Eps 5 Kisah Bangsa Petualang - Liang Ie Shen
Baca online Kisah Bangsa Petualang - Liang Ie Shen
Cersil Kisah Bangsa Petualang - Liang Ie Shen.
Ia melihat lengannya, di situ ada tiga titik merah, darah yang keluar dari lukadi kulit.
"Sayang! Sayang!"
Kata Mo Lek berulang-ulang Ia tidak tahu Leng Song berbuat baik, kalau tidak, lengan Yan Ie mestinya sudah buntung. Melihat semua kejadian itu, Kie Tie tertawa dan kata.
"Tie Lotoa, semua sahabatku mau pergi, tak enak kalau ketinggalan cuma kita berdua, dari itu maaf, aku pun tak dapat menemani kau lebih lama pula!"
Habis berkata, ia memutar tubuhnya, tepat ia dapat menolak dua penjahat yang mau mengepung padanya, hingga mereka itu berdua mental ke depan Tie Swie.
Menyaksikan demikian, Tie Swie lantas menyambar kedua orang itu yang terpelanting ke arahnya.
Ia mencekal keras sampai mereka menjerit-jerit seperti dua ekor babi berkuwingkuwing!
Bukan main mendongkolnya ia, lekas-lekas ia melepaskan cekalannya, niatnya menyusul lawannya.
Akan tetapi waktu itu Ciu-kay si Pengemis Pengarakan sudah berkumpul bersama Han Tam semua, berlalu dari medan pertempuran itu.
Ong Pek Thong menyesal bukan main.
Ia pun malu.
Diluar dugaannya, rahasia sekongkolannya dengan An Lok San telah dibeber di muka umum.
Di antara para hadirin ada tetamutetamu yang.
bukan konconya.
Karena ini, dari para tetamu itu, tujuh atau delapan bagian sudah lantas bubar, sedang dari konconya sendiri ada separuh yang hatinya telah berubah.
Orang tak setuju dia bekerja sama pihak pembesar negeri.
Mendapat kenyataan musuh demikian tangguh, Pek Thong dan Ceng Ceng Jie juga tidak berani mengejar, mereka cuma bisa berseru-seru beraksi saja...
-ooo0dw0ooo-Rombongannya Sin Thian Hiong telah lekas meninggalkan Liong Bin Kok.
Han Tam tertawa sendirinya setelah menyaksikan tak ada musuh yang mengejar.
"Dengan pertempuran ini kita tidak memperoleh kemenangan tetapi dengan begini kita berhasil memberi pukulan kepada Ong Pek Thong! Mereka menjadi renggang satu dengan lain dan kaum Rimba Hijau pun tak bakal kena lagi didustai mereka!"
Selagi begitu, Kie Swie menghampirkan Hee Leng Song, ia memandang si nona dengan teliti, ia mengeleng-gelengkan kepalanya. Lalu katanya sangat kagum.
"Sungguh seorang nona yang elok! Sungguh mirip dengan Leng Liehiap di jamannya liehiap itu!"
Kie Tie mengasih turun buli-bulinya, ia gelogoki itu ke mulutnya, untuk menenggak air kata-katanya, habis itu ia kata.
"Akulah yang dipanggil Ciu-kay Kie Tie! Nona Hee tentunya pernah mendengar ibumu menyebut-nyebut aku...!"
"Belum pernah..."
Sahut si nona.
Pengemis itu ketemu barunya, hingga ia melengak.
Lantas ia tertawa.
Mulutnya sudah berkelemik, hendak mengatakan sesuatu tetapi batal.
Sebagai gantinya, untuk menutupi malu, ia tertawa.
Lam Ce In hendak mencegah kejengahan, ia lantas berkata.
"Nona Hee, kau telah membantu banyak kepada kami, untuk itu aku menghaturkan diperbanyak terima kasih!"
"Kau aneh!"
Kata si nona.
"Kenapa kau repot dengan ucapan terima kasihmu? Kau telah mengantar melindungi Paman Toanku, untuk itu aku belum menghaturkan terima kasih padamu!"
Inilah jawaban yang tidak disangka-sangka Ce In.
Ia seperti ketemu pakunya.
Ia jengah.
Itulah rasa pahit-pahit manis!
Benar Leng Song telah menegur padanya tetapi teguran itu menyatakan tegas si nona telah memandangnya sebagai orang sendiri...
"Mo Lek,"
Kemudian Nona Hee tanya si anak muda.
"Kau' bilang Paman Toan mau pergi ke kelenting Ceng Hie Koan di gunung Giok Sie San, kota Liang-ciu, sebenarnya untuk apakah itu?"
Mo Lek telah menerangkan apa yang terjadi di gunung Hui Houw San, maka ia menambahkan.
"Mereka diundang oleh Khong Khong Jie yang hendak membayar pulang anak mereka."
"Oh, kiranya begitu!"
Kata si nona.
"Kalau begitu, dibandingkan dengan adik seperguruannya, Khong Khong Jie masih boleh dibilang bukannya seorang busuk!"
Han Tam campur bicara, ia kata.
"Selama beberapa tahun ini aku belum pernah ketemu dengan Khong Khong Jie akan tetapi aku menaruh perhatian terhadap sepak terjangnya, aku mendapat kenyataan dia cuma rada berandalan, yaitu dia suka menemui lawan yang setimpal dan karena namanya menjadi terkenal, dia juga tak luput dari kejumawaan, akan tetapi dia belum pernah melakukan kejahatan. Kali ini perbuatannya itu disebabkan dia kena dipedayakan Ong Pek Thong ayah dan anak."
Mendengar disebutnya nama Ong Pek Thong dan anak itu, Leng Song berduka, dia lantas runduk dan tak berkata suatu apa lagi.
"Nona Hee,"
Ce In bertanya.
"Sukakah nona mengasih keterangan bagaimana caranya maka dahulu hari nona dapat berkenalan dengan ayah dan anak itu?"
"Tentang itu tidak ada yang aneh!"
Sahut si nona.
"Kita bertemu di tengah jalan! Adalah umum orang Kang Ouw biasa merantau dan umum juga kita bertemu dengan orang-orang yang tidak dikenal. Tentu sekali aku tidak tahu bahwa merekalah berandal-berandal Rimba Hijau!"
Kembali Ce In "menemui pakunya".
Kembali ia merasa pahitpahit manis.
Sebagai orang yang berpengalaman, dapat ia menerka bahwa tadinya Leng Song berkesan baik terhadap Ong Liong Kek, bahwa mungkin ada terselip urusan asmara.
Hanya sekarang sirnalah sang asap dan buyarlah sang mega...
"Nona Hee,"
Berkata Han Tam.
"Rumahku terpisah dari sini cuma tiga puluh lie, bagaimana jikalau aku minta nona suka mampir padaku untuk beristirahat?"
"Terima kasih, Han Lo-cianpwe,"
Menyahut si nona.
"Aku telah mempunyai janji dengan Toan Tayhiap untuk menjenguknya di gunung Hui Houw San, lantaran ada suatu urusan, aku telah terlambat beberapa hari. diluar dugaan, Toan Tayhiap telah mendapatkan peristiwanya itu, sekarang setelah aku ketahui di mana beradanya ia, hendak aku lekas menyusulnya ke Giok Sie San!"
Habis berkata, Nona Hee bersiul nyaring dan panjang.
Atas itu segera terlihat seekor kuda putih lari keluar dari dalam hutan, untuk menghampirkan si nona.
Kuda itu dapat lari keras.
Tiat Mo Lek kagum, dia kata.
"Kuda ini dilihatnya tidak menarik perhatian, siapa tahu dia nyata jauh terlebih baik daripada kuda merah miliknya ayahku dahulu hari!"
Leng Song sudah lantas lompat naik atas kudanya, dengan merangkap kedua tangannya kepada orang banyak ia meminta diri, guna segera berangkat menyusul Toan Kui Ciang.
"Nona Hee,"
Kata Ce In tiba-tiba.
"Aku hendak bicara lagi sedikit..."
"Apakah itu?"
Tanya si nona singkat.
"Mengenai urusan dengan Hong-hu Siong itu,"
Kata Lam Pat.
"Sepulangnya aku, akan aku minta keterangan pada guruku, mungkin aku akan memperoleh penjelasan, mungkin nanti aku dapat membantu kau mencari padanya, dari itu tolong nona meninggalkan alamatmu."
"Arah kepergianku sukar ditentukan,"
Sahut si nona.
"Aku pikir lebih mudah untuk aku yang mencari kau. Maka itu baiklah setelah aku bertemu dengan Paman Toan, akan aku turut paman pergi ke Thay-goan guna mencari kau di sana!"
Ce In setuju, bahkan ia gembira sekali.
"Baik!"
Sahutnya.
"Baik, aku nanti menunggui kau di gedungnya Kwe Thaysiu di kota Kiu-goan."
Nona Hee sudah lantas mengeprak kudanya lari, hingga Ce In mesti mengawasi kepergiannya itu.
"Paman Lam!"
Mo Lek menegur.
"Orang telah pergi jauh! Kelihatannya paman masih hendak membicarakan sesuatu dengannya, kenapa paman tidak mau lekas-lekas memanggilnya? Sekarang sudah tak keburu lagi, maka mari kita pun berangkat."
Mukanya Ce In menjadi merah.
"Setan cilik, mulut jahil!"
Tegurnya secara bergurau.
"Urusan dengan Hong-hu Siong?"
Kata Kie Tie tiba-tiba.
"Bukankah nona itu hendak menuntut balas terhadap Hong-hu Siong?"
"Benar,"
Sahut Mo Lek.
"Hanya urusan itu masih menjadi persoalan. Hong-hu Siong bilang bukannya dia yang membunuh tetetapi Toan Siokhu menyebut dia..."
"Tunggu dulu, tunggu dulu!"
Kata Kie Tie pula.
"Dia hendak menuntut balas untuk siapa? Apakah buat ibunya?"
Ce In heran hingga ia mengawasi jago tua itu.
"Mungkinkah lo-cianpwe ketahui perkara itu?"
Ia tanya.
"Nona itu tidak membilang dia mau melakukan pembalasan untuk ibunya, dia hanya bilang dia menerima perintah ibunya untuk menyingkirkan satu orang yang berbahaya untuk dunia Kang Ouw. Menurut Toan Tayhiap, di malam pernikahan mereka, kemanten laki-laki yang terbinasa di tangan Hong-hu Siong ialah Hee Seng To yang menjadi ayahnya si nona. Hanya tak jelas hubungan perkara itu dengan keluarga si nona lantaran si nona sendiri tak tahu duduknya hal. Mendengar keterangan beberapa pihak, cuma-cuma aku menjadi tambah pusing dibuatnya. Lo-cianpwe suka memberi penjelasan kepada kami semua?"
Kie Tie melirik orang she Lam itu, lantas dia tertawa.
"Ehem, kau nampaknya sangat memperhatikan si nona!"
Katanya. Lalu dia menggeleng kepala. Tapi hanya sebentar, ia tertawa pula. Lantas dia berkata lagi, menyambungi.
"Sekarang belum tiba saatnya untuk bicara! Meski demikian, dapat aku menolongi kau melakukan sesuatu..."
Ce In heran hingga kembali ia berdiam saja.
"Ada urusan apakah dari aku maka dia mau mewakilkan mengurusnya?"
Ia tanya hati kecilnya. Kie Tie cuma berhenti sebentar, segera dia berkata pula.
"Apa yang kau pikir dalam hatimu, yang kau belum ucapkan, aku telah mengetahuinya! Kau jangan kuatir akan aku menjadi comblangmu! Umpama kata dia tidak menggubris aku si pengemis bau, akan aku cari si Toan kecil untuk ia membantu aku berbicara dengannya!"
Muka Lam Ce In menjadi merah karena likat.
"Lo-cianpwe bergurau!"
Katanya.
"Siapa bilang aku bergurau?"
Kata jago tua itu, romannya sungguh-sungguh.
"Sekarang juga aku akan pergi! Baiklah aku omong terus terang pada kau! Dengan datang ke lembang Liong Bin Kok, aku sengaja hendak menantikan Nona Hee itu, cuma ia nampaknya sebal terhadap aku si pengemis bangkotan! Baiklah, sekarang aku mau pergi mencarikan dia seorang suami yang cocok dengan rasa hatinya, aku percaya kemudian dia bakal menjadi suka terhadapku!"
Benar-benar jago tua ini lantas berlari pergi.
"Kie Lojie!"
Han Tam berseru.
"Kalau kau tiba di Giok Sie San dan bertemu dengan Khong Khong Jie, kau beritahukan dia halnya Ong Pek Thong sudah berkongkol dengan An Lok San, andaikata dia tidak percaya pembilanganmu, bilangi dia bahwa itulah kata-kataku!"
"Aku mengerti!"
Berkata Kie Tie, yang masih sempat menjawab.
"Hayo, tak dapat aku berayal lagi, nanti tak keburu aku menyusul dia!"
Seperginya pengemis itu, Han Tam berkata kepada kawankawannya.
"Diantara tiga pengemis aneh dalam dunia Sungai Telaga, Hong-kay We Wat si edan membenci kejahatan seperti dia membenci musuhnya, kalau dia turun tangan, dia agak telengas. See-gak Sin Liong Hong-hu Siong adalah yang sepak terjangnya rada aneh, dia separuh lurus dan separuh sesat, sulit untuk memastikannya. Tentang ini pengemis tukang tenggak susu macan, Ciu-kay Kie Tie, walaupun dia berandalan, dia paling rajin dan bersungguh-sungguh, gemar sekali dia membantu atau menolong orang. Di antara orang-orang tiga agama dan enam golongan, dia mempunyai sahabatsahabatnya. Dia cuma mempunyai suatu cacad, ialah hatinya terlalu lemah, kalau dia bukan bertemu dengan orang sangat jahat, tak mudah dia menjadi gusar, maka juga di antara sahabat-sahabatnya, selain orang baik-baik ada juga orang buruk."
"Barusan dia tidak sudi bicara, mungkinkah itu disebabkan dia hendak menutupi keburukannya Hong-hu Siong?"
Ce In tanya.
"Aku kira itulah tak mungkin,"
Menjawab Han Tam.
"Umpama kata benar Hong-hu Siong melakukan perbuatan semacam itu, tidak nanti We Wat berdiam saja. We Wat menjadi sahabatnya dua orang she Leng dan Hee itu, pastilah dia sudah bekerja sama menyingkirkan Hong-hu Siong dari ini dunia! Memang, perkara darah itu pernah menyebabkan kegemparan Rimba Persilatan dan pernah beberapa orang gagah membantui Keluarga Hee mencari tahu si pembunuh! Aku tidak nyana sampai sekarang, sudah berselang dua puluh tahun, perkara itu masih tetap gelap!"
"Ayah,"
Berkata Han Cie Hun.
"Setelah peristiwa di Liong Bin Kok ini, aku rasa kita tak dapat tinggal dengan aman lagi di tempat kita ini, maka itu aku pikir baiklah kita pergi ke Giok Sie San..."
Han Tam tertawa.
"Aku tahu kau memang ingin pergi ke sana untuk turut dalam keramaian!"
Katanya.
"Benar, ayah!"
Sahut si nona. ."tapi kepergian kita akan ada baiknya. Umpama kata terjadi bentrokan pula di antara Khong Khong Jie dan Toan Tayhiap, ayah dapat datang sama tengah untuk berusaha mendamaikannya."
"Jikalau kau menduga demikian, kau pasti akan kecele!"
Kata ayah itu.
"Khong Khong Jie telah memberikan janjinya akan membayar pulang anak orang, mana bisa terjadi mereka kedua belah pihak berkelahi pula? "Apakah ayah tidak kuatir suteenya, Ceng Ceng Jie, nanti main gila, mengacau diantaranya?"
Tanya pula si anak dara.
"Aku pernah pikir kemungkinan itu,"
Han Tam menjawab.
"Akan tetapi Kie Tie sudah berangkat ke sana, seandainya Ceng Ceng Jie mau main gila, Kie Tie bakal tiba terlebih dahulu, dia akan menyampaikan pesanku, maka itu, meskipun benar Khong Khong Jie tidak mempercayai Kie Tie sendiri, dia mesti percaya aku."
Ia hening sejenak, terus ia menambahkan.
"Apa yang aku buat kuatir ialah mereka itu bakal tak melepaskan pada Lam Tayhiap serta Tiat Siauw-cecu. Maka itu aku pikir baiklah kita berangkat terus malam ini, untuk mengantarkan mereka ke Hoay-yang, kemudian bersama Lam Tayhiap kita pergi ke Kiugoan untuk menemui Kwe Leng-kong, guna membeber sekongkolan di antara Ong Pek Thong dengan An Lok san, supaya Kwe Leng-kong dapat mengatur persiagaan. Aku mau menduga, Khong Khong Jie dan Lam Tayhiap mungkin dari musuh akan berbalik menjadi sahabat-sahabat satu dengan lain, hingga kemudian dia akan suka pergi ke Kiu-goan."
Ce In dan Mo Lek girang sekali mendengar perkataannya jago tua she Han itu.
Lebih girang pula Tiat Mo Lek meski kegirangannya itu disimpan di dalam hatinya.
Ia ternyata sangat suka bergaul dengan Han Cie Hun, yang usianya sepantaran.
Sejak berkenalan, mereka merasa sangat cocok satu dengan lain, hingga tak suka ia berpisahan...
-o0dw0o-Hee Leng Song tengah mengaburkan kuda putihnya ketika dengan tiba-tiba ia mendengar suara memanggil di sebelah belakangnya.
"Nona Hee, tunggu sebentar! Aku si pengemis tua hendak ada bicara denganmu!"
Ia lantas menoleh dan melihat si pengemis tukang mabuk.
Dengan di punggungnya tergendol buli-bulinya yang besar, pengemis itu bernapas mengorong, meski demikian, dengan lekas dia sudah menyandak.
Ia menjadi heran, ia mengawasi terus.
"Kudaku lari keras sekali, kenapa pengemis tua ini dapat menyusul aku?"
Ia kata di dalam hati.
"Dengan begini bukankah ternyata dalam ilmu ringan tubuh dia melebihkan Khong Khong Jie?"
Nona itu berpikir demikian tanpa ia ketahui, meski benar barusan dia telah mengambil jalan memotong, sebab dia kenal baik keadaan tempat yang dilalui ini.
Leng Song tidak puas.
Ia sebal untuk orang punya bau arak.
"Ada urusan apa Kie Lo-cianpwe?"
Ia tanya terpaksa.
"Kabarnya nona mau pergi membunuh See-gak Sin Liong Hong-hu Siong, benarkan itu?"
Kie Tie tanya langsung.
"Benar!"
Jawab Leng Song, terus terang.
"Dia telah melakukan banyak kejahatan, maka aku menerima perintah ibuku untuk menolong dunia Kang Ouw menyingkirkan ancaman malapetaka!"
"Hong-hu Siong tidak dapat dibinasakan!"
Kata Kie Tie. Kembali Leng Song heran.
"Kenapa tak dapat?"
Ia tanya.
"Tuduhan ibumu bahwa dia telah melakukan perbuatanperbuatan busuk itu, tak ada satu jua yang benar-benar dilakukan tangannya sendiri!"
Nona Hee menjadi gusar, hingga ia melupakan ia lagi berhadapan dengan seorang lo-cianpwe, yang martabatnya jauh terlebih tinggi.
"Ngaco!"
Ia membentak.
"Menurut kau, mustahilkan ibuku mendusta?"
"Ibumu juga bukannya mendusta,"
Kata Kie Tie. Ia tidak menjadi tidak senang.
"Didalam urusan kamu ini telah terbit salah faham! Musuhnya ibumu bukannya dia!"
"Memang juga ibuku sendiri tak langsung bermusuh dengannya!"
Kata Leng Song.
"Sebenarnya dia telah mencelakai bukan sedikit orang, maka juga ibu berniat mesti membunuhnya! Aku lihat, yang salah mengerti ialah kau!"
"Keliru! Keliru! Keliru...!"
Kata Kie Tie berulang-ulang. Leng Song heran, ia mengawasi. Ia melihat sikap orang luar biasa sekali.
"Kenapa keliru?"
Ia menegaskan. Si pengemis tukang tenggak susu macan menghela napas.
"Ah...!"
Katanya.
"Soal ini tak dapat aku bicara jelas denganmu. Sekarang ini di mana adanya ibumu? Hendak aku bicara sendiri dengannya!"
"Ibuku tak menemui orang luar!"
Jawab si nona tawar.
"Kalau kau mau bicara, bicara saja dengan aku!"
Kie Tie mengerutkan kening. Ia bersangsi.
"Jikalau kau tidak suka bicara padaku, ya sudah!"
Kata Leng Song.
"Nah, aku hendak lekas-lekas melanjuti perjalananku!"
Nona ini menarik tali les kudanya atas mana si kuda putih menggeraki keempat kakinya.
"Baiklah!"
Kie Tie berkata, nyaring.
"Baik, akan aku bicara denganmu!"
Leng Song menahan pula kudanya. Dengan sikap ogahogahan atau tak sabaran, ia berpaling.
"Kau bicaralah!"
Katanya.
"Dapat aku mendengar, tak usah kau bicara keras-keras!"
Kie Tie mengawasi, dia kata.
"Hong-hu Siong tidak ada sangkut pautnya dengan peristiwa berdarah itu, orang yang berlaku tak selayaknya terhadap ibumu itu ialah seorang lainnya. Dia..."
"Bagaimana?"
Leng Song menyelak, tak sabaran.
"Dia itu, walaupun dia berhati tak lurus, dia tak dapat dibunuh olehmu!"
Nona Hee tertawa tawar.
"Benar-benar aku tidak mengerti apa maksud kata-katamu itu!"
Katanya.
"Bagus benar! Hong-hu Siong itu orang baik, dia tak dibunuh! Lalu itu orang lainnya, dia orang jahat, tetapi dia tak dibunuh juga! Bagaimana aneh perkataan kau ini? Sudahlah, tak usah kau bicara lebih jauh! Aku tahu kau dengan Hong-hu Siong satu komplotan!"
Kie Tie sabar sekali.
"Tak dapatkan kau mendengari lagi satu perkataanku?"
Dia tanya. Mendadak jago tua ini mencelat ke depan hingga tahu-tahu dia sudah menyambar buntut kuda si nona. Sambil menarik binatang tunggangan itu dia menanya.
"Tahukah kau, nona, kau she apa? Kau bukannya she Hee dan ayahmu juga bukannya Hee Seng To!"
Leng Song gusar sekali, hingga ia sudah lantas menghunus pedangnya.
"Angin busuk!"
Ia membentak sengit.
"Jikalau kau mau main gila, pergilah ke lain tempat, tak dapat aku mendengar suaramu yang bau busuk!"
Perkataan itu ditutup dengan serangan pedang yang cepat sekali.
Kie Tie tidak mau melayani, ia melepaskan cekalannya sambil ia berlompat mundur.
Justeru orang menyingkir, si nona mengeprak kudanya untuk dikasih kabur.
Selang tak lama, ia sudah lari jauhnya belasan lie karena kudanya itu lari sangat pesat.
Ia mendongkol dan gusar, tetapi ia pun heran hingga timbul keragu-raguannya.
"Dia mabuk arak tetapi dia tak mabuk hingga lupa daratan,"
Ia berpikir.
"Mustahilkan jauh-jauh dia menyusul aku cuma untuk mengasih dengar ocehan belaka? Mungkinkah dia bermaksud benar-benar? Ah, tak mungkin... Setiap orang mengatakan romanku mirip dengan ibuku, maka itu kenapa aku bukannya anak ibuku itu? Ibu mempunyai cuma seorang suami, kenapa ayahku bukannya Hee Seng To? Hm! Tak perduli si pengemis bau cuma ngaco belo, dia tetap sudah menghina ibuku!"
Meski demikian, walaupun ia menyangsikan Kie Tie, Nona Hee tetap bersangsi. Maka lekas-lekas ia mengambil keputusan.
"Toan Tayhiap menjadi sahabat kekal ibuku, baik aku tunggu sampai aku bertemu dengannya, nanti aku sampaikan padanya kata-kata si pengemis edan ini, hendak aku lihat apa kata tayhiap..."
Karena itu, Leng Song mesti menyusul Toan Kui Ciang dan Touw Sian Nio, suami isteri itu yang pikirannya sedang terganggu soal keselamatan anak mereka.
Mereka melakukan perjalanan terus menerus, tak siang tak malam.
Maka pada suatu hari tibalah mereka di kaki gunung Giok Sie San.
Dengan Lantas Sian Nio diganggu oleh kesangsiannya.
Khong Khong Jie menjadi musuh besar keluarganya -Keluarga Touw -sekarang dia hendak pergi kepada musuh itu untuk minta pulang anaknya!
Ia merasa malu dan likat, sedang juga, hatinya diliputi kedukaan dan kemarahan besar.
Kui Ciang dapat mengerti pikiran sang isteri, di tengah jalan ia sudah mengasih penjelasan dan hiburan, belum dapat ia membikin lega hati isterinya itu.
Demikian mereka membuat perjalanan, sampai mereka tiba di gunung Giok Sie San.
Gunung itu tinggi dan penuh salju, yang tak putusnya, hingga dipandang dari jauh, puncaknya yang putih mirip sebuah tiang kemala yang menjulang menembusi mega.
Pula jalanan mendaki gunung sukar sekali, banyak batunya yang besar dan luar biasa bentuknya.
Dari mulut gunung terlihat sebuah selat dan lembah yang panjang, tak nampak ujungnya.
Penglihatan selat itu menyeramkan.
"Engko,"
Kata Sian Nio, yang timbul kecurigaannya.
"Kalau Khong Khong Jie mengandung maksud buruk, dan dengan jalan ini dia menjebak kita ke dalam perangkapnya, pasti kita bisa celaka tanpa ada yang ketahui...!"
"Kau terlalu bercuriga, adikku,"
Kata Kui Ciang, menghibur.
"Khong Khong Jie terlebih liehay daripada kita, jikalau benar dia berniat membikin kita mati, buat apa dia memilih jalan ini?"
"Tapi,"
Kata si isteri, yang kecurigaannya tak mudah lenyap.
"Tapi ingat gunung Giok Sie San ini terpisah jauh delapan ratus lie dari gunung Hui Houw San, kenapa dia bukan ambil tempat yang dekat hanya memilih tempat jauh ini guna menyembunyikan anak kita?"
Pertanyaan ini benar dan Kui Ciang juga tak mengerti, akan tetapi guna membujuki isterinya, ia menjawab.
"Mungkin dia mau pertontonkan ilmu ringan tubuhnya, supaya dia dapat menaklukkan kita..."
Khong Khong Jie itu, habis menculik anaknya Kui Ciang, lantas di hari keduanya, lewat tengah hari, berangkat ke Hui Houw San dimana cfia mengajukan tantangannya.
Maka itu, kalau benar dia telah pergi ke Giok Sie San, hingga dia mesti melakukan perjalanan pergi pulang demikian cepat, sungguh ilmu ringan tubuhnya luar biasa sekali.
Touw Sian Nio menggeleng kepala.
"Aku tidak percaya dia di dalam tempo satu malam dan satu hari dapat melakukan perjalanan seribu lie lebih!"
Katanya.
"Aku lebih percaya kalau dia cuma memancing kita datang ke mari!"
"Kalau tidak demikian, mungkin gunung inilah rumahnya,"
Kui Ciang membujuk pula.
"Boleh jadi sekali dia tidak percaya Ong Pek Thong maka dia kirim orangnya membawa anak kita pulang ke rumahnya ini, untuk disembunyikan di sini."
"Begitulah kau percaya Khong Khong Jie?"
Sang isteri tanya.
"Kita sudah sampai di sini, kita percaya atau tidak kesudahannya sama saja!"
Kata sang suami.
"Apa daya sekarang? Aku percaya kita dapat naik ke atas puncak dalam tempo setengah harian. Mari kita naik terus, sampai di atas baru kita lihat, nanti kita mandapat tahu segala apa!"
"Sebenarnya aku tidak tahu Giok Sie San begini jauh,"
Kata Sian Nio ragu-ragu.
"Maka juga selama di sepanjang jalan, makin lama kecurigaanku makin besar. Aku lihat, pastilah perjalanan kita ini perjalanan sia-sia belaka. Taruh kata benar Khong Khong Jie tidak berniat mencelakai kita, sedikitnya dia pasti sengaja hendak mempermainkannya!"
"Adik Sian,"
Kata sang suami, sabar.
"Aku minta janganlah kau pandang segala urusan dari sudut buruknya..."
Belum berhenti kata-kata Kui Ciang atau mereka segera mendengar suara yang menggelegar keras, hingga mereka terkejut dan lantas mengangkat kepala, melihat ke atas.
Untuk kagetnya mereka, mereka mendapatkan sebuah batu besar lagi menggelinding turun ke arah mereka.
Dengan lantas mereka lompat berkelit.
Mulanya tayhiap itu sangka itu hanya batu yang menggelinding secara kebetulan saja, tak tahunya, habis itu, lantas terdengar suara lainnya, lantas mereka melihat jatuhnya beberapa batu lain saling susul!
"Ada orang di atas!"
Sian Nio berseru. Benarlah Nyonya Toan ini. Ketika beberapa buah batu itu jatuh terus tanpa meminta korban, di atas gunung terlihat munculnya beberapa orang.
"Telur tolol!"
Berteriak seorang diantaranya.
"Siapa suruh kamu datang sendiri masuk dalam jaring perangkap? Kamu sudah memasuki tempat kematian, apakah kamu masih memikir buart hidup lebih lama pula?"
Toan Kui Ciang jadi sangat gusar, maka ia lantas berteriak.
"Khong Khong Jie! Aku menganggap kaulah seorang laki-laki sejati, tak tahunya kau begini hina dina! Marilah kau perlihatkan dirimu!"
Dari atas itu terdengar ejekan.
"Untuk membereskan kamu dua butir telur apa kami membutuhkan bantuan Khong Khong Jie?"
Kata-kata itu diiring dengan tertawa dingin. Kui Ciang menduga orang ialah orang suruhannya Khong Khong Jie, maka dalam murkanya ia tertawa dingin dan kata.
"Sungguh tidak tahu malu yang kamu menggunai ini cara sangat rendah! Apa perlunya kau menyembunyikan diri?"
Sian Nio sangat mendongkol.
"Buat apa melayani segala manusia hina itu?"
Kata dia.
"Mari kita menghajarnya!"
Lantas sang nyonya ini menggunai biang panahnya, untuk menyerang dengan pelurunya!
Rombongan itu berada di atas gunung yang tinggi, maka itu, peluru panahnya Sian Nio mesti menyerang jauh sekali.
Sebaliknya mereka itu dari tempat terlebih tinggi, leluasa menyerang dengan butir-butir batunya, yang turunnya gencar.
Sian Nio gusar sekali, ia berlompat.
Akan tetapi ia segera ditarik Kui Ciang, suaminya.
Ketika itu sebuah batu besar jatuh secara hebat, hampir mengenai nyonya itu.
Ketika jatuh di kobakan dengan suara sangat berisik, lumpur pun muncrat berhamburan, hingga suami isteri itu tak luput.
"Sungguh berbahaya!"
Kata Sian Nio, yang mengeluarkan keringat dingin.
"Aku yang menyebabkan kesulitan kau ini..."
Kata Kui Ciang, menyesal.
"Inilah lantaran aku terlalu percaya orang!"
Sian Nio menggertak gigi.
"Sudah kepalang, mari kita maju terus!"
Kata isteri yang setia itu.
"Tak perduli kita menghadapi bahaya!"
Kui Ciang mengiringi isterinya itu, maka dengan tak menghiraukan serangan batu, mereka maju bersama.
Di tanjakan gunung, tumpukan salju terkena getaran, selagi angin keras sekali, getaran membuatnya pecah melekah, lalu jatuh runtuh, meluruk merupakan kepingan-kepingan es yang besar.
Hebatnya itu tak kalah dengan jatuhnya butiran-butiran batu.
Kui Ciang mendapat beberapa luka lecet karena ia selalu melindungi isterinya.
Syukur itu tidak membahayakan.
Terpaksa ia ajak isterinya itu bersembunyi di tempat yang gerohong.
Ini berbahaya.
Musuh melihatnya dan mengincar dengan timpukan batu ke arah mereka.
Beberapa buah batu hampir mengenai.
Mereka menjadi letih, karena beberapa batu, yang menimpa ke arah mereka, mesti disampok mental.
"Syukur belum gempa salju..."
Kata Kui Ciang.
"Hanya..."
Ia berhenti sebentar, ia mendongkol sekali.
"Sungguh menyebalkan! Apakah benar kita mesti membuang jiwa di sini?"
Memang, kalau sampai gempa salju, pasti akan jatuh meluruk ke bawah, salju tentu akan mengurung segala gerohong atau tempat rendah.
Dengan begitu, mana dapat mereka melawan salju?
Touw Sian Nio tertawa meringis, katanya.
"Kita sudah menjadi suami isteri sepuluh tahun, kalau aku dapat mati bersama-sama berbareng di dalam satu hari, satu bulan dan satu tahun, akan aku mati tanpa penasaran...!"
Selagi berlindung itu, Kui Ciang mendapatkan serangan batu mulai tak gencar lagi.
"Kelihatannya kita belum boleh putus asa,"
Kata ia.
"Mari kita keluar, untuk melihat. Tak dapat kita manda binasa tanpa berdaya..."
Baru saja suami isteri ini keluar dari tempatnya berlindung, telinga mereka lantas mendapat dengar suara hirup pikuk di atas gunung, Mereka lantas dongak, hingga mereka melihat orang seorang perempuan tengah menyerang kalang kabutan pada musuh.
Segera mereka memburu najk.
"Nona Hee di sana?"
Kui Ciang berteriak menanya.
"Toan Peehu di sana?"
Ada jawaban wanita di atas itu.
"Lekas naik, marilah kita menyerang musuh!"
Kui Ciang menjadi bersemangat.
"Mari!"
Ia mengajak isterinya.
Hee Leng Song melihat suami isteri itu bagaikan terkurung, ia lantas mendaki dari lain arah, ia tiba di atas tanpa rintangan, maka itu dapat ia lantas menyerang musuh, hingga mereka itu tak dapat terus menghujani Kui Ciang berdua dengan batu.
Itulah yang membikin hujan batu berkurang.
Sian Nio mendaki cepat, begitu berada di atas, dengan pelurunya ia menyerang seorang musuh di depan Leng Song.
Tak ampun lagi, musuh itu terhajar jitu dan roboh.
Membarengi itu.
Nona Hee menikam terguling satu musuh lainnya.
Dengan naiknya Nyonya Toan, musuh menjadi terkepung dari dua jurusan.
Kui Ciang pun sudah lantas menyusul isterinya.
Seorang kepala bandit lantas berteriak-teriak dengan katakata rahasianya, mengisyaratkan ada bahaya.
Sian Nio menyerang terus, hingga lagi beberapa penjahat pecah kepalanya.
Menampak demikian, Kui Ciang teriaki isterinya.
"Hajar saja jalan darah tiauw-hoan! Kita membutuhkan mulut yang hidup!"
Dengan tiga butir pelurunya, Sian Nio mengincar tiga kepala penjahat.
Dengan beruntun semua pelurunya itu meluncur ke arah sasarannya masing-masing.
Seorang penjahat melihat bahaya, ia bisa menolong dirinya dengan jalan menangkis, tetapi dua kawannya, yang di kiri dan kanannya, menjadi kurban.
Yang satu terhajar lengannya, yang lain kakinya, tepat jalan darah tian-hoan di pahanya menjadi sasaran, tanpa ampun dia roboh seketika.
Si kepala penjahat cerdik, ia lantas menendang kawannya yang terluka itu hingga terguling ke bawah, ia sendiri menyusul dengan menjatuhkan diri, buat bergelindingan turun.
Ia menjadi nekad hingga ia tak menghiraukan bahaya lagi.
Contoh kepala penjahat itu contoh bagus, ia lantas ditelad oleh kawanan berandal, semua lantas lari ke pinggiran, untuk pada menjatuhkan diri, hingga Leng Song tak dapat mengejar pada mereka itu.
Baru saja musuh kabur, atau Kui Ciang berteriak.
"Celaka! Salju gempal!"
Inilah sebab ia merasa kakinya bergerak tidak keruannya, yang mana disusul dengan suatu bunyi dahsyat.
Tapi sambil berteriak itu, ia lompat ke atas, untuk lari naik.
Sian Nio sudah lantas berlari naik juga.
Dafi atas salju meluruk ke bawah.
Itulah hebat yang kawanan penjahat, yang tak keburu menyingkir lebih jauh.
Maka mereka itu, satu demi satu, kena teruruk, hingga terdengar saja jeritan menyayati hati dari mereka.
"Sayang, sayang..."
Kata Kui Ciang, yang hatinya pun terharu, sebab tak tega ia mendengar jeritan itu, walau pun itulah jeritan musuh.
"Sayang apa?"
Tanya Sian Nio heran.
"Sayang tak ada musuh yang kena ditangkap hidup supaya kita bisa mengorek keterangan dari mulutnya,"
Sahut sang suami.
"Tak usah ditanya lagi, mereka pasti kambratnya Khong Khong Jie!"
Kata sang isteri.
"Engko, apakah sampai di saat ini kau tetap mempercayai dia?"
Kui Ciang berdiam. Ia terus ragu-ragu. Katanya di dalam hati.
"Mereka ini termasuk golongan kelas dua atau kelas tiga. Mustahil Khong Khong Jie malu turun tangan sendiri, untuk mencelakai aku, mestinya ia pakai tenaga orang yang liehay! Kenapa ia pakai sebangsa mereka ini yang tidak punya guna?.Hanya, kalau mereka bukan suruhan Khong Khong Jie, kenapa mereka ketahui aku beramai mau mendaki gunung Giok Sie San?"
Ketika itu Leng Song datang menghampirkan.
Nona itu menyelamatkan diri dengan menyingkir di lain tempat.
Sian Nio telah mendengar dari suaminya hal Nona Hee, ia tahu orang menjadi puterinya Pek-ma Lie-hiap Leng Soat Bwe, maka ia menjadi kagum, dalam hatinya ia memuji.
"Sungguh seorang nona cantik! Toako kata dia mirip ibunya, tak heran dulu hari ibunya membikin dunia Kang Ouw menjadi tergilagila!"
"Eh, Leng Song!"
Kui Ciang menegur.
"Bagaimana kebetulan, kau pun datang ke sini? Sungguh berbahaya! Syukur ada kau!"
"Toan Peehu, kau telah terpedayakan Khong Khong Jie!"
Kata Nona Hee.
"Khong Khong Jie bersama ayah dan anak Keluarga Ong itu sudah berkongkol, mereka sudah bersepakat untuk membantu An Lok San yang lagi siap sedia untuk berontak. Kui Ciang terkejut.
"Benarkan itu?"
Dia tanya.
"Tak salah lagi, peehu!"
Sahut si nona.
"Aku telah mendengar dan melihatnya sendiri! Bahkan mereka itu sudah mulai melaksanakannya!"
Leng Song lantas memberikan penuturan perihal peristiwa di lembah Liong Bin Kok, bagaimana mulanya ia mendengar pembicaraan orang lalu besoknya ia turut di dalam pertempuran di dalam lembah itu.
"Aku kuatir mereka di sini nanti mencelakai kau, peehu, maka aku lekas-lekas menyusul kemari,"
Si nona menambahkan.
"Nah, apa kataku?"
Kata Sian Nio pada suaminya.
"Kau tetap masih percaya Khong Khong Jie?"
Kui Ciang berdiam.
Nyatanya di dalam urusan ini terselip suatu kekeliruan.
Ketika malam itu Leng Song mendapat dengar pembicaraan di Liong Bin Kok, yang dengan Ong Pek Thong ayah dan anak bukan Khong Khong Jie hanya Ceng Ceng Jie.
Di situ hadir Thio Tiong Cie dan lainnya.
Benar An Lok San minta bantuan mereka.
Waktu itu si nona tidak mendengar perkataannya Ong Pek Thong bahwa untuk sementara Pek Thong mau sembunyikan urusan dari Khong Khong Jie.
Si nona mau percaya saja Ceng Ceng Jie dan Khong Khong Jie, yang menjadi suheng dan sutee, kakak beradik seperguruan, sama kelakuannya.
Pula habis bertempur di Liong Bin Kok itu ia sudah tergesagesa berangkat menyusul Toan Kui Ciang, ia menjadi tidak berkesempatan mendengar omongan Han Tam untuk disampaikan pada Khong Khong Jie itu.
Leng Song kuatir Kui Ciang nanti mendapat susah di Giok Sie San ini disebabkan ia bercuriga terhadap sikapnya Ong Liong Kek.
Ialah Ong Liong Kek sudah tidak mau memberitahukan ia kemana arah tujuan kepergiannya Kui Ciang, bahkan Liong Kek sengaja mendustakan ia bahwa mungkin Kui Ciang berangkat ke Tiang-an, hingga ia mesti melakukan perjalanan jauh secara sia-sia.
Kuda putihnya sudah kabur tiga ratus lie lebih tetapi di jalan ke Tiang-an itu ia tak lihat paman she Toan itu, karena mana, ia lekas kembali ke Liong Bin Kok, sampai besokannya di waktu pertempuran, ia mendengar dari Tiat Mo Lek halnya Kui Ciang telah pergi mencari Khong Khong Jie Ia masih menegasi Ong Liong Kek, masih anaknya Ong Pek Thong itu tak mau omong secara terus terang, hingga ia menjadi masgul berbareng mendongkol.
Nona Hee tak tahu persekutuannya Pek Thong ayah dan anak.
Mereka itu melakukan segala apa diluar tahunya Khong Khong Jie.
Pek Thong dan anaknya ketahui baik sekali Toan Kui Ciang menjadi menantu Keluarga Touw, mereka kuatir dibelakang hari Kui Ciang nanti mencari balas untuk keluarga mertuanya itu, akan tetapi di muka Khong Khong Jie, mereka terpaksa membiarkan Kui Ciang dan Sian Nio berlalu dengan merdeka.
Baru kemudian, seberlalunya Khong Khong Jie, mereka lantas bekerja.
Mereka menulis surat dan mengirimnya dengan perantaraan burung dara, memberitahukan cabang di Liang-ciu, supaya orangnya mengatur "tentara sembunyi"
Di dekat Giok Sie San, guna merintangi dan membinasakan Kui Ciang sami dan isteri itu.
Di antara Leng Song dan Liong Kek ada perkenalan yang erat sekali, karena itu, waktu si nona ketahui jelas perihal Ong Liong Kek, ia berdua, cuma kepada Kui Ciang ia tak mau menyebut-nyebut namanya pemuda she ong itu.
Kui Ciang menjadi bersangsi.
Telah cukup kesaksian hal perbuatannya Khong Khong Jie.
Isterinya menyangsikan dan Leng Song memberikan kesaksiannya.
Nona Hee tak dapat diragu-ragukan.
Toh ia heran.
Bukankah Khong Khong Jie gagah perkasa?
Kenapa sekarang Khong Khong Jie bersikap rendah, untuk menghadapi ia dan isterinya, dia main gila seperti itu?
Wajah Sian Nio menjadi guram.
Ia berkuatir dan berduka.
"Kelihatannya anak kita terancam bahaya..."
Berkata ia.
"Khong Khong Jie telah sengaja memperdaya kita, mana mungkin dia sudi membayar pulang anak kita itu?"
Kui Ciang pun berkuatir dan bingung, akan tetapi dia dapat mengambil keputusan.
"Sekarang ini baik kita cari Khong Khong Jie dulu!"
Katanya.
"Kita nanti bicara dengannya!"
"Memang tidak bisa lain,"
Kata Sian Nio.
"Jikalau aku tidak dapat pulang anakku, aku tidak mau hidup pula, hendak aku mengadu jiwa dengannya!"
Leng Song pun setuju buat mencari Khong Khong Jie, maka ia suka mengikuti.
Dengan Kui Ciang jalan di muka, bertiga mereka mendaki gunung, untuk memanjat puncak Giok Sie San.
Mereka tidak menghadapi rintangan apa-apa.
Ketika matahari mulai doyong ke barat, mereka telah mencapai puncak tertinggi.
Luar biasa puncak gunung itu.
Di situ kedapatan pohonpohon bunga dan rumpun rumput.
Di situ ada burung-burung dan binatang kaki empat.
Di situ pun terdapat beberapa sumber air hangat, hingga hawanya menjadi lebih hangat daripada di bawah gunung.
Yang paling dulu terlihat Kui Ciang ialah sebuah rumah suci kaum tosu atau imam.
Dengan lantas pada hatinya timbul pengharapan.
Lekas ia menghampirkan kelenteng itu dan mengetuk pintu.
Ia pun berkata nyaring.
"Aku si orang she Toan memenuhkan janji datang kemari! Aku mohon tuan rumah suka keluar menemui aku!"
Ketukan pintu itu, kata-kata itu, tak memperoleh jawaban.
Tempo Kui Ciang mengulanginya, tetapi tidak ada suara apaapa dari dalam kelenteng.
Sian Nio tidak sesabar suaminya.
Maka dia kata sambil tertawa dingin.
"Dia telah melakukan kesalahan, mana dia berani menemui kita? Sampai waktu ini, buat apa kita masih berlaku sungkan terhadapnya? Terjang saja pintunya!"
Kui Ciang merangkap kedua tangannya, untuk memberi hormat ke arah pintu.
"Khong Khong Jie!"
Katanya, nyaring.
"Jikalau kau tetap tidak mau keluar, aku minta janganlah kau sesalkan aku si orang she Toan berlaku tidak hormat padamu!"
Benar-benar tidak ada penyahutan, pintu tak terbuka dari dalam.
Maka itu, tanpa berayal lagi, Kui Ciang menyerang dengan kepalan Kim Kong Ciang!
Dengan bersuara nyaring dan berisik, kedua daun pintu menjeblak terbuka.
Touw Sian Nio sudah lantas bersiap dengan panah pelurunya, sedang Leng Song menghunus pedangnya.
Kui Ciang bertindak masuk dengan diiring isterinya dan nona itu.
Tiba di dalam, mereka bertiga mendapatkan kelenteng kosong.
"Mungkinkah dia jeri dan kabur?"
Tanya Leng Song, raguragu.
Kelenteng itu tidak besar, di dalam tempo singkat, Kui Ciang bertiga dapat menggeledah seluruhnya.
Di dalam kamar yang terakhir, Sian Nio menemukan sebuah ayunan kosong serta beberapa helai pakaian wanita.
Mendadak dia menangis dan berkata.
"Anak kita telah dicelakai...!"
Kui Ciang berlaku tenang. Buat apakah dia mencelakai seorang bayi?"
Katanya, tetapi suaranya dalam.
"Memang benar anak kita pernah berada di sini. Itulah bukti bahwa dia tidak bicara dusta..."
Tapi Sian Nio gusar.
"Anak kita tidak ada, Khong Khong Jie tidak ada juga!"
Katanya nyaring.
"Taruh kata anak kita benar tidak dibinasakan, tetapi sudah pasti dia telah menyembunyikannya pula di lain tempat! Engko, dia menghendaki jiwa kita, kenapa kau masih bicara begini tentang dia?"
Sudah sepuluh tahun suami isteri ini menikah dan hidup bersama rukun dan damai, saling menyinta dan saling menghormati.
Inilah pertama kali Sian Nio bicara keras demikian rupa terhadap suaminya itu.
Kui Ciang tidak menjadi kurang senang atau gusar.
Ia sabar sekali.
Ia dapat memahami hati isterinya itu.
"Aku memikir dari sudut lain,"
Kata ia tenang.
"Jikalau benarbenar Khong Khong Jie tidak membayar pulang anak kita, pasti aku mengadu jiwaku dengannya!"
Habis berkata suami ini mengawasi sekitarnya.
"Kelihatannya ada seorang wanita yang mengurus anak kita,"
Katanya kemudian.
"Seprai di dalam ayunan ini masih basah bekas air kencing, rupanya belum lama orang berlalu dari sini. Sekarang cuma belum dapat diketahui wanita itu pernah apa dengan Khong Khong Jie."
"Percuma kau memikirkan ini!"
Kata Sian Nio, yang hatinya cemas.
"Paling benar kita cari Khong Khong Jie si manusia rendah itu, baru kita akan mendapat kepastian!"
Baru Nyonya Toan berhenti bicara, atau dari luar mereka bertiga mendengar ini suara nyaring.
"Benar-benar Toan Tayhiap seorang yang dapat dipercaya! Aku minta dimaafkan yang aku telah melanggar janji!"
Kui Ciang lantas berseru.
"Itulah Khong Khong Jie!"
Tanpa menanti lagi, Sian Nio sudah lantas lompat, untuk terus lari keluar.
Kui Ciang dan Leng Song segera menyusul.
Di luar tampak Khong Khong Jie seorang diri dan kedua tangannya kosong.
Tidak ada bayinya di tangannya itu.
Bukan main gusarnya Sian Nio.
"Bagus ya!"
Teriaknya.
"Sudah kau menipu kami datang ke gunung ini, sekarang kau sembunyikan juga anak kami!"
Dalam murkanya, Nyonya Toan segera menyerang dengan tiga butir pelurunya. Khong Khong Jie berlaku celi dan gesit, dengan lincah ia berkelit dari tiga peluru maut itu.
"Sabar, sabar!"
Katanya.
"Tahan! Mari kita bicara dulu!"
Kui Ciang menyandak.
"Adik Sian Nio, sabar!"
Kata suami itu.
"Mari kita dengar dulu apa katanya!"
Khong Khong Jie lantas berkata.
"Untuk sementara belum dapat aku membayar pulang anak kamu! Aku minta kamu jangan kuatir apa-apa, kamu boleh tetapkan hati kamu! Anak kamu itu selamat tidak kurang suatu apa, dan aku jamin keselamatannya!"
"Kenapa kau tidak dapat segera membayar pulang?"
Kui Ciang tanya. Khong Khong Jie nampak jengah.
"Sebab... sebab..."
Katanya sukar.
"Sebab apa?"
Bentak Sian Nio.
"Jikalau hari ini kau tidak membayar pulang anakku, pasti aku tidak mau mengerti!"
Khong Khong Jie mengulapkan kedua tangannya.
"Pendeknya, aku jamin!"
Katanya.
"Pasti aku nanti membayar pulang anakmu! Hanya sekarang, aku tidak berdaya!"
"Nanti? Nanti kapan?"
Tanya Kui Ciang.
"Itu... itu..."
Kata Khong Khong Jie, ragu-ragu.
"Itu tak dapat aku pastikan..."
"Kau bersangsi!"
Bentak Kui Ciang.
"Kau bersangsi apakah? Sebenarnya, ada apakah sebabnya?"
"Toan Tayhiap, kali ini aku menyesal terhadapmu!"
Kata Khong Khong Jie.
"Aku harap kau jangan menanyakan terlebih jauh! Jikalau kau percaya aku, mari kita mengikat tali persahabatan. Aku bilang, anakmu berada di tangannya satu orang, hal itu ada baiknya, tidak ada jahatnya!"
Sian Nio menjadi sangat gusar.
"Siapa kesudian percaya lagi obrolan setanmu!"
Dia membentak.
"Oh, manusia hina dina yang tak tahu malu! Kebetulan kami tidak mampus tercelakakan olehmu, daripada nanti kami dibikin celaka lebih jauh dengan perbuatanmu yang sangat rendah, baik sekarang saja kami serahkan jiwa kami kepadamu!"
Khong Khong Jie gusar bukan kepalang. Dialah seorang kosen yang angkuh, yang kepalanya besar. Seumurnya dia belum pernah terhinakan orang. Maka tubuhnya menjadi bergemetaran.
"Hai, perempuan busuk, mengapa kau berani lancang mendamprat aku?"
Dia berteriak. Kui Ciang pun telah timbul amarahnya, maka itu, melihat orang berani menghina isterinya, ia lantas menghunus pedangnya.
"Kenapa jikalau kami mencacimu?"
Ia tanya.
"Bukankah kau pantas dicaci maki?"
Khong Khong Jie gusar hingga dia berkaokan.
"Bagus, Toan Kui Ciang, bagus!"
Teriaknya.
"Kau pun mencaci aku! Kenapa aku pantas dicaci?"
"Aku mendamprat karena kau tak tahu benar tak tahu salah!"
Sahut Kui Ciang.
"Karena kaulah si manusia jahat yang membantu Kaisar Tiu melakukan kejahatan! Aku mencaci kau karena kau berbuat jahat, kau toh menyangkal! Kaulah satu manusia rendah! Kaulah si bangsat cilik sangat hina dina dan sangat tak tahu malu!"
Wajahnya Khong Khong Jie menjadi merah padam.
"Toan Kui Ciang, kau mesti berlutut padaku dan mengangguk-angguk meminta ampun!"
Dia berteriak.
"Kalau tidak, jangan kau harap kau nanti dapat turun dari gunung ini!"
Kui Ciang tertawa dingin.
"Sekalipun kau menekuk lutut dan manggut padaku berulang-ulang, aku juga tidak akan mengasih ampun padamu!"
Kui Ciang membaliki.
"Tidak salah, dalam ilmu silat kau jauh terlebih liehay daripada aku, akan tetapi satu laki-laki, mati tinggal mati, untuknya tak ada yang ditakuti! Meski aku terbinasa di tanganmu, hendak aku mencaci terus padamu!"
"Baik!"
Khong Khong Jie berteriak.
"Karena kau menganggap aku satu manusia jahat, jangan kau sesalkan aku yang aku tidak menaruh belas kasihan lagi! Hayo, kau makilah pula padaku!"
Mendadak tubuh jago ini mencelat dan sebelah tangannya meluncur ke muka orang.
Hebat serangan itu.
Akan tetapi Toan Kui Ciang sudah siap sedia, la lantas saja berkelit.
Karena pedangnya sudah dihunus, ia juga lantas balas menyerang, bahkan terus sampai tiga kali beruntun tefhpo tabasannya yang pertama gagal begitu pun yang kedua kali.
Touw Sian Nio juga tidak diam saja.
Ia lompat maju dengan bacokannya.
Liehay Khong Khong Jie.
Ia lolos dari serangan berulangulang dari Kui Ciang, ia bebas dari bacokan Sian Nio, ketika ia berkelit seraya terus menyambar ke arah Kui Ciang, meskipun tayhiap itu berkelit, tak urung punggungnya kena terserempet tangan terbuka hingga dia merasakan sangat panas dan nyeri.
Sebenarnya Khong Khong Jie mau menghajar muka.
Syukur Kui Ciang lolos, kalau tidak, dia pasti malu bukan main.
Dalam murkanya Kui Ciang serukan isterinya.
"Adik Sian, kau benar! Untuk melayani ini bangsat sangat jahat, kita cuma harus mengadu jiwa!"
Ketika itu Khong Khong Jie telah lompat mencelat, ia hendak membalas menyerang.
Karena berlompat itu, ia menjadi turun dengan kepala di bawah dan kaki di atas.
Sementara itu tangannya sudah menghunus pisau belatinya yang tajam luar biasa.
Tanpa menanti menginjak tanah, ia menangkis senjatanya suami isteri itu.
Ia mengeluarkan kepandaiannya, karena niatnya menghajar terlepas pedang dan goloknya kedua lawan itu.
Kui Ciang sudah merantau semenjak dia masih muda sekali, sudah sering dia melakukan pertempuran, dari itu, benar dia kalah gagah dari Khong Khong Jie akan tetapi dia menang pengalaman, maka juga, melihat orang mencelat tinggi, dia sudah lantas dapat maksudnya lawan itu.
Dia lantas menggeraki pedangnya dalam satu gertakan, lantas dia membarengi golok isterinya.
Satu bentrokan tak dapat dielakkan.
Itulah beradunya pisau belati dengan golok si nyonya.
Bentrokan itu dibarengi dengan suara robek!
Kui Ciang dan isterinya mundur masing-masing tiga tindak.
Sian Nio terkejut.
Goloknya, golok bian-to yang sangat tajam, telah "terlukakan"
Pedang lawannya.
Sebaliknya, Khong Khorig Jie turun di tanah dengan kaget dan mendongkol.
Ujung bajunya telah kena ditublas pedang Kui Ciang.
Syukur ia masih sempat berkelit, kalau tidak, tangannyalah yang bakal terluka.
Jurus ini menyebabkan kedua pihak meluap kemurkaannya.
Maka ketika mereka merapat pula, mereka mengeluarkan kepandaiannya masing-masing.
Khong Khong Jie gusar sebab merasa terhina, suami isteri itu nekad karena hendak membelai anak mereka.
Maka pertempuran ini jauh lebih dahsyat daripada pertempuran mereka di gunung Hui Houw San.
Kui Ciang bertempur mati-matian, pedangnya senantiasa mengeluarkan suara angin keras.
Sian Nio dengan ilmu golok Pat-kwa-to mencoba mengurung lawannya yang tangguh itu, selalu ia mencari sasaran yang berbahaya.
Sejak kegagalan di Hui Houw San, suami isteri ini telah berunding dan memikirkan semacam ilmu silat gabungan pedang dan golok yang diperuntukkan melawan Khong Khong Jie, sekarang tiba saatnya untuk mencoba itu.
Benar-benar mereka memperoleh kemajuan.
Tengah ia bertempur hebat itu, Khong Khong Jie terdengar menghela napas dan berkata masgul.
"Kamu suami isteri sangat mendesak padaku, aku tidak bisa berbuat lain, terpaksa aku mesti mengorbankan jiwaku untuk melayani kamu..."
Kalau tadi dia gusar, sekarang Khong Khong Jie berduka. Toan Kui Ciang dapat mendengar kata-kata orang itu.
"Mustahilkah benar-benar Khong Khong Jie ada kesulitannya yang dia tak dapat beritahukan pada lain orang?"
Justeru ia berpikir itu, justeru ia melihat perubahan silat si lawan.
Pisau belati Khong Khong Jie lantas berputaran, menyamber ke timur dan ke barat, ke selatan dan ke utara, bergeraknya sangat cepat, hingga sinar pisaunya berkilauan, hingga ia nampak berada di pelbagai penjuru.
Menampak demikian, Kui Ciang terkejut.
Terpaksa dari menyerang ia mengambil siasat membela diri.
Ini membuatnya terdesak.
Maka lekas juga terdengar pula suara bentrokan senjata, kali ini pisau belati melawan pedang, bahkan beruntunruntun sampai sembilan kali!
Mulanya tidak ada niat Khong Khong Jie memusuhkan Kui Ciang, walaupun ia dikepung hebat, meski juga ia murka sekali.
Ia cuma memikir mengalahkan mereka itu.
Siapa tahu setelah bertempur itu, Kui Ciang berdua menjadi nekad.
Sebab suami'.isteri ini menganggap ia benar-benar manusia busuk.
Didalam keadaan seperti itu, ia mesti membela dirinya, atau ia bakal celaka.
Maka tak ayal lagi, ia mengeluarkan kepandaiannya.
Itulah semacam tipu silat terdiri dari sembilan jurus berantai, yang dapat menyusun serangan beruntun sembilan kali.
Khong Khong Jie masih merasa sayang, maka juga tadi ia telah mengasih dengar helaan napas serta suara penyesalan itu.
Ketika Toan Kui Ciang melayani Ceng Ceng Jie, Ceng Ceng Jie pernah menggunai semacam ilmunya Khong Khong Jie ini.
Tatkala itu ia dapat bertahan.
Sekarang lain, kendati ilmu silatnya serupa.
Itulah sebab Khong Khong Jie beda daripada Ceng Ceng Jie.
Ceng Ceng Jie baru dapat melakukan tingkatan ketujuh.
Khong Khong Jie pula menang berlipat ganda ilmu ringan rubuhnya daripada Ceng Ceng Jie, sang sutee, maka dia dapat bergerak cepat luar biasa.
Begitulah, meski Kui Ciang berkelahi dibantu isterinya, ia segera terdesak, ia menjadi repot membela diri.
Sian Nio juga turut terdesak musuh yang tangguh itu.
Leng Song menonton saja sekian lama itu, setelah melihat suasana, ia maju seraya menyerukan Sian Nio.
"Bibi Toan, silahkan mundur! Kau gunai saja pelurumu menghajarnya!"
Dengan memutar pedangnya, ia maju terus, guna menggantikan Nyonya Toan Kui Ciang itu. -ooo0dw0ooo-
Jilid 12 Didalam ilmu pedang, Nona Hee tak dapat melawan Kui Ciang, akan tetapi dibanding dengan Sian Nio dengan goloknya, ia menang banyak. Maka itu Khong Khong Jie menjadi heran dibuatnya.
"Siapakah yang mengajari kau ilmu pedangmu ini?"
Dia tanya.
Leng Song tidak menjawab, ia hanya mendesak.
Tiga kali berantai ia menyerang hebat, dan setiap jurusnya itu terpecah pula dalam tiga jurus lain.
Ia menyerang sambil menggertak.
Disamping si nona, Kui Ciang turut merangsak.
Khong Khong Jie heran sekali.
Sekarang tak sempat ia menanya pula si nona.
Dengan mereka itu merangsak secara demikian, ia tidak berkesempatan memecah pemusatan pikirannya.
Sian Nio mengambil tempat di pinggiran.
Ia menuruti pikirannya Leng Song.
Begitu siap, ia mulai dengan serangan panah pelurunya.
Mulanya ia melepaskan tiga kali beruntun, mengincar Khong Khong Jie pada ketiga jalan darah bie-cian di atas, hong-hu di tengah dan hoan-tiauw di bawah.
Ia liehay, disini ia mengasih lihat keliehayannya, meski orang bertempur bertiga dan bergerak gesit tak hentinya, sasarannya itu dapat ia cari.
Khong Khong Jie pun memperlihatkan kegesitan dan keliehayannya.
Dengan beruntun ia dapat mengelit diri dari dua peluru yang pertama.
Untuk itu ia berlompat dan menyambut dengan tangan bajunya, lalu yang ketiga, ia tangkis dengan pisau belatinya.
Meneruskan gerakan senjatanya itu, ia menikam ke arah iga Leng Song di mana ada jalan darah hun-bun.
Tapi ia gagal, karena si nona waspada.
Dilain pihak Kui Ciang, yang menggunai ketikanya dengan baik, sudah menebas ujung bajunya!
Bukan main gusarnya jago ini.
Ketika tadi ia menyambut dua buah peluru Sian Nio, semua peluru itu kena tergulung, sekarang ia menggunai itu untuk menyerang balik, membalas kepada Kui Ciang.
Suaminya Sian Nio celi matanya dan gesit tubuhnya, dia dapat berkelit.
Khong Khong Jie tidak berhenti dengan serangan peluru saja, ia membarengi menikam dengan pisau belatinya.
Ia mencari sasaran yang berupa ulu hatinya Toan Tayhiap.
Kui Ciang mesti berkelit, demikianpun Leng Song.
Ketika itu Sian Nio tidak menyerang pula.
Ia melihat orang rapat sekali.
Tiba-tiba terdengar Khong Khong Jie berseru nyaring, menyusul itu, mereka bertiga berlompat mencar.
Leng Song kaget sekali.
Tusuk kundai di kepalanya telah kena disambar kutung pisau belati Khong Khong Jie, walaupun ia berkelit sebat sekali.
' Adalah di itu waktu, Touw Sian Nio memanah pula.
Mendadak tubuh Khong Khong Jie jatuh terguling.
Kiranya dia menggunai "Kun Tee Tong"
Atau ilmu silat "Roboh bergulingan"
Guna menyelamatkan diri, menyusuli mana, sambil bergulingan itu, ia membabat bergantian ke kakinya Kui Ciang dan Leng Song.
Sian Nio bekerja pula, kembali ia memanah.
Dua-dua Kui Ciang dan Leng Song berkelit sambil berlompat, Kui Ciang yang berlompat lebih dulu lalu membalas menyerang dengan cepat.
Khong Khong Jie berkelit, karena mana, hampir peluru Sian Nio mengenai suaminya..
Hanya sekejap, ketiga musuh sudah lantas bertempur pula secara rapat.
Karena ini, kembali Sian Nio menunda pelurunya.
Ia baru menyerang setiap kali ia melihat lowongan.
Untuk itu ia mesti bermata sangat celi dan bertindak sangat cepat.
Hanya, meski ia sudah mengorbankan belasan peluru, terus ia tidak mendapatkan hasil.
Khong Khong Jie liehay tetapi dia repot juga.
Dia mesti berhati-hati dari panah peluru itu.
Karena ini, menghadapi desakan Kui Ciang dan Leng Song, mereka menjadi seimbang.
Tatkala itu matahari sudah turun jauh ke barat.
Sang magrib mendatangi.
Kedua pihak sudah bertempur setengah jam.
Tengah pertempuran berlangsung terus, tiba-tiba mereka mendengar ada seruan untuk mereka.
"Eh, kenapa kamu bertempur! Berhenti! Berhenti!"
Kui Ciang sudah lantas mengambil kesempatan akan melirik ke arah suara itu.
Maka ia melihat seorang pengemis dengan pakaian banyak tambalan serta buli-buli di punggungnya, sembari berlari-lari keras, pengemis itu lari ke arah mereka.
Ia pun segera mengenali Ciu-kay Kie Tie si Pengemis Pemabuk.
Juga Khong Khong Jie mengenali pengemis tukang tenggak arak itu, ketika ia melihat Kui Ciang berhenti menyerang, ia menghentikan perlawanannya, ingin ia menyapa si pengemis.
Justeru itu, Sian Nio memanah, maka pelurunya mengenai dahi orang, hingga sasarannya itu mengucurkan darah!
Hee Leng Song tak mau berhenti, ia lompat menyerang.
Khong Khong Jie gusar, dia menangkis.
Maka bentroklah senjata mereka satu dengan lain, setelah mana, jago itu kembali membabat ujung tusuk kundai kemala si nona.
Syukur Kui Ciang maju pula, guna membantu Leng Song.
Karena ini, mereka bertiga jadi bertarung pula.
Kie Tie menjadi kurang puas.
"Touw Liehiap,"
Ia kata pada Sian Nio.
"Aku minta kau memberi muka padaku si pengemis tua!"
Sian Nio lagi sengit, ia tidak menghiraukan perkataan orang, ia melanjuti serangannya.
Menampak demikian, Ciu-kay menggelogoki isi buli-bulinya, habis itu ia menyemburkan keras ke arah medan pertempuran.
Serangan ini membuat repot kepada Khong Khong Jie bertiga.
Mereka tak takut terlukakan, tetapi mereka tak sudi dibikin mandi arak.
Kie Tie menyembur pula, kali ini ke arah Sian Nio.
Ia mau mencegah nyonya itu memanah terlebih jauh.
Muka Nyonya Kui Ciang lantas kena kecipratan arak, dia menjadi tidak senang.
"Kie Lo-cianpwe!"
Serunya.
"Aku bukan tidak sudi memberi muka kepada kau tetapi manusia ini jahat luar biasa! Dia telah merampas anak kami! Kalau dia dibiarkan lolos, kepada siapa kami harus minta pulang anak kami! Dapatkah kau yang menggantinya?"
Mendengar itu, Kie Tie menjadi melengak. Touw Sian Nio berkata pula, nyaring.
"Jikalah lo-cianpwe tidak suka membantu kami, tidak apa, tetapi janganlah locianpwe merintangi kami, kalau tidak, maaf, peluruku nanti tidak mengenali kau!"
Kata-kata si nyonya diiring samberan pelurunya, yang mengenai buli-buli Kie Tie.
"Marilah kita bicara!"
Ciu-kay berseru. Dia sadar dari melongonya.
"Jangan kau menyerang pula! Jangan kau menyerang pula! Kalau mustikaku ini rusak, aku si pengemis tua tidak punya lagi susu macan untuk ditenggak!"
Justeru itu Hee Leng Song berseru.
"Toan Peehu, jangan ladeni pengemis bangkotan itu! Dialah konco musuh!"
Toan Kui Ciang menjadi bersangsi, apa pula pada saat itu ia melihat pihaknya mulai menang unggul.
Laginya, kalau ia mundur, Leng Song tentu bakal segera terdesak lawan.
Maka terpaksa ia berkelahi terus.
Habis menyingkir dari arak, mereka bertiga merapat diri pula.
Pada Kie Tie, Toan Tayhiap berseru.
"Kie Lo-cianpwe maaf, aku minta kau tanya tentang urusan kita ini kepada isteriku, setelah kau ketahui jelas duduknya, baru kau datang memisahkan kita!"
Touw Sian Nio menyambungi kata-kata suaminya tanpa menanti Kie Tie menanyakannya. Ia kata.
"Dia yang menjanjikan kami datang kemari, tetapi di mulut gunung tadi dia memasang orang tersembunyi untuk mencelakai kami, hampir kami suami isteri mati tertimpa hujan batu! Kami tiba di sini, kami bertemu dengan dia, ketika kami minta pulang anak kami, dia menolak memulanginya! Sampai saat ini kami belum tahu anak kami masih hidup atau sudah mati! Lo-cianpwe, silahkan kau timbang dengan adil! Pantas atau tidak jikalau kami mengadu jiwa kami?"
Ketika tadi Kie Tie lewat di mulut gunung, ia memang melihat beberapa mayat. Ia menjadi bersangsi.
"Khong Khong Jie, bagaimana ini?"
Dia tanya. Rupanya Khong Khong Jie pun panas hatinya.
"Kau hendak tanya aku dalam urusan apa?"
Dia balik menanya, keras.
"Apakah benar-benar kau hendak membinasakan mereka ini suami isteri?"
Tanya Ciu-kay.
"Gila!"
Berteriak Khong Khong Jie.
"Mana itu dapat terjadi? Jikalau aku hendak membunuh mereka, pasti aku telah melakukannya siang-siang!"
"Jikalau begitu, kenapa kau tidak mau membayar pulang anak mereka?"
Kie Tie tanya pula.
Khong Khong Jie berdiam, tak dapat dia menjawab.
Inilah justeru kesulitannya.
Hal itu yang membuatnya merasa malu sendirinya.
Kalau tidak, tentulah tadi dia sudah menjelaskan, atau membereskannya pada Kui Ciang suami isteri itu.
Sebenarnya Kie Tie dan Khong Khong Jie cuma kenalan sambil lalu, tidak ada hubungan erat di antara mereka, karena itu sudah sewajarnya saja ia percaya Toan Kui Ciang dan tak mempercayai kakak seperguruan Ceng Ceng Jie itu.
Ia pun berpikir.
"Han Tam membilang dia baik tetapi ketika Han Tam mengenalinya, dia masih kecil, sekarang mereka sudah berpisah buat banyak tahun, siapa tahu dia sudah berubah sifat?"
Karenanya, ia menjadi curiga. Maka itu, melihat orang berdiam, ia lantas menanya pula suaranya keras.
"Khong Khong Jie, kenapa kau ragu-ragu? Sebenarnya bagaimanakah duduknya hal?"
Didesak begitu rupa, Khong Khong Jie menjadi tidak senang, ia menjadi gusar.
"Orang tua she Kie, apakah kau hendak memeriksa aku?"
Ia menegur.
"Inilah urusanku, tak usah kau campur tahu!"
Kie Tie menggelogoki araknya, ia berkata dingin.
"Aku bukannya hendak memeriksa kau! Laginya aku si pengemis tua, seumurku belum pernah aku usilan mencampuri urusan lain orang! Tapi sekarang aku datang kemari karena aku diminta tolong oleh Lo-cianpwe Han Tam. Han Lo-cianpwe menyuruh aku tanya kau, benarkah kau menjadi kemaruk harta atau pangkat, maka kau jadi bekerja sama dengan Ceng Ceng Jie, adik seperguruanmu itu?"
Sebetulnya Han Tam menghendaki Kie Tie memberitahukan saja kepada Khong Khong Jie perihal sekongkolan dari Ong Pek Thong dengan Ceng Ceng Jie yang mau bekerja sama dengan An Lok San, dan untuk menanya Khong Khong Jie tahu atau tidak urusan dua orang itu, tetapi guna mengesankan hal, ia bicara dengan sikap menegur itu.
Khong Khong Jie sangat menyayangi adik seperguruannya, dari itu ia menjadi gusar.
"Pengemis tua, kenapa kau ngaco belo?"
Tegurnya pula.
"Apakah yang tak benar dari adik seperguruanku itu? Kenapa kau bersikap begini rupa?"
Kie Tie tertawa dingin ketika ia memberikan jawabannya.
"Adik seperguruanmu itu sudah tak segan membantu harimau mengganas! Mustahilkah kau belum ketahui sepak terjang adik seperguruanmu itu!"
"Apa kau bilang?"
Khong Khong Jie bentak.
"An Lok San lagi mementang pengaruhnya, tidaklah heran dia dapat membeli Ong Pek Thong!"
Jawab si pengemis pengarakan.
"Yang tidak disangka-sangka ialah adik seperguruanmu itu! Dia juga rela menjadi gundal! Sekarang ini Ong Pek Thong dan An Lok San telah bekerja sama, mereka berkongkol, kelakuan mereka itu sudah diketahui oleh orangorang gagah di kolong langit ini! Mengenai adik seperguruanmu itu, apakah masih hendak kau menyangkal?"
Khong Khong Jie tercengang. Tapi cuma sejenak, dia lantas membentak.
"Angin busuk! Kau memfitnah orang!"
Kie Tie gusar, ia terus mengubarnya.
"Khong Khong Jie!"
Ia kata nyaring.
"Kau muncul dalam dunia Kang Ouw belum lama, kenapa kau jadi begini jumawa? Cara bagaimana kau berani mencaci aku si pengemis tua?"
Khong Khong Jie mengerti disini mesti terselip sesuatu, akan tetapi dia muda dan keras tabiatnya, dia menjadi tak sudi menggubris si pengemis. Maka dia tertawa nyaring dan kata.
"Bagus, ya! Kau pandang aku Khong Khong Jie bukan sebagai manusia! Kalau begitu, buat apa kau bicara secara sahabat denganku? Pengemis tua, kau majulah!"
Selama itu, Khong Khong Jie melayani Kie Tie berbicara dengan dia masih terus menempur Toan Kui Ciang dan Hee Leng Song, mereka kedua pihak sama unggul, tetapi karena perhatiannya sangat terpengaruhkan, dan dia pun mendongkol, pemusatannya menjadi terganggu.
Begitulah ketika Toan Kui Ciang menikam secara liehay, pundaknya kena tertowel hingga terluka dan mengucurkan darah!
Kejadian ini membikin dia menjadi panas hati, dengan hebat dia maju, guna merangsak orang she Toan itu, ketika pisau belatinya meluncur, dia mengarah ulu hatinya lawan.
Justeru itu Kie Tie berlompat maju.
Pengemis ini tak suka mengadu mulut, terlebih jauh.
Ia menangkis senjata si jago muda.
Buli-buli dan pisau belati bentrok satu dengan lain.
Buli-buli, yang dipandang sebagai mustika itu, kalah kuat, ujung pedang menumblas bolong, maka seketika juga isinya -arak yang harum -molos keluar dan berhamburan di tanah!
Touw Sian Nio terkejut, dia berseru.
Justeru itu terdengar juga siulannya Khong Khong Jie, yang tubuhnya mencelat tinggi, untuk mengangkat kaki, sampai peluru si nyonya tak dapat menyusulnya.
Dari kejauhan cuma terdengar suaranya ini.
"Toan Kui Ciang, jikalau kau hendak membenci aku, terserah kepada kau! Tentang anakmu, dibelakang hari pasti aku akan bayar pulang kepada kamu! Dan kau, pengemis tua, denganmu biarlah dilain kali kita bertemu pula! Sekarang aku hendak melakukan penyelidikan, sesudah itu, nanti aku cari kau untuk membereskan perhitungan kita ini!"
Ketika suara itu berhenti, tubuh Khong Khong Jie pun turut lenyap. Touw Sian Nio lantas menghampirkan suaminya. Ia terkejut melihat muka suami itu penuh darah.
"Apakah kau terluka?"
Dia tanya.
"Di mana lukanya?"
"Tidak apa-apa,"
Sahut Kui Ciang, yang tertawa getir.
"Pisau belati Khong Khong Jie dapat menikam aku!"
Tapi Kui Ciang benar terluka dan lukanya sama dengan lukanya Khong Khong Jie.
Tadinya pelurunya sang isteri nyasar ke dahinya.
Setelah melihat luka suaminya itu, Sian Nio mengerti kekeliruannya.
Ia menjadi menyesal, malu dan berduka.
Tapi ia pun mendongkol.
Maka ia kata sengit.
"Oh, itu bangsat jahat! Sayang tadi peluruku tidak menghajar picak matanya!"
Kui Ciang sebaliknya kata di dalam hatinya.
"Kalau tadi Khong Khong Jie mengulangi serangannya, kalau tidak terbinasakan, aku mestinya terluka parah. Syukur Kie Locianpwe telah menalangi aku, hingga dia rusak buli-bulinya. Sebenarnya, asal ia mau, Khong Khong Jie dapat menyerang terus, kenapa ia tak berbuat demikian? Bukankah penyerangannya itu cuma siasat untuk dia dapat berlompat mundur, guna mengangkat kaki, jadi bukan untuk mencelakai aku?"
"Sudah, adik Sian,"
Kata ia, mendengar suara isterinya itu.
"Dia sudah kabur, dan lukaku pun ringan, tak usah kau mencaci dia. Tak usah kau bersusah hati..."
Kie Tie tidak dapat memikir Khong Khong Jie berlaku murah hati terhadapnya, dia tertawa lebar. Kata dia.
"Toan Tayhiap, benar-benar kau berhati mulia, tak sembarang orang dapat menyamai kau!"
Kembali dia tertawa, lantas dia menambahkan pada Sian Nio.
"Toan Toaso, sekarang kau toh tak dapat mencaci pula aku si pengemis tua, bukan?"
"Oh, maaf lo-cianpwe!"
Kata Sian Nio lekas, sambil memberi hormat.
"Sayang buli-buliku ini!"
Kata pula Kie Tie tertawa.
"Ha, ha, ha! Inilah upahnya aku suka usilan terhadap urusan orang lain!"
Kui Ciang pun menghaturkan maaf kepada pengemis jago itu.
Selama itu, Hee Leng Song berdiri diam di pinggiran, ia tertawa dingin, ia tidak menghiraukan mereka itu.
Kie Tie pun seperti tak menghiraukan segala apa, dia masih tertawa dan kata.
"Hari ini aku mendapat dua rupa pengajaran! Benar-benar, gemar mencampuri urusan luar berarti membakar diri sendiri! Bukan saja Khong Khong Jie membenci aku, bahkan Nona Hee turut mendongkol terhadapku!"
Kui Ciang heran. Ia tak mengerti sikapnya Leng Song itu.
"Keponakanku,"
Ia berkata kepada nona itu.
"Lo-cianpwe ini bukan lain orang, hanya dialah yang dunia Kang Ouw memanggilnya Ciu-kay Kie Tie! Marilah kau pun menghunjuk hormatmu kepadanya!"
"Kita berdua sudah bertemu terlebih dahulu daripada ini,"
Berkata Nona Hee tawar.
"Hm! Meski dia bukannya konco dari Khong Khong Jie, dia toh konconya Hong-hu Siong! Tidak dapat aku memandang sebagai lo-cianpwe!"
Paras Kui Ciang berubah, ia menjadi jengah sekali.
"Keponakanku, harap kau bicara tak melupai adat kehormatan,"
Kata ia, masgul.
"Kau baru muncul di dalam dunia Kang Ouw, mungkin ada yang kau belum ketahui jelas. Kie Locianpwe ini bersama Hong-hu Siong serta seorang pengemis lain, yaitu Hong-kay We Wat, adalah yang dijulukkan Kang Ouw Ie-kay. Apa yang beda ialah sepak terjang Hong-hu Siong tak sama dengan sepak terjang mereka berdua. Hong-hu Siong itu manusia aneh, dia sesat, dia suka berbuat jahat dan keliru. Tidak demikian dengan We dan Kie Lo-cianpwe ini, mereka bahkan tersohor sekali sikapnya membenci kejahatan seperti musuh! Mana dapat Hong-hu Siong disamakan dengan mereka itu berdua? Maka itu aku percaya kau mestinya telah memperoleh pendengaran yang keliru. Keponakanku, mari kau memberi hormat pada Kie Lo-cianpwe!"
Leng Song berdiri tetap dan tegak, sepasang alisnya bangun berdiri.
Kelihatannya ia hendak bicara tetapi rupanya malang terhadap Tan Kui Ciang.
Toan Tayhiap menjadi heran sekali, hingga ia ingin bicara lebih jauh atau Kie Tie, yang tertawa lebar, mendahului ia.
"Toan Tayhiap, kata si pengemis.
"Kaulah seorang yang aku hormati, hanya kata-katamu kali ini tidak tepat!"
"Kenapa tak tepat?"
Ia tanya.
"Aku si pengemis tua, tak sanggup aku bicara sempurna seperti kau,"
Kata Kie Tie perlahan dan sabat.
"Di mataku, aku si pengemis tak demikian baik seperti katamu barusan, sedang Hong-hu Siong tidak demikian busuk seperti uraianmu ini!"
"Nah, bagaimana?"
Kata Leng Song menyelak, tawar.
"Kau masih membilangnya dia bukan konconya Hong-hu Siong! Di dalam segala bidang, dia membelai orang she Hong-hu itu! Dia membeli Hong-hu Siong, kenapa aku dicegah untuk menuntut balas?"
Kui Ciang mengerutkan alisnya.
"Bagaimana ini?"
Ia tanya Leng Song. Ia bingung sekali.
"Di antara kau dan Kie Lo-cianpwe ada selisih paham apa, keponakanku?"
Nona Hee habis sabarnya.
"Bukan melainkan selisih paham!"
Sahut Leng Song sengit.
"Toan Peehu, jikalau aku tidak memandang kau, pasti sekarang aku sudah melakukan pembalasan sakit hatinya ibuku!"
Mau atau tidak, Kui Ciang terkejut.
"Apa kau bilang?"
Ia tanya.
"Kie Lo-cianpwe menjadi sahabat karib dari almarhum ayahmu, cara bagaimana dia dapat menjadi musuh ibumu?"
Mukanya Nona Hee menjadi merah. Ia jengah.
"Dia... dia omong tidak keruan terhadap aku!"
Teriaknya.
"Dia menghina ayah dan ibuku...!"
Mata Kui Ciang dipentang lebar dipakai mengawasi CIu Kay, si pengemis jago arak. Kie Tie tidak menjadi gusar, sebaliknya dia bersenyum.
"Nona Hee,"
Katanya, sabar.
"Coba kau ulangi apa katakataku untuk didengar oleh Toan Peehu kau ini, agar dia menimbangnya benar atau tidak aku berlaku tak pantas terhadapmu?"
Kui Ciang memandang si nona.
"Keponakanku,"
Kata ia, sabar.
"Aku dan ayahmu menjadi sahabat kekal, terhadapku kau boleh menyebutkan segala apa, tidak ada halangannya."
Leng Song mendongkol sekali.
"Dia... dia membilangi aku bahwa aku bukannya orang she Hee!"
Kata dia keras.
"Dia juga kata ayahku bukannya Hee Seng To! Itu... itu... bukankah suatu penghinaan untuk ayah dan ibuku?"
Saking gusar, nona ini hendak menghunus pedangnya.
Kecurigaan, atau kesangsian Toan Kui Ciang, timbul secara tiba-tiba.
Ia lantas ingat peristiwa di malaman pernikahan di antara Leng Soat Bwe dan Hee Seng To itu.
Hee Seng To terbinasakan dimalaman itu.
Maka itu, dari mana datangnya anak bernama Leng Song ini?
Dulu hari pun ia sudah pusing memikirkannya, siapa tahu sekarang Kie Tie menimbulkannya.
"Sabar,"
Ia kata kepada nona itu. Ia terus menoleh kepada Kie Tie untuk segera menanya.
"Kie Lo-cianpwe, itulah peristiwa yang selama dua puluh tahun telah menjadi perkara yang tergantung saja. Mestinya lo-cianpwe ketahui itu..."
Kie Tie mengulapkan tangannya.
"Itulah urusan yang tak leluasa untuk dibicarakan di sini!"
Katanya. Kui Ciang dapat dikasih mengerti, ia berpengalaman luas.
"Kalau begitu, mari kita pergi bicara di sana,"
Katanya hening sejenak.
"Keponakanku, kau sabar dulu. Urusan ini sangat penting, mesti aku dapat membikinnya menjadi terang! Kau toh percaya aku, bukan?"
Leng Song berdiam, ia mengangguk. Kie Tie sudah lantas berjalan, maka Kui Ciang menyusulnya. Mereka berjalan sampai kira setengah lie dimana mereka mencari tempat yang sepi.
"Ketika peristiwa menyedihkan itu terjadi, aku tidak di tempat kejadian,"
Kie Tie memberikan keterangannya.
"Tapi aku tahu, kau sendiri justeru berada di sana. Katanya pembunuhan terjadi sehabisnya orang bersenda gurau menggodai sepasang mempelai."
"Tidak salah,"
Kui Ciang membenarkan.
"Terjadinya itu tak sampai setengah bakaran sebatang hio habis orang bersenda gurau itu. Mempelai laki-laki telah terbunuh dan mempelai perempuan terculik."
"Kalau begitu, kau percaya perkataanku, bukan?"
Tanya Kie Tie.
"Pasti sekali Hee Seng To tak dapat mempunyai Nona Hee itu sebagai puterinya yang tulen?"
"Hal itu... aku mau percaya,"
Kata Kui Ciang, meskipun ia ragu-ragu.
"Habis, siapakah orang yang menjadi ayah yang sejati itu?"
Kie Tie tidak lantas menjawab, sebaliknya dia menanya dulu.
"Apakah kau pernah bertemu muka dengan pembunuh itu?"
"Malam itu rembulan guram dan bintang-bintang jarang, aku cuma mendapat lihat punggungnya,"
Kui Ciang jawab.
"Barangkali yang lain-lainnya?"
"Pasti sekali lain-lain orang juga tak ada yang melihat mukanya pembunuh itu!"
Sahut Kui Ciang pula.
"Kalau tidak, tidak nanti perkara itu menjadi perkara gantung sampai sekarang ini..."
"Tepat!"
Kata si pengemis.
"Semua kamu tidak melihat pembunuh itu, tetapi kenapa kamu menerka Hong-hu Siong, bahkan menerka secara pasti sekali?"
"Mengenai itu ada sebabnya,"
Kui Ciang memberi keterangan.
"Sebelumnya dia menghembuskan napasnya yang terakhir, mempelai laki-laki itu meninggalkan tulisan yang belum lengkap. Ialah dia menulis hanya sebuah huruf 'Hong'. Itu yang pertama. Yang kedua, punggungnya pembunuh itu terlihat sama dengan punggungnya Hong-hu Siong. Dan yang ketiga, jikalau dia bukannya Hong-hu Siong, kenapa Leng Bwe menghendaki puterinya itu membinasakan dia?"
Untuk menjelaskan, Kui Ciang menuturkan peristiwa sedih malam itu sebagaimana yang ia saksikan sendiri. Kie Tie menghela napas.
"Pantaslah Hong-hu Siong yang dicurigai,"
Katanya, masgul.
"Mempelai laki-laki mati kecewa dan mempelai perempuan malang nasibnya, karena sampai sekarang ini duduknya kejadian tetap masih belum jelas..."
"Sebenarnya bagaimana duduknya hal itu?"
Tanya Toan Kui Cian, yang bemapsu memperoleh perjelasan.
"Siapa pembunuh yang sebenarnya itu?"
"Pembunuh itu bukannya Hong-hu Siong,"
Menyahut Kie Tie.
"Cuma dengan Hong-hu Siong, dia ada sangkut pautnya. Pembunuh itu, dia... dia..."
Kui Ciang menjadi sangat tidak sabaran, begitu juga isterinya dan Leng Song.
Itulah perkara gantung yang sudah berjalan dua puluh tahun.
Ia menjadi tidak sabaran karena Kie Tie main ayal-ayalan.."Dia...
dia siapakah?"
Ia tanya mendesak.
"Dia..."
Mendadak terasa sampokan angin dari belakang.
"Ada orang!"
Teriak Kui Ciang terkejut.
"Kau!"
Kie Tie berseru seraya dia mementang kedua tangannya, untuk melindungi Kui Ciang, akan tetapi belum berhenti suaranya itu atau rubuhnya sudah roboh terbanting!
Kui Ciang kaget bukan kepalang.
Tapi ialah seorang jago, dapat ia menguasai dirinya.
Ia tahu itulah hasil perbuatan serangan gelap dengan senjata rahasia.
Tanpa menanti sampai ia menoleh lagi, untuk melihat siapa tukang bokong itu, tubuhnya sudah mencelat berputar, untuk lompat menghampirkan penyerang itu, sedang pedangnya telah dihunus dan dipakai melindungi dirinya.
Ia menjaga diri kalaukalau serangan gelap itu diulangi.
Berbareng dengan itu terdengar dampratan Leng Song, yang juga sudah lantas mengejar.
Penyerang itu berlompat lari sambil membalik kepalanya, terdengar suaranya yang aneh.
Suara itu tertawa bukan, menangis bukan.
Toh nadanya sedih.
Ia mengasih dengar suara itu sambil mengawasi Nona Hee.
Toan Kui Ciang sudah lantas mengenali orang itu.
Dia bukan lain daripada Hong-hu Siong.
Ia menjadi mendongkol dan gusar sekali.
Tengah orang berdiam mengawasi Leng Song, ia lompat menerjang dengan satu tikaman hebat.
Hong-hu Siong masih sempat menangkis dengan tongkatnya, tetapi terdengarnya satu suara nyaring, ujung tongkat itu kena terhajar hingga "terluka".
Dilain pihak, tangan Kui Ciang tergempur hingga telapakannya terasa nyeri dan kesemutan, hingga ia mesti mundur guna mempertahankan kuda-kudanya.
Menggunai ketikanya yang baik itu, Hong-hu Siong lompat nyamping, untuk menyingkir ke dalam rimba.
Sementara itu Kie Tie, setelah robohnya, cuma mengasih dengar suara menyayatkan satu kali, terus tidak terdengar apaapa lagi, karena mana Kui Ciang lari balik untuk menolongi.
Hee Leng Song sebaliknya, dia mengejar terus.
Dia sampai tidak menghiraukan teriakan Kui Ciang, yang memanggil dia kembali.
Touw Sian Nio kuatir nona itu mendapat celaka, sebaliknya daripada suaminya, dengan membawa panahnya, ia lari menyusul, guna memberikan bantuannya kalau itu dibutuhkan.
Kui Ciang membiarkan isterinya pergi.
Meski ia tahu Hong-hu Siong liehay, sebagaimana bentrokan barusan telah memberi bukti kepadanya, akan tetapi ia percaya Leng Song dibantu isterinya itu tak nanti terkalahkan orang she Hong-hu itu.
Ia hanya memerlukan memeriksa Kie Tie.
Mukanya pengemis itu lantas saja menjadi bersemu hitam dan dari ujung mulutnya mengalir darah, yang mendatangkan bau bacin yang keras.
Menampak demikian, orang she Toan ini menjadi kaget sekali.
Itulah tanda dari bencana besar.
Tatkala ia mengulur tangannya meraba tubuh orang, nyata napas Kie Tie telah lantas berhenti jalan.
Ia menjadi mendongkol dan berduka sekali.
Ia melongo sekian lama, akhirnya -tanpa merasa lagi -ia menangis.
"Kie Lo-cianpwe,"
Katanya, sangat menyesal.
"Kau masih mengatakan bukannya Hong-hu Siong. Sekarang jiwamu diantar pergi oleh tangannya..."
Terang sudah duduknya kejadian.
Hong-hu Siong berada di dekat-dekat situ, ia bersembunyi untuk memasang mata dan telinga.
Ia takut Kie Tie nanti membuka rahasia, maka ia menurunkan tangan dengan membokong dengan senjata rahasianya yang berbisa itu.
Terang ia hendak membinasakan Kie Tie dan Kui Ciang berdua tetapi Kie Tie melindungi si orang she Toan, yang menjadi tertolong terhindar dari bahaya maut, hanya dia sendiri yang menjadi korban.
Coba Kie Tie bukan si jago tua, tidak nanti Hong-hde Siong menurunkan tangan jahat itu.
Hanya, apa yang aneh, Kie Tie membilang Hong-hu Siong bukan pembunuhnya ayah Nona Hee.
Pula aneh, Kie Tie dapat mati lantas sedang dia tangguh.
Kenapa dia tidak mau segera menyebutkan nama si pembunuh?
Kalau si pembunuh benar Hong-hu Siong, apa mungkin dia mau melindungi orang she Hong-hu itu dengan memegang rahasia namanya, hingga dia sudi mengorbankan jiwanya?
Sambil menenangkan diri, Toan Kui Ciang membuang tempo untuk membikin lenyap rasa nyeri di tangannya.
Ia ingat senjatanya Honghu Siong, lantas ia mencari kayu atau ujung tongkatnya Hong-hu Siong yang kena terbabat pedangnya tadi.
Ia berhasil mendapatkan.
Ujung tongkat itu memberi harum kayu cendana asal Lam Hay, Laut Selatan.
"Hong-hu Siong mempunyai tongkat kayu asal Lam Hay,"
Ia berpikir.
"Tongkat itu hendak aku jadikan bukti. Semua jago Rimba Persilatan yang tua-tua mesti mengenalnya. Ujung tongkat ini mesti aku jadikan bukti dari perbuatannya yang jahat. Aku pun mesti minta bantuannya beberapa orang tertua untuk mereka itu mencari balas buat Kie Lo-cianpwe...!"
Tak lama maka terlihat Leng Song dan Sian Nio kembali dengan tangan kosong.
"Rimba sangat lebat, penjahat itu dapat lolos,"
Kata sang isteri.
"Bagaimana dengan Kie Lo-cianpwe?"
"Tak beruntung untuknya, ia sudah menutup mata karena lukanya,"
Sahut Kui Ciang, masgul.
"Mari bantu aku, supaya kita dapat menguburnya di sini..."
Sian Nio heran.
"Kenapa dia mati demikian lekas?"
Katanya, yang segera menghampirkan. Ialah ahli senjata rahasia. Lantas ia berseru tertahan.
"Inilah akibatnya jarum beracun yang begitu mengenai lantas menutup kerongkongan! Kenapa Hong-hu Siong dapat menggunai senjata rahasia yang begini jahat?"
Di jaman itu banyak jago Rimba Persilatan menghargai martabat sendiri.
Di antara golongan kelas satu, sangat sedikit orang yang menggunai senjata itu.
Sekarang Hong-hu Siong menggunai jarum jahat, tidak heran Sian Nio menjadi tercengang.
"Benar!"
Kata Kui Ciang.
"Tadi aku ingat sampai kesitu, adik Sian. Menurut apa yang aku tahu, Hong-hu Siong belum pernah menggunakan senjata rahasia, apapula senjata rahasia yang dipakaikan racun. Mustahilkah... mustahilkah...?"
Sian Nio dapat membade hati suaminya. Ia menggeleng kepala.
"Tak mungkin!"
Katanya.
"Tak mungkin Hong-hu Siong itu Hong-hu Siong palsu! Bukankah kita bertiga melihatnya tegas sekali?"
"Ibuku membilangi aku Hong-hu Siong licik dan jahat tak lawannya!"
Kata Leng Song.
"Maka itu aku mau percaya, dia biasa tak menggunai senjata rahasia melulu siasatnya untuk membikin martabatnya naik tinggi, tetapi sekarang ini, di saat begini mendesak, dia tidak dapat memilih jalan lain, maka juga senjata yang paling jahat dan berbisa pun dia gunai!"
Kui Ciang merasa si nona bicara terpengaruhkan rasa bencinya, akan tetapi ia telah melihat sendiri kepada Hong-hu Siong, maka itu, bersangsi atau tidak, ia mau menerima baik pikiran nona itu.
"Hiantit-lie,"
Kata ia, kemudian.
"Hendak aku menanya kau satu urusan. Aku dengar halnya kau baru ini di gunung Lee San, di dalam kuil Thouw Tee Bio, telah bertemu dengan Honghu Siong. Kau katanya hendak membunuh dia, tetapi dia duduk tak bergeming di lantai, dia menyerah untuk dibunuh. Benarkah itu?"
"Tidak salah, itulah benar,"
Sahut si nona.
"Karena itu juga, ketika itu Lam Tayhiap kena diabui dia, Lam Tayhiap menganggap dialah seorang baik hingga aku dicegah membunuhnya. Menurut anggapanku, perbuatan dia itu waktu mestinya perbuatan sandiwara saja, itu menandakan kelicikannya. Dia rupanya percaya betul bahwa Lam Tayhiap bakal menghalang-halangi aku!"
Mendengar demikian, Kui Ciang heran.
"Ketika itu aku tak sadarkan diri,"
Katanya.
"Ketika itu Honghu Siong yang telah menolongi aku dengan memukul mundur musuh, kemudian dia menolongi jiwaku hingga aku mendusin dan selamat. Itulah kenyataan. Tapi sekarang terjadi peristiwa ini. Kenapa dulu dia berbuat sangat baik padaku, dia telah menolong aku dua kali? Kenapa sekarang dia justeru hendak membinasakan aku? Kenapa?"
"Engko, kau selalu mengambil pandangan dari sudut yang menyenangkan,"
Kata Sian Nio.
"Apakah yang aneh disini? Bukankah kau pernah membilangi bahwa ketika dia semula menolongi kau, dia mengharap supaya kau nanti membalas budi kepadanya, supaya kau dari imusuh memandangnya sebagai sahabat? Sekarang dia ketahui permusuhan tak dapat didamaikan pula, dia pula takut Kie Tie nanti membeber hal yang sebenarnya hingga kau ketahui duduknya perkara, maka itu dia pasti ingin menurunkan tangan jahat atas dirimu!"
Leng Song telah menjadi tidak sabaran. Begitu mendengar perkataannya Sian nio, dia lantas menanyai Kui Ciang.
"Sebetulnya, apakah yang si pengemis tua bilang padamu?"
Kui Ciang ayal-ayalan ketika ia menjawab.
"Dia... dia membilang bahwa Hong-hu Siong bukanlah musuh kamu, akan tetapi di saat yang paling penting, yaitu ketika dia hendak menyebutkan-she dan namanya musuhmu itu, dia telah lantas dibinasakan Hong-hu Siong..."
"Baik, biarkanlah urusan ini!"
Kata Nona Hee kemudian.
"Ibuku juga bermaksud untuk hanya menyingkirkan bahaya bagi orang banyak, bukan buat permusuhan yang tak dapat tak dibereskan di antara Hong-hu Siong dengan kami. Yang aku hendak tanyakan ialah, apakah pengemis tua itu ada menyebutkan sesuatu yang mengenai riwayat diriku?"
"Dia belum sampai menyebutkan,"
Sahut Kui Ciang, yang kembali ragu-ragu, nampaknya dia jengah.
"Hanya... hanya aku mau percaya bahwa apa yang dia telah bilangi kau kiranya bukan hal ngaco belo saja. Parasnya Leng Song menjadi pucat, alisnya rapat satu dengan lain. Hatinya memang seperti terbenam dalam kegelapan, maka sekarang, boleh ia tak percaya Kie Tie tetapi ia harus percaya Kui Ciang. Ia lantas tunduk dan mengeluarkan kata-kata yang tidak tegas.
"Mungkinkah ibu ada menyembunyikan apa-apa kepadaku?"
Ia berpikir. Ia berhenti sejenak, terus ia tanya pula Toan Tayhiap.
"Toan Peehu, kaulah sahabatnya ayahku, dapatkau kau memberikan keterangan padaku?"
Kui Ciang bersangsi, sulit untuk ia berbicara. Maka ia mesti berpikir keras.
"Semenjak ayahmu menikah, aku tak pernah melihat pula ia serta ibumu,"
Ia menjawab kemudian.
"Hanya, menurut apa yang aku duga, Hong-hu Siong itu mungkin benar musuh orang tuamu, maka itu ibumu menghendaki kau membunuhnya bukan cuma guna menyingkirkan bencana untuk umum tetapi sekalian buat membalaskan sakit hatinya sendiri..."
Leng Song cerdas, maka ia lantas dapat merasa Kui Ciang tidak bicara seluruhnya.
Walaupun demikian, berdasarkan keterangan Kui Ciang ini, ia mau menduga bahwa tentang asal usulnya sendiri mestilah suatu soal yang ruwet.
Maka ia menggigit bibirnya.
"Baikah, peehu!"
Katanya.
"Jikalau peehu tidak dapat menjelaskan, baik nanti saja aku pulang untuk menanya kepada ibuku sendiri..."
"Bukannya aku tidak mau bicara,"
Kata Kui Ciang, sabar.
"Aku hanya tidak dapat bicara lantaran masih ada hal-hal yang aku belum jelas. Aku rasa kalau nanti kau sudah bertemu dengan ibumu baru kau akan megerti duduknya hal yang benar."
"Aku belum pernah bertemu dengan ibumu,"
Kata Sian Nio pada si nona.
"Akan tetapi sudah lama aku mendengar dan mengagumi dia. Dapatkah aku pergi untuk menjenguk ibumu itu?"
"Bibi suka mengunjungi kami, aku bersyukur bukan main, pasti kami akan menyambut dengan girang sekali,"
Menyahut Leng Song.
"Hanya di dalam hal ini, aku tak dapat mengambil keputusan sendiri. Maka itu bagaimana kalau aku pulang dulu untuk menanyakan ibu, habis mana baru aku memberi kabar kepada bibi? Tabiat itu ada sedikit aneh, ia tak suka bertemu dengan orang yang belum dikenal..."
Dengan perkataannya ini, masih ada sesuatu yang si nona sembunyikan.
Itulah pesan wanti-wanti dari ibunya supaya alamatnya juga jangan diberitahukan kepada Toan Kui Ciang.
Sian Nio tidak dapat memaksa, sedang Kui Ciang berdiam saja.
"Lam Tayhiap sudah pergi ke Hoay-yang,"
Kata Leng Song kemudian.
"Turut apa yang aku tahu, dia hendak menyampaikan kepada Thio Sunbu dan Kwe Cu Gie tentang komplotan di antara Ong Pek Thong ayah dan anak dengan An Lok San. Dari Hoay-yang, dia mau kembali ke Kiu-goan. Lam Tayhiap minta aku menyampaikan dan menanya kau, peehu, apakah kau suka pergi menemui dia di Kiu-goan atau tidak?"
Pertanyaan ini ada baiknya untuk Kui Ciang. Ada alasan untuknya membuka mulut.
"Aku memang mau pergi ke Kiu-goan,"
Sahurnya.
"Kalau nanti kau sudah bertemu dengan ibumu, andaikata ada sesuatu yang diperlukan dari aku, kau boleh pergi ke Kiu-goan akan mencari aku di sana."
Leng Song mengangguk.
Sampai disitu, bertiga mereka lantas bekerja, guna menggali tanah, guna mengubur mayatnya Kie Tie.
Kui Ciang berduka bukan main menyaksikan kuburannya pengemis jagoan itu, yang tak mestinya terkubur di tempat belukar itu.
Selesai mengubur, ketiga orang ini bersama-sama turun gunung.
Selagi berjalan, semua berdiam.
Mereka merasa hati mereka masing-masing berat sekali.
Baru kemudian Touw Sian Nio menarik napas.
"Selama beberapa bulan ini,"
Katanya masgul.
"Pelbagai urusan yang tak menyenangkan hati datang bersilih ganti, lalu akhirnya kita menjadi rumah hilang dan orang menutup mata... Semua itu mirip dengan impian buruk yang tak pernah tamat!"
Kui Ciang merasa sulit menghibur isterinya, tetapi ia paksa tertawa dan kata.
"Mungkin itu disebabkan kita sudah merasakan hidup berbahagia sepuluh tahun lamanya, maka Thie-kong sengaja membuat kita merasakan penderitaan..."
Leng Song tidak turut bicara. Ia hanya memanggil kuda putihnya, yang terus muncul.
"Sampai kita bertemu pula!"
Katanya seraya lompat atas kudanya, untuk terus kabur dengan menepas airmata...
Hari dan bulan berlalu dengan cepat, banyak yang telah berganti rupa.
Sejak Ong Pek Thong dan anak-anaknya memukul hancur benteng Hui Houw San, tujuh tahun telah berselang.
Selama tujuh tahun ini, banyak perubahan dalam dunia Sungai Telaga.
Dengan runtuhnya Keluarga Touw, Keluarga Ong telah menggantikannya.
Benar telah terjadi itu kekacauan di lembah Liong Bin Kok dimana rahasianya Keluarga Ong terbuka, hingga kaum Rimba Hijau menjadi terpecah, Ong Pek Thong tetap tercapai cita-citanya menjadi Lok-lim Beng-cu, ketua kaum Rimba Hijau, dan orang Rimba Hijau yang menghamba kepadanya juga berjumlah besar.
Maka dalam kalangan Rimba Hijau itu, pengaruhnya menjadi besar sekali, bahkan paling besar.
Dengan begitu juga, maka orang telah mulai melupakan kemashuran Touw-kee Ngo-houw, Lima Harimau Keluarga Touw dari gunung Hui Houw San itu.
Di kalangan pemerintahan, sebaliknya, Pemerintah Agung nampak makin lemah, sedang pengaruhnya An Lok San bertambah besar, dengan kedudukannya sebagai pembesar dari tiga kota Hoan-yang, Peng-pou dan Hoo-tong, dia seperti sebuah negara yang merdeka sendiri di bagian utara itu.
Dia mempunyai tentara dan rangsum yang jumlahnya melebihkan rangsum dan tentara pemerintah.
Pada suatu hari di dalam bulan sembilan dari tahun Thian Po ke empat belas dari Kerajaan Tong, di tanah datar di dalam wilayah kota Peng-yang, ada seorang penunggang kuda yang lagi mengaburkan kudanya.
Dialah seorang perwira dengan potongan yang disebut "berpinggang beruang dan berpunggung harimau".
Inilah tidak heran, sebab dialah Cin Siang, turunan dari Jenderal Cin Siok Poo, salah satu panglima perang yang turut membangun Kerajaan Tong, dan sekarang dialah satu di antara Toa-kho-ciu, orang tergagah, di dalam istana kaisar.
Cin Siang sedang bertugas, dia diperintah mengikut Tiong-su Phang Sin Wie yang diutus Pemerintah Agung untuk menemui An Lok San, guna "menghibur"
Itu Ciat-touw-su yang sangat besar pengaruhnya, guna membikin hati tenteram.
Dia mengaburkan kudanya sebab dia berlalu secara diamdiam dari kota Hoan-yang yang menjadi tempat kedudukannya An Lok San.
Dia mau pulang ke kota raja guna menyampaikan laporan kepada pemerintah tentang cita-cita atau aksinya An Lok San untuk menerbitkan huru-hara, buat berontak terhadap Pemerintah Agung.
Pada tujuh tahun yang sudah berlalu, Kwe Cu Gie sudah mengajukan laporan rahasia kepada Raja Hian Cong halnya An Lok San lagi bekerja keras "membeli"
Orang-orang Rimba Hijau serta mengumpulkan kuda dan tentara, untuk persediaannya berontak merobohkan pemerintah, tetapi laporan itu tidak dihiraukan.
Raja sedang sangat percaya pada Ciat-touw-su itu yang disayanginya, sedang Yo Kui-hui telah bicara baik perihal panglima di perbatasan itu.
Didiamkannya laporan rahasia itu membuatnya An Lok San merdeka dengan persiapannya itu.
An Lok San cerdik.
Tahun dulu itu dia tidak segera mengangkat senjata disebabkan tiga soal.
Pertama-tama persiapannya belum matang.
Kedua lantaran siasatnya menggunai tenaga Ong Pek Thong menghadapi rintangan.
Dan ketiga, dia telah mendengar selentingan perihal laporan rahasia dari Kwe Cu Gie itu.
Maka terpaksa dia terus beraksi bersetia kepada Kaisar Hian Cong, yang diabuinya.
Dengan demikian juga, tahun ketemu tahun, pemberontakannya belum dapat diletupkan.
Barulah tahun ini dia merasa waktunya sudah tiba buat turun tangan karena tentaranya sudah berjumlah besar dan kepala perangnya banyak.
Dia percaya bahwa dialah yang bakal merebut kemenangan.
Demikian dengan alasan "mempersembahkan kuda"
Dia telah menghaturkan suratnya.
Dia kata daerah perbatasan tempat bertugasnya itu menjadi tempat yang mengeluarkan kuda pilihan, maka ia sudah memilih tiga ribu ekor lebih dan mempersembahkannya kepada junjungannya yang maha agung.
Dia menjelaskan kudanya itu dapat dipakai andaikata Raja mau menyerang ke timur atau menerjang ke barat, sebab setiap, kuda telah diperlengkapi pelana yang dapat memuat dua orang serdadu.
Dia kata dia mengutus dua puluh empat Hoan-ciang, perwira suku perbatasan, guna mengantari semua kuda itu, sedang hari keberangkatannya bakal dipilih dan ditetapkan.
Karena itu dia minta Raja memerintahkan semua pembesar, yang daerahnya bakal dilalui rombongan kuda itu, bersiap sedia menyambut dan mengatur rumput makanan kuda.
Kapan Kaisar Hian Cong menerima surat itu, mau atau tidak, timbul juga kecurigaannya, tak perduli ia sangat percaya panglimanya itu.
Ia pikir, kalau seekor kuda dapat membawa dua serdadu, tiga ribu ekor berarti enam ribu serdadu, dan rombongan itu diantar juga dua puluh empat Hoan-ciang, sedang setiap Hoan-ciang mesti ada pengikutnya lagi.
Tidakkah jumlahnya semua akan ada kira sepuluh ribu jiwa?
Kalau mereka itu dibiarkan memasuki kota Tiang-an, tidakkah mereka membahayakan?
Lantas Raja mengadakan sidang.
Para menteri menganggap An Lok San harus dicurigai dan tak dapat dipercaya.
Mereka kata berbahaya kalau "kudanya"
An Lok San itu dibiarkan memasuki kota raja.
Maka mereka mengusulkan supaya An Lok San ditegur.
Walaupun para menteri bersikap demikian rupa, Kaisar Hian Cong bersangsi.
Ia masih tak percaya An Lok San benar berniat berontak.
Karenanya ia kuaur, kalau An Lok San ditegur, dia jadi tak senang hati dan benar-benar berontak.
Kesangsian Raja menyebabkan seorang menteri tua mengusulkan untuk dengan lunak mencegah An Lok San mengirimkan hadiah kudanya itu.
Usul itu diterima baik.
Maka itu Tiong-su Phang Sin Wie lantas diutus ke Hoan-yang.
Dalam firman kepada An Lok San, Raja puji kesetiaan panglirna itu, bahwa ia merasa senang, kemudian dengan manis hadiah ditampik, yaitu katanya kuda itu tak usah dikirim ke kota raja.
Sebagai alasan dikemukakan kuda mesti berjalan untuk banyak hari sedang itu waktu permulaan musim rontok, musim panen.
Dikatakan baiklah pengiriman ditunda saja sampai lain musim.
Phang Sin Wie bersama Cin Siang telah tiba di Hoan-yang.
An Lok San gusar sekali.
Dari kota raja ia sudah menerima warta rahasia dan mengetahui duduknya hal.
Ia tidak mau keluar menyambut utusan kaisar, dan ketika Phang Sin Wie membacakan firman, ia juga tidak mau menjalankan kehormatan dengan bertekuk lutut, bahkan dia duduk agungagungan di atas pembaringannya, sebuah pembaringan model pembaringan orang Ouw (Tartar).
Setelah firman dibacakan, berulang kali dia tertawa dingin, dengan roman murka dia kata.
"Aku dengar kabar Yo Kui-hui di dalam keraton belajar menunggang kuda, aku pikir Raja menggemari kuda, aku di sini mempunyai banyak kuda pilihan, maka mau aku mempersembahkannya. Kalau begini bunyi firman, baiklah, tak apa aku tidak mempersembahkan!"
Phang Sin Wie melihat pasukan pengiringnya An Lok San teratur rapi, tak mau ia membantah.
An Lok San memberi tempat beristirahat pada utusan itu, tapi ia memperlakukannya tawar sekali.
Lewat beberapa hari, Phang Sin Wie mau pulang ke kota raja, ia mohon menghadap An Lok San, ia menanya ada surat balasan atau tidak.
Atas itu An Lok San kata.
"Firman menyebut lain musim, itu artinya sampai bulan sepuluh, sekalipun aku tidak mempersembahkan kuda, aku sendiri bakal datang ke kota raja untuk melihat pemerintahan, dari itu, buat apa aku memberi balasan? Bahkan kau sendiri, tak usah kau kesusu pulang, kau tunggu saja sampai bulan sepuluh, nanti kita berangkat bersama-sama!"
Phang Sin Wie tidak berani banyak omong.
Ia tahu pasti An Lok San benar mau berontak.
Sekembalinya ke gedung penginapannya, ia lantas berdamai dengan Cin Siang.
Ia minta Cin Siang lekas pulang guna memberi kisikan pada raja, supaya raja siap sedia.
Cin Siang gagah, dia dirintangi oleh orang-orangnya An Lok San tetapi dia lolos.
Demikian dia kabur dari kota Hoan-yang, siang dan malam, dan besokannya tengah hari, dia sudah meninggalkan kota seratus lie lebih.
Karena itu, meski kudanya jempol, kuda itu toh sangat letih dan mulurnya berbusa.
Terpaksa dia mau singgah, supaya kudanya bisa mengaso, makan rumput dan minum.
Itu waktu Cin Siang berada di kaki gunung.
Tiba-tiba dia dipegat serombongan pasukan berkuda, yang muncul dari tikungan gunung.
Mereka itu memegat sambil meminta uang cukai jalan.
"Jalan gunung ini kami yang buka! Pohon-pohon di sini kami yang tanam! Siapa mau lewat di sini, dia mesti membayar sewa jalan!"
Demikian katanya. Cin Siang gusar hingga dia berseru.
"Bapak kamu she Cin ini justeru kakek moyang berandal! Kamu kawanan kurcaci tak tahu nol putul, kamu berani memegat kau?"
Terus dia gunakan sepasang ruyung kim-cong-gan menyerbu kawanan pemegat itu.
Sepasang senjata itu ada senjata turunan, beratnya enam puluh empat kati.
Dulu hari Cin Siong alias Siok Po, leluhurnya telah menggunakan senjata itu membantu Lie Sie Bin membasmi delapan belas raja-raja muda hingga akhirnya bangunkan Kerajaan Tong.
Sekarang Cin Siang menggunainya melabrak hebat pada kawanan perintangnya ini!
Dari dalam pasukan berandal dengan mendadak muncul dua orang penunggang kuda yang bersamaan romannya, yang usianya masing-masing usia pertengahan.
Mereka itu mencekal golok masing-masing di tangan kiri dan tangan kanan.
Dengan lantas mereka mengepung kepada Cin Siang dan serangannya hebat sekali, sebab dua batang golok mereka merupakan sebagai segelempang bianglala!
Cin Siang terperanjat.
Ia lantas merasa bahwa ia lagi berhadapan bukan dengan sembarang penjahat.
Tapi ia tidak takut, bahkan ia menyambut mereka dengan seruannya.
"Bagus!"
Sepasang ruyung sudah lantas bekerja menangkis serangan dahsyat itu.
Dua tenaga baru itu ialah dua saudara she Cio yang terjuluk Im-yang-to atau golok "Im Yang".
Keduanya menjadi sebawahan yang diandalkan Ong Pek Thong karena ilmu golok mereka yang luar^ biasa.
Mereka selalu berkelahi berdua, disebabkan senjata mereka yang dicekal dengan tangan kiri dan kanan masing-masing.
Cin Siang tidak mau mengasih hati walaupun orang liehay.
Ia ingin lekas-lekas mengundurkan musuh.
Baru beberapa jurus, mendadak ia menangkis hebat dengan sepasang ruyungnya.
Dua kali beruntun terdengar bentrokan keras, lalu goloknya Cio It Liong kena dibikin terbang, disusul dengan mentalnya golok Cio It Houw!
Justeru itu ada terdengar suara panah nyaring.
Untuk kaum Rimba Hijau, itulah isyarat untuk menghentikan pertempuran, tetapi untuk peperangan resmi, itu dapat diartikan sebagai perbuatan menghina.
Cin Siang tidak senang, ia menangkis panah itu, membuatnya terpental, hanya berbareng dengan itu ia merupakan jemparing bertenaga besar sekali.
Segera juga muncul si pelepas panah, seorang penunggang kuda lainnya.
Dialah seorang pemuda yang tampan dan gagah romannya.
Karena dialah Ong Liong Kek, anaknya Ong Pek Thong.
Liong Kek pandai ilmu totok, senjatanya yang biasa ialah sepasang thie-san-ie atau kipas besi, akan tetapi senjata pendek itu tak leluasa dipakai dalam pertempuran sambil menunggang kuda, maka ia tukar itu dengan sepasang poankoan-pit, gegaman semacam alat tulis yang istimewa, ialah empat kaki lebih panjangnya, sedang yang umum ialah enam kaki delapan dim.
"Tuan!"
Liong Kek menyapa setelah dia datang dekat.
"Didalam pasukan pemerintah ada perwira segagah kau, itulah hal yang langka! Tuan, mengapa kau kesudian menjual jiwamu kepada negara? Lebih baik tuan turut kami menjadi Raja Gunung, untuk kita hidup merdeka! Tidakkah itu bagus?"
"Bangsat cilik, angin busuk!"
Cin Siang membentak, seraya dengan Kim-cong-gan, ruyungnya, ia lantas menyerang.
Liong Kek waspada.
Ia berkelit dengan sebat.
Tubuhnya berguling, untuk berputaran pada perut kudanya.
Itulah tipu silat "Kim-lie Coan-po,"
Atau "Ikan gabus menembus gelombang".
Kedua kakinya dengan liehay menyantel pada pelananya.
Cin Siang ingat perjalanannya.
Begitu serangannya itu gagal, ia mengedul tali lesnya dan kedua kakinya menjepit perut kudanya, untuk membikin kuda itu berlompat kabur.
Akan tetapi baru kudanya memutar kepala, lawannya sudah lompat menyusul untuk naik di punggung kudanya itu.
Liehay si anak muda, ia berlompat dengan menggunai tipu lompat "It-ho Ciong-thian,"
Atau "Burung jenjang terbang ke langit".
Sambil berlompat itu, ia juga menyerang dengan alat totoknya.
Cin Siang menangkis tetapi jgagal, orang sudah bercokol di punggung kudanya.
Ia terkejut, lebih-lebih sebab dengan senjatanya yang berat enam puluh empat kati itu, sulit untuk bertempur rapat.
Ong Liong Kek tidak mensia-siakan waktunya yang baik itu.
Segera dia menotok.
Cin Siang tidak dapat menangkis, ia berkelit, akan tetapi poan-koan-pit sudah mendahului mengenai dadanya hingga terdengar satu suara nyaring.
Ia tidak roboh atau terluka, sebab ia memakai baju lapis lunak, sedang totokan itu kurang tepat.
Maka itu cuma baju perangnya yang pecah.
Cin Siang menjadi sangat gusar.
Ingin ia membikin pembalasan.
Dengan sebat ia menancap ruyungnya di sela pelananya, setelah itu sambil berseru keras.
"Pergilah kau!"
Ia menyamber kepada musuhnya itu, menyamber ikat pinggangnya, untuk terus mengangkat tubuh dia itu!
Liong Kek kaget sekali.
Itulah kejadian yang ia mimpikan pun tidak.
Tidak disangka sekali orang berani melepaskan senjatanya, untuk sebaliknya menggunai tangan kosong!
Bukankah tadi bersenjata dia seperti tak berdaya?
Kenapa dia berani berlaku demikian berani?
Maka ia lantas menyerang, sepasang pirnya ditotokkan ke jalan darah kin-ceng kiri dan kanan.
Hanya baru ia menotok, tubuhnya sudah kena diangkat.
Cin Siang tersohor untuk tenaganya yang besar luar biasa.
Ketika si anak muda kena diangkat, ia merasakan sangat nyeri sampai ke ulu hatinya, hingga lenyaplah tenaga perlawanannya.
Benar kedua senjatanya menotok lepat akan tetapi tidak ada hasilnya, bahkan kedua tangannya terpaksa diturunkan sendirinya.
Dua saudara Cio menjadi sangat kaget, tetapi mereka masih ingat mengeprak kuda mereka dengan niatnya menolong!
Tapi mereka terlebih kaget lagi.
Mereka mendengar Liong Kek menjerit mengeluh dan rubuhnya diangkat bagaikan badan ayam yang enteng, karena tubuh jago muda itu dapat dibulang-balingkan, diputar seperti titiran.
Cin Siang berseru.
"Dengan membinasakan bangsat cilik ini cuma-cuma mengotorkan tanganku!"
Lantas ia melepaskan cekalannya, membikin tubuh orang terlempar pergi.
Kuda Cin Siang kuda yang terlatih baik, yang telah sering maju di medan perang.
Sebenarnya kuda itu sudah letih sekali, akan tetapi menghadapi saat-saat yang berbahaya, dia dapat bertindak tepat.
Begitulah dia meringkik keras, dia mengangkat keempat kakinya, buat berlompat untuk terus lari menerjang kurungan.
Dengan menerbitkan suara menderum, dari belakang terdengar suaranya anak-anak panah menyamber.
Cin Siang berseru pula.
Ia menancap pula senjatanya, yang ia sudah cabut buat dipakai menerjang musuh, dengan tangan kosong, ia menyambuti dua batang jemparing, untuk ditimpukkan dengan keras.
Celaka dua tauwbak yang mengejar, yang melepaskan panah itu, tak sempat mereka menangkis atau berkelit, anak-anak panah itu sudah kembali dan menancap di tubuhnya masingmasing, maka dengan satu teriakan hebat, keduanya roboh terguling dengan jiwanya melayang dalam sekejap.
Kejadian tersebut membuat sekalian liauwlo menghentikan pengejaran mereka.
Sementara itu, Liong Kek tidak roboh binasa atau terluka.
Selagi dilemparkan, ia meneruskan bergerak untuk jumpalitan, maka ia turun di tanah dengan tidak kurang suatu apa.
"Orang she Cin!"
Ia kata, tertawa dingin.
"Hendak aku lihat, berapa jauh kau dapat menyingkir dari sini? Anak-anak, jangan perdulikan dia!"
Cin Siang heran. Ia mau menyangka orang menggertak padanya. Ia pikir.
"Coba aku tidak mau lekas kembali ke kota raja, mesti aku ajar adat kepadamu..."
Maka ia lari terus. Sebentar saja sudah kabur belasan lie. Di sini kudanya lantas lari perlahan dengan napasnya mengorong.
"Syukur ada kau, kudaku!"
Kata Cin Siang sambil mengusapusap leher kudanya itu. Kemudian ia berpikir pula.
"Aku bukannya opsir yang mengantar rangsum, buat apa kawanan berandal itu memegat aku? Ah, aku mengerti sekarang! Telah lama aku mendengar kabar An Lok San berkongkol dengan Rimba Hijau, mungkin inilah rombongan konconya itu..."
Selagi memikir begitu, Touw-ut ini mendengar suara teguran yang nyaring tapi halus.
"Cin Tayjin, meski kau tidak letih, kudamu tentu sudah capai sekali! Silahkan kau turun untuk beristirahat dulu!"
Dengan terkejut Cin Siang menoleh, maka ia melihat seorang nona yang cantik muncul di hadapannya, melintang di tengah jalan.
Di belakang nona itu ada rombongannya, semua liauwlo wanita, jumlahnya belasan, dan mereka itu membawa sehelai bendera sulam air emas yang merupakan seekor burung walet.
Rombongan itu memernahkan diri sebagai perintang.
"Kau bikin apa?"
Tanya Touw-ut ini heran.
"Apakah kamu juga, nona-nona, melakukan pekerjaan Jalan Hitam yang tidak memakai modal?"
Nona itu sangat cantik, maka itu meski Cin Siang menduga dia terang tak bermaksud baik, ia menyaksikan merekalah kawanan berandal. Karena itu ia mengajukan pertanyaannya itu. Si nona tertawa.
"Cin Tayjin, nyatalah kau memandang sangat enteng kepada kami!"
Katanya.
"Apakah kau kira pekerjaan Jalan Hitam tanpa modal itu cuma pekerjaan bangsa pria? Tapi janganlah kau takut! Aku tidak menghendaki jiwamu, aku melainkan memikir mengundang kau datang ke tempat kami, untuk berdiam buat beberapa hari! Kau sudah melakukan perjalanan cepat dan jauh sekali, sudah selayaknya kau singgah untuk beristirahat!"
"Aku tidak mempunyai tempo luang untuk dilewatkan bersama kamu!"
Cin Siang menjawab.
"Maka itu lekaslah kau membuka jalan untukku!" -ooo0dw0ooo-
Jilid 13 Seorang serdadu wanita itu tertawa.
"Kau berani sekali!"
Katanya.
"Nona kami mengundang kau menjadi tetamu kami, kenapa kau tidak tahu salatan?"
Tak sudi Cin Siang melayani orang perempuan, ia menahan sabar.
"Kita tidak kenal satu dengan lain, aku bersyukur yang kamu begini baik hati,"
Ia kata.
"Tapi aku perlu melanjuti perjalananku sebab aku mempunyai urusan penting! Tolong kau memberi aku lewat!"
Si nona, yang sedari tadi mengawasi saja, mendadak tertawa.
"Cin Tayjin,"
Ia berkata.
"Menurut perkataan kau ini, kau jadinya seperti si orang yang diberi selamat dengan arak sudah menampik tetapi sebaliknya kau meminta arak dendaan! Apakah kau tahu aturan kami kaum Rimba Hijau?"
Cin Siang mementang sepasang matanya.
"Apakah katamu?"
Dia menegas.
"Kau sungkan menjadi tetamu kami,"
Kata si nona.
"Karena itu terpaksa kami harus memandang kau sebagai kambing kami! Kau harus ditangkap untuk dijadikan bingkisan untuk kami!"
Cin Siang mendongkol berbareng merasa lucu. Maka ia tertawa berkakak.
"Jadi kau juga belajar memberandal?"
Tanyanya.
"Apakah kau tahu bahwa aku baru saja keluar dari dalam barisan berandal? Kau baik ketahui sepasang senjataku ini, kesatu tidak menghajar orang yang tidak punya nama dan kedua tidak melayani kaum wanita! Aku beri ingat kepada kamu baiklah kamu bubaran saja!"
Nona itu tidak menjawab, ia juga tidak membilang suatu apa, hanya dari seorang prajuritnya ia menyambuti sebatang busur lengkap, untuk dengan itu mendadak dia memanah kudanya si perwira.
Cin Siang terperanjat, akan tetapi ia masih keburu menyampok anak panah.
Karena itu, ia kembali menjadi terkejut.
Kali ini disebabkan ia merasa jemparing itu bertenaga besar.
Inilah diluar dugaannya.
Kudanya lompat berjingkrak disebabkan jemparing melesat ke kakinya!
Ia lompat turun dari kuda yang ia sayang itu, sambil menepuk-nepuk ia kata.
"Kudaku, kudaku, pergilah kau ke depan! Di sana kau tunggui aku!"
Kuda itu benar-benar mengerti, dia terus lari menuju ke jalanan samping mereka.
Barisan si nona pun bekerja sangat sebat, mendadak mereka menggunai empat buah gaetan, kuda itu lantas tergaet roboh, sedang seorang nona menyamber lesnya, hingga dia lantas kena ditarik.
"Itulah kuda jempolan!"
Berkata si nona tertawa.
"Baikbaiklah rawat lukanya!"
Kemudian ia menoleh kepada Cin Siang, untuk berkata sambil tertawa terkekeh.
"Cin Tayjin, kudamu ini kuda jempolan, cuma masih ada kekurangannya! Dan itu sepasang kim-gan, yang mengkilat kuning, pasti itu terbuatnya dari emas perada dan beratnya mungkin seratus kati, itulah tentu besar harganya! Sekarang begini saja, kuda itu ditambah kim-gan itu, senjatamu itu, cukup untuk memberi muka padamu, maka kau tinggallah, silahkan kau pergi!"
Cin Siang gusar bukan main.
"Jikalau kau masih ngoceh saja, awas, aku tak akan sungkan-sungkan lagi!"
Katanya sengit. Si nona tertawa.
"Apakah sekarang kau suka menempur kami bangsa perempuan?"
Ia tanya.
"Baiklah! Asal kau dapat menangkan pedangku ini, akan aku memberi kemerdekaan padamu untuk lewat di sini dan kudamu juga akan aku bayar pulang!"
Cin Siang mendongkol bukan main. Ia lantas menghajar sebuah pohon di sisi jalan, hingga pohon itu patah dan roboh.
"Nona, lihatlah biar tegas,"
Ia kata.
"Kau lihat senjataku bukan senjata main-main! Apakah benar kau hendak menempur aku satu sama satu?"
Si nona bersenyum.
"Telah aku melihat tegas!"
Sahutnya.
"Cuma harus kau ingat, pohon itu pohon mati dan manusia ialah manusia hidup! Aku tidak percaya senjatamu itu dapat melukakan aku! Disebelah itu aku tahu baik sekali bahwa pedangku ini pedang yang tak dapat dibuat permainan!"
Cin Siang menjadi kewalahan.
"Baik!"
Katanya.
"Karena kau bicara besar, kau majulah!"
Si nona dengan sabar merapihkan ikat pinggangnya, lalu mendadak ia memutar pedangnya sambil berseru.
"Kau sambutlah!"
Lantas juga ia menyerang, membabat lengan orang!
Cin Siang percaya si nona liehay hanya ia tidak menyangka orang dapat melayaninya, karena itu ia merasa berkasihan dan ia berkuatir nanti melukai orang, maka ketika ia menangkis, ia menggunai tenaga tiga bagian.
Kesudahan sikap berkasihannya itu, ia menjadi kaget sekali, nyata si nona liehay.
Dia menyerang untuk menggertak saja, ketika dia menarik pedangnya, yang mental tertangkis, dengan tiba-tiba dia meneruskan itu untuk menyerang dada lawan dimana ada jalan darah soan-kie.
Dalam kaget bukan main, Cin Siang masih sempat membela diri.
Ia melengat dengan tipu silat.
"Tiat-poan-kio"
Atau "Jembatan besi"
Ia dapat bergerak dengan sebat hingga ujung pedang lewat di atasan mukanya sedikit.
Lalu, sebelum si nona sempat menyerang pula, lekas-lekas ia berdiri tegak, untuk melakukan serangan membalas dengan sepasang ruyungnya.
Meski begitu, ia masih tak sudi membinasakan si nona, maka ia menyerang ke arah senjatanya nona itu dengan keinginan membikin senjata itu terlepas dan jatuh.
"Sungguh liehay!"
Si nona berseru seraya ia menggunai tipu huruf "Lolos".
Ketika pedangnya nempel dengan ruyung lawan, ia menariknya pulang dengan tubuhnya lompat melejit.
Bahkan ruyung kanan si Touw-ut mengenai tempat kosong, hingga tubuhnya meluncur sedikit ke depan!
Si nona tidak berhenti setelah ia bebas itu.
ia segera melakukan pembalasan!
Sampai disitu, Cin Siang tidak berani memandang ringan kepada lawannya ini.
Ia mendapat kenyataan orang gesit luar biasa dan tenaga dalamnya pun mahir.
Karena ini, ia menjadi berlaku sungguh-sungguh.
Sepasang kim-gan digeraki hingga berkilauan dan suara anginnya menderu-deru.
Si nona tidak menajdi jeri meskipun ia dilawan keras.
Ia tertawa dan berkata.
"Cin Tayjin, bukankah sepasang ruyungmu ini diperantikan menghajar bangsa orang gagah? Hari ini kau memberi pengajaran kepadaku, aku jadi sangat girang dan bersyukur sekali terhadapmu!"
Itulah melulu kata-kata untuk memperolok-olok.
Sembari bergurau itu, si nona tapinya tidak beralpa.
Dengan liehay ia menggunai pedangnya.
Muka Cin Siang menjadi merah sendirinya.
Orang telah menyindir kepadanya.
Ia pun mendongkol karena hampir saja iganya kena tertikam ketika si nona merabuh ke kiri dan kanan, untuk mempermainkannya.
"Bangsat licik!"
Ia berteriak saking mendongkol. Ia menyerang dengan pukulan "Heng-in Toan-hong,"
Atau "Awan melintang memutus puncak".
Ia menggunai sepasang ruyungnya.
Ia sampai melupai sang lawan ialah seorang wanita -seorang nona!
Nona itu cerdik.
Ia tahu bahaya, ia tidak mau menangkis.
Ia berkelit.
Kembali ia melawan dengan menggunai kelincahannya.
Sia-sia belaka Cin Siang berlaku keras.
Ia tetap tidak berhasil menghajar si nona.
Hanya, disamping itu, walaupun ia gesit, si nona sebaliknya tak dapat merapatkan lawan yang tangguh itu.
Inilah sebab ilmu pedangnya itu belum mencapai puncak kemahiran, dia masih belum sempurna latihannya.
Demikian mereka nampak sama unggul.
Ketika Cin Siang kabur dari Hoan-yang, dia lebih banyak mengambil jalan sawah atau belukar, yang sukar dilaLuinya, sekarang dia berkelahi begini keras, tenaganya keluar banyak sekali.
Lama-lama dia merasa letih juga.
Disebabkan penjagaannya yang rapat, si nona belum dapat menggunai kesempatannya guna balik mendesak.
Tengah mereka itu berkutat, dari kejauhan terdengar riuh suara kaki kuda berlari-lari dan berisiknya suara kelenengannya.
Cin Siang dapat mendengar suara itu, ia mengambil kesempatan buat menoleh sebentar.
Lantas-saja ia mengeluh di dalam hatinya.
Di sana mendatangi rombongan tentara berandal, ialah rombongan yang tadi dilabrak!
Ong Liong Kek, yang menunggang kuda, tertawa lebar.
"Orang she Cin!"
Teriaknya.
"Apa aku bilang? Tak dapat kau lolos! Sekarang kau tak dapat membilang apa-apa lagi, bukan? Ha, ha, ha!"
Lalu sambil mengangkat sepasang poan-koan-pitnya, ia berseru.
"Adik Yan, inilah bukan saat orang bertanding mengadu kepandaian! Buat apa kau mensia-siakan tempo melawannya? Ah, buat apakah gaetan kamu itu? Hayo, lekas kamu bantui nona kamu! Lekas kamu bekuk musuh!"
Kata-kata yang belakangan itu ditujukan kepada barisan wanita.
Memang nona itu adiknya Ong Liong Kek, yaitu Nona Ong Yan Lie.
Barisan wanita itu tidak berani bergerak tanpa ada perintah nonanya, tetapi sekarang si majikan muda, tak berani mereka tidak menurut.
Maka dengan lantas semuanya bekerja.
Begitulah mereka maju dengan belasan gaetan mereka, mengarah kakinya si Touw-ut.
Ong Liong Kek sendiri sudah lantas tiba, maka ia menyerbu guna membantui adiknya.
Barisan wanita itu sudah terdidik baik, hebat mereka menyerang dengan gaetan mereka, senjata yang panjang dan bercagak itu.
Mereka mengurung dari jauh dan menyerang setiap lowongan, semua serangannya dengan beraturan.
Cin Siang mendongkol dan penasaran.
Ia lantas menyerang dengan tendangan berantai "Cin-pou Wan-yoh Lian-hoan-twie".
Ia berhasil menendang mental dua buah gaetan, atau yang ketiga menyantel betisnya.
Masih ia dapat berlaku sebat, sebelum kakinya ditarik, ia berseru nyaring smabil menggempur hingga gagang gaetan patah.
Si liauwlo wanita, yang menggaetnya, kaget, hingga dia menjadi kena tergertak dan kalah sebat.
Lama-lama Cin Siang menjadi letih.
Dikurung terus menerus, ia tidak mempunyai kesempatan untuk membuang napas, guna mendapat sedikit ketika beristirahat.
Di depannya ada Ong Yang Ie yang gesit dan Liong Kek yang merupakan satu tenaga baru.
Repot ia melayani desakan mereka, lebih repot lagi karena gaetan menyamber-nyamber tak hentinya, sedikit ayal saja, ia bisa mendapat susah.
Satu kali Poan-koan-pit Liong Kek mengenai sasarannya, hingga baju si Touw-ut menjadi pecah dan robek.
Syukur ia memakai baju lapis baja, kalau tidak, siang-siang ia sudah tertotok roboh.
Ia tidak manda ditotok itu, selagi tertotok, ia menggempur senjata lawannya.
Liong Kek terkejut.
Tangannya mental dan telapakannya nyeri dan sesemutan.
Cin Siang menggunai ketikanya yang baik itu.
Memang ia telah melihat, di antara dua lawannya itu si nona, atau adik, jauh terlebih gagah dari si pria, sang kakak, maka itu, ia memasang mata kepada si pria, untuk didesak, guna lebih dulu merobohkan musuh pria ini.
Ia percaya, asal Liong Kek mundur atau roboh, ia akan bisa lompat guna meloloskan diri.
Demikian datang saatnya itu, habis ditotok, ia menggempur Poan-koan-pit si lawan.
Inilah satu ketika yang baik.
Apa mau, justeru ia menggempur Liong Kek, justeru ia membuat lowongan.
Yan Ie yang matanya celi melihat itu, lantas si nona tidak mensia-siakan ketikanya, dia terus saja menikam.
Cin Siang terperanjat, ia kesakitan.
Serangan si nona mengenai lengannya bagian atas, hingga baju lapisnya kena tertusuk, hingga ia lantas mengucurkan darah.
Ia terperanjat berbareng gusar.
Sambil berseru, ia menyerang hebat dengan sebelah ruyungnya.
Liong Kek yang menjadi sasaran.
Tapi Liong Kek waspada, dapat ia berkelit, membarengi mana, ia juga membalas menyerang.
Kedua senjatanya tepat mengenai pundak Touw-ut itu, di betulan jalan darah kin-ceng.
Cin Siang kaget bukan main.
Sejenak itu, lenyap tenaga di sebelah lengannya itu.
Liong Kek melihat itu, dia tertawa lebar.
"Orang she Cin, kematianmu sudah ada di depan matamu, apakah kau masih hendak berlaku kosen?"
Ejeknya.
"Lekas kau lemparkan sepasang ruyungmu, lantas kau berlutut dan mengangguk hingga kepalamu mengeluarkan suara nyaring, dengan begitu mungkin aku akan memberi ampun kepadamu!"
Puteranya Ong Pek Thong menghina untuk membalas dendamnya karena tadi ia kena dicekuk dan dilempar musuh itu, kalau ia tidak sebat dan pandai berjumpalitan, pasti ia terbinasa atau sedikitnya terluka parah.
Cin Siang berludah.
Ia gusar sekali.
Ia kata nyaring.
"Akulah si harimau dari tanah datar, aku tetap seekor harimau yang galak! Kau bangsa anjing, kau berani menghina aku?"
Kata-kata keras itu diikuti dengan serangan berantai.
Walaupun tenaganya sudah berkurang, Touw-ut ini tetap gagah, sikapnya pun berpengaruh.
Liong Kek muda tetapi ia sudah tersohor dalam Rimba Hijau, tidak urung ia terkejut juga.
Ia tidak menyangka musuh masih begini gagah.
Tanpa merasa ia mundur dua tindak.
Yan Ie melihat kakaknya itu terpukul mundur, ia kata dengan tenang.
"Engko, buat apa engko mengadu jiwa dengan dia? Dialah yang telah menjadi binatang di dalam kurungan!"
Liong Kek menenangkan diri.
"Kau benar, adik!"
Ia menjawab.
"Baiklah kita menanti sampai otot-ototnya lemah dan tenaganya habis, nanti perlahan-lahan kita bekuk dan bunuh padanya...!"
Lantas dua saudara ini maju pula untuk mengurung dengan selalu berlompatan berputaran, di dalam hal mana mereka tetap dibantu barisan wanita yang menggunai gaetan panjang itu, hingga Cin Siang terus kena dikurung.
Segera juga Touw-ut itu merasakan sulit sekali.
Tak dapat ia membuka jalan untuk menyingkirkan diri.
Karena terkurung terus, ia mendapat luka-luka di kaki dan tangan, hingga darahnya membasahi baju lapisnya.
Baju luarnya sendiri sudah robek disana-sini.
Ia sulit tetapi ia tidak takut, bahkan ia menjadi nekad.
Tak sudi ia menyerah kalah, terus ia melawan sebisa-bisanya.
Di saat Touw-ut itu terancam bahaya, orang semua mendapat dengar suara kuda lagi mendatangi dengan keras.
Sin Siang menyangka kepada bala bantuan musuh.
Ia tetap tidak jeri, untuknya, musuh bertambah atau berkurang, tidak menjadi soal, tak ia pikirkan lagi.
Tetapi ia berdaya, guna menoblos kurungan.
-< Tiba-tiba kurungan musuh menjadi kurang rapatnya.
Di antara mereka terdengar teriakan-teriakan.
Di situ terlihat seorang penunggang kuda yang muda.
Selagi mendatangi, dia berseru.
"Kawanan berandal she Ong, apakah kamu masih mengenali aku?"
Begitu datang dekat, dia mengayun sebelah tangannya.
Maka terlihatlah satu sinar putih dan terang, menyusul mana terdengar satu suara nyaring dari patahnya tiang bendera burung walet sulam Yan Ie.
Patahnya tiang bendera menjadi satu soal yang hebat.
Itulah pantangan atau tabu.
Maka juga Ong Yan Ie lantas menjadi sangat gusar, shingga dia membentak sekeras-kerasnya.
"Celaka duabelas! Apakah kau sudah dahar hati serigala atau jantung macan tutul maka kau berani menentang datuk?"
Ketika itu dua saudara Cio sudah maju ke muka, guna memegat si anak muda.
Anak muda itu tidak mau bertempur di atas kuda, dia lompat turun dari binatangan tunggangannya itu, sembari maju, dia berteriak berulang-ulang.
"Minggir! Minggir! Suruh pemimpinmu datang kemari!"
Dua saudara Cio tidak takut, bahkan sebaliknya, mereka memandang enteng kepada orang yang usianya masih muda itu. Sembari tertawa mereka kata.
"Jangan kau bicara besar! Sebentar, setelah kau berhasil merampas sepasang golok kami, baru kau buka pula mulutmu lebar-lebar! Apakah kau masih belum mau mundur?"
Lantas dua saudara itu maju berbareng, membacok dengan golok mereka, sasaran mereka sama yaitu pinggang, tetapi datangnya senjata mereka masing-masing, satu dari kiri dengan tangan kiri, satu pula dari kanan dengan tangan kanan.
Itulah dia bacokan "Im-yang-to,"
Atau golok "Im Yang".
Itu pula bacokan yang liehay sekali.
Sudah banyak orang gagah yang roboh di tangannya dua saudara itu -Cio It Liong dan Cio It Houw.
Mereka menggunai masing-masing tangan kiri dan kanan, hingga tubuh mereka seperti merupakan hanya sebuah tubuh.
Si anak muda gesit sekali, belum berhenti suaranya dua saudara itu, dia sudah menyerang dengan pedangnya.
Dia membulang-balingkan pedangnya hingga dia berhasil membikin mental goloknya Cio It Liong, hingga It Liong menjadi terkejut.
Baru sekarang It Liong melihat tegas si anak muda.
"Kau... Tiat... Tiat Siauw-cecu?"
Teriaknya kaget.
"Tak salah!"
Sahut si anak muda, bengis.
"Kamulah dua bangsat yang suka merendahkan diri kamu! Apakah tetap kamu masih kesudian menjadi gundalnya si bangsat she Ong?"
Mulutnya pemuda itu, ialah Tiat Mo Lek, menegur hebat, tangannya tak berhenti bekerja.
Dengan bengis ia menyerang dua saudara itu.
Pula aneh serangannya, hingga It Liong dan It Houw menjadi bingung.
Belum pernah mereka melihat ilmu pedang semacam itu.
Terpaksa mereka main mundur saja.
Yan Ie memburu ke arah kedua saudara Cio, mengenali si anak muda, dia kata nyaring.
"Aku kira siapa, kiranya kau, Tiat Mo Lek! Apakah kau sudah tidak ingat budiku dahulu hari yang telah tidak membunuhmu? Mengapa sekarang kau merusak benderaku? Apakah maksudmu?"
Sesudah lewat tujuh tahun, Tiat Mo Lek telah menjadi seorang pemuda yang romannya gagah dan tampan, maka juga di dalam hatinya, Nona Ong berkata.
"Tidak disangka si hitam legam ini sekarang menjadi semakin tampan..."
Tiat Mo Lek menunjuki kegusarannya.
"Di antara aku dengan kau ada permusuhan yang besar laksana lautan!"
Katanya nyaring juga.
"Aku tidak cuma hendak merusak benderamu ini! Hm! Hm!"
Mendengar demikian, bukannya dia gusar, Yan Ie justeru tertawa.
"Habis kau mau apa lagi?"
Tanyanya.
"Apakah kau masih hendak mengambil kepalaku yang berada di batang leherku ini?"
Kedua matanya Mo Lek mendelik.
"Benar!"
Sahutnya, berseru. Dan lantas ia menyerang si nona dengan tipu silatnya "Lie Kong Sia-cio,"
Atau "Lie Kong memanah batu,"
Senjatanya meluncur ke dada si nona cantik. Ong Yan Ie tertawa pula.
"Bukankah permusuhan itu harus dibuyarkan dan bukannya diperhebat?"
Katanya manis.
"Kenapa kau jadi begini galak?"
Tapi si nona tidak cuma bicara saja, ia melintangi pedangnya menangkis serangan itu, hingga senjata mereka beradu nyaring dua kali, karena dua kali Mo Lek menyerang saling susul.
Bentrokan itu membuat Yan Ie terperanjat.
Tangannya tergempur hingga kesemutan.
Tahulah ia sekarang Tiat Mo Lek yang sekarang bukan Tiat Mo Lek yang dahulu.
Entah ilmu pedang pemuda itu, yang terang ialah tenaganya menjadi tambah besar sekali, tenaga itu sudah jauh melampaui tenaganya sendiri.
Oleh karena itu, segera ia menjadi tidak berani berlaku alpa.
Ketika itu Cin Siang mendapat napas.
Perginya Ong Yan Ie membuatnya mendapat ketika, tak perduli ia tetap dikurung Ong Liong Kek bersama rombongannya.
Begitulah ketika satu kali ia berseru, ia membikin seorang tauwbak roboh terguling dengan kepala pecah dan polo belarakan!
Kagetnya Liong Kek tak terkira.
Tak disangka meskipun sudah lelah, musuhnya itu masih demikian tangguh, la pun tidak dikasih ketika untuk berpikir, ia lantas diserang Touw-ut itu, yang berani merangsak kepadanya.
Ia tidak berani menangkis, dengan sebat ia berkelit.
Cin Siang menggunai ketikanya yang baik ini.
Ia tidak menerjang lebih jauh pada musuh hanya membuka jalan untuk nerobos keluar dari kurungan, sambil melepaskan diri itu ia teriaki Tiat Mo Lek.
"Congsu, mari kita pergi!"
Mo Lek dapat mendengar ajakan itu, ia lantas memberikan jawabannya.
"Pergilah kau sambil jalanmu sendiri! Aku hendak membasmi dulu kawanan berandal ini, baru aku mau pergi!"
Cin Siang membiarkan pemuda itu, ia berlalu dengan terpaksa.
Ia tidak berani berkelahi terus karena lukanya parah, hingga ia cuma dapat menggunai sebelah tangannya, hingga tak dapat ia berkelahi terlebih lama pula.
Urusannya pun sangat penting, tak dapat ia melalaikannya disebabkan urusan Rimba Persilatan.
Begitulah ia berlalu seorang diri.
Kawanan berandal lantas berteriak-teriak, berniat memegat.
Kudanya Ong Liong Kek lari maju.
Kuda itu seekor kuda yang telah berpengalaman di medan perang.
"Marilah kamu!"
Bentak Cin Siang sambil dia lompat kepada kuda itu, untuk disamber, lalu dengan sebelah tangannya itu ia menarik dan menekan.
Tak ampun lagi binatang itu mendekam.
Cin Siang lompat naik ke punggung kuda itu, tetapi binatang itu tidak mau lantas bergerak lari.
"Bagus, ya!"
Bentak si Touw-ut.
"Kau tidak mau dengar perintahku!"
Sambil berkata begitu, Cin Siang menjambak ke belakang, menjambak kempolan kuda, atas mana lima jerijinya yang kuat membikin kempolan itu terluka dan mengeluarkan darah.
Saking nyerinya, binatang itu meringkik keras, keempat kakinya lantas bergerak, membawanya lari.
Dari atas kudanya, selagi kuda itu kabur, Cin Siang menanya keras.
"Congsu, apakah she Congsu?"
Tiat Mo Lek, yang dipanggil Congsu itu -orang gagah -menjawab.
"Aku Tiat Mo Lek dari Hui Houw San!"
Cin Siang lantas perkenalkan diri.
"Aku Liong Kie Touw-ut Cin Siang! Tiat Siauw-enghiong, budi pertolonganmu ini dibelakang hari saja aku membalasnya!"
Sembari berkata begitu, ia mengeprak kudanya buat dikaburkan lebih keras. Mo Lek tidak tahu Cin Siang menjadi turunan Cin Kiong alias Siok Po, ia tertawa dalam hatinya dan berpikir.
"Sungguh tidak aku sangka aku telah menolongi seorang perwira pemerintah!"
Meski begitu, ia tidak memperlambat pertempurannya. Kawanan berandal masih berseru-seru, atas mana Liong Kek kata pada mereka.
"Sudah, jangan perdulikan itu pembesar anjing! Lebih baik kita bekuk saja ini bangsat cilik!"
Dengan kata-katanya itu dia pun hendak melindungi mukanya sebab sebenarnya dia jeri terhadap Cin Siang yang gagah itu.
Di sebelah itu, ia ingin menyingkirkan Mo Lek, yang dia anggap sebagai musuh besarnya.
Pada tujuh tahun yang lampau Tiat Mo Lek turut Lam Ce In ke Hoay-yang dimana ia diterima menjadi muridnya Mo Keng Lojin.
Ia menjadi murid yang nomor tiga.
Mengikuti jago tua itu, ia memperoleh banyak kemajuan, sedang kitab silat yang diberikan Toan Kui Ciang kepadanya, ia berhasil juga memahaminya.
Dibawah petunjuk gurunya, ia dapat menciptakan sejumlah tipu silat yang baru.
Sekarang, berhubung dengan suasana yang panas, ia bersedia pergi ke Kiu-coan guna menemui kakak seperguruannya, untuk membantu Kwe Cu Gie.
Maka adalah diluar terkaannya, di sini ia bertemu dengan saudara Ong kakak beradik.
Mo Lek percaya, mengandali hasil pelajarannya tujuh ^ahun, dia mestinya bakal dapat membunuh musuhnya, tetapi diluar tahunya, selama tujuh tahun itu, kepandaiannya Ong Yan Ie telah maju pesat juga.
Begitulah bertempur sampai lima atau enam puluh jurus, walaupun ia menang unggul, Ong Yan Ie tak gelagatnya bakal kalah.
Tengah bertempur itu, dalam penasarannya, Mo Lek menyerang dengan tipu silat "Tok-pek Hoa-san"
Atau "Menggempur gunung Hoa San".
Dengan begitu, pedangnya digunai sebagai golok, untuk membacok tinggi, dari atas ke bawah.
Itulah tipu silat yang ia ciptakan dari ilmu pedangnya Toan Kui Ciang, maka penyerangannya itu sudah enteng dan cepat lagi antap dan berat "Ilmu pedang yang telengas!"
Ong Yan Ie berseru.
Ia tidak berkelit, hanya justeru menangkis dengan melintangi pedangnya.
Maka bentroklah kedua senjata dengan bersuara nyaring, lalu keduanya seperti menempel satu dengan lain.
Yan Ie kalah tenaga, pedangnya kena tertekan.
Ia merasakan telapakan tangannya bergetar dan nyeri.
Celakanya tak dapat ia meloloskan pedangnya itu, hingga ia mesti tertekan berikut punggungnya yang menjadi melengkung perlahan-lahan.
Ong Liong Kek menjadi gusar sekali.
"Bangsat kecil, jangan bertingkah!"
Dia berseru.
"Lihat kipasku!"
Dan ia bergerak maju dengan kipas besinya, untuk menotok punggung dimana ada jalan darah Hong-hu.
Dengan begitu Mo Lek menjadi seperti terkepung berdua.
Ia mesti membela dirinya.
Sebab tak dapat ia hanya berkelit, terpaksa ia melepaskan tekanannya, untuk dengan pedangnya menangkis kipas yang mengancam dengan bahaya maut itu.
Kipas Liong Kek lantas kena disampok mental.
Yan Ie liehay sekali, begitu pedangnya bebas, begitu ia menyerang Ia melupakan nyeri pada telapakan tangannya.
Mo Lek berkelit sambil memutar rubuhnya, dengan begitu ujung pedang lewat di ujung dahinya.
Ketika kedua saudara Ong itu mendesak padanya, ia terus melayani dengan ilmu silat "Ya-cian Pat-hong,"
Atau "Berperang di delapan penjuru di waktu malam". Ia mencoba menahan majunya kipas dan pedang Cenj; Kong Kiam. Ong Yan Ie tertawa manis.
"Aku tidak sangka setelah tujuh tahun tidak bertemu, sekarang ilmu silatmu menjadi begini liehay!"
Katanya.
"Sungguh kau mendatangkan kegirangan dan pantas diberi selamat! Maaf, terpaksa kami kakak beradik mesti bekerja sama menempur kau!"
Mo Lek panas hati.
"Kamu boleh maju semuanya!"
Ia membentak.
"Tidak ada halangannya! Hari ini mesti kau mampus atau aku terbinasa!"
Nona Ong tertawa.
"Engko, bocah ini benar-benar mau mengadu jiwa dengan kita!"
Kata dia.
"Ya, biarlah dia pergi menghadap Raja Akherat!"
Sahut Liong Kek si kakak, yang terus menyerang dengan hebat, dengan ujung kipasnya ia mencari setiap jalan darah lawannya.
Mo Lek tidak takut akan tetapi ia melihat suasana tidak bagus untuknya.
Kepandaiannya Liong Kek tidak dapat dipandang ringan.
Ketika tadi dia menempur Cin Siang, nampaknya dia tak sanggup bertahan dalam satu gebrakan.
Tapi itu ada sebabnya, ialah karena tenaga Cin Siang besar luar biasa, tak berani dia mengadu senjatanya dengan kim gan, ruyungnya si orang she Cin.
Sebaliknya menghadapi Mo Lek, meski dia kalah kepandaian, tenaga dalamnya berimbang.
Pula, kalau melawan Cin Siang dia menggunai Poan-koan-pit, sekarang dia memakai thie-sie, kipasnya senjatanya yang utama, yang paling cocok dipakai bertempur rapat, sedang juga ia melawan bersama adiknya.
Demikian Mo Lek Tak dapat segera merebut kemenangan.
Sambil bertempur itu, Mo Lek lantas ingat.
"Toan Tayhiap dan Lam Suheng berulangkah memperingati aku supaya aku jangan menuruti hati muda dan hawa amarah, tak dapat aku terlalu mengandalkan ilmu kepandaian sendiri, jangan setelah keluar dari rumah perguruan, aku menghendaki lantas terwujudnya pembalasan sakit hatiku. Aku sudah dapat bertahan tujuh tahun, kenapa aku mesti mengumbar amarah dalam satu hari ini? Sekarang musuh berjumlah banyak dan aku sedikit, baiklah kau bersabar sampai lain hari..."
Ong Liong Kek sebaliknya sudah banyak pengalamannya berkelahi, dengan lantas dia melihat romannya Mo Lek berubah, dengan lantas dia menduga, maka itu, tanpa ayal lagi, dia lantas mendesak.
"Jalan ke sorga ada, kau tidak ambil, kau sebaliknya memasuki neraka yang tidak ada pintunya!"
Dia mengejek.
"Kau sudah masuk sendiri ke dalam perangkap, maka kau dapat masuk tidak dapat keluar pula!"
Dia terus membentak untuk memberikan isyaratnya.
Mendengar bentakan itu, barisan wanita sudah lantas maju menyerang.
Rata-rata mereka menggunai gaetan untuk membangkol kaki musuh.
Liong Kek sendiri bersama Yan Ie mendesak hebat.
Mo Lek bukan seperti Cin Siang, yang mengenakan baju lapis besi, sedang sepatunya sepasang sepatu rumput, ia menjadi terdesak, baik oleh itu kakak beradik mau pun dari gaetan yang berjumlah besar.
Liong Kek perkeras desakannya, mendadak dia menyerang dengan tipu silat "Ular beracun menyemburkan bisa,"
Dengan kipasnya dia menotok ke jalan darah cie-tong.
Mo Lek menjadi repot dan bingung, sebab ketika itu pedangnya kebetulan lagi ditangkis Yan Ie.
Tidak ada jalan untuknya kecuali membuang diri, guna berkelit sambil bergulingan.
Sementara itu pasukan wanita dari Yan Ie sudah terdidik baik.
Mereka dapat bekerja dengan melihat salatan, dan mereka pun sebat.
Mereka lantas menggaet ke tempat dimana orang menjatuhkan diri.
Sia-sia Mo Lek membuang diri, betisnya sudah lantas terkena gaetan begitu pun kakinya.
Dengan lantas ia terluka dan mengeluarkan darah yang mengucur deras.
Ong Liong Kek tertawa mengejek.
"Apakah kau masih mau mengganas?"
Demikian tanyanya dingin.
Dengan kipas yang ditutup, dia lantas menyerang ke arah batok kepala.
Mo Lek dapat berlompat bangun akan tetapi tubuhnya limbung, darahnya mengalir terus, dagingnya di betis dan kaki terluka hancur karena terobek gaetan.
Dapatkah dia membela diri?
Kalau dia kena dihajar, pastilah kepalanya remuk...
Justeru orang terancam bahaya, sekonyong-konyong Ong Yan le menangkis kipas kakaknya, hingga kipas dan pedang beradu keras!"
"Jangan bunuh dia!"
Berseru si nona. Liong Kek heran hingga dia melengak.
"Kenapa jangan?"
Tanyanya setelah hilang herannya. Yan Ie berlompat maju, guna menotok Mo Lek yang sudah tak berdaya, kemudian ia panggil budaknya guna membelenggu orang tawanan itu.
"Engko, kau cerdik disatu waktu, butek pikiranmu dilain saat!"
Kata ini adik tertawa.
"Coba kau pikir masak-masak! Bangsat cilik ini telah memperoleh kepandaian terlebih jauh, sekarang dia datang kemari, kau tahu apa maksudnya?"
"Pasti dia datang untuk maksud mencari balas!'"
Sang kakak menjawab.
"Pasti dia sekalian hendak merampas pulang gunungnya, gunung Hui Houw San!"
"Tepat terkaanmu!"
Kata si nona.
"Sekarang kau pikir pula! Dia seorang diri, apakah dapat dia melakukan tugas besar dan berat itu? Bukankah kedudukannya Keluarga Touw telah dibangun hampir seratus tahun? Bukankah keluarga itu mirip dengan leluwe, itu binatang merayap yang kakinya ratusan? Bukankah itu berarti keluarga itu banyak pengikutnya, yang masih setia terhadapnya? Sekarang ini orang jerikan kita, mereka pun tidak ada yang pimpin, mereka jadi tidak berani bergerak. Sekarang Tiat Mo Lek kembali! Bukankah dia sudah mengatur persiapan? Mungkin dia sudah berkongkol dengan orang-orang ayah angkatnya! Maka itu dapatkah kita membunuh dia sebelum kita dengar dulu keterangannya?"
Liong Kek tertawa.
"Benar!"
Sahutnya.
"Dasar kau terlebih teliti daripada aku! Aku mendongkol untuk kegalakannya, maka aku menuruti saja suara hatiku!"
Ia hening sebentar, terus dia menambahkan.
"Tapi bangsat cilik ini sangat berkepala batu, aku kuatir kita sukar mengorek keterangan dari mulutaya..."
"Biarlah, kita bawa saja dia ke Liong Bin Kok,"
Kata Yan Ie.
"Di sana kita tanya dia dengan perlahan-lahan, nanti kita gunia segala macam daya upaya."
"Baik, aku turut kau,"
Kata Liong Kek akhirnya.
"Kita sudah berhasil membekuk dia, kita bawa dia pulang. Baik kita serahkan dia pada ayah, biar ayah yang mengambil putusan, supaya hati ayah menjadi senang!"
Selagi Liong Kek berkata itu, dari kejauhan terlihat debu mengepul naik, lalu tampak munculnya sebuah pasukan tentara berkuda, datangnya sangat cepat, maka juga dilain saat sudah terdengar si pemimpin tentara menanya dari jauh-jauh.
"Apa Ong Siauw-cecu di sana?"
"Benar!"
Liong Kek menjawab.
"Thio Tong-nia, kau datang sendiri?"
Memang perwira itu Thio Tiong Cie, salah seorang terkosen dari An Lok San. Tiong Cie menahan kudanya begitu dia sudah tiba.
"Apakah kamu tidak melihat Cin Siang?"
Dia tanya. Mukanya Liong Kek menjadi merah.
"Dia sudah kabur..."
Sahurnya jengah, suaranya tak lancar.
Ketika Cin Siang itu mengangkat kaki, kapan minggatnya diketahui oleh Busu yang ditugaskan meniliknya, si Busu sudah lantas melepas burung dara untuk memberi kabar kepada Ong Pek Thong, minta Ong Pek Thong memerintahkan orang memegatnya.
Dan Liong Kek dan adiknya ialah orang-orang yang diberi tugas oleh Ong Pek Thong itu.
Maka itu Liong Kek malu atas kegagalannya.
"Sudah berapa lama perginya dia?"
Tiong Cie tanya.
"Sudah lama juga,"
Jawab Liong Kek.
"Sebenarnya hampir aku berhasil menawannya,"
Berkata Yan Ie.
"Apa mau kami bertemu satu musuh lain, selagi kami bertempur kacau, dia dapat meloloskan diri. Sekarang ini kami letih semua, tak dapat kami mengejar dia."
Dengan kata-katanya itu Yan Ie seperti mau bilang, kalau Tiong Cie hendak mencoba menangkap juga Cin Siang, dia boleh pergi menyusul sendiri, pihaknya sulit memberikan bantuannya.
Thio Tiong Cie menjadi sangat tidak puas, akan tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Tak dapat ia memaksa ini kakak beradik membantu padanya, sebab orang bukannya orang sebawahan An Lok San, bahkan untuk berontak, An Lok San, sang tuan, membutuhkan bantuan Keluarga Ong.
Ia tidak dapat mengejar sendiri sebab ia tahu kegagahannya Cin Siang.
Di antara tiga Toa-kho-ciu, orang terkosen di istana, Cin Siang yang paling gagah, maka kalau ia mengejar sendiri, ia seperti mengantarkan jiwa.
"Baiklah,"
Katanya kemudian, untuk memutar kemudi.
"Tayswe kami sudah lengkap persediaannya, tinggal tunggu harinya untuk mulai bergerak maju ke kota raja guna merampas kerajaan, dari itu tak usah kita kuatirkan dia dapat lari untuk memberi kisikan. Sekarang ini An Tay-swe lagi repot mengumpulkan pelbagai perwira, bagaimana kalau Ong Siauwcecu turut aku pulang ke Hoan-yang?"
Ong Liong Kek tidak dapat memberikan jawabannya. Ia bersangsi.
"Inilah kebetulan!"
Berkata Yan Ie, mendahului kakaknya.
"Tidak leluasa untuk ayah muncul di Hoan-yang, engko, baiklah kau yang pergi ke sana! Bangsat kecil ini serahkan padaku yang membawa, kau jangan kuatir."
Liong Kek setujui pikiran adiknya itu.
"Jikalau begitu, baiklah, asal kau berhati-hati di tengah jalan!"
Dia memesan.
"Kau tahu, aku sangat membenci dia, maka itu, kalau dia hendak dihukum mati, tunggulah sampai aku pulang!"
Sampai disitu, kakak beradik itu lantas memecah pasukan liauwlo mereka.
Liong Kek lantas ikut Thio Tiong Cie berangkat ke Hoan-yang, dan Ong Yan Ie mengiringi Tiat Mo Lek pulang ke lembah Liong Bin Kok.
Menurut perintahnya Yan Ie, Mo Lek diikat di atas kuda.
Pada punggung kuda dipasangi tempat duduk yang tebal.
Luka Mo Lek pun dibalut rapi.
Mo Lek diam saja atas segala perlakukan itu.
Selagi tertotok itu, ia tidak dapat bergerak dan tak bisa bicara.
Tatkala itu sudah lewat tengah hari.
Yan Ie kuatir orang tawanannya nanti tergoncang-goncang keras, ia menyuruh barisan wanitanya berjalan perlahan-lahan.
Karena ini, di waktu magrib mereka baru melaLui kira empat puluh lie.
Untuk sampai di Liong Bin Kok, jalanan masih ada lima puluh lie kira-kira.
Dua orang tauwbak lantas menghampirkan pemimpinnya untuk menanya apa mereka mesti melanjuti perjalan malammalam.
Yan Ie tertawa.
"Kamu tidak letih, tetapi aku sudah letih sekali!"
Katanya.
"Kita tidak mempunyai urusan penting, kita pun cuma mengiring satu bangsat kecil, buat apa kita berjalan terus malam-malam?"
Itulah keputusan yang diharap-harap kawanan liauw-lo wanita itu, dari itu kedua tauwbak itu menjadi sangat girang.
Lantas mereka mengundurkan diri, guna menitahkan membangunan tenda banyaknya tiga buah.
Yang satu untuk Nona Ong serta sekalian pengiringnya pribadi, satu untuk semua prajurit wanita, dan yang satu lagi buat Mo Lek seorang diri.
Itulah titahnya si nona.
Mo Lek rebah seorang diri, luka-lukanya mendatangkan rasa nyeri, perutnya kelaparan.
Kecuali di betis dan di ujung kaki, ia mendapat banyak luka lain sebab tergaet sebelum ia ditotok si nona.
Tengah ia menderita itu, tiba-tiba pintu tenda ada yang pentang, lalu nampak Yan Ie bertindak masuk sambil bersenyum.
Si nona sudah lantas membetulkan sumbu lilin hingga cahaya apinya menjadi lebih besar.
"Tiat Siauw-cecu, apakah kau masih membangkang?"
Tanya si nona tertawa. Ia mengulur tangannya, menotok bebas orang tawanan itu. Mendadak Mo Lek membentak.
"Jikalah kau hendak membunuh aku, bunuhlah! Aku Tiat Mo Lek, aku tidak dapat dihinakan!"
"Siapa mau membunuh kau?"
Si nona tanya, tertawa pula.
"Siapa mau menghina padamu? Ah, kau benar-benar tidak tahu kebaikan orang! Kau tahu, aku datang untuk mengobati kau!"
Lantas si nona mau membukai balutan orang tawanan itu. Tiba-tiba Mo Lek menggeraki kakinya.
"Pergi!"
Bentaknya.
"Aku... aku..."
Mendadak dia berhenti bicara.
Karena ia meronta itu, tangannya kena membentur buah susu si nona.
Ia menjadi likat, lekas-lekas ia menarik pulang tangannya itu dan berhenti berbicara.
Di dalam luka dan lapar sangat, Mo Lek kehilangan tenaganya, maka benturannya itu tidak membahayakan si nona.
Tapi Yan Ie menjadi melengah, dia jengah sendirinya, sampai mukanya menjadi merah.
"Ha, adakah kau seekor kerbau?"
Dia tanya, mendongkol.
"Kenapa kau kasar begini rupa? Sekalipun kerbau masih tahu halnya orang berlaku baik terhadapnya! Hm! Manusia tak kenal budi!"
Nona itu menonjok dahi orang! "Tak perlu aku dengar kepalsuan kau ini!"
Kata Mo Lek sengit.
"Inilah tangis si kucing untuk si tikus! Biarnya kau dapat menyembuhkan aku, tak dapat aku menerima baik budimu!"
Meski ia berkata demikian, Mo Lek menjadi rada lunak. Ia tak lagi meronta atau mau memukul orang... Ong Yan Ie membukai balutan.
"Ah, anak bandel yang tak mengenal aturan!"
Katanya.
"Sebenarnya tidak niatku memperdulikan kau tetapi lukamu ini hebat! Sungguh, tak tega aku menyaksikan kau menderita begini rupa!"
Ia lantas mengeluarkan obat luka, untuk memborehkan luka orang itu.
Setiap orang Rimba Hijau mesti memiliki obat luka dan obat luka buatan Keluarga Ong manjur sekali.
Begitu Mo Lek diobati, lantas ia merasa adem seluruh tubuhnya dan rasa nyerinya pun berkurang banyak.
Semenjak masih kecil, belum pernah Mo Lek berdekatan dengan seorang wanita seperti kali ini, sekarang Nona Ong mengobatinya, kulit daging mereka beradu satu dengan lain, napas mereka juga saling menghembus dan tercium.
Mo Lek mencoba menahan napas akan tetapi gagal, ia dapat mencium juga bau harum dari tubuh si nona.
Ia menjadi tidak keruan rasa, ia merasa nyaman.
Lantas ia mengertak gigi.
"Tiat Mo Lek, Tiat Mo Lek!"
Katanya di dalam hati.
"Kaulah laki-laki sejati! Apakah kau lupa sakit hati ayah angkatmu?"
Ia pun mengerahkan tenaganya, hingga papan yang tertindih tubuhnya menjadi berbunyi nyaring. Ong Yan Ie mengerutkan alis.
"Tidak keruan kenapa kau mengumbar pula adatmu?"
Ia tanya.
"Mo Lek, kenapa kau membenci begini sangat kepadaku?"
"Inilah pertanyaan sengaja dari kau!"
Sahut Mo Lek, gusar.
"Kau tahu tapi toh kau tanyakan! Hm! Aku beri nasehat kepada kau, lebih baik kau bunuh saja padaku! Tidak demikian, asal napasku masih berjalan, pasti aku akan membalaskan sakit hatiku!"
"Aku telah membunuh ayah angkatmu, tapi dia bukan ayahmu yang sejati,"
Kata si nona.
"Di dalam kalangan Rimba Hijau orang saling bunuh dan saling membalas dendam, bukankah itu lumrah sekali?"
"Kau memandangnya lumrah akan tetapi aku mengukirnya di dalam hatiku!"
Mo Lek kata keras.
"Aku menyimpan itu di dalam hati sanubariku!"
"Baik!"
Nona Yan berkata, tertawa.
"Biarnya kau mau membalas sakit hati, sekarang kau mesti jaga dirimu baik-baik! Kau sudah tak.dahar satu hari, bukan? Tanpa dahar, dari mana nanti datangnya tenagamu untuk mencari balas?"
Mo Lek melengak, ia berdiam. Ia tak dapat menangis atau tertawa. Seorang budak perempuan datang menghampirkan, dia menyuguhkan semangkuk teh.
"Silahkan minum, Tiat Siauw-cecu,"
Katanya.
"Minumlah selagi masih panas!"
"Apakah ini?"
Mo Lek tanya.
"Inilah obat racun!"
Kata Yan Ie tertawa.
"Kau berani minum atau tidak?"
"Aku takut apa!"
Sahut Mo Lek.
Ia melengak dan mencegluk minuman itu.
Tapi segera ia merasakan sesuatu yang manis dan adem, setelah itu, ia merasa segar sekali.
Kiranya itulah som-thung, air obat jinsom Si budak tertawa.
"Nona!"
Katanya.
"Nona pandai sekali membujuki orang minum obat!"
Terus dengan membawa mangkuk kosong dia mengundurkan diri.
"Jangan kau kegirangan!"
Kata Mo Lek mengancam.
"Tidak perduli kau lepas budi apa, di antara kita permusuhan tak dapat dibikin habis musnah!"
"Sebenarnya aku tidak memikir memberikan penjelasan,"
Kata Yan Ie.
"Akan tetapi kau begini sangat membenci aku, tak dapat tidak aku mesti mengucapkan juga beberapa kata-kata. Ketika itu waktu kami menggempur gunung Hui Houw San, usiaku baru empat belas tahun. Kala itu aku cuma tahu ayah angkatmu adalah satu jago Rimba Hijau yang galak dan biasa menghinakan yang lemah. Ayahku memerintahkan aku membunuh ayah angkatmu, waktu itu aku tidak merasa bahwa perbuatanku itu salah..."
Si nona tidak mau mengaku salah, tapi di depan Mo Lek, ia mesti bicara lain. Hati Mo Lek bergerak.
"Benar,"
Pikirnya.
"Itu waktu dia benar seorang nona cilik yang belum tahu apa-apa. Maka itu si penjahat utama ialah ayahnya bersama Khong Khong Jie, orang yang membantu ayahnya itu!"
Memikir begini, kebencian pemuda ini berkurang dua bagian. Tapi cuma sejenak, ia sudah lantas berpikir pula.
"Aku tak usah perdulikan ketika itu dia sudah mengerti keadaan atau belum! Mengerti begitu, tak mengerti begitu juga! Yang terang dialah musuhku yang telah membinasakan ayah angkatku! Mana dapat aku mengampuni dia?"
Ong Yan Ie sangat cerdas, dengan melihat air muka orang, dia sudah dapat menerka hati orang. Dia lantas tertawa dan kata.
"Tiat Siauw-cecu, apa sekarang kau merasa baikan?"
Mo Lek terluka parah tetapi itu melainkan luka di kulit dan daging, meski tenaganya belum pulih seluruhnya, kesegarannya sudah pulang kembali empat atau lima bagian.
Sebenarnya ia bersyukur juga akan tetapi ia bangsa keras kepala.
"Baikan atau tidak baikan, ada apa sangkut pautnya dengan kau?"
Ia tanya ketus.
"Aku tak perduli dengan lagakmu ini yang baik hati berpura-pura!"
Yan Ie tertawa geli.
"Siapa yang mencoba-coba menarik hatimu?"
Dia tanya.
"Apakah kau menyangka aku hendak membiarkan kau si busuk hidup karena kau dianggap sebagai mustika? Apakah kau tahu apa sebabnya aku menanya kau barusan?"
Mo Lek heran.
"Habis, apa artinya?"
Ia tanya. Nona Ong tertawa.
"Jikalau kau sudah baik, hendak aku mengusir kau pergi!' sahutnya. Mo Lek heran sekali hingga ia mendelong.
"Apa?"
Tanyanya.
"Kau hendak membiarkan aku pergi?"
"Benar!"
Jawab si nona.
"Bukankah kau hendak menuntut bala*? Jikalau aku tidak membiarkan kau pergi, mana kau dapat membalasnya Aku hanya takut kau mengatakan aku takut akan pembalasanmu ilu, karenanya hendak aku melepaskan kau supaya kau pergi dari sini! Baikiah sekarang kau coba-coba menggeraki otot-ototmu, apakah kau sudah dapai menunggang kuda? Kudanya Cin Siang telah aku obati hingga sembuh Kuda itu jempolan, dapat aku memberikan kepada kau. Kalau kau maju pergi, kau pergilah cepat-cepat! Jikalau tidak, sampai di Liong Bin Kok, aku sudah tidak berkuasa lagi!"
Mo Lek tahu orang menggunai alasan saja untuk membuat ia suka mengangkat kaki.
Untuk sementara, ia menjadi ragu-ragu sekali, hingga tak tahu ia mesti bertindak bagaimana.
Nona Ong sudah lantas menyerahkan senjata dan buntalannya si anak muda.
"Semua barangmu ada di sini,"
Kata dia.
"Dan ini sebungkus daging, kau boleh dahar nanti di tengah jalan!"
Mo Lek menggigit giginya. Dengan terpaksa ia mengulur tangannya menyambuti. Tapi ia berkata.
"Kalau dibelakang hari kau terjatuh ke dalam tanganku, aku juga bakal mengasih ampun satu kali kepada jiwamu!"
Ong Yan Ie tertawa.
"Jadi kalau buat yang kedua kali ini, kau tidak bakal mengasih ampun, bukan?"
Tanyanya.
"Baiklah! Secara demikian aku jadi dapat berlaku waspada, supaya aku tak usah sampai terjatuh ke dalam tanganmu!"
Habis berkata, nona ini mencekal tangan orang, untuk dituntun keluar dari dalam kubu-kubu. Tiba di luar ia dongak akan melihat langit.
"Malam ini rembulan permai sekali,"-katanya.
"Apakah kau kenal jalanan?"
"Tak usah kau mencapaikan hati untukku!"
Kata Mo Lek sengit.
"Hm! Sekarang aku hendak omong lebih dulu kepada kau! Kali ini kau melepaskan aku, apakah kau tidak akan menyesal kelak dibelakang hari?"
Nona itu tertawa manis.
"Aku sengaja bersiap sedia menantikan kedatanganmu untuk kau membalas sakit hatimu, kenapa aku mesti menyesal?"
Jawabnya.
"Eh, apakah kau tidak hendak mengambil selamat tinggal dari aku?"
Ketika itu budak tadi datang dengan kudanya Cin Siang.
Justeru itu juga di udara terdengar tiga kali suara panah nyaring, suara mana disusul bunyinya terompet yang disuarakan oleh serdadu-serdadu wanita yang lagi meronda.
"Celaka!"
Yan Ie berseru.
"Ada musuh menyerbu di waktu malam!"
Benar saja, dari arah timur dan barat nampak dua barisan serdadu lagi mendatangi, mereka itu mengambil sikap mengurung.
Diwaktu malam seperti itu, sulit untuk segera mengetahui berapa besar jumlah musuh dan musuh itu dari pihak mana.
Ong Yan Ie lantas berkata.
"Pihak musuh datang dengan sudah siap sedia, itulah tak menguntungkan kita! Lekas memerintahkan semua mundur dengan teratur!"
Perintah itu dikeluarkan dengan si budak terus diberikan bendera titah, untuk dia melaksanakan titah pengunduran itu.
Setelah itu dengan mendadak Nona Ong mencekal keras pada tangannya Tiat Mo Lek.
Si Anak muda tidak menyangka, ia kaget dan kesakitan, hingga ia menjerit.
"Aduh!"
"Kau mau apa?"
Ia menanya, gusar.
"Tenagamu belum pulih, tak dapat kau melawan musuh,"
Berkata si nona.
"Kalau kau bertempur dalam satu pertempuran kacau balau, itulah sangat berbahaya untukmu! Aku mengantari Sang Buddha, mesti aku mengantarnya sampai di Langit Barat! Maka mari kau turut aku, untuk kau molos dari gunung ini, nanti selanjutnya kau boleh menyingkir seorang diri saja!"
Tanpa menanti jawaban lagi, Yan Ie mengangkat tubuh orang, buat dikasih naik atas kuda, ia sendiri menyusul lompat naik sembari berkata.
"Jikalau kau tak dapat duduk tetap, kau peluk pinggangku! Yang perlu ialah menyingkirkan diri lolos dari sini!"
Sementara itu pertempuran sudah berjalan kacau sekali.
Yan le menggunai pedangnya secara hebat hingga beberapa musuhnya kena ia tikam atau tabas hingga roboh dari atas kudanya.
Ia keprak kudanya untuk dapat lari keluar dari kalangan!
Kuda itu kuda dengan pengalaman berperang, tanpa iliramhiik lagi, dia dapat lari terus, untuk menerjang keluar dari pengepungan, Iclapi Yan Ie bukanlah majikannya, dia seperti hendak mengganggu si nona, telagi kabur itu, kalau dia menghadapi rintangan, sengaja dia berlompat tingg'.
Nona Ong pandai menunggang kuda, ia tidak merasakan hebatnya gangguan binatang itu.
Tidak demikian dengan Tiat Mo Lek yang terluka kakinya, betis dan tulang keringnya, akibat pelbagai gaetan musuh.
Hampir dia jatuh.
Dengan terpaksa dia memeluk erat-erat pinggangnya si nona Karena ini dia mengeluh sendiri.
"Sungguh aku malu..."
Di antara musuh segera terdengar teriakan-teriakan, diantaranya satu suara nyaring.
"Entah kemana kaburnya si bangsat kecil she Ong Sungguh sial kita bertemu ini barisan wanita!"
Teranglah itu suara yang menyatakan segan menempur orang perempuan.
Mo Lek dapat mendengar suara itu, ia rasa ia mengenalnya, hanya di saat itu ia tidak dapat lantas ingat suara siapa itu.
Ketika itu pun sudah terdengar lagi suara berisik di antara musuh.
"Eh, apakah itu bukan anak perempuannya Ong Pek Thong? Lihat di belakangnya itu, di atas kuda, ada seorang laki-laki yang menggemblok!"
"Ya, ya, benar! Tapi orang itu tak mirip-miripnya kakaknya' Siapakah dia?"
"Ha, ha, ha! Kau lihat! Lihat pria itu, dia memeluknya si wanita erat sekali! Tidak salah lagi, dia mestinya laki-laki liarnya!"
"Jangan perduli dia siapa!"
Ia mendengar pula suara yang lainnya "Kita bekuk saja si wanita itu kalau dia benar-benar anak perempuannya Ong Pek Thong!
Dia terlebih liehay daripada kakaknya!
Jikalau kita berhasil menyingkirkan dia, itu berarti kita melenyapkan sebelah lengannya Ong Pek Thong!"
Suara nyaring yang pertama tadi menyambuti.
"Baiklah! Nanti aku maju menghajar dengan kapakku! Orang-orang sebawahannya itu kawanan wanita bau, tidak ada harganya untuk dikapak, biarkan saja mereka semua lolos kabur!"
Habis itu segera terlihat majunya seorang yang bertubuh besar yang berkumis berewokan tebal, yang tangannya membulang-balingkan sebuah kapak besar, kudanya maju pesat sekali.
Mo Lek dapat melihat orang itu, ia terkejut.
Dialah Sin Thian Hiong, cecu atau ketua dari benteng Sin Kee Ce dari gunung Kim Kee San!
Sin Thian Hiong menjadi seorang Rimba Hijau yang kenamaan untuk wilayah Utara.
Ia berdiri sendiri, tidak menurut kepada Keluarga Touw, tidak menghamba kepada Keluarga Ong.
Adalah setelah runtuhnya Keluarga Touw dari Hui Houw Ce, sesudah pertemuan di Liong Bin Kok dimana rombongannya Han Tam membeber rahasianya Ong Pek Thong, ia jadi bermusuh dengan keluarga yang menjadi pengkhianat Rimba Hijau itu, yang tak segan berkongkol dengan An Lok San.
Ia telah mendengar kabar hal Ong Liong Kek membawa pasukan perangnya, entah kemana perginya.
Tidak tempo lagi, ia pun membawa barisannya, untuk bersembunyi di tengah jalan yang bakal dilewati rombongan Liong Kek, guna memegat dan menyerangnya.
Baca Juga: Hikmah Pedang Hijau 7
Baca Juga: Pisau Kekasih 3