Eps 3 Rahasia 180 Patung Mas - Gan Kl
Baca online Rahasia 180 Patung Mas - Gan Kl
Cersil Rahasia 180 Patung Mas - Gan Kl.
"Sudahlah, tidak perlu lagi. Coba lihat betapa mesranya kuda hitammu dengan kuda putihku? Mereka seperti menyesal baru sekarang berkenalan dan mengapa tidak sejak dulu-dulu. Jika harus berlomba lagi kan berarti kurang hormat."
Memang benar, pada saat itu kedua kuda hitam dan putih yang tadi berpacu mati-matian itu kini sedang saling mengendus dengan sikap sangat mesra. Muka si nona baju putih tampak merah omelnya.
"Kurang ajar tidak tahu aturan!"
"Jangan menyalahkan mereka, mereka kan sebangsa!"
Ujar Kiam-eng. Si nona melototinya sekejap, tapi lantas tertawa dan berkata pula.
"Naga Hitamku itu biasanya sangat angkuh mungkin hari ini ia merasa menemukan tandingan tangguh maka merasa cocok dan sayang terhadap kuda putihmu."
"Betul, Naga Putihku itu biasanya juga sangat tinggi hati, baru sekarang untuk pertama kalinya dia tertarik oleh kawan sejenisnya."
Kata Kiam-eng. Si nona melengong.
"Oo, kudamu bernama Naga Putih?"
"Betul, tampaknya merupakan suatu pasangan setimpal dengan Naga Hitammu."
Muka si nona kembali merah, omelnya.
"Cis, kalau bicara hendaknya tahu aturan sedikit, jangan sok menang sendiri."
Kiam-eng juga merasa ucapan sendiri agak sedikit bangor, cepat ia berkata dengan tertawa "O, maaf. Apakah boleh aku tahu siapa nama nona yang terhormat?"
"Aku bernama Ih-Keh-ki, berjuluk Pek-ih-sian-li (si dewi baju putih)."
Kiam-eng termenung sejenak dan bergumam.
"Oo, Pek-ih-sian-li Ih-Keh-ki ..."
"Apakah tidak pernah kau dengar?"
Tanya si nona.
"Karena pengalamanku cetek dan pengetahuanku dangkal sebelum ini tidak pernah aku dengar nama nona yang termashur,"
Ucap Kiam-eng dengan menyesal. Dengan agak malu Pek-ih-sian-li Ih-Keh-ki berkata pula.
"Bicara terus terang julukan Pek-ih-sian-li sebenarnya aku beri sendiri ketika meninggalkan rumah."
"Oo, ..."
Kiam-eng bersuara singkat. Ketika melihat punggung si nona menyandang pedang, ia coba tanya.
"Ilmu pedang nona tentu sangat tinggi."
Ih-Keh-ki tampak tertawa bangga, ucapnya.
"Dalam hal ini memang aku tidak perlu rendah hati."
Diam-diam Kiam-eng tertawa geli, ia pikir bila si nona tahu siapa diriku, tentu kamu takkan berani membual. Segera ia berlagak hormat dan mohon petunjuk, katanya.
"Numpang tanya, siapakah ayah nona yang mulia?"
"Ayahku adalah tokoh besar termashur di dunia persilatan jaman sekarang."
"Oo, aku yakin ayah nona pasti juga punya julukan indah?"
"Tentu saja. Oya, aku lupa tanya siapa namamu yang terhormat dan apa pula julukanmu?"
Tanya Ih-Keh-ki.
"Aku she Su bernama Kiam-eng. Tidak punya julukan segala."
Si nona berkerut kening, ucapnya dengan lagak seperti lagi mengingat-ingat.
"Su-Kiam-eng?... Nama ini rasanya seperti pernah aku dengar ..."
Kiam-eng tersenyum katanya.
"Kiam-ho-Lok-Cing-hui adalah guruku,"
Tukas Kiam-eng. Ih-Keh-ki terkejut serunya dengan terbelalak.
"Ahh! Pantas namamu seperti sudah aku kenal, kiranya engkau inilah murid Kiam-ho-Lok-Cing-hui!"
"Betul,"
Kiam-eng tersenyum.
"Sekarang giliran nona untuk memberitahukan nama ayahmu yang mulia."
Si nona tersenyum renyah, katanya.
"Huh, jangan kau anggap dirimu sudah luar biasa, biar pun nama ayahku tidak melebihi gurumu, tapi kakek guruku justru jauh lebih terkenal daripada gurumu."
"Apa betul?"
Tanya Kiam-eng dengan tertawa.
"Numpang tanya tokoh kosen manakah kakek guru nona?"
"Kakek guruku tak-lain-tak-bukan ialah Kiam-ong Ciong-Li-cin!"
Tutur si nona. Kiam-eng terkejut, seketika merah mukanya, serunya.
"Hah, apa katamu? Kakek gurumu adalah Kiam-ong Ciong-Li-cin? Jika demikian, jadi engkau ini putri murid kedua Kiam-ong, putri Hong-hun-kiam-keh Ih-Kik-pin?"
"Betul,"
Jawab Keh-ki tertawa.
"Kakek guruku adalah jago nomor satu di dunia ini dan gurumu jago nomor dua. Sekarang kamu tidak bisa sombong lagi bukan?"
Sungguh suatu pertemuan yang tak terduga-duga ini, semula Kiam-eng mengira si nona adalah seorang gadis kampung dan belum tentu mempunyai kepandaian sejati, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa nona ini adalah orang dari perguruan Kiam-ong Ciong-Li-cin.
Walaupun dalam pertandingan besar dunia persilatan dahulu Ciong-Li-cin pernah menang satu jurus dari gurunya dan berhasil menggondol gelar tokoh nomor satu di dunia, tapi menurut cerita gurunya sebenarnya bukan kung-fu gurunya benar-benar kalah melainkan gurunya menghormati orang tua dan sengaja mengalah kepada Ciong-Li-cin.
Namun apa pun juga sekarang kedudukan Kiam-ong Ciong-Li-cin jelas lebih tinggi daripada guru sendiri, sebab itulah Kiam-eng merasa agak malu atas sikap pamer sendiri tadi.
Untung Ih-Keh-ki tiada maksud memusuhinya meski kata-kata nya agak pedas.
Segera Kiam-eng berkata pula dengan tertawa.
"Sungguh, tidak pernah aku sangka nona adalah putri kesayangan Ih-tai-hiap, maaf jika kurang hormat"
Dengan nakal Ih-Keh-ki mencibir, ucapnya.
"Hormatlah mulai sekarang kan masih keburu waktu."
Melihat cara bicara si nona sangat menarik, tanpa terasa Kiam-eng terpikat dan memandangnya dengan terkesima.
"Bagaimana, hatimu tidak terima bukan?"
Tanya Ih-Keh-ki dengan alis berkerenyit. Cepat Kiam-eng menjawab.
"O, tidak. Sebab apakah hari ini nona Ih datang kemari?"
"Aku keluar rumah untuk pesiar,"
Tutur Keh-ki.
"Ayahku suka bilang usiaku masih kecil, aku dilarang berkecimpung di dunia kang-ouw. Aku justru ingin berkelana di dunia kang-ouw, maka diam-diam aku lantas mengeluyur keluar."
"Oo, lantas ke mana tempat tujuanmu?"
Tanya Kiam-eng pula.
"Tidak ada tempat tujuan, ke mana pun jadi... Oya, bicara iseng saja sejak tadi denganmu hampir saja aku lupakan sesuatu urusan."
"Urusan apa?"
Tanya Kiam-eng.
"Aku temukan sesuatu urusan aneh."
Tutur Keh-ki "Urusan aneh apa?"
Ih-Keh-ki menoleh ke kanan dan ke kiri beberapa kali, tiba-tiba ia tunjuk sebidang hutan bambu tidak jauh di depan sana dan berkata.
"Ayo kita tunggu saja di hutan bambu sana."
Habis berkata segera ia mendahului melarikan kudanya ke sana.
Kiam-eng merasa berat untuk meninggalkan si cantik, cepat ia menyusulnya.
Hanya sekejap saja ke dua orang sudah berada di depan hutan bambu, langsung Keh-ki melarikan kudanya ke dalam hutan dan berkata.
"Ikut kemari, biar aku perlihatkan sesuatu hal aneh padamu."
Kiam-eng mengikuti kehendak si nona, setelah puluhan meter menyusuri hutan bambu itu, kemudian Keh-ki menahan kudanya di suatu tempat yang agak tinggi, katanya "Nah, boleh kita tunggu saja di sini."
"Baik, tapi siapakah yang kau tunggu?"
Tanya Kiam-eng heran.
"Tadi sebenarnya aku lagi menguntit dua buah kereta kuda kemudian aku lihat kau larikan kuda putihmu melintasi kuda hitamku, karena penasaran, segera aku tinggalkan ke dua kereta itu untuk mengejarmu. Aku kira sebentar lagi ke dua kereta kuda itu pun akan sampai di sini."
Tergerak hati Kiam-eng, tanyanya pula.
"Adakah sesuatu yang tidak beres pada ke dua kereta itu?"
"Biarlah aku tahan harga dulu, nanti saja aku beritahu,"
Ujar Keh-ki dengan tertawa misterius.
"Ai, memangnya kenapa kalau beritahukan padaku sekarang juga?"
Pinta Kiam-eng.
"Sabar dulu. Aku justru ingin menguji bagaimana Indra penglihatan anak murid Kiam-ho yang termashur itu?!"
"Jadi kedua kereta itu memang ada sesuatu yang mencurigakan?"
"Betul ... Nah, itu dia, sudah datang! Coba lihat!"
Waktu Kiam-eng memandang jauh ke arah datangnya tadi benar juga terlihat tidak jauh di depan sana lari datang dua buah kereta kuda yang dilarikan dengan kecepatan sedang, karena jaraknya masih ada setengahan li, belum jelas terlihat ada sesuatu yang mencurigakan.
Maka sembari memandang ia pun berkata.
"Tadi aku pun melihat kedua buah kereta ini, cuma tidak aku perhatikan ada hal-hal yang kurang beres ..."
"Jika kamu tidak dapat melihat sesuatu keganjilannya, maka percumalah kamu menjadi murid Kiam-ho-Lok-Cing-hui,"
Ujar Keh-ki.
Diam-diam Kiam-eng mendongkol, ia pikir budak cilik ini sok tahu, padahal anak dara yang masih hijau begini biarpun belajar lagi lima tahun juga belum tentu lebih tahu dari padaku.
Tengah berpikir, kedua buah kereta kuda mendekat.
Kedua kereta itu memakai tutup kain terpal, pengendaranya adalah seorang kusir tua yang tidak menarik, tampaknya kusir sewaan yang diambil di tengah jalan.
Badan kereta kelihatan penuh debu, roda kereta juga kotor, jelas ke dua kereta ini datang dari tempat jauh.
Sekarang kereta pertama telah lalu di depan Su-Kiam-eng.
Ketika melihat bagian belakang bak kereta menongol sebagian peti mati, mau-tak-mau Kiam-eng terkesiap, pikirnya.
"Ah, kiranya kereta ini memuat peti mati ke kampung halaman, memangnya apa yang perlu diherankan?"
Sekejap kemudian, kereta kedua pun lalu di depannya.
Di dalam kereta kedua tampak duduk beberapa orang yang berbaju belacu, yaitu pakaian orang berkabung, lain tidak ada.
Setelah kedua kereta itu lewat, dengan tertawa Ih-Keh-ki lantas tanya Kiam-eng.
"Bagaimana, adakah sesuatu kejanggalan yang kau lihat?"
Kiam-eng tidak berani menjawab begitu saja, ia coba berpikir lebih cermat, lalu menjawab dengan tertawa.
"Ada aku lihat sedikit, entah betul atau tidak ..."
"Coba uraikan,"
Kata Keh-ki dengan tertawa. Dengan perlahan Kiam-eng berkata.
"Pertama dalam kereta ke dua, yaitu orang-orang yang berikatan belacu tanda berkabung itu, tampaknya mereka bukan sanak famili langsung keluarga musibah."
"Berdasarkan apa kau bilang demikian?"
Tanya Keh-ki.
"Orang-orang yang berkabung itu seperti berjumlah lima atau enam orang, tapi usia mereka rata-rata sudah lebih 40-an, tampaknya juga bukan saudara sekeluarga, pula tiada terdapat anak dan orang perempuan ..."
"Oo, lalu?"
Keh-ki mengangguk.
"Ke dua, bahwa di antara penumpang itu tidak terdapat orang perempuan dan anak-anak, itu menandakan bukan kereta pengangkut jenazah pulang kampung halaman, pula dari debu kotoran yang memenuhi badan kereta, jelas mereka datang dari tempat beratus li jauhnya. Jika perjalanan sebegitu jauh, rasanya para pengantar itu kan tidak perlu berbaju berkabung terus menerus ..."
"Dan apa lagi?"
Tanya Keh-ki dengan tersenyum.
"Paling akhir adalah mengenai peti mati pada kereta pertama itu,"
Ujar Kiam-eng "Peti itu mestinya dapat dimuat seluruhnya ke dalam bak kereta tapi mereka sengaja menyisihkan sebagian di luar bak kereta seperti sengaja hendak memberitahukan kepada orang lain bahwa muatan kereta mereka adalah peti mati."
"Bagus! Dan dari beberapa titik tanda tanya itu dapat kau perkirakan bagaimana asal usul kedua kereta itu?"
Tanya Keh-ki dengan tertawa. Dengan pasti Kiam-eng menjawab.
"Aku terka di dalam peti mati itu pasti bukan terisi mayat melainkan ..."
"Melainkan apa?"
Tukas Keh-ki tersenyum. Kiam-eng garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal katanya kemudian dengan tersenyum kecut.
"Hal inilah yang sukar diraba, aku pikir mungkin berisi barang-barang yang perlu dirahasiakan."
"Bukan barang, tapi seorang hidup!"
Kata Keh-ki. Chapter 6. Rahasia 180 Patung Mas Tergetar hati Kiam-eng tanyanya terkejut.
"Oo, dari mana kau tahu isi peti mati itu adalah orang hidup?"
"Malam kemarin dulu, waktu mereka mondok bermalam di Kong-beng-si di lereng Han-cing-san kebetulan aku pun bermalam di kuil itu."
Tutur Keh-ki.
"Karena tertarik oleh gerak-gerik mereka yang mencurigakan, pada tengah malam diam-diam aku dekati mereka untuk menyelidiki hal yang sebenarnya, kebetulan aku lihat mereka sedang membuka tutup peti mati dan memberi makanan kepada orang yang sembunyi di dalam peti!"
"Apakah mereka bukan orang persilatan?"
Tanya Kiam-eng cepat. Keh-ki mengangguk.
"Betul, meski mereka berusaha menutupi asal-usul mereka, namun tetap dapat dibedakan."
Segera Kiam-eng berpikir bukan mustahil orang di dalam peti mati itu adalah Toa-su-heng sendiri, yaitu Gak-Sik-lam.
Sedangkan beberapa orang yang berkabung itu adalah komplotan orang berkedok yang menculik sang su-heng dan Kalana itu.
Mungkin juga mereka meninggalkan Kalana di daerah Tiong-goan dan cuma Toa-su-heng saja yang dibawa ke daerah selatan untuk mencari kota emas.
Karena kuatir akan direcoki orang persilatan dalam perjalanan, maka Toa-su-heng disembunyikan di dalam peti mati untuk mengelabui mata telinga orang ..."
Berpikir demikian. tanpa terasa jantung Kiam-eng berdebar-debar, cepat ia tanya pula.
"Siapa orang di dalam peti mati yang kau lihat itu?"
"Entah,"
Keh-ki menggeleng.
"Mereka berenam berkerumun di sekitar peti mati, sukar untuk melihatnya dengan jelas dari tempatku mengintip."
Kiam-eng merasa kecewa, tanyanya pula.
"Masa sama sekali tidak kau lihat?"
"Ya, yang terlihat cuma mereka sedang melayani makan orang dalam peti, tampaknya mereka memperlakukan orang dalam peti mati itu dengan sangat baik."
Diam-diam Kiam-eng berpikir.
"Hm, mereka ingin membawa Gak-su-heng mencari kota emas misterius itu, dengan sendirinya mereka harus melayaninya dengan sebaik-baiknya."
Keh-ki tidak memperhatikan perubahan air muka Su-Kiam-eng itu, ia sambung lagi ceritanya dengan tertawa.
"Aku pikir mereka menyembuhkan seorang hidup di dalam peti mati, tentu saja ada sesuatu rahasia mereka yang tidak boleh diketahui orang lain. Maka aku putuskan akan mengintip hingga sejelas-jelasnya. Mulai esok kemarin dulu diam-diam aku lantas membuntuti jejak mereka, cuma sayang sejauh ini tidak ada kesempatan bagiku untuk mendekati peti mati itu ..."
Semakin dipikir Kiam-eng semakin yakin orang di dalam peti mati pastilah Gak-su-heng adanya. Tanpa terasa ia mendengus.
"Hm, sekarang tahulah aku siapa orang di dalam peti mati itu!"
Keh-ki melengak tanyanya heran.
"Oo, kau tahu siapa orang dalam peti mati itu?"
"Ya, orang dalam peti itu adalah su-heng ku Gak-Sik-lam,"
Jawab Kiam-eng pasti.
"Su-heng mu Gak-Sik-lam?"
Keh-ki menegas dengan terheran-heran.
"Betul,"
Sahut Kiam-eng.
"Apakah nona Ih belum pernah mendengar kisah pengalaman su-heng ku itu?"
"Pernah,"
Ucap Keh-ki sambil mengangguk.
"cuma tidak begitu jelas. Konon su-heng mu ..."
Mendadak Kiam-eng melarikan kudanya ke luar hutan sambil berseru.
"Ayo berangkat! Cepat kita menyusul mereka nanti akan aku ceritakan lagi."
Tetapi tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, cepat ia menahan kudanya pula dan melompat turun, katanya.
"Eh, nanti dulu aku lupakan sesuatu!"
Keh-ki urung ikut keluar hutan, tanyanya dengan tertawa.
"Ai, kamu ini seperti orang ling-lung saja!"
Kiam-eng lantas duduk di tanah, dikeluarkannya alat rias dan mulai menyamar sembari bicara.
"Aku harus menyamar sebentar, kalau tidak tentu akan dikenali mereka."
Begitulah ia lantas memoles muka, leher dan kedua tangannya menjadi agak kehitam-hitaman, lalu bibir atas ditempel dengan kumis pendek, seketika berubahlah dia menjadi seorang berwajah kasar berusia setengah baya.
Keh-ki merasa kurang senang, ucapnya.
"Huh, wajah yang cerah kenapa mesti dipoles sedemikian buruk?"
"Tidak begini tentu sukar menyelamatkan su-heng ku,"
Ujar Kiam-eng tertawa.
"Tadi waktu kudamu melancangi kereta mereka sudah melihat dirimu?"
Kata si nona.
"Tidak apa, waktu itu aku larikan kudaku secepat terbang dengan kepala agak menunduk, tidak nanti wajahku dilihat mereka dengan jelas."
Habis menyamar, Kiam-eng menyimpan kembali alat riasnya, lalu melompat ke atas kuda, katanya pula.
"Ingat, nona Ih, selanjutnya kita saling mengaku sebagai saudara."
Keh-ki tidak menyatakan keberatan, ia ikut anak muda itu meninggalkan hutan bambu.
Begitulah mereka terus menyusul ke depan mengikuti bekas roda kereta.
Di tengah jalan Kiam-eng lantas menceritakan kisah sang su-heng yang diperintahkan oleh gurunya ke daerah selatan untuk mencari Jian-lian-hok-leng, akhirnya berhasil menemukan sebuah kota emas di tengah hutan belukar yang telah lama dilupakan manusia, dan memperistrikan seorang gadis suku setempat.
Kemudian entah mengapa sang su-heng mengalami cacat badan, kaki dan tangan buntung seluruhnya, peta kota emas yang sempat dikirim kembali melalui merpati pos ternyata jatuh di tangan orang persilatan sehingga rahasia kota emas tersiar luas di dunia kang-ouw dan menimbulkan banyak tokoh kalangan hitam dan golongan putih saling berebut peta pusaka, semua itu diuraikannya dengan jelas.
Keh-ki terheran-heran dan tertarik pula oleh cerita itu tanyanya kemudian.
"Jika begitu apakah perjalananmu sekarang adalah untuk mencari kota emas?"
Kiam-eng menggeleng.
"Tidak, yang hendak aku cari adalah Jian-lian-hok-leng, aku dan Su-hu tidak tertarik oleh kota emas itu. Kami menganggap tugas menyembuhkan penyakit In-Ang-bi jauh lebih penting daripada mendapatkan kota emas itu."
"In-Ang-bi yang kau katakan itu apakah putri Bu-tek-sin-pian In-Giok-san?"
Tanya Keh-ki.
"Betul, sebabnya dia kehilangan daya ingatan mungkin karena dia menyaksikan peristiwa pembunuhan ke-18 tokoh besar dunia persilatan di Hwe-liong-kok dulu, saking kaget dan takutnya hingga otaknya terganggu. Lantaran itulah kami berusaha memulihkan daya ingatnya, dengan begitu akan dapat dimintai keterangan tentang siapa si pengganas di Hwe-liong-kok itu."
"Berapa umur In-Ang-bi itu?"
Tanya Keh-ki pula.
"Sebaya dengan dirimu."
"Dia sangat cantik bukan?"
"Juga tidak banyak berbeda denganmu."
"Jika begitu, bilamana Jian-lian-hok-leng itu berhasil kau dapatkan dan menyembuhkan penyakitnya, pasti dia akan rela menjadi istrimu."
Sama sekali tidak pernah timbul pikiran seperti ini, ucapan Ih-Keh-ki ini membuatnya marah semprotnya.
"Omong kosong! Macam apakah ucapanmu ini?"
Keh-ki mengikik tawa, katanya.
"Ini kan mungkin terjadi juga. Karena dia berterima kasih atas kebaikanmu yang telah menyembuhkan penyakitnya, dengan sendirinya ia rela menjadi istrimu sebagai balas budinya."
Berkerenyit kening Kiam-eng.
"Sudahlah, hendaknya jangan bicara urusan ini."
"Boleh saja menyuruhku jangan bicara urusan ini, cuma kamu harus menyanggupi sesuatu padaku,"
Kata Keh-ki dengan tertawa. Kiam-eng merasa serba susah, tanyanya.
"Kau minta aku sanggupi urusan apa?"
Keh-ki menatapnya tajam, ucapnya dengan tertawa.
"Kamu harus berjanji dulu baru akan aku jelaskan."
"Ai, ucapan macam apa ini?"
Kata Kiam-eng tertawa.
"Sebelum aku tahu apa permintaanmu, masakah aku harus berjanji lebih dulu?"
"Yang aku minta pasti pekerjaan yang dapat kau laksanakan,"
Ujar Keh-ki.
"Coba katakan saja, asalkan aku sanggup tentu akan aku terima."
"Tidak, aku minta engkau berjanji lebih dulu!"
Kiam-eng tidak tega menolaknya, katanya kemudian dengan mengangguk.
"Baiklah aku berjanji. Katakan saja!"
"Aku ingin pergi bersamamu ke daerah selatan sana untuk mencari Jian-lian-hok-leng,"
Tutur Keh-ki. Kiam-eng terperanjat, serunya.
"Hah, mana boleh jadi! Setiap urusan dapat aku terima, hanya urusan ini tidak boleh."
"Mengapa tidak boleh?"
Tanya Keh-ki.
"Kakek guruku dan gurumu adalah sahabat karib, dengan sendirinya kita berdua juga bukan orang luar. Mengapa tidak boleh aku ikut pergi bersamamu?"
"Ini bukan soal hubungan baik antar ke dua keluarga kita melainkan urusan hutan belukar di daerah selatan sana sangat berbahaya bukan tempat yang boleh sembarangan didatangi oleh seorang nona seperti dirimu."
"Numpang tanya betapa berbahayanya daerah selatan itu?"
Tanya Keh-ki dengan tersenyum.
"Di sana hutan belukar melulu dan jarang didatangi manusia, di mana-mana lereng gunung terjal berbahaya, di tengah hutan pun banyak gas racun dan rawa yang sukar dijelajah, apalagi binatang buas yang berkeliaran, seorang cantik seperti dirimu masakah tahan pergi ke tempat semacam itu?"
"Kau sendiri pernah pergi ke sana?"
Tanya Keh-ki dengan menahan tawa.
"Belum pernah,"
Jawab Kiam-eng dengan melengak.
"Cuma aku tahu tempat berbahaya itu mutlak tidak boleh didatangi anak perempuan."
"Apakah binatang buas di tengah hutan sana hanya menyerang anak perempuan dan tidak menyerang anak lelaki?"
Tanya Keh-ki.
"Bukan begitu soalnya ..."
"Kalau tidak, barangkali kau kira kung-fu ku tidak cukup kuat untuk membela diri?"
"Tidak, maksudku anak perempuan seperti dirimu tidak tahan derita, padahal di tengah hutan belukar begitu ..."
Kiam-eng merandek sejenak, lalu menyambung.
"seumpama engkau tahan derita namun engkau belum lagi memberitahukan ayah-bundamu bahwa engkau hendak pergi ke tempat sejauh itu, apabila aku bawa kamu ke sana dan terjadi sesuatu atas dirimu, sungguh aku tidak berani bertanggung jawab bilamana dimarahi ayah ibumu."
"Jangan kuatir,"
Kata Keh-ki.
"Ayah ibuku sudah lama tidak dapat memerintah diriku, ke mana pun aku suka boleh aku pergi ke sana, apalagi aku sendiri yang minta ikut, jika terjadi apa-apa aku jamin tidak ada sangkut-pautnya denganmu."
Kiam-eng menggeleng.
"Tidak, apa pun juga engkau tidak boleh ikut."
"Tidak, apa pun juga aku harus ikut pergi!"
Ucap Keh-ki ngotot. Tentu saja Kiam-eng pusing kepala, ia pandang si nona dengan tercengang, katanya.
"Nona Ih, kenapa engkau sedemikian bandel?"
"Meski aku bandel kan tidak berarti tidak pakai aturan, aku harap engkau jangan kuatir,"
Ujar si nona.
"Aku tidak mau membawamu pergi, kamu justru ngotot mau ikut pergi, apa namanya ini kalau bukan tidak tahu aturan?"
"Alasan yang kau gunakan untuk menolak keikutsertaanku, bukan alasan yang kuat, maka aku tidak menurut."
Kiam-eng tahu Ih-Keh-ki ini memang seorang nona kepala batu, jika dirinya ingin melepaskan diri dari recokannya mungkin sangat sulit, maka ia angkat bahu dan berkata.
"Terus terang ada teman seperjalanan seorang nona cantik seperti dirimu sungguh jauh melebihi harapanku. Soalnya aku kuatir ayah ibumu tidak mengerti duduknya perkara bilamana terjadi sesuatu atas dirimu apakah mereka mau memaafkan aku?"
"Ini soal mudah,"
Ujar Keh-ki.
"Biar aku tulis sepucuk surat pernyataan suka rela dan menjelaskan aku sendirilah yang minta ikut pergi bersamamu, apabila terjadi sesuatu urusan sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan dirimu. Surat pernyataanku boleh kau bawa apabila benar terjadi sesuatu di luar dugaan atas diriku boleh kau perlihatkan surat pernyataanku kepada ayah-ibuku, dengan demikian tentu engkau akan bebas dan tanggung jawab. Baik tidak cara ini?"
Kiam-eng merasa cuma cara ini yang terbaik maka ia mengangguk dan berkata.
"Baiklah, cuma tetap aku harap engkau mempertimbangkannya kembali, hutan belukar purba di selatan sana bukan lah tempat tamasya yang baik ..."
Mendadak Keh-ki menuding ke depan dan berkata.
"Lihat itu, mereka sudah kita susul!"
Waktu Kiam-eng memandang ke sana, benar juga terlihat ke dua buah kereta kuda tadi sedang dilarikan dengan cepat kira-kira setengah li di depan, segera ia perlambat lari kudanya dan berkata "Lambatkan saja kuda kita, jangan kita membayangi mereka terlampau dekat agar tidak menimbulkan curiga mereka."
Keh-ki lantas juga memperlambat lagi kudanya, ucapnya dengan tertawa.
"Kalau mau sebenarnya kita terjang maju saja dan menghalau mereka lalu membuka peti mati untuk menolong keluar su-heng mu."
"Wah, jangan,"
Kata Kiam-eng.
"Mereka memiliki sejenis granat asap berbisa yang dapat membuat orang pingsan, mereka juga menyandera su-heng ku sehingga kita tidak bisa bertindak apa-apa."
"Habis, cara bagaimana pula akan kau selamatkan su-heng mu?"
Tanya si nona.
"Ingin aku lihat dulu malam ini mereka akan tinggal di mana, lalu kita bertindak menurut keadaaan,"
Kata Kiam-eng. Karena mereka memperlambat lari kuda, ke dua kereta di depan kembali menghilang lagi di kejauhan.
"Tempat apa di depan sana, apakah kau tahu?"
Tanya Keh-ki.
"Entah, aku pun baru pertama kali ini datang di wilayah Kui-ciu."
Jawab Kiam-eng.
"Semalam mereka menginap di Ciok-cing, hari ini mungkin mereka pun akan melanjutkan perjalanan hingga gelap baru akan berhenti."
Begitulah sembari bicara sambil melarikan kuda, tanpa terasa sang surya sudah condong ke barat.
Tidak lama kemudian sampailah mereka di situ tempat yang bernama Si-ping, keduanya memperlambat lari kuda dan masuk ke dalam kota.
Karena tidak tahu apakah penumpang kereta tadi berhenti atau tidak di kota, mereka coba mencari kabar di ujung kota sana.
Setelah diselidiki, diketahui ke dua buah kereta itu tidak meninggalkan kota, segera mereka putar balik pula ke dalam kota.
Terlihat sebuah hotel yang terletak di jalan yang berderetan dengan pintu gerbang kota, segera Kiam-eng berkata terhadap Ih-Keh-ki.
"Adik yang baik, marilah kita taruh dulu kuda kita di hotel, kemudian baru kita mencari di mana mereka mondok."
"Baik, juga perlu makan dulu, aku sudah kelaparan,"
Ujar Keh-ki.
Keduanya lantas mendatangi hotel itu, melihat pakaian mereka cukup perlente, kuda tunggangan mereka pun luar biasa, cepat pelayan menyambut kedatangan mereka dengan tertawa dan menyapa dengan hormat.
"Apakah kedua tuan tamu ingin bermalam di sini?"
"Betul, apakah ada kamar kelas satu?"
Tanya Kiam-eng.
"Ada, ada, di bagian belakang masih ada sebuah kamar mewah, apakah ..."
Belum lanjut ucapan si pelayan, cepat Keh-ki memotong.
"Tidak, kami ini kakak beradik, maka minta dua kamar."
Si pelayan melengong, tapi lantas mengiakan lagi dengan hormat.
"Oya, ada, dua kamar kelas satu!"
"Dan ada lagi ke dua ekor kuda ini, harus diberi komboran paling baik, di mana letak kandang kuda kalian?"
Tanya Kiam-eng. Si pelayan menunjuk sebuah jalan samping hotel, katanya.
"Di ujung lorong sana, jangan kuatir, tuan tamu hamba pasti akan memberi pesan kepada perawat kuda agar memberi makan kuda tuan sebaik-baiknya."
Kiam-eng dan Keh-ki lantas menyerahkan kuda mereka kepada seorang pelayan lain yang mendekati mereka lalu mereka masuk ke hotel.
Pelayan membawa mereka ke deretan kamar bagian belakang, dibukanya dua buah kamar yang berpintu tembus, katanya.
"Bagaimana dengan kedua kamar ini. tuan?"
"Boleh,"
Kiam-eng mengangguk.
"Sekarang hendaknya sediakan air mandi dan beberapa macam santapan, sehabis mandi segera kami bersantap."
Berulang si pelayan mengiakan dan mengundurkan diri. Kiam-eng lantas tanya Keh-ki.
"Hian-moai (adik yang baik), kamar mana yang kau pilih?"
"lelaki kiri dan perempuan kanan, biarlah aku tidur di kamar sebelah kanan ini,"
Kata Keh-ki.
"Jika begitu, boleh kita mandi dulu, nanti kita makan bersama,"
Ujar Kiam-eng.
Habis berkata ia lantas masuk ke kamar sendiri.
Ia tutup pintu kamar dan menanggalkan baju luar serta digantungnya di dinding lalu membuka rangsal dan bermaksud mengeluarkan pakaian dalam.
Selagi hendak keluar kamar untuk mandi begitu pintu kamar terpentang, mendadak Keh-ki menyelinap masuk ke kamarnya.
Semula Kiam-eng terkejut, ketika dilihatnya wajah si nona mengunjuk rasa kejut dan girang, cepat ia tanya.
"Hei, ada apa?"
Keh-ki merapatkan pintu kamar, lalu membisiki anak muda itu.
"Percaya atau tidak terserah yang jelas bisa terjadi hal kebetulan seperti ini."
"Hal kebetulan apa maksudmu?"
Tanya Kiam-eng.
"Apakah kau tahu bahwa mereka pun bermalam di hotel ini?"
Tutur Keh-ki.
Tadinya Kiam-eng menyangka pihak lawan yang mengangkut peti mati itu hanya akan mondok di rumah berhala sebangsa biara atau kelenteng, keruan ia terkejut dan heran atas keterangan Keh-ki itu, tanya.
"Apa betul? Kau lihat mereka?"
Keh-ki menunjuk ke sebelah kanan dan mendesis.
"Itu, mereka tinggal di kamar sebelah, aku kenali mereka dari suaranya."
"Bagus sekali,"
Kiam-eng berkeplok senang.
"Dapatlah kita menghemat tenaga dan tidak perlu mencari mereka. Eh kamu tidak salah dengar?"
"Pasti tidak,"
Jawab Keh-ki.
"Yang tinggal di kamar sebelahku sana berjumlah tiga orang, tiga orang lainnya mungkin juga tinggal di kamar sebelahnya lagi."
"Aneh juga, mengapa mereka menginap di hotel?"
Ujar Kiam-eng.
"Mungkin di kota ini tidak ada kelenteng,"
Kata Keh-ki.
"Aku kira ke dua buah kereta diparkir di halaman belakang hotel, mumpung mereka tidak di tempat marilah kita coba memeriksanya."
Kiam-eng berpikir sejenak lalu berkata.
"Jangan tidak perlu tergesa-gesa nanti sesudah hari gelap baru kita bicara lagi. Kita harus mencari suatu akal agar tidak meleset ..."
Ia berpikir pula kemudian ia dorong si nona dan berkata.
"Nah, pergilah mandi dulu ingat jangan memperlihatkan sesuatu tanda mencurigakan. Habis makan malam nanti baru kita bertindak."
Keh-ki tidak tahu akal bagus apa yang terpikir oleh Kiam-eng, dengan rasa ragu ia mengundurkan diri dan kembali ke kamar sendiri.
Kiam-eng lantas menyembunyikan barang sendiri yang sekiranya dapat membocorkan identitas sendiri habis itu ia menuju ke kamar mandi.
Habis mandi, sementara itu pelayan pun sudah menyiapkan hidangan yang dipesan di kamar Kiam-eng, segera kedua muda-mudi itu mulai makan.
Menyusul ia tanya pelayan.
"Eh, kuda kami sudah diberi makan belum?"
"Sudah,"
Jawab pelayan.
"Siapa yang bertugas mengawasi kandang kuda?"
Tanya Kiam-eng pula.
"Peng-Tai-siu, dia tukang rawat kuda yang berpengalaman, tidak nanti salah."
"Jika tukang rawat kuda berpengalaman, aku justru ada beberapa soal piara kuda ingin minta nasihat padanya, sebentar boleh kau minta dia datang kemari."
"Baiklah sekarang juga hamba akan memberitahukan dia,"
Sahut si pelayan sembari memberi hormat dan mengundurkan diri. Setelah pelayan pergi dengan suara tertahan Keh-ki tanya Kiam-eng.
"Untuk apa kau panggil si tukang rawat kuda yang bernama Peng-Tai-siu itu?"
"Coba kau terka,"
Kata Kiam-eng dengan tersenyum.
"Tidak dapat aku terka,"
Jawab Keh-ki.
"Harap jelaskan saja."
"Aku panggil Peng-Tai-siu itu kemari, hanya ingin minta petunjuk padanya tentang cara merawat kuda, lain tidak."
"Tidak, tentu ada maksud tertentu, lekas katakan padaku,"
Omel Keh-ki.
"Engkau ini cucu murid perempuan Kiam-ong Ciong-Li-cin, jika urusan sederhana begini saja tidak dapat menerkanya, kan terlalu ..."
Keh-ki tahu orang hendak "membalas dendam"
Kejadian siang tadi, dengan mendongkol ia mengomel sambil mengangkat sebelah tangan.
"Sialan! Jika banyak omong lagi, biar aku jotos dirimu!"
Kiam-eng bergaya mengelak, katanya dengan tertawa.
"Sudahlah, mari kita makan dulu, sebentar tentu kau tahu sendiri."
"Tidak, aku minta sekarang juga kau beritahukan padaku."
Kiam-eng menuding ke belakang kanan, katanya lirih.
"Tidak dapat aku katakan sekarang, sebab di tembok sebelah ada telinga."
Ucapan itu membuat Keh-ki tidak berani ngotot lagi, terpaksa ia bersantap. Ketika mereka hampir selesai makan, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar diketuk orang, segera Kiam-eng bertanya.
"Siapa?"
Suara serak seorang menjawab di luar.
"Hamba Peng-Tai-siu, konon tuan tamu memanggil."
"Betul, ayo masuk!"
Seru Kiam-eng. Waktu pintu terbuka, seorang lelaki kurus berusia antara 38-an melangkah masuk.
"Rapatkan kembali pintu,"
Kata Kiam-eng. Orang itu mengiakan dan menutup pintu, lalu memberi hormat dan menyapa dengan tertawa "Tuan tamu memanggil hamba, entah ada petunjuk apakah?"
Kiam-eng menunjuk kursi di sebelah sana dan berkata.
"Silakan duduk dan minum dulu!"
Melihat seorang gadis cantik berada di situ Peng-Tai-siu tidak berani duduk, ia memberi hormat pula dan menjawab.
"Ah, mana hamba berani biarlah hamba berdiri saja dan mendengarkan pesan Tuan."
"Duduk saja,"
Kata Kiam-eng.
"Aku dengar kamu ini ahli merawat kuda maka ingin minta beberapa nasihat padamu."
Peng-Tai-siu tetap tidak berani duduk, jawabnya dengan berdiri.
"Baiklah, asalkan hamba tahu, tentu akan aku katakan. Cuma pengetahuanku pun terbatas mungkin akan mengecewakan Tuan."
"Jangan rendah hati, silakan duduk saja,"
Kata Kiam-eng. Melihat tukang kuda itu memandangnya dengan kikuk, Keh-ki tertawa dan menyela.
"Disuruh duduk, boleh duduk saja, jangan sungkan dan malu-malu, seperti anak perempuan saja."
Muka Peng-Tai-siu tampak merah terpaksa ia ambil tempat duduk dengan kikuk. Kiam-eng menyodorkan secawan arak kepadanya dan berkata.
"Mari, minum satu cawan."
Peng-Tai-siu tidak menolak lagi ia minum habis secawan arak itu, lalu berkata dengan tertawa.
"Ai, bilamana dilihat juragan kami, bukan mustahil hamba akan segera disuruh pulang."
"Makanya aku suruh menutup pintu,"
Ujar Kiam-eng.
"Eh, kedua ekor kuda kami sudah kau beri makan?"
"Sudah,"
Jawab Peng-Tai-siu.
"Kedua ekor kuda Tuan sungguh kuda jenis Mongol yang bagus, sehari sanggup berlari ribuan li betul tidak?"
"Ya, pandanganmu memang tepat,"
Kata Kiam-eng.
"Kuda kami memang benar jenis kuda Mongol pilihan."
Ia berhenti sejenak, lalu tanya dengan suara lirih.
"Kabarnya tadi ada kereta pengangkut peti mati di parkir di pekarangan belakang, betul tidak?"
"Betul,"
Peng-Tai-siu mengangguk.
"Konon yang mati adalah seorang saudagar yang biasa ke luar negri dan meninggal dalam perjalanan ..."
"Peti mati ditaruh begitu saja di pekarangan hotel rasanya agak terlalu ... eh, kau lihat dijaga atau tidak?"
"Ada terlihat dijaga seorang kakek, waktu hamba datang dia sedang melipat kertas sembahyang,"
Tutur Peng-Tai-siu. Tiba-tiba Kiam-eng menuding pintu kamar dan berkata.
"He, siapa itu yang datang?"
Waktu Peng-Tai-siu-menoleh, kesempatan itu segera digunakan Su-Kiam-eng untuk menghantam belakang kepalanya. Peng-Tai-siu terkejut, tapi segera jatuh kelenger. Ih-Keh-ki pun kaget serunya tertahan.
"Hei, ada apa? Kenapa kau pukul dia?"
"Ssst!"
Desis Kiam-eng sambil mengangkat Peng-Tai-siu.
"Cepat, palang pintu kamar serapatnya."
Keh-ki tidak tahu apa maksud tindakan Su-Kiam-eng itu, namun ia tetap menuruti perintah anak muda itu pintu kamar segera dipalangnya dengan baik waktu ia putar balik dilihatnya Kiam-eng lagi sibuk membelejeti pakaian Peng-Tai-siu.
Maka pahamlah dia duduknya perkara.
"Oo, kiranya begitu, jadi engkau hendak menyamar sebagai Peng-Tai-siu untuk mendatangi pekarangan tempat parkir kereta itu?"
Katanya dengan tertawa.
Kiam-eng mengangguk tanpa menjawab, cepat ia menanggalkan pakaian Peng-Tai-siu, lalu mengeluarkan pula peralatan rias, dengan gesit ia menyamar seperti tukang kuda she Peng itu.
Ilmu merias itu tampaknya sulit dipelajari, padahal asalkan dapat mengenali ciri khas wajah orang yang akan ditirunya tentu pekerjaannya takkan sulit.
Kiam-eng adalah ahli rias, maka dalam waktu singkat dapatlah ia menyamar sebagai Peng-Tai-siu dengan sangat mirip.
Menyusul ia lantas memakai baju dan sepatu Peng-Tai-siu, lalu tanyanya kepada Ih-Keh-ki dengan suara perlahan.
"Coba lihat, mirip tidak?"
Keh-ki mengangguk tersenyum.
"Ehm, cukup mirip. Hari pun sudah gelap, tentu sukar dikenali lagi."
Kiam-eng lantas menutuk hiat-to tidur Peng-Tai-siu dan mendorongnya ke kolong ranjang, lalu berkata.
"Aku pergi sebentar boleh kau datang lagi."
"Apakah perlu membawa rangsal?"
Tanya Keh-ki. Kiam-eng mengangguk, baju sendiri dikeluarkan dan ditaruh di tempat tidur, katanya.
"Coba tolong bebenah bagiku, taruh saja di kamarmu, setelah berhasil menyelamatkan orang segera kita berangkat."
Habis bicara ia lantas meninggalkan kamar. Ketika sampai di halaman tengah segera kepergok si pelayan tadi. Dengan sendirinya pelayan itu tidak tahu "Peng-Tai-siu"
Di depannya ini bukan Peng-Tai-siu asli si tukang kuda itu, ketika melihat Su-Kiam-eng, segera ia mencegatnya.
"He, A-Peng ada urusan apa kamu dipanggil ke kamar tuan tamu sana?"
Kiam-eng sengaja bisik-bisik di telinga si pelayan.
"Ia tanya padaku bilakah kuda betina paling aman dikawinkan agar bisa segera hamil."
"Haha, aku kira urusan apa, rupanya tanya persoalan ini,"
Seru si pelayan dengan tergelak.
"Lalu bagaimana kau jawab?"
Dengan tersenyum Kiam-eng berkata perlahan "Aku katakan padanya apabila kuda jantan sedang berahi, pada saat itulah paling mudah hamil bagi kuda betina."
Si pelayan terpingkal-pingkal geli, katanya.
"Hahaha, sialan, bisa saja kamu ..."
"Mereka sudah makan kenyang yang lelaki lagi keluar berak lekas kamu bebenah meja makannya,"
Ujar Kiam-eng sambil mendorong si pelayan, ia sendiri lantas tinggal pergi.
Sekeluar hotel dan membelok ke gang kecil sebelah kanan baru puluhan langkah, benarlah terlihat sebuah pekarangan tempat parkir yang cukup luas.
Pada saat itu terlihat dua buah kereta dan enam ekor kuda berada di situ, kedua ekor kuda di antaranya dengan sendirinya adalah kuda Kiam-eng dan Keh-ki.
Setelah masuk ke halaman parkir, Kiam-eng melihat seorang kakek berusia 50-an berbaju hitam sedang berdiri di depan kuda putih miliknya itu, agaknya selagi menikmati kegagahan kuda perkasa itu.
Kiam-eng tahu si kakek pasti salah satu di antara ke enam orang penumpang kereta segera ia mendekat ke sana dan menyapa dengan tersenyum "Ke dua ekor kuda ini sangat bagus bukan?"
Si kakek menoleh, ia mengangguk dan tersenyum demi melihat "Peng-Tai-siu", jawabnya.
"Betul, ke dua ekor kuda ini telah aku lihat dalam perjalanan siang tadi. Tak tersangka mereka pun bermalam di hotel kalian ini."
"Tadi tuan tamu itu memberi pesan padaku agar merawat baik-baik kudanya, padahal tanpa dipesan juga pasti aku kerjakan tugasku dengan baik. Menghadapi kuda bagus sehebat ini masakah hamba berani sembarangan?"
"Apa pekerjaan orang itu?"
Tanya si kakek.
"Tidak jelas melihat tampangnya, seperti seorang piau-su (tukang kawal barang),"
Tutur Peng-Tai-siu palsu. Si kakek menunjuk kuda hitam dan berkata pula.
"Dan siapa pemilik kuda hitam ini?"
"Seorang nona cilik,"
Jawab Peng-Tai-siu gadungan.
"Konon adik pcrempuan tuan tamu seperti piau-su itu. Entah mengapa kedua kakak beradik seperti lagi bertengkar ..."
"Betul siang tadi kami melihat si pemuda lebih dulu membedal kudanya ke depan, lalu si nona mengejarnya dengan cepat kemudian terjadi susul menyusul kuda tunggangan mereka pun satu hitam dan satu putih semuanya kuda perkasa, sungguh sangat mengagumkan ... Eh, mereka tinggal di suatu kamar atau dua kamar?"
"Dua,"
Jawab Kiam-eng alias Peng-Tai-siu gadungan.
"Dari nada pembicaraannya mereka, aku yakin mereka pasti kakak beradik."
Bicara sampai di sini ia coba ganti pokok pembicaraannya, ia tanya.
"Eh, mengapa tuan belum masuk untuk istirahat?"
"Ah, masih sore ..."
"Silakan mengaso saja, jangan kuatir, hamba akan jaga di sini, tanggung takkan terjadi apa-apa"
"Tidak, kami berenam akan bergiliran jaga,"
Ujar si kakek baju hitam.
"Jika begitu, sampai kapan Tuan dinas jaga di sini?"
Tanya Kiam-eng.
"Selang setengah jam lagi akan giliranku untuk istirahat,"
Tutur si kakek.
"Apakah Tuan sudah makan?"
Tanya Kiam-eng pula. Si kakek mengunjuk rasa sangsi, katanya.
"Baru saja habis makan, bukankah kau lihat tadi?"
Cepat Kiam-eng menukas.
"Oya, hamba lupa ... Eh, mengapa tuan tamu itu pun datang kemari!"
Waktu si kakek berpaling ke sana, secepat kilat Kiam-eng menyerangnya, dengan telak belakang kepala si kakek dipotongnya, menyusul ia tutuk pula hiat-to tidur orang, lalu menyeretnya ke lantai sebuah kandang kuda yang gelap dan kosong segera pula ia keluar dari situ dan mendekati kereta yang memuat peti mati.
Pada saat itulah sesosok bayangan kecil menyelinap ke tengah halaman, melihat pendatang ini Ih-Keh-ki, dengan suara keras Kiam-eng menegur "Kau mau apa, nona?"
"O, aku datang untuk menjenguk Naga Hitam ku, apakah sudah kau beri makan?"
Jawab Ih-Keh-ki.
"Sudah,"
Jawab Kiam-eng alias Peng-Tai-siu palsu.
"Cuma napsu makannya kurang baik, hanya sedikit saja yang dimakannya."
Sesudah dekat Keh-ki lantas bertanya dengan suara tertahan.
"Bagaimana, sudah berhasil?"
"Beres!"
Jawab Kiam-eng. Keh-ki memandang sekitarnya dan bertanya pula.
"Di mana orangnya?"
"Tidur di dalam sana!"
Kiam-eng menunjuk kandang kuda yang gelap itu.
"Jika begitu lekas menolong su-heng mu,"
Desis Keh-ki sambil melompat ke arah kereta kuda.
Sesudah keduanya mendekati kereta, dari depan seorang segera menerobos masuk ke dalam bak kereta, seorang lagi menerobos masuk dari belakang, mereka coba meraba peti mati dan terasa tutup peti terpantek dengan kuat, cuma di bawah tutup peti terdapat beberapa lubang kecil.
Kiam-eng tahu itulah lubang hawa untuk napas orang di dalam peti.
Segera ia tanya dengan mulut di dekat lubang hawa.
"Hei, apakah yang di dalam peti ini Gak-su-heng?"
Orang di dalam peti tidak menjawab.
"Aku Su-Kiam-eng,"
Desis Kiam-eng pula.
"Apakah yang di dalam peti Gak-su-heng adanya?"
Tetap tidak ada jawaban apa pun.
"Tentu hiat-to bisunya tertutuk,"
Ujar Keh-ki "Tidak perlu tanya lagi, buka saja tutup peti."
Kiam-eng tahu urusan tidak boleh ayal segera ia pegang tutup peti dan bermaksud mengungkapnya sekuat tenaga. Siapa tahu pada saat itulah tiba tiba terdengar orang berseru di ujung pelataran sana.
"Go-cek! Go-cek!"
Tergetar hati Kiam-eng ia tidak tahu siapa yang dipanggil "Go-cek" (paman ke lima) cepat ia membisiki Ih-Keh-ki.
"Lekas, ayo mengeluyur pergi dari depan sana!"
Muka kereta itu menghadap ke dalam, maka ke dua orang lantas menerobos ke luar melalui depan kereta agar tidak kepergok pendatang itu.
Ih-Keh-ki dapat bertindak cepat, sebelum di suruh lagi ia sudah melompat keluar kereta dan sembunyi di tempat gelap.
Dalam pada itu terdengar orang lagi berseru.
"Go-cek! Go-cek, di mana engkau?"
Pendatang ini seorang lelaki kekar berusia 40-an, perawakan tinggi besar dan gagah sekali, namun berdandan sebagai saudagar, cara berjalannya juga berlagak hampa tak bertenaga.
Kiam-eng mengikuti jejak Ih-Keh-ki dan menerobos keluar kereta serta sembunyi di tempat gelap, lalu menggeser maju beberapa langkah.
Kemudian tampil dan menegur.
"Siapa itu?"
Melihat "Peng-Tai-siu", lelaki kekar itu bertanya.
"Eh, kawan, kau lihat ke mana perginya Go-cek kami tadi?"
Kiam-eng menuding kereta dan berkata.
"Apakah Tuan maksudkan paman tua yang menjaga peti mati itu ?"
Lelaki kekar itu tampak sangsi dan menjawab.
"Betul, ke mana dia?"
"O, dia pergi berak,"
Tutur Kiam-eng.
"Ia memberitahukan padamu?"
Tanya lelaki itu dengan pandangan tajam.
"Betul, ia bilang mau berak dan hamba disuruh mewakilkan dia jaga sebentar dan orang luar dilarang mendekati kereta."
"Sudah berapa lama ia pergi?"
Tanya pula si lelaki kekar.
"Baru saja, belum lama,"
Jawab Kiam-eng. lelaki itu manggut-manggut, lalu bergumam sendiri.
"Hm, mana boleh berlaku seceroboh itu, Go-cek sungguh terlalu gegabah, mau pergi kan harus memberitahukan lebih dulu ..."
Dengan tertawa Kiam-eng menukas.
"Padahal kan juga tidak menjadi soal, hanya sebuah peti layon saja dan bukan benda berharga segala, apa halangannya ditinggalkan pergi sebentar?"
Lelaki itu tampak melengak, segera ia menjawab dengan tertawa.
"Oya, betul juga ..."
Sembari bicara ia terus melangkah mendekati kereta. Kiam-eng mengikut di belakangnya dan bertanya.
"Apa barangkali Tuan ingin bicara apa-apa dengan paman tua tadi?"
"Betul, ingin aku bicarakan sesuatu dengan dia ..."
"Jika Tuan tamu tidak dapat menunggu, katakan saja kepada hamba dan akan aku sampaikan padanya,"
Ujar Kiam-eng.
"O, tidak, biarlah aku tunggu dia di sini,"
Kata lelaki itu.
Sementara itu dia sudah sampai di belakang kereta ia singkap ujung tabir kereta dan melongok ke dalam sekejap pada saat ia menarik kembali kepalanya itulah segera Su-Kiam-eng memotong pula belakang kepala orang, kontan lelaki itu pun roboh.
Cepat pula Kiam-eng menutuk hiat-to tidurnya dan diseretnya ke tempat gelap, lalu buru-buru ia menyusup lagi ke dalam kereta.
Segera Kiam-eng bermaksud membuka tutup peti mati lagi sekuatnya ia angkat tutup peti sehingga menimbulkan suara keriat-keriut suara terlepasnya pantek akhirnya tutup peti mati itu dapat dibuka.
Akan tetapi apa yang masuk dalam pandangannya, seketika membuat Su-Kiam-eng terkesiap.
Sebab orang yang berada di dalam peti mati itu sama sekali bukan su-heng nya, yaitu Gak-Sik-lam melainkan seorang kakek yang berkaki dan bertangan lengkap.
Usia si kakek antara 60-an, mukanya pucat dan pakaiannya rajin, tiada ubahnya serupa mayat yang didandani.
Cuma kakek itu bukan mayat melainkan orang hidup, saat itu matanya lagi melotot dan menatap Kiam-eng dan Keh-ki dengan terkejut.
Sejak mula Kiam-eng menyangka orang di dalam peti mati pasti sang su-heng Gak-Sik-lam, setelah diketahui bukan orang yang dicari, tentu saja Kiam-eng sangat kecewa dan duduk lemas serupa balon gembos, ia menghela napas panjang kesal.
Bahwa yang terisi di dalam peti mati bukan Gak-Sik-lam, namun seorang kakek disembunyikan dalam peti mati, hal ini pasti merupakan suatu rahasia besar yang tidak boleh diketahui orang luar.
Sebab itulah Keh-ki lantas tanya lebih dulu.
"Eh, pak tua, engkau ini siapa? Mengapa ditaruh di dalam peti mati oleh mereka?"
Si kakek tidak menjawab, air mukanya juga kaku tanpa emosi, hanya sorot kedua matanya menampilkan rasa heran dan kaget. Karena orang tidak menjawab, Keh-ki bertanya pula.
"Hei, pak tua, mengapa engkau tidak bicara?"
Dan melihat si kakek tetap tiada gerak hendak buka mulut kembali Keh-ki berkata.
"Jangan kuatir lekas kau ceritakan seluk-beluk urusanmu kepada kami, tentu akan kami tolong dirimu."
Namun si kakek tetap saja diam.
"Ai, kan sudah kau katakan hiat-to bisunya tertutuk, kenapa kau sendiri lupa?"
Ujar Kiam-eng. Baru Keh-ki menyadari urusannya, cepat ia membuka hiat-to bisu si kakek dan berkata pula.
"Nah, sudah baik sekarang, lekaslah bicara!"
Si kakek menghembus napas perlahan, lalu buka mulut.
"Dan hiat-to kelumpuhanku belum lagi dibuka, harap nona menolongku sekalian."
Segera Keh-ki hendak membuka pula hiat-to kelumpuhan orang, namun mendadak Su-Kiam-eng mencegahnya dan berkata.
"Nanti dulu, tanya dulu sejelasnya baru menolongnya kan belum lagi terlambat."
"Sebab apa?"
Tanya Keh-ki dengan melengong. Perlahan sorot mata Su-Kiam-eng berpindah ke muka si kakek, jengeknya.
"Mereka menutuk hiat-to kelumpuhan kakek ini, jelas memandang si kakek memiliki kung-fu yang tinggi. Sekarang aku tanya lebih dulu, siapakah nama Lo-tiang (pak tua) yang terhormat?"
Air muka si kakek tetap kaku tanpa emosi namun dapat bersuara, ucapnya dengan tersenyum kecut.
"Tadi aku dengar kamu mengaku sebagai Su-Kiam-eng, bilamana kamu benar Su-Kiam-eng adanya, seharusnya kau kenal suaraku."
Tergetar hati Kiam-eng, tanyanya dengan tatapan tajam.
"Eh, Lo-tiang kenal diriku?"
"Tentu saja aku kenal,"
Ujar si kakek dengan menyengir.
"Sudah dua kali kamu menyamar sebagai diriku, masakah aku tidak kenal lagi akan dirimu?"
"Hah, jadi engkau ... engkau ini Sim-lo-cian-pwe?"
Tanya Kiam-eng terkejut.
"Betul masakah tidak kau lihat mereka memasang selapis kedok pada wajahku?"
Kata si kakek. Dalam kegelapan memang Kiam-eng tidak memperhatikan wajah orang, cepat ia membuka hiat-to kelumpuhan si kakek sembari bertanya.
"Siapa mereka itu? Mengapa Lo-cian-pwe bisa jatuh dalam cengkeraman mereka?"
Si kakek Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho masih tetap berbaring tanpa bergerak, tuturnya.
"Siapa mereka itu sampai saat ini pun aku sendiri belum lagi jelas. Mengenai maksud tujuan mereka menculik diriku, jelas karena ingin mencari kota emas misterius itu. Apa yang terjadi dan aku alami tidak dapat aku jelaskan dalam waktu singkat, sekarang harus kita siap menghadapi musuh lebih dulu Kung-fu ke enam lawan rata-rata sangat tinggi seorang yang baru kau robohkan itu berbaju hijau bukan?"
"Bukan ia pakai baju hitam, serupa si kakek pertama tadi,"
Jawab Kiam-eng.
"Jika begitu, orang yang berbaju hijau adalah pemimpin nya, bisa jadi dia yang membawa peta kota emas itu,"
Tutur Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho "Sekarang, lekas kau tutup kembali peti mati ia lalu ke dua orang kau hantam pingsan itu diseret ke pelataran sana, kemudian berteriak-teriak untuk memancing kedatangan mereka.
Dengan begitu akan dapat aku robohkan orang yang menjadi pemimpin mereka itu di luar dugaan mereka."
Kiam-eng masih ingin tanya lagi, tapi Sim-Tiong-ho lantas mendesaknya agar lekas mengerjakan pesannya tadi.
Kiam-eng pikir memang benar lebih penting menghadapi musuh lebih dulu, maka cepat ia tutup peti mati itu sesuai perintah Sim-Tiong-ho, paku pantek ditancapkan lagi, lalu desisnya kepada Ih-Keh-ki.
"Nona Ih, lekas sembunyi, nanti kalau serangan Sim-lo-cian-pwe sudah berhasil baru boleh kau keluar!"
Keh-ki merasa perangkap ini cukup menarik dan menyenangkan, dengan tertawa ia mengiakan dan melompat ke luar kereta bersembunyi di tempat gelap.
Kiam-eng juga melompat ke luar kereta, diseretnya si kakek baju hitam dan lelaki kekar tadi tengah pelataran, melihat Keh-ki sudah sembunyi dengan baik, lalu ia berteriak-teriak.
"Wah, celaka! Ada maling! Maling! Lekas tangkap pembunuh! Ada pembunuh!"
Karena gemboran ini, para tamu hotel dan penduduk sekitar hotel sama terkejut, serentak orang banyak sama memburu ke pelataran parkir ramai-ramai.
Ketika semua orang sudah berkerumun di pelataran dan melihat di situ menggeletak dua sosok mayat, mereka sama mengira kedua orang itu mati menjadi korban keganasan si maling, banyak yang merasa takut sehingga mereka cuma menonton belaka tanpa ada yang berani mendekat.
Tidak lama kemudian barulah sisa ke empat orang berpakaian berkabung dan menginap di hotel itu memburu tiba.
Usia ke empat orang ini yang dua sebaya dengan lelaki kekar tadi, sama-sama setengah umur dua lagi lebih tua sedikit, kira-kira di atas 50-an.
Seorang di antaranya berbaju hijau, wajahnya cerah, berdandan serupa seorang hartawan pedusunan.
Namun sinar matanya berkilat, jelas seorang tokoh persilatan kelas tinggi.
Begitu tiba dan melihat di situ menggeletak dua orang kawannya, seketika air muka si baju hijau ini berubah hebat, sorot matanya yang tajam laksana sinar kilat itu menyapu pandang sekejap ke arah penonton yang berkerumun itu lantaran tidak menemukan jejak musuh, segera ia pandang "Peng-Tai-siu"
Dan menghardik.
"Di mana malingnya!"
Sekenanya Kiam-eng menuding rumah penduduk dan berkata.
"Sudah lari ke sana! Sehabis merobohkan kedua tuan tamu ini segera maling itu lari ke arah kereta, ketika hamba berteriak teriak maling, dia hanya sempat memegang peti mati, lalu lari dan melompat ke atas rumah penduduk"
Mendengar peti mati sempat dipegang si penyatron, air muka si kakek baju hijau tampak agak berubah, tanpa menghiraukan keadaan kedua kawannya yang menggeletak itu segera ia memburu ke tempat kereta yang bermuatan peti mati.
Ke tiga kawannya yang lain juga ikut memburu ke sana tanpa memikirkan kawan yang menggeletak dan entah mati atau hidup itu.
Segera si kakek baju hijau mendahului melompat ke atas kereta dan cepat membuka tutup peti mati.
Ketika dilihatnya mata Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho yang terbujur di dalam peti mati itu terpejam dan kepala agak tergolek miring, dada pun bergerak naik turun dengan keras seperti terkena pukulan orang dari luar peti keruan ia terkejut dan kuatir cepat ia menjulurkan tangan dengan maksud mengangkat keluar Sim-Tiong-ho untuk diberi pertolongan.
Di luar dugaan, mendadak sebelah kaki Sim-Tiong-ho mendepak dan tepat mengenai dada si kakek baju hijau.
"Blang", kontan kakek baju hijau menjerit tertahan, darah segar pun tersembur dari mulutnya dan terguling di samping peti mati. Kedua lelaki setengah baya dan kakek satunya lagi sama sekali tidak menyangka Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho yang tertutuk hiat-to bisu dan kelumpuhannya itu mendadak dapat bergerak, bahkan menyerang. Tentu saja mereka terkejut. Melihat pemimpin mereka roboh terguling serentak mereka berteriak dan membentak, berbareng mereka menghantam Sim-Tiong-ho yang masih terbaring di dalam peti itu. Pada detik gawat itu, syukur Su-Kiam-eng pun bertindak, dari belakang mereka segera sebelah kakinya menendang dan sebelah tangan menghantam pinggang si kakek.
"Blang, bluk", kedua lelaki setengah umur tersapu oleh kaki Kiam-eng hingga terjungkal. Si kakek juga terkena pukulan dan tergetar beberapa tindak ke samping. Akan tetapi mereka tidak terluka parah, dengan cepat mereka melompat bangun dan siap tempur pula. Tentu saja, ketika mereka mengenali lawan yang menyergap mereka ternyata "Peng-Tai-siu"
Adanya mereka sama melongo dan tidak sanggup bersuara.
Sementara itu Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho sudah melompat bangun dari peti mati, Ih-Keh-ki yang sembunyi di tempat gelap juga melompat ke luar.
Namun si kakek tidak memandang Sim-Tiong-ho dan Ih-Keh-ki, ia hanya menatap Su-Kiam-eng dengan terbelalak sambil membentak.
"Engkau ini siapa?"
Kiam-eng mengusap mukanya sehingga obat rias tersapu bersih, lalu menjawab dengan tertawa.
"Cai-he Su-Kiam-eng adanya, Kiam-ho-Lok-Cing-hui adalah guruku!"
Muka si kakek sebentar pucat sebentar hijau.
Sorot matanya yang beringas berubah guram, lalu beringas lagi.
Sekonyong-konyong ia berteriak murka, ke dua tangan terpentang bagai tangan iblis, langsung ia menerkam ke arah Su-Kiam-eng.
Diam-diam Kiam-eng sudah siap tempur, ketika orang menerjang tiba, cepat ia menggeser ke kiri, berbareng sebelah tangan memotong ke pinggang lawan.
Meski kung-fu Lok-Cing-hui terletak pada ilmu pedangnya, dalam hal ilmu pukulan juga cukup tangguh.
Dengan sendirinya Su-Kiam-eng pun serba mahir berbagai kung-fu tersebut.
Maka sekali dua serangan segera ia sudah merebut posisi mendahului.
Namun kung-fu si kakek juga bukan jago rendahan, begitu diserang, ia tidak gugup dan juga tidak mengelak, ia hanya mendak sedikit berbareng tangan kanan balas memotong pergelangan tangan Su-Kiam-eng yang menyerangnya, malahan dua jari tangan kiri sekaligus digunakan menyolok mata Kiam-eng.
Begitulah dalam sekejap terjadi pertarungan sengit antara seorang tua dan seorang muda.
Setelah menyaksikan beberapa jurus serang menyerang mereka Sai-hoa-to manggut-manggut merasa lega, segera ia pun mendekati salah seorang lelaki setengah baya dan mendengus.
"Hehe, kawan, sekian jauh menempuh perjalanan, sesungguhnya di manakah ibumu yang katanya sakit keras itu?"
Orang itu tidak menjawab, mendadak ia lolos sebilah pedang lemas, secepat kilat ia mendahului menyerang.
Pedang lemas itu dibuat dari baja asli, lemas serupa sabuk, kalau tidak digunakan dapat dililitkan sebagai tali pinggang pemakainya harus seorang yang memiliki lwe-kang tinggi kalau tidak tentu akan terluka sendiri.
Sekarang orang itu dapat memainkan pedang lemas itu dengan sangat lincah, sekali menyendal, pedang lemas berubah lurus keras dari gerakan ini dapat diketahui orang ini pun pasti bukan jago rendahan.
Meski Sai-hoa-to bertangan kosong, lantaran berhati welas asih dan suka menolong sesamanya sehingga dia tertipu dan tertawan, sudah setengah bulan ia terbaring di dalam peti mati, sudah sekian lama ia menahan rasa gemas, sekarang semangat tempurnya berkobar dengan hebat, mana dia gentar terhadap pedang lawan yang lemas itu.
Ketika lawan mulai menyerang, ia tertawa panjang, dengan kung-fu tangan kosong melawan senjata tajam ia hadapi lelaki itu dengan tangkasnya.
lelaki setengah baya lain bermuka tirus, segera ia pun melolos pedang lemas, maksudnya hendak mengerubut Sai-hoa-to, namun Keh-ki keburu membentaknya.
"Hai, kamu kemari dulu!"
Lelaki itu agaknya tidak menyangka Ih-Keh-ki adalah rombongan Su-Kiam-eng, ia menoleh oleh seruan si nona dan bertanya dengan bingung.
"Kau mau apa?"
Tangan kanan Ih-Keh-ki tersembunyi di belakang, tangan kiri menggapai, katanya dengan tertawa manis.
"Engkau kemari dulu, ingin aku bicara denganmu!"
Melihat seorang nona cantik tertawa dan bicara ramah padanya, lelaki itu mengira Keh-ki menaksirnya, dengan kikuk ia mendekatinya dan bertanya.
"Nona ingin bicara apa?"
"Engkau bernama siapa?"
Tanya Keh-ki dengan tertawa. lelaki muka tirus itu, menjawab.
"Cai-he Kim-ci-pa (si macan tutul) Tong-hong-Beng, ada keperluan apa nona tanya namaku?"
"Pedang lemas yang kau pegang itu tampaknya sangat bagus, cuma tidak tahu bisa digunakan atau tidak?"
Ujar Keh-ki.
"Kenapa tidak bisa digunakan? Apakah nona ingin mencobanya?"
Kata Tong-hong-Beng.
"Betul, aku memang tertarik kepada pedangmu,"
Sahut Keh-ki.
"Aku dengar Tok-pi-sin-kun (si malaikat sakti tangan satu) Pau-Thian-bun dari Thian-ti di Hun-lam sangat lihai dengan Pan-liong-kiam-hoat nya, aku justru ingin belajar kenal!"
Habis berkata, secepat kilat Keh-ki melolos pedang yang disandangnya dan menyabet ke depan.
Kim-ci-pa Tong-hong-Beng tidak menyangka si nona juga salah seorang lawan, terlebih tidak mengira begitu melihat senjata sendiri lantas dapat menyebut asal-usulnya.
Keruan ia terkejut dan cepat melompat mundur.
Walaupun cukup cepat lompatan mundurnya namun kung-fu andalan Ih-Keh-ki tidak memberi kesempatan menghindar baginya, terdengar suara "crit", lengan baju kanan Tong-hong-Beng tertusuk robek.
Kembali Tong-hong-Beng terkejut dan melompat mundur lagi beberapa langkah, damprat dengan mendelik.
"Budak busuk, kamu ini siapa?"
Keh-ki menarik pula, dengusnya.
"Hm, setelah rasakan kelihaian nona tentu kamu akan tahu sendiri, buat apa banyak bertanya?"
Dengan sendirinya Tong-hong-Beng tidak mau dipandang lemah, sekali pedang lemas menyendal langsung ia menerjang maju.
Ia pikir seorang nona cilik saja betapa tinggi kung-fu nya juga terbatas, cukup beberapa jurus saja satu dapat beres, siapa tahu setelah beradu senjata, makin lama makin terperanjat.
Ketika mendekati belasan jurus, mendadak ia menarik pedang dan melompat mundur, ucapnya dengan terkejut.
"Nanti dulu! Kamu ini apanya Kiam-ong?"
Keh-ki tertawa ngikik.
"Anak murid Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun memang berpandangan tajam, nonamu bernama Pek-ih-sian-li Ih-Keh-ki, Kiam-ong adalah kakek guruku. Nah, mau apa?"
Kim-ci-pa Tong-hong-Beng tambah tercengang, katanya.
"Guruku dan kakek gurumu tidak pernah bermusuhan apa pun, mengapa sekarang nona ikut campur urusanku?"
Kiranya Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun di provinsi Hun-lam juga terhitung tokoh kelas satu dunia persilatan jaman ini, pada pertandingan besar dahulu untuk menentukan urut-urutan tokoh, dengan pedang Poan-liong-kiam andalannya telah mengalahkan belasan jago pedang daerah Tiong-goan akhirnya ia berhadapan dengan Kiam-ho-Lok Cing-hui, terjadi pertarungan seru dari pagi hingga sore, alhasil Lok-Cing-hui menangkan satu jurus.
Para tokoh yang hadir menyaksikan pertarungan pada waktu itu sama mempunyai suatu perasaan, yaitu bilamana Pau-Thian-bun tidak buntung sebelah tangannya, hasil dari pertandingan itu mungkin takkan diraih oleh Lok-Cing-hui.
Walaupun begitu, sebagian besar tokoh dunia persilatan sama gembira karena Lok-Cing-hui dapat mengalahkan Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun, soalnya Pau-Thian-bun dikenal sebagai tokoh iblis besar berhati keji yang dibenci orang persilatan juga jahanam pengganggu kaum wanita yang ditakuti kaum hawa itu.
Konon apabila dia penujui seorang nona, tidak peduli apa pun asal-usul dan kedudukan si nona tetap dia akan berdaya mendapatkannya.
Sebab itulah tidak sedikit jumlah nona baik-baik yang pernah dinodai olehnya.
Tapi lantaran ilmu silatnya sangat tinggi, anak muridnya juga banyak, maka tokoh terkemuka seperti Kiam-ong dan Kiam-ho juga merasa sungkan padanya.
Dengan sendirinya, kebalikannya Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun juga cukup jeri terhadap Kiam-ong dan Kiam-ho, maka sering dia memperingatkan anak muridnya agar jangan bentrok dengan anak murid kedua tokoh tertinggi tersebut.
Karena itulah ketika Kim-ci-pa Tong-hong-Beng mengetahui Ih-Keh-ki adalah cucu murid Kiam-ong Ciong-Li-cin, seketika ia menjadi ragu, sebab ia harus mempertimbangkan kemungkinan akibatnya.
Sebab perguruannya sudah cekcok dengan Kiam-ho-Lok-Cing-hui jika sekarang cekcok lagi dengan Kiam-ong dan anak muridnya apabila Kiam-ho dan Kiam-ong bergabung datang minta pertanggung jawabannya, lalu cara bagaimana pihaknya akan menghadapinya.
Bilamana dia merasa sangsi dan ragu, Ih-Keh-ki justru tidak perlu banyak pikir, ia tuding Su-Kiam-eng yang sedang menempur si kakek, katanya dengan tertawa.
"Biar aku katakan padamu, aku datang untuk membantu dia."
Kim-ci-pa Tong-hong-Beng adalah murid kesayangan Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun, ilmu pedangnya sudah mewarisi segenap kepandaian sang guru, andaikan tidak lebih kuat daripada Ih-Keh-ki, sedikitnya juga pasti lebih ulet daripada si nona.
Sebab itulah ia tidak merasa jeri terhadap Keh-ki, maka ia balas mendengus melihat sikap Keh-ki yang meremehkan dia.
"Hehe, jadi maksud nona sengaja hendak mencari perkara terhadap Thian-ti-pai kami?"
"Boleh juga dikatakan demikian,"
Ujar Keh-ki dengan tertawa.
"Apa pun kakek guru kami kan tokoh nomor satu di dunia, memangnya perlu takut terhadap gurumu?"
"Hm, kamu harus ingat benar-benar terhadap ucapanmu ini,"
Jengek Tong-hong-Beng.
"Memangnya mau apa?"
Jawab Keh-ki dengan sikap menghina.
"Aku minta kamu ingat pihakmu yang lebih dulu mencari perkara padaku dan bukan kami yang mencari perkara padamu, cukup begitu saja,"
Jengek Tong-hong-Beng.
"Sudahlah, buat apa bicara bertele-tele, kau mau apa, silakan mulai saja,"
Kata Keh-ki dengan ketus. Tong-hong-Beng tidak banyak omong lagi, segera ia menerjang maju, pedang lantas menebas sambil membentak.
"Terima serangan ini!"
Maka berlangsunglah pertarungan sengit.
Pada saat itu di sebelah sana Su-Kiam-eng justru sudah berhasil, sekali hantam tepat mengenai dada si kakek sehingga lawan tumpah darah dan jatuh terkapar tak bangun lagi.
Kakek itu juga murid Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun, meski usianya lebih tua daripada Tong-hong-Beng, tapi kung-fu nya bukan ajaran langsung sang guru melainkan belajar dari salah seorang pembantu kepercayaan gurunya jago kelas menengah seperti dia dengan sendirinya bukan tandingan Su-Kiam-eng.
Setelah serangannya berhasil, waktu Kiam-eng memandang ke sana, dilihatnya Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho yang sedang menghadapi serangan gencar lelaki setengah baya itu rada-rada kewalahan, segera ia melompat ke sana dan berseru.
"Silakan mundur dulu, Sim-lo-cian-pwe, biar aku bereskan bangsat ini!"
Sebabnya Sim-Tiong-ho agak kewalahan menghadapi serangan lawan adalah karena dia bertangan kosong, ia pikir kalau Su-Kiam-eng juga bertangan kosong rasanya juga sukar mengalahkan musuh, maka cepat ia menjawab.
"Tidak, hendaknya kau cari sebatang pedang dahulu!"
Kiam-eng dapat melihat kung-fu yang dimainkan lelaki setengah umur itu adalah Poan-liong-kiam-hoat andalan Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun, ia pun menyadari bila bertangan kosong juga akan sukar mengalahkan lawan, maka cepat ia lari ke kamar Ih-Keh-ki untuk mengambil pedang sendiri, lalu lari kembali ke pelataran parkir dan berseru.
"Silakan mundur, Sim-lo-cian-pwe, sekarang biar aku hadapi dia!"
Saat itu Sim-Tiong-ho lagi tercecer dan berulang menghadapi serangan bahaya, melihat Su-Kiam-eng datang kembali dengan bersenjata, cepat ia melompat mundur agar digantikan oleh anak muda itu.
Dengan pedang terhunus Kiam-eng memapak lelaki setengah umur itu, tanyanya dengan tersenyum.
"Apakah Anda ini anak murid Tok-pi-sin-kun?"
"Hm, memang betul,"
Jengek orang itu.
"Aku Pek-hui-hou (si harimau putih terbang) Ji-Liang."
"Peta kepunyaan su-heng ku itu cara bagaimana diperoleh kalian?"
Tanya Kiam-eng pula.
"Cara bagaimana memperolehnya, aku kira hal tidak penting, yang paling penting adalah kami memang sudah mendapatkan peta itu,"
Jawab Ji-Liang dengan tersenyum licik.
Kiam-eng merasa jarak Thian-ti tidak jauh dari Mo-pan-san, bilamana peta wasiat itu jatuh ke tangan Tok-pi-sin-kun, mungkin sekali bukan direbut dari orang lain, tapi diperoleh dengan mencegat burung merpati sang su-heng yang dilepas pulang ke Tiong-goan itu.
Apabila betul demikian, cacat badan sang su-heng bukan mustahil ada sangkut-pautnya dengan pihak Thian-ti-pai, maka ia mengajukan pertanyaan seperti tadi.
Maka jawaban Ji-Liang yang mencurigakan itu menambah rasa sangsi Kiam-eng, dengan dingin ia mengangguk.
"Baik, boleh kita mulai!"
Habis berkata, langsung pedangnya mendahului menusuk ulu hati lawan.
Ilmu pedang andalan Kiam-ho-Lok-Cing-hui bernama "Peng-lui-kiam-hoat", ilmu pedang sambaran geledek, permainan pedang ini mengutamakan kekuatan sejati dan sejenis ilmu pedang yang mengutamakan kelincahan dan kegesitan.
Dengan sendirinya Pek-hui-hou Ji-Liang cukup kenal kelihaian Peng-lui-kiam-hoat, maka ketika tusukan Su-Kiam-eng tiba, ia tidak berani meremehkannya dan menangkis dengan penuh perhatian dan segenap kepandaiannya.
Begitulah terjadi pertarungan sengit, makin lama Kiam-eng makin tangkas.
Bicara sejujurnya, sebenarnya Pan-liong-kiam-hoat Thian-ti-pai tidak kalah hebat daripada Peng-lui-kiam-hoat andalan Kiam-ho-Lok-Cing-hui, namun setelah berlangsung ratusan jurus, terlihatlah Peng-lui-kiam-hoat terlebih kuat dan Su-Kiam-eng sudah menduduki posisi tak terkalahkan.
Hal ini ada dua sebab.
Pertama, yang jahat tidak bisa lebih unggul dari yang baik.
Ke dua, bakat Su-Kiam-eng memang lebih tinggi.
Karena ke dua unsur itu, dengan sendirinya Pek-hui-hou Ji-Liang kelihatan jauh lebih lemah.
Sekuatnya ia bertahan beberapa puluh jurus lagi, mendadak ia melompat jauh ke samping sambil berseru.
"Lo-ji, ayolah kita pergi saja!"
Belum lenyap suaranya segera ia mendahului lari ke luar pelataran parkir dan kabur dengan cepat.
Melihat su-heng nya kabur, Kim-ci-pa Tong-hong-Beng yang sedang bertempur sengit melawan Ih-Keh-ki juga tidak berani terlibat lebih lama lagi, sekali melompat mundur, secepat terbang ia pun lari.
Ih-Keh-ki suka menang, ia merasa kurang gemilang kalau lawan tidak langsung dijatuhkan olehnya, maka ketika melihat Kim-ci-pa melompat mundur, segera ia membentak dan memburu ke sana dengan maksud mencegahnya.
Namun Kiam-eng keburu berteriak.
"Tidak perlu dikejar lagi, nona Ih, kembalilah sini!"
Keh-ki menahan gerak larinya dan berputar balik, dia memang seorang nona berwatak keras tapi sekarang dia mau menurut pada ucapan Su-Kiam-eng, sungguh suatu perubahan yang agak luar biasa.
Sembari menyimpan kembali pedangnya, ia tanya dengan tertawa.
"Ada apa? Tampaknya hatimu menjadi lunak terhadap anak murid Tok-pi-sin-kun?"
"Bukan lunak melainkan kehendak ada tapi tenaga kurang,"
Ujar Kiam-eng.
"Apa maksudmu? Memangnya engkau tidak mampu menawannya?"
Tanya Keh-ki dengan melengak.
"Betul,"
Kiam-eng mengangguk.
"Sebab jika pertarungan berlangsung lebih lama lagi, untuk menang memang tidak menjadi soal, untuk menawan mereka itulah yang sulit"
"Tetapi kita kan dapat mengejar mereka, apabila mereka pun kehabisan tenaga, dengan mudah tentu dapat kita bekuk mereka,"
Ujar Keh-ki. Kiam-eng tersenyum, ia tunjuk ke empat orang yang menggeletak itu dan berkata.
"Kita juga harus membereskan ke empat musuh ini bukan?"
Keh-ki pikir memang benar juga, maka tidak bicara pula.
Segera Kiam-eng menyongsong ke tempat Sai-hoa-to, dilihatnya orang tua itu baru melompat ke luar dari kereta, ia tahu tujuan orang masuk ke dalam kereta tentu ingin menggeledah tubuh si kakek baju hijau apakah membawa peta kota emas atau tidak, sesudah dekat ia lantas tanya.
"Ada tidak?"
"Tidak ada,"
Sai-hoa-to menggeleng.
"semula aku sangka peta berada padanya..."
"Tak mungkin peta itu dibawa olehnya melainkan pasti berada pada Tok-pi-sin-kun,"
Ujar Kiam-eng.
"Tidak nanti ia berikan peta itu kepada muridnya untuk dibawa ke Tiong-goan untuk kemudian dibawa pulang lagi ke Thian-ti."
"Betul juga,"
Kata Sai-hoa-to.
"Tapi sebelum ini aku kan tidak tahu mereka ini anak murid Tok-pi-sin-kun?"
Tengah mereka bicara, seorang pelayan hotel dengan gemetar ketakutan mendekat dan bertanya dengan kaget.
"Apa ... apa yang terjadi, Tuan?"
Melihat sekitarnya sudah berkerumun banyak orang, Kiam-eng tahu tidak leluasa lagi untuk bermalam di hotel, segera ia mengeluarkan beberapa tahil perak kepada pengurus hotel dan berkata.
"Ah, tidak ada apa-apa, hanya urusan percekcokkan orang kang-ouw saja. Ini ongkos hotel kami, harap pelayan disuruh membawa kemari barang-barang kami, segera kami akan berangkat."
Pengurus hotel menerima uang sebanyak itu dengan terima kasih tak habis-habis, lalu bertanya pula.
"Dan di mana ... di mana itu Peng-Tai-siu si tukang kuda, Tuan tadi memanggilnya dan menyuruhnya ke mana?"
"O, dia berada di kamarku, mungkin sudah hampir siuman,"
Jawab Kiam-eng.
"Ini, berikan padanya sedikit persen ini."
Lalu Kiam-eng memberi lagi sedikit uang perak.
Pengurus hotel tentu saja berharap orang-orang kang-ouw itu lekas pergi agar dia terbebas dari tanggung jawab, maka ia mengucapkan terima kasih pula dan cepat memberi perintah kepada pelayan agar membawakan barang-barang tetamunya ke situ.
Dua pelayan mengiakan dan berlari pergi dengan cepat.
Kiam-eng coba memeriksa keadaan luka beberapa musuh itu, diketahuinya si kakek berbaju hijau yang terkena tendangan Sai-hoa-to dan kakek berbaju hitam yang tumpah darah terkena pukulannya tadi terluka lebih parah, dua orang lainnya hanya terluka ringan saja dan tak berbahaya.
"Sim-lo-cian-pwe,"
Kata Kiam-eng.
"Apakah mereka dapat disembuhkan?"
"Dapat,"
Jawab Sim-Tiong-ho.
"Cuma, aku kira anak murid Tok-pi-sin-kun tidak ada harganya untuk disembuhkan."
Namun Kiam-eng mempunyai pertimbangan lain, ia angkat ke empat musuh itu ke atas kereta, lalu berseru terhadap orang yang berkerumun itu.
"Di mana kusir ke dua kereta ini?"
Ke dua kusir kereta bercampur di antara orang banyak dan tidak berani memperlihatkan diri, kini mendengar seruan Su-Kiam-eng, terpaksa mereka tampil ke muka dan memberi hormat, katanya.
"Tuan. sama sekali hamba berdua tidak ada hubungan apa pun dengan mereka kami cuma tukang kereta dari Ha-yang ..."
"Lekas bangun,"
Kata Kiam-eng.
"Mulai sekarang biarlah kami yang menyewa tenaga kalian, asalkan kalian mengendarai kereta dengan baik, setibanya di tempat tujuan pasti akan kami beri hadiah besar."
Biarpun enggan rasanya, namun kedua kusir itu tidak berani menolak, terpaksa mereka mengucapkan terima kasih dan berbangkit, lalu mengeluarkan kuda dari kandang dan siap untuk memberangkatkan kereta.
Tidak lama kemudian pelayan pun datang membawa rangsal, Kiam-eng lantas berkata kepada Sai-hoa-to "Sim-lo-cian-pwe, bagaimana kalau kita berangkat saja sekarang dan boleh kita bicara lagi dalam perjalanan?"
"Betul, setuju, marilah berangkat!"
Jawab Sai-hoa-to sembari melompat ke dalam kereta.
Kiam-eng dan Keh-ki juga lantas mencemplak ke atas kuda tunggangan masing-masing dan dibedal ke luar pekarangan hotel, malam-malam juga mereka meninggalkan kota.
Kuda Kiam-eng mendahului lari ke depan.
Beberapa li meninggalkan kota, tampaknya ke depan lagi hanya tanah ladang belaka dan tidak ada sesuatu tempat pondokan, segera anak muda itu putar balik dan berkata kepada Sai-hoa-to di dalam kereta.
"Sim-lo-cian-pwe, tampaknya di depan tidak ada sesuatu kampung, marilah kita berhenti saja di bawah pepohonan yang rindang."
"Baik, terserah saja kepadamu,"
Jawab Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho.
Segera Kiam-eng merintis ke depan lagi, beberapa li kemudian dilihatnya di tepi jalan ada sebidang hutan yang cukup baik untuk berteduh, segera ia suruh kusir kereta membelok ke tepi jalan.
Sesudah kedua kereta berhenti di dalam hutan Kiam-eng menyusup ke dalam kereta untuk memeriksa keadaan luka kedua kakek.
Agaknya Sai-hoa-to dapat meraba maksud tujuan Su-Kiam-eng, katanya dengan tertawa.
"Tadi sudah aku bagi mereka sedikit obat luka dalam, aku yakin mereka takkan mati."
"Sim-lo-cian-pwe bilang kakek berbaju hijau ini adalah pemimpin kelompok mereka, berdasarkan apa engkau menarik kesimpulan demikian?"
Tanya Kiam-eng.
"Setelah mereka menculik diriku, sepanjang perjalanan selalu kakek baju hijau ini yang memberi perintah terhadap mereka,"
Tutur Sai-hoa-to.
"Jika begitu, sangat mungkin kakek berbaju hijau ini adalah murid pertama Tok-pi-sin-kun yang bernama Jing-liong-ong Su-go-Hiong"
Kata Kiam-eng.
Jin-liong-ong Su-go-Hiong, si raja naga hijau, meski murid utama Tok-pi-sin-kun, namun nama sendiri sudah terkenal di dunia persilatan selama lebih 20 tahun, kung-fu nya tidak lebih rendah daripada Kui-kok-ji-bu-siang, malahan kejahatannya terkenal melebihi mereka, sebab itulah Sai--hoa-to merasa girang demi mendengar ucapan Kiam-eng itu, katanya.
"Aha, jika begitu, secara tidak sengaja telah aku tangkap seekor naga jahat."
Jika melulu bicara tentang ilmu silat, Sai-hoa-to jelas bukan tandingan Jing-liong-ong Su-go-Hiong, sebab itulah ia merasa serangannya tadi kalau tidak dilakukan secara mendadak sehingga berhasil, mungkin yang roboh dan tumpah darah bukan Su-go-Hiong melainkan ia sendiri.
Kiam-eng berkata pula sambil menunjuk lelaki setengah baya yang tertutuk pingsan itu.
"Yang paksa mereka tampil ke muka dan memberi yaitu Oh-tok-hong Ki-Se-ki, yang terkenal sebagai penjahat cabul suka merusak kaum wanita itu. Pada umumnya anak murid Tok-pi-sin-kun memang terkenal busuk dan sangat disegani orang kang-ouw, dengan sendirinya Sai-hoa-to juga pernah mendengar nama busuk Oh-tok-hong Ki-Se-ki, si kumbang hitam berbisa. Maka ia menggeleng kepala dan berkata.
"Ah, untung kita menyergap mereka di luar dugaan dan berhasil merobohkan mereka, kalau tidak, bukan mustahil pihak kita yang akan kecundang dalam pertarungan tadi."
Tiba-tiba Ih-Keh ki menunjuk kedua kakek berbaju hitam yang lain dan bertanya.
"Dan siapa ke dua orang ini? Tampaknya kepandaian mereka jauh dibandingkan Kim-ci-pa Tong-hong-Beng dan Pek-hui-hou Ji-Liang ..."
"Betul,"kata Kiam-eng,"ke dua orang ini mungkin cuma anak buah biasa Tok-pi-sin-kun. Setiap anak murid langsung Tok-pi-sin-kun pasti bersenjata pedang lemas, ke dua orang ini justru tidak ada.
"Sebenarnya Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun itu mempunyai berapa orang murid?"
Tanya Keh-ki pula.
"Kabarnya berjumlah sembilan orang,"
Tutur Kiam-eng.
"Tapi di antaranya konon orang perempuan, semuanya tergolong tokoh lihai."
Melihat ke dua kusir kereta berdiri melongo di bawah pohon sana, segera Sai-hoa-to berseru terhadap mereka.
"Hai, lekas kalian mengeluarkan kereta, tidur saja di bawah pohon, malam ini tidak meneruskan perjalanan lagi."
Dengan gugup kedua kusir itu mengiakan dan mengeluarkan jok kereta, mereka lantas berbaring di bawah pohon tanpa berani bicara lagi.
"Kalian jangan kuatir, kami bukan orang jahat pasti takkan membikin susah kalian,"
Kata Sai-hoa-to pula dengan tertawa. Sampai di sini ia menoleh dan tanya Ih-Keh-ki.
"Apakah ayah nona adalah Hong-lui-kiam-hiap Ih-Kik-pin?"
"Oo, Lo-cian-pwe kenal ayahku?"
Jawab Keh-ki dengan mengangguk.
"Meski belum kenal muka, namun siapa pun pasti kenal nama kebesaran Hong-lui-kiam-hiap,"
Sai-hoa-to dengan tertawa. Lalu ia tanya Kiam-eng.
"Cara bagaimana kalian bisa berkenalan."
Kiam-eng lantas bercerita pengalamannya berjalan dengan Ih-Keh-ki, lalu menuturkan pula kisahnya sesudah diculik Hu-kui-ong Liong-Ih-kong dan seterusnya.
Sai-hoa-to tidak habis heran oleh cerita anak muda itu, katanya.
"Sungguh aneh, lantas siapakah orang yang memalsukan peta dan dijual kepada Hu-kui-ong itu? Apa maksud tujuannya dengan berbuat demikian?"
"Tidak perlu disangsikan lagi, orang itu pasti anak buah To-pi-sin-kun,"
Ujar Kiam-eng.
"Karena kuatir orang banyak akan datang ke belantara selatan untuk mencari kota emas, maka Tok-pi-sin-kun sengaja mengirim orang itu dengan membawa Peta palsu untuk dijual kepada Hu-kui-ong habis itu dia sengaja pula menyiarkan bahwa peta kota emas telah jatuh di tangan Hu-kui-ong, orang banyak dipancing agar mencari Hu-kui-ong untuk merebut peta pusaka, dengan begitu Tok-pi-sin-kun dapat mendahului menuju ke daerah selatan untuk mencari kota emas."
Chapter 7. Rahasia 180 Patung Mas Sai-hoa-to merasa cerita Kiam-eng itu cukup masuk akal, katanya sambil mengangguk.
"Ya, betul. Jadi selama ini kita sama tertipu oleh akal Tok-pi-sin-kun!"
"Betul, sekarang peta palsu itu berada di tangan Kui-kok-ji-bu-siang, Li-hun-nio-nio dipaksa membawa mereka untuk mencari Sim-lo-cian-pwe, sekarang para tokoh Hoa-san-pai, Tiam-jong-pai, Thai-kek-bun dan lain-lain juga ikut menguntit dengan ketat dengan harapan akan dapat merebut peta itu."
"Hahahaha, tak tersangka di dunia persilatan terdapat manusia keblingar sebanyak itu, aku kira akhirnya mereka bisa mampus semua gara-gara peta palsu itu,"
Ucap Sai-hoa-to dengan tergelak.
"Manusia mati karena harta burung binasa lantaran pangan,"
Ujar Kiam-eng dengan gegetun.
"Sejak rahasia Kota Emas tersiar di dunia persilatan hingga sekarang, sudah cukup banyak orang menjadi korban gara-gara ikut berebut peta itu. Namun masih banyak orang yang belum menyadarinya mereka tetap memandang emas terlebih penting daripada nyawa mereka, sungguh sukar untuk dimengerti ..."
Setelah termenung sejenak, kemudian ia tanya Sai-hoa-to.
"Dan mengapa Lo-cian-pwe bisa jatuh dalam cengkeraman mereka?"
"Cukup panjang bila diceritakan,"
Tutur Sai-hoa-to.
"Tempo hari, setelah kau tinggalkan Bu-lim-teh-co dan mengunjungi gubukku, berturut-turut selama dua-tiga hari tidak aku lihat kemunculanmu di warung minum itu dengan menyamar diriku. Maka Wi-ho-Lo-jin menduga pasti terjadi sesuatu atas dirimu maka diam-diam bersama gurumu kami memeriksa keadaan gubukku dan diketahui kamu memang sudah tidak berada di situ lagi.
"Lantaran kepergianmu tidak meninggalkan suatu pesan tertulis di gubuk itu sebagaimana telah kita atur, maka kami memastikan kamu diculik orang dengan kekerasan yang tak dapat kau lawan. Cuma kami yakin orang yang menculik dirimu itu tiada lain tujuannya hanya memaksamu membawanya ke daerah selatan sini untuk mencari harta karun, apa pun juga keselamatanmu tidak perlu dikuatirkan, maka kami pun tidak cemas bagimu.
"Sejak itu, mau-tak-mau aku harus main sembunyi terlebih ketat, setiap hari aku sembunyi di dalam kamar dan main catur dengan gurumu. Selang beberapa hari pula, pada suatu petang hari, tiba-tiba warung minum kedatangan seorang setengah umur berwajah murung, dia mencari keterangan kepada Wi-ho-Lo-jin tentang jejakku, katanya ibunya sakit keras dan bermaksud memohon pertolongan tabib sakti Sim-Tiong-ho untuk mengobati sakit ibunya.
"Orang itu menyamar seperti orang awam yang sama sekali tidak kenal ilmu silat, namun Wi-ho-Lo-jin tetap menjawab bahwa dia tidak tahu tempat tinggalku. Lain orang itu tanya Wi-ho-Lo-jin apakah Sai-hoa-to sering minum teh di warung itu. Wi-ho-Lo-jin mengiakan. Karena itulah orang itu menyatakan hendak menunggu kedatanganku di warung minum itu, sebelum menemui diriku dia tidak mau pulang ..."
"Hm, orang itu ternyata cukup sabar juga, sehari aku tidak muncul, tiap hari dia tetap menunggu di warung minum itu. Berturut-turut tiga hari telah lalu, Wi-ho-Lo-jin lantas berunding denganku untuk tanya dulu di mana tempat tinggal orang, kemudian akan mengirim orang untuk menyelidikinya. Jika benar di rumahnya ada ibunya yang lagi sakit keras barulah dapat dipastikan dia, memang bukan orang persilatan.
"Jika begitu halnya barulah akan aku terima! undangannya untuk mengobati ibunya yang sakit. Aku setuju atas gagasan Wi-ho-Lo-jin itu. Maka Lo-jin lantas bicara iseng dengan orang itu dan memancing keterangannya. Orang itu mengaku tinggal di Teng-keh-kau, namanya Teng-Hian-an, bekerja sebagai penjual minyak dan macam-macam keterangan lain.
"Wi-ho-Lo-jin merasa Teng-keh-kau terletak tidak jauh, diam-diam ia minta seorang kepercayaannya ke sana untuk menyelidiki orang she Teng itu. Hasilnya membuktikan bahwa di Teng-keh-kau memang betul ada seorang penjual minyak bernama Teng-Hin-an, malahan ibunya yang dikatakan sakit keras itu pun ditemukannya. Maka tanpa ragu aku ikut orang itu ke rumahnya untuk mengobati ibunya.
"Sebelum berangkat malahan aku sudah menyamar dan Wi-ho-Lo-jin memberi penjelasan sekadarnya kepada orang itu apa alasannya aku menyamar. Setiba di tempat tinggal Teng-Hin-an hari pun sudah gelap. Setelah istirahat sekadarnya segera aku diundang Teng-Hin-an untuk memeriksa ibunya. Tanpa sangsi aku duduk di pinggir tempat tidur untuk memeriksa denyut nadi nenek yang sakit itu. Tapi siapa duga, hehe coba kau terka, apa yang terjadi kemudian?"
Kiam-eng tertawa dan menjawab.
"Mendadak nenek itu membalik tangannya dan berhasil mencengkeram urat nadimu?"
"Hah, memang betul begitu,"
Seru Sai-hoa-to.
"Rupanya mereka sengaja mengatur perangkap licik begitu. Kemudian baru aku ketahui Teng-Hin-an memang betul ada, ibunya juga betul lagi sakit keras. Bedanya orang-orang tersebut yang ditemui orang kepercayaan Wi-ho-Lo-jin memang betul sebaliknya orang-orang yang aku temui palsu seluruhnya."
"Hihi, tipu akal mereka itu sungguh sangat bagus!"
Seru Keh-ki dengan tertawa.
"Memang,"
Ujar Sai-hoa-to.
"Waktu itu aku tidak habis mengerti meski sudah memeras otak untuk memikirkannya entah cara bagaimana mereka mengetahui aku sembunyi di Bu-lim-teh-co, sampai malam ini barulah aku paham duduknya perkara. Rupanya mereka itu adalah anak murid Tok-pi-sin-kun. Kiranya peta pusaka yang diperebutkan antara Hu-kui-ong, Bu-lim-sam-koai, Li-hun-nio-nio Kui-kok-ji-bu-siang dan lain-lain, semua itu adalah sandiwara yang telah mereka atur. Pantas juga mereka mau meninggalkan dirimu yang menyamar sebagai Sai-hoa-to gadungan untuk dibekuk oleh Hu-kui-ong, namun diam-diam berusaha lagi menculik diriku Sai-hoa-to yang tulen ini."
"Dan siapa pula nenek yang menyaru sebagai ibu yang sakit keras itu?"
Tanya Su-Kiam-eng. Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho menuding si kakek baju hitam yang pertama dipukul pingsan oleh Su-Kiam-eng itu, tuturnya.
"Samaran tua bangka ini. Waktu itu hari sudah gelap, di dalam kamar juga tidak ada lampu, maka aku kena dipukuli mereka.
"Kemudian mereka lantas menyembunyikan lo-cian-pwe di dalam peti mati?"
Tanya Kiam-eng pula.
"Betul, sepanjang jalan mereka tidak bicara, selama itu juga tidak pernah memperlihatkan senjata khas mereka, yaitu pedang lemas, sebab itulah sejauh ini aku tidak tahu mereka adalah anak murid Tok-pi-sin-kun."
"Dan sekarang semuanya menjadi jelas,"
Ujar Kiam-eng.
"Akhirnya kita tahu bahwa peta kota emas itu berada di tangan Tok-pi-sin-kun. Ada niatku hendak memperalat ke empat orang ini untuk memaksa Tok-pi-sin-kun menyerahkan peta, entah jalan ini dapat ditempuh atau tidak?"
"Aku kira rencanamu hanya akan sia-sia belaka, ujar Sai-hoa-to dengan menggoyang kepala.
"Tok-pi-sin-kun pasti tidak mau menolong ke empat muridnya dengan melepaskan peta pusaka."
"Betul."
Tukas Ih-Keh-ki.
"Menurut pendapatku, lebih baik bunuh saja ke empat orang ini dan segera kita berangkat ke Thian-ti, sedapatnya kita berusaha mencuri peta itu dari Tok-pi-sin-kun, aku kira cara ini lebih baik."
"Bunuh ke empat orang ini? ..."
Kiam-eng berkerenyit kening.
"Ke empat orang ini bukan manusia baik-baik apa halangannya dibunuh saja?"
Ujar Keh-ki. Kiam-eng merasa serba susah katanya.
"Membunuh ke empat orang ini sebenarnya berarti menumpas empat bibit bencana bagi dunia persilatan, kalau perlu mestinya dapat aku binasakan mereka sejak tadi. Tapi sekarang, aku rasa keadaan sudah berbeda, mereka tidak mampu melawan lagi bila dibunuh dalam keadaan begini rasanya rada-rada ..."
"Betul, sekarang masih ada suatu cara lain,"
Tukas Sai-hoa-to.
"Jalan lain apa?"
Tanya Kiam-eng.
"Musnahkan ilmu silat mereka, lalu bebaskan mereka,"
Sambung Sai-hoa-to.
"Betul,"
Seru Kiam-eng girang.
"Punahkan ilmu silat mereka dan jadilah mereka orang cacat yang tak berguna serta selamanya tidak mampu berbuat kejahatan lagi."
"Tapi sebelum kita kerjai mereka lebih dulu boleh kita minta pengakuan mereka,"
Ujar Sai-hoa-to.
Kiam-eng menyatakan setuju.
Lebih dulu ia seret keluar Hek-tok-hong Ki-Se-ki, dibukanya hiat-to untuk menyadarkan dia, lalu menutuk pula hiat-to kelumpuhannya agar setelah siuman orang tidak dapat melawan.
Tidak lama kemudian perlahan si kumbang hitam berbisa itu mulai siuman.
Seperti diceritakan tadi, ia pingsan kena pukulan Su-Kiam-eng di bagian belakang kepala ketika ia baru masuk ke tempat parkir itu, maka dia tidak tahu segala apa yang terjadi.
Setelah siuman sekarang, ketika melihat di depannya berdiri Sai-hoa-to dan Su-Kiam-eng bertiga, seketika air mukanya berubah, serunya kaget "Hei cara ...
cara bagaimana aku ditawan kalian?"
Kiam-eng tersenyum.
"Coba kau pikir, sebelum kamu jatuh pingsan, apa yang sedang kau lakukan"
Dengan bingung Ki-Se-ki menjawab.
"Aku, aku... Ah, ingatlah aku. Waktu itu aku datang ke sini hendak mencari paman guru, Peng-Tai-siu yang menjaga tempat ini bilang paman guruku tidak berada di sini, kemudian ... kemudian aku pergi menjenguk peti mati di dalam kereta dan.. dan mendadak belakang kepalaku dipukul orang dan... Hm, jangan-jangan kamu inilah yang menyamar sebagai Peng-Tai-siu?"
Kiam-eng tertawa.
"Betul. Apakah kau tahu aku ini siapa?"
Ki se-ki coba mengamat-amati Sai-hoa-to dengan wajah heran, kejut dan bingung, tapi segera ia pun menyadari duduknya perkara, tiba-tiba ia menjawab dengan ketus.
"Hm, sudah tentu aku tahu siapa kamu ini."
"Sekarang kamu sudah jatuh dalam cengkeraman kami, kamu ingin hidup atau mati?"
Tanya Kiam-eng.
"Biarpun aku minta mati, apakah kamu Su-Kiam-eng berani membunuh aku?"
Jengek Ki-Se-ki.
"Memangnya kau kira aku tidak berani?"
Kiam-eng menegas dengan tertawa.
"Jika kau tahu siapa diriku, apakah kau berani."
"Aku tahu kamu ini murid ke lima Tok-pi-sin-kun, namamu Ki-Se-ki alias Oh-tok-hong, betul tidak?"
Potong Kiam-eng. Seketika air muka Oh-tok-hong berubah pucat.
"Jadi ... jadi semuanya sudah kau ketahui?"
"Betul,"
Kiam-eng mengangguk.
"Meski bagus akal main selundup kalian ini, namun sayang kalian bernasib sial."
Seketika Oh-tok-hong merasa gelisah, tanyanya.
"Dan di manakah ke tiga su-heng ku?"
"Sudah mampus semua, tersisa kamu ini seorang,"
Jawab Kiam-eng.
"Apa betul?"
"Kenapa tidak? Apakah kau kira aku perlu berdusta?"
Oh-tok-hong mulai kelihatan ada maksud menyerang, ucapnya dengan lunak.
"Baiklah, apa yang ingin kau ketahui?"
"Ada dua,"
Ujar Kiam-eng.
"Pertama, peta yang dikirim su-heng ku melalui merpati pos itu cara bagaimana diperoleh gurumu? Ke dua, di mana gurumu menyimpan peta itu?"
"Setelah aku katakan, apakah akan kau bebaskan diriku?"
Tanya Oh-tok-hong.
"Ya, cuma kamu harus mengaku dengan sejujurnya kalau tidak, nasibmu akan serupa Ke tiga su-heng mu, setelah merasakan siksaan baru binasa."
Muka Oh-tok-hong berubah pucat, katanya.
"Baik, akan aku katakan terus terang. Peta yang dikirim suheng mu dari wilayah selatan itu diperoleh kami secara tidak sengaja. Pada suatu hari, su-heng kami yang ke dua menemukan seekor merpati pos yang hinggap di atas pohon di dekat Thian-ti, pada kaki burung merpati terikat sebuah bumbung bambu kecil. Karena tertarik su-heng ku lantas membidik dan menangkap merpati pos itu.
"Hasilnya ditemukan sehelai peta di dalam bumbung bambu dalam peta itu terlukis dengan jelas oleh suheng mu maka dapatlah kami ketahui bahwa dia menemukan sebuah kota emas purba di tengah hutan belukar pegunungan sana.
"Setelah mendapatkan peta pusaka itu, dengan sendirinya guru kami ingin memilikinya sendiri. Tapi lantaran tanah pegunungan tempat kota emas itu diketahui banyak gas racun yang jahat kalau tidak pergi bersama seorang yang ahli menawarkan gas racun tentu sulit untuk mencapai tempat tujuan. Sebab itulah guru kami memerintahkan kami berempat bersama Ca dan Co berdua mencari tabib sakti Sim-Tiong-ho. Inilah seluk-beluk urusan ini bilamana ada yang dusta biarlah aku mati secara tidak layak."
Lantaran dalam surat Gak-Sik-lam memang pernah menyatakan peta telah dikirimkan melalui merpati pos, maka Kiam-eng tidak sangsi terhadap keterangan Oh-tok-hong tentang peta itu diperoleh secara tidak sengaja.
Segera ia tanya pula.
"Lalu di mana gurumu menyimpan peta itu?"
"Mungkin guru kami menyembunyikan peta itu di kamar tidurnya yang terkenal sebagai Soan-kiong,"
Tutur Oh-tok-hong. Kening Su-Kiam-eng berkerenyit demi mendengar istilah "Soan-kiong"
Atau istana putar. Pikirnya.
"Ternyata tidak terlepas dari dugaanku. Tapi urusan menjadi agak sulit sekarang."
Kiranya Soan-kiong atau istana putar yang terkenal itu adalah tempat berfoya-foya Tok-pi-sin-kun bersama anak muridnya, istana dibangun serupa istana raja, megah dan mewah.
Banyak pesawat rahasia di dalam istana dan aneka macam gerak perubahannya, biarpun tokoh silat kelas wahid, kalau tidak paham seluk-beluk pesawat rahasia di dalam istana juga sukar menerobos ke dalam istana.
Sudah lama Su-Kiam-eng mendengar cerita tentang keajaiban dan kelihaian istana putar itu, sejak mula juga dia kuatir kalau Tok-pi-sin-kun akan menyimpan peta pusaka di tengah istana rahasia itu.
Dari keterangan Oh-tok-hong sekarang terbukti dugaannya itu memang benar, keruan diam-diam ia mengeluh.
Setelah termenung sejenak, kemudian ia tanya lagi.
"Kamu kan murid kesayangan Tok-pi-sin-kun aku kira kamu sangat apal terhadap seluk-beluk istana putar itu"
"Tidak, sangat terbatas pengetahuanku mengenai istana itu,"
Jawab Oh-tok-hong.
"Selain guruku, rasanya tidak ada orang ke dua yang tahu jelas peralatan rahasia di dalam istana putar itu."
"Hm, aku kira tidak masuk akal,"
Jengek Kiam-eng.
"Tapi sesungguhnya memang begitu,"
Kata Oh-tok-hong.
"Istana itu dibangun langsung oleh guruku, waktu itu kami belum lagi masuk ke perguruan, sejauh ini guru kami juga tidak pernah menceritakan seluk-beluk pesawat rahasia di dalam istana, cuma selama beberapa tahun kami sering keluar-masuk istana, maka kenal sekadarnya keadaan di sana."
"Jika sekarang kamu dibebaskan pulang, dapatkah langsung kamu mendatangi kamar tidur gurumu di tengah istana putar itu?"
Tanya Kiam-eng.
"Tidak dapat. Selamanya Su-hu tidak pernah menerima kami di kamar tidurnya, pula letak kamar tidurnya juga berubah tempat setiap hari, biasanya guru menerima kami di ruang Cip-gi-tia (pendopo pertemuan besar), untuk masuk ke sana diperlukan pula perintahnya langsung."
"Jika begitu, jadi kalian pun tidak dipercaya penuh oleh gurumu?"
Tanya Kiam-eng.
"Boleh juga dikatakan demikian,"
Ujar Oh-tok-hong.
"Su-hu kami memang berbeda daripada orang umumnya, beliau hanya menyuruh kami tunduk mutlak padanya, soal di dalam hati kami tidak menghormat dan tidak suka padanya, itu urusan lain dan tidak dipedulikannya."
Kiam-eng tertawa dan berkata kepada Sai-hoa-to.
"Sim-lo-cian-pwe, kau kira keterangannya dapat dipercaya atau tidak?"
"Aku kira ada bagian yang tidak benar,"
Ujar Sai-hoa-to. Kiam-eng lantas menjengek terhadap Oh-tok-hong.
"Hm, apa barangkali kamu ingin mencicipi rasanya tersiksa baru mau bicara sejujurnya?"
Muka Oh-tok-hong tampak pucat pasi, jawabnya dengan gusar.
"Sialan! Sudah aku katakan sejujurnya, jika ada yang bohong, biarlah aku mati disambar geledek!"
"Ya, sudahlah sekarang boleh kau katakan lagi tokoh-tokoh penting di bawah gurumu, habis itu dapatlah aku lepaskanmu pulang,"
Ujar Su-Kiam-eng.
"Selain kami ber sembilan saudara seperguruan yang ikut, di samping guruku ada lagi Thian-ti-it-koai Pau-Hai-san dan Tok-po-po Biau-Kim-ki, ditambah lagi Hiat-pit-kui-su Oh Bun-an ..."
Ia menuturkan semua anak buah gurunya, seakan-akan kalau Su-Kiam-eng mau mengampuni jiwanya, maka setiap rahasia gurunya juga pasti akan diceritakannya.
Kiam-eng mengingat dengan baik setiap keterangan Oh-tok-hong itu, akhirnya ia membelejeti pakaian orang sehingga tersisa baju dan celana dalam saja, habis itu dikeluarkannya belati untuk memotong otot tangan kanan dan otot kaki kiri.
Oh-tok hong tidak menyangka Su-Kiam-eng akan membuatnya cacat baru kemudian dibebaskan, seketika ia sangat berduka, ratapnya.
"Oo, alangkah kejinya kamu, Su-Kiam-eng!"
"Hm, sedikit pun tidak keji,"
Jengek Kiam-eng.
"Manusia kotor dan rendah semacam dirimu ini, andaikan jatuh di tangan orang lain, bagaimana nasibmu tentu dapat kau bayangkan sendiri."
Habis berucap ia buka hiat-to kelumpuhan orang dan membentaknya.
"Nah, sekarang lekas enyah! Dengan sebelah tangan dan sebelah kaki tentu kamu masih dapat bergerak. Andaikan kau yakin gurumu masih mau menerima orang cacat seperti dirimu, maka bolehlah kau pulang saja ke Thian-ti."
Terpaksa Oh-tok-hong menahan sakit pada lukanya, ia dapatkan sebatang ranting kayu untuk digunakan sebagai tongkat, lalu terpincang-pincang meninggalkan hutan itu.
Sesudah Oh-tok-hong pergi jauh, dengan suara tertahan Sai-hoa-to tanya Kiam-eng.
"Kau belejeti pakaiannya, apakah kau ingin menyamar sebagai dia untuk menyelundup ke Thian-ti?"
Kiam-eng mengangguk.
"Ya, memang begitulah maksudku."
"Tindakan ini mungkin sangat berbahaya,"
Ujar Sai-hoa-to dengan kening berkerenyit.
"Tok-pi-sin-kun bukan orang yang mudah direcoki. Istana putarnya juga bukan sembarangan tempat yang dapat diterobos begitu saja, apabila ..."
"Kalau tidak masuk sarang harimau cara bagaimana bisa memperoleh anak macan?"
Tukas Kiam-eng dengan tersenyum. Setelah termenung sejenak, akhirnya Sai-hoa-to berkata.
"Kan lebih baik aku saja yang pergi ke sana. Jika tiada bersama diriku toh dia takkan pergi ke selatan, maka dapat aku gunakan diriku untuk tawar menawar dengan dia."
"Tidak, tadi Lo-cian-pwe sudah bergebrak dengan Pek-hui-hou Ji-Liang, tentu Tok-pi-sin-kun takkan percaya lagi kepada kesungguhan hati Lo-cian-pwe, maka lebih baik aku saja yang pergi ke sana dengan menyamar sebagai Oh-tok-hong, aku kira harapan untuk berhasil akan lebih besar."
"Tapi cara bagaimana kau mampu masuk ke istananya yang hebat itu?"
Tanya Sai-hoa-to.
"Menurut pengakuan Oh-tok-hong tadi, biar pun anak murid Tok-pi-sin-kun juga diperlukan perintah langsungnya baru diperbolehkan masuk ke istana putar itu."
"Tapi ia pun mengatakan Tok-pi-sin-kun tidak pernah menerima anak muridnya di kamar tidur nya. Lalu cara bagaimana kamu dapat memasuki kamarnya untuk mencari peta?"
"Biarlah aku lihat gelagatnya nanti untuk bertindak seperlunya,"
Ujar Su-Kiam-eng.. Mungkin juga pada waktu aku dekati Tok-pi-sin-kun, secara di luar dugaan dapat aku atasi dia dan memaksanya menyerahkan peta."
Sai-hoa-to tetap menggeleng tanda tidak setuju, katanya.
"Namun tetap aku rasakan tindakan demikian terlampau besar risikonya ..."
"Bila Lo-cian-pwe juga ingin pergi ke Thian-ti maka harus kita atur sedemikian rupa, yaitu pada saat Wan-pwe tertawan umpamanya, saat itulah baru Lo-cian-pwe menampilkan diri untuk bertemu dengan dia dan minta kebebasanku sebagai syarat imbalan membawa mereka ke hutan purba di selatan. Dengan begitu tentu keselamatanku pun akan terjamin."
"Bagus juga cara ini,"
Ujar Sai-hoa-to.
"Cuma, cara bagaimana supaya aku tahu kamu tertawan musuh?"
"Boleh kita gunakan batas waktu tiga hari,"
Tutur Kiam-eng.
"Selewatnya tiga hari dan Wan-pwe belum ke luar dari istana Tok-pi-sin-kun, itu menandakan aku telah ditawan mereka."
"Baiklah, boleh kita coba,"
Kata Sai-hoa-to.
"Namun satu hal harus selalu kau ingat, Tok-pi-sin-kun adalah iblis yang membunuh orang tanpa berkedip. Bilamana asal-usulmu diketahui dan tertangkap, hendaknya cepat kau katakan kau datang bersamaku. Dengan begini tentu dia tidak berani membunuhmu.
"Baik, akan aku ingat pesan Lo-cian-pwe ini,"
Sahut Kiam-eng. Lalu Sai-hoa-to memandang Ih-Keh-ki dan bertanya.
"Dan bagaimana dengan nona Ih?"
"Setiba di dekat Thian-ti, kalau dia masuk istana Tok-pi-sin-kun dengan menyamar sebagai Oh-tok-hong, dengan sendirinya aku tinggal bersamamu,"
Jawab Keh-ki. Sai-hoa-to menggeleng.
"Tidak, lebih baik nona Ih pulang saja sekarang!"
"He, ada apa?"
Tanya Keh-ki kurang senang.
"Lo-cian-pwe tidak suka padaku?"
"Bukan begitu soalnya."
Jawab Sai-hoa-to.
"Kamu ini putri kesayangan Hong-hun-kiam-hiap, apabila terjadi sesuatu halangan atas dirimu, wah, aku tidak berani bertanggung jawab."
"Hmm, tampaknya aku perlu juga menulis suatu surat pernyataan suka rela padamu,"
Ujar Keh-ki dengan tertawa.
"Surat pernyataan apa maksudmu?"
Tanya Sai-hoa-to bingung.
"Sebab aku sudah menulis suatu surat pernyataan untuk dia,"
Kata Keh-ki sambil menuding Kiam-eng. Sai-hoa-to tidak mengerti ia coba tanya Su-Kiam-eng.
"Sesungguhnya bagaimana persoalannya?"
"Begini,"
Tutur Kiam-eng dengan tertawa "Tempo hari ketika ia tahu aku hendak pergi ke wilayah selatan, ia ribut dan minta ikut bersamaku.
Aku bilang tidak berani menjamin keselamatannya.
Lalu ia menulis sepucuk surat pernyataan untukku bilamana kelak harus berhadapan dengan ayahnya, supaya ayah ibunya tahu kepergiannya adalah atas kehendaknya sendiri dan tidak ada sangkut-pautnya dengan diriku.
Karena itulah terpaksa aku terima permintaannya untuk ikut serta."
Sai-hoa-to tampak serba susah, katanya kemudian.
"Ai, sebenarnya untuk apa kamu ikut menyerempet bahaya ke daerah purba di selatan sana."
"Karena aku suka,"
Ujar Keh-ki dengan tertawa.
"Apakah kau kira hutan purba itu sangat menyenangkan?"
Kata Sai-hoa-to.
"Ai, sebenarnya tempat itu sangat berbahaya, setiba di sana tentu kamu akan tahu rasa ..."
"Biarlah, sekalipun tempat itu berbentuk gunung berapi juga tetap aku mau pergi,"
Kata Keh-ki cepat.
"Jika begitu, aku pun minta diberi surat pernyataanmu,"
Ujar Sai-hoa-to sambil mengangkat bahu.
"Baik, pada waktu bermalam di hotel tentu akan aku berikan surat pernyataanku,"
Kata Keh-ki dengan girang. Lalu Sai-hoa-to berkata kepada Su-Kiam-eng.
"Masih ada persoalan ingin aku tanya padamu. Jika kamu harus menyamar sebagai Oh-tok-hong, apakah tidak kau kuatirkan Oh-tok-hong akan pulang ke Thian-ti dan membongkar rahasia penyamaran?"
"Hal ini sudah aku pertimbangkan lebih dulu,"
Sahut Kiam-eng.
"Sekarang Oh-tok-hong sudah cacat, biarpun dia pulang ke Thian-ti juga sukar memperoleh kepercayaan Tok-pi-sin-kun, maka aku yakin dia takkan pulang lagi ke Thian-ti."
"Hal ini sukar dipastikan,"
Ujar Sai-hoa-to "Betapa kejinya Tok-pi-sin-kun masa tega membunuh lagi anak murid yang jelas sudah cacat?"
"Ya, memang, tapi sekalipun Oh-tok-hong pulang ke Thian-ti, sekarang dia baru terluka dan memerlukan waktu untuk merawat lukanya itu, bilamana sembuh barulah dia dapat meneruskan perjalanan, dengan begitu sedikitnya memakan waktu belasan hari. Sebaliknya keberangkatanku menggunakan kuda cepat, sekalipun dia segera berangkat dengan menyewa kereta, sedikitnya aku akan sampai di tempat tujuan beberapa hari lebih dulu."
Sai-hoa-to pikir uraian Su-Kiam-eng itu cukup beralasan, katanya kemudian.
"Baiklah, jika begitu, ke tiga orang di dalam kereta itu pun boleh dibereskan sekalian."
Segera Kiam-eng menyeret keluar si kakek baju hitam yang tertutuk pingsan itu, ia buka hiat-to nya dan menutuk pula membuatnya lumpuh.
Tak lama kemudian kakek itu pun siuman dan membuka mata, lalu Kiam-eng tanya dengan tertawa.
"Apakah kau kenal aku?"
Kakek baju hitam itu adalah orang pertama yang disergapnya hingga pingsan maka dia tidak tahu segala apa yang terjadi kini setelah melihat jelas yang berdiri di depannya adalah Su-Kiam-eng yang anak murid Kiam-ho-Lok-Cing-hui dan Sai-hoa-to yang semula ditawan dan disembunyikan dalam peti mati itu, keruan dia terkejut tak terhingga dan menjerit kaget.
"Hahh ... ka ... kalian ..."
Ia hanya sanggup mengucapkan "kalian"
Saja lalu terlongong-longong seakan-akan sangsi apakah dirinya bukan dalam mimpi.
Untuk menguji apakah pengakuan Oh-tok-hong itu benar atau dusta, Kiam-eng memutuskan akan memeriksa juga dan mengorek keterangan si kakek baju hitam ini.
Maka dengan tertawa ia berkata.
"Mungkin sampai kini kau belum lagi jelas induknya perkara biarlah sekarang juga aku beritahukan padamu seluk-beluk apa yang terjadi. Dalam perjalanan tanpa sengaja kami menemui rahasia kalian maka aku lantas menyamar sebagai Peng-Tai-siu dan menyusup ke tempat parkir ini untuk merobohkan dirimu. Habis itu kalian ber enam juga dapat kami tawan satu per satu.
"Tadi Oh-tok-hong ber empat sudah mengaku segala sesuatu yang mereka lakukan dan sesudah kami musnahkan kung-fu nya kini mereka sudah kami lepaskan. Kini tersisa dirimu yang terakhir. Jika, kau mau mati segera juga dapat aku kirim dirimu ke tempat nenek moyangmu. Bilamana kau ingin hidup maka kamu harus menjawab terus terang pertanyaanku. Nah, katakan sekarang, kau mau mati atau ingin hidup?"
Ke dua mata si kakek baju hitam terbelalak serunya dengan bingung.
"Hah, apa betul kami ber enam telah kalian tawan seluruhnya?"
"Betul,"
Kiam-eng mengangguk.
"Nah, katakan, kamu she Ca atau she Coh?"
"Coh,"
Jawab si kakek.
"Coh-Jian-po, itulah namaku."
"Bagus, dan sekarang bagaimana keputusanmu, mau mati atau ingin hidup?"
"Jika benar Oh-tok-hong ber empat sudah memberi pengakuan duduknya perkara, untuk apa pula aku banyak omong. Cuma, cara bagaimana supaya aku percaya pada apa yang kau katakan?"
"Kamu tidak perlu sangsi, cukup percaya sepenuhnya saja,"
Ujar Kiam-eng.
"Kan ke empat kawanku sudah memberi pengakuan yang sebenarnya, buat apa kau tanya lagi padaku?"
"Aku suka kepada orang yang jujur, jika apa yang kau katakan sama dengan pengakuan mereka itu menandakan kamu memang orang jujur dan segera akan aku bebaskan dirimu."
Meski Coh-Jian-po ini bukan tokoh persilatan kelas wahid, tapi ia pun cukup berpengalaman urusan dunia kang-ouw, ia tahu apa yang diuraikan Su-Kiam-eng itu pasti ada sebagian tidak benar, tapi demi mencari selamat, ia memutuskan akan memberi pengakuan yang sebenarnya, maka jawabnya.
"Baiklah, boleh kau tanya."
"Pertama, mengenai peta pusaka, peta yang ditemukan su-heng ku itu, cara bagaimana bisa jatuh di tangan Tok-pi-sin kun?"
Tanya Kiam-eng dengan tersenyum.
"Peta itu didapatkan Ji-Liang di hutan dekat Thian-ti."
Tutur Coh-Jian-po.
"Secara kebetulan ia lihat seekor burung merpati hinggap di atas pohon pada kaki burung terikat sebuah bumbung bambu mini, ia tahu itulah merpati pos, maka burung itu ditimpuknya dengan batu dan ditangkapnya."
Kiam-eng mengangguk dan bertanya pula.
"Dan sekarang peta itu berada di mana?"
"Kalau tidak selalu dibawa oleh Sin-kun kami tentu tersimpan di kamar tidurnya,"
Tutur Coh-Jian-po.
"Jawabanmu semuanya cocok,"
Ujar Kiam-eng dengan tertawa sambil melolos belati.
"Sekarang bolehlah aku beri jalan hidup bagimu."
Coh-Jian-po mengira orang hendak membunuhnya, ia ketakutan hingga muka pucat, teriaknya "Tapi semua ...
semua itu memang betul, aku tidak dusta.
Apabila pengakuan mereka tidak sama dengan keteranganku, itu menandakan mereka lah yang bohong dan bukan ...
diriku!"
Kiam-eng tertawa.
"Jangan cemas, aku cuma memusnahkan saja kung-fu mu dan tidak bermaksud membunuhmu."
Habis berkata, langsung goloknya memotong urat kaki orang.
Maka Coh-Jian-po pun menjadi orang cacat selamanya, dengan pincang ia pun pergi menerima nasib.
Yang tersisa sekarang adalah Jing-liong-ong si kakek she Cah.
Tanpa memeriksa mereka lagi segera Kiam-eng memusnahkan juga ilmu silat mereka dan melemparkan mereka di bawah pohon, lalu mendekati si kusir tua yang berjongkok di sana dengan gemetar itu, tanyanya.
"Kalian sudah menerima ongkos sewa kereta belum?"
Ke dua kusir kereta itu menyembah berulang-ulang dan menjawab dengan suara gemetar.
"Ti ... tidak, belum ... cuma kami ini tidak berani minta lagi, kami hanya mohon ... mohon jiwa kami diampuni saja!"
Kiam-eng mengeluarkan belasan tahil perak dan dilemparkan kepada mereka, ucapnya dengan tertawa.
"Ambil dan bagilah uang perak ini, sekarang kalian boleh pergi atau mau bermalam dulu di sini boleh terserah kalian, kami sendiri segera akan pergi."
Kedua kusir itu terkejut girang dan bingung, tanya mereka.
"Jadi ... jadi benar Tuan sudi mengampuni jiwa kami?"
"Aneh, kalian sudah sebegini tua, masakah masih tidak tahu urusan,"
Kata Kiam-eng dengan kurang senang.
Cepat kedua kusir tua itu menyembah lagi, lalu memungut belasan tahil perak pemberian Kiam-eng itu dan cepat berlari pergi untuk membenahi keretanya, kemudian menyelamatkan diri dengan girang.
Kiam-eng lantas mengeluarkan alat rias dan diserahkan kepada Sai-hoa-to, katanya dengan tertawa.
"Silakan Lo-cian-pwe menyaru sekadarnya, kalau tidak bilamana dalam perjalanan nanti kepergok orang-orang yang ingin rebut peta itu, bisa jadi mereka akan mengincar dirimu lagi."
Sai-hoa-to sendiri juga menyadari dirinya sangat bernilai bagi orang persilatan sekarang, maka ia terima tawaran Kiam-eng itu dan mulai menyamar.
Setiap tokoh dunia persilatan umumnya tidak asing terhadap ilmu rias, maka tidak seberapa lama selesailah Sai-hoa-to menyaru sebagai seorang kakek yang tidak menarik.
Lalu ia membuat kotor bajunya, kedua lengan baju digulung pula, katanya dengan tertawa.
"Coba lihat macam orang apa sekarang diriku ini?"
Kiam-eng merasa tabib sakti sekarang lebih mirip seorang jongos, cuma dia tidak enak untuk bicara terus terang. Sebaliknya Keh-ki yang ceplas-ceplos itu lantas menanggapi dengan tergelak.
"Haha, engkau mirip seorang jongos!"
"Betul,"
Kata Sai-hoa-to dengan tertawa.
"Maka mulai malam ini jadilah diriku budak pribadi nona."
Keh-ki jadi melengak malah, ucapnya dengan rikuh.
"Ah, mana ... mana boleh jadi?"
"Tidak apa,"
Ujar Sai-hoa-to.
"Kalau bicara tentang kung-fu, mungkin aku pun belum memenuhi syarat untuk menjadi jongosmu."
"Begini saja,"
Tukas Kiam-eng dengan tertawa.
Di depan umum, bolehlah Lo-cian-pwe mengaku sebagai budaknya, tapi dalam hubungan pribadi Lo-cian-pwe adalah kakek angkatnya, dengan demikian kedua pihak sama-sama tidak dirugikan."
"Boleh juga,"
Kata Keh-ki dengan tertawa. Tapi sekarang masih kekurangan seekor kuda, lalu bagaimana baiknya?"
"Biarlah besok jika kita melewati sesuatu kota bolehlah kita membeli kuda untuk Sim-lo-cian-pwe,"
Ucap Kiam-eng. Lalu ia berpaling dan berkata kepada Sai-hoa-to.
"Dari sini menuju ke Thian-ti kira-kira memerlukan berapa hari perjalanan?"
"Kuda tunggangan kalian adalah kuda pilihan apabila perjalanan dilakukan secara biasa saja mungkin setengah bulan akan tiba di sana,"
Jawab Sai-hoa-to.
"Dan bagaimana bila menggunakan kuda biasa?"
Tanya Kiam-eng pula.
"Untuk itu diperlukan beberapa hari lebih lama,"
Sahut si tabib sakti.
"Jika demikian, biarlah aku berangkat lebih dulu, nanti setelah Lo-cian-pwe sudah membeli kuda bolehlah berangkat bersama nona Ih. dengan begitu, tiga-empat hari setelah aku tiba di Thian-ti tentu Lo-cianpwe berdua juga akan menyusul tiba."
Diam-diam Keh-ki merasa gugup karena Kiam-eng menyatakan hendak berangkat lebih dulu, cepat ia berkata "Buat apa begitu? Apa salahnya kita bertiga berangkat bersama saja?"
"Kalau berangkat bersama, bilamana Oh-tok-hong menyewa kereta dan pulang ke Thian-ti, tentu kita akan ketinggalan mencapai tempat tujuan,"
Ujar Kiam-eng.
"Asalkan perjalanan kita dipercepat sedikit, masakah kita kuatir ketinggalan?"
Kata Keh-ki.
"Kudamu dapat diandalkan, tapi kuda yang akan dibeli untuk Sim-lo-cian-pwe apakah dapat mengikuti lari kudamu?"
"Tapi bila perjalananmu terlampau cepat dan mendahului Ji-Liang dan Tong-hong-Bing, hal ini kan juga ganjil dan tidak masuk akal bukan?"
Ujar Keh-ki.
Kiam-eng melengak dan membenarkan alasan si nona, pikir pada waktu Ji-Liang berdua kabur tadi sudah mengetahui Oh-tok-hong berempat tertawan olehku, apabila begitu saja aku dahului mereka sampai di Thian-ti dengan menyamar sebagai Oh-tok-hong, akibatnya tentu runyam ..."
Sai-hoa-to juga merasa ucapan Ih-Keh-ki itu cukup beralasan, katanya dengan serba susah.
"Ai terlampau cepat perjalanan kita, dikuatirkan akan mendahului Ji-Liang berdua malah. Terlalu lambat kuatir lagi disusul oleh Oh-tok-hong, bicara kian kemari, soalnya terletak pada kesalahan kita kenapa tidak membunuh saja si kumbang hitam berbisa itu. Apabila tadi kita bereskan dia, tentu takkan timbul persoalan sulit begini."
Su-Kiam-eng tidak menyesal Oh-tok-hong tidak dibunuhnya tadi, baginya membunuh seorang yang tidak mampu melawan terasa bukan perbuatan seorang lelaki sejati.
Melihat pemuda itu mengalami kesulitan oleh soal itu, padahal Keh-ki sangat ingin perjalanan bersama Su-Kiam-eng, maka dalam hati ia merasa senang, namun ia berlagak berkata dengan serius.
"Sudahlah, biarlah kita bertiga tetap menempuh perjalanan bersama saja. Setiba di Thian-ti, apabila jelas Oh-tok-hong belum lagi tiba di sana barulah engkau menyaru sebagai dia."
Tiba-tiba Sai-hoa-to tertawa, katanya.
"Begini, ada akalku yang lebih bagus."
"Akal bagus apa?"
Tanya Kiam-eng cepat.
"Kau pernah berkunjung ke Thian-ti tidak?"
Tanya si tabib sakti.
"Belum pernah,"
Kiam-eng menggeleng kepala.
"Tapi aku tahu jalan menuju ke sana."
"Baiklah jika begitu,"
Ujar Sai-hoa-to.
"Di dekat Thian-ti ada sebuah kota besar, namanya Kun-ming. Di tengah kota ada sebuah hotel besar bernama Kun-ming-lau-can, dahulu pernah aku tinggal di hotel itu, sekali ini aku pikir juga mondok saja di hotel itu ..."
Kiam-eng merasa ucapan si tabib sakti ada sedikit aneh, ia melengong dan bergumam.
"Wah, lantas bagaimana selanjutnya."
"Maksudku, rasanya tidak mungkin dapat aku beli kuda sebagus kuda kalian itu,"
Ujar Sai-hoa-to dengan tersenyum.
"Sebaliknya jika membeli seekor kuda biasa, sukar pula untuk menempuh perjalanan bersama kalian. Sebab itulah aku putuskan takkan menjadi pengikut nona Ih, biarlah kalian berdua meneruskan perjalanan lebih dulu setelah aku dapatkan kuda baru menyusul ke sana. Setiba di sekitar Thian-ti nanti boleh kalian bersembunyi dulu, apabila melihat Ji-Liang berdua sudah pulang barulah kau temui Tok-pi-sin-kun dalam penyamaran sebagai Oh-tok-hong, sedangkan nona Ih tetap sembunyi di sekitar Thian-ti, kalau melihat Oh-tok-hong juga pulang ke sana, boleh langsung kau bekuk dia habis itu nona boleh menungguku di hotel Kun-ming-lo-can."
Keh-ki berseru girang.
"Aha, bagus! Cara ini paling baik, syukur Sim-lo-cian-pwe dapat memikirkannya."
Diam-diam Sat-hoa-to merasa geli ucapnya penuh arti.
"Aku kan orang tua yang sudah berpengalaman, masakah tidak dapat memikirkannya?"
Muka Keh-ki menjadi merah, dengan malu-malu ia melirik sekejap si tabib sakti, lalu menunduk tanpa bicara lagi.
Sai-hoa-to tergelak, mendadak ia menjauh ke sana dan berlari pergi secepat terbang.
Melihat kelakuan si tabib sakti betapapun Kiam-eng paham juga arti ucapannya tadi tanpa terasa mukanya pun merah, katanya kemudian terhadap Ih-Keh-ki.
"Marilah kita pun berangkat!"
Segera mereka mencemplak ke atas kuda masing-masing dan dilarikan ke selatan di bawah sinar bulan purnama.
Sepanjang jalan mereka tidak menemukan jejak Ji-Liang dan lain-lain, juga tidak timbul perkara lagi.
Setengah bulan kemudian sampailah mereka di kota Kun-ming, dari kota ini ke Thian-ti sudah sangat dekat jaraknya.
Sampai di tengah kota, dengan mudah mereka mendapatkan Kun-ming-lo-can yang disebut Sai-hoa-to itu.
"Sekarang lebih dulu kita masuk hotel atau pergi ke Thian-ti?"
Tanya Keh-ki.
"Masuk hotel saja lebih dulu,"
Ujar Kiam-eng.
"Aku pikir Ji-Liang berdua tentu sudah jauh kita tinggalkan di belakang, paling cepat dua hari lagi baru mereka dapat tiba di sini."
Begitulah mereka hendak berhenti di depan hotel dan menyerahkan kuda kepada pelayan, lalu masuk ke hotel.
Waktu itu sudah malam hari, setelah pesan dua kamar dan cuci badan serta makan, Kiam-eng melihat dandanan penduduk setempat agak berbeda dengan orang Tiong-goan, segera ia panggil pelayan agar membelikan dua perangkat pakaian.
Setelah pelayan pergi, dengan tertawa Keh-ki berkata.
"Aku lihat kota ini cukup ramai, kenapa kita tidak beli baju sendiri, sekaligus dapat melancong dan menikmati keramaian kota."
"Tidak,"
Kata Kiam-eng.
"Kota ini terlalu dekat dengan Thian-ti, bisa jadi anak buah Tok-pi-sin-kun banyak berkeliaran di sini, nanti setelah kita ganti baju baru yang dibelikan si pelayan barulah kita ke luar melancong."
"Entah Ji-Liang berdua akan lalu di sini atau tidak kalau mereka pulang ke Thian-ti?"
Gumam Keh-ki.
"Besar kemungkinan akan lalu di sini,"
Ujar Kiam-eng.
"Cuma mulai besok pagi, lebih baik kita menunggu mereka saja di dekat Thian-ti sana."
"Bila mana melihat mereka sudah pulang, segera engkau akan mulai operasi?"
Tanya si nona.
"Tidak, harus aku tunggu lagi satu-dua hari baru akan pergi ke sana dengan menyamar sebagai Oh-tok-hong."
"Aku dapatkan suatu akal baik, entah kau setuju atau tidak?"
"Apabila kau minta ikut masuk ke istana putar musuh, maka lebih baik jangan kau katakan saja,",ujar Kiam-eng dengan tertawa.
"Huh, sok pintar,"
Keh-ki mencibir.
"Mau tidak mendengarkan?"
"Baiklah coba katakan,"
Kata Kiam-eng. Dengan suara tertahan Keh-ki bertutur.
"Kita tunggu dulu bilamana sudah jelas Oh-tok-hong takkan pulang ke Thian-ti barulah engkau menyamar sebagai Oh-tok-hong dan aku menyaru sebagai anak gadis yang kau culik ..."
Cepat Kiam-eng menggeleng kepala dan memotong.
"Tidak, tidak mungkin, nonaku yang baik!"
Keh-ki memohon dengan sangat.
"Memangnya kenapa? Masakah kurang baik cara begitu? Apabila aku ikut masuk istana putar itu bersama-mu, jika ada bahaya kan dapat aku bantu?"
"Tidak mana boleh jadi,"
Kiam-eng tetap menggeleng.
"Ini tidak, itu pun tidak lalu apa alasanmu?"
Omel Keh-ki.
"Alasanku cuma satu, yaitu kamu tidak boleh ikut menyerempet bahaya."
"Engkau pergi sendirian, bukankah itu pun menyerempet bahaya?"
"Ada kepentinganku untuk menyerempet bahaya kamu tidak,"
Ujar Kiam-eng.
"Mengapa tidak,"
Jawab Keh-ki.
"Aku kuatirkan bahaya yang akan menimpa dirimu, maka ingin aku bantu."
Mendadak Kiam-eng merangkul si nona dan berbisik di tepi telinganya.
"Keh-ki, aku paham maksudmu, namun perlu kau pikirkan, apabila penyamaranku ketahuan, sekalipun kamu berada di sampingku, apakah dapat kau tolong diriku?"
Walaupun sejauh ini Keh-ki sangat mengharapkan "pernyataan perasaan"
Su-Kiam-eng terhadap dirinya, sekarang mendadak anak muda itu merangkulnya, betapapun ia merasa malu juga cepat ia berseru.
"He, apa-apaan ini, lekas lepaskan."
Namun Kiam-eng merangkulnya semakin erat ucapnya dengan tertawa.
"Tidak, harus menyatakan takkan ribut lagi baru aku lepaskan kamu."
Meski ingin melepaskan diri, namun tenaga merasa sukar dikerahkan, Keh-ki menjadi gugup, serunya dengan muka merah.
"Ayolah lepaskan kalau tidak segera aku berteriak."
"Silakan berteriak, aku tidak takut,"
Kata Kiam-eng dengan tertawa.
"Berani kau ganggu diriku, akan aku minta ayah menghajarmu,"
Ancam si nona. Kiam-eng dapat melihat si nona cuma main manja saja, maka rangkulannya bertambah kencang katanya.
"Kau lapor kepada kakek gurumu pun aku tidak takut. Yang penting, kamu harus berjanji lebih dulu."
"Berjanji apa?"
Keh-ki berlagak pilon.
"Kamu harus berjanji takkan ribut dan ingin ikut ke istana putar musuh."
"Tidak!"
Jawab si nona.
"Kalau begitu, terserah. Aku kira si pelayan sudah hampir pulang."
Baru selesai ucapan Kiam-eng, benar juga di luar kamar terdengar suara langkah orang. Keh-ki menjadi gugup, ia meronta-ronta dan berteriak tertahan.
"Lekas lepaskan! Kalau dilihat si pelayan kan malu!"
"Kamu berjanji dulu."
Kata Kiam-eng tertawa.
"Tek-tek-tek", terdengar pintu kamar diketuk orang. Muka Keh-ki menjadi pucat, cepat ia berkata.
"Baik, aku berjanji takkan ribut lagi."
Barulah Kiam-eng melepaskan si nona, lalu berseru.
"Siapa itu?"
Terdengar pelayan menjawab di luar kamar.
"Hamba sudah pulang membeli pakaian!"
"Masuk!"
Sahut Kiam-eng.
Pintu terdorong dan si pelayan melangkah masuk serta menyerahkan sebungkus pakaian kepada Su-Kiam-eng, sisa uang perak pun akan dikembalikan, namun Kiam-eng memberi tanda agar ambil saja sisa uang itu.
Dengan tertawa gembira si pelayan mengucapkan terima kasih dan mohon diri.
Kiam-eng membuka bungkusan pakaian dan memberikan baju orang perempuan kepada Keh-ki, katanya.
"Nah, boleh coba kau pakai, apakah cocok atau tidak."
"Aku tidak mau."
Omel Keh-ki dengan lagak marah.
"Hee ada apa?"
Kiam-eng melengak.
"Kau ganggu aku,"
Ucap si nona dengan menggigit bibir. Kiam-eng tertawa, ia menggeser ke belakang orang dan memegang pundaknya perlahan, ucapnya.
"Mengapa kau bilang aku ganggu dirimu."
"Habis kau ... kau rangkul sebegitu erat, apa namanya kalau bukan mengganggu?"
Kata Keh-ki.
"Jika hal itu kau anggap sebagai mengganggu, baiklah selanjutnya aku takkan mengganggumu cara begitu, sekarang silakan kau coba memakai baju ini."
"Tidak aku tidak mau."
Jawab Keh-ki dengan lagak manja.
"Lantas, kamu tidak ingin melancong dan melihat keramaian kota?"
"Mengapa tidak, tentu saja aku mau!"
"Jika mau ikut, lekaslah ganti baju ini,"
Ujar Kiam-eng.
"Coba katakan dulu, mengapa kau rangkul diriku,"
Pinta Keh-ki. Terpaksa Kiam-eng berbisik pula di tepi telinga si nona.
"Soalnya aku ... aku suka padamu."
Keh-ki sangat girang, cepat ia berpaling menghadapi anak muda itu dan menegas dengan tertawa.
"Apa betul ucapanmu ini?"
"Tentu saja betul,"
Jawab Kiam-eng. Keh-ki sangat gembira, langsung ia memeluk Kiam-eng dan membenamkan kepala di depan dadanya dan berkata.
"Aku juga, ketika untuk pertama kali aku lihat dirimu lantas suka padamu."
Kiam-eng juga tergiur, tanpa tertahan ia menunduk dan mengecup perlahan pada leher si nona yang lembut itu, ke dua nya saling peluk dengan mesra dibuai asmara.
Selang agak lama, perlahan Keh-ki mengangkat wajahnya yang agak malu-malu, ucapnya dengan tatap mesra.
"Engkau sudi ... sudi berdampingan selamanya denganku?"
"Mengapa tidak?"
Jawab Kiam-eng dengan tertawa riang.
"Aku kuatir ayahmu yang keberatan dan bisa jadi akan menghajarku ..."
"Mana bisa ayah menghajarmu?"
Kata Keh-ki dengan melengak.
"Kalau ayahmu tidak suka padaku, bukankah aku bisa dihajarnya?"
"Tidak, tidak, ayah pasti sangat suka padamu dan takkan menghajarmu!"
Kiam-eng menyodorkan lagi pakaian tadi katanya.
"Nah lekas ganti dan segera kita pesiar ke luar."
Keh-ki tidak segera menerima baju itu, katanya dengan tertawa manis.
"Nanti dulu, aku bicara lagi."
"Ai, apa yang hendak kau katakan lagi?"
Omel Kiam-eng.
"Bagaimana kalau kita saling tukar tanda mata lebih dulu?"
Ucap si nona dengan bergairah. Kiam-eng melengong, jawabnya kemudian dengan tertawa.
"Ai, mengapa perlu berbuat demikian."
"Aku merasa perlu,"
Kata si nona dengan serius.
"Dengan saling tukar tanda mata untuk menandakan kesungguhan hati kita."
"Akan tetapi padaku sekarang tidak terbawa sesuatu benda tanda mata apa pun yang berharga."
Ujar Kiam-eng.
"Ada, boleh gunakan pedangmu sebagai tanda mata. Kau beri pedangmu dan aku beri pedangku."
"Baiklah, boleh begitu,"
Ujar Kiam-eng dengan suka ria. Maka kedua orang lantas saling tukar pedang dengan begitu barulah Keh-ki mendorong Kiam-eng keluar kamar, katanya dengan tertawa.
"Ayo keluar, kau pun kembali ke kamarmu untuk ganti pakaian."
Setelah keduanya ganti baju, lalu mereka meninggalkan hotel dan pesiar menyusuri kota, kemudian keluar kota, menuju ke Se-san atau bukit barat, Se-san terletak di tepi danau Thian-ti, pepohonan purba menjulang tinggi dengan lebatnya, di atas bukit ada bangunan kelenteng, pemandangan indah permai, merupakan salah satu tempat tamasya terkenal di kota Kun-ming.
Malam belum larut, angin meniup semilir, ke dua orang melangkah ke atas bukit.
Sebelum meninggalkan hotel Kiam-eng sudah mencari keterangan kepada pelayan hotel tentang berbagai tempat tamasya termashur di sekitar kota, maka ia tahu di Se-san ada biara terkenal bernama Hoa-ting-si yang indah, langsung ia lantas menuju ke biara tersebut.
Setiba di depan biara itu, ternyata bangunan memang sangat megah dengan cat warna emas yang cemerlang dan tidak kalah dibandingkan biara besar di daerah Tiong-goan.
Di depan pintu gerbang biara itu ada dua patung penjaga pintu, di dalam pintu terdapat Su-tai-thian-ong, empat malaikat raksasa, di ruang tengah ada patung Budha gemuk dan Wi-to si pengawal.
Pada ruang pendopo terpuja 500 patung Lo-han yang mengelilingi patung Budha bercat emas setinggi belasan meter, tinggi patung lain rata-rata juga beberapa meter semua tiang dan bendera biara terukir gambar kisah sejarah yang menarik, sungguh bangunan dengan arsitektur yang mengagumkan.
Para hwesio penghuni biara tidak ambil pusing terhadap tetamu pelancong, suasana terasa khidmat sehingga kawanan hwesio itu pun serupa Budha hidup yang agung.
"Sekitar Thian-ti ini adalah wilayah kekuasaan Tok-pi-sin-kun, mengapa di atas gunung ini terdapat sebuah biara semegah ini dengan penghuni para hwesio sebanyak ini?"
Kata Keh-ki dengan tidak mengerti.
"Istana putar Tok-pi-sin-kun terletak di selatan Thian-ti, dari sini masih berjarak lebih seratus li jauhnya,"
Tutur Kiam-eng.
"Oo, marilah kita coba pesiar ke Thian-ti,"
Ajak Keh-ki.
Sekeluarnya dari biara megah itu dan turun ke bawah bukit melalui sebuah jalan setapak, di kaki gunung itulah terletak danau Thian-ti yang teramat luas.
Thian-ti adalah sebuah danau alam luas sekelilingnya lebih dari 500 li, pemandangan di sekitar danau teramat indahnya, di permukaan danau yang dekat banyak perahu kecil meluncur kian kemari didayung oleh tukang perahu yang terdiri dari nona cantik.
Penumpang perahu kebanyakan adalah tetamu yang sengaja ke luar pesiar di malam hari.
Keh-ki sangat tertarik, serunya.
"Kakak Eng, marilah kita pun menyewa sebuah perahu pesiar, mau?"
Dengan sendirinya Su-Kiam-eng tidak membantah, segera ke dua orang menaiki sebuah perahu kecil yang berlabuh di tepi danau dan minta di dayung ke tengah danau.
Semalaman mereka pesiar dengan puas, sampai jauh malam barulah mereka pulang ke hotel.
Esok paginya, mereka tetap memakai baju penduduk setempat, muka agak dirias lain, lalu berangkat keluar kota, ke dua nya mengawasi dua tempat penting yang ramai dilalui orang.
Lewat lohor hari ke dua, selagi Kiam-eng berjongkok dan mengawasi orang lalu lalang di suatu tempat, tiba-tiba Ih-Keh-ki yang mengawasi di tempat lain berlari mendekati Kiam-eng dan memberi laporan.
"Kakak Eng, sudah aku lihat mereka!"
Semangat Kiam-eng terbangkit, tanyanya sambil berdiri.
"Kau maksudkan Ji-Liang dan Tong-hong-Bing?"
"Betul,"
Jawab Keh-ki.
"Mereka baru saja lewat dengan memegang kuda, tampaknya langsung menuju ke Thian-ti."
"Mereka tidak melihat dirimu?"
Tanya Kiam-eng.
"Tidak, aku sembunyi di atas pohon besar di tepi jalan, siapa pun tidak dapat melihatku,"
Tutur si nona.
"Bagus, sekarang marilah kita pulang ke hotel,"
Ajak Kiam-eng. Setiba di hotel, baru saja mereka duduk di dalam kamar, segera terdengar pintu diketuk orang. Kiam-eng menyangka pelayan membawakan teh, segera ia berseru.
"Masuk!"
Begitu pintu terbuka, yang melangkah masuk ternyata seorang kakek berambut putih, bermata besar dan berdahi lebar. Keruan Kiam-eng terkejut, serentak ia berdiri dan menegur.
"Hei, siapa engkau ini?"
Si kakek merapatkan pintu kamar, lalu menjawab dengan tertawa.
"Jangan tegang, aku bukan musuh!"
Dari suaranya Kiam-eng dapat menduga si kakek pasti seorang tokoh persilatan kelas tinggi diam-diam ia terkejut dan siap siaga, katanya pula.
"Maaf, selama ini rasanya belum pernah aku kenal kamu."
"Tapi aku justru kenal kalian berdua,"
Ujar kakek dengan tersenyum.
"Juga aku tahu maksud kedatangan kalian ke Thian-ti sini."
Keh-ki meraih pedang yang tertaruh di atas meja dan siap melolos senjata, katanya dengan melotot.
"Sesungguhnya kamu ini siapa?"
Dengan tertawa si kakek menjawab.
"Aku Sam-bi-sin-ong Pak-li-Pin!"
Tergetar hati Kiam-eng, serunya.
"Oo, engkau inilah Sam-bi-sin-ong Pak-li-Pin?"
Sejak terbukti Li-hun-nio-nio bukan penculik su-heng nya sebagaimana pernah diduganya semula, rasa curiga Kiam-eng lantas berpindah terhadap Sam-bi-sin-ong si kakek trisakti.
Sebab di dunia persilatan hanya Li-hun-nio-nio dan Sam-bi-sin-ong saja yang mahir membuat granat tabir asap maka kemunculan Sam-bi-sin-ong secara mendadak sekarang dengan sendirinya membuat Kiam-eng terkejut dan juga senang.
Sam-bi-sin-ong Pak-li-Pin mengangguk atas pertanyaan Ih-Keh-ki, ia tunjuk bangku batu di dalam kamar dan berkata.
"Bolehkah aku duduk di situ?"
"Ya, silakan duduk!"
Ucap Kiam-eng. ia memang ingin mencari keterangan apakah si kakek ini penculik su-heng nya atau bukan? "Kedatanganku tanpa diundang ini tentu sangat di luar dugaan kalian bukan?"
Ucap si kakek setengah duduk.
"Tidak, sedikit pun tidak di luar dugaan."
Jawab Kiam-eng.
"Oo, apa betul?"
Si kakek tertawa.
"Betul,"
Jawab Kiam-eng ketus.
"Sebab selama ini memang sudah aku pikirkan dirimu."
Si kakek tampak merasa tidak mengerti "Masa aku ini orang yang selalu kau pikirkan?"
"Sudahlah, Jangan berlagak pilon lagi sesungguhnya su-heng dan su-so ku telah diapakan olehmu?"
Tanya Kiam-eng langsung.
"Apa katamu? Jadi aku kau curigai sebagai orang yang menculik su-heng mu?"
Si kakek menegas dengan mata terbelalak.
"Memangnya bukan?"
Jengek Kiam-eng. Si kakek menarik muka jawabnya.
"Berdasarkan apa kau tuduh diriku sebagai penculik su-heng mu?"
"Berdasarkan granat tabir asap itu."
Jawab Kiam-eng.
"Di dunia persilatan jaman ini, orang yang mahir membuat Yan-mo-tan (granat tabir asap) hanya Li-hun-nio-nio dan dirimu. Sedangkan Li-hun-nio-nio sudah aku selidiki dengan jelas bukanlah orang yang menculik su-heng ku."
Sam-bi-sin-ong tampak melengak demi mendengar istilah Yan-mo-tan atau granat tabir asap ucapnya.
"Hah, jadi su-heng mu diculik orang di bawah ledakan granat bertabir asap tebal itu?"
Tujuan Kiam-eng menuduh si kakek sebagai penculik su-heng nya sebenarnya cuma suatu cara untuk memancing pengakuan orang saja, kini melihat air muka orang menampilkan rasa kejut dan penasaran secara wajar diam-diam ia merasa kecurigaan sendiri kembali salah sasaran lagi.
Walaupun anak kecewa, namun ia tetap tanya dengan ketus.
"Betul. Jenis Yan-mo-tan itu dapat membuat orang pingsan, kalau tidak begitu masakah su-heng dan su-so ku dapat kau culik begitu saja."
Sam-bi-sin-ong berkerenyit kening, ucapnya.
"Seharusnya pernah kau dengar Yan-mo-tan buatanku itu hanya ada tiga jenis, yaitu yang menyiarkan bau harum, busuk dan pedas."
"Jika kamu dapat membuat ke tiga jenis granat itu, apa sulitnya bila membuat lagi sejenis granat tabir asap yang dapat membuat orang pingsan?"
Ujar Kiam-eng. Si kakek mengetuk tongkatnya dengan marah ucapnya.
"Omong kosong! Meski aku bukan manusia bersih dan lelaki sejati, sedikitnya tidak nanti melakukan hal-hal yang kotor dan rendah."
"Jika bukan dirimu, lantas siapa lagi di dunia persilatan ini yang mampu membuat Yan-mo-tan?"
Tanya Kiam-eng.
"Setahuku, masih ada lagi seorang yang mampu membuatnya,"
Tutur Sam-bi-sin-ong setelah termenung sejenak.
"Cuma, rasanya orang itu pun bukan sasaran yang pantas kau curigai."
"Oo, siapa dia?"
Tanya Kiam-eng dengan girang.
"Tidak dapat aku katakan,"
Jawab si kakek.
"Sebab, kalau aku kau curigai masih ada alasannya sedangkan orang itu sama sekali tidak pantas kau curigai."
"Jika begitu, apa halangannya kau sebutkan saja,"
Pinta Kiam-eng.
"Soalnya aku kuatir anak muda serupa dirimu ini akan sembarangan bicara dan bertindak,"
Ujar Sam-bi-sin-ong. Kiam-eng tertawa geli, katanya.
"Hihi, jangan kau kira aku ini anak muda yang tidak dapat membedakan baik dan busuk. Jika Sam-bi-sin-ong sama bersihnya serupa Kiam-ong Ciong-Li-cin, tentunya aku pun takkan mencurigai dirimu."
Tiba-tiba si kakek juga tersenyum dan berucap.
"Perkataanmu tidak salah, orang yang aku maksudkan justru adalah Kiam-ong Ciong-Li-cin."
Kiam-eng terkejut, ia berpaling dan tanya Keh-ki.
"Hah, apa betul? Masa kakek guru kamu juga mahir membuat Yan-mo-tan?"
Ia merasa granat tabir asap itu biarpun bukan benda kotor, tapi juga tidak dapat dikatakan sebagai barang yang bermanfaat bagi umum.
Sebab itulah ia kaget dan heran ketika mendengar Kiam-ong Ciong-Li-cin juga dapat membuat Yan-mo-tan.
Keh-ki tampak melengong, mendadak ia lolos pedang dan membentak sambil menuding Sam-bi-sin-ong.
"Tua bangka, kamu berani sembarangan mengoceh? Mana mungkin kakek guru membuat Yan-mo-tan segala? Apakah kamu ..."
Sampai di sini tampaknya segera ia hendak melabrak si kakek. Namun Sam-bi-sin-ong tetap duduk saja dengan tenang jawabnya kemudian dengan tersenyum "Sabar dulu, nona Ih, dengarkan lagi penjelasanku."
Kiam-eng merasa kalau urusan tidak benar betapapun Sam-bi-sin-ong tidak berani memfitnah Kiam-ong Ciong-Li-cin, maka cepat ia cegah Keh-ki dan berkata.
"Sabar sebentar nona Ih, dengarkan dulu penjelasannya."
"Baik, coba katakan, berdasarkan apa kau berani menuduh kakek guru juga mahir membuat Yan-mo-tan."
"Ini bukan tuduhan kosong melainkan kenyataannya memang begitu ..."
Sahut Sam-bi-sin-ong dengan tersenyum.
"Kentut! Apabila kakek guru mahir membuat Yan-mo-tan, mengapa selama ini aku tidak tahu?"
Omel Keh-ki.
"Juga bukan kentut, sebab kepandaian membuat Yan-mo-tan kakek gurumu itu justru adalah ajaranku,"
Tutur Sam-bi-sin-ong dengan tertawa.
"Hah, engkau yang mengajarnya?"
Keh-ki menegas dengan bingung.
"Betul,"
Kata si kakek.
"Itu kejadian 30 tahun yang lalu. Waktu itu kakek gurumu belum menjadi tokoh nomor satu di dunia, hubungannya denganku tidak terlampau jelek, pada suatu hari ia menyaksikan aku halau beberapa musuh dengan meledakkan Yan-mo-tan, ia merasa tertarik dan tanya padaku cara bagaimana membuat granat berasap itu. Karena bangga, tanpa pikir lantas aku beritahukan padanya resep membuat Yan-mo-tan ..."
Sampai di sini, ia merandek sejenak, lalu menyambung.
"Cuma, meski kakek gurumu dapat membuat Yan-mo-tan, namun belum pernah dia terdengar menggunakan ... Makanya aku berani bilang dia bukan sasaran yang pantas dicurigai."
"Sudah tentu, mana aku berani mencurigai beliau,"
Tukas Kiam-eng dengan mengangguk. Rasa marah Keh-ki seketika lenyap demi mendengar sang kekasih tidak menaruh curiga lagi, segera ia tanya pula.
"Kau bilang mempunyai hubungan tidak jelek dengan kakek guruku, mengapa selama ini tidak pernah aku dengar cerita beliau?"
Sam-bi-sin-ong tampak merasa terharu, tuturnya.
"Aku bilang hubungan kami tidak jelek, itu kan peristiwa 30 tahun yang lampau. Kemudian nama kakek gurumu tambah lama tambah cemerlang, pribadinya juga semakin jujur dan lurus, mau-tak-mau aku rasa diriku tidak sepadan dengan dia dan lambat-laun aku pun menjauhi dia. Sampai sekarang, sudah belasan tahun tidak pernah berjumpa dengan kakek gurumu."
"Benar juga, lantaran pribadi kurang lurus, dengan sendirinya kakek guru pun tidak mau bergaul lagi denganmu,"
Ujar Keh-ki dengan tertawa.
"Haha, memang begitulah, makanya selama ini pula tidak berani aku ceritakan pada siapa pun bahwa Kiam-eng Ciong-Li-cin pernah menjadi sahabatku,"
Kata si kakek dengan tergelak, lalu ia pandang Kiam-eng dan menyambung.
"Nah, bila aku tidak kau curigai lagi sebagai penculik su-heng mu, maka bolehlah kita mulai berunding suatu bisnis."
"Tapi tidak pernah aku nyatakan tidak curiga lagi,"
Jawab Kiam-eng dingin. Si kakek tampak kurang senang.
"Jika benar aku culik su-heng mu, untuk apa aku cari dirimu lagi?"
"Dengan sendirinya disebabkan su-heng ku tidak mau memberitahukan di mana letak kota emas yang misterius itu,"
Ucap Kiam-eng.
"Lantas cara bagaimana baru kau mau percaya aku ini bukan penculik su-heng mu?"
Tanya si kakek dengan aseran.
"Entah, sukar aku katakan, namun tidak mungkin aku tidak curiga,"
Kata Kiam-eng.
"Ya, masa bodohlah, kau mau curiga boleh terserah padamu, yang penting sekarang ingin aku rundingkan suatu bisnis denganmu."
"Apakah urusan Sai-hoa-to, karena dia telah jatuh ke dalam cengkeramanmu?"
Tanya Kiam-eng.
"Betul."
Sahut Sam-bi-sin-ong dengan tertawa "Sejak kamu menyamar sebagai Sai-hoa-to dan kemudian berada di bawah tawanan Hu-kui-ong hingga kalian dapat membekuk anak murid Tok-pi-sin-kun, semua itu dapat aku saksikan dengan baik karena sejauh itu diam-diam aku kuntit di sekitarmu.
Hari itu aku lihat Sai-hoa-to meninggalkan kalian dan hendak datang sendiri ke Thian-ti namun aku rasakan ketinggian kung-fu nya tidak cukup kuat untuk membantu usahamu, maka telah aku ajak dia istirahat ke suatu tempat, aku putuskan akan menggantikan dia untuk membantumu."
Dengan sendirinya Kiam-eng tahu apa yang telah terjadi atas diri Sai-hoa-to, jengeknya kemudian.
"Lantas cara bagaimana akan kau gantikan Sai-hoa-to?"
"Begini,"
Tutur Sam-bi-sin-ong.
"Boleh kau masuk ke istana putar musuh dengan menyamar sebagai Oh-tok-hong, sementara itu aku dan nona Ih berjaga di tempat yang penting untuk menghalangi kepulangan Oh-tok-hong ke tempat gurunya itu. Kemudian bila dengan lancar dapat kau curi peta pusaka, hasilnya aku cuma minta satu per tiga bagian saja, dan segera aku bebaskan Sai-hoa-to. Jika malang kamu tertawan musuh, maka menjadi kewajibanku untuk menyerbu ke istana putar musuh untuk menolongmu. Bilamana terjadi demikian maka bagianku untuk kota emas itu adalah separuhnya. Nah, bagaimana pendapatmu, setuju?"
"Hm, jika benar aku tertawan musuh, apakah kamu mampu menyerbu ke istana musuh untuk menolongku?"
Jengek Kiam-eng.
"Rasanya sanggup,"
Sahut Sam-bi-sin-ong dengan mengangguk.
"Sebab aku pun ada hubungan cukup baik dengan Tok-pi-sin-kun, dapat aku gunakan kesempatan masuk ke istananya dan berdaya menyelamatkan dirimu ke luar. Kiam-eng tahu sekali Sai-hoa-to sudah jatuh di tangan orang, kalau dirinya tidak menerima tawarannya tentu urusan bisa runyam, namun ia belum rela menerima begitu saja, katanya pula.
"Gagasanmu juga tidak jelek, cuma sayang aku sudah berjanji pada Li-hun-nio-nio bila aku temukan kota emas itu nanti, seluruh kekayaan kota emas itu akan aku dermakan kepadanya untuk biaya Li-hun-to."
Sam-bi-sin-ong tertawa, katanya.
"Sungguh aku sangat kagum terhadap keluhuran budimu, cuma aku kira, asalkan kau sumbangkan separuh hasil usahamu, ribuan perempuan cacat penghuni Li-hun-to itulah yang dapat merasakan hidup bahagia."
"Bagaimana kalau aku tolak tawaranmu?"
Tanya Kiam-eng.
"Jika begitu, terpaksa aku dekati Tok-pi-sin-kun untuk bekerja sama dengan dia,"
Kata Sam-bi-sin-ong.
"Kau pikir Tok-pi-sin-kun mau bekerja sama denganmu?"
Dengus Kiam-eng.
"Pasti mau, sebab padaku ada suatu kartu penentu, yaitu Sai-hoa-to,"
Kata si kakek.
"Jika begitu, mengapa kamu tidak langsung pergi mencari Tok-pi-sin-kun saja?"
"Itu adalah dua sebab,"
Jawab Sam-bi-sin-ong dengan tertawa.
"Pertama, biasanya aku sangat kagum terhadap pribadi gurumu, aku tidak ingin bermusuhan dengan kalian guru dan murid. Ke dua kendatipun aku bukan orang baik-baik, namun terkadang aku pun tidak suka bergaul dengan orang busuk. Akan tetapi bila kamu tidak suka menerima tawaranku, terpaksa aku pergi bergabung dengan Tok-pi-sin-kun."
Kiam-eng berlagak berpikir sejenak, lalu mengangguk dan berkata.
"Baiklah, aku terima ... Dan sekarang Sai-hoa-to berada di mana?"
"Nanti kalau peta sudah kau dapatkan, dengan sendirinya akan aku bawa dia ke sini,"
Kata si kakek. Sejenak kemudian ia sambung pula dengan tertawa.
"Sesudah peta kau dapatkan, hendaknya kau potong peta itu menjadi dua, sebagian diserahkan padaku, dengan begitu barulah aku bebaskan Sai-hoa-to."
"Hm, kau kira aku akan mungkir janji?"
Jengek Kiam-eng.
"Ini kan cuma suatu pertimbangan keamanan belaka. Tujuannya yang utama bila sebagian peta itu aku simpan, kalau ada orang hendak merebutnya kan tidak akan berguna baginya?"
Kiam-eng pikir bila benar peta itu sudah diperolehnya, tentu dapat dibacanya dulu hingga apal di luar kepala, habis itu baru dipotong sebagian untuk diserahkan kepada kakek sialan ini dengan demikian tentu pula takkan kuatir lagi si kakek akan main gila.
Maka ia pun mengangguk dan menjawab.
"Baiklah, aku terima semua permintaanmu."
"Lalu kapan kau mau masuk ke tempat Tok-pi-sin-kun?"
Tanya si kakek dengan tertawa senang.
"Lewat lohor esok segera aku berangkat,"
Jawab Kiam-eng.
"Baik, tiga hari kemudian, apabila kamu belum juga pulang, itu menandakan kamu tertangkap musuh, dan segera akan aku pergi ke sana untuk menolongmu,"
Habis berkata si kakek membuka pintu dan tinggal pergi. Keh-ki melongok ke luar, hanya sekejap saja bayangan kakek itu sudah menghilang, ucapnya dengan gemas.
"Hm, alangkah licinnya tua bangka ini!"
"Memangnya hendak kau buntuti dia untuk menolong Sai-hoa-to?"
Tanya Kiam-eng.
"Ya, masa tidak baik?"
Ujar Keh-ki.
"Kurang baik,"
Kata Kiam-eng.
"Sebab biarpun Sai-hoa-to dapat kita bebaskan dari tawanan Sam-bi-sin-ong, kan dia dapat segera memberitahukan kepada Tok-pi-sin-kun untuk menggagalkan operasi kita?"
"Ai, sungguh runyam, mengapa Sai-hoa-to bisa tertawan olehnya?"
Kata Keh-ki dengan gegetun.
"Ilmu pengobatan Sim-lo-cian-pwe maha sakti kalau bicara tentang kung-fu jelas dia bukan tandingan Sam-bi-sin-ong,"
Tutur Kiam-eng.
"Ya, aku rasakan juga tua bangka ini tidak boleh diremehkan,"
Ujar Keh-ki.
"Lahirnya kelihatan ramah tamah. namun sesungguhnya dia lebih sukar dilayani daripada Bu-lim-sam-koai dan Kui-kok-ji-bu-siang. Ia bilang pada waktu Hu-kui-ong menculikmu diam-diam ia sudah mulai mengikuti setiap kejadian, akan tetapi baru sekarang dia muncul, dari sini sudah dapat diketahui betapa licik dan licinnya rase tua ini."
"Kendati begitu, namun tindak kejahatannya tidak sebanyak Bu-lim-sam-koai dan Kui-kok-ji-bu-siang,"
Kata Kiam-eng.
"Malahan pernah aku dengar terkadang ia pun suka berbuat kebaikan."
"Dan bagaimana dengan kung-fu nya?"
Tanya Keh-ki pula.
"Konon sangat tinggi, terkenal sebagai tokoh ke lima di dunia persilatan jaman ini."
"Hah, jika begitu, gabungan tenaga kita berdua juga bukan tandingannya? Keh-ki menegas dengan terkesiap.
"Betul, malahan dia juga mempunyai senjata rahasia tiga macam Yan-mo-tan yang berbau harum, busuk dan pedas. Kalau kita bergebrak dengan dia, yang kecundang pasti kita."
"Su-kong (kakek guru) diakui sebagai tokoh nomor satu jaman ini, gurumu adalah tokoh nomor dua dan Tok-pi-sin-kun nomor tiga, tadi kau bilang Sam-bi-sin-ong adalah tokoh ke lima, lantas siapakah tokoh nomor empat itu?"
"Yaitu Kai-pang Pang-cu It-sik-sin-kai Ang-Pek-ko,"
Tutur Kiam-eng.
"Seorang kepala pengemis saja masa begitu lihai?"
Ujar Keh-ki.
"Jangan kau pandang rendah Kai-pang,"
Kata Kiam-eng.
"Di antara berbagai aliran dan golongan di dunia persilatan jaman ini yang paling berpengaruh justru adalah Kai-pang."
"Bagamana pula kung-fu ke-18 tokoh yang dahulu terbunuh di Hwe-liong-kok itu?"
"Di antara ke-18 tokoh itu, 12 orang di antaranya adalah penjabat ketua berbagai aliran dunia persilatan jaman ini dengan sendirinya kung-fu mereka pun terhitung kelas satu. Cuma kalau dibandingkan Sam-bisin-ong, mungkin mereka masih selisih sedikit di bawahnya."
"Jika kung-fu mereka tidak begitu tinggi mengapa mereka disebut sebagai ke-18 tokoh terkemuka dunia persilatan?"
Tanya Keh-ki.
"Sebabnya mereka disebut tokoh terkemuka konon berawal setelah pertemuan besar dunia persilatan belasan tahun yang lalu itu, ke-18 tokoh itu berturut-turut dikalahkan oleh kakek gurumu dan guruku, tapi lantaran mereka adalah ketua atau pemimpin sesuatu aliran atau golongan tersendiri, dengan sendirinya mereka kehilangan muka oleh kekalahan tersebut, maka ada orang mengusulkan agar mereka bersama-sama mempelajari sejurus ilmu pedang untuk menghadapi ilmu pedang kakek gurumu dan guruku yang sukar ditandingi itu."
Chapter 8.
Rahasia 180 Patung Mas "Gagasan itu ternyata mendapatkan kata sepakat di antara mereka, maka sejak tahun itu ke-18 tokoh itu lantas sering berkumpul, biasanya setiap bulan bertemu satu kali untuk mendiskusikan hasil pemikiran masing-masing atas ilmu pedang gabungan itu.
Siapa tahu baru sempat berkumpul dua kali saja, entah sebab apa, pertemuan serupa lantas bubar begitu saja."
"Untung juga mereka bubarkan pertemuan begitu, kalau tidak, bukankah kakek guru dan gurumu akan dikalahkan oleh mereka?"
Ujar Keh-ki.
"Bisa jadi,"
Sahut Kiam-eng dengan tertawa.
"Cuma terhadap pertemuan mereka yang sengaja mendiskusikan ilmu pedang sakti itu tidak menimbulkan permusuhan guruku, sebaliknya beliau sangat senang, sebab di pandang dari sudut mengembangkan ilmu silat secara murni, diskusi begitu memang sangat bermanfaat."
Ia merandek sejenak, lain menyambung.
"Sebaliknya, biarpun titik sasaran diskusi mereka itu adalah ingin mengalahkan kakek gurumu dan guruku, namun mereka pun tetap sangat menghormati ke dua beliau, sedikitnya tidak ada rasa permusuhan dan dendam. Bahkan Bu-tek-sin-pian In-Giok-san, satu di antara ke-18 tokoh terkemuka itu, tetap menjadi sahabat karib guruku."
"Kemudian mereka sekaligus diracun dan gugur seluruhnya di Hwe-liong-kok, aku pikir pengganas yang membunuh mereka itu sangat mungkin ialah Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun!"
Kata Keh-ki.
"Guruku juga menyaksikan hal ini, cuma sebelum diperoleh bukti nyata, betapapun tidak boleh sembarangan menuduh orang."
"Besok pada kesempatan kau masuk ke istana putar, kan sekaligus dapat kau selidiki hal tersebut. Bila berhasil menemukan bukti bahwa Tok-pi-sin-kun benar adalah pengganas yang membunuh ke-118 tokoh itu, hendaknya segera kita beritahukan kepada kakek guru dan gurumu untuk bersama-sama menumpasnya. Dengan begitu untuk mendapatkan Jian-lian-hok-leng itu tentu bukan soal dan tidak penting lagi."
"Tidak, biarpun sebelum penyakit ling-lung In-Ang-bi disembuhkan sudah diketahui siapa pengganas di Hwe-liong-kok itu, tetap juga akan aku dapatkan Jian-lian-hok-leng untuk mengobati penyakit In-Ang-bi,"
Ucap Kiam-eng tegas.
"Su-heng mu juga berusaha hendak menyembuhkan penyakitnya, akibatnya dia sendiri menjadi cacat total, memangnya kamu tidak takut mengalami nasib serupa su-heng mu?"
Kata Keh-ki.
"Dalam kehidupan perguruan kami selalu tidak kenal apa artinya takut, asalkan urusan yang kami pandang pantas dilakukan, tentu kami laksanakan tanpa pamrih,"
Ujar Kiam-eng.
"Bagus, memang sudah aku ketahui kamu ini orang hebat,"
Kata Keh-ki dengan tertawa.
"Kelak bilamana penyakit In-Ang-bi sudah sembuh semoga aku tidak kau sepak begitu saja."
"Tampaknya kau sangka aku ada maksud tertentu terhadap In-Ang-bi,"
Kata Kiam-eng tersenyum.
Keh-ki tertawa, untuk menandakan penyesalannya, mendadak ia menjatuhkan diri ke pangkuan anak muda itu dan bercumbu rayu dengan dia.
Sehari itu mereka tidak meninggalkan hotel melainkan cuma bermesraan di dalam kamar.
Esok paginya datanglah Sam-bi-sin-ong mengajak Keh-ki ke luar kota untuk mengamati Oh-tok-hong ber empat.
Walaupun merasa berat berpisah dengan Su-Kiam-eng, terpaksa Keh-ki ikut pergi bersama Sambi-sin-ong.
Menyusul Kiam-eng pun meninggalkan hotel dengan membawa pakaian Oh-tok-hong, lebih dulu ia membeli seekor kuda di dalam kota, lalu ke luar kota dan mencari suatu tempat sepi, ia keluarkan alat keperluan rias dan mulai menyamar.
Ia merencanakan akan berangkat lewat lohor ia taksir menjelang magrib sudah dapat tiba di istana putar musuh.
Sebab "pulang"
Ke istana putar pada waktu malam tentu lebih sulit diketahui penyamarannya oleh anak murid Tok-pi-sin-kun.
Dengan sendirinya ia menyamar dengan sangat teliti, lebih dari satu jam ia merias diri baru terasa puas.
Kemudian ia duduk mengaso di situ, setelah lewat lohor barulah ia menjeplak ke atas kuda dan dilarikan cepat ke Thian-ti.
Waktu asap dapur sudah banyak mengepul di rumah penduduk, sampailah dia di sekitar istana putar musuh.
Soan-kiong atau istana putar adalah bangunan yang megah menghadapi danau dan membelakangi bukit.
Dipandang dari bentuknya serupa sebuah gedung besar orang kaya raya.
Sepanjang mata memandang gedung susun berderet-deret, sedikitnya berjumlah ratusan.
Tapi bila diamati lebih deretan bangunan itu ternyata bersambung satu sama lain, tidak ada satu pun yang berdiri sendiri sendiri.
Sebab itulah bila dipandang begitu saja sangat mirip sebuah sarang tawon raksasa.
Di sekeliling istana putar itu banyak pepohonan tinggi besar dan menghijau permai.
Jalan yang menembus pintu gerbang istana putar itu dilandasi batu mengkilap, kedua samping jalan ada barisan tiang lampu yang rajin dan terasa kereng pula suasananya.
Sungguh, bagi orang yang tidak tahu seluk-beluknya tentu akan mengira majikan istana putar itu pasti seorang tokoh yang kereng luar biasa dan berwibawa.
Kiam-eng terus melarikan kudanya ke depan, diam-diam ia pun terkesiap melihat kemegahan kompleks bangunan istana putar itu.
Tiba-tiba pintu gerbang istana putar terbuka, dari dalam berlari ke luar tujuh penunggang kuda dengan cepat, segera pula Kiam-eng dapat mengenali dua di antara ke tujuh penunggang kuda itu adalah murid ke dua dan ke tiga Tok-pi-sin-kun, yaitu Ji-Liang dan Tong-hong-Bing.
Waktu diamati lagi, terlihat dua di antara rombongan itu adalah dua orang perempuan genit.
Segera pula Kiam-eng dapat memastikan mereka juga anak murid Tok-pi-sin-kun, cepat ia menunduk dan berlagak orang yang lelah dalam perjalanan jauh serta menyongsong rombongan mereka itu.
Ketika sudah agak dekat, mendadak terdengar Ji-Liang berteriak kaget.
"Hei, bukankah itu Si-te (adik ke empat) sudah pulang?"
Dengan lagak lesu Kiam-eng mengangkat kepala dan memandang mereka sekejap, lalu pura pura kehabisan tenaga dan terperosot ke bawah kuda.
Ji-Liang bertujuh berseru kaget dan kuatir, serentak mereka melompat turun dari kuda masing-masing dan memburu maju untuk menolong.
Yang pertama mendekati Kiam-eng adalah Ji-Liang, cepat ia memayangnya bangun dan hanya kuatir "Engkau kenapa, Su-te?"
Kiam-eng menampilkan senyum getir, ucapnya dengan suara yang dibikin lemah.
"Ti ... tidak apa, aku cuma ... cuma mengalami sedikit luka dalam dan ... dan menempuh perjalanan selama belasan hari, maka ..."
"Oo, lalu cara bagaimana kau lari pulang?"
Tanya Ji-Liang cepat.
"Dan bagaimana pula dengan Toa-suheng dan lain-lain?"
Kiam-eng tidak menjawab, ia cuma menghela napas panjang dan menunduk lemas, lagaknya itu seakan-akan hendak menyatakan sekarang jangan tanya dulu, biarlah aku mengaso sebentar.
Sebab itulah Tong-hong-Bing lantas menyambung.
"Ji-ko, aku kira Si-te perlu istirahat dulu, marilah kita membawanya menemui Su-hu saja."
Ji-Liang mengangguk setuju dan segera mengangkat Kiam-eng dan dibawa jalan cepat ke arah istana putar.
Setelah menambat kuda masing-masing di tiang lampu, ke enam orang yang lain juga cepat menyusul di belakang Ji-Liang.
Dalam keadaan begitu, dengan sendirinya Kiam-eng tidak leluasa untuk memandang kian kemari, maka pemandangan sesudah memasuki pintu gerbang kompleks bangunan istana putar hampir tidak jelas lagi baginya.
Waktu masuk ke dalam istana, yang terlihat cuma batu marmer belaka, baik lantai, dinding dan di mana-mana hampir melulu batu marmer yang bercahaya mengkilat.
Cuma, dari pajangan dalam bangunan yang terlintas di bawah pandangannya sudah cukup membuatnya terkesima, dilihatnya segala sesuatu di dalam istana putar itu sungguh teramat mewah, sama sekali tidak kalah dibandingkan istana raja.
Selagi heran, Ji-Liang yang memondongnya itu tiba-tiba berhenti di sebuah kamar batu marmer.
Entah cara bagaimana pula komunikasi diadakan, hanya sebentar saja Ji-Liang berada di situ, segera berkumandang suara seorang yang sangat dingin dari luar kamar.
"Siapa itu?"
"Te-cu Ji-Liang adanya!"
"Oo, ada apa kau putar kembali ke sini?"
"Lapor Su-hu, Si-te Ki-Se-ki dapat pulang ke mari."
"Oo, cara bagaimana dia dapat lari pulang?"
"Te-cu belum sempat tanya padanya, sebab Si-te mengalami luka dalam, waktu bertemu dengan kami segera ia jatuh terperosot dari kudanya."
"Dan sekarang?"
"Sudah te-cu bawa kemari."
"Baik, coba bawa dia menemuiku di Cip-gi-tia (ruang pendopo pertemuan)."
Baru saja Ji-Liang mengiakan, mendadak dinding marmer di depan terpentang bagian tengah sehingga berwujud sebuah pintu.
Berturut-turut Ji-Liang bertujuh lantas masuk ke ruangan sana dengan mengusung Su-Kiam-eng.
Di balik pintu adalah sebuah jalan lorong yang panjang sempit, atas bawah dan kanan kiri jalan seluruhnya terdiri dari batu marmer, meski jarak sepuluh langkah tentu tergantung sebuah lampu gelas yang indah, namun tetap terasa suasana yang seram.
Sebelum berada di tempatnya tentu takkan merasakan bahaya nya.
Sekarang Su-Kiam-eng mulai merasakan dirinya seperti memasuki neraka, secara mendalam dirasakannya sekalipun dirinya berhasil menemukan peta rahasia kota emas, untuk kabur keluar istana putar yang aneh ini mungkin jauh lebih sulit daripada terbang ke langit.
Sungguh, meski pengetahuannya dalam hal pesawat rahasia sangat sedikit, namun ia tahu di sekitar lorong sempit itu pasti banyak terpasang pesawat rahasia yang mengerikan di seluruh istana putar itu, mungkin cuma jalan lorong yang dilaluinya sekarang yang tidak terpasang perangkap.
Akan tetapi lorong sempit ini paling-paling cuma seperseribu daripada seluruh luas istana putar, nanti bila dirinya berhasil mendapatkan peta lantas cara bagaimana akan dapat lolos dari tempat bahaya melalui jalan aman yang cuma seperseribu ini?
Selagi benak Kiam-eng diliputi berbagai tanda tanya itu tahu-tahu Ji Liang sudah berhenti di ujung lorong itu.
Segera Kiam-eng merasa tegang pikirnya.
"Ah, sudah sampai di tempat tujuan. Segera akan dapat aku lihat bagaimana wujud si iblis besar Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun!"
Namun di luar dugaannya, ketika dinding marmer di kanan ujung lorong itu mulai terbuka dengan perlahan, yang terlihat olehnya bukanlah ruang pendopo segala melainkan ada sebuah lorong lagi.
Seketika perasaan Kiam-eng tertekan, pikirnya "Wah, rupanya masih jauh!"
Memang tidak salah, setelah lorong ke dua ini ditelusuri ternyata masih ada lorong yang lain lagi, akhirnya mereka masuk ke sebuah kamar batu yang kecil, mendadak kamar batu itu mengapung ke atas dengan perlahan, entah berapa tinggi kamar itu naik ke atas, ketika berhenti, sebuah pintu terbuka secara otomatis, baru sekarang mereka benar-benar sampai di ruangan pendopo.
Cip-gi-tia atau ruang pendopo itu juga sebuah ruang batu marmer yang sangat luas, semuanya teratur indah dan megah, jauh untuk bisa dibandingi dengan ruang tamu umumnya.
Cirinya yang khas adalah semua meja kursi di ruang ini juga terbuat dari batu marmer.
Sebuah kursi marmer besar di tengah ruang saat itu diduduki seorang lelaki setengah umur berwajah putih cakap.
Di belakang orang setengah baya ini berdiri dua pelayan gadis jelita berdandan seperti dayang keraton.
Kalau tidak melihat lengan baju kiri orang setengah umur itu ternyata kosong tanpa lengan, hampir Su-Kiam-eng tidak percaya bahwa orang inilah Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun yang namanya mengguncangkan dunia persilatan itu.
Menurut bayangan Su-Kiam-eng, selama ini ia sangka Tok-pi-sin-kun si malaikat sakti lengan tunggal pasti seorang kakek yang berwajah bengis dan aneh, sama sekali tak terduga bahwa tokoh termashur justru seorang lelaki setengah baya dengan wajah cakap dan sikap lembut.
Dengan sendirinya sebelumnya ia sudah tahu umur Tok-pik-sin-kun sudah melebihi 70, tapi tampaknya sekarang usia orang serupa setengah baya saja, diam-diam ia pikir pasti tokoh lengan satu itu mahir merawat diri dan banyak makan obat kuat awet muda.
Sekarang, begitu Tok-pi-sin-kun melihat Ji-Liang masuk dengan memondong satu orang, langsung ia lantas menegur.
"Apakah parah lukanya?"
Dengan hormat Ji-Liang menjawab.
"Seperti tidak terlalu parah, namun akibat kelelahan dalam perjalanan selama belasan hari sehingga kehabisan tenaga ..."
"Ya, taruh dia di lantai,"
Potong Tok-pi-sin-kun sambil mengangguk.
Perlahan Ji-Liang menurunkan Su-Kiam-eng.
Tok-pi-sin-kun berbangkit perlahan dan mendekati Kiam-eng ia berjongkok dan memegang urat nadinya sejenak lalu berucap dengan kening berkerenyit.
"Ehm, hanya jantungnya berdenyut agak terlampau cepat yang lain semuanya normal."
Pada saat itu jantung Su-Kiam-eng memang berdebar terlebih keras daripada biasanya, ini disebabkan pikirannya diliputi ketegangan yang sangat.
Maklumlah, apa yang dihadapinya ini kan detik yang menentukan sukses atau gagal serta hidup dan matinya.
Untung juga ketegangannya itu menimbulkan denyut nadinya yang terlebih keras dari pada biasanya sehingga menambah kesungguhannya, dari sikap Tok-pi-sin-kun sesudah memeriksa nadinya, dapatlah Kiam-eng mengetahui dirinya telah berhasil mengelabui lawan.
Perlahan ia memandang lurus ke arah Tok-pi-sin-kun, dengan lagak ada napas tanpa tenaga ia berseru.
"Su ... Su-hu ..."
Tok-pi-sin-kun mengiakan perlahan.
"Padamu kan selalu terbawa Tai-hoan-po-beng-tan (pil sakti pelindung nyawa), mengapa tidak kau minum barang satu biji?"
"Tai-hoan-po-beng-tan ... pil itu telah ... telah hilang sewaktu te-cu bertempur,"
Jawab Kiam-eng lemah. Tok-pi-sin-kun berdiri lalu berpaling dan berkata terhadap Ji-Liang.
"Beri minum sebiji Tai-hoan-po-beng-tan untuk Si-su-te mu!"
Si harimau terbang Ji-Liang cepat mengeluarkan sebuah botol porselen kecil, dituangnya ke luar satu biji pil sebesar kedelai kuning terus dijejalkan ke mulut Su-Kiam-eng.
Pernah juga Kiam-eng mendengar Tai-hoan-po-beng-tan adalah obat mujarab penyembuh luka dalam buatan khas Tok-pi-sin-kun, obat mujarab yang ces-pleng, maka setelah minum obat, sejenak kemudian ia pura-pura sembuh mendadak terus duduk.
Tok-pi-sin-kun duduk kembali di kursi batu marmer, katanya.
"Sekarang coba ceritakan pengalamanmu."
Kiam-eng berlagak menyesal dan malu, tuturnya.
"Cara bagaimana te-cu jatuh ke dalam cengkeraman Su-Kiam-eng mungkin Su-hu sudah mendapat laporan?"
Tok-pi-sin-kun mengangguk.
"Ehm, aku dengar Su-Kiam-eng menyaru sebagai Peng-Tai-siu dan memukulmu hingga pingsan, kemudian bagaimana?"
Baca Juga: Rahasia Mo Kau Kaucu 5
Baca Juga: Duel Dua Jago Pedang Khu Lung