Tiga Mutiara Mustika 2

Eps 2 Tiga Mutiara Mustika - Gan Kl

Baca online Tiga Mutiara Mustika - Gan Kl

Cersil Tiga Mutiara Mustika - Gan Kl.

Dalam pada itu, di pelataran rumah itu tiba-tiba terdengar bentakan yang ramai, dua Pothau yang kemarin datang bersama Tjin Siu-pi itu telah memburu ke ruang latihan dengan golok terhunus.

Dengan terkejut Giam Tje-tjwan memandang, tetapi akhirnya tahulah ia bahwa Teng Hong-ko yang mencampurkan diri di antara para centeng rupanya telah dipergoki oleh kedua anggota polisi itu.

Sesaat itu, suasana segera ramai oleh suara beradunya senjata tajam, Teng Hong-ko telah melompat maju, dengan pedangnya ia memapaki golok lawan, secepat kilat dengan satu tipu 'Thian-su-hian-kan' atau Thian-su mempersembahkan surat, ia membikin kedua lawannya terpaksa harus mundur.

Beberapa begundal petugas negeri lainnya begitu melihat kawan mereka sudah bergebrak, mereka maju serentak dan mengepung Hong-ko di tengah.

Tetapi Hong-ko tak gentar walaupun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak, pedangnya diputar dengan cepat, dimana pedangnya sampai, di situ senjata musuh segera terpental.

Selagi pertarungan menjadi makin sengit, tiba-tiba terlihat ada bayangan orang berkelebat, seseorang telah menerobos masuk di antara senjata-senjata yang saling beterbangan, beberapa jagoan petugas mendadak merasa pergelangan tangan mereka kaku pegal, sementara itu Giam Tje-tjwan sudah menghadang mengalingi di depan Teng Hong-ko.

"Berhenti semua!"

Bentaknya. Kiranya tadi ia telah mengunjukkan 'Im-yang-tjiu' yang lihai, ia telah menotok tangan seorang jagoan yang paling depan, sedang pedang Hong-ko pun kena teraup di tangannya.

"Jangan kamu coba membikin ribut di rumah Lohu!"

Ia melanjutkan bentakannya.

"Seandainya ada perkara betapa besarnya pun, Lohu boleh memikul seluruhnya."

Beberapa jagoan polisi yang mengetahui kelihaian Giam Tje-tjwan, maka seketika mereka tak berani coba bertindak sesukanya lagi. Hanya Tjin Siu-pi yang sementara itu telah mendekati.

"Giam-lodji, berani kau melawan!"

Katanya dengan tekanan suara berat sambil matanya melotot.

"Tjin-taydjin, perkenankan aku bertanya, kau diperintahkan datang buat menggeledah rumah atau menangkap orang?"

Tanya Giam Tje-tjwan, si 'Im-yang-pat-kik-tjiu' dengan berani.

Karena pertanyaan yang spontan dan beralasan itu, seketika Tjin Siu-pi bungkam, tetapi kemudian lantas ia menjawab sesudah berpikir sejenak.

"Tam-taydjin memerintahkan aku ke sini, menghendaki agar kau menyerahkan barang aslinya yang ada di dalam peti!"

"Aneh sekali perkataan Tjin-taydjin itu,"

Sahut Giam Tje tjwan.

"Berdasarkan apa memastikan bahwa barang di dalam peti itu sudah bukan yang asli lagi?"

Tjin Siu-pi menjadi gelagapan lagi oleh pertanyaan itu, karena tak mungkin ia menceritakan terus terang apa sebenarnya yang terjadi. Karena itu, dari malu ia berubah menjadi gusar.

"Giam Tje-tjwan, tak usah kau banyak membacot, baiknya kau dan bocah she Teng itu ikut kami, kemudian biar diputuskan sendiri oleh Tam Ting-siang!"

Ia membentak lagi. Sudah itu, tanpa berkata lagi segera ia memberi tanda, para begundalnya segera maju mengepung lagi mereka berdua, cuma sudah tak berani sembarangan menggerakkan tangan pula.

"Aku, Giam Tje-tjwan selamanya tidak pernah berbuat sesuatu kejahatan, andaikan harus ikut pergi dengan pembesar anjing ini pun tak takut, cuma entah orang muda she Teng telah melakukan perbuatan apa sewaktu di tengah jalan,"

Pikir Giam Tje-tjwan. Agaknya Hong-ko dapat menerka apa yang orang tua itu pikirkan, maka lantas ia maju dan berkata padanya.

"Giam-loenghiong jangan kuatir, Siautit datang dari Go-bi tanpa berbuat sesuatu kejahatan, negara tentu ada peraturan hukumnya, apakah kita takut fitnahan pada orang baik-baik, biar Siautit ikut Lo-tjianpwe pergi bersama mereka, coba apakah mereka berani sewenang-wenang mencelakai orang."

Perkataannya begitu bersemangat dan berani, Tjin Siu-pi mau tak mau harus melirik, sedang Giam Tje-tjwan diam-diam memuji pemuda ini yang cukup tabah dan berani.

Akhirnya mereka berdua digiring keluar dari rumah dan meninggalkan kampung mereka.

Dari kampung 'Kak-thau-tjun' ke kota Tjelam masih harus melalui perjalanan yang memakan tujuh atau delapan li, sepanjang jalan Tjin Siu-pi berlaku waspada untuk menjaga segala kemungkinan.

Ketika mereka sedang berjalan, dari depan sementara itu telah mendatangi dua orang laki-perempuan yang berdandan sebagai petani, yang lelaki menjunjung bakul bambu, sedang yang perempuan mengenakan caping dan memikul pikulan kayu yang dipalangkan.

Teng Hong-ko berjalan berendeng dengan Giam Tje-tjwan, begitu nampak kedua orang ini, segera ia menyenggol padanya dan memberi kedipan mata.

Dalam pada itu, beberapa petugas yang berjalan di depan sudah membentak meminta si wanita minggir, sambil goloknya yang besar diangkat tinggi-tinggi.

Namun wanita itu agaknya acuh dan tak mendengar, ia masih terus maju dengan pikulan kayunya yang tetap malang melintang, sedang jarak di antara mereka sudah tinggal beberapa tombak saja.

Si lelaki yang berjalan di sebelah belakang tampak lekas maju ke depan, dengan kedua tangannya ia memegang kencang bakul bambu yang tersunggi di atas kepalanya, ia berkata pada petugas itu.

"Tuan-tuan besar maafkan kami, isteriku itu kedua telinganya memang tuli!"

Di waktu ia berbicara itu, maka jarak antara mereka sudah semakin dekat, barulah petugas itu sempat menggertak pula.

"Lekas enyah!"

Dan mereka mengangkat golok buat menakut-nakuti, sekonyong-konyong secepat kilat lelaki itu telah menumplekkan bakul bambu yang disunggi itu ke depan, ternyata isi di dalamnya adalah kapur gamping, dan justru waktu itu angin bertiup ke jurusan para petugas itu, keruan saja seketika berupa segumpalan awan putih yang mengabut, kapur gamping itu telah berhamburan di antara mata.

mulut dan kepala para petugas yang berjalan di depan itu, hingga mereka kelabakan tak tahu jalan, saking gugupnya mereka menggelepar, hanya golok mereka saja yang diobat-abitkan sekenanya.

Dalam pada itu si wanita tadi sudah memutar pikulannya menerjang ke dalam barisan serdadu Boan, begitu hebat pikulannya bekerja hingga tanpa ampun lagi siapa saja yang mendekat kena dihantamnya.

Sedang si lelaki dengan cepat pun sudah melolos pedangnya, ia melompat ke samping Hong-ko dan terus menariknya pergi.

Beberapa jagoan coba menyusul, tetapi lelaki itu membalik dengan beberapa serangannya sudah membikin para jagoan itu tungganglanggang.

Kedua lelaki-perempuan yang menyamar sebagai petani ini bukan lain ialah 'Pat-pi-long-kun' Yan le-lam dengan isterinya, Hoa Sian-bu, mereka diam-diam mengikuti Teng Hong-ko, waktu mengetahui hari ini Tjin Siu-pi mengerahkan pasukannya ke Giam-keh-tjeng, mereka lantas tahu tentu telah terjadi sesuatu, maka sengaja mereka menanti di tengah jalan untuk menolong bila perlu.

Sementara itu Teng Hong-ko pun sudah melolos pedangnya yang memang sudah disiapkan itu, ia memanggil Giam Tjetjwan dan berseru padanya.

"Lotjianpwe, marilah ikut kami membobolkan kepungan!"

Tetapi Giam Tje-tjwan ternyata seperti tidak mendengar seman itu, bukannya ia maju, sebaliknya ia mundur dan bergabung dalam rombongan serdadu musuh.

Beberapa jagoan yang tadi diterjang bubar oleh Yan Ie-lam sementara itu telah merubung maju lagi sambil membentak.

"Tangkap penjahat!"

Yan Ie-lam dapat menduga Giam Tje-tjwan tentu tak mau bertaruh dengan keselamatan harta benda dan keluarganya, maka segera ia memberi tanda pada Hong-ko, sesudah itu pedang mereka bekerja dengan cepat untuk menerjang keluar dari kepungan.

"Giam-loenghiong, Wanpwe tidak berbuat sesuatu kejahatan, kini terpaksa kami harus pergi dahulu!"

Teriak Teng Hong-ko akhirnya.

Setelah itu bersama Yan le-lam segera mereka menerjang keluar, pedang mereka bekerja dengan kencang, dalam sekejap saja mereka sudah berhasil membobol kepungan, sedikit musuh yang mencoba mengejar telah dibikin kalangkabut juga oleh balikan pikulan Hoa-lihiap yang terus menyerampang dan menyeruduk, tidak antara lama mereka bertiga sudah menghilang dari kejaran.

Sekonyong-konyong, secepat kilat lelaki itu me-numplekkan baku!

bambu yang disungginya itu ke depan, ternyata di dalamnya berisi kapur Ramping.

Waktu Tjin Siu-pi dapat menenangkan kembali dirinya dan memeriksa pasukannya, ternyata sudah lebih dari separoh yang terluka atau binasa, masih beruntung Giam Tje-tjwan tidak ikut lolos.

"Giam Tje-tjwan, begitu besar nyalimu, berani kau bersekongkol dengan kaum pengacau untuk membegal tawanan di sini!"

Bentak Tjin Siu-pi saking gemasnya karena mengalami kerugian yang tak sedikit itu, ia pun menjadi gusar dengan mata melotot.

"Tjin-taydjin, hendaklah jangan asal memfitnah saja,"

Jawab Giam Tje-tjwan yang tidak menyerah mentah-mentah.

"Aku tidak kenal siapa orang yang datang tadi. kalau tidak, apakah aku bersedia terus tinggal di sini?"

Setelah ia berpikir sejenak, meruanglah masuk diakal apa yang diucapkan Giam Tje-tjwan itu. maka Tjin Siu-pi tak berani terlalu mendesak lagi.

"Meskipun kau tidak ikut kabur, tetapi pengacau itu telah merampas tawanan she Teng itu, tentu kau kenal mereka,"

Kata Tjin Siu-pi lagi dengan lagu suara yang sudah berubah.

Kemudian ia perintahkan prajuritnya berangkat kembali ke Tjelam dengan menggiring Giam Tje-tjwan.

Sementara itu sesudah Pat-pi-long-kun berhasil menolong Teng Hong-ko, mereka bertiga dengan cepat sudah meninggalkan kampung yang terjadi huru-hara itu, waktu hari mulai gelap, mereka sudah menempuh tujuh atau delapan puluh li, ketika itu mereka sudah sampai di bawah lereng gunung Thay-san.

Dalam malam yang remang-remang, akhirnya mereka tiba di suatu perkampungan yang besar, di pintu gerbang depan terlihat tertulis 'Mo-dji-tje' tiga huruf.

Ketika mereka masuk ke ruang tengah, maka Hong-ko lantas menampak para pahlawan yang pernah berkumpul di Pek-hoa-ho tempo hari, ada lima atau enam orang di antaranya juga hadir di sini, begitu melihat mereka datang, segera mereka bangkit berdiri menyambut.

Antara lain yang di situ ialah It-tun Ki-su Si Liang, Tju-kat Beng dari Liong-bun-pang, Liok Ing, To Dji-hay, Mo Djit, pemimpin Ang-hoa-hui Liu Ut dan masih ada pula seorang imam yang tidak mereka kenal.

"Dia adalah Gui Djing-si Totiang dari Djing-si-koan di Ongok-san,"

Si Liang memperkenalkan pada mereka bertiga sambil menunjuk si imam.

"Hari ini justru ia datang kemari bersama Giok-bin-yao-hou Bun Sui-le dari Djit-hong-san, tetapi karena mendapat sesuatu kabar berita tentang mutiara mestika di tengah jalan, Bun-tjetju telah mengirim Gui-totiang memberitahukan ke sini dahulu."

Terhadap sahabat baru itu, suami isteri Yan le-lam dan Teng Hong-ko maju memberi salam perkenalan.

"Djing-si Totiang, Bun-tjetju entah telah mendapatkan kabar apa?"

Tanya Hoa-lihiap kepada kenalan barunya itu.

"Siauto bersama Bun-tjetju datang dari Liu-ho, pada waktu ia berada di Ya-yao-kang, ia telah mendapat kabar bahwa sebutir mutiara mestika secara diam-diam telah dikirim dari Khay-hong, yang mengawal ialah dua jagoan kelas berat dari Ko-yang-pay, masing-masing Ie Djan yang berjuluk 'Sip-tiathong' dan Tji Tjing-hian yang berjuluk 'Hoan-san-kau', walaupun Bun-tjetju tidak kenal kedua orang ini, tetapi sengaja ia hendak coba menguntit mereka."

"Oh, kiranya begitu!"

Kata Hoa-lihiap. Setelah para pendekar bertanya tentang pengalaman mereka tadi, akhirnya Pat-pi-long-kun diam-diam menarik Si Liang menyingkir.

"Manusia macam apakah Gui Djing-si itu? Tingkah lakunya aku lihat agak sedikit mencurigakan!"

Tanyanya pada Si Liang.

"Aku pun belum pernah berjumpa dengan dia,"

Sahut Si Liang.

"Cuma kabarnya beberapa waktu yang lalu, ia adalah tokoh ternama dari kalangan Liok-lim di Kwangwa dan berkumpul bersama 'Tiat-pi-goan' Song Kiat, belakangan ia baru menjadi imam di Ong-ok-san, kedatangannya hari ini adalah karena kenal dengan Tju-kat Beng dan Mo Djit, mereka sama-sama adalah begal besar dari daerah Siamsay dan Sutjwan."

"Kini persoalannya makin lama makin ruwet, 'Sam Po Tju' belum ada satupun yang jatuh di tangan kita, tapi dari berbagai pihak sudah pada ikut mengincar, agaknya kelak tak dapat terhindar dari percekcokan,"

Ujar Yan le-lam pula dengan menggeleng-geleng kepala. Tengah mereka berbicara, tiba-tiba Hoa-lihiap pun menyusul datang.

"Apakah kamu sedang mempersoalkan si imam tua itu?"

Tanyanya menimbrung.

"Ya, Yan-toako menguatirkan maksud kedatangan Gui Djing-si yang mungkin tidak bersih!"

Sahut Si Liang.

"Memang aku pun sedang hendak memperingatkan kau,"

Tutur Hoa-lihiap.

"Melulu seorang Giok-bin-yao-hou saja kita sudah susah melayani, apabila kini ditambah dengan seorang Gui Djing-si, imam tua yang biasa berlaku tak bersih ini, jangan-jangan nanti nama baik kita ikut ternoda!"

Sungguhpun dalam hati sudah menaruh curiga, tetapi menurut kebiasaan kaum Liok-lim, siapa saja yang sudah ikut, tak mungkin ditolak lagi dan apa yang akan dilakukan harus dirundingkan bersama.

Maka malam itu juga, di 'Mo-dji-tje' terjaga rapi, bahkan penyelidik disebar hingga jauh, sedang di ruangan besar markas mereka sedang berkumpul para pahlawan untuk mempelajari rahasia apa yang terdapat pada senjata rahasia dalam peti Teng Hong-ko itu.

"Apabila memang benda-benda ini tidak mengandung rahasia, si pembesar anjing Tam Ting-siang tentu tidak mungkin hanya dalam semalam saja telah mengetahui barang-barang dalam peti ini sudah ditukar orang!"

Tju-kat Beng mengutarakan pendapatnya.

"Memang betul apa yang Tju-kat-heng katakan,"

Ujar Si Liang sependapat.

"Menurut dugaan Siaute, saudara Teng di tengah jalan tentu sudah dikuntit oleh begundal Tjhi Djin-ho dan memperalat dirinya sebagai tameng mereka, sebabnya ialah karena ia membawa 'pedang perjalanan' dari Go-bi-pay, siapa saja dari kalangan Liok-lim yang melihatnya sudah pasti tidak mungkin mengganggunya."

"Perhitungan Si-toako memang tepat juga."

Ganti Yan lelam yang bicara.

"Tetapi pada waktu berada di Pek-hoa-ho, bukankah kita sendiri sudah memeriksa betul barang-barang dalam peti dan memang tak tertampak sesuatu tanda yang mencurigakan?"

