Eps 2 Pedang Bunga Mei - Gu Long
Baca online Pedang Bunga Mei - Gu Long
Cersil Pedang Bunga Mei - Gu Long.
Bajunya yang longgar tertiup angin sungai dan terus berkibar.
Keadaan seperti benar-benar sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Begitu tubuhnya mendarat, dia sudah berada di pinggir sungai.
Dia berhenti sebentar untuk mengatur nafasnya yang sudah terpakai tadi.
Kedua tangannya masih membopong gadis itu.
Dalam beberapa kali loncatan, dia segera berlari ke arah kota158 dan dengan cepat dia tenggelam di dalam kegelapan.
Waktu gadis ini sadar, dia merasa kalau sekarang dia berada di sebuah kamar yang mewah.
Kemewahan yang belum pernah dia rasakan, apalagi ranjang yang ditidurinya sekarang terasa begitu lembut dan hangat.
Kelambu terpasang dengan rumbai-rumbai.
Selimut dan kasur terbuat dari sutra.
Hiasan kamar tidak sembarangan orang bisa memilikinya.
Dengan santai dia meluruskan kaki dan tangannya.
Semenjak dia sadar sampai sekarang, dia masih merasa bingung, kemudian dia baru ingat kalau dia dikurung di sebuah perahu, tiba-tiba ada sesosok bayangan membuatnya pingsan.
Setelah itu apa yang terjadi, dia tidak tahu.
Tapi mengapa sekarang dia bisa berada di tempat ini?
Dia merasa lebih bingung lagi.
Selama dua bulan ini dia telah mengalami banyak peristiwa dalam sepanjang hidupnya.
Dia teringat pada keluarganya.
Keluarganya adalah sebuah keluarga hangat dan nyaman.
Ayah Fang Yun Qi menjadi guru silat disana.
Murid ayahnya berjumlah159 sekitar 30-40 orang.
Walaupun mereka tidak kaya, tapi penduduk kota itu sangat menghormati mereka.
Dia ingat sejak hari itu nasib sial mulai merundunginya.
Seorang pemuda berbaju mewah masuk kedalam kehidupannya, dia kehilangan ketenangan dan kenyamanan dalam hidupnya.
Tapi ayahnya merasa senang melihat pemuda itu pulang dan menyuruhnya memanggil pemuda itu Kakak Qi dan dia memberitahu kalau namanya adalah Jin Qi.
Dia adalah anak ayahnya yang telah menghilang selama 10 tahun lebih.
Dia adalah anak kandung ayahnya, dia mulai merasa aneh mengapa putra ayah yang bermarga Jin dan bisa menghilang begitu lama?"
Ayah mengatakan pada dia bahwa putranya selama 10 tahun lebih telah bertemu dengan banyak hal aneh dan dia bertemu dengan seseorang yang ilmu silatnya sangat tinggi, lalu mengajarkan ilmu silat kepadanya.
Dia tertarik menyelidiki hal ini, entah mengapa dia tidak suka dengan kakaknya.
Dia selalu tampak aneh, kedua160 mata terlihat sangat galak, kejam, dan dingin.
Seperti siap memakan orang.
Ini belum yang terburuk.
Yang terburuk adalah suatu hari ayah menyuruhku menikah dengan kakak, dia merasa sangat terkejut setengah mati.
Adik mana yang boleh menikah dengan kakaknya sendiri?
Akhirnya ayah memberitahuku bahwa aku bukan anak kandungnya.
Dia memberitahu bahwa Kakak Qi sangat pintar, dan diluar sana dia mempunyai kedudukan tinggi."
Tapi dia tidak mau, ayahnya sangat marah dan mengatakan walau dia tidak mau, tetap harus menikah dengan kakak.
Ayah menjadi seperti orang lain, sangat galak dan kejam terhadapnya, dia merasa sedih dan hanya bisa menangis.
Dia menangis sangat lama, tiba-tiba saja Kakak Qi sudah berdiri di sisinya, dia tidak tahu kapan masuk kedalam kamarnya, kakaknya bertanya mengapa tidak mau menikah dengannya padahal kakak sangat menyukai dirinya.
"Dia merasa marah.
Marah kepada ayah mengapa dia harus menikah dengannya.
Tapi ayah tidak mau memberitahu alasannya, dia161 mulai marah dan mengatakan, jika kakak bersedia membunuh ayah dan ibunya, dia bersedia menikah dengannya."
Kakak berdiri lalu keluar kamar.
Sebenarnya kata-katanya hanyalah kata-kata ketika orang sedang marah.
Tapi saat kakak kembali, satu tangannya menggandeng ayah dan satu tangannya yang lain menggandeng ibu, masuk ke dalam kamarku dan melemparkan mereka ke bawah, dia melihat ayah dan ibu telah dibunuh olehnya.
"Dia benar-benar terkejut sampai tidak bisa bicara, dia tidak menyangka kalau kakak adalah orang yang tidak berperasaan, dia menangis, ribut, dan juga marah, kakak hanya dingin berdiri di tempatnya, tidak bicara satu patah kata pun.
"Dia merasa lebih takut lagi, dia sadar kecuali hanya mati, tidak ada cara lain bisa melarikan diri darinya.
Karena itu dia mengambil pisau dan siap bunuh diri, tapi begitu tangannya bergerak.
Pisaunya sudah berpindah tangan."
Begitulah nasibnya, mati tidak bisa hidup pun menderita tapi dia bertekad tidak mau menikah dengan kakak selamanya.
Suatu hari kakak mengatakan jangan mengira kalau162 kakak tidak mempunyai cara untuk menghadapiku.
Sebenarnya dengan menggerakkan jarinya saja, apa yang diinginkan pasti akan berubah seperti apa yang kakak inginkan.
Hanya karena kakak benar-benar menyukaiku dia tidak mau memaksaku."
Siang malam kakak selalu menjaganya.
Suatu malam dia mendengar suara aneh, seperti teriakan burung juga seperti teriakan orang hutan, kakak juga mendengar suara itu.
Wajahnya segera berubah dan terlihat sangat ganas.
Malam itu kakak tidak tidur kakak tampak terus berpikir.
Keesokan harinya, pagipagi, kakak membawanya pergi, dia tahu kalau kakak menguasai ilmu silat tinggi.
Jika kakak terus memaksa dirinya, dia tidak akan bisa menolaknya, terpaksa dia mengikutinya pergi.
Setelah berjalan hampir setengah hari, mereka tiba di sisi sungai Chang Jiang.
kakak mencari sebuah perahu dan mendapatkan sebuah perahu kecil, kakak berbicara dengan bahasa yang tidak dia mengerti."
Tidak lama kemudian dari sisi sungai muncul 2 perahu besar.
Tidak menunggu163 sampai perahu menepi, kakak membawanya sambil meloncat ke atas perahu itu.
Orang-orang perahu melihat kedatangannya, mereka terkejut dan bertanya apa yang telah terjadi, kakak meninggalkan dia diperahu dan menyuruh orang di sana menjaga dirinya, dan mereka harus bersikap baik kepadanya.
Tapi kakak sendiri pergi entah ke mana."
Dia tinggal di perahu itu selama 2 hari, baru tahu kalau kedua perahu itu adalah perahu perompak.
Ketuanya bernama Xiao Long Shen, masih ada satu lagi bermarga Sun.
Dia sangat ramah tapi dia yang menyuruh perompak yang penuh dengan cambang menjaga dirinya, melarang dirinya melakukan pekerjaan apapun."
"Suatu malam, si cambang minum terlalu banyak, tiba-tiba orang itu mencium dirinya dan mengelus-elus tubuhnya, ingin memperkosa, dia ingin berteriak tapi mulutnya disumpal."
"Ketika si marga Sun datang. Dia menarik si cambang dan akan membunuhnya. Karena si cambang memberontak maka terjadilah perkelahian dan mengambil kesempatan ini dia melarikan diri dari164 perahu."
"Terakhir dia tertangkap lagi. Orang yang ditemui di jalan itu sepertinya adalah pendekar, tidak disangka ternyata mereka tidak berguna. Apalagi yang satu itu, aku tertangkap kembali dan dibawa ke perahu itu lagi. Mereka menjalankan perahu hingga ke tengah sungai. Dia sadar tidak ada cara untuk melarikan diri lagi. Apalagi kali ini si marga Sun sendiri yang menjaga dia. Tapi mengapa dia bisa berada di sini sekarang? Apakah di sini adalah sarang perampok?"
Nona Fang telungkup di atas ranjang.
Dia terus mengingat semua kejadian yang telah dia lewati.
Gadis yang hidup sebatang kara ini merasa sedih akhirnya dia menangis tersedu-sedu.
Tiba-tiba dia mendengar di belakangnya ada suara orang terbatuk.
Karena terkejut dia meloncat.
Setelah duduk, ternyata yang dia melihat di sana adalah orang pernah dilihatnya di dalam kereta, dan dia menganggap orang itu adalah orang yang paling tidak berguna.
Sambil tertawa Xin Jie bertanya.
"Nona sudah sadar?"
Gadis itu merasa aneh lagi tapi dia165 tidak menjawab. Dalam hati dia bertanya.
"Mengapa pemuda ini tiba-tiba ada di sini, apakah ini rumahnya? Apakah dia yang telah menolongku?"
Karena masih bengong dia tidak menjawab. Xin Jie tertawa dan berkata lagi.
"Nona tidak perlu menaruh curiga. Aku memang tidak berguna, tapi aku mempunyai seorang teman yang berguna. Dia menyelamatkan Nona dari perahu itu. Lebih baik sekarang Nona beristirahat dulu di sini. Ini adalah kamarku, tidak akan ada seorang pun yang akan menganggu Nona lagi."
Setelah berkata seperti itu Xin Jie langsung pergi.
Dia tidak menunggu apakah nona itu setuju atau tidak.
Setelah berjalan melewati beberapa kamar, Xin Jie tiba di ruang tamu.
Di ruang tamu itu tampak Yu Yi-fei sedang minum teh.
Melihat Xin Jie datang, dia segera berdiri dan tertawa.
"Kakak Xin, siang begini baru bangun? Aku sudah berjalan-jalan ke depan dan mendengar pelayan-pelayan menceritakan peristiwa aneh yang terjadi kemarin malam."
Xin Jie tertawa.
"Mana bisa aku seperti Kakak Yu. Hari ini aku bangun166 termasuk paling pagi."
Dia bertanya lagi.
"Peristiwa aneh apa yang Kakak Yu dengar? Coba ceritakan kepadaku!"
"Kemarin malam beberapa pelayan di sungai mengatakan mereka melihat Long Wang (raja laut) muncul. Raja laut itu mondar mandir di atas air. Pagi hari berita ini sudah menyebar di kota Wu Han."
Dalam hati Xin Jie ingin tertawa. Dia tahu karena dia telah melakukan ilmu meringankan tubuh di atas permukaan air dan dianggap oleh nelayan itu sebagai raja laut. Yu Yi-fei berkata lagi.
"Menurutku, itu pasti perbuatan orang yang mempunyai ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Dia bergerak di atas permukaan sungai."
Dia mengerutkan alisnya dan berkata lagi.
"Hanya saja aku merasa aneh, untuk apa orang ini muncul malam-malam di Wu Han lalu menggunakan ilmu meringankan tubuh di atas sungai."
Xin Jie sengaja bertanya lagi.
"Jika orang itu bisa berjalan di atas permukaan sungai, bukankah orang itu mempunyai ilmu meringankan tubuh dan sudah mencapai tahap167 terbang?"
Yu Yi-fei tertawa dan menjawab.
"Apakah Kakak Xin mengira orang ini benar-benar bisa berjalan di atas sungai? Ini hanya cerita para pelayan, tapi yang terpenting adalah orang itu pasti pesilat tangguh. Apakah dia datang demi diriku, Yu Yi-fei?"
Xin Jie menahan tawa dan berkata.
"Kakak Yu terlalu banyak berpikir. Jika Li Zhi Hua ingin membawa orang yang membantunya, dia tidak akan melakukannya begitu cepat."
Wajah Yu Yi-fei memerah dan berkata.
"Aku tidak takut kalau dia membawa orang untuk membantu, aku hanya merasa sedikit aneh."
Karena takut Yu Yi-fei curiga, Xin Jie dengan cepat mengganti topik pembicaraan dan berkata.
"Aku pertama datang ke Wu Han, Kakak Yu sudah lama berkelana di dunia persilatan, Kakak Yu pasti lebih berpengalaman dariku, apakah Kakak bersedia menemaniku jalan-jalan?"
"Tentu!"
Mereka berdua keluar dari toko dan berjalan-jalan kekota.
Kota Wu Han adalah168 kota penting di Propinsi Hu Nan.
Kota ini juga adalah kota perdagangan dan terletak di sepanjang sungai Chang Jiang.
maka jalan di kota itu sangat ramai.
Xin Jie selama 10 tahun tinggal di kamar yang terbuat dari batu.
Melihat dunia begitu ramai, walaupun ilmu silatnya sangat tinggi, dia sangat menyukai keramaian ini.
Mereka makan di sebuah rumah makan, kemudian kembali lagi ke toko.
Pelayan melihat bosnya telah kembali, dengan hormat mereka berkata.
"Tuan sudah kembali."
Dan berkata lagi.
"Tuan, tadi ada 2 tamu datang mencari Tuan. Yang satu bermarga Meng, yang satu lagi bermarga Fan. Aku tahu kalau mereka adalah ketua biro perjalanan, karena itu aku mempersilakan mereka masuk, sekarang mereka masih berada di dalam."
Xin Jie tertawa. Dia berkata kepada Yu Yi-fei.
"Tidak disangka hari ini mereka datang berkunjung."
Mereka segera keluar menuju ruang tamu. Melihat tuan rumah sudah pulang, Jiu Gong Dan Fan Zhi Cheng tertawa.
"Kalian169 berdua mempunyai kebiasaan baik. Pagi-pagi sudah keluar untuk berjalan-jalan. Apakah kalian ingin mencari perempuan-perempuan kemarin?"
Xin Jie tertawa.
"Kakak jangan bergurau. Kalian berdua sudah lama menunggu, aku minta maaf."
Mereka berempat saling bergurau, tiba-tiba si Tombak Perak Meng Bo-qi berkata kepada Yu Yi-fei.
"Hari ini kami datang berkunjung selain untuk mengunjungi Kakak Xin, masih ada satu hal penting yang harus kami ceritakan kepada Kakak Yu.... 10 tahun yang lalu, orang nomor satu di dunia persilatan yang bernama Qi-mao Shen-jun, kemarin malam muncul kembali di Wu Han."
Wajah Yu Yi-fei tampak berubah dan berkata.
"Tidak mungkin. Menurut guruku, 10 tahun yang lalu di Wu Han Shan, Qi-mao Shen-jun sudah terkena pukulan guruku dan dia juga ditotok oleh ketua Dian Cang-pai dengan cara rahasia mereka. Apakah dia masih bisa hidup sampai sekarang?"
"Kabar ini tidak salah. Aku mempunyai teman yang bernama Bai-long Sun Chao-yuan, mungkin Kakak Yu mengenali orang ini. Kemarin malam dia telah bertemu170 dengan Qi-mao Shen-jun."
Wajah Yu Yi-fei bertambah seram lagi. Xin Jie yang duduk disisinya, pura-pura mendengar dengan semangat. Meng Bo-qi berkata lagi.
"Pagi tadi Kakak Sun datang ke rumahku lalu memberitahukan hal ini kepadaku kemudian berpesan kepadaku supaya selama beberapa hari ini aku harus berhati-hati. Dan dia mengatakan kalau di dunia persilatan sebentar lagi akan muncul banyak masalah."
Jiu Gong Shen Dan menyambung.
"Kakak Meng terlalu banyak berpikir. Sebesar apa pun gelombang yang datang, tidak akan sampai di kepalamu atau kepalaku. Biar mereka berdua yang memperebutkan kemenangan, in semua tidak ada hubungannya denganmu atau denganku."
Xin Jie pura-pura bingung dan bertanya.
"Aku juga pernah mendengar di dunia persilatan ada orang yang mempunyai ilmu silat tinggi bernama Qi-mao Shen-jun. Siapakah yang bisa bertarung hingga menang dengannya?"
Kata Fan Zhi Cheng.
"Mengenai orang yang bisa menyaingi Qi-mao Shen-jun, orang persilatan sangat takut kepadanya. Orang-171 orang hanya tahu kalau dia bermarga Jin dan bernama Qi, dijuluki Tian Mo (Setan langit), tapi tidak ada yang tahu siapa gurunya atau dia berasal dari mana? Dia berkelana di dunia persilatan hanya beberapa tahun tapi sudah melakukan beberapa hal yang membuat orang terkejut. Orang ini mempunyai ilmu silat tinggi dan kemampuannya tidak terduga, selain itu dia pun sangat kejam. Ketua dunia persilatan di daerah dua sungai yaitu Hu Da Zhi pernah menyinggung perasaannya, dalam satu malam semua orang disana dibunuh hingga tidak bersisa dan ini dilakukan seorang diri. Padahal waktu itu di sana ada 'Ba Bu Gan Tan Gu Er Gang', 'Wu Hu Duan Men Dao Peng Tian Qi', tapi ketiga pesilat tangguh itu pun tidak sanggup melawan orang itu. Semua orang dibunuhnya, kali ini Qi-mao Shen-jun telah merebut kekasihnya, mana mungkin dia akan melepaskannya begitu saja?"
Yu Yi-fei berkata kepada Xin Jie.
"Tidak disangka perempuan yang kemarin malam kita tolong telah menggerakkan Qi-mao Shen-jun."
Dia melanjutkan.
"Kali ini Qi-mao172 Shen-jun telah kembali ke dunia persilatan, ini benar-benar peristiwa penting, aku harus cepat kembali ke Kong-dong untuk memberitahukan hal ini kepada guru. Tian Mo dan Qi-mao Shen-jun akan bertarung, dan pasti akan sangat seru, aku tidak mempunyai waktu untuk melihat langsung."
Dalam hati Xin Jie merasa marah dan berpikir.
"Kau ingin menonton keramaian pertarunganku dengan Tian Mo. Apakah kau tahu keramaianmu sendirilah yang lebih pantas untuk ditonton."
Si Tombak Perak Meng Bo-qi menarik nafas panjang.
"Dunia persilatan baru saja tenang selama 10 tahun. Aku tahu ini adalah awal dari terjadinya hujan dan angin besar. Tidak salah lagi, dunia persilatan akan terjadi hujan angin berbau darah. Kelima perkumpulan besar Zhong Yuan mulai tidak ada saling kecocokan. Sekarang Qi-mao Shen-jun muncul lagi di dunia persilatan, ditambah dengan kemunculan Tian Mo. Hhhh!!"
Wajah Jin Gong Dan penuh dengan rasa khawatir.
"Keributan yang terjadi tidak akan berhenti sampai di sini. Dulu 9 penjahat yang dipimpin 'Hai Tian Shuang-173 sha', yaitu Tian Can dan Tian Fei dua bersaudara ini katanya juga sedang bersiap-siap. Mereka ingin membuat nama mereka terkenal kembali di dunia persilatan. Kantor biro perjalanan kami tadinya juga berada dalam posisi membahayakan, apalagi sekarang ini sepertinya tidak memungkinkan untuk mencari makan di bidang usaha ini."
Begitu mendengar Hai Tian Shuang-sha, tubuh Xin Jie langsung bergetar. Untung ketiga orang itu sedang memikirkan masalah mereka masing-masing dan tidak memperhatikan ekspesi wajahnya yang berubah.
"Apakah Hai Tian Shuang-sha juga akan kembali ke dunia persilatan lagi?"
Tanya Xin Jie. Dengan aneh Jin Gong Dan melihat Xin Jie dan bertanya.
"Mengapa Kakak Xin bisa tahu begitu jelas mengenai orang-orang dunia persilatan? Untung Kakak Xin bukan orang dunia persilatan, apa pun yang terjadi tidak akan menimpa Kakak Xin."
Xin Jie tertawa.
Mereka tidak mengetahui kalau tawa Xin Jie terlihat berbeda.
Tiga hari telah berlalu, hari baru174 saja gelap, Di Jue-jian Yu Yi-fei duduk bersila sambil mengatur nafas.
Xin Jie melihatnya seperti itu Diam-diam dia mengangguk dan berpikir.
"Pantas Di Jue-jian bisa terkenal di dunia persilatan. Dia memang sombong tapi dalam menghadapi musuh kuat, dia tidak bertindak ceroboh."
Sudah lama posisi Wu Dang Pai selalu berada di atas semua perkumpulan Zhong Yuan.
Sebenarnya semenjak ketua Kong-dong-pai Li-e di Tai Shan secara berturut-turut mengalahkan 11 pesilat tangguh dan mendapat julukan 'Tian Xia Di Yi Jian' (jago pedang nomor satu di dunia), nama Kong-dong-pai sudah berada di atas Wu Dang.
Maka antara Wu Dang dan Kong-dong, dua perkumpulan besar ini secara tidak sengaja saling membenci.
Kong-dong-pai tidak menyukai Wu Dang Pay.
Wu Dang Pai juga tidak menyukai Kong-dong-pai semakin menonjol di dunia persilatan.
Dua perkumpulan besar ini saling curiga dan saling iri, tapi karena tidak ada yang menyulut api maka selama ini keadaan mereka masih tenang-tenang saja.
Di dalam Wu Dang Pai, Shen He (Bangau sakti) Zhan Pin yang paling sombong.
Dia175 memang pintar juga rajin.
Usianya belum begitu tua, tapi dia sudah mewarisi semua ilmu silat Wu Dang Pay dan dia selalu ingin membuat perbuatan yang menggegerkan dunia persilatan.
Alasannya karena pertama, bisa membuat namanya terkenal.
Kedua, dia ingin membuat Wu Dang Pay bertambah jaya.
Dian Cang, E Mei, Kong-dong, masing-masing mempunyai ilmu rahasia.
Mereka pun sebenarnya ingin menjadi pemimpin dunia persilatan dan selalu menunggu kesempatan datang, hanya saja kesempatan itu belum ada.
Walaupun Mei Shan-ming selama 10 tahun ini tidak pernah keluar rumah, tapi keadaan dunia persialtan tidak pernah lolos dari penglihatannya.
Dia sangat dendam kepada 5 perkumpulan besar Zhong Yuan.
Setelan Xin Jie berhasil menguasai semua ilmu silatnya, dia ingin membalas dendam.
Sewaktu di Wu Hua Shan, dia diserang degan cara licik.
Tapi dia sadar hanya mengandalkan tenaga Xin Jie, menghadapi 5 perkumpulan yang posisinya sangat kuat di dunia persilatan, bukanlah hal yang mudah.
Karena itu dia pun memberikan bekal kepada Xin Jie.
Supaya 5 perkumpulan besar itu saling176 bunuh, setelah itu baru satu per satu diserangnya.
Sifat Mei Shan-ming memang aneh.
Setelah ilmu silatnya musnah, dia menjadi lebih fanatik.
Dia tidak akan mau tahu jika di dunia persilatan terjadi keributan besar, maka akan banyak orang yang mati.
Apalagi sejak kecil Xin Jie sudah yatim piatu.
Dia juga mempunyai pandangan aneh kepada dunia persilatan.
Melihat Shen He Zhan Pin dan Ling Feng Jian Ke datang, Yu Yi-fei tertawa dingin dan berkata.
"Tidak disangka, Yu Yi-fei yang hanya seorang pesilat kecil, telah membuat Pendekar Zhan Pin dan Ling Feng Jian Ke datang ke sini."
Shen He Zhan Pin tidak menunggu kakak seperguruannya menjawab, dia segera membentak.
"Kong-dong San Jue Jian sangat terkenal di dunia persilatan, mana mungkin memandang kami dari Wu Dang Pai. Adik Li telah memberitahukan masalah ini kepada kami. Kami tahu kami hanya kucing berkaki tiga, ilmu pedangnya juga tidak bisa menandingi pesilat Kong-dong. Tapi aku bermarga Zhan memang tidak tahu diri, aku ingin mencoba ilmu pedang Pendekar Yu." 177 Yu Yi-fei melihat Li Zhi Hua yang berdiri di pinggir. Li Zhi Hua sedang tertawa senang. Yu Yi-fei tahu Li Zhi Hua sudah mengatakan yang tidak-tidak di depan mereka. Tapi Yu Yi-fei memang sangat sombong, dia juga sedang mencari kelemahan Wu Dang. Karena itu dengan dingin dia berkata.
"Pendekar Zhan jangan sungkan. Aku tidak bisa banyak berkata. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan sekarang, terpaksa aku meminta penjelasan melalui ilmu silat."
Maksud Yu Yi-fei adalah dia tidak bisa mengalahkan mereka dalam berkata-kata, tapi dalam ilmu silat belum tentu.
Ling Feng Jian Ke dan Shen He Zhan Pin adalah orang yang sangat berpengalaman.
Mereka mengerti apa yang dimaksud oleh Yu Yi-fei.
Ling Feng Jian Ke tertawa dingin.
"Pendekar Yu benar-benar sangat cepat bicara, tapi itu akan lebih baik."
Dia membalikkan kepalanya melihat Xin Jie dan bertanya.
"Siapa dia....?"
"Dia adalah teman baikku, Xin Jie. Sudah lama dia ingin mengetahui bagaimana kehebatan ilmu pedang Wu Dang Pay karena itu dia sengaja datang untuk melihat kita." 178 Li Zhi Hua berkata.
"Ini adalah Bos Xin yang pernah kuceritakan kepada Kakak."
Ling Feng Jian Ke melihat Xin Jie sebentar kemudian dia memberi hormat. Xin Jie dengan cepat balas memberi hormat. Shen He Zhan Pin berlari ke depan dan berkata.
"Aku akan mencoba beberapa jurus ilmu silat Pendekar Yu."
Di luar mereka terlihat sungkan, tapi dalam hati penuh dengan nafsu membunuh dan mereka ingin membunuh lawan dengan pedangnya masing-masing....
Karena itu mereka berdua tidak bicara lagi.
Dengan sepenuh hati mereka konsentrasi pada lawannya, takut kalau lawannya akan merebut serangan duluan.
Xin Jie berada di tempat jauh.
Sepertinya dia takut kalau pedang akan mengenai kepalanya.
Waktu ini, tiba-tiba dari jauh datang 2 orang lagi.
Dari langkah kaki mereka, terlihat kalau mereka juga adalah pesilat tangguh.
Shen He Zhan Pin marah dan berkata.
"Ternyata Pendekar Yu mengundang banyak teman untuk membantu." 179 Di Jue-jian Yu Yi-fei tampak bingung. Begitu sampai mereka berhenti, tapi mereka tidak mendekat, mereka berhenti di kejauhan. Ternyata mereka adalah Jiu Gong Shen Dan Fan Zhi Cheng, si Tombak Perak Meng Bo-qi, dan beberapa orang terkenal dari kota Wu Han. Beberapa orang adalah kenalan dari kedua belah pihak. Mereka berdiri di tempat jauh, berarti mereka datang hanya untuk menonton keramaian. Di Jue-jian Yu Yi-fei berkata dengan dingin.
"Aku Yu Yi-fei, walaupun tidak berguna, tapi aku tidak akan meminta bantuan teman untuk bertarung."
Maksudnya tidak lain adalah dia datang sendiri dan lawannya yang datang dalam jumlah banyak.
Wajah Shen He Zhan Pin sangat pucat karena menahan marah.
Kakinya telah memasang kuda-kuda.
Pedang sudah dicabut dari sarungnya dan berkata.
"Silakan!"
Pedang sudah diayunkan.
Pedang membawa cahaya hijau, dengan cepat menepis pundak Yu Yi-fei.
Ilmu pedang Wu Dang Pay bukan ilmu pedang sembarangan.
Tusukan Zhan Pin180 hanya jurus kosong.
Dia belum mengeluarkan ilmu pedang Wu Dang Pay yang sebenarnya.
Yu Yi-fei terus memperhatikan ujung pedang Zhan Pin.
Begitu ujung pedang berada di depannya, dia baru mundur kemudian kakinya diputar.
Cahaya pedang tampak berkilau.
Pedang panjang itu entah kapan sudah berada di tangannya kemudian ditusukan.
Dia mulai mengeluarkan jurus pedang Kong-dong-pai yang bernama 'Shao Yang Jiu Yi Shi', jurus pertama bernama 'Fei Long Chu Xian'.
Pedang membawa angin dan kilat, Yu Yi-fei benar-benar mempunyai ilmu yang kuat.
'Shao Yang Jiu Yi Shi' adalah jurus Jian Shen Li-e, digabung dengan ilmu pedang Kong-dong-pai.
Jian Shen Li-e 10 tahun yang lalu dengan jurus ini berhasil mendapatkan gelar Tian Xia Di Yi Jian, dan jurus ini sangat terkenal.
Dari sini dapat diketahui tenaga pedang ini sangat dahsyat dan tidak sama dengan jurus lainnya.
Sekali Di Jue-jian Yu Yi-fei mengeluarkan jurus pedang, Shen He Zhan Pin sadar bahwa hari ini dia telah bertemu dengan musuh kuat.
Tiba-tiba pedangnya dinaikkan dan membacok ke arah pergelangan181 Yu Yi-fei.
Jurus-jurus ini menepis, memukul tapi serangannya tidak begitu keras.
Ini adalah jurus Wu Dang Pai yang disebut 'Jiu Gong Lian Huan Jian', merupakan jurus unik.
Yu Yi-fei berseru.
"Jurus pedang yang bagus!"
Dia menarik pedang dan meloncat lagi.
Bayangan pedang berada di sekelilingnya, membuat lingkaran-lingkaran pedang.
Sinar pedang membuat pandangan bingung.
Pedang dari atas menepis ke bawah.
Ini adalah jurus 'Shao Yang Jiu Yi Shi', dari jurus Shen Long Xian Wei.
(Naga sakti memperlihatkan ekor).
Shen He Zhan Pin bersiul.
Ling Feng Jian Ke tahu kalau adik seperguruannya mulai marah.
Dia dijuluki Shen He karena setiap kali jika dia ingin membunuh orang pasti akan bersiul terlebih dulu.
Pedang Shen He Zhan Pin mengeluarkan sinar berkilau.
Dia mulai balas menyerang.
Setiap serangan menuju tempat-tempat penting di tubuh YuYiFei.
Melihat keadaan seperti itu, hati Xin Jie merasa sangat senang.
Ini semua sesuai kehendaknya.
Dia tahu jika salah satu ada182 yang terluka, maka pertarungan akan terus berbuntut panjang.
Ilmu pedang mereka berasal dari perkumpulan asli mereka.
'Shao Yang Jiu Yi Shi1 merupakan ilmu yang sangat bagus.
Ilmu tenaga dalam Yu Yi-fei sangat dalam, setiap jurus selalu membawa angin kencang, benar-benar mengejutkan orang.
Ilmu 'Jiu Gong Lian Huan Jian' dari Wu Dang Pay sudah terkenal selama beberapa puluh tahun di dunia persilatan.
Setiap jurus yang dikeluarkan sangat mantap dan serangan pedang datang bertubi-tubi, gerakannya kuat dan cepat seperti air sungai Chang Jiang, terus tidak pernah berhenti.
Xin Jie pun mengakui bahwa Wu Dang dan Kong-dong bisa menjadi terkenal bukan karena faktor keberuntungan, melainkan karena mereka benar-benar memiliki ilmu silat yang bagus.
Diam-diam dia terus memperhatikan setiap jurus yang mereka keluarkan.
Walaupun jurus-jurus mereka dilakukan sangat cepat dan kuat, tapi seringkah terlihat ada celahnya.
Celahcelah ini tidak sembarangan orang bisa melihatnya.
Diam-diam Xin Jie tersenyum.
Dia183 mengerti dalam buku 'Qiu Zhi Jian Fa' sepertinya banyak jurus yang tidak berguna, tapi sebenarnya jurus-jurus itu adalah jurus khusus untuk menghadapi celah-celah seperti yang ada sekarang ini.
Berarti sewaktu Mei Shan-ming menulis buku ini, dia sudah tahu kelemahan setiap perkumpulan besar Zhong Yuan.
Sekarang 10 jurus lebih telah berlalu, tapi di antara mereka belum dapat diketahui siapa yang menang dan siapayang kalah.
Tiba-tiba di atas langit tampak ada awan hitam menutupi sinar matahari.
Bumi terlihat begitu gelap.
Cahaya pedang mereka tampak berkilau lagi.
Tidak lama kemudian hujan pun turun.
Malam hari turun hujan.
Hujannya sangat deras.
Orang yang menonton segera berteduh kepinggir Huang He Lou, tapi 2 orang yang bertarung masih terus bertarung di bawah siraman hujan deras.
Mereka berdua masing-masing mewakili Kong-dong dan Wu Dang generasi kedua.
Walaupun mereka bukan ketua perkumpulan, tapi mereka mempunyai nama dan wibawa tinggi diperkumpulannya masing-masing.
Mereka juga tahu betapa pentingnya184 pertarungan hari ini, karena itu mereka berdua berkonsentrasi penuh dalam bertarung, sampai hujan deras pun tidak dipedulikan.
Tiba-tiba di bawah siraman hujan terdengar ada yang menyanyi.
"Dulu ada seseorang bernama Jiang Tai Gong. Hingga di usia 70 tahun dia masih sangat bodoh. Dia memikul terigu untuk berjualan tapi di jalan terkena hujan dan angin...."
Semua orang di sana merasa aneh, mengapa hari sudah malam, tapi masih ada orang yang bernyanyi.
Nyayian terdengar semakin mendekat.
Di bawah siraman hujan ada seseorang yang datang sambil menyanyi dan menggunakan 2 bambu terus mengetuk ke tanah.
Hal ini membuat orang-orang di sana merasa aneh dan juga terkejut.
Begitu melihat ada yang bertarung, dia tertawa dan bernyanyi lagi.
"Benar-benar ramai, ha, ha, ha! Mereka berdua bertarung, benar-benar membuat suasana ramai...."
Sambil berjalan dia terus bernyanyi, dia berjalan ke pinggir Huang He Lou dan duduk di sisi Xin Jie dan bernyanyi lagi.
"Dulu ada sebuah tempat indah yang,bernama185 Feng Yang. Di Feng Yang ada seorang yang bernama Zhu Hong Wu. Di sana dalam waktu 10 tahun, 9 tahun terjadi bencana...."
Sambil bernyanyi dia terus memukul bambu, benar-benar tampak sangat sibuk.
Dia sama sekali tidak melihat di sisinya ada orang.
Jiu Gong Shen Dan melihat baju yang dipakainya.
Sepertinya dia seorang pengemis, tapi wajahnya tampak sangat bersih begitu pun dengan tangannya.
Kukunya panjang mungkin ada 4-5 sentimeter.
Tiba-tiba dia teringat pada seseorang.
Pelan-pelan dia berkata kepada si Tombak Perak Meng Bo-qi.
Wajahnya berubah.
Dia membalikkan kepala lalu melihat orang ini.
Xin Jie melihat tingkah mereka berdua, dalam hati dia segera berpikir.
"Dia duduk dengan bersila."
Begitu orang itu melihat Xin Jie yang duduk di sisinya, wajahnya segera berubah, dia melihat Xin Jie lagi dan tertawa kepadanya.
Xin Jie balas tertawa.
Jiu Gong Shen Dan dan Tombak Perak saling pandang.
Mereka merasa aneh.
Di Jue-jian Yu Yi-fei dan Shen He186 Zhan Pin sangat terganggu dengan nyanyiannya.
Karena pesilat tangguh pada saat bertarung harus berkonstrasi penuh jika terganggu, hati mereka tidak akan tenang, apalagi sekarang hujan turun sangat deras, ditambah lagi ada yang bernyanyi sambil memukul bambu, mereka benar-benar tidak bisa bertarung lagi dan pikiran mereka menjadi tersiksa.
Semakin lama tenaga mereka semakin berkurang.
Jurus-jurus pedang mereka pun semakin melambat, tapi mereka sadar keadaan seperti inilah waktu untuk penentuan siapa yang menang dan kalah telah habis.
Ling Feng Jian Ke sangat memperhatikan keadaan, selangkah demi selangkah dia terus maju, sampai dia berdiri di bawah siraman hujan deras rasanya dia masih tidak merasakannya.
Tiba-tiba Shen He Zhan Pin dengan jurus sangat berbahaya memajukan tubuhnya dari pinggir.
Tangan kirinya menotok pergelangan tangan Yu Yi-fei yang sedang memegang pedang.
Tangan kanannya menepis ke sisi telinga Yu Yi-fei.
Jurus ini sangat berbahaya.
Biasanya pada saat pesilat bertarung bila merasa187 akan terkena sabetan dia akan langsung bergeser, mana ada pesilat seperti dia, badannya melesak masuk ke dalam.
Ling Feng Jian Ke melihat semuanya.
Dia berteriak.
Hal ini pasti akan mencelakakan Shen He Zhan Pin.
Kakinya menitik dan terbang ke tempat mereka bertarung tapi semua sudah terlambat.
Sepasang kaki Di Jue-jian sangat kuat terpaku di bawah, tiba-tiba tubuhnya melenting ke belakang.
Tangan kanannya dilepas.
Dia melepaskan pedangnya.
Begitu pedang dijatuhkan tiba-tiba dia menyambut lagi pedang itu.
Pegangan pedangnya bahkan sempat dijulurkan dan ditujukan ketubuh Shen He Zhan Pin.
Jurus Yu Yi-fei memang sangat aneh.
Pedang yang sudah terlepas disambutnya kembali dan dia berhasil menghindari totokan jari Shen He Zhan Pin.
Pegangan pedang langsung diarah-kan untuk menotok Shen He Zhan Pin.
Jurus ini dalam buku mana pun tidak akan pernah ditemukan.
Semua ini adalah hasil dari pemikiran Yu Yi-fei yang dilakukan dengan terburu-buru dan secara spontan dikeluarkan.
Shen He Zhan Pin tidak bisa menghindar lagi188 akhirnya dia terjengkang kebawah.
Ling Feng Jian Ke seperti angin berlari ketempat Shen He Zhan Pin jatuh.
Tangan tetap memegang pedang.
Wajahnya berubah warna menjadi hijau kekuningan.
Kedua matanya dipejamkan.
Ling Feng Jian Ke segera menggendong Shen He Zhan Pin ke sisi dan dia memeriksa luka di bagian dada Shen He Zhan Pin.
Orang-orang yang menonton di sana juga berteriak karena terkejut.
Mereka sudah tidak peduli dengan hujan deras dan berlari ke tempat mereka bertarung.
Xin Jie melihat orang aneh itu.
Dia seperti tidak melihat keadaan di sana dan dia masih terus bernyanyi, karena itu Xin Jie tetap duduk di tempatnya dan tidak beranjak pergi seperti orang lain.
Ling Feng Jian Ke melihat Shen He Zhan Pin telah terkena totokan berat.
Dia marah dan dengan tergesa-gesa berkata.
"Baiklah, murid Kong-dong-pai memang ilmu silatnya benar-benar bagus. Hari ini Wu Dang Pai kalah di tanganmu."
Baju Di Jue-jian Yu Yi-fei basah kuyup. Tubuh dan pikirannya seperti tidak bersemangat. Dia tahu jika Ling Feng Jian189 Ke menyerangnya sekarang, dia pasti akan kalah. Maka dia pun berkata.
"Apakah Tuan berniat mencoba bertarung denganku?"
Dengan marah Ling Feng Jian Ke berkata.
"Aku tidak akan mgnggunakan cara licik menghadapimu. Melihat ilmu silat marga Yu, aku tetap ingin mencobanya."
Di depan banyak orang terkenal kota Wu Han, dia berkata seperti itu.
Sebenarnya dia bukan tidak mau menyerang Yu Yi-fei melainkan sekarang ini Shen He Zhan Pin berada dalam keadaan bahaya.
Dia harus segera menolong saudaranya.
Dia menggendong Shen He Zhan Pin.
Melihat Li Zhi Hua yang masih terpaku dan dia marah.
"Ayo, cepat pergi!"
Di Jue-jian Yu Yi-fei berkata lagi.
"Harap Tuan memberitahu guru Tuan, katakan bahwa temannya yang dulu, yaitu orang Kong-dong-pai menanyakan benda yang 10 tahun lalu pernah hilang di sana, apakah benar seperti itu? Harap guru Tuan menepati janji dan mengantarkannya ke Gunung Kong-dong."
Ling Feng Jian Ke marah.
"Dalam waktu satu bulan ini guruku pasti akan pergi sendiri ke Kong-dong, Tuan tidak190 perlu merasa khawatir."
Di Jue-jian Yu Yi-fei tertawa panjang.
"Baiklah, baiklah. Musim gugur nanti, aku berharap Tuan pun hadir dalam rapat Tai Shan tahun ini."
"Tentu,"
Jawab Ling Feng Jian Ke.
Dia segera bergerak, lalu menggendong Shen He Zhan Pin pergi dari sana.
Dari kata-kata mereka, Xin Jie tahu bahwa mulai hari ini antara Kong-dong dan Wu Dang, dua perkumpulan besar ini hubungannya akan seperti air dan api.
Xin Jie membalikkan kepala untuk melihat orang aneh itu.
Nyanyiannya terdengar semakin mengecil.
Sepertinya sekarang dia tertidur.
Xin Jie tersenyum lalu bangkit berdiri.
Dia berjalan ke arah Yu Yi-fei.
Sambil tertawa dia berkata.
"Ilmu pedang Kakak Yu memang hebat. Hari ini mata dan telingaku benar-benar terbuka."
Dia pun berkata kepada Jiu Gong Dan Fan Zhi Cheng.
"Hari ini aku traktir kalian minum di Feng Lin Ban untuk merayakan kemenangan Kakak Yu. Apakah kalian setuju?"
Yu Yi-fei dengan cepat berkata.
"Kebaikan Kakak Xin aku terima di dalam191 hati. Malam ini juga aku harus kembali ke Kong-dong-pai, menjelaskan semua kejadian ini kepada guruku."
Dia berkata lagi.
"Aku juga harus melapor kepada guru bahwa Qi-mao Shen-jun muncul kembali ke dunia persilatan. Aku berharap guru bisa mempersiapkan segala sesuatu."
"Jika Kakak Yu ada perlu penting, aku tidak akan memaksa. Tapi setelah berpisah, kita tidak akan bertemu lagi, hatiku menjadi sedih."
Yu Yi-fei tertawa.
"Aku masih belum berkeluarga, pergi atau kembali kapan saja ini sangat mudah. Setelah urusanku sudah selesai, aku akan kembali kesini, dan bersama dengan kalian minum arak. Sekarang aku pamit dulu."
Setelah itu dia pergi seperti terbang, hanya dalam waktu singkat dia menghilang di bawah hujan deras.
Jiu Gong Shen Dan Fan Zhi Cheng baru saja akan bicara, terlihat orang aneh itu menguap.
Dengan cepat kata-kata yang akan dikeluarkan ditelan kembali.
Tombak Perak Meng Bo-qi pun ikut datang kesini dan berkata.
"Jangan bicara terus di bawah siraman air hujan, lebih192 baik kakak Xin naik perahu dan menyebrangi sungai bersama dengan kami."
Xin Jie tertawa.
"Aku adalah orang yang sangat ingin tahu mengenai sesuatu dan masih ingin tinggal di sini. Kakak Fan dan Kakak Meng, silakan kalian pulang dulu!"
Jiu Gong Shen Dan berpikir seben-tar.
"Mungkin ini lebih baik. mungkin Kakak Xin menemukan hal aneh, kami pergi dulu."
Meng Bo-qi sepertinya tidak ingin berdiam lama-lama di sini.
Dia memberi hormat dan segera menarik Fan Zhi Cheng pergi dari sana.
Ooo)*(ooO BAB Tuan racun, budi dan dendam Xin Jie menghapus air hujan yang membasahi wajahnya.
Dia kembali ke teras Huang He Lou, melihat orang aneh itu masih tertidur pulas.
Dia berpikir sebentar kemudian duduk kembali di sisi orang aneh ini.
Dia duduk sebentar.
Hujan sudah berhenti.
Langit mulai terang.
Orang aneh itu masih tertidur lelap.
Xin Jie sudah tidak sabar dan berpikir.
"Jika sekarang193 ada yang melihat kelakuanku, bukankah aku akan ditertawakan?"
Xin Jie melihat ada yang datang dan lebih dari satu orang.
Matanya sangat jeli.
Dari jauh dia melihat yang datang adalah perempuan.
Di antara mereka ada yang menggotong tandu.
Perempuan yang berjalan di baris paling depan tidak membawa apa pun.
Xin Jie menjadi bingung.
Coba kau pikirkan, seorang pemuda yang berbaju mewah dan seorang pengemis dengan baju compang camping, di hari masih pagi seperti ini duduk bersama-sama.
Jika dilihat oleh orang-orang, apa yang mereka pikirkan?
Sewaktu Xin Jie sedang berpikir, gadis yang berada di paling depan menunjuk ke arah Xin Jie yang duduk.
Wajahnya seperti sangat gembira.
Anehnya, dia tidak kenal dengan gadis ini, kenapa gadis itu menunjuk-nunjuk kepadanya?
"Apakah dia sedang menertawakanku?
Tapi biasanya seorang gadis tidak akan berperilaku seperti itu."
Gadis itu memakai gaun berwarna hijau muda, rambutnya digelung ke atas, alisnya194 berbentuk seperti bulan sabit.
Di hari belum begitu terang dia tampak seperti gadis dalam lukisan.
Hal ini membuat Xin Jie terpaku.
Gadis itu semakin dekat dan mereka sedang berjalan ke arah Xin Jie.
Di belakangnya masih ada 4 orang gadis.
Sepertinya mereka adalah para pelayan.
Mereka menggotong sebuah ranjang kecil beserta dengan kasurnya.
Xin Jie benar-benar bingung, semakin dilihat dia merasa semakin aneh.
Yang lebih aneh gadis itu berjalan ke arahnya, dia tertawa kemudian memberi hormat.
Xin Jie menjadi bingung.
Cepat-cepat dia berdiri dan hanya bisa terpaku.
Empat gadis pelayan ikut memberi hormat, kemudian mereka berlutut di depan pengemis tua itu dan menaruh pengemis itu diatas ranjang yang mereka bawa.
Orang aneh itu membuka mata dan melihat ke sekeliling lalu tertidur pulas lagi.
Hal ini benar-benar membuat Xin Jie bingung.
Dia melihat gadis itu.
Gadis itu tertawa kepadanya.
Xin Jie dengan aneh berkata.
"Nona...."
Dia hanya bisa mengucapkan kata ini sedangkan kata-kata lainnya tidak bisa195 terucap dari mulutnya karena dia tidak mengenal gadis itu sama sekali juga tidak tahu apa hubungan gadis itu dengan orang aneh ini, dan mengapa keempat pelayan ini menggotong orang aneh ini?
Dia tidak tahu apa alasan gadis ini tertawa kepadanya?
Melihat Xin Jie bingung seperti itu, untuk ketiga kalinya gadis itu tersenyum kepadanya.
Sinar matahari terbit membuat wajah Xin Jie yang pucat tampak kemerahan.
Sesudah meletakkan orang aneh itu ke atas ranjang yang mereka bawa, keempat pelayan itu membawa orang aneh itu kembali ke jalan yang mereka lewati tadi.
Gadis itu dengan manja berkata.
"Terima kasih karena Tuan telah mengurus ayahku. Malam ini aku akan menyiapkan arak. Aku akan menjamu Tuan untuk datang ke perahuku, semua ini kulakukan untuk membalas kebaikan Tuan."
Kemudian dia memberi hormat dan pergi dari sana.
Xin Jie benar-benar bingung.
Dia tidak mengerti kalau gadis cantik itu adalah putri si pengemis itu.
Dia bahkan lebih tidak mengerti mengapa gadis ini berniat mengundang minum arak di196 perahunya sebagai tanda ucapan terima kasih karena telah mengurus ayahnya.
Apakah benar pengemis itu adalah ayahnya?
Jika benar, sebenarnya dia juga tidak pernah mengurus pengemis tua itu.
Di mana letak perahunya?
Di sungai begitu banyak perahu, yang mana perahu milik mereka?
Jika dia datang menepati janji, apakah dia harus bertanya kepada setiap perahu?
Banyak pertanyaan berputar-putar dikepa-la Xin Jie.
Dia berkata sendiri.
"Benar-benar aneh! Aneh! Gadis itu benar-benar cantik. Kata-kata Fan Zhi Cheng memang benar!"
Tiba-tiba dia menepuk dahinya sendiri dan berkata.
"Aku memang bodoh, sepertinya Fan Zhi Cheng sudah tahu siapa pengemis itu. Sekarang aku akan pulang dan menanyakannya kepada dia, bukankah semua akan menjadi jelas?"
Karena itu dia merapikan bajunya dan berjalan ke arah perahu yang dinaikinya tadi.
Perahu berada di tengah sungai.
Melihat sungai begitu luas, hati Xin Jie tetap merasa kacau.
Dia tinggal di kamar197 batu selama 10 tahun.
Dia sudah terbiasa hidup sederhana dan sepi, kecuali ilmu silat, dia tidak memikirkan hal lainnya.
Sekarang baru saja dia meninggalkan kamar batu itu selama 4-5 hari, sudah banyak masalah yang harus dia pikirkan.
Mei Shan-ming memberinya tugas begitu sulit dan rumit kepadanya.
10 tahun dalam kenangan sedih, waktu yang sudah berlalu tidak akan menjadikan semuanya pudar dan dilupakan begitu saja.
Apalagi baru-baru ini dia mulai merasakan 'rasa pusing yang manis'.
Dia teringat pada mata Nona Fang yang indah dan juga sedih, serta gadis berbaju hijau yang ditemuinya tadi di Huang Que Lou.
Tawanya tampak manis.
Semua ini menjadi riak dalam hatinya.
Seperti pelacur yang bernama Ya Feng, Xin Jie tidak menyukai pekerjaannya.
Tapi perempuan itu dewasa dan lembut serta centil, belum pernah dia mengalami hal seperti ini sebelumnya.
Semua ini benar-benar membuat hatinya bergejolak.
Dia tidak tahu mana yang timbul dari hatinya dan mana yang hanya nafsu saja.
Perahu tiba di seberang.198 Kusir duduk di atas kereta menunggunya.
Dia tampak lesu dan matanya terlihat lelah.
Dia merasa kasihan kepada orang miskin dan berkedudukan rendah.
Kusir telah melihatnya datang.
Dengan senang dia turun dari kereta dan membukakan pintu untuknya.
"Apakah Tuan mau pulang sekarang?"
Xin Jie mengangguk. Dia mulai berpikir.
"Keinginan setiap orang berbeda jauh! Kusir ini melihatku datang, dia merasa sangat senang karena dia bisa pulang lebih awal ke rumahnya walaupun rumahnya tidak begitu nyaman. Tidak perlu menungguku lama-lama di hari begitu dingin. Bagaimana dengan cita-citaku? Sampai sekarang aku belum tahu apa cita-citaku. Aku hanya tahu itu adalah suatu keinginan, keinginan besar dan juga harapan. Apa yang ingin kudapatkan adalah hal yang paling sempurna."
"Tapi, apakah aku mampu untuk mendapatkannya?"
Dia menarik nafas yang panjang dan berjalan masuk ke dalam kereta.
Di dalam kereta terasa kecil dan sepi.
Dia melihat ke sudut kereta.
Sekarang dia berharap gadis yang pernah ketakutan dan199 diam di sudut kereta bisa menemaninya saat ini.
Karena itu dia menyuruh kusir lebih cepat menjalankan kereta.
Sebenarnya dia tahu jarak dari daerah pinggir sungai hingga rumahnya sangat dekat.
Toko perhiasan Shan Mei baru dibuka.
Pelayan-pelayan masih terkantuk-kantuk sambil melakukan pekerjaan di toko.
Dengan dingin Xin Jie menyapa pelayan-pelayan itu dan langsung berjalan ke kamar Nona Fang.
Dia tidak mengetuk pintu dulu.
Karena lama tinggal sendiri di kamar batu membuatnya tidak menuruti peraturan dan etika yang ada.
Walaupun buku yang dibacanya sudah lumayan banyak, tapi ketika mempraktekkannya, dia sering lupa.
Dia hanya menuruti keinginannya bila ingin melakukan sesuatu.
Gadis itu sedang santai berbaring di atas ranjang.
Melihat Xin Jie masuk dia ingin menyapa, tapi karena malu wajahnya menjadi merah dan hanya diam di ranjang.
Xin Jie benar-benar merasa senang.
Sambil tertawa dan lembut dia bertanya.
"Apakah Nona merasa nyaman berada di sini?" 200 Bulu mata panjangnya terangkat. Mata itu tampak bercahaya, sedih, dan juga khawatir, tapi sepertinya telah hilang setengah. Yang sekarang tampak hanya cahaya kebingungan. Dengan malu dia memperkenalkan diri.
"Aku bermarga Fang...."
Xin Jie segera menyapa.
"Nona Fang."
Xin Jie sangat tenang melihat gadis itu.
Tiba-tiba dia merasa ada tempat baginya untuk bersandar dan tidak perlu khawatir akan kesepian.
Karena malu gadis itu hanya menundukkan kepala.
Seorang gadis yang belum menikah berada satu kamar dengan laki-laki yang belum dikenalnya lalu memberitahukan marganya, semua ini mempunyai arti sangat dalam.
Berarti di dalam hati gadis ini paling sedikit dia telah mempunyai perasaan dalam kepada pemuda itu.
Sejak kecil laki-laki yang ditemuinya adalah petani, perampok, dan orang aneh yang bernama Jin Qi.
Ketampanan Xin Jie dan kebesaran jiwanya yang luas, tawanya yang ramah, membuat hati gadis ini pelan-pelan terbuka lebar.201 Dia tidak mengenal Xin Jie, tapi perasaan manusia memang sangat misterius.
Kadang-kadang kau mempunyai perasaan kepada orang yang baru pertama kali kau temui lebih dalam dibandingkan dengan perasaanmu kepada orang yang setiap hari kau temui.
Apalagi ini menyangkut perasaan antara perempuan dan laki-laki.
Tapi Xin Jie tidak tahu apa yang dipikirkan gadis itu.
Dia tidak mengerti perasaan manusia.
Di dalam kamar tidak terdengar suara pembicaraan, tapi udara di sana pekat dengan keakraban.
Bila ada 2 orang saling mencintai, untuk apa harus mengungkapkannya dengan bahasa?
Xin Jie berusaha mencari topik pembicaraan.
Dia bertanya.
"Apakah Nona merasa betah dan nyaman?"
Gadis itu menggelengkan kepala.
"Aku merasa kesepian karena tidak ada kerjaan. Tapi aku juga tidak berani keluar."
Dia dan Xin Jie seperti mengenal lebih dalam lagi.
Maka dia berani mengungkapkan apa yang dipikirkannya sekarang.
Xin Jie mengangguk.
Dia tidak merasa202 kata-kata gadis ini jujur sepenuhnya.
Xin Jie berpikir sebentar.
Dengan ramah dia berkata lagi.
"Nona pasti sedang banyak pikiran. Apakah Nona bisa menceritakannya kepadaku? Dan aku tahu kalau Nona pasti merasa sangat sedih sekarang. Sebenarnya keadaanku dan Nona sama, jika mengenang masa lalu selalu membuatku sedih."
Gadis itu sudah menangis, sudah lama dia tersiksa dengan pikiran ini, tapi tidak bisa dikeluarkan.
Sekarang ada yang bersedia mendengarkan keluhannya, sambil menangis dia menceritakan kalau ayahnya adalah guru silat bermarga Fang dan Kakak Qi nya, serta menceritakan penghinaan yang dia alami selama ini.
Xin Jie benar-benar tersentuh dengan ceritanya, dia mendengar semuanya dengan teliti.
Begitu mendengar nama Jin Qi disebut, dia merasakan kemarahan timbul dari hatinya yang terdalam.
Dengan lembut Xin Jie menasehati Nona Fang sambil memegang tangan Nona Fang.
Mereka terlihat seperti biasa melakukan itu, sama sekali tidak ada paksaan atau rasa canggung.
Sewaktu Xin Jie meninggalkan kamar203 Nona Fang, hati Xin Jie tidak terasa kosong lagi.
Hati Xin Jie telah diisi oleh seorang gadis, dua orang yang kesepian bisa saling melupakan kesedihan, itu adalah hal yang indah!
Xin Jie terus mengucapkan.
"Fang Shao-kun! Fang Shao-kun!"
Xin Jie tertawa.
Tiga kata ini baginya bukan hanya sekedar 3 kata biasa, kata ini sulit untuk diungkapkan.
Perasaan hangat ini terus bercokol di dalam hati Xin Jie.
Tapi permasalahan lain datang juga.
Banyak hal yang harus diselesaikan-nya, salah satunya adalah janji dengan gadis berbaju hijau yang ditemuinya di Huang Qie Lou serta pengemis tua itu.
Memang dia tertarik pada hal ini, kecuali rasa ingin tahu, dia juga seperti ingin mendapatkan hal lainnya maka dia harus datang untuk menepati janji.
Dia teringat Fang Shao-kun, karena itu itu dia mencoba menghibur dirinya sendiri.
"Aku menepati janji dengan gadis berbaju hijau itu hanya sekedar ingin tahu. Aku tidak perlu senyum dan kecantikan gadis itu, karena hatiku telah diisi oleh Nona Fang dan aku tidak membutuhkan gadis lain lagi." 204 Ini adalah perasaan orang yang baru jatuh cinta, hanya saja masalahnya sekarang, berapa lama dia bisa bertahan dengan perasaannya ini? Karena itu dia menyuruh pelayannya menyiapkan kereta. Dia ingin mencari Jiu Gong Shen Dan Fan Zhi Cheng dan menanyakan identitas pengemis tua serta gadis itu. Dan yang pasti dia akan menanyakan yang mana perahu milik mereka apakah mempunyai ciri khas tertentu? Begitu Xin Jie keluar dari pintu, ada seseorang yang berhenti di depan pintu rumahnya. Dia adalah Fan Zhi Cheng yang memang sedang dicarinya. Fan Zhi Cheng melihat Xin Jie begitu tenang, seperti tidak pernah terjadi sesuatu, dengan senang Fan Zhi Cheng bertanya.
"Kakak Xin sudah pulang? Apakah keadaan Kakak baik?"
Xin Jie terpaku.
"Aku pasti pulang, mengapa pertanyaan Kakak begitu aneh?"
Fan Zhi Cheng menarik Xin Jie masuk ke dalam toko, sambil berjalan dia bertanya.
"Apa saja yang pernah Kakak bicarakan dengan Jin Yi-peng?"
Xin Jie terpaku lagi.
"Siapa itu Jin205 Yi-peng?"
Tapi segera dia mengerti.
"itu pasti pengemis tua tadi."
Dia segera berkata lagi.
"Tidak, tapi...."
Hou Er yang menjadi pelayan Xin Jie dan identitasnya tidak diketahui, sekarang duduk di depan meja, dia mendengar nama Jin Yi-peng, wajahnya tampak berubah, sepertinya nama Jin Yi-peng membuatnya kaget dan aneh, masih terlihat sedikit gentar di wajahnya.
Hou Er berdiri dan berjalan keluar dari tempat duduknya, dia mendengar Xin Jie berkata.
"Hati-hati senjata gelap."
"Tidak apa,"
Wajahnya terlihat senang tapi bercampur dengan kecewa, dan Xin Jie sudah berkata.
"Tapi...."
Dia segera bertanya.
"Tapi apa?"
Xin Jie tertawa.
"Tapi dia mempunyai seorang putri, dia mengajakku minum di perahunya."
Dengan heran Fan Zhi Cheng bertanya.
"Apakah itu benar?"
"Aku tidak berani berbohong kepada Kakak Fan!"
Kata Xin Jie.
"Bukan itu maksudmu, hanya saja hal ini begitu misterius dan Kakak Xin sama sekali tidak tahu identitas orang ini, maka206 Kakak terlihat sangat tenang, sedangkan aku malah merasa khawatir."
Sambil bicara mereka terus berjalan, Fan Zhi Cheng berkata lagi.
"Selama 3 hari ini di Wu Han terus terjadi peristiwa aneh, aku sendiri menjadi bingung dibuatnya."
Xin Jie sudah bisa menebak kalau ayah dan putrinya itu bukan orang biasa.
Dia mencari Jiu Gong Shen Dan dengan maksud mencari tahu identitas kedua orang itu, sekarang dari kata-kata Fan Zhi Cheng dia tahu kalau tebakannya benar.
Dia berkelana di dunia persilatan belum begitu lama, tapi dia seorang pemuda pintar, melihat ekspresi Fan Zhi Cheng dia sudah bisa menebak semuanya, walaupun dia tidak bertanya secara detil.
Fan Zhi Cheng menceritakan identitas orang itu, tapi dia berpura-pura bersikap tidak begitu ambil pusing.
Benar saja, begitu tiba di ruang belakang Fan Zhi Cheng sudah tidak tahan lagi, dia sudah berkata.
"Kakak Xin, apakah Kakak tahu siapa orang yang Kakak temui tadi?"
Xin Jie tertawa.
"Aku tidak tahu."
Fan Zhi Cheng menarik nafas.
"Kalau207 saja Kakak Xin tahu, Kakak pasti tidak akan setenang ini."
Fan Zhi Cheng duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu wangi.
"Awalnya aku sendiri tidak percaya kalau dia adalah Jin Yi-peng, kemudian setelah dipikir-pikir lagi, kecuali dia masih ada siapa lagi? Kakak Xin bukan orang dunia persilatan, selain itu umur Kakak Xin masih muda, pastinya Kakak Xin tidak akan mengenal orang itu. Tapi aku sudah 20-30 tahun berkelana di dunia persilatan, tentang orang itu sering kali kudengar, maka kalau bertemu dengan orang itu, aku langsung tahu identias-nya."
Xin Jie merasa kalau Fan Zhi Cheng belum menceritakan semua masalahnya atau juga identitas sebenarnya pengemis itu, Xin Jie segera bertanya.
"Sebenarnya siapakah dia?"
Fan Zhi Cheng menarik nafas dan menjawab.
"20 tahun yang lalu di dunia persilatan ada dua pepatah, bila bertemu dengan dua tuan besar ini, ayam atau bahkan anjing pun tidak bisa tenang. Apalagi orang kalangan dunia persilatan, ada yang mengumpamakan bila dalam hidupnya bertemu208 dengan 'dua tuan' ini, yang satu adalah Qi-mao Shen-jun sedangkan yang satu lagi adalah Du Jun Jin Yi-peng (Tuan racun). Yang satu terkenal dengan 'Qi Yi' nya (7 ilmu) sedangkan yang satu lagi terkenal dengan 'racun' nya, siapa pun yang menyenggol atau pun yang mengenainya dalam waktu 12 jam orang itu akan mati karena racunnya. Racun ini tidak ada penawarnya, maka begitu ada yang menyebutkan Tuan Racun, semua orang pasti akan merasa takut."
Xin Jie berusaha mengingat apakah Mei Shan-ming pernah menyebut orang itu, tapi rasanya tidak pernah maka dia pun merasa heran. Fan Zhi Cheng masih melihatnya dan berkata.
"Orang itu dengan Qi-mao Shen-jun, yang satu berada di utara yang satu berada di selatan, sebenarnya mereka tidak saling mengenal, tapi entah apa sebabnya Qi-mao Shen-jun mencari orang ini dan mengajaknya bertarung, tentang kejelasan masalah ini tidak ada seorang pun yang tahu karena itu di dunia persilatan timbul berbagai macam cerita. Tidak ada seorang pun yang tahu kebenarannya. Tapi semenjak itu Tuan Racun209 tidak muncul lagi di dunia persilatan tidak ada seorang pun yang pernah melihatnya lagi."
"Kejadian ini dengan cepat tersebar luas, semua orang merasa senang, masih ada yang mengatakan kalau Qi-mao Shen-jun berhasil membasmi Du Jun dan dunia ini menjadi aman."
Sambil tertawa kecut Fan Zhi Cheng berkata lagi pada Xin Jie.
"Sebenarnya Qi-mao Shen-jun juga orang yang membuat dunia persilatan sakit kepala, tapi mereka lebih memilih Shen-jun yang membasmi Du Jun."
Xin Jie tertarik dengan cerita ini dan bertanya.
"Lalu, apa yang terjadi pada akhirnya?"
Jawab Fan Zhi Cheng.
"Yang kudengar Shen-jun mati di Wu Hua Shan dan 9 penjahat besar pun tidak muncul lagi, semenjak saat itu orang-orang persilatan benar-benar merasa senang dan mengatakan kalau hidup mereka akan aman, memang selama beberapa tahun ini dunia persilatan sangat aman, tapi baru-baru ini para siluman yang sudah lama tidak muncul tiba-tiba saja muncul di kota Wu Han."
Kedua alisnya berkerut, dia berkata210 lagi.
"Yang membuatku tidak mengerti adalah mengapa siluman ini begitu tertarik dengan Kakak Xin? Walaupun siluman ini aneh, tapi dia belum pernah menyamar seperti seorang pengemis, kalau tidak melihat sepasang tangannya yang kulitnya berbeda dengan orang lain, aku tidak menyangka kalau pengemis itu adalah dia, malam ini Kakak Xin harus datang ke perahunya untuk menepati janji, tentu saja semua harus dipikirkan dengan matang!"
Xin Jie tampak berpikir sebentar, lalu bertanya.
"Putri Du Jun masih begitu muda, apakah benar dia adalah putrinya?"
Mendengar Xin Jie bertanya seperti itu, diam-diam dia berpikir.
"Pemuda ini benar-benar tuan muda yang tidak tahu diri, menghadapi masalah yang begitu rumit masih saja teringat pada putri penjahat itu,"
Kemudian dia berpikir lagi, 'sejak dulu aku belum pernah mendengar kalau Du Jun mempunyai seorang putri....
Yang kuingat waktu itu putrinya masih kecil, karena itu dunia persilatan tidak tahu kalau dia mempunyai seorang putri.
"Dia melihat Xin Jie sedang menunggu jawabannya, segera dia menjawab.
"Tentang211 putrinya aku tidak tahu dengan pasti, tapi menurutku, lebih baik Kakak Xin jangan pergi ke sana,"
Fan Zhi Cheng mencoba untuk menasihati. Xin Jie tertawa.
"Kalau memang benar Du Jun adalah orang seperti yang Kakak ceritakan, perahunya pasti mempunyai ciri khas tertentu, apakah Kakak Fan tahu?"
Fan Zhi Cheng pasti tahu, Xin Jie bertanya seperti itu karena Xin Jie pasti akan pergi ke sana, dia berpikir.
"Aku dan dia belum berteman lama, kalau dia mau mencari kesulitan sendiri, biarkan saja, aku tidak akan menghalanginya lagi, tuan muda seperti dia kalau belum kena batunya siapa pun tidak akan ada yang bisa menghalangi."
Pengalaman hidup Fan Zhi Cheng memang banyak tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau tuan muda yang kaya dan doyan perempuan ini adalah seorang jago silat tangguh yang keberadaannya hanya bisa dihitung dengan jari.
Karena itu Fan Zhi Cheng berkata.
"Apakah perahunya mempunyai ciri khas? Aku tidak tahu tapi menurut orang-orang, apa pun yang digunakan Du Jun, semua pasti berwarna hijau. Mungkin perahunya juga212 berwarna hijau, tidak sulit untuk mencarinya."
Semua yang ditanyakan Xin Jie sudah ada jawabannya, maka dia pun tidak bertanya lagi tentang Du Jun Jin Yi-peng.
Mereka masing-masing memikirkan masalahnya sendiri, kata-kata yang diucapkan mulai tidak menyambung.
Jiu Gong Shen Dan hanya singgah sebentar, lalu dia pun pamit pulang.
Xin Jie teringat posisinya sekarang, maka dia tidak berniat untuk membuat Fan Zhi Cheng marah.
Dengan nada sungkan dia meminta Fan Zhi Cheng berkunjung ke rumahnya lagi.
Karena Fan Zhi Cheng menolak Xin Jie pun tidak memaksa maka dia mengantarkan Fang Zhi Cheng sampai ke depan pintu.
Hou Er yang sedang duduk di tempat kasir segera keluar dan bertanya.
"Tuan Muda, ada yang ingin kusampaikan."
Xin Jie melihat para pelayan yang sedang berdiri di pinggir. Dia berkata.
"Kau mau bicara apa denganku, lebih baik ikut masuk!"
Dengan hormat Hou Er menjawab.
"Ya!"
Dia mengikuti Xin Jie masuk ke dalam,213 setelah itu menutup pintu, dia tampak tidak tenang.
Xin Jie tahu Hou Er bukan orang biasa, pengalaman hidupnya sangat banyak dan biasanya dia sangat tenang.
Sekarang dia terlihat gelisah sekali, pasti ada sesuatu yang terjadi dan dia segera bertanya.
"Paman Hou, Paman pasti ingin menyampaikan hal penting kepadaku bukan?"
Kedua mata Hou Er terbuka lebar. Dia melihat Xin Jie lalu bertanya.
"Apakah kau sudah melihat Jin Yi-peng?"
Xin Jie mengangguk dan Hou Er bertanya lagi.
"Apakah kau sudah bertemu dengan putri Jin Yi-peng?"
Xin Jie merasa aneh, mengapa Paman Hou yang jarang keluar rumah sangat tahu mengenai hal ini.
Jiu Gong Shen Dan yang sering berkelana di dunia persilatan saja tidak tahu tentang putri Jin Yi-peng.
Xin Jie melihat sorot mata Hou Er yang biasanya terlihat dingin sekarang berubah menjadi aneh karena gejolak yang ada di dalam hati.
Dia bertambah aneh lagi.
Semenjak kenal dengan Paman Hou, belum pernah dia terlihat seperti itu.
Dia mulai merasa tingkah laku Hou Er seperti sebuah teka teki besar baginya.214 Sebenarnya dia tahu kalau Hou Er adalah orang yang sangat terkenal, sekarang dia bisa menebak kalau Hou Er sedang menutupi sesuatu.
Karena dia pernah gagal, maka sekarang dia bisa menjadi seperti ini, sampai-sampai nama aslinya pun tidak digunakan lagi.
Hou Er adalah nama palsu, sebenarnya siapakah dia?
Dari ekspresi wajahnya sekarang, apakah dia mempunyai suatu hubungan dengan Du Jun Jin Yi-peng?
Semua ini membuat Xin Jie bingung.
Dia tidak menjawab pertanyaan Hou Er.
Sorot mata Hou Er tampak berubah lagi.
Dia bertanya.
"Apakah kau pernah melihat putrinya?"
Xin Jie terkejut. Dengan cepat dia menjawab.
"Aku sudah pernah bertemu dengan putrinya. Malam ini gadis itu mengundangku bertemu di perahunya. Sejak tadi aku terus berpikir apa alasannya mengundangku?"
Wajah Hou Er terlihat bergerak-gerak. Apakah dia senang atau marah? Kedua tangannya terkepal. Dia seperti tertawa tapi juga seperti tidak. Dia berkata.
"Tuhan benar-benar membantuku, akhirnya aku menemukan mereka di sini."
Melihat ekspresi dan mendengar kata-215 katanya, Xin Jie semakin tidak mengerti. Dia tidak tahan lagi dan bertanya.
"Paman Hou...."
Hou Er malah menarik nafas panjang dan berkata.
"Jangan bertanya dulu, biarkan aku bercerita untukmu."
Xin Jie tahu cerita yang akan disampaikan oleh Paman Hou Er pasti bukan cerita biasa.
Dia mencari sebuah kursi dan duduk di dekat jendela dia siap mendengarkan cerita Paman Hou.
Mata Hou Er memandang awan putih dan gunung di kejauhan.
Dengan pelan dia berkata.
"Jaman dulu di suatu propinsi, tinggal seseorang, dia adalah orang yang paling berbaha-gia di dunia ini.
Dia lahir dari keluarga kaya.
Hartanya berlimpah, berteman dengan semua orang.
Dari kecil sudah berlatih silat dan setelah tumbuh dewasa dia menjadi seorang pesilat tangguh.
Di dunia persilatan, baik itu dari golongan hitam atau putih, begitu mendengar namanya, mereka akan mengeluarkan ibu jari dan memujinya.
"Baik!". Di rumahnya ada istri cantik yang setia menunggunya dan dia masih sangat muda."
Hou Er mengalihkan pandangannya dari216 jauh lalu melihat kepada Xin Jie.
"Apakah orang seperti ini tidak akan berbahagia?"
"Kemudian dia mempunyai seorang putri. Dia merasa hidupnya adalah hidup paling bahagia. Dia tinggal di He Bei sejak lama dan tidak pernah pergi jauh. Dia teringat kalau orang jaman dulu selalu berkata 'jika sering berpergian jauh sama dengan membaca banyak buku'. Setiap kali jika dia mendengar cerita orang tentang pemandangan gunung atau sungai, dia selalu mendengarkannya dengan semangat."
Hou Er berkata dengan pelan dan dengan jelas menceritakan semuanya, karena hal ini telah disimpan di dalam hatinya sejak lama dan selalu diingatnya.
"Akhirnya dia bisa mengatasi semua kesulitan dan bisa berkelana. Dalam waktu 1 tahun lebih, pengetahuan dan pengalamannya bertambah banyak. Waktu itu dia merasa tidak ada satu persoalan pun yang bisa membuatnya merasa menyesal. Tapi sewaktu dia kembali ke rumahnya, rumahnya sudah berubah."
Terlihat sorot mata Hou Er berkaca-kaca. Sorot matanya mengandung kebencian yang dalam. Sorot mata ini membuat Xin Jie217 ikut bergetar. Dia berkata lagi.
"Benda-benda yang ada di rumah itu telah berganti menjadi warna hijau, hingga istri dan putri yang baru 1 tahun ditinggalkannya, mengenakan baju berwarna hijau. Semua pelayan di sana diganti dengan orang baru. Mereka memandangnya dengan sorot mata aneh. Dia merasa aneh lalu bertanya pada istrinya. Istrinya malah bersikap dingin saat berkata dengannya. Dia seperti tidak mengenal suaminya. Hal ini benar-benar membuat orang itu merasa aneh, kaget, dan marah tapi dia tidak tahu apa yang telah terjadi dan telah mengubah semuanya?"
Hou Er berhenti sebentar tapi matanya tampak bertambah menyeramkan.
"Saat itu ada seseorang berbaju merah keluar dari dalam, dia baru tahu, selama 1 tahun dia telah meninggalkan rumah, istri dan rumahnya telah direbut oleh orang lain, dan orang yang telah merebut hartanya itu adalah orang yang paling lihai di dunia persilatan, Du Jun Jin Yi-peng."
Xin Jie mulai merasa orang yang ada dalam cerita ini tidak lain adalah Hou Er.
Dia mulai mengerti, ketika dia membicarakan218 Du Jun Jin Yi-peng, mata Hou Er terlihat begitu menyeramkan.
Hal ini benar-benar tidak terpikirkan oleh Xin Jie.
Dia mengerti dan merasa kasihan pada Hou Er, dia melihat Hou Er.
Seseorang yang pergi bertamasya pada saat kembali ke rumah, semua barang miliknya tiba-tiba bukan menjadi miliknya lagi, bagaimana perasaannya?
Hou Er tertawa kecut dan berkata.
"Orang itu tahu julukan Du Jun, dia sendiri juga mempunyai ilmu silat tinggi. Dalam kemarahannya, dia ingin bertarung dengan Du Jun Jin Yi-peng. Tapi Jin Yi-peng sambil tertawa malah berkata, 'Kau tidak perlu bertarung denganku, karena istrimu sendiri yang menyukaiku dan menyuruhku tinggal di sini. Kau tidak bisa mengurus istrimu dengan baik, untuk apa kau bertarung denganku malah akan memalukan dirimu sendiri?’ Sesudah mendengar kata-katanya, dia seperti terjatuh ke dalam sungai yang sangat dalam. Dia bingung, seluruh tenaganya seperti menghilang. Tidak disangka istri yang dicintainya adalah perempuan seperti itu."
"Dia melihat istrinya. Istrinya malah219 tertawa dingin melihatnya. Dia adalah seorang laki-laki sejati, tiba-tiba saja mengalami kejadian seperti ini. cita-cita yang tergantung tinggi semua hangus menjadi abu. Dia tidak ada tenaga lagi untuk bertarung."
Setelah menceritakan semua ini, Hou Er jatuh dengan lesu berjalan ke sebuah kursi.
Xin Jie menepuk-nepuknya.
Dia merasa marah karena istri orang itu tidak tahu malu dan tidak berprikemanusiaan sama sekali.
Hou Er meneruskan ceritanya lagi.
"Tiba-tiba dia melihat putri kecilnya tertawa kepadanya. Dia merasa sedih. Dia berusaha menahan kesedihannya dia ingin menggendong putrinya. Tapi begitu tangannya menyentuh baju putrinya, tubuhnya seperti disambar petir. Tubuhnya tidak bertenaga. Kedua tangannya seperti digigit ular dengan jumlah sangat banyak. Tangannya terasa sangat sakit dan juga sangat gatal. Ternyata Du Jun Jin Yi-peng mengoleskan racun yang keganasannya tidak terbayangkan. Dia mengoleskan racun itu di baju putrinya. Bila dia memegang baju putrinya, tidak akan ada obat penawar yang220 bisa menolongnya."
Xin Jie merasa ada hawa dingin menyusup ke tulang punggungnya. Racun ini benar-benar sangat menakutkan.
"Waktu itu dia terjatuh lemas di bangku, tapi Du Jun Jin Yi-peng di hadapannya malah menciumi istrinya. Hal ini benar-benar membuatnya sangat marah, tapi tubuhnya lemas tidak berdaya. Dia tidak sanggup melakukan apa-apa."
Gigi Hou Er terus berbunyi gemeletuk bayangan masa dulu tetap membuatnya marah.
Xin Jie teringat kejadian dulu, ketika ibunya disiksa dan dihina oleh Tian Can dan Tian Fei.
Bukankah ayahnya juga hanya menyaksikan saja?
Tapi tubuh ayahnya tidak lemas, tapi demi dirinya, ayahnya menahan semua penghinaan mereka.
Tidak terasa air mata Xin Jie juga mengalir.
Hou Er bercerita lagi.
"Sewaktu dia merasa ingin mati, di rumah itu ada seseorang. Sejak kapan dia datang tidak ada seorang pun yang tahu. Dia memakai baju sastrawan dan sambil marah dia menunjuk Jin Yi-peng, 'kau sangat kejam! Sudah mengambil istri orang masih ingin membunuh orang ini, aku Mei Shan-ming221 tidak akan berpangku tangan begitu saja!'."
Begitu mendengar orang yang berbaju sastrawan itu adalah Qi-mao Shen-jun Mei Shan-ming, mata Xin Jie terbuka lebar dan terus mendengar cerita Hou Er.
Sekarang Xin Jie tahu mengapa Qi-mao Shen-jun ingin membasmi Du Jun Jin Yi-peng dan dia merasa lebih kagum lagi kepada Paman Mei.
Semua tugas yang diperintahkan oleh Paman Mei membuatnya bersemangat lagi.
Hou Er berkata lagi.
"Benar saja, Qi-mao Shen-jun segera bertarung dengan Du Jun Jin Yi-peng.
Melihat mereka bertarung, orang itu baru tahu kalau ilmu silatnya terlampau jauh dibandingkan mereka.
Ilmu silat Du Jun Jin Yi-peng sangat tinggi, tapi Qi-mao Shen-jun lebih lihai.
Di rumah itu hanya terlihat bayangan telapak dan angin sangat besar, membuat kursi dan meja yang ada di dalam rumah tampak beterbangan.
Putri kecilnya ketakutan dan menangis.
Dia sendiri juga terpukul oleh angin telapak dan terjatuh ke bawah.
Tapi matanya tetap terbuka lebar menyaksikan pertarungan ini.
Setelah bertarung, dia sudah melihat jurus Jin Yi-peng semakin lamban dan bagian bahu kanannya terlihat222 ada celah.
Mei Shan-ming dengan posisi miring menepuk.
Tiba-tiba dia teringat bahaya racun.
Du Jun Jin Yi-peng mengoleskan racun di tubuh putrinya, dia juga pasti mengoleskan racun di tubuhnya sendiri.
Tangan Mei Shan-ming dikeluarkan pada saat yang menegangkan.
Dia berusaha dengan sekuat tenaga berteriak.
"Awas racun!"
Tangan Mei Shan-ming bergerak agak lamban. Tiba-tiba tangannya berganti dengan jari dan menotok pundak Jin Yi-peng. Ternyata ilmu tenaga dalam Mei Shan-ming telah mencapai tahap 'menotok di udara'.
"Dia melihat Jin Yi-peng ambruk ke bawah dan Mei Shan-ming tersenyum kepadanya.
Dengan rasa terima kasih orang itu mengangguk kepadanya dan Mei Shan-ming berkata lagi, 'Kau jangan terus bergerak, aku akan membantumu mencari obat penawarnya.' Mei Shan-ming lari ke belakang rumah, dalam hati orang itu terasa tegang, dia melihat Jin Yi-peng dan berpikir, 'Asalkan aku mempunyai obat penawarnya, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.' Tapi tenaga dalam Jin223 Yi-peng sangat kuat, walaupun dia sudah ditotok tapi dia masih bisa membuka totokan itu sendiri, melihat Mei Shan-ming lari ke belakang, dengan cepat dia meloncat, sebelah tangannya memeluk istrinya sedangkan tangan yang lainnya menggendong putrinya, lalu dia meloncat keluar jendela.
Dengan mata terbuka lebar dia hanya bisa menyaksikan semua itu tanpa bisa menghalangi kepergian mereka.
Begitu Mei Shan-ming kembali setelah mengambil obat penawarnya, ternyata Jin Yi-peng sudah melarikan diri, tapi karena racun yang ada di tangannya terlalu lama maka Mei Shan-ming tidak mengetahui racun apa yang dipakai oleh Jin Yi-peng, nyawanya tertolong tapi dia harus kehilangan kedua tangannya.
Hou Er terus menatap kedua tangannya, sekarang Xin Jie mengerti, bagaimana kejamnya seorang Jin Yi-peng dan betapa tidak tahu malunya perempuan itu.
Hal itu membuat Xin Jie marah dan dia pun mengetahui bahwa putri Jin Yi-peng sebenarnya adalah putri kandung Hou Er, pantas begitu dia mengatakan tentang putri Jin Yi-peng ekspresi Hou Er langsung224 berubah.
Lalu Hou Er berkata lagi.
"Semenjak itu dia tidak ingat lagi pada namanya. Du Jun Jin Yi-peng pun tidak ada kabar berita, seperti batu yang jatuh ke dalam laut. Dua puluh tahun telah berlalu, orang itu tidak akan pernah lupa pada dendam ini juga tidak akan pernah melupakan putrinya."
Nada bicara Hou Er terdengar sedih dan terkandung dendam, hal ini mempengaruhi Xin Jie, tapi dia tidak bisa berkata apa-apa. Hou Er menghapus air matanya dan pura-pura berkata.
"Ceritaku telah selesai."
Malam telah tiba, cahaya di luar jendela semakin redup, Xin Jie melihat wajah Hou Er yang penuh dengan keriput, membuat kedua pendekar berilmu tinggi ini hanya diam di dalam suasana sepi.
Malam tiba, kota Wu Han yang biasa ramai dan mewah, di toko perhiasan Shan Mei ada beberapa nyonya dan tuan kaya yang sedang memilih perhiasan.
Dengan tergesa-gesa Xin Jie keluar dari dalam, kedua alisnya berkerut wajahnya tampak serius, dia tidak melihat orang-orang yang sedang belanja di tokonya.225 Ooo)*(ooO BAB Cinta raja langit Cambuk diangkat lalu diayunkan, kereta kuda berjalan dengan cepat dan terus berlari di sisi Chang Jiang.
Kusir merasa hari ini bosnya tampak sedikit aneh.
Bosnya seperti tidak bisa berpikir padahal biasanya dia terlihat sangat tenang.
Xin Jie duduk di dalam kereta, sekarang dia sedang memikirkan sesuatu.
Banyak persoalan yang membuatnya bingung, apalagi mendengar cerita dari mulut Jiu Gong Dan dan Paman Hou, rasanya Du Jun adalah orang misterius, tapi mengapa malam itu dia bisa berada di Huang He Lou?
masih bernyanyi pula, dia seperti seorang pendekar yang sedang bertamasya.
"Mungkin dia bukan Jin Yi-peng,"
Diam-diam dia berpikir seperti itu.
"Kelihatannya dia tidak kejam dan juga bukan orang tanpa perasaan."
Kereta tiba di sisi sungai, dia menyuruh kusirnya menelusuri sungai dengan perlahan, dari jendela dia melihat keluar.
Di sisi sungai banyak perahu berlabuh, mana mungkin dia bisa membedakan226 perahu Jin Yi-peng dengan perahu lainnya.
Walaupun dia tahu ciri khas perahu Jin Yi-peng berwarna hijau.
"Hijau...."
Dia terus bergumam sendiri, tiba-tiba dia teringat pada gaun gadis yang berwarna hijau, semua ini memberikan jawaban untuk pertanyaannya, dia tertawa kecut.
"Apakah bajunya juga ada racunnya?"
Kereta telah mengitari tempat itu dua kali, mondar mandir di sisi sungai Chang Jiang.
Tiba-tiba Xin Jie melihat ada sebuah perahu besar sedang melaju dan berhenti di sisi sungai, tidak lama kemudian ada orang yang menaruh papan sebagai jembatan untuk menyebrangi sungai, kemudian ada 4 orang gadis membawa lampion hijau turun dari perahu.
Penglihatan Xin Jie memang berbeda dengan orang biasa.
Dengan bantuan cahaya redup saja dia bisa melihat dengan jelas keempat gadis pembawa lampion itu.
Keempat gadis itu pun mengenakan baju berwarna hijau, mereka turun melalui jembatan papan itu.
Keempat gadis itu adalah keempat gadis yang ditemuinya di Huang He Lou yang saat itu menggotong Jin Yi-peng pergi.
Karena itu dia menyuruh kusir227 menghentikan keretanya dan pelan-pelan mendekati mereka.
Keempat gadis itu sambil tertawa melihat ke arah Xin Jie dan berkata.
"Tuan, nonaku sekarang sedang menunggu Tuan Muda supaya sudi mampir ke perahu kami, silakan Tuan Muda naik ke atas perahu!"
Kali ini Xin Jie datang memenuhi janji karena rasa ingin tahunya yang besar, begitu mendengar perkataan mereka, segera dia berkata.
"Silakan membawa jalan!"
Sambil tertawa mereka membawa Xin Jie naik ke perahu.
Begitu melihat perahu itu, benar saja semua bentuk perahu berwarna hijau, sampai lampu yang berada di dalam perahu pun berwarna hijau.
Di malam hari di sisi sungai semua itu terlihat indah dan istimewa.
Tapi siapa yang tahu perahu yang terlihat begitu indah dan istimewa itu, yang tinggal di sana adalah seorang siluman terkenal dunia persilatan.
Begitu tiba di atas perahu, gadis cantik itu datang menyambutnya, di bawah sinar lampu hijau dia tampak lebih cantik, benar-benar seperti seorang dewi yang baru228 turun dari khayangan.
Gadis itu tersenyum kepada Xin Jie dan berkata.
"Tuan Xin benar-benar menepati janji, aku mengira Tuan tadinya tidak akan datang!"
Xin Jie kaget dan berpikir.
"Dia sudah tahu nama dan margaku, apakah karena sudah mengetahui identitasku dia baru mengundangku kesini? Kalau begitu aku harus berhati-hati."
Dalam hati dia berpikir seperti itu, tapi sikap luarnya terlihat tenang dan luwes. Inilah salah satu perbedaan Xin Jie dengan orang lain. Xin Jie tertawa.
"Kalau ada yang mengundangku, mana mungkin aku tidak datang, aku hanya saja takut kalian terganggu."
Gadis itu tertawa, Xin Jie merasa senyum gadis itu mengandung makna yang dalam.
"Apa maksud dia melakukan semua ini?"
Jantung Xin Jie terus berdebar-debar.
Cerita Hou Er dan Jiu Gong Shen Dan membuat Xin Jie mempersiapkan diri terlebih dulu, dan dia tidak begitu takut lagi bila harus berhadapan dengan Du Jun.
Dia selalu memikirkan kemungkinan terburuk, dan dia pun tahu kalau Du Jun229 pasti telah mengetahui dirinya terlebih dulu.
Dalam hati dia merasa tidak tenang bukan karena dia merasa takut melainkan karena tegang.
Ini adalah perasaan manusia dalam mengha-dapi 'rasa tidak tahu' nya.
Tiba-tiba dari belakang perahu ada sesosok bayangan, tubuhnya bergerak dengan lincah dan cepat, hanya dalam waktu singkat telah menghilang di dalam kegelapan.
Xin Jie merasa bayangan orang itu seperti kilat lewat di depan matanya.
Dia merasa terkejut dan berpikir.
"Gerakan orang itu sangat cepat, sekarang dia telah meninggalkan perahu, siapakah orang itu?"
Gadis itu melihat Xin Jie tidak bicara, dia tersenyum lagi dan berkata.
"Silakan Tuan masuk ke dalam, ayahku sedang menunggu Tuan di dalam."
Xin Jie selalu merasa sebelum gadis itu bicara dia pasti akan tersenyum dulu, tawanya seperti bunga yang baru mekar, membuat hati setiap orang yang melihatnya seperti tertiup angin musim semi dan terasa nyaman.
Gadis itu terus melihat Xin Jie,230 lesung pipitnya terlihat, dia membalikkan tubuh dan masuk ke dalam.
Wajah Xin Jie terasa panas, dia pun ikut masuk.
Saat itu walaupun di depannya telah terpasang hutan golok atau gunung pisau, Xin Jie tetap akan menghadapinya.
Di dalam perahu tampak sebuah tirai tebal berwarna hijau, begitu Xin Jie menyibak tirai itu, matanya menjadi dingin karena dia merasa seperti masuk ke sebuah istana giok.
Perahu tidak begitu besar, tapi di sekeliling ruangan itu dipasang papan giok, cahayanya sangat terang, membuat ruangan di dalam perahu yang terasa kecil menjadi terang dan luas.
Di sana tidak ada seorang pun, mungkin gadis itu sudah masuk ke dalam lagi.
Melihat benda-benda yang ada di dalam ruangan itu, semua terbuat dari giok.
Cangkir atau pun botol semua adalah benda-benda berharga.
Anehnya meja, kursi, semua juga terbuat dari giok.
Lamalama Xin Jie merasa dia bisa berubah warna menjadi hijau juga.
Dia memilih sebuah kursi dan duduk di sana, duduk di kursi giok membuat pantatnya231 menjadi dingin.
Dia merasa kembali seperti dulu tinggal di kamar batu itu selama 10 tahun.
Diam-diam dia berpikir.
"Jin Yi-peng berbeda dari biasa, seperti perahu ini, bagaimana dia bisa membuatnya menjadi seperti ini?"
Tiba-tiba dari dalam terdengar ada tawa, seperti suara manja gadis itu.
"Oh! Kalian jangan menertawakanku."
Kemudian terdengar suara tawa lagi, tampak seorang pak tua mengenakan baju merah berjalan keluar dari ruangan dalam.
Saat itu seperti di dalam hutan hijau muncul gulungan api yang membuat perahu bagian dalam yang terbuat dari giok itu terlihat 10 bayangan lebih.
Keadaannya begitu misterius, tampak orang itu begitu menakutkan, Xin Jie sudah memasang kuda-kuda dan bersiap siaga.
Dia melihat pak tua itu, kulitnya seperti giok hijau, sudut matanya membawa hawa dingin, tapi sudut mulutnya terangkat dia tersenyum.
Walaupun sekarang penampilan dan sikapnya tidak sama, tapi dia adalah pengemis tua yang bernyanyi di Huang He Lou, pada saat ini baru dapat diketahui bahwa pengemis tua itu adalah Du232 Jun Jin Yi-peng.
Tapi mengapa dalam waktu satu hari sikap dan penampilan Du Jun Jin Yi-peng berbeda jauh?
Pertanyaan ini terus berputar-putar di dalam otaknya.
Dia berdiri lalu memberi hormat kepada Jin Yi-peng, lalu berkata.
"Tuan sudah mengundangku, aku merasa sangat beruntung."
Sorot mata Jin Yi-peng seperti seekor elang, dia terus menatap Xin Jie, kemudian dia tertawa pada gadis yang mengenakan baju hijau.
"Tidak kusangka kau benar-benar lihai, Tuan Muda Xin ini penuh dengan tinta (sekolah tinggi) dan dia adalah seorang pesilat tangguh yang hanya bisa dihitung dengan jari."
Kata-kata Jin Yi-peng membuat Xin Jie sangat terkejut, dia seperti tidak menyangka Jin Yi-peng bisa tahu tentang dirinya.
"Hanya satu kali Jin Yi-peng bertemu denganku, dia sudah tahu kalau aku adalah seorang pesilat, anehnya dia seperti tidak berniat jahat kepadaku."
Dia tidak mengerti Jin Yi-peng yang terkenal dengan racunnya, entah mempunyai maksud apa kepadanya?
Dia bahkan tidak233 mengerti apa alasan perubahan Du Jun, tapi ketenangan Xin Jie memang berbeda dengan orang lain.
Wajahnya tidak terlihat kalau dia takut.
Xin Jie pura-pura tidak mengerti dan berkata.
"Aku hanya orang biasa, Pak Tua terlalu memujiku, aku menjadi malu."
Jin Yi-peng tertawa keras.
"Sikap Tuan Muda Xin memang tidak sembarangan, tidak setiap orang bisa melihat kemampuan Tuan Xin."
Tawanya baru berhenti, wajahnya tampak dingin lagi lalu dia berkata.
"Kedua mata Tuan tampak sangat bersemangat nafasnya juga sangat tenang. Jangan bicarakan hal lain dulu, kursi di mana kau duduki tadi disebut kursi giok dingin, kursi itu tidak sembarangan orang bisa mendudukinya, apalagi dalam waktu lama. Kalau Tuan bukan seorang pesilat berilmu tinggi, Tuan pasti akan merasa dingin sampai gemetar."
Xin Jie tidak bisa berbohong lagi, dengan jujur dia berkata.
"Pak tua benar-benar pesilat hebat. Sejak kecil aku berlatih ilmu silat, tapi aku hanya menjadi pesilat biasa, kalau disebut pesilat tangguh234 yang bisa dihitung dengan jari, itu memang cita-citaku."
Jin Yi-peng tertawa lagi berkata.
"Bukan aku yang bisa melihat kemampuan Tuan tapi putriku yang bernama Mei Ling juga telah melihat kemampuan Tuan. Sekali melihat dia langsung tahu bahwa Tuan bukan orang sembarangan, maka aku harap Tuan jangan menutup-nutupi hal ini lagi."
Xin Jie melihat gadis berbaju hijau itu sedang menatapnya, sekarang sambil tertawa. Dua pasang mata beradu, dengan cepat Xin Jie mengalihkan sorot matanya dan berpikir.
"Du Jun sepertinya tidak berniat jahat kepadaku, tapi dia pasti tidak menyangka kalau aku berniat mengambil nyawanya."
Dari sudut matanya melihat gadis berbaju hijau itu dan berpikir.
"Nama gadis itu kalau tidak salah adalah Mei Ling, tapi seharusnya dia bukan bernama Jin Mei Ling tapi Hou Mei Ling. Setelah aku membalas dendam untuk Paman Hou, aku baru akan menceritakan kejadian sebenarnya dari awal hingga akhir, dia pasti akan berterima kasih padaku."
Mengingat hal ini, Xin Jie tersenyum,235 dia tahu kalau Du Jun Jin Yi-peng bukan orang yang mudah dihadapi, tapi dia telah menyusun rencana di dalam hatinya dan dia sudah menyusun jalan untuknya ke depan nanti.
Xin Jie yang pintar pasti tahu apa yang diketahui Jin Yi-peng adalah dia bernama Xin Jie, dan dia adalah seorang tuan muda kaya dan mempunyai sedikit tenaga dalam.
Dia sudah tinggal di Wu Han selama beberapa hari ini, Jin Yi-peng pasti sudah mengetahui hal ini.
"Tapi apakah kau tahu kalau aku adalah musuh besarmu, Qi-mao Shen-jun?"
Dalam hatinya kecuali dia telah mewarisi ilmu silat Qi-mao Shen-jun, dia juga pengganti Qi-mao Shen-jun generasi pertama.
Dia menjadi harapan Mei Shan-ming, dan Mei Shan-ming juga yang membuatnya menjadi seperti ini.
Jin Yi-peng pasti tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan sekarang.
Di bawah sinar batu giok hijau, Xin Jie terlihat tampan dan gagah, diam-diam Jin Yi-peng berpikir.
"Pilihan Mei Er benar-benar tepat, Mei Er sudah besar, sudah waktunya dia berkeluarga, marga Xin ini walaupun236 mempunyai ilmu silat tapi dia bukan orang persilatan, dan ini adalah hal yang paling cocok."
Jin Yi-peng memalingkan kepala melihat Mei Er yang saat itu masih terus menatap Xin Jie, Jin Yi-peng segera tertawa dan berkata.
"Sifatku memang aneh tapi aku menyukai pemuda yang bermasa depan cerah. Adik Xin, bukan aku sombong, aku lebih tua darimu beberapa puluh tahun, aku rasa kita berjodoh, kelak kita harus lebih sering berkumpul."
Jin Yi-peng bertepuk tangan dan menyuruh pelayan membawakan sayur dan arak. Dalam hati Xin Jie merasa lebih aneh lagi dan berpikir.
"Jin Yi-peng adalah orang paling terkenal dengan racunnya di dunia persilatan. Tapi dia begitu baik terhadapku, karena apa semua ini?"
Kalau saja Xin Jie tahu kalau Jin Yi-peng telah menganggapnya sebagai calon menantu, apa yang akan dilakukan Xin Jie?
Tiga orang berada dalam perahu, masing-masing mempunyai pikiran yang berbeda, pikiran ketiga orang itu saling berhubungan antara budi dan dendam.
Budi237 dan dendam kedua kata ini sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Apalagi Xin Jie dia merasakan banyak keanehan, walaupun dia pintar tapi dia tetap tidak bisa mengerti keadaan ini.
Sayur dan arak diantar oleh pelayan, hingga cangkir dan piring pun terbuat dari giok.
Jin Yi-peng langsung duduk di meja, Jin Mei Ling berada di sisi ayahnya menemani mereka, sambil tertawa Jin Yi-peng bersu-lang.
"Aku bersulang untuk Tuan Muda, mari, mari!"
Dia meminum araknya kemudian tertawa.
"Adik Xin, kau berasal dari keluarga yang membuka toko perhiasan, lihat cangkirku ini, apakah bagus?"
Dalam hati Xin Jie ingin tertawa.
"Jin Yi-peng benar-benar menganggapku pedagang perhiasan."
Sebenarnya dia sama sekali tidak mengerti tentang perhiasan, tapi dia tetap berpura-pura melihatnya lalu memuji. Jin Yi-peng tertawa dan dengan senang berkata.
"Bukan aku sombong, satu set piring dan cangkir ini, di istana pun belum tentu ada."
Xin Jie meladeni Jin Yi-peng, Jin Yi-238 peng terus mengajaknya ngobrol tanpa berhenti.
Dari percakapan mereka, Xin Jie tahu kalau Jin Yi-peng bersekolah tinggi dan kemampuannya tidak berada di bawah Paman Mei.
Jin Mei Ling terus tersenyum dan bercanda dengannya, Xin Jie merasa malu-malunya Fang Shao-kun berbeda dengan Jin Mei Ling.
Tapi tetap membuat orang mabuk.
Wajah Xin Jie tetap tersenyum, tapi hatinya bersikap waspada.
Xin Jie berpendapat sekali mengeluar-kan serangan akan membuat Jin Yi-peng tertangkap.
Kemudian dia akan menceritakan apa yang terjadi sepuluh tahun lalu kepada Jin Mei Ling.
Sorot mata Jin Yi-peng benar-benar tajam.
Xin Jie tidak berani sembarangan menyerang.
Walaupun Xin Jie masih muda, tapi dia sangat teliti dan berhati-hati, dia takut dalam sekali menyerang tidak bisa berhasil.
Dia takut tidak bisa melawan Du Jun malah membuatnya menjadi kacau, karena itu dia tetap diam menunggu kesempatan datang.
Jin Yi-peng mulai mabuk.
Tiba-tiba dia menggebrak meja.
Kedua matanya menatap Xin Jie.239 Xin Jie benar-benar terkejut, tapi Jin Yi-peng malah menarik nafas panjang.
Sorot matanya melihat meja dan berkata.
"Aku mempunyai banyak kenalan, tapi tidak ada yang seorang pun yang bisa menjadi temanku. Aku, Jin Yi-peng terkenal di dunia persilatan tapi tidak ada seorang pun yang tahu keresahan hatiku."
Dia mengangkat cangkir arak dan meneguk habis araknya.
Jin Mei Ling segera mengambil poci arak dan menuangkan arak kedalam cangkir ayahnya.
Dia sangat sayang dan menghormati 'ayah' nya.
Xin Jie merasa aneh.
"Apa keresahan hati siluman tua ini?"
Jin Yi-peng menarik nafas panjang lagi. Matanya tampak sangat dingin dan berkata.
"Rambutku sudah memutih tapi aku belum mendapatkan hasil apa pun, aku hanya mendapatkan nama buruk di mata orang-orang persilatan. Hhh....! Adik Xin...."
Tiba-tiba perahu sedikit bergoyang. Goyangannya ringan, tapi Xin Jie tahu ada orang yang berjalan. Alis Jin Yi-peng terlihat mengerut. Dia membentak.
"Siapa!"
Dari luar jendela terdengar ada yang240 menjawab.
"Guru, ini aku."
Tirai disibakkan, seorang pemuda berwajah pucat dan berbaju mewah masuk ke ruangan.
Begitu masuk, sorot matanya yang setajam pisau melihat pada Xin Jie.
Jin Yi-peng melihatnya lalu tersenyum.
Wajahnya terlihat sangat ramah dan berkata.
"Mengapa kau baru pulang? Apakah kau berhasil menemukan orang yang kau cari?"
Dengan sombong pemuda itu duduk di sebuah kursi.
Jin Mei Ling memberikan secangkir arak untuknya.
Dia meneguk habis sekaligus.
Xin Jie melihat Jin Mei Ling dan pemuda ini sepertinya mempunyai hubungan yang sangat akrab.
Dia merasa hatinya tidak enak.
Xin Jie melihat pemuda itu licik, tanpa terasa dia menjadi benci melihatnya.
Setelah menghabiskan araknya, dia berkata kepada Jin Yi-peng.
"Tadinya aku kira dunia yang begitu luas ini entah harus ke mana mencarinya, ternyata dia berada di sebuah toko. Sewaktu aku bertemu dengannya, aku pura-pura tidak tahu. Begitu jam 2 pagi, aku masuk ke toko itu dan mempersilakan dia keluar."
Jin Yi-peng tersenyum. Sepertinya dia241 sangat menyayangi pemuda itu. Jin Yi-peng berkata.
"Sangat baik, bawa dia kemari."
Pemuda itu melihat Xin Jie. Jin Yi-peng segera tertawa dan berkata.
"Kalian belum saling kenal. Dia adalah Tuan Muda Xin dari toko perhiasan Shan Mei. Dan dia adalah murid tertuaku."
Pemuda itu hanya menjawab.
"Oh!"
Tapi wajahnya tidak tampak senang atau marah.
Xin Jie hanya memberi hormat.
Pemuda itu segera keluar dari ruangan.
Perahu bergoyang lagi sepertinya perahu berlayar perlahan-lahan.
Xin Jie terkejut dan berpikir.
"Mengapa perahu ini dijalankan?"
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar teriakan perempuan.
Kemudian terdengar suara BUG, seorang gadis terlempar masuk.
Begitu melihat gadis ini, Xin Jie yang biasanya sangat tenang, sekarang langsung berdiri karena terkejut.
Gadis itu melihat Xin Jie, dia juga berteriak karena terkejut dan mendekati.
Dia ingin berlari ke depan Xin Jie, tiba-tiba dia berdiri.
Pemuda itu dengan sikap dingin ikut masuk.
Dengan dingin dia berkata.
"Kalian pasti sudah saling kenal bukan?" 242 Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba membuat Xin Jie terkejut. Jin Yi-peng dan Jin Mei Ling ikut terkejut. Jin Yi-peng membentak.
"Apa yang terjadi?"
Pemuda itu tertawa sinis.
"Perempuan ini adalah orang yang aku ceritakan tadi kepada guru, namanya adalah Fang Shao-kun. Karena mendengar guru akan datang ke selatan maka aku menitipkan dia pada teman dekatku yang tinggal di Chang Jiang. Aku menitipkannya kepada Sun Chao-yuan dan meminta beberapa orang menjaganya, lalu dia memberitahuku bahwa Fang Shao-kun telah diculik oleh Qi-mao Shen-jun."
Wajah Jin Yi-peng terlihat dingin seperti es dan berkata.
"Aku sudah tahu."
Pemuda ini melihat Xin Jie. Xin Jie tetap tampak tenang seperti biasanya, sebenarnya dia sedang mengatur nafas. Dia berpikir.
"Orang ini mungkin adalah Tian Mo Jin Qi. Tidak disangka dia adalah murid Du Jun. Kelihatannya hari ini akan terjadi pertarungan sengit."
Pemuda ini telah menggegerkan dunia persilatan, dia memang bernama Tian Mo Jin Qi. Dengan dingin dia berkata.
"Begitu aku243 tahu dia telah diculik Qi-mao Shen-jun, aku segera menghadap guru untuk melaporkan semuanya kemudian keluar lagi mencarinya. Siapa yang sangka, dalam perjalanan, aku melihat perempuan itu duduk di toko perhiasan Shan Mei."
Xin Jie benar-benar merasa serba salah. Dia melihat Fang Shao-kun. Melihat gadis itu hanya menundukkan kepala, wajahnya tampak sangat terkejut. Diam-diam dia berpikir.
"Tadi aku menyuruhnya tinggal di kamar, mengapa dia keluar toko?"
Sorot mata Du Jun tampak bergetar. Dia melihat Xin Jie.
"Katakan Mei Shan-ming itu siapamu? Sekarang dia berada di mana?"
Xin Jie tidak menjawab.
Dia sedang berpikir bagaimana cara menjawab dan mengatasi hal ini.
Karena dia tahu orang yang dihadapainya sekarang adalah pesilat, paling tangguh di dunia persilatan.
Jin Yi-peng yang terkenal dengan racunnya, kalau tidak berhati-hati dia akan terkena racun ganas.
Dan tidak ada seorang pun yang bisa menolong lagi.
Jin Mei Ling menendang Xin Jie dan berkata.
"Cepat beritahukan kepada244 ayahku!"
Perahu terus bergoyang. Sepertinya sekarang ini perahu berada di tengah sungai. Dalam hati Xin Jie berpikir.
"Tian Mo Jin Qi lebih kejam dari gurunya. Dia takut aku melarikan diri dan menyuruh pelayan menjalankan perahu hingga ke tengah sungai."
Bagaimana pun tingginya lmu silat seseorang kalau tidak ada kekuatan untuk meminjam tenaga, dia tidak akan bisa menyerang beberapa puluh meter di atas sungai.
Keadaan ini dengan keadaan pada saat dia menolong Fang Shao-kun dari perahu Bai-long tidak sama.
Jarak perahu tidak sejauh ini.
Kedua, waktu itu tidak ada seorang pesilat tangguh yang sedang mengepungnya seperti sekarang.
Waktu itu dengan tenang dia menyeberangi sungai.
Tapi sifat Xin Jie memang berbeda dengan orang lain.
Keadaan sangat genting, tapi dia masih bisa bersikap sangat tenang.
Saat dia masih kecil saat menghadapi Tian Can dan Tian Fei, dua siluman itu, dia sama sekali tidak takut.
Apalagi selama 10 tahun ini dia telah menguasai ilmu silat tinggi.245 Dia tersenyum dan dalam hati sudah menyusun sebuah rencana.
Dalam hati dia berpikir.
"Bagaimana pun aku harus menceritakan identitas Jin Mei Ling agar kalian juga tidak akan setenang sekarang."
Jin Yi-peng melihat Xin Jie masih bisa tersenyum dan masih terlihat luwes, sama sekali tidak terlihat kalau dia gugup.
Dalam hati dia benar-benar kagum pada keberaniannya.
Xin Jie melihat ke sekeliling katanya.
"Pak Tua menanyakan tentang Mei Shan-ming, apakah antara Pak Tua dan Mei Shan-ming menpunyai permusuhan?"
Cara bertanya Xin Jie benar-benar membuat Jin Yi-peng terpaku. Tian Mo Jin Qi marah.
"Apa urusanmu!"
Xin Jie menjawab.
"Pak tua tidak mau menjawab, tapi aku tahu masalah kalian sedikit-sedikit."
Wajah Jin Yi-peng tampak berubah. Dia melihat Jin Mei Ling. Xin Jie merasa lebih senang dan berkata lagi.
"Kita tidak perlu bertarung dulu, biar aku menceritakan sebuah cerita untuk kalian semua."
Dia mulai menceritakan apa yang telah246 diceritakan Hou Er, tangan dan kakinya ikut bergerak.
Baru bercerita setengah, Tian Mo Jin Qi membentak.
Jarinya membentuk seperti pedang.
Tangan kanan menotok ke arah tenggorokannya.
Tangan kiri menyerang ke arah perut.
Satu jurus dengan 2 cara, keluar seperti kilat.
Tenaga dalamnya benar-benar kuat.
Yang disebut pembunuh benar-benar berbeda.
Xin Jie tertawa terbahak-bahak.
Dia terus berputar untuk menghindar, tapi dia tidak membalas serangan Tian Mo Jin Qi, dia masih terus bercerita.
Tian Mo Jin Qi sekali lagi membentak.
Tangannya mengeluarkan 3 jurus serangan.
Bayangan telapak memenuhi langit.
Tangan ini pun mengurung Xin Jie.
Xin Jie masih berputar-putar sambil terus menghindar.
Mulut masih bertutur kata.
Jin Mei Ling dengan berkonsentrasi penuh mendengarkan cerita itu sambil menangis.
Fang Shao-kun melihat ilmu silat Xin Jie begitu hebat.
Dalam hati dia merasa terkejut sekaligus senang.
Matanya tidak247 pernah berkedip mengikuti gerakan Xin Jie.
Jin Yi-peng benar-benar marah, tapi dia tetap duduk diam tidak bergerak.
Tiba-tiba dia membentak.
"Qi Er, berhenti! Biarkan dia terus bercerita!"
Kali ini giliran Xin Jie yang merasa aneh.
"Mengapa Jin Yi-peng memberi kesempatan padaku untuk bercerita?"
Tian Mo Jin Qi berhenti menyerang.
Dengan wajah menahan marah dia berdiri di samping.
Xin Jie tidak memberi kesempatan lagi, dia duduk di sebuah kursi lalu menceritakan semuanya sampai habis.
Dia melihat Jin Mei Ling dan bertanya.
"Apakah ceritaku ini seru?"
Jin Mei Ling menunduk tidak menjawab. Tiba-tiba Jin Yi-peng dengan dingin berkata.
"Sekarang giliranku yang bercerita."
Xin Jie merasa lebih aneh lagi.
"Du Jun mempunyai racun lihai dan dia seorang yang aneh, mengapa sekarang dia malah ingin bercerita? Apakah di balik cerita ini ada hal lainnya lagi?"
Dalam hati dia berpikir seperti itu tapi mulutnya menjawab.
"Aku sedang mendengarkan, silakan Pak Tua mulai bercerita." 248 Sikap Jin Yi-peng terasa sangat aneh. Dia berkata.
"Dahulu sekali di sebuah propinsi ada seorang gadis berpembawaan ceria...."
Xin Jie sudah tergerak dan berpikir.
"Gadis yang dimaksud ada di He Bei. Dia menceritakan tentang seorang perempuan, berarti di balik cerita ini ada cerita lain lagi."
Dengan penuh konsentrasi Xin Jie mendengarkan cerita Du Jun.
"Gadis itu cantik dan baik, ayah dan ibunya masih ada dan keluarganya adalah sebuah keluarga bahagia. Mereka sangat menyayangi putrinya. Apakah kau kira dengan keadaan begitu maka gadis itu hidup berbahagia?"
Xin Jie mengangguk. Jin Yi-peng berkata lagi.
"Kota di mana dia tinggal, tinggal juga seorang pemuda yang sangat kaya raya dan mempunyai kedudukan penting. Dia berteman dengan siapa pun. Setiap hari selalu bersikap sombong dan mengira kalau dia adalah orang yang paling kuat. Ayah gadis itu bermata pencaharian sebagai pedagang yang setiap hari harus mengurus masalah249 tetek bengek. Suatu hari pemuda kaya dan mempunyai kedudukan ini menyuruh pegawainya ketoko ayahnya untuk berbelanja. Demi mendapatkan keuntungan, ayah gadis ini menaikkan harga barang yang dijualnya, ini adalah hal biasa. Hukuman yang harus diberikan padanya seharusnya bukan hukuman mati?"
Sorot mata Du Jun yang tajam terus melihat Xin Jie. Xin Jie mengangguk setuju. Jin Yi-peng tertawa dingin.
"Pemuda itu selalu menganggap kalau dia adalah pembela kebenaran dan bersikukuh mengatakan kalau ayah gadis itu adalah seorang pedagang licik dan masih mengatakan sejak dulu pejabat pemerintah selalu menghukum pedagang licik. Dia tidak bertanya jelas lagi kemudian menyuruh beberapa orang pergi ke toko itu dan menghancurkan toko itu. Karena ayahnya terluka, menyimpan kesal dan amarah, akhirnya ayahnya sigadis meninggal dunia."
"Bagi pemuda itu semua ini adalah hal tentang menjaga keadilan. Setelah itu dia melupakannya begitu saja. Tapi bagi keluarga gadis itu, semenjak kejadian tadi hidupnya menjadi berantakan. Karena250 ayahnya meninggal, ibunya pun ikut meninggal, karena merasa sangat sedih. Gadis itu tinggal sebatang kara. Dia ingin membalas dendam kepada pemuda itu, tapi apa daya dia tidak mempunyai tenaga."
Jin Yi-peng tertawa dingin dan melanjutkan lagi.
"Hati gadis itu dipenuhi dendam. Demi membalas dendam, dia menyuruh mak comblang supaya menjodohkannya dengan pemuda itu. Pemuda itu setuju dan meminang gadis itu. Gadis itu akhirnya menikah dengannya, tapi setiap hari rasanya dia selalu ingin memakan daging pemuda itu."
Xin Jie mulai bisa menebak sedikit. Dia melihat Jin Mei Ling. Kedua matanya terlihat bengkak karena terus menangis. Jin Yi-peng mengelus tangannya dan berkata.
"Pemuda itu sangat kaya dan juga mempunyai kekuatan, selain itu dia pun memiliki ilmu silat tinggi. Gadis itu tidak mempunyai kesempatan membunuhnya. Seorang gadis lemah mana mungkin bisa menyerang seorang yang berilmu silat tinggi? Kadang-kadang ketika pemuda itu sedang tertidur nyenyak, dia ingin sekali menusuknya dengan pisau. Tapi setiap kali pada saat dia bergerak, pemuda itu dengan cepat251 mengetahuinya. Apalagi kedua tangannya sangat lemah, untuk membunuh tidak bisa dilakukannya begitu saja."
"Dia ingin meracuni suaminya, tapi tidak ada seorang pun yang bisa membelikan racun untuknya. Selang beberapa tahun, dia melahirkan putri dari musuhnya itu. Perasaan benci, sedih, dan kesal benar-benar telah menumpuk di dalam hatinya."
Jin Yi-peng terus bercerita. Jin Mei Ling terus menangis. Fang Shao-kun ikut meneteskan air mata.
"Suatu hari tiba-tiba pemuda itu ingin pergi bertamasya. Dia pergi bertamasya seorang diri tapi dendam gadis itu belum hilang. Dia lari ke sebuah kuil dan bercerita pada Budha, dan ceritanya terdengar oleh seseorang. Orang itu sejak kecil keluarganya telah dibunuh oleh orang yang berpura-pura baik kepadanya. Setelah dia dewasa dan menguasai ilmu silat tinggi, dia selalu berselisih dengan orang yang berpura-pura baik kepadanya. Tidak sengaja setelah dia mendengar cerita gadis itu. Dia marah dan ingin membantu membalas dendam demi gadis itu. Apakah perbuatannya ini adalah salah?"
Tanya Jin Yi-peng.252 Xin Jie terpaku.
Dia sudah mengetahui tentang ini, tapi siapa sebenarnya yang benar dan siapa sebenarnya yang salah?
Tidak ada seorang pun yang bisa memutuskannya.
Jin Yi-peng tertawa sedih dan berkata.
"Nasib perempuan itu benar-benar buruk, dia tidak bisa membalas dendam tiba-tiba Qi-mao Shen-jun datang. Dia tidak bertanya jelas malah membuat hal ini menjadi kacau. Karena orang itu bukan lawannya, maka Qi Miao Shen Ju membawa gadis itu dan putrinya pergi dari sana."
Suara tangisan Jin Mei Ling bertambah sedih. Hati Xin Jie ikut merasa sedih dan berpikir.
"Hhh! Riwayat hidupnya begitu menyedihkan, benar-benar tidak disangka musuhnya adalah ayah kandungnya sendiri. Tapi apakah benar ayahnya adalah musuhnya? Jika bukan, apakah Qi-mao Shen-jun yang memban-tu, ibunya adalah musuhnyajuga?"
Wajah Tian Mo Jin Qi tetap datar dan berkata.
"Guru, untuk apa bicara dengan orang seperti ini...."
Jin Yi-peng melotot kepadanya dan terus bercerita.
"Setelah berjalan tidak253 berapa lama, gadis ini meninggalkan putri kandungnya dan meloncat masuk ke sungai untuk bunuh diri."
Xin Jie benar-benar merasa bersalah kepada Du Jun.
Tadinya dia mengira Du Jun dan perempuan itu telah melakukan dosa yang tidak bisa dimaafkan.
Tapi Du Jun tidak menggunakan racun.
Perempuan itu bukan perempuan jalang dan dia mati begitu mengenaskan.
Jin Yi-peng tertawa sedih.
"Semenjak itu orang yang senang campur tangan ini membawa putri kecil ini berkelana. Dia tahu semua orang pasti akan mencaci maki perbuatannya. Tapi aku memang kejam. Aku belum pernah melakukan kejahatan, aku berani bertanggung jawab pada hati nuraniku."
Setelah selesai bercerita wajahnya dipenuh aura membunuh. Dia melotot kepada Xin Jie dan berkata.
"Aku tidak tahu kau siapanya Mei Shan-ming. Kau boleh menceritakan hal ini dari awal sampai akhir. Ha, ha, ha! Setelah aku berpikir, dia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia akan merasa sedih dan aku akan merasa senang."
Tawanya semakin keras, tiba-tiba dia254 menyobek baju merahnya dan berteriak seperti suara guntur, dia berlari keluar.
Terdengar suara keras, lalu sepi kembali.
Gerakannya begitu cepat.
Xin Jie terkejut sampai berdiri, tapi dia tidak tahu apa yang telah terjadi.
Sejak awal Jin Qi yang tidak berekspresi, sekarang terus menarik nafas.
"Mengapa penyakit guru bertambah berat?"
Kedua alisnya berkerut. Xin Jie merasa aneh.
"Mengapa orang berilmu silat tinggi seperti dia bisa mempunyai suatu penyakit?"
Dia segera ingat, sewaktu di Huang He Lou, dia bertingkah seperti orang gila sekarang Xin Jie baru mengerti.
"Apakah karena telah mengalami beberapa kali peristiwa yang tidak menyenangkan, maka membuatnya menjadi gila?"
Tangisan Jin Mei Ling belum berhenti.
Kesedihan masa lalu dan kesedihannya sekarang membuat gadis ini terus menangis.
Perahu menjadi sepi dan tidak ada seorang pun yang berniat bicara.
Tapi rasa sepi ini membuat sesak nafas.
Fang Shao-kun yang berdiri di pinggir pun ikut menangis.
Xin Jie255 mendekati^a lalu mengelus-elus rambutnya.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Xin Jie.
Tangan yang mengelus rambut Fang Shao-kun begitu lembut.
Fang Shao-kun melihatnya.
Di antara mereka terjadi kehangatan yang luar biasa.
Mereka seperti lupa kalau sekarang berada di perahu.
Jin Mei Ling melihat tingkah laku mereka.
Dia bertambah sedih lagi.
Dia masih terus menangis.
Ooo)*(ooO BAB Rasa cemburu membakar hati Tian Mo Jin Qi, dia berteriak.
"Semua gara-garamu!"
Tangannya memukul ke arah Xin Jie.
Xin Jie terkejut dia berusaha menghindar, tangan kanan Jin Qi memukul, tangan kirinya menepis ke arah bahu Xin Jie, kaki kanan menendang.
Dia menggunakan salah satu dari 72 jurus Du Jun yang bernama Li Di Gou Hun (bumi berdiri mengambil roh).
Jurusnya ganas dan kejam, apalagi gerakan tangannya, terkena sedikit sabetannya saja akan terkena racunnya.
Xin Jie bisa merasakan angin dari telapak tangannya yang mengandung hawa panas.256 Hatinya bergetar, satu jurus 'Ling Han Chu Fang' (hawa dingin baru keluar) dikeluarkan, tubuhnya berbalik ke kiri.
Tangan kanannya menepis tangan kiri Tian Mo Jin Qi, Xin Jie ingin menghindar dari kaki kiri dan tangan kanan Jin Qi.
Jurus ini berjaga sekaligus menyerang, tenaganya besar berbeda dengan tenaga biasa.
Dengan kedua tangannya Jin Qi mengeluarkan jurus 'telapak 72 Yin', setiap serangan selalu mengarah pada urat nadi penting.
Untuk pertama kalinya Xin Jie bertemu dengan musuh kuat, dengan penuh semangat dia melayani Tian Mo Jin Qi.
Ruangan kecil di dalam perahu kecil itu seperti tidak cukup bagi mereka untuk bergerak dengan leluasa.
Mereka bertarung dengan keras, dalam waktu singkat meja dan kursi telah terguling, alat makan yang terbuat dari giok mahal jatuh berantakan di bawah.
Jin Mei Ling melihat mereka bertarung begitu serius, dalam hati dia berpikir.
"Kalian bertarung begitu serius hanya karena memperebutkan seorang gadis, tidak ada seorang pun yang mau257 memperhatikan diriku."
Fang Shao-kun bersembunyi di sudut ruangan, karena ketakutan matanya terbelalak besar.
Dia ingin Xin Jie dalam sekali menyerang bisa membunuh Jin Qi.
Dia sadar ilmu silatnya sangat lemah, hingga jurus silat yang dipakai kedua orang itu pun tidak bisa dilihatnya dengan jelas.
Hanya dalam waktu singkat 50-60 jurus sudah berlalu.
Ilmu meringankan tubuh Qi-mao Shen-jun terkenal di dunia persilatan.
Tapi di dalam perahu yang begitu sempit, ilmu meringankan tubuhnya tidak bisa dikeluarkan, apalagi ini adalah untuk pertama kalinya dia bertarung.
Dan dia telah bertemu dengan musuh begitu kuat, cara bertarung seperti itu mereka lama kelamaan membuat Xin Jie menjadi bingung.
Xin Jie bingung tapi Tian Mo Jin Qi lebih bingung lagi dan dia merasa aneh.
Dia telah dilatih oleh Du Jun Jin Yi-peng selama beberapa tahun, senjata rahasia, senjata golok, atau ilmu telapak tangan yang dipakainya telah menunjuk-kan kalau dia adalah pesilat ternama, banyak pesilat yang mati di bawah tangannya.
Sekarang melihat Xin Jie hanya258 seorang pelajar dan tidak bernama di dunia persilatan, tapi setelah bertarung lama dengannya, masih tidak ada yang kalah atau pun menang, bukankah ini sangat aneh?
Karena hatinya tidak tenang, maka jurus telapak yang dikeluarkan lebih ganas lagi, Xin Jie yang telah mewarisi semua jurus Mei Shan-ming, kecuali tenaganya masih sedikit kurang, yang lebih penting lagi adalah dia belum berpengalaman dalam melawan musuh.
Banyak kesempatan bisa menyerang musuh tapi dia telah kehilangan kesempatan itu maka di antara mereka menjadi seimbang, tidak ada yang menang atau pun kalah.
Walaupun keadaannya seperti itu, tapi bila ada yang melihat kemampuan ilmu silatnya, orang kalangan persilatan pasti akan membela-lakkan matanya.
Hingga Jin Mei Ling sendiri pun merasa aneh.
Dia tidak menyangka orang lemah seperti dia, juga seorang pelajar, bisa mempunyai ilmu silat begitu tinggi.
Angin telapak membuat jendela perahu terbuka, dari jendela itu Jin Mei Ling bisa melihat keluar, dia menarik nafas panjang.
Ternyata perahu telah mengikuti aliran259 sungai, entah sekarang mereka berada di mana.
Tiba-tiba dia merasa kedua sisi sungai terus naik sepertinya perahu akan tenggelam.
Sekali dia melihat, air sudah mencapai dinding perahu dan tidak ada yang mengemudikan perahu.
Dia sudah tidak peduli dengan pertarungan di atas perahu, dengan cepat dia berlari keluar melalui jendela, ternyata awak kapal secara diam-diam telah dibunuh seseorang.
Coba bayangkan, perahu berjalan sendiri sedangkan orang-orang di atas perahu yang terdiri dari pesilat tangguh, walaupun masing-masing sedang memikirkan urusannya sendiri, tapi di luar ada yang membunuh semua awak kapal, orang di dalam perahu tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.
Bukankah hal ini sangat aneh?
Jin Mei Ling merasa aneh, dia memeriksa semua mayat awak kapal.
Ternyata mereka terkena panah, dan timbul bercak hitam dan dari luka mereka menetes darah berwarna hitam.260 Dia telah ikut dengan Du Jun bertahun-tahun, tidak ada racun yang lebih keras dari racun Du Jun.
Dia tahu kalau semua awak kapal telah terkena senjata rahasia yang telah diolesi racun.
Dari balik dadanya dia mengeluarkan sarung tangan yang terbuat dari kulit rusa, lalu dia pun memakainya, kemudian dia mencabut panah kecil itu, wajah Jin Mei Ling tampak berubah.
Karena di atas panah itu terukir huruf 'Tang'.
Jin Mei Ling berteriak sendiri lalu berpikir.
"KeluargaTang dari Si Chuan mengapa bisa ada di sini? Dia telah naik perahu ini dan meracuni semua awak kapal. Tapi sosoknya tidak terlihat."
Begitu dia mengangkat kepalanya, di ujung perahu tampak ada sehelai kertas yang melambai-lambai tertiup angin.
Tubuh Jin Mei Ling sudah bergerak seperti seekor burung walet terbang mengambil kertas itu.
Hari mulai terang, cahaya matahari belum terlalu kentara, dia membaca surat itu, 'Meminta nyawa yang selama 20 tahun tidak pernah berhenti.
Hari ini perahu akan mengantar kalian tenggelam ke dalam261 sungai, kalau bertemu dengan dewa kematian, jangan salahkan Lao Tang.' Jin Mei Ling melihat perahu semakin tenggelam, hampir semua bagian kapal sudah masuk ke dalam air, air sungai mengeliling badan perahu dan gelombang besar menerpa perahu itu.
Sekarang mereka berada di tengah sungai.
Sewaktu dia merasa kaget dan ketakutan, dia memutuskan kembali ke dalam perahu.
Pertarungan di dalam perahu telah berhenti, Tian Mo Jin Qi berdiri dan tertawa dingin, wajah Xin Jie terlihat pucat seputih kertas.
Tangan kanannya memegang tangan kirinya, dia bersandar ke dinding.
Fang Shao-kun menghadang di depan Jin Qi melindungi Xin Jie.
Melihat wajah Xin Jie dia tahu kalau Xin Jie telah terkena racun keras dan tidak ada obat penawarnya.
Kecuali Jin Yi-peng tidak ada seorang pun yang memiliki obat penawarnya.
Orang seperti Tian Mo Jin Qi yang dianggapnya sebagai anak atau pun kepada Jin Mei Ling, dia hanya mengajarkan bagaimana cara membuat racun tapi tidak mengajarkan bagaimana cara membuat obat penawarnya.
Ini adalah salah satu sifat aneh Jin Yi-262 peng.
Semenjak dia tahu kalau Mei Shan-ming berhasil mendapatkan obat penawar dan berhasil menyelamatkan nyawa Hou Er, tidak ada seorang pun yang tahu di mana dia menyimpan obat penawarnya.
Sekarang Xin Jie telah terkena racun walaupun tidak banyak, tapi dia hanya bisa bertahan hidup selama 2-3 hari saja.
Dia sudah jatuh hati kepada Xin Jie, melihat Xin Jie terkena racun dia merasa sangat terkejut, tapi dia segera ingat kalau sekarang mereka berada di tengah sungai dan perahu akan segera tenggelam.
Apakah dia sendiri bisa menjamin kalau dia tetap akan hidup?
Karena memikirkan masalah ini, dia malah merasa tenang dan berkata pada Tian Mo Jin Qi.
"Kakak seperguruan, lihatlah keluar jendela!"
Ternyata setelah Xin Jie dan Jin Qi beradu ratusan jurus, dia mulai bisa mengatasi serangan dan mulai menyusun cara mengalahkan lawannya, dalam beberapa jurus dia berhasil memojokkan Tian Mo Jin Qi.
Jin Qi merasa terkejut juga menjadi gentar, tiba-tiba dia melihat di atas jendela ada 7 vas bunga.
Karena perahu263 bergoyang maka vas itu pun terjatuh, dan ada satu vas yang terjatuh ke sudut.
Dalam hati Tian Mo Jin Qi bisa menebak kalau ketujuh vas itu tentu berisi racun keras yang selalu digunakan oleh Du Jun.
Jin Qi pun tahu kalau tidak meminum dulu obat penawarnya begitu ada bagian tubuh yang tersentuh botol itu maka orang itu akan segera terkena racun keras.
Tian Mo Jin Qi telah lama berlatih ilmu telapak tangan beracun, dia tidak takut kalau sampai menyentuh botol itu.
Tapi begitu tangan Xin Jie terkena vas itu dia pasti akan celaka.
Memikirkan hal itu, dia menggeser langkahnya ke arah vas itu, dan dengan cepat dia mengambil vas itu, dia melempar vas itu dengan tangan kanannya setelah itu dia langsung mundur.
Tubuh Xin Jie sedikit dimiringkan, dia bisa menghindar dengan cara mencondongkan tubuhnya ke depan.
Jurus 'Mei San Chun Xian' (bunga Mei-hua mekar lebih awal di musim semi) dan berniat mengejar Tian Mo Jin Qi.
Melihat ada sebuah vas bunga yang terbang ke arahnya, tanpa pikir panjang dia menepuk vas itu dengan tangannya.264 Begitu tangannya mengenai vas itu, dia merasa ada gejala aneh, tiba-tiba dia teringat pada kata-kata Hou Er.
Saat itu kematian sudah seperti setan gentayangan diam-diam menyerang-nya.
Kaki Xin Jie berputar dan tenaga yang digunakan untuk bergerak maju segera dihenti-kan, dia mundur ke arah dinding.
Tian Mo Jin Qi tertawa dingin dan berkata.
"Hei marga Xin, tahun depan di hari yang sama adalah hari peringatan kematianmu."
Fang Shou Kun sangat terkejut, dia berlari ke depan Xin Jie.
Tian Mo Jin Qi tidak melarangnya, dia hanya tertawa dingin karena berhasil menyingkirkan seorang musuh kuat ataukah musuh cintanya?
Dia benar-benar merasa gembira.
Sekarang dia melihat Jin Mei Ling yang terbang masuk dari jendela, wajahnya terlihat pucat, kemudian Jin Mei Ling menyuruhnya melihat keluar jendela.
Hatinya yang sedang merasa senang tiba-tiba lenyap tidak berbekas.
Karena air sungai hampir memenuhi jendela, Xin Jie pun mengetahui keadaan265 yang terjadi, dan tahu kalau dia tidak akan bisa hidup lebih lama.
Dia malah merasa tenang, dia memeluk Fang Shao-kun sambil tertawa terbahak-bahak.
"Aku akan mati bersama dengan orang yang kucintai, aku lebih beruntung darimu. Perhitungan manusia pasti tidak bisa mengalahkan takdir Tuhan, tidak disangka tahun depan di hari yang sama, juga merupakan peringatan 1 tahun meninggalnya Tuan."
Xin Jie memeluk erat Fang Shao-kun.
Dia sangat menyukainya, dia sudah tidak peduli apakah dia masih bisa hidup atau mati.
Dia memejamkan matanya dan menikmati kehangatan yang menyiksa ini.
Hati Jin Mei Ling benar-benar sedih, dia membalikkan kepalanya tidak mau melihat mereka yang sedang berpelukan.
Tian Mo Jin Qi melihat semua itu, api cemburu membakar hatinya, rasa cemburu membuatnya lupa pada hidup atau matinya, dengan cepat dia mendekati mereka.
Air mulai masuk melalui jendela, hanya dalam waktu singkat air sudah setinggi mata kaki.
Tian Mo Jin Qi menepis dengan tangan kanannya, tangan kirinya menarik Fang266 Shao-kun.
Tubuh Xin Jie mulai lemas, dia berusaha menahan serangan itu, tapi Fang Shao-kun yang berada dalam pelukannya tiba-tiba ditarik oleh Tian Mo Jin Qi.
Lalu dia memeluk Fang Shao-kun dengan erat kemudian tertawa keras.
"Dia harus ikut mati denganku!"
Kedua tangan Xin Jie dijulurkan, tapi racun telah membuat ilmu silatnya lemah, tangan kanan Tian Mo Jin Qi melambai, dan memaksa Xin Jie kembali ke tempat semula.
Xin Jie ingin menyerang lagi, Fang Shao-kun menggigit tangan Tian Mo Jin Qi.
Karena merasa sakit, Tian Mo Jin Qi melepaskan Fang Shao-kun, sekali lagi Fang Shao-kun masuk ke dalam pelukan Xin Jie.
Air sudah mencapai pinggang.
Tapi Tian Mo Jin Qi tidak mau kalah, dia menyerang lagi, tapi Xin Jie lebih cepat menepuk pundak kiri Tian Mo Jin Qi, Tian Mo tidak menghindar, malah menyambut serangan Xin Jie.
Kemudian kedua tangannya mencakar dan mencengkram Fang Shao-kun.
Fang Shao-kun kembali jatuh ke dalam pelukan Tian Mo Jin Qi.
Air sudah mencapai pinggang.267 Jin Mei Ling berlinang air mata, pada saat akan mati seperti sekarang yang dia harapkan adalah mendapat penghiburan dan kekasih, tapi sekarang sampai akan mati pun dia masih sendiri.
Dua orang lak-laki yang ada di sisinya hanya karena seorang perempuan terus berebut.
Hati Jin Mei Ling menjadi sedih, perasaan kosong dan sepi lebih pekat dari pada kematian.
Dia menangis sekeras-kerasnya, dia sudah tidak peduli lagi dengan rasa malu.
Dia masuk ke dalam pelukan Xin Jie dan dengan sekuat tenaga memeluk Xin Jie.
"Kekuatan cinta itu sangat besar dan ini berlaku dari dulu sampai sekarang, satu-satunya yang bisa membuat orang mati dengan tersenyum adalah cinta."
Tiba-tiba terdengar suara BYUR perahu Du Jun Jin Yi-peng yang telah menghabiskan banyak uang, tenaga, dan lainnya, serta benda berharga lainnya, mayat-mayat awak kapal, empat orang gadis yang berada di belakang, dan di dalam perahu ada dua pasang muda mudi akan tenggelam ke dalam sungai.
Di atas sungai terlihat riak air sangat besar, tidak lama kemudian air268 sungai kembali tenang dan terus mengalir ke timur.
Perahu itu tenggelam atau tidak, sedikit pun tidak ada yang bisa mengusiknya.
Kedua tangan Jin Mei Ling terus memeluk Xin Jie.
Bagaimana perasaan Xin Jie?
apakah dia terkejut atau malah merasakan kehangatan?
Ataukah bingung?
Perasaan ini sulit dijelaskan, dia pun balas memeluk pinggang Jin Mei Ling.
Air mulai merendam kepala mereka.
Jin Mei Ling merasa dalam hidupnya selama ini tidak ada rasa bahagia seperti sekarang ini.
Gelombang datang, sebuah papan berat menyenggol tubuh Jin Mei Ling tapi karena berada di dalam air, dia tidak merasakan senggolan berat itu.
Sifat manusia yang ingin hidup membuatnya mengeluarkan tangan dan menangkap papan itu.
Karena ilmu silatnya kuat, ditambah dengan keinginan untuk hidup membuat kelima jarinya mencengkram papan itu dengan kuat.
Gelombang terus datang menerpa mereka.
Matahari telah terbit, membuat sungai Chang Jiang seperti sebuah tali panjang berwarna kuning keemasan.269 Dengan sebelah tangannya Xin Jie menggendong Jin Mei Ling sedangkan tangan lainnya mencengkram papan, tapi tangannya semakin lama terasa semakin lemah.
Dia telah kehilangan rasa, seperti Chang Jiang yang tidak berperasaan.
Tapi gelombang Chang Jiang ternyata mengantarkan kedua orang muda yang sedang berpelukan itu sampai ke daratan.
Matahari yang baru saja terbit terasa semakin panas teriknya.
Sewaktu Jin Mei Ling membuka matanya, matahari sudah bersinar terang dan menyilaukan matanya.
Perasaan yang timbul sekarang ini adalah rasa gembira yang bisa membuatnya gila.
Dia menggosok-gosok matanya untuk membuktikan kalau keadaannya nyata.
Tapi sebuah papan besar masih menempel di tangannya.
Melihat papan ini, dia tertawa karena merasa sangat berterima kasih pada papan itu.
Kalau tidak ada papan itu, selamanya dia tidak akan bisa melihat matahari lagi.
Dia menarik tangannya dari papan kayu.
Jarinya yang lentik tampak mulai270 membengkak karena telah terendam air dalam waktu lama.
Dia memegang papan itu dan ternyata papan itu adalah papan tempat tidur milik Du Jun Jin Yi-peng.
Dia ingat beberapa kali dia mencoba menasehati 'ayahnya' supaya jangan tidur di atas papan keras ini tapi ayannya tidak pernah mau mendengarnya.
Tidak disangka hari ini, karena papan ini pula membuatnya bisa bertahan hidup.
Tapi tangan kanannya terasa mati rasa.
Ternyata Xin Jie tertidur di atas tangannya.
Dia masih tidak sadarkan diri karena itu Jin Mei Ling tersenyum.
Itu adalah senyum bahagia.
Orang yang baru saja bisa meloloskan diri dari kematian, dan di sampingnya ada orang yang dia cintai, di dunia ini tidak ada hal yang bisa membuatnya takut lagi.
Dia meraba wajah Xin Jie.
Wajah Xin Jie terasa panas seperti api.
Dia baru teringat bahwa racun ada di tubuh Xin Jie, karena itu dia mulai merasa khawatir lagi.
Jin Mei Ling yang sedang terbaring di bawah, perasaannya bercampur, tiba-tiba timbul rasa khawatir diatas rasa senang, entah harus bagaimana dia sekarang.271 Dia merasa Xin Jie yang berada di bawah tangannya mulai bergerak-gerak.
Ternyata Xin Jie mulai sadar.
Sinat matahari menyinari.
Wajahnya tampak begitu pucat, dan begitu lemah.
Jika tadi tidak melihat dia bertarung habis-habisan, orang akan mengira kalau dia hanya seorang pelajar lemah.
Jin Mei Ling menarik nafas.
Jarinya dengan lembut menelusuri tulang pipi Xin Jie teru s ke bawah lalu berhenti di daerah dagu.
'Jika tadi dia bertarung mati-matian karena aku, mati pun aku rela,' dia berpikir seperti itu, kemudian tertawa, 'mengapa aku harus berpikir akan mati?
Bukankah sekarang kami masih hidup?
Gelombang besar Chang Jiang ternyata tidak sanggup memisahkan kami.
Aku tidak boleh takut akan hal lainnya."
Memikirkan ini, wajahnya mengeluarkan tawa manis.
Dia melihat Xin Jie.
Hatinya dipenuhi dengan kegembiraan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Dia ingin selamanya seperti ini.
Dia membalikkan tubuhnya, supaya tangan dan kakinya bisa bergerak lebih leluasa.272 Mata Xin Jie terbuka, tapi segera menutup lagi.
Jin Mei Ling terus mengelus-elus dagu Xin Jie.
Sebenarnya dia seorang gadis pemalu, tapi karena baru saja lolos dari dewa kematian, membuat sepasang muda mudi saling mengandalkan satu sama lain, menambah perasaan yang ada.
Apalagi di sekeliling mereka tidak ada seorang pun.
Angin pagi berhembus dengan lembut.
Bumi dan langit sepertinya hanya ada mereka berdua.
"Bajuku basah kuyup,"
Jin Mei Ling mengomel.
Dia membereskan bajunya yang berantakan.
Tapi begitu melihat dengan jelas, dia langsung berteriak.
Jarinya langsung menjadi dingin.
Ternyata tangan kanan Xin Jie sekarang bertambah bengkak dan di antara sela-sela jari dan telapaknya berwarna hitam.
Dia baru teringat racun yang telah masuk ke tubuh Xin Jie adalah racun keras.
Kecuali ayahnya yang mempunyai obat penawar, tidak ada seorang pun yang bisa mengobatinya.
Jin Mei Ling benar-benar sedih.
Xin Jie mulai membuka matanya.273 Setelah sadar dia merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan tubuhnya.
Untuk kedua kalinya dia berperasaan seperti itu.
Sewaktu di Wu Hua Shan yaitu di lembah Mei, dia pernah berperasaan seperti itu, antara senang dan bingung.
Semakin lama pikirannya semakin tenang.
Dia mulai mengingat kembali kejadian tadi satu per satu.
Mengenang kembali masa lalu yang terasa aneh, kadang-kadang kejadian 10 tahun yang lalu, yang bisa diingat hanya satu hal.
Tapi kadang-kadang dia akan teringat semua kejadian semasa hidupnya.
Melihat awan putih dan hutan yang berada di kejauhan, pikirannya terus menerawang.
Tiba-tiba dia mendengar di sisinya ada yang menangis.
Dia melirik, ternyata ada seseorang berwajah cantik tapi wajahnya penuh kegelisahan, kedua matanya yang indah tampak berlinangan air mata.
Dia memanggil.
"Jin Mei Ling!"
Kemudian dia mengerti apa yang telah terjadi, keadaan telah menjadi seperti ini.
Di depan gadis cantik yang tampak penuh perasaan, sepertinya dia pun mempunyai perasaan yang tidak bisa diungkapkan.
Tapi274 hal yang membuatnya tidak mengerti adalah.
"Kenapa dia terus menangis? Apakah dia mengira aku telah mati?"
Karena itu dengan lembut berkata.
"Nona Jin, jangan menangis, kita masih hidup."
Dia ingin mengangkat tangannya untuk menghapus air mata Jin Mei Ling.
Tapi sekarang dia baru merasakan kalau tangan kanannya mati rasa dan tangannya itu seperti sudah bukan bagian dari tubuhnya lagi.
Jin Mei Lingmenangis.
"Kau.... kau...."
Xin Jie tertawa.
"Aku tidak apa-apa...."
Tiba-tiba dia teringat pertarungannya tadi di atas perahu, teringat pada racun mengenai tangannya. Dia berusaha bangun. Melihat pada tangan kanannya, keringat dingin terus menetes. Dia berpikir.
"Aku hanya terkena sedikit racun, tapi dampaknya begitu dalam. Jika kulitku lecet aku akan segera mati. Racun Du Jun benar-benar lihai, benar-benar seperti yang dikatakan oleh orang-orang."
Karena terkejut, dia tidak melihat Jin Mei Ling yang masih menangis.
Dia mencoba mengatur nafasnya.
Dia merasa nafasnya275 masih seperti biasa, dalam hati dia merasa senang.
Kemudian dia berusaha duduk bersila.
Dengan ilmu silatnya dia berusaha keras untuk mengeluarkan racun itu dari dalam tubuhnya.
Melihat dia melakukan tindakan itu, Jin Mei Ling bertambah sedih.
Dia tahu usaha Xin Jie hanya akan sia-sia belaka karena racun itu sudah lama menjalar di dalam tubuhnya.
Apalagi setelah terkena racun tadi, dia masih sempat bertarung.
Walaupun baru terkena racun, dengan kemampuan ilmunya dia berusaha mengeluarkan racun, rasanya tidak mungkin bisa mengeluarkan racun dari dalam tubuhnya.
Tapi dia tidak akan menepis harapan terakhir Xin Jie.
Dia berpikir.
"Kau akan segera mati, biarlah kau merasa senang. Jika kau mati, bagaimana denganku...."
Dia tidak berani berpikir lagi.
Dia ingin sekali mati bersama-sama dengan Xin Jie, tapi dalam hatinya yang terdalam seperti ada sebuah kekuatan melarangnya melakukan itu.
Hatinya kacau.
Sekarang dia sendiri pun tidak tahu bagaimana perasaannya.
Dia benar-benar mencintai Xin Jie, walaupun dia276 tahu cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
Karena itu dia merasa kalau dia mati demi Xin Jie, itu hanya sia-sia saja.
Dia melihat Xin Jie yang sedang duduk bersila.
Mulutnya terkatup dan membentuk garis tipis, kedua sisi mulutnya tampak menurun.
Ekspresi wajahnya seperti sangat kesakitan.
Seperti bukan seorang pesilat tangguh yang sedang memaksa mengeluarkan racun dari dalam tubuhnya.
Jin Mei Ling tahu racun telah menyebar ke seluruh tubuhnya.
"Paling-paling dia hanya akan bisa bertahan selama 6-7 jam lagi...."
Jin Mei Ling bicara sendiri tapi air matanya terus berlinang.
Setetes demi setetes jatuh ke bajunya yang memang sudah basah.
Melihat orang yang dicintainya akan mati, benar-benar sebuah siksaan batin.
Walaupun pemuda ini tidak mencintainya, tapi hal ini tetap membu-atnya bertambah sedih.
Xin Jie menarik nafas panjang.
Dia melepaskan usaha terakhirnya.
Melihat gadis yang sedang bersedih karena dirinya, perasaannya menjadi berbelit-belit.
Tempat mereka tidak terlalu jauh dari sungai.277 Suara air Chang Jiang yang mengalir terdengar jelas, ditambah dengan tangisan Jin Mei Ling.
Hati Xin Jie benar-benar hancur dan kacau.
Dia marah kepada dirinya sendiri, merasa kasihan pada dirinya sendiri, benci kepada dirinya sendiri, semua perasaan ini bercampur aduk menjadi satu.
Sewaktu dia masih kecil, dia mendapatkan musibah yang dasyat.
Perubahan yang terjadi di Wu Hua Shan membuatnya menjadi orang yang tidak biasa.
Pada saat dia ingin melakukan hal-hal yang memang ingin dia lakukan dia bisa melakukannya.
Sekarang dia kembali mendapat bencana, semua ini sudah tidak penting lagi baginya.
Dia telah melupakan Fang Shao-kun, karena dia tahu dengan sangat jelas kalau dia tidak akan hidup lebih lama lagi.
Pelan-pelan dia membuang pikirannya yang kacau.
Kepalanya menghadap ke atas.
Dia menatap langit dan bersiul, kemudian tertawa.
"Sejak jaman dulu semua pahlawan tidak bisa meloloskan diri dari kematiannya. Xin Jie, Xin Jie, kau tidak perlu merasa sedih dengan kematianmu." 278 Dia mengangkat tangan kirinya, menunjuk Jin Mei Ling yang masih bersedih dan tertawa keras.
"Ha, ha, ha! Kau lebih bodoh dariku. Untuk apa takut pada kematian? kematian hanya seperti tidur panjang! Ayo tertawalah! Diberikan tawa oleh si cantik, mati pun aku tidak akan merasa menyesal."
Kata-kata Xin Jie membuat Jin Mei Ling bergetar.
Dia berhenti menangis.
Melihat orang di depannya sekarang, orang ini telah membuka hatinya.
Tapi dia tidak begitu mengenal orang itu.
Sekarang dia baru tahu kalau sifat Xin Jie berbeda dengan orang lain.
Telapak kiri Xin Jie ditekan.
Dia berbaring mendatar.
Di atas tanah dia berputar dan duduk di depan Jin Mei Ling.
Dia sudah terkena racun yang sangat dalam tapi karena dia telah mempelajari ilmu tenaga dalam yang tinggi, sekarang dia tidak merasa kesulitan bernafas.
Tiba-tiba dia menarik nafas berkata.
"Kau tahu aku hanya bisa hidup selama beberapa jam lagi. Dalam keadaan seperti itu, mengapa kau tidak mencoba membuatku merasa senang?" 279 Jin Mei Ling melihatnya. Dia berusaha tertawa tapi dalam keadaan seperti itu, mana mungkin dia bisa tertawa? Dia berusaha menahan tangisnya. Dia bertekad.
"Dalam beberapa jam ini aku akan berusaha membuatnya gembira."
"Lalu aku harus bagaimana?"
Dia menghentikan pikirannya. Dengan lembut dia memegang tangan kiri Xin Jie, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Xin Jie. Pelan-pelan dia berkata.
"Apa yang kau inginkan, aku akan berusaha mengabulkannya.
Kakak Jie, selamanya aku adalah milikmu.
Xin Jie tertawa bahagia.
Perasaan gadis suci ini membuat Xin Jie merasa lebih mantap menghadapi kematiannya.
Saat itu pula dia merasa bangga karena dia bisa masuk ke dalam hati gadis ini.
Dia merasakan walaupun hidupnya singkat, tapi hatinya penuh dengan perasaan cinta.
Saat dia tahu kalau nyawanya tidak akan tertolong dan tidak ada harapan, dia telah bertekad kalau dia harus bisa menikmati sisa hidup terakhirnya selama280 beberapa jam lagi.
Ini adalah salah satu sifatnya, dia tidak pernah bersedih.
Sifat ini memang sifat aslinya.
Walaupun perasaannya kepada Jin Mei Ling tidak dalam, tapi dia berharap Jin Mei Ling mempunyai cinta yang dalam kepadanya.
Dan saat menghadapi kematiannya, dia tidak akan merasa kesepian.
Dengan kasar dia memeluk Jin Mei Ling dan dengan suara kecil dia bicara.
Kata-katanya terdengar lembut seperti sinar bulan redup membuat Jin Mei Ling tenggelam di dalam rasa kegembiraan.
Dia mengira dia benar-benar telah mendapatkan kebahagiaan.
Paling sedikit dia telah mendapatkan apa yang dicarinya selama ini....
cinta.
Hari masih pagi.
Matahari belum begitu panas.
Xin Jie merasakan tubuh dalam pelukannya adalah tubuh yang panas.
Baju mereka sangat tipis.
Baju basah melekat di badan.
Untuk pertama kalinya Xin Jie melihat tubuh seorang gadis dari dekat.
Jantung Xin Jie berdebar-debar.
Dadanya seperti gunung kecil kemudian dia melihat 2 kaki yang ramping dan indah.
Semua terasa lembut.
Rasa lembut281 membuat hatinya berdebar-debar.
Xin Jie sangat berharap dia bisa memegang tubuh yang penuh dengan lekukan itu.
Harapannya begitu tinggi, karena itu dia mulai memegang pinggang Jin Mei Ling.
Begitu tangannya yang panas menyentuh tubuh Jin Mei Ling, jantung mereka serasa hampir berhenti.
Jin Mei Ling memejamkan matanya, menikmati rabaan Xin Jie.
Perasaan ini baginya adalah sesuatu aneh dan asing.
Jin Mei Ling mendengar nafas Xin Jie yang semakin lama semakin berat.
Akhirnya Jin Mei Ling merasa tindakan Xin Jie semakin berani.
Walaupun Jin Mei Ling masih bisa mengendalikan diri, tapi dia tahu keinginan Xin Jie.
Lama.
Di sekeliling mereka kembali sepi.
Awan hitam menutupi matahari.
Mulai turun hujan kecil.
Jin Mei Ling masih bersandar dalam pelukan Xin Jie.
Dia telah memberikan apa yang dia miliki kepada Xin Jie.
Tidak ada tempat bagi mereka untuk berteduh dari hujan tapi mereka juga tidak berusaha menghindari hujan.282 Waktu berlalu begitu cepat.
Xin Jie merasa maut semakin mendekat.
Tadi dia berhasil melupakan tangannya yang terasa sakit dan mati rasa, sekarang dia kembali merasakannya lagi.
Apalagi dia telah melampiaskan rasa lelahnya.
Dia mulai mencium hawa kematian.
Melihat gadis yang berada dalam pelukannya, dia merasa bersalah.
Dia marah kepada dirinya sendiri, mengapa pada saat kematian akan menjemputnya, dia masih sempat mengambil hati dan kesucian seorang gadis?
Tapi di lain pihak, dia merasa bangga, puas, dan senang, semua bertolak belakang dengan kehidupannya.
Dia tidak bisa melampiaskannya.
Siapa yang bisa menjelaskan alasannya?
Hujan telah berhenti, tiba-tiba Xin Jie merasa sangat dingin.
Badannya gemetar.
Jin Mei Ling bisa merasakannya.
Dia melihat Xin Jie sambil bertanya.
"Apakah kau kedinginan?"
Suaranya penuh dengan kelembutan. Xin Jie mengangguk. Karena itu dia berdiri berkata.
"Kita buat api unggun."
Xin Jie menggelengkan kepalanya dan berkata.
"Tidak perlu, aku tidak...."
Dia tidak tega melanjutkan kalimatnya.
Baginya283 ataupun bagi Jin Mei Ling, itu terlalu kejam.
Tapi Jin Mei Ling mengerti apa kelanjutan dari kata-katanya itu.
Kesedihan merampas hati bahagianya.
Gadis cantik itu membalikkan tubuhnya, menghapus air mata yang mengalir.
Dia ingin menangis sekeras-kerasnya, tapi dia berusaha menahannya di depan Xin Jie.
Dia tidak mau membiarkan suara tangisnya membuat Xin Jie yang sekarat menjadi sedih.
Dia ingin Xin Jie mati dengan tenang dan bahagia.
Karena dua tubuh mereka telah menjadi satu.
Di sisi sungai tidak ada benda yang bisa dibakar.
Jin Mei Ling teringat di ikat pinggangnya ada 2 batu api.
Batu itu dipersiapkannya untuk ayahnya pada saat akan merokok.
Dia meraba-raba ikat pinggangnya dan batu itu masih ada, tapi kondisinya basah.
Mungkin masih bisa dipakai.
Tapi bagimana dengan kayu?
Tidak ada kayu yang bisa dibakar untuk menghangatkan Xin Jie?
Dia melihat ke sekeliling, di sana hanya ada pasir dan batu.
Tiba-tiba dia teringat pada papan kayu ranjang yang pernah menolong mereka, kayu284 itu masih ada di sisi sungai.
Diam-diam dia berpikir.
"Kayu itu bisa dpakai untuk membuat api unggun."
Karena itu dia mencari kayu itu. Xin Jie merasa sangat tersentuh melihat Jin Mei Ling melakukan pekerjaan sulit, tapi bayangan kematian semakin lama semakin pekat. Dia berkata.
"Adik Ling, tidak perlu memasang api. Bersandarlah padaku. Aku.... aku sudah tidak mempunyai waktu banyak bersamamu. Kelak kau harus bisa menjaga diri."
Jin Mei Ling masuk ke dalam pelukannya.
Kedua bahunya terus bergetar.
Xin Jie meneteskan air mata.
Semakin lama Xin Jie merasa semakin dingin.
Tangannya semakin membengkak.
Jin Mei Ling menangis sambil membuka baju bagian atas Xin Jie.
Warna hitam di tubuhnya mulai menyebar sampai ke pundak.
Xin Jie tertawa kecut.
"Masih berapa lama lagi?"
Jin Mei Ling tiba-tiba menggigit pundak Xin Jie dan menyedot darah hitam itu terus menerus.
Tapi bercak itu tidak berkurang.
Xin Jie sangat tersentuh.
Karena285 bajunya dibuka, dia merasa bertambah dingin.
Giginya gemeletuk.
Tinggal di kamar batu selama 10 tahun, dia tidak takut dingin.
Sekarang racun telah menyebar ke seluruh tubuhnya, dia baru merasakan dingin yang tidak tertahankan.
Dengan gemetar dia berkata.
"Adik Ling, tolong nyalakan api! Aku sudah tidak kuat menahan rasa dingin lagi."
Jin Mei Ling mengangguk.
Tadi dia mencoba menyedot darah hitam dan tidak berhasil.
Dia tahu Xin Jie hanya bisa bertahan selama 1-2 jam lagi.
Dia sudah mengambil keputusan, jika Xin Jie mati, dia tidak akan mau hidup lagi.
Tadi dia merasa ada suatu kekuatan yang melarangnya melakukan itu, sekarang kekuatan itu tidak terasa.
Dia malah merasa sangat tenang.
Dia mengambil papan kayu itu.
Tidak ada kapak, juga tidak ada golok, tapi dia telah memikirkan sebuah cara.
Dia membelah dengan tangannya.
Papan segera terbelah menjadi dua kemudian membaginya menjadi bagian lebih kecil.
Dengan menggesek kedua batu api, dia mencoba membuat api dan meletakkan Xin Jie di sisi api unggun.286 Mereka berdua duduk berdekatan.
Bagi mereka yang penting sekarang adalah waktu, tidak ada yang bisa mengganggu mereka.
Tapi pada saat begitu penting, mereka malah terdiam.
Walaupun kematian akan segera menjemput, tapi mereka merasa cinta telah memenuhi hati.
Papan itu terbuat kayu wangi, bisa terbakar dengan cepat, hanya dalam waktu singkat sudah terbakar habis.
Jin Mei Ling berdiri, bersiap-siap membelah setengah kayu lagi.
Xin Jie diam-diam menghitung waktunya.
Sekarang perasaan membeku sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Sudah hampir saatnya, sudah tiba waktunya,"
Dia berkata pada dirinya sendiri.
Setengah kayu telah dibelah mejadi dua.
Jin Mei Ling yang sedang merasa khawatir, dengan sekuat tenaga membelah kayu itu.
Dia menghancurkan kayu itu.
Tiba-tiba dari sisi papan itu keluar beberapa botol kecil.
Jin Mei Ling benar-benar kaget.
Dengan cepat dia berlari untuk melihat lebih teliti.
Dia berteriak sekeras-kerasnya.
"Ini obat penawar!" 287 Xin Jie mulai tidak sadarkan diri. Terdengar ada yang berteriak tentang obat penawar, dia kembali bersemangat. Dia melihat Jin Mei Ling yang senang hingga meloncat-loncat sambil berteriak-teriak, dia tertawa tapi segera pingsan. Begitu sadar, hari sudah gelap. Jin Mei Ling dengan cemas berada di sisinya. Begitu mata Xin Jie terbuka, dengan penuh kegembiraan berkata.
"Kakak Jie, jangan bergerak dulu, kau sudah tidak apa-apa."
Ternyata papan itu adalah tempat Du Jun Jin Yi-peng menyembunyikan obat penawarnya.
Jin Mei Ling tahu bagaimana cara menggunakan obat penawar.
Sekali lagi Xin Jie bisa bertahan hidup karena papan itu.
Racun Du Jun sangat keras, tapi obat penawarnya juga sangat aneh.
Walaupun Xin Jie merasa lesu dan lelah, tapi dia sudah tidak merasakan badannya mati rasa.
Begitu melihatnya sudah bangun, Jin Mei Ling menangis sambil tertawa.
Karena merasa gembira Jin Mei Ling yang memiliki tenaga dalam lumayan tinggi, membantu Xin Jie mengeluarkan racun.
Sebenarnya dia sendiri merasa sangat lelah dan lapar.288 Sejak pagi sampai sekarang, dia terus menjaga Xin Jie, belum sempat makan dan minum.
Sekarang karena keadaan sudah tidak terlalu tegang, dia bersandar di tubuh Xin Jie dan tertidur pulas.
Xin Jie tahu nyawanya sudah tidak terancam lagi dan perasaannya kepada Jin Mei Ling sangat dalam.
Dia melihat Jin Mei Ling, melihat bulu matanya yang panjang menutupi kelopak mata.
Xin Jie tertidur lagi.
Mereka tertidur semalaman.
Begitu Jin Mei Ling membuka matanya, ternyata Xin Jie sudah bangun dan dengan diam melihatnya.
Dia tertawa manja dan berkata.
"Lihat! Aku tertidur sampai tidak tahu apa-apa."
Xin Jie mencium dahinya dan tersenyum.
"Kau tertidur begitu pulas, kalau ada yang menculikmu, kau pasti tidak akan tahu."
Jin Mei Ling tertawa.
"Kau memang jahat."
Mengingat kejadian kemarin, wajah Jin Mei Ling memerah. Xin Jie mencium hidungnya lagi. Sambil tertawa Jin Mei Ling berkata.
"Kau juga harus bangun!"
Tiba-tiba dia memeriksa tangan Xin Jie. Warna hitam karena racun sudah tidak ada. Sambil tertawa Jin Mei Ling berkata,289
"Kakak Jie, apakah kau sudah bisa berdiri? Kita tidak bisa diam di sini terus. Perutku terus berbunyi."
Xin Jie tertawa dan mengangguk. Dia bisa berdiri dengan kekuatannya sendiri. Racun sudah bersih dari tubuhnya. Xin Jie tertawa.
"Obat penawar ayahmu benar-benar manjur."
"Racunnya juga lumayan hebat."
Wajah Jin Mei Ling memerah.
Dengan cemberut dia membalikkan badan.
Tiba-tiba dia melihat di kejauhan seperti ada sebuah buku.
Dengan cepat dia berlari mengambilnya.
Begitu Xin Jie melihatnya, ternyata itu adalah buku yang di
Jilid dengan benang.
Di sampul buku tertulis 'Du Ji' (buku racun).
Mereka berjalan sambil membaca, sampai lupa kalau mereka sedang lapar.
Karena di dalam buku Du Ji itu tertulis tentang semua penggunaan racun dan racikan racun.
Xin Jie belum pernah membaca atau mendengar tentang hal ini.
Sebagian racun di dalam buku itu memang sangat keras.
Dengan kagum Xin Jie berkata kepada Jin Mei Ling.
"Ayahmu memang orang aneh. Dia ingat semua racun di dunia ini dengan jelas.290 Racun yang tidak berwarna dan tidak berasa terdiri dari beberapa macam. Entah dengan cara apa dia membuatnya."
Jin Mei Ling menarik nafas panjang.
"Selama hidupnya, ayahku terus-menerus meneliti tentang racun. Sekarang dia dicelakai oleh racunnya sendiri. Kadang-kadang dia berlaku seperti orang gila, kadang-kadang seperti orang normal. Sekarang dia entah ada di mana?"
"Ilmu silatnya sangat tinggi, tidak akan ada orang yang mampu melukainya."
Satu tangan Jin Mei Ling tergantung di tangan Xin Jie. Dia berkata.
"Kita harus cepat mencari tempat di mana ada orangnya. Sekarang kita ada di mana pun kita tidak tahu. Kau lihat aku begitu kotor dan bau. Benda apa yang membuatku menjadi seperti ini?"
X.in Jie tertawa.
Dia bergerak.
Dia telah menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi.
Kecepatannya bertambah beberapa kali lipat.
Dia baru terbebas dari racun, badannya masih lemah, tapi Jin Mei Ling yang berada di dalam pelukan tangannya diam-dia memuji ilmu meringankan tubuhnya dan bertanya.
"Ilmu291 silatmu begitu tinggi, kau belajar dari mana?"
Xin Jie tertawa.
"Nanti akan kuberi tahu."
Tiba-tiba mereka mendengar ada teriakan perempuan.
Langkah mereka berhenti dan sama-sama berlari ke sumber teriakan itu.
Xin Jie menambah kecepatannya lagi.
Dia melihat ada 2 bayangan orang yang sedang berguling-guling.
Teriakan perempuan itu pasti datang dari sana.
Xin Jie segera berkata.
"Aku lihat dulu ke sana."
Dia sudah melepaskan pegangan tangan Jin Mei Ling dan terbang seperti seekor burung walet. Kemudian terdengar dia marah.
"Ternyata kau!"
Orang yang sedang berguling-guling mendengar ada suara lain dia segera menghentikan gerakannya.
Ternyata kedua bayangan itu adalah Tian Mo Jin Qi dan Fang Shou Kun.
Ternyata Tian Mo Jin Qi bisa berenang.
Sewaktu perahu mau tenggelam, dia menggendong Fang Shou Kun keluar dari perahu dan berenang mengikuti arus sungai.
Dia berhasil menggapai sebuah papan dan selamat sampai di darat.292 Waktu itu mereka berdua juga jatuh pingsan.
Begitu Fang Shou Kun sadar, dia merasa ada yang menciumi wajahnya.
Karena terkejut, dia berteriak.
Begitu melihat lebih dekat lagi siapa yang menciumnya, dengan sekuat dia mendorong Tian Mo Jin Qi.
Kemampuan ilmu silat Tian Mo Jin Qi, jangankan Fang Shou Kun, orang yang lebih kuat 10 kali lipat dari Fang Shou Kun pun tidak akan sanggup mendorongnya.
Tapi sekarang Jin Qi merasa pusing, tubuhnya tidak bertenaga, sekali didorong oleh Fang Shou Kun, dia langsung roboh.
Fang Shou Kun segera duduk dan kebetulan di sisinya ada batu tajam.
Dia mengancam.
"Jika kau mendekat, aku akan menggores wajahku dengan batu ini."
Tian Mo Jin Qi sangat mencintainya, dia tidak berani bertindak gegabah.
Dia melihat di sekeliling sana tidak ada siapa pun, dia takut dan tidak berani bergerak lagi.
Seperti itulah mereka berdua melewati malam itu.
Fang Shou Kun merasa lelah dan sudah tidak kuat lagi.
Baru saja dia terlelap sebentar, Tian Mo Jin Qi mengambil kesempatan ini untuk memeluknya dan merebut batu yang berada dalam293 genggaman tangan Fang Shou Kun.
Sebelah tangannya terus meraba, mulutnya ikut bergerak.
Karena terkejut, Fang Shou Kun berteriak dan memberontak.
Sewaktu kedua orang itu berguling-guling, Tian Mo Jin Qi berniat memperkosa Fang Shou Kun, supaya dia bisa menikahi Fang Shou Kin.
Kebetulan Xin Jie mendengar teriakannya dan datang untuk menolong.
Begitu melihat Xin Jie datang, Fang Shou Kun dengan senang berteriak.
"Kakak Jie, cepat tolong aku! Diamau.... mau memperkosaku!"
Begitu melihat yang datang adalah Xin Jie, mata Tian Mo Jin Qi langsung mengeluarkan kobaran api, tiba-tiba dia melihat Jin Mei Ling yang mengikuti Xin Jie dari belakang, Tian Mo Jin Qi segera membentak.
"Adik, cepat kemari! Bantu aku membunuh orang ini!"
Melihat Fang Shou Kun dan Tian Mo Jin Qi, Jin Mei Ling sangat terkejut.
Mendengar Jin Qi menyuruhnya untuk membunuh Xin Jie, dia hanya diam dan mendekati Xin Jie lalu bersandar ke294 tubuhnya.
Fang Shou Kun yang sedang berlari ke arah Xin Jie, melihat mereka seperti itu, dia terpaku, tapi dia tetap berlari mendekati Xin Jie.
Tian Mo Jin Qi marah.
Dia berlari mendekat dan mencengkram pundak Fang Shou Kun.
Xin Jie marah dan membentak.
"Lepaskan dia!"
Tangannya sudah menyerang Jin Qi.
Melihat Xin Jie menyerangnya dan telapaknya sudah tidak hitam lagi, dalam hati Jin Qi merasa aneh, kemudian dia melihat Jin Mei Ling sedang memegang sebuah buku bersampul kuning.
Dia tertawa dengan dingin.
Dia marah.
"Bocah tengik, ternyata kau merayu adikku juga!"
Dia melihat Jin Mei Ling.
"Mengapa buku rahasia guru berani kau curi?"
"Kau tidak perlu tahu. apa alasanku,"
Jawab Jin Mei Ling, melihat Fang Shou Kun berada dalam pelukan Xin Jie, dia berlari ke arah mereka dan menepuk pundaknya.
"Turun!"
Tapi Fang Shou Kun malah lebih erat memeluk Xin Jie. Dia menjawab.
"Apa pedulimu!"
Xin Jie menjadi bingung.
Dia tidak295 bisa melepaskan pelukan Fang Shou Kun, tapi dia juga tidak tega melihat Jin Mei Ling marah melihat kelakukan Fang Shou Kun.
Xin Jie menjadi bingung sendiri, ditambah lagi dia harus melayani serangan musuh kuat.
Tian Mo Jin Qi terpaku dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.
Ooo)*(ooO BAB Perkumpulan Tang dari Si Chuan Jin Mei Ling marah sekaligus cemburu.
Dia sebenarnya seorang gadis pemalu.
Dia malu kalau sampai harus menarik Fang Shou Kun lepas dari pelukan Xin Jie.
Sekarang dia malah berharap Tian Mo Jin Qi merebut kembali Fang Shou Kun.
Tian Mo Jin Qi dan Xin Jie pernah bertarung di dalam perahu.
Dia tahu kalau kemampuan ilmu silatnya berada di bawah Xin Jie, tapi pada dasarnya dia memang licik, sekarang dalam hati dia sedang menyusun rencana, dengan cara apa dia akan mengalahkan Xin Jie.
Hubungan keempat orang itu sangat aneh, dalam hati mereka masing-masing mereka sedang memikirkan sesuatu.
Sekarang296 semuanya terdiam.
Tiba-tiba perut Jin Mei Ling berbunyi.
Ternyata dia sangat lapar.
Fang Shou Kun mendengarnya teriakan perut Jin Mei Ling dan tertawa.
Karena kesal, Jin Mei Ling marah dan membentak.
"Apa yang kau tertawakan? Dasar tidak tahu malu! Belum pernah aku melihat orang tidak tahu malu seperti dirimu, terus memeluk Xin Jie."
Fang Shou Kun malah balik bertanya.
"Kau yang tidak tahu malu! Aku senang memeluk Kakak Xin, Kakak Xin pun senang memelukku. Siapa kau berani marah-marah kepadaku? Kakak Jie, apakah ucapanku benar?"
Xin Jie tidak berani menjawab. Tian Mo Jin Qi tertawa dingin. Jin Mei Ling marah dan wajahnya memerah. Tiba-tiba dia berkata.
"Aku adalah istri Kakak Jie, aku punya hak untuk bicara."
Kedua tangan Fang Shou Kun terlepas dari pelukan Xin Jie. Dia tertawa.
"Kau benar-benar orang tidak tahu malu, mengaku-aku adalah istri Kakak Jie. Benar-benar tidak tahu malu!"
Tian Mo Jin Qi merasa aneh.
Dia tahu297 adik seperguruannya yang cantik ini bersifat sangat dingin.
Biasanya jika ada laki-laki yang melihatnya, dia akan mencari masalah dengan mereka.
Mengapa hari ini dia berbeda?
Di depan mereka, dia berani mengaku sebagai istri Xin Jie?
Dia membentak.
"Adik, ada apa denganmu?"
Jin Mei Ling merasa marah dan malu.
Air matanya terus menetes.
Xin Jie melihatnya.
Mengingat betapa baiknya Jin Mei Ling kepadanya, apalagi dia menuruti keinginan Xin Jie berhubungan intim, Xin Jie tidak tega.
Xin Jie berlari ke depan Jin Mei Ling dan berkata.
"Benar, dia memang istriku."
Tian Mo Jin Qi merasa aneh. Fang Shou Kun langsung menangis sejadi-jadinya sambil terduduk di bawah. Tian Mo Jin Qi berpikir.
"Ini adalah kesempatan baik untukku."
Karena itu dia menghibur Fang Shou Kun sambil menepuk-nepuk punggungnya dan menghibur.
"Jangan menangis, jangan menangis lagi."
Fang Shou Kun mendengar Xin Jie telah mengaku kalau gadis itu adalah istrinya.
Mengingat kalau dia telah298 bersumpah sehidup semati dengan Xin Jie, semakin dipikir dia merasa semakin kesal, dan dia hanya bisa menangis.
Mendengar ada yang berusaha menghiburnya, dia tidak melihat siapa lagi orangnya.
Dia langsung menangis di dalam pelukan orang itu.
Tian Mo Jin Qi merasa senang, tapi dia tetap marah.
"Dia adalah penabur cinta, untuk apa kau terus meladeninya? Ayo, kita pergi ke tempat lain!"
Hati Xin Jie terasa sakit.
Bukan karena dia tidak mencintai Fang Shou Kun tapi dia terpaksa melakukan hal ini.
Tiba-tiba Fang Shou Kun meloncat bangun dan berlari ke pinggir sungai.
Ternyata tempat itu dekat dengan sungai.
Xin Jie terkejut dan berpikir.
"Apakah dia ingin bunuh diri?"
Xin Jie tidak berpikir panjang, tubuhnya langsung bergerak, dia mengejar Fang Shao-kun.
Ilmu silat Xin Jie lebih tinggi dari Fang Shou Kun beberapa kali lipat.
Tiba-tiba di belakangnya dia merasa ada angin kencang menyerangnya.
Sebenarnya dia ingin menahan serangan itu tapi setelah diingat-ingat dia299 pernah terkena racun karena serangan itu, maka dia menekuk tubuhnya.
Sebuah batu dilempar kemudian terdengar Tian Mo Jin Qi dengan marah menyambutnya.
Kedua tangan Xin Jie dikeluarkan, kesepuluh jarinya dibuka.
Dia menotok 6 jalan darah Jin Qi tanpa memberi ampun lagi, sekarang dia benar-benar bertindak ganas dan kejam.
Tian Mo Jin Qi membentak dengan marah.
'72 jurus Yin Zhang' dikeluarkan menyerang Xin Jie.
Gerakan mereka berdua sangat cepat, hanya dalam waktu singkat 10 jurus lebih sudah dikeluarkan.
Tiba-tiba terdengar suara BYUR, ternyata Fang Shou Kun sudah terjun ke sungai Chang Jiang.
Mereka yang sedang bertarung segera berhenti dan berlari ke sisi sungai.
Air sungai mengalir dengan deras.
Sosok Fang Shou Kun sudah tidak tampak lagi.
Mereka berdua tidak bisa berenang.
Jin Oi hanya tahu tentang air sedikit, jika menyuruhnya turun berenang untuk menolong Fang Shao-kun, dia tidak bisa melakukannya.
Mereka berdua hanya bisa bengong di sisi sungai, tidak ada yang berani terjun ke sungai.
Jin Mei Ling ikut300 berlari ke sana.
Melihat Xin Jie begitu sedih, dalam hati dia benar-benar marah.
Tapi mengingat semua ini karena cinta, Fang Shou Kun bersedia bunuh diri untuk Xin Jie, dia merasa sangat menyayangkan hal ini.
Xin Jie ingat Fang Shou Kun begitu menyayanginya, sekarang dia bunuh diri tanpa sebab jelas.
Semua kemarahannya dilampiaskan kepada Tian Mo Jin Qi.
■ Tian Mo Jin Qi sangat membenci Xin Jie dan marah.
"Semua ini gara-garamu!"
Dua tangannya dikeluarkan.
Dia mengeluarkan jurus-jurusnya dengan sangat cepat.
Tangan kiri Xin Jie berputar 3 kali.
Itu adalah jurus 'Mei-hua San Nong'.
Dia merobah telapaknya menjadi pedang, dia memukul dan menepis.
Dia berniat memotong pergelangan tangan Jin Qi.
Kedua-duanya saling menyimpan dendam, mereka tidak teringat lagi pada hal lain.
Angin serangannya membuat baju Jin Mei Ling berkibar.
Jin Mei Ling melihat mereka bertarung lagi, dalam hati dia menjadi bingung.
Yang satu adalah kakak301 seperguruannya, yang satu adalah suaminya.
Dia tidak bisa membantu salah satu dari mereka.
Dengan ilmu silat yang dia miliki, dia tidak bisa membuat mereka berhenti bertarung.
Karena itu dia hanya bisa menyaksi-kan mereka bertarung.
Rasa laparnya jadi terlupakan.
Xin Jie sudah 3 kali bertarung dengan Jin Qi, dan dia tidak bisa menang.
Dalam hati dia merasa cemas.
Karena begitu lulus dari ajaran gurunya, ini adalah untuk pertama kalinya dia bertarung tapi tidak bisa menang.
Dia merasa hal kecil saja dia tidak sanggup mencapainya, apalagi hal yang lebih besar?
Dia tidak tahu walaupun Tian Mo Jin Qi masih muda tapi dia sangat terkenal di dunia persilatan.
Kong-dong-pai San Jue Jian yang sombong pun takut padanya.
Jika di dunia persilatan ada yang tahu kalau ada orang yang bisa bertarung dengan Tian Mo Jin Qi dan hasilnya adalah seri, mereka akan terkejut hingga meloncat.
Jika bertarung lebih lama lagi, Tian Mo Jin Qi tidak akan kuat.
Karena selama seharian ini dia belum minum atau makan serta istirahat.302 Jin Qi tahu jika dia terus bertarung maka dia akan kalah.
Melihat adik seperguruan tidak bereaksi akan membantunya ataupun membantu Xin Jie, itu sudah dianggap sebagai keuntungannya.
Dia melihat tempat pertarungan mereka, Di tiga arah yang berbeda yang satu adalah tanah luas, yang satu adalah sungai Chang Jiang.
Jika ingin melarikan diri, posisinya sangat sulit karena itu serangannya bertambah cepat dan ganas.
Xin Jie sama sekali tidak berani bertindak ceroboh.
Dia pernah terkena racun Du Jun satu kali, dia merasa takut.
Apalagi Tian Mo Jin Qi adalah murid tertua Jin Yi-peng, dia pasti akan menggunakan racun lagi.
Karena itu dia selalu bersikap waspada jangan-jangan Jin Qi tiba-tiba menggunakan racun.
Xin Jie tidak tahu jika ada racun atau senjata rahasia di tangan Jin Qi, sudah sejak tadi dia menggunakannya.
Ternyata Tian Mo Jin Qi selama berkelana di dunia persilatan, belum pernah bertemu dengan musuh sekuat Xin Jie, dan itu membuatnya menjadi sangat sombong.
Dia tidak pernah membawa atau memakai senjata rahasia.303 Sekarang dia benar-benar merasa menyesal.
Menyesal mengapa dia tidak membawa senjata rahasia ataupun racun.
Tiba-tiba di tengah-tengah sungai ada sebuah perahu datang dengan cepat, berlayar di sungai yang begitu luas dan lebar perahu itu bergerak dengan cepat.
Jin Mei Ling melihat perahu kecil itu berlayar ke arah mereka.
Dalam hati dia merasa sangat takut, karena dia sering mengikuti Du Jun berlayar ke beberapa tempat.
Perahu begitu kecil, tapi kecepatannya begitu tinggi.
Orang yang berada di perahu itu pasti bukan orang biasa.
Perahu berputar-putar di sisi sungai kemudian berhenti di darat.
Ada 3 orang turun dari perahu itu.
Xin Jie dan Jin Qi masih bertarung di sisi sungai.
Mereka adalah para pesilat tangguh dan berkonsentrasi penuh dalam menghadapi lawannya.
Tapi mereka sempat melihat ada beberapa orang yang menghampiri mereka, tapi mereka tidak berhenti bertarung karena takut lawan akan mengambil kesempatan.
Dari perahu turun 2 orang laki-laki304 dan seorang perempuan.
Yang satu adalah seorang pak tua dengan perawakan kurus, yang lainnya adalah anak muda.
Baju mereka terlihat sangat mewah, seperti tuan muda dan nona kaya.
Begitu turun dari perahu, ketiga orang itu berdiri di sisi sungai dan tidak bersuara.
Dari wajah mereka terlihat kalau mereka bertiga terkejut melihat pertarungan yang terjadi antara Xin Jie dan Jin Qi.
Gadis itu berkata kepada pak tua itu dengan suara kecil, tapi pak tua itu hanya menggelengkan kepala.
Suara mereka begitu kecil, tidak jelas apayang mereka bicarakan.
Kedua mata pemuda itu sudah terus menatap Jin Mei Ling.
Sorot matanya menelusuri tubuh Jin Mei Ling.
Walaupun Jin Mei Ling melihat kalau dia adalah seorang pemuda tampan, tapi dia tidak peduli.
Dia hanya menatap lurus ke arah Xin Jie.
Tapi pemuda itu terus menatapnya Hatinya mulai merasa tidak enak, dia berpikir.
"Nanti aku akan menghajarmu."
Dia melihat ketiga orang itu membawa tas terbuat dari kulit rusa. Dalam hati dia berpikir.
"Siapakah mereka?"
Dia mulai305 menaruh curiga, dia terus melihat ketiga orang itu. Pemuda itu sambil tersenyum mendekatinya dan dengan suara kecil berkata.
"Nona Jin, apa kabar?"
Pemuda itu mengetahui marganya, ini benar-benar membuat Jin Mei Ling terkejut.
Sebenarnya dia ingin bertanya mengapa pemuda itu bisa mengetahui marganya, tapi begitu melihat pemuda itu seperti bukan seorang pemuda baik-baik, dia mengurungkan niatnya lalu dia membalikkan tubuh tidak sudi melayaninya.
Pemuda itu tertawa dan berkata.
"Nona Jin ternyata sangat sombong."
Jin Mei Ling marah. Dia berusaha menahan kemarahannya dan bertanya.
"Apa marga Tuan?"
Pemuda itu menyipitkan matanya, setelah itu baru menjawab.
Baru saja akan menjawab terdengar suara bentakan kemudian terasa ada yang bergetar.
Ternyata kedua orang yang sedang bertarung, salah satunya sudah ada yang kalah.
Ternyata jurus Tian Mo Jin Qi semakin lama semakin lihai.
Dia sadar jika hari ini dia tidak bertarung dengan jurus-jurus andalannya, maka hari ini dia tidak306 akan bisa lolos dari kekalahan.
Sedangkan Xin Jie ingin cepat-cepat menyelesaikan pertarungan ini, karena itu jurus telapaknya dicampur dengan jurus pedang terus menyerang dengan gencar.
Tubuhnya terus berputar-putar di sekeliling Jin Qi.
Dia sangat pintar memanfaatkan keadaan.
Melihat jurus Jin Qi semakin ganas, dia tahu kalau Jin Qi tidak mempunyai lagi tenaga untuk bertahan.
Tangan Jin Qi menepuk pundak Xin Jie.
Xin Jie tidak berusaha menghindar malah mengumpulkan seluruh tenaganya di pundak.
Dia sengaja memancing Jin Qi memukul bahunya.
Tian Mo Jin Qi membentak, telapaknya berhasil memukul pundak Xin Jie, tapi di sisi lain dadanya pun terkena pukulan Xin Jie.
Tubuhnya terbang, darah muncrat dari mulutnya, nafasnya terengah-engah.
Xin Jie berhasil mengalahkan musuh kuatnya, tapi pundaknya pun menjadi korban pukulan Jin Qi.
Walaupun nafas Jin Qi terdengar lemah tapi dia telah mempersiapkan semuanya, selain itu tubuhnya terasa mati rasa.
Diam-diam dia menarik nafas.
Cita-citanya yang tinggi307 sudah menipis dan berpikir, 'untuk menang darinya begitu sulit.
Jika aku harus menang dari 'Tian Xia Di Yi Jian' bukankah itu akan lebih sulit lagi?"
Jin Mei Ling melihat tubuh Xin Jie tidak seimbang, dia berteriak mendekatinya lalu segera memapah. Dengan pelan dia bertanya.
"Apakah kau terluka berat?"
Pemuda berbaju mewah itu melihat Jin Mei Ling begitu dekat dan perhatian kepada Xin Jie. Dia tertawa sinis dan berkata.
"Bocah ini ingin sekalian diantar menuju dewa kematian."
Tangannya masuk ke dalam tas. Dia mengeluarkan sebuah sarung tangan yang terbuat dari kulit rusa lalu dia pun memasangnya di tangan kiri. Dia tertawa kepada Jin Mei Ling.
"Sekarang apakah Nona sudah tahu siapa aku?"
Tangannya melayang.
Dia meletakkan tangan yang telah terpasang sarung itu di depan Jin Mei Ling.
Pertarungan sengit sudah usai.
Xin Jie melihat orang-orang yang ada di depannya.
Dalam hati dia masih bertanya-tanya identitas dari orang-orang itu.
Sekarang melihat pemuda itu mendekati Jin Mei Ling sambil tertawa, dia berpikir,308
"Apakah orang-orang itu berselisih dengan ayah dan anak ini?"
Melihat sarung tangan yang dipakai pemuda itu, wajah Jin Mei Ling tampak berubah.
Gadis itu dan pak tua kurus pelan-pelan mendekati mereka.
Mereka tidak melihat Jin Mei Ling, keempat mata terus menatap Xin Jie.
Xin Jie melihat ketiga orang itu tampak sangat misterius.
Baca Juga: Rahasia Hiolo Kumala Gu Long
Baca Juga: Imbauan Pendekar 4