Ceritasilat Novel Online

Telapak Setan 5

Eps 5 Telapak Setan - Khu Lung Tjan Id

Baca online Telapak Setan - Khu Lung Tjan Id

Cersil Telapak Setan - Khu Lung Tjan Id.

Gak In Ling tertawa dingin-"Hm, aku bisa muncul disekitar puncak cah-thian-hong ini lantaran sudah terkena tipu muslihat seseorang, dan maksud kedatanganku ke atas puncak inipun bertujuan menolong orang."

Dengan pandangan mata yang sangat tajam penebang kayu tua itu menatap wajah Gak In Ling taupa berkedip. kemudian tegurnya.

"Benarkah kedatanganmu kemari bukan lantaran untuk mencari kitab pusaka telapak maut?"

"Hee hee. hee sekalipun sekarang juga aku berhasil mendapatkan kitab pusaka tersebut, juga sama sekali tak ada waktu untuk mempelajarinya, buat apa aku harus mencari kitab yang sama sekali tak ada gunanya ?"

Seru Gak In Ling sambil tertawa dingin tiada henti-nya.

"Engkau tak ada waktu untuk mempelajarinya ? Kenapa ?"

Tanya penebang kayu itu dengan perasaan tidak mengerti.

"Itu urusan pribadiku seudiri, dan aku tak ingin memberitahukan kepadamu"

Dalam hati kecilnya penebang kayu itu berpiklr.

"Tubuhnya sudah mengidap suatu penyakit akibat keracunan, usianya paling banter hanya bertahan sampai setengah tahun lagi, hm, ia memang tidak bohong, karena waktu selama setengah tahun memang sama sekali tak ada gunanya bagi dia."

Berpikir sampai disini diapun bertanya.

"Engkau mengatakan bahwa dirimu bisa datang kemari karena terkena tipu-muslihat seseorang, siapakah orang itu ?"

"Seorang perempuan muda "

Jawab Gak In Ling dengan airmuka berubah jadi merah-padam.

Penebang kayu itu mempunyai ketajaman mata yang luar biasa, dari perubahan sikap sianak muda itu, dia segera dapat menebak keadaan yang sebenarnya, maka sambil tertawa ujarnya.

"Ilmu silatnya jauh lebih tinggi daripada dirimu, bolehkah aku mengetahui sampai dimanakah taraf kelihayan kepandaian silatnya itu ?"

Sekali lagi air muka Gak In Ling berubah jadi semu merah karena jengah, ia tertawa getir.

"Untuk melawan sepasang kakinya saja aku tak mampu, coba bayangkan saja sampai dimana keampuhan dari ilmu silatnya itu."

Penebang kayu itu jadi sangat terperanjat. Tanpa sadar ia berseru cepat.

"Aaah sungguhkah telah terjadi peristiwa semacam itu? Siapakah namanya dan berapa kah umurnya?"

"Usianya kurang-lebih sebaya dengan usiaku, nama aslinya aku tidak tahu, akan tetapi aku tahu bahwa dia disebut orang sebagai Dewi burung hong indah."

Begitu didengarnya nama perempuan itu, air muka penebang kayu itu berubah sangat hebat.

"Dewi burung hoag indah? Aaah, benar. hanya dialah yang mengetahui kalau aku berdiam ditempat ini, ia mengantar kau datang kemari sama sekali tidak bermaksud jahat, saudara cilik, engkau tak boleh menaruh pandangan salah paham terhadap dirinya."

Tiba-tiba nada ucapannya berubah jadi sungkan sekali Terhadap tingkah laku serta perbuatan dari dewi burung hong indah, boleh dibilang Gak In Ling sudah mempunyai kesan yang jelek.

tentu saja ia tak mau mempercayai kakek tua itu, sambil tertawa dingin ejeknya.

"Haa haa .... haa. ... tiada maksud jelek? Huh, dia hanya akan meminjam tanganmu untuk melenyapkan aku dari muka bumi apakah perbuatan semacam ini merupakan suatu maksud yang tidak jelek ?"

Penebang kayu itu menghela napas panjang.

"Aaai meminjam tanganku untuk melenyapkan engkau ? Kau keliru besar Selamanya perbuatan dari mereka guru dan murid selalu tersendiri dan semua urusan dapat dibereskan dengan kekuatan mereka sendiri, belum pernah mereka minta bantuan orang, apalagi suruh aku ikut mencampuri urusan ini, saudara cilik Engkau terlalu banyak curiga."

Gak In Ling merasa tidak puas, kembali tegurnya.

"Ia telah melakukan sesuatu perbuatan dialas tubuhku, apakah hal inipun tidak benar"

Penebang kayu itupun tertegun, tiba-tiba seakan-akan sudah memahami akan sesuatu, ia tertawa.

"Kemungkinan besar ia memang sedang membohongi dirimu, kalau ia telah melakukan sesuatu diatas badanmu, masa engkau tak akan merasakan sesuatu gejala yang tidak beres ?"

"Setelah ia berlalu aku telah berjumpa kembali dengan serombongan musuh-musuh yang amat tangguh dan hampir saja aku terluka ditangan mereka, perbuatannya terhadap tubuhku mungkin saja tanpa sengaja telah bebas dengan sendirinya setelah jalan darahku ditotok oleh musuh-musuh besarku itu."

Tiba-tiba penebang kayu itu tertawa terbahak-bahak.

"Haa haa.. haa menotok jalan darah dapat membebaskan totokan jalan darah ? Dikolong langit masih belum terdapat kepandaian silat semacam ini,"

Serunya.

"lagi pula aku ingin bertanya kepadamu, kalau memang kau telah ditotok jalan darahmu oleh musuh-musuh besarmu, lalu secara bagaimana sekarang bisa hidup kembali ditempat ini?"

"Tentu saja dialah yang telah mengantarkan aku datang kemari "

"Dan itu berarti pula bahwa musuh-musuh besarmu itu telah dibunuh mati semua oleh dirinya bukan ?"

Sambung penebang sambil tertawa tergelak.

Sampai disitu Gak In Ling tak dapat membantah lagi, kenyataan yang terbentang dihadapannya memang begitu, seandainya orang-orang dari lembah pemutus sukma tidak mati dibunuh semua.

mereka tak mungkin akan bersedia untuk melepaskan dirinya, tetapi kalau dikatakan dewi burung hong indah telah membinasakan orang-orang itu lantaran hendak menyelamatkan jiwanya lalu apa sebabnya ia sampai berbuat demikian ?

Tentu saja ia tidak tahu kalau dewi burung 417 hong indah telah menyembuhkan pula luka dalam yang diderita olehnya.

Segera putar otak berpikir pulang pergi namun tidak berhasil menemukan jawaban yang tepat, tanpa terasa Gak In Ling berpikir "Bagaimanapun juga ia tak mungkin menaruh maksud baik terhadap diriku, buat apa aku harus memikirkan tentang dirinya ?"

Dalam pada itu penebang kayu itu sudah bertanya kembali.

"Saudara cilik, apakah kau telah berhasil menemukan jawaban yang tepat ?"

"Tiada persoalan lain yang dapat kupikirkan lagi,"

Jawab Gak In Ling dengan tawar.

"pokoknya dia tak mungkin menaruh maksud baik terhadap diriku "

Satelah berhenti sebentar, katanya lagi.

"Sekarang hukuman apa yang akan kau jatuhkan terhadap diriku ?"

Penebang kayu itu menggeleng.

"Aku tidak mungkin dapat berbuat demikian terhadap dirimu, seandainya saudara cilik merasa tidak keberatan maka bagaimana kalau kau berdiam selama beberapa bulan disini ? Aku bersedia untuk mewariskan ilmu telapak maut yang kumiliki itu kepadamu."

Mendengar perkataan itu Gak In Ling nampak tertegun, lalu bertanya.

"Kenapa begitu ?"

"Aaai dikemudian hari kau akan mengetahui dengan sendirinya, kalau suruh aku mengatakannya sekarang maka tak ada habisnya "

Nada suara itu begitu memilukan hati membuat orang lain yang mendengar itu merasa iba. Perasaan hati Gak In Ling berubah jadi lunak. dengan suara halus katanya.

"Kakek tua, masa hidupku dialam ini sangat terbatas, waktu bagiku jauh lebih berharga dari emas, aku tak bisa berdiam lebih lama lagi di tempat ini, jika engkau dapat mengampuni kesalahanku yang telah mengganggu ketenanganmu, biarlah aku mohon diri saja."

Selesai berkata ia menjura dalam-dalam ke arah kakek tua itu. Kakek penebang kayu itu mengangguk.

"Hm, rupanya kau memang benar-benar berhati mulia, semoga saja sejak kini engkau dapat bersikap lebih baik terhadap dewi burung hong indah, dan semoga juga engkau bisa merubah pandanganmu yang terlalu sempit terhadap dirinya."

Selesai berkata dari dalam sakunya dia ambil keluar se

Jilid kitab serta sebutir pil warna merah sebesar buah kelengkeng, sambungnya lebih jauh.

"Kitab ini merupakan catatan ilmu telapak maut, tapi tidak lengkap dan hanya terdiri dari sembilan jurus belaka, disamping itu masih tercantum pula sejenis ilmu silat yang maha aneh, bilamana engkau menginginkan bisa mempelajari, ilmu tersebut secara keseluruhan dan komplit maka kau harus pergi mencari seseorang yang lain sebab hanya orang itu saja yang memiliki kepandaian tersebut secara komplit. Pada waktu itu mungkin dikolong langit sudah tiada orang lagi yang mampu menakluki dirimu, pil warna merah ini makanlah jika penyakitmu sedang kambuh, kendatipun tak dapat menyembuhkan penyakit yang sedang kau derita akan tetapi bisa memperpanjang masa hidupmu tiga sampai lima bulan lebih panjang, dalam waktu yang cukup singkat itu engkau bisa berusaha keras untuk menemukan obat pemunah racun tersebut. Nah, ucapanku hanya sampai disini saja, terimalah pemberianku ini "

Gak In Ling benar-benar tidak habis mengerti, apa sebabnya kakek penebang kayu tersebut bersedia menyerahkan kitab pusaka yang jauh lebih berharga dari 419 jiwanya itu kepadanya, maka dengan hati sangsi bercampur ragu tanyanya.

"Kakek..."

"Kau tak usah menampik,"

Tukas kakek penebang kayu dengan cepat.

"ingatlah aku bukanlah seorang laki-laki yang berjiwa besar dan rela memberikan barang miliknya dengan begitu saja, aku berbuat demikian tentu saja karena aku mempunyai tujuan tertentu, kalau kau bersedia menerima pemberianku ini berarti engkau telah mengasHani diriku, kalau engkau tidak bersedia untuk menerimanya sudah tentu akupun takkan memaksa lebih jauh."

Ucapannya begitu tulus dan bersungguh-sungguh, nadanya penuh permintaan belas-kasihan. Tanpa sadar Gak In Ling menerima pemberian kitab pusaka serta obat tersebut, ia bertanya.

"Bolehkah aku mengetahui siapakah nama kakek ?"

Kakek penebang kayu itu menggeleng.

"Segala sesuatu akan kau ketahui sendiri di kemudian hari, pokoknya aku bukanlah orang jahat seperti apa yang kau bayangkan didalam benakmu itu."

Berbicara sampai disini tiba-tiba ia lancarkan satu pukulan mendorong keranjang bambu yang berisi dua manusia bengis dari bukit Long-san kebawah tebing jurang, dan sambungnya dengan senyum.

"Demi keselamatanmu dikemudian hari, mau tak mau terpaksa aku harus berbuat begini "

Selesai berkata ia enjotkan badan berkelebat kedalam hutan, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan-Memandang bayangan punggung kakek penebang kayu yang lenyap dari pandangan, pelbagai masalah yang mencurigakan berkelebat memenuhi benak Gak In Ling, 420 pertanyaan itu muncul dari kakek penebang kayu yang misterius itu, dan ia gagal untuk menemukan jawaban.

Air yang deras mengalir ditengah sungai yang berliku-liku antara batu tebing yang curam dan terjal.

Ketika itu sang surya telah tenggelam dibalik bukit, sisa cahaya yang merah meninggalkan berkas sinar yang amat indah ditengah udara, membuat pemandangan disekitar perbukitan tersebut kelihatan bertambah indah dan menawan hati.

Burung beterbangan melewati dahan pohon kembali kesarangnya, binatang kecil bergerombol kembali kegUa masing-masing, sebab waktu itu adalah saat mereka untuk beristirahat.

Pada waktu itulah diatas tebing karang yang berhadapan dengan sungai, muncul seorang pemuda baju hitam yang sedang bergerak mengikuti jalur sungai mendaki keatas bukit, terlihatlah tiap jangkauan langkahnya mencapai empat-lima puluh tombak jauhnya, begitu cepat gerakan tubuhnya seakan-akan kilat yang menyambar diangkasa.

Sisa sinar matahari menyinari wajahnya yang tampan, secara lapat-lapat dapat ditemui bahwa dibaiik biji matanya yang hitam terselip perasaan benci, murung dan kesaL Angin berhembus lewat menggoncangkan ujung bajunya yang berwarna hitam, ditengah bukit karang yang sepi, ia nampak begitu menyendiri dan kecil.

Hari kian lama kian bertambah gelap.

akhirnya pemuda baju hitam itu berhenti diatas sebuah puncak bukit yang penuh dengan rumput hijau, sorot matanya ditujukan kearah tebing tinggi yang terbentang di hadapannya, seakan-akan dia sedang mencarijalan untuk menaiki tebing itu.

Mendadak kurang-lebih duapuluh tombak di belakang tubuh pemuda baju hitam itu, berkumandang datang suara 421 teguran yang dingin dan menyeramkan-"orang muda, apakah kau tersesat ?"

Pemuda baju hitam itu tercekat hatinya, tetapi ia tak segera putar badan, dengan ketenangan yang luar biasa ia tertawa ringan lalu menjawab.

"Apakah kau juga menemui kesulitan seperti apa yang sedang kualami ?"

Sambil berkata perlahan-lahan ia putar badan.

Diatas sebuah batu cadas kurang lebih dua puluh tombak dihadapannya, berdirilah seorang kakek tua baju hijau, usianya diantara enam puluh tahunan, paras mukanya berwarna hitam pekat, sepasang matanya cekung kedalam, hidungnya seperti elang dengan mulut yang lebar, membuat siapapun yang memandang segera mendapat kesan bahwa kakek tua itu berwatak licik dan berbahaya.

"Tidak."

Terdengar kakek baju hijau itu berkata sambil tertawa dingin.

"Aku sudah banyak tahun berdiam diatas bukit ini, tidak mungkin aku bakal tersesat lagi, barusan aku lihat gerakan tubuhmu sangat enteng dan cepat, jelas merupakan seorang jago dari dunia persilatan, dan aku merasa heran ada urusan apakah kau datang kemari ?"

"Bukankah kau sendiri pun berada disini?"

Seru pemuda baju hitam itu balik bertannya dengan suara dingin.

"Mau apa engkau berada di sini ?"

Airmuka kakek baju hijau itu berubah jadi serius.

"Bukankah sejak tadi telah kukatakan, sudah banyak tahun aku berdiam disini, kalau aku tidak berada disini lalu harus berada dimana ?"

Serunya.

"Hm Aku dengar diatas bukit ini terdapat sebuah benteng yang disebut benteng Hui-in-cay, apakah kau adalah anggauta dari benteng tersebut?"

Mula-mula kakek tua baju hijau itu agak tertegun setelah mendengar perkataan tersebut, tiba-tiba sambil tertawa bergelak sahutnya.

"Haa haa.... haa sedikitpun tidak salah, diatas bukit memang terdapat sebuah benteng Hui-in-cay yang ditempati orang, aku bernama Teng san-tiau rajawali penunggu bukit Bu Jin apa maksudmu datang kemari ?"

Air muka sang pemuda baju hitam yang tampan tiba-tiba berubah jadi dingin menyeramkan, katanya.

"Aku adalah Gak In Ling "

Air muka kakek tua baju hijau itu berubah hebat setelah mendengar sebutan itu, sorot matanya tanpa sadar berkeliaran memandang sekejap ke sekeliling tempat, lalu serunya tanpa sadar.

"Jadi kau adalah Gak In Ling ?"

Tiba-tiba ia merasa bahwa sikapnya sudah terlalu menurunkan derajat sendiri, buru-buru ia tarik napas panjang serta menenteramkan hatinya seraya tertawa katanya kembali.

"Apakah kau datang kemari untuk menjenguk ibumu ?"

"ooh dia masih hidup ?"

Gak In Ling tertawa seram.

Mendengar jawaban itu Rajawali penunggu bukit Bu Jin merasakan hatinya bergetar keras, dari nada suara Gak In Ling dapat diraba olehnya bahwa persoalan yang bakal terjadi pada saat ini tak akan bisa dibereskan secara baik-baik, biji matanya yang licik sekali lagi menyapu sekejap kesekeliling tempat itu, pikirnya dengan cepat.

"Menurut khabar berita yang tersiar didalam dunia persilatan mengatakan bahwa tenaga dalam serta kepandaian silat yang dimiliki bangsat ini tiada tandingannya dikolong langit, apabila keadaan tidak terlalu memaksa aku tak usah 423 bergebrak dengan dirinya, apa salahnya kalau aku coba untuk membohongi dirinya ?"

Berpikir sampai disini, ia segera tertawa dan menunjukkan wajah setenang-tenangnya, lalu menjawab.

"Tentu saja ia berada dalam keadaan sehat walafiat seperti dulu kala cay-cu, kami tokh saudara angkat dari ayahmu, aku rasa sikap hormatnya terhadap ibumu tentu bisa dibayangkan oleh siapapun juga, kenapa sih engkau mengucapkan kata-kata seperti itu?"

Berbicara sampai disini wajahnya pura-pura menunjukkan sikap marah, lagak orang ini untuk bermain sandiwara benar-benar sangat mengagumkan sekali.

Seandainya sesaat sebelum menemui ajalnya Gak In Hong kakak perempuan dari Gak In Ling tidak meninggalkan pesan terakhir diatas telapak tangannya, pada saat ini sianak muda itu niscaya sudah terpikat oleh perkataannya yang manis didengar itu.

Gak In Ling segera tertawa.

"Hee hee...... hee benar, dia dengan ayahku memang merupakan saudara angkat, cuma sayang, manusia dikolong langit sering kali lain di mulut lain dihati, tak seorang pun yang dapat di-percaya, lalu apa gunanya untuk saling angkat saudara "

"Engkau berani bersikap kurang ajar terhadap supekmu."

Teriak Rajawali penunggu bukit Bu Jin pura-pura gusar. Wajah Gak In Ling berubah semakin dingin tiba-tiba dari balik matanya memancar keluar sinar yang menggidlkan hati, ujarnya menyeramkan-"

Lo-ji, kau tak usah berpura-pura berlagakpilon lagi, kedatangan dari aku orang she Gak ke tempat ini sekarang adalah untuk mencuci bersih benteng Hui-in-cay dengan darah segar....

dan kau, adalah korbanku yang pertama."

Seraya berkata selangkah demi selangkah ia maju kedepan menghampiri tubuh Rajawali penunggu bukit Bu Jin.

Hawa menyeramkan yang memancar keluar dari tubuh Gak In Ling, memaksa Rajawali penunggu bukit Bu Jin secara beruntun mundur tiga langkah ke belakang dalam keadaan begini hanya ada satu pikiran yang berkelebat di dalam benaknya, ia berpikir.

"Kalau aku tidak suruh mereka unjukkan diri pada saat ini, mungkin sebentar lagi keadaan akan tidak sempat lagi."

Berpikir sampai disini, ia segera bersuit panjang.

Gak In Ling sama sekali tidak menggunakan kesempatan itu untuk melancarkan serangan ke-arahnya, dia hanya menunggu dengan tenang, senyuman mengerikan tersungging diujung bibirnya, napsu membunuh yang menyelimuti wajah yang tampanpun nampak semakin menebal.

Bersamaan dengan berkumandangnya suara suitan tersebut, tiba-tiba dari empat penjuru sekeliling tempat itu berkumandang datang suara bentakan yang bergema saling susul-menyusul, dari batik batu cadas yang besar berlompatanlah belasan orang pria kekar baju hijau, wajah mereka rata-rata bengis dan bersemangat tinggi, dalam waktu singkat Gak In Ling sudah terkepung ditengah kalangan-Dari sikap mereka sombong dan tinggi hati, dapat dilihat bahwa orang-orang itu sama sekali tidak memandang sebelah mata pun terhadap pemuda yang kelihatannya lemah dan tak bertenaga itu.

Rajawali penunggu bukit Bu Jin sendiri setelah menyakslkan kemunculan dari belasan orang pria kekar baju hijau itu, perasaan tegang yang semula menyelimuti wajahnya kini telah mengendor kembali, pikirnya.

"Sekalipun kau Gak In Ling memiliki tiga kepala enam lengan, jangan harap bisa meloloskan diri dari gabungan sepuluh orang malaikat kim-kong dari benteng Hui-in-cay kami 425 diantara seratus nol delapan jago lainnya. Hm, tunggu saja kelihayanku "

Berpikir sampai disini rasa percayanya pada diri sendiri makin bertambah tebal, ia segera tertawa seram dan berseru.

"Haa haa haa....... bocah cilik she Gak. coba berpalinglah kesekeliling tubuhmu. Hm, ditengah amukan ombak sungai pada hari ini kemungkinan besar akan bertambah lagi dengan sesosok sukma gentayangan-"

Nada suaranya begitu bangga dan gembira.

"Tidak. bukan hanya sesosok sukma gentayangan, semestinya ada sebelas orang."

Jawab Gak lu Ling sambil tertawa seram pula.

Nada suaranya begitu tenang dan datar, tetapi membawa hawa bergidik yang bikin bulu roma pada bangun berdiri.

Belasan orang itu sama-sama tercekat hatinya setelah mendengar perkataan itu, dalam hati kecil masing-masing mendadak muncul suatu perasaan sesak yaag aneh dan belum pernah dirasakan sebelumnya.

Tiba-tiba dari arah belakang tubuh Gak In Ling berkumandang datang suara bentakan yang disertai nada gusar.

"Bocah keparat, roboh kau ketanah "

Mengikuti suara bentakan tersebut, dari belakang tubuh Gak In Ling muncullah segulung angin pukulan yang maha dahsyat bagaikan ambruknya sebuah bukit karang, cukup ditinjau dari datangnya angin pukulan itu bisa diduga sampai di manakah dahsyatnya tenaga dalam yang dimiliki orang itu.

Gak In Ling sama sekali tidak bergerak dari tempat semula, terhadap datangnya ancaman ia sama sekali tidak berkelit, hanya napsu membunuh yang menyelimuti wajahnya yang bertambah tebal, terdengar ia tertawa seram dan berseru..

"Dialah korbanku yang pertama "

Sementara bicara sampai disitu, angin pukulan yang menyerang datang sudah mencapai jarak hanya setengah cun dibelakang tubuhnya.

Belasan orang lainnya yang menyaksikan kejadian itu tanpa sadar telah berpikir dalam hati nya.

"oh ..... rupanya kita sudah menilai terlalu tinggi tentang keparat cilik itu, kiranya dia masih belum mampu untuk membedakan mana hembusan angin dan mana angin serangan-"

Pada saat itulah Gak In Ling menyingkir kesamping, lalu membentak keras.

"Roboh kamu "

Gerakan tubuhnya begitu cepat, membuat orang sukar untuk mempercayainya, baru saja ucapannya selesai diutarakan keluar, segulung angin pukulan yang mengerikan telah dilancarkan kearah belakang tubuh.

"Blaaaam."

Terjadilah bentrokan keras yang menggetarkan diseluruh angkasa, disusul jeritan ngeri yang menyayat hati bergema memecahkan kesunyian, sesosok tubuh yang tinggi besar mencelat sejauh tujuh tombak lebih dari tempat semula dan roboh terkapar diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi, darah kental mengalir keluar dari ketujuh lubang inderanya.

Semua perubahan berlangsung dengan cepatnya dan didalam waktu yang amat singkat, ketika belasan orang itu merasakan pandangan matanya jadi kabur, tahu-tahu satu diantara mereka telah roboh binasa.

Selesai membinasakan pria baju hijau itu diujung telapaknya, Gak In Ling segera putar badan dan memandang kearah Rajawali penunggu bukit BuJin dengan pandangan dingin, serunya.

"Sekarang tiba giliranmu"

Dalam keadaan begini Rajawali penunggu bukit BuJin sudah tak dapat membendung perasaan hatinya yang kalut lagi, mend engar perkataan tersebut dengan penuh ketakutan dia mundur tiga langkah kebelakang, serunya tanpa sadar.

"Gak In Ling, aku tokh tiada hubungan dendam ataupun sakit hati dengan dirimu ?"

Gak In Ling yang sudah diliputi oleh rasa dendam, pada saat itu seluruh benaknya hanya diliputi oleh napsu membunuh yang sangat tebal dalam pemikirannya dengan membinasakan seluruh anggauta dari benteng Hui-in-cay sajalah sukma ibunya yang berada dialam baka baru bisa di bikin tenang.

"Kematian ibuku secara mengenaskan dibenteng Hui-in-cay merupakan hadiah dari perbuatan kalian iblis-iblis keji yang dijangkiti penyakit gila, hutang darah harus bayar dengan darah apakah kau akan berusaha untuk memungkirinya"

Seru Gak In Ling dengan nada yang sadis.

Rupanya Rajawali penunggu bukit BuJin sudah mengetahui bahwa situasi pada hari ini tidak bisa diselesaikan secara damai, suatu pertempuran sengit pasti takkan dapat dihindarkan lagi.

diam-diam hawa murninya dihimpun kedalam sepasang telapaknya bersiap-siaga menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan, sementara mulutnya sengaja berkata.

"Apa sangkut-pautnya peristiwa ini dengan diriku ?"

Gak In Ling tertawa dingin-"Hee... hee..... hee. .... berhubung kalian semua berdiam didalam benteng Hui-in-cay, dan dosa-dosa kalian sudah tak dapat diampuni lagi "

Sebelum sempat Gak In Ling menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba terdengar Rajawali penunggu bukit BuJin membentak dengan suara dingin.

"Kita serbu bersama "

Selesai berkata ia melancarkan serangan lebih dahulu kearah tubuh pemuda she Gak itu.

Rajawali penunggu bukit Bujin menempati urutan yang depan diantara seratas nol delapan orang kim-kong yang ada dibenteng Hui-in-cay, tenaga dalam yang dimiliki boleh dibilang cukup sempurna, ketika serangan tersebut dilancarkan keluar, angin pukulan menderu-deru bagaikan hembusan angin puyuh, begitu hebatnya serangan tadi hingga batu cadas berhamburan diatas tanah.

Sembilan orang pria baju hijau lainnya merupakan jago-jago yang berkedudukan setaraf dengan Rajawali penunggu bukit BuJin, walaupun ilmu silatnya tidak selihay Rajawali penunggu bukit, dan tenaga dalamnya tidak sempurna jago tua itu, namun selisih diantara mereka pun tidak terlalu banyak.

Mereka semua telah menyadari sampai di-manakah taraf tenaga dalam yang dimiliki Gak In Ling, demi keselamatan diri sendiri mau tak mau beberapa orang itu terpaksa harus bekerja keras menghadapi musuh yang amat tangguh itu.

Karenanya ketika menyaksikan Rajawali penunggu bukit BuJin telah melancarkan serangan, mereka segera bersama-sama menerjang pula ke-depan sambil melancarkan pukulan-pukulan dahsyat.

Sepuluh gulung angin pukulan yang maha kuat dan dahsyat bersatu padu membentuk suatu daya tekanan yang sangat mengerikan, semua tenaga tekanan itu bersama-sama menekan kearah tubuh Gak In Ling yang berada ditengah kepungan, meskipun arah yang dituju masing-masing pihak berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, tetapi boleh dibilang setali tiga uang, sebab tempat-tempat yang diancam merupakan jalan darah kematian disekujur badan pemuda itu.

Gak In Ling sendiri walaupun mempunyai tenaga dalam yang mengerikan, dan ia sama sekali tidak memandang 429 sebelah mata pun terhadap ke sepuluh orang itu, tetapi manusia bukanlah mahluk yang terdiri dari tiga kepala enam lengan, kalau ingin menghadapi sepuluh serangan yang datang dari arah yang berbeda pada saat yang bersamaan, bagaimanapun juga bukanlah suatu pekerjaan yang gampang.

Gak In Ling mendengus dingin, sepasang kakinya menjejak tanah dengan sekuat tenaga, tubuhnya melayang setinggi lima tombak ketengah udara, sepasang telapak diayun berbareng, segulung angin pukulan yang sangat kuat segera menekan ke atas tubuh Rajawali penunggu bukit BuJin.

Mereka semua merupakan jago jago kawakan yang sudah berpengalaman didalam menghadapi pertempuran besar, sejak melancarkan serangan untuk pertama kalinya tadi mereka telah menduga bahwa Gak In Ling bakal menggunakan gerakan tersebut untuk mengatasi kesulitannya, tetapi Rajawali penunggu bukit buJin mimpipun tidak pernah menyangka kalau Gak In Ling yang berada diudara bisa melancarkan serangan gencarnya kearah dia, menyaksikan datangnya ancaman tersebut hatinya jadi amat terkesiap dan buru-buru ia melayang mundur kebelakang.

Sembilan orang lainnya, sesuai dengan rencana semula masing-masing buyarkan serangan dengan berganti jurus, sekali lagi mereka enjotkan badannya menyerang kearah Gak In Ling yang masih berada ditengah udara.

Tatkala menyaksikan sembilan orang pria baju hijau sama-sama menyerang datang, dan hanya Rajawali penunggu bukit BuJin yang mengundurkan diri sejauh satu tombak lebih dari gelanggang pertarungan, satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Gak In Ling, ia segera tarik napas panjang, tubuhnya tiba-tiba meluncur, kebawah dengan cepat dan hampir boleh dikata bersamaan dengan berkelebatnya ingatan tersebut menanti kesembilan orang itu sudah menyerang tiba, maka serangan mereka segera mengena pada sasaran yang kosong.

"Blaaaaam "

Angin pukulan beberapa orang ita saling membentur satu sama lainnya sehingga menimbulkan suara ledakan dahsyat yang menggeletar diangkasa, sembilan sosok bayangan manusia itu seakan-akan terkena ledakan keras, tubuhnya mencelat kearah bagian yang saling berlawanan.

Dikala angin pukuian dari sembilan orang itu saling membentur satu sama lainnya Gak In Ling telah mencapai permukaan tanah dan menyerang kearah Rajawali penunggu bukit Bu Jin.

Sambil meluncur ke depan hardiknya dengan keras.

"Kau akan lari kemana ?"

Semula Rajawali penunggu bukit BuJin mengira dengan mundurnya dia dari kalangan, maka dirinya pasti akan terlepas dari lingkungan pengaruh tenaga pukulan dari Gak In Ling, sementara hatinya, masih berbangga karena berhasil meloloskan diri, siapa tahu malaikat Elmaut telah mengincar dari atas kepalanya.

Mendengar bentakan tersebut Rajawali penunggu bukit BuJin segera angkat kepalanya, lalu berteriak keras.

"Ah telapak maut"

Diikuti jeritan ngeri yang menyayat hati segera menggema memecahkan kesunyian membuat siapapun yang mendengar ikut merasakan hatinya bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri.

Dalam pada itu kesembilan orang pria baju hijau lainnya baru saja melayang turun keatas tanah, ketika mendengar jeritan ngeri itu mereka bersama-sama angkat kepala dan alihkan pandangannya, tampaklah tubuh Rajawali penunggu bukit BuJin telah menggeletak kurang lebih enam tombak jauhnya dari tempat semula dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Semua perubahan tersebut berlangsung sangat cepat dan sama sekali diluar dugaan siapapun juga, kesembilan pria kekar itu saking kaget dan terkesiapnya hingga untuk 431 beberapa saat lamanya tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.

Tanpa memandang barang sekejappun kearah mayat Rajawali penunggu bukit BuJin yang menggeletak diatas tanah, Gak In Ling segera putar badan dan berjalan menuju kearah sembilan orang pria tersebut, dengan nada menyeramkan katanya.

"Jikalau kalian adalah manusia-manusia yang bisa tahu gelagat dan bisa menyesuaikan diri dengan keadaan, lebih baik cepatlah bunuh diri "

Begitu seram dan sadis perkataannya itu, membuat airmuka kesembilan orang pria kekar itu berubah hebat.

Sementara itu diatas sebuah bukit yang tinggi tiba-tiba muncul seekor burung hong berbulu warna-warni sedang meluncur kearah beberapa orang itu dengan kecepatan penuh, namun pada saat itu mereka sedang dicekam ketakutan dan jiwa mereka berada diambang kematian, sedangkan Gak In Ling sendiripun tak menyangka kalau pada saat itu bakal muncul jago kangouw lainnya, maka siapapun tidak menaruh perhatian terhadap kehadiran burung hong itu.

Setelah airmuka kesembilan orang pria kekar itu berubah hebat, masing-masing pihak saling bertukar pandangan sekejap.

tiba-tiba salah satu dientaranya berteriak keras.

"Saudara-saudara sekalian, ayo maju bersama "

Bersamaan dengan selesainya bentakan itu, dengan cepat mereka menubruk Gak In Ling. -oo0dw0oo-

Jilid 13 DELAPAN orang lainnya juga mempunyai jalan pikiran yang sama, mereka menyadari dalam keadaan serta situasi 432 seperti ini hanya bekerja samalah mendatangkan harapan bagi mereka berpisah berarti jalan kematian untuk mereka, maka begitu pria tadi menyelesaikan kata-katanya, delapan orang pria lainnya bersama-sama ikut menyerang kedepan.

Kali ini mereka telah mendapat pelajaran yang menguntungkan, tidak seperti semula menyerang tanpa tujuan tertentu, kali ini setiap serangan yang dilepaskan semuanya ditujukan kearah yang tepat dan benar.

Gak In Ling sama sekali tidak pandang sebelah matapun terhadap orang-orang itu, dengan kaki berdiri bagaikan patung secara terpisah dilayaninya serangan-serangan yang mengancam datang itu dengan gerakan keras lawan keras.

Semula, kesembilan orang pria itu sudah mengetahui sampai dimanakah kepandaian silat yang dimiliki Gak In Ling, siapapun tidak berani menyambut datangnya ancaman dengaa keras lawan keras, karena itu asalkan telapak tangan Gak In Ling digerakkan kearah seseorang, maka orang itu cepat-cepat menghindarkan diri ataupun berkelit kesamping.

Walaupun kesembilan orang pria itu tidak berani menyambut datangnya serangan dari Gak In Ling, akan tetapi mereka pun tidak melepaskannya dengan begitu saja, tampaklah delapan sosok bayangan manusia bagaikan putaran roda kereta sedang berputar tiada hentinya mengitari sekeliling tubuh Gak In Ling, angin pukulan menderu-deru bagaikan hembusan angin puyuh, keadaan benar-benar mengerikan sekali.

Pada saat itulah dibelakang sebuah batu cadas kurang-lebih tiga tombak dibelakang pertempuran, perlahan-lahan menongollah kepala seseorang kakek tua berambut putih.

Orang ini beralis putih bermata sipit tetapi memancarkan cahaya yang sangat tajam, ujung bibirnya agak tergantung kebawah dan pada saat itu nampaknya sedang diliputi hawa gusar yang tak terkirakan, sepasang matanya yang menyeramkan menatap wajah sianak muda itu tanpa berkedip.

Pada waktu itu burung hong warna-warni yang terbang diangkasapun sudah melayang diatas kepala para jago, cuma berhubung burung itu terbang sangat tinggi maka sampai-sampai kakek tua yang mengintip dari tempat kegelapanpun tidak menyadari.

Dalam pada itu pertarungan antara Gak In Ling serta ke sembilan orang pria baju hijau itu sudah berlangsung mendekati dua puluh jurus lebih, waktu berlarut lenyap ditengah ketegangan, sang surya telah tenggelam dan rembulanpun telah mulai muncul diatas awang-awang.

Tiba-tiba Gak In Ling bersuit panjang, tubuhnya berputar kencang kemudian secara tiba-tiba meluncur ketengah udara, sepasang telapak menyapu ketengah udara kosong dan mendadak menyerang dengan jurus Hiat-yu-seng-hong atau hujan darah angin amis.

Bayangan merah yang berlapis-lapis dan memancarkan cahaya berkilauan membentang wilayah seluas tiga puluh tombak lebih disekitar tempat itu, daya kekuatannya begitu dahsyat sehingga nampak mengerikan sekali.

Ssmbilan orang pria kekar baju hijau yang sedang bertempur sengit, tiba-tiba kehilangan jejak Gak In Ling, baru saja mereka berdiri tertegun tiba-tiba dari atas kepala mereka berkumandang datang suara pekikan panjang yang amat nyaring, hal ini membuat mereka tanpa sadar sama-sama angkat kepala memandang keangkasa.

"Aaah telapak maut"

Mendadak sembilan orang itu berteriak dengan nada yang ketakutan-"Telapak maut "

Diikuti berkumandangnya sembilan kali jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma, membuat orang yang mendengar jadi bergidik dan merasakan dirinya seakan-akan berada dineraka.

Gak In Ling melayang turun keatas permukaan dengan tenangnya, ketika sinar matanya menyapu sekeliling tempat itu, tampaklah sembilan sosok mayat tadi sudah berserakan dari kalangan sejauh dua tombak dari tempat semula, kulit dan otot wajah para korban berkerut kencang, darah segar mengalir keluar dari tujuh lubang inderanya, rasa ngeri dan takut sesaat menemui ajalnya masih tertera nyata diatas wajah mereka.

Gak In Ling tarik napas dalam-dalam, diikuti suara helaan napas yang berat dan panjang seakan-akan ia menyesal karena sudah melakukan pembunuhan tersebut.

Dia sebenarnya berhati bajik dan mulia, ia tidak senang membunuh manusia, tetapi keadaan yang telah memaksa dirinya mau tak mau harus melakukan pembunuhan tersebut.

Pembunuhan itu bukan dilakukan karena dapat mengangkat namanya serta mempertinggi gengsinya, membunuh orang juga bukan untuk melatih ilmu silatnya hingga mencapai tingkat yang sempurna, melainkan dendam kesumat sedalam lautan itulah yang membuat ia tak mampu untuk menguasai perasaan hatinya.

Perlahan-lahan Gak In Ling menengadah ke atas, memandang rembulan yang berada diangkasa lalu bergumam seorang diri.

"Ibu sudah kau lihatkah kesemuanya itu ? Anak Leng akan balaskan dendam bagi kematianmu, akan kucuci benteng Hui-in-eay dengan darah manusia, akan kubasmi mereka hingga sama sekali lenyap dari muka bumi."

Tiba-tiba seekor burung hong warna-warni yang besar terlintas masuk dalam lingkaran penglihatan pemuda she Gak itu, ketika menjumpai burung tersebut Gak In Ling nampak terperanjat lalu berseru.

"Dewi burung hong indah?"

Pada saat itulah kurang lebih dari jarak tiga depa dibelakang tubuh Gak In Ling berkumandang suara jeritan 435 kesakitan, jeritan itu mengejutkan hati sianak muda, dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimilikinya ternyata pihak lawan bisa mendekati tubuhnya hingga jarak tiga depa tanpa disadari olehnya, kejadian ini benar-benar memalukan sekali.

Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba itu telah menarik kembali pikiran Gak In Ling kedalam kenyataan, tampak sepasang alis matanya berkernyit dan tubuhnya segera berpaling kebelakang Dibawah sorot cahaya rembulan yang redup terlihatlah sesosok bayangan abu-abu dengan gerakan yang cepat bagaikan kilat sedang melarikan diri kearah dinding tebing sebelah depan-"Bangsat, kau akan lari ke mana ?"

Bentak Gak In Ling dengan suara nyaring, sambil berseru ia segera enjotkan badannya siap melakukan pengejaran-Belum sempat sianak muda itu menggerakkan tubuhnya, mendadak terdengar suara yang manis dan merdu berkumandang datang.

"Eei, Gak In Ling, kenapa kaupun datang kemari ?"

Dari suara teguran itu si pemuda segera mengetahui siapa yang telah datang, hatinya terjelos dan diam-diam pikirnya.

"Habislah sudah, ternyata benar-benar dia "

Sementara ingatan itu masih berkelebat dalam benaknya, perlahan-lahan dia putar badan, ketika sorot matanya dialihkan kearah mana berasalnya suara itu maka tampaklah dewi burung hong indah dengan pakaiannya yang berwarna merah-menyala berdiri diatas sebuah batu kurang-lebih satu tombak dihadapannya.

Dengan memaksakan diri Gak In Ling menarik napas panjang, setelah menenteramkan hatinya dia berkata.

"Nona, kau dan aku benar-benar punya jodoh, sungguh tak nyana kita bisa berjumpa lagi disini."

Dewi burung hong indah maju dua langkah kedepan, kemudian menjawab.

"Sungguh cepat kau sudah tiba disini, sungguh tindakanmu itu jauh diluar dugaanku."

Gak In Ling tertawa dingin-"Hee hee hee aku belum mati, mungkin kejadian ini-jauh diiuar dugaan nona bukan?"

Dewi burung hong indah mengerutkan dahinya, kemudian sambil tertawa dingin ia berkata.

"Hee.... hee..... hee apabila sekarang aku hendak membinasakan dirimu, maka pekerjaan ini akan kuselesaikan dengan sangat mudah sama sekali tidak membuang tenaga barang sedikitpun juga."

Nada ucapannya begitu leluasa, seakan-akan perkataan tersebut diutarakan keluar tanpa disertai rasa pandang remeh musuhnya. Gak In Ling tertawa lalu mengangguk.

"Sekarang juga nona boleh turun tangan"

Katanya.

"Engkau takkan melancarkan serangan balasan ?"

"Hem, aku tidak sejinak seperti apa yang nona bayangkan "

Seru sipemuda sambil tertawa dingin. Mendengar perkataan itu, dewi burung hong indah tertawa terbahak-bahak.

"Haa.... haa haa kali ini apakah kau masih tetap akan gunakan sepasang telapakmu untuk menghadapi sepasang kakiku ?"

Merah-padam selembar wajah Gak In Ling setelah mendengar perkataan itu, sedikitpun tidak salah, kejadian itu merupakan suatu penghinaan, serta rasa malu yang luar biasa, dengan kedudukannya sebagai seorang lelaki jantan dengan badan yang berotot ternyata tak mampu menangkan 437 sepasang kaki dari seorang gadis lemah, rasa malu ini membuat orang sukar untuk menahan diri.

Dengan gusar Gak In Ling segera mendengus, lain berkata.

"Kali ini jikalau aku menderita kalah lagi ditangan nona, sekalipun nona tidak membinasakan diriku, aku bisa melakukan penyelesaiannya sendiri terhadap jiwaku. Nah, silahkan nona turun tangan"

Sambil berkata diam-diam ia himpun tenaga dalamnya ke dalam sepasang telapak tangan-Dewi burung hong indah sendiri diam-diam merasa tercekat, segera pikirnya didalam hati.

"orang ini keras kepala, dingin dan angkuh, kali ini jikalau ia benar-benar kalah, sudah dapat dipastikan dia tentu akan bunuh diri ditempat ini, aku harus menghadapinya secara berhati-hati."

Meskipun didalam hati ia berpikir demikian, diluaran sambil tertawa ia menjawab.

"Ini hari sudah pasti kau bakal mampus disini "

"Hee hee hee semoga saja apa yang nona duga sedikitpun tidak salah "

Sahut Gak In Ling sambil tertawa dingin.

"Hm Tentu saja tidak "

Belum habis ia berkata, tiba-tiba dari balik matanya memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan hati, sambil membentak keras tubuhnya menerjang kearah belakang Gak In Ling sambil berseru.

"Kawanan tikus, berani bertingkah disini ?"

Gak In Ling yang sudah pernah menyaksikan kehebatan dari tenaga dalam yang dimiliki dewi burung hong indah, menyaksikan datang menerjang, dikiranya perempuan itu sedang menerjang kearahnya, buru-buru badannya menyingkir dua depa 438 kesamping sambil balas melancarkan pula sebuah pukulan kearah lawannya.

"Bagus sekali datangnya serabgan itu "

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat langsung menerjang kearah dada dewi burung hong indah.

Kiranya dewi burung hong indah menerjang ke muka disebabkan ia telah menemukan sesuatu.

Mimpipun gadis itu tak pernah mengira kalau Gak In Ling bisa menaruh ke salah-pahaman terhadap dirinya dan secara tiba-tiba melancarkan serangan kearahnya.

Jikalau bicara tentang kepandaian silat yang dimiliki dewi burung hong indah, seandainya pula saat ini ia berganti jurus untuk menyambut datangnya serangan dari Gak In Ling itu, maka ada kesulitan lain yang bakal dihadapinya, tetapi kalau ia sampai berganti jurus niscaya Gak In Ling bakal menderita luka terkena serangan gelap yang dilancarkan oleh jago lihay dari benteng Hui-in-cay.

Kejadian yang berlangsung amat cepat dan didalam waktu amat singkat membuat dewi bu-img hong indah tiada kesempatan unsuk mempertimbangkan persoalan itu lebih jauh, diam-diam mengertak gigi dan menghimpun segenap kekuatan tubuh yang dimilikinya kearah bagian kanan badan guna menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras, sementara serangan yang dia lancarkan masih tetap tidak dikendorkan.

Dalam waktu singkat angin pukulan yang dilancarkan Gak In Ling telah bersarang diatas tubuh dewi burung hong indah.

"Blaaam "

Ditengah benturan keras yang menggeletar diseluruh angkasa, berkumandanglah suara dengusan berat dari dewi burung hong indah, bersamaan itu pula dari arah lima tombak jauhnya dari kalangan bergema pula jeritan ngeri yang menyayatkan hati.

Bayangan merah mencelat keudara, tubuh dewi burung hong indah tahu-tahu sudah mencelat sejauh dua tombak lebih dari tempat semula dan roboh terkapar diatas tanah, darah segar perlahan-lahan mengalir keluar dari ujang bibirnya yang kecil, wajahnya yang semula bersemu merah seketika berubah jadi pucat-pias.

Menyaksikan kejadian tersebut Gak In Ling merasa amat terperanjat, dari jeritan ngeri yang berkumandang memecahkan kesunyian serta jarum jarum lembut berwarna biru yang berceceran diatas tanah, ia segera memahami apa yang telah terjadi.

Tetapi ia tidak habis mengerti, mengapa dewi burung hong indah bersedia menolong jiwanya ?

Terus-terang saja ia tak habis mengerti kenapa bisa begitu, tetapi kenyataan sudah terbentang didepan mata, ia telah melukai seseorang yang telah melepaskan budi kepadanya.

Dengan perasaan tak tenang Gak In Ling berjalan menghampiri dewi burung hoog indah yang baru saja duduk diatas tanah, kemudian bisiknya dengan suara lirih.

"Parahkah luka yang nona derita ?"

Nada suaranya penuh perasaan menyesal dan minta maaf. Dengan pandangan yang sangat dingin dewi burung hong indah menengadah keatas dan menyapu sekejap kearah wajah Gak In Ling, lalu menjawab.

"Gak In Ling, sekali ini engkau telah berhasil menangkan diriku "

Dengan ujung bajunya Gak In Ling menyeka keringat yang membasahi jidatnya, kemudian menggeleng.

"Tidak-perbuatanku hanya menggunakan kesempatan dikala orang tidak siap. aku menyadari bahwa tindakanku ini merupakan suatu perbuatan yang tidak terpuji."

Jawabnya.

"Tapi initokh kesempatan paling baik yang berhasil kau dapatkan-"

Sindir dewi burung hong indah.

"hem, kau pandai 440 sekali menggunakan kesempatan baik, sejak kini kalau kau sering kali bisa mempergunakan kesempatan baik yang kau peroleh sebaik-baiknya, aku percaya tidak lama kemudian kau bakal merupakan seorang jago yang tiada tandingannya dikolong langit. haa.. .. haa haa "

Mengikuti gelak tertawanya yang sinis, darah segar bagaikan pancuran air mengalir keluar lewat ujung bibirnya yang kecil dan membasahi seluruh tubuhnya.

Dengan perasaan malu bercampur menyesal Gak In Ling tundukkan kepalanya rendah-rendah, sahutnya dengan lembut.

"Nona, sekarang engkau boleh menyindir aku dengan sepuas hatimu, tetapi engkaupun harus baik-baik menjaga kehehatan badanmu sendiri, janganlah membiarkan luka dalam yang kau derita berubah semakin parah."

Nada ucapannya begitu sungguh-sungguh dan serius.

Dewi burung hong indah merasakan hatinya jadi hangat dan gembira, tetapi perasaan hatinya itu tidak sampai diutarakan keluar, sambil tertawa dingin ia berkata.

"Gak In Ling, sudahkah kau pikirkan perbuatan apakah yang bakal kulakukan untuk pertama kalinya setelah luka dalam yang kuderita ini telah sembuh ?"

"Aku tahu"

Jawab Gak Ia Ling sambil tertawa tawa.

"Hee hee hee kalau sudah tahu, tidak sapantasnya kalau engkau lepaskan diriku"

Gak In Ling menengadah keatas dan menghela napas panjang-panjang.

"Aaai kalau bicara tentang ilmu silat, sesungguhnya aku orang she Gak bukanlah tandingan dari nona, sekarang aku telah menggunakan kesempatan yang ada untuk melukai nona, jikalau engkau tidak berbuat demikian karena ingin menolong aku, mungkin aku orang she Gak dapat membinasakan dirimu, tetapi engkau telah selamatkan jiwaku."

Dewi burung hong indah tertawa dingin.

"Hm, jadi kalau begitu, pilihan antara hidup dan mati engkau telah memilih yang terakhir ?"

Serunya. Dengan sedih Gak In Ling mengangguk.

"Benar, aku orang she Gak telah berhutang budi kepadamu "

Mendengar jawaban tersebut diam-diam dewi burung hong indah merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya.

"orang ini begitu jelas dan nyata memandang antara budi dan dendam, sungguh tak kusangka kalau dikolong langit bisa terdapat manusia semacam ini, kenapa aku justeru telah bertemu dengan manusia seperti ini ?"

Berpikir sampai disitu, nada suaranya tiba-tiba berubah jadi lembut, tanyanya dengan suara lembut.

"Apakah engkau tidak memikirkan lagi bagi nasib kawan-kawanmu dalam dunia persilatan?"

Napsu membunuh yang tebal melintas diatas wajah Gak In Ling sesudah mendengar perkataan itu, tapi hanya didalam sekejap mata saja telah lenyap tidak berbekas.

Ia tundukkan kepalanya termenung sebentar lalu berkata lagi.

"Meskipun aku mempunyai hasrat untuk melenyapkan bibit bencana bagi umat persilatan, tetapi sayang sekali tenaga yang kumiliki masih belum cukup bagiku untuk melakukannya, hasil dari perjuanganku yang tidak seimbang itu hanya akan semakin memperlihatkan rasa maluku, karenanya aku tidak ingin berbuat demikian."

Setelah berhenti sebentar ujarnya kembali.

"Apalagi aku percaya bahwa nona bukanlah seorang manusia yang gemar membunuh orang tanpa sebab-sebab tertentu."

Dewi burung hong indah segera tertawa dingin.

"Hee hee...,. hee darimana kam bisa tahu kalau nonamu tak dapat berbuat demikian?"

"Sebab setiap manusia tentu mempunyai perasaan prikemanusiaan "

Sahut Gak In Ling dengan serius.

"Tetapi nonamu tidak mengenal apa artinya perikemanusiaan-"

Karena terpengaruh oleh emosi, denyutan nadinya berdetak semakin kencang, darah segar yang menyembur keluar dari ujung bibirnyapun semakin jelas hingga keadaannya mengerikan sekali.

Air muka Gak In Ling berubah hebat, dengan perasaan tidak tenang ia berkata.

"Nona, kesemuanya itu adalah persoalan di kemudian hari, lebih baik tak usah dibicarakan dahulu, yang penting bagi nona adalah menyembuhkan dahulu luka dalam yang kau derita."

"Hee hee hee Gak In Ling, kau terlalu memandang rendah tenaga dalam yang ku miliki."

Seru dewi burung hong indah sambil tertawa dingin. Gak In Ling jadi amat terperanjat.

"Kenapa ?"

Teriaknya.

"Nona, lukamu..."

"Nadiku telah pecah, tiada orang yang bisa menyelamatkan jiwaku lagi...."

Walaupun Gak In Ling serta dewi burung hong indah baru berjumpa muka sebanyak dua kali, tetapi dari wataknya yang keras hati dan bersikap blak-blakan itu membuat pemuda tersebut mengetahui bahwa dia tak mungkin sedang membohongi dirinya, karena itu pemuda she Gak tersebut segera berdiri tertegun sesudah mendengar perkataan itu.

Keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya membasahi wajah Gak In Ling yang tampan, setetes 443 demi setetes mengucur terus dari balik sorot matanya terpancar rasa menyesal dan minta maaf.

Dengan pandangan dingin dewi burung hong indah menyapu sekejap kearah Gak In Ling, kemudian bertanya.

"Gak In Ling, panaskah hawa udara disini"

Dengan sedih Gak In Ling menyapu sekejap kearah gadis itu.

"Nona, aku hirap engkau tak usah menyindir diriku lagi."

"Engkau pantas ?"

"Mungkin tidak pantas.

"jawab Gak In Ling dengan tawar, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan hawa kegusaran-"

Apakah nona tidak memiliki obat mujarab yang bisa digunakan untuk menyembuhkan luka dalammu itu ?"

"Menurut perkiraan nonamu justru engkaulah yang semestinya memiliki obat semacam itu."

Sahut dewi burung hong indah sambil tertawa dingin.

"Aku ?"

Tiba-tiba satu ingatan berkelebat lewat didalam benak Gak In Ling, buru-buru ia ambil keluar obat berwarna merah yang diberikan kakek penebang kayu kepadanya ketika berada di puncak bukit can-thian-hong tersebut, sambil mengangsurkan kedepan ia bertanya.

"Nona, coba lihatlah apakah obat ini dapat menyembuhkan lukamu ?"

Terkesiap hati dewi burung hong indah setelah melihat obat tersebut, serunya tanpa sadar.

"Aaah Pil Kiu-coan-hui-hun-wan.... kau dapatkan obat ini dari mana ?"

"Apakah obat itu dapat menyembuhkan luka dalam yang nona derita ?"

"Engkau merasa tidak keberatan ?"

Bukannya menjawab dewi burung hong indah malah bertanya. Gak In Ling tertawa lirih.

"Mungkin aku bukanlah seorang manusia siau-jin seperti apa yang nona duga semula, kalau nona tidak percaya silahkan menelan obat ini"

Sembari berkata dia segera angsurkan obat itu kedepan. Dewi burung hong indah menerima obat tersebut dan diperiksanya beberapa saat, kemudian dengan wajah berubah hebat pikirnya didalam hati.

"Kenapa ia pandang begitu hambar obat mujarab yang demikian berharga ini, jangan-jangan-.."

Tiba-tiba wajahnya bersemu merah, ia segera menengadah dan bertanya.

"Apakah kau suruh aku merawat lukaku tempat ini ?"

Tertegun hati Gak In Ling mendengar perkataan tersebut, dengan perasaan tidak mengerti ia balik bertanya.

"Kalau tidak. maka engkau akan merawat lukamu dimana ?"

"Apakah kau mengira pihak benteng Hui-in cay bakal melepaskan dirimu dengan begitu saja ?"

Seakan-akan telah menyadari dengan sesuatu dengan nada serius Gak In Ling segera menjawab "Ah Sedikitpun tidak salah, tempat ini memang tidak pantas untuk digunakan sebagai tempat untuk merawat luka dalam, kalau nona beranggapan bahwa obat tersebut benar-benar mampu untuk menyembuhkan luka dalam yang kau derita, apa salahnya kalau cari tempat yang aman dengan menunggang burung hong-mu itu ?"

Rasa sedih muncul didalam hati dewi burung hong indah, tanya dengan suara lirih.

"Bagaimana dengan engkau sendiri ?"

"Aku akan pergi ke benteng Hui-in-cay "

Sekali lagi dewi burung hong indah terkesiap. pikirnya.

"Dia berada disana, kalau dia pergi kesitu bukankah berarti hanya akan mengantar jiwa belaka ?"

Walaupun dalam hati ia berpikir demikian, tetapi perkataan itu tidak langsung diutarakan ke luar, bahkan sengaja tertawa dingin dan berseru.

"Hem engkau sama sekali tiada sungguh-sungguh untuk mengobati lukaku "

"Nona, apa maksudmu berkata demikian ?"

Seru Gak In Ling dengan alis mata bekernyit. Dewi burung hong indah tertawa dingin.

"Ditengah hutan belantara yang jauh dari keramaian dunia banyak binatang buas yang berkeliaran, kalau engkau suruh aku mengobati luka ku seorang diri bukankah itu berarti bahwa kau berharap agar aku mati diterkam binatang buas?"

Gak In Ling merasa perkataan itu benar juga, dikala seseorang sedang mengobati lukanya, bila tiada orang yang berjaga disampingnya maka hembusan anginpun bisa membahayakan jiwanya, namun pemuda itupun tidak berbasil menemukan sesuatu cara yang dirasakan pantas olehnya.

Dengan kebingungan Gak In Ling menengadah keatas, lalu bertanya.

"Lalu apa yang harus kulakukan ?"

"Kurang-lebih lima puluh li dari sini terdapat sebuah gua batu yang bersih, kalau kau bersungguh-sungguh hati mengharapkan agar luka dalam yang kuderita bisa sembuh, bawalah aku ke tempat itu."

Setelah berhenti sebentar ia menambahkan-"cuma setelah kau berhasil menyembuhkan luka dalam yang kuderita, maka akibatnya sudah kuberitahukan kepadamu."

Gak In Ling tertawa tawa.

"Itu tokh urusan dikemudian hari, sekarang mari kita berangkat"

Serunya. Perlahan-lahan dewi burung hong indah bangkit berdiri dari atas tanah kemudian serunya dengan manja.

"Boponglah aku"

Sambil berkata ia rentangkan tangannya menunggu dibopong.

Diatas paras mukanya yang cantik sama sekali tidak terlintas rasa jengah atau tidak senang, semuanya berlangsung begitu bebas dan leluasa, seakan-akan seorang nona cilik yang polos dan belum mempunyai pikiran lain, mungkin pada saat itulah dia benar-benar telah menunjukkan sikap serta tingkah laku kegadisannya.

Gak In Ling nampak ragu-ragu sejenak.

tiba-tiba dia menghela napas panjang lalu berjalan kehadapan dewi burung hong indah dan berjongkok didepan tubuh sigadis.

Pada saat itulah paras dewi burung hong indah berubah jadi merah jengah, ia segera menjatuhkan diri diatas punggung Gak In Ling dan bertanya dengan lirih.

"Apakah kau bersedia membopong diriku ?"

Suaranya lirih dan membawa kemurungan yang tebal.

Sepasang tangan Gak In Ling menjangkau kebelakang, dengan telapaknya dia menahan paha gadis tersebut kemudian bangkit berdiri.

Terasalah pada punggungnya tertempel sebuah badan yang lunak halus dan hangat membuat jantungnya terasa berdebar keras, inilah reaksi dari seorang pria yang normal, meskipun Gak In Ling tidak mempunyai maksud yang jahat, tetapi dia tak mampu untuk menguasai perasaan hatinya.

Gak In Ling tarik napas panjang-panjang, dan menekan golakan perasaan yang terjadi dalam dadanya, lalu bertanya.

"Kita menuju kearah mana ?"

"Ke sebelah selatan "

Gak In Ling tidak bertanya lagi, ia segera menggerakkan tubuhnya dan lari kearah selatan, dari gerakan tubuhnya yang 447 begitu cepat dapat di ketahui bahwa pemuda itu hendak menekan pergolakan hatinya yang aneh dari gerakan tubuhnya yang cepat itu.

Kendatipun jalan gunung sangat susah dilewati, tetapi tidak menyulitkan Gak In Ling yang memiliki ilmusilat yang sangat lihay, perjalanan sejauh lima puluh li dilewatkan dalam waktu sepertanak nasi.

Ditengah perjalanan, tiba-tiba terdengar dewi burung hong indah berseru dengan suara lantang.

"Disebelah kiri ada sebuah dinding tebing, diatasnya tumbuh sebatang pohon siong yang kecil, sudah kau temukan belum ? Goa batu itu terletak dibawah pohon siong tersebut."

Mendengar perkataan tersebut Gak In Ling segera angkat kepala memandang kearah sebelah kiri, sedikitpun tidak salah, kurang lebih dua puluh tombak dari atas permukaan tanah tumbuh sebatang pohon siong yang kecil, pohon itu tumbuh diatas dinding tebing, dan dibawah pepohonan tadi tampaklah sebuah mulut gua seluas beberapa tombak.

Gak In Ling tidak berpikir panjang lagi, dia segera meloncat masuk ke dalam gua tersebut, ketika sorot matanya berputar memeriksa keadaan disekeliling tempat itu tampaklah dinding gua amat bersih dan kering, luasnya kurang-lebih dua tombak persegi.

Setelah berada didalam gua, Gak In Ling membaringkan tubuh dewi burung hong indah ke atas tanah, bisiknya dengan lirih.

"Nona, sekarang kau boleh minum obat tersebut untuk menyembuhkan luka dalammu "

Habis berkata ia segera melangkah keluar dari gua itu. Melihat tindakan sang pemuda, tiba-tiba dewi burung hong indah berteriak keras.

"Hei kau akan pergi kemana ?"

Suaranya murung dan mengandung perasaan tidak tenang, titik air mata mengembang pada kelopak matanya membuat orang yang melihat terasa beriba hati.

"Aku akan melindungi keselamatan nona dari luar gua, aku tak akan pergi terlalu jauh."

Sahut sang pemuda lirih, ia lanjutkan langkahnya dan menuju kemulut gua.

Dalam hati diam-diam dewi burung hong indah menghela napas panjang, perlahan-lahan ia angkat tangannya dan menelan obat tersebut kemudian memejamkan sepasang matanya, dua titik airmata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Dia adalah seorang nona yang berhati keras, tapi sekarang gadis tersebut telah melelehkan airmata, siapa yang akan percaya kalau hatinya sedang risau dan takut karena jiwanya tidak ada yang melindungi ?

Gak In Ling yang duduk diiuar gua bersandar pada dinding tebing, sepasang matanya yang jeli memandang bintang-bintang yang bertaburan diangkasa, siapa pun tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya pada saat ini.

Malam semakin kelam, ditengah kesunyian yang mencekam seluruh jagad, hanya pekikan monyet dan auman harimau dari tempat kejauhan yang kadang kala terdengar, waktu berlalu dengan lambatnya ditengah kesepian dan kegelapan-Tiba-tiba dewi burung hong indah munculkan diri dari balik gua, sambil memandang kearah sianak muda itu tegurnya.

"Engkau belum tidur?"

Suaranya halus, lembut dan penuh bersifat kewanitaan-Terperanjat hati Gak In Ling mendengar teguran itu, dia loncat berdiri dari atas tanah dan menatap lawannya tajam, kemudian baru berkata.

"Sudah sembuhkah nona ?"

Dengan sepasang mata yang jeli dan tajam dewi burung hong indah menatap wajah pemuda itu tanpa berkedip. lalu mengangguk.

"Benar, kau takut ?"

"Hal itu sudah merupakan suatu kejadian yang telah kuduga sejak semula, nona. Apakah sekarang juga kita akan berduel untuk menentukan siapa hidup siapa mati ?"

Kata Gak In Ling sambil tertawa tawa. Dewi burung hong indah tertawa merdu.

"Aku akan cuci tangan lebih dahulu, kalau engkau hendak melarikan diri maka inilah kesempatan yang paling baik bagimu."

Tidak menunggu jawaban dari Gak In Ling, gadis itu segera enjotkan badannya dan lenyap di dalam kegelapan-Memandang kearah bayangan punggung dewi burung hong indah yang pergi menjauh.

Gak In Ling menghela napas panjang, ia duduk kembali sambil bersandar diatas dinding gua, ia tak ingin memperlihatkan kelemahan-kelemahan di hadapannya, disamping itu tak mungkin pula baginya untuk meloloskan diri dari cengkeramannya, maka ia tiada rencana untuk meninggalkan tempat itu.

Gak In Ling berusaha keras untuk menghilangkan pelbagai pikiran yang rumit dari dalam benaknya, membuat pikirannya kosong dan bebas dari gangguan, ditengah kepenatan yang dialami selama beberapa hari belakangan ini, tanpa sadar pemuda itu terlelap tidur dengan nyenyaknya.

Rembulan sudah berada ditengah awang-awang, tengah malam menjelang tiba dewi burung hong indah tiba-tiba muncul kembali di depan mulut gua, entah dimanakah dia berhasil mencuci bersih noda darah yang mengotori wajah serta tubuhnya, pada waktu itu dibawah sorot cahaya rembulan tampaklah wajahnya yang jauh lebih cantik dan menawan hati.

Dengan mulut membungkam ditatapnya wajah Gak In Ling beberapa saat, kemudian dia bergumam seorang diri.

"Ia tertidur dengan begitu nyenyaknya, apakah dia sama sekali tidak takut mati ? Aaaii kenapa dibalik biji matanya 450 selalu terpancar sifat murung yang tebal ? Apakah banyak kesulitan yang sedang dihadapi olehnya ?"

Serentetan kecurigaan yang muncul dalam benaknya tidak berhasil ditemukan jawabannya, karena Gak In Ling selalu menganggap dirinya sebagai musuh, belum pernah mengutarakan kata-kata yang bernada sahabat.

Lama sekali ia menatap wajah Gak In Ling mendadak gadis itu menggerakkan tubuhnya dan jatuhkan diri duduk disamping pemuda itu, tindak-tanduknya begitu manja dan lembut.

Entah karena dia benar-benar lelah ataukah didalam hatinya tiada persoalan yang merisaukan, tidak selang beberapa saat kemudian gadis itupun terlelap tidur dengan pulasnya.

Angin malam berhembus lewat mengibarkan ujung bajunya, ditengah pegunungan yang sunyi dan jauh dari keramaian dunia, ternyata mereka berdua berani tidur dialam terbuka dengan bebasnya.

Tiba-tiba dewi burung hong indah menggerakkan tubuhnya dan membalik kesamping, tubuhnya segera terjatuh kedalam rangkulan Gak In Ling, diikuti tangannya yang kiri bergerak pula kesamping dan kebetulan merangkul tubuh sang pemuda.

Gerakan ini mengejutkan hati Gak In Ling, pemuda itu segera tersadar kembali dari tidurnya, ketika mengetahui apa yang terjadi ia nampak tertegun dan tidak tahu apa yang mesti dilakukan untuk mengatasi keadaan seperti ini.

Angin gunung masih tetap berhembus lewat berhembus bertiup, Dengan teaang Gak In Ling memandang ke arahnya, menyaksikan paras mukanya yang mempesonakan, dengan senyuman yang begitu indah serta memikat hati, bibirnya yang kecil dan memerah oh, betapa nyenyaknya tidur gadis itu.

Makin memandang hatinya makin tertarik, Akhirnya Gak In Ling perdengarkan helaan napas penuh rasa sayang, pikirnya.

"Kalau hatinya bajik dan berbudi halus serta lembut, dia adalah seorang gadis yang amat cantik-jelita dan menawan hati. Benarkah dikolong langit betul-betul tak ada persoalan yang seratus persen sempurna ?"

Maka Gak In Lingpun teringat kembali akan perkataan yang sering diucapkan olehnya demi keselamatan serta keamanan seluruh dunia persiIatan, membuat anak muda itu mau tak mau harus berpikir pula untuk melenyapkan bibit bencana bagi umat persilatan-Ia tundukkan kepalanya memandang sekejap kearah dewi burung hong indah, kemudian pikirnya.

"Sekarang adalah kesempatan yang paling baik bagiku untuk turun tangan, kalau kesempatan ini kulewatkan dengan begitu saja, mungkin dikemudian hari sudah tiada orang lagi yang mampu menaklukkan dirinya..."

Berpikir sampai disini, tanpa terasa telapak tangannya perlahan-lahan diangkat keatas.

Pada saat itulah dewi burung hong indah, yang berada dalam rangkulannya tiba-tiba mengguling kearah lain, disusul gadis itu mengigau dengan suara yang lirih.

"oh ternyata semuanya adalah palsu, tapi aku sama sekali tidak membenci dirimu...."

Tangannya bergerak dan merosot turun dari atas bahu Gak In Ling, tidurnya masih begitu nyenyak dan lelapnya.

Tanpa terasa Gak In Ling menurunkan kembali tangannya, dari lirihannya yang begitu lembut dan halus ia merasa bahwa gadis itu tidak mirip seorang iblis wanita yaag membunuh orang tanpa berkedip.

ia merasa gadis tersebut adalah seorang nona yang manis dan lembut.

Gak In Ling alihkan sorot matanya memandang pula bulu matanya yang halus, ia merasa gadis tersebut nampak begitu lemah-lembut sehingga membutuhkan perlindungan dari orang lain-Akhirnya Gak In Ling menghela napas panjang, gumamnya.

"Aku tidak boleh berbuat demikian aku adalah seorang laki-laki sejati, mencelakai seorang gadis yang lemah di kala orang tidak siap bukanlah tindakan yang harus dilakukan oleh aku orang she Gak "

Sekarang rupanya dia telah melupakan seluruh ambisinya, karena gadis yang berada dihadapan mukanya pada saat ini bukanlah iblis perempuan pembunuh orang tidak berkedip seperti apa yang semula ia bayangkan.

Dengan sangat hati-hati Gak In Ling menggerakkan tubuh dewi burung hong indah dari rangkulannya, kemudian perlahan-lahan bangkit berdiri, sambil memandang wajahnya yang manis dan menawan hati ia bergumam.

"Semoga Thian memberikan welas kasihnya kepada umat manusia serta merubah jalan pikirannya yang tidak benar itu, agar ia dapat pulih kembali jadi seorang gadis lembut yang sungguh-sungguh murni."

Dalam pada itu Bulan telah condong ke arah barat, ditinjau dari cuaca pada saat itu kira-kira telah menunjukkan kentongan keempat, Gak In Ling tarik napas panjang-panjang, sekali lagi ia memandang sekejap keatas wajah dewi burung hoag indah yang cantik jelita, kemudian sambil keraskan-hati ia putar badan menuruni tebing tersebut, dalam beberapa loncatan kemudian bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan.

Dimulut gua tinggal dewi burung hong indah seorang yang masih tertidur nyenyak, ditengah udara bergeraklah seekor burung hong besar seakan-akan sedang melindungi keselamatan jiwa majikannya.

Pada saat itulah dewi burung hong indah membalik tubuhnya, satu senyuman manis tersungging diujung bibirnya, terdengar ia bergumam.

"In Ling, aku akan mengikuti dirimu, kita tak usah takut padanya lagi."

Diikuti satu senyuman manis kembali tersungging diurung bibirnya, siapapun tak tahu mimpi apa yang sedang dialami olehnya, tetapi ada satu yang pasti yaitu dia sedang menguatirkan keselamatan diri Gak In Ling.

cuma sayang pada saat ini sianak muda tersebut telah meninggalkan sisi tubuhnya.

-oo0dw0oo-Sekarang marilah kita ikuti kembali jejak Gak In Ling.

Sepeninggalnya dari gua tersebut ia segera berlarian mengikuti jalan yang dilaluinya semula dan laksana kilat menerjang kearah benteng Hui-in-cay, gerakan tubuhnya begitu cepat hingga seakan-akan hembusan segulung angin.

Setelah melampaui dua buah puncak tebing yang tinggi, tebing batu dimana terletak benteng Hui-in-cay sudah terbentang didepan mata, Gak In Ling merasakan hatinya bergetar keras, rasa tegang mulai menyelimuti seluruh wajahnya namun ia sama sekali tidak menghentikan gerakan tubuhnya.

Tiba-tiba dari arah belakang berkumandang datang suara bentakan keras dan lantang.

"Gak in Ling, berhenti"

Suara orang itu nyaring, kuat dan menggetarkan hati siapa pun, Gak in Ling terperanjat dan tanpa terasa segera menghentikan langkah kakinya.

Ciang liong-sian dengan jubahnya yang berwarna merah berdiri angker kurang lebih duapuluh tombak dihadapannya, dua ekor siluman naga hijau yang sedang mementangkan mulutnya di bawah cahaya sinar rembulan nampak memancarkan cahaya kehijau-hijauan yang amat menyilaukan mata.

Air muka ciang-liong-sian nampak begitu serius dan keren, bahkan secara lapat-lapat nampak diliputi oleh hawa gusar yang sangat tebal.

Gak In Ling tidak tahu apa sebabnya ia bisa berjumpa dengan jago tua di tempat ini, semakin tidak tahu mengapa ia menunjukkan sikap yang begitu gusar, sambil maju memberi hormat segera sapanya.

"cianpwe, ada urusan apa kau datang kemari ?"

"Yang datang kemari bukan hanya aku seorang, masih ada yang lebih banyak lagi di belakang sana."

Gak In Ling semakin tertegun mendengar jawaban itu, kembali ia bertanya dengan keheranan "Bolehkah aku tahu karena persoalan apa cianpwe datang kemari ?"

"Karena kau "

"Karena aku?"

Gak In Ling semakin tertegun dan kebingungan tak habis mengerti terlintas diatas wajahnya.

"Darimana cianpwe bisa tahu kalau aku berada disini ?"

Ketika ciang-liong-sian melihat rasa kaget dan tercengang yang terpancar diatas wajah Gak In Ling, kemudian disatukan dengan jalan pikiran yang semula sudah menyelimuti benaknya, ia segera salah mengartikan ucapan dari sianak muda itu.

Sambil tertawa dingin segera serunya.

"Gak In Ling, kalau kau tidak ingin mengetahui rahasianya diketahui orang janganlah berbuat hal tersebut, dibawah tanda perintah Nirwana seluruh anak muridnya telah tersebar luas di seluruh jagad untuk memburu jejakmu, kau anggap perbuatan yang telah kau lakukan itu tidak diketahui orang lain ?"

Air muka Gak In Ling berubah hebat sesudah mendengar ucapan tersebut, pikirnya.

"Perbuatan salah apakah yang telah kulakukan terhadap pihak gadis suci dari Nirwana ? Kalau dikatakan setiap kali aku membunuh manusia telah dianggapnya sebagai menyalahi pihak mereka. Hm, sikap mereka itu benar-benar terlalu kelewat batas."

Makin dipikir ia merasa semakin gusar, air mukanya berubah hebat dan rupanya ia hendak mengumbar hawa napsunya, tapi sejenak kemudian ia telah menyabarkan diri dan bertanya dengan suara berat.

"Perbuatan apa yang telah kulakukan ?"

"Hm Tanyalah pada dirimu sendiri....bukankah perbuatan yang kau lakukan hanya kau sendiri yang tahu jelas ?"

Sahut ciang-liong-sian dengan marah. Air muka Gak In Ling kembali berubah hebat, katanya dengan dingin.

"cianpwe, aku Gak In Ling menghormati dirimu, tapi setiap persoalan pasti ada batas-batasnya, kalau cianpwe memaksa terus-menerus sedangkan aku sama sekali tidak tahu-menahu apa yang kau maksudkan, bagaimana urusan bisa dibikin beres ? Sebenarnya apa maksudmu ?"

Dengan sorot mata berkilat ciang-liong-sian menatap tajam wajah pemuda itu, lalu bertanya.

"Setelah kau tinggalkan hutan bunga bwe di Nirwana, kemana saja engkau pergi?"

Merah-padam selembar wajah Gak In Ling setelah mendengar ucapan tersebut, lama sekali ia baru menjawab.

"Persoalan itu merupakan urusan pribadiku."

Ketika dilihatnya air muka Gak In Ling berubah jadi merah padam karena jengah, ciang-liong-sian semakin percaya bahwa apa yang diduganya sama sekali tidak meleset, 456 jenggotnya bergoncang keras tanpa terhembus angin, tiba-tiba ia menengadah keatas dan tertawa keras.

"Haa..,.. haa..... haa.,... Gak In Ling terlalu sederhana jalan pikiranmu itu, urusan pribadi mu? Apakah mati-hidup anak murid dibawah perintah Nirwana juga terhitung soal pribadimu ?"

Semakin lama Gak In Ling semakin kebingungan, akhirnya ia tak dapat menahan diri dan berseru.

"Apa sangkut pautnya antara aku dengan anak murid dibawah perintah gadis suci dari Nirwana ?"

Sorot mata bengis memancar keluar dari mata ciang-liongsian, serunya dengan lantang.

"Apa kau sudah lupa ? Engkau telah memperkosa tiga orang gadis kemudian membunuh mereka setelah kau nodai apakah kau sudah melupakan perbuatanmu itu? Terimalah seranganku ini"

Sambil berkata secara tiba-tiba dia lancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat kearah dada pemuda itu. Terperanjat hati Gak In Ling setelah mendengar tuduhan itu, serunya tergagap.

"Memperkosa dan membunuh ?"

Tenaga dalam yang dimiliki ciang-liong-si-an amat sempurna, serangan yaag dilancarkan dalam keadaan gusar itu tentu saja telah disertai dengan tenaga dalam sebesar sepuluh bagian, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya ancaman tersebut.

Karena terperanjat setelah mendengar tuduhan itu, untuk beberapa saat lamanya Gak In Ling berdiri tertegun serta mengabaikan datangnya ancaman dari ciang-liong-sian, menanti ia menyadari akan mara-bahaya yang sedang mengancam datang, untuk menghindarkan diri sudah tak sempat lagi.

"cepat menghindar "

Terdengar ciang-liong sian membentak keras. Tetapi terlambat.

"Blaam "

Ditengah benturan yang amat keras terdengar Gak In Ling mendengus berat.

Untuk beberapa saat lamanya suasana pulih kembali dalam kesunyian serta keheningan.

Tiga tombak dari sisi kalangan berbaringlah tubuh Gak In Ling dengan mulut berlepotan darah, perlahan-lahan ia meronta bangun, darah segar masih mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh wajah dan pakaiannya, sorot mata yang sayu serta air mukanya yang pucat-pias bagaikan mayat membuat wajah pemuda itu nampak menyeramkan-Dengan kaku ciang-liong-sian menatap wajah Gak In Ling, dari kebimbangan serta keraguan yang terpancar dari pemuda itu, membuat jago tua itu menyadari bahwa serangan tersebut di lancarkan terlalu tergesa-gesa.

Dengan pandangan yang sangat dingin Gak In Ling menyapu sekejap wajah ciang-liong-sian kemudian berkata.

"Tenaga serangan yang dipergunakan cianpwe barusan terlalu kecil. tidak semestinya engkau gunakan tenaga sekecil itu "

Perlahan-lahan ciang-liong-sian maju kedepan, dengan perasaan tidak tenang ia bertanya.

"Setelah kau tinggalkan hutan bunga bwee, kau lalu pergi kemana ?"

"Apakah cianpwe tidak percaya dengan jalan pikiranmu sendiri?"

Sahut Gak In Ling sambil tertawa dingin.

Ciang-liong-sian sama sekali tidak marah, dia hanya menghela napas berat sambil berkata "Aaaaii kalau aku percaya dengan jalan pikiranku sendiri, tidak mungkin aku bisa datang kemari lebih duluan untuk 458 mencari engkau, tetapi aku memang terbaru napsu, sebelum duduk perkara dibikin beres, aku telah turun tangan lebih dahulu kepadamu "

"Kalau memang begitu aku orang she Gak harus mengucapkan banyak terima kasih lebih dahulu kepada cianpwe "

Kata Gak In Ling dengan suara hambar. Dengan perasaan menyesal ciang-liong-sian gelengkan kepalanya.

"Tidak perlu, asal kau bersedia memberitahukan kepadaku ke mana saja kau telah pergi, itu sudah lebih dari cukup"

Gak In Ling dengan perasaan berat mengangguk, jawabnya.

"Setelah kutinggalkan hutan bunga Bwee di Nirwana, aku telah menderita kekalahan yang sangat memalukan dibawah sepasang kaki dari dewi burung hong indah."

"Burung hong sakti dari luar samudra?"

Seru ciang-liongsian dengan nada terperanjat.

"Sedikitpun tidak salah "jawab Gak In Ling sambil tertawa.

"Dia memang burung hong sakti dari luar samudera. Kemudian aku dikirim kesekitar bukit cah-thian-hong hingga hampir-hampir saja menemui ajal diatas puncak bukit tersebut. Selama beberapa hari ini aku berjalan melewati daerah pegunungan hingga tiba disini dan berjumpa kembali dengan dewi burung hong untuk kedua kali."

Maka diapun segera menceritakan seluruh pengalaman yang dialaminya selama ini.

Mendengar penuturan tersebut air muka ciang-liong-sian beberapa kali nampak berubah hebat, akhirnya tak tahan lagi ia berseru.

"Jadi kau telah berjumpa dengan kakak seperguruanku ?"

Satu ingatan dengan cepat berkelebat lewat dalam benak Gak In Ling, dia lantas berkata.

"Aku hanya sempat bertemu dengan seorang penebang kayu tua yang memiliki ilmu silat sangat tinggi, entah orang itu adalah kakak seperguruanmu atau bukan."

Dari dalam sakunya dia ambil keluar kitab pusaka ilmu telapak maut dan diangsurkan kedepan, ujarnya lebih jauh.

"Ia tidak bersedia mengungkapkan asal-usulnya. Nih, lihatlah, benda ini ia hadiahkan kepadaku "

Setelah melihat kitab catatan tersebut, air muka ciangliong-sian berubah hebat, serunya dengan cepat.

"Sedikitpun tidak salah, orang yang engkau jumpai itu adalah kakak seperguruanku."

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ia menghela napas dan menyambung lebih jauh.

"Kakak seperguruanku berwatak tinggi hati dan suka menyendiri, tindakannya tidak lurus pun tidak sesat, kalau dilihat kesediaannya untuk menghadiahkan kitab catatan ilmu telapak mautnya kepadamu, aku rasa mungkin inilah yang dinamakan takdir"

"Hm, engkau mengatakan orang lain lurus tidak-sesatpun tidak. apakah perbuatanmu sendiri juga tidak begitu ?"

Batin Gak In Ling didalam hati.

Meskipun ia berpikir begitu tentu saja ucapan tersebut tidak sampai diutarakan keluar.

Sekali lagi ciang-liong-sian menatap wajah Gak In Ling, kemudian dengan wajah serius berkata.

"Mula pertama aku sendiripun ada hasrat untuk mewariskan ilmu telapak maut yang kumiliki kepadamu, tapi sekarang sudah tiada waktu lagi. Kalau tokh ia bersedia menghadiahkan kitab pusaka bagian atasnya kepadamu, sudah tentu akupun bersedia pula menghadiahkan kitab pusaka bagian bawahnya kepadamu. Sepanjang seratus tahun belakangan ini ilmu telapak maut merupakan maut kepandaian 460 yang maha ampuh, tetapi berhubung kitab pusakanya terdiri dari dua bagian dan selama ini bagian atas tak pernah disatukan dengan bagian bawahnya maka belum pernah ada orang yang berhasil melatih ilmu tadi hingga mencapai puncak kesempurnaan-Nampaknya seratus tahun kemudian ilmu telapak maut bakal tersohor dan menggetarkan dunia persilatan kembali dari tanganmu Gak In Ling."

Berbicara sampai disitu dia merogoh kedalam sakunya dan ambil keluar se

Jilid kitab persis apa yang dimiliki Gak In Ling dan diangsurkan ketangan sianak muda itu, katanya.

"Gak In Ling, terimalah pemberian kitabku ini"

Gak In Ling mundur satu langkah kebelakang dan menggeleng.

"cianpwe, jangan lupa kalau waktu hidup bagi aku Gak In Ling dikolong langit sudah tidak panjang lagi "

Katanya, nada perkataan itu kedengaran begitu kesal dan menyedihkan-ciang-liong-sian menengadah dan menghela napas panjang.

"Aaai. selamanya aku paling tidak perCaya terhadap takdir."

Katanya.

"Tetapi sekarang aku telah mempercayainya. Gak In Ling, semua persoalan yang bakal terjadi dikolong langit telah digariskan oleh takdir,janganlah ragu-ragu untuk menerimanya."

Sambil berkata ia maju kedepan dan menyusupkan kitab pusaka tadi kedalam genggaman si anak muda itu, katanya.

"Peristiwa dinodainya anak murid dari gadis suci dari Nirwana benar-benar telah terjadi, gadis-gadis tersebut setelah diperkosa telah dibunuh secara sadis dan orang yang melakukan perbuatan terkutuk itu memiliki bayangan punggung persis seperti potongan badanmu, sekarang gadis suci dari Nirwana telah memerintahkan segenap jago lihaynya untuk memburu jejakmu serta menangkap engkau, dalam beberapa waktu singkat persoalan ini tak mungkin dapat diselesaikan dengan sepatah-dua patah belaka, karena itu gunakanlah kesempatan yang sangat baik ini untuk melarikan diri untuk mencari suatu tempat yang tersembunyi untuk 461 menyembunyikan diri dari pengejaran mereka, gunakan peluang ini untuk melatih ilmu telapak mautmu hingga berhasil. orang yang telah memfitnah dirimu pasti tak akan tahu kalau engkau telah menyembunyikan diri, jika ia sudah tertangkap oleh gadis suci dari Nirwana maka urusanmupun pada saat itu akan menjadi beres dengan sendirinya."

Mendengar perkataan itu dengan gemas dan penuh kebencian Gak In Ling berseru.

"Gadis suci dari Nirwana benar-benar seorang perempuan yang menjemukan, siapa salah siapa benar belum diselidiki hingga jelas, namun ia selalu memaksa dan mendesak aku orang she Gak terus menerus. Hm, suatu ketika..."

"Waktu tempo hari kau tinggalkan hutan bunga Bwee, ia telah menyusul dirimu hingga tiba dibawah kaki bukit Tiang pek-san, tetapi ia gagal berjumpa dengan dirimu, karena itulah dia lantas mengira kau telah menggunakan kesempatan itu untuk membalas dendam terhadap dirinya."

Ujar ciangliong-sian dengan cemas. Tidak menunggu Gak In Ling buka suara, kembali dia berkata lebih lanjut.

"Kalau dihitung waktunya, sebentar lagi mereka pasti sudah akan datang kemari, aku merasa tidak leluasa untuk berdiam terlalu lama disini, cepatlah kau menyingkirkan diri "

Habis berkata ia segera enjotkan badan dan berlalu lebih dahulu dari tempat itu. Memandang kearah bayangan punggung ciang liong-sian yang lenyap dibalik kegelapan, Gak Ia Ling bergumam seorang diri.

"Engkau telah lupa bahwa aku Gak In Ling telah menderita luka dalam yang sangat parah."

Sorot matanya perlahan-lahan menyapu sekejap kesamping kiri dan kanan, kemudian dia menggerakkan tubuhnya siap berlalu dari situ.

Mendadak dari arah depan berkumandang datang suara teguran seorang perempuan yang bernada dingin dan ketus.

"Gak In Ling, kau hendak melarikan diri ke mana?"

Gak In Ling menengadah keatas, dia lihat tongkat emas seruling perak Leng Siang Ji telah menghadang jalan perginya, diatas kerutan wajahnya yang tua dan ketus penuh diliputi hawa nafsu membunuh yang tebal.

Menyaksikan kehadiran jago tua itu, diam-diam Gak In Ling berpikir didalam hati kecilnya.

"oh, diapun sudah dikirim kemari, nampaknya nasibku pada hari ini jauh lebih banyak jeleknya daripada untungnya."

Sesudah termenung sebentar, ia menjawab dengan dingin.

"Kenapa aku harus melarikan diri ?"

"Hm, benar engkau tak usah melarikan diri sebab tak mungkin bagimu untuk meloloskan diri dari sini "

Sahut tongkat emas seruling perak Leng Siang Ji sambil mendengus dingin. Gak In Ling mengerutkan sepasang alis matanya, kemudian membantah.

"Bukannya aku tak mampu meloloskan diri, aku merasa tiada alasan untuk melarikan diri."

Tiba-tiba dari arah dua puluh tombak dibelakang tubuhnya berkumandanglah suara seruan merdu yang bernada dingin.

"Gak In Ling, kau pandai sekali berlagak pilon "

Menyusul suara itu berkelebatlah enam sosok bayangan manusia.

Dari suara teguran tersebut, Gak In Ling segera mengetahui siapakah yang telah datang, dia alihkan sorot matanya menyapu sektjap kearah gadis suci dari Nirwana, Suput-siang serta keempat orang dayangnya yang baru saja melayang turun keatas tanah, lalu dengan nada ketus katanya.

"Leng-cu, kembali kita berjumpa muka lagi"

Gadis suci dari Nirwana alihkan sorot matanya kearah pemuda itu, ketika menyaksikan air muka Gak In Ling yang pucat bagaikan mayat, bibirnya yang kecil menggetar seperti mau mengucapkan sesuatu, kakinya melangkah setindak ke depan, semuanya itu merupakan semacam reaksi yang leluasa dan bukan suatu kesengajaan-Tetapi hanya satu tindak ia maju kedepan untuk kemudian berhenti kembali, sekuat tenaga ia menahan pergolakan batinnya yang kalut, sinar matanya dialihkan kearah lain dan kemudian ujarnya dengan ketus.

"Mulai detik ini, kita sudah tiada kesempatan lagi untuk berjumpa muka dilain waktu"

Gak In Ling tertawa dingin, sambil menyeka noda darah yang melekat diujung bibirnya ia mengejek.

"Apakah Leng-cu yakin bisa melakukan hal tersebut"

"Tentu saja "jawab gadis suci dari Nirwana sambil mengangguk. nada suaranya dingin dan ketus.

"Hee hee hee sekarang kau baru dapatkan kesempatan itu "

Ejek Gak In Ling sambil tertawa dingin. Sepasang alis mata gadis suci dari Nirwana kontan berkernyit, dengan penuh kegusaran teriaknya.

"Dahulu juga ada kesempatan, tetapi pada waktu itu nonamu merasa tak tega dan ingin mengampuni selembar jiwamu, sungguh tak nyana kau bajingan tengik, bangsat cabul yang tak tahu diri, betul-betul terkutuk. bukannya berterima kasih karena sudah diampuni, malahan datangkan bencana pada anak murid kami."

Makian "bajingan tengik"

Atau "bangsat cabul"

Itu seketika mengobarkan hawa amarah dalam dada Gak In Ling, tak bisa ditahan lagi ia membentak dengan penuh kegusaran-464

"Engkau tak becus menghadapi persoalan, sungguh memalukan sebagai seorang pimpinan masyarakat. Aku jadi menguatirkan keselamatan dari sesama umat persilatan, lebih-lebih merasa sayang bagi keadilan serta kebenaran dalam dunia kangouw, karena orang yang mengepalai mereka ternyata adalah seorang pemimpin tolol dan goblok hingga tidak ketolongan lagi "

Gadis suci dari Nirwana sama sekali tidak gusar, sambil tertawa dingin ia hanya berkata.

"Gak In Ling, kau benar-benar tenang dan pandai membawa diri."

"Hee hee hee tiada persoalan yang bisa membuat hatiku jadi gugup atau gelisah,"

Sahut si pemuda ketus.

"Engkau sudah melupakan tiga lembar jiwa dibawah kaki bukit Tiang-pek-san ?"

"Aku tidak pernah membunuh orang dibawah kaki bukit Tiang-pek-san "

"Engkau ingin menyangkal?"

Bentak gadis iuci dari Nirwana dengan penuh kegusaran "Tetap perkataan semula, aku tak pernah melakukannya."

Teriak pula Gak In Ling dengan marah.

"Hm Gak In Ling, kenyataan sudah tertera didepan mata, kau masih ingin menyangkal ?"

"Leng-cu, buat apa banyak bicara dengan bajingan cabul itu ?"

Timbrung Su-put-siang dari samping.

"Lebih baik cepat-cepat kita jagal saja bukankah beres ?"

Gak In Ling tertawa dingin-"Hee hee. ... hee akupun ingin sekali menjajal kemampuan dari para jago lihay dibawah perintah Yau-ti leng-cu, siapa yang akan memberi petunjuk kepadaku? "

"Gak In Ling, kemari, ayo maju. Aku akan melayani dirimu untuk bergebrak beberapa jurus."

Seru tongkat emas seruling perak Leng Siang Ji sambil melangkah maju kedepan Gak In Ling telah menyadari bahwa persoalan yang terjadi pada saat ini akhirnya tokh harus diselesaikan lewat kekerasan, maka secara memaksakan diri hawa murninya segera dihimpun keseluruh badan, sisa hawa murninya sebesar dua bagian dikerahkan kedalam telapak, kemudian serunya dengan nada menyeramkan.

"Ayolah cepat turun tangan "

Tongkat emas seruling perak Leng Siang Ji berpaling dan memandang sekejap kearah gadis suci dari Nirwana, ketika dilihatnya air muka Leng cu-nya berubah tak menentu ia jadi takut kalau pemimpinnya ini secara tiba-tiba merubah rencananya ditengah jalan dan melepaskan Gak In Ling, maka sambil berpaling telapak tangannya segera didorong kedepan melancarkan serangan denganjurus Tui-san-tiam-hay atau mendorong bukit membendung samudra, bentaknya.

"Sambutlah seranganku ini "

Pada saat itu Gak In Ling menderita luka dalam yang sangat parah, ia tahu berusaha menghindarkan diri hanyalah membuang tenaga dengan percuma, tokh akhirnya tetap akan menderita kalah, dan kalau tubuhnya sudah tidak berkutik maka ia bakal dijagal secara keji, karena itu dia mengambil keputusan untuk menyambut datangnya serangan tersebut.

Ingatan tersebut berkelebat dalam benak Gak In Ling dengan cepatnya, melihat serangan sudah tiba dia segera membentak keras.

"Bagus sekali datangnya seranganmu itu"

Sepasang telapaknya bekerja bersama, dengan mengerahkan sisa kekuatan yang dimilikinya ia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

"Blaaam"

Ditengah bergeletarnya suara yang memekakkan telinga, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, pusaran angin tajam berdesing keras.

Sepasang biji mata gadis suci dari Nirwana yang jeli menatap tajam wajah Gak In Ling tanpa berkedip.

tampak olehnya pemuda itu mundur sempoyongan kebelakang sejauh enam-tujuh langkah dari tempat semula, tubuhnya pada saat ini sudah berada ditepi jurang.kalau dia mundur selangkah lagi niscaya badannya sudah tercebur ke dalam sungai.

Darah bagaikan pancuran mengucur keluar tiada hentinya dari ujung bibirnya yang tersungging senyuman sinis, begitu keras kepala dan pedih pancaran sinar wajahnya membuat orang merasa iba.

-oo0dw0oo-

Jilid 14 AIR muka gadis suci dari Nirwana berubah hebat, tanpa sadar dia maju dua langkah ke depan, bibirnya bergetar berulang kali, seperti mau mengucapkan sesuatu, tetapi tak sepatah katapun yang sempat meluncur keluar, karena itu siapa-pun tidak tahu apa yang hendak diucapkan olehnya.

Tongkat emas seruling perak Leng Siang Ji sendiri, setelah berhasil menghajar mundur Gak In Ling wajahnya tetap dingin, sambil tertawa dia berkata.

"Gak In Ling, coba tengoklah kearah belakang "

"Hee hee hee tak usah dilihat lagi, kalau mau pamerkan kehebatanmu lebih baik hajar dulu diriku sampai tercebur kedalam sungai."

Tongkat emas seruling perak Leng Siang Ji tidak menyangka kalau Gak In Ling masih bersikap demikian tenang walaupun kematian sudah berada diambang pintu, tak tahan lagi ia berkata.

"Gak In Ling, kau memang mempunyai kelebHan yang tidak dimiliki orang lain, tetapi aku tak dapat mengampuni dirimu "

"Ha haa haa kau anggap aku sedang mengharapkan pengampunan dari kalian?"

Air muka tongkat emas seruling perak berubah jadi dingin bagaikan es, serunya.

"Baik, baik akan kubuktikan apakah benar engkau sama sekali tidak takut mati ?"

Seraya berkata sepasang telapaknya perlahan-lahan diangkat keatas dan didorong kearah dada Gak In Ling.

Pada saat ini apabila telapak tersebut bersarang diatas dada sianak muda itu, niscaya dia bakal tercebur kedalam sungai.

Tiba-tiba gadis suci dari Nirwana berseru dengan nada dingin.

"Tunggu sebentar, dibawah kekuasaanku selamanya tak kubunuh orang yang masih belum puas, Gak In Llog Apakah engkau ingin mengetahui siapakah saksinya ?"

Gak In Ling tertawa dingin.

"Hee hee hee. ... aku tak pernah membunuh orang, kenapa mesti takut berhadapan dengan saksi ?"

Serunya.

"Hm Mungkin kau masih belum tahu kalau saksinya adalah dia."

"Siapa ?"

Gadis suci dari Nirawana berpaling kebelakang dan berseru.

"Heng-tay, silahkan unjukkan diri "

"Aku telah datang"

Bentakan keras berkumandang dari kejauhan, disusul munculnya secara tiba-tiba seorang lelaki kekar bagaikan raksasa di tengah gelanggang.

Begitu melihat orang yang muncul, Gak In Ling merasa terperanjat, serunya dengan cepat.

"oooh, rupanya saudara..."

Siapakah orang itu ?

Ternyata dia bukan Iain adalah manusia bertato sembilan naga.

Manusia bertato sembilan naga adalah seorang manusia kasar yang polos danjujur, ketika menjumpai Gak In Ling berdiri disitu, dengan sepasang mata melotot besar dia segera putar toya baja sambil meraung keras.

"Tempo hari aku manusia bertato sembilan saga salah menganggapmu sebagai malaikat, sebagai dewa yang agung, sungguh tak nyana sebenarnya engkau adalah seorang bajingan tengik... seorang manusia cabul yang terkutuk mari mari coba rasakanlah sebuah gebukan toya bajaku ini"

Sambil berkata dia ayunkan toya bajanya dan siap dHantamkan kearah tubuh pemuda itu. Gak In Ling tertawa tawa, katanya.

"Tunggu sebentar, apakah heng-tay melihat jelas apakah perbuatan itu akukah yang melakukannya ?"

Dengan penuh kegusaran manusia bertato sembilan naga melototkan sepasang matanya bulat-bulat, sahutnya.

"Sekalipun engkau sudah hangus jadi abu aku akan mengenali dirimu setelah melihat potongan badanmu, kau masih ingin menyangkal lebih jauh?"

Gak In Ling tertawa sedih, jawabnya.

"Selama ini aku selalu menganggapmu sebagai satu-satunya sahabat karibku, oleh karena itu belum pernah kita saling beradu kekuatan, rupanya ini hari aku harus mencoba keampuhan ilmu silat dari heng tay "

Manusia bertato sembilan naga adalah seorang manusia yang berwatak berangasan, mendengar ucapan itu dia segera ayunkan toya bajanya sambil meraung keras.

"Apakah kau anggap aku takut kepadamu ? Sambutlah seranganku ini"

Sambil membentak keras dengan jurus "Lek gang.ngo-ti"

Atau membumi-ratakan lima bukit, telapaknya langsung disodok kearah dada GakIn Ling.

Angin pukulan menderu bagaikan tajamnya golok.

diiringi pula deruan geledek dan petir bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan tersebut.

"Suatu hubungan bathin yang amat dingin."

Tiba-tiba gadis suci dari Nirwana merasakan hatinya bergetar keras, secara tiba-tiba ia teringat kembali perkataan dari perempuan naga peramal sakti yang menyuruh dia mempunyai perasaan hati yang hangat dan sangat dingin-Menyaksikan kematiannya ini dengan hati tercekat ia berteriak keras.

"Tunggu sebentar"

Tetapi semuanya sudah terlambat, terdengar suara benturan keras yang menggeletar diangkasa, sesosok bayangan segera mencelat kedalam sungai dibawah tebing.

-oo0dw0oo-Rembulan yang indah memancarkan cahaya yang berwarna keperak-perakan ke seluruh puncak bukit yang berdempetan satu sama lainnya, ditengah kesegaran nampak suasana begitu lembut dan tenang mendatangkan kehangatan bagi siapa pun.

Malam telah larut, suasana hening dan sunyi, hanya gulungan ombak dahsyat ditengah sungai yang masih menggulung tiada hentinya, menggulung dan menggelora tiada hentinya tak kenal waktu, baik siang ataupun malam, mengalir dan mengalir terus waktu ikut berlalu tanpa terasa....

Rembulan mulai bergeser kearah langit sebelah barat, cahaya perak yang lembut dan halus mulai condong kearah lain dan menerangi dinding tebing curam yang ada disebelah 470 barat.

Menyoroti sebuah tonjolan batu cadas yang besar dan mengerikan-Batu itu adalah sebongkah batu karang berwarna hitam, jaraknya dari puncak tebing ada ratusan tombak tingginya, dan itulah satu-satunya tonjolan batu diatas dinding batu yang halus dan licin bagaikan kaca itu.

Tonjolan batu karang itu menyerupai wajah manusia, namun tidak sehalus raut manusia yang sebenarnya karena sepasang matanya yang melotot keluar nampak kasar, entah semua itu adalah hasil karya manusia atau alam, sepasang mata tersebut memancarkan cahaya hijau yang menyilaukan mata, ditambah mulut besar yang membentang lebar dengan tiang-tiang, batu putih yang menyerupai gigi, dibawah sorot sinar rembulan kelihatan menakutkan sekali.

Disekitar batu yang terukir sebagai kepala setan itu bertaburkan pula batu-batu lain yang melukiskan pula muka-muka setan entah berapa jumlahnya, pada wilayah seluas beberapa tombak yang nampak hanya batu-batu dengan muka setan pada tiap batu bermuka setan itu tergantunglah batu-batu permata, ada yang hijau ada yang merah sebagai mata, membuat ukiran batu itu nampak semakin hidup dan mengerikan-Ditinjau dari letak batu-batu permata tersebut dapatlah diketahui bahwa kesemuanya itu adalah hasil karya seseorang.

Tiba-tiba dinding batu warna merah yang letaknya persis pada mulut kepala setan besar itu berkumandang suara kelenyitan yang amat nyaring disusul terbukanya sebuah pintu rahasia, seorang nenek tua berambut putih perlahan-lahan munculkan diri dari balik pintu tadi, langkahnya masih gagah dan cekatan, jauh berbeda dengan usianya yang lanjut serta rambutnya yang telah beruban semua itu.

Nenek tua berambut putih itu berjalan menuju ke bawah sebatang tiang batu sebagai gigi raksasa dimulut batu 471 berbentuk setan itu kemudian menengadah keatas.....

ya, ampun, dia setan atau manusia ?

Tampak paras mukanya penuh dengan keriput yang berlapis-lapis, matanya berwarna merah darah dengan sepasang alis panjang berwarna putih bagaikan salju, sinar mata yang terpancar keluar nampak mengerikan sekali, dari potongan mukanya itu sungguh membuat orang susah untuk mempercayai apakah dia manusia atau setan-Nenek tua itu menengadah keatas memandang rembulan diangkasa, kemudian ia berpali kearah pintu dan teriaknya dengan suara lembut.

"Anak Hue, cepat keluar dan coba lihatlah bulan pada malam ini indah sekali "

Dari dalam gua segera berkumandang keluar suara seruan yang merdu.

"Nenek. cepatlah kemari lihatlah apakah dia akan sadar? cepat-cepatlah kemari"

Nada suaranya merdu dan sedap didengar. Rupanya nenek tua bermuka setan itu bukan setan tapi manusia biasa, ketika mendenga teriakan itu wajahnya berubah lalu bergumam seorang diri.

"Selama tiga hari belakangan ini nampaknya anak Kun benar-benar sudah terpikat olehnya, sehari-semalam terus-menerus berjaga di samping pembaringannya tanpa meninggalkan barang selangkahpun, kalau saja semula aku tahu begitu, dari dulu-dulu orang itu sudah kuceburkan kembali kedalam sungai."

Dari balik gua kembali berkumandang datang suara teriakan yang merdu bercampur gelisah itu.

"Nenek. cepat lihatlah Kenapa sih kau ini?"

Nada suaranya mengandung rasa mendongkol dan marah. Wajah nenek tua muka setan itu kembali berubah, buru-buru jawabnya.

"Aku sudah datang... aku sudah datang... nona "

Agaknya hubungan diantara mereka berdua adalah hubungan antara majikan dengan pembantu.

Agaknya nenek tua bermuka setan takut sekali kalau sampai nonanya gusar, buru-buru ia mengempos tenaga dan berkelebat masuk kedalam gua dengan gerakan bagaikan hembusan angin, dalam sekejap mata saja bayangan tubuhnya telah lenyap dibalik hutan-Tempat itu merupakan sebuah ruang batu kecil yang megah dan kokoh, intan permata berserakan dimana mana, ruangan seluas lima tombak dengan empat penjuru berdinding putih itu boleh dibilang hampir tiada suatu tempatpun yang kosong, meskipun intan permata itu bergelantungan begitu banyak tetapi tidak sampai membuat orang yang memandang merasa muak ataupun punya pikiran tempat itu tidak teratur..

Dengan bergelantungnya intan permata di-mana-mana, ruang batu itupun nampak terang bercahaya.

Pada sudut kanan dekat dinding batu ruangan itu membujurlah sebuah pembaringan batu berwarna kuning gading, diatas pembaringan berselimutkan kain kuning, berbaringlah seorang pemuda tampan berwajah semu merah, dari ujung bajunya yang terselip diluar selimut bisa diketahui bahwa pemuda itu mengenakan baju berwarna hitam.

Disisi pembaringan duduklah seorang gadis cantik setengah telanjang yang berambut panjang terurai hingga kepundak, begitu cantik wajah gadis itu seakan-akan bidadari dari kahyangan, pada tubuh bagian bawahnya gadis itu hanya mengenakan selembar kain berwarna kuning yang menutup tubuhnya hingga batas lutut, sedang bagian atasnya sama sekali telanjang bulat, sepasang payudaranya yang putih halus 473 dan montok terbentang nyata didepan mata mendatangkan suatu pemandangan yang sangat indah.

Sementara itu sorot matanya dengan tajam sedang menatap wajah pemuda itu tanpa berkedip.

rasa gelisah dan tidak tenang terselip diantara paras mukanya yang cantik itu.

ooh, gadis itu amat polos dan menawan, terutama sorot matanya yang begitu suci bersih dan halus.

Pintu kamar disebelah belakang perlahan-lahan dibuka orang, disusul nenek tua bermuka setan itu berjalan masuk kedalam.

Gadis cantik setengah telanjang tadi segera berpaling kebelakang, kemudian teriaknya.

"Nenek. cepatlah lihat, bukankah dia sudah akan sadar ? Aaai sungguh membuat hatiku cemas."

Nenek tua bermuka setan memandang sekejap kearah pemuda yang berbaring diatas pembaringan tersebut, kemudian mengangguk.

"Hm, dia memang sebentar lagi akan sadar"

Berbicara sampai disitu dia lantas mengambil secarik kain kuning dari atas meja batu dan diserahkan kepada gadis setengah telanjang tersebut seraya berkata.

"Kenakanlah pakaian ini "

"ogah ahh "jawab sang gadis cantik dengan sepasang alis matanya bekernyit.

"Aku segan memakai pakaian."

"Sebentar lagi bila dia telah sadar dan menjumpai keadaanmu itu, maka dia akan menjadi gusar."

Seru nenek bermuka setan dengan nada amat gelisah.

Tertegun hati gadis cantik setengah telanjang itu setelah mendengar perkataan itu, sambil membelalakkan sepasang matanya dengan perasaan tak tenang serunya.

"Benarkah itu nenek? Menurut pendapatmu apa sebabnya dia akan marah jika melihat keadaanku ini ?"

Perasaan hatinya menunjukkan sikap tidak tenang, gelisah dan tidak habis mengerti. Nenek bermuka setan itu memandang sekejap lagi kearah sang pemuda yang berbaring diatas pembaringan, lalu menjawab.

"Dia adalah seorang pria, karena itu jikalau dilihatnya engkau berada dalam keadaan seperti itu tentu akan dianggapnya engkau sebagai seorang perempuan yang tidak genah."

Air muka gadis cantik itu berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan dingin.

"Siapa berani mengatakan bahwa aku adalah perempuan tidak genah ?"

Dalam pada itu pemuda yang berbaring diatas pembaringan secara tiba-tiba memperdengarkan suara helaan napas panjang yang berat dan mendalam, kemudian perlahan-lahan membuka matanya, ketika sorot matanya terbentur dengan dandanan sang gadis cantik dalam keadaan setengah telanjang itu, wajahnya seketika berubah jadi merah-padam karena jengah, buru-buru dia melengos kearah lain sambil bertanya dengan ketus.

"Tempat apakah ini ?"

Rupanya gadis cantik setengah telanjang itu merasa amat girang ketika dilihatnya pemuda tersebut sudah sadar dari pingsannya, mendengar pertanyaan itu buru-buru ia tertawa dan menjawab.

"ooh Engkau telah siuman ?"

Ia segera menarik tangan sianak muda itu tingkah lakunya begitu polos, suci dan bersih.

Sekuat tenaga pemuda itu meronta dari cekalan dan loncat bangun dari atas pembaringan kemudian melayang turun kelantai, gerakan tubuhnya amat cepat bagaikan sambaran 475 kilat membuat gadis setengah telanjang serta nenek bermuka setan itu jadi amat terperanjat.

Setelah melepaskan diri dari selimutnya maka tampaklah pemuda itu memakai seperangkat baju berwarna hitam, ternyata dia bukan lain adalah Gak In Ling yang dihajar manusia bertato sembilan naga hingga tercebur kedalam sungai itu.

Setelah berdiri tegak diatas tanah, Gak In Ling baru menunjukkan sikap tertegun, pikirnya ^ "Kenapa aku sama sekali tidak merasa sedang menderita luka dalam yang parah ?

Kenapa aku telah segar bugar kembali ?"

Rupanya nenek tua bermuka setan itu, adalah seorang jago kawakan yang sudah amat berpengalaman dalam menghadapi pertarungan besar sesudah tertegun sejenak ia segera enjotkan badannya menghadang didepan pemuda itu sambil menegur dengan suara dingin.

"Rupanya luka dalammu yang teramat parah telah sembuh kembali seperti sediakala."

Gak In Ling menengadah ke atas, hatinya merasa amat terperanjat dan segera jawabnya.

"Sedikitpun tidak salah, entah siapakah yang telah menyembuhkan luka dalamku itu ?"

"Nona kami"

Jawab nenek tua bermuka setan dengan dingin. Gak In Ling tertegun, kemudian bertanya.

"Dia berada dimana ?"

"Apakah aku tidak pantas jadi nonanya ?"

Seru gadis cantik setengah telanjang itu sambil memburu maju kedepan-Sekali lagi air muka Gak In Ling berubah jadi merah-padam karena jengah, buru-buru dia alihkan sorot matanya kearah lain dan berkata dengan dingin.

"Dengan maksud tujuan apakah kalian berdua menyelamatkan selembar jiwaku ? Beberkan saja rencana kalian secara blak-blakan."

Gusar sekali hati nenek tua bermuka setan setelah mendengar penghinaan itu, ia segera tertawa dingin.

"Hee hee hee orang muda, budi pertolongan yang diberikan seseorang sama artinya menciptakan kehidupan kembali bagimu, sekarang kau berbicara dengan nada begitu dingin dan ketus, apakah ini salah satu caramu untuk membalas budi pertolongan yang telah kami berikan kepadamu ?"

Merah-padam selembar wajah Gak In Ling sesudah disindir secara tajam oleh nenek tua itu sebab dia menyadari bahwa perkataan nenek tua bermuka setan itu sangat masuk diakal dan merupakan suatu kenyataan, memang tidak sepantasnya kalau ia bersikap secara begini terhadap seseorang yang telah menyelamatkan jiwanya.

Karena itu ditatapnya wajah nenek tua ber muka setan itu dengan pandangan tajam, kemudian berkata.

"Asalkan permintaan yang kalian ajukan adalah permintaan yang benar dan masuk diakal, sekalipun aku harus korbankan jiwaku juga bersedia kupenuhi"

Gadis cantik setengah telanjang itu walaupun perjalanan dalam dunia persilatan, tetapi pada dasarnya ia memiliki otak yang cerdas, mendengar perkataan itu sepasang matanya kontan saja melotot besar, dengan gusar ia membentak.

"coba katakan, pada bagian mana dari kami yang kau katakan sebagai manusia tidak genah ?"

Gak In Ling terdesak, tak tahan lagi ia menjawab.

"Dandanan dari nona "

Sadarlah sekarang gadis cantik setengah telanjang itu, dia mengambil kain kuning yang memang terletak diatas meja itu 477 dan segera dikenakan di atas tubuhnya, lalu bertanya.

"Apakah demikian ini baru benar ?"

Setelah gadis cantik itu berpakaian, Gak In Ling baru berani mengalihkan sorot matanya ke-arah gadis itu, satu ingatan mendadak berkelebat didalam benaknya, dalam hati segera-pikirnya .

"Sorot matanya begitu suci-bersih dan agung tidak sepantasnya kuucapkan kata-kata yang begitu keras dan tajam terhadap dirinya, apalagi dia adalah seorang tuan penolong yang telah menyelamatkan jiwaku."

Berpikir demikian, wajahnya segera berubah jadi lembut kembali, setelah memberi hormat katanya.

"Kuucapkan banyak terima kasih atas budi pertolongan yang telah nona berikan kepadaku."

Gadis cantik itu tertawa riang, dengan wajah berseri ia menatap tajam wajah Gak In Ling.

"sekarang engkau sudah tidak marah lagi?"

Tanyanya. Gak In Ling menggeleng.

"Aku memang tidak marah."

"Tidak. Akulah yang telah menimbulkan kemarahanmu, sebenarnya nenek sudah menyuruhku mengenakan kain tersebut, tetapi berhubung sedari kecil aku sudah berdiam disini dan tidak terbiasa mengenakan pakaian, maka kalau berpakaian aku merasa kurang leluasa, oleh karena itulah aku tidak bersedia untuk mengenakannya."

"Anak muda,"

Pada saat itu tiba-tiba nenek tua bermuka setan bertanya.

"siapa namamu ?"

Gak In Ling menyapu sekejap kearah majikan dan pelayan tuanya itu, kemudian tanpa berpikir panjang ia menjawab.

"Aku bernama Gak In Ling "

"Aku bernama Hoa Yan Hun,"

Sela gadis cantik itu.

"dan dia disebut Kui bin Popo nenek bermuka setan "

Terjelos hati Gak In Ling sesudah mendengar nama orang-orang itu, diam-diam hawa murninya dihimpun kedalam sepasang telapaknya, lalu berseru.

"Jadi kalian berdua adalah jago-jago dari perguruan Pit-tiong yang berasal dari Tibet?"

Bicara sampai disitu dia mundur dua langkah kebelakang, sepasang matanya menatap tajam wajah nenek tua bermuka setan.

Ketika asal-usulnya diketahui orang, air muka nenek bermuka setanpun berubah hebat, napsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajahnya, dengan seram ia berseru.

"Darimana kau bisa tahu ? Siapa yang mengirim kau datang kemari ?"

Selangkah demi selangkah ia berjalan maju ke depan mendekati pemuda she Gak itu.

Agaknya gadis cantik she Hoa itu menaruh kesan yang sangat baik terhadap sianak muda itu tatkala dilihatnya napsu membunuh yang sangat tebal telah menyelimuti wajah nenek tua itu, ia jadi amat terperanjat.

"Nenek. jangan kau lukai dirinya"

Ia menjerit.

"Nona, demi keselamatan kita berdua, bagai manapun juga tidak boleh kita lepaskan orang ini "

Seru nenek bermuka setan dengan wajah tidak tenang. Gak In Ling segera tertawa dingin, sindirnya.

"Benar, engkau memang tidak seharusnya melepaskan diriku demi mensukseskan rencana busuk kalian-.. tapi ingat akupun tidak akan melepaskan kalian berdua, karena akupun memikirkan keselamatan umat persilatan d idalam sungai telaga."

"Hei Nanti dulu "

Seru sigadis cantik itu dengan cemas.

"Kami sama sekali tiada bermaksud untuk mencelakai dunia persilatan, kenapa engkau tak dapat melepaskan diri kami ?"

Rupanya nenek bermuka setan merasakan tindakan nonanya yang merengek itu menurunkan gengsinya sebagai seorang Tiong-cu (ketua) dari perguruan Pit-tiong, maka dengan cepat ia berseru.

"Walaupun perguruan Pit-tiong kami tidak mempunyai maksud untuk mencelakai umat persilatan disungai telaga, akan tetapi kamipun tidak sudi dipandang rendah orang lain."

Satu ingatan segera berkelebat dalam benak Gak In Ling, serunya kemudian dengan cepat.

"Selama berada dilembah Toan-hun kok sudah banyak jago persilatan dari Tionggoan yang menemui ajalnya disana, apakah tindakan tersebut bukan merupakan suatu tindakan yang mencelakai dunia persilatan ?"

Tertegun hati nenek bermuka setan sehabis mendengar perkataan itu, serunya dengan tercengang.

"Lembah Toan-hun-kok Jangan-jangan mereka sudah mulai bergerak ke daratan Tionggoan-"

"Nenek."

Terdengar gadis itu berkata dengan nada tidak tenang.

"sampai kapan sih tenaga dalamku baru berhasil mencapai kesempurnaan ? Ketika ibu hendak menghembuskan napasnya yang terakhir bukankah telah berpesan kepada kita agar melarang setiap anggauta perburuan Pit-tiong menuju kedaratan Tionggoan ? Sekarang mereka telah menuju kesana "

Ucapannya mengandung perasaan tidak tenang, gelisah dan cemas. Tiba-tiba nenek bermuka setan menghela napas panjang.

"Aai mungkin masih membutuhkan waktu selama setengah tahun-lagi, kau harus berlatih dengan rajin dan tekun agar nama perguruan Pit-tiong kita bisa menggetarkan seluruh kolong langit kembali, dan kitapun bisa cepat-cepat membasmi kaum pengkhianat penjual sahabat itu "

Helaan napas panjang yang sedih dan murung mengakhiri pembicaraan tersebut.

Dari tanya-jawab yang dilangsungkan oleh kedua orang itu, rupanya Gak In Ling sudah dapat menangkap duduk perkara yang sebenarnya, dalam hati kecilnya ia segera berpikir.

"Jangan-jangan orang yang menguasai daratan Tionggoan padasaat ini bukanlah ketua perguruan Pit-tiong dari Tibet yang sebenarnya ? Andaikata memang demikian keadaannya, aku bisa menggunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk menundukkan hati gadis tersebut, agar ia bersedia bekerja-sama dengan umat persilatan di dataran Tionggoan untuk bersama-sama melenyapkan kaum durjana yang mengacau kedamaian dunia itu."

Berpikir sampai disini, tanpa terasa ia menengadah dan memandang kearah gadis tersebut.

Tetapi ketika sinar mata Gak In Ling berjumpa dengan sorot mata sigadis yang polos, lembut dan suci itu, timbullah rasa malu dan menyesal di dalam hati kecilnya, diam-diam ia berpikir.

"oh, Gak In Ling Gak In Ling kalau kau berhasil membohongi hatinya dengan kata-kata yang manis, sekalipun tujuanmu adalah kebenaran tetapi tindakan semacam itu akan membuat kau merasa malu dan menyesal sepanjang masa."

Dalam pada itu nenek bermuka setan sendiri setelah melirik sekejap kearah wajah Gak In Ling, segera mengertilah dia bahwa sianak muda itu telah memahami terhadap apa yang sedang mereka bicarakan dan ketika itu sedang merasa menyesal, hawa gusar yang semula menyelimuti wajahnya kini lenyap tak berbekas, sesudah menghela napas panjang, katanya.

"Hey, orang muda, ketidak beruntungan yang menimpa perguruanku telah kau pahami, aku harap sesudah engkau berlalu dari sini janganlah kau siarkan keadaan ini keseluruh 481 dunia persilatan, sebab persoalan ini hanya bisa dikatakan sebagai persoalan rumah tangga perguruan kami sendiri."

Dengan wajah bersungguh-sungguh Gak In Ling mengangguk.

"Aku pasti tak akan mengecewakan hati kalian berdua, sampai waktunya apabila kalian membutuhkan tenagaku untuk membantu, aku orang she Gak melalu siap mengulurkan tangan untuk menyumbangkan tenagaku."

Berseri wajah gadis cantik itu ketika mendengar perkataan itu, ia segera menubruk kehadapan Gak In Ling dan mencekal tangannya erat-erat, serunya dengan manja.

"Sungguhkah itu ? Ah, engkau benar-benar baik hati."

Gerakan tubuhnya begitu cepat membuat Gak In Ling tak sempat untuk menghindarkan diri, kalau ia bermaksud untuk membinasakan pemuda tersebut, mungkin sekarang pemuda tersebut sudah menggeletak diatas tanah.

Tercekat juga perasaan hati Gak In Ling, pikirnya.

"Sungguh cepat gerakan tubuh orang ini Agaknya badai pembunuhan yang bakal melanda dalam dunia persilatan dewasa ini tak mungkin bisa diselamatkan dengan mengandalkan tanganku seorang."

Karena dihati kecilnya sedang memikirkan sesuatu, ia lupa untuk menjawab pertanyaan itu. Nenek bermuka setan memandang sekejap kearah Hoa Yan Hun. lalu pikirnya didalam hati.

"Selama banyak tahun belum pernah ia menunjukkan wajah yang begitu gembira seperti hari ini, aaaiii mungkin dia memang terlalu kesepian."

Berpikir sampai disitu, perlahan-lahan ia berjalan keluar dari ruangan itu dan lenyap dibalik pintu.

Dalampada itu, tatkala Hoa Yan Hun menyaksikan Gak In Ling lama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun, tanpa terasa dia menggoyangkan tangannya sambil berseru.

"Hey, kenapa engkau tidak berbicara ?"

Gak In Ling tertegun, ia tarik kembali tangannya dan menjawab.

"Kau suruh aku membicarakan soal apa.?"

"Perduli apapun yang akan kau katakan, aku bersedia untuk mendengarkan-"

Jawab Hoa Yan Hun manja.

Sebenarnya perkataan semacam itu tidak sesuai diutarakan oleh seorang gadis muda, tetapi ketika ucapan tadi muncul dari bibir Hoa Yan Hun yang polos dan suci itu, kedengaran biasa dan enak didengar.

Gak In Ling menyapu sekejap paras mukanya yang cantik,jantugnya yang semula tenang bagaikan permukaan air telaga kini berdetak dengan kerasnya, mungkin kepolosan serta kesucian gadis itu telah menggoncangkan perasaan hatinya.

Gak In Ling tarik napas panjang, setelah berhasil menenangkan hatinya yang bergolak keras ujarnya.

"Kalau dari sini menuju keatas, kita harus lewat mana ?"

Mendengar pertanyaan itu senyum girang yang semula menghiasi wajah Hoa Yan Hun seketika berubah jadi kaku, sambil menatap wajah pemuda itu dengan biji matanya yang jeli dia bertanya.

"Kau akan pergi?"

Tiba-tiba ia seperti telah teringat akan sesuatu, tubuhnya segera melepaskan diri dari pelukan Gak In Ling dan lari menuju ke tepi pembaringan, dari bawah bantal dia ambil keluar dua

Jilid kitab seraya berkata.

"Menurut nenek, sebelum kau berhasil melatih ilmu silat yang tercantum dalam kedua

Jilid kitab tersebut, tak mungkin 483 kau berhasil keluar dari sini."

Sambil berkata ia ayunkan kitab itu dihadapan sipemuda. Melihat kedua

Jilid kitab tersebut Gak In Ling merasa amat terperanjat, ia segera merogoh kedalam sakunya, sedikitpun tidak salah kedua

Jilid Ilmu pukulan maut "Hiat-ciang-pit-keng"-nya telah lenyap tak berbekas.

Walaupun Hoa Yan Hun seorang gadis yang polos, tetapi orangnya lincah dan cerdas, ketika menyaksikan raut wajah pemuda itu, buru-buru ujarnya lagi "Nenek bilang aku bisa memberi pelajaran kepadamu, apakah engkau bersedia melihat jalan keluarnya ?"

Sambil berkata ia maju kedepan menghampiri Gak In Ling lalu menyerahkan kedua

Jilid kitab tersebut ketangannya.

Gak In Ling sendiri walaupun mengetahui bahwa gadis itu tak akan membohongi dirinya, tetapi ia tak maupercaya dengan begitu saja, ia mengikuti dibelakang Hoa Yan Hun berangkat menuju kemulut gua.

Air sungai masih mengalir dengan derasnya seperti sediakala, tetapi empat bulan sudah lewat tanpa terasa.

Di mulut gua Kui-ong-tong, tampaklah Hoa Yan Hun dengan air mata bercucuran bersandar didalam pelukan Gak In Ling, dengan suara lirih dan manja ia berbisik.

"Engkoh Ling... engkoh Ling..."

Meskipun suaranya kecil, tetapi nadanya mengibakan hati membuat orang merasa terharu.

Dengan belaian tangan yang kaku Gak In Ling membelai rambut yang panjang dari sigadis yang hitam halus, kemudian menyeka pula noda air mata yang membasahi pipinya.

"Adik Hun, janganlah menangis."

Sahutnya dengan lembut.

"bukankah kau mengatakan bahwa engkau akan mendengarkan perkataanku?"

Pergaulan selama empat bulan telah mengeratkan hubungan kedua insan manusia itu, tingkah laku Hoa Yan Hua yang polos dan lincah, hatinya yang suci bersih telah membuka perasaan hati sang pemuda, melelehkan perasaan hatinya yang dingin dan membeku, sekalipun dia tahu bahwa usianya sudah tidak lama lagi, namun cinta telah membelenggu perasaan hatinya.

Dengan lembut Hoa Yan Hun mengangguk.

pipinya ditempelkan keatas wajah Gak In Ling dan berkata dengan sedih.

"Engkoh Ling, aku merasa berat untuk berpisah dengan dirimu."

Gak In Ling merasakan jantungnya berdebar keras. dia menghela napas berat.

"Aaii adik Hun, dikolong langit tiada perjamuan yang tak bubar, lain kali asal engkau ingat selalu bahwa engkau pernah mempunyai seorang engkoh Ling seperti aku, itu sudah lebih.dari cukup,"

Ia tak mampu untuk mengutarakan kesedHan hatinya, dan tidak memiliki keberanian untuk mengutarakan keluar.

"Benar, selamanya aku tak akan melupakanmu"

Sahut Hoa Yan Hun dengan terisak.

"tunggulah sebulan lagi, bila ilmu silatku telah berhasil maka aku pasti akan mencari dirimu."

Dengan sedih Gak In Ling menghela napas panjang, pikirnya.

"Mungkin selamanya engkau takkan menemukan diriku lagi, adik Hun, sayang"

Sesudah menghela napas panjang, bisiknya.

"Adik Hun, mungkin selamanya engkau tak akan menemukan diriku lagi."

Mendengar perkataan itu sekujur badan Hoa Yan Hun gemetar keras, ia menengadah keatas dan memandang wajah 485 Gak In Ling dengan sorot mata kaget, air mata jatuh berlinang membasahi pipinya .

"Kenapa ?"

Ia bertanya.

"Apakah engkau sama sekali tidak mencintai diriku ?"

Memandang sorot mata sang dara yang kaget, sedih dan bingung itu, Gak In Ling tidak sanggup menguasai perasaan hatinya lagi, ia berseru.

"Adik Hun-.."

Kedua lembar bibirnya gemetar secepat kilat menyambar kedepan dan mencium bibir Hoa Yan Hun yang mungil dan indah itu.

Sekujur tubuh Hoa Yan Hun gemetar keras, ia pejamkan matanya dan balas memeluk Gak In Ling erat-erat, ia biarkan dirinya dicium dan di kecup dengan penuh kemesraan-Dan dia merasa puas Walaupun Gak In Ling tidak menjawab pertanyaannya tetapi tindakan pemuda itu telah membuktikan segala sesuatunya.

Sementara itu dari balik gua telah berjalan keluar nenek bermuka setan, sambil membawa selembar topeng kulit manusia yang berwajah seram bagaikan setan ia menghampiri kedua orang muda itu, bisiknya.

"Kongcu, apakah kau hendak pergi?"

Buru-buru Gak In Ling menengadah keatas sedangkan Hoa Yan Hun menempelkan tubuhnya makin rapat kedalam pelukan pemuda tersebut, tingkah lakunya begitu polos dan suci.

Gak In Ling memandang sekejap kearah nenek bermuka setan, lalu mengangguk.

"Benar nenek"

"Satu bulan lagi, aku serta Hun-jipun akan munculkan diri pula didalam dunia persilatan-"

Kata nenek bermuka setan dengan sedih. sekali lagi Gak In Ling menghela napas berat, katanya.

"Aku percaya nenek pasti akan berusaha keras untuk merawat serta menjaga adik Hun, dia masih begitu polos dan 486 jujur, sedikitpun tiada berpengalaman dalam dunia persilatan, kesemuanya terpaksa harus menunggu petunjuk serta perlindungan dari nenek."

Nada suaranya penuh disertai rasa cinta yang mendalam, disamping rasa sedih dan iba.

"Bagaimana dengan engkau sendiri ?"

Seru nenek bermuka setan tanpa terasa. Senyuman sedih tersungging diujung bibir Gak In Ling.

"Aku rasa nenek telah mengetahui segala sesuatunya."

Ia menjawab dengan kaku.

"Kongcu,"

Seru nenek bermuka setan dengan jantung berdebar.

"tiada penyakit yang tak dapat disembuhkan dengan obat, apalagi engkau masih harus mencari orang yang begitu banyak."

Gak In Ling menengadah memandang cuaca diangkasa, kemudian menghela napas panjang.

"Aaii benar nenek. aku bisa berusaha dengan segenap tenaga, akan kuusahakan sedapat mungkin untuk mempertahankan hidupku,semoga saja dikemudian hari aku Gak In Ling masih mempunyai kesempatan untuk bertemu lagi dengan kalian-"

Berbicara sampai disini ia menyeka airmata yang jatuh berlinang membasahi pipinya dan menambahkan-"Aku akan pergi dahulu "

"Engkoh Ling, jangan"

Seru Hoa Yan Hun dengan terperanjat.

"Kongcu, bawalah benda ini,,"

Ujar nenek bermuka setan sambil angsurkan topeng kulit manusia itu ketangannya.

"bawalah topeng ini, mungkin dilain kesempatan benda ini akan membantu dirimu."

Gak in Ling menerima pemberian tersebut lalu mendorong tubuh Hoa Yan Hun kebelakang sambil mengeraskan hatinya 487 ia berbisik.

"Adik Hun, baik-baiklah berjaga diri, aku akanpergi dahulu."

Habis berkata ia segera enjotkan badannya laksana petir yang menyambar dikolong langit, dengan cepat tubuhnya menerobos naik kearah bukit dan mencapai puncak tebing sementara dari arah belakang masih kedengaran jeritan keras dari Hoa Yan Hun--oo0dw0oo-Latihan tekun selama empat bulan membuat tenaga dalam yang dimiliki Gak In Ling mendapat kemajuan yang amat pesat, tebing setinggi seratus tombak berhasil dilaluinya dalam tiga kali lompatan saja tahu-tahu tubuhnya sudah mencapai dipuncak tebing.

Berdiri diatas permukaan tanah dibawah hembusan angin gunung yang sejuk.

Gak In Ling merasakan hatinya lega dan lapang.

la berpaling memandang sekejap kebawah tebing kepala setan yang merupakan tonjolan batu karang waktu itu hanya nampak sebesar bola, di-tengah gulungan ombak yang dahsyat siapapun tidak akan menyangka kalau dibalik tonjolan batu itu terdapat dua manusia yang berdiam disitu.

Gak In Ling menghela napas dalam-dalam, gumamnya seorang diri.

"Adik Hun, selamat tinggal.... Semoga pergaulanmu dalam dunia persilatan tidak merubah perasaan hatimu yang polos dan suci itu."

Perlahan-lahan ia berjalan meninggalkan tempat itu.

Belum jauh pemuda itu berjalan, mendadak dari atas batu ditempat ketinggian berkelebat sesosok bayangan hitam, dalam kempitan orang itu tampaklah seorang gadis berbaju biru terkulai dalam keadaan tak sadarkan diri, sepasang tangannya lemas tergantung kebawah, matanya terpejam rapat dan jelas sudah kehilangan daya lawannya.

Tatkala menyaksikan potongan badan bayangan hitam itu, satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Gak In Ling, segera pikirnya.

"Mengapa potongan badan orang ini begitu mirip seperti aku ?"

Rupanya bayangan hitam itu sedang menghindarkan diri dari suatu pengejaran, gerakan tubuhnya amat cepat seperti dikejar setan, badannya sebentar bersembunyi dibalik batu, sebentar lari kedepan, dan arah yang dituju adalah tempat Gak In Ling berada pada saat ini.

Jaraknya dari antara dua ratus tombak lebih dalam waktu singkat telah mencapai seratus tombak belaka, dan orang itu masih tetap berlarian dengan cepatnya.

Sekarang Gak In Ling sudah dapat melihat potongan badan orang itu, dia mengenakan pakaian berwarna hitam persis seperti dandanannya sendiri, mukanya memakai kain cadar warna hitam hingga cuma nampak sepasang matanya belaka, ditinjau dari raut muka serta potongan badannya hampir boleh dibilang tiada jauh berbeda dengan keadaan dari Gak In Ling.

Semakin memandang kearah orang itu, pemuda she Gak merasa makin terperanjat, pikirnya.

"Benarkah dikolong langit benar-benar terdapat manusia yang mirip dengan diriku ?"

Mendadak ingatan lain berkelebat pula di-dalam benak sianak muda itu, sorot mata yang tajam memancar keluar dari balik matanya.

Berhubung selama ini Gak In Ling hanya berdiri tegak tanpa bergerak dan lagi orang itu sedang melakukan perjalanan dengan terburu-buru maka orang itu sama sekali tidak menyadari bahwa dia sedang berjalan mendekati kepintu ajalnya.

Dalam sekejap mata orang itu sudah berada kurang lebih lima puluh tombak dihadapan sianak muda itu.

Gak In Ling segera mendengus dingin dan segera meloncat keluar.

Tiba-tiba serentetan suara bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian-"Gak In Ling, apakah engkau hendak melarikan diri lagi dari sini ?"

Mengikuti berkumandangnya suara bentakan itu, dari belakang sebuah batu cadas besar kurang lebih tiga puluh tombak dihadapan Gak In Ling muncullah seorang nenek tua berbaju hitam yang mana dengan cepat menghadang jalan pergi manusia baju hitam itu.

Mula-mula Gak In Ling tertegun mendengar bentakan itu, segera pikirnya.

"Ada urusan apa dia datang mencari diriku ?"

Tetapi setelah berpikir sebentar, dia baru tahu bahwa nenek tua berbaju hitam itu rupanya sedang menghadang jalan pergi manusia baju hitam tadi, sadarlah pemuda itu apa yang telah terjadi, dengan hati gusar, pikirnya.

"Anjing sialan, rupanya matamu sudah buta ?"

Dalam pada itu, ketika manusia baju hitam itu menyaksikan jalan perginya dihadang orang, tanpa berpikir panjang lagi ia segera putar badan berlarian menuju kearah kiri, gerakan tubuhnya cepat bagaikan sambaran kilat.

Nenek tua baju hitam itu sama sekali tidak melakukan pengejaran, dia cuma mendengus dingin dan tetap berdiri ditempat semula.

Perlahan-lahan Gak In Ling menggeserkan badannya dan menyelinap masuk ke balik sebuah batu cadas.

Tenaga dalam yang dimiliki manusia baju hitam itu benar-benar amat sempurna, ketika Gak In Ling sedang menyelinap masuk kembali ke balik batu tersebut, tubuhnya sudah berada kurang-lebih tiga puluh tombak disebelah kiri.

Mendadak terdengar suara beritakan nyaring yang berkumandang lagi ditengah malam.

"Gak In Ling, bajingan tengik bangsat cabul, ini hari adalah saat akhir dari petualangan mu"

Mengikuti bentakan nyaring itu, dihadapan manusia baju hitam tadi tiba-tiba muncul pula dua orang nenek tua baju hitam yang menghadang jalan perginya.

Agaknya pada saat itu manusia baju hitam itu sudah menyadari bahwa dirinya telah terjebak dalam kepungan musuh, buru-buru ia lepaskan bopongan dan membuang gadis itu ketanah, kemudian melarikan diri terbirit-birit menuju ke belakang.

Baru saja manusia baju hitam itu putar badannya, dari jarak dua puluh tombak di hadapan nya tiba-tiba berkumandang datang suara bentakan nyaring yang bernada dingin bagaikan es.

"Gak In Ling, apakah engkau masih ingin melarikan diri ?"

Manusia baju hitam itu menengadah keatas, kemudianjeritnya dengan suara terperanjat.

"Ah Thian Hong pangcu ?"

Dengan penuh ketakutan ia mundur dua langkah lebar ke belakang.

Gak In Ling yang bersembunyi dibelakang batu cadaspun merasa tergerak hatinya setelah mendengar sebutan tersebut, sorot matanya segera dialihkan kedepan-Tampaklah diatas sebuah batu cadas berwarna putih yang amat besar kurang-lebih dua puluh tombak dihadapan manusia baju hitam itu, berdirilah Thian Hong pangcu dengan wajah yang dingin kaku dan menyeramkan, dikedua belah sampingnya berdirilah dua orang nenek, tua, salah satu diantaranya dikenal Gak In Ling seba gai Tiat-binpopo nenek bermuka baja.

Setelah mengawasi sejenak wajah Thian Hong pangcu, pemuda she Gak itu segera berpikir didalam hatinya.

"Rupanya dia jauh lebih kurusan daripada keadaannya tempo dulu"

Setelah menyaksikan kemunculan Thian Hong pangcu ditempat itu, rupanya manusia baju hitam itu sudah kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri, dengan kebingungan dia memandang sekejap kekiri-kanan, tiba-tiba ia putar badan dan lari menuju kejalan semula.

Siapa tahu, baru saja dia menggerakkan tubuhnya tiba-tiba terdengarlah suara bentakan keras bagaikan belahan guntur bergema diangkasa.

"Gak In Ling bajingan cabul, kau akan melarikan diri kemana lagi ?"

Tak usah menengok Gak In Ling sudah tahu bahwa orang yang barusan munculkan diri itu bukan lain adalah manusia bertato sembilan naga, hatinya jadi teramat gusar, pikirnya.

"Bagus. Bagus.. Rupanya kalian telah menilai begitu rendah tentang martabat serta tingkah lakuku lihat saja nanti "

Mengikuti munculnya manusia bertato sembilan naga, dari empat penjuru segera bergemalah suara bentakan nyaring disusul berkibarnya empat buah panji besar dari puncak batu cadas ditempat penjuru.

"Hm Rupanya kaupun telah datang..."

Dengus Gak In Ling dalam hati kecilnya.

Sedikitpun tidak salah, setelah munculnya keempat buah panji besar tadi, dari belakang tubuh manusia bertato sembilan naga muncullah empat orang dayang cilik disusul gadis suci dari Nirwana, perempuan naga peramal sakti serta Suput-siang sekalian-492 Setelah menyaksikan dari empat penjuru sekeliling tubuhnya bermunculan jago-jago lihay dari perkumpulan Thian-hong-pang serta Yau-ti-lengcu sadarlah manusia berbaju hitam itu bahwa dirinya sudah terkepung rapat dan tak mungkin bisa meloloskan diri lagi dari situ, hatinya jadi amat gelisah dan tidak tenang, tanpa sadar selangkah demi selangkah dia mundur terus kebelakang.

Gadis suci dari Nirwana mengerutkan dahinya, ia angkat kepala memandang sekejap kearah Thian-hong pangcu, kemudian berkata.

"oooh rupanya pangcu telah berkunjung pula ketempat ini, agaknya tindakan siau-moay ini hanyalah suatu tindakan yang berlebHan belaka."

Thian-hong pangcu tertawa dingin.

"Hee hee hee perkumpulan kami kecil dengan tenaga yang terlalu lemah, tindak-tanduk kami tak berani disiarkan secara besar-besaran, hingga ketempat kami tiba selalu tanpa tanda atau panji pengenal, tidak aneh kalau leng tu tidak mengetahuinya."

Nada ucapan tersebut penuh diliputi nada sindiran yang tajam.

Sejak Gak In Ling terjatuh kedalam jurang Gadis suci dari Nirwana telah kehilangan kegembiraannya yang selalu menghiasi wajahnya, ia merasakan pikirannya selalu kalut dan tak tenang.

Sehabis mendengar perkataan itu, sepasang alis matanya kontan berkernyit, dengan dingin serunya.

"Terima kasih terima kasih cukup ditinjau dari cara pangcu mencelakai anak murid kami sudah bisa diketahui bahwa pangcu sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap diriku. hm, kalau sekarang mengatakan kekuatan kalian terlalu kecil, bukankah hal itu sama artinya dengan menampar mulut sendiri ?"

Perasaan hati Thian-hong pangcu pada waktu itupun tidak seriang dihari-hari biasa, kontan ia tertawa dingin.

"Hee hee hee sama-sama .... sama-sama kalau lengcu tidak turun tangan lebih dahulu, akupun tidak akan berani bikin gara-gara dengan dirimu."

"Kurang ajar, siapa yang telah turun tangan lebih dahulu ?"

Teriak gadis suci dari Nirwana dengan gusar. Thian-hong pangcu mengerutkan dahinya, kemudian berkata dengan dingin.

"Aku rasa lengcu jauh lebih mengerti."

Gak In Ling yang menyaksikan kejadian itu tanpa terasa hatinya jadi amat tegang, pikirnya.

"Bagus sekali, baru saja bertemu kalian ternyata akan bertempur lebih dahulu, kalau begitu caranya bagaimana mungkin dunia persilatan bisa memperoleh perlindungan dari kalian ?"

Lalu ia berpikir lebih jauh.

"Ah, perduli amat, apa urusannya dengan diriku ? Kenapa aku mesti menguatirkan keselamatan dari manusia-manusia yang sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan diriku ?"

Walaupun dalam hati ia berpikir demikian, akan tetapi pemuda tersebut tak dapat melegakan hatinya dengan begitu saja, mungkin dengan dasar hatinya yang welas selamanya ia tak bisa tidak harus memikirkan keselamatan orang lain-Dalam pada itu gadis suci dari Nirwana dengan gusar telah berseru.

"Hmm, terang-terangan engkau telah memutar balikkan duduknya persoalan-"

"Hee hee hee apakah lengcu menganggap ilmusilat yang kau miliki amat lihay, maka engkau hendak menekan orang dengan kekerasan ?"

Seru Thian-hong pangcu sambil tertawa dingin-Gadis suci dari Nirwanapun tertawa dingin.

"Aku percaya engkau Thian-hong pangcu masih belum sampai merasa takut tentang persoalan-"

"Hmm, sedikitpun tidak salah, meskipun siau-moay merasa bahwa ilmu silatku masih belum menandingi dirimu, tetapi apabila lengcu mempunyai keinginan untuk mengadu tenaga aku pasti akan melayani dirimu sekalipun harus mengorbankan selembar jiwaku"

Seraya berkata perlahan-lahan ia berjalan menuruni batu cadas tersebut untuk mendekati lawannya. Thiat-bin popo yang berada disisinya dengan cepat menarik tangannya sambil berseru.

"Pangcu Sekarang bukan waktunya bagi kita untuk berbuat demikian-"

Dipihak lain perempuan naga peramal sakti sedang berseru dengan suara keras.

"Lengcu Dewasa ini kita harus menyelesaikan dahulu persoalan tentang orang ini "

Sambil berkata ia tuding kearah manusia berkerudung hitam itu, namun tidak disebutkan olehnya bahwa orang itu adalah Gak In Ling.

Baik gadis suci dari Nirwana maupun Thian hong pangcu sama-sama merupakan gadis sakti yang memiliki kecerdikan luar biasa, tentu saja jalan pikiran mereka jauh lebih hebat daripada orang lain, setelah dihibur oleh orangnya masing-masing, perasaan hati merekapun jauh lebih tenang dari keadaan semula.

Dengan suara nyaring gadis suci dari Nirwana segera berseru.

"Pangcu menghadang jalan pergi orang ini lebih dahulu, sudah sepantasnya kalau kau yang turun tangan lebih dahulu."

Thian-hong pangcu loncat naik kembali keatas batu cadas putih, kemudian menjawab.

"Meskipun diantara anak murid perkumpulan kami ada yang menemui ajalnya ditangan orang ini, tetapi semua kejadian sudah lewat lama, ini hari ia sedang menculik anak murid perguruan kalian, sudah sepantasnya kalau Lengcu-lah yang menyelesaikan persoalan ini."

Jelas perempuan ini tidak mau turun tangan sendiri terhadap orang yang dianggapnya sebagai Gak In Ling itu.

Air muka gadis suci dari Nirwana berubah hebat, rupanya diapun merasa keberatan untuk menyelesaikan persoalan itu.

Perempuan naga peramal sakti yang berada disisinya segera menarik ujung baju gadis suci dari Nirwana sambil bisiknya.

"Lengcu, kepercayaan dan kebesaran gadis suci dari Nirwana semuanya tergantung pada keputusan yang akan diambil Lengcu pada saat ini."

Air muka gadis suci dari Nirwana kembali berubah hebat, gumamnya.

"Kepercayaan-. .. kebesaran...... aku tidak lebih hanya sebuah patung pemujaan yang dipuja-puja orang, aku bukan manusia karena kepercayaan dan wibawa, aku harus mengorbankan sesuatunya, apakah sejak dilahirkan aku sudah di-takdirkan tidak berhak mencicipi kebahagiaan tersebut ?"

Mengikuti gumamnya yang lirih dan menyedihkan itu, perlahan-lahan air matanya berlinang membasahi pipinya.

"Lengcu,"

Kembali perempuan naga peramal sakti berbisik-"kau harus teguhkan imanmu, ia tidak berharga untuk menerima rasa cintamu itu."

Gadis suci dari Nirwana segera menyeka air matanya dengan ujung baju, kemudian dengan wajah dingin dan kaku ia tatap wajah manusia baju hitam itu tajam-tajam, serunya dengan menyeramkan-"Gak In Ling, rupanya engkau belum mati"

Dalam waktu yang amat singkat, seakan-akan dia telah berubah jadi seorang manusia yang lain-Setelah menyaksikan kejadian berubah jadi begitu dan mengetahui bahwa dia tak bakal lolos dari pengepungan, tiba-tiba manusia baju hitam itu bertekuk lutut dan jatuhkan diri berlutut diatas tanah, sambil angguk-anggukkan kepalanya ia 496 merengek.

"Lengcu, ampunilah jiwaku..... aku Gak In Ling menerima salah..."

Perempuan naga peramal sakti yang menyaksikan kejadian itu satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya, ia segera berpikir.

"Dia pasti bukan Gak In Ling, dengan keangkuhan serta kesombongan yang dimiliki Gak In Ling, sekalipun ada golok yang dipalangkan ditenggorokannya, tak mungkin ia bersedia bertekuk lutut dihadapan orang lain."

Meskipun dalam hati ia berpikir demikian, namun jalan pikirannya itu tidak sampai diutarakan keluar.

sekuat tenaga gadis suci dari Nirwana menahan perasaan hatinya untuk memberi ampun kepada orang-itu, sekarang ia telah berubah jadi seorang yang benar-benar sadis.

"Selamanya manusia cabul semacam engkau tak pernah diberi pengampunan. Gak In Ling, kalau mengetahui bakal begini kenapa kau lakukan perbuatan-perbuatan semacam itu dimasa lampau"

"Lengcu, Manusia bukanlah nabi atau malaikat."

Rengek manusia baju hitam itu dengan suara keras.

"Meskipun aku telah melakukan perbuatan yang salah, tapi perbuatanku itu tokh bisa dibenarkan di kemudian hari kalau engkau benar-benar adalah seorang manusia yang baik hati dan bijaksana, semestinya Lengcu ampuni jiwaku serta melepaskan aku Gak In Ling dari sini, dikemudian hari aku pasti akan hidup sebagai seorang manusia baik-baik."

Air muka gadis suci berubah hebat, tetapi ketika dilihatnya wajah-wajah gusar yang diperlihatkan anak muridnya disekeliling kalangan, perasaan hatinya segera berubah kembali jadi dingin, ia segera ambil kcputusan dan berseru.

"Menurut keputusanku, engkau jangan harap bisa meninggalkan tempat ini lagi dalam keadaan hidup "

Bicara sampai disitu ia segera angkat kepala memandang kearah Thian-hong pangcu, sambungnya.

"Bagaimana menurut pendapat pangcu ? "

Thian-hong pangcu sama sekali tidak memandang kearah pria baju hitam yang dianggapnya sebagai Gak In Ling, sambil menahan rasa sedih yang mencekam perasaan hatinya ia menjawab dengan dingin.

"Keputusan dari Lengcu memang tepat sekali "

Sementara mengucapkan kata-kata tersebut, telapak tangan dibalik bajunya gemetar terus tak hentinya, meskipun diluaran ia berusaha untuk menenangkan hatinya tapi golakan hatinya benar benar hebat.

Setelah Thian-hong pangcu berkata demikian, maka gadis suci dari Nirwanapun segera membentak.

"Su-put-siang, ringkus bajingan cabul itu "

Dalam pada itu Gak In Ling yang bersembunyi dibelakang batu cadas secara diam-diam telah mengenakan topeng setan diatas wajahnya, lalu perlahan-lahan berjalan ketengah gelanggang.

Ketika lelaki baju hitam itu menyaksikan kesempatan baginya untuk melanjutkan hidup sudah lenyap.

timbullah niat untuk mengadu jiwa, ia segera loncat mundur sejauh dua tombak dan membentak keras.

"Lengcu, apakah engkau hendak paksa aku Gak In Ling untuk mengadu jiwa dengan dirimu ?"

Sambil berkata hawa murninya diam-diam disalurkan kedalam sepasang telapak tangan siap melakukan pertempuran-Butiran keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar membasahi jidatnya, sorot mata yang memancarkan sinar ketakutan, tidak tenteram dan ngeri terlintas tiada hentinya.

Sementara itu dengan langkah cepat su-put siang telah masuk kedalam gelanggang, sambil tertawa dingin serunya.

"Gak In Ling bajingan tengik, engkau hendak bunuh diri ? Ataukah memaksa aku untuk turun tangan ?"

Manusia berkerudung hitam itu segera ayunkan sepasang telapaknya ke depan, tampak cahaya merah menyambar lewat diangkasa, hardiknya.

"Asal engkau merasa yakin mampu untuk menahan pukulan ilmu telapak mautku, silahkan saja engkau mencoba"

"Hee..... hee .... hee.... sepasang telapak maut, apa yang mesti kutakuti ?"

Ejek Su-put-siang sambil tertawa dingin, sambil berkata ia bersiap-sedia untuk turun tangan-Pada saat itulah tiba-tiba dari udara berkumandang datang suara bentakan yang dingin dan mengerikan-"Sahabat, engkau bukan Gak In Ling"

Suara itu munculnya sangat mendadak dan tak terduga, apalagi seluruh perhatian semua jago yang hadir disana sama-sama dipusatkan keatas tubuh manusia berkerudung hitam itu, maka mendengar bentakan tadi rata-rata para jago yang hadir disana sama-sama terperanjat, sorot mata semua orangpun segera dialihkan kearah mana berasalnya suara tadi.

Tetapi setelah mengetahui siapa yang buka suara, hati semua orangpun terjelos, hampir berlamaan waktunya mereka sama-sama berpikir.

"Kenapa dikolong langit terdapat manusia yang begini jeleknya ?"

Sementara semua orang masih berdiri tertegun, perlahan-lahan Gak In Ling sudah berjalan masuk ketengah gelanggang, langkahnya begitu tegap dan tinggi hati.

Sejak Gak In Ling munculkan diri ditempat itu, baik gadis suci dari Nirwana maupun Thian-hong pangcu sama-sama merasakan hati kecilnya timbul satu perasaan aneh, mereka 499 tidak dapat mengatakan apa sebabnya, hanya terasa oleh kedua orang gadis itu bahwa suara dari Gak In Ling begitu nyaring dan sangat dikenal oleh mereka.

Dua pasang mata yang jeli dengan tajam segera menatap wajah Gak In Ling tanpa berkedip.

agaknya mereka sedang berusaha menemukan sesuatu dari paras orang itu.

Sedangkan perempuan naga peramal sakti diam-diam berseru dalam hati kecilnya.

"Terima kasih langit, terima kasih bumi, ternyata dia belum mati "

Berpikir sampai disini, ia lantas berpaling kearah Su-put-siang dan berseru.

"Su-put-siang, kembalilah "

Su-put-siang yang menghadang jalan pergi-nya oleh Gak In Ling ketika ia siap hendak turun tangan, pada saat itu hatinya sedang merasa gusar, mendengar panggilan itu, ia lantas menggeleng sambil menjawab.

"Tidak. tugasku belum selesai."

"Kembali"

Bentak gadis suci dari Nirwana..Meskipun ia sedang berbicara terhadap Su put-siang, namun sepasang biji matanya yang jeli tak pernah terlepas dari wajah Gak In Ling yang menyeramkan-Dia sangat berharap orang yang baru saja munculkan diri itu memandang sekejap kearahnya Tapi ia kecewa, pemuda berwajah amat jelek itu sama sekali tidak memandang sekejappun kearah-nya.

Su-put-siang sendiri walaupun kasar dan berangasan, tetapi ia tak berani membangkang perintah dari Lengcunya, setelah melotot sekejap kearah Gak In Ling dengan penuh kegusaran ia putar badan dan berjalan kembali kesisi tubuh pemimpinnya.

sementara itu Gak In Ling telah berada kurang-lebih lima depa dihadapan manusia berkerudung hitam itu, dengan suara dingin ia segera menegur.

"Sahabat, mengapa kau tidak lepaskan kain hitam yang menutupi paras mukamu itu?"

Ketika manusia berkerudung hitam itu melihat Su-put-siang telah mundur, nyalinya telah menjadi tebal kembali, pikirnya d idalam hati.

"Kenapa tidak kubunuh manusia jelek ini lebih dahulu untuk mendemontrasikan kelihayan ilmu silatku ? Kalau mereka tahu aku lihay, pasti tak ada yang berani memandang rendah diriku lagi."

Berpikir sampai disini, ia lantas tertawa dingin dan menegur.

"Bajingan jelek. siapa engkau ? Sebutkan namamu " -oo0dw0oo-

Jilid 15 GAK IN LING tertawa dingin, serunya.

"Aku masih belum mengetahui siapakah namamu ??"

"Heeehh.... haeehh... heeehh........ aku Gak In Ling "

Jawab pria berkerudung hitam itu. Nafsu membunuh yang sangat tebal memancar keluar dari balik mata pemuda tersebut, dengan nada menyeramkan ia berkata.

"Saudara, kalau sekarang engkau tidak sebutkan lagi siapa nama aslimu, aku takut setelah ini tiada kesempatan lagi bagimana untuk berbuat demikian "

Mungkin perkataan dari Gak In Ling terlalu menyeramkan dan mengerikan, membuat pria berkerudung hitam itu tanpa sadar mundur dua langkah ke belakang, semua gerak geriknya dilakukan tanpa sadar dan tak terkendalikan lagi.

Pria berkerudung hitam itu mundur dua langkah kebelakang, tiba-tiba dia ayunkan sepasang telapaknya kedepannya sambil berseru.

"Bocah keparat, coba lihatlah sepasang telapakku ini."

"Hmm Tak usah, dilihat lagi."

Jawab Gak In Ling sambil tertawa dingin, sambil berkata selangkah demi selangkah ia maju mendekati pria berkerudung hitam itu.

Mengikuti melangkah majunya Gak In Ling tanpa sadar selangkah demi selangkah pria berkerudung hitam itu mundur kebelakang, otot-otot hijau diatas keningnya pada menonjol keluar dengan amat nyata karena tegang dan takutnya.

Tibatiba pria berkerudung hitam itu membentak keras.

"Keparat setan, rupanya engkau kepingin mampus "

Tubuhnya loncat maju kedepan dengan gerak Thian-wong-lo-ciok atau jaring langit menjala burung gereja ia terjang keatas kepala Gak In Ling, tampaklah selapis cahaya merah yang amat menyilaukan mata di iringi desiran angin tajam yang menggidikkan hati langsung menerjang kearah dada pemuda itu, serangannya sangat kuat dan mengejutkan-Gak In Ling sama sekali tidak menghindar juga tidak melancarkan serangan balasan, hanya dengan dingin ia berkata.

"Aku rasa telapak maut tidak memiliki tenaga pukulan yang begitu besarnya "

Baru saja Gak In Leng menyelesaikan kata-katanya, sepasang telapak pria baju hitam itu sudah mencapai setengah cun diatas batok kepalanya, menyaksikan kejadian tersebut, baik Gadis suci dari Nirwana maupun Thian-hong pangcu sama-sama maju selangkah kedepan tanpa sadar.

Akan tetapi pada saat yang bersamaan pula, terdengarlah Gak In Leng membentak nyaring.

"Turun kamu dari sini "

Tangan kanannya diayun keatas, secara lamat-lamat tampaklah serentetan cahaya merah berkelebat lewat.

"Aaah Telapak..."

Jerit pria berkerudung hitam yang berada di udara dengan terperanjat.

Sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya, jalan darah bisu diatas tubuhnya tahu-tahu sudah ditotok.

Perubahan tersebut berlangsung begitu cepat dan mendadak.

hampir boleh dibilang para jago yang hadir disekitarnya kalang kabut kecuali Gadis suci dari Nirwana serta Thian-hong pangcu boleh dibiang tak sempat melihat jelas bagaimanakah caranya Gak In Ling mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan pria berkerudung hitam itu.

Dengan pandangan yang sangat dingin Gak In Ling menyapu sekejap kearah pria baju hitam yang berdiri ketakutan itu, kemudian tegurnya.

"Sahabat, engkau telah mendapat perintah siapa ?"

Sambil berkata ia tepuk bebas jalan darah bisunya yang ditotok. kemudian tangan kanannya, diayunkan melepaskan kain cadar hitam yang menutupi wajah pria tersebut.

"Aaah dia bukan Gak in Ling "

Jeritan kaget berkumandang memenuhi seluruh gelanggang.

Paras muka Gadis suci dari Nirwana yang bersemu merah, mengikuti teruan tertahan lantaran kagetnya itu seketika berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat, terdengar dara itu hatinya hancur bergumam seorang diri.

"Gak In Ling... Gak In Ling diantara kita mengapa selalu terjadi kasalah-pahaman yang demikian banyaknya ?? Aku... dimanakah aku bisa bertemu lagi dengan dirimu ?"

Mengikuti bisikannya yang memilukan hati, dua titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya yang cantik.

Perempuan naga peramal sakti segera memayang tubuh Leng-cu nya, dengan suara lirih ia berbisik.

"Leng-cu, engkau tak usah bersedih hati mungkin Gak in Leng belum mati.... kalau engkau tidak percaya, sebentar lagi dengarkanlah penyelidikanku terhadap pemuda baju hitam itu, maka duduknya perkara dengan cepat akan jadi jelas."

"Sekalipun tidak mati, mungkin diapun tak akan memperdulikan diriku lagi."

Kata Gadis suci dari Nirwana dengan sedih.

"Penyakit yang ia derita toh hanya Leng-cu seorang yang bisa menyembuhkan "

Bisik perempuan naga peramal sakti. Gadis suci dari Nirwana menggeleng.

"Dia pasti amat membenci diriku, sekalipun kuberikan kepadanya belum tentu ia bersedia untuk menerimanya."

Mendengar perkataan itu perempuan naga peramal sakti segera tertawa.

"Tak usah kuatir Leng-cu, selama aku masih dapat bernapas tak nanti akan kusuruh Leng-cu merasa kecewa."

Pada saat ini Gadis suci dari Nirwana sudah kehilangan pegangan dan pikirannya terasa kalut sekali, mendengar jaminan yang diberikan kepadanya itu, dengan perasaan amat berterima-kasih ditatapnya perempuan itu kemudian berkata.

"cici, bagaimana caranya kubalas budi kebaikanmu itu ??"

Sambil berkata digenggamnya tangan perempuan naga peramal sakti erat-erat, gerak-geriknya begitu polos dan bersungguh-sungguh.

Mendadak dari tengah gelanggang berkumandang suara bentakan dari manusia bertato sembilan naga yang amat keras.

"Bajingan sialan, ku bacok engkau sampai mampus "

Sambil berkata toya bajanya di-ayun kedepan dan langsung membacok keatas batok kepala pria baju hitam itu.

Gak In Ling menengadah keatas dan memandang sekejap kearah manusia bertato sembilan naga, ia temukan kelopak mata orang telah berubah menjadi merah membara, otot-otot hijau pada keningnya pada menonjol keluar, keadaannya menyeramkan sekali.

Sebetulnya ia bisa menghindarkan pria baju hitam itu dari bahaya maut, namun ia tidak berbuat demikian, menanti toya baja milik manasia bertato sembilan naga sudah mencapai satu cun diatas kepala pria baju hitam itu, dia baru lepaskan Cekalannya dan loncat mundur sejauh beberapa tombak dari tempat semula.

"Blaaamm."

Ditangah benturan nyaring yang memekakkan telinga, tampaklah batok kepala manusia baju hitam itu terhantam sehingga hancur berantakan dan berserakan diatas tanah, darah segar muncrat keempat penjuru membasahi seluruh wajah dan badan manusia bertato sembilan naga..

Meskipun pria itu sudah menemuhi ajalnya, namun sepasang telapak tangannya masih tetap berwarna merah, rupanya dia memang sengaja mencat telapaknya dengan warna merah agar orang lain mengira bahwa dia memiliki ilmu telapak maut yang amat dahsyat itu.

Setelah berhasil memukul hancur batok kepala pria baju hitam itu, rupanya manusia bertato sembilan naga masih belum puas, toya bajanya diayunkan berulang kali menghantam mayat pria tersebut sehingga hancur lebur bagaikan perkedel, sesudah hawa dongkolnya terlampiaskan semua dia duduk diatas tanah dan menangis terseduh-seduh, suaranya keras bagaikan guntur sehingga menggetarkan seluruh bukit.

Walaupun Manusia bertato sembilan naga adalah seorang manusia kasar yang tak punya otak, tapi kesetia kawanannya amat terpuji dan lagi hatinya juga serta suka blak-blakkan.

Kini ia teringat kembali peristiwa sewaktu untuk pertama kalinya berkenalan dengan Gak In Ling, bagaimana pemuda itu menyempurnakan ilmu silatnya....

dan bagaimana pula sikap sang pemuda tersebut terhadap dirinya, meskipun ia bodoh namun perasaan persahabatan yang sudah terikat antara mereka berdua masih dapat diresapi.

Air matanya bagaikan sumber mata air mengalir keluar tiada hentinya, seduh-sedan nya yang nyaringnya dan keras kini sudah mulai serak dan parau.

Mula pertama kendatipun Gak In Ling merasa tidak puas karena tindak tanduknya yang gegabah, berangasan serta tidak membedakan mana yang benar dan mana yang salah, akan tetapi setelah menyaksikan ia menangis dengan begitu sedih nya, pemuda itu malahan merasa tidak tega.

Setelah menghela napas berat tegurnya.

"Heng tay, karena urusan apa engkau menangis dengan begitu sedihnya ??"

Sambil menangis tersedu-sedu. Manusia bertato sembilan naga berkata.

"Terbayang olehku saudara Gak adalah seorang manusia yang jujur dan bersemangat jantan mana mungkin ia dapat melakukan perbuatan terkutuk semacam itu, tapi aku manusia bertato sembilan naga ternyata bodoh dan goblok, sama sekali tidak berkemampuan untuk menentukan mana yang salah dan mana yang benar, dalam gusarku telah kuhajar dia sehingga tercebur kedalam sungai oooh saudara Gak saudara Gak. engkau tak akan menyangka bukan bahwa aku manusia bertato sembilan naga dapat membinasakan dirimu..."

Makin berkata ia merasa semakin bersedih sehingga akhirnya rambutnya ditarik-tarik dengan keras untuk menghukum diri sendiri.

Dengan sedih Gak In Ling menghela napas panjang, pikirnya di dalam hati kecilnya.

"Aaaai Sudahlah, kumaafkan dirimu."

Berpikir sampai disitu. dia lantas berkata.

"Mungkinkah ilmu silat yang dimiliki saudara Gak mu itu jauh tidak memadahi kepandaian silat yang kau milikki ?"

"Ilmu silat yang dimiliki saudara Gak itu jauh diatas kepandaian yang dimiliki aku manusia bertato sembilan naga."

Sahut manusia kasar itu sambil menangis. Gak In Ling sengaja berpura-pura terkejut serunya dengan nada tercengang.

"Lalu secara bagaimana ia bisa dihajar sampai tercebur kedalam sungai ?? Aah mungkin pada waktu itu dia sudah menderita luka dalam yang cukup parah, setelah kau hajar dirinya sampai tercebur kedalam sungai, sembilan puluh persen jiwa nya tak tertolong lagi."

Perempuan naga peramal sakti yang mendengar perkataan itu, perasaan hatinya agak bergerak sambil tersenyum segera pikirnya.

"Gak In Ling, tak kusangka ternyata engkau memiliki perasaan hati yang ramah dan budiman-"

Manusia bertato sembilan naga tak dapat berpikir sampai ke situ, mendengar perkataan itu ia segera berteriak keras.

"Saudara Gak pasti tak pernah menyangka kalau aku yang mempunyai hubungan persahabatan yang demikian erat dengan dirinya pun tidak percaya terhadap pendiriannya, dalam putus-asa dan kecewanya tentu ia tak sudi melakukan perlawanan-"

Tak kalah Gadis suci dari Nirwana mendangar ucapan tersebut, hatinya segera merasa amat sakit bagaikan ditusuk dengan beribu-ribu batang jarum perak.

air matanya bagaikan hujan gerimis mengucur keluar tiada hentinya...

Dalam pada itu Gak In Ling telah tertawa hambar dan berkata.

"Manusia yang telah mati tak dapat hidup kembali, asal dalam hati kecil Heng-tay sudah timbul perasaan menyesal dan sukma saudara Gak mu didalam baka dapat mengetahui akan hal ini, dia pasti bisa memaafkan kesalahanmu itu, sudahlah jangan menangis lagi."

Suaranya begitu lembut dan hangat. Perasaan hati Manusia bertato sembilan naga segera bergerak, tiba-tiba ia menyeka air mata yang membasahi matanya dan berhenti menangis.

"Benarkah ia dapat memaafkan kesalahanku itu ??"

Serunya. Dalam hati kembali Gak In Ling menghela napas panjang.

"Aaai kalau bukan aku yang memaafkan dirimu, siapa lagi yang bisa memaafkan dirimu ?"

Berpikir sampai disitu, perlahan-lahan dia angkat wajahnya dan berkata dengan berat.

"Ketulusan hati akan mengharukan Thian, asal dalam hatimu terdapat seorang manusia seperti saudara Gak mu itu, dan mengetahui bahwa dia bukanlah seorang manusia jahat seperti yang kau bayangkan, bukankah dia masih tetap sebagai sahabat karibmu ? kalau memang begitu, berjumpa atau tidak apa pentingnya ?"

Dia mungkin tak dapat mengendalikan perasaan sedih yang berkecamuk dalam benaknya oleh karena itu ucapannya membawa nada yang memilukan hati bagi siapa pun yang mendengar-kan.

Gadis suci dari Nirwana angkat kepalanya dan alihkan matanya yang penuh dengan airmata itu keatas wajah Gak In Ling yang jelek bagaikan setan, dia dalam hati kecilnya timbul suatu pengharapan yang sangat aneh dan tidak dimengerti olehnya, dia berharap pemuda bertampang jelek seperti setan itu dapat menghibur pula dirinya, seperti dia menghibur hati Manusia bertato sembilan naga.

Agaknya Manusia bertato sembilan naga tak berhasil memahami maksud yang sebenarnya dari ucapan Gak In Ling itu, dengan kebingungan ia berseru.

"Aku masih tak habis mengerti "

Padahal ia sama sekali tidak mengerti, hanya saja malu untuk mengutarakannya keluar.

"Heng-tay."

Kata Gak In Ling lagi dengan hambar,"

Asal engkau masih ingat apa yang diharapkan saudara Gak kepadamu untuk kau kerjakan, lakukan saja menurut maksud hatinya... bukankah kesemuanya akan beres ?"

Perasaan hati Manusia bertato sembilan naga segera tergerak. serunya tanpa sadar.

"Aaaah sedikitpun tidak salah, dia mengharapkan aku melakukan sesuatu pekerjaan, Eeei.. Agakaya ia tak pernah berkata demikian-Aaaai Sekarang aku teringat sudah..."

Dengan sorot mata yang sangat aneh dan sepasang mata terbelalak lebar, ia menyeka air mata yang membasahi pipinya, kemudian menyambar toya bajanya dan loncat bangun, katanya.

"Saudara Gak ku mempunyai banyak orang musuh besar yang berdiam dilembah pemutus sukma aku harus pergi kesana..."

Apa yang dipikirkan segera dilaksanakan, setelah merangkul toya bajanya dengan langkah lebar ia segera menuruni bukit tersebut.

Perasaan hati Gak In Ling bergerak.

buru-buru susulnya sambil membentak keras.

"Saudara.... aku rasa saudara Gak mu itu tentu tidak suruh engkau mewakili dirinya untuk pergi asal balas dendam bukan?"

Ketika mendengar teriakan tersebut, dari balik mata Perempuan naga peramal sakti memancar keluar serentetan sinar mata yang sangat aneh, dan ia melirik sekejap kearah Gadis suci dari Nirwana.

Sementara itu Manusia bertato sembilan naga sama sekali tidak menghentikan langkah kakinya, sambil melanjutkan perjalanannya ia berseru.

"Meskipun dia tak pernah berkata demikian akan tetapi setelah kuketahui harus kulakukan juga pekerjaan ini "

Habis berkata ia teruskan langkahnya keluar dari bukit tadi. Gak In Ling jadi amat gelisah, buru-buru serunya lagi.

"Engkau bukan tandingan dari orang-orang yang menghuni dilembah pemutus sukma"

"Mati binasa demi saudara Gaksku, sekalipun berkorban juga bukan persoalan bagiku."

Teriak Manusia bertato sembilan naga^ Ucapan tersebut amat tegas dan serius, ketika menyelesaikan kata-kata tersebut bayangan tubuhnya dan ikut lenyap dari pandangan-Gak In Ling menghela napas panjang ia menyapu sekejap sekeliling tempat itu ketika sorot matanya menyapu wajah Gadis suci dari Nirwana serta Thian-hong pangcu nampak jelas hati-nya merasa tak tega, tapi ingatan tersebut hanya sebentar saja berkelebat dalam benaknya untuk kemudian lenyap tak berbekas.

Gak In Ling angkat kepala periksa cuaca, kemudian putar badan dan berjalan menuju kearah mana manusia bertato sembilan naga melenyapkan diri.

tak sepatah katapun yang dia ucapkan terhadap orang-orang disekeliling sana.

Tiba-tiba Perampuan saga peramal sakti berseru keras.

"Gak In Ling "

Mendengar teriakan itu Gak In Ling hentikan langkahnya dan putar badan, baru saja dia akan buka suara mendadak 510 teringat olehnya bahwa dandanannya pada saat ini bukanlah Gak In Ling, dalam hati kecilnya dia segera berseru.

"Aduh celaka, aku lupa kalau perempuan naga peramal sakti adalah seorang manusia yang cerdas dengan akal setan yang banyak."

Sementara itu baik Thian-hong pangcu maupun Gadis suci dari Nirwana sedang menatap wajahnya dengan pandangan tajam, dibalik sorot mata mereka terselip harapan, sangsi serta tanda tanya besar.

Dalam gelisahnya timbullah satu akal cerdik dalam benak pemuda itu, cepat-cepat dia ber kata.

"Gak In Ling sudah terkubur di dalam sungai, nona sedang memanggil siapa...?"

Habis berkata tanpa menanti jawaban lagi dengan langkah lebar segera berlalu dari sana.

Sebenarnya Perempuan naga peramal sakti akan membongkar rahasia pemuda tersebut saat itu juga, akan tetapi setelah dipikir sebentar dan merasa tindakan tersebut malahan justru tidak menguntungkan posisi Leng-cu nya maka ketika kata-kata tersebut sudah meluncur di ujung bibirnya segera ditelan kembali kedalam perut, dengan pandangan termangu-mangu dipandangnya bayangan punggung Gak In Ling sehingga lenyap dari pandangan-Pada saat itu perasaan hati Gadis suci dari Nirwana boleh dibilang putus asa dan kecewa dengan sedih ia memandang awan yang bergerak diangkasa lalu berbisik lirih.

"Mari kita pulang saja "

Perempuan naga peramal sakti nampak tertegun, serunya.

"Leng-cu, bukankah engkau hendak pergi mencari Tiong-cu dari perguruan Pit-tiong yang berasal dari Tibet ??"

"Itu urusan Leng-cu "

Tukas Gadis suci dari Nirwana dengan cepat.

"Leng-cu ? Bukankah engkau adalah Leng-cu ?"

Gadis suci dari Nirwana tertawa sedih, jawabnya.

"Aku lebih senang hidup sebatang-kara tanpa pengiring, dari pada harus hidup terkekang sebagai boneka yang dipuja serta disanjung-sanjung setiap orang, aku adalah manusia, aku ingin merasakan pula kebahagian hidup sebagai seorang manusia yang wajar, karena kedudukan Leng-cu aku harus kehilangan apa yang kuinginkan-.. aku tak akan bersedia menduduki jabatan itu lagi."

Perlahan-lahan Thian-hong pangcu tundukkan kepalanya rendah-rendah, mungkin dia mempunyai perasaan yang sama.

Rupanya sejak permulaan Perempuan naga peramal sakti sudah dapat menduga apa yang sedang dipikirkan Gadis suci dari Nirwana pada saat itu, sengaja ia mengajukan pertanyaan tersebut tujuannya tidak lain adalah agar gadis suci dari Nirwana bisa lebih terang menjelaskan isi hati nya, daripada dikemudian hari dia menyangkal.

Sambil menatap wajah gadis itu.

ujarnya dengan wajah serius.

"Leng-cu. apakah engkau mengira Gak In Ling benar-benar sudah mati... ?"

Sekilas cahaya aneh memancar keluar dari balik mata Gadis suci dari Nirwana yang jeli, akan tetapi sebentar saja sudah lenyap kembali dari pandangan, ia menghela napas sedih sambil berkata.

"Tak usah kau ungkap tentang dirinya lagi aku merasa kesal."

Perempuan naga peramal sakti sama sekali tidak berhenti sampai disitu saja, ia berkata kembali.

"Apabila dugaanku tidak keliru, bukan saja Gak In Ling belum mati bahkan ilmu telapak mautnya telah berhasil dikuasai sepenuhnya."

Ucapan tersebut bagi pendengaran Gadis suci dari Nirwana serta Thian-hong pangcu benar-benar merupakan suatu berita yang menggetarkan hati karena itu setelah selesai mendengar perkataan tersebut empat buah pandangan mata yang jeli tanpa sadar bersama-sama dialihkan ke atas wajah perempuan naga peramal sakti.

Perempuan cerdik tersebut tertawa, ujarnya kemudian-"Barusan Leng-cu telah bertemu dengan dirinya "

"Barusan ?"

Teriak Gadis suci dari Nirwana dengan hati tertegun.

"Benar "

Perempuan naga peramal sakti mengangguk serius.

"pemuda baju hitam bermuka setan yang barusan munculkan diri itu, kecuali paras mukanya yang amat jelek dan menyeramkan seperti setan, bagian lain tak satupnn yang berbeda dengan Gak In Ling, terutama sekali ilmu pukulan yang dipergunakannya juga merupakan ilmu telapak maut "

Gadis suci dari Nirwana serta Thiau-hong pangcu segera termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, dengan cepat mereka merasa bahwa orang itu memang sangat mirip dengan Gak In Ling, tetapi mereka tak habis mengerti kalau memang orang itu adalan Gak In Ling, mengapa pemuda itu tidak muculkan diri dengan paras muka aslinya ?

Walaupun Gadis suci dani Nirwana serta Thian-hong pangcu adalah perempuan-perempuan ampuh yang berotak cerdik, namun setelah menjumpai keadaan seperti itu tak urung dibikin kebingungan juga .

Sesudah termenung sebentar, terdengar Gadis suci dari Nirwana bertanya dengan nada tidak mengerti.

"Kenapa ia tidak menjumpai kita dengan paras muka aslinya ?"

Perempuan naga peramal sakti menghela napas berat, sahutnya.

"Leng-cu, berulang kali engkau telah mencelakai dirinya, sebagai seorang pemuda yang berwatak angkuh dan tinggi hati ditambah pula penindasan oleh keadaan selama beberapa waktu belakangan ini membuat perasaan hatinya menjadi dingin dan kaku, rasa percayanya terhadap orang lain jadi lenyap tak berbekas.... menurut pengamatanku, tempo hari ketika ia terhantam sehingga tercebur dalam sungai, bukannya ia tak berhasrat melakukan perlawanan melainkan karena hatinya putus asa dan kecewa sebab sampai manusia bertato sembilan naga yang selalu setia kepadanya pun tidak mempercayai dirinya lagi."

Perempuan ini memang beuar-benar memiliki kecerdikan yang luar biasa, tidakkah aneh kalau ia sebagai seorang perempuan lemah yang tak bertenaga dan tidak mempunyai kemampuan untuk membunuh seekor ayam pun namun memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam perkumpulan Nirwana.

"Tapi. tapi........ aku tidak sengaja berbuat demikian-"

Kata Gadis suci dari Nirwana dengan sedih, berbicara sampai disitu tak tahan lagi air matanya jatuh berlinang.

"Leng-cu, dia tak akan mengetahui sebanyak itu, mulai sekarang asalkan engkau dapat memimpin anak muridmu secara baik-baik dan bertujuan melenyapkan kaum durjana dari muka bumi, aku percaya Gak In Ling secara otomatis pasti akan datang sendiri untuk bekerja sama dengan kita, karena diapun memiliki hati yang bijaksana dan welas kasih namun tidak diketahui oleh siapa pun."

"Jadi menurut engkau dia benar-benar belum mati ?"

Dengan penuh kepercayaan pada diri sendiri Perempuan naga peramal sakti mengangguk.

"Benar"

Jawab nya tersenyum.

"dan aku percaya sebentar lagi manusia bertato sembilan naga pun akan balik lagi kemari."

"Masa dia akan kembali kemari ?"

Seru gadis suci dari Nirwana keheranan-"Benar, karena Gak In Ling yang suruh dia kembali kemari "

Pada saat itu sebenarnya Thian-hong pang cu sudah bersiap-siap meninggalkan tempat itu dengan membawa serta anak buahnya, tetapi setelah mendengar perkataan itu dia segera berhenti, karena dia ingin membuktikan apakah Manusia bertato sembilan naga benar-benar akan kembali kesitu, sebab dari kembali atau tidaknya manusia kasar itu dapat dibuktikan pula apakah Gak In Ling benar-benar masih hidup dikolong langit ataukah sudah mati.

Dia, Thian-hong pangcu meskipun diluaran selalu bersikap tenang padahal gelora cinta dalam hati kecilnya tidak kalah dengan keadaan dari Gadis suci dari Nirwana, sebab pengertiannya terhadap Gak In Ling jauh lebih mendalam satu tingkat jika dibandingkan dengan Gadis suci tersebut.

Pada saat itulah dari tempat kejauhan berkurnandangan datang suara teriakan parau dari Manusia bertato sembilan naga.

"Aaaih Leng-cu. kiranya kalian belum pergi aku mengira tak dapat menemukan kalian lagi..."

Suaranya begitu riang gembira, dia....

mungkin selamanya tak akan mengetahui bagaimana caranya antuk mengendalikan perasaan girang sedih, gusar atau gembira.

Ketika Gadis suci dari Nirwana serta Thian hong pangcu mendengar suara teriakan dari Manusia bertato sembilan naga, seakan-akan berjumpa dengan Gak In Ling sendiri, diatas wajah muka mereka seketika tersungginglah senyuman penuh kegirangan, perasaan hatipun terasa terhibur sekalipun mereka pandai menguasai diri namun sekarang pengendalian terhadap diri sendiri sudah tak terkontrol lagi.

Buru-buru Perempuan naga peramal sakti terharu.

"Sebentar lagi kalian tak usah menanyakan kepadanya apakah telah berjumpa dengan Gak In Ling atau tidak. kalau dia mengatakan kearah timur maka kita harus kearah barat, dengan demikian kita tak akan kehilangan jejaknya lagi."

Perkataan itu diutarkan dengan suara keras agaknya sengaja diperdengarkan kepada Thian-hong pangcu.

Sementara itu Manusia bertato sembilan naga telah tiba dihadapan mereka.

Sambil tertawa Perempuan naga peramal sakti segera menegur.

"Apakah engkau tidak jadi pergi ke lembah pemutus sukma ?"

Hampir boleh dibilang tanpa dipikir lagi Manusia bertato sembilan naga segera menjawab.

"Dengan kekuatanku seorang tak mungkin bisa menangkan mereka yang berjumlah banyak, maka dari itu aku akan menunggu beberapa waktu lagi baru pergi kesitu."

Lelaki kasar ini tidak bisa bicara bohong, karena itu setelah perkataan tersebut diutarakan keluar nampaklah banyak kelemahan dibalik ucapannya tersebut.

Dalam hati Perempuan naga peramal sakti segera berpikir^ "Sepantasnya bagi Gak In Ling untuk memberitahukan kepada manusia tolol ini bagaimana harus berbicara."

Berpikir sampai disitu, sambil tertawa dia lantas tertawa.

"Siapa yang tahu gelagat dan bisa menyesuaikan diri dengan keadaan dialah seorang manusia yang cerdik, jalan pikiranmu itu memang tepat sekali. Sekarang kami hendak pergi ke-benteng Hui-in-cay untuk menyelidiki kekuatan yang sesungguhnya dari para jago yang diutus datang dari Tibet, apakah engkau akan ikut serta bersama kami ?"

Air muka manusia bertato sembilan naga berubah hebat, serunya.

"Berapa lama yang engkau butuhkan ?"

Diam-diam perempuan naga peramal sakti merasa geli, namun diluaran dia segera menjawab.

"Sekarang kami masih belum ada rencana untuk sungguh-sungguh bentrok secara kekerasan dengan mereka, tentu saja kita segera pergi kesitu dan segera kembali pula?"

Rupanya Thian-hong pangcu mempunyai rencana lain dalam hati kecilnya, dia segera ulapkan tangannya kepada anak buahnya, dan kemudian kepada gadis suci dari Nirwana katanya.

"Siau-moay akan berangkat lebih dahulu, sampai jumpa lagi di lain kesempatan-"

Gadis suci dari Nirwana bukanlah lentera yang kehabisan minyak. ia segera tertawa dingin dan menjawab.

"Silahkan pangcu berlalu dari sini, setiap saat siau-moa menantikan petunjuk darimu."

Thian-hong pangcu tertawa dingin, dia segera putar badan dan berlalu bersama-sama anak buahnya. Sementara itu manusia bertato sembilan naga setelah berpikir sebentar lalu berkata.

"Baik Akupun ikut dengan kalian "

Maka merekapun segera menyusun rencana kemudian dengan terbagi menjadi beberapa rombongan berangkatlah menuju kebenteng Hui-in-cay.

Baca Juga: Bentrok Rimba Persilatan 3

Baca Juga: Bakti Pendekar Binal 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert