di sini?"

Tanya Beng-ay.

"Mana kami tahu tempat tinggalmu di sini? Hanya secara kebetulan saja kami memergokimu di sini,"

Cepat It-hiong mendahului menjawab.

"Soalnya kami mendengar di Boanwan-jun ada seorang nona jelita bernama Giok-nio yang jarang ada bandingannya, maka bersama kami berkunjung kemari untuk belajar kenal, tak tersangka yang bernama Gioknio adalah dirimu ini."

"Semula aku berada di Kim-tan,"

Tutur Beng-ay dengan kikuk.

"Baru bulan yang lalu kupindah ke sini, bilamana ada waktu luang harap Kongcu sering berkunjung kemari."

"Bilamana engkau masih ingin ke Wanpeng untuk mencari pamanmu, dengan senang hati aku siap menjadi pengawalmu pula,"

Kata It-hiong. Beng-ay tersenyum rikuh, katanya.

"Sudahlah, jangan diungkat lagi, pada hakikatnya aku tidak punya paman yang tinggal di Wanpeng segala."

"Karena marah tadi telah kupukulmu, kuharap tidak mencederaimu,"

Ujar It-hiong dengan tertawa.

"Biar kumati kau pukul juga aku tidak berani menyesali dirimu, aku memang pantas dipukul."

Tiba-tiba Bun-hiong seperti teringat sesuatu, katanya dengan tertawa.

"Silakan kalian mengobrol, aku hendak mencari A Sian."

Karena diganggu oleh kedatangan Pang Bun-hiong, hasrat Ithiong untuk mencium Ni Beng-ay sudah berkurang, kembali ia mondar-mandir lagi di dalam kamar, lalu bertanya.

"Engkau punya kekasih atau tidak?"

"Untuk apa kau tanya urusan ini?"

Jawab Beng-ay dengan likat.

"Jika kau ingin melepaskan diri dari tempat seperti ini kan harus mendapatkan jodoh yang cocok?"

Kata It-hiong.

"Sekarang belum ada,"

Jawab si nona.

"Dua hari lagi ingin kuajak dirimu pesiar ke Bok-jiu-oh, kau mau tidak?"

Tanya It-hiong dengan tertawa. Beng-ay seperti tidak begitu percaya atas kesungguhan ajakan It-hiong, ia menegas.

"Kau bicara serius?"

"Tentu saja serius."

Beng-ay menjadi senang, katanya dengan tertawa.

"Baik, memang sudah lama kuingin pesiar ke Bok-jiu-oh, sungguh bagus sekali jika dapat didampingi olehmu."

"Cuma, hendaknya engkau membantuku membekuk orang bernama Tam Pek-sun itu dengan sesungguh hati,"

Kata Ithiong dengan tertawa.

"Baik, begitu dia datang segera kuberi kabar padamu secara diam-diam,"

Si nona berjanji.

"Aku percaya sekali lagi padamu, jika kau tipu aku pula, tentu aku tidak sungkan lagi padamu,"

Kata It-hiong. Beng-ay mengiakan. It-hiong lantas mengeluarkan belasan tahil perak dan ditaruh di atas meja, katanya.

"Aku mau pergi sekarang."

"Tidak duduk sebentar lagi?"

Tanya Beng-ay sambil turun dari tempat tidur.

"Tidak,"

Ucap It-hiong dengan tertawa.

"Jika duduk lagi, bisa jadi akan kucaplok dirimu."

Habis berkata ia lantas membuka pinta dan keluar. Setiba di halaman, ia tanya seorang pesuruh.

"Di mana letak kamar A Sian!"

Pesuruh menuding sebuah kamar yang berdekatan, katanya.

"Itu, cuma saat ini dia ada tamu."

"Kutahu,"

Kata It-hiong dengan tertawa.

"Tamunya adalah sahabatku, tadi dia telah menggangguku, sekarang akan kubalas mengacau dia."

Segera ia menuju ke kamar A Sian. Setiba di depan kamar, segera ia menggedor pintu.

"Siapa?!"

Terdengar suara A Sian bertanya dari dalam dengan kaget.

"Aku!"

Jawab It-hiong.

"Kau siapa?"

Tanya A Sian.

"Buka pintu dulu, ingin kulihat permainan apa yang kalian lakukan di dalam!"

Teriak It-hiong. Ebook oleh . Dewi KZ Scan book oleh . BBSC

Jilid 7

"Hei, jangan mengacau!"

Seru A Sian dengan gugup. It-hiong coba mendorong pintu sambil berteriak lantang.

"Jika pintu tidak segera kau buka, biar kudobrak saja."

"Hei, jangan!"

Teriak A Sian di dalam. It-hiong terbahak-bahak.

"Kuhitung sampai tiga, jika tetap tidak buka pintu segera kudobrak. Nah, satu ... dua ...."

"E-eh, nanti dulu ... nanti dulu!"

Seru A Sian dengan kelabakan.

Lalu terdengar suara keresak-keresek, suara orang memakai baju dengan tergesa-gesa, kemudian pintu lantas terkuak, tertampak rambut A Sian kusut dan baju tidak teratur, muka merah, begitu melihat Liong It-hiong, ia melengak, serunya.

"Eh, kiranya kau?!"

"Memang betul aku, kalian lagi berbuat apa?"

Jawab It-hiong dengan tersenyum. Dengan melotot A Sian tanya lagi.

"Kau cari siapa?"

It-hiong coba memandang ke dalam kamar, selagi ia hendak bilang mencari Pang Bun-hiong, mendadak dilihatnya lelaki yang meringkuk di tempat tidur itu ternyata bukan Pang Bunhiong adanya.

Keruan ia melenggong, serunya.

"Hah, ke mana dia?"

"Apakah kau cari Pang-kongcu itu?"

Tanya A Sian.

"Ya, di mana dia?"

Tanya It-hiong. Seketika A Sian mencibir.

"Dia sudah pergi!"

It-hiong menjadi serbasalah, cepat ia mundur dan berkata.

"O, maaf, kukira dia masih di sini."

Habis berkata cepat ia mengeluyur pergi.

Tentu saja A Sian uring-uringan, sekuatnya ia menggabrukkan pintu.

Setiba di ruang depan, terlihat Pang Bun-hiong asyik mengobrol dengan Cui-coa-yo, keruan It-hiong berteriak.

"Berengsek, kenapa kau lari ke sini."

"Memangnya ada apa?"

Tanya Bun-hiong dengan tertawa.

"Kukira engkau masih berada di kamar A Sian, kugedor pintu kamarnya dan mengacau orang yang lagi asyik,"

Tutur Ithiong. Bun-hiong tergelak geli sambil berdiri.

"Mau berangkat sekarang?"

"Ya, berangkat,"

Jawab It-hiong. Bun-hiong lantas berkata dengan tertawa terhadap Cui-coayo.

"Kami hendak pergi sekarang, jangan kau lupa kepada pesanku tadi."

"Tidak, jangan khawatir,"

Jawab Cut-coa-yo. Begitulah Bun-hiong dan It-hiong lantas meninggalkan rumah hiburan itu.

"Eh, engkau tidak main dengan A Sian?"

Tanya It-hiong sesudah di luar.

"Tidak,"

Jawab Bun-hiong.

"Kenapa, apa dia kurang baik?"

Tanya It-hiong heran.

"Bukan begitu,"

Kata Bun-hiong.

"Habis kenapa tidak main?"

Tanya It-hiong pula.

"Demi dirimu,"

Tutur Bun-hiong akhirnya.

"Demi diriku?"

It-hiong melengak.

"Ya, demi dirimu,"

Kata Bun-hiong dengan tersenyum.

"Coba jawab, apakah kau kira cerita Giok-nio itu semuanya benar!"

"Tidak,"

Jawab It-hiong.

"Dia mengaku bernama Ni Beng-ay dan kakaknya bernama Ni Lam-hui, semua itu dusta belaka. Yang benar kakaknya adalah Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam, ini pasti tidak salah lagi."

"Kenapa tidak kau bongkar saja kebohongannya?"

Tanya Bunhiong. It-hiong tersenyum.

"Aku masih ingin menangkap si kakek berbaju kelabu itu, maka aku tidak mau memukul rumput mengagetkan ular."

Bun-hiong mengangguk.

"Ya, betul, dia bilang si kakek bernama Tam Pek-sun, apakah kau percaya?"

"Tidak, tidak pernah kudengar ada tokoh bernama begitu di dunia persilatan,"

Ujar It-hiong.

"Betul, aku juga tidak,"

Kata Bun-hiong.

"Maka perkataannya dapat dipastikan bohong belaka. Lalu bagaimana keputusanmu?"

"Akan kuintai gerak-geriknya secara diam-diam, bisa jadi dengan cara begini akan dapat kubekuk si kakek baju kelabu,"

Tutur It-hiong.

"Untuk mengintainya perlu siang dan malam berbuat begitu, maka ingin kurundingkan denganmu."

"Tidak perlu berunding, semuanya sudah kuatur dengan baik bagimu,"

Kata Bun-hiong.

"Ah, rupanya engkau telah memberi pesan kepada Cui-coa-yo agar diam-diam mengawasi anak buahnya, begitu melihat si kakek baju kelabu muncul agar segera kita diberi tahu, begitu bukan?"

Seru It-hiong girang.

"Betul,"

Bun-hiong mengangguk. It-hiong menepuk pundak kawannya itu, serunya dengan tertawa gembira.

"Aha, bagus sekali, engkau ini memang benar pembantuku yang baik."

Bun-hiong hanya tertawa saja tanpa bersuara.

"Tapi apakah Cui-coa-yo pasti akan menurut kepada pesanmu?"

Tanya It-hiong kemudian.

"Pasti menurut,"

Ujar Bun-hiong.

"Dia tergolong perempuan yang cerdik, ia lebih suka bersalah kepada Giok-nio daripada membikin marah padaku. Ia tahu aku adalah salah seorang buaya darat di kota Kim-leng ini."

"Apakah Cui-coa-yo pernah melihat kakek berbaju kelabu itu?"

Tanya It-hiong.

"Sudah kutanyai dia,"

Tutur Bun-hiong.

"Ia bilang beberapa tahun yang lalu memang ada seorang kakek datang menemuinya dan meninggalkan lima ratus tahil perak. Lalu membawa pergi Giok-nio. Menurut alasan si kakek katanya Giok-nio hendak diajak pesiar beberapa hari. Karena kepergian Giok-nio tidak membawa harta miliknya, Cui-coa-yo tidak khawatir dan mengizinkan kepergian mereka."

"Kuyakin kakek yang dimaksud pasti si kakek berbaju kelabu,"

Kata It-hiong. Bun-hiong mengangguk.

"Ya, Giok-nio bilang satu-dua hari dia akan datang lagi, kau kira keterangannya dapat dipercaya atau tidak?"

"Anggap saja benar,"

Kata It-hiong.

"Sudah kuajak dia pesiar ke Bok-jiu-oh dan dia sudah menyanggupi. Sekarang boleh kita mengintai di sini satu-dua hari, bilamana si kakek baju kelabu tidak datang barulah kita membawa lari dia."

Lalu ia tepuk pundak Bun-hiong, katanya pula dengan tertawa.

"Kau tahu, dia mengaku hanya menjual tawa dan tidak menjual tubuh, kau percaya tidak?"

"Sudah pernah katanya Cui-coa-yo, tampaknya memang begitulah,"

Jawab Bun-hiong.

"Melihat gerak-geriknya tampaknya dia memang masih perawan."

It-hiong mengangkat pundak.

"Sungguh lucu, dia tidak menjual tubuh, sebenarnya tahan harga atau ada alasan lain?"

"Mungkin benar tahan harga dan menanti pembeli yang cocok,"

Ujar Bun-hiong.

"Jika kau ingin main dengan dia, kukira sedikitnya harus kau tambahi beberapa ribu tahil perak."

"Ia bilang ingin kembali ke jalan yang benar,"

Kata It-hiong.

"Jika begitu, engkau inilah calon yang paling tepat,"

Ujar Bunhiong dengan tertawa. It-hiong menggeleng.

"Tidak bisa, mendingan hanya mainmain saja, kalau sungguhan dan menikahi dia, kukira hanya akan mendatangkan kesulitan saja."

Begitulah di tengah senda gurau mereka kembali ke Kim-lengkhek-can.

Esoknya mereka tidak meninggalkan hotel itu melainkan terus main catur di dalam kamar untuk menunggu berita dari Cuicoa-yo.

Pang Bun-hiong memang benar juga seorang pemain catur berbakat, kepandaiannya main catur juga sangat tinggi, dia main empat babak dengan Liang It-hiong dan berakhir dengan 2-2 alias seri.

Ketika hari mendekat magrib, It-hiong tidak sabar lagi, katanya.

"Marilah kita pergi ke Boan-wan-jun saja."

"Jangan tergesa,"

Kata Bun-hiong.

"Begitu si kakek baju kelabu datang, si Cui-coa-yo pasti akan segera mengirim kabar kepada kita."

Baru selesai ucapannya, mendadak pintu kamar diketuk orang. Serentak It-hiong melompat bangun untuk membuka pintu, dilihatnya seorang lelaki setengah umur memberi hormat dan katanya.

"Hamba datang dari Boan-wan-jun, tolong tanya yang manakah Pang-kongcu?"

"Aku sendiri,"

Jawab Bun-hiong sambil mendekati orang. Orang itu memberi hormat lagi padanya dan berucap.

"Nyonya juragan kami mengundang Pang-kongcu lekas ke sana, katanya orang yang hendak ditemui Kongcu itu sekarang sudah datang."

"Baik, segera kami berangkat ke sana,"

Kata Bun-hiong sambil memberi sedikit persen lalu menambahkan.

"Nah, boleh kau pulang lebih dulu."

Orang itu mengucapkan terima kasih terus berlalu. Segera It-hiong mengenakan baju sambil berkata.

"Ayo, cepat, jangan sampai dia kabur lagi."

Bun-hiong juga mengenakan baju, katanya dengan tertawa.

"Giok-nio bilang begitu si kakek datang segera mengirim kabar padamu, kenapa kita tidak menunggu sebentar lagi, coba apakah dia jujur atau tidak!"

"Dia dan si kakek jelas satu komplotan, mana dia mau mengirim kabar padaku,"

Ujar It-hiong.

"Sudahlah, jangan berpikir seperti anak kecil, ayo lekas berangkat."

Sambil bicara segera mereka melangkah keluar. Tapi baru keluar kamar, tiba-tiba seorang lelaki berlari datang lagi, segera dikenali orang ini adalah calo Boan-wan-jun.

"Eh, kau cari siapa?"

Tanya It-hiong. Calo itu masih kenal padanya, dengan girang ia menjawab.

"Ah, Liong-kongcu, nona Giok-nio menyuruhku mengundang Kongcu lekas ke sana."

Hal ini sangat di luar dugaan It-hiong, ia berlagak tidak tahu dan tanya pula.

"Ada urusan apa?"

"Nona Giok-nio bilang orang yang ingin ditemui Kongcu itu sekarang berada di kamarnya,"

Tutur si calo.

"Bagaimana bentuk orang itu?"

Tanya It-hiong.

"Seorang tua, kurus-kurus kecil, cuma bajunya tidak jelek,"

Tutur calo itu.

"Hamba masih ingat, dua-tiga hari yang lalu dia pernah membawa nona Giok keluar pesiar."

It-hiong juga memberi persen beberapa tahil perak padanya, katanya.

"Baik, segera kuberangkat ke sana, kau pulang saja dulu."

Calo itu mengucapkan terima kasih, sebelum berangkat ia berpaling pula dan berkata.

"Oya, masih ada sesuatu lupa kukatakan ...."

"Urusan apa?"

Tanya It-hiong.

"Nona Giok-nio memberi pesan bila Kongcu sudah sampai di Boan-wan-jun, hendaknya Kongcu jangan segera masuk ke kamarnya, ia bilang hendak mencekoki kakek itu hingga mabuk, sesudah orang mabuk barulah Kongcu masuk kamarnya."

"Baik, kutahu,"

Jawab It-hiong tertawa. Sesudah memberi hormat calo itu lantas berlalu. It-hiong garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, katanya kepada Bun-hiong sambil menyengir.

"Sungguh di luar dugaan, ia ternyata menepati janjinya dan mau membantuku membekuk si kakek baju kelabu."

"Ini menandakan dia mulai jatuh hati padamu,"

Ujar Bunhiong.

"Seorang perempuan kalau sudah menyukai seorang lelaki, segala apa pun dapat diperbuatnya."

Makin dipikir makin gembira It-hiong, segera ia menarik Bunhiong dan diajak lari keluar, serunya.

"Ayo, lekas berangkat!"

Sekeluarnya hotel, mereka melangkah dengan cepat, tidak lama kemudian mereka sudah sampai di depan Boan-wan-jun.

Cui-coa-yo sudah menunggu di depan pintu, begitu melihat Bun-hiong berdua sudah datang segera ia memberi tanda agar jangan bersuara keras.

"Cepat amat kedatangan kalian,"

Desisnya.

"Dia masih ada?"

Tanya Bun-hiong.

"Ya, masih berada di kamar Giok-nio,"

Tutur Cui-coa-yo.

"Baru saja Giok-nio pesan hidangan, mungkin akan makan minum bersama dia."

"Sudah dibawa masuk kamar belum hidangan yang dipesan?"

Tanya Bun-hiong.

"Belum,"

Jawab Cui-coa-yo.

"Jika begitu, hendaknya kau bantu kerjai dia, taruh sesuatu di dalam arak supaya dia cepat mabuk,"

Kata Bun-hiong. Dengan ragu Cui-coa-yo menjawab.

"Wah, jangan Kongcu berbuat onar di tempatku, kalau sampai terjadi perkara jiwa manusia, tak berani kutanggung risikonya ...."

"Jangan khawatir,"

Ujar Bun-hiong.

"Begitu dia mabuk segera kami membawanya pergi."

"Sesungguhnya ada perkara apa antara kalian dengan dia?"

Tanya Cui-coa-yo.

"Akan kuberi tahukan lain hari saja, sekarang lekas kerjakan menurut apa yang kukatakan,"

Ucap Bun-hiong.

Cui-coa-yo mengangguk terus menuju ke dalam.

Bun-hiong dan It-hiong juga ikut masuk ke dalam, sampai di halaman tengah, mereka lantas sembunyi di suatu sudut yang agak gelap untuk mengintai gerak-gerik yang terjadi di kamar Giok-nio.

"Menurut pendapatmu, ada hubungan apa antara Giok-nio dengan tua bangka itu?"

Tanya It-hiong dengan suara lirih.

"Siapa tahu?"

Jawab Bun-hiong.

"Sungguh ingin kucuri dengar ke sana,"

Ujar It-hiong.

"Jangan terburu nafsu,"

Kata Bun-hiong.

"Nanti kalau dia sudah makan minum baru kita mendekat ke sana."

"Eh, lihat, hidangan sedang diantar ke sana,"

Kata It-hiong. Memang benar, tertampak seorang pelayan membawa satu nampan besar makanan dan poci arak menuju ke kamar Gioknio.

"Nona Giok-nio, ini hidangan sudah datang!"

Seru pelayan dari luar.

Ketika pintu kamar terbuka, yang kelihatan di dalam kamar memang betul si kakek berbaju kelabu yang merampas kotak hitam itu.

Hari ini dia sudah berganti dandanan dengan memakai baju biru, tidak lagi membawa senjata, sikapnya kelihatan ramah tamah, begitu pintu dibuka segera ia menyingkir ke samping dan berkata.

"Masuk saja!"

Pelayan masuk ke dalam kamar dengan membawa hidangan, sesudah ditaruh di meja, lalu keluar lagi dengan membawa nampan kosong.

"Kalau tidak dipanggil jangan mengganggu,"

Pesan si kakek. Pelayan mengiakan dan pintu kamar tertutup lagi. Perlahan It-hiong memaki.

"Keparat, tampaknya dia bermaksud tidak baik terhadap Giok-nio."

"Jangan khawatir, malam ini dia takkan berbuat sesuatu yang menyusahkan Giok-nio,"

Kata Bun-hiong.

"Apakah sudah kau suruh Cui-coa-yo menaruh sesuatu di dalam arak?"

Tanya It-hiong.

"Ya, ditaruhi obat tidur.

"kata Bun-hiong.

"Jangan-jangan akan ketahuan?"

"Kukira tidak, kadar obat tidak terlalu berat, hanya membuatnya pening kepala dan ingin tidur."

"Marilah kita ke sana,"

Ajak It-hiong.

"Baik, kucuri dengar di depan dan engkau mengintip di belakang dan berjaga agar dia tidak sampai kabur."

It-hiong mengangguk dan mengitar ke samping sana, lalu merunduk ke bawah jendela di belakang kamar Giok-nio.

Boan-wan-jun memang terhitung tempat pelesir yang laris, penuh tamu sehingga suasana ramai gaduh, maka betapa tajam pendengaran orang yang berada dalam kamar juga takkan mengetahui ada orang mencuri dengar di luar.

Begitu It-hiong baru berjongkok di belakang jendela, segera terdengar si kakek lagi berkata di dalam kamar.

"Mari, kau pun minum satu cawan."

Terdengar Giok-nio menjawab.

"Maaf, hamba tidak dapat minum arak."

"Ah, masa, minum saja sedikit,"

Kata si kakek.

"Biar kuminum dengan bebas, engkau sendiri yang minum arak, boleh?"

Kata Giok-nio.

"Baiklah, mari minum,"

Kata si kakek. Lalu terdengar suara arak ditenggak.

"Eh, kau tahu untuk apa kudatang sekarang?"

Tanya si kakek.

"Entah, aku tidak tahu,"

Jawab Giok-nio.

"Kudatang mengucapkan terima kasih."

"Oo?!"

"Engkau telah membantu kudapatkan kotak itu, adalah pantas aku berterima kasih kepadamu."

"Ah, engkau terlampau sungkan."

"Padahal biarpun engkau membantuku mendapatkan peti itu juga akan kujaga dirimu, sebab aku adalah sahabat baik kakakmu."

"Oya?"

"Memangnya engkau tidak percaya?"

"Jika benar engkau sahabat baik kakakku, mengapa tempo hari kau paksa aku berbuat begitu?"

"Demi mendapatkan kotak itu, terpaksa kugunakan akal demikian."

"Sesungguhnya apa isi kotak itu?"

"Mengenai ini tak dapat kukatakan padamu."

"Sudah kau buka peti itu?"

"Belum, peti itu bukan barang buatan negeri kita, cara membuatnya sangat teliti dan bagus, belum berhasil kupelajari cara membukanya."

"Mengapa tidak kau pecahkan saja peti itu."

"Wah, tidak boleh jadi."

"Kenapa tidak boleh?"

"Kabarnya di dalam peti itu berisi obat peledak, bila dibuka secara paksa, tentu obat pasang di dalamnya akan meletus."

"Ah!"

Terdengar Giok-nio berseru kaget. Liong It-hiong yang bersembunyi di bawah jendela juga tergetar hatinya, pikirnya.

"Ya Allah, hampir saja. Kiranya isi peti itu adalah obat pasang, tempo hari malahan kugunakan peti itu sebagai senjata, untung obat pasang di dalamnya tidak sampai tersentuh, kalau tidak tentu sudah tamat riwayatku."

Tengah termenung, didengarnya si kakek baju kelabu lagi berkata dengan tertawa.

"Keteranganku membuatmu sangat heran dan kejut bukan?"

"Memang,"

Jawab Giok-nio.

"Sebab apakah peti itu diisi dengan obat pasang?"

"Dengan begitu jadi tidak ada orang berani membukanya secara paksa,"

Tutur si kakek.

"Nah, marilah minum lagi sedikit ...."

Agaknya Giok-nio mengiringnya minum seceguk, lalu bertanya pula.

"Sesungguhnya peti itu kepunyaan siapa?"

"Wah, tidak dapat kukatakan padamu,"

Ujar si kakek.

"Memangnya apa alangannya kau ceritakan?"

Ujar Giok-nio.

"Saat ini urusan ini sudah diketahui beberapa tokoh Bu-lim kelas tinggi, jika kukatakan padamu, lalu kau beri tahukan pula kepada orang lain, kan tambah banyak orang yang akan merampas peti hitam itu?"

"Takkan kukatakan lagi kepada orang lain,"

Kata Giok-nio. Si kakek berdehem, lalu ia alihkan pokok pembicaraan.

"Kedatanganku ini selain hendak mengucapkan terima kasih padamu, masih ada suatu urusan lagi ingin berunding denganmu ...."

"Urusan apa?"

Tanya Giok-nio.

"Ini 50 tahil emas, hendaknya kau terima dulu,"

Kata si kakek. Agaknya Giok-nio terkesiap.

"Ahh, tidak, jangan, tak boleh kuterima uang sebanyak itu darimu ...."

"Tidak apa, terima saja,"

Ujar si kakek.

"Bilamana kau mau membantu lagi suatu urusanku, setelah berhasil tentu akan kuberi lagi seratus tahil emas."

"Kau minta kukerja apa?"

Tanya Giok-nio.

"Tinggalkan Boan-wan-jun dan berangkat ke Cap-pek-pan-nia denganku."

"Untuk apa ke sana?"

"Bila kau terima permintaanku baru akan kukatakan padamu."

"Wah, ini ...."

Giok-nio gelagapan.

"Engkau merasa berat meninggalkan tempat ini?"

Tanya si kakek.

"Bukan ... bukan begitu maksudku ...."

"Berapa induk semangmu menghendaki uang tebusan bagimu, akan kubayar padanya,"

Kata si kakek.

"Aku cuma utang beberapa ratus tahil perak saja padanya, bila aku mau pergi, setelah kubayar utang dan setiap saat dapat angkat kaki,"

Tutur Giok-nio.

"Cuma, betapa pun aku harus tahu dulu apa yang kau minta kukerjakan, habis itu baru aku dapat ambil keputusan."

"Urusan yang kuminta kau kerjakan pasti dapat kau laksanakan dengan baik,"

Ujar si kakek, ia berhenti sejenak, seperti minum lagi secawan arak lalu menyambung.

"Di bukit Cap-pek-pan-nia itu akhir-akhir ini muncul sekawanan bandit dan dipimpin oleh seorang tokoh misterius, kekuatan dan pengaruhnya sangat hebat, siapa nama tokoh misterius itu pun tidak kuketahui, aku cuma tahu dia tahu cara membuka peti wasiat ini ...."

"Lalu?"

Tanya Giok-nio.

"Urusan yang kuminta kau kerjakan hanya supaya engkau berusaha berkenalan dengan dia, mengingat kecantikanmu kukira sekali pandang saja dapat membuatnya terpikat. Lalu engkau pura-pura bergaul baik dengan dia untuk memancing caranya membuka peti hitam itu."

"Wah, ini ...."

Giok-nio merasa ragu.

"Jangan khawatir, kujamin tidak berbahaya,"

Kata si kakek. Giok-nio diam saja tanpa bicara lagi.

"Bagaimana, mau?"

Tanya si kakek.

"Akan kupikirkan lagi, sekarang boleh engkau minum arak saja,"

Jawab Giok-nio dengan tertawa. Si kakek baju kelabu bersuara senang dan lantas minum arak lagi.

"Kotak yang kau rampas itu sekarang disimpan di mana?"

Tanya Giok-nio.

"Di suatu tempat yang sangat aman,"

Jawab si kakek.

"Di mana?"

Tanya Giok-nio pula.

"Ah, tidak perlu kau tanya."

"Mari, habiskan secawan lagi."

"Wah, tidak mau lagi. Arak ini agak keras, rasa kepalaku rada pusing."

"Kan belum ada tiga cawan kau minum, masa sudah pusing. Mari habiskan secawan lagi,"

Ajak Giok-nio. Kembali si kakek menenggak pula satu cawan, lalu tanya.

"Bagaimana, mau tidak mengerjakan apa yang kukatakan tadi?"

"Boleh sih boleh, cuma ... dapatlah engkau memberitahukan padaku apa isi kotak itu."

"Tidak."

"Jika tidak kau katakan, aku pun tidak sanggup."

"Sebaiknya kau terima permintaanku, kalau tidak terpaksa kubunuh dirimu,"

Ancam si kakek dengan mendelik.

"Ai, engkau terus-menerus mengaku sebagai sahabat kakakku, kenapa sedikit-sedikit engkau bilang hendak membunuhku?"

"Hm, memang begitulah kebiasaanku,"

Jengek si kakek.

"Pendek kata, yang menurut padaku hidup, yang membangkang kubunuh."

Giok-nio tertawa cekikik, katanya.

"Ai, kenapa engkau jadi begini garang?"

"Kutanya sekali lagi, kau mau terima atau tidak?"

Si kakek menegas sekata demi sekata.

"Baiklah, cuma ada suatu syaratku,"

Kata Giok-nio.

"Bilamana urusan sudah selesai, aku minta lima ratus tahil emas."

"Wah, jangan terlalu serakah, seratus tahil saja kan sudah banyak."

"Tidak, harus lima ratus tahil baru mau kukerjakan,"

Kata Giok-nio. Si kakek berpikir sebentar, akhirnya menjawab.

"Baiklah, kuberi lima ratus tahil. Besok hendaknya engkau berbenah seperlunya, begitu hari gelap segera kubawa dirimu meninggalkan kota. Sekarang kupergi dulu."

"Eh, engkau tidak minum lagi?"

Tanya Giok-nio.

"Tidak, aku rada pusing ...."

Kata si kakek.

"Sungguh aneh, mengapa kekuatanku minum arak hari ini sedemikian jelek."

"Engkau jangan pergi dulu,"

Ujar Giok-nio.

"Mau apa?"

Tanya si kakek.

"Kuminta engkau mengiringiku minum arak,"

Giok-nio berlagak manja.

"Tidak bisa, aku tidak sanggup minum lagi."

"Jika engkau tidak mengiringiku minum, aku pun tidak mau pergi ke Cap-pek-pan-nia."

"Eh, kenapa kau bicara demikian?"

Heran juga si kakek.

"Memangnya kau anggap aku dapat berbuat apa-apa bagimu?"

Giok-nio mengiakan dengan tersenyum.

"Ai, jangan bergurau, untuk begituan sudah lama aku tidak sanggup lagi,"

Kata si kakek.

"Aku cuma minta engkau mengiringiku minum arak, jangan kau pikir terlalu jauh."

"Kau suka minum arak?"

Si kakek menegas.

"Ya,"

Jawab Giok-nio.

"Tadi kau bilang tidak sanggup minum arak, mengapa sekarang bilang suka?"

"Kalau banyak memang tidak sanggup, jika dua cawan masih boleh,"

Kata Giok-nio.

"Pula, engkau kan baru datang, kalau sekarang lantas pergi, sebentar aku bisa diomeli induk semangku."

Si kakek termenung sejenak, katanya kemudian.

"Ehm, baiklah, biar kuiringimu minum dua cawan lagi ...."

"Ayo, minum!"

"Baik."

"Jika kepalamu pusing, silakan mengaso saja di tempat tidur."

"Wah, jangan."

"Lho, kenapa?"

"Aku ... aku tidak ...."

Lalu terdengar suara "bluk", suara robohnya tubuh. Terdengar Giok-nio menjerit kaget.

"Hei, kenapa engkau? Cuma minum dua cawan saja masa lantas roboh mabuk."

Pang Bun-hiong yang mencuri dengar di luar kamar tahu waktunya sudah tiba, segera ia mengetuk pintu dan berseru.

"Buka pintu, nona Giok!"

Waktu pintu dibuka Giok-nio, Liong It-hiong juga sudah mengitar ke depan kamar, segera Bun-hiong menariknya ke samping, desisnya.

"Engkau jangan menampakkan diri dulu. Dia tidak kenal aku, biar kuantar dia pulang dan engkau menguntit dari jauh."

It-hiong mengiakan. Bun-hiong lantas masuk kamar Giok-nio, dilihatnya si kakek baju kelabu sudah menggeletak di lantai, cuma kesadarannya belum hilang sama sekali, ia berlagak kaget dan bertanya.

"Hei, kenapa tuan tua ini?"

"Dia mabuk,"

Tutur Giok-nio. Bun-hiong mengitar ke samping si kakek, ia berjongkok dan memeriksanya, lalu berkata.

"Wah, kenapa mabuk sampai begini?"

"Entah, aku pun tidak tahu, kukira dia kuat minum banyak, siapa tahu minum tiga-empat cawan lantas roboh mabuk,"

Kata Giok-nio. Bun-hiong berlagak susah, ucapannya.

"Wah, bagaimana ...."

"Dapatkah kau tolong dia?"

Tanya Giok-nio.

"Dia tinggal di mana?"

Kata Bun-hiong.

"Entah, aku juga tidak tahu,"

Sahut si nona. Bun-hiong tepuk-tepuk pipi si kakek sambil berseru.

"Hei, bung, di mana tempat tinggalmu?"

Kelopak mata si kakek terasa berat sekali untuk dibuka, sekuatnya ia coba melek, tapi tetap merasa kantuk, namun setitik kesadarannya yang masih ada memberitahukan padanya agar jangan tertidur, maka sekuatnya ia membangkitkan semangat dan menjawab.

"Di Ko ... Ko-sing ...."

"Hotel Ko-sing maksudmu?"

Bun-hiong menegas.

"Ehmm ...."

Si kakek tidak sanggup bersuara lagi, kepalanya miring dan akhirnya terpulas juga. Kembali Bun-hiong menepuk pipinya sambil berteriak.

"Hei, bung, bangun, sadarlah!"

Namun kakek itu sama sekali tidak bergerak lagi serupa babi mampus. Bun-hiong tersenyum, katanya sambil berpaling.

"Nah, sekarang boleh masuk, Liong It-hiong."

Dengan tersenyum It-hiong masuk ke kamar, katanya.

"Dia sudah tidur?"

Bun-hiong mengiakan dengan tertawa.

"Letak Ko-sing-khek-can seperti di sebelah barat sana,"

Ucap It-hiong.

"Memang betul,"

Jawab Bun-hiong.

"Jika begitu perlu kita sewa sebuah kereta,"

Kata It-hiong pula.

"Baik, akan kusuruh orang menyewakan kereta,"

Ujar Bunhiong sambil beranjak keluar.

Melihat orang sudah pergi, segera It-hiong merangkul Giok-nio dan dicium.

Muka Giok-nio menjadi merah, dengan kepalan halus ia pukul It-hiong, omelnya dengan tersenyum genit.

"Nah, tidak genah?!"

"Ini tanda terima kasihku,"

Ucap It-hiong dengan tertawa.

"Kan engkau sudah membantuku membekuk dia."

"Dan sekarang tentunya kau tahu jelas sebabnya kubohongimu tempo hari adalah karena dipaksa oleh dia?"

"Ya, aku menyesal kemarin telah kupukuli pantatmu,"

Ujar Ithiong. Semula Giok-nio berlagak tidak mau, tapi sekarang dengan pasrah ia biarkan dirinya dipeluk anak muda itu, ucapnya dengan malu-malu.

"Karena engkau berjanji akan mengantarku ke Wanpeng, sungguh aku sangat berterima kasih, mestinya hendak kukatakan terus terang duduknya perkara kepadamu, tapi kutakut akan dibunuh olehnya."

Kembali It-hiong menciumnya lagi sekali, katanya dengan tertawa.

"Engkau tidak bersalah, aku tidak marah padamu."

Giok-nio menengadah, dengan tatapan mesra ia berkata pula.

"Sungguh kuharap apa yang terjadi itu benar, kalau benar, alangkah baiknya."

"Jangan risau, bilamana kau suka pesiar ke Wanpeng, tentu akan kubawamu ke sana,"

Kata It-hiong.

"Sungguh?"

Tanya Giok-nio girang.

"Tentu saja sungguh,"

It-hiong mengangguk. Saking senangnya Giok-nio merangkulnya erat-erat, katanya.

"Baik, bawalah aku ke sana, lekas membawaku ke sana!"

"Tapi tidak boleh lagi kau bohongi aku,"

Kata It-hiong dengan tersenyum.

"Masa kubohong?"

Giok-nio melenggong.

"Bagus kalau tidak,"

Ucap It-hiong.

"Nona secantik dirimu ini memang tidak pantas berdusta, bisa membuat orang mendongkol."

"Tidak ada yang perlu kudustaimu lagi,"

Seru Giok-nio dengan gembira.

"Selanjutnya asalkan engkau tidak dusta padaku, maka cukuplah bagiku. Aku rela ... rela ikut padamu selama hidup."

It-hiong hanya tersenyum saja tanpa bicara. Sorot mata Giok-nio menampilkan rasa memohon, katanya.

"Apakah engkau sudi ... sudi padaku?"

"Aku ... mungkin saja mau padamu, tapi bukan sekarang ...."

"Sebab apa?"

Tanya Giok-nio.

"Sekarang aku masih mempunyai urusan yang harus kuselesaikan."

"Urusan apa?"

Tanya si nona.

"Ada dua urusan,"

Tutur It-hiong.

"Pertama, menemukan kembali peti hitam itu dan mengantarkannya ke Cap-pek-pannia untuk memenuhi pesan orang mati."

"Dan apa urusan kedua?"

Tanya Giok-nio.

"Urusan kedua itu sementara tidak dapat kukatakan padamu."

"Masa engkau belum lagi percaya padaku?"

Giok-nio menegas.

"Bukan soal percaya padamu atau tidak,"

Jawab It-hiong.

"Sebabnya tidak kukatakan padamu justru kukhawatir akan membuatmu makan tidak enak dan tidur tidak nyenyak."

"Oo?!"

Giok-nio merasa bingung. Tiba-tiba di luar terdengar suara langkah orang. It-hiong melepaskan rangkulannya dan berpaling, benar juga terlihat Pang Bun-hiong sudah kembali, segera ia tanya.

"Bagaimana, sudah siap keretanya?"

"Sudah, ayolah bawa dia ke atas kereta,"

Kata Bun-hiong. Segera It-hiong mengangkat si kakek baju kelabu, katanya terhadap Giok-nio dengan tertawa.

"Besok kudatang menjengukmu, jangan kau kabur lagi tanpa pamit."

Dengan malu Giok-nio menjawab.

"Tidak, akan kutunggu kedatanganmu."

Segera It-hiong menggendong si kakek yang tak sadar itu keluar.

Bun-hiong tidak ikut keluar, ia tunggu setelah It-hiong keluar kamar, segera ia mendekati Giok-nio dan bertanya perlahan dengan tersenyum.

"Dia suka padamu bukan?"

Dengan muka merah Giok-nio menjawab.

"Untuk apa Pangkongcu tanya urusan ini?"

"Sebab kupikir, bilamana dia tidak suka padamu barulah ada kesempatan bagiku,"

Kata Bun-hiong.

"Cis, engkau juga tidak genah,"

Semprot Giok-nio.

Sambil tergelak Bun-hiong lantas melangkah keluar.

Setiap orang yang berada di Boan-wan-jun sudah biasa melihat tamu yang mabuk, maki ketika melihat It-hiong memanggul keluar seorang tua, tidak ada seorang pun merasa heran, semuanya mengira It-hiong adalah serombongan dengan si kakek, sama sekali tidak menyangka Liong It-hiong sedang menculik orang.

Sekeluarnya dari Boan-wan-jun, It-hiong melihat di depan pintu itu sudah parkir sebuah kereta kuda, ia tahu inilah kereta yang disewa Bun-hiong, segera ia angkat si kakek ke dalam kereta.

Sejenak kemudian Bun-hiong ikut keluar, ia memberitahukan kepada sais kereta agar menuju ke hotel Ko-sing, lalu mereka naik ke dalam kereta.

Perlahan kereta dijalankan meninggalkan Jalan Kembang dan menuju ke gerbang barat.

"Apakah dia takkan mendusin mendadak?"

Tanya It-hiong sambil menatap si kakek baju kelabu yang tidak berkutik itu.

"Tidak,"

Jawab Bun-hiong.

"Apakah yang dikatakannya kepada Giok-nio tadi sudah kau dengar atau tidak?"

"Sudah."

"Jangan-jangan Giok-nio memang tidak berdosa."

"Sebab apa tua bangka ini mencari dia?"

Ujar Bun-hiong.

"Maksudku, mengapa dia mencari adik perempuan Eng-jiauong Oh Kiam-lam?"

"Ya, kukira ini pasti tidak terjadi secara kebetulan,"

Tukas Ithiong.

"Tentu dia tahu Giok-nio adalah adik perempuan Oh Kiam-lam."

"Betul,"

Kata Bun-hiong.

"Ia ancam Giok-nio agar membantunya merampas peti dariku, tadi Giok-nio diminta membantunya ke Cap-pek-pan-nia untuk memancing cara membuka peti itu, kuyakin dia mempunyai tujuan tertentu."

"Memang begitulah,"

Bun-hiong mengangguk. Sambil memandang si kakek yang masih terpulas lelap itu, It hiong berkata pula dengan tersenyum.

"Kau pikir dapatkah dia menyimpan peti hitam itu di dalam hotel?"

"Entah, biarlah kita coba menggeledahnya dulu,"

Kata Bunhiong.

"Jika tidak ditemukan di hotel, nanti kira membuatnya sadar, lalu memaksa pengakuannya."

"Sekarang ada suatu soal yang membuatku serbasusah,"

Kata It-hiong.

"Setelah peti kutemukan kembali, harus kuantar dulu peti itu ke Cap-pek-pan-nia atau membawa Giok-nio dulu menemui To Po-sit?"

"Ini harus kau putuskan sendiri,"

Ujar Bun-hiong.

"Bolehkah kubawa dia pergi ke Cap-pek-pan-nia?"

"Kecuali kau pun ingin menggunakan dia untuk memancing cara membuka peti, kalau tidak, lebih baik jangan."

"Aku tidak begitu tertarik oleh isi peti, untuk apa kusuruh dia memancing cara membuka peti?"

Ujar It-hiong.

"Jika begitu lebih baik jangan membawa dia ke sana,"

Kata Bun-hiong.

"Kau tahu bila kotak itu kau bawa dalam perjalanan, sangat mungkin ada orang akan mencegat dan merampasnya lagi, dapatkah kau terjang kepungan dengan membawa dia?"

It-hiong menggeleng.

"Tidak dapat."

"Jika kau percaya kepadaku, sudah tersedia suatu caraku."

"Coba katakan,"

Ucap It-hiong.

"Boleh kau pergi ke Cap-pek-pan-nia dan kugantikan dirimu mengantar dia ke tempat Tui-beng-poan-koan To Po-sit."

"Wah, ini ...."

"Bagaimana, khawatir kubawa lari dia?"

Kata Bun-hiong dengan tersenyum. It-hiong menggeleng.

"Bukan, kutakut To Po-sit akan merasa kurang senang, sebab berulang dia pesan padaku agar jangan membocorkan tempat sembunyinya. Sekarang kedua kakinya cacat dan tidak mampu menghadapi gerangan musuh."

"Tapi aku bukan musuhnya, tidak nanti kubocorkan tempat pengasingannya itu,"

Kata Bun-hiong.

"Kutahu engkau takkan berbuat begitu, tapi dia takkan berpikir demikian."

"Sudahlah, jika kau anggap kurang baik, anggap saja batal."

"Harap beri waktu, akan kupikirkan dulu .... Ah, sudah sampai di hotel Ko-sing."

Mendadak kereta kuda berhenti. Waktu Bun-hiong melongok keluar, lalu melompat turun dan berkata.

"Ya, sudah sampai. Boleh kau gendong dia turun."

Ia membayar sewa kereta, dilihatnya It-hiong memanggul si kakek turun, segera ia mendahului masuk ke hotel Ko-sing.

"Tuan tamu ini apa cari kamar?"

Tanya seorang pelayan menyongsong kedatangan mereka.

"Tidak, kami mengantar pulang kawan tua ini,"

Jawab Bunhiong sambil menuding si kakek yang digendong It-hiong itu, lalu tanya pula.

"Tuan ini tamu hotel kalian bukan?"

Pelayan mendekat dan mengamati sejenak, lalu menjawab dengan terkejut.

"He, betul, dia tamu yang tinggal di kamar nomor delapan, kenapakah dia?"

"Mabuk,"

Tutur Bun-hiong.

"Coba bawa kami ke kamarnya."

Pelayan mengiakan dan membawa mereka masuk ke dalam hotel, sampai di depan sebuah kamar bagus, pelayan membuka pintu kamar dan berkata.

"Kamar ini."

Bun-hiong mengangguk.

"Baiklah, boleh kau pergi saja."

Sesudah pelayan pergi, It-hiong membawa si kakek ke dalam kamar dan direbahkan di tempat tidur, katanya kepada Bunhiong.

"Tutup pintunya, biar kita geledah kamarnya."

Setelah pintu kamar ditutup, kedua orang lantas sibuk menggeledah seluruh isi kamar.

Tapi meski kamar sudah diubrak-abrik, yang ditemukan mereka hanya dua macam barang yakni sebuah ransel dan sepasang ruyung baja.

"Aneh, disimpan ke mana peti hitam itu?"

Kata It-hiong.

"Mungkin dititipkan pada pengurus hotel, coba akan kutanyai kuasa hotel,"

Ujar Bun-hiong. Habis berkata segera ia membuka pintu dan keluar. Tidak lama kemudian ia kembali lagi ke kamar, katanya sambil menggeleng.

"Menurut keterangan pengurus hotel, katanya tua bangka ini tidak titip sesuatu barang, juga tidak pernah melihat dia membawa sebuah peti segala."

"Jika begitu, terpaksa harus kita tanyai dia langsung,"

Kata Ithiong.

Ia mendekati tempat tidur, ia tutuk Hiat-to si kakek dan menyiram mukanya dengan sebaskom air dingin yang tersedia di dalam kamar.

Obat tidur yang diminum si kakek tidak banyak, setelah disiram air dingin, seketika juga dia sadar kembali.

Begitu membuka mata, lalu memandang dengan melenggong Liong It-hiong dan Pang Bun-hiong yang berdiri di depan tempat tidur, mendadak air mukanya berubah babat, cepat ia meronta hendak bangun sambil berteriak.

"Hei, kau ... Liong It-hiong?!"

"Betul,"

It-hiong tersenyum. Sekali meronta dan tidak mampu bangun, segera si kakek tahu Hiat-to tertutuk, keruan ia heran dan terkejut, serunya.

"Cara ... cara bagaimana kau datang kemari?"

It-hiong tidak menjawab, sebaliknya ia lolos pedang pandak Siau-hi-jong dan mengancam di depan hidung orang sambil berkata.

"Ada beberapa soal ingin kutanya dirimu dulu. Coba jawab, siapa namamu?"

Muka si kakek kelihatan pucat pasi dan tidak menjawab.

"Hm, kukira kau tahu apa artinya ini,"

Jengek It-hiong.

"Jika tidak ingin menderita siksaan badan, sebaiknya kau jawab dengan terus terang."

"Baik, aku she Tam dan bernama Pek-sun!"

Jawab si kakek.

"Jika kau bohong, kau adalah anak jadah, begitu?"

Dengan mendongkol si kakek berteriak.

"Baik, apa alangannya kukatakan terus terang. Aku inilah In-tiong-yan Pokyang Thian."

"Itu dia baru benar,"

Ucap It-hiong dengan tertawa.

"Berdusta bukan perbuatan yang terpuji. Seorang lelaki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab. Engkau Pokyang Thian adalah tokoh yang sudah terkenal sekian lamanya, tindak tandukmu hendaknya dilakukan secara gagah kesatria."

"Singkirkan pedangmu!"

Mendadak In-tiong-yan Pokyang Thian meraung.

"Sabar dulu,"

Ucap It-hiong.

"Masih ada soal yang lebih penting ingin kutanya padamu. Nah, coba katakan, di mana kau sembunyikan peti hitam itu?"

"Tidak tahu,"

Jawab In-tiong-yan Pokyang Thian dengan ketus.

"Maksudmu biarpun mati juga takkan kau serahkan peti itu?"

Jengek It-hiong.

Sembari bicara ia pindah ujung pedangnya untuk mengancam hulu hati orang dan berlagak hendak menikam.

Keruan muka In-tiong-yan Pokyang Thian bertambah pucat, namun dia tetap bandel, katanya.

"Ah, jangan kau main cara begini, tak dapat kau gertak diriku."

"Betul, jika kubunuh dirimu berarti tidak dapat lagi menemukan kembali peti itu,"

Kata It-hiong.

"Tapi kalau tidak kau serahkan peti itu, apa pula gunanya kupertahankan nyawamu?"

In-tiong-yan Pokyang Thian hanya mendengus saja tanpa menjawab.

"Jadi engkau sudah bertekad akan melawan mati-matian, begitu?"

Tanya It-hiong.

"Betul, silakan turun tangan saja,"

Jawab Pokyang Thian. Mendadak It-hiong menarik kembali pedangnya malah, katanya terhadap Pang Bun-hiong.

"Wah, tua bangka ini licin benar, dia ternyata tahu aku tidak berani turun tangan membunuhnya ...."

"Engkau kan juga tidak harus membunuhnya,"

Ujar Bun-hiong dengan tersenyum.

"Betul, jika dia tidak dapat digertak, sekarang hanya ada suatu jalan,"

It-hiong mengangguk.

"Kau tahu apa jalan keluarku yang lain?"

"Tahu,"

Jawab Bun-hiong.

"Coba katakan."

"Hendak kau potong urat besar pergelangan kakinya, lalu membawa dia ke Cap-pek-pan-nia dan menyerahkannya kepada gembong yang bercokol di sana, begitu bukan?"

"Hah, sungguh hebat, engkau serupa cacing pita di dalam perutku,"

Ujar It-hiong dengan tertawa.

Segera ia membalik tubuh Pokyang Thian dan membiarkan dia bertiarap, lalu menyingsing kaki celananya dan hendak memotong urat besar kakinya.

In-tiong-yan Pokyang Thian yakin orang tidak berani membunuhnya, tapi ia pun tahu untuk memotong urat kakinya pasti dapat dilakukannya, sebab itulah sikap kepala batunya seketika berubah lunak, ia menghela napas dan berkata.

"Baiklah, aku menyerah, biarlah kukatakan terus terang."

It-hiong menaruh pedang di atas urat kaki orang, ucapnya dengan tertawa.

"Nah, katakan, di mana kau sembunyikan peti itu?"

"Setelah kukatakan, cara bagaimana akan kau perlakukan diriku?"

Tanya In-tiong-yan Pokyang Thian.

"Begitu menemukan peti itu segera kubebaskan dirimu,"

Jawab It-hiong.

"Kau pasti pegang janji?"

Pokyang Thian menegas.

"Ya, tidak nanti kujilat kembali,"

Jawab It-hiong.

"Baik,"

Tutur Pokyang Thian.

"Peti itu kutanam di suatu kuburan di luar kota, boleh kalian sewa sebuah kereta, akan kubawa kalian ke sana."

Segera Bun-hiong mencari kereta lagi, tidak lama kemudian mereka bertiga lantas berangkat keluar kota dengan menumpang kereta.

Setelah keluar kota, kereta diarahkan ke suatu jalan kecil yang berliku dan tidak rata.

"Masih berapa jauh lagi?"

Tanya It-hiong tidak sabar.

"Tidak jauh lagi, satu-dua li saja akan sampai,"

Sahut Bunhiong mewakilkan si kakek.

"Dari mana kau tahu?"

Tanya It-hiong.

"Pernah kudatangi tanah pekuburan itu dahulu,"

Tutur Bunhiong.

"Seorang kawan meninggal, aku mengantar jenazahnya sampai di tempat kuburan itu."

"Oo,"

Pandangan It-hiong lantas beralih ke wajah Pokyang Thian, tanyanya dengan tertawa.

"Masih ingin kutanya sesuatu padamu, apakah kau tahu Giok-nio itu adik perempuan siapa?"

"Tahu,"

Jawab Pokyang Thian.

"Dia adik perempuan Eng-jiauong Oh Kiam-lam namanya Oh Lian-bing."

"Mengapa sampai dia terjerumus ke dalam dunia pelacuran?"

Tanya It-hiong.

"Kakaknya mati, hidupnya telantar, terpaksa hidup di kalangan hiburan begitu,"

Ujar Pokyang Thian. Tiba-tiba Bun-hiong menukas.

"Kudengar Oh Kiam-lam masih mempunyai beberapa orang saudara angkat, mengapa mereka tidak membantu adik perempuannya?"

"Apakah 'Lok-lim-jit-coat' (tujuh gembong bandit) yang kau maksudkan?"

Tanya Pokyang Thian.

"Ya begitulah kira-kira,"

Kata Bun-hiong.

"Aku inilah satu di antara ketujuh orang itu,"

Kata Pokyang Thian.

"Keenam gembong lainnya adalah Ang-liu-soh (si kakek beruci-uci merah) Ban Sam-hian, Cian-in-jiu (si tangan kilat) Loh Bok-kong, Kim-ci-pa (si macan tutul) Song Goan-po, Hiatpit-siucay (si sastrawan berpensil berdarah) Hui Giok-koan, Tok-gan-bu-siang (si setan mata satu) Ong Sian dan Coh-jingbin (si muka tembong) Sing It-hong."

"Dan Oh Kiam-lam adalah saudara angkat kalian yang tertua?"

Bun-hiong menegas.

"Betul, kami berdelapan pernah melakukan pekerjaan bersama, kemudian terasa tidak cocok, lalu terpencar dan bekerja sendiri,"

Tutur Pokyang Thian.

"Mungkin terpencar karena bertengkar dalam hal membagi rezeki yang tidak rata, begitu bukan?"

Tanya Bun-hiong dengan tertawa.

"Boleh juga dikatakan begitu,"

Ujar Pokyang Thian.

"Oh Kiamlam sok menganggap dirinya paling jempolan, kami bertujuh dipandangnya sebagai anak buah belaka, dengan sendirinya kami tidak rela diperbudak dan terpaksa berpisah."

"Pekerjaan besar yang dilakukannya dahulu kalian bertujuh juga ikut serta bukan?"

Tanya Bun-hiong.

"Maksudmu ...."

"Yaitu waktu merampok satu juta tahil perak dana bantuan kerajaan kepada daerah Kangsay yang tertimpa musibah kebanjiran itu, peristiwa itu sungguh menggemparkan seluruh dunia,"

Ujar Bun-hiong.

"O, tidak, kami tidak ikut dalam perbuatan itu, tatkala mana kami sudah memisahkan diri dengan dia,"

Jawab Pokyang Thian.

"Apakah lantaran pribadi Oh Kiam-lam memang buruk, maka kalian tidak mau memberi bantuan kepada Oh Lian-bing!"

Tanya Bun-hiong.

"Betul, cuma kemudian baru kami ketahui dia terjerumus ke dunia pecomberan,"

Kata Pokyang Thian.

"Setelah berhasil merampok dana bantuan pemerintah itu tidak lama kemudian Oh Kiam-lam diketemukan mati terbunuh di luar kota Tiang-an, apakah kau tahu siapa pembunuhnya?"

Tanya Bun-hiong pula.

"Tidak tahu,"

Jawab Pokyang Thian.

"Diam-diam kami juga mengadakan pengusutan atas diri si pembunuh, tapi selama ini belum berhasil."

"Setelah Oh Kiam-lam mati, lalu ke mana perginya harta satu juta tahil perak itu?"

Tanya It-hiong.

"Dengan sendirinya dibawa lari si pembunuh itu,"

Kata Pokyang Thian.

"Adakah hubungan peti itu dengan urusan perampokan besar itu?"

"Tidak, sama sekali tidak ada hubungan apa pun, kedua urusan berdiri sendiri,"

Tutur Pokyang Thian.

"Jika begitu apa isi peti itu?"

Tanya It-hiong lagi.

"Sebelum kujawab ingin kutanya dulu kepadamu,"

Kata Pokyang Thian.

"Sesungguhnya peti itu akan kau kangkangi sebagai milik sendiri atau akan mengantarnya ke Cap-pekpan-nia?"

"Akan kuantar ke Cap-pek-pan-nia,"

Jawab It-hiong.

"Jika begitu, sebaiknya jangan kau tanya tentang isi peti itu."

"Sebab apa?"

It-hiong menegas.

"Sebab kalau kau tahu apa isi peti itu, nanti hatimu pasti juga akan tertarik dan mungkin timbul hasratmu untuk mencaploknya sebagai milik sendiri, dan hal ini tentu akan sangat merugikan nama baikmu."

"Kupercaya kepada ucapanmu,"

Kata It-hiong dengan tersenyum.

"Aku ini memang tidak cukup teguh dengan pendirian sendiri, mudah terpikat dan terbujuk. Baiklah jika tidak mau kau katakan."

"Selain itu, biarlah kukatakan terus terang padamu,"

Sambung Pokyang Thian lagi.

"Saat ini orang yang bermaksud merampas peti itu terlampau banyak. Lantaran mereka tahu engkau sendiri tidak tahu apa isi peti itu, maka mereka tidak ingin mencelakai jiwamu, bilamana isi peti sudah kau ketahui, tentu mereka tidak sungkan-sungkan lagi padamu."

"Betul, cukup beralasan,"

Ujar It-hiong dengan tertawa.

"Cuma ada satu hal rasanya dapat kau beri tahukan padaku, yaitu, milik siapakah peti itu sesungguhnya?"

"Milik si tokoh misterius di Cap-pek-pan-nia yang menghendaki peti itu,"

Tutur Pokyang Thian.

"Memangnya siapa dia sebenarnya?"

Tanya It-hiong pula.

"Entah, aku pun tidak tahu,"

Jawab Pokyang Thian.

"Pada mukanya selalu memakai topang setan, ilmu silatnya sudah mencapai tingkatan yang sukar diukur, dia pernah mengalahkan berbagai tokoh Bu-lim kelas tinggi, sekarang kedudukannya adalah pemimpin besar kaum Lok-lim (rimba hijau, arti kiasan kawanan bandit), anak buahnya berjumlah sekian ribu orang, pengaruhnya besar di atas Oh Kiam-lam."

"Si Hin yang menyerahkan kotak hitam kepadaku itu juga anak buah tokoh misterius itu?"

Tanya It-hiong. Pokyang Thian membenarkan.

"Dari tempat lain Si Hin memperoleh kotak itu dan bermaksud membawanya pulang ke Cap-pek-pan-nia, akhirnya dicegat musuh dan terluka parah, begitu bukan kisahnya?"

Tanya Ithiong.

"Betul,"

Jawab Pokyang Thian. It-hiong angkat pundak, katanya terhadap Pang Bun-hiong.

"Sungguh konyol, memangnya dengan alasan apa harus kuantar kotak hitam itu ke Cap-pek-pan-nia?"

Bun-hiong tidak menjawab, pandangannya tertuju ke arah belakang, seperti sedang mengintai sesuatu.

"Apa yang kau pandang?"

Tanya It-hiong rada tercengang.

"Ingin kulihat adakah orang menguntit kita,"

Jawab Bun-hiong. Tergetar hati It-hiong.

"Memangnya ada tanda kita dikuntit orang?"

Bun-hiong menggeleng, katanya.

"Entah, belum dapat kupastikan ...."

Waktu It-hiong memandang ke belakang kereta, tertampak di kejauhan sana gelap gulita, tiada terlihat sesuatu apa pun. Ia coba tanya pula.

"Sesungguhnya apa yang kau lihat?"

"Tadi aku seperti melihat berkelebatnya sesosok bayangan, cuma mungkin juga bayangan seekor anjing liar,"

Ujar Bunhiong. It-hiong menoleh dan tanya Pokyang Thian.

"Apakah ada orang tahu engkau berhasil merampas kotak hitam itu?"

"Tapi kalau sekarang ada orang membuntuti kita, jelas yang dituju adalah kalian,"

Ujar Pokyang Thian.

"Oo, apa buktinya?"

Kata It-hiong. Pokyang Thian menjengek.

"Hm, aku tidak membual, di dunia persilatan zaman ini orang yang memiliki Ginkang yang melebihiku dapat dihitung dengan jari. Tempo hari sesudah kudapatkan kotak itu, memang pernah juga ada orang mencegat dan bermaksud merampasnya dariku, tapi semuanya dapat kutinggalkan."

"Namun kotak itu sudah dibawa lari olehmu, untuk apa orang membuntuti kami?"

Kata It-hiong.

"Kalian mengetahui aku lari ke Kim-leng sini, bisa jadi pembicaraan kalian dapat didengar orang, maka mereka pun menguntit ke sini."

"Tidak, kami tidak tahu engkau lari ke Kim-leng sini, bahwa hari ini dapat kami membekuk dirimu adalah kejadian di luar dugaan,"

Tutur It-hiong.

"Di luar dugaan?"

Pokyang Thian menegas.

"Ya, bahkan kami juga tidak tahu Giok-nio adalah Ni Beng-ay. Kemarin kami cari hiburan ke Boan-wan-jun, di luar dugaan di sana dapat kami temukan Giok-nio ternyata sama dengan Ni Beng-ay, dari dia dapat diketahui juga bahwa engkau hendak menemui dia lagi, maka kami lantas memasang perangkap untuk membekukmu."

"Oo, kiranya begitu,"

Pokyang Thian menyengir.

"Makanya jika sekarang ada orang membuntuti kita, maka yang dikuntit pasti dirimu."

"Jika orang dapat menguntit diriku dari Ko-yu sampai di sini, maka orang itu pasti tokoh yang luar biasa,"

Kata Pokyang Thian.

Tengah bicara, tahu-tahu kereta sudah berhenti.

Kiranya sudah tiba di tempat tujuan, yaitu sebuah tanah pekuburan.

It-hiong memapahnya melompat keluar, waktu memandang ke sana, tertampak di depan penuh kuburan, luas juga tanah pemakaman ini, dari tanah datar terus memanjang hingga sampai lereng bukit, sedikitnya ada ribuan makam, di sana-sini terdapat beberapa batang pohon waru, dipandang dalam kedelapan malam suasana terasa sunyi dan seram.

Bun-hiong membayar sewa kereta dan menyuruhnya pergi, lalu bertanya kepada Pokyang Thian.

"Di mana kau tanam kotak itu?"

"Di lereng bukit sana,"

Jawab Pokyang Thian.

Segera Bun-hiong mendahului melangkah ke lereng sana.

It-hiong memapah Pokyang Thian mengikut dari belakang, sembari berjalan ia tidak lupa menoleh untuk mengawasi belakang, ternyata tidak terlihat ada orang menguntit, tapi ia tahu pasti ada orang membuntutinya, maka setiap langkahnya dilakukannya dengan cermat dan penuh waspada.

Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di kompleks tanah makam di lereng bukit.

"Bagaimana, sudah sampai?"

Tanya Bun-hiong.

"Ya, sudah dekat,"

Jawab Pokyang Thian.

"Belok dulu ke kanan, lalu maju lagi dua ratus langkah akan sampai di tempat tujuan."

Bun-hiong menurut dan membelok ke arah kanan, kira-kira ratusan langkah lagi ia berhenti dan tanya pula.

"Bagaimana, sudah sampai?"

"Ya, sudah sampai,"

Jawab Pokyang Thian. It-hiong menurunkan kakek itu dan dibiarkan orang duduk bersandar sebuah makam, lalu tanya.

"Di mana tempatnya?"

Pokyang Thian memandang sebuah makam yang besar di sisi kiri, katanya.

"Di depan kuburan itu, cukup digali sedalam tiga kaki saja dan akan menemukannya."

Segera It-hiong melolos pedang pandak, katanya kepada Bunhiong.

"Harap wakilkan aku mengawasi dia, akan kugali tempat itu."

Lalu ia mendekati kuburan yang dimaksud, waktu ia memeriksanya dengan teliti, terlihat di depan makam memang ada bagian tanah yang gembur, ia tahu keterangan Pokyang Thian tidak dusta, segera ia gunakan pedang untuk menggali.

Bun-hiong tahu keadaan cukup gawat, bahaya senantiasa mengintai, setiap saat bisa terjadi sesuatu yang tak terduga, sebab itulah dia tidak berani lengah, segera ia pun menghunus pedang dan berjaga di samping Pokyang Thian sambil mengawasi keadaan sekitarnya.

Cara It-hiong menggali sangat cepat, hanya sebentar saja tempat galiannya sudah sedalam tiga kaki, ujung pedang telah menyentuh sesuatu benda keras.

Ia taruh pedangnya, lalu berjongkok dan menggunakan tangan untuk mengeruk tanah, kemudian dari dalam liang dapat diangkat keluar satu bungkusan.

Bungkusan itu segera dibuka, benar juga terdapat kotak hitam itu.

Melihat kotak sudah dikeluarkan oleh anak muda itu, segera Pokyang Thian berseru.

"Nah, sekarang tentu kalian boleh membuka Hiat-toku bukan?"

"Baiklah,"

Kata It-hiong.

"Pang-heng, harap bebaskan Hiat-to yang kututuk tadi."

Siapa tahu, belum lenyap suaranya, mendadak Pang Bunhiong berteriak khawatir.

"Awas, ada bahaya!"

"Wutt", mendadak sesosok bayangan melompat keluar dari balik sebuah makam yang berdekatan dari situ, secepat kilat menerjang tiba. Penyergap ini berbaju hitam mulus, membawa Boan-koan-pit, senjata berbentuk potlot. Begitu melompat tiba segera ujung potlot baja menikam kepala Liong It-hiong, gerakannya cepat dan serangannya keji. It-hiong tertawa keras sambil menjatuhkan diri dan menggelinding ke samping sehingga serangan orang terhindar, berbareng ia sambar pedang pandak yang ditaruhnya di samping tadi terus balas menusuk. Tapi pendatang itu juga sangat gesit, sekali luput serangannya segera ia menendang, kedua kaki menendang sekaligus secara berantai. Terdengar suara "plok", kaki kirinya berhasil menendang pergelangan tangan kanan It-hiong yang memegang pedang, menyusul tangan orang berbaju hitam itu meraih, kotak hitam hendak direbutnya.

"Eh, jangan sembrono!"

Teriak It-hiong sambil melejit, dengan gerakan indah kakinya balas mendepak dan tepat mengenai pinggang orang.

Depakan ini cukup keras, kontan orang itu terpental dua tombak jauhnya, namun orang itu memang hebat, dia tidak jatuh terbanting melainkan membalik tubuh selagi terapung di udara, lalu turun ke bawah dengan enteng.

Ia tidak kapok, segera ia menerjang maju lagi.

Akan tetapi saat itu kotak hitam sudah dipegang oleh It-hiong, begitu melihat lawan menerjang tiba, langsung ia sambut orang dengan pedangnya sambil berseru.

"Aha, sahabat, perkenalkan dulu namamu, pedang Liong It-hiong tidak pernah membunuh kaum keroco yang tak bernama!"

Melihat pedang pandak yang dipegang It-hiong, pendatang itu tahu pasti pedang pusaka yang dapat memotong besi serupa merajang sayur, seketika timbul rasa jerinya, cepat ia menahan daya terjangnya, jawabnya sambil tertawa seram.

"Haha, baik, kuberi tahu, aku tidak perlu ganti nama dan tukar she, Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan adanya."

Kiranya dia ini si sastrawan pensil berdarah, malah satu dari Lok-lim-jit-coat, saudara angkat Pokyang Thian.

Air muka Pokyang Thian kelihatan rada berubah, sedapatnya ia memperlihatkan senyum gembira, katanya.

"Ah, Lolak (keenam), engkau sudah datang?!"

Usia Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan belum ada 40-an, wajahnya cukup cakap, tapi sikapnya kelihatan kejam dan seram, sinar matanya mencorong tajam serupa setiap saat hendak mencaplok mangsanya, menakutkan kelihatannya.

Ia mendengar teguran Pokyang Thian, tapi dia tidak balas memandangnya, bahkan melirik pun tidak, ia hanya menjawab dengan terkekeh aneh.

"Hehe, memang betul, kudatang untuk menolongmu!"

"Bersama siapa pula kedatanganmu ini?"

Tanya Pokyang Thian. Dengan tertawa ejek Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan menjawab.

"Tidak banyak, seluruhnya cuma tiga orang saja yang datang kemari termasuk diriku. Siaute, tahu Pokyang-heng tidak suka ada orang lain yang terlalu banyak ikut campur urusan ini, maka tidak berani kuajak teman yang lain lagi."

Pokyang Thian kelihatan kikuk, katanya dengan menyengir.

"Ah, engkau salah paham, Lolak. Soalnya aku tidak sempat memberitahukan kepada kalian, sama sekali aku tidak mempunyai pikiran ingin menarik keuntungan untuk diri sendiri ...."

Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan tidak menggubrisnya lagi, ia pandang Liong It-hiong sambil menyeringai, katanya.

"Lionghiap, sudah lama kudengar nama kebesaranmu, cuma malam ini sudah menjadi tekadku akan mengambil kotak hitam ini, hendaknya kau tahu gelagat sedikit dan janganlah melawan."

"Hahaha!"

It-hiong tergelak.

"Aku Liong It-hiong justru seorang yang tidak mau tahu gelagat, ibaratnya sebelum melihat peti mati takkan menangis, sebelum tiba saat terakhir takkan menyerah. Maka kalau engkau menghendaki peti ini, kau perlu perlihatkan sejurus dua dulu kepadaku."

"Baik, segera akan kuperlihatkan padamu!"

Jengek Hiat-pitsiucay. Bicara sampai di sini, segera ia berpaling dan berseru.

"Ayo keluarlah, Hek-pek-ji-long!"

Air muka It-hiong dan Bun-hiong sama berubah demi mendengar sebutan "Hek-pek-ji-long"

Atau kedua serigala hitam dan putih.

Hampir setiap orang persilatan pasti tahu dua orang bersaudara yang berjuluk Hek-pek-ji-long ini, sebab mereka adalah jago kelas tinggi dunia persilatan yang sudah terkenal sejak beberapa puluh tahun yang lalu.

Bicara tentang ilmu silat, mereka pasti tidak di bawah Koh-ting Tojin, Kim-kong Taysu dan lain-lain, dalam hal kebesaran nama bahkan boleh dikatakan tidak di bawah siapa pun, sebab kisah hidup mereka memang sangat istimewa, mereka dibesarkan oleh seekor induk serigala.

Konon pada lebih 50 tahun yang lalu, mereka diketemukan oleh seorang kosen dunia persilatan di tengah suatu gerombolan serigala.

Tokoh kosen itu menghalau kawanan serigala itu dan membawa mereka kembali ke dunia manusia.

Setelah dididik selama belasan tahun barulah sifat manusia mereka dapat dikembalikan sebagian.

Lantaran sejak kecil mereka hidup di tengah kawanan serigala, gerak-gerik mereka menjadi gesit dan cekatan luar biasa, maka setelah berhasil menguasai ilmu silat, Kungfu mereka tambah mengejutkan, kemudian orang kosen itu meninggal dunia, mereka lantas berkelana di dunia Kangouw, tidak lama kemudian lantas terkenal sebagai Hek-pek-ji-long.

Banyak jago kelas tinggi dikalahkan mereka.

Cuma, meski ilmu silat mereka cukup tinggi, namun dalam pandangan orang dunia persilatan mereka bukanlah "tokoh", sebab mereka suka bertindak ngawur, tidak dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, tindak tanduknya tidak mempunyai pendirian, asalkan ada orang mengundang mereka makan minum sepuasnya dan mereka pun siap menjual nyawa bagi siapa pun, jadinya serupa dua ekor anjing piaraan saja.

Begitulah, maka ketika Hiat-pit-siucay berteriak, serentak Hekpek-ji-long melompat keluar dari tempat sembunyinya, sekali lompat saja lantas berada di depan.

Usia Hek-pek-ji-long ini sudah di atas 60-an, yang satu berbaju hitam dan yang lain berbaju putih, wajah sama jelek dan seram, sama sekali tidak berbau manusia.

Senjata yang digunakan Hek-long atau serigala hitam adalah Song-bun-kiam, pedang kematian.

Sedangkan senjata Peklong atau serigala putih adalah sepasang golok.

Segera Hiat-pit-siucay mengangkat Boan-koan-pit dan memberi tanda menyerang berbareng, ia sendiri lantas melompat mundur.

Hek-pek-ji-long serupa dua ekor anjing yang sudah terlatih, begitu melihat perintah sang majikan, serentak mereka menubruk ke arah It-hiong dan Bun-hiong.

Begitu menubruk maju segera serigala hitam menusuk Bunhiong dengan pedangnya.

Serigala putih menerjang It-hiong, ia putar kedua goloknya dan menyerang tanpa kenal ampun.

Terpaksa It-hiong berdua menyambut serangan mereka, tapi baru saling gebrak beberapa jurus It-hiong berdua sudah tercecer hingga rada kelabakan.

Gerak serangan Hek-pek-ji-long selain aneh dan cepat luar biasa, setiap jurus serangannya sangat berlawanan dengan peraturan ilmu silat umumnya dan di luar dugaan, ketambahan lagi sifat mereka yang liar dan suka berkelahi, maka pertarungan mereka dilakukan dengan kalap, hanya menyerang tanpa bertahan, sebab itulah sejak mulai mereka sudah di atas angin sehingga It-hiong berdua terdesak mundur melulu.

Melihat Hek-pek-ji-long pasti di atas angin, Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan tidak perlu lagi membantu mereka, ia lantas mendekati Pokyang Thian, dengan tertawa yang dibuat-buat ia berkata.

"Eh, Pokyang-heng, kenapa engkau hanya berbaring saja dan tidak mau bangun?"

"Ah, jangan bercanda, Lolak,"

Jawab Pokyang Thian dengan menyengir.

"Tadi kudatang tepat pada waktunya sehingga berhasil menyelamatkan kotakmu, coba cara bagaimana engkau akan berterima kasih padaku?"

Tanya Giok-koan dengan tertawa.

"Kita kan saudara sendiri, bagaimana kalau separuh-separuh?"

Jawab Pokyang Thian.

"Aha, bagus sekali!"

Seru Hui Giok-koan dengan tertawa senang.

"Jika begitu, lekas kau bebaskan Hiat-toku, mereka telah menutuk Hiat-to kelumpuhanku,"

Seru Pokyang Thian.

"Baik, akan kubebaskan dirimu,"

Hui Giok-koan mengangguk. Habis berkata, Boan-koan-pit yang dipegangnya mendadak menikam ke hulu hati Pokyang Thian. Keruan Pokyang Thian menjerit.

"Aduhhh!"

Seketika matanya terbelalak lebar seperti tidak percaya kepada apa yang terjadi, teriaknya pula dengan suara gemetar.

"Ah, Hui Giok-koan, keji ... keji amat kau ...."

Hui Giok-koan menarik Boan-koan-pitnya yang berlumuran darah, ucapnya dengan tertawa.

"Ah, jangan berkata begitu, apa yang kulakukan ini kan cuma membebaskanmu dari penderitaanmu saja."

Pokyang Thian tidak bersuara lagi, sebab dia memang benar telah mendapatkan "pembebasan", pembebasan segalanya, hanya kedua matanya saja yang tetap mendelik sebesar gundu, agaknya mati pun dia masih penasaran.

Hui Giok-koan mendepak mayat Pokyang Thian sambil memaki.

"Bedebah, jika mati penasaran boleh kau mengadu saja kepada Giam-lo-ong (raja akhirat) di neraka sana."

Ebook oleh . Dewi KZ Scan book oleh . BBSC

Jilid 8 Dalam pada itu Liong It-hiong dan Bun-hiong sudah beberapa puluh jurus bergebrak dengan Hek-pek-ji-long, mereka telah mengeluarkan segenap kemahiran Kungfunya tetap juga sukar menahan serangan kedua serigala hitam putih yang lihai itu.

Liong It-hiong merasa kotak hitam itu masih dikuasai olehnya, rasanya tidak perlu mengadu jiwa dengan lawan, segera ia berteriak.

"Pang-heng, ayolah kita angkat kaki saja!"

Sambil berteriak sekuatnya pedang menyabet sehingga serigala putih terpaksa melompat mundur, kesempatan itu digunakan oleh It-hiong untuk melompat ke belakang terus kabur secepatnya.

Tentu saja serigala putih tidak tinggal diam, ia berteriak aneh terus mengejar.

Agaknya Hui Giok-koan sudah mempunyai perhitungan yang mantap, ia tidak membantu serigala putih untuk mencegat Liong It-hiong, malahan ketika dilihatnya Ithiong melarikan diri, segera ia menubruk ke arah Pang Bunhiong.

Karena seruan It-hiong, selagi Bun-hiong hendak ikut kabur, mendadak dirasakan angin tajam menyambar dari belakang, ia tahu Hui Giok-koan sedang menyerangnya, cepat ia mengelak, berbareng pedangnya balas menebas.

Hui Giok-koan menangkis dengan potlot bajanya, menyusul dengan jurus "Tiam-ciok-sing-kim"

Atau menutuk batu menjadi emas, ia tusuk pinggang lawan sambil mengejek.

"Hehe, rebahlah anak muda!"

"Kentut busuk!"

Teriak Bun-hiong dengan gusar sambil berkelit, berbareng pedang balas menusuk muka orang.

Tapi pada saat itu juga pedang serigala hitam telah menyambar tiba, mengancam kaki kirinya.

Terpaksa Bun-hiong menarik kembali pedangnya untuk berjaga, ia tangkis serangan serigala hitam, habis itu sekali berputar ia tebas pinggang Hui Giok-koan.

Sebenarnya serangan ini hanya gerak tipu saja, dilihatnya Hui Giok-koan melompat mundur, serentak ia angkat langkah seribu alias kabur.

Siapa tahu, baru saja tubuhnya melayang ke atas, tahu-tahu pedang si serigala hitam menyambar tiba pula dari sebelah kiri dengan cara yang aneh dan tak terduga.

Terpaksa Bun-hiong angkat pedang buat menangkis lagi, karena tubuhnya terapung di udara, ketika kedua pedang beradu, ia tidak tahan, seketika ia tergetar mencelat ke sana.

Kesempatan itu digunakan oleh Hui Giok-koan untuk memburu maju, Boan-koan-pit terus mengetuk dan tepat mengenai betis kanan Bun-hiong.

Keruan Bun-hiong menjerit kesakitan dan terbanting ke tanah serta tidak sanggup bangun lagi.

Tulang betisnya tidak sampai patah atau retak, namun sakitnya jangan ditanya lagi, hampir saja ia kelengar.

Sambil mendengus potlot baja Hui Giok-koan menutuk lagi dan tepat mengenai Hiat-to kelumpuhan, katanya.

"Rebah dan istirahatlah!"

Mestinya pedang serigala hitam juga menusuk, mendengar itu ia urung menyerang dan bertanya.

"Tidak kau bunuh dia?"

"Tidak,"

Kata Giok-koan.

"Akan kugunakan dia untuk menukar kotak itu."

Serigala hitam memandang ke sana, katanya.

"Tapi entah lari ke mana bocah tadi?"

"Jangan khawatir."

Kata Hui Giok-koan dengan tertawa.

"Umpama adikmu tidak berhasil menyusulnya, kuyakin sebentar dia akan putar balik kembali."

Dalam pada itu Liong It-hiong sudah kabur meninggalkan tanah pekuburan itu, sedangkan serigala putih masih terus mengejar.

Ketika melihat Bun-hiong tidak ikut lari, ia merasa tidak pantas menyelamatkan diri sendiri, segera ia berhenti dan melintangkan pedang di depan dada sambil membentak.

"Berhenti! Coba jawab dulu pertanyaanku!"

Si serigala putih benar-benar berhenti, tanyanya sambil menyeringai.

"Kau mau tanya apa?"

"Kalian bersaudara dibayar berapa oleh Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan sehingga kalian mau membantunya?"

Tanya Liong It-hiong. Serigala putih memperlihatkan lima jari, jawabnya dengan tertawa.

"Lima kati, lima kati Hoa-tiau (nama arak)."

"Hah, cuma segitu? Terlampau pelit!"

Ucap It-hiong.

"Apa katamu?"

Serigala putih melengak. It-hiong mengangkat kotak hitam, katanya dengan tertawa.

"Yang diincar Hui Giok-koan adalah kotak ini. Meski isi kotak ini bukan harta benda mestika, namun nilainya sukar ditaksir. Dia minta kalian membantunya merampas kotak ini, tidak pantas kalau dia begitu pelit, hanya memberi lima kati Hoatiau saja kepada kalian."

"Selain lima kati Hoa-tiau, masih ditambah lagi sepuluh kati daging,"

Tukas serigala putih.

"Ah, masih tetap kikir,"

Ujar It-hiong sambil menggeleng.

"Bilamana aku, paling sedikit akan kuberi kalian lima ratus tahil perak."

"Tidak, kami tidak mau perak, kami hanya menghendaki barang makanan,"

Kata serigala putih.

"Perak kan dapat dibelikan makanan, masa kalian tidak mau terima uang perak?"

Ujar It-hiong heran.

"Kami tidak dapat membeli, kami hanya dapat makan,"

Sahut Pek-long alias serigala putih.

"Oo, kiranya begitu, jadi barang siapa minta bantuan kalian, cukup mereka memberi makan kepada kalian dan segala apa pun akan kalian kerjakan!"

"Ya, begitulah,"

Jawab serigala putih sambil mengangguk.

"Baik, aku akan memberi sepuluh kati Hoa-tiau dan 20 kati daging kepada kalian, mau?"

Tanya It-hiong.

"Sepuluh kati Hoa-tiau itu berapa jumlahnya?"

Tanya serigala putih dengan bingung.

"Kira-kira satu gentong sebesar ini,"

Ucap It-hiong sambil kedua tangan membuat suatu lingkaran besar. Serigala putih merasa senang, serunya.

"Ha, jika begitu, berapa pula banyaknya 20 kati daging itu?"

"Ada sebanyak seekor anjing, cukup dimakan tiga hari oleh kalian,"

Tutur It-hiong.

"Baik, boleh kau berikan kepada kami sepuluh kati Hoa-tiau dan 20 kati daging, lalu takkan kubunuh dirimu,"

Kata serigala putih dengan kegirangan.

"Selain itu kalian harus juga membantuku membereskan Hiatpit-siucay Hui Giok-koan itu,"

Tukas It-hiong.

"Maksudmu, harus kubunuh dia?"

Serigala putih menegas.

"Ya, betul,"

It-hiong mengangguk. Serigala putih tertegun dan berpikir sejenak, katanya kemudian sambil menggeleng.

"Tidak boleh, ia bilang akan pemberi lima kati Hoa-tiau dan sepuluh kati daging kepada kami, tidak boleh kubunuh dia."

"Coba jawab, mana lebih banyak antara lima kati dan sepuluh kati?"

Tanya It-hiong tiba-tiba.

"Hm, dengan sendirinya sepuluh kati lebih banyak, jangan kau kira aku tidak dapat terhitung,"

Jengek serigala putih dengan lagak cerdas.

"Kalau sudah tahu sepuluh kati lebih banyak daripada lima kati, kan harus kau turut kepada perkataanku dan jangan tunduk kepadanya,"

Ucap It-hiong dengan tertawa. Kembali serigala putih berpikir sejenak, lalu tanya.

"Kapan akan kau beri sepuluh kati Hoa-tiau dan dua puluh kati daging kepada kami?"

"Setelah membunuh Hui Giok-koan segera akan kubawa kalian ke kota untuk makan minum,"

Jawab It-hiong.

"Betul, tidak dusta?"

Serigala putih menegas.

"Pasti tidak kujilat kembali,"

Jawab It-hiong.

"Jilat kembali apa?"

Tanya serigala putih dengan bingung.

"Maksudku pasti tidak ingkar janji, takkan menjilat kembali apa yang sudah kukatakan,"

Tutur It-hiong.

"Dan kalau dusta, engkau mengaku sebagai anak kura-kura, jadi!"

"Baik,"

Sahut It-hiong.

"Ayo berangkat!"

Kata Pek-long akhirnya, segera ia putar balik dan lari ke pekuburan tadi.

Sudah lama It-hiong mendengar cerita bahwa Hek-pek-ji-long mudah dipikat dengan hadiah, sungguh tak terduga sedemikian gampang caranya.

Tentu saja ia sangat girang, segera ia pun berlari ke sana.

Hanya sebentar saja kedua orang sudah lari kembali sampai di lereng bukit tadi, tertampak Bun-hiong menggeletak di situ, keruan It-hiong terkejut, cepat ia tanya.

"He, Pang-heng, bagaimana keadaanmu?"

Karena Hiat-to kelumpuhan tertutuk, Bun-hiong tidak dapat bergerak sehingga masih terbujur di situ, jawabnya.

"Ai, untuk apa kau kembali lagi?"

Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan terbahak-bahak, katanya terhadap si serigala hitam.

"Coba lihat, tidak keliru bukan dugaanku tadi?"

Hek-long atau serigala hitam memperlihatkan rasa kagum, jawabnya.

"Ya, engkau sangat pintar."

Dengan potlot bajanya Hui Giok-koan mengancam hulu hati Pang Bun-hiong, kembali ia bergelak tertawa dan berkata.

"Nah, Liong-hiap, engkau lebih mengutamakan kotak hitam itu atau mementingkan sahabatmu ini?"

It-hiong berkerut kening dan tidak menjawab. Mendadak serigala putih berseru.

"Koko, lekas binasakan dia!"

Tentu saja serigala hitam melongo bingung tanyanya.

"Membinasakan siapa?"

Serigala putih menuding Hui Giok-koan dengan goloknya dan berkata.

"Dia!"

Kembali serigala hitam melenggong.

"Sebab apa?"

Serigala putih menuding It-hiong dan menjawab.

"Ia berjanji akan memberi kita sepuluh kati Hoa-tiau dan dua puluh kati daging sapi."

Serigala hitam tampak bingung, ucapnya.

"Mana lebih banyak, 10 kati Hoa-tiau dan 20 kati daging atau lima kati Hoa-tiau dan sepuluh kati daging?"

"Ai, sungguh bodoh engkau ini, dengan sendirinya 10 kati Hoa-tiau dan 20 kati daging lebih banyak,"

Seru serigala putih dengan lagak lebih pintar.

"Hah, bagus!"

Teriak serigala hitam dengan gembira, segera pedang bergerak dan bermaksud menyerang Hui Giok-koan. Air muka Hui Giok-koan tampak berubah, cepat ia membentak.

"Nanti dulu!"

Serigala hitam bergaya siap serang, tanyanya.

"Kau mau bicara apa?"

Dengan gemas Hui Giok-koan menuding Liong It-hiong, teriaknya dengan garang.

"Dia menipu kalian, tidak nanti dia mau memberikan 10 kati Hoa-tiau dan 20 kati daging kepada kalian."

"Tidak, dia sudah berjanji,"

Sela serigala putih.

"Dia menyatakan kalau membohongi kami, maka dia mengaku sebagai anak kura-kura (kiasan anak jadah)."

Tampaknya Hui Giok-koan sangat memahami perangai Hekpek-ji-long, segera ia berseru pula.

"Jika begitu, akan kuberi 30 kati Hoa-tiau dan 30 kati daging kepada kalian."

"Maksudmu, pemberianmu itu jauh lebih banyak daripada pemberiannya?"

Tanya serigala putih.

"Betul,"

Jawab Giok-koan. Dengan menyesal serigala putih lantas berkata kepada Liong It-hiong.

"Wah, maaf, sekarang dia memberi terlebih banyak, terpaksa tidak dapat kuturut perkataanmu lagi."

Habis bicara segera ia mendesak maju ke ah It-hiong. Cepat It-hiong menggoyang-goyang kedua tangannya dan berseru.

"Sabar dulu, sabar! Dia hanya memberi 30 kati, sekarang kuberi 60 kati, kalian tetap menurut saja kepadaku."

"Enam puluh kati itu berapa?"

Tanya serigala putih dengan bingung.

"Satu kali lebih banyak daripada 30 kati,"

Jawab It-hiong. Kembali hati si serigala putih tergelitik, ia berpaling dan tanya serigala hitam.

"Koko, dia bilang 60 kati satu kali lebih banyak daripada 30 kati, kau mau tidak?"

"Apa benar dia tidak membohongi kita?"

Serigala hitam menegas.

"Pasti benar, tidak nanti dia berani menipu kita,"

Ucap serigala putih dengan penuh keyakinan.

"Sebab dia sudah menyatakan, bila dia menipu kita, maka dia adalah anak kurakura."

"Baik kita terima,"

Jawab serigala hitam, sembari bicara segera ia hendak melancarkan serangan. Cepat Hui Giok-koan berteriak.

"Nanti dulu! Biarlah kuberi kalian seratus kati Hoa-tiau dan seratus kati daging."

Seketika serigala hitam mengurungkan lagi serangannya dan bertanya.

"Apakah seratus kati terlebih banyak daripada enam puluh kati?"

"Tentu saja jauh lebih banyak,"

Jawab Hui Giok-koan. Serigala hitam sangat senang, serunya.

"Nah, adikku, dia bilang seratus kati jauh lebih banyak daripada enam puluh kati, jadi kita tetap menuruti kehendaknya saja."

"Biar kuberi seribu kati Hoa-tiau dan seribu kati daging kepada kalian!"

Tanpa ayal It-hiong lantas berteriak pula.

"Haha, tidak perlu dijelaskan lagi juga kutahu, tentu seribu kati jauh lebih banyak daripada seratus kati, bukan?"

Seru Pek-long dengan tertawa lebar.

"Betul, lebih banyak sepuluh kali,"

Sambung It-hiong.

"Nah, Koko,"

Serigala putih berpaling kepada serigala hitam.

"kita bekerja bagi orang lain dengan tujuan bisa banyak mendapat makanan dan arak, jika dia mau memberi seribu kati, kita ...."

Tidak kepalang rasa gemas Hui Giok-koan, dengan gusar ia mengentak kaki dan berteriak.

"Huh, seribu kati saja terhitung apa? Biar kuberi kalian lima ribu kati Hoa-tiau dan lima ribu kati daging."

Tampaknya ia khawatir Liong It-hiong akan menyaingi lagi dengan harga lebih tinggi, dengan bengis ia mendahului menuding anak muda itu dan membentak.

"Ayo, berani kau buka mulut lagi segera kubinasakan kawanmu ini!"

Ketika melihat Bun-hiong sudah jatuh dalam cengkeraman musuh tadi, saat itu juga ia sudah tahu kotak hitam itu sukar dipertahankan lagi.

Sebabnya dia berlomba tawar-menawar jasa Hek-pek-ji-long, tujuannya hanya ingin membuat utang lawan menumpuk setingginya sehingga mendatangkan kerepotan di kemudian hari.

Dengan tertawa It-hiong lantas menjawab.

"Baiklah, aku menyerah, engkau yang menang, engkau yang berhasil membeli mereka."

"Tidak jadi kau beri Hoa-tiau dan daging kepada kami?"

Tanya serigala putih. It-hiong berlagak serbasusah, ucapnya.

"Aku tidak punya cukup uang untuk membeli lima ribu kati Hoa-tiau dan lima ribu kati daging, sebaliknya dia punya, terpaksa aku menyerah padanya."

"Jika begitu, kami harus menurut kepada perkataannya dan akan membunuhmu,"

Kata serigala putih.

"Tidak perlu kalian membunuhku, yang dikehendaki dia hanya kotak ini saja,"

Ujar It-hiong.

"Betul tidak, Hiat-pit-siucay?"

Hui Giok-koan mengangguk.

"Betul, asalkan kau serahkan kotak itu, segera engkau dan Hou-hiap yang menggeletak ini boleh pergi dengan bebas."

"Jika kau ingkar janji berarti engkau anak kura-kura,"

Tukas Ithiong.

"Selamanya orang she Hui kalau bilang satu tidak pernah berubah menjadi dua,"

Kata Hui Giok-koan.

"Baik, ambil ini!"

Seru It-hiong sambil melemparkan kotak hitam. Hui Giok-koan menangkap kotak itu dari benar juga ia tidak membikin susah Pang Bun-hiong, lalu melompat mundur dan membentak.

"Ayo berangkat, Hek-pek-ji-long!"

Tanpa bicara Hek-pek-ji-long ikut pergi. Mendadak Liong It-hiong berteriak.

"Hek-pek-ji-long, jangan lupa dia sudah berjanji hendak memberi lima ribu kati Hoatiau dan lima ribu kati daging kepada kalian."

"Tidak, kami tidak lupa,"

Jawab serigala putih dari kejauhan, sudah belasan tombak jauhnya mereka berlari pergi bersama Hui Giok-koan dan akhirnya menghilang dalam kegelapan.

It-hiong lantas mendekati Bun-hiong, katanya dengan tertawa sambil berjongkok di sampingnya.

"Apakah Hiat-tomu tertutuk?"

Bun-hiong menghela napas, katanya.

"Betul, cuma yang paling celaka adalah kaki yang terketuk ini, hampir kumati kesakitan!"

Segera It-hiong membuka Hiat-to orang yang tertutuk, lalu menggulung kaki celananya, tertampak bagian betis merah, bengkak dari matang biru, ia terkejut, tanyanya dengan khawatir.

"Retak tidak tulangnya?"

"Tidak, kalau patah kan runyam,"

Jawab Bun-hiong.

"Tadi kusuruh kau lari, kenapa tidak kau lakukan?"

Tanya Ithiong.

"Tentu saja aku ingin lari, tapi tak dapat lari,"

Jawab Bunhiong.

"Ai, akibat dirimu kotak hitam itu jadi hilang lagi,"

Ucap Ithiong. Dengan mendongkol Bun-hiong menjawab.

"Hm, bisa juga kau bicara demikian. Kalau tidak ada aku tentu sejak tadi tamat riwayatmu."

It-hiong tertawa.

"Baik, tidak kusalahkan dirimu lagi. Marilah kita pulang."

Bun-hiong meraba betisnya yang bengkak, katanya.

"Jangan tergesa dulu, sekarang aku masih kesakitan setengah mati dan tidak sanggup berjalan."

It-hiong berpaling dan memandang jenazah Pokyang Thian, katanya kemudian sambil menggeleng.

"Orang she Hui itu sungguh berhati keji, sampai saudara angkat sendiri juga dibunuhnya."

"Ini menandakan biarpun mengangkat saudara juga tidak ada gunanya, makanya tidak nanti aku mengangkat saudara denganmu,"

Ujar Bun-hiong. It-hiong tertawa.

"Belum pernah kuminta mengangkat saudara denganmu, buat apa kau bicara demikian?"

Bun-hiong juga tertawa, tanyanya.

"Eh, mengapa dengan begitu saja kau serahkan kotak hitam itu kepadanya?"

"Sebab kalau kotak hilang masih dapat dicari kembali, sebaliknya bila kau mati kan tidak dapat hidup lagi,"

Ujar Ithiong. Bun-hiong tersenyum.

"Kita bukan saudara angkat segala, buat apa kau tolong diriku?"

"Justru lantaran kita bukan saudara angkat, makanya harus kuselamatkan nyawamu,"

Jawab It-hiong.

"Dan sekarang kotak itu sudah hilang dibawa lari, apa rencanamu sekarang?"

Tanya Bun-hiong.

"Akan kubawa Ni Beng-ai untuk menemui Tui-beng-poan-koan To Po-sit,"

Jawab It-hiong.

"Apa dengan cara demikian akan dapat menemukan kembali kotak itu?"

It-hiong menggeleng.

"Tidak, sementara ini takkan kupikirkan kotak itu."

"Sebab apa?"

Tanya Bun-hiong.

"Setelah kupikir pergi datang, aku merasa tidak perlu membuang nyawa bagi kotak itu,"

Kata It-hiong.

"Bila sekarang kurebut kembali kotak itu soal lain tidak kuketahui, yang jelas kawanan Lok-lim-jit-coat yang lain seperti Ang-liusoh Ban Sam-hian, Cian-in-jiu Loh Bok-kong, Kim-ci-pa Song Goan-po, Tok-gan-bu-siang Ong Siang dan Cong-jing-bin Seng It-hong pasti akan muncul susul-menyusul, sebab itulah lebih baik bagiku untuk menunggu dan melihat dulu, akan kutunggu bilamana mereka sudah saling labrak hingga kehabisan tenaga dan ambruk sendiri barulah kuambil kembali kotak itu."

"Masa engkau tidak khawatir dalam pada itu ada orang akan membuka kotak itu dan membawa lari isinya?"

Tanya Bunhiong dengan tertawa.

"Jika Pokyang Thian saja tidak mampu membukanya, orang lain pasti sukar juga membukanya,"

Ujar Liong It-hiong.

"Kupikir di antero kolong langit ini cuma ada dua orang saja yang mampu membukanya."

"Dua orang siapa?"

Tanya Bun-hiong.

"Yang satu adalah orang yang memasukkan barang ke dalam kotak itu."

"Dan seorang lagi ialah si tokoh misterius di Cap-pek-pan-nia itu, bukan?"

Tukas Bun-hiong.

"Tepat!"

It-hiong mengangguk.

"Sampai saat ini mungkin kedua orang itu belum lagi mengetahui kotak hitam itu sedang menjadi incaran orang banyak,"

Kata Bun-hiong.

"Betul,"

Sambung It-hiong.

"Adapun kecuali kedua orang itu, barang siapa berani sembarangan membuka kotak itu, mungkin mereka akan ikut meledak sehingga hancur lebur oleh obat pasang yang terisi di dalam kotak."

"Sebab itulah engkau tidak khawatir akan kehilangan kotak itu,"

Tukas Bun-hiong dengan tertawa.

"Betul, sebab itulah satu-satunya urusan yang akan kita kerjakan sekarang adalah membawa Oh Beng-ai untuk menemui To Po-sit."

Terbeliak mata Bun-hiong.

"Apa katamu? Kau bilang KITA?"

It-hiong mengangguk.

"Ya, kita, kecuali engkau tidak mau ikut pergi."

"Bukankah kemarin kau bilang tak dapat membawaku menemui To Po-sit, kenapa sekarang pendirianmu berubah?"

It-hiong menengadah memandang bintang yang bertaburan di langit, jawabnya dengan tertawa.

"Sebab cuaca malam ini sangat indah."

Dengan pedang terhunus Bun-hiong berdiri, tulang betis terasa sangat sakit, dengan kening bekernyit ia berkata.

"Wah, tidak sanggup, aku tidak dapat berjalan ...."

"Akan kugendongmu,"

Kata It-hiong, segera ia tarik Bun-hiong ke punggungnya dan dibawa lari ke bawah bukit.

***** Pada suatu pagi hari yang cerah, dengan menumpang sebuah kereta mewah Liong It-hiong datang ke Boan-wan-jun.

Jalan Kembang yang pada malam hari ramai dikunjungi orang itu, pada pagi hari kelihatan sepi lengang.

Pintu setiap rumah hiburan itu masih tertutup rapat, para perempuan hiburan itu masih tidur nyenyak, sudah menjadi kebiasaan mereka, kalau hari sudah lewat tengah hari barulah mereka bangun.

Habis itu berdandan dan makan siang, lalu siap bekerja lagi menerima tamu.

It-hiong turun dari keretanya, ia pesan kusir supaya menunggu, lalu ia mengetuk pintu Boan-wan-jun.

Sampai sekian lamanya ia mengetuk pintu baru kelihatan seorang pesuruh membuka pintu dengan mata masih sepat, begitu pintu terbuka ia lantas mengomel.

"Ai, Tuanku, pagi baru tiba engkau sudah datang kemari, masa .... Aduh, ampun, kiranya Liong-kongcu adanya! Wah, maaf hamba bermata lamur, sungguh pantas mampus!"

Setelah tahu siapa yang mengetuk pintu, seketika sikap pesuruh itu berubah, cepat ia memberi hormat dan berulang minta maaf. Sambil melangkah ke dalam rumah It-hiong bertanya.

"Di mana Giok-nio?"

"Dia masih tidur, masih tidur, biar hamba membangunkan dia,"

Seru si pesuruh dengan cengar-cengir, segera ia hendak lari ke dalam. Tapi It-hiong lantas mencegahnya.

"Tidak perlu, boleh kau pergi tidur lagi, akan kubangunkan dia sendiri."

Pesuruh itu menjura dan mengiakan.

It-hiong tidak bicara lagi, langsung ia menuju ke belakang.

Setiba di luar kamar Giok-nio, ia coba pasang telinga, setelah tidak terdengar suara mendengkur orang lelaki barulah ia mengetuk pintu.

"Siapa itu?"

Tanya Giok-nio di dalam dengan suara yang kemalas-malasan.

"Aku?"

Jawab It-hiong dengan tertawa.

"Kekasihmu!"

Giok-nio mengenali suaranya, cepat ia bangun dan berpakaian, lalu membuka pintu kamar, tegurnya dengan tertawa genit.

"Kenapa sepagi ini sudah datang kemari?"

It-hiong menyelinap ke dalam kamar, lalu berjongkok melongok kolong tempat tidur, kemudian membuka lemari dan menggeledahnya.

"Hei, apa yang kau cari?"

Tanya Giok-nio dengan terkesiap.

"Gendakmu!"

Kata It-hiong dengan tertawa.

"Buset!"

Seru Giok-nio dengan tertawa.

"Jika engkau sembarangan omong lagi, nanti takkan kugubris lagi dirimu."

It-hiong terus mendekapnya dan menciumnya di sana-sini.

Giok-nio tidak melawan, juga tidak menolak dan membiarkan anak muda itu menciumnya.

Sudah dapat hati It-hiong terus merogoh rempela, mendadak ia angkat si nona dan dibawa ke tempat tidur.

Keruan Giok-nio menjadi tegang, ia meronta dan berseru.

"Hei, kau mau apa? Lekas lepaskan, jangan sembrono!"

"Memangnya kenapa?"

Ujar It-hiong dengan tertawa.

"Tidak, tidak boleh,"

Seru Giok-nio dengan marah.

"Wah, mana tahan!"

Kata It-hiong dengan tangan sibuk menggerayang. Giok-nio memukul dadanya dan berkata.

"Jika engkau sembrono lagi segera aku menjerit minta tolong!"

"Boleh saja menjerit,"

Kata It-hiong. Benar juga, segera Giok-nio pentang mulut hendak berteriak. Tapi It-hiong keburu mendekap mulutnya dan berkata.

"Baik, jangan berkaok, biar kuampunimu."

Habis berucap nona itu lantas dilepaskannya. Muka Giok-nio tampak merah dan napas tersengal, katanya.

"Ai, engkau ini juga tidak genah, serupa lelaki busuk yang lain saja, aku tidak gubris padamu lagi."

"Tidak gubris padaku?"

It-hiong menegas.

"Ehm,"

Giok-nio mengangguk.

"Betul?"

It-hiong menegas pula.

"Ya,"

Kembali si nona mengangguk. It-hiong menyengir.

"Wah, jika begini terpaksa aku pulang saja."

Sembari bicara ia terus putar tubuh dan mau tinggal pergi. Giok-nio menjadi kelabakan malah, cepat ia berseru.

"Hei, nanti dulu!"

"Ada apa lagi?"

It-hiong berhenti dan tertawa.

"Kan belum kau ceritakan cara bagaimana kau selesaikan orang yang bernama Tam Pek-sun itu, kenapa kau pergi begitu saja?"

Ujar Giok-nio.

"Habis, engkau tidak menggubrisku lagi,"

Ujar It-hiong. Giok-nio tertawa, ia mendekati anak muda itu dan memegang bahunya, katanya.

"Mari, asalkan pakai aturan sedikit tentu kugubris."

"Engkau bukan Ni Beng-ai, cara bagaimana aku harus pakai aturan!"

"Tapi apa pun juga aku masih suci bersih,"

Kata si nona. It-hiong tersenyum, katanya.

"Baik, mari kita duduk dan bicara ...."

Ia membawanya duduk di tepi tempat tidur, lalu berkata pula dengan tertawa.

"Biar kuberi tahukan padamu, hendaknya engkau jangan kaget. Orang yang mengaku bernama Tam Pek-sun itu sesungguhnya bernama Pokyang Thian dan berjuluk In-tiong-yan, saat ini dia sudah mati."

"Hah, kau bunuh dia?"

Seru Giok-nio dengan terkejut. It-hiong menggeleng.

"Tidak, aku tidak membunuhnya, dia mati di tangan seorang saudara angkatnya yang bernama Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan. Kemarin malam, setelah aku dan Pang Bun-hiong membawanya pulang ke hotelnya, kemudian dia mengaku bahwa kotak hitam yang dirampasnya dariku itu ditanam di suatu tanah pekuburan. Kami lantas menyewa kereta dan membawanya ke pekuburan itu ...."

Begitulah ia lantas menceritakan apa yang terjadi di pekuburan itu semalam. Giok-nio terkejut mengikuti kisah itu, katanya.

"Wah, dan kotak itu telah dibawa lari begitu saja oleh orang yang bernama Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan?"

It-hiong mengiakan.

"Lantas bagaimana keadaan luka Pang-kongcu?"

Tanya Gioknio.

"Tidak terlalu parah, selang dua hari pun akan sembuh,"

Jawab It-hiong.

"Dan sekarang bagaimana rencanamu?"

Tanya pula Giok-nio.

"Kupikir hendak mengajakmu piknik ke Bok-jiu-oh,"

Kata Ithiong.

"Kotak itu tidak kau urus lagi!"

"Tidak mau lagi. Kotak itu adalah benda yang membawa alamat jelek, barang siapa memperolehnya akan tertimpa sial. Aku kan orang baik-baik, buat apa mencari penyakit sendiri?"

Giok-nio berpikir sejenak, katanya kemudian dengan tertawa.

"Benar juga kotak itu tidak kau urus lagi. Barang itu memang membawa alamat tidak baik ...."

"Eh, coba kau permisi dulu kepada Gui-coa-yo, keretaku sudah menunggu di luar, ayolah segera kita berangkat pesiar ke Bokjiu-oh."

Giok-nio mengiakan, ia beranjak keluar. Tak lama kemudian ia sudah kembali, katanya dengan tertawa.

"Beres. Biar kuganti pakaian dulu dan segera kita berangkat. Sekarang silakan engkau keluar sebentar."

"Bawalah dua potong baju lebih banyak,"

Kata It-hiong.

"Buat apa?"

Tanya si nona.

"Bilamana cukup menyenangkan, boleh kita tinggal beberapa hari di sana,"

Ujar It-hiong.

"Wah, jangan,"

Kata Giok-nio.

"Kau khawatir kuganggu dirimu?"

"Habis engkau sudah terbiasa begitu, mau tak mau aku harus waspada."

"Jangan khawatir,"

Ujar It-hiong dengan tertawa.

"Jika hendak kuganggu dirimu, di sini juga dapat kulakukan. Cukup kututuk Hiat-to kelumpuhan dan Hiat-to bisu, membuatmu tidak dapat bergerak dan bersuara, kan dapat kulakukan sekehendakku atas dirimu?"

"Engkau harus bersumpah takkan menggangguku,"

Pinta Giok-nio.

"Boleh,"

Jawab It-hiong sambil berdoa.

"Malaikat mahasakti, aku Liong It-hiong bersumpah, bilamana tanpa persetujuannya kuganggu dia, biarlah aku mati di atas tubuh orang perempuan."

"Buset, masa mati di atas tubuh orang perempuan kau anggap sebagai semacam hukuman?"

Tanya Giok-nio dengan melenggong.

"Tentu saja juga semacam hukuman,"

Jawab It-hiong.

"Coba pikir, bilamana seorang lelaki mati di atas tubuh orang perempuan, kan serbasusah dia."

Giok-nio mengomel.

"Tampaknya mati pun engkau rela asalkan tidur dengan orang perempuan. Tidak bisa, sumpah lagi sekali!"

"Baik,"

Kata It-hiong.

"Malaikat mahakuasa, bilamana kuganggu Giok-nio, biarlah kalau mati aku dijerumuskan ke neraka."

"Nah, mendingan begitu,"

Ujar Giok-nio dengan tertawa.

"Sekarang keluarlah sebentar."

Dengan tersenyum It-hiong keluar kamar.

Giok-nio menutup pintu kamar dan mulai ganti baju dan berdandan.

Tidak terlalu lama ia membuka pintu, terlihat dia bersolek dengan sederhana tapi anggun, sedikit pun tidak ada tandatanda sebagai anak perempuan dunia hiburan, malahan kelihatan terlebih cantik.

"Sudah beres?"

Tanya It-hiong dengan tertawa.

"Ya, boleh tidak aku berdandan begini?"

Tanya si nona dengan tertawa. It-hiong mengangguk memuji.

"Bagus setali, memangnya engkau harus berdandan cara begini baru memper bernama Ni Beng-ai."

Giok-nio tersenyum menggiurkan, katanya.

"Marilah berangkat!"

Segera kedua orang meninggalkan Boan-wan-jun dengan menumpang kereta. Setelah kereta keluar kota, langsung menuju ke Bok-jiu-oh, danau tanpa sedih.

"Di mana Pang-kongcu?"

Tanya Giok-nio.

"Dia tinggal di hotel dan merawat lukanya,"

Jawab It-hiong.

"Kan menumpang kereta, kenapa tidak mengajaknya serta?"

Ujar Giok-nio.

"Ia bilang cuma akan merusak suasana saja bila berada bersama kita, maka tidak mau ikut,"

Tutur It-hiong dengan tertawa.

"Baik juga dia ...."

Ujar Giok-nio dengan tersenyum.

"Kau suka padanya?"

Tanya It-hiong.

"Jangan sembarang omong,"

Jawab Giok-nio.

"Aku cuma bilang dia cukup baik, memangnya, engkau lantas cemburu?"

It-hiong terbahak.

"Haha, masa aku cemburu. Soalnya bilamana kau suka padanya, sedikit pun aku takkan marah dan menyesal."

"Sebab apa?"

Tanya Giok-nio.

"Sebab dia memang ada segi-segi yang patut disukai, aku juga sangat suka padanya,"

Jawab It-hiong.

"Kalian tidak duel lagi?"

Tanya Giok-nio dengan tertawa.

"Sekarang kami tidak ingin duel lagi, aku tidak sampai hati melukai dia."

"Ilmu silat kalian Pendekar Naga dan Pendekar Harimau sama tingginya, bilamana kalian mau bergabung untuk kerja sama, berbuat amal dan membantu kaum lemah, tentu kalian akan dapat berbuat banyak."

It-hiong tersenyum.

"Jika benar demikian jalan pikiranmu, kami berjanji pasti takkan membuatmu kecewa."

Ia memandangnya dengan lekat-lekat, tanyanya kemudian dengan tersenyum.

"Giok-nio, apakah nama aslimu ialah Ni Beng-ai?"

Mendadak Giok-nio menunduk dan tidak menjawab.

"Eh, kenapa?"

Tanya It-hiong. Giok-nio terdiam agak lama baru mengangkat kepalanya, katanya dengan tertawa.

"Namaku memang betul Beng-ai, hanya tidak she Ni ...."

Sebenarnya It-hiong sudah mengambil keputusan, asalkan si nona mengaku sebagai adik perempuan Oh Kiam-lam, maka si nona akan dianggapnya sebagai gadis keluarga baik-baik dan takkan main gerayang lagi kepadanya.

Segera ia tanya.

"Engkau tidak she Ni, habis she apa?"

"Aku ... aku she Oh ...."

"She kan bukan sesuatu dosa, kenapa mesti mengaku she Ni?"

"Sebagai perempuan hiburan yang hina dina, buat apa segala sesuatu bicara terus terang kepada orang?"

"Betul juga ucapanmu, jika, begitu kakakmu bernama Oh Lam-hui, begitu?"

"Ya,"

Giok-nio mengangguk. Melihat si nona belum lagi mau mengaku sebagai adik perempuan Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam, It-hiong rada kecewa juga, ia angkat pundak dan berkata.

"Ai, bilamana kakakmu tidak mati, tentu engkau takkan telantar dan terjerumus di dunia hiburan seperti ini."

"Mungkin sudah suratan nasib,"

Ucap Giok-nio dengan tersenyum getir.

"Tapi mengapa engkau tidak mau menikah saja?"

Ujar Ithiong.

"Dalam keadaan tidak punya sanak kadang cara bagaimana aku dapat menikah? Masa aku harus mendatangi setiap orang dan bertanya apakah mau menikahiku? Cara bagaimana aku dapat bicara demikian?"

"Dan engkau lantas terjerumus ke jurang pelacuran seperti ini?"

"Ya,"

Jawab Giok-nio.

"Sejak kecil aku memang hidup miskin dan susah, hampir tidak pernah hidup senang satu hari pun. Makanya aku menjadi nekat dan memutuskan akan mencari makan berdasarkan sedikit parasku yang lumayan ini, sedapatnya ingin hidup layak."

"Dan sekarang apakah kau rasakan hidup dengan baik dan layak?"

Tanya It-hiong. Giok-nio menggeleng, ucapnya dengan tersenyum getir.

"Sekarang menyesal pun sudah terlambat."

"Kukira belum terlampau lambat, asalkan engkau bertekad akan kembali ke tengah masyarakat yang baik engkau pasti dapat hidup dengan baik."

"Bicara sih gampang,"

Ujar Giok-nio dengan menghela napas.

"Sekali terpeleset menyesal selama hidup, ingin sadar kembali pun sudah terlambat."

"Memangnya engkau sendiri merasa tidak sanggup kembali lagi ke jalan yang baik?"

Tanya It-hiong.

"Bukan begitu soalnya,"

Kata Giok-nio.

"Aku cuma merasa orang baik sukar dicari. Setiap tamu yang datang mencari hiburan hampir seluruhnya bukan ... bukan suami idaman ...."

"Termasuk aku?"

Tanya It-hiong dengan tertawa. Giok-nio tersenyum malu, katanya.

"Engkau harus dikecualikan, cuma aku cukup menyadari, orang luar biasa seperti dirimu tidak nanti penujui bunga layu semacam diriku ini."

"Engkau bukan bunga layu, engkau kan masih suci bersih,"

Kata It-hiong.

"Siapa yang mau tahu?"

Ujar Giok-nio.

"Sekali anak perempuan sudah terjerumus ke dunia hina ini, biarpun dicuci di sungai Kuning juga takkan bersih."

"Jangan engkau menyesali diri sendiri,"

Kata It-hiong.

"Yang suka padamu bukan cuma aku saja, si Pang Bun-hiong pun pernah berkata padaku, katanya bilamana aku tidak mau padamu dia yang mau."

Muka Giok-nio menjadi merah dan bersuara.

"Oo, lantas bagaimana jawabmu?"

"Aku tidak menjawabnya,"

Tutur It-hiong.

"Cuma, kecuali aku mati, kalau tidak, mana ada kesempatan baginya untuk mendapatkan dirimu."

Dengan perasaan mesra Giok-nio memandangnya, katanya dengan gembira.

"Engkau tidak ... tidak dusta padaku?"

"Asalkan engkau tidak dusta padaku, pasti aku pun tidak dusta padamu,"

Kata It-hiong. Mendadak ia menguap kantuk.

"Semalaman aku tidak tidur dengan baik, sungguh sekarang aku ingin tidur."

"Silakan tidur,"

Kata Giok-nio.

It-hiong tidak bicara lagi, ia bersandar ke belakang, sebentar saja ia benar tertidur.

Sang surya sudah condong ke barat, kereta itu masih terus melanjutkan perjalanan, sejauh itu Liong It-hiong masih tertidur dengan lelap.

Sering Giok-nio melongok ke luar kereta, memandang panorama di luar, lama-lama ia tidak sabar dan juga merasa sangsi, ia lantas mendorong It-hiong sambit berseru.

"Hei, bangun, bangun!"

It-hiong membuka mata, tanyanya.

"Ada apa?"

"Sejak pagi kau tidur sampai sekarang, kan sudah cukup,"

Kata si nona. It-hiong kucek-kucek matanya yang masih sepat, ucapnya.

"Oo, waktu apa sekarang?"

"Sudah dekat magrib,"

Jawab Giok-nio. It-hiong melongok ke luar kereta, lalu berkata.

"Kiranya sudah seharian dalam perjalanan, rasanya aku baru tidur sebentar saja."

"Kita ini kesasar atau tidak?"

Tanya Giok-nio tiba-tiba.

"Kesasar? Mana bisa?"

Kata It-hiong.

"Menurut cerita orang, letak Bok-jiu-oh tidak terlampau jauh, sedangkan kita sudah seharian dalam perjalanan, mengapa belum lagi sampai?"

"Mungkin sudah dekat,"

Ujar It-hiong.

"Coba tanya si kusir, mungkin benar kesasar,"

Kata Giok-nio. It-hiong menyingkap tabir kereta dan tanya si kusir.

"Hei, bung, apa kamu tidak salah jalan?"

"Tidak."

Jawab si kusir.

"Berapa lama lagi baru akan sampai di Bok-jiu-oh?"

"Kira-kira dua jam lagi."

"Masa begitu jauh?"

"Ya."

It-hiong menurunkan tabir lalu tanya Giok-nio.

"Engkau lapar tidak?"

Terlihat air muka si nona seperti menahan sesuatu perasaan, jawabnya.

"Tidak terlalu lapar, cuma aku ... aku ingin turun sebentar ...."

"Mau apa?"

Tanya It-hiong. Muka Giok-nio menjadi merah.

"Mau kencing!"

Ucapnya lirih.

"Oo,"

Kembali It-hiong menyingkap tabir dan berseru kepada sais.

"Hei, bung, berhenti dulu!"

Kusir mengiakan dan menghentikan keretanya. It-hiong membuka pintu kereta dan memapah Giok-nio turun, tanyanya.

"Perlu kuantar tidak?"

"Tidak perlu, biar kupergi sendiri,"

Jawab si nona. Ia terus menuju ke dalam hutan di tepi jalan sana, tidak lama kemudian ia sudah kembali dan naik ke atas kereta lagi, katanya.

"Baiklah, lanjutkan perjalanan."

Maka kereta lantas dilarikan pula ke depan. It-hiong mengeluarkan sebungkus makanan katanya.

"Mari kita makan, ini kubawa dari hotel."

Makanan yang dibawanya terdiri dari macam-macam laukpauk gorengan dan ada lagi kue tawar. Rupanya Giok-nio suka makan gorengan sayap ayam, ia pilih sepotong sayap dan dimakan dengan nikmatnya.

"Lengkap juga perbekalanmu, sungguh rapi cara berpikirmu,"

Kata si nona.

"Semua ini khusus disiapkan untukmu,"

Kata It-hiong.

"Maka harus kau makan sekenyangnya."

"Lekas kau pun makan,"

Ajak Giok-nio.

Tanpa bicara lagi It-hiong lantas makan kue dan lauk-pauk lain.

Hanya sebentar saja sebungkus makanan itu sudah disapu bersih oleh mereka.

Lalu It-hiong mengeluarkan sebotol arak, katanya.

"Ini bukan arak melainkan air minum biasa, kau mau minum tidak!"

"Mau berikan secangkir padaku,"

Pinta Giok-nio sambil mengangguk. It-hiong mengeluarkan pula sebuah mangkuk, dituangnya setengah mangkuk air minum itu kepada si nona, katanya dengan tertawa.

"Jika ini arak, berani kau minum tidak?"

"Berani,"

Jawab Giok-nio sambil menerima mangkuk air itu. It-hiong tersenyum.

"Masa engkau tidak takut akan mabuk?"

"Tidak,"

Jawab si nona.

"Sebab apa?"

Tanya It-hiong.

"Sebab engkau sudah bersumpah takkan menggangguku,"

Kata Giok-nio. Habis berkata ia terus minum semangkuk air itu.

"Hihi, engkau terperangkap,"

Ucap It-hiong dengan tertawa.

"Apa katamu?"

Berubah juga air muka Giok-nio.

"Telah kutaruh obat tidur di dalam air, segera engkau akan jatuh pingsan,"

Kata It-hiong tertawa. Tentu saja Giok-nio tidak percaya, ia mencemooh.

"Huh, jangan kau takut-takuti aku."

"Tidak, aku bicara sesungguhnya,"

Kata It-hiong.

Baca Juga: Pendekar Baja 3

Baca Juga: Pedang Dan Kitab Suci 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert