Kisah Pedang Bersatu Padu 11

Eps 11 Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt

Baca online Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt

Cersil Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt.

Dia berdiri menonton.

Si pendeta bergegaman golok Kayto, gesit gerak-geriknya Hebat pertempuran itu, walaupun In Hong pandai silat, matanya toh kabur juga menyaksikan berkelebatannya pedang dan golok mereka yang lagi bertarung itu.

Thian Touw bersilat dengan ilmu silat "Liusengkangoat,"

Atau "bintang meteor mengejar rembulan,"

Suatu ilmu pedang ciptaannya yang paling baru.

Ilmu pedang itu sangat cepat tikamannya saling susul.

Mulanya In Hong menduga, si pendeta cuma akan bertahan dua tiga jurus.

Tapi ia menerka keliru.

Pendeta itu pun lihai sekali Dengan goloknya, dia dapat melayani pedang yang berbahaya itu.

Tetap mereka berimbang satu dengan lain.

Segera senjata mereka beradu, suaranya menulikan telinga.

Sebagai kesudahan dari itu, keduanya sama-sama lompat mundur.

Si pendeta tertawa lebar dan berkata.

"Si siluman tua she Kiauw nyata tidak memuji secara yang berlebihan! Di jaman ini benarlah ilmu pedangmu tergolong yang nomor satu! Tidak kecewa aku telah menjelajah gunung Thiansan ini!"

Hok Thian Touw menahan pedangnya.

"Locianpwee,"

Ia berkata, tenang.

"bukankah kau Tek Seng Siangjin dari Sengsiu Hay, Kunlun San?"

Pendeta itu tertawa pula.

"Matamu tajam sekali!"

Katanya.

"Dengan melihat ilmu golokku, kau dapat mengenali aku. Eh, tahukah kau maksud kedatanganku ini?"

"Mengenai itu, aku mohon pengajaran,"

Sahut Thian Touw.

"Kabarnya kau telah mengumpul belasan kitab ilmu pedang,"

Berkata Tek Seng Siangjin.

"kau pula telah menciptakan ilmu pedang Thiansan Kiamhoat. Kau tahu, si siluman tua she Kiauw sangat memuji kau, aku tidak percaya, maka aku datang kemari untuk mencoba. Sekarang aku mendapat kenyataan benar ilmu pedangmu luar biasa Itu artinya, kitab pedangmu itu ada harganya untuk aku pinjam!"

Pendeta ini bicara dengan merdeka sekali, dia seperti tidak memikir lain orang sudi meminjamkan kitabnya atau tidak, dia seperti menganggap, kalau dia meminjam barang orang, itu artinya dia memberi muka kepada orang yang barangnya dipinjam itu!

In Hong mendengar tegas kata-kata si pendeta, diajadi berpikir.

"Kiranya dia inilah Tek Seng Siangjin. Katanya dulu hari di dalam istana raja dia dikalahkan Thio Tan Hong, habis itu dia menyembunyikan diri, siapa sangka sekarang dia datang kemari untuk mencari garagara! Thian Touw memandang kitab ilmu pedangnya sebagai jiwa raganya, tidak nanti dia sudi gampanggampang meminjamkannya!"

Benar-benar lantas terdengar suaranya suami itu ---suara yang menyatakan tak puas hati.

"Locianpwee bergurau!"

Demikian katanya.

"Orang dengan derajat sebagai locianpwee, bagaimana locianpwee dapat memikir kitab ilmu pedangku?"

"Aku bukan menghendakinya,"

Kata Tek Seng.

"Aku cuma mau meminjam lihat untuk satu tahun, nanti aku membayarnya pulang."

"Ilmu pedang Thiansan Kiamhoat dari aku masih belum sempurna,"

Thian Touw mengasi keterangan.

"tidak dapat aku memberi pinjam kitabku. Locianpwee, maaf, tidak dapat aku menerima baik perintahmu ini!"

Pendeta itu mementang lebar kedua matanya.

"Aku sudi pinjam kitabmu, itu artinya aku menghargai kau!"

Katanya, lagu suaranya aneh.

"Oh, bocah cilik, mengapa kau begini tidak tahu diri? Kau diberi selamat dengan arak kegirangan, kau tidak sudi terima, kau sebaliknya lebih suka minum arak hukuman! Tadi aku cuma mencoba ilmu pedangmu, sekarang aku tidak sungkan-sungkan lagi!"

Thian Touw habis sabar.

"Aku memandang usiamu yang tinggi, aku memanggil kau locianpwee!"

Katanya keras.

"Sekarang kau sendiri yang tidak menghargai kehormatan dirimu, maka jangan kau sesalkan aku tidak memakai adat peradatan lagi!"

Sembari berkata begitu, Thian Touw bahkan mendahului menyerang. Ia menikam dengan jurus "Guntur dan kilat saling sambar."

Itulah salah satu jurus Thiansan Kiamhoat. Benar sekali, anginnya tikaman bersuara bergemuruh. Tek Seng Siangjin tertawa terbahak.

"Jikalau aku tidak kasih rasa padamu, kau belum tahu lihaiku!"

Katanya nyaring.

"Apakah kau sangka karena kepandaian ilmu pedangmu ini aku jadi tidak dapat berbuat suatu apa atas dirimu? Hm!"

Lantas pendeta ini mengangkat goloknya, begitu ia berkelit, begitu ia menyerang.

Tangan kirinya bergerak mengikuti goloknya itu.

Dengan begitu, golok dan tangannya itu bergerak bersama-tangannya itu mengarah dada.

Jikalau Thian Touw kena tertepuk, dia bisa celaka, tidak perduli ilmu dalamnya sudah mahir.

Ia lantas berkelit, perutnya dikasih kosong, dadanya ditarik pulang.

Maka itu, tangannya si pendeta cuma mengenai baju.

Lantaran ini.

ia jadi kena terdesak.

Tek Seng Siangjin menjadi lihai begini karena sejak dikalahkan Thio Tan Hong, dia telah menyekap diri untuk meyakinkan lebih jauh ilmu silatnya.

Dia panas hati.

dia ingin mencari balas.

Bersama-sama Kiauw Pak Beng, dia berdiam di gunung Kunlun San, masing-masing di bagian gunung depan dan belakang, jaraknya satu dari lain sekira tiga ratus li.

Walaupun mereka terpisah jauh, kadang-kadang mereka membuat pertemuan.

Demikian dari Kiauw Pak Beng, Tek Seng mendapat tahu halnya Thian Touw lihai.

Dia jadi ketarik hati, ingin dia mendapatkan kitab Thian Touw itu.

sekalipun dengan paksa.

Dia tahu.

dalam tenaga dalam, dia tidak kalah dari Thio Tan Hong, yang membuatnya dia kalah, ialah ilmu pedang bersatu padu dari Tan Hong.

Dia pikir, kalau dia bisa mempelajari ilmu pedang hingga mahir, dia boleh menempur pulajago she Thio itu.

Kiauw Pak Beng mendapat tahu apa yang dipikir si pendeta, dia menganjurkan pendeta itu.

Dia sendiri tidak mau turun gunung karena dia lagi meyakinkan ilmu silatnya yang luar biasa, yaitu Siulo Imsat Kang.

Untuk menyateroni Hok Thian Touw.

Tek Seng Siangjin mengajak sahabat akrabnya ialah si orang tua umur kira lima puluh tahun itu.

namanya Kiok Ya Ciauw.

Bersama-sama mereka mendaki gunung Thiansan.

Ketika In Hong tiba, mereka pun baru sampai.

Tanpa banyak omong, Tek Seng Siangjin menantang Thian Touw.

Inilah berhubung dengan maksudnya menguji jago Thiansan itu.

Sesudah itu, baru ia mengutarakan maksudnya ingin meminjam kitab pedang, walaupun dengan cara paksa.

Ia menganggap sudah tua dan gagah, ia memangnya jumawa, maka juga ia percaya dengan ia minta pinjam kitab, ia sudah memberi muka pada Thian Touw!

Tek Seng Siangjin sudah berhasil menciptakan ilmu silat yang diberi nama "Tek Seng Ciu,"

Atau "Tangan Memetik Bintang."

Tadi dia telah mencoba Thian Touw, maka selanjutnya, dia hendak menggunakan ilmu silatnya ini.

Tangan kirinya itu terlebih hebat dari tangan kanannya, tangan kosongnya seperti lebih unggul daripada goloknya.

Karena dia segera mendesak, baru selang dua puluh jurus, dia sudah berhasil merangsak hingga lawannya terus main mundur.

Sampai di situ, kembali pendeta ini tertawa.

"Sekarang kau ketahui lihaiku, bukan?"

Ejeknya jumawa.

"Maka, meski kau tidak sudi mengasi pinjam kitab pedangmu, aku toh mesti mendapatkannya juga! -Kiok Laotee. pergi kau geledah rumahnya, kau cari kitab ilmu pedangnya, aku sendiri, hendak aku membikin dia bercacad. supaya habis ilmu silatnya hingga di belakang hari dia tak usah banyak rewel lagi!"

Perkataan yang belakangan itu ditujukan kepada kawannya. Kiok Ya Ciauw tertawa.

"Aku sudah kata, memang paling benar kita bertindak begini!"

Bilangnya.

"Kau sendiri yang mau kebanyakan mulut berbicara dulu dengannya! ---Eh, siapakah itu wanita di sana?"

Orang she Kiok ini mendapat lihat In Hong, yang berlompat keluar dari tempatnya sembunyi. Nyonya muda itu merasa waktunya sudah sampai untuk keluar. Ia tertawa dan menegur.

"Orang tidak punya muka! Kamu memikir untuk mencuri barang orang? Hm! Lihat, ada aku di sini yang memasang mata padamu!"

Kata-kata itu disusul dengan tikaman pedang, yang berkelebat seperti bianglala perak.

Poan Kimkong Kiok Ya Ciauw, si Arhat Gemuk, ada orang gagah kelas satu, ilmunya bagian luar, gwakang, telah mencapai puncak kemahirannya, golok atau pedang biasa, tidak mempan terhadap tubuhnya, akan tetapi kapan ia melihat datangnya penyerang ini, ia tidak berani memandang enteng.

Ketika tikaman tiba, ia sudah mengeluarkan senjatanya, sepasang Patkak Kimci twi atau gembolan emas merah segi delapan, senjata yang surup dengan namanya, sebab benar-benar seluruhnya terbuat dari emas merah tulen dan beratnya tujuh puluh dua kati, harganya sepuluh ribu tail perak.

Asalnya ia begal tunggal, ia berhasil mengumpul uang membeli emas merah, untuk membikin gembolannya itu.

Selama merantau, dengan senjata itu ia menjagoi.

Ada orangorang yang mengarah senjatanya tapi mereka gagal, mereka roboh ditangan ini begal tunggal yang gagah.

Setelah belasan tahun dan telah mengumpul banyak uang, ia berhenti bekerja tanpa modal itu, ia hidup aman dan damai.

Ia membangun rumahnya di propinsi Kamsiok, di kaki gunung Kilian San.

Baru tiga bulan yang lalu, ia menghadapi peristiwa hebat.

Tiba-tiba ia didatangi sepasang muda-mudi, ia diserang si pemuda, yang kekosenannya berimbang dengan kekosenannya, justeru karena itu, selagi ia seperti dilibat si pemuda, si pemudi sudah menyerbu ke dalam rumahnya, membunuh anggauta-anggauta keluarganya, juga muridmuridnya, hingga ia kena dikalahkan dan terpaksa mesti kabur, hingga habislah harta bandanya dirampas mudamudi itu, cuma senjatanya yang ia bawa kabur.

Kemudian baru ia mendapat keterangan, sepasang pria dan wanita muda itu ialah murid-muridnya Kiamkek Ouw Bong Hu, ahli silat pedang kenamaan di Utara, bahwa mereka itu baru pernah pertama kali masuk dalam dunia Kangouw, apamau, pertama kali juga mereka turun tangan atas dirinya.

Katanya harta rampasan itu hendak dihadiahkan kepada Kimto Cecu Ciu San Bin.

Ia jeri terhadap Ouw Bong Hu dan Ciu San Bin.

Karena Tek Seng Siangjin itu sahabat kekalnya, ia pergi ke gunung Kunlun San, mohon bantuan sahabatnya itu.

Juga Tek Seng Siangjin tidak berani sembarang menempur Ouw Bong Hu, ia suka membantu kalau Kiok Ya Ciauw suka pergi dulu ke Thiansan meminjam kitab pedang Hok Thian Touw.

Demikian mereka pergi ke gunung Thiansan di mana mereka bentrok dengan jago dari Thiansan itu, sampai akhirnya tibalah In Hong dan Kiam Hong.

Kaget juga In Hong ketika senjata mereka bentrok, tangannya sesemutan.

Inilah tidak heran karena pedang enteng membentur gembolan tebal dan berat.

Kiok Ya Ciauw sebaliknya berkata dalam hatinya.

"Ah, wanita ini gampang diurusnya!"

Ia lantas memikir menyampok terlebih jauh, untuk membikin pedang lawan terbang.

Tapi ia salah menerka.

In Hong tidak dapat dipandang enteng.

Justeru pedangnya mental, si nyonya meneruskan menarik pulang, untuk dipakai menikam ke bawah, tepat mengenai paha!

Kiok Ya Ciauw menjerit saking sakit.

Pedang mengenai ototnya.

Saking gusar ia menghajar hebat dengan kedua gembolannya.

In Hong sudah kenal tenaga orang, ia tidak mau melayani sama kerasnya.

Ia berkelit.

Ia hanya heran mendapatkan musuh tertikam tetapi tidak berdarah.

Ketika ia mengambil ketika memeriksa pedangnya, mengertilah ia apa sebabnya.

Ujung pedangnya bengkok bekas bentrokan pertama tadi, pantas musuh tidak terlukakan.

Karena ini, ia menggunakan kelincahannya, di satu pihak ia berkelit dari setiap hajaran gembolan, di lain pihak ia mendesak, ia mengurung lawan dengan pelbagai tikaman dan sabatan, hingga Ya Ciauw menjadi repot, terpaksa dia mengurung diri dengan gembolannya itu.

Thian Touw tengah terdesak Tek Seng Siangjin ketika ia mendengar suaranya In Hong serta diberikuti munculnya isteri itu, ia menjadi heran berbareng girang, hingga tanpa merasa ia berseru.

"In Hong, kau datang!"

Dalam pertempuran jago lawan jago, pantangan ialah jangan pemusatan pikiran terbagi, demikian dengan Thian Touw ini, lantaran menyapa isterinya, ia ayal sedikit, lantas keayalannya digunai musuhnya.

Tek Seng Siangjin menyerang hebat sekali.

Cuma karena kelincahannya, ia lolos dari bahaya, cuma bajunya yang kena terbacok robek!

Ketika itu kembali terdengar bentakan, kali ini Kiam Hong yang muncul sambil memutar pedangnya.

"Bagus!"

Berseru In Hong, menyambut kawannya itu.

"Bangsat ini aku serahkan pada kau! Tapi senjatanya berat, kau harus waspada!"

"Aku mengerti!"

Menjawab Nona Liong.

"Nanti aku bereskan dia!"

Segera Kiam Hong sampai, segera ia menggantikan In Hong melawan si Arhat Gemuk! In Hong kata dalam hatinya.

"Bangsat ini kuat, dia menang tenaga dalam dari Kiam Hong, tetapi untuk dapat mengalahkan si Hong, dia sedikitnya harus berkelahi dulu seratus jurus."

Maka itu, ia berlega hati menyerahkan Kiok Ya Ciauw untuk dilibat Kiam Hong.

Ia lantas pergi kepada Thian Touw, guna mengepung Tek Seng Siangj in.

Pendeta itu lagi mendesak keras tatkala ia merasakan sambaran angin di belakangnya.

Tahulah ia, itulah serangan gelap.

Tidak ayal lagi, ia menangkis ke belakang.

Ketika tadi In Hong menempur Kiok Ya Ciauw, ia pun diam-diam memperhatikannya, ia mendapat kenyataan, nyonya muda itu kalah tenaga dalam dari Thian Touw, dia cuma mempunyai ilmu silat pedang yang tak dapat dicela.

Dari itu, di waktu menangkis ini, ia menggunakan tenaganya, ia percaya si nyonya bakal tidak sanggup bertahan.

Tapi, untuk kagetnya, ia menangkis angin!

In Hong dapat melihat bagaimana orang menangkis ia, ia membatalkan serangannya, tak sudi ia mengadu tenaga.

Dari hendak menyerang iga, setelah menarik pulang pedangnya, ia membabat ke atas.

Tek Seng Siangjin kaget, hampir kepalanya kena terpapas!

Menampak demikian, Thian Touw girang sekali.

Pikirnya.

"Baru beberapa bulan tidak bertemu, ilmu pedang In Hong maju pesat sekali!"

Maka bangunlah semangatnya, lantas ia menyerang Tek Seng.

Sebelum pendeta itu dapat memperbaiki diri.

Tek Seng Siangjin menjadi sangat mendongkol, ia menyambut Thian Touw, ia membacok dengan hebat, sedang di lain pihak, dengan tangan kosong ia menyerang In Hong, yang maju terus menyusuli ia.

Hebat orang beribadat ini tetapi ia tidak dapat mencapai maksudnya, bahkan sebaliknya, dengan lantas ia terdesak mundur, setindak demi setindak.

Karena suami isteri itu segera juga dapat mempersatukan diri, dan ilmu pedangnya bersatu padu, Siangkiam happek, sudah lantas tergabung.

Umpama kata, desakan sepasang pedang berat seperti gunung.

Tek Seng Siangjin menjadi heran sekali.

Inilah di luar sangkaannya.

Ini pun tidak heran.

Thian Touw sendiri turut dibikin heran karenanya.

Nyatalah kemajuan isterinya itu membikin perpaduan mereka berdua menjadi hebat sekali.

Thian Touw telah menduga, kalau ia berkelahi berendeng dengan isterinya, kekuatannya akan berimbang dengan kekuatannya Kiauw Pak Beng.

Melayani Tek Seng Siangjin, tentu mereka bakal menang, tetapi sedikitnya sesudah lima puluh jurus lebih.

Sekarang kenyataannya lain, baru dua jurus, mereka sudah menang unggul!

Bagaikan naga-naga bermain-main, demikian sepasang suami isteri ini merangsak lawannya.

Dengan lantas mereka membikin Tek Seng cuma bisa menangkis, sama sekali tak dapat dia membalas menyerang.

Ketika Kiok Ya Ciauw, yang lagi menempur Kiam Hong, melirik kawannya itu, ia terperanjat.

Dengan terpaksa ia menyampok tikaman si nona, habis itu ia berlompat meninggalkannya, guna menghampirkan Tek Seng Siangjin, buat memberikan bantuannya.

"Bagus!"

In Hong berseru melihat orang datang padanya.

Ia meninggalkan Tek Seng, ia lantas menyambut Kiok Ya Ciauw.

Begitu ia dihajar gembolan dan ia berkelit, sembari berkelit itu ia membalas menyerang.

Tek Seng Siangjin melihat pedang si nyonya meluncur ke arah Kiok Ya Ciauw, ia tidak memperdulikan itu, sebaliknya, dengan mengerahkan tenaga, ia menyerang Thian Touw.

Ia anggap bahwa ia telah diberikan ketika lolos dari kepungan.

Lantas ia mencoba menahan pedang musuh pria ini.

Karena ia berada dekat dengan In Hong, selagi si nyonya melayani Kiok Ya Ciauw, mendadak ia lompat sambil menyambar dengann tangan kirinya, guna menjambak punggung orang.

Itulah jambakan yang sangat berbahaya, yang dibarengi dengan lompatan yang sangat pesat, yaitu lompatan "leheng hoanwi"

Atau "Memindahkan wujud, menukar kedudukan."

Tapi In Hong juga bukan anak kemarin dulu.

Ia menyambuti Kiok Ya Ciauw bukan berarti menyambut dia belaka, dia juga memasang mata kepada lawan suaminya.

Demikian selagi ia dijambak itu, mendadak ia menarik pulang pedangnya, untuk dipakai menanggap tangan orang!

Tek Seng Siangjin kaget tidak terkira!

Baru sekarang ia merasa bahwa ia kena dipedayakan.

Dengan kecepatan luar biasa, ia menarik pulang tangannya, untuk ditolongi dari ancaman mara bahaya.

Hok Thian Touw tidak berdiam saja, ia pun maju menyerang!

Tek Seng Siangjin dapat menghindarkan diri dari pedang In Hong, yang ia kena sampok, tapi ia terancam pedangnya Thian Touw.

Itu waktu, Kiok Ya Ciauw pun menyerang, tetapi dengan berkelitnya In Hong, gembolannya menuju ke arah Tek Seng!

Dalam saat mati atau hidup itu, Tek Seng yang kaget bukan kepalang telah menggunakan tipu silatnya yang paling mahir, yang mungkin belum perna ia gunakan.

Dengan itu ia membuat dirinya "lolos dari kematian."

Ialah dengan terpaksa ia melepaskan dan menimpukkan golok kayto-nya.

Sebaliknya dengan kedua tangannya, ia menyambar tangannya Kiok Ya Ciauw, yang gembolannya mengarah tubuhnya.

Dengan keras, sedang ia pun berkelit, ia menolak tangan kawannya, untuk dibikin nyasar, hingga gembolan itu akhirnya bentrok dengan pedang Thian Touw dan In Hong.

Dengan lompat mencelat, Tek Seng Siangjin menyelamatkan dirinya, tetapi ketika ia berlompat, ia meminjam tenaga lengannya Kiok Ya Ciauw itu.

maka dia ini, terlepas cekalannya pada gembolannya, hingga senjatanya itu jatuh ke tanah!

Tek Seng Siangjin melepaskan goloknya bukan hanya melepaskan dengan begitu saja, ia sembari menimpuk Thian Touw, selagi ia ini menyerang padanya.

Serangan ini dilihat Thian Touw, dia berkelit.

Maka itu, gerakannya sendiri kena terhalang.

Celaka ialah Kiok Ya Ciauw, selagi gembolannya ditahan Tek Seng Siangjin, ujung pedang In Hong mampir di lengannya, hingga ia merasakan sangat sakit.

Inilah sebab utama kenapa senjatanyajadi terlepas dari tangannya.

Sudah begitu, pedang Thian Touw juga menyambar ke dengkulnya.

Syukur dia tertolak Tek Seng, dia terhuyung, maka dia bebas,dari tikaman itu.

Tek Seng Siangjin berlompat berjumpalitan, ketika ia turun menginjak tanah, ia terpisah jauh dari lawannya, tanpa menoleh lagi, ia kabur terus turun gunung, untuk menyingkirkan diri.

In Hong kagum untuk kelihaian Tek Seng bisa menyelamatkan diri cara demikian.

Ketika Kiam Hong menghampirkan In Hong, Kiok Ya Ciauw pun telah melarikan diri, hanyalah dia bergulingan turun, terbawa angin terdengar keluhannya.

"Gembolan emasku! Gembolan emasku!"

Atas itu terdengar juga suara sengit dari Tek Seng Siangjin.

"Jikalau gunung hijau masih ada, takut apa tak ada kayu bakar?"

Tegasnya, Tek Seng penasaran dan ingin menuntut balas kelak di belakang hari. In Hong tertawa.

"Bangsat terokmok itu rugi besar!"

Katanya. Kiam Hong memungut gembolan orang. Dia tertawa dan berkata.

"Bagus kita memperoleh harta karun ini! Gembolan ini dapat dipakai memelihara saudara-saudara kita di atas gunung selama setengah bulan!"

Mendengar suara nona itu, Thian Touw mengerutkan alis. Katanya dalam hatinya.

"Baru mereka pulang, sudah mereka ingat pula gunung mereka..."

Tapi isterinya itu sudah pulang, biar bagaimana, girangnya bukan buatan, sedikit juga tak nampak roman dukanya, sebab kemasgulannya barusan lantas lenyap seperti disapu angin.

Suami isteri itu lantas berpegangan tangan erat-erat, mau mereka mengutarakan ribuan kata-kata tetapi tak satu yang dapat dikeluarkan, tak tahu mereka bagaimana harus mulai bicara.

"In Hong, terima kasih!"

Akhirnya kata Thian Touw selang sekian lama.

"Jikalau kau tidak pulang tepat di ini detik, pastilah kitab pedangku kena dirampas dua manusia jahat itu..."

In Hong tertawa "Ai,"

Katanya.

"baru beberapa bulan tidak bertemu, kau lantas berlaku sungkan begini! Di antara suami isteri di mana ada ucapan terima kasih? Mustahilkah, jikalau aku menghadapi bencana, kau pun akan berdiam saja?"

Thian Touw kagum dan terharu, ia menatap isterinya Kiam Hong melihat kelakuan suami isteri itu, ia girang bukan main. Mereka itu telah akur kembali. Sembari tertawa, ia kata pada mereka.

"Nanti aku pergi kedalam untuk mematangi sesuatu, kamu sendiri boleh pasang omong sesuka kamu!"

In Hong bersenyum, kemudian ia mengawasi suaminya. Tiba-tiba ia melihat alis orang berkerut. Ia heran. Ia tidak tahu apa yang membikin suami itu masgul, hingga untuk sedetik, ia tercengang.

"Thian Touw, kau pikirkan apa?"

Tanyanya kemudian, memaksakan tertawa.

"In Hong,"

Berkata sang suami, bukan menyahuti, hanya menanya.

"ilmu pedangmu barusan aneh sekali, adakah itu kau ciptakan sendiri atau kau dapatkan dari lain orang?"

Sang isteri tidak menjadi kecil hati sebaliknya, ia tertawa.

"Thio Tayhiap telah memberikan petunjuk padaku,"

Sahutnya.

"Aku pun telah diberi pinjam Hiankong Yauwkoat. Setelah membaca itu, aku lantas menyadari intisarinya ilmu silat yang luhur. Tentang tipu silatku tadi, itulah ciptaanku sendiri setelah aku memikirkannya pulang pergi sekian lama. Tak tahulah aku, tipu itu dapat dipakai atau tidak..."

"Oh!"

Seru suami itu.

"rejeki kau, besar sekali, peruntungan kau sangat bagus! Aku girang kau dapat membaca kitab luar biasa itu! Ayah bersama aku telah bersusah payah dua turunan, baru kami berhasil menciptakan Thiansan Kiamhoat yang tidak lengkap, tetapi kau, cuma dalam tempo dua tiga bulan, kau sudah menciptakan jurusmu itu!"

"Tapi juga ilmu pedangku itu belum sempurna,"

Berkata In Hong.

"Jangan kau terlalu memuji kepadaku! Kau tahu, berhasilku ini pun ada karena jasamu."

Kata-kata itu membuat Thian Touw puas, ia bersenyum.

"Mana ada jasaku?"

Katanya.

"Itulah disebabkan peruntunganmu yang bagus serta kecerdasanmu!"

"Aku bukannya omong merendah,"

Kata In Hong pula.

"Dengan sebenarnya tipu silatku ini aku ciptakan karena perubahan Thiansan Kiamhoat kau itu. Bukankah kau pun telah melihatnya?"

Thian Touw mengangguk.

"Benar,"

Sahutnya.

"Mulanya pun aku sedikit sangsi dan berniat menanyakan kau karena jalannya mirip dengan ilmu pedangku. Bukankah sifatnya itu selalu kebalikan daripada tipu silatku?"

"Sedikit pun tidak salah,"

Jawab In Hong.

"Ini juga hasil petunjuknya Thio Tayhiap. Tayhiap menganjurkan aku jangan berkukuh kepada cara lama, supaya aku berani mengubah, untuk menciptakan yang baru. Lurus atau aneh, akhirnya toh sama saja, pokok dasarnya ialah satu. Tayhiap membilang juga, apabila aku telah menyempurnakannya, maka bersama-sama Thiansan Kiamhoat kau, ilmu pedang kita menjadi satu lurus dan satu aneh, kita berdua dapat saling mengandal atau saling bantu, tidak bisa kita saling mengalahkan, sebaliknya jikalau kita tergabung, faedahnya sangat besar, katanya biar musuh dari partai mana juga, tidak dapat musuh melawan kita. Tayhiap bahkan kata, juga ilmu pedangnya sendiri, ilmu pedang bersatu padu --siangkiam happek ---tidak dapat bertahan. Semua ini ada kata-katanya Thio Tayhiap, mungkin karena ia hendak menganjuri aku."

"Tidak nanti Thio Tayhiap sembarang mengatakan sesuatu,"

Thian Touw bilang.

"Ah, apakah itu benarbenar?..."

Thian Touw percaya ia sudah berhasil menciptakan ilmu pedangnya, ilmu yang tidak ada bandingnya, tetapi sekarang, mendengar perkataan In Hong, isterinya-atau lebih benar kata katanya Tan Hong ---ia menjadi raguragu.

Ia sangsi In Hong benar-benar dapat berendeng dengannya.

Hanya, kata-kata Tan Hong itu tak dapat ia tak mempercayainya..."

In Hong mengawasi suaminya, ia dapat menerka hati orang.

"Bagaimanajikalau kita mencoba-coba?"

Tanyanya bersenyum.

"Kita lihat, benar atau tidak kata-katanya Thio Tayhiap itu, yaitu bahwa kita sama-sama tak dapat saling mengalahkan."

Thian Touw berpikir sejenak.

"Kau baru pulang,"

Katanya.

"kau habis membuat perjalanan jauh berhari-hari, dan barusan baru saja kau mengeluarkan tenaga banyak, maka marilah kita pulang dulu, habis beristirahat baru kita mencoba-coba."

Maka suami isteri, yang telah lama berpisahan itu, berendeng berjalan pulang.

"Lihat pohon bunga bwee itu,"

Kata sang suami setibanya di dalam pekarangan, tangannya menunjuk.

"oleh karena kau tidak ada di rumah, lantas tidak ada yang rawat."

Inilah kata-kata yang berputar.

Thian Touw mau membilang bahwa ia sangat pikirkan isterinya tetapi tidak berani mengutarakannya langsung.

Dengan ini juga ia dapat mencari tahu pikiran isterinya itu.

In Hong tertawa.

Ia menjawab.

"Bukankah bunga itu mekar indah?"

Isteri ini tahu maksud suaminya, ia tapinya berlagak pilon.

Tiba di rumah, mereka lantas duduk bersantap bersama-sama Kiam Hong, yang telah menyiapkan barang hidangan.

Habis itu, setelah beristirahat, sang Puteri Malam tampak sudah memancarkan sinarnya yang permai.

"Mari, mari kita mencoba!"

In Hong mengajak, bergembira. Thian Touw lantas menyambut dengan girang. Ia memang kegilaan ilmu pedang dan semenjak tadi telah memikirkan bagaimana harus memecahkan ilmu pedang isterinya itu.

"Mari!"

Katanya. Setibanya di luar, ia tertawa dan kata.

"Kau yang mulai!"

In Hong bersenyum, ia bersiap.

"Sambutlah!"

Katanya. Mendadak ia menyerang dengan tipu silat "Burung walet menggaris pasir."

Mulanya pedangnya diputar dulu di depannya.

"Bagus!"

Sang suami menyambut sambil tubuhnya mengegos ke samping, dari mana pedangnya diluncurkan ke nadi sang isteri.

la membalas menyerang dengan lantas.

Ia melihat serangan isterinya serupa dengan serangannya sendiri, ia bagaikan telah mengetahui terlebih dulu ke mana isterinya hendak menyerang.

Maka ia berkelit berbareng menyerang.

Ia bahkan memikir, dengan dua tiga gebrak akan membikin isteri itu melepaskan pedangnya dan menyerah...

Sempurna Thian Touw berpikir, akan tetapi kenyataannya beda sekali dengan pikirannya itu.

Memang serangan In Hong serupa, maksudmaksudnya yang bermula --tetapi habis itu ada ekornya, ekor yang berlainan, yang di luar dugaan.

Seharusnya, setelah diancam nadinya itu, In Hong mesti menyerah, tetapi ia memikir lain.

Dengan gampang ia bisa mengelit tangannya itu, lalu dengan cepat ia menyerang pula, dengan hebat.

Maka bentroklah pedang mereka dengan menerbitkan suara berisik!

Keduanya lantas memeriksa pedang masing-masing.

Mereka girang untuk mendapatkan pedang mereka tidak gompal.

Thian Touw heran, ia kagum.

Tapi ia tidak berhenti, dengan sebat ia memutar tubuh, untuk melesat ke samping isterinya, buat pergi ke belakang isteri itu.

Di sini ia menyerang dengan jurusnya "Asap tunggal di gurun pasir."

Itulah jurus yang terbaru, yang diciptakan sepulangnya ia ke gunungnya. Sembari menyerang ia kata di dalam hatinya.

"Aku hendak lihat, bagaimana kau menangkisnya?"

Kembali In Hong seperti telah mengetahui ilmu silat suaminya itu, dengan sebat, bagaikan mendadak, ia menangkis ke belakang, hingga Thian Touw terkejut.

Itulah tidak pernah dia sangka.

Dia lantas menarik pulang pedangnya.

"Traang!"

Kembali terdengar suara, dari beradunya pedang mereka. Baru setelah itu, mereka memisahkan diri.

"Benar-benar rada aneh!"

Sang suami berpikir. Tapi ia tidak berpikir lama, lantas ia menyerang pula. Kali ini ia bersilat dengan ilmu pedang Twihong Kiamsut, atau "Pedang Mengejar Angin."

Yang pun ada jurus-jurus dari Thiansan Kiamhoat. Saking cepatnya pedang bergerak, sinar pedang sampai berkelebatan.

"Pasti kau terdesak mundur,"

Pikir Thian Touw. Lagi sekali dugaan itu meleset. In Hong tidak mundur, dia bergerak lincah mengikuti pelbagai serangan. Dia bagaikan bayangan. Dia mirip dengan kata-kata tua.

"Suami bernyanyi, isteri bernyanyi."

Tidak perduli berapa cepat pedang Thian Touw meluncur, tidak pernah ia berhasil mengenai sasarannya, pedang mereka tidak mau bentrok.

Thian Touw kewalahan, lantas ia menggunakan akal, mulanya ia mendesak, lalu mendadak ia berhenti, habis berhenti sejenak, segera ia menyerang pula.

Inilah akal yang tak terpikirkan In Hong, lantas pedangnya kena ditempel.

Suami itu mengerahkan tenaga dalamnya, dia menekan.

Sang isteri kalah tenaga dalam, pedangnya kena tertindih.

"Cukup sudah!"

Kata Thian Touw tertawa, seraya dia menarik pulang pedangnya.

"Benarlah kata-katanya Tayhiap Thio Tan Hong!"

Kelihatannya Thian Touw menang, tetapi ia tidak menang seluruhnya, sebab ia baru saja dapat menempel dan menindih, belum merobohkan. Ia hanya menang tenaga dalam. In Hong mengerti, ia tertawa.

"Sekarang ini Thian Touw gemar kemenangan,"

Pikir sang isteri. Sedang sebenarnya, suami itu bersikap demikian saking girangnya. Thian Touw pun berpikir.

"Benarlah pedangnya dapat berendeng dengan pedangku! Dengan begini, kekuranganku dapat dia tambal. Baik selanjutnya aku sering berlatih dengannya, untuk kita memperoleh kemajuan bersama, supaya Thiansan Kiamhoat lekas sempurna, agar kita berdua tak ada tandingannya!..."

"Bagaimana sekarang,"

Tanya In Hong tertawa.

"apakah kita berdua bergabung dapat mengalahkan Kiauw PakBeng?"

"Sedikitnya kita dapat berimbang dengannya,"

Jawab Thian Touw.

"Lewat lagi beberapa tahun, baru aku merasa pasti akan dapat mengalahkan dia."

"Jikalau begitu, aku hendak minta bantuanmu,"

Berkata sang isteri.

"Apakah itu?"

"Aku minta kau suka bersama aku pergi ke Kunlun San untuk menemui Kiauw Pak Beng, buat minta satu orang,"

Sang isteri menjelaskan. Thian Touw kaget, lenyap senyumannya.

"Ah, kembali kau hendak main gila dengan iblis itu?"

Katanya, berseru. Isteri itu tertawa.

"Apakah kau jeri terhadapnya?"

Dia tanya.

"Bukankah kau bilang barusan bahwa kalau kita berdua bergabung, kita dapat melawan dia dengan seimbang?"

Thian Touw mengerutkan alis.

"Aku bukannya takut,"

Dia menjawab.

"Aku hanya pikir, buat apa tidak keruan-keruan kita mengganggu dia? Bukankah dia tidak mengganggu kita?"

"Memang dia bukan mengganggu kita tetapi mirip dengan itu,"

Sahut In Hong.

"Aku mempunyai seorang sahabat akrab yang terjatuh ke dalam tangannya, sahabat itu sekarang tengah menderita. Tidak dapat tidak, aku mesti tolong sahabatku itu. Jadinya bukan tak keruan-keruan aku mengganggu dia."

"Ah, In Hong, buat apa kau mencampur banyak urusan luar? Bukankah urusan sangat banyak? Mana dapat kau mengurusnya semua? Jikalau aku menerima baik kali ini, aku kuatir tidak lama lagi, lantas datang keruwetan yang kedua... Dengan demikian dapatkah nanti kita hidup dengan tenteram?"

In Hong menahan hawa amarahnya. Ketika ia berkata, dingin suaranya.

"Paling benar kalau aku menutup mata lebih dulu!"

Katanya.

"dengan begitu untuk selama-lamanya tak usahlah aku membikin kau pusing!"

"Aku cuma menasihati kau jangan banyak campur urusan orang luar itu,"

Kata Thian Touw sabar.

"dan ini pun untuk kebaikan kau. Mengapa kau bicara begini rupa kepadaku?"

"Tetapi aku bukannya gusar,"

In Hong jawab.

"Tanpa sahabat itu, siang-siang aku sudah mati. Thian Touw, kita telah menikah sepuluh tahun lebih, maka sekarang ingin aku tanya kau. Jikalau jiwaku terancam, dapat atau tidak kau menolongi aku?"

"Meski mesti mengurbankan jiwaku, pasti aku akan menolongi kau,"

Jawab Thian Touw lantas.

"Bagus kalau begitu."

Kata sang isteri.

"Di sana ada satu orang yang pernah menolong jiwaku sekarang jiwa dia lagi terancam bahaya kematian, maka itu untuk gunaku, aku minta sukalah kau tolongi dia!"

Tanpa menanti jawaban, atau pertanyaan lebih jauh dari suaminya, In Hong lantas menyebutkan bahwa sahabatnya itu ialah Im Siu Lan, dan dengan jelas ia menuturkan duduknya kejadian hingga Cit Im Kauwcu atau Nona Im, telah menolong padanya hingga jiwanya terampas dari tangan malaikat maut.

Kiam Hong mendengari suami isteri "adu lidah,"

Tetapi kapan ia mendengar penuturan tentang Im Siu Lan itu, ia mengucurkan air mata.

Ia berkasihan dan berkuatir untuk keselamatannya nona yang bernasib malang itu Dia yatim piatu, dia mengandung sakit hati.

dia pun tak terbalas cintanya...

dan sekarang dia tengah terancam bahaya...

Thian Touw berdiri diam, ia tercengang.

"Tanpa Im Siu Lan yang memberikan obat pemunah kepadaku, sudah lama aku tidak hidup lagi hingga sekarang ini pasti aku tidak dapat bertemu pula denganmu,"

In Hong berkata pula "Dengan aku sudah tidak ada dalam dunia ini, buat apakah bicara pula tentang ilmu pedang?

Thian Touw, sekarang ini aku tidak minta kau mengurbankan jiwamu, aku cuma mohon kau suka menemani aku pergi ke Kunlun San, untuk menolongi Nona Im dari mulut harimau."

Thian Touw berdiam sekian lama. baru ia menghela napas.

"Dengan begitu, tidak dapat tidak, kau mesti menolongi nona itu,"

Katanya.

"Baiklah, buat guna kau lagi sekali aku akan turun gunung! Tapi aku minta dengan sangat, lain kali janganlah kau ada pula urusan semacam ini..."

Mendengar jawaban itu, Kiam Hong berhenti menangis, bahkan dia dapat bersenyum dan tertawa.

Memang selama belasan hari ini, ia sangat menguatirkan keselamatannya Siu Lan.

Ia masih berkuatir, tetapi harapannya timbul, maka itu, ia bisa tertawa!

In Hong sebaliknya tidak dapat bersenyum atau tertawa.

Jawaban Thian Touw cuma membuatnya lega sedikit.

Ia tetap putus asa karena sikap keras dari suaminya ini.

Karenanya, ia jadi berpikir keras sekali.

Thian Touw tidak ketahui beratnya hati isteri itu, ia juga tidak dapat menerka.

Ia mengira, setelah ia meluluskan permintaan si isteri, beres sudah urusan di antara mereka.

Sendirinya, ia merasa lega, karena ia merasa bahwa ia sudah melakukan suatu kebaikan.

Demikian sambil tersenyum ia menegur isterinya.

"In Hong aku telah menerima baik, apakah kau masih tidak bergembira? Oh, aku mengerti! Kau tentunya tidak puas karena jawabanku tidak diberikan lantas, mungkin kau menyangka aku kurang sungguh-sungguh. Hal sebenarnya tidak demikian. Aku tidak tahu bahwa dia telah menolong jiwamu. Bicara terus terang, jikalau bukan urusan seperti ini, masih aku tidak suka pergi, dan aku tidak suka juga kau pergi merantau kembali. Ah, In Hong, lagi sekali ingin aku menasihati kau, janganlah kau menaruh diri dalam dunia Kangouw lagi. Jikalau kau suka mendengar perkataanku, pasti tidak kau terancam bahaya seperti itu, hingga juga tak usahlah kau berhutang budi demikian besar."

In Hong memandang suaminya, ia menjawab, dengan dingin.

"Tabiatku sama dengan tabiatmu, tabiat kita sama-sama tak dapat diubah! Ah, aku juga mengharap supaya kali ini ialah yang terakhir aku membikin kau pusing!"

Thian Touw melihat roman orang tak wajar, ia terperanjat. Tapi ia tidak mengentarakan sesuatu, bahkan ia tertawa dan kata.

"Kita baru bertemu pula habis kita berpisah lama, untuk bicara, dari hal-hal yang menggirangkan masih kekurangan temponya, kenapa kita mesti omong dari hal yang tak menyenangi hati? Ya, semua-semua salahku, aku membuat kau gusar. Akan tetapi, aku mempunyai pengharapanku, yaitu supaya kita untuk selama-lamanya tinggal berkumpul, untuk bersama-sama meyakinkan lebih jauh ilmu pedang kita, agar di jaman kita ini, kita dapat membangun Thiansan Pay, partai baru yang mengutamakan ilmu silat pedang! Aku menasihati kau mengurangi mencampuri urusan lainnya, itulah melulu karena pengharapan atau cita-citaku itu!"

Thian Touw bicara dengan sabar, bahkan merendah.

Selama yang belakangan ini, belum pernah ia bicara demikian rupa terhadap isterinya itu.

Dulu-dulu ia memandang In Hong sebagai muridnya, atau sebagai adiknya yang membutuhkan perlindungannya, sekarang ia menganggap sama rata.

Ia telah mulai mengenal sifat atau sikap keras dari isterinya itu, ia pun telah memperoleh pengajaran mereka hampir tercerai berai.

Pula ia telah melihat tegas ilmu pedang In Hong telah maju pesat sekali, hingga ia merasa ia semakin perlu bantuannya isteri itu untuk melatih ilmu pedangnya yang bersatu padu.

Guna menciptakan ilmu pedangnya dengan sempurna, ia ingin perhatian In Hong tak terbagi atau terkacau, supaya isteri itu tetap mendampinginya.

In Hong sebaliknya mengenal suaminya lebih banyak daripada suaminya itu mengenal ia, maka itu ia dapat menerka hati sang suami.

Karena sikap kukuh dari suaminya itu, ia kurang puas.

Akan tetapi sekarang, mendengar suara halus dari Thian Touw, ia tidak mau mengumbar suara hatinya.

Meski demikian, ketika ia berkata, ia berkata sambil tertawa tawar.

"Thian Touw, kau hendak menyempurnakan ilmu pedangmu, aku harap kau akan lekas mencapainya! Hanyalah kau nampaknya telah berpikir terlalu baik! Kau hendak hidup menyendiri, kau ingin menjaga dirimu, supaya kau tidak mendatangkan gangguan orang, akan tetapi, dengan begitu, benarkah kau akan berhasil dapat mempelajarinya dengan tenang dan tenteram? Kau lihat sendiri kali ini! Kau tidak berniat mengganggu orang, sebaliknya orang datang sendiri mengganggu kau! Hari ini baru datang satu Tek Seng Siangjin, siapa tahu kalau kemudian tak datang lain orang yang lihainya melebihkannya?"

Mukanya Thian Touw menjadi merah.

Ia ingat bagaimana ia mengandal isterinya untuk mengundurkan Tek Seng.

Benar ia tidak dapat menerima baik semua kata-kata isteri itu tetapi ia tidak mau menyangkalnya.

Tegasnya, ia tidak mau mengadu mulut dengan isteri itu.

In Hong berniat berangkat di hari kedua akan tetapi Thian Touw minta ia berdiam tiga hari, untuk melatih diri bersama.

Ia terima baik permintaan itu.

Dalam ilmu pedang, Thian Touw menang daripada isterinya, makajuga ia dapat menunjuki pelbagai kelemahan sang isteri dan memperbaikinya.

Dengan bekerja sama, ia juga berhasil menciptakan beberapa jurus yang baru.

Maka itu, selama tiga hari, bukan sedikit penambahan yang mereka peroleh.

Liong Kiam Hong girang melihat suami isteri itu mendapat pulang keakurannya.

Ia kata.

"HokToako ada cacadnya akan tetapi semangatnya meyakinkan ilmu pedang harus dipuji, lain orang tak dapat menyamainya! Dia dengan enci Leng belum mempunyai anak, biarlah ilmu pedangnya menjadi ganti anak mereka yang nanti mengikat mengkekalkan cinta mereka, supaya mereka dapat hidup bersama hingga usia lanjut mereka!"

Oleh karena ia memikirkan suami isteri itu.

Kiam Hong kemudian ingat halnya sendiri serta Thio Giok Houw.

Ia percaya ia dan pemuda itu dapat menjadi suami isteri yang setimpal.

Ia lantas pikirkan lebih jauh, bagaimana nantinya pergaulan mereka.

Ia pun berduka kalau ia ingat halnya ia sebatangkara...

Di hari ke empat Hok Thian Touw simpan kitab ilmu pedangnya di dalam gua batunya.

Bertiga bersama isterinya dan Kiam Hong, ia turun gunung.

Kepada isterinya sembari tertawa ia kata.

"Inilah yang ketiga kali aku meninggalkan gunung Thiansan! Tiga kali aku melakukannya, semua itu buat guna kau! Yang pertama ialah ketika aku mencari kau. Itulah peristiwa pada sepuluh tahun yang lampau. Aku ingat bagaimana kegirangan kita ketika kita berhasil bertemu satu pada lain! Ketika itu kita tidak menyangka bahwa kita berdua masih sama-sama hidup!"

In Hong menginsafi kebenaran kata-kata suaminya itu. Ia ingat bagaimana cinta mereka ketika itu. Kalau ia ingat sekarang, ia merasa ia tengah bermimpi. Maka ia pun tertawa.

"Ketika itu aku masih menjadi ratu gunung!"

Katanya.

"Kau tentunya tidak menyangka-nyangka, bukankah?"

Thian Touw mengangguk.

"Buat apakah menimbulkan hal itu?"

Ia kata.

"Ketika itu kau turun gunung,"

Berkata In Hong.

"kau telah memperoleh petunjuk ilmu pedang dari Thio Tayhiap, kau pun telah mengalahkan Yang Cong Hay hingga kau mengambil alih kedudukannya menjadi ahli pedang yang nomor empat! Kau lihat, turun gunungjuga bukannya tidak ada faedahnya!"

"Akan tetapi itulah nama kosong belaka! Apakah artinya itu?"

Thian Touw bilang.

"Ketika itu, yang paling membikin aku puas, ialah aku telah menemukan kau. Siapa tahu, ketika kedua kalinya aku turun gunung, itulah untuk menyusul dan mencari kau. Kau pergi membantu mereka merampas entah bingkisan apa, hatiku tak tenang sekali. Maka syukurlah kau akhirnya telah kembali!..."

Ia hening sejenak, ia bersenyum dan menambahkan.

"Sekarang ini untuk ketiga kalinya aku turun gunung, kali ini kita turun gunung bersama! Aku harap tidak akan terjadi turun gunung yang ke empat kali!"

"Tentang itu aku tidak berani memberi jaminan!"

Kata In Hong tertawa.

"Umpama kata kau tidak turun gunung, aku sendiri mungkin."

Thian Touw nampak menyesal.

"Urusan di belakang hari baik kita bicarakan di belakang hari saja,"

Katanya memaksa tertawa.

Di sepanjang jalan ini, suami isteri itu dapat bicara dan tertawa, akan tetapi keasyikan mereka melainkan keasyikan di luar, di dalam hatinya, mereka tetap tawar.

Di antara mereka tetap ada pertentangan cita-cita, hingga mereka sama-sama mempunyai tujuan sendiri, yang mereka saling berkelahikan.

Thian Touw ingin mencoba menghapuskan kegemaran merantau dari isterinya, dan In Hong menghendaki sang suami buang pikirannya untuk hidup menyendiri terus menerus.

Jadi di antara mereka tetap ada perpisahan...

Di padang rumput jarang sekali terdapat orang, dari itu mereka bertiga dapat berjalan dengan cepat.

Dengan merdeka mereka dapat berlari-lari keras menggunakan ilmu ringan tubuh mereka.

Dengan begitu belum sampai dua puluh hari tibalah mereka di kaki gunung Kunlun San.

Hati Thian Touw lantas menjadi tegang sendirinya.

Dia merasa, bersama isterinya tidak nanti mereka kalah dari Kiauw Pak Beng, sebaliknya, untuk memperoleh kemenangan, ia ragu-ragu.

Ia tahu baik sekali Pak Beng telah memahamkan sempurna ilmu silatnya yang diutamakan, yaitu Siulo Imsat Kang.

"Ilmu pedang bersatu padu kita maju pesat, tetapi musuh memperoleh kemajuan juga. Juga Le Kong Thian ada bersama Pak Beng, bukankah itu sulit? Bagaimana mudah akan bicara untuk menolong orang dari mulut harimau? ---Ah, jikalau kita tidak berhasil, sudah tentu In Hong tidak bakal mau sudah saja! Jikalau In Hong berkukuh, bagaimana kesudahannya nanti?"

In Hong sebaliknya memikirkan Siu Lan.

Ia percaya nona itu menderita hebat, hingga mungkin, dia tak sanggup bertahan lama.

Karenanya, ia menjadi sangat berkuatir, hatinya menjadi tidak tenteram.

Sementara itu Kiauw Siauw Siauw telah kabur dari dalam kuil dengan hatinya sangat cemas.

Ia terus bergelisah dan berkuatir.

Benar ia bisa membawa lolos pada Im Siu Lan, akan tetapi ia telah terluka, sampai sebelah tangannya patah, lepas sambungan tulangnya, yang mana ditambah luka ujung pedang In Hong, hingga ia semakin menderita.

Di sebelah itu, ia sangat mendongkol dan bergusar.

Maka semua itu ia"

Tumpahkan atas dirinya Nona Im.

Sesudah lari serintasan, cuaca nampak sedikit terang.

Begitu lekas mendapat kenyataan tidak ada orang yang mengejarnya, Siauw Siauw menghentikan keretanya.

Lantas ia sadarkan Siu Lan, untuk segera menghujani cambukan.

Siu Lan merasakan sakit hebat, tetapi lebih sakit rasa hatinya karena ia telah bertemu dengan Kiam Hong tapi gagal berbicara, karena itu, tak tahan lagi, ia lantas menangis.

"Haha-haha!"

Siauw Siauw tertawa.

"Aku menyangka kau berkulit tembaga dan bertulang besi, hingga kau tidak takuti cambukan, kiranya kau juga bisa menangis!"

Puteranya Pak Beng mengejek tanpa ia ketahui orang menangis disebabkan apa.

Ia lagi panas hatinya, semakin orang menangis, semakin keras ia mencambuki!

Cuaca menjadi semakin terang.

Ketika matahari mulai naik, di padang rumput nampak dua penunggang kuda lagi mendatangi cepat sekali, hingga lekas juga mereka sampai di depan Kiauw Siauw Siauw berdua, di depan kuda keretanya jago muda itu.

"He, kenapa kau menganiaya seorang wanita?"

Demikian satu penunggang kuda menegur.

"Pernah apakah dia dengan kau?"

Siauw Siauw mengawasi dua orang itu, muda-mudi umur lebih kurang dua puluh tahun, si pemuda membekal sebatang pedang, si pemudi sepasang gaetan.

Ia percaya merekalah anak-anak pitik, maka ia tertawa dan kata.

"Dia ini isteriku! Tak berhak kamu mencampur tahu urusan kami! Lekas pergi! Jikalau tidak, aku nanti beri rasa cambuk kepada kamu!"

Nona muda itu menjadi gusar sekali.

"Walaupun isterimu sendiri tidak dapat kau menganiayanya secara begini!"

Bentaknya.

"Aku tidak takut kau galak, urusan ini aku hendak mencampur tahu!"

"Dia ngaco belo!"

Berteriak Im Siu Lan.

"Dia penjahat besar! Dia menculik aku!"

Nona itu tertawa dingin, lantas ia memegang gagang siangkauw, sepasang gaetannya.

"Benar-benar dia bangsat besar!"

Teriaknya.

"Bouwyong Suheng, aku membunuh si penjahat, kau menolongi orang!"

"Tidak!"

Menjawab si anak muda tertawa.

"Akulah yang membunuh si penjahat dan kau yang menolongi orang!"

Nona itu melengak, hanya sedetik, lantas ia dapat membade pikiran anak muda itu.

Maka ia bersenyum.

Orang yang hendak ditolong itu seorang wanita, sudah sepantasnyalah ia yang menolonginya.

Tapi ia membenci, tingkah lakunya Kiauw siauw Siauw, ia toh memburu kepada anaknya Kiauw Pak Beng.

Siauw Siauw tidak memandang mata kepada nona ini.

Ia pun melihat orang cantik, ingin ia mempermainkannya.

Maka ia lantas memutar cambuknya, hingga ujung cambuk menjadi bundar.

Dengan begitu ingin ia menyambut si nona untuk terus menggulungnya.

Lihai ilmu silat gaetan nona itu.

Ia tidak takut pada cambuk.

Ia memang mau menyerang, maka setelah didului dicambuk, ia lantas menyambut!

cambuk dengan senjatanya itu, tatkala cambuk kena menjadi sasarannya, ia menarik.

Siauw Siauw menarik cambuknya, ia tidak berhasil membetot si nona, ia juga gagal meloloskan cambuknya.

Cambuk itu lolos sesudah kena terkutungkan gaetan si nona.

Tapi ia tidak takut, bahkan ia tertawa.

"Ilmu silatmu baik,"

Katanya.

"Baiklah kau turut aku!"

Nona itu mendongkol bukan main, sepasang alisnya berdiri. Ia lantas menyerang. Ia menggunakan jurus "Menunjuk langit, menggaris bumi."

Maka sepasang gaetannya menjadi bersilang.

"Bangsat anjing, serahkan jiwamu!"

Ia membentak. Kiauw Siauw Siauw tertawa dingin.

"Kau menghendaki jiwaku?"

Ia mengejek.

"Aku rasa tak demikian gampang!"

Ia melepaskan cambuknya, untuk ditukar dengan kipasnya.

Ketika si nona menyerang, ia segera menempel, terus ia menolak, membikin gaetan kiri nona itu bentrok sendiri dengan gaetan kanannya, hingga berbunyilah suara "Traang!"

Mau atau tidak, nona itu mundur sendirinya hingga tiga tindak.

Siauw Siauw tertawa lebar.

Di dalam hatinya ia heran juga, yang ia tidak berhasil menarik terlepas senjatanya nona itu.

Si anak muda terkejut melihat kawannya terpukul mundur.

Mulanya ia menyangka, culik ini culik biasa saja.

Karena ini ia lantas menghunus pedangnya, ia maju untuk menyerang.

Kiauw Siauw Siauw mendengar suara angin di belakangnya, ia menangkis ke belakang, membikin terpental pedang si penyerang.

Justeru itu, datang pula serangan si nona.

Ia ini heran dan penasaran, karena ia pun tidak menduga, lawan ini gagah.

Siauw Siauw berkelit, setelah itu sebelah kakinya dipakai mendupak dengkul si nona.

Maka nona itu mesti berlompat mundur untuk menolong dirinya.

Anaknya Kiauw Pak Beng terluka, tidak dapat ia bergerak leluasa seperti biasanya, tidak dapat ia mengejar si nona, terpaksa ia memutar tubuh, untuk melayani si anak muda, yang sudah maju pula.

Si nona memikir untuk menolongi nona yang diculik itu, atau mendadak kupingnya mendapat dengar satu suara keras.

Ia terkejut.

Kiranya si anak muda, yang ia panggil Bouwyong Suheng, kakak seperguruan she Bouwyong, telah kena diserang musuhnya, sebaliknya, baju culik itu kena dirobek pedang sang suheng.

Suheng itu terpukul pundaknya.

Melihat musuh demikian gagah, si nona batal pergi menolongi Siu Lan.

Ia menghampirkan suheng-nya itu, untuk membantui.

Maka di lain detik, Siauw Siauw sudah dikepung berdua.

Siauw Siauw pun heran yang ia terobek bajunya.

Ia pikir.

"Dari mana datangnya muda-mudi ini? Mungkin mereka murid-muridnya seorang lihai."

Sesaat itu, tidak bisa ia menerka siapa orang gagah yang bersenjatakan sepasang gaetan.

Ia sebenarnya berniat menanya she dan nama orang serta siapa guru mereka, tetapi ia tidak diberi kesempatan lagi, mereka itu sudah lantas menyerang hebat padanya.

Saking didesak itu, ia menjadi mendongkol.

"Baiklah, tidak perduli mereka murid siapa, aku binasakan dulu pada mereka!"

Pikirnya.

Lantas ia menggunakan pesawat rahasia pada kipasnya, membuat terbang sebatang tulang kipasnya!

Kipas Siauw Siauw ini kipas istimewa, sudah dalam keadaan biasa bisa dipakai sebagai senjata peranti menotok jalan darah, juga bila perlu, pesawatnya bisa dipencet, untuk membikin tulang-tulangnya melesat, menyerang musuh sebagai senjata rahasia mirip anak panah.

Adalah si pemuda yang disambar tulang kipas itu.

Ia terancam bahaya.

Nyata ia lihai.

Ketika tulang kipas tiba, ia menghalau dengan jalan menyentil, hingga tulang itu mental balik.

Tangan kiri Siauw Siauw terluka, belum tersambung, tangan itu tidak dapat digunakan, sedang tangan kanannya, yang memegang kipasnya, lagi dipakai menangkis serangan si pemudi, maka atas kembalinya tulang kipasnya itu, ia terancam bahaya; tidak ada jalan lain, ia membuka mulutnya, untuk memapakinya.

Tulang itu mental keras sekali, waktu bentrok dengan gigi.

dua buah gigi kena terhajar copot!

Bukan main kaget dan gusarnya Siauw Siauw.

Ia merasa sakit dan mulutnya menjadi penuh darah.

Ia tidak menyangka pemuda itu berkepandaian menyentil senjata rahasia demikian hebat.

Karena ini, ia tidak mau menggunakan lagi senjata rahasianya itu, ia tetap melayani bertempur dengan kipasnya, benar ia kalah angin akan tetapi ia tidak dapat dikalahkan dengan mudah.

Muda-mudi itu menyerang makin keras.

Terutama sepasang gaetan si nona, hebatnya bukan buatan.

Siauw Siauw masih melayani terus sampai tiba-tiba otaknya bagaikan sadar.

"Apakah kamu murid-muridnya Ouw Bong Hu?"

Ia tanya mereka.

"Kurang ajar!"

Berseru si pemuda.

"Apakah nama guru kami dapat kau sembarang menyebutnya?"

Bentakan itu merupakan jawaban. Siauw Siauw lantas tertawa.

"Saudara, jangan gusar!"

Ia berkata.

"Akulah Kiauw Siauw Siauw dari Kunlun San. Gurumu dan ayahku kenal satu dengan lain, boleh dikatakan kita bukanlah orang lain..."

"Fui!"

Si nona berludah.

"Kau kiranya anak dari si siluman tua she Kiauw! Kamu ayah dan anak telah banyak melakukan kejahatan! Kejahatan itu diketahui baik sekali oleh guru kami, sayang guru kami belum sempat pergi ke Kunlun San untuk membasmi kamu! Bagus betul ya, kau berani bicara tentang persahabatan!"

Siauw Siauw merasa sangat terhina. Ia malu sekali, kegusarannya jadi bertambah. Tapi ia tertawa dingin.

"Telah aku memberi muka kepada kamu, kamu tidak suka menerima!"

Katanya.

"Hm! Sekalipun guru kamu, dia masih tidak berani banyak lagak di gunung Kunlun San, maka bagaimana kamu kedua bangsat cilik, kamu berani bertingkah di depan tuan kecilmu?"

Muda-mudi ini tidak menggubris apa yang orang kata, setelah mengetahui siapa musuh mereka ini, mereka perhebat kepungan mereka, masing-masing menyerang dengan dahsyat sekali.

Mereka mendesak hingga mereka membikin Siauw Siauw seperti sukar bernapas.

Sebenarnya juga mereka murid-muridnya Ouw Bong Hu dan Lim Sian In suami isteri.

Si anak muda, yang bershe Bouwyong, bernama Hoa.

Dialah muridnya Ouw Bong Hu.

Dan si pemudi, bernama Tiangsun Giok, dialah muridnya Lim Sian In.

Ouw Bong Hu suami isteri tinggal di gunung Tangkula, yang terpisah kira seribu li dari Sengsiu Hay di gunung Kunlun San.

Mereka ini dengan Kiauw Pak Beng jeri satu pada lain, sebab kedua-dua pihak tidak berani memastikan akan beroleh kemenangan apabila mereka bentrok, dengan begitu, merekajadi sama-sama hidup tenang.

Pernah satu kali, di waktu merayakan ulang tahunnya yang ke lima puluh, Kiauw Pak Beng telah mengirim undangan kepada Ouw Bong Hu suami isteri.

Ketika itu ia tengah meyakinkan Siulo Imsat Kang, kepandaian silat yang luar biasa itu, dan tatkala itu.

ia belum terdengar tentang kejahatannya.

Ouw Bong Hu dan isterinya tidak berniat menghadiri pesta, maka itu, meski mereka tidak menampik, mereka toh mengirim karcis nama untuk memberi selamat.

Hal ini diketahui Siauw Siauw, dari itu barusan ia menyebut-nyebut tentang persahabatan orang tua mereka kedua belah pihak.

Siauw Siauw mengharap, taruh kata mereka ini tidak mengingat persahabatan, sedikitnya mereka merasa jeri.

Siapa tahil mereka adalah mirip gudel alias anak kerbau yang tidak takut harimau, bahkan mereka menyerang sehebathebatnya!

Jika Siauw Siauw tidak lagi terluka, dengan satu melawan dua, dia tentu bisa membikin kekuatan mereka berimbang, sekarang dia tidak bisa menggunakan tangannya yang kiri, karena itu, dia menjadi terdesak, dia cuma bisa menangkis, tidak bisa menyerang.

Setelah bergebrak pula beberapa jurus, hampir Siauw Siauw menjerit.

Saking sakitnya, ia cuma dapat mengeluh.

Itulah sebab lengan kirinya itu, yang sakit, telah disentuh gaetannya si nona, hingga dagingnya kena tersontek.

Ia menahan napas.

"Biarlah aku adu jiwa denganmu!"

Kemudian ia berteriak.

Ia pindahkan kipasnya ke tangan kiri, lantas ia menyerang dengan tangan kanannya.

Tiangsun Giok terkejut.

Secara tiba-tiba ia merasakan dorongan keras hawa yang dingin sekali, hingga ia menggigil.

Ia heran bukan main.

Bouwyong Hoa juga tidak kurang herannya.

Ia turut merasakan hawa dingin itu.

Maka ia lompat ke depan Nona Tiangsun, untuk menghadang lawan.

Ia menyentil pula begitu lekas ia merasakan dorongan hawa dingin.

Saking kerasnya hawa, ia mundur tiga tindak.

Tapi Siauw Siauw, dia menjerit keras, dia terpental mundur setombak lebih dan roboh.

Anaknya Kiauw Pak Beng menyerang dengan Siulo Imsat Kang, yang dia baru dapat pelajarkan hingga di tingkat kedua, di lain pihak, ilmu menyentil, yaitu Itci Siankang dari Bouwyong Hoa, sudah menyampaikan empat bagian latihan, jadi ia ini dapat melawan hawa dingin itu.

Pula, Siulo Imsat Kang paling meminta pengurbanan tenaga dalam, sedang itu waktu, Siauw Siauw lagi kesakitan dan sudah letih sekali.

Maka celakalah dia, tenaga dalamnya itu buyar!

Tiangsun Giok tertawa dingin.

"Aku mau lihat sekarang!"

Katanya.

"Bangsat, apakah kau masih dapat bertingkah?"

Ia lantas maju untuk menikam.

"Tunggu, sumoay!"

Mencegah Bouwyong Hoa.

"Pergi kau menolongi orang!"

Kata si nona.

"Kau serahkan jahanam ini padaku!"

Bouwyong Hoa belum tahu Kiauw Siauw Siauw menggunakan ilmu apa, ia tidak kenal Siulo Imsat Kang dengan hawa dinginnya yang luar biasa itu, maka ia kuatir ini adik seperguruan nanti dicelakai musuh.

Ia tidak tahu, dengan tenaga dalamnya telah terbuyarkan, Siauw Siauw tidak dapat menggunakan lagi pukulan dinginnya itu.

Umpama kata mereka menyerang terus, pasti sudah jiwa anaknya Pak Beng bakal habis.

Tiangsun Giok lantas bergerak, untuk lari kekereta.

Siauw Siauw melihat sikap orang, ia menekan pula kipasnya, untuk menyerang dengan tiga batang tulang kipas.

Si nona mendapat lihat serangan itu, ia menangkis dengan pedangnya.

Justeru itu waktu terdengar suatu suara yang nyaring.

"Di waktu langit terang benderang begini, siapakah berani merampas dan membunuh orang di sini?"

Bouwyong Hoa mendengar itu.

ia terkejut.

Itu waktu ia lagi menggunakan tenaga dalamnya mengusir keluar hawa dingin akibat serangannya Siauw Siauw barusan.

Ia lantas menoleh ke arah dari mana suara itu datang.

Di sana terlihat dua penunggang kuda lagi mendatangi dengan mengaburkan kuda mereka.

Orang yang satu ialah seorang tua berhidung bengkung seperti patuk burung ulung-ulung, dan yang lain bertubuh besar dan kekar.

Sebentar saja mereka itu sudah sampai.

"Orang itu ialah si penjahat!"

Berkata Bouwyong Hoa.

"Dia telah merampas seorang nona. Kami menemuinya dia di tengah jalan ini, kami lantas mencoba menolongi nona yang dia culik!"

"Hm, kau ngaco belo!"

Bentak si orang tua.

"Kau yang melukai orang, sekarang kau menuduh lain orang!"

Lantas dia lompat turun dari kudanya, menghampirkan si anak muda untuk menyerang.

Dengan lantas dia menggunakan tipu silat Hunkin Coku Ciu.

Bouwyong Hoa terkejut, untuk membela diri, ia lantas menyentil.

Tapi.

"Bret!"

Ia mendengar suara nyaring.

Tahu-tahu, ujung bajunya telah dirobek tangan si orang tua, sedang tangannya sendiri, yang memegang pedang, terasa panas.

Coba ia telah tidak menyentil, mungkin pedangnya kena dirampas orang tua itu.

Muda-mudi itu tidak kenal siapa dua orang ini yang sebenarnya ialah Law Tong Sun bersama Tanghong Hek.

Mereka menyusul Kiauw Siauw Siauw dengan mengikuti tapak roda kereta.

Selagi Tong Sun melayani si anak muda, Tonghong Hek menghampirkan si nona.

Bouwyong Hoa hendak memberi penjelasan pula tetapi Tong Sun terus menyerang kepadanya, ia didesak, hingga terpaksa ia mesti membuat perlawanan.

Baru beberapa jurus, jidatnya sudah kena tergores kuku lawan hingga keluar darah.

Kiauw Siauw Siauw menonton pertempuran itu, dia tertawa.

Terus dia berseru.

"Lao Law, kau boleh binasakan anak muda itu tetapi si pemudi kau tangkaplah untukku!"

Mendengar itu, muda-mudi itu terkejut.

Baru sekarang mereka mendapat tahu orang ialah satu komplotan.

Tiangsun Giok repot melayani Tonghong Hek.

yang bersenjatakan pedang besi yang besar dan berat, meskipun gaetannya ada untuk melawan pelbagai senjata, iajeri juga untuk tenaga besar dari sang lawan.

Syukur untuknya, ia menang ringan tubuh dan lincah, jadi ia dapat melayani kekerasan dengan kelunakan.

Dengan begitu, ia dapat bertahan hingga keadaan mereka berdua berimbang.

Tapi ia dapat melihat suhengnya terdesak Law Tong Sun, terpaksa ia meninggalkan musuh ini, ia lompat kepada musuh yang satu itu, untuk menerjang.

Tonghong Hek tidak mau ditinggal pergi, ia menyusul.

Law Tong Sun mendengar angin menyambar, ia tahu mesti ada barang bokongan, maka ia menyambar ke belakang seraya ia memutar tubuhnya.

Si nona menyerang tetapi ialah yang menjadi kaget.

Sambaran Tong Sun hebat sekali.

Terpaksa ia berkelit.

Tangan Tong Sun sangat lihai, dia berhasil menjambret ujung baju si nona, hingga ujung baju itu robek!

Menampak keadaan demikian rupa, Bouwyong Hoa berseru kepada Siu Lan, yang ia belum kenal.

"Nona, menyesal, tidak dapat kami menolong kau! Siapakah sanakmu yang terdekat?"

Tiangsun Giok dapat menduga hati suheng-nya, setelah berhenti suara suheng itu, ia lantas membela diri.

Bouwyong Hoa lagi diserang Law Tong Sun, ia menangkis dengan sentilannya, setelah itu, berbareng berdua mereka lompat mundur.

Justeru itu dari dalam kereta terdengar jawaban.

"Akulm Siu..."

Tapi belum habis kata-kata itu mendadak telah berhenti.

Kiauw Siauw Siauw sudah kembali ke keretanya, tepat ia menotok Siu Lan sebelum orang menutup mulut, hingga puterinya Cit Im Kauwcu menjadi tak dapat bicara terus.

Dia tertotok urat gagunya.

Bouwyong Hoa dan Tiangsun Giok lompat naik atas punggung kuda Tonghong Hek lantas menyusul.

Dengan lekas mereka telah kecandak.

Sebenarnya mereka menunggang kuda Mongolia, yang larinya keras, tetapi sekarang kuda itu tidak dapat berlari cepat, nampaknya seperti ada muatannya yang berat, luar biasa.

Melihat musuhnya menyusul, si anak muda menjadi gusar.

Ia menahan kudanya, untuk diputar balik, terus ia menyerang dengan pedangnya.

Ialah seorang penunggang kuda yang pandai, sebab selama belajar silat, ia biasa main panah sambil menunggang kuda di tanah datar di kaki gunung.

Tonghong Hek kaget.

Penyerangan itu di luar dugaannya.

Untuk menolong diri, terpaksa ia menjatuhkan dirinya dari atas kuda, karena mana, kudanya lantas kabur pergi.

"Law Toako, mari kita bekuk dua bocah ini!"

Tonghong Hek memanggil.

"Kau kembali, hiantee!"

Tong Sun menjawab.

"Kita perlu melanjuti perjalanan kita!"

Tonghong Hek berpaling, ia melihat Tong Sun tengah membalut lukanya Siauw Siauw. Segera ia mengerti, maka ia kata dalam hatinya.

"Kiranya dia lagi membaiki Kiauw Siauw Siauw! Aku tungkulan mengejar musuh, aku jadi kalah satu tindak..."

Tong Sun itu ahli Hunkin Coku Ciu, tangan atau kaki orang yang baik dapat ia membuatnya patah atau salah laku.

dari itu, gampang saja ia menolong lengannya Kiauw Siauw Siauw, setelah mana ia memakaikan obat dan membalutnya.

Di dalam tempo yang pendek, penderitaannya anak Kiauw Pak Beng itu menjadi berkurang banyak.

Berulang-ulang Siauw Siauw menghaturkan terima kasih.

Ketika ia telah kembali, dengan rada jengah, Tonghong Hek kata pada si anak muda.

"Apakah kongcu terluka? Maaf kami datang terlambat..."

Siauw Siauw senang mendengar kata-kata yang merendah, yang sebaliknya berarti mengangkat ia. Ia memang gemar dipuji-puji dan dihormati. Tapi atas perkataan orang she Tonghong itu, ia berkata dingin.

"Lukaku ini aku dapatkan sebelumnya ini! Dua bocah itu mana dapat menyusahi aku!..."

Tonghong Hek terkejut. Ia lantas mengerti, orang merasa kurang puas. Ia menyesal yang ia tidak berpikir dulu sebelum ia berkata. Tapi ia lantas mengubah sikapnya. Katanya hormat.

"Memang ilmu totok Keluarga Kiauw istimewa sekali, kami sangat mengaguminya. Tadi malam aku tidak tahu tentang kau, kongcu, harap kau suka maafkan kami."

Siauw Siauw tertawa.

"Siapa tidak tahu. dia tidak bersalah!"

Katanya. Sekarang baru ia puas.

"Kita sekarang telah menjadi sahabat, urusan kecil tidak ada artinya. Sudah, jangan timbulkan soal itu. Kau sebenarnya murid siapa?"

"Guruku ialah Koan Sin Liong dari Aylauw San,"

Sahut Tonghong Hek.

"Oh kiranya kau muridnya Tokpie Kengthian Koan Sin Liong!"

Kata anaknya Kiauw Pak Beng.

"Telah aku mendengar lama nama besar gurumu itu!"

Kiauw Siauw Siauw berkesan tak manis terhadap Tonghong Hek. akan tetapi sekarang ia berpikir.

"Orang ini bangsa kasar tetapi sikapnya menyenangkan juga."

Pula, karena orang ialah muridnya Koan Sin Liong, ia tidak bersikap dingin lebih lama pula. Tong Sun senang menyaksikan sikap anak muda ini.

"Koan Locianpwee telah lama mengagumi ayahmu yang berkenamaan,"

Berkata ia.

"Kali ini Tonghong Toako justeru mau pergi ke gunung Kunlun San untuk menjenguk ayahmu itu, kongcu. Aku girang luar biasa untuk mendapatkan kedua guru besar dari Selatan dan Utara dapat bersatu padu, maka itu. tak malu aku untuk menganjurkan diri, untuk mengajak Tonghong Toako membuat kunjungan ini. Sekarang kita bertemu kongcu di sini, sungguh kita girang!"

"Oh, kiranya begitu!"

Kata Siauw Siauw tertawa.

"Pastilah ayahku bakal menerima baik!"

"Walaupun demikian, kita masih mengharap kongcu suka membantu kata-kata di depan ayahmu itu,"

Kata pula Tong Sun.

"Baiklah,"

Siauw Siauw memberikanjanjinya. Sampai di situ, Tonghong Hek berkata pu1a. Kata-kata ini ia tunda semenjak tadi.

"Turut penglihatanku di punggung kudanya dua bocah itu mesti ada uang dan lain barang berharga,"

Demikian katanya.

"Aku percaya kuda mereka itu tidak dapat lari keras. Law Toako, kenapa kita tidak mau merampas mereka supaya sekalian saja kita menghaturkan oleholeh untuk Kiauw Locianpwee?"

Mendengar itu, Law Tong Sun tertawa.

"Kiauw Locianpwee ada orang berilmu beda dari manusia kebanyakan dia mana membutuhkan hadiah pertemuan semacam itu dari kau?"

Katanya.

"Lebih baik kita menemani Kiauw Kongcu pulang! Hitung-hitung kedua bocah itu untungnya bagus!"

Kiauw Siauw Siauw puas mendengar suaranya Tong Sun itu.

"Tonghong Toako, kau baik sekali,"

Ia berkata.

"Law Toako sebaliknya mengenal sifat manusia. Saudarasaudara, aku menerima kebaikan kamu berdua!"

Sebenarnya Siauw Siauw juga tak tabu untuk harta besar atau barang permata mulia, kalau sekarang ia tidak menghendaki itu, itulah disebabkan ia ingin lekas-lekas tiba di rumahnya sekalian untuk mengobati luka-lukanya.

Law Tong Sun sebaliknya jeri kepada pihak Bouwyong Hoa karena.

melihat kepandaian anak muda itu, ia menduga kepada Ouw Bong Hu suami isteri.

Tentu saja ia tidak suka menambah musuh dalam dirinya itu suami isteri jago.

Inilah bukti dari kecerdikan dan kelincahannya.

Bouwyong Hoa dan Tiangsun Giok telah mengasi kuda mereka lari terus, selama sepuluh li, mereka tidak bicara satu dari lain.

Setelah itu, baru mereka memperlahankan binatang tunggangan mereka.

"Sumoay, apakah kau berduka?"

Tanya sang suheng tertawa.

"Jangan kau pikirkan itu. Di dalam pertempuran, menang atau kalah adalah hal biasa"

"Inilah yang kedua kali kita bertempur semenjak kita turun gunung,"

Sahut adik seperguruan itu.

"dan kali ini kita kena dikalahkan. Tidakkah itu membikin kecewa pengharapan suhu? Sudah begitu, kasihan itu nona, kita tidak dapat menolongi dia. Apakah kau tidak berduka karenanya?"

Bouwyong Hoa mengangguk.

"Mengenai nona itu. aku menyesal,"

Ia berkata.

"Turut penglihatanku, si tua yang pandai ilmu Hunkin Coku Ciu, mungkin dialah orang yang suhu pernah membilangi kita. yaitu Law Tong Sun komandan dari pasukan Gilimkun. Jikalau benar dugaanku, tidak malu kita tidak dapat mengalahkan dia. Hanya kasihan nona itu..."

Ia berdiam sebentar, seperti yang lagi berpikir, kemudian ia menambahkan.

"Kita sekarang mau pergi kepada Kimto Cecu. Dia luas pergaulannya, baik kita beritahukan dia tentang urusan ini, mungkin dia kenal si nona. Dengan begitu, nanti dapat didayakan untuk menolong padanya."

Si nona mengangguk.

Dua saudara seperguruan itu turun gunung menuruti keinginan guru mereka, untuk menemui orang-orang dari kaum tertua, supaya kalau nanti mereka merantau, mereka jadi telah mempunyai banyak kenalan orangorang kenamaan.

Kimto Cecu ialah salah seorang yang harus dikunjungi.

Mereka tahu sepak terjang dari rombongan Kimto Cecu, yang telah merampas bingkisan pelbagai propinsi untuk raja, mereka menyesal tidak dapat turut mengambil bagian, maka itu mereka telah merampas harta bendanya Kiok Ya Ciauw, untuk dipersembahkan kepada Kimto Cecu.

Kebetulan sekali, di tengah jalan mereka bertemu dengan Kiauw Siauw Siauw dan Im Siu Lan, lalu juga dengan Law Tong Sun dan Tonghong Hek.

Tengah berjalan terus, muda-mudi ini melihat dua orang lagi mendatangi di sebelah depan mereka.

Mereka melihat orang melarikan kudanya masing-masing dengan cepat, dengan sendirinya mereka jadi ketarik hati, mereka lantas mengawasi.

Dua penunggang kuda itu beda sekali satu dari lain.

Yang satu ialah seorang muda umur lebih kurang dua puluh tahun, romannya tampan dan gagah, tubuhnya pun dikerebongi mantel kulit rase, sedang di pinggangnya tergantung golok yang bertaburkan batu permata.

Dia mestinya dari keluarga atasan.

Sebaliknya, kawannya, yang telah berusia lima puluh lebih, yang mukanya berewokan, berpakaian tambalan di sana-sini, sementara tangannya mencekal sebatang tongkat peranti mengemplang anjing.

Begitu berlainan mereka berdua, tetapi mereka melarikan kuda mereka berendeng.

"Entah mereka dari kalangan apa,"

Bouwyong Hoa kata perlahan pada kawannya.

"Kita baik menyingkir dari mereka..."

Tiangsun Giok sebaliknyaSangat tertarik perhatiannya, ia justeru melirik si orang tua mirip pengemis itu. Orang tua itu melihat gerak-gerik muda-mudi itu, mendadak dia tertawa.

"Eh, anak-anak, kamu takut apa?"

Katanya, riang gembira.

"Apakah kamu takut aku si pengemis tua nanti minta uang dari kamu?"

Bouwyong Hoa tidak mau melayani bicara, ia menarik les kudanya, untuk menyingkir dari orang tua itu, tetapi si orang tua telah melarikan kudanya, untuk terus melintangi tongkatnya di depan orang!

"Ah.

dia mau apakah?"

Pikir si anak muda heran.

"Mungkinkah dia telah melihat oleh-olehku ini?"

Maka ia lantas meraba gagang pedangnya.

"Jangan sibuk!"

Berkata orang tua itu, kembali tertawa.

"Meskipun aku si pengemis tua tidak mempunyai sekalipun debu, aku masih tidak silau dengan hartamu itu!"

"Sungguh jumawa pengemis bangkotan ini."

Pikir Bouwyong Hoa.

"Hartanya Kiok Ya Ciauw ini sedikitnya berharga beberapa puluh laksa tahil perak tetapi toh katanya dia tidak lihat mata!"

Karena ia belum mendapat tahu maksud orang, ia berlaku sabar. Ia berkata.

"Aku tidak kenal kau lotiang, entah ada pengajaran apa dari lotiang untukku?"

Tiangsun Giok tidak ada sesabar suheng-nya itu. Iamenghampirkan.

"Kau siapa?"

Ia menegur.

"Kenapa kau memegat kami? Kami hendak lekas-lekas melanjutkan perjalanan kami!"

"He, nona, kau galak sekali!"

Kata pengemis itu.

"Mungkinkah tadi kau kena dikalahkan orang maka kau sekarang menjadi mendongkol dan mendeluh?"

Nona Tiangsun heran.

"Eh, mengapa kau ketahui itu?"

Tanya dia, yang mukanya lantas menjadi merah sendirinya.

Dia telah berlaku terburu napsu.

Dengan menanya demikian, dia menjadi telah membuka rahasia sendiri.

Dia menyesal sudah membuka mulut tanpa dipikir lagi.

Si orang tua bersenyum.

"Dengan siapa kamu telah bentrok?"

Tanyanya.

"Coba kau tuturkan padaku, barang kali aku si orang tua dapat membantu kamu."

Bouwyong Hoa beda dari si sumoay yang tabiatnya sedikit keras, ia mau lantas menduga pengemis ini bukan sembarang orang, bahkan dia tentunya tidak bermaksud jahat, maka ia lantas mendahului sumoay itu menjawab.

"Lotiang, baiklah kau tak usah campur segala urusan luar,"

Ia berkata.

"Percuma untuk kami menuturkannya. Orang dengan siapa kami bentrok tadi, dia tidak dapat dibuat permainan kecuali dia dihadapkan dengan dua orang tertentu!"

Pengemis itu mengulur lidahnya.

"Demikian lihai orang itu?"

Katanya, matanya pun dibuka lebar-lebar.

"Habis siapakah itu dua orang yang berani mempermainkan dia?"

"Yang satu yaitu Kimto Cecu Ciu San Bin, yang lainnya Tayhiap Thio Tan Hong,"

Bouwyong Hoa memberitahu. Ia sengaja menyebut nama dua orang itu untuk melihat bagaimana lagaknya pengemis ini.

"Oh!"

Si pengemis berseru, lantas dia tertawa.

"Kiranya semua kenalanku!"

Anak muda itu heran.

"Locianpwee. kau siapakah?"

Ia tanya lekas.

"Nanti, aku tanya kau lebih dulu!"

Berkata orang tua itu.

"Bukankah sekarang ini kamu lagi hendak memohon bantuannya Kimto Cecu atau Thio Tayhiap?"

"Memang benar, locianpwee, kami hendak mengunjungi Kimto Cecu,"

Sahut si anak muda. Pengemis tua itu tertawa terbahak.

"Jikalau begitu, marilah kamu berkenalan dengan siauwcecu ini!"

Ia kata.

"Ci Hiap, mari!"

Ia menambahkan, kepada anak muda yang menjadi kawannya itu.

Dua orang ini bukan lain daripada Hupangcu Tie Goan dari Kaypang, partai Pengemis, dan Siauwcecu Ciu Ci Hiap, Ketua muda, dari Kimto Ce, markas Kimto Cecu.

Mereka tengah berjalan mencari Im Siu Lan.

Tie Goan melihat pakaian muda-mudi itu robek, lantas ia menduga orang habis berkelahi.

Kedua pihak lantas saling menghunjuk hormat, buat berkenalan.

"Ayahku pun sering menyebut nama besar guru saudara-saudara,"

Berkata Ci Hiap.

"dan aku telah dipesan, apabila kami melewati gunung Tangkula, aku mesti mampir untuk membuat kunjungan. Sungguh tidak disangka-sangka, kita bertemu ditengahjalanini!"

"Kami pun telah mendengar hal kamu sudah merampas bingkisan raja."

Berkata Bouwyong Hoa.

"Peristiwa itu sangat menggemparkan, kami sangat mengaguminya. Kami menyesal sekali yang kami tidak dapat turut mengambil bagian. Sekarang ini kami baru saja mendapatkan sedikit harta karun, niat kami ialah membawa ke gunung untuk dipersembahkan kepada pihakmu, saudara Ciu..."

Habis mengucap begitu, muka Bouwyong Hoa bersemu dadu. la ingat bahua barusan ia telah menyangka jelek pada Tie Goan. Hupangcu itu tertawa tergelak.

"Aku si pengemis tua, aku tidak membutuhkan uang, untukku, uang itu apa perlunya?"

Katanya.

"Tapi mengenai saudara-saudara di atas gunung, mereka benar-benar membutuhkan uang dan rangsum, maka uangmu ini beberapa puluh ribu tahil perak berharga sekali untuk mereka!"

"Saudara, dengan siapa tadi kamu bertempur?"

Ci Hiap tanya.

"Dengan anaknya si siluman tua Kiauw Pak Beng,"

Bouwyong Hoa memberitahu. Ci Hiap terkejut.

"Oh, Kiauw Siauw Siauw!"

Serunya.

"Untuk urusan apakah?"

"Dia telah menculik seorang nona muda, di sepanjang jalan dia telah menganiayanya."

Tiangsun Giok menggantikan suheng-nya menjawab.

"Kami tidak dapat mengawasi saja perbuatannya yang jahat dan kejam itu!"

Kembali Ci Hiap terkejut.

"Bukankah nong itu Nona Im Siu Lan?"

Dia tanya.

"Memang, nona itu she Im,"

Sahut Tiangsun Giok.

"Kau kenal dia?"

"Dia justeru orang yang melepas budi besar kepada kami,"

Kata Ci Hiap.

"dan sekarang kami lagi mencari dia. Siapakah itu yang ada bersama Kiauw Siauw Siauw?"

Bouwyong Hoa tidak kenal Law Tong Sun dan Tonghong Hek, ia cuma menduga-duga komandan Gilimkun itu, maka ia menjelaskan potongan tubuh dan roman serta usia mereka juga. Tie Goan tertawa.

"Benar-benar mereka itu tidak dapat dibuat permainan!"

Katanya.

"Si hidung bengkung itu pasti Law Tong Sun!"

"Biarnya begitu, kita toh mesti seteroni dia!"

Kata Ci Hiap. Ia lantas mengangkat cambuknya untuk mengasi kudanya lari.

"Tahan!"

Tie Goan berseru.

"Kenapa?"

"Sabar. Kita bekerja mesti jangan menuruti darah panas saja. Mereka itu sudah pergi sekian lama, taruh kata kita menyusul mereka, belum tentu dapat kita menyandak. Lain dari itu, umpama kata kita berhasil menyusul mereka, jikalau mesti bertempur, kita juga bukan tandingan mereka itu. Turut penglihatanku, Kiauw Siauw Siauw pasti mau pulang ke Kunlun San."

"Jikalau dia dibiarkan membawa Siu Lan sampai ke gunungnya, bukankah itu berarti lebih sukar untuk menolongnya?"

Tanya Ci Hiap, yang masih penasaran.

"Itulah benar. Tapi menurut aku, baiklah kita mengatur begini. Kita minta saudara Bouwyong berdua melanjuti terus perjalanan mereka ke gunung, di sana mereka boleh sekalian memberitahukan halnya kita sudah mendapat endusan tentang Nona Siu Lan. Kita berdua, kita menguntit terus. Kita dapat memeriksa tapak kereta di sepanjang jalan. Di mana perlu, kita pun dapat minta bantuannya sahabat-sahabat setempat."

Ci Hiap dapat dikasih mengerti, maka ia dapat menyabarkan diri.

Sekarang ia insaf, memang satu Law Tong Sun saja sudah sukar untuk ditempur.

Ia pula menduga, bahaya jiwa langsung bagi Im Siu Lan mungkin belum ada, kalau tidak, tidak nanti nona itu dibawa lari terus menerus.

"Baiklah,"

Katanya akhirnya.

Tie Goan lantas minta Bouwyong Hoa dan Tiangsun Giok pergi terus ke gunung, buat menyerahkan hartanya sekalian memberitahukan halnya mereka menyusul Kiauw Siauw Siauw dan Im Siu Lan.

Bouwyong Hoa berdua setuju.

"Jikalau di tengah jalan tidak didapatkan kawan untuk membantu,"

Berkata Nona Tiangsun.

"karena untuk pergi ke Kunlun San gunung Tangkula harus dilewati, baiklah kamu mampir kepada suhu dan sunio kami. Bilang bahwa kami telah diperhinaKiauw Siauw Siauw. Sunio paling menyintai aku, ia tentu bakal membalaskan sakit hati. untuk melampiaskan kemendongkolanku!"

Tie Goan tertawa.

"Benar!"

Katanya, memuji.

"Guru kamu itu ialah orang yang ketiga yang berani mempermainkan Kiauw Pak Beng!"

Sampai di situ, mereka lantas berpisahan.

Kiauw Siauw Siauw bertiga Law Tong Sun dan Tonghong Hek, dengan membawa Im Siu Lan, tiba di rumau dengan tidak kurang suatu apa.

Siauw Siauw mendapatkan, orang yang menyambut ia di rumahnya itu ialah orang yang ia tidak sangka-sangka.

Dialah Le Kong Thian, yang ada bersama-sama Tek Seng Siangjin dan Kiok Ya Ciauw.

Tek Seng dan Ya Ciauw turut menyambut, tidak perduli tingkat derajat mereka lebih tinggi daripada Siauw Siauw.

Inilah disebabkan mereka hendak mengambil hati, supaya mereka berhasil mengikat persahabatan dengan Kiauw Pak Beng.

"Eh, Kong Thian, kenapa kau sudah pulang?"

Siauw Siauw tanya pengurus rumah tangganya itu.

"Buat apa aku tidak pulang?"

Kong Thian membaliki.

"Pektok Cinkun bersama Cit Im Kauwcu sudah mati, kitab Pektok Cinkeng telah dimiliki Im Siu Lan. Im Siu Lan sendiri bernaung di dalam Kimto Ce, aku tidak sanggup menawan dia, terpaksa aku pulang."

Siauw Siauw tertawa.

"Coba kau lihat di dalam kereta sana. siapakah orang itu?"

Ia kata sambil menunjuk ke keretanya.

"Pergilah kau bawa dia masuk!"

Le Kong Thian terperanjat bahna herannya.

"Im Siu Lan?"

Tanyanya.

"Kau berhasil menawan dia?"

"Benar!"

Sahut Siauw Siauw bersenyum.

"Pektok Cinkeng juga berada ditanganku! Nah, lekas kau mengabarkan pada ayahku!"

"Suhu lagi berlatih dengan menutup diri,"

Kong Thian memberitahu.

"Besok tengah hari baru ia akan membuka pintu kamarnya. Tek Seng Siangjin ini berdua telah datang semenjak dua hari, mereka pun belum dapat menemukannya."

"Kita jangan tergesa-gesa,"

Berkata Law Tong Sun.

"Tidak apa kita menanti satu atau dua hari."

Tong Sun ini berpandangan jauh.

la telah mengatur rencana, kecuali Kiauw Pak Beng, ia ingin menempel lainlain orang lihai dan Tek Seng Siangj in ini salah seorang yang telah tercatat dalam daftarnya.

Maka sekarang dapatlah ia duduk beromong-omong dengan Tek Seng dan Kiok Ya Ciauw, hingga ia mengetahui juga, mereka ini mau minta bantuannya Kiauw Pak Beng disebabkan kekalahan mereka di Thiansan.

Tentu sekali, mereka lantas dapat bicara dengan asyik dan ia lantas mendapatkan persetujuannya Tek Seng Siangjin.

Besoknya benar saja Kiauw Pak Beng muncul dari kamar latihannya, la menemui sekalian tetamunya.

Ketika ia mendengar laporannya Le Kong Thian, ia menitahkan anaknya untuk Siu Lan segera dibawa menghadap padanya.

"Duduk,"

Ia berkata pada si nona, begitu lekas Nona Im telah dibawa datang.

"Katanya ibu dan ayahmu telah menutup mata, kau sekarang tidak punya andalan lagi, baiklah kau tinggal di sini bersama aku. Nanti aku pilihkan kau hari yang baik untuk kamu menikah."

Siu Lan gusar.

"Kau telah mengangkat dirimu sebagai jago Rimba Persilatan!"

Katanya keras.

"kenapa kau menghina seorang perempuan muda yatim piatu? Biarnya aku mesti mati. tidak nanti aku menikah dengan anak mustikamu!"

Ketika ia dibawa masuk, Siu Lan telah ditotok bebas oleh Kiauw Siauw Siauw, maka itu, habis berkata keras itu, terus ia berlompat bangun, untuk membenturkan kepalanya pada tembok.

Kiauw Pak Beng mengulur tangannya untuk mencegah.

"Mari kita bicara secara baik-baik,"

Katanya tertawa.

"Buat apa bunuh diri?"

Siu Lan merasakan dorongan tenaga yang kuat bingga ia terpaksa kembali duduk di kursinya, tenaganya lantas lenyap semua.

Ia mengeluh di dalam hati, sebab sekarang, mau mati pun tidak bisa.

Kiauw Pak Beng memandang puteranya, lalu ia mengawasi si nona.

"Suami isteri muda berselisih adalah hal lumrah sekali,"

Ia bilang, sabar.

"Tapi, kenapa kau menggunakan racun mencelakai anakku?"

"Dia telah merampas barangku, dia juga menghina aku!"

Sahut Siu Lan.

"Aku tahu aku tak bakal lolos lagi dari genggamanmu, tetapi aku juga mau membikin anakmu tak dapat hidup lebih lama pula!"

"Oh, kiranya begitu!"

Kata Pak Beng.

"Siauw Siauw, mari kitab Pektok Cinkeng itu, kasih aku lihat!"

Siauw Siauw menyerahkann kitab rampasannya kepada ayahnya itu.

Pak Beng membeber kitab itu, ia memeriksa sekian lama.

Siauw Siauw bergelisah, ia mengawasi ayahnya.

Ia tidak berani mengganggu ayah itu.

Setelah berselang sekian lama, baru mata Pak Beng dialihkan dari kitab tentang pelbagai racun itu.

"Tidak kecewa kau menjadi puterinya Cit Im Kauwcu!"

Ia kata pada Nona Im.

"Benar hebat kepandaianmu menggunakan racun!"

Mukanya Siauw Siauw menjadi pucat.

"Ayah, bagaimana?"

Ia tanya ayahnya. Ia takut bukan main.

"Apakah kau tidak dapatkan obat pemunahnya?"

Si ayah balik menanya. Hati Siauw Siauw bercekat. Tahulah ia sekarang, racun dalam tubuhnya itu tak dapat diobati kecuali oleh Siu Lan sendiri. Terang ayah itu buntu jalan.

"Semua obatnya telah dapat dirampas,"

Ia menyahut.

"Obat itu ada beberapa puluh macam, tidak ketahuan yang mana satu obat pemunahnya..."

Habis berkata, ia pun menyerahkan semua obat rampasannya.

Kiauw Pak Beng lantas memakai sarung tangan kulit.

Ia keluarkan semua obat dari dalam kantungnya, ia pisah-pisahkan itu.

Melihat caranya orang memisahkan obat, Siu Lan kaget.

Ia kata dalam hatinya.

"Cuma sebentar saja dia membaca Pektok Cinkeng, lantas dia dapat memisahkan obat-obatku begini rupa. Nyata dia jauh terlebih lihai daripada anaknya!"

"Kau tunjuk mana obat pemunah untuk luka anakku!"

Kemudian Pak Beng berkata pada Siu Lan. Nona lm tertawa dingin.

"Kau boleh bunuh aku!"

Katanya nyaring.

"Untuk menunjuki obat, tidak nanti!"

"Oh, kiranya begini rupa kau membenci anakku!"

Kata Pak Beng.

"Baiklah! Kau tidak suka menikah dengannya, kau tunjuk obat pemunahnya, nanti aku merdekakan kau!"

Hati Siu Lan tergerak juga. Akan tetapi kapan ia ingat bagaimana di sepanjang jalan ia disiksa Siauw Siauw. hatinya menjadi mantap pula. Ia menutup mulutnya. Pak Beng mengawasi tajam.

"Hm!"

Terdengar suaranya.

"Kau kira dengan kau tidak menunjuki obat pemunahnya lantas aku tidak berdaya lagi?"

Ia lantas mengangkat pitnya, ia menulis dua helai surat obat, kemudian ia panggil satu orangnya seraya terus berkata padanya.

"Setiap obat dari surat obat ini kau masak dengan airnya lima belas mangkok. setelah matang, kau bawa mari!"

Siu Lan dengar itu. ia kata dalam hati kecilnya.

"Taruh kata kau ketahui caranya membuat obat pemunah, dalam satu tahun atau sedikitnya setengah tahun, tidak nanti kau dapat mengumpul semua obat yang dibutuhkan! Aku tidak percaya di dalam rumahmu ini kau dapat menyimpan obat-obatan demikian lengkap! Pula di dalam Pektok Cinkeng tidak ada dimuat resep keracunan tertentu, untuk membuat semacam obat pemunah, lebih dulu orang mesti mengerti perihal pelbagai macam racun serta sifatnya setiap obat, baru macam-macam obat itu dicampur menjadi satu!"

Nona ini bersenyum mengejek.

Ia menyangka Pak Beng mengumpul pelbagai racikan, buat membikin obat pemunah untuk anaknya itu.

Kiauw Pak Beng tidak menggubris nona itu, ia hanya menyuruh Siauw Siauw mengundang Tek Seng Siangjin dan Kiok YaCiauw datang masuk, untuk ia minta penjelasan perihal pertempuran di gunung Thiansan itu ketika mereka dikalahkan Hok Thian Touw suami isteri.

"Baik, akan aku membalaskan sakit hati kamu!"

Katanya kemudian.

"Tapi, Tek Seng Siangjin, kau mesti melakukan sesuatu untukku!"

"Asal yang aku sanggup, pasti aku akan lakukan,"

Tek Seng Siangjin memberikan janj inya.

"Itulah gampang sekali. Kau bawakan aku beberapa biji batu Keehiatcio dari Sengsiu Hay."

Seperti diketahui, Sengsiu Hay ialah tempat mana Tek Seng Siangjin tinggal. Batu itu keehiatcio ialah "batu darah ayam."

Mendengar itu, Tek Seng Siangjin tertawa. Perjalanan ke rumahnya dapat dilakukan pulang pergi dalam tiga hari. Ia kata.

"Aku kira kau menghendaki barang apa, kiranya benda itu! Kau tunggu, aku nanti pergi, lusa malam aku akan sudah kembali kesini!"

Im Siu Lan ketahui, keehiat cio itu ialah semacam bahan obat yang sifatnya panas dan keras. Maka ia kata pula dalam hatinya.

"Jikalau kau pakai batu itu untuk racikan obat, aku tanggung anakmu bakal mampus dalam waktu terlebih lekas lagi!"

Semundunya Tek Seng Siangjin dan Kiok Ya Ciauw, maka pegawainya Pak Beng telah selesai memasak matang obat yang dia minta tadi, semuanya dimuatkan dalam dua teeko tembaga yang besar.

"Sekarang pergi kau cari lima belas ekor anjing yang galak!"

Dia menitah pula.

Siu Lan heran, hingga ia menjadi ingin ketahui apa akan diperbuat siluman tua she Kiauw ini.

Kiauw Pak Beng menuang sedikit isinya kedua teeko itu ke dalam masing-masing mangkok, lantas ia membuka sebungkus obat, sedikit obat itu disentilkan masuk ke dalam dua mangkok itu.

"Kau ambil kedua mangkok ini!"

Kata ia pada anaknya. Siauw Siauw heran.

"Adakah ini obat pemunah?"

Pikirnya. Tapi segera ia mendengar ayahnya menambahkan.

"Kau cekoki ini kepada anjing!"

Baru sekarang Siauw Siauw tahu itulah bukan obat untuknya.

Pegawai tadi memegangi dua ekor anjing, dengan memegang lehernya, Siauw Siauw menuang obat ke dalam mulutnya masing-masing anjing itu.

Cuma sebentar, mendadak anjing yang sekor menggonggong keras, lantas dia lompat menubruk.

Tapi Siauw Siauw lihai, dengan satu sampokan, ia membikin anjing itu roboh, lantas ngoser di lantai, lantas darah keluar dari mulut, hidung, mata dan kupingnya, lalu sejenak kemudian, dia berdiam dan mati.

Anjing yang lainnya sebaliknya.

Dia perangkatkan diri, dia berkuwing, badannya bergemetar seperti kedinginan, tidak lama, dia berdiam dan mati juga...

Hati Siauw Siauw terkesiap, ia heran.

Kiauw Pak Beng menggeser ke samping dua bungkus obat tadi itu, lantas ia mengambil yang lain, yang ia campurkan ke air obat masakan, yang ia telah tuang ke dalam dua mangkok, setelah mana, ia menyuruh anaknya mencekoki lagi dua ekor anjing yang membandal dicekok dengan paksa.

Sebentar kemudian, dua ekor anjing pun mati.

Kiauw Pak Beng mengulangi perbuatannya, hingga dua belas ekor anjing pada mati, tinggal yang tiga.

Semua kematian itu berlainan satu dengan lainnya, tetapi dapat digariskan kepada dua golongan.

yang satu menjadi galak dan merangsang, yang lain menjadi lemah tak bertenaga Yang tiga itu, yang diberi obat juga, terus rebah diam, keadaannya seperti orang menderita sakit berat.

"Sekarang singkirkan semua anjing itu!"

Kata Pak Beng. Terus dia tertawa dan menambahkan.

"Meski aku telah kurbankan lima belas anjing pemburuku, setelah pelbagai obat dapat diperiksa sifatnya, itu berharga juga!"

Siu Lan masih berdiam saja ia tak mengerti maksudnya jago tua itu. Pak Beng lantas menggeser tiga bungkusan obat ke depan si nona.

"Tunjukilah yang mana satu obat pemunahnya!"

Katanya bengis.

Nona Im kaget.

Memang, obat pemunah itu ialah satu di antara tiga bungkus itu.

Ia juga kagum untuk caranya Pak Beng memeriksa semua obatnya itu.

Dua rupa obat yang dimasak Kiauw Pak Beng itu terbagi dalam dua rupa sifat, panas dan dingin.

Ia belum tahu cara mengobati keracunan anaknya tetapi dengan memeriksa nadi si anak, ia tahu juga anaknya itu terserang racun yang sifatnya panas tercampur dingin, yang bekerjanya lambai, bahwa racunnya lebih banyak bersifat panas, lebih sedikit bersifat dingin.

Dengan meracuni ke lima belas ekor anjing, tahulah ia perbedaannya pelbagai kurban anjing itu.

Anjing yang kalap ialah yang minum obat panas, dan yang menjadi lemas terkena obat sifat dingin.

Tiga anjing yang terakhir, mati tidak, hidup tidak, dan itu anjing ketiga ekor itu kena minum obat yang racunnya bekerja lambat.

Sebagai seorang lihai, Pak Beng juga tidak cuma memeriksa obat-obatan itu dan mengujinya terhadap anjing, diam-diam dia memperhatikan air mukanya Siu Lan, untuk membade hati si nona.

Maka akhirnya dia tertawa lebar dan kata.

"Sekarang tinggal ini tiga macam obat, tinggal dipilih saja! Apakah kau masih hendak memaksa aku memikirkan dan mencobanya lagi?"

Di dalam hati kecilnya, Siu Lan kata.

"Tiga macam obat ini semua bersifat hampir bersamaan, biarnya kau pintar luar biasa, tidak nanti kau dapat memilihnya!"

Cit Im Kauwcu cerdik luar biasa, kepandaiannya mengenai racun sukar tandingannya, sedang Siu Lan telah mewariskan kepandaian ibunya itu--kepandaian menggunakan jarum beracun, yang ia telah pakai menyerang Kiauw Siauw Siauw.

Obat pemunah untuk keracunan itu melainkan satu rupa.

sekarang obat ada tiga macam, asal salah pilih, jikalau Siauw Siauw salah makan, segera dia bakal mati!

Kiauw Pak Beng tertawa dingin melihat orang membungkam saja.

"Baiklah!"

Katanya, bengis.

"Kau tidak suka bicara tetapi aku menghendaki kau sendirilah yang memberitahukan aku!"

Tiba-tiba saja jago tua ini menyambar tangan si nona, untuk dengan jerijinya menekan nadi. Dengan lain tangannya ia menjemput sebungkus obat, yang ia terus ulapkan di muka nona itu.

"Ini bukan?"

Dia tanya, keras. Siu Lan merapatkan giginya, ia menutup mulutnya.

"Biarnya aku mati, tidak nanti aku memberitahukan!"

Pikirnya, nekad. Siauw Siauw heran atas sikap ayahnya. Ia berpikir.

"Kalau dia suka bicara, tentu dia sudah bicara siangsiang. Perlu apa untuk menanya begini padanya?"

Kiauw Pak Beng tidak memperoleh jawaban, dia mengangkat bungkusan obat yang kedua.

"Pasti ini?"

Tanyanya pula. Siu Lan tetap membungkam. Maka jago tua itu mengangkat bungkusan yang ketiga, yang terakhir.

"Aku tahu!"

Dia berseru.

"Tentu ini!"

Siu Lan menguatkan hati, dia tidak mengasi kentara sikap apa juga.

Kiauw Pak Beng tidak menjadi gusar yang ia dilawan bungkam, sebaliknya, ia tertawa terbahak.

Dari antara tiga bungkus obat itu, ia ambil satu, terus ia lemparkan itu pada anaknya.

"Dia telah memberitahukan aku!"

Katanya.

"Ini dia!"

Kiauw Siauw Siauw menyambuti obat itu, akan tetapi ia ragu-ragu.

"Lekas kau minum!"

Kata sang ayah.

"Tidak salah!"

Anak itu menganggap nanti ayahnya mempermainkan jiwanya, maka itu ia lantas makan obat itu.

Memang itulah obat pemunah, maka juga, Siu Lan menjadi heran sekali.

Bukankah ia telah terus menutup mulut?

Saking berduka, ia jadi mengeluh di dalam hati.

Kiauw Pak Beng benar-benar lihai.

Walaupun si nona membungkam, ia memasang mata tajam.

Di lain pihak, iatelah memegang nadi nona itu.

Hati Siu Lan tegang sendirinya ketika ia memilih tiga bungkusan itu.

dari denyutan nadi dapat ia menerka.

Nyata ia menerka tepat.

Setelah anaknya makan obat, Pak Beng tertawa dan berkata.

"Pektok Cinkeng telah berada di dalam tanganku! Obat pemunah juga telah aku kenali! Bagaimana, apakah sekarang kau masih berani membelar terhadapku?"

Nona Im percaya bahwa ia adalah bagian mati, maka ia jawab.

"Kau namakan dirimu satu guru besar tetapi kau menghina satu anak muda! Kau tidak tepat, namamu itu tidak sesuai!"

Kiauw Pak Beng panas hatinya tetapi ia dapat menguasai dirinya.

"Baik, akan aku pertunjuki lagi satu kepandaianku untuk kau lihat!"

Katanya.

"Hendak aku membikin kau puas dan tunduk!"

Ia lantas menjemput sebungkus obat racun. Ia tanya.

"Bukankah ini racun yang paling hebat?"

"Kenapa?"

Tanya si nona.

"Kau lihat!"

Kata Pak Beng, yang terus menitahkan orangnya mengambil semangkok air jernih, lalu racun itu dituang ke dalam air itu, hingga air itu lantas bergolakgolak.

Itulah bukti hebatnya racun, yang sifatnya panas.

Setelah itu.

dengan mementang mulutnya, Kiauw Pak Beng cegluk habis racun itu.

"Jangan kata baru kau!"

Katanya tertawa.

"biarnya kakek gurumu, si Raja Racun, dia tidak nanti dapat berbuat apa-apa atas diriku!"

Siu Lan melengak, dia berdiam.

Sementara itu Siauw Siauw, setelah makan obatnya, tidak merasakan sesuatu, maka itu, lega hatinya.

Ketika ia melihat ayahnya minum racun tanpa akibat apa-apa, ia berjingkrak.

"Baiklah manusia hina dina ini dimampuskan saja!"

Katanya sengit.

"Untuk apa dia dikasih tinggal hidup terus?"

"Dialah bakal nona mantuku!"

Kata Pak Beng, menjawab anaknya.

"Biarnya dia tidak berkeperimanusiaan kau sendiri tidak dapat tidak berlaku bijaksana! Maka itu, asal dia suka menyerah dengan sesungguhnya hati, dapat dia diberi maaf!"

Siu Lan telah menjadi nekad, ia menjadi gusar.

"Siapakah pernah menerima lamaranmu?"

Dia berseru.

"Ha, kepala hantu, kau pun berani omong tentang perikemanusiaan dan kebijaksanaan! Tidak, walaupun aku mati, tidak nanti aku menyerah!"

"Aku justeru tidak menghendaki kematianmu!"

Kata Pak Beng tenang.

"Siauw Siauw pergi kau tutup dia! Tunggu sampai dia sudah menyerah benar-benar, baru kau merdekakan!"

Anak itu tidak berani membantah ayahnya. Pula ia tetap ketarik kecantikannya nona Im. Pikirnya.

"Baiklah, perlahan-perlahan saja aku siksa dia hingga dia menyerah..."

Lantas ia bawa Siu Lan ke dalam, untuk diserahkan kepada dua gundiknya. Ia pesan agar si nona dijaga keras. Segera setelah anaknya keluar pula. Pak Beng periksa nadinya anak itu.

"Kau terlambat makan obat, karenanya kau harus merawat diri baik-baik,"

Dia berkata.

"Dalam waktu satu bulan, kau tidak dapat mendekati orang perempuan!"

Ketika itu obat pemunah mulai bekerja dalam tubuh Siauw Siauw, obat dan racun bentrok satu dengan lain, lantaran itu Siauw Siauw lantas merasai kepalanya pusing dan matanya kabur, setelah itu, ia merasai perutnya sakit bagaikan ditusuk-tusuk.

Ia tahu, itulah akibatnya bentrokan obat dan racun, ia tidak takut, akan tetapi ia mesti menahan sakit, ia mengeluh juga, ia merintih.

Karena ini, kapan ia ingat Siu Lan, kebenciannya memuncak.

Dengan terpaksa ia masuk ke kamarnya, untuk bersemedhi.

Setelah mengurus halnya Siu Lan, baru Pak Beng menitahkan orang memanggil Law Tong Sun dan Tonghong Hek.

Ia telah mendapat tahu maksud kedatangannya dua tetamu itu, dengan lantas ia memberikan persetujuannya, menyatakan kesediaannya akan bekerja sama Koan Sin Liong.

Dengan lantas ditetapkan janji pertemuan di malam Tiong Ciu lain tahun, dan tempat pertemuannya ialah kuil Siangfjeng Kiong di atas gunung Laosan.

Kepala kuil itu, Hay Jiak Tojin, berasal kepala perompak di Tanghay, laut Timur, oleh karena Yap Seng Lim menduduki tiga belas pulau di laut Timur itu, dia kehilangan sarangnya, terpaksa dia menyingkir dan hidup sebagai tosu atau imam.

Dia bersahabat dengan Law Tong Sun, maka itu Tong Sun mengusulkan kuilnya ini sebagai tempat pertemuan di antara dua hantu dari Selatan dan Utara itu.

Dengan begini, Tong Sun pun mengandung maksud, ialah dia ingin memancing Yap Seng Lim suami isteri, untuk mereka ini dibekuk, untuk diserahkan kepada pemerintah, sedang di lain pihak, penangkapan Yap Seng Lim suami isteri itu akan memperhebat permusuhan di antara kedua hantu itu dan Thio Tan Hong.

Kiauw Pak Beng menerima baik rencana Tong Sun itu, kemudian ia berbicara dengan Tonghong Hek.

Orang she Tonghong ini lantas diminta bantuannya, ialah kalau nanti dia pergi ke Siangceng Kiong, untuk berkumpul, supaya dia membawa sekalian beberapa rumput daun obat-obatan asal tanah Biauw.

Bukan main girangnya TonghongHek.

itu artinya Pak Beng senang padanya.

Ia lantas memberikan janj inya.

Ketika itu dua-dua Tong Sun dan Tonghong Hek heran.

Selagi berbicara dengan Pek Beng, mereka mendapatkan kulit mukanyajago itu berubah-ubah, sebentar menjadi biru gelap, sebentar hitam.

Walaupun demikian, mereka tidak berani menanyakan sebabnya.

Semundurnya kedua tetamunya itu, Kiauw Pak Beng kata pada Le Kong Thian.

"Sekarang aku hendak menutup diri lagi. Kali ini waktunya pendek. Yaitu setelah tiga hari, baru pintu kamarku dapat dibuka. Selama tiga hari itu, tidak perduli terjadi perkara bagaimana besar, tak dapat aku diganggu. Muridnya Koan Sin Liong dan tetamu she Law itu, kau layanilah mereka selama beberapa hari ini, nanti setelah aku membuka pintu, baru mereka diantarkan pergi."

Biasanya, kalau Kiauw Pak Beng menutup diri, waktunya setengah bulan atau sedikitnya sepuluh hari, maka itu, kali ini waktu itu luar biasa.

Pula luar biasa dia masih menahan tetamunya, untuk menanti ia beberapa hari.

Sama juga si tetamu ditahan untuk membantu melindungi padanya.

Kong Thian heran tetapi ia menerima baik pesan itu.

Begitu lekas ia sudah memesan orang kepercayaannya itu, Kiauw Pak Beng lantas masuk ke dalam kamarnya.

Ia membawa kitab Pektok Cinkeng, maka kitab itu lantas diperiksa.

Habis membaca, ia tertawa dan berkata seorang diri.

"Semenjak dulu hingga sekarang, belum pernah terdengar ada orang yang dapat meyakinkan Siulo Imsat Kang sampai di tingkat ke sembilan! Sekarang adalah aku, Kiauw Pak Beng, yang menjadi orang pertama!"

Sejak dia dipecundangi Thio Tan Hong, Kiauw Pak Beng pulang ke gunungnya di mana terus ia meyakinkan sungguh-sungguh Siulo Imsat Kang, ilmu kepandaiannya yang istimewa itu.

Ia sudah mencapai tingkat ke tujuh, ia mulai memasuki tingkat ke delapan.

Tingkat delapan ini tingkat yang paling berbahaya, inilah ketika paling gampang untuk orang tersesat dan bercelaka.

Pak Beng mengandalkan tenaga dalamnya yang mahir, ia mau mencoba.

Setiap tingkat dari Siulo Imsat Kang berarti kemajuan, karena sifatnya dingin, hawa dingin itu mesti dilawan.

Benar tenaga dalam Pak Beng sudah mahir tetapi sifat dingin hebat sekali, dari itu tenaga dalamnya dapat dilampaui.

Inilah yang berbahaya.

Ancaman ini ia telah pikirkan dayanya untuk menghindarkannya.

Ia melihat dua jalan, yang dapat membantu padanya.

Yang pertama yaitu peryakinan ilmu lurus, guna melawan kesesatan, supaya lurus dan sesat tergabung menjadi satu.

Kalau ia berhasil, maka ia tidak bakal diganggu pula bahaya kesesatan.

Cara yang lainnya ialah sesat lawan sesat, atau benarnya, racun lawan racun, yaitu ia mesti makan racun yang hebat dicampur dengan beberapa macam obat lain yang sifatnya keras juga.

Lainnya obat ini akan dipakai melawan sifat dingin.

Tegasnya, panas lawan dingin, dingin dicocokkan dengan panas.

Kiauw Pak Beng tidak berhasil mendapatkan pelajaran lurus, ia memilih jalan yang kedua, yaitu menggunakan racun.

Maka itu, ia berdaya memahamkan racun.

Demikian, ia ingat kitab Pektok Cinkeng dari Cit Im Kauwcu.

Segala daya telah diambil, guna mendapatkan kitab itu.

ia tidak berhasil, sampai kali ini anaknya beruntung mendapatkan itu.

Jadi, ketika ia makan racun di depan Siu Lan, ia bukan cuma menunjuki kegagahannya, ia sebenarnya lagi mencoba cara yang kedua itu.

Racun telah tersedia, kitab sudah ada, tak susah-susah lagi ia mencari lain racun.

Siu Lan tidak tahu maksud orang, tidak heran ia menjadi heran sekali.

Begitulah, habis makan racun, Kiauw Pak Beng menutup diri.

Ia bersamedhi dengan menderita.

Di dalam perutnya, hawa panas dari racun bentrok dengan hawa dinginnya.

Sebentar ia kepanasan, sebentar ia kedinginan.

Selama itu, darahnya mengalir diseluruh tubuhnya, membikin ia mendapatkan suatu perasaan yang ia tidak dapat menyebutnya.

Ia tidak takut, ia bahkan merasa girang.

Ia mengerti, penderitaannya ini ialah ujian untuk lulus mencapai tingkat ke delapan, tiba kepada tingkat terakhir.

Baru di malam kedua Pak Beng menyekap diri, Hok Thian Touw bersama Leng In Hong dan Liong Kiam Hong telah tiba di Kunlun San.

Mereka terus mendaki.

Di waktu malam seperti itu, bisa di mengerti rumahnya jago itu sunyi sekali.

"Heran, istananya si hantu seperti tak terjaga,"

Kata Thian Touw.

Ia tidak tahu, kesunyian itu terutama disebabkan tuan rumah lagi menutup diri, Le Kong Thian menjaga di luar kamar dan Siauw Siauw lagi berobat dalam kamarnya sendiri.

Di lain pihak, lain-lain orang di rumah itu tak ada yang demikian lihai yang bisa menandingi ilmu ringan tubuh mereka bertiga.

"Tidak ada penjaga, itulah lebih baik lagi,"

Kata In Hong.

"Kita boleh nerobos masuk langsung menolongi orang!"

"Jangan, kita jangan bertindak demikian,"

Thian Touw mencegah.

"Baik dan buruk, Kiauw Pak Beng satu guru besar, maka itu pantas jikalau kita menemui dia dengan memakai aturan kaum Kangouw, ialah kita bicara dulu. menjelaskan maksud kedatangan kita."

In Hong suka mendengar perkataan suaminya ini. Memang, kalau mereka menyerbu, tidak nanti Pak Beng gampang saja mau membiarkan maksud mereka berhasil. sedikitnya mesti terjadi pertarungan seru.

"Baiklah,"

Katanya.

"Mari kita menantang secara berterang!"

Suami itu lantas mengerahkan tenaga dalamnya, terus ia mengasi dengar siulan nyaring dan lama, menyusul mana, menghadapi rumahnya Kiauw Pak Beng. yang dipanggil "istana hantu,"

Ia berkata keras.

"Hok Thian Touw dari Thiansan mempunyai urusan yang hendak dibicarakan, maka itu Kiauw Locianpwee, silahkan kau keluar untuk menemuinya!"

Inilah ilmu tenaga dalam yang dinamakan "Coanim jipbie"

Atau "penyaluran suara,"

Saking hebatnya daundaun pohon dapat rontok karenanya dan burung-burung pada kaget dan berterbangan, maka itu, meskipun Kiauw Pak Beng berada di dalam, mesti ia dapat mendengarnya.

Akan tetapi, sebaliknya dari dugaan.

Pak Beng tidak menyahuti sama sekali.

"Heran,"

Pikir Thian Touw setelah menanti sekian lama.

Sebaliknya daripada Kiauw Pak Beng, atau jawabannya lantas juga terlihat munculnya beberapa orang yang datang dari pelbagai penjuru.

Setelah sampai, mereka itu mengasi dengar cacian mereka.

"Mahluk apa berani berteriak-teriak tidak keruan di sini? Apakah kamu kira kakek guru kami dapat dipanggil dengan cara ini?"

Mereka itu orang-orangnya Kiauw Pak Beng. mereka tidak kenal Thian Touw. dan karena Thian Touw belum berusia lanjut, mereka memandang tidak mata.

"Sebenarnya kakek guru kamu ada di rumah atau tidak?"

Tanya Thian Touw.

"Jikalau dia tidak ada di rumah, nah, kamu suruh saja tuan muda kamu keluar untuk bicara dengan kami!"

Thian Touw menanya demikian karena ia pikir.

"Jikalau Kiauw Pak Beng ada di rumah, dengan mendengar namaku, walaupun dia tidak keluar sendiri menyambut, mestinya dia memberikan jawabannya. Kenapa dia menyuruh keluar ini segala orang sebawahannya yang hanya membuat berisik?"

Salah seorang, yang rupanya menjadi kepala telah tiba di depan pintu. Dia mengawasi Thian Touw beramai dengan sikapnya yang jumawa. Lantas dia kata.

"Sungguh terkebur! Bagaimana kau berani menghendaki tuan muda kami keluar berbicara dengan kamu! Hm! Kamu tahu aturan atau tidak? Seharusnya kamu memasuki dulu kartu namamu, lantas besok kamu datang kemari! Juga, pedang kamu harus ditinggalkan di sini! Kecuali sanak atau sahabat kekal, atau mereka yang diberikan ijin istimewa, dilarang membawa senjata datang kemari!"

Lalu seorang lagi, yang terlebih galak sikapnya, berkata nyaring.

"Di mana ada aturan orang datang meminta bertemu di waktu malam gelap buta rata seperti ini? ---Suheng, apaperlunya kau melayani mereka bicara? Orang-orang semacam mereka ini, mana majikan kita sudi menemuinya? Menurut aku paling benar kita usir mereka turun gunung!"

Thian Touw tidak sudi melayani dia.

"Maaf!"

Katanya "Karena majikan kamu tidak keluar, kami terpaksa mau lancang masuk!"

Orang yang menjadi kepala itu heran dan kaget, lantas dia menjadi gusar.

"Sungguh besar nyalimu!"

Katanya "Kamu mau lancang masuk? "Baiklah, sute, aku bersedia menuruti pikiran kau, mari kita usir mereka turun gunung!"

Belum berhenti suara orang itu, dua orang sudah berlompat maju, akan tetapi belum sempat mereka menyerang, tubuh mereka sudah dibikin terpental oleh Thian Touw hingga mereka roboh terpelanting!

"Kiauw Pak Beng!"

In Hong mengasi dengar suaranya.

"kami sudah menggunakan aturan, apakah kau tetap tidak mau keluar? Apakah kau hendak membikin kawanan budak ini mendatangkan malu? Baiklah!"

Selagi Thian Touw bicara isteri ini sudah menyiapkan sepotong batu di dalam genggamannya, setelah ia mengerahkan tenaga dalamnya, batu itu ia membuatnya hancur remuk, maka ketika ia mengayun tangannya dalam gerakan "Boanthian hoaie"

Atau "Hujan bunga di seluruh langit,"

Batu itu menyambar kepada kawanan orangnya Pak Beng itu.

Dalam sekejap, tangan mereka telak terhajar, senjata mereka pada terlepas jatuh ke tanah!

Justeru itu pintu besar terpentang, di ambang pintu muncul Le Kong Thian, si manusia raksasa.

Dengan tangan mencekal tokkak tongjin, gembolannya yang berupa boneka kuningan, ia kelihatan keren sekali.

Baru orang yang menjadi kepala itu mau bicara, untuk memberi laporan atau mengadu, dia sudah dibentak pengurus rumah ini.

"Kawanan budak tidak punya guna, lekas kamu pergi!"

Thian Touw tertawa.

"Le Koankee, kau tentu mengenali aku?"

Ia berkata, menanya. Kong Thian tidak mengiakan, ia hanya kata.

"Urusan merampas bingkisan sudah habis, guruku sudah bicara jelas dengan kau, kedua pihak akan melepaskan tangan, untuk tidak mencampur tahu lagi, maka itu, apa perlunya kau masih datang kemari?"

"Kali ini kami datang bukan untuk urusan bingkisan,"

Thian Touw menjawab.

"Kami juga tidak bermaksud buruk. Aku hendak minta satu orang kepada majikanmu. Asal kamu menyerahkan orang itu, kami pun akan segera berlalu dari sini!"

"Siapakah orang itu?"

Tanya Kong Thian. Ia berlagak pilon meskipun ia sudah dapat menduga.

"Anak perempuan dari Cit Im Kauwcu!"

Jawab In Hong bengis.

"Aku melihat tegas dia diculik Kiauw Siauw Siauw! Apakah kau masih hendak melindungi majikan mudamu itu?"

Kong Thian bingung.

"Justeru suhu lagi menutup diri,"

Pikirnya.

"Bagaimana?"

Tapi ia mesti lekas menjawab.

"Urusan majikanku aku tak tahu menahu,"

Sahutnya.

"Jikalau kau tidak dapat mengambil keputusan sendiri, kau harus minta majikanmu keluar!"

Kata Thian Touw.

"Sekarang ini tengah malam gelap buta, mana dapat aku mengganggu majikanku?"

Kata Kong Thian.

"Sekarang baiklah kamu pulang, jikalau ada urusan, besok kamu datang pula!"

Manusia raksasa ini pikir, besok gurunya akan keluar dari kamar, dengan begitu besok gurunya pasti dapat bertindak.

"Sungguh Kiauw Pak Beng banyak lagaknya!"

Kata In Hong tertawa dingin.

"Dia besar kepala dia tidak mau menemui kami, nanti kami masuk sendiri!"

"Kenapa kamu tergesa-gesa sekali?"

Kata Kong Thian, bingung.

"Bukankah waktunya tinggal setengah malaman lagi?"

"Tapi adik Im berada di dalam sarang hantumu!"

Kata In Hong.

"Kami telah datang di sini, kami menghendaki dia lantas dimerdekakan! Tak dapat kau melambatkannya!"

Thian Touw pun kata.

"Jikalau gurumu berada di rumah, seharusnya dia sudah mendusin lantaran kaget! Bukankah baik urusan dapat dibereskan siang-siang? Maka itu aku minta sukalah dia keluar menemui kami?"

Kong Thian mengerutkan alis, ia mengasi lihat roman sukar.

"Majikanku telah memesan bahwa di waktu malam tidak dapat ia menemui orang,"

Ia kata.

"Tuan Hok, kaulah seorang pintar, maka itu mustahilkah kau tidak tahu aturannya untuk menemui orang dari tingkat terlebih tua? Baiklah kamu pulang dulu, untuk menulis karcis namamu, lalu besok kamu kembali."

"Jikalau begitu, memang sengaja Kiauw Pak Beng membawa lagaknya ini..."

Pikir Thian Touw. Ia tahu, perbuatannya ini di luar kebiasaan tetapi urusannya sangat penting. Ia pun mendongkol orang demikian bertingkah. Maka ia kata dingin.

"Sebenarnya aku tidak mempunyai sangkutan apa-apa dengan gurumu, dari itu tak usah kita bicara dari hal tingkat tua atau muda! Sekarang pun aku datang bukan sebagai orang tingkat lebih muda! Jikalau dia merdekakan orang yang kami minta, kami lantas berlalu,jikalau tidak, terpaksa kami mesti masuk untuk lantas memintanya!"

Kong Thian menjadi terdesak.

"Tuan Hok,"

Katanya.

"kau kira tempat ini tempat apa? Kau kira kau dapat main gila di sini?"

Thian Touw tidak menggubris lagi, sambil mengasi dengar ejekan "Hm!"

Ia bertindak maju, untuk menerobos masuk.

Kong Thian melintang di ambang pintu, bonekanya digeraki.

Atas itu, segera terdengar suara nyaring beberapa kali, bagaikan genta dipalu.

Sebab Thian Touw telah menggunakan pedangnya, menikam beberapa kali.

Kong Thian terdesak, ia main mundur.

Selagi suaminya maju, In Hong turut masuk.

Ia diikuti Kiam Hong.

Sesampainya mereka di dalam, di sana terlihat Law Tong Sun dan Tonghong Hek, yang baru datang.

Lantas si orang she Tonghong berseru.

"Di dalam dunia di mana ada tetamu begini jahat! Kita yang menjadi tetamu pun tidak senang melihatnya!"

Lantas dia menghunus pedangnya, untuk menyerang.

Thian Touw menekan boneka Kong Thian dengan sebelah tangan, dengan tangan kanannya ia memutar pedangnya, yang menjadi berkelebatan.

Tonghong Hek heran.

Belum pernah ia melihat gerakan pedang semacam itu.

Percuma ia menangkis berkelit, lantas ia kena ditikam enam atau tujuh kali.

Syukur untuknya, tikaman itu tidak melukakan parah, sebab tenaganya jago Thiansan itu dipakai juga mempengaruhi si manusia raksasa.

Dia jadi terluka lecet saja.

Hok Thian Touw bersilat dengan ilmu pedangnya yang baru berhasil diciptakan olehnya, sekali digeraki, gerakan itu terus berantai.

Maka itu meskipun tangan kirinya menjagai boneka, tangan kanannya bergerak dengan merdeka.

Tapi ia tidak cuma menyerang Tonghong Hek, ia juga terus menyerang Kong Thian.

Manusia raksasa itu tidak sudi membiarkan bonekanya ditekan, dia meronta, dia melawan, tetapi justeru itu, Thian Touw menyerang dia, hingga lantas jugajalan darahnya, jalan darah soanki, kena ditusuk, sedang Tonghong Hek, kena tertikam jalan darahnya, jalan darah yang leng.

Kong Thian menangkis dengan bonekanya.

Ia berhasil.

Dengan satu bentrokan, pedang Thian Touw dibikin mental.

Tapi inilah yang ditunggu jago Thiansan itu.

Menggunakan saat pedangnya mental, Thian Touw terus menikam Tonghong Hek!

Di saat si orang she Tonghong terancam bahaya, angin menyambar hebat ke arah Thian Touw.

Itulah serangan gelap.

Untuk membela diri, ia lantas menyampok ke belakang, kakinya ikut bergerak dalam gerakan "Naga mendekam mengisar."

Maka bebaslah ia dari sambaran, sebagaimana Tonghong Hek terhindar dari serangannya. Ternyata penolongnya Tonghong Hek ialah Law Tong Sun.

"Baru sepuluh tahun kita berpisah, nyata ilmu pedangmu jadi lihai sekali, tuan!"

Kata Tong Sun tertawa.

"Kau membuatnya orang sangat kagum!"

"Kepandaianmu Hun Kin Co Ku Ciu juga maju pesat sekali!"

Jawab Thian Touw dingin.

"Apa? Apakah benar kau hendak main-main dengan aku?"

"Tidak, aku tidak berani!"

Sahut Tong Sun, tertawa juga.

"Tapi aku menjadi tetamu di sini, tidak dapat aku membiarkan tuan rumahku terganggu pengacau! Saudara Hok, kaulah seorang terpelajar, kau mesti mengerti keadaan. Aku harap, kau datang lagi besok, nanti aku mewakilkan tuan rumah melayani kau secara pantas!"

"Menurut kata-katamu, jadinya malam ini kau hendak merintangi aku?"

Thian Touw tegaskan. Leng In Hong menjadi sangat gusar.

"Kau berkomplot dengan Kiauw Siauw Siauw!"

Ia membentak.

"Di dalam halnya Im Siu Lan diculik, kau ada bagianmu! Belum lagi aku mencari kau untuk membual perhitungan, sekarang kau berani menghalanghalangi kami!"

Lantas ia menggeraki pedangnya, maju berbareng bersama suaminya, untuk membukajalan.

Sebenarnya Tong Sun jeri terhadap Thian Touw, tetapi sekarang ia lagi mengambil hatinya Kiauw Pak Beng, maka dalam keadaan seperti sekarang, ingin ia membantu Pak Beng.

Ia juga merasa, di rumah Pak Beng ada kawan-kawannya yang lihai, sekalipun Pak Beng sendiri tidak keluar, tidak nanti pihaknya dapat dikalahkan suami isteri itu, maka ia membandel.

"Oleh karena kau tidak dapat memaafkan, Leng Lihiap, terpaksa aku si orang she Law berlaku kurang ajar terhadapmu!"

Katanya.

Lalu ia pun menggeraki dua tangannya.

Belum berhenti suaranya Tong Sun, pedangnya In Hong sudah meluncur ke dadanya.

Ia terkejut melihat berkilaunya sinar pedang itu.

Tapi ia tabah, lantas ia mengibas.

Ia berhasil membikin pedang nyasar ke samping, akan tetapi ujung bajunya kena terobek!

Selama di kuil tua, Tong Sun dapat melayani In Hong sama tangguhnya, dengan di sana ada Le Kong Thian dan Tonghong Hek.

ia percaya dapat Thian Touw dihalangi dua kawan itu, supaya ia bisa menempur si nyonya dengan satu lawan satu.

Akan tetapi ia telah tidak memperhitungkan ilmu pedang bersatu padu dari suami isteri Hok Thian Touw-Leng In Hong itu.

Setelah bertempur berendeng, dengan sendirinya ketangguhan In Hong naik empat lipat dan ketangguhan Thian Touw tiga lipat.

"Kena!"

Berseru Thian Touw selagi mereka bertempur seru, tengah sinar pedang berkelebatan.

Le Kong Thian menangkis dengan bonekanya, yang dibawa ke depan dadanya.

Ia bersiaga untuk pedang si pria.

Tapi di luar dugaannya, pedang si wanita yang meluncur ke arahnya, kesasaran yang ia tidak sangka sama sekali.

Ia baru kaget ketika ujung pedang si nyonya mampir di dengkulnya, hingga dengkul itu terluka, rasa sakitnya nelusup ke uluhatinya!

Demikian Iiehaynya ilmu pedang Thian Touw.

Seruannya itu ialah seruan untuk isterinya, bukan untuknya sendiri.

Law Tong Sun si licin segera dapat melihat ancaman bahaya.

Ia jeri untuk Iiehaynya musuh suami isteri itu, hingga segera ia mengambil keputusan tidak mengharapi jasa lagi, cukup asal dapat lolos dari bahaya.

Ia menggunakan kelincahannya, ia bergerak dengan cepat, hingga Thian Touw berdua tidak mau, atau tidak berniat, terlalu mendesaknya, karenanya dia tidak segera dirangsak.

Le Kong Thian payah benar karena terlukanya dengkulnya itu, dengan sendirinya tenaganya menjadi berkurang, saking terpaksa ia bertahan terus.

"Kena!"

Berseru In Hong setelah lewat lagi beberapa jurus.

Ia mengancam, tetapi bukan pedangnya yang terus bekerja hanya pedang Thian Touw dan ujung pedang ia ini menyambar kutung dua jeriji tangannya Tonghong Hek, yang tidak cukup sebat untuk serangan jago Thiansan itu.

In Hong sebaliknya, pedangnya mampir di pundak Kong Thian, hingga sekarang terpaksa si manusia raksasa berlompat mundur, untuk lari ke dalam.

Melihat koankee, kuasa rumah, dari Kiauw Pak Beng lari ke dalam, Tong Sun menurut buat tanpa bersangsi lagi, tanpa ayal pula.

"Bangsat tua, kali ini bagian kau!" (n Hong membentak. Tong Sun kaget. Ia merasakan hawa dingin menyambar punggungnya. Dengan lantas ia berkelit sambil menjatuhkan diri, untuk terus bergulingan. Ia menggunakan tipu silat "Yan Ceng Sippat Koan,"

Atau "Yan Ceng bergulingan delapan belas kali,"

Hingga sekejap saja ia telah dapat menyingkir tiga tombak lebih.

Meski begitu, ia tidak dapat melindungi rambutnya, yang kena terbabat kutung selagi ia berkelit menjatuhkan diri.

Hok Thian Touw mengejar.

"Kiauw Losianseng!"

Ia memanggil.

"Kau masih tidak mau keluar, apakah benar kau menghendaki kami menyerbu masuk?"

Le Kong Thian tidak sempat menutup pintu, terpaksa ia lari ke taman belakang di mana, di tengah-tengah, ada sebuah rumah besar di dalam mana, dari jendela, di antara sinar rembulan, terlihat samar-samar bayangannya Kiauw Pak Beng yang lagi duduk bersila.

Melihat demikian, kembali Thian Touw mengasi dengar suaranya.

"Kiauw Losianseng, silakan keluar!"

Mendadak dari dalam rumah itu berlompat keluar dua orang. Mereka itu gusar, mereka berseru.

"Hok Thian Touw, nyalimu besar! Bagaimana berani kau telah datang kemari? Tapi ini ada baiknya! Lolapjadi tak usah membuang waktu lagi akan pergi ke gunungmu!"

Thian Touw lantas mengenali, dua orang itu ialah Tek Seng Siangjin serta Kiok Ya Ciauw.

Tek Seng Siangjin mentaati perintahnya Kiauw Pak Beng pergi mengambil batu keehiatcio di Sengsiu Hay, waktu perjalanan tiga hari dia persingkat menjadi dua hari, maka juga di malam kedua dari Pak Bengbersemedhi, dia sudah kembali.

Karena dia pergi bersama Kiok Ya Ciauw, mereka pulang bersama.

Saking letih mereka lantas masuk tidur, sampai suara berisik di luar membuat mereka mendusin.

Mereka juga telah dikasih bangun pelayan mereka.

Demikian mereka lantas keluar, sampai mereka menghadapi musuh lama.

Liong Kiam Hong juga turut bertempur.

Ia menghajar beberapa pelayan, yang hendak mengepung.

Ada beberapa pelayan, yang melihat musuh-musuh demikian tangguh, mereka bersangsi untuk mengeroyok, mereka cuma mengawasi saja.

Tek Seng Siangjin boleh lihai akan tetapi dia bukan tandingan dari Hok Thian Touw dan In Hong, ditambah sekarang dia tengah letih, baru belasan jurus dia sudah terdesak.

Dia tadinya mengharap, dengan mengandal pada jumlah yang banyak, dia dapat bertahan lama.

Tidak tahunya, dugaannya itu meleset.

Le Kong Thian terluka, ia tidak dapat berkelahi terlebih jauh.

Tonghong Hek sudah "pecah"

Nyalinya, berkelahinya aksi saja.

Tinggal Kiok Ya Ciauw dan Law Tong Sun.

Tapi Tong Sun tetap dengan kelicikannya, dia lebih banyak membela diri daripada merangsak.

Kiok Ya Ciauw pun payah.

Dia telah kehilangan gembolannya, dia berkelahi dengan sebatang toya kuningan, senjata yang tak cocok untuknya.

Selagi bertempur itu, Thian Touw dapat mendekati Tek Seng Siangjin, yang ia terus serang.

Tek Seng membela diri, dia menangkis.

Justeru dia menangkis, dia pun diserang In Hong.

Dia terancam bahaya, karena mana dia menjadi nekad.

Dengan tangan kirinya, dia menyerang Nyonya Thian Touw.

Dia ingin mati bersama!

Di dalam halnya tenaga dalam, dia memang menang dari nyonya itu.

Maka kalau In Hong kena terserang, celakalah ia.

Tapi In Hong lihai, ia menunjuki kegesitannya.

Tek Seng melihat si nyonya menyerang ke kirinya, ke kiri dia mengirim hajarannya.

Di luar dugaannya, In Hong mengubah tujuan.

Dengan kepandaian yang mengagumkan, ia menahan serangannya itu, sebaliknya, di saat tangan orang tiba, ia meneruskan menyerang!

Bukan main kagetnya Tek Seng Siangjin, sia-sia belaka percobaannya menyelamatkan diri, jeriji tangannya kena juga tersambar buntung!

Menyusul jago dari Sengsiu Hay ini, Kiok Ya Ciauw pun menjerit keras dan toya kuningannya jatuh ke tanah.

Sebab ketika Hok Thian Touw gagal menyerang Tek Seng, pedangnya ditarik pulang sekalian diteruskan kepada orang she Kiok itu, maka lengan dia ditanya pedang, hingga dia kesakitan, dia menjerit, toyanya dilepas dengan terpaksa!

Law Tong Sun sudah mundur ke dalam pintu, Tek Seng Siangjin dan Kiok Ya Ciauw lari menyusul, untuk masuk juga.

Sekarang ini terpaksa mereka mundur, sebab ternyata, lawan mereka tangguh sekali.

Le Kong Thian berlaku cerdik, dengan tenaganya yang kuat, ia melemparkan dua buah meja saling susul, guna merintangi Thian Touw dan In Hong, menyusul mana dia lompat ke pintu, untuk digabruki, buat ditutup.

Thian Touw menjadi besar hatinya melihat ia dapat bekerja erat dengan isterinya, hingga musuh-musuh tangguh itu dapat dilukai dan dipukul mundur, dengan begitu ia dapat perasaan tak usahlah ia kuatirkan pula Kiauw Pak Beng yang lihai.

Begitulah, melihat pintu ditutup, dia menembrak dengan kedua tangannya.

Pintu terbuat dari kayu merah, tebalnya enam atau tujuh dim, tidak dapat itu digempur roboh.

"Baiklah kita cari alat yang tepat untuk menggempurnya,"

In Hong mengasi pikiran. Thian Touw setuju.

"Mari kita gunai pohon itu saja,"

Katanya.

Maka ia menghampirkan pohon yang ia tunjuk, yang berada di depan pintu.

In Hong setuju.

Lantas mereka bekerja sama, mencabut pohon itu.

Maka di lain detik, mereka sudah mulai menggempur daun pintu.

Disebelah dalam, Tek Seng Siangjin bertahan bersama-sama Law Tong Sun sekalian.

Mereka itu mengerahkan semua tenaga mereka.

Dalam pertempuran mereka kalah dari Thian Touw dan In Hong, akan tetapi sebenarnya, dalam hal tenaga dalam, Tek Seng menang daripada jago Thiansan itu, dan Law Sun dan Le Kong Thian menang daripadaNyonya Hok.

Dengan demikian, mereka dapat bertahan dengan baik.

Thian Touw dan In Hong merasakan tangan mereka nyer-nyeran, tak ada hasil gempuran mereka itu, dengan terpaksa mereka berhenti sendirinya.

"Siluman tua she Kiauw, kau sungguh tidak tahu malu!"

In Hong mendamprat saking mendongkol.

"Kenapa kau menjadi kura-kura yang menyimpan kepalanya? ---Mari kita menunggu, mustahil dia tidak keluar seumur hidupnya!"

Thian Touw heran akan sikapnya Pak Beng itu.

Mestinya orang dengan derajat sebagai jago tua itu tidak akan mengijinkan kehormatannya dinodai secara demikian.

Terang terlihat dia berada di dalam kamar, kenapa dia tetap tidak mau muncul?

Ia menduga mungkin Pak Beng lagi melatih diri, ia hanya tidak menyangka latihan itu ialah latihan istimewa.

Melatih diri dengan bersemedhi seperti Pak Beng itu, ada bedanya di antara kaum lurus dan kaum sesat.

Latihan menutup diri kaum lurus dapat ditunda, biarpun di saat gentingnya, saat itu tak lebih lama daripada satu jam atau lebih sedikit.

Pada pihak sesat, batas itu lebih lama dan mesti tepat juga, tidak dapat diganggu meski umpama kata satu detik.

Dalam kalangan kaum sesat itulah yang dibilang saat "bertemunya naga dengan harimau"

Atau "jungkir baliknya im dan yang."

Itu artinya, jalannya nadi bertentangan. Di saat bersemedhi begitu.

"orang melihat tak dapat melihat, dan mendengar tak dapat mendengar."

Maka juga, walaupun Hok Thian Touw mengamuk bagaikan "langit ambruk dan bumi gempa,"

Sedikitpun Pak Beng tak mengetahuinya.

"Si siluman tua tidak mau ke luar menyambut tantangan kita, apakah kita habis daya karenanya?"

In Hong tanya.

"Kita tidak dapat menggempur pintunya yang tangguh ini, bagaimana?"

Thian Touw balik menanya.

"Memang aneh sekali! Kenapakah Kiauw Pak Beng tidak sudi melayani kita bertempur?"

"Karena ini, baiklah kita jangan perdulikan dia,"

In Hong mengasi pikiran.

"Sekarang baik kita cari dulu Im Siu Lan guna menolongi dia."

"Tidak nanti Siu Lan berada bersama Pak Beng dalam kamarnya itu, baiklah kita mencari di lain kamar,"

Kiam Hong menyarankan.

"Kurang tepat tindakan itu,"

Thian Touw bilang.

"Lawan kita Kiauw Pak Beng, kenapa kita mesti mengganggu anggauta-anggauta keluarganya?"

Jago Thiansan ini tetap masih mengukuhi sifatnya, untuk menghormati aturan Rimba Persilatan, supaya tetap ia berurusan dengan Kiauw Pak Beng seorang.

"Entah sampai kapan siluman tua she Kiauw itu muncul."

Berkata In Hong.

"Menurut aku baiklah kita mencari di lain-lain bagian rumah ini. Bicara tentang peri kepantasan, Kiauw Siauw Siauw sendiri yang mulai menculik orang, yang dia bawa lari ke atas gunungnya, maka itu dialah yang lebih dulu bersalah. Kiauw Laokoay tidak mau keluar, dari itu menghadapi Kiauw Siauw Siauw yang jahat itu, perlu apa kita pakai aturan lagi?"

Thian Touw ketahui, tanpa berhasil menolongi Im Siu Lan, isterinya itu tidak nanti mau pulang, maka terpaksa ia menuruti kehendak isteri itu.

Tapi tetapi ia memakai aturan, maka ia berkata dengan nyaring.

"Kiauw Locianpwee, jikalau tetap kau tidak mau keluar, terpaksa kami hendak menggeledah rumahmu ini!"

Berisik suara itu tetapi dari dalam tidak ada jawabannya. Melihat kelakuan suaminya itu, In Hong mendongkol berbareng merasa lucu.

"Dengan kau membikin banyak berisik ini."

Katanya tertawa.

"pastilah adik Im itu lantas mereka sembunyikan, hingga dia jadi semakin sukar dicari!"

Tapi mereka berjalan terus. Baru beberapa tindak, mendadak Thian Touw berhenti.

"Lebih baik aku jangan mencari..."

Katanya.

"Eh, kenapakah?"

Tanya In Hong heran.

"Kamu yang masuk sendiri, menggeledah."

Sahut suami itu.

"Jikalau kamu menghadapi musuh tangguh, baru kamu berteriak memanggil aku. Aku akan berdiam di sini menantikan Kiauw Pak Beng."

Thian Touw tetap seorang terhormat, walaupun di rumah musuh, tidak mau ia mengacau aturan sopan santun. Tidak berani ia lancang masuk ke dalam rumah orang. In Hong tertawa.

"Kau banyak sekali pantangannya!"

Katanya tertawa.

"Baiklah, kau berdiam di sini menantikan Kiauw Pak Beng. Jikalau ada terjadi sesuatu di luar dugaan, kita saling bersiul sebagai pertanda!"

Lantas In Hong mengajak Kiam Hong.

Mereka berdua pun masih berpisahan.

Ia sendiri pergi ke sebelah selatan, dan Kiam Hong sebelah barat.

Begitu memasuki sebuah lorong dan mengkol, Kiam Hong membekuk seorang bujang perempuan, yang lagi lari dengan ketakutan.

"Di mana disembunyikannya si nona she Im?"

Ia menegur.

"Lekas bicara!"

Dalam takutnya, bujang itu menggoyangi kepala.

"Aku tidak tahu,"

Sahutnya.

"Kiauw Siauw Siauw ada di kamar mana?"

Kiam Hong tanya pula.

"Aku budak yang melayani Jinio,"

Berkata bujang itu.

"Semenjak tuan muda pulang, belum pernah dia datang ke kamar nyonyaku."

"Baik. sekarang kau bawa ke kamar nyonyamu itu!"

Perintahnya. Bujang itu tidak berani berbantah, ia lantas mengantari. Tiba di depan sebuah kamar, ia memanggil dengan suaranya bergemetar.

"Jinio!"

Dengan lantas pintu dibuka.

Begitu lekas juga Kiam Hong nerobos masuk dengan pedang terhunus.

Di dalam situ ada seorang wanita muda dengan dandanan perlente sekali, dia kaget hingga dia berseru tertahan, setelah mana, dia maju, untuk merampas pedang Nona Liong.

Dia mengerti silat tetapi diakalahjauh dari nona ini, justeru tangannya menyambar, tangan itu disambar pula.

Maka lantas saja dia kena dicekal Kiam Hong, terus dadanya diancam ujung pedang.

"Mana Siauw Siauw?"

Kiam Hong tanya, bengis.

"Lekas bilang!"

Nyonya itu kaget dan ketakutan. Ujung pedang telah membikin pecah dan melowek baju di dadanya, hampir kulitnya kena disentuh.

"Di... dia tidak ada padaku di sini,"

Sahutnya gemetar.

"Kalau... kalau kau mau tanya... pergilah kau tanya si siluman rase!..."

"Siluman rase apa?"

Tanya Kiam Hong.

"Dia maksudkan Samnio,"

Kata si budak. Kiam Hong segera mengerti, kedua gundiknya Siauw Siauw pastilah bersaing satu dengan lain, dan yang berhasil merampas hatinya Siauw Siauw ialah si "siluman rase"

Itu, gundik yang nomor tiga. yang dipanggil Samnio itu.

"Bawalah aku kepada siluman rase itu!"

Katanya seraya ia telikung Jinio, si gundik yang kedua.

Gundik itu takut, ia menurut.

Kiauw Siauw Siauw memang berada di dalam kamarnya Samnio di mana dia mengurung Siu Lan.

Dia tahu perihal datangnya Hok Thian Touw dan Leng In Hong, dia lantas mengurung diri, kamarnya dikunci eraterat.

Sementara itu, hatinya makin panas terhadap Nona Im, maka itu dia totok urat gagunya Siu Lan, dia menyiksanya.

Siu Lan sangat menderita tetapi terus membungkam.

Tiba-tiba terdengar Jinio mengetuk pintu dan memanggil.

"Adik. buka pintu!"

Ia memanggil adik kepada madunya itu. Kiauw Siauw Siauw gusar sekali. Ia mengenali suara gundiknya itu.

"Di waktu begini kau masih menggerecoki aku!"

Bentaknya.

"Baik! Bukakan dia pintu! Hajar dia!"

Dia menyangka sang gundik datang untuk berebut suami.

Pintu segera dibuka oleh Samnio.

Kiam Hong menolak tubuhnya Jinio, maka gundik ini terjerunuk ke dalam, membentur madunya, hingga mata Samnio berkunangkunang.

Saking gusar, dia menampar seraya dia mencaci.

"Budak tidak tahu malu! Berani kau datang kemari memperebuti suami?..."

Lalu mendadak dia berhenti dengan tercengang.

Menyusul Jinio terlihat Kiam Hong dengan pedang terhunus di tangan.

Dia tidak kenal nona itu, tapi dia kaget dan tercengang karenanya.

Kiam Hong tidak mensia-siakan waktu.

Ia lompat masuk sambil terus menikam Siauw Siauw.

Anaknya Kiauw Pak Beng pun kaget, tetapi dia tabah, dengan sebelah tangan mengempit tubuh Siu Lan, tangan kanannya menyambar ciaktay, tempat menancap lilin, untuk menangkis.

Kiam Hong menyontek, membikin ciaktay mental ke samping, lalu terus ia menikam pula.

Ia mengincar tenggorokannya si anak muda.

Siauw Siauw cerdik dan telengas sekali.

Dia bukan berkelit, hanya dia menangkis.

Dia bukan menggunakan ciaktay ditangan kanan, dia justeru mengajukan tubuhnya Siu Lan, untuk dijadikan semacam tameng.

"Baik, kau tikamlah!"

Dia mengejek, tertawa dingin.

"Kau tikamlah!"

Syukur Kiam Hong gesit.

Ia batal menyerang.

Sambil dengan pedangnya ia mengancam, dengan tangan kirinya ia menyambar tubuh Siu Lan.

Siauw Siauw cerdik, dia menarik pulang.

Hanya ketika dia didesak, kupingnya kena digaplok dua kali!

Samnio berada di belakang Nona Liong, mendadak ia menyerang dengan pisau belati di tangan.

Ia juga mengerti sedikit ilmu silat seperti Jinio, bahkan ia terlebih lihai.

Kiam Hong ketahui ada bokongan, ia menyabet ke belakang dengan pedangnya.

Samnio berkelit seraya membungkuk, lalu ia meneruskan menikam ke kaki nona kita.

Nona Liong menjadi mendongkol.

Ia mengelit kakinya seraya lantas diteruskan, untuk mendupak tangan si gundik, hingga pisaunya terlepas dan jatuh.

Sebaliknya, ujung sepatu bergerak, mampir di jidat, hingga jidat itu borboran darah.

Baru setelah itu, kaget dan sakit, Samnio berlompat minggir.

Ketika itu Siauw Siauw sudah lompat mundur ke belakang, tubuhnya nempel pada tembok.

"Budak hina, akan aku ingat baik-baik dua gaplokanmu ini!"

Dia kata sengit.

"Nanti setelah lukaku sembuh, akan aku membikin perhitungan denganmu!"

Lantas tangannya meraba ke tembok di belakangnya itu, atas mana maka terpentanglah sebuah pintu rahasia ke dalam mana ia nyeplos masuk sambil membawa Siu Lan.

Cuma sedikit, pintu lantas tertutup rapat pula!

Kiam Hong tercengang, lalu ia menjadi gusar.

Ia maju, ia menolak pintu itu.

Tidak ada hasilnya!

Pintu keras, tak dapat dibuka dengan melainkan ditolak.

Bukan main menyesalnya ia.

Maka ketika ia membalik tubuh, ia menuding Samnio.

"Lekas buka pintu ini!"

Ia membentak.

"Jikalau Siauw Siauw tidak dapat dibekuk, aku nanti rampas jiwamu!"

"Pintu rahasia ini tidak dapat dibuka lagi,"

Sahut Samnio.

"Dia telah menutupnya dari sebelah dalam di mana ada jalannya dalam tanah! Kau bunuh saja aku..."

"Jikalau ada jalanan dalam tanah tentu ada jalanan keluarnya!"

Kata Nona Liong.

"Lekas bawa aku ke itu jalanan keluar!"

"Jalanan keluar di dalam tanah cuma diketahui dia dan ayahnya bersama Le Kong Thian,"

Samnio mengasi keterangan.

"Biarnya aku dibunuh, tidak ada gunanya!"

Kiam Hong sudah mengangkat pedangnya, akhirnya tak tega ia membunuh gundik orang itu, maka untuk melampiaskan kemendongkolannya, ia menggaplok beberapa kali.

Sampai di situ, ia kembali keluar.

Ia menemui In Hong berada bersama bujang-bujang.

Nyonya Thian Touw juga mencari dengan sia-sia dalam kamar-kamar di sebelah barat itu, di sana adalah kamar-kamar bujang-bujang, maka ia menggiring mereka itu keluar, untuk memeriksa mereka satu demi satu, guna mendapat tahu di mana Siu Lan disembunyikannya.

"Sudahlah, tak usah memeriksa mereka lagi,"

Berkata Kiam Hong.

"Adik Siu Lan sudah dibawa pergi oleh Siauw Siauw, yang dari pintu rahasia masuk ke dalam jalan dalam tanah di dalam rumahnya ini!"

Dan ia menuturkan pengalamannya barusan. Mulanya In Hong melengak, lantas ia tertawa. Matanya pun memain.

"Dia membawa Siu Lan lari ke dalam jalan rahasia"

Katanya "kita dapat pakai jalan rahasia itu untuk terus menghajar Kiauw Pak Beng!"

"Mereka tidak tahujalanan rahasia itu,"

Kiam Hong bilang.

"Tidak apa. Kita suruh mereka ini menggali sampai ke jalan dalam tanah itu!"

Ketika itu cuaca sudah terang.

"Kiauw Locianpwee!"

Berkata Thian Touw nyaring. Ia seperti tidak memperdulikan kata-katanya isterinya itu.

"Bukankah sekarang dapat kau menemui tetamutetamumu?"

Dari dalam tetap tidak ada suara jawaban.

"Tentang maksud kedatangan kami, locianpwee sudah mendapat tahu,"

Berkata pula Thian Touw.

"maka itu andaikata tetap kau tidak mau menemukan kami, aku minta supaya Nona Im Siu Lan diserahkan pada kami!"

Tetap tidak ada suara dari dalam rumah itu. Baru sekarang jago Thiansan itu menjadi gusar.

"Kau tidak sudi menemui kami, kau juga tidak suka menyerahkan Nona Im!"

Katanya sengit.

"Maka janganlah kau mengatakan kami tidak tahu aturan! Kami hendak membongkar rumahmu ini!"

Dalam murkanya itu, Thian Touw memutar tubuh kepada isterinya.

"Tidak ada jalan damai lagi!"

Ia berseru. Terus ia memerintahkan.

"Kamu galilah!"

In Hong dan Kiam Hong juga memberikan perintahnya, maka itu, kawanan bujang itu lantas bekerja.

Mereka menggunakan golok dan pedang untuk membongkar lantai, buat menggali tanah.

Kiam Hong geli sendiriannya, sembari tertawa ia kata.

"Aku sungguh tidak menyangka si siluman tua she Kiauw tidak berani muncul! Sekarang kita jadi dapat ketika untuk beristirahat. Mari kita mencari barang makanan!"

Usul ini diterima baik, lantas mereka bergiliran menjaga dan mengepalai kawanan bujang itu, untuk mereka bergantian masuk ke dalam, untuk berdahar.

Ketika Kiam Hong muncul, dia membawa beberapa buah pacul untuk dipakai oleh kuli-kuli sembatan itu, hingga pekerjaan mereka menjadi terlebih cepat.

Mendekati tengah hari, orang telah menggali liang dalamnya tiga tombak.

Mendadak kawanan bujang itu berhenti bekerja, terus mereka mengangkat seorang wakil, untuk memberitahukan.

"Masih ada tanah sekira satu kaki, setelah itu digali maka akan terdapat jalan dalam tanah itu. Kami minta kamulah yang menggali meneruskan."

"Kenapa begitu?"

Tanya In Hong gusar.

"Mungkin mereka takut pada majikan mereka"

Kata Thian Touw yang sabar.

"Mereka sudah bekerja berat, tidak apa mereka boleh dikasih ampun."

Ia benar-benar membubarkan mereka, setelah mana iamenyambuti pacul, untuk masuk ke dalam lubang galian itu. Ia memacul tak lama lantas di atasan mereka terlihat sebuah lowongan mirip guha.

"Hati-hati!"

Ia berseru selagi In Hong dan Kiam Hong mau lompat memasuki lubang itu.

Tapi belum berhenti suaranya itu, dari atas telah jatuh dua biji bola besi.

Syukur ia celi matanya dan sebat, ia menyambuti setiap bola itu, untuk segera ditimpukkan ke atas, sesudah mana ia menghunus pedangnya, berbarengan bersama In Hong, ia berlompat naik, gerakan mereka itu ialah yang dinamakan "Yancu coanlian,"

Atau "Burung walet terbang menembusi kere."

Begitu lekas mereka berada di atas, mereka disambut pelbagai macam senjata rahasia maka mereka terus memutar pedang mereka, untuk menyapu semua itu.

Paling belakang mereka menangkis golok dan gembolannya Tek Seng Siangjin dan Kiok YaCiauw!

Segera setelah sampai di atas, suami isteri ini mendapatkan sebuah ruangan yang besar di mana terlihat Tek Seng Siangjin dan Kiok Ya Ciauw berkumpul bersama-sama Le Kong Thian dan Law Tong Sun.

Mereka itu mengambil sikap mengurung.

Kawanan bujang tadi cerdik.

Mereka bukan menggali tanah ke arah kamar di mana Kiauw Pak Beng lagi bersamedhi meyakini ilmu kepandaiannya, mereka sengaja ambil arah ruangan tengah yang besar itu.

Inilah bagus buat Kiauw Pak Beng, kalau tidak, mungkin dia bercelaka.

Sebelum sampai batas waktu samedhinya, dia tetap tidak dapat bergerak, dia tak dapat membuat perlawanan.

"Kiauw Pak Beng!"

Thian Touw berkata "apakah sampai ini waktu kau tetap tidak mau keluar?"

"Hok Thian Touw, kau kurarg ajar,"

Le Kong Thian menegur.

"Sebentar kau nanti tahu rasa."

Untuk membelai majikannya, koankee ini menjadi nekad, dengan bonekanya ia lantas menyerang jago Thiansan itu.

Thian Touw heran bukan main.

Entah kenapa Kiauw Pak Beng dengan sikapnya yang aneh itu.

Ia berpikir.

"Le Kong Thian ini muridnya yang dia paling sayang, Le Kong Thian sudah terluka parah, mengapa dia membiarkannya saja dia tetap tidak mau keluar menyambut! tantangan? Mungkinkah dia tega mengantapkan muridnya ini terbinasa?"

Tengah ia berpikir itu, serangan datang, tetapi In Hong yang mewakilkan menangkis, setelah mana, si nyonya terus membalas menyerang.

Sekonyong-konyong Thian Touw menahan serangan isterinya.

In Hong heran.

Justru itu, Tek Seng Siangjin maju menyerang.

Thian Touw menangkis dengan pedangnya membikin golok penyerangnya itu mental, la lantas kata.

"Kitatunggu lagi setengahjam, jikalau tetap Kiauw Pak Beng tidak muncul, itu waktu baru kita membuka pantangan membunuh!"

Mendengar demikian, Le Kong Thian mengangkat boneka kuningannya dan berkata dingin.

"Lagi setengahjam? Apakah kamu kira itu waktu kamu masih memiliki jiwamu? Lebih baik siangrsiang saja kau menyingkirkan diri!"

Sebenarnya itu tengah hari adalah batas waktu penghabisan dari selesainya peryakinan ilmu atau penutupan diri Kiauw Pak Beng, sengaja Le Kong Thian mengatakan demikian sebab ---biar bagaimana ---ia bersyukur yang Thian Touw sudah tidak membinasakan padanya.

Dengan itu ia jadinya hendak memberi kisikan.

Hati Thian Touw bercekat, hanya sebentar, lantas dia tertawa lebar dan kata nyaring.

"Kami datang dari tempat yang jauh! Tanpa kami menemui majikanmu, mana dapat kami lantas kembali pulang? Maka janganlah kau berkuatir untuk kami, jikalau kamu mempunyai kepandaian, kamu keluarkanlah semuanya!"

In Hong dapat melihat kamar bersamedhi Kiauw Pak Beng.

"Untuk sementara waktu dapat kita menunda pantangan membunuh,"

Ia kata pada suaminya.

"tetapi perlu apa kita menanti sampai setengah jam? Sekarang juga kita boleh gusur keluar siluman tua she Kiauw itu!"

Thian Touw kena terdesak isterinya, maka bersama sang isteri, ia lantas maju ke arah kamarnya si jago tua.

Le Kong Thian menjadi mata merah, dengan bonekanya ia mencegah.

Tek Seng Siangjin, Law Tong Sun dan Kiok Ya Ciauw pun menjadi bergelisah, terpaksa mereka maju mengepung guna merintangi sepak terjangnya sepasang suami isteri itu.

Karena ini, mereka jadi bentrok, dua melawan empat.

Biar bagaimana, ke empat orang itu ialah orang-orang yang lihai, maka rangsakannya In Hong dan Thian Touw kena juga terhalang.

Kiam Hong muncul paling belakang dari lubang bongkaran, ia lantas menceburkan diri dalam pertempuran kacau itu.

Ia memilih Kiok Ya Ciauw yang paling lemah di antara ke empat musuh.

Sekarang ini Kiok Ya Ciauw menggunakan sepasang gembolan besi, meskipun itu tak sama dengan gembolan emasnya, toh masih lumayan dibanding dengan toya.

Maka itu dapat ia melayani si nona dengan sama tangguhnya.

Tek Seng bertiga Kong Thian dan Tong Sun mengepung suami isteri itu.

Kong Thian telah terluka parah.

Tek Seng sendiri sudah sapat dua jeriji tangannya.

Cuma Tong Sun, yang tidak terluka.

Tetapi, dengan mengambil waktu, mereka bertiga kena j uga terdesak.

In Hong sangat jemu terhadap si orang she Law, ia mendesak luar biasa hebat.

Tengah bertarung seru itu, mendadak Hok Thian Touw berseru.

"Kena!"

Itulah isyaratnya.

Ia menyerang si orang she Law.

Isterinya segera menyambut pertanda itu.

Dalam sekejap saja, Tong Sun sudah tertikam tujuh atau delapan kali, sia-sia belaka ia membela diri.

Untungnya ia dapat membuang diri dengan bergulingan ke pojok ruangan di mana ia lantas menyenderkan diri.

napasnya mengorong.

Ia telah berubah menjadi seorang orang darah!

Setelah mereka tinggal berdua, juga Le Kong Thian dan Tek Seng Siangjin telah mesti merasai ujung pedangnya suami isteri itu, rangsakan siapa mereka tak dapat cegah, hingga hebatlah keadaan mereka.

Kong Thian terluka hebat, di dada, di punggung, di tangan dan dikaki.

Lukanya itu berlubang atau melintang.

Dia menjadi tak gesit lagi gerak-gerakannya, sukar untuk berlompatan secara lincah.

Tapi meski dia telah mandi darah, dia tidak mau mundur!

In Hong berpikir.

"Le Kong Thian jahat tetapi dia sangat setia kepada gurunya, jaranglah orang sebagai dia!"

Karena ini, ia tidak mendesak hebat seperti semula.

Hanya untuk melukai lebih jauh, itulah sukar.

Sebab si manusia raksasa masih selalu bisa membela dirinya dengan bonekanya.

Tepat tengah mereka bertarung seru dari dalam kamarnya Kiauw Pak Beng terdengar seruannya orang she Kiauw itu.

Seruan itu keras, mirip dengan "naga mengalun di laut besar atau harimau menderum di lembah kosong."

Tanpa disengaja, Thian Touw dan In Hong menghentikan penyerangannya.

Lantas suara itu disusul dengan suara gempuran pintu.

Le Kong Thian terkejut berbareng girang, tetapi toh dia berkata pada jago dari Thiansan.

"Hok Thian Touw, apakah kau masih tidak mau pergi menyingkirkan dirimu?"

Perlahan suaranya, seperti suatu pemberian ingat.

Thian Tonw seorang ahli, mendengar suara itu, ---suaranya Kiauw Pak Beng, ---mengertilah ia bahwa Pak Beng telah menyelesaikan peryakinannya atas suatu ilmu tenaga dalam.

Ia berpikir.

"Dia telah berseru, lantas dia berdiam, sekarang tentulah telah tiba saatnya dia menemui orang."

Benarlah dugaan itu, dengan tergempurnya pintu, Kiauw Pak Beng sudah lantas lompat keluar dari kamarnya.

Dengan selesainya samedhinya, dia sadar, maka dia dapat melihat dan mendengar, hingga dia dapat menduga apa yang telah terjadi.

Dia menjadi gusar sekali.

Wajah jago Siulo Imsat Kang ini bercahaya dan bengis, sepasang matanya tajam berpengaruh.

Dari Thian Touw dan In Hong, dengan matanya itu ia menyapu kepada Le Kong Thian.

Kemudian ia ambil bonekanya itu pengurus rumah tangga atau muridnya untuk mengulapkan tangan dan berkata.

"Di sini tidak ada urusan kamu lagi! Kamu semua mundurlah!"

Kong Thian dapat membade maksud gurunya itu.

Dia terluka, gurunya murka, lantas guru itu hendak menuntut balas untuknya untuk itu si guru hendak menggunakan senjatanya Tapi dia ingat budinya Thian Touw, dia berkuatir untuk jago Thiansan itu.

Biar bagaimana dia tidak dapat minta keampunan dari gurunya untuk Thian Touw, terpaksa dia mengundurkan diri juga.

Tek Seng Siangjin bertiga Law Tong Sun dan Kiok Ya Ciauw, turut mundur juga.

Mereka jalan dengan pincang dan terhuyung, untuk pergi ke belakang, buat mengobati diri.

Kiauw Pak Beng lantas melirik.

"Sungguh gagah!"

Katanya kemudian, perlahan.

"Hok Thian Touw, kau rupanya telah selesai dengan penciptaan ilmu pedangmu?"

"Aku bukanlah itu orang yang berani banyak tingkah mempertontonkan kejelekan diri,"

Menyahut jago Thiansan, tenang.

"Sebenarnya kami datang kemari untuk minta bertemu dengan kau, apamau muridmu dan sahabat-sahabatmu telah merintangi kami maka terpaksa kami menerobos masuk kemari."

"Hra!"

Mengejek Pak Beng, suaranya dingin.

"Kamu suami isteri sudah melukai orang, apakah di mata kamu masih ada Kiauw Pak Beng lagi? Aku mau lihat apakah benar dengan mengandalkan pedang kamu, dapat kamu malang melintang di kolong langit ini!"

In Hong sengit maka ia berseru.

"Kamu berdua ayah dan anak, kamu sudah menculik Im Siu Lan, yang kamu bawa lari ke atas gunung kamu ini, kamu pun menyiksa dia, maka cara bagaimana kau berani berbalik mengatakan kami?"

Thian Touw pun kata, sabar.

"Kiauw Losianseng, kau serahkanlah Nona Im Siu Lan kepada kami, untuk kami mengajaknya pulang, nanti aku si orang she Hok memberi hormat kepadamu dan menghaturkan maaf."

"Mantu ialah mantuku sendiri, apakah dapat kamu mengurus dia?"

Kiauw Pak Beng tanya.

"Muka tebal!"

In Hong membentak.

"Kau bawa Im Siu Lan kemari, kau tanya dia di depan kita, dia kesudian atau tidak menjadi nona mantumu?"

"Kiauw Losianseng,"

Thian Touw pun berkata pula "apakah kau berkukuh tidak sudi menyerahkan nona itu kepada kami?"

Kiauw Pak Beng mengangkat boneka kuningannya.

"Jangan banyak omong!"

Katanya seram.

"Majulah!"

In Hong habis sabar, maka ia lantas maju dengan tikamannya.

Kiauw Pak Beng menggeraki bonekanya, melihat mana Thian Touw kaget, maka ia pun lantas maj u.

Dari itu segera terdengar dua kali suara bentrokan keras dua batang pedang mengenai anak-anakan yang terbuat dari kuningan itu.

Sebagai akibatnya itu, ketiganya kaget masing-masing, mereka pada berpisah.

In Hong merasakan tangannya sakit dan nyer-nyaran, dan Kiauw Pak Beng terpaksa mundur beberapa tindak.

"Bagus,"

Berseru Pak Beng seraya dia maju pula, menyapu dengan bonekanya.

In Hong dan Thian Touw berlompat berkelit, terus mereka maju merangsak, untuk menyerang, karena senjata mereka bentrok pula hingga berulang-ulang.

Thian Touw hebat, selagi orang mundur, ia mendesak, pedangnya bekerja ke bawah, sedang In Hong menyerang ke atas, ke mata!

Hebat serangan sepasang suami isteri ini, yang pedangnya telah bersatu padu.

Kiam Hong menonton, sendirinya hatinya berdebaran.

Ia percaya pedangnya Thian Touw itu bakal berhasil, tetapi siapa tahu Pak Beng dapat memukulnya hingga mental!

"Sayang!"

Katanya dalam hati.

Thian Touw kagum.

Tidak ia sangka, dalam waktu demikian pendek, cuma satu tahun Kiauw Pak Beng telah memperoleh kemajuan begitu pesat.

Di pihak lain, Pak Beng tidak kurang kagumnya.

Ia merasakan hebatnya ilmu pedang sepasang suami isteri itu.

Oleh karena ini, kedua pihak tidak berani berlaku sembrono, lantas mereka bertarung pula dengan waspada, masing-masing mengeluarkan tipu-tipu silat mereka yang istimewa.

Maka beterbanganlah boneka dan berkilauanlah sepasang pedang...

Tengah bertarung lebih jauh, tiba-tiba Hok Thian Touw merasakan hawa dingin sekali, yang tersalurkan dari pedangnya sampai kepada telapakan tangannya, hingga tanpa merasa ia menggigil.

Ia lantas ingat kepada Siulo Imsat Kang dari lawannya itu.

Memang, di waktu mau mendaki gunung, bersama isterinya ia sudah makan Pekleng Tan, pel yang terbuat dari soatlian, teratai salju.

Obat itu bukan obat yang tepat tetapi chasiatnya soatlian yaitu melawan pelbagai macam racun, karenanya diharap sedikitnya dapatlah rasa dingin Siulo Imsat Kang dilawan, agar tenaga dalam mereka tak sembarangan tergempur.

Siapa tahu, hebat ilmunya Kiauw Pak Beng, yang sudah mencapai tingkat ke delapan.

Syukur untuk suami isteri ini, ilmu pedang mereka sudah mencapai puncaknya kemahiran, dibantu perlawanan soatlian, mereka dapat bertahan hingga Siulo Imsat Kang tak dapat digunai sepenuhnya, sebab Kiauw Pak Beng pun mesti waspada luar biasa.

Cara menyerangnya jago tua she Kiauw itu ialah "Kekbut toankong" ---menyerang memakai benda sebagai saluran atau perantaraan --maka itu juga, hawa dinginnya tersalurkan pedangnya Thian Touw, tetapi lantaran kokohnya tenaga dalam Thian Touw, dia tidak lantas dapat berbuat banyak.

In Hong kalah mahir tenaga dalamnya dibanding dengan suaminya, akan tetapi di samping kekurangan itu, ia pernah memperoleh petunjuk dari Thio Tan Hong dan juga pernah membaca kitab "Hiankong Yauwkoat"

Pemberian jago she Thio itu, karena itu, ia pun telah mendapat kemajuan yang berarti, hingga meskipun ia merasa dingin seperti dirasakan suaminya ia turut dapat bertahan.

Di dalam hatinya Kiauw Pak Beng heran dan kagum terutama terhadap In Hong.

Ia tidak pernah menduga bahwa juga nyonya ini telah maju bagus sekali.

Oleh karena ini, ia lantas menggunakan siasat.

Satu waktu ia perkeras desakannya, di lain ketika ia memperlunaknya, ia membikin kendor.

Dengan ini ia memancing sambutan dari suami isteri itu.

Siulo Imsat Kang berarti tenaga disusun, setingkat demi setingkat, tenaganya semakin besar, oleh karena itu, tidak perduli lihai ilmu pedang suami isteri dari Thiansan itu, setelah bertempur sekian lama, lama-lama mereka kalah angin juga.

Hanya luar biasa tampaknya.

Di luar, Kiauw Pak Beng seperti terdesak.

Di dalam, Thian Touw dan In Hong yang terdesak.

Le Kong Thian datang menonton pertempuran sesudah ia membalut lukanya ia muncul dengan membawa sebatang tongkat.

Ia kaget ketika mula-mula ia menyaksikan rangsakan pedang Thian Touw dan In Hong, tetapi selang sekian lama, ia lantas dapat melihat tegas adalah sepasang suami isteri itu yang mulai letih.

Ia bahkan mau menduga, selang lagi setengah jam, gurunya bakal mendapatkan kemenangan sepenuhnya...

"Jikalau mereka tidak mati lantas, mereka tentulah akan sakit merojan,"

Pikir Le Kong Thian. Dia pernah mempelajari pokoknya Siulo Imsat Kang, dia ketahui lihainyailmu silat Pak Beng itu. Dia menghela napas berduka, katanya pula dalam hatinya.

"Hok Thian Touw, Hok Thian Touw, siapa suruh kau tidak sudi dengar nasihatku? Sekarang ini tidak ada lain jalan bagiku daripada bersedia untuk nanti mengubur jenazah kau sepasang suami isteri. untuk membalas budi kamu telah tidak membinasakan aku... Selagi Kong Thian masgul itu, medadak ia mendengar gurunya tertawa terbahak dan berkata nyaring.

"Tahan!"

Guru itu terus lompat keluar kalangan, untuk menghentikan pertempuran.

Ia menjadi heran, ia lantas mengawasi, untuk mengetahui apa maksudnya guru itu, atau apa yang menyebabkan sikap aneh itu.

Hok Thian Touw dan In Hong yang tengah terdesak itu, turut menjadi heran.

Mereka pun mengawasi.

Kiauw Pak Beng tertawa pula kali ini untuk berkata.

"Benarlah peribahasa, gelombang sunga Tiangkang yang di belakang mendorong yang di depan, dan orang baru menggantikan orang lama. Tidak disangka olehku si orang tua, di sampingnya Thio Tan Hong sekarang aku menemui lawan-lawan tangguh! Hok Laotee, kau sudah berhasil menciptakan Thiansan Kiamhoat, sungguh luar biasa! Hok Laotee. kau harus di puji dan diberi selamat!"

Biar bagaimana, Kiauw Pak Beng ialah seorang ahli silat terbesar, maka itu, dipuji oleh jago tua itu, hati Thian Touw puas karenanya ia menjadi terlebih sungkan lagi terhadap lawannya ini.

"Kiauw Losianseng, kepandaianmu pun luar biasa, aku yang muda kagum terhadapmu!"

Ia membalas memuji. Leng In Hong sebaliknya mengerutkan alisnya.

"Kiauw Pak Beng!"

Ia tanya.

"kau hendak melanjuti pertempuran ini atau kau suka menyerahkan Im Siu Lan?"

"Ya, benar,"

Berkata Thian Touw, seperti disadarkan.

"Sekarang lebih dulu kita bereskan urusan kita setelah itu baru kita omong tentang ilmu silat."

Kiauw Pak Beng menggeleng kepala.

"Menurut pikiranku, lebih baik kita bicara dulu tentang ilmu silat!"

Katanya.

"Habis kita bertanding baru kita bicarakan urusan kita!"

Jawaban itu membuat Thian Touw mengerutkan alisnya Segera ia berdiri berendeng dengan isterinya. Pedang mereka pun lantas disiapkan.

"Kalau begitu, baik kita menggunakan aturan Kangouw!"

Jago Thiansan ini berkata.

"Losianseng, silakan kau memberi petunjuk kepada kami!"

Kiauw Pak Beng tertawa, ia menggoyang-goyang tangannya.

"Sabar, jangan tergesa-gesa,"

Katanya.

"Hari ini kita sudah bertempur lama kita sudah letih. Bagaimana jikalau dilanjuti besok?"

Kamu pun sudah melakukan satu pertempuran hebat sekali, dari itu, tidak sudi aku mengambil keuntungan dari keletihan kamu itu."

Ia sengaja mengeluarkan napas capai, ia kata pula.

"Bicara terus-terang. aku pun sudah merasa letih sedikit, tenagaku tidak dapat menuruti hatiku! Baiklah kita samasama beristirahat, setelah segar dan bersemangat, baru kita dapat mengeluarkan kepandaian kita! Setujukah kamu?"

In Hong menjadi heran sekali.

"Losianseng benar."

Kata Thian Touw seraya menyimpan pedangnya.

"Karena losianseng suka memakai aturan Kangouw, baiklah, aku menerima dengan senang."

Pak Beng bersenyum.

"Kong Thian!"

Ia memerintahkan murid atau penguasa rumahnya.

"pergi kau menyediakan dua buah kamar yang bersih untuk tetamu-tetamu kita ini, lantas kau melayaninya baik-baik."

Kong Thian terima tugasnya itu.

Diam-diam ia bersyukur untuk Thian Touw.

Ia lantas pergi bekerja, setelah mana ia mengajak ketiga tetamunya masuk ke dalam kedua kamar yang disediakan itu.

Kiam Hong dapat kamar sendirian, yang bertetangga dengan kamar Thian Touw dan In Hong.

Thian Touw tertawa, ia berkata.

"Kiauw Pak Beng melayani kita baik sekali."

In Hong tapinya tetap heran.

"Sebenarnya apakah yang dipikir Pak Beng?"

Ia tanya. Iabercuriga.

"Aneh,"

Kiam Hong pun berkata.

"nampaknya tadi kamu bakal menang, kenapa kamu kesudian mendengar katakatanya itu?"

"Kau keliru melihat!"

Kata Thian Touw, menyeringai.

"yang bakal menang itu ialah dia!"

Kiam Hong melengak.

"Hok Toako tidak salah ""mengatakan,"

Berkata In Hong.

"Dia benar!"

Nona Liong heran, tetapi sekarang ia percaya.

"Perduli apa Kiauw Pak Beng hendak melakukan apa juga!"

Berkata In Hong kemudian.

"Beristirahat bagi kita ada baiknya. Sekarang kita berpikir, besok kita melayani pula padanya!"

Sore itu, di waktunya bersantap, Le Kong Thian telah mengirim orang menyuguhkan barang hidangan terpilih.

"Awas, nanti ada racunnya,"

Kiam Hong memberi ingat.

"Jikalau Kiauw Pak Beng hendak mengambil jiwa kita, tadi ada saatnya yang baik."

Bilang Thian Touw.

"Buat apakah dia menunggu sampai sekarang dan dengan menggunakan racun?"

Ia lantas mendahului mencobai barang hidangan itu, sembari tertawa ia berkata pula.

"Jangan takut, daharlah!"

In Hong percaya suaminya itu.

Mereka pun mempunyai pel Peking Tan, tak usah mereka takut.

Meski begitu, mengetahui barang makanan itu tidak ada racunnya, ia menjadi semakin heran.

Thian Touw pun tidak dapat menerka maksudnya Pak Beng.

yang tidak hendak menurunkan tangan jahat itu.

Pak Beng sebenarnya memikir sesuatu yang di luar sangkaan mereka.

Pak Beng mencapai tingkat ke delapan dari Sulo Imsat Kang karena ia mengandal bantuannya obat.

Baca Juga: Kedele Maut 1

Baca Juga: Rahasia Benteng Kuno Chin Yung

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger