Kisah Pedang Bersatu Padu 12

Eps 12 Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt

Baca online Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt

Cersil Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt.

Ia sekarang ingin mencapai tingkat ke sembilan-tingkat terakhir.

Kali ini ia tidak dapat mengandalkan obat pula.

Itulah berbahaya.

Ia terancam kesesatan.

Yang ia butuhkan ialah pelajaran yang lurus.

Untuk ini ia tidak dapat berguru kepada lain orang, ia mesti mencari sendiri.

Kebetulan ia dapat bertempur dengan Thian Touw dan In Hong.

Ia lantas memikir untuk meminjam kepandaiannya sepasang suami isteri itu ---meminjam dengan memperhatikan dan menelad mereka itu.

Begitulah tadi, ia melayani musuh dengan keras dan perlahan bergantian.

Dengan itu jalan ia menguji mereka, ia mencoba-coba.

Dari perlawanan mereka itu, ia akan dapat melihat dan menyangkok.

Untuknya sedikit kesadaran ada banyak artinya.

Tapi itu tidak cukup hanya dengan satu pertempuran, maka dengan menggunakan kelincahannya, ia menundanya, ia ingin bertempur hingga beberapa kali.

Ia membutuhkan pertempuran selama bisa.

Demikian besoknya pagi, orang berkumpul di lianbu thia, ruangan peranti berlatih silat.

Sekarang In Hong menyaksikan hadirnya Tek Seng Siangjin, Law Tong Sun.

Kiok Ya Ciauw dan Tonghong Hek serta lainnya.

Mereka itu.

setelah lewat satu malam, dapat berobat dan beristirahat, meskipun belum sembuh seluruhnya, mereka sudah dapat bergerak.

"Jikalau mereka membantu Pak Beng dan meluruk, pastilah seorang diri adik Kiam Hong tidak dapat melawan mereka,"

Kata In Hong dalam hati.

Mau atau tidak, ia bercuriga, ia berkuatir.

Ia menduga, setelah kemarin kena dilabrak ---dengan adanya Kiauw Pak Beng --pastilah mereka itu berkeinginan keras untuk menuntut balas.

Mereka tinggal menanti waktunya saja buat turun tangan...

Sebelum pertandingan dimulai, mendadak Kiauw Pak Beng berkata, nyaring.

"Hari ini aku berurusan dengan suami isteri Hok Thian Touw sendiri dan kita menggunakan aturan Kangouw, maka itu, aku melarang siapajuga mencampuri tangan! Nona Liong telah tiba di rumahku ini, ia pun tetamuku yang terhormat! Kong Thian, baik-baiklah kau mewakilkan aku melayani tetamuku!"

Mendengar itu. Tek Seng Siangjin heran bukan buatan. Ia berpikir.

"Kiauw Pak Beng bicara hal aturan Kangouw, sungguh aneh!"

Perasaan aneh itu pun didapat Tong Sun semua, tetapi karena tuan rumah telah mengatakan demikian, mereka cuma bisa heran saja terpaksa mereka berdiam saja untuk menonton.

Setelah itu.

Pak Beng mengundang kedua lawannya untuk mulai hertempur pula.

la tetap menggunakan bonekanya Kong Thian.

Thian Touw dan In Hong berlaku waspada.

Setelah beristirahat, mereka telah dapat pulang kesegaran mereka.

Maka itu, mereka dapat bertahan untuk serangan hawa dingin dari Siulo ImsatKang.

Selagi bertarung, diam-diam Kiauw Pak Beng bergirang.

Ia kata dalam hatinya.

"Ilmu dalam yang lurus dari mereka ini benar-benar hebat. Sebenarnya mereka masih kalah dari aku tetapi sebagai pihak yang lemah mereka masih dapat melawan yang kuat. Rupanya tenaga mereka dapat digunai setiap waktu dan sesuka hati mereka untuk bertahan. Asal aku dapat menyangkok mereka ini maka tak usahlah aku takut lagi bahwa aku akan tersesat..."

Hari itu.

pertarungan dahsyat itu mendatangkan kemajuan terhadap Thian Touw dan In Hong.

Persatu paduan mereka jadi semakin erat, hingga lancarlah segala gerak-gerik mereka.

Di lain pihak, Kiauw Pak Beng pun memperoleh keuntungan.

Sesudah dua kali pertempuran itu, perlahan-perlahan ia mendapatkan keinsafan.

Mendekati magrib, barulah Pak Beng mendesak seperti kemarinnya, dia membikin kedua lawannya kewalahan, tetapi justeru mereka itu repot, mendadak ia menunda pertempuran itu.

"Marilah kita beristirahat dulu,"

Katanya.

"Besok kita nanti main-main pula. Hari ini kita tetap seri."

Thian Touw dan In Hong menerima baik.

Itulah ada faedahnya untuk mereka, hingga mereka tak usah dirobohkan.

Tapi tetap mereka merasa heran, masih belum bisa mereka menerka apa yang dipikir j ago tua itu.

Lalu di hari ketiga dan ke empat, pertarungan dilanjuti seperti hari pertama dan hari kedua itu, ialah di saat genting.

Pak Beng kembali menunda-nunda.

Thian Touw dan In Hong tetap memperoleh kemajuan, tetapi pun Pak Beng, keinsyafannya makin bertambah, ia mulai menyadari jalannya ilmu tenaga dalam dari kedua lawannya.

Itulah pelajaran tenaga dalam yang lurus yang ia butuhkan.

Sampai di hari ke lima, sore, In Hong seperti kelelap dengan keheranannya.

"Dibanding dengan tahun dulu, Siulo Imsat Kang Kiauw Pak Beng maju berlipat ganda"

Ia kata pada suaminya.

"Dapatkah kau merasakan itu?"

"Benar!"

Sahut Thian Touw.

"Bahkan selama beberapa hari, dia pun maju terus!"

"Mulanya aku sangka, dengan berhasilnya ilmu pedang ciptaan kita kita dapat mengalahkan Kiauw Pak Beng."

In Hong berkata pula.

"tidak dinyana sekali, dia telah mendapatkan kemajuan pesat begini rupa. Aku lihat, kalau pertempuran berlanjut terus, sampai sepuluh hari atau setengah bulan, mungkin kita tetap berada di bawah angin."

"Kau benar,"

Sang suami bilang.

"Pertempuran ini membuatnya aku heran. Kenapa Pak Beng melibat kita? Kenapa dia seperti ini memperpanjang pertempuran ini?"

"Biar bagaimana, tidak nanti dia mengandung maksud baik!"

Menyatakan sang isteri.

"Kegagahan saja tak berarti, itu perlu didampingi kecerdikan. Maka itu, aku rasa, perlu kita menggunakan pikiran kita. Setelah ternyata kita tidak dapat merobohkan dia, apa perlunya untuk melanjuti pertarungan ini? Baiklah kita lekas turun gunung. Kita berlalu saja secara diam-diam. Kita mesti minta bantuannya Locianpwee Ouw Bong Hu."

Thian Touw berpikir.

"Pertarungan ini dilakukan dengan perjanjian kaum Kangouw,"

Katanya selang sesaat.

"kita datang secara berterang, perginya mesti berterang juga. Tak bagus untuk berlalu secara diam-diam. Aku pikir begini saja. Besok kita melayani pula dia satu hari. apabila tetap keadaan seri. lantas kita menjanjikan suatu waktu yang lain. Setelah berjanji begitu, baru kita pergi. Dengan demikian, orang tidak dapat mencela kita."

"Terhadap satu hantu yang tak ada kejahatan yang tak dilakukan, buat apa kita pakai segala aturan bau itu?"

Kata In Hong. Isteri ini mulai sengit.

"Bukan begitu,"

Sahut sang suami, sabar.

"Memang baik dia tidak memakai aturan. Tapi sekarang dia memakainya, mana dapat kita tidak mentaati?"

In Hong tidak dapat membantah suaminya itu, terpaksa ia menurut.

Tapi ia memberi pikiran, besok jangan ditunggu sampai mereka sudah letih baru mereka bicara, untuk menunda pertempuran sampai lain waktu.

Mereka perlu menjaga tenaga mereka supaya, andaikata Pak Beng menghalangi, mereka bisa memaksa menyingkir dari gunung itu.

Setelah ada kecocokan, maka di hari kedua, Thian Touw bersama In Hong menempur pula Kiauw Pak Beng.

Sesudah bertarung seru beberapa hari.

Pak Beng berhasil mencuri cara-cara pelajaran tenaga dalam kaum lurus.

Karena kecerdasannya, dapat ia menyangkok dari suami isteri itu.

Thian Touw pun memperoleh kemajuan tak sedikit untuk ilmu pedang baru yang ia ciptakan, bahkan ia dapat menciptakan lagi beberapa jurus terbaharu.

Maka itu ia merasa sayang yang ia berniat menunda pertempuran selanjutnya sampai salah satu pihak kena dikalahkan.

"Lawan seperti Kiauw Pak Beng ini,"

Pikirnya.

"dalam seumur hidupku sukar dicari tandingannya. Coba aku tidak mesti berjaga-jaga terhadap akal muslihatnya, ingin sekali aku melayani dia untuk lagi sepuluh hari!"

Selagi mereka bertempur seru itu, In Hong mengedipi mata pada suaminya.

Thian Touw agaknya berat untuk turun tangan.

Ia ingin masih mencoba jurusnya yang terbaru, supaya itu jadi bersatu padu dengan isterinya.

Tapi ia tidak dapat bersangsi terus.

Maka ia paksa mencoba juga.

Kebetulan terasakan tekanannya Pak Beng sedikit kendor, mendadak ia bersiul panjang, terus ia menggeraki pedangnya berputar arahnya, ujung pedang menuju kepada dadanya sendiri.

Kiauw Pak Beng menyaksikan gerakan lawan itu, ia heran, justeru ia merasa heran, pedang Thian Touw meluncur ke arahnya, dengan caranya yang ia tidak sangka sekali.

Tahu-tahu ia telah menjadi kaget.

Pedang lawan itu sudah menegur pundaknya!

Tapi ia pun tidak berdiam saja.

Mendadak tubuh Thian Touw terpental roboh.

Inilah sebab, meski ia dapat menikam dengan baik, hubungannya dengan In Hong tidak ada, maka itu.

sebelum In Hong menyerang, Pak Beng sudah mendahulukan membalasnya.

In Hong kaget bukan kepalang.

Tapi Thian Touw, begitu tubuhnya jatuh, begitu ia mencelat bangun, terus dengan air muka guram ia memberi hormat pada Pak Beng seraya berkata.

"Locianpwee, kau lihai sekali, sekarang aku tunduk! Biarlah lagi tiga bulan aku datang pula untuk menerima pula pengajaranmu!"

In Hong mendengar suara suaminya hatinya menjadi lega. Dari suara itu ia mendapat tahu, suami itu mendapat luka sedikit pada tenaga dalamnya luka itu tidak berbahaya. Kiauw Pak Beng tertawa lebar.

"Kau terlalu merendahkan diri laotee!"

Katanya.

"Pertempuran ini pun pertempuran seri, kenapa kau lantas mengaku kalah?"

"Locianpwee cuma terluka bajumu, aku sendiri, aku dibikin terpental roboh,"

Berkata Thian Touw.

"Mana berani aku bertempur lebih jauh? Maka itu baiklah kita menanti lagi tiga bulan baru kita main-main pula!"

Pak Beng bergerak sangat gesit, untuk menghalang di depan orang. Ia tertawa manis.

"Kau keliru, kau keliru!"

Katanya.

"Bagaimana?"

In Hong tanya.

"Apakah kau tidak mengijinkan kami pergi?"

"Bukan begitu maksudku,"

Sahut Pak Beng.

"Hok Laotee, kalau tetap kau mengaku kalah secara begitu, tidak dapat aku menghargai kau. Aku minta kau suka dengar lebih jauh perkataanku."

Biar bagaimana senang Thian Touw mendengar suara orang itu.

"Locianpwee,"

Katanya.

"kau berkepandaian sangat tinggi, andaikata locianpwee melihat sesuatu yang tak tepat padaku, tolong kau beri petunjukmu."

"Dibanding dengan kau, laotee, usiaku lebih tua tiga puluh tahun,"

Berkata Pak Beng, sabar.

"oleh karena itu sudah sepantasnya saja tenaga dalamku ada lebih menang daripada kau, hingga pula sudah wajar apabila kau kena kubikin terpental. Mana bisa itu dianggap sebagai suatu kekalahan?"

"Dengan ilmu pedangku tidak dapat aku melukai kau, locianpwee,"

Berkata Thian Touw.

"oleh karena itu, kalau kita bertempur terus, tetap aku bakal kalah."

"Jikalau begitu, bagaimanajikalau kita menukar caranya bertanding?"

Pak Beng mengajukan saran.

"Kita menggunakan cara yang sama rata?"

"Bagaimanakah itu?"

"Aku mau mengundang kau duduk memasang omong, bagaimana?"

Pak Beng tanya.

"Pembicaraan apakah itu?"

In Hong menyelak. Kiauw Pak Beng tertawa.

"Untuk membicarakan cara yang sama rata itu!"

Sahutnya. Thian Touw kena dibikin malu hati oleh sikap ramah tamannya Pak Beng ini. Mana bisa ia menggunakan kekerasan? Ia pun jadi ketarik hati, ia ingin mengetahui cara yang dikatakan "sama rata"

Itu.

"Bagaimana cara itu, tolong locianpwee jelaskan,"

Ia minta.

"Bertanding dengan menggunakan tangan, tak bisa kita tidak menggunakan tenaga dalam,"

Kata Pak Beng.

"dengan begitu. Hok Laotee, aku jadi berlaku tidak adil terhadapmu. Lagi pula, meski kita belum mencapai puncak kemahiran, buat apa kita mencari keputusan dengan mengadu tenaga? Bukankah terlebih baik kita berunding saja secara mendalam? Jikalau aku kalah, aku akan mengakuinya, aku akan menyerah --tegasnya, aku bersedia untuk menuruti segala titahmu!"

Thian Touw sangat kegilaan ilmu silat, sekarang Kiauw Pak Beng mengajak berunding, ia ketarik hati, ia seperti kegatalan. Ia kata di dalam hatinya.

"Aku mengerti ilmu dalam pelbagai partai, begitupun ilmu luar, aku tidak percaya kau dapat mengalahkan aku!"

Maka tanpa berpikir, ia menjawab.

"Aku telah mendengar tentang pengetahuan yang luas dari locianpwee, sekarang kau sudi memberikan pelajaran padaku, inilah hal yang aku minta pun tidak berani. Baiklah asal locianpwee jangan nanti mentertawakan aku!"

Kiauw Pak Beng tertawa riang.

"Hok Laotee, usiamu muda kau pun telah berhasil membangun suatu partai baru,"

Ia kata.

"jikalau kau terus main merendahkan diri, itu artinya kau tidak memandang mata kepada aku si orang she Kiauw!"

In Hong diam-diam menggenggam tangan suaminya atas mana Thian Touw pun diam-diam menggerak-geraki telunjuknya, untuk menulis.

"Aku mengerti, kau jangan kuatir."

Dalam gembiranya suami ini tidak mengambil mumat pemberian ingat isterinya itu.

Bahkan segera ia ikut Pak Beng masuk ke dalam kamar, ia membiarkan isterinya menanti di luar, hingga hati In Hong jadi tidak tenang.

Di dalam kamarnya, Pak Beng mengajak Thian Touw duduk berhadapan, di depan mereka ada sebuah meja persegi yang penuh debu.

"Hok Laotee, silakan kau mulai!"

Berkata tuan rumah, manis budi. Thian Touw mengangkat tangannya mengebut membikin debu terkibas bersih, terus ia memberi hormat seraya berkata.

"Aku tidak berani melewatkan locianpwee."

Kiauw Pak Beng tertawa dengan mendadak, tangannya dengan tiba-tiba menghajar meja di depannya, hingga meja itu ringsak.

Setelah itu, ia menitahkan orangnya lekas menukarnya dengan meja yang baru.

Ia membalas hormat, ia berkata.

"Nampaknya pengertian kita tentang ilmu silat beda sekali!"

Gerak-gerik mereka berdua barusan menunjuki sifat mereka masing-masing.

Thian Touw dengan mengebut bersih debu di meja berarti, buat belajar silat, orang mesti mulai dari dasarnya membuang yang lama mengatur yang baru.

Kiauw Pak Beng dengan merusak meja bermaksud, dasarnya mesti di mulai dari baru.

Kata Thian Touw.

"Aku mengebut debunya, mejanya tetap mejanya."

Kiauw Pak Beng berkata.

"Jikalau yang tua tidak dirusaki, mana dapat ada yang baru? Meja yang baru jauh lebih baik daripada meja yang tua!"

"Agaknya tak dapat dipadu manusia dengan meja!"

Kata pula Thian Touw.

"Hal itu mesti dilihat dari sifatnya. Aku lihat dalam tempo tak sampai sepuluh tahun, pasti akan ada perubahannya!"

Kata lagi Pak Beng.

Kata-kata mereka itu berarti Pak Beng hendak menggunakan cara-cara sesat yang keras, bagaikan jago memaksakan sesuatu.

Dengan cara keras dia hendak mendapatkan kesempurnaan tenaga dalam.

Thian Touw sebaliknya, karenanya ia terdesak.

Tapi seperti telah diketahui, ia kegilaan ilmu silat, maka itu, makin terdesak, ia menjadi makin bernapsu, semangatnya makin terbangun.

Maka ia melayani terus Pak Beng mengadu bicara atau berunding itu, hingga tanpa merasa, dari pagi, sang waktu merayap terus, tahu-tahu sudah magrib.

Justeru itu Pak Beng mengajukan soal yang sulit, hingga sukar ia lantas menjawabnya hingga ia pikir.

"In Hong pernah membaca kitab Hiankong Yauwkoat entah soal ini ada disebut atau tidak dalam kitab itu. Itulah kitab yang istimewa."

Justeru ia ingat isterinya, baru ia melihat cuaca mulai gelap, maka ia kata dalam hatinya.

"Pasti In Hong sudah tak sabaran, mungkin ia pun berkuatir. Ah, mesti aku lihat dia!"

Dari itu, ia lantas berkata.

"Locianpwee, lagi sekali pengetahuanmu, tak dapat aku melawannya oleh karena itu biarlah malam ini aku memikirkannya, besok aku nanti menerima pula pelajaran dari kau. Bagaimana?"

Kiauw Pak Bang tertawa lebar. Tetapi ia berlaku ramah-tamah.

"Orang di jaman dahulu ada yang karena belajar sampai lupa dahar dan tidur, hari ini kita berunding, hampir saja aku lupa akan sang waktu! Sekarang sudah gelap, memang sekarang telah tiba waktunya untuk beristirahat! Hok Laotee, persilakan!"

Segera juga In Hong mendengar tindakan kaki, ia lantas menyambut suaminya.

"Ah, bagus kau ingat pulang!"

Katanya, mendeluh.

"Aku kira kau kena disesatkan si hantu tua!"

Thian Touw tertawa.

"Benar-benar aku hampir disesatkan!"

Sahutnya.

"Aku tidak sangka pengetahuan Kiauw Pak Beng dalam sekali, hampir tak dapat aku menjawab dia! Dengan berbicara lama dengannya, aku memperoleh kefaedahan bukan sedikit."

"Aku kuatir dia mendapatkan lebih banyak pula!"

Kata si isteri, yang tidak puas. In Hong senantiasa bercuriga. Thian Touw melengak sejenak, lantas ia tertawa pula dan berkata.

"Pengetahuan Kiauw Pak Beng berada di atasan kita, apa mungkin dia hendak mencuri dari kita?"

"Coba pikir, habis apa perlunya dia mengajak kau berunding?"

In Hong tanya. Thian Touw pun berpikir.

"Memang ada bagian-bagian di mana aku dapat mengalahkan dia."

Katanya.

"cuma hari ini kita membicarakan saja sifat yang berlainan dari pandangan kita berdua pihak, kita belum bicara hal ilmu pedang dan tidakjuga hal ilmu dalam. Ada apakah halangannya?"

"Apa saj a yang ia tanyakan kau?"

In Hong tanya.

"Aku justeru hendak menanyakan kau,"

Sahut Thian Touw. Dan ia mengulangi pertanyaannya Kiauw Pak Beng, yang tak dapat ia jawab lantas itu.

"Mungkin itu ada disebut dalam Hiankong Yauwkoat..."

In Hong terkejut.

"Kenapa kau bicara dengannya dari hal itu?"

Dia tanya.

"Itu justeru ada hubungannya dengan lweekang simhoat!"

Thian Touw tertawa pula.

"Ah, kau gampang kaget!"

Katanya.

"Kita cuma saling bertanya, sepantasnya saja kalau ada bagian-bagian yang sulit. Sama sekali aku tidak mengajari dia lweekang simhoat. Pula dia dan kita berlainan sifat dan caranya, dia telah mendahului kita, aku pikir, tidak nanti dia membuang apa yang dia telah punyai, untuk ditukar dengan kepunyaan kita."

Thian Touw tidak menginsafi, inilah justeru pokok dasar yang dicari Pak Beng, supaya pelajaran sesat dapat disatu padukan dengan pelajaran lurus, atau kalau perlu, yang sesat itu dibuang seluruhnya, guna ditukar dengan yang lurus, supaya dia berhasil dengan peryakinannya Siulo Imsat Kang!

Leng In Hong juga tidak tahu bahwa Siulo Imsat Kang, apabila telah diyakinkan sampai tingkat ke delapan, ada bahayanya untuk orang menjadi tersesat, ia cuma merasa bahwa suasana buruk sekali.

Maka ia kata pada suaminya.

"Jangan kita omong banyak lagi, inilah berbahaya. Pihak sana tetap musuh kau. Lebih baik kita berlalu siang-siang dari sini, kita pergi mengundang Cianpwee Ouw Bong Hu, setelah mana baru kita datang pula."

"Jikalau bukan sudah tiba pada saat terpaksa, tidak sudi aku memohon bantuan lain orang,"

Menjawab suami yang keras kepala itu.

"Bukankah Kiauw Pak Beng telah berjanji, apabila aku dapat merobohkan dia, dia akan suka menyerahkan Nona Im kepada kita?"

In Hong tertawa dingin.

"Jadi kau menaruh kepercayaan kepadanya?"

Tanyanya.

"Dengan kedudukannya itu, tidak nanti Kiauw Pak Beng mempedayakan aku,"

Kata Thian Touw, yang berkukuh kepada kepercayaannya.

"Hanya sayang, dalam perundingan dengannya, aku tidak mempunyai pegangan untuk memperoleh kemenangan..."

"Kau percaya dia, aku tidak!"

Kata sang isteri.

"Jikalau besok kau tidak pergi, aku akan pergi sendiri!"

In Hong habis sabar pula.

"Biar bagaimana, aku mesti dapat menjawab pertanyaannya itu,"

Thian Touw bilang.

"Jikalau tidak, mana aku mempunyai muka? In Hong, kau telah membaca Hiankong Yauwkoat, jikalau ada bagiannya yang kau ketahui, dapatkah kau membilangi aku?"

Isteri ini menjadi kewalahan.

"Baiklah!"

Sahutnya setelah ia berpikir.

"Besok kita berdua menghadapi Kiauw Pak Beng, kapan kejadian kau tidak dapat menjawab, akulah yang akan menggantikan kau!"

Thian Touw kurang setuju, sebab itu berarti satu lawan dua. tetapi isterinya telah menerima baik permintaannya hatinya lega juga. Maka dengan girang ia berkata.

"Begini pun baik. Di waktu kita bertempur, memang telah dijanjikan kita berdua melawan dia sendiri!"

Demikian besoknya Thian Touw mengajak isterinya pergi ke kamar istirahatnya Kiauw Pak Beng.

Jago itu terperanjat mendapatkan orang muncul berdua, hingga ia tercengang sejenak.

Ia tahu baik, In Hong jauh lebih cerdas daripada suaminya, maka itu ia berkuatir si nyonya nanti dapat membade maksud hatinya.

Tak dapat ia tampik nyonya itu.

Terpaksa ia menyambut sambil tertawa.

"Bagus kamu datang berdua!"

Katanya, manis.

"Inilah hal yang minta pun aku tidak berani. Hari ini aku si orang tua jadi dapat meminta lebih banyak pelajaran."

"Sebenarnya apakah itu yang Kiauw Sianseng kehendaki?"

In Hong mewakilkan suaminya bertanya.

"Pokoknya ialah mencuci bulu dan membersihkan sungsum,"

Sahut Pak Beng.

"Jikalau begitu,"

In Hong menjawab.

"aku minta agar kau suka mengubah muka dan mencuci hati!"

Parasnya Pak Beng berubah. Hebat jawaban itu. Cuma sejenak, dia lantas tertawa bergelak.

"Bagus! Bagus!"

Katanya.

"Lihiap, bagus kata-katamu ini! Meskipun jawabanmu bertentangan dengan pemikiranku, aku toh mengagumi kau, aku mesti puji padamu. Sekarang, dengan dasar kedua paham yang berlainan itu, aku minta kau suka memberi penegasan."

In Hong berbangkit.

"Aku cuma minta kau mencuci muka dan membersihkan hati!"

Jawabnya dingin.

"Segala hal lainnya tak usahlah kau tanya banyak-banyak lagi!"

Nyonya ini mengibaskan tangannya, untuk terus menepuk Thian Touw, untuk lantas bertindak pergi dari kamarnya Pak Beng itu!

Kiauw Pak Beng membuat satu gerakan luar biasa.

Kedua tangannya menekan pinggiran kursinya dan kedua kakinya menjejak lantai, atas manatubuhnya mencelat tinggi, hingga di lain saat ia sudah berada di depan pintu, hingga ia dapat menghadang.

Ia lantas berkata.

"Leng Lihiap, apakah kau datang kemari sengaja untuk mempermainkan aku si orang tua?"

"Kau menanya aku pokoknya peryakinan ilmu silat dan aku telah memberikan jawabanku!"

Sahut In Hong.

"Itulah. muka harus dirubah, hati harus dicuci! Apakah ini berarti mempermainkan? Coba kau pikir masak-masak. Mungkin itu besar faedahnya untukmu!"

"Benar begitu!"

Thian Touw campur bicara.

"Di antara kita memangnya ada pokok dasarnya yang berlainan, karena itu, buat apa locianpwee menjadi kurang senang? Jikalau losianseng berkukuh. berbicara lebih jauh pun tidak bakal ada hasilnya, maka itu aku yang rendah meminta diri saja!"

Thian Touw mengerti maksud isterinya itu, yang menyindir Pak Beng.

Benar ia tidak dapat menyetujui sikap getas dari sang isteri, akan tetapi di dalam keadaan seperti itu, ia terpaksa mesti berdiri di pihak isterinya.

"Hok Thian Touw!"

Berkata Pak Beng murka.

"Kau telah datang ke tempatku ini. aku layani kau dengan hormat, kenapa sekarang kamu sedikitpun tidak memandang mata kepada aku? Dapatkah kamu berlalu dengan cara begini saja?"

Thian Touw yang sabar pun berubah air mukanya.

"Kau berusia lebih lanjut, aku menghormatimu dengan memanggil kau cianpwee."

Ia menjawab.

"Itu sudah cukup! Apakah kau menghendaki aku berlutut dan mengangguk-angguk terhadapmu? Habis, mau apakah kau?"

Pak Beng dapat menjadi sabar pula, ia menyahut dingin.

"Aku mau lihat kamu mempunyai kepandaian apa untuk keluar dari kamarku ini!"

In Hong tidak melayani bicara pula.

"Thian Touw!"

Katanya.

"sekarang tak perlu bicara lagi! Mari kita pergi!"

Dengan lantas sepasang suami isteri itu menghunus pedang mereka, yang bercahaya berkilauan, dan dengan lantas juga mereka menyerang, untuk membuka jalan.

"Bagus!"

Berseru Kiauw Pak Beng.

"Ilmu pedang yang bagus!"

Ia lantas mengibas dengan tangan bajunya, untuk menyentil dengan jari tangannya.

Pedang In Hong kena disampok miring, terus disentil, hingga terdengar suaranya yang nyaring beruntun, sedang pedang Thian Touw tersampok sampai orang she Hok ini merasa telapakan tangannya kesemutan!

"Hebat jago tua ini!"

Pikir Thian Touw, yang merasa heran.

"Cara bagaimana dia melatihnya? Kenapa dia maju begini pesat hanya dalam tempo satu hari?"

Ia tidak menyangka bahwa justeru ialah yang mengajarinya tanpa ia mendusin!

Syukur Kiauw Pak Beng tidak memegang senjata, dia masib ragu-ragu, jikalau tidak, entah bagaimana kehebatannya lebih jauh.

Bentrokan pertama itu membuat In Hong dan suaminya mundur tiga tindak, setelah itu barulah mereka maju pula Kali ini mereka bisa mendesak sampai lawannya mundur dua tindak.

Tepat pertandingan hendak memasuki babak yang dahsyat, di luar kamar terdengar suara pertempuran yang berisik disusul dengan teriakannya Le Kong Thian berulang-ulang.

"Suhu! Suhu!"

Dengan satu jejakan, Kiauw Pak Beng membikin pintu terbuka terpentang.

"Bocah yang baik!"

Dia berseru.

"Aku tidak sangka sama sekali kamu datang dengan kawan-kawanmu! Baiklah, sebentar aku akan membuat perhitungan denganmu!"

Jago tua ini menyangka, pertempuran di luar itu dilakukan oleh kawan-kawannya Hok Thian Touw. Sebaliknya, Thian Touw dan In Hong juga heran sekali. Bahkan Thian Touw kata dalam hatinya.

"Kecuali aku berdua, siapakah sudah berani datang kemari untuk menarik-narik kumis harimau dari Kiauw Pak Beng?"

Lantas suami isteri ini menyusul keluar, akan mengikuti Pak Beng.

Tatkala mereka tiba di ruangan latihan, di sana tampak pertempuran kacau, karena orang-orangnya Pak Beng tengah mengepung tiga orang.

Le Kong Thian yang mengepalai pihak tuan rumah.

Tiga orang itu ialah yang satu seorang tua dengan muka berewokan, yang kedua seorang pengemis yang pakaiannya banyak tambalannya, dan gagah yang pakaiannya rapi.

Melihat mereka itu, In Hong girang bukan kepalang.

Si orang tua bukan lain daripada Ouw Bong Hu.

yang nomor dua di antara Empat Jago Pedang, sedang si pengemis ialah Tie Goan, Hupangcu atau ketua muda dari Kaypang, Partai Pengemis.

Si anak muda bukan lain daripada Ciu Ci Hiap, puteranya Kimto Cefjoe Ciu San Bin.

Tidak dapat Thian Touw dan In Hong lantas menduga duduknya hal, sedang sebenarnya Ouw Bong Hu datang atas permintaannya Ci Hiap.

Bong Hu datang walaupun ia tidak merasa pasti akan dapat mengalahkan Kiauw Pak Beng.

Ia datang karena urusan ialah urusan yang menyangkut San Bin dan yang mengundangnya ialah muridnya sendiri.

Pada mulanya Ouw Bong Hu memikir untuk berbicara dulu dengan baik.

apabila terpaksa barulah ia hendak menggunakan kekerasan, akan tetapi mereka ditolak dengan getas oleh pengawal pintu, siapa taat kepada pesan Pak Beng bahwa dalam beberapa hari ini tuan rumah menampik tetamu siapa juga.

Belum Bong Hu menyebutkan namanya, ia sudah lantas diusir.

Ci Hiap tidak tahan sabar, dia lantas menyerang.

Kemudian muncullah Le Kong Thian bersama Law Tong Sun.

Kong Thian mengenali jago she Ouw itu, dia terperanjat.

Dia menyangka Bong Hu datang bukan dengan maksud baik, bahwa mungkin orang ada kambratnya In Hong dan Thian Touw.

"Serang saja!"

Tong Sun menganjurkan koankee dari tuan rumah.

Dia membenci Ouw Bong Hu, yang pernah menghajar padanya.

Kong Thian kena dibujuk, ia maju.

Mulanya Ouw Bong Hu tidak mau turun tangan, ia percaya cukup Ci Hiap berdua Tie Goan, setelah melihat Kong Thian, terpaksa ia menempur koankee itu.

Kong Thian boleh gagah akan tetapi menghadapi Ouw Bong Hu, baru sepuluh jurus ia sudah terdesak mundur, oleh karena itu terpaksa ia main mundur ke dalam, untuk meneriaki gurunya, buat memberi isyarat.

Demikian datanglah Kiauw Pak Beng.

Melihat gurunya Kong Thian jadi mantap hatinya, segera ia melakukan perlawanan sengit, ia mencoba menyerang membalas, untuk mendesak musuh yang tangguh itu.

Law Tong Sun di lain pihak menghampirkan Ciu Ci Hiap, dengan jurus-jurus Hunkin Coku Ciu, ia mencoba menangkap, untuk dibikin patah atau salah laku, tangannya jago muda dari Kimto Ce.

Ouw Bong Hu gusar atas sikapnya Le Kong Thian.

Atas datangnya boneka yang besar dan berat itu, ia menyambut dengan Itci Siankang.

Ia menyentil nadinya manusia raksasa itu.

Tidak dapat Kong Thian mengelit tangannya.

Begitu tersentil, begitu cekalannya terlepas, lantas bonekanya jatuh.

Malang dua pegawainya Kiauw Pak Beng, selagi mereka mengepung Ci Hiap, mereka ketimpa boneka itu, terus mereka roboh.

Setelah itu Ouw Bong Hu memutar tubuh, buat menghampirkan Tong Sun, tetapi orang she Law ini licik dan matanya tajam, siang-siang dia mendahului menyingkir sebab hatinya mencelos menyaksikan Kong Thian terpecundangkan dalam satu gebrakan.

Adalah di saat itu, Kiauw Pak Beng muncul.

Dia gusar melihat muridnya terlukakan.

Segera dia menyerukan orang-orangnya mundur, dia sendiri terus maju menghadapi Ouw Bong Hu, siapa belum pernah melihat tuan rumah, hanya dari roman dan sikapnya saja ia dapat menduga dari itu ia lantas berhenti menyerang.

Ouw Bong Hu menjadi orang berkenamaan, walaupun ia sedang murka, Kiauw Pak Beng tidak berani berlaku kasar, dengan paksakan diri, setelah mengawasi orang, ia bersenyum dan berkata.

"Aku kira siapa, tak tahunya Ouw Losianseng! Sebenarnya aku si orang she Kiauw berdahaga untuk menemui, sudah beberapa kali aku mengirim undangan untuk mengundang tetapi Losianseng malas untuk membuat kunjungan! Maka itu kenapakah hari ini, tanpa diundang Losianseng datang sendiri?"

Ouw Bong Hu bangsa jujur, ia menyahut dengan terus terang.

"Apabila tidak ada urusan, tidak nanti aku datang berkunjung. Aku telah diminta tolong oleh Kimto Cecu, untuk memohon satu orang dari kau, Kiauw Sianseng. Sayang murid-muridmu tidak mau membukai pintu, lantaran itu terpaksa aku melayani mereka hingga tanpa disengaja aku melukai muridmu. Sekarang aku minta kau suka menyerahkan puterinya Cit Im Kauwcu, untuk kami mengajak pulang, setelah itu aku nanti menghaturkan maaf kepada kamu guru dan murid."

"Menghaturkan maaf?"

Kata Kiauw Pak Beng dingin.

"Itulah aku tidak berani terima! Muridku yang buruk tidak mengenali gunung Thaysan, aku mengucap terima kasih yang kau telah memberi pelajaran padanya! Jadi kau datang untuk meminta orang? Inilah mudah! Tapi, Losianseng telah datang kemari, inilah yang aku mintanya pun sukar, dari itu aku ingin menggunakan ketika ini untuk memohon pengajaran dari kau ---pelajaran Itci Siankang yang Iiehay! Losianseng tidak sungkan memberi pengajaran pada muridku, maka juga pastilah Losianseng akan meluluskan permintaanku ini!"

Mendengar suaranya tuan rumah, Ouw Bong Hu merasa tidak enak di hati. Memang ia merasa tidak pantas ia melukai orang dari tingkat lebih muda. walaupun itu sangat terpaksa.

"Kepandaianku kepandaian tidak berarti,"

Ia menyahut merendah.

"aku malu akan mendapat disebutnya itu sebagai kepandaian yang Iiehay. Yang tepat ialah Siulo Imsat Kang dari kau sendiri, Kiauw Sianseng! Aku telah kesalahan melukai murid sianseng, baik nanti belakangan saja aku menghaturkan maafku, sekarang aku minta sianseng tidak buat kecil hati..."

Kiauw Pak Beng mengebut tangannya, untuk mencegah tetamunya bicara lebih jauh. Ia tertawa dan berkata.

"Sianseng, kata-katamu ini membuat aku putus asa. Bukankah mencoba kepandaian ada hal yang umum? Apakah sianseng menganggap aku tidak pantas memohon pengajaran dari kau? Atau memangnya Itci Siankang dipakai istimewa untuk anak-anak muda?"

Hebat kata-kata itu untuk Ouw Bong Hu.

Jikalau iamenolak.

ia bakal terhina.

Ia menjadi dapat menyabarkan diri lagi.

Ia pun, seumurnya, belum pernah tunduk kepada lain orang kecuali gurunya dan Thio Tan Hong.

Maka ia menjawab.

"Jikalau begitu. Kiauw Sianseng, baiklah, akan aku gunai ketika ini untuk belajar kenal dengan Siulo Imsat Kang yang luar biasa dahsyat itu! Oleh karena tetamu tidak dapat mendahului tuan rumah, silakan sianseng yang mulai memberikan pelajaranmu!"

Kiauw Pak Beng tidak menyahut lagi, ia pun tidak mengangguk, hanya segera sebelah tangannya digeraki, untuk dipakai menepuk.

Ouw Bong Hu heran.

Ia tidak merasakan sambaran angin dingin.

Hanya sedetik, lantas ia mengerti maksudnya Kiauw Pak Beng.

Nyata tuan rumah tidak mau menggunakan saatnya untuk menyerang terlebih dulu.

Lantaran orang berlaku sungkan, ia lantas bergerak.

Lebih dulu tangan kirinya dibawa ke dada, untuk menjaga diri.

menyusul itu tangan kanannya ---dengan jari tengah ---menotok ke atas.

Kiauw Pak Beng tertawa.

"Ouw Sianseng, kau nyata tak mau ketinggalan!"

Katanya.

Kali ini ia terus menyerang dengan sungguhsungguh, maka juga, di situ lantas terdengar suara angin tinjunya yang hebat.

Thian Touw kaget.

Ia tidak pernah menyangka Pak Beng demikian telengas.

Ia pun tidak menduga Pak Beng lihai sekali dengan ilmunya yang istimewa itu, yang paling meminta tenaga dalam, tetapi sekarang dia dapat menggunakannya sembarang waktu.

Selagi jago Thiansan ini terkejut, air mukanya Ouw Bong Hu pun berubah sedikit.

Akan tetapi ia mengangkat tangannya, ia menyentil dengan jari tengahnya untuk melawan serangan Pak Beng itu.

Tepat ia mengenai tengah-tengahnya telapakan tangan jago she Kiauw itu, hingga terdengar suaranya.

Hampir berbareng kedua jago memisahkan diri masing-masing.

Ouw Bong Hu mundur hingga tiga tindak, tubuhnya menggigil.

Kiauw Pak Beng terhuyung dua kali, dari mulutnya terdengar suara perlahan.

"Aaah!..."

Hawa dingin dari Pak Beng tersalurkan ke dalam tubuh Ouw Bong Hu dengan jalan jerijinya itu, menyerang uluhatinya, tetapi dengan tenaga dalamnya yang mahir, ia dapat mengusir pergi.

Setelah itu, ia menjadi heran.

Pernah ia mendengar dari Ci Hiap halnya Pak Beng dikalahkan Tan Hong.

ia menduga Pak Beng baru sampai di tingkat ke tujuh, jadi ia percaya, dengan sentilannya, ia pun bakal dapat kemenangan, atau sedikitnya ia tidak akan terkalahkan, tidak disangka-sangka, sekarang Pak Beng beda daripada sangkaan, bahkan tenaga dalamnya itu berdasarkan tenaga dalam yang lurus, beda daripada tenaga dalam kaum sesat.

Mungkin inilah gabungan lurus dan sesat yang bakal menjadi sempurna.

Lantas terdengar Kiauw Pak Beng tertawa.

"Benar-benar Itci Siankang sangat lihai!"

Katanya.

"Sekarang mari, aku si orang she Kiauw ingin minta pengajaran pula!"

Kata-kata itu di akhiri dengan serangan, yang bertambah dahsyat.

Ouw Bong Hu ketahui baik sekali Kiauw Pak Beng hendak merobohkan dia atau kalau bisa, dia hendak dibikin binasa maka itu.

ia bertekad untuk melawan, dan tetap dengan Itci Siankang.

Lainnya kepandaian tidak dapat digunakan!

Cuma ia memasang kuda-kudanya dengan "Cian Kin Twi"

Atau "Jatuh seribu kati."

Kembali terdengar suara nyaring begitu lekas kedua pihak saling bentrok.

Ouw Bong Hu tidak kena terpukul mundur seperti semula, melainkan tubuhnya bergoyang beberapa kali, bajunya turut bergoyang-goyang seperti tertiup angin keras.

Di lain pihak, Kiauw Pak Beng tidak dapat lantas merangsak pula.

Setelah bentrokan itu, yang hebat luar biasa, mukanya Ouw Bong Hu nampak sedikit pucat, sebaliknya muka Kiauw Pak Beng seperti keturunan warna ungu muda dan peluhnya turun menetes dari dahinya!

Thian Touw menyaksikan dengan hati mereka berdenyutan, begitupun Le Kong Thian.

Mereka samasama merasakan hebatnya pertempuran itu ---pertempuran mati atau hidup.

Sulit untuk mereka memisahkannya, andaikata mereka memikir demikian.

Dari keduajago itu, salah satu mesti dihajar, baru mereka dapat sudah.

Kong Thian pernah memikir demikian, tetapi di situ ada Thian Touw, diajeri.

Bahkan dia sekarang berkuatir Thian Touw yang nanti turun tangan menghajar guru atau majikannya itu...

Memang, asal Thian Touw turun tangan, maka Kiauw Pak Beng bakal kena ditabas batang lehernya tanpa dia berdaya.

Sebenarnya pernah berkelebat dalam otaknya jago Thiansan itu, untuk menyerang Pak Beng, guna segera mengakhiri pertandingan, tetapi di lain saat, ia berpikir pula.

"Aku orang macam apa? Mana dapat aku berlaku demikian rendah membokong seorang yang lagi tidak berdaya?"

Lewat sekian lama maka terlihatlah pada jidatnya Ouw Bong Hu tanda dari bangunnya otot-ototnya, yaitu warna biru gelap, sedang kedua tangannya ditekuk ke belakang. Itulah mirip tanda tak bertahan.

"Apakah aku mesti menonton saja Ouw Locianpwee terbinasa ditangannyaKiauw Pak Beng?"

Thian Touw kata dalam hati kecilnya.

Ia bersangsi, hingga merandak ketika ia sudah maju dua tindak dan tangannya telah meraba gagang pedangnya.

Ketika itu Ouw Bong Hu, dengan sinar mata tajam, pun mengawasi padanya, itulah tandajago tua itu tidak menghendaki bantuan untuknya.

Ia berpikir keras sekali, sampai tiba-tiba ia sadar.

"Benar! Ouw Losianseng tidak ingin aku merusak nama baiknya!"

Maka ia lantas berdiam terus. Thian Touw tidak usah menanti lama akan menyaksikan perubahan yang menyusulnya. Kiauw Pak Beng mengasi dengar siulan yang aneh sedang Ouw Bong Hu bersuara "Hm!"

Menyusul mana tubuh mereka berdua bersama-sama mencelat tinggi!

Dua-dua Thian Touw dan Kong Thian terkejut, duaduanya lantas lompat menyusul.

Ketika Kong Thian sampai kepada gurunya, tubuh guru itu sudah turun ke tanah.

Ia berniat memegangnya, untuk mempepayang.

Tapi tubuh sang guru berputaran, ketika bajunya kena terpegang, baju itu berkibar keras, tak kuat murid ini mempertahankan diri, dia tertolak mundur hingga roboh!

"Lekas panggil adikmu!"

Terdengar suara keras dari Pak Beng. Kong Thian bangun dengan muka bengap, tetapi ia girang, sebab pikirnya.

"Rupanya luka suhu tidak parah..."

Maka ia lantas menurut perintah. Ketika Thian Touw sampai kepada Ouw Bong Hu, jago itu sudah berdiri dengan tegak, bahkan segera terdengar suaranya yang nyaring.

"Kiauw Pak Beng, kita sudah saling belajar kenal! Apakah katamu?"

Mendengar suara itu, tenanglah hati Thian Touw.

Kiauw Pak Beng menutup kedua matanya ketika ia memerintahkan Kong Thian, mendengar pertanyaan Bong Hu, ia membuka matanya, terus ia mengawasi lawannya itu.

Ia ingin melihat atau mencari sesuatu pada tubuh lawan, karenanya ia tidak segera memberikan jawabannya.

Thian Touw sendiri lantas menjadi terperanjat.

Ketika ia berpaling ke sisinya, ia tidak mendapatkan isterinya serta Kiam Hong, si nona yang semenjak tadi terlihat berdiri diam saja menonton pertempuran yang dahsyat itu.

Tengah ia heran itu, mendadak ia mendengar teriakannya Kiauw Siauw Siauw.

"Ayah! Ayah!"

Itulah teriakan dari ketakutan, yang disusul dengan munculnya si anak muda.

Untuk heran dan kagetnya semua orang, Kiauw Siauw Siauw muncul sambil berlari-lari dengan pakaiannya berlumuran darah, dan di belakang ia tampak Leng In Hong bersama Liong Kiam Hong lari mengejarnya!

Sebenarnya Siauw Siauw telah dapat beristirahat.

Ia telah mendengar hal ayahnya bersama Hok Thian Touw merundingkan tentang ilmu silat, ia hanya tidak ketahui maksud yang dikandung ayahnya itu.

Karena ini, ia memikir untuk menganjurkan ayahnya membinasakan saja In Hong semua.

Untuk ini, ia pergi keluar.

Ia baru sampai di luar pintu tatkala ia melihat ayahnya dan Ouw Bong Hu lagi bertarung, sedang Thian Touw dan isterinya berdiri menonton.

Ia menjadi jeri, lekas-lekas ia menyingkir dari depan pintu.

Kiauw Pak Beng dan Hok Thian Touw lagi bertarung, mereka berdua sama-sama tidak melihat Siauw Siauw mengintai, dan tidak mengetahui juga berlalunya In Hong dan Kiam Hong.

Nyonya Thian Touw sangat cerdik, di sampingnya menonton dan memperhatikan suaminya, matanya juga dipakai melirik kelilingan dan telinganya dipasang terangterang.

Begitu Siauw Siauw muncul, begitu ia mendapat lihat, dan ketika tuan rumah yang muda itu ngelepot seperti kepala kura-kura, ia menarik tangannya Kiam Hong, untuk diajak pergi.

Ia telah memikir, cukup Thian Touw seorang menjagai Ouw Bong Hu.

Bahkan ia tertawa dalam hati melihat suaminya seperti terpesona menonton pertarungan seru tetapi luar biasa itu.

Kong Thian semua juga memusatkan perhatiannya seperti Thian Touw, dari itu mereka tidak melihat ketika In Hong dan Kiam Hong berlalu dengan diam-diam.

In Hong dan Kiam Hong menyusul Siauw Siauw.

Pemuda itu kena dicandak, maka tanpa banyak omong lagi, mereka jadi bertempur.

In Hong membiarkan ia dihantui Kiam Hong, sebab ia tidak mau mencontoh Thian Touw yang terlalu menghormati undang-undang kaum Kangouw.

Menghadapi orang muda yang telengas itu.

ia tidak sudi mengasi hati lagi.

Sekarang ini, setelah ia mencapai perpaduan ilmu pedangnya.

In Hong menang jauh daripada Siauw Siauw, maka itu dibantui Kiam Hong, baru sepuluh jurus lebih, si pemuda sudah terlukakan beberapa tikaman.

Untungnya bagi Siauw Siauw.

nyonya dan nona itu telah termufakat untuk membekuk dia hidup-hidup, untuk dipakai sebagai alat penukaran guna mendapatkan Im Siu Lan.

Kiauw Siauw Siauw cerdik, dia bisa menangkap maksudnya kedua lawan ini.

Sebenarnya diajeri terhadap Ouw Bong Hu dan Hok Thian Touw, tetapi saking terpaksa, dia lari juga keluar sambil berteriak-teriak, untuk minta tolong dari ayahnya.

Kong Thian kaget, dia lantas maju untuk menolongi majikan muda itu.

Tepat ia datang dekat, tepat In Hong menikam majikannya.

Ia lantas menggunakan bonekanya guna menalangi menangkis.

In Hong lihai sekali.

Ketika pedangnya bentrok dengan boneka sebab ia ditangkis itu, ia lantas menggunakan ketika itu, ialah dengan pedang ia menekan boneka, terus tubuhnya berlompat tinggi melewati senjatanya si manusia raksasa.

Hingga ia dapat menyusul pula si anak muda.

Ia mau menikam jalan darah lengtay di punggung anak muda itu, untuk tetap dapat menawan hidup-hidup.

Kiauw Siauw Siauw mendapat ketika yang baik karena bantuannya Le Kong Thian itu.

Ia pun tidak mau mandah kena dibinasakan musuhnya, ia hendak mencari balas.

Ia lantas bersiap dengan kipasnya yang lihai itu, ia ingin menyerang dengan senjata rahasianya.

Akan tetapi ia terlambat.

Baru ia mengangkat tangannya setelah ia berkelit dari tikaman, belum lagi jeriji tangannya memencet alat rahasia pada kipasnya itu, lengannya sudah terbabat pedang In Hong.

Sambil membabat itu, si nyonya berkelit.

Maka juga senjata rahasia Siauw Siauw, yang toh terpencet juga, menyambar ke arah bonekanya Kong Thian.

Sebagai kesudahan dari tabasan In Hong itu, anaknya Kiauw Pak Beng menjerit keras sekali, tubuhnya terhuyung ke depan ayahnya itu dan roboh terbanting, akan tetapi ia masih sempat merangkul kaki orang tuanya itu, untuk mengasi dengar suaranya yang mempilukan.

"Ayah, balaskanlah sakit hati anakmu!..."

Tatkala itu Tek Seng Siangjin bersama-sama Law Tong Sun dan Tonghong Hek beramai telah hadir di gelanggang pertempuran itu.

Mereka telah mendengar hal pertandingan di antara Kiauw Pak Beng dan Ouw Bong Hu, mereka ingin menonton.

Justeru kebetulan sekali, mereka menyaksikan peristiwa tersebut.

Thian Touw terkejut, dalam hatinya ia kata.

"Cade! Cade! Pedangnya In Hong membuat Kiauw Siauw Siauw menjadi bercacad! Mana Kiauw Pak Beng mau mengerti? Di sini mesti akan terjadi pertempuran mati dan hidup!..."

Di luar dugaan, setelah Pak Beng memandang anaknya, dia berlaku tenang.

"Kong Thian,"

Kata dia pada muridnya.

"kau dukung sute-mu ini ke ruang belakang dan kau obati dan balut lukanya."

Dia terus menoleh kepada seorang pegawainya untuk memberikan titahnya terlebih jauh.

"Kau pergi ke dalam dan undang Nona Im keluar!"

Bukan melainkan Thian Touw yang heran tetapi juga Kong Thian. Sungguh itulah di luar dugaan! Maka murid merangkap koankee ini kata dalam hati-kecilnya.

"Suhu sudah berhasil mempelajari Siulo Imsat Kang sampai di tingkat ke delapan, meskipun benar Ouw Bong Hu lihai ilmunya Itci Siankang, agaknya dia bukanlah tandingan suhu, kenapa sekarang tampaknya suhu jeri terhadap mereka itu?"

Kiauw Pak Beng mempunyai Siauw Siauw sebagai anak satu-satunya, bahkan anak laki-laki, yang akan menyambung turunannya, sedang anak itu adalah anak mustika, yang disayang sama seperti jiwanya sendiri, sekarang Siauw Siauw ditabas kutung sebelah tangannya oleh Leng In Hong, kenapa dia tidak menjadi gusar?

Maka juga pantaslah Thian Touw dan Kong Thian heran sekali.

Lantas terdengar Pak Beng berkata.

"Di dalam satu pertempuran sukar dicegah seorang luput dari bahaya terlukakan, maka itu anakku, yang ilmu silatnya tidak mahir, terlukanya itu wajar dan karena itu, siapajuga tidak dapat dipersalahkan. Aku si orang tua telah berharihari dapat berunding ilmu dengan saudara Hok dan hari ini aku belajar kenal juga dengan Itci Siankang dari Tuan Ouw, kejadian ini ialah soal yang paling menggirangkan seumur hidupku, maka itu, dengan memandang kepada saudara Hok dan Tuan Ouw, sukalah aku membikin habis segala urusan yang sudah-sudah, dan Nona Im, silakan saudara Hok membawanya pulang. Jikalau kau bertemu Kimto Cecu, saudara Hok, tolong kau mewakilkan aku menyampaikan hormatku kepadanya."

Mendengar itu, Thian Touw girang bukan kepalang. Ia lantas memberi hormat.

"Nyata locianpwee mengerti segala apa!"

Katanya.

"Terima kasih!"

Tetapi In Hong kata dalam hatinya.

"Siapa bilang tua bangka ini mengerti segala apa? Terang-terang tua bangka ini memandang enteng kepada yang lemah dan sebaliknya takut pada yang kuat!"

Sementara itu si pegawai yang dititahkan Pak Beng tadi sudah muncul bersama-sama Im Siu Lan, yang telah sangat tersiksa oleh Siauw Siauw, hingga dia tampak lemah sekali.

Kiam Hong lantas menghampirkan, untuk mempepayang.

Siu Lan membuka kedua matanya.

Ia sangat lemah tetapi matanya itu bersinar tajam.

Dengan cahaya sangat bermusuh, ia mengawasi Kiauw Pak Beng.

Pak Beng tertawa, ia kata sabar.

"Nona Im, Siauw Siauw memperlakukan tidak baik terhadapmu, aku sangat menyesal. Bukankah kau sangat membenci dia? Bukankah barusan sambil lewat kau telah melihat anakku itu? Dia telah menerima ajaran dari Leng Lihiap, sebelah tangannya sudah ditabas kutung! Bukankah karenanya, penasaranmu telah dapat dilampiaskan?"

Biarnya jago ini bicara dengan tenang akan tetapi kata-katanya yang terakhir itu bernadakan kemurkaan yang tertahan.

Biar bagaimana, senang Thian Touw dengan kesudahan itu.

Itulah hal yang ia minta pun tidak dapat.

Karenanya iaberkuatir sekali.

"kalau sang malam panjang, sang impian menjadi banyak."

Maka lantas ia berkata.

"Kami semua datang kemari untuk Nona lm, sekarang urusan sudah beres, aku yang muda memohon diri!"

Kiauw Pak Beng tertawa terbahak.

"Dengan kedatangan kau ini, saudara Hok, bukan sedikit kefaedahan yang diperolehku!"

Katanya.

"Sampai kita bertemu pula!"

Matanya lantas menyapu. Melihat Ouw Bong Hu, yang ia awasi tajam, ia menambahkan.

"Tuan Ouw, baik-baiklah kau merawat dirimu! Di jaman ini, orang-orang tua yang menjadi ahli silat sudah tinggal tak seberapa orang lagi! Bukankah itu harus disayangi?"

Mendengar perkataan jago itu, Thian Touw terkejut, lekas-lekas ia mengawasi Ouw Bong Hu.

Ia mendapat kenyataan Bong Hu bersikap sebagaimana biasa, kecuali air mukanya mirip orang yang telah menenggak beberapa cawan air kata-kata, ialah bersemu dadu.

Ia menganggap biasa siapa habis .bertempur hebat, hingga orang menjadi telah mengeluarkan banyak tenaga, kesegarannya tak segera pulih kembali.

Tapi ia tetap heran.

Kenapa Pak Beng mengatakan demikian?

Pikirnya.

"Kenapa terhadapku Pak Beng membilang sampai bertemu pula sebaliknya terhadap Ouw Bong Hu, nada suaranya tak sedap? Itulah kata-kata yang beralamat jelek? Kenapakah?"

Ouw Bong Hu dingin nadanya ketika ia menyahuti.

"Kiauw Pak Beng. apakah kau merasakan apa-apa yang luar biasa pada nadimu? Kau juga harus baik-baik merawat dirimu!"

Setelah itu ia memutar tubuhnya, untuk bertindak pergi.

Kembali Thian Touw menjadi heran, maka ia melirik Pak Beng.

muka siapa ia dapatkan telah berubah sedikit.

Meski demikian, tuan rumah yang kosen itu tertawa ---dengan suara tertawanya yang aneh ---dan berkata pula.

"Ouw Bong Hu. kau baik-baiklah jalan! Maafkan aku, tidak dapat aku mengantarkan kau!"

Lantas ia mengibaskan tangannya dan memutar tubuhnya, untuk masuk ke dalam.

Thian Touw dan isterinya serta Tie Goan berdua lantas mengikuti Ouw Bong Hu berlalu.

Kiam Hong ada bersama Siu Lan.

Thian Touw terus memperhatikan jago tua itu.

Setelah meninggalkan pintu rumah Pak Beng, mukanya Bong Hu berubah menjadi suram, dengan membungkam, ia berjalan terus.

Ia tetap heran, ia tidak mengerti.

In Hong lantas mendapat firasat buruk.

Kiam Hong dan Siu Lan turut mendapat lihat roman luar biasa dari Bong Hu, karena itu, meski mereka ingin omong banyak, mereka turut bungkam.

Sampai di kaki gunung, romannya Ouw Bong Hu makin berubah.

"Mari kita beristirahat,"

Kata In Hong.

"Ouw Locianpwee. barusan kita mengandal locianpwee mengalahkan Kiauw Pak Beng, maka aku percaya, tidak nanti dia berani menyusul kita karena mana kitapun tak usahlah berjalan dengan tergesa-gesa..."

Nyonya Hok ini menyangka, sebab bertempur sangat hebat dan mengeluarkan tenaga terlalu banyak, Bong Hu menjadi sangat letih dan ia perlu beristirahat.

Tapi keadaan orang she Ouw itu beda daripada terkaan itu.

Ouw Bong Hu mengangkat kepalanya, memandang ke atas gunung, habis itu dengan perlahan ia menyahuti.

"Benar, aku benar harus beristirahat!"

Lagu suaranya itu tawar sekali! Hati In Hong terkesiap, ia kaget.

"In Hong, apakah kau mengira aku telah dapat mengalahkan Kiauw Pak Beng?"

Ouw Bong Hu tanya, perlahan.

"Aku menduga dia telah terhajar Itci Siankang dari locianpwee,"

Si nyonya menjawab.

"Jikalau tidak, kenapa dia tidak menjadi gusar meskipun aku telah membabat sebelah lengan anaknya? Benarkah dia dapat sudah saja?"

"Tidak salah,"

Kata Bong Hu.

"tidak salah tadi dia telah terlukakan olehku, tetapi sebabnya kenapa ia suka berhenti sampai di sini itulah lantaran diajeri terhadap kamu suami isteri..."

In Hong melengak, begitupun Thian Touw.

"Locianpwee."

Kata si orang she Hok.

"mana dapat kami menerima pujian locianpwee ini? Kami menempur dia sudah lima hari, buat omong terus terang, kami berdua benar-benar bukanlah tandingan dia!"

"Dia telah terluka, yang paling penting untuknya ialah mendapatkan tempo untuk menyalurkan napasnya, untuk mengobati diri sendiri,"

Berkata Ouw Bong Hu.

"oleh karena itu, mana dia berani menempur pula kamu berdua? Siulo Imsat Kang dari Kiauw Pak Beng demikian lihai, sungguh itulah di luarsangkaanku..."

Mendadak dia menjatuhkan diri berduduk di tanah, napasnya pun mulai sesak.

Orang semua terperanjat.

Dalam ilmu dalam, di jaman itu, kecuali Thio Tan Hong.

tidak ada lain orang lagi yang sanggup melawan jago she Ouw ini.

Maka heran yang dia dapat tergempur Kiauw Pak Beng.

"Locianpwee,"

Kata Thian Touw, yang hatinya menjadi kecil.

"aku mempunyai teratai salju dari Thiansan..."

"Teratai itu simpanlah untuk kamu pakai sendiri,"

Ouw Bong Hu memotong.

"Aku tidak membutuhkan itu..."

Jago tua itu tertawa tetapi sedih tertawanya.

Thian Touw dan In Hong menduga orang telah terluka parah di bagian dalam, mereka hanya tidak menyangka luka itu demikian hebat hingga Ouw Bong Hu mirip pelita yang telah kekeringan minyak, bahwa jiwanya segera bakal tak tertolong pula.

Ouw Bong Hu menentang hebat Siulo Imsat Kang dari Kiauw Pak Beng, selama itu hawa dingin telah menyerang masuk ke dalam tubuhnya, syukur untuknya, saking mahirnya tenaga dalamnya, dia masih dapat bertahan demikian lama.

Ini sebabnya kenapa sampai sekian lama suami isteri itu tidak dapat melihatnya.

Bahkan Kiauw Pak Beng sendiri tidak dapat membade lawannya itu terluka sampai di batas mana, karena mana, di samping jeri terhadap pada Thian Touw dan In Hong, dia jadi tidak berani menuntut balas untuk anaknya.

Pak Beng terluka pada nadinya yang dinamakan Samim meh, luka itu jauh lebih enteng daripada luka lawannya, andaikata dia mesti menempur pula Thian Touw dan In Hong, ada kemungkinan dia dapat bertahan atau sedikitnya kedua pihak bakal terluka parah bersama.

Di mana di sana ada rombongannya Tek Seng Siangjin, apabila benar terjadi pertarungan mati hidup, mungkin sekali rombongan In Hong tak akan ada yang pulang hidup...

Hati In Hong menjadi kecil mendengar suaranya Ouw Bong Hu, tetapi ia tidak lantas menjadi putus asa, ia malah berpikir keras, untuk mencari jalan guna menolongnya.

Penolakannya Ouw Bong Hu memakan soatlian atau teratai salju membuatnya menyangka Bong Hu ingin bertahan dengan tenaga dalamnya.

Ia mau membujuki ketika jago itu berkata pula dengan lemah.

"Sang tempo sudah tidak banyak lagi, aku ada beberapa pesan untuk kamu, harap kamu suka lekas mengerj akannya."

"Silakan, locianpwee,"

Kata Thian Touw dan In Hong bareng.

"Yang pertama yaitu kamu mesti lekas berangkat ke Tali untuk mengundang Thio Tan Hong,"

Berkata Bong Hu.

"Sekarang ini tenaga dalam dari Kiauw Pak Beng sudah teryakinkan hingga dia berada di antara kelurusan dan kesesatan, jikalau dia diberi kesempatan menyampaikan tingkat ke sembilan, sekalipun Thio Tan Hoag belum tentu dapat menundukkan dia. Sekarang dia tengah memerlukan tempo untuk dapat menggabung sempurna kedua pelajaran lurus dan sesat itu, di dalam tempo satu tahun, Tan Hong dapat menang unggul daripadanya. Selewatnya satu tahun, sukarlah untuk dibilang..."

Thian Touw terkejut. Di dalam hatinya segera timbul pertanyaan.

"Dari mana Kiauw Pak Beng mendapatkan pelajaran lurus itu?"

Tengah ia terbengong, In Hong mengawasi ia dengan tajam.

Hanya isteri ini pun tercengang seperti ianya.

Melainkan sinar mata sang isteri bagaikan menegur atau menyesali ia.

Ia menjadi berkuatir, ia menjadi berduka.

Ia menjadi bergelisah ketika ia lantas ingat.

"Pastilah Kiauw Pak Beng memperoleh pelajaran lurus dari selama diajak berunding dengannya!..."

Matanya Ouw Bong Hu digeser kepada Hok Thian Touw.

Ia tidak mendapat tahu halnyajago Thiansan ini sudah ditantang berunding oleh Kiauw Pak Beng yang licin itu, maka itu, beda daripada In Hong, dia tidak menegur atau menyesalkan.

Tapi Thian Touw sendiri bersengsara hati tidak kepalang, sinar matanya Bong Hu tajam sebagai anak panah menusuk hatinya!

Ouw Bong Hu tahu orang she Hok itu menyesal dan berduka, ia menduga orang menyesal dan berduka untuknya, maka dengan tawar ia kata.

"Di kolong langit ini tidak ada perjamuan yang tidak bubar dan sekarang bukan saatnya untuk bersusah hati. Apakah yang hendak ditangisi. Sekarang soal yang kedua. Inilah mengenai diri kamu berdua suami isteri. Mari kamu dengari perkataanku!"

Hati Thian Touw bercekat. Hal yang mengenai diri mereka suami isteri? Maka dengan penuh perhatian ia memasang telinganya. Demikianpun In Hong. Ouw Bong Hu melanjuti berkata.

"Kamu berdua jangan berdiam terus di gunung Thiansan! Kiauw Pak Beng telah terluka tetapi mengandal pada tenaga dalamnya paling lama dalam tempo satu bulan, dia akan sudah sembuh dan pulih kesehatannya seperti sediakala. Menurut nada suaranya tadi. dia pastilah tidak sudi melepaskan kamu berdua, sesudah sembuh, tentu dia akan pergi mencari kamu! Maka itu paling benar kamu segera pergi ke Tali, untuk mengundang Thio Tan Hong, atau kamu menyingkir ke lain tempat!"

Thian Touw mengasi dengar ejekan.

"Hm!"

Ia mendongkol sekali yang ia sudah terpedayakan Pak Beng, hingga selagi berunding, ilmu tenaga dalamnya sudah tercuri oleh jago Siulo Imsat Kang yang licik itu.

"Dia tidak mau melepaskan aku, aku juga tidak mau melepaskan dia!"

Ia kata sengit.

"Bagus, kau bersemangat!"

Ouw Bong Hu memuji.

"Di kalangan muda, kaulah orang satu-satunya yang nomor satu! Aku percaya di belakang hari, ilmu silatmu bakal berada di atasan Kiauw Pak Beng, cuma sekarang belum tiba saatnya untuk kau menempur dia! Kau harus menyayangi diri, kamu harus tetap hidup untuk nanti kamu membalaskan sakit hatiku ini!"

Thian Touw kaget dan bingung.

"Locianpwee, kau kenapa?"

Ia bertanya. Bong Hu menyahuti perlahan.

"Sebenarnya aku memikir untuk pulang ke rumah untuk berbicara dengan isteriku. untuk berpisahan. tetapi sekarang aku anggap tak usahlah aku memikir banyak-banyak, supaya kedua pihak tak usah bersusah hati lagi. Ada kamu yang bakal mewakilkan aku menyampaikan kabar, itu pun sama saja. Aku asal bangsa Kazakh. maka menurut aturan bangsaku, setelah seorang menutup mata, mayatnya lantas dibakar menjadi abu, untuk mana tak usah orang menyiapkan ini dan itu. Upacara kematian bangsaku jauh lebih hemat daripada upacara kamu bangsa Han. Setelah kamu membakar mayatku, lantas abunya tolong kamu bawa pulang buat diserahkan pada isteriku, sedang kepada isteriku itu kamu membilangi supaya dia lekas pergi ke tempat yang kedua. Kiauw Pak Beng keras hati dan telengas, aku kuatir apabila dia menerima kabar dari kematianku, dia nanti timbul ingatannya untuk membakar rumput sekalian membongkar akarnya! Artinya, mungkin dia bakal menurunkan tangan jahat atas diri isteriku! Kamu mengirim seorang yang pandai bicara untuk membujukinya, dan kamu membujuki sesudah datangnya Thio Tan Hong baru ia mewujudkan pembalasannya!"

Orang semua merasakan firasat tidak enak.

Siapa tahu Ouw Bong Hu lantas dengan getas membicarakan soal kematiannya.

Inilah hebat, hati mereka menjadi mencelos.

ln Hong maju mendekati, untuk mengangkat bangun jago tua itu.

Ouw Bong Hu berdiam saja ia bersenyum sedih, lantas kedua matanya dirapatkan.

Sebab seketika itu juga berhentilah napasnya.

Sebenarnya Ouw Bong Hu masih dapat bertahan beberapa hari, tetapi itu berarti penderitaannya bertambah tiap hari, maka juga ia mengambil putusan baiklah ia mati lantas, maka itu diam-diam, dengan sisa tenaga yang masih berada di dalam dirinya, ia memutuskan nadinya sendiri.

Inilah sebabnya, di saat terakhir itu ia masih bisa berlaku tenang, tak miripnya orang yang mau putus jiwa...

Thian Touw tidak percaya orang sudah berhenti bernapas, ia memegang tangannya, hingga ia merasa nadi sudah tidak bekerja pula dan tangan itu terasa mulai dingin.

Ia jadi demikian berduka hingga ia berdiri menjublak saja kedua tangannya memondong tubuh jago tua itu.

Matanya menjadi merah tetapi air matanya tidak mengucur keluar!

In Hong mengalirkan air mata deras.

"Sekarang ini menyesal pun sudah kasip..."

Katanya perlahan.

"Aku harap kau janganlah mensia-siakan pesan Ouw Locianpwee ini."

Thian Touw mencabut pedangnya, dengan itu ia menabas sebuah pohon ditepi jalan, terus ia kata dengan suara dalam.

"Ouw Locianpwee, kau berangkatlah dengan tenang! Kami pasti akan menuntut balas untukmu!"

Baru sekarang, habis mengucapkan sumpahnya itu, dia dapat menangis menggerung-gerung! Lega hati In Hong mendapatkan suaminya bisa menangis. Ia kata dalam hatinya.

"Syukur dia dapat menangis... Setelah memperoleh pelajaran ini, mungkin dia bakal merubah tabiatnya... Hanya jangan-jangan harga yang dia bakal minta akan jadi terlalu besar!..."

In Hong berduka berbareng merasa lega.

Tanpa merasa ia mencekal tangan suaminya, yang sebaliknya pun mencekal ianya.

Sejak keretakan di antara mereka baru sekarang ia merasa bahwa ia berada dekat sekali dengan suaminya ini...

"Benar, sekarang bukan lagi waktunya berduka,"

Berkata Tie Goan akhirnya.

"Mari lekas kita bekerja menurut pesan Ouw Locianpwee, untuk mengurus jenazahnya."

Orang suka mendengar kata-kata itu. maka itu. sembari menangis mereka mengumpulkan kayu, untuk terus membakar tubuh Ouw Bong Hu, untuk kemudian, sesudah selesai, abunya dibungkus dengan rapi.

"Biarlah tugas ini diserahkan padaku."

Berkata Tie Goan kemudian.

Sebagai ketua muda dari Partai Pengemis, Tie Goan seimbang umur dan derajatnya dengan Ouw Bong Hu suami dan isteri, iapun sahabat dari suami isteri itu.

maka itu dialah orang yang paling tepat untuk mengantarkan abu Bong Hu kepada Nyonya Ouw yaitu Kimkauw Siancu Lim Sian In.

"Thian Touw,"

In Hong berkata pada suaminya.

"mari kita berdua pergi ke Tali untuk mengundang Thio Tayhiap."

Thian Touw paling sungkan terlibat urusan dunia Kangouw akan tetapi sekarang ia telah terlibat juga, maka sekalipun ia ingin menyingkir, tak dapat ia menyingkirkan diri, dari itu tanpa menjawab isterinya, ia mengangguk.

Cuma di dalam hatinya ia kata.

"Aku telah terjebak Kiauw Pak Beng, maka tak dapat aku menghindarkan diri dari tugas menuntut balas untuk Ouw Locianpwee! Hanya, setelah terlibat ini, sampai kapan aku dapat memperoleh pula ketenanganku untuk aku melanjuti cita-citaku memahamkan ilmu pedangku?..."

Oleh karena memikir demikian, jago Thiansan ini menyesal juga yang ia telah mengikuti isterinya mendaki Kunlun San hingga mereka jadi bermusuh dengan Kiauw Pak Beng.

Ketika itu, Ciu Ci Hiap berkata pada Im Siu Lan.

"Nona Im, sangat besar budimu terhadap kami, budi itu belum dapat kami balas, karenanya hati ayahku menjadi tidak tenteram. Maka itu aku minta dengan sangat sukalah kau datang pula ke gunung kami."

Selagi bicara itu, Ci Hiap rada likat, sebab ia tahu.

dengan meminta Siu Lan datang ke gunungnya, sebenarnya ayah dan ibunya ingin sangat merangkapkan jodoh si nona dengan jodohnya sendiri.

Siu Lan seorang yang cerdik, melihat sikap si pemuda, ia dapat menduga beberapa bagian.

Maka berpikirlah ia.

"Kimto Cecu berlaku sangat baik padaku, kebaikannya itu membuatnya aku bersyukur, dan sekarang untuk menolongj aku, dia telah bekerja keras, maka itu, dapat atau tidak aku menerima baik cita-citanya itu, yang penting ialah aku mesti pergi menemui mereka, untuk menghaturkan terima kasihku. Hanya, kalau aku tiba di gunung dan aku bertemu Giok Houw, bagaimanakah?"

Selagi memikir demikian, si nona kembali mendengar perkataannya C ie Hiap.

"Setelah nona meninggalkan gunung kami, semua orang sangat memikirkan kau. Saudara Ban Thian Peng bersama aku sudah lantas turun gunung, kita pergi ke Selatan, untuk mencari. Juga saudara Thio, sesudah sakitnya sembuh, ia bakal berangkat mencari kau, maka itu, mungkin ia sekarang sudah tidak berada di gunung."

Mendengar itu, tertarik hatinya Siu Lan.

Maka ia lantas mengambil keputusannya.

Ci Hiap belum pernah bergaul erat dengan bangsa nona-nona dari itu berdiri di depan Siu Lan, hatinya tidak tenteram, ia likat sendirinya.

Nona Im melihat muka orang, ia dapat menduga lebih jauh.

"Ciu Cecu baik sekali terhadap aku. aku sangat bersyukur,"

Ia kata sedikitpun tidak likat.

"maka itu, aku sebenarnya ingin sekali tidak mendatangkan kesulitan apa-apa kepada pihakmu."

Kata-kata si nona membuatnya si pemuda bingung.

"Nona... Nona Im..."

Katanya, tak lancar.

"nona membilang apa? Justeru nona yang telah melepas budi besar terhadap kami hingga kami tidak ketahui bagaimana harus membalasnya. Dengan mengatakan demikian, apakah nona bukannya memandang asing kepada kami?"

"Jangan gelisah!"

Kiam Hong campur bicara, sembari tertawa ia pandang si anak muda.

"Kau dengari, Nona Im masih ada kata-katanya terlebih jauh!"

Ci Hiap melirik Nona Im, benarlah ia mendapatkan bibir orang bergerak. Jadi nona itu berhenti bicara karena ia memotong barusan. Sendirinya mukanya menjadi bersemu dadu.

"Aku telah terjatuh ke dalam sarang hantu tetapi aku telah ditolongi kamu,"

Benar-benar Siu Lan melanjuti omongannya.

"maka itu budi kamu yang besar itu, entah sampai kapan aku dapat membalasnya. Aku bersyukur kepada Ciu Cecu yang dalam kerepotannya masih dapat memikirkan aku, karenanya aku harus pergi ke gunung untuk menghaturkan terima kasih."

Mendengar suara yang terakhir ini, lega hati Ci Hiap.

"Sebenarnya terhadap kongcu, aku juga belum menghaturkan terima kasihku,"

Siu Lan berkata pula.

"Ketika itu..."

Ci Hiap memotong.

"Urusan yang sudah lewat buat apa disebut-sebut pula?"

Siu Lan bersenyum.

"Jadi benar-benar kamu tidak menyesalkan aku?"

Tanyanya.

"Kau dan ibumu telah membantu banyak pada kami, kamu telah menolongi jiwa ayahku,"

Kata Ci Hiap.

"untuk itu kami bersyukur tidak habisnya!"

Kembali Siu Lan bersenyum.

Demikian mereka berbicara.

Karena sikap Siu Lan yang polos, lama-lama Ci Hiap menjadi hilang likatnya.

Kiam Hong, dapat melihat itu, ia girang.

Tapi masih ada sedikit kesangsiannya terhadap Siu Lan, maka ia pikir.

"Apakah benar-benar dia dapat begini cepat melupai Giok Houw?"

Mereka berjalan terus.

Cepat mereka berjalan, sebab di antara mereka tidak terjadi sesuatu yang menghalanghalanginya.

Lewat setengah bulan, tiba sudah mereka di gunung, dalam benteng Kimto Ce.

San Bin dan isterinya mendapat kabar pulangnya rombongan itu, mereka girang sekali, dengan lantas mereka pergi keluar untuk menyambut.

Cui Hong yang polos, begitu dia melihat Siu Lan.

tak dapat dia menyembunyikan kegirangannya.

Dia lantas cekal keras tangan Nona Im seraya berkata.

"Oh, anakku yang baik, akhir-akhirnya kau kembali! Kali ini aku larang kau pergi pula! Jikalau kau tidak buat celaan, kau anggaplah rumahku ini sebagai rumahmu sendiri! Ci Hiap, kau mesti mewakilkan ibumu melayani baik-baik pada Nona Im!"

"Terima kasih, peebo,"

Berkata Siu Lan.

"Sebenarnya, selang dua hari, aku ingin turun gunung dulu..."

Cui Hong heran hingga ia mementang lebar matanya.

"Apa? Kembali kau hendak pergi?"

Tanyanya.

"Ci Hiap, apakah kau berbuat salah terhadap Nona Im?"

Siu Lan tertawa, ia mendahului si anak muda menyahut.

"Selama di sepanjang jalan Ciu Toako perlakukan aku baik sekali,"

Bilangnya.

"bahkan toako membilangi aku bahwa di sini hendak dibangun pasukan wanita, hingga aku ingat warisan agama Cit Im Kauw dari marhum ibuku. Pasukan wanita yang menjadi murid-murid atau pengikutnya ibuku itu, sampai sekarang ini masih berkumpul di rumah Keluarga Tang di Himji San dan mereka itu masih belum ketahui yang Kauwcu mereka sudah meninggal dunia. Ibuku memang telah memesan aku agar aku terus melanjuti usahanya memupuk Cit Im Kauw."

Mendengar demikian, Cui Hong berpikir.

"Jadi kau berniat menggantikan menjadi Kauwcu?"

Ia tanya.

"Tidak, aku tidak memikir untuk menjadi Kauwcu,"

Siu Lan menerangkan.

"hanya mereka itu harus diurus dan dipernahkan, supaya mereka jangan bubar dan nanti membahayakan chalayak ramai. Kebanyakan dari mereka ialah anak-anak perempuan yang sudah tidak punya rumah tangga lagi. Ingin aku bicara dengan mereka itu. Siapa yang masih mempunyai rumah atau sanak yang dapat ditumpangi, atau siapa yang berniat berusaha sendiri, akan aku berikan kemerdekaan kepada mereka. Siapa tidak punya sanak atau andalan, yang suka turut aku, ingin aku ajak datang kemari, hanya untuk itu lebih dulu aku harus mendapat persetujuan peehu dan peebo."

"Oh, begitu? Aku tadinya . menyangka kau hendak meninggalkan kami. Kami memang membutuhkan pasukan wanita, maksudmu baik sekali. Sekarang kau beristirahat dulu sedikitnya dua hari, nanti aku menyuruh Ci Hiap, dan dua tauwbak menemani kau pergi mengurus tenteramu itu."

Malam itu diadakan perjamuan, walaupun orang berduka untuk kematiannya Ouw Bong Hu.

Habis berjamu, Cui Hong ajak Siu Lan memasang omong di dalam kamar.

Kiam Hong serta In Hong dan Thian Touw pun diantar ke masing-masing kamarnya.

Otak Kiam Hong penuh dengan pelbagai pikiran selagi ia melewati kamar di mana Giok Houw pernah dirawat.

Ia berpikir.

"Untuk Siu Lan sudah ada kepastiannya. Semoga dia dapat hidup berbahagia dengan Ci Hiap. Hanyalah engko Giok, entah dia pergi dan berada di mana sekarang..."

Selagi Nona Liong berpikir itu, mendadak ia mendengar suaranya Siu Lan.

"Enci Liong!"

Dan lantas Nona Im menghampirkannya. Ia heran, tetapi ia tertawa dan tanya.

"Aku lihat Ciu peebo seperti hendak bicara banyak dengan kau, kenapa begini lekas kau sudah keluar lagi?"

Siu Lan bersenyum. Ia kata.

"Orang memikirkan kau, kau justeru menggodai orang! Eh, enci Liong, habis ini kau berniat pergi ke mana?"

"Aku belum mengambil keputusan,"

Kiam Hong menjawab.

"Mungkin aku akan turut Enci In Hong dan Hok Toako pergi ke Tali atau Tanghay mencari enci Sin Cu."

"Aku pikir lebih baik enci pergi pada enci Sin Cu,"

Siu Lan mengasi pikiran.

"Aku dengar dari Ciu Peebu, begitu dia sembuh, Thio Giok Houw lantas turun gunung, maksudnya mencari kau, atau mungkin sekali dia pergi kepada kakak seperguruannya itu."

Ia berhenti sejenak, baru ia menambahkan.

"Enci Liong, kau kejam! Itu hari sebelum Giok Houw sembuh, tanpa bicara apa-apa dengannya, kau lantas turun gunung dengan diam-diam! 1 ahukah kau bagaimana dia menjadi bergelisah karenanya?"

Mukanya Kiam Hong menjadi merah.

"Baru saja kau mengatakan aku menggodamu, sekarang kaulah yang menggodai aku!"

Katanya.

"Sedikitpun aku tidak menggodai kau, enci!"

Berkata Siu Lan sungguh-sungguh.

"Dua hari lamanya aku merawati Giok Houw sakit, selagi dia tidur aku mendengar dengan telingaku sendiri dia saban-saban menyebut-nyebut enci, sedikitnya beberapa puluh kali!"

Mendengar itu, hati Kiam Hong tergerak. Ia berdiam.

"Dia sangat menyintai kau, enci, untuk itu tidak ada lain orang yang dapat menggantikanmu."

Kata pula Siu Lan.

"maka itu baiklah kau lekas-lekas menemui padanya. Ci Hiap pun mengharap-harap agar kamu berdua lekas kembali untuk bertemu pula dengan kami di sini! Ya, lebih lekas lebih baik!"

Sengaja Siu Lan menyebut-nyebut Ci Hiap dan "kami"

Itu. Hati Kiam Hong lantas saja terbuka. Setelah beberapa bulan awan bergumpal, maka di detik ini, langit menjadi cerah. Katanya dalam hati.

"Benar-benar Siu Lan menyukai Ci Hiap!"

Karena ini, selagi mulanya ia berniat menggodai nona itu, ia lantas membatalkannya. Sebaliknya, ia ingat Giok Houw.

"Malam ini baiklah enci beristirahat siang-siang,"

Siu Lan berkata pula.

"supaya besok enci dapat berangkat pagi-pagi!"

Kiam Hong tertawa.

"Kau seperti juga sudah mewakilkan Ciu Peebu menjadi nyonya rumah!"

Katanya.

"Jadi sekarang kau hendak mengusir aku?"

Nona Im pun tertawa.

"Bukannya aku mengusir kau, enci!"

Sahutnya.

"Adalah Thio Giok Houw yang memaksa kau lekas pergi!"

Dan lantas dia berangkat. Senang Kiam Hong dapat mengantarkan si nona pergi. Di dalam hatinya, ia kata.

"Kesudahan ini baik sekali! Dia menjadi ada ketentuannya dan aku pun boleh tak usah berpisah lagi dari engko Houw!..."

Akan tetapi Nona Liong ini tidak ketahui, setelah melengos, air mata Siu Lan lantas mengembeng dan tak dapat terbendung mengalir keluarnya.

Sebab dia berbuat demikian tadi dengan sengaja, buat guna ianya, dengan paksakan diri mau dia bersikap manis terhadap Ci Hiap...

Besoknya pagi, Hok Thian Touw dan Leng In Hong meminta diri dari San Bin sekalian, untuk mereka berangkat, sedang Kiam Hong mengutarakan niatnya pergi ke Tanghay, laut Timur, untuk mengunjungi Ie Sin Cu.

Cio Cui Hong tertawa dan berkata.

"Sebenarnya aku ingin menahan kau untuk beberapa hari lagi, akan tetapi aku lebih mengharap kau dan Thio Giok Houw kembali siang-siang, untuk menjenguk kami! Maka baiklah, kau boleh pergi!"

Kiam Hong likat tetapi hatinya girang.

Ia pula berangkat bukan seorang diri, ia berkawan dengan Liu Tek Chong dan Chio Peng Kin, kerua dan ketua muda dari benteng Thayouw Ce.

Waktu jago tua ini datang membantui San Bin ketika dilakukan perampasan pelbagai bingkisan untuk kota raja, lantaran San Bin terluka, mereka terus berdiam di atas gunung, sekarang setelah San Bin sembuh dan gunung aman, mereka mau berangkat pulang.

Maka itu, San Bin menganjurkan Nona Liong berangkat bersama mereka Mulai dari Thiancin, mereka akan naik perahu untuk berlayar di laut.

Kiam Hong membawa dua budaknya, Cun Tho dan Hee Hoo.

Mereka itu untuk sekian lama dititipkan di atas gunung.

Dua yang lain, yaitu Ciu Kiok dan Tong Bwee, diserahkan kepada Siu Lan.

Thian Touw dan nyonya mau pergi ke Tali.

Ada dua jalan yang mereka dapat ambil.

Yang pertama ialah dari Barat daya lewat Siamsay memasuki Sucoan terus ke Inlam, dan yang lainnya dari Tenggara mengikuti pesisir melewati Hokkian mutar ke Kwitang dan Kwisay, baru dari Kuiciu tiba di Inlam.

Kedua jalan itu membutuhkan tempo yang tak beda jauh selisihnya.

Tapi In Hong tak dapat segera berpisah dari Kiam Hong, dari itu ia suka menemani si nona.

untuk setibanya di Thiancin barulah mereka berpisahan.

Di sana Kiam Hong naik perahu besar dari Liu Tek Chong memasuki lautan, sedang In Hong dan suaminya menyewa perahu lain menuju ke selat Hangciu.

In Hong dengan Sin Cu sangat erat perhubungannya, sebenarnya In Hong ingin turut Kiam Hong pergi menemui sabahat karib itu, apamau ia terhalang oleh suaminya.

Thian Touw tidak setuju.

Sebabnya ialah suami ini ingin lekas-lekas membereskan tugas menuntut balas untuk Ouw Bong Hu, supaya mereka bisa lekas pulang, guna memulai lagi peryakinan ilmu pedang mereka yang belum sempurna itu.

Jadi Thian Touw tidak ingin berayal-ayalan di tengah jalan.

Pada suatu hari tibalah suami isteri itu di kota Hangciu.

In Hong lantas ingat Sin Cu.

Di sini dahulu hari mereka berdiam bersama sekian lama.

Ia bicarakan halnya itu dengan suaminya.

"Kau selalu ingat lelakonmu selama perantauan dulu hari itu,"

Kata Thian Touw bersenyum duka "Kalau begini maka ada kemungkinan setelah selesai pembalasan sakit hati Locianpwee Ouw Bong Hu, kau nanti tak dapat berdiam tenang di atas gunung meyakinkan ilmu pedang kita..."

In Hong mengerutkan alis.

Itulah perbedaan faham di antara mereka.

Itulah bibit yang dapat menyebabkan bentrokan mereka.

Tapi ia ingat bahwa baru saja ia akur pula dengan suaminya itu ---baru selang beberapa hari.

Maka ia ingin agar tidak terjadi bentrokan pula.

Terpaksa ia mengiringi kehendak suaminya.

Lantas suami isteri ini pergi ke restoran Lauwgwa Lauw di tepinya telaga Seouw.

Mereka berdahagadan lapar.

Begitu mereka naik di loteng, mereka menjadi heran.

Ini yang yang dibilang.

"Pohon itu hendak berdiam tenang tetapi sang angin tak berhenti meniupnya."

Rumah makan yang besar itu kosong dari tetamu!

Sedang rumah makan itu sangat kesohor untuk kota Hangciu, pernahnya di tepi telaga, di kaki gunung Kosan ---ialah di tempat dengan pemandangan alam yang indah.

Biasanya restoran itu penuh dengan tetamu, hingga sukar untuk memilih tempat yang mencocoki hati.

Siapa sangka hari ini, sunyi senyap keadaannya.

Baru sekarang mereka pun sadar bahwa tadi, selama di tepi telaga dan di luar restoran, suasana pun sepi, orangorang yang berlalu lintas hanya beberapa gelintir.

Selagi suami isteri ini keheranan dan memandang sekitarnya, maka mereka bentrok dengan sesuatu pada tembok.

Kebetulan mereka mengangkat kepala mereka, lantas pada tembok itu nampak nancap berbaris banyak senjata rahasia yang dinamakan biji teratai besi, yaitu thielian ci.

Pastilah itu buah pekerjaan seorang ahli silat.

Seorang pelayan yang menampak tetamu-tetamunya merasa aneh, lantas menghampirkan.

"Apakah jiwi asal orang lain kota?"

Ia bertanya.

"Jiwi menghendaki barang santapan apa?"

In Hong memesan ikan gabus dan ayam tim serta beberapa masakan lainnya, yang tersohor untuk kota Hangciu, kemudian sembari tertawa ia tanya pelayan itu.

"Apakah hari ini ada suatu hari pantangan? Kenapa aku tidak melihat lain-lainnya tetamu yang pesiar kemari? Kenapa rumah makanmu begini sepi?"

"Bukan, bukan hari pantangan, nyonya!"

Sahutnya lekas, bibirnya dijebikan.

"Tetamu sendiri yang tidak mau datang kemari, apakah kami dapat bikin?"

"Itu tembok yang putih bersih, kenapa itu dibikin jadi tidak keruan?"

In Hong tanya pula.

"Barang apakah itu yang bergerumutan seperti sarang lebah? Apakah itu semacam barang periasan rumah yang istimewa untuk Hangciu ini?"

Sengaja ia berpura-pura tak kenal thielian ci, untuk memancing si pelayan suka membuka mulut. Agaknya pelayan itu mendeluh, ketika ia menyahuti, suaranya keras.

"Siapa kesudian barang perhiasan semacam itu?"

Demikian jawabnya.

"Hm! Hm! Sungguh sial! Tembok kami ini baru saja tiga hari yang berselang disapu kapur!"

"Sebenarnya apakah telah terjadi?"

In Hong menegasi. Pelayan itu melihat kelilingan, lantas ia menggeleng kepala.

"Ah, kejadian ini..."

Katanya, menghela napas.

"Nyonya, lebih baik kau tidak usah menanyakannya..."

In Hong cerdik, ia lantas mengeluarkan sepotong perak seharga sepuluh tahil.

"Beginilah tabiatku,"

Katanya.

"Jikalau ada suatu kejadian, yang aku tidak ketahui jelas, sebelum mengerti jelas, tak puas hatiku. Kau ambil uang ini, untuk segala pembayaranku, kelebihannya kau boleh ambil semua untuk kau sendiri!"

Mulanya si pelayan heran, lantas .dia menjadi girang.

Untuknya, uang sepuluh tahil perak cukup buat biaya serumah-tangganya selama sebulan.

Keluarganya cuma terdiri dari tiga jiwa.

Sembari menyimpan uang itu, ia melihat lagi ke sekitarnya.

"Di sini tidak ada lain orang, baiklah, aku nanti memberikan keteranganku,"

Kemudian katanya perlahan.

"Ah, tahun ini benar tahun tak bagus untuk kami. Kemarin dulu, kita kedatangan banyak tetamu, suasana ramai sekali. Di jendela timur sana berduduk seorang muda, dia kuat makannya, dia sampai minta tambah lagi ayam tim dan arak. Tengah dia bersantap seorang diri, tiba-tiba datang serombongan orang polisi, terus dia dituding, dituduh menjadi perampok besar, lantas dia diserang kalang kabutan dengan piauw dan panah tangan. Seorang polisi, yang lihai, telah menyerang dia dengan seraup entah benda apa. Jarak di antara mereka berdua terhalang beberapa buah meja. Itulah barangbarang sebesar kacang kedele, yang nancap di tembok. Itulah barangnya!"

Dia menunjuk kepada "perhiasan"

Di tembok itu. In Hong menunjuki roman kaget, ia berseru.

"Apakah anak muda itu kena terserang?"

Ia tanya, gelisah.

"Anak muda itu sendiri tidak, adalah beberapa tetamu kami yang kesalahan terhajar luka."

"Kalau begitu, benarlah kata-kata, kalau pintu kota kebakaran, pengempang ikan turut nampak bencana,"

Kata In Hong pula.

"Eh, mari, mari duduk. Coba kau omong lebih jauh, kemudian bagaimana?"

Pelayan itu gembira berceritera, tanpa sungkan lagi. ia duduk di kursi, bahkan ia menghirup air teh guna membasahkan kerongkongannya.

"Memang!"

Katanya.

"Setelah polisi mengacau, perusahaan kami ini mandek. Kerusakan tembok itu urusan kecil, tidak demikian dengan dua tetamu, yang terluka parah, ialah yang satu buntung sebelah tangannya, yang satu lagi melowak dadanya hingga katanya malam itu juga, sebelum tiba di rumahnya, dia telah putus jiwanya! Seorang tetamu lagi lebih menyedihkan, ialah kedua matanya terhajar itu biji-biji seperti kacang kedele hingga menjadi buta! Setelah kerusuhan itu, yang meminta kurban-kurban jiwa dan luka hebat itu, mana ada lagi tetamu yang kesudian pesiar kemari? Sudah begitu, pembesar negeri pun melarang kita berhenti berusaha! Coba pikir, celaka atau tidak?"

In Hong tertawa melihat caranya orang bicara.

"Kau masih belum omong hal pokoknya kejadian!"

Ia kata.

"Anak muda itu tidak terluka, rupanya dia dapat menyingkirkan diri. bukan?"

"Anak muda itu lihai!"

Menjawab si pelayan.

"Dengan bacokan-bacokan goloknya, bergantian ia melukakan dua orang polisi! Ah, lupa aku memberitahukan kau! Anak muda itu rada sesat! Ketika ia baru datang, lantaran makannya kuat itu, aku menjadi menaruh perhatian terhadapnya, aku tidak melihat dia membawa senjata tajam, akan tetapi semunculnya orang-orang polisi, lantas tangannya mencekal golok! Itu mirip sulapan! Dan goloknya, mungkin mustika! Dengan dua kali bacokan ia melukakan dua orang polisi, ia sekalian membacok kutung thiecio dari kedua orang polisi itu! Lalu datanglah seorang polisi tua, yang menimpuk padanya! la lantas berlompat berkelit, cepatnya melebihkan peluru, ketika goloknya berkelebat, putuslah jeruji jendela berukiran! Lihat, sampai sekarang jendela itu belum dibikin betul! Dari jendela itu ia menyingkirkan diri, bagaikan panah ia melesat ke telaga! Orang polisi tua itu juga bukan sembarang orang, ketika tangannya menyamber, dia berhasil menyamber sebelah sepatunya si anak muda!"

Dalam hatinya In Hong segera berkelebat pikiran.

"Bukankah dia Thio Giok Houw? Goloknya Giok Houw, golok Bianto, memang dapat diiibat di pinggang seperti sabuk, pantas pelayan ini tidak melihatnya."

Makin memikir, ia makin menduga pasti, maka ia tanya.

"Berapa kira usianya anak muda itu? Tahukah kau bagaimana romannya dia?"

"Paling banyak dia baru berusia dua puluh tahun,"

Sahut pelayan itu.

"Dia tampan sekali, tidak miripmiripnya dia dengan orang jahat. Sesudah kejadian itu aku mendengar orang polisi mengatakan, dia... dia..."

Mendadak ia pertahankan suaranya.

"Suka aku memberitahukan, asal kamu jangan membocorkan... Orang polisi itu bersanak dengan majikanku, menurut dia, anak muda itu sebawahannya Yap Cecu. Tahukah kau Yap Cecu dari Tanghay Capsha To?"

Yap Seng Lim berkedudukan di tiga belas kepulauan laut Tanghay di mana ia menentang kawanan perompak, penduduk wanita dan anak-anak semua mengenalnya, maka itu tak usah In Hong berpura-pura tak tahu.

Maka ia mengangguk.

"Katanya ada seorang tauwbak dari Yap Cecu ditahan di kantor polisi."

Si pelayan melanjuti keterangannya.

"dan pemuda itu, katanya, datang untuk menolongi tauwbak itu, hanyalah di luar dugaan dia, begitu dia memasuki kota, dia lantas dikenali dan dikuntit. Dasar kami yang sial dia bukannya pergi ke lain restoran, diajusteru minum makan di sini. Tentang namanya pemuda itu, orang polisi tersebut tidak mau menyebutkannya, hanya dia bilang, kedudukannya dia itu tak kalah dengan kedudukannya Yap Cecu sendiri!"

"Pastilah dia Thio Giok Houw!"

Kata In Hong dalam hatinya.

"Dia mempunyai golok wasiat, dia pun pandai berenang, tepatlah keterangannya pelayan ini. Hanyalah entah siapa tauwbak yang tertawan itu, yang hendak ditolongi. Kota Hangciu mempunyai orang polisi demikian lihai, kota ini tidak dapat dipandang enteng!"

Habis menutur itu, si pelayan berkata pula, perlahan.

"Tuan dan nyonya membawa-bawa pedang, mungkin kamu juga orang Kangouw, maka itu, justeru selama beberapa hari ini keadaan genting, andaikata kamu bertemu orang polisi, kamu dapat dicurigai..."

"Kami tidak takut!"

Berkata Thian Touw.

"Kami ini tidak berbuat jahat, pedang kami cuma untuk membela diri!"

Pelayan itu tertawa.

"Meski begitu, tuan", katanya.

"orang polisi tidak nanti mau mengadu bicara denganmu. Ya, barang santapan tuan dan nyonya sudah matang, nanti aku menyajikannya! Sebentar, setelah dahar cukup, aku pikir baiklah kamu lekas berlalu dari kota ini..."

Setelah mendapat upah sepuluh tail perak itu, pelayan ini jadi suka berbuat baik terhadap kedua tetamunya.

"Terima kasih!"

In Hong mengucap. Kemudian, setelah orang pergi, ia tertawa dan berkata pada suaminya.

"Kita datang untuk pesiar, siapa sangka kita menghadapi urusan yang mengecewakan ini. Toako, mari kita memandang telaga saja, telaga pun cukup indah!"

Thian Touw tertawa.

"Hari ini kau gembira sekali!"

Katanya.

"Toako, tak dapat kita tidak mengurus perkara ini,"

Kata In Hong perlahan pada suaminya sebelum pelayan kembali.

Thian Touw melengak sejenak.

Tahulah ia sekarang, isterinya menggunakan alasan keindahannya telaga Seouw untuk dapat berbicara tanpa mencurigai pelayan itu.

Keduanya menyender pada loneng, mata mereka ditujukan ke telaga.

"Kenapa kau selalu gemar usilan?"

Kata suami itu.

"Kalau semua-semua kau hendak mencampuri tahu, mana ada habisnya?"

"Apakah kau tidak mau berpikir, siapa anak muda itu jikalau bukannya Thio Giok Houw?"

Sang isteri membaliki. Thian Touw berpikir, lantas ia tertawa.

"Kau benar, memang mirip!"

Bilangnya.

"Kita mempunyai urusan, kita hendak minta bantuan gurunya, dari itu pantaslah kalau Thio Giok Houw terancam bahaya dan kita menolongnya. Tapi, bukankah dia telah dapat menyingkirkan diri?"

"Tetapi masih ada si tauwbak yang ditahan polisi!"

In Hong kata.

"Yap Seng Lim mempunyai banyak orang kosen, baiklah urusan itu diserahkan kepadanya. Kita dapat menghemat perhatian kita..."

In Hong tidak setuju, tetapi ketika ia hendak berbicara pula, ia batal.

Tiba-tiba perhatiannya tertarik sebuah perahu di tengah telaga.

Itulah sebuah perahu nelayan, yang menggayuh seorang laki-laki yang hitam dan dalam perahu ada seorang wanita muda, yang mukanya terlihat cuma separuh tetapi rasanya dikenal, entah di mana pernah diketemukannya, sulit ia segera mengingatnya.

Selagi nyonya ini memandang sambil berpikir, perhatiannya tertarik pula dengan suara tindakan kaki ditangga, apabila ia berpaling, ia melihat datangnya dua anak muda, pria dan wanita, yang usianya masingmasing baru delapan atau sembilan belas tahun --si pemuda menggantung pedang di pinggangnya, dan si pemudi selain pedang pun ada menggendol gaetan emas di punggungnya.

Agaknya sepasang muda-mudi ini sedikit heran melihat Thian Touw suami isteri.

Usia mereka muda tetapi mata mereka tajam, makajuga, lantas mereka menduga Thian Touw berdua bukan sembarang orang, lantas timbul keinginan mereka untuk belajar kenal, hanya mereka batal sebab menyaksikan suami isteri itu tengah terpesona kepermaian telaga.

Di akhirnya mereka memilih meja yang berdekatan suami isteri itu.

Muda-mudi itu ialah Tiangsun Giok bersama Bouwyong Hoa.

Bouwyong Hoa ialah muridnya Ouw Bong Hu, dan Tiangsun Giok muridnya Lim Sian In atau Nyonya Ouw Bong Hu.

Lim Sian In biasa menggunakan gaetan emas, maka dia memperoleh julukannya --Kimkauw Siancu, si Dewi Gaetan Emas.

Gaetan di punggung Tiangsun Giok itu ialah gaetan emas si nyonya dengan apa dulu hari dia mengangkat namanya.

Setelah berpisah dari Ciu Cic Hiap di padang rumput muda-mudi ini mentaati pesan guru mereka menjenguk Kimto Cecu, baru mereka menuju ke Selatan.

Mereka telah merencanakan, habis mengunjungi Yap Seng Lim dan Ie Sin Cu suami isteri itu, mereka mau pergi ke Tali guna menghunjuk hormat mereka kepada Thio Tan Hong.

Sebenarnya mereka membawa sepucuk surat perkenalan dari Kimto Cecu, setibanya di kota Hangciu, mereka mau mencari seorang tauwbak yang bertugas di kota itu, untuk mencari perahu untuk mulai berlayar.

Sayang suasana sedang genting dan tauwbak-nya Seng Lim itu lagi menyembunyikan diri hingga dia tak dapat dicari.

Karena ini, saking menganggur, mereka pergi ke rumah makan kesohor itu di tepi telaga, untuk mencari hiburan.

In Hong pernah mendengar halnya muda-mudi itu dari Ci Hiap, bahwa murid-muridnya Ouw Bong Hu dan Lim Sian In itu pernah mengunjungi San Bin, tetapi karena orang yang bergegaman gaetan bukan sedikit, ia tidak mau berlaku sembrono, sedang restoran itu bukanlah tempat di mana mereka dapat berbicara dengan merdeka.

Ia jadi hendak melihat keadaan dulu.

Sebagai anak-anak muda yang baru mulai merantau, dua-dua Tiangsun Giok dan Bouwyong Hoa tertarik dengan segala apa yang baru untuk mereka.

Mereka memang ingin sangat menemui sesuatu yang luar biasa.

Maka juga begitu melihat teratai besi nancap di tembok, Nona Tiangsun lantas berseru.

"Lihat, engko Hoa! Hebat kepandaiannya orang itu! Semua teratai besi itu nancap dalam! "Ah, dia pun pandai ilmu totok dengan perantaraannya senjata rahasia! Lihat saja berjejernya semua teratai besi itu! Bukankah itu mirip pada kedudukan dari ketiga puluh enam jalan darah di tubuh manusia? Hanya entahlah, dia menyerang berbareng atau saling susul...!"

Bouwyong Hoa mengawasi sebentar.

"Orang itu mengunai jurus yang dinamakan Lauw Hay Say Kim Chie,"

Kata dia.

"Pasti sekali ini dilakukan hanya satu kali timpuk saja."

"Jikalau begitu, dia terlebih lihai daripada kita,"

Kata si nona, yang agaknya polos.

"Engko Hoa, coba kau tolong mencabut barang dua barang, ingin aku melihat itu benar teratai besi atau bukan..."

Bouwyong Hoa tidak lantas bekerja, sebaliknya dia melirik dulu kepada Thian Touw dan In Hong. Ia lantas mendapat kenyataan, si nyonya tengah melirik kepada mereka. Maka berpikirlah ia.

"Mungkinkah teratai besi itu ditimpuki mereka ini?"

Mendadak timbul niatnya mempertontonkan kepandaiannya. Maka sambil tertawa iamenjawab si nona.

"Teratai besi itu nancap dalam, entah aku bisa atau tidak mencabutnya..."

Ia berkata belum habis, jarinya yang tengah sudah bekerja, menotok masuk ke dalam tembok, mencongkel gempur tembok itu, maka sesaat itu juga, sebuah teratai besi telah pindah ke tangannya.

Ia merasa puas, lantas ia ingin memandangi suami isteri itu, untuk melihat sikap mereka.

Atau tiba-tiba terdengarlah suara nyaring di belakangnya.

"Itci Siankangyang hebat!"

Itulah pujian untuk kekuatan jeriji tangan, yang mengerahkan ilmu silat Itci Siankang, atau Ilmu Sebuah Jeriji.

Dengan cepat Bouwyong Hoa menoleh.

Untuk herannya ia mendapatkan orang yang memujinya itu ialah seorang tua yang romannya sangat jelek, yang tangannya pun tinggal sebelah!

"Orang tua ini mengetahui Itci Siankang, hebat!"

Pikirnya. Orang tua bertangan satu itu memandang tajam kepada si pemuda, matanya yang bundar berputar, setelah itu dua kali dia tertawa terkekeh, untuk habis itu lantas menanya.

"Apakah panggilanmu terhadap suami isteri Ouw Bong Hu?"

Bouwyong Hoa menjadi tidak puas. Roman orang saja sudah menjemukan, itu ditambah lagak jumawanya dan kelancangan menyebut nama Ouw Bong Hu tanpa bahasa.

"Kau kata apa? Aku tidak mengerti!"

Sahutnya tawar. Air mukanya si orang tua berubah, agaknya dia murka, tetapi justeru itu dari arah telaga terdengar suara berisik yang terbawa angin, maka sambil menperdengarkan suara "Hm!"

Tiga kali, dia bertindak maju, dia lewat di sisi si anak muda, terus dia memandang keluar jendela, ke arah telaga.

Bouwyong Hoa pun ingin ketahui ada terjadi apa, bersama Tiangsun Giok ia pergi ke loneng, untuk melihat.

Maka ia lantas menampak itu sebuah perahu nelayan dengan orang-orang yang menumpangi si pria hitam dan si nyonya muda, meskipun dia seorang tukang tangkap ikan, dia cantik sekali.

Perahu nelayan itu telah bentrok dengan sebuah perahu besar.

Di atas perahu besar itu berdiri berbaris serdadu-serdadu yang romannya garang.

Di tengahtengah mereka tampak seorang opsir.

Dia terdengar berteriak.

"Kamu bikin apa?Berhenti! "Lekas geledah!"

Tangannya pun diulapkan.

Dari dalam perahu lantas dilemparkan beberapa buah gaetan, maka juga perahu kecil itu lantas kena tergaet.

Teranglah sudah, perahu besar itu perahu pasukan air pemerintah.

Orang hitam di atas perahu kecil itu berkata.

"Kami tukang tangkap ikan! Kami mohon pertolongan tayjin supaya perahu kami ini tidak dibikin rusak!"

"Ngaco!"

Bentak opsir itu.

"Telaga ini telaga indah, kecuali perahu-perahu pesiar, cuma perahu pembesar negeri yang berada di sini! Mana ada nelayan yang menangkap ikan kemari?"

"Beberapa hari ini angin dan gelombang keras,"

Berkata pula si nelayan.

"Pula pihak pembesar negeri tidak ada mengeluarkan pengumuman yang melarang orang menangkap ikan di sini..."

"Hai, kau masih banyak bacot!"

Bentak opsir itu, gusar.

"Lihatlah si wanita yang kulitnya demikian kelimis, tak mirip-miripnya dia dengan nelayan! ---Mana orang? Bawa perempuan itu kemari untuk aku yang menggeledah sendiri padanya!"

Mendengar itu, Tiangsun Giok menjadi panas hati.

"Opsir itu bangsa hina dina!"

Serunya.

"Terang dia menghina wanita!"

Si nyonya nelayan tapinya tertawa.

"Jangan gusar, tayjin!"

Dia berkata nyaring.

"Buat apa main bawa-bawa? Nanti aku datang sendiri padamu!"

Kata-kata itu dibarengi dengan lompatan pesat dan tinggi, maka sebentar saja ia telah sampai di atas perahu besar, bahkan tangannya terus menyamber si opsir.

Lompatannya itu ialah lompatan "Burung jenjang menyerbu langit."

Begitu melihat gerakan nyonya nelayan itu. In Hong lantas ingat.

"Dia toh Cio Bun Wan puterinya Cio Keng To dan adik seperguruannya Tiat Keng Sim?"

Demikian ia menduga.

Berbareng dengan samberan si nyonya muda, terdengar juga samberan angin yang keras, dari atas loteng rumah makan terbang keluar sebuah peluru dengan tengah telaga menjadi sasarannya!

Tepat tangan si nyonya muda mengenai baju si opsir, dia berteriak dengan tiba-tiba.

"Angin keras! Berhenti!"

Teriakannya itu disusul dengan gerakan tubuhnya, yang jumpalitan balik, nyebur ke telaga, menyusul mana. si pria hitam juga turut terjun ke dalam air! "Ah!"

Seru Tiangsun Giok perlahan, lalu dia tertawa dan berkata perlahan juga.

"Aku tidak sangka kau mempunyai kepandaian ini, yang kau sembunyikan terhadap aku!..."

Bouwyong Hoa melengak, ia memandang sumoay-nya itu dan berkata seperti pada dirinya sendiri.

"Eh, urusan ini aneh!..."

Belum berhenti suara pemuda ini, si orang tua yang tangannya sebelah itu mengasi dengar tertawa ejekan yang menyeramkan. Dia berkata.

"Bocah yang baik! Sungguh berani di depan aku si orang tua kau mempertontonkan kepandaianmu! Kau pernah apa dengan Ouw Bong Hu?"

Bouwyong Hoa berbalik dengan cepat. Ia melihat si orang tua sudah berdiri di depannya, gerakan dia itu cepat seperti berkelebatnya hantu, tak ada suaranya sama sekali! Bouwyong Hoa menjadi gusar.

"Mana dapat kau menyebut lancang nama guruku!"

Ia membentak. Orang tua itu tertawa bergelak.

"Suka aku memandang kepada Ouw Bong Hu!"

Ia berkata.

"Lekas kau berlutut dan mengangguk tiga kali padaku hingga kepalamu membentur batu, nanti aku kasih ampun pada jiwamu!"

"Bangsat tua, kau, kau..."

Teriak Bouwyong Hoa gusar. Tetapi baru sebegitu ia berkata, tangannya si orang tua sudah menyamber kepadanya.

"Ha, mutiara sebesar beras pun bercahaya!"

Katanya, mengejek.

"Baiklah kau ketahui lihaiku si orang tua!"

Bouwyong Hoa telah menduga orang mestinya Iiehay, maka itu waktu ia disamber, dengan lantas ia menyentil.

Ia menggunakan ilmu Itci Siankang, mementil telapakan tangan orang tua itu.

Untuk kagetnya, ia merasa ia seperti mementil kapas, terus jari tangannya itu seperti nempel di telapakan tangan yang disentil itu.

Jadi Itci Siankang yang Iiehay tidak berdaya.

Bahkan menyusul itu, segera ia merasakan juga telapakan tangan orang tua itu ada tenaga menyedotnya dan menjadi panas, hingga jerijinya seperti dimasuki ke dalam bara!

Tiangsun Giok kaget sekali, dengan cepat ia mengeluarkan gaetannya, hingga ia memegang gaetan di tangan kiri dan pedang di tangan kanan.

Gaetan itu terus diputar dan pedang ditikamkan ke samping, dengan gaetannya dua kali ia menyerang secara berantai.

Inilah kepandaian yang si nona dapatkan dari Kimkauw Siancu Lim Sian In.

gurunya.

Ia telah dididik menggunakan dua rupa senjata dengan berbareng dan ia berhasil dapat menguasainya.

Jikalau kedua senjata itu digunai Lim Sian In sendiri, mungkin si orang tua gentar hatinya.

Sekarang tidak.

Tenaga dalam dari Tiangsun Giok masih kacek terlalu jauh.

Tangan kiri orang tua itu buntung, tangan bajunya meroyot turun.

Mendadak tangan bajunya itu bergerak, dengan lantas gaetan si nona terlibat.

Gaetan itu ada bangkolannya, ujungnya itu lantas bentrok dengan pedangnya, hingga kedua senjata berbunyi nyaring, keduanya jatuh di tanah, tubuhnya pun mental mundur beberapa tindak, hampir dia terlempar keluar loteng!

Si orang tua benar-benar Iiehay, begitu lekas dia melayani si nona, begitu lekas juga dia melayani lagi Bouwyong Boa.

Ia membalik tangannya dan lantas dengan tiga buah jeriji tangannya memegang nadi si pemuda.

Sekejap saja, Bouwyong Hoa tak dapat berkutik lagi, seluruh tubuhnya dirasai kaku.

Orang tua itu tertawa dingin.

"Baru sekarang kau ketahui lihainya aku si orang tua?"

Kata dia.

"Orang begini tidak mempunyai guna berani melawan aku!..."

Baru ia berkata demikian, lantas dia berdiam.

Dia heran.

Dia ingat, kalau benar si anak muda demikian tak berguna, kenapa tadi senjata rahasianya dapat digagalkan pemuda itu?

Maka ia lantas mau menerka lain orang.

Hanya siapakah orang itu?

Ia melihat, si pemudalah yang tadi menyerang dengan biji terate besi..."

Selagi orang tua itu heran, Hok Thian Touw bersama In Hong bertindak naik mendekati dia. Thian Touw merangkap kedua tangannya, sembari menjura ia memberi hormat.

"Locianpwee, kau keliru menyangka dia!"

Ia berkata. Orang tua tangan sebelah itu menjadi mendongkol, ia lantas mendelik.

"Jadi kaulah yang mempermainkan aku?"

Dia tanya bengis.

"Sebenarnya boanpwee tidak berani menentang Locianpwee,"

Berkata Thian Touw sabar dan hormat. Iamemangil locianpwee --orang tua tingkat atas, dan menyebut diri boanpwee, orang tingkat muda.

"Perbuatanku barusan disebabkan perasaan kasihanku yang dipunyai oleh setiap orang. Nelayan wanita itu telah diperhina orang, sudah begitu mana sanggup dia menerima peluru Locianpwee? Maka dengan terpaksa aku telah menolongi dia."

Leng In Hong mengenali si wanita Cio Bun Wan adanya, ia lantas minta suaminya menolongi.

Thian Touw tidak mau usilan, tetapi karena diminta isterinya dan ia pun tetap memiliki perasaan mulianya ---terutama karena ia tahu siapa si orang tua ---ia mencampur tangan.

Tatkala Cio Bun Wan menggunakan ilmu ringan tubuh yang enteng berlompat dari perahu pembesar negeri itu, si orang tua tangan buntung sebelah menyerang dia dengan biji teratai besi, yaitu thielian ci.

Thian Touw berkasihan kepada si nona, ia lantas meniup biji teratai besi itu hingga senjata itu nyimpang dari sasarannya, lewat di depan jidat si nona.

Bun Wan lantas menginsafi musuh lihai, maka itu ia terus terjun ke air.

Tanpa pertolongan Thian Touw, pastilah jalan darah di dadanya, soanki hiat, bakal terhajar teratai besi itu.

Teratai besi yang kedua dilepaskan oleh Bouwyong Hoa.

Dia hendak menghajar jatuh teratai besinya si orang tua.

Tetapi dia kalah lihai, pula tak tepat waktunya, senjata rahasianya itu jatuh terlebih dulu sebelum bentrok.

Si orang tua cuma melihat dia menyerang, ia tidak melihat Thian Touw meniup, dari itu ia menyangka dianya.

Sekarang baru ia ketahui penglihatannya keliru, jadi ia salah menerka.

Hok Thian Touw jujur, pengakuannya itu membuat si orang tua mendongkol sekali.

Dia melepaskan cekalannya terhadap Bouwyong Hoa dengan mendorong keras, terus dia menghadapi orang dengan garang.

"Kau murid siapa?"

Dia tanya dingin.

"Tahukah kau siapa aku si orang tua?"

Dengan tenang Thian Touw memberikanjawabannya.

"Bukankah locianpwee ialah Tokpie Kengthian Koan Sin Liong dari Aylao San? Boanpwee ialah Hok Thian Touw dari Thiansan. Belum berselang lama, selagi boanpwee bertempur dengan Kiauw Pak Beng, boanpwee mendengar Kiauw Pak Beng itu berserikat dengan locianpwee dan itu waktu boanpwee telah bertemu juga dengan Tonghong Hek, murid locianpwee itu."

Orang tua itu, ialah Koan Sin Liong, terkejut.

"Jadi kaulah Hok Thian Touw dari Thiansan?"

Dia menegaskan.

"Setelah kau menempur Kiauw Pak Beng, kau masih dapat pulang dengan masih hidup? Hm!"

Masih Thian Touw berlaku tenang. Ia kata.

"Kami suami isteri menempur Kiauw Pak Beng selama lima hari, syukurlah kami tidak sampai terlukakan..."

Koan Sin Liong masih tidak percaya dia tertawa dingin.

"Benar-benarkah begitu?"

Dia tanya.

"Baiklah, aku si orang tuajuga ingin belajar kenal dengan ilmu pedang Thiansan Kiamhoat dari kamu!"

"Itulah boanpwee tidak berani,"

Thian Touw merendah.

"Kau telah membikin terlepas perompak besar, biarnya kau tidak berani, kau mesti menempur juga aku!"

Kata Koan Sin Liong dingin. Leng In Hong menjadi gusar. Semenjak tadi ia memang sudah mendeluh melihat lagaknya orang tua itu.

"Kecewa kau disebut seorang guru besar!"

Ia menyelak dengan menghina.

"Kau telah membokong seorang wanita! Tapi baiklah, kami berdua justeru ingin belajar kenal dengan kepandaianmu yang diperantikan menghina si lemah!"

"Sret!"

Demikian satu suara nyaring dan si nyonya muda telah menghunus pedangnya.

"In Hong, sabar,"

Berkata Thian Touw pada isterinya.

"Dialah locianpwee. maka itu kami berdua harus mengalah selama tiga jurus!"

Lantas ia memandang si orang tua dan berkata dengan hormat.

"Koan Locianpwee, kau juga silahkan menghunus pedangmu!"

"Hm!"

Tokpie Kengthian mengasi dengar suara dinginnya.

"Bocah yang terkebur! Untuk menghadapi kau, buat apa... buat apa..."

Dia sebenarnya hendak mengatakan.

"Buat apa aku menggunakan pedang,"

Tetapi mendadak ia ingat.

"Dia kata barusan dia bertempur seri dengan Kiauw Pak Beng, entahlah itu benar atau dusta, tetapi pada sepuluh tahun yang lampau, dia benar pernah mempecundangi Yang Cong Hay..."

Maka itu, ia lantas mengubah kata-katanya. Ia kata.

"Buat apa aku dengan pengalahanmu?"

Juga suaranya rada lunak.

"Sebenarnya boanpwee tidak mempunyai pikiran memandang enteng kepada locianpwee,"

Berkata pula Hok Thian Touw.

"hanya adalah kebiasaan dari kami suami isteri buat kami senantiasa menyambut musuh dengan bekerja sama. Itu sebabnya, meski di dalamjumlah kamilah yang menang, tetapi di waktu mulai bertempur, suka kami mengalah dari locianpwee buat tiga jurus..."

Koan Sin Liong tertawa berkakak.

"Di kolong langit ini,"

Dia kata, nyaring.

"kecuali Kiauw Pak Beng, Thio Tan Hong dan Ouw Bong Hu suami isteri, siapakah yang setimpal untuk melawan aku satu demi satu? Nampaknya saja kau sangat merendah, kau sebenarnya manusia terkebur!"

In Hong tertawa mengejek. Ia kata.

"Sebenarnya siapa yang terkebur. sebentar sehabisnya bertempur, baru ketahuan! Maka sekarang tak usahlah kita mengeluarkan kata-kata tak perlunya! Hunus pedangmu!"

Koan Sin Liong gusar hingga dia membentak.

"Baiklah! Kau boleh terima dulu satu tanganku!"

Untuk membela nama baiknya, jago tua ini tetap menggunakan tangan kosong.

Dengan kata-katanya itu.

diapun mulai menyerang.

Walaupun dia sangat jumawa, terhadap Hok Thian Touw, Koan Sin Liong masih jeri juga, maka itu dia lebih dulu menyerang Leng In Hong, bahkan penyerangannya dengan pengerahan tenaga delapan bagian.

In Hong terperanjat juga ketika ia melihat serangan datang, serangan mana diiring dengan suara angin yang keras.

Pikirnya.

"Pantas orang menyebut Koan di Selatan dan Kiauw di Utara, dia benar-benar rada sesat!"

Syukur ia pernah menyangkok ilmu silat "Coanhoa Jiauwsu"

Dari Ie Sin Cu. maka ia lantas berkelit dengan itu ilmu kelincahan "menembusi bunga mengitari pohon."

Tangannya Koan Sin Liong hampir mengenai pinggang sasarannya, anginnya itu membikin baju si nona tertiup keras, tetapi tubuh si nona.

bahkan ujung bajunya, tertowel pun tidak!

Justeru itu, Hok Thian Touw pun maju.

Koan Sin Liong menyambut dengan satu serangannya.

Thian Touw menggeser pedangnya ke lain tangan, dengan tangan kosong ia menyambut serangan itu.

Dengan begitu kedua tangan beradu satu pada lain, terdengar suaranya yang tidak nyaring, lantas terlihat menghembusnya uap putih, uap dari hawa panas.

Itulah pukulan "Citsat Ciang"

Dari Koan Sin Liong, karena itu kalau tangannya bentrok dengan lawan atau benda lainnya, keluarlah hawa panasnya.

Syukur Thian Touw jago kelas satu, waktu ia merasa hawa hangat, lekas-lekas ia menggunakan tipu huruf "Melepaskan."

Untuk melejit dari serangan luar biasa itu, hingga taklah kejadian tangannya kena terbakar.

"Hm!"

Koan Sin Liong mengasi dengar pula suara di hidung, sambil ia mengulangi serangannya.

Inilah serangannya yang ketiga, yang luar biasa, sebab di waktu baru dikeluarkan, tak tegas arah jurusnya, kepada In Hong atau kepada Thian Touw.

Suami isteri itu sudah terlatih baik, keduanya berdiri berendeng, tidak ada yang mengegos tubuh atau berkelit, maka tempo serangan tiba, mereka cuma mundur tiga tindak.

Dengan begitu, serangan menjadi meluncur terlalu jauh dan jadi tak sampai kepada sasarannya.

Mukanya, jago tua bertangan satu itu menjadi merah.

Tiga kali ia sudah menyerang, tiga-tiga kalinya tanpa hasil.

Ia menjadi malu berbareng mendongkol sekali.

Tentu sekali ia malu untuk menyerang pula untuk ke empat kalinya.

Sementara itu diam-diam Thian Touw terkejut.

Tadi tangannya bentrok, ia tidak merasakan apa-apa kecuali hawa hangat, tetapi sekarang ia merasa panas dan sakit, ketika ia mencuri lihat, tangannya melepuh melentung beberapa biji.

Dengan lantas ia berkata.

"Kami berterima kasih yang locianpwee sudah sudi mengalah tiga jurus kepada kami, maka itu sekarang harap maafkanlah kami untuk kelancangan kami!"

Kata-kata ini ditutup dengan gerakan pedang, bahkan dua pedang berbareng, maka meluncurlah dua sinar perak berkilauan.

Koan Sin Liong memperhatikan terutama Hok Thian Touw, begitu ia melihat sinar pedang berkelebat, begitu ia bergerak dengan jurusnya "Angin merontokan bunga."

Cepat sekali ia berkelit.

In Hong kalah tenaga dalam dari suaminya, tetapi ilmu pedangnya lebih luar biasa daripada suaminya itu, maka itu justeru ia kurang diperhatikan, pedangnya dapat bekerja dengan baik.

Ia pun menyerang ke arah yang tak dapat diduga, dan serangannya hampir berbareng dengan serangan lawan.

Tatkala Koan Sin Liong mendengar samberan angin, pedang si nyonya sudah menyamber ke arah batok kepalanya.

Dia kaget, sekali.

Itulah bahaya.

Maka lupalah dia pada derajat atau kehormatannya si jago tua, dia menolong diri dengan "Yan Ceng Sippat Hoan"

Atau "Yan Ceng berguling delapan belas kali,"

Maka juga ia membuang dirinya untuk terus bergulingan di lantai.

Selagi ia berlompat bangun pula.

ia merasa sedikit hawa dingin di batok kepalanya.

Tiangsun Giok, yang menyaksikan pertempuran dengan berdiri di pinggiran, lantas tertawa lebar sambil menepuk-nepuk tangan.

"Hahaha, engko Hoa!"

Dia berkata kepada kawannya.

"apakah engko pernah melihat hweeshio separuh?"

Bouwyong Hoa sebaliknya berulang-ulang berseru menyesal.

"Sayang! Sayang!"

Itulah sebab pedangnya In Hong menyamber cuma rambut orang, yang tertabas kutung, maka juga Tiangsun Giok mengatakan separuh hweeshio --separuh pendeta!

Koan Sin Liong menjadi kaget berbareng gusar sekali.

Justeru itu In Hong dan Thian Touw sudah maju pula.

Dalam murkanya, dia berseru.

"Orang rendah, lihat pedang!"

Tubuhnya lantas berlompat, tahu-tahu tangannya sudah mencekal pedang, dengan apa ia menangkis, hingga pedang mereka beradu keras sekali.

Benar-benar hebat jago tua ini.

Tangkisannya itu membikin pedang In Hong terpental dan pedangnya Thian Touw tertindih.

Jago Thiansan itu kaget, tetapi ia tabah, maka itu selagi pedangnya dipaksa turun, ia lantas meneruskan meluncurkannya.

Ia menggunakan tipu silat "Yaco tamhay,"

Atau "Hantu utusan neraka menjelajah laut."

Dengan begitu dengan lantas ia dapat meloloskan pedangnya.

In Hong sebaliknya bekerja terus.

Pedangnya yang terpental itu diteruskan, ditarik pulang, untuk segera dipakai menyerang pula, bahkan ia mengulanginya, dengan yang kedua dan ketiga kali, hingga mau atau tidak, Koan Sin Liong mesti bersungguh-sungguh melawannya, karena mana, Thian Touw menjadi merdeka benar-benar.

Pedangnya jago tua bertangan satu dari gunung Aylao San itu ada pedang buatannya sendiri dengan besinya ia ambil dari pegunungan tanah Biauw, besi itu berat luar biasa, maka itu, ditambah dengan tenaga dalamnya yang telah mencapai puncak kemahirannya, ia menjadi hebat sekali.

Sudah begitu, dalam panasnya hari, ia juga berkelahi dengan sungguh-sungguh.

Maka saban-saban terdengar kerasnya hembusan angin pedangnya itu.

Diam-diam Thian Touw menyedot hawa dingin.

Katanya dalam hatinya.

"Kalau mulai tadi dia menggunakan pedangnya, pastilah aku tidak mengalah tiga jurus... Nyata sekali dalam tenaga dalamnya berimbang dengan Kiauw Pak Beng."

Juga Koan Sin Liong heran dan kagum.

Sekarang ia telah mendapatkan bukti dari lihainya suami isteri itu, yang perpaduan pedangnya manis dan dahsyat sekali.

Ia mesti waspada, ia mesti mengeluarkan semua kepandaiannya, buktinya mereka sama tangguhnya.

Baru sekarang ia mau percaya Thian Touw berdua dapat melawan Kiauw Pak Beng tanpa terkalahkan.

Di dalam pertarungan ini, Thian Touw dan In Hong menang lihainya ilmu pedang mereka dan Koan Sin Liong menang mahirnya tenaga dalamnya.

Pertempuran itu membikin Bouwyong Hoa dan Tiangsun Giok menjadi berdiri menjublak dengan hati mereka berdebaran.

"Engko Hoa, mari kita maju bersama!"

Kata si nona kemudian, tangannya mencekal keras gagang pedangnya. Ia merasa bahwa ia tidak dapat membiarkan kedua penolongnya itu berkelahi terus berdua saja. Bouwyong Hoa tertawa.

"Kita masih jauh ketinggalannya!"

Ia menjawab.

"Pertempuran jago-jago sebagai mereka ini, dalam seumur kita, sukar untuk kita menemukannya pula, maka baiklah kau tenang-tenang saja menonton terus!"

Mukanya si nona menjadi merah, ia jengah.

Tiba-tiba mereka dibikin kaget oleh suara bergomprangan, ketika mereka melihat, mereka melihat seorang pelayan membuat terbalik menampan yang terisikan barang-barang makanan.

Dia baru naik, waktu melihat pertempuran itu, dia kaget, menampannya terlepas tanpa dia merasa, maka hancurlah piring mangkoknya...

Dalam bertempur itu, In Hong mendapat satu lowongan dan ia menggunakan saatnya itu.

Ia membawa pedangnya dari kanan ke kiri, lalu selagi lawan bingung, ia menikam dengan tipu silat "Menggaris pecah Sungai Langit."

Ia merasa bahwa ia bakal berhasil, ketika mendadak Koan Sin Liong berseru keras dan pedangnya yang berat meluncur ke arah pundak si nyonya!

Tapi Hok Thian Touw datang menolong isterinya dari bahaya, ia menangkis serangan si jago tua, akan tetapi ia kalah tenaga dalam, ia tertolak hingga ia terhuyung tiga tindak!

In Hong memang berhasil, ia hanya melupakan lawannya bertangan cuma satu.

serangannya itu mengenakan tangan kiri yang buntung, menjadi yang tertabas ialah tangan baju belaka!

Bouwyong Hoa kaget sekali.

Adalah habis itu, di antara mereka terdengar tertawa yang nyaring serta kata-kata ini.

"Koan Suheng, bagus sekali ilmu pedangmu! Dulu hari pedangku telah kena dibikin kutung, maka untuk membalas sakit hati itu, hari ini aku mengandal pada kau suheng!"

Orang yang bersuara itu berdandan sebagai seorang perwira dan dialah Yang Cong Hay.

Gurunya Koan Sin Liong menjadi supee, paman guru, dari Cong Hay, maka itu Cong Hay memanggil dia suheng, kakak seperguruan.

Mereka menjadi sama tingkat, sedang kenyataannya ialah Koan Sin Liong lebih tua dua puluh tahun dan kepandaian Sin Liong sudah seimbang dengan kepandaian gurunya Cong Hay ialah Ci Hee Tojin.

Bahkan beberapa kali, Cong Hay pernah mendapat petunjuk suheng-nya ini.

Cong Hay tahu diri, ia berlaku hormat kepada suheng-nya itu.

Bahwa sekarang Sin Liong berada di Hangciu ini pun karena undangannya.

Ketika Cong Hay baru tiba itu, ia justeru menyaksikan Sin Liong menunjuk kelihaiannya, maka ia girang sekali dan mengasi dengar tertawa dan seruannya itu.

Tapi, baru sejenak ia kegirangan, atau ia sudah menjadi kaget pula.

In Hong dan Thian Touw sudah lantas melakukan penyerangan pula, serempak dan serentak.

Suami isteri ini penasaran.

Bersatu padulah mereka.

Koan Sin Liong menangkis.

Hebat serangan jago-jago Thiansan itu, jago dari Aylao San telah kena dipaksa mundur sampai tiga tindak!

Menyaksikan itu, Cong Hay kaget.

Dia bahkan menjadi berkuatir.

Memang, seumurnya, kecuali Thio Tan Hong dia, paling jeri terhadap Hok Thian Touw.

Tentu sekali, tidak berani dia turun tangan untuk membantui suhengnya, yang dia buat andalan.

Biar bagaimana, kedua pihak yang bertarung itu tetap seimbang ketangguhannya.

Tapi Koan Sin Liong mempunyai pikirannya sendiri, maka juga lantas ia berkata kepada sute-nya.

"Kau bekuk itu dua bangsat kecil!"

Dengan kedua "bangsat"

Dia maksudkan Bouwyong Hoa dan Tiangsun Giok.

Tiangsun Giok mengerti, ia menjadi gusar, dari itu ia mendahului maju menyambut Yang Cong Hay, yang mentaati perintah suheng-nya itu.

Dengan jurus "Mengangkat obor menyuluhi langit,"

Cong Hay tangkis pedang si nona, untuk membikin terpental pedang itu.

akan tetapi nona itu mempunyai gaetan yang lihai, maka itu, gaetannya itu menyerang.

Sang gaetan seperti hendak membalaskan sakit hatinya sang pedang!

Maka berkelebatlah sinar gaetan ke arah mukanya musuh.

Bouwyong Hoa kuatir adik seperguruan itu menghadapi bahaya, ia lantas maju, ia menyerang dari samping, maka Cong Hay lantas dikepung tiga batang senjata-dua pedang satu gaetan!

Maka juga mereka bertiga pun merupakan satu rombongan pertempuran lainnya.

Kedua suheng dan sumoay itu ---saudara-saudara seperguruan pria dan wanita ---telah mewariskan kepandaiannya Ouw Bong Hu suami isteri, apa yang kurang dari mereka ialah latihannya.

Mereka pun masih berusia muda.

Menghadapi Koan Sin Liong mereka tidak berdaya, sekarang melawan Yang Cong Hay, mereka dapat bertahan.

Yang Cong Hay lihai dia kewalahan, tidak dapat dia segera membekuk kedua "bangsat kecil"

Itu.

Adalah Hok Thian Touw yang sabar, yang tidak mempunyai keinginan buat berkelahi lama-lama.

Ia lantas melirik kepada isterinya, ia mengedipi mata.

Sesudah itu.

ia menyerang dengan terlebih hebat.

In Hong dapat mengerti isyarat suaminya, ia juga bekerja keras.

Segera Koan Sin Liong dipaksa mundur lagi dua tindak.

Justeru itu Thian Touw berseru keras; tubuhnya lompat meleset ke arah Yang Cong Hay.

Orang she Yang itu kaget bukan main, ia lantas lompat, untuk menyingkir ke belakang meja kuasa hotel.

Atas itu, Thian Touw berseru.

"Mari kita pergi!"

Lalu dia mendahului mengangkat kaki.

Koan Sin Liong berniat mengejar, akan tetapi ia bersangsi.

Ia berkuatir Yang Cong Hay kena dilukakan.

Justeru ia bersangsi itu, Bouwyong Hoa bersama Tiangsun Giok telah turut mengangkat kaki juga.

In Hong tertawa, ia kata.

"Bangsat tua. jangan terburu napsu! Jikalau kau benar berniat melanjuti pertempuran kita ini, baiklah, kami menantikan kau di tempatnya Yap Cecu!"

Dua-dua pihak jeri sendirinya.

Thian Touw berkuatir Yang Cong Hay datang dengan bala bantuan, maka itu, tidak ada napsunya berkelahi lama-lama Koan Sin Liong sebaliknya berkuatir ada sambutan untuk pihak lawan, maka ia batalkan niatnya mengejar.

In Hong mengangkat kaki paling belakang, bersama suaminya ia menyusul Bouwyong Hoa dan Tiangsun Giok.

Ketika itu serdadu-serdadu di dalam perahu sudah mendarat, mereka tidak kenal bahaya, mereka memegat, niatnya untuk membekuk musuh.

In Hong mendongkol, ia meraup batu, ia menimpuk ke arah mereka itu.

Belasan serdadu lantas saja terhajar, mereka roboh seketika.

Beberapa yang lainnya, yang bisa berkelit, telah membuang dirinya ke telaga di mana mereka tercebur!

Dengan begitu leluasalah Thian Touw berempat berlalu dari tempat yang berbahaya itu.

In Hong pernah datang ke Hangciu, ia mengenal baik jalanan, maka ialah yang berjalan di muka.

Ia menyingkir dari belakang kuburannya Gak Hui.

Dari sini ia menoleh ke belakang, ia tidak melihat pengejar.

Maka ia tertawa.

"Hari ini kita tidak bisa bikin mampus si bangsat tua bertangan satu tetapi aku merasa puas juga!"

Ia kata.

"Toako,"

Ia menambahkan kepada suaminya.

"mari kita minta bantuannyaenci Sin Cu dan saudara Giok Houw buat menyingkirkan bangsat tua itu, supaya dia dapat dicegah bergabung dengan Kiauw Pak Beng si siluman tua! Mereka jahat, mereka bisa menjadi harimau tumbuh sayap!"

"Itu berarti kau mau pergi ke tempatnya Yap Seng Lim,"

Menjawab sang suami.

"Itu artinya memperlambat waktu..."

"Enci JSin Cu mempunyai urusan, mana dapat kita berdiam saja?"

Kata isteri itu.

"Kiauw PakBeng mau berserikat dengan Koan Sin Liong, maksud tujuan mereka menj adi serupa..."

Ketika itu Tiangsun Giok dan Bouwyong Hoa ketinggalan oleh suami isteri ini, waktu mereka menyandak, justeru mereka mendengar kata-kata In Hong yang terakhir.

Tiangsun Giok menjadi girang, ia lantas berkata.

"Apakah jiwi hendak mencari Ie Lihiap? Kebetulan! Aku Tiangsun Giok, dan ini suheng-ku, Bouwyong Hoa. Memang sudah lama aku mendengar nama besar dari jiwi berdua!"

"Aku pun pernah mendengar Ciu Ci Hiap menyebut nama kamu,"

Kata ln Hong.

"Pula belum selang lama, guru kamu ada bersama kami. Kami justeru hendak menyampaikan kabar kepada kamu."

Bouwyong Hoa melengak.

"Di mana jiwi menemui guru kami itu?"

Ia tanya.

"Dua bulan yang sudah kami bertemu dengan Ciu Cecu yang muda yang mau mencari Kiauw Pak Beng, katanya dia mencari guru kami untuk diajak pergi bersama. Apakah dia telah bertemu dengan guru kami itu? Apakah pesaa guru kami?"

In Hong ingat kebinasaannya Ouw Bong Hu, ia sangat berduka.

"Panjang untuk aku menutur,"

Ia menyahut.

"Sekarang mari kita mencari dulu tempat di mana kita dapat beristirahat, di sana nanti aku omong dengan jelas. Sudah berapa hari kamu berada di kota Hangciu? Apakah kamu sudah bertemu dengan Yap Cecu?"

"Belum,"

Menjawab Bouwyong Hoa.

"Selama beberapa hari ini keadaan genting. Ciu Cecu telah membekali kami surat perkenalan dan kami dipesan untuk mencari satu orang perantara, ketika kami cari orang itu, dia sudah pindah. Karena itu belum sempat kami pergi berkunjung."

"Tidak apa kalau begitu. Aku kenal seorang tauwbak tentara rakyat yang bernama Thio Pa, yang tinggalnya di suatu tempat sepi di Kiukee Sippat Kan, pernah bersama Ie Lihiap aku tinggal di sana, mungkin dia belum pindah, mari kita pergi padanya."

Bouwyong Hoa suka ikut nyonya ini.

Hok Thian Touw tetap tidak suka banyak urusan tetapi karena sekarang ternyata Kiauw Pak Beng sudah berserikat dengan Koan Sin Liong, ia tidak bisa berbuat lain daripada mengiringi isterinya, maka itu ia tidak mau banyak omong lagi.

In Hong jalan di depan.

Berselang satu jam.

tibalah mereka di tempat yang dituju.

Ia lantas mengetuk pintu menurut isyarat kaum tentara rakyat, mengetuk lima kali, yaitu tiga lama dan dua pendek.

"Sahabat siapa di luar?"

Terdengar suara menanya dari dalam disusul dengan munculnya orangnya ialah Thio Pa.

Tauwbak ini pada belasan tahun yang lalu telah mengikuti pamannya Yap Seng Lim yaitu almarhum Yap Cong Liu.

ketika pertamakah Ie Sin Cu pergi kepada pasukan rakyat, dialah yang mengemudikan perahu menghantarkannya.

Dialah seorang yang gesit, maka juga, begitu mendengar ketukan pintu berisyarat, ia lari keluar untuk membukai pintu.

In Hong tertawa dan berkata.

"Paman Thio, apakah kau masih mengenali aku?"

Thio Pa mengawasi sejenak, lantas dia tertawa lebar.

"Kiranya Leng Lihiap!"

Katanya riang.

"Dan tuan ini?"

Ia menunjuk kepada Hok Thian Touw. Thian Touw lantas memperkenalkan dirinya.

"Oh, Hok Tayhiap!"

Thio Pa kata sambil tertawa.

"Sudah lama aku mendengar nama besar dari tayhiap! Sebenarnya sudah aku menduga kau siapa! Leng Lihiap, hari ini kau harus mengundang aku minum arak kegirangan!"

"Sayang Lauwgwa Lauw telah diubrak-abrik orang!"

Berkata In Hong tertawa.

"Kami datang kemari justeru untuk menggerecoki kau lantaran kami tidak dapat lain tempat lagi!"

Lantas ia memperkenalkan Bouwyong Hoa dan Tiangsun Giok. Kembali Thio Pa tertawa.

"Lihiap menyebut-nyebut Lauwgwa Lauw,"

Ia kata.

"di sini justeru ada orang yang ada sangkut pautnya dengan rumah makan itu! Mari masuk menemui dia!"

Tuan rumah ini membuka jalan untuk ke empat tetamunya, maka di dalam mereka melihat si wanita muda, yang tadi naik perahu sebagai nelayan, menyambut mereka. Dialah Nona Ciu Bun Wan.

"Kiranya di Lauwgwa Lauw itu ialah kamu!"

Berkata dia.

"Siapa itu orang tua yang melepas senjata rahasia? Terima kasih yang aku telah ditolongi, jikalau tidak, entah bagaimana jadinya dengan aku, mungkin aku tak dapat tiba di sini..."

"Bangsat tua yang melepaskan senjata rahasia itu ialah Tokpie Kengthian Koan Sin Liong dari Aylao San,"

In Hong memberi keterangan.

"Oh!"

KataBun Wan.

"Jadi dialah si tua bangka tak mau mampus yang dulu hari telah dikutungi sebelah tangannya oleh Huithian Liongli Yap EngEng!"

"Itulah benar!"

"Kalau begitu, sulit!"

Berkata Bun Wan, masgul.

"Dengan adanya dia, sukarlah untuk membongkar penjara..."

"Sebenarnya, apakah telah terjadi?"

Tanya In Hong cepat.

"Siapakah itu yang kena ditangkap pembesar negeri ? Pada tahun yang sudah pernah aku mendengar dari enc ie Sin Cu halnya Yap Toako telah membuat perjanjian dengan sunbu dari Ciatkang untuk kedua pihak tidak saling ganggu. Kenapa sekarang pihak pembesar di Hangciu menangkap orang pihak kita?"

Matanya Bun Wan menjadi merah.

"Sekarang ini telah terjadi pertukaran orang yang menjadi sunbu,"

Ia menerangkan.

"Dan pertukaran itu belum dapat diketahui oleh pihak kita. Hay San telah menerima perintahnya Yap Toako pergi ke kantor sunbu untuk membicarakan sesuatu, ketika dia tiba, dikantor orang justeru menyambut datangnya firman raja dengan apa sunbu yang lama ditukar dengan yang baru. Celakanya si pembawa firman ialah Yang Cong Hay. Dengan begitu datangnya Hay San mirip dengan orang yang menyerahkan diri ke dalam jaring. Yang Cong Hay lantas menangkapnya!"

In Hong terkejut, baru sekarang ia mengerti.

Hay San itu ---Seng Hay San ---ialah suaminya Bun Wan, pantas nyonya muda ini berduka.

Berhubung dengan tahun yang lalu raja yang baru telah naik di atas tahta dan dari pelbagai propinsi datang hadiah, pada itu telah terjadi hal yang luar biasa.

Semua hadiah kena dirampas "orang jahat,"

Kecuali kiriman dari dua propinsi Inlam dan Ciatkang.

Karena itu pihak pengirim yaitu raja muda dari Inlam, Bhok Kokkong, dan sunbu dari Ciatkang, Li Coan.

telah memperoleh pujian dari raja.

Tapi, berbareng dengan itu, dalam hati rajajuga timbul kesangsian, hingga ia menjadi bercuriga.

Sudah begitu maka timbullah urusannya Tiat Keng Sim serta Bhok Lin yang ketahuan ada hubungannya dengan pihak tentara rakyat, hingga kejadian Keng Sim bersandiwara membunuh diri, lantaran mana Thio Tan Hong bersama Ie Sin Cu datang ke kota raja hingga mereka membekuk seratus lebih anggauta Gilimkun dan pengawal-pengawal raja, bahkan mereka menemui raja sendiri, sampai raja tidak berani menarik panjang kejadian itu.

Habis itu kemudian raja pun mendapat tahu sebabnya kenapa, seperti bingkisan dari Inlam, bingkisan dari Ciat kang itu tak terganggu, yaitu lantaran adanya perjanjian di antara sunbu dan pihak Yap Seng Lim dan Ciu San Bin itu.

Raja menjadi tidak senang.

Untuk mengambil tindakan terangterangan, raja tidak berani, sebab Bhok Kokkong berada jauh di Inlam dan kekuatan tenteranya besar, dari itu lalu diambil tindakan diam-diam terhadap sunbu dari Ciatkang, yaitu, Sunbu Li Coan ditangkap, untuk ditukar dengan sunbu yang baru.

Tatkala itu Yang Cong Hay berada di kota raja, ia lalu bekerja keras untuk mendapatkan pula pangkatnya yang lama, oleh karena pangkat itu telah dipangku lain orang dan untuk sementara tak ada pangkat yang cocok untuknya maka Kaisar Cu Kian mengangkat ia menjadi Cokcatsu, pangkat "pembesar tukang tangkap orang jahat,"

Dengan mana ia diberi kekuasaan menggunakan polisi dan lentera di pelbagai propinsi pesisir, kemudian ia di kirim ke Hangciu dengan dua tugas, yaitu satu untuk menawan Sunbu Li Coan, dan kedua, guna bertindak tentang Yap Seng Lim dan Ciu San Bin.

Maka kebetulan sekali, Seng Hay San diutus kepada sunbu, hingga dia dengan gampang kena ditangkap.

Semua rahasia ini diketahui kemudian oleh mata-mata yang bekerja di kantor sunbu.

Sedang halnya Yang Cong Hay mengundang Koan Sin Liong, si kakak seperguruan, untuk membantu padanya, baru diketahui paling belakang itu.

Bingung In Hong mendengar keterangannya Bun Wan ini.

Ia jadi berpikir keras.

"Bagaimana dengan Giok Houw?"

Ia tanya.

"Bukankah dia yang mengacau di Lauwgwa Lauw itu?"

"Benar dia. Dia telah terluka tapi sekarang dia sudah pulang ke benteng air,"

Jawab Bun Wan. In Hong kaget.

"Dia terluka?"

Ia tegaskan.

"Bukankah ia terjun ke telaga dan menyingkir dengan berenang? Bagaimana dia terlukanya?"

"Di gili-gili Souwtee telah diatur banyak serdadu, yang menghujani anak panah,"

Bun Wan menerangkan terlebih jauh.

"karena terhalang itu, dia terpaksa pergi ke selatan bukit Kosan di mana dia mendarat dan menerjang lentera negeri, yang dia dapat bubarkan."

"Jadi dia terlukakan panahnya tentera?"

"Bukan. Tentera negeri tak dapat melukakan dia. Hanya di bukit itu dia bertemu dua lawan yang lihai, yang satu dapat dia lukakan, yang lain kena memukul dia dengan tangan pasir besi Tiatse Ciang. Syukur mahir tenaga dalamnya, katanya dia tidak terluka parah."

"Jikalau begitu Yang Cong Hay bukan cuma mengajak Koan Sin Liong seorang yang lihai. Syukur Giok Houw tidak bertemu jago dari Aylao San itu, kalau tidak, entah bagaimana kesudahannya."

"Memang,"

Kata Bun Wan.

"aku pun tidak tahu Yang Cong Hay membawa banyak kawan yang lihai itu. Aku menyamar jadi nelayan dengan niat membekuk beberapa musuh, umpama komandan muda dari pasukan air negara, supaya dia dapat ditukar dengan Hay San, aku tidak sangka Koan Sin Liong menghalang-halanginya dari Lauwgwa Lauw. Dia benar hebat sedang jaraknya dia dari rumah makan itu demikian jauh. Jikalau bukan kau membantu menghajar biji teratai besinya itu, mungkin aku pun bercelaka..."

Bouwyong Hoa mendengari saja orang berbicara, tidak ada kesempatan untuk ia turut mengambil bagian, setelah mendengar perkataannya Bun Wan itu, baru ia menyelak.

"Leng Lihiap,"

Katanya.

"bukankah tadi kau bilang kau telah bertemu guru kami? Di manakah suhu diketemukannya dan apakah pesannya untuk kami?"

Ditanya begitu, In Hong jadi berduka.

"Kita bertemu di atas gunung Kunlun San,"

Ia terpaksa menyahut.

"Di situ dengan bergantian kita menempur Kiauw Pak Beng..."

"Oh, jadi benar-benar suhu telah pergi kesana!"

Kata Bouwyong Hoa.

"Bagaimanakah kesudahannya? Apakah siluman tua she Kiauw itu dapat lolos?"

Bouwyong Hoa sangat mempercayai gurunya, maka itu, ia bukan menanyakan hal gurunya, justeru hal Kiauw Pak Beng.

Bukankah di sana pun ada Hok Thian Touw dan Leng In Hong?

Ia mau percaya, jikalau tidak mati sedikitnya Pak Beng terluka.

Matanya In Hong menjadi merah.

"Jangan kamu berduka,"

Sahutnya perlahan.

"Guru kamu. dia... dia telah menutup mata... Tapi juga Kiauw Pak Beng, dia telah terluka Itci Siankang..."

Bouwyong Hoa dan Tiangsun Giok kaget hingga keduanya menjublak.

"Bagaimana sebenarnya?"

Keduanya tegaskan kemudian. Mereka bersangsi akan tetapi sekarang mereka melihat kedua matanya In Hong mengalirkan air.

"Kiauw Pak Beng telah mulai meningkat ke tingkat delapan dari Siulo Imsat Kang,"

Hok Thian Touw menggantikan isterinya berkata.

"karena itu guru kamu cuma dapat melukai dia. Di jaman ini, kecuali Tayhiap Thio Tan Hong, tidak ada lain orang yang dapat melukai dia secara demikian..."

Suheng dan sumoay itu menjublak pula, baru kemudian keduanya menangis, air mata mereka turun dengan deras.

Kedukaan mereka bukan kepalang.

In Hong menjadi semakin berduka sedang Thian Touw berduka berbareng merasa tidak tenang hatinya, la merasa malu sendirinya.

"Apakah pesan guru kami sebelumnya ia menutup mata?"

Kemudian Bouwyong Hoa tanya.

"Guru kamu menghendaki supaya sebelumnya Kiauw Pak Beng binasa, janganlah kamu pulang dulu."

In Hong kasi tahu.

"Gurumu ingin kamu ingat baik-baik pengajarannya, supaya kamu bekerja sama dengan Ciu Cecu atau Yap Cecu."

Bouwyong Hoa dapat menduga maksud gurunya, yaitu supaya ia jangan sembrono pergi menuntut balas.

Hanya, karena gurunya telah terbinasakan, apakah ia mesti berdiam saja?

"Bagaimana dengan sunio dan sute kami yang kecil?"

Kemudian Bouwyong Hoa tanya pula. Ia maksudkan isteri gurunya serta adik seperguruannya.

"Pesan suhu tidak dapat ditentang, tetapi toh pantas jikalau kami pulang untuk berdamai dengan sunio? Apakah sunio telah ketahui kejadian ini?"

Untuk sejenak itu, Bouwyong Hoa masih memikir pulang kepada Lim Sian In, untuk mengabarkan dan berempukan, guna membicarakan urusan menuntut balas.

Ia tidak ingat, kalau gurunya sendiri sudah tidak berdaya, bagaimana dengan ia dan ibu gurunya itu?

In Hong dapat membade hati orang.

"Meskipun guru kamu memesan demikian, kamu harus sabar,"

Ia membujuk.

"Baiklah diketahui saatnya untuk kamu pulang sudah tidak lama lagi. Kau tahu, perjalanan kami ini justeru ada untuk mengundang Thio Tayhiap guna membalaskan sakit hati guru kamu. Kami juga berkewajiban membalaskan sakit hati itu. Sekarang ini Kiauw Pak Beng telah menjadi musuh umum Rimba Persilatan, siapa pun yang membinasakannya, sama saja. Tentang sunio kamu, ia sudah dikabarkan oleh Hupangcu Tie Goan dari Kaypang, maka itu ia tentulah lagi menantikan juga Thio Tayhiap untuk turun tangan bersama."

Bouwyong Hoa berdiam, juga Tiangsun Giok.

"Sekarang ini Kiauw Pak Beng banyak konconya,"

In Hong menerangkan terlebih jauh.

"jadi untuk membinasakan dia, kita perlu juga menyingkirkan sekalian konconya itu. Umpama Koan Sin Liong, dialah kawan lihai dari Pak Beng, maka dia ini perlu disingkirkan terlebih dulu."

Akhirnya suheng dan sumoay ini bersyukur. Nyata In Hong telah mengatur untuk pembalasan sakit hatinya itu.

"Kami masih muda, di dalam segala apa kami menurut saja pada Leng Lihiap,"

Akhirnya Bouwyong Hoa bilang.

Maka itu lalu ditetapkan, tindakan mereka yang pertama ialah mencari dulu Yap Seng Lim dan Ie Sin Cu.

Thio Pa lantas diminta mengatur untuk keberangkatan mereka.

Malam itu Thian Touw dan In Hong tak dapat tidur pulas.

Mereka sama-sama berpikir keras.

Sampai jauh malam mata mereka masih terbuka saja.

Akhirnya In Hong tertawa dan berkata.

"Apakah hatimu tak tenang karena perjalanan kita ini terlambat?"

"Biar bagaimana, kita toh bakal dapat bertemu dengan Koan Sin Liong, tak apa kita terlambat!"

Menjawab suami itu.

"Kelambatan ini tak dapat dicegah."

Hati sang isteri lega juga.

"Sekarang dia menjadi terlebih sabar,"

Pikirnya.

"Rupanya dia mulai insaf..."

Thian Touw menghela napas.

"Ya, inilah terpaksa,"

Kata ia.

"Kejadian ini tak dapat dihindarkan. Apa yang aku kuatir ialah, gelombang yang satu belum tenang, yang lain bakal menyusul... Entah sampai kapan laut menjadi tenteram?..."

Ditanya begitu, sang isteri berdiam, la pun merasakan demikian.

"Ya, sampai kapan laut dapat menjadi tenang?"

Ia pun tanya dirinya sendiri.

Ia turut merasa sukar.

Teranglah sudah Thian Touw senantiasa mencari ketenangan.

Suami itu ingin memperoleh kesempatan untuk meyakinkan sempurna ilmu pedangnya.

In Hong sebaliknya.

Isteri ini belum memikir untuk duduk diam saja.

Di sana umpamanya masih ada le Sin Cu dan Yap Seng Lim, yang belum dapat berhenti berusaha.

Tidak dapat ia mententeramkan diri selagi kawan-kawannya itu menghadapi badai dan gelombang dahsyat.

Belum ia memikir mencari pelabuhan di mana ia bisa berlabuh.

Hati In Hong bercekat kalau ia ingat mungkin ia bentrok pula dengan suaminya sebab pandangan hidup mereka masih berlainan...

Tengah isteri ini berpikir dengan hatinya pepat itu, tiba-tiba telinganya mendengar suara angin yang keras yang datangnya dari arah rimba.

Thian Touw pun dapat mendengar itu, bahkan suami ini segera berkata.

"Itulah suaranya panah nyaring! Ah, di atas gunung di sana ada orang lagi bertempur!"

Berkat latihan bersamedhinya, yang membuat tenaga dalamnya mahir, telinga orang she Hok ini menjadi luar biasa tajam.

In Hong percaya pendengaran suaminya itu, ia bangun untuk menyamber pedangnya, buat segera lari keluar.

Melihat demikian.

Thian Touw menghela napas.

"Benarlah, gelombang yang satu belum tenang, telah menyusul yang lain,"

Pikirnya.

"Benarlah satu kali orang terlibat dalam pertempuran-pertempuran kaum Kangouw, sulit orang menyingkirkan diri pula, lantas tak ada lagi saat yang tenang..."

Meski begitu, ia menyusul isterinya itu. Suami isteri ini berlari-lari dengan "Lioktee Huiteng,"

Atau "Terbang mumbul di atas tanah."

Suatu ilmu ringan tubuh yang mahir.

Sebentar saja mereka sudah melalui empat atau lima Iie, lalu di dekat selokan Cengtiok Kan mereka menampak berkelebatannya sinar pedang di sana beberapa tubuh manusia lagi bergerak-gerak dalam sebuah pertempuran.

Setelah datang cukup dekat, In Hong berhenti berlari, untuk mengawasi.

Ia tidak mau bertindak sebelum melihat nyata mereka itu, siapa lawan siapa kawan.

Yang bertempur itu terdiri dari lima orang, dengan bantuan sinar rembulan dan bintang, dapat mereka dikenali.

Yang tiga berdandan sebagai opsir, yang dua sebagai rakyat jelata.

Satu opsir ternyata Yang Cong Hay, yang bersenjatakan pedang.

Seorang tua, yang bersenjata tongkat bambu, ialah jago kenamaan dari PekTo, golongan Jalan Putih, sebab ialah Sin-ie Kok Tiok Kun si Tabib Sakti.

Sedang kawannya tabib ini, seorang muda, bukan lain daripada Ban Thian Peng.

Kok Tiok Kun menggunakan sebatang tongkat sebagai pedang, ia dapat menikam dan menotok, sedang Thian Peng memegang sepasang poankoan pit, untuk menotok juga, tetapi dalam pertempuran ini, mereka repot sekali.

Mereka dikepung musuh-musuh yang lihai dan licik.

Yang Cong Hay dengan pedangnya melayani Kok Tiok Kun.

Berdua mereka nampak berimbang.

Ban Thian Peng dilibat oleh musuh yang usianya sudah lanjut, yang berkelahi dengan tangan kosong.

Dia rupanya lihai sekali sebab dia tidak jeri untuk sepasang poankoan pit lawannya, bahkan dia dapat mendesak.

Yang menyulitkan ialah musuh yang ketiga, si opsir usia pertengahan.

Dia menggunakan joanpian, cambuk atau ruyung lemas.

Dia tidak mengepung salah satu, dia hanya mengambil kedudukan di tengah.

Dia menjadi si pengacau.

Dia selalu menanti ketika.

Ada kalanya dia menyerang Tiok Kun, ada waktunya dia membokong Thian Peng.

Dia cuma membikin orang bingung.

Selama In Hong menonton, ia menyaksikan Tiok Kun kena dibokong satu kali dan Thian Peng tiga kali, hingga pakaiannya anak muda itu rubat-rabit, hingga dia menjadi repot.

Kelihatannya pemuda she Ban itu telah mendapat luka tak enteng.

Sampai di situ, In Hong tidak dapat menonton terlebih jauh.

Ia berseru dan berlompat maju, untuk menghampirkan tukang mengacau itu.

Opsir yang bergegaman joanpian itu mendengar suara orang dan melihat orang mendatangi, tanpa menegur lagi, ia menyambut.

Ia menimpuk dengan seraup biji teratai besi, hingga terdengar suara anginnya serangan itu.

In Hong menangkis.

Ia menggunakan tipu silat "Naga Sakti keluar dari laut."

Maka dengan menerbitkan suara berisik, semua biji teratai besi itu kena dihajar mental ke segala penjuru.

Opsir itu terkejut.

In Hong maju terus, ia menyerang.

Ketika ia ditangkis si opsir, ia babat kutung senjatanya opsir itu.

hingga dia menjadi terlebih kaget pula.

Tapi pun pedang si nyonya kena tersampok, dari mana ternyata, opsir itu benar bukanlah sembarang opsir.

Yang Cong Hay yang bermata tajam lantas dapat melihat di belakangnya In Hong ada Thian Touw.

hatinya menjadi kecil.

Dia memang licik.

Dia mengerti bahwa bahaya maut lagi mengancam padanya.

Tanpa berpikir panjang lagi, dia berseru.""Angin keras!

Berhenti!"

Lantas dia menangkis serangannya Kok Tiok Kun, terus dia memutar tubuh dan lari keras, hingga lekas juga dia sudah pergi jauh.

Si opsir tua dan usia pertengahan mengerti tanda kawannya, mereka juga mau mengangkat kaki, untuk menyusul kawan mereka itu.

Tapi In Hong.mendesak opsir usia pertengahan itu.

berulang-ulang ia menikam, tatkala si opsir berlompat, ia tikam mata kakinya.

Maka robohlah dia, terguling ke bawah bukit!

Habis itu In Hong menyerang si tua.

Dia itu Iiehay, dia dapat meloloskan diri.

"Sudahlah!"

Berkata Thian Touw, yang tidak berniat mengejar musuh.

"Paling perlu kita menolongi orang!"

In Hong dapat dikasih mengerti. Ketika itu segera terdengar suaranya Ban Thian Peng.

"Kau, Leng Lihiap? Bagaimana dengan lukanya Ciu Cecu, sudah sembuh seluruhnya atau belum? Apakah lihiap mendengar halnya Siu Lan?"

Suara pemuda itu tidak keras, rupanya selain luka di luar juga ia terluka di dalam.

In Hong menghampirkan pemuda itu.

Ban Thian Peng bersama Kok Tiok Kun pergi ke Selatan untuk mencari Im Siu Lan.

Ketika mereka tiba di Hangciu, mereka justeru mendengar kabar hal ada seorang tauwbak-nya Yap Seng Lim kena tertangkap pembesar negeri dan ditahan di kantor sunbu.

Mereka lantas memikir untuk menolongi.

Kok Tiok Kun yang bernapsu sekali, dia yang mengajaki Thian Peng.

Di luar dugaan, mereka bertemu musuh-musuh yang tangguh, yang menjaga kuat kantor sunbu.

Syukur untuk mereka, Koan Sin Liong tidak turut mengepung, sebab Sin Liong letih bekas melayani Thian Touw.

Mereka kabur terus.

Kawan yang tua dari Yang Cong Hay ialah Cui Goan Pok dari Cengciu.

Dia memang Iiehay, sebab dia pandai berkelahi dengan tangan kosong, untuk merampas senjata musuh dan kemudian merobohkannya.

Ilmu silatnya, Kimna Ciu, ilmu menangkap, terdiri dari tujuh puluh duajurus.

Dibanding dengan ilmu Hunkin Coku Ciu dari Law Tong Sun, dia kalah setingkat, tetapi dia toh terkenal sekali.

Sedang opsir usia pertengahan itu bernama Kouw Tok Cun, murid nomor dua dari Koan Sin Liong.

Dia telah mewariskan ilmu senjata rahasia dari gurunya.

Dialah yang menggunakan teratai besi melukai Thio Giok Houw di luar LauwgwaLauw.

Yang Cong Hay bertiga terus mengejar Kok Tiok Kun berdua.

Tiok Kun tahu di mana tempatnya Thio Pa, ia percaya di sana ia bakal dapat bantuan, maka itu ia mengajak Thian Peng lari ke arah rumah orang she Thio itu, tetapi di dekat selokan mereka tercandak, hingga di situ mereka mesti berkelahi mati-matian.

Mereka dipersulit oleh Tok Cun.

Syukurlah In Hong dan Thian Touw keburu tiba, kalau tidak, Thian Peng bisa celaka.

Ban Thian Peng taat kepada pesan Cit Im Kauwcu, ia pandang Siu Lan sebagai adik sendiri, maka juga begitu melihat In Hong.

ia tanyakan hal adik angkat itu.

In Hong lantas menyahuti.

"Ciu Cecu sudah sembuh! Im Siu Lan sudah pulang ke benteng gunung!"

Thian Peng girang hingga ia berseru sambil berjingkrak, atau mendadak ia menjerit kesakitan dan roboh sendirinya. Kok Tiok Kun lompat untuk memimpin bangun.

"Syukur, nadimu tidak kurang suatu apa!"

Kata tabib itu tertawa. Selagi mengangkat, ia lantas pegang nadi orang.

"Tapi ingat, jangan lagi kau berseru-seru dan berlompatan!"

Sebenarnya Thian Peng terlukakan Cui Goan Pok pada jalan darah hieji, sedang luka joanpian tidak berarti.

Tiok Kun merasa pasti, dalam waktu tiga hari ia akan dapat menyembuhkannya.

Sementara itu Cio Bun Wan bersama-sama Bouwyong Hoa dan Tiangsun Giok serta Thio Pa telah datang menyusul, mereka itu kenal Kok Tiok Kun, maka pertemuan itu menggirangkan mereka.

Lantas bersamasama mereka balik.

Setelah mengetahui segala apa, Thio Pa berpikir, terus ia berkata.

"Tempat kita ini sudah diketahui musuh, tidak dapat kita berdiam lebih lama pula di sini. Baiklah besok pagi kita lantas berangkat!"

Sebenarnya Thio Pa lagi menyiapkan kendaraan air dan awaknya dan masih belum bersedia, tetapi sekarang, tak dapat ia menanti lagi.

maka ia lantas bekerja.

Malam itu orang tak tidur lagi.

Mereka berjaga-jaga karena kuatir musuh nanti datang pula.

Tapi sampai terang tanah, mereka tidak mendapat gangguan apaapa.

Itulah disebabkan Kouw Tok Cun terluka.

karena dia ditolongi, ketika mereka itu tiba di kantor sunbu, hari sudah jam lima.

Tiok Kun menggunakan jarum mengobati Thian Peng, untuk membuyarkan darahnya yang bergumpal, maka itu.

meski si anak muda belum sembuh benar, dia sudah dapat berjalan.

Pagi itu.

dengan naik perahu, mereka pergi menyingkir.

Di atas kendaraan air, In Hong memandang jauh ke sekitarnya.

Ia melihat ujung air seperti nempel dengan pangkal langit.

Burung-burung beterbangan.

Ia merasa hatinya terbuka.

Maka ia berpaling kepada suaminya dan kata sambil tertawa.

"Inilah yang dibilang, laut lebar membikin ikan dapat berlompatan, dan langit terbuka memerdekakan burung beterbangan. Satu kali orang berada di tengah laut, legalah hatinya!"

Thian Touw menyeringai.

"Nampaknya kau sangat mengagumi Sin Cu beramai!"

Katanya masgul.

Ia ingat bagaimana pada dua tahun dulu ia pergi mencari In Hong, ketika itu ia telah minta bantuannya Ie Sin Cu, tetapi sekarang, ia telah terlibat oleh isterinya ini, sekarang ia mesti ikut isterinya pergi mencari pula Nona Ie...

Tiga hari orang berlayar maka tibalah mereka di tempatnya Yap Seng Lim.

markas di Tanghay, Laut Timur.

Ketika Yap Seng Lim mendengar siapa yang datang, bersama-sama Ie Sin Cu dengan lekas ia pergi menyambut.

Bukan main girangnya Sin Cu dan In Hong dapat bertemu pula satu dengan lain, meskipun belum ada satu tahun semenjak mereka berpisah, hingga tanpa merasa, In Hong membikin suaminya menjadi tersampingkan.

Thian Touw pun lantas bisa melihat bahwa In Hong itu benar-benar orang yang sama cita-citanya dengan Sin Cu.

Dengan begitu, ia merasa ia seperti orang luar...

Thio Giok Houw sudah sembuh tujuh atau delapan bagian, maka setelah bicara sebentar, In Hong ajak Sin Cu pergi menjenguknya.

Giok Houw senang mendapat kunjungan itu apapula kapan ia mendengar halnya In Hong berdua Thian Touw menempur Kiauw Pak Beng, cuma ia berduka akan mendapat tahu kematiannya Ouw Bong Hu.

Ia pun berlega hati mendengar halnya Siu Lan, yang tak usah dikuatirkan lagi.

"Mana Kiam Hong?"

Kemudian In Hong tanya.

"Kenapa aku tidak lihat dia? Apakah dia belum pulang?"

"Bagaimana, eh?"

Sin Cu balik menanya.

"Bukankah kamu datang kemari bersama Nona Liong?"

"Memang aku bersama ia tetapi kita berpisah di Thiancia,"

Sahut In Hong.

"Dia naik perahu bersamasama Thay Ouw Cecu Liu Tek Chong dan Chio Peng Kin. Tentu dia sekarang ada di tempatnya Chio Cecu. Kalau dia mendengar Giok Houw terluka. pasti dia menyesal tidak mempunyai sayap untuk terbang kemari!..."

Mendengar begitu, hati Sin Cu tidak tenang. Ia percaya, seharusnya Kiam Hong sudah sampai di markasnya ini.

"Perjalanan di laut sukar ditentukan,"

Kata Giok Houw.

"Jikalau kita menghadapi gangguan angin, kita dapat terhalang beberapa hari."

Pemuda ini dapat berkata demikian tetapi hatinya tak tenang.

Ia terus memikirkan Kiam Hong.

Dua hari orang mengharap-harap, perahunya Liu Tek Chong tetap tak kunjung tiba.

Di lain pihak datanglah warta buruk dari Hangciu.

Mata-mata dapat berita ketenteraan, ialah bahwa sunbu yang baru, setelah mulai bertugas, lagi rajin mengumpul pasukan air dari pelbagai tempat, mungkin maksudnya untuk melakukan penyerbuan.

Seng Lim lantas berhimpun, untuk membicarakan kemungkinan penyerangan tentera negeri itu.

Kalau benar, penyerangan itu mesti dilawan.

Mereka juga sekalian merempuki pertolongan untuk Seng Hay San.

Tengah mereka berunding itu.

datang warta tergesagesa lainnya lagi.

yaitu katanya perahu peronda telah dapat menolong seorang yang mendapat kecelakaan di laut.

"Orang apa dia itu?"

Seng Lim tanya.

"Kenapa kau agaknya gelisah?"

"Orang itu dikenali sebagai Liu Cecu dari Thay Ouw..."

"Lekas ajak dia masuk!"

Berkata Sin Cu cepat.

"Aku akan dengar sendiri keterangannya!"

"Orang itu tidak dapat didengar keterangannya,"

Berkata pula tauwbak yang datang melapor itu.

"Dia telah dipotong lidahnya hingga dia tidak dapat bicara. Juga setelah ditolongi, dia mengamuk tak hentinya, lagaknya seperti orang gila."

Seng Lim heran. Ia menyangka pada kejadian jelek.

"Lekas bawa dia masuk!"

Ia menitahkan.

Di lain pihak ia menyuruh mengundang Kok Tiok Kun.

Orang yang ditolongi di laut itu sudah lantas dibawa masuk.

Ia pun lantas ada yang kenali sebagai Ong Tiauw Keng.

Dia benar orangnya Liu Tek Chong.

Dia tidak mau diam, dia meronta-ronta dan mulutnya mengasi dengar suara ah-ah~uh-uh.

Dia benar mirip orang edan.

Matanya yang je lilitan dan wajahnya yang berkedutan menandakan dia pun tengah ketakutan.

Dia merontaronta seperti orang mau lari kabur.

Maka ia mesti dibawa masuk dengan paksa, beberapa orang memeganginya keras-keras.

"Ong Tiauw Keng, apakah kau masih kenali aku?"

Seng Lim tanya. Tiauw Keng pernah turut Tek Chong datang kepada pemimpin pasukan rakyat ini, atas pertanyaan itu. dia mengawasi dengan mendelong, agaknya dia memikir tetapi tidak dapat ingat.

"Dia sebenarnya cerdik sekali, kenapa sekarang dia menjadi begini, seperti orang yang asabatnya sangat terganggu?"

Kata Seng Lim.

"Dia ditanya, dia tidak bisa menjawab, bagaimana?"

"Nampaknya dia belum menjadi gila."

Kata Tiok Kun.

"Lihat, dia masih tetap berpikir keras. Rupanya dia mencoba mengingat-ingat kau. Aku lihat, dia tentu telah menghadapi kejadian yang sangat menakuti."

"Apakah ada daya untuk menyadarkan dia?"

"Nanti aku coba."

Lantas Tiauw Keng dicekoki obat, habis itu dia dibiarkan tidur lama.

Begitu dia mendusin, dia lantas direjang pula, untuk diberikan tusukan jarum di ketiga jalan darahnya, honghu, taytwi dan giokheng.

Tidak lama dari bekerjanya tusukan jarum, Tiauw Keng berlompat bangun sambil berseru-seru pula ah-ahuh-uh, lantas air matanya turun bercucuran.

Dia menghampirkan Seng Lim untuk memberi hormat sambil menjura.

Rupanya dia sudah mengenali pemimpin tentara rakyat itu tetapi belum seluruhnya.

Kok Tiok Kun memeriksa tubuh orang, kecuali lidahnya dipotong, dia itu tidak dapatkan lain luka.

Adajuga luka di luar, yaitu tubuhnya lecet belasan tempat.

Diduga itu bekas terbentur-bentur batu tepian laut.

"Apakah kau hendak minta sesuatu dari aku?"

Seng Lim tanya. Tiauw Keng mengangkat kepalanya, ia mengawasi mendelong.

"Telinganya pun sudah rusak."

Tiok Kun memberi tahu.

"Agaknya dia sudah ingat banyak. Nanti aku tanya padanya."

Tabib ini dengan Liu Cek Chong telah bersahabat untuk banyak tahun, maka itu tentu sekali Tiauw Keng mengenali padanya.

Ia lantas minta kertas tulis dan pit, ia melukis gambarnya Tek Chong, gambar mana diperlihatkan orang yang terganggu urat syarafnya itu.

Melibat gambar jago tua itu, Tiauw Keng lantas menangis.

Karena lidahnya sudah buntung, ia tetap cuma bisa ah-ah-uh-uh.

Seng Lim bergelisah.

Ia menghampirkan dekat, ia bicara di telinga orang itu, kedua tangannya dipakai memetahkan sesuatu.

Tanyanya.

"Apakah Liu Cecu menemui bencana?"

Tiauw Keng mementang kedua tangannya, ia merangkul beberapa kali. Seng Lim dapat membade tanda rangkulan itu, tanda memeluk.

"Di manakah Liu Cecu dikurung orang?"

Ia menanya pula.

Kembali ia memberi tanda.

Tiauw Keng cuma mengangguk dengan perlahan.

Seng Lim lantas menyodorkan alat tulis, supaya dia itu menulis, tetapi Tiauw Keng belum sadar betul, habis menyambut pit, ia patahkan itu, ia nampaknya ketakutan pula.

lagi-lagi ia bersuara ah-ah-uh-uh itu, suaranya sangat menyayatkan.

"Dia belum sadar seluruhnya, dia cuma ingat kehebatannya peristiwa,"

Kata Tiok Kun.

"Mungkin di antara kawan-kawannya ada yang ditabas pinggangnya..."

"Kiranya ini cukup juga untuk kita,"

Kata Seng Lim akhirnya.

"Aku percaya Nona Liong dan Liu Cecu semua telah kena terkurung di sebuah pulau kosong, tentu mereka itu mendapat kecelakaan."

"Bagaimana dapat kau menerka demikian?"

Tanya Sin Cu, sang isteri.

"Bukankah Tiauw Keng diketemukan di laut?"

Balik tanya Seng Lim.

"Bukankah di tepian banyak batu-batu tajam? Itulah yang menyebabkan luka di luar dari orang ini. Aku percaya pulau kosong itu tak jauh jaraknya dari tempat kita ini, paling jauh seperjalanan tiga hari..."

Ia berhenti sebentar, seperti ada yang dipikirkan, lalu ia menambahkan.

"Semua pulau di sekitar sini telah aku periksa, maka aku menduga kepada kepulauan di tenggara, jauhnya tiga ratus li. Di sana ada beberapa pulau kecil. Pernah aku memeriksa pulau-pulau itu. Karena di sana tidak ada tempat yang bagus untuk dijadikan pelabuhan dan terpisahnya dari sini jauh juga, aku melepaskannya. Aku mau percaya Liu Cecu terkurung di sana, sebab lainnya pulau tak ada yang kosong. Sayang aku tidak bisa meninggalkan tempat ini. Maukah kau mewakilkan aku pergi ke sana?"

"Baiklah,"

Menyahut Sin Cu. Thio Giok Houw dan Ban Thian Peng menyatakan suka turut pergi. Thian Peng bersyukur kepada Kiam Hong, yang sudah menolongi Siu Lan, ia hendak membalas budi.

"Untuk kepergian ini kamu harus mendapat kawan yang pandai ilmu tabib,"

Kata Seng Lim.

"Maka itu, Kok Locianpwee, sukalah kau capai sedikit untuk turut pergi bersama."

Sudah tentu Tiok Kun suka membantu.

"Kenapa kau melupai aku?"

In Hong tanya tertawa. Seng Lim memandang nyonya itu.

"Baiklah,"

Sahutnya, yang menganggap baik juga orang pergi banyakan.

Tetapi Hok Thian Touw diminta j angan turut.

Sebab dikuatir, andaikata Koan Sin Liong datang, tidak ada yang sanggup melayani dia.

Sin Cu lantas menyiapkan seratus serdadunya yang pandai berenang, mereka di tempatkan dalam dua perahu besar.

Segera mereka berlayar ke arah tenggara seperti ditunjuk Seng Lim.

Benarlah, di hari ketiga magrib, mereka telah tiba di pulau itu, yang kecil, bahkan di tepiannya telah didapatkan sebuah perahu kandas.

Dikenali itulah perahunya Liu Tek Chong dari Thayouw, sebagaimana benderanya masih terlihat berkibar-kibar.

Orang lantas mendarat.

Paling dulu mereka memeriksa perahunya Liu Tek Chong itu.

yang ternyata sudah rusak, ialah banyak liangnya.

Di lantai perahujuga terlihat tanda-tanda darah.

Isi perahu sudah habis.

"Perahu ini terdampar gelombang,"

Kata Tiok Kun.

"dia telah melanggar karang. Rupanya telah terjadi pertempuran setelah terdamparnya itu."

Hati Giok Houw menjadi tidak tenang.

"Mari kita periksa!"

In Hong mengajak.

Di pesisir situ banyak batu tajam, itulah bukti dari penderitaannya Ong Tiauw Keng, yang telah kabur dari daratan.

Giok Houw menggigil sendirinya kapan ia membayangkan penderitaannya Tiauw Keng itu.

Bukankah rombongannya Liu Tek Chong telah dikurung musuh dan itu telah berjalan beberapa hari lamanya?

Bagaimana dengan mereka?

Mereka masih hidup atau sudah mati?

Dapatkah mereka meloloskan diri?

Kecelakaannya Tek Chong berarti juga kecelakaannya Kiam Hong...

Tak sanggup Giok Houw memikir lebih jauh, maka ia lantas mencari terus.

Itulah pulau kosong yang belum dibuka.

Ketika itu cuaca juga sudah mulai remeng-remeng dan rimba menjadi gelap sekali, ditambah dengan kesunyian.

suasana dapat mendatangkan rasa segan dan jeri...

Dugaannya Kok Tiok Kun tidak salah.

Perahunya Liu Tek Chong itu telah diserang badai, lalu melanggar karang, terus terdampar di pesisir.

Cuma mereka tak dapat menduga tepat penderitaan hebat dari Tek Chong semua, kecuali mereka menerka-nerka dari keadaannya Tiauw Keng.

Perahu Tek Chong itu diganggu badai hingga kanyut ke arah pulau kosong itu.

lalu membentur karang dan terdampar.

Syukur mereka sendiri tidak mendapat celaka apa-apa.

Terpaksa mereka mendarat.

Pikiran mereka ialah untuk memperbaiki dulu kendaraan air mereka itu.

yang mana akan makan tempo beberapa hari.

Tidak dapat mereka berdiam terus di dalam perahu rusak itu, sedang juga ada kemungkinan gangguan air pasang.

Maka mereka mengangkut semua barang makanan dan lainnya yang dibutuhkan, mereka pergi mencari tempat di mana mereka dapat membuat gubuk darurat.

Begitulah dengan mengajak belasan awak perahunya, Tek Chong bersama Chio Peng Kin dan Nona Liong pergi memeriksa pulau itu.

yang tidak luas, melainkan rimbanya benar lebat dan rumputnya tinggi-tinggi serta banyak pohon rotannya dan oyot lainnya.

Sesudah jalan sekian lama, lantas mereka mendapatkan satu bidang yang lebih datar di mana ada sebuah benteng tua yang sudah rusak.

"Syukur!"

Kata Tek Chong tertawa.

"Di sini dapat kita menempatkan diri. Hanya entahlah tempat ini ada penghuninya atau tidak Ia lantas berkata nyaring.

"Aku Liu Tek Chong dan rombongan dari Thayouw kena terdampar angin sampai di sini, maka itu aku mohon bertemu dengan tuan rumah, untuk minta diberikan tempat menumpang meneduh!"

Tek Chong menduga, kalau benteng itu ada penghuninya, orang mesti sesama kaum Rimba Persilatan, atau sedikitnya perompak yang lagi menyembunyikan diri, hingga namanya sebagai ketua dari benteng Thayouw Ce mestilah diketahui.

Ia juga mengharap memperoleh beberapa sahabat baru.

Benarlah dugaan jago ini, benteng ada penghuninya.

Suaranya masih belum berhenti, pintu telah dipentang, dari dalam lantas terlihat keluarnya serombongan orang, hanya melihat mereka itu, Kiam Hong terkejut, sampai hampir ia tidak mau percaya matanya.

Rombongan itu terdiri dari beberapa puluh wanita muda, yang menjadi kepala ialah seorang aneh yang tubuhnya dikerebongi kulit binatang yang berbulu.

Dan di antara rombongannya itu ada beberapa yang nona ini kenali sebagai murid-muridnya Cit Im Kauwcu.

Sebegitu jauh yang Kiam Hong ketahui, murid-murid Cit lm Kauwcu berkumpul didusun Tang Keepo di gunung Himji San di luar kota Ganbunkwan.

Dan gunung Himji San itu terpisah dari pulau ini beberapa ribu li jauhnya.

Maka heran mereka ini diketemukan di sini dan mereka berada di bawah pimpinan orang aneh itu.

Masih ada satu hal lainnya yang luar biasa, yang mengejutkan.

Di samping si orang aneh ada seorang lain, yang bercokol di atas sebuah kereta roda satu.

Dialah seorang dengan muka berewokan, tubuhnya tinggi dan besar, dandanannya sebagai seorang pelajar tetapi tak keruan ragamnya.

Dialah Tiatsan Siseng Couw Thian Yauw, si Pelajar Kipas Besi, orang yang dulu hari di dalam kuil telah dihajar Cit Im Kauwcu dengan peluruh beracun Tokyam tan serta kemudian oleh Nona Liong ini dibacok kutung sebelah lengannya!

"Celaka!

Itulah musuh!"

Kiam Hong berseru.

Justeru itu Couw Thian Yauw tertawa berkakakan dan kereta roda satunya maju cepat sekali ke arah si nona, maka tidak ampun lagi Kiam Hong menyambutnya dengan tikaman "Bidadari menenun,"

Menikam ke arah dada.

Thian Yauw bercokol di atas keretanya, separuh tubuhnya bagian bawah tak dapat digeraki, si nonajuga kebetulan berada di tempat yang terlebih tinggi, maka hebatlah dia terancam bahaya, akan tetapi meski bercacad, dia masih lihai, dengan lantas dia menangkis dengan kipas besinya begitu rupa.

hampir pedang si nona terlepas dari cekalannya.

Baca Juga: Bunga Pedang Embun Hujan Kanglam Khu

Baca Juga: Telapak Setan 6

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger