Eps 10 Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt
Baca online Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt
Cersil Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt.
"Kenapa kau percaya ocehannya bocah licik itu? Lihat sekarang, bebek yang sudah matang dapat pergi terbang! Bingkisan tidak bakal didapat, kitabmu pun lenyap!"
"Mana aku tahu dia mendusta?"
Kata Kong Thian, melawan.
"Eh, bukankah obat dan kitab padamu?"
"Celaka!"
Cong Hay berseru.
"Apakah kau tetap masih tidak percaya aku? Jikalau bukannya dia mendusta perlu apa dia merat?"
"Tapi mana dapat Cit Im Kauwcu memberikan obat kepadanya?"
Balik menanya si manusia raksasa.
"Kau tidak percaya!"
Mereka bertengkar pula hampir senjata mereka bentrok lagi. Cong Hay menahan kemendongkolannya. Dia kata.
"Jikalau kau tetap tidak percaya, mari kita pergi ke gunungnya CiuSanBin!"
Kong Thian bersangsi.
"Jangan takut!"
Kata Cong Hay, separuh mengejek.
"Thio Tan Hong, le Sin Cu dan Hok Thian Touw, mereka semua tidak ada di gunung!"
"Kenapa aku mesti takut?"
Berteriak Kong Thian gusar.
"Kau berani, aku juga!"
Meski apa pun jua, mereka ini berdua memerlukan satu dengan lain, maka itu, mereka menghentikan perselisihan mereka Ketika itu Kiam Hong dan Wan Tat di lain pihak sudah kabur terus.
Sangat lega hati mereka, hingga mereka tertawa geli.
"Aku tidak mengerti, nona, sebenarnya di mana kau simpan obat itu?"
Wan Tat tanya kawannya "Aku sembunyikan di tempat yang kau tidak nanti dapat pikir,"
Menyahut si nona "Sudah, kita jangan omong saja, mari lekas turut aku mengambil pulang obat itu!"
Dan si nona mengaburkan kudanya.
Wan Tat heran tetapi ia menurut.
Ia mendongkol karena perlakuannya Yang Cong Hay.
Pula ia berkuatir sebab peristiwa itu meminta waktu mereka.
Ia takut nanti batas tempo sepuluh hari keburu lewat.
Maka dengan menutup mulut, ia melarikan kudanya mengikuti si nona.
Di tengah jalan itu, dua kali mereka menukar kuda mereka.
Di hari kedua, tengah hari, tibalah mereka kembali di Hulicip.
Kiam Hong menghentikan kudanya, untuk diputar, guna meninggalkan jalan besar, buat mengambil jalan kecil.
Itulah jalan untuk memasuki dusun.
Wan Tat heran.
Ia lantas berkata.
"Nona Liong, aku masih mempunyai bekalan rangsum kering, maka tak usahlah kita bertambat di dalam dusun."
Ia menyangka nona mau mencari makanan untuk bersantap tengah hari. Kiam Hong tertawa.
"Lauw Cecu, apakah kau lupa pada Ciu Ciangkui?"
Ia tanya.
"Oh. tidak, nona!"
Menyahut cecu itu.
"Tapi marilah kita pulang dulu untuk menolongi orang! Sakit hati itu kita boleh tunda sampai lain hari, tidak nanti menjadi kasip."
"Tidak!"
Kata si nona.
"Tidak dapat aku tidak menghajar dia! Aku mesti melampiaskan kemendongkolanku!"
Dan ia melarikan kudanya.
Wan Tat tidak setuju, tetapi si nona sudah pergi, terpaksa ia mengikuti.
Pondokannya Ciu Ciangkui sekalian juga menjadi rumah makan.
Di waktu tengah hari itu, tamu yang makan sedang ramainya.
Ketika Wan Tat bertindak masuk, Ciu Ciangkui lagi repot dengan papan hitungnya.
Ia kaget hingga mukanya pucat tempo ia mengangkat kepala dan mendapat lihat raja gunung itu kembali bersama si nona.
Tanpa merasa ia mengeluarkan jeritan, lantas ia mendak, untuk nelusup ke kolong meja.
Kiam Hong menghampirkan sambil tertawa.
"Ciu Ciangkui, justeru kau mesti menghitung perhitungan kita, kenapa kau bersembunyi?"
Katanya. Lauw Wan Tat menghampirkan, dia bukannya menanya, hanya dia membentak bengis, tangannya diulur ke kolong meja, maka bagaikan tikus diterkam kucing, tubuhnya Ciu Ciangkui ditarik keluar.
"Cecu, ampun!"
Berkata pemilik pondokan itu, suaranya parau, tubuhnya menggigil ketakutan sangat.
"Bangsat kau!"
Mendamprat Wan Tat.
"Aku percaya kau, aku pandang sebagai orang sendiri, tetapi kau justeru mencelakai aku!"
Kata-kata itu ditutup sama melayangnya bogem mentah ke arah hidung, maka Ciu Ciangkui lantas mengeluarkan jeritan tertahan.
Hidungnya itu melesak, mengeluarkan darah, bahkan matanya mengalirkan darah juga.
Atas kejadian itu, semua tetamu lainnya, yang kaget dan takut, lantas pada mengangkat kaki.
Mereka mengenali cecu itu, tidak ada yang berani campur tahu.
"Bagus!"
Berseru Kiam Hong memuji.
"Ketika di jaman dulu Lou Tie Cim menghajar Tin Kwanse pun tidak sebagai ini! Hanyajangan-jangan jahanam ini tidak kuat bertahan untuk dua tiga kali tinju!"
Wan Tat belum puas, ia menghajar pula. Kali ini ia mengarah punggung. Lagi sekali Ciu Ciangkui menjerit, tubuhnya lantas roboh terkapar, dari mulutnya menyembur darah hidup.
"Ampun... ampun..."
Ia memohon berulang-ulang, seraya kedua tangannya dipakai menutupi kepalanya. Kali ini ia tidak dihajar keras, kalau tidak, tentulah tubuhnya itu sudah ringsak dan jiwanya mungkin terbang melayang...
"Dengan memandang Nona Liong, aku menunda tinjuku yang ketiga!"
Berkata Wan Tat.
"Jikalau kau kembali berani main gila, hingga kau merugikan pihakku, akan aku ambil jiwa anjingmu!"
Ciu Ciangkui mengangguk-angguk menyatakan tidak berani lagi.
"Nona Liong, puaskah kau?"
Wan Tat tanya si nona.
"Nah, mari kita pergi!"
"Masih ada lagi!"
Berkata Kiam Hong, tertawa. Hucecu itu heran hingga ia melongo.
"Ada lagi?"
Tanyanya.
"Apakah kau hendak mengubrak-abrik pondokannya ini?"
"Itulah tidak usah!"
Berkata si nona.
"Aku minta kau menghajar dan membelah saja mejanya ini!"
"Buat apakah merusak meja ini?"
Tanya Wan Tat, tetap heran.
"Aku melihatnya tidak puas. Kau hajarlah!"
Wan Tat tetap heran, tetapi karena si nona menginginkannya, ia menurut.
Ia menghunus goloknya, dengan itu ia membacok meja itu, dan ia mengulangi beberapa kali.
hinggameja itu terbelah-belah.
Ia heran ketika ia melihat ada barangjatuh dari meja itu, dan barang itu bercahaya.
Kiam Hong segera menjumput barang itu, ialah kotak kemala yang indah.
"Kau toh tidak menyangka obat pemunah itu disimpan di bawah hidungnya Ciu Ciangkui?"
Katanya tertawa.
Wan Tat tercengang.
Benar-benar ia tidak menyangka.
Maka ia menjadi kagum bukan main, hatinya girang sekali.
Itulah hasil kecerdasan dan kecerdikannya Kiam Hong.
Begitu si nona melihat munculnya Yang Cong Hay, ia menginsafi ancaman bahaya.
Selagi Wan Tat berbicara sama bekas congkoan itu, dengan diam-diam, tetapi dengan sebat, ia mengeluarkan kotak kemala itu, untuk disesapkan di bawah meja di mana ada bertumpuk banyak buku lama yang telah penuh debu.
Cong Hay boleh sangat licin tetapi ia tidak pernah menduga akan kepintaran si nona.
Melihat kotak kemala itu, Ciu Ciangkui menjadi sangat menyesal, hingga ia kata di dalam hatinya.
"Sudah sekian lama aku hendak menyingkirkan semua buku tua itu, siapa tahu selama ini dua hari aku repot terus, hingga sekarang..."
Selagi si pemilik pondokan menyesal dan berduka. Wan Tat girang bukan main. Dia menunjuki jempolnya, dia tertawa lebar.
"Nona Liong, hebat kau!"
Dia memuji.
"Akulah seorang Kangouw ulung tetapi aku mesti menyerah kalah!"
Di samping mereka ada sebuah meja, yang telah tersajikan barang makanan, di atas sebuah piring ada dua ekor ayam panggang, Wan Tat menyambar itu seraya berkata.
"Barang santapan sudah sedia! Mari, kita dahar sembari jalan!"
Kiam Hong menurut.
Maka keduanya pergi keluar, untuk naik pula kuda mereka, buat dikasih lari keras.
Di tengah jalan, Wan Tat memuji pula si nona.
Tapi, di lain pihak, hatinya bergelisah, maka ia tidak bisa tertawa seperti tadi-tadinya.
Ia berkuatir karena hari ke sepuluh sudah tiba!
Perjalanan dilakukan terus menerus.
Dua kali mereka menukar kuda di perhentian.
Malam pun mereka tidak singgah lagi.
Dengan begitu besoknya, lewat tengah hari, tibalah mereka di gunung.
Ketika itu sudah hari yang kesebelas!
Di depan benteng ada paseban peranti menyambut tetamu yang menj aga di situ Pek Hong Hoan, ketika dia melihat tibanya dua orang itu, girangnya bukan buatan.
Dia lari menyambut, katanya.
"Baru tadi pagi dua tauwbak Thio dan Li pulang dengan warta bahwa jiwi telah kena orang akali di Hulicip, maka sekarang kami lagi mendamaikan soal membawa pasukan untuk menyerbu Bang keepo, tidak disangka jiwi telah kembali dengan lekas!"
Kiam Hong tidak sempat berbicara.
"Bagaimana dengan Ciu Cecu?"
Begitu ia tanya. Mukanya orang she Pek itu menjadi guram dengan tiba-tiba.
"Sampai kemarin mereka bertiga masih dapat beromong,"
Sahutnya.
"tetapi hari ini, beberapa kali mereka tak sadarkan diri, tubuh mereka sebentar dingin dan sebentar panas, hingga bubur pun mereka tidak dapat dahar, mereka cuma bisa menghirup sedikit susu..."
Mendengar itu, hati Kiam Hong lega.
"Oh, Thian, terima kasih!"
Pujinya.
"Syukur belum kasip!..."
Lantas nona ini berlari-lari memasuki benteng. Di Cigi thia, sudah berkumpul semua tauwbak.
"Jangan kuatir! Jangan kuatir!"
Wan Tat berkata berulang-ulang begitu ia bertindak memasuki ruang rapat itu.
"Nona Liong sudah mendapatkan obat!..."
Baru ia berseru itu, atau mendadak ia roboh sendirinya, hingga semua orang kaget, tetapi ketika orang memburu, mendekati ia nyata ia rebah sambil menggeros!
Bukan buatan letihnya Wan Tat dan KiamHong, mereka pun ngantuk, sebab sudah dua hari dan dua malam mereka tidak tidur barang sedikit, setelah hatinya lega hucecu itu tidak dapat bertahan lagi, ia roboh untuk terus tidur.
Tidak demikianlah si nona, yang hatinya keras memikirkan Giok Houw.
Di dalam, Kiam Hong disambut Cui Hong, yang merangkul padanya.
"Oh, adikku, kau capai sekali!"
Berkata nyonya itu sambil air matanya keluar bercucuran.
"Sebentar kita bicara!"
Berkata Kiam Hong.
"Mari kita lihat dulu pada CiuPeehu!"
"Baiklah kau lihat Giok Houw dulu!"
Berkata Nyonya Ciu.
"Tidak! Ciu Peehu kepala gunung, dia mesti ditolong paling dulu!"
Mendengar begitu, Cui Hong lega hatinya dan kagum juga.
"Baiklah kalau begitu,"
Katanya "Mari lihat peehu-mu dulu!"
Semua orang di gunung telah melihat perhubungan erat di antara Kiam Hong dan Giok Houw.
Cui Hong tidak menjadi kecuali, itu sebabnya Nyonya Ciu mengajak si nona menolong dulu si anak muda.
Tidak tahunya Kiam Hong mengenal keadaan, dia dapat menguasai dirinya San Bin mendapat kamar sendiri, tak leluasa untuk orang banyak masuk ke dalam kamarnya itu, maka itu, yang masuk terus cuma Cui Hong bersama Kiam Hong serta Kok Tiok Kin yang mengerti ilmu ketabiban.
Ketika Kiam Hong tiba di depan pembaringan, ia lantas melihat muka San Bin bersemu hitam gelap, di alisnya ada titik-titik, hawanya pun bau seperti bau hangus.
Ketika itu, panas tubuhnya sedang menaik.
Maka kagetlah ia.
"Syukur mereka bertiga, ketika itu hari mereka bertempur, sebelumnya mereka sudah makan pel PeklengTan yang terbuat dari teratai salju,"
Berkata Tiok Kin.
"Jikalau tidak, tidak nanti mereka sanggup bertahan sampai hari ini..."
Kiam Hong tidak bilang apa-apa, hanya ia mengeluarkan kotak kemalanya untuk segera membuka tutupnya. Begitu tutup itu terbuka, rupanya ia menjadi kaget sekali. Cui Hong pun kaget, saking herannya.
"Apakah isinya ini obat pemunah racun?"
Ia menanya perlahan, matanya mengawasi si nona dan obat bergantian.
"Apakah tak salah?"
Isi kotak itu cuma tiga butir pel warna hijau, yang dua masih utuh, yang ketiga tinggal separuh.
Inilah yang membuatnya Kiam Hong kaget.
Ia ingat sekarang, yang separuh itu ada sisa yang telah dimakan Cit lm Kauwcu, yang melepehkan itu dengan tiba-tiba selagi dia memakannya.
Ia tidak menyahuti Nyonya Ciu, hanya ia berkata dalam hatinya.
"Kemarin ini Cit Im Kauwcu membutuhkan obat ini guna menolong jiwanya tetapi dia... dia.. dia hendak menolongi orang yang dicintai puterinya, serta sahabat-sahabatnya orang itu, maka dia meninggalkan separuh pel ini... Ah, ketika itu aku tidak sadar bahwa obat yang dibutuhkan kedua pihak adalah obat yang serupa, ialah obat ini..."
Nona ini ingat benar, ketika itu ia lagi menjelaskan hal terlukanyaThio Giok Houw oleh pukulan beracun Kiuyang TokCiarig, mendadak Cit Im Kauwcu melepehkan sisa obat itu, nyonya itu telah mendustakan anaknya, hingga ia sendiri turut terpedayakan.
Sekarang ia ingat, pantas Cit Im Kauwcu memesan, obat itu mesti diberikan satu butir pada satu orang.
Habis, bagaimana dengan orang yang ketiga?
Cukupkah kekuatannya itu separuh butir, untuk menyembuhkan orang yang ketiga itu?
Pula, siapakah yang harus dipertaruhkan jiwanya dengan diberikan obat yang sepanahnya itu?
Pertanyaannya Nyonya Ciu itu bernada gelisah, Kiam Hong kena dibikin sadar dari kaget dan ngelamunnya itu.
"Memang, inilah obat pemunah,"
Ia menjawab. Meski ia telah memperoleh jawaban, Cui Hong tetap heran.
"Eh, mengapa air matanya mengalir?"
Tanyanya di dalam hati.
"Kelihatannya itu bukannya air mata kegirangan..."
Memang juga Kiam Hong tidak dapat mencegah air matanya mengembeng dan mengalir.
Ia rupanya dapat melihat keheranan nyonya itu, lekas-lekas ia menepas air matanya "Inilah obat yang ditukar Cit Im Kauwcu dengan jiwanya sendiri,"
Ia menjelaskan.
"Sebentar sesudahnya menolongi peehu, nanti aku omong terlebihjauh..."
Cuma sebegitu yang nona ini dapat terangkan, tidak mau ia menjelaskan bahwa obat itu tinggal dua butir setengah...
Kulit dan daging di mukanya San Bin sudah mulai keras, maka untuk mengasi dia makan obat, dia mesti dicekoki.
Cui Hong memaksa membuka mulutnya suaminya itu.
Obat dikasih masuk setelah diaduk dengan air hangat.
Habis itu, semua orang berdiam, untuk menantikan bekerjanya obat.
Orang tidak usah menanti lama akan menyaksikan mukanya ketua gunung itu berubah dari bersemu gelap menjadi sedikit terang, tandanya mulai lenyaplah hawa yang hitam itu, sedang napasnya tidak selemah tadi.
Bahkan lagi sesaat, dia dapat membuka matanya yang tadinya terus dimeramkan.
Kok Tiok Kin lantas meraba nadi cecu itu, lalu terlihat dia bersenyum.
"Sungguh mustajab obat pemunah ini!"
Katanya, memuji.
"Nadinya cecu sudah berjalan pula seperti biasa lagi. Aku rasa, lewat dua hari, dia akan sudah dapat turun dari pembaringan..."
San Bin mengawasi semua orang.
Ia melihat Nona Liong.
Tahulah ia bahwa si nona yang sudah menolong padanya.
Dengan sinar matanya, ia mengutarakan rasa terima kasihnya pada nona itu.
Lalu ia mengangkat tangannya, menggapai perlahan kepada isterinya.
Cui Hong menghampirkan.
Ia pun memasang kupingnya, karena suami itu ingin bicara berbisik.
Habis itu ia mengangguk, terus ia menarik tangannya Nona Liong, katanya.
"Peehu-mu memikirkan Giok Houw, ia minta kau pergi lekas melihatnya."
San Bin belum dapat bicara keras, maka itu ia berbisik pada isterinya itu. Kiam Hong bersyukur berbareng berduka sekali.
"Suami isteri ini mengetahui aku, mereka sangat memperhatikannya, tetapi, mereka mana tahu hatiku?"
Katanya dalam hatinya. Ia sangat bingung.
"Obattinggal satu setengah... Siapa aku mesti tolong lebih dulu? Enci In Hong atau Giok Houw?"
Cui Hong masih memegangi tangan si nona, yang ia tuntun, untuk diajak pergi kepada Giok Houw. Mendadak Kiam Hong berkata.
"Peebo marilah kita lihat enci In Hong dulu!..."
Untuk sejenak, Cui Hong tercengang, tetapi lantas juga ia tertawa.
"Kau tidak usah malu, tidak nanti ada orang mentertawaimu,"
Katanya.
"Baiklah kau tengok dulu engko Giok Houw kau itu. Sudah beberapa hari kamu berdua tidak bertemu, aku tahu kau tentulah memikirkan sangat kepadanya."
"Benar, aku memang memikirkan dia,"
Menyahut si nona.
"Tapi sekarang, aku mesti lihat enci In Hong dulu!"
Cui Hong heran, tetapi ia turut si nona. In Hong masih tak sadarkan diri, ketika Cui Hong dan Kiam Hong bertindak masuk ke dalam kamarnya, justeru ia lagi berkata-kata ngelindur, suaranya perlahan.
"Thian Touw... Thian Touw... kau datang?... Apakah kau masih menyesalkan aku?..."
Mendengar itu, pedih hati Nona Liong.
"Pada sepuluh tahun yang lalu, usiaku belum cukup sepuluh tahun,"
Katanya dalam hatinya.
"Ketika ibu membawa aku lari, hampir aku mati kelaparan di dalam kobakan, maka syukurlah enci In Hong telah menolongi kami ibu dan anak, sampai ibuku menjadi tauwbak di dalam bentengnya. Ketika rombongannya dibubarkan, enci In Hong mengajak kami ke gunung Thiansan. Selama sepuluh tahun bukan saja ia mengajarkan aku ilmu silat, ia pun menganggap aku seperti adik kandungnya, ia menyuruh aku memanggil enci padanya, ia larang aku memanggil suhu. Dan budinya yang sangat besar itu, belum dapat aku membalasnya... Enci In Hong berselisih dengan Hok Toako, sekian lama mereka belum pernah bertemu lagi satu dengan lain, kalau sampai terjadi sesuatu atas dirinya, pasti enci mati tak meram dan Hok Toako juga akan menyesal seumur hidupnya..."
Memikir sampai di situ, tetaplah pikiran nona ini.
Maka ia membuka kotak kemalanya, ia mengeluarkan sebutir obat pemunahnya, setelah mengaduki obat itu, ia mencekokinya dimulut itu enci angkat yang berbudi.
Begitu lekas juga ia memutar tubuhnya dan kata sambil terisak-isak pada Cui Hong.
"Peebo, tolong kau jagai enci In Hong, sekarang aku mau lihat engko Houw!..."
Nyonya Ciu melihat air mata orang mengembeng, ia heran bukan main.
"Ah, kenapakah dia?"
Pikirnya.
"Dia telah mendapatkan obat, kenapa tingkah lakunya jadi berubah begini?"
Nyonya San Bin ini tidak mengetahui sakitnya hati Nona Liong itu. Kiam Hong berjalan cepat sekali ke kamarnya Giok Houw di dalam hatinya cuma ada ini pujiannya.
"Semoga ini setengah butir obat dapat menolong jiwanya... Jikalau tidak, bukan saja aku mesti merasa menyesal terhadapnya sendiri, aku mesti menyesal juga terhadap Cit Im Kauwcu!..."
Ketika ia tiba di dalam kamar dan melihat mukanya Giok Houw, kagetnya Kiam Hong tidak terkira-kirakan.
Pemuda itu hitam seluruh mukanya, muka itu perok sekali, kedua matanya celong.
Ketika ia menghampirkan, ia merasakan serangan hawa panas dari tubuh si anak muda.
Teranglah, di antara tiga, dialah yang sakitnya paling parah.
Kiam Hong duduk di tepi pembaringan, di sisi si anak muda, air matanya mengetes jatuh ke muka pemuda itu, akan tetapi Giok Houw tidak merasakan itu, dia diam saja.
Hati si nona memukul keras.
Dengan hati-hati ia membuka mulut anak muda itu, lalu iamenuang adukan obat.
Habis itu, ia berdiam mengawasi, menantikan.
Kira lamanya sebakaran sebatang hio, terlihat tubuh Giok Houw berkutik menggigil, lalu mendadak dia bergerak, dari mulutnya keluar teriakan.
"Aduh, sakit!..."
Nona Liong kaget berbareng girang.
"Dia merasa sakit, bagus..."
Katanya dalam hati.
Setelah itu, tubuh Giok Houw tidak mau berdiam.
Dia bergulak-gulik terus di atas pembaringannya, tubuhnya itu mengeluarkan banyak keringat.
Hanya aneh, keringat itu berwarna merah.
Sebab itulah darah segar.
Pula, hawa panas tubuh itu meningkat.
Kiam Hong bingung bukan main.
Tak tahu ia caranya untuk melenyapkan, atau sedikitnya, mengurangi rasa sakit pemuda itu.
Ia berkuatir, ia menyesal, ia merasa hatinya sendiri seperti disayat-sayat...
Lagi lewat sekian detik, tiba-tiba Giok Houw membuka matanya.
Ia mengawasi Kiam Hong, tangan siapa ia sambar.
"Kau, enci Liong?"
Tanyanya, agaknya ia heran.
"Apakah aku bukannya lagi bermimpi?"
"Benar, engko Houw, inilah aku!"
Menyahut si nona, cepat.
"Aku baru pulang! Bagaimana kau rasai dirimu?"
Nampaknya semangat si anak muda terbangun. Sebenarnya ia merasa sakit tetapi ia tidak merintih atau mengeluh.
"Katanya kau pergi kepada Cit Im Kauwcu untuk meminta obat, apakah kau telah berhasil mendapatkan obat itu?"
Ia tanya.
"Apakah Ciu Cecu dan enci Leng sudah sembuh?"
"Aku telah mendapatkan obat pemunah itu dan telah dikasihkan makan pada Ciu Cecu dan enci Leng,"
Kiam Hong mengasi keterangan.
"Mungkin lagi dua hari mereka akan sudah sembuh. Hanya... hanya..."
"Bagus!"
Berkata si pemuda.
"Apa lagi yang kau buat kuatir? Hanya... hanya apakah itu?"
"Sekarang ini aku menguatirkan kau,"
Sahut si pemudi di dalam hatinya. Tapi ia tidak berani mengutarakan itu. Giok Houw memandang tajam pada nona di depannya itu.
"Mestinya ada apa-apa yang kau pikirkan?"
Katanya.
"Ah, kenapa kau hendak sembunyikan itu dari aku?..."
Tanpa dapat ditahan lagi, Kiam Hong menangis.
"Engko Houw, aku menyesal..."
Katanya.
"Aku menyesal terhadap kau..."
"Kau bilanglah! Apa juga, aku tidak nanti sesalkan kau..."
"Cit Im Kauwcu telah memberikan obatnya, itu sebenarnya untuk menolongi kau,"
Kiam Hong bilang dengan terus terang.
"Tapi obatnya itu tinggal dua butir setengah... Aku telah memberikan satu butir kepada Ciu Cecu dan sebutir pula kepada enci In Hong, tinggal yang setengahnya, aku berikan itu kepada kau... maka aku membikin kau menderita..."
"Tepat perbuatan kau itu, enci Liong!"
Berkata si anak muda. Sebaliknya dari kaget dan menyesalkan, ia justeru memuji.
"Jikalau kau tidak berbuat demikian, seumurku, tidak nanti aku memberi maaf kepadamu!"
Kiam Hong mencekal tangan orang, ia memegang erat-erat.
"Ah, engko Houw, kau baik sekali!..."
Katanya terisak.
"Apakah hal ini kau ada omongkan dengan lain orang?"
Tanya Giok Houw.
"Tidak."
"Kalau begitu, jangan kau omong sama lain orang, terutama, jangan sampai mereka mendapat tahu."
Kiam Hong tahu maksudnya pemuda ini, ialah agar San Bin dan In Hong tidak mengetahui itu, kalau tidak, tentulah mereka itu menjadi tidak enak hati.
Karena ini, ia menjadi bertambah menyintai ini pemuda gagah, yang rela berkurban untuk kawan-kawan.
Selama itu.
tidak ada orang yang datang pada ini sepasang muda-mudi.
Cui Hong mendapat pikiran untuk melongok, tetapi ia menunda niatnya itu.
Ia hendak mengasi ketika agar mereka itu dapat bertemu lama dan bicara banyak.
Baru belakangan, setelah ingat si nona sangat letih dan ngantuk, iamintajugaTiokKin pergi melihat, untuk orang she Kok ini menggantikan menemani si anak muda.
Akan tetapi Kiam Hong tidak suka beristirahat.
Ia justeru menanyakan Tiok Kin tentang keadaannya San Bin dan In Hong.
Lega hatinya kapan ia memperoleh jawaban bahwa Ciu Cecu mendapat kemajuan baik.
Bahkan ia lantas pergi melihat cecu itu, sekalian ia menuturkan perbuatannya dan segala kejadian yang berhubung dengan usahanya mendapatkan obat pemunah racun itu.
Orang pada menepas air mata kapan mereka sudah mendengar nasibnya Cit Im Kauwcu.
"Siapa sangka Cit Im Kauwcu ialah orang yang hatinya demikian mulia,"
Kata San Bin menghela napas.
"Ketika baru ini puterinya melukai Ci Hiap, hatiku sakit dan aku benci dia sebagai seorang hantu wanita jahat tak berampun. Buat omong dengan terus terang, syukur aku tidak tahu yang kau, Nona Liong, telah pergi kepadanya untuk minta obat, jikalau tidak, biarnya aku mati, tidak nanti aku mengijinkan kau pergi! Ah, sungguh di luar dugaan, ia yang nampaknya demikian sesat, ia justeru berani mengurbankan jiwa sendiri untuk menolongi jiwa lain orang, dan jiwaku justeru ditolong oleh orang yang aku tidak pandang mata itu! Sekarang ini aku harus merasa malu, aku sangat bersyukur terhadapnya..."
"Yang sudah menutup mata tinggal menutup mata,"
Berkata Cui Hong.
"sekarang kita harus membalas budinya Cit Im Kauwcu, ialah kita harus dapat membantu puterinya yang yatim piatu itu... Oh, ya, masih ada itu anak laki-laki putera sahabatnya."
"Benar,"
Kiam Hong setuju.
"Puterinya itu, Siu Lan, sungguh harus dikasihani. Mereka berdua, ibu dan anak, hidup saling mengandal, tetapi sekarang, Siu Lan tinggal sebatangkara, bahkan dia harus senantiasa berada di dalam kekuatiran, oleh karena ia harus melindungi kitab Pektok Cinkeng yang diarah dan hendak dipunyai oleh Kiauw Pak Beng. Memang benar. Ban Thian Peng pun harus dikasihani, sebab dia telah menjadi yatim piatu dan sakit hati orang tuanya belum dapat terbalas. Ketika Cit Im Kauwcu hendak menghembuskan napasnya yang terakhir, dia menerima anak itu sebagai anaknya sendiri, maka itu, kita pun harus pandang ia sebagai putera tunggalnya."
San Bin berbangkit untuk berduduk. Ia membuka lebar kedua matanya.
"Aku akan bertanggung jawab untuk itu kedua anakanak,"
Ia berkata, sungguh-sungguh.
"Ci Hiap, pergi kau memapak dan menyambut mereka datang ke gunung kita ini. Paling dulu pernahkan dirinya Nona Im itu, setelah itu kau mencoba menyelidiki siapa orang yang membunuh ayahnya Thian Peng itu, supaya kita bisa berdaya untuk menolong membalaskan sakit hatinya."
Ci Hiap baru saja pulang habis bertugas menjaga dan meronda di gunung belakang, dia berada di dalam kamar ayahnya untuk sekalian menemani ayahnya itu, ketika ia mendengar titah ayahnya, ia nampaknya likat.
Ia ingat lelakonnya dengan Siu Lan.
"Apa?"
Tanya sang ayah, yang melihat tingkah lakunya itu.
"Apakah kau masih memandang dia sebagai musuh?"
"Tidak, ayah,"
Menyahut sang anak.
"Aku akan melakukan titah ayah."
"Nah, begitu baru betul! Kita bangsa ksatrya, kita harus berbuat baik terhadap siapa juga, jangan kita mengingat terus kejahatan lain orang! Pula mereka itu, mereka ibu dan anak, telah melepas budi besar terhadap kita."
"Kemarin ini aku berangkat tergesa-gesa,"
Berkata Kiam Hong.
"sayang aku tidak menanya Siu Lan hendak pergi ke mana. Pernah aku undang ia untuk datang kesini, kelihatannya ia kurang setuju. Aku kuatir, setelah mengubur jenazah ibunya, ia bakal merantau entah ke mana..."
"Tentang itu tak usah kita terlalu buat kuatir,"
Cui Hong bilang.
"Kita mempunyai banyak orang. Tunggulah lagi dua hari, jikalau ayahnya Ci Hiap sudah sembuh, kita nanti mengirim orang, kita minta Tie Hiocu dari Kaypang bersama Ci Hiap membantu mencarinya. Aku percaya nona itu bakal dapat diketemukan."
Ia hening sejenak, akan menoleh kepada Kiam Hong dan tertawa. Terus ia menambahkan.
"Mari aku temani kau melihat pula Giok Houw, jikalau tidak, aku kuatir malam ini kau kembali bakal tidak tidur! Kau tahu, kau telah bekerja keras sekali, sudah seharusnya kau beristirahat."
Biar bagaimana, Kiam Hong toh merasa likat, tetapi ia turut nyonya itu, untuk kembali ke kamarnya Giok Houw.
Masih saja wajahnya pemuda she Thio itu hitam gelap, hanya sekarang dia dapat tidur.
Kiam Hong meraba tangannya, ia terkejut.
Tangan pemuda itu sangat dingin.
Ia berkuatir sekali.
Cui Hong sangat heran.
"Bagaimana,"
Katanya.
"dia makan obat serupa yang dimakan ayahnya Ci Hiap dan In Hong, kenapa dia tidak lekas sembuh?"
Kok Tiok Kin pun heran.
"Apakah kau berikan obat pemunah yang sama?"
Ia tanya Kiam Hong, perlahan.
"Ya,"
Sahut si nona singkat, suaranya pun sangat perlahan.
"Apakah kau masih mempunyai obat itu?"
Tiok Kin tanya pula.
"Semuanya cuma tiga butir itu, didapatnya dari tubuh Pektok Sinkun yang digeledah,"
Sahut pula si nona.
"Kok Sinshe, bagaimana kau rasa penyakitnya ini? Aku minta kau omong terus terang."
Tiok Kin mengasi lihat roman berduka.
"Mungkin dia terluka hebat luar biasa,"
Sahutnya setelah bersangsi sejenak. Lukanya Giok Houw memang lebih hebat tetapi bukanlah luar biasa, Tiok Kin tidak ketahui duduknya hal, pasti ia heran. Kiam Hong sebaliknya, pedih hatinya.
"Jikalau tenaganya obat kurang, apakah itu dapat membahayakan?"
Nona ini tanya. Hatinya telah menjadi kecil.
"Sukar untuk dibilang,"
Menyahut orang yang ditanya.
"Dia terkena tangan Kiuyang TokCiang, racunnya itu hebat sekali, mungkin obatnya yang bersifat sangat dingin dicampur sama obat lain yang dapat membuyarkan hawa panas, hanya disebabkan kekuatan obat kurang, hawa panasnya tidak dapat diusir, lalu sebaliknya, dingin dan panas bentrok, maka telah terjadi si sakit, sebentar dia kedinginan, sebentar dia kepanasan, hingga dia mesti menderita lebih banyak. Barusan aku telah berikan dia obat tidur, supaya dia dapat beristirahat, yang mana pun dapat mengurangkan sedikit penderitaannya itu. Tentang kemudiannya, aku tidak bisa bilang apa-apa."
Kiam Hong berkuatir bukan main.
Maka malam itu, selagi tidur, ia bermimpi hebat.
Ia mimpi Cit Im Kauwcu datang padanya, menegur ia sebab ia memberikan Giok Houw obat yang separuh.
Lalu ia melihat Giok Houw bersama Siu Lan, ketika mereka itu melihat ia, mereka menjauhkan diri.
Di lain pihak ia bertemu dengan Leng In Hong bersama Hok Thian Touw, suami isteri itu menghaturkan terima kasih kepadanya, hanya di lain saat, suami isteri itu tiba-tiba menghunus pedang mereka dan bertempur satu dengan lain!
Besoknya, keadaannya Giok Houw tetap belum berubah menjadi baikan, ia masih diserang panas dan dingin, ia masih tak sadarkan diri.
In Hong dan San Bin sebaliknya sembuh tujuh atau delapan bagian, mereka sudah dapat turun dari pembaringan, untuk perlahanlahan mulai berlatih silat pula.
Maka itu, di atas gunung itu, orang bergirang berbareng berduka.
Tidak ada orang yang tidak berduka untuk Giok Houw.
San Bin dan In Hong turut menjadi heran, dengan hati tidak tenang mereka memikirkan mengapa obat pemunah itu bekerja dalam dua rupa akibat, hingga mereka mau menyangka, kecuali terkena Kiuyang TokCiang, mungkin pemuda itu mendapat lain macam pukulan atau terkena lain racun...
Beberapa kali Giok Houw mendusin, saban kali sadar ia mengawasi Kiam Hong dengan sorot mata sangat bersyukur.
Di waktu begitu, ia agaknya menguatkan diri untuk bertahan dari serangannya hawa dingin dan panas di dalam tubuhnya, sedikitpun ia tidak mengeluh atau merintih.
Tapi justeru ia berbuat demikian, ia membuatnya si nona semakin sakit hatinya dan semakin berkuatir.
Kiam Hong menjadi ingat akan kebaikannya Cit Im Kauwcu yang memberikan obat itu, bahwa meskipun kauwcu itu sangat Iiehay, dia masih tak tertolong oleh obat separuh butir ...
Dapatkah Giok Houw bertahan kalau diingat, ia kalah dalam hal tenaga dalam dari Cit Im Kauwcu?
Inilah yang memedihkan hati si nona.
Ia tidak tahu bahwa Cit Im Kauwcu sengaja sudah berkurban.
Kauwcu itu terhajar tangan dari Pektok Sinkun dan keracunan juga bubuk Ngotok San, dia mengerti, kalau dia makan obat itu, dia cuma dapat menolong jiwanya, tidak bebas dia dari cacad seumur hidup, maka itu, dia menganggap lebih penting ialah jodoh puterinya.
Dia meninggalkan separuh dari obat pemunah sebab dia percaya, cuma terkena Kiuyang TokCiang, Giok Houw bakal ketolongan separuh obat itu, hanya di luar tahunya, meski si pemuda ketolongan jiwanya, penderitaannya itu hebat sekali, panas dinginnya sangat menyiksanya.
Kiam Hong tidak dapat tidur pulas.
Ia pun malu malam-malam melihat Giok Houw, yang ditemani Tiok Kin.
Seorang diri ia pergi keluar, terus ke gunung belakang di mana ada pepohonan bwee.
Ia berjalan mundar-mandir, untuk menanti datangnya sang siang, untuk ia dapat segera pergi menjenguk pula.
Malam itu rembulan indah.
Bunga bwee dan pohonpohonnya berbayang-bayang.
Pemandangan malam menarik hati.
Tapi si nona tidak mempunyai kegembiraan untuk menikmati itu.
"Jikalau jiwanya engko Giok Houw tidak dapat ditolong,"
Nona ini ngelamun.
"bukan saja aku harus menyesal terhadapnya terutama terhadap Cit Im Kauwcu ibu dan anak!"
Kiam Hong "lelah mengambil putusan mengurbankan kepentingan dirinya, ia rela melepaskan Giok Houw untuk Siu Lan asal pemuda itu, begitupun San Bin dan In Hong, dapat ditolong.
San Bin telah bersedia menerima kedatangannya Siu Lan.
Maka itu, kalau Giok Houw tak tertolong, tidakkah pengurbanannya sia-sia belaka?
Malam indah tetapi sunyi.
Justeru itu telinga si nona menangkap suatu suara perlahan.
Ialah suara datang yahengjin, orang yang biasa keluar malam.
Ia menjadi heran.
"Bukankah gunung ini terjaga kuat?"
Pikirnya.
"Siapakah yahengjin itu?"
Dengan lantas ia menyembunyikan diri antara pohonpohon bwee, matanya mengawasi ke arah dari mana suara tindakan datang.
Ialah arah timur.
Ia tidak usah menanti lama akan melihat dua tubuh, yang gelap bagaikan bayangan.
Tapi orang mendatangi terus.
Ia menjadi kaget berbareng girang, hatinya melonjak.
Itulah Siu Lan diikuti Thian Peng!
Mau Kiam Hong menyambut mereka itu, atau di detik itu juga telinganya kembali mendengar bentakan dibarengi nyaringnya suara anak panah melesat, lantas di udara tertampak api menyala.
Sebab anak panah itu ialah Coayam cian, panah pertandaan yang mengeluarkan api mirip yanhwee.
Terang sudah, tauwbak yang melakukan penjagaan melihat ada orang asing datang dan lantas memberikan isyaratnya itu.
Siu Lan berdua menghentikan tindakan mereka.
Tepat itu waktu, di situ muncul lagi dua orang lain, yang berlari-lari ke arah muda-mudi itu, bahkan yang satunya lantas membentak.
"Dua bocah, perlu apa kamu datang kemari?"
Kiam Hong dapat melihat mereka itu.
ia kaget tidak terkira-kirakan.
Ia mengenali baik sekali Yang Cong Hay dan Le Kong Thian!
Tadinya ia menyangka kepada si tauwbak yang memergoki Siu Lan berdua itu.
Ia mencoba menenangkan dirinya dengan berdiam terus di tempat sembunyinya itu, untuk melihat sepak terjangnya Cong Hay dan si manusia raksasa itu.
Siu Lan dan Thian Peng tidak melarikan diri, maka itu, Cong Hay lantas dapat berlompat melewati mereka, untuk segera memutar tubuh, guna memegat.
Kong Thian sendiri, dengan melintangi tokkak tongjin, bonekanya, mendekati untuk mengurung.
Cong Hay sudah lantas tertawa gembira.
"Aku kira siapa, tidak tahunya keponakan Siu Lan!"
Katanya.
"Mana ibumu? Dan ini bocah, siapakah dia?"
Ia menunjuk Thian Peng.
"Ya, perlu apa kamu datang kemari?"
Siu Lan mengasi lihat roman sungguh-sungguh.
"Kau tidak dapat mencampur tahu urusanku!"
Sahutnya kaku. Cong Hay tertawa berkakak dengan tertawa kelicikannya.-"Aku yang menjadi pamanmu, mana bisa aku tidak mencampur tahu urusanmu?"
Katanya. Ia membawa tingkah si tertua.
"Kau minggat di luar tahu ibumu, kau kepergok aku, maka mesti aku mewakilkan ayah dan ibumu mengurus kau!"
Siu Lan mendadak menjadi gusar, dengan tiba-tiba ia menyerang dengan pakunya yang beracun-Samleng Touwku teng. Sembari menyerang, ia berkata nyaring.
"Siapa mempunyai paman sebagai kau ini? Kau... kau... kaulah yang memancing datang orang-orang jahat, yang mencelakai ibuku hingga ibuku mati!"
Atas serangan itu, Cong Hay menyampok dengan pedangnya. Itulah tipu silat "Pengtee hongloei"
Atau "Angin dan guntur di tanah datar."
Maka bebaslah ia dari serangan paku beracun itu.
Kedua senjata bentrok dengan suara tingtong tak hentinya.
Sebab si nona menyerang dengan paku satu genggaman.
Meski ia menangkis, Cong Hay kaget sekali.
"Apa? Ibumu telah meninggal dunia?"
Tanyanya.
"Kaulah yang membikin ibuku mati!"
Thian Peng membentak.
"Kau tahu itu tetapi kau berlagak pilon, kau masih menanyakannya!"
Pemuda ini sudah mengeluarkan sepasang poankoan pit, senjatanya yang mirip pena Tionghoa, yang diperantikan menotok jalan darah, dengan itu ia lantas menyerang ke kiri dan kanan Cong Hay, mengarah kedua jalan darah kinceng hiat.
Cong Hay pernah menempur pemuda itu, ia tahu orang belum mahir tenaga dalamnya tetapi sudah sempurna totokannya, maka itu ia tidak berani memandang enteng.
Dengan memindahkan pedangnya ke tangan kiri, ia menangkis memunahkan totokan itu dengan jurusnya "Sengliong inhong"
Atau "Menunggang naga, memancing burung hong."
Di lain pihak, dengan tangan kanannya, dengan tipu silat menangkap tangan "Taykimnaciu,"
Ia mencoba menangkap tangan si nona.
Puterinya Cit Im Kauwcu mengibas dengan goloknya, golok Liuyap to.
Golok itu berkilau, bersinarkan warna biru marong yang menyilaukan mata.
Yang Cong Hay kaget.
Dialah seorang ahli.
Dia ketahui baik, golok itu beracun.
Dengan sebat dia menarik pulang tangannya, supaya tidak usah sampai ditegur golok dahsyat itu.
Berbareng dengan itu, dia merasai angin menyamber cepat di belakang kepalanya Ketika dia terus berkelit, dia memutar tubuh ke belakang si nona.
Sebagai orang lihai, dia pun dapat bergerak sangat gesit.
Dari sini, dengan goloknya ia mencoba menotok punggung si nona.
"Jangan celakai adikku!"
Ban Thian Peng berseru seraya dia berlompat maju, menangkis pedangnya bekas congkoan dari istana itu.
Cong Hay membiarkan pedangnya ditangkis, tapi ia mengerahkan tenaganya, maka meskipun senjatanya yang ditangkis, senjatanya itu berbareng bisa membikin sepasang poankoan pit mental balik.
"Heran, dari mana suci-ku mendapatkan anak lakilaki?"
Katanya. Lalu dia meneruskan kepada anak muda itu.
"Kau tidak ada yang merawati, baiklah kau akui aku sebagai ayahmu!"
Thian Peng murka sekali, kembali ia menyerang.
Kali ini serangannyu jauh terlebih hebat.
Ia pun terus merangsak.
Cong Hay membela dirinya.
Ia melihat sembilan jalan darahnya diarah pemuda itu, yang tidak dapat dipandang enteng, bahkan semua serangannya sangat berbahaya dan luar biasa.
Dialah satu ahli lihai kecuali masih kurang tenaga dalamnya, disebabkan usianya yang masih terlalu muda.
Itulah tidak heran oleh karena Ban Kee Su, sang ayah, sudah mewariskan ilmu totoknya yang diciptakan sendiri olehnya.
Ilmu itu diberi nama "Kimpeng Sippat Pian"
Atau "Garuda Emas Mencipta Diri Delapan Belas Kali."
Dengan mainkan pedangnya, Cong Hay menangkis sembilan serangan berbahaya itu, setiap kalinya, senjata mereka beradu nyaring, maka itu, di akhirnya, tubuh Thian Peng terhuyung.
Tak sanggup ia menahan tolakan tenaga dalam lawan itu, tenaga yang disalurkan dengan perantaraan pedang.
Ketika itu, dari pelbagai penjuru, terlihat datangnya kawanan tauwbak.
Tanda panah coayam cian tadi terlihat oleh kawan-kawan, semua mereka lantas memburu.
Yang CongHay sendiri menuding si nona.
Katanya.
"Siu Lan. apakah kau datang kemari dengan berniat menghamba kepada musuh? Ibumu sudah mati, maka akulah orang yang menjadi sanakmu yang terdekat! Jangan kau berubah hati, memihak kepada orang luar! Bukankah kitab PektokCinkeng ada padamu? Lekas bilang! Lekas!"
Kata-kata ini dibarengi dengan serangan. Tiba-tiba Le Kong Thian berlompat maju, ia menghalangi Siu Lan menangkis pedang kawannya itu, sembari menangkis ia berkata.
"Lao Yang, jangan paksa dia! Dialah nyonya majikanku yang muda! Dia telah kematian ibunya, dia harus pulang ke rumah suaminya! -Nona Im,"
Ia meneruskan kepada si nona.
"orangorang gunung ini telah datang kemari, kau jangan takut! Mari aku antar kau ke rumah majikanku!"
Siu Lan gusar, tanpa menyahut, ia menyerang manusia raksasa itu.
Kong Thian menangkis.
Maka golok Liuyap to saban-saban mengenai boneka kuningan, hingga ia merasakan nyeri sendirinya pada telapakan tangannya.
Yang Cong Hay gusar atas sikap kawan itu.
"Apakah sampai sekarang ini kau masih mencurigai aku?"
Dia membentak.
"Mari kita ringkus dulu padanya! Jikalau kitab Pektok Cinkeng itu ada padanya, itu akan didapatkan olehmu!"
"Baiklah!"
Seru Kong Thian memberikan kata-katanya.
"Inilah pembilanganmu sendiri!"
Ia lantas menyerang Siu Lan, hingga golok si nona mental, setelah mana, ia mengulur sebelah tangannya guna mencekuk nona itu!
Ban Thian Peng terkejut, dia lompat menerjang, ke arah lengan manusia raksasa itu.
Kong Thian murka sekali.
"Ah, bocah cilik, kau pun mencari mampusmu?"
Katanya.
Akan tetapi lihai ilmu totok si anak muda, akhirnya Kong Thian melepaskan Siu Lan, untuk menghadapi dia secara sungguh-sungguh.
Untuk itu, ia mesti mundur dulu.
Tepat ketika ia mengangkat bonekanya, untuk menerjang, ada angin menyambar ke belakang kepalanya.
Ia terkejut, lantas ia mendengar seruan.
"Le Kong Thian, kau jangan kasih dirimu diakali Yang Cong Hay! Kitab Pektok Cinkeng ada di tangan dia! Bukannya kau tanyakan dia, kau justeru tanyakan lain orang! Hm!"
Cong Hay mendengar itu, murkanya bukan kepalang. Itulah suaranya Liong Kiam Hong, yang muncul secara tiba-tiba. Dengan lantas dia menikam kepada nona itu seraya dia membentak.
"Semua inilah bisamu, siluman rase cilik! Kaulah yang mengadu biru! Tidak dapat tidak, kau mesti dibikin mampus!"
Akan tetapi ilmu pedang Kiam Hong menang unggul, meski benar dia lebih menang tenaga dalamnya, tidak bisa dia dengan sekali hajar merobohkan nona itu.
Maka dia kecele, menyesal dan penasaran!
Siu Lan menggunakan saatnya itu untuk membantu Ban Thian Peng melawan Le Kong Thian.
Ia telah membacok dan menikam dengan goloknya, golok Liuyap to yang beracun.
Dengan begitu, di situ terlihatlah berkilauannya pelbagai macam senjata tajam.
Dari empat penjuru tertampak juga mendatanginya kawanan liauwlo yang bertugas malam.
Le Kong Thian menyaksikan bahaya yang mengancam itu, kalau ia menempur Siu Lan lama-lama.
Demikian selang beberapa jurus, mengambil saat habis mendesak Siu Lan, mendadak manusia raksasa itu mengirim kemplangan mautnya.
Tokkak tongjin, bonekanya yang besar dan berat itu, turun bagaikan ambruknya gunung Taysan, mengarah kepalanya putera dari Ban Kee Su.
Thian Peng kaget hingga dia menjerit.
Dia tidak dapat berkelit lagi, dengan terpaksa dia mengerahkan semua tenaganya, untuk menangkis dengan tipu silatnya "Melintangkan penglari emas,"
Sepasang poankoanpitnya, diangkat tinggi, dilintangi di atasan kepalanya.
Hebat sekali turunnya bonekanya si manusia raksasa.
Belum lagi boneka itu menghajar, anginnya sudah mendahului menyambar.
Di saat jiwanya Thian Peng terancam bahaya kematian itu, maka terdengarlah jeritan tajam dari Im Siu Lan.
Nona itu menjerit sambil tubuhnya bergerak seperti sekor burung terbang melayang, melayang ke arah boneka.
Le Kong Thian mendengar jeritan itu dan melihat si nona berlompat ke arahnya, dia terkejut.
Tidak dapat dia membatalkan serangannya yang maha dahsyat itu.
Celaka kalau bonekanya mengenai sasarannya.
Sasaran itu ialah si Nona Im, yang seperti menalangi Thian Peng.
Dalam kagetnya itu, dia masih mencoba.
Dia bukan menghajar terus turun ke bawah, hanya meneruskan ke samping.
Tidak dapat dia membinasakan si nona, yang mesti menjadi tunangan dari majikannya yang muda.
Apa kata Kiauw Pak Beng atau Kiauw Siauw Siauwjikalau nona itu terbinasa remuk di bawah bonekanya?
Tepat ketika boneka mengenai sasaran, maka sebagai akibat dari itu terdengar suara menggabruk yang sangat keras diikuti jeritan hebat yang menyayatkan hati.
Berhasillah si manusia raksasa menggeser senjatanya, hingga senjata itu menghajar sebuah pohon besar di samping mereka, hingga pohon itu roboh, roboh menimpa dua tauwbak yang justeru sampai di bawah pohon, hingga tulang iga mereka itu pada patah!
Beberapa tauwbak lain, yang datang berbareng, kaget menyaksikan kejadian hebat itu tanpa merasa, mereka berhenti berlari maju.
Ban Thian Peng kaget hingga ia menggigil.
"Syukur enci Lan datang, kalau tidak, celakalah aku..."
Pikirnya.
"Mana senjataku dapat menangkis boneka itu? Jikalau tidak lantas mati, sedikitnya aku bakal terluka parah..."
Beberapa tauwbak itu tidak berdiam saja.
Tidak dapat maju sendiri, mereka ingat untuk mengguna!
senjata rahasia.
Demikian dengan satu isyarat, mereka lantas menyerang dengan senjata rahasia mereka masingmasing, seperti panah tangan, batu huihong sek, biji teratai besi dan jarum.
Le Kong Thian melihat datangnya serangan berbahaya itu, ia memutar bonekanya dengan cepat, ia membikin setiap senjata^rahasia terpukul balik, hingga ia dapat menyelamatkan dirinya.
Ban Thian Peng tidak mau mundur meskipun ia tahu musuh lihai, ia maju pula.
Ia dibantu Siu Lan.
Kong Thian menjadi mendongkol dan bergelisah sendirinya.
Tidak bisa ia melukai Nona Im, sedang untuk menangkap hidup nona itu, ia merasakan kesulitan.
Dengan si nona senantiasa melindungi Thian Peng, ia pun sukar merobohkan anak muda itu.
Di samping itu, ia mesti berjaga-jaga untuk golok beracun si nona serta senjata peranti menotok yang lihai dari si anak muda.
Dengan begitu, pertempuran menjadi berlarut-larut.
Di lain pihak, Liong Kiam Hong terdesak hebat oleh Yang Cong Hay.
Menang ilmu silat saja tidak berarti kalau ia sebaliknya kalah latihan, kalah tenaga dalam.
Selang dua puluh jurus lebih, ia terdesak Cong Hay.
Bekas congkoan ini justeru benci sekali ianya, ia ingin bisa ditikam dengan sekali tusuk saja.
Tapi ia lihai, tidak dapat menyerang, ia masih dapat membela diri.
Selagi orang bertempur dalam dua kalangan itu, mendadak terdengar seruan yang nyaring.
"Dua bocah dari mana berani datang kemari mengacau bentengku? Apakah kamu kira bentengku sudah tidak ada orangnya?"
Kiam Hong lantas melirik, segera hatinya menjadi lega.
Itulah Kimto Cecu Ciu San Bin, yang muncul dengan membawa goloknya yang tersohor, golok Kimpwee to yang tebal dan berat.
Di belakang ketua gunung itu turut Lauw Wan Tat, Louw To In dan Kok Tiok Kin, yang diikut pula banyak tauwbak lainnya, juga sejumlah orang gagah.
Dua hari sudah San Bin berobat atau beristirahat, tenaganya telah pulih seseluruhnya, maka itu, ketika ia mendengar gunungnya didatangi penyerbu, ia lantas keluar untuk menyaksikan.
Demikian ia muncul tepat di saat bahaya mengancam Kiam Hong, Siu Lan dan Thian Peng.
Yang Cong Hay terkejut.
"He, tua bangka, kiranya kau belum mampus?"
Ia berseru. Terus ia berpaling kepada Le Kong Thian, untuk menegur.
"Kau lihat! Sekarang barulah kau percaya aku, bukan? Tua bangka itu ialah Kimto Cecu! Kau lihat, mana dia mirip dengan orang yang lagi sakit? Pasti dia telah mendapat obat pemunah!"
Le Kong Thian juga lantas mendusin bahwa dia sudah kena ditipu Kiam Hong, maka itu, disesalkan Cong Hay, dia menjadi malu dan gusar.
Dia lantas meninggalkan Siu Lan dan Thian Peng, untuk menerjang Nona Liong, yang dia niat mengemplangnya hingga ringsak!
San Bin gusar melihat orang demikian telengas.
"Bagus ya!"
Serunya.
"Kamu hendak membikin aku mati, aku justeru masih hidup! Sekarang aku hendak membereskan kamu."
Dengan sebat ketua ini maju sambil menggeraki goloknya yang besar itu.
Ia menangkis bonekanya Kong Thian, guna melindungi Kiam Hong.
Maka bentroklah senjata mereka berdua, suara beradunya sangat nyaring.
Lelatu api pun pada meletik karenanya.
San Bin kaget.
Ia merasakan .tangannya sakit dan telapakan tangannya mengucurkan darah.
Kong Thian juga mundur tiga tindak.
Ternyata dia masih lebih unggul sedikit.
Tapi dia pun terkejut, hingga dia berpikir.
"Benar-benar Kimto Cecu lihai! Dia baru sembuh dari sakit berat, dan masih dapat melayani aku! Dilihat begini, malam ini sukarlah aku memperoleh hasil..."
San Bin menahan rasa sakitnya. Ia penasaran. Tanpa ayal, ia membacok, la menggunakan jurus "Gelombang menggempur gili-gili."
Itulah salah satu jurus utama dari ilmu golok warisan keluarganya.
Hanya kali ini ia menyerang Cong Hay yang berada di dekatnya.
Bekas congkoan itu tidak mau menangkis, ia berkelit dengan berlompat.
Ia tahu bahwa ia tidak dapat mengadu tenaga seperti Kong Thian.
Kiam Hong sudah lantas maju pula.
Dengan datangnya San Bin beramai, hatinya menjadi mantap.
Dengan pelbagai jurus dari ilmu pedang "Mengejar Angin,"
Ia mencoba mendesak musuhnya.
Cong Hay menjadi repot, karena ia mesti berjaga-jaga untuk San Bin.
Ia berkelahi dengan waspada.
Ia pun mencari saatnya.
Demikian selang sesaat, mendadak ia menyerang Cecu itu.
Kimto Cecu dapat melihat datangnya senjata musuh, dengan sebat ia menangkis.
Senjata mereka bentrok, pedang kena dibikin terpental.
Justeru itu, Kiam Hong menyerang.
Cong Hay terkejut, dia berkelit.
Masih dia kurang sebat.
ujung pedang mengenai juga pundaknya hingga pundak itu tergores berdarah!
Ketika itu LouwTo In, KokTiok Kin dan Lauw Wan Tat sudah menyerbu.
Karena kedua musuh tangguh, mereka tidak mau membuang-buang waktu lagi.
Tiok Kin bersilat dengan pedang, dengan ilmu silat Thaykek Kiamhoat, dan To In dengan semacam tongkat yang dinamakan "Galah bambu hijau."
Itulah senjata peranti menotok jalan darah.
Maka itu, dengan ilmu silat lunak, mereka melawan ilmu silat keras.
Sebaliknya Lauw Wan Tat adalah jago silat Gwakee, ahli luar, bahkan dia hampir mencapai puncaknya kemahiran.
Tidak heran kalau dia diangkat menjadi cecu yang nomor dua, atau ketua muda.
Bertiga mereka mengepung Le Kong Thian.
Pengurus rumah tangga dari Kiauw Pak Beng boleh lihai sekali tetapi dikeroyok bertiga, dia terdesak, terpaksa dia main mundur.
Yang Cong Hay melihat suasana buruk itu untuk pihaknya Ia lantas menyerukan kawannya.
"Saudara Le, kau telah menyaksikan hal yang sebenarnya, maka itu pergilah kau pulang, untuk memberi kabar kepada majikanmu! Perlu apa kau masih mengotot berkelahi?"
"Benar!"
Menjawab Kong Thian dengan seruannya.
"Mari kita pergi!"
Manusia raksasa itu mewujudkan perkataannya, kebetulan Wan Tat lagi menyerang padanya, ia menangkis dengan keras goloknya cecu nomor dua itu, hingga kedua senjata beradu dan golok mental.
Wan Tat terkejut.
Ia biasa puas dengan tenaganya yang besar, siapa tahu sekarang ia menghadapi lawan yang luar biasa tangguh itu.
Ia lompat mundur, tangannya dirasakan sakit.
Seperti San Bin tadi, telapakan tangannya sak-it-dan mengeluarkan darah, hingga untuk sekian lama, tangan itu pun sesemutan.
Kong Thian tertawa terbahak, ia memutar bonekanya, buat membuka jalan, untuk ia turun dari gunung, diturut oleh Yang Cong Hay, yang pun dapat meninggalkan lawannya.
Hingga di lain saat, loloslah mereka berdua San Bin mendongkol sekali, ia hendak mengejar.
"Jangan, peehu!"
Kiam Hong mencegah. Nona ini tahu orang baru sembuh, ia kuatir kesehatannya belum pulih seseluruhnya.
"Nona Im telah datang, baiklah kita menyambut tetamu kita!"
San Bin suka menurut.
"Aku mendongkol sekali terhadap mereka!"
Katanya sambil tertawa, seraya mengurut kumis jenggotnya "sampai aku alpa menyambut tetamu kita! Nona Im, maaf! Silakan duduk di dalam!"
Ketika itu Cio Cui Hong, atau Nyonya Ciu San Bin, muncul bersama Ci Hiap, puteranya, ketika ia melihat Siu Lan, ia lantas merangkul nona itu.
"Kami terancam bahaya, syukur ada pertolongan ibumu, nona!"
Katanya.
"Sayang kami tidak dapat menghaturkan terima kasih kepada ibumu itu. Kami girang sekali atas kedatanganmu ini! Sebenarnya kami hendak menyambut, tapi kau telah mendahului datang! Jikalau kau tidak buat celaan, aku minta sukalah kau memandang gunung kami sebagai rumahmu sendiri."
Siu Lan menangis dengan mengucurkan air mata. Ia memberi hormat kepada nyonya yang manis budi itu.
"Aku mengucap terima kasih kepada cecu berdua,"
Katanya.
"Sudah, kita jangan bicarakan soal yang melukai hati,"
Kiam Hong menyelak.
"Enci Lan, kau telah datang, inilah bagus sekali! Kami semua memang sangat mengharapi kedatanganmu!"
Cui Hong memegangi tangan si nona.
"Anak yang baik, aku minta janganlah kau pandang kami sebagai orang luar,"
Ia berkata pula.
"Aku minta sukalah kami dipandang sebagai sanakmu."
Siu Lan menepas air matanya.
"Peebo!"
Katanya, memanggil bibi pada nyonya itu.
"Ci Hiap!"
Memanggil Cui Hong kepada puteranya.
"Mari menemui adikmu! Kau menghaturkan terima kasih yang ayahmu telah ditolongi."
Ci Hiap menghampirkan, meskipun likat, ia memanggil.
"adik!"
Siu Lan membalas hormat. Ia pun jengah.
"Siauwcecu, maaf untuk perbuatanku baru-baru ini,"
Katanya. Ciu San Bin tertawa terbahak.
"Tentang peristiwa yang sudah-sudah, buat apakah ditimbulkan lagi?"
Katanya. Kemudian ia berpaling kepada Ban Thian Peng, untuk berkata.
"Aku mendengar dari Nona Liong tentang kau, maka kau tinggallah di sini bersama kami. Kau jangan sungkan-sungkan. Perihal sakit hatimu itu, nanti kita mendamaikan bersama."
Thian Peng menghaturkan terima kasih. Siu Lan menepas air matanya, terus ia memandang Kiam Hong.
"Apakah obat pemunah itu memberikan hasil?"
Ia menanya perlahan. Hati Kiam Hong terkesiap, tapi lekas ia menyahut.
"Aku justeru hendak meminta pertolongan kau, enci. Ciu Cecu dan Leng Cecu sudah sembuh, melainkan Thio Giok Houw yang masih sakit, entah apa sebabnya."
"Kalau begitu, aku minta enci mengantar aku kepadanya,"
Siu Lan minta. Nona ini bicara perlahan tetapi Kiam Hong dapat membade dari suaranya bahwa orang ingin sangat segera menjenguk Giok Houw.
"Baik sekali enci mau melihat dia,"
Ia kata.
"Baiklah, pergi kamu masuk ke dalam!"
Cui Hong turut berkata.
"Sebentar kita bicara pula."
Kiam Hong lantas memimpin Nona Im ke dalam, langsung ke kamarnya Giok Houw.
Pemuda she Thio itu rebah tanpa sadar seluruhnya, mukanya tidak bersemu hitam lagi, cuma di alisnya masih ada sedikit.
Ketika itu, tangan dan kakinya panas luar biasa.
Siu Lan mengawasi sekian lama.
"Mungkin belum putus harapan,"
Katanya sesaat kemudian, perlahan suaranya.
"Nanti aku coba..."
Kiam Hong girang mendengar perkataan itu.
"Enci membutuhkan obat apa?"
Ia tanya, cepat.
"Tak usah obat,"
Sahut Siu Lan, mukanya lantas menjadi merah.
"Cukup dengan ini kamar yang sunyi."
"Baiklah,"
Nona Liong kata.
"Maafkan aku, aku tidak mau mengganggu pula pada enci."
Siu Lan mengangguk.
Kiam Hong lantas mengundurkan diri.
Pintu kamar ia tutup rapat.
Ia berlega hati berbareng berduka, pedih hatinya.
Ia berlega hati karena ia percaya jiwa Giok Houw bakal ketolongan, akan tetapi, urusannya sendiri?
Siu Lan berdiri di depan pembaringan, pikirannya bekerja keras.
Pikirannya itu ruwet sekali, la ingat bagaimana Thio Giok Houw telah menampik lamarannya.
Ia ingat pesan ibunya.
Ia pun ingat kata-katanya Kiam Hong bahwa Giok Houw menyesal dan ingin bertemu dengannya.
Sebaliknya ia menyangsikan kata-katanya Kiam Hong yang ingin turut In Hong ke Thiansan, untuk tinggal bersembunyi sambil meyakinkan ilmu silat pedang.
Sebagai orang cerdas, ia dapat membade hatinya Nona Liong itu.
Teranglah nona itu sengaja hendak merangkap jodoh ia dengan jodohnya Giok Houw.
Dan sekarang seorang diri ia menemui Giok Houw yang lagi sakit berat itu.
Ia menyinta, ia membenci, ia panas hati, ia penasaran, ia pun berkasihan...
Akhirnya ia mengertak gigi dan kata.
"Musuhku, apa juga sikapmu terhadap aku, sekarang aku hendak menolongi dulu jiwamu!"
Ia menyebut musuh sebab ia mau menganggap pemuda itu seperti musuh...
Tanpa ayal lagi, Siu Lan duduk di sisi pembaringan.
Dengan hati-hati ia membalik tubuh Giok Houw, untuk membukai pakaiannya.
Selagi bekerja ini, kembali pikirannya bekerja.
Ia ingat bahwa mulanya ia sungkan datang ke gunung ini, ia mengubah pikiran sesudah penguburan jenazah ibunya dan otaknya menjadi sedikit jernih.
Ia lantas ingat kata-kata ibunya ketika si ibu menyerahkan obat pemunah racun kepadanya.
"Kau berikan mereka seorang sebutir obat, tentang orang yang ketiga terserah kepada Thian..."
Mulanya ia tidak mengerti, kemudian baru ia ingat yang isinya kotak tinggal dua setengah butir.
Obat yang setengah itu ialah sisa obat yang dimakan ibunya.
Sekarang ia mengerti maksud ibunya itu.
Kemudian, obat itu diserahkan kepada Liong Kiam Hong, buat dibawa ke gunung.
Apakah yang terjadi di atas gunung?
Bukankah Kiam Hong memberikan Giok Houw obat yang setengah butir itu?
Maka ---ketika itu ---hatinya menjadi tidak tenang.
Lalu ia ingat Ban Thian Peng, yang cukup gagah akan tetapi pengalamannya kurang hingga sulit untuk dia menuntut balas.
Ia percaya, untuk semua itu, mungkin ibunya mati tanpa mata meram.
Jadi, pesan ibunya mesti diwujudkan.
Maka akhir-akhirnya, untuk Giok Houw, untuk Thian Peng, ia berangkat juga ke gunung.
Ia tidak menyangka, Yang Cong Hay dan Le Kong Thian datang menyerbu, hingga ia terhalang dan terancam bahaya.
Syukur, dengan .munculnya San Bin beramai, musuh dapat diusir pergi.
Dan sekarang, selagi iamendukakan ibunya, ia mesti menghadapi Giok Houw yang rebah tak berdaya ini.
Hati si nona terkesiap ketika tangannya kena meraba tubuh si pemuda.
Tubuh itu panas luar biasa.
Segera ia bekerja.
Ia menaruh kedua belah tangannya di dada pemuda itu, untuk mulai mengurut dengan perlahanperlahan.
Siu Lan pernah mempelajari Cit Im Tokciang, cuma ia baru mendapatkan tiga bagian saja.
Cit Im Tokciang itu beda dari Kiuyang Tokciang yang sifatnya panas.
Cit Im bersifat dingin.
Keduanya, sebenarnya saling mempengaruhi, tinggal bergantung kepada latihan masing-masing.
Ketika itu hari Cit Im Kauwcu terhajar Kiuyang Tokciang oleh Pektok Sinkun, sebenarnya ia dapat menolong diri dengan jalan menggunakan hawa dingin di tubuhnya mengusir hawa panas, apamau di samping terkena pukulan Kiuyang Tokciang itu, ia pun ditambah keracunan bubuk Siauwhun Hongku San, karenanya, ia tidak sanggup mengobati dirinya lagi, sedang obat pemunah yang ia makan cuma separuh, obat itu tidak cukup kuat untuk menyembuhkannya.
Tenaga dalam Siu Lan masih belum berarti, maka itu setelah menguruti Giok Houw sekian lama, ia merasakan tubuhnya panas.
Itulah sebab hawa panas dari si pemuda tersalur pindah ke tubuhnya sendiri, hawa panas itu telah tersedot hawa dinginnya yang masih lemah.
Tidak demikian, pasti hawa panas itu sudah terusir pergi.
Hampir ia tidak dapat bertahan.
Syukur sekali, Giok Houw sudah makan obat Pekleng Tan dari Thiansan dan separuh obat pemunah itu, maka juga, hawa panasnya sudah berkurang banyak.
Kalau tidak, pasti si pemudi tidak dapat bertahan sama sekali.
Selagi tak sadarkan diri itu, Giok Houw merasakan tubuhnya adem, dengan begitu, ia lantas mendusin.
Ia mengulur tangannya, untuk memegang lengannya si nona.
"Adik Hong!"
Ia memanggil, lemah.
"Adik Hong!"
Mukanya Siu Lan menjadi merah sendirinya, hatinya pun pedih. Dengan lantas ia menarik tangannya itu. Giok Houw membuka matanya, lantas ia menjadi kaget.
"Ah, Siu Lan, kaukah?"
Katanya.
Segera setelah itu, ia mendapat tahu bahwa ia tak berpakaian sama sekali.
Tangan yang lain dari Siu Lan masih menekan betulan hati si pemuda.
Dalam herannya itu, Giok Houw bingung bukan main.
Di saat ia hendak membuka mulutnya, untuk menanya, si nona sudah mengerebongi tubuhnya.
"Apakah sekarang kau merasa enakan?"
Tanya si pemudi perlahan.
Giok Houw mengawasi.
Sekarang ia sadar benarbenar.
Ia melihat Siu Lan bermandikan peluh, sedang lengannya berwarna merah bercampurkan sinar hitam.
Di saat itu ia mengerti bahwa sebenarnya si nonalah yang sudah menolong padanya, la terperanjat.
Pemuda ini pernah mendengar dari Kiam Hong tentang Cit Im Kauwcu dan gadisnya ini, ketika itu lenyap kesan buruknya terhadap si nona, maka sekarang, melihat perbuatan nona itu, sikapnya menjadi lain sekali.
"Nona Im, aku menghaturkan banyak-banyak terima kasih kepada kau,"
Katanya perlahan.
"Sekarang ini aku merasa enak banyak. Silahkan kau beristirahat!"
Siu Lan girang berbareng pedih hatinya.
Tanpa membuka suara, ia mengawasi Giok Houw, kemudian ia mengeluarkan jarum emasnya, dengan sebat ia menusuk beberapa kali telapakan tangannya sendiri hingga darah hitam mengalir keluar dari telapakan tangan itu.
Giok Houw menyaksikan itu, dia terkejut.
"Eh, kau kenapakah?"
Tanyanya.
"Mungkinkah kau keracunan disebabkan kau menolongi aku?"
"Tidak apa-apa,"
Menyahut si nona.
"Kau jangan kuatir."
Di mulut Siu Lan mengatakan demikian, sebenarnya pertolongannya itu membawa akibat rugi besar baginya.
Memang, keracunannya barusan tidak ada artinya, dengan darahnya dikeluarkan, ia sudah selamat.
Kerugiannya itu yaitu ia meyakinkan Cit Im Tokciang dari ibunya baru tiga bagian, dengan menolongi Giok Houw itu, habis kepandaiannya yang belum mahir itu.
Ia telah berkurban untuk menolongi jiwa si anak muda.
Tanpa ia memberi penjelasan, melainkan ia sendirilah yang mengetahui kerugiannya itu.
Giok Houw mengerebongi diri dengan bajunya, ia duduk dengan menyundang.
"Benar-benar aku merasa baikan."
Ia berkata pula. Siu Lan tertawa.
"Itulah bagus!"
Katanya.
"Nanti aku panggil enci Hong datang kemari. Di dalam mimpimu kau memanggilmanggil dia!"
Giok Houw melihat bahwa orang tertawa bagaikan dipaksakan, karenanya, hatinya bercekat.
Siu Lan sendiri sudah lantas berlari pergi.
Akan tetapi Nona Im tidak dapat mencari Kiam Hong.
Nona itu sengaja sudah menyingkir dari ianya.
Nona itu justeru tengah berada di gunung belakang, lagi berjalan mundar-mandir dalam rimba bunga bwee.
Di dalam hatinya nona itu, atau lebih benar di depan matanya, lagi berkelebat bayangannya Giok Houw dan Siu Lan bergantian, lalu paling belakang tertampak bayangannya Cit Im Kauwcu.
Hingga bayangannya si pemuda kena teralingkan.
"Ah!..."
Akhirnya ia menghela napas.
"Biar bagaimana. Siu Lan lebih harus dikasihankan, aku harus membikin dia dapat mewujudkan angan-angannya!"
Nona ini telah mengambil keputusannya. Ia memoles secabang bunga bwee. Tapi ia masih berdiri diam, pikirannya masih bekerja. Tibatiba ia mendengar suara tertawa, yang disusul dengan pertanyaan.
"Adik Hong! Bukannya kau pergi melongok Siauw Houw Cu, kau justeru berada di sini! Kau lagi memikirkan apa?"
Kiam Hong terperanjat. Itulah suaranya In Hong.
"Enci Hong!"
Ia lantas berkata.
"hari sudah begini malam, kenapa kau masih keluar juga? Apakah kau sudah sembuh seluruhnya?"
"Sudah!"
Menjawab In Hong, tertawa pula.
"Aku menghaturkan banyak terima kasih kepada kau, yang telah pergi mengambilkan obat untukku!"
"Enci harus mengucapkan terima kasih kepada Cit Im Kauwcu. Dialah yang telah mengurbankan jiwanya untuk kita."
Nyonya Thian Touw menghela napas.
"Mereka ibu dan anak harus dikasihankan,"
Ia kata.
"Baru saja aku melihat Siauw Houw Cu, di sana aku bertemu dengan puterinya Cit Im Kauwcu itu. Dia nampak sangat berduka."
Diam-diam Kiam Hong menghela napas, ia membungkam.
"Apakah Giok Houw maju baik?"
Ia tanya.
"Maju baik,"
Sahut In Hong.
"Eh. tahukah kau. Nona Im itu tengah mencari kau? Aku menduga kau berada di hutan ini, benarlah dugaanku. Mari kita sama-sama melihat pula Siauw Houw Cu."
Kiam Hong menolak.
"Tidak, aku belum ingin kembali,"
Katanya. In Hong mencekal tangan orang.
"Adik Hong, kau memikirkan apa?"
Ia tanya, lembut.
"Tidak apa-apa. Enci, kapan kau hendak pulang?"
"Aku telah bicara dengan Ciu Ccecu suami isteri, aku berniat pulang besok."
"Aku akan pulang bersama, enci."
In Hong heran.
"Kenapa?"
Dia tanya. Nona itu tertawa.
"Aku berat berpisah dengan kau!"
Sahutnya.
"Kita datang sama-sama, kita pulang bersama-sama juga."
In Hong tertawa.
"Kau tidak tega meninggalkan aku, apakah kau tega meninggalkan Siauw Houw Cu? Kau sekarang telah berusia dewasa, aku tidak berani menginginkan kau lebih lama lagi..."
Matanya Kiam Hong menjadi merah.
"Di kolong langit ini tidak ada pesta yang tidak bubar,"
Bilangnya.
"Jikalau aku tidak pulang, apakah aku mesti berdiam terus di sini untuk selamanya?"
"Ah!"
In Hong bersuara tertahan.
"Tidak, kau tentunya ada memikir sesuatu! Lain orang dapat kau pedayakan, apakah aku juga kau hendak mendustainya?"
"Enci, aku hendak meminta sesuatu dari kau."
Kata Kiam Hong, yang mengegosi kata-kata orang.
"Apakah itu. adik Hong?"
"Akulah orang yang dirawat dan dididik kau, maka selanjutnya aku ingin menemani kau. enci. Enci hendak membangun satu partai persilatan ilmu pedang, meski aku tidak mempunyai guna, dapat juga aku mengerjakan segala catatan. Inilah permintaanku. Maukah enci meluluskannya?"
In Hong tertawa.
"Di belakang hari pastilah ilmu pedangku aku turunkan kepada kau,"
Ia berkata.
"Ah, kau pasti bukan memikir soal demikian."
Hati Kiam Hong menjadi pedih.
"Enci..."
Katanya perlahan. Cuma sebegitu kata-katanya, atau air matanya lantas meleleh turun. In Hong mengawasi, lalu ia mengangkat kepalanya. Ia berpikir. Tiba-tiba ia ingat.
"Cit Im Kauwcu telah memberikan obatnya, tidakkah itu hanya untuk Siauw Houw Cu?"
Ia tanya.
"Benar. Itu pun dapat dikatakan untuk kebaikan puterinya."
"Oh, mengertilah aku sekarang!"
Cuma sebegitu Nona Leng dapat berkata, lantas ia berdiam.
"Nona Im harus lebih dikasihankan daripada aku,"
Berkata Kiam Hong.
"Dia juga seorang anak yang baik, engko Houw dapat menyukai dia..."
Ketika tadi In Hong menjenguk Giok Houw, mulai dari luar ia sudah mendengar suara orang bicara di dalam kamar dan ia mengenali, itulah bukan suaranya Kiam Hong.
karenanya, ia mengintai dari jendela.
Ia tidak tahu bagaimana caranya Giok Houw harus diobati, ia melihat bagaimana erat pergaulannya Giok Houw dengan Siu Lan.
Ia batal masuk ke dalam kamar, bahkan ia menyingkir, setelah Nona Im keluar, untuk mencari Kiam Hong, baru ia muncul, akan menemui puterinya Cit Im Kauwcu itu.
Ketika itu ia heran dan bercuriga.
Sekarang ia melihat sikapnya Kiam Hong dan mendengar kata-kata nona ini, ia menjadi ingat halnya Giok Houw dan Siu Lan itu.
Ia berpikir.
"Giok Houw mendapat pertolongan besar dari Siu Lan, karena pertolongan itu, suatu budi besar, mungkin dia jadi menyukai nona itu. Ini pun beralasan."
Karena ia ingat nasib buruk Nona Im, ia menjadi tidak memikir untuk menegur nona itu sudah merampas kekasih orang, la bahkan lantas ingat, soal pemuda dan pemudi sungguh sulit.
Malam itu indah, suasana tenang sekali, hawa udara pun bagus, akan tetapi mendadak In Hong merasakan hatinya dingin.
"Aku menyangka jodoh mereka ialah jodoh yang cocok, tidak tahunya muncul perubahan ini."
Pikirnya pula. Ia lantas mengawasi Kiam Hong, roman siapa sangat berduka, sinar matanya layu, tanpa merasa ia menghela napas.
"Kau suka menemani aku, inilah yang aku minta pun tidak dapat,"
Ia bilang sesaat kemudian.
"akan tetapi di samping itu aku harus menyayangi kau..."
"Apakah itu. enci?"
Kiam Hong memotong.
"Aku minta apa yang aku rasa cocok dengan hatiku, jikalau tidak, walaupun aku memperoleh seorang yang aku sukai, belum tentu itu akan merupakan kebahagiaan. Laginya. di dalam dunia ini. ada berapakah pasangan yang demikian sempurna seperti pasangan enci Sin Cu dengan Yap Toako?..."
Tidak niatnya Kiam Hong untuk menyinggung In Hong, sesudah ia mengucapkan kata-katanya itu, baru ia merasa, maka ia merasakan hatinya tidak tenteram sendirinya.
Ia melihat muka In Hong menjadi pucat dan tubuhnya bergetar.
"Kata-katamu ada alasannya,"
Kata Nona Leng.
"Memang jodoh yang tepat sangat sedikit. Dengan tidak menikah seumur hidupnya, orang dapat mengurangi banyak keruwetan..."
In Hong ingat perjodohannya dengan Thian Touw.
Mereka bersaudara misan, sejak masih kecil, mereka sudah suka satu pada lain.
lantas mereka mengikat janji.
Sekian lama pernikahan mereka terhalang, selama itu keras mereka memikirkan satu kepada lain.
Sebaliknya, Giok Houw dan Kiam Hong hanya bertemu seperti baru sekelebatan, hubungannya belum lama dan tak serat hubungan mereka berdua.
Tapi, sesudah mereka menikah, apa jadinya?
Setelah hidup bersama, ada pertentangan di antara mereka.
Mereka membawa pikirannya masing-masing.
Demikian mereka berpisah...
"Enci, Hok Toako sangat mengharapi pulangmu,"
Kata Kiam Hong kemudian.
"Jikalau enci pulang, meskipun ada kerenggangan itu, enci dapat menambalnya. Enci, baiklah kau jangan bersusah hati."
"Ah, adik Hong, kau tidak mengerti,"
In Hong menjawab.
"Keadaan kami sulit sekali... Kecuali aku dapat merubah pikiranku, atau dia yang dapat mengubah pikirannya, maka pertentangan persesuaian di antara kami sangat sukar untuk diperpadukannya..."
Kiam Hong mengawasi terus, ia sangat berduka.
"Kali ini aku pulang,"
Berkata pula In Hong.
"aku tidak bermaksud seperti dia itu, untuk mengurus diri sendiri saja, untuk berdiam untuk selamanya di atas gunung Thiansan. Kau telah tinggal sekian lama di sini, kau tentunya telah dapat melihat. Semua saudara di sini, makannya tidak kenyang, pakaiannya tidak hangat, sudah mereka digencet tentera negeri dan bangsa asing, mereka juga mesti melindungi rakyat jelata! Karena itu dapatkah kita mengeram diri di atas gunung untuk tidak mendengar dan memperhatikan penderitaan mereka itu?"
"Hok Toako sangat berkukuh kepada peryakinan ilmu pedang,"
Kata Kiam Hong.
"dari itu bukan pada dasarnya yang sifatnya demikian rupa. Aku percaya mungkin sekali kemudian cita-cita enci dan Hok Toako yang bertentangan itu akan saling bertemu juga."
"Sebenarnya aku pun mengharap demikian,"
In Hong bilang.
"Sudahlah, sekarang sudah tidak siang lagi, mari kita masuk untuk beristirahat. Besok kita bakal berangkat."
Malam itu Kiam Hong tidur gulak-gulik, terus sampai sang pagi muncul, ia tidak dapat tidur barang sekejap.
Kata-katanya In Hong membikin ia berpikir banyak.
Keadaan ia dengan keadaannya Nona Leng itu berlainan.
Mengenai Giok Houw, ia kenal baik sifatnya pemuda itu.
Di mulut Kiam Hong mengatakan Giok Houw kalah gagah daripada Thian Touw, tetapi sifat mereka lain.
Giok Houw itu, kalau mengerjakan sesuatu, tidak pernah ingat paling dulu kepada kepentingan pribadi.
Ia cocok dengan sifatnya pemuda itu, karenanya, ia merasa bangga.
Tapi sekarang ada sesuatu yang menyelak di antara mereka, maka ia menjadi sangat berduka.
Ia berkasihan untuk nasib buruk dari Im Siu Lan.
Maka itu, di dalam hatinya, ia mengharap-harap Giok Houw dapat melupakan padanya...
Bersama-sama Kiam Hong.
pagi itu In Hong menemui Ciu San Bin suami isteri, untuk berpamitan.
Cui Hong heran mendapatkan Nona Liong hendak pergi bersama, la hendak menahan nona itu ketika Kiam Hong mendahului ia berkata.
"Aku mempunyai satu urusan untuk mana aku mesti turut enci In Hong. Lain kali aku akan kembali ke sini. Aku telah bicarakan hal ini dengan Thio Giok Houw. Sekarang dia lagi sakit, aku tidak pamitan lagi dengannya, tetapi di sini ada sepucuk surat, aku minta tolong disampaikan kepadanya. Segala apa yang aku belum bicarakan, aku telah tulis di dalam surat ini."
Nona itu benar-benar menyerahkan suratnya kepada Nyonya San Bin.
Keberangkatan nona itu, Cui Hong merasa, ada apaapanya yang luar biasa, ia hanya tidak menyangka orang sebenarnya mau menyingkir dari Giok Houw.
Sebagai orang .
Kangouw sejati, tidak dapat ia menanyakan sesuatu kepada si nona, sebab sudah terang nona itu tidak mau bicara.
Kalau sebaliknya, mesti si nona memberi keterangan tanpa diminta lagi.
Setiap orang Kangouw tak seharusnya mencari tahu urusan pribadi lain orang.
"Nona Liong, inilah kata-katamu,"
Ia kata, tertawa.
"Kau bakal kembali!"
Demikian nyonya ini mengantarkan nyonya dan nona itu pergi.
Kemudian, selagi ia mau pergi kepada Giok Houw, untuk menyampaikan suratnya Kiam Hong.
Siu Lan muncul mencari nona itu "Nona Liong baru saja berangkat.
Apakah kau tidak tahu?"
Ia tanya Nona Im. Siu Lan terkejut.
"Nona Liong pergi?"
Dia tanya, mendelong.
"Kenapakah?"
Balik tanya Cui Hong, heran.
"Ada urusan apakah maka kau mencari dia?"
Siu Lan membikin tenteram hatinya.
"Giok Houw ingin bicara dengannya,"
Ia menjawab. Nyonya San Bin menjadi bertambah heran.
"Dia membilangi aku bahwa dia telah bertemu dan berbicara dengan Giok Houw,"
Katanya.
"Pula ini ada suratnya yang harus disampaikan kepada pemuda itu. Apakah barusan kau bertemu sama Giok Houw?"
"Sebentar barulah aku hendak melihat pula penyakitnya."
Siu Lan menyahut.
"Kemarin sore, ketika ia mendusin, ia lantas saja minta bertemu dengan Nona Liong. Kenapa dia pergi?"
Cui Hong heran sekali. Ia menunjuki suratnya si anak muda.
"Mungkinkah kedua bocah itu bentrok?"
Ia kata, tertawa.
"Karena kau hendak melihat penyakitnya anak ini, nah. kau saja yang tolong menyampaikan surat ini padanya."
Cui Hong ketahui baik eratnya pergaulan Giok Houw dengan Kiam Hong.
ia tidak percaya mereka itu berselisih, maka itu, ia tertawa, akan tetapi, melihat romannya Siu Lan.
yang seperti hilang semangatnya, ia heran.
Pikirnya.
"Mereka ini, setelah merasakan kesukaran bersama, sekarang mirip enci dan adik..."
Nyonya ini menyangka Siu Lan memberati kepergian Kiam Hong, tidak tahunya.
Nona Im menderita berlipat ganda.
Dengan membawa surat Kiam Hong, dengan hati tertindih, dengan tindakan berat, ia masuk ke dalam.
Ia tahu baik kenapa Nona Liong pergi.
Maka ia kata di dalam hatinya.
"Untukku, dia suka meninggalkan orang yang dia sayangi, maka itu, andaikata aku beruntung menikah Giok Houw, bukankah keberuntungan itu keberuntungan yang ditukar dengan penderitaannya dia itu?"
Malam itu, setelah memperoleh cara pengobatannya Siu Lan, Giok Houw dapat tidur nyenyak.
Ketika Siu Lan masuk ke dalam kamarnya, baru saja ia mendusin.
Segera ia mendapat lihat muka si nona lesu dan kucai, seperti ada yang dipikirkan.
"Nona Im. karena kau mengobati aku, kau banyak capai,"
Ia berkata. Agaknya ia menyesal.
"Hari ini aku merasa enakan, maka itu, pergilah kau beristirahat. Nusa baru kau datang pula untuk mengobati lebih jauh padaku."
Pemuda ini tidak ketahui ilmu pengobatan, akan tetapi sebagai orang yang mengerti ilmu silat, ia tahu baik apa akibatnya Im Siu Lan sudah mengobati ia dengan menggunakan kepandaian Cit Im Tokciang --dengan hawa dingin melawan hawa panas.
Tentulah kesehatan si nona terganggu.
Maka ia ingin si nona beristirahat selama dua hari.
Mengetahui bahwa orang sangat memperhatikan ia, Siu Lan girang berbareng pedih.
Tapi ia memaksakan diri untuk tertawa.
"Aku tidak letih,"
Katanya.
"Sakitmu sudah sembuh enam atau tujuh bagian, maka kalau kau diobati satu kali lagi, kau akan sembuh seseluruhnya. Bukankah memukul besi harus selagi masih panas?"
Giok Houw tidak berani menampik.
"Nona Im,"
Katanya.
"aku tidak tahu bagaimana harus membalas budimu yang besar ini."
Tapi, baru dia berkata begitu, lantas dia menanya.
"Mana Kiam Hong? Kenapa dia tidak datang melihat aku?"
Siu Lan terdiam. Tapi ia tahu. tidak dapat ia tidak berbicara.
"Nona Liong... dia... dia sudah pergi."
Sahutnya.
"Ini suratnya untukmu."
Giok Houw terkejut hingga dia berseru.
"Apa? Dia telah pergi?"
Dia lantas menyambuti surat, untuk segera dibuka.
Hati Siu Lan berdebaran, ia mengawasi pemuda di depannya itu.
yang ia cintai hingga ia tergila-gila Ia mendapatkan, sembari membaca, tubuh si pemuda menggigil, mukanya menjadi pucat, kemudian Giok Houw berseru-seru.
"Tidak! Tidak! Inilah tidak bisajadi! Inilah tidak bisajadi!"
"Thio Tocu,"
Kata Siu Lan.
"Kau... kau... kau mau apa?"
Giok Houw berlompat bangun.
"Aku mau pergi kepada adik Hong!"
Dia menyahut.
"Aku hendak tanyakan sendiri, depan berdepan!"
Siu Lan menghalang di depan pintu.
"Jangan!"
Ia berkata.
"Kau belum sembuh betul! Laginya Nona Liong sudah pergi jauh..."
Muka Giok Houw menjadi merah, lalu merah padam, sebab otot-otot di mukanya pada timbul, nampaknya gelap. Bagaikan orang yang hilang semangatnya dia menolak dengan kedua tangannya.
"Jangan rintangi aku!"
Dia berteriak.
Pedih hati Siu Lan, ia pun berkuatir.
Saking terpaksa, iamenotok.
Giok Houw boleh gagah dan menang dari si nona, akan tetapi dalam keadaan seperti kalap itu, ia tidak bersiaga.
Ia pun baru saja mulai sembuh.
Maka tanpa dapat berkelit lagi.
ia roboh pingsan.
Siu Lan menghela napas lega.
Ia pondong tubuh pemuda itu, untuk dengan hati-hati direbahkan di atas pembaringannya.
Dengan lantas ia menggunakan jarum, menusuk jari tengah orang, untuk mengeluarkan darahnya.
Barusan ia menotok karena tidak ada jalan lain lagi.
Sisa racun dalam tubuh Giok Houw belum terbasmi semua, karena hatinya goncang dan dia menggunakan tenaga terlalu besar, Giok Houw dapat merusak kesehatannya yang belum pulih itu, jikalau racun masuk ke jantungnya, maka sulitlah untuk mengobatinya.
Sinar matahari masuk dari antara jendela, mensoroti muka Siauw Houw Cu.
Muka itu pucat.
Warna guramnya tadi telah lenyap tujuh atau delapan bagian.
Perlahanlahan, terlihat sedikit warna dadu.
Walaupun wajah itu perok.
di sana masih bersisa roman tampannya.
Berdiri di depan pembaringan, Siu Lan mengawasi terus.
Inilah orang yang ia gilai, tetapi hati orang tidak ada padanya...
Maka ia bersedih bukan main.
Ia bersusah hati tak kalah dengan susah hatinya si pemuda sebab kepergiannya Kiam Hong itu.
Tadinya ia masih mempunyai sedikit pengharapan, ia mengharap setelah perginya Kiam Hong, hati Giok Houw dapat berubah perlahan-lahan.
Sekarang, sikapnya si pemuda membikin ludaslah sedikit pengharapannya itu...
Dengan terus mengawasi, Siu Lan dapat melihat suratnya Kiam Hong yang tertindih tubuh Giok Houw.
Dengan perlahan ia mengambil itu.
Tidak ada sama sekali niatnya mencuri lihat surat lain orang, akan tetapi ia terpengaruh rasa herannya, rasa ingin tahunya, ia toh membaca juga Nona Liong menulis begini.
"Engko Houw yang baik! Engko, aku ketahui kau bakal lekas sembuh seluruhnya aku girang sekali. Tapi, engko, pagi ini ada satu hal yang memaksa aku mesti lantas berangkat, saking tergesa-gesa tidak dapat aku pamitan dari kau. Engko lagi sakit dan aku pergi jauh, aku menyesal sekali, jikalau kau menggusari aku, aku tidak dapat membilang suatu apa Engko, aku mempunyai kesulitanku sendiri. Aku ingat bagaimana pada hari-hari yang lalu kita bersama melakoni perjalanan laksaan li, bagaimana kita berpisah tetapi toh berkumpul kembali, bagaimana mempercayai aku, sedang dalam setiap kesulitan, kita saling membantu. Dalam hidupnya seorang manusia, kalau dia mendapatkan orang yang mengenal hatinya, apa lagi yang dia harapi? Tetapi, engko, ada satu hal yang engko belum ketahui dan hari ini tidak dapat aku tidak memberitahukannya. Ketika adikmu ini masih kecil sekali, oleh ibuku aku telah dijodohkan kepada satu anak dari tetangga kami, kemudian karena pelbagai kekacauan dan kita berpisah, sampai sebegitu jauh di antara kita tidak ada kabar ceriteranya satu dengan lain, hingga pihak sana itu tidak diketahui dia masih hidup atau sudah mati, dan pihakku pun tidak memikirkannya lagi. Akan tetapi di luar dugaan kami kemarin ini enci Hong memberitahukan aku bahwa dia itu berada di Kanglam dan ibuku pun telah mendapat kabar perihalnya. Tentu sekali, ibu tidak dapat menyangkal janjinya, tidak perduli orang itu melarat atau bagaimana. Maka sekarang aku mesti berangkat ke Kanglam, aku mesti menurut akan kata ibu, kemudian aku akan ikut ibu pergi ke Kanglam. Engko. adikmu harap selanjutnya janganlah engko pikirkan pula adikmu ini. Adikmu harap engko merawat diri baik-baik."
Siu Lan menghela napas.
"Ah, pantaslah Giok Houw menjadi seperti kalap..."
Pikirnya.
"Tapi, benarkah kata-katanya Kiam Hong ini?..."
Tidak lama nona ini bersangsi, lantas ia mengerti, dapat ia membade maksudnya Nona Liong itu.
"Teranglah dengan ini ia hendak membikin putus pengharapannya Giok Houw,"
Pikirnya.
"Sengaja ia menulis bahwa ia telah ditunangkan itu! Oh, enci Liong, untukku ini, kau membuatnya dirimu bersengsara..."
Tanpa merasa mengucurlah air matanya mengenai surat itu.
Nona Im berjalan mundar-mandir, pikirannya kusut-Ia ingat maksudnya ibunya memberikan obat pemudah racun kepada Kiam Hong, ya ingat juga penderitaan ibunya yang mati bersengsara itu.
"Ibu bernasib buruk, dia menderita, dia tidak dapat menikah dengan orang yang dia cintai. Seumurnya, ibu senantiasa memikirkan kekasihnya itu, sampai kakek memaksa dia menikah, hingga terlahirlah aku. Sampai ajalnya tiba, ibu menyesal dan tersiksa..."
Lantas Siu Lan ingat peristiwa sedih dan dahsyat di dalam kuil di mana ibunya terbinasa. Ia bergidik. Ibunya itu ialah suatu contoh.
"Jikalau dua hati tidak saling menyinta, tak luput orang dari akhir yang menyedihkan. Thio Giok Houw menyintai Liong Kiam Hong, umpama kata toh terjadi juga aku menikah dengannya, kalau kemudian dia mendapat tahu duduknya hal yang benar, mungkin dia menjadi seperti ibuku, yang seumurnya terus menyintai kekasihnya, hingga terhadap aku, mungkin dia mendendam kebencian..."
Mengingat ini, bagaikan orang baru mendusin dari tidurnya, Siu Lan sadar, maka itu, meski hatinya sakit, pikirannya toh terbuka, ia merasa lega.
Perlahan-lahan ia membuka jendela, membiarkan sinar terang masuk ke dalam, untuk menyingkirkan keguraman seperti keguraman hatinya itu.
Hawa segar pun masuklah.
Nona ini melipat pula suratnya Kiam Hong itu, ia masuki ke dalam sakunya si anak muda, kemudian ia meraba nadi orang, yang telah pulih seperti biasa.
Maka lantas ia menotok, untuk membebaskannya, untuk membikin orang sadar.
Giok Houw membuka kedua matanya, terus ia bangun untuk berduduk.
"Ah, mengapa kau mencegah aku?"
Ia tanya, perlahan, menghela napas. Siu Lan memaksakan bersenyum.
"Kesehatanmu belum pulih, umpama kata aku membiarkan kau menyusul, kau pun tidak bakal dapat menyandak."
Ia kata, sabar. Giok Houw dapat memikir, ia merasa kata-kata si nona benar. Maka ia berdiam. Siu Lan bersenyum ketika ia berkata pula.
"Nona Liong membilang dia mau turut Leng Lihiap pulang ke Thiansan untuk meyakinkan ilmu silat pedang, bukankah maksudnya itu baik sekali ? Kau agaknya sangat berduka, kenapakah?"
"Apa benar dia membilang demikian kepada kau?"
Giok Houw menegasi.
"Perlu apa aku mendustai kau?"
"Ah, kau tidak tahu, kau tidak tahu..."
Kata si anak muda.
Di dalam saat sangat berduka seperti itu, ingin ia memperoleh satu kawan sehati kepada siapa ia bisa beber kedukaannya, untuk mengutarakan berapa besar cintanya terhadap Kiam Hong.
Tapi kapan ia ingat ia berhadapan dengan Siu Lan, ia bersangsi.
Demikian iamerandak.
Siu Lan sebaliknya tertawa.
"Aku tahu kau menyintai Nona Liong"
Katanya, terus terang.
"Sebaliknya kau tidak mengetahui, dia sebenarnya menyintai kau sepuluh lipat lebih besar!"
Giok Houw melengak.
"Bagaimana kau ketahui itu?"
Ia tanya.
"Apakah ia bicara sendiri dengan kau?"
Siu Lan tidak menjawab pertanyaan itu. Sebaliknya, ia menanya.
"Tahukah kau bagaimana caranya Nona Liong ketika ia minta obat untukmu? Tentang itu aku melihat dengan mata dan mendengar dengan telingaku sendiri, maka perihal hatinya itu, aku tahu baik sekali."
Meski ia menanya, nona ini toh lantas menjelaskan segala perbuatan Kiam Hong ketika nona itu datang kepada ibunya, untuk meminta obat.
Ia menuturkan juga bahaya yang ditempuh si nona, demikian segala hal yang dialami ia dan ibunya sampai ibunya menutup mata.
Semua hal itu, belum pernah Kiam Hong memberitahukan si anak muda.
Giok Houw mendengari dengan perhatian, ia heran dan kagum.
Sungguh besar bahaya yang dihadapi Kiam Hong dan Cit Im Kauwcu semua.
"Kalau begitu, benar-benar ia menyintai aku lebih daripada ia menyintai dirinya sendiri,"
Pikirnya.
"Dialah seorang nona gagah dan mulia, maka itu, taruh kata benar keterangannya, ia mempunyai jodoh dengan lain orang, tak usahlah ia tunduk kepada aturan kuno itu..."
Baru saja memikir demikian, atau Giok Houw sudah memikir lainnya.
"Kita telah berkenalan lama, tidak ada apa-apa yang ia tidak bicarakan padaku,"
Demikian pikirnya pula.
"kenapa ia tidak pernah omong jodohnya itu? Dan enci In Hong tidak pernah mengatakannya juga? Kenapa sekarang Siu Lan bicara begini rupa?"
Pemuda ini tidak tahu, alasannya Kiam Hong itu pun alasan yang baru didapat karena kepergiannya yang mendadak.
Setelah pikirannya makin sadar, Giok Houw merasakan sikapnya Kiam Hong itu aneh, hanya masih ia belum dapat menduga dengan tepat sebabnya itu.
Siu Lan mengawasi anak muda itu, yang mulai tenang hatinya, maka ia pun merasa lega.
"Mari aku mengobati kau lagi satu kali,"
Katanya bersenyum manis.
"Setelah ini, sesudah sehat betul, kau boleh pergi susul adik Liong-mu itu."
Giok Houw menurut, ia merebahkan dirinya. Selagi si nona membukai bajunya, ia kata.
"Nona lm, benar-benar aku tidak tahu bagaimana aku harus menghaturkan terima kasihku terhadapmu..."
Ia berterima kasih bukan untuk pertolongan pengobatan saja, juga untuk hiburannya yang membuatnya hatinya tenang.
Dari nona ini pun ia mendapat tahu bagaimana besar Kiam Hong menyintai ia.
Di samping itu, terhadap si nona, ia menjadi ingin bersahahat dengan sejujurnya.
Tentu sekali, ia tidak ketahui, walaupun mulut si nona manis, senyumannya murah, hatinya sebenarnya sakit dan pedih.
Ia, yang dicintai, tidak ada hatinya terhadapnya..."
Siu Lan sudah lantas memberikan pertolongannya, la menggunakan waktu setengah jam.
Dengan begitu ia bisa menyingkirkan sisa racun yang terakhir.
Dengan begitu, sakitnya Thio Giok Houw telah disembuhkan.
Tapi, dengan begitu juga, habislah semua kepandaiannya ilmu Cit Im Tokciang yang ia baru dapatkan tiga bagian itu.
Hari itu Ciu San Bin serta isteri, begitu juga pemimpinpemimpin lainnya, datang menjenguk si anak muda.
Semua merasa girang akan mendapatkan orang telah pulih kesehatannya, hingga tinggal kesegaran saja yang harus dikembalikan.
Maka itu, San Bin melarang orang turun gunung dulu.
Sementara itu, di luar dugaan.
Siu Lan turun gunung dengan diam-diam, tanpa pamit lagi.
Malam itu Nona Im berpikir keras.
Setelah berkutat sekian lama, ia mengambil putusannya.
Untuk Giok Houw, hendak ia pergi menyusul Kiam Hong.
Hendak ia menjelaskan kepada Kiam Hong tentang rahasia hatinya.
Untuk San Bin, ia meninggalkan sepucuk surat.
Di tengah malam, diam-diam ia menghampirkan kamarnya Giok Houw.
Ia tidak masuk ke dalam kamar hanya mengawasi dari luar jendela.
Di situ ia mengeraskan hatinya, ia menahan pedih hatinya.
Ia memutar tubuhnya, untuk terus turun gunung.
Di hari kedua Giok Houw bangun pagi-pagi.
Ia merasa tubuhnya segar, ia lantas duduk bersamedhi.
untuk menyalurkan pernapasannya.
Latihan ilmu dalam itu membuatnya segar sekali.
Ia menduga, lagi lima hari, ia tentu akan sudah dapat turun gunung.
Ia merapikan pakaiannya, untuk keluar dari kamar.
Inilah yang pertama kali ia mendapat hawa luar semenjak sakitnya, ia mendapatkan sinar matahari yang nyaman.
Dalam gembiranya itu, ia pergi mengunjungi San Bin, untuk membikin girang cecu itu.
San Bin dan isteri mendapatkan Giok Houw dapat turun dari pembaringannya, senang hati mereka.
Akan tetapi matanya si anak muda tajam sekali.
Pada wajah girang suami isteri itu ada tersembunyi sesuatu.
Maka diam-diam ia berpikir dan matanya mencari-cari.
Lantas ia lihat sepucuk surat di atas meja.
Ketika barusan ia datang ketempatnya suami isteri itu.
Cui Hong meletakkan surat di atas meja.
"Apakah ada terjadi sesuatu?"
Ia tanya. Ia melengak.
"Surat siapakah itu?"
Cui Hong menghela napas. Ia tidak dapat mendusta.
"Nona Im sudah pergi,"
Katanya, perlahan.
"Inilah suratnya."
Giok Houw terperanjat. Benar-benar, itulah di luar dugaanya.
"Dia pergi?..."
Katanya. Cuma sebegitu ia dapat menanya.
"Benar. Kami ingin menahan dia. tidak tahunya dia pergi dengan diam-diam."
Nyonya San Bin menyerahkan suratnya Siu Lan itu.
Giok Houw membaca.
Singkat suratnya Nona Im.
Mulanya ia menghaturkan terima kasih kepada San Bin suami isteri, akhirnya ia minta tolong agar Ban Thian Peng suka dibantu di mana bisa.
Tentang kepergiannya, ia tidak bilang apa-apa.
"Mungkinkah dia mencela perlayanan kami?"
Kata Cui Hong.
"Inilah aku sangsi. Lebih mungkin ialah ia mempunyai suatu urusan penting tentang mana ia tidak suka memberitahukan kita..."
"Apa mungkin dia hendak mengurus partainya?"
Kata San Bin.
"Ibunya ialah kauwcu dari Cit Im Kauw. Kalau begitu, kenapa dia pergi tanpa pamit lagi?"
Giok Houw membiarkan suami isteri itu saling menduga, la sendiri, mengertilah ia sebab kepergiannya si nona. Ia telah melihatnya dari arah dekat selama dua hari ini.
"Giok Houw, bagaimana kau pikir?"
Kemudian Nyonya San Bin menanya si anak muda.
"Ah, aku... aku..."
Sahut anak muda itu, masgul.
"Aku merasa dia harus dikasihani..."
"Ya, dia memang harus dikasihani,"
Berkata si nyon>a.
"Aku justeru memikir bagaimana harus mempernahkan dia, tetapi dua hari ini aku terlalu repot. Dia baru datang, aku tidak menduga dia bakal berlalu dengan begini cepat, hingga belum sempat aku berbicara dengannya."
"Coba panggil Ci Hiap"
Tiba-tiba San Bin berkata.
"Orang sudah pergi, untuk apa memanggil Ci Hiap?"
Sang isteri kata. San Bin tidak menyahuti, ia melainkan bersenyum. Melihat sikap suaminya itu. Cui Hong ingat apa-apa, lantas ia mengerti.
"Benar!"
Katanya.
"Biar Ci Hiap diperintah menyusul dia!"
Malamnya yang Siu Lan tiba di gunung, San Bin dan isterinya sudah berdamai.
Mereka pikirkan daya untuk membalas kebaikannya Cit Im Kauwcu serta gadisnya.
Kesudahannya mereka setuju untuk mengambil Siu Lan sebagai nona mantu mereka.
Tak lama.
Ci Hiap muncul.
Ia menanya ada urusan apa.
"Nona Im pergi, tahukah kau?"
Sang ayah tanya. Ci Hiap heran.
"Kapan perginya?"
Ia tanya.
"Tadi malam."
Sahut Cui Hong.
"Mungkin dia belum pergi jauh."
San Bin, dengan roman sungguh-sungguh, berkata.
"Nona itu benar berasal dari kalangan sesat tetapi dia dan ibunya melempar budi kepada kita. karena itu sudah sepantasnya jikalau kita tidak membiarkan dia terumbang-ambing dalam perantauan."
"Lagi pula ia pun sudah menolong saudaramu, Giok Houw,"
Cui Hong menyambungi.
"Turut penglihatanku, meski ia asal kaum sesat, ia sendiri berhati lurus?"
"Maka itu,"
San Bin menambahkan.
"aku hendak minta Tie Pangcu bersama kau pergi turun gunung, untuk menyusul nona itu, setelah dapat diketemukan. kau minta ia suka kembali kemari. Umpama kata ia hendak mengurus dulu urusan partainya, itulah urusannya sendiri, kamujangan campur. Biar bagaimana, ialah seorang nona dan ia bersendirian saja hidup dalam perantauan, aku kuatir ia menghadapi bahaya Setelah bertemu si nona, kau cari tahu dulu sikapnya Apabila karena mengurus partainya ia tidak dapat segera kembali, kamu bantulah secara diam-diam, untuk melindungi. Di sini ada Lioklimcian, kau boleh bawa, andaikata ada perlunya, dengan ini kau boleh minta bantuannya sekalian paman kaum Rimba Persilatan."
Ciu San Bin menjadi bengcu.
kepala perserikatan, kaum Lioklim atau Rimba Persilatan di wilayah Utara, ia juga berusia tinggi dan dimalui umum, meski wilayah Selatan bukan masuk lingkungan pengaruhnya kaum Rimba Persilatan di Selatan itu menghormati ianya dengan adanya Lioklimcian.
Panah Rimba Persilatan, menjadi pertanda, di mana ia sampai.
Ci Hiap bisa minta bantuan setempat.
Ketika Giok Houw mendengar tindakannya San Bin itu.
diam-diam ia berlega hati untuk Siu Lan, sedang hatinya sendiri turut lega sedikit.
Justeru itu seorang laskar datang memberitahukan.
"Ban Kongcu datang minta menghadap Cecu."
"Bagus! Silakan ia masuk!"
Kata San Bin. Ban Thian Peng datang dengan roman duka, lantas ia menanya, perlahan.
"Katanya enci-ku pergi, benarkah?"
"Benar,"
Jawab San Bin.
"Ia meninggalkan surat menghendaki kami minta kau suka terus berdiam sama kami di sini. Tidak lamajuga ia bakal kembali."
"Tidak, aku ingin pergi menyusul dia,"
Kata Thian Peng.
"Kami sudah menyuruh orang pergi menyusul,"
San Bin kasi tahu.
"Ibunya memandang aku sebagai anaknya maka itu, ialah enci-ku."
Kata Thian Peng pula.
"Sekarang ia merantau seorang diri. hatiku tidak tenteram. Di sebelah itu, aku mempunyai musuh, maka aku pikir, baiklah aku pergi sekalian mencari musuh kami itu."
San Bin terdesak, habis berpikir sebentar, ia kata.
"Soal sakit hatimu itu ada satu soal lain. Nah, baiklah, kau boleh pergi turun gunung! Nanti aku minta Kok Lunghiong menemani kau, kepadanya aku akan memberikan sebatang Lioklimcian. Ci Hiap yang bakal pergi menyusul Nona Im. maka itu, kamu boleh ambil jalan berpisahan. dia ke Utara, kau ke Selatan. Mengenai musuhmu, kau juga boleh minta bantuannya Kok Lunghiong."
Lantas cecu ini menitahkan orang mengundang Tie Pa serta Kok Tiok Kin.
Tie Goan itu hupangcu, ketua muda, dari Kaypang, Partai Pengemis, di Utara, maka itu di mana-mana ia mempunyai banyak "kuping dan mata,"
Hingga leluasalah ia untuk mendengar-dengar kabar atau mencari keterangan, sedang Kok Tiok Kin seorang kenamaan kaum Jalan Putih di Selatan berbareng menjadi tabib, dari itu pemilihan atas diri mereka sebagai kawan seperjalanan Ciu Ci Hiap dan Ban Thian Peng tepat sekali.
Sementara itu marilah kita melihat Im Siu Lan.
Setibanya si nona di kaki gunung maka pada tauwbak pemimpin pos penjagaan di situ ia minta sekor kuda yang dapat lari cepat.
Ia dikenal sebagai tetamu, tanpa curiga, malah tanpa menanya apa-apa.
tauwbak itu memilihkan dia kuda yang diminta, maka sebentar saja, ia sudah mulai dengan perjalanannya.
Ia menduga Kiam Hong ikut In Hong pergi ke Thiansan, dan itu ia pun menuju ke Utara.
Di hari kedua hampir magrib, tibalah ia di Hulicip.
Masuk kebagian tempat yang ramai, Nona Im mencari rumah penginapan.
Ia lantas mendapatkan satu yang papan mereknya sudah pecah dan berserakan di tepi jalanan, hotelnya sudah rusak, bahkan temboknya ada yang gempur, seperti juga belum terlalu lama, hotel ini telah jadi kurban perang.
Inilah tidak heran.
Itulah hotelnya si orang she Ciu.
yang dilabrak Lauw Wan Tat dan Liong Kiam Hong.
Orang hotel terkejut melihat datangnya nona ini.
Mereka tahu, di antara orang-orang yang menyerbu hotel, ada seorang nona gagah dari atas gunung, meski ini tetamu bukannya Kiam Hong, mereka toh heran.
Kuasa hotel, yang menyambut, sudah lantas mengedipi mata seraya berkata.
"Nona silakan nona pergi mencari lain rumah penginapan, hotelku ini sudah penuh."
Siu Lan tidak mengerti isyarat kedipan mata itu. Biar bagaimana, ialah bukan orang Kangouw yang berpengalaman. Maka ia menjadi tidak senang dan berkata.
"Apakah kau berani memandang tidak mata kepada wanita yang berjalan seorang diri? Apakah kau takut aku nanti tidak membayar uang sewa hotelmu?"
Cepat-cepat kuasa hotel itu menggoyangi tangan, terus ia kata dengan perlahan.
"Harap jangan gusar, nona. Bukankah nona datang dari gunung?"
Siu Lan heran, ia mengawasi.
"Kalau benar, bagaimana?"
Ia tanya.
"Di sini ada cucu kuku garuda!"
Sahut si kuasa hotel.
Hulicip termasuk daerah pengaruhnya Ciu San Bin, maka itu, penduduk situ berkesan baik terhadap rombongan tentara suka rela, mereka lebih suka membantu San Bin daripada pembesar negeri.
Siu Lan tidak lantas mengangkat kaki, sebaliknya, dia memandang ke sekitarnya.
Melihat sikap nona ini, kuasa hotel itu berkuatir bukan main, hingga tanpa merasa ia mengeluarkan peluh.
Ia menduga-duga mungkin nona ini orang Kangouw yang masih hijau.
Sesudah melihat romannya si kuasa hotel, Siu Lan percaya bahwa ia bukan lagi didustakan, maka ia menurut, hanya selagi ia mau berlalu, mendadak ia mendengar bentakan nyaring.
"Berhenti!"
Ia lantas berpaling. Dari dalam hotel itu muncul dua opsir, yang satu jangkung, yang lain kate. Yang jangkung itu mendahului menghampirkan, untuk menghadang di pintu.
"Siapa kau?"
Dia tanya, keras. Siu Lan tidak senang, ia tertawa dingin.
"Aku tidak melanggar undang-undang negara, mau apa kau usil aku orang apa?"
Iamembaliki.
"Hm!"
Si opsir mengejek.
"Kaulah seorang wanita, kau berada seorang diri, kau juga menyoreng golok, kau pasti bukan wanita baik-baik!"
Katanya menghina. Si kate pun maju dan turut berkata dengan bengis.
"Kebanyakan dialah bangsat wanita dari Kimto Ce! Bukankah kau yang telah menganiaya kuasa she Ciu dari hotel ini?"
Siu Lan lantas menjadi gusar sekali. Memangnya ia lagi pepat pikirannya. Sikapnya si jangkung saja sudah membikin ia sangat mendongkol. Maka tidak dapat ia mengendalikan diri.
"Bikinlah mulutmu sedikit bersih!"
Ia menegur. Si jangkung tidak memperdulikan, dia bahkan tertawa.
"Aku tahu asal-usulmu pasti bukan asal-usul yang benar!"
Dia kata.
"Oleh karena aku melihat roman kau yang manis, sebenarnya aku sudah berlaku baik hati."
Tanpa menanti orang menutup mulut, Siu Lan sudah lantas mengayun sebelah tangannya, maka di situ segera terlihat menghembusnya segumpal asap bagaikan kabut.
"Celaka!"
Berteriak si kate.
"Bangsat perempuan ini menggunakan asap hio pulas!"
Si jangkung tidak sempat menyahuti, dia bahkan kaget dan kesakitan.
Tanpa merasa, sebelah mukanya digaplok Siu Lan hingga terdengar suara nyaring dari tangan mampir di pipi.
Tapi dia lihai, dengan sebat dia meluncurkan tangannya, untuk menangkis sambil menangkap.
Siu Lan dapat meloloskan tangannya, tetapi ia tersampok hingga ia terhuyung, hampir ia roboh.
Pula syukur, karena gumpalan asap itu, si jangkung tidak dapat melihat ia hingga ia tidak dapat disergap.
Si kate sudah lantas menyerang dengan Pekkhong Ciang, pukulan Udara Kosong.
Sambaran angin dari pukulan ini membuat gumpalan asap buyar.
Siu Lan terperanjat.
"Lihai kedua opsir ini, mereka tidak dapat dipandang enteng!"
Pikirnya.
Maka ia lantas menghunus sepasang goloknya.
Si jangkung memainkan napasnya, lantas ia merasa lega.
Ia tidak merasakan kepalanya pusing atau mata berkunang-kunang.
Itulah tanda bahwa asap itu bukan asap obat pulas.
Ia segera meloloskan joanpian dari pinggangnya, untuk dengan cambuk istimewa itu menyerang si nona.
Ia menggunakan tipu silat "Angin puyuh menyapu pohon yangliu."
Bengis serangannya karena ia mendongkol sekali.
Siu Lan puteri Cit Im Kauwcu, ia telah mewariskan tiga bagian kepandaian ibunya, dari itu ia sudah mengerti juga menggunakan pelbagai macam obat atau senjata rahasia beracun, meski demikian, tak sudi ia menggunakan asap pulas yang biasa dipakai oleh manusia rendah.
Mulanya ia tidak menyangka kedua opsir itu lihai, ia berniat hanya mengajar adat dengan gaplokan, dari itu ia sudah melepaskan asapnya itu.
Nyatanya ia keliru menduga.
Celaka untuknya, ia segera didesak si jangkung dan si kate itu, hingga ia tidak sempat lagi menggunakan senjata rahasianya.
Dengan lekas ia terkepung rapat.
Opsir kate itu menggunakan gaetan Goatgee kauw.
Ia pula nyata terlebih lihai daripada kawannya.
Maka berbahayalah desakannya itu.
Gaetan ialah semacam senjata penakluk untuk pelbagai gegaman lainnya.
Maka itu, selang belasanjurus, sebelah golok si nona sudah kena dipengaruhkan.
Si jangkung hendak melampiaskan kemendongkolannya, mengimbangi kawannya, dia menyerang hebat dibagian bawah.
Maka, asal sedikit saja si nona alpa atau kurang gesit, kakinya bakal kena disapu hingga tentulah tubuhnya nanti terguling.
Dalam keadaan terdesak itu, Siu Lan menyerang dengan tipu silat "Pekcoa cuttong."
Atau "Ular putih keluar dari liangnya."
Golok kirinya memapas gaetan yang sangat mengganggu padanya. Si kate tertawa berkakak.
"Bangsat wanita ini nekad!"
Katanya.
Dan justeru golok tiba, ia menyambuti dengan gaetannya.
hingga golok si nona menjadi tercantel.
Justeru itu si jangkung menyambar dengan cambuknya.
Dia cerdik, biasanya dia menyerang di bawah, sekarang dari bawah, dia memutar haluan, menyerang terus ke atas.
Maka berhasillah ia.
Lengan Siu Lan kena terhajar, dengan lantas cekalan pada goloknya yang tergaet si kate terlepas, hingga goloknya itu terlepas juga dari tangannya.
Dalam kagetnya ia berlompat sambil berseru.
"Ambillah juga ini satu golokku !"
Dan ia menimpuk dengan sebelah goloknya itu.
Si jangkung berani, dia tertawa dingin, sembari tertawa, dia mengulur tangan kirinya, untuk memapaki golok itu, di lain pihak, dengan tangan kanannya, ia membarengi menyerang.
Tepat ketika Siu Lan menaruh kaki di tanah, cambuk masih menyambar kakinya itu.
Tidak ampun lagi ia lantas terlibat dan tertarik, hingga tubuhnya roboh terguling.
Si jangkung puas sekali, ia tertawa bergelak-gelak, sambil tertawa dia bertindak maju, tangannya diulur untuk mencekek si nona.
Mendadak saja terdengar satu suara nyaring, lantas terlihat menyambarnya serupa benda hitam seperti bola.
Karena selagi mau dicekek itu, Siu Lan menggeraki sebelah tangannya, menimpuk.
Si jangkung itu tidak menyangka jelek, jarak di antara mereka dekat sekali, ketika benda hitam itu tiba.
ia tidak sempat berkelit lagi, tetapi ia dapat menggunakan tangannya untuk menangkis dengan menyampok.
Ia menduga kepada peluru besi, maka ingin ia membikin peluru itu mental balik, supaya sebaliknya penyerangnyalah yang terluka!
Nyatalah senjata rahasia istimewa dari Siu Lan ini ada sangat beracun.
Tidak apa jikalau ia tidak mengerjakannya, begitu ia mengasi kerja, maka terdengarlah suara bekerjanya, segera terlihat melesat menyambarnya bukan main banyaknya peluru-peluru kecil sebesar kacang kedele.
Namanya senjata rahasia itu ialah Lianhoan Cubo tan, atau Peluru Berantai.
Senjata ini tidak dapat dilawan keras dengan keras, umpamanya ditangkis.
Sebab sesuatu pelurunya telah direndami racun.
Demikian si opsir yang jangkung, matanya kena disambar peluru, dengan lantas sang racun bekerja, maka dengan lantas matanya buta.
Opsir yang kate terpisah sedikit jauh, dia juga berasal seorang begal tunggal dari kalangan Jalan Hitam, dia banyak pengalamannya, setelah mendengar suara senjata rahasia, dia dapat menduga senjata rahasia itu mesti berbahaya, dengan lantas dia menjembat sebuah meja.
untuk dijadikan tameng.
Dengan demikian, beruntun-runtun meja itu kena terhajar, semua senjata rahasia itu nancap karenanya.
"Bangsat wanita yang telengas!"
Dia lantas mendamprat, menyusul mana dengan mejanya ia menyerang.
Meja itu dilemparkan hingga melesat ke arah Siu Lan, bagaikan gunung Taysan menungkrap kepala...
Dengkul Siu Lan kena dihajar si opsir jangkung yang bersenjatakan joanpian itu, tidak sempat dia merayap bangun, untuk menyingkir dari meja terbang itu.
Di saat ia bakal kena tertimpa, mendadak satu orang melesat dari samping, dengan sebat dan tepat orang itu menyambuti meja, untuk dipegang, sembari dia berseru.
"Lao To, tahan!"
Opsir itu heran hingga dia melengak.
Justeru itu Siu Lan menyerang, dengan pisau belati yang dipakai sebagai senjata rahasia, maka pisau itu menancap di tenggorokannya dan dia roboh tanpa dia sempat berkelit, menangkis ataupun berteriak.
Baru sekarang si nona dapat berlompat bangun, untuk mengawasi orang yang menalangi ia menyambuti meja.
Ia mulanya menyangka pada salah seorang dari pihak gunung, nyatanya ia keliru.
Di depan ia berdiri seorang muda yang tampan, yang dandan sebagai seorang pelajar, yang pakaiannya indah, tangannya mencekal sebatang kipas.
Ia menjadi kaget sekali, hingga ia mengeluh di dalam hatinya...
Pemuda itu, yang mengawasi ia sambil bersenyum, adalah Kiauw Siauw Siauw!
Anaknya Kiauw Pak Beng itu datang ke Bang keepo karena sia-sia dia menantikan kembalinya Le Kong Thian, yang telah pergi selama beberapa hari tanpa kabarceritanya.
Sedang kedua opsir itu-dua orang lihai dari dalam pasukan Gilimkun mereka termasuk bekas sebawahan Yang Cong Hay.
Mereka datang ke Bang keepo ini untuk mencari bekas pemimpinnya itu, untuk sekalian mewakilkan pemimpin mereka yang sekarang, Tongnia Chian Tiang Cun, guna mengajak Cong Hay bekerja sama.
Hanyalah, ketika mereka dan Kiauw Siauw Siauw tiba di Bang keepo, Yang Cong Hay bersama Le Kong Thian sudah pergi menyusul Liong Kiam Hong.
hingga kedua pihak tidak dapat bertemu satu dengan lain.
Dengan begitu juga.
Kiauw Siauw Siauw pun tidak ketahui Siu Lan datangnya dari tempatnya Kimto Cecu.
Menemukan Siu Lan itu, Siauw Siauw melirik, ia tertawa haha-hihi.
Ia merasa pasti si nona tidak bakal lolos dari tangannya.
"Siu Lan,"
Katanya.
"bencana yang kau terbitkan ini hebat bukan main! Tahukah kau siapa dua orang yang kau binasakan ini? Merekalah opsir-opsir dari pasukan pengiring raja!"
Siu Lan tidak takut, sebaliknya, dengan dingin ia kata.
"Kau tangkaplah aku untuk kau pergi menagih jasa! Buat apa kau banyak omong?"
Pemuda itu tertawa.
"Dengan berkata begini kau jadinya telah memandang aku sebagai orang luar!"
Ia bilang.
"Mana dapat aku menangkap kau untuk menagih jasa seperti katamu ini? Syukur kau bertemu denganku, biar ada perkara bagaimana besar juga, aku akan dapat bertanggung jawab! Mana ibumu? Aku telah mengutus Le Kong Thian mencari ibumu itu. Apakah dia telah bertemu dangan kamu?"
Siu Lan jadi sangat bersedih. Ia diingatkan akan ibunya "Pergilah kamu ke alam baka mencarinya!"
Sahutnya sengit. Siauw Siauw terperanjat. Hanya sejenak, lantas ia mengasi lihat roman berduka.
"Apa?"
Katanya, balik bertanya.
"Apakah ibu mertuaku telah menutup mata?"
"Jangan ngaco-belo!"
Siu Lan membentak.
"Siapakah ibu mertuamu?"
Siauw-Siauw tidak menggubris dia dimaki. Dia maju satu tindak.
"Bagaimana dengan Pektok Cinkeng?"
Dia tanya.
"ibu mati karena kecelakaan atau lantaran sakit? Apakah Pektok Cinkeng ada padamu?"
Kedua matanya Siu Lan memain. Ia mendapat akal. Ia lantas mengasi lihat roman gusar.
"Hm, kiranya kau mengarah Pektok Cinkeng?"
Katanya.
"Itulah kitab pusaka keluargaku, kau tidak usah memikirkannya!"
Sengaja si nona seperti membilangi kitab obat-obatan beracun itu berada padanya.
Kiauw Siauw Siauw percaya itu, diam-diam ia bergirang.
Lantas ia menguras keluar air matanya, sembari sesegukan, ia kata.
"Kasihan ibu mertuaku itu, yang telah meninggal dunia, hingga aku, menantunya, tidak dapat mengurus dan mengantar dia ke tempat pekuburannya... Di manakah dikuburnya ibu mertuaku itu? Siu Lan, aku minta sukalah kau mengantarkan aku kesana, aku ingin menyembahyanginya..."
"Apakah benar-benar kau begini berhati baik?"
Siu Lan tanya tawar.
Siauw Siauw mendengar suara orang dingin, tetapi di dalam situ telah berkurang nada bermusuhnya, hal ini membuat hatinya lega.
Ia menggoyang-goyang kipasnya, ia pun mendekati lagi satu tindak, lantas ia menunjuki sikap sangat memperhatikan sekali.
"Siu Lan."
Katanya, lembut.
"meskipun ibumu belum menerima antar panjar dari keluargaku tetapi ayahmu sendiri telah menerima baik lamaran pihakku, maka itu, di antara kita sudah ada kepastiannya ialah kau calon isteriku! Dengan begini, dapatkah aku tidak memperhatikan kau? Siu Lan, sekarang ini tidak ada orang kepada siapa kau dapat mengandalkan diri, maka itu, jikalau kau suka kau boleh anggap rumahku sebagai rumahmu..."
Si nona berdiam, nampaknya ia sedang berpikir. Kembali Siauw Siauw maju satu tindak.
"Tentang kitab Pektok Cinkeng, Siu Lan, kau salah mengerti."
Katanya pula.
"Ilmu silat kami Keluarga Kiauw sudah terkenal di kolong langit ini tanpa lawan, maka itu, mana dapat aku mengarah ilmu kepandaian keluargamu itu? Aku hanya memikir, orang yang hendak merampas kitab itu bukan sedikit jumlahnya jadi aku berkuatir untukmu..."
Si nona mengawasi.
"Jikalau benar kau demikian memperhatikannya, baiklah, akan aku serahkan itu kepada kau untuk kau yang simpan,"
Ia kata. Siauw Siauw menjadi girang sekali.
"Memang,"
Katanya.
"kita memang sudah menjadi seperti satu tubuh! Kau percaya aku. mana dapat aku menampik? Apakah kitab itu sekarang ada pada kau?"
"Benar,"
Sine Lan menjawab pula.
"Inilah kitab itu, kau boleh terima!"
Belum berhenti kata-kata gadisnya Cit Im Kauwcu ini, maka terdengarlah suara menghembus, lantas dari tangannya menyembur segulung asap.
yang terus meledak, mengasi lihat warna api biru, terus suaranya menjerujus!
Nona ini telah menggunakan akal, sengaja ia bersikap lunak, untuk membikin si pemuda alpa, lantas dia menyerang dengan senjata rahasianya itu, yang bukan cuma mengeluarkan asap dan api tapi pun ada jarumnya yang halus umpama kata seperti bulu kerbau, setelah meledak, jarumnya lantas menyambar.
Kiauw Siauw Siauw menjerit hebat, dia segera mengipas berulang-ulang, tetapi dia kalah sebat, api telah lantas membakar bajunya, sebab begitu meledak, lengannya yang kiri kena dibikin patah.
Tapi dasarnya gagah luar biasa, dia masih sempat berlompat mundur satu tombak, dengan kipasnya dia menangkis berulangulang, membikin jarum-jarum beracun runtuh ke tanah, cuma, dua batang mengenai juga kedua jalan darahnya, kioktie di lengan kanan dan loktwi di punggung.
Dengan cepat dia menutup jalan darahnya, untuk membikin racun tidak bisa terus mengalir masuk dan menyerang ke dalam.
Pula dengan membanting diri dan bergulingan di tanah, dia membikin api padam.
Habis menyerang itu, Siu Lan lari keluar.
Baru ia tiba di luar pintu, ia sudah mendengar angin menyambar di belakang kepalanya, dan belum sempat ia menoleh atau menangkis, pundaknya sudah kena disambar, hingga sekejap itu juga, ia tidak bisa berkutik lagi!
"Perempuan hina dina yang kejam!"
Kata Siauw Siauw dingin.
Pemuda ini menotokjalan darah si nona, habis itu ia menggeledah tubuhnya, akan mengasi keluar semua obat berikut segala macam senjata rahasia, tetapi obat pemunah ada banyak macamnya, ia tidak tahu yang mana ia butuhkan.
Juga ia tidak dapat membedakan, yang mana obat racun dan yang mana obat pemunah, maka semua itu, ia tidak berani sekalipun untuk membukanya...
Tubuh Siu Lan lantas diletaki di atas tanah, terus dadanya diinjak, segera dia dibentak.
"Lekas keluarkan obat pemunah!"
Nona itu rebah terlentang, matanya mengawasi tajam.
Ia melihat muka orang telah terbakar hangus, maka muka yang tadinya tampan sekali, sekarang menjadi jelek tidak keruan.
Ia menampak roman orang yang bengis yang menyeramkan.
"Meski kau bunuh aku, tidak nanti aku memberikan obat padamu!"
Ia menyahut. Terus ia merapatkan matanya, tidak mau ia memandang pula wajah orang.
"Hm!"
Kiauw Siauw Siauw mengasi ejekannya.
"Membunuh kau? Itulah tidak nanti!"
Katanya, dingin.
"Kau meminta mampus, aku sebaliknya menghendaki kau hidup terus! Hendak aku siksa kau perlahan-lahan. Hm. apakah kau kira, tanpa obatmu itu, aku tidak bakal hidup?"
Habis berkata, Siauw Siauw merogoh keluar besi berani, dengan itu ia menekan dan menggosok di keduajalan darahnya, kioktie hiat dan taytoei hiat, sembari menekan ia mengerahkan tenaga dalamnya.
Ia berhasil mencabut keluar dua batang jarum bweehoa ciam.
Hanyalah, sekitar tempat yang tertusuk itu telah menjadi bengkak dan keras, walaupun ditekan keras dengan besi berani, tidak terasa sakit lagi.
Apa yang terasa sekarang ialah gatal yang bukan main, yang hampir tak tertahankan.
Bukan kepalang kagetnya putera Kiauw Pak Beng itu.
"Sebenarnya racun ini racun ajaib bagaimana?"
Ia tanya dirinya sendiri.
Memang biasanya, racun yang tidak memberi rasa sakit ialah racun yang terlebih lihai, sebagaimana lihainya racun yang kerjanya lambat.
Kiauw Siauw Siauw bukan ahli racun akan tetapi ia cukup menginsyafinya.
Maka itu ia lantas mengerahkan tenaga dalamnya, untuk menolak keluar desakan racun, berbareng ia menutup tujuh jalan darah, untuk tak dapat dimasuki, di lain pihak, ia lekas menelan sebutir pel buatan keluarga Kiauw.
obat mana istimewa untuk membasmi racun.
Habis menelan itu, rasa pusingnya kurangan, tetapi gatalnya bertambah.
Semua obat yang ia rampas dari Siu Lan, Siauw Siauw masuki ke dalam sakunya, la periksa kitab Pektok Cinkeng, yang ia rampasjuga.
Ia tertawa dingin.
"Akhir-akhirma toh berada di tanganku!"
Katanya.
Ia melihat banyak resep obat racun, aneka macam.
Di antaranya, ada juga bagian yang ia tidak mengerti.
Ia telah merasa, mesti penting sekali kitab itu, maka itu, ia mencoba menipu Siu Lan, supaya si nona berkesan baik terhadapnya, supaya si nona suka mengajari ia ilmu obat-obatan racun itu.
Tapi sekarang mereka sudah bentrok, tidak dapat ia menggunakan akal muslihat lagi, atau cara lunak.
Walaupun demikian, ia ingin melindungi jiwanya si nona...
Sesudah membalut sebelah tangannya yang patah, Siauw Siauw perintah pelayan hotel menyiapkan ia sepaso air, untuk ia mencuci mukanya yang penuh darah.
Ia mengacai mukanya, ia melihat mukanya menjadi jelek.
Tadinya ia tampan sekali dan sangat bangga dengan ketampanannya itu.
Maka sekarang ia menjadi sangat gusar.
Berulangkah ia menampar Siu Lan.
Kemudian ia kempit tubuh si nona, untuk dibawa keluar.
Di luar ada sebuah kereta kuda.
yang tuan rumah sediakan untuk menyambut tetamu.
Melihat kendaraan itu, Siauw Siauw menghampirkan ke depannya.
Sambil membentak, ia sampok si kusir, hingga kusir itu roboh, setelah mana, ia menyusuli dengan satu tendangan, maka terjungkallah kusir itu.
Ia sendiri, lantas ia lemparkan Siu Lan ke dalam kereta!
"Baik, kau boleh tertawa!"
Katanya, sengit.
"Meskipun aku menjadi jelek bagaikan memedi, kau tetap menjadi isteriku! Sekarang kau ikut aku untuk kau memberi hormat kepada mertuamu!"
Ia lantas lompat naik ke atas kereta, untuk memegang lesnya, buat menariknya, membikin kudanya berjalan.
Melihat orang demikian galak, pegawai-pegawai hotel tidak berani mencegah.
Siu Lan sudah bertekad untuk binasa bersama, maka itu barusan, meskipun ia dihajar berulangkah, ia tertawa lebar.
Sekarang, mendengar perkataannya Siauw Siauw itu, ia kaget, ia kuatir sekali.
Ia telah ditotok jalan darahnya, tidak dapat ia berkutik, dengan begitu, meskipun ia mau, ia tidak dapat mati, sedang untuk meminta hidup, ia tidak sudi.
Ia takut ialah kalau ia dipaksa dinikah pemuda ini!
Itulah lebih hebat daripada mati!
Oleh karena Siauw Siauw mengumbar amarahnya, mendadak ia merasakan kepalanya pusing sekali, dadanya pun sesak.
Ia kaget bukan main.
Dengan lekas ia menetapkan hati, terus ia bersamedhi, untuk meluruskan pernapasannya.
Sekian lama, baru ia merasa mendingan.
Siauw Siauw terluka oleh racun yang sifatnya lambat.
Keracunan semacam itu pantang besar terlalu girang atau terlalu murka, tidak boleh juga terlalu bersedih, sebaliknya, orang harus menenangkan diri.
lalu orang mengerahkan tenaga dalamnya, nanti bekerjanya racun dapat ditahan.
Tadi, saking gusar, ia sudah melampiaskan kegusarannya.
Meskipun ia benci sangat si nona, Siauw Siauw tidak berani menyiksa di tengah jalan, untuk menghinanya, la masih mengandung sedikit harapan, ialah agar Siu Lan tahu takut, supaya dia mengeluarkan obat pemunahnya.
Semua obat si nona telah ia pindahkan ke dalam sakunya, dari itu belumlah ia putus asa...
Di sepanjang waktu itu, Siu Lan diperhina, disiksa, tetap ia tidak mau menyerah.
Ia telah berkeputusan nekad, bersedia untuk terbinasa.
Cuma ia merasa sangat menyesal.
Ialah ia belum dapat bertemu Kiam Hong, untuk membeber rahasia hatinya.
Karena itu, biar bagaimana, ia masih tidak memikir untuk membunuh diri.
Sementara itu Leng In Hong dan Liong Kiam Hong berada dalam perjalanan mereka.
Sangat cocok mereka satu dengan lain.
mereka tidak menjadi kesepian.
In Hong telah mengajari ilmu pedangnya kepada kawannya, ia lakukan itu di waktu siang dan juga malam sebelum mereka tidur.
Setiap waktu mereka pun saling merundingkan, untuk memperoleh kemajuan.
Dalam ilmu pedang, Kiam Hong kalah jauh, tetapi ia cerdas, maka itu kadang-kadang ia dapat mengutarakan pikiran yang baik, yang menambah keindahan atau kelihaian ilmu pedang yang sedang diyakinkan itu.
Kedua pihak memperoleh faedah, yang lebih besar dapatnya ialah Kiam Hong.
Demikian selama belasan hari, In Hong telah mewariskan ilmu pedangnya itu.
Pada suatu hari tibalah mereka di padang rumput.
Hari sudah magrib.
Di situ tidak ada tempat singgah, sedang tadi mereka melewatinya.
Sudah mendekati sore, cuaca pun buruk.
Mega tebal dan hitam, tanda dari bakal turunnya air langit.
Tidak bisa lain, terpaksa mereka maju terus, dengan niatan mendaki bukit di depan mereka, untuk mencari guha guna melindungi diri.
Baru saja mereka memasuki lembah, mereka melihat sebuah kuil di depan mereka.
Kiam Hong tertawa.
"Berterima kasih kepada Thian, yang tak suka membuat orang putus jalan!"
Katanya.
"Mari kita pergi kesana, untuk menumpang bermalam."
In Hong pun girang. Keduanya lekas maju. Tengah mereka memasuki pintu kuil, hidung mereka menangkap bau arak, lalu telinga mereka mendengar tertawa lebar yang disusul dengan kata-kata.
"Dengan Koan Locianpwee demikian ternama besar, kenapa Kiauw Laokoay tidak sudi bersahabat dengannya? Haha-haha! Dua guru besar dari Selatan dan Utara telah bersatu, lalu ditambah dengan Tek Seng Siangjin, dengan begitu apa perlu takuti lagi Thio Tan Hong? Kecewa Yang Cong Hay lari-larian ke empat penjuru dunia, pahalanya tidak dapat dia tidak menyerahkannya kepada kita!"
In Hong terkejut.
Pula ia seperti kenali suara itu.
Ia lantas menghentikan tindakannya, dengan tangannya, ia memberi tanda kepada Kiam Hong.
Akan tetapi sudah terlambat.
Orang di dalam itu sudah mengetahui kedatangannya.
"Siapa di luar?"
Tanya orang itu, suaranya nyaring. Justeru itu kilat menyamber, guntur menggelegar, disusul dengan turunnya hujan yang lantas menjadi besar.
"Orang yang menyelindung dari hujan!"
Nona Leng menjawab.
Ia tidak takut meskipun ia tahu, orang di dalam itu ialah musuh.
Bersama Kiam Hong, ia lari masuk.
Di depan pendopo ada setumpuk perapian, di pinggirnya dua orang berduduk sambil minum arak.
Orang yang satu bertubuh kate dan romannya gesit, usianya sudah tinggi, orang yang lain baru berumur lebih kurang tiga puluh tahun, badannya kasar.
Mereka itu nampak heran melihat datangnya dua nona.
Segera setelah kedua pihak saling mengawasi, si orang tua kate itu tercengang, lalu dengan cepat dia tertawa terbahak-bahak.
"Kiranya Leng Lihiap!"
Katanya nyaring.
"Setelah sepuluh tahun kita tidak bertemu, tidak disangka-sangka sekarang kita bertemu di sini!"
In Hong menyahuti, dengan suara dingin.
"Sungguh beruntung aku yang LawToatongnia masih mengenali aku! Apakah gurumu kembali turun gunung?"
"Guruku telah meninggal dunia pada tahun yang lalu,"
Sahut orang tua itu.
"Kabarnya Leng Lihiap bersama Hok Tayhiap telah bekerja sama di gunung Thiansan memahami semacam ilmu pedang, sungguh aku si orang tua kagum mendengarnya. Kiranya kamu suami isteri masih belum melupakan dunia Kangouw! Eh, mana Hok Tayhiap? Kenapa dia tidak nampak?"
Orang tua itu, yang hidungnya pun bengkung, adalah Law Tong Sun, bekas tongnia, atau komandan Gilimkun, yang dulu hari bekerja sama dengan Yang Cong Hay.
Dialah yang pada sepuluh tahun dulu, dalam pertempuran di Hangciu, telah dihajar Ie Sin Cu, tulang piepee-nya sudah ditoblosi kimhoa, atau bunga emas, tetapi beruntung ia.
ia keburu ditolong gurunya, maka lukanya itu diobati, tulangnya dapat disambung pula, dengan begitu, ilmu silatnya tidak jadi musna.
Gurunya Law Tong Sun ini, sebagaimana diketahui, ialah Cio Hong Po jago Rimba Persilatan yang kenamaan, hanyalah dia, sebelum terlukanya muridnya itu, pernah dikalahkan oleh suami isteri Thio Tan Hong.
yang menggunakan ilmu silat mereka siangkiam happek, pedang bersatu padu.
karenanya, dia malu untuk menaruh kaki lebih lama pula dalam dunia Kangouw, maka habis mengobati muridnya, ia larang Tong Sun turun gunung.
Ia tidak mau muridnya itu memangku pangkat pula.
Tong Sun tidak berani membantah, ia lantas hidup menyendiri bersama gurunya itu.
Selama sepuluh tahun, ia menahan diri.
Ketika Cio Hong Po menutup mata, Tong Sun bersedih tiga bagian, bergirang tujuh bagian.
Sekarang ia tak usah dikekang lagi gurunya.
Seperti Yang Cong Hay, ia masih menggemari pangkat dan hidup mewah dan berpengaruh, maka ingin ia mencarinya pula.
Taylwee Congkoan telah bertukar orang menjadi Hu Kun Cip dan Gilimkun Tongnia ialah Chian Tiang Cun, itulah tidak menjadi soal bagi Tong Sun.
Justeru telah terjadi peristiwa perampasan bingkisan pelbagai propinsi untuk raja dan ia mendengar perampasan itu dilakukan muridnya Thio Tan Hong, ia mau bekerja dari ini jurusan.
Itulah jalan pertama untuk membalas sakit hati dan kedua untuk mendapat pangkat.
Sebagai seorang cerdik.
Law Tong Sun tahu bagaimana harus bersiasat.
Demikian ia mau menempel orang-orang kosen yang istimewa, seperti Kiauw Pak Beng, untuk menempur Thio Tan Hong.
Iamerasa pasti, jikalau Thio Tan Hong sudah dapat dirobohkan, maka Yap Seng Lim di Selatan dan Ciu San Bin di Utara, akan kehilangan tulang punggungnya, hingga mereka itu gampang ia yang membereskannya Orang dengan siapa Tong Sun berkumpul dan minum arak ini bernama Tonghong Hek.
Dia pun seorang yang berkenamaan.
Gurunya ialah Tokpie Khengthian Koan Sin Liong, si Satu Tangan Menunjang Langit, yang pada tiga puluh tahun dulu sudah dikutungi sebelah tangannya oleh Huithian Lipngli Yap Eng Eng, sedang Koan Sin Liong itu ialah keponakannya Ci Hee Tojin.
Bedanya umur di antara Ci Hee Tojin dan Koan Sin Liong melainkan belasan tahun, karenanya sekarang dia sudah berumur hampir tujuh puluh, hingga bicara tentang tingkat derajat, dia seimbang dengan Cit Im Kauwcu dan Yang Cong Hay.
sebaliknya mengenai ilmu silat, dia hampir menyamakan paman gurunya itu.
Ci Hee Tojin.
Setelah kehilangan sebelah tangannya, sambil mengeram diri, dia meyakini terlebih jauh ilmu silatnya selama tiga puluh tahun, hingga dia memperoleh kemajuan.
Dia masih ingin menuntut balas.
Hanya sekarang ini, semua murid generasi kedua dari Hian Ki Itsu, berikut Yap Eng Eng.
sudah pada menutup mata.
sedang dari generasi ketiga, tinggal Thio Tan Hong seorang.
Benar dengan Tan Hong dia tidak bermusuh pribadi tetapi dia menganggapnya demikian.
Sekarang dia muncul dan bersahabat dengan Law Tong Sun.
Tong Sun ketahui urusan Koan Sin Liong itu, ia menganjurkan Sin Liong bergabung dengan Kiauw Pak Beng.
Sin Liong setuju, dia menyuruh Tonghong Hek pergi bersama Tong Sun mengunjungi Pak Beng, untuk membicarakan soal bekerja sama itu.
Tidak disangka sangka di tengah jalan ini, di dalam kuil, mereka bertemu dengan In Hong dan Kiam Hong.
Kedua pihak lantas berlaku waspada.
In Hong tahu Tong Sun lihai dengan ilmunya Hunkin Coku Ciu, dan Tong Sun memalui ilmu pedang Thiansan Kiamhoat.
Tong Sun telah lantas berpikir.
"Aku berdua, mereka juga berdua. In Hong lihai ilmu pedangnya, inilah aku ketahui. Entah bagaimana dengan kawannya ini, yang pun membawa pedang dan romannya cantik dan gagah. Rasanya dia berilmu silat tidak rendah. Kalau kita bentrok, belum tentu pihakku akan menang di atas angin. In Hong ini tidak pernah berpisah dari Thian Touw, suaminya, sekarang dia ada di sini, mungkin Thian Touw ada di belakangnya. Dalam ilmu pedang. Thian Touw cuma kalah sedikit daripada Thio Tan Hong. Maka baiklah aku berlaku sabar..."
Demikian ia berlaku ramah-tamah, niatnya untuk mencari tahu maksud Nyonya Hok Thian Touw itu. Di pihak lain, In Hong pun tidak mau bentrok, maka ia bersenyum dan berkata.
"Law Tongnia juga tidak dapat, melupakan dunia Kangouw, maka itu, jikalau aku keluar untuk berjalan-jalan, ada apakah yang aneh? Suamiku mendengar, juga Yang Cong Hay telah muncul kembali, ia ingin sekali menemuinya untuk kedua pihak mencoba pula ilmu silat pedang mereka! Kami tahu Yang Cong Hay mengambil jalan ini, apakah Law Tongnia pernah bertemu dengannya?"
Hati Tong Sun bercekat.
"Tidak, tidak,"
Sahutnya.
"Sudah beberapa tahun aku tidak bertemu dengan dia."
Di mulut dia mengatakan demikian, dalam hatinya, dia pikir.
"Kiranya mereka lagi mencari Yang Cong Hay. Kalau begitu, meskipun Hok Than Touw tidak bisa di sembarang waktu datang kemari, dia mesti ada di dekat-dekat sini. Syukur barusan aku tidak berlaku sembrono..."
"Jikalau Law Tongnia tidak pernah bertemu padanya tidak apalah."
Kata In Hong.
"Biarlah sebentar, kapan hujan sudah berhenti, kami pergi mencari dia."
"Jangan sungkan, nona, mari di sini kita sama-sama menghangati tubuh!"
Kata Tong Sun, mengundang.
"Apakah nona-nona mau minum arak?"
"Tidak, kami cuma ingin beristirahat sebentar saja. Apakah kuil ini ada penghuni pendetanya?"
"Aku tidak melihat pendeta. Dua kamar di samping itu pun kosong semua."
Memang kuil itu kosong. Gara-gara peperangan, pendetanya pergi mengungsi.
"Terima kasih,"
In Hong mengucap.
"Adik Hong, mari kita beristirahat dalam kamar pendeta di sana."
Kiam Hong menurut. Setelah berada di dalam kamar dan pintunya sudah dirapatkan, ia menanya perlahan.
"Siapa dua orang itu?"
"Orang yang bicara denganku bekas komandan Gilimkun, namanya Law Tong Sun,"
In Hong menerangkan.
"yang satunya lagi, aku tidak kenal, tetapi Tong Sun menyebut gurunya Koan Locianpwee, dia tentulah muridnya Koan Sin Liong."
Koan Sin Liong itu, Kiam Hong kenal namanya. Dialah si orangjahat pembunuh ayahnya Ban Thian Peng.
"Mereka berdua bukan manusia baik-baik, kenapa enci tidak mau turun tangan untuk menyingkirkan mereka?"
Ia tanya.
"Law Tong Sun itu dulu pernah diberi ampun Thio Tayhiap,"
In Hong menyahut.
"tetapi barusan mendengar suara mereka, dia rupanya masih membenci tayhiap, karena belum ada kepastiannya, baik kita bersabar dulu, kitajangan usil padanya."
In Hong mengatakan demikian karena ia merasa tidak ungkulan dapat mengalahkan dua orang itu, hingga ia sama dengan Tong Sun, yang merasa jeri terhadapnya.
Tonghong Hek mengawasi orang berlalu, setelah itu ia memainkan matanya dan sembari tertawa berkata kepada Law Tong Sun.
"Sungguh nona-nona yang cantik manis!"
Tong Sun menggoyangi tangan.
"Bunga mawar ada durinya, tidak dapat kita petik!"
Katanya, tertawa.
"Yang tuaan itu isterinya Thiansan Kiamkek Hok Thian Touw!"
Ketika itu hujan turun bagaikan dituang-tuang, suaranya sangat berisik, jikalau tidak, tidak nanti bekas komandan Gilimkun itu berani melayani Tonghong Hek bicara sambil tertawa-tertawa.
Selagi hujan masih turun secara besar-besaran itu, di luar kuil terdengar suara kuda meringkik.
Tong Sun lantas saja menjadi kaget.
"Jangan-jangan Hok Thian Touw datang!"
Pikirnya.
Segera juga terlihat pintu pekarangan dibuka dan sebuah kereta kuda masuk ke dalam, sampai di muka kuil.
terus dari dalam kereta kelihatan turunnya seorang laki-laki yang sebelah mukanya berkulit hitam, tangannya mengempit seorang wanita.
Dengan tindakan lebar dia masuk ke dalam pendopo, sinar matanya yang dingin mengawasi tajam kepada Tong Sun dan Tonghong Hek.
"Numpang, numpang!"
Katanya.
"Ajaklah aku menghangatkan diri!"
Orang itu ialah Kiauw Siauw Siauw serta kurbannya, Im Siu Lan.
Tonghong Hek tidak kenal puteranya Kiauw Pak Beng itu, melihat tingkah orang jumawa, ia menjadi tidak senang, ia bukan saja tidak mau minggir, untuk membagi tempat, dia bahkan menggeser kedua kakinya, bagaikan menghalang, untuk tidak mengajak orang menghangatkan diri.
Kiauw Siauw Siauw melihat lagak orang, ia pun tidak mau berlaku sungkan.
Lebih dulu ia menurunkan Siu Lan dekat api, habis itu, dengan congkak dia duduk di tengah-tengah-di antara kedua orang itu sedang dengan sebelah tangannya, ia sengaja menyikut Tonghong Hek, mulutnya sendiri mengatakan berulang-ulang.
"Numpang, numpang!"
Suaranya itu sangat dingin. Tonghong Hek gusar sekali, hingga ia tidak dapat mengendalikan diri.
"Eh. kenapa kau tidak tahu adat?"
Tegurnya, kedua tangannya bergerak, hendak menangkap tangan orang, untuk membanting orang itu. Di luar dugaannya, Kiauw Siauw Siauw membalik tangannya, terus mendahulukan menangkap.
"Kau mau berkelahi"
Tanyanya sambil tertawa mengejek.
Tonghong Hek gusar sekali, tetapi dia kalah tenaga, ketika dia meronta, dia tidak dapat melepaskan tangannya.
Dalam gusarnya, dia hendak menendang, atau Law Tong Sun segera datang sama tengah.
"Orang-orang perantauan siapa yang tidak gemar mengikat persahabatan?"
Katanya.
"Tuan-tuan, mengapa untuk urusan sekecil ini kamu menuruti napsu amarah sendiri? Aku minta sukalah kamu bicara secara baikbaik!"
Mendengar itu, Tonghong Hek suka memberi muka.
Juga Kiauw Siauw Siauw merasa tak enak sendirinya.
Maka keduanya saling melepaskan cekalan mereka.
luga Tonghong Hek lantas minggir sedikit, untuk memberi tempat agar orang baru itu dapat menghangatkan tubuhnya.
Pada lebih daripada sepuluh tahun yang lalu Law Tong Sun pernah diajak gurunya, Cio Hong Po, mendaki gunung Kunlun San mengunjungi Kiauw Pak Beng.
Karena ini juga tak malu-malu dia mengajukan diri untuk menjadi orang perantara di antara Koan Sin Liong dan Kiauw Pak Beng, supaya mereka itu berdua berserikat.
Ketika kunjungannya itu.
dia melihat Kiauw Siauw Siauw mendampingi ayahnya.
Waktu itu Siauw Siauw baru berumur empat atau lima belas tahun.
Dalam usia semuda itu ia sudah tampan sekali.
Tidak seperti sekarang, ia menjadi jelek luar biasa.
Benar sekarang Tong Sun tidak mengenali Siauw Siauw akan tetapi ia melihat gerakan tangan orang.
Itulah gerakan yang luar biasa, yang tidak dipunyakan oleh ahli-ahli silat Tionghoa.
Maka ia mau menyangka kepada muridnya Le Kong Thian si manusia raksasa.
Roman Tong Sun tidak berubah, akan tetapi Kiauw Siauw Siauw tidak mengenali dia.
Ketika ia masih muda dan berada di rumahnya, ayahnya menerima banyak sekali kunjungan, ia tidak ingat satu demi satu, ia cuma memperhatikan orang-orang yang ternama.
"Tuan she apa?"
Tong Sun tanya setelah orang berduduk.
"She Kiauw!"
Sahut Siauw Sianw, ringkas, tanpa menoleh.
Hatinya bekas tongnia Gilimkun itu bercekat.
Sebenarnya ia ingin menanya pula, akan tetapi karena orang bersikap demikian angkuh, ia batal, iajengah sendirinya.
Ia sekarang memikir, kalau nanti orang menoleh, baru ia hendak menanya.
Maka itu, ia terus mengawasi.
Habis menghangatkan tubuh, Siauw Siauw berbangkit, dari pinggangnya dia meloloskan joanpian, ialah ruyung lemas yang mirip cambuk.
Begitu dia minggir sedikit lantas dia menyabet, ke arah si nona, yang sedari tadi berdiam saja, tanpa berkutik, tanpa berbicara.
Cambukan itu membebaskan si nona dari totokan urat gagunya, maka sekarang ia masih tidak bisa menggeraki tubuh, tangan atau kakinya.
Siauw Siauw tidak berhenti dengan satu cambukan itu, dia mengulangi, dia mengulanginya.
Dari itu robeklah bajunya Siu Lan bagian depan, hingga dadanya terlihat putih dan halus, hanya sekarang dada itu balan dan mengeluarkan darah.
Begitu memang cara Siauw Siauw menganiaya si nona, untuk menyiksanya.
Dia ditimpa hujan, dia baru saja diejek Tonghong Hek, sekarang dia melampiaskan kemendongkolannya terhadap nona tawanannya ini.
Dia mengertak gigi, menyambuknya makin keras dan makin keras.
Siu Lan menahan sakit, ia menggigit rapat kedua baris giginya, tidak urung ia merintih juga.
Setelah menghajar enam atau tujuh kali.
Siauw Siauw berhenti.
"Siu Lan, kau mau bicara atau tidak?"
Dia tanya. Belum lagi berhenti pertanyaan itu, atau Tonghong Hek sudah berseru.
"Sungguh tidak tahu malu! Menghina wanita!"
Tangannya pun menjemput sepotong kayu yang menyala dengan apa dia menimpuk ke muka si anak muda.
Semenjak tadi ia mengeluarkan cambuknya terus sampai ia mulai menyambuk Siu Lan, Siauw Siauw sudah memperhatikan orang di sisinya itu, yang ia lihat mengawasi ia dengan tnata tajam bersorot gusar, hanya disebabkan orang cuma mengawasi saja, ia tidak bertindak apa-apa.
Ia menyangka orang itu jeri.
Sebagai orang jumawa dan tak takut apa juga, ia terus membawa lagaknya itu.
Di luar dugaannya, akhirnya orang turun tangan juga.
Gurunya Tonghong Hek itu, yaitu Koan Sin Liong, pernah keponakan dari Ci Hee Tojin.
Di samping itu, Cit Im Kauwcu ialah muridnya Ci Hee Tojin itu, bahkan dialah murid yang murtad karena dia telah berganti guru kepada Ki Hoan.
Perbuatan menukar guru itu adalah pantangan besar dalam dunia Rimba Persilatan.
Hanyalah Cit Im Kauwcu dibiarkan oleh Ci Hee disebabkan guru ini juga bukan seorang manusia bersih, karena sebagai guru, ia pernah mencoba memperkosa muridnya.
Tentang perbuatannya yang keji itu, Ci Hee tidak berani memberitahukan siapa juga, malah ia ingin jangan ada lain orang yang mengetahuinya, juga jangan ada yang tahu Cit Im itulah muridnya.
Setelah Ci Hee menutup mata, sebagai ciangbunjin, ketua partai ia digantikan Koan Sin Liong.
Dia ini tahu Cit Tm Kauwcu murtad, dia membencinya.
Tapi Cit Im lihai racunnya, dia tidak berani secara berterang menentangnya, dia tidak berani menghukum, cuma kepada beberapa muridnya dia telah menerangkan urusan itu, agar semua murid ketahui Cit Im itu murid murtad partai mereka, supaya dipasang mata terhadap Cit Im apabila ada saatnya, supaya mereka turun tangan, untuk memberi hukuman.
Karena itu, terang sekali merekajuga ketahui Cit Im Kauwcu mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Im Siu Lan.
Bahkan orang ketahui juga.
kitab ilmu racun Pektok Cinkeng dari Ki Hoan telah diwariskan pada Cit Im Kauwcu.
Dalam perjalanan Tonghong Hek mengikuti Law Tong Sun itu untuk mengunjungi Kiauw Pak Beng, mereka pernah lewat di Bang keepo.
Di sana Tonghong Hek telah mendengar kabar hal kematiannya Cit Im Kauwcu.
Coba ia bukan lagi bertugas, tentu ia sudah mencari Im Siu Lan, untuk memberi hukuman, siapa tahu sekarang, ia bertemu nona itu secara begini kebetulan.
Begitu ia mendengar Siauw Siauw menyebut Siu Lan, tahulah dia siapa si nona.
Maka ingin ia membekuk nona itu, untuk sekalian merampas kitabnya.
Ia tidak mau membuka rahasia partainya, dari itu ia lantas beraksi, berpura-pura hendak membelai nona yang lagi disiksa itu.
Ia ingin setelah membereskan Siauw Siauw lalu menawan Siu Lan.
Ia percaya, kalau ia turun tangan, Law Tong Sun bakal membantu padanya, dengan begitu pasti ia bakal dapat mengalahkan pemuda kosen itu.
Sesudah Kiauw Siauw Siauw mati, ia percaya juga, Siu Lan bakal berhutang budi padanya, dengan begitu, dengan cara halus, ia mau bawa si nona pulang ke gunungnya.
Atau kalau perlu, ia tak segan menggunakan kekerasan.
Dengan begitu juga kitab Pektok Cinkeng bakal terjatuh dalam tangannya.
Tidak dapat Kiauw Siauw Siauw mengelakkan diri dari serangan tiba-tiba itu.
Benar ia mencoba berkelit, tangan kirinya toh terkena juga.
Tangan kirinya itu memang masih sakit.
Ia terkena api, ia merasakan sangat sakit dan panas.
Balutannya terbakar dan terlepas, lukanya pun pecah pula.
Bukan main gusarnya ia.
Ia lantas memadamkan api, ia menahan rasa nyerinya.
Sedangnya ia repot seorang diri itu, Tonghong Hek bekerja terus.
Dia ini berlompat, bergerak untuk merampas cambuk di tangannya.
Berhasillah dia, sebab Siauw Siauw kembali tidak menyangka.
Sekarang, tidak menanti sampai dia diserang pula, sambil berseru, Siauw Siauw mengeluarkan kipasnya, dengan itu dia mendahului menyerang, untuk melakukan pembalasan, bahkan dengan bengis dia mendesak.
Tonghong Hek menjadi repot.
Celaka dia, segera lengannya kena dihajar kipas, hingga tulangnya pecah.
Rasa sakit itu seperti menusuk jantungnya.
Dia menjadi sangat gusar, dia berteriak, dia menghunus pedangnya, untuk menikam!
Sebelum mereka dapat bertempur terlebih jauh, duadua Tonghong Hek dan Kiauw Siauw Siauw merasakan lengannya masing-masing seperti terjepit besi.
Sebab Law Tong Sun sudah berlompat kepada mereka, menyambar tangan mereka itu.
untuk dipisahkan.
Siauw Siauw kaget untuk lihainya Tong Sun itu.
"Eh, toako, apa maksudmu?"
Tonghong Hek tanya.
Dia heran.
Siauw Siauw sendiri tidak menanya atau menegur, ia hendak mengerahkan tenaga, untuk berontak, karena mana mendadak Tong Sun merasakan tangannya dingin sekali, hingga ia lekas-lekas melepaskan cekatannya Tapi ia sadar, maka ia lantas berseru, menjawab kawannya.
"Tonghong Toako, ini dia yang dibilang air bah menerjang kuil si raja naga! Tuan ini ialah puteranya Locianpwee Kiauw Pak Beng!"
Siauw Siauw menggunakan Siulo Imsat Kang, ia baru menyampaikan tingkat kedua, ia tidak bisa melukai Tong Sun.
tetapi karena ia menggunakan tangan dinginnya itu, si orang she Law lantas menduga tepat tentang dirinya Sebab di jamannya itu, yang mengerti Siulo Imsat Kang cuma Pak Beng ayah dan anak, tidak ada orang yang ke empat.
Kalau orang muda ini bukan Le Kong Thian, pastilah dia anak Pak Beng.
Tonghong Hek melengak, Ia menjadi bingung.
Justeru itu terdengar Siu Lan berseru.
"Enci Liong!"
Itu waktu segera terlihat In Hong dan Kiam Hong datang memburu.
Si nyonya ke arah Siauw Siauw, si nona ke arah Nona Im.
Sebat sekali Tong Sun bergerak, untuk menghalangi Nona Liong.
Ia tidak kenal Siu Lan, tak tahu dia hal ichwalnya, tetapi sebab nona itu menjadi lantaran dari bentroknya Tonghong Hek dengan Kiauw Siauw Siauw, dia menganggapnya sebagai nona penting.
Pula, dengan rintangan ini, dia hendak memancing kemurkaannya In Hong.
Bukankah sekarang ia dapat mengharap bantuannya Siauw Siauw?
"Minggir!"
Bentak Kiam Hong dengan gusar.
Ia belum tahu lihainya si bekas tongnia Gilimkun.
Ia pun segera menikam.
Tong Sun tertawa, dia menyambut dengan kepandaiannya berkelahi dengan tangan kosong.
Mulanya dia berkelit, lantas dia mengulur tangannya, dengan berniat menangkap sikut si nona, guna merampas pedangnya.
Ketika itu, Kiam Hong telah menikam tempat kosong, hingga pedangnya meluncur lewat.
Kiam Hong terkejut.
Dengan cepat ia mengelakkan diri dengan tipu silat "Liu In Ciu"
Atau "Tangan baju mega hanyut."
Ketika tangan Law Tong Sun mengenai bajunya, tangan itu kena ia sampok. Akan tetapi.
"Bret!"
Demikian satu suara nyaring, ujung bajunya kena juga kesambar robek.
Meski demikian, ia terus dapat menghalau diri dan pedangnya tak sampai terampas.
Di pihak lain, saking gesit, In Hong telah segera sampai kepada Kiauw Siauw Siauw, yang terus ia serang.
Pemuda itu menggunakan kipasnya yang lihai, untuk menangkis, hingga bebaslah dia dari bahaya.
In Hong cerdik.
Ia telah melihat luka Siauw Siauw di tangan kiri.
ia mengancam ke lengan kanan, di tengah jalan, ia mengubah tujuannya, terus ia menyerang ke tangan yang luka itu.
Di saat Siauw Siauw sangat terancam, hingga lengannya yang luka itu bakal menjadi buntung, maka di situ terdengarlah suara bentrokan keras, disusul dengan jeritan menyayatkan hati.
Itulah Tonghong Hek, yang hendak membelai anaknya Kiauw Pak Beng, dia sudah menghadang di depan si nyonya muda, yangtikamannya dia menalangi menangkisnya, apamau pedang nyonya itu meluncur terus, mengenakan pundaknya.
Sebenarnya dia tidak terluka parah, tetapi dia mengasi dengarjeritan yang luar biasa itu, sengaja untuk didengar Kiauw Siauw Siauw!
Mendengar demikian, pemuda she Kiauw itu berkata nyaring.
"Bagus! Benarlah kau sahabat baik! Budi ini biarlah lain kali aku membalasnya!"
Setelah berkata begitu, dia lari ke arah Siu Lan. Law Tong Sun segera berkata kepada pemuda itu.
"Tolong kongcu menyampaikan kata-kataku kepada ayahmu! Bilang bahwa Law Tong Sun muridnya Cio Hong Po dan Tonghong Hek muridnya Koan Sin Liong, bakal mendaki gunung untuk memberi selamat!"
Kiauw Siauw Siauw dapat mendengar kata-kata orang itu, ia menyahuti.
"Baiklah. Law Tong Sun! Kamu menyusullah belakangan!"
Sembari berkata begitu, Kiauw Siauw Siauw memondong Siu Lan, untuk dibawa lari.
Dia merasa, menyingkir ada jalan yang paling baik.
Di situ ada Law Tong Sun dan Tonghong Hek, yang dapat merintangi musuh-musuhnya Siu Lan masih sempat berteriak.
"Enci Liong! Enci Liong! Engko Houw, dia... dia..."
Atau segera suaranya berhenti. Sebenarnya ia ingin membilangi.
"...Engko Houw, dia menyintai kau..."
Tetapi ia telah lantas ditotok Siauw Siauw.
ditotok urat gagunya, hingga tidak dapat ia meneruskannya.
Kiam Hong kaget dan berkuatir, ia lompat untuk mengejar, akan tetapi ia tidak dapat mewujudkan niatnya itu, ia lantas dirintangi Law Tong Sun.
Bahkan lagi sekali, ujung bajunya kena dirobek.
Tong Sun merupakan tandingan berat.
In Hong menempur Tonghong Hek.
ia dapat mendesak, akan tetapi kapan ia melihat Kiam Hong terdesak si orang she Law, ia menjadi berkuatir.
Ia tahu lihainyaTong Sun dengan ilmu silatnya Hunkin Coku Ciu, siapa kena disambar dia, tulangtulangnya bisa patah dan otot-ototnya putus, hingga seumurnya si kurban bakal bercacad, maka itu, ia lantas berlompat untuk membantui si nona.
Law Tong Sun lihai.
dia lantas mendengar suara sambarannya senjata di belakangnya, sembari tertawa dia menggeser kakinya, mengelit tubuhnya, hingga dia lolos dari bahaya.
Itulah gerakan bagus dan lincah yang dinamakan "Hutin pauwgoat"
Atau "Mengebut awan, memeluk rembulan."
Dia pun tertawa dan berkata.
"Leng Lihiap. kita sama-sama bekerja untuk sahabat kita, sama sekali tidak ingin aku bentrok, dengan kau!"
"Tapi ingat!"
In Hong membentak.
"Apa katamu ketika dulu hari Thio Tayhiap mengampuni jiwamu? Bukannya kau mengunci pintu dan memikirkan kesalahanmu, mengapa sekarang kau muncul pula dan berbuat jahat? Aku kenal kau tetapi pedangku tidak!"
Tong Sun tidak takut, dia masih tertawa.
"Oh, kau tidak dapat memaafkan aku?"
Katanya.
"Baiklah, akan aku melayani kau beberapa jurus, untuk membikin lenyap kemendongkolanmu!"
Meskipun dia bicara demikian macam, di dalam hatinya.
Tong Sun memikir untuk berlaku waspada.
Ia percaya pasti, setelah berselang delapan tahun, entah berapa besar kemajuannya ilmu pedang dari nyonya muda ini.
Dulu hari itu, ia menang unggul, akan tetapi sekarang, kekuatan mereka agak berimbang.
Dengan begini mereka berempat menjadi bertukar lawan.
Menghadapi In Hong, Tonghong Hek terdesak, sekarang melayani Liong Kiam Hong, dia seperti dapat semangat.
Nyata dia menang tenaga dalam, sedang si nona menang ilmu pedangnya.
Sesudah melewati lima puluh jurus, mereka masih seri saja.
Law Tong Sun, sambil menjagai pintu, melayani Leng In Hong.
Ia berkelahi sambil menanti waktu.
Setelah banyak jurus, ia merasa bahwa Kiauw Siauw Siauw sudah lari jauh bersama Siu Lan, maka mendadak ia tertawa dan berkata.
"Leng Lihiap, kau telah tidak mendongkol pula, bukan? Maafkan aku. tidak dapat aku melayani kau terlebih lama! ---Sahabat, mari kita pergi!"
Kata-kata yang terakhir ditujukan kepada Tonghong Hek, habis berkata, ia lantas bersiul, setelah melakukan satu tangkisan, ia lompat keluar pintu, untuk segera mengangkat kaki.
Tonghong Hek yang cerdik sudah menurut buat, maka itu, keduanya lantas lari kabur.
Tong Sun tidak mau berkelahi lebih lama, lantaran iakuatir Hok Thian Touw nanti keburu datang...
Ketika itu, meskipun sudah tak lebat lagi, hujan masih belum berhenti, dan jagat gelap petang.
Ketika mereka datang, In Hong berdua Kiam Hong menambat kuda mereka di pohon di kiri kuil, ketika Kiam Hong pergi kesana, untuk melihat kuda mereka, ia mendapatkan dua-dua binatang tunggang itu lagi rebah sebagai bangkai, sebab ketika tadi Tong Sun lari keluar, sekalian dia hajar roboh kuda itu dengan pukulan Hunkin Coku Ciu.
Tanpa kuda, tidak dapat Kiam Hong dan In Hong mengejar musuh.
"Sudahlah, adik Hong!"
Kata In Hong, mengajak.
"Mari kita garang dulu pakaian kita."
Kiam Hong tidak menyahuti, ia hanya sangat berduka.
"Enci Siu Lan, enci Siu Lan!"
Katanya sedih. Sia-sia saja ia memanggil Nona Im, tidak ada jawaban untuknya. Maka ia memeriksa tapak kaki. In Hong mencekal tangan orang, untuk ditarik.
"Sudah, tak usah kau mencari,"
Katanya, menghibur.
"Mereka bertiga pergi ke Kunlun San kepada Kiauw Pak Beng, tidak dapat kita susul mereka."
Di dalam, tabunan masih menyala.
In Hong menambahkan beberapa potong kayu kering.
Ia ajak Kiam Hong berduduk, untuk menggarang diri.
Sekian lama Kiam Hong masih berdiam, akhirnya ia menghela napas.
Ia kata;
"Enci Siu Lan dibawa pergi kepada tua bangka she Kiauw itu, entah bagaimanajadinya. Bagaimana sekarang, apa daya?"
"Siluman tua she Kiauw itu bukannya tanpa tanding, kenapa tidak ada daya?"
Berkata In Hong.
"Apakah kita minta bantuannya Thio Tayhiap?"
Kiam Hong tanya.
"Itulah seperti air yang jauh sukar dipakai menolong memadamkan kebakaran yang dekat? Jikalau terjadi sesuatu atas diri enci Siu Lan, bagaimana aku dapat bertanggung jawab terhadap ibunya?"
"Baiklah kau jangan terlalu berkuatir,"
In Hong membujuk.
"Aku merasa bahwa Kiauw Siauw Siauw tidak menghendaki jiwanya Siu Lan..."
"Tapi tadi kita telah melihat Siauw Siauw menganiaya enci Siu Lan, itulah sungguh menggiriskan..."
"Itulah tentu disebabkan hatinya sedang panas. Kita telah melihat, sebelah mukanya Siauw Siauw hangus melepuh dan sebelahnya lagi hitam guram. Aku mau percaya, dia tentu telah terkena senjata rahasia yang beracun dari Siu Lan. Kaum lurus tidak nanti menggunakan senjata rahasia semacam itu."
"Dengan begitu, Siauw Siauw pasti jadi semakin benci padanya..."
"Benar. Makajuga dia menganiaya secara tadi itu. Tapi juga benar, karena kebenciannya itu, tidak nanti dia merampas jiwa Siu Lan."
Kiam Hong cerdas, dia dapat dikasih mengerti, dengan begitu, hatinya menjadi sedikit lega.
"Kau benar, enci,"
Katanya mengangguk.
"Tentu Siauw Siauw menganiaya dia, untuk memaksa dia mengeluarkan obat pemunahnya. Atau mungkin itu berhubung dengan kitab racun Pektok Cinkeng."
Walaupun ia menduga tepat, nona ini tidak dapat melegakan hati seluruhnya.
Ia sekarang memikirkan, bagaimana Nona Im dapat ditolong.
Apakah ia mesti melakukan perjalanan jauh beribu-ribu li ke Selatan untuk memohon bantuan Thio Tan Hong?
In Hong mengawasi kawan itu, ia dapat membade hati orang.
"Untuk melindungi jiwa Siu Lan, ada dayanya!"
Ia kata tertawa.
"Jikalau sekarang kita menyusul dia tanpa memperhitungkan segala apa, perbuatan kita itu tidak bakal ada hasilnya. Jangan kata memangnya kita berdua tidak dapat melawan Kiauw Pak Beng si siluman tua, umpama kata Siauw Siauw bertiga bekerja sama, mana bisa kita melawan mereka itu? Maka itu, tidak ada keuntungannya untuk kita sekarang menyusul mereka."
Mukanya Kiam Hong menjadi merah, iajengah sendirinya. Baru sekarang ia sadar.
"Enci benar."
Ia mengakui.
"Saking kerasnya keinginanku menolongi enci Siu Lan, pikiranku menjadi butek..."
"Ketika dulu hari bersama Thian Touw aku melayani si siluman tua she Kiauw, kekuatan kita hampir berimbang,"
Berkata In Hong, menjelaskan.
"sekarang ilmu pedangku memperoleh kemajuan, jikalau aku melawan pula dia bersama Thian Touw, mungkin kita berimbang. Maka di dalam ini hal, baiklah aku mencoba dulu, jikalau aku gagal, baru terpaksa kita minta bantuannya Thio Tayhiap."
"Benar, lagi delapan atau sepuluh hari, kita bakal sampai di Thiansan,"
Kata Kiam Hong.
"Di sana ada Hok Toako. mengapa aku tidak dapat mengingatnya?"
In Hong kata dalam hatinya.
"Kau mungkin tidak mengingat dia sebab dia sangat tidak gemar membantui urusan lain orang, kau cuma ingat Thio Tayhiap saja..."
Tapi, begitu ia memikir demikian, begitu hatinya nyonya muda ini pepat dan pedih.
Ia seperti diliputi awan gelap.
Lantas ia ingat peristiwa di selat Cheeliong Kiap, tempo orang menempur Pak Beng ayah dan anak.
Walaupun orang sudah keteter dan tinggal runtuhnya saja, Thian Touw masih tidak berniat memberikan bantuannya.
Setelah ia bicara, hingga ia bentrok dengan suami itu, baru suaminya suka membantu.
"Bukankah untuk dia, Siu Lan itu orang luar?"
Ia berpikir.
"Mana dia suka menolongi orang yang tidak ada hubungannya dengannya?"
Ia menjadi bingung, ia bersangsi.
Dapatkah ia membujuk suaminya itu?
Meskipun kesangsiannya ini, In Hong tidak mengutarakan itu pada Kiam Hong.
Kiam Hong berduka dan berkuatir sendirinya.
Ia tidak dapat menerka apa yang dipikir dan diberati In Hong.
Ia tidak tahu soalnya Thian Touw.
Yang ia pikirkan ialah keselamatannya Siu Lan, urusannya Siu Lan dan Giok Houw.
Ia heran kenapa Siu Lan terjatuh dalam tangannya Siauw Siauw.
Bukankah di tempat Ciu San Bin ada banyak orang?
Mungkinkah karena Siu Lan turun gunung maka dia tertawan Siauw Siauw?
Kalau benar dia turun gunung, apakah perlunya?
Apakah Giok Houw telah menampik dia?
Atau dia menyadari siasatnya menjauhkan diri dari Giok Houw dan dia tak sudi menerima itu?
"Kenapa barusan Siu Lan memanggil-manggil aku dan menyebut nama Giok Houw?"
Pikirnya lebih jauh.
"Dia tidak dapat bicara terus, mungkin dia kena ditotok Siauw Siauw. Apakah yang dia hendak bilang? Kenapakah Giok Houw?"
Kiam Hong cerdas tetapi sekarang pikirannya gelap.
Ia mencoba memikir terus.
Rasanya ia dapat menerka.
Tapi ini justeru membuatnya berduka, membikin ia merasa makin berkasihan terhadap Siu Lan.
Besoknya kedua kawan ini meninggalkan kuil tua itu.
Mereka berangkat tanpa mensia-siakan waktu, kecuali di saat singgah atau bersantap.
Mereka melintasi gurun pasir dan tanah datar.
Maka selang setengah bulan, tibalah mereka di kaki gunung Thiansan.
Dongak ke atas, memandangi gunung itu, In Hong menghela napas.
"Thian Touw berada di atas puncak, dia seperti terpisah dari dunia, dia mana tahu manusia dalam dunia banyak sekali penderitaannya?"
Ia kata dalam hatinya.
Sebenarnya tenang penghidupan di duniayang dinamakan Tho Hoa Goan atau Sumber Bunga Tho tetapi In Hong masih belum ingin mengicipi penghidupan tenang dan merdeka itu, ia masih mempunyai citacitanya yang besar, maka sayanglah Thian Touw, setelah berkenalan demikian lama dan sudah menjadi suami isteri belasan tahun, dia masih belum dapat menyelami hati isterinya itu.
Thiansan itu tinggi dan hawanya dingin.
Umumnya orang banyak, dia baru dapat mendaki sesudah tujuh atau delapan hari.
Tidaklah demikian bagi ln Hong dan Kiam Hong, mereka ini telah mengenal baik gunung itu, tahu di mana bagian yang berbahaya dan mahir ilmu ringan tubuh mereka.
Maka juga di hari ketiga, magrib, tibalah sudah mereka di puncak, hingga di sini terbukalah mata mereka.
Mereka melihat telaga kecil yang airnya jernih dan bercahaya.
Di samping telaga itu In Hong dan Thian Touw telah membangun beberapa rumah batu, dan In Hong segera dapat melihat rumahnya itu.
Tanpa merasa, hati nyonya muda ini goncang.
Ia telah memikir, lebih suka ia berpisah dari Thian Touw, tak sudi ia terikat hingga lenyap kemerdekaannya.
Toh senantiasa ia memikirkan suaminya itu.
Sekarang, sesudah berada di Thiansan dan segera ia bakal bertemu sang suami, hatinya menjadi tidak tenang.
"Jikalau sebentar aku bertemu Thian Touw, apakah kata-katanya yang pertama?"
Begitu iatanya dirinya sendiri.
"Jikalau Thian Touw tidak terlebih dulu memohon perdamaian, bagaimana dengan aku?"
Tengah berpikir itu, kaki In Hong bertindak.
Kiam Hong mendampingi ia Tiba-tiba di dalam kesunyiannya puncak gunung, In Hong mendengar suara bentrokan senjata.
Ia menjadi heran, hingga ia memasang telinganya, matanya mengawasi ke arah dari mana suara itu datang, ialah bagian belakang rumahnya.
"Yang satu itu ialah suara pedangnya Thian Touw..."
Kata isteri ini dalam hatinya Ia dapat mengenali suara pedang suaminya itu, sebab ia dapat membayangi gerakgerik ilmu silatnya.
"Siapakah berada di atas gunung? Kenapa ada bentrokan senjata? Apakah Thian Touw lagi bertarung? Kalau benar, pihak lawan itu mesti orang lihai..."
"Tapi Thian Touw hidup menyendiri,"
Pikir pula isteri ini, herannya tak berkurang.
"Kecuali dulu hari dia mengalahkan Yang Cong Hay, ia tidak mempunyai lainnya musuh? Siapakah orang ini? Dia bermusuh atau cuma hendak menguji ilmu silatnya Thian Touw?"
Setelah mendengar sekian lama, lega juga hati isteri ini.
Ia mendapat kenyataan, yang bertempur itu cuma dua orang.
Itu artinya pertempuran satu lawan satu.
Ilmu pedang Thian Touw sudah mencapai puncak kemahiran, dari itu orang yang dapat mengalahkan dia tak ada beberapa gelintir lagi.
Karena ini.
dengan hatinya lega, In Hong tak memikir lekas-lekas maju membantui, sebaliknya, ia ingin menyaksikan dulu.
Maka bersama Kiam Hong, ia berjalan memutari rumahnya.
Segera juga terlihat, lawannya Thian Touw ialah seorang pendeta tua yang bertubuh jangkung dan kurus.
Tidak jauh dari mereka itu, ada berdiri seorang umur kira lima puluh tahun, yang tubuhnya gemuk.
Baca Juga: Rahasia 180 Patung Mas 9
Baca Juga: Iblis Sungai Telaga Khu Lung