Musuh Dalam Selimut 3

Eps 3 Musuh Dalam Selimut - Liang Ie Shen

Baca online Musuh Dalam Selimut - Liang Ie Shen

Cersil Musuh Dalam Selimut - Liang Ie Shen.

Kata-kata Pan Kian-hau yang luwes itu ternyata sangat mencocoki selera Wanyen Tiang-ci, ia manggut-manggut dan berkata.

"Benar. Lantaran aku sendiri tak dapat berjaga disini, tapi kuatir dikacaukan lagi oleh musuh itu, maka aku merasa serba salah. Kian-hau, bagaimana kalau kita mencari beberapa orang kuat dan dapat dipercaya untuk ikut berunding mengenai persoalan ini."

Saat itulah Si-hiong telah maju memberi hormat kepada Wanyen Tiang-ci dan Pan Kian-hau lantas mengusulkan kepada Wanyen Tiang-ci agar tenaga Si-hiong diikut sertakan.

Diam-diam Si-hiong sangat girang, tapi lahirnya ia merendah diri dan pura-pura menolak.

Namun Wanyen Tiang-ci lantas berkata.

"Si-hiong, kita adalah orang sendiri, selama ini akupun mempercayai kau, maka bolehlah kau terima saran Pan-tayjin."

Menyusul Pan Kian-hau mengajukan beberapa orang calon pula, dua orang diantaranya adalah jago yang semalam ikut mempergoki jejak "si naga sembunyi"

Itu.

Setelah disetujui Wanyen Tiang-ci, segera Pan Kian-hau mengumpulkan jago-jago kepercayaan itu untuk ikut berunding ke kamar rahasianya Wanyen Tiang-ci.

Dikamar rahasia inilah Wanyen Tiang-ci menyimpan gambar-gambar Hiat-to-tong-jin serta kitab Lwekang pusaka.

Ternyata kamar rahasia itu dibangun di tengah dua buah gunung-gunungan buatan, kedua gunung itu berhadapan sehingga berbentuk suatu selat buatan.

Pada bagian jalan masuk selat itu ada tiga susun alat rahasia.

Dibagian dalam terpasang pula tiga susun alat rahasia yang lain.

Namun tiga susun perkakas rahasia bagian luar serta kedua susun pertama bagian dalam itu ternyata, sudah dirusak oleh "si naga sembunyi"

Semalam.

Dari bekas-bekas pesawat rahasia itu, antara lain ada jaring tembaga yang telah ditabas putus talinya, ada pula bandul raksasa yang terhenti di atas dan belum anjlok ke bawah, semuanya itu masih berada dalam keadaan semula, untuk menunggu pemeriksaan Wanyen Tiang-ci sendiri.

Diam-diam Si-hiong terkesiap menyaksikan pesawatpesawat rahasia yang lihay itu, pikirnya.

"Jangankan kamar rahasia ini sukar diketemukan, sekalipun dapat diketemukan juga aku merasa tidak mampu memasukinya."

Sesudah mengambil tempat duduk masing-masing di dalam kamar rahasia itu, segera Wanyen Tiang-ci mulai bicara.

"Coba silakan Kian-hau menuturkan dulu peristiwa semalam secara jelas. Apakah jejak 'naga' itu telah kalian ketemukan? Sesungguhnya bagaimana orangnya?'' Salah seorang dari kedua jago pengawal yang menyaksikan semalam itu lantas berkata.

"Waktu kami memburu tiba, kami mendengar jerit ngeri Hong-lothau dan Ki-loji berdua. Cepatcepat kami memburu masuk untuk menolong Hong dan Ki berdua yang sudah menggeletak di lantai sehingga kami tidak sempat mengejar musuh."

Diam-diam Wanyen Tiang-ci dapat menduga kedua orang itu tentu jeri kepada "naga sembunyi"

Yang lihay itu, sedangkan Hong dan Ki yang berkepandaian paling tinggi juga terbunuh, maka ketakutan mereka, itupun tak bisa disalahkan.

Namun ia, tidak mau mencela perbuatan kedua jago pengawal itu, segera ia tanya pula.

"Dan sebelum menghembuskan napas penghabisan apakah Hong-lothau dan Ki-loji ada meninggalkan ucapan apa-apa?"

"Ketika kami hendak mengangkat mereka, ternyata napas mereka sudah putus,"

Sahut orang tadi.

"Larinya musuh sungguh amat cepat, cuma kami masih sempat melihat dua sosok bayangan yang lenyap dalam kegelapan dibalik gunung-gunungan sana,'' sambung kawannya.

"Hah, jadi ada dua orang?'' Wanyen Tiang-ci menegas.

"Benar, selain si "naga' yang jelas adalah seorang laki-laki, seorang lagi adalah wanita,"

Kata Pan Kian-hau.

"Tadi hamba belum sempat melapor kepada Ong-ya ......"

"He, jadi kau telah melihat mereka,'' seru Wanyen Tiang-ci terkejut tercampur girang.

"Tapi sayang aku hanya dapat membedakan mereka dari bayangan belakang saja, bahwa satu di antara mereka memang jelas adalah kaum wanita,"

Sahut Kian-hau.

"Untunglah hamba masih sempat memburu maju dan menyambitkan sebilah pisau dan rasanya satu diantara mereka ada yang terkena seranganku itu."

"Yang laki-laki atau yang perempuan?"

Tanya Tiang-ci.

"Waktu itu mereka baru hendak menghilang dibalik semaksemak sana dan pisau itu keburu kulemparkan. Terdengar suara mengaduh seorang, tapi entah yang mana. Cuma dari suaranya boleh jadi adalah yang laki-laki, jadi 'naga' itulah yang terkena pisauku. Kalau tidak kena kepalanya tentulah kena bahunya."

"Karena mereka masih dapat melarikan diri, tentu yang terluka adalah bahunya,"

Ujar Wanyen Tiang-ci.

"Tapi bagus juga, seranganmu yang mengenai sasarannya itu telah memberi suatu lubang pencarian yang baik."

"Agaknya "naga' itu sangat paham dengan jalanan-jalanan Gian-keng-ih, kalau tidak tentu takkan begitu mudah lolos dari sini,"

Kata Pan Kian-hau.

Harus diketahui bahwa di dalam Gian-keng-ih itu dibuat sedemikian rupa sehingga di mana-mana dan benda apapun seperti pepohonan, gunung-gunungan, semuanya dapat menyesatkan orang.

Bahkan penghuni-penghuni Gian-keng-ih sendiri seringkali juga kesasar.

"Benar, makanya kita harus lebih waspada,"

Kata Wanyen Tiang-ci.

"Apakah antara kalian ada usul yang baik?"

"Tempat tujuan 'naga' itu adalah kamar rahasia ini, maka menurut pendapatku kita pertama-tama harus mengganti alatalat rahasia disini dahulu,"

Usul Si-hiong.

"Benar. Toasuhumu tidak melulu mahir ilmu silat, beliau juga pintar mengatur macam-macam pesawat rahasia. Apakah kau telah menguasai kepandaiannya itu?"

Tanya Wanyen Tiang-ci. 9. Teman Tidur ..... Sudah Mengetahui "Sudah tentu hamba tidak mampu menguasai seluruh kepandaian Toasuhu, paling-paling hanya tujuh atau delapan bagian saja,"

Sahut Si-hiong.

"Bagus,"

Seru Pan Kian-hau girang.

"Dengan kepandaianmu itu saja sudah cukup untuk mengatur seperlunya pesawatpesawat rahasia yang kita inginkan."

"Baiklah, aku setuju merombak semua pesawat-pesawat rahasia disini,"

Kata Tiang-ci.

"Si-hiong, aku memberi tempo satu hari padamu untuk menyiapkan rencananya, apa kau sanggup?"

Dengan rendah hati Si-hiong menerima tugas itu.

Segera ia mulai mengadakan pemeriksaan setempat, lalu mengatur enam susun pesawat rahasia, di tengah pekarangan banyak diatur pula tali-tali yang digandengkan pada genta-genta, bila musuh datang dan salah langkah, seketika genta-genta akan berbunyi.

Wanyen Tiang-ci merasa puas akan rencana Loh Si-hiong itu, segera tukang-tukang dipanggil, malam itu juga pesawatpesawat rahasia itu lantas dibangun dengan diawasi sendiri oleh Wanyen Tiang-ci.

Diam-diam Si-hiong sangat girang, setelah ganti pakaian semula ia lantas mohon diri untuk pulang.

Karena kerja keras, pulangnya rada terlambat.

Sementara hari sudah remang-remang hampir gelap.

Dilihatnya kereta kuda itu sedang menunggu di depan pekarangan, Beng Tionghoan tampak sedang mengantuk.

Tiba-tiba pikiran Si-hiong tergerak, pelahan-lahan ia mendekati Tiong-hoan, baru saja kusir itu membuka mata segera Si-hiong menepuk pundaknya dan menegur.

"Maaf, kau menunggu terlalu lama". Dengan menepuk pundak Beng Tiong-hoan diam-diam Sihiong yakin bilamana pundak Tiong-hoan pernah terluka, maka dia pasti akan menjerit kesakitan. Sebaliknya kalau dugaannya keliru, paling-paling tepukannya itu akan dianggap sebagai tanda keakraban saja dan kusir muda itupun rasanya takkan marah. Ternyata Beng Tiong-hoan tidak memberikan reaksi apaapa, sikapnya tetap dingin saja, sahutnya acuh-tak-acuh.

"Ah, tidak menjadi soal. Silakan naik. Hawa hari ini sangat gerah, maafkan hamba berlaku kasar."

Belum lagi Si-hiong paham apa maksud ucapan Beng Tiong-hoan itu, tiba-tiba Tiong-hoan sudah menanggalkan bajunya, pundaknya kelihatan dengan jelas, bekas luka sedikitpun tidak nampak.

Setelah melempit bajunya dan ditaruh di bawah tempat duduknya, kemudian Beng Tiong-hoan baru mengerudungi kepala Loh Si-hiong.

Agaknya Beng Tiong-hoan sengaja memperlihatkan pundaknya kepada Loh Si-hiong.

Keruan Si-hiong merasa kikuk, sambil duduk di dalam kereta ia berpikir.

"Rupanya aku sendiri yang terlampau curiga, mana bisa dia adalah 'si naga sembunyi' yang menggegerkan itu. Tentu iapun tahu aku sengaja menjajal dia, kini dia bertambah sirik lagi kepadaku."

Ditengah menggelindingnya roda kereta pikiran Loh Sihiong juga sedang berputar. Pikirnya.

"Bisa jadi orang yang terkena pisau Pan Kian-hau itu adalah yang wanita. Tapi siapakah yang wanita itu? Ai, apakah mungkin Ci-ma? -Tapi rasanya tidak bisa jadi. Jika Ci-ma, mengapa dia berada bersama dengan si 'naga' itu?"

Belum sempat Si-hiong menarik sesuatu kesimpulan sementara itu kereta sudah sampai di depan rumahnya.

Si-hiong tidak tahu apakah Hui-hong sudah mengetahui atau belum tentang munculnya, 'naga sembunyi' itu, bila tahu mungkin isterinya juga akan cemas.

Dengan pelahan-lahan Sihiong masuk ke kamarnya, waktu pintu dibuka pelahan, dilihatnya Hui-hong berduduk di depan meja rias seperti sedang termangu-mangu, tangannya memegang sebuah botol porselen kecil.

Ketika mendengar suara buru-buru botol itu lantas disimpan seperti orang yang terkejut.

Lalu ia berbangkit dan menyapa pulangnya Si-hiong.

"Aku pulang agak terlambat karena disana telah terjadi keonaran,"

Tutur Si-hiong.

Dengan sedikit pembukaannya itu Si-hiong menyangka isterinya pasti akan ketarik dan akan menanyakan lebih lanjut apa yang terjadi.

Diluar dugaan Hui-hong ternyata acuh tak acuh, katanya.

"Ada terjadi apa-apa bolehlah kau ceritakan besok saja. Siau-hiong keluar cacar air, aku rada kuatir, maka aku ingin mendampingi dia buat beberapa malam ini."

Siau-hong adalah puteri mereka yang baru umur setahun itu. Biasanya putera-puteri mereka itu ada mak inang yang menjaganya. Si-hiong terkejut juga mendengar anaknya sakit, katanya.

"Hah, Siau-hong sakit cacar air? Marilah kita pergi melihatnya."

"Kau tentu sudah lelah, biarlah kau mengaso siangan saja,"

Ujar Hui-hong.

"Aku sudah mengambilkan obat menurut resep tabib keraton, tentu Siau-hong akan lekas sembuh, maka kau jangan kuatir."

Habis berkata ia terus mengunci sebuah laci yang baru saja dibuka, lalu keluarlah ke kamarnya Siau-hong. Mendengar sakit puterinya Si-hiong menjadi tambah cemas, pikirnya.

"Batas waktu sebulan hanya tinggal sepuluh hari saja. Jika usahaku berhasil segera aku akan pulang bersama Ci-ma dan untuk selanjutnya takkan dapat bertemu dengan putera-puteriku lagi."

Si-hiong bukan seorang yang lebih mementingkan rumah tangga daripada tugas, tapi cinta orang tua kepada anak adalah pembawaan manusia.

Bila teringat dalam waktu singkat sudah akan berpisah dengan putera-puterinya yang disayang itu, mau tak mau timbul juga rasa beratnya.

Namun ada hal lain yang membikin senang Si-hiong.

Dia telah bekerja satu hari bagi Ong-ya untuk mengatur pesawatpesawat rahasia di dalam Gian-keng-ih.

Pikirnya.

"Tadinya aku sedang sedih karena tak berdaya mencuri benda pusaka yang ditentukan itu, sekarang aku sendiri yang mengatur pesawatpesawat itu, untuk memasuki kamar rahasia itu bagiku menjadi terlalu gampang seperti merogoh sakunya sendiri."

Akan tetapi lantas terpikir pula.

"Diluar dalam kamar rahasia itu walaupun terpasang pesawat-pesawat rahasia yang sudah kuketahui, tapi disamping itu pasti ada penjagapenjaga, apalagi peraturan-peraturan disitu sangat keras, secarik kertas saja tak bisa dibawa keluar, lalu cara bagaimana aku dapat mengelabui mata telinga orang-orang yang berada disana? Jika menerobos dengan kekerasan rasanya juga melawan jago-jago yang begitu banyak, sedangkan 'naga' itu saja terluka, apa lagi diriku?"

Selagi memeras otak dan tak berdaya, tiba-tiba pikiran Sihiong tergerak, pandangannya jatuh kearah laci yang tadi baru saja dikunci oleh Tokko Hui-hong itu.

Biasanya laci itu selalu terkunci, anak kunci disimpan sendiri oleh Hui-hong, belum pernah Si-hiong membuka laci isterinya itu.

Untuk membuka laci yang terkunci itu adalah tidak sukar bagi Si-hiong.

Dia mahir mengatur macam-macam pesawat rahasia, untuk membuka sebuah gembok atau kunci saja lebih pintar dia daripada tukang kunci biasa.

Seadanya ia mengambil sepotong kawat dan dimasukkannya ke dalam lubang kunci, hanya sebentar saja ia berkutak-kutik laci itu lantas terbuka.

Waktu ia periksa isi laci itu, kiranya adalah macam-macam botol dan kotak (dos).

Pikirnya.

"O, kiranya ini adalah laci obatnya yang dirahasiakan padaku."

Ia coba periksa botol-botol obat itu satu per satu.

Berdasarkan pengetahuannya terhadap ilmu pengobatan dengan mudah saja ia sudah dapat menemukan obat tidur yang digunakan isterinya untuk membius dirinya pada malam itu.

Ia coba mencari obat pemunahnya dengan cara membaui sedikit obat tidur itu, lalu mengendus pula obat yang dia yakin pasti obat pemunahnya, dan betul juga, percobaannya itu telah berhasil dengan baik.

Si-hiong sangat girang, ia pikir obat tidur itu kebetulan akan dapat digunakan olehnya.

Segera ia menuang sebagian obat tidur itu dan diisi ke dalam sebuah botol kosong, lalu dari beberapa botol obat lain yang warnanya sama dituangnya sedikit-sedikit dan dimasukkan ke dalam obat tidur itu sehingga tidak tampak banyak berkurang isinya, habis itu ia menaruh kembali botol-botol itu ke tempat semula dan laci itu dikunci kembali.

Alangkah senangnya Si-hiong sesudah berbuat demikian, ia berbaring ditempat tidurnya untuk merenungkan tipu daya yang baik guna mencuri pusaka.

<> Saat itu Tokko Hui-hong sedang berada dikamar puterinya yang kecil itu dan secara rahasia tengah mengobati lukanya sendiri.

Dengan menghadapi sebuah cermin Hui-hong telah membuka baju sehingga kelihatan suatu jalur luka di atas pundaknya, darah sudah membeku.

Setelah membersihkan noda darah Hui-hong telah membubuhi obat luka yang berasal dari keraton, obat luka mujarab pemberian raja Kim kepada Wanyen Tiang-ci, dan Hui-hong mendapat satu botol dari sang ayah.

Saat itu Hui-hong sedang berpikir asalkan luka itu dibubuhi obat selama tiga hari tentu lukanya sudah sembuh, dengan demikian takkan kuatir diketahui oleh Loh Si-hiong.

Ditengah cermin seakan-akan terbayang wajahnya Beng Tiong-hoan.

Hui-hong menjadi teringat kepada kejadian semalam yang sangat berbahaya, bila dibayangkan sungguh ia masih merasa ngeri.

Kiranya orang yang terkena sambitan pisaunya Pan Kian-hau bukan lain daripada Tokko Hui-hong.

Semalam Beng Tiong-hoan telah masuk ke Gian-keng-ih untuk mencuri pusaka, tapi diketahui oleh Hui-hong dan diamdiam menyusulnya, dengan demikian barulah Beng Tionghoan dapat melarikan diri dengan selamat.

Diam-diam Huihong merasa bersyukur pernah melihat petanya pada waktu Wanyen Tiang-ci membangun Gian-keng-ih.

Kalau tidak biarpun kepandaian Beng Tiong-hoan setinggi langit juga sukar lolos dari tempat yang menyesatkan itu.

"Tapi untuk apakah Tiong-hoan masuk kesana dengan menghadapi risiko sedemikian besarnya?"

Demikian Hui-hong tidak habis mengerti. Jika karena ingin menjadi jago nomor satu di dunia ini rasanya bukanlah alasan yang mutlak. Tibatiba terkilas suatu pikirannya.

"Jangan-jangan dia adalah 'si naga sembunyi' itu? Wah, jika benar, lantas apa yang akan kulakukan?"

Sudah tentu Tokko Hui-hong berharap Beng Tiong-hoan bukanlah 'si naga sembunyi' itu, tapi makin dipikir tanda-tanda mengenai hal itu makin mencurigakan.

Begitulah diantara suami-isteri dan kekasih lama itu masing-masing mempunyai rahasia sendiri-sendiri.

Sementara itu batas waktu pencurian pusaka sudah makin mendekat.

Pada malam hari terakhir, baru saja lewat tengah malam, kentongan berbunyi tiga kali, sesosok bayangan secepat terbang telah melintas keluar pagar tembok Gian-keng-ih yang tinggi.

Orang ini bukan lain adalah Loh Si-hiong.

Malam ini tiada bulan dan bintang, keadaan gelap gulita.

Keluar dari Gian-keng-ih dalam sekejap saja Si-hiong sudah menghilang di tengah rimba yang gelap.

Saat itu jago-jago Gian-keng-ih sudah tidur semua, mimpipun mereka tidak nyana bahwa menantu kesayangan pangeran yang paling berkuasa itu kini sudah melarikan diri dari Gian-keng-ih.

Ya, bahkan Loh Si-hiong sendiripun tidak percaya bahwa dirinya akan dapat meloloskan diri dengan begitu gampang.

Setiba di dalam hutan yang lebat dan gelap itu, keadaan sunyi senyap tiada seorangpun.

Ia menghela napas lega.

Saking gembiranya hampir-hampir Si-hiong bergelak tertawa puas.

Ia merasa bersyukur karena usahanya telah berhasil dengan baik dan segera dia dapat pulang ke negeri asalnya.

Tanpa merasa tangannya meraba ke bagian dadanya sendiri, terasa jantung masih berdebar-debar, dimana tangannya menyentuh ada sesuatu yang menonyol.

Kiranya di dalam bajunya itu terdapat 27 helai gambar Hiat-to-tong-jin serta se

Jilid kitab Lwekang tinggalan Tan Hu, kedua benda pusaka itu telah berhasil dicurinya semua.

Semalam ia pura-pura asyik mempelajari soal sulit yang dihadapkan padanya dari kitab Lwekang itu sehingga terpaksa mesti bermalam di Gian-keng-ih.

Kejadian begini sebelumnya sudah pernah dilakukannya beberapa kali sehingga tiada seorangpun yang menduga bahwa pada malam inilah dia akan mencuri pusaka.

Cara Si-hiong mengatur tipu muslihatnya cukup rapi, siangnya ia sudah suruh orang memberitahukan rumahnya, bahwa malamnya terpaksa menginap di Gian-keng-ih, kusir kereta itupun disuruh jangan memapak.

Walaupun cara mengatur rencananya itu sangat rapi, tapi secara begitu gampang dia berhasil melaksanakan rencananya sesungguhnya juga sangat diluar dugaan.

Terbayang olehnya adegan kejadian tadi.

Dengan dupa wangi ia telah membius para penjaga sehingga tertidur semua sebelum mereka tahu apa yang terjadi.

Pesawat-pesawat rahasia di kamar penyimpan pusaka itu adalah Si-hiong sendiri yang pasang, dimana digandeng dengan genta-genta tanda bahaya juga diketahui semua, maka dengan gampang saja ia dapat turun tangan, boleh dikata setanpun tidak tahu, maka dengan bebas ia dapat meloloskan diri keluar.

Pikir Si-hiong.

"Sesudah mengisap asap dupa itu, para penjaga itu paling cepat baru akan sadar kembali besok pagi setelah matahari terbit. Hui-hong telah diberitahu bahwa aku bermalam di Gian-keng-ih, mungkin dia baru akan mencari diriku bilamana sampai lewat lohor masih belum nampak aku pulang. Tatkala mana, he..he, tentu aku sudah kabur jauhjauh meninggalkan kotaraja Kim ini."

Gian-keng-ih itu dibangun di bukit Bwe-san di belakang keraton, sebelumnya Si-hiong sudah mengapalkan jalannya, biarpun mata tertutup juga dia dapat pulang pergi tanpa kesasar.

Setelah keluar hutan, pada suatu kaki bukit pertama ia menemukan sebatang pohon cemara tua, di atas batang pohon itu ada sebuah gerowokan, segera Si-hiong menyembunyikan barang-barang curiannya itu di dalam lubang pohon.

Apa yang dilakukannya ini sesuai perjanjiannya dengan Cima.

Pada kentongan keempat tepat Ci-ma akan datang ketempat ini untuk menerima pusaka curian itu.

Dia berjanji pada kentongan keempat dengan Ci-ma sebab ia tidak menduga bahwa usahanya takkan berhasil dengan begitu gampang.

Menurut perhitungan mereka, dia tentu tak bisa kabur bersama-sama dengan Ci-ma, maka kedua macam pusaka itu harus dibawa lari lebih dulu oleh Ci-ma.

Hal ini bukannya Cima tidak percaya padanya, tapi adalah untuk menjaga kemungkinan kalau dikejar musuh.

Menurut jalan pikiran mereka, Ci-ma yang belum dikenal musuh tentu akan lebih gampang bergerak.

Sesudah pencurian pusaka itu ketahuan, tentu Wanyen Tiang-ci akan mengerahkan segenap jago-jagonya untuk mengejar dan membekuk Loh Si-hiong sehingga risiko akan tertangkapnya Si-hiong sangat besar sebelum dia melarikan diri ke luar wilayah kerajaan Kim.

Sebab itulah mereka berdua harus memisahkan diri dan pusaka yang telah berhasil dicurinya itu harus dibawa oleh Ci-ma.

Akan tetapi lantaran usahanya terlalu lancar melampaui perhitungan mereka sehingga Si-hiong lebih siangan sampai di tempat pertemuan yang telah dijanjikan dan Ci-ma masih belum muncul.

Si-hiong pikir daripada menunggu lagi satu jam sampai datangnya Ci-ma ada lebih baik dirinya menggunakan waktu yang lowong ini untuk berbuat sesuatu.

Ia yakin gerowokan pohon tempat penyimpanan benda pusaka hasil curiannya itu tiada lain orang yang tahu kecuali dirinya dan Ci-ma.

Setelah Ci-ma menerima benda-benda pusaka itu dirinya juga akan memisahkan diri untuk membelokkan perhatian musuh.

Tapi kini hari belum terang, pintu gerbang kota belum dibuka, terang dirinya belum dapat lari keluar kota.

Lalu kemanakah dirinya harus sembunyi malam ini?

Mestinya tempat yang paling baik untuk sembunyi adalah di sekitar pintu gerbang benteng kota, begitu terang tanah dan pintu gerbang dibuka segera dirinya dapat kabur dengan leluasa.

Namun sekarang timbul suatu pikiran lain dalam benak Loh Si-hiong.

"Sekali aku sudah meninggalkan kotaraja ini, seterusnya aku takkan kembali lagi kesini."

Sekali-kali Loh Si-hiong tidak merasa berat meninggalkan kotaraja Kim yang memberikan kedudukan tinggi dan kehidupan mewah itu, tapi disini terdapat rumah tangganya, ada isterinya, ada putera puterinya yang tercinta.

Walaupun "rumah tangga"

Ini dibangun diluar rencananya pada waktu ia ditugaskan mencuri pusaka ke kotaraja Kim ini, namun sudah selama lima tahun ia memupuk mahligai rumah tangga itu, betapapun sudah mempunyai perasaan erat.

Sekalipun suami isteri mereka hidupnya cuma rukun dilahir dan berpisah dalam batin, tapi terasa rada berat juga terhadap Tokko Hui-hong yang hidup berdampingan selama lima tahun, pada saat harus berpisah untuk selamanya betapapun dirasakan agak sedih.

Lebih-lebih kedua putera puterinya yang kecil mungil itu benar-benar sukar untuk dilupakan.

"Selama beberapa tahun ini seluruh perhatianku terpusat pada rencana pencurian pusaka, pagi-pagi aku sudah berangkat ke Gian-keng-ih dan sampai malam baru pulang sehingga pada hakikatnya jarang sekali aku merasakan bahagianya orang berumah tangga, terhadap putera puteriku itupun aku tidak memberikan perhatian selayaknya. Sekarang Siau-hong sakit cacar air dan akupun belum sempat menjenguknya. Apakah aku mesti tinggal pergi dengan begini saja? -Tidak, sebelum berangkat betapapun aku harus melihat mereka dulu. Mungkin aku tidak sempat berbicara dengan mereka, tapi sekalipun mereka sudah tidur, asalkan aku dapat memandang muka mereka, maka perasaanku tentu tidak terlalu berat lagi meninggalkan mereka."

Begitulah setelah dipikir berulang kali, akhirnya Si-hiong mengambil keputusan akan pulang kerumah dulu.

Mumpung hari belum terang, waktu untuk kabur masih cukup luang.

Andaikan nanti dirinya dipergoki Hui-hong juga dia sudah merencanakan kata-kata yang akan diucapkan kepada isterinya itu.

Sambil pikir tanpa terasa dia telah sampai di depan rumahnya.

Ia tidak mengetok pintu, tapi melompat lewat pagar tembok dan diam-diam menuju ke kamar tidur puterinya.

Dilihatnya Siau-hong sedang tidur dengan nyenyak, mak inang tidak kelihatan, juga Hui-hong tidak nampak.

Diam-diam Si-hiong merasa heran mengapa isterinya tidak menjaga disamping puterinya yang sakit itu.

Tapi karena waktunya mendesak sehingga dia tidak sempat banyak berpikir.

Pelahan-lahan ia mencium pipi puteri kecil itu.

Pada saat itulah sekonyong-konyong telinganya mendengar suara bisikan orang.

"Kalunker-kuhinhap!"

Si-hiong terkejut dan cepat berpaling. Ternyata Tokko Huihong sudah berdiri di belakangnya dengan air muka tersenyum-senyum dan menatapnya dengan tajam. Terpaksa Si-hiong menyapa dengan tersenyum ewa.

"Kiranya kau, Hui-hong. Nyata, betapapun aku tak bisa membohongi kau."

Kalimat "kalunker-kuhinhap"

Itu adalah bahasa Mongol yang berarti "kau mata-mata musuh".

Kalimat ini pernah diucapkan Tokko Hui-hong ketika untuk pertama kalinya Huihong menyamar sebagai jago pengawal dan ditugaskan oleh Wanyen Tiang-ci untuk menguji Loh Si-hiong di kamar batu itu.

Tatkala mana Si-hiong pura-pura tidak paham kata-kata Mongol itu sehingga dapat mengelabui Hui-hong dan Wanyen Tiang-ci.

Sekarang sesudah mereka menikah selama lima tahun dan mendadak Tokko Hui-hong membisiki kata-kata itu pula, dengan sendirinya Si-hiong lantas tahu bahwa rahasianya sendiri terang sudah diketahui oleh isterinya itu.

Mestinya Si-hiong sudah menyiapkan serentetan kata-kata bohong yang akan diucapkan bilamana kepergok oleh sang isteri.

Tapi kini ia sadar tiada dapat mengelabui Hui-hong lagi, terpaksa ia berkata pula dengan tersenyum kikuk.

"Hui-hong, pulangku malam ini memangnya aku bermaksud memberi tahukan semua duduknya perkara padamu."

Tiba-tiba Hui-hong menggoyang tangan dan mendesis.

"Ssst, jangan keras-keras dan mengejutkan Siau-hong. Marilah ikut padaku, jangan takut. Asal kau bicara terus terang aku pasti takkan membikin susah padamu."

Si-hiong merasa lega. Ia ikut isterinya ke suatu kamar yang tersembunyi dibalik gunung-gunungan dan pepohonan yang lebat, kamar ini selamanya belum pernah didatangi oleh Sihiong. Pikirnya.

"Jika aku tidak dibawa kesini aku benar-benar tidak tahu bahwa di rumahnya sendiri masih terdapat sebuah kamar yang dirahasiakan seperti ini."

Setelah menutup pintu kamar dari dalam, Hui-hong lantas berkata.

"Kau tidak perlu menceritakan apa yang terjadi malam ini, semuanya aku sudah tahu. Apakah kau pulang untuk mengambil perpisahan untuk selamanya padaku?"

"Darimana kau tahu?"

Tanya Si-hiong.

"Sudah lama aku mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya,"

Sahut Hui-hong.

"Diwaktu siang hari kau dapat menutupi dirimu dengan rapi. Cuma sayang, di waktu malam kau tak dapat mengelabui aku lagi. Bukankah kau pernah mengatakan belum pernah pergi ke Mongol. Tapi bila kau mengingau, yang kau ucapkan adalah bahasa Mongol yang tulen."

Diam-diam Si-hiong menyesalkan dirinya sendiri.

Sebagai seorang agen rahasia yang telah digembleng, sungguh tidak nyana akhirnya toh bocor juga rahasianya melalui igauannya di waktu tidur.

Hui-hong lantas berkata pula.

"Semula kami mencurigai kau adalah mata-mata musuh dari kerajaan Song selatan. Setahun kemudian aku baru mengetahui dirimu yang sebenarnya, kiranya kau adalah mata-mata dari Mongol."

"Mengapa setahun kemudian baru diketahui olehmu?"

Tanya Si-hiong.

"Setahun sesudah kita menikah terlahirlah Siau-hong, pada malam pertama kau menjadi ayah itulah, rupanya kau terlampau senang sehingga tanpa sadar kau telah mengingau. Cuma kaupun tidak sering-sering mengingau, selama beberapa tahun ini aku sudah kenal kebiasaanmu. Hanya diwaktu pikiranmu terlalu tegang atau perasaanmu terlampau girang barulah kau mengingau. Beberapa hari terakhir ini hampir-hampir setiap malam kau selalu mengingau."

Keruan Si-hiong terkejut.

"Apa yang kuucapkan?"

Tanyanya. Hui-hong tersenyum dan tidak lantas menjawab. Sejenak kemudian baru dia tanya.

"Siapakah Ci-ma?"

Wajah Si-hiong menjadi merah, ia tahu tak bisa membohongi sang isteri lagi, terpaksa menjawab.

"Dia adalah sobatku diwaktu masih kanak-anak, paling akhir dia ditugaskan kesini untuk membantu aku. Cuma, Hui-hong, harap kau percaya padaku, aku tidak pernah berbuat sesuatu yang kurang pantas terhadapmu."

Hui-hong menghela napas, katanya.

"Perkawinan kita memangnya bukan keinginan kita sendiri, kita hanya seperti boneka yang didalangi. Seumpama dia adalah kekasihmu juga aku tidak menyalahkan kau."

Selang sejenak ia menyambung pula.

"Cuma dari ingauanmu yang bertambah sering itu aku sudah menduga dalam waktu singkat kau tentu akan melakukan sesuatu. Malam ini kau tidak pulang, apa yang hendak kau lakukan juga sudah dalam perhitunganku. Sebab itulah tidak usah kau ceritakan padaku."

"Apakah telah kau laporkan kepada Ong-ya bahwa kau telah mengetahui rahasiaku?"

Tanya Si-hiong ragu-ragu.

"Jika kulaporkan, apakah malam ini kau dapat datang kesini dengan selamat?"

Sahut Hui-hong.

"Ai, aku telah mengingkari budi kebaikan Ong-ya yang telah membesarkan diriku. Aku telah mengalami pertentangan batin yang hebat. Dengan sejujurnya biar kukatakan padamu bahwa sebabnya aku tidak berbuat sesuatu sekali-kali bukan demi kau, tapi adalah demi anak-anak kita ini."

Baru sekarang perasaan Si-hiong benar-benar merasa lapang. katanya dengan terharu.

"Hui-hong, kau telah merahasiakan diriku, betapapun juga selama hidupku ini aku akan senantiasa berterima kasih padamu."

Mendengar ucapan ini, hati Hui-hong rada-rada pedih juga. pikirnya.

"Tapi, tapi aku toh sudah memberitahukan tentang dirimu kepada seseorang."

Cuma ia tidak sampai menceritakan hal itu kepada Si-hiong. Katanya kemudian.

"Si-hiong, ada suatu hal aku masih tidak paham. Cara bagaimanakah kau berhasil mengelabui Ong-ya sehingga dia mau percaya padamu. Padahal kau kan bukan putera pengawal pribadinya yang sudah gugur itu?"

"Ya, bukan, aku adalah palsu", sahut Si-hiong.

"Aku tahu kau adalah palsu, tapi justeru inilah yang membikin aku tidak paham. Dahulu waktu Ong-ya mengutus orang mencari kalian ibu dan anak, utusan itu jelas adalah kenalan baik Loh-taysiok (paman Loh, maksudnya ayahnya Loh Si-hiong yang dipalsukan itu), mengapa dia tidak mengetahui rahasia pemalsuanmu?"

"Meski utusan itu pernah melihat putera keluarga Loh, tapi tatkala mana anak itu baru berumur tiga tahun, dan waktu dia diutus mencarinya anak itu sudah berusia sepuluh tahun. Dengan sendirinya anak yang berumur sepuluh itu adalah diriku. Asalkan Loh-taynio (nyonya Loh) mengaku diriku sebagai pureranya masakah utusan itu berani menaruh sesuatu curiga?'' 10. Siapakah Si Naga Sembunyi? "Dan mengapa Loh-taynio mau bersekongkol dengan kalian dan mau membiarkan kau memalsukan anaknya?"

Tanya Huihong pula.

Teka-teki ini sudah terpikir beberapa tahun olehnya dan belum terpecahkan selama ini, sebab itulah pada saat sebelum suaminya pergi untuk selama-lamanya masih tidak lupa diajukan pertanyaannya ini untuk memecahkan teka-teki yang belum terjawab.

"Ini kan sangat sederhana,"

Sahut Si-hiong tertawa.

"Orang kami telah menangkap anaknya dan berjanji padanya asalkan, dia suka bekerja sama dengan kami, kelak dia akan dipertemukan kembali dengan puteranya di Mongol, jika tidak, maka anaknya akan dibunuh. Dengan ancaman ini masakah dia berani membangkang kepada keinginan kami?"

"Keji amat cara ini,"

Ujar Hui-hong.

"Lalu, dimanakah Loh Si-hiong yang tulen itu?"

"Aku tidak tahu,"

Sahut Si-hiong dengan menunduk.

"Aku .... akupun tidak diberitahu lagi tentang dia."

Kiranya ibu dan anak itu setibanya di Mongol sudah lantas dibunuh oleh orang-orangnya, lantaran malu terhadap perbuatan itu, maka Si-hiong tidak berani bicara terus terang.

"Ya, pertanyaanku yang terlalu bodoh. Sudah tentu mereka takkan hidup lagi,"

Kata Hui-hong sambil menghela napas.

"Sihiong sungguh aku tidak nyana kau ........"

"Tidak nyana, aku sedemikian kejam bukan?'' sambung Sihiong.

"Tapi aku juga terpaksa. Habis siapa yang suruh kedua negeri kita sama-sama hendak merajai dunia? Dalam peperangan, jangankan cuma sepasang suami-isteri atau dua orang ibu dan anak, bahkan beribu-ribu rumah tangga juga bisa hancur. Seumpama kau, bukankah kaupun pernah minta aku pergi membunuh juragan she Nyo itu?"

"Ucapanmu memang tepat,"

Kata Hui-hong.

"kita hanya boneka yang didalangi orang. Tapi kalian telah berbuat curang terhadap seorang anak yang sudah kehilangan ayah, hal ini betapapun aku tak dapat memaafkan kau."

"Baiklah,"

Sahut Si-hiong dengan lesu.

"Pulangku ini hanya untuk sekali lagi melihat kau dan anak-anak, sekarang citacitaku sudah terkabul, terserah apa yang hendak kauperbuat atas diriku."

Kembali Hui-hong menghela napas, katanya kemudian.

"Boleh kau pergi saja. Meski aku tak dapat memaafkan kau, tapi akupun tidak ingin membunuh kau."

Setelah mempengaruhi perasaan Hui-hong, kini Si-hiong sudah ada harapan untuk menyelamatkan diri, diam-diam ia merasa girang.

Tapi pada saat akan berpisah untuk selamanya ini mau tak mau timbul juga perasaan murninya terhadap sang isteri.

Tanpa merasa ia genggam tangan Hui-hong dan berkata.

"Kau tak dapat memaafkan aku, tapi aku akan berterima kasih kepadamu untuk selamanya. Baiklah, aku akan pergi, harap kau menjaga dirimu baik-baik."

Hui-hong mengebaskan tangannya yang dipegang itu, tapi mendadak ia menarik kembali tangan Si-hiong dan berkata.

"Jangan keluar melalui pintu depan. Ong-ya adalah seorang yang amat cermat, aku sudah tahu malam ini dia tidak berdiam di rumah, kaupun tidak melihat dia di Gian-keng-ih, hal-hal ini sangat meragukan. Jika perbuatanmu telah diketahui, tentu dia akan menduga kau akan pulang lagi ke sini."

Si-hiong terkesiap, katanya.

"Benar, jika begitu biar aku berangkat melalui pintu belakang."

Sudah tentu iapun dapat menduga bilamana Ong-ya benarbenar mau menangkapnya, tentu pintu muka dan belakang sudah diawasi dengan ketat.

Cuma dia berharap dengan pintu belakang akan mengurangi sedikit risikonya.

Namun Hui-hong telah tersenyum, katanya.

"Aku mempunyai jalan lain yang dapat kau gunakan. Di dalam kamar ini ada pintu rahasia yang menembus ke tengah gunung-gunungan buatan dan dari sana ada sebuah jalan di bawah tanah yang menembus keluar."

Apa yang dikatakan Hui-hong ini adalah jalan rahasia yang pernah digunakannya untuk pergi menemui Beng Tiong-hoan tempo hari. Keruan Si-hiong sangat girang, katanya.

"Hui-hong, kau benar-benar tuan penolongku yang berbudi."

Belum habis ucapannya mendadak Tokko Hui-hong bersuara kaget.

"Ada apa?"

Tanya Si-hiong bingung. Hui-hong, tampak sangat terperanjat dan gugup, katanya.

"Sungguh aneh pesawat pintu rahasia ini agaknya telah rusak, Aku ...... aku tak dapat membukanya."

"Biar aku mencobanya lagi,"

Kata Si-hiong.

Sebagai orang ahli sekali coba saja segera ia mengetahui bahwa pintu rahasia itu telah dikunci oleh orang dari sebelah sana.

Pada saat itulah, selagi Si-hiong mengeluh, terdengarlah suara orang bergelak tertawa di luar.

"Loh Si-hiong, apakah kau masih mau coba melarikan diri?'' Cepat Si-hiong menerjang keluar kamar, terlihatlah di depan gunung-gunungan sana telah berdiri seorang dengan membawa sebatang tongkat bambu. Kiranya adaiah pangeran muda Wanyen Ting-kok.

"He..he..he..he, kau tidak sangka akan kepergok olehku bukan?"

Seru Wanyen Ting-kok sambil menyeringai dan menuding Si-hiong dengan tongkat bambu yang hijau itu.

"Hm, jangan kau kira aku bukan tandinganmu, jika kau berani bergerak sedikit saja sebentar lagi tanggung kau akan dihujani anak panah hingga badanmu mirip landak."

Waktu Si-hiong melirik sekitarnya, dibalik semak-semak telah penuh dengan bayangan orang, banyak ujung anak panah yang menonjol keluar dan tampak gemilapan dalam kegelapan.

Nyata pangeran muda itu telah menyembunyikan pasukannya di sekeliling taman.

Hui-hong juga telah ikut keluar.

Melihat keadaan demikian seketika wajahnya pucat pasi.

Pikirnya.

"Cara bagaimana mereka mengetahui? Padahal Ong-ya biasanya tidak mencurigai Si-hiong, jangan-jangan Tiong-hoan yang telah melaporkannya? Ah, tapi tidak mungkin. Tiong-hoan sudah berjanji padaku, tidak nanti dia ingkar janji."

Dalam pada itu Wanyen Ting-kok tengah tertawa pula, katanya.

"Adik yang baik, kau telah lupa bahwa gedungmu yang megah ini adalah ayah yang membangun bagi kalian, segala pesawat rahasia yang diatur di dalam rumahmu ini masakah dapat mengelabui aku? Cuma akupun tidak menyangka bahwa ternyata sedemikian setiamu kepada sang suami sehingga melupakan budi kebaikan ayah yang telah membesarkan kau."

Karena merasa sukar untult melarikan diri lagi, Hui-hong menjadi tenang malah, sahutnya.

"Urusan sudah ketelanjur begini, aku tidak ingin bicara apa-apa. Boleh terserah kepadamu apa yang hendak kau lakukan. Tapi kedua anakku itu tidak berdosa, hendaklah kau jangan membikin susah mereka. Ya, aku memang sudah menerima budi kebaikan keluargamu. tapi selama ini akupun sudah banyak berjasa bagi kalian, betapapun kalian tidak boleh melupakan hal ini."

"Eh, adikku yang manis, kenapa kau berkata, demikian,"

Kata Ting-kok dengan cengar-cengir.

"Kepadamu aku hanya ada cinta, masakah aku tega membunuh kalian ibu dan anak? Bahkan untuk mengampuni jiwa Si-hiong juga masih dapat kupertimbangkan bila kau memintanya. Sudah tentu, semuanya ini tergantung kepada dirimu pula."

Saking gusarnya alis Hui-hong sampai menegak. Damperatnya.

"Ting-kok, kau ..... kau tidak tahu malu."

Melihat Sang isteri toh tidak mau mengkkhianatinya pada saat berbahaya itu, sungguh hati Si-hiong sangat terhibur. Serunya segera.

"Hui-hong, tak perlu gubris padanya. Palingpaling hanya mati saja bagiku." -Habis itu ia berbalik ketawa terbahak-bahak terhadap Wanyen Ting-kok.

"Gila, kematianmu sudah di depan mata, apa yang kau tertawakan?'' bentak Wanyen Ting-kok.

"Aku mentertawai kalian ayah dan anak, kalian telah tertipu olehku, tapi masih berlagak menang dan merasa senang,"

Seru Si-hiong dengan tertawa.

"Apakah kau sudah mengetahui bahwa kedua macam pusaka di Gian-keng-ih itu sekarang, sudah jatuh di tangan kami. Biarpun kau membunuh aku juga, tiada gunanya, toh kalian tetap sudah kalah."

Tiba-tiba Wanyen Ting-kok juga bergelak tertawa, bahkan tertawanya lebih lantang daripada Si-hiong. Keruan Si-hiong melengak malah, damperatnya.

"Hm, apa yang kau tertawakan?"

"Aku mentertawai ketololanmu,"

Jawab Ting-kok sesudah puas tertawa.

"Memangnya kau mengira kami telah kau tipu, siapa tahu justeru kaulah yang telah masuk perangkap kami. Terus terang kukatakan bahwa sudah lama ayah mengetahui tipu muslihatmu, beliau sengaja membiarkan kau mengatur pesawat-pesawat rahasia dan memberi kesempatan kepadamu untuk mencuri kedua macam pusaka itu. Ini adalah tipu menjaring ikan sekaligus, tahu tidak?'' Mendengar jawaban demikian, seketika wajah Si-hiong pucat sebagai mayat, ia benar-benar mati kutu dan tak bisa bersuara lagi. Luar biasa senangnya Wanyen Ting-kok. Ia kuatir Tokko Hui-hong masih belum jelas duduknya perkara, maka sengaja, dia memberi keterangan lebih jauh.

"Loh Si-hiong, apakah kau tahu sebab apa kami tidak menangkap kau sewaktu kau turun tangan mencuri pusaka? Jika kau tidak tahu, biar kukatakan padamu. Sebab kalau kau ditangkap di Gian-keng-ih sana, paling-paling yang tertangkap hanya kau seorang, sebaliknya kalau kau dibiarkan lolos keluar, tentu begundalmu akan dapat dijaring sekaligus. Padahal di tengah hutan sana sebelumnya sudah penuh dijaga oleh orang-orang kami dan sekarang tinggal menunggu kedatangan kawanmu untuk masuk jiratan sendiri. Sekarang kau sudah paham belum? Betapapun tabahnya Loh Si-hiong, setelah mendengar keterangan itu mau tak mau badannya menjadi gemetar juga. Pikirnya.

"Gebrakan ini benar-benar aku telah mengalami kekalahan habis-habisan. Jiwaku sendiri tidak menjadi soal, celakanya jiwa Ci-ma juga akan menjadi korban lantaran kecerobohanku."

Dalam pada itu Wanyen Ting-kok lantas membentak.

"Sekarang kau sudah tahu duduknya perkara, nah, apakah kau tidak lekas menyerahkan diri?"

Tak terduga, belum lama ia merasa senang dan bangga, pada saat dia membentak agar Si-hiong menyerah itulah sekonyong-konyong terdengar suara tertawa orang yang panjang, sesosok bayangan secepat terbang tahu-tahu melayang lewat gunung-gunungan itu, belum lagi pemanahpemanah yang disembunyikan disitu itu melihat jelas siapa yang datang, tahu-tahu orang itu sudah berdiri di depan Wanyen Ting-kok.

"Hah, Beng Tiong-hoan, kau? Untuk apa kau datang kemari?"

Seru Ting-kok dengan terkejut.

Belum lenyap suaranya sekali cengkeram Beng Tiong-hoan sudah berhasil membekuknya.

Selisih ilmu silat Wanyen Tingkok dengan Beng Tiong-hoan terlampau jauh sehingga sama sekali ia tak bisa berkutik lagi.

Pada saat itulah baru ada beberapa anak panah yang dibidikkan oleh pemanah-pemanah tersembunyi tadi, tapi Tiong-hoan lantas angkat Wanyen Ting-kok ke atas sambil membentak.

"Baiklah, boleh kalian panah mampus majikanmu!"

Sudah tentu pasukan pemanah itu takut membikin celaka pangeran muda mereka, maka hujan panah tidak jadi dilancarkan, semuanya hanya melongo kesima tak berdaya.

"Beng-toako, ken ...... kenapa kau berkhianat, selamanya ayah tidak jelek terhadapmu,"

Seru Ting-kok.

"Benar,"

Sahut Tiong-hoan.

"sebagai kusir keluargamu aku memang sudah menerima budi kalian. Kalau tidak siapa diriku saat ini tentu sudah diketahui orang."

"Hah, siapakah kau sebenarnya?"

Teriak Ting-kok terkejut.

"Ha..ha..ha..ha!"

Tiong-hoan bergelak tertawa. Ia banting Ting-kok ke atas tanah dan menginyak dadanya dengan sebelah kaki, lalu serunya lantang-lantang.

"Aku tak lain tak bukan adalah 'si naga sembunyi"

Yang hendak kalian tangkap itu!"

Tokko Hui-hong ikut terkejut dan bergirang pula. Baru sekarang ia melihat jelas bahwa badan Beng Tiong-hoan berlepotan darah, terang lukanya tidak enteng. Cepat ia berseru.

"Beng-toako, mengapa tidak dulu-dulu kau memberitahukan padaku?" -Tanpa merasa ia memburu maju ke samping Beng Tiong-hoan dan mengeluarkan sapu tangannya untuk membersihkan darah di atas badan bekas kekasihnya itu. Ia tahu sebabnya Beng Tiong-hoan mau datang kesitu dalam keadaan terluka pasti karena ingin mencarinya. Kalau tidak, sesudah terluka dan beruntung dapat meloloskan mestinya dia dapat kabur dengan leluasa. Terdengar Beng Tiong-hoan berseru dengan tegas.

"Huihong, marilah kita pergi. Biarpun jiwaku melayang juga aku akan membawa kau pergi dari sini."

Maka pahamlah Si-hiong duduknya perkara, pikirnya.

"Pantas selama beberapa tahun sebagai suami-isteri Hui-hong dan aku hanya rukun dilahir tapi berbeda dalam batin. Kiranya orang yang dia kasihi adalah 'si naga sembunyi'."

Sambil mengnela napas akhirnya Si-hiong berkata.

"Benar Hui-hong, silakan kau ikut pergi bersama dia."

"Dan bagaimana dengan kau?"

Tanya Hui-hong.

"Aku tidak dapat melaksanakan perintah Khan (raja Mongol) yang besar, aku malu untuk pulang kesana,"

Sahut Sihiong. Hati Hui-hong terasa pilu, katanya.

"Si-hiong, boleh jadi aku bersalah padamu. Tapi jauh sebelumnya, aku sudah kenal dia, sama halnya seperti kau dan Ci-ma."

"Ya, aku tahu,"

Sahut Si-hiong sambil menunduk "Dan entah bagaimana dengan nasib Ci-ma?"

"Kau jangan kuatir, Ci-ma sudah lama meninggalkan kotaraja kata Beng Tiong-hoan.

"Dia tidak mendapatkan kedua macam pusaka itu, tapi telah menemukan kembali jiwanya. Benda-benda pusaka itu telah kuambil, akulah yang suruh Cima lekas pergi dari sini."

Si-hiong melengak.

"Kau maksudkan kau yang telah merintangi pengejar-pengejarnya dan membiarkan dia sempat melarikan diri?"

"Benar, malahan aku menasihatkan dia lebih baik jangan pulang ke Mongol,"

Kata Tiong-hoan.

"Dia adalah seorang nona yang baik dan tiada harganya untuk menjual nyawa bagi keangkara-murkaan Khan besar kalian. Sebaliknya tugasku tidak sama dengan kalian, sebab kedua macam benda itu asalnya memang milik negara kami, maka kami harus mengembalikannya ke kandangnya semula. Kalian mencurinya hanya untuk memenuhi nafsu keserakahan Khan kalian, maknanya sama sekali berbeda. Apakah kau sudah paham?"

"Ya, cuma sayang aku terlambat memahaminya,"

Sahut Sihiong dengan lesu.

"Banyak terima kasih atas pertolonganmu kepada Ci-ma. Selanjutnya Hui-hong juga perlu perlindunganmu."

Habis berkata mendadak goloknya menikam dadanya sendiri.

Hui-hong menjerit kaget, namun tidak keburu lagi untuk menolongnya.

Si-hiong sudah terkulai dengan mandi darah, dengan suara lemah dan terputus-putus ia masih berkata.

"Le ...... lekas kalian pergi!"

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara orang menjengek.

"Hm, ingin lari? Jangan mimpi!"

Siapa lagi dia kalau bukan Wanyen Tiang-ci. Terlihat dia menggandeng Siau-liong dan tangan lain membopong Siauhong, selangkah demi selangkah ia mendekati Hui-hong. Kemudian ia mendengus pula.

"Hui-hong, sungguh tidak nyana kaupun mengkhianati aku?"

Wajah Hui-hong pucat pasi, katanya.

"Ong-ya, kau boleh membunuh aku, tapi anak-anak itu tidak tahu apa-apa, mereka tidak berdosa."

Dalam pada itu Siau-liong telah memanggil-manggil "ibu"

Dan Siau-hong menangis ketakutan.

"Jangan kuatir, Hui-hong,"

Seru Tiong-hoan.

"Jika dia tidak mengembalikan anak-anakmu, segera akupun mencabut nyawa putera anjingnya ini."

Menyusul ia terus cengkeram Wanyen Ting-kok dan memalangkan goloknya di atas kuduknya. Saking murka Wanyen Tiang-ci menyeringai malah, katanya.

"Beng Tiong-hoan, keji amat caramu ini. Baiklah, anggaplah aku yang terjungkal ditanganmu. Tapi kau "si naga sembunyi' ini akhirnya toh kelihatan juga belangnya. Apakah kau mengira akan dapat lolos keluar dari kotaraja ini dan pulang ke negerimu dengan selamat?"

Kiranya Wanyen Tiang-ci sudah bergebrak dengan Beng Tiong-hoan di tengah hutan sana.

Tiong-hoan berhasil menerjang keluar kepungan sesudah dilukai beberapa tempat oleh Wanyen Tiang-ci.

Setelah pertarungan itu dengan sendirinya Wanyen Tiang-ci mengetahui siapa sebenarnya Beng Tiong-hoan.

Maka dengan ketus Tiong-hoan menjawab.

"Dapat lolos atau tidak adalah urusanku. Sekarang aku hanya ingin tanya padamu, kau mau terima tawaranku tadi atau tidak?"

"Baik, marilah kita tukar orang!"

Sahut Wanyen Tiang-ci.

"Tapi aku tak dapat mempercayai kau,'' ujar Tiong-hoan.

"Kau sendiri harus mengantar kami keluar kota, kira-kira sepuluh li di luar kota barulah kita menukar tawanan."

Terpaksa Wanyen Tiang-ci menurut, katanya.

"Baiklah, aku setuju."

Ia anggap Tiong-hoan sudah terluka, betapapun ia tidak kuatir padanya.

"Biarlah malam ini untuk pengabisan kalinya aku menjadi kusir pangeran kerajaan Kim yang paling berkuasa,"

Kata Tiong-hoan dengan tertawa.

"Hui-hong, marilah kita naik ke atas kereta."

Dengan mengempit Wanyen Ting-kok ia mengajak Hui-hong menuju kereta kuda yang berhenti di luar gedung seperti biasa.

"Aku tidak menumpang keretamu,"

Kata Wanyen Tiang-ci.

Lalu ia memanggil Pan Kian-hau, seorang membopong satu anak mereka naik kuda mengikut di belakang kereta Beng Tiong-hoan itu.

Hari masih pagi buta, pintu gerbang benteng belum dibuka.

Tapi atas perintah pangeran yang paling berkuasa, dengan leluasa rombongan mereka lantas dibukai pintu.

Kira-kira belasan li di luar kota barulah fajar menyingsing.

Wanyen Tiang-ci menahan kudanya dan berseru.

"Seorang laki-laki sejati omong pasti pegang janji. Marilah tukar orang menurut perjanjian."

Beng Tiong-hoan lantas melompat turun dari keretanya dengan tetap mencengkeram Wanyen Ting-kok.

Tokko Hui-hong mengikuti dibelakangnya.

Diam-diam Wanyen Tiang-ci mengedipi Pan Kian-hau, maksudnya bila sudah tukar tawanan segera mereka akan melabrak musuh.

Mereka yakin dengan gabungan dua orang tentu dengan mudah akan dapat membekuk "si naga sembunyi".

Tapi sebelum tukar tawanan dilakukan, mendadak Beng Tiong-hoan bersuit nyaring, dari lereng sana lantas muncul tiga penunggang kuda dengan cepat.

"Ong-ya, hendaklah kau jangan pakai akal licik, kata Tionghoan dengan tertawa.

"Nah, Hui-hong, boleh kau pergi menerima kembali anak-anakmu. Sesudah kau terima kembali anak-anakmu barulah aku melepaskan tawanan kita."

Terpaksa Wanyen Tiang-ci tak bisa berbuat apa-apa.

Setelah Hui-hong menerima kembali kedua anaknya, lalu Wanyen Ting-kok juga dibebaskan oleh Beng Tiong-hoan dan menggabungkan diri dengan ayahnya.

Tiba-tiba Hui-hong berkata.

"Tiong-hoan, harap kau pondongkan anak-anak ini."

Tanpa curiga sedikitpun Tiong-hoan memondong kedua anak kecil itu dari pangkuan ibunya. Waktu itulah Wanyen Tiang-ci telah berkata.

"Hm, persiapan kalian memang sangat rapi, tapi juga jangan bergirang dulu. Mungkin tidak begitu mudah bagi kalian melarikan diri keluar wilayah negeri ini."

"Ha..ha..ha, sekarang juga boleh kau saksikan keberangkatan kami,"

Sahut Tiong-hoan sambil terbahakbahak. Dengan memondong kedua anak kecil segera ia mendahului naik ke atas kereta.

"Coba kucium dulu anak-anak itu,"

Pinta Hui-hong. Segera ia menciumi Siau-liong dan Siau-hong yang berada dalam pondongan Beng Tiong-hoan yang sebelah kakinya sudah melangkah ke dalam kereta.

"Anak baik, anak manis, jangan menangis dan jangan ribut, ya, menurutlah kepada kata-kata paman,"

Demikian Hui-hong tepuk-tepuk badan bocah-bocah itu dengan pelahan. Setelah menaruh kedua anak itu di dalam kereta, lalu Tiong-hoan berseru.

"Hui-hong, mengapa kau tidak lekas naik kemari?"

Tapi mendadak Hui-hong menjawab.

"Tiong-hoan, ada kau yang sudi menjaga mereka, maka aku takkan kuatir lagi."

Keruan Tiong-hoan terkejut, cepat ia melompat turun dan berseru.

"Apa yang hendak kau lakukan?"

Namun sudah terlambat sedikit, tertampak Tokko Hui-hong sudah rebah di atas tanah, di atas dadanya menancap sebilah belati.

"Tiong-hoan,"

Dengan suara lemah Hui-hong masih dapat bicara.

"maafkan, aku, ... aku tak dapat menjadi isterimu. Ong-ya, budi kebaikanmu yang telah membesarkan aku kini kubalas dengan kematianku, dengan demikian dapatlah kau merasa puas."

Sebagai seorang ahli, dari lukanya dapatlah Tiong-hoan mengetahui keadaan Hui-hong yang parah dan sukar ditolong lagi, seketika hatinya mencelos.

Sambil menahan air mata Tiong-hoan memberi tanda untuk memanggil ketiga penunggang kuda tadi.

Sesudah mereka mendekat, lalu Tionghoan bertanya.

"Apakah benda-benda pusaka itu sudah dikaburkan?"

"Jangan kuatir, Beng-toako,"

Sahut satu yang lebih tua diantara mereka itu.

"Semalam orang kita sudah menyusup keluar kota, saat ini paling sedikit sudah berada ratusan li dari sini."

"Kau dengar tidak, Ong-ya?"

Tiba-tiba Tiong-hoan berseru kepada Wanyen Tiang-ci dengan gelak tertawa.

"Sekarang sekalipun kau membunuh kami juga kau tetap kalah."

Habis itu ia berpaling pula kepada ketiga orang tadi, perintahnya.

"Kalian harus mengantar kedua anak ini ke tempat yang aman, mumpung mereka belum mengerahkan pasukan untuk mengejar, lekas kalian gunakan kereta yang bertandakan istana pangeran ini, sepanjang jalan tentu tiada orang yang berani merintangi kalian."

"Dan kau bagaimana, Beng-toako?"

Tanya ketiga orang itu.

"Jangan urus diriku,"

Sahut Tiong-hoan tegas.

"Ini adalah perintah, lekas kalian berangkat!"

Tiada jalan lain terpaksa ketiga orang itu menurut, segera mereka melarikan kereta kuda itu bersama kedua anaknya Loh Si-hiong dan Tokko Hui-hong.

Dalam pada itu Wanyen Tiang-ci telah melangkah maju, namun Tiong-hoan telah menghadang didepannya dengan golok terhunus, jengeknya.

"Ong-ya, semalam aku kena dilukai karena kalian berjumlah lebih banyak. Tapi kalau satu lawan satu terang kau bukan tandinganku. Aku sendiri akan dapat mengakhiri diriku, tapi kalau kau berani melangkah maju biarlah aku mengadu jiwa padamu."

Terhadap si "naga"

Yang sudah terluka itu nyatanya Wanyen Tiang-ci rada jeri sehingga tidak berani sembarangan maju.

Kemudian Beng Tiong-hoan memangku Tokko Hui-hong yang sudah mandi darah itu, katanya dengan suara pelahan.

"Jangan kuatir, betapapun kita akan selalu berada bersama bukan?"

Hui-hong membuka matanya dengan sinar mata yang guram, katanya lemah.

"Kau .... kau tidak berangkat,"

Begitu lirih suaranya sehingga cuma Beng Tiong-hoan saja yang dapat mendengarnya.

"Ya, aku akan senantiasa berada didampingmu, Hui-hong,"

Sahut Beng Tiong-hoan.

Habis berkata iapun menikam uluhatinya sendiri dan robohlah tubuhnya di sisi Tokko Hui-hong.

Pelahan-lahan Tokko Hui-hong menutup kedua matanya dengan mengulum senyuman puas.

TAMAT.

Baca Juga: Misteri Pulau Neraka 2

Baca Juga: Kisah Pedang Bersatu Padu 11

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger