Eps 6 Pendekar Riang - Khu Lung Tjan Id
Baca online Pendekar Riang - Khu Lung Tjan Id
Cersil Pendekar Riang - Khu Lung Tjan Id.
Baru saja orang itu melayang ke atas, mendadak ia menemukan ada sebuah jala yang amat besar menyongsong kedatangannya, pada hal dia sedang meluncur ke atas, keadaan ini ibaratnya dia sedang menyongsong datangnya jala itu.
Dalam kejutnya dia ingin meronta, tapi jaring itu bagaikan sarang laba-laba segera membelenggu tubuhnya.
Dengan kegirangan Kwik Tay-lok segera berteriak.
"Lihat kau, akan kabur kemana lagi ?"
Yan Jit juga telah menerjang ke muka, kakinya langsung menendang jalan darah Hiat hay di pinggang orang itu.
Siapa tahu, pada saat itulah dari balik jaring tersebut kembali memancar keluar berpuluh puluh titik cahaya tajam yang meluncur ke depan bagaikan hujan deras.
Kali ini giliran Kwik Tay-lok dan Yan Jit yang merasa terkejut.
Pada saat itu pula dari luar dinding mendadak melayang datang sebuah kaitan yang segera menggaet jaring tersebut.
Tentu saja di ujung kaitan itu terdapat seutas tali.
Tentu pula tali itu sedang ditarik seseorang.
Dengan demikian, jaring itupun segera tertarik ke atas.
Sewaktu jaring itu ditarik kembali, Kwik Tay-lok dan Yan Jit telah menubruk datang.
Walaupun dia dan Yan Jit sama-sama merasa terkejut, tapi senjata rahasia tersebut sama sekali tidak disambitkan ke arah mereka berdua secara bersamaan waktu.
Semua senjata rahasia tersebut ditujukan hanya pada tubuh Yan Jit seorang.
Maka Kwik Tay-lok lebih kaget dan lebih gelisah dari pada Yan Jit.
Meskipun dia tak tahu bagaimana caranya untuk menghadapi keadaan tersebut, namun tubuhnya telah menubruk ke arah Yan Jit, menubruk tubuh Yan Jit.
Dengan cepat kedua orang itu bergulingan di atas tanah.
Kwik Tay-lok hanya merasakan badannya menjadi sakit, tiba-tiba sekujur badannya menjadi kaku.
Sedemikian kakunya sampai perasaan dan kesadarannya pun ikut menjadi kaku.
Ia tak sempat menyaksikan jaring itu ditarik orang, pun tidak menyaksikan orang dalam jaring itu melompat ke atas.
Dalam keadaan sadar tak sadar, dia hanya mendengar dua kali jeritan, sebuah jeritan kaget, sedang yang lain jeritan kesakitan.
Tapi dia sudah tak dapat membedakan lagi siapa yang menjerit kaget dan siapa pula yang menjerit kesakitan.
Dia hanya tahu dirinya tak sempat menjerit apa-apa, sebab giginya sedang saling menggertak.
Ada sementara orang mungkin akan menjerit keras dihari biasa, tapi dikala sedang menderita, dia tak akan mendengus atau merintih.
Tak disangkal lagi Kwik Tay-lok adalah manusia seperti itu.
Ada sementara orang menjadi lupa akan keselamatan jiwa sendiri sewaktu menyaksikan temannya sedang terancam oleh bahaya.
Tak disangkal, Kwik Tay-lok juga manusia seperti ini.
Asal dia sudah menerjang ke depan, pada hakekatnya dia tak akan memperdulikan mati hidupnya lagi.
Jeritan kaget itu seakan-akan makin jauh, makin tak terdengar lagi....
Tapi, suara apakah ini ?
Betulkah ada orang sedang menangis ?
Pelan-pelan Kwi Tay-lok membuka matanya, dia lantas menyaksikan butiran air mata di atas wajah Yan Jit.
Ketika Yan Jit melihat matanya terbuka lebar, tak tahan diapun berteriak keras dengan penuh kegirangan.
"Dia telah sadar kembali !"
Dari sisinya segera terdengar seseorang menyambung.
"Kalau orang baik tidak berumur panjang bencana akan berlangsung seribu tahun, aku sudah tahu kalau dia pasti tak akan mati."
Itulah suara dari Ong Tiong.
Suara itu sebenarnya hambar, tapi sekarang kedengarannya agak gemetar.
Kemudian, Kwik Tay-lok baru menyaksikan raut wajahnya.
Selembar wajah yang dingin dan hambar itu sekarang diliputi rasa girang, berseri dan agak emosi.
Sambil tertawa Kwik Tay-lok lalu berkata.
"Apakah kalian mengira aku sudah mampus."
Ia memang lagi tertawa, tapi tampangnya sewaktu tertawa jauh lebih mirip menangis. Sebab begitu tertawa, sekujur badannya segera terasa sakit. Diam-diam Yan Jit menyeka air matanya, lalu berbisik.
"Baik-baiklah berbaring, jangan pergi-pergi dan jangan berbicara apa-apa !"
"Baik !"
"Sepatah katapun tak boleh bicara"
Kata Yan Jit lagi. Kwik Tay-lok mengangguk.
"Juga tak boleh mengangguk, pokoknya bergerak sedikitpun tidak boleh....!"
Kwik Tay-lok benar-benar tidak berkutik lagi, hanya sepasang matanya saja yang terbelalak lebar sambil mengawasi Yan Jit. Yan Jit menghela napas panjang, katanya dengan lembut.
"Tubuhmu sudah terkena sebatang paku Siang-bun-teng, sebatang panah pendek, ditambah lagi dengan dua batang jarum beracun, hakekatnya selembar nyawamu itu berhasil di pungut kembali, maka kau harus baik-baik menyayangi dirimu."
Sewaktu berbicara, sepasang matanya kembali menjadi merah. Ong Tiong juga menghela napas, katanya.
"Bila kau melarang dia berbicara, mungkin dia akan lebih menderita lagi."
"Betul!"
Seru Kwik Tay-lok cepat-cepat. Yan Jit segera melotot sekejap ke arahnya, serunya.
"Tampaknya aku benar-benar menjadi bibir orang ini !"
"Kalau aku sedang berbicara, badanku tidak terasa sakit."
"Masa benar ?"
"Benar !"
Dia ingin tertawa tapi ditahan, pelan-pelan terusnya.
"Sebab kalau aku sedang berbicara, maka semua rasa sakit itu baru akan kulupakan!"
Yan Jit memandangnya, sinar mata itu entah memancarkan rasa sayang ?
Atau mengomel ?
Atau perasaan cinta yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Paras mukanya pucat pias seperti mayat, lebih pucat dari pada kertas jendela di depan sana.
Fajar telah menyingsing, sinar sang surya telah memancar masuk lewat balik jendela.
Walaupun malam ini mereka lewatkan dengan penuh penderitaan, toh akhirnya dilewatkan juga.
Tak tahan lagi Kwik Tay-lok lantas bertanya.
"Bagaimana dengan si kelabang besar itu?"
"Sekarang telah berubah menjadi seekor kelabang mampus !"
Jawab Yan Jit cepat.
Rupanya jeritan ngeri yang terdengar oleh Kwik Tay-lok adalah jeritan dari mulutnya.
Tapi kata orang, ulat yang berkaki seratus matipun tidak kaku, maka Kwik Tay-lok bertanya lebih jauh.
"Benar-benar mampus ? sudah mampus seutuhnya ?"
Yan Jit tidak menjawab, yang menjawab adalah Lim Tay-peng.
"Kujamin dia sudah mampus, mampus sampai keakar-akarnya !"
"Kau kah yang membunuhnya ?"
Lim Tay-peng menggeleng.
"Yan Jit yang melakukan !"
Sahutnya. Tiba-tiba ia tertawa dan lanjutnya.
"Apakah, kau tak pernah menyangka kalau dalam keadaan seperti itu, dia masih sempat membalaskan dendam bagimu ?"
Kwik Tay-lok memang tak pernah menyangka, sebab pada waktu itu sudah jelas dia sedang menindihi tubuh Yan Jit.
Dia ingin bertanya kepada Yan Jit, tapi Yan Jit sudah melengos ke arah lain.
Lim Tay-peng pun berkata lagi.
"Akupun tidak menyangka sampai di situ, tapi aku dapat menyaksikan ketika si kelabang besar itu baru melompat bangun, ada sebilah pisau telah menembusi tenggorokannya, akupun dapat melihat darah yang bercucuran di tanah."
"Di tanah cuma ada darahnya ? Kemana orangnya ?"
"Sudah pergi, kabur sambil membawa pisau tersebut."
"Masa orang mati juga masih bisa berjalan?"
"Karena orang mati ini masih memiliki sisa tenaganya yang sedikit, paling banter juga sekali hembusan napas saja !"
Kwik Tay-lok segera menghembuskan pula napasnya yang mengganjal didalam dada, dengan wajah berseri katanya.
"Tampaknya kita masih belum terlalu rugi!"
"Betul, sekarang kita akan menghadapi mereka berempat dengan empat orang pula,"
Kata Kwik Tay-lok sambil tertawa getir. Tiba-tiba Ong Tiong berkata.
"Mereka tak lebih hanya tinggal tiga orang saja."
"Mana mungkin tinggal tiga ?"
"Ang-nio-cu, ular bergaris merah dan Cui-mia-hu !"
"Apakah kau lupa dengan It-hui-ciong thian Eng Tiong-ong ?"
"Aku tak akan melupakannya !"
Mendadak mimik wajahnya berubah menjadi aneh sekali, sorot matanya seakan-akan sedang memandang suatu tempat yang jauh sekali.
"Hong-nio-cu, Ci-lion-cua, Cui mia hu di tambah pula dengan Eng tiong ong, bukankah jumlah mereka menjadi empat orang ?"
"Tiga tambah satukan menjadi empat kenapa masih tiga?"
Pandangan Ong Tiong terasa kosong, entah apa yang sedang dilihat, dan entah apa pula yang sedang dipikirkan, wajahnya hanya kosong dan hambar...
Sampai lama sekali, sepatah demi sepatah dia baru berkata.
"Karena akulah It-hui-ciong-thian eng-tiong ong !"
Tak seorangpun yang menanyakan masa lalu Ong Tiong, sebab mereka dapat menghormati hak setiap orang untuk menyimpan rahasia pribadinya.
Kalau Ong Tiong tidak berkata, merekapun tak akan bertanya.
Rahasia dari Ong Tiong hanya Ong Tiong sendiri yang berhak untuk membicarakannya.
Ong Tiong bukanlah seseorang yang tidak suka bergerak semenjak dilahirkan.
Sewaktu masih kecil dulu, bukan saja gemar bergerak, bahkan sukanya setengah mati dan bergeraknya luar biasa.
Sejak berusia enam tahun, dia sudah pandai memanjat pohon.
Ia pernah memanjat pelbagai macam pohon, maka diapun pernah terjatuh dari pelbagai macam pohon.
Jatuh dengan posisi serta gaya yang beraneka macam.
Yang paling parah adalah sewaktu batok kepalanya mencium tanah lebih dulu, hampir saja batok kepalanya putus jadi dua.
Menanti ia sudah mulai dapat bergelantungan di atas pohon macam monyet, dia baru tidak memanjat pohon lagi.
Karena memanjat pohon baginya sudah seaman tidur didalam balik selimut saja, sama sekali tidak mendatangkan rangsangan.
Sejak itu pula, setiap hari ayah ibunya harus mengirim segenap pembantunya untuk mencari dia kemana-mana.
Waktu itu meski keluarganya sudah jatuh pailit, tapi pembantunya, masih ada beberapa orang.
Setiap kali mereka berhasil menemukannya kembali, keadaannya pasti kecapaian setengah mati, seakan-akan didorong dengan ujung jaripun besar kemungkinan akan roboh.
Tapi dia masih tetap melompat-lompat dengan segarnya, bagaikan udang yang baru keluar dari air.
Sampai pada akhirnya siapapun enggan untuk pergi mencarinya.
Lebih baik memotong kayu bakar delapan ratus kati dari pada disuruh menemukan dirinya.
Lebih baik membersihkan jalan raya dari pada disuruh mencari jejaknya....
Oleh karena itu orang tuanyapun terpaksa harus menyingkirkan ingatan tersebut, terpaksa mereka membiarkan dia bermain sekehendak hatinya dan selama dia suka.
Untung saja setiap dua-tiga hari dia masih mau pulang satu kali.
Pulang untuk mandi, makan, ganti pakaian, Pulang untuk meminta uang jajan.
Sebab pada waktu itu dia masih berusia tiga empat belas tahunan, dia masih merasa minta uang kepada orang tuanya masih merupakan suatu kewajiban yang lumrah.
Menanti dia sudah menginjak dewasa, dan merasa sudah saatnya untuk berdiri sendiri, sulitlah bagi orang tuanya untuk bersua muka lagi dengannya.
Lo-sianseng dan Lo-tay-tay ini entah sudah berapa kali bersumpah didalam hatinya.
"Bila ia pulang nanti, akan kurantai kaki dan tangannya dengan rantai yang besar, akan kuhajar kakinya sampai putus, coba lihat apakah dia masih bisa kelayapan lagi atau tidak."
Tapi menanti dia pulang ke rumah, menyaksikan tubuhnya yang kurus dan kelaparan, mukanya kuning dan mengenaskan, hati Lo-sianseng pun menjadi lemah dan paling banter dia hanya dipanggil masuk ke kamar baca untuk dia beri pelajaran dan nasehat.
Sementara Lo-tay-tay pun sudah turun ke dapur dan buatkan kuah ayam, belum habis nasehat dari Lo-sianseng, paha ayam sudah di jejalkan ke mulut anaknya.
Mungkin di dunia ini hanya orang tua berputera tunggal yang dapat memahami perasaan mereka waktu itu.
Mereka yang menjadi anaknya, tak pernah akan mengerti perasaan dari orang tuanya.
Ong Tiong pun tidak terkecuali.
Dia hanya mengerti, bila seorang lelaki sudah menginjak dewasa, dia harus berkelana untuk membangun dunianya sendiri.
Maka diapun mulai berpetualangan untuk berusaha membangun dunianya sendiri.
Ketika itu dia baru berusia tujuh belas tahun.
Seperti pula pemuda-pemuda berusia tujuh delapan tahun lainnya di dunia ini, sewaktu Ong Tiong pertama kali meninggalkan rumahnya, dia hanya merasakan semangat yang menyala-nyala serta ambisi dan cita-cita yang setinggi langit.
Tapi bila dua hari kemudian, dikala perut sudah mulai lapar, lambat laun diapun mulai teringat akan rumah.
Kemudian diapun akan merasakan hatinya menjadi kosong, merasa amat kesepian.
Dalam keadaan begini, diapun akan berusaha keras untuk berkenalan dengan teman baru, tentu saja seorang teman perempuan yang paling baik.
Pemuda berusia tujuh delapan belas tahunan manakah yang tidak mengharapkan cinta?
Tidak mengkhayalkah dia ?
Menanti dia sudah merasa kesepian setengah mati itulah, si Ang-nio-cu yang suka menolong kesulitan dan penderitaan orangpun muncul di depan mata.
Perempuan itu dapat memahami ambisinya, memahami pula penderitaan serta kemurungan yang mencekam perasaannya.
Dia menghibur hatinya, menganjurkan kepadanya untuk melakukan pelbagai urusan.
"Bila seorang lelaki sejati mau hidup di dunia ini, maka pekerjaan macam apapun harus dicoba, perbuatan apapun harus dilakukan."
Dalam pandangan Ong Tiong waktu itu, setiap patah katanya seakan-akan merupakan suatu firman.
"Bila seseorang ingin hidup maka dia harus punya uang, punya nama, sebab kehidupan seseorang di dunia ini sesungguhnya adalah demi kenikmatan, serta kebahagiaan."
Waktu itu dia masih belum tahu, kalau dalam kehidupan seseorang selain kenikmatan masih terdapat pula lebih banyak perbuatan yang lebih bermakna.
Oleh karena itu untuk berhasil mendapat nama, dia tak segan-segannya untuk melakukan perbuatan apapun.
Akhirnya diapun menjadi tenar.
Waktu itu umurnya belum mencapai dua puluh tahun, tapi dia telah menjadi Raja elang yang sekali terbang menembusi langit!
Ternama memang merupakan suatu peristiwa yang menggembirakan.
Dengan sebisanya dia melakukan banyak pekerjaan, dengan begitu saja menjadi tenar.
Pakaian yang dikenakan adalah pakaian yang termahal, arak yang diminumpun merupakan arak wangi yang harganya tiga tahil perak sekatinya.
Dia sudah mengerti untuk memilih tukang jahit yang paling baik.
Hidangan Hi-sit yang masak kurang matang sedikit saja, dia segera akan menumpahkannya di atas wajah koki.
Bukan saja dia mengerti untuk mencari kenikmatan, lagi pula kenikmatan yang dirasakan pun luar biasa sekali.
Sebenarnya dia merasa puas sekali.
Tapi entah apa sebabnya, mendadak ia merasa agak menderita, agak murung, lagi pula jauh lebih murung daripada dahulu.
Sebenarnya setiap kali kepalanya menempel bantal, dia lantas tertidur nyenyak, tapi sekarang dia seringkali tak bisa tidur.
Bila sudah tak bisa tidur, diapun seringkali bertanya kepada diri sendiri.
"Semua perbuatan yang kulakukan, sebenarnya pantaskah ku lakukan ?"
"Teman-teman yang kujalin selama ini, sebenarnya betulkah merupakan teman sejati.?"
"Seseorang selain mencari kenikmatan buat diri sendiri, apakah harus memikirkan pula urusan yang lain ?"
Tiba-tiba ia mulai teringat rumah, teringat orang tuanya.
Di dunia ini memang terdapat banyak sekali koki-koki kenamaan, tapi tak akan mampu membuat kuah ayam seperti yang dibuat oleh ibunya.
Kata-kata sanjungan dan muluk-muluk diterimanya selama ini, lambat laun terasa kurang menarik bila dibandingkan dengan kata-kata nasehat dari ayahnya.
Bahkan cumbu rayu dari Ang Nio-cu yang manis dan mesra pun kedengarannya tidak lebih menarik daripada kata-kata yang pernah didengarnya dulu.
Kesemuanya itu masih belum terhitung penting.
Yang paling penting lagi adalah secara tiba-tiba dia ingin menjadi seorang manusia yang normal.
Seseorang yang tiap malam bisa tidur dengan hati yang aman tenteram....
Maka diapun mulai menyusun rencana untuk meninggalkan penghidupan semacam itu, meninggalkan teman-teman seperti itu.
Tentu saja diapun tahu bahwa mereka tak akan melepaskannya pergi dengan begitu saja.
Pertama.
Karena mereka masih membutuhkan dirinya.
Kedua.
Karena banyak rahasia yang dia ketahui.
Satu-satunya yang masih mujur adalah selama berada di hadapan mereka, ia tak pernah menyinggung soal rumahnya dan orang tuanya.
Hal ini entah dikarenakan dia takut orang tuanya kehilangan dia, atau dia takut kehilangan orang tuanya.
(Bersambung
Jilid 17)
Jilid 17 ORANG TUANYA bukanlah seseorang yang luar biasa. Teman-temannya juga tak pernah menanyakan soal keluarganya dan soal orang tuanya, mereka hanya berkata.
"Darimana kau latih ilmu silatmu itu?"
Ilmu silatnya ia latih sewaktu masih kecil dulu....
seorang kakek yang amat misterius tiap hari menunggu kedatangannya dalam hutan dan memaksanya untuk berlatih tekun.
Sampai sekarang dia tak tahu siapakah kakek itu, juga tidak tahu seberapa tinggi ilmu silat yang dia wariskan kepadanya.
Sampai dia berkelahi untuk pertama kalinya, dia baru tahu dengan pasti.
Itulah pengalaman aneh baginya.
Yaa aneh, yaa misterius Maka dia tak pernah membicarakan persoalan ini di depan orang lain, sebab walaupun dia katakan orang lain belum tentu akan mempercayainya....
Bahkan kadangkala dia sendiripun tidak terlalu percaya.
Setiap orang tentu mempunyai masa lalu.
Setiap orang tak bisa dihindari pasti pernah membicarakan masa lalunya di depan teman akrabnya.
Ada kalanya keadaan tersebut bagaikan sedang mengisahkan suatu cerita saja.
Kisah cerita semacam ini sering kali tidak menarik perhatian orang lain....
dari pada mendengarkan orang lain mengibul, lebih baik dirinya sendiri yang mengibul.
Tapi entah persoalan apa, saja tentu ada pengecualiannya.
Ketika Ong Tiong sedang berbicara, setiap orang mendengarkan dengan mata terbelalak, bahkan menukaspun tidak.
Orang pertama yang menimbrung cerita itu tentu saja Kwik Tay-lok.
Dalam kenyataan sudah lama dia menahan diri, setelah mendengarkan sampai di situ dia baru tak tahan untuk menimbrung.
Dia menghembuskan napas panjang lebih dulu, kemudian baru bertanya.
"Apakah tiap hari orang tua itu pasti menunggumu ?"
"Yaa, setiap hari pasti menungguku dalam hutan belakang dekat tanah pekuburan itu"
Sahut Ong Tiong.
"Dan setiap hari kau pasti pergi !"
"Baik hujan deras, atau hujan badai, tak seharipun aku absen...."
"Jadi seluruhnya kau telah pergi berapa lama ?"
"Jumlah seluruhnya tiga tahun empat bulan...."
Kwik Tay-lok segera menghembuskan napas panjang, gumamnya.
"Waaah.... bukankah jumlahnya menjadi seribu kali lebih ?"
Ong Tiong manggut-manggut.
"Aku dengar, bila belajarmu agak lamban maka kau akan menerima gebukan, bahkan tidak enteng gebuknya?"
Kata Kwik Tay-Iok.
"Sejak tahun itu, aku hampir jarang sekali tidak kena digebuk !"
"Kalau toh setiap hari kena digebuk, kenapa kau masih tetap pergi....?"
"Sebab waktu itu aku merasa perbuatan bukan cuma misterius saja, lagi pula segar dan merangsang."
Kwik Tay-lok berpikir sebentar, kemudian katanya sambil tertawa.
"Seandainya berganti aku, akupun tetap akan datang !"
Lim Tay-peng juga tak kuasa menahan diri, dia lantas bertanya.
"Apakah kau belum pernah menanyakan nama dari orang tua itu ?"
"Aku sudah bertanya berapa ratus kali !"
"Tahukah kau dia berasal dari mana ?"
Ong Tiong menggeleng.
"Setiap kali aku datang kesana, dia selalu sampai duluan."
"Kenapa kau tidak mendahuluinya ?"
"Bagaimanapun awalnya aku datang, dia selalu sampai duluan ditempat itu."
"Kenapa tidak kau kuntil dirinya, coba lihat dia pulang ke mana?"
Tanya Kwik Tay-lok dengan kening berkerut. Ong Tiong tertawa getir.
"Tentu saja sudah kucoba !"
Sahutnya.
"Bagaimana hasilnya ?"
"Hasilnya tiap kali pasti kena digebuk setengah mati, kemudian pulang seorang diri tanpa banyak membantah!"
Kening Kwik Tay-lok berkerut makin kencang, lalu gumamnya.
"Setiap kali dia menunggu kedatanganmu di sana, setiap kali memaksa kau untuk berlatih silat, tapi ia enggan membiarkan kau tahu siapakah dia yang sebenarnya, betul-betul mengherankan !"
"Masih ada yang lebih mengherankan lagi yakni diapun tak pernah bertanya siapakah aku ?"
Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang.
"Kejadian aneh semacam ini memang jarang terjadi di dunia ini, tampaknya hanya manusia aneh semacam kau saja yang bisa bertemu dengan kejadian aneh seperti itu."
Tiba-tiba Yan Jit turut bertanya.
"Ketika kau bersiap-siap hendak meninggalkan rekan-rekanmu, apakah Ang Nio-cu pun tidak tahu ?"
"Aku tak pernah membicarakan hal ini di hadapan siapa saja."
"Tapi Ang Nio-cu.... bukankah ia sangat baik kepadamu ?"
Paras muka Ong Tiong berubah semakin tak sedap dipandang, lewat lama sekali dia baru berkata dengan dingin.
"Kepada banyak orang pun dia selalu baik!"
Agaknya Yan Jit baru merasa kalau dia telah salah berbicara, segera dia mengalihkan pokok pembicaraannya ke soal lain, ujarnya kemudian.
"Selanjutnya dengan cara apakah kau melarikan diri ?"
"Suatu ketika mereka sedang bersiap-siap untuk mencuri kitab didalam kuil Siau-lim-si, mereka suruh aku mencari info terlebih dahulu maka aku pun manfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri."
Yan Jit segera menghembuskan napas panjang katanya.
"Beberapa orang itu berani juga membuat keonaran didalam kuil Siau-lim-si, nyatanya nyali mereka tidak kecil !"
"Setelah kau melarikan diri, apakah mereka tak pernah menemukan dirimu?"
"Tak pernah !"
Mendadak dia bangkit berdiri dan menghampiri jendela.
Malam itu sangat gelap, lagi pula dingin sekali.
Dia berdiri kaku di depan jendela, berdiri termangu-mangu sampai lama sekali, kemudian baru pelan-pelan melanjutkan.
"Sekembalinya ke rumah, aku jarang keluar."
"Apakah secara tiba-tiba kau telah berubah menjadi tak ingin bergerak lagi?"
"Aku memang telah berubah, berubah sangat cepat, berubah sangat banyak...."
Suaranya menjadi parau dan sedih sekali, lanjutnya.
"Karena sekembalinya kemari, aku baru tahu bahwa tahun kedua setelah kepergianku, ibuku telah...."
Dia tidak melanjutkan kata-katanya.
Sepasang kepalannya telah di genggam kencang-kencang, sekujur badannya gemetar dan ia tak mampu untuk melanjutkan kembali kata-katanya.
Kali ini, bahkan Kwik Tay-lok pun tidak bertanya lagi, ia tak tega untuk bertanya, juga tak perlu bertanya.
Semua orang sudah mengetahui musibah yang menimpa Ong Tiong, juga memahami perasaannya.
Menanti dia pulang untuk membalas budi kebaikan ayah ibunya, keadaan sudah terlambat.
Kenapa setiap orang baru memahami perasaan orang tuanya dikala keadaan sudah terlambat?
Lim Tay-peng menundukkan kepalanya, sepasang matanya seperti basah oleh air mata.
Kwik Tay-lok merasakan pula hatinya menjadi kecut, sepasang matanya berubah menjadi merah membara.
Sekarang dia baru tahu, mengapa Ong Tiong bisa berubah menjadi begini miskin, begitu malas dan begitu aneh.
Sebab dia merasa amat sedih dan menyesal.
Dia sedang menghukum dirinya sendiri.
Seandainya kau hendak mengatakan bahwa dia sedang berusaha menghindarkan diri, maka yang dihindari bukanlah Ang Nio-cu, juga bukan ular bergaris merah, lebih-lebih bukan yang lainnya.
Yang dihindari sesungguhnya adalah diri sendiri.
Membayangkan kembali ketika untuk pertama kalinya dia menyaksikan orang itu berbaring seorang diri dalam kegelapan, membiarkan tubuhnya dibuat bermainnya tikus, tanpa terasa Kwik Tay-lok menghela napas panjang...
Seandainya seseorang tidak kehilangan semangatnya, sekalipun bisa menahan lapar, dia tak akan tahan membiarkan tikus bermain di atas badannya.
Malam itu, seandainya Kwik Tay-lok tidak menyerbu ke sana dan tanpa sengaja bersahabat dengannya, entah dia masih bisa hidup sampai hari ini atau tidak ?
Pertanyaan semacam ini bahkan dipikirkan pun Kwik Tay lok tidak berani.
Akhirnya Ong Tiong berpaling, kemudian katanya.
"Aku sudah pulang tiga tahun, selama tiga tahun ini mereka pasti tiada hentinya mencari aku."
Kwik Tay lok tertawa paksa, katanya.
"Tentu saja mereka agak susah menemukan dirimu, siapakah yang akan menyangka kalau si raja elang It hui ciong thian Eng-tiong-ong bisa berdiam ditempat semacam ini dan melewati penghidupan seperti ini ?"
"Tapi aku sudah tahu, cepat atau lambat suatu hari mereka pasti akan berhasil menemukan diriku."
Yan Jit segera mengerdipkan matanya berulang kali, lalu katanya.
"Sudah lewat sekian lama, kenapa mereka masih belum mau juga lepas tangan ?"
"Karena perhitungan hutang piutang antara mereka denganku masih belum diselesaikan."
"Sudahkah kau perhitungkan sendiri? Adalah kau yang berhutang kepada mereka ataukah mereka yang berhutang kepadamu?"
Ong Tiong termenung agak lama, kemudian baru sahutnya.
"Ada sementara hutang piutang yang siapapun tak dapat memperhitungkannya sampai beres."
"Kenapa ?".
"Sebab setiap orang tentu mempunyai cara perhitungan setiap orang selalu tidak sama."
Paras mukanya segera berubah makin serius dan berat, pelan-pelan sambungnya.
"Didalam pandangan mereka, hutang piutang ini hanya bisa diselesaikan dengan suatu cara."
"Cara yang mana ?"
"Kau harus mengerti cara yang manakah itu"
Yan Jit berbicara lagi, tapi dia mengetahui dengan jelas.
Ada sementara hutang yang cuma bisa di perhitungkan dengan darah, sebab hanya darahlah yang bisa menyelesaikannya.
Setetes darah masih tidak cukup, yang diperlukan adalah sejumlah darah yang cukup banyak.
Kalau darah satu orang saja tidak cukup yang dibutuhkan adalah darah banyak.
Yan Jit memandang sekejap mulut luka di tubuh Kwik Tay-lok, lewat lama dia baru berkata sambil menghela napas.
"Tampaknya hutang piutang ini makin lama semakin sukar untuk diperhitungkan, entah sampai kapankah perhitungan ini baru bisa diselesaikan ?"
"Jangan kuatir,"
Sahut Ong Tiong sambil menghela napas.
"sudah pasti kita tak usah menunggu terlalu lama lagi sebab...."
Mendadak ia menutup mulutnya rapat-rapat.
Setiap orang menutup mulut, bahkan napaspun seakan-akan ikut berhenti.
Sebab setiap orang seperti mendengar suara langkah kaki.
Suara langkah kaki itu sangat enteng, sedang berjalan menembusi halaman yang bersalju dengan langkah yang sangat lamban.
"Siapa yang telah datang ?"
"Apakah saat ini sudah tiba pada saatnya untuk membuat perhitungan...?"
Lim Tay-peng ingin meronta sambil menerjang keluar dari pintu, namun niat itu kembali diurungkan.
Kwik Tay-lok menunjuk keluar jendela, sedang Yan Jit menggelengkan kepalanya berulang kali.
Hanya sebuah langkah kaki....
Orang itu sedang menaiki anak tangga dan berjalan menuju ke pintu sebelah luar.
Mendadak terdengar orang itu mengetuk pintu.
Ternyata orang tersebut datang sambil mengetuk, datang secara terang-terangan, kejadian ini benar-benar sama sekali di luar dugaan mereka.
Akhirnya Ong Tiong menegur.
"Siapa ?"
"Aku !"
Jawab orang diluar itu pelan.
"Siapakah kau ?"
Tiba-tiba orang di luar itu tertawa, suara tertawanya merdu seperti keliningan, malah jauh lebih merdu dan menarik hati.
"Masa suaraku saja tidak kau kenali, kau benar-benar seorang bocah yang tak punya liang sim !"
Ternyata orang yang munculkan diri itu adalah seorang perempuan.
Seorang perempuan yang merdu suaranya dan tampaknya masih sangat muda lagi.
Menyaksikan mimik muka Ong Tiong, setiap orang sudah dapat menduga siapa gerangan perempuan itu..
Paras muka Ong Tiong lebih pucat dari pada mayat.
Yan Jit segera menepuk bahunya, kemudian setelah menuding pintu depan, dia menuding pula pintu belakang.
"Maksudnya... Bila kau tak ingin berjumpa dengannya, lebih baik menghindarlah lewat pintu belakang, aku akan menghadapinya untuk merintangi kedatangannya."
Tentu saja Ong Tiong memahami pula ucapannya itu, hanya dia menggelengkan kepalanya berulang kali.
Dia jauh lebih memahami keadaan diri sendiri daripada orang lain.
Dia telah mundur sampai langkah yang terakhir.
Artinya dia sudah tak dapat mundur lagi, lagi pula diapun tak ingin mundur kembali.
"Mengapa kau belum keluar untuk membuka pintu ?"
Siapapun belum pernah bertemu dengan perempuan yang bernama Ang Nio cu itu, tapi kalau di dengar dari suaranya, entah siapa saja pasti akan membayangkan bahwa dia adalah seorang perempuan yang sedemikian cantik serta mempesonakan hati.
"Apakah didalam rumahmu masih ada perempuan lain, maka kau takut bertemu denganku? Kau harus tahu, aku tidak seperti kau yang begitu pencemburu"
Mendadak Ong Tiong maju ke muka dengan langkah lebar, tapi kemudian berhenti lagi, serunya dengan suara dalam.
"Pintu itu tidak terkunci !"
Hanya didorong pelan saja, pintu itu segera terbuka.
Seseorang berdiri di depan pintu, lagi pula menyongsong sorotan cahaya lampu yang memancar keluar dari dalam ruangan.
Segenap sinar lentera seakan telah terpusatkan di atas tubuhnya seorang, sinar mata setiap orang tentu terpusatkan pula di atas tubuhnya.
Dari atas badannya seakan-akan memancarkan pula serentetan cahaya.
Semacam cahaya merah yang menyilaukan mata dan membuat jantung orang serasa berdebar.
"Pakaian yang dikenakan Ang-Nio-cu sudah barang tentu berwarna merah, tapi sinar tersebut bukan memancar keluar dari bajunya itu. Dalam kenyataan, selain pakaiannya, dari setiap bagian tubuhnya itu seakan-akan terpancar keluar cahaya yang menyilaukan mata. Terutama sekali sepasang matanya dan senyumannya. Setiap orang merasa bahwa sorot matanya itu seakan-akan sedang memandang ke arahnya merasa seakan-akan dia sedang tertawa kepadanya. Andaikata orang bilang dibalik senyuman terdapat daya tarik yang membetot sukma, maka sudah pasti senyuman yang dimaksudkan semacam inilah. Yan Jit menggeserkan sedikit tubuhnya, seperti sengaja tak sengaja dia menghalangi pandangan Kwik Tay-lok. Entah bagiamanapun juga, dia tak akan membiarkan temannya itu menyaksikan senyuman maut dari perempuan semacam itu, maka daripada membiarkan dia melihatnya, lebih baik tidak membiarkan dia menyaksikannya. Bukankah setiap orang selalu berusaha untuk membawa temannya menjauhi segala dosa? Ang Nio-cu memutar sepasang biji matanya yang jeli, tiba-tiba dia berkata.
"Kalian orang lelaki, mengapa selalu bersikap macam maknya...."
Itulah kata-katanya yang pertama. Ketika berbicara sampai di situ, mendadak dia berhenti sebentar, seakan-akan sengaja hendak membuat kata "Maknya"
Nya itu berkesan sekali didalam benak lelaki-lelaki itu....
Seakan-akan dia tahu kalau setiap lelaki yang berada dalam ruangan itu senang sekali mendengarkan kata-katanya itu, juga senang mendengarkan kata-kata semacam itu muncul dari balik bibirnya.
Sebab kata semacam itu memang mendatangkan suatu perasaan yang lain dari pada yang lain bila muncul dari mulutnya.
Pada saat dia sedang berhenti sejenak inilah, terdengar seorang tak tahan sedang bertanya.
"Kau bilang, kami lelaki adalah manusia maknya macam apa?"
Suara itu muncul dari belakang tubuh Yan Jit.
Dia bisa saja menghalangi pandangan mata Kwik Tay-lok, namun tak akan dapat menghalangi telinganya, juga tak dapat menghalangi mulutnya untuk berbicara.
Ang Nio-cu segera berkata.
"Kenapa sikap kalian macam bertemu dengan setan saja bila bertemu dengan perempuan yang menarik hati? Bahkan sampai berkentut pun tidak dapat ?"
Dia mengerutkan hidungnya, lalu memperlihatkan kembali sekulum senyuman yang Yan Jit tak ingin membiarkan Kwik Tay-lok sampai melihatnya itu, kemudian baru sahutnya dengan pelan.
"Diantara kalian semua, paling tidak harus ada satu orang yang mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam lebih dahulu"
Dalam kenyataannya, sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, dia sudah melangkah ke dalam ruangan.
Setelah orang di dalam ruangan itu mengetahui siapakah dia, juga tahu mau apa dia datang ke situ, ketika menyaksikan perempuan itu benar-benar masuk ke dalam, semua orang seharusnya merasa sangat gusar dan merasa sangat tegang.
Tapi, secara tiba-tiba Yan Jit menemukan bahwa dibalik sorot mata Kwik Tay-lok serta Lim Tay-peng bukan saja sama sekali tiada rasa dendam atau tegang, malahan sebaliknya tampak sekulum senyuman.
Bahkan Yan Jit sendiripun sudah mulai tergoda pikirannya dan mulai curiga.
Didalam anggapannya semula, Ang Nio-cu tidak seharusnya adalah manusia semacam itu.
Sejak dia mengucapkan kata "Mak-nya"
Tadi, suasana didalam ruangan itu seakan-akan sama sekali telah berubah, kesan orang lain terhadapnya pun sama sekali berubah juga.
Seorang perempuan siluman yang berhati keji seperti ular, tidak seharusnya mengucapkan kata-katanya dengan perkataan semacam itu....
Sampai detik itulah, Yan Jit baru menemukan bahwa di tangannya masih membawa sebuah keranjang sayur yang besar sekali.
Dia meletakkan keranjang sayur itu ke atas meja, kemudian meluruskan tangannya dan menghela napas panjang, katanya.
"Seorang perempuan, hanya demi membawakan sedikit makanan buat kalian, bukan saja harus membawa keranjang yang berat, lagi pula harus menempuh perjalanan selama setengah jam lebih, sampai lengan seperti hampir putus rasanya, apakah kalian sama sekali tidak merasa berterima kasih barang sedikit pun jua kepadaku". Mendadak Ong Tiong berkata dengan suara dingin.
"Tak ada orang yang menyuruh kau mengirim makanan kemari, pada hakekatnya tak seorang manusiapun yang menyuruh kau datang kemari !"
Hingga kini, Ang Nio-cu baru mengerling sekejap ke arahnya dengan ujung matanya, lalu dengan marah tak marah, tertawa tak tertawa sambil menggigit bibirnya dia berkata.
"Aku ingin bertanya kepadamu, apakah orang-orang ini semua adalah sahabatmu?"
"Benar !"
Ang Nio-cu segera menghela napas panjang, katanya lagi.
"Dapatkah kau menyaksikan teman-temanmu kelaparan ? Kau bisa tapi aku tak dapat."
"Apakah mereka sedang kelaparan atau tidak, denganmu sama sekali tak ada sangkut pautnya."
"Mengapa tak ada sangkut pautnya ? Temanmu adalah temanku juga, seperti seorang enso, mana tega menyaksikan saudara-saudaranya menderita kelaparan ?"
Kata Ang Nio-cu.
"Siapa sih enso itu ?"
Tanya Yan Jit tak tahan. Ang Nio-cu segera tertawa.
"Kalian adalah teman baiknya Ong lotoa, mengapa dengan enso Ong pun tidak kenal ?"
Dia lantas menyingkap kain yang menutupi keranjang besarnya itu, kemudian berkata lagi sambil tertawa.
"Hari ini ensomu akan menjamu kalian, dan aku minta kalianpun tak usah sungkan-sungkan, tidak di makanpun sia-sia saja tak dimakan....."
"Setelah dimakan ?"
"Setelah di makanpun kalian akan makan dengan gratis !"
Yan Jit segera tertawa dingin, serunya.
"Orang yang makan gratis, biasanya tak akan berumur panjang !"
Ang Nio-cu melotot ke arahnya, kalau dilihat tampangnya itu seakan-akan baru saja dia kena ditempeleng orang. Lewat lama kemudian, dia baru berpaling ke arah Ong Tiong sembari katanya lagi.
"Apakah kalian beranggapan bahwa makanan yang ku bawa itu semuanya beracun?"
"Benar !"
"Kau mengira kedatangan kami ini adalah bertujuan untuk meracuni kalian semua ?"
"Benar !"
"Bukan saja meracuni orang lain, juga meracuni pula dirimu ?"
"Benar !"
Sepasang Ang Nio-cu seakan-akan berubah menjadi merah, mendadak dia berpaling ke arah lain dan mengeluarkan sepotong paha ayam dari dalam keranjangnya, lalu serunya lagi.
"Kalau begitu kau mengatakan dalam paha ayam inipun tentunya ada racunnya juga bukan?"
"Kemungkinan besar !"
"Baik, baik....."
Dia menggigit paha ayam itu dan ditelannya, kemudian mengambil sebotol arak dan berkata lagi.
"Apa didalam arakpun ada racunnya juga?"
"Besar kemungkinannya.!"
"Baik !"
Kembali perempuan itu meneguk arak tersebut dari dalam botol araknya....
Pokoknya perempuan itu telah makan setiap hidangan yang berada di keranjangnya itu satu demi satu, kemudian baru mendongakkan kepalanya dan melotot ke arah Ong Tiong, tanyanya.
"Sekarang, bagaimana pendapatmu ?"
Tanpa berpikir lagi, Ong Tiong segera menjawab.
"Seperti dengan jawabanku tadi."
"Kau masih menganggapnya beracun ?"
"Benar !"
Air mata telah jatuh bercucuran membasahi wajah Ang Nio-cu, tapi dia berusaha menahan diri, lewat lama kemudian dia baru pelan-pelan mengangguk, katanya dengan sedih.
"Aku sudah memahami sekarang dengan jalan pemikiranmu itu."
"Seharusnya kau dapat memahaminya semenjak dulu!"
"Kau menganggap sebelumnya aku telah makan obat penawarnya dulu baru datang kemari ?"
"Hmmm !"
Dengan sedih kembali Ang Nio-cu berkata.
"Kau selalu menganggap aku sebagai seorang perempuan yang berhati keji bagaikan racun kala, selalu menganggap aku hanya berbaik kepadamu karena ingin memperalat dirimu ?"
Ketika berbicara sampai di situ, tidak tahan lagi air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Ketika mendengar sampai di situ, baik Kwik Tay-lok maupun Lim Tay-peng sudah merasakan hatinya bertambah lunak, meski dimulut dia tidak berkata apa-apa, namun dalam hati kecilnya mulai berpikir kenapa sikap Ong Tiong kepadanya bisa begitu keras ?
Tidakkah tindakan tersebut kelewat batas ?
Bagaimanapun juga, dahulu mereka toh pernah terikat dalam suatu hubungan percintaan yang cukup mesra.
Andaikata berganti dengan Kwik Tay-lok mungkin sekali dia sudah memeluk perempuan itu ke dalam pelukannya.
Tapi wajah Ong Tiong masih belum menunjukkan perubahan apa-apa.
Perasaan orang ini seakan-akan terbuat dari baja asli.
Tampak Ang Nio-cu memasukkan kembali hidangan yang telah dikeluarkannya itu ke dalam keranjang, kemudian sambil menggigit bibir dia berkata.
"Baik, kalau toh kau beranggapan bahwa makanan itu beracun semua, aku akan membawanya pergi."
"Memang paling baik kalau kau cepat-cepat kau bawa pergi."
Sekujur badan Ang Nio-cu telah gemetar keras, sambil menggigil serunya lagi.
"Bila kau menganggap aku tak pernah berpikiran baik kepadamu, selanjutnya akupun dapat menghindari dirimu sedapatnya."
"Kau sudah seharusnya tidak datang kemari dan berjumpa dengan diriku...."
"Aku.... aku hanya ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu...."
Mendadak ia menerjang kehadapan Ong Tiong, lalu teriaknya keras-keras.
"Aku ingin bertanya kepadamu, sejak kau berkenalan denganku, pernahkah aku melakukan suatu perbuatan yang menyalahi dirimu atau merugikan dirimu ?"
Tiba-tiba Ong Tiong tak dapat berbicara. Ang Nio-cu mengepal sepasang tinjunya kencang-kencang, masih dengan sekujur badan yang gemetar keras, teriaknya lagi.
"Betul aku memang bukan seorang perempuan baik-baik, aku memang sudah pernah mencelakai banyak sekali lelaki yang lain, tapi sikapku kepadamu.... kapan aku pernah mencelakai ? Katakan! Hayo cepat katakan !"
"Sekarang, diantara kita sudah tiada perkataan lain yang bisa dibicarakan Lagi !"
Ujar Ong Tiong dingin. Ang Nio-cu menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya, kemudian pelan-pelan mengangguk, katanya dengan sedih.
"Baik, aku akan pergi, aku akan pergi.... tak usah kuatir, kali ini aku akan pergi, selama hidup aku tak akan datang mencari dirimu lagi...."
Pelan-pelan dia membalikkan badannya, mengambil keranjang dan pelan-pelan berjalan keluar dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang kesepian, kurus dan mengenaskan itu menuju ke halaman yang dingin dan gelap, Kwik Tay-lok merasakan hatinya turut menjadi duka.....
Angin di halaman luar berhembus kencang, bunga salju berterbangan dan menyebar kemanamana, suasana terasa amat mengenaskan sekali.
Bukankah perasaan manusia pun seperti keadaan tersebut?
Cinta kasih yang telah terjalin selama banyak tahun, kadangkala seperti juga tumpukan salju di atas pohon, bila angin berhembus lewat, maka salju itu akan berguguran dan tersebar entah kemana.
Kwik Tay-lok merasakan hatinya menjadi pilu dan kecut, dia cuma berharap perasaan Ong Tiong bisa turut menjadi lembek dan bisa menahan perempuan yang mengenaskan itu agar jangan pergi.
Tapi hati Ong Tiong tampak lebih keras daripada baja, dia hanya menyaksikan kepergian perempuan tersebut dengan begitu saja, matanya melotot besar dan sama sekali tidak menunjukkan perubahan sikap apapun juga...
Menyaksikan Ang Nio-cu sudah melangkah keluar dari pintu, hampir saja Kwik Tay-lok tidak tahan untuk mewakili Ong Tiong menahannya di situ....
Mendadak, sekujur badan Ang Nio-cu mengejang keras, seakan-akan seseorang yang kena di cambuk secara tiba-tiba.
Kemudian tubuhnya roboh terjengkang ke atas tanah.
Begitu mencium tanah, ke empat anggota badannya segera mengejang lagi dengan kerasnya, paras mukanya yang putih bersihpun berubah menjadi hitam pekat, sepasang matanya melotot ke atas, buih putih tiada hentinya keluar dari ujung bibirnya.
Dibalik buih putih itu masih terlihat noda darah.
Dengan paras muka berubah Yan Jit segera berseru.
"Aaaah.... rupanya makanan yang dia bawa itu benar-benar ada racunnya...!"
"Tapi dia sendiri pasti tidak tahu"
Sambung Kwik Tay-lok dengan cepat.
"kalau tidak, mengapa dia sendiri bisa keracunan?"
Ong Tiong masih berdiri di situ bagaikan sebuah patung arca, bergerak sedikitpun tidak, seakan-akan dia sama sekali tidak menyaksikan peristiwa itu.
Bahkan Yan Jit sendiripun merasa agak gelisah, tak tahan dia lantas berseru.
"Ong lotoa, bagaimanapun juga seharusnya pergi menengok keadaannya..."
"Melihat apa ?"
"Periksalah dulu apakah dia keracunan atau tidak ? Apakah masih bisa tertolong atau tidak ?"
"Tiada sesuatu yang perlu dilihat lagi."
Jawab Ong Tiong dengan suara dingin. Kwik Tay-lok yang mendengar jawaban tersebut, tak tahan lagi segera berteriak.
"Bagaimana sih kamu ini? Mengapa kau sama sekali tidak berperikemanusiaan ?"
Seandainya Yan Jit tidak menekan tubuhnya, mungkin dia sudah meronta dan merangkak bangun. Tampak Ang Nio-cu tiada hentinya mengejang keras, terengah-engah dan berseru tiada hentinya.
"Ong Tiong.... Ong Tiong...."
Akhirnya Ong Tiong tak tahan juga untuk menghela napas panjang, katanya lirih.
"Aku berada di sini"
Ang Nio-cu segera meronta dan mengulurkan tangannya seraya berseru kembali.
"Kau... kau kemarilah.... aku mohon kepadamu datanglah menjumpai aku...."
Ong Tiong menggigit bibirnya kencang-kencang, lalu berkata.
"Jika kau ingin mengucapkan sesuatu, sekarang katakan saja, aku dapat mendengarnya dari sini."
"Aku tidak tahu.... benar-benar tidak tahu kalau makanan tersebut ada racunnya, aku benarbenar bukan datang kemari untuk mencelakai dirimu, kau.... kau seharusnya percaya kepadaku."
Ong Tiong belum juga menjawab. Tapi Kwik Tay-lok sudah tak kuasa menahan diri lagi, dia segera berteriak-keras.
"Aku percaya kepadamu, kami semua percaya kepadamu."
Ang Nio-cu tertawa sedih, katanya lagi.
"Walaupun ular bergaris merah sekalian beranggapan bahwa kau telah berbuat sesuatu yang menyalahi mereka, meski mereka ingin membinasakan dirimu, tapi aku... aku sama sekali tidak bermaksud demikian."
Kembali dia mengejang keras, peluh dingin telah membasahi sekujur badannya sambil meronta, kembali katanya.
"Walaupun aku bukan seorang perempuan baik-baik, tapi sikapku kepadamu selalu bersungguh hati. Asal kau dapat memahami perasaanku, aku.... sekalipun aku harus mati juga rela, aku rela berkorban demi dirimu...."
Ketika habis mengucapkan perkataan itu, tampaknya dia telah mempergunakan segenap tenaga yang dimilikinya, sehingga tenaga untuk merontapun sudah tidak dimilikinya lagi.
Kwik Tay-lok yang menyaksikan keadaan tersebut, tanpa terasa matanya ikut menjadi basah, sambil menggigit bibir katanya.
"Ong lotoa, sudah kau dengarkah perkataannya?"
Ong Tiong manggut-manggut. Kembali Kwik Tay-lak berseru sambil menggigit bibir.
"Kalau sudah kau dengar, mengapa masih berdiri tak berkutik ditempat itu ?"
"Gerakan apa yang harus kulakukan?"
"Demi kau, dia telah berubah menjadi begitu, apakah kau tak bisa mencarikan akal untuk menyelamatkan jiwanya ?"
"Kau suruh aku menolongnya dengan cara apa ?"
Tiba-tiba Lim Tay-peng berkata.
"Kalau toh kau bisa memunahkan racun senjata rahasia yang bersarang di tubuh Siau Kwik, seharusnya kaupun bisa memunahkan racun yang mengeram didalam tubuhnya sekarang."
Ong Tiong segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Itu mah berbeda, sama sekali berbeda !"
Katanya.
"Apa perbedaannya?"
Seru Kwik Tay-lok.
Tiba-tiba Ong Tiong tidak berbicara lagi.
Walaupun dia masih berusaha keras untuk mengendalikan diri, tapi dibalik sorot matanya itu seakan terpancar sinar air mata, bukan air mata kesedihan, melainkan rasa gusar yang tampaknya sudah mulai meluap...
Jari tangannyapun turut gemetar keras.
Yan Jit termenung sebentar, lalu ujarnya.
"Andaikata Ong lotoa tak dapat memunahkan racun didalam tubuhnya, maka di dunia ini hanya ada satu orang yang bisa memunahkan racunnya itu..."
"Siapa ?"
"Si ular bergaris merah !"
"Betul !"
Teriak Kwik Tay-lok.
"kita harus minta si ular bergaris merah itu menyerahkan obat pemunahnya."
"Aku kuatir inipun sulit"
Kata Yan Jit sambil menghela napas panjang.
"Ingin meminta obat penawar dari ular bergaris merah, hakekatnya keadaan tersebut sama sulitnya dengan meminta harimau untuk menguliti kulitnya sendiri."
Tentu saja Kwik Tay-lok juga menyadari akan teori tersebut. Sementara itu dengusan napas Ang Niocu makin lama semakin lemah, tapi dia masih tiada hentinya memanggil nama Ong Tiong.
"Ong Tiong.... Ong Tiong..."
Suara panggilannya makin lama semakin lemah, Kwik Tay-lok yang mendengarkan suara tersebut merasakan hatinya seperti hancur lebur tak tahan dia berteriak keras.
"Kalau memang kalian tak bisa menolongnya dan tak mau memintanya obat penawar dari si ular bergaris merah, apakah kalian akan menyaksikan orang itu mati di hadapan kalian ? Sebetulnya kalian ini manusia atau bukan ?"
Yan Jit menghela napas pula, sahutnya.
"Menurut pendapatmu, apa yang harus kita lakukan ?"
"Sekalipun si ular bergaris merah sendiri, diapun tidak akan membiarkan ia mati karena keracunan, kalian...."
Selama ini Lim Tay-peng hanya duduk di situ sambil termangu-mangu, pada saat itulah mendadak ia menukas perkataannya sambil berteriak keras.
"Benar, ular bergaris merah juga tak akan membiarkan dia mati dengan begitu saja, oleh sebab itu kita harus menghantarnya pulang."
Walaupun cara ini kurang baik, tapi tak bisa dianggap sebagai suatu cara yang jelek. Dengan kening berkerut Yan Jit lantas berkata.
"Persoalannya sekarang, siapa yang menghantarnya pulang kesana ?"
"Hmm ..... !"
Kwik Tay-lok mendengus.
Walaupun dia tidak mengatakan apa-apa, namun ujung matanya sedang melihat Ong Tiong.
Tentu saja dia merasa Ong Tiong yang berkewajiban untuk menghantarnya pulang.
Asal orang ini masih memiliki sedikit liang-sim, dia tak akan membiarkan perempuan itu mati di sana...
Siapa tahu Ong Tiong tidak menunjukkan reaksi apa-apa, bahkan sepasang matanyapun tidak berkedip, seakan-akan ia tidak mendengar apa-apa, atau sekalipun mendengar seolah-olah tidak memahami apa artinya, dia mirip sekali dengan seseorang yang lemah ingatan..
Tentu saja Ong Tiong bukan seseorang yang lemah ingatan.
Dia tak lebih cuma berlagak seolah-olah bodoh.
Tak tahan Kwik Tay-lok segera berteriak keras.
"Baik, kalian tak mau menghantarnya pulang, biar aku saja yang menghantarnya !"
Dengan mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya, dia melompat bangun.
Dengan cepat Yan Jit memeluknya kencang-kencang.
Ong Tiong berpaling memandang sekejap ke arah mereka, sorot matanya memancarkan rasa sedih dan kasihan.
Siapapun tak ada yang tahu, sebenarnya apa yang sedang dia pikirkan...
Lewat lama kemudian, akhirnya dia mendepak-depakkan kakinya ke atas tanah seraya berseru.
"Baik, aku akan menghantarkanmu pulang!"
Dia membalikkan badan dan maju ke depan baru saja akan membopong tubuh Ang Nio cu....
Mendadak Lim Tay-peng melompat maju ke depan, sekuat tenaga dia menumbuknya sehingga orang itu mundur tujuh-delapan depa dan jatuh di sudut dinding sana.
Pada saat itulah Lim Tay-peng telah membopong tubuh Ang Nio-cu dari atas tanah.
Mendadak paras muka Ong Tiong berubah hebat, teriaknya keras-keras.
"Hei, apa yang hendak kau lakukan ?"
Lim Tay-peng segera menukas perkataannya itu.
"Hanya aku seorang yang dapat mengantarnya pulang, Yan Jit harus merawat siau Kwik, kau adalah duri dalam mata baginya, bila kau yang pergi maka mereka tak akan melepaskan dirimu."
Sambil berkata dia sudah melayang keluar dari situ. Ong Tiong segera melompat bangun dan menerjang ke depan kecepatan luar biasa, bentaknya keras-keras.
"Cepat lepaskan dia, cepat...."
Di tengah bentakan keras, mendadak terdengar Lim Tay-peng menjerit kaget.
Ang Nio-cu yang sudah kempas-kempis napasnya itu mendadak melompat bangun dari bopongannya seperti seekor ular berbisa, kemudian melambung tiga kaki ke tengah udara, berjumpalitan beberapa kali dan sekejap mata kemudian lenyap dibalik kegelapan sana.
Terdengar suara tertawa merdu seperti keleningan bergema dari kejauhan sana.
"Telur busuk she Ong, kau melihat orang yang mau mati tak sudi menolong, kau betul-betul seorang manusia yang tak punya liangsim, kau betul-betul seorang makhluk yang tak punya perasaan."
Ketika mengucapkan kata-kata yang terakhir, orangnya sudah pergi jauh sekali.
Yang tersisa hanyalah suara tertawanya yang merdu dan lengking seperti suara kehilangan itu menggema dari kejauhan sana.
Itulah suara tertawa yang merdu seperti keleningan perenggut nyawa.
Lim Tay-peng sudah tergeletak di atas permukaan salju di atas dadanya telah bertambah dengan setitik bekas merah yang berwarna ke hitam-hitaman....
Tak ada orang yang bergerak.
Tak ada orang yang berbicara.
Bahkan sekulum senyuman manisnya yang terakhirpun akhirnya terbuyar oleh hembusan angin dingin.
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Ong Tiong berjalan keluar dengan langkah pelan.
kemudian membopong tubuh Lim Tay-peng dan dibawa kembali.
Wajahnya jauh lebih dingin daripada hembusan angin, lebih gelap dari cahaya malam.
Air mata Kwik Tay-lok telah jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya.
Yan Jit sedang memandang ke arahnya, air mata pun telah membasahi seluruh wajahnya dengan lembut dia berkata.
"Kau tak usah berkecil hati, soal inipun tak dapat menyalahkan dirimu!"
Seandainya dia tidak mengucapkan perkataan itu, keadaannya masih mendingan, begitu ucapan tersebut diutarakan, Kwik Tay-lok tak dapat menahan rasa sedihnya lagi.
Mendadak seperti seorang anak kecil saja, dia menangis tersedu-sedu....
Entah berapa lama sudah lewat, pelan-pelan Ong Tiong baru mendongakkan kepalanya seraya berkata.
"Dia belum mati !"
Kejut dan girang Yan Jit setelah mendengar perkataan itu, serunya tertahan.
"Apakah dia masih bisa tertolong ?"
Ong Tiong manggut-manggut.
"Apa yang harus dilakukan sehingga dia baru bisa tertolong ?"
Tanya Yan Jit lagi.
Begitu ucapan itu diutarakan, sekali paras mukanya berubah hebat.
Karena dia telah menduga apa yang bakal terjadi, sebab di dunia ini hanya ada satu cara yang bisa menolong jiwa Lim Tay-peng.
Itulah suatu cara yang benar-benar menakutkan sekali.
Dia memandang ke arah Ong Tiong, sorot matanya pun tanpa terasa memancarkan rasa takut yang luar biasa, sebab dia sudah tahu apa yang sedang dipikirkan Ong Tiong.
Tentu saja Ong Tiong juga tahu apa yang sedang dia pikirkan, paras mukanya justru kelihatan sangat tenang sekali, katanya dengan suara hambar.
"Kau harus tahu apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan jiwanya..."
Cepat-cepat Yan Jit menggelengkan kepalanya berulang kali, serunya.
"Cara ini tak bisa kau lakukan."
"Tidak bisa !"
Teriak Yan Jit dengan suara lantang.
"Tidak bisa juga harus bisa, sebab kita sudah tidak memiliki pilihan yang lain."
Mendadak Yan Jit roboh ke bawah, roboh di atas kursi dan duduk lemas, seolah-olah dia sudah tak sanggup lagi untuk mempertahankan diri.
Kwik Tay-lok sedang mengawasi mereka dengan mata melotot besar, noda air mata masih membasahi wajahnya, tak tahan diapun bertanya.
"Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan ?"
Tiada orang yang menjawab, tiada orang yang buka suara. Dengan gelisah Kwik Tay-lok berseru kembali.
"Mengapa kalian tak mau memberitahukan kepadaku ?"
Yan Jit menghela napas pelan, sahutnya.
"Sekalipun kau tahu juga sama sekali tak ada gunanya!"
"Kenapa tak ada gunanya? Kalau bukan aku yang mengajukan usul tersebut, Lim Tay-peng tak akan berubah menjadi begitu rupa, aku lebih sedih dari pada siapapun, lebih gelisah dan ingin menolong dirinya daripada siapa pun."
"Sekarang kau hanya bisa menolong seseorang."
Kata Ong Tiong dengan suara dingin.
"Siapa ?"
"Kau sendiri !"
"Luka yang kau derita tidak ringan, bila pikiran sampai melayang kemana-mana, mungkin nyawamu sendiripun tak bisa dipertahankan."
Bujuk Yan Jit dengan lembut. Kwik Tay-lok melototi sekejap ke arah arang-orang itu, mendadak katanya.
"Senjata rahasia yang terkena di tubuhku apakah juga beracun?"
"Benar !"
"Siapa yang telah menolongku ?"
"Ong lotoa !"
"Kalau toh Ong lotoa bisa memunahkan racun yang bersarang di tubuhku, mengapa dia tak dapat memunahkan racun di tubuh Lim Tay peng ?"
Yan Jit tidak menjawab. Kembali Kwik Tay-lok berkata.
"Racun yang mereka poleskan di ujung senjata rahasia mereka seharusnya berasal dari satu aliran, bukankah begitu ?"
Yan Jit termenung lagi sampai lama sekali, kemudian baru menghela napas panjang.
"Kenapa kau harus menanyakan kesemuanya itu sampai sedemikian jelasnya?"
"Kenapa aku tak boleh bertanya sejelas-jelasnya ?"
Seru Kwik Tay-lok dengan suara keras.
"bila kalian tidak memberitahukan lagi kepadaku, aku akan.... aku akan..."
Sekuat tenaga dia memukul-mukul pinggiran pembaringan, saking mendongkolnya dia sampai tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Sambil menggigit bibir, Yan Jit segera berseru.
"Baik aku akan memberitahukan kepadamu, racun yang bersarang di tubuhmu serta racun yang bersarang di tubuh Lim Tay-peng, kedua-duanya adalah racun khusus dari si ular garis merah, oleh sebab itu hanya obat penawar khusus darinya yang bisa menolong jiwamu."
"Tapi Ong lotoa...."
"Ketika Ong lotoa bersiap-siap hendak meninggalkan mereka, secara diam-diam dia telah mencuri sedikit obat pemunah khusus dari ular garis merah dan menyembunyikannya, maksudnya adalah sebagai persediaan untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan".
"Lantas dimana obat penawarnya ?"
"Telah dipakai sampai habis sewaktu menolongmu!"
Jawab Yan Jit sepatah demi sepatah.
"Sudah dipakai sampai habis ?"
Kwik Tay lok berseru tertahan.
"Yaa, sedikitpun sudah tak ada sisanya lagi."
Sambil menggigit bibir, pelan-pelan katanya lagi.
"Sebetulnya obat penawar itu dipersiapkan untuk menolong dirinya sendiri, tapi sekarang telah digunakan semua untuk menolongmu. Sebetulnya aku mengira dia masih meninggalkannya sedikit, siapa tahu karena dia takut kau keracunan hebat dan takut kadar obat pemunahnya kurang, maka...."
Berbicara sampai di situ, sepasang matanya menjadi merah dan ia tak sanggup melanjutkan kembali, sebetulnya persoalan ini hanya dia seorang yang tahu, sebab waktu itu Lim Tay-peng sedang berjaga ditempat luaran..
Kwik Tay-lok mengepal sepasang tinjunya kencang-kencang, peluh dingin membasahi sekujur badannya, lewat lama sekali dia baru bergumam.
"Akulah yang telah mencelakai Lim Tay-peng, obat pemunah yang bisa menyelamatkan diapun telah kupergunakan sampai habis, aku betul-betul hebat, betul-betul luar biasa...."
"Kejadian ini sesungguhnya merupakan suatu kejadian yang sama sekali tak terduga oleh siapapun, kau sama sekali tidak...."
"Betul, aku sama sekali tidak meminta kepada kalian untuk menolongku."
Seru Kwik Tay-lok "kalian sendiri yang harus berbuat demikian untuk menolongku, tapi mengapa kalian tidak pikirkan, dalam keadaan seperti ini, bagaimana mungkin bisa membuat aku hidup dengan hati yang lega dan tenteram....?"
"Kau harus hidup terus,"
Ujar Ong Tiong dengan wajah membesi.
"setelah aku menolongmu, sekalipun kau ingin mati juga tak bisa."
"Tapi Lim Tay-peng...."
"Kau tak perlu menguatirkan dirinya,""
Ujar Ong Tiong dengan suara dalam.
"kalau toh aku bisa menolongmu, tentu saja akupun mempunyai akal untuk menolong dirinya."
"Sekarang aku telah mengerti cara apakah yang hendak kau pergunakan itu."
Ujar Kwik Taylok sambil menggigit bibirnya.
"Kau hendak meminta obat penawar kepada ular garis merah, bukankah begitu?"
Setelah menggertak bibir, kembali serunya.
"Tadi kau tak mau pergi, lantaran kau terlalu memahami watak Ang Nio-cu, tapi sekarang, demi Lim Tay-peng, sekalipun harus mengorbankan jiwa untuk memperoleh obat penawar itu, mau tak mau kau harus pergi juga."
Ong Tiong tertawa hambar.
"Kau anggap It-hui-ciong-thian eng-tiong ong adalah seorang manusia baik-baik ?"
"Aku tidak kenal siapa itu eng-tiong-ong, aku hanya kenal dengan Ong Tiong, akupun memahami manusia macam apakah Ong Tiong itu."
"Ooooohhh....?"
Sepasang mata Kwik Tay-lok kembali berkaca-kaca, katanya.
"Manusia yang bernama Ong Tiong itu meski dingin dan kaku mukanya, padahal dia berhati lebih lunak daripada tahu, lebih panas daripada kobaran api."
Ong Tiong termenung beberapa saat lamanya, kemudian diapun berkata.
"Kalau toh kau sangat memahami diriku, tentunya kau juga harus tahu, apabila aku sudah ingin melakukan sesuatu, maka siapa saja tak akan sanggup untuk menghalangi niatku itu."
"Kau juga harus memahami diriku"
Kata Kwik Tay-lok pula.
"bila aku ingin melakukan suatu pekerjaan, tak seorangpun yang dapat menghalangi diriku !"
"Kau ingin melakukan apa ?"
"Pergi mencari si ular garis merah untuk meminta obat penawar darinya...."
"Kau mana boleh pergi ?"
Seru Yan Jit berubah.
"Kenapa aku tak boleh pergi? Pokoknya aku akan pergi, lagi pula hanya aku seorang yang dapat pergi."
"Tapi lukamu...."
"Justru karena aku terluka, maka kalian lebih-lebih harus membiarkan aku pergi."
Tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbicara, dia melanjutkan kembali.
"Sekarang kita sudah tinggal dua orang, bila dua orang harus menghadapi tiga orang, maka jelas hal ini parah keadaannya, oleh sebab itu kalian tak boleh terluka lagi, kalau tidak kita semua hanya akan menemukan jalan kematian belaka."
"Walaupun perkataanmu ada benarnya juga. tapi....."
Kwik Tay-lok segera menukas kata-katanya itu.
"Tapi kami pun tak dapat membiarkan Lim Tay-peng mati keracunan, oleh sebab itu hanya aku seorang yang boleh pergi, bagaimanapun juga aku toh sudah terluka, dan tak mampu menyumbang tenaga lagi, apa lagi..."
Setelah tertawa.
"Paling tidak si ular garis merah sekalian juga masih terhitung manusia, bagaimanapun juga mereka tak akan turun tangan keji terhadap seseorang yang sudah tidak memiliki kemampuan untuk melawan bukan?"
Ong Tiong segera tertawa dingin.
"Kau anggap mereka tak dapat membunuhmu?"
Jengeknya.
"Aku rasa tidak"
"Kau yang lebih memahami mereka? Atau aku ?"
"Kalau begitu aku dapat memberitahukan kepadamu, mereka hanya tidak membunuh semacam manusia"
"Manusia macam apa ?"
"Orang yang sudah mati!"
Mendadak serentetan suara tertawa yang merdu bagaikan keleningan berkumandang datang terbawa angin.
Yan Jit menerjang ke muka, diapun menyaksikan sebuah layang-layang berwarna kuning sedang melayang turun dengan amat pelannya ditengah kegelapan malam.
Layang-layang itu berbentuk segi empat diatasnya tertera pula lukisan yang me-liuk-liuk seperti cacing.
Sekarang Yan Jit sudah tahu, layang-layang tersebut bukan suatu layang-layang biasa, melainkan sebuah tanda pembetot nyawa yang mematikan bagi siapapun yang melihatnya.
Tulisan apakah yang tertera di atas tanda pembetot nyawa itu?
Siapapun tidak memahaminya.
Hanya manusia yang pernah mendatangi neraka saja yang dapat memahami tulisan tersebut.
Ong Tiong juga memahaminya.
Di atas layang-layang berwarna kuning itu penuh berisikan gambaran Hu yang berwarna merah, merahnya seperti darah, seperti pula kobaran api dari neraka.
Ong Tiong mengawasinya lekat-lekat, dari balik sorot matanya yang dingin terpancar keluar cahaya ngeri dan ketakutan yang luar biasa.
Yan Jit tidak memperhatikan layang-layang tersebut, dia hanya memperhatikan sepasang mata Ong Tiong....
walaupun ia tidak mengerti makna dari gambaran Hu di atas layang-layang tersebut, namun dia memahami apa arti dari sorot mata Ong Tiong tersebut.
Tak tahan lagi dia bertanya.
"Tulisan apakah yang tertera di atas layang-layang tersebut?"
Ong Tiong termenung sampai lama sekali tanpa menjawab, dia malah membuka jendela dan memandang kegelapan malam yang mencekam.
Bintang makin redup, malampun sudah mendekati akhir.
Ditengah kegelapan malam, kembali tampak sebuah layang-layang dinaikkan ke tengah udara.
Ong Tiong menghela napas panjang, gumamnya.
"Fajar kembali sudah menyingsing!"
"Langit tentu akan menjadi, terang !"
Sambung Yan Jit.
"Akupun tentu akan pergi !"
Ong Tiong menambahkan. (BERSAMBUNG
Jilid 18)
Jilid 18 KENAPA ? Tanya Yan Jit dengan paras muka berubah menjadi pucat pias seperti mayat.
"Sebab sebelum fajar menyingsing nanti, bila aku masih belum sampai di bawah Layanglayang tersebut, maka Lim Tay-peng akan mati!"
Sewaktu mengucapkan perkataan itu, wajahnya tampak murung dan sedih sekali.
Yan Jit juga tidak berkata apa-apa lagi, dia hanya membungkam seribu bahasa.
Dia tahu, apabila Ong Tiong telah berkata demikian, maka yang diucapkan itu sudah pasti tak bakal salah lagi.
Sebab bagaimanapun juga Ong Tiong jauh lebih memahami keadaan dari pada dirinya.
Langit sudah hampir terang tanah.
Datangnya fajar selalu membawa kecemerlangan, kegembiraan serta harapan bagi siapapun juga.
Tapi sekarang, yang diberikan untuk Ong Tiong sekalian hanyalah kematian.
Sebelum fajar menyingsing, bila Ong Tiong tidak berdiri di bawah layang-layang tersebut, Lim Tay-peng akan mati !
Itulah arti dari pada tulisan yang tertera diatas, layang-layang tersebut....
Artinya, bagaimanapun juga Ong Tiong harus ke situ, dia harus mengorbankan jiwanya.
Dengan suara lantang Kwik Tay-lok berseru.
"Aku toh sedari dulu sudah bilang, hanya aku seorang yang dapat ke situ, siapa saja jangan harap bisa menghalangi diriku !"
"Baik, kau boleh pergi"
Kata Ong Tiong dengan hambar.
"tapi perduli kau akan pergi atau tidak, aku tetap akan pergi juga."
"Kalau aku toh sudah pergi, kenapa kau musti pergi juga ?"
"Sebab yang mereka cari bukan kau, melainkan aku !"
"Sekalipun kau pergi kesana, belum tentu mereka akan berikan obat penawar itu kepadamu, tentunya dalam hal ini kau lebih jelas daripada diriku bukan ?"
Seru Yan Jit.
"Yaa aku mengerti."
"Apa yang mereka lakukan tidak lebih hanya merupakan siasat untuk memancing kedatanganmu, cuma satu perangkap yang menanti kau masuk jebakan, sudah pasti mereka telah mempersiapkan diri di sana dan menunggu kau masuk perangkap."
"Soal ini aku jauh lebih mengerti daripada dirimu."
"Tapi kau masih bersikeras hendak pergi juga kesana ?"
"Apakah kau harus membiarkan aku menyaksikan kematian Lim Tay-peng...?"
Napas Lim Tay-peng sudah makin lemah, sepasang giginya saling menggertak keras, wajahnya juga menunjukkan warna abu-abu, itulah suatu warna kematian.
Entah siapapun juga, setiap orang dapat melihat bahwa jaraknya dengan kematian sudah tidak jauh lagi.
Dengan sedih Yan Jit berkata.
"Kami tak dapat menyaksikan dia mati, tapi juga tak dapat membiarkan kau pergi mati !"
Ong Tiong segera tertawa-tawa ujarnya.
"Dari mana kau bisa tahu kalau kepergianku kali ini adalah menghantar kematian ?"
"Siapa tahu kalau dengan cepat aku telah kembali lagi sambil membawa obat penawar!"
Yan Jit, segera melompat sekejap ke arahnya, kemudian berkata.
"Sebetulnya kau lagi menipu kami? ataukah sedang membohongi dirimu sendiri ?"
Akhirnya Ong Tiong menghela napas panjang.
"Aku sendiripun tahu kalau harapanku untuk kembali dengan selamat tidak besar, tapi asal masih ada setitik harapan, aku tetap akan mencobanya...."
"Seandainya setitik harapanpun tak ada?"
"Aku masih tetap akan mendatanginya juga."
Perkataan itu diucapkan dengan kata-kata yang tegas dan bersungguh-sungguh. Tiba-tiba Yan-Jit bangkit berdiri, kemudian berseru dengan suara lantang.
"Baik, kalau kau ingin pergi, akupun akan menemani dirimu."
Pelan-pelan Ong Tiong mengangguk.
"Ai, kau boleh pergi, siapa saja yang bisa pergi boleh pergi ! Biarkan mereka yang tak bisa pergi tetap tinggal di sini, menunggu orang lain datang untuk menjaganya."
Yan Jit tak mampu berbicara lagi.
"Hei, sebenarnya apa yang hendak kalian lakukan ?"
Tiba-tiba Kwik Tay-lok berseru tak tahan.
"kenapa tidak diucapkan saja secara berterus terang ?"
"Aku akan pergi seorang diri,"
Kata Ong Tiong.
"sedang kalian dengan membawa Lim Taypeng menunggu aku di bawah bukit sana."
"Kemudian ?"
"Kemudian kalian usahakan sebuah kereta untuk menunggu di situ, entah mencuri atau merampas, aku pasti akan berusaha untuk mendapatkan obat pemunah itu."
"Kemudian ?"
"Kemudian kalian duduk dalam kereta dan menunggu kedatanganku, sebelum matahari terbenam nanti, bila aku belum datang juga mencari kalian, maka tinggalkanlah tempat ini."
"Setelah meninggalkan tempat ini, kami harus pergi kemana?"
Tanya Kwik Tay-lok pula. Ong Tiong segera tertawa, meski suara tertawanya agak menyedihkan.
"Dunia ini sangat luas, masa kalian tak tahu kemana harus pergi ?"
Kwik Tay lok juga pelan-pelan mengangguk, katanya.
"Bagus, suatu ide yang sangat bagus, ide semacam ini tak nyana bisa juga kau dapatkan."
"Walaupun ide ini tidak terhitung suatu ide yang bagus, tapi inilah merupakan satu-satunya ide yang baik."
"Bagus sekali, kau demi Lim Tay-peng pergi beradu jiwa, sedang kami harus sembunyikan ekor macam anjing untuk melarikan diri, kau adalah seorang teman baik, tapi kami harus menjadi binatang."
"Apakah kau masih mempunyai cara lain yang lebih baik lagi ?"
Serunya dengan lantang.
"Aku hanya punya satu akal."
"Katakan !"
"Jika ingin hidup, kita harus hidup bersama dengan riang gembira, kalau ingin mati maka kita pun harus mati bersama dengan riang gembira...."
Kwik Tay-lok tetap adalah Kwik Tay-lok, dia bukan Ong Tiong, juga bukan Yan Jit.
Mungkin dia tidak memiliki ketenangan Ong Tiong, mungkin tidak memiliki kecerdasan Yan Jit.
Tapi orang ini justru selalu berpikir menurut perasaan, apa yang diucapkanpun selalu berbobot.
Ketika angin berhembus lewat, kabut yang kelabu baru saja muncul dari tanah pekuburan.
Api setan juga lenyap dibalik kabut.
Siapa bilang di dunia ini tiada setan, Siapa yang bilang ?
Yang sedang melayang dibalik kabut sekarang, bukankah merupakan sukma gentayangan yang tak diterima dalam neraka ?
Siapapun tak dapat melihat jelas paras mukanya.
Karena paras mukanya berwarna kelabu, seakan-akan telah melebur menjadi satu dengan kabut dingin yang tebal, hidungnya sudah melebur dengan kabut, mulutnya juga telah melebur dengan kabut.
Yang tersisa tinggal sepasang mata setannya yang berwarna merah seperti api.
Dibalik mata tiada sinar, juga tak bisa mana yang hitam mana yang putih, tapi penuh berisikan sinar kebengisan seakan-akan sedang menyumpahi seluruh orang dan seluruh kejadian yang berada di dunia ini....
Entah tempat manapun yang dipandang oleh sorot mata tersebut, di tempat itu segera akan muncul suatu alamat yang tidak menguntungkan.
Ang Nio-cu segera mengerlingkan matanya yang jeli, kemudian berkata lagi.
"Menurut pendapatmu, mungkinkah dia akan datang?"
"Menurut kau ?"
Sukma gentayangan itu balik bertanya.
"Kenapa harus aku yang menjawab ?"
"Sebab kau toh lebih memahami tentang dirinya daripada kami !"
Dengan lemah gemulai Ang Nio-cu maju menghampirinya, kemudian mengerling sekejap ke arahnya sembari berkata.
"Sekarang kau masih cemburu ?"
"Hmmm!"
Sukma gentayangan itu mendengus.
"Kau anggap aku benar-benar menaruh perhatian kepadanya."
Sorot mata dari sukma gentayangan itu memancarkan rasa benci yang jauh lebih dalam, katanya.
"Selama ada dia, belum pernah kau menemani aku barang seharipun juga...."
Sekarang, sorot mata itu sedang mengawasi daerah di sebelah barat, setiap kuburan setiap tumpukan salju, tak ada yang tertinggal olehnya.
Kemudian sorot mata itu baru memperlihatkan sinar yang penuh dengan senyuman.
Siapa saja tak dapat menduga betapa keji dan menakutkannya senyuman semacam itu.
Pada saat itulah, dari balik kabut yang tebal kembali berkumandang suara tertawa yang merdu seperti keleningan.
Bukan keliningan yang merdu, melainkan suara keleningan yang mengandung hawa pembetot sukma.
Bagaikan bayangan sukma saja Ang Niocu muncul dari balik kabut tebal, sambil tertawa katanya.
"Segala sesuatunya telah dipersiapkan?"
Sukma gentayangan itu pelan-pelan mengangguk.
"Kecuali orang itu tidak datang, kalau tidak jangan harap dia bisa pulang dalam keadaan hidup !"
"Apakah kau sudah lupa siapa yang suruh aku berbuat demikian?"
Sukma gentayangan itu tidak berbicara lagi. Ang Nio-cu tertawa dingin, kembali katanya.
"Untuk berhasil merangkulnya agar berpihak kepada kita, kau suruh aku pergi menemaninya tidur, sekarang kau malahan menyalahkan aku, sebenarnya kau punya liangsim tidak?"
"Tidak !"
Kembali Ang Nio-cu tertawa, katanya.
"Sungguh tak kusangka kaupun bisa mengucapkan sepatah kata yang jujur...."
"Dan kau ?"
"Selama berada di hadapanmu, aku selalu berbicara dengan sejujurnya...."
Sahut perempuan itu.
"Bila aku tidak menyuruhmu menemaninya tidur, apakah kau tak akan pergi?"
"Aku tetap akan pergi."
"Kenapa ?"
Ang Nio-cu tersenyum.
"Karena aku suka menemani orang lelaki tidur."
Sukma gentayangan itu segera menggertak giginya kencang-kencang, serunya lagi.
"Menemani tidur lelaki macam apa ?"
"Kecuali kau, lelaki macam apapun aku suka !"
Sorot mata sukma gentayangan yang penuh rasa benci itu telah berubah menjadi surut penderitaan, tapi sinar matanya justru berubah menjadi terang. Ang Nio-cu mengawasi matanya itu, lalu katanya.
"Sudah habiskah pertanyaanmu itu ?"
Mendadak sukma gentayangan itu menjambak rambutnya kemudian menempeleng wajahnya keras-keras, teriaknya.
"Kau perempuan rendah !"
Ang Nio-cu tidak merasa terkejut atau takut, juga tidak merasa gusar, malah senyumannya bertambah manis.
"Sebenarnya aku memang seorang perempuan rendah, tapi kau lebih rendah daripadaku."
Kembali sukma gentayangan itu menempeleng wajahnya keras-keras. Ang Nio-cu masih saja tertawa, katanya.
"Bukan saja kau suka kalau melihat aku pergi menemani lelaki lain tidur, suka pula bertanya kepadaku, tiap hari bertanya kepadaku, pertanyaan seperti ini entah sudah betapa kali kau tanyakan kepadaku !"
Tidak membiarkan si sukma gentayangan itu membuka suara, kembali dia berkata lagi.
"Karena kau suka mendengarkan perkataan semacam ini, suka menyiksa aku, hanya dikala aku sedang tersiksa, kau baru menjadi orang, kau baru merasa bahagia."
Sukma gentayangan itu mendesis lirih, sekuat tenaga menariknya keras-keras. Ang Nio-cu segera tertawa cekikikan.
"Apakah kau ingin..."
Mendadak terdengar seseorang berkata dengan suara dingin.
"Sekarang bukan saatnya buat kalian untuk berpacaran !"
Suara itu lebih dingin daripada es. Karena suara tersebut memang datangnya dari bawah lapisan salju yang amat tebal. Ang Nio-cu segera tertawa, serunya.
"Rupanya kau telah menyusup ke dalam lapisan salju !"
Selembar wajah tiba-tiba muncul dari balik tumpukan salju yang tebal di atas permukaan tanah. Itulah selembar wajah yang lebih menakutkan daripada wajah orang mati...
"Bagaimana keadaan di bawah ?"
Ang Nio-cu bertanya.
"Nyaman sekali"
Sahut ular garis merah. Kembali Ang Nio-cu tertawa.
"Di dunia ini memang sulit untuk mencari tempat kedua yang jauh lebih segar dari pada tempat kau berada sekarang."
"Apakah kaupun ingin menerobos masuk kemari untuk menemani aku tidur....?"
"Asal kau punya kesabaran untuk menungguku di bawah, cepat atau lambat aku pasti akan menembus ke bawah."
"Cuma sayang dia tak punya napsu terhadap dirimu"
Dengus si sukma gentayangan sambil tertawa dingin. Si ular garis merah memandang sekejap keadaan cuaca, tiba-tiba dia berkata.
"Waktu sudah tidak pagi, lebih baik kau pergi mampus saja."
"Menurut pendapatmu, mungkinkah dia akan datang ?"
"Pasti akan datang"
Sahut Ang Nio cu dengan cepat.
"Kenapa ?"
"Sebab kecuali terhadap kita, terhadap sahabatnya selalu baik dan bersedia berkorban"
Sukma gentayangan itu mendongakkan kepalanya dan memandang pula keadaan cuaca.
Fajar sudah mulai menyingsing.
Sukma gentayangan atau setan penasaran kebanyakan akan pulang ke rumahnya jika fajar telah menyingsing.
"Aku akan pergi mati !"
Kata sukma gentayangan itu kemudian.
"Kalau begitu cepatlah pergi mati !"
Kata Ang Nio-cu.
Pelan-pelan sukma gentayangan itu berjalan ke samping sebuah kuburan, mengeluarkan sebuah botol porselen dan meletakkannya ke atas kuburan tersebut.
Kemudian diapun secara tiba-tiba lenyap didalam kuburan tadi.
Ang Nio cu menghembuskan napas panjang, lalu bergumam.
"Seandainya dia tak akan muncul untuk selamanya, betapa indahnya waktu itu."
"Bagaimana indahnya ?"
Tanya si ular garis merah. Sambil menundukkan kepala, Ang Nio-cu memandang sekejap ke arahnya, sepasang matanya yang jeli dan bening itu menatapnya lekat-lekat, kemudian berkata dengan lembut.
"Kalau tinggal kita berdua, bukankah keadaan tersebut lebih baik lagi...?"
"Kalau ingin begitu, paling tidak kita harus menunggu sampai semua perempuan yang ada di dunia ini sudah pada mampus semua."
Kata si ular garis merah dingin. Ang Nio-cu segera menerjang ke muka dan meludah di atas wajahnya, dengan gemas dia berteriak.
"Sebetulnya kau ini manusia atau bukan?"
"Bukan !"
Jawab si ular bergaris merah sambil tertawa seram.
Belum habis dia berkata, wajahnya itu sudah lenyap kembali dibalik lapisan salju.
Ang Nio-cu menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya, mendadak saja dia seperti mempunyai banyak pikiran.
Lewat lama kemudian, tubuhnya baru berkelebat ke depan..
Dengan cepat bayangan tubuhnya lenyap pula dibalik kabut yang teramat tebal itu.
Layang-layang itu sudah diturunkan.
Langit hanya berwarna putih kelabu, kecuali itu tiada sesuatu yang tampak.
Ong Tiong sedang berjalan dengan sangat lamban, wajahnya masih tetap dingin tanpa emosi.
Sekalipun dalam hatinya merasa takut, perasaan tersebut tak akan dia perlihatkan di atas wajahnya.
Entah siapa saja yang pernah merasakan penderitaan dan siksaan, dia seharusnya dapat menyembunyikan perasaan tersebut didalam hatinya.
Pelbagai perasaan harus disembunyikan didalam hati.
Tapi perasaan ibaratnya arak.
Semakin dalam kau simpan, semakin lama kau simpan, justru akan semakin tebal dan keras.
Sekarang dia cuma seorang diri.
Teman-temannya tiada seorangpun yang datang.
Apakah mereka telah menghianatinya, ataukah dia telah berhasil menundukkan perasaan mereka ?
Siapa saja tidak tahu.
Siapapun tak dapat membaca kesemuanya itu dari perubahan mimik wajahnya.
Tapi semua orang tahu, di dunia ini tiada perjamuan yang tak bubar, bagaimanapun akrabnya suatu persahabatan, cepat atau lambat akhirnya pasti akan berpisah juga.
Kehidupan manusia memang serba tak menentu, kadangkala berkumpul kadang kala berpisah, tapi berkumpul juga baik, mengapa harus terlampau serius.
Langit masih remang-remang, tapi untung saja masih ada setitik cahaya terang.
Walaupun langkahnya sangat lamban, tapi akhirnya sampai juga ditempat tujuan.
Manusia hidup memang demikian, banyak urusan memang selalu begitu, kenapa pula harus terlampau tergesa-gesa ?
Angin masih terasa sangat dingin, dingin bagaikan sebilah pisau, pisau yang menyayat wajahnya.
Pelan-pelan dia berjalan menembusi tanah pekuburan, diam-diam menghitung jumlah batu nisan yang berserakan di situ.
Batu nisan itu ada yang tumbang ada yang sudah lapuk dimakan cuaca, bahkan tulisannya pun sukar dibaca.
Siapakah yang beristirahat didalam kuburan itu?
Tiada orang yang memperhatikan lagi.
Dikala mereka masih hidup, bukankah merekapun mempunyai kebanggaan, kenis-taan, gembira dan sedih ?
Tapi sekarang, mereka tidak memiliki apa-apa.
Kalau toh sudah tahu begini, mengapa pula kau selalu memikirkan kebanggaan maupun kenistaan dirimu didalam hati ?
Ong Tiong menghela napas panjang, mendadak ia berhenti berjalan.
Sebab dia telah mendengar suara tertawa dari Ang Nio-cu.
Ang Nio-cu sedang tertawa cekikikan dengan suaranya yang merdu bagaikan keleningan.
"Aku sudah tahu bahwa kau pasti datang, ternyata kau benar-benar telah datang."
"Yaa, aku telah datang."
Dia telah melihatnya, perempuan itu telah berdiri di bawah sebatang pohon yang gundul di atas permukaan salju, pakaiannya masih berwarna merah darah, seakan-akan masih tetap seperti ketika mereka bersua untuk pertama kalinya dulu.
Tapi waktu yang sudah lewat tak pernah akan kembali lagi, kegembiraan dan kesedihan yang sudah lewat pun akan segera terlupakan.
Sekalipun sekarang belum terlupakan, cepat atau lambat akhirnya pasti akan terlupakan juga.
Ang Nio-cu sedang berdiri di sana sambil mengawasi dirinya, dibalik sinar matanya itu entah terpancar rasa-marah atau murung?
Cinta atau benci?
Dia mau cinta juga boleh, benci juga boleh, sebab kesemuanya itu tak menjadi soal.
Akhirnya Ang Nio-cu tertawa.
"Betulkah kau datang untuk mengambil obat penawar bagi Lim Tay-peng ?"
Tanyanya.
"Benar !"
"Kalau demi aku, kau tak akan sudi kemari?"
Kata Ang Nio-cu sambil menggigit bibir.
"Yaa, tak sudi."
Ang-Nio-cu tertawa amat sedih.
"Mengapa sikapmu terhadap teman selalu lebih baik daripada sikap kepadaku ?"
"Sebab kau bukan temanku."
"Aku bukan temanmu? Apakah kau sudah lupa ketika kami sedang berkumpul dulu, betapa besarnya perhatianku kepadamu?"
"Aku sudah melupakannya."
Ang Nio-cu menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Bagaimanapun kerasnya ucapanmu itu, aku tahu dalam hati kecilmu, kau tak pernah akan melupakannya."
Sinar matanya bagaikan kabut, dengan sedih lanjutnya.
"Masih ingatkah kau, suatu ketika sewaktu kita sedang berbaring di puncak bukit Hoa-san, menggunakan awan putih sebagai selimut, menggunakan bumi sebagai ranjang, di dunia ini, seolah-olah tinggal kita berdua saja."
Suaranya makin lama makin rendah, semakin lembut, kemudian lanjutnya lebih jauh.
"Suatu ketika, kita berbaring ditengah gurun pasir yang tiada tepian, waktu itu kita menghitung jumlah bintang yang ada diangkasa sampai sekujur tubuh kita berdua terbenam di tengah pasir.... semua kejadian itu masih ingatkah kau ?"
Ong Tiong tidak berbicara.
Kejadian semacam itu memang tak akan dilupakan oleh siapapun juga.
Benarkah dia dapat melupakannya ?
Berhadapan muka dengan orang pertama yang dicintainya, benarkah perasaan hatinya bisa dingin dan tenang ?
Ang Nio-cu menatapnya lekat-lekat, dari balik matanya nampak air mata berkaca kaca, lanjutnya.
"Semua kejadian seperti itu tak akan kulupakan untuk selamanya, oleh karena itu aku baru membencimu, membenci diriku karena kau pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun kepadaku, membenci dirimu sehingga menginginkan kematianmu, tapi.."
Dia menundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Asal kau bersedia untuk balik kembali seperti sedia kala, asal kau bersedia mengucapkan sepatah kata saja, sekarang juga aku bersedia pergi mengikuti dirimu, entah ke ujung langit sekalipun, aku akan selalu mengikuti dirimu."
"Ke manapun aku tak akan pergi !"
Tiba-tiba Ong Tiong berteriak sekeras-kerasnya. Suaranya sangat keras, seakan-akan hendak menyadarkan kembali dirinya dari impian. Sambil menggigit bibir Ang Nio cu berkata.
"Kalau tempat manapun tak akan kau datangi, mengapa pula kau datang kemari ?"
"Aku datang untuk mengambil obat penawar !"
Sahut Ong Tiong dingin dan ketus.
"Selain itu, tiada alasan lainnya ?"
"Tidak ada !"
"Kau tak ingin datang untuk menengokku."
"Tidak !"
Mendadak paras muka Ang Nio-cu berubah menjadi hijau membesi, hijau seperti kalajengking.
Sorot matanya yang lemah lembut dan penuh kemesraan seketika lenyap tak berbekas, dia mendepak-depakkan kakinya berulang kali seraya berseru keras.
"Baik, obat penawar itu berada di belakang sana, pergilah untuk mengambilnya sendiri."
Ong Tiong berpaling, dia menyaksikan botol porselen di atas tanah kuburan itu.
"Kali ini kami bersedia memberikan obat penawar itu kepadamu karena kami masih menganggap dirimu sebagai teman. Setelah mendapatkannya, lebih baik cepat-cepat kau tinggalkan tempat ini."
Paras muka Ong Tiong masih kaku tanpa emosi.
Apapun yang dikatakan perempuan itu, tak sepatah katapun yang dipercayai olehnya.
Dia tahu, tak mungkin obat penawar tersebut akan diserahkan kepadanya dengan begitu gampang.
Tapi dia toh maju pula ke depan.
Bagaimanapun juga, apapun yang bakal terjadi, dia harus mendapatkan obat penawar tersebut.
Seandainya obat penawar itu berada didalam air keras, dia akan terjun ke dalam air keras, seandainya obat penawar itu berada di tengah kobaran api, dia akan terjun ke dalam kobaran api.
Lapisan salju terasa dingin tapi lembut.
Ong Tiong hanya cukup maju enam-tujuh langkah saja dengan cepat akan berhasil meraih obat penawar itu.
Dia sudah mengulurkan tangannya.
Botol itu sangat dingin, dingin seperti tangannya mayat.
Dia telah mengambil botol tersebut, tangannya jauh lebih dingin daripada botol porselen tersebut.
Sebab pada saat itulah dia sudah merasakan hawa kematian yang sangat tebal menyelimuti sekeliling tempat itu.
Mendadak dari dalam kuburan itu muncul sepasang tangan yang segera menotok jalan darah Huan-tiam-hiat di atas lututnya.
Sementara itu sepasang tangan yang lainpun pada saat yang bersamaan muncul dari bawah lapisan salju dan secepat kilat melepaskan dua titik bintang yang langsung menyerang kakinya.
Dia segera terjatuh dan berlutut di atas tanah, berlutut di depan kuburan itu..
Kemudian dia baru menyaksikan, di bawah kuburan itu muncul sebuah liang gua.
Ternyata kuburan itu hanya sebuah kuburan palsu, didalamnya kosong melompong.
Suara tertawa Ang Nio-cu yang merdu merayu kembali berkumandang datang, katanya sambil tersenyum manis.
"Sekarang, kau benar-benar tak usah pergi ke mana-mana lagi...."
Ong Tiong berlutut di depan kuburan, wajahnya masih tanpa emosi, tapi muka itu pucat pasi dan nampak menakutkan sekali.
Dia sangat memahami orang-orang itu, sangat memahami cara kerja dan kekejian orang ini.
Dia sedang menunggu, menunggu mereka lakukan tindakan yang lebih keji lagi.
Akhirnya dari dalam kuburan itu berkumandang suara keras.
"Kau kalah !"
Dia tahu, itulah suara Cui-mia-hu. Dimana pun juga, suara pembicaraan dari Cui-mia-hu selalu dingin seakan-akan ucapan yang keluar dari dalam kuburan.
"Yaa aku kalah !"
Terpaksa dia harus mengakui kenyataan.
"Kali ini kau tidak mempunyai kesempatan lagi untuk meraih kembali modalmu !"
Kembali Cuimia-hu berkata.
"Yaa memang aku tak punya."
"Tahukah kau, apa yang telah kau kalahkan dalam pertaruhkan?"
"Aku hanya mempunyai selembar nyawa yang kalah dipertaruhkan."
"Kau masih memiliki yang lain."
"Apa pula yang kau inginkan ?"
"Kau seharusnya tahu, apa yang bakal di minta sebuah tangan yang dijulurkan dari peti mati ?"
"Minta uang ?"
"Betul, minta uang !"
"Bila kau minta uang, maka kau telah salah sasaran."
"Aku tak pernah salah mencari orang."
"Yang membutuhkan uang seharusnya aku, dalam harta kekayaan yang kita miliki aku berhak satu bagian, tapi tidak seharusnya kalau kau telan empat bagian yang lainnya sekaligus"
Ong Tiong tidak berbicara, tiba-tiba saja mimik wajahnya berubah menjadi aneh sekali.
"Penghasilan yang kita peroleh beberapa tahun itu lumayan sekali"
Kata Cui-mia-hu.
"Yaa, memang lumayan."
"Apakah cuma kita berlima yang tahu, berapa besar penghasilan kita semua...?"
"Benar !"
"Apakah hanya kita berlima juga yang tahu sebenarnya berapa banyak penghasilan yang kita simpan dan disembunyikan dimana?"
"Benar !"
"Adakah orang ke enam yang mengetahuinya."
"Tidak ada !"
"Entah siapapun orangnya, bila uang tersebut berhasil diambilnya, sudah cukup baginya untuk menikmati penghidupan yang cukup dan berlebihan ?"
"Sekalipun seorang yang pemborospun masih lebih dari cukup."
"Tapi ketika kau telah pergi kami baru tahu, rupanya hanya kau seorang yang dapat menikmati uang tersebut!"
"Kau mengira aku telah melarikan uang tersebut ?"
Seru Ong Tiong.
"Harta tersebut sudah ludas hingga sepeser uangpun tak ada yang tersisa, kau mengira siapa yang telah membawanya lari?"
Ong Tiong menghembuskan napas panjang, katanya.
"Sekarang aku baru tahu, karena apakah kalian datang kemari."
Cui-mia-hu juga tertawa dingin.
"Semenjak dulu aku sudah tahu karena apakah kau pergi, harta kekayaan itu sudah cukup membuat siapa saja mengkhianati temannya."
Tiba-tiba Ong Tiong tertawa. Kembali Cui-mia-hu, berkata.
"Kau menganggap kami menggelikan. Mengira kami adalah telur busuk yang bodoh?"
"Aku baru seorang telur busuk yang bodoh, seandainya aku memiliki sejumlah uang seperti yang kalian maksudkan, tak akan kulewati penghidupan semacam ini, kecuali kalau dia itu seorang tolol."
"Penghidupan macam apakah yang kau maksudkan?"
"Penghidupan yang miskin !"
Tiba-tiba Ang Nio-cu melayang ke depan dan tertawa merdu seperti bunyi keliningan.
"Berapa besar kemiskinanmu itu ?"
"Miskin sekali !"
Ang Nio-cu segera mengedipkan matanya berulang kali, katanya.
"Konon ada seseorang yang dalam semalaman saja telah kalah beberapa puluh laksa tahil perak dalam rumah makan Gui-goan-koan di kata Sian-sia, siapakah orang itu ?"
"Aku !"
"Konon, ada seseorang membeli arak sebanyak beberapa ratus tahil perak selama satu bulan di toko Yan-biau-gwan di bawah gunung sana. Siapa pula orang itu ?"
"Aku !"
"Ada pula satu keluarga yang belakangan ini baru saja mengganti semua perabot rumahnya, bukankah kursi yang ada di ruang kecil di halaman belakangpun, terbuat dari kayu jati, yang harganya paling tidak tujuh tahil perak sebuahnya. Siapa pula orang itu ?"
"Aku !"
Ang Nio-cu segera tertawa, katanya sambil tersenyum.
"Bila seseorang dapat melakukan penghidupan semacam ini, dapatkah orang itu dianggap miskin ?"
"Tidak dapat !"
"Kami sudah mencari kabar, meski tempat ini bernama Hok-kui-san-ceng, namun sejak generasi yang pertama kecuali namanya saja, tidak dijumpai segala sesuatu yang berbau kaya atau mewah."
"Betul !"
"Selama beberapa tahun ini, kau juga tak pernah keluar rumah untuk berdagang ?"
"Bila seseorang bisa hidup bahagia di dalam rumah, mengapa harus keluar rumah untuk bersusah payah ?"
"Memangnya uang bisa terbang datang dari atas langit?"
"Tapi bisa digali dari dalam tanah !"
Sekali lagi Ang-Nio-cu tertawa.
"Tak kusangka begitu cepat kau telah mengakuinya !"
"Tidak mengaku pun tak bisa !"
"Yaa, memang tak bisa !"
"Kalau toh tidak bisa, mengapa aku tidak mengakuinya saja ?"
Setelah tertawa, tertawa yang sangat dipaksakan, dia berkata lebih lanjut.
"Bila kalian hendak menyelidiki asal-usul seseorang sejelasnya, tulang belakang dari kakek moyang tiga generasi pun akan digali keluar. Bila kau menginginkan seseorang berbicara sejujurnya, bahkan si bisu pun mau tak mau harus buka suara, hal ini aku mengetahui jauh lebih jelas lagi daripada orang lain."
"Oleh sebab itu kau tidak seharusnya pergi."
Sambung Cui-mia-hu dengan dingin.
"Aaai.... sayang, ada banyak orang yang seringkali dapat melakukan perbuatan yang tidak seharusnya dia lakukan", gumam Ong Tiong sambil menghela napas.
"Baik, sekarang kita berangkat."
"Berangkat ? Ke mana?"
"Pergi mengambil kembali tiga bagian yang menjadi hak kami".
"Baik, kalian boleh pergi mengambilnya!"
"Mengambilnya di mana?"
"Kalau kau tidak berbicara, dari mana kami bisa tahu uang tersebut disembunyikan di mana ?"
"Kenapa aku harus berbicara ? Aku tidak berbicara apa-apa."
"Kau masih belum mau mengaku?"
Bentak Cui-mia-hu dengan suara keras bagaikan geledek.
"Sekalipun uang itu aku yang mengambil, tapi mengaku mengambil uang adalah satu urusan, menyanggupi untuk mengambil uang adalah urusan lain."
"Kau menginginkan uang? Atau menginginkan nyawa?"
Ancam Cui-mia-hu sambil tertawa dingin...
"Bila masih hidup, tentu saja menginginkan nyawa, bila sudah tak bisa hidup terus terpaksa minta uang."
"Kau menginginkan yang bagaimana baru bersedia meluluskan permintaan kami ?"
"Jikalau kalian bersedia mengembalikan nyawaku, akupun bersedia pula mengembalikan uang kalian."
Cui-mia-hu termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba dia berkata keras.
"Baik, kembalikan nyawamu."
"Selembar nyawa dengan sebagian uang."
"Kau mempunyai beberapa lembar nyawa?"
"Aku mempunyai selembar, Kwik Tay-lok selembar, Lim Tay-peng selembar, Yan Jit selembar, total jendral empat lembar nyawa dengan empat bagian harta."
"Selembar nyawa dengan empat bagian harta !"
"Tidak bisa."
"Tidak bisa juga harus bisa, kau ini hidup sedang uang itu mati, kalau toh kami bisa menemukan dirimu, memang tak bisa menemukan uang itu...?"
Ong Tiong juga termenung sampai lama sekali pelan-pelan dia baru menjawab.
"Baiklah, kembali dulu nyawanya"
"Nyawa siapa ?"
"Kau mengharapkan siapa yang akan mengembalikan uang kepadamu ?"
Ang Nio-cu kembali tertawa, sambil cekikikan katanya.
"Sudah sejak lama aku tahu kalau dia masih terhitung seseorang yang pintar, akhirnya dia tahu juga nyawa siapa pun masih berharga nyawa sendiri."
"Bebaskan dulu racun yang mengeram dalam tubuhku, kemudian bebaskan jalan darah di tubuhku kemudian aku akan mengajak kalian pergi mengambil uang."
"Racun boleh kupunahkan, tapi jalan darah tak bisa kubebaskan"
Ucap Cui-mia-hu.
"Bila jalan darahku tidak dibebaskan, setiap saat kalian masih bisa merenggut nyawaku."
"Aku toh sudah bersedia untuk mengampuni selembar nyawamu."
"Kecuali nyawa?"
"Asal masih punya nyawa, seharusnya kau sudah merasa puas sekali."
Ang Nio-cu tertawa dan menambahkan pula.
"Betul daripada mati kan lebih baik hidup kau masih bisa memikirkan nyawa bukan ?"
Ong Tiong kembali termenung beberapa saat lamanya kemudian dia pun menghela napas panjang.
"Aaaai... tampaknya aku sudah tiada jalan lain lagi."
"Semenjak kau membawa kabur harta kekayaan tersebut, sesungguhnya kau telah melangkah ke sebuah jalan buntu"
Sambung Cui-mia-hu dengan nada menyeramkan.
"Bila jalan darah Huan tiau hiat di tubuh seseorang tertotok, mau ke manapun dia pasti tak bisa berjalan sendiri,"
Ucap Ong Tiong. Ang Nio-cu segera tertawa genit.
"Kau tak bisa jalan, biar aku saja yang menggendongmu. Jangan lupa dulu kau sering kali menunggangi tubuhku."
"Kau mengikuti aku saja!"
Tukas Cui mia hu dengan dingin.
"Lantas siapa yang akan membopongnya?"
"Aku!"
Tiba-tiba dari atas lapisan salju muncul seseorang bagaikan seekor alas...
Ong Tiong pun berada di atas punggung si ular bergaris merah.
Tubuh si ular bergaris merah lembut, empuk, basah dan dingin.
Kabut telah buyar.
Tapi udara masih mendung dan berawan tebal, tiada sinar cahaya matahari, tiada sinar keemas-emasan.
Tiba-tiba si ular bergaris merah berkata.
"Jalan ini menuju ke rumahmu"
"Aku hanya berharap jalan ini bukan menuju ke rumah nenek moyangku!"
Sambung Ong Tiong.
"Kau sembunyikan uang itu di dalam rumahmu ?"
"Seandainya berganti kau, uang itu akan kau sembunyikan dimana ?"
"Tentu saja di suatu tempat yang setiap saat bisa kucomot. Uang itu bagaikan perempuan, lebih baik disimpan pada tempat yang setiap saat bisa diraba."
"Tak kusangka kau pun mengerti soal perempuan."
Ujar Ong Tiong sambil tertawa.
"Justru karena aku mengerti, maka aku baru menghendaki."
"Kau hanya menginginkan uang ?"
"Uang lebih baik daripada perempuan, uang tak dapat menipu dirimu, di dunia ini tiada benda lain yang lebih jujur daripada uang"
"Oleh karena itu, uang bisa disimpan dalam ruang tamu, tapi perempuan tak dapat."
"Uang itu berada di ruang tamu ?"
Seru si ular bergaris merah.
"Dalam sebuah rumah, masih ada tempat mana lagi yang jauh lebih luas dan menyolok daripada ruang tamu ?"
Si ular bergaris merah segera manggut-manggut.
"Benar, semakin menyolok tempat itu, semakin tak akan diperhatikan oleh orang lain."
Cui-mia-hu selamanya enggan berjalan di depan siapa saja..
Di dunia ini ternyata terdapat juga manusia seperti itu, sebab sudah tak terhitung jumlahnya ketika dia menyergap dan membunuh orang dari arah belakang pula.
Oleh karena itu, selamanya dia enggan berjalan di belakang orang lain....
Dengan ketat dia mengikuti di belakang Ang Nio-cu, seakan-akan selembar bayangan tubuh si perempuan itu.
Bahkan Ang Nio-cu masih sempat merasakan pula dengusan napasnya yang dingin, dengusan napas yang membawa hawa mayat.
Paras mukanya waktu itu sudah berubah menjadi amat tak sedap dipandang.....
Cui-mia-hu tak dapat menyaksikan paras mukanya, dia hanya dapat melihat tengkuknya.
Dia sedang memperhatikan tengkuknva dengan wajah penuh kenikmatan, sebab di atas kulit tengkuknya yang putih halus itu, bulu kuduknya pada berdiri semua karena terkena dengusan napasnya.
Ang Nio-cu sebaliknya sedang memperhatikan Ong Tiong yang berada di hadapannya tiba-tiba ia berkata.
"Kau mengira dia benar-benar akan membawa kita untuk pergi mengambil uang tersebut?"
"Dia sudah tiada pilihan lain"
Jawab Cui-mia-hu.
"Aku selalu merasakan gelagat kurang benar !"
"Bagian mana yang tidak benar ?"
"Dia bukan seorang manusia yang gampang dihadapi, diapun tidak semestinya begini takut mati."
Cui-mia-hu segera tertawa dingin, katanya.
"Perduli dia itu manusia macam apa, sekarang sudah tidak menjadi soal lagi."
"Kenapa ?"
"Sebab sekarang dia sudah merupakan seseorang yang telah mati."
"Orang mati ?"
"Kau mengira aku sungguh-sungguh akan mengampuni selembar jiwanya....."
Ang Nio-cu tersenyum.
"Tentu saja aku tahu kalau kau tak akan berbuat demikian, tapi sekarang dia toh belum mati!"
"Walaupun belum mati seluruhnya, tapi sudah mati separuh bagian."
"Dia masih mempunyai teman."
"Seorang adalah teman yang sudah hampir mati, sedang dua orang lainnya tak ubahnya seperti menanti saat kematiannya saja. Kami bertiga, entah siapa saja sudah cukup untuk menghadapi mereka, apa pula yang kau kuatirkan?"
Tiba-tiba Ang Nio cu tertawa, katanya.
"Aku bukan merasa kuatir, tapi cuma merasa agak sayang."
"Apanya yang sayang!"
Ang Nio-cu tertawa cekikikan.
"Sayang aku belum sempat tidur bersama ketiga orang bocah itu."
Mendadak Cui-mia-hu menggigit tengkuknya.
Seakan-akan seekor anjing gila yang tiba-tiba berhasil menggigit seekor anjing betina.
Langit masih gelap, oleh sebab itu suasana di ruang tamu pun masih amat gelap.
Daun jendela terbuka lebar, dari luar lamat-lamat masih kelihatan ada dua sosok bayangan manusia.
"Siapa yang berada di dalam?"
Si ular bergaris merah segera menegur.
"Sungguh tak kusangka matamu makin lama semakin melamur"
Kata Ong Tiong hambar.
Sesungguhnya mata si ular bergaris merah memang tidak begitu bagus.
Andaikata seseorang hidupnya sepanjang tahun hanya bergelimpangan diantara obat-obatan beracun, ketajaman matanya pasti akan berkurang.
Tapi sekalipun seseorang yang ketajaman matanya lebih cetekpun, asal memandang beberapa kejap saja sudah pasti dapat melihat bahwa kedua sosok bayangan itu tak lebih cuma dua buah orang-orangan dari rumput kering.
Dua buah orang-orangan yang baju belaco.
Tiba-tiba Ong Tiong tertawa, katanya.
"Bila kau masih belum melihat jelas, tak ada halangannya kuberitahukan kepadamu, bila aku sudah mati, mereka adalah orang yang akan menjadi anak baktiku, jika kau mati, mungkin kaupun terpaksa harus mempergunakan mereka menjadi anak baktimu."
"Anak bakti semacam ini paling tidak jauh lebih baik daripada sama sekali tak ada."
"Oleh karena itu kau lebih suka tak punya anak tak punya cucu ?"
"Lebih baik lagi kalau temanpun tak punya."
Mendadak Ang Nio-cu memburu ke depan, lalu serunya.
"Kemana perginya teman-temanmu ?"
Yang ditanyanya adalah Ong Thong, sebab diantara beberapa orang itu hanya Ong Tiong yang mempunyai teman.
"Mereka menunggu aku di bawah bukit"
Jawab Ong Tiong.
"Mengapa harus menunggu di bawah bukit?"
"Seandainya kau menjadi mereka, dalam keadaan seperti ini kalian akan menantiku dimana ?"
"Dia tak nanti akan menunggumu !"
Sela si ular garis merah. Ang Nio-cu segera mengerdipkan matanya berulang kali, katanya.
"Selama ini aku selalu merasa kaulah orang yang paling kupahami, tahukah kau apa sebabnya ?"
"Hmm!"
"Karena cuma perempuan yang bisa memahami perempuan, teori ini diketahui oleh siapapun."
"Dia adalah perempuan?"
Tanya Ong Tiong.
"Memangnya kau mengira dia itu lelaki?"
"Tampaknya sih seperti lelaki."
"Sekalipun dia memang berwujud lelaki, tapi setelah merendam diri selama puluhan tahun di dalam obat beracun, sudah sedari dulu ia telah berubah menjadi perempuan"
Paras muka si ular bergaris merah berubah menjadi kaku, seakan-akan seekor ular yang kena dicekal bagian mematikannya. Ang Nio-cu tertawa cekikikan kembali ujarnya.
"Kesemuanya ini sebenarnya adalah rahasianya yang terbesar, sebenarnya tidak seharusnya kuucapkan, untung saja kaupun bukan orang luar, oleh karena itu...."
Sengaja dia merendahkan suaranya, kemudian berbisik.
"Aku dapat memberitahukan lagi suatu rahasia besar kepadamu."
"Rahasia apa?"
"Coba tebak, setelah si kelabang besar mati, siapakah yang merasa paling sedih?"
"Aku tahu dia adalah sahabat yang paling akrab dengan si kelabang besar itu."
"Kau keliru besar"
Seru Ang Nio-cu sambil tertawa.
"mereka bukan cuma berteman saja, mereka sudah...."
Si ular bergaris merah melototkan matanya bulat-bulat sambil mengawasi perempuan itu tak berkedip, sepasang matanya yang dingin telah berubah menjadi kehijau-hijauan, tiba-tiba saja ia mengarah wajahnya dan meniup satu kali.
Dia tak lebih cuma meniup pelan, tapi Ang Nio-cu harus berkelit dengan tergopoh-gopoh bagaikan sedang menghindari senjata rahasia paling beracun di dunia ini, belum sempat ucapannya di selesaikan, tubuhnya sudah melompat dan berjumpalitan di udara lalu menyusup ke balik rumah.
Cui-mia-hu yang berada di belakangnya sudah turut lenyap tak berbekas.
Tiba-tiba Ong Tiong berseru.
"Apa yang dia katakan, tak sepatah katapun yang kupercayai."
"Kau memang sesungguhnya tidak bodoh"
Jawab si ular bergaris merah cepat.
"Tapi kali ini aku telah mempercayainya".
"Kenapa ?"
"Sebab bila apa yang dia katakan bukan ucapan yang sesungguhnya, mengapa pula kau hendak merenggut nyawanya?"
Kata Ong Tiong sambil tertawa lebar.
"Apakah kau juga menghendaki agar kurenggut pula jiwamu ?"
Kata si ular bergaris merah dingin.
"Selembar nyawaku ini sudah tidak she Ong lagi, siapa yang menghendaki toh tiada bedanya, tapi kau ?"
"Kenapa dengan aku ?"
"Bila kau mati, siapa yang akan paling sedih ?"
"Tiada orang yang akan sedih."
"Adakah orang yang merasa gembira?"
"Ada."
"Kau juga tahu kalau dia ( perempuan ) membencimu ?"
"Hmmm !"
Si ular mendengus.
"Mengapa, dia selalu tidak merenggut nyawamu"
"Sebab dia tahu, aku lebih berguna selagi masih hidup daripada setelah mati."
"Selanjutnya ?"
"Yaa, selanjutnya dikala hendak membagi uang tersebut ?"
Mendadak paras muka si ular bergaris merah itu berubah menjadi kaku seperti mayat. Ong Tiong segera berkata lebih lanjut.
"Si kelabang besar telah mati, apakah mereka pun merasa amat sedih sekali ?"
"Hmm !"
Kembali si ular bergaris merah mendengus.
"Mengapa, mereka tidak merasa sedih ?"
"Karena lebih enak uang itu dibagi tiga orang dari pada dibagi untuk empat orang."
"Seandainya uang itu hanya dibagi untuk dua orang ?"
Si ular bergaris merah segera berpaling dan menatapnya lekat-lekat, kemudian sepatah demi sepatah katanya.
"Sebenarnya kau ingin berbicara apa ?"
"Apa yang ingin kukatakan, tentunya kau sudah memahaminya sedari tadi...."
Sepasang mata si ular bergaris merah yang hijau menyeramkan itu mendadak berubah menjadi keabu-abuan, wajahnya dingin kaku tanpa emosi. Ong Tiong berkata lebih jauh.
"Jika sebiji bakpao dimakan dua orang, tentu lebih enak daripada dimakan bertiga, teori semacam ini dipahami oleh siapapun. Persoalannya sekarang adalah kedua orang itu dapatkah merasakan bakpao tersebut?"
"Menurut pendapatmu?"
"Aku cukup mengetahui sampai dimanakah kehebatan ilmu silatmu, tentu saja kau tak akan takut terhadap Ang Nio-cu?"
"Hmmm ....."
"Tapi apakah hubungannya dengan Cui lotoa? Dan apa pula hubunganmu dengan Cui lotoa? Dapatkah kau menandingi dirinya?"
Si ular bergaris merah tertawa dingin.
Bila seseorang hanya tertawa dingin belaka dalam suatu keadaan, itu berarti dia sudah tak mampu berbicara lagi, ini menandakan kalau perasaan hatinya sudah mulai tidak tenang.
Bagi seseorang yang sama sekali yakin terhadap setiap persoalan yang sedang dihadapinya, dia akan jarang sekali memperdengarkan suara tertawa dingin semacam itu.
Maka Ong Tiong segera berkata lebih lanjut.
"Oleh karena itu, jika kaupun ingin merasakan bakpao itu, lebih baik cepatlah mencari akal lain."
Si ular bergaris merah memikir sejenak, akhirnya tak tahan diapun bertanya.
"Apa caranya ?"
"Mencari orang yang lain untuk membantu kau merampas kembali bakpao tersebut."
"Siapa yang harus kucari ?"
Sekali lagi si ular bergaris merah itu tertawa dingin.
"Pertama orang itu jangan terlalu serakah"
"Adakah manusia semacam itu dalam dunia?"
"Aku adalah seseorang yang tidak terlalu serakah"
"Dulu mungkin aku manusia macam begitu, tapi sekarang aku sudah mengerti, lebih baik bakpao itu dimakan berdua daripada sama sekali tidak merasakannya"
"Kedua ?"
Si ular bergaris merah itu kembali menatap tajam-tajam.
"Kedua, Orang itu harus tidak melebihi dirimu."
"Kenapa, harus tidak melebihi diriku ?"
"Sebab bila dia tidak melebihi dirimu, dia tak akan berani bermain gila di hadapanmu."
"Kau tidak melebihi diriku ?"
Ong Tiong tertawa.
"Seandainya aku lebih tangguh daripada dirimu, mengapa aku harus minta kau gendong sekarang ?"
Dari balik mata si ular bergaris merah yang berwarna kelabu, mendadak terpancar setitik sinar terang.
"Kau benar-benar akan berdiri dipihakku?"
Dia bertanya.
"Mau tak mau aku harus berdiri dipihakmu."
"Kenapa !"
"Sebab dipihak mereka sana sudah terlampau sesak."
Sorot mata si ular bergaris merah kembali memancarkan sinar tajam, katanya kemudian.
"Apa saja yang bisa kau lakukan buatku?"
"Aku masih punya tangan."
"Tanganmu itu bisa melakukan apa?"
"Paling tidak masih bisa menahan seseorang yang lain."
Si ular bergaris merah tidak tertawa dingin lagi. Sebab lambat laun dia mulai merasa mantap dan rencana itupun semakin diyakininya.
"Sekarang tinggal satu persoalan saja yang harus diselesaikan,"
Kata Ong Tiong lagi.
"Katakanlah !"
"Sanggupkah kau menghadapi Cui lotoa?"
"Menurut pandanganmu?"
"Bila sungguh sampai bertarung, aku tak tahu. Tapi jika dilakukan secara mendadak di luar dugaan, maka..."
Mendadak dia menutup mulutnya rapat-rapat.
Si ular bergaris merah juga menutup mulutnya rapat-rapat, setelah itu pelan-pelan dia baru masuk ke dalam rumah.
Cui-mia-hu serta Ang Nio cu sudah menunggu didalam ruangan.
Suasana didalam ruangan itu terang benderang.
Di bawah sorotan cahaya lampu, paras muka Cui-mia-hu kelihatan pucat seperti selembar kertas putih.
Selembar kertas putih yang kering dan berkeriput.
Ada sementara orang yang tampaknya sepanjang masa tak dapat terkena sinar, jelas dia adalah manusia semacam itu.
Si ular bergaris merah telah meletakkan Ong Tiong di atas bangku, kemudian ujarnya.
"Sudah kalian periksa ?"
"Setiap bagian dan setiap sudut tempat ini sudah kami periksa."
Sahut Cui-mia-hu.
"Bahkan kakus pun sudah kami periksa,"
Sambung Ang Nio-cu sambil tersenyum.
"heran, ternyata tempat itu tidak berbau busuk."
Dia mengerling sekejap ke arah Ong Tiong kemudian katanya lagi.
"Oleh sebab itu aku tahu teman-temanmu itu sudah pasti adalah orang yang suka dengan kebersihan."
"Apa pula yang kau ketahui ?"
Dengus Ong Tiong ketus. Ang Nio-cu tertawa.
"Aku masih tau kalau orang itu sudah pasti bukan kau."
"Ke mana perginya teman-temannya itu?"
Tanya si ular bergaris merah tiba-tiba.
"Sudah pergi semua !"
Sahut Cui-mia-hu. Sekali lagi Ang Nio-cu mengerling sekejap ke arah Ong Tiong, kemudian sambil tertawa genit katanya.
"Tampaknya teman-teman yang kau dapatkan belakangan ini bukanlah teman-teman yang baik."
"Di dunia ini memang tiada teman yang benar-benar bersedia menemani sampai mati"
Kata Ong Tiong hambar. Ang Nio-cu tersenyum.
"Suami istri macam begini saja sudah tak ada, apalagi cuma sahabat...."
Kali ini biji matanya mengerling ke arah si ular bergaris merah. Tapi si ular bergaris merah seakan-akan tidak mendengar perkataan itu, diapun tidak memandang ke arahnya, cuma ujarnya.
"Apakah didalam rumah ini sudah tiada orang lain?"
"Cuma ada dua buah orang-orangan !"
Sahut Cui-mia-hu.
"Orang-orangan bukan termasuk orang !"
Kata Ong Tiong. Mendadak Cui-mia-hu tertawa seram.
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh.... jangan lupa, ada kalanya orang-oranganpun dapat membunuh orang."
Paras muka Ong Tiong yang baru saja membaik tiba-tiba sedikit agak berubah.
Cui-mia-hu mengawasi terus raut wajahnya pada saat paras mukanya agak berubah itulah, Cui-mia-hu telah turun tangan.
Jarang sekali ada yang tahu benda apakah yang dipergunakan Cui-mia-hu untuk membunuh orang.
Karena sewaktu membunuh orang dia selalu membunuh sungguhan, sekali turun tangan, pihak lawan tak pernah diberi kesempatan untuk hidup lebih jauh.
Kalau tidak ada keyakinan tersebut, dia tak akan turun tangan.
Hanya orang yang tak pernah menyaksikan dia membunuh orang saja yang tahu senjata apakah yang digunakan untuk membunuh orang.
Hanya empat orang yang pernah menyaksikan dia membunuh orang.
Ong Tiong juga pernah menyaksikan.
Senjata yang dipergunakan olehnya untuk membunuh orang adalah dua batang duri.
Dua batang duri yang bertali serat baja, selain dapat merenggut nyawamu, dapat pula membelenggu senjatamu dan mencekik tengkukmu kemudian sekaligus menusuk ke dalam jantungmu.
Itulah sepasang duri pembetot sukmanya yang tiada taranya di kolong langit.
Dalam dunia persilatan terdapat banyak orang yang menjadi tenar karena mengandalkan senjata tunggalnya.
(Bersambung ke
Jilid 19)
Jilid 19 KARENA bila kau mempergunakan senjata khusus yang aneh, seringkali kali akan berhasil meraih banyak keuntungan dari musuhmu.
Suatu keberuntungan yang seringkali di luar dugaan.
Oleh sebab itu, bila kau dapat menciptakan semacam senjata khusus yang bisa membuat orang lain di luar dugaan, kau pasti dapat mencari nama yang tenar dalam dunia persilatan....
menggunakan darah orang lain untuk mencetak namamu.
Walaupun di kemudian hari kaupun bisa jadi mati pula di ujung senjata khusus lain yang sama sekali di luar dugaanmu.
Tubuh orang-orangan itu kelihatan terlalu gemuk.
Jauh lebih gemuk daripada sewaktu dipakai untuk menaikkan layang-layang.
Dalam, soal ini mungkin orang lain tak dapat melihatnya, tapi Cui-mia-hu sudah pasti dapat melihatnya, sebab orang-orangan itu adalah hasil karyanya.
Walaupun dia memiliki selembar wajah yang bodoh, namun memiliki sepasang tangan yang cekatan...
orang yang benar-benar pintar, tak akan selalu menunjukkan kepintaran-nya di atas wajah.
Orang-orangan itu tidak makan daging, juga tidak minum arak, mengapa dalam semalaman saja bisa berubah menjadi begitu gemuk?
Mungkinkah ada orang yang bersembunyi dibalik orang-orangan itu serta bersiap sedia melancarkan sergapan?....
Mungkinkah hal ini merupakan pukulan terakhir yang telah dipersiapkan oleh Ong Tiong dan Yan Jit sekalian ?
Paras muka Ong Tiong berubah hebat.
Karena pada saat itulah sepasang duri pencabut nyawa dari Cui-mia-hu telah menusuk ulu hati orang-orangan itu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Senjata itu menusuk sangat dalam, dalam sekali.
Di dunia ini memang jarang terdapat seorang teman yang benar-benar mau sehidup semati denganmu.
Bahkan suami isteri saja amat jarang, apa lagi cuma teman.
Tapi teman semacam ini, bukannya sama sekali tak ada.
Paling tidak Kwik Tay-lok sekalian adalah teman-teman semacam itu.
Mereka tahu nyawa Ong Tiong sudah berada di ujung tanduk, siapakah yang merasa tega untuk membiarkan dia pergi menempuh mara bahaya seorang diri ?
Mana mungkin mereka akan pergi ?
Orang-orangan itu memang gemuk, biasanya orang yang gemuk tentu mempunyai darah yang banyak.
Sepasang duri pencabut nyawa dari Cui-mia-hu telah menembusi ulu hatinya.
Tapi tak ada darah yang keluar, setetespun tak ada.
Kali ini paras muka yang berubah bukan muka Ong Tiong, melainkan Cui-mia-hu.
Pada saat paras muka Cui-mia-hu berubah itulah, mencorong sinar tajam dari mata si ular bergaris merah.
Dan pada saat yang bersamaan pula, Ong Tiong menarik tangan Ang Nio-cu.
Sengatan lebah beracun.
Sengatan dari Cui-mia-hu lebih beracun.
Jika lebah sudah menyengat orang, maka dia akan mati dan tak beracun lagi.
Tapi sekarang sengatan dari Cui-mia-hu telah menancap di atas jantung orang-orangan itu.
Kesempatan sebaik ini tentu saja tak akan disia-siakan oleh si ular bergaris merah.
Tiba-tiba dia mengarah wajah Cui-mia-hu, kemudian meniupnya dengan sekuat tenaga.
Cahaya yang menyorot masuk lewat jendela dapat menerangi hawa hijau yang terhembus keluar dari tiupannya itu.
Cui-mia-hu seakan akan sedang tertegun, tapi pada saat hembusan itu menyambar datang inilah, ujung baju Cui-mia-hu mendadak berubah menjadi tali penyeret yang segera menyeret tengkuk Si ular bergaris merah kencang-kencang.
Diapun menahan napasnya dengan sepenuh tenaga.
Si Ular bergaris merah segera menjerit ngeri dengan suaranya yang memilukan hati.
Dengusan napasnya makin tajam, dan makin pendek.
Cui-mia-hu telah melompat naik ke atas rumah, tangannya memegang wuwungan rumah dan bergelantungan sambil mengawasi lawannya.
Sepasang mata si ular bergaris marah seakan-akan sudah menjadi buta, apapun tidak terlihat olehnya, bagaikan seekor anjing buta yang menerkam ke depan dengan sempoyongan.
Dia menerjang maju selangkah, dua langkah, tiga langkah.....
Wajahnya segera berubah menjadi hijau kebiru-biruan.
Dia baru maju dua langkah, tubuhnya sudah roboh terjengkang ke atas tanah.
Barang siapa terkena racun dari Si ular bergaris merah, tak akan bisa maju sampai tujuh langkah.
Bahkan si ular bergaris merah sendiripun tidak terkecuali.
Ong Tiong telah melepaskan tangan Ang Nio-cu.
Wajah masih sama sekali tidak menunjukkan perubahan, tapi kelopak matanya sudah mulai bergerak.
Lambat laun dia sudah memahami apa gerangan yang telah terjadi, peristiwa semacam ini sedikitpun tidak menarik.
Tapi Ang Nio-cu seakan-akan merasa kejadian ini menarik sekali, dia sudah tertawa terpingkalpingkal tiada hentinya.
Suara tertawanya masih kedengaran merdu seperti bunyi keleningan.
Sejak pertama kali berjumpa dengannya dulu, Ong Tiong sudah terpikat oleh suara tertawanya itu.
Hingga dia sudah bertemu beberapa ratus kali dengannya, ia masih menganggap suara tertawanya begitu menarik.
begitu merdu, seakan-akan di dunia ini tiada keduanya lagi.
Tapi sekarang, dia mulai merasa muak, mulai merasa seakan-akan hendak tumpah.
Bagaimanapun juga si ular bergaris merah adalah temannya yang sudah hidup bersama selama banyak tahun.
Barang siapa dapat tertawa terpingkal-pingkal disamping jenasah rekannya, maka kejadian tersebut pasti akan memuakkan orang lain.
Ang Nio-cu memutar sepasang matanya yang jeli, kemudian ujarnya dengan lembut.
"Apakah kau sedang keheranan, mengapa aku harus tertawa terpingkal-pingkal ?"
"Sedikitpun tidak heran !"
"Kenapa ?"
"Sebab kau sama sekali bukan manusia."
Itulah kesimpulan dari Ong Tiong.
Cui mia-hu masih mengawasi mayat si ular bergaris merah dengan terpesona, seakan-akan dia takut kalau itu belum mati secara sungguhan....
Padahal si ular bergaris merah benar-benar sudah mati secara seratus persen.
Padahal selama dia masih hidup, apa yang tak lebih hanyalah mempersembahkan kehidupannya untuk obat-obatan racun.
Dia tidak mempunyai teman lain, bahkan boleh dibilang dia tidak mempunyai apa-apa.
Obat beracun adalah seluruh hidupnya.
Lewat lama kemudian, Cui-mia-hu baru pelan-pelan membalikkan badannya seraya berkata.
"Inilah seorang yang jujur dan setia!"
"Kau maksudkan dia jujur dan setia ?"
Tanya Ang Nio-cu. Cui-mia-hu mengangguk.
"Paling tidak terhadap perbuatan yang hendak dilakukannya dia amat setia, obat beracunnya memang tak pernah meleset walau hanya satu kali saja."
Sekali lagi Ang Nio-cu tertawa terkekeh-kekeh.
"Oleh sebab itu kau harus lebih-lebih berterima kasih kepadaku, seandainya tiada aku, yang mati sekarang adalah kau."
"Aku memang sama sekali tidak menyangka kalau diapun bakal menghianati diriku."
Ang Nio-cu tertawa.
"Seandainya kau tak pernah menyangka, mengapa bisa mempersiapkan cara yang begitu baik untuk menghadapinya?"
"Karena akupun seseorang yang jujur."
"Kau jujur terhadap siapa?"
"Terhadap diriku sendiri."
Ang Nio-cu segera menghela napas panjang.
"Mengapa kau tak pernah mengatakan kalau akupun sangat jujur ?"
Keluhnya.
"Karena kau terhadap dirimu sendiri saja tidak jujur, apalagi terhadap orang lain"
Kata Cui-miahu dengan ketus.
"kau sering kali menghianati diri sendiri, kau sendiri menjual dirimu sendiri."
"Tapi aku belum pernah menghianati dirimu, akupun tak pernah membohongi kau."
"Karena kau tahu tiada orang yang bisa membohongi diriku"
Suara Cui-mia-hu masih tetap sedingin es. Tiba-tiba dia berpaling ke arah Ong Tiong, kemudian melanjutkan.
"Oleh karena itu aku selama berada di hadapanku pun seseorang yang amat jujur."
Ong Tiong tidak menunjukkan reaksi apa-apa..
"Kau bilang teman-temanmu sudah pergi semua, ternyata mereka memang tidak berada di sini"
Ujar Cui-mia-hu. Ong Tiong masih belum menunjukkan reaksi apa-apa.
"Sekarang aku hanya ingin tahu, kau lebih setia kepada uang ataukah terhadap diriku?"
Kata Cui-mia-hu lebih jauh.
"Itu mah tergantung keadaan."
"Tergantung bagaimana ?"
"Biasa aku selalu setia kepada uang, tapi sekarang terhadap dirimu...."
Kata Ong Tiong hambar.
"Bagus sekali, bawa kemari."
"Apanya yang bawa kemari ?"
"Apa yang kau miliki ?"
Ong Tiong ragu-ragu sejenak, akhirnya dia bulatkan tekad, katanya.
"Di bawah meja sana terdapat beberapa lembar ubin batu yang bisa di geser, di bawah lapisan batu itu terdapat sebuah gudang di bawah tanah...
"Kau mengira aku tak dapat melihatnya?"
Seru Cui-mia-hu sambil tertawa dingin.
"Kalau kau sudah melihatnya, mengapa tidak pergi mengambilnya ? Barang itu berada di situ."
"Biar aku yang mengambilnya."
Seru Ang Nio-cu cepat.
"Tidak, biar aku saja!"
Seru Cui-mia-hu.
Badannya berkelebat lewat dan mendahului Ang Nio-cu.
Inilah untuk pertama kalinya dia berjalan di depan orang lain...
merupakan terakhir kalinya.
Serentetan cahaya perak pelan-pelan meluncur keluar dari balik ujung baju Ang Niocu dan tepat menghajar jalan darah Giok-seng hiat di atas benaknya.
Serangan mematikan ini bukan saja tidak cepat, bahkan sangat lamban, tapi dia justru tak sanggup menghindarkan diri.
Dia segera roboh terkapar ke atas tanah.
Tidak melawan, juga tidak merasakan penderitaan apa-apa.
Bahkan tiada suara apapun yang terpancar keluar, seorang yang hidup tiba-tiba saja berubah menjadi sesosok mayat.
Siapapun tak akan menyangka kalau dia akan mati dengan begitu gampangnya.
Tentu saja dia sendiripun lebih-lebih tak menyangka, orang yang membunuh dirinya ternyata tak lain adalah Ang Nio cu.
Suara tertawa merdu bagaikan suara keleningan kembali berkumandang memecahkan keheningan.
Ang Nio cu tertawa, ujarnya.
"Kali ini tentunya kau mengerti bukan, mengapa aku tertawa tergelak-gelak ?"
"Tidak mengerti."
"Tahukah kau apa yang kugunakan untuk membinasakan dirimu ?"
Ong Tiong tidak menjawab. Ang Nio-cu segera tertawa, kembali ujarnya.
"Tentunya kau tahu, darimanakah kupelajari ilmu melepaskan duri pencabut nyawa itu?"
Sesudah tertawa cekikikan, kembali sambungnya.
"Barusan, dia telah mempergunakan racunnya si ular bergaris merah untuk membunuh si ular bergaris merah, maka sekarang akupun menggunakan duri pencabut nyawa untuk menusuk dia sampai mati, menghadapi kejadian yang begini menariknya ini, masa aku tak boleh tertawa senang?"
"Aku hanya merasa heran, mengapa dia mengajarkan kepandaiannya itu kepadamu?"
"Karena dia sama sekali tidak mewariskannya semua rahasia kepandaiannya kepadaku, dia tahu selamanya aku tak akan bisa mempergunakannya secara baik."
"Kau memang tak bisa melebihi kecepatannya."
"Yaa, selisihnya memang jauh sekali, oleh sebab itu walaupun aku mempelajarinya tapi tetap tak ada gunanya, hakekatnya tak mungkin bisa dipergunakan untuk menghadapi orang lain. Duri pengejar nyawa masih tetap merupakan senjata khasnya."
"Kalau toh tak berguna, mengapa kau mempelajarinya ?"
"Bukannya sama sekali tak ada gunanya, cuma ada semacam kegunaan yang sebenarnya amat fatal, yakni apabila kugunakan untuk menghadapi seseorang."
"Siapa ?"
"Dia sendiri !"
"Kau tak bisa menggunakannya untuk menghadapi orang lain, tapi bisa dipakai untuk menghadapi dirinya?"
Tanya Ong Tiong dengan wajah keheranan. Ang Nio cu tertawa.
"Di dunia ini memang banyak terdapat kejadian yang begitu anehnya...."
"Aku tidak mengerti !"
Ang Nio-cu segera tertawa terkekeh-kekeh.
"Hal-hal yang tidak kau pahami masih banyak sekali !"
"O, ya ?"
"Aku sengaja membiarkan kau berada bersama si ular bergaris merah, tujuannya tak lain adalah untuk kesempatan kepada kalian untuk berbincang-bincang."
"Mula-mula kuucapkan dulu kata-kata yang dia paling tak senang diketahui orang lain kemudian baru menyingkir pergi, dalam keadaan yang gusarnya setengah mati itu, sudah pasti kau tak akan melepaskan kesempatan tersebut dengan begitu saja."
"Kau telah menduga kalau aku bakal menggunakan akal untuk menggerakkan hatinya dan menyuruh dia menghianati diri kalian ?"
"Bukan berarti kau yang menggerakkan hatinya, adalah dia sendiri yang mempunyai maksud begitu, Cuma saja selama ini belum ada kesempatan baik untuk melakukannya."
"Ooooh.... jadi kau sengaja memberi kesempatan kepadanya, kemudian baru memberi tahukan kepada Cui lotoa untuk bersiap-siap?"
"Aku juga tahu kalau Cui lotoa telah menemukan cara yang baik untuk menghadapi dirinya, asal dia berani turun tangan, maka sudah pasti dia akan mampus!"
"Tepat sekali perhitunganmu itu."
"Dalam hal ini, aku rasanya tak usah terlampau membanggakan diri"
Kata Ang Nio cu sambil tersenyum. Ong Tiong menghela napas panjang.
"Aaai, akhirnya aku memahami juga persoalan ini, masih ada yang lain ?"
Ang Nio-cu mengerdipkan matanya berulang kali, lalu katanya.
"Tahukah kau rahasia paling besar apakah yang dimiliki Cui lotoa....?"
"Telinganya tidak begitu tajam, hakekatnya tak jauh berbeda dengan orang tuli."
"Tapi nada ucapanku sewaktu bercakap-cakap dengan tidak terlalu besar, dia toh bisa mendengarnya dengan jelas ?"
"Itulah dikarenakan dia memperhatikan gerakan bibirmu, dengan melihat gerakan bibir tersebut, dia dapat mengetahui apa yang sedang kau ucapkan."
"Aaaai... hal ini benar-benar merupakan suatu rahasia yang sangat besar,"
Kata Ong Tiong sambil menghela napas.
"Kecuali aku seorang, tiada orang lain yang mengetahui rahasianya tersebut. Oleh karena telinganya tidak tajam, maka dia selamanya enggan berjalan di depan orang lain, dia kuatir orang lain akan menyergapnya dari belakang."
Setelah tertawa, kembali ujarnya.
"Hal ini bukan disebabkan karena dia lebih berhati-hati daripada orang lain, tapi disebabkan lantaran ia tak bisa mendengar suara desingan senjata rahasia, seandainya ada orang yang menyergapnya dari belakang, maka ia sama sekali tak mampu untuk menghindarkan diri."
"Andaikata desingan angin serangan itu sangat tajam, tentu saja dia masih dapat mendengarnya, tapi bila ada orang yang menyerangnya secara pelan-pelan, maka dia sudah pasti akan mampus."
Ang Nio-cu segera tertawa.
"Yaa, sedikitpun tak salah,"
Katanya.
"itulah sebabnya serangan yang kugunakan adalah dari pengejar nyawa ajarannya yang tak pernah bisa kupelajari secara sempurna itu, dan kepandaian itu justru merupakan suatu kepandaian yang tiada keduanya di dunia ini."
"Apakah kaupun sudah memperhitungkan, begitu ia mendengar benda itu berada dimana, maka dia tak akan tahan untuk memburu ke sana dan menengoknya lebih dulu ?"
"Yaa, seandainya berada di depan orang lain, mungkin dia masih dapat menahan diri atau mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, tapi bila sedang berada bersamaku, dia selalu akan lebih teledor daripada biasanya..."
"Kenapa ?"
"Sebab dia selalu mengira bahwa aku sedang menggantungkan diri kepadanya, dia selalu menganggap bila dia sampai mati, maka akupun tak bisa hidup lagi."
Ong Tiong menghela napas.
"Diapun menganggap tak ada orang yang bisa membohongi dirinya....."
"Yaa, memang tiada orang yang bisa membohonginya, yang ada hanya dirinya membohongi diri sendiri."
"Kau bilang dia pernah membohongi diri sendiri ?"
Ang Nio cu tertawa genit.
"Berapa orang lelakikah di dunia ini yang tidak gampang membanggakan diri sendiri ? Seandainya lelaki tidak terlalu gampang menjadi mabuk diri, perempuan manakah yang bisa menyusupkan diri dalam lingkungannya ?"
Ong Tiong termenung, sampai beberapa saat lamanya, kemudian ujarnya dengan hambar.
"Kau selalu memperhitungkan dengan tepat, juga melihatnya secara tepat."
"Tapi aku telah salah menilai dirimu."
"O ya ?"
"Aku mengira kau tak akan pernah bicara bohong"
Kata Ang Nio cu sambil tertawa.
"tak disangka kau telah berbohong, bahkan pada hakekatnya bisa membohongi orang sampai mati tanpa mengganti nyawa !"
"Kapan aku pernah berbohong ?"
"Kau bilang barang itu berada di bawah kolong meja, bukankah kau sedang berbohong?"
"Yaa, benar !"
Ang Nio cu tertawa, kembali ujarnya.
"Tapi cuma aku seorang yang tahu kalau kau sedang berbohong, sebab di dunia ini hanya aku seorang yang tahu dengan persis sesungguhnya benda tersebut disimpan dimana."
"Yaa, kau memang seharusnya tahu !"
Ang Nio cu mengerling sekejap ke arahnya dengan genit, lalu katanya lagi.
"Berbicara terus terang saja, tadi sebetulnya sudah kau duga atau tidak kalau barang itu sesungguhnya akulah yang mengambil pergi ?"
"Aku tidak menyangka !"
Setelah termenung beberapa saat lamanya, kembali dia berkata.
"Aku sama sekali tidak menyangka, akupun tidak tahu apa-apa, aku hanya mengetahui satu hal."
"Soal apa ?"
"Menjadi orang tidak seharusnya terlampau gegabah, barang siapa menganggap tiada orang yang bisa membohongi dirinya, maka hal itu sama artinya dengan dirinya membohongi diri sendiri."
Senyuman manis dari Ang Nio-cu seperti agak berubah, tak tahan dia lantas berseru.
"Apa maksudmu ?"
"Maksudnya, jika kau dapat mempersiapkan sebuah jerat untuk menjerat orang lain, maka orang lainpun dapat mempersiapkan sebuah jerat untuk menjerat dirimu sendiri."
Inipun merupakan suatu kesimpulan.
Biasanya kesimpulan jarang sekali keliru.
Yang keliru biasanya bukan suatu kesimpulan.
Hari sudah terang benderang.
Perempuan tampak selalu lebih tua, lebih berkisut di tengah hari yang terang benderang.
Dalam keadaan begini, Ang Nio-cu tak dapat tertawa lagi.
Jika seorang perempuan yang biasa tertawa mendadak tidak tertawa, seringkali diapun tampak lebih tua dan berkeriput.
Oleh sebab itu, paras muka Ang Nio-cu pada saat itu hampir boleh dibilang sudah mendekati taraf "si nenek berbaju merah".
Di bawah kolong meja tiada harta karun, satu peser uangpun tidak ada.
Tapi di situ ada orangnya, dua orang manusia.
Sekalipun Ong Tiong tak dapat bergerak, namun kedua orang itu dapat bergerak.
Yang seorang bisa bergerak cepat, yang seorang lagi agak lamban.
Yang cepat adalah Yan Jit, yang lamban adalah Kwik Tay-lok.
Manusia semacam Kwik Tay-lok tak nanti akan pergi jika temannya sedang menghadapi mara bahaya, sekalipun kau mengusirnya dengan cambukan, atau memalangkan golok di atas tengkuknya, dia juga tak akan angkat kaki..
Hingga sekarang, Ang Nio-cu baru menyadari bahwa dirinya benar-benar sudah masuk perangkap.
Tapi bagaimana mungkin ia bisa terjatuh dalam perangkap.
Dia sama sekali tidak tahu, bahkan perangkap macam apakah itu, dia sendiripun tidak sempat melihatnya.
Di dalam ruangan rumah, selalu ada salah satu sudut yang remang-remang, di sudut semacam ini biasanya selalu tersedia kursi.
Pelan-pelan Ang Nio cu berjalan ke sana dan pelan-pelan duduk di atas kursi.
Tiada orang yang menghalangi kepergiannya, sebab hal ini tak ada perlunya.
Lewat beberapa saat kemudian, tiba-tiba Ang Nio-cu berkata.
"Ong Tiong, aku tahu kau selalu merupakan seseorang yang amat adil dan bijaksana."
"Dia memang selalu begitu !"
Sela Kwik-Tay-lok. Bila Kwik Tay-lok hadir dalam suatu pertemuan, maka kesempatan berbicara bagi Ong Tiong tak pernah banyak.
"Oleh karena itu, terhadap diriku pun dia harus bertindak amat bijaksana."
"Bagaimana baru dianggap bijaksana ?"
"Barusan, aku telah membeberkan semua perangkap yang kupersiapkan, sekarang kau harus membeberkannya pula !"
Sasaran pembicaraannya masih tetap Ong Tiong, kecuali Ong Tiong, dia tak pernah memandang ke arah orang lain.
Sepasang mata Yan Jit sedang melotot, Kwik Tay-lok pun terpaksa harus membungkam dalam seribu bahasa.
Lewat lama sekali, Ong Tiong baru berkata.
"Tadi, kau berbicara mulai dari mana ?"
"Dari aku memberi kesempatan kepadamu untuk berbincang-bincang dengan si ular bergaris merah."
"Tahukah kau mengapa aku mengajaknya memperbin-cangkan persoalan semacam itu?"
"Aku tidak tahu !"
"Tapi paling tidak seharusnya kau tahu akan satu hal, barang itu toh bukan aku yang mengambil."
"Aku tahu !"
"Oleh karena itu aku harus mencari tahu, siapakah diantara kalian bertiga yang telah mengambil barang-barang tersebut ?"
Kata Ong Tiong.
"Oooh.... jadi kau mengucapkan beberapa patah kata itu kepada si ular bergaris merah tujuannya tak lain adalah untuk menyelidiki dirinya...?"
"Benar, andaikata dia yang mengambil barang-barang itu, maka dia tak akan berbuat demikian"
"Dari mana kau bisa tahu kalau orang itu bukan si kelabang besar ?"
"Seandainya dia yang mengambil, tak nanti si kelabang besar itu akan menyerempet bahaya... orang yang memiliki harta sebesar beberapa ribu laksa tahil perak, biasanya takut mati sekali, bahkan atap rumah yang terjatuhpun kuatir kalau bakal menimpa atas kepala sendiri"
Ang Nio-cu tertawa paksa, lalu berkata.
"Kenapa tidak kau katakan saja dengan kata yang lebih sederhana? Harta lebih berharga dari emas ? Aku pasti mengerti jika kau bilang begitu."
"Orang yang mengetahui tempat penyimpanan harta karun itu hanya lima orang, bila tiga orang lainnya tak tahu, itu berarti tinggal kau dan Cui lotoa."
"Tapi, kau toh belum bisa memastikan di antara aku dan Cui lotoa, sebenarnya siapakah yang sebenarnya telah melarikan harta kekayaan tersebut ?"
"Waktu itu aku masih belum berani memastikan, tapi aku sudah mempunyai pegangan, cepat atau lambat orang itu sudah pasti akan dapat kutemukan."
"Kau benar-benar memiliki keyakinan tersebut ?"
"Yaa, pertama, aku tahu si ular bergaris merah bukan tandingan dari Cui lotoa, andaikata dia berani melakukan suatu tindakan, maka orang itu akan mampus."
"Ternyata penglihatanmu memang tepat sekali !"
"Kedua, aku tahu diantara kau dan Cui-lotoa, sudah pasti ada satu orang diantaranya yang bakal mati."
"Kenapa ?"
"Sebab entah siapa pun yang telah mengambil barang-barang tersebut, sudah pasti dia tak akan membiarkan orang yang lain tetap hidup segar bugar."
"Kenapa ?"
"Karena seandainya diantara kami berlima masih ada seorang saja yang masih hidup, maka pasti dia tak akan bisa menikmati harta kekayaan yang besar jumlahnya itu dengan tenang, sekarang dari lima orang berarti tinggal satu orang, inilah suatu kesempatan yang sangat baik sekali baginya."
Ang Nio-cu menghela papas panjang, gumamnya.
"Yaa, kesempatan semacam itu memang terlampau baik."
"Dia sudah menunggu sangat lama, dengan susah payah baru dijumpainya kesempatan seperti ini, tentu saja dia tak akan melepaskannya begitu saja."
"Seandainya berganti dengan kau, sama juga kesempatan baik itupun tak akan kau lepaskan."
"Yaa, apalagi dulu dia telah melimpahkan semua tanggung jawab tersebut di atas tubuhku, sekarang setelah menemukan diriku kembali, cepat atau lambat rahasianya itu tentu akan terbongkar juga, sekalipun dia tak ingin membunuh orang lain, orang lain juga pasti akan membunuhnya."
"Sebenarnya aku memang tak ingin menyaksikan mereka berhasil menemukan dirimu, tapi...."
Dia tertawa, suara tertawanya kedengaran amat memedihkan hati, kemudian melanjutkan.
"Tapi dalam hati kecilku, akupun berharap sekali bahwa mereka bisa menemukan kau, agar akupun bisa melihat selama beberapa tahun ini, kau telah berubah menjadi seperti apa? Baikkah penghidupanmu selama ini?"
Akhirnya Kwik Tay-lok tidak tahan juga, mendadak ia menimbrung.
"Penghidupannya selama ini sangat bagus, sekalipun agak miskin, namun penghidupannya masih tetap riang gembira."
Pelan-pelan Ang Nio-cu mengangguk, gumamnya.
"Kalian semua memang sahabat karibnya, kalian memang sahabat-sahabat yang lebih sejati kalau dibandingkan dengan sahabat-sahabatnya dulu."
Setelah termenung sampai lama sekali, dia baru melanjutkan.
"Kalau hitung pulang pergi, tampaknya sejak tadi kau sudah menghitung bahwa pada akhirnya pasti tinggal satu orang saja, juga telah menghitung dengan tepat kalau dia sudah pasti orang yang telah mengambil harta kekayaan tersebut."
"Tentu saja, sebab perhitungan semacam ini pada hakekatnya sama sederhananya dengan hitungan satu tambah satu sama dengan dua."
"Apakah kau sudah memperhitungkan sampai di situ ketika akan datang memenuhi janji?"
"Kalau tidak begitu, mana mungkin kami melepaskannya pergi dengan perasaan lega?"
Sela Kwik Tay-lok. Ang Nio-cu menghela napas panjang.
"Aaaai.... seharusnya akupun bisa berpikir sampai ke situ! Seharusnya aku bisa melihat kalau kalian bukanlah semacam teman yang diam-diam ngeloyor pergi ketika melihat sahabatnya terancam bahaya."
"Mereka memang bukan!"
Ong Tiong mengangguk.
"Tapi ada beberapa hal yang tidak kupahami."
"Kau boleh bertanya!"
"Kau masuk perangkap dan tertawan, apakah tindakan inipun merupakan suatu kesengajaan?"
"Aku cuma tahu kalau di tempat itu tak mungkin akan muncul sebuah kuburan secara tibatiba."
"Jadi kau sengaja membiarkan dirimu tertawan? Apakah kau tidak kuatir bila kami bunuh dirimu pada saat itu juga?"
"Takutnya sih tetap rada takut."
"Tapi, mengapa kau tetap melakukannya?"
"Sebab telah kuduga, kalian tak nanti akan membunuhku dengan begitu saja, kalian sudah pasti mempunyai tujuan lain."
"Sudah dapat kau tebak apakah tujuannya?"
"Sekalipun belum begitu pasti, tapi aku tahu asal kalian punya tujuan maka aku tak akan dibunuh pada detik itu juga."
"Karena itu pula kau menyuruh mereka menantimu di sini ?"
"Benar !"
"Kau mempunyai keyakinan untuk memancing kami datang kemari ?"
"Hanya ada sedikit, tidak terlampau banyak."
"Tapi kau tetap melakukannya juga ?"
"Bila seseorang hanya mau melakukan pekerjaan yang meyakinkan saja, maka tak sepotong pekerjaanpun yang berhasil dia lakukan."
"Sebab di dunia ini memang tiada pekerjaan yang meyakinkan."
"Kau menyuruh mereka menyembunyikan diri di sini, apakah tidak kuatir kalau belum apa-apa jejak mereka sudah kami ketahui?"
"Kesempatan semacam itu tipis sekali."
"Kenapa ?"
"Hal ini harus dibagikan dalam beberapa macam keadaan."
"Katakan!"
"Keadaan yang pertama adalah tiga orang berada bersama ditempat ini...."
"Ehmm ......!"
"Waktu itu dari tiga orang tersebut, paling tidak ada dua orang diantaranya yang mengira harta karun itu kusembunyikan dikolong meja, tentu saja mereka tak akan membiarkan orang lain turun tangan mendahuluinya. Sekalipun ada orang hendak menengoknya, sudah pasti ada orang yang lainnya mencegah perbuatannya itu. Maka dalam keadaan seperti ini, mereka sudah pasti akan sangat aman."
"Bagaimana pula keadaan ke dua ?"
"Waktu itu sudah tinggal dua orang, misalnya saja kau dan Cui lotoa."
"Tak usah dimisalkan lagi, kenyataan memang tinggal kami berdua."
"Waktu itu, sudah pasti kau tak akan membiarkan Cui lotoa hidup terus. Sekalipun dia ingin pergi memeriksanya, kau pasti akan turun tangan lebih dahulu, maka dalam keadaan beginipun mereka juga aman dan tidak terancam."
"Kemungkinan ketiga sudah tentu ketika tinggal aku seorang bukan ?"
"Benar !"
"Jalan darahmu yang tertotok itu masih tertotok bukan?"
"Betul !"
"Seandainya kutemukan kalau mereka bersembunyi di situ, bukankah akupun masih sanggup untuk menyumbat mati mereka didalam sana ?"
"Tapi kau toh sudah tahu kalau harta karun itu tidak disembunyikan di situ, mana mungkin tempat tersebut akan kau periksa ? Pada hakekatnya kau menaruh perhatian saja tidak, maka dalam keadaan begini, merekapun sangat aman."
"Benarkah segala sesuatunya telah kau perhitungkan dengan begitu cermat dan tepat?"
"Tidak !"
Setelah tertawa, lanjutnya.
"Manusia punya kemauan Thian punya kuasa, siapa pun tak akan dapat memperhitungkan segala sesuatunya tanpa meleset barang sedikitpun jua...."
"Tapi kau toh tetap menyerempet bahaya itu ?"
"Ya, sebab itulah satu-satunya jalan yang kumiliki, satu-satunya serangan terakhir yang bisa kulakukan."
Ang Nio-cu menghela napas panjang, katanya sambil tertawa getir.
"Nyali kalian benar-benar terlampau besar"
"Nyali kami tidak terlalu besar, rencana kami juga tidak seteliti dan secermat kalian, bahkan tenaga yang kami milikipun sangat lemah."
"Kalau dibandingkan dengan kalian, dalam pertarungan ini seharusnya kami berada dipihak yang kalah."
"Tapi dalam kenyataannya kalian menang".
"Hal ini disebabkan karena kami memiliki semacam benda yang tidak kalian miliki."
"Kalian punya apa ?"
"Hubungan persahabatan yang sejati !"
"Walaupun wujudnya tak bisa dilihat, tak bisa diraba, tapi kekuatan besar yang dimilikinya tak akan pernah kalian bayangkan selamanya...."
Ang Nio-cu sedang mendengarkan. Dia tak bisa tidak harus mendengarkan, sebab ucapan semacam itu belum pernah dia dengar sebelumnya.
"Kami beradu jiwa, berani menyerempet bahaya, karena kami tahu bahwa diri sendiri bukanlah berdiri seorang diri."
Sorot matanya dialihkan ke wajah Yan Jit dan Kwik Tay-lok, kemudian melanjutkan.
"Bila seseorang walau berada dalam keadaan seperti apapun, bila dia tahu kalau disampingnya berdiri sahabat yang sejati, yang bersedia hidup bersama, mati bersama dengan dirinya, maka dengan segera dia akan berubah menjadi lebih berani dan lebih percaya pada diri sendiri."
Ang Nio-cu menundukkan kepalanya, dia seakan-akan berubah menjadi jauh lebih tua.
"Sebenarnya akupun menginginkan kepergian mereka"
Kata Ong Tiong kembali.
"tapi mereka cuma mengucapkan sepatah kata, maka akupun mengurungkan niatku itu !"
"Apa yang mereka katakan?"
Tak tahan Ang Nio-cu segera bertanya.
"Mereka hanya memberitahukan kepadaku. bila kami ingin hidup, kami harus hidup bersama dengan riang gembira, bila ingin mati, maka kami harus mati bersama dengan riang gembira, entah mati entah hidup, sesungguhnya bukan sesuatu yang luar biasa !"
Ucapan semacam itupun belum pernah di dengar oleh Ang Nio-cu.
Hampir saja dia tak mau mempercayainya.
Tapi sekarang mau tak mau dia harus mempercayainya juga.
Dia telah menjumpai tiga orang yang berada di hadapannya....
Seorang manusia yang penuh luka di tubuhnya, sampai untuk berdiripun sudah payah.
Seorang manusia yang kurus kecil dan lemah yang kelaparan juga keletihan.
Sekalipun Ong Tiong sendiripun sama saja.
Kalau dibilang cuma mengandalkan ketiga orang itu saja, maka si ular bergaris merah, Cuimia-hu dan Ang Nio-cu bisa dibikin mati, peristiwa tersebut pada hakekatnya tak bisa di terima dengan akal sehat.
Tapi kejadian yang tak bisa diterima dengan akal sehat itu justru telah berubah menjadi suatu kenyataan sekarang.
Apa yang sebenarnya mereka andalkan ?
Ang Nio-cu mendadak dia merasakan darah di dalam dadanya mendidih, hampir saja air matanya jatuh bercucuran.
Entah sudah berapa lama dia tak pernah melelehkan air mata, hampir saja lupa bagaimanakah rasanya melelehkan air mata.
Yan Jit mengawasi terus wajahnya tanpa berkedip, lambat laun sorot matanya menunjukkan perasaan simpatik, tiba-tiba dia bertanya.
"Apakah kau belum pernah punya teman?"
Ang Nio-cu menggeleng.
"Sudah pasti bukan karena sahabat tidak menghendaki dirimu, adalah kau sendiri yang tidak menghendaki teman."
Yan Jit menambahkan.
"Tapi aku...."
"Jika kau menginginkan orang lain bersungguh hati kepadamu, hanya ada satu hal yang bisa kau gantikan kepadanya."
"Meng.... menggantikannya dengan apa?"
"Dengan ketulusan hati serta kesungguhan hatimu sendiri."
Kwik Tay lok tidak tahan segera menimbrung pula.
"Diantara kalian bertiga, asal ada sedikit saja ketulusan serta kesungguhan hati, maka hari ini kalian masih bisa hidup senang dengan riang gembira."
Sesat tak akan menangkan kelurusan.
Keadilan pasti dapat merontokkan kekerasan.
Kekuatan yang terjalin karena persahabatan dan kesetiaan, sudah pasti dapat menangkan pula kekuatan buas yang terhimpun karena persekongkolan dan kedengkian.
Keadilan dan persahabatan sudah pasti akan selalu tertanam didalam hati manusia, tinggal manusia itu sendiri, dapatkah dia menggali serta memanfaatkannya.
Kesemuanya itu bukan suatu perlambang atau suatu ibarat, semuanya bukan.
Jika kalian sudah mendengarkan kisah dari Kwik Tay-lok dan Ong Tiong, segera akan kalian ketahui bahwa kata-kata bukan suatu ibarat atau perlambang saja.
Sekalipun kalian tidak mendengarkan juga tak menjadi soal.
Sebab di dunia yang luas ini setiap saat di setiap tempat akan dijumpai manusia-manusia seperti Kwik Tay-lok dan Ong Tiong.
Asal kau bersedia untuk mencarinya dengan hati yang tulus serta kemauan yang jujur, maka sudah pasti kau akan temukan juga teman semacam mereka itu.
Musim semi telah tiba, fajarpun belum lama menyingsing.
Lim Tay-peng berbaring di bawah jendela, jendela itu terbuka lebar, ketika ada angin berhembus lewat maka lama-lama terendus bau harum semerbak yang dibawa datang dari kejauhan sana.
Di tengah memegang se
Jilid buku, tapi matanya sedang mengamati daun-daun hijau yang mulai bersemi kembali di atas dahan pohon.
Sudah cukup lama dia berbaring di situ.
Luka yang dia derita tidak separah Kwik Tay-lok, racun yang mengeram di tubuhnya juga tidak sedalam Kwik Tay-lok.
Tapi Kwik Tay-lok sudah dapat membeli arak di kota, sedang dia masih harus berbaring di atas ranjang.
Karena obat penawar datangnya terlalu lambat...
Racun sudah menyerang sampai di dalam isi perutnya, merusak kondisi badannya.
"Yaa, memang begitulah penghidupan manusia, adakalanya beruntung ada kalanya pula tidak beruntung. Tapi dia tidak menggerutu. Dia telah memahami apa arti dari keberuntungan serta ketidak beruntungan tersebut. Walaupun dia sedang sakit namun justru karena itu dia dapat merasakan pula suasana yang santai dan sepi dari sakitnya itu. Apalagi masih ada perawatan dan perhatian dari teman-temannya..... Ia menghela napas dan memejamkan mata. Pintu pelan-pelan dibuka orang, seseorang muncul dengan langkah yang amat pelan. Dia adalah seorang perempuan yang berpakaian sederhana, tidak berbedak atau bergincu dan kelihatan bersih sekali. Di tangannya ia membawa sebuah baki, di atas baki tampak semangkuk bubur serta dua macam sayur. Tampaknya Lim Tay-peng sudah tertidur, la pelan-pelan masuk ke dalam, meletakkan baki itu dengan berhati-hati di meja, seperti kuatir kalau membangunkan Lim Tay-peng, kemudian pelanpelan pula mengundurkan diri dari situ. Tapi setelah berpikir sebentar, dia masuk kembali dan mengangkat baki itu kembali, karena dia takut bubur yang dingin tak baik untuk orang yang sedang sakit. Siapakah perempuan itu? Cara kerjanya sungguh amat teliti dan sangat berhati-hati. Lapisan salju mencair, sinar matahari yang menyoroti seantero jagad terasa makin hangat dan kering... Di tengah halaman depan tampak tiga lembar kursi rotan dan seperangkat alat bermain catur. Ong Tiong dan Yan Jit sedang bermain. Kwik Tay-lok duduk disampingnya sambil menonton, sebentar-sebentar ia nampak beranjak sambil berjalan bolak-balik tanpa tujuan, sebentar pula melongok keluar dinding pagar dan mengawasi pegunungan nun jauh di depan sana. Pokoknya dia tak pernah bisa duduk tenang. Bila menginginkan dia duduk tenang di situ, sambil bermain catur, kecuali kalau kakinya dipenggal sampai kutung, bila suruh dia duduk dengan tenang menyaksikan orang lain bermain catur, maka hakekatnya seperti menggorok lehernya. Sekarang biji catur Ong Tiong yang berwarna putih itu menyumbat mati jalan keluar biji catur hitam, Yan Jit sambil menimang-nimang biji caturnya sedang merasa pusing kepala, dia tak tahu bagaimana harus bertindak untuk menolong permainannya. Ketika dilihatnya Kwik Tay-lok hanya berjalan hilir mudik tiada hentinya, dengan mata melotot Yan Jit segera menegur.
"Hei, dapatkah kau duduk sebentar dengan tenang ?"
"Tidak dapat !"
"Kau ribut melulu di tempat ini, bikin pikiran orang merasa kacau saja, bagaimana mungkin aku bisa bermain catur dengan tenang ?"
Keluh Yan Jit dengan gemas.
"Sepotong katapun tidak kuucapkan, kapan sih aku bikin ribut ?"
"Memangnya caramu sekarang bukan lagi bikin ribut ?"
"Sekalipun cara ini bikin ribut, mengapa Ong lotoa tidak menegur diriku ?"
"Karena aku yang hampir menangkan permainan catur ini."
Ucap Ong Tiong hambar.
"Sekarang permainan belum selesai, siapa menang siapa kalah masih belum pasti."
Seru Yan Jit.
"Sudah pasti!"
Kwik Tay-lok menimbrung. Kontan saja Yan Jit melotot.
"Aaaah, kau ini tahu apa ?"
Kwik Tay-lok tertawa.
"Sekalipun aku tidak mengerti soal bermain catur, tapi aku cukup mengerti orang yang kalah bermain selalu mempunyai penyakit yang kelewat banyak."
"Penyakit siapa yang banyak ?"
"Kau ! Maka orang yang bakal kalah bermain catur nanti juga kau...."
"Tepat sekali !"
Sahut Ong Tong sambil tertawa.
Senyuman yang baru saja menghiasi ujung bibirnya itu mendadak berubah menjadi kaku.
Seorang perempuan sedang berjalan menelusuri sebuah jalan kecil yang berlapiskan batu, di tangannya membawa sebuah baki yang berisikan tiga mangkuk teh panas.
Ong Tiong segera melengos ke arah lain dan tak sudi memperhatikan dirinya.
Mangkuk teh pertama disodorkan perempuan berbaju hijau itu kepadanya, dengan lembut dia berkata.
"Inilah air teh Hiang-pian yang paling kau sukai baru saja dibikin...."
Ong Tiong berlagak tidak mendengar.
"Bila kau ingin minum air teh Liong-cing akan kugantikan sepoci untukmu"
Ucap perempuan berbaju hijau itu lagi. Ong Tiong masih juga tidak menggubris. Maka perempuan berbaju hijau itupun meletakkan cawan teh tadi di hadapannya kemudian bertanya lagi.
"Tengah hari nanti kau ingin makan apa ?"
Tiba-tiba Ong Tong bangkit berdiri lalu berjalan menjauhi dirinya....
Memperhatikan bayangan punggungnya yang menjauh, perempuan berbaju hijau itu termangu-mangu, dia seperti merasa amat murung dan sedih sekali.
Kwik Tay-lok tidak tega, dia lantas berseru.
"Bikin pangsit paling enak, cuma terlalu repot !"
Saat itulah si perempuan berbaju hijau itu baru berpaling dan ketawa paksa.
"Aaah..... tidak repot, tidak repot, sedikitpun tidak repot."
Setelah meletakkan mangkuk air teh, pelan-pelan dia membalikkan badan dan pelan-pelan beranjak pergi, baru dua langkah dia sudah tak tahan untuk berpaling dan memperhatikan lagi diri Ong Tiong.
Ong Tiong tetap berdiri di tempat kejauhan, seakan-akan dia tidak merasakan kehadiran perempuan itu.
Perempuan berbaju hijau itu menundukkan kepalanya dan pergi, meski dia merasa amat sedih, namun sama sekali tidak menunjukkan wajah menggerutu.
Bagaimanapun sikap Ong Tiong terhadap dirinya, dia tetap halus, lembut dan pasrah.
Apa pula yang sebenarnya sedang dia rencanakan.
Kwik Tay-lok memperhatikan bayangan punggungnya sampai lenyap dibalik rumah, kemudian ia baru menghela napas panjang seraya bergumam.
"Cepat benar perubahan dari orang ini!"
"Ehmm !"
Yan Jit mendesis.
"Orang lain bilang, alam dunia bisa dirubah, watak manusia sukar dirubah, aku lihat ucapan tersebut kurang begitu cocok. Bukankah orang itu sama sekali telah terjadi perubahan besar ?"
"Karena dia adalah seorang perempuan!"
"Perempuan juga orang, bukankah perkataan tersebut seringkali kau katakan ?"
Yan Jit menghela napas panjang.
"Bagaimana juga, perempuan selamanya berbeda dengan kaum lelaki...."
Katanya.
"Oooooh.....?"
"Demi seorang lelaki yang disukainya, seorang perempuan bisa merubah sama sekali dirinya. Sedangkan lelaki bila mencintai seorang perempuan, sekalipun bisa terjadi perubahan, perubahan tersebut paling-paling hanya terjadi diluarannya saja."
Kwik Tay-lok berpikir sebenar, lalu ujarnya.
"Ucapan itu kedengarannya sedikit masuk diakal."
"Tentu saja masuk akal.... apa yang kukatakan memang selalu masuk di akal."
Kwik Tay-lok segera tertawa. Yan Jit segera melotot besar, serunya.
"Apakah yang kau tertawakan ? Kau tidak mengaku ?"
"Aku mengaku, apapun yang kau katakan, aku tak pernah mengatakan tidak setuju."
Inilah yang dinamakan benda yang satu lebih tinggi daripada benda yang lain, tahu hanya pantas mendampingi sayur.
Kwik Tay-lok, lelaki yang tidak takut langit tidak takut bumi, tapi begitu melihat Yan Jit, dia benar-benar kehabisan akal.
Saat itulah Ong Tiong telah berjalan balik dan duduk.
Mukanya masih hijau membesi.
Kwik Tay-lok segera berseru.
"Orang lain toh bermaksud baik untuk memberi air teh untukmu, dapatkah kau bersikap lebih baik sedikit kepadanya ?"
"Tidak dapat !"
"Apakah kau benar-benar marah setiap kali bertemu dengannya ?"
"Hmm!"
"Kenapa ?"
"Hmm !"
"Sekalipun dulu Ang Nio-cu tidak baik, tapi sekarang dia sudah bukan merupakan Ang Nio-cu lagi, apakah tidak kau lihat bahwa dia sama sekali telah berubah ?"
"Benar!"
Sambung Yan Jit.
"sekarang orang yang bertemu dengannya, siapa pula yang bisa menduga dia adalah Ang Nio-cu yang suka menolong orang dalam kesusahan ?"
Yaa, memang tak akan ada yang menyangka.
Dia begitu berhati-hati, begitu cermat, lembut dan penuh kasih sayang, siapa yang akan menyangka kalau perempuan baju hijau yang begitu sederhana tersebut tak lain adalah Ang Niocu ?
"Bila ada yang bisa menduganya, aku rela merangkak satu lingkaran di atas tanah."
Seru Kwik Tay-lok.
"Aku juga bersedia merangkak !"
Yan Jit menambahkan. Ong Tiong masih menarik muka dan berwajah kecut, ujarnya dingin.
"Bila kalian ingin merangkak di tanah, urusan tersebut adalah urusan pribadimu sendiri, aku tak mau tahu."
"Tapi kau..."
Seru Yan Jit.
"Hai, kau sudah mengaku kalah belum dalam permainan catur ini ?"
Tukas Ong Tiong.
"Tentu saja tidak mengaku !"
"Baik, kalau begitu tak usah banyak berbicara lagi, hayo cepat lanjutkan."
Kwik Tay-lok menghela napas panjang, gumamnya.
"Kulihat orang ini berpenyakit lebih besar daripada Yan Jit, kalau dia tidak kalah dalam permainan catur itu, urusan baru dibilang aneh sekali."
Ternyata dalam permainan tersebut memang Ong Tiong yang menderita kekalahan.
Sebenarnya dia sudah menutup buntu semua jalan lewat biji catur Yan Jit, tapi entah mengapa, ternyata dia telah dikalahkan secara tragis.
Menyaksikan catur di hadapannya, Ong Tiong tertegun untuk beberapa saat lamanya, tiba-tiba dia berseru.
"Mari kita bermain satu babak lagi !"
"Aaah..... tidak !"
"Kau harus main, aku tidak puas kenapa aku kalah dalam permainan babak ini ?"
"Sekalian bermain sepuluh kali lagi, kau tetap yang kalah."
"Siapa yang bilang ?"
"Aku yang bilang."
Sahut Kwik Tay-lok cepat.
"karena bukan saja kau punya penyakit, bahkan penyakit itu tidak kecil."
Ong Tiong segera beranjak dan siap pergi. Kwik Tay-lok segera menarik tangannya sambil berteriak.
"Setiap kali kami menyinggung soal ini, mengapa kau selalu berusaha untuk melarikan diri ?"
"Kenapa aku harus kabur ?"
"Itu harap ditanyakan kepadamu sendiri"
"Benar!"
Sambung Yan Jit.
"bila seseorang tak pernah melakukan kesalahan, entah apapun yang diucapkan orang lain, dia tak perlu untuk melarikan diri !"
Ong Tiong melotot sekejap ke arahnya, tiba-tiba ia menjatuhkan diri keras-keras, serunya.
"Baik, kalian kalau ingin berbicara, mari kita bicarakan sejelas-jelasnya, lihat saja nanti perbuatan salah apakah yang telah kulakukan..."
"Aku ingin bertanya lebih dulu kepadamu, siapa yang menahan dia di sini...?"
"Aku tidak perduli siapakah orang itu, pokoknya bukan aku."
"Tentu saja bukan kau, juga bukan aku, bukan juga Yan Jit."
Tiada orang yang menahan Ang Nio-cu, adalah dia sendiri yang rela untuk tinggal di situ.
Sebenarnya dia bisa saja pergi meninggalkan tempat itu.
Seandainya berganti dengan orang lain, berada dalam keadaan seperti ini mungkin dia akan memaksanya untuk mengatakan dimana harta karun itu disimpan, kemudian besar kemungkinannya dia akan dibunuh.
Tapi Kwik Tay-lok sekalian bukan manusia semacam itu.
Mereka tak sudi membunuh seseorang yang sudah tidak memiliki kemampuan untuk memberikan perlawanan, mereka lebih-lebih tak ingin membunuh seorang perempuan.
Terutama sekali membunuh seorang perempuan yang bukan saja tidak memiliki kemampuan untuk melawan, diapun sudah menyesali perbuatan-perbuatannya dimasa lalu.
Setiap orang dapat melihat bahwa Ang Nio cu sudah tersentuh hatinya, tersentuh oleh perasaan persahabatan mereka yang tulus dan bersungguh-sungguh.
Diapun mengerti peristiwa paling tragis dan paling menyiksa yang ada di dunia ini bukan tak punya uang, melainkan tak punya teman.
Mendadak dia merasakan bahwa apa yang telah dilakukannya selama ini tak lebih hanya mendatangkan kesepian dan kesendirian yang tiada taranya....
Karena sekarang, dia sudah merupakan seorang perempuan yang telah berusia tiga puluh tahunan.
Ia sudah dapat meresapi betapa tersiksa dan menakutkannya hidup seorang diri dan hidup kesepian.
Diapun mengerti segenap harta kekayaan yang ada di dunia ini, tak nanti bisa memenuhi kekosongan pikiran dan perasaan dari seseorang.
Teori semacam itu mungkin tak bisa dipahami oleh seorang gadis yang baru berusia delapansembilan belas tahunan, tapi cukup jelas bagi seorang perempuan macam dia.
Itulah sebabnya Ang Nio-cu tidak pergi.
"Kau pernah bilang, penghasilan yang berhasil kalian peroleh selama banyak tahun itu tak sedikit jumlahnya."
Demikian Kwik Tay-lok berkata.
"Ehmmm!"
Ong Tiong mendehem.
"Kalian juga pernah bilang, barang siapa memiliki kekayaan sebanyak itu, maka dia dapat merasakan suatu kehidupan yang mewah dan menyenangkan bagaikan penghidupan dalam istana kaisar."
"Hmmm....."
"Tapi dia lebih suka meninggalkan penghidupan yang serba mewah bagaikan kehidupan seorang kaisar, untuk tetap tinggal di sini melayani dirimu. Gilakah dia?"
"Tentu saja dia belum gila, apalagi sekalipun gila, juga tak bisa melakukan perbuatan semacam ini."
Sambung Yan Jit.
"Oleh sebab itu sekalipun seorang yang bodoh juga seharusnya memahami maksud hatinya, seharusnya bersikap lebih baik kepadanya."
Ang Nio-cu bukannya tak pernah pergi dari rumah itu.
Dia pernah pergi selama lima-enam hari lamanya.
Ketika balik kembali ke sana, dia hanya membawa sebuah bungkusan kecil.
Didalam bungkusan tersebut hanya ada beberapa stel pakaian berwarna hijau dan beberapa macam benda lainnya.
Itulah satu-satunya harta kekayaan yang masih tersisa.
Bagaimana dengan lainnya?
Ternyata harta karun yang berhasil diperolehnya dengan pertaruhan nyawa itu telah didermakan untuk menolong para rakyat di sepanjang tepi sungai Huang-ho yang sedang tertimpa bencana alam.
Tindakan yang diambilnya itu benar-benar di luar dugaan dan sukar dipercaya oleh siapapun...
Paras muka Ong Tiong masih berwarna membesi.
Kembali Kwik Tay-lok berkata.
Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 8
Baca Juga: Imbauan Pendekar 6