Jika semua orang sedang mengutarakan pendapat masingmasing dengan ramai, adalah Gui Djing-si waktu itu sedang duduk di suatu sudut sambil mengelus-elus jenggotnya, sepasang matanya yang melambai ke bawah sedang mengincar 'Sam-ling-piau' dan pelor besi yang terserak di atas meja.

"Aku ada satu usul, entah bagaimana pendapat Tjuwi!"

Tiba-tiba ia berkata sesudah agak lama.

"Djing-si Totiang, kau yang sudah banyak berpengalaman dan berpandangan luas di kalangan Hek-to (golongan hitam), jika ada pendapat bagus, silakan katakan!"

Lekas Tju-kat Beng menyahut.

Imam tua itu berbangkit, ia mendekati meja dimana tergeletak senjata rahasia yang menjadi pokok persoalan, ia mengambil sebuah 'Sam-ling-piau* untuk diperiksa, sesudah itu baru ia berkata pula.

"Senjata rahasia dari Go-bi-pay ini terbikin dengan ketelitian yang luar biasa, tiap piau dan tiap butir pelor besi mempunyai bobot yang sama tanpa beda sedikitpun, di sini kini terdapat tiga buah Sam-ling-Piau dan dua belas biji pelor besi, kita boleh menyediakan alat timbangan dan menimbang tiap barang ini."

Mendengar usulnya itu, para benggolan yang hadir itu mau tak mau harus mengakui kecerdikan pikirannya.

"Memang bagus sekali pendapat itu,"

Kata Si Liang memuji.

Kemudian ia perintahkan penjaga mengambil alat penimbang, Gui Djing-si sendiri mengukur timbangan tiap-tiap buah senjata piau itu, ternyata ketiga piau itu mempunyai bobot yang sama tanpa beda.

Menyusul itu adalah peluru besi yang harus ditimbang, satu persatu ditimbang, sampai pada biji pelor ketujuh, tiba-tiba diketahui bahwa beratnya jauh lebih enteng dari yang lain.

"Peluru ini berperut kosong!"

Gui Djing-si berseru girang tak tertahan.

Keruan saja para benggolan itu seketika berkerumun maju ke pinggir meja, sementara itu Si Liang yang telah memeriksa dengan teliti di bawah sinar api lilin, akhirnya terbukti juga memang 'Thi-wan' atau peluru besi itu terdapat tanda satu garis kecil di tengah-tengahnya.

Hoa-lihiap tampil ke muka, ia menyambut peluru besi itu, dan ia menggelar saputangannya di atas meja.

Kemudian terlihat ia menekan dan memutar peluru besi itu, maka sesaat kemudian tertampaklah selarik sinar putih menyilaukan pandangan orang, ternyata di dalam peluru besi itu menggelundung keluar sebutir mutiara sebesar biji buah kelengkeng yang bersinar gemerlapan tersorot oleh sinar lampu hingga menyilaukan mata.

Hoa-lihiap menjemputnya dan ditaruh kembali ke saputangannya, mutiara itu begitu licin mengkilap, makin dilihat makin menyenangkan, tidak salah kalau dikatakan mutiara mestika yang jarang diketemukan.

Saking kagumnya para benggolan itu, sampai seketika keadaan menjadi sepi, betul mereka terhitung benggolan di daerahnya masing-masing, harta benda dan emas berlian atau batu permata yang sudah mereka rampas pun tidak sedikit, tetapi sesungguhnya belum pernah mereka melihat mutiara secantik dan sebesar ini, saking takjubnya hingga lupa daratan menatapkan sinar mata mereka yang mengandung perasaan kagum dan serakah, sampai rahasia cara bagaimana pelor besi tadi bisa terbuka sudah tak mereka perhatikan lagi.

"Barang ini terbikin sedemikian rapinya, tempat sambungan ini dirapatkan dengan beralur-alur, kalau bukan orang dengan tenaga jari sudah terlatih, tentu susah untuk membukanya,"

Kata Si Liang sembari menjemput kedua belah peluru besi tadi.

Sudah tentu para benggolan itu pun ikut memuji, karena pelor besi itu kecuali mempunyai berat yang tidak sama, soal besar kecilnya memang tiada perbedaan.

"Kalau begitu, saudara Teng di perjalanan tidak saja sudah dikuntit oleh cakar alap-alap, bahkan barang dalam peti ini pun sudah ditukar orang!"

Ujar Tju-kat Beng.

"Yang tertukar melulu hanya sebiji saja,"

Dengan tertawa Yan le-lam berkata.

"Aku dapat menduga tentu ini adalah akal bulus Tjhi Djin-ho, lebih dulu ia sudah mengetahui Teng-heng mempunyai 'pedang perjalanan' dari Go-bi-pay, maka ia telah memperalat dirinya sebagai orang pengantar mutiara, cuma sayang, setelitinya dia masih ada yang kelupaan juga, ia telah lupa bahwa peti kayu cendara itu mirip betul dengan peti yang berisi 'Tjin-tju-goan' itu, hingga sebab itu telah banyak menimbulkan perhatian orang Kangouw, berbareng itu ia pun menunjukkan kegelisahannya, hingga menimbulkan kecurigaan kita terhadap tingkah laku Tam Ting-siang."

Kiranya pada malam Teng Hong-ko hendak menggunakan kendaraan sungai pada permulaan perjalanannya di Hong-ho, malam itu angin keras dan ombak besar, tetapi pada saat yang demikian itu ada dua bayangan hitam yang menyelundup masuk ke kapal dimana ia menumpang, kedua tamu aneh ini adalah begundal Tjhi Djin-ho.

Di luar tahu Hong-ko, mereka telah berhasil membuka petinya serta dapat menukar sebutir pelor besi yang lain dimana di dalamnya tersimpan mutiara mestika tadi.

Tetapi akhirnya tak urung ternyata jatuh juga di tangan para benggolan itu.

Sudah tentu dengan hasil pertama mereka itu, mereka merayakan dengan meriah, dan Hoa-lihiap pun diangkat oleh mereka sebagai orang yang harus menyimpan baik-baik mutiara mestika itu, sambil menanti hingga ketiga-tiganya sudah sampai ditangan mereka semua, baru akan menetapkan cara pembagian rezekinya.

Sementara itu sudah diperoleh kata sepakat tentang hasil mereka, maka terdengarlah Gui Djing-si berkata pula sambil mengelus-elus jenggotnya yang pendeic.

"Saudara-saudara sekalian, si jahanam Tjhi Djin-ho ini banyak tipu muslihatnya, mutiara ini belum tentu tulen, kita harus mencoba, diuji dahulu."

"Gui-totiang,"

Ujar Tju-kat Beng.

"Kalau melihat warna mutiara ini yang bersinar mengkilap, apakah mungkin barang itu tiruan!"

"Ya, seumpama bukan barang palsu toh kita harus mencobanya juga,"

Sahut Gui Djing-si.

"Seperti kita ketahui, mutiara yang bertabur di atas Tjin-tju-goan yang besar adalah tiga butir, masing-masing ialah 'Ting-hong-tju', 'Pi-hwe-tju' dan 'Gi-han-tju', kini baru mendapatkan satu di antara ketiganya, bukankah kita harus mencoba mutiara yang kita dapatkan ini termasuk yang manakah di antara ketiga mutiara itu?"

Atas keterangan itu, beberapa benggolan yang hadir lantas menyatakan akur dengan pikiran si imam tua.

"Dan cara bagaimana Totiang hendak mencobanya?"

Tanya Yan Ie-lam. Ternyata Gui Djing-si memang orang cerdas, dalam sekejap saja ia sudah mendapatkan akal.

"Itu tidak sulit,"

Katanya kemudian.

"Umpamakan saja kita anggap dia sebagai 'Pi-hwe-tju', kita nyalakan api pada satu gundukan, siapa yang berani membawa mutiara itu terus melompat masuk ke dalam api, dengan begitu bukankah segera akan bisa dibedakan?"

"Hendaklah Totiang jangan gegabah dengan permainan begitu,"

Sahut Hoat-giam-ong Mo Djit dengan tertawa.

"Apabila mutiara itu bukan 'Pi-hwe-tju', bukankah orang yang melompat masuk ke dalam gundukan api akan terbakar hangus?"

"Itu pun gampang, kalau tiada yang berani, serahkan saja tugas itu kepada aku si imam melarat ini,"

Gui Djing-si menambahkan pula.

Setelah usul Gui Djing-si diterima, lantas ia menetapkan pada esok hari hendak menyusun gundukan kayu kering untuk dibakar buat menguji mutiara mestika itu.

Malam itu Si Liang dan Yan-Ie-lam tinggal bersama satu kamar, ia berkata padanya.

"Yan-toako, hari ini kalau bukan Gui-totiang yang mendapatkan akal, kita boleh jadi belum dapat menemukan tempat dimana mutiara itu disimpan!"

"Lambat atau cepat akhirnya akan ketahuan juga, dia hanya sedikit lebih licin dari kita, malah sekarang pun aku masih menaruh curiga padanya,"

Sahut Yan Ie-lam.

"Pantas kau tidak pernah berpisah selangkah pun dari dia,"

Dengan tertawa Si Liang berkata.

"Cuma kalau dia berani sembrono di hadapan kita, begitu ia mencoba bertingkah, mungkin kepalanya sudah berpisah dengan tubuhnya!"

Besoknya, pagi-pagi sekali sudah tampak Gui Djing-si memimpin beberapa orang sedang menumpuk kayu bakar, ia telah menumpuk beberapa puluh batang kayu yang melintang hingga dekat dengan pintu gerbang benteng mereka, setelah itu ia menyiram pula dengan bahan-bahan yang mudah terbakar oleh api, sebangsa belerang dan lain-lain.

Pada waktu dekat lohor, para pemimpin telah muncul semua di pelataran depan itu, tetapi ketika mereka melihat tumpukan kayu itu tertimbun begitu banyak dan panjang, mereka semua agak kurang mengerti.

Kemudian Si Liang memerintahkan mulai menyalakan api, karena sudah disiram dengan bahan-bahan pembakar, maka dalam sekejap saja api sudah menjalar ke seluruh gundukan kayu hingga seketika merupakan lautan api.

Sementara itu Hoa-lihiap sudah memegangi sebuah kotak kecil yang di dalamnya berisi mutiara mestika mereka.

"Hoa-lihiap, silakan serahkan mutiara itu pada Pin-to!"

Pinta Gui Djing-si sesudah tiba saatnya. Akan tetapi Hoa Sian-bu tidak lantas menjawab, ia melirik sekejap pada suaminya.

"Nanti dulu!"

Tiba-tiba ia berkata.

"Kita kirim beberapa orang melingkari gundukan api ini, agar bila terjadi sesuatu yang membahayakan Gui-totiang, kita bisa segera menolong."

Gui Djing-si mengerti dirinya dicurigai jangan-jangan begitu memegang mutiara segera ia kabur. Namun ia tetap berpurapura tenang saja.

"Begitupun baik,"

Sahutnya kemudian.

"Aku sendiri tidak begitu yakin akan berhasil, jangan-jangan mutiara ini bukan Pi-hwe-tju bisa-bisa aku terbakar hidup-hidup!"

Sementara itu api sudah berkobar-kobar hingga menjulang tinggi. Selagi Hoa-lihiap hendak memerintahkan orangnya berjagajaga melingkari gundukan api, mendadak terdengar pula Gui Djing-si berkata.

"Api sedang berkobar dengan hebatnya, Hoalihiap coba keluarkan mutiara itu dan jalan mendekati gundukan api, kemudian menyebutnya, apabila betul mutiara itu adalah Pi-hwe-tju, maka api yang menjilat-jilat itupun akan berkurang."

Karena perkataannya masuk akal juga, maka Hoa-lihiap membuka kotaknya dan menaruh mutiara itu di tengah tangannya mendekati api, tetapi baru saja ia membuka tangan dan hendak disebul, sekonyong-konyong ada sambaran angin yang san-tar terus menggulung hingga mutiara itu ikut bersama sambaran angin itu, menyusul mana terlihat Gui Djing-si meraup mutiara itu terus melompat menerobos masuk ke dalam gundukan api.

Perbuatan Gui Djing-si yang mendadak itu telah membikin Yan le-Iam dan kawan-kawan tercengang seketika, sehingga tak mampu berbuat banyak, sementara itu Gui Djing-si telah menggunakan kepandaiannya 'Kian-khun-siu-tju-hong' atau angin menyambar dari balik lengan baju, ia sanggup menyerobot benda itu sejauh beberapa kaki.

Perbuatannya yang secepat kilat dan di luar dugaan para benggolan yang hadir, hanya beberapa orang saja yang bisa melihat ia menyerobot mutiara mestika.

Sementara itu Hoa-lihiap dengan pedang terhunus segera mengudak dengan menerjunkan diri ke dalam lautan api juga.

Keruan saja yang paling kaget rasanya ialah Yan le-lam, lekas ia melompat tinggi sambil sekali jumpalitan di atas, ia menyambar tubuh isterinya di antara api yang berkobar-kobar itu untuk kemudian terus mencelat keluar pula.

"Api begitu besar jangan kau gegabah!"

Dengan napas memburu ia mengomeli isterinya itu.

Saat mana api sedang menyala dengan hebatnya hingga seluruh markas mereka seakan-akan terkurung oleh lautan api dan asap.

Dengan tipu muslihat Gui Djing-si coba merebut Po-tju, sebenarnya ia sendiri pun belum yakin apakah Po-tju itu yang anti api atau bukan, maka dengan kehebatannya yang luar biasa.

Ia dapat mengantongi mutiara mestika itu, walaupun sedikit jenggot dan rambut tidak urung terbakar hangus, namun tidak berarti baginya.

Setelah berhasil, maka segera ia meninggalkan Mo-dji-tje dan cepat angkat langkah seribu turun gunung.

Selagi ia berlari dengan cepatnya, mendadak ada bayangan orang berkelebat, menyusul mana dari pohon di depannya telah muncul seorang dengan gesit sekali, waktu ia menegasi, ternyata hanya seorang wanita dengan mukanya setengah tertutup dengan kain.

Mengenakan pakaian ringkas warna gelap, di pinggangnya terikat angkin yang melambai-lambai tertiup angin.

Seketika Gui Djing-si tertegun oleh kemunculan wanita yang mendadak ini, ia membatin kedatangan wanita ini begini aneh, coba akan kulihat dahulu orang macam apakah dia ini.

Akan tetapi tanpa berbelit-belit si wanita itu telah menegurnya dengan terus terang.

"Gui Djing-si lekas kau tinggalkan mutiara itu, jangan sampai nonamu turun tangan sendiri!"

Mendengar teguran orang, si imam tua ini semakin terkejut, melihat gelagatnya rupanya wanita ini adalah segolongan dengannya namun di antara tokoh-tokoh dalam kalangan Hek-to di Soatang selamanya belum pernah ia dengar ada terdapat seorang begal wanita muda.

"Oh, kiranya nona adalah orang sesama garis kita, sayang mutiara itu masih berada dalam tangan suami isteri Yan Ielam dan belum mau menyerahkannya,"

Sahutnya dengan muka tertawa. Tak tahunya wanita muda itu tidak gampang percaya, dengan alis menegak segera ia mendamprat.

"Bohong kau! Melihat tubuhmu saja yang masih membawa bau hangus, terang Po-tju itu sudah terserobot lari olehmu, masih berani kau jual lagak di depan nonamu!"

Habis berkata, sinar pedangnya berkelebat, dengan segera ia sudah hendak menerjang maju.

"Tahan dulu nona!"

Lekas Gui Djing-si berseru sambil mundur memberi hormat.

"Tunggu dulu, Pin-to akan mengambilnya keluar."

Lalu ia merogoh ke dalam sakunya seakan-akan hendak mengambil sesuatu, namun bukan mutiara yang ia keluarkan, sebaliknya pada waktu tubuhnya menegak kembali, secara mendadak ia mengayunkan tangannya, menyusul terdengar suara gemerincing dengan membawa sinar gemerlapan, ada secomot benda mengkilap dengan cepat menyambar ke muka gadis tadi.

Senjata ini adalah senjata tunggal yang khusus dipelajari Gui Djing-si yang disebut 'Tui-hun-tjiam' atau jarum pemburu nyawa, ialah terdiri dari belasan jarum yang lembut, ujung jarum sudah direndam dengan air berbisa, begitu mengenai tubuh segera bisa terbinasa.

Tak terduga gadis itu dengan gampang saja telah enjot tubuhnya setinggi tujuh atau delapan kaki, dan lewatlah jarum pemburu nyawa itu dari bawah kakinya.

Berbareng mana bayangan orang berkelebat pula, angin tajam telah menyambar ke muka si imam tua.

Rupanya Gui Djing-si mengetahui adanya sambaran angin Bu-kek-kiam dari Bu-tong-pay, begitu angin sampai pedangnya tentu menyusui tiba juga, rnaka lekas ia melompat pergi sambil menyampuk dengan angin pukulannya, dengan Lwekangnya yang cukup kuat ia pikir dapat menggoncang pergi pedang lawan.

Akan tetapi dalam sekejap itu, terasa juga olehnya angin mengiris lewat di atas kepalanya dan ikat rambutnya terurai, baru ia insyaf bahwa pedang si gadis sudah berhasil membabat topi imamnya hingga rambutnya ikut terbabat.

Saking terperanjatnya ia melompat naik setinggi-tingginya dan dalam kesempatan itu ia melolos pedangnya sendiri yang terselip di punggungnya.

Sementara itu terdengar gadis itu tertawa terbahak-bahak.

"Gui Djing-si, tadi nonamu telah mengampuni jiwamu, apa betul kau masih hendak bertanding denganku, nah boleh kau lihat dalam tiga gebrak saja nonamu nanti akan mengambil jiwamu!"

Katanya menghina.

Begitu habis suaranya, pedangnya pun berbareng bergerak, ia menyabet Gui Djing-si dengan gerak tipu 'Hi-djin-bang' atau menangkap ikan menebar jala, pedangnya menangkis dari bawah, ia berniat menempel pedang lawan untuk menjajal tenaga dalamnya.

Tak ia duga, begitu pedang beradu, segera terdengar suara nyaring dan pedangnya hampir terlepas dari tangannya.

Lekas ia menggeser langkah dan memutar badannya, ia tarik pedang ke depan dada dan tangan kirinya membantu tangan kanan yang menghunus pedang, ia putar senjatanya secepat kilat, beruntun ia membikin beberapa kali putaran.

Gerakannya ini cukup sebat dan lihai dengan mengandung banyak perubahan lainnya, apabila pedang lawan beradu lagi.

maka tenaga senjatanya bisa mendadak terkumpul di tengah, terus menusuk ke tenggorokan lawan, kalau belum mengetahui cara menangkisnya, sering kali bisa diselomoti oleh tipunya ini.

Namun gadis itupun tidak gampang diakali, ia menarik pedangnya terus mengikuti gerak senjata si imam sehingga terlepas dan garis ancaman.

Cara bagaimana ia bertindak melepaskan diri, Gui Djing-si tak bisa mengetahuinya, maka dalam kegugupannya ia hendak mengubah serangannya pula, tetapi sudah terlambat, tiba-tiba pergelangan tangannya sudah terasa pegal, urat nadinya sudah terpencet oleh tangan si gadis yang datangnya secepat kilat, seketika itu juga seluruh badannya terasa kaku kesemutan dan pedangnya pun terjatuh.

Dengan sekali bentak, maka tanpa berdaya si imam tua itu telah berlutut sambil berulang-ulang memohon.

"Nona, ampuni jiwaku!"

"Masih tidak kau keluarkan mutiara itu, apakah kau minta batok kepalamu diberi lubang?"

Bentak si gadis pula sambil pedangnya menempel ke belakang kepala si imam.

Pada saat demikian ini, sudah tentu Gui Djing-si tak bisa main akal bulus lagi, selamatkan jiwanya paling penting, terpaksa ia merogoh saku dan menyerahkan Po-tju atau mutiara mes-tika yang baru saja ia dapat merampasnya itu.

Begitu mutiara itu sudah berada di tangannya, gadis itu segera mendupak sambil membentak pula.

"Enyahlah kau!"

Imam itu terdupak hingga menggelundung jumpalitan pergi sejauh beberapa tombak.

Sudah itu, si gadis memeriksa mutiara yang berada di tangannya itu di bawah sorotan sinar matahari, kemudian dengan sekali suitan panjang, laksana segulungan bayangan hitam ia melayang pergi menghilang di antara hutan belukar.

Begitulah, sia-sia belaka usaha imam tua dari Ong-ok-san itu, barang diperolehnya dengan gampang, hilangnya pun mudah dan sekejap saja, dengan memandang bayangan belakang si gadis dalam matanya penuh mengandung api kegusaran, namun apa daya, kepandaiannya kalah dengan orang.

Ia merangkak bangkit, berulang-ulang ia menghela napas gegetun, rasa girang yang tadinya memuncak kini buyar seketika.

Sementara itu karena takut disusul oleh para pemimpin gerombolan yang diingusi dirinya, lekas ia berangkat pulang ke Ong-ok-san laksana anjing buduk yang terusir.

Sampai waktu magrib, ternyata belum beberapa puluh li yang ia tempuh, sedang rasanya ia sudah payah dan susah melangkah pula.

Tiba-tiba ia lihat di bawah sebuah bukit ada sebuah bio atau rumah biara tua, di depan pintu tertampak ada seekor kuda putih yang tertambat di situ dengan pelana yang bagus bersulam, ia menjadi girang, pikirnya siapa yang menambat kuda di sini, justru aku bisa meminjamnya buat perjalananku.

Tanpa ia tegasi kuda itu pula, begitu membuka tali tambatan, segera ia mencemplak dan dilarikan dengan cepat.

Akan tetapi di luar dugaannya baru beberapa langkah kudanya kabur sekonyong-konyong di belakangnya terdengar suara bentakan nyaring dan secepat angin telah ada orang yang memburunya.

Namun ia tidak menggubris, katanya dalam hati.

"Kudamu sudah berada di tanganku, betapa cepat kau memburu, tak nanti kau bisa menyandak!"

Begitulah dengan sedikit mendekam di atas kuda itu, ia kabur secepat mungkin.

Tak ia duga tiada seberapa jauh kudanya dilarikan, mendadak ia sudah merasakan tubuhnya terapung, dari belakang terasa ada orang menjambretnya terus diangkat dan dibanting pergi.

Ia terlempar menggelundung hingga kepalanya merasa pening karena terbanting.

Apabila kemudian ia telah menenangkan semangatnya, baru ia membuka matanya, di antara senja yang remangremang ia lihat di atas kuda putih tadi sudah bertambah seorang wanita cantik yang bukan lain ialah 'Giok-bin-yao-hou' Bun Sui-le.

Giok-bin-yao-hou atau si siluman rase bermuka ayu, Bun Sui-le ini memang adalah seorang gadis cantik molek sesuai julukan yang orang berikan padanya, usianya tidak lebih hanya 24-25 tahun, asal-usulnya tak diketahui orang, hanya melihat kiam-hoat yang dimilikinya itu terang adalah ahli waris dari Thian-san-pay.

Ia masih memiliki satu kepandaian lain, ialah dua kaitan di bawah sepatunya, kakinya yang kecil mungil, pada sepatunya terpasang kaitan tajam yang menyelip di bawah, apabila kakinya menendang, dimana tempat yang terkena segera akan tergurat seperti diiris pedang tajam, tidak sedikit jagoan dari Liok-lim yang kena diselomoti hingga rada jeri bila mendengar nama-nya.

Biasanya ia hanya makan yang besar dan tidak makan yang kecil, pembesar-pembesar korup dan hartawan-hartawan pemeras apabila bertemu dengannya pasti tidak diberi ampun lagi.

Masih ada keistimewaannya lagi yang sangat menghebohkan kalangan Hek-to atau golongan gelap, ialah orang lain bila memperoleh rezeki, maka harus pula membagi padanya sepertiga bagian, kecuali kalau ia tidak meminta, sebaliknya tiada yang berani menolak.

Dengan peraturannya itu, semua orang Liok-lim sudah tentu tidak bisa menurut begitu saja, tetapi belakangan setelah dua pemimpin kelas satu dari Liok-lim di daerah Tjwan-siam (Su-tjwan dan Siamsay) kena dibinasakan dan dipotong-potong menjadi empat keping terus digantung di atas Kiam-kok, keruan saja seketika itu telah menggetarkan seluruh pemimpin kalangan Liok-lim dan sesudah itu tiada yang tak jeri bila berhadapan dengannya.

Gui Djing-si, si imam dari Ong-ok-san itu sudah lama kenal kelihaian Giok-bin-yao-hou, kali ini dengan sengaja ia mengajaknya ke Soatang, sepanjang jalan ia sudah menghasut agar merebut Po-tju itu, namun Bun Sui-le telah mendamprat dia sebagai pengecut dari kaum Liok-lim, maka Gui Djing-si tak berani coba-coba menyebutnya lagi, kemudian dengan sesuatu alasan, ia memisahkan diri dan mendahului ke Mo-dji-tje untuk menipu dengan akal bulusnya.

Tak tersangka di tengah jaian hasil rampasannya kena direbut pula oleh si gadis bertopeng, kini ia hendak mencuri kuda, kembali kebentur pula dengan Bun Sui-le, keruan saja dengan rubuh gemetaran ia mendekam di tanah sambil memberi hormat dengan menundukkan kepala sampai menempel tanah tiada hentinya.

"Sui-kohnio, maafkan aku yang bermata anjing tak bisa mengenali kuda ini adalah milik Kohnio, aku telah berlari kebingungan hingga Kohnio datang masih belum tahu, sungguh harus dihukum!"

Ia meminta ampun.

Habis berkata, ia ketok-ketok batok kepala sendiri dengan keras.

Dengan melirik Bun Sui-le memandangnya sekejap, ia membiarkan imam celaka itu ketok-ketok kepalanya, sesudah cukup rupanya baru ia bertanya.

"Kau tua bangka ini, mengapa begitu gugup berlari-lari?"

Celaka, apabila aku berterus terang mungkin jiwaku bisa lenyap seketika, begitu pikir Gui Djing-si, maka lantas ia menjawab dengan berdusta.

"Kohnio, orang telah menghinakan aku, mereka telah berhasil memperoleh sebutir Po-tju, karena takut kita minta bagian, aku telah diusirnya pergi,"

Dengan rupa harus dikasihani ia menutur. Akan tetapi dengan memandang lagaknya itu, Bun Sui-le sudah dapat mengetahui pasti ia sedang berbohong.

"Siapa yang menghinakan kau?"

Sengaja ia bertanya.

"Siapa lagi kalau bukan Yan le-lam yang disebut Pat-pilong-kun itu, mereka suami isteri malah telah mengejar aku hendak mengambil jiwaku"

Sahut si imam tua dengan berlagak.

"Bohong!"

Tiba-tiba terdengar Giok-bin-yao-hou membentak nyaring.

Entah sejak kapan ia telah melolos seutas pecut panjang, dengan sekali menyabet, cepat sekali imam tua itu sudah terlilit hingga terangkat ke atas dan diputar di angkasa.

Keruan saja Gui Djing-si berteriak ketakutan dan akhirnya jatuh pingsan Apabila kemudian ia tersadar kembali, maka ia merasakan dirinya sudah rebah di bawah emperan bio kuno itu, sedang Giok-bin-yao-hou terlihat sedang menyalakan segundukan api dan lagi memanggang sekor kelinci, dengan pisau ia mengiris daging panggang itu terus dimasukkan ke mulurnya, bau wangi kelinci panggang itu membikin Gui Djing-si yang memangnya sudah haus dan lapar jadi mengiler.

Tetapi kemudian ia teringat, ia heran mengapa Giok-binyao-hou tidak membunuhnya?

Ia coba menggeraki tubuhnya, namun dengan segera satu sinar putih menyambar menuju padanya, ternyata Bun Sui-le telah menimpukkan pisau belati yang menyerempet lewat di atas mukanya dan terus menancap pada tiang emperan, hampir saja nyawanya melayang apabila terkena, saking terperanjatnya hingga imam tua celaka itu bermandi keringat dingin.

"Anjing keparat, berani kau coba mendustai aku."

Sementara terdengar Bun Sui-le mencaci maki.

"Melihat jenggot kambingmu yang sudah terbakar, terang mutiara itu sudah kau rebut dan kaubawa kabur, kalau kau masih sayang jiwamu lekas mengaku terus-terang, jangan sampai nonamu turun tangan pula."

Baru kini Gui Djing-si mengerti bahwa Giok-bin-yao-hou tidak membunuhnya karena sudah mendakwa dia mencuri mutiara mestika, waktu ia memeriksa, tampak jubahnya sudah robek teriris, terang orang sudah menggeledah tubuhnya, la insyaf apabila tidak bicara apa yang terjadi sebenarnya, pasti banyak kegetiran yang harus dirasakannya pula.

Terpaksa dengan suara terputus-putus ia menceritakan semua pengalamannya dari penemuan sebutir Po-tju di Mo-dji-tje, hingga akhirnya dirinya telah menggondolnya merat dengan akal bulus, tetapi kemudian di tengah jalan telah dirampas lagi oleh seorang gadis bertopeng.

"Dan siapa gadis bertopeng itu?"

Tanya Bun Sui-le sesudah mendengar penuturannya, melihat rupa imam celaka yang menyedihkan itu, ia tahu kali ini tentu tidak berani berbohong lagi.

"Di daerah Soatang sini, aku yang rendah tidak ingat ada kaum Liok-lim wanita yang berkepandaian seperti dia itu,"

Sahut Gui Djing-si.

"Usianya masih lebih muda dari Kohnio, yang dimainkannya ialah Bu-kek-kiam-hoat, tampaknya adalah anak murid terpuji dari Bu-tong-pay, kalau Kohnio hendak mengejarnya kiranya masih bisa memburu."

Sambil mendengarkan, Bun Sui-le sembari membatin juga.

Imam tua ini pun memiliki kepandaian yang tidak rendah, tetapi mengapa dalam dua tiga gebrakan sudah bisa dikalahkan, tampaknya gadis itu bukan main asal-usulnya Memang sudah wataknya yang suka pukul yang keras dan menyerah pada yang lemah, seumpama Gui Djing-si tidak bilang, ia pun bemiat mengejar si gadis itu, pertama ia hendak melihat macam wanita apakah bisa berkepandaian tinggi, kedua ia hendak merebut kembali mutiara mestika itu, agar tidak memalukan kaum Liok-lim di daerah Tjwan-siam yang diingusi hanya oleh seorang gadis saja.

Ia membiarkan kuda putihnya yang bagus itu ditunggangi Gui Djing-si sedang ia sendiri dengan mengunjukkan kepandaiannya berlari cepat 'Tjhau-siang-hui' atau terbang di atas rumput, dengan kencang ia mengikut di belakang kuda Gui Djing-si menuju ke tempat terjadinya perampasan tadi.

Setelah sampai di hutan lebat yang mereka tuju, Giok-binyao-hou melepas kudanya di bawah pohon dengan mencoret satu bundaran dengan batu di tanah, ia tepuk-tepuk kudanya dan tanpa ditambat, kudanya itu ternyata sudah menurut sekali berdiam dalam bundaran dan tidak melanggar kalangan.

Kemudian mereka berdua terus menyelusup maju sampai di tengah bukit, keadaan sudah gelap, tetapi remang-remang mereka nampak di atas puncak bukit ada sinar api, dengan kepandaian mereka yang gesit dan cepat, tak lama mereka sudah mendaki sampai di atas, di bawah sebuah tebing puncak ternyata ada rumah gubuk dan sinar api tembus keluar dari rumah ini.

Kuatir kalau si imam tua ilmu entengi tubuhnya masih kurang sempurna, Bun Sui-le berpesan agar dia bersembunyi saja di belakang sebuah batu besar dan tidak peduli apa yang bakal terjadi, tak boleh ia sembarangan bergerak.

Kemudian ia sendiri dengan gerakan 'Tong-long-yao-poh' atau belalang melangkah lompat, ia memanjat sampai di atas tebing itu, sedang di bawah kakinya berada rumah gubuk itu.

Menyusul mana ia menggunakan gerakan 'Pwe-pi-he-khe' atau menyandar pada dinding turun ke tebing, ia merembet pelahan turun ke wuwungan rumah, dengan sekali lompatan enteng ia sudah menancapkan kakinya di atas rumah tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

Apabila kemudian ia menyingkap sedikit atap gubuk dari alang-alang dan mengintip ke dalam, maka tertampak olehnya di dalam rumah itu ada seorang gadis jelita yang sedang membolak-balik memeriksa sesuatu barang.

Dimana sinar mata Bun Sui-le menatap, tepat yang ia lihat ialah sebutir barang yang bersinar mengkilap dan tak jelas benda apakah sebenarnya.

Pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara seruan di dalam rumah, menyusul mana dengan cepat sinar api telah disirap.

Bun Sui-le cukup cerdik begitu ia melihat api dipadamkan di dalam rumah, secepat kilat ia sudah menggunakan gerakan 'Li-tjo-ling-yan' atau burung layang-layang meninggalkan sarang, tubuhnya melayang naik, menyusul itu dari bawah segera tertampak dua sinar hijau yang menyambar keluar melalui atap rumah itu dan lewat menyerempet di sampingnya.

Diam-diam Bun Sui-le bersyukur terlepas dari bahaya itu.

tetapi tak ia duga, dalam sekelebatan itu bayangan orang pun sudah sampai, sekejap saja gadis di dalam rumah tadi pun sudah muncul di hadapannya.

"Perempuan liar darimanakah berani mengintip nonamu ini!"

Terdengar orang telah membentak dengan tertawa dingin.

Dengan sendirinya Bun Sui-le mundur selangkah untuk mengeluarkan senjatanya, kemudian ia mengawasi lawan yang dihadapinya ini.

Ternyata si gadis ini memakai baju dan celana singsat ringkas, sepatu kain yang tipis dan ikat pinggang berwarna merah jambu, senjata pedang terhunus di tangannya, ia berdiri dengan tegak, angkinnya melambai-lambai tertiup angin malam, Bun Sui-le terpesona oleh gadis di depannya ini.

Sementara si gadis itu pun sedang memandang padanya, namun segera ia mendahului membentak pula.

"He, apa yang kau pandang? Berani datang mengapa tak berani lantas bergebrak!"

Belum pernah Giok-bin-yao-hou dihinakan orang, kena dipancing oleh perkataan gadis itu, segera pedangnya lantas menusuk, dengan tipu 'Ping-niau-thio-ie' atau burung garuda pentang sayap, begitu pedang si gadis menangkis, dengan segera pedangnya ia sampuk terus dibarengi dengan melangkah maju, tangannya yang lain dengan gerak tipu 'Bokie-djiu' atau pukulan menubruk cepat, segera ia menjojoh ke bawah dada orang.

Akan tetapi waktu melihat gerak serangan lawan, gadis itu ternyata tidak lantas menyambut tusukan orang, ia hanya sedikit berjongkok terus dengan cepat ia menggunakan tipu 'Djiu-hun-pi-pe' atau tangan menabuh pi-pe (alat musik mirip gitar), dengan ujung pedang mengarah ke atas, ia pentang tangannya yang lain melindungi dadanya, begitu pedang beradu segera tergon-cang pergi berbareng.

Sementara itu Bun Sui-le pun urung melontarkan gerak tipu 'Bok-ie-djiu', kepalannya lekas ia tarik kembali.

Kiranya begitu ia melihat si gadis melontarkan tipu gerakan itu, segera ia mengetahui lawannya ini bukan lawan sembarangan dan siang-siang sudah dapat menduga apa yang hendak ia lakukan.

Dalam pada itu, begitu ujung pedang tergetar, segera gadis itu melangkah maju pula dan beruntun menyerang dua kali dengan cepat, dengan mundur dua langkah barulah Bun Sui-le dapat menahan tusukan lawan itu, namun demi melihat sebelah bawah musuh tidak terjaga baik.

segera ia menikam dengan satu gerakan pancingan, sampai di tengah jalan mendadak ia menekan pedangnya ke bawah terus dengan cepat sekali ia membabat ke kaki musuh.

Begitu serangan si gadis tadi tak berhasil dan mendadak ia melihat senjata orang berkelebat menyapu kakinya, secara gesit sekali ia enjot tubuhnya dan melompat naik dengan sedikit miring, sedang pedangnya pun berbareng membacok mengarah kepala Giok-bin-yao-hou.

Serangannya itu begitu cepat dan tiba-tiba laksana bintang jatuh dari atas langit, Giok-bin-yao-hou, si siluman rase bermuka ayu, yang sedang mengkerut tubuh dan menyerang, ia tak menduga pedang lawan bisa begitu cepat, maka buruburu ia menarik senjatanya dan tubuhnya mengegos ke samping, dengan setengah merebah ia menyanggah dengan tangan kanan, terus ia barengi dengan gerak tipu 'Ho-pingkiu-li' atau merebah di tanah es memohon ikan mas, pedangnya mengacung ke atas terus membentur senjata musuh yang sedang menikam dengan hebatnya itu.

Melihat lawannya masih setengah rebahan, gadis itu menekan pedangnya ke bawah hingga suara nyaring beradunya senjata terdengar keras, dalam sekejap itu Giokbin-yao-hou menjadi murka, ia mengunjukkan tipu serangannya yang ganas dengan kakinya, pada kesempatan kedua senjata masih beradu, ia menggeser tubuh dan berbareng kedua kakinya menendang dengan cepat membawa dua titik sinar yang mengkilap yang bukan lain ialah kaitan tajam yang terselip di bawah sepatunya.

Namun pandangan mata si gadis ternyata cukup jeli, dengan mengangkat kedua bahunya ia berjumpalitan, kedua kaki yang bersenjata tajam dari Bun Sui-le itu menyerempet lewat di bawah sepatunya.

Gerakan kedua pihak begitu cepat dan gesit sekali.

Kemudian gadis itu menancapkan kakinya kembali dan Giok-bin-yao-hou pun berbangkit berdiri pula, maka mereka berdua sudah berhadapan dalam jarak lebih setombak.

"Ha, kiranya kau adalah siluman wanita Bun Sui-le itu, nonamu tiada sedikit sangkut-paut dengan kau, kita boleh berbuat menurut tujuan masing-masing, mengapa kau datang mengintip gerak-gerikku?"

Tanya gadis itu dengan membentak dan pedang menuding. Seketika Bun Sui-le tercengang demi mendengar orang mengenali dirinya.

"Bocah ini termasuk hebat juga, begitu nampak kaitan kedua kakiku, segera ia mengetahui asal-usulku,"

Begitu ia membatin.

"Tetapi aku pun hendak menjajalnya, coba dari aliran manakah dia ini?"

"Kau, si bocah ingusan, kalau sudah mengetahui nama besar Tjetjumu, seharusnya kau katakan terus-terang perbuatanmu, mungkin aku bisa mengampuni kau, anak murid dari Bu-tong-pay,"

Sahutnya kemudian dengan pedang tergenggam.

"Ayo, begitu besar mulutmu,"

Gadis itu mencemooh.

"Kau ingin tahu diri nonamu, boleh kau tanya Tji-yang totiang di Bu-tong-san, kau minta aku menceritakan, sedikitnya kau harus menangkan pedangku ini lebih dulu."

"Budak busuk yang kurang ajar, kau kira dengan menonjolkan nama Tji-yang Todjin aku lantas menjadi kuncup?"

Bentak Bun Sui-le dengan gusar.

"Terus terang saja kedatanganku ini melulu menghendaki mutiara yang telah kau rebut itu, hanya ada dua jalan boleh kau pilih, jiwa atau mutiara!"

Setelah itu ia mengayun pedangnya, ujung senjata mengarah ke depan, segera angin tajam menyambar ke muka si gadis. Akan tetapi gadis itu tak gentar.

"Mutiara ada padaku, tetapi jangan kau harap!"

Sahurnya dengan tertawa dingin.

Habis itu dengan sekali seruan, senjatanya pun bergerak dan kembali terdengar pula berulang-ulang suara beradunya pedang, dalam sekejap dengan cepat sekali mereka telah saling serang dengan seluruh kemampuan yang ada pada mereka, pertempuran yang makin sengit memecah kesunyian malam.

Kedua orang itu makin bertarung makin hebat, yang seorang adalah tokoh Liok-lim tersohor dan yang lain memperoleh pelajaran kiam-hoat dari cabang persilatan ternama, keduanya setanding dan sama kuat, walaupun pertempuran sudah berjalan hampir satu jam, namun masih belum menunjukkan mana yang lebih unggul.

"Giok-bin-yao-hou, nonamu besok pagi-pagi masih ada janji, terpaksa aku tak bisa melayani kau terus, tetapi kalau kau ingin menentukan mana yang lebih kuat, besok malam boleh kau ke sini lagi!"

Tiba-tiba gadis itu berseru. Kuatir kalau lawannya kabur, Bun Sui-le malah memperkencang serangan pedangnya.

"Tak mungkin kau coba mengingusi aku, kecuali kalau kau meninggalkan mutiara itu, baru jiwamu boleh aku ampuni!"

Sambutnya.

"Siapa hendak membohongi kau,"

Kata si gadis dengan gusar.

"Kalau begitu adalah kau sendiri yang mencari mampus, sebentar lagi tentu kau boleh tahu rasa."

Atas perkataan orang yang terakhir itu, Bun Sui-le menjadi ragu-ragu, pikirnya.

"Jangan-jangan ia telah berjanji dengan orang pandai di sini? Dan kalau betul, ditambah lagi seorang lawan tangguh, bisa-bisa aku terjungkal di depannya."

Pada kesempatan ia lagi ragu-ragu, gadis itu telah mengayun tangannya, mendadak ia menimpukkan dua buah 'Liu-yap piau'.

Cepat Bun Sui-le mengegos berkelit, ia dapat menghindarkan sebuah senjata piau dan pedangnya menyampuk jatuh sebuah piau lainnya.

Akan tetapi pada saat itu juga, dengan sekali enjotan kilat, gadis itu sudah melompat pergi hingga jauh.

Ia coba mengejar, namun tertampak gadis itu dengan cepat sekali, dengan beberapa kali naik turun melompat, dalam sekejap saja sudah berada sejauh beberapa tombak.

Pada saat itu juga, dari dalam hutan lebat di depan sana berkumandang suara gitar aneh hingga daun-daun pohon pada rontok.

Bun Sui-le jadi merandek, ia kuatir dalam hutan betul-betul bersembunyi orang pandai.

Dan karena sedikit merandeknya itu, gadis itu sudah menerobos masuk ke dalam hutan dan menghilang.

Karena tak bisa menangkan orang, Bun Sui-le berbalik jadi gemas terhadap Gui Djing-si, si imam celaka itu, dia sudah menempur setengah malaman, tetapi tidak tampak ia mengunjukkan diri untuk membantu.

Dalam keadaan mendongkol, ia berbalik kembali masuk ke dalam rumah gubuk, ia lihat di dalamnya hanya terdapat sebuah pembaringan dari bambu dan meja kecil dari kayu.

Dari dalam kantongnya ia mengeluarkan geretan api, ia nyalakan lilin yang ada di meja hingga dapat melihat jelas pada pembaringan bambu itu terdapat sebuah buntalan kecil, lekas ia mengambilnya dan diperiksa, dalam buntalan itu ternyata hanya terdapat dua potong baju wanita petani, dan masih ada pula secarik kain hitam penutup muka dengan dua lubang untuk mata.

Waktu ia memeriksa lagi, mendadak dari buntalan terjatuh sebuah benda, ia memungutnya dan dilihat, ternyata adalah sekeping besi, benda ini biasanya digunakan sebagai tanda bukti dalam perkumpulan dan gerombolan rahasia.

Giok-bin-you-hou girang sekali, dengan cepat ia masukkan ke dalam sakunya.

Ketika ia keluar dari rumah itu, tiba-tiba dilihatnya di belakang batu besar tadi menggeletak seseorang, ia menjadi terkejut.

Tetapi sesudah ia menegasi, baru ia ketahui adalah Gui Djing-si yang tertidur dengan bersandar pada batu itu, dari hidungnya masih terdengar suara gerosan.

Keruan ia makin mendongkol, ia angkat kakinya dan menyepak.

Dalam kegugupannya kena tendangan, Gui Djingsi merangkak bangun dengan cepat.

"Aku si tua bangka ini sudah tidak berguna lagi, sebentar saja sudah tertidur, harap nona suka memaafkan!"

Katanya dengan kuatir.

"Apakah budak tadi sudah nona bereskan?"

Kiranya pada waktu ia melihat dari rumah gubuk itu melompat keluar seorang gadis yang bukan lain ialah gadis bertopeng yang ia ketemukan siang harinya, saking terkejutnya ditambah letihnya berlari seharian, semangatnya sudah tak tahan lagi hingga dalam keadaan tak sadar ia telah menggeros pulas.

Mendengar pertanyaannya tadi, Bun Sui-Je makin bertambah mangkel.

"Masih kau tanya! Mengapa tadi kau tak muncul membantu aku?"

Gertaknya dengan uring-uringan.

"Sui-kohnio, pedangku sudah hilang, kau telah berpesan juga tak boleh sembarangan bergerak, mana aku berani membantah perintahmu itu?"

Sahut Gui Djing-si dengan muka bersungut.

Giok-bin-yao-hou menjengek, tetapi ia pikir tiada gunanya mengomel padanya, maka segera ia membentak pula dan berbareng mereka turun gunung kembali, sampai pada hutan tadi, ternyata kuda putihnya masih tetap berada dalam lingkaran yang digariskan tadi.

"Dengan seekor binatang saja kau kalah, setidak-tidaknya binatang ini tak mempunyai hati busuk seperti kau,"

Dengan mata melotot ia berkata pula pada Gui Djing-si.

"Kalau kau masih ingin hidup, baiklah berjalan dengan menuntun kudaku ini."

Sudah tentu imam tua sial ini tidak berani membantah, dengan menarik tali kekang kuda, ia berjalan di depan, tetapi dalam hati diam-diam ia mencaci maki.

Keadaannya yang menyedihkan itu membikin orang tertawa.

Kembali bercerita tentang para gagah perkasa di Mo-dji-tje, sesudah mereka diingusi dan mutiara mestika kena diserobot oleh Gui Djing-si, semula banyak yang berniat hendak mengejar, akan tetapi Si Liang mencegah.

"Tjuwi tak perlu ribut,"

Ujarnya.

"Imam busuk ini sangat licin, kini hendak mengejarpun sudah terlambat, baiknya kita boleh lantas menyiarkan berita bahwa mutiara mestika sudah jatuh ke dalam tangannya itu, tak lama kemudian dengan sendirinya pasti ada orang pandai dan pejabat negeri yang akan membikin perhitungan dengannya."

Teng Hong-ko tidak mengerti oleh keterangannya itu.

"Dengan cara begitu, bukankah Po-tju itu akan terjatuh kembali ke dalam tangan cakar alap-alap pemerintah?"

Tanyanya.

"Memang begitulah tujuan kita,"

Jawab Si Liang dengan tertawa.

"Kita lebih baik merebutnya kembali dari pejabat pemerintah, daripada pergi menguber-uber jejak Gui Djing-si."

Begitulah sesudah urusan diatur baik, mereka masingmasing lantas menjalankan tugasnya sendiri.

Sesudah pada bubar, Teng Hong-ko lihat hanya tinggal Si Liang dan suami isteri Yan Ie-Lam saja yang masih tinggal di dalam markas.

Si Liang adalah seorang pemeluk agama, maka siang-siang ia sudah bersemedi di dalam kamarnya hingga tiada orang lain lagi di ruangan tengah.

Hong-ko teringat pada kejadian di rumah pondokan, dimana ia telah mencuri baca surat dinas yang dikirimkan pada gubernur, di antaranya terdapat selembar nota pengiriman barang yang bertanda bundaran dengan tinta merah pada saru baris nama barang yang tertulis 'Semangka Hami dari Lantjiu', semangka itu termuat menjadi sembilan kereta dan waktunya jatuh besok pagi.

Karena merasa di antara tanda-tanda dalam surat dinas itu pasti ada terkandung rahasia tertentu, lantas Hong-ko menceritakan pengalamannya itu kepada Yan le-lam.

"Saudara Teng, mengapa tidak kau katakan sejak dulu, hampir saja kita melepaskan 'jual-beli' yang baik itu begitu saja,"

Kata Yan le-lam sesudah ia berpikir sejenak.

"Yan-tayhiap, barang dagangan apakah dalam kereta itu?"

Tanya Hong-ko yang masih belum paham.

"Kau baru saja mengunjuk diri di kalangan Kangouw dan masih plonco, mana bisa kau tahu banyak peraturan dalam Kangouw,"

Dengan tertawa Yan le-lam menerangkan.

"Kita menguntit sesuatu incaran barang pun ada istilah tertentu, ialah kesatu mendengar, kedua menguntit, ketiga mengintip, keempat membongkar dan kelima melihat gelagat, tanpa sengaja kau ini dapat membongkar tanda rahasia mereka, ini adalah barang yang harus kita incar, dan tentu pula ialah Potju kedua yang diam-diam hendak diangkut Tjhi Djin-ho ke Soatang sini."

Mendapat penerangan itu, Hong-ko menjadi girang tidak kepalang bercampur kaget.

"Yan-tayhiap, kalau begitu kita besok mencegat saja kereta itu, bukankah kita lantas akan berhasil?"

Tanyanya lagi.

"Mana bisa begitu gampang, saudara,"

Sahut Hoa-lihiap dengan tertawa menimbrung.

"Kita harus menyelidiki dulu kereta yang mana tempat disembunyikannya mutiara mestika itu, baru kita bisa turun tangan dengan tepat."

Meskipun Hong-ko masih hijau, namun otaknya memang cukup cerdas, dengan sedikit berpikir ia sudah dapat menerka.

"Aku terka pasti disembunyikan pada kereta ketujuh itu,"

Ujarnya. Suami isteri Yan Ie-lam mengangguk atas perkataannya. Terkaanmu memang tidak salah,"

Kata mereka.

"Tujuh tanda bundaran merah itu menunjukkan bahwa Po-tju disembunyikan di atas kereta ketujuh, cuma Tjhi Djin-ho yang biasanya tidak pernah gegabah bertindak, menurut penglihatanku, kali ini diam-diam tentu ia telah mengirim pula pengawal yang pandai mengikuti rombongan kereta itu." 'Barangkali kamu orang tua telah lupa pula atas perkataan Gui Djing-si?"

Kata Hong-ko pula.

"Ia mengatakan bahwa Giok-bin-yao-hou telah mendapat berita bahwa Tjhi Djing ho telah memberangkatkan pula sebutir mutiara mestika yang lain dari Khayhong dan yang mengawal ialah apa yang dikatakannya sebagai ahli dari Ko-yang-pay, bernama Ie Djan berjuluk 'Sip-tiat-hong' dan Tji Tjing-hian yang berjuluk 'Hoansan-kau', pengawalnya kali ini mungkin ialah kedua orang itu."

Setelah dirunding lagi lantas mereka memuhiskan berangkat malam itu juga, mereka menaksir kereta yang mengangkut tentu melalui jalan dan Tay-bing-hu dan Tongtjiang terus ke Tjelam.

Yan Ie-lam berpesan pada Hong-ko agar jangan memberitahukan pada orang lain lagi, supaya tidak terbeber kabar itu hingga banyak menjadi incaran tokoh Kangouw cabang lain.

Selain itu ia katakan pula pada Hong-ko.

"Saudara Teng, di tengah jalan kita jangan saling sebut nama yang asli, kau sebut saja kami dengan Toako dan Enso saja, sedang kau yang baru mengunjukkan diri paling baik kalau berganti nama dengan sebuah julukan untuk menghindarkan perhatian dari pejabat pemerintah, seumpama terjadi sesuatu, namamu pun tidak diumumkan sebagai seorang buronan."

Begitulah setelah dirundingkan lagi, akhirnya Teng Hong-ko dipilihkan nama julukan 'Siau Kim-kong".

Malam itu juga, dengan tiga ekor tunggangan segera mereka berangkat setelah melewati Tjelam.

malam keduanya mereka menginap di Tong-tjiang dan besoknya pagi sekali mereka lantas berangkat pula.

Di depan tertampak sebuah hutan Tjo dengan lereng bukit yang naik turun di sana-sini, selajur jalan besar membujur di tengah, menembus hutan Tjo itu menuju ke depan.

Waktu itu sang surya baru memancarkan sinarnya, kabut malam masih belum buyar, dalam jarak belasan tombak jauhnya masih belum dapat memandang jauh dengan jelas.

"Inilah suatu tempat yang bagus untuk kita turun tangan, cuma entah kaum pembesar celaka itu apakah sudah berangkat pagi-pagi begini?"

Ujar Yan Ie-lam.

"Di depan sana ialah Tong-poh, sebuah kota kecil, tadi malam tentu mereka bermalam di sana, menurut tafsiran, tidak sampai satu jam, tentu mereka sudah bisa sampai di sini,"

Sahut Hoa-lihiap.

Maka mereka bertiga lantas turun dari kuda dan menyembunyikan diri ke dalam hutan Tjo itu.

Dengan pelahan Hong-ko mengenjot tubuhnya, ia memanjat ke atas sebatang pohon.

Tempat ini kebetulan adalah dataran tinggi di atas bukit, oleh karena itu bila memandang jauh ke depan akan terlihat jalanan besar yang berliku-liku mengikuti naik turunnya bukit menjulur panjang.

Di antara kabut yang remang-remang itu sudah tampak dari jauh ada serombongan bayangan orang yang muncul dari belakang bukit.

Hong-ko girang sekali, ia bersuit memberi tanda pada rekannya yang berada di bawah pohon, tidak ayal lagi Hoa-Iihiap segera menyusul meloncat naik juga ke pucuk pohon untuk mengintip apa yang dapat dilihat oleh Hong-ko.

Ketika itu pelahan-lahan iring-iringan kereta sudah semakin mendekat, oleh karena itu sudah dapat tertampak dengan jelas ada suatu barisan panjang lambat laun mendekati rimba Tjo itu.

Kiranya konvoi kereta ini memang tidak salah adalah kereta rangsum milik gubernur Soatang.

Seperti telah diceritakan di muka, tidak lama lagi Kaisar Khong-hi hendak bersujud ke Thay-san, mendapat kabar itu siang-siang Tam Ting-siang sudah menyediakan semua barang keperluan yang hendak disuguhkan pada maharajanya itu.

Pada kesempatan itu juga Tjhi Djin-ho diam-diam telah menyembunyikan sebutir mutiara mestika dari Tjin-tju-goan ke dalam kereta dan secara rahasia diangkut ke Soatang.

Sebagai Popio atau pengawal dari konvoi itu ialah dua orang jagoan cabang atas dari Bu-lim atau dunia persilatan, seorang bernama Ie Djan dan yang lain Tji Tjing-hian.

Ie Djan adalah jagoan ternama dari Ko-yang-pay yang sudah kawakan, ia pandai dalam ilmu Kim-na-djiu, yakni kepandaian cara mencekal dan menawan yang mempunyai tujuh puluh dua rupa gerakan.

Sedangkan Tji Tjing-hian menggunakan toya yang disebut 'Dju-bwe-kun', toya buntut tikus, karena ujungnya yang lancip, ia mempunyai tenaga yang luar biasa, dengan sekali toyanya menyodok ia sanggup melubangi batang pohon sedalam beberapa senti.

Walaupun Ie Djan dan Tji Tjing-hian keduanya termasuk jago kawakan dari Ko-yang-pay, tetapi karena ingin kedudukan dan tamak oleh kemewahan, maka sudah lama bercita-cita memperoleh sedikit pangkat.

Kali ini setelah Tjhi Djin ho datang ke Hoa-san dan bertemu dengan pendekar golongan Khong-tong-pay yang tinggal di Tjhui-hun-kiong di atas gunung tersebut, kebetulan Ie Djan pun mengunjungi tempat itu.

Rupanya memang bintangnya lagi terang juga, maka Tjhi Djin-ho segera meminta dia menjadi pengawal barang kiriman kepada Tam Ting-siang di Tjelam.

Ie Djan tidak ragu-ragu lagi untuk menerima tugas itu, bahkan ia malah mengusulkan pula saudara seperguruannya 'Hwan-san-kau' atau ular pelintas gunung, Tji Tjing-hian untuk membantu mengawal pula.

Tjhi Djin-ho memangnya sedang membutuhkan tenaga orang, maka sudah tentu ia menerima dengan segala senang hati.

Begitulah, kemudian Ie Djan dan Tji Tjing-hian mengikuti iring-iringan kereta rangsum dari gubernur Soatang itu dan secara berbondong-bondong berangkat menuju ke Tongtjiang.

Kereta-kereta itu hanyalah kereta kecil yang ditarik oleh keledai, tetapi sembilan kereta yang harus Ie Djan kawal itu memuat semangka Hami, sebelum berangkat ia sudah dipesan oleh Tjhi Djin-ho agar memperhatikan kereta yang ketujuh.

Oleh sebab itu, sepanjang hari dalam perjalanan, Ie Djan senantiasa mendampingi kereta ketujuh itu, sedang Tji Tjinghian ia suruh menjaga di depan.

Hari itu, tidak lama sesudah mereka berangkat, hutan Tjo sudah melintang di depan mereka, sedang di kedua sampingnya terdiri dari lereng-lereng bukit yang miring, hanya di samping gunung itu terdapat jalanan yang menuju ke utara.

Melihat sekitar tempat situ cukup berbahaya, diam-diam Ie Djan berkata pada saudara seperguruannya.

"Laute. paling akhir ini kabarnya tidak sedikit sahabat-sahabat kalangan Lioklim dari sekitar Tjwan-siam telah berkumpul secara beramairamai di Soatang sini, tindak-tanduk mereka agaknya seperti akan ada sesuatu perdagangan yang baik!"

Tji Tjing-hian adalah orang yang periang, oleh karena itu. ia tak terlalu menghiraukan apa yang dikatakan kawannya itu.

"Ada dagangan biar mereka yang mengerjakan"

Jawabnya.

"Kita berdua hanya mengawal tidak lebih sembilan kereta semangka Hami ini, lagi pula Tjhi Djin-ho tiada sesuatu barang dagangan yang diserahkan pada kita, buat apa toako harus ber-kuatir!"

"Rupanya Laute tidak tahu,"

Kata le Djan pula.

"Bahwa di antara sembilan kereta ini tersembunyikan benda yang jauh lebih berharga dari barang dagangan, meski tidak aku ketahui barang apakah sebenarnya, tetapi melihat cara Tjhi Djin-ho wanti-wanti berpesan padaku sebelum kita berangkat, kali ini bagaimanapun juga, harus kita selamatkan kereta nomor tujuh itu sampai Tje-lam, walaupun hanya sebuah semangka saja umpamanya, juga tak boleh dihilangkan!"

Tengah asyik mereka berbicara, sementara itu mereka sudah berhadapan dengan hutan Tjo, tiba-tiba terdengar satu suara teriakan, menyusul dari dalam hutan melompat keluar seorang laki-laki.

Orang ini berdandan sebagai pemain silat, pakaian seluruhnya berwarna kuning Jingga, tangannya mencekal sebatang pedang tajam, begitu melompat keluar segera ia menerjang ke dekat kereta yang memuat semangka itu.

Menampak peristiwa yang mendadak itu, kusir dari kereta yang di depan seketika menjadi kalang kabut, saking ketakutannya, hingga mereka meninggalkan kereta keledai terus angkat langkah seribu.

Melihat keadaan yang tiba-tiba itu, Tji Tjing-hian berniat mencegah, namun sudah terlambat.

Sementara itu beberapa prajurit yang ditugaskan untuk ikut mengawal, waktu mendengar ada ramai-ramai mereka segera memburu datang.

Namun belum sampai beberapa abdi negara itu sempat menunaikan tugas mereka, si lelaki tadi tiba-tiba menerjang balik, pedangnya diayun dan diputar dengan cepat, dalam sekejap saja beberapa prajurit itu sudah ditusuk roboh.

Nampak gelagat jelek itu, Tji Tjing-hian masih berusaha menghindarkan pertarungan, segera ia maju ke depan.

"Dengarkanlah Hohan (orang gagah)!"

Serunya.

"Apa yang dimuat kereta kami hanyalah barang-barang yang tak berharga, apabila kau menghendaki mungkin hanya akan membuang tenagamu saja!"

Sembari berkata sambil ia menyingkap kerai kereta, maka segera tertampaklah isi di dalamnya yang memang bukan lain penuh berisi semangka Hami dari Lantjiu.

Akan tetapi lelaki itu ternyata tidak gampang menerima begitu saja, dengan alisnya yang menegak tiba-tiba ia membentak.

"Bagus perkataanmu! Nah, kalau memang barang yang tak berharga, baiklah boleh kautinggalkan sekereta saj^, lekas kau tinggalkan kereta nomor tujuh itu dan kamu boleh segera jalan terus!"

Mendengar ucapan itu, le Djan yang masih tetap menjaga di samping kereta ketujuh, ia segera tahu rahasianya sudah terbongkar oleh orang, maka diam-diam ia bersiap sedia.

Sementara itu Tji Tjing-hian pun insyaf keadaan sudah genting, pertarungan susah dielakkan pula, maka toyanya dengan segera sudah ia lorot dari samping kereta.

"Penjahat kurang ajar!"

Bentaknya dengan gusar.

"Kereta ini adalah milik pemerintah, kau berani hendak membegalnya, terang kau sendiri yang mengantarkan jiwamu!"

Habis berkata, segera ia menerjang maju, dengan gaya serangan 'Pek-ljoa-tho-sin' atau ular putih melelet, toyanya terus ia sodokkan ke muka lelaki itu.

Dengan sedikit mengegos sambil tubuhnya sedikit berjongkok, lelaki itu mengelakkan sodokan toya lawan, menyusul itu pedangnya ia angkat terus menyampuk dan menindih ke bawah, namun segera ia dapat merasakan toya Tji Tjing-hian mempunyai tenaga yang tidak lemah, dengan cepat ia menarik kembali senjatanya sambil melompat ke samping, sudah itu pedangnya membalik, dengan tipu 'Taypeng-tian-sit' atau burung garuda pentang sayap, ia menikam ke samping tubuh Tji Tjing-hian dengan cepat sekali.

Lekas Tji Tjing-hian menggeser sebelah kakinya, berbareng itu toyanya ia sabetkan ke samping, dengan demikian terdengar suara beradunya benda keras, pedang lawan dapat ia pentalkan pergi.

Lelaki itu agaknya mengerti telah menemukan tandingan yang memiliki kepandaian toya yang tinggi, maka ia tak berani gegabah, beruntun dan susul-menyusul ia kencangkan senjatanya, ia menusuk, membacok, dan menikam secara bertubi-tubi, sinar pedangnya gemerlapan naik-turun.

Akan tetapi Tji Tjing-hian tidak menjadi gugup oleh rangsekan lawan itu, toyanya diputar sedemikian rupa hingga seakanakan seekor naga hidup yang melingkar di angkasa kian kemari, beberapa kali toyanya beradu pula dengan pedang musuh hingga menerbitkan suara nyaring yang gemerincing.

Dengan ilmu toyanya itu, ia menjaga rapat dirinya, ia mengelakkan setiap serangan senjata lawan.

Namun bagi le Djan yang menyaksikan di samping, ia sudah merasa tak sabar.

Tetapi karena ia harus menjaga terus pada keretanya dan tidak ingin mengunjukkan diri.

maka dengan seksama ia melihat Tji Tjing-hian sudah menempur musuh sedemikian rupa, namun ia tidak berdaya buat maju membantu.

Dalam pada itu tiba-tiba dari dalam hutan menyambar pula suara angin, berbareng itu meloncat keluar pula seorang.

Waktu ia menegasi, maka yang datang belakangan ini ternyata adalah seorang wanita yang berusia antara 24-25 tahun, kepalanya memakai ikat kain kembang, berbaju hijau dan bercelana hitam, dandanannya kencang sepan, parasnya cantik menarik, agaknya sudah pernah ia jumpai entah dimana, hanya seketika ia tidak ingat.

Begitu melompat, wanita itu sudah sampai di belakangnya Tji Tjing-hian, terus senjatanya hendak membacok ke belakang kepala orang dengan tipu 'Khing-hong-sau-tun' atau menyambut angin menyapu debu.

Melihat serangan yang berbahaya itu, le Djan kuatir akan keselamatan kawannya itu, namun dugaannya ternyata meleset.

Tji Tjing-hian yang sudah kawakan, ia cukup berpengalaman, waktu mendengar ada suara sambaran angin dari belakang, segera ia memegang toyanya tegak di depan dada.

mendadak ia memutar cepat tubuhnya, dengan demikian segera terdengar suara nyaring, senjata-senjata lawan dari muka dan belakang semuanya telah dapat ia tangkis.

Nampak kejadian itu barulah le Djan menghela napas lega.

Sementara itu lelaki dan wanita itu masih terus mengerubuti Tji Tjing-hian dengan hebat.

Lama kelamaan Tji Tjing-hian sudah tertampak kewalahan.

Ia hanya mampu menangkis saja dan sudah tak sanggup balas menyerang.

Kedua orang yang tiba-tiba menyergap keluar dari hutan ini bukan lain ialah suami istri Yan le-lam.

Sebenarnya menurut rencana mereka bertiga, lebih dulu berniat menghantam roboh dulu salah seorang Popio atau pengawalnya, sesudah itu barulah mereka menyerbu keluar untuk merampas kereta.

Siapa tahu Tji Tjing-hian adalah ahli toya, seketika itu Yan le-lam ternyata tak bisa merobohkannya, akhirnya Hoa-lihiap pun menyergap keluar buat mengembut.

Sementara itu dalam hutan masih bersembunyi seorang.

Teng hong-ko, sudah lama ia memakai kedok kain hitam yang menutupi setengah mukanya, ia lihat iring-iringan kereta yang berhenti di tepi jalan itu, sudah banyak kusirnya yang kabur, hanya tinggal kereta nomor tujuh yang di sampingnya berdiri seorang lelaki berusia sekitar lima puluhan tahun, dengan kedua matanya tajam bersinar ia sedang mengamat-amati pertarungan sengit di antara Yan le-lam bertiga, apabila keadaan menunjukkan berbahaya, tangannya lantas tertampak merogoh ke dalam saku.

Hong-ko tahu tentu orang ini ialah le Djan yang berjuluk 'Sip-tiat-hong"

Atau angin sepuluh kali menjatuhkan, karena ia mengetahui Tji Tjing-hian memakai toya, kini lelaki yang bertangan kosong ini tidak usah disangsikan lagi tentu ialah le Djan.

Dalam pada itu, di sebelah sana Tji Tjing-hian sedang bermandi keringat oleh rangsekan Hoa-lihiap, sedang Yan le-Iam mendadak mendekat ke arah tubuhnya, berbareng itu dengan gerak tipu 'Lok-hoa-tay-sau"

Atau bunga rontok menunggu disapu, dengan cepat sekali pedangnya menyabet kedua kaki Tji Tjing-hian.

Dalam sekejap itu tampaknya Tji Tjing-hian sudah tidak mungkin menghindarkan diri dari nasib terbuntung kedua kakinya, mendadak telah kedatangan seorang penolong, dua titik bersinar sekonyong-konyong sudah menyambar datang menuju ke arah muka Yan le-lam.

Mendengar berkesiurnya angin, Yan le-Iam mengerti ada senjata rahasia, maka segera ia menarik senjatanya terus melompat ke belakang, dan betul juga, dua senjata pisau kecil laksana kilat sudah menyambar lewat, karena halangan itu maka terluputlah Tji Tjing-hian dari malapetaka.

Laksana anak sapi yang baru dilahirkan yang tak kenal apa artinya takut, Hong-ko yang menyaksikan kejadian itu di tempat persembunyiannya, mendadak melayang keluar, dengan gerakan "Yan-tju-tjwan-liam"

Atau burung layanglayang menerobos kerai, ia mengunjukkan dirinya keluar hutan, berbareng itu 'Go-bi-djing-kong-kiam' miliknya secepat kilat terus ia bacokkan, dengan tipu 'Lik-bi-hoa-san' atau membelah Hoa-san sekuat tenaga, ia mengarah kepala Ie Djan.

Dengan kesehatannya yang luar biasa itu, tampaknya ia sudah akan berhasil, orang tua itu dengan segera bisa terbelah menjadi dua oleh pedangnya.

Tak terduga, orang tua yang seperti tak mengetahui ada orang hendak membokong padanya itu, tiba-tiba mengibaskan lengan bajunya yang terbikin dari kain kasar belacu itu, dengan kibasan itu ujung pedang Hong-ko yang semestinya sudah hampir mengenai sasaran, tiba-tiba terpental pergi oleh satu kekuatan yang sangat besar, bahkan tubuhnya pun ikut tergetar pergi hingga beberapa tindak.

"Penjahat cilik berkedok, dengan diam-diam kau hendak menyergap, siapa suruh kau begitu tak tahu aturan!"

Dengan tertawa cekikikan Ie Djan mengejek. Keruan saja Hong-ko menjadi murka.

"Nanti kucabut jiwamu yang tua bangka ini!"

Bentaknya.

Berbareng itu ia melangkah maju lagi, kali ini ia memutar pedangnya dengan ilmu 'Go-bi-hing-liong-kiam-hoat' yang hebat sekali, angin senjatanya menyambar dan sinar pedangnya gemerlapan.

Akan tetapi Ie Djan pun tidak kalah hebatnya, tubuhnya melayang pergi datang dengan cepat sekali, beberapa kali Hong-ko membacok atau menikam, namun tetap mengenai tempat kosong saja.

Lambat laun Hong-ko menjadi tak sabar, tiba-tiba dengan tipu serangan 'Djong-liong-sing-thian' atau ular naga naik ke langit, senjatanya memapaki Ie Djan terus membabat.

Dalam sekejap itu tertampak Ie Djan sedikit berjongkok, kemudian tiba-tiba kain bajunya melibat pula, dengan sekali putaran cepat seperti kitiran, pedang Hong-ko ternyata sudah dikibas pergi bahkan orangnya pun hampir terjungkal jatuh.

Sementara itu Ie Djan tidak berhenti sampai di situ saja, ia melangkah maju menyusul sampai di depan Hong-ko, begitu bergerak dengan gerak tipu 'Hun-liong-tam-djiau' atau naga mengulur cakar dari awan, secepat kilat tangan kanannya terus me-rangsek ke atas pundak Hong-ko.

Dalam pada itu Hong-ko masih belum sempat menancapkan kakinya ke bawah, maka susah untuk menghindarkan diri dari rangsekan yang ganas itu.

Selagi dalam keadaan terancam bahaya, beruntung tibatiba ada sambaran angin pedang yang sampai pada pihak lawan juga-"Lihat pedang nyonyamu!"

Demikian terdengar satu suara gertakan nyaring.

Kiranya Hoa-lihiap yang menampak Hong-ko berada di bawah ancaman bahaya dari tangan 'Sip-tiat-hong', dengan cepat ia memburu maju buat menolongnya.

Mengerti dirinya dibokong, lekas le Djan mengurungkan serangannya, ia mengegos ke samping dan melangkah minggir, sesudah itu ia mengubah tipu serangan menjadi gerak 'Yap-te-tau-hoa' atau mencuri bunga dari bawah daun.

Ia merangsek maju buat merebut senjata musuh.

Akan tetapi dalam sekejap itu, bayangan orang berkelebat dengan gerakan 'Hi-djiok-tiau-ki' atau burung kutilang melompat ke cabang pohon lain, dengan cepat sekali Hoalihiap sudah melayang sampai di samping tubuh Ie Djan lagi dan terus menikam dengan pedangnya.

Tidak ayal lagi segera Ie Djan membalikkan badan dan mengibaskan lengan bajunya sekuat tenaga.

Namun Hoa-lihiap pun tidak gampang diingusi, ia cukup sebat dan tahu gelagat, dengan kegesitannya ia menghindarkan sampukan lawan, lalu ia mencari kekosongan pihak lawan dan tiap kali lantas menyerang lagi.

Seketika itu di luar hutan Tjo terjadi pertempuran yang seru, di sebelah sana pedang Yan Ie lam pelahan-lahan sudah dapat menguasai toya Tji Tjing-hian.

Sedang di pihak sini, 'Sip-tiat-hong' Ie Djan meladeni musuhnya dengan tangan kosong, mulanya dengan kesehatannya ditambah dengan tujuh puluh dua gerak pukulan Kim-na-djiu yang lihai, ia gabungkan dengan Lwekang yang sempurna, di-mana kain bajunya menyabet dan menggulung, bila tersentuh pasti akan terlempar pergi.

Dengan sekuat tenaga Hoa-lihiap coba menempur lawannya, namun sedikitpun ternyata ia tidak lebih unggul, maka ia harus lebih waspada dan bertahan terus.

Semula Hong-ko berdua Hoa-lihiap mengerubuti Ie Djan, tapi setelah Hoa-lihiap mengedipi padanya, segera ia mengerti akan maksudnya, dengan cepat ia sudah melompat keluar dari kalangan pertempuran untuk mengamati kereta keledai ketujuh tadi.

Selagi keadaan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, tiba-tiba keledai yang menarik kereta telah berlarian ketakutan, menyusul mana dari atas bukit menerjang turun seorang wanita berkedok yang menutupi setengah mukanya, tangannya mencekal pecut panjang yang tiada hentinya diayun dan disabetkan.

Roda-roda kereta di tepi jalan apabila kena libasan pecutnya segera kena dijungkir-balikkan hingga barang muatannya bersebaran.

Keruan saja keadaan yang kacau-balau ini membikin rombongan keledai menjadi ketakutan hingga kedua kupingnya berdiri tegak dan mendengking terus berlari sekenanya.

Walaupun demikian Hong-ko masih dapat melihat dengan jelas bahwa wanita yang menerjang datang ini walaupun tertutup separuh mukanya, namun dari perawakan dan parasnya yang menarik, terang adalah seorang gadis yang cantik.

Tertampak ia memakai baju hijau muda yang sepan, celana sempit model jengki dan sepatu kulit, di pinggangnya bahkan masih terselip pula sebatang pedang pendek.

Pecut di tangannya yang panjang dimainkan sedemikian rupa laksana naga hidup, yang paling menakjubkan ialah begitu ujung perutnya melilit baik kereta maupun kuda dan manusia, pasti tidak ampun lagi segera terbanting pergi, maka keruan saja seperti terluang satu jalan kosong di tengah, ia terus menuju ke jurusan dimana Ie Djan berada.

Sementara itu Ie Djan sendiri lagi repot menghadapi Hoalihiap, mendadak ia lihat pecut panjang itu menyabet ke arahnya, lekas ia enjot tubuhnya terus meloncat naik ke atas.

berbareng itu lengan bajunya ia kibaskan, ia sampuk pergi ujung pecut orang.

Tak terduga gadis itu sekonyong-konyong membaliki tangannya, pecutnya melingkar dan diulur, dengan gerakan 'Boan-long-kui-tong' atau ular naga kembali ke goa, tiba-tiba pecutnya menyabet pula ke bawah, ia mengarah kedua kaki lawan.

Lekas le Djan melompat menghindarkan bahaya pula, akan tetapi di samping itu Hoa-lihiap pun tidak mau tinggal diam, ia ambil kesempatan itu dengan tipu 'Ong-bo-hut-siu' atau Ongbo mengibaskan lengan baju, ia menusuk dari samping.

Dalam keadaan demikian ini, mau tak mau le Djan rada kalang-kabut, terpaksa ia harus mengadu jiwa, bukannya ia mundur, sebaliknya ia melangkah maju, dengan tangan kanan mendadak meraup ke atas, ia memakai gerak tipu 'Sian-koktjin-yok' atau bidadari menyuguh minuman, segera ia hendak merebut senjata orang.

Untuk menghindarkan agar senjatanya tidak terjatuh ke dalam tangan musuh, dengan cepat Hoa-lihiap terus menarik pedangnya, namun gadis tadi sudah mendahuluinya, pecutnya sudah kembali menyabet pula, dengan demikian ancaman bahayanya telah tertolong.

Dikeroyok secara begitu, kini le Djan didesak hingga terpaksa terus mundur, tak berani ia mencoba tersentuh oleh pecut lawan.

Kiranya le Djan yang telah melatih Lwekangnya selama beberapa puluh tahun, yang paling lihai ialah bajunya yang terbikin dari kain belacu kasar yang dipakainya itu, pada waktu badannya berputar cepat, dimana lengan atau ujung bajunya mengibas, maka sama seperti pisau yang mengiris tajam, bahkan tenaga dalamnya pun ikut terbawa keluar, begitu senjata musuh menempel kain bajunya, dengan segera juga bisa tergetar pergi, oleh karena itulah maka ia berjuluk 'Sip-tiat-hong' dan Lwekangnya 'Tjim-ie-sip-pat-tiat' atau menyenggol baju terjatuh delapan belas kali, yang sangat susah dilatih dalam dunia persilatan, bukan lain ialah kepandaiannya yang paling dikagumi orang.

Suatu tanda juga bagaimana kekuatan yang ada pada kain bajunya tidak dapat dipandang enteng.

Dengan mengandalkan kepandaiannya itu, biasanya tidak pernah ia membawa senjata, ia hanya melayani musuh dengan tangan kosong bersama dengan kepandaiannya yang lain terdiri dari tujuh puluh dua pukulan Kim-na-djiu.

Cuma saja ilmu Lwekangnya 'Tjim-ie-sip-pat-tiat' ini masih ada cirinya juga, yaitu tidak takut pada benda keras, tetapi takut pada benda lemas, senjata golok atau pedang dan sebang-sanya begitu tersentuh oleh bajunya dengan segera bisa tergon-cang pergi, tetapi sebangsa pecut yang lemas dapat menggulung dan melibat, ditambah lagi kalau pemakainya golongan ahli, maka tak mungkin ia bisa mendapat keuntungan.

Kini dengan pecut si gadis tadi yang cukup lihai saja sudah membikin dirinya menjadi kerepotan, apalagi ditambah pula dengan seorang Hoa-lihiap, pedangnya yang tidak pernah kendor senantiasa mengurung padanya juga.

Dengan demikian maka keadaan lantas banyak berlainan, kini ia harus bertahan dengan mati-matian dan pelahan-lahan sudah berada di pihak yang keteter.

Dalam pada itu Hong-ko sendiri yang tidak ikut bergebrak, ia lihat pada iringan kereta yang ada di depan.

Binatang penariknya masih tetap berdiri di tempatnya, tiba-tiba pikirannya tergerak, dengan diam-diam ia melompat ke atas kereta nomor tujuh, segera ia tarik tali kendali sambil mulurnya menyentak, keruan saja keledai itu menjadi kaget dan segera kabur ke depan.

Melihat kejadian itu le Djan berusaha untuk mengejarnya, namun dengan beberapa kali tusukan, Hoa-lihiap membikinnya tak berdaya buat meloloskan diri.

Di sebelah sana Tji Tjing-hian pun bermaksud hendak mencegat, ia serampangkan toyanya kepada Yan Ie-lam, menyusul itu ia terus menjugil ke atas, dengan gerakan seperti orang berlari, ia tarik toyanya terus mengudak sampai di tepi kereta Hong-ko, ia mengangkat toyanya terus hendak mengemplang.

Tak ia duga, Hong-ko ternyata cukup tangkas, matanya tajam dan gerakannya cepat, mendadak ia berputar terus tangannya mengayun, secepat kilat ia membidikkan dua butir Thi-wan atau pelor besi.

Sama sekali Tji Tjing-hian tidak menyangka pemuda kita masih memiliki kemahiran itu, hendak berkelit saja sudah terlambat, di antara sambaran sinar yang mengkilap, segera terdengar jeritannya, toyanya terlempar jatuh dan tangannya sudah kena tertimpuk oleh pelor besi Hong-ko hingga patah tulang pergelangan tangannya.

Tanpa menoleh lagi, dengan mengemudikan kereta keledainya, Hong-ko melarikan kereta itu, bahkan ia mengayun pecut untuk mempercepat kaburnya, ia membelok ke simpang jalan sebelah selatan, di antara debu yang mengepul tebal, tidak berselang lama ia sudah menghilang.

Menyaksikan sendiri kaburnya Hong-ko dengan menggondol kereta kawalannya, tak tertahan lagi le Djan menjadi murka.

"Kamu sekalian penjahat ini, berani kamu membegal kereta milik Sun-bu Taydjin!"

Gertaknya kepada Hoa-lihiap.

Agaknya ia menjadi gusar dan membentak dengan mengertak gigi, adalah tidak demikian dengan Tji Tjing-hian, ia kini telah angkat langkah seribu terbirit-birit, di belakangnya terlihat Yan le-lam sedang mengejarnya.

Kiranya sesudah tulang tangannya terpukul patah oleh pelor besi Hong-ko dan toyanya sudah terebut pula oleh Yan Ie-lam, maka tak sanggup ia bertempur terus, terpaksa ia kabur menyelamatkan jiwanya sendiri.

Melihat dirinya ditinggal begitu saja, mau tak mau le Djan menjadi gugup, masih mendingan kalau ia tetap tenang, tetapi karena kegugupannya itu, mendadak pecut si gadis berkedok tadi sudah mampir ke tubuhnya dan segera ia dilempar pergi.

le Djan terhuyung-huyung sempoyongan, beruntung ia pernah berlatih Gwa-kang 'Djian-kin-tui' yakni kepandaian berkuda dengan kokoh kuat, maka tidak sampai terjungkal jatuh.

Selagi Hoa-lihiap hendak mempergunakan kesempatan itu untuk maju menikam padanya, tiba-tiba dari hutan meniup angin aneh yang santar hingga daun-daun pohon banyak tertiup rontok, dalam sekejap itu sekonyong-konyong di depan mereka muncul seorang imam tua yang memakai pakaian pertapa, ia berjenggot hitam yang bersilang tiga, kedua matanya tajam bercahaya.

Sekali imam tua itu menggeraki kebut pertapanya, seketika itu juga pedang Hoa-lihiap sudah tergoncang dan terpental.

Melihat istrinya diserang, dengan menggunakan toya yang baru ia dapat merebut, Yan le-lam menubruk maju terus me nyerampang ke bawah orang.

Akan tetapi kembali imam tua itu mengayun kebutnya ke bawah, segera Yan le-lam merasakan cekalan tangannya kaku kesemutan dan toyanya tak bisa ia kuasai lagi dan terjatuh.

Melihat imam tua itu sekaligus berhasil membikin tak berdaya kedua orang itu, gadis berkedok tadi pun tidak tinggal diam, ia berputar, pecutnya bekerja lagi, dengan cepat lagi kuat ia menyabet muka si imam tua.

Menghadapi serangan itu, si imam tua ternyata hanya tertawa saja, ia mengayun kebutnya memutar juga, dengan segera pecut panjang itu menempel pada kebutnya, hendak ditarik saja sudah tak bisa terlepas, ternyata imam tua itu telah mengunjukkan tenaga dalamnya melalui kebut hingga membikin pecut yang menempel itu terombang-ambing, sampai-sampai si gadis sendiri tak urung ikut tergoncang.

Lekas ia melolos pedang pendeknya yang terselip di pinggang, segera ia memotong pecutnya sendiri, berbareng itu ia melompat pergi, kemudian dengan mata tanpa berkedip ia memandang si imam dengan tercengang.

"Nona manis, kau tidak lebih hanya memiliki kepandaian setingkat cucu muridku, berani juga kau unjukkan di hadapan kau punya Toaya!"

Dengan tertawa imam tua itu menyapa.

Akan tetapi tanpa berkata-kata pula, mendadak dengan cepat gadis berkedok sudah mengenjot tubuhnya melayang pergi, dalam sekejap saja ia sudah sampai di atas bukit dan terus menghilang.

le Djan masih mencoba hendak mengudak, namun segera ia ditahan oleh si imam.

"Sudahlah tak usah mengejar,"

Seru imam itu.

"Ia adalah keluaran dari perguruan Pin-to, ia bukan lain ialah Giok-binyao hou, biarkanlah ia pergi!"

Karena keterangannya itu, bukan saja le Djan, bahkan Yan Ie-lam suami isteri pun ikut terkejut.

Sedang mereka terkesima, sekonyong-konyong Ie Djan sudah menubruk maju lagi, ia mengulurkan jari tangannya hendak menjambret.

Dengan sebat Hoa-lihiap menyambut serangan itu, pedangnya berkelebat, dengan gerakan 'Tok-liong-djut-tong' atau naga garang keluar dari goa, secepat kilat ia memutar ke belakang le Djan terus membacok.

Mendengar adanya sambaran angin, le Djan insyaf adanya bahaya, tangannya membalik untuk meraup, segera ia meninggalkan Yan Ie-lam.

Dengan serangannya tadi memang Hoa-lihiap bertujuan untuk meringankan suaminya dari tekanan musuh, kini melihat Yan Ie-lam sudah terlolos, dengan segera ia berkelit menghindarkan raupan orang, berbareng itu senjatanya ia ubah pula, ia menusuk lagi ke sebelah bawah musuh.

Dalam pada itu si imam tua tadi masih tetap berdiri di samping, ia hanya menonton dan tidak turun tangan membantu.

"Entah manusia macam apakah imam ini, asalkan Hong-ko berhasil, jalan satu-satunya paling baik ialah kabur saja!'"

Begitu pikir Yan Ie-lam.

Segera ia memberi tanda pada isterinya, kemudian mereka berbareng terus meloncat pergi hendak angkat kaki.

Akan tetapi belum sampai mereka melangkah jauh, mendadak pula bayangan orang berkelebat, si imam tua tadi ternyata sudah menghadang di depan mereka.

"Jangan kamu coba lari!"

Serunya.

Menyusul itu kebutnya disabetkan ke depan.

Yan Ie-lam berdua tak sanggup berdiri tegap di tempatnya, untuk menghindarkan kebutan yang lihai itu.

mereka melayang pergi beberapa tindak, namun Tosu tua itu selangkah demi selangkah mendesak maju pula.

Mereka mencoba lagi kabur dengan cepat, tetapi tidak dinyana, kembali imam itu mendahului pula mencegat di depan dengan kebutnya diayun-ayunkan.

"Lekas kalian menyerah saja!"

Terdengar pertapa itu membentak.

"Celaka kali ini!"

Pikir suami isteri Yan Ie-lam dalam hati.

Ketika keadaan sangat membahayakan mereka, tiba-tiba terdengar suara kelenengan kuda yang berkumandang menggema, dalam sekejap saja pendatang itu sudah muncul di depan mereka, di atas kuda ternyata menunggang seorang wanita muda yang berdandan ringkas, pakaiannya kuning Jingga dengan ikat pinggang merah, sepatunya tipis enteng, usianya ditaksir belum dua puluh tahun, parasnya cantik dan sikapnya gagah.

Dengan sekali melompat, wanita itu turun dari kudanya "Hian-hong Totiang, tahan dulu!"

Terdengar ia berseru. Mendengar namanya disebut, imam tua itu jadi merandek, ia mengamati wanita muda itu.

"Apakah nona adalah Ang-koh dari Pek-lian-hwe?"

Tanyanya.

Gadis itu tidak menjawab, ia melirik pada Yan Ie-lam berdua, lalu matanya mengedip dengan maksud agar si imam itu tidak menyebut asal-usul dirinya.

Rupanya Tosu tua itu mengerti, segera ia ubah lagunya.

"Ang-koh, ada keperluan apakah kedatanganmu ini?"

Tanyanya.

"Hian-hong Susiok, harap kau lepaskan kedua orang ini, sesudah itu baru kita bicarakan!"

Sahut si gadis dengan lemah lembut. Akan tetapi Ie Djan malah tampil ke muka.

"Kedua orang ini adalah perampok yang membegal kereta pemerintah, Sun-bu Taydjin pasti akan menangkapnya, harap nona jangan melepaskan mereka!"

Katanya. Mendengar ucapannya itu, bukannya si gadis menurut, malah sebaliknya ia menjadi gusar, alisnya yang lentik menjadi berdiri "Siapa kau?"

Dampratnya sambil menuding Ie Djan.

"Kau berani ikut campur urusan nonamu? Lekas enyah dari sini!"

Ie Djan tergolong tokoh yang ternama di kalangan persilatan, keruan saja ia tidak mandah digertak orang secara begitu, kontan tangannya segera memukul.

Namun dalam sekejap itu, tangannya yang baru diulur mendadak terasa dibentur orang, ternyata Hian-hong Totiang yang melompat maju menyengkelit pukulannya ke samping.

"Ie-laudji jangan gusar dahulu,"

Ujarnya cepat.

"Nona ini bukan orang sembarangan, jangan kau bikin susah padanya."

Habis itu ia menarik orang ke dekatnya dan membisiki telinganya.

Semula dari muka Ie-Djan tertampak kegusaran, tetapi setelah dibisiki, seketika parasnya berubah, ia pandang gadis itu dengan sinar mata yang menunjukkan terkejut dan heran.

"Kini kereta nomor tujuh itu sudah kena dirampok orang,"

Terdengar Hian-hong Totiang berkata pula kepada Ie Djan.

"Sayang Pin-to masih ada keperluan lain, hari ini tak bisa membantu kau menyelidikinya, lebih baik kau terus menggiring iringan kereta ini kembali ke Tjelam, coba lihat bagaimana kemauan Tam-taydjin, sudah itu baru kita ambil tindakan lebih jauh!"

"Totiang hendak kemana?"

Ie Djan bertanya.

"Pin-to ada perjanjian penting dengan Ang-koh, lewat beberapa hari lagi tentu aku akan memberi kabar padamu!"

Sahut si imam.

Dengan mata memandang si imam, Ang-koh menyusup ke dalam rimba dengan ilmu mengentengkan tubuh yang lihai, baru setelah itu Ie Djan kembali memeriksa iringan keretanya.

Ia lihat Tji Tjing-hian lagi mendeprok duduk di tepi jalan, waktu ia memeriksanya, ternyata lukanya tidak begitu berat, hanya tulangnya saja yang patah terbidik pelor besi.

ia membalut lukanya, habis itu segera ia mengumpulkan kusir dan binatang-binatang penariknya, kemudian iringan kereta melanjutkan pula perjalanan mereka.

Sementara itu, sesudah Hong-ko dapat melarikan kereta keledai nomor tujuh, dengan cepat ia kabur menuju ke jurusan selatan, setelah lewat setengah jalan, ternyata tiada yang mengejar, maka ia melambatkan perjalanannya.

Di mukanya kini ada sungai kecil terlihat menghadang, ia menyusur mengikuti tepi sungai, ternyata di sekitarnya adalah hutan yang lebat.

Hong-ko menghentikan keretanya di tepi sungai, ia menyingkap kain minyak yang menutup isi muatan kereta dan diperiksanya, memang betul juga penuh terisi semangka sekira enam hingga tujuh puluh buah.

Dengan cepat ia menggelar kain minyak di atas tanah rumput, ia membongkar semangka itu, semua ia taruh di atas kain minyak itu, dalam sekejap saja kereta itu sudah kosong.

Menyusul itu ia mencabut belatinya, ia tikam bokong keledai kereta itu.

keruan saja binatang itu mendengking terus berlari kesakitan, Hong-ko menyusul dengan cepat di belakang kereta, ia tunggu setelah kereta itu tiba sampai di dataran tepi sungai yang agak tinggi, mendadak dengan cepat sekali ia mendorong kereta ke samping menuju ke sungai, karena tak bisa menguasai berat kereta, seketika itu juga keledai itu ikut tergelincir masuk ke dalam sungai.

Waktu itu arus air sungai cukup deras, maka tanpa ampun lagi kereta itu hancur lebur dan binatang itu pun hanyut terbawa arus air.

Hong-ko kembali ke tempatnya tadi, ia menyeret semangka yang terbungkus dengan kain minyak itu ke dalam hutan.

Pada suatu tempat yang lebat dengan rumput, Hong-ko membuka kain minyak, dengan teliti ia memeriksa semangka itu satu persatu, akan tetapi tiada sesuatu tanda rahasia yang dapat diketemukan.

Tetapi dasar memang dia termasuk anak cerdik, ia teringat pada waktu Gui Djing-si berhasil menggondol sebutir mutiara mestika, dan kabur di antara api yang berkobar, namun api itu ternyata tidak terpengaruh oleh mutiara yang ia gondol itu, maka dapat dipastikan bahwa mutiara yang direbutnya itu tentu bukan Pi-hwe-tju atau mutiara anti api.

Kini ketinggalan dua buah mutiara yang lain, di antaranya tentu adalah Pi-hwe-tju.

Oleh sebab itu, segera ia mendapat akal untuk menjajalnya, ia mengumpulkan banyak batang kayu kering dalam hutan itu dan ditumpuk, sesudah itu ia mengeluarkan batu apinya dan terus dinyalakan.

Dalam sekejap saja api telah berkobar.

Dengan berdiri di pinggir Hong-ko menggelundungkan semangka-semangka itu satu persatu ke dalam gundukan api.

Dengan perbuatan itu sebenarnya harapannya pun hanya setengah bagian saja, karena di antaranya masih ada sebutir mutiara yang bukan mutiara anti api, oleh karena itu, ada kemungkinan ia akan kecewa.

Namun sesudah beberapa puluh buah semangka ia lemparkan ke gundukan api, sekonyong-konyong sebuah di antaranya setelah menggelundung sampai ke dalam api, gundukan api itu seperti kena ditiup angin santar, dalam sekejap mata api itu sirap seluruhnya, bahkan lelatu api saja lenyap.

Bukan main girang Hong-ko, dengan sekali lompat ia menyambar semangka itu terus dibawa lari masuk ke dalam hutan yang lebih jauh, sudah itu baru ia letakkan kembali buah semangka tadi, ia memeriksa dengan teliti, tiba-tiba ia menyentuh pada bongkolnya yang rasanya sekeras besi, waktu ia menegasi, ternyata adalah punggur buatan dari kayu.

Tidak ayal lagi, segera ia mencabut belatinya dan membelah semangka itu, ia lihat pada punggurnya bergandengan dengan sebuah bumbung perak yang menancap masuk ke dalam daging semangka.

Bumbung perak itu panjangnya kira-kira dua senti dan terbikin bagus sekali, kalau diletakkan dalam tangan, maka segera terasa dalam bumbung ada sesuatu barang yang menggelundung dan berputar, ternyata bumbung itu dibikin secara sambungan dan bila diputar segera terbuka.

Waktu bumbung itu dibuka, maka pandangan mata Hongko seketika menjadi silau oleh pancaran sinar putih gemerlapan, di depan matanya ternyata adalah sebutir mutiara yang bundar bersih dan menarik, memang betul sebutir mutiara yang jarang terdapat di jagad ini.

Maka lekas ia memasukkan kembali mutiara itu ke dalam bumbungnya, dengan hati-hati ia menyimpannya di dalam saku.

Selagi ia hendak pergi, tiba-tiba terdengar dari kejauhan suara tindakan orang mendatangi.

Ia segera berjongkok dan menempelkan kupingnya ke tanah untuk mendengarkan, namun hanya suara tindakan seorang saja, ia menduga tentu bukan Yan le-lam suami isteri berdua yang telah kembali, lekas ia membikin kusut rumput yang telah ia injak-injak, kemudian ia memanjat ke atas pohon, ia menyembunyikan diri di antara dedaunan yang lebat untuk mengintip siapa gerangan yang datang.

Di bawah pohon muncul seorang gadis berkedok yang sudah ia kenali, gadis ini bukan lain adalah gadis yang menggunakan pecut untuk menem-pur le Djan tadi.

Hong-ko heran bagaimana ia bisa datang menyusul.

Melihat tindakannya tadi yang membantu Yan Ie-lam berdua melawan pihak musuh, apakah ia pun Liok-lim Enghiong dari tepi Hongho?

Sementara itu si gadis ternyata tidak mengetahui bahwa di atas pohon bersembunyi seseorang, ia lewat begitu saja di bawahnya.

Hong-ko menunggu setelah suara tindakan kakinya sudah pergi jauh barulah ia melompat turun.

Ketika itu cuaca sudah sore, ia berjalan keluar dari hutan itu, ia mengenali tempat ini tidak jauh dari Yang-ko-koan, dengan menumpang kapal dari Un-ho (Terusan Besar), ia bisa kembali sampai di Mo-dji-tje.

Waktu itu adalah permulaan musim semi, kedua tepi terusan itu penuh melambai pohon Yang-liu yang tertiup angin.

Menurut ceritera, waktu Kaisar Sui-yang-te menggali terusan besar ini, ia telah memerintahkan menanam rapat kedua tepi sungai dengan pohon Yang-liu dan menyuruh para Kiongli menyusur tepi terusan, sampai kini, kedua tepi terusan masih tetap tumbuh lebat pohon Yang-liu itu hingga banyak meringankan orang-orang yang berjalan di bawahnya dari terik sinar matahari.

Kapal yang Hong-ko rumpangi adalah sebuah perahu kecil yang hanya memuat dia seorang diri, setelah hari gelap, perahunya singgah pada suatu muara sungai yang berdekatan.

Dalam pada itu di samping perahunya, terlihat sebuah kapal layar yang cukup besar dan bersusun sedang membuang sauh.

Hong-ko tidak memperhatikan kapal layar itu, ia menyembunyikan diri dalam ruangan perahunya sendiri dan dari jendela ia melihat pemandangan yang indah di luar.

Suasana malam sunyi senyap, kapal layar di sebelahnya itu sudah menyalakan lampu yang bersinar terang menyorot ke permukaan air yang bergoyang.

Tiba-tiba daun jendela dari ruangan bersusun kapal layar itu terbuka, seorang gadis muda menongolkan setengah mukanya, terlihat ia bermata jeli dan beralis lentik, parasnya cantik molek, di pinggir gelungannya tersunting setangkai bunga cempaka.

Tetapi dari sinar matanya yang tajam tertampak mengandung kebengisan.

Sementara itu terlihat ia lagi memandang ke daratan, habis itu lantas ia menutup kembali daun jendelanya.

Oleh pandangan sekilas itu, Hong-ko berdenyut hatinya, entah mengapa mendadak ia menjadi berdebar-debar, ternyata sepasang mata si gadis itu entah sudah pernah ia lihat, hanya seketika ia tidak ingat dimana?

Namun sebentar kemudian segera ia menertawai dirinya sendiri yang terlalu perasa, sedang paras muka orang saja belum jelas terlihat, bagaimana boleh jadi sudah pernah ia ketemukan.

Ia berniat tidur, tetapi bagaimanapun ternyata tak bisa nyenyak, di pinggir telinganya seperti terdengar angin sepoi-sepoi mendesir di tepi sungai, mirip seperti desiran angin baju orang jalan malam.

Ketika Hong-ko mengintip, ia lihat di antara pohon Yang-liu itu berkelebat bayangan orang dengan cepat sekali sedang melayang turun ke ruangan kapal sebelah, sekilas terlihat juga yang datang itu ternyata adalah seorang imam, keruan saja seketika itu Hong-ko ternganga.

"Apakah mungkin orang ini hendak mencelakai wanita di kapal sebelah itu?"

Pikirnya dalam hati.

Karena keheranannya itu, ia melongok keluar untuk memandang ke ruangan kapal tetangganya, ia lihat dari jendela tetap memancar keluar sinar lampu masih seperti tadi, tiada tanda-tanda terjadi sesuatu yang mencurigakan.

"Aku hanya kebetulan lewat di sini saja, lebih baik tak usah mengurusi persoalan orang lain!"

Pikirnya.

Akan tetapi selagi ia berpikir, tiba-tiba kembali terdengar suara air yang meriuh seperti orang sedang mencipratkannya.

Waktu Hong-ko berpaling ke belakang perahunya, terlihat olehnya di atas sungai sedang meluncur datang sebuah perahu kecil secepat terbang, di atas perahu itu berdiri seorang.

Yang mengherankan ialah tiada sesuatu alat pengayuh pada dirinya, melainkan ia hanya mementang kedua tangannya dan mengibaskan lengan bajunya, dengan begitu sang perahu meluncur laju ke depan menuju ke kapal layar yang beruangan susun itu, dalam sekejap saja perahu itu sudah datang mendekat, yang berdiri di atasnya itu ternyata adalah seorang kakek, tertampak ia hanya sedikit mengenjot, segera sudah berada di atas kapal layar itu terus masuk ke dalam.

Sudah tentu peristiwa itu makin membikin Hong-ko terheran-heran, ia mengerti yang berada di dalam kapal layar sebelah itu pasti bukan manusia sembarangan, boleh jadi adalah tokoh dari kalangan Kangouw juga, mungkin berurusan sesuatu perdagangan hingga berkumpul di sini.

Sebenarnya peristiwa yang belakangan ini tidak begitu menarik perhatiannya, yang paling menarik dan menggoncangkan pikirannya ialah si gadis dalam kapal itu.

Tapi gadis itu hanya menonjolkan setengah mukanya, tetapi itu saja sudah cukup membikin goncang hatinya.

Dari sinar mata si gadis itu mendadak membikin ia teringat pada kawan ciliknya di masa anak-anak, walaupun parasnya mungkin telah berubah, tetapi kejadian-kejadian pada masa anak-anak.

Satu persatu telah terbayang kembali, suara dan tertawa Pek Eng-dji sekejap itu telah terkenang dalam hati sanubarinya.

Hong-ko tak sanggup menahan perasaannya yang berdebar-debar itu, ia berbangkit dan berdandan ringkas, ia melihat tukang perahu sudah menggeros tidur di belakang, pedangnya ia selipkan di punggungnya dan terus melompat keluar dengan enteng.

Segera ia menggelantungkan tubuhnya di kapal sebelah, ia merembet sampai di ruangan susun sebelah atas dan memandang ke dalam melalui sela-sela jendela.

Akan tetapi apa yang ia lihat segera membikin ia terkejut.

Yang berada di dalam kapal itu ternyata ada lima atau enam orang dan sedang berduduk mengitar, di tengah berduduk seorang yang bukan lain ialah gadis yang tadi melongok keluar jendela.

Di kedua samping gadis itu duduk seorang Tosu atau imam tua dan seorang kakek, yaitu orang yang tadi meluncur datang dengan perahu.

Seterusnya masih ada pula tiga orang, kesemuanya mengenakan baju yang berbelahan miring dan rambutnya diikat ke atas, dandanan mereka rada aneh.

"Sian-koh, apakah malam ini Hian-hong Totiang tidak datang?"

Sementara itu terdengar si imam tua bertanya.

"la bukan orang dari golongan agama kita, biarlah ia tak usah hadir, cuma hari ini ia telah membuang satu kesempatan baik begitu saja!"

Terdengar si gadis menyahut.

"Apa Sian-koh maksudkan ia tidak bersedia ikut membantu Tjin-tju (Tuhan) kita?"

Si kakek bertanya.

"Bukan,"

Jawab si gadis menggeleng kepala.

"Aku maksudkan apa yang disebut tentang 'Thian-hu' tadi. ialah sudah kena tercuri oleh Bun Sui-le, si siluman perempuan itu, hari ini Hian-hong Totiang berjumpa dengan siluman itu dan telah melepaskan dia begitu saja, sungguh sayang!"

"Sian-koh (nona dewi), mungkin Hian-hong Totiang tidak mengetahui akan kejadian itu, maka ia membiarkannya pergi begitu saja!"

Terdengar laki-laki lain menimbrung.

"Mungkin begitulah,"

Angguk si gadis.

"Tetapi kini ia berjanji hendak pergi menyusul siluman perempuan itu."

Hong-ko yang menggantung di luar; mendengar tiap percakapan itu dengan jelas, keruan saja ia bermandi keringat dingin saking kagetnya.

la terkejut dan heran karena gadis yang disebut 'Sian-koh' itu, parasnya mirip sekali dengan kawan kecilnya, Pek Eng-dji, lagi pula logat kata-katanya pun seperti dari daerah selatan, tetapi bagaimana ia bisa dipanggil 'Sian-koh'?

Apa mungkin ia sudah menjadi seorang pemimpin wanita dari sesuatu golongan agama?

Karena pikirannya itu, tanpa terasa ia menghela napas pclahan.

Akan tetapi walaupun pelahan, namun segera ia sudah diketahui orang.

"Ada mata-mata!"

Terdengar orang berteriak, dan menyusul itu sinar lampu segera padam.

Namun Hong-ko pun cukup sebat, dengan cepat sekali ia meloncat kembali turun ke perahunya sendiri dengan gerakan "Ning-yan-kui-tjau' atau burung layang-layang kembali ke sarang, sudah itu segera pula ia menyulusup masuk ke ruangan perahu dan menarik selimutnya terus berpura-pura tidur.

Perbuatannya itu ia lakukan dengan gesit dan cepat, maka tidak menimbulkan suara sedikitpun.

Sementara itu ia mendengar di luar beberapa kali suara menyambar, ia mengetahui ada orang dari kapal sebelah itu juga mencelat keluar buat mengejar, tetapi kesemuanya menuju ke daratan.

Tiada antara lama, di depan perahunya seperti ada sedikit suara.

Hong-ko berpura-pura menggeros, segera seperti ada orang yang melongok ke dalam perahunya melalui perahu ikan yang berada di samping lain, namun dalam sekejap saja sudah menghilang.

Selang tak lama kemudian kapal di sebelah keadaannya sudah kembali sunyi senyap, dengan selamat Hong-ko menghindarkan bahaya itu, ia tertidur tanpa kuatir.

Ketika kemudian ia dibangunkan oleh tukang perahu, cuaca ternyata sudah terang, waktu ia melongok lagi keluar, maka kapal tetangganya semalam itu kini sudah lenyap, entah menuju kemana.

Sejak itulah, dalam kalbu Hong-ko terukir sesosok bayangan yang susah untuk dilupakan, dan perahunya terus melanjutkan perjalanan menuju ke utara.

Beberapa hari kemudian, ia kembali sampai di Mo-dji-tje.

Waktu ia hampir sampai di pintu benteng mereka dahulu, tiba-tiba dari tepi jalan melompat keluar dua orang, ketika ia tegasi, ternyata bukan lain ialah Yan le-lam suami-isteri.

Mereka girang sekali bisa bertemu kembali dengan Hong-ko.

"Teng-hengte (saudara), lama sudah kami menantikanmu!"

Seru Yan-le-lam kegirangan. Habis berkata, ia menarik Hongko dan membelok masuk ke dalam rimba. Atas perbuatan orang itu, Hong-ko menjadi terheran-heran.

"Mengapa kita tidak kembali ke dalam benteng saja?"

Tanyanya segera.

"Di sana sudah mengalami malapetaka, Liok Ing dan Mo Djit berdua sudah tewas, kami berdua menanti di sini perlunya adalah mencegat kau jangan sampai menuju ke sana!"

Yan lelam menerangkan.

Setelah Hong-ko bertanya lebih jelas, barulah diketahuinya bahwa sesudah hari itu Yan le-lam berdua kabur dari rimba Tjo, pernah juga mereka berusaha mencarinya ke tepi sungai, tetapi yang mereka lihat adalah kereta keledai yang sudah kecemplung ke dalam sungai, mereka mengerti Hong-ko tentu sudah berhasil menghilangkan semua jejak telapak itu.

Mereka kembali ke Mo-dji-tje melalui jalan darat, tetapi begitu masuk kampung, mereka menjadi terkesima saking kagetnya.

Ternyata di dalam markas mereka itu bergelimpangan beberapa mayat Liau-lo.

Ketika sampai di dalam pendopo tengah, 'Hoat-giam-ong' Mo Djit mati menggeletak di bawah undak-undakan, di hulu hatinya kena tertusuk hingga ususnya terburai keluar.

Sedang Liok Ing roboh di belakang ruangan, ia seperti lagi hendak kabur, tapi mendadak telah kena ditusuk orang dari belakang hingga tembus.

Di dalam markas pun diobrak-abrik hingga tak keruan.

Mereka tak berani berlama-lama tinggal di situ, cepat mereka menerobos keluar lagi melalui jalanan di belakang.

Tetapi baru saja mereka melompat keluar, dari belakang bukit sudah dipapak oleh It-tun Ki-su Si Liang yang terus menarik mereka meninggalkan Mo-dji-tje, kemudian ia menceritakan apa yang telah terjadi.

Kiranya pada waktu sesudah Yan le-lam bertiga berangkat, hari kedua para benggolan sudah pada kembali semua terkecuali To Dji-hay seorang.

Sehabis dahar malam, Tju-kat Liang dan Liu Ut menceritakan kabar yang mereka peroleh bahwa di daerah Tong-tjiang kemarin telah terjadi peristiwa perampokan kereta pemerintah, maka mereka hendak keluar lagi untuk menyelidiki.

Sementara itu Si Liang masih duduk di belakang markas mereka, tiba-tiba terdengar suara riuh rendah di sebelah depan, menyusul itu terdengar orang roboh dengan jeritan ngeri.

Si Liang mengetahui gelagat jelek, dengan cepat ia segera melayang naik ke atas atap rumah.

Ketika itu dari luar gerbang markas secara berbondongbondong membanjir masuk segerombolan orang, kesemuanya terlihat memakai ikat kepala merah, menyusul itu sinar senjata berkelebat, para Liau-lo atau prajurit penjaga semua roboh bergelimpangan.

Dalam pada itu dari luar tiba-tiba melayang masuk lagi dua orang, dimana mereka sampai dan senjata bekerja, di situ segera terlihat kepala manusia menggelinding.

Kedua orang ini ternyata adalah seorang imam tua dan seorang kakek.

Sementara itu yang masih tinggal di dalam markas ialah 'Hoat-giam-ong' Mo Djit, ia masih belum sadar dari mabuknya, saking kagetnya ia menyambar golok terus menerjang keluar.

Di pintu pojok, dengan berbareng melompat keluar 'Pekbin-hou' Liok Ing, kedua golok mereka segera tertuju ke arah si kakek yang baru datang itu.

Mo Djit dengan tangkas dan kuat melontarkan beberapa kali bacokan, ia membikin pedang si kakek tergumpil.

Melihat kawannya terancam bahaya, imam tua tadi segera menubruk maju dari samping, dengan gerak tipu 'Eng-saudjiau-dji' atau burung elang menyambar anak ayam, dengan kepandaian 'Kim-na-djiu' atau ilmu cara mencekal dan menangkap, sekaligus ia dapat menjambret tubuh Mo Djit, berbareng ia angkat terus dilemparkan ke bawah Tjim-tje, justru waktu itu dari luar sedang masuk seorang lelaki mengenakan baju belahan pinggir, tangannya bergerak dan senjatanya membabat, keruan seketika itu tubuh Mo Djit terbelah menjadi dua, dimulai dari pundaknya sampai ke bawah.

Si Liang yang menyaksikan kejadian ngeri itu dari atas atap, hampir saja menjerit kaget.

Menampak rekannya tewas di bawah senjata musuh, tentu saja 'Pek-bin-hou', si harimau bermuka putih, Liok Ing menjadi gugup, dengan sekuat tenaga ia coba menandingi kedua lawan yang tangguh itu.

Saat itu si kakek lagi memainkan tipu 'Ou-tiap-tjio' atau ilmu pukulan model kupu-kupu, ia merangsek dengan hebat, sedang si imam tua pun tidak mau ketinggalan, pedangnya berulang-ulang membuat serangan berbahaya.

Lebih dulu Liok Ing kena sekali bacokan pada pundaknya, ia berniat kabur, dengan pura-pura menyerang segera ia menarik senjatanya terus berlari hendak kabur.

Akan tetapi sayang, baru saja ia berhasil menerobos ke ruangan belakang, secepat kilat si imam tua tadi tahu-tahu sudah mengejar sampai di belakangnya, menyusul itu pedangnya berbareng menusuk, maka Liok Ing yang tidak menyangka si imam tua itu bisa demikian sebarnya, segera kena ditusuk hingga tembus ke dada, ia menjerit ngeri dan terus menggelongsor.

Si Liang sendiri pernah menjadi anggota 'Ang-ting-kau' atau agama Teng (lentera) merah di Soatang, bahkan ia pernah menjabat sebagai wakil pemimpin, oleh karena itu terhadap tokoh-tokoh kalangan Hek-to, melulu mendengar kode percakapannya saja, sedikit banyak ia sudah bisa menaksir dari golongan rnana orang itu.

Kini nampak gerombolan yang datang ini bukan petugas negeri, tetapi dari dandanan mereka mirip dengan perkumpulan agama liar, ditambah mendengar pula kode yang mereka percakapkan, kesemuanya ternyata adalah bahasa rahasia dari 'Pek-lian-kau\ agama Teratai Putih yang bercokol di sepanjang tepi Tiangkang, tentu saja ia menjadi terperanjat.

"Kemurahan bagi siluman Giok-bin-yao-hou itu, ia tidak di sini, apa mungkin ia tidak ke sini, apa mungkin telah merat kembali ke utara Siamsay?"

Begitulah terdengar para berandal itu berkata setelah mereka coba menggeledah seluruh markas itu.

Sesudah itu, dengan sekali suitan keras, api obor dinyalakan, segera gerombolan orang-orang itu meninggalkan Mo-dji-tje lagi.

Setelah musuh pergi, barulah Si Liang berani turun kembali, sementara itu di dalam rumah mayat-mayat sudah pada bergelimpangan, ia tak berani berlama-lama tinggal di situ, maka malam itu juga ia melarikan diri.

Begitulah setelah Yan le-lam mengisahkan apa yang telah dialami markas besar mereka, mau tak mau kejadian itu membikin Hong-ko menjadi bergidik.

"Dan kini kita harus menuju kemana?"

Lekas ia bertanya.

"Tak usah kau kuatir, kami sudah memberitahukan pada para pemimpin supaya berkumpul ke Pek-hoa-ho!"

Sahut Yan le-lam.

"Yan-toako, hari itu kau dan Enso berada di luar rimba, cara bagaimana kamu meloloskan diri juga?"

Terdengar Hongko bertanya lagi.

"Cerita itu agak panjang, maka belum bisa aku beritahukan padamu,"

Sahut Yan Ie-lam.

"Hari itu setelah kau berhasil melarikan kereta, belakangan muncul lagi seorang jagoan ternama dari Bu-lim yang juga jarang mengunjukkan diri, kami berdua semula menduga tak mungkin bisa melarikan diri, tak tahunya ternyata ada seorang penolong."

Bercerita sampai di sini ia berhenti sejenak.

"Siapakah gerangan orang yang begitu hebat sampai Toako begitu takut padanya?"

Tanya Hong-ko rada heran. Ia laksana anak sapi yang baru lahir, belum banyak mengetahui selukbeluk rahasia Kangouw, maka pantaslah kalau ia bertanya.

"Kau belum lama berkelana di dunia Kangouw, sudah tentu kau tidak kenal siapa adanya Hian-hong Totiang,"

Yan Ie-lam menerangkan.

"Ia bukan lain ialah Kiam-khek dari Khongtong-pay, bersama Tji-yang Tjin-djin dari Bu-tong-pay, mereka berdua disebut dua ahli pedang pada zaman ini, kali ini ia pun sampai di Soatang, hal ini saja sudah mengherankan, siapa kira akhirnya masih ada pula yang membikin orang lebih heran lagi, ternyata dengan begitu saja ia telah membiarkan Giokbin-yao-hou lolos, bahkan masih memberitahu pada Ie Djan bahwa ia tergolong seperguruannya."

"Waktu itu kami pun berniat terus kabur, tetapi sekonyongkonyong telah muncul lagi seorang wanita muda, Hian-hong menyebutnya sebagai Ang-koh, waktu Hian-hong hendak mengejar kami, gadis itu malah mencegahnya, karena itu juga kami baru bisa pulang dengan selamat dan hingga kini kami tetap tidak mengerti akan hal itu."

"Bukankah gadis itu mengenakan pakaian kuning gading dan berangkin merah, di pinggir gelungnya tersunting setangkai bunga Giok-lan (cempaka)?"

Tanya Hong-ko.

"Ya, betul! Bagaimana kau bisa mengetahui?"

Sahut Yan Ielam suami isteri dengan terheran-heran.

Hong-ko lantas menceritakan pengalamannya bagaimana setelah dapat memperoleh Pi-hwe-tju, mutiara anti api, ia kembali dengan menumpang perahu, tetapi tanpa sengaja telah mengintip rahasia dalam kapal sebelah perahunya Kedua suami isteri itu menjadi girang mengetahui kawan mereka sudah mendapatkan sebutir mutiara idaman mereka, mereka teringat juga bahwa Tosu dan kakek yang Hong-ko lihat dalam kapal itu tentu adalah mereka yang semaiam menyerbu Mo-dji-tje.

Mereka coba menerka siapa gerangan gerombolan orang itu, namun tiada seorang pun di antara mereka yang bisa mengutarakan pendapat yang tepat, lebih-lebih siapa adanya si gadis itu.

Begitulah maka Hong-ko lantas ikut Yan Ie-lam berdua kembali ke Pek-hoa-ho.

Mengenai gadis yang menjadi pertanyaan mereka itu, oleh perkumpulan agama Pek-lian-kau disebut Ang-koh, usianya tak lebih dari dua puluh tahun, tetapi kepandaiannya sudah tinggi sekali, ia adalah murid dari Bu-tong-pay, kemudian berguru pada tiga tokoh utama dari Khong-tong-pay, kini ia sedang bertugas berkeliling untuk menyebarkan ajaran agama mereka.

Sewaktu ia sampai di Tay-beng-hu.

sebuah kota besar di Hopak, seorang imam dari Pek-lian-kau di tempat itu yang bernama Liok-ni Tjindjin memberitahukan padanya tentang selentingan bahwa Tjhi Djin-ho diam-diam mengirim mutiara mestika pada Tam Ting-siang, oleh karena itu lantas ia mengumpulkan begundalnya dengan maksud hendak memperoleh mutiara mestika itu, untuk kelak dipersembahkan kepada ketua agama mereka, Ong Bing.

Tetapi belakangan waktu diselidiki lagi, ia mengetahui bahwa Tjhi Djin-ho minta pengawalan beberapa Kiam-khek dari Khong-tong-pay yang masih terhitung seperguruan mereka, maka Ang-koh menjadi ragu-ragu dan tak berani sembarangan turun tangan Akhirnya ia mendapat laporan lagi bahwa Tjin-tju-goan yang dicari-cari itu dikawal oleh seorang pemuda yang menggendong 'pedang perjalanan' dari Go-bi-pay.

Oleh sebab itu, maka ia terus menguntit, namun masih agak terlambat dari Yan le-lam dan kawan-kawan Malam-malam ia menyelidik ke Pek-hoa-ho seperti apa yang telah dikisahkan di depan ini.

Waktu itu walaupun orangorang kosen di dalam ruangan tidak sedikit tetapi karena mereka sedang asyik menyelidiki barang-barang yang dibawa oleh Teng Hong-ko, hingga tiada yang sadar bahwa mereka kedatangan tamu yang tak diundang.

Peristiwa itu tidak membawa hasil bagi Ang-ko, namun sekilas ia dapat melihat wajah Hong-ko, yang seperti sudah sangat ia kenal.

Sekembalinya ia menjadi tak habis pikir cara bagaimana Hong-ko bisa berkecimpung di antara benggolan kaum Lioklim itu, juga ia belum mengetahui bahwa Hong-ko pun anak murid dari Go-bi-pay pula.

Justru kali ini ia menuju ke utara untuk menjalankan tugas, selang beberapa hari Liok-ni Tjindjin melaporkan padanya bahwa sebutir di antara mutiara-mutiara mestika itu sudah jatuh di tangan kaum Liok-lim dari Mo-dji-tje.

Rupanya ia tertarik oleh laporan itu, maka ia mengirim seorang jagoan dari Pek-lian-kau untuk mencari tahu kebenaran laporan tersebut, orang yang ia kirim adalah 'Gomo Li"

Baca Juga: Rahasia 180 Patung Mas 3

Baca Juga: Pendekar Riang 6

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger