Tiga Mutiara Mustika 3

Eps 3 Tiga Mutiara Mustika - Gan Kl

Baca online Tiga Mutiara Mustika - Gan Kl

Cersil Tiga Mutiara Mustika - Gan Kl.

Atau orang she Li bulu angsa, mungkin karena kemahirannya dalam ilmu mengentengkan tubuh sungguh luar biasa, laksana seenteng bulu angsa, maka ia dijuluki serupa itu sampai nama aslinya sendiri terlupakan.

Go-mo Li terhitung tingkatan tua dari Ko-yang-pay dan seperguruan dengan "Sip-tiat-hong' Ie Djan.

ilmu silatnya tinggi, belasan tahun yang lalu ia adalah begal tunggal yang berkeliaran di sekitar Tiang-kang, belakangan ia baru memasuki Pek-lian-kau dan diberi pangkat sebagai Tjiangkun' atau jenderal, kini ia mengiringi Ang-koh membikin pergerakan untuk agama mereka ke berbagai tempat.

Ketika Gui Djing-si dengan akal bulusnya menggondol lari 'Ting-hong-tju', mutiara anti angin, Go-mo Li dan Ang-koh sebenarnya pun sudah bersembunyi di sekitar markas Mo-djitje, begitu ia mengetahui Gui Djing-si kabur dengan menggondol mutiara mestika, segera pula mereka menguntit di belakangnya.

Memang Gui Djing-si lagi apes, maka di tengah jalan ia sudah dicegat oleh Ang-koh dan hanya dengan tiga kali gebrakan saja imam celaka itu sudah tak berdaya dan menyerahkan mutiaranya yang ia dapat dari mengakali orang.

Siapa tahu bahwa belalang menangkap tonggeret dikuntit burung gereja di belakangnya, malam itu juga Gui Djing-si dibawa Bun Sui-le pergi mencari padanya hingga akibatnya terjadilah pertarungan ramAi seperti apa yang telah diceritakan di depan.

Pertarungan yang tidak sampai tuntas itu disebabkan Angkoh ada janji dengan Hian-hong Totiang, maka ia tidak ingin bertempur terus, sebaliknya Bun Sui-le kuatir kalau si gadis itu masih mempunyai kawan yang mengumpet di sekitar situ, maka ia pun tidak mengejar, ia hanya balik masuk ke dalam rumah gubuk dimana tadi Ang-koh tinggal untuk memeriksanya, tanpa disengaja ia menemukan sebuah pening besi, barang ini ialah apa yang disebut 'Thian-hu' oleh orang Pek-lian-kau, ialah barang yang hanya dimiliki oleh pemimpin dari agama liar itu, barang itu gunanya untuk menunjukkan kedudukan pemegangnya di antara sesama anggota agama.

Oleh karena kehilangan pening besi yang sangat penting itu, maka belakangan Ang-koh mengumpulkan Liok-ni Tjindjin dan Go-mo Li untuk mengadakan rapat di atas kapal yang mempunyai ruangan susun itu, dengan tugas supaya mereka mencari kembali 'Thian-hu' yang hilang itu.

Mengenai janji pertemuan antara Ang-koh dengan Tjianpwe seperguruan mereka, Hian-hong Totiang, hal ini disebabkan karena ia mendengar di samping Ie Djan dan kawan-kawan yang dikirim untuk mengawal mutiara mestika, diam-diam Hian hong Totiang diundang pula sebagai pelindungnya.

Ang-koh tidak gentar terhadap le Djan dan kawan-kawan, namun ia jeri kepada Hian-hong Totiang, oleh sebab itu ia berjanji untuk bertemu dengannya, maksudnya ialah memohon Hian-hong supaya jangan ikut campur tangan.

Namun Hian-hong yang sudah mempunyai kedudukan baik dalam kalangan persilatan, ia tidak ingin melakukan perbuatan yang mengingkari peraturan Kangouw, malam itu ia tidak pergi menemui Ang-koh menurut apa yang telah dijanjikan, sebaliknya ia memerintahkan le Djan berangkat setengah hari lebih ga-sik, sudah itu baru ia menyusul untuk memapak Angkoh dengan maksud menasehatinya jangan turun tangan.

Tak ia duga, begitu iring-iringan kereta sampai di hutan Tjo, mereka sudah kena diingusi oleh Teng Hong-ko dan kawan-kawan, hingga kereta nomor tujuh kena dilarikan.

Apabila kemudian Hian-hong Totiang pun sampai di hutan itu, namun Hong-ko sudah telanjur kabur.

Sedang Giok-bin-yao-hou waktu nampak Hian-hong, segera ia mengenali kaum Tjianpwe yang telah datang, karena gurunya dengan Hian-hong mempunyai hubungan baik, ia pun mengetahui kelihaian Hian-hong, maka seketika itu juga ia lantas angkat kaki, sedang Hian-hong pun tidak mengejarnya, bahkan ia mengaku pada le Djan sebagai seperguruannya.

Kala itu masih ketinggalan Yan Ie-lam suami isteri yang masih belum bisa meloloskan diri, sedang Hian-hong berniat meringkus mereka untuk memberi pertanggung-jawabannya kepada Tjhi Djin-ho, tak terduga sekejap itu Ang-koh pun muncul.

Sebenarnya gadis itu lagi mendongkol karena imam tua itu tidak menepati janji pertemuan mereka, waktu bertemu ia sudah dapat menduga imam di depannya ini tentu ialah Hianhong Totiang, berbareng itu ia pun mengetahui kereta ;udah dilarikan orang, maka makin mengkal hatinya.

Karena itu juga, maka sewaktu ia melihat Hian-hong hendak mengejar Yan Ielam berdua, lantas ia sengaja membikin susah imam tua itu, ia minta agar mereka berdua itu dilepaskan pergi.

Dengan tindakannya itu pertama-tama ia hendak membiarkan Hian-hong kehilangan keretanya tanpa ada seorang pun penjahat yang ditangkapnya, dengan demikian sulitlah baginya mempertanggung-jawabkannya.

Kedua, karena pada malam itu di Pek-hoa-ho ia sudah mendapat kabar bahwa Yan Ie-lam adalah wakil pemimpin dari Ang-tingkau di Soatang yang memuja Tjosu yang sama dengan Peklian-kau.

maka sekalian ia memberikan jasa baiknya terlebih dahulu.

Yan le-lam sendiri yang bisa lolos dengan gampang, ia pun merasa terheran-heran oleh sebab itu.

Sebenarnya Ang-koh bermaksud agar muatiara mestika yang kedua pun bisa sekalian diperolehnya, tak ia duga rencananya gagal bahkan pening besi 'Thian-hu' yang ia bekal malah hilang, oleh karena itu ia lalu mengumpulkan pemimpin Pek-lian-kau setempat untuk merundingkan bagaimana menangkap Giok-bin-yao-hou untuk memperoleh kembali 'Thian-hu' miliknya, dengan begitu ia tidak sampai mendapat teguran dari Kau-tju atau ketua agama mereka.

Liok-ni Tjindjin dan Go-mo Li yang mendapat tugas melaksanakan penangkapan itu, mereka mendapatkan kabar bahwa Giok-bin-yao-hou sudah kabur menuju ke Mo-dji-tje, maka kedua orang itu lantas mengerahkan pengikut-pengikut mereka dari berbagai kalangan dan berbondong-bondong mengeluruk ke Mo-dji-tje, hingga akibatnya Liok Ing, Mo Djit dan banyak lain-lainnya dibunuh habis.

Waktu itu sebenarnya Giok-bin-yao-hou justru sampai di luar markas Mo-dji-tje, tetapi begitu menampak pasukan besar yang membanjir, seketika itu juga ia kabur, oleh sebab itulah Go-mo L i menubruk tempat kosong.

Begitulah kisah mengenai si gadis, Ang-koh.

Sementara itu, Teng Hong-ko yang ikut Yan Ie-lam berdua kembali ke Pekhoa-ho, untuk beberapa lama ia tinggal di tempat ini.

Pada suatu pagi hari.

Teng Hong-ko berjalan-jalan ke bukit di sebelah belakang kediaman mereka.

Waktu itu kabut pagi baru saja buyar, burung-burung ramai berkicauan, ia memandang ke arah Pek-hoa-ho atau sungai bunga putih, air sungai yang bening laksana cermin dihiasi oleh sinar sang surya yang menyorot kemerah-merahan, mulai menjulang ke angkasa raya di sebelah timur, sinar matahari yang menyorot menembus gumpalan awan membuat bumi yang luas menuju ke suasana yang ramai saja.

Selagi Hong-ko menikmati pemandangan alam yang cantik indah itu, tiba-tiba ia melihat di tepi sungai sedang berdiri seorang gadis dengan potongan langsing menarik laksana bidadari dari kayangan.

Gadis itu berdiri mungkur, agaknya masih belum mengetahui bahwa dirinya sedang diincar orang di atas bukit, terlihat ia sedang berjongkok dan dengan mencerminkan diri di air sungai ia tengah menyisir rambutnya yang hitam gombyok, sepasang tangannya tertampak sebatas pergelangan tangan, putih laksana salju dan memakai dua gelang, pinggangnya yang ramping menggiurkan membikin hati Hong-ko berdebar dan jantungnya berdenyut.

"Di perkampungan ini yang tinggal semuanya laki-laki yang tegap gagah, darimana bisa terdapat seorang gadis secantik ini?"

Begitu ia berpikir dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

Tengah ia terpesona, tiba-tiba gadis tadi kebetulan menoleh, waktu ia lihat Hong-ko sedang memandang padanya, ia bersuara kaget.

Mengetahui perbuatannya sudah kepergok orang, lekas Hong-ko turun kembali dari bukit itu dan sedianya hendak terus pulang.

Tak ia duga, tiba-tiba bayangan orang berkelebat, dalam sekejap saja gadis tadi ternyata sudah berdiri di hadapannya.

"Eh. kau mengintai orang lagi menyisir, begitu saja kau lantas hendak mengeluyur pergi?"

Tegur gadis itu dengan suara merdu.

Bun Sui-le mengajak Hong-ko ke tepi sungai.

Hong-ko jadi terperanjat ketika tahu-tahu orang sudah berada di depannya.

Apabila kemudian ia menegasi, maka ia menjadi terkesima.

Gadis itu berkulit putih bersih dan cahaya mukanya terang, kedua matanya jeli bersinar tajam.

Tersorot oleh sinar matanya itu, seketika ia seperti terpengaruh dan tak berani memandang terus ke arah gadis itu.

Hong-ko insyaf gadis ini pasti ahli silat juga, maka ia tak berani sembarangan.

"Harap nona suka memaafkan,"

Katanya lekas.

"Tjayhe (aku, kata-kata yang merendah) tadi tidak lain sedang berjalan-jalan, sesungguhnya tidak sengaja hendak mengintai nona sedang menyisir."

Dalam pada itu, rupanya gadis itupun sedang mengamatamati padanya.

"Siapakah saudara, sudah dua hari aku di sini, mengapa masih belum pernah berjumpa dengan kau?"

Tanyanya tibatiba sambil melangkah maju. Atas pertanyaan itu. seketika Hong-ko menjadi bingung dan tak dapat menjawab.

"Ehm, mengapa tak kau jawab?"

Terdengar gadis itu mendesak pula.

"Tjayhe bernama Siau Kim-kong, baru kemarin datang ke sini bersama Yan-toako!"

Terpaksa Hong-ko menyahut.

"Oh, kiranya adalah Teng Hong-ko Hengte, beruntung sekali kita bisa bertemu"

Tiba-tiba gadis itu berkata dengan tertawa.

Begitu wajar tertawanya, sedikitpun tiada tanda dibuatbuat dan genit, seperti sebagai tanda sambutan baik terhadap Hong-ko.

Belum pernah ada kesempatan Hong-ko bergaul dengan lawan jenisnya, oleh karenanya kini ia menjadi kikuk dan serba salah karena kebohongannya terbongkar.

Tetapi pandangan mata gadis itu ternyata semakin tajam menatap Hong-ko, hingga pe muda itu menunduk makin dalam karena kikuknya.

"Teng-hengte, katanya kau adalah seorang lelaki yang luar biasa, mengapa menampak aku menjadi begitu malu-malu, apa kau takut padaku?"

Tiba-tiba gadis itu menjawil lengan bajunya.

"Aku bernama Bun Sui-le, marilah kita omong-omong sambil duduk di atas batu besar di tepi sungai itu."

Mendengar siapa orang dihadapannya ini, Hong-ko menjadi terkejut.

"Eh. kiranya dia inilah yang bernama Giok-bin-yao-hou Bun Sui-le, mengapa ia bisa datang di Pek-hoa-ho sini?"

Begitulah Hong-ko berpikir.

"Kabarnya ia adalah seorang kepala begal di daerah utara Siamsay, tetapi melihat orangnya, siapa bisa percaya dia ini seorang iblis wanita yang membunuh orang tanpa berkedip!"

"Kiranya adalah Bun-tjetju."

Katanya kemudian sembari memberi hormat.

"Harap maafkan aku yang kurang hormat, kapankah Tjetju datang ke sini?"

"Hari itu kau melarikan kereta di luar hutan, wanita yang berkedok itu bukankah diriku!"

Sahut Giok-bin-yao-hou sembari berjalan menuju ke tepi sungai.

"Belakangan aku menuju ke Mo-dji-tje dengan tujuan untuk mencari pemimpin dari Liong-bun-pang, tak tahunya Mo-dji-tje sudah kena diobrak-abrik oleh gerombolan Pek-lian-kau, baru setelah itu aku menuju ke sini untuk memberi kabar, tidak terduga Tjukat Beng dan kawan-kawan siang-siang sudah datang lebih dulu daripadaku."

Mendengar keterangan itu, barulah Hong-ko tahu bahwa wanita berkedok yang memakai cambuk bukan lain ialah Giokbin-yao-hou, apabila hari itu tidak berkat dia menahan 'Siptiat-' >ng' le Djan, maka tidak mungkin dengan begitu gampang dirinya bisa melarikan kereta, karenanya dalam hati lantas timbul perasaan terima kasih Sementara itu Bun Sui-le sudah duduk di bawah pohon Liu yang rindang sedang Hong ko duduk sambil bersandar pada batu padas.

"Hari itu berkat bantuan Tjetju, Tjayhe masih belum sempat menghaturkan terima kasih, sungguh menyesal sekali,"

Ujar Hong-ko padanya.

"Saudara telah memperoleh sebutir mutiara mereka, betu! Dukan?"

Dengan tertawa Bun Sui-le menyahut.

Terkejut sekali Hong-ko, kali ini ia berhasil merampas Pihwe-tju dari dalam semangka, yang mengetahuinya melulu Yan le-lam suami isteri, tak ia duga Liok-lim wanita mi ternyata sudah mendapat tahu juga, melihat orang memang lihai, maka lekas Hong-ko coba mengalihkan pembicaraannya, la tak berani menyinggung soal Po-tju lagi.

Agaknya Bun Sui-le pun mengetahui pikiran orang, maka ia pun tidak bertanya lebih jauh.

Setelah mereka berdua bercakap-cakap sejenak, tiba-tiba Hong-ko teringat sesuatu.

"Bun-tjetju, Tjayhe tempo hari lewat Un-ho (Terusan besar) kebetulan mengintai sebuah kapal sebelah, ternyata ada seorang gadis yang berusia masih muda sekali, ada orang menyebut padanya Ang-koh, apakah Tjetju mengetahui asalusul gadis itu?"

Tanyanya. Atas pertanyaan orang itu, Bun Sui-le memandang si pemuda.

"Apakah kau merasa heran karena gadis itu? Tetapi sungguh tidak kecil asal-usulnya!"

Sahutnya kemudian. Habis berkata, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah benda terus diserahkan pada Hong-ko.

"Coba kau lihat,"

Sambungnya lagi.

"Barang ini ialah apa yang kaum Pek-lian-kau sebut 'Thian-hu'. bahkan adalah semacam tanda pengenal dari pemimpin mereka, gadis yang kau lihat itu oleh anggota Pek-lian-kau di sekitar Tiang-kang dipanggil sebagai 'Sian-koh" (nona dewi), kedudukannya dalam perkumpulan agama mereka sangat tinggi, aku harap kau tidak akan bertemu dia lagi."

Apa yang disebut 'Thian-hu"

Itu tidak lebih hanya sebuah pening besi yang terukir dengan mantera-mantem.

warnanya ki hitam-hitaman dan mengkilap terkena sinar matahari.

Saat itu pikiran Hong-ko sedang melayang, mehiynnjj jmili ke masa anak-anak, yakni kepada kawan ciliknya.

IV k Ini' dji Waktu perpisahan mereka yang terakhir, ia ikut ayahnya hn-,i bung dengan 'Thong-thian-kiu-tju' Ong Bing, ayah ling dji, IVi Ting-djoan menjabat Kun-su atau kepala staf dalam pcrkuiupul an Pek-lian-kau, kalau begitu, tampaknya bukan mustahil "m koh ini ialah Pek Eng-dji adanya.

Menampak pemuda itu sedang melamun tanpa menghirau kan sekitarnya, Bun Sui-le tersenyum.

"Lagi apakah kau? Apakah sedang mengenangkan v.uli-, itu?"

Godanya. Karena banyolan orang, Hong-ko menjadi jengah, miik.i nya berubah merah.

"Tjetju jangan menertawakan aku."

Lekas ia menjawab "Tadi Tjayhe mendengar Tjetju bilang jangan ketemukan dia aku lalu berpikir, apakah ia itu betul mempunyai tiga kepala dan bertangan enam?"

Ketika sedang asyik mereka berbicara, tiba-tiba mereka di kagetkan oleh seruan yang datang dari belakang mereka.

"Baru-, sekali, baru kamu berkenalan sudah begitu asyik!"

Kiranya yang membentak dari belakang itu ialah It-tun Ki su Si Liang.

Kali ini kedatangan Giok-bin-yao-hou Bun Sui-le ialah untuk menemui pemimpin dari Liong-bun-pang Tju-kal Heng dan lain-lain benggolan dari sekitar Tjwan-siam, oleh karena itu Si Liang menyediakan sebuah kamar tersendiri pada "buah rumah di luar perkampungan mereka.

Bun Sui-le terhitung tokoh nomor satu atau dua dari lunr golan kaum Liok-lim di daerah barat-laut, keganasannya d m ki pandaiannya siapa saja tenfu jeri padanya, maka tiada yang b rani ayal menghadapinya.

Kedatangan Hong-ko kemarin dengan terburu-buru, ia masih belum sempat berkenalan dengan Giok-bin-yao-hou, kini kena digoda oleh perkataan Si Liang, keduanya menjadi jengah.

"Ki-su, kau begini sembrono, sampai apa yang hendak aku tanyakan pada Teng-hengte menjadi terputus oleh karena kau,"

Ujar Bun Sui-le. Melihat orang berkata dengan sikap wajar. Si Liang tak berani menggoda lagi. Maka lekas ia berkata.

"Yan-tayhiap ada di dalam. Ia sedang mencari Teng-hengte!"

Kemudian mereka bertiga lalu bersama-sama kembali ke dalam perkampungan.

Begitulah, dalam dua hari ini begitu ada waktu senggang, segera Bun Sui-le mencari Teng Hong-ko, kadang-kadang membicarakan ilmu silat, kesemuanya Bun Sui-le jauh lebih mengerti dan lebih banyak pengalaman, bahkan kiam-hoatnya yang tunggal 'Thian-mo-kiam-hoat' adalah ajaran tunggal dari Thian-san-pay.

"Bun-tjetju, mengapa tempo hari Hian-hong Totiang mengaku kau sebagai seperguruannya?"

Tanya Hong-ko.

"Cerita itu cukup panjang,"

Sahut Bun Sui-le.

"Selamanya belum pernah aku menceritakan hal itu kepada orang lain. Teng-hengte harus berjanji pegang rahasia, baru aku bisa memberitahukan padamu."

"Tjetju adalah ahli Thian-san-kiam-hoat. terhadap pintu perguruan mengapa harus secara sembunyi-sembunyi begitu?"

Ujar Hong-ko dengan tak mengerti. Atas perkataan orang itu, muka Bun Sui-le berubah merah "Itulah sebabnya aku hendak merahasiakannya,"

Katanya kemudian dengan menunduk.

"Orang-orang Kangouw sekarang ini tiada yang mengetahui asal-usulku, sebabnya ialah selamanya belum pernah aku memberitahukan pada orang."

Ia mendekati Hong-ko, dengan pandangan matanya yang menarik dan mengandung kasih ia melanjutkan pula.

"Teng-hengte, harap jangan kau katakan pada orang lain, aku sebenarnya she Lian, Bun Sui-le hanya nama sesudah aku berkelana, guruku ialah Hong-lui Tjindjin, belakangan ia telah bertirakat ke Thian-san, dengan Ang-ie Lihiap mereka menjadi sahabat kekal dalam dunia persilatan dan sama-sama berdiam di atas gunung itu, hanya yang seorang di sebelah utara dan yang lain di selatan, guruku berdiam di Hong-lui-koan sebelah selatan, ia telah mendapatkan ajaran persahabatan 'Thian-mokiam-hoat' yang tunggal dari Ang-ie Lihiap dan kemudian diturunkan pula padaku, dengan pesan harus memegang teguh dan taat pada larangan perguruan."

"Tak terduga, sesudah aku turun gunung, aku menemukan musuh yang pernah membunuh orang tuaku, seketika itu juga aku melanggar pantangan perguruan dan balas membunuh mereka hingga akhirnya aku hendak digerebek oleh kawanan pemimpin liok lim didaerah barat laut, dengan sekaligus pula akhirnya aku dapat mengalahkan mereka semua. Waktu itu 'Hoat-giam-ong' Mo Djit berlawanan dengan aku, tetapi ia kena aku bekuk namun tidak kubunuh, hanya aku mengusir dia dari sarangnya di Djit-hong-san, dengan begitu aku lantas merebut sarangnya itu dan jadilah aku kepala bandit dari Lioklim. Karena aku takut menodai nama peguruan, oleh sebab itu aku tidak berani mengunjukkan asal-usul diriku yang sebenarnya, aku mengaku pada orang sebagai anak murid Khong-tong-pay."

Setelah mengetahui riwayat hidupnya yang ringkas, Hongko merasa wanita ini walaupun melakukan pekerjaan membunuh dan merampok, tetapi ia sedikitnya masih sadar bahwa perbuatan itu bukan pada tempatnya, terhadap perguruannya ia masih menaruh hormat dan takut pula, orang bilang dia begitu kejamnya, namun mungkin masih dapat diinsyafkan untuk meninggalkan pekerjaan Liok-lim yang tak bersih itu.

Maka lantas ia buka suara pula.

"Kiranya Tjetju berasal dari Thian-san-pay,"

Katanya.

"Tetapi kini tersesat di dalam kalangan Liok-lim, pantas kau menyembunyikan perguruan dan tak mau berterus terang, Tjayhe sungguh ikut menyayangkan diri Tjetju!"

"Betulkah kau ikut menaruh simpati padaku?"

Tiba-tiba Bun Sui-le bertanya.

"Belum pernah aku mendengar orang berkata begitu padaku, mereka selamanya tersenyum dan mengumpak padaku, hanya saudara seorang betul-betul adalah sahabatku!"

"Meskipun Tjayhe lebih muda dari kau, namun masih paham juga akan kebenaran dari orang-orang dunia persilatan."

Kata Hong-ko juga.

"Tjetju bersedia mengikat persahabatan dengan aku, sudah tentu di luar harapanku."

"Betulkah perkataanmu?"

Dengan girang Bun Sui-le menggenggam tangan si pemuda.

"Berapa usiamu tahun ini? Tampaknya kau masih harus panggil Tjitji padaku!"

Kini Hong-ko tidak kikuk seperti dua hari yang lalu, ia hanya merasa tindak-tanduknya dan senyumannya menarik dan suka padanya, maka ia harap bisa lebih banyak berdekatan dengan dia.

Sesudah Hong-ko menerangkan umurnya, ternyata Bun Sui-le tiga tahun lebih tua dari dia.

"Tjitji!"

Begitulah ia berseru pada Bun Sui-le. Bukan main rasa girang Bun Sui-le, sinar matanya kemalumaluan tetapi mukanya berseri-seri.

"Hiante, selanjurnya harap kau lebih berdekatan dengan aku, apabila yang aku perbuat salah, jika kau yang menegurnya bagaimanapun aku tak mungkin gusar,"

Sahurnya.

"Terus terang saja, kalau bukan kau, Hiante, siangsiang aku sudah akan merampas kabur Po-tju yang ada dalam sakumu itu."

Karena perkataan terakhir itu, Hong-ko jadi terperanjat. Melihat wajahnya yang berubah, Bun Sui-le dapat menduga isi hatinya.

"Tak usah kau kuatir,"

Ia menghibur.

"Apa kau masih tidak percaya padaku?"

Dalam saat demikian ini, Hong-ko tidak ingin mengaku bahwa dalam sakunya tersimpan sebutir mutiara, tetapi tak berani pula ia mencoba berdusta, karena itu seketika ia jadi me-lenggong.

Nampak sikap orang itu, Bun Sui-le tertawa cekikikan.

"Lihat sikapmu yang malu-malu seperti anak perempuan saja, coba kau lihat apa ini yang ada dalam tanganku!"

Ujarnya kemudian.

Sesudah itu ia segera merogoh ke saku bajunya, kemudian ia membuka genggaman tangannya, maka sekejap sinar gemerlapan mencorot menyilaukan pandangan mata, di tengah telapak tangannya ternyata adalah sebutir mutiara mestika.

Bukan main terkejutnya Hong-ko, lekas ia meraba ke sakunya, namun mutiaranya ternyata sudah lenyap, ia menjadi bingung sejak kapan dan cara bagaimana mutiara itu bisa berpindah tangan, saking gugupnya ia menjadi merah padam dan memandang orang dengan melongo.

"Hiante, kini sudah kau ketahui bahwa aku sungguh baik hati terhadapmu,"

Terdengar Bun Sui-le buka suara dengan lagu suara yang enak didengar.

"Mutiara yang harganya tak ternilai ini baiknya kau simpan baik-baik, jangan sampai diketahui orang lain, mereka tidak mungkin sama seperti aku bisa mengembalikan pada pemiliknya!"

Cepat saja Hong-ko menerima Po-tju itu. dengan pelahanlahan ia memanggil.

"Tjitji yang baik!"

Sebenarnya ia hendak mengucapkan beberapa patah kata untuk menyatakan rasa terima kasihnya, tetapi entah mengapa hatinya bergoncang keras, ia tak mampu mengucapkannya.

Sementara itu, tiba-tiba muka Bun Sui-le berubah menjadi muram durja.

"Hiante,"

Katanya.

"Malam ini juga aku sudah harus meninggalkan Pek-hoa-ho, entah kapan baru kita bisa bersua kembali!"

Sambil berkata, tenggorokannya menjadi sesak, suaranya pun berubah berat. Hong-ko masih mengira orang lagi berguyon padanya.

"Apa yang sudah kau katakan,"

Tanyanya.

"Jangan kau dustai aku, kita belum merundingkan baik-baik apa yang hendak kita bicarakan di sini, apa mungkin mereka membiarkan kau berangkat tergesa-gesa?"

Ternyata Hong-ko tidak tahu bahwa beberapa hari ini, para benggolan telah mendapat kabar bahwa sebabnya gerombolan Pek-lian-kau mengobrak-abrik Mo-dji-tje tujuannya sebenarnya ialah hendak mencari Giok-bin-yao-hou buat bikin perhitungan, karena ia membawa kabur pening besi, 'Thianhu', benda ini adalah tanda pengenal dari pemimpin Pek-liankau, maka Ang-koh semula hendak mengeluruk sendiri ke Pek-hoa-ho buat mencari Bun Sui-le, tetapi sementara itu telah mendapat laporan bahwa Tjhi Djin-ho masih berdiam di Hoa-san dan Tjin-tju-goan atau topi bertabur mutiara tak lama lagi akan dibawa ke Soatang oleh dua pendekar dari Khongtong pay.

Karena itu Si Liang mengumpulkan para pemimpin untuk berunding, ia mendapatkan satu akal 'It-tjio-dji-niau' atau satu batu dua burung, terangnya sekali tepuk dua lalat, ialah dengan meminta agar Giok-bin-yao-hou suka mengintai ke Hoa-san, markas yang berada di Djit-hong-san di sekitar pegunungan Hok-gu-san, terhadap tempat-tempat itu ia tentu sangat paham sekali, dengan begitu bila ia sudah meninggalkan Pek-hoa-ho, seumpama Ang-koh mengeluruk datang, boleh dengan alasan Bun Sui-le tidak ada di tempat mereka, dengan begitu baru bisa menghindarkan permusuhan dengan kaum Pek-lian-kau.

kedua kalau Bun Sui-le sudah berhasil mengintai gerak-gerik Tjhi Djin-ho, segera mereka akan berangkat buat mencegat Tjin-tju-goan.

Dengan cara mengatur kaum Liok-lim Tjwan-siam ini sebenarnya melanggar kejujuran dan setia kawan dalam kalangan Kangouw, karena 'Hoat-giam-ong' Mo Djit dan 'Pekbin-hou' Liok Ing tempo hari justru tewas di tangan Liok-ni Tjindjin.

seharusnya mereka berusaha membalaskan sakit hati kawan-kawan mereka, namun mereka ternyata berbuat sebaliknya.

Tetapi begitu menyebut Pek-lian-kau, di antara mereka sudah banyak yang jeri terhadap pengaruh dari agama liar itu, ditambah keterangan Yan Ie-Iam yang mengisahkan pengalamannya bahwa kepandaian Ang-koh begitu hebat, sampai Hian-hong Totiang dari Khong-tong-pay harus mengalah padanya, maka tiada yang berani coba-coba mengusiknya, mereka lebih suka mempedayai Bun Sui-le pergi dari tempatnya, untuk menghindarkan permusuhan dengan Ang-koh.

Sudah tentu Bun Sui-le memahami maksud tujuan mereka, semula ia sudah hendak mengumbar kegusarannya, tetapi setelah dipikir lagi kalau sampai bentrok dengan kawanan pemimpin Liok-lim ini juga tiada manfaat baginya, akhirnya ia memutuskan berangkat dari situ untuk bertindak lebih jauh.

Sesudah Bun Sui-le menceritakan rahasia di belakang layar itu, tak tertahan lagi Hong-ko menjadi penasaran, timbul ketidakadilannya.

"Ini usul siapa, hanya seorang pemimpin wanita dari satu agama liar, mengapa harus begitu takut padanya!"

Dengan gemas ia berkata. Namun Bun Sui-le sudah menahannya.

"Hiante tak perlu gusar,"

Ujarnya.

"Kali ini adalah Yan lelam yang mengundang kedatangan berbagai pemimpin Lioklim itu, kini mereka berdua tak berani berlawanan dengan Peklian-kau, siapa lagi yang berani coba-coba mengusiknya. Tapi aku pun mengetahui kesukaran mereka, karena mereka suami isteri adalah pemimpin dari Ang-ting-hwe di Soatang."

Atas perkataan orang itu, tampak Hong-ko terdiam.

"Kabarnya Kau-tju dari Ang-ting-kau pun berasal dari Peklian-kau,"

Terdengar Bun Sui-le melanjutkan lagi.

"Dengan sendirinya mereka dipesan agar jangan bermusuhan dengan Pek-lian-kau. Hanya saja Tju-kat Beng dan kawan-kawan dengan mata kepala sendiri mengetahui saudaranya sendiri dari daerah Tjwan-siam dibunuh orang, mereka sama sekali tidak tergerak perasaannya, sungguh keterlaluan!"

Setelah menceritakan hal itu, dengan rasa masih gemas Bun Sui-le kembali ke kamarnya.

Malam itu juga, Teng Hong-ko yang tidur di atas sebuah loteng kecil, dari jendela memandang air sungai, sinar sang dewi malam yang mencorot terang membikin air sungai menjadi berkilauan.

Selagi ia layap-layap hendak tertidur, mendadak ada angin mendesir kencang dari luar jendela, menyusul itu dengan cepat sekali melompat masuk seorang.

Tanpa ayal Hong-ko segera melompat bangun, ia menyambar pedangnya terus dilolos.

Namun bila kemudian ia menegasi, ternyata yang melompat masuk itu bukan lain ialah Bun Sui-le, jarinya menutup bibirnya dengan maksud agar Hong-ko jangan buka suara.

Lekas Hong-ko menutup rapat daun jendela.

"Le-tjitji, sudah jauh malam, ada keperluan apakah?"

Tanyanya kemudian dengan bisik-bisik.

"Lekas kau berpakaian dan ikut aku berangkat!"

Kata Bun Sui-le.

"Tju-kat Beng dan Liu Ut berdua sudah mengetahui bahwa kau telah berhasil merampas sebutir mutiara, dengan segera mereka akan naik ke sini untuk bikin perhitungan padamu, kau harus berhati-hati!"

Hong-ko menjadi terkejut atas berita itu, karena soal perampasan Po-tju itu adalah Yan Ie-lam suami isteri yang suruh ia menutup rahasia. Sementara itu Bun Sui-le mendesak pula.

"Lekas, kalau terlambat mereka pasti akan datang, lekas kau berangkat bersama aku!"

Pintanya. Seketika itu Hong-ko ternyata tak sanggup mengambil keputusan, ia bergegas menggendong buntalannya.

"Kita menuju kemana? Apa mereka tidak mengejar?"

Tanyanya di samping telinga orang.

"Lekas ikut aku!"

Begitulah Bun Sui-le menjawab dengan singkat.

Sesudah itu mereka mendorong daun jendela terus melompat keluar.

Di luar sinar bulan purnama, lekas mereka mengitar ke belakang perkampungan, mereka mendaki bukit di belakang.

Dengan ilmu entengi tubuhnya, Bun Sui-le menggandeng tangan Hong-ko terus berlari menuju ke atas.

Pada malam hari mereka seperti dua ekor burung garuda yang terbang cepat, se-dikitpun tanpa menerbitkan suara.

Melihat kepandaian berlari cepat dengan enteng Bun Sui-le masih di atas dirinya, diam-diam Hong-ko merasa kagum.

Tidak berselang lama, mereka sudah sampai di dataran atas bukit, di depan mereka penuh puncak yang sandarmenyandar, baru setelah itu Bun Sui-le melepaskan cekatannya, ia masih terus membawa Hong-ko berlari menuju ke barat secepat terbang.

Setelah lewat sekira dua jam, mereka sudah meninggalkan Pek-hoa-ho sejauh belasan li.

Saat itu fajar sudah hampir menyingsing, untuk melepaskan lelah mereka mengaso di bawah pohon yang rindang.

"Tjitji, apakah kau hendak ke Hoa-san untuk mengintai gerak-gerik Tjhi Djin-ho?"

Tanya Hong-ko. Atas pertanyaan itu, Bun Sui-le mengangguk membenarkan.

"Kita telah bercapek-capek lari kian kemari untuk membegal Tjin-tju-goan, kini hanya kau yang mendapatkan sebutir mutiara, sebutir lainnya sudah jatuh di tangan Angkoh,"

Katanya kemudian.

"Kalau kita bisa menuju ke Kim-sokoan di Hoa-san untuk merebut sekalian sebutir Po-tju yang masih ketinggalan itu dari Tjhi Djin-ho, barulah perjalanan kita tidak sia-sia."

Akan tetapi Hong-ko ragu-ragu dengan ucapan orang.

"Tjitji,"

Katanya.

"Aku kuatir beberapa Kiam-khek dari Khong-tong-pay yang tinggal di Hoa-san, kesemuanya termasuk orang-orang yang tidak lemah, hanya dengan kekuatan kita berdua, mungkin masih belum mampu memperoleh mestika itu."

"Mengapa Hiante mengunggulkan kepandaian orang lain dan merendahkan kepintaran sendiri,"

Sahut Bun Sui-le.

"Hendaklah diketahui bahwa Tjitjimu ialah anak murid dari Thian-san-pay dan Hiante adalah jagoan dari Go-bi-pay, apakah kita harus takut mereka?"

Tengah mereka berbicara, tertampak di bawah gunung ada sedikit sinar api, mereka menduga tentu adalah tempat tinggal orang, maka lantas mereka turun dengan pelahan bermaksud meminta sedikit air untuk menghilangkan rasa haus.

Tak tahunya, setelah dekat baru mereka ketahui adalah sebuah kuil yang dikelilingi dengan pagar tembok yang kemerah-merahan, di tengahnya berderet dua pendopo pemujaan dan masih ada sebuah ruangan patung Buddha.

Dari jauh mereka sudah mendengar suara-suara kentongan yang ditabuh, tentu Nikoh yang berdiam dalam kuil itu sedang beribadat pagi.

Bun Sui-le yang sudah banyak berpengalaman, ia mengerti pantangan Kangouw .

"Ketemukan kelenteng masuk sembahyang, berjumpa dengan kuil jangan masuk". Sebabnya ialah 'am-theng' atau kuil pemujaan bagi kaum Nikoh tak bisa dibandingkan dengan kuil tempat Hwesio, ada rahasia yang tak ingin orang luar mengetahuinya, apalagi kuil Nikoh yang berada di tempat terpencil seperti ini. kalau Nikohnya tidak memiliki sedikit kepandaian, mana berani dan tahan terhadap gangguan penjahat dan pencuri. Oleh karena itu diam-diam ia menyuruh Hong-ko membikin enteng tindakannya, mereka tidak mengetok pintu depan, tetapi mengitar ke belakang kuil, mereka melayang naik ke atas pagar tembok. Mereka melihat di atas ruangan susun pemujaan masih ada sinar pelita yang kelap-kelip menyala, dengan gerakan 'Pekho-djiong-siau"

Atau bangau putih menjulang ke angkasa, mereka meloncat menuju ke pagar kayu pada loteng pemujaan itu, di situ Terdapat sebuah jendela bundar, dengan berjinjit-jinjit mereka mendekati jendela itu dan mengintai ke dalam.

Demi melihat ke dalam, seketika itu juga Hong-ko menjadi tercengang.

Ternyata yang duduk di dalamnya bukan lain ialah gadis yang tempo hari dijumpainya di atas kapal yang beruangan susun dulu itu, romannya rada mirip dengan Pek Eng-dji yang ia kenangkan siang dan malam.

Dalam pada itu Bun Sui-le pun sudah mengenali siapa orangnya, ia menoleh dan mengedipi Hong-ko, terus menuding pula ke dalam.

Ketika kemudian Hong-ko melongok lagi, maka terlihat olehnya dari sebelah dalam telah masuk pula seorang Nikoh setengah umur memakai jubah longgar berbelah samping, tindakannya antap, matanya bersinar, gampang orang mengetahui ia adalah seorang padri yang memiliki ilmu silat.

Melihat kedatangan Nikoh itu, gadis yang disebut Ang-koh berbangkit menyambutnya.

"Oh, Subo telah kembali!"

Ia menyapa.

"Sejak sore kemarin sudah kembali, karena Sian-koh tertidur, maka tak berani aku membikin ribut!"

Sahut padri wanita itu.

"Apakah Biau-hoat Tjindjin dari Ang-ting-hwe ada balasannya?"

Tanya si gadis pula.

"Ada."

Sahut si Nikoh sembari duduk.

"Ia bilang semuanya menurut."

Tiba-tiba Ang-koh berbangkit mendekati si Nikoh.

"Apa si Liu Ut itu ada kabar balasan yang dibawakan padamu?"

Dengan suara rendah ia bertanya lagi. Mendengar nama Liu Ut, salah seorang benggolan yang ikut hadir di Pek-hoa-ho, Hong-ko menjadi tergerak hatinya.

"Sian-koh. Liu-thotju telah menerima obat tidur itu, ia berjanji malam ini juga merobohkan Giok-bin-yao-hou dan membiarkan Sian-koh melenyapkan jiwanya,"

Terdengar Nikoh itu menyahut pula. Atas jawaban itu Ang-koh tersenyum.

"Bagus, malam nanti harap Supoh membikin perjalanan bersama aku ke Pek-hoa-ho!"

Ujarnya dengan mantap.

Sampai di sini Giok-bin-yao-hou tak bisa menguasai diri lagi, api amarahnya memuncak, dengan sekali dupak ia bikin terpentang daun jendela, menyusul itu dari luar terus ia membentak.

"Perempuan siluman dari Pek-lian-kau! Bun Sui-le ada di sini, lekas keluar buat menerima kematianmu!"

Habis berkata senjatanya pun segera ia lolos terus melompat maju.

Karena kejadian yang sekonyong-konyong itu, Hong-ko menjadi kaget, lekas ia mendekam di pinggiran talang rumah.

Dalam pada itu, sinar api di dalam loteng tadi dengan cepat pun sudah padam hingga keadaan menjadi sunyi sepi sejenak.

Hong-ko mengerti keadaan sunyi itu tidak lebih hanya pendahuluan dari akan datangnya hujan angin badai.

Ketika ia memandang lagi, ia lihat daun jendela sudah rusak didepak Bun Sui-le tadi, sedang di dalam loteng tadi gelap gulita tak tampak satu bayangan pun.

Mendadak ia mendengar ada suara angin mendesir, menyusul mana dua sinar mengkilap menyambar keluar dari kegelapan itu terus menuju ke muka Bun Sui-le.

Tetapi segera sudah terlihat ia melompat ke samping sambil pedangnya menyampuk, seketika itu juga terdengar suara jatuhnya logam yang gemerincing.

Dalam sekejap itu, sesosok bayangan hitam laksana anak panah pun sudah melayang keluar dari jendela, berbareng itu terlihat sinar padang berkelebat, dengan gerakan 'Lak-gwehui-siang' atau salju bertebaran di bulan enam, ujung pedangnya dengan membawa titik-titik putih yang gemerdep mengurung ke atas kepala Bun Sui-le.

Orang yang melayang keluar ini kemudian dapat dikenali Bun Sui-le, bukan lain ialah Ang-koh itulah.

Giok-bin-yao-hiu sudah banyak berpengalaman dalam pertempuran besar, oleh sebab itu begitu melihat am-gi atau senjata gelap menyambar, ia insyaf segera juga orangnya pasti menyusul sampai juga, maka tak berani ia ayal, Thianmo-kiam-hoat telah ia keluarkan, dengan tipu-tipu serangan dari Thian-san-pay itu ia menangkis serangan musuh tadi hingga menerbitkan suara karena beradunya senjata.

Serangan yang pertama tak berhasil, Ang-koh bergeser ke samping dan menyusul menikam pula dengan gerak tipu 'Thiofiang-hian-eh' atau Thio Liang mempersembahkan sepatu.

Bun Sui-le tak berani gegabah, lekas ia melangkah maju dan senjatanya memutar, dengan sedikit menekuk lutut ia menangkis pula pedang lawan.

Begitulah silih berganti kedua orang itu saling rangsek di atas genteng rumah, saking serunya pertarungan mereka hingga membikin Hong-ko ikut berdebar-debar.

Tidak berselang lama, mereka ternyata sudah bergebrak beberapa puluh jurus, dalam pada itu dari dalam loteng tibatiba melayang keluar pula sesosok bayangan hitam.

"Perempuan liar darimanakah berani datang kemari membikin kacau rumah sunyi ini, sungguh seperti nyamuk menubruk api, cari mampus sendiri!"

Terdengar orang itu membentak.

Menyusul itu, tangannya bergerak, secepat kilat sebelah tangannya menghantam Bun Sui-le.

Mendengar berkesiurnya angin, Giok-bin-yao-hou mengetahui datangnya serangan, ia membalikkan pedangnya untuk menyambut tangan orang.

Sudah tentu bayangan orang yang bukan lain adalah Nikoh tadi, tidak berani mengadu tangannya dengan senjata tajam, ia menekan ke bawah tangannya terus mendadak menonjok lagi ke pinggang lawan.

Sementara itu Bun Sui-le sedang memutar senjatanya menyambut pedang Ang-koh, dengan demikian ia harus menghadapi keroyokan dua orang yang menyerang dari dua jurusan.

Menyaksikan keadaan berbahaya itu diam-diam Hong-ko menguatirkan keselamatannya.

Namun belum sampai ia bertindak, ia lihat dengan tepat Bun Sui-le membalik, berbareng itu secepat kilat sebelah kakinya menendang.

Nikoh itu pun sama sekali tidak menyangka lawannya ternyata bisa begitu lihai, cepat ia harus menarik kembali serangannya tadi namun ilmu tendangan Bun Sui-le cukup terkenal dan disegani, dengan menyambarnya satu bintik putih, kaitan tajam di ujung sepatunya sudah berhasil mampir di jubah Nikoh itu hingga segera terkait robek lebar.

Masih mujur bagi Nikoh itu yang cepat bisa menarik kembali serangannya tadi, kalau tidak, lengannya akan kena digasak oleh serangan tadi.

Rupanya Ang-koh sangat terkejut oleh tipu serangan yang luar biasa itu hingga kawannya kena dipecundangi, lekas ia kencangkan pedangnya untuk memaksa Bun Sui-le tak sempat mendesak si Nikoh lebih jauh.

Kini Nikoh atau Hwesio wanita itu pun tak berani sembrono lagi, ia merobek sekalian lengan bajunya yang terkait robek tadi, sudah itu pada waktu Bun Sui-le sedang menyambut serangan senjata dari kawannya, tak ayal lagi segera ia mengeluarkan pukulan 'Liok-hap-tjio' yang membagi dari dua jurusan kanan dan kiri untuk menggempur Bun Sui-le dari samping.

Karena keroyokan ini, mau lak mau Giok-bin-yao-hou merasa kerepotan juga oleh beberapa kali pukulan si Nikoh.

Dalam sekejap saja kembali belasan jurus telah lewat, dengan satu lawan dua Giok-bin-yao-hou sudah mulai merasakan agak payah, dalam hati ia rada mengomeli Hongkos mengapa tidak tampil maju membantu padanya.

Sementara itu tiba-tiba Ang-koh merubah permainan kiamhoat-nya, ia unjukkan serangan-serangan yang mematikan dari perguruannya, mendadak ia membabat dari samping atas terus ke bawah.

Lekas Bun Sui-le menggeser pergi berbareng pedangnya membalik, dengan gerakan 'Pi-bun-ku-khek' atau menutup pintu menolak tetamu, seketika ia dapat menahan senjata lawan.

Kesehatannya tidak berhenti sampai di situ saja, ia membarengi pula balas menyerang, secepat kilat pedangnya pun ia tusukkan, akan tetapi karena itu ia sendiri pun tak terjaga pula.

Nikoh tadi cukup cepat, ia melayang maju, 'Oh-tiap-tjio' atau pukulan kupu-kupu, ia hantamkan secepat angin, dalam keadaan demikian terpaksa Bun Sui-le harus menarik pedangnya buat membela diri.

Akan tetapi juga pada saat sekejap itu, menyusul pedang Ang-koh pun sudah berkelebat, ujung senjata itu telah menutul ke mukanya.

Diancam bahaya itu, tampaknya Bun Sui-le sudah tidak mungkin bisa menghindarkan diri lagi.

Tak terduga, pada saat itu tiba-tiba terdengar mendesirnya angin, menyusul tangan Ang-koh tergetar pergi dan dengan sekali jeritan ia roboh menggeletak.

Melihat Ang-koh mendadak seperti terkena oleh senjata rahasia dan roboh terguling, selagi Bun Sui-le berniat melompat maju buat menambahi lagi dengan sekali bacokan, namun tiba-tiba Ang-koh meloncat bangun dengan gerakan 'Le-he-pak-ting' atau ikan lele meletik, sembari memegangi tangannya yang agaknya terluka, ia mencelat masuk ke dalam loteng kembali.

Ketika itu dari tempat gelap melayang keluar pula sesosok bayangan hitam, terus menarik tubuh Bun Sui-le untuk kemudian bersama-sama lantas kabur pergi, orang ini bukan lain ialah Teng Hong-ko.

Si Nikoh tadi berdiri di atas emperan rumah dengan jelas menyaksikan mereka berdua kabur dan menghilang dalam malam gelap, ia pun tak berani mencoba mengudak.

Sesudah berlari agak jauh Teng Hong-ko dan Bun Sui-le melambatkan tindakan mereka.

Setelah bertanya, barulah Bun Sui-le mengetahui bahwa tadi Hong-ko yang telah menyambitkan pelor besinya dari tempat gelap hingga mengenai tangan Ang-koh.

Pelor besi yang ia gunakan itu adalah baja hitam yang susah tertampak jelas di malam gelap, ditambah lagi caranya menyambit begitu cepat, Ang-koh yang tak pernah menduga bahwa masih bersembunyi seseorang, lagi pula terlalu bernapsu buat memperoleh kemenangan hingga akhirnya tulang tangannya kena ditimpuk dan roboh, namun segera ia dapat melompat bangun kembali dan berlari masuk ke dalam rumah Begitulah, maka berterima kasih sekali Bun Sui-le terhadap bantuan Hong-ko tadi, kalau tidak, pasti kini ia sudah mandi darah menjadi pecundang kedua musuhnya tadi.

Dalam pada itu, Bun Sui-le menjadi jelas bahwa kini di antara para benggolan di Pek-hoa-ho, Liu Ut, pemimpin dari Ang-hoa-hwe telah bersekongkol dengan Ang-koh hendak merobohkannya dengan obat tidur, untuk mendapatkan kembali pening yang disebut Thian-hu' itu.

Sepanjang malam mereka melanjutkan perjalanan hingga tibanya pagi hari, menuju ke daerah Holam.

Di perjalanan mereka menyamar sebagai suami isteri penjual silat dan akhirnya mereka memasuki daerah Siamsay.

Meski mereka berkumpul bersama, namun Teng Hong-ko adalah seorang laki-laki jujur, Bun Sui-le memang menyukainya dalam-dalam, maka masing-masing tetap saling menjunjung tinggi sopan santun, di malam hari mereka pun tidur terpisah.

Akan tetapi dalam soal perasaan masing-masing sudah banyak bertambah saling pengertian, hingga diam-diam dalam hati Hong-ko pelahan sudah terukir bayangan Giok-bin-yaohou yang tak mungkin dilenyapkan.

Setelah mereka melewati Tjong-kwan, tak lama lagi mereka sudah nampak Thay-hoa-san dengan megahnya berdiri di depan mereka.

Thay-hoa-san atau singkatnya Hoa-san adalah satu di antara lima pegunungan ternama, gunung yang banyak dengan puncak-puncak yang menjulang tinggi ke langit, awan yang bergumpal-gumpal mengitari tengah gunung itu, memang betul-betul suatu pegunungan ternama dan tempat tersohor.

Di atas gunung banyak bangunan rumah biara kenamaan, antara lain dapat disebut 'Kiu-thian-kiong', 'Tjin-bu-tian', 'Kimthian-kiong', 'Tjui-hun-kiong', kesemuanya ini sudah terkenal sebagai rumah yang biasa dipakai bagi kaum pertapaan dan orang yang suka bertirakat.

(Nama-nama rumah biara tersebut di atas hingga kini masih terpelihara dengan baik dan banyak dikunjungi oleh kaum turis di Tiongkok).

Setelah mereka berdua sampai di daerah kabupaten Hoaim-koan, di depan mereka menjulang tinggi tiga puncak gunung yang megah dan dapat terlihat dengan jelas.

"Baiknya kita mencari suatu tempat di kaki gunung buat tempat tinggal kita, setelah kita selidiki jelas keadaan di atas gunung baru kemudian kita berangkat mengeluruk ke sana,"

Ujar Giok-bin-yao-hou pada kawannya.

Hari itu juga mereka sampai di kaki gunung sebelah utara, kebetulan mereka bisa mendapatkan sebuah rumah pemujaan kampungan yang terbuat dari bata, dalam rumah itu hanya tinggal seorang kakek yang biasanya mengurusi orang yang hendak bersembahyang.

Kepada orang tua itu Hong-ko memberikan sekantong gandum, dan sebagai timbal baliknya ia memohon diperkenankan mempergunakan tempat berteduh di belakang rumah itu.

Melihat mereka berdua adalah orang perantauan, kakek itu tanpa sangsi lantas menerima dengan baik.

Di situ mereka tinggal dua hari, di waktu siang hari mereka keluar untuk mencari tahu, hingga akhirnya mereka mengetahui bahwa Tjui-hun-kiong yang menjadi sasaran mereka berada di puncak selatan.

Untuk menuju ke sana harus melalui 'Djian-djiok-tjeng' atau puncak tiang bendera seribu kaki, terus 'Pek-djiok-kiam' atau selat pegunungan seratus kaki, kemudian naik ke "Lo-kun-lekau' atau Lo-kun meluku selokan, dari situ sudah tertampak Tjin-bu-tian, dan kemudan dari situ pula membelok ke puncak sebelah selatan.

Di tempat-tempat tadi kesemuanya adalah tebing yang curam, tinggi lagi panjang, kalau dilihat dari jauh laksana seutas tambang panjang yang melurus melambai dari langit saja.

Sesudah itu, melewati 'Djong-liong-nia' atau bukit naga tua, baru kemudian sampai di Kim-so-kwan.

tempat ini adalah mulut bukit tersebut, dari atas sini sudah tertampak Tjui-hunkiong, ialah rumah biara yang berbentuk istana yang menjadi tempat tujuan mereka.

Begitulah setelah mereka dapat menyelidiki jalanan yang menuju ke Kim-so-kwan, pada malamnya mereka bertukar pakaian hitam peranti jalan malam dan setelah be-benah seperlunya, segera mereka berangkat mendaki Hoa-san.

Di antara malam yang gelap remang-remang itu, seperti dua binatang rase yang berkeliaran di hutan sunyi, mereka berlari secepat terbang menerobos di antara hutan belukar dan semak yang lebat.

Berkat kepandaian entengi tubuh mereka yang tinggi, tidak sampai dua jam mereka sudah mendaki sampai di atas bukit naga tua itu.

Angin malam pegunungan Djong-liong-nia, bukit naga tua, sementara itu menderu-deru, dari jauh mereka memandang Tjui-hun-kiong seperti istana dewa yang dibangun di atas Kimso-kwan.

Sedang mereka memandang sekitarnya, tiba-tiba mereka melihat sesosok bayangan orang sejurusan dengan mereka sedang mendatangi secepat terbang.

Agar tidak sampai ketahuan orang, lekas mereka mendekam ke bawah.

Bayangan itu melayang datang tidak tertampak seberapa cepat, namun dalam sekejap saja tahu-tahu sudah melewati dua bukit terus menuju ke Tjui-hun-kiong, gerakannya begitu enteng dan gesit naik turun seperti capung menutul ke permukaan air saja.

hanya sebentar saja ia sudah menghilang di antara lautan mega yang mengelilingi puncak gunung itu.

Menunggu setelah orang menghilang, barulah Bun Sui-le membawa Hong-ko melompat keluar.

"Orang tadi pasti seorang tokoh kenamaan dari Bu-lim, hanya melihat cara ia menggunakan entengi tubuh saja sudah tertampak kepandaiannya sudah sampai di puncak kesempurnaan, kita harus berhati-hati dengan jejak kita agar tidak sampai kepergok!"

Pesan Bun Sui-le dengan bisik-bisik pada temannya.

Mereka lalu menyusul ke jurusan orang tadi, tak lama kemudian mereka sudah sampai pada sebuah tebing, di bawah tebing berdirilah istana Tjui-hun-kiong.

Sayup-sayup mereka mendengar suara bunyi genta, mereka mengerti tentu para Tosu atau imam di dalam kuil itu sedang beribadat malam.

Di bawah pandangan mata mereka, deretan istana Tjuihun-kiong itu memang megah dan besar sekali, tidak mengecewakan apabila disebut kuil kuno yang bagus dari gunung yang tersohor itu.

"Bayangan tadi rupanya seperti datang untuk menyelidik juga, kiranya bukan begundal Tjhi Djin-ho!"

Ujar Bun Sui-le dengan suara pelahan.

Dalam pada itu, mereka melihat pada sebuah loteng di tingkat atas dari bangunan tinggi itu, sinar lampu menyala hingga bayangan orang di dalam ruangan tertampak jelas di daun jendela.

Dari bayangan orang-orang itu, tampak ada seorang yang berdandan secara pembesar pemerintah Djing, memakai topi kebesaran berekor seutas bulu, tampaknya ia seorang pembesar militer.

Di sampingnya terlihat pula dua bayangan serupa Tosu yang sedang membungkuk hormat pada pembesar tadi.

"Menurut pandanganmu, mungkinkah pembesar militer ini adalah Tjhi Djin-ho?"

Tanya Bun Sui-le pada kawannya.

"Agaknya mungkin juga,"

Sahut Hong-ko.

"Tjhi Djing-ho tidak lebih hanya seorang kepala opas di bawah Tjelam Sunbu, topi kebesarannya tidak nanti memakai ekor bulu, menurut pandanganku, ia ini tentu seorang pembesar tingkatan 'Sam-bin' (bin, sebutan untuk tingkatan pangkat zaman feodal, sam-bin = pangkat tingkatan tiga), entah betul tidak pendapatku itu!"

Agar bisa menyelami seluk-beluk sebenarnya di dalam rumah biara itu, mereka lantas melayang turun dari tebing itu terus menancapkan kaki mereka di atas wuwungan belakang istana itu.

Di bawah wuwungan itu terdapat kamar-kamar tempat tinggal para imam dan rapat berjajar, di sampingnya sebuah los panjang yang ramai dengan orang yang hilir mudik.

Kemudian mereka mendekam di tepi emperan buat mengintip ke bawah, mereka melihat dua orang Siautotong (imam cilik) yang bermuka putih bersih sedang mendatangi.

"Tjosuya sudah marah-marah, mengapa 'Liong-tje-tek' yang telah dia suruh kamu membikin hingga kini masih belum kamu antarkan, apa kamu tidak tahu bahwa Kui-tjongping sudah datang?"

Terdengar kedua Totong itu berseru mendamprat dengan berlagak.

Menyusul itu nampak seorang imam tua mengantar ke dalam sebuah nampan yang berisi ceret teh dengan empat cangkir dari porselin.

Sementara itu kedua Totong telah pergi ke dapur pula dan menegur.

"Hai! Kamu lekas sediakan santapan ke kamar tamu, beberapa pengikut Kui-tjongping sedang menanti dahar di sana!"

Serunya lagi.

Tahulah kini Bun Sui-le berdua bahwa pembesar negeri itu bukan lain ialah Tjongping atau komandan militer kota Limtjing, Kui Ping-boan.

Kui Ping-boan memimpin pasukan yang terlatih dengan baik dari Pat-ki, ia terhitung pula salah seorang kepercayaan Perdana Menteri Nilan.

Kemudian mereka melayang melewati los panjang tadi, mereka melihat di depan loteng yang tinggi sana terdapat sebatang pohon tua yang lebat sekali, cocok untuk tempat persembunyian mereka, maka tanpa ayal lagi mereka lantas mengenjot naik menongkrong di atas pohon itu, justru di belakang loteng itu terbuka sebuah jendela, hingga untuk memandang ke dalam bisa terlihat dengan jelas sekali.

Ketika itu di dalam ruangan sedang duduk seorang pembesar militer, mereka menduga tentu bukan lain adalah Limtjing-tjongping Kui Ping-boan.

Di samping pembesar itu terdapat dua orang pula, kesemuanya berdandan sebagai imam, usia mereka di antara empat puluhan tahun, mereka sedang melayani pembesar itu dengan sangat menghormat.

Karena dari pucuk pohon dimana mereka menyembunyikan diri terlalu jauh jaraknya, maka suara pembicaraan dalam ruangan loteng itu tidak bisa mereka dengar.

Agar bisa mengetahui dengan jelas apa yang sedang dipercakapkan, Bun Sui-le memberi tanda pada Hong-ko dengan maksud agar ia ini tak usah ikut, lalu ia melayang turun ke atas emperan dan loteng yang tinggi itu, terus menggelantungkan setengah tubuhnya ke bawah untuk mengintip.

Tiba-tiba ia mendengar suara tangga berbunyi keletekan, sesudah itu naik pula seorang dengan dandanan sebagai Busu atau jagoan, usianya mendekati setengah abad tetapi langkahnya sebat enteng.

Ketika sudah berhadapan dengan Kui Ping-boan, orang itu terus menekuk lutut memberi hormat "Hamba Tjhi Djin-ho menghadap Tjongping-taydjin!"

Tuturnya. Pembesar yang duduk itu hanya sedikit membungkuk sebagai balasan.

"Tjhi-pothau, silakan berbangkit,"

Sahutnya.

"Memang aku justru ada sesuatu hendak bertanya padamu!"

Tjhi Djin-ho lantas berbangkit dan berdiri tegak di samping.

"Tjhi-pothau apa sudah menerima surat Tam-taydjin?"

Terdengar Kui Ping-boan bertanya pula.

"Kali ini ada perintah dari Nilan-tjaysiang (Perdana Menteri) menyuruh aku mengunjungi Hoa-san ini buat menemui Tjiwi-totiang ini untuk merundingkan cara mempersembahkan Tjin-tju-goan kepada kerajaan, dengan begitu supaya barang mestika itu tidak terjatuh lagi ke dalam tangan kawanan penjahat."

Atas pertanyaan orang itu, terdengar Tjhi Djin-ho berulangulang mengiakan.

"Lapor pada Kui-taydjin,"

Katanya kemudian.

"Topi mestika Tjin-tju-goan itu sudah lama Tam-taydjin berniat mempersembahkan kepada pemerintah, tak terduga karena sedikit bocor, tiga buah mutiara mestika di atas topi itu sudah hilang dua butir, baru sesudah itu Tam-taydjin melapor pada Nilan-tjaysiang dar minta dikirim jagoan dari kerajaan, kemudian bersama Hian-hong Totiang mengantarkannya ke kotaraja, hamba sudah menerima surat dari Tam-taydjin, itulah apa yang ia pesankan."

Kui Ping-boan mengangguk-angguk menyatakan bagus, kemudian ia berkata pula.

"Jagoan yang dikirim dari ibukota dalam beberapa hari sudah bisa sampai, hal ini biar aku nanti yang memberitahukan lagi padamu!"

Belum habis suara perkataannya, pada saat itu juga tibatiba kain kerai kuning di dalam loteng itu melambai, menyusul mana dua sinar putih menyambar menembus kain kuning itu.

Giok-bin-yao-hou yang menggelantungkan dirinya sedang mengintip, ia dapat menyaksikan dengan jelas sekali bahwa kedua sinar putih itu secepat kilat menyambar ke arah Kui Ping-boan.

"Ada pembunuh!"

Segera terdengar Tjhi Djin-ho berteriak.

Sehabis itu ia berniat menyeret Kui Ping-boan buat berkelit ke samping.

Namun terlambat, di antara suara jeritan ngeri, Kui Pingboan telah roboh terguling.

Giok-bin-yao-hou mengetahui gelagat jelek, dengan sekali lompat ia turun ke bawah, sementara itu sinar lampu di dalam ruangan loteng mendadak sirap.

Teng Hong-ko yang masih hijau, dalam keadaan demikian ini ia masih bercokol di atas pohon tak mau kabur, karena itu Bun Sui-le menjadi gugup.

"Lekas lari!"

Ia meneriaki kawannya itu dengan bahasa rahasia.

Baru setelah itu terlihat Hong-ko melompat turun dari pohon, akan tetapi sudah terlambat, dua bayangan orang melayang keluar dari dalam loteng, yang pertama bukan lain ialah 'Hek-swe-sin' atau malaikat maut hitam, Tjhi Djin-ho, sedang yang lain ialah seorang di antara kedua imam di atas loteng itu, begitu keluar, senjata mereka lantas menusuk.

Mengerti bahaya apa yang bakal ia hadapi, segera juga Bun Sui-le menyiapkan pedangnya di tangan.

Ketika ia menengok Hong-ko, dia membalik berniat kabur, tetapi senjatanya masih belum ia lolos, sedangkan pedang si imam sementara itu sudah menyambar membabat kakinya.

Kuatir kalau kawannya kena dicelakai, terpaksa Bun Sui-le harus membalik dengan gerakan 'Liu-sing-hui-tui' atau bintang kemukus meluncur jatuh, ia menerjang ke pihak lawan, lebih dulu ia menyampuk pergi pedang Tjhi Djin-ho, lantas ia merangsek maju dan ujung senjatanya menotok ke punggung si imam.

Dengan tidak menghiraukan keselamatannya sendiri, ia menerjang mati-matian, yang ia ingat hanya supaya bisa menghindarkan Hong-ko dari ancaman maut.

Mendengar di belakangnya ada angin berkesiur, lekas si imam itu menarik pedangnya dan menangkis ke belakang, keruan saja kedua senjata lantas saling bentur hingga mencipratkan lelatu api.

Segera juga Bun Sui-le, si rase bermuka ayu, ini merasakan kesehatan si imam itu dan tenaganya pun tidak kecil, ia insyaf telah berhadapan dengan tokoh cabang atas Khong-tong-pay.

Pada saat itu juga Hong-ko melolos pedangnya, ketika ia melihat Tjhi Djin-ho dari samping hendak membokong Bun Sui-le, tanpa ayal lagi segera ia melangkah maju dan mendahului ke tengah, dengan gerakan 'Ya-tjhe-tam-hay' atau setan dayang menyelidik ke laut, ia menangkis pergi senjata Tjhi Djin-ho dan dengan begitu mereka berdua pun saling bertempur di sebelah lain.

Sesudah bergebrak beberapa jurus dengan imam itu, Bun Sui-le dapat merasakan lihainya tipu serangan orang yang memang terdiri dari kiam-hoat hebat Khong-tong-pay, maka ia pun tak berani gegabah, segera ia mainkan 'Thian-mo-kiamhoat' yang ia pelajari dari Thian-san-pay, sinar pedangnya menggon-cang pergi datang dan bergulung-gulung di muka lawannya.

Namun Tosu itu cukup tangkas juga, pedangnya ia putar secepat angin, sedang langkahnya pun tidak menjadi kacau, ia menyambut setiap serangan Bun Sui-le yang lihai itu.

Nyata mereka sama-sama kuat dan menemukan tandingan yang sembabat.

Di pihak sana, Hong-ko setelah beberapa jurus melawan Tjhi Djin-ho, ia pun dapat melihat ilmu pedang sang lawan memang berbahaya, begitu cepat ia berputar ditambah perubahan-perubahan dari gerak tubuhnya yang memakai perhitungan, kadang di kala cepatnya ia berputar, kakinya bisa ikut maju pula menendang, hingga mau tidak mau Hong-ko harus mencurahkan sepenuh kemahirannya untuk melawannya.

Kiranya yang Tjhi Djin-ho yakinkan itu adalah 'Pat-siankiam', tipu serangannya memang sangat aneh dan tiap-tiap serangannya ganas pula.

Ketika Hong-ko sedikit berjongkok terus menikam dengan pedangnya, tiba-tiba ia lihat lawannya itu memasang kudakuda dengan kaki bersilang, sedang ujung senjatanya melurus ke bawah, kemudian pelahan saja dengan gerakan 'Hwe-liongtiam-tjui' atau ular naga bermain air, ia dapat mengesampingkan serangan pedang orang.

Lekas Hong-ko melangkah mundur, menyusul mana ia tusukan pula pedangnya ke dada lawannya.

Dengan cepat lawannya mendadak menggeser kudakudanya, dengan sedikit mengegos terus ia menangkis pula serangan musuh, sedang jari tangan kirinya bersiap melengkung di belakang kepalanya, memang sudah ia siapkan untuk menyerang secara kejam, kini dengan 'Dji-liong-tjingtju' atau dua naga berebut mutiara, kedua jarinya dia arahkan ke muka Hong-ko dengan maksud hendak mencukil biji matanya, serangannya begitu cepat laksana bintang meluncur.

Di sebelah sana, sekilas Giok-bin-yao-hou dapat melihat pedang Hong-ko sedang ditangkis pergi, untuk menolong diri Hong-ko dari jari lawan, dengan melompat ke belakang sudah tak keburu lagi, ia menjadi kuatir akan keselamatannya hingga ia ikut berkeringat dingin.

Namun Hong-ko bukan anak murid dan Go-bi-pay kalau ia gampang diselomoti orang, ia cukup gesit, begitu melihat jari Tjhi Djin-ho menyelonong tiba, segera ia sedikit mengegos dan berjongkok, sedang tangan kirinya dengan gerakan 'Paong-ki-teng' atau Tjoh Pa-ong mengangkat wajan, dalam sekejap saja ia berhasil menyangga pergi.

Setelah itu tangannya yang lain menarik senjatanya terus balik hendak memotong kedua kaki Tjhi Djin-ho, karena itu dengan tepat ancaman bahaya tadi dapat ia elakkan dengan baik.

Melihat Hong-ko ternyata cekatan, kepandaiannya terang diperoleh dengan melatih diri secara matang sekali, Tjhi Djinho insyaf tidak gampang untuk memperoleh kemenangan secara terburu-buru.

maka lantas ia bersuit, habis itu dari atas loteng terlihat melompat keluar pula seorang Tosu, terus menuju ke arah Teng Hong-ko.

Baru saja Giok-bin-yao-hou merasa lega karena Hong-ko dapat menghindarkan serangan berbahaya dari Tjhi Djin-ho tadi, tiba-tiba ia lihat dari atas loteng melayang keluar pula seorang yang hendak mengembut pemuda itu, ia menjadi kuatir, lekas ia pura-pura memberi tusukan, sesudah mana ia berniat menarik dirinya ke dekat Hong-ko buat membantu padanya sejajar melawan musuh.

Tak ia duga, imam yang bergebrak dengan dia itu rupanya sudah dapat menaksir apa maunya, maka beruntun ia menggencarkan serangan senjatanya, terus mencegat jalan mundurnya.

Karena harus menangkis, sedang kepandaiannya dengan imam itu memangnya sama kuat, maka seketika Bun Sui-le tak mampu melepaskan diri dari rangsekannya.

la mencoba melirik pada Hong-ko, ia lihat pemuda ini sedang melayani kedua musuhnya dengan sepenuh tenaga, pedangnya diputar sedemikian cepatnya, namun lama kelamaan rupanya ia pun kewalahan juga.

Imam yang keluar belakangan itu bukan lain adalah seorang di antara kedua imam di atas loteng tadi, sudah tentu ilmu silatnya pun tidak lemah.

Karenanya Bun Sui-le menjadi gugup.

Dalam pada itu imam yang menjadi lawannya itu mengeluarkan serangan cepat dengan tipu 'Tjiam-liong-djiphay' atau naga mendekam masuk ke laut, ujung pedangnya menyambar dengan gaya huruf S'.

Lekas Bun Sui-le melangkah mundur, sedang ujung pedangnya melurus ke bawah kemudian lantas membalik ke atas dengan gerakan 'Sian-li-san-hoa' atau bidadari menyebar bunga, keruan saja kedua pedang kembali beradu dan menerbitkan suara nyaring dan mencipratkan lelatu api.

Ia mengerti bahwa imam itu memang sengaja memanteknya, supaya tidak bisa pergi membantu kawannya, karena itu ia menjadi semakin gugup.

"Kena!"

Tiba-tiba terdengar imam yang ada di depan Hongko berseru.

Menyusul mana secercah bintik terang menyambar menusuk, sedang Tjhi Djin-ho pun menindih ke bawah pedang Hong-ko supaya pemuda ini tak mampu balas menyerang.

Hong-ko mengetahui bahwa ketika itu dari muka belakang ada serangan, maka segera ia menarik senjatanya dan melompat pergi, dengan begitu ia baru bisa menghindarkan serangan berbahaya itu, tetapi imam tua ternyata tidak tinggal diam, senjatanya pun menyusul pula.

Dengan sedikit memutar tubuh, Hong-ko tiba-tiba menggeraki tangannya, dengan gerakan 'Hwe-thau-bong-gwat' atau berpaling memandang rembulan, senjatanya mendadak ia tusukkan dari samping.

Namun imam tua itu pun cukup awas, dengan aneka gerak pedangnya ia menyampuk pergi pedang yang ditusukkan itu.

Dengan tipu serangan pedangnya itu, sebenarnya Hong-ko hanya memancing musuh belaka, sementara i'u dari dalam tangannya sudah tergenggam penuh seraupan pelor besi, tanpa ayal lagi segera ia menghamburkannya.

Dengan sekali jeritan, ternyata Tjhi Djin-ho roboh terguling.

Berbareng itu Hong-ko pun menangkis pergi pedang si ^niarn yang lagi ditusukkan tadi, ketika melihat Tjhi Djin-ho roboh terguling, girang sekali hatinya.

Waktu itu, tiba-tiba dari depan istana kuil telah muncul pula dua bayangan orang, secepat terbang sedang mendatangi.

"Apakah Kui-taydjin ada di sini!"

Terdengar mereka berseka.

Dalam pada itu, Tjhi Djin-ho yang terguling, ternyata hanya terluka tulang pundaknya, maka dengan cepat ia dapat melompat bangkit pula, waktu mendengar seruan orang, ia segera menjawab.

"Kui-taydjin sudah kena dibokong oleh kedua penjahat ini, lekas kalian membantu membekuk kedua anjing lakiperempuan ini!"

Karena jawaban itu, sebelum sampai mereka sudah mencabut senjatanya lebih dulu terus menerjang datang dengan cepat.

Nyata mereka berdandan sebagai jagoan dari kerajaan, usia mereka pun tidak dari empat puluh tahun.

Tanpa berkata-kata lagi yang seorang segera memapaki Hong-ko dan beruntun melontarkan dua kali serangan.

Sedang seorang lainnya menerjang Bun Sui-le.

Ketika melihat wanita itu, segera ia berseru pula.

"Hian-thian Totiang! Dia ini adalah Li-tjhat (penjahat wanita) dari Tay-san-kwan itu, malam ini jangan sampai ia dapat lolos!"

Setelah itu pedangnya bergerak, dari samping segera ia ikut mengeroyok.

Begitu melihat cara gerakan musuh yang baru datang ini, segera Bun Sui-le mengerti kembali bertambah pula seorang lawan tangguh, maka dalam hati ia semakin kuatir.

Sementara itu tiba-tiba terdengar di sebelah sana Hong-ko berteriak, pedangnya seperti kena dipukul jatuh oleh si imam tadi.

Sedang jagoan dari kerajaan yang baru datang itu mengambil kesempatan baik itu untuk menyapu dengan kakinya.

Ketika Hong-ko berniat melompat naik buat menghindari serampangan kaki orang, tahu-tahu tangan si imam dengan gerakan Kim-na-djiu yang lihai dan susah dielakkan telah sampai di atas kepalanya.

Dengan sekali totok, dua jarinya menjojoh ke belakang kepala Hong-ko di tempat 'Ling-tay-hiat' hingga seketika itu juga seluruh tubuhnya kaku kesemutan, imam tua itu tidak menghentikan gerakannya, ia terus mengangkat tubuh Hong-ko dan dibawa lari masuk ke dalam rumah biara itu.

Mengetahui bahwa Hong-ko kena ditangkap musuh, bukan main rasa terkejut Giok-bin-yao-hou.

Selagi perasaannya sedang bimbang, mendadak jagoan kerajaan itu menusuk hingga hampir saja ia pun kena dipecundangi.

Beruntung Ginkangnya cukup tinggi dan sempurna, dengan menurutkan kakinya ia pun melompat miring ke samping, sementara itu senjata si imam pun membabat lagi.

Dalam keadaan terdesak, terpaksa Bui Sui-ie harus menerjang mati-matian, ia keluarkan tendangannya yang istimewa, imam tua itu tidak pernah menyangka bahwa pada ujung sepatunya terdapat kaitan baja yang lihai.

Ia hanya merasakan tangannya tergetar, pedangnya kena ditendang pergi, sedang sebelah kakinya yang lain menyelonong sampai di depannya pula, keruan saja ia menjadi kaget.

Sekonyong-konyong terdengar suara memberebet, lengan baju Hian-thian Todjin yang panjang lebar ternyata sudah terobek panjang.

Kiranya pada waktu kaki Giok-bin-yao-hou beterbangan menendang tadi, kaitan tajam di ujung sepatunya dapat membentur pedang Hian-thian terus masih menyelonong mengarah ke tenggorokannya secepat kilat.

Sudah tentu Hian-thian sama sekali tidak pernah menduga bahwa Giok-bin-yao-hou masih menyimpan kepandaian tunggalnya itu, dalam sekejap itu ia menjadi kaget, masih beruntung ia tergolong tokoh tingkat tinggi dari Khong-tongpay, dalam keadaan terancam bahaya ia masih bisa berlaku tenang, lekas ia keluarkan kepandaiannya Kim-na-djiu, yakni cara mencekal dan menawan.

Kuatir kalau kakinya yang putih halus dan kecil mungil betul-betul kena dicekal tangan orang, dengan cepat Giok-binyao-hou memutar kakinya ke samping lain, hingga karena itu lengan baju Hian-thian kena terobek.

Walaupun serangannya tidak membawa hasil yang diharapkan, namun sudah cukup membikin kaget imam tua itu hingga ia mengeluarkan keringat dingin.

Jagoan yang datang dari kerajaan tadi, ketika mendadak melihat si imam sempoyongan, ia kuatir kawannya ini kena dipecundangi orang, lekas ia maju buat memayangnya.

Kesempatan itu digunakan Giok-bin-yao-hou buat melompat keluar dari Tjui-hun-kiong secepat terbang, dari jauh tertampak ia naik turun bergerak beberapa kali terus menghilang dalam kegelapan.

Hian-thian Todjin dan kawan-kawan pun tidak mengejar, ketika mereka berpaling, terlihat Tjhi Djin-ho yang kena ditembak remuk tulang pundaknya sedang merintih kesakitan hingga menekuk pinggang.

Masih beruntung juga bagi pihak mereka bisa berhasil menangkap seorang penjahat.

Kemudian mereka kembali ke atas loteng tadi buat memeriksa keadaan Limtjing Tjongping Kui Ping-boan, ternyata pembesar itu menggelongsor roboh bermandi darah, di dadanya tertampak menancap sebuilah pisau terbang dan napasnya sudah terputus.

Melihat kejadian itu, kedua jagoan yang dikirim dari kerajaan tadi berubah air mukanya.

"Kedatangan kami ialah hendak menemui Kui-taydjin, mengapa dia bisa kena terbunuh?"

Tanya mereka dengan suara terputus-putus. Dengan muka muram Tjhi Djin-ho coba menceritakan apa yang terjadi tadi.

"Hui-to ini adalah dari golongan Djing-liong-pang, apakah mungkin Bun Sui-le, si perempuan busuk itu yang membunuhnya?"

Kata kedua bayangkara itu dengan heran setelah memeriksa pisau belati yang mereka cabut keluar dari dada Kui Ping-boan.

"Kalian Si-wei-ya (tuan bayangkara) berdua, menurut pandangan kami pembunuh ini dilakukan oleh orang lain,"

Ujar Hian-thian berbareng imam rekannya, Hian-ang.

"Ketika pisau ini menyambar masuk tadi. segera juga kami mengejar keluar, kami melihat ada sesosok bayangan secepat angin menghilang ke tempat jauh, belakangan baru tertampak pula Giok-bin-yao-hou dan seorang pemuda mengumpet di belakang loteng sana, mungkin pembunuh itu datangnya bersama mereka."

Sementara itu Tjhi Djin-ho sudah selesai membalut lukanya.

"Kini kita sudah dapat menangkap seorang di antara mereka, biar sebentar lagi kita memeriksa dia segera pula bisa kita ketahui semuanya."

Katanya dengan masih gemas.

"Kini kita lebih penting memindahkan jenazah Kui-taydjin kembali ke tempat kedudukannya terlebih dahulu, di samping itu lekas kita melaporkan pada pemerintah, urusan memeriksa penjahat itu, boleh sampai besok pagi saja,"

Ujar jagoan dari kera-jaan tadi.

Kedua jagoan yang dikirim dari kerajaan itu memangnya adalah bayangkara kelas satu dari Kaisar Khong-hi, yang seorang bernama Tui-hun-djiu' Njo Djun dan yang lainnya ialah Siau-song-sin' Li Ngo.

Cara bagaimana mereka bisa dikirim ke Hoa-san sini, hal ini harus diurut dari diri Soatang Sunbu Tam Ting-siang.

Semula gebernur Soatang itu memerintahkan Tjhi Djin-ho mengirim topi bertabur mutiara itu kembali ke Tjelam, niatnya untuk dipersembahkan kepada Nilan-tjaysiang untuk terus disampaikan kepada Sri baginda, tak terduga dua kali pula Tjhi Djin-ho kehilangan Po-tju atau mutiara mestika, karena itu ia insyaf, hanya dengan kepandaian Tjhi Djin-ho tak mungkin ia mampu mencari kembali mutiara-mutiara yang hilang itu.

Pembesar itu berpikir, dalam kerajaan terdapat banyak sekali orang kosen sedang topi mestika itu memangnya akan dihaturkan kepada pemerintah mengapa tidak melaporkan saja pada Nilan-tjaysiang dan minta padanya mengirimkan beberapa orang pandai dari kerajaan untuk membantu, sekalian untuk mencari mutiara-mutiara yang hilang itu.

Jika berhasil, tentu dengan lengkap topi mestika itu bisa dihaturkan ke hadapan Sri Baginda Khong-hi.

Setelah mengambil keputusan itu, lantas ia pun mengirim orang kepercayaannya menemui Perdana Menteri Nilan dan melaporkan sekitar kejadian kehilangan Po-tju atau mutiara mestika itu oleh Tjhi Djin-ho.

Mendapat laporan itu, Nilan-tjaysiang menjadi sangat murka, ia pikir penjahat-penjahat dari Kangouw ini betul-betul bernyali besar, sampai barang milik pemerintah pun berani dirampoknya.

Ketika kemudian ia menghadap Kaisar Khong-hi, ia melaporkan juga peristiwa itu, Khong-hi lantas menyumh Perdana Menteri itu memilih dua orang jagoan kosen dari dalam kerajaan untuk dikirim ke Limtjing untuk menemui Kui Ping-boan sebagai pejabat militer di tempat itu, lebih dulu supaya Tjin-tju-goan yang masih ada itu dikirim ke kotaraja, habis itu baru mencari pula mutiara-mutiara yang hilang itu.

Tak terduga, karena tugas itu Kui Ping-boan sampai di Tjuihun-kiong, segera pula ia menghantarkan nyawanya.

Keruan saja.

seorang pembesar negeri terbunuh dengan sendirinya tempat kejadian itu menjadi kalang kabut, karena itu Teng Hong-ko yang tertangkap untuk sementara belum sempat diperiksa.

Dalam pada itu Giok-bin-yao-hou Bun Sui-le yang berhasil lolos keluar dari Tjui-hun-kiong, segera juga ia angkat langkah seribu dengan kepandaiannya ilmu mengentengkan tubuh dan tems berlari di malam gelap, ia terus menuju ke jumsan Djong-liong-nia.

Di tengah jalan ia tems berpikir.

"Hong-ko kena dibekuk orang, sedang kedua Tosu yang berada di Tjui-hun-kiong itu kesemuanya adalah tokoh terkenal dari Khong-tong-pay, kalau hanya kedua orang ini saja aku masih sanggup melawannya, tetapi kini bertambah dengan dua orang jagoan pedang pula dari kerajaan, kalau tidak lekas aku lari niscaya kini aku pun akan diringkus mereka juga. dan kalau aku jatuh di tangan mereka, lebih celaka lagi bagi Hong-ko, karena tiada orang yang akan menolongnya."

Begitulah sambil berpikir, ia mencari daya upaya cara bagaimana harus mencari seorang pembantu untuk menolong Hong-ko dari tawanan musuh.

Tengah pikirannya melayang, tiba-tiba di atas bukit berkelebat bayangan orang.

Fa jadi terkejut ia menyangka tentu itu adalah begundal dari imam di Tjui-hun-kiong yang sedang mengejar padanya, tetapi dalam sekejap itu bayangan tadi sudah lenyap.

Lekas ia mempercepat langkahnya melintasi punggung bukit, namun ia merasa pula di belakangnya ada orang menguntit iagi.

Ketika ia menoleh, maka tertampaklah bayangan orang yang tinggi besar sudah berada di belakangnya dalam jarak tidak lebih dari sekali paseran panah, lapat-lapat ia seperti mengenali orang ini, bukan lain ialah orang yang tadi ia dan Hong-ko pergoki itu, maka lekas ia melolos pedangnya untuk menjaga diri bila perlu.

Melihat orang melolos senjata, tiba-tiba orang itu membuka suara.

"Bun-tjetju tak usah sangsi, si pembesar anjing Kui Ping-boan tadi akulah yang membunuhnya, sebaliknya kawanmulah yang menjadi tawanan mereka, karenanya aku sengaja menyusul ke sini buat omong-omong sedikit dengan Buntjetju!"

Walaupun orang sudah menjelaskan maksud kedatangannya, namun Bun Sui-le masih belum mau percaya seluruhnya, ia tetap pasang kuda-kuda dan dengan pedang terhunus ia menjaga segala kemungkinan.

"Ho-han (orang gagah) termasuk dari garis yang mana? Mengapa bisa mengenal namaku?"

Kemudian ia balas bertanya sambil mengamat-amati orang di depannya ini.

Tertampak olehnya orang ini adalah seorang laki-laki bertubuh kekar tegap dan sudah setengah umur, alisnya tebal, matanya besar, mulutnya lebar dan di bawah j anggurnya tumbuh bre-wok yang pendek kaku, kelihatannya tergolong orang baik.

"Cukup apabila Tjetju percaya bahwa aku bukan begundal dari imam di Tjui hun-kiong, maka namaku pun tidak perlu lagi Tjetju tanyakan,"

Terdengar laki-laki itu menjawab.

"Kawanmu dari Go-bi-pay yang terjatuh di tangan mereka itu, apa kau tidak berpikir buat menolongnya?"

Nampak orang rupanya tidak bermaksud jahat, baru Bun Sui-le berjalan mendekatinya.

"She apakah Djtnheng yang mulia? Mengapa kau membunuh Kui Ping-boan?"

Tanyanya kemudian dengan suara rendah.

"'Jika Hengtay sudi angkat senjata membantu menolong kawanku she Teng itu, maka tentu aku akan sangat berterima kasih sekali dan tidak akan melupakannya."

Habis berkata ia lebih mendekat lagi untuk memberi hormat kepada orang di hadapannya.

"Tjayhe she Dian,"

Lekas laki-laki itu menjawab sembari balas menghormat.

"Pembesar anjing Kui Ping-boan itu adalah begundal dorna Nilan, dulu entah sudah berapa banyak orangorang Bu-lim yang menjadi korban di tangannya, justru kaum budak yang suka berlagak melebihi tuannya ini, siapa saja boleh membunuhnya. Tjayhe tidak lebih hanya membasmi seorang musuh kawan Bu-lim saja. Soal menolong kawanmu itu, dapatkah Tjetju menceritakan asal-usulnya, apabila dia tergolong laki-laki sejati dari kalangan Kangouw, tak mungkin aku menolak sekalipun harus menghadapi bahaya!"

Atas ucapan orang yang cukup menarik itu, Bun Sui-le pun tidak ragu-ragu lagi.

Ia lantas membeberkan asal-usul diri Hong-ko dan menceritakan pula cara bagaimana mereka berjumpa dengan para pentolan dari berbagai golongan di Soatang, akhirnya mereka terpaksa menuju ke Hoa-san buat mengintai gerak-gerik Tjhi Djin-ho.

"Kiranya kawanmu orang she Teng itu adalah anak murid Go-bi-pay, gurunya Bu-tun Todjin dengan aku pun kenal, maka sudah pasti harus menolongnya"

Dengan mengangguk laki-laki itu berkata.

"Cuma tadi kau bilang ada seorang wanita yang disebut Ang-koh, dia ialah seorang 'Sian-koh' dari Peklian-kau, pengaruhnya cukup besar. Pembesar-pembesar negeri takut pada mereka yang bisa berilmu hitam, kini paling baik ialah kita merundingkan cara bagaimana menolong Tengheng saja!"

Mendengar kata-kata orang, ditambah tadi ia sendiri telah menyaksikan ilmu Ginkangnya ketika melintasi bukit.

Bun Suile tahu bahwa orang di hadapannya ini pasti adalah seorang pendekar dari Kangouw maka ia tidak menaruh prasangka buruk lagi dan kemudian berjalan berendeng turun gunung.

Setelah melintasi Djong-liong-nia, tiba-tiba laki-laki ini membelok menuju ke Djian-djiok-tjeng, dari jauh tertampak di antara lembah gunung itu terdapat sebuah kuil kecil, ketika sudah dekat kiranya rumah biara ini adalah sebuah 'am-teng' atau rumah biara kaum Nikoh, dari papan nama yang tergantung di atas pintu tertampak tiga huruf 'Pek-lian-am' Rumah biara kecil ini ternyata menyelip di suatu tempat yang tersembunyi sekali di pegunungan ini.

ketika laki-laki she Dian itu berdehem sekali, kemudian tampak seorang Nikoh setengah umur keluar dari kuil itu.

"Boan-liong Tayhiap, angin apakah yang telah meniup kau kemari dan nona ini apakah datang bersama dengan Tayhiap?"

Tanya Nikoh itu dengan merangkap kedua tangannya demi melihat siapa tetamunya.

"Lik-dju Taysu."

Sahut laki-laki itu sembari balas menghormat.

"Nona ini adalah Bun-tjetju dari Tay-san-kwan yang tersohor itu, karena kebetulan kunjunganku ke Tjuihunkiong, maka telah bertemu dengannya di sana dan sengaja aku mengajaknya kemari."

Sementara itu Bun Sui-le pun maju memberi hormat pada si Nikoh.

Baru kini ia mengetahui bahwa lelaki she Dian ini tidak lain ialah Boan-liong Kiam-khek yang namanya menggetarkan daerah utara, dulunya ia adalah 'Tjiang-toh' (pengemudi -ketua) dari Djing-liong-pang, pantas ilmu silatnya begitu mengagumkan, makin menjadi legalah hati Bun Sui-le demi mengetahui siapakah laki-laki ini.

"Taysu, kedua imam yang memakai pedang di Tjuihunkiong itu apa bukan orang dari Khong-tong-pay?"

Tanya Boan-liong Kiam-khek setelah mereka dipersilakan masuk ke ruangan tamu.

"Apa Tayhiap maksudkan Htau-thian dan Hian-ang berdua?"

Sahut Liok-dju.

"Sudah setengah tahun mereka datang di Hoa-san, cuma di belakang istana Tjui-hun-kiong itu masih terdapat pula Tji-hun Tjindjin sebagai imam tua penguasa istana. Ia adalah tokoh tingkat atas Bu-tong-pay, usianya kini sudah lebih dari delepan puluh tahun, biasanya ia tidak suka dengan urusan di luar, kali ini Tjhi Djin-ho datang ke sini buat menengok Hian-thian Totiang, aku kira Tji-hun Loto tentu tidak merasa senang."

"Hm, kalau Taysu tidak bilang, aku hampir saja lupa bahwa di dalam istana itu masih terdapat Tji-hun Tjindjin yang sedang tirakat,"

Boan-liong Kiam-khek menjengek dan kemudian melanjutkan pula.

"Dia adalah saudara seperguruan Tji-yang Tjindjin, dengan mata kepala sendiri ia bisa antapi Hian-thian dan kawan-kawan bersekongkol dengan kawanan cakar alap-alap dan menganggapnya seperti tidak tahu?"

"Tayhiap mungkin tidak tahu bahwa sejak imam-imam Khong-tong-pay itu sampai di Tjui-hun-kiong, mereka berkomplot dengan imam-imam muda dan menduduki Tjuihun-kiong, Tji-hun yang memangnya tidak suka mengurus hal tetek-bengek, dengan sendirinya ini tidak mempedulikan mereka juga."

Mendengar keterangan itu, Boan-liong menganggukangguk dan tidak bertanya lebih jauh.

Malam itu juga, di Kim-sok-kwan terlihat ada bayangan orang yang melayang cepat menuju ke Tjui-hun-kiong.

Ilmu entengi tubuh orang ini ternyata gesit dan cepat sekali, ia mengenjot naik turun ke depan, kadang-kadang ia berpaling juga ke belakang untuk melihat apakah dirinya dikuntit orang atau tidak.

Bayangan orang ini tidak lain ialah Giok-bin-yao-hou Bun Sui-le, setelah ia mendapatkan akal yang diajarkan Boan-liong Kiam-khek padanya, kembali ia pergi mengintai lagi ke Tjuihun-kiong malam-malam.

Tatkala itu di istana Tjui-hun-kiong hanya tinggal beberapa orang imam untuk menjaga penjara di bawah tanah, sedang Hian-thian, Hian-ang dan para jagoan dari kerajaan, Njo Djun serta Li Ngo, pada sore hari itu sudah mengantar jenazah Limtjing-tjongping Kui Ping-boan turun gunung.

Beberapa imam yang masih tinggal ini, meski imam dari Khong-tong-pay juga, tetapi kepandaian mereka jauh di bawah Hian-thian dan Hian-ang.

Sementara itu Hong-ko oleh mereka dipenjarakan dalam penjara di bawah tanah yang tertutup oleh dua lapis pintu besi, kaki tangannya pun digembok di atas pembaringan batu.

Setelah sampai di Tjui-hun-kiong, Bun Sui-le mengitar menuju ke belakang istana itu Di sebelah belakang ternyata masih ada dua istana >ang disebut 'Hwe-sian-kiong', di samping terdapat pula sebuah panggung balu setinggi tujuh atau delapan tombak, yakni panggung buat ibadat para imam.

Di bagian belakang sunyi senyap tak nampak satu bayangan pun, di dalam Hwe-sian-kiong sedikitpun tidak nampak ada sinar api.

Ketika dari atas serambi depan Bun Sui-le tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, ia balik melompat ke serambi bagian belakang.

Di serambi belakang ia melihat sebuah pintu bundar yang menembus ke suatu ruangan rumah lain yang berpagar bambu dan banyak pohon-pohon tua, rada mirip seperti tempat tirakat kaum imam.

Dengan enteng sekali dari atas ia melayang turun terus mendekam ke depan rumah itu, tanpa menerbitkan suara sedikitpun.

Ia lihat pada dinding rumah itu terdapat sebuah pintu berbentuk setengah lingkaran, di samping rumah terdapat pula sebuah lubang angin yang dipalang terbuat dari batu bata, dari sini ia memandang ke dalam, namun keadaan di dalamnya gelap gulita.

Ketika secara berindap-indap ia mendekati lubang angin itu dan menegasi lagi ke dalam dengan matanya yang sanggup melihat dalam keadaan gelap, barulah tertampak olehnya bahwa di dalam kamar membujur sebuah pembaringan dan di atasnya duduk seorang imam tua, selain itu terdapat juga sebuah kendi dan gayung yang terletak di sampingnya.

Roman imam tua ini sebagian tertutup oleh kumis dan jenggotnya yang lebat.

Hanya sepasang matanya yang bersinar tajam berkelap-kelip di tempat gelap.

Waktu ia memeriksa keadaan dalam kamar itu, ternyata di lantai penuh terserak daun kering, mungkin masuk dari luar karena tertiup angin, sedang di pojok pembaringan penuh dengan jala laba-laba, dimana-mana banyak terdapat kotoran burung dan kelelawar, nampaknya seperti sudah lama tidak ditinggali manusia, agaknya imam tua ini sudah lama sekali tidak meninggalkan dipan semadinya itu.

Diam-diam Bun Sui-le hanya mengintip saja ke dalam dan tidak berani ia sembarangan masuk.

Sementara itu imam tua itu masih memejamkan kedua matanya, keadaan dalam rumah sunyi senyap.

"Silakan masuk saja!"

Tiba-tiba terdengar ada suara perkataan orang di tepi telinganya.

"Pin-to sudah lama tidak mencampuri urusan luar, buat apa tongal-tongol di luar saja, kalau kau orang yang dikirim Hian-thian, maka bolehlah kau lekas enyah!"

Suara itu menggema di tepi telinganya begitu terang dan tegas.

Bun Sui-le terkejut, ia menoleh namun satu bayangan pun tak nampak.

Waktu ia memandang lagi ke dalam rumah, imam tua itu masih tetap sedikit menunduk dan sedang semadi, mulutnya pun tidak nampak pernah bergerak.

Bun Sui-le mengerti itu adalah 'Toan-im-djip-bit', yakni semacam ilmu Lwekang luar biasa yang bisa mengirim suara dari jarak jauh, maka tahulah dia, imam tua ini tentu luar biasa.

Maka tak berani ia ayal lagi, segera ia menjawab dari luar dengan suara pelahan.

"Aku she Bun mendapat petunjuk Boan-liong Tayhiap, ada sedikit kepentingan hendak menemui Tjindjin!"

"Lekas masuk! Di luar bukan tempat untuk beromongomong!"

Terdengar pula di tepi telinganya ada suara jawaban. Tanpa ragu-ragu lagi lantas Bun Sui-le menuju ke pintu, ia mendorong pintu yang setengah tertutup itu dan masuk ke dalam.

"Siaulutju (wanita kecil) Bun Sui-le memberi hormat!"

Katanya kemudian setelah menyembah di depan imam itu.

Namun, segera ia merasakan tenaga angin yang cukup besar keluar dari tangan imam tua yang sedikit digeraki, maka tanpa tertahan ia telah diangkat berdiri.

"Tjindjin sudilah mendengarkan,"

Ia menutur lagi sembari berdiri di samping dengan kedua tangan lurus ke bawah.

"Siaulutju mendapat petunjuk dari Boan-liong Tayhiap ke sini, untuk memohon Tjindjin suka memberi bantuan agar suka menolong seorang kawan dari Go-bi-pay yang kini tertawan di penjara bawah tanah, budi mana pasti tidak akan aku lupakan."

"Sudah belasan tahun ini Pin-to tidak pernah meninggalkan gunung ini, apa Boan-liong tidak mengetahui bahwa selamanya aku tidak suka ikut campur urusan orang lain?"

Sahut Tji-hun Tjindjin dengan agak kurang senang.

"Apa yang Hian-thian perbuat dalam istana ini, Pin-to pun tidak mendengar dan tidak mengurus, semalam kiranya ada orang yang membikin ribut, dan tentunya adalah perbuatan Boanliong, harap nona suka kembali dan memberitahukan padanya bahwa urusan ini Pin-to tidak bisa ikut campur tangan."

Mendengar kata orang, Bun Sui-le menjadi gugup hingga dari wajahnya tertampak penuh rasa kecewa, terpaksa ia coba membujuk dengan menceritakan cara bagaimana Hong-ko datang ikut bersama dia dan tertawan oleh Hian-thian semalam, apabila tetap tak bisa menolongnya, maka dirinya lebih suka mati daripada kembali dengan tangan kosong.

Seterusnya ia memohon dengan sangat dan membujuk sebisanya sampai akhirnya ia meneteskan air mata.

Melihat kesungguhan orang, agaknya imam tua itu tergerak hatinya.

"Pemuda she Teng itu pernah apa dengan kau?"

Tanyanya sambil memandang tajam. Karena pertanyaan yang mendadak itu, dari sedih Bun Suile berubah menjadi jengah hingga wajahnya bersemu merah.

"Dia.....dia.....kawan seperjalananku!"

Jawabnya dengan menggumam kemalu-maluan.

"Tampaknya kamu adalah sahabat baik, sebenarnya Pin-to tidak suka ikut campur, tetapi karena memandang padamu biarlah aku memberi saru jalan padamu,"

Dengan tersenyum Tji-hun berujar.

"Tapi sekembalimu boleh kau memberitahu kepada Boan-liong Kiam-khek bahwa sekali-kali jangan ia tumplekkan segala urusan padaku lagi!"

Habis berkata ia menyuruh Bun Sui-le ke dekatnya terus ia membisiki padanya bahwa di bawah panggung batu itu terdapat sebuah wajan besi yang sangat besar, apabila wajan itu diputar, maka dari undak-undakan batu panggung itu lantas terbuka sebuah jalan di bawah tanah, masuk dari jalan itu bisa menolong keluar Teng Hong-ko.

Lekas Giok-bin-yao-hou menghaturkan terima kasih atas petunjuk itu dan terus berbalik keluar dari kamar itu, begitu ia melangkah keluar, dengan segera pintu kamar ternyata sudah tertutup sendiri.

Tanpa ayal lagi segera ia menuju ke bawah panggung batu yang memang sudah ia lihat tadi, di sini sama sepinya tanpa seorang pun, betul juga ia nampak ada sebuah wajan yang besar.

Ketika tutup wajan itu ia rangkul terus diputar, segera juga terdengar suara yang berkeretek.

di samping undakan batu di antara semak-semak, ternyata lantas tertampak sebuah lubang gua yang cukup untuk dimasuki oleh satu orang.

Dengan menghadapi bahaya ia melangkah masuk ke dalam, kakinya menyentuh pada undak-undakan batu terus berturutturut hingga belasan undakan, akhirnya, sampailah jalanan di bawah tanah.

Dengan kepandaiannya memandang di tempat gelap, ia menyusur menuju ke depan menuruti jalan bawah tanah yang berliku-liku itu, tidak lama kemudian sampailah dia pada akhir jalanan itu yang terhalang oleh selapis pintu besi.

Ia mencoba meraba-raba dalam kegelapan, ternyata pada sebelah pintu besi itu terdapat sebuah pegangan, ketika ia menarik, pintu itu terbuka dengan gampang, kiranya di belakang pintu itu rapat menempel dengan kamar yang bukan lain ialah kamar penjara di bawah tanah dari istana itu.

Bukan main rasa girangnya, kini ia nampak Hong-ko tidur telentang di atas dipan batu, tangannya tergembok di atas dipan batu itu.

Di dinding batu sana tergantung pelita minyak yang kelap-kelip mengeluarkan sinar remang-remang hingga menambah keseraman dalam kamar itu.

Seketika itu juga dirasakan darahnya mendidih, dengan sekali lompat ia sampai di depan Hong-ko, ia lihat pemuda itu dengan kesima sedang memandang padanya laksana sedang bermimpi.

"Hong-ko!"

Ia memanggil sembari mencabut pedangnya tenis memotong rantai dan gembok yang mengikat anggota badan pemuda itu.

Pedangnya ini adalah pusaka dari Thian-san, maka rantai besi yang cukup besar itu dengan gampang saja terpotong putus.

Karena kedua tangannya sudah bisa bergerak bebas, tanpa tertahan Hong-ko merangkul ke leher Bun Sui-le.

"Oh, Tjitji yang baik, apa aku sedang bermimpi?"

Katanya dengan terharu. Hangat sekali rasa batin Bun Sui-le, saking terharunya hingga ia mengalirkan entah air mata kegirangan atau kekuatiran.

"Mari lekas kita pergi!"

Katanya tiba-tiba tersadar.

Namun ia lupa kaki Hong-ko masih tergembok.

Justru pada saat itu juga pintu goa batu itu tiba-tiba disurung terbuka dari luar, menyusul mana bayangan orang yang tinggi besar melompat masuk.

Sekilas dari sinar pelita yang remang-remang, Bun Sui-le dapat mengenali bahwa orang yang datang ini ialah 'Sip-tiathong' Ie Djan, di tubuhnya masih tetap mengenakan baju kain kasar dan dengan cepat ia mengangkat goloknya terus menga-dang di depan pintu.

"Perempuan keparat, hari ini kebentur pada tuanmu, kau sendirilah yang ingin menghadap Giam-lo-ong!"

Serunya berbareng goloknya terus membacok.

Lekas Bun Sui-le melompat mundur sambil menarik diri Hong-ko, akan tetapi segera terdengar Hong-ko menjerit, kiranya kedua kakinya yang masih terantai di dipan batu kena tertarik, maka ia jadi menjerit kesakitan.

Dengan cepat Bun Sui-le melepaskan tangannya, sudah itu ia memutar buat melindungi, sekalian lantas melolos pedangnya, senjatanya menempel golok lawan terus ia goncangkan pergi.

Karena tujuannya hendak melindungi diri Hong-ko, maka begitu tangkisannya berhasil, segera juga ia melompat berdiri di atas dipan batu dan beruntun memberi dua kali serangan kepada musuh.

Sementara itu Ie Djan pun menyambut serangan lawannya itu, berbareng sebelah tangannya pun memukul.

Tapi di tengah jalan Bun Sui-le merubah serangannya dengan membalikkan tubuh, ia menggunakan gerakan 'Gikhong-tio-bang"

Atau memasang layar menolak angin, pedangnya ia tarik terus disurungkan ke depan lagi, ia menikam ke arah dada le Djan.

Justru saat itu juga Ie Djan lagi menggunakan tipu Kim-nadjiu yang lihai hendak mencekal, lekas Bun Sui-le mengangkat pundak, terus saling susul dengan kedua kakinya ia menendang memakai gerakan 'Lian-hian-wan-yang-rui'.

Dengan sehatnya Giok bin yao hou membalikkan tubuh menangkis serangan golok lawan.

Karena itu mendadak le Djan merasa ada angin tajam menyambar ke mukanya, dengan cepat segera ia menarik tangannya yang dipukulkan tadi terus melompat ke belakang, sehingga kedua kaitan tajam yang terpasang di ujung sepatu Bun Sui-le menyambar lewat di depan mukanya, hampir saja ia terkena, karena itu ia menjadi terkejut atas kelihaian orang.

Dalam pada itu Bun Sui-le menyerang pula dengan pedangnya, sinar tajam berkelebat, hingga le Djan terdesak mundur sampai di dekat pintu penjara itu, sementara itu kedua kaki wanita yang lihai ini masih beterbangan menendang juga dan merangsek dengan hebatnya.

Karena ruangan penjara yang sempit, le Djan tidak sempat mengeluarkan kepandaiannya 'Tjiam-ie-sip-pat-tiat', akhirnya terpaksa ia harus mundur sampai di luar pintu, di sini ia mencoba bertahan dengan goloknya atas serangan-serangan lawan yang cukup ganas.

Tidak ia duga, secara mati-matian Giok-bin-yao-hou merangsek, tujuannya tidak lain ialah hendak mendesak supaya ia mundur keluar pintu, dengan begitu menyusul pula kedua kakinya ia tendangkan secara susul-menyusul, dan pada kesempatan yang hanya sekejap saja itu, selagi lawannya berkelit, tanpa ayal segera ia gabrukkan pintu penjara dan ditutup rapat terus ia pantek sekalian dengan palang pintu, dengan demikian terhalanglah le Djan di luar.

Kemudian dengan cepat sekali Bun Sui-le membaliki tubuhnya mendekati Hong-ko lagi, ia menggerakkan pedangnya dengan cepat untuk memutuskan borgol yang masih terpasang di kaki pemuda itu, kemudian ia kempit Hong-ko terus dibawa lari kembali melalui jalan lorong di bawah tanah tadi.

Sementara itu terdengar di luar penjara itu suara keras benda yang ditumbuk dan didobrak, ia mengerti tentu le Djan yang lagi berusaha mendobrak pintu besi.

Tak berani ia tinggal lebih lama lagi, laksana terbang segera ia kabur secepatnya.

"Ie Djan tentu tidak sendirian, kalau kabur melalui luar istana pasti akan dicegat oleh mereka,"

Begitu ia berpikir di tengah jalan.

Ketika ia sedang berpikir, sementara itu ia sudah sampai di akhir lorong bawah tanah itu, ia meletakkan Hong-ko, lalu memutar pula wajan besar tadi dari dalam, segera juga mulut jalan lorong terbuka lagi dengan mengeluarkan suara berkeretek dan kemudian menutup pula dengan sendirinya.

Meski terasa rada letih, namun Hong-ko masih sanggup berjalan.

Bun Sui-le menarik tangannya terus menuju ke gunung di belakang Tjui-hun-kiong.

Tetapi baru saja mereka hendak melangkah lebih jauh, tiba-tiba tertampak dari atas gunung sana ada dua bayangan orang sedang berlari mendatangi secepat terbang dan gerakan tubuhnya gesit sekali.

Bun Sui-le mengerti pasti kaum cakar alap-alap lagi yang menguntit mereka, terpaksa ia mengajak Hong-ko untuk mengumpet lagi menuju ke istana bagian belakang.

Setelah mereka melewati pintu bundar, terlihat kamar Tjihun Tjindjin yang sunyi sepi itu pintunya terpentang lebar, Bun Sui-le menjadi girang sekali, tanpa berpikir lagi segera ia menarik Hong-ko terus masuk ke dalam kamar itu.

Ketika kemudian ia memandang ke dipan tempat bersemadi imam tua itu, kiranya tempat itu sudah kosong tanpa ada baangan orang, diam-diam ia menjadi rada kuatir.

Sementara itu ia mendengar ada suara orang melompat turun ke bawah, keadaan sudah kepepet, tanpa pikir lagi segera ia menarik Hong-ko terus menyelusup masuk ke kolong dipan dan dengan menahan napas mereka menantikan apa yang bakal terjadi.

Bun Sui-le mencoba menempelkan kupingnya ke lantai, ia mendengar di luar kamar itu sepertinya ada suara tindakan dua orang yang berjalan kian kemari.

"Tji-hun Totiang apakah berada di dalam?"

Begitulah kemudian terdengar ada suara orang bertanya.

Suara pertanyaan itu diulangi lagi, namun tetap tiada jawaban.

Diam-diam Bun Sui-le menjadi heran, bukankah terang sekali bahwa tadi ketika mereka masuk ke kamar, pintu kamar masih terpentang lebar dan mengapa kini bisa tertutup rapat hingga orang perlu bertanya?

Karena pertanyaannya berulang kali tanpa jawaban, menyusul lantas terdengar ada suara pintu yang didorong.

Akan tetapi belum sampai pintu terbuka, mendadak di luar ada suara sahutan yang agak tertekan.

"Pin-to ada di sini, Djiwi datang kemari hendak mencari siapa?"

Suara itu bukan lain ialah suara Tji-hun Tjindjin. Karena sahutan itu, rupanya kedua orang yang datang ini menjadi kaget.

"Haya, kiranya Totiang tidak ada di dalam!"

Terdengar mereka bersuara dengan rada terperanjat.

"Kami adalah orang dari markas Tjongtin hendak menggiring seorang tawanan turun gunung, di luar sana masih ada pula pasukan tentara yang datang bersama kami, tadi justru ada dua bayangan orang berkelebat dan begitu melihat kedatangan kami lantas menyembunyikan diri, maka kami bermaksud mencarinya."

"Hm, kamu sungguh tidak punya aturan sama sekali,"

Terdengar Tji-hun Tjindjin mengomel, rupanya ia agak kurang senang.

"Aku yang berada di atas panggung batu tidak nampak ada bayangan seorang pun, tetapi kamu ternyata berani usil ke istana bagian belakang ini, bukankah kamu tahu bahwa aku biasanya tidak suka ikut campur urusan luar tetapi ternyata kamu masih berani mengacau ke sini!"

Karena dampratan itu, kedua orang tadi menjadi bungkam dan tak berani menyahut.

"Baiklah kita pergi saja, boleh kita menemui dulu Sip-tiathong buat bertanya padanya,"

Terdengar seorang di antara mereka berkata.

Habis mana lantas terdengar suara tindakan yang ramai dan cepat menuju ke bagian depan.

Mendengar orang-orang di luar itu sudah berlalu, Giok-binyao-hou dan Hong-ko yang bersembunyi di kolong dipan barulah merasa lega.

Dalam pada itu tiba-tiba di dalam kamar terlihat ada bayangan orang berkelebat lagi, ketika mereka memandang dengan rasa terkejut, kiranya tidak lain ialah Tji-hun Tjindjin yang telah berdiri di depan tempat persembunyian mereka.

"Marilah, silakan kalian keluar!"

Begitulah terdengar semacam suara yang lemah-lembut berkata.

Tanpa sangsi lagi, segera juga Bun Sui-le bersama Hong-ko merangkak keluar dari kolong dipan terus menjura memberi hormat kepada Tji-hun sebagai tanda terima kasih.

"Tadi karena terpaksa, kami telah masuk ke kamar Totiang tanpa permisi, harap suka dimaafkan!"

Kata Giok-bin-yao-hou pula.

"Keonaran yang Boan-liong terbitkan sudah terlalu besar, lekas kamu kembali memberitahukan padanya supaya cepat meninggalkan Hoa-san dan jangan tinggal lebih lama lagi hingga urusan menjadi semakin runyam,"

Ujar Tji-hun Tjindjin. Kedua orang itu berulang-ulang menyatakan baik, kemudian mereka lantas hendak berlalu, namun Tji-hun keburu mencegah.

"Di luar sudah dijaga oleh pasukan tentara,"

Kata imam tua itu.

"Kalian boleh melalui jalanan kecil di belakang gunung saja, setelah keluar dari 'Lo-kun-le-kau', Pek-lian-am tentu sudah dalam jangkauan pandangan kalian!"

Kembali Bun Sui-le menghaturkan terima kasihnya atas petunjuk itu, kemudian mereka berpamitan pada imam tua itu terus menuju ke bagian belakang istana.

Setelah melintasi pagar tembok belakang Tjui-hun-kiong, mereka nampak sebuah gerujukan air kecil mengalir ke suatu sungai kecil, di tepi sungai itu batu gunung berserakan hingga merupakan suatu tempat persembunyian yang baik sekali.

Dengan menyusur tepi sungai itu, mereka meninggalkan Tjui-hun-kiong yang berbahaya, dari jauh mereka masih nampak bagian luar istana itu terdapat banyak bayangan orang dan berkumandang pula suara kuda yang mendengking ramai, mereka mengerti tentu 'Sip-tiat-hong' Ie Djan yang kembali dengan membawa pasukan tentara, cuma kedua orang tadi yang mengaku dari markas Tjongtin entah manusia macam apa?

Begitulah, tidak lama kemudian mereka sudah sampai di 'Lo-kun-le-kau', dekat dengan Djong-liong-nia.

Tengah mereka berdua berjalan, tiba-tiba Bun Sui-le mendengar di balik gunung sana mendesir datang suara keresekan seperti rumput yang tersambar sesuatu benda, lekas ia menarik Hong-ko terus mendekam mengumpet di semak-semak yang lebat.

Sekejap kemudian, mendadak sesosok bayangan orang melayang lewat dengan kain bajunya melambai tertiup angin.

Hong-ko yang bermata cukup jeli, dalam sekelebatan itu ia dapat menampak orang itu adalah seorang wanita, sekilas ia mengenali orang itu bukan lain ialah Ang-koh yang pernah ia jumpai di Soatang.

Diam-diam ia menjawil Bun Sui-le yang tentunya juga sudah kenal siapa adanya orang itu.

Dalam pada itu, dengan cepat sekali bayangan tadi melayang menuju ke Tjui-hunkiong dan tak lama kemudian menghilang dalam kegelapan.

"Mengapa ia datang ke sini juga?"

Ujar Bun Sui-le dengan heran.

"Mungkin kau lupa bahwa dia juga termasuk anak murid dari Khong-tong-pay!"

Sahut Hong-ko dengan pelahan. Dengan jawaban Hong-ko itu, barulah Bun Sui-le sadar, lalu ia mengangguk-angguk.

"Baiklah kita lekas kembali ke Pek-lian-am dulu buat menemui Boan-liong Tayhiap!"

Katanya kemudian.

Kali ini yang menunjukkan jalan agar Bun Sui-le pergi memohon pertolongan kepada Tji-hun Tjindjin buat melepaskan diri Hong-ko dari tawanan, memang bukan lain ialah Boan-liong, melihat mereka betul-betul telah kembali dengan selamat, dengan sendirinya ia ikut bergirang.

Kemudian Hong-ko menyatakan terima kasihnya atas bantuan orang, ia menyebut Boan-liong sebagai Lotjianpwe atau kaum angkatan tua.

Bun Sui-le pun lantas menceritakan pengalamannya tadi ketika berada di Tjui-hun-kiong.

"Kedatanganku kali ini memang untuk memenuhi janji dengan Hian-hong Totiang, sebenarnya tiada niatanku untuk campur tangan soal Tjhi Djin-ho itu, siapa sangka justru Kui Ping-boan, si pembesar anjing celaka ini telah terbentur dalam tanganku,"

Tutur Boan-liong.

"Tetapi kalau Tji-hun Tjindjin kini meminta aku harus meninggalkan tempat ini, maka boleh tak usah aku menunggu lagi!"

"Dian-tayhiap apa kau tak perlu menunggu Hian-hong lagi?"

Tanya ketua pengurus rumah biara itu.

"Sudah lewat temponya belum juga datang, biarlah aku pergi saja!"

Ujar Boan-liong.

"Tetapi kini Ang-koh pun sudah sampai di Tjui-hun-kiong, apakah Tayhiap tidak sabar menunggu lagi, mungkin tak lama Hian-hong pun pasti akan datang juga!"

Kata Bun Sui-le.

"Begitupun baik,"

Sahut Boan-liong mengangguk.

"Memang sudah lama aku mendengar bahwa di dalam Pek-lian-kau ada seorang pemimpin wanita yang dipanggil sebagai Ang-koh dan pernah diaku sebagai anak murid Khong-tong-san, aku ingin melihatnya juga macam apakah orang itu?"

Begitulah maka untuk sementara mereka tetap tinggal di Pek-lian-am, tiap hari Boan-liong Tayhiap tentu keluar buat mencari kabar kedatangan Hian-hong, ia berpesan agar Bun Sui-le berdua jangan mengunjuk muka dulu.

Dalam pergaulan paling belakang ini, persahabatan di antara Hong-ko dan Bun Sui-le ternyata makin rapat, ditambah pula Bun Sui-le melepaskan dirinya dari bahaya maut tanpa memikirkan resiko sendiri, hal ini sudah tentu banyak menambali kekalnya hubungan mereka Meski Hong-ko masih belum lupa akan kawan kecilnya, Pek Eng-dji, kawan di masa anak-anak mereka dan bahkan telah dipertunangkan oleh kedua orang tua mereka, namun setelah berpisah belasan tahun, lagi pula waktu perkenalan mereka masih masa anak-anak, hakekatnya belumlah berarti bahwa ada tertanam sesuatu bibit asmara di antara mereka Lain halnya hubungannya dengan Bun Sui-le yang siang dan malam selalu berdekatan dan dalam usia mereka yang sudah menginjak remaja sudah tentu berbeda sekali keadaannya, maka diam-diam mengutarakan perasaan mereka dan terjalinlah kedua hati mereka.

Selang dua hari kemudian, setelah kembali Boan-liong mengatakan pada mereka berdua.

"Aku mendapat kabar bahwa Hian-hong Totiang sudah sampai di Tjui-hun-kiong, wanita yang dipanggil Ang-koh itu ternyata betul adalah putri Pek Ting-djoan, Kun-su dari Pek-lian-kau, kedatangannya ke Hoa-san kali ini, katanya hendak mencari sesuatu benda yang telah hilang dari agama mereka. Yang aneh ialah para imam dari Khong-tong-san, Hian-thian, Hiang-ang dan Hian-hong serta kawan-kawan ternyata sudah lama bersekongkol dengan Pek-lian-kau, terhadap Ang-koh mereka ternyata cukup segan dan hormat."

Besok paginya Hong-ko menghilang, semua orang menyangka tentu ia sedang jalan-jalan keluar, tak tahunya sampai lohor ternyata pemuda ini masih belum pulang juga, keruan saja Bun Sui-le menjadi kuatir.

Kiranya secara diam-diam Hong-ko pergi mengintai pula ke Tjui-hun-kiong, ia ingin mengetahui lebih jelas apakah yang dianggil Ang-koh apa betul-betul adalah Pek Eng-dji yang menjadi kawannya semasa anak-anak.

Apabila betul, maka ia ingin menghilangkan kesalah-pahaman ketika ia melukai tangannya dengan pelor besi dahulu dan sekalian menasehati agar supaya Eng-dji suka melepaskan dirinya dari Pek-lian-kau dan jangan tersesat lebih jauh.

Setelah ia meninggalkan Lo-kun-le-kau, ia terus melanjutkan perjalanannya menuju ke Kim-so-kwan.

Tatkala itu adalah pagi hari, sepanjang jalan ia nampak banyak orang yang naik gunung hendak bersembahyang ke rumah-rumah biara itu.

Hong-ko mencampurkan diri di antara orang-orang yang hendak bersujud ke Tjui-hun-kiong.

Selang tak lama, bersama dengan serombongan orang lainnya ia sudah sampai di Tjui-hun-kiong, dalam istana itu, kecuali beberapa imam dari Khong-tong-pay, selebihnya tiada yang kenal Hong-ko, mereka menyangka seperti tetamu biasa saja yang hendak bersujud, maka ia disongsong ke sebuah kamar tamu.

Di sini ia disuguh air teh dan penganan sekedarnya.

Ketika ia disodori buku derma, tanpa ragu-ragu segera Hong-ko menulis di atasnya, Liautang Hap-kongtju menyokong lima puluh tahil perak.

Imam yang melayaninya nampak ia begitu tangan terbuka, namanya pun serupa bangsa Boan, ia disangka salah satu Kong-tju dari tingkat atas, maka sudah tentu ia dilayani makin baik.

dari sini kemudian ia dipersilakan ke sebuah kamar tetamu yang bersih, di sini ada satu baris kamar-kamar bagus yang khusus dipergunakan untuk melayani keluarga bangsawan dan hartawan.

Setelah selesai mengatur tetamunya, imani pelayan itu lantas mengundurkan diri.

Hong-ko melihat kamar tetangganya ada lelaki maupun perempuan, kesemuanya adalah keluarga dari kaum hartawan.

la lantas menutup pintu kamarnya dan mengeluyur keluar dari ruangan itu.

kebetulan ia menemukan seorang imam cilik, tetapi ia disangka sebagai tetamu pelancongan biasa saja, maka dirinya tidak diperhatikan.

Setelah ia menembusi beberapa ruangan, ia sampai di bagian belakang dari rumah biara itu, ia mengenali sebuah loteng tinggi yang dipagari pagar tembok merah bukan lain adalah tempat pada malam itu ia bertempur dengan imam Khong-tong-pay.

Selagi ia berniat masuk melalui pintu bulan (pintu yang berbentuk bundar), tiba-tiba ia mendengar ada suara tindakan orang yang mendatangi ke jurusannya, maka lekas ia berlindung ke belakang gunung-gunungan.

Yang mendatangi ternyata adalah dua imam muda, sambil berjalan mereka sembari saling mengomel.

"Bukankah tadi kau sudah disuruh melayaninya dengan hati-hati, ia mempunyai kedudukan sebagai Sian-koh, kalau kurang sempurna pelayananmu, Susiok tentu akan menghajar kita habis-habisan!"

Terdengar seorang di antaranya berkata.

"Ya sudahlah Suheng! Setelah sekarang aku mengetahui dia adalah Sian-koh yang tidak sembarangan, tentu aku tidak berani ayal lagi!"

Sahut yang lain. Sambil berkata, tak lama mereka pun sudah pergi jauh. Mendengar percakapan mereka, Hong-ko berpikir.

"Kalau begitu Ang-koh tentu tinggal di atas loteng itu, tetapi dalam keadaan siang hari bolong, cara bagaimana aku bisa ke sana?"

Karena pikirannya hanya satu, yaitu bertujuan untuk melihat Ang-koh dari dekat, maka pada saat demikian ini Hong-ko lupa bahaya apa yang bakal ia hadapi, seketika itu ia sudah mengambil suatu keputusan.

Dalam pada itu ia mendengar ada suara orang yang mendatangi lagi, ia lihat tidak lain ialah imam muda tadi, tangannya menjinjing sebuah kotak berisi makanan.

Hong-ko menunggu setelah imam cilik ini sudah lewat, secara berindap-indap ia menguntit dari belakang, mendadak ia kelebatkan pisau belati ke muka imam itu terus secara cepat ditekankan ke tenggorokannya.

"Jangan berteriak!"

Gertaknya dengan suara tertahan.

"Begitu bersuara, segera aku habisi nyawamu!"

Imam yang sekonyong-konyong nampak pisau belati yang mengkilap berkelebat di mukanya itu dan dibarengi dengan suara ancaman, ia menjadi kaget dan ketakutan hingga seketika itu ia tertegun tanpa berani berkutik.

Hong-ko menyeretnya ke belakang gunung-gunungan tadi terus dibekuk ke tanah, saking takutnya hingga imam itu tak bertenaga lagi, kedua kakinya lemas dan dengan sendirinya ia mendeprok ke bawah.

Lebih dulu Hong-ko menyumbat mulut imam kecil itu dengan kain bajunya, sesudah itu ia meringkus pula kaki tangannya dan ditutup lagi matanya, kemudian baru ia menggusur imam itu ke suatu pojok terus mencopoti pakaian imam untuk dipakainya sendiri, setelah selesai, sambil menjinjing bakul yang berisi penganan tadi ia lantas menuju ke halaman loteng.

Dengan menyamar sebagai imam, ternyata ia bisa masuk dengan leluasa.

Setelah sampai di atas loteng, ia lihat kain layar kuning melambai turun dan di lantai tergelar permadani merah tebal Setelah itu ia mencoba berdehem, segera juga terdengar ada suara kaum wanita yang berseru.

"Siapa?"

"Aku yang rendah mengantar makanan untuk Sian-koh,"

Sahut Hong-ko dengan tekanan suara yang dibikin-bikin.

"Masuk!"

Terdengar pula suara dari dalam.

Maka dengan kepala menunduk masuklah Hong-ko ke dalam, ia sengaja menjinjing tinggi-tinggi bakul penganan yang ia bawa tadi, dengan begitu ia menutupi setengah mukanya agar tidak dikenali orang.

Ketika ia melirik, terlihat olehnya di sana duduk seorang wanita yang bukan lain ialah Ang-koh, tertampak rambutnya yang indah dengan bunga cempakanya masih tetap seperti apa yang pernah ia lihat dahulu, hanya pakaiannya yang berlainan, mukanya pun mirip dengan Pek Eng-dji yang kurus kering dan kulit kekuning-kuningan di masa dahulu, terang berbeda jauh sekali dengan keadaannya sekarang.

Sementara itu Ang-koh hanya melengos, sudah itu ia membalikkan kepalanya lagi, nyata ia sedang mencurahkan perhatiannya terhadap beberapa gelintir pelor besi yang ada di dalam tangannya.

Dengan setengah membelakangi, Hong-ko menaruh bakul makanannya berbareng ia coba melirik mengintai, akan tetapi segera hatinya menjadi tergoncang dan berdebar-debar, ia tidak menduga bahwa apa yang ada dalam genggaman tangan Ang-koh ternyata adalah senjata rahasia miliknya, di antaranya dua gelintir yang kehitam-hitaman ialah senjata yang ia timpukkan padanya ketika berada di Soatang dahulu, sedang dua buah pelor baja lainnya adalah senjata yang ia arahkan pada Tjhi Djin-ho malam-malam, kini kesemuanya ternyata berada di tangan Ang-koh dan sedang diamat-amati apakah pemakai senjata rahasia itu sama orangnya, suatu tanda pula bahwa wanita ini masih belum lupa karena tangannya terluka di Soatang dahulu.

"Silakan Sian-koh bersantap pagi!"

Hong-ko menyilakan sambil sedikit membungkuk setelah ia mengatur makanan yang ia bawa itu.

Terdengar Ang-koh menjawab dari tempat duduknya, namun ia tetap tidak berpaling.

Karena itu, dengan memberanikan diri Hong-ko lantas memandangnya secara terang-terangan dari depan, ia merasa air mukanya, dari hidung, mata, alis hingga mulut dan lainnya lagi iemua mirip sekali dengan Pek Eng-dji, ia teringat bahwa pada daun kuping sebelah kanan ada suatu tanda, ternyata tanda itu hingga kini masih tertampak juga.

"Banyak membikin lelah To-heng saja!"

Tiba-tiba Ang-koh berpaling dan berkata.

Sekilas itu, agaknya Ang-koh tertegun, sinar matanya yang tajam bertemu dengan pandangan Hong-ko.

Karena itu Hong-ko menjadi terkejut sekali, lekas ia menunduk sambil membungkuk lagi.

"Apa Sian-koh masih ada pesan lain?"

Tanyanya pura-pura. la tak berani mengangkat kepalanya lagi.

"Di sini sudah selesai, terima kasih!"

Sahut Ang-koh. Lekas Hong-ko membaliki tubuhnya terus hendak angkat kaki, tetapi baru saja beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba ia mendengar dari belakang Ang-koh memanggil lagi.

"Nanti dulu To-heng, gelarmu masih belum aku ketahui!"

Ujarnya. Terpaksa Hong-ko harus membalik lagi, ia berpura-pura sedikit membungkukkan dan menjawab pertanyaan orang.

"Aku bergelar Hoat-tjin, Tosu pelayan tamu di sini, apa Sian-koh masih ada sesuatu keperluan?"

Setelah memandang padanya agaknya Ang-koh pun menunjukkan wajah yang heran, karena Hong-ko berhenti dan ber-balik menjawab, ia menjadi ragu-ragu.

"Hoat-tjin To-heng, baiklah, silakan kau pergi!"

Sahutnya pada akhirnya.

Seperti terlepas dari beban yang berat, lekas Hong-ko angkat kaki, ia turun dari tangga, tetapi dalam hatinya merasa sayang juga, sebenarnya ingin hatinya bisa lebih banyak memandang pada Ang-koh.

Di bawah loteng itu ada sebuah ruangan lain, ketika ia lewat di pintu samping, tiba-tiba dari depan menubruk datang seorang imam, karena itu mereka saling tumbuk.

Bagi orang yang memiliki ilmu silat yang tinggi, tidak peduli kapan dan dimana, begitu ada sesuatu yang menyentuh tubuhnya, dengan sendirinya pasti akan mengeluarlah semacam tenaga penolak.

Kini tanpa disengaja Hong-ko bertubrukan dengan imam tua yang datang secara mendadak itu, seketika ia mengeluarkan tenaga dalamnya buat menahan tubuhnya, namun karena ilmu silat imam itu jauh lebih tinggi dari Hongko, maka Hong-ko tergetar hingga sempoyongan beberapa tindak, lekas ia memakai langkah Hi-djiok-kue-ki atau burung kutilang berpindah cabang pohon, dengan begitu ia bisa menahan tubuhnya untuk berdiri tegak, dalam pada itu si imam tadi sudah masuk ke dalam ruangan.

Waktu Hong-ko menegasi, tiba-tiba ia mengeluh!

Kiranya imam ini memakai jubah pertapaan dan berjenggot cabang tiga yang serupa dengan Hian-thian dan Hian-ang, sinar matanya tajam.

Agar dirinya tidak lantas dikenali, lantas Hong-ko mendekam ke bawah dan berulang-ulang menjura memberi hormat.

"Harap Supek memaafkan, tadi secara tidak sengaja telah menabrak Supek, di sini Wanpwe memberi hormat!"

Katanya.

Akan tetapi imam itu ternyata tidak gampang diingusi, ia mengamat-amati padanya, sudah itu mendadak ia mengebut dengan lengan bajunya hingga seketika itu topi imam di atas kepala Hong-ko kabur copot oleh sambaran angin lengan bajunya.

"Besar sekali nyalimu, kiranya kaulah yang telah menyamar!"

Terdengar imam tua itu segera membentak.

Bukan main kejut Hong-ko demi mengetahui dirinya terbuka kedoknya, lekas ia menggelundung pergi ke samping.

Kiranya imam ini ialah Hian-hong, kali ini ia berjanji dengan Boan-liong Kiam-khek untuk bertemu di Hoa-san, kebetulan juga Ang-koh mendapat berita bahwa Giok-bin-yao-hou Bun Sui-le telah sampai di Hoa-san, oleh karena itu ia menyusul kemari, karena Hian-hong masih harus mampir ke markas Tjongtin di Limtjing untuk mencari sutenya, Hian-thian, maka berbalik ia datang lebih belakang.

Ketika itu imam tua ini sedang hendak menuju ke loteng di belakang istana itu untuk menemui Ang-koh, tiba-tiba ia mendengar suara riuh tindakan kaki yang tergesa-gesa sedang turun dari loteng, tindakan itu membawa gaya yang enteng, ia dapat membedakan orang yang datang ini pasti seorang ahli silat.

Waktu kemudian ia memandang, ia lihat yang turun adalah seorang imam muda, maka ia menjadi heran, maka sengaja ia menubruk padanya dan segera pula ia dapat menjajal bahwa imam muda ini agak mencurigakan.

Dalam pada itu, setelah Hong-ko menggelundungkan diri keluar istana tadi, sekonyong-konyong Kim-na-djiu yang lihai dari Hian-hong pun sudah memapaki padanya, ia berpikir hendak mencabut belatinya, namun sudah terlambat, terpaksa ia merogoh sekenanya beberapa biji pelor besinya terus ia sambit-kan ke arah imam tua itu.

Mendengar sambaran angin, Hian-hong mementang tangannya terus menyambut datangnya pelor.

"Bagus, kiranya yang biasa menyambit dengan pelor besi adalah kau, kali ini jangan harap kau bisa lolos,"

Serunya dengan tertawanya.

Dalam pada itu, Hong-ko sudah sempat mencabut belatinya, segera ia melangkah maju dengan gerakan 'Moakoh-tjin-yok' atau si nona menyuguh minuman, segera ia menikam.

Bagaimanapun, memang Hian-hong mempunyai kepandaian sudah jauh lebih masak daripada Hong-ko, dengan sedikit mengegos ke samping, berbareng lagi menuju ke muka si pemuda, karena itu pandangan matanya menjadi terhalang, sementara itu, si imam merangkap dua jarinya terus menotok dengan tipu 'Yap-te-tau-hoa' atau mencuri bunga dari bawah daun, secepat kilat ia menotok ke pundak Hong-ko.

Gerak tipu itu adalah ilmu totokan yang lihai dari Kim-nadjiu yang mempunyai 72 jurus gerakan, karena tidak sempat menghindar lagi, segera 'Hun-bun-hiat' di pundak Hong-ko terkena totokan Hian-hong hingga seketika ia roboh tersungkur tanpa bisa berkutik.

Saat itu juga, dari luar istana masuk pula dua orang yang bukan lain adalah jagoan-jagoan dari kerajaan pada malam itu, yakni Tui-hun-djiu' Njo Djun dan 'Siau-song-sin' Li Ngo.

Tatkala mereka nampak Hian-hong dapat menotok roboh seorang yang menyamar sebagai imam, segera mereka dapat mengenali sebagai bocah yang tempo hari kepergok bersama Giok-bin-yao-hou.

Maka lekas mereka berkatakan pada Hian-hong.

"Totiang, orang ini ialah pembunuh Kui-taydjin, kita justru sedang mencari dia, kali ini betul-betul ia sendiri yang telah menghantar jiwanya."

Mendengar penuturan itu, diam-diam Hian-hong berpikir.

"Kebetulan juga, dahulu ketika aku mengawal Pi-hwe-tju, mutiara mestika itu telah kena digondol lari oleh bocah ini di hutan Tjo, kini justru ia terjatuh di tanganku, maka boleh dikata aku yang lagi mujur, mana mungkin aku menyerahkan dia pada kalian berdua untuk digiring ke kotaraja buat menerima pahala?"

Begitulah segera Hian-hong mengatur tipunya, ia hendak merebut kembali mutiara mestika yang pernah digondol lari oleh Hong-ko dulu, maka ia tidak bersedia menyerahkan pemuda itu kepada Njo Djun dan Li Ngo berdua, tetapi ia kualir juga apabila Ang-koh melihat Hong-ko, pemuda ini bisa dipaksa menyerahkan mutiaranya itu.

"Tuan-tuan bayangkara tidak usah kuatir, orang ini menyamar sebagai imam dalam istana ini, Pin-to harus menyerahkan dia pada Hian-thian Sute untuk diperiksa buat mengetahui cara bagaimana ia bisa menyelundup masuk ke dalam dan apakah masih ada begundalnya, sudah itu baru diserahkan pada Dji-wi untuk digiring ke kotoraja dan dihukum, aku kira di tangan kami tak mungkin ia bisa lolos!"

Dengan perkataannya itu, Hian-hong secara samar-samar mengatakan bahwa dia yang menangkap, maka harus diperiksa dahulu baru bisa diserahkan pada mereka.

Njo Djun dan Li Ngo cukup kenal kepandaian Hian-hong, maka mereka lantas menjawab baik.

Begitulah lantas, Hianhong meringkus kaki tangan Hong-ko terus ia seret sendiri dan digusur ke dalam penjara, sudah itu baru ia naik ke loteng lagi buat menemui Ang-koh.

Melihat kedatangan Hian-hong, lekas Ang-koh menyambut padanya, kedua bayangkara itupun setelah bertemu, mereka pun berdiri di samping.

"Kabarnya Totiang tadi telah menangkap seorang yang menyamar sebagai Tosu yang menjadi begundal Giok-bin-yaohou, entah orang ini bernama siapa dan kini berada dimana?"

Tanya Ang-koh.

Teng Hong-ko yang belum lama merantau, tidak terkenal di kalangan Kangouw, ia hanya dikenal sebagai seorang bocah yang pernah merampas mutiara mestika di hutan Tjo dahulu, belakangan setelah mengintai ke Tjui-hun-kiong malammalam bersama Giok-bin-yao-hou dan dengan pelor besinya telah melukai Tjhi Djin-ho, kesemuanya itu adalah perbuatannya seorang.

'Sian-koh, Pin-to sudah mengurung penjahat cilik itu dalam panjara bawah tanah,"

Begitu sahut Hian-hong atas pertanyaan orang tadi.

"Dulu orang yang merampas kereta di hutan Tjo tidak lain adalah dia ini, sayang ketika itu Pin-to datang terlambat hingga ia keburu bisa melarikan kereta, hanya dari Ie Djan didapat keterangan bahwa oleh kawankawannya ia diteriaki sebagai 'Siau Kim-kong'. Beberapa hari yang lalu bersama perempuan terkutuk Bun Sui-le datang ke sini lagi, kedua Si-we-ya (tuan bayangkara) ini malam itu telah bergebrak dengan mereka, tentu mereka mengetahui asalusulnya!"

Karena diri mereka disinggung, seketika Li Ngo menjadi tergagap.

"Tjayhe pun tidak mengetahui siapa nama jahanam ini,"

Sahutnya pada akhirnya.

"Hanya diketahui bahwa dia adalah anak murid dari Go-bi-pay, dan kali ini ikut Giok-bin-yao-hou ke sini untuk membunuh Kui-taydjin."

Baca Juga: Telapak Emas Beracun 4

Baca Juga: Pisau Kekasih 3

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger