Eps 6 Telapak Setan - Khu Lung Tjan Id
Baca online Telapak Setan - Khu Lung Tjan Id
Cersil Telapak Setan - Khu Lung Tjan Id.
Perhitungan dari Perampuan naga peramal sakti ternyata sedikitpun tidak salah, setelah Gak In Ling berhasil menasehati Manusia bertato sembilan naga, ia segera berangkat menuju ke-benteng Hui-in-cay.
Ketika untuk pertama kalinya Gak In Ling berkunjung kesitu, hatinya memang merasa agak keder dan takut terhadap dinding tebing yang curam disekitar benteng tersebut, tapi sekarang setelah berkunjung untuk kedua 517 kalinya ia sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap bukit terjal yang terbentang didepan mata itu.
Gak In Ling berputar satu lingkaran besar lebih dahulu untuk menghindari para jago, tidak selang beberapa saat kemudian ia sudah berada kurang lebih dua ratus tombak dari dinding tebing dimana benteng Hui-in-cay dibangun.
Tampaklah bukit bertebing yang cuma berdiri dengan angkernya diliputi kabut putih yang tebal, pepohonan yang hijau dan rindang tumbuh dengan amat subur disekeliling sana, pemandangan alam disekitar situ boleh dibilang indah menawan hati.
Gak In Ling berpaling dan memandang sekejap kearah tebing curam yang tingginya mencapai ratusan tombak itu, serta-merta ia segera menduga bahwa benteng tadi tentu dibangun diatas tebing yang curam itu, akan tetapi ketika ia tundukkan kepalanya dengan cepat pemuda itu berdiri tertegun.
Di bawah tebing tampaklah bangunan rumah berderet-dsret, rupanya ditempai itu merupakan sebuah perkampungan yang cukup luas.
Rupanya disitulah letak benteng Hui-in-cay yang dicari-carinya selama ini...
Nafsu membunuh dengan cepat menyelimuti seluruh wajah Gak In Ling, gumamnya seoran diri.
"Bagus Aku akan mulai dari sini, akan kubikin darah berceceran dimana-mana."
Tanpa ragu-ragu lagi dia segera mengepos tenaga dan melayang turun kebawah kemudian dengan gerakan yang cepat bagaikan sambaran petir menyerbu masuk kedalam perkampungan tersebut.
Jarak sejauh ratusan tombak hanya dilalui dalam waktu yang amat singkat, dengan enteng sekali Gak In Ling 518 meloncat naik keatas sebuah dinding berbatu yang tingginya mencapai dua tombak kemudian melongok kearah dalam.
Tampaklah halaman tersebut mencapai beberapa puluh tombak luasnya, kompleks perumahan yang dibangun ditempat itu mencapai ratusan buah banyaknya, semuanya dibangun dengan batu cadas yang kuat dan kokoh sekali.
cuma bangunan-bangunan rumah batu itu sebagian besar berada didalam keadaan terkunci, agaknya sangatjarang ada orang yang berdiam di situ.
Pada arah sebelah depan merupakan sebuah ruang tamu yang tinggi besar dan dibangun dengan batu kali, bayangan manusia nampak berkelebat silih berganti, agaknya disitu sedang diadakan suatu perjamuan makan-Tepat berhadapan dengan bangunan besar itu merupakan sebuah lapangan yang cukup luas, disekeliling lapangan adalah dinding pekarangan yang tinggi, setiap jarak sepuluh langkah tumbuhlah sebatang pohon siong yang amat besar, ditinjau dari besarnya dahan pohon yang bisa ditarik kesimpulan bahwa pohon siong tersebut telah di tanam sejak lima puluh tahun berselang.
Sementara Gak In Ling masih meneliti keadaan disekeliling tempat itu tiba-tiba dari bawah sebuah pohon siong disebelah depan sana berkumandang suara bisikan seorang dengan nada yang kecil tapi nyaring.
"Aku melihat perasaan hati Wan-cu pada hari ini kurang begitu bergembira, kemungkinan isterinya yang seperti kuntilanak itu kembali main serong dengan pria lain-..."
"Loo Sun, hati-hati kalau sampai didengar olehnya "
Suara lain yang jauh lebih kasar memperingatkan.
"Aaah Jaraknya begitu jauh, mana ia bisa dengar perkataanku?"
Sesudah berhenti sebentar rupanya secara tiba-tiba ia teringat akan sesuatu, segera ujarnya kembali.
"Hey, Loo Sun, aku dengar orang bilang, katanya Gak In Ling sudah mampus tercebur ke dalam sungai, apakah berita ini dapat dipercaya atau tidak..?"
"Tentu saja dapat dipercaya. Idee tersebut muncul dari otak Wan cu kita, delapan sampai sembilan puluh persen tak bakal salah lagi. Sekali waktu Wan cu buru-buru hendak mencari kembali saudara angkatnya yang sedang menyaru sebagai Gak in Ling, sungguh tak nyana bajingan itu rupanya adalah bajingan tengik setan kelaparan yang gemar main perempuan, setelah ada gadis ayu dia jadi segan pulang sehingga menggusarkan hati dua orang pangcu besar dari dunia persilatan dan menangkap dirinya, kemungkinan besar hari ini Wan cu sedang merisaukan peristiwa tersebut."
"Benar Engkau masih mengatakan semua perbuatan Wan cu kita delapan sampai sembilan puluh persen tak bakal salah ? bukankah persoalan ini merupakan kesalahannya yang pertama ?"
"Itulah yang dikatakan pepatah sebagai. Sepandai-pandainya tupai meloncat, tokh akhirnya pasti akan terjatuh juga. Dia tokh bukan seorang Malaikat, tentu saja ia tak dapat pula menduga apa yang bakal terjadi dikemudian hari ?"
"Hmm masih ada lagi persoalan tentang ibunya Gak In Ling di masa lampau?"
"Aaah itu tokh disebabkan perempuan tersebut tak tahu diri, ada rejeki dan kenikmatan tidak dicicipi sebaliknya hendak menjaga kesucian, kehormatan segala tetek bengek. Huuh menyebalkan-"
""Sementara Wan cu kitapun harus memikirkan persoalan tersebut sampai disitu, kalau kita hantam dulu kemudian baru dirundingkan bukankah dikolong langit bakal menjadi aman dan tentram ?"
Ketika ditunggunya lama sekali namun tiada jawaban dari rekannya, orang itu segera berpaling.
"Heei... Loo Sun Aaah kemana dia pergi ?"
Serunya tertegun.
Ketika ia menengadah keatas maka tampaklah sepasang kaki rekannya sudah tinggalkan permukaan kurang lebih setengah depa dan ia berdiri disana dengan tenangnya tanpa bergerak.
Hal ini membuat hatinya menjadi amat terperanjat, pikirnya.
"Aaah sungguh tak kusangka Loo Sun bajingan ini ternyata telah mempelajari ilmu berjalan diangkasa "
Berpikir sampai di situ, ia segera berseru.
"Hey, Loo Sun, sejak kapan engkau mempelajari ilmu berjalan diangkasa ? kenapa tidak kau ajarkan pula kepadaku ?"
Pada saat itulah tiba-tiba berkelebat lewat serentetan cahaya putih, disusul tengkuknya menjadi kencang, hal ini membuat hatinya amat terperanjat, ketika menengadah keatas tak sabar lagi orang itu menjerit.
"Aduuuh mak. Loo Sun sudah menggantung diri "
Tiba-tiba dari atas kepala berkumandang suara teguran yang dingin menyeramkan-"Bajingan, coba periksalah sekelilingmu "
Suara itu mengandung nada berpengaruh yang sangat berwibawa, membuat orang tak berani untuk membangkang perintah tersebut.
Mendengar perkataan itu, orang tersebut segera menyapu sekejap kesekeliling tempat itu, jantung dan nyalinya kontan terasa pecah dan sukmanya terasa melayang tinggalkan raganya?
tampaklah pada jarak tiap lima batang pohon siong tergantunglah dua orang, mereka bukan lain adalah enam belas orang rekannya yang ditugaskan untuk mengawal dan menjaga keamanan di tempat itu.
Dengan penuh ketakutan orang itu menengadah lagi keatas pohon, akan tetapi setelah sorot matanya membentur dengan orang yang berada diatas tak kuasa lagi bulu kuduk pada bangun berdiri, serunya.
"Aaa Kau kau kau manusia atau setan ? Kau kau..."
Tak usah ditanya lagi. orang yang berada diatas pohon bukan lain adalah Gak In Ling.
"Siau-ya mu bukan lain adalah setan pembetot sukma yang khusus datang kemari untuk membereskan nyawa kalian semua..."
Sahut Gak In Ling sambil tertawa seram.
"Yaaa setan ampunilah jiwa ku Hamba belum pernah menyalahi dirimu... ampunilah kami..."
"Tadi kalian bersama-sama sedang membicarakan suatu masalah yang tak berbeda, maka kalian semua harus mati."
"Per... persoalan apa ??"
"ibu Gak In Ling"
Jawab pemuda itu demgan sadis, habis berkata tangannya bergerak di tarik keatas.
"Ampun ampun-... Aaak "
"Gak In Ling menggantungkan tubuh orang itu diatas dahan pohon siong, setelah menyapu sekejam enam belas sosok mayat yang bergelantungan disekeliling sana, gumamnya seorang diri.
"Ini hari siau-ya akan mencuci seluruh benteng Hui-in-cay dengan darah segar "
Habis berkata ia segera loncat naik keatas atau ruangan besar itu.
Ruangan itu luas sekali, pada dinding tembok tergantunglah lukisan-lukisan serta tulisan antik yang berharga dan indah, suasana nampak megah sekali, pada kedua belah sisi pintu gerbang berderetlah dua buah deretan rak senjata yang terbuat dari tembaga, perbagai senjata tombak dan golok terpancang di tempat itu.
Dikedua belah sisi rak senjata itu masing masing berdirilah dua orang pria yang berperawakan tinggi kekar, gayanya keren dan serius seakan-akan pengawal istana.
Dalampada itu ditengah ruangan besar berderetlah dua buah meja bulat di mana masing-masing duduklah empat orang, masakan yang lezat dihidangkan diatas meja, tapi jarang ada orang yang mencicipinya, entah apa yang sedang dipikirkan oleh mereka sehingga sama sekali tiada bernafsu untuk makan-Pada meja yang paling dalam, tempat duduk menghadap pintu duduklah seorang kakek berambut putih yang memakai jubah warna hijau, pada saat itu seorang diri ia minum arak dengan cawan besar sehingga sebagian wajah tertutup oleh cawan itu dan membuat Gak In Ling yang berada diatas atap tak sempat melihat jelas paras mukanya.
Sementara itu seorang lelaki berdandan sebagai pelajar yang bermata kecil dan beralis tipis yang duduk disebelah kanan kakek baju hijau itu berkata dengan nada lirih.
"Wan cu jangan minum lagi, aku lihat engkau sudah hampir mabok "
Mendengar ucapan tersebut, kakek baju hijau itu segera menggebrak meja keras-keras. Braaaak ... Dia letakkan kembali cawannya diatas meja dan mencaci maki kalang kabut.
"Maknya... kurang ajar terbayang di mana terlampau betapa bahagia dan gembiranya kehidupan aku "
Tiat-pay-ciau"
Ular berpunggung baja, sungguh tak nyana dimasa tuanya harus menanggung hangus hitam pantat orang, dari pagi sampai malam harus merasa takut dan berdebar-debar sehingga hidupku tidak tentram, maknya entah siapa yang telah berbuat celaka sehingga generasi sekarang yang musti membayar karmanya.
Orang ini mempunyai alis mata yang tebal dengan sepasang mata bagaikan mata Ikan mas yang melotot keatas, hidung besar seperti hidung singa, mulutnya lebar dan wajah bengis, membuat siapapun yang melihat segera mempunyai kesan bahwa dia adalah seorang manusia yang ganas.
Pada saat itu, mungkin karena terlalu banyak minum arak.
selembar wajahnya telah berubah menjadi merah padam membuat orang yang memandangnya merasa semakin muak.
Lelaki berdandan pelayan yang tak lulus ujian itu nampak mengenyitka n sepasang alis matanya yang tipis, kemudian dengan perasaan tak senang hati katanya.
"Wan cu, kalau engkau berkata demikian maka ucapanmu itu keliru besar sekali."
"Braaak "
Sekali lagi ular berpunggung baja menghantam meja keras-keras, membuat beberapa cawan arak bergelimpangan, teriaknya keras-keras.
"Bagian mana yang salah ? coba katakan ?"
Nampaknya hawa amarahnya telah memuncak.
Lelaki yang berdandan sebagai pelajar itu, walaupun menyebut ular berpunggung baja sebagai Wan cu, tetapi dalam kenyataan nampaknya tidak begitu menghormati dirinya, mendengar ucapan tersebut wajahnya menjadi berubah kaku, serunya dengan dingin.
"Tempo hari dalam peristiwa pembunuhan terhadap orang she Gak tersebut, bukankah rencana itu muncul dari pikiranmu sendiri Lalu siapakah yang akan kau salahkan ?"
"Sedikitpun tidak salah, pembunuhan itu memang muncul atas dasar kemauanku sendiri."
Seru Ular berpunggung baja sambil bangkit berdiri.
"akan tetapi kalau tak ada Ngo-gak sin-kun malaikat lima bukit serta Jit-jian-siu (kakek tujuh cacad), sekalipun aku 524 bermaksud membinasakan dirinya pun belum tentu bisa kulakukan, lagi pula orang yang menarik keuntungan dari peristiwa tersebut bukanlah aku."
"Wan cu, darimana engkau bisa mengatakan kalau engkau tidak memperoleh keuntungan apa-apa ? coba bayangkanlah, diantara orang-orang yang ikut serta dalam peristiwa tersebut sehingga kini, masih ada beberapa banyak yang tetap hidup ?"
"Hm Benar, orang yang turut serta dalam peristiwa tersebut sebagian besar memang sudah mati ditangan Ngo-gak Sinkun-Jit-jan-siu serta Buddha antik, akan tetapi itu toh berhubung mereka telah melakukan kesalahan sendiri, sehingga memberi kesempatan kepada mereka untuk melakukan pembasmian tersebut."
Seru Ular berpunggung baja sambil mendengus dingin-"Heeeeh heeeeh. heeeh Wan cu benarkah jalan pikiranmu sendiri demikian sederhananya ?"
Ejek lelaki berdandan pelajar itu sambil tertawa dingin. Ular berpunggung baja mengerutkan dahinya, kemudian dengan perasaan sangat mendongkol ia tertawa keras.
"Haaah.. haaaah..... haaaah.... Tok sim-Siu-su Pelajar berhati racun Sing Hong, engkau anggap dikolong langit hanya engkau seorang yang berotak encer serta dapat berpikir ?"
Mendengar teguran itu, Tok-sim Siu-su segera meloncat bangun dari kursinya, kemudian sambil tertawa dingin balasnya.
"Wan cu, aku harap engkaupun gunakan pula sedikit otakmu untuk berpikir, kalau tidak mungkin engkaupun akan turut menerima akibat seperti apa yang dialami beberapa orang.."
Dari nada suaranya dapat didengar bahwa dia sama sekali tidak sungkan-sungkan dalam ucapannya tersebut.
Dari balik sepasang mata Ular berpunggung baja yang melotot keluar bagaikan mata ikan mas segera memancar keluar serentetan cahaya yang menggidikkan, nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, sambil tertawa dingin serunya.
"Sim Hong, kalau engkau mengatakan yang lain maka belum tentu kebenarannya, akan tetapi kalau kau menduga siapa bakal mati siapa bakal hidup, sering kali ramalanmu tepat sekali, ini hari bagaimanapun juga engkau harus memberi keterangan yang sejelas-jelasnya kepadaku "
Berbicara sampai disitu sepasang matanya dengan memancarkan sorot cahaya yang bengis menatap wajah pelajar berhati racun itu tanpa berkedip.
Pelajar berhati racun Sim liong menyadari bahwa tenaga dalam yang dimilikinya masih belum mampu menandingi kehebatan dari Ular berpunggung baja, menyaksikan kejadian itu hatinya menjadi amat terperanjat, pikirnya.
"Aduh celaka, aku telah terlanjur berbicara sehingga menimbulkan kecuriganya.. sekarang bagaimana baiknya ?"
Orang ini benar-benar amat licik dan banyak akal, sesudah berpikir sebentar sambil tertawa segera jawabnya.
"Wan cu apa yang kukatakan tidak lebih hanya suatu dugaan belaka, kalau memang kebetulan tepat dugaanku rasanya tiada sesuatu yang perlu kau herankan-"
Ular berpunggung baja menarik kursinya dan mundur dua langkah kebelakang, sesudah tertawa dingin kembali katanya.
"Sedikitpun tidak salah, memang tak perlu diherankan, akan tetapi yang paling mengherankan adalah bagaimana caranya engkau memberi kabar kepada kakek tujuh cacad "
Terkejutlah hati pelajar berhati rccun Sim Hong sesudah mendengar ucapan itu, buru-buru dia mendorong kursinya sehingga mundur tiga langkah kebelakang, serunya.
"Wan cu-engkau sudah mabok."
Sementara itu keenam orang lainnya telah bangkit berdiri dan bersamaan waktunya sama-sama tinggalkan tempat duduk masing-masing dan dengan cepat mengepung ular berpunggung baja ditengah kalangan-Ular berpanggung baja menyapu sekejap sekeliling ruangan itu kemudian dengan perasaan sedikitpun tidak gentar ia tertawa bahak-bahak.
"Haaah..... haaaah.... haaaah... kedatangan kalian berenam bukanlah sedang menjalankan tugas untuk menangkap ular berpunggung baja..."
Ejeknya.
Habis berkata demikian tiba-tiba dia lepaskan jubah hijaunya, sementara itu sepasang tangannya bekerja cepat dan tahu-tahu dalam genggaman telah bertambah dengan dua buah senjata gada yang besarnya seperti kepalan-Pelajar berhati racun itu Sim Hong dengan cepat mengundurkan diri kebelakang, sesudah berada dibawah lindungan keenam orang itu, nyalinya semakin besar, sambil tertawa dingin, serunya.
"Ular berpunggung baja, tidak seharusnya engkau mencari penyakit dengan menggabungkan diri dengan perguruan Pit-tiong dari Tibet, tindakanmu itulah yang telah mengundang bencana kematian bagimu pada hari ini."
"Haaaah... haaaah... haaaaah.... apakah kalian juga pernah memikirkan soal mati hidup bagi kalian sendiri ?"
Pada saat itulah tiba-tiba dari arah halaman berkumandang datang suara teriakan keras yang penuh mengandung nada kaget dan ketakutan-"Aaaah Wan cu, kenapa keenam belas orang pengawal telah mati tergantung semua?"
Ditengah suasana yang tegang dan kritis teriakan tersebut sangat mengejutkan hati semua orang, sekalipun ucapan itu 527 berkumandang sangat jelas tetapi mereka masih merasa setengah percaya setengah tidak.
Sebab keenam belas orang pengawal halaman tersebut walaupun ilmu silatnya masih belum bisa terhitung jago kelas satu dalam dunia persilatan, tetapi mereka sudah cukup dikatakan merupakan Bu-su kelas dua atau tiga dalam sungai telaga, kalau dikatakan beberapa orang diantara mereka mati terbunuh orang kejadian itu bukanlah suatu peristiwa yang aneh, tetapi kalau dikatakan mereka mati tergantang semua diatas pohon tanpa menimbulkan sedikit suarapun, siapapun sulit untuk mempercayainya.
Ular berpunggung baja segera loncat masuk ke tengah hala man, ketika ia sudah menerima keadaan yang sebenarnya hatinya baru amat terperanjat sehingga untuk beberapa saat lamanya tak mampu mengucapkan sepatah katapun, bukan saja semua orang sudah mati tergantung bahkan tali yang menggantung mereka ternyata sama panjangnya, hal itu membuktikan kalau pekerjaan tersebut dilakukan oleh seseorang.
Orang yang berteriak tadi adalan seorang kacung kecil pada saat itu dia sudah ketakutan setengah mati dan menyembunyikan diri dibelakang ruangan setelah menjumpai mayat-mayat yang mati tergantung dengan mata melotot serta lidah menjulur keluar itu.
Setelah memeriksa beberapa saat lamanya, tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benak Ular berpunggung baja, keringat dingin segera mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh badan, arak yang barusan diminum pun telah mengalir keluar semua sebagai keringat, membuat kesadarannya jauh lebih kurang beberapa bagian dari keadaan semula.
Ketika Pelajar berhati racun Sim Hong menyaksikan kejadian itu, sambil tertawa dingin segera serunya.
"Apabila dugaanku tidak melesat, pastilah dia orang tua yang telah datang..."
Dalam hati Ular berpunggung baja merasa sangat takut, tapi diluaran ia berlagak tenang, sambil tertawa paksa katanya.
"Barusan aku memang sudah minum arak terlalu banyak, apabila aku sudah berlaku kurang hormat terhadap dia orangtua, semoga Sim Hong suka mengucapkan beberapa patah kata yang enak didengar dihadapan Jit-loo serta bersedia memaafkan diriku satu kali ini saja."
Agaknya dia mengira bahwa orang yang telah datang benar-benar adalah kakek tujuh cacad atau Jit jan-siu.
Pelajar berhati racun Sim Hong sendiri sebelum berjumpa dengan kakek tujuh cacad tidak berani pala bersikap terlalu kasar terhadap diri Ular berpunggung baja, mendengar perkataan itu dia segera tertawa dingin sambil berkata.
"Wan cu, buat apa engkau bersikap kasar lebih dahulu kemudian menghormat kemudian ? kalau ada persoalan ayo ikut aku dan katakan sendiri dihadapan Jit-loo."
Berbicara sampai disitu ia segera memberi tanda kepada keenam orang lainnya, kemudian putar badan siap tinggalkan tempat itu.
Pada saat itulah, tiba-tiba dari atas atap ruangan besar berkumandang datang suara teguran yang amat dingin bagaikan es.
"Apakah kalian bertujuh akan berlalu dengan begitu saja ?"
Suaranya dingin, ketus dan membikin bulu kuduk orang pada bangun berdiri.
Tanpa sadar pelajar berhati racun sim Hong sekalian bertujuh merasakan hatinya bergidik dan bulu kuduknya pada bangun berdiri sesudah mendengar teguran tersebut, dengan 529 cepat mereka putar badan dan menengadah keatas atap ruangan.
Tampaklah seorang pemuda bermuka setan, dan memakai baja warna hitam berdiri kaku diatas atap rumah, ujung bajunya berkibar terhembus angin, begitu gagah dan wibawanya orang itu membuat orang menjadi kagum dan tak berani memandang rendah.
Sementara itu Ular berpunggung baja menjadi lega hatinya setelah mengetahui bahwa orang yang barusan munculkan diri hanya seorang pemuda belaka, dengan suara dingin ia segera menghardik.
"Bangsat cilik bertampang jelek. siapa engkau ? apakah orang-orang itu mati ditang anmu?"
Pemuda baju hitam itu tentu saja bukan lain adalah Gak In Ling, ia tertawa seram.
"Heeehh heeeehh... heeeehh sedikitpun tidak salah, orang-orang itu memang mati ditanganku "
Tanpa terlihat gerakan apakah yang digunakan, tahu-tahu ia sudah berada diantara kedelapan orang itu.
Takkalah menyaksikan gerakan tubuh Gak In Ling yang begitu lihaynya, kedelapan orang itu dengan ketakutan segera mengundurkan diri sejauh tiga langkah kebelakang, sebab mereka hanya sempat melihat berkelebatnya bayangan hitam belaka.
Pelajar berhati racun Sim Hong melirik sekejap kearah enam orang yang berada disisinya, kemudian menegurnya dengan suara dingin.
"Bocah keparat, sebenarnya engkau siapakah? Ayo sebutkan siapa namamu ? sudah berapa lama datang kemari ?"
Sekali lagi Gak In Ling tertawa seram.
"Heeeh heeeehh heeeehh aku sudah beberapa lamanya datang kemari, semua perkataan yang kalian bicarakan sudah kudengar semua. oleh karena itu aku telah menjatuhkan hukuman mati kepada kalian semua, terutama sekali terhadap Ular berpunggung baja ong Kiam Lian "
Sesudah berhenti sebenar, dengan seram sambungnya lebih jauh.
"Sedangkan mengenai siapakah aku, aku rasa diriku sudah tidak terlalu asing lagi bagi kalian-"
Tiba-tiba ia melepaskan topengnya yang menutupi wajahnya, sambil membentak keras.
"Kenalkah dengan aku ?"
"Aaah Gak In Ling "
Hampir bersamaan waktunya delapan orang itu sama-sama menjerit kaget.
Tak sadar mereka mundur satu langkah ke belakang dengan hati bergidik karena ngeri.
Bukan hanya mereka saja yang merasa terperanjat, pada saat itu dibalik rindang serta lebatnya daun pohon siong terdapat pula beberapa orang yang merasa terkejut bercampur girang sehingga hampir saja menjerit keras.
Sementara itu Gak In Ling sudah tertawa dingin dan berseru.
"Bagaimana ?"
Kalian tentu tak pernah menyangka bukan?"
Pelajar berhati racun Sim Hong mengerutkan alis matanya yang tipis, diam-diam pikirnya.
"Tenaga dalam yang dimiliki orang ini amat sempurna dan sukar diduga dengan kata-kata, bahkan Hiat Mo ong bukan tandingannya, apabila keadaan tidak terlalu mendesak aku harus menghindarkan diri untuk saling bergerak satu lawan satu dengan dirinya."
Berpikir sampai disitu, dia lantas berkata "Kami tokh tiada sangkut paut dan hubungan apa pun dengan dirimu.... kenapa engkau mesti mencari gara-gara pula dengan diriku ?"
Sikapnya lembut dan halus membuat orang yang melihat tampangnya itu segera mengetahui bahwa dia pandai berlagak pilon.
"Heeeehh....... heeh heeeehh..."
Gak In Ling tertawa seram.
"bukankah sudah kukatakan tadi apa yang kalian bicarakan barusan tatah kudengar semua. Sekarang waktu yang kumiliki terbatas sekali, kalau kalian bertujuh segan untuk turun tangan lebih baik cepatlah bunuh diri, aku orang she Gak enggan mencari banyak urusan-"
Walaupun perkataannya amat tenang dan datar, akan tetapi ucapan tersebut bagaikan suatu perintah kematian.
Pelajar berhati racun sim Hong mengerling sekejap kearah seoraag pria kekar yang berada di sisinya kemudian berkata.
"Apakah engkau hendak memusuhi Jit-lo secara terbuka ?"
Mengungkap tentang Jit-jan-siu, kakek tujuh cacad, diatas paras muka Gak In Ling yang tampan segera terlintas hawa napsu membunuh yang sangat tebal, dengan sadis dia berseru.
"Sekarang, aku tidak menginginkan kalian bertujuh untuk melakukan bunuh diri lagi, karena akan kusuruh bajingan itu tujuh cacad menyaksikan sampai dimanakan kesadisan serta kebrutalan dari aku orang she Gak."
Seraya berkata perlahan-lahan ia melangkah maju mendekat ketujuh orang jagoan tersebut.
Semula maksud Pelajar berhati racun Sim Hong adalah hendak menggunakan nama besar dari Jit-jan-siu kakek tujuh cacad untuk menakut-nakuti Gak In Ling, sungguh tak nyana apa yang kemudian terjadi nyata jauh diluar dugaan nya bahkan telah memancing berkobarnya hawa napsu membunuh dalam dada sianak muda itu.
Setelah menyaksikan kehadiran Gak In Ling dengan wajah yang beringas seram, sadarlah Pelajar berhati racun Sim Hong bahwa persoalan yang dihadapinya pada saat ini terpaksa 532 harus di selesaikan dengan kekerasan, kepada pria kekar yang berada disisinya dia segera berseru.
"Hek-heng, beri pelajaran kepada bajingan tengik yang tak tahu diri itu "
Pria kekar tersebut sudah amat lama bergaul dengan Pelajar berhati racun Sim Hong, setiap kali memberi hajaran kepada orang, dia selalu memperoleh keuntungan yang besar, dan kini tatkala dilihatnya Gak In Ling yang dihadapi tidak lebih hanya seorang pemuda ingusan, dalam anggapannya sekali menyerang tentu akan mendapatkan hasil yang diinginkan, mendengar perintah tersebut dia segera membentak keras.
"Bocah keparat, sambutlah serangan maut dari toa-ya mu ini..."
Dengan jurus "Hui-poo-nau-tiau"
Atau pancaran maut diair terjun, ia tubruk Gak ln Ling dan melancarkan satu pukulan yang maha dahsyat.
Tenaga dalam yang dimiliki orang ini benar-benar luar biasa sekali, begitu serangan dilepaskan maka tampaklah bayangan telapak mematikan bagaikan bukit, deruan angin puyuh menyambar dengan hebatnya, serangan tersebut benar-benar menggetarkan hati orang.
Gak ln Ling sama sekali tidak menghindar ataupun berkelit, dia pun tidak segera melancarkan serangan untuk menyambut datangnya ancaman tersebut sambil tertawa dingin katanya.
"Heeeehh heeeehh heeehh engkau tak usah tekebur, yang mati lebih duluan adalah engkau "
Sementara pembicaraan masih berlangsung bayangan telapak dari pria tersebut tahu-tahu sudah berada kurang lebih tiga cun disamping badan Gak In Ling. Tiba-tiba pemuda itu membentak keras.
"Roboh kamu "
Tampak bayangan hitam berkelebat, belum sampat ingatan berkelebat dalam benak para jago tahu-tahu cahaya darah 533 memancar keempat penjuru diikuti jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema memecahkan kesunyian, pria itu roboh terkapar diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi.
Tujuh orang lainnya menyapu sekejap kearah pria yang terkapar diatas tanah, kemudian dengan bulu roma pada bangun berdiri mereka mundur beberapa langkah kebelakang.
Tampaklah sepasang lengan dan sepasang kaki pria tersebut telah tersayat putus oleh Gak In Ling dan tersebar diempat penjuru yang berbeda, sedangkan pria tadi dengan badan yang tak utuh terkapar diatas genangan darah dalam keadaan yang mengerikan-Terhadap pemandangan yang mengerikan di hadapan mukanya, Gak In Ling bersikap seakan-akan tak pernah melihatnya, dengan dingin dia menyapu sekejap kearah keenam orang lainnya kemudian berkata.
"Inilah contoh yang paling tepat buat kalian semua "
Walaupun dihari-hari biasa keenam orang itu sering kali melakukan pembunuhan, akan tetapi setelah gilirannya tiba diatas tubuh mereka tanpa sadar timbullah perasaan sayang terhadap nyawa sendiri.
Dengan cepat Pelajar berhati racun Sim Heng putar otak berpikir keras, lalu berpikir.
"Nampaknya situasi yang kuhadapi pada saat ini jauh lebih banyak bahayanya daripada tidak-sekarang persoalan sudah jadi begini, rasanya aku pun tak usah memikirkan tentang soal hubungan lagi."
Setelah mengambil keputusan didalam hati sengaja dia mengerling sekejap kearah lima orang lainnya kemudian berkata.
"Gak In Ling, tindakanmu itu benar-benar hebat dan cukup membuat orang merasa kagum "
Menggunakan kesempatan dikala berbicara tangannya dengan cepat merogoh kedalam sakunya menggenggam segumpal jarum Tok-sim-ciam dan siap dilancarkan setiap saat.
Dalam hati Gak In Ling tertawa dingin, pikirannya.
"Hmm akal setanmu itu hanya akan mendatangkan hasil yang nihil belaka...."
Meskipun didalam hati dia berpikir demikian, namun diluaran ini berpura-pura tidak tahu seraya tertawa dingin dia berseru.
"Aku orang she Gak tidak berani..."
Belum habis pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, mendadak terdengar Pelajar berhati racun Sim Hong membentak keras-"serbu "
Tangan kanannya diayunkan kedepan, segumpal jarum berwarna hijau bagaikan hujan gerimis segera menyebar keempat penjuru melingkupi daerah seluas dua tombak persegi dam mengurung Gak In Ling dibawah lapisan cahaya tersebut.
Lima orang lainnya sama sekali tak mengira kalau disaat yang kritis dan sangat berbahaya itu Pelajar berhati racun Sim Hong dapat menghianati mereka, mendengar suara tersebut mereka segera membentak keras dan sepenuh tenaga menerjang kearah Gak In Ling.
Pertarungan tersebut merupakan pertarungan yang menentukan antara hidup dan mati, tentu saja siapapun tak berani menyimpan kepandaian silatnya, dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya mereka berjuang kedepan.
Ketujuh orang itu dapat memperoleh perhatian dari Jit-jan-siu dan dipilih sebagai anak buahnya, tentu saja dalam hal tenaga dalam tidak terlalu lemah, karena itu serangan gabungan yang dilancarkan kelima orang itu boleh dibilang memiliki kekuatan maha dahsyat bagaikan membongkar langit 535 menghancurkan bumi, mengerikan bagi siapa pun yang memandang.
Ketika menyaksikan kelima orang rekannya sudah termakan oleh siasatnya, Pelajar berhati racun Sim Hong tak berani bertindak ayal lagi, sepasang kakinya segera menjejak tanah dan meluncur mundur kearah belakang, rupanya dia hendak gunakan kesempatan dikala kelima orang itu sedang menghadang jalan pergi Gak In Ling dia akan melarikan diri terlebih dahulu...
Walaupun perhitungan serta rencananya itu amat matang dan lihay, tetapi sayang sekali ia terlalu memandang rendah diri dari Gak In Ling.
Si anak muda she Gak itu sendiri, kendatipun tidak pandang sebelah matapun terhadap kelima orang itu, namun diapun tak berani bertindak terlalu gegabah menghadapi serangan gabungan tersebut, terutama sekali setelah menyaksikan Pelajar berhati racun Sim Hong melarikan diri dari situ, hawa marah yang membakar dalam dadanya seketika berkobar, bentaknya dengan suara keras.
"Kembali "
Sepasang telapaknya berputar lebih dahulu keatas batok kepala, kemudian didorong kearah depan dengan sepenuh tenaga.
Cahaya merah darah yang amat menyilaukan mata memancar ke empat penjuru sehingga mencakup seluas beberapa tombak.
berbagai cahaya hijau terhenti ditengah udarasetelah membentur dengan cahaya merah tersebut, kemudian dengan kecepatan lebih tinggi meluncur balik ke arah belakang.
Kelima orang itu lebih-lebih tak pernah menyangka kalau Pelajar berhati racun Sim Hong melarikan diri setelah melancarkan jarum beracun Tok-sim-ciam, tatkala menyaksikan memancar baliknya segumpal cahaya hijau menuju kearah mereka, orang-orang itu menjadi panik dan 536 terkejut segera berteriak keras.
"cepat mundur kebelakang"
Tapi sayang. peringatan tersebut terlalu lambat. -oo0dw0oo-
Jilid 16 LIMA kali jeritan ngeri yang menyayat hati menggema memecahkan kesunyian, setelah terhajar oleh jarum beracun itu lima orang pria tersebut segera roboh terjengkang keatas tanah, sesudah berkelejat sebentar akhirnya mereka tak berkutik lagi.
Dalam pada itu Pelajar berhati racun Sim Hong sudah berhasil mencapai sepuluh tombak dari tempat semula, buru saja hatinya bersyukur karena berhasil meloloskan diri, mendadak pinggangnya terasa sakit diikuti tubuhnya menjadi kaku, hatinya menjadi amat terkesiap.
pikirnya.
"Aaaah ., kenapa jarum, Tok-sim-ciam tersebut bisa menghajar diatas tubuhku sendiri? "
Sebagai seorang ahli senjata yang sudah terbiasa menggunakan jarum Tok-sim-ciam, tentu saja dia mengenal sampai dimanakah lihaynya kadar racun tersebut, setelah menyadari terkena jarum diapun tak berani melanjutkan larinya lagi, buru-buru orang itu hentikan gerakan tubuhnya dan segera duduk bersila diatas lantai.
Belum sempat jarum racun itu dicabuk keluar, tiba-tiba terdengar Gak In Ling membentak keras.
"Kemana engkau akan lari ??"
Sambil membentak tubuhnya menerjang maju kedepan, kakinya dengan cepat melancarkan sebuah tendangan kilat menghajar batok kepala pelajar berhati racun Sim Hong.
orang she Sim itu angkat kepala, melihat datangnya tendangan maut tersebut dia menjadi amat terperanjat, jeritnya lengking.
"Aaaduuuh mati aku..."
"Blaaamm "
Percikan darah segar memancar keempat penjuru, batok kepala dari Pelajar berhati racun Sim Hong seketika tertendang oleh Gak In Ling sehingga putus dari pangkal leher dan meluncur kedepan-"Praaaakk "
Batok kepak tersebut menghantam tembok dan hancur berkeping-keping.
Sehabis menendang Pelajar berhati racun sehingga mampus dalam keadaan mengerikan, Gak In Ling sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap korbannya, dia melayang ke arah Ular berpunggung baja ong Kiam Liu dan menerjangnya secepat kilat.
Mula pertama Ular berpunggung baja ong Kiam Lin sama sekali tidak pandang sebelah matapun terhadap Gak In Ling, karena usianya masih terlalu muda, tetapi setelah pemuda itu berhasil membunuh lima orang musuhnya dalam sekali serangan, kemudian membinasakan pula Pelajar berhati racun Sim Hong dalam keadaan yang mengerikan, ia baru mulai merasa ketakutan dan bergidik.
Haruslah diketahui, menghajar sebuah batu cadas dengan angin pukulan sehingga hancur lebur bukanlah suatu pekerjaan yang amat sulit, asalkan angin pukulannya dapat dilatih sehingga mencapai suatu tingkat tertentu maka perbuatan tersebut sudah bisa dilakukan-Tetapi kalau dikatakan dengan angin pukulan menghajar balik jarum beracun yang lembut bagaikan rambut, bahkan melukai pula sang pelepas senjata rahasia yang telah melarikan diri sejauh sepuluh tombak lebih, peristiwa ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang sukar untuk dipercayai dengan akal sehat, tetapi orang yang hendak 538 merenggut jiwanya sekarang ini ternyata mampu untuk melakukannya.
Bisa dibayangkan betapa takut dan ngerinya Ular berpunggung baja ong Kiam Lin untuk menghadapi musuh selihay itu.
Tampak Ular berpunggung baja melancarkan sebuah pukulan kosong kearah Gak In Ling, kemudian laksana kilat melarikan diri masuk keruang dalam.
"Hmm, ong Kiam Lin, saatnya ajal sudah akan tiba,"
Dengus Gak In Ling dengan suaranya dingin.
Ular berpunggung baja ong Kiam Lin semakin bergidik tatkala mendengar suara itu berasal dari jarak kurang lebih dua depa dibelakang tubuhnya, menggunakan kesempatan dlkala badannya menerjang ke muka, sepasang telapaknya segera didorong kedepan menghantam dua buah meja bundar yang ada dihadapannya sehingga melayang ke belakang dan menerjang ketubuh Gak In Ling, sementara dia sendiri dengan mempergunakan kesempatan tersebut meloncat keluar lewat jendela kebelakang.
Walaupun tenaga dalam yang dimiliki Gak In Ling amat sempurna, namun ia tak dapat mengembangkan kepandaian silatnya dalam ruangan tersebut, terpaksa dia didorong telapaknya untuk menyingkirkan terjangan dari meja bundar itu, tetapi ketika ia berhasil merontokkan meja tersebut, Ular berpunggung baja ong Kiam Lin sudah melangkah keluar dari jendela tersebut.
Dalam keadaan demikian tak sempat lagi bagi sianak muda itu untuk melakukan pengejaran, dalam gelisahnya Gak ln Ling segera menyambar sebilah pedang yang tergantung pada rak senjata dibelakang tubuhnya, kemudian membentak keras.
"Kemana engkau akan pergi?"
Tangan kanannya diayun kedepan, cahaya putih yang berkilauan segera menyambar kearah kaki Ular berpunggung 539 baja ong Kiam Lin yang sedang melangkah keluar dari belakang itu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
"craaaaatt "
Pedang panjang itu menembus paha kanan Ular berpunggung baja dengan telak sehingga tembus sebatas gagang pedang dan menancap diatas dinding batu.
Mimpipun Ular berpunggung baja ong Kiam Lin tak pernah menyangka kalau Gak In Ling akan menggunakan sebilah pedang sebagai senjata rahasia, tetapi pada saat itu ia lebih mementingkan untuk melarikan diri, tanpa memperduiikan senjata apakah yang telah menembusi kakinya sambii mengaduh kesakitan sekuat tenaga ia angkat kaki kanannya kedepannya....
krak segumpai daging pahanya kena ditarik sehingga robek dan merekah besar Sementara sambitan pedang yang pertama berhasii menembusi kaki kanan Ular berpunggung baja, Gak In ling telah menyambar pula dua belah pedang dari atas rak senjata.
Baru saja Ular berpunggung baja ong Kiam Lin angkat kaki kanannya untuk melangkah keluar dari jendela, tiba-tiba Gak In Ling membentak keras.
"Kenapa engkau akan lari ?"
Tangan kanannya kembali diayun kedepan dua deretan cahaya putih segera meluncur ke-muka.
Dengan kesempurnaan tenaga dalam yang di miliki Gak In Ling, lagi pula Ular berpunggung bjja berada dalam keadaan terluka parah, sulit bagi jago tersebut untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut.
Jeritan lengking yang menyayatkan hati kembali bergema memenuhi seluruh ruangan tersebut kali ini sambitan pedangnya berhasil menembusi sepasang bahu Ular berpunggung baja ong Kiam Lin sehingga terpantek diatas jendela tersebut.
Dengan cepat Gak In Ling menyambar 10 bilah senjata garpu, serunya dengan suara yang menyeramkan-540
"Ular berpunggung baja, tahukah engkau senjata garpu yang berada dalam genggamanku ini akan menembusi bagian tubuhmu yang mana ??"
"Hmm Mungkin engkau tak akan mampu untuk menembusi bagian tubuh manapun,"
Sahut serentetan suara yang amat dingin dan menyeramkan dari ruang tengah. Gak In Ling terperanjat, tanpa berpaling ia telah berseru.
"Aaaahh.... Kakek tujuh cacad "
Gak In Ling belum pernah berjumpa dengan Kakek tujuh cacad, darimana dia bisa mengenali kalau orang itu datang adalah Kakek tujuh cacad setelah berpaling sekejap ?
kiranya ia menduga dan meraba dari bentuk badan orang itu sendiri.
Tampaklah orang yang baru datang itu mengenakan baju berwarna ungu, rambutnya yang panjang terurai sepundak berwarna perak.
keningnya menonjol keluar dengan tulang tengkorak yang tinggi menjuak keatas, membuat rongga matanya nampak berlobang dan kosong, sepasang alis dan sepasang matanya telah lenyap namun tidak meninggalkan bekas apapun, agaknya sejak dilahirkan memang sudah begitu, ujung hidungnya juga sudah lenyap tapi bukan terbentuk alami tapi bekas dipapas orang dengan pedang, kini yang tersisa tinggal dua buah lubang hitam yang tak terlindung, ditambah dengan mulutnya yang panjang dan lebar membuat tampang orang ini lebih mirip dengan siluman daripada manusia.
cukup ditinjau dari batok kepalanya itu sudah terlihat bahwa ada lima tempat yang cacad.
Ketika sorot mata dialihkan kebawah maka tampaklah separuh bagian tubuh bagian atasnya tidak berbeda dengan keadaan manusia biasa tetapi tubuh bagian bawahnya mulai dari batas paha kebawah telah putus dan lenyap tak berbekas membuat bagian bawahnya bulat besar seperti sebuah bola daging belaka.
Dalam genggaman dua buah lengannya yang panjang dan kurus tinggal kulit pembungkus tulang memegang dua buah tongkat baja yang tajam bagaikan pisau, kedua belah sisinya berbentuk pipih dan tajam sekali, panjangnya tiga depa setengah dengan bagian atasnya berbentuk segi tiga persis sebagai tempat pegangan.
Menyaksikan kemunculan orang itu, api dendam seketika berkobar dalam dada Gak In Ling, niatnya untuk menyaksikan Ular berpunggung baja pun ikut lenyap separuh bagian, segera membentak keras.
"coba lihat "
Tangan kanan diayun...."
Braaakk"
Diiringi suara desingan keras, senjata garpu yang berada dalam cekalan Gak In Ling tiba-tiba secepat sambaran kilat meluncur ke arah punggung Ular berpunggung baja.
Tindakan dari Gak In Ling ini sama sekali berada diluar dugaan-Kakek tujuh cacad, ia segera meraung keras.
"Tak mungkin bisa kau lakukan perbuatan mu itu ?"
Sambil berseru tangan kanannya menekan kebawah, tongkat penyangga tubuhnya seketika berubah bentuk menjadi melengkung diikuti menyentil kearah depan, cepat bagaikan kilat menyentil senjata garpu tersebut, sedang tongkat penyangga yang ada di tangan kiri dengan jurus Lan kang-cay-to atau menghadang dan membendung sungai menghantam kearah garpu baja tersebut.
Gerakan ini semua dilakukan dengan kecepatan sukar dilukiskan dengan kata, baru saja garpu baja itu meluncur sejauh satu tombak.
tubuh Kakek tujuh cacad yang menyusul datang telah tiba, segera bentaknya keras-"Turun kamu "
"Kraaakk"
Desingan nyaring bergema diangkasa, serangan dengan jurus La n-kang-cay-to tersebut kendatipun berhasil menghantam senjata garpu itu dan iapun berhasil menyusul 542 kedepan tetapi selembar jiwa ong Kiam Lin gagal diselamatkan olehnya.
Baru saja tongkat penyangga badan ditangan kanannya mencapai permukaan tanah, Ular berpunggung baja yang berada diatas jendela telah memperdengarkan jeritan ngeri yang menyayatkan hati, senjata garpu baja yang disambit-kan Gak In Ling telah menembusi punggungnya sehingga darah segar berhamburan diangkasa, kematiannya mengerikan sekali.
Memandang kutungan gagang senjata garpu yang berhasil dipapas olehnya, diam-diam Kakek tujuh cacad merasa amat terkesiap pikirnya.
"Ketika aku hendak turun tangan tadi telah kuduga sampai kesitu, karena itu aku tak berani menyerang dengan senjata, sungguh tak nyana tenaga dalam yang dimiliki bocah keparat ini sudah mencapai puncak kesempurnaan, dengan tenaga dalam yang kumiliki pun tak mampu untuk merontokkan senjata garpunya."
Makin berpikir hatinya merasa makin takut, nafsu membunuh yang tebal pun seketika terlintas diatas wajahnya.
Sebagian besar orang yang belajar silat tidak ingin kalau melihat ilmu silat yang dimilik lawannya jauh diatas kepandaiannya sendiri, apa lagi manusia seperti Kakek tujuh cacad yang merupakan gembong iblis, pikiran semacam ini terlebih melekat diatas tubuhnya.
Kakek tujuh cacad sendiri tak sekejap pun melirik kearah mayat Ular berpunggung baja yang masih menggelepar diatas jendela, ia malahan menatap Gak In Ling tanpa berkedip.
sambil tertawa dingin serunya.
"Gak In Ling, tenaga dalam yang kau miliki benar-benar amat sempurna, membuat aku merasa kagum sekali."
Gak In Ling tertawa dingin pula.
"Heeeh heeehh heeehh Kakek tujuh cacad, engkau tak usah berlagak pilon dihadapanku, kedatangan dari aku Gak In Ling pada hari ini rasanya sudah kau pahami bukan ?"
"Selamanya aku tak pernah mengucapkan kata-kata yang bohong, Gak In Ling engkau harus tahu watak serta perangai diriku."
Sahut Kakek tujuh cacad dengan sorot mata berkilat. Gak In Ling mengerutkan dahinya, lalu berkata dengan seram.
"Manusia tujuh cacad, engkau tak usah berlaku sok tua dihadapanku orang she Gak, setelah ini hari kita dapat saling berjumpa muka itu berarti bahwa saat untuk membayar hutangmu sudah tiba, kalau engkau merasa punya kepandaian ayo keluarkan semua."
Habis berkata dia melirik sekejap kearah tubuh Ular berpunggung baja yang masih menggelepar diatas jendela, kemudian enjotkan badannya melayang keluar dari ruang besar.
Berhubung dilahirkan dalam keadaan cacad, sejak kecil Kakek tujuh cacad telah mempunyai watak iri hati yang besar terhadap orang lain, terutama sekali terhadap pemuda yang gagah dan tampan, membuat hatinya lebih benci dan iri.
Setelah Gak In Ling mengundurkan diri dari ruangan tengah, diapun ikut enjot badan laksana kilat meluncur juga dari ruangan tersebut, kemudian melayang turun kurang lebih satu tombak dihadapan Gak In Ling, serunya dengan suara keras.
"Gak In Ling, engkau anggap bahwa kekuatanmu seorang sudah cukup untuk membalas dendam bagi kematian ayahmu ?"
Gak In Ling berusaha keras menekan kobaran api dendam yang membara dalam dadanya sehingga tindak tanduknya tidak terlalu terburu nafsu dan gebabah dan memberi kesempatan bagi lawannya untuk menunggangi peluang, itu, sebab dia menyadari bahwa musuh yang sedang dihadapinya saat ini bukan lain adalah seorang gembong iblis kalangan hitam yang memiliki kepandaian silat sangat tinggi.
Gak In Ling merogoh kedalam sakunya mengambil keluar topeng setan lalu dikenakan diatas wajahnya, sambil tertawa dingin ia berkata.
"Mungkin masih bukan menjadi persoalan bila aku hendak membereskan seorang manusia cacad yang tidak utuh anggota badannya macam engkau "
Perkataan ini dengan tepat mengena diatas borok yang paling tak senang didengar oleh Kakek tujuh cacad, membuat ia tak mampu untuk menguasai pergolakkan hatinya lagi, dia tertawa seram dan berseru sambil menyeringai seram.
"Haaaahh, haaaahh haaaahh Gak In Ling, bagus sekali topeng setanmu itu tapi kalau harus dipasang dan dicopot, berulang kali terlalu merepotkan dirimu, ini hari aku akan menciptakan sebuah paras muka jelek yang akan menempel pada mukamu untuk selamanya.
Nah terimalah pemberianku itu.
IHaah haaah haaaah.."
Gelak tertawanya seram bagaikan jeritan^ binatang buas, membuat hati orang merasa bergidik.
"Sambutlah seranganku ini "
Teriak Kakek tujuh cacad keras-keras.
Bersamaan dengan selesainya ucapan tersebut, sebuah serangan yang maha dahyat segera dilepaskan-Tampaklah tubuhnya yang bulat seperti bola daging itu mencelat kurang lebih dua tombak ke udara, kedua buah penyangga badannya yang tajam bagaikan pisau dengan memancarkan hawa pedang yang berkilauan langsung membacok keatas wajah pemuda itu.
Kecepatan serta keganasan bercampur aduk menjadi satu, yang paling aneh lagi adalah jurus pedang yang dipergunakan olehnya ternyata tidak sejurus pun yang utuh.
sepintas lalu nampak acak-acakan, dan tidak karuan di mana pentilan yang satu dicampur adukkan dengan pentilan yang lain secara ngawur, kendatipun begitu tiada ruang kosong yang tertinggal dari kurungannya, dan satu lagi yang paling menakutkan adalah perubahan jurus pedangnya yang tidak utuh itu ternyata membuat orang sukar untuk menduga ataupun merabanya lebih dahulu.
Berhadapan muka dengan musuh besar pembunuh ayahnya ini, Gak In Ling tak berani bertindak gegabah, ketika Kakek tujuh cacad loncat keluar dari ruang tengah tadi secara diam-diam hawa murninya telah dihimpun kedalam sepasang telapaknya, begitu jurus pedang dari Kakek tujuh cacad dilepaskan, buru-buru dia membentak keras kemudian melancarkan sebuah serangan dengan jurus Hiat-ya-seng-eong hujan darah angin amis.
cahaya merah berkilau diangkasa, tahu-tahu sebuah serangan telah berbalik menggulung kearah Kakek tujuh cacad.
Rupanya Jit-jan-siu tidak pernah menyangka kalau Gak In Ling memiliki ilmu telapak maut yang begitu dahsyatnya, menyaksikan datangnya ancaman tersebut dia menjadi amat terperanjat, serunya.
"Aaaah Telapak maut "
Tongkat bajanya ditangkis keatas lalu didorong kearah depan, jurus pedangnya yang terpatah seketika dilancarkan secara berantai, kemudian dengan menggunakan tenaga dorongan tersebut badannya mencelat sejauh delapan depa dari tempat semula dan melayang keatas tanah.
Sebelum berhasil meraba jalannya ilmu silat yang dimiliki Kakek tujuh cacad, Gak In Ling tidak berani terlalu serakah untuk mencari keuntungan-Karena itu ditunggunya sampai tubuh Kakek tujuh cacad telah melayang turun keatas permukaan tanah, dia baru 546 membentak keras dan untuk kedua kalinya melancarkan serangan-Kakek tujuh cacad sendiri, setelah mengetahui kalau Gak In Ling memiliki ilmu Telapak maut, rasa pandang enteng terhadap musuhnya telah lenyap tak berbekas, melihat Gak In Ling menyerang kedepan, ia segera membentak keras.
"Lihat serangan "
Tiba-tiba tongkat penyangga sebelah kanan diketukkan keatas tanah, sedang tongkat penyangga sebelah kiri meluncur keudara dan melancarkan serangan dengan jurus Jan-thian-jiak-tee atau langit cacad bumi kutung.
Dalam serangan ini ia telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya.
Cahaya perak seketika memancar keempat penjuru bagaikan gemuruhnya air terjun, ujung pedang memancarkan titik-titik bunga pedang yang rapat bagaikan hujan gerimis.
Criiiiitt criiiit Diiringi desiran tajam yang memekikkan telinga, siapapun tak menyangka kalau manusia bertubuh tidak lengkap ini ternyata berhasil menguasai ilmu hawa pedang.
Menyaksikan hal itu Gak In Ling merasa amat terperanjat, pikirnya didalam hati.
"Sungguh tak nyana hawa pedang berhasil dikuasai oleh bajingan tua ini, nampaknya untuk merebut kemenangan pada saat ini bukanlah suatu pekerjaan yang amat mudah."
Pikiran tersebut dengan cepatnya berkelebat dalam benakpemuda itu, dan dalam waktu yang amat singkat itu pula sepasang telapaknya secara beruntun telah berganti tujuh jurus serangan yang berbeda.
Cahaya merah yang berlapis-lapis mengenangi seluruh bumi.
desingan angin tajam menderu-deru memekikkan telinga, angin pukulan yang begitu dahsyatnya boleh di bilang 547 merupakan satu kekuatan yang luar biasa sekali di kolong langit.
Kakek tujuh cacad sama sekali tidak berani bertindak gegabah, tampak tangan kiri dan tangan kanannya berubah-ubah menurut keadaan yang sedang dihadapinya, secara bergilir menyerang, menghindar, menangkis dan mempertahankan diri, semuanya dilakukan dengan kokoh dan teratur.
Desingan angin serangan yang membendung angkasa pun kian lama kian bertambah besar, jelas dia telah mengerahkan tenaga dalamnya semakin kuat...
Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah bergebrak mendekasi ratusan jurus banyaknya, tetapi siapa menang siapa kalah masih belum dapat ditemukan-Sebentar cahaya merah yang berlapis-lapis mengurung kabut perak ditengah gelanggang, kadang kala pula hawa pedang yang berlapis-lapis membendung cahaya merah dan menghamburkan keempat penjuru, begitu sengit jalannya pertarungan tersebut membuat daun pohon siong berguguran diatas tanah.
Air muka dua orang yang sedang bertempur telah berubah menjadi amat serius, jurus demi jurus dilancarkan secara tepat dan teratur rupanya siapapun tak ingin bertindak gegabah sehingga digunakan kesempatan baik itu oleh lawannya.
Waktu ikut lenyap di tengah ketegangan yang menyelimuti seluruh gelanggang, entah sejak kapan ditengah udara muncul seekor burung Hong besar yang berputar kian kemari diangkasa sedangkan dari balik batu besar dipinggang bukit muncul pula sebuah tandu kecil yang mungil dan megah.
Sementara itu pertarungan yang berlangsung antara kedua orang itu telah berlangsung hampir satu jam lebih, lima ratus jurus sudah dilewatkan tanpa terasa, keringat mengucur 548 keluar membasahi seluruh wajah dan badan kedua orang itu, tetapi siapapun tidak berani menyeka dengan tangannya.
Jurus serangan yang dikerahkan kedua orang itupun dari cepat berubah menjadi lambat, tetapi daya kekukuatannya sama sekali tidak berkurang.
Jelas mereka sama-sama kuatir, kalau pihak lawannya mengetahui bahwa tenaga dalam yang dimilikinya telah merosot lebih lama dari keadaan semula.
Pakaian hitam yang dikenakan Gak In Ling sudah bertambah dengan tiga buah robekan sepanjang satu cun tergurat pedang Kakek tujuh cacad, sedangkan ujung baju Kakek tujuh cacad pun sudah terpapas separuh bagian oleh babatan Gak In Ling, boleh dibilang keadaan tersebut seimbang, siapapun tidak berhasil mendapatkan keuntungan apa-apa dari lawannya.
Pada saat itulah dari atas punggung burung Hong yang sedang terbang diangkasa meluncur turun sesosok bayangan merah, dengan gerakan begitu ringan bagaikan seekor kupu-kupu dia hinggap diatas tanah lalu menyembunyikan jejaknya.
Terdengar Gak In Ling yang sedang bertempur mendadak membentak keras.
"Sambutlah sebuah seranganku ini "
Sambil berkata sebuah pukulan yang sangat kuat segera dilepaskan menghantam tubuh Kakek tujuh cacad.
Sepasang tangan Kakek tujuh cacad menggenggam tongkat penyangga badan, ia tak berkemampuan untuk menyambut datangnya serangan tersebut, sepasang tangannya segera menekan keatas lantai dan sekali berkelebat meluncur kebelakang tubuh Gak In Ling, menggunakan kesempatan tersebut dengan jurus Toan-kiam-jan-hong atau pedang patah sisa pelangi ia totok batok kepala pemuda itu.
Gak In Ling berani melancarkan serangan mematikan tersebut karena dia telah melihat bahwa Kakek tujuh cacad 549 sudah tiada jalan untuk menghindarkan diri lagi, tetapi dia telah melupakan sesuatu, dia lupa kalau tongkat penyangga badan milik Kakek tujuh cacad dapat setiap saat mementalkan tubuhnya tanpa menggunakan tenaga barang sedikitpun jua.
Begitu serangan dilancarkan, tiba-tiba Gak In Ling melihat tubuh Kakek tujuh cacad meloncat ke belakang tubuhnya, ia segera menyadari bahwa keadaan tidak menguntungkan, buru-buru ia tarik serangannya untuk menghindarkan diri.
Tapi keadaan sudah tak sempat lagi, terasalah segulung desiran angin dingin meluncur ke depan menotok jalan darah Gick-sheng-hiatnya.
Gak In Ling merasa amat terperanjat, ia gunakan segenap kekuatan tubuh yang dimilikinya melancarkan satu tendangan, sambil putar badan tendangan tersebut dilepaskan, gerakannya cepat dan sama sekali diluar dugaan siapa pun juga.
Kakek tujuh cacad sama sekali tidak menyangka kalau Gak In Ling bakal memilih cara bertempur dengan jalan mengadu jiwa, apabila totokannya dilanjutkan lebih jauh kendatipun ia akan berhasil membunuh si anak muda itu, tetapi diapua pasti akan termakan juga oleh tendangan maut dari Gak In Ling sehingga akhirnya sama-sama menemui ajalnya.
Kakek tujuh cacad sebagai seorang jagoan yang berambisi besar tentu saja tidak rela untuk adu jiwa dengan Gak In Ling, buru-buru dia tarik kembali tongkat penyangga badannya dan gunakan pantulan tenaga itu badannya melayang mundur sejauh satu tombak lebih dari tempat semula.
Dengan tindakkan tersebut, tentu saja tendangan yang dilancarkan Gak In Ling juga mengenai sasaran yang kosong.
Pertarungan seru yang mendebarkan hati itu untuk sementara waktu berakhir sampai disitu.
Dengan hati bangga Kakek tujuh cacad tertawa dingin, ejeknya.
"Sungguh luar biasa caramu bertempur..."
Merah padam selembar wajah Gak In Ling saking jengahnya setelah mendengar perkataan itu, ia tertawa dingin dan siap membalas.
Tapi sebelum pemuda itu sempat buka suara, tiba-tiba dari belakang tubuh Kakek tujuh cacad berkumandang suara teguran yang merdu dan nyaring.
"Yang tua menganiaya yang muda, benar-benar suatu perbuatan yang memalukan, apalagi dengan senjata tajam melawan tangan kosong.
"Huuhh Tua bangka bertampang jelek, apakah engkau masih punya muka untuk berbangga diri ?"
Suara teguran itu munculnya sangat mendadak membuat Kakek tujuh cacad yang mendengar menjadi amat terperanjat, sebab ditinjau dari jarak suara tersebut dapat diketahui bahwa orang itu sudah berada kurang lebih lima depa dibelakangnya, dengan tenaga dalam yang dimiliki ternyata jejak orang itu tak diketahui olehnya, bisa dibayangkan betapa terperanjatnya hati orang itu.
Gak In Ling sendiri segera mengetahui siapakah yang telah datang, ia segera mendengus dingin dan berpikir.
"Hmm lagi-lagi engkau..."
Ia segera menengadah keatas, tapi sebelum sempat buka suara mendadak teringat olehnya bahwa sekarang dia muncul bukan dengan wajah Gak In Ling, maka kembali pikirnya.
"Kenapa aku mesti banyak urusan sehingga mendatangkan kerepotan yang tak ada gunanya bagi diriku sendiri ?"
Sementara itu Kakek tujuh cacad telah putar badannya, seketika menyaksikan orang yang berdiri dihadapannya adalah seorang gadis cantik baju merah yang tidak menyolok, rasa 551 kaget yang semula menyelimuti wajahnya ketika lenyap tak berbekas, segera bentaknya keras-keras.
"Budak ingusan, tahukah engkau siapakah aku ? berani benar bicara tidak karuan, rupanya engkau sudah bosan hidup ?"
Wajahnya ganas dan sikapnya menyeringai seram, seakan-akan srigala yang hendak menerkam mangsanya.
Gadis cantik baju merah itu bukan lain adalah Dewi burung Hong.
dengan kepandaian silat yang dimilikinya tentu saja ia tak pandang sebelah mata pun terhadap Kakek tujuh cacad.
Mendengar teguran tersebut ia tertawa merdu dan menjawab.
"Kakek tujuh cacad, engkau tak usah menempelkan emas diatas wajah sendiri, coba ambillah cermin dan lihat dulu tampang mukamu yang ganteng seperti siluman, apakah sudah pantas untuk memberi pelajaran kepada nonamu atau tidak....."
Sombong amat perkataan itu dan sama sekali tak pandang sebelah mata pun terhadap orang lain, Kakek tujuh cacad sebagai seorang jagoan yang punya nama besar dalam dunia persilatan tentu saja merasa tak senang mendengar perkataan seperti itu, apalagi yang mengatakan adalah seorang gadis yang masih muda.
Nafsu membunuh yang amat tebal memancar keluar dari atas wajahnya, dia segera membentak keras.
"Budak ingusan, kubacok badanmu jadi berkeping-keping."
Seraya berseru dengan jurus Jan-thian-ciat-tee ia tusuk dada Dewi burung Hong secepat kilat.
Desiran angin pedang menderu-deru amat memekikkan telinga, jelas kegusaran Kakek tujuh cacad sudah mencapai pada puncaknya.
Dewi burung Hong sendiri meskipun mengetahui bahwa ilmu silatnya sangat tinggi dan sukar dilukiskan dengan kata-kata, namun berhadapan muka dengan Kakek tujuh cacad ia tak berani bertindak gegabah, melihat datangnya ancaman tersebut ia tertawa merdu dan berseru.
"Aaaah rupanya engkau sudah menguasai ilmu hawa pedang "
Bayangan merah nampak berkelebat lewat, tidak diketahui gerakan tubuh apakah yang telah dipergunakan, tahu-tahu ia sudah berkelit ke belakang tubuh Kakek tujuh cacad.
Gak In Ling yang menyaksikan hal tersebut dalam hati segera berpikir dengan perasaan sedih.
"Agaknya sekalipun aku Gak In Ling berlatih sepuluh tahun lagi pun belum tentu bisa menyusul kemampuannya, Aaaaai "
Kakek tujuh cacad sendiri mengira bahwa dalam serangannya itu dia pasti akan berhasil membacok perempuan tersebut sehingga menemui ajalnya, tatkala menyaksikan serangannya mengenai sasaran yang kosong, hatinya menjadi amat terperanjat, segera pikirnya.
"Gerakan tnbuh apakah yang telah dipergunakan olehnya ? Kenapa begitu cepat ?"
Kakek tujuh cacad adalah seorang jago kawakan yang sudah berpengalaman dalam menghadapi pertarungan besar, meskipun hatinya merasa terkejut, namun gerak tubuhnya tidak sampai kalut karena itu, setelak serangannya mengenai sasaran yang kosong, tangan kiri segera diayun dan badannya berputar kencang, tetapi ketika ia menengadah kembali wajahnya segera tertegun, karena gadis baju merah itu ternyata masih tetap berdiri kurang lebih lima depa di tempat semua tanpa berubah posisinya barang sedikitpunjuga.
Dewi burung Hong menyapa sekejap wajah Kakek tujuh cacad, kemudian sambil tertawa merdu katanya.
"Engkau telah melancarkan sebuah serangan kepadaku, sekarang tibalah giliranku untuk melancarkan sebuah serangan kepadamu, bukankah begitu ?"
Berbicara sampai disitu, tidak nampak bagaimana caranya ia tarik napas tahu-tahu telapak tangannya diayun kedepan dan ditabokkan kearah tubuh Kakek tujuh cacad dari kejauhan, kelihatannya gerak-gerik tersebut amat lemah dan sama sekali tak bertenaga.
Ketika Kakek tujuh cacad menyaksikan gerakan tangan dari Dewi burung Hong, ia nampak sangat terperanjat dan tanpa terasa berseru keras.
"Engkau adalah Dewi burung Hong "
Sembari berkata sepasang pedangnya cepat cepat ditutulkan keatas permukaan tanah, kemudian laksana kilat meloncat mundur sejauh empat lima tombak dari tempat semula.
Reaksi yang diperlihatkan Kakek tujuh cacad boleh dibilang cepat sekali, akan tetapi tatkala tubuhnya melayang turun keatas permukaan tanah, pada kedua ujung bajunya tahu-tahu sudah bertambah dengan lima buah lubang kecil, dari sini dapat diketahui sampai dimanakah kelihayan ilmu silat yang dimiliki gadis tersebut.
Gak In Ling yang menyaksikan kejadian itu tak urung merasa terkesiap juga, pikirnya.
"Tidak aneh kalau ia tak bersedia menghantam diriku dengan sepasang telapak tangannya ketika kami berjumpa dibukit Tiang-pekssan tempo dulu, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa aku memang benar-benar tak mampu menerima serangannya bila dilancarkan secara bersungguh-sungguh."
Sementara itu sepasang biji mata Dewi burung Hong telah melirik sekejap kearah Gak In Ling yang sedang berdiri tertegun, kemudian sambil tertawa merdu katanya.
"Manusia tujuh cacad, ayolah serang diriku kembali "
Tiba-tiba dari belakang bukit diatas batu cadas yang menojol keluar berkumandang suara gelak tertawa yang amat merdu.
"Hiiiiiih hiiiiiih hiiiiiiih Dewi burung Hong, tenaga dalammu benar-benar mengejutkan hati Siau-moay merasa sangat kagum hiiiiiiiihh hiiiiiiiiihh, hiiiiiiih h "
Suara tertawanya tidak begitu besar, tetapi seolah-olah mempunyai daya kekuatan yang bisa menembusi isi perut serta mengguncangkan jantung orang lain-Air muka Gak In Ling maupun Kakek tujuh cacad berubah hebat, jelas gelak tertawa tersebut telah menimbulkan sesuatu perasaan aneh dalam hati kecil mereka.
Dengan perasaan yang tenang dan sedikit-pun tidak dibuat keheranan Dewi burung Hong tertawa merdu, serunya.
"Tiong-cu, sudah begitu lama engkau bercokol diatas tebing batu yang begitu tingginya, apakah masih ada masalah besar yang belum sempat kau selesaikan ?"
Gak In Ling segera putar badan menghadap kearah mana berasalnya suara tersebut, terlihatlah pada puncak tebing diatas benteng Hui-in-cay yang paling tinggi berdirilah sebuah tandu kecil berwarna merah, disamping kiri-kanan tandu tersebut berdirilah empat orang budak kecil yang masih muda dan cantik, suara tadi bukan lain berasal dari balik tandu.
Sementara itu dari balik tandu kembali berkumandang datang suara seruan disusul gelak tertawa yang merdu.
"Hiiiiihh hiiiiiiiihh hiiiiiihh urusan besar sih tak ada, aku hanya ingin merepotkan diri siancu "
Dalam hati Dewi burung Hong tertawa dingin, tapi diluaran sambil tertawa merdu sahutnya.
"Waaaahh mau repotkan apa ? siau-moay tak berani menerimanya ..."
"Dalam kenyataan memang terpaksa begitu, maka apa boleh buat kerepotan tetap akan menghantui siancu "
Dari balik mata Dewi burung Hong indah memancar keluar serentetan cahaya tajam yangamat jeli, tegurnya.
"Tiong-cu, mungkin engkau lupa akan posisi serta kedudukan kita berdua pada saat ini."
"Kedudukan kita berempat telah diketahui oleh masing-masing pihak secara jelas dan terang. Siau-moay percaya siapa pun tak akan melupakan, cuma persoalan ini sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan persoalan itu, Siau-moay hanya inginkan seseorang belaka."
Dalam hati Dewi burung Hong merasa terperanjat, tetapi diluaran ia tetap bersikap tenang dan sedikit pun tidak menunjukkan perubahan apapun pikirnya.
"Kalau engkau inginkah dirinya. Huuuh Jangan mimpi disiang bolong "
Sambil berpikir diam-diam ia melirik sekejap kearah Gak In Ling, kemudian tegurnya.
"Siapa yang kau inginkan ?"
"Kakek tujuh cacad "
Jawab orang dalam tanda sambil tertawa. Lega hati Dewi burung Hong setelah mendengar perkataan itu, tanpa berpikir panjang ia berseru.
"Kalau soal orang itu sih siau-moay tak mau ikut campur, terserah apa kehendakmu atas orang itu."
Sementara itu air muka Kakek tujuh cacad telah berubah hebat, ia mendengus dingin dan berseru.
"Hmm, bangsat yang tak tahu diri, engkau telah anggap aku sebagai manusia macam apa?"
Terhadap makian dari Kakek tujuh cacad, orang yang berada di dalam tandu itu sama sekali tidak ambil perduli, ia tertawa merdu dan berkata kembali.
"Eeeei Sian-cu Engkau toh mempunyai kemampuan untuk menghalangi niatku ini."
"Apakah siau-moay mempunyai kemampuan untuk berbuat begitu ?"
Seru Dewi burung Hong sambil tertawa dingin.
"Haaaahh haaahh haaaahh dikolong langit dewasa ini hanya engkau seorang yang mampu untuk berbuat demikian-"
Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Gak In Ling, pikirnya.
"Aku rasa tenaga dalam yang dimiliki Gadis suci dari Nirwana serta Thian-hong pangco tidak berada dibawah kepandaian Dewi burung Hong, kenapa ia mengatakan hanya dia seorang yang mampu menghalangi perbuatannya itu? Sungguh aneh sekali "
Sementara itu Dewi burung Hong telah tertawa merdu dan menjawab.
"Tiong-cu terlalu pandang tinggi diriku, cuma siau-moay toh sudah berkata bahwa aku tak mau mencampuri urusan ini."
Bicara sampai disini mendadak ia berpaling dan memandang sekejap kearah Gak in Ling kemudian segera menambahkan-"Bukankah yang kau maksudkan adalah Kakek tujuh cacad ? "Sedikitpun tidak salah "
Melihat dirinya tidak dianggap sebelah matapun oleh lawan-lawannya, dalam hati Kakek tujuh cacad merasa amat mendendam, pikirnya.
"Aku tidak percaya kalau engkau mempunyai kemampuan yang begitu hebatnya sehingga apa yang kau inginkan bisa segera kau dapatkan."
Dikala Kakek tujuh cacad sedang termenung, tiba-tiba dari balik tandu berkumandang keluar suara seruan yang amat lembut.
"Kakek tujuh cacad, kemarilah, aku sudah lama menantikan dirimu kemarilah..."
Kecuali suara itu merdu dan lembut bagi pendengaran orang lain sama sekali tidak menunjukkan gejala apapun, tetapi lain keadaannya bagi pendengaran Kakek tujuh cacad, ia merasakan suara panggilan tersebut begitu hangat ibarat panggilan seorang ibu yang terkasih kepada puteranya, penuh dengan kehangatan, kelembutan dan cinta kasih, membuat hati orang tergerak olehnya.
Tanpa sadar Kakek tujuh cacad melangkah maju beberapa tindak ke depan, tetapi bagaimana pun juga tenaga dalam yang dimilikinya cukup sempurna, setelah menggerakkan langkahnya maju beberapa tindak.
mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia segera menghentikan kembali gerakan tubuhnya.
"Kemarilah ayohlah kembali apa yang kau pertimbangkan lagi?"
Seru orang dalam tandu dengan suara lembut "
Kakek tujuh cacad, kemarilah... kemarilah cepat."
Mengikuti panggilan tersebut kesadaran otak Kakek tujuh cacad pun kian lama kian semakin pudar sehingga akhirnya dengan mata terbelalak lebar ia berjalan maju kedepan, makin kedepan gerakan tubuhnya kian bertambah cepat.
Satu ingatan segera berkelebat dalam benak Gak ln Ling, pikirnya.
"Ilmu siluman apakah yang dipergunakan olehnya ?"
Mendadak teringat olehnya bahwa Kakek tujuh cacad adalah musuh besar pembunuh orang tuanya, kalau ia biarkan bajingan itu menjadi pengikut perguruan Pit-tiong dari Tibet, itu berarti dendam sakit hatinya akan sukar untuk dibalas.
Berpikir sampai disitu, ia tidak memperdulikan situasi yang sedang dihadapinya lagi, segera bentaknya keras-keras.
"Bajingan tua, engkau akan lari ke manakah ?"
Sambil berseru dia segera enjotkan badannya dan melakukan pengejaran-"Berhenti "
Tiba -tiba terdengar Dewi burung Hong membentak sambil tertawa merdu.
Gak In Ling merasakan urat nadi pada pergelangan kanannya menjadi kencang, dan tahu-tahu ia sudah terjatuh ketangan Dewi burung Hong.
Gak In Ling menjadi amat gusar, bentaknya dengan dingin.
"Lepaskan aku "
Dewi burung Hong tertawa dingin, tegurnya "Engkau sedang berbicara dengan siapa?"
"Dengan engkau perempuan rendah "
Bentak Gak ln Ling dengan sepasang alis berkenyit. Dalam kaadaan gusar bercampur mendongkol, mulutnya tak bisa ditahan lagi untuk mencaci maki sekenanya hingga ucapan "Perempuan rendah"
Pun meluncur keluar dari bibirnya.
Dewi burung Hong indah adalah seorang perempuan iblis yang membunuh orang tanpa berkedip.
kalau orang lain yang memaki dirinya dengan ucapan tersebut, mungkin sedari tadi sudah roboh terkapar diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa, akan tetapi terhadap Gak In Ling ia tak tega melakukan serangan yang keji itu.
Dengan wajah pucat pias karena mendongkol, hardiknya dengan suara nyaring.
"Kau, kau berani, berani memaki aku ?"
Tangan kanannya mencengkeram erat-erat kelima jari tangannya seketika menekan pa urat nadi Gak In Ling dalam-dalam. Pada saat itulah, orang yang berada dalam tandu telah berkata sambil tertawa merdu.
"Siau-moay ucapkan banyak terima kasih atas kerelaan hati Siancu "
Dewi burung Hong sama sekali tidak ambil peduli, dengan dingin katanya.
"Urusan itu tak ada sangkut pautnya dengan nonamu "
"Kalau memang begitu, selamat tinggal "
Habis berkata ia memberi tanda kepada empat orang dayang kecil itu, dan berangkatlah tandu kecil tersebut tinggalkan tebing tersebut.
Keringat dingin menetes keluar membasahi seluruh wajah Gak In Ling yang tampan, namun ia sama sekali tidak mendengus ataupun merintih barang sekejappun.
Suasana hening untuk beberapa saat lamanya, mendadak dari atas pohon siong disekeliling tempat itu berkumandang dua kali tertawa dingin disusul menggemanya teguran tajam.
"Dewi burung Hong, selamat berjumpa kembali "
Dewi burung Hong sendiri sebenarnya sama sekali tidak bermaksud untuk menyiksa Gak In Ling secara bersungguh-sungguh, tindakannya itu dilakukan karena ia merasa mendongkol.
Setelah mendengar teguran tersebut ia menggunakan kesempatan itulah ia kendorkan tangan kanannya dan tertawa dingin, sahutnya.
"Leng-cu, Pangcu, selamat berjumpa kembali ?"
Sesudah cekalan pada pergelangannya dilepaskan rasa sakitpun seketika lenyap.
dan kesadaran otak Gak In Ling pun pulih kembali seperti sedia kala, ia tidak meronta karena tahu bahwa dirinya sudah terjatuh ditangan Dewi burung hong yang memiliki tenaga dalam sangat lihay dan sukar diukur dengan kata-kata, merontapun tak ada gunanya.
Mendengar seruan tadi ia segera menengadah dan berdiri tertegun, pikirnya didalam hati.
"Eeeeii....... sungguh aneh, kenapa merekapun bisa datang kemari ?"
Sementara itu Gadis suci dari Nirwana serta Thian-hong pangcu telah berdiri dibawah pohon siong disamping kiri dan kanan Dewi burung Hong indah, dikedua belah sisi mereka masing-masing berkerumunlah anak murid perguruannya 560 membuat posisi mereka pun tanpa sadar mengurung sekitar tempat itu rapat-rapat, namun sorot mata kedua orang gadis tersebut semuanya di tujukan keatas wajah Dewi burung Hong.
Terdengar Thian-hong pangcu tertawa dingin dan berseru.
"Entah perbuatan gila apakah yang telah dilakukan orang ini terhadap diri siancu ?"
Dewi burung Hong indah berpaling dan memandang sekejap kearah Gak In Ling, kemudian tertawa merdu dan menjawab.
"Pangcu tokh bukan baru saja tiba disini masa Siau-moy harus terangkan lagi seluk beluk duduknya perkara ini ?"
Selama pembicaraan berlangsung, senyum manis selalu tersungging diujung bibirnya membuat orang tak bisa menebak apakah dia sedang girang atau sedang gusar.
Thian-hong pangcu tertawa dingin, kembali ujarnya.
"Apa salahnya kalau orang itu hendak menghalangi Kakek tujuh cacad bergabung dengan pihak perguruan Pit-Tiong dari Tibet ? Kenapa sih siancu mesti menghalangi maksud hatinya ?"
"Karena siau-moay telah menyanggupi untuk tidak mencampuri urusan tersebut "
Gadis suci dari Nirwana segera tertawa dingin, katanya.
"Kalau memang engkau tak mau turut campur dalam persoalan ini, tidak sepantasnya kalau kau halangi niat orang lain untuk berbuat demikian, toh antara engkau dengan ketua Perguruan Pit-Tiong dari Tibet tak pernah mengikat janji yang menjamin Kakek tujuh cacad bisa tiba di pihaknya dengan selamat ?"
Dewi burung Hong tertawa.
"Didalam cengli sekarang siau-moay agaknya mempunyai tanggung jawab untuk bikin berimbangannya kekuatan dalam dunia persilatan, aku tahu bahwa kedatangannya dari Tibet menuju kemari dilakukan dengan tergesa-gesa sehingga ia 561 kekurangan pembantu, dalam keadaan begitu tentu saja dia masih belum mampu untuk melawan kalian berdua, karena itu siau-moay mengambil keputusan untuk menghadiahkan seorang pembantu yang tidak terlalu lihay pun tidak terlalu lemah untuk dirinya, aku rasa tindakanku ini tidak terhitung suatu tindakan keliru."
"Demi ketenangan serta ketentraman dunia persilatan, engkau tidak sepantasnya untuk berbuat demikian."
Seru Thian-hong pangcu sambil tertawa dingin.
"Selamanya Siau-moay tak pernah mempersoalkan pantas atau tidak untuk melakukan, aku hanya melihat apakah aku suka atau tidak untuk berbuat demikian, mungkin kalian berdua tidak akan merasa terlalu keheranan bukan ?"
Gadis suci dari Nirwana serta Thian-hong pangcu segera menatap wajah lawannya dengan sorot mata berkilat, sambil melangkah maju ke-depan serunya lantang.
"Demi keamanan serta ketenangan dunia persilatan di masa-masa yang akan datang, maafkan siancu apabila terpaksa Siau moay harus minta petunjuk beberapa jurus serangan darimu."
Setelah kedua orang itu mengucapkan kata-kata yang sama hampir pada saat yang bersamaan, tanpa terasa kedua belah pihak sama-sama berdiri tertegun lalu saling melirik sekejap dengan pandangan dingin.
Gak In Ling yang menyaksikan kejadian tersebut, dalam hati segera menghela napas panjang dan berpikir.
"Selamanya satu pelana kuda tidak bisa di tunggangi oleh kedua orang, kalau keempat orana ini tidak mau saling mengalah satu sama lainnya, aku lihat keadaan dunia persilatan dimasa mendatang bakal kalut dan kacau tidak karuan aai Sayang ilmu silat yang ku miliki masih belum mampu menangkan mereka, dan lagi usia hidupku didunia ini terlalu pendek. mungkin dalam persoalan ini aku tak bisa turut 562 campur lagi."
Dalam pada itu Dewi burung Hong pun diam-diam merasa terkejut, pikirnya dalam hati.
"Seorang gadis suci dari Nirwana saja sudah cukup memusingkan kepalaku, kalau ditambah dengan seorang Thian-hong pangcu lagi, kekalahan pasti akan berada dipihakku, agaknya dalam situasi seperti sekarang ini terpaksa untuk sementara waktu aku harus lepaskan Gak In Ling lebih dahulu."
Ingatan tersebut berkelebat dengan cepatnya dalam benak gadis cantik baju merah itu, ia segera tertawa merdu dan menjawab.
"ooohh Sungguh tak nyana kalian berdua begitu pandang tinggi diri Siau-moay, hal ini benar-benar membuat aku merasa terkejut dan tak berani menerimanya "
Gadis suci dari Nirwana saling berpandangan sekejap dengan Thian-hong pangcu, kemudian bersama-sama berkata lagi.
"Kalau begitu biarlah Siau-moay minta penunjuk lebih dahulu "
Karena untuk kedua kalinya perkataan tersebut diucapkan pada saat yang bersamaan, kedua orang gadis itu nampak tertegun lagi.
Thian-hong pangcu segera menatap tajam wajah gadis suci dari Nirwana, lalu sambil tertawa dingin berkata.
"Leng cu, bagaimana caranya kita tentukan siapa yang akan bertarung lebih dahulu dan siapa yang belakangan, siau-moay bersedia mendengarkan pendapatmu" . Gadis suci dari Nirwana bukan lampu yang kehabisan minyak. dengan ketus ia balik bertanya.
"Bagaimana menurut pendapat pangcu ??"
Dewi burung Hong yang menyaksikan kejadian itu hatinya kembali tergerak. pikirnya.
"Waaahh inilah suatu kesempatan yang sangat baik bagiku "
Berpikir sampai disini, sambil tertawa merdu segera menjawab.
"Menurut penglihatan Siau-moay, lebih baik kita gunakan saja kesempatan ini untuk melakukan pertarungan dan menentukan siapakah yang lebih unggul diantara kita bertiga."
Terkejut hati perempuan naga peramal sakti sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya di-dalam hati.
"Pada saat ini keadaan kami berada dalam sarang naga gua harimau, jikalau ketiga orang itu benar-benar sampai bertarung satu sama lain nya, akhirnya yang didapat kalau bukan ketiga-tiganya kehabisan tenaga paling sedikitpun bakal menderita luka. kalau sampai begini keadaannya bukankah sama artinya memberikan keuntungan yang besar untuk pihak perguruan Pit -Tiong dari Tibet ?"
Berpikir sampai disitu, dia segera buka suara dan mencegah.
"Leng cu, jangan kau lakukan tindakan tersebut, engkau harus pikirkan demi keamanan serta kesejahteraan umat persilatan dikolong langit, penghinaan kecil yang di terima sekarang bukan terhitung seberapa, kalau rasa dongkol inipun tak bisa kau tahan maka akhirnya yang bakal memperoleh keuntangan dari peristiwa ini hanyalah pihak perguruan Pit -tiong dari Tibet "
Gak In Ling terharu mendengar perkataan tersebut, pikirnya didalam hati.
"Kecerdikan perempuan ini benar-benar melebihi siapapun, apabila gadis suci dari Nirwana dapat didampingi oleh perempuan cerdik seperti ini, umat persilatan dalam kolong langit benar-benar beruntung sekali .."
Dalam hati kecilnya yang ramah-agaknyaselama hidup tak dapat dilupakan nasib para jago persilatan yang sama sekali tak ada hubungan dengan dirinya.
Thian-nong pangcu bukan orang bodoh, setelah mendengar seruan tersebut dan dipikirkan dengan seksama, segera terasa olehnya bahwa perkataan tersebut sedikitpun tidak salah, bila dia sampai bentrok dengan Gadis suci dari Nirwana maka akhirnya yang bakal menderita rugi adalah anak murid perkumpulan sendiri, dengan begitu wajah keren dan ketuspun perlahan-lahan agak mengendor.
Dewi burung Hong yang secara diam-diam mengamati wajah lawannya segera menyadari bahwa kesempatan baik sudah lewat, bila ia tetap berada disitu terus hanya akan mendatangkan kerugian belaka bagi dirinya, dalam hati pikirnya.
"Kalau kubawa serta diri Gak In Ling, mereka pasti tak akan melepaskan diriku dengan begitu saja, bagaimanapun meninggaikan dirinya di sini tak akan mencelakakan jiwanya, tokh mereka tak akan melukai dirinya.... lebih baik biarkan dia berada disini saja..."
Ia sendiri tak habis mengerti apa sebabnya hati kecilnya selalu mengkhawatirkan keselamatan Gak in Ling, ia hanya merasa bahwa keselamatan jiwanya jauh lebih penting daripada keselamatan diri sendiri.
Berpikir sampai disitu, Dewi burung Hong segera tertawa dan berkata.
"Waaahh kalau begitu Siau-moay yang sebatang-kara, rupanya hari ini harus menerima petunjuk dari kalian berdua ?"
"Menang atau kalah tak perlu ditentukan dengan terburu-buru, harap Siancu berlalu dari sini."
Seru Perempuan naga peramal sakti dengan cepat. Dewi burung Hong tertawa merdu.
"Siasatmu dengan menunda peperangan memang luar biasa sekali."
Pujinya setengah mengejek.
"bilamana tiba saatnya bagi kalian untuk bertempur melawan Tiong cu dari perguruan Pit-Tiong, jangan 565 lupa kalau Siau-moay sedang menjadi nelayan beruntung yang sedang menantikan kailnya "
Berbicara sampai disini ia melirik sekejap kearah Gak In Ling kemudianputar badan dan berlalu dari situ, dalam dua tiga lompatan saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan-Sepeninggalnya Dewi burung Hong, Thian-hong pangcu melirik sekejap kearah Gadis suci dari Nirwana dengan pandangan dingin, kemudian sambil ulapkan tangannya kepada anak buah perkumpulannya dia berseru keras.
"Ayo kita berlalu lewat sebelah kiri."
Tanpa banyak bicara, ia berlalu lebih dahulu menuju kesebelah kiri benteng IHui-in-cay.
Melihat ketuanya sudah berlalu dari situ, anak buah perkumpulan Thian-hong pangcu pun segera mengikuti jejak ketuanya dan lenyap d ibalik tembok pekarangan-Gak In Ling melemaskan urat pergelangannya yang kaku, kemudian perlahan-lahan maju kedepan menghampiri Gadis suci dari Nirwana.
Melihat pemuda itu maju menghampiri kearah nya, Gadis suci dari Nirwana merasakan jantungnya berdebar keras dan sikapnya agak gelagapan, bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu, tetapi ia bingung perkataan apakah yang hendak diutarakan keluar.
Setibanya kurang lebih lima depa di hadapan Gadis cantik tersebut, Gak In Ling menghentikan langkahnya dan memberi hormat, ujarnya.
"Kecerdikan dan keberanian Leng cu untuk mengutamakan keselamatan dan keamanan umat persilatan benar-benar mengagumkan hatiku.
Sekarang Thian hong pangcu telah berangkat untuk menyerbu tempat kududukkan pihak perguruan Pit-Tiong dari Tibet, aku harap Leng cu suka memandang dimuka sesama umat manusia dan bersedialah 566 bekerja sama dengan dia untuk melenyapkan bibit bencana dari dunia persilatan.
Sebagai pemuda berhati polos dan jujur, Gak In Ling tidak ingin memutar balikkan perkataannya, apa yang dia pikirkan segera diutarakan keluar secara blak-blakan.
Tatkala menyaksikan Gak In Ling menghampiri dirinya.
Gadis suci dari Nirwana merasa agak gelagapan, tapi sekarang setelah mendengar bahwa pemuda tersebut menghadapkan diri bisa berkerja sama dengan Thian-hong pangcu, hatinya segera menjadi mendongkol, serunya dengan nada dingin.
"Huuuhh... rupanya engkau sangat menaruh perhatian atas keselamatan jiwa dirinya...."
Gak In Ling tertegun.
"Aku sama sekali tidak menaruh perhatian khusus terhadap salah satu pihak,"
Sahutnya.
"aku berbuat demikian demi keselamatan serta kesejahteraan seluruh umat persilatan dimasa-masa mendatang "
"Heeeeehh heeeeehh heeeehh... baik benar budimu, sungguh ramah dan welas kasih hatimu."
Ejek Gadis suci dari Nirwana sambil tertawa dingin.
"Tapi sayang aku tidak bersedia mendengarkan perkataanmu itu, kau mau apa ?"
Terjelos hati Gak in Ling, tiba-tiba pikirnya.
"Sungguh terlalu polos dan menggelikan jalan pikiranku, dengan andalkan kedudukkannya sebagai seorang Leng cu yang memimpin puluhan laksa orang, ia mana bersedia mendengarkah perkataan dari aku seorang manusia tak ternama... lebih baik aku pergi sendiri saja kesitu "
Berpikir sampai disitu ia lantas menengadah keatas dan berkata sambil tertawa^ "Ucapan Leng cu sedikitpun tidak salah, memang akulah yang sudah banyak bicara."
Berbicara demikian, ia lantas putar badan dan berlalu menuju ke sebelah kanan benteng Hui-in-cay.
Air muka Gadis suci dari Nirwana berubah hebat, ia bermaksud menyusul pemuda itu, tetapi sebelum ia sempat menggerakkan tubuhnya, perempuan naga peramal sakti telah menahan dirinya.
Gadis suci dari Nirwana menjadi sangat gelisah, serunya.
"Eeeeeii kenapa engkau malah menghalangi jalan pergiku?? Dia dia sudah pergi jauh."
"Leng cu, engkau jangan lupa bahwa setiap saat dan setiap kesempatan Dewi burung Hong sedang menantikan keuntungan sebagai nelayan yang beruntung."
Peringatan Perempuan naga peramal sakti dengan wajah serius,"
Aku menahan kepergian Leng cu karena aku hendak merundingkan sesuatu rencana yang baik untuk meng-hadapi dirinya."
Gadis suci dari Nirwana memandang sekejap kearah bayangan punggung Gak In Ling yang telah pergi jauh, kemudian bertanya.
"Perempuan itu tokh tidak berada disini ? Bagaimana caranya kita menghadapi dirinya ?"
Rupanya perempuan naga peramal sakti sudah mempunyai rencana yang masak. segera jawabnya.
"Dewi burung Hong pasti tak akan berlega hati membiarkan Gak In Ling ada diantara engkau serta Thian-hong pangcu, selama ini dia pasti akan sering kali muncul disekitar tubuh pemuda tersebut, kalau pangcu hendak melenyapkan dirinya dari muka bumi, inilah kesempatan yang paling baik untuk melakukan hal tersebut."
Terkesiap hati Gadis suci dari Nirwana mendengar perkataan itu, serunya dengan cepat.
"Mau apa dia mengikuti Gak In Ling ?? Bagaimana caranya aku untuk melenyapkan dirinya dari muka bumi ?"
"Tujuannya mengikuti Gak In Ling mungkin sama seperti maksud hati Leng cu, kalau Leng cu hendak melenyapkan dirinya maka cukup menyembunyikan diri disekitar Gak in Ling bila ada kesempatan baik pancing saja dirinya agar bentrok dengan Tiongcu dari Tibet, dengan demikian maka kitalah yang akan menjadi nelayan yang beruntung."
"Meskipun rencana ini hebat dan luar biasa namun caranya sedikit tidak jujur dan terbuka."
Gadis suci dari Nirwana mengerutkan dahinya dan nampaknya akan menampik usul tersebut, tiba-tiba satu ingatan berkelebat lewat dalam benaknya dan usul itupun segera diterima olehnya.
"Baik "
Dia berseru.
"Mari sekarang juga kita ikut dirinya."
Habis berkata, buru-buru dia berangkat lebih dahulu meninggalkan tempat itu. Melihat tindak-tanduk Leng cu, Perempuan naga peramal sakti hanya bisa gelengkan kepalanya sambil bergumam.
"Engkau sama sekali bukan bersungguh hati untuk mendapatkan keuntungan tersebut, tujuanmu tidak lain karena engkau tidak rela membiarkan Perampuan itu mendapatkan Gak In Ling...."
Ia lantas berpaling dan menyapu sekejap kearah Su-put-siang sekalian, serunya.
"Ayo kita berangkat keatas tebing benteng Hui-in-cay sebelah atas, bila dugaanku tidak keliru, sekarang sudah tiada penghadang lagi yang bakal menghadapi jalan pergi kita."
Dengan memimpin para jago lainnya berangkatlah dia menuju kearah mana bayangan Gadis suci dari Nirwana melenyapkan diri tadi.
Dalam pada itu Gak In Ling setelah loncat keluar dari tembok pekarangan, dengan cepat ia meluncurkan kearah 569 tebing Hui-in-cay, dari situ ia periksa sebentar keadaan sekeliling bukit, kemudian baru enjotkan badannya mendekati keatas bukit.
Gak In Ling menyadari bahwa tempat itu merupakan markas besar kaum jago dari perguruan Pit-Tiong yang berasal dari Tibet untuk menjajah wilayah Tionggoan, dibalik tebing yang curam dan licin tak mungkin penjagaan diabaikan.
Karena itu setiap langkah kakinya dilakukan dengan amat cermat dan berhati-hati.
Namun dugaannya kali ini kembali meleset sebab walaupun ia sudah berada satu tombak dari tonjolan batu tersebut, tetapi tiada suatu reaksi apapun juga yang berhasil ditemukan, dengan cepat sianak muda itu loncat naik keatas batu cadas tersebut apa yang kemudian terlihat olehnya menggetarkan hati pemuda itu.
Belasan sosok mayat roboh terkapar diatas mati dibelakang batu cadas itu, belasan buah tabung tembaga yang kecil dan pipih berserakan dimana-mana, rupanya didalam tabung tersebut berisikan senjata ampuh yang mereka gunakan untuk menghalangi jalan naik lawan-Gak In Ling segera memungut salah satu tabung tembaga itu dan ditumpahkan keluar, air mukanya seketika berubah hebat, ternyata isi tabung tembaga itu bukan lain adalah puluhan jarum perak yang lembut seperti rambut dan berwarna biru, jelas semuanya mengandung racun yang amat keji.
Dengan termangu-mangu Gak In Ling mengawasi jarum beracun itu, kemudian pikirnya didalam hati.
"Kalau mereka gunakan jarum beracun itu untuk menyerang musuh yang sedang mendaki ke atas, sekalipun orang itu memiliki tiga kepalan enam lenganpun belum tentu bisa meloloskan diri dari ancaman tersebut, tapi siapakah yang telah menyelamatkan jiwaku ??"
Sementara Gak In Ling masih kebingungan dan bergumam seorang diri, sesosok bayangan putih berkelebat lewat dari belakang tubuh kurang lebih satu tombak dari tempat dia berada, pada waktu itu Gak In Ling sedang pusatkan pikirannya untuk menebak siapa gerangan orang yang telah menyelamatkan jiwanya, karena itu terhadap munculnya bayangan tadi sedikitpun tidak merasakan-Setelah termenung beberapa saat namun belum juga ada jawaban yang berhasil ditemukan, dengan perasaan apa boleh buat Gak In Ling berpikir lebih jauh.
"orang yang telah menyelamatkan diriku pasti berada diatas puncak tebing ini, kenapa aku tidak naik keatas untuk melakukan pemeriksaan ?"
Tanpa ragu-ragu lagi dia segera berkelebat menuju keatas tebing tersebut...
Jarak antara puncak tebing dengan ia berada saat itu masih terpaut seratus tombak tingginya, Gak In Ling setelah mengetahui bahwa ada orang secara diam-diam membantu usahanya, gerak-geriknya pun dilakukan dengan cepat dan tanpa ragu-ragu lagi, tidak selang beberapa saat kemudian ia telah berada diatas puncak.
Diatas puncak yang merupakan sebidang tanah datar berserakan pula dua tiga puluh sosok mayat yang bersimpang siar disana-sini, disisi tubuh mereka semua tergeletak sebuah tabung tembaga, jelas orang-orang itu pun merupakan para penjaga yang bertugas untuk membendung jalan naik musuh-Gak In Ling menjadi tidak habis mengerti dan kebingungan setengah mati, ketika dia angkat kepala mendadak dari tempat kejauhan berkumandang datang suara pekikan panjang burung hong, dengan cepat sorot matanya dialihkan kearah mana berasalnya suara tadi.
Hatinya seketika dibikin tertegun, tampaklah seokor burung hong bagaikan kilat cepatnya terjatuh ke dalam sebuah 571 jurang, rupanya tempat itu merupakan sebuah lembah yang rendah.
Gak In Ling tidak tahu duduk perkara yang sebenarnya, dia mengira binatang tunggangan dari Dewi burung Hong telah dilukai oleh para jago perguruan Pit-Tiong dari Tibet, tanpa terasa tubuhnya segera menerjang maju kedepan, hampir boleh dibilang tindakan tersebut dilakukan dengan spontan dan muncul dari hati kecilnya, ia merasa sudah sepantasnya kalau dia pergi menolong gadis itu, sedang mengenai apa sebabnya dia harus membantu perempuan itu ?
Dia sendiripun tidak tahu.
-oo0dw0oo-
Jilid 17 DENGAN pandangan tajam Gak in Ling menyapu sekejap sekeliling tempat itu, dia merasa puncak tebing itu merupakan tanah datar yang luasnya mencapai beberapa li, di situ kecuali tumbuh semak belukar tiada pepohonan yang tumbuh, sehingga keadaannya nampak tenang dan menyedihkan-Dengan langkah cepat Gak In Ling bergerak menuju kearah mana burung hong tersebut rontok kebumi, ketika tiba d itepi jurang dan melongok kebawah maka terlihatlah dibawah tebing merupakan sebidang tanah lembah yang berbentuk bulat, empat penjuru sekelilingnya tidak nampak ada jalan keluar, rumput hijau tumbuh dengan suburnya bagaikan permadani, diatas rumput menggeletak beberapa sosok kerangka putih beberapa ekor kelabang berwarna emas berseliweran diantara kerangka manusia tersebut sehingga keadaannya nampak sangat menakutkan-Sekeliling tanah berumput yang berbatasan dengan kaki tebing terdapat banyak sekali gua-gua kecil, Ular beracun dan kelabang emas bergerak kesana kemari dengan amat bebas, 572 rupanya gua-gua kecil tersebut merupakan tempat ular berbisa dan kelabang emas itu menghuni.
Di hadapan Gak In Ling, dibawah kaki tebing terdapat sebuah gua batu yang sangat besar, dua buah pintu besar tertutup rapat, dan satu hal yang aneh ternyata makhluk-makhluk berbisa itu tak seekorpun yang berani mendekati daerah gua tersebut sejauh tiga tombak.
Setelah memandang keadaan disekitar situ beberapa saat lamanya, Gak In Ling segera berpikir.
"Jangan-jangan para jago dari perguruan Pit-Tiong bersembunyi didalam gua tersebut?"
Mendadak terdengar suara teguran merdu berkumandang datang.
"Apakah engkau telah melihat orang-orang dari perkumpulan Thian-hong pang ?"
Gak In Ling menjadi terperanjat ketika mendengar teguran itu, dia segera sadar dari lamunannya dan berpaling.
Kurang lebih satu tombak dihadapan tubuhnya berdirilah Gadis suci dari Nirwana yang mengenakan pakaian putih, satu ingatan segera berkelebat dalam benaknya, ia berpikir.
"Sejak kapan dia naik kemari ? Jangan-jangan orang tersebut mati ditangannya ?"
Berpikir sampai disini ia segera menjawab dengan hambar.
"Belum pernah kujumpai dirinya "
Setelah berhenti sebentar, ujarnya lagi.
"Apakah orang-orang itu mati dibunuh oleh Leng cu ?"
Seraya berkata ia tunjuk kearah mayat-mayat yang bergelimpangan diatas tanah.
"Hmm Kenapa aku mesti membunuh orang-orang itu ?"
Gak In Ling mengerutkan dahinya.
"ooohh.. Kalau begitu dugaanku tidak benar ?"
Sahutnya.
"Hmm Kenapa engkau harus menduga diriku ?"
Kali ini suaranya tidak sedingin dan seketus tadi lagi.
"Tidak mengapa, karena aku belum sempat melihat kehadiran Thian-hong pangcu disini, maka aku menaruh curiga bahwa orang-orang itu mati dibunuh oleh Leng cu."
"Meskipun orang-orang itu bukan dibunuh olehku, aku percaya juga bukan hasil karya dari Thian-hong pangcu."
Tiba-tiba terdengar serentetan suara merdu menyambung.
"Sedikitpun tidak salah, orang-orang itu memang bukan mati ditanganku "
Bersama dengan ucapan tadi, kurang lebih lima tombak dari hadapan mereka lambat-lambat muncullah Thian-hong pangcu berikut anak buahnya.
Gadis suci dari Nirwana segera merasakan hatinya bergerai pikirnya.
"Kali ini aku bakal menderita rugi kalau sampai bentrok. orang-orangku belum tiba disini."
Sementara itu Thian-hong pangcu telah menegur sambil tertawa dingin.
"Apakah Leng cu seorang diri ?"
"IHeeeehh heeeehh.... heeeeh bagi diri pangcu, inilah suatu kesempatan yang-sangat baik."
Thian-hong pangcu tertawa dingin-"Meskipun Siau-moay menyadari bahwa kepandaian silatku masih bukan tandingan dari Leng cu, akan tetapi persoalan diantara kita berdua rasanya tak perlu dicampuri oleh pihak ketiga."
"Hmm Kalau begitu akulah yang menarik keuntungan dalam peristiwa ini."
Seru gadis suci dari Nirwana sambil melangkah maju kedepan. Gak In Ling yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat gelisah, diam-diam serunya di dalam hati.
"Bagus sekali Setelah kalian saling bertemu muka, kecuali berkelahi rasanya lucu persoalan lain yang kalian pikirkan lagi."
Pemuda itu tak tahu apa yang mesti dikatakan pada saat ini, sebab menurut pengalaman yang diperolehnya pada kejadian lampau, ia tahu bilamana dia menasehati salah satu pihak diantara mereka, maka pihak lain pasti akan merasa tidak setuju.
Pada saat yang amat kritis itulah, tiba-tiba dari puncak tebing seberang bergema datang suara gelak tertawa seseorang, disusul seorang berseru lantang.
"Haaaahh haaaaahh haaaaaah bukankah kedatangan kalian berdua mengandung maksud serta tujuan yang sama ? Kini bencana besar belum berhasil dilenyapkan, apa sebabnya karena satu urusan sepele kalian berdua harus bertempur sendiri ? Apakah tindakan kalian itu tidak keliru besar ?"
Gak In Ling segera alihkan sorot matanya kearah mana berasalnya suara itu, tampaklah seorang kakek tua berambut putih berbaju biru dan berusia diantara sembilan puluh tahunan berdiri kekar dihadapannya, orang itu memiliki perawakan badan yang tinggi besar dan kekar berotot alisnya panjang matanya besar, mukanya merah seperti bayi dengan sepasang mata memancarkan cahaya tajam, dibalik kegagahan terselip pula keagungan-Dibelakang tubuh orang itu berdirilah pria wanita yang berjumlah dua tiga puluh orang lebih, semuanya memiliki sorot mata yaag tajam dan jelas merupakan jago-jago berkepandaian tinggi.
"Sungguh keren dan gagah orang itu,"
Dalam hati diam-diam Gak In Ling memuji.
Gadis suci dari Nirwana serta Thian-hong pangcu berdua setelah melihat siapa yang muncul, hawa amarah yang semula 575 berkobar dalam dada mereka seketika lenyap tak berbekas, katanya hampir berbareng.
"ooooh... rupanya Ngo-gak Sin-kun Sungguh tak nyana disebabkan persoalan ini, engkau harus melakukan perjalanan sendiri."
Cukup didengar dari nada ucapan tersebut, dapat diketahui bahwa kedudukan orang ini dalam dunia persilatan sangat tinggi, sebab bagaimanapun juga kedua orang gadis itupun merupakan pemimpin dua persilatan-Lain halnya dengan Gak In Ling, ketika mendengar orang itu bukan lain adalah Ngo-gak sin-kun, jantungnya seakan-akan dihantam oleh martil yang beratnya mencapai seribu kati, tanpa terasa dengan wajah berubah hebat ia mundur dua langkah kebelakang.
Terdengar Ngo-gak Sin-kun sambil tertawa telah berkata.
"Aku sebagai salah seorang umat persilatan ikut bertanggung jawab atas mati hidupnya di-dunia kita ini. Walaupun aku sudah lanjut usia namun sebagai umat persilatan sudah sepantasnya kalau menyumbangkan sedikit pikiran demi generasi yang akan datang."
Sementara berbicara sampai disitU, bersama-sama anak buahnya ia telah tiba di hadapan semua orang.
Sementara itu dipihak lain muncul pula para jago dari perkumpulan Nirwana.
Thian-hong pangcu segera tertawa merdu dan bertanya.
"sin-kun, bagaimana rencanamu ?"
"Dewi burung Hong telah kena dihantam oleh Leng cu sehingga terjatuh kedalam jurang, entah dia sudah mati atau belum ?"
Ujar Ngo-gak sin-kun. Merah jengah selembar wajah Gadis suci dari Nirwana mendengar ucapan tersebut, buru-buru jawabnya .
"Aku lihat dia hanya melayang turun kedasar lembah, agaknya berhenti diatas sebuah batu karang yang menonjol keluar."
Wajah Ngo-gak Sin-kun berubah menjadi amat serius, dia berkata.
"Perempuan ini tak dapat dibiarkan hidup dikolong langit, kalau tidak maka dunia persilatan mulai sekarang akan sukar menjadi tenang dan tentram, persoalan yang paling mendesak dewasa ini adalah bagaimana caranya membinasakan perempuan tersebut."
Gadis suci dari Nirwana serta Thian hong pangcu merasa perkataan itu sedikipun tidak salah, kalau sampai menunggu Dewi burung Hong berhasil menyembuhkan sakitnya maka sulitlah bagi mereka untuk turun tangan-Dalam pada itu Perempuan naga peramal sakti telah menghampiri ketuanya, setelah memandang sekejap kearah Ngo-gak Sin-kun dia bertanya.
"Apakah Sin-kun ada maksud untuk mengutus orang pergi kesana ?"
"Aku memang mempunyai maksud untuk berbuat begitu, akan tetapi aku khawatir sebelum orang itu tiba ditempat tujuan, terlebih dahulu sudah menderita luka di tangannya."
"Karena itu kita harus mengutus seorang yang tak mungkin dibunuh olehnya, bukan begitu ?"
Sambung Perempuan naga peramal sakti sambil tertawa.
Mendengar perkataan itu baik Gadis suci dari Nirwana maupun Thian-hong pangcu sama-sama merasa amat terperanjat, empat buah mata yang jeli tanpa sadar bersama-sama dialihkan ke atas wajah Gak In Ling, tetapi ketika sorot mata mereka membentur dengan sinar mata pemuda tersebut, hati mereka berdua segera tercekat dan membathin.
"oooh Betapa dinginnya sorot mata orang itu, baru pertama kali ini kujumpai sorot mata orang sedingin itu."
Ngo-gak sin-kun tidak tahu seluk-beluknya persoalan, mendengar ucapan itu ia tertegun dan segera alihkan sorot matanya kearah para jago yang berada dibelakang tubuhnya, ia mengira orang yang dimaksudkan oleh Perempuan naga peramal sakti berada diantara kedua sampai ketiga puluh orang jago tersebut..."
Para jago sendiri diam-diampun merasa terkesiap. tapi dihadapan Ngo-gak sin-kun mereka tak ingin menunjukan perasaan tersebut. Sesudah memandang beberapa saat "wajah"
Para jagonya dan tidak berhasil menemukan orang yang dicari, akhirnya Ngo-gak Sin-kun alihkan kembali sinar matanya kearah Perempuan naga peramal sakti dan bertanya.
"Bolehkah aku tahu siapakah yang dimaksudkan oleh Perempuan naga ?"
Perempuan naga peramal sakti alihkan sinar matanya keatas wajah Gak In Ling, kemudian bertanya.
"Apakah saudara bersedia pergi kesana ?"
Gadis suci dari Nirwana serta Thian-hong pangcu terperanjat, Leng cu, dari perkumpulan Nirwana itu segera membentak dengan gusar.
"Apakah engkau tidak merasa bahwa setiap tindakkan mu tiada kemungkinan untuk berbuat salah ?"
Jelas dari nada suara itu, betapa tidak puasnya gadis cantik ini terhadap usul dari juru pikirnya.
Tentu saja Perempuan naga peramal sakti dapat meresapi pula perasaan hatinya dari Leng cu nya.
akan tetapi dalam keadaan begini dia tak mau memperdulikan persoalan tetek-bengek tersebut, karena menurut pendapatnya satu hari Dewi burung Hong tidak mati, maka penghalang bagi kemajuan perkumpulan Nirwana pun sehari tak dapat dikembangkan, 578 lagi pula kepergian Gak In Ling kali ini sembilan puluh persen belum tentu akan mati di tangan Dewi burung Hong.
Karena itu setelah memberi hormat kepada ketuanya, Perempuan naga peramal sakti berkata.
"Leng cu, harap engkau suka memaafkan keputusan hamba ini, sebab demi keselamatan dan keamanan umat persilatan, terpaksa kita harus menempuh jalan ini."
Gadis suci dari Nirwana melengos kearah lain, kemudian dengan suara berat.
"Kalau memang begitu, terserah atas keputusanmu "
Bicara sampai disitu tak tahan titik air mata berlinang membasahi pipinya.
Dalam pada itu dengan wajah dingin menyeramkan Gak In Ling telah maju selangkah kede pan, sambil menatap wajah Ngo-gak Sin-kun dengan pandangan menyeramkan serunya.
"Walaupun aku tidak tahu apakah Dewi burung hong bakal membinasakan diriku atau tidak-akan tetapi demi keselamatan para saudara dari dunia persilatan, setelah aku ditunjuk oleh perempuan naga maka akupun bersedia untuk pergi menempuh bahaya, hanya saja sebelum itu..."
Melihat penampilan pemuda itu, dalam hati para jago segera muncul suatu pendapat yang sama.
"ooooh tak nyana orang ini dengan tampangnya yang begitu jelek. ternyata memiliki hati yang mulia..."
Ngo-gak sin-kun sendiri setelah melihat Gak In Ling dia nampak tertegun, lalu berpikir.
"Dewi burung hong adalah seorang jagoan perempuan yang tidak takut langit tidak takut bumi, siapapun berani dibunuh olehnya, kenapa terhadap pemuda bertampang jelek ini dia malah pilih kasih dan mengampuni jiwanya? Jangan-jangan antara dia dengan Perempuan naga peramal sakti 579 mempunyai ganjalan sakit hati, sehingga perempuan ini hendak menggunakan kesempatan tersebut untuk melenyapkan dirinya dari muka bumi. ?"
Kakek tua ini memang mempunya ketajaman otak yang luar biasa, kadang kala jalan pikirannya bisa berbelok kejala n pemikiran yang berbeda dengan orang lain, ia segera bertanya.
"cuma saja kenapa ??"
Sementara itu Gak In Ling sudah berada lima depa dihadapan Ngo-gak sin-kun, mendengar pertanyaan itu sambil menggertak gigi dia tertawa seram.
"Heeeehh heeeehh heeseehh cuma saja Yap Thing Ling, aku hendak ajak dirimu untuk berduel lebih dahulu "
Para jago berseru tertahan karena kaget, siapapun tak pernah menyangka kalau semuda yang tidak dikenal namanya itu ternyata berani menyebut nama aslinya Ngo-gak Sin-kun secara langsung dan kasar, lebih-lebih tak menyangka kalau ia berani menantang Ngo-gak Sin-kun untuk melakukan pertarungan satu lawan satu.
Iman Ngo-gak Sin-kun ternyata cukup tebal, ia tidak menjadi gusar mendengar tantangan tersebut, sambil tertawa hambar setelah tanyanya.
"orang muda, aku sama sekali tidak kenal siapakah engkau ?"
Dengan cepat Gak In Ling melepaskan topeng setan yang dikenakan olehnya, kemudian menengadah dan tertawa seram.
"Haaaahh haaaaahh........ haaaaahh Yap Thian Ling, coba lihatlah aku mirip siapa ?"
Sekali lagi para jago berseru tertahan, mungkin perbedaan paras muka Gak In Ling setelah melepaskan topeng setannya itulah yang membuat mereka tercengang sehingga berseru keras.
Gadis suci dari Nirwana, Thian-hong pang cu maupun Perempuan haga peramal sakti segera merasakan bahwa peristiwa itu pastilah luar biasa sebab bila mana keadaan tidak terlalu memaksa tak mungkin Gak in Ling menjumpai orang dengan wajah aslinya.
Air muka Ngo-gak Sin-kun Yap Thian Ling mula-mula terkejut, tetapi sepintas kemudian sudah lenyap tak berbekas, ia segera tertawa hambar dan berkata.
"Engkau mirip sekali dengan Gak cing Hong "
"Dia adalah mendiang ayahku, dan engkaulah yang telah membinasakan dirinya."
Teriak Gak In Ling sambil tertawa dingin.
"Hmm Sudah hampir tujuh puluh tahun lebih aku melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, orang yang telah kubunuh tak terhitung jumlahnya, mungkin juga ayahmu memang menemui ajalnya ditanganku tetapi engkaupun harus tahu bahwa orang yang kubunuh selama hidupku adalah manusia-manusia durjana yang berdosa besar."
Pada saat ini sorot mata Gak In Ling telah berubah menjadi merah berapi, dengan penuh kebencian dia tertawa panjang, serunya.
"Haaaah haaaaahh haaaahh.... Yap Thian Leng, aku rasa dalam hati kecilmu engkau telah merasa karena persoalan apakah engkau telah membinasakan mendiang ayahku ??"
Terjeblos hati Ngo-gak Sin-kun Yap Thian Leng mendengar ucapan itu, buru-buru dia memperingatkan diri sendiri.
"Tenang-tenanglah dengan andalkan nama serta kedudukkanku sekarang, tak mungkin tuduhannya akan menggoncangkan posisiku saat ini."
Berpikir sampat disini, dia lantas angkat kepala dan menjawab.
"Aku sudah tak dapat mengingatnya kembali..."
Rasa benci yang berkobar dalam benak Gak In Ling tak terkendalikan lagi, ia membentak keras.
"Serahkan nyawamu "
Dengan jurus Hiat-liu-biau-kan atau banjir darah setinggi tiang, laksana petir yang menyambar diangkasa pemuda itu menerjang kedepan dan menghajar dada Ngo-gak Sin-kun.
Baru saja Gak In Ling menggerakkan tubuhnya, dari belakang tubuh Ngo-gak sin-kun segera menggema pula beberapa bentakan nyaring empat lima sosok bayangan manusia dengan cepat meluncur kedepan sambil mendorong telapaknya kedepan, dengan begitu mereka telah membendung datangnya serangan atas diri Ngo-gak sin-kun sebelum pukulan itu mengenai sasarannya.
"Blaaamm "
Ditengah ledakan dahsyat yang menggeletar diseluruh angkasa, secara beruntun Gak In Ling mundur tiga langkah ke-belakang, hawa darah dalam dadanya bergolak keras, jelas tenaga gabungan dari kelima orang itu masih bukan tandingan dari pemuda kita.
Gak In Ling semakin naik pitam melihat usahanya dihalangi orang, sekali lagi dia membentak keras.
"Siapa menghindarkan dia hidup, siapa menghadang dia mati "
Untuk kedua kalinya ia menerjang maju kedepan, lima totokan dalam telapak mautnya segera dikembangkan...
cahaya merah menyelimuti seluruh angkasa dan ditengah dengusan berat, tiga orang jago roboh terkapar keatas tanah dan tak berkutik lagi.
Robohnya ketiga orang itu segera membangkitkan kegusaran dari para jago yang berada di belakang tubuh Ngo-gak Siu-kun, bentakan nyaring menggema berulang kali, seketika itu juga belasan orang banyaknya telah mengepung pemuda itu rapat-rapat.
Dalam keadaan begini Gadis suci dari Nirwana serta Thian-hong pangcu merasa gelagapan dan gelisah sekali, tetapi dibawah pengaruh otak yang sadar mereka tak mampu untuk maju kedepan serta membantu pemuda pujaan hatinya itu.
Sementara dua orang gadis itu masih ragu-ragu dan sangsi, tiba-tiba terdengar Ngo-gak Iin-kun membentak keras.
"Enyah kau dari sini "
Segulung hembusan angin puyuh meluncur kedepan, Gak In Ling segera mendengus berat dan tubuhnya benar-benar terpental sejauh satu tombak lebih dari tempat semula, namun isi perutnya tidak sampai terluka.
Pertempuran sengit ang menggetarkan hati pun untuk sementara berakhir sampai disitu saja.
Ngo-gak sin-kun tundukkan kepalanya memandang sekejap kearah tujuh delapan sosok tubuh yang terkapar diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa itu, kemudian sambil menatap dingin wajah si anak muda itu serunya.
"orang muda. aku telah mengampuni jiwa mu untuk kali ini "
Sepasang mata Gak In Ling berubah menjadi merah membara, wajahnya menyeringai menyeramkan, sepasang telapaknya diayun dan siap menerjang maju lagi kedepan, Pada saat itulah, tiba-tiba terdenggar serentetan suara bisikan yang lirih bagaikan suara nyamuk bergema disisi telinganya.
"orang muda, sebelum racun penghancur hati yang mengeram dalam tubuhmu berhasil dilenyapkan, telapak mautpun tak bisa kau gunakan sehingga mencapai kehebatan yang luar biasa, engkau tak usah berpikir sempit dan lagijejak kejahatan yang dilakukan orang itu sehingga kini belum terbongkar, jika engkau membinasakan dirinya mata para jago dunia persilatan pasti akan mencari engkau untuk membalas dendam, bersabarlah dahulu. Apakah engkau tega membinasakan para jago persilatan yang tak tahu menahu itu 583 menjadi korban kebiadabannya ? orang muda. sabarkanlah hatimu "
Suara itu muncul dari suatu tempat yang sukar dirabah, seakan-akan datang dari empat arah delapan penjuru, membuat orang susah untuk menentukan letak yang sebenarnya.
Dengan hati berat dan sedih Gak In Ling menghela napas panjang, pikirnya didalam hati.
"Benar, aku harus bersabar tapi aku bisa menunggu berapa lama lagi ??"
Berpikir sampai disini perlahan-lahan dia putar badan dan berlalu, titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
Dengan pandangan kaku Thian-hong pangcu dan Gadis suci dari Nirwana memandang bayangan punggung Gak In Ling sehingga lenyap dibalik sebuah bata cadas, kedua orang itu ingin sekali menghibur hatinya, tetapi dengan kedudukan mereka pada saat ini membuat kedua orang gadis tersebut tak leluasa untuk memenuhi keinginan hatinya itu.
Suatu ketika akhirnya Perampuan naga peramal sakti yang buka suara lebih dahulu untuk memecahkan kesunyian-"Mari kita cari tempat untuk beristirahat satu malam, besok kita harus memikirkan lagi persoalan besar "
Mendengar perkataan itu semua orang angkat kepala memandang cuaca, sedikitpun tidak salah sang surya telah tenggelam disebelah barat, dengan membawa perasaan hati yang berbeda, berpisahlah mereka untuk mencari tempat pemondokan untuk sementara.
Sang surya lenyap rembulan muncul di-awang-awang, satu hari telah berlalu tanpa terasa diatas tebing batu dimana Dewi burung Hong terjatuh tiba-tiba muncul seorang pemuda berbaju hitam, dia bukan lain adalah Gak In Ling jago muda kita.
Memandang tonjolan batu yang berada di bawah tebing sejauh seratus tombak dari tempat dia berada saat ini, Gak In Ling bergumam seorang diri.
"Kemungkian besar dia berada diatas batu cadas tersebut, bagaimana caraku untuk turun ke bawah sehingga tidak diketahui jejaknya oleh perempuan itu ?"
Mendadak dia merasakan jalan darah Pay-sim-hiat diatas punggungnya menjadi linu dan kaku, hatinya amat terperanjat tapi pada saat itu sudah tak mungkin lagi baginya untuk menghindarkan diri.
Terdengar serentetan suara teguran yang dingin menyeramkan berkumandang memecahkan kesunyian-"Sekarang aku sudah teringat siapakah gerangan dirimu...
engkau adalah Gak ln Ling"
Gak In Ling tertawa dingin dengan penuh kebencian.
"Heeeeehh.... heeeeehh.heeeehh.... Yap Thian Leng, sejak semula aku sudah tahu bahwa engkau telah mengenali diriku "
Ternyata orang yang baru saja munculkan diri dibelakang si anak muda itu bukan lain adalah Ngo-gak Sin-kun malaikat suci dari lima .bukit Yap Thian Leng adanya.
"Sedikitpun tidak salah,"
Jawab Malaikat suci dari lima Bukit sambil tertawa seram.
"tetapi di tempat seperti itu, aku tak bisa mengatakannya secara terus terang.."
"Sekarang, asal engkau gunakan sedikit saja tenaga pukulanmu? maka-mulai detik ini engkau tak usah menguatirkan persoalan itu lagi. Malaikat suci dari lima bukit -Yap Thian Leng tertawa ringan serunya.
"Aku tidak akan membinasakan dirimu."
Sahutnya.
"karena ilmu pukulan penemb us hatiku dapat membunuh orang tanpa 585 meninggalkan bekas, cuma saja.... Heemm heeeemm...."
Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.
"Dewi burung hong tidak takut dengan-langit tidak takut dengan bumi, siapapun juga berani dibunuh olehnya, karena itu aku ingin meminjam kekuatannya untuk melenyapkan bibit bencana bagi diriku?.. Gak In Ling Siasatku ini sangat bagus bukan ?"
Gak Ih Ling naik pitam dan merasa gusar sekali setelah mendengar perkataan itu, dia tarik napas panjang-panjang siap melancarkan serangan-Mendadak terdengar Ngo-gak sin-kun malaikat suci dari lima bukit tertawa dingin dan berseru.
"Selamat tinggal bajingan cilik, sekarang turunlah kebawah.."
Telapaknya ditolak kedepan, tubuh Gak In Ling segera terdorong masuk kedalam jurang yang dalamnya seratus tombak lebih itu?
ternyata didalam menolak tubuh pemuda tersebut, ia sama sekali tidak bermaksud untuk-melukainya lebih dahulu.
Memandang bayangan punggung Gak In Ling yang meluncur turun kedalam jurang dengan cepatnya itu, Malaikat suci dari lima bukit tertawa bangga dengan wajah menyeramkan, setelah memandang sekejap dasar tebing tersebut ia putar badan dan berlalu dari situ.
Tenaga tolakan yang dipancarkan Malaikat suci dari lima bukit besar sekali, walaupun Gak In Ling telah mengerahkan segenap kekuatannya untuk meringankan tabuh, namun ia gagal untuk menahan gerak luncur tubuhnya yang begitu cepat, dalam sekejap mata ia sudah terjungkal sejauh lima puluh tombak dari puncak tebing.
Dengan cepat sorot matanya menyapu sekejap sekeliling tempat itu, ia lihat diantara tebing dinding dan batu tonjolan 586 tersebut merupakan sebuah selokan yang cekung kedalam.
ketika itu Dewi burung Hong indah sambil membopong burung Hong raksasanya sedang duduk bersandar di dinding gua, nampaknya santai dan rileks sekali.
Ketika melihat berkelebat datangnya sesosok bayangan manusia, dengan sorot mata memancarkan cahaya penuh nafsu membunuh perempuan itu menengadah keatas akan tetapi setelah mengetahui bahwa orang itu bukan lain adalah Gak In Ling, nafsu membunuh yang menyelimuti wajahnya seketika lenyap tak berbekas, ia tundukkan kepalanya kembali sambil membelai bulu burung Hong nya yang jinak.
"Bluuuumm ...."
Benturan keras bergema memecahkan kesunyian, berhubung daya luncur tubuhnya terlalu keras, ketika tubuh Gak In Ling mencapai tanah ia segera mundur dua langkah kebelakang dengan sempoyongan, sebelum akhirnya berhasil berdiri tegak.
Dewi burung Hong sama sekali tidak angkat kepalanya, dengan dingin ia berkata "Kurasa engkau pasti didorong orang sehingga jatuh terjungkal kemari "
Gak In Ling tertawa dingin, sambil maju dua langkah kedepan sahutnya^ "Sekalipun tidak didorong orang, akupun akan turun juga kebawah."
Dewi burung Hong merasakan hatinya menjadi hangat, ia tertawa dan bertanya.
"Kenapa ?"
Sambil berkata dengan sepasang biji matanya yang mempersonakan hati ia menatap wajah Gak In Ling lembut.
Gak In Ling tidak berani saling beradu pandangan dengan perempuan itu segera serunya dengan nada dingin-..
"Karena aku dengar engkau sudah menderita luka "
Bicara sampai disitu, diam-diam hawa murninya dihimpun kedalam sepasang telapak siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak di-inginkan.
"Sungguhkah itu ?"
Seru Dewi burung Hong sambil tertawa merdu. Terperanjat hati Gak In Ling mendengar perkataan itu, pikirnya.
"Kecerdikan Perempuan ini luar biasa sekali dan melebihi siapapun, akal setannya banyak dan licin, mungkin aku tak bisa mengelabuhi dirinya..."
Meskipun dalam hati merasa takut, diluaran ia tetap berkata.
"Selamanya aku tak pernah bicara bohong "
Sambil berkata kembali dia maju dua langkah kedepan-"Engkau pasti bukan pura-pura bersikap demikian karena takut aku membunuh engkau bukan ? Padahal aku tak nanti akan mencelakai dirimu."
Rupanya perkataan yang terakhir itu merupakan suara hatinya yang asli, membuat siapa pun yang mendengar segera merasakan hatinya bergetar.
Gak In Ling merasa hatinya sakit, diam-diam ia keheranan dan berpikir.
"Gak In Ling ooh Gak In Ling... benarkah tindakanmu ini adalah tindakan seorang lelaki sejati ?"
Tetapi ada segulung kekuatan lain yang menggerakkan hatinya, memaksa dia, mau tak mau harus berbuat demikian, maka ia segera maju dua langkah kedepan dan berseru sambil tertawa dingin.
"Nona, sikapmu demikian itu bukankah sama artinya memandang rendah aku Gak In Ling ?"
Dewi burung Hong merasakan hatinya menjadi hangat, dia segera rentangkan sepasang lengannya sambil berseru.
"cepat peluklah aku, aku terkena.."
Belum habis dia berkata, tiba-tiba terdengar Gak In Ling membentak keras.
"Sambutlah serangan ini "
Bersamaan dengan bergemanya bentakan itu, dengan jurus Hiat-ya-seng-hong atau hujan darah angin amis dia hantam dada perempuan cantik baju merah itu.
Mimpipun Dewi burung Hong tak pernah menyangka kalau semua perkataan yang diucapkan Gak In Ling adalah perkataan palsu semua menyaksikan kejadian itu dia menjadi gelagapan, saking terkejutnya sehingga dia berseru tertahan-..
Sebenarnya dengan kepandaian silat yang di miliki Dewi burung Hong, meski pun peristiwa terjadi lebih mendadak-dan lebih cepatpun ia masih memiliki kekuatan untuk menghindarkan diri, akan tetapi pada saat itu perempuan tersebut benar-benar tiada berkekuatan lagi, karena ia sudah menderita keracunan hebat.
Gak In Ling sendiri ketika mendengar jeritan tertahan yang penuh mengandang rasa kaget dan berkesiap itu, hatinya merasa bergetar keras ingin pukulan yang dilancarkan keluarpun tanpa sadar telah membuyar separuh bagian.
"Blaaaam "
Benturan keras yang menggeletar diangkasa menggema memecahkan kesunyian dikuti terdengar Dewi burung Hong mendengus ringan, darah segar bagaikan pancuran mengalir keluar lewat bibirnya yang kecil dan menodai seluruh tubuhnya.
Dengan pandangan kaku Gak In Ling memandang ke arah lawannya, dalam hati ia merasa keheranan, pikirnya.
"Kenapa perempuan itu sama sekali tidak melancarkan serangan balasan ? Aneh benar?"
Tiba-tiba burung Hong raksasa yang berada didepan tubuh Dewi burung Hong berpekik nyaring, sepasang sayapnya direntangkan siap menerjang kemuka Gak In Ling, tetapi Dewi burung Hong dengan susah payah segera berteriak keras.
"IHong-ji, lukamu belum sembuh. ..jangan pergi kesana "
Kemudian dengan pandangan dingin ia menatap wajah Gak In Ling, serunya ketus.
"Aku sudah menderita luka, tetapi sekarang tak akan segera menemui ajalnya, sepantasnya kalau engkau menambahi sebuah pukulan lagi kepadaku "
Merah jengah selembar wajah Gak In Ling dengan tergagap dia berkata.
"Semula aku mengira engkau pasti akan melakukan perlawanan, sungguh tak nyana..."
"Heeeehh heeeeehh. ....... heeeeehh sedikitpun tidak salah."
Sahut Dawi burung Hong sambil tertawa dingin.
"Andaikata aku Dewi burung Hong tidak terluka akibat keracunan lebih dahulu, sekarang mungkin yang roboh terkapar di atas tanah bukan aku melainkan dirimu."
Gak in Ling semakin terperanjat.
"Jadi engkau sudah terluka lebih dahulu ?"
Serunya "Apakah engkau anggap dirimu sudah luar biasa sekali ?"
Ejek Dewi burung Hong sambil tertawa sinis.
Gak In Ling tidak menjadi gusar, dengan pandangan kecewa dia angkat kepala memandang rembulan yang tergantung diawang-awang, kemudian berbisik dengan nada kecewa.
"Aku mengira diriku telah melakukan suatu pekerjaan besar yang mulia dan patut dihargai sungguh tak nyana sebenarnya aku adalah seorang manusia rendah yang tak tahu malu, ternyata aku telah membokong seorang perempuan lemah yang sudah menderita luka akibat keracunan-"
Ketika mendengar ucapan, Perempuan lemah, diatas wajah burung Hong yang pucat pias bagaikan mayat tiba-tiba terlintas hawa napsu membunuh yang sangat tebal, ia segera membentak nyaring.
"Gak In Ling, engkau anggap nonamu membutuhkan perasaan simpatik dan rasa kasihan darimu ?"
Hmm Sayang 590 sekali pada saat ini aku tak dapat menghimpun tenaga dalamku lagi, kalau tidak aku aku akan segera menghancurkan lumatkan tubuhmu menjadi berkeping-keping."
Terhadap perkataan yang tak sedap didengar itu, Gak In Ling pura-pura berlagak tidak mendengar, ia tetap bergumam seorang diri.
"Kenapa aku harus memikirkan nasib dari orang-orang yang sama sekali tak pernah dikenal olehku ? Apakah keuntungan serta manfaat yang kuporoleh dengan perbuatanku itu ?"
Senyuman yang tidak tenang tersungging di ujung bibirnya, ia segera bergumam lebih jauh "Aku akan menolong dirinya, aku harus menyelamatkan jiwanya "
Dengan langkah lebar ia segera berjalan menghampiri tubuh Dewi burung Hong yang menggeletak ditanah. Perempuan itu menjadi sangat gusar, ia segera membentak nyaring.
"Kau berani datang, kau berani..."
Gak In Ling yang menyaksikan kejadian itu pura-pura tidak mendengar dan tetap berlagak pilon, ia berjongkok dihadapan perempuan itu dan menarik tangannya.
Pada saat ini Dewi burung Hong sangat membenci diri Gak In Ling, akan tetapi berhubung tenaga dalam yang dimilikinya telah buyar sehingga tak dapat mengerahkan tenaga untuk menghajar pemuda itu, maka saking mendongkolnya gadis itu membentak nyaring, ia peluk tubuh Gak In Ling erat-erat dan bahu sianak muda itu segera digigitnya kencang-kencang .
Dewi burung Hong dapat bersikap demikian hal ini disebabkan sifatnya yang keras kepala, menanti bahu Gak In Ling yang di gigit olehnya banar-benar robek dan darah panas mengalir ke luar dari mulut luka tersebut, secara tiba-tiba dia baru menjerit kaget dan melepaskan gigitannya, dalam keadaan begini pukulan yang ditujukan kepunggung pemuda itupun ikut berhenti.
Tiba-tiba terasalah segulung aliran hawa panas menembusi jalan darah Pat-sim-hiat nya dan menyusup kedalam badan lalu menerjang kearah urat-urat penting ditubuh lainnya, sekali demi sekali terus menerus menerjang kedalam berulang kali, perlahan-lahan hawa murni yang tersebar luas dalam tubuh Dewi burung hong pun dapat berkumpul kembali.
Meskipun Dewi burung adalah seorang gadis bersifat keras kepala, akan tetapi bagaimana pun juga dia masih-tetap merupakan seorang wanita, setelah berulang kali mendapat penghinaan dari Gak In Ling lalu disergap pula orang lain secara diam-diam, setelah hatinya dapat tenang kembali dara cantik itu tak dapat menahan air matanya lalu sambil jatuhkan diri kedalam dekapan Gak In Ling ia menangis tersedu-sedu.
Buru-buru Gak In Ling menghentikan penyaluran hawa murninya dan berkata dengan suara ringan-"Nona, cepatlah atur hawa murnimu, aku akan membantu dirimu dari samping "
"Hmm Siapa yang sudi menerima bantuan mu,"
Seru Dewi burung Hong dengan hati mendongkol.
Tetapi ia tidak meninggalkan diri dari dekapan Gak In Ling, tubuhnya tetap bersandar dalam pelukan si anak muda itu.
Gak In Ling menghela napas panjang dengan suara berat, katanya.
"Aaaii Nona, bagaimanapun juga engkau harus memperkokoh perasaan hatimu, kalau tidak bukankah engkau tak dapat membalas dendam atas sakit hati yang kau terima hari ini?"
"Kalau mati ya sudahlah, kenapa engkau mesti ikut campur ?"
Seru Dewi burung Hong dengan hati terjelos.
"Baiklah "
Akhirnya dengan suara apa boleh buat Gak In Ling berseru,"
Aku akan berusaha dengan sepenuh tenaga."
Habis berkata ia tarik napas panjang, kemudian salurkan segenap kekuatan hawa muminya kedalam tubuh Dewi burung Horg melewati jalan darah Pay-sim-hiat diatas punggungnya.
Meskipun diluaran Dewi burung Hong mengatakan tidak mau, tetapi ia takut kalau Gak In Ling benar kehilangan banyak tenaga, diam-diam hawa murninya segera dihimpun untuk mengobati luka dalam yang diderita olehnya.
Waktu berlalu dalam keheningan dan kesunyian, sepertanak nasi lewat tanpa terasa, keadaan dari Gak In Ling justru berlawanan dengan keadaan dari Dewi burung Hong.
Kalau wajah Gak In Ling dari merah padam berubah menjadi pucat pias, maka wajah gadis tersebut dari pucat pias berubah menjadi merah dadu.
Perlahan-lahan Dewi burung Hong membuka matanya yang jeli dan memandang sekejap ke arah Gak In Ling yang sedang duduk mengatur pernapasan dengan penuh perasaan kasihan, dengan manja dan lembut ia menyandarkan diri didalam pelukan Gak In Ling, tubuhnya sedikitpun tak berani bergerak seakan-akan seekor domba yang jinak.
Akhirnya Gak In Ling membuka sepasang matanya, dengan suara berat ia berkata.
"sekarang, bagaimana perasaan nona ?"
Dewi burung hing menempelkan wajahnya diatas bahu Gak In Ling, lalu menjawab dengan lembut.
"Luka dalamku telah sembuh, pundakmu pasti amat sakit bukan ?"
Sambil berkata dengan jari tangannya yang halus dia membersihkan noda darah yang mengotori pundak pemuda itu. Gak In Ling tertawa tawa, ia menjawab.
"Tidak apa-apa, racun apa sih yang telah bersarang ditubuhmu ?"
Air muka Dewi hong berubah hebat, dengan suara berat dia menjawab.
"Kelabang bersayap emas, mereka menerobos keluar lewat celah-celah batu cadas tersebut, pada saat itu aku sedang menyandar diatas situ"
Sambil berkata ia tuding sebuah celah batu di belakang tubuhnya.
Gak ln Ling segera menyapu sekejap kearah belakang, dengan cepat hatinya merasa terperanjat, pada saat itu tampaklah diatas tanah bergerak seekor kelabang bersayap emas berkepala merah yang besar sekali, dengan kakinya yang berjumlah ratusan binatang itu sedang merayap menjauh.
Dengan perasaan tidak tenang Gak In Ling segera berseru.
"Lalu... ba bagaimana baiknya ??"
"Apakah engkau mempunyai obat pemunah untuk menawarkan racun kelabang itu?"
Perlahan-lahan Dewi burung hong memeluk anak muda itu erat-erat, kemudian menggeleng.
"Tidak ada, cuma selama berada disampingmu aku tidak akan merasa takut..."
"Tapi aku juga tidak memiliki obat untuk memunahkan racun tersebut ..."
Seru Gak In Ling dengan gelisah. Tiba-tiba Dewi burung hong angkat kepala dan menatap wajah Gak ln Ling, serunya.
"Aku tidak takut mati, karena..."
"Akhirnya kita akan dapatkan juga obat pemunah tersebut "
Sambung sang pemuda dengan cepat. Dewi burung hong tertawa merdu.
"Kenapa engkau akan cari obat pemunah tersebut? cintakah engkau kepadaku?"
Mendadak serentetan suara teguran yang keras bagaikan guntur berkumandang keluar dari dalam gua.
"ciiitt Ciiitt melulu kalian sedang meributkan apa sih ??"
Ketika mendengar teguran tersebut, dua orang itu merasa terperanjat, mereka tak pernah mengira kalau didalam gua batu ternyata masih ada orang lain yang berdiam disitu.
Dengan cepat kedua pemuda-pemudi itu putar badan dan berpaling kearah mana berasalnya suara itu, tetapi dengan cepat mereka dibikin terperanjat, pikirnya.
"Aaaah Sungguh tak kusangka kalau dikolong langit terdapat seorang manusia yang begitu tinggi "
Tampaklah dari balik gua batu yang tingginya satu tombak, ketika itu tampaklah seorang manusia raksasa dengan badan dibongkokkan sedang berjalan keluar, karena orang itu sedang membungkukkan badan maka sukar untuk menilai seberapakah badannya yang sebenarnya.
Tampaklah orang itu berkaki telanjang, telapak kakinya mencapai dua tiga depa besarnya, pada pinggangnya terikat selapis kulit macan kumbang, kakinya besar seperti dahan pohon, sepasang tangannya yang terkulai kebawah panjang sekali sehingga hampir menyentuh tanah.
Kulit badan orang ini berwarna hijau tembaga, ototnya pada menonjol keluar semua, sekilas memandang dapat diketahui bahwa orang ini memiliki tenaga raksasa yang luar biasa dahsyatnya, akan tetapi yang aneh ternyata paras mukanya berwarna merah padam bagaikan darah, alis yang tebal berdiri lurus bagaikan kawat, matanya besar bagaikan lampu sorot dan memancarkan sinar tajam, hidung besar mulut lebar dengan rambut panjang terurai sepundak.
potongan badannya bengis dan mengerikan sekali.
Perlahan-lahan Gak In Ling mendorong tubuh Dewi burung hong kesamping kemudian bangun berdiri, katanya.
"Apakah engkau penjaga dari gua batu ini?"
"Sedikitpun tidak salah, mau apa kalian datang kemari ?"
Teriak raksasa bermuka merah dengan suaranya yang keras 595 bagaikan guntur. Satu ingatan segera berkelebat lewat dalam benak Gak In Ling, tiba-tiba ujarnya sambil tertawa.
"Adikku terpagut kelabang bersayapmu, aku datang untuk mencari obat pemunahnya, mungkin dalam gua ini terdapat obat pemunahnya ?"
Dewi burung hong merasa amat girang ketika mendengar Gak In Ling membahasakan dirinya sebagai "adik,"
Perasaan semacam ini belum pernah dialami oleh gembong iblis pembunuh manusia tak berkedip ini sebelumnya.
Raksasa bermuka merah itu tidak tahu kalau Gak In Ling sedang membohongi dirinya, ia segera berhenti berjalan dan melototkan sepasang matanya yang besar bulat-bulat, teriaknya.
"oooohh Jadi engkau juga tahu kalau di dalam gua ini terdapat seekor ular berjengger ?"
Gak In Ling tidak kenal apakah "ular berjengger"
Itu, tetapi dia tahu bahwa ular tersebut pasti dapat memunahkan racun keji dari kelabang bersayap emas, dalam hati segera pikirnya.
"orang ini tidak terlalu cerdik, apa salahnya kalau kupancing keterangannya lewat pembicaraan orang ini, mungkin saja dapat kuketahui benarkah ular berjengger itu dapat memunahkan racun keji atau tidak."
Setelah ambil keputusan, ia segera berkata.
"Ular berjengger adalah benda yang paling mustajab untuk memunahkan pelbagai macam racun dikolong langit, tentu saja akupun mengetahui akan manfaat ular tersebut."
Raksasa bermuka merah itu menjadi terperanjat sekali, serunya kemudian dengan cepat.
"Bajingan cilik, jadi engkau pun berhasrat untuk mendapatkan ular mustika tersebut ? dengan susah payah aku telah berjaga selama tiga tahun ditempat ini, dengan susah payah pula berhasil kutemukan pintu masuknya, sekarang 596 datang-datang engkau hendak cari keuntungan-Huuuh Tindakkanmu ini benar-benar terlalu memandang rendah aku Hiat-bin Kim-kong malaikat raksasa berwajah merah."
Habis berkata dengan wajah penuh kegusaran ia berjalan maju kearah depan-Pada saat itu Dewi burung hong keracunan hebat dan tubuhnya tak dapat berkutik, melihat kejadian itu segera teriaknya.
"Engkoh Ling, jangan biarkan dia keluar"
Panggilan "engko Ling"
Tersebut diutarakan begitu biasa dan luwes, sedikit pun tidak nampak seperti dipaksakan-Rupanya Gak In Ling pun mempunyai jalan pikiran yang sama dengan gadis tersebut, dengan cepat ia membentak keras.
"Berhenti "
Kalau engkau berani maju setindak lagi kedepan, jangan salahkan kalau aku tidak akan berlaku sungkan-sungkan lagi terhadap dirimu."
Sambil berkata hawa murni yang dimilikinya segera dihimpun kedalam telapak siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan-Hiat-bin Kim-kong Malaikat raksasa berwajah merah sangat mengandalkan otot kawat tulang besi yang dimilikinya, dengan kekebalan tubuhnya pukulan dan bacokan senjata tak mempan bagi dirinya, tentu saja terhadap diri Gak in Ling ia tak pandang sebelah matapun.
Mendengar ancaman ia segera tertawa lebar dan berkata.
"Haaaahh haaaaahh........ haaaahh., setan cilik, kalau engkau merasa punya kepandaian, silahkan saja coba menghantam tubuhku "
Dengan tanpa memperdulikan ancaman lawan, dengan langkah lebar dia berjalan keluar dari gua tersebut. Gak In Ling yang menyaksikan kejadian itu menjadi gelisah sekali, ia segera membentak nyaring.
"Hmm Rupanya engkau cari mampus, lihat serangan "
Dengan jurus Tui-jong-wong-gwee atau mendorong jendela melihat rembulan, sebuah pukulan segera dilepaskan kedalam gua.
Angin pukulan dengan cepat menerobos masuk kedalam gua, berhubung gua itu terlindung oleh dinding yang kuat maka angin serangan menggumpal menjadi satu tanpa buyar, karena itulah kendatipun Gak In Ling hanya menggunakan tenaga murni sebesar enam bagian, namun daya penghancurnya benar-benar mengerikan hati.
Hiat-bin Kim-hong malaikat raksasa berwajah merah segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaaahh, haaaahh haaaaahh aku sih tidak akan takut menghadapi pukulan itu."
Sambil berkata ia tetap melanjutkan langkahnya keluar dari gua tersebut, terhadap datangnya ancaman yang sangat hebat itu, orang tadi sedikitpun tidak menggubris atau menunjukkan tanda-tanda hendak melakukan perlawanan.
"Blaaaamm "
Terdengar benturan keras yang memekikkan telinga menggeletar didalam gua tersebut, hancuran batu berhamburan di empat penjuru. Malaikat raksasa berwajah merah tertawa keras, ejeknya.
"ooooh Seranganmu itu memang bertenaga juga."
Gak In Ling segera menengadah keatas, melihat apa yang terjadi, ia merasa amat terperanjat pikirnya.
"Dalam serangan yang kulancarkan barusan kendatipun tidak menggunakan tenaga yang penuh namun sedikit banyak mengandung kekuatan sebesar satu laksa kati, namun ia mampu menahan pukulanku dengan tubuhnya, bukan saja sama sekali tidak terluka bahkan cuma tergetar mundur dua langkah belaka kepandaian ampuh apakah yang dia miliki. ?"
Berpikir sampai disitu, ia tak berani bertindak gegabah, sambil membentak keras tubuhnya segera menerjang maju kedepan, sebuah pukulan yang maha dahsyatpun dilepaskan kearah tubuh raksasa itu.
"coba sambutlah seranganku ini lagi "
Pemuda she Gak itu membentak keras.
Dengan jurus Hiat-yu Seng-hong hujan darah angin amis, pukulan maut tersebut dilepaskan ke muka.
Cahaya merah yang berlapis-lapis seketika mencapai keempat penjuru, tiada desingan tajam tiada hembusan angin puyuh, tapi terdapat selapis hawa tekanan tak berwujud yang menekan di dada lawannya.
"Bluuuumm "
Dentuman keras bergeletar diudara, diikuti terdengarlah Hiat-bin Kim hong Malaikat raksasa berwajah merah berseru tertahan, ketika Gak In Ling angkat kepalanya memandang kedepan maka kali ini tampaklah olehnya bahwa malaikat raksasa berwajah merah terdorong mundur sejauh tujuh delapan depa ke-belakang, sepasang telapaknya yang besar seperti kipas mendekap dadanya kencang-kencang, jelas dalam pukulan tersebut dia telah menderita rasa sakit yang cukup parah.
Rasa terkejut yang dialami Gak In Ling kali inijauh lebih hebat dari keadaan semula, dengan hati terkesiap pikirnya.
"Bagaimana ini ? Kenapa pukulan telapak maut juga tak mampu untuk melukai dirinya?"
Malaikat raksasa berwajah merah melototkan sepasang matanya bulat-bulat, setelah mengawasi Gak In Ling beberapa saat lamanya, ia tak berani maju kedepan lebih jauh.
Mendadak seperti sudah teringat akan sesuatu ujarnya.
"Gua ini terlalu rendah, gerak gerikku tidak leluasa kalau harus bertarung ditempai ini, tetapi asal aku tetap bertahan didalam gua bila kalian membutuhkan benda itu maka silahkan 599 saja masuk kedalam gua dan berkelahi lebih dahulu dengan aku."
Habis berkata tanpa menunggu jawaban lagi dia putar badan dan berjalan masuk kedalam gua, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya telah lenyap dibalik tikungan-Gak In Ling tak pernah menyangka kalau orang kasar seperti malaikat raksasa itu mempunyai kecerdikan untuk bertahan dalam gua tersebut, dengan perasaan apa boleh buat dia segera berpaling kearah Dewi burung hong dan berseru.
"Nona, agaknya terpaksa harus melakukan perjalanan sendiri untuk memasuki gua tersebut."
"Tidak Jangan memasuki gua tersebut."
Teriak Dewi burung hong dengan hati terperanjat.
"aku... aku takut seorang diri berada disini "
Suatu kejadian yang aneh sekali, seorang perempuan iblis yang tidak takut langit tidak takut bumi, ternyata merasa takut untuk berada seorang diri di luar gua.
Gak In Ling segera maju menghampiri gadis itu sambil berkata.
"Kalau begitu, mari kita masuk bersama "
Merah padam selembar wajah Dewi burung hong karena jengah, ia tundukan kepalanya sambil berbisik.
"Aku aku..."
Gak In Ling tahu bahwa gadis tersebut sudah tak dapat berjalan sendiri, ia maju kedepan dan memeluk sang dara tersebut kedalam rangkulannya, kemudian bertanya.
"Bagaimana dengan burung hong ini ?"
Air muka Dewi burung hong berubah semakin merah karena jengah, dengan tersipuh-sipu ia benamkan kepalanya kedalam rangkulan pemuda she Gak itu, serunya dengan manja.
"Dia akan mengikuti dibelakang kita "
Kemudian sambil berpaling kearah burung hong yang bertengger disampingnya, ia berseru.
"Hong-ji, mari ikut kami "
Gak In Ling tidak ragu-ragu lagi, sambil menggendong badan Dewi burung hong berjalanlah mereka memasuki gua, sedangkan burung hong itu benar-benar cerdik, ia pun mengikuti dibelakang tubuhnya.
Suasana dalam gua tersebutjauh lebih gelap dari keadaan diluar, meskipun ilmu silat yang dimiliki kedua orang itu amat sempurna, itupun tak dapat memandang benda yang berada lima tombak dihadapannya, terutama sekali Dewi burung hong yang sedang keracunan hebat dan tak dapat mengerahkan tenaganya, benda apapun tak dapat terlihat olehnya.
Sambil memeluk tubuh Gak In Ling kencang-kencang, ujarnya dengan perasaan tidak tenang.
"Aku tak dapat melihat apa-apa, kau kau tidak akan meninggalkan aku seorang diri bukan ?"
Gak In Ling merasakan suaranya agak gemetar, seakanakan ia telah pulih kembali ifat kegadisannya, tak tahan sambil membelai rambut gadis itu sahutnya.
"Tidak. aku tak akan membiarkan engkau seorang diri, kalau tidak aku pun tak akan membawa serta engkau masuk kedalam gua"
Dewi burung hong menyandarkan kepalanya semakin rapat diatas dada Gak In Ling, ujarnya dengan lembut.
"Engko Ling, aku aku cinta padamu, sejak pertama kali berjumpa dengan engkau, aku selalu merasa tak mampu untuk menguasai diri sendiri, oleh sebab itulah kuhajar dirimu sampai terluka parah, diam-diam aku telah kembali lagi untuk menengok dirimu."
Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Gak In Ling. tanyanya.
"Apakah engkau yang telah menyembuhkan luka dalamku ?"
"Benar, kemudian aku takut engkau merasa kedinginan dibukit Tiang-pekssan, maka kubawa engkau kesitu."
Gak In Ling menjadi sangat terharu mendengar perkataan tersebut, serunya tanpa sadar.
"Mengapa engkau bersikap begitu baik terhadap diriku ?"
Dengan lembut dan halus tangannya membelai punggung gadis tersebut.
"Dahulu aku sendiripun tak tahu mengapa dapat berbuat demikian,"
Jawab Dewi burung hong dengan manja.
"kemudian setelah aku salah melukai dirimu, kemudian menyembuhkan pula lukamu, aku baru menyadari bahwa aku sebenarnya amat menyintai dirimu."
Dengan nada berat Gak In Ling menghela napas panjang.
"Aaaaaii., Engkau telah salah mencintai orang."
Bisiknya .
"Kenapa ? Engkau tidak menyintai diriku?"
Seru gadis tersebut dengan hati kaget, tercengang dan sedih. Gak In Ling berusaha keras untuk menekan perasaan hati sendiri, sahutnya dengan lirih.
"Tidak Lain kali engkau akan memahami dengan sendiri."
"Aku apa yang akan kupahami ?"
Dalam pada itu mereka berdua sudah hampir tiba disebelah tikungan, Gak In Ling segera menjawab.
"Aku hanya ada sisa waktu selama dua bulan saja untuk hidup dikolong langit."
Tiba-tiba pandangan mata mereka menjadi silau, dan tahu-tahu sampailah kedua orang itu didepan pintu sebuah ruang batu yang luar biasa besarnya.
Diatas dinding dalam ruangan tersebut tergantunglah dua biji mutiara sebesar telur bebek.
begitu terang cahaya yang 602 memancar keluar membuat ruangan tersebut menjadi terang benderang bagaikan disiang hari saja.
Baru saja Gak In Ling melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut, terdengarlah Malaikat raksasa bermuka merah berteriak keras.
"Waduuuuhh waduuuuhh........ rupanya engkau memang bernyali besar, berani betul datang kemari."
Dengan cepat Gak In Ling menyapu sekejap seluruh ruang batu tersebut, ia melihat Malaikat raksasa bermuka merah sedang duduk di atas sebuah batu besar yang berhadapan dengan pintu masuk, pada sudut kanan ruangan itu bertumpuklah pelbagai macam barang ya porak poranda tidak karuan, rupanya benda-benda itu baru saja disingkirkan Hiat-bin Kim-kong dari ruang tersebut agar tidak mengganggu gerakannya bila terjadi pertarungan Perlahan-lahan Gak in Ling menurunkan tubuh Dewi burung hong ditepi pintu, baru saja dia akan bangkit berdiri, gadis itu telah menarik tangannya sambil berpesan.
"Engkoh Ling, orang ini mempunyai ilmu weduk yang kebal terhadap pukulan, engkau harus berhati-hati dalam menghadapi dirinya, aku rasa kalau engkau turun tangan terhadap bagian bawah ketiaknya, engkau pasti akan berhasil merobohkan orang itu."
Suaranya penuh perasaan kuatir dan tidak tenang.
"Aku tahu "
Jawab Gak In Ling sambil mengangguk, ia putar badan dan segera maju ke depan-Sementara itu Hiat-bin Kim-hong Malaikat raksasa berwajah merah telah bangkit berdiri, Gak in Ling dapat melihat tinggi badan orang ini mencapai satu tombak lebih lima enam depa, berdiri tegak dihadapannya persis seperti sebuah pagoda baja.
Gak In Ling segera melangkah maju kedepan, serunya.
"Aku tidak sungguh-sungguh ingin mendapatkan Ular mustika tersebut, asal engkau punya obat pemunah dan dapat memunahkan racun kelabang sayap emas yang diderita adikku, aku segera akan berlalu tinggalkan tempat ini."
"Kecuali ular mustika itu, tiada benda lain yang dapat memunahkan racun tersebut,"
Tukas Malaikat raksasa bermuka merah dengan cepat.
"Kalau begitu bagaimana kita bekerja sama untuk membinasakan ular mustika itu, kemudian engkau bagikan sedikit saja ular mustika tersebut buat kami ?"
Malaikat raksasa bermuka merah gelengkan kepalanya.
"Aku sudah tiga tahun larrnnya menunggu disini, tujuannya tidak lain adalah untuk mendapatkan seekor ular yang utuh, sudah tentu aku tidak bersedia untuk membagikan ular itu buat kalian-"
Gak In Ling tidak ingin beradu kekuatan dengan manusia tersebut, sebab dia kuatir bila waktu berlarut terlalu lama maka racun keji yang mengeram dalam tubuh Dewi burung hong akan menyerang kedalam hatinya sehingga jiwa gadis itu tak tertolong lagi.
Akan tetapi sesudah Malaikat raksasa bermuka merah bersikeras menampik tawarannya, pemuda itupun dibuat kehabisan akal, dalam gugup nya dengan air muka berkenyit ia berseru.
"Kalau begitu, terpaksa kita harus adu kekuatan ?"
"Haaaaahh haaaaahh haaaahh . sedikitpun tidak salah,"
Jawab malaikat raksasa bermuka merah sambil tertawa keras.
"hanya ada satu jalan bagimu yakni beradu kekuatan untuk menentukan mati hidup, cuma saja kalau aku yang begini besar mesti menghantam dirimu sama keadaannya seperti orang dewasa menganiaya anak kecil, menurut pendapatku begini saja, bagaimana kalau engkau hantam diriku tiga kali sedang aku akan membalas satu kali saja ?"
Gak In Ling tertawa dingin-"Heeeehh heeeeeehh heeeehh aku tak mau cari keuntungan tersebut, lebih baik kita andalkan kemampuan masing-masing saja..."
"Engkau tak akan mampu mengalahkan diri ku,"
Seru malaikat raksasa bermuka merah sambil maju selangkah kedepan. Gak In Ling takut waktu berlarut-larut lebih jauh, sambil tertawa dingin dia segera berseru.
"Ucapan semacam itu masih terlalu pagi untuk dibicarakan, sambut dahulu sebuah pukulanku ini "
Seraya berkata dengan jurus Hiat-yu Seng-hong atau hujan darah angin amis dia hantam dada raksasa tersebut.
Ketika berada dimulut gua tadi Malaikat raksasa berwajah merah sudah pernah merasakan kurugian besar karena pukulan maut Gak In Ling, sekarang sesudah menyaksikan datangnya serangan membawa cahaya merah, ia tak berani bertindak gegabah, buru-buru badannya berkelit kesamping iaiu melancarkan sebuah tendangan kilat kearah si anak muda itu.
Jangan dilihat perawakan tubuhnya yang tinggi besar dan ketoloi-toloian, ternyata ketika melancarkan serangan gerakan tubuhnya cepat sekali bagaikan sambaran kilat, tendangan yang di lancarkan itu hampir boleh dibilang dilakukan dalam waktu yang bersamaan-Gak In Ling sendiripun mengetahui kecuali angin pukulannya bersarang dibalik pada sasarannya, tiada kegunaan besar yang dapat diperoleh dirinya, maka ketika melihat pemuda itu berkelit dari datangnya ancaman, buru-buru dia buyarkan serangan dan berganti gerakan, denganjurus Tiat hiat-tiang-shiat atau darah berceceran 605 ditembok besar secepat kilat ia bacok kaki Malaikat raksasa bermuka merah yang menyerang datang.
Mimpipun Malaikat raksasa tak pernah menyangka kalau Gak In Ling bisa merubah serangan ditengah jalan dengan begitu cepat, untuk berkelit sudah tak sempat lagi..
Blaaamm Telapak kakinya sudah termakan oleh pukulan tersebut dengan telak.
"Aduuuuhh "
Malaikat raksasa itu menjerit kesakitan, dengan cepat badannya mundur tiga langkah kebelakang, namun kaki tersebut masih tetap utuh seperti sedia kala.
Gak In Ling sendiri, ketika serangannya berhasil menghajar kaki Malaikat raksasa bermuka merah, ia merasakan tangannya seakan-akan sedang menghantam sebuah baja yang sangat kuat telapaknya terasa panas, linu dan sakit sekali, hatinya menjadi terkesiap.
pikirnya.
"Kepandaian yang dilatih orang ini pasti bukan ilmu weduk biasa yang kebal terhadap pukulan, sebab betapa sempurnanya seseorang berlatih ilmu weduk tak mungkin dia mampu untuk menahan pukulanku ini "
Malaikat raksasa berwajah merah sendiripun merasa luar biasa terperanjatnya, diam-diam ia berpikir.
"Usia bocah itu masih muda, kenapa setiap pukulan yang dilancarkan olehnya begitu berat dan mantap ?"
Diam-diam Gak In Ling menghimpun tenaganya, tiba-tiba sambil membentak keras tubuhnya melayang ketengah udara dan menyerang sepasang mata malaikat raksasa.
Tindakan ini dengan tepat mengancam tempat paling lemah dari Malaikat raksasa bermuka merah, membuat jago luar biasa itu cepat-cepat tundukkan kepalanya dengan ketakutan, dengan begitu ia sambut datangnya serangan tersebut sementara sepasang tangannya diangkat dan secara ngawur didorong kedepan.
Satu ingatan berkelebat dalam benak Gak In Ling, pikirnya.
"Aku tidak percaya kalau kepalamujauh lebih keras daripada kakimu "
Hawa murninya segera disalurkan kedalam telapak dan sekuat tenaga dihantamkan keatas kepala Malaikat raksasa.
Dalam pada itu sepasang telapak Malaikat raksasa bermuka merah yang didorong kemuka pun sudah berada didepan sasarannya.
"Blaaamm..."
Benturan keras menggeletar diangkasa diikuti dua kali benturan lain saling susul-menyusul.
Termakan oleh pukulan dari Gak In Ling yang sangat kuat itu, tubuh Malaikat raksasa bermuka merah tergeser mundur tujuh langkah kebelakang, punggungnya menumbuk diatas dinding batu sehingga menimbulkan benturan dahsyat, orang itu seketika merasakan kepalanya pening-dan pandangan matanya berkunang-kunang .
Gak In Ling sendiri pun terdorong sejauh empat lima tombak sehingga menumbuk diatas dinding batu setelah termakan dorongan dari Malaikat raksasa, ia rasakan darah dalam tubuhnya bergolak keras, punggungnya terasa sakit dan kaku.
-oo0dw0oo-
Jilid 18 DALAM bentrokan kali ini, boleh dibilang kedua orang itu sama-sama seimbang dan tidak mendapatkan keuntungan apa-apa.
Malaikat raksasa bermuka merah gelengkan, kepalanya berulang knii, sambil menatap wajah Gak In Ling bentaknya keras-keras.
"Bangsat cilik, aku kuliti badanmu "
Sepuluh jari tangannya bagaikan cakar setan direntangkan lebar-lebar, dengan cepat tubuhnya menerkam kedepan dan menghajar tubuh Gak In Ling satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak si anak muda itu, ia sama sekali tidak berkelit maupun menghindarkan diri, tindakan nekad itu tentu saja mengejutkan hati Dewi burung hong teriaknya setengah menjerit.
"Aaaah engkoLing..."
Malaikat raksasa bermuka merah memiliki perawakan badan yang tinggi dengan kaki yang panjang, sekali berkelebat ia sudah sudah tiba di hadapan Gak in Ling, kesepuluh jari tangannya laksana kilat ditusukkan ke arah dada si anak muda itu..
Tampaklah ujung jari lawan sudah menyentuh pakaian dibagian dada Gak in Ling, mendadak...
pemuda itu membentak keras, tubuhnya berguling kesebelah kanan, kaki kanannya menginjak dinding tebing dan tubuhnya seperti anak panah yang terlepas dari busurnya segera meluncur kedepan-Kraaaakk Sepuluh jari tangan Malaikat raksasa bermuka merah menancap semua diatas dinding batu, menggetarkan seluruh ruangan itu sehingga bergoncang keras, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan tersebut.
Dengan gesit Gak In Ling meloncat kebelakang punggung Malaikat raksasa bermuka merah, telapak tangannya diayun dan segera menghajar bawah ketiak raksasa tersebut.
"Plaaakk "
Pukulan itu bersarang telak di bawah ketiak^ Malaikat raksasa bermuka merah menjerit kesakitan, rupanya bagian situ memang merupakan tempat yang agak lemah bagi dirinya.
Pertarungan antara malaikat raksasa bermuka merah dengan Gak In Ling berlangsung belum lama, akan tetapi orang itu sudah tiga kali menderita kerugian besar, kejadian ini segera mengobarkan sifat ganasnya, dia meraung penuh kegusaran, jeritnya.
"Bangsat cilik Aku telan dirimu bulat-bulat "
Lengan raksasanya diayun, dan ia mulai melancarkan serangan secara bertubi-tubi kearah Gak In Ling.
Pemuda itu menjadi girang sekali melihat lawannya menyerang dengan menggunakan sepasang telapak, karena dengan demikian ia akan mendapat banyak kesempatan untuk menyerang kebawah ketiaknya.
Sekarang si anak muda itu sudah tahu, menyerang tubuh bagian lain dari Malaikat raksasa bermuka merah hanya membuang tenaga dengan percuma saja, karena itu ia merubah siasat bertempurnya dan melancarkan serangan dengan cara bergerilya.
Dalam waktu singkat tampaklah Malaikat raksasa bermuka merah bagaikan burung elang yang menerkam ayam kecil, sepanjang tangan raksasanya menyambar kian kemari dalam ruangan tersebut, sedangkan Gak in Ling pun ikut berputar kesana kemari mengikuti gerakan lawan-Sambil berputar terus, sorot matanya yang tajam mengincar terus bawah ketiak Malaikat raksasa, bila ada kesempatan ia segera melancarkan serangan secepat kilat.
Rupanya bagian bawah ketiak benar-benar merupakan tempat berbahaya dari Malaikat raksasa, oleh karena itu dia selalu menjaga serta mempertahankannya secara ketat dan rapat, sedikitpun ia tak ingin menunjukkan kelemahan tersebut kepada lawannya.
Waktu berlalu dengan cepatnya, satu jam lewat tanpa terasa namun keadaan medan pertempuran masih tetap seperti sedia kala, sedikit pun tiada perubahan.
Keringat mulai mengucur keluar membasahi seluruh wajah Gak In Ling la tidak lelah hanya hatinya merasa gelisah, karena keadaan luka yang diderita Dewi burung hong tidak mengijinkan dirinya untuk mengulur waktu lebih jauh.
Untuk Malaikat raksasa bermuka merahpun sudah terbakar oleh emosi karena sekian lama belum berhasil juga untuk merobohkan lawannya, ia mulai menubruk, mencengkram dan mencakar dengan ngawur tanpa memperdulikan keadaan apa pun.
Tiba-tiba Malaikat raksasa bermuka merah angkat lengan kanannya dan mencengkram kearah muka Gak In Ling secepat kilat, bagian bawah ketiaknya segera terbuka lebar.
Inilah kesempatan yang sangat baik, tentu saja Gak In Ling tak mensia-siakan kesempatan itu dengan begitu saja, bentaknya.
"Lihat serangan "
Dengan gerakan Tiang-hong-hui-liong atau angin deras, terbangkan naga, secepat kilat ia serang bagian bawah ketiak Malaikat raksasa bermuka merah segera pulih kembali, buru-buru ia gunakan jurus Kim-liong-tam-jiau atau naga emas unjuk cakar mencengkram tubuh pemuda, lawannya.
Dalam keadaan demikian, bilamana Gak In Ling tidak mundur maka sekalipun ia dapat merobohkan Malaikat raksasa bermuka merah namun dia sendiri pun pasti akan menderita luka.
Dengan cepat Gak In Ling memutar otak akhirnya ia mengambil keputusan, bentaknya.
"Aku akan mengadu jiwa dengan dirimu "
Tangan kanannya sama sekali tidak membuyarkan serangan, sebaliknya malah makin menyongsong kedepan.
"Aaaah Engko Ling, jangan-.."
Terdengar Dewi burung hong menjerit kaget.
Tapi terlambat dua jeritan kesakitan bergema memecahkan kesunyian yang mencekam ruangan tersebut.
Ditengah jeritan tersebut bergema pula suara ledakan keras yang menggetarkan seluruh permukaan, menggoncangkan dinding gua tersebut.
Beberapa saat kemudian suasana pulih kembali dalam keheningan dan kesunyian, tidak terdengar dentuman keras lagi, tidak terdengar deruan nafas atau suara rintihan, suasana begitu sepi sehingga mendatangkan perasaan ngeri bagi siapapun.
Dewi burung hong sendiri sebagai seorang perempuan ampuh yang sudah berpengalaman dalam menghadapi mara bahaya, telah dibuat tertegun dan termangu-mangu oleh kejadian tersebut saking kagetnya, mungkin punahnya kepandaian silat yang dimilikinya itulah yang telah pulihkan pula sifat-sifat kewanitaannya.
Dia, dengan sepasang mata yang kaget, ngeri dan tidak tenang mengawasi sesosok bayangan manusia yang menggeletak diatas tanah, orang itu bukan lain adalah Gak In Ling pemuda pujaan hatinya.
Pada saat itu pemuda tersebut berada dalam keadaan yang mengenaskan, wajahnya pucat pasi, bibirnya hijau kebiru-biruan, darah segar mengucur keluar menodai tubuhnya.
Beberapa waktu kemudian, pemuda itu tarik napas panjang-panjang kemudian merangkak bangun dari atas tanah dengan gerakan yang sangat lambat seakan-akan seorang kakek tua yang sudah berusia sembilan puluh tahunan lebih.
Perbuatannya pertama setelah bangkit berdiri adalah memeriksa keadaan lawannya, senyum hambar tersinggung diujung bibirnya, kemenangan yang harus direbutkan olehnya pada saat ini harus dibayar sangat mahal.
Malaikat raksasa bermuka merah sudah kehilangan kebengisannya, ia roboh terkapar diatas tanah dengan badan yang lemas dan kuyu, ibaratnya seekor babi yang sudah mati, tangan kirinya menekan dibawah ketiak kanannya, jelas tempat itulah yang membuat ia roboh.
Mendadak terdengar suara teguran yang manis dan penuh perasaan kuatir bergema memecahkan kesunyian-"Engkoh Ling, apakah engkau terluka ?"
Gak In Ling tertegun, sekarang ia baru teringat bahwa ditempat itu masih ada pihak ketiga, tetapi ingatan lain dengan cepat berkelebat pula didalam benaknya, diam-diam ia berpikir.
"Apakah aku menderita luka atau tidak.
masa engkau tak dapat melihatnya sendiri ?
Bukankah itu berani sudah tahu pura-pura bertanya ?
Kalau engkau masih mempunyai sedikit rasa persahabatan, sepantasnya kalau datang kemari untuk menengok diriku, jelas berhubung engkau sudah menderita luka maka engkau hendak menggunakan diriku untuk menyelamatkan jiwamu."
Makin dipikir ia merasa jalan pikirannya itu masuk akal, dengan suara dingin segera jawabnya.
"Aku rasa tidak akan sampai mampus di-sini."
Habis berkata ia lantas duduk kembali diatas tanah. Tertegun hati Dewi burung hong mendengar jawaban tersebut, segera pikirnya didalam hati.
"Rupanya dia marah kepadaku, tetapi kenapa ? Aaaaii mungkin dia masih belum tahu kalau aku sudah tak dapat bergerak lagi, tetapi bagaimana caranya kuterangkan persoalan ini ?"
Dengan wataknya yang keras kepala dan tinggi hati, sudah tentu gadis cantik ini tidak bersedia menunjukkan kelemahan di hadapan orang lain, kendatipun orang yang berada 612 dihadapannya adalah Gak In Ling, pemuda pujaan hatinya yang ia cintainya secara diam-diam.
Dengan sorot mata memancarkan cahaya penuh memohon, ia tatap wajah Gak In Ling, tanyanya.
"Engko Ling, apakah engkau membawa obat mujarab untuk menyembunkan luka dalammu ?"
"Aku tidak membawa obat mujarab untuk menyembuhkan luka dalam,"
Sahut sang pemuda sambil tertawa dingin.
"Lalu bagaimana sekarang ??"
Gak In Ling menjadi semakin gusar, setelah tertegun sebentar pikirnya didalam hati.
"Dugaanku ternyata sedikitpun tidak salah ia sedang menguatirkan diri sendiri."
Berpikir sampai disitu, ia lantas tertawa dingin dan berseru..
"Aku rasa tidak selang beberapa saat kemudian, aku sudah dapat menangkapkan ular ber-jengger itu untuk memunahkan racun yang mengeram dalam tubuh nona "
Selesai berkata ia segera pejamkan matanya dan mulai mengatur pernapasan untuk menyembuhkan luka dalam yang diderita olehnya.
Dewi burung hong adalah seorang perempuan yang berotak cerdas, pendengaran perkataan tersebut sudah tentu ia dapat menangkap arti lain daripada kata-katanya itu, air mukanya kontan berubah hebat, dua titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya, akan tetapi ia sama sekali tidak membenci Gak In Ling, bukankah begitu ?
Ketika untuk pertama kali mereka bertemu muka.
bukankah ia pernah bermaksud untuk membinasakan dirinya ?
Meskipun tidak sungguhan terjadi, namun hanya hati kecilnya yang memahami apa yang sebetulnya telah terjadi.
Dia menghela napas sedih, lalu berkata dengan suara lembut.
"Engko Ling, dalam sakumu terdapat obat pemunah itu, maukah engkau datang kemari untuk mengambilnya ?"
"Terima kasih atas maksud baik nona, tak usah "
Jawab sang pemuda ketus.
Ia sudah merasakan pergolakan hawa darah dalam isi perutnya jauh lebih tenang dari keadaan semula, jelas pukulan yang dilancarkan Malaikat raksasa bermuka merah terhadap dirinya tidaklah terlalu berat.
Dewi burung hong kembali menghela napas panjang, dalam hati ia menjerit karena pedih.
"Sudah sudah sudahlah... perduli amat, bagaimanakah pandangannya kepadaku -untuk dikemudian hari, terpaksa aku harus berbuat begitu."
Setelah berpikir sebentar, ia lantas berseru dengan suara merdu.
"Hong-ji, kemarilah"
Sementara itu Gak In Ling sedang pusatkan pikirannya untuk mengatur pernapasan, ketika secara tiba-tiba telinganya mendengar suara gesekan gemerisik yang memekikkan telinga menggema diangkasa, ia menjadi sangat terperanjat, pikirnya.
"Jangan-jangan makhluk tersebut telah merambat keluar ?"
Dengan cepat ia tutup pernapasan dan membuka mata, ketika berpaling kearah mana berasal nya suara itu, hatinya segera merasa menyesal bercampur malu.
Tampaklah burung hong raksasa itu dengan paruhnya yang berwarna emas sedang menarik ujung baju Dewi burung hong dan menyeretnya kearah dia berada, dari hal tersebut dapat diketahui bahwa keempat anggota badan Dewi burung hong sudah kaku terserang racun dan tak bisa berkutik lagi.
Gak In Ling tidak memperdulikan apakah ia sedang mengatur pernapasan atau tidak lagi, ia loncat bangun dan lari menghampiri gadis tersebut, dengan sangat terharu 614 digenggamnya tangan Dewi burung hong lalu sambil menggoncangkan tubuhnya ia berseru.
"Kenapa engkau ? Racun telah menyerang keempat anggota badanmu ? Aaaaii dingin amat tanganmu."
Burung hong raksasa berbulu warna-warni itu melototkan sepasang matanya dan menatap tajam diri Gak In Ling, sepasang kakinya menekuk kedepan, rupanya asal pemuda itu menaruh maksud yang tidak menguntungkan bagi majikannya, maka dia akan segera melancarkan serangan-Dewi burung hong tundukkan kepalanya rendah-rendah, dua baris air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya, akan tetapi dia tidak mengakui juga tidak menyangkal, hanya dengan hati gelisah serunya.
"Dalam sakuku terdapat obat mujarab untuk menyembuhkan luka dalammu, cepat ambil dan makanlah "
"Tidak usah,"
Jawab Gak In Ling dengan sorot mata berkilat,"
Sekarang luka yang kuderita tidak terlalu parah, sedang engkau racun keji telah menyusup kedalam keempat anggota badanmu, aku tidak dapat menunda-nunda lagi."
Habis berkata ia genggam tangan Dewi burung hong yang dingin kencang-kencang, lalu berjalan meninggaikan tempat itu.
"Jangan pergi,"
Seru Dewi burung hong dengan gelisah.
"aku masih dapat bertahan beberapa saat lagi, lebih baik sembuhkan dahulu luka dalam yang kau derita "
Gak In Ling sana sekali tidak menggubris teriakan Dewi burung hong, sepasang matanya dengan tajam mengawasi sekeliling tempat itu, akan tetapi empat penjuru hanya ada dinding ruangan belaka sedikitpun tidak ada tanda-tanda lain, ini membuat hatinya menjadi sangat gelisah.
Tiba-tiba sinar mata Gak In Ling berhenti diatas tonjolan batu yang semula diduduki oleh Malaikat raksasa bermuka 615 merah, tampaklah batu itu ada separuh bagian tertanam didalam tanah, jelas bukan dipindahkan dari luar, sedangkan dalam gua tersebut hanya tonjolan batu itu saja yang ada hubungannya dengan gua batu itu, penemuan tersebut segera menggerakkan hatinya, ia bergumam seorang diri.
"Jangan-jangan kunci dari semua rahasia ini terletak diatas batu tonjolan itu ??"
Tanpa berpikir panjang lagi, ia segera berjalan mendekati tonjolan batu tadi. Dewi burung yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat, segera teriaknya.
"Engkoh Ling, aku mohon kepadamu cepatlah telan obat penyembuh luka lebih dahulu sebelum membuka batu tonjolan itu "
Nada ucapannya penuh mengandung rasa ngeri, takut, sedih dan perasaan tidak tenang.
Mendengar teriakan itu, Gak In Ling semakin percaya bahwa apa yang diduganya semula sedikitpun tidak salah, ia segera tekan tonjolan batu itu dan tanpa berpaling serunya.
"Engkau tak usah takut, cepat salurkan hawa murni untuk melindungi jantung, jangan biarkan sari racun menyerang kedalam jantungmu."
Habis berkata ia coba memutar tonjolan batu itu kekanan, tetapi tidak berhasil memutarnya diikuti diapun berputar ke kiri namun tetap tidak bergeming barang sedikitpun juga.
Ketika Dewi burung bong menyaksikan Gak In Ling begitu menaruh perhatian terhadap dirinya, dalam hati gadis tersebut merasa girang dan terhibur, dengan suara manja segera pintanya.
"Asal engkau dapat menyembuhkan luka dalam yang kau derita, itu sudah lebih dari cukup, engkau tak usah mengkhawatirkan diriku, aku masih bisa bertahan agak lama."
"Bagus sekali "
Pikir Gak In Ling didalam hati,"
Ternyata engkau si dayang cilik pandai juga membohongi orang ?"
Segera serunya.
"Engkau tak usah mengkhawatirkan diriku lagi, buang waktu dengan percuma sama sekali tak ada gunanya."
Selesai berkata dengan sekuat tenaga ia tekan batu itu ke bawah.
Mendadak terdengar suara gemerincing yang amat nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, batu itu perlahan-lahan tenggelam ke-bawah sedangkan dari atas dinding tembok pun berbunyi gemericit.
Mendengar suara tersebut, Gak In Ling menjadi sangat kegirangan, teriaknya dengan cepat.
"Haaaaahh,....... haaaaahh haaaahh kali ini aku berhasil menemukan rahasia tersebut"
Hawa murninya disalurkan kedalam lengan dan sekuat tenaga ditekan ke arah bawah....
Kraaakk Tonjolan batu itu tenggelam seluruhnya kebawah dan rata dengan permukaan tanah.
Tonjolan batu itu bukan lain adalah kunci yang mengendalikan buka tutupnya pintu rahasia, sesudah batu tonjolan tadi tenggelam kedasar tanah, suara gemericing yang menggema diangkasapun semakin nyaring, diikuti "Blaaamm "
Dari atas dinding sebelah depan muncullah sebuah pintu gua yang lebarnya mencapai empat lima depa.
Bau amis dan lembab berhembus keluar dari dalam gua, begitu busuk baunya sehingga membikin perut orang menjadi mual dan ingin muntah rasanya.
Tanpa sadar Gak lu Ling mundur dua langkah ke belakang, ketika, ia memandang kearah depan maka terlihatlah gua tersebut gelap gulita, kedua belah samping dinding gua telah ditumbuhi lumut hijau, berjuta-juta ekor binatang kecil yang tak diketahui namanya merambat diseluruh dinding gua itu, dasar gua jauh lebih rendah daripada permukaan tanah sebelah depan, bahkan secara lapat-lapat seperti terlapis oleh air.
Lama sekali Gak In Ling mengawasi gua batu itu, hatinya merasa ragu-ragu dan sangsi, sekarang ia baru mengerti kenapa Malaikat raksasa bermuka merah sudah begitu lama berjaga-jaga didalam gua tersebut dan apa sebab selama ini tak berani masuk kedalam gua, rupanya suasana demikian memang gampang sekali mendapat sergapan sehingga terluka.
Dalam hati Dewi burung hong merasa takut sekali, dengan suara memohon serunya.
"Engkoh Ling, jangan pergi aku takut"
"Kalau aku tidak masuk kedalam, racun yang mengeram didalam tubuhmu akan disembuhkan dengan apa ?"
"Aku tak mau disembuhkan-"
Jawab Dewi burung hong tanpa berpikir panjang lagi,"
Engkoh Ling, kemarilah, Maukah engkau peluk tubuhku? Aku rela mati dengan hati tenang dalam pelukanmu."
Gak In Ling menghela napas panjang-panjang.
"Aaaaii dahulu, mungkin aku dapat berbuat demikian, dan sekarang aku tak bisa berbuat begitu "
"Kenapa??"
"Sebab engkau tidak jahat, hatimu sebenarnya tidak sesat dan engkaupun tidak kejam,"
Jawab Gak In Ling sambil mempertimbangkan bagai mana caranya memasuki gua tersebut.
"Andaikata aku sesat dan jahat ?"
Pada waktu itu Gak In Ling sudah berhasil menemukan cara untuk memasuki gua tersebut, ia segera pejamkan matanya untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan dan kemudian menjawab.
"Itu hanya pura-pura saja untuk diperlihatkan kepadaku, dalam kenyataan engkau bukanlah manusia seperti itu."
Tiba-tiba ia enjotkan badan dan meluncur masuk kedalam gua. Dewi burung hong menjadi ketakutan setengah mati sehingga berseru tertahan, teriaknya.
"Oooohh "
Thiaa yang maha kuasa, Thian yang maha agung, dahulu aku tidak percaya akan kekuasaan Mu, akan tetapi sekarang aku telah percaya, aku mohon kepadamu sudilah kiranya melindungi keselamatan engkoh Ling sehingga dapat keluar dari gua dalam keadaan selamat, walaupun aku harus mati akibat keracunan hatiku juga rela."
Mengikuti gumam suara doanya, dua baris air mata terjatuh berlinang membasahi pipinya yang pucat pias.
Mungkin, tindak tanduk Gak In Ling yang muncul karena dorongan setia kawan tersebut telah melelehkan hati gembong iblis ini.
Sementara itu Gak In Ling dengan gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat telah meluncur masuk kedalam gua, dengan cepat ia lepaskan topeng setan yang menutupi muka agar gerak geriknya lebih leluasa.
Baru saja dia membuka matanya, tiba-tiba tampaklah segumpal kabut berwarna merah telah muncul dihadapan mukanya, ia menjadi amat terperanjat, buru-buru pernapasannya ditutup dan badannya melayang mundur beberapa tombak kebelakang, kebetulan punggungnya menempel diatas dinding batu yang lembab, ketika sorot 619 matanya menyapu kesekeliling tempat itu, Gak In Ling menjadi amat terperanjat.
Tampaklah gua itu panjangnya tiga puluh tombak dengan lebar dua puluh tombak.
empat penjuru dinding gua penuh ditumbuhi lumut hijau, atap gua pun sama keadaannya, berhubung lumut hijau tumbuh amat tebal maka dari celah-celah lumut hijau tadi terpancarlah serentetan cahaya yang lemah, mungkin dahulunya gua tersebut terang-benderang seperti halnya dengan suasana diluar gua.
Setelah memeriksa sekejap sekeliling tempat itu, dengan cepat Gak In Ling pusatkan kembali perhatiannya ke tengah gua, apa yang dilihatnya membuat pemuda itu menjerit tertahan karena terkesiap.
Terlihatlah seekor ular aneh bertubuh warna hijau keabu-abuan yang besar badannya seperti gentong air sedang angkat kepalanya menatap kearah dirinya, kepala ular aneh itu besar seperti guci arak bentuknya runcing bagaikan sekop.
diatas ujung kepalanya tumbuh gumpalan daging berwarna merah darah seperti jengger ayam, jengger tersebut terbagi menjadi lima cabang yang masing-masing cabang berbentuk seperti gergaji pendek.
Baca Juga: Bakti Pendekar Binal 3
Baca Juga: Elang Terbang Di Dataran Luas 1