Eps 4 Tiga Mutiara Mustika - Gan Kl
Baca online Tiga Mutiara Mustika - Gan Kl
Cersil Tiga Mutiara Mustika - Gan Kl.
Mendapat penuturan itu, tiba-tiba Ang-koh menjadi teringat pada waktu malam-malam ia mengintai ke Mo-dji-tje di Soatang dahulu, ia melihat seorang pemuda yang mirip dengan Teng Hong-ko, orang yang menyamar sebagai imam hari ini, kalau ia membayangkan pun rada mirip juga.
Maka lantas ia berkata pada Njo Djun berdua.
"Djiwi silakan mengaso saja, penjahat yang tertangkap itu baiklah besok boleh Djiwi giring kembali ke ibukota."
Setelah itu Njo Djun dan Li Ngo mengundurkan diri.
"Kedatangan Totiang kali ini, siapakah yang hendak ditemui?"
Tanya Ang-koh pada Hian-hong setelah tinggal mereka berdua. Maka berceritalah Hian-hong mengenai perjanjiannya bertemu dengan Boan-liong Kiam-khek.
"Boan-liong sendiri asalnya juga anak murid dari Khongtong-pay, hanya belakangan ia masuk ke dalam Djing-Iionghwe,"
Hian-hong menambahkan lagi.
"Sungguh aku tidak mengerti mengapa Tjiangkau begitu jeri padanya, kalau ia betul-betul berani berlawanan dengan Pek-lian-kau, tatkala itu ia bisa memohon ketujuh Tjindjin dari tujuh gua Khong-tong untuk meringkusnya dan dihukum, bukankah itu lebih baik?"
Ujar Ang-koh.
Tjiangkau atau pejabat agama yang Ang-koh sebut tadi adalah 'Thong-thian-kiu-tju' dari Pek-lian-kau, waktu itu imamimam dari Khong-tong-pay sudah bersekongkol dengan Peklian-kau.
Dalam pada itu tiba-tiba Hian-hong teringat sesuatu.
"Sebelum aku menuju ke Hoa-san sini,"
Katanya pada Angkoh.
"Diam-diam Tjiangkau memberitahu padaku bahwa ia orang tua dalam waktu singkat ini akan menyambangi para Tjindjin di Khong-tong-san, kalau Sian-koh keburu datang, dalam sebulan pun diminta menemuinya di sana!"
"Kebetulan sekali kedatangan Tjiangkau, aku justru hendak melaporkan tentang kehilangan Thian-hu itu,"
Sahut Ang-koh dengan girang.
Begitulah setelah mereka berdua mengobrol lagi, cuaca sudah mulai gelap, dengan alasan masih ada urusan lain, lantas Hian-hong memohon diri dan kemudian turun dari atas loteng.
Kembali mengenai diri Teng Hong-ko, setelah pemuda ini kena dibekuk oleh Hian-hong, ia dikurung pula ke dalam penjara, jalan darahnya yang tadinya tertotok, kini sudah lancar kembali, ketika membuka matanya, ia lihat kedua kakinya sudah dirantai orang.
Penjara ini adalah tempat yang sama seperti tempo hari ia dikurung, sejak Giok-bin-yao-hou berhasil menolong dirinya, karena takut peristiwa itu terulang pula, kali ini khusus dikirim dua orang penjaga untuk menjaga di luar pintu penjara, penjaga-penjaga ini adalah bawahan Tui-hun-djiu Njo Djun, mereka diperintahkan begitu ada orang hendak merampas tawanan, boleh seketika membereskan jiwa Hong-ko.
Dalam pada itu terdengar di luar kamar penjara ada suara percakapan orang yang pelahan, menyusul mana pintu jeruji besi dari kamar penjara itu dibuka oleh penjaga, kemudian ada pula orang yang masuk ke dalam dan pintu penjara pun ditutup kembali.
Waktu Hong-ko mencoba memandang, ia lihat yang masuk ini adalah seorang kacung, kepalanya memakai ikat kain, pakaiannya ringkas, usianya masih di bawah dua puluhan, tampaknya ia seorang pekerja di dalam kuil itu.
Di dalam kamar penjara terlalu gelap karena api lentera yang remang-remang, sedang ikat kepala kacung itu diikat hingga hampir menutupi mukanya, oleh karenanya tak begitu jelas untuk melihat mukanya.
Hanya terlihat kacung ini menjinjing sebuah bakul barang, setelah sampai di depan Hong-ko lantas ia meletakkan bakulnya, sudah itu dengan membelakangi sinar lentera dengan mata tanpa berkedip terus saja ia mengamat-amati Hong-ko.
Nampak kelakuan orang itu, Hong-ko pun tidak ambil pusing.
Tak ia duga mendadak kacung itu malah membuka suara lebih dahulu.
"Apakah kau ini saudara Siau Kim-kong? Laparkah perutmu?"
Tanyanya, suaranya halus lembut tetapi rada lemah.
Mengetahui orang tidak mengandung maksud jahat, maka Hong-ko pun lantas mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Maka kacung itu lantas mengeluarkan beberapa macam penganan dan seceret wedang.
"Saudara, inilah barang-barang yang ingin aku berikan padamu,"
Katanya kemudian sambil menaruh barang-barang tadi ke lantai. Kemudian ia menyambung.
"Tadi mendengar logat suaramu, tampaknya kau seperti berasal dari daerah selatan Kang-say, kalau begitu mungkin kita adalah sekampung halaman!"
Mendengar itu Hong-ko jadi tercengang sejenak, ia tidak menduga cara bagaimana bisa bertemu dengan orang sekampungnya.
"Saudara juga orang dari daerah selatan Kangsay?"
Tanyanya kurang percaya. Ia berkata dalam logat kampung halamannya di daerah sekitar Bwe-kang.
"Ya, bahkan aku adalah orang dari Tjiok-ge-tjun, entah saudara asal dari kampung mana?"
Sahut kacung itu.
Diam-diam Hong-ko menjadi terkejut mendengar suara perkataan orang ternyata sama logatnya dengan dia sendiri, lekas ia mencoba memandang orang lebih terang, namun kacung itu menunduk ke bawah buat menuangkan minumannya.
Mendadak Hong-ko mencium pula bau wangi, hatinya jadi bertambah tidak mengerti, namun ia tidak berani menerangkan bahwa dirinya pun berasal dari kampung Tjiokge-tjun.
"Banyak terima kasih atas pelayanan saudara ini,"
Sahutnya kemudian.
"Aku adalah orang dari Tiang-sing-si, sejak kecil sudah merantau di Kangouw, hari ini aku tertangkap oleh Hian-hong, aku kira maksud baik saudara hanya akan sia-sia saja."
Seketika kacung itu ternyata tidak menjawab, ia hanya mengangsurkan makanan ke tangan Hong-ko. Pemuda ini pun tidak menolak, lantas ia makan seadanya.
"Kau tidak seharusnya bersama Giok-bin-yao-hou ke sini buat mencari setori pada Toaya kami, kalau kau mau menerangkan asal-usulmu, mungkin aku masih bisa mencarikan orang buat menolongmu,"
Kacung itu berkata lagi.
"Siapa yang mampu menolong aku keluar dari sini?"
Ujar Hong-ko sambil menghela napas.
"Hian-hong menangkap aku sebagai seorang tawanan kerajaan, kecuali kalau saudara suka membantu mengirimkan kabar keluar bagiku!"
"Kau ingin aku mengirimkan kabar kemana?"
Tanya kacung itu mendadak.
"Kalau aku bisa melaksanakan, pasti akan aku lakukan."
Akan tetapi Hong-ko masih ragu-ragu, ia tidak lantas memberitahukan.
"Sudah terlalu lama aku berada di sini, lekas kau katakan!"
Sementara kacung itu mendesak pula. Sejenak itu Hong-ko menjadi bingung dan ragu-ragu, dari mulurnya ia hanya mengatakan "Pek-lian-am"
Tiga suku kata saja, tetapi mendadak ia sadar bahwa kacung ini agak mencurigakan, maka tidak ia teruskan perkataannya. Namun si kacung pun tidak bertanya lebih lanjut.
"Sudahlah, aku harus pergi dari sini, makanan ini kutinggalkan untukmu saja,"
Katanya, terus saja ia menjemput bakulnya dan hendak pergi.
"Tadi aku lupa bertanya padamu,"
Tiba-tiba ia menoleh pula sebelum pergi.
"Di Tjiok-ge-tjun ada seorang guru silat bernama Teng Ling, apakah saudara kenal dia?"
Terperanjat sekali Teng Hong-ko tatkala mendadak mendengar orang menyebut nama ayahnya, meski kedua kakinya terbelenggu, namun tubuhnya masih bisa bergerak, maka segera ia mencoba melompat naik, tiba-tiba dengan tipu 'Pek-ho-liang-sia' atau bangau putih mengunjuk sayap, tangan kirinya menyambar ke atas kepala orang dengan cepat, ia bermaksud menyingkap ikat kepalanya.
Gerak tubuh Hong-ko cukup cepat, tak ia duga cara kacung itu berkelit jauh lebih cepat lagi, dengan sedikit berjongkok, dengan gampang saja ia menghindarkan serangan pemuda itu.
"Siapa kau?"
Bentak Hong-ko.
Berbareng itu ia maju selangkah meski kakinya terantai, sesudah itu dari samping ia mengirim pukulan pula dengan sebelah telapak tangannya, dengan tipu serangannya yang mengandung cara Kim-na-djiu atau cara mencekal dan menawan ini, ia menyambret dada kacung itu dengan gaya 'Hun-tiong-dju-goat' atau menyangga rembulan di antara awang-awang.
Namun kacung itu keburu mengegos ke samping, menyusul kemudian dengan baku!
yang ia pegang terus saja diayunkan ke muka Hong-ko untuk menghalau serangannya, kemudian dengan cepat ia melompat ke dekat pintu kamar penjara.
"Dasar manusia tak berbudi!"
Dampratnya kemudian sambil mendorong pintu penjara, terus saja ia melompat keluar.
Menyaksikan orang sudah pergi, baru Hong-ko sadar bahwa tentu yang menyamar sebagai kacung ini ialah Angkoh, kalau melihat gerak tangannya tadi, terang ia bukan seorang kacung biasa saja.
Tampaknya Ang-koh ini pasti adalah Pek Eng-dji adanya, hal ini sudah tidak usah diragukan lagi.
Begitulah, dalam lamunannya tanpa terasa ia sudah tertidur.
Keadaan mana entah sudah lewat berapa lama lagi, ketika dalam tidurnya yang layap-layap itu, mendadak ia merasa seperti ada orang sedang menggoyang-goyang padanya, waktu ia membuka matanya, tertampaklah kacung tadi sedang mendekam di sampingnya.
Hong-ko menjadi gusar, tiba-tiba kakinya mendupak sambil menggertak.
"Enyahlah kau!"
Akan tetapi belum sampai kakinya mengenai orang, cepat sekali dengan gerakan 'Ho-ping-kiu-li' atau merebah di tanah es mengharapkan ikan mas, orang itu berkelit pergi, berbareng tangan kanannya terus diulur maju lagi, segera ia sudah berhasil mencekal kaki Hong-ko, sedang sebelah tangannya yang lain ia mendekap mulut orang pula.
"Sssst, apa kau sudah gila? Akulah yang ada di sini!"
Seru orang itu dengan suara tertahan.
Ketika Hong-ko menegasi, ternyata orang yang berhadapan dengan dia kini ialah Boan-liong Kiam-khek, karena itu ia menjadi terperanjat.
Ia mengucek matanya, mengira dirinya masih dalam alam mimpi, dalam pada itu Boan-liong sudah menarik dirinya bangun, barulah ia mengetahui pula bahwa belenggu kakinya sudah sejak tadi terlepas.
"Bagaimana Tayhiap bisa mengetahui aku berada di sini?"
Tanya Hong-ko dengan cepat. Boan-liong tidak lantas menjawab, sebaliknya ia menarik Hong-ko dan terus diajak berangkat.
"Mari lekas kita pergi!"
Desaknya.
Kembali Hong-ko bertanya dimana adanya Bun Sui-le.
Dengan menarik dirinya, Boan-liong membawanya kabur melalui jalanan di bawah tanah rahasia itu dan berbareng di tengah jalan ia memberitahukan pengalamannya bagaimana bisa masuk ke dalam penjara rahasia tersebut.
Kiranya sesudah Hong-ko berangkat, hal mana sangat menguatirkan Giok-bin-yao-hou Bun Sui-le.
Setelah menunggu sepanjang hari Hong-ko masih tetap belum kembali juga, kemudian Boan-liong pun pergi keluar buat mencari berita, maka ia lebih-lebih merasa kualir dan gugup, akhirnya seorang diri ia meninggalkan Pek-lian-am juga.
Sampai malam harinya, ketika Boang-liong kembali ke kuil itu dan tidak menemukan Bun Sui-le, maka tahulah dia, pasti gadis itu telah pergi lagi ke Tjui-hun-kiong buat berusaha menolong Teng Hong-ko.
"Dengan Hian-hong bertiga saja Giok-bin-yao-hou bukan tandingan mereka, apalagi kini ditambah seorang Ang-koh, kepergiannya kini pasti banyak bahayanya daripada selamatnya!"
Begitu ia berpikir.
Karena itu, segera juga ia berangkat malam-malam sampai di Tjui-hun-kiong, lebih dulu ia pergi menghadap Tji-hun Tjindjin, imam tua ini menganggap orang terlalu suka ikut campur urusan lain, namun belakangan ia tidak tahan juga oleh permohonan Boan-liong yang sungguh-sungguh itu, akhirnya ia memberitahu juga jalanan rahasia di bawah tanah yang menuju ke kamar penjara itu.
Sesudah Boan-liong masuk ke dalam jalan di bawah tanah, pada suatu ruangan ia lihat ada seperangkat pakaian dan ikat kepala serta sebuah bakul makanan, ia menduga tentu tinggalan petugas pengantar makanan, maka lantas ia menukar pakaiannya dengan pakaian yang sudah tersedia itu dan menyamar sebagai seorang kacung, waktu berhadapan dengan penjaga, ia dikira Ang-koh yang datang kembali, maka tanpa susah-susah lagi segera penjaga membukakan pintu, tetapi pada kesempatan itu juga Boan-liong menotok roboh kedua penjaga itu dan dengan leluasa ia bisa masuk ke dalam buat menolong Hong-ko.
Begitulah, sesudah Hong-ko mendapat tahu bahwa karena hendak menolong dirinya maka tanpa menghiraukan bahaya, seorang diri Bun Sui-le berkunjung ke Tjui-hun-kiong lagi dan belum diketahui bagaimana keadaannya, segera hatinya menjadi kuatir dan tidak tenteram.
Sementara itu mereka sudah sampai di luar, Boan-liong berniat membawa Hong-ko terus hendak berangkat kembali, namun pemuda ini ternyata menolak.
"Tidak, aku tidak bisa pergi begitu saja!"
Ujarnya.
"Dengan tidak memikirkan bahaya aku datang menolongmu, sebentar lagi Hian-hong dan kawan-kawan pasti akan mengejar kemari, apakah kau ingin jatuh ke tangan mereka pula?"
Sahut Boan-liong mendongkol.
"Aku bersedia tertangkap pula oleh imam tua Hian-hong itu daripada aku harus membiarkan Bun-tjetju jatuh ke dalam mulut macan!"
Kata Hong-ko lagi berkeras.
"Kita belum tahu dengan pasti apakah dia telah datang ke Thui-hun-kiong lagi, lebih baik kita kembali dahulu untuk memikirkan cara yang paling baik!"
Ujar Boan-liong pula.
"Tidak,"
Sahut Hong-ko tetap keras kepala.
"Bun-tjetju tentu telah datang ke sini lagi, ia tidak berhasil menolong aku tentu banyak kemungkinan sudah jatuh di tangan Hian-hong."
Karena tak berdaya menginsyafkan pemuda ini, terpaksa Boan-liong menuruti keinginannya, berbareng mereka melompat naik ke atas istana rumah biara itu, mereka lihat gedung-gedung kompleks Tjui-hun-kiong itu berderet-deret penuh dengan ruangan dan kamar, tetapi tiba-tiba mereka mendengar ada suara gemerincing beradunya senjata tajam yang berkumandang dari jauh.
Mendengar suara itu Boan-liong mengerti tentu ada orang sedang bertempur, dari suara getaran senjata yang berkumandang itu, dapat ia duga yang sedang bertarung itu pasti tergolong ahli semua, maka mereka berdua lantas menuju ke tempat datangnya suara tadi.
Bercerita tentang Ang-koh, sesudah gadis ini menyaru sebagai kacung dalam rumah biara itu untuk memeriksa tawanan dalam kamar tahanan, ia mengetahui bahwa tawanan itu memang bukan lain ialah Teng Hong-ko.
Dengan perasaan bimbang dan penuh kemasgulan kemudian ia kembali ke kamarnya.
Di luar dugaannya, begitu ia menyingkap kerai untuk masuk ke kamar, tiba-tiba ada bayangan orang berkelebat, segera ia dipapaki dengan sinar pedang yang menuju ke mukanya.
Kepandaian Ang-koh memang tidak lemah, ketika mendadak nampak pedang musuh menyerang padanya, segera juga ia merobohkan diri ke belakang dan dengan sekali berjumpalitan berbareng ia melolos keluar juga pedangnya.
Kemudian setelah ia mengetahui bahwa yang menyerang mendadak padanya itu bukan lain ialah Giok-bin-yao-hou Bun Sui-le, keruan saja ia menjadi murka.
Sementara itu setelah tusukannya tadi luput, segera Giokbin-yao-hou mundur ke belakang.
"Perempuan siluman, perempuan tak tahu malu, lekas kau katakan, dimana kau sembunyikan suamiku Teng Hong-ko?"
Dampratnya kemudian dengan menuding Ang-koh.
Dengan kata-katanya ini memang Bun Sui-le telah membikin gusar Ang-koh, memangnya ia sudah mengetahui dari cerita Hong-ko bahwa Pek Eng-dji sejak kecil sudah dipertunangkan dengannya, oleh sebab itu sengaja di hadapan Ang-koh ia menyebut Hong-ko sebagai suaminya, dengan begitu ia ingin mengetahui reaksi Ang-koh, apakah gadis ini Pek Eng-dji adanya.
Pancingannya ini ternyata berhasil, karena mendadak Angkoh makin murka hingga matanya mendelik dan alisnya berdiri.
"Perempuan jahanam tak punya muka, siapa yang menyembunyikan gendakmu, nonamu hanya menangkap seorang penjahat cilik bernama Siau Kim-kong, kalau kau mampu boleh kau membawanya pergi!"
Gertaknya sengit. Namun Giok-bin-yao-hou pun tidak banyak bicara lagi, dengan sekali bergerak, pedangnya segera menyerang lagi.
"Lihat senjata, perempuan siluman!"
Bentaknya juga.
Dengan cepat Ang-koh melompat ke atas dengan gaya 'Wan-kau-siang-djiu' atau kera memanjat ke atas pohon, ia menghindarkan babatan itu dengan tipu 'Ya-tjhe-tam-hay' atau setan dayang meronda ke laut, ia menangkis senjata orang pula.
Namun Bun Sui-le sudah merubah serangannya pula, secara bertubi-tubi ia menghujani lawannya dengan berbagai tipu serangan, tetapi Ang-koh tidak mengunjuk kelemahan, apalagi yang dia latih adalah Bu-kek-kiam-hoat yang terkenal, ia menjaga dirinya begitu rapat dan tiap-tiap gerak tipunya aneh tetapi hebat.
Karena berada di goa macan, lagi pula ingin bisa lekas memperoleh kemenangan, maka berulang-ulang Giok-bin-yaohou mengeluarkan tipu-tipu serangan yang berbahaya dan membawa resiko, karenanya ciri-ciri dan kelemahannya ini dapat dipahami oleh Ang-koh yang melayaninya dengan penuh semangat tetapi tenang.
Begitulah mereka bertarung dengan sengit, sesudah bergebrak hingga beberapa puluh jurus, ternyata masih belum nampak siapa yang bakal menjadi pecundang.
Lama kelamaan Ang-koh menjadi tidak sabar lagi, tiba-tiba ia merubah ilmu pedangnya, ia mengeluarkan ajaran perguruannya yang paling hebat.
"Perempuan rendah, hari inilah tibalah ajalmu!"
Bentaknya sengit.
Menyusul mana ia merubah serangan dengan gerak cepat terus membacok.
Bun Sui-le yang memangnya sudah rada gugup karena sudah begitu lama masih belum sanggup mengatasi lawannya, kini kena dibikin marah oleh dampratan itu pula, segera ia melompat naik berbareng itu dari atas senjatanya terus menikam ke bawah, karena itu kedua senjata beradu dan sama-sama tergoncang pergi.
Sesudah itu kembali Bun Sui-le merangsek lagi, beruntun ia menyerang dua kali dengan tipu 'Giok-li-tjwan-tjiam' atau si gadis ayu menisik jarum, terus dengan gerak tipu 'Liong-tingti-tju' atau mengambil mutiara di atas kepala naga, ia mendesak Ang-koh hingga terpaksa gadis ini harus main mundur terus.
Karena nafsunya untuk memperoleh kemenangan dengan cepat, kembali Bun Sui-le merangsek maju lagi dengan gaya "Thio-hui-tui-tjo' atau Thio Hui mengejar Tjo Tjho, serangan ketiganya segera menyusul lagi.
Tidak ia duga bahwa Ang-koh tadi sengaja mengalah dua serangan padanya, maksudnya tidak lain ialah sebagai pancingan belaka, ia sengaja memancing Bun Sui-le masuk ke suatu pojok yang tidak menguntungkan, setelah itu pada waktu tusukan ketiga Bun Sui-le tiba, segera ia sedikit berjongkok dan meng-kerutkan tubuh, menyusul mana dengan gerak tubuh yang bagus dan secepat kilat, tiba-tiba sinar pedangnya berkelebat.
Tipu serangannya ini begitu cepat, lagi di luar perhitungan Bun Sui-le, karena sedikit terlambat saja, seketika itu juga sebelah tangannya sudah terkurung oleh senjata Ang-koh hingga mengucurkan darah, dengan sekali jeritan ngeri, segera ia jatuh terguling.
Pada saat lengan Bun Sui-le hampir terkurung tadi, tibatiba di luar ruangan itu ada bayangan orang berkelebat, bayangan yang tinggi besar itu secepat kilat menerobos masuk melalui jendela dan terus memburu ke samping Angkoh dengan maksud hendak menangkis serangannya tadi.
Tak tersangka gerak serangan Ang-koh tadi begitu cepat, maka pada waktu pedang orang itu diangkat hendak menangkis, tahu-tahu sebelah tangan Giok-bin-yao-hou sudah terkutung putus lebih dulu.
Menampak ada orang secara mendadak hendak menghalau serangannya tadi, lekas Ang-koh mundur ke belakang, waktu ia menegasi, ternyata yang datang sekonyong-konyong ini bukan lain ialah Hong-ko.
Sementara itu terlihat Hong-ko melompat maju untuk memayang Giok-bin-yao-hou yang tampak sudah sempoyongan.
"Kenapakah kau?"
Teriak pemuda itu.
Menyaksikan kerapatan hubungan kedua orang itu, mendadak timbul juga rasa cemburu Ang-koh, ia menjadi kalap, ia menubruk maju lagi terus membabat dengan pedangnya.
Namun Hong-ko keburu mengegos ke samping sambil melindungi diri Giok-bin-yao-hou, sedang pedangnya terus diangkat untuk menangkis, begitu kuat tenaganya hingga Angkoh tergetar mundur.
"Eng-dji, tidak nyana kau telah berubah hingga seperti ini, kalau kau mendesak aku lagi, jangan kau salahkan aku tak berbudi!"
Damprat Hong-ko kepada Ang-koh dengan muka muram, tetapi sinar matanya bengis.
Teng Hong-ko adalah anak murid dari Go-bi-pay, walau Lwekangnya belum setara Hian-hong dan kawan-kawan, tetapi kiam-hoatnya pun bukan kaum lemah lagi.
Karena gertakan orang tadi, sekejap itu Ang-koh menjadi jeri dan roman mukanya pun kemerah-merahan.
Sudah belasan tahun gadis ini berkecimpung di dalam Peklian-kau atau perkumpulan agama Teratai Putih ini.
Karena hubungannya itu, lambat-laun wataknya sudah banyak berubah dan lupa akan asal-usul dirinya, suka duka di masa anak-anak pun sudah ia lupakan.
Tetapi kini setelah kena digertak oleh Hong-ko tadi, tibatiba ia seperti dikemplang sekali, dalam hati kecilnya segera timbul sedikit kenangannya pada masa dulu.
Sebenarnya ia mencintai Hong-ko semenjak ia kenal apa artinya asmara itu, dalam beberapa tahun ini karena kabar beritanya terputus, sedang di dalam Pek-lian-kau kedudukannya makin hari makin menanjak juga, maka tiada kesempatan buat dia untuk memikirkan perkara hubungan pemuda-pemudi.
Ditambah lagi ikatan peraturan da-iam Pek-lian-kau yang terlalu keras, umumnya bagi golongan pemimpin, soal perjodohan mereka harus diputuskan juga oleh ketua agama mereka dan tidak boleh sembarangan mengikat diri dengan orang di luar perkumpulan agama, kalau peraturan ini dilanggar bisa dihukum mati.
Oleh sebab itu, meski kadangkala Ang-koh terkenang pada Teng Hong-ko juga, namun tak berani ia mengatakan pada orang lain, tetapi sebenarnya dalam hati senantiasa terukir bayangan Hong-ko.
Melihat gadis ini termenung-menung serta berdiri di tempatnya tadi dengan menunjukkan wajah kemalu-maluan, Hong-ko mengerti hati gadis ini masih belum tersesat seluruhnya.
Maka ia pun tidak mengurus padanya sebaliknya lantas ia merobek sebagian kain bajunya sendiri untuk membalut luka Bun Sui-le dan menotok jalan darahnya untuk menghentikan darah mengalir lebih banyak.
Dengan mata memandang padanya, Ang-koh sepatah kata pun tidak buka suara, sampai akhirnya terdengar ia menghela napas.
"Hong-ko, baiklah, boleh kau bawa dia pergi!"
Katanya kemudian dengan melambaikan tangan.
Habis berkata, lantas ia memutar tubuhnya terus masuk ke belakang kerai, betapa pilu rasa hatinya, air matanya pun berlinang-linang membasahi kedua pipinya, namun hal ini sama sekali tidak terlihat oleh Hong-ko.
Dalam pada itu Giok-bin-yao-hou yang terluka parah, napasnya sudah sangat lemah.
Hong-ko mengangkat tubuhnya terus digendong, kemudian ia melompat keluar dari ruangan itu.
Mendadak dari tempat gelap memapaki sesosok bayangan orang, dengan cepat Hong-ko mengangkat senjatanya sambil menanti musuh, namun segera terdengar orang itu memberi tanda dengan suitan, ternyata orang ini ialah Boan-liong Kiamkhek.
Tadi waktu mereka berdua menyusul ke sini, mereka mengerti di atas loteng itu sedang terjadi pertarungan sengit, tentu Ang-koh telah memergoki Bun Sui-le, maka Boan-liong lantas berkata pada Hong-ko sambil menyerahkan pedangnya.
"Coba kau menyaksikan ke atas, aku tidak ingin dilihat oleh Ang-koh dan tentu akan menanam bibit pertikaian dengan Pek-lian-kau!"
Begitulah, setelah menerima pedang orang segera Hong-ko melompat masuk ke ruangan dimana sedang terjadi pertarungan seru antara Ang-koh melawan Bun Sui-le, tetapi akhirnya kedatangannya tetap juga terlambat selangkah.
Kini melihat yang datang ialah Boan-liong, barulah hati Hong-ko menjadi lega.
Demi melihat Bun Sui-le terkutung sebelah lengannya, Boan-liong pun ikut terkejut.
"Sayang aku agak terlambat sedikit, kalau tidak, di hadapanku mungkin Ang-koh tidak nanti begitu kejam,"
Ujar Hong-ko dengan penuh penyesalan.
"Lukanya parah sekali, dari sini kembali ke Pek-lian-am masih harus ditempuh belasan li lagi, bagaimana ini baiknya?"
Kata Boan-long yang merasa kuatir.
Tiba-tiba Hong-ko teringat akan sesuatu, ia meraba-raba ke pinggangnya, ternyata masih ada tersisa dua butir obat pil bikinan Go-bi-san yang tidak kena digeledah oleh Njo Djun.
Lekas ia mengeluarkan pil itu untuk dicekokkan pada Giokbin-yao-hou, namun gadis ini ternyata sudah tak mampu menelan lagi.
"Jangan kau sungkan-sungkan lagi, kalau tidak lekas kau obati dia, mungkin ia sudah tak tahan untuk kembali ke sana,"
Ujar Boan-liong.
Hong-ko melihat di bawah ada sungai kecil, maka lekas ia merebahkan Giok-bin-yao-hou, lebih dulu ia mengunyah hancur obat pilnya terus dari mulut ke mulut ia melolohi gadis itu, habis itu ia berkumur dengan air sungai terus dicekokkan ke mulut Bun Sui-le secara pelahan-lahan.
Lewat tak lama kemudian, Giok-bin-yao-hou dengan pelahan sudah bisa menggerakkan lehernya.
"Auuh!"
Begitu ia membuka matanya, ia sudah menjerit kesakitan.
Melihat gadis ini sudah mendusin, mereka berdua menjadi lega, maka mereka lantas melanjutkan perjalanan menuju kembali ke Pek-lian-am.
Ketika mereka melintasi Djong-liong-nia atau bukit naga tua, cuaca sudah mulai terang, dari sini mereka melanjutkan perjalanan pula, tidak lama kemudian mereka sampai di kuil yang dituju itu.
Pada waktu itu juga, tiba-tiba mereka mendengar di belakang ada suara teriakan orang yang lagi mengejar mereka, ketika mereka menoleh, ternyata yang memburu datang ada lima orang, yang berjalan paling depan ialah seorang yang memakai pakaian kebesaran yang mereka kenal, adalah Tjhi Djin-ho, di belakangnya menyusul Hian-hong, Hian-thian dan Hian-ang, ketiga imam Khong-tong-pay dan yang berjalan paling belakang adalah Li Ngo.
Kiranya pada waktu Giok-bin-yao-hou menerobos masuk ke Tjui-hun-kiong tadi dengan tujuan menolong Hong-ko, di kamar belakang ia telah dipergoki oleh Hian-hong bertiga yang sedang bersenang-senang minum arak dengan Tjhi Djin-ho, di samping mereka masih terdapat pula lima atau enam orang Ni-koh atau padri wanita, ada yang sedang memetik alat musik dan ada pula yang lagi bernyanyi kecil.
Menyaksikan keadaan itu sesungguhnya bukan main rasa gusar Bun Sui-le, meski ia sendiri adalah seorang begal wanita, tetapi tidak nanti ia berbuat cabul, lebih-lebih seperti kaum padri itu, semula ia berniat melompat masuk secara mendadak buat membunuh Tjhi Djin-ho terlebih dulu, tetapi demi teringat bahwa jejak Hong-ko belum ditemukan, lagi pula ada Hian-hong bertiga yang tidak gampang ia robohkan, maka ia mengurungkan maksudnya itu.
la coba menahan amarahnya itu terus berbalik keluar dari taman menuju ke belakang, tetapi baru saja ia berjalan tidak jauh, tiba-tiba di depannya mendatangi seorang pembesar yang bukan lain adalah 'Tui-hun-djiu' Njo Djun.
Mungkin pembesar ini sedang sial, maka ia bertemu dengan Bun Sui-le, keruan saja segera Bun Sui-le melompat maju dan terus mencekik leher pembesar itu sambil mengancam dengan senjatanya, agar pembesar itu mengaku dimana Hong-ko dikurung.
Melihat yang muncul mendadak ini ialah Giok-bin-yao-hou, sudah tentu tidak kepalang terkejut Njo Djun.
"Itu adalah perbuatan Ang..... Ang-koh!"
Ia mengaku dengan suara ketakutan.
Namun tanpa ampun lagi segera Bun Sui-le menusukkan senjatanya ke dada pembesar celaka itu yang sudah tak bisa berkutik lagi.
Sesudah itu barulah Bun Sui-le mencari Ang-koh untuk mengukur tenaga sebagaimana telah diceritakan di atas.
Di lain pihak, mayat Njo Djun akhirnya diketemukan oleh seorang Totong atau imam cilik, saking kagetnya, Totong ini menjerit-jerit hingga seluruh isi rumah pun ikut terkejut.
Ketika orang-orang berlari ke taman di belakang, maka tertampaklah Njo Djun menggeletak di lantai dengan mandi darah dan tidak bernyawa lagi.
Sementara itu diperoleh laporan juga dari Li Ngo yang berlari-lari kembali dengan gugup bahwa penjahat dalam tahanan telah meloloskan diri, sedang penjaga-penjaga pun telah dibunuh orang.
Terpaksa Hian-hong hanya bisa melaporkan semua kejadian itu kepada Ang-koh, akan tetapi begitu dia masuk ke kamar gadis itu, ia mendapatkan kamarnya pun sudah kosong, hanya ada ditinggalkan sepucuk surat yang mengatakan bahwa gadis itu harus meninggalkan tempat ini karena ada sesuatu kepentingan dan tidak usah dibuat kuatir.
Sudah tentu hal ini makin mengherankan dan mencurigakan, Tjhin Djin-ho segera memerintah orang memeriksa lantai dengan api lilin, ia mendapatkan darah memenuhi lantai kamar, bahkan ada kurungan lengan orang yang masih segar tergeletak di situ, di sampingnya terdapat pula sebuah pedang.
Tjhi Djin-ho mengenali itu adalah senjata Giok-bin-yao-hou yang diperoleh dari gurunya, maka teranglah, tentu Giok-binyao-hou telah terkurung sebelah tangannya oleh Ang-koh dan kemudian kena ditolong pergi oleh tawanan yang berhasil meloloskan diri itu.
Mereka menaksir pasti belum jauh mereka kabur, maka segera Tjhi Djin-ho segera memimpin Hian-hong bertiga bersama Li Ngo lantas mengejar dengan melintasi gunung dan bukit.
Begitulah, setelah Boan-liong Kiam-khek mengenal siapa yang mengejar itu, diam-diam ia menjadi kuatir.
"Lekas kau kabur menggendong Bun-tjetju, biar aku sendiri yang menahan mereka!"
Katanya pada Hong-ko.
"Baiklah, harap Tjianpwe berlaku waspada, aku menanti di Pek-lian-am!"
Sahut Hong-ko sambil mengembalikan pedangnya pada Boan-liong.
Habis itu, tanpa ayal lagi segera ia berlari pergi dengan menggendong Bun Sui-le secepat terbang.
Tatkala itu kabut tebal masih menutupi bukit, bayangan Hong-ko dalam sekejap saja sudah menghilang di antara kabut tebal itu.
Ketika para pengejar sudah mendekat, tiba-tiba Tjhi Djin-ho menampak di atas bukit naga tua itu berdiri tegak seorang laki-laki gagah, berjidat lebar dan bermata besar, dengan pedang terhunus dan bertolak pinggang sedang memandang mereka dengan mata melirik.
Tjhi Djin-ho tidak mengenal Boan-liong, segera ia bergegas melolos senjatanya terus hendak maju.
Akan tetapi sebelum ia bertindak, Hian-hong sudah keburu melompat ke depan dan mencegah padanya.
"Dji-long Hiante, sudah lama sekali kita berpisah,"
Begitulah Hian-hong menyapa pada Boan-liong.
"Kabarnya Hiante banyak bertambah maju dan nama pun menjadi terkenal, kali ini datang ke Hoa-san, tentu cukup mengetahui maksud ajakan Thong-thian Tjiang-kau."
Melihat Hian-hong berlaku hormat, mau tak mau Boan-liong membalas juga.
"Suheng,"
Katanya kemudian.
"Mengingat kita sesama perguruan, tetapi sudah lama kita berpisah dan menuju citacita sendiri, hari ini beruntung bisa bertemu, dengan senang hati bolehlah kita bercakap-cakap, tetapi kalau menyinggung soal Pek-lian-kau, hal ini mungkin akan sangat mengecewakan Suheng."
Dalam pada itu Hian-thian dan Hiang-ang berdua terpaksa harus maju buat menyapa juga, hanya Tjhi Djin-ho dan Li Ngo berdua saja yang masih tetap berdiri di samping dengan senjata terhunus, mata mereka melotot, suatu tanda siap untuk segera bergebrak.
Hian-hong bertiga saling memberi tanda, begitu maju mereka sudah memasang jaring-jaring secara mengepung hingga Boan-liong terkurung di tengah.
"Baiklah, karena Dji-long tidak suka membicarakan urusan lain, maka kita boleh beromong-omong mengenai urusan perguruan kita sendiri,"
Terdengar Hian-hong berkata pula dengan tertawa dibuat-buat.
"Wanita siluman Bun Sui-le itu pernah dibesarkan oleh Ko-hui-tju Susiok, siapa sangka sesudah dewasa ia lantas kabur ke Thian-san dan akhirnya malah bermusuhan dengan perguruan kita, coba kau pikir, orang yang mengkhianati dan membelakangi perguruan ini, dapatkah kau membiarkannya terus?"
Akan tetapi perkataan Hian-hong ternyata makin menjadikan gusar Boan-liong.
"Semua orang mempunyai cita-cita, seperti aku juga, meski aku berasal dari Khong-tong-pay, tetapi aku tidak setuju dengan tindak tanduk kamu. Tadi Bun Sui-le adalah aku yang menolongnya, apalagi yang kamu kehendaki?"
Sahurnya ketus. Jawaban ini ternyata membikin murka 'Siau-song-sin' Li Ngo, si malaikat maut kecil ini dengan sekali bergerak, ia balas mendamprat dengan senjata menuding.
"Kau harus mewakilkan jiwanya!"
La melompat maju terus membacok.
Namun Boan-liong sedikit pun tidak bergerak, ia membiarkan senjata orang sudah mampir tiba mengenainya, mendadak ia mengulur sebelah tangannya menyampuk terus mencekal, seketika itu juga pergelangan tangan Li Ngo sudah tergenggam oleh jarinya, ketika kemudian ia memuntir, maka Li Ngo tak bisa berkutik lagi, goloknya segera terlempar jatuh.
"Kau jahanam ini betul-betul bernyali besar, berani melawan pembesar utusan kerajaan!"
Bentak Tjhi Djin-ho gusar juga.
Menyusul mana pedangnya pun lantas menusuk.
Melihat gerak serangan musuh, Boan-liong mengetahui bahwa lawannya ini tidak lemah, maka ia tak berani ayal, dengan cepat ia mengangkat pedangnya untuk menangkis, dengan tipu 'Ui-eng-djut-kok' atau burung kenari keluar dari lembah, begitu senjata beradu, berbareng ia mendorong ke bawah dengan tujuan memotong tangan orang.
Namun Tjhi Djin-ho pun cukup tangkas, senjatanya juga ia tekan ke bawah hingga karena itu kedua senjata kembali saling beradu lagi.
Begitulah, mereka berdua bergebrak di atas bukit itu dan saling beradu lagi.
Sementara itu Hian-hong yang menonton di samping, ketika nampak Tjhi Djin-ho tidak sanggup mengatasi lawannya, segera ia memberi tanda, menyusul mana kedua saudara seperguruannya, Hian-thian dan Hian-ang, lantas maju berbareng dari kedua sayap kanan dan kiri.
"Di hadapan Tjhi-taydjin, jangan kau berbuat kurang ajar!"
Gertak mereka berbareng dan kedua senjata mereka melintang di depan Boan-liong.
Tampaknya mereka mencegah dan memisah, tetapi sebenarnya mereka menghalangi Boan-liong menyerang dan membiarkan Tjhi Djin-ho merangsek.
Boan-liong Kiam-khek ternyata tidak menjadi jeri atas perlakuan orang itu, ketika mendadak melihat dua senjata melintang di depannya, lekas ia berjongkok dan menerobos dari tengah hingga kedua pedang musuh terbentur pergi.
Akan tetapi pada saat itu juga Tjhi Djin-ho menusuk lagi dari belakang, beruntung ia cukup waspada dan sempat melompat naik ke atas hingga senjata lawan menyambar lewat di bawah kakinya.
Sudah itu ia memutar pedangnya dengan cepat luar biasa hingga seluruh badannya diselubungi dengan segulungan sinar putih.
Meski ilmu silat Boan-liong cukup tinggi, tetapi menghadapi tiga lawan kelas berat, empat puluh jurus kemudian ia pun merasa sudah payah.
Diam-diam ia memikirkan daya buat angkat langkah seribu.
Pada suatu kesempatan, ia lantas memutar tubuhnya hendak kabur, mendadak ia meloncat naik.
Tak ia duga baru saja ia bergerak, sekonyong-konyong di belakangnya menyusul pula bayangan orang, ternyata Hian-hong yang mementang kedua belah lengan bajunya menubruk maju seperti burung yang mementang sayap.
Lekas Boan-liong mengayun pedangnya ke belakang, namun Hian-hong sudah mengibaskan lengan bajunya yang cukup lebar, ia menyampuk senjata lawan ke bawah, berbareng itu angin telapak tangannya pun menyambar, dengan tipu 'Hun-liong-tam-djiau, atau naga di awan mengulur cakar, ia dapat meraup baju tepat di tengguk Boanliong.
Karena itu Boan-liong tak bisa berkutik lagi, ia masih berusaha membaliki pedangnya buat memotong, tetapi Tjhi Djin-ho mendahului maju, pedangnya disampuk jatuh, karena itu Boan-liong dan Hian-hong bersama-sama lantas bergumul ke bawah, tetapi setelah Hian-thian dan Hian-ang maju lagi, segera Boan-liong kena dibekuk batang lehernya.
Li Ngo tadi dipecundangi Boan-liong, ia sangat gemas dan ingin membalas, maka ia maju buat meringkus Boan-liong, bahkan ia menendang beberapa kali hingga Boan-liong menjerit kesakitan.
"Li-si-wi jangan melukai dia, kami harus menggiring dia kembali menghadap pada ketua perguruan kami untuk diambil sesuatu keputusan,"
Lekas Hian-hong mencegah lebih lanjut penganiayaan itu. Sedang mereka berbicara, tiba-tiba tertampak di bawah gunung sana mendatangi satu pasukan bala tentara yang memakai tanda bendera naga kuning.
"Yang tiba ini adalah pasukan Limtjing-tjongtin, coba kita nantikan ada perintah apa lagi."
Ujar Tjhi Djin-ho gugup waktu melihat datangnya pasukan tentara itu.
Ketika mereka sampai di bawah gunung, segera tertampak .
eorang pembesar maju hendak menemui Tjhi Djin-ho.
Kiranya berita tentang terbunuhnya Kui Ping-boan telah dilaporkan ke kotaraja, karena itu Kaisar Khong-hi gusar sekali, segera ia mengutus putera Perdana Menteri Nilan, bernama Nilan Yong-yo, membawa pula perintah rahasia dari Perdana Menteri itu agar dalam sebulan Tjhi Djin-ho harus membantu utusan Kaisar itu menemukan kembali ketiga butir mutiara mes-tika dan Tjhi Djin-ho diperintahkan pula segera pergi menghadap Nilan Yong-yo.
Nilan-kongtju adalah seorang pujangga pada zaman itu.
Bahkan ia pandai pula ilmu silat, di antara pembesar Boan-tjiu kiranya tiada orang lain lagi yang 'Bun-bu-tjoan-tjay' seperti dia ini.
Ketika itu Nian Yong-yo masih belum genap berumur dua puluh lima, namun Kaisar Khong-hi sangat sayang padanya dan menganggap dia sebagai orang kepercayaannya.
Ketika Tjhi Djin-ho menerima surat perintah itu, maka ia harus segera berangkat ke Limtjmg dan tak sempat mengejar Teng Hong-ko lagi.
Begitulah lantas ia memberitahukan tugas yang harus dilakukan itu kepada imam-imam dari Khong-tong-pay dan minta bantuan mereka agar membantu menemukan kembali ketiga butir mutiara mestika yang telah hilang, sudah tentu Hian-hong dan kawan-kawan menjanjikan bantuan mereka dan setelah itu mereka berpisah menuju ke jurusan masingmasing, Tjhi Djin-ho menggiring Boan-liong menuju ke Limtjing bersama Li Ngo.
Kembali pada Teng Hong-ko, dengan menggendong Bun Sui-le, mereka akhirnya tiba kembali di Pek-lian-am dengan selamat.
Demi menampak Bun Sui-le terluka parah dan hilang sebelah tangannya, Liok-dji Nikoh menjadi terkejut sekali dan lekas ia memberikan obat luka dan memperbaharui pembalutannya, ia pun bertanya dimana adanya Boan-liong Tayhiap.
Secara singkat Hong-ko menceritakan pengalamannya semalam.
"Kini tempat persembunyianmu sudah diketahui orang, lekas kau ikut aku menyingkir ke tempat lain dulu!"
Ujar Liok dji Nikoh.
Hong-ko tak sempat bertanya lebih lanjut lagi, bergegas ia lantas berangkat, Liok-dji Nikoh memondong Bun Sui-le ke atas seekor keledai, bersama Hong-ko mereka meninggalkan Pek-lian-am.
Sesudah melintasi sebuah bukit dan melalui hutan belukar, tidak lama kemudian mereka nampak sebuah rumah biara di depan mata mereka, rumah biara itu adalah King-thay-si.
Sesudah mereka masuk ke dalam kuil itu, mereka segera disambut oleh seorang Hwesio setengah umur.
"Angin apakah yang meniup Sutji datang kemari!"
Sapa Hwesio itu kepada Liok-dji dengan merangkap kedua tangannya.
"Ya, kalau tiada kepentingan tentu tidak mengunjungi Sute,"
Sahut Liok-dji.
"Ini ada dua orang sahabat yang ingin mon-dok sementara di tempatmu ini, entah sudikah Sute menerima?"
Hwesio ini bernama Un-sian, adalah saudara seperguruan Liok-dji, sudah tentu atas permohonan orang, tidak nanti ia menolak, maka sesudah saling diperkenalkan, lantas ia menyambut Hong-ko dan Bun Sui-le ke dalam, sedang Liok-dji sendiri berangkat kembali ke Pek-lian-am sambil mencari berita mengenai Boan-liong.
Lewat beberapa hari kemudian, luka Giok-bin-yao-hou mulai sembuh, siang malam tanpa mengenal letih Hong-ko selalu merawat di sampingnya dan menghiburnya dengan berbagai jalan.
Melihat Hong-ko begitu telaten dan sabar merawatnya, makin bertambahlah rasa terima kasih Bun Sui-le.
Pada suatu malam, Hong-ko yang tidur di kamar sebelah t;ba-tiba terkejut oleh suara tangisan, lekas pemuda ini menilik ke kamar Bun Sui-le, ia melihat muka kekasihnya ini basah dengan air mata dan sedang menangis dengan sedih sekali.
"Soal apakah yang menjadi Tjitji menangis?"
Tanya Hong-ko sembari duduk di sampingnya.
"Dalam beberapa hari ini kau sudah hampir sembuh seluruhnya, aku merasa gembira karenanya!"
Akan tetapi Bun Sui-le ternyata makin berduka mendengar ucapannya itu.
"Aku kini sudah menjadi cacad, tak tega aku mengganggu keberuntungan hidup adik selanjutnya,"
Ujarnya dengan tersedu-sedan.
"Jangan Tjitji berkata demikian,"
Sahut Hong-ko dengan cepat.
"Perasaanmu terhadap diriku yang begitu dalam dan budimu pun tidak nanti aku lupakan, aku bukan manusia yang tidak mengenal balas budi, meski kau terkurung lagi sebelah tanganmu yang lain, pasti aku akan tetap cinta padamu."
Mendengar kata orang yang begitu sungguh-sungguh dan teguh hati, dari berduka Bun Sui-le kemudian berubah menjadi senang.
"Apakah Dian-tayhiap sudah ada kabar?"
Tanyanya.
"Belum,"
Sahut Hong-ko sambil menggeleng kepala.
"Hari ini Liok-dji Taysu telah mengirim kabar, katanya Hian-hong bertiga dan Tjhi Djin-ho serta kawan-kawan yang lain sudah meninggalkan Tjui-hun-kiong."
"Kalau begitu hendaklah Hiante besok pergi keluar buat mencari kabar, kalau Dian-tayhiap mengalami malapetaka, kita harus berdaya menolongnya,"
Ujar Bun Sui-le.
Sedang mereka bercakap-cakap, waktu itu sudah lewat tengah malam, tiba-tiba di atas wuwungan rumah seperti ada bunyi keresekan.
Bun Sui-le yang sudah banyak berpengalaman, segera ia menyirapkan api lilin.
"Ada orang datang!"
Kemudian ia berbisik di tepi telinga Hong-ko. Sebelum mereka bertindak lebih jauh, tiba-tiba mereka mendengar di atas atap rumah ada orang berkata.
"Hong-ko kau keluarlah, Pin-to ingin bicara padamu!"
Mendengar suara perkataan orang, mendadak muka Hongko berubah, ia mengenali itu adalah suara gurunya.
Oei-bai Tjin-djin dari Liong-hou-san.
Ia menjadi heran mengapa orang tua ini bisa mendadak datang kemari.
Imam tua Oei-bai Tjindjin adalah guru Hong-ko sebelum pemuda ini belajar ke Go-bi-san, mereka sudah lama sekali tak pernah berjumpa.
Maka Hong-ko tak berani ayal lagi, segera ia melompat keluar ke pelataran di luar, ketika ia mendongak memandang, betul juga di atas atap rumah itu berdiri seorang imam dengan jubahnya yang melambai-lambai tertiup angin malam.
Mengenali memang Oei-bai Tjindjin adanya, lekas Hong-ko maju menjura.
"Hong-ko,"
Oei-bai Tjindjin berkata.
"Pin-to ditugaskan oleh ketua Go-bi-pay, Bu-tun Tjindjin, kau diperintahkan segera mengantarkan Pi-hwe-tju ke Tjiongkoan (Limtjing) dan menghadap pada Nilan-kongtju."
Mendapat perintah dari gurunya itu, keruan saja Hong-ko terperanjat sekali.
"Nilan Yong-yo adalah orang kepercayaan Khong-hi, dengan demikian apa bukan mengantar kambing ke mulut macan?"
Begitu ia berpikir dalam hatinya. Nampak pemuda ini tertegun dan sangsi, Oei-bai mengeluarkan sepucuk surat dari baju terus diserahkan pada Hong-ko.
"Ini adalah petunjuk penting dari Tjiangkau (ketua), kau diharuskan menjalankan tugas ini menurut rencana, tidak boleh gagal!"
Pesannya lagi.
Berulang kali Hong-ko menyahut, sudah itu Oei-bai Tjindjin melayang pergi, dalam sekejap saja ia sudah menghilang di dalam kegelapan.
Esok paginya, di gerbang markas komando militer Tjiongkoan terlihat berkibar bendera segi dua belas dari sutera kuning berlukiskan naga emas, pembesar-pembesar negeri yang melihatnya segera akan mengerti bahwa utusan Kaisar sudah tiba, maka siapa saja yang sampai di luar gerbang harus berlutut menyembah.
Pada waktu lohor hari itu, di luar gerbang markas itu datang seorang pemuda, dari dandanannya seperti seorang tukang kawal perantauan, di punggungnya menggemblok sebatang pedang pula.
Ketika para penjaga melihat pemuda ini tidak berlutut menyembah seperti lazimnya, mereka membentak-bentak, mereka segera mengayun cambuk menyabet.
Dengan sehatnya dihentakkannya pecut itu hingga kedua penjaga itu jatuh terpelanting.
Akan tetapi, begitu pemuda itu mengangkat kedua tangannya, beberapa cambuk penjaga itu kena dirampas terus ditarik hingga beberapa penjaga segera terpelanting, lalu dengan langkah lebar, seperti tidak terjadi sesuatu pemuda itu lantas berjalan ke dalam.
Namun ia segera dipapak lagi oleh dua orang penjaga pintu kedua dengan golok melintang.
Sementara itu dari dalam, beberapa bayangkara yang datang dari koraraja menyaksikan kejadian tadi, mereka yang sudah banyak merasakan asam garam, dengan cepat mereka melaporkan kejadian itu ke dalam.
Segera Nilan Yong-yo memberi perintah mempersilakan orang menghadap, maka tak berani ayal lagi, pemuda itu lantas disongsong masuk ke dalam.
Yang datang ini bukan lain ialah Teng Hong-ko, pagi-pagi sekali ia kembali ke Pek-lian-am dan mengambil kembali 'pedang perjalanan' dari perguruannya itu yang masih tertinggal di kuil Liok-dji Nikoh, sudah mana secepat terbang ia menuju ke Tjiongkoan.
Waktu itu dengan angkernya Nilan Yong-yo duduk di ruangan kebesarannya, tampak seorang pemuda dengan langkah lebar dan sikap gagah berjalan masuk, ternyata pemuda ini hanya membungkuk tetapi tidak menjura padanya.
Ketika ia menegasi pedang di atas punggung orang, ia lihat pedang kuno itu bersarung belang penuh ukiran-ukiran aneh, segera ia mengenali itu adalah tanda dari Go-bi-pay.
Nilan Yong-yo adalah seorang pandai yang aneh, tidak sedikit tokoh dan pendekar dari dunia persilatan yang bersahabat dengan dia, oleh sebab itu, pedang ini tidak mungkin bisa mengelabui matanya.
"Harap dimaafkan tidak mengetahui kalau yang datang ini adalah tokoh dari Go-bi-pay!"
Ia menyapa dengan membalas hormat orang sambil meninggalkan tempat duduknya.
"Pantas orang Kangouw begitu menghormat kepadanya, ternyata ia memang suka merendah, kali ini Suhu memerintahkan aku ke sini, tentu ia punya tujuan tertentu!"
Demikian ia berpikir demi menampak cara orang merendahkan diri. Maka segera ia menghormat lagi sembari menutur.
"Hamba Teng Hong-ko, mendapat perintah dari guruku Bu-tun Todjin untuk menghadap Kongtju dan menghaturkan sebutir mutiara!"
Mendengar penuturan itu.
Nilan Yong-yo tercengang seketika, lekas ia mempersilakan Hong-ko menuju ke taman di belakang.
Pemandangan di situ indah sekali dan hawa pun sejuk, segera para pelayan menyediakan meja perjamuan.
Sesudah Nilan Yong-yo menghalau pengiring-pengiringnya, kemudian Hong-ko menerangkan maksud kedatangannya dan dari dalam bajunya ia mengeluarkan sebuah bumbung perak kecil, waktu ia menuang bumbung itu, segera tertampaklah segelintir benda yang berkilau menyilaukan mata, yang bukan lain adalah Pi-hwe tju atau mutiara anti api yang jarang terdapat di jagad ini.
"Betul-betul mutiara bagus!"
Puji Nilan Yong-yo sesudah ia menyambut benda mestika itu ke dalam tangannya. Sudah itu ia bertanya pula.
"Apa ada petunjuk lain dari gurumu, Bu-tun Todjin, tiada halangannya Teng-heng memberitahukan terus terang!"
"Soal ini berhubungan dengan kepentingan berjuta jiwa manusia, kalau mendadak kabar ini menjadi bocor, mungkin beberapa tempat di daerah tengah tidak akan terhindar dari malapetaka peperangan!"
Lapor Hong-ko kemudian. Mendengar penuturan itu, Nilan-kongtju memandang tajam pada Hong-ko.
"Teng-heng sementara jangan mengatakan dahulu, soal ini mungkin aku bisa menebak beberapa bagian,"
Ujarnya.
"Marilah kita coba masing-masing menulisnya di dalam telapak tangan?"
"Kongtju yang pandai berpikir, mungkin ada persamaan pandangan juga, baiklah hamba menurut!"
Sahut Hong-ko.
Sudah itu Nilan Yong-yo menuju ke meja tulisnya, ia mengambil pit terus dituliskannya beberapa huruf dalam telapak tangannya, menyusul Hong-ko pun meniru juga.
Apabila kemudian mereka berhadapan dan saling membuka telapak tangan mereka, maka tertampaklah apa yang mereka tulis di tengah telapak tangan ternyata sama-sama berbunyi 'Pek-lian-kau' tiga huruf, tak tertahan mereka jadi saling pandang sambil tertawa lebar.
"Terus terang saja, waktu aku berangkat dari kotaraja, Hongsiang (Kaisar) diam-diam telah memberi perintah rahasia bahwa menurut laporan para gubernur paling belakang ini, manusia siluman Ong Bing yang lolos sepuluh tahun yang lalu di Kangsay, kembali mempergunakan ajaran Pek-lian-kau buat mengelabui mata rakyat, dan anggota-anggotanya menyebar di semua propinsi, melulu Siangsay dan Holam dua tempat itu saja pengikutnya ada lima atau enam puluh ribu, kini Ong Bing telah mengganti namanya menjadi Thong-thian-kiu-tju, tujuannya hendak merambah ke Kafnsiok, apabila dia berhasil bersekongkol dengan imam-imam dari Khong-tong-pay, maka hal ini akan makin menyulitkan,"
Tutur Nilan Yong-yo.
"Oleh sebab itu, kali ini aku melawat kematian Kui-tjongtin, tetapi sebenarnya bertujuan membekuk Ong Bing beserta begundalbegundalnya. Jikalau Teng-heng tidak menampik, sukalah tinggal dulu di samping untuk membantu, entah bagaimana pikiranmu?"
Atas permintaan orang itu, Hong-ko semula ragu-ragu, tetapi segera ia teringat pada petunjuk gurunya dalam sampul rahasia itu.
"Kalau Kongtju minta, pasti hamba tidak nanti menolak,"
Katanya kemudian.
"Cuma perkara perampasan 'Tjin-tju-goan' itu. apa masih hendak diusut terus?"
"Teng-heng,"
Sahut Nilan-kongtju.
"Bukan aku omong besar, kalau hanya urusan ketiga mutiara itu saja, tidak kurang barang-barang mestika dalam kerajaan yang jauh lebih ajaib dan berharga, apa gunanya harus bersusah payah banyak membuang tenaga untuk mencarinya, aku tidak nanti tamak pada benda-benda itu dan mengangkangi untuk diri sendiri, kelak apabila urusan sudah beres, mutiara Pi-hwe-tju itupun boleh dihadiahkan pada gurumu untuk pusaka gunungmu, sedang kedua butir lainnya tentu dapat dihadiahkan juga kepada orang yang banyak berjasa, dengan kebijaksanaan ini, entah betul tidak pendapat Teng-heng?"
Mendengar penuturan ini, Hong-ko merasa kagum sekali atas keadilan putera bangsawan ini.
Begitulah, rupanya mereka berdua cocok hingga mereka minum sepuasnya sampai jauh malam, Nilan-kongtju memerintahkan supaya disediakan sebuah kamar guna tempat tinggal Hong-ko.
Esok paginya, penjaga melaporkan bahwa Hu Kak Tayhiap datang, lekas Nilan-kongtju bergegas menyambut keluar, Hong-ko pun ikut mendampinginya.
Ia lihat dari luar masuk seorang tua memakai caping dan mengenakan baju terbuat dari lidi, semangatnya gagah dan mukanya bercahaya, di belakangnya menyusul seorang bongkok, mereka duduk bersama.
Ketika Hong-ko oleh Nilan-kongtju diperkenalkan, baru ia mengetahui bahwa orang tua bercaping ini bukan lain adalah pendekar aneh yang dikenal tua dan muda di kalangan Kangouw.
Hu Kak Tay-ong, sedang yang bongkok itu ialah pendekar bongkok yang tersohor di gurun pasir, Toh-hiap, diam-diam Hong-ko terkejut dan heran atas kedatangan kedua tokoh dunia persilatan yang hebat ini, ia menduga pasti Nilankongtju akan melakukan sesuatu dalam waktu singkat ini.
Pada suatu hari, dilaporkan bahwa Tjhi Djin-ho minta menghadap, ia hanyalah seorang kepala opas pada Soatang Sun-bu, pangkatnya tidak tinggi, maka kalau hendak menghadap utusan raja harus mencatatkan namanya terlebih dulu.
Ia sudah tiga hari mencatatkan namanya barulah dipanggil menghadap, maka dengan pakaian kebesarannya, secara membungkuk ia memasuki ruangan kebesaran, ia berlutut di depan undak-undakan ruangan itu terus menjura.
"Hamba Tjhi Djin-ho menyembah, semoga Baginda Raja hidup bahagia!"
Begitu ia memuja. Habis berkata ia melakukan penghormatan 'Sam-kui-kauhau' atau tiga kali berlutut dan sembilan kali menjura.
"Untuk apa kedatanganmu ini?"
Tanya Nilan-kongtju.
"Lapor Kongtju, hamba mendapat surat perintah dari Tamtaydjin, atas titah paduka Perdana Menteri, hamba diperintahkan bertugas di sini!"
Lapor Tjhi Djin-ho lagi.
"Baiklah, kau boleh berbangkit!"
Perintah Nilan Yong-yo.
Laksana mendapatkan pengampunan saja Tjhi Djin-ho berdiri kembali, waktu ia melirik keadaan dalam paseban, ia lihat selain Nilan-kongtju yang duduk di tengah, kedua sampingnya terdapat pula tiga orang, yang seorang memakai baju tua jembel, seorang lagi adalah seorang kakek bongkok, sedang di sudut paling ping-gir duduk seorang jago muda.
Tetapi demi nampak siapa orang itu seketika ia menjadi terperanjat dan tubuhnya bergemetaran.
Dalam hati ia berpikir.
"Aneh, bukankah pemuda ini she Teng yang disebut Siau Kim-kong? Mengapa kini ia bisa menjadi tetamu dari Kim-tjhe-taydjin?"
Agaknya Nilan-kongtju mengetahui pikiran orang, ia berkata dengan tertawa.
"Tjhi Djin-ho, apa kau merasa aneh?"
Ujarnya.
"Saudara ini adalah jago muda dari Go-bi-pay Teng Hong-ko Hengte bukannya Siau Kim-kong segala, marilah kamu berdua boleh mengikat persahabatan "
Sampai di sini, insyaflah Tjhi Djin-ho bahwa pemuda she Teng ini tentu bukan orang sembarangan, maka ia tak berani berlagak lagi seperti semula, lekas ia maju memberi hormat pada Hong-ko.
"Teng Kongtju tempo hari Tjayhe telah banyak membikin susah, harap dimaafkan,"
Katanya.
Hong-ko balas menghormat sambil berdiri.
Habis mana Nilan Yong-yo lantas memerintahkan Tjhi Djinho maju lagi untuk diberi tugas seperlunya, ia diperintahkan untuk menyelidiki dan segera melaporkan jejak Ang-koh dan kaum imam dari Khong-tong-pay.
Malam itu, Hong-ko disokong Hu Kak Tayhiap mengajukan permohonan agar Boan-liong Kiam-khek dapat dilepaskan.
Setelah mengetahui bahwa Boan-liong adalah pendekar dari Djing-liong-hwe yang berlainan dengan kaum Liok-lim umumnya, mengingat pula bahwa saat ini sedang membutuhkan tenaga, maka Nilan Yong-yo dengan senang meluluskannya.
Begitulah dari tawanan segera Boan-liong berubah menjadi tamu terhormat, sungguh tidak pernah diduganya lebih dulu, ia menghaturkan terima kasih pada Nilan Yong-yo, sudah mana beramah-tamah pula dengan Hong-ko yang sudah berpisah sekian lamanya.
Kembali pada Ang-koh.
Kedatangannya ke Hoa-san tempo hari, tujuannya pertama-tama ialah ingin menemukan kembali 'Thian-hu' yang kena digondol oleh Giok-bin-yao-hou, kecuali itu ia mendapat juga surat rahasia dari ayahnya, yang mengabarkan bahwa Thong-thian-kiu-tju Ong Bing dalam beberapa hari ini akan merambah ke daerah Kamsiok untuk membikin pergerakan, dan gadis ini dipesan sepanjang jalan ikut melindunginya.
Waktu itu pengaruh Pek-lian-kau sudah menjalar sampai di daerah barat laut.
banyak di antaranya tokoh-tokoh kalangan Hek-to yang menggabungkan diri, dimana-mana sudah dibuka cabang dari Pek-lian-kau, begitulah dengan ilmu silumannya Ong Bing mengelabui rakyat, dengan menyuruh rakyat memuja Pek-lian Tjosu, ia berniat merebut dunia dengan bantuan tenaga dukungan rakyat itu.
Kala Ang-koh tanpa sengaja berjumpa dengannya dan kena digertak di Tjui-hun-kiong.
gadis ini telah kembali pada perangai aslinya dan melepaskan pergi Giok-bin-yao-hou bersama Hong-ko.
Tetapi saking sengitnya, malam itu juga ia lantas meninggalkan Hoa-san.
Ia mengerti ketua mereka Ong Bing menuju ke Khong-tong-san, sepanjang jalan tentu sudah banyak orang-orang pandai dari sesama agama mereka yang melindunginya, jalan-jalan yang dilalui tentu banyak pula ditinggalkan tanda, karenanya ia pikir akan menanti saja di antara perjalanan ke Ham-yang, dari sini ia hendak menggabungkan diri dengan Ong Bing.
Sekeluarnya Ang-koh dari Hoa-san, begitu menyelidik, segera ia mendapat tahu bahwa Nilan-kongtju telah tiba di Tjiong-koan, ia menduga Ong Bing tidak nanti lewat jalan ini, maka ia lantas memutar ke selatan melalui Lo-lok-koan.
Perjalanan ini melalui pegunungan Hok-gu-san yang jauh dari khalayak ramai, ia pikir Ong Bing yang datang dari Ouwpak, kebanyakan tentu lewat jalanan ini.
maka ia menyamar sebagai seorang nona desa yang memakai sebuah topi yang berpinggiran lebar untuk menutupi setengah mukanya, ia melanjutkan perjalanannya dengan menunggang keledai.
Di tengah jalan tiba-tiba ia disusul dua orang penunggang kuda yang berdandan sebagai pembesar negeri, dari tampangnya yang gagah dan pakaiannya yang cukup mentereng, sedikitnya berpangkat Tjhian-tjong (setingkat kapten).
"Nona cilik di kedai depan sana ada arak segar, di sanalah kami menantikanmu!"
Dengan tertawa seorang di antaranya berkata waktu nampak Angkoh yang berparas cantik berjalan sendirian.
Habis mana dengan cepat sekali mereka sudah menge-prak kudanya dan menghilang dalam sekejap saja.
Betul juga, tidak lama kemudian Ang-koh sudah sampai di suatu kota kecil yang terdapat belasan toko.
di antaranya terdapat juga kedai arak, Ang-koh melihat pula kedua kuda tadi ditambat di luar kedai itu.
Sepanjang jalan tiap ada kedai, selalu Ang-koh masuk untuk memeriksanya, mungkin terdapat rahasia dari agamanya.
Oleh sebab itu, ia lantas menambat keledainya.
Ketika nampak tetamunya ini adalah seorang gadis desa, pelayan kedai ternyata sungkan menerimanya.
"Siaudjiko, apa ada menyedia tempat dengan rumput padi?"
Tanya Ang-koh pada si pelayan.
Kiranya kedai yang merangkap penginapan rendahan kalau menginap hanya dihitung uang makan saja, sedang tempat tidur adalah lantai beralaskan jerami.
Atas pertanyaan orang tadi.
Siaudji atau pelayan kedai menjawab dengan tidak senang.
"Kedai kami ini adalah tempat golongan atasan, tempat yang paling sederhana sedikitnya dua renteng uang, lebih baik kau mencari tempat lain saja!"
"Ai, dua renteng uang terlalu mahal, apa ada yang lebih murah?"
Sengaja Ang-koh bertanya lagi.
Namun pelayan itu sudah malas buat beromong lagi.
ia melengos terus masuk ke dalam tanpa menoleh.
Waktu Ang-koh melongok ke dalam kedai, ia lihat dua orang perwira tadi tengah asyik minum arak di dalam, ia tidak bermaksud masuk, maka segera ia memutar tubuh dan mondar-mandir di luar.
Di bawah sebuah pohon di pinggir jalan terdapat seorang pengemis yang berpakaian compang-camping dan kotor, waktu melihat si gadis, ia mendekati buat minta sedekah.
"Kasihan nona, tolonglah pada orang tua yang tak bertuan ini!"
Ratapnya.
Ang-koh tertegun demi mendengar ratapan pengemis itu.
Kiranya dalam ratapan pengemis tadi mengandung dua suku kata 'Kiu-tju' atau tuan penolong yang menjadi kode dalam Pek-lian-kau bila mengadakan hubungan di antara sesama anggota.
Maka tanpa ragu-ragu lagi ia merogoh sekeping mata uang terus ia lontarkan ke dalam tempurung si pengemis.
Tetapi tiba-tiba ia lihat di dalam tempurung yang terdapat beberapa mata uang lainnya terselip pula sebuah benda yang berbentuk persegi, waktu ia menegasi, ternyata benda itu adalah 'Thian-hu' dari Pek-lian-kau, tak tahan lagi ia menjadi terkejut.
Ang-koh melangkah masuk ke dalam rumah gubuk Uu dan alangkah terperanjatnya demi dilihatnya.....
Sementara itu, si pengemis ketika nampak di sekitarnya tiada seorang pun, sembari meraup mata uang dalam tempurung dengan suara pelahan ia berkata.
"Kedai beratap rumput di depan sana, di depan pintunya tertambat seekor anjing!"
Ang-koh menuntun kembali keledainya, ia mencari suatu kedai lain untuk bermalam.
Kedai itu tidak banyak tamu, maka keadaannya rada sepi, apabila hari sudah malam Ang-koh lantas meringkasi pakaiannya, melalui jendela kamarnya dengan enteng sekali ia keluar dari kedai itu, ia berlari menuju tempat ke jurusan dimana si pengemis memberitahunya tadi.
Kira-kira tiga atau empat li setelah ia tempuh, terdengar olehnya suara menggonggongnya anjing, ternyata di antara sawah gandum yang tumbuh lebat terdapat sebuah rumah beratap rumput alang-alang kering.
Sampai di sini Ang-koh memperlambat langkahnya, ia maju dengan hati-hati.
Sementara itu tiba-tiba dari tempat gelap meloncat keluar seorang.
"Bulan ada dimana?"
Orang itu menegur.
"Matahari terbenam segera ia muncul"
Jawab Ang-koh. Dalam tanya jawab ini kiranya suku-suku katanya mengandung juga satu huruf "Bing"
Yang terdiri dari gabungan huruf bulan dan matahari.
Maka tanpa ragu-ragu lagi orang itu mempersilakan Ang-koh masuk ke rumah beratap rumput itu, pada sebuah balai-balai di dalam rumah duduk seorang, begitu melihat dengan cepat sekali Ang-koh berlari maju terus merangkulnya dengan kencang.
Orang ini bukan lain ialah ayahnya, Pek Ting-djoan.
"Darimana ayah mengetahui aku telah sampai di sini?"
Tanya Ang-koh.
"Pengemis yang kau jumpai itu adalah Go-mo Li, mengapa kau tidak mengenali dia?"
Ujar Pek Ting-djoan.
"Hebat sekali cara ia menyamar, sampai aku kena dikelabui!"
Sahutnya kemudian "Anakku, Kiutju besok akan datang, malam ini kau harus menyelesaikan suatu tugas!"
Pek Ting-djoan berkata pula.
"Urusan penting apakah itu, ayah?"
Tanya Ang-koh heran.
Maka Pek Ting-djoan lantas membisikkan ke telinga putrinya itu untuk memberi petunjuk-petunjuk yang diperlukan.
Habis mana ia mengeluarkan pula obat poles dengan peralatannya dan diserahkan pada Ang-koh.
"Urusannya cukup penting, hendaklah kau selesaikan dengan baik, sudah itu Go-mo Li masih hendak membawanya berangkat!"
Orang tua itu berpesan lagi.
Tidak lama kemudian, di atas rumah penginapan yang pertama dimana Ang-koh mampir siang tadi telah kedatangan tamu, Ang-koh berjongkok di luar jendela, ia mengeluarkan seekor burung-burungan bangau yang terbuat dari tembaga, dengan patuknya yang lancip ia menusuk pecah kertas daun jendela, menyusul mana dari mulut burung-burungan itu menyembur keluar asap tebal.
Tanpa ayal lagi segera Ang-koh masuk ke dalam kamar dan mengobrak-abrik buntalan yang mereka bawa, ia berhasil menggeledah sepucuk surat, habis itu malam-malam ia kembali ke rumah beratap rumput tadi.
Melihat surat yang dapat dirampasnya itu.
Pek Ting-djoan tersenyum sambil mengelus jenggotnya.
"Surat apakah ini, ayah?"
Tanya Ang-koh yang kurang mengerti.
"Nyata kau belum tahu, surat ini adalah surat penting yang dikirim oleh To Tok Goanswe kepada Nilan-kongtju, sepanjang jalan kami menguntit dan baru berhasil sekarang,"
Sahut Pek Ting-djoan menerangkan.
Tatkala itu, pemerintah Djing mendapat berita laporan bahwa Pek-lian-kautju telah merambah masuk ke daerah Holam dan sekitarnya, maka sepanjang jalan dijaga dengan keras, mereka ingin meringkus pemimpin agama liar ini.
Hari itu di jalan raya ada dua penunggang kuda berdandan sebagai perwira sedang melarikan kuda mereka laksana terbang.
Seorang di antaranya matanya bersinar, itulah Pek-liankautju Ong Bing, usia ketua agama ini sudah mendekati enam puluhan, tetapi karena pandainya ia melatih diri, parasnya masih belum tampak setua usianya.
Kawan seperjalanannya berusia belum ada tiga puluh, tampaknya gagah, alisnya tebal dan wajahnya bengis.
Ia adalah murid pertama dari Bu-tun Todjin di Go-bi-san, namanya yang asli adalah Hoat Ang, kepandaiannya yang diperoleh dari Go-bi-pay sudah boleh dikatakan di tingkat kesempurnaan.
Sejak ia turun gunung ia menukar namanya dengan Ie Hong, karenanya jarang orang luar yang mengetahui asal-usulnya, terhadap dia ini Ong Bing cukup menghargainya dan dianggap sebagai salah seorang kepercayaannya, bahkan ia diangkat sebagai panglimanya.
Begitulah di bawah tipu yang diatur Pek Ting-djoan, mereka berdua telah menyamar sebagai perwira bawahan To Tok, dengan membawa surat perintah rahasia dari To Tok untuk Tjiongkoan, sepanjang jalan masih diberi pula surat ijin perjalanan, maka dengan aman tiada yang berani merintangi mereka, beberapa hari kemudian mereka sudah sampai di Lengpo.
Karena begundalnya yang cukup banyak di tempat-tempat yang mereka lalui, ditambah lagi perlindungan dari pemimpinpemimpin lainnya yang mengikut di belakang mereka, maka mereka menduga setelah lewat Tjing-tjoan, tentu ada Kiamkhek dari Khong-tong-pay yang akan menyambut mereka.
Meski tipu daya Pek Ting-djoan sudah cukup rapi tetapi hidung mata-mata pemerintah Djing ternyata tidak kalah tajamnya, jagoan-jagoan di bawah Nilan Yong-yo pun sudah mencium bau bahwa Ong Bing sudah lewat Hok-gu-san, yang tidak mereka ketahui ialah dengan cara bagaimana ketua agama liar ini bisa mengelabui petugas-petugas penjaga pada pos-pos sepanjang jalan.
Namun sia-sia saja mereka berusaha mencegat dan menghadangnya.
Akhirnya sejumlah jagoan dari kerajaan ditugaskan juga bantu menjaga.
Pada waktu lohor, terdengar suara kelenengan yang menggema bercampur dengan suara derapan kaki kuda yang cepat, kedua penunggangnya laksana terbang sedang mendatangi.
Sesudah penjaga memeriksa izin perjalanan yang menunjukkan tugas perintah To Tok Goanswe, tanpa dipersulit lagi kedua penunggang kuda itu lantas dilepaskan untuk meneruskan perjalanan.
Akan tetapi Tjhi Djin-ho yang sedang meronda di atas benteng melihat wajah perwira yang rada tua itu seperti sudah pernah ia kenal, maka segera ia turun ke bawah buat bertanya.
Karena pemeriksaan ulangan ini, perwira muda tadi menjadi marah.
"Kami ada tugas penting, mengapa sudah diperiksa masih diulangi lagi, kalau terhambat, siapa yang harus bertanggung jawab?"
Debarnya kurang puas sambil menyerahkan surat izin jalannya. Tjhi Djin-ho sudah lama dinas dalam pemerintahan, maka sesudah melihat surat jalan itu tiada sesuatu yang mencurigakan, ia pun berkata.
"Aku yang rendah juga petugas dari markas besar, kalau kamu berdua ingin menghadap Nilankongtju, biarlah aku mengiringi ke sana!"
"Tak usah saudara melelahkan diri, waktu kami terlalu sempit dan harus segera berangkat,"
Ujar perwira yang tua itu.
Habis berkata ia memecut kudanya terus dilarikan keluar pintu benteng, sedang perwira yang muda menyusul di belakangnya segera menjambret kembali surat jalan yang diserahkan orang tadi.
Karena sedikit terbentur dengan tangan orang, Tjhi Djin-ho menjadi terkejut, diam-diam ia merasa tangan orang ini begitu hebat, pasti bukan perwira pengantar surat dinas sembarangan.
Sebelah utara dari Ham-kok-koan berdekatan dengan sungai kuning atau Hong-ho, apabila keluar dari benteng itu dan mengikuti jalanan besar yang menuju ke Tjiongkoan, untuk kuda yang cepat larinya cukup sehari semalam sudah bisa sampai.
Begitulah Tjhi Djin-ho dan Li Ngo berdua terus menguntit sambil mencari berita sepanjang jalan.
Pada waktu magrib mereka sudah sampai di muara sungai Sinleng, di depan mereka melintang sungai Heng-long-ho.
Ketika Tjhi Djin-ho bertanya kepada penjaga muara sungai ini, ia mendapat keterangan bahwa belum ada dua penunggang kuda yang menyeberang sungai, diam-diam Tjhi Djin-ho merasa aneh, di sekitarnya sini tiada tempat penyeberangan lain lagi yang bisa dipergunakan untuk melintasi sungai ini.
Mereka berdua membagi dua jurusan buat mencari.
Sebelah mereka adalah hutan lebat, dan sebelah yang lain adalah sawah yang penuh tumbuh jawawut yang menguning hingga sampai ke tepi sungai.
Kata Tjhi Djin-ho pada Li Ngo.
"Kini hari sudah gelap, coba kau memutar ke dalam rimba untuk memeriksanya, biar aku mencari ke tepi sungai, sebelum tengah malam kita kembali bertemu di sini."
Li Ngo memisahkan diri ke jurusannya sendiri, sedang Tjhi Djin-ho pun menerobos di antara sawah jawawut yang tingginya melebihi orang, justru ini merupakan penghalang baginya, maka ia terus maju menuju ke tepi sungai.
Tengah asyik ia menyusur dalam sawah jawawut lebat itu, tiba-tiba ia melihat ada sinar api yang berkelebat di seberang sungai, tidak lama kemudian, di dalam semak alang-alang di seberang sana terlihat ada orang yang melepaskan bola api, hanya sekejap saja sinar api itu berkelebat di angkasa, kemudian lantas lenyap kembali.
Tjhi Djin-ho mengerti tanda pemberitahuan di kalangan Kangouw, betul juga segera ia nampak dari seberang sungai sana dengan pelahan-lahan mendatangi dua buah kapal layar besar, ketika sampai di tengah sungai, mendadak kapal layar itu menurunkan sebuah sampan kecil yang dibuang ke semak alang-alang tadi, menyusul mana secara remang-remang tertampak dua sosok bayangan orang naik ke atas kapal layar itu.
Tjhi Djin-ho lebih curiga lagi, ia merangkak mendekati tepi alang-alang tadi, dari sini ia mengikat segebung batang jawawut dan diapungkan di atas air sungai, dengan menggunakan gebungan jawawut ini, ia berenang menuju ke kapal layar.
Dari jauh ia lihat tiada sinar api dalam kapal itu, tetapi sesudah dekat baru ia ketahui bahwa semua jendela kapal sudah diselubungi dengan kain hitam, karena itu sinar lampu tidak dapat menembus keluar.
Tjhi Djin-ho menyembunyikan dirinya di antara gebungan jawawut, kedua kakinya mendayung, dengan demikian secara pelahan dapatlah ia merembet naik ke dinding kapal, dengan menggemblok pada dinding kapal ia mengintai ke dalam.
Dalam ruangan kapal ternyata terang benderang, di tengah ruangan terdapat sebuah kursi besar berlapis kulit macan, seorang dengan tangan mencekal kipas dari bulu dan berdandan sebagai orang pertapaan sedang duduk di sana, di sampingnya banyak berdiri pengawal bersenjata.
Tjhi Djin-ho kenal orang ini bukan lain ialah orang yang menyamar sebagai perwira siang tadi.
Sementara itu dari luar masuk pula belasan laki-laki gagah dan bergantian maju memberi hormat.
Tjhi Djin-ho menjadi makin heran dan terkejut karena laki-laki yang masuk belakangan ini kebanyakan adalah pemimpin dari kalangan Liok-lim di daerah Siamsay dan Holam.
Tidak lama kemudian, dari luar terdengar laporan bahwa Litjiangkun telah kembali dengan cakar alap-alap yang berhasil ditangkapnya.
Apabila tirai kuning tersingkap, maka masuklah seorang kakek dengan tangannya mengempit seorang, setelah berada di dalam ruangan segera ia membanting tawanannya itu ke geladak kapal.
Waktu Tjhi Djin-ho menegasi, orang yang menggeletak di depan Ong Bing itu ternyata bukan lain adalah kawannya sendiri yaitu 'Siau-song-sin' Li Ngo.
Keruan saja ia menjadi kaget hingga mengeluarkan keringat dingin.
Dalam pada itu terdengar pula dari belakang suara air didayung, waktu ia berpaling, maka tertampaklah di atas sungai sebuah sampan sempit sedang mendatangi dengan cepat, di atas sampan berdiri seorang imam tua yang memakai jubah bergambar Pat-kwa dari sulaman benang emas, dalam sekejap saja imam itu sudah berada di atas kapal layar besar itu.
Sampai di sini Tjhi Djin-ho tak berani mengintai lebih lanjut, ia meloncat ke dalam air lagi dengan maksud kembali.
Tak ia duga, baru saja ia hendak kabur, mendadak jendela kapal terbuka dan si imam tua tadi telah muncul sambil membentak.
"Hendak lari kemana kau, Tjhi Djin-ho!"
Berbareng itu sebelah tangannya diulur, maka segera Tjhi Djin-ho merasakan sambaran angin di belakang kepalanya, seketika rambutnya kena dijambak orang, matanya berkunang-kunang dan pandangannya kabur, maka tak sadar lagi ingatannya.
Kembali pada Giok-bin-yao-hou.
Sesudah Hong-ko berangkat hingga dua hari masih belum nampak kembali, hati gadis ini menjadi kuatir, ia tidak tahu apakah Hong-ko selamat atau celaka akibat menemui Nilan Yong-yo itu.
Sementara itu lukanya sudah pulih kembali, dari tuan rumah ia meminjam sebatang pedang dan dicobanya memainkan dengan sebelah tangannnya, ia merasa keadaan dirinya saat ini tidak mengurangi kegesit-annya dibandingkan pada waktu tangannya masih utuh.
Maka sekembalinya ke dalam kuil segera ia mengutarakan keinginannya turun gunung buat mencari Hong-ko.
Pada malam itu juga ia lantas meninggalkan King-thay-si, ia kembali ke Pek-lian-am.
Nampak lukanya sudah sembuh, sudah tentu Liok-dji Nikoh girang sekali.
Lalu ia memberitahu juga pada Bun Sui-le bahwa Hong-ko pernah datang padanya buat mengambil senjatanya dan hendak pergi menghadap Nilan Yong-yo.
Bun Sui-le memberitahu pula maksudnya hendak menuju ke Tjiongkoan buat mencari kabar Hong-ko dan Boan-liong berdua.
"Aku pun rada menguatirkan keselamatan Boan-liong Tay hiap, kalau begitu, sebaiknya kau juga menyamar sebagai Nikoh saja, dengan demikian kita berangkat bersama untuk mencari kabar mereka"
Kata Liok-dji Nikoh.
Begitulah, sesudah dua hari mereka berangkat, sampailah mereka pada suatu lembah pegunungan, dari sini hanya beberapa puluh li saja dengan Tjiongkoan yang menjadi tempat tujuan mereka.
Lembah pegunungan ini cukup berbahaya, tetapi merupakan jalan yang harus dilalui.
"Di depan sana ada sebuah kuil, Pek-ie-am, ketua pengurusnya Sim-dji Nikoh, pernah kawan karibku, marilah kita menuju ke sana buat menumpang barang semalam,"
Ajak Liok-dji Nikoh.
Bun Sui-le tidak membantah, ia menuruti kemauan kawannya ini.
Mereka membelok ke suatu jalan kecil yang menyusur sebuah sungai pegunungan kecil di samping rimba lebat, di sekitarnya sepi tiada seorang penduduk.
Tengah mereka berjalan, tiba-tiba dari depan mendatangi seorang dengan tergesa-gesa, orang ini adalah laki-laki setengah umur, di punggungnya meng gemblok sebilah golok, kepalanya memakai ikat kepala dan terselip setangkai bunga merah.
Waktu Bun Sui-le menegasi, ia mengenali orang itu ternyata bukan lain ialah Totju dari Ang-hoa-hwe, Liu Ut, yang dulu pernah merencanakan menjebak dirinya karena kena dihasut oleh Ang-koh, yaitu dengan tujuan hendak merebut kembali 'Thian-hu' yang jatuh di tangannya ini Tanpa sengaja musuh ini kini bertemu, sudah tentu Giokbin-yao-hou tidak nanti melepaskannya begitu saja.
ia menunggu setelah orang berjalan dekat sekali, mendadak ia lantas hendak membekuknya sambil membentak.
"Liu ut, masih kenalkah kau padaku?"
Keruan saja Liu Ut terperanjat, sedetik kemudian baru ia mengenali bahwa yang berada di hadapannya ini ialah Giokbin yao-hou.
Namun tidak mau ia menyerah mentah-mentah, dengan sedikit membungkuk, kemudian sebelah tangannya segera ditang-kiskan ke atas dan sebelah tangan yang lain menjojoh ke arah dada Bun Sui-le.
Tetapi Bun Sui-le pun tidak gampang di arah, ketika mendadak ia melihat kedua tangan orang menghantam, segera juga ia mengegos ke samping, habis itu ia lantas mencekal tangan orang terus dipuntir, dalam sekejap saja Liu Ut ternyata sudah kena diangkat seluruh tubuhnya terus diputar beberapa kali dan kemudian dibanting ke tanah.
Begitu keras bantingan itu hingga Liu Ut roboh setengah semaput yang disusul oleh Giok-bin-yao-hou, terus menginjak dengan kakinya, karena pada bawah sepatu gadis ini terdapat kaitan baja, keruan saja Liu Ut berguling-guling di tanah saking kesakitan karena tulang punggungnya beradu dengan kaitan baja sepatu orang.
"Manusia rendah, apa yang bisa kau katakan lagi dengan perbuatanmu yang kotor hendak membokong nonamu dahulu?"
Damprat Giok-bin-yao-hou.
Habis mana ia mengayun senjatanya lantas hendak dibacokkan.
Namun Liu Ut cukup tahu gelagat, ia memohon ampun dengan sangat walaupun tubuhnya masih terinjak di bawah kaki orang, ia membantah keras perbuatannya dengan alasan fitnahan orang belaka.
Sementara itu belum sampai senjata Giok-bin-yao-hou bekerja, Liok-dji Nikoh pun sudah maju ke tengah buat mencegah.
"Mohon nona mengampuni dia!"
Bujuk padri perempuan ini.
Setelah dipikir bahwa apa yang ia dengar dahulu tidak lebih diperoleh dari perkataan Ang-koh, ia kuatir salah membunuh orang yang sebenarnya tak berdosa hingga kelak bisa dicela sesama kaum Kangouw.
"Baiklah, kubiarkan kau hidup lagi beberapa lama, tetapi kalau aku mendapatkan bukti-bukti yang nyata, jangan harap kau bisa lolos pula dari tanganku!"
Bentaknya kemudian sambil menarik kembali pedangnya.
Dengan mendekam di tanah Liu Ut menjura berulang-ulang atas kemurahan hati orang, ia menunggu sesudah mereka berdua berlalu baru berani berbangkit terus mengeluyur keluar dari lembah gunung itu.
Waktu kemudian Giok-bin-yao-hou bersama Liok-dji sampai di depan Pek-ie-am, mereka baru mengetahui bahwa rumah berhala itu sudah tidak ditinggali lagi, pintu terkunci, keadaannya kotor tak terawat, jelas sudah lama tidak dikunjungi orang.
"Beberapa tahun tidak kemari, siapa tahu keadaan sudah berubah, marilah kita berlalu!"
Ujar Liok-dji Nikoh.
Ketika mereka kembali melalui rimba tadi, tatkala itu cuaca sudah mulai gelap, sekonyong-konyong berkelebat bayangan orang, berbareng itu dari dalam rimba itu meloncat keluar dua orang, yang seorang laki-laki dan yang lain wanita.
Waktu mengetahui siapa yang berada di hadapannya ini, Bun Sui-le jadi berubah wajahnya, tidak ia sangka bahwa yang berdiri di depannya itu adalah Ang-koh dan Liu Ut berdua.
"Liu-totju bilang kau perempuan siluman ini telah datang, semula aku masih sangsi, tak tahunya memang betul kau meigantarkan nyawamu, maka jangan kau sesalkan senjataku yang tak kena! kasihan ini!"
Bentak Ang-koh dengan mata melotot dan pedang terhunus.
Kiranya rimba ini bukan lain adalah tempat dimana Tjhi Djin-ho memburu kemari.
Setelah ketua agama Teratai Putih Ong Bing sampai di tempat ini, segera banyak di antara pemimpin dari kalangan Liok-lim yang menyumpahi dia.
Kemudian menyusul Pek Tingdjoan beserta puterinya, Ang-koh pun datang.
Berbareng mereka terdapat pula Go-mo Li dan Hun-tiong-tju serta kawan-kawan yang lain.
Dengan memilih rimba ini sebagai tempat pertemuan mereka, Totju atau ketua dari Ang-hoa-hwe, Liu Ut, pun datang hendak menyumpahi mereka, tak tersangka di tengah jalan ia kepergok dengan Giok-bin-yao-hou, beruntung jiwanya diampuni orang, tetapi karena itu ia lantas melaporkan kejadian mana pada Ong Bing.
Kuatir kalau jejaknya ketahuan orang, segera Ang-koh diutus menyertai Liu Ut pergi menangkap Giok-bin-yao-hou, di samping itu Go-mo Li diperintahkan membantu bila perlu.
Begitulah demi nampak Ang-koh, Bun Sui-le menjadi murka, darahnya mendidih dan amarahnya meluap-luap terhadap musuh besarnya ini.
Ia tidak menunggu sampai bentakan orang tadi habis diucapkan, segera ia sudah menerjang maju menikam dengan pedangnya.
Melihat orang menyerang dengan kalap, Ang-koh mengerti lawannya ini bersedia mengadu jiwa, maka ia sengaja berlaku tenang, dengan cepat ia memutar ke samping, berbareng mana ia angkat senjatanya juga menyampuk pergi pedang lawan dan kemudian mengambil kedudukan bersiap lagi.
Karena serangan pertamanya gagal, Giok-bin-yao-hou menjadi semakin murka, segera ia mengirim serangan kedua, secepat angin ia lantas membabat sambil merangsek maju.
Cara menyerangnya ini memang berbahaya, tetapi ia sudah berniat berkorban asal Ang-koh dapat ia binasakan.
Dengan cepat Ang-koh melompat ke atas setinggi beberapa kaki, ia berjumpalitan di atas untuk kemudian menancapkan kakinya kembali di sebelah Liok-dji Nikoh dan berbareng padri ini sudah kena ia dorong ke depan untuk diumpankan pada senjata Bun Sui-le.
Liok-dji yang tidak pernah menyangka akan perbuatan orang itu seketika tak berdaya, Bun Sui-le pun tidak menduga bahwa orang bisa menyorongkan Liok-dji sebagai tameng, maka lekas ia menarik kembali senjatanya sambil mengumpat caci.
Karena caci maki orang yang berulang kali itu, rupanya Ang-koh pun tak tahan lagi dan naik darah juga, dengan cepat sekali segera ia balas membacok.
Bun Sui-le sedikit berjongkok sambil menang-kis, tak ia sangka Ang-koh masih terus mendorong senjatanya ke depan, karena itu, terpaksa Bun Sui-le harus mendoyong ke belakang.
Ang-koh ternyata tidak menyia-nyia-kan kesempatan ini, secepat kilat ia melompat maju terus membelah lagi dengan tipu serangan 'Pek-tjoa-tho-sin' atau ular putih melelet lidah.
Nampak kawannya terancam bahaya, saking terkejutnya hampir-hampir Liok-dji berseru kaget.
Namun sebelum ia bersuara, mendadak terdengar Ang-koh menjerit kesakitan, habis mana pedangnya terlihat jatuh ke tanah.
Kiranya dalam keadaan yang berbahaya tadi, sekonyongkonyong Bun Sui-le menggunakan senjata rahasia seadanya, ia menimpukkan 'Thian-hu', kepingan pening tanda pengenal dari Pek-lian-kau, dan dengan tepat mengenai pundak Angkoh hingga masuk ke dalam daging.
Karena menderita luka, Ang-koh melompat keluar dari kalangan pertempuran terus berbalik hendak lari.
"Jangan lari!"
Bentak Bun Sui-le sambil mengudak dengan senjata terhunus.
Tetapi dengan cepat Ang-koh terus kabur ke dalam rimba, Bun Sui-le tetap mengejar dengan kencang, pada waktu sudah hampir menyandak, sebelum ia sempat melakukan serangan, mendadak dari dalam rimba mencelat keluar seorang lagi, di antara sambaran lengan baju orang ini, seketika pedang Bun Sui-le sudah kena terkancing terus tertarik lepas dari tangannya.
Untuk menolong dirinya, dengan cepat Giok-binyao-hou mengayunkan sebelah kakinya buat menendang, tetapi dengan sedikit bergerak, orang tadi menyambut kakinya dengan kain baju lagi, seketika itu juga Bun Sui-le merasakan sakit yang meresap tulang terus roboh terguling sambil menjerit.
Orang itu tertawa mengikik, menyusul mana gaya Kim-nadjiu yang hebat menyambar, dalam sekejap saja Bun Sui-le hanya merasakan belakang kepalanya telah kena ditotok orang, habis itu seluruh badannya terasa kaku linu tak bertenaga lagi.
Bila kemudian ia dapat melihat orang dengan jelas, kiranya orang ini ialah Go-mo Li yang terkenal lihai dengan ilmu 'Yu-bun-tiat-pan-siu', yakni kepandaiannya mengibaskan lengan baju sekuat lempengan baja.
Mendengar rekannya menjerit, Liok-dji Nikoh dengan cepat memburu ke dalam rimba, tetapi kasihan baginya, tak ia sangka Liu Ut telah berada di belakangnya, tanpa terasa ia kena dibacok dari belakang hingga padri wanita ini jatuh tersungkur dengan memuncratkan darah segar, padri ini kempas-kempis tinggal menunggu ajalnya saja.
tw 31 es Kembali pada diri Teng Hong-ko, waktu itu pemuda ini tengah berada dalam markas di Tjiongkoan, tiba-tiba ia merasakan pikirannya tidak tenteram, hatinya senantiasa teringat pada Bun Sui-le.
Karena itu lantas ia mengemukakan maksudnya itu pada Nilan-kongtju agar diperbolehkan kembali ke King-thay-si untuk menjumpai kekasihnya itu.
Nilan Yongyo tidak keberatan atas permintaan itu, ia hanya berpesan agar berlaku waspada karena sudah diperoleh kabar bahwa Ong Bing yang mereka incar telah sampai di sekitar Tjiongkoan, maka pemuda ini diharapkan jangan terlalu lama meninggalkan tugasnya.
Waktu Hong-ko hendak berangkat, di luar pintu ia berpapasan dengan Hu Kak dan Boan-liong berdua yang bertanya kemana pemuda ini hendak pergi.
Hong-ko dengan terus terang menceritakan isi hatinya.
"Bila kau bertemu dengan Ang-koh lagi, apakah kau masih hendak menyambung urusan lama?"
Tiba-tiba Boan-liong bertanya pula.
"Meski sejak kecil kami pernah dipertunangkan, tetapi kini ia sudah tersesat ke dalam agama liar, hubungan kami sudah putus!"
Sahut Hong-ko dengan tegas.
"Teng-heng bisa membedakan yang benar dan yang sesat, sungguh tidak malu sebagai seorang Enghiong sejati!"
Puji Hu Kak.
Begitulah kemudian Hong-ko berangkat menuju ke Kingthay-si.
Tetapi baru setengah hari ia menempuh, tiba-tiba turun hujan lebat dengan petir menyambar..
Dengan menghadapi hujan lebat Hong-ko tetap melanjutkan pula perjalanannya, kemudian sampailah dia pada sebuah jembatan yang telah putus, ketika mendadak sinar kilat berkelebat, kuda tunggangannya menjadi kaget hingga berjingkrak, karena itu binatang itu terjerumus ke bawah jembatan, beruntung Hong-ko bisa menyelamatkan dirinya dengan sekali lompatan hingga tidak sampai tergelincir masuk ke bawah jembatan juga, namun demikian, seluruh tubuhnya sudah basah kuyup dengan air lumpur.
Waktu ia memandang sekitarnya, dari kejauhan ia lihat pada lekukan gunung sebelah sana terdapat sebuah rumah biara kuno yang dikitari dengan pagar tembok, ia segera mengambil keputusan untuk berteduh di sana.
Ketika ia sudah berada di depan rumah biara itu, ia lihat rumah biara ini sudah bobrok tak terawat, dari papan nama rumah biara yang masih tergantung miring di atas pintu itu, lapat-lapat masih dapat terbaca 'Pek-ie-am' tiga huruf.
Setelah ia masuk ke dalam pagar tembok, tampak olehnya pintu besar dalam rumah biara itu terkunci rapat, ia berteriak memanggil beberapa kali, namun tiada sesuatu sahutan, ia menduga tentu tiada seorang manusia pun yang tinggal di dalam rumah biara ini.
Sementara itu hujan masih belum reda, sedang cuaca sudah gelap gulita, ia menaksir hari ini sudah tidak mungkin melanjutkan perjalanan lagi, lantas ia mengitar ke belakang rumah biara, di sini baru ia ketahui masih terdapat pula jalan kecil yang menembus ke hutan rimba, di jalanan berlumpur itu masih tertampak juga bekas tapak kuda, rupanya pernah ada orang yang datang ke tempat ini dan belum lama baru berangkat.
Hong-ko menjadi curiga, tiba-tiba ia melihat pada pojok pagar tembok itu masih terdapat pula sebuah pintu samping, ia mencoba mendorong pintu itu, ternyata pintu ini memang tidak dikunci.
Pintu itu ternyata menembus ke sebuah ruangan tersendiri, pada pelataran rumah ini penuh dengan kotoran burung dan berlumut, bahkan di atas tanah ini tertampak pula bekas tapak kaki orang yang bercampur-baur antara pria dan wanita.
Hong-ko menjadi semakin sangsi, ia berjalan terus ke belakang biara, pada suatu kamar yang sudah rusak ia melihat ada lima atau enam buah peti mati, karena keadaan rada gelap, maka Hong-ko tak bisa melihat dengan jelas, hanya ia merasakan bau busuk yang menyesakkan hidung dan menambah seram keadaan dalam kamar tadi.
Dengan menabahkan diri, Hong-ko maju terus ke depan.
Di kamar samping itu ternyata terdapat sebuah pintu yang menembus ke ruangan dalam yang merupakan paseban dari rumah biara ini, namun keadaan serupa saja sunyi senyap.
Di sini tiba-tiba ia mendengar ada suara seperti orang sedang merintih yang lapat-lapat berkumandang dari paseban di sebelah dalam.
Tanpa ayal lagi segera Hong-ko memburu ke tempat datangnya suara itu.
Dalam kegelapan ia nampak seperti ada seseorang meringkuk di pojokan ruangan itu.
Apabila ia menegasi lebih dekat lagi, kiranya orang ini adalah seorang Nikoh yang berlumuran darah, ternyata punggungnya kena dibacok orang hingga tulangnya menonjol kelihatan dengan kedua tangannya diikat ke belakang.
Nikoh ini sudah kempas-kempis mendekati ajalnya.
Waktu Hong-ko berjongkok mengangkat naik kepala Nikoh itu, mendadak ia berseru kaget, sama sekali tidak ia duga bahwa Nikoh ini adalah Liok-dji Nikoh.
Tampaknya padri ini hanya bisa membuka matanya, bibirnya sedikit bergerak, tetapi seperti tak sanggup buka suara.
Ternyata Bun Sui-le rebah di dalam peti mati itu dengan mulut tersumbat.
Lekas Hong-ko merogoh keluar dua butir 'Go-bi-hoan-huntan', semacam obat pil ciptaan golongan Go-bi-pay, ia mengambil pula semangkok air yang ia cari di dalam rumah biara itu, kemudian ia cekokkan pil itu kepada Liok-dji Nikoh.
Lewat tak lama kemudian baru padri perempuan ini bisa sadar.
"Taysu mengapa bisa sampai di sini? Siapakah yang telah mencelakai kau?"
Tanya Hong-ko tak sabar lagi demi nampak orang sudah sadar.
"Aku telah kena dibacok oleh Liu Ut, melihat aku masih belum binasa, Ang-koh kemudian mengurung aku di sini!"
Liok-dji menerangkan dengan suara terputus-putus. Kemudian Hong-ko berniat membalut luka orang, namun Liok-dji hanya menggeleng-geleng kepala.
"Aku sudah tak berguna lagi, sebaiknya lekas kau pergi melihat keadaan Bun-kohnio!"
Ujar padri itu. Mendengar penuturan ini Hong-ko menjadi terperanjat seakan-akan semangatnya melayang.
"Apa katamu? Bun-tjitji ada dimana?"
Tanyanya cepat.
"Dia......dia telah kena dirobohkan, Ang-koh telah memasukkan dia ke dalam peti mati,"
Tutur Liok-dji selanjurnya sambil mengangkat tangannya yang tak bertenaga menuding ke belakang rumah biara itu.
Tanpa menunggu orang berkata lagi, segera Hong-ko berari ke kamar bobrok dimana terletak peti-peti mati tadi sembari berteriak.
"Bun-tjitji!"
Tetapi ia tidak mendengar ada suara sahutan, lapat-lapat ia hanya mendengar ada suara keresekan yang keluar dari dalam salah satu peti mati itu.
Secara meraba-raba segera ia mendekati peti yang mengeluarkan suara itu dan dengan segera ia mendongkrak tutup peti itu, dengan demikian ia sudah terlupa oleh suasana seram tadi.
dalam sekejap saja tutup peti itu sudah kena ia bongkar.
Dalam kegelapan ia hanya bisa melihat di dalam peti merebah seseorang yang mengeluarkan suara lemah sekali.
Waktu Hong-ko mengulur tangannya meraba, ia mendapatkan orang ini masih bisa bergerak dan masih hangat, bukan buatan rasa girangnya, segera ia mengetahui bahwa mulut orang tersumbat dengan kain dan kaki tangannya terbelenggu.
Lekas Hong-ko menghilangkan semua siksaan itu dan sesudah itu terdengarlah Bun Sui-le berteriak sambil merangkul Hong-ko.
Saking terharunya pemuda inipun balas merangkul orang dengan air matanya yang bercucuran.
"Tjitji, siapakah yang telah membikin kau sampai begini?"
Tanya pemuda ini dengan pilu. Atas pertanyaan ini ternyata Bun Sui-le hanya menunduk saja.
"Aku telah kena dijatuhkan oleh Go-mo Li."
Sahurnya kemudian dengan suara sesenggukkan.
"Kemudian Ong Bing telah menutup aku di dalam peti mati ini, mereka masih membicarakan di sini juga bahwa setelah terang tanah, dengan segera Ong Bing akan memalsu sebagai perwira utusan To Tok dan menyampaikan surat perintah, dengan demikian ia hendak menawan Nilan-kongtju sebagai orang tahanan....."
"Betulkah perkataanmu itu?"
Hong-ko bertanya dengan kaget demi mendengar penuturan gadis ini.
"Kini sudah lewat tengah malam, jika tipu muslihat mereka berhasil, Nilankongtju tentu akan jatuh ke tangan mereka, aku harus lekas kembali buat melaporkan rencana mereka itu!"
"Kau betul, lekaslah kau berangkat sekarang!"
Ujar Bun Suile, tetap ia menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba Hong-ko teringat bahwa Liok-dji Nikoh masih menggeletak dengan bermandikan darah di sana, segera ia meletakkan Bun Sui-le buat melihat padri wanita itu, namun ia dapatkan padri ini sudah sejak tadi menghembuskan napasnya yang penghabisan.
Dalam terharunya, tak tertahan lagi Hong-ko mengucurkan air mata kesedihan, kemudian buru-buru ia kembali ke tempat Bun Sui-le tadi, ia lihat kekasihnya ini sedang membalut mukanya dengan sepotong kain robekan dari bajunya.
"Apakah yang kau lakukan?"
Tanyanya heran.
"Mukaku sedikit terluka, tak usah kau mengurus aku, lekas kau kembali ke Tjiongkoan saja,"
Sahut Bun Sui-le.
Hong-ko menjadi serba susah, hendak meninggalkan Bun Sui-le ia tidak tega, sebaliknya ia kuatir pula Nilan-kongtju terjebak oleh tipu muslihat Ong Bing.
Tengah ia merasa ragu-ragu, sekonyong-konyong Bun Suile meloncat keluar dari rumah biara itu melalui pagar tembok terus menuju ke rimba di depan, sudah tentu perbuatan mana segera diikuti oleh Hong-ko.
"Adik lekas berangkat, aku menanti di rimba sini!"
Terdengar Bun Sui-le meneriakinya.
Habis itu dengan beberapa kali lompatan ia sudah menghilang masuk ke dalam hutan.
Kiranya sesudah Bun Sui-le kena dirobohkan oleh Go-mo Li seperti diceritakan di depan, seketika ia jadi tak bisa berkutik dan tertawan.
Dalam pada itu dari dalam rimba menyusul datang pula beberapa orang yang bukan lain ialah Ong Bing dan le Hong.
"Aku telah berjanji dengan Hun-tiong-tju untuk bertemu dalam rumah biara di depan sana, bolehlah kamu membawa perempuan siluman ini ke sana untuk diputuskan lebih lanjut,"
Perintah Ong Bing setelah mendapat laporan bahwa telah ditawan seorang musuh wanita.
Waktu nampak Liok-dji Nikoh masih belum putus napasnya, niat Liu Ut masih hendak menambahi lagi dengan sekali bacokan, namun ia keburu dicegah oleh Ong Bing.
"Hal ini tidak boleh terjadi, perjalanan kita ini harus dirahasiakan, kalau mayatnya ditemukan teman mereka, bukankah jejak kita bisa ketahuan?"
Ujar pemimpin mereka ini.
"Sebaiknya dibawa saja sekalian dan ditutup dalam rumah biara itu, biarkan dia mampus dengan sendirinya."
Begitulah maka akhirnya Liok-dji dapat diketemukan tergeletak dalam paseban kuil itu.
Kemudian sesampainya Ong Bing dengan pengikutnya di kuil itu, mereka sudah ditunggu oleh seorang imam yang berusia setengah umur, nama gelarnya dikenal sebagai Huntiong-tju, imam ini mempunyai ikatan janji sehidup semati dengan Ong Bing, pemimpin gerakan Pek-lian-kau ini.
Pada waktu Tjhi Djin-ho malam-malam mengintai kapal layar dan tertawan, imam yang mencekalnya bukan lain adalah Hun-tiong-tju ini.
Hun-tiong-tju adalah Tjiang-tian Tjindjin atau pejabat istana dari Khong-tong-san, kedudukannya hanya setingkat di bawah Tjiang-tong Tjindjin atau pejabat ketua dari semua goa-goa di gunung itu.
Kiranya Khong-tong-san ada tujuh puncak gunung dan terbagi menjadi 'Tjhit-tong' atau tujuh goa yang masingmasing dijabat oleh tujuh orang imam yang disebut Tjindjin.
Di bawah ketujuh Tjindjin ini terdapat pula apa yang disebut Tjiang-tian Tjindjin.
Tjindjin dari Sui-djin-tong, seorang di antara Tjhit-tong itu adalah Leng-khong-tju.
Dia termasuk Tjindjin yang usianya paling muda di antara ketujuh rekannya.
Pada dua belas tahun yang lalu, Leng-khong-tju pergi merantau, tetapi sejak itu pula belum pernah kembali, sebab inilah Sui-djin-tong lantas diurus oleh Hun-tiong-tju.
Tujuh atau delapan tahun yang lampau, pernah Ong Bing mengutus Pek Ting-djoan ke Khong-tong-tju untuk menghubungi Hun-tiong-tju, belakangan Pek Ting-djoan mengirimkan pula puterinya, Ang-koh, untuk belajar pada Hun-tiong-tju.
Kali ini, perjalanan Ong Bing yang dirahasiakan itu, sejak mula memang sudah berjanji untuk saling berjumpa dengan Hun-tiong-tju di tengah jalan..
Di dalam Pek-ie-am itulah mereka bertemu dan berunding.
Pada kesempatan mana Pek Ting-djoan melaporkan tentang diri Bun Sui-le yang mereka tawan, ia menerangkan juga bahwa Bun Sui-le adalah kekasih Teng Hong-ko, padahal waktu kecilnya pemuda she Teng ini pernah dipertunangkan pada pu-terinya, maka ia minta pertimbangan sang pemimpin itu.
"Jahanam Teng Hong-ko yang kau sebut itu tempo hari Pek-lian Tjosu sudah memutuskan hukuman mati baginya, tidak lama lagi tentu akan dijalankan hukuman itu,"
Kata Ong Bing.
"Puterimu Ang-koh memegang tugas sebagai Sian-koh dalam agama, mana bisa dijodohkan lagi dengan penjahat itu, biarlah kelak aku mencarikan calon yang tepat baginya, dan selanjutnya tak usah kau pikirkan soal ini lagi."
Sudah tentu Pek Ting-djoan tak berani membantah perintah ini.
Adalah Ang-koh yang mendengar keputusan itu, ia menjadi sedikit kurang mengerti pada Pek-lian Tjosu, kalau sudah memutuskan hukuman mati bagi seseorang, maka tidak lama tentu ia akan memerintahkan orang buat melaksanakan hukuman itu, karenanya ia jadi menguatirkan diri Hong-ko.
Apabila ia berpikir pula bahwa biangkeladi daripada semuanya itu adalah karena Bun Sui-le, hingga pemuda itu berpindah kasih padanya.
Karena pikiran ini Ang-koh menjadi gemas, ia gegetun mengapa tempo hari tidak sekalian membinasakan perempuan busuk itu.
Kemudian ia lantas menabahkan hati, ia berlutut memohon pada Ong Bing agar suka menghukum Bun Sui-le 'menjadi setan' agar perempuan ini tersisih selama hidupnya.
Istilah 'menjadi setan' dalam Pek-lian-kau ialah dengan mencekoki terhukum semacam obat racun yang akan merubah bentuk paras muka orang itu menjadi jelek dan buas serupa genderuwo.
Kemudian ditambah lagi dengan sedikit permainan ilmu hitam mereka dan orangnya dimasukkan ke dalam peti mati, dengan demikian setelah lewat beberapa hari, meski orangnya belum binasa, namun sudah tentu akan menjadi kurus kering laksana mayat hidup saja.
Agaknya Bun Sui-le belum tiba ajalnya hingga ia dapat tertolong oleh Hong-ko.
Dalam kegelapan itu Hong-ko tidak bisa melihat dengan jelas paras mukanya yang sudah berubah hingga menakutkan, ketika Hong-ko menilik Liok-dji Nikoh, segera Bun Sui-le merobek kain bajunya buat membalut mukanya, oleh sebab itulah Hong-ko masih mengira parasnya tetap secantik dewi kayangan seperti sediakala.
Kembali mengenai diri Hong-ko, sesudah ia meninggalkan rimba itu, segera ia mengeluarkan kepandaiannya berlari cepat kembali ke Tjiongkoan.
Karena jaraknya hanya sekitar dua puluhan li saja, maka waktu sebelum fajar menyinsing ia sudah tiba di markas Nilan Yong-yo.
Mendengar bahwa pemuda ini ada laporan penting, seketika Nilan-kongtju menemuinya di dalam kamar tidurnya.
"Berkat kejayaan Hongsiang, kalau tidak, hampir saja aku terjebak oleh tipu muslihat musuh,"
Ujar Nilan dengan girang setelah mendengar laporan singkat dari Hong-ko.
Sudah tentu ia tidak habis-habisnya memuji jasa Hong-ko itu.
Kemudian lantas ia memerintahkan bawahannya untuk mengundang Boan-liong Kiamkhek dan Toh-hiap, si pendekar bongkok dari padang pasir untuk diajak berunding.
Melihat Hu Kak tak termasuk dalam undangan itu, Hong-ko menjadi heran, tetapi Nilan-kongtju lantas menerangkan padanya dengan membisiki di telinganya, maka Hong-ko mengangguk-angguk.
Begitulah menjelang pagi, dari luar dilaporkan bahwa ada surat penting yang dikirim oleh To Tok.
Segera Nilan-kongtju memerintahkan supaya mempersilakan utusan itu menghadap, sambil ia berpesan pada Boan-liong dan kawan-kawan untuk bertindak menurut rencana.
Waktu itu di tengah paseban sudah berduduk seorang putra bangsawan yang rupanya mirip Nilan Yong-yo.
Tak lama kemudian masuklah dua perwira utusan dengan langkah lebar.
Kedua orang itu matanya bersinar tajam dan perawakannya gagah, tatkala kedua perwira ini sudah maju ke dekat undakundakan dimana Nilan-kongtju berduduk, segera bawahannya memberi tanda agar orang berhenti.
Habis mana seorang di antaranya lantas mempersembahkan sepucuk surat dengan diangkat tinggi kedua tangannya.
Selagi sang bawahan hendak menerima surat itu untuk diteruskan pada Nilan Yongyo, sekonyong-konyong orang itu menggeraki surat yang dipegangnya, berbareng mana terhembus keluar segulung asap tebal, empat pengawal yang berdiri di kanan Nilan Yongyo terkena asap itu, seketika itu juga lantas jatuh pingsan.
Perwira yang mempersembahkan surat ini usianya lebih muda dari yang lain, begitu menyemburkan asap segera juga ia melompat maju terus menyambret ke dada Nilan-kongcu hingga putera bangsawan ini kena dicekal tak berkutik.
Perwira lain yang agak berumur pun tidak tinggal diam, dengan cepat ia pun melolos pedangnya, habis mana ia membaliki tubuhnya terus membentak pengawal-pengawal di bagian bawah yang sementara itu hendak mengembut maju.
"Begitu kamu berani bergerak, segera juga aku habisi nyawa tuanmu!"
Dan selagi mereka hendak melompat buat kabur, tiba-tiba dari atas emperan rumah melayang turun Boan-liong Kiamkhek, begitu datang, senjatanya pun segera menyambar.
Dengan mengempit Nilan-kongcu, perwira yang rada muda tadi melompat ke belakang, sudah mana ia membentak lagi.
"Tuanmu sudah jatuh di tangan kami, apa betul kamu tidak menghiraukan keselamatan jiwanya lagi?"
Ia mengancam pula. Akan tetapi ancaman itu dijawab dengan suara tertawa terbahak-bahak, habis itu terdengar ada orang berkata.
"Tuanmu ada di sini!"
Menyusul itu dari belakang pintu angin keluar seseorang dengan dandanan bangsawan Boan-tjiu asli, sikapnya tampan, ternyata bukan lain ialah Nilan Yong-yo yang diapit oleh Teng Hong-ko dan Toh-hiap.
Nampak kejadian ini, perwira yang berumur tadi terkejut, ia mengayun pedangnya dengan cepat menusuk tawanannya tadi hingga topi kebesarannya jatuh, nyata orang ini adalah prajurit yang menyamar sebagai putera bangsawan itu.
Kiranya kedua orang yang menyamar sebagai perwira pengantar surat perintah dari To Tok memang bukan lain ialah Ong Bing dan le Hong adanya.
Maka begitu nampak gelagat jelek, segera juga Ie Hong membikin terjungkal tawanan palsu mereka, habis mana lantas ia memapaki Boan-liong.
Di sebelah sana Ong Bing pun lantas bergerak, dengan sekali enjotan ia meloncat ke atas dengan niat untuk kabur, namun Toh-hiap, si pendekar bongkok ini sudah menantikan kedatangannya, ia memapaki orang dengan sekali pukulannya yang terkenal dengan nama 'Sin-kong-kim-soa-tjio'.
Begitu hebat pukulannya hingga membawa sambaran angin tajam seperti irisan pisau, orang biasa yang terkena sambaran angin pukulan dalam jarak beberapa tombak saja pasti akan terguling.
Oleh sebab itulah, begitu terkena sapuan angin pukulan itu, Ong Bing terpaksa harus menancapkan kaki kembali ke bawah.
Dalam hati ia harus mengakui juga kelihaian pukulan tadi.
Namun segera ia pun mengunjukkan gigi juga, ia mengayun tangannya, menyusul enam pisau terbang 'Tui-hun-to' menyambar ke jurusan dimana Nilan Yong-yo berada.
Tetapi Toh-hiap keburu melompat ke atas, dengan angin pukulannya yang santar itu ia memapaki pisau 'Tui-hun-to' itu hingga senjata-senjata itu kena tersampuk jatuh semua.
Kemudian Toh-hiap menubruk maju lagi dengan Kim-na-jiu, ilmu cara mencekal dan menawan yang terkenal dalam Bu-lim, segera ia merangsek pada Ong Bing sambil membentak.
"Jangan coba lari!"
Agaknya Ong Bing sudah kenal kelihaian pendekar bongkok ini, segera ia mengeluarkan ilmu silumannya, dalam kelebatan bayangannya, ia melepaskan tabir asap, terus orangnya menghilang.
Demikianlah cara ajaran Pek-lian-kau yang katanya bisa menghilang, sebenarnya tidak lebih hanya dengan menggunakan tabir asap saja dan pada kesempatan lawan tidak bisa lihat dengan jelas, orangnya lantas kabur.
Di sebelah sana, Ie Hong pun sedang bertarung sengit dengan Boan-liong.
Pada suatu ketika ia pura-pura menikam dengan ganas, terpaksa Boan-liong harus mundur selangkah untuk menghindari serangan itu, akan tetapi pada kesempatan itu dipergunakan oleh Fe Hong untuk kabur, rupanya ia tahu dirinya tidak bakalan unggul berhadapan dengan lawan yang tangguh, lagi pula berjumlah lebih banyak.
Dengan sekali melompat ia berniat melayang naik ke atas wuwungan untuk kabur.
Tak ia duga, kembali Toh-hiap sudah bersiap menunggu dirinya, waktu mendadak dilihatnya Ie Hong hendak merat, segera juga pendekar bongkok ini menghamburkan segenggam senjata rahasianya 'Kim-soa' atau pasir emas yang membawa sinar gemerlapan menyilaukan mata.
Dalam keadaan tak tersangka-sangka, seumpama kepandaian Ie Hong lebih tinggi lagi pun susah untuk menghindarkan diri, maka tanpa ampun lagi pasir itu meresap ke dalam dagingnya hingga ia terguling ke bawah kembali.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Boan-liong dengan baik, ia memburu maju, terus memberi lawannya ini sekali totokan, maka menggeletaklah Ie Hong di lantai tanpa bisa berkutik lagi.
Sementara itu Ong Bing yang berhasil lolos dari maut, kabur dengan cepat menuju jurusan barat, ia menaksir sedikitnya sudah lebih lima puluh li dari Tjiongkoan, baru kemudian ia berani berhenti.
Di suatu bukit ia lantas mengeluarkan api buat melepaskan asap pertanda dari golongan Pek-lian-kau, asap itu bergulung-gulung membubung tinggi ke angkasa hingga lama tidak buyar.
Lewat setengah hari, akhirnya ia melihat dari jauh mendatangi serombongan orang yang ia kenali di antaranya terdapat Pek Ting-djoan dan puterinya.
ada pula Hun-tiongtju, Go-mo Li, Liok-ni Tjindjin dan beberapa panglimanya, kecuali itu masih diiringi pula beberapa pemimpin golongan Liok-lim di daerah barat-laut.
Melihat kedatangan kawankawannya ini baru Ong Bing merasa agak lega, maka malam itu juga mereka lantas berunding, Go-mo Li ditugaskan mencari kabar dan akhirnya diperoleh berita bahwa Ie Hong sudah tertawan.
Hal ini mendorong Ong Bing secepatnya harus menuju ke Khong-tong-san untuk bertemu dengan para Tjindjin di atas gunung itu.
Dalam pada itu di pihak Nilan Yong-yo, sesudah mereka berhasil menawan Ie Hong, mereka pun tidak mengejar lebih jauh.
Malam itu juga segera mereka berangkat dengan menyamar sebagai saudagar.
Mereka memilih jalan kecil terus mendahului ke Khong-tong-san, dengan demikian menghindari bentrokan dengan rombongan Ong Bing di tengah jalan.
Setengah bulan kemudian, rombongan Pek-lian-kautju Ong Bing sudah tiba di daerah propinsi Kamsiok.
Hun-tiong-tju berangkat mendahului untuk kembali ke tempat tinggalnya dan melaporkan kepada Liok-tong Tjindjin atau enam Tjindjin dari enam goa.
Keenam Tjindjin ini masing-masing bernama .
Dji-he-tju, Kui-ie-tju, Ling-kok-tju, Djiak-siong-tju, Ko-hui-tju dan Djing-si-tju itu, masih ada pula Leng-khong-tju dari goa ketujuh yang sudah lama menghilang oleh sebab itu hanya tinggal enam Tjindjin yang tinggal di gunung.
Dji-he-tju, Tjiangkau dari Khong-tong-pay, waktu mendapat laporan, segera ia mengirimkan anak muridnya, Hian-hong, Hian-thian dan Hian-ang bertiga untuk ikut Hun-tiong-tju turun gunung buat menyambut kedatangan Ong Bing.
Melihat sambutan orang yang meriah dan penuh kehormatan, Ong Bing merasa gembira sekali.
"Sudah lama aku meninggalkan gunung, hari ini bisa kembali, hatiku sungguh girang sekali,"
Diam-diam ia berkata pada Pek Tingdjoan.
"Harap Tjiangkau berlaku hati-hati dalam segala percakapan,"
Pesan Kunsu ini.
Sementara itu dari kejauhan suara genta terdengar berbunyi nyaring, sepanjang jalan yang menuju ke atas gunung telah di pajang dengan meriah sekali, di depan istana kaum Khong-tong-pay menanti enam Tjindjin yang berbaris sejajar.
Setelah Ong Bing disambut masuk ke dalam istana pemujaan Khong-tong-pay, di tengah ruangan sudah lama dipersiapkan perjamuan yang sangat mewah.
Ong Bing dipersilakan duduk pada tempat tamu yang terhormat didampingi semua pengiringnya, sedang di baris lain tuan rumah beserta pengikut-pengikutnya mengawani juga.
Setelah beberapa kali cawan arak menjadi kering, Dji-he-tju berkata pada To-tong atau imam cilik di belakangnya.
"Berhubung kedatangan Tjiangkau hari ini, sampaikan perintahku agar menarikan 'Thian-mo-bu'!"
Kemudian perintah itu diteruskan, tak lama kemudian lantas terdengar suara musik berbunyi dari belakang istana, menyusul duabelas gadis cantik molek laksana dewi kayangan dengan mengenakan pakaian yang menggiurkan menari-nari di depan meja perjamuan, karena pakaian penari-penari yang menggairahkan itu, keruan saja begundal Ong Bing semua terombang-ambing di antara irama musik dan tarian yang menimbulkan selera itu.
Sebagai satu-satunya tamu wanita, muka Ang-koh menjadi jengah melihat tingkah laku penari-penari yang menggairahkan itu, maka dengan alasan badannya kurang sehat lantas ia meninggalkan meja perjamuan itu dan menuju ke belakang istana.
Tetapi segera ia disusul oleh seorang imam wanita yang lantas memberitahukan.
"Sian-koh, Tjindjin menyilakan Sian-koh mengaso di kamar belakang."
Ang-koh lantas diantar ke suatu kamar yang terpajang dengan mewah sekali.
Waktu imam wanita itu sudah berlalu, Ang-koh lantas merebahkan diri ke pembaringan.
Selang tak lama, ia mendengar ada suara ketukan pintu.
"Sian-koh, Siauto mengantarkan teh untuk Sian-koh,"
Terdengar suara di luar.
"Masuk!"
Sahut Ang-koh.
Habis itu pintu kamar didorong, seorang imam muda dengan membawa nampan berwadah ceret teh masuk dan ditaruh di atas meja.
Ang-koh menuang dan minum teh yang dibawakan itu untuk menghilangkan dahaganya, dalam pada itu mendadak imam itu menggabrukkan pintu kamar dan terus ditutup.
Keruan saja Ang-koh terkejut, waktu ia menegasi, barulah ia tahu bahwa yang menyamar sebagai imam ini adalah Teng Hong-ko.
Dengan cepat segera ia meloncat bangun.
"Siapa yang minta kau kemari?"
Bentaknya. Namun sikap Hong-ko ternyata tenang-tenang saja.
"Engdji, maut sudah berada di pelupuk matamu masih kau tidak sadar, aku sengaja datang melihat kau,"
Sahut Hong-ko. Akan tetapi mana Ang-koh mau percaya.
"Bohong kau!"
Dampratnya kemudian.
"Ong Bing dan ayahmu terjebak, kau masih belum mendusin, lekas kau ikut aku pergi minta ampun pada Khimtjhe Taydjin, mungkin kau masih bisa luput dari hukuman mati,"
Kata Hong-ko dengan sungguh-sungguh.
Tak ia duga, karena perkataannya ini Ang-koh berbalik menjadi lupa daratan, mendadak ia mencabut pedangnya terus menusuk.
Hampir saja Hong-ko terkena tusukan itu apabila kurang cepat ia mengegos ke samping.
Waktu Angkoh mengirim serangan kedua, sementara itu Hong-ko sudah mundur sampai di belakang pintu, dengan tangan kosong terpaksa pemuda ini harus menghadapi senjata orang, pada saat lain ia pun menyeram-pangkan kakinya balas menyerang, tetapi di luar perhitungannya, ia membikin terguling meja api lilin, keruan saja api lantas menjilat-jilat hingga kemudian berkobar.
Dalam pada itu mendadak Pek Eng-dji atau Ang-koh tanpa sebab roboh tersungkur, kiranya arak yang diminumnya dalam perjamuan tadi sudah dicampur dengan obat tidur.
Waktu api sudah semakin besar hingga seluruh kamar sudah terjilat, tetapi api dan asap tak dapat menjilat tubuh Eng-dji, Hong-ko yang bisa berpikir cepat segera mengerti tentu dalam tubuh Eng-dji mem-bekal sebutir mutiara mestika.
Maka tanpa ayal lagi segera ia menyambar tubuh gadis itu terus menerjang keluar dari kamar yang sudah hampir terkurung api.
Sementara itu perjamuan juga sedang berlangsung dengan meriah tadi, suasana pesta menjadi lebih memuncak ketika kedua belas penari berulang-ulang menuang arak ke hadapan para tetamu dengan gaya mereka yang menggiurkan.
Menyusul mana Dji-he-tju menepuk tangan memberi tanda, lalu dari ruangan belakang muncul delapan jago silat dengan pedang terhunus, tubuh mereka semua gagah tegap dan terus berjajar ke tengah.
Nampak ini Ong Bing rada bingung dan sangsi, ia bertanya kepada Dji-he-tju apa artinya itu?
"Mereka hanya penari pedang biasa saja, pedang mereka semua buatan dari kayu, Pin-to sengaja memanggil mereka menari untuk Tjiangkau!"
Ujar Dji-he-tju.
Meski dalam hati Ong Bing masih ragu-ragu tetapi tak bisa ia menampik.
Kemudian ketika musik berganti lagi, maka kedelapan penari pedang itupun terjun ke kalangan, pedang mereka terayun dengan membawa angin santar dan cepat.
"Ini bukan penari pedang, harap Kautju waspada!"
Go-mo Li membisiki Ong Bing demi melihat cara permainan pedang penari-penari itu. Rupanya Ong Bing pun sudah dapat melihat bahwa penaripenari itu bukan sembarang penari.
"Kamu ikut aku menerjang!"
Serunya tiba-tiba, sesudah itu lantas ia hendak meninggalkan tempatnya. Namun sudah terlambat, dalam sekejap saja kedelapan penari pedang itu ternyata sudah melompat maju ke depan mereka.
"Jangan bergerak!"
Bentak mereka sambil ujung senjatanya diarahkan ke dada orang.
Waktu Go-mo Li mencoba memukul, namun ia merasakan seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga.
Ong Bing pun berusaha meloloskan diri dengan kepandaiannya, tetapi segera ia juga merasakan kepalanya pusing tujuh keliling, ia insyaf dirinya telah terjebak, keruan saja dalam sekejap bersama pengiringnya yang lain ia roboh tak sadarkan diri lagi.
Kiranya arak yang mereka minum tadi sudah banyak dicampur dengan obat tidur.
Apabila kemudian kedelapan penari pedang itu mencopot rambut palsu mereka, ternyata mereka adalah Hu Kak Tayhiap, Boan-liong dan kawan-kawan.
Begitulah maka kawanan Pek-lian-kau itu satu persatu kena mereka ringkus dengan gampang.
Kemudian dari ruangan belakang datanglah Nilan Yong-yo, melihat Ong Bing sudah kena diringkus, tentu saja ia girang sekali, berulang-ulang ia menghaturkan terima kasih atas bantuan para Tjintjin dari Khong-tong-pay itu.
Pada saat yang lain Hong-ko melaporkan pula dengan hasil tawanannya Pek Eng-dji alias Ang-koh, namun Hong-ko mencoba memohonkan pengampunan bagi Eng-dji.
Tetapi kata Nilan Yong-yo.
"Ang-koh sudah tersesat, dapatkah ia diampuni kematiannya, biarlah kelak aku menyampaikan permohonanmu ini kepada Hongsiang untuk diputuskan selanjutnya."
Hong-ko tak berani usil lagi, ia mengeluarkan sebutir mutiara mestika 'Ting-hong-tju', mutiara anti angin yang ia peroleh dari Ang-koh terus dipersembahkan.
Setelah menerima dengan baik mestika itu, Nilan Yong-yo memerintahkan semua tawanan itu diborgol dan dimasukkan ke dalam kereta tawanan untuk digiring ke kotaraja.
Kiranya sesudah Nilan Yong-yo membaca surat dari Bu-tun Todjin dalam kantong rahasia yang disampaikan oleh Hongko, ternyata imam berilmu itu telah menasehati imam-imam dari Khong-tong-pay agar jangan ikut mengacau bersama dengan kawanan Pek-lian-kau.
Ia menyayangkan apabila Khong-tong-pay akan ikut termusnahkan.
Karena nasehat ini, keenam Tjindjin dari Khong-tong-pay telah berunding yang disusul dengan kedatangan Toh-hiap, pendekar bongkok juga telah meminta agar suka bekerja sama dengan Nilan-kongtju menurut rencana yang telah diatur, karena itu terjebak dan tertawanlah Ong Bing beserta pengiring-pengiringnya.
Waktu itu sarang Pek-lian-kau di Kangsay pun sedang mengalami penggempuran hebat dari pasukan pemerintah, karena ular tanpa kepala, sudah tentu sisa-sisa kawanan agama liar itu kena dihancurkan.
Kemudian Nilan Yong-yo dapat mengetahui tempat dimana Tjhi Djin-ho berdua dikeram, maka tidak selang berapa lama kedua orang ini pun dapat tertolong.
Dengan pahala inilah kemudian Nilan Yong-yo pulang ke kotaraja untuk melaporkan tugasnya.
Di pihak lain, Hong-ko yang sudah mengenangkan Bun Suile, dengan cepat segera ia kembali ke Tjiongkoan terus menuju ke hutan dimana kekasihnya itu pernah tinggal.
Tetapi ia tidak berhasil menemukan dia, ia tidak putus asa, pada malamnya ia lihat di dalam hutan itu seperti menembus sinar api yang kelap-kelip, ia mencari ke sana menuju ke arah sinar api itu dan akhirnya ia mendapatkan di tepi sebuah sungai kecil ada sebuah gubuk.
Ia berseru memanggil beberapa kali dari luar, sayup-sayup terdengar ada suara sahutan pelahan dari dalam rumah gubuk itu yang tidak salah lagi adalah suara Bun Sui-le.
Bukan main rasa girang Hong-ko, namun pintu rumah ternyata lama sekali masih belum dibuka.
"Adikku, tak mungkin aku menemui kau, terkecuali bila kau miliki ilmu merubah wajahku,"
Terdengar Bun Sui-le berkata dari dalam.
Habis berkata terdengar ia menangis sedih sekali.
Tetapi Hong-ko memohon dengan sangat agar dibukakan pintu, namun Bun Sui-le tetap tidak menuruti keinginan itu.
Hong-ko tidak putus asa, sampai jauh malam ia masih berusaha memohon di luar pintu, sampai akhirnya Bun Sui-le menjadi tidak tega sendiri, ia membuka kunci pintu, tetapi begitu pintu terpentang ia pun lantas jatuh pingsan.
Setelah masuk ke dalam, Hong-ko segera merangkul bangun kekasihnya itu, tetapi demi ia menegasi di bawah sinar pelita, terkejutlah dia.
Ternyata orang yang berada dalam pelukannya ini parasnya lebih mirip setan genderuwo daripada manusia.
Ia coba menenangkan semangatnya dan tetap memeluknya tak terlepaskan.
Waktu kemudian Bun Sui-le sadar tembali, ia meronta agar terlepas dari pelukan Hong-ko.
"Rupanya jodoh kita hanya sampai di sini saja, hari ini aku bisa melihat kau lagi, aku sudah merasa puas, selanjutnya harap adik tak usah memikirkan diriku lagi,"
Katanya dengan penuh kesedihan. Hancur lebur rasa hati Hong-ko seperti diiris.
"Aku mencintai jiwamu dan bukan ragamu, meski parasmu dibikin sedemikian rupa oleh musuh siluman itu pun tidak membikin goyah rasa cintaku padamu,"
Kata Hong-ko pasti.
"Marilah kita pergi ke tempat jauh, jauh dari keramaian untuk menyambung sisa hidup kita."
Karena terharu oleh kesungguhan hati pemuda ini, terpaksa Bun Sui-le membiarkan dia bermalam, ternyata Hong-ko masih tetap seperti dulu kala, sekali-kali tidak berubah karena parasnya yang sudah berubah begitu jelek, hal ini membikin Bun Sui-le lebih terharu lagi.
Tetapi setelah ia berpikir semalam suntuk, akhirnya ia mengambil keputusan buat berpisah juga.
Begitulah maka pada esok paginya ketika Hong-ko bangun, pemuda ini sudah tidak melihat lagi bayangan Bun Sui-le, hanya di bawah bantalnya ditinggalkan secarik surat yang menyatakan bahwa kecuali kalau paras mukanya sudah pulih seperti semula baru ada harapan untuk mengikat diri sampai hari tua.
kalau sebaliknya maka susah untuk bersua pula selanjutnya.
Pedih sekali rasa hati Hong-ko waktu mengetahui dirinya sudah ditinggalkan, ia mencari lagi hingga setengah bulan, tetapi percuma saja.
Kemudian Boan-liong Kiamkhek menganjurkan padanya buat berangkat ke kotaraja untuk melihat perkara Ong Bing cara bagaimana diputuskan.
Begitulah maka tidak selang lama Hong-ko sampai di kotaraja, sementara itu perkara Pek-lian-kau ternyata sudah diperiksa selesai bahkan sudah diumumkan hasil pemeriksaannya itu.
Maklumat itu berbunyi.
Baca Juga: Pedang Tanpa Perasaan 9
Baca Juga: Antara Budi Dan Cinta 3