Eps 9 Rahasia 180 Patung Mas - Gan Kl
Baca online Rahasia 180 Patung Mas - Gan Kl
Cersil Rahasia 180 Patung Mas - Gan Kl.
Dengan menggertak gigi Kiam-eng berucap dengan gemas.
"Hm, ini pasti perbuatan keji si duta nomor satu itu."
"Dia ternyata tega menggunakan Hoa-kut-cui untuk menghancurkan kepala su-te sendiri, dari perbuatan ini dapat diduga bahwa ke tiga duta ini pastilah tokoh yang sudah kita kenal dengan baik,"
Ujar Wi-ho-Lo-jin setelah termenung sejenak. Chapter 21. Rahasia 180 Patung Mas "Betul, justru lantaran itulah aku berusaha melihat wajah aslinya mereka."
Tukas Kiam-eng dengan menyesal. Wi-ho-Lo-jin juga menghela napas menyesal, katanya pula dengan tertawa.
"Cuma, apa pun juga akhirnya kita dapat membinasakan seorang di antara mereka, sedikit banyak ini kan ada hasilnya."
Kiam-eng coba memeriksa lagi sekujur badan si duta nomor tiga, namun tidak menemukan sesuatu benda apa pun. Segera ia berbangkit dan mengajak.
"Marilah, lekas kita pergi dari sini."
Wi-ho Lo-jin mengangguk.
"Betul, setelah ke dua duta itu tidak melihat Sam-bi-sin-ong mengejar mereka, bisa jadi mereka akan putar balik ke sini."
Habis bicara segera ia mendahului berangkat.
Satu jam kemudian, ke dua orang tua dan muda itu sudah berada di rumah makan dalam kota, ketika hampir selesai makan, tiba-tiba Wi-ho Lo-jin teringat sesuatu, ia coba menyapa seorang pelayan yang lagi membersihkan meja sebelah.
"Eh, pelayan coba kemari!"
Si pelayan mengiakan dan cepat mendekat, tanyanya dengan hormat "Apakah juragan tua ingin tambah makanan lagi?"
"Tidak, aku cuma ingin membikin repot padamu ..."
Kata Wi-ho Lo-jin sambil menjejalkan sepotong uang pecah ke tangan si pelayan. Karena mendapat persen, si pelayan tertawa gembira, berulang ia menjawab.
"Ya, silakan juragan bicara!"
"Coba kau pergi ke Sun-hong-piau-kiok yang terletak di ujung jalan sana, carilah piau-su (tukang awal barang) Kip-siau-siang Ko-Giok-kun majikan Bu-lim-teh-coh ingin bicara dengan dia dan minta dia datang kemari."
Si pelayan mengiakan dan cepat mengundurkan diri. Setelah pelayan pergi, Kiam-eng tanya si kakek.
"Paman Wi, ada urusan apa engkau mencari Kip-sian-hong Ko-Giok-siang?"
"Dia itu terhitung sanak famili Lau-bu-lai Te-Long, bilamana Te-Long lagi bokek alias rudin dia suka mencari Kip-siau-hong untuk minta duit."
Tutur Wi-ho Lo-jin.
"Oo, dia tentu tahu seluk-beluk Lau-bu-lai Te-Long maksudmu?"
Tanya Kiam-eng.
"Ya, dari mulut Kip-sian-hong kalau tidak dapat dikorek keterangan mengenai jejak su-heng-mu, kan masih dapat minta bantuan si pencopet sakti Cio-Keh-siang untuk menyelidikinya. Cuma jejak si copet Cio-Keh-siang tidak menentu, mungkin sangat sulit untuk mencarinya ..."
"Dan bagaimana pribadi Piau-su Sun-hong-piau-kiok ini?"
Tanya Kiam-eng.
"Konon cukup lugu dan suka blak-blakan, senjata andalannya adalah sepasang tombak, katanya sangat dihargai oleh pimpinan umum Sun-hong-piau-kiok."
"Sai-hoa-to berkomplotan dengan Te-Long dan Oh-Kong untuk menculik su-heng ku, hasilnya sama sekali tidak diperoleh keterangan letak kota emas itu dari mulut su-heng ku. Maka aku merasa kuatir, jangan-jangan su-heng-ku sudah dibunuh oleh Sai-hoa-to.
"Tentu saja hal ini pun mungkin terjadi,"
Ujar Wi-ho Lo-jin.
"Jika Sim-Tiong-ho sudah rela terjerumus, dia ... ai, kalau tidak kau saksikan sendiri perbuatannya itu, sungguh aku tidak berani percaya dia dapat bertindak begitu."
Tengah bicara, terdengar pelayan sedang bersuara di luar.
"Tuan ini silakan duduk!"
Supaya diketahui, pada umumnya cara pelayan hotel atau restoran menghadapi tetamu-nya suka berbeda-beda, bilamana melihat tamunya berbaju biasa-biasa saja, maka pelayan akan menyapa dengan suara yang datar.
Kalau melihat tamunya berdandan perlente, maka pelayan akan berteriak dan melayaninya dengan hormat.
Maka dari suara pelayan tadi dapat diduga tamu yang datang itu pastilah tamu kelas elit.
Semula Wi-ho Lo-jin dan Su-Kiam-eng menyangka yang datang ini Kip-sian-hong Ko-Giok-siang, maka mereka sama menoleh ke arah tangga loteng, tapi sekali pandang tanpa terasa Kiam-eng lantas berseru.
"Aha, Ciong-li-heng!"
Kiranya tamu yang muncul ini bukanlah Ko-Giok-siang segala, namun Kiam-eng justru kenal orang ini.
Memang betul pendatang ini tamu golongan elit, dandanannya perlente, usianya baru 40-an, matanya besar dan alisnya panjang, pedang menggelantung di pinggang, perawakannya gagah dan anggun, sekali pandang saja orang tentu menduga dia pasti bukan orang sembarangan.
Begitulah demi mendengar suara teguran Su-Kiam-eng, orang itu lantas memandang ke sana dan melihat yang menegur sapa adalah Su-Kiam-eng ia pun bersuara kaget dan menjawab.
"Aha, Su-lau-te, kiranya engkau juga berada di sini."
Kiam-eng memberi hormat dan menjawab.
"Ya, sudah sekian lama tidak berjumpa. Bagaimana kalau Ciong-li-heng ikut minum bersama kami."
Orang itu menerima tawaran Kiam-eng dengan senang hati, ia mendekati meja Su-Kiam-eng, dipandangnya Wi-ho Lo-jin, lalu memandang Kiam-eng pula, tanyanya.
"Lo-cian-pwe ini ..."
"Beliau inilah Wi-ho Lo-jin, pendiri Bu-lim-teh-coh,"
Cepat Kiam-eng memperkenalkan mereka.
"Oo,"
Orang itu bersuara penuh rasa kagum dan hormat.
"Kiranya Wi-ho Lo-jin adanya, Selamat bertemu!"
Melihat Wi-ho Lo-jin tidak kenal pendatang ini, segera Kiam-eng memperkenalkannya lagi.
"Paman Wi, Ciong-li-heng ini adalah Sam-kong-cu (putra ke tiga) Kiam-ong, Leng-siau-kiam-kek Ciong-li-Thian-liong."
Hendaknya maklum, Kiam-ong Ciong-li-Cin (ralat; nama Ciong-Li-cin sebelum ini hendaknya dibaca menjadi Ciong-li-Cin) mempunyai tiga putra dan seorang putri.
Putra tertua bernama Ciong-li-Po, putra ke dua Ciong-li-Hong, putra ke tiga Ciong-li-Thian-liong dan putri tunggalnya Ciong-li-Giok-lan yang sudah menikah, semuanya mewarisi kepandaian sang ayah yang hebat.
Di antara ke tiga putranya, yang paling disayang Kiam-ong Ciong-li-Cin adalah Ciong-li-Thian-liong, sebab bakat Ciong-li-Thian-liong jauh di atas ke dua kakaknya, jauh lebih sukses, meski ke tiga bersaudara itu tidak seperti ke dua murid Kiam-ho Lok-Cing-hui, yaitu Gak-Sik-lam dan Su-Kiam-eng, yang suka ikut campur urusan tetek-bengek, namun karena mereka adalah putra tokoh nomor satu di dunia, maka setiap orang persilatan biarpun tidak pernah berjumpa muka dengan mereka tentu juga pernah mendengar nama kebesaran mereka.
Begitulah, maka ketika mendengar tamu ini arwah putra Kiam-ong Ciong-li-Cin, cepat ia berbangkit dan membalas hormat serta menyatakan kagumnya.
Setelah ke dua orang berbasa-basi, lalu mereka duduk bersama Kiam-eng minta pelayan menambahi lagi sumpit dan cawan, dituangnya secawan arak bagi Ciong-li-Thian-liong, lalu ia angkat cawan sendiri dan mengajaknya menghabiskan secawan.
Setelah minum secawan arak, Ciong-li-Thian-liong menatap Su-Kiam-eng dan bertanya dengan tertawa.
"Su-lau-te, kabarnya kau pergi ke daerah selatan yang masih biadab sana, bilakah engkau pulang kemari?"
"Baru paling kemarin dulu,"
Jawab Kiam-eng.
"Apakah kota emas itu sudah kau temukan?"
Tanya Ciong-li-Thian-liong pula.
"Ya, sudah aku temukan."
"Apa benar di kota purba itu terdapat sejumlah emas?"
"Betul, cuma ..."
"Ada apa?"
"Sudah digondol orang hingga ludes."
"Haha, aku tahu, tujuan Su-lau-te tidak terletak pada emas, kalau tidak, siapakah gerangan yang mampu berebut denganmu?"
"Hendaknya Ciong-li-heng jangan berkata seperti ini, ketahuilah orang yang datang ke selatan sana untuk ikut berebut emas, hampir tidak ada satu pun yang berkepandaian lebih rendah dari padaku."
"Oo, dan bagaimana dengan Jian-lian-hok-leng?"
"Ini memang bukan barang hendak mereka cari, maka berhasil aku bawa pulang kemari,"
"Bagus, dan sudah kau minumkan kepada nona In?"
"Belum, malahan belum lagi aku temui guruku."
"O, kiranya begitu. Tahun lalu waktu ayahku mendengar nasib buruk yang menimpa su-heng mu, beberapa kali ayah hendak menyuruh kami bersaudara membantu gurumu untuk mencari su-heng mu, namun tatkala itu kebetulan ayah lagi mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk meyakinkan beberapa macam kung-fu, kami bersaudara demi menjaga keamanan beliau, rasanya berat untuk meninggalkan rumah, maka sejauh ini kami belum sempat memberi bantuan sedikit pun, untuk itu selama ini kami merasa tidak enak hati. Dan sekarang apakah jejak su-heng mu sudah ditemukan?"
"Belum, sudah aku ketahui su-heng diculik oleh lau-bu-lai dan Oh-Kong, namun ke dua orang ini sudah aku binasakan di daerah selatan sana, maka saat ini tidak diketahui su-heng ku berada di mana."
"Waktu itu mengapa tidak kau tanyai mereka di mana su-heng mu dikurung mereka?"
"Soalnya baru kemudian aku tahu diculiknya su-heng oleh mereka."
"Oo, lantas cara bagaimana Su-lau-te akan mencari lagi su-heng mu?"
"Aku pikir perlu mencari orang yang kenal baik Te-Long dan Oh-Kong untuk dimintai keterangan."
"Aku juga sedang mencari seseorang, aku kira kita dapat saling membantu ..."
"Siapa yang dicari Ciong-li-heng?"
Tanya Kiam-eng.
"Putri su-heng ku. Ih-Keh-ki."
"Ah, mengenai nona Ih memang ada yang hendak aku beritahukan kepada Ciong-li-heng."
"Oo, apakah kau tahu jejak Keh-ki?"
"Betul sebab dia ikut pergi ke daerah selatan bersamaku."
"Hahh, untuk apa dia ikut pergi bersamamu ke tempat sejauh itu?"
Kiam-eng lantas menceritakan pertemuannya dengan Ih-Keh-ki dan cara bagaimana nona itu berkeras minta ikut ke selatan, akibatnya sebelum tiba di kota emas nona itu telah diculik oleh si orang berkedok hijau.
"Wah, tokoh macam apakah orang berkedok hijau itu?"
Tanya Ciong-li-Thian-liong dengan tercengang.
"Ia mengaku sebagai Raja Rimba, kepandaiannya terlebih hebat daripada guruku, sekalipun ada tiga anak muridnya, kepandaiannya pun sepadan dengan ke tiga duta Thian-ong-pang yang akhir-akhir ini membikin kaum dunia persilatan kita itu. Mereka guru dan murid ber-empat telah merampas segala benda berharga di kota emas itu, berulang kali ingin mencelakai diriku dan merintangi usahaku mengambil Jian-lian-hok-leng. Menurut dugaanku, sangat mungkin mereka ber-empat adalah tokoh utama Thian-ong-pang."
"Lantas apa maksud tujuannya menculik Keh-ki?"
Ucap Ciong-li-Thian-liong dengan kuatir.
"Tujuannya yang utama mungkin ingin menyandera nona Ih untuk memaksa diriku agar menyerahkan Jian-lian-hok-leng."
"Oo, mereka juga berusaha merintangi usahamu menyembuhkan penyakit In-Ang-bi?"
Tanya Ciong-li-Thian-liong heran.
"Betul."
Jawab Kiam-eng. Terpancar sinar aneh pada sorot mata Ciong-li-Thian-liong, katanya.
"Jika demikian, jelas si orang berkedok hijau itulah pengganas yang membunuh ke-18 tokoh utama dunia persilatan kita itu."
"Mungkin begitulah adanya,"
Kiam-eng mengangguk setuju.
"Hm, jika betul ke tiga duta itu adalah komplotan orang berkedok hijau itu, maka janji pertemuanku menjadi sangat besar artinya."
"Oo, Ciong-li-heng ada janji pertemuan dengan siapa?"
Tanya Kiam-eng melengak.
"Yaitu ke tiga orang yang mengaku sebagai duta Thian-ong-pang."
"Kapan terjadinya janji pertemuan kalian?"
"Lima hari yang lalu,"
Tutur Ciong-li-Thian-liong.
"Telah aku terima surat tantangan mereka untuk bertanding dengan mereka di danau Liang-ci malam nanti, katanya mereka ingin tahu apakah kung-fu ajaran ayahku lebih lihai atau kung-fu Thian-ong-pang yang lebih hebat,"
Kiam-eng tahu Thian-ong-pang memang sengaja mencari perkara di mana-mana, sekarang keluarga Kiam-ong juga menjadi sasaran mereka, dengan sendirinya langkah ini memang sudah dalam perencanaan mereka.
Tapi bila teringat si duta nomor tiga kini sudah terbunuh olehnya, tanpa terasa ia tersenyum dan berkata.
"Mungkin malam ini mereka tak dapat hadir sesuai janji kalian."
"Aku kira pasti akan hadir,"
Ujar Ciong-li-Thian-liong.
"Setiap kali ke tiga orang itu menyantroni orang selalu mereka menentukan waktu dan selalu pula hadir tepat pada waktunya sesuai janjinya."
"Tapi malam ini mereka akan mengingkar janji, sebab duta ke tiga di antaranya sudah mati aku bunuh."
"Apa betul?"
Seru Ciong-li-Thian-liong girang dan bersemangat. Kiam-ong mengangguk, katanya.
"Betul, hal itu terjadi sejam yang lalu ..."
Lalu ia ceritakan cara bagaimana membereskan Coan-san-cu Poa-Siu-ho dan kawannya dan cara bagaimana mengatur perangkap dan memancing ke tiga duta itu ke rumah gubuk Sai-hoa-to.
Ciong-li-Thian-liong manggut-manggut setelah termenung sejenak, katanya kemudian.
"Satu di antara mereka telah kau bunuh, hal ini tentu saja merupakan suatu pukulan keras bagi mereka. Tapi bukan maksud mereka bertiga hendak mengerubut diriku, maka biarpun satu di antara mereka sudah mati mereka tetap dapat hadir sesuai dengan janjinya."
"Tentu saja,"
Ucap Kiam-eng dengan tersenyum.
"yang aku maksudkan hanya kemungkinan mereka tidak berhasrat lagi memenuhi janji pertemuannya dengan Ciong-li-heng sebab mereka baru kehilangan seorang su-te."
"Aku kira mereka tatap akan hadir. Mereka sudah membuat onar di berbagai tempat tujuannya justru hendak menegakkan nama kebesaran Thian-ong-pang, bilamana malam nanti mereka tidak memenuhi janji pertemuan, hal ini tentu akan sangat berpengaruh terhadap kehormatan mereka."
"Betul juga ucapan Ciong-li-heng, semoga malam nanti mereka hadir memenuhi janjinya sehingga aku pun dapat ..."
"Kiam-eng, itu Kip-sian-hong Ko-Giok-siang sudah datang!"
Sela Wi-ho-Lo-jin tiba-tiba.
Waktu Kiam-eng menoleh, benar juga terlihat pelayan membawa seorang lelaki kekar dan muka penuh berewok sedang naik ke atas loteng, segera ia berdiri dengan tersenyum.
Wi-ho-Lo-jin ikut berdiri juga dan menyapa Kip-sian-hong.
"Selamat datang, Ko-lau-te."
Kip-siau-hong memberi hormat dan menjawab.
"Maaf, aku dengar Bu-lim-teh-coh kebakaran, lantaran waktu itu lagi sibuk mengawal barang, sesudah pulang banyak pekerjaan lagi sehingga belum sempat menyambangi Wi-lo-pek, sungguh menyesal dan sekali lagi mohon dimaafkan."
Wi-ho Lo-jin tertawa, tanpa memperkenalkan dia dengan Su-Kiam-eng dan Ciong-li-Thian-liong, langsung ia menarik Kip-siau-hong ke pojok ruang sana sambil berkata.
"Mari, kita bicara saja di sebelah sana."
Kiam-eng tahu Wi-ho-Lo-jin tidak ingin mengganggu percakapannya dengan Ciong-li-Thian-liong, maka ia duduk lagi dan angkat cawan, katanya.
"Mari, Ciong-li-heng, habiskan secawan!"
Tanpa sungkan Ciong-li-Thian-liong ikut angkat cawan dan sekali tengak menghabiskan isinya, ia melirik sekejap ke arah Ko-Giok-siang, tanyanya dengan suara tertahan.
"Siapakah orang ini?"
"Seorang piau-su Sun-hong piau-kiok, terhitung sanak famili Lau-bu-lai Te-long,"
Tutur Kiam-eng.
"Rupanya Wi-lo-cian-pwe ingin mencari keterangan jejak su-heng ku kepadanya."
"Oo,"
Lalu Ciong-li-Thian-liong bicara lagi urusan tadi.
"Tentang ke tiga duta Thian-ong-pang itu, kan pernah kau lihat mereka, kira-kira betapa hebat kepandaian mereka?"
"Sulit untuk dibicarakan,"
Jawab Kiam-eng setelah berpikir sejenak.
"Apabila aku harus bergebrak dengan mereka secara resmi, rasanya sulit bagiku untuk mengalahkan mereka."
Ciong-li-Thian-liong tampak tenang dan berkata pula.
"Jika begitu, kira-kira aku dapat mengalahkan salah satu di antaranya."
Kiam-eng tahu di antara ke tiga putra dan ke empat murid Kiam-ong Ciong-li-Cin, itu sama menganggap kepandaian mereka masih di atasnya, diam-diam ia merasa geli sendiri, sekalian ia pun mengumpak.
"Paman Ciong-li memang satu tingkat lebih hebat daripada guruku, jika aku saja mampu bertempur sama kuatnya dengan salah seorang duta itu, dengan sendirinya Ciong-li-heng dapat mengalahkan salah satu di antara mereka."
"Sebenarnya juga tidak berani aku katakan kepandaianku lebih tinggi daripada Su-lau-te cuma usiaku memang lebih tua 20-an tahun, dalam hal pengalaman mungkin aku lebih banyak sedikit."
"Ya, memang betul,"
Sahut Kiam-eng tertawa. Dengan tersenyum penuh keyakinan Ciong-li-Thian-liong berucap pula.
"sejak ke tiga duta itu muncul di dunia persilatan, boleh dikatakan mereka tidak pernah menemui kegagalan, tapi malam nanti ... hehehe ..."
"Ya, malam nanti silakan Ciong-li-heng menghadap si duta nomor satu, biar Wi-lo-cian-pwe dan aku mengerubut si duta nomor dua, aku yakin tak sampai mengalami kekalahan."
"Apa katamu?"
Tanya Ciong-li-Thian-liong dengan melengong. Kiam-eng juga melengong.
"Apakah Ciong-li-heng tidak mengizinkan aku ikut campur urusan ini?"
"Ya, yang mereka janjikan cuma aku sendiri, maka tidak ingin aku minta bantuan orang lain untuk mengalahkan mereka."
"Akan tetapi apakah mereka mau bertempur satu melawan satu dengan Ciong-li-heng?"
Tanya Kiam-eng. Ciong-li-Thian-liong mengangguk.
"Aku kira mau. Jika mereka tidak dapat mengalahkan diriku dengan satu lawan satu berarti mereka tidak mampu merobohkan putra raja pedang (Kiam-ong)."
"Pada waktu mulai mungkin mereka mau bertempur satu lawan satu denganmu, tapi bila Ciong-li-heng kelihatan di atas angin, mungkin ..."
"Tidak,"
Ciong-li-Thian-liong memotong sambil menggeleng.
"Tidak nanti aku beri kesempatan kepada mereka untuk main kerubut."
Kiam-eng merasa putra raja pedang itu terlampau sombong sehingga timbul rasa anti pati-nya, namun ia tetap mengangguk dan berkata.
"Baiklah, jika begitu, aku doakan semoga Ciong-li-heng memperoleh kemenangan total dan pulang dengan gemilang."
Agaknya Ciong-li-Thian-liong juga merasa kurang enak telah menolak maksud baik orang, ia berkata pula dengan menyesal.
"Cuma saja aku tahu juga Su-lau-te sangat ingin mengetahui seluk beluk lawan, maka malam nanti Su-lau-te boleh juga datang ke Nio-ci-oh hanya saja aku minta janganlah Su-lau-te menampakkan diri, agar tidak ditertawai mereka bahwa aku sengaja menyiapkan pembantu di sana."
"Baiklah,"
Kita Kiam-eng.
"Di tempat manakah di sekitar Nio-ci-oh pertemuan Ciong-li-heng dengan mereka?"
"Di sebelah barat Nio-ci-oh,"
Tutur Ciong-li-Thian-liong.
"Di sana ada sebuah hutan cemara hitam, tempat pertandingan menurut perjanjian terletak di sebuah tanah kosong di dalam hutan situ."
Bicara sampai di sini ia lantas berdiri dan berkata pula.
"Baiklah, sekarang aku mohon dulu. Makan minum ini biar aku bereskan ..."
Cepat Kiam-eng mencegah.
"Jangan kalau urusan lain silakan saja Ciong-li-heng berangkat dulu, biarlah aku bereskan nanti ..."
Ciong-li-Thian-liong tertawa dan menepuk bahu Kiam-eng.
"Baiklah, biarlah esok aku jamu kembali kalian."
Lalu ia memberi salam kepada Wi-ho-Lo-jin yang sedang bicara di sana terus tinggal pergi.
Melihat Ciong-li-Thian-liong sudah pergi.
Wi-ho-Lo-jin mengajak Ko-Giok-siang bergabung dengan Kiam-eng, katanya.
"Kiam-eng, tampaknya kurang cocok pembicaraanmu dengan putra Kiam-ong itu, bukan?"
"Ah, biasa, putra dan murid Kiam-ong memang sok bersikap angkuh, hanya begitu saja,"
Ucap Kiam-eng dengan tersenyum.
"Dia menolak kehadiranmu di sana, bukan?"
Tanya pula Wi-ho-Lo-jin.
"Ya, tapi dia memberi kesempatan padaku untuk mengintip pertandingan mereka, jelas maksudnya supaya kita menyaksikan kebolehannya."
"Jika begitu, biarlah malam nanti kita pergi melihat betapa hebat kung-fu andalan raja pedang sampai di sini Wi-ho-Lo-jin berpaling dan berkata kepada Ko-Giok-siang.
"Ko-piau-su, inilah murid kedua Kiam-ho Lok-Cing-hui, namanya Su-Kiam-eng."
"Wah, sudah lama aku kagumi nama Su-siau-hiap, selamat bertemu!"
Ucap Kip-sian-hong dengan hormat. Kiam-eng membalas hormat dan menjawab "Ah, Ko-cian-pwe jangan sungkan, marilah kita sambil makan sembari bicara."
Setelah menghabiskan secawan arak, Wi-ho-Lo-jin berkata sambil memandang Su-Kiam-eng "Baru saja sudah aku tanyai Ko-piau-su dengan jelas, menurut Ko-piau-su selama ini ia pun gemas terhadap tingkah-laku Lau-bu-lai Te-Long, biasanya jarang bergaul dan bicara dengan dia maka kurang jelas seluk-beluknya akhir-akhir ini, hanya diketahui di Gang Pipa dalam kota ini Te-Long ada seorang gendak, bila ada duit Te-Long tentu mencari perempuan itu sehingga antara keduanya sudah boleh dikatakan suami-istri tidak resmi."
"Siapakah nama perempuan itu?"
Tanya Kiam-eng terhadap Ko-Giok-liang.
"Kalau tidak salah, seperti bernama So-Jiu-kiok, anak buah rumah pelacur Gwe-hiang-ih, ini aku dengar dari seorang kawan piau-su lain,"
Tutur Ki-sian-hong.
"Dan bagaimana lagi dengan Oh-Kong, si setan pengisap darah, apakah Ko-cian-pwe tahu siapa kawan atau kenalannya?"
"Entah, dahulu cuma pernah sekali aku bertemu dengan Oh-Kong, sehingga dia boleh dikatakan asing bagiku."
Kiam-eng tahu sukar diperoleh keterangan lalu, terpaksa ia berkata.
"Baiklah, banyak terima kasih atas petunjuk Ko-cian-pwe. Bilamana Ko-cian-pwe tidak ada urusan lain, marilah kita minum sepuasnya."
Lalu ia berteriak.
"Pelayan, bawakan lagi satu guci arak!"
Cepat Ko-Giok-siang berdiri dan berkata.
"Wah, jangan, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, maaf jika tidak dapat aku temani Su-siau-hiap lebih lama, maaf, sampai bertemu lagi."
Sembari berkata ia pun memberi salam dan mengundurkan diri. Wi-ho-Lo-jin dan Su-Kiam-eng juga tidak menahannya, setelah mengantar kepergian orang, mereka duduk kembali di tempat semula.
"Apa yang diuraikan Ko-piau-su ini, apakah paman Wi dapat mempercayainya?"
Tanya Kiam-eng dengan tertawa.
"Seyogianya dapat dipercaya, minimal orang ini bukan begundel Lau-bu-lai Te-Long yang busuk itu."
"Jika begitu, terpaksa aku cari keterangan lagi kepada perempuan bernama So-Jiu-kiok itu."
"Wah, tempat pelesir seperti itu, terpaksa tidak dapat aku pergi bersamamu."
"Tentu saja tidak. Dan selama beberapa hari ini paman Wi tinggal di mana?"
"Di ruang belakang Hok-san-kek-can dengan nama samaran Wi-Ho-lian."
"Baiklah, sekarang juga aku pergi ke Gang pipa, kembalinya akan aku mampir ke Hok-san-kek-can untuk menemui paman."
"Boleh juga, cuma sekarang waktunya masih dini, para nona penghuni Gwe--hiang-ih mungkin belum lagi bangun tidur."
"Itu tidak menjadi soal, bila perlu akan aku seret dia supaya bangun,"
Ujar Kiam-eng dengan tertawa, lalu ia memberi hormat dan tinggal pergi.
Tidak lama sampailah dia di Gang Pipa.
Waktu itu baru lewat lohor, masih beberapa jam baru datang malam hari.
Namun suasana gang pipa terasa sunyi sepi, tidak terlihat seorang tamu pun.
Sembari memandang ke sana dan melongok ke sini, Kiam-eng terus menuju ke ujung gang, akhirnya ditemukan sebuah rumah dengan papan merek "Gwe-hiang-ih".
Langsung ia masuk ke situ."
Segera seorang nona berbaju tak teratur menyongsongnya dan menegur.
"Mencari siapa?"
Kiam-eng tidak pernah melihat seorang nona berbaju kedodoran setengah terbuka dan berdiri di depan seorang lelaki seberani itu, terutama buah dada dan pahanya yang cuma tertutup oleh kain tipis itu, betapapun jantung Kiam-eng berdebar juga, maklum, apa pun juga dia pemuda yang berdarah panas.
Maka dengan muka merah ia menjawab.
"O, aku mencari ... mencari seorang nona ..."
"Hihi, melihat kelakuanmu yang masih malu-malu, apakah untuk pertama kali ini engkau datang ke tempat seperti ini,"
Tanya nona itu dengan mengikik genit.
"Betul, memang baru pertama kali ini,"
Jawab Kiam-eng dengan kaku. Nona itu tersenyum dan melirik genit, ucapnya.
"Pantas kau datang sendiri ini, Supaya kau tahu, pada saat demikian kami baru saja bangun tidur dan belum lagi bersolek."
"Tidak apa, supaya nona tidak salah paham, aku hanya ingin mencari seorang nona she So,"
Ucap Kiam-eng lihai.
"Oo, untuk apa kau cari dia?"
Heran juga nona itu.
"Untuk mencari sedikit keterangan padanya,"
Tutur Kiam-eng.
"Apakah nona dapat membawaku untuk menemui nona So?"
Mendengar kedatangan Kiam-eng hanya ingin mencari "nona So,"
Seketika sikap nona itu berubah dingin, ia menuding ke balik pintu angin sana dan berkata.
"Dia tinggal di kamar nomor tiga sebelah kiri sana, boleh langsung kau cari sendiri saja,"
Habis berucap ia lantas tinggal pergi sendiri.
Terpaksa Kiam-eng melangkah sana.
Dilihatnya pintu setiap kamar sama terbuka, kawanan perempuan jalan itu asyik berdandan, ada yang lagi berbedak, gosok gincu, kebanyakan dengan dada terbuka, sebagian telanjang paha.
Ketika terlihat kedatangan Su-Kiam-eng, sebagian perempuan bejat itu menjerit kaget dan berlagak malu, ada yang terus mengomel.
"Busyet, mau masuk kan kudu permisi, masakah tanpa suara?!"
"Ai, engkau ini siapa?"
"Wah, malu ahh!"
Tentu saja Kiam-eng rikuh oleh macam-macam cemoohan itu, cepat ia menunduk dan mendekati kamar nomor tiga di sebelah kiri, dilihatnya seorang nona dengan muka agak cantik sedang menggaris alis di depan cermin perunggu.
Ketika dari bayangan cermin diketahui di depan pintu ada seorang lelaki, segera ia menoleh dan bertanya.
"Hei, mau apa?"
Kiam-eng memberi salam dan bertanya.
"Numpang tanya, apakah nona she So?"
Nona itu mengangguk dan menjawab.
"Ya, ada urusan apa mencari diriku?"
"Aku diperkenalkan oleh seorang piau su Sun-hong-piau-kiok, ada suatu urusan ingin bicara dengan nona So ..."
Nona So itu tampak agak melengong, lalu mengangguk dan berkata.
"Baiklah, silakan masuk."
Kiam-eng melangkah ke dalam kamar dan duduk di sebuah bangku.
Buru-buru nona Soh itu membedaki mukanya dan segera merapatkan pintu kamar habis itu langsung menjatuhkan diri ke dalam pangkuan Su-Kiam-eng dengan tertawa genit.
"Agak dini kedatanganmu, tapi tidak apa lah."
Mestinya Kiam-eng hendak mengelak, tapi dari pengalaman nona pertama tadi ia sudah "tahu rasa", diketahui bilamana mulai lantas menyatakan maksud tujuan kedatangannya, akibatnya mungkin akan runyam lagi.
Maka ia pun tidak menolak dan langsung merangkul pinggang si nona katanya dengan tertawa.
"Ternyata memang tidak bernama Kosong, nona So memang sangat cantik."
"Dari siapa kau dengar?"
Tanya nona Soh dengan senyuman menggiurkan.
"Dari seorang piau-su kawan sekerjaku, coba kau terka siapa dia?"
"Apakah Ho-piau-su,"
Tanya nona So setelah berpikir sejenak.
"Betul, tidak cuma satu kali dia menyebut dirimu padaku, maka aku pun bertekad akan berkenalan denganmu ..."
"Padahal Ho-piau-su tidak sering datang kemari, kabarnya pengawasan bininya cukup ketat ... Bagaimana dengan dirimu?"
Tanya nona So dengan tertawa.
"Aku kenapa?"
Kiam-eng merasa bingung.
"Maksudku istrimu mengawasimu dengan ketat atau tidak?"
"Haha, aku justru masih bujangan, dari mana datangnya istri?"
"Apa betul? Ah, bohong!"
"Betul, tahu ini umurku baru 20, aku ingin senang-senang dulu beberapa tahun baru akan berumah tangga."
Perlahan nona So merangkul leher Kiam-eng dengan tangannya yang putih halus, tanyanya dengan terkikik-kikik.
"Siapa she dan namamu?"
"Ho-pit-mui (buat apa tanya)"
Jawab Kiam-eng. Nona itu menyangka Kiam-eng mengaku she Ho, ia tertawa.
"Aha, kiranya engkau juga she Ho?"
"Betul, dan Ho-piau-su itu adalah keponakanku,"
Tanya Kiam-eng.
"Cis, omong kosong!"
Omel si nona.
"Usia Ho-piau-su itu jelas satu kali lipat daripada umurmu."
"Masa umur dapat dibuat patokan? Tentu kau tahu ada orang tua memanggil paman pada orang muda."
"Pokoknya aku tidak percaya, aku lihat kalian tidak mirip paman dan keponakan."
"Sudahlah kalau tidak percaya, anggap saja aku cuma membual."
Si nona menciumi dada Kiam-eng dan tanya pula.
"Apa tugasmu dalam Piau-kiok?"
"Apa lagi, tentu juga piau-su,"
Jawab Kiam-eng. Nona So mencolek pipi anak muda itu dan berkata.
"Wah, semuda ini usiamu sudah menjadi piau-su, sungguh luar biasa ... Eh, paling akhir ini pernah mengawal tidak?"
"Baru saja kemarin dulu aku pulang dari Kai-hong,"
Jawab Kiam-eng dengan bangga.
"Wah, sekali mengawal bisa mendapat hasil berapa?"
Tanya nona So.
"Tidak tentu. Kemarin mungkin Cong-piau-thau kami lagi gembira sehingga kami masing-masing diberi persen 20 tahil perak."
Mencorong sinar mata nona So, kontan ia kecup pipi Kiam-eng, menyusul ia memicingkan mata dan berlagak tidak tahan, gumamnya.
"Oo, jantung hatiku, bawalah aku ke tempat tidur, aku ... aku ...
"Diam-diam Kiam-eng merasa geli, tanyanya.
"Kamu kenapa?"
Nona So mencubit perlahan dan mengomel genit.
"Ah, jangan pura-pura bodoh."
"Eh, nanti dulu, masih ada yang perlu aku bicarakan denganmu."
"Bicaralah nanti di tempat tidur, kan sama saja?"
Ujar si nona.
"Tidak, aku ingin bicara saja di sini."
"Kalau begitu lekaslah bicara."
"Begini, baru saja di jalan raya sana aku lihat bekas pacarmu."
"Bekas pacarku? Yang mana?"
Tanya si nona dengan melengong.
"Lau-bu-lai Te-Long, siapa lagi?!"
Kembali nona So melengak, ucapnya.
"Masa kau bilang dia bekas pacarku?"
"Huh, tidak perlu berlagak pilon,"
Kata Kiam-eng agak kurang senang.
"Sudah lebih dulu aku tahu kalian pernah gendakan."
Nona So itu terbelalak, serunya.
"Ahh, rupanya engkau salah paham. Yang benar gendaknya ialah So-Jiu-kiok dan bukan aku."
Kiam-eng jadi melengong sendiri, ia pun berseru dengan terbelalak.
"Apa katamu, jadi kamu ini bukan So-Jiu-kiok?"
Seketika sikap nona So berubah dingin dan melepaskan diri dari rangkulan Su-Kiam-eng, ucapnya dengan bertolak pinggang.
"Huh, rupanya kamu sengaja mempermainkan diriku. Supaya aku tahu, aku ini bukan perempuan yang boleh dihina."
Haha berkata segera ia putar tubuh hendak ke luar. Cepat Kiam-eng menariknya bertanya.
"Hei, kau mau pergi ke mana?"
"Boleh kau tunggu dan lihat saja nanti, buat apa gugup?"
Jengek nona So. Lekas Kiam-eng mengeluarkan sepotong uang perak dan dijejalkan ke tangan si nona So, katanya.
"Nah, cukup tidak?"
Melihat bobot uang perak ada lima tahil perak, secantik nona itu berganti sikap lagi, ucapnya dengan muka agak merah.
"Apa ... apa artinya ini?"
Kiam-eng tahu dirinya sudah berada di atas angin lagi, katanya.
"Artinya supaya kamu jangan gembar-gembor."
Nona So menunduk malu, katanya, Ai.
"Ho-ya (tuan Ho) suka mempermainkan orang, aku tidak mau."
"Eh, sini,"
Kiam-eng duduk kembali.
"Coba beritahukan, siapa namamu?"
Kembali nona itu menjatuhkan diri ke pangkuan Kiam-eng, jawabnya malu-malu.
"Namaku So-Kiau-kiau."
"Sesungguhnya di Gwe-hiang-ih ini adalah beberapa anak perempuan she So?"
"Cuma dua, aku dan So-Jiu-kiok."
"So-Jiu-kiok tinggal di kamar mana?"
"Sudah lama dia tidak tinggal di sini."
"Oo, ke mana dia pergi?"
"Kabarnya ikut kabur bersama Lau-bu-lai."
"Kapan terjadinya?"
"Kira-kira tiga bulan yang lalu."
"Sekarang mereka tinggal di mana?"
"Entah."
"Tidak ada seorang pun tahu?"
"Ya, pada waktu pergi, ada orang tanya dia namun dia tidak mau omong."
"Pernah pulang kemari?"
"Tidak pernah."
"Oo, apakah dia tidak mempunyai sanak famili di kota ini?"
"Tidak ada."
"Begini, bilamana pada suatu hari So-Jiu-kiok pulang dan mampir ke sini, hendaknya diam-diam kau kirim kabar kepada seorang tua bernama Wi Ho-lian yang tinggal di Hok-an-kek-can, bila terjadi demikian nanti aku pesan si kakek Wi-Ho-lian memberi hadiah sepuluh tahil perak padamu. Mau?"
"Untuk apa kau cari So-Jiu-kiok?"
"Ingin aku tanya suatu urusan padanya."
"Urusan apa?"
"Soalnya ada seorang temanku ditangkap Lau-bu-lai Te-Long, ingin aku tolong teman itu, namun tidak tahu Te-Long sembunyi di mana. Maka ingin aku usut melalui So-Jiu-kiok, asalkan dapat menemukan So-Jiu-kiok kan dapat menemukan So-Jiu-kiok kan dapat menemukan Te-Long."
"Oo, kiranya begitu ..."
"Nah, kau mau tidak?"
"Tapi, So-Jiu-kiok dan aku akrab seperti saudara sendiri, mana boleh aku khianati dia?"
"Bagaimana kalau aku tambah lagi sepuluh tahil perak?"
"Ho ya, apakah menjual seorang saudara sendiri hanya berharga 20 tahil perak, apakah tidak terlampau murah?"
"Habis, kau minta berapa?"
"Seratus tahil perak."
"Baiklah, aku beri seratus tahil. Tapi bila tidak menemukan So-Jiu-kiok tidak masuk hitungan."
"Tentu, kalau dia pulang, tentu aku berusaha menahannya tinggal di sini,"
"Baik, begitulah janji kita. Sekarang aku mau pergi."
"Nanti dulu, Ho-ya, ada lagi yang hendak aku katakan ..."
"Urusan apa?"
"Begini, rumah tinggal orang tuaku sudah hampir ambruk dan ingin aku perbaiki, sudah lama aku kumpulkan duit dan masih kurang beberapa puluh tahil perak. Aku kira Ho-Ya dapat memberi bantuan."
"Nah, di sini ada 15 tahil perak."
"Terima kasih, Ho-ya!"
Setelah meninggalkan Gwe-hiang-ih, dengan gembira Kiam-eng menuju ke Hok-an-kek-can untuk menemui Wi-ho-Lo-jin dan menceritakan pengalamannya.
Wi-ho-Lo-jin mengernyitkan kening setelah mendengarkan cerita Kiam-eng, katanya.
"Masa kau minta aku tinggalkan di sini untuk menunggu kabarnya So-Jiu-kiok?"
"Apakah paman Wi tidak ingin membangun kembali Bu-lim-teh-coh?"
"Memang ada niatku untuk itu,"
Ucap Wi-ho-Lo-jin.
"Cuma ..."
"Jika paman Wi memang ada niat membangun kembali Bu-lim-teh-coh, kan kebetulan bila untuk sementara dapat tinggal di sini?"
"Apakah aku tidak perlu mengirimmu mencari gurumu?"
Tanya Wi-ho-Lo-jin.
"Cukup paman Wi memberitahukan tempatnya dengan jelas, biarlah aku pergi mencarinya sendiri."
"Dan malam ini tidak jadi pergi ke Nio-cu-oh?"
Tanya Wi-ho-Lo-jin pula.
"Tentu saja pergi, esok lusa barulah aku berangkat ke Kiu-kiong-san untuk menemui guruku."
Wi-ho-Lo-jin mengangguk dan bertanya pula "Apakah kau pikir ada kemungkinan So-Jiu-kiok akan kembali lagi ke Gwe-hiang-ih?"
"Ya, aku kira kepergian So-Jiu-kiok dari Gwe-hiang-ih adalah karena dibujuk oleh Lau-bu-lai agar membantunya menjaga su-heng ku suami-istri dan sekarang Lau-bu-lai sudah aku bunuh, bilamana sudah ditunggu sekian lama dan Lau-bu-lai belum lagi pulang, tentu So-Jiu-kiok tidak mau menjadi penjaga terus menerus dan akan kesepian, akhirnya dia tentu teringat kepada profesinya semula dan sangat mungkin akan kembali lagi ke Gwe-hiang-ih."
Wi-ho-Lo-jin merasa perhitungan Kiam-eng itu cukup beralasan, katanya.
"Bagus, selang dua hari lagi segera akan aku bangun kembali Bu-lim-teh-coh, sebelum bangunan pulih kembali aku takkan meninggalkan Hok-an-kek-can ini."
Kiam-eng merasa senang dan berterima kasih katanya.
"Sudah banyak sekali bantuan paman Wi terhadap kami guru dan murid, sungguh kami takkan pernah melupakan budi kebaikanmu ini."
"Ah, aku cuma kehilangan sebuah rumah minum saja, terhitung apa?"
Kata Wi-ho-Lo-jin dengan tertawa. Tiba-tiba Kiam-eng teringat kepada ke dua potong medali emas dalam bajunya, segera ia mengeluarkan medali emas dan diberikan kepada Wi-ho-Lo-jin, katanya.
"Bila paman Wi sudi, terimalah ke dua medali emas ini sekadar sumbangsihku untuk membangun kembali Bu-lim-teh-coh."
Wi-ho-Lo-jin menerima medali emas dan coba memeriksanya sejenak, lalu ia tanya.
"Apakah ke dua medali emas ini aku ambil dari dua buah patung di antara ke-180 patung emas itu?"
"Betul,"
Kiam-eng mengangguk.
"Waktu itu si orang berkedok sudah menunggu di luar pintu, terpaksa hanya ke dua medali ini yang sempat aku ambil."
"Kau kenal tulisan di atas medali ini?"
Tanah Wi-ho-Lo-jin.
"Tidak,"
Kiam-eng menggeleng.
"Ini tulisan Hindu kuno."
"Ah, rupanya paman Wi paham tulisan Hindu kuno?"
"Tidak, aku cuma tahu tulisan pada medali emas ini adalah huruf Hindu kuno."
"Oo,"
Kiam-eng bersuara kecewa.
"pernah juga aku pikir tulisan di atas medali emas ini adalah tulisan Hindu kuno, pula percaya apa yang dicatat dalam tulisan ini pastilah penjelasan ilmu pedang sakti itu."
"Jika begitu, mengapa kau berikan ke dua medali emas ini kepadaku?"
Tanya Wi-ho-Lo-jin dengan tersenyum.
"Ada dua alasan,"
Kata Kiam-eng.
"pertama, tidak ada yang paham tulisan Hindu kuno. Ke dua, medali emas semacam ini seluruhnya ada 180 buah, sedangkan yang aku dapatkan hanya dua buah. Dengan lain perkataan, di antara ke-180 jurus ilmu pedang sakti hanya aku dapatkan dua jurus sehingga terasa tidak apa gunanya, lantaran itulah terpaksa aku gunakan medali seperti emas biasa."
"Tapi bukan mustahil pada suatu hari akan dapat kau peroleh seluruh 178 buah patung emas yang lain?"
"Wah, omong sih gampang, mana mungkin!"
"Tapi kalau terjadi."
"Sekalipun dapat aku rebut ke-180 patung emas itu dari si orang berkedok hijau, tapi tulisan Hindu kuno ini tidak aku kenal, kan juga tidak ada gunanya."
"Oya, aku tahu ada seorang paham tulisan Thian-tiok (Hindu kuno) ini."
"Aha, siapa dia?"
Tanya Kiam-eng cepat dengan bersemangat.
"Bo-toh-Siang-jin, padri saleh Tai-hin-sian-si di kota Tiang-an,"
Tutur Wi-ho-Lo-jin.
"Pada waktu mudanya pernah dia mengembara ke negeri Thian-tiok dan bermukim di sana selama sepuluh tahun."
Lalu ia kembalikan ke dua potong medali emas itu kepada Kiam-eng, katanya lagi dengan serius.
"Simpan saja medali emas ini aku yakin lama lagi si orang berkedok hijau dan Thian-ong-pang akan mengacaukan dunia persilatan hingga kalang kabut, sedangkan kalian guru dan murid sanggup menumpas kawanan iblis dan menyelamatkan dunia persilatan atau tidak, kuncinya terletak pada ilmu pedang sakti ini dapat dikumpulkan olehmu secara lengkap atau tidak."
Terkesiap Kiam-eng, sahutnya khidmat.
"Benar ucapan paman Wi, nanti setelah aku temui Su-hu dan menyembuhkan penyakit nona In, segera aku anggap merebut kembali ke-180 patung emas ini sebagai tugas utama."
"Untuk merebut kembali ke-180 buah patung emas, aku merasa ada suatu akal ..."
Kata Wi-ho-Lo-jin. Kiam-eng mengangguk dan tersenyum.
"Aku kira tanpa penjelasan paman Wi pun aku tahu apa akal itu."
"Bagus jika begitu, aku doakan usahamu lekas tercapai dan sukses,"
Kata Wi-ho-Lo-jin. Kiam-eng mengeluarkan sebuah granat berasap pedas dan diserahkan kepada kakek itu, katanya.
"Inilah granat asap pedas buatan Sam-bi-sin-ong, bila malam ini terjadi sesuatu di luar dugaan, boleh paman Wi menggunakan granat ini untuk meloloskan diri."
Wi-ho-Lo-jin menerima granat itu, sembari mengamatinya ia coba tanya.
"Dan Kau-hun-tan buatan Sai-hoa-to itu masih kau pegang berapa biji?"
"Tidak ada lagi, sudah habis,"
Jawab Kiam-eng.
"Dan granat asap pedas seperti ini?"
"Hanya tersisa sebuah ini saja."
"Jika begitu, mengapa tidak kau tahan untuk digunakan sendiri?"
"Bilamana musuh yang muncul malam nanti terdapat duta Thian-ong-pang nomor satu atau nomor dua, aku pikir akan aku hadapi salah satu di antara mereka untuk mengujinya, ingin aku tahu Leng-siau-kiam-hiap Ciong-li-Thian-liong berhasil merobohkan lawan lebih dulu atau diriku. Nanti paman Wi boleh mengintip dari samping, apabila melihat keadaan agak gawat, silakan melemparkan granat bertabir asap pedas ini, dengan demikian tentu kami dapat lolos dengan aman."
Wi-ho-Lo-jin mengangguk dan menerima granat asap pedas itu, katanya pula.
"Jika tidak ada sesuatu yang tak terduga, aku yakin yang akan berhasil mengalahkan musuh adalah dirimu, dan yang kalah ialah Ciong-li-Thian-liong."
"Itu pun tidak tentu,"
Ucap Kiam-eng.
"Konon di antara ke tiga anak dan ke tiga murid Kiam-ong Ciongli-Cin, kepandaian Ciong-li-Thian-li-ong inilah yang paling tinggi."
"Mungkin betul, namun aku percaya betapa hebatnya Ciong-li-Thian-liong tetap takkan melebihimu,"
Kata Wi-ho-Lo-jin.
"Mungkin juga belum tentu,"
Ujar Kiam-eng.
"Guru ternama tentu melahirkan murid pandai. Jika Kiam-ong Ciong-li-Cin juga lebih unggul setingkat daripada guruku, mana mungkin kepandaianku lebih tinggi daripada Ciong-li-Thian-liong.
"Kau tahu, pertemuan para tokoh persilatan dahulu itu juga aku hadiri dan menyaksikan pertandingan yang berlangsung, aku lihat gurumu yang tidak sampai hari mengalahkan Ciong-li-Cin, hanya itu saja soalnya,"
Tutur Wi-ho-Lo-jin tersenyum.
"Ya, pernah juga aku dengar hal ini cuma ada satu kali aku tanya Su-hu, namun aku justru di damprat oleh Su-hu, katanya kalau sudah kalah ya mengaku kalah, kenapa mesti pakai alasan dan mengemukakan hal-hal yang merugikan namun orang lain?"
"Justru begitulah pribadi gurumu yang luhur itu, setiap kali bila dia membantu orang, sedapatnya dia berbuat di luar tahu pihak lain."
Begitulah setelah mengobrol sampai sekian lama, tampaknya hari sudah mulai gelap, mereka lantas meninggalkan hotel setelah bersantap malam lalu berangkat menuju Nio-ci-oh.
Setiba di tepi danau itu hari pun sudah gelap.
Mereka mendapatkan hutan cemara hitam yang disebut Ciong-li-Thian-liong, selagi mereka hendak melompat ke atas pohon, tiba-tiba dari tanah lapang di tengah hutan sana berkumandang suara orang mendengus.
"Hehehe, dini benar kedatangan kalian berdua!"
"itulah suara si duta nomor satu."
Wi-ho-Lo-jin dan Kiam-eng terkejut, cepat mereka sembunyi di balik pohon.
Hal ini sungguh tak terduga oleh mereka.
Sebab umumnya pertandingan di malam hari antara tokoh persilatan kebanyakan berlangsung pada waktu tengah malam.
Padahal sekarang hari baru saja gelap, dan duta nomor satu dan nomor dua ternyata sudah menunggu di dalam hutan.
Yang lebih aneh adalah, begitu mereka berdua masuk ke dalam hutan dan masih berjarak puluhan meter dari tanah lapangan itu, ternyata pihak lawan sudah lantas tahu kedatangan mereka berdua, entah mengapa bisa terjadi demikian?
Selagi mereka heran dan kejut, terdengar si duta nomor satu terkekeh dan berucap lagi.
"Kenapa?"
Memangnya untuk apa kalian main sembunyi di balik pohon?
Kalian yang satu adalah tokoh tertua dunia persilatan, seorang lagi adalah murid kesayangan Kiam-ho, masakah kalian tidak berani muncul secara terang-terangan?"
Mendengar begitu, Kiam-eng tahu kedatangan mereka berdua malam ini jelas sudah dalam perhitungan pihak lawan.
Maka ia pun tidak perlu main sembunyi lagi, segera ia keluar dari tempat sembunyinya dan menuju ke tanah lapang sambil berkata.
"Haha, peran utamanya kan belum datang, kalau kalian ingin lekas mampus kan juga tidak perlu tergesa-gesa?!"
Karena Kiam-eng sudah mendahului menampakkan diri, terpaksa Wi-ho-Lo-jin mengiringinya menuju ke sana. Si duta nomor satu terbahak-bahak.
"Haha-haha! Sungguh lucu! Memangnya kau kira siapa yang menjadi peranan utama malam ini?"
"Kiam-eng berhenti di tepi tanah lapang, jawabnya.
"Kalian berjanji dengan Leng-siu-hiap-kiam Ciong-li-Thian-liong untuk bertanding di sini bukan?"
Kembali si duta nomor satu tergelak, lalu menggeleng kepala dan menjawab, Tidak, peran utama malam ini justru adalah dirimu."
"Oo, apakah Ciong-li-Thian-liong tidak jadi hadir?"
Tanya Kiam-eng melengong.
"Juga tidak,"
Sahut si duta nomor satu dingin.
"Saat ini mungkin Ciong-li-Thian-liong lagi kelonan dengan bininya di rumah mereka di Hou-ge-san."
Baru sekarang Kiam-eng menyadari duduk perkaranya, ia menyengir dan berkata.
"Sungguh ilmu menyamar yang hebat, siapakah kiranya yang menyamar sebagai Ciong-li-Thian-liong siang tadi?"
"Ialah aku ini,"
Tukas si duta nomor dua.
"Itu namanya senjata makan tuan,"
Sambung si duta nomor satu.
"biasanya kamu suka main samar menyamar, maka kami pun menggunakan caramu itu untuk menjebak dirimu. Malam ini akan kami gunakan kepala kalian berdua sebagai sesaji arwah duta nomor tiga Pang kami."
Sedapatnya Kiam-eng menenangkan diri, ucapnya dengan tertawa.
"Baiklah, tentu takkan aku bikin kecewa kalian. Cuma sebelum bertempur aku sangat ingin tahu sedikit persoalannya, entah kalian berani memberi penjelasan atau tidak?"
"Kamu ingin tahu urusan apa?"
Tanya si duta nomor satu.
"Apakah Pang-cu kalian yang membunuh ke-18 tokoh dunia persilatan itu?"
"Betul, rasa juga tidak ada gunanya biarpun aku menyangkal,"
Kata si duta nomor satu.
"Akan tetapi ke tiga orang yang ikut pergi ke daerah biadab di selatan bersama Pang-cu kalian itu justru selalu menyangkal hal ini, sungguh sangat menggelikan!"
"Hm, apa lagi yang hendak kau tanyakan?"
Jengek si duta nomor satu.
"Di antara ke-18 tokoh yang terbunuh itu 12 di antaranya adalah ketua berbagai aliran dari perguruan besar, namun betapa hebat kepandaian mereka toh pernah dikalahkan oleh Kiam-ong Ciong-li-Cin dan guruku, bahkan tokoh seperti Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun dan It-sik-sin-kai saja lebih lihai daripada mereka lantas untuk apa Pang-cu kalian juga membunuh mereka."
"Ini merupakan suatu rahasia yang tidak dapat dikatakan kepada orang luar,"
Jawab si duta nomor satu. Perlahan Kiam-ong mulai melolos pedang yang tersandang di punggung, ucapnya dengan tersenyum.
"Nah, sudah selesai pertanyaanku, sekarang siapa yang ingin mampus dahulu?!"
Si duta nomor dua juga melolos pedang dan melangkah maju, katanya.
"Biarlah aku belajar kenal denganmu."
Kiam-eng melirik hina sekejap padanya, lalu menoleh dan bertanya kepada si duta nomor satu.
"Su-te mu ini pernah mengalahkan ketua perguruan besar mana?"
"Ketua Bu-tong-pai dan Kong-tong-pai,"
Tutur si duta nomor satu.
"Wah, lihai juga,"
Ujar Kiam-eng dengan "Dan entah diperlukan berapa jurus berhasil?"
"Tidak banyak, pokoknya tidak melampaui seratus jurus,"
Ucap si nomor satu.
"Jika begitu, dalam 20 jurus aku aku kalahkan su-te mu ini,"
Ucap Kiam-eng.
"Hahaha, sungguh tidak nyana Kiam-ho mempunyai seorang murid yang suka omong besar tanpa tahu malu,"
Jengek si duta nomor satu dengan terbahak. Kiam-eng hanya tersenyum saja.
"Bukti lebih penting daripada cuma omong kosong, boleh kau lihat saja nanti!"
Mestinya si nomor satu hendak bergebrak dengan Wi-ho-Lo-jin sekaligus, karena ucapan Kiam-eng itu, ia melangkah mundur dan berkata.
"Baiklah, boleh mulai!"
Wi-ho-Lo-jin cukup kenal kemampuan Su-Kiam-eng, ia tahu anak muda itu paling banter hanya menempur sama kuat dengan lawan, sekarang Kiam-eng menyatakan akan mengalahkan lawan dalam 20 jurus, betapapun ia heran dan kuatir, ia coba melirik Kiam-eng dengan sorot mata sangsi dan bertanya dengan suara lirih.
"Apakah benar aku atasi dia?"
Kiam-eng mengangguk perlahan, segera ia mendesak maju dengan pedang terhunus.
Apakah benar anak muda ini yakin akan mengalahkan lawan dalam 20 jurus?
Tidak, sama sekali ia tidak punya pegangan apa pun.
Namun dia sudah bertekad, apapun jadinya dia harus mengalahkan lawan dalam 20 jurus saja.
Alasannya yang memaksa omong besar dan mengambil keputusan begitu adalah karena ia pun tahu Wi-ho-Lo-jin jelas bukan tandingan salah seorang duta itu, apabila kedua pihak empat orang bertarung sekaligus, tentu Wi-ho-Lo-jin sukar terhindar dari nasib buruk, sebab itulah terpaksa ia omong besar supaya si duta nomor satu merasa bingung dan heran, dengan demikian orang dapat ditipu untuk menonton saja di samping, lalu ia sendiri akan bertindak mati-matian dengan segala cara untuk menang dalam 20 jurus dan membunuh si duta nomor dua, dengan demikian pula barulah dapat menghindarkan Wi-ho-Lo-jin dari rengutan maut.
Biarpun muluk-muluk cara berpikirnya, namun cara bagaimana menyerempet bahaya untuk memperoleh kemenangan, sedikit dia tidak punya rencana, yang ada cuma nekat saja.
Begitulah ia mendekat lawan dangan senjata terhunus.
Sebaliknya si duta nomor dua juga melangkah maju dengan pedang terangkat, jarak kedua pihak semakin dekat dan keduanya mendadak sama berhenti, empat mata saling tatap dan mulai memasuki ketegangan antara menyerang dan bertahan.
Keduanya terus saling tatap sekian lama, mereka mulai menggeser langkah dengan perlahan, masing-masing sama mencari peluang untuk melancarkan serangan kilat.
Keduanya mempunyai pikiran yang sama, yaitu sekali mulai menyerang harus memberi pukulan fatal terhadap lawan.
Suasana terasa tegang di hutan cemara hitam itu, yang menyaksikan pun ikut menahan cepat.
Meski pada wajah si duta nomor satu memakai kedok tipis, namun dari sorot matanya tetap terlihat rasa tegang, sebab ia lihat mata Su-Kiam-eng memancarkan cahaya yang sangat teguh dan mantap, ia merasa kalau anak muda itu tidak yakin akan menang sebagaimana dikatakannya tadi tentu takkan omong besar bahwa dalam 20 jurus akan mengalahkan su-te nya.
Wi-ho-Lo-jin juga sangat tegang selama hidupnya sudah banyak juga adegan tegang yang pernah dilihatnya, namun keadaan seperti malam ini sungguh baru pertama kali dilihatnya.
Dengan sendirinya ia sangat berharap Su-Kiam-eng akan menang, namun ia tahu mutlak anak muda itu takkan mampu berhasil dalam 20 jurus, sebab seorang yang mampu mengalahkan berbagai ketua perguruan besar, betapa tinggi kung-fu nya tentu dapat dibayangkan, sekalipun Kiam-ong dan Kiam-ho juga belum tentu mampu mengalahkannya dalam 20 jurus, apalagi Su-Kiam-eng?
Sebab itulah Wi-ho-Lo-jin sangat kuatir bagi Su-Kiam-eng.
Sekonyong-konyong kedua pihak saling gebrak.
Hampir pada saat yang sama ke dua orang sama melancarkan serangan kilat.
Terlihat sinar pedang berkelebat, terlihat pedang si duta nomor dua menusuk ke perut Su-Kiam-eng, sebaliknya ujung pedang Kiam-eng juga menyambar ke ulu hati lawan.
Bilamana serangan ke dua orang diteruskan, maka akibatnya ke dua pihak akan sama-sama terluka, namun pedang ke dua pihak mendadak ditarik kembali bersama, habis itu ke dua orang serentak melancarkan serangan lagi, yang seorang mengarah bagian bawah, yang lain menusuk bahu.
"Creng", akhirnya pedang ke dua pihak beradu juga dan menimbulkan suara nyaring. Pada saat ke dua pedang saling bentur mendadak tubuh Kiam-eng mendak ke bawah, menyusul ke lima jari yang mencengkeram pedang mengendur sehingga pedang terbentur mencelat ke udara. Akan tetapi begitu pedang terlepas dari tangan seketika juga tangan kiri melolos belati yang terselip dalam bajunya. Dengan sendirinya si duta nomor dua tidak menyangka Su-Kiam-eng adalah lawan "empuk"
Begini, baru terbentur segera senjata terpental.
Seketika ia jadi melengong sendiri.
Padahal waktu itu ia gunakan tenaga sepenuhnya untuk membentur pedang lawan, begitu pedang Kiam-eng terpental, selagi ia hendak menusuk lagi, tapi sebelum pedang sempat ditarik kembali, tahu-tahu Su-Kiam-eng sudah mendesak maju di bawah pedangnya.
Seketika ia pun merasakan gelagat tidak menguntungkan, cepat ia hendak melompat mundur, namun sayang, sudah agak kasip.
"Sret,"
Belati Kiam-eng sempat menyayat paha kanannya dan menimbulkan luka yang cukup dalam dan panjang, seketika darah berceceran, ia menjerit kesakitan.
Kejadian ini mungkin tidak tersangka oleh siapa pun, sebab pertarungan baru berlangsung dua kali gebrak dan kalah menang sudah terlihat jelas.
Selagi Kiam-eng hendak menambahi sekali tikam lagi, mendadak serangkum angin dahsyat menyambar tiba.
Dengan sendirinya angin pukulan dahsyat ini dilontarkan si duta nomor satu demi untuk menyelamatkan kawannya.
Betapa cepat serangan itu terpaksa Su-Kiam-eng terpaksa harus mengurungkan tikamannya dan melompat ke samping.
Kesempatan itu segera digunakan oleh si duta nomor dua untuk melompat mundur.
Ia merasa terjebak oleh akal licik Su-Kiam-eng, maka ia sangat penasaran, tapi lantaran luka paha cukup parah dan tidak sanggup bertarung itu ia hanya dapat memaki Kiam-eng sambil menuding.
"Anak keparat, terhitung apa caramu bertanding itu?"
Memang, baru mulai bergebrak sudah sengaja membuat pedang sendiri terlepas dari cekalan, lalu menyerang lawan dengan belati, ini sudah di luar jurus melainkan tipu bertempur, tipu bertempur yang tidak pernah digunakan oleh siapa pun.
Ketika Kiam-eng melompat ke samping, serentak pula ia jemput kembali pedang sendiri.
Melihat si duta nomor satu tidak melancarkan serangan lebih lanjut, dengan berdiri tegak ia mendengus.
"Siasat pertempuran tidak ada larangan untuk memakai tipu akal, barangkali kamu belum pernah membaca kitab siasat militer?"
Saking murka ke dua mata si duta tampak merah membaca, ia menoleh dan berteriak terhadap si nomor satu.
"Bunuh dia, Si-ko, bunuh dia!"
Akan tetapi sikap si duta nomor satu justru sangat penting, terhadap akal Su-Kiam-eng yang aneh untuk merebut kemenangan itu agaknya dia cukup merasa kagum, dari hal ini ia pun merasakan bilamana malam ini ingin membereskan Su-Kiam-eng mungkin tidak mudah.
Segera ia menggeser ke samping kawannya dan berucap tenang.
"Go-te, coba aku periksa keadaan lukamu."
Setiba di depan si duta nomor dua, ia berjongkok untuk memeriksa luka paha kawannya itu.
Diam-diam ia merogoh ke luar segenggam jarum perak, lalu mendadak ia berputar dan ditebarkan, sambil membentak.
Dengan gerakan "Boan-thian-boa-ah"
Atau hujan gerimis memenuhi udara, jarum perak itu berhambur bagai hujan ke arah Su-Kiam-eng dan Wi-ho-Lo-jin.
Serangan ini agak di luar dugaan Su-Kiam-eng dan Wi-ho-Lo-jin, keruan mereka terkejut oleh hujan jarum perak yang lembut itu, cepat mereka meloncat setingginya, kuatir pihak lawan menyerang lagi dengan senjata rahasia, sesudah mengepung di udara keduanya lantas melayang ke kanan-kiri secara terpencar.
Akan tetapi si duta nomor satu tidak menyambitkan jarum perak lagi, malahan pada waktu Kiam-eng dan Wi-ho-Lo-jin hinggap kembali di tanah dan menyelinap ke bilik pohon, ketika memandang lagi ke tempat semula, ternyata kedua musuh itu sudah menghilang.
Rupanya si duta nomor satu itu telah kabur dengan membawa kawannya yang terluka itu.
Kiam-eng rada melengak, segera ia lari ke luar sambil berseru.
"Lekas kejar, paman Wi!"
Namun Wi-ho-Lo-jin cepat mencegahnya "Tidak, jangan, lekas kembali kemari!"
Terpaksa Kiam-eng putar balik dan bertanya "Memangnya kenapa, paman Wi?"
"Luas hutan cemara hitam ini ada beberapa li, pula di tengah kegelapan malam, mengejar musuh dalam hutan sangat mudah terjebak, biarkan mereka kabur saja."
Kiam-eng tahu ucapan Wi-ho-lo-jin memang masuk diakal, terpaksa ia batalkan niatnya mengejar musuh, katanya "Sungguh sayang, tadi seranganku ternyata tidak mengenai bagian tubuh yang fatal."
"Tapi malam ini kan kita yang tertipu ke sini, akhirnya dapat kau tumbangkan rencana jahat mereka, ini kan suatu hasil yang hebat,"
Kata Wi-ho-Lo-jin tertawa.
"Caraku bertempur tadi boleh dikatakan untung-untungan,"
Ujar Kiam-eng.
"Syukurlah sekali serang lantas kena, kalau tidak, sungguh sukar dibayangkan bagaimana akibatnya ..."
"Betul, memang juga tidak aku duga akan caramu itu, sungguh terlampau bahaya caramu itu."
"Dan juga kurang gemilang, bukan?"
Tanya Kiam-eng tertawa.
"Tidak, seperti kau katakan sendiri, siasat tidak melarang pakai tipu, pula aku paham sebabnya kamu harus bertempur mati-matian untuk mencapai kemenangan, yaitu kau kuatir pamanmu ini akan binasa nomor satu itu, betul tidak?"
Cepat Kiam-eng menyangkal.
"Ah, masa begitu."
"Tidak perlu kau bohongi aku, jika bukan begitu tujuanmu, tentu tidak perlu bertempur cara begitu."
Sampai di sini, ia lantas mendahului melangkah ke luar hutan, katanya.
"Marilah kita pulang saja ke kota."
Kiam-eng mengikut di belakangnya, katanya "Paman Wi, aku pikir malam ini juga aku temui Su-hu, bagaimana pendapat paman?"
"Baik juga, supaya tidak sia-sia menempuh perjalanan ..."
Wi-ho-Lo-jin mengangguk setuju.
"Jika begitu, biarlah aku beritahukan tempat tinggal gurumu sekarang."
Ia memandang ke sekeliling, lalu mendekati anak muda itu dan membisikinya tempat tinggal Kiam-ho Lok-Cing-hui di Kiu-kiong-san dengan jelas.
Setelah mengingatnya dengan baik, Kiam-eng lantas memohon diri dan menuju ke selatan.
Dari Nio-ci-oh ke Kiu-kiong-san hanya berjarak 200-an li, sepanjang jalan Su-Kiam-eng menggunakan Gin-kang untuk berlari cepat, menjelang fajar ia sudah menempuh hampir setengah jalan dan sampai di kota Han-leng.
Setelah sekedar istirahat dan isi perut di kota segera Kiam-eng melanjutkan lagi perjalanan.
Siang hari tidak dapat berlari cepat dengan gin-kang, maka sehari ini hanya 50-li saja ditempuhnya, lalu bermalam di kota Tong-san.
Menjelang lohor hari ke tiga sampailah dia di Kiu-kiong-san yang rimbun dengan pepohonan dan lereng gunung yang indah.
Ia terus menuju ke arah menurut petunjuk Wi-ho-Lo-jin, sembari berjalan Kiam-eng pun berpikir entah rahasia tempat sembunyi guru dan In-Ang-bi, yaitu Cui-he-san-ceng, apakah diketahui musuh atau tidak?
Apakah akan terjadi seperti Bu-lim-teh-coh tempo hari, ketika dirinya tiba di Cui-sia-san-ceng, tahu-tahu perkampungan itu sudah berubah, menjadi reruntuhan puing?"
Kira-kira setengah jam kemudian, perkampungan yang berada di tengah hutan bambu itu sudah kelihatan dari jauh, melihat perkampungan itu masih menghijau permai tanpa kurang apa pun Kiam-eng menghela napas lega.
Cui-sia-san-ceng bukan tempat asing bagi Su-Kiam-eng, sebab Ceng-cu atau kepala kampung, Tiok-Kiam-sian-sing Han-Keng-ting pada beberapa puluh tahun yang lampau juga seorang tokoh persilatan yang tenar, senjata andalannya pedang bambu cukup disegani baik kawan maupun lawan.
Watak Han-Keng-ting ini tidak suka pada harta dan pangkat, pada usia 50-an dia sudah mengundurkan diri dari dunia ramai dan tirakat di perkampungan Cui-sia-san-ceng di lereng gunung Kiu-kiong-san ini.
Hubungan Han-Keng-ting dengan Wi-ho-Lo-jin sangat karib, hal ini pernah juga Kiam-eng dengar dari cerita sang guru, maka terhadap pribadi Tiok-Kiam-sian-sing Han-Keng-ting dia cukup menghormat dan mengaguminya.
Setiba di depan gerbang Cui-sia-san-ceng, terlihat seorang budak tua sedang menyapu daun bambu di dalam kampung, segera ia memberi salam dan menyapa.
"Permisi Lo-tiang!"
Budak tua membalas hormat dan berkata.
"Silakan masuk! Mau mencari siapa tuan muda ini?"
"Aku Su-Kiam-eng, ingin bertemu dengan guruku,"
Sahut Kiam-eng. Budak tua itu tampak berkedip-kedip dan bertanya.
"Siapakah guru tuan muda?"
"Yaitu Kiam-ho Lok-Cing-hui!"
"Ah, mungkin tuan muda salah alamat?"
Ucap budak tua itu dengan heran.
"Apa? Salah alamat?"
Kiam-eng jadi melengong.
"Apakah kau tahu di sini tempat apa?"
Tanya si budak tua dengan tertawa.
"Bukankah sini Cui-sia-san-ceng?"
Kiam-eng menegas dengan bingung.
"Betul, di sini memang Cui-sia-san-ceng,"
Si budak tua mengangguk.
"Tapi apakah kau tahu siapakah Ceng-cu di sini?"
"Oo, apakah Ceng-cu nya bukan Tiok-kiam-sian-ceng Han-Keng-ting?"
Kata Kiam-eng dengan agak gugup.
"Betul, apabila tahu ceng-cu di sini adalah Tiok-kiam-sian-sing Han-Keng-ting, mengapa tuan bilang ingin menemui gurumu Kiam-ho Lok-Cing-hui?"
Dengan tegang Kiam-eng berkata pula.
"Jika demikian, jangan-jangan guruku tidak pernah berkunjung kemari?"
"Ya, tidak, selamanya gurumu tidak pernah datang kemari,"
Kata si budak tua. Perasaan Kiam-eng sangat tertekan, ucapnya bingung.
"Ah, mengapa su-hu ku tidak ke sini, padahal beliau bilang mau berkunjung kemari."
Si budak tua menggeleng kepala dan tetap menyapu gumamnya.
"Sudah lebih sepuluh tahun budak tua menghamba pada majikan di sini dan selama ini tidak pernah aku dengar ada hubungan antara majikan dengan Lok-Cing-hui segala."
"Ya, memang antara guruku dan Han-ceng-cu tak kenal mengenal, tapi sebelum guruku datang kemari sudah dibekali surat perkenalan oleh Wi-ho-Lo-jin. Si budak tua melirik Kiam-eng sekejap, lalu menyapu lagi dengan tertunduk, katanya.
"Wi-ho-Lo-jin memang ada hubungan akrab dengan Ceng-cu kami, apakah tuan muda ini datang dari tempat Wi-ho-Lo-jin?"
Kiam-eng tidak menjawab, sebab pada saat itu hatinya diliputi perasaan ngeri dan membuat sekujur badan mengkirik, pikiran pun kacau.
Ia yakin, tidak mungkin sang guru berubah pikiran mendadak dan membawa In-Ang-bi ke tempat lain, tentu dalam perjalanannya ke Cui-sia-san-ceng inilah dicegat musuh.
Bila terjadi seperti ini, kalau sang guru tidak mengalami sesuatu, andaikan tidak jadi datang ke Cui-sia-san-ceng, tentu juga akan berusaha memberi kabar kepada Wi-ho-Lo-jin ke mana perginya, dan jika sang guru tidak mengirim sesuatu berita kepada Wi-ho-Lo-jin, ini menandakan beliau dan In-Ang-bi sudah ...
Ia tidak berani berpikir lebih jauh, sedapatnya ia menahan rasa takut dan dukanya, mendadak ia putar tubuh dan berlari ke bawah gunung.
Chapter 22.
Rahasia 180 Patung Mas "Hei, nanti dulu, engkoh cilik!"
Seru si budak tua tadi. Kiam-eng menahan langkahnya, tanyanya sambil menoleh.
"Apakah Lo-tiang ada sesuatu petunjuk padaku?"
"Eh, kan belum kau jawab pertanyaanku, apakah kau datang dari tempat Wi-ho-Lo-jin?"
Kata si budak tua.
"Betul,"
Kiam-eng menganggguk. Dan sekarang kau mau kembali lagi ke tempat Wi-ho-Lo-jin?"
Kembali Kiam-eng mengiakan.
"Jika begitu, mungkin majikan kami ingin titip sepucuk surat untuk Wi-ho-Lo-jin, apakah engkoh cilik dapat menunggu sebentar!"
Biarpun hati sendiri lagi bingung, tidak enak juga bagi Kiam-eng untuk menolak titipan orang, ia melangkah balik dan berkata.
"Baiklah, sepantasnya memang harus aku temui majikanmu."
Si budak tua menaruh sapunya dan berkata.
"Jika demikian, marilah ikut padaku."
Perkampungan ini tidak luas, hanya terdiri dari beberapa petak rumah bambu, namun bangunannya indah dan terawat baik, sekali pandang saja orang akan tahu tuan rumah pastilah seorang yang terpelajar.
Budak tua itu membawa Kiam-eng ke dalam ruang tamu dan menuang secangkir teh untuk tamunya, katanya kemudian.
"Harap tuan muda duduk sebentar, biar aku laporkan kepada Ceng-cu."
Kiam-eng menerima suguhan teh itu dan menjawab.
"Terima kasih, silakan!"
Tidak lama setelah budak tua itu masuk ke belakang, terdengarlah suara langkah dua orang datang.
Cepat Kiam-eng menaruh cangkir teh dan berdiri.
Tapi orang yang muncul di ruang tamu ternyata sama sekali tak terduga oleh Kiam-eng, dia tak-lain-tak-bukan adalah gurunya sendiri, Kiam-ho Lok-Cing-hui.
Keruan Kiam-eng tercengang dan segera pula melonjak kegirangan sambil berteriak.
"Aha, Su-hu Su-hu! Engkau ternyata benar berada di sini!"
Kiam-ho Lok-Cing-hui tersenyum, katanya sambil menuding si budak tua.
"Anak Eng, lekas memberi hormat dulu kepada Han-lo-cian-pwe!"
Kembali Kiam-eng melengak, dengan heran bingung ia tatap si budak tua tadi, katanya dengan tergegap.
"Jadi ... jadi engkau sendirilah Tiok-kiam-sian-sing Han-lo-cian-pwe?!"
Si budak tua mengelus jenggot dengan tersenyum, jawabnya.
"Ya, maaf, jika tadi telah aku goda dirimu."
Cepat Kiam-eng berlutut dan menyembah, katanya.
"Tidak, justru wan-pwe mohon dimaafkan."
Tiok-kiam-sian-sing Han-Keng-ting menunjuk kursi bambu dan berkata.
"Silakan duduk, malah kita duduk saja untuk bicara."
Setelah ke tiga orang mengambil tempat duduk, dengan tertawa Lok-Cing-hui berkata.
"Selamanya tadi Han-lo-cian-pwe tidak sengaja hendak bergurau denganmu, soalnya dia tidak tahu cara bagaimana membedakan dirimu Ini Su-Kiam-eng palsu atau tulen, terpaksa ia harus berusaha menguji dirimu."
"Oo, masakah te-cu bisa palsu?"
Ujar Kiam-eng.
"Mengapa tidak ada, justru tiga hari yang lalu Han-lo-cian-pwe sudah melihat seorang palsu,"
Ucap Lok-Cing-hui dengan serius. Keruan Kiam-eng melonjak kaget.
"Hah, masakah ada orang memalsukan te-cu. Kiam-ho Lok-Cing-hui mengangguk, tuturnya.
"Betul. Pemuda yang memalsukan dirimu itu juga datang ke Cui-sia-san-ceng pada waktu seperti sekarang ini, tatkala mana Han-lo-cian-pwe juga sedang menyapu di depan rumah. Pemuda itu sebagai Su-Kiam-eng dan tanya Han-lo-cian-pwe apakah aku berada di sini atau tidak. Untung waktu itu aku lagi berdiri di depan jendela dan sedang menikmati pemandangan luar sehingga dapat melihat kepalsuannya, segera aku bisiki Han-lo-cian-pwe agar menjawab tidak terdapat orang yang dicarinya, dengan demikian orang itu dapat dikelabui. Tadi Han-locian-pwe juga kuatir dirimu ini Kiam-eng gadungan, maka tidak berani bicara terus terang. Kemudian setelah diketahui kau datang dari tempat Wi-ho-Lo-jin barulah ia berani memanggil menahan kepergianmu ..."
"Tapi dari mana Su-hu tahu keaslian te-cu dan berani ke luar menemuiku?"
Tanya Kiam-eng heran.
"Han-lo-cian-pwe yang memberitahukan padaku, diam-diam aku ke luar dan mengintip dari balik pintu, setelah jelas terlihat bukan barang gadungan barulah aku keluar bersama Han-lo-cian-pwe untuk menemuimu.
"Aneh juga, dari mana pihak musuh mengetahui tempat sembunyi Su-hu dan nona In di sini?"
"Musuh sama sekali tidak tahu beradanya kami di sini,"
Kata Lok-Cing-hui.
"Jika musuh tidak tahu, mengapa mengirim orang memalsukan murid untuk mencari keterangan ke sini?"
Tanya Kiam-eng.
"Menurut perkiraanku, pemuda yang menyamar sebagai dirimu tentu ada beberapa orang,"
Ujar Lok-Cing-hui.
"Tempo hari pihak musuh sengaja membakar Bu-lim-teh-coh, tujuannya adalah membunuh nona In. Tetapi nona In tidak meninggal, juga diketahui aku sempat lolos, maka musuh mengutus beberapa pemuda menyaru sebagai dirimu untuk mencari keterangan kepada kawan-kawan Wi-ho-Lo-jin, maka ketika pemuda yang menyaru sebagai dirimu waktu datang kemari dan mendapat jawaban dari Han-locian-pwe bahwa aku tidak pernah datang ke mari ia tidak coba menyelidiki diriku lagi di sini. Ini menandakan dengan jelas bahwa pihak musuh sama sekali tidak tahu di mana beradanya diriku.
"Mengapa waktu itu Su-hu tidak tangkap saja pemuda yang menyaru sebagai te-cu itu?"
Tanya Kiam-eng.
"Tidak, tak dapat aku lakukan, sebab dengan tindakan begitu pihak musuh akan tahu juga beradanya diriku di sini."
"Asalkan tidak melepaskan pemuda musuh itu, dari mana pihak musuh bisa tahu?"
Ujar Kiam-eng.
"Sebelum pihak musuh mengirim kawanan pemuda itu mencari keterangan, tentu sudah diberi petunjuk sasaran mana yang akan dimintai keterangan, dan kalau aku tangkap pemuda itu, setelah lama ditunggu tidak pulang, tentu musuh akan menyadari terjadi sesuatu di Cui-sia-san-ceng sini. Dengan begitu masakah mereka takkan tahu beradanya diriku di sini?"
Kiam-eng pikir benar juga uraian sang guru dengan muka merah ia berkata.
"Ya betul, sama sekali te-cu tidak berpikir sampai di sini ..."
"Baiklah, sekarang coba ceritakan pengalamanmu pulang pergimu ke daerah selatan sana?"
Kata Lok-cing-hui.
"Di manakah nona In"
Tanya Kiam-eng.
"Di dalam."
Kiam-eng lantas mengeluarkan Jian-lian-hok-leng dan berkata.
"Su-hu, bagaimana kalau kita mengobati dulu nona In, habis itu baru te-cu ceritakan seluruh pengalaman perjalanan te-cu ke selatan sana."
Sejak tadi Lok-Cing-hui tidak bertanya tentang Jian-lian-hok-leng, soalnya ia kuatir yang dibawa pulang Su-Kiam-eng hanya cerita yang mengecewakan belaka.
Sekarang terlihat obat mujarab itu dikeluarkan oleh anak muda itu, seketika kegirangan, langsung ia raih Jian-lian-hok-leng terus dibawa masuk ke dalam rumah sembari berkata.
"Ayo, mari masuk ke sana"
Segera Kiam-eng dan Han-Keng-ting ikut ke dalam.
Setiba di dalam sebuah kamar gubuk, terlihat InAng-bi berbaring di tempat tidur sedang termangu-mangu linglung, seperti keadaannya beberapa bulan yang lalu, wajahnya masih cantik, hanya air mukanya tidak menampakkan sesuatu perasaan, sorot matanya buram, seperti patung saja.
Melihat Lok-Cing-hui bertiga masuk ke situ, serentak ia bangun duduk dengan rasa takut-takut.
Kiam-eng mendekatinya dan bertanya dengan tersenyum ramah.
"Nona In, masih kenal padaku tidak?"
In-Ang-bi memandangnya termangu sejenak, lalu menggeleng dan menjawab.
"Tidak, aku tidak kenal dirimu, lekas menyingkir!"
"Kau kenal diriku, coba pikirkan, coba ingat-ingat!"
Kata Kiam-eng. Nona itu berkedip-kedip sekian lama, lalu menggeleng kepala lagi dan menjawab.
"Tidak aku tidak kenal dirimu."
"Ah, masa tidak kenal, coba diingat-ingat, ucap Kiam-eng dengan suara lembut.
"Dahulu, aku, kamu, dan juga guruku, kita bertiga pernah tinggal bersama di sebuah gua, sering aku petik buah untukmu dan menangkap burung bagimu, ingat tidak?"
In-Ang-bi menggeleng kepala dan berkata.
"Tidak tidak tahu!"
Kiam-eng menghela napas, ia tersenyum getir dan berkata kepada sang guru.
"Su-hu, dia masih serupa dahulu."
"Ya, sehari saja tidak melihat diriku, ia pun akan terlupa sama sekali padaku,"
Tutur Kiam-ho Lok-Cing-hui dengan gegetun. Kiam-eng mengangkat bahu ucapnya.
"Semoga Jian-lian-hok-leng yang aku bawa pulang ini akan dapat memulihkan daya ingatannya."
"Mungkin akan berhasil,"
Ujar Lok-Cing-hui sambil mengangguk.
"Sudah aku siapkan ke tujuh macam obat yang lain, marilah sekarang juga kita coba meramunya untuk diminumkan padanya."
Sembari bicara ia mendekati samping tempat tidur dan membuka sebuah peti pakaian serta mengeluarkan sebungkus obat.
Ia buka bungkusan obat itu di atas meja, lalu Jian-lian-hok-leng disayatnya beberapa iris dan ditambahkan pada ramuan obat itu, kemudian dikeluarkannya dari bawah tempat tidur sebuah ceret obat, ramuan obat itu dituang ke dalam ceret, habis itu barulah ia bertanya kepada Han-Keng-ting.
"Han-heng, apakah tersedia anglo kecil?"
"Ada, biar sekarang juga aku buatkan api,"
Jawab Tiok-kiam-sian-sing Han-Keng-ting.
Habis berkata segera ia hendak melangkah pergi.
Tapi baru saja sampai di ambang pintu kamar, tiba-tiba dari halaman sana bergema orang terkekeh, menyusul ada orang membentak.
"Lok-Cing-hui, ayolah ke luar!"
Air muka ke tiga orang seketika berubah, sorot mata Lok-Cing-hui pun berbinar, jengeknya kurang senang terhadap Su-Kiam-eng.
"Waktu datang kemari tadi, mengapa tidak kau perhatikan adakah dibuntuti orang?"
"Sudah,"
Jawab Kiam-eng dengan tegang.
"Sepanjang jalan te-cu selalu menaruh perhatian dan rasanya tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan".
"Jika begitu, cara bagaimana mereka menemukan tempat ini?"
Ucap Lok-Cing-hui dengan wajah masam. Kiam-eng melongo dan tak dapat menjawab, terpaksa ia menunduk dengan muka merah. Lok-Cing-hui mendengus sekali, lalu berkata kepada Han-Keng-ting.
"Han-heng hari ini mungkin perkampunganmu akan ikut tertimpa bencana sungguh aku sangat menyesal."
Tiok-kiam-sian-sing Han-Keng-ting memandang ke luar jendela, lalu berkata dengan tersenyum.
"Aku kira Lok-heng tidak perlu memikirkan hal ini, yang penting sekarang adalah menghadapi musuh."
"Musuh datang berapa orang?"
Tanya Lok-Cing-hui.
"Tiga,"
Jawab Han-Keng-ting.
"Selain itu ada juga dua buah karung goni, isi karung seperti manusia."
"Oo,"
Lok Cing-hui bersuara singkat, dengan tenang ia simpan Jian-lian-hok-leng dan bungkusan obat tadi ke dalam baju, lalu berkata.
"Mohon bantuan Han-heng untuk menjaga nona In ini. Adapun ke tiga sahabat di luar itu, biarlah aku dan Kiam-eng saja yang membereskan mereka."
Sembari bicara ia terus melangkah keluar, Su-Kiam-eng ikut keluar juga.
Setiba di halaman, tertampak ke tiga musuh yang berdiri di situ ternyata bukan lain daripada Sih-Hou, Kwa-Eng-sing dan Ku-Tai-hong.
Tentu saja Kiam-eng merasa heran.
Sungguh, semula ia sangka pendatang pasti si duta nomor satu dan begundalnya, siapa tahu yang muncul justru si pedang emas Sih-Hou bertiga, hal ini sungguh di luar dugaannya.
Maklum, ia yakin hanya si duta nomor satu saja yang mampu menguntitnya ke sini, padahal Sih-Hou bertiga sudah jauh ditinggalkan di wilayah Thian-ti sana, sepantasnya tidak mungkin mereka membuntutinya sampai di sini.
Cuma tanda tanya ini segera terjawab setelah sorot matanya terbentrok pada ke dua karung goni yang di bawa oleh Kwe-Eng-sing dan Ku-Tai-hong itu.
Jelas, isi ke dua karung goni itu adalah manusia.
Malahan Kiam-eng yakin satu di antara orang yang berada dalam karung goni itu pastilah Wi-ho-Lo-jin.
Begitulah Sih-Hou lantas terkekeh pula demi tampak Lok-Cing-hui dan Kiam-eng sudah muncul jengeknya.
"Lok tua, kedatangan kami hari ini adalah untuk merundingkan sesuatu bisnis denganmu."
Dengan tak acuh Lok-Cing-hui melirik mereka sekejap, lalu ia tanya Kiam-eng.
"Apakah pernah kau lihat ke tiga orang ini?"
Kiam-eng mengangguk.
"Ya, sudah pernah aku lihat. Mereka adalah murid seorang yang mengaku sebagai Raja Rimba nama mereka adalah Sih-Hou, Kwa-Eng-sing dan Ku-Tai-hong dengan julukan pedang emas, pedang perak dan pedang baja. Mereka guru dan murid berempat yang merampok seluruh emas, yang terdapat di Kota Emas dan berulang bermaksud membunuhku untuk merintangi usahaku mengambil Jian-lian-hok-leng."
Terbeliak sorot mata Lok-Cing-hui.
"Mereka merintangimu mencari Jian-lian-hok-leng?"
Kembali Kiam-eng mengangguk.
"Ya, sebab itulah dapat dipastikan orang yang mengaku sebagai Raja Rimba itu adalah si pengganas yang membunuh ke-18 tokoh dunia persilatan dahulu itu."
Lok-Cing-hui manggut-manggut kembali ia melirik hina terhadap Sih-Hou bertiga, lalu bertanya dengan ketus.
"Benar atau tidak?"
Dengan tertawa Sih-Hou menjawab.
"Aku tidak paham apa yang kau maksudkan? Kedatangan ini sekarang justru menghendaki Jian-lian-hok-leng itu."
"Untuk apa kalian menghendaki Jian-lian-hok-leng?"
Tanya Lok-Cing-hui.
"Wah, hal ini tidak dapat aku jelaskan,"
Sih-Hou menggeleng.
"Apakah ke dua orang dalam karung itu adalah sandera yang hendak kalian tukar dengan Jian-lian-hok-leng?"
Tanya Lok-Cing-hui pula.
"Betul,"
Sih-Hou mengangguk dengan tertawa.
"Biar aku perlihatkan barangnya baru kita berunding tentang jual-beli ini."
Sampai di sini ia lantas berkata kepada ke dua kawannya.
"Nah, boleh buka karungnya."
Kwa-Eng-sing dan Ku-Tai-hong mengiakan, mereka lantas mengeluarkan pisau untuk memotong ikatan karung serentak menongol dua buah kepala manusia.
Ternyata benar seorang di antaranya ialah Wi-ho-Lo-jin.
Dan seorang lagi tak-lain-tak-bukan adalah Ih-Keh-ki.
Tergetar hati Kiam-eng, seketika rasa girang dan keji bercampur aduk.
Meski ia yakin pada suatu hari musuh pasti akan membawa nona Ih kepadanya, namun berpisah dengan kekasih betapapun adalah peristiwa yang membuatnya menderita.
Sekarang musuh ternyata benar membawakan kekasihnya ke sini, tentu saja ia kegirangan, akan tetapi di samping girang ia pun tahu untuk bisa missing 17-18 akan membunuh nona Ih jika tidak aku katakan di mana engkau berada.
Coba, orang lain kan ..."
"Wi-heng, persahabatan kita sudah berpuluh tahun lamanya aku yakin kau pun cukup kenal betapa pribadiku, apabila sekarang aku pun tidak menghiraukan mati-hidupmu coba lantas apa abamu?"
"Ya, kematianku tidak perlu disayangkan, yang penting kalau daya ingatan nona Ih tidak dapat dipulihkan, itulah yang akan mempengaruhi seluruh kepentingan dunia persilatan."
"Haha, bagus, bagus!"
Lok-Cing-hui terbahak.
"Manusia mana yang tidak akan mati yang penting harus mati dengan ikhlas dan berharga. Wi-heng, biarlah kau berangkat lebih dulu, nanti setelah si pengganas itu dapat aku bekuk, segera aku susul dirimu ke alam baka". Wi-ho-Lo-jin tertawa, sahutnya.
"Pikiran bagus! Tapi bagaimana dengan nona Ih ini?"
Dengan serius Lok-Cing-hui berucap sekata demi sekata.
"Demi untuk menyembuhkan nona Ih aku sudah kehilangan seorang murid. Sedