Eps 1 Pedang Bunga Mei - Gu Long
Baca online Pedang Bunga Mei - Gu Long
Cersil Pedang Bunga Mei - Gu Long.
PEDANG BUNGA MEI (Jian Du Mei Xiang) Oleh . Gu Long Terjemahan . Liang Y. L Editor . Adhi H3
Jilid ke satu BAB Bertarung di padang salju Mei-hua mekar lebih awal dari musimnya.
Udara terasa begitu dingin tapi bunga-bunga itu masih mekar dengan indahnya, dengan pohon cemara dan pohon bambu, mereka disebut sebagai 3 kawan baik.
Di luar kota Kun Ming, di Gunung Wu Hua, Mei-hua mekar di atas permukaan salju yang tebal, walaupun lapisan salju sangat tebal tapi Mei-hua tetap mengeluarkan harum yang terasa begitu segar, membuat hati setiap orang ikut merasa segar.
Di belakang gunung, di atas tumpukan salju putih, banyak pohon Mei yang sudah tua.
Umurnya sudah ratusan tahun, ranting-rantingnya keras seperti potongan besi.
Bunga bermekaran begitu banyak, alam terlihat begitu indah, benar-benar seperti pemandangan di surga.
Sore telah tiba, udara terasa dingin dan hari hampir gelap, Mei-hua terlihat lebih menarik lagi.
Di tempat di mana Mei-hua mekar begitu banyak, terdengar ada seseorang yang menarik nafas panjang, lalu4 pelan-pelan terlihat ada seorang pelajar mengenakan topi kotak berjalan keluar.
Dari manakah datangnya pelajar ini?
Dengan santai dia mengelilingi taman bunga Mei ini, menikmati Mei-hua yang sedang bermekaran, tapi di atas permukaan salju yang tebal tidak terlihat jejak kakinya.
Dia berdiri di sebuah pohon Mei yang sudah tua, dengan teliti melihat Mei-hua yang ada di atas pohon itu.
Baju yang melekat di tubuhnya mengikuti tiupan angin terus bergerak-gerak.
Di saat sekarang dan di tempat seperti ini melihatnya, benar-benar seperti melihat dewa langit.
Hari begitu sunyi, suara serangga pun tidak terdengar, karena udara sekarang terasa begitu dingin tampak sosoknya.
Dia memungut sepotong ranting kering, lalu menggoreskan ranting itu di atas salju, hanya beberapa goresan, tapi dia telah menghasilkan sebuah lukisan bunga Mei yang indah.
Dan dengan sombong dia berdiri di atas salju, dia melukis dengan sempurna.
Dari kejauhan terdengar ada suara orang tapi suara itu sangat kecil dan masih berada di tempat jauh.
Wajah pelajar itu tampak berubah, disudut mulutnya menjadi5 terangkat dia tertawa dingin, ketika tangannya sedikit diangkat, dan ranting pohon kering itu sudah melayang dan menancap di permukaan batu gunung itu.
Dia melihat ada beberapa sosok orang di kejauhan, hanya dalam waktu singkat mereka sudah berada di depannya.
Kecepatan mereka tidak terbayangkan, tapi orang itu hanya tertawa menghina, ekspresi wajahnya terlihat lebih dingin lagi.
Beberapa sosok itu tampak berputar sebentar, lalu mereka berjalan menuju tempat di mana dia berdiri.
Terdengar dia berkata pada dirinya sendiri.
"Mengapa hanya ada 4 orang? Apakah kali ini keinginanku tidak terlaksana lagi?"
Keempat orang tadi, begitu tiba di depannya pada jarak 5-6 meter langsung berhenti.
Kemudian salah satu dari mereka yang wajahnya tampak merah dan bertubuh tinggi, penampilannya seperti seorang pendeta, sambil tertawa dia berkata.
"Shen-jun benar-benar datang tepat pada waktunya, malah kami yang terlambat datang."
Suara tawanya terdengar menggema di lembah itu.
Gema itu terus terdengar sambung-menyambung.
Dengan dingin Shen-6 jun melihat mereka berempat, kemudian sorot matanya berhenti pada seorang pak tua yang perawakannya kurus dan kering.
Pak tua itu mengenakan mantel yang terbuat dari sutra, di punggungnya terselip pedang.
Pedang itu sangat panjang.
Tubuhnya yang kurus dan kering menggendong pedang.
Pedang itu sangat panjang dan hampir mengenai tanah.
Semua itu terlihat lucu walaupun tubuhnya kurus dan kering, tapi dahinya tampak lebar, sorot matanya seperti burung elang yang siap memangsa buruannya.
Membuat siapa pun yang melihatnya menjadi takut.
Wajah mereka seperti sedang tertawa tapi tawa mereka adalah tawa terpaksa, walaupun tertawa tapi mereka tetap terlihat takut dan juga terkejut.
Ekspresi ini merupakan kebiasaan manusia saat menghadapi ketegangan.
Apalagi salah satu dari mereka yaitu seorang pemuda tampan, bisa dikatakan sekarang ini dia tampak gemetar.
Wajahnya yang tampan tidak terlihat bercahaya, malah tertutup dengan aura kematian.
Semua ekspresi mereka tidak bisa lolos dari pandangan pelajar itu.
Matanya7 dengan cepat berkedip, dia tertawa.
"Baiklah, baiklah, dari lima orang ketua lima perkumpulan, hari ini telah datang 3 orang, benar-benar membuat aku, Mei Shan-ming merasa gembira, tapi...."
Wajahnya tampak berubah, sorot matanya mengeluarkan aura membunuh yang menakutkan, dengan dingin dia berkata lagi.
"Orang Kun-lun-pai, Ling Kong Bu Xu dan Ketua Dian Cang Bai, Zui Feng Jian, Xie Xing, mengapa mereka tidak datang? Apakah mereka berniat meremehkan Mei Shan-ming?"
Pendeta yang wajahnya merah itu adalah ketua dari 5 perkumpulan, dia adalah Ketua Wu Dang, Biksu Chi-yang, mendengar kata-kata pelajar itu, dia tertawa.
"Mereka tidak berani mengabaikan perintah Anda untuk tidak hadir, hanya saja...."
Pak tua kurus kering itu langsung menyambung.
"Ada seseorang yang kemampuannya 10 kali lipat lebih hebat darimu."
Kedua mata Mei Shan-ming terbuka lebar, dengan cepat dia melihat pak tua itu dan bertanya.
"Siapa orang itu? Aku ingin mengenalnya."
Wajah pak tua itu tampak tersenyum,8 tapi dia berusaha menghilangkannya.
"Kalau kau bisa bertemu dengan orang itu, aku yang bernama Li-e, adalah orang pertama yang akan ikut merasa senang."
"Apa maksudmu?"
Tanya Mei Shan-ming. Biksu Chi-yang cepat berkata.
"Shen-jun, Anda jangan marah dulu, Zui Feng Pendekar Xie dan Ling Kong Bu Xu, Pendekar Zao sudah meninggal beberapa bulan lalu karena itu mereka tidak bisa memenuhi janji 3 tahun lalu, tapi...."
Dia menunjuk pemuda tampan itu dan berkata lagi.
"Dia adalah Ketua Dian Cang-pai generasi tujuh, penerus Zui Feng Jian, Pendekar Xie, dia bernama Luo Ying-jian Xie Chang-ji. Hari ini dia datang mewakili ayahnya untuk menepati janji denganmu."
Mei Shan-ming masih memandang Li-e dengan pandangan tajam, kemudian beralih kepada Xie Chang-ji.
"Adik Xie sangat tampan dan tampak luar biasa, orang yang telah meninggal ternyata mempunyai keturunan begini gagah, benar-benar membuatku merasa kagum. Karena hal ini menyangkut generasi kami, biarlah semua ini kami yang membereskannya, aku berharap Adik Xie jangan ikut campur dalam masalah9 ini."
Hati Xie Chang-ji dalam sekejap seperti ada gelombang laut yang menerpanya, tentu kata-kata Mei Shan-ming telah mengenai isi hatinya yang paling dalam.
Tapi dia dilahirkan di kalangan keluarga pesilat, dan sekarang dia menjabat sebagai ketua salah satu perkumpulan, banyak hal yang memaksanya untuk melakukan sesuatu demi nama baik perkumpulan Dian Cang-pai, dan juga demi kedudukannya di dunia persilatan.
Dia menekan perasaannya supaya tidak tampak di wajahnya.
Kedua matanya memandang ke tempat jauh kemudian berkata.
"Perkataan Tuan memang masuk akal, tapi sebagai seorang laki-laki harus dipegang teguh janji, ayahku dan Shen-jun sudah berjanji, aku anggap janji ini adalah pesan terakhir ayah sebelum meninggal, maka aku datang menepati janji dengan Shen-jun, tentang menang atau kalah, mati atau hidup, aku tidak berhak menentukannya."
Mei Shan-ming tersenyum dan mengangguk, dalam hati dia kagum pada keberanian pemuda ini.10
"Sifat setiap orang memang tidak sama, kita tidak boleh memaksanya, kalau sifat Adik Xie seperti ini, aku benar-benar kagum padamu."
Perkataannya baru selesai, dia kembali pada sosoknya yang dingin dan kejam, dia membalikkan wajahnya dan berkata pada Pendeta Chi-yang.
"Tiga tahun lalu, kelima perkumpulan kalian telah mengundang semua pendekar dunia persilatan pergi ke Tai Shan untuk memperebutkan gelar 'Tian Xia-di Yi Jian-shu' (Jago pedang nomor satu)."
Dia tertawa sambil memandang ke atas, tawanya yang panjang membuat bunga Mei jatuh berguguran dari pohonnya.
"Aku, Qi-mao Shen-jun (Tuan tujuh keanehan), tidak akan berbuat seperti kalian, yang gila nama dan berniat merebut gelar itu, kalau kalian suka kalian bisa mendapatkan gelar Tian Xia-di Yi Jian-shu, hal ini tidak menjadi masalah untukku, tapi aku sama sekali tidak menduga, yang menamakan dirinya sebagai ketua perkumpulan lurus malah bergabung dan membuat masalah menjijikkan, 5 pedang bergabung sehari sebelum bertarung, kalian telah melukai teman baikku, Dan Jian Duan11 Hun, Wu Zhao Yu di sebuah air terjun...."
Bahu Li-e tampak sedikit bergetar, tapi dia segera berlari ke hadapan Mei Han-ming dan memotong kata-katanya.
"Tidak perlu membicarakan terus masalah ini, hal itu semua bisa terjadi karena keinginan Wu Zhao-yun sendiri, jangan salahkan siapa pun. Hari ini kami telah datang dari jauh untuk melihat beberapa macam permainan dari Qi-mao Shen-jun, apa syaratmu, harap katakan saja sekarang, kami akan melayani keinginanmu satu per satu."
"Aku takut, sebelum sampai pada tahap ke 7 macam keahlianku, kalian sudah tidak sanggup,"
Sahut Mei Shan-ming. Walaupun Mei Shan-ming menyindir dan marah-marah, tapi Pendeta Chi-yang tetap tampak tenang dan tertawa.
"Tentu saja, ilmu pedang, ilmu meringankan tubuh, pukulan tangan kosong, puisi, sastra, melukis, perempuan, keanehan Qi-mao Shen-jun, memang tidak bisa kami tandingi, kami tidak seperti Shen-jun dalam bidang sastra ataupun ilmu silat sama-sama begitu tinggi dan hebat."
Li-e yang berdiri di sisi Mei Shan-ming menambahkan.
"Apalagi yang terakhir,12 keanehan Shen-jun, kami benar-benar tidak sanggup menandingimu."
Pendeta Chi-yang tertawa.
"Kata-kata Pendekar Li benar, Shen-jun seorang mata keranjang, tapi kami hanya pak tua yang sudah uzur, kami mengaku kalah, hari ini aku dan Kong-dong-pai, Pendekar Li, E Mei, Ku An Shang-ren, dan Dian Cang-pai, Luo Ying-jian, Xie Chang-ji, datang menepati janji, kami hanya ingin melihat ilmu pedang dan ilmu tangan kosong Shen-jun, kalau kami beruntung kami bisa menang satu kali, setelah itu kami baru ingin melihat ilmu meringankan tubuh Shen-jun, tentang puisi, melukis, dan perempuan, kami memang tidak bisa mengalahkanmu."
Mei Shan-ming tertawa dingin.
"Itu lebih baik, pertama aku ingin melihat ilmu pedang yang diakui oleh orang yang mengaku dirinya sebagai Tian Xia-di Yi Jian-shu sebenarnya sampai di mana? Dan aku ingin tahu mengapa dia begitu sombong?"
Sudut mulutnya terangkat, terasa ada aura membunuh, dia melanjutkan lagi.
"Kalau kalian mempunyai ilmu silat yang bagus, keluarkan saja semuanya, aku tidak akan membuat kalian kecewa, yang13 terpenting orang yang telah masuk ke lembah ini, kalau hari ini tidak bisa mengalahkanku, jangan harap bisa keluar dari lembah ini hidup-hidup. Dan kalau aku kalah di tangan kalian, aku juga tidak akan berpikir untuk terus hidup dan meninggalkan lembah ini. Kata-kataku sudah sangat jelas, kalian tidak perlu memikirkan aturan dunia persilatan, bagaimana kalian menghadapi Wu Zhao-yun, sekarang silahkan gunakan cara itu menghadapiku sekarang!"
Hari sudah gelap, di langit tidak ada bulan maupun bintang, tapi karena salju bertumpuk di bawahnya maka tidak terlihat kalau langit begitu gelap.
Ditambah lagi tenaga dalam mereka sangat tinggi.
Dalam kegelapan melihat benda apa pun, walaupun bukan pagi hari tapi mereka masih sangat jelas melihat semuanya.
Sorot mata Mei Shan-ming seperti listrik dengan cepat melihat ke arah mereka.
Wajah mereka memang tidak terlihat santai tapi mereka seperti sudah menyusun rencana menghadapinya.
Hatinya sedikit bergerak kemudian dia berpikir.
"Apakah mereka mempunyai rencana licik dan aku tidak bisa memecahkan14 rencana mereka? Tapi walaupun kelima orang itu bergabung, belum tentu mereka bisa melukaiku."
Li-e dengan dingin berkata.
"Tuan benar-benar sangat cepat dan perkataan pun sangat ringkas, aku suka dengan orang seperti itu, sekarang jangan banyak bicara lagi, kita bereskan semuanya, lebih cepat lebih baik!"
Pedang panjangnya dikeluarkan, pedangnya benar-benar sebuah pedang bagus.
Sarung pedang sudah didorong seperti ada seseorang yang mengangkat dari sisinya, dan sarung itu terjatuh di atas sebuah batu.
Melihat Li-e mengeluarkan gerakan seperti itu, Mei Shan-ming berpikir.
"Mereka benar-benar mempunyai ilmu yang tinggi, hari ini benar-benar hari penentuan hidup dan matiku, mereka berempat kecuali Luo Ying-jian, Xie Chang-ji, adalah orang yang telah lama terkenal di dunia persilatan. Walaupun aku sendiri adalah pesilat terkenal, tapi kalau bertarung dengan 5 ketua perkumpulan sekaligus, ini pertama kalinya kulakukan."
Ku An Shang-ren yang sejak tadi diam, sudah melambaikan lengan bajunya dan15 berkata.
"Perkataan Shen-jun memang benar, hari ini orang-orang yang datang ke sini telah memasrahkan hidup dan matinya, aku bukan hanya sekedar omong kosong, aku beserta ketiga orang datang ke sini walaupun bukan orang terkenal di dunia persilatan, tapi juga bukan seperti orang kasar yang sembarangan membacok orang. Bagaimana kalau dengan caraku?"
Kedua alis Qi-mao Shen-jun tampak terangkat dan berkata.
"Jika Guru mempunyai cara, Katakanlah!"
Ku An Shang-ren berkata.
"Pertama, kita bertanding ilmu pedang tapi tidak perlu bertarung."
Dia menunjuk tanah yang dipenuhi dengan es dan berkata lagi.
"Kita menggores lingkaran di atas permukaan tanah yang dipenuhi es ini, aku, Pendeta Chi-yang, Li-e, dan Xie Chang-ji, masing-masing berdiri di satu tempat. Bila Shen-jun bisa lolos dari barisan pedang kami, berarti kami kalah."
Mei Shan-ming hanya berpikir sebentar dia langsung mengangguk setuju.
"Kalau begitu, silakan Shen-jun menggores sebuah lingkaran terlebih dulu."
Mei Shan-ming memotong tangkai pohon16 Mei yang masih dipenuhi dengan kelopak Mei-hua.
Dengan tenaga dalam, dia membuat Mei-hua itu berguguran dan masuk ke dalam lengan bajunya, sambil tertawa dia berkata.
"Tidak disangka hari ini aku telah menjadi perusak Mei-hua."
Kemudian lengan bajunya melambai.
Puluhan Mei-hua beterbangan keluar dari lengan bajunya dan berjatuhan ke permukaan tanah yang dipenuhi salju.
Bunga Mei dengan rapi membentuk lingkaran.
Mei-hua berwarna merah, tanah berwarna putih menjadi sebuah lukisan indah.
Ku An Shang-ren mengangguk dan memuji.
Dia mengangguk bukan karena kagum karena cara Shen-jun yang begitu hebat, tapi karena dia melihat goresan Shen-jun yang membentuk sebuah lingkaran kecil.
Semakin kecil lingkaran, maka siapa pun yang berada di dalam lingkaran itu akan semakin sulit keluar dari sana.
Mereka telah merencanakan semuanya dengan matang untuk pertemuan hari ini.
Sepertinya mereka tidak peduli dengan pertarungan pertama ini, tapi mereka peduli kepada hidup dan mati mereka.
Shen-jun sepertinya tidak peduli.
Mereka merasa aneh17 melihat sikapnya.
Mereka takut kalau Shen-jun pun mempunyai sebuah rencana kepada mereka.
Shen-jun belum bergerak, tapi dia sudah berada di dalam lingkaran.
Dia segera berteriak.
"Silakan ambil posisi masing-masing, agar aku bisa melihat ilmu pedang yang sudah sangat terkenal di dunia persilatan."
Jian Shun Li-e yang pertama mengambil posisi.
Dia berdiri di bagian selatan kemudian 3 orang lainnya pun segera mengambil posisi dan mencabut pedang masing-masing.
Pendeta Chi-yang mengacungkan pedangnya dan berteriak.
"Pertarungan pertama adalah adu pedang. Shen-jun, cepat keluarkan pedangmu!"
Qi-mao Shen-jun masih memegang ranting Mei-hua.
"Sudah 10 tahun aku tidak pernah menggunakan pedang untuk bertarung. Tapi karena hari ini semua yang hadir adalah pesilat tangguh, aku harus melanggar aturan yang kubuat sendiri. Baiklah, aku akan menerima jurus kalian dengan ranting ini. Mari kita mulai!"
Wajah keempat orang itu berubah. Qi-18 mao Shen-jun tertawa.
"Jangan remehkan ranting kayuku! Di tanganku, ranting pun bisa menjadi senjata tajam!"
Sifat Pendeta Chi-yang yang biasanya sabar, sekarang mulai tidak bisa mengendalikan diri. Dia berteriak.
"Jika Shen-jun sudah siap, kita mulai bertarung!"
Empat pedang yang diam sejak tadi, sekarang berubah menjadi seperti seekor ular, bergerak sangat lincah dan cahaya pedang yang terpantul saling beradu.
Anehnya, mereka tidak menyerang Mei Shan-ming, hanya membentuk cahaya seperti layar di sekeliilng tubuh Mei Shan-ming.
Mei Shan-ming mulai merasa kalau sekarang dia seperti berada di dalam sebuah gelas, di sekelilingnya terasa sangat terang dan berkilau.
Barisan pedang mereka sangat aneh, bukan jurus dari Wu Dang, E Mei, Kong-dong, Dian Cang ataupun perkumpulan lainnya.
Jurus pedang mereka seperti air Chang Jiang yang datang dengan bergulung.
Tapi jika dia diam, tidak ada yang berhasil melukainya.
Yang perlu diketahui, jurus-jurus19 pedang yang ada sejak dulu hingga sekarang, jika bukan untuk melindungi diri sendiri pasti untuk melukai orang lain.
Jurus pedang mereka tidak hanya untuk melindungi diri sendiri tapi tidak untuk menyerang.
Mei Shan-ming benar-benar belum pernah melihat jurus seperti itu.
Jika tidak bergerak, kau tidak akan dapat keluar dari lingkaran itu.
Jika ingin keluar dari lingkaran itu, ada 4 cahaya pedang yang saling berkait dan sama sekali tidak bisa dipecahkan.
Jangankan orang, debu sekalipun sulit untuk masuk ke dalam lingkaran itu.
Qi-mao Shen-jun terdiam sebentar dalam kurungan cahaya itu.
Dia sedang memikirkan cara untuk memecahkan barisan mereka.
Dalam hati dia berpikir.
"Pantas mereka memberikan ide ini, ternyata mereka sudah berlatih dulu sebelumnya. Aku tidak terpikirkan masalah ini sebelumnya. Jika aku ingin lolos dari gabungan keempat pedang itu, bukan hal yang mudah, apalagi jika aku berniat keluar dari lingkaran ini...."
Dengan teliti dia melihat jurus keempat orang itu. Pedang mereka saling mengisi, tidak ada celah di antara pedang20 mereka. Qi-mao Shen-jun mulai merasa menyesal. Dia berpikir.
"Jika saja tadi aku membawa Pedang Mei Xiang, sekarang dengan jurus-jurus yang telah kulatih selama puluhan tahun, bisa digunakan untuk memecahkan barisan ini. Tapi sekarang aku hanya memegang sebuah tangkai, mana mungkin aku bisa keluar dari barisan keempat pesilat tangguh ini?"
Sewaktu dia sedang berpikir seperti itu, tiba-tiba ada dua cahaya pedang saling beradu dan mengeluarkan suara ringan.
Sejak tadi tidak tampak ada celah, sekarang karena dua pedang saling beradu, membuat pedang berhenti untuk sementara.
Hanya dalam waktu yang begitu singkat, sesingkat kilauan api dalam kegelapan, ranting yang dipegang Qi-mao Shen-jun langsung menusuk ke celah itu.
Kemudian dia mengangkat telapak kirinya.
Angin telapak memotong 2 kilauan pedang itu.
Barisan pedang ini dilatih oleh Ku An Shang-ren, Pendeta Chi-yang, Jian Shen Li-e, tapi mereka berlatih barisan pedang ini bukan untuk berhadapan dengan Qi-mao Shen-jun melainkan untuk membunuh burung langka di pegunungan, maka jurus itu hanya21 untuk berjaga bukan untuk menyerang.
Mereka hanya mengunci burung langka itu dalam barisan.
Tapi begitu Cui Feng Jian Xie Xing meninggal, formasi untuk menangkap burung pun jarang digunakan lagi.
Kemudian setelah mereka berjanji dengan Qi-mao Shen-jun, dan waktu 3 tahun pun semakin dekat, karena itu mereka mulai berlatih lagi barisan itu.
Qi-mao Shen-jun sangat terkenal akan kekejamannya dan sering bergurau.
Dia telah membunuh banyak orang, ilmu silatnya pun sangat tinggi.
Semenjak dia berkelana di dunia persilatan, belum ada seorang pun yang berhasil melewati 20 jurusnya.
Kali ini posisi Xie Xing digantikan putranya Xie Chang-ji, dia mulai berlatih tapi dia belum begitu lama berlatih barisan ini.
Dan ilmu silat Xie Chang-ji belum sekuat mereka.
Yang pasti karena hal ini barisan mereka tidak menjadi sempurna dibandingkan ketika mereka bergabung dengan Xie Xing.
hingga bisa muncul celah seperti tadi.
Qi-mao Shen-jun adalah seorang yang sangat lincah.
Orang biasa tidak akan bisa22 menandinginya.
Xie Chang-ji merasa pergelangannya berat seperti ada tenaga aneh yang membuat tubuhnya bergetar.
Gerakan pedangnya otomatis menjadi lambat dan tidak bisa mengimbangi tiga pedang lainnya.
Barisan mereka yang tadinya begitu sempurna hanya karena sedikit kesalahannya tadi maka terjadi celah, di antara gerakan pedang terlihat banyak celah.
Ranting Mei-hua di tangan Qi-mao Shen-jun berubah menjadi ratusan bayangan dan terus beterbangan.
Ranting Mei-hua masuk ke dalam celah barisan pedang dan membuat barisan menjadi kacau.
Jian Shen Li-e melihat situasi tidak menguntungkan, pedang panjangnya diangkat dan dia keluar dari formasi pedang.
Dengan jurus 'Chang Hong Jing Tian', pedangnya membawa kilauan hijau menusuk pundak dan punggung Qi-mao Shen-jun.
Dengan santai Mei Shan-ming menghindari serangan pedang itu dan ranting Mei-hua sudah menyapunya.
Dengan tenaga pergelangan, dia menekan pedang Xie Chang-ji.
Hanya menggunakan sedikit tenaga, Xie Chang-ji merasakan ada tenaga besar mengalir masuk ke pedangnya.
Dengan sekuat23 tenaga dia berusaha melawan tenaga itu.
Sebenarnya jika diceritakan, seperti panjang lebar tapi kenyataannya hanya dalam waktu singkat.
Li-e ikut mengangkat pedangnya.
Dengan 3 jurus Hei Hua, dia menyerang pundak, dada, dan tiga nadi pentingnya.
Ku An Shang-ren dan Pendeta Chi-yang melihat barisan mereka menjadi kacau, mereka tidak ragu lagi dan terus menusuk ke arah Mei Shan-ming.
Lingkaran yang telah digambar Qi-mao Shen-jun memang kecil.
Jurus pedang Ku An Shang-ren, Pendeta Chi-yang, dan Jian Shen Li-e, di dalam lingkaran begitu kecil, menusuk ke arah Qi-mao Shen-jun.
Mereka semua adalah pesilat tangguh, tampak cahaya hijau datang bertubi-tubi.
Semua ini adalah harapan Qi-mao Shen-jun, tiba-tiba ranting Mei-hua dilepas.
Luo Ying-jian yang sekuat tenaga menahan pedangnya, sekarang karena lawan melepaskan senjatanya, maka pedang seperti panah yang lepas dari busurnya terus meluncur ke arah Pendeta Chi-yang dan Ku An Shang-ren.
Jurus ini adalah jurus yang telah24 dikumpulkan selama hidupnya.
Pedang itu terbang ke arah cahaya pedang Ku An Shang-ren dan Pendeta Chi-yang, terpaksa mereka membelokkan jurus pedang mereka untuk menahan pedang yang meluncur.
Qi-mao Shen-jun bergeser sedikit ke kiri, dengan tenaga telapak yang kuat, dia menyerang Jian Shen Li-e.
Sambil tertawa panjang dia keluar dari barisan pedang.
Keempat orang itu segera menarik barisan pedangnya.
Ku An Shang-ren maju dengan langkah besar dan berkata.
"Shen-jun, kau bebar-benar lincah, pertarungan pertama kami telah kalah."
"Bagaimana dengan pertarungan kedua? Harap kalian bisa memberitahuku!"
Sahut Qi-mao Shen-jun.
"Pertarungan kedua, giliranku dan Shen-jun yang beradu tenaga telapak tangan,"
Kata Ku An Shang-ren.
Dia berjalan ke sisi lingkaran yang dibentuk dari taburan bunga yang dibentuk oleh Qi-mao Shen-jun.
Dia memungut sekuntum Mei-hua, pada saat melihat Mei-hua itu, dia terkejut dan memuji kehebatan ilmu silat Shen-jun.
Ternyata Mei-hua seperti terjatuh di25 atas permukaan salju dan tidak membutuhkan tenaga terlalu besar, ternyata setiap kuntum bunga seperti menancap ke dalam salju, semua bunga mengarah ke atas.
Cara seperti ini jarang terlihat di mana pun.
Dalam hati dia berpikir.
"Qi-mao Shen-jun benar-benar orang aneh di dunia persilatan ini, dia belum begitu tua, tapi tenaga dalamnya begitu kuat, kalau kami tidak menyusun rencana dari dulu, sepertinya kelima pemimpin perkumpulan ini akan terbunuh di Wu Hua Shan."
Tapi dari luar dia tetap berusaha tenang dan santai memegang Mei-hua itu, dia berkata pada Qi-mao Shen-jun.
"Tenaga dalam Shen-jun baru pertama kalinya kulihat, nanti pada saat kita beradu telapak tangan, walaupun sedikit berbeda tapi aku merasa bagi Shen-jun ini adalah masalah kecil."
Dengan jari telunjuk dan jari tengah dia memungut Mei-hua dan berkata.
"Hari ini aku beruntung bisa bertemu dengan orang terkuat di dunia persilatan dan di lembah Mei-hua yang indah ini bisa mencoba tenaga dalam Shen-jun, dan sekalian aku ingin menjadi seperti seorang terpelajar,26 dengan Mei-hua ini kita akan mencoba beradu tenaga telapak tangan."
Dia meletakkan Mei-hua di atas telapak tangannya, dengan berkonsentrasi penuh pelan-pelan dia mengeluarkan telapak kanannya.
Mei-hua itu seperti menempel di atas telapaknya dan bunga itu tidak terjatuh, kemudian dia berkata.
"Kalau Shen-jun bisa melakukan sama seperti yang kulakukan, menempelkan Mei-hua ini di atas telapak, kemudian kita adu telapak kita, biarkan dua kuntum Mei-hua itu berada di antara kedua telapak tangan kita. Kalau Mei-hua itu tidak hancur dan berhasil mengalahkan lawan, dia akan menjadi pemenangnya. Kalau kali ini aku yang kalah, kami berempat akan menyerah-kan diri kepada Shen-jun, apakah Shen-jun setuju?"
"Ku An Shang-ren adalah pesilat tangguh juga seorang terpelajar, cara yang dipikirkannya pasti berbeda dengan cara orang biasa, mana mungkin aku menolaknya?"
Dia memungut sekuntum Mei-hua dan meletakkan di atas telapak kanannya dan Mei-hua itu menempel di tengah telapaknya dan sepertinya tampak begitu alami, tidak27 terlihat berat. Shen-jun berkata.
"Aku berharap Luo Ying-jian mau menjadi saksi. Kalau dalam waktu 1 jam tidak ada yang kalah atau menang, aku dihitung kalah."
Setelah mendengar perkataan Qi-mao Shen-jun, Luo Ying-jian terlihat gembira, segera dia berdiri di sisi Pendeta Chi-yang dan Jian Shen Li-e yang sedang berdiri di belakang Ku An Shang-ren.
Qi-mao Shen-jun tidak melihat ke arahnya, dia maju dua langkah, Ku An Shang-ren maju satu langkah.
Mei-hua yang berada di tangan mereka sudah saling mendekat dan sedikit berdempet.
Begitu tangan mereka merapat, dalam hati Qi-mao Shen-jun merasa lega, dia tahu kalau kemenangan sudah berada di tangannya.
Tenaga yang keluar dari bunga Mei-hua walaupun aneh tapi tidak kuat.
Shen-jun berpikir.
"Ku An Shang-ren benar-benar cari mati. Tidak perlu setengah jam aku bisa membuatnya terluka karena tenaga telapakku, tidak kusangka orang yang mengaku paling kuat di dunia persilatan sekarang beradu tenaga telapak denganku, dan tenaga yang dikeluarkannya begitu28 lemah."
Pikiran seperti itu melintas dalam otaknya, dia merasa telapaknya tertekan dengan tenaga dari bunga Mei-hua, dan tenaganya bertambah satu kali lipat dibandingkan tadi.
Karena Qi-mao Shen-jun memandang remeh kepada musuhnya, maka sekarang telapak tangannya menjadi mati rasa, hampir saja dia kalah.
Segera dia mengumpulkan kembali tenaganya, dengan sepenuh hati dia mengumpulkan tenaga di telapak tangannya, dia merasa aneh, dia tidak tahu kalau semua itu karena akal licik mereka.
Ternyata lima ketua perkumpulan Zhong Yuan ini, yang terkuat ilmu silatnya adalah Jian Shen Li-e, ilmu pedang dan ilmu telapaknya paling tinggi, apalagi dia pun telah menguasai ilmu yang telah lama menghilang yaitu ilmu meminjam tenaga orang lain untuk memukul lawan.
Sekarang dia berdiri di antara Pendeta Chi-yang dan Ku An Shang-ren, telapak kirinya menyambut telapak kanan Pendeta Chi-yang, tangan kanannya menekan punggung Ku An Shang-ren, dengan ilmu itu menyatukan tenaganya dan tenaga Pendeta Chi-yang, kemudian dimasukkan ke dalam29 tubuh Ku An Shang-ren, dan melalui telapak Ku An Shang-ren tenaga itu keluar beradu dengan Qi-mao Shen-jun.
Itu sama artinya Qi-mao Shen-jun melawan 3 orang pesilat tangguh sekaligus.
Walaupun tenaga dalamnya sangat tinggi, tapi kalau dia merasa tenaga dalam yang menyerangnya begitu berat, pada saat beradu tenaga dalam, sedikit pun dia tidak boleh lengah, kalau tidak organ tubuh dalam akan rusak dan hancur.
Hanya membutuhkan waktu seperminuman teh, keempat orang yang beradu tenaga dalam, tampak berkeringat.
Dengan penuh konsentrasi mereka terus melihat ke arah telapak tangan masing-masing.
Anggota tubuhnya seperti bukan milik mereka lagi.
Sekarang kalau diibaratkan datang seseorang yang tidak bisa ilmu silat sama sekali dan menyerang mereka, orang itu pasti bisa mengalahkan mereka.
Salju yang berada di bawah kaki mereka yang tadinya beku sekarang tampak mencair, semua ini karena udara panas yang keluar dari tubuh keempat pesilat tangguh itu.
Salju yang meleleh menjadi air sedikit30 demi sedikit merembes masuk ke dalam sepatu Luo Ying-jian, Xie Chang-ji.
Tapi Xie Chang-ji tidak merasakannya sama sekali, dia hanya melihat telapak tangan yang sedang beradu, dalam hati dia terus berpikir.
"Apakah aku harus berbuat seperti itu? Apakah harus seperti itu?"
Dia melihat keadaan sudah mencapai tahap penentuan, satu lawan tiga, Qi-mao Shen-jun tetap berdiri dengan tegar dan kokoh seperti sebuah gunung, tapi tangan Ku An Shang-ren tampak sedikit bergetar, walaupun hanya sedikit.
Ku An Shang-ren memang sudah tua, walau tenaga dalamnya sangat kuat, tapi umur tetaplah umur, tenaga untuk melawan sudah tidak sekuat pada saat dia masih muda dulu.
Pendeta Chi-yang dan Jian Shen Li-e dengan tenaga dalam mereka yang mengalir melalui tubuh, dia merasa tubuhnya sudah tidak nyaman dan dia tidak bisa mengatakannya karena ini berlangsung secara alamiah, tidak bisa dilawan dengan tenaga manusia.
Luo Ying-jian, Xie Chang-ji melihat hal ini, dia berpikir.
"Terpaksa aku harus melakukan hal yang tidak ingin kulakukan,31 aku masih muda, aku tidak mau mati muda, apalagi di lembah ini tidak ada siapa pun, walaupun aku telah melakukan hal yang tidak pantas, siapa yang akan menyebarkan hal ini? Aku harus memikirkan kepentinganku sendiri."
Pelan-pelan dia menggeserkan kakinya, cahaya redup membuat wajahnya yang tampan terlihat sadis.
Dia berjalan ke sisi Qi-mao Shen-jun, melihat dahi Shen-jun yang lebar, wajahnya yang tirus, dan sepasang matanya yang berkilau.
Semua hal itu membuatnya menjadi Qi-mao Shen-jun yang begitu luwes dan kepintarannya yang luar biasa.
Dia tampak ragu sebentar, tapi dengan cepat kedua telapaknya menotok pundak kanan Qi-mao Shen-jun yang merupakan nadi vital dan bisa menimbulkan kematian.
Dengan menggunakan jurus Dian Cang-pai Qi Jue Shou Fa dia melakukan semua itu.
Qi-mao Shen-jun yang sedang berkonsentrasi penuh merasakan ada telapak tangan lawan, dia kehilangan keseimbangan dan dia merasa tubuhnya mati rasa, tangannya menjadi lemas dan tenaga yang kuat yang datang dari telapak lawan sampai di jantungnya.32 Perasaannya menjadi kacau, dalam situasi tidak menentu itu, dalam benaknya muncul ^ekelebat bayangan yang dikenalnya.
Semua adalah bayangan cantik dan muda, kemudian dia sudah tidak merasakan apa-apa lagi.
Bumi dan langit masih seperti semula, dan sekarang langit mulai terlihat terang, tapi rasa dingin semakin menggigit.
Di lembah itu, kembali sepi seperti tidak pernah terjadi apa pun di sana.
Pendeta Chi-yang, Ku An Shang-ren, Jian Shen Li-e, dan Luo Ying-jian, Xie Chang-ji pulang membawa kemenangan, tapi dalam hati mereka merasa tidak senang pada saat meninggalkan lembah itu.
Ooo)*(ooO Dari balik bebatuan muncul seorang pengemis muda berbaju compang camping, dengan cepat dia berlari ke sisi Qi-mao Shen-jun yang tergeletak di atas salju, dia meletakkan tangannya di depan hidung Qi-mao Shen-jun dan mencoba apakah masih ada nafas atau tidak.
Kemudian dia meraba dada Qi-mao Shen-jun, akhirnya dia berdiri dan menarik nafas.
Dia ingin membawa mayat Qi-mao Shen-33 jun pergi dari sana, tapi tiba-tiba dia menggelengkan kepala dan berkata.
"Biarlah dia terbaring di sini, biar salju yang menguburkannya supaya dia bisa tertidur panjang di lembah sepi ini. Dan dia akan ditemani begitu banyak Mei-hua. Tuhan sudah memberikan yang terbaik untuknya!"
Pelan-pelan pengemis muda itu melihat ke sekeliling, melihat ke arah sarung pedang milik Jian Shen Li-e yang tertinggal di atas sebuah batu besar.
Kemudian dia terbang ke batu besar itu dan mengambil sarung pedang, dan dia lari keluar dari lembah itu....
Ooo)*(ooO BAB Yatim Piatu Desa Xin, terletak di kaki gunung Wu Hua Shan di luar kota Kun Ming, merupakan sebuah pedesaan kecil, penduduk yang tinggal di desa itu kebanyakan bermarga Xin, maka desa itu pun disebut desa bermarga Xin.
Walaupun desa bermarga Xin itu kecil, tapi di daerah Yun Nan dan Gui Zhou merupakan sebuah desa terkenal.
Karena di desa Xin itu dalam beberapa34 tahun ini telah muncul dua orang terkenal, mereka adalah sepasang suami istri.
Sejak kecil mereka lahir dan tumbuh di desa itu, dan mereka juga mempunyai hubungan saudara sepupu dari garis keturunan sang ayah.
Laki-laki bermarga Xin itu bernama Peng-jiu, sedangkan yang perempuan bermarga Xin dan bernama Yi.
Karena mereka bersepupu maka sejak kecil mereka sering bermain bersama.
Setelah tumbuh besar mereka bertambah akrab dan saling tertarik, lalu mereka diam-diam berjanji sehidup semati.
Waktu itu peraturan di Tiongkok sangat ketat, siapa pun yang mempunyai hubungan saudara sepupu langsung dari pihak ayah tidak diperbolehkan untuk menikah.
Maka itu ayah dan ibu mereka menentang mereka menikah, begitu pula dengan penduduk desa itu.
Semua menganggap kalau itu akan melanggar adat istiadat Tiongkok.
Tapi perasaan mereka sangat kuat, karena pertentangan itu mereka tidak merasa tertekan ataupun berubah pikiran.
Musim semi tahun itu juga mereka berdua menghilang secara bersamaan dan tidak35 seorang pun tahu mereka pergi ke mana.
Setelah 10 tahun berlalu, peringatan penduduk desa pun mulai pudar, Xin Peng-jiu dan Xin Yi kembali ke desa bermarga Xin dan mereka membawa seorang anak laki-laki yang berusia sekitar 7-8 tahun, anak itu adalah buah cinta perkawinan mereka dan anak itu bernama Xin Jie.
Ibu dan ayah mereka telah meninggal, semenjak Xin Peng-jiu kembali ke kampung halaman, dia menjadi seorang yang boros.
Kepada yang kenal ataupun yang tidak kenal dengannya, dia selalu mempersiapkan hadiah besar.
Penduduk desa itu adalah orang-orang pelit, mereka jarang melihat barang bagus.
Karena itu penduduk desa itupun tidak benci lagi kepada mereka, mereka malah tampak sangat hormat kepada pasangan suami istri itu.
Di luar ataupun di dalam kota Kun Ming, penduduk di sana kebanyakan bermata pencaharian sebagai pengrajin ukiran atau membuat benda-benda yang terbuat dari tembaga.
Begitu pun dengan penduduk desa Xin.
Xin Peng-jiu dan Xin Yi adalah orang-orang yang ahli mengukir.
Kali ini setelah36 mereka pulang, gambar yang mereka ukir pun semakin bagus.
Seni mengukir ini selain harus menguasai teknik tinggi, juga harus menggunakan tenaga pada saat mengukir.
Dan dengan begitu benda yang diukir akan semakin bagus dan tampak hidup.
Semenjak suami istri itu kembali ke desanya, kadang-kadang mereka mengukir gajah kecil untuk diberikan kepada orang.
Penduduk desa Xin sangat menyukai ukiran mereka.
Sebagian orang malah menjual kembali hasil ukiran pasangan suami istri ini kepada orang lain.
Harga jual ukiran itu sangat tinggi, setelah berhasil menjual mereka meminta kembali ukiran lainnya kepada suami istri itu.
Suami istri itu tidak pernah menolak keinginan penduduk desa itu, mereka dengan ramah melayani keinginan para tetangga.
Karena itu dalam beberapa tahun ini, semua penduduk kota Kun Ming segera tahu kalau di desa Xin ada dua orang yang disebut sebagai pengukir sakti.
Banyak pedagang yang melihat adanya keuntungan besar bila menjual barang ukiran suami istri itu, maka mereka pun sengaja datang37 untuk membeli barang-barang ukiran itu.
Awalnya suami istri ini tidak peduli dengan tingkah laku mereka, begitu mendengar ada yang menyebut mereka sebagai pengukir sakti, mereka malah marah dan melarang orang-orang menyebut mereka sebagai pengukir sakti.
Dunia ini memang aneh, semakin kau tidak ingin dikenal orang, malah akan semakin dikenal.
Sedangkan semakin ingin kau terkenal, malah tidak akan dikenal.
Jadi diam-diam penduduk desa tetap memanggil mereka sebagai pengukir sakti.
Xin Peng-jiu telah kembali ke desanya selama 4 tahun lebih, selama beberapa tahun ini kecuali nama desa Xin yang semakin terkenal, desa itupun menjadi desa tenang.
Putra Xin Peng-jiu yang bernama Xin Jie sekarang telah berusia 12 tahun, dia seorang anak yang pintar dan juga lincah, tubuhnya lebih kuat dari anak-anak sebayanya.
Tadinya dahi suami istri Xin Peng-jiu sering berkerut, sekarang sudah terlihat ada tawa di wajah mereka.
Musim semi sudah tiba, tapi udara belum begitu hangat, orang-orang di sana seperti merasakan musim semi38 yang hangat telah tiba.
Pada hari Hua Zhao, suami istri Xin Peng-jiu telah memasang 3 meja di halaman.
Mereka berniat menjamu para sesepuh di desa itu.
Xin Yi yang tadinya tidak bisa masak, dalam waktu 4 tahun ini telah menjadi seorang tukang masak yang handal.
Arak dan sayur terus memenuhi meja, terus berdatangan sampai perut terasa kenyang dan mulai mabuk, mereka baru merasa puas dan meninggalkan tempat itu.
Hari ini suami istri Xin Peng-jiu tampak sangat ceria, setelah tamu-tamu pulang, mereka masih duduk di sebuah meja di halaman.
Xin Jie kecil pun dipanggil untuk bergabung dengan orang tuanya dan mengobrol di sana.
Terdengar penjaga malam memukul genderang, malam sudah larut.
Xin Peng-jiu mengangkat cangkir araknya, menarik nafas, dia berkata.
"Beberapa tahun ini aku benar-benar telah menyusahkanmu, akhirnya kita bisa melewati waktu 5 tahun ini dengan aman, asalkan kita bisa melewati hari ini, hidup kita akan lebih aman lagi."
Xin Yi tertawa.
"Kelak kalau tidak terjadi apa-apa, aku tidak akan berkelana lagi, aku lebih memilih menjadi rakyat39 kecil, hari-hari lalu telah kita lewati dengan memegang pedang dan golok, dan aku sudah merasa bosan."
Xin Peng-jiu tertawa.
"Jujur bicara, selama beberapa tahun ini, aku sudah gatal ingin bergerak, kalau saja siluman itu tidak begitu lihai, aku sudah tidak tahan, untung...."
Tiba-tiba Xin Yi merasa sedih berkata.
"Kalau kita berhasil melewati malam ini, dan mereka masih saja mengejar kita, apa yang akan kita lakukan?"
Xin Peng-jiu tertawa keras.
"Tidak akan terjadi apa-apa, walaupun Hai Tian Shuang-sha sangat kejam, tapi selama 20 tahun ini mereka selalu menepati janji. Dia telah berjanji kepada kita apabila kita berhasil melewati 5 tahun ini, dia tidak akan melukai kita lagi sedikit pun."
Tapi baru saja kata-katanya selesai, terdengar ada yang tertawa dingin, sebuah suara tajam terdengar dan berkata.
"Xin Lao-liu, kau benar-benar sobatku, dengan kata-kata ini aku, Jin Lao-da akan membuatmu mati tidak tersiksa."
Tawa ini bagi pasangan suami istri Xin Peng-jiu seperti mendengar dewa40 kematian mengetuk pintu rumah mereka, segera mereka berdiri.
Malam terasa dingin seperti air, di sekeliling sana tidak terlihat sesosok bayangan pun, dengan tenang Xin Peng-jiu berta-nya.
"Kalau kakak tertua dan kakak kedua sudah datang, silakan masuk."
Dari dalam kegelapan terdengar tawa menyeramkan lagi.
"Apakah kau benar-benar ingin aku sendiri yang membunuhmu? Sebentar lagi kalau kalian bertiga tidak bunuh diri, mungkin keadaan kalian mati akan lebih mengenaskan lagi!"
Wajah Xin Peng-jiu tampak pucat, dia berkata.
"Kami suami istri tahu kalau kami memang telah bersalah kepada kakak tertua dan kakak kedua, tapi aku mohon lepaskanlah anak ini!"
Dari dalam kegelapan ada yang menjawab dengan suara dingin.
"Baru saja aku mengatakan kalau kau adalah teman baikku, apakah kau tidak tahu bagaimana sifat saudara-saudaraku? Kami tidak akan membiarkan keturunanmu ada yang tersisa!!"
Setelah mendengar kata-kata itu Xin Yi mulai marah dan berkata.
"Hei dua orang41 tua cacat, kalian jangan terlalu kejam, apakah karena kami menolak menjadi perampok, jadi tidak boleh? Yang harus kalian ketahui kami, Shuang Diao dari Yun Nan dan Gui Zhou bukan orang sembarangan, aku ingin tahu apa yang akan kalian lakukan!"
Terdengar angin bergerak, di halaman sudah terlihat ada dua sosok manusia, yang satu tangan dan kakinya sempurna, tapi wajahnya sepeti papan, tidak ada hidung dan telinga, sampai bulu hidung pun tidak ada.
Kedua matanya seperti batu giok mengeluarkan cahaya dingin menusuk tulang.
Sedangkan bentuk tubuh orang yang satunya lagi lebih aneh lagi, kepala dan tubuhnya besar tapi kedua kaki dan tangannya sangat pendek dan juga kecil, seperti anak yang berusia 6-7 tahun.
Mereka berdua mengenakan baju berwarna abu.
Di bawah cahaya redup benar-benar terlihat seperti hantu gentayangan, tidak terlihat sosok mereka sebagai manusia hidup.
Mereka berdua adalah iblis dunia persilatan yang paling jahat.
Mereka adalah Hai Tian Shuang-sha, yang satu bernama Tian Can Jiao-hua sedangkan yang lainnya bernama42 Tian Fei Jiao-lao.
(si Cacat Langit Jiao-hua, si Cacat Langit Jiao-lao).
Kedua siluman itu adalah pemimpin dari 9 penjahat di daerah Huang He.
Semenjak Xin Peng-jiu dan Xin Yi pergi meninggalkan kampung halamannya, mereka terus berkelana ke sini dan ke sana.
Tanpa sengaja mereka bertemu dengan seorang perampok yang sudah lama pensiun dari dunia persilatan, dan mengajarkan ilmu silatnya kepada mereka.
Suami istri Xin Peng-jiu yang selalu dihina oleh orang-orang, setelah mereka mempelajari ilmu silat tinggi, mereka sering merampok dan melakukan kejahatan lainnya, tapi itu hanya sebentar.
Shuang Diao terkenal di dunia persilatan, semua orang tahu siapa mereka.
Di dunia persilatan muncul dua penjahat besar dan mempunyai ilmu silat tinggi, dan mereka sangat kejam, jarang ada yang bisa lolos dari kejaran mereka.
Sembilan penjahat yang dipimpin oleh Hai Tian Shuang-sha tiba-tiba dua orang anggotanya mati, karena itu setelah mendengar sepak terjang Shuang Diao, Hai Tian Shuang-sha merasa cocok dengan43 pasangan suami istri itu dan mereka berusaha menarik pasangan suami istri ini masuk menjadi anggota perkumpulan mereka.
Kesembilan penjahat itu adalah penjahat yang memimpin golongan hitam.
Shuang Diao yang baru muncul di dunia persilatan tidak menolak ajakan mereka, maka mereka pun bergabung menjadi anggota 9 penjahat besar dunia persilatan.
Selama sepuluhan tahun suami istri Xin Peng-jiu telah banyak berbuat kejahatan.
Kemudian Xin Yi melahirkan seorang anak, setelah mendapat keturunan, semua persoalan yang akan mereka lakukan sekarang jadi dipikirkan dulu matang-matang, apalagi pada saat berbuat kejahatan.
Semenjak Xin Peng-jiu mempunyai Xin Jie, dia pun mulai berubah, mereka mulai merasa apa yang mereka lakukan di masa lalu telah melanggar hukum Tuhan.
Karena itu mereka ingin bertobat dan keluar dari dunia hitam.
Peraturan di perkumpulan 9 penjahat ini sangat ketat, kecuali 'mati', tidak ada seorang pun diijinkan keluar dari perkumpulan mereka, dan ilmu silat Hai Tian Shuang-sha lebih tinggi dari suami istri Xin Peng-jiu.
Maka mereka tidak44 berani gegabah meninggalkan tempat itu.
Mereka tinggal lagi selama beberapa tahun di sana, tapi mereka selalu mencari kesempatan untuk melarikan diri dari sana.
Mereka menunggu hingga Xin Jie berusia 7 tahun, kebetulan Hai Tian Shuang-sha pergi ke perbatasan.
Yang tinggal di sana hanya Lao Qi dan suami istri Xin Peng-jiu.
Karena itu mereka langsung pergi ke kantor pusat dan membunuh Lao Qi, kemudian mereka berdua meninggalkan tempat itu.
Sewaktu Hai Tian Shuang-sha kembali, mendengar berita ini mereka sangat marah, dan mereka mengumumkan kepada seluruh golongan hitam jika Dian Gui Shuang Diao tidak menyerahkan diri, 5 tahun kemudian pada bulan terakhir, Hai Tian Shuang-sha akan mencabut nyawa mereka sekeluarga.
Karena tidak ada tempat untuk bersembunyi terpaksa mereka kembali ke kampung halaman mereka yang terletak di Wu Hua Shan, dan itu merupakan pilihan terakhir.
Mereka betiga kembali ke desa Xin dan hidup tenang selama 5 tahun, tapi pada tahun kelima terakhir ini, ternyata Hai Tian Shuang-sha datang menemui mereka.45 Begitu Hai Tian Shuang-sha sudah berada di depan mereka, Xin Peng-jiu sadar kalau mengandalkan ilmu silat mereka berdua, mereka tidak akan bisa mengalahkan kakak beradik itu, dia juga memikirkan semua kejahatan yang telah mereka lakukan selama ini, dan dia merasa mereka memang pantas untuk mati, tapi dia mempunyai sebuah permintaan, dia memohon supaya Xin Jie jangan dibunuh.
Tapi Xin Yi tidak bisa menahan emosinya, dia terus marah-marah, Hai Tian Shuang-sha adalah saudara kembar, mereka lahir yang satu tangan dan kaki tidak sempurna, sedangkan yang satu lagi lahir bisu dan tuli.
Mereka menamakan diri mereka adalah Tian Can dan Tian Fei, tapi mereka benci kalau ada orang yang memanggil mereka cacat.
Kemarahan Xin Yi membuat aura membunuh yang sudah kental sekarang bertambah kental lagi.
Tian Can Jiao-hua dengan dingin berkata.
"Tidak disangka sifat Xin Jin-niang lebih keras dari Xin Lao-liu. Baiklah! Baiklah! Kalau hari ini kami tidak bisa membuat kalian mati dengan nyaman, jangan sebut kami Hai Tian Shuang-46 sha!"
Xin Yi membentak.
"Peng-jiu, mari kita lawan mereka!"
Dia meloncat dan menyerang Tian Can Jiao-hua.
Xin Peng-jiu melihat istrinya menyerang Tian Can Jiao-hua, dia berniat melarangnya, tapi sudah terlambat.
Dia tahu serangan istrinya pasti gagal, dan malah akan mencelakai dirinya sendiri.
Karena jurus yang digunakan adalah jurus elang lapar menangkap kelinci, jurus ini hanya bisa dilakukan pada saat berhadapan dengan lawan yang lebih lemah.
Kalau lawan lebih kuat malah akan merugikan diri sendiri.
Begitu melihat Xin Yi datang dan menyerangnya dari atas, Tian Can Jiao-hua segera mengerutkan tubuhnya, tubuhnya yang kecil dikerutkan lebih kecil, tinggal 60 sentimeter lagi, membuatnya menempel dengan permukaan tanah.
Melihat lawan tidak membalas dan juga tidak menghindar, Xin Yi menyerang lagi, dalam benaknya dia sudah bertekad akan mati bersama dengan Tian Can Jiao-hua, dia tidak tahu kalau ilmu mengerutkan tubuh milik Tian Can Jiao-hua sudah mencapai tahap tertinggi, begitu tangan Xin Yi datang, kedua47 tangannya dengan cepat mencengkram tangan Xin Yi dan hanya sedikit digetarkan, persendian tulang di seluruh tubuh Xin Yi berpindah tempat.
Xin Yi berteriak kesakitan kemudian dia pun terpelanting ke tempat jauh, hati Xin Peng-jiu sakit melihat semua itu.
Tian Can Jiao-hua terbang dan hampir menempel dengan permukaan tanah, dengan cepat dia berputar menuju Xin Peng-jiu, kecepatannya hampir tidak bisa diikuti dengan pandangan mata.
Tiba-tiba saja dia sudah berdiri di depan Xin Peng-jiu dan berkata.
"Kalau kau tidak melangkah keluar dari sini, melihat kami menghukum istrimu, kami dua bersaudara akan mengampuni anak itu. Tapi kalau kau bertarung dengan kami, aku tetap akan menerima tantanganmu."
Di atas permukaan tanah yang keras, Xin Peng-jiu sudah melihat ada sebuah lingkaran, entah sejak kapan Tian Can Jiao-hua menggores lingkaran itu.
Dia melihat Xin Jie tetap duduk di kursinya, wajahnya penuh dengan kekuatan, sepertinya dia tidak takut juga tidak terkejut.
Dia terlihat lebih tenang dibandingkan ayahnya, tapi matanya sudah bersimbah air mata,48 sepertinya dia sedih melihat ibunya terluka.
Dalam hati Xin Peng-jiu merasa aneh, dia tidak tahu kalau bocah yang baru berusia 12 tahun ini mempunyai sifat seperti itu.
Selama ini dia sangat menyayangi anak semata wayangnya.
Tapi hari ini dia melihat perbedaan Xin Jie dengan anak lainnya.
Dia tahu jika anak ini telah tumbuh dewasa dia akan menjadi seseorang yang luar biasa.
Dia tidak akan membiarkan anaknya mati, apa pun akan dia korbankan supaya anaknya tetap hidup.
Pikiran ini melintas dalam benaknya, dia tahu kalau Hai Tian Shuang-sha akan menghukum istrinya dengan cara paling kejam, tapi dia akan bertahan.
Dia hanya berpikir, kali ini pun dia pasti akan mati, dengan cara apa pun mereka melakukannya tidak akan berbedajauh!
Dari pandangan Xin Peng-jiu saja, Hai Tian Shuang-sha sudah bisa menebak, kalau Xin Peng-jiu rela menjadi penonton menyaksikan aksi mereka.
Karena itu mereka tertawa senang, sifat kejam mereka membuat mereka seperti gila, jika korban terlihat makin sakit49 mereka makin merasa senang.
Tian Can Jiao-hua memberi isyarat kepada Tian Fei Jiao-lao yang sejak tadi diam saja.
Isyarat ini hanya dimengerti oleh mereka sendiri.
Jiao-lao tertawa, tawa mereka membuat orang yang mendengar merasa takut, seperti seekor binatang buas sedang tersenyum karena mendapatkan mangsa yang diincarnya.
Xin Yi masih pingsan karena kesakitan, sekarang dia sudah sadar karena udara dingin.
Dia merintih kesakitan.
Jiao-hua puas mendengar suara rintihan itu.
Tiba-tiba dengan cepat dia berlari menghampiri Xin Yi dan menotoknya.
Totokan ini membuat Xin Yi tidak bisa bergerak tapi tidak sampai kehilangan kesadaran.
Kemudian dia mengangguk kepada Jiao-lao, Jiao-lao mencengkram baju Xin Yi kemudian mengangkat tangannya, terdengar baju Xin Yi sobek separuh.
Buah dada Xin Yi yang montok tersembul dari balik baju yang sobek dan tertiup oleh angin dingin.
Tapi yang terasa lebih dingin adalah tatapan mata Hai Tian Shuang-sha.
Hati Xin Peng-jiu benar-benar sakit, dia ingin melawan Hai Tian Shuang-50 sha, tapi putranya berada di sisinya.
Karena menahan marah dia hanya bisa menggigit bibirnya, darah pun mengalir dari bibirnya.
Siksaan yang dialami oleh Xin Yi sekarang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, dia merasa dadanya terasa dingin, kemudian terdengar suara sobekan baju beberapa kali, sekarang Xin Yi benar-benar sudah telanjang bulat di dalam udara dingin.
Kedua tangannya yang patah membuatnya kesakitan.
Tiupan angin dingin membuatnya gemetar, ditambah dengan rasa putus asa, serta hinaan dari Hai Tian Shuang-sha, dia sudah tidak tahan.
Dia ingin berteriak, tapi karena telah ditotok, dia tidak sanggup bersuara.
Hal yang lebih menakutkan akan terjadi.
Tapi kecuali hanya bisa merintih dia tidak bisa melawan.
Sekarang dia hanya merasa sakit, dingin, malu, getir, dan putus asa.
Dia marah kepada Hai Tian Shuang-sha, juga marah kepada suaminya, kepada semua orang di dunia ini.
Karena itu dia memejamkan mata dan berpi-kir.
"Kalau aku mati, aku akan menjadi setan dan aku akan membalas dendam kepada semua orang."
Xin Jie yang baru berumur 12 tahun51 melihat hal begitu kejam dan menyedihkan terjadi di depan matanya, dia masih terlalu muda untuk mengerti hal seperti ini, tapi Tuhan telah memberikan kepandaian aneh kepadanya, yaitu dalam keadaan apa pun dan di mana pun dia tidak akan melakukan hal yang tidak sanggup dia lakukan.
Mungkin ini karunia dari Tuhan.
Dan hal ini benar-benar aneh!
Dia melihat ibu kandungnya dihina oleh dua orang seperti binatang.
Demi dirinya, ayahnya menahan penghinaan begitu besar.
Walaupun dia merasa sedih, tapi dia tidak menangis juga tidak ribut, ataupun melakukan gerakan yang biasanya dilakukan oleh anak sebayanya.
Kalau dia bersifat lemah, dia akan gemetar atau menangis.
Kalau dia seorang pemberani, dia harus membuang segala macam pikiran dan berusaha melindungi ibunya.
Tapi dia tidak melakukan apa pun, hanya dengan ekspresi aneh duduk terpaku di kursinya.
Kalau Hai Tian Shuang-sha melihat ekspresinya, akan terlihat tekad dan daya tahannya yang kuat, mungkin mereka akan melanggar janji mereka dan membunuh anak itu.52 Hai Tian Shuang-sha tidak peduli dengan anak itu.
Mereka sedang menikmati siksaan yang mereka lakukan kepada Xin Yi dan Xin Peng-jiu.
Dengan tangan, kaki, dan cara kejam lainnya, mereka menghina seorang perempuan yang tidak bisa melawan.
Mereka benar-benar merasa sangat menikmati.
Setelah merasa puas, mereka menolehkan kepala, dengan tangan cacatnya Tian Can Jiao-hua menunjuk Xin Peng-jiu dan terta-wa.
"Baiklah, Xin Lao-liu, aku kagum kepadamu, kau bisa memungut nyawa anak dari tanganku, kecuali hal ini aku, Jiao Lao-da memang sedang berbaik hati, aku akan memaafkanmu, kau boleh tetap ikut denganku dan aku akan bersikap seperti dulu kepadamu."
Xin Peng-jiu melihat Xin Jie, anak ini menjadi korban semuanya, sampai nyawa pun sulit didapatkan kembali, tiba-tiba dia balik bertanya kepada Jiao-hua.
"Kau harus berjanji dalam waktu 10 tahun ini tidak akan melukai anak ini!"
Tian Can Jiao-hua mengangguk dan berkata.
"Kata-kata Jiao Lao-da bisa ditepati, apakah kau tidak tahu?"53
"Kalau begitu aku akan merasa lebih tenang,"
Pelan-pelan dia mendekati belakang Jiao-hua.
Xin Yi yang cantik tampak telanjang bulat tampak berbaring tidak berdaya di bawah.
Mata Xin Peng-jiu berkobar karena marah, tiba-tiba dengan jurus 'Bi Yi Shuang Fei' kedua tangannya menyerang Tian Fei Jiao-hua, satu tangan menyerang ke arah telinga yang satu menyerang ke arah tenggorokannya.
Jurus 'Bi Yi Shuang Fei' adalah jurus yang membuat Xin Peng-jiu terkenal di dunia persilatan.
Pukulan itu mengandung kesedihan dan kemarahan yang besar, maka tenaga yang dikeluarkan pun sangat dahsyat.
Dan saat itu Jiao Lao-da sedang menikmati kepuasannya sendiri, dia sama sekali tidak menyangka kalau Xin Peng-jiu akan menyerang.
Begitu dia sadar, angin telapak sudah berada di atas kepalanya.
Tapi Xin Peng-jiu juga salah, Tian Can Jiao-hua bisa menjadi Lao-da bukan karena keberuntungannya, ini semua karena ilmu silatnya yang kuat.
Begitu telapak Xin Peng-jiu menyerang ke arah kepalanya, leher Jiao-hua seperti memanjang beberapa sentimeter, membuat serangan Xin Peng-jiu54 tidak mengenai sasaran.
Dalam pikiran Xin Peng-jiu serangannya kali ini bisa menghasilkan satu nyawa ditukar dengan satu nyawa, ternyata harapan tinggal harapan, tapi dalam hati Xin Peng-jiu memang sudah bersiap untuk mati.
Dia melihat tubuhnya ke bawah dan kedua tangannya menghadap keluar dan memukul ke dada Tian Can Jiao-hua, Tian Can Jiao-hua tertawa sinis, kakinya digeser, dia menghindari serangan Xin Peng-jiu, kemudian tampak telapak tangannya melambai, siap menotok hidung Xin Peng-jiu.
Xin Peng-jiu dengan cepat menarik tubuhnya kembali, kemudian dengan kedua telapak tangannya dia mengeluarkan jurus 'Shen Diao Zhang Fa' yang sudah lama dilatihnya.
Setiap jurus membuat Tian Can Jiao-hua berada dalam posisi berbahaya, dan sepertinya Xin Peng-jiu sama sekali tidak mengingat bahaya, setiap jurus mengandung tekad mati bersama.
Cara bertarung seperti ini biasanya mengandung dendam yang sangat besar dan dalam, dan siap untuk mati bersama.
Biasanya di dunia persilatan tidak ada55 orang yang akan memakai jurus ini, walaupun Tian Can Jiao-hua mempunyai ilmu sangat tinggi, tapi menghadapi Xin Peng-jiu yang menyerangnya dengan cara seperti itu, sempat membuatnya kalang kabut juga.
Xin Peng-jiu mempunyai ilmu tinggi tapi untuk melukai Tian Can Jiao-hua bukan hal yang mudah.
Tidak lama kemudian Xin Peng-jiu mulai merasa kehabisan tenaga, karena pertarungan seperti ini paling cepat menghabiskan tenaga.
Dia melihat tidak ada kesempatan untuk menang, apalagi Tian Fei Jiao-lao masih berdiri di pinggir.
Kalau dia ikut bertarung, Xin Peng-jiu pasti akan mati, parahnya lagi halaman keluarga Xin Peng-jiu tidak terlalu besar.
Mereka bertarung selalu melewati depan atau sisi Tian Fei Jiao-lao, tapi Jiao-lao masih berdiri dengan dingin tidak bergeser sama sekali.
27 jurus Shen Diao Zhang Fa hampir diselesaikan oleh Xin Peng-jiu.
Sekarang Xin Peng-jiu sedang menggunakan jurus terakhir dari Shen Diao Zhang Fa, dalam 12 jurus terus menyerang, walaupun Tian Can Jiao-hua mempunyai ilmu silat lebih tinggi,56 tapi dia tidak berani bertindak gegabah.
Sewaktu Xin Peng-jiu bertarung, dia melewati depan Tian Fei Jiao-lao, hanya dalam waktu singkat tiba-tiba timbul suatu pikiran dalam benaknya.
Kedua tangannya terpisah, seperti membuka pintu, sebenarnya di balik gerakannya itu menyimpan banyak bahaya.
Kemudian tangannya dilipat.
Tian Can Jiao-hua tahu jurus berikutnya yang akan dikeluarkan oleh Xin Peng-jiu pasti lebih berbahaya.
Tapi Xin Peng-jiu tidak mengubah gerakannya, dia malah menyerang Tian Fei Jiao-lao memeluk orang itu dari belakang dan mengajaknya bertarung menempel.
Cara seperti itu biasanya adalah cara preman berkelahi.
Cara ini sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Hai Tian Shuang-sha.
Tian Can Jiao-hua melihat Xin Peng-jiu meninggalkannya dan memeluk Jiao-lao.
Dia terkejut karena tidak terpikirkan kalau Xin Peng-jiu akan melakukan hal ini.
Semua tenaga dikerahkan pada sepasang tangan ini.
Xin Peng-jiu seperti penjepit besi menjepit tubuh Tian Fei Jiao-lao.
Tian Fei Jiao-lao terkejut tapi mulut Xin Peng-jiu sudah terbuka dan menggigit57 tenggorokannya.
Biasanya Jiao-lao terkenal dengan tenaga telapak dan tenaga dalamnya.
Ilmu meringankan tubuh dan ilmu lembut milik Jiao-hua memang seimbang.
Tapi mengenai ilmu mengecilkan tubuh, dia tidak selihai kakaknya.
Dengan tenaga dalamnya dia berniat menggetarkan Xin Peng-jiu hingga terjatuh tapi dia tidak sanggup melakukannya.
Perubahan ini benar-benar sangat cepat.
Tenggorokan Jiao-lao digigit oleh Xin Peng-jiu, walaupun Jiao-lao mempunyai ilmu yang tinggi, dia tetap akan mati.
Perubahan ini membuat dia terkejut.
Tapi dia adalah orang yang berpengalaman.
Dalam bahaya seperti itu, dia masih terpikirkan cara untuk melepaskan diri.
Kedua bahunya diangkat, kepala diturunkan.
Dia menyembunyikan tenggorokannya yang lemah di bawah dada dan dagu.
Begitu Xin Peng-jiu menggigit, dia hanya menggigit tempat antara bibir dan dagu.
Tian Fei Jiao-lao sangat marah.
Kedua tangan bergetar.
Dengan tenaga dalam dari perut dan dada, telapaknya dikeluarkan dari pelukan Xin Peng-jiu, dan dengan cepat dia menotok jalan darah kematian Xin Peng-jiu.58 Karena tenaga dalam Tian Fei Jiao-lao sangat kuat, Xin Peng-jiu tanpa sempat mengeluarkan suara, dia menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Tian Fei Jiao-lao meraba dagunya yang telah digigit Xin Peng-jiu kemudian dengan dingin melihat mayat yang tergeletak di bawah.
Wajahnya masih dingin, sepertinya apa pun yang terjadi di dunia ini, tidak akan membuat wajahnya bergerak.
Tian Can Jiao-hua berkata.
"Sunguh sayang, dia mati begitu cepat."
Tiba-tiba dia teringat di halaman ini kecuali ada mereka berdua masih ada satu orang lagi yang belum mati.
Karena itu dia mencari lagi.
Terlihat Xin Jie masih duduk di sisi meja di kursinya.
Wajahnya penuh dengan air mata, kedua tangannya dikepalkan.
Dalam hati Tian Can Jiao-hua berpikir.
"Mengapa anak ini tampak begitu aneh? Jangankan anak sebesar ini, laki-laki dewasa pun kalau melihat keadaan begitu, mana mungkin akan diam saja? Anak ini jika bukan karena idiot pasti dia sangat pintar.... kalau idiot, tidak menjadi masalah bagi kami, tapi jika dia anak pintar, kelak akan menjadi penyakit bagi kami."
Dia59 berjalan ke depan Xin Jie dan pelan-pelan mengangkat tangannya.
Dia berniat membunuh Xin Jie.
Jika dia sudah melayangkan tangannya, jangankan Xin Jie, besi dan baja pun bisa hancur.
Dia melihat Xin Jie, dan Xin Jie balas melihatnya penuh dengan kebencian.
Pikiran Tian Can Jiao-hua dan Tian Fei Jiao-lao sulit tebak.
Mereka sangat kejam.
Tapi mengenai janji, mereka sangat menepatinya.
Dia berpikir.
"Tadi aku sudah berjanji kepada Xin Peng-jiu supaya tidak membunuh anak ini. Jika aku tidak membunuhnya, dia akan menjadi penyakit bagi kami di kemudian hari...."
Tangan kanan yang diangkatnya tidak jadi diturunkan.
Pukul atau tidak?
Pikiran ini terus membayanginya.
Nyawa Xin Jie tergantung pada jalan pikirannya.
Xin Jie tidak mempunyai tenaga untuk mengubah takdirnya.
Malam terasa dingin seperti air, tiba-tiba angin bertiup dengan kencang.
Dari jalan yang menyambung ke halaman belakang terdengar langkah kaki yang berat dan sepertinya bukan hanya satu orang yang60 datang.
Suara langkah yang berat di malam begitu sepi terdengar sangat jelas.
Tian Can Jiao-hua sedikit terkejut.
Tangannya sudah melayang.
Adiknya sudah mengerti apa yang dimaksud kakaknya.
Mereka segera meloncat dan bersembunyi di dalam kegelapan.
Tapi yang keluar dari halaman belakang hanya seekor sapi.
Entah apa sebabnya, sapi itu di malam seperti sekarang malah meninggalkan kandangnya.
Hai Tian Shang Sha di dalam kegelapan hanya bisa tertawa kecut.
Sapi itu mungkin biasanya diurus dengan baik dan sangat gemuk, kuat, juga terlihat galak.
Tian Can Jiao-hua berpikir.
"Aku telah berjanji untuk tidak membunuh anak itu, tapi aku tidak berjanji untuk tidak membunuh dengan sapi itu."
Terpikirkan hal itu wajahnya segera terlihat tawanya, dia seperti sudah mendapatkan cara untuk mengatasi kesulitan ini.
Begitu sapi itu tiba di halaman, mungkin karena angin berhembus dengan kencang, membuat sapi itu merasa dingin dan kembali lagi ke jalan dia datang tadi.
Tapi61 Tian Can Jiao-hua sudah berdiri menghadang di depan sapi itu.
Karena terkejut sapi itu segera menabrak orang yang menghadangnya.
Tangan Tian Can Jiao-hua dengan cepat memegang kedua tanduk sapi itu.
Karena tenaga dalam Tian Can Jiao-hua sangat besar, dengan sekuat apa pun sapi itu bergerak tetap tidak bisa melangkah maju.
Dia menendang pasir dan tanah hingga debu pun beterbangan.
Tangan kanan Jiao-hua memberi isyarat kepada Jiao-lao, isyarat itu sangat sederhana tapi mengandung banyak makna, ini adalah cara mereka berkomunikasi selama beberapa tahun.
Kecuali dengan isyarat tangan, Jiao-lao tidak akan mengerti isyarat orang lain.
Karena sejak kecil apa yang dipikirkan Jiao-hua, pasti juga dipikirkan oleh Jiao-lao.
Mereka berdua seperti satu tubuh yang tidak bisa dipisahkan.
Dua menjadi satu.
Dengan cepat Tian Fei Jiao-lao membuka pintu halaman depan, kemudian kembali ke tempat Xin Jie dan menjepit Xin Jie di ketiaknya.62 Xin Jie tidak memberontak juga tidak merasa takut, karena dia tahu apa yang dilakukannya untuk memberontak akan sia-sia belaka.
Dia tahu kalau nasibnya berada di tangan kedua orang aneh yang tidak berbentuk seperti manusia itu.
Tapi dalam hati dia mempunyai rasa percaya diri yang aneh, dia percaya suatu hari nanti dia pasti akan meminta darah mereka untuk membayar hutang semua ini.
Dia tidak bisa bergerak, dia didudukkan di atas sapi.
Sapi itu seperti sapi gila karena terus memberontak.
Begitu didudukkan di atas sapi, Xin Jie terpaksa harus memegang erat leher sapi supaya tidak terlempar dari tubuh sapi itu.
Dia tidak mengerti mengapa dia didudukkan di atas punggung sapi, tapi dia mencoba mengerti kalau semua ini mungkin menyangkut keselamatan nyawanya.
Begitu Jiao-lao mendudukkannya di atas punggung sapi, dia menarik tanduk sapi itu.
Tubuh sapi itu besar, karena ditarik tanduknya dan terus dia memutar-mutar tubuhnya, tanduk itu mengeluarkan darah.
Karena sakit sapi itu seperti bertambah gila lagi, maju tidak bisa mundur63 pun tidak bisa.
Sapi itu terus bergerak, membuat Xin Jie yang berada di atas punggungnya terus bergoyang-goyang.
Xin Jie seperti ingin muntah.
Jiao-hua melepaskan tangan yang memegang tanduk, kemudian dia menurunkan tangannya mendekati tubuh sapi itu.
Kulit sapi itu tebal karena kekuatan tangannya, tanduk itu terbelah dan darah terus menetes.
Yang pasti sapi itu sangat marah, Jiao-lao melepaskan tangannya, sapi itu seperti sebuah panah meluncur meninggalkan tempat itu.
Walaupun ayah dan ibu Xin Jie mempunyai ilmu silat tinggi, tapi semenjak Xin Jie lahir, mereka sudah merasa bosan berkelana di dunia persilatan.
Karena itu mereka tidak pernah mengajarkan ilmu silat kepada Xin Jie.
Kecuali tubuh Xin Jie lebih kuat dari anak biasa, tapi dia tetap tidak mengerti dasar ilmu silat sama sekali.
Sapi itu seperti sapi gila teus berlari di malam yang sepi.
Xin Jie hanya merasa di kedua sisi tubuhnya, semua benda bergerak mundur dengan cepat.
Dia ingin melepaskan pegangannya di leher sapi,64 membiarkan dirinya terjatuh, tapi dalam keadaan hidup dan mati ini dia tidak berani memutuskan.
Kalau terus memegang leher sapi itu, dia akan merasa tersiksa, tapi dia menaruh harapan besar pada keselamatan nyawanya.
Apalagi dia telah melewati peristiwa yang menyedihkan tadi.
Dia bersumpah dia akan terus mempertahankan nyawanya baik-baik supaya kelak di kemudian hari dia bisa membalaskan dendam ayah dan ibunya.
Pikiran seperti ini bagi seorang anak berumur 12 tahun sungguh terlalu jauh juga belum jelas.
Tapi karena kekejaman yang tadi dilihatnya begitu jelas, maka dia pun telah mengambil keputusan walaupun keselamatan nyawanya tidak terjamin, dia akan berusaha bertahan sampai titik darah penghabisan.
Tapi....
bagi seorang anak kecil yang berada di atas punggung seekor sapi gila, harapan hidupnya sangat kecil.
Sapi itu terus berlari, Xin Jie mulai merasa tangannya pegal dan mati rasa.
Dia juga mulai tidak bisa menguasai dirinya lagi.
Dalam keadaan sadar dan tidak sadar, dia merasa sapi itu berlari ke atas gunung, tapi dia tidak bisa melihat dengan jelas.65 Langit mulai terang, dalam hati Xin Jie hanya berharap dia bisa bertemu dengan seseorang di jalan dan bisa menghentikan sapi gila itu.
Tapi orang yang ditemuinya pun tidak sanggup menghentikan sapi gila itu.
Lalu dia berharap, karena merasa lelah sapi itu akan berhenti berlari.
Tapi dia tahu yang sekarang merasa lelah adalah dirinya sendiri.
Dia tahu kalau dia tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi, kalau dia terjatuh keselamatan nyawanya akan terancam.
Tapi pikirannya benar-benar sangat kacau, semua pertanyaan yang melintas di benaknya tidak bisa dipikirkan dengan baik.
Dia merasa sepertinya semua keadaan sudah tidak memihak lagi kepadanya dan semakin menjauh darinya.
Dia merasa semua kejadian itu telah berlangsung lama, padahal semua itu baru berlangsung selama setengah jam, dari desa Xin sapi itu terus berlari.
Karena tidak mengetahui arah, sapi itu membawa Xin Jie naik ke Wu Hua Shan.
Wu Hua Shan adalah sebuah gunung tinggi dan berbahaya, tapi kalau manusia66 atau binatang dalam keadaan gila, sering melakukan perbuatan yang tidak biasa dilakukan.
Begitu juga dengan sapi itu, Xin Jie dibawanya ke arah Wu Hua Shan dan masuk ke pegunungan.
Tadinya sapi itu lari menerjang ke depan, tapi sekarang sapi itu malah berputar-putar, membuat Xin Jie bertambah pusing.
Kemudian sapi itu berhenti berlari, Xin Jie terpelanting dari punggung sapi dan jatuh ke atas tumpukan salju.
Dan dia pun pingsan.
Udara di pegunungan itu sangat dingin, lebih dingin dari udara di desa Xin.
Apalagi saat ini salju masih terus turun.
Xin Jie yang pingsan begitu terjatuh ke atas tumpukan salju, tidak lama kemudian segera sadar.
Begitu dia membuka matanya, ada sebuah bayangan tinggi besar berdiri di hadapannya.
Karena itu dia berusah membuka matanya supaya bisa melihat orang itu.
Ternyata orang itu berperawakan kurus dan kelihatan letih.
Saat itu dia sedang menatap Xin Jie.
Kelihatannya orang itu begitu lemah dan letih.
Wajahnya pucat seperti baru67 bangkit dari kubur.
Dia berdiri di pagi hari yang begitu dingin membuatnya terlihat begitu lemah.
Walaupun orang itu berusaha berdiri tegak tapi sepertinya setiap saat orang itu bisa terjatuh.
Udara begitu dingin, orang itu hanya mengenakan baju panjang dan tipis.
Di udara begitu dingin, tubuhnya tampak terus bergetar.
Begitu melihat Xin Jie sudah sadar wajahnya terlihat tersenyum, senyum itu adalah senyum ramah dan hangat.
Melihat senyum itu, Xin Jie lupa kalau mereka sebenarnya tidak saling mengenal.
Xin Jie berusaha duduk karena dia menganggap orang yang berdiri di hadapannya lebih membutuhkan bantuannya, walaupun dia sendiri pun masih dalam keadaan lemah.
Sifat ini memang sifat asli Xin Jie.
Orang itu seperti tahu pikiran Xin Jie, dengan lemah dia berpesan kepada nya.
"Berbaringlah dulu, jangan banyak bergerak."
Tetapi Xin Jie berusaha tetap bangun, sorot mata orang itu tampak berubah, wajahnya yang lesu tetap terlihat berwibawa, dan kewibawaannya ini tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.68 Dia melambaikan tangan, ingin melarang Xin Jie bangun tapi karena dia sendiri tampak lemah dia malah terjatuh.
Xin Jie berusaha bangun, dia tidak tahu kalau nasibnya sangat beruntung, dia masih hidup sampai sekarang.
Tapi setelah melewati siksaan yang begitu berat, walau tubuhnya sehat tapi dia tidak mampu berdiri.
Kemudian dia pun terjatuh lagi ke atas tumpukan salju.
Xin Jie dan orang itu sama-sama terjatuh di atas tumpukan salju.
Di sana walaupun sangat sepi tapi Xin Jie tidak merasa kesepian, karena di sisinya ada orang yang menemaninya.
Usianya yang masih muda dan perasaannya kepada orang tidak dikenalnya itu seperti ada suatu perasaan aneh.
Tubuhnya memang lemah tapi pikirannya masih jernih.
Dia melihat ke sekeliling, di sana adalah sebuah lembah yang sangat indah.
Di sekeliling lembah dipenuhi dengan Mei-hua yang sedang berkembang.
Kemudian dia mendengar orang itu berkata.
"Mengapa kau bisa naik ke atas punggung sapi gila itu? Lalu lari masuk ke sini, siapa kau sebenarnya? Di mana69 rumahmu?"
Pertanyaannya terdengar sangat dingin. Xin Jie terpaku, kenangan sedih muncul lagi di kepalanya sehingga dia pun menangis. Melihat Xin Jie menangis, orang itu dengan pelan bertanya.
"Jangan menangis, apa yang telah membuatmu sedih? Ceritakanlah padaku."
Xin Jie menganggap walaupun dia memberitahu bagaimana kekejaman dan kesedihan yang dia rasakan kepada orang yang terlihat lemah itu, tidak akan ada gunanya.
Tapi sekarang dia menganggap di lembah sepi ini, hanya dengan orang inilah dia bisa berbagi perasaannya.
Manusia selalu memiliki kebiasaan menceritakan kesulitannya kepada orang yang dekat dengannya saat itu.
Sambil menangis Xin Jie menceritakan kejadian yang telah menimpanya.
Bagi Xin Jie dia menceritakan semuanya hanya untuk melampiaskan kemarahan dan kesedihannya, dan dia sama sekali tidak menyangka karena kejadian ini pula dia berjodoh dengan cara aneh dan sama sekali tidak disangka.
Ternyata orang yang berbagi kesedihan70 dengannya itu adalah orang yang paling terkenal di dunia persilatan, yang terkenal dengan 'Shen Gong Qi Yi' (Ilmu sakti tujuh keahlian) yang dijuluki Qi-mao Shen-jun, Mei Shan-ming.
Setelah Mei Shan-ming ditotok oleh ketua generasi ketujuh Dian Cang-pai, Luo Ying-jian, Xie Chang-ji di bagian pundaknya dan di dua nadi penting Cang Hai, organ dalam tubuhnya pun dilukai oleh Ku An Shang-ren, Pendekar Chi-yang, dan Jian Shen Li-e, dengan keadaan luka seperti ini siapa pun pasti akan mati.
Tapi karena Qi-mao Shen-jun mempunyai kepintaran yang melebihi orang lain, ditambah lagi karena telah berlatih ilmu silat yang kuat, apa yang dia miliki itu tidak semua bisa didapatkan oleh orang dunia persilatan.
Dengan menggunakan tenaga dalam yang sudah dilatihnya selama ini dia berusaha mengatur tenaga dalam tubuhnya.
Tapi tenaga dalam bagian dada dan perut tidak dapat diatur lagi, Mei Shan-ming tahu kalau totokan Luo Ying-jian pasti mengandung ilmu rahasia.
Kalau organ dalamnya tidak terluka mungkin dia masih bisa membuka71 sendiri totokan itu dengan menggunakan tenaga dalamnya.
Tapi sekarang ini tidak mungkin bisa dia lakukan.
Dia merasa tangan dan kakinya tidak bertenaga, sampai-sampai menggerakkan jarinya pun sangat sulit.
Dan di paru-oarunya ada darah beku yang semakin melebar.
Sisa tenaganya hanya sedikit, maka dia tidak bisa menguasai darah beku yang semakin menjalar di paru-parunya.
Karena itu dia hanya bisa pasrah dan menunggu maut pelan-pelan akan menjemputnya ataukah akan ada mujizat datang menghampirinya?
Dia terbaring lemah di atas permukaan salju.
Dinginnya salju menyerang tubuhnya.
Sewaktu dia sedang putus asa, tiba-tiba terdengar suara berat dan terburu-buru datang ke tempat itu.
Dia sangat berharap yang datang adalah orang yang bisa menolongnya.
Suara itu datang seperti angin masuk ke dalam lembah.
Kemudian dia melihat ada seekor sapi yang berlari menerjang seperti sapi gila.
Dan berlari melewatinya begitu saja.
Di lembah seperti ini sapi berlari begitu kencang, pasti sapi itu sedang72 mengamuk.
Apa gunanya bila yang datang hanya seekor sapi yang sedang mengamuk?
Sapi gila itu mengelilingi lembah kemudian berlari ke tempat di mana dia sedang terbaring, dia tidak bisa menghindar, hanya menunggu sapi itu menginjaknya pada saat lewat.
Sewaktu dia sedang memejamkan mata, tiba-tiba dia merasa nadi di bawah dada dan nadi di bagian pusarnya ada tenaga besar mendorongnya.
Dia tahu itu karena tenaga dari injakan kaki sapi itu, keanehan terjadi di sini, setelah tubuhnya diinjak sapi itu, tubuhnya terasa lebih nyaman.
Tenaganya walaupun masih lemah tapi bisa mengalir dengan lancar.
Harapan hidup kembali muncul di dalam hatinya, dia berpikir asalkan bisa bernafas dengan lancar, kaki dan tangannya pasti bisa digerakkan, dan lukanya yang berat bisa sembuh.
Karena itu dia mulai menggerakkan tangannya, ternyata benar dia mulai merasakan ada tenaga, tenaga itu walaupun tidak sekuat dulu tapi ini sudah cukup membuatnya merasa senang.
Sekarang sapi ngamuk itu kembali lagi ke tempat di mana dia berbaring, kali ini73 dia tidak terkejut lagi.
Dia berpikir tenaganya memang sudah habis, tapi menghadapi sapi gila itu dia masih sanggup melakukannya, ternyata pikirannya salah.
Sewaktu sapi ngamuk itu sekali lagi menginjak tubuhnya, dengan sekuat tenaga dia mengumpulkan tenaga di kedua tangannya, begitu sapi itu lewat di depannya, dia mendorong sapi itu hingga terpelanting.
Tapi pada saat Qi-mao Shen-jun memukul sapi itu, dia merasa sangat lelah, dan rasa lelah ini selama puluhan tahu belum pernah dia rasakan.
Tenaga dalam Qi-mao Shen-jun memang sangat hebat, kata 'lelah' belum pernah dia rasakan, tapi sekarang ini dia merasakan tulang-tulang di seluruh tubuhnya terasa sakit.
Dan dia pun sedikit terengah-engah seperti seseorang yang tidak bisa ilmu silat.
Seperti seseorang yang lelah karena telah bekerja seharian.
Tentu saja Qi-mao Shen-jun tahu kalau tenaga dalamnya telah musnah karena telah dihilangkan oleh tenaga dari luar.
Tapi kalau dia bisa merawat sisa tenaga dalamnya dengan baik, walaupun tidak bisa pulih74 dengan cepat, tapi bukan tidak mungkin tidak ada harapan sama sekali.
Karena dia tadi telah mengeluarkan sisa tenaganya untuk memukul sapi itu.
Cara Dian Cang-pai menotok orang adalah membuat tenaga dalam orang yang ditotoknya hilang seketika kemudian orang itu pelan-pelan akan mati.
Qi-mao Shen-jun adalah orang nomor satu di dunia persilatan, sekarang dia hanya orang biasa.
Dia seorang pesilat tangguh, kembali menjadi orang biasa pasti membuatnya sedih dan tidak tahan dengan keadaan ini.
Apalagi ini dialami oleh seorang laki-laki yang tadinya berilmu silat tinggi, sewaktu ilmu silatnya hilang, dia pasti akan merasa sangat sakit.
Hal ini juga membuat Mei Shan-ming ingin lari dari kenyataan dan cara yang paling tepat adalah mati.
Tapi sewaktu dia ingin mati, tiba-tiba dia mendengar di lembah sepi itu ada suara manusia bernafas dan terdengar nafasnya seperti terengah-engah.
Karena merasa aneh sekaligus terkejut, maka dengan tenaga terakhirnya dia berusaha bangkit berdiri.
Kemudian dia menemukan Xin Jie, sewaktu dia berhasil menemukan Xin Jie, saat itu Xin Jie juga sedang menatapnya75 dengan pandangan lesu.
Setelah selesai mendengar cerita Xin Jie yang mengerikan, Qi-mao Shen-jun yang saat itu sedang putus asa dan ingin melarikan diri dari nasibnya, hatinya segera diliputi dengan kemarahan dan merasa kalau semua ini tidak adil.
Saat itulah Xin Jie telah menentukan nasibnya seumur hidup.
Dia akan menjadi pembunuh di dunia persilatan, nama dan ilmu silatnya akan membuat orang dunia persilatan gentar kepadanya.
Hujan salju telah berhenti.
Lembah kembali sepi.
Tiba-tiba Mei Shan-ming berpikir.
"Di dunia ini mengapa ada hal begitu aneh? Sampai-sampai sapi ngamuk pun bisa lari masuk ke lembah Mei yang dalam setahun pun jarang ada orang yang datang. Apakah ada orang dengan cara seperti ini ingin menipuku? Walaupun tenaga dalamku sudah musnah tapi ilmu silatku yang tinggi masih tersimpan dengan baik di dalam dadaku, mana mungkin orang lain bisa mengambilnya?"
Dalam keadaan sulit dia berusaha untuk duduk dan bertanya pada Xin Jie.
"Apakah kau tahu siapa aku?" 76 Xin Jie dengan bingung menggelengkan kepalanya, dengan sorot mata aneh dia melihat Mei Shan-ming, sudah pasti dia tidak kenal dengan Mei Shan-ming. Ekspresi wajah Xin Jie yang kebingungan membuat Mei Shan-ming mengerti apa jawaban Xin Jie. Kepintaran Qi-mao Shen-jun dan ekspresi wajah Xin Jie membuat Mei Shan-ming bisa melihat kejujuran Xin Jie. Dia merasa gembira karena ada penerus dan ini membuatnya tertawa senang.
"Sekarang kau sebatang kara, apakah kau mau ikut denganku?"
Mei Shan-ming dengan tertawa bertanya pada Xin Jie. Xin Jie melihat orang yang kelihatan lemah dan lesu itu, dengan mantap dia menjawab.
"Baiklah, aku akan ikut denganmu, jangan melihat aku sekarang ini yang masih tidak mempunyai tenaga, nanti setelah aku beristirahat, tenagaku besar, apa pun bisa kulakukan."
Kata-kata polos ini membuat Mei Shan-ming terpengaruh, dia melihat hati anak itu baik, dia mengangguk-angguk dan berkata.
"Benar, aku membutuhkan orang seperti dirimu untuk mengurusku." 77 Kemudian dia memejamkan matanya dan duduk dengan diam, tapi rasa lapar, dingin, lelah, dan sakit terus menyerangnya. Dan dia menarik nafas dan berkata.
"Apakah kau bisa berdiri sekarang dan memapahku keluar dari lembah ini?"
Tapi pada saat Xin Jie bergerak, dia merasa tangan dan kakinya juga sakit serta mati rasa.
Tapi rasa tanggung jawabnya membuat dirinya harus menjadi kuat, maka dia pun memaksa untuk berdiri kemudian memapah Mei Shan-ming keluar dari lembah itu.
Ooo)*(ooO BAB Buku An Ying Fu Xiang Wu Hua Shan adalah tempat wisata di luar kota Kun Ming.
Walaupun lembah itu jarang didatangi orang, tapi gunung itu banyak dikunjungai pelancong.
Tidak membutuhkan waktu lama Mei Shan-ming dan Xin Jie pada saat keluar dari lembah langsung bertemu dengan pelancong yang akan bertamasya ke gunung itu.
Melihat keadaan mereka yang aneh, mereka segera menghampiri dan bertanya apa yang terjadi pada mereka.
Mei Shan-ming hanya menjawab78 beberapa kalimat untuk menutupi rasa penasaran mereka, segera dia mencari dua tandu yang mengantar pelancong tadi.
Mereka tergesa-gesa turun dari gunung dan kembali ke kota Kun Ming.
Kun Ming adalah sebuah kota yang dalam setahun selalu hangat seperti musim semi.
Suhu udara di sana berbeda dengan gunung Wu Hua Shan, apalagi di kota Kun Ming jarang terlihat ada salju.
Yang membuat Xin Jie merasa aneh adalah Mei Shan-ming begitu mudah mengeluarkan uang, mereka menginap di sebuah pengi-napan terbaik dan terbagus di kota Kun Ming, makan dan minum yang paling enak dan lezat.
Mei Shan-ming membelikan banyak baju untuk Xin Jie, dari ukuran terkecil hingga terbesar, sepertinya setiap Xin Jie tumbuh besar semua ukuran bajunya telah tersedia.
Semua baju itu dibelinya.
Hari kedua, Mei Shan-ming menyewa sebuah kereta besar, mereka berangkat dari kota Kun Ming, kereta berjalan sangat lambat.
Tubuh Xin Jie mulai pulih.
Tapi keadaan Mei Shan-ming sama sekali tidak ada perubahan, tubuhnya tetap lemah.
Hampir satu bulan berlalu, sekarang79 sudah musim semi, pepohonan di sepanjang jalan semakin terlihat hijau, Xin Jie tidak tahu mereka akan pergi ke mana.
Sepanjang perjalanan entah sudah berapa kali Mei Shan-ming mengganti kereta.
Hari ini mereka tiba di sebuah pedesaan.
Pedesaan itu hanya sedikit lebih besar dari desa Xin.
Di pinggir desa Mei Shan-ming menyuruh kereta berhenti dan bersama dengan Xin Jie, mereka berjalan memasuki desa itu.
Xin Jie merasa hari ini Mei Shan-ming tampak lebih gembira dan juga sering bergurau, lebih sering tertawa.
Dan dia tidak menyewa kereta lagi.
Mereka melewati desa itu kurang lebih setengah kilometer, Xin Jie melihat Mei Shan-ming sangat lelah, tapi dia masih tampak gembira.
Begitu melewati sebuah hutan yang tidak terlalu besar, Xin Jie melihat ada beberapa rumah yang atapnya terbuat dari genting.
Mei Shan-ming menunjuk rumah itu dan berkata.
"Lihat, itu adalah rumahku!"
"Mengapa Paman Mei mempunyai rumah yang begitu jauh?"
Kata Xin Jie dalam hati bercampur perasaan aneh.80 Begitu tiba di depan rumah itu, Mei Shan-ming mengetuk pintu dan dengan perlahan pintu besar yang dicat merah tua itu terbuka.
Yang membukakan pintu adalah seorang laki-laki setengah baya dan berperawakan kurus, melihat Mei Shan-ming, dia segera menunduk dan berkata.
"Kau sudah pulang."
Tapi wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
Sambil tertawa Mei Shan-ming pun mengangguk, kemudian dia menarik Xin Jie masuk.
Xin Jie merasa rumah itu sangat bersih dan rapi, rumah itu begitu besar, tapi tidak terdengar ada suara orang di sana.
Laki-laki itu dengan sorot mata tajam melihat Xin Jie, Mei Shan-ming sudah menepuk-nepuk kepala Xin Jie dan berkata.
"Ini adalah muridku, apakah dia baik kelihatannya?"
Kemudian dia tertawa dan bertanya lagi.
"Apakah mereka semua baik-baik saja?"
Dengan sedikit ragu, laki-laki setengah baya itu menjawab.
"Aku sudah menyuruh mereka pulang."
Wajah Mei Shan-ming segera berubah dan bertanya.
"Apa, kau sudah menyuruh81 mereka pulang?"
Laki-laki itu menundukkan kepala dan menjawab.
"Di dunia persilatan telah tersebar berita bahwa di Wu Hua Shan kau telah dibunuh oleh Jian Shen Li-e, dan di Gai-bang Jiang Nan ada berita yang menyebutkan bahwa ada seorang pengemis yang melihat mayatmu, aku berpikir kalau terus menyuruh mereka tinggal di sini, maka akan terjadi keributan, karena itu aku menyuruh mereka pulang dan aku sendiri sedang bersiap-siap akan pergi ke Gunung Kong-dong...."
Mei Shan-ming menarik nafas.
"Itu lebih baik, kali ini aku memang hampir mati, aku benar-benar sudah tidak peduli dengan apa yang terjadi, hanya saja mereka pernah berkumpul denganku, apakah kau telah merepotkan mereka? Di mana Miao Jiu Niang?"
Laki-laki kurus itu dengan wajah datar menjawab.
"Kau tenang saja! Aku tidak pernah membuat mereka repot, hanya saja begitu Miao Jiu Niang mendengar kau meninggal, tidak lama dia juga segera pergi dan aku tidak tahu dia pergi ke mana."
Mei Shan-ming mengangguk dengan82 santai dan berkata.
"Lebih baik seperti itu."
Mendengar pembicaraan mereka Xin Jie tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, dia hanya bengong melihat Mei Shan-ming, Mei Shan-ming mengetahui kebingungan Xin Jie segera dia menarik tangan Xin Jie dan menunjuk laki-laki itu.
"Dia adalah saudara baikku, kelak kau harus memanggilnya Paman Hou Er, bila dia suka kepadamu, kau pasti akan mendapat banyak kebaikan darinya."
Dengan suara kecil dia memanggil.
"Paman Hou Er."
Tapi laki-laki itu hanya menatapnya dengan dingin.
Xin Jie merasa Paman Mei lebih baik dari Paman Hou, dia menundukkan kepalanya lagi.
Mei Shan-ming mengelus pundaknya dan berpesan kepada laki-laki itu.
"Kau tetap di atas, kau suruh Lao Yu setiap waktu mengantarkan makanan untukku, kalau tidak ada hal penting jangan pergi ke mana-mana. Dalam beberapa lama ini aku tidak akan ke atas."
Laki-laki kurus itu mengangguk, tiba-tiba kedua matanya membuka dengan lebar dan melihat Mei Shan-ming.
"Aku lihat83 pulangmu kali ini telah terjadi sesuatu padamu, apakah...."
Mei Shan-ming menarik nafas dan menjawab.
"Nanti kuceritakan, nanti pun kau pasti akan tahu."
Dia membawa Xin Jie meninggalkan ruang tamu dan masuk ke sebuah kamar bersih, tampaknya itu adalah sebuah perpustakaan.
Dia menekan sebuah bata yang terletak di sisi rak buku, tiba-tiba rak itu terbuka, dan terbentang sebuah lorong dan ada tangga menuju ke bawah.
Xin Jie hanya bengong, Mei Shan-ming mengajaknya menuruni tangga itu, kemudian dia berbalik lagi menekan bata, dan rak itu kembali menutup, karena telah tertutup keadaan di sana menjadi gelap.
Xin Jie benar-benar terkejut melihat semua itu, tapi dia adalah seorang anak pemberani, dia tahu kalau Paman Mei tidak berniat jahat kepadanya.
Maka dia pun tidak ragu mengikuti Mei Shan-ming berjalan terus menuruni tangga.
Di bawah tangga ada sebuah ruangan yang sangat indah dan mewah, benar-benar seperti dalam mimpi.
Ruangan bawah ini lebih bagus dari rumah yang ada di atasnya.84 Mei Shan-ming membawa Xin Jie ke bawah dan memutar satu keliling.
Di ruang bawah tanah ada 7 kamar, setiap kamar tampak sangat bagus dan mewah.
Semua itu membuat mata Xin Jie menjadi berkilau, sewaktu dia sedang merasa senang dan menikmati keindahan kamar-kamar itu, Mei Shan-ming telah membawanya masuk ke sebuah kamar.
Begitu memasuki kamar itu, seperti ada udara dingin yang berhembus dan terus meniup ke arahnya.
Tempat tidur, meja yang ada di kamar itu ternyata semuanya terbuat dari batu, dinding kamar itu terbuat dari batu berwarna hijau.
Di dindingnya tergantung sebuah pedang panjang.
Dan di sisi pedang tergantung sebuah tas.
Di atas meja batu masih ada beberapa buku, kecuali semua benda itu di kamar itu tidak ada apa-apa lagi.
Mei Shan-ming berkata pada Xin Jie.
"Mulai hari ini, kau harus tinggal di kamar ini."
Hati Xin Jie langsung menjadi dingin, dia berpikir.
"Didalam ruangan bawah tanah ini begitu banyak kamar, Paman Mei malah menyuruhku tinggal di kamar seperti kamar85 setan ini...."
Hatinya mengeluh tapi dia malu untuk mengungkapkannya, terpaksa dia mengangguk. Mei Shan-ming seperti tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Xin Jie, dia berkata.
"Aku tahu kau tidak suka tinggal di kamar ini, tapi kau harus tahu siapa pun yang tinggal di 7 kamar itu, adalah hal yang sangat mudah, tapi kalau kau ingin tinggal di kamar ini, benar-benar lebih sulit dibandingkan memanjat naik ke langit."
Xin Jie melihat pedang yang tergantung di dinding, dia ingat sorot mata Paman Hou Er dan percakapan yang terjadi di antara mereka tadi, dia segera menjawab.
"Aku suka tinggal di kamar ini."
Tawa Mei Shan-ming segera berhenti, dengan penuh kerinduan dia melihat ke sekeliling kamar batu itu dan kemudian menge-luh.
"Sekarang aku sudah tidak berjodoh lagi dengan kamar batu ini, kau anak pintar tapi apakah kau bisa menguasai 'Qi Yi' milikku? Ini harus dilihat apakah kau rajin dan tahan lelah dalam mempelajari ilmu ini."
Dengan aneh Xin Jie bertanya.
"Apakah Qi Yi itu?"86 Sambil tertawa Qi-mao Shen-jun menjelaskan.
"Kalau kau telah menguasai Qi Yi milikku, maka dendammu bisa terbalaskan."
Dia melihat langit-langit kamar itu dan menarik nafas.
"Dendammu bisa dibalas, dendamku juga harus menunggu kau yang membalaskannya!"
Xin Jie terus menatap Mei Shan-ming, dia sedang memikirkan kata-kata Mei Shan-ming, sampai sekarang Xin Jie belum tahu orang lemah yang berdiri di hadapannya sekarang adalah orang nomor satu di dunia persilatan, dia adalah Qi-mao Shen-jun.
Tapi semenjak dia ikut pulang dengan Paman Mei, sudah terjadi banyak kejadian aneh, dan itu membuat dia mengerti bahwa Paman Mei bukan orang biasa, karena itu dia bersedia tinggal di kamar batu ini.
Kamar batu itu berada di bawah tanah.
Semua perabotannya terbuat dari batu, karena itu setelah seharian berada di dalam kamar, terasa dingin dan gelap.
Apalagi di malam hari, Xin Jie merasa sangat tersiksa dengan keadaan ini.
Hari-hari berlalu, Xin Jie tidak bisa menghitung waktu yang telah berlalu.
Dan dia mulai beradaptasi dengan udara dingin87 di bawah tanah.
Kecuali setiap hari ada yang mengantarkan makanan, dia jarang bertemu dengan Paman Mei.
Pada waktu senggang, dia mulai membaca buku yang tergeletak di atas meja batu.
Buku-buku itu sangat menarik perhatiannya.
Walaupun banyak hal yang tidak dimengerti olehnya, tapi dia berusaha membacanya dengan seksama.
Dengan cepat buku yang berada di atas meja itu habis dibacanya, kemudian ada buku baru yang diantar lagi.
Kadang-kadang Paman Mei datang untuk mengajarkan hal yang tidak dimengerti olehnya.
Hari-hari berlalu dengan cepat.
Xin Jie telah membaca banyak buku.
Xin Jie adalah seorang anak yang pintar.
Setelah membaca begitu banyak buku, dia menjadi seorang yang sangat luas pengetahuannya.
Tapi pada suatu hari, sewaktu dia telah selesai membaca semua buku yang tergeletak di atas meja, tidak ada buku lagi yang diantar untuknya, kecuali ada sebuah buku yang ditulis dengan tangan.
Xin Jie membaca 4 huruf di atas buku itu yaitu 'An Ying Fu Xiang (bayangan gelap wangi88 mengambang).
Didalam buku ini tercatat bagaimana cara berlatih dasar ilmu pernafasan.
Dia mulai mempelajari ilmu tenaga dalam yang merupakan hasil jerih payah Qi-mao Shen-jun.
Dia sendiri tidak tahu sampai di mana kemajuan ilmunya, sebaliknya Mei Shan-ming mengetahui kemajuan Xin Jie dengan jelas.
Xin Jie yang pintar berada di tempat khusus untuk berlatih ilmu silat dan dia berlatih dengan sepenuh hati.
Xin Jie mulai merasakan nafasnya menjadi terbentuk dan nafasnya bisa diatur olehnya.
Gerakan tubuh Xin Jie bertambah gesit.
Seringkali pada saat mengatur nafas, seperti ada perasaan ingin terbang.
Begitu buku An Ying Fu Xiang diganti dengan 'Qiu Zhi Jian Ji', cahaya di dalam kamar batu itu semakin hari semakin gelap.
Xin Jie sudah berada di dalam kamar itu selama 5 tahun.
Selama 5 tahun ini, Xin Jie telah tumbuh menjadi seorang remaja berumur 17 tahun.
Pikirannya telah berubah, dari pikiran tidak tenang menjadi sangat tenang, dari seorang yang biasa menjadi seorang yang luar biasa.89 Sebaliknya Mei Shan-ming dalam beberapa tahun ini telah tambah menjadi tua, rambutnya mulai memutih tapi dia hidup dengan senang.
Melihat Xin Jie tumbuh besar, dia seperti melihat ada nyawa baru yang lahir darinya dia merasa semua kerugiannya telah tergantikan.
Tahun keenam, tahun ketujuh....
Hari berlalu dengan cepat.
Xin Jie yang sudah lama berada di dalam kamar batu, hampir melupakan dunia luar.
Sekarang dia tahu bagaimana kemampuan ilmu silatnya.
Dengan cara apa pun, tubuhnya bisa hinggap di atas dinding yang licin.
Di dalam kamar gelap itu .dia bisa melukis gambar yang sangat sulit.
Satu-satunya hal yang tidak diketahuinya adalah 'Jian' (Pedang) dan 'Zhang' (telapak), dia tidak tahu sebenarnya kemampuannya itu telah sampai pada taraf bagaimana, karena di dalam kamar batu ini, dia tidak bisa membuktikan ilmu pedangnya dan pukulan telapak miliknya.
Sudah 10 tahun berlalu, dia sendiri pun tidak sadar mengapa dia bisa melewati waktu begitu lama di dalam kamar batu ini.
Dia berpikir.
"Mungkin semua ini karena kesenangan dan juga karena keinginanku90 mencari ilmu, sehingga aku bisa bertahan lama di sini. Yang terpenting adalah aku berharap aku tidak menjadi orang yang sangat biasa, karena banyak pekerjaan yang harus kulakukan dan tidak bisa dilakukan oleh orang biasa."
Akhirnya Mei Shan-ming menganggap Xin Jie telah berhasil menguasai apa telah dia ajarkan, yang tidak sangggup dicapai dirinya waktu dulu dan sekarang bisa tercapai oleh Xin Jie.
Karena itu dia membawa Xin Jie keluar dari kamar batu, kamar yang telah ditinggali Xin Jie selama 10 tahun.
Begitu Xin Jie keluar dari lorong dan pada saat melihat matahari, perasan dalam hatinya tidak bisa terbendung lagi.
Itu adalah perasaan gembira bercampur aneh dan terkejut.
Mei Shan-ming menunjuk sebuah kursi, menyuruh Xin Jie duduk di sana.
Sambil tertawa dia berkata.
"Selama beberapa tahun ini kau sudah tersiksa tinggal di kamar batu itu, apakah kau menganggap semuanya itu sia-sia?"
Dengan rasa berterima kasih Xin Jie menjawab.
"Ini semua berkat ajaran Paman91 Mei."
Mei Shan-ming tertawa dan mengangguk.
"Baik, baik. Kau sudah mengerti tujuanku."
Dia melihat cermin yang ada di atas meja dan berkata.
"Kau lihat, apakah aku tampak lebih tua dibandingkan saat kau bertemu denganku di lembah Mei-hua itu?"
Xin Jie melihat rambut Mei Shan-ming yang sudah memutih dan wajahnya yang berkeriput, penampilannya tidak sama dengan seorang pelajar yang pernah dia temui di lembah itu.
Karena itu dengan hati-hati dia berkata.
"Benar, Paman Mei tampak lebih tua. Tapi aku lihat tubuh Paman Mei lebih sehat dibandingkan waktu itu."
Mei Shan-ming mengelus tubuhnya yang sudah mengendur, tiba-tiba bertanya.
"Apakah kau tahu siapa aku sebenarnya?"
Xin Jie ingin menjawab, tapi dia tidak bisa menjawab.
Pertanyaan ini pernah ditanyakan pada Mei Shan-ming ketika Xin Jie pertama kali bertemu dengannya.
Waktu itu Xin Jie memang tidak tahu siapa Paman Mei, tapi setelah Xin Jie hidup bersama dengan Mei Shan-ming selama 10 tahun, kecuali yang dia ketahui kalau dia adalah92 Paman Mei, hal lainnya dia tidak tahu.
Tapi Mei Shan-ming tidak memperhatikan perasaan malu Xin Jie karena pertanyaan ini.
Dia melanjutkan.
"Menurut ceritamu, ayah dan ibumu adalah salah satu dari 9 penjahat besar dunia persilatan, apakah kati pernah mendengar orang-orang dunia persilatan sering mengatakan kalau di Guan Zhong ada 9 penjahat. Di He Luo ada satu pedang, di Hai Nui ada Tuan Qi Miao, dan di Si Wai ada 3 Xian?"
Xin Jie berpikir sebentar, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Mungkin waktu itu kau masih kecil, walaupun pernah mendengarnya tapi kau pasti sudah lupa."
Kata-kata Mei Shan-ming artinya di Guan Zhong ada 9 penjahat yang paling terkenal.
Di He Luo hanya seorang jago pedang Duan Hun yang bernama Wu Zhao-yun, dia adalah nomor satu.
Di Hai Nui orang dunia persilatan menghormati Qi-mao Shen-jun.
Mereka semua adalah orang dunia persilatan yang sangat terkenal.
Kecuali orang-orang itu, masih ada 3 orang yang mempunyai ilmu silat sangat tinggi.
Tapi93 orang-orang dunia persilatan hanya pernah mendengar, tidak ada seorang pun yang pernah bertemu dengan mereka.
Karena itu orang-orang persilatan menjuluki mereka 'Si Wai San Xin'.
Sorot mata Mei Shan-ming yang berbinar-binar dan bercahaya, jarang terlihat oleh Xin Jie.
Dia seperti sedang mengenang sesuatu.
Xin Jie tidak berani menganggu lamunannya, dia hanya diam mendengar cerita Paman Mei.
"Sekarang 9 penjahat Guan Zhong sudah bubar. Jian Duan Hun Wu Zhao-yun terluka di tangan orang yang menamakan mereka sebagai orang dari perkumpulan lurus, dan dia sekarang sudah mati. Qi-mao Shen-jun yang terkenal di Hai Nui adalah orang yang sekarang berdiri di hadapanmu. Singkat kata Qi-mao Shen-jun adalah aku."
Dengan dua mata yang melotot besar dan merasa aneh Xin Jie melihat Mei Shan-ming. Dia tidak pernah berpikir.
"Paman Mei yang tampak begitu lemah dan terpelajar adalah Qi-mao Shen-jun."
Mei Shan-ming mengelus-elus janggutnya dan mengeluh.
"Kelihatannya yang masih bisa berdiri dengan kokoh di94 dunia persilatan adalah 'Si Wei San Xian'. Tapi aku merasa bila mempunyai ilmu silat tinggi, hanya dikubur di dalam gunung atau air, itu sangat disayangkan."
Dengan teliti Xin Jie mendengar semuanya.
Hatinya terus bergejolak.
Pikirannya yang telah bertumpuk selama 10 tahun mengalir semua.
Dia ingin melakukan sesuatu dengan menggunakan bekal ilmu yang telah dipelajarinya dan segera terjun ke dunia persilatan untuk membuat suatu nama.
Pikiran dia yang terus bergejolak tidak bisa terlihat dari wajahnya yang pucat dan juga dingin seperti es karena telah lama tinggal di ruang bawah tanah.
Tapi Mei Shan-ming bisa melihatnya dari dua matanya yang tampak terus berkilauan.
Karena itu Mei Shan-ming segera berkata.
"Apakah kau tahu mengapa aku membawamu kemari? Kecuali rasa kasihan karena kejadian yang telah kau alami, aku juga ingin membantumu membalas dendam, yang terpenting lagi dari semuanya aku melihat bentuk tubuhmu sangat cocok untuk berlatih ilmu silat. Asalkan mau berlatih sedikit, kau pasti akan maju pesat. Benar95 saja! Kau ternyata tidak mengecewakanku. Sekarang dengan kemampuan ilmu silatmu, kau bisa menjadi orang terkenal di dunia persilatan. Kau adalah Qi-mao Shen-jun generasi kedua, masalah yang belum sempat kuselesaikan, kau harus bantu untuk menyelesaikannya."
Wajah Mei Shan-ming terlihat sangat gembira dan berkata lagi.
"Mulai sekarang Qi-mao Shen-jun akan muncul lagi di dunia persilatan."
Tugas yang Xin Jie terima sangat aneh, tapi juga membuatnya merasa senang.
Sorot matanya tampak lebih berkilau lagi.
Walaupun dia masih belum mempercayai semua ini tapi dia ingin mencobanya.
Tiba-tiba di halaman terdengar langkah seseorang yang sangat ringan.
Itu adalah langkah orang yang mempunyai ilmu meringankan tubuh, yang sedang melompat dari tempat tinggi, tubuhnya terdengar bergerak dengan ringan.
Tapi semua ini tidak bisa lolos dari pendengaran Xin Jie yang sudah terlatih selama 10 tahun di kamar batu.
Begitu mendengar ada suara lain, dia segera mengumpulkan tenaganya.
Tubuhnya bergerak seperti seekor ikan, dari96 jendela terbuka dia meluncur keluar.
Tapi halaman itu kosong, tidak tampak ada siapa pun di sana.
Dengan cepat dia mengeli-lingi halaman, tetap tidak ada tanda-tanda aneh.
Dengan kecewa dia masuk kembali ke ruangan tadi.
Begitu masuk ke dalam kamar, kursi di mana dia duduk tadi telah diduduki oleh seseorang.
Dia masuk melalui jendela dan Xin Jie tidak melihatnya.
Dia duduk dengan tegak.
Dengan aneh Xin Jie melihat orang itu, tapi dia segera mengenali kalau orang ini adalah Paman Hou Er.
Diam-diam dia malu kepada dirinya yang mudah terkejut.
Dengan hormat dia memanggil.
"Paman Hou Er."
Wajah Hou Er yang dingin tampak ada senyum dan berkata.
"Sekali berpisah, kita baru bertemu 10 tahun kemudian. Keponakan benar-benar bukan orang biasa, generasi baru menggantikan generasi lama."
Xin Jie teringat tadi dia dengan cepat berlari keluar, dan orang lain dengan tenang duduk di kamar itu. Dengan malu dia menundukkan kepalanya.97 Kata Mei Shan-ming.
"Jahe yang tua tetap lebih pedas. Anak Jie masih kurang pengalaman."
Kemudian dia bertanya kepada Hou Er.
"Bagaimana situasi di luar?"
"Sebagian besar sudah bisa dibereskan. Di kota Wu Han dan kota-kota besar yang ada di sepanjang Chang Jiang, disana aku sudah membeli toko perhiasan, semuanya berjumlah 13. Tinggal menunggu pesanan, Anak Jie akan segera pergi ke sana dan menjadi bos di sana,"
Jawab Hou Er. Mei Shan-ming mengangguk dan berkata kepada Xin Jie.
"Aku menyruhmu berkelana di dunia persilatan tapi tidak mengijinkanmu merebut nama dari orang-orang persilatan yang bodoh. Aku telah menyusun dasar usaha untukmu. Paman Hou Er sudah membelikan toko perhiasan. Aku melakukan semua ini karena, pertama-tama, agar kau tidak kesulitan mencari uang. Karena di dunia persilatan banyak hal yang harus diselesaikan dengan uang. Setelah kau mempunyai uang, apa yang akan kita lakukan lebih mudah."
"Kali ini kau terjun ke dunia persilatan, apa pun yang ingin kau lakukan98 bisa kau lakukan sesuai dengan keinginanmu, tapi yang terutama kau tidak boleh melukai orang baik-baik. Kecuali 'Hai Tian Shuang-sha' yang harus kau hadapi, masih ada 5 perkumpulan besar Zhong Yuan yang menunggumu. Kau harus berhadapan dengan mereka."
Kemudian dia menggebrak meja dan marah.
"Mereka-mereka ini semua munafik, memakai kedok 'orang berilmu silat lurus' tapi melakukan hal yang sangat sadis dan juga memalukan. Kau harus berhati-hati terhadap mereka."
Xin Jie dengan senang berjanji kepada Mei Shan-ming.
Dia tidak tahu keadaan diluar di dunia persilatan.
Tapi apa pun yang dikatakan oleh Paman Mei, dia menganggap kalau semua adalah benar.
Paman Hou Er melihat tangannya dan berkata.
"Jian Shen Li-e, sekarang ini sudah menjadi pemimpin dunia persilatan Zhong Yuan. Asalkan Jian Shen datang, semua masalah akan beres. Dulu, jika aku tidak terluka berat, kedua tanganku masih bertenaga, aku pasti akan mencari mereka untuk bertarung. Tapi sekarang aku hanya bisa berharap pada anak Jie." 99 Kemudian dia tersenyum.
"Mulai besok aku tidak bisa memanggilmu, anak Jie lagi."
Xin Jie terpaku. Mei Shan-ming tertawa.
"Kelak kalau kau berkelana di dunia persilatan, karena kau sangat tidak berpengalaman dan kau juga tidak mengerti tentang toko-toko perhiasan, aku akan meminta bantuan Paman Hou Er untuk menemanimu. Dia akan menjadi pembantu tuamu. Maka mulai besok dia akan memanggilmu dengan sebutan Tuan muda dan tidak bisa memanggilmu, anak Jie lagi."
Xin Jie dengan ragu bertanya.
"Kenapa harus seperti itu...."
Paman Hou Er menjawab.
"Ini semua adalah rencanaku, kau jangan ikut campur.
Sekarang kau harus biasa memanggilku Hou Er.
Ooo)*(ooO Wu Chang, Han Kou, dan Han Yang adalah kota-kota penting yang ada di sisi Chang Jiang di Propinsi Hu Nan.
Pagi-pagi, di pelabuhan Han Kou tampak beberapa pedagang berpakaian bersih.
Sekali melihat, para pedagang langsung tahu kalau mereka menjemput bos mereka, baju mereka tampak mewah, sikap mereka pun100 sangat berbeda.
Banyak orang mencoba bertanya, siapa mereka dan mengapa pagi-pagi seperti ini sudah berada di pelabuhan.
Setelah bertanya kesana kemari, mereka baru tahu kalau orang-orang itu adalah para pelayan toko-toko perhiasan yang baru saja dibuka.
Pelayan-pelayan itu berkumpul di pelabuhan untuk menjemput bos mereka.
Manusia umumnya selalu bersikap egois, melihat orang-orang berbaju mewah dan status mereka hanya pelayan toko segera berkata.
"Toko masih banyak cabang toko yang lain."
Karena itu banyak orang ingin melihat wajah bos toko yang katanya kaya itu.
Kira-kira satu jam kemudian, di atas sungai datang sebuah perahu besar.
Perahu itu sepertinya baru dicat dan dihias dengan sangat mewah.
Di atas perahu tergantung 2 lampion besar dan bertuliskan 'Shan Mei'.
Semua orang tahu kalau bos toko perhiasan Shan Mei telah tiba.
Para pelayan dengan hormat menunggu bos mereka di sisi pelabuhan.
Semua awak kapal tampaknya sangat berpengalaman.
Mereka dengan cepat membuat perahu menepi dan memasang papan untuk turun.
Tirai perahu kemudian101 terbuka.
Ada dua orang keluar dari dalam perahu.
Yang satu adalah seorang laki-laki kurus berumur sekitar 50 tahunan.
Mereka mengira dia adalah bos yang akan membuka toko perhiasan di kota mereka, kemudian disusul seorang pemuda tampan yang berusia sekitar 20 tahunan.
Bajunya tampak mewah tapi wajahnya terlihat pucat.
Sikapnya terlihat sangat angkuh.
Sekarang orang-orang baru tahu kalau pemuda tampan ini adalah baru bos toko perhiasan Shan Mei.
Tadinya mereka mengira yang menjadi bos adalah laki-laki setengah baya berpewakan gemuk karena itu orang-orang di sana terus berbisik-bisik.
Kedua orang itu tidak lain adalah Xin Jie yang baru berkelana di dunia persilatan dan Hou Er yang menjadi pelayan tuanya.
Begitu turun kedarat, dengan lincah Xin Jie melayani orang-orang yang datang menyambut mereka.
Dengan menaiki sebuah kereta yang sudah dipersiapkan sebelumnya, mereka pergi ke kota.
Sore hari, Xin Jie yang baru tiba di toko perhiasan Shan Mei, segera menyebarkan undangan untuk ketua Wu Han,102 tiga kantor perjalanan, dan orang-orang terkenal dunia persilatan.
Hari kedua, malam harinya di sebuah rumah makan terbesar di kota Wu Han, dia menjamu mereka.
Bos toko perhiasan dan dunia persilatan, sebenarnya tidak ada hubungan apa pun.
Tapi setelah tiba di kota itu, dia tidak mengundang para pedagang kota itu, malah mengundang orang dunia persilatan.
Hal ini membuat orang-orang dikota itu merasa aneh.
Orang-orang yang mendapatkan undangan tidak mengenal orang yang telah mengundang mereka.
Setelah bertanya-tanya barulah mereka tahu kalau Xin Jie adalah seorang pedagang.
Karena itu dengan aneh mereka bertanya kepada orang dunia persilatan.
Ternyata mereka baru tahu kalau semua orang dunia persilatan dan kantor perjalanan telah diundang oleh Xin Jie.
Kantor perjalanan memang berhubungan dengan toko perhiasan karena mereka bisa bertugas mengantarkan barang perhiasan, jadi jika mereka diundang, tidak akan terasa aneh.103 Tapi orang-orang dunia persilatan yang telah pensiun, tidak bisa menebak apa arti di balik undangan itu,, karena itu mereka terus menebak-nebak tapi mereka tetap tidak bisa menebak apa maksud di balik semua undangan itu.
Karena itu mereka hanya bisa bersiap-siap pergi untuk melihat-lihat keadaan sebenarnya.
Malam kedua, di rumah makan terbesar di Wu Han tampak penuh sesak Banyak kereta kuda dengan kudanya.
Yang datang adalah orang-orang terkenal, sampai-sampai orang yang biasanya sangat sombong, seperti ketua biro perjalanan Ketua Wu Wei Jin Gong Shen Dan Fan Zhi Cheng, ketua tombak perak Meng Bo-qi dan lain lainnya menghadiri undangan ini.
Beberapa meja telah dipasang di rumah makan itu.
Tamu-tamu undangan sudah hampir hadir semua, tapi tuan rumah masih belum terlihat, hanya ada beberapa orang pelayan toko perhiasan Shan Mei yang tampak sibuk mondar mandir melayani para tamu.
Karena itu orang-orang persilatan menjadi marah, sewaktu mereka hampir melontarkan kemarahan mereka, para104 pelayan segera berteriak.
"Bos Xin telah tiba! Bos Xin telah tiba!"
Begitu lonceng berbunyi, muncullah orang yang dipanggil bos, karena melihat Bos Xin yang masih muda dan tampan pula, orang-orang yang tadinya berniat marah segera menekan kemarahannya.
Begitu tiba di loteng, Xin Jie segera memberi homat dengan wajah penuh kegembiraan.
"Kalian telah lama menunggu, aku minta maaf karenanya, tadi aku masih mempunyai banyak pekerjaan, maka aku terlambat datang."
Kemudian satu per satu orang persilatan memberi salam, Xin Jie menanyakan nama mereka dan mengobrol dengan akrab. Jamuan makan telah dimulai, setelah meminum 3 cangkir arak, Xin Jie berkata.
"Aku adalah seorang pedagang, tapi sejak kecil aku senang berteman dengan orang persilatan, kali ini aku membuka toko perhiasan tapi aku ingin bersahabat dengan teman-teman yang ada di kota ini. Aku dengar di daerah Hu Nan banyak murid Wu Dang, mereka semua berilmu sangat tinggi, sudah lama aku ingin melihat kemampuan mereka." 105 Dia melihat ke sekeliling rumah makan itu, dan dengan teliti memperhatikan ekspresi wajah orang-orang yang diundangnya, sewaktu dia melihat orang-orang yang bukan murid Wu Dang, wajah mereka terlihat tidak senang. Dalam hati Xin Jie merasa sangat senang, dan dia berkata lagi.
"Aku sendiri tidak begitu bisa ilmu silat, tapi aku mengerti sedikit tentang jurus-jurus silat, kalau kita masih berjodoh aku berharap masih bisa melihat ilmu silat Tuan-tuan, apalagi ilmu pedang Wu Dang sangat terkenal."
Untuk kedua kalinya dia menyebut nama Wu Dang, sedangkan 4 nama perkumpulan besar di Zhong Yuan tidak pernah diungkitnya, hal ini membuat orang-orang persilatan tidak senang.
Baru saja Xin Jie mengangkat cangkir araknya, terdengar dia berkata lagi.
"Hari ini arak yang akan kusulang ini adalah untuk Jiu Gong Jian, Pendekar Li dari Wu Dang, mari Pendekar Li, kita bersulang!"
Walaupun Jiu Gong Jian Li Zhi Hua adalah murid Wu Dang tapi di kota Wu Han dia bukan orang ternama, sekarang melihat Xin Jie pertama bersulang untuknya, dia106 merasa sangat senang.
Cangkir arak diangkatnya, dia pun berkata.
"Bos Xin sangat peduli kepada Wu Dang Pai, aku Li Zhi Hua sangat berterima kasih karenanya. Aku memang tidak berguna, tapi Wu Dang Pai adalah perkumpulan nomor satu di dunia persilatan, karena itu aku akan minum arak ini demi Bos Xin."
Perkataannya baru habis, cangkir arak yang dipegangnya telah hancur berantakan.
Karena saat itu Li Zhi Hua sedang merasa bangganya menerima sulangan dari Xin Jie, dia tidak tahu cangkir yang dipegangnya tiba-tiba bisa pecah membuat arak yang ada di dalam cangkir membasahi bajunya.
Mata orang dunia persilatan bergerak dengan cepat, mereka melihat kehadiran seseorang berwajah kuning, dia duduk di sisi ketua biro perjalanan Xin Yang, si Tombak Perak Meng Bo-qi.
Sewaktu Li Zhi Hua sedang memuji-muji kehebatan Wu Dang Pai, tangan orang itu melambai dan sumpit yang dipegangnya meluncur memecahkan cangkir arak itu.
Sumpit meluncur dengan kencang, setelah memecahkan cangkir, sumpit itu107 masih terlihat melayang dan 'TOENG' sumpit menancap di dinding dengan dalam.
Wajah Li Zhi Hua tampak berubah, karena cangkirnya telah pecah, dia melihat ke sekeliling, melihat pandangan orang-orang sedang terarah pada laki-laki berwajah kuning itu.
Dalam hati dia merasa aneh dia tahu kalau cangkirnya pecah karena sambitan sumpit orang itu, tapi dia tidak mengenal orang itu sama sekali, dan di Wu Han dia tidak pernah melihat laki-laki itu.
Apa alasan laki-laki itu memecahkan cangkirnya?
Perlu diketahui lejadian ini benar-benar membuatnya malu, di dunia persilatan kalau terjadi peristiwa seperti ini, tentu saja akibatnya akan timbul pertarungan, karena tidak ada cara penyelesaian yang lain.
Wajah Li Zhi Hua tampak dingin seperti es, dia marah.
"Dasar tak tahu diri, apa maksudmu? Kalau kau ingin berhadapan dengan aku yang bermarga Li, kau tinggal bicara, aku akan menyambut tan tanganmu!"
Xin Jie melihat ada orang yang memecahkan cangkir Li Zhi Hua, dalam hati108 dia merasa senang dan berpikir.
"Benar, semua berjalan sesuai dengan perkiraanku, tapi semua ini terjadi sangat cepat, aku sendiri cukup terkejut karenanya."
Tapi dia berpura-pura ketakutan, kedua tangannya terus bergoyang.
"Ada apa ini? Ada apa? Tuan-tuan jangan marah, kejadian seperti ini malah akan membuatku sulit."
Kedua tangan laki-laki berwajah kuning itu menyatu dan dia memberi hormat kepada Xin Jie, dia tidak melihat ke arah Li Zhi Hua, bahkan seperti tidak sudi untuk melihatnya.
Kemarahan Li Zhi Hua memuncak, walaupun dia bukan orang nomor satu di dunia persilatan, tapi di hadapan banyak orang, orang dengan terang-terangan telah menghinanya, itu sangat memalukan sekali.
Dengan marah dia melotot pada orang itu, tapi orang itu sama sekali tidak sudi melayaninya, malah dengan tenang berkata pada Xin Jie.
"Aku adalah Yu Yi-fei, secara kebetulan aku sedang bermain ke kota Wu Han, dan mendengar kalau Bos Xin sedang menjamu orang-orang terkenal dikota ini, aku ingin sekali berkenalan dengan Anda,109 maka walau tidak diundang aku tetap nekad datang, aku mohon maaf."
Begitu mendengar namanya, hati Xin Jie bertambah senang, dia berpikir, Yu Yi-fei adalah salah seorang dari 3 pendekar pedang terkenal Kong-dong-pai, dia adalah Di Jue-jian (pedang membelah tanah) yang pernah disebut oleh Paman Hou Er, hari ini siasatku bisa dimulai dari dia, benar-benar suatu hal yang bagus."
Dalam hati dia berpikir seperti itu, tapi di mulut dia berkata.
"Hari ini aku menjamu para tamu, maksudnya tidak lain adalah ingin berkenalan dengan semua orang di sini. kalau pendekar Yu bisa hadir di sini, aku benar-benar merasa sangat senang."
Dari sudut mata dia melihat Li Zhi Hua, dia benar-benar tampak sangat marah dan tidak tenang, tapi mungkin karena dia mendengar nama besar Yu Yi-fei, dia jadi terkejut karenanya.
Tapi kalau Xin Jie menghindar dan takut, maka tidak akan terjadi keributan, hatinya tergerak dia terpikir rencana lain.
Karena itu dia segera berkata.
"Pendekar Li adalah murid terbaik dari Wu Dang, apakah Pendekar Yu ada perselisihan110 dengan Pendekar Li? Menurutku sebaiknya perselisihan kalian jangan diteruskan lagi."
Kata-kata Xin Jie menegaskan lagi kehebatan Wu Dang Pai. Tapi Di Jue-jian, Yu Yi-fei tertawa terbahak-bahak, dengan sombong dia berkata.
"Aku marga Yu memang tidak berguna, tapi kalau mengatakan di antara aku dan marga Li ada perselisihan, itu benar-benar keterlaluan! dia tidak pantas menaruh dendam kepadaku, aku hanya tidak senang dengan cara bicaranya yang terlalu dibesar-besarkan, maka dengan cara ini pula aku ingin mengajarnya!"
Semua orang yang hadir dalam undangan itu merasa pasti akan terjadi keributan di sana.
Di Jue-jian Yu Yi-fei adalah pesilat pedang nomor satu di dunia persilatan, dia juga murid kedua Jian Shen Li-e.
Di Jue-jian Yu Yi-fei dan Tian Jue Jian Zhu Ge-ming dan Ren Jue Jian, Su Yang Xue dinamakan 'Kong-dong-pai San Jue'.
Selama beberapa tahun ini nama mereka sangat terkenal di dunia persilatan.
Sedangkan yang bernama Li Zhi Hua hanya orang biasa di dunia persilatan, tapi dia adalah murid Wu Dang.
Wu Dang Pai selalu menjadi perkumpulan terbesar di111 dunia persilatan, murid-muridnya pun sangat sombong, sekarang mana mungkin dia mau dihina begitu saja oleh orang lain?
Karena merasa tidak ada hubungan, semua orang hanya diam melihat kejadian itu, juga tidak ada yang keluar untuk melerai atau memberi nasihat.
Li Zhi Hua berdiri di sana, wajahnya sebentar terlihat merah sebentar terlihat hijau.
Kemampuan ilmu silatnya tidak sebanding dengan Di Jue-jian Yu Yi-fei, tapi Li Zhi Hua di kota Wu Han adalah orang terkenal, dengan cara apa pun dia harus menghapus penghinaan ini.
Setelah dipikir-pikir dalam hati dia telah mempunyai siasat, karena itu dia pura-pura marah, kemudian menggebrak meja dan berteriak.
"Hei marga Yu, jangan sombong kau! Orang lain mungkin takut kepada Kong-dong San Jue Jian, tapi aku Li Zhi Hua ingin melihat sampai di mana sebenarnya kemampuan ilmu silatmu!"
Dia menatap orang-orang di sana, wajah mereka terlihat berekspresi aneh, karena mereka tahu biasanya orang yang bernama Li Zhi Hua ini hanya bicara di mulut, kalau benar-benar harus112 mempraktekkan omongannya, dia pasti akan bersembunyi dulu, tak disangka hari ini dia bertemu dengan Yu Yi-fei yang sangat sombong, malah berani menantangnya.
Apa yang terlintas dalam pikiran Li Zhi Hua?
Sebenarnya Li Zhi Hua telah menyusun sebuah rencana, dia memang gentar dengan ilmu silat Yu Yi-fei, tapi dia tidak mau dirugikan begitu saja.
Karena itu dia berniat menjadikan peristiwa ini menjadi permusuhan antara Wu Dang Pai dan Kong-dong-pai.
Karena itu apa pun yang akan menimpanya nanti, Wu Dang Pai pasti akan membantunya, dan dia tidak akan rugi sama sekali.
Dalam hati dia terus menyusun rencana, dia tidak tahu karena dirinya dunia persilatan akan terjadi pergolakan besar, membuat Wu Dang Pai dan Kong-dong-pai, dua perkumpulan besar ini terus bermusuhan.
Tapi apa yang menjadi rencana Li Zhi Hua itu pula yang sedang dipikirkan oleh Xin Jie, Xin Jie sengaja bersikap seperti orang yang meremehkan masalah, dia bangun dari tempat duduknya mencoba menasihati mereka.
"Untuk apa....? Pendekar Li...." 113 Tangan Li Zhi Hua tampak melambai, dia memotong kata-kata Xin Jie.
"Bos Xin, Anda jangan ikut campur, aku bukan anak yang tidak mengerti apa-apa, hei marga Yu, kalau kau berani, tiga hari dari sekarang pada pukul satu malam, kita bertarung di Huang He Lou, dan kita tentukan hidup dan mati!"
Mata Yu Yi-fei tampak melotot, matanya seperti sebuah gunting tajam, terus menatap Li Zhi Hua.
Dalam hati Li Zhi Hua sudah gentar, dan dia sangat mengerti kalau Yu Yi-fei ingin bertarung dengannya sekarang juga, dia pasti akan kalah total, karena itu dia segera pura-pura "
Marah lagi, kemudian berjalan dengan cepat keluar dari rumah makan itu. Dengan nada menghina Yu Yi-fei berkata.
"Tidak disangka, murid Wu Dang adalah orang yang licik!"
Xin Jie melihat Li Zhi Hua sudah pergi, dia ingin tertawa, tapi dia pura-pura menggelengkan kepalanya seperti sangat menyayangkan kejadian ini. Lalu dia berkata.
"Tidak kusangka, kukira...."
Dia sengaja berhenti bicara, kemudian114 mengganti topik pembicaraan.
"Pendekar Yu sangat luwes, dari perkumpulan manakah Tuan ini?"
Yu Yi-fei paling senang bila dipuji orang, mendengar Xin Jie memujinya, dengan senang dia menanggapi.
"Bos Xin terlalu sungkan, aku tidak berbakat, guruku adalah orang yang paling dihormati, kalau Bos Xin senang dengan ilmu silat, pasti pernah mendengar nama Tian Xia Di Yi Jian?" (jago pedang nomor satu di dunia). Xin Jie pura-pura menepuk dahinya dan mengeluarkan ekspresi seperti baru mengerti, dan berkata.
"Aku benar-benar bodoh, begitu mendengar nama Pendekar Yu, seharusnya aku tahu kalau Pendekar Yu adalah murid dari orang nomor satu dunia persilatan, dan juga salah satu dari Kong-dong San Jue Jian yang terkenal di dunia persilatan."
Dia mengangkat cangkirnya dan meneguk hingga habis lalu tertawa.
"Aku memang pantas dihukum karena telah lupa pada nama besar Pendekar Yu."
Dia menuang secangkir arak lagi dan melihat ke sekeliling.
"Tuan sekalian pun karena hal kecil tadi telah terganggu, hari115 ini kalau tidak mabuk dan tidak makan kenyang, jangan bubar dulu, kita minum sampai mabuk baru bubar, apakah setuju?"
Xin Jie menepuk tangannya dua kali, seorang pelayan rumah makan segera menghampirinya, dengan hormat dia bertanya.
"Tuan, Anda mau pesan apa?"
"Hari ini yang datang ke rumah makan ini adalah para pendekar besar dan juga para pahlawan, tentu saja harus ada nona cantik yang menemani kami, pergilah ke kota dan panggil semua perempuan penghibur ke sini, siapa pun yang mau datang ke sini berikan kepadanya uang lOOtail perak."
Mendengar hal itu pelayan rumah makan itu merasa senang dan juga aneh, dia merasa aneh karena Bos Xin ini sangat mudah mengeluarkan uang, sekali memberi uang jumlahnya sampai 100 tail perak, yang harus diketahui kalau dibandingkan dengan harga dulu, 100 tail perak ini cukup untuk hidup selama beberapa bulan untuk sebuah keluarga tingkat menengah.
Yang membuatnya senang adalah dia akan mendapatkan banyak keuntungan, karena itu dengan senang dia pergi ke kota.
Para pendekar dan semua orang yang116 ada di sana terkejut karena kemurahan hati Bos Xin, cara Xin Jie sangat cocok dengan keinginan mereka, karena itu mereka segera bersorak dan segera menyukai Xin Jie.
Yu Yi-fei pun tertawa senang.
"Bos Xin adalah tuan muda yang sangat murah hati, sangat berbeda dengan pedagang biasanya. Aku ingin berteman dengan Tuan."
Xin Jie menepuk-nepuk pundak Yu Yi-fei dan berkata.
"Ini merupakan hal yang sangat menyenangkan."
Dia melihat para tamu dan berkata lagi.
"Aku adalah orang biasa, bisa berteman dengan begitu banyak pendekar, walaupun rugi uang aku merasa senang, mari kita bersulang!"
Xin Jie masih muda dan tampan, murah hati, dan banyak uang, semua pendekar yang ada di sana ingin berteman dengannya, semua orang terus memuji Xin Jie dan juga membicarakan hal tadi.
Ooo)*(ooO BAB Qi-mao Shen-jun muncul kembali Tiba-tiba pelayan di bawah berteriak.
"Yu Feng, Yu Lan, Xiao Chui, dan Yu Xi keempat dari kelompok Chui Xi sudah117 datang!"
Kemudian terdengar langkah orang menaiki tangga.
Semua pendekar tampak bersemangat melihat ke arah tangga, ternyata yang datang adalah empat orang nona muda yang berdandan sangat cantik dan tubuh mereka dipenuhi dengan perhiasan, mereka muncul di rumah makan itu.
Begitu menaiki tangga mereka sudah tertawa sangat manis.
Para pendekar dunia persilatan kebanyakan adalah langganan tempat pelacuran, melihat ada 4 orang perempuan datang ke sana, mereka merasa sangat senang.
Ada yang mempersilakan mereka duduk, dan ada pula yang mengajak mereka bicara.
Xin Jie pun ikut melayani mereka.
Tidak lama kemudian pelayan berteriak lagi.
"Ya Feng, Mei Liu, dan Bai Li dari kelompok Feng Liu telah tiba!"
Kemudian pelayan berteriak beberapa kali lagi, akhirnya semua pelacur yang terkenal di kota itu telah hadir di rumah makan.
Para pelacur itu mendengar ada orang yang sangat kaya mengundang mereka, bagaima-na tidak bakal tertarik?
Begitu perempuan itu naik ke atas,118 suasana di loteng terasa lebih berbeda, ada yang menemani mereka minum, ada yang bercanda, ada yang memang sudah saling kenal, dan para gadis itu duduk di pangkuan para pendekar sambil bersenda gurau.
Xin Jie terpaksa pura-pura dia seperti berpengalaman dalam hal ini, walaupun dia bersifat terbuka, tapi adalah untuk pertama kalinya dia mengalami keadaan seperti ini.
Dalam hati dia merasa sedikit gelisah, tapi dia berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Para pendekar yang melihat Xin Jie masih duduk sendiri, segera Jiu Gong Shen Dan tertawa dan berkata.
"Kami hanya tahu kesenangan sendiri, sampai tuan rumah malah dibiarkan, kami harus dihukum, benar-benar harus dihukum!"
"Kalian bersenang-senanglah, aku baru tiba di kota ini, masih tidak begitu mengenal tempat dan orang-orangnya."
Para pelacur itu mendengar perkataan Xin Jie, mereka baru tahu kalau tuan muda yang kaya ini sangat murah hati, ditambah lagi Xin Jie ternyata adalah seorang anak muda tampan dan gagah.
Para pelacur itu senang dengan ketampanan dan juga senang119 dengan uang, mendengar kata-kata Xin Jie mata genit mereka segera melayang ke arah Xin Jie.
Ya Feng adalah pelacur terkenal di Wu Han, dia segera bangkit berdiri dan berjalan ke arah Xin Jie, tubuhnya sudah menempel ke tubuh Xin Jie, dengan tertawa manja, dia bertanya.
"Siapalah marga Tuan? Mengapa aku tidak pernah melihat Tuan datang ke tempat kami?"
Tangannya yang lembut diletakkan di bahu Xin Jie, Xin Jie mencium harum tubuhnya yang terasa manis, harum itu menusuk hidung-nya, hatinya jadi berdebar-debar.
Jari lembut Ya Feng seperti tidak sengaja menyentuh telinga Xin Jie, mendengar Xin Jie tidak menjawab, wajahnya ditempelkan di telinga Xin Jie, dan dengan nada manis serta lembut dia berkata.
"Hayo beritahukan kepadaku."
Sebenarnya Xin Jie tidak suka dengan para pelacur itu, tapi karena sifatnya memang terbuka, apalagi selama 10 tahun ini dia telah dipengaruhi oleh Qi-mao Shen-jun, dia merasa kecuali hal-hal yang menyangkut tentang kebenaran, hal lainnya120 boleh dilakukan dengan sekehendak hatinya.
Apalagi dia tahu kalau dia muncul dengan latar belakang sebagai orang kaya, keadaan seperti ini pasti akan sering ditemuinya.
Karena itu dengan tertawa dia memegang tangan Ya Feng.
"Kelak, aku pasti akan main-main kesana, dan aku akan mencarimu."
Ya Feng tertawa manja, dia pun duduk di pangkuan Xin Jie dan berkata.
"Aku tahu kalau kau sedang berbohong kepadaku."
Si Tombak Perak, Meng Bo-qi berdiri sambil tertawa menunjuk.
"Kalian lihat, Ya Feng sudah mempunyai teman akrab, dan dia sudah melupakan kita."
Para pendekar di sana terus tertawa, Jiu Gong Shen Dan tertawa.
"Kita harus menghukum Ya Feng, hukum dia bernyanyi untuk kita."
Para pendekar di sana bertepuk tangan tanda setuju. Dengan manja Ya Feng berkata.
"Aku tidak bisa bernyanyi, lagu apa yang harus kunyanyikan?"
Xin Jie ikut mendukung, Ya Feng dengan manja berkata.
"Aku hanya akan bernyanyi untuk Tuan." 121 Kemudian dia berdiri tapi tubuhnya tetap menyandar pada Xin Jie, dan dia mulai bernyanyi. Sambil bernyanyi, jarinya terus mengelus-elus punggung Xin Jie dan matanya terus menatap Xin Jie. Dengan suara manja, dan matanya terus dimainkan, dia bernyanyi.
"Malam telah larut, salju terus turun, kuda berjalan hingga terpeleset, di jalan tidak ada seorang pun yang lewat, aku harus tinggal di mana? Di mana....?"
Orang yang mengerti nyanyiannya, pasti akan mengerti apa yang dimaksud olehnya.
Para pendekar terus bertepuk tangan, si Tombak Perak Meng Bo-qi adalah seorang pendekar yang menyukai ilmu sastra, pergaulannya dengan perempuan sangat luas, sekarang dia berteriak.
"Kalian lihat, Tuan Xin baru datang sehari saja sudah ada yang berniat menginap di rumahnya, kelihatannya malam ini akan ada yang tidur di tempat hangat."
Ya Feng tertawa lagi, dengan malu-malu dia masuk ke dalam pelukan Xin Jie, Xin Jie merasa jantungnya terus berdebar-122 debar.
Waktu berlalu dengan cepat, dalam kegembiraan yang menjadi-jadi, arak terus dituangkan, sayur di atas meja tidak pernah kekurangan.
Tapi yang namanya pesta pasti akan ada akhirnya.
Orang yang tidak bernama telah meninggalkan tempat, dan semakin banyak orang yang meninggalkan rumah makan itu.
Para pelacur banyak yang berebut antrian ke kasir untuk mengambil honor mereka dan pulang kembali ke tempat mereka.
Terakhir hanya tertinggal Jiu Gong Shen Dan, Fan Zhi Cheng, Tombak Perak Meng Bo-qim Mei Liu, Di Jue Yu, Yi Feng, Xin Jie, Ya Feng, Mei Liu, Yu Feng, dan Xiao Chui.
Ya Feng masih bersandar di tubuh Xin Jie, Jiu Gong Shen Dan tertawa.
"Kita pun harus pergi, biar Bos Xin mampir ke tempat Ya Feng untuk mengobrol, kitajangan ganggu mereka."
Dia berdiri dan menarik Tombak Perak pergi dari sana, sekarang Xin Jie benar-benar terkejut, dan dengan cepat dia berkata.
"Pendekar Yu jangan pergi dulu,123 malam ini menginaplah di rumahku, pertemuan kita seperti jodoh, kita bisa mengobrol malam ini sambil minum arak."
Ya Feng mencubit Xin Jie lalu cemberut. Yu Yi-fei melihat kelakuannya dan tertawa.
"Sebenarnya aku ingin ke rumahmu untuk menginap, tapi Nona Ya Feng sepertinya tidak mengijinkanku."
Dari balik dadanya Xin Jie mengeluarkan beberapa butir mutiara, benda itu sangat berharga, lalu dia memberikannya pada Mei Liu, Chui Xi, Yu Feng, masing-masing mendapatkan satu butir, dengan senang hati mereka menerimanya.
Xin Jie pun memberikan pada Ya Feng beberapa butir lalu berkata.
"Hari ini kau pulang dulu, nanti aku akan ke sana mencarimu, kau tenang saja, aku pasti akan datang ke sana."
Dengan lembut Ya Feng berbisik di telinganya.
"Aku pasti akan menunggumu."
Dia belum pernah bertemu dengan tamu yang begitu murah hati.
Kemudian dia berdiri dan pulang bersama dengan Yu Feng dan Mei Liu.
Setiba di ujung tangga dia membalikkan kepala melihat Xin Jie.
Xin Jie tertawa di dalam hatinya dia berkata, 'Menurut Paman Mei,124 ilmunya yang bernama Qi Yi (7 keahlian) baru dipelajari olehnya sebanyak 6 macam, sekarang sisa yang satu lagi sudah dapat kukuasai.
"Dia melihat si Tombak Perak dan juga Yu Yi-fei, serta Jiu Gong Shen Dan lalu berpikir.
"Hari ini aku mendapat banyak keuntungan, kalau Paman Mei tahu, dia pasti akan senang."
"Hari ini bisa bertemu dengan Kakak Xin, aku merasa sangat senang, kelak bila Kakak Xin sudah menetap di sini, kami pasti akan sering berkunjung,"
Kata si Tombak Perak.
"Itu sudah pasti, Kakak Xin tidak mengundang pun kami akan bertebal muka datang ketempat Kakak Xin,"
Jiu Gong Shen Dan ikut bercanda.
"Masih banyak hari lain, beberapa hari lagi aku akan mengundang kalian datang ke rumahku."
Dengan sikap hormat Xin Jie mengantar mereka ke bawah dan berkata pada Yu Yi-fei.
"Kalau aku tidak mengganggu Kakak Yu, aku berniat mengundang Kakak datang ke rumahku."
"Sebenarnya aku hanya mampir di kota125 ini, aku akan pergi ke Wu Dang dan meminta kembali benda milik guruku, malam ini aku sudah harus pergi, tidak disangka aku bisa bertemu dengan Kakak Xin."
Kedua alis Yu Yi-fei tampak berkerut dan wajahnya menampakkan aura membunuh, dia berkata lagi.
"Apalagi 3 hari dari sekarang aku harus membereskan suatu masalah, mungkin aku akan mengganggu Kakak Xin selama 3-5 hari ini."
"Kalau Kakak Yu mau tinggal di rumahku, aku malah merasa sangat senang, selama 3 hari ini aku akan menemani Kakak Yu berjalan-jalan,"
Dia menarik nafas dan berkata lagi.
"Tinggal 3 hari lagi, Kakak Yu harus berhati-hati, marga Li itu pasti mengajak teman untuk membantunya. Aku tidak bisa membantumu karena aku tidak bisa ilmu silat."
Yu Yi-fei tertawa terbahak-bahak, dia menepuk-nepuk pundak Xin Jie katanya.
"Tenang saja Kakak Xin, orang seperti marga Li tidak perlu ditakuti."
Dari nadanya terdengar dia sangat percaya diri.
"Sepertinya aku mendengar kalau Wu Dang dan Kong-dong akan bergabung, apakah rencana Kakak Yu...."
Kata Xin Jie.126 Yu Yi-fei dengan angkuh berkata.
"Kalau bukan karena guruku dengan Wu Dang sedikit bersahabat pada 10 tahun lalu, mana mungkin aku akan membiarkan marga Li itu meninggalkan rumah makan begitu saja?"
Dia berkata lagi.
"Kakak Xin pasti belum tahu, Wu Dang Pai selalu dicap paling banyak anggotanya sehingga mereka sangat sombong, sebenarnya murid-murid Wu Dang itu hanya gentong nasi semua, guruku pernah mengatakannya padaku, sebelum musim gugur, di Tai Shan akan diadakan pertandingan ilmu pedang, maka sebelum tiba waktunya kami tidak boleh bermusuhan dengan orang-orang Wu Dang, tapi aku harus menghancurkan kesombongan mereka, kalau aku sampai dimarahi guru, aku akan menjelaskan apa alasanku."
"Apakah pertandingan ilmu pedang di Tai Shan yang dipelopori oleh 5 perkumpulan penting juga akan mengundang orang-orang persilatan untuk ikut bertanding? Apakah disana juga akan terjadi perebutan gelar ilmu pedang nomor satu di dunia persilatan? Kalau begitu, tidak perlu diperebutkan lagi, karena sekarang ini siapa yang sanggup mengalahkan gurumu?" 127 Dengan sikap senang Yu Yi-fei tertawa.
"Itu sudah pasti, rapat di Tai Shan diadakan setiap 10 tahun sekali. 10 tahun yang lalu, guruku dengan pedangnya telah memenang-kan pertandingan itu, dan beliau mendapat julukan jago pedang nomor satu' di dunia persilatan. Ku An Shang-ren dari E Mei dan Pendekat Chi-yang dari Wu Dang berhasil dikalahkan oleh beliau. Hanya saja dalam rapat Tai Shan kali ini ada satu peraturan penting yaitu orang yang pernah ikut dalam pertandingan itu tidak boleh ikut dalam pertandingan berikutnya."
Dengan senang dan angkuh dia melanjutkan lagi.
"Rapat Tai Shan kali ini tentu akan menjadi milik kami."
Dalam hati Xin Jie tidak senang dengan sikap Yu Yi-fei yang sombong, tapi mulutnya berkata.
"Kong-dong San Jue sudah sangat terkenal di dunia persilatan, kelihatannya gelar 'nomor satu' di dunia ini akan jatuh ke tangan Kong-dong-pai."
Yu Yi-fei tertawa, dia seperti setuju dengan kata-kata Xin Jie, mata Xin Jie tampak bercahaya aneh.
Tapi Yu Yi-fei tidak memperhatikan cahaya mata Xin Jie, dia mengikuti Xin Jie128 naik kereta, dan pergi dengan hati senang, dia telah membayangkan dengan tangan memegang pedang berdiri di puncak Tai Shan, dan di dunia persilatan dia akan dijuluki 'nomor satu di dunia persilatan'.
Dua orang berada dalam satu kereta, masing-masing mempunyai pikiran berbeda, hanya terdengar roda kereta berderit melewati jalan kota Wu Han.
Tiba-tiba atap kereta bergetar, seperti ada suatu barang berat yang menimpa atap kereta.
Xin Jie dan Yu Yi-fei sangat terkejut.
Terdengar darii atap kereta ada suara seorang perempuan dengan terengah-engah berkata.
"Cepat jalan, jangan hentikan kereta!"
Kemudian kusir kembali telah memecut kuda dan kereta terus berjalan lagi.
Mungkin karena kusir itu diancam terpaksa dia melarikan kudanya dengan cepat.
Mungkin gadis itu mengancam dengan pisau.
Dua orang yang berada di dalam kereta adalah pesilat tangguh, tapi Xin Jie pura-pura tidak bisa ilmu silat, dia mengerutkan alisnya dalam hati dia terus berpikir.
"Apakah terjadi perampokan? Tapi cara129 perempuan itu menjatuhkan dirinya ke atap kereta, ilmu meringankan tubuhnya biasa-biasa saja, tapi nafasnya terdengar begitu cepat, seperti ada yang mengejarnya."
Yu Yi-fei menarik baju Xin Jie, dan dengan suara kecil dia berkata.
"Kakak Xin, perempuan itu benar-benar tidak tahu diri, dia berani menaiki kereta ini, malam ini aku sedang tidak ada pekerjaan, lebih baik aku sedikit main-main dengannya, biar Kakak Xin mendapat sedikit hiburan, sekalian aku ingin memberi pelajaran padanya."
Dengan cepat Yu Yi-fei membuka jendela bagian belakang kereta, tubuhnya sudah meluncur seperti ikan, dengan bebas dia keluar dari kereta.
Kegesitan tubuhnya benar-benar pantas disebut sebagai orang terkenal dunia persilatan.
Kemudian Xin Jie mendengar gadis itu berteriak.
"Kau jahat...."
Suaranya belum habis, dia tidak meneruskannya, Xin Jie tahu gadis itu telah ditotok jalan darahnya oleh Yu Yi-fei. Ternyata memang benar, dari luar jendela Yu Yi-fei telah berteriak.
"Kakak Xin sambutlah!"
Begitu membalikkan kepala,130 Yu Yi-fei telah melempar seseorang ke dalam kereta, Xin Jie secara otomatis menjulurkan tangannya untuk menyambut orang itu, tapi tiba-tiba dia ingat sekarang ini dia sedang berpura-pura menjadi orang yang tidak bisa ilmu silat, maka dengan sengaja dia menyambut tapi tidak berhasil dan gadis itu malah terjatuh.
Xin Jie merasa ada tubuh hangat yang menindihnya, dan kepala gadis itu menghadap ke wajahnya, nafasnya terasa di wajah Xin Jie.
Wajah Xin Jie langsung menjadi merah, dia tahu kalau gadis itu telah ditotok, tapi gadis itu masih sadar dan masih bisa berpikir dengan jernih.
Begitu sadar kalau wajahnya hampir menempel di wajah seorang laki-laki, dan masing-masing bisa merasakan nafasnya, tapi dia tetap tidak mampu untuk bergerak, karena malu dia hanya bisa memejamkan matanya.
Yu Yi-fei masuk ke dalam kereta melalui jendela, melihat di dalam kereta yang sempit mereka sedang berpelukan, dia tertawa terbahak-bahak, kemudian menarik gadis itu bangun.131 Xin Jie baru bisa bangun, nafasnya terengah-engah dan dia menyalahkan Yu Yi-fei.
"Kakak Yu, bukankah Kakak tahu kalau aku tidak bisa menyambut orang sebesar ini?"
Yu Yi-fei meletakkan gadis itu di kursi kereta, sambil tertawa dia berkata.
"Kakak Xin seharusnya berterima kasih padaku, karena gadis ini sangat cantik, dan aku mengantarkannya masuk ke dalam pelukanmu, mengapa kau malah menyalahkan aku?"
Xin Jie menatap gadis itu walaupun rambutnya berantakan dan bajunya tidak rapi tapi dia benar-benar seorang gadis cantik.
Gadis itu memejamkan matanya, bulu matanya yang panjang tampak menyapu pipinya, dadanya yang ranum tampak turun naik, Xin Jie teringat posisi mereka tadi, dan wajahnya menjadi merah lagi.
Dengan cepat dia mengalihkan pikirannya, dan bertanya.
"Mengapa malam-malam seperti ini Nona meloncat keatap keretaku? Harap Nona mau menjelaskannya."
Gadis itu membuka matanya, bola matanya berwarna hitam, sinar matanya bening seperti air, dia melihat Yu Yi-fei132 dan Xin Jie, wajahnya segera tersenyum.
Dia seperti ingin bicara, tapi dia baru tahu selain kelopak matanya yang bisa digerakkan, anggota tubuh bagian lainnya sama sekali tidak bisa digerakkan, bahkan tenaga untuk berkata pun tidak ada.
Xin Jie melihat cara menotok Yu Yi-fei walaupun orang itu tidak bisa bergerak tapi tidak sampai melukainya, artinya Yu Yi-fei mempertimbangkan sesuatu.
Yu Yi-fei terus tertawa, dengan cepat dia menepuk ketiak dan juga punggung gadis itu, gadis itu segera menarik nafas panjang kemudian tangan dan kakinya sudah bisa digerakkan lagi.
Kereta berjalan dengan kecepatan sedang, di jalan sangat sepi, lampu-lampu yang ada di toko-toko dan tempat tinggal tampak sudah dipadamkan, tiba-tiba terdengar suara kasar yang berteriak.
"Ayo kita kejar, gadis itu masuk ke dalam kereta itu!"
Alis Yu Yi-fei terangkat, gadis itu sudah berlutut, dan memohon.
"Kalian berdua tolonglah aku, mereka bukan orang baik-baik! Mereka ingin...."
Wajah gadis itu tampak menjadi merah133 dan dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya, tapi Yu Yi-fei dan Xin Jie mengerti apa yang dimaksud oleh gadis itu, Yu Yi-fei adalah murid Kong-dong-pai yang beraliran lurus begitu mendengar kelakuan orang-orang itu dia marah.
"Mereka benar-benar jahat, berani berbuat kejahatan dikota ini!"
Dia bertanya pada gadis itu.
"Siapa mereka? Apakah kau kenal mereka?"
Gadis itu menggelengkan kepala, di luar tampak beberapa orang turun dari atap rumah, kusir itu terkejut dan berteriak, tapi terdengar suara serak yang membentak.
"Hei, hentikan kereta!"
Xin Jie tidak bisa membantu, tapi dia tahu dengan mengandalkan Yu Yi-fei menghadapi para perampok itu, merupakan hal mudah bagi Yu Yi-fei.
Karena itu dia hanya diam duduk di kursi kereta, dia ingin tahu dengan cara apa Yu Yi-fei menghadapi masalah ini dan juga dia ingin tahu bagaimana kemampuan ilmu pedang Yu Yi-fei.
Kereta berhenti, gadis itu tampak ketakutan dan dia bersembunyi di sudut kereta, kedua matanya tampak ketakutan134 sambil mengintip keluar.
Xin Jie pun ikut melihat keluar, dia melihat di depan kereta ada 7-8 orang laki-laki membawa golok yang tampak berkilauan, yang satu tampak mengayun-ayunkan goloknya dan berkata.
"Hei, kalian yang ada di dalam kereta, kami adalah kawanan dari Shen Long He Xin Xiong yang menjadi kepala perampok di sini, hari ini kami lewat di sini tidak berniat mengganggu penduduk di sini, kami hanya mencari seorang gadis yang melarikan diri dari perahu, dan gadis itu berada di dalam kereta kalian, kalau kalian menyerahkan gadis itu, aku jamin kalian akan selamat."
Yu Yi-fei membuka pintu kereta dengan sikap angkuh dia keluar dari kereta, dia membentak.
"Di sini tidak ada gadis yang kalian cari, sekalipun ada aku tidak akan menyerahkannya pada kalian!"
Para laki-laki itu melihat pedang yang berada di tangan Yu Yi-fei dan mendengar kata-katanya yang begitu angkuh, mereka tidak tahu siapa Yu Yi-fei.
Laki-laki yang berada paling depan sepertinya adalah pemimpin kelompok, dia segera memberi hormat dan berkata.
"Sobat,135 sepertinya Tuan seorang pesilat, harap memberitahukan namanya, setelah kita mengetahui nama masing-masing, nanti Ketua Huo akan mengganti kerugian Tuan."
Yu Yi-fei berkata dengan dingin.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu, kalau kalian masih tahu diri, aku harap kalian cepat pergi dari sini, kalau tidak, nanti bila ingin pergi juga sudah tidak ada kesempatan lagi!"
Pemimpin kelompok itu mengira setelah dia menjelaskan semuanya, persoalannya akan selesai, tapi ternyata orang yang ada di hadapannya tidak menerima penjelasannya, bahkan tidak memandang mereka sama sekali, dia mulai marah.
"Apakah kau cari mati?"
Dia mendekat dan goloknya mulai membacok ke kepala Yu Yi-fei.
Yu Yi-fei tidak berusaha menghindar dia membiarkan cahaya golok membacok diatas kepalanya, kemudian dia mengeluarkan tangan kanannya dengan jari tengah dan jari telunjuk dia menjepit golok yang siap membacoknya, tangan kirinya melambai dan dia berkata.
"Roboh!"
Laki-laki itu terbawa dan mengikuti136 gerakan tangan Yu Yi-fei dan dia terjatuh di tempat jauh.
Xin Jie yang berada di dalam kereta melihat laki-laki itu begitu lemah, dia merasa kecewa, karena sebenarnya dia ingin melihat sampai dimana kehebatan ilmu pedang Yu Yi-fei.
Tapi hanya melambaikan tangan saja dia sudah berhasil membereskan salah seorang lawannya.
Teman lainnya menjadi gugup karena rata-rata mereka hanya bisa bersilat 2-3 jurus, hanya karena jumlah mereka banyak mereka berani main keroyok.
Begitu melihat Yu Yi-fei mempunyai ilmu tinggi, mereka seperti mendapat kemalangan, 7-8 orang yang membawa golok mendekati Yu Yi-fei, tahu-tahu mereka terjatuh dan sabetan golok mereka tidak menyentuh baju Yu Yi-fei sama sekali.
Laki-laki yang pertama jatuh tadi sudah memberontak bangun, tiba-tiba dia berteriak senang.
"Baik sekali, ketua dua sudah datang, mari kita menyerang bersama, lihat apakah dia bisa menahan serangan kita?"
Semua laki-laki itu berhenti menyerang, karena seorang laki-laki tinggi137 dan berbaju putih seperti terbang datang menghampiri mereka, melihat anak buahnya ada yang terjatuh, ada yang menunduk, dan juga ada yang berdiri, lalu dia melihat Yu Yi-fei yang masih berdiri di pinggir kereta dengan kokoh setegar gunung, dia segera tahu apa yang terjadi di sana.
Kedua alisnya tampak berkerut segera dia menghadapi Yu Yi-fei.
"Sobat, kita tidak saling kenal, apakah kau mempunyai hubungan dengan gadis itu? kau sengaja telah menghalangi kami, baiklah, harap beritahukan namamu, kalau benar kau adalah orang terkenal, aku Bai-long akan segera pergi dan gadis itu akan menjadi milikmu."
Begitu mendengar nama Bai-long, Yu Yi-fei tahu kalau orang itu bukan orang biasa.
Karena di daerah Chang Jiang, para perampok yang berada di jalur air ini diketuai oleh He Xin Xiong, tapi semua urusan dan pekerjaan dalam kelompok ini dikuasai oleh Bai-long Sun Chao-yuan.
Ilmu silat Bai-long Sun Chao-yuan di darat ataupun di air sangat hebat, dia seorang yang pintar, di daerah Chang Jiang dia sangat terkenal.
Di Jue-jian Yu Yi-fei sering berkelana di dunia persilatan, dia138 pasti sering mendengar nama Bai-long Sun Chao-yuan.
Sekarang dia melihat Bai-long Sun Chao-yuan adalah seorang yang berperawakan tinggi dan besar, kedua matanya tampak bersemangat, maka Yu Yi-fei segera berkata.
"Aku tidak mempunyai hubungan apa pun dengan gadis itu, aku hanya tidak suka bila ada orang yang melecehkan dan menghina perempuan, sekarang pandanglah mukaku dan maafkanlah dia."
Di Jue-jian Yu Yi-fei bukan orang yang benar-benar membela kebenaran dan membantu yang lemah, karena tadi terburu-buru maka dia melakukan hal ini, kemudian setelah dia memikirkannya kembali dan dia merasa sangat menyesal karena telah ikut campur dalam masalah ini, untuk apa dia menanam permusuhan.
Maka dia pun menjawab seperti itu, dia ingin demi mukanya Bai-long Sun Chao-yuan jangan memperpanjang lagi masalah ini.
Tapi Bai-long Shu Chao-yuan hanya melihat Yu Yi-fei dan berkata.
"Tuan adalah Kong-dong San Jue, Di Jue-jian, Yu Yi-fei, asalkan Tuan Yu mengatakan satu139 kalimat aku akan melepaskan gadis itu."
Dalam hati Yu Yi-fei merasa senang, dia berpikir.
"Bai-long ternyata orang yang pengertian."
Tapi Bai-long Shu Chao-yuan berkata lagi.
"Hanya saja gadis itu bukan berasal dari perkumpulan kami, dia hanya titipan dari seseorang. Kami tidak berani membuat orang itu marah, mungkin Tuan Yu mengenal orang ini dan bersedia memberikan kesempatan kepada orang ini."
"Siapakah orang itu?"
Tanya Yu Yi-fei. Bai-long tertawa secara misterius, kemudian telapak kirinya menekan ke udara, ibu jari tangan kanannya dikeluarkan dan dia berkata.
"Inilah dia."
Begitu melihat kode itu, wajah Yu Yi-fei tampak berubah, dia tampak berpikir sebentar kemudian berkata.
"Kalau gadis itu adalah titipan dari orang lain, aku tidak bisa berbuat apa-apa."
Dia menunjuk ke arah kereta.
"Gadis itu ada di dalam sana, bawalah dia keluar."
Mendengar perkataan Yu Yi-fei, Xin Jie yang berada di dalam kereta merasa sangat terkejut, dalam hati dia berpikir,140
"Di Jue-jian, Yu Yi-fei sangat terkenal, ilmu silatnya juga tinggi, apalagi yang mendukungnya adalah perkumpulan kuat, karena gurunya adalah Jian Shen Li-e. Karena itu pula dia sangat sombong, mengapa setelah dia melihat kode itu dia tidak berani bicara lagi?mewakili siapa kode itu? Orang yang dimaksud oleh Bai-long pasti orang kuat."
Ketika gadis itu melihat Yu Yi-fei dengan mudah mengalahkan laki-laki itu, dia merasa sangat senang, karena dirinya bisa selamat.
Tapi tiba-tiba keadaan berubah menjadi seperti itu, dengan pandangan marah dan menyalahkan dia menatap Xin Jie.
Xin Jie merasa sorot mata itu terus menusuk ke dalam hatinya, dia hampir saja keluar untuk menghadang Bai-long, tapi dia berpikir lagi tugas yang diembannya dan harapannya di masa depan mempunyai kekuatan lebih besar, maka dia pun menekan keinginannya.
Hanya dalam waktu singkat Bai-long telah berjalan ke depan kereta sambil tertawa dia berkata kepada nona itu.
"Nona Fang, aku kira lebih baik Nona ikut pulang141 denganku, untuk apa sampai harus melarikan diri? Nona hanya bisa sedikit ilmu silat, mana mungkin bisa lari jauh?"
Gadis itu tampak mengerutkan tubuhnya di sudut kereta, dia benar-benar ketakutan, Xin Jie melihat keadaannya, dalam hati dia ikut merasa sedih, dan berpikir lama tiba-tiba dia berkata.
"Ikut saja dengan orang itu, kalau tidak...."
Gadis itu mendengar Xin Jie berkata seperti itu, dengan marah dia melotot menatap penuh kebencian kepada Xin Jie, membuat Xin Jie terpaksa menekan perasaan sebenarnya.
Bai-long menarik gadis itu keluar dari dalam kereta, gadis itu tampak mengayunkan tangannya, dengan marah dia berkata.
"Baiklah! Aku akan ikut denganmu, tapi jangan terus tarik-tarik, aku bisa marah."
Tiba-tiba gadis itu keluar dari kereta dan tidak mau melihat Xin Jie lagi.
Dua laki-laki kasar menghampiri dan menangkap tangannya, gadis itu berniat memberontak, tapi mana mungkin dia punya tenaga begitu besar?
Sun Chao-yuan memberi hormat kepada Yu Yi-fei.
"Untung hari ini Pendekar Yu142 datang membantu, aku Bai-long Sun Chao-yuan sangat berterima kasih karenanya, kalau Ketua He dan bos tahu, mereka juga pasti merasa sangat berterima kasih kepada Pendekar Yu, aku pamit dulu."
Dia membawa gadis itu pergi. Dengan pelan Yu Yi-fei masuk ke dalam kereta, dia tertawa terpaksa kepada Xin Jie.
"Hari ini kita benar-benar sedang sial, kalau bukan karena bos mereka, keadaan akan lebih baik."
Dengan cepat Xin Jie bertanya.
"Siapakah dia? Aku masih belum tahu."
Yu Yi-fei menggelengkan kepala.
"Kakak Xin tidak akan mengerti tentang dunia persilatan, kelak kalau ada kesempatan baru akan kuceritakan semuanya."
Xin Jie tahu kalau Yu Yi-fei tidak mau bercerita, dia pun tidak banyak bertanya lagi, karena dalam hati dia telah mempunyai rencana tersendiri.
Dengan cepat kereta tiba di depan toko perhiasan milik Xin Jie, toko itu sangat besar dan mewah.
Karena di tengah perjalanan tadi bertemu dengan peristiwa yang mengejutkan, setiba di rumah dia143 meloncat turun dan mengetuk pintu.
Dari dalam toko ada suara orang yang seperti baru bangun, sambil mengomel dia berkata.
"Siapa malam-malam begini mengetuk pintu?"
Jawab kusir.
"Bos sudah pulang."
Suara itu langsung berubah menjadi hangat dan terdengar nada menjilat.
"Aku datang, aku datang, pintu akan segera dibuka!"
Karena telah terjadi peristiwa tadi Yu Yi-fei tampak tidak bersemangat, begitu memasuki toko, Xin Jie memberi tahu letak kamarnya dan dia pun segera masuk ke kamar untuk tidur.
Malam semakin larut, dari toko perhiasan Shan Mei tiba-tiba terlihat sesosok bayangan seseorang dengan cepat keluar dan berlari ke sisi sungai.
Ilmu meringankan tubuhnya tinggi, benar-benar jarang terlihat di dunia persilatan.
Kakinya hanya menitik sekali di atas genting, dan dia sudah berlari jauh.
Terlihat bayangan itu bergerak secepat kilat, siapa pun tidak akan bisa melihat wajah dan tubuhnya.
Hanya dalam waktu singkat bayangan144 itu telah tiba di sisi sungai, tapi sepertinya orang itu tidak mempunyai tujuan pasti, dia berlari dengan cepat ke sisi sungai untuk mencari tujuannya.
Di sisi sungai terlihat banyak perahu yang sedang berlabuh, tapi perahu-perahu itu tidak terpasang lampu, di tengah sungai terlihat beberapa perahu penangkap ikan dan perahu itu dipasang lampu.
Lampu tampak berkedip-kedip di tengah suasana gelap.
Bayangan orang itu tampak seperti kecewa, dia hanya berhenti sebentar kemudian berlari lagi, gerakan seperti burung elang dan dia mendarat di sebuah perahu dagang, dengan lincah dia melihat ke sekeliling.
Kemudian dia mendarat di perahu kedua, ketiga, tapi sepertinya dia tidak menemukan sesuatu yang dicarinya, tiba-tiba dia melihat ada dua perahu besar.
Perahu itu berlabuh di tempat agak jauh dan di sana dipasang lampu, dari jendela terlihat bayangan beberapa orang yang bergerak-gerak.
Kedua perahu itu berhenti dari daratan dengan jarak kurang lebih 60 meter,145 walau berdiri di tempat yang paling dekat dengan sungai pun, tapi jarak yang tersisa masih 50 meter, dia tampak ragu, karena jarak dengan perahu masih terlalu jauh.
Angin sungai berhembus dengan kencang, angin meniup lampion yang tergantung di atas perahu dan terus bergoyang-goyang.
Tiba-tiba sosok orang itu mengambil lampion kemudian dia melihat lampion itu.
Sepertinya dia telah menemukan suatu ide, dengan ringan dia terbang melayang ke tengah sungai, begitu melayang, dia menginjak tali lampion itu dan lampion pun terikat di kakinya.
Dia mengumpulkan tenaga, tubuhnya melayang ke tengah sungai, begitu melayang dia bisa mencapai jarak 20 meter.
Sewaktu dia akan mendarat sekitar 20 meter dari sana, sepertinya dia akan jatuh ke dalam sungai, tiba-tiba di atas permukaan air dia meloncat lagi, lampion yang dipegangnya digunakan untuk memukul permukaan air.
Orang itu meloncat setinggi puluhan meter lagi.
Kemudian di tengah udara dia mengambil nafas dan memutar tubuhnya,146 lampion yang terikat di kakinya sudah berada di tangannya sekarang.
Jarak antara dirinya dengan perahu itu masih sekitar 18 meter lagi.
Dia merasa dirinya akan terjatuh ke dalam sungai, tapi sebelum dia jatuh, lampion yang dipegangnya dipukulkan ke atas permukaan air, tubuhnya seperti capung yang sedang bermain air dan dia naik kembali ke atas.
Dan tanpa bersuara dia mendarat di atas perahu besar itu.
Tubuhnya seperti tidak berbobot, semua gerakannya terlihat indah dan jika ada orang yang melihatnya pasti akan merasa terkejut.
Diam-diam dia pun merasa senang.
Sinar bintang menerangi wajahnya yang ditutup dengan sehelai kain.
Di atas kain itu terdapat sulaman bunga Mei-hua.
Matanya dari balik kain itu tampak berkilauan.
Dia membereskan letak pedang yang ada di punggungnya, pedangku terlihat kuno, kemudian dia berlari ke depan jendela yang terlihat masih terang.
Dari celah jendela dia melihat ada sebuah meja dan ada dua laki-laki sedang minum arak.
Di atas meja ada beberapa macam sayur.
Dia mengenal147 salah satu dari mereka, dia adalah Bai-long Sun Chao-yuan.
Dalam hati dia berpikir.
"Yang satu lagi, pasti Xiao Long Shen He Xin Xiong."
Kemudian dia berlari ke jendela satunya lagi, di balik jendela itu tidak dipasang lampu, tapi dengan bantuan cahaya dari ruangan sebelah dia bisa melihat dengan jelas.
Di balik jendela itu terlihat ada seorang perempuan sedang berbaring, kedua matanya yang besar sedang menatap jendela, entah apa yang sedang dipikirkannya.
Tangannya diletakkan di atas kertas jendela, hanya dalam waktu singkat karena panas tangannya kertas itu langsung meleleh dan kertas pun berlubang.
Perempuan itu belum mengetahui keadaan yang sedang terjadi, sepertinya dia sedang memikirkan hal serius, sehingga dia tidak memikirkan hal lainnya.
Tiba-tiba dia menjulurkan tangannya, memecahkan jendela kemudian dengan cepat dia berlari ke arah tempat tidur, lalu menotok perempuan yang terlihat kaget karena kedatangannya.
Orang itu menotok perempuan itu dengan tujuan mencegah148 supaya perempuan itu tidak berteriak dan bergerak-gerak.
Kedua laki-laki di ruang sebelah seperti mendengar suara seseorang memecahkan jendela, lalu berteriak.
"Siapa....?"
Dia segera menggendong perempuan itu keluar dari kamar, dia hanya sedikit bergerak, dia keluar dari kamar itu, melewati kedua orang itu dan duduk di kursi bekas kedua orang itu duduk, kemudian dia mendudukkan perempuan itu.
Kedua orang itu adalah ketua perampok di Chang Jiang, Xiao Long Shen He Xin Xiong dan Bai-long Sun Chao-yuan.
Ilmu silat mereka tidak rendah, tapi mereka terkejut melihat ada seseorang menggendong gadis itu sambil melewati mereka.
Begitu membalikkan tubuh, mereka melihat orang itu telah duduk di kursi mereka dan tidak terlihat kalau dia berniat melarikan diri.
Mereka merasa aneh, Xiao Long Shen He Xin Xiong membentak.
"Siapa nama Tuan? Ada keperluan apa Tuan datang ke sini?"
Orang itu tertawa panjang, dia menunjuk sapu tangan yang menutupi wajahnya dan bertanya.
"Apakah kau tidak149 mengenal sulaman ini?"
Sapu tangan itu berwarna muda, di atas sapu tangan ada sulaman 7 kuntum bunga Mei-hua berwarna merah.
Xiao Long Shen He Xin Xiong dan Bai-long Sun Chao-yuan telah berkelana di dunia persilatan selama 10 tahun lebih, tiba-tiba mereka teringat kepada seseorang.
Tapi orang itu selama 10 tahun ini tidak pernah muncul di dunia persilatan dan ada berita yang mengatakan kalau dia sudah mati di tangan empat ketua perkumpulan terkenal, mengapa sekarang tiba-tiba dia bisa muncul lagi?
Dengan penuh curiga Xiao Long Shen bertanya.
"Apakah kau adalah...."
Orang itu tertawa panjang lagi dan memotong kata-kata Xiao Long Shen.
"Aku adalah Hai Nei Tuan Qi-mao Shen-jun."
Suaranya berhenti, pedang panjang yang terselip di punggungnya dikeluarkan dan dia menggetarkan pedang itu, kemudian dia menggores 7 lingkaran bunga Mei-hua dan dengan cepat menarik kembali pedangnya.
Dia mencabut pedang, menggetarkan pedang, dan menarik pedang untuk disimpan kembali, semua hampir secara bersamaan dilakukan.
Xiao Long Shen dan Bai-long Sun150 Chao-yuan hanya melihat ada 7 kuntum bunga Mei-hua yang tampak berkilau di depan mereka, tapi gambar itu segera menghilang.
Mereka tidak menaruh curiga lagi dan segera berteriak.
"Qi-mao Shen-jun!"
Tubuh mereka langsung terasa lemas.
Sebenarnya Bai-long Sun Chao-yuan dan Xiao Long Shen He Xin Xiong adalah ketua perampok di sisi sungai Chang Jiang, di dunia persilatan nama mereka sangat terkenal, mengapa begitu mendengar nama 'Qi-mao Shen-jun' mereka langsung ketakutan?
Karena nama, kedudukan, dan ilmu silat Qi-mao Shen-jun sejak 10 tahun yang lalu tidak ada seorang pun yang bisa menandinginya, dan dia selalu bertindak kejam, sambil tertawa dia bisa membunuh orang.
Selama 10 tahun ini tidak terdengar kabar berita mengenai Qi-mao Shen-jun, sekarang tiba-tiba dia muncul di atas perahu, bagaimana mereka tidak terkejut.
Wajah Qi-mao Shen-jun tertutup sapu tangan yang disulam gambar Mei-hua, Sun Chao-yuan dan He Xin Xiong hanya mendengar tawanya saja dari balik sapu151 tangan.
Dan mereka tidak bisa melihat ekspresi wajahnya, rasa dingin muncul dari atas kepala mereka.
Bai-long Sun Chao-yuan terkenal dengan kegesitannya dan pembawaannya sangat tenang.
Melihat gadis bermarga Fang digendong oleh Qi-mao Shen-jun, dalam hati dia tahu Qi-mao Shen-jun datang karena gadis itu, dalam hati dia berpikir.
"Sudah lama aku mendengar ilmu Qi-mao Shen-jun yang bernama 'Qi Yi', kalau tidak salah yang terakhir adalah mengenai perempuan, hari ini dia bisa datang ke perahu karena perempuan ini. Perempuan ini sudah diinginkan bos, lebih baik aku tidak ikut campur dalam masalah ini, tunggu saja orang itu datang, mereka berdua yang satu adalah orang yang paling sulit dilayani di dunia persilatan, sedangkan yang satu lagi adalah siluman yang telah mengegerkan dunia persilatan, biar saja mereka saling bertarung."
Memikirkan hal itu, hatinya menjadi agak tenang dan dia berkata.
"Qi-mao Shen-jun sudah lama tidak muncul di dunia persilatan, tidak disangka hari ini bisa bertemu dengan Shen-jun, coba kutebak152 apakah Shen-jun malam-malam seperti ini naik ke perahu kami hanya karena perempuan ini?"
Qi-mao Shen-jun tertawa dengan dingin.
"Tuan ternyata bukan orang bodoh!"
Bai-long Sun Chao-yuan tertawa.
"Kalau memang benar itu maksud Shen-jun, aku tidak berani melawan hanya saja perempuan ini adalah titipan orang lain...."
Qi-mao Shen-jun jadi marah.
"Titipan orang lain? Mengapa? Apakah Qi-mao Shen-jun tidak bisa membawa perempuan ini pergi?"
"Bukan itu maksudku,"
Jawab Bai-long Sun Chao-yuan.
"Aku berharap Tetua sudi meninggalkan sesuatu sebagai tanda bukti bahwa perempuan itu dibawa oleh Tetua."
Dengan sangat berhati-hati Bai-long Sun Chao-yuan bicara, dia tahu sifat Qi-mao Shen-jun sangat aneh, kalau membuatnya marah, mungkin saja dia bisa dibunuh.
Tapi kalau tidak mengatakan semuanya dengan jelas, orang yang satu lagi bisa membunuhnya.
Qi-mao Shen-jun tampak berpikir sebentar, dari balik baju bagian dadanya dia mengeluarkan sebuah plakat yang terbuat153 dari emas dan melemparkannya ke atas meja.
"Plakat itu adalah benda kesayanganku, kalau ada yang tidak menerimanya, katakan saja, tidak perlu orang itu mencariku, akulah yang akan mencari orang itu!"
Bai-long Sun Chao-yuan dan He Xin Xiong memang berharap Qi-mao Shen-jun akan melakukan hal seperti ini, tidak disangka begitu mudah Qi-mao Shen-jun menyetujui usul mereka. Dalam hati mereka berpikir.
"Qi-mao Shen-jun yang ditakuti semua orang tampaknya tidak seperti yang dibicarakan oleh orang-orang, yang bersifat sangat aneh dan menakutkan."
Tapi mereka tidak tahu di balik semua itu ada cerita lainnya lagi, karena Qi-mao Shen-jun yang sekarang bukan Qi-mao Shen-jun 10 tahun lalu.
Dengan senang mereka melihat plakat emas yang tergeletak di atas meja, di atas plakat terukir 7 kuntum bunga Mei-hua.
Ooo)*(ooO BAB Pertarungan di atas sungai Sambil bicara Qi-mao Shen-jun menggendong gadis itu keluar dari kamar.
Melihat air sungai bergelombang besar154 dan jarak ke darat begitu jauh, hatinya langsung dingin.
Karena saat ini dia sedang menggendong gadis itu mana mungkin dia bisa menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk menyebrang ke darat dengan jarak kuran g lebih 60 meter?
Tapi dia tidak mungkin menyuruh mereka menyiapkan perahu untuk mengantarkannya ke seberang.
Jika seperti itu malah akan membuat dirinya merasa malu.
Dia melihat di atas permukaan sungai masih ada lampion yang tadi digunakan untuk mengambang di atas permukaan sungai.
Kira-kira jarak dengan perahu sekitar 20 meter, dalam hati dia berpikir.
"Jika aku menggunakan ilmu dari buku 'An Xiang Fu Ying' yaitu pada bagian 'Xiang Wen Shi Li' (mencium wangi sepuluh kilometer), mungkin aku bisa menempuh jarak ini. Hanya saja ketika aku berlatih di kamar batu, aku hanya duduk diam, jadi aku belum pernah menggunakan ilmu ini. Tapi sekarang aku menggendong gadis ini, apakah aku bisa melakukannya? Jika tidak, maka aku akan terjatuh ke dalam air, itu malah akan membuatku malu." 155 'An Xiang Fu Ying' adalah buku untuk berlatih ilmu tenaga dalam, tapi di dalamnya juga terkandtmg tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh. Ini adalah cara Qi-mao Shen-jun berlatih ilmu meringankan tubuh, ilmu yang berbeda dengan orang lain. Pikirannya dengan cepat berputar. Waktu ini He Xin Xiong dan Sun Chao-yuan baru keluar dari dalam perahu. Xiao Long Shen memberi hormat.
"Shen-jun datang dengan terburu-buru, pergi pun dengan tergesa-gesa, kami belum sempat melayani Anda dengan baik. Jika berjodoh kita akan bertemu lagi dan kami pun boleh melihat wajah Shen-jun, sekalian menerima ajaran Shen-jun."
Qi-mao Shen-jun melambaikan tangannya. Dalam hati dia berpikir.
"Melihat mereka begitu menghormatiku, dari sini dapat diketahui bagai-mana besarnya pengaruh nama'Qi-mao Shen-jun' di dunia persilatan. Mulai sekarang Qi-mao Shen-jun, 4 huruf ini akan aku besarkan lagi."
Karena itu dia tidak berpikir panjang lagi, dia mendorong gadis itu keluar.
Tenaga dalamnya sangat besar.
Gadis itu berjalan seperti anak panah yang156 terlepas dari busurnya dan dengan lurus meluncur ke depan.
Bai-long dan Xiao Long Shen terpaku.
Mereka tidak tahu apa tujuan 'Qi-mao Shen-jun' melakukan itu.
Begitu gadis itu meluncur keluar, dia pun ikut meluncur, malah lebih cepat dari gadis itu.
Ujung kakinya menginjak lampion yang terapung di atas permukaan air.
Waktu ini, gadis itu baru saja tiba di sana.
Kedua tangannya dijulurkan.
Dengan ringan dia mengangkat gadis itu.
Dia masih terus melaju.
Ujung kakinya masih menginjak lampion.
Dari jauh Sun Chao-yuan dan He Xin Xiong melihat Qi-mao Shen-jun seperti berjalan di langit, seperti seorang dewa khayangan.
Mereka benar-benar terkejut dan kagum.
Dengan cara seperti itu dan menggunakan ilmu silat yang tinggi, dia melaju dengan jarak 30-40 meter.
Dan sekarang jarak dengan daratan masih tersisa 20 meter lagi.
Dalam hati dia mulai merasa lega.
Tenaga dalam terus dipakainya, dia memusatkan konsentrasinya.
Karena hatinya sedang senang maka dia mulai merasa157 kakinya turun.
Dia tahu tenaga dalamnya mulai terkuras, dalam hati dia sangat terkejut.
Tiba-tiba dia merasa kaki yang sedang menginjak lampion akan tenggelam, dan sekarang tiba-tiba saja naik kembali, ternyata gelombang yang datang membuat lampion yang sepertinya akan tenggelam naik kembali.
Ilmu meringankan tubuhnya bisa seperti itu benar-benar membutuhkan tenaga besar dan juga bisa mengangkat tubuhnya kembali.
Ketika gelombang datang, dia mengambil gelombang tertinggi yang datang dan ujung kakinya menginjak lampion.
Tubuhnya melayang lagi.
Dia masih menggendong seorang gadis, tapi sewaktu dia melayang di udara, dia tetap terlihat tenang dan gerakannya indah.
Baca Juga: Pedang Pusaka Dewi Khayangan 9
Baca Juga: Misteri Kapal Layar Pancawarna 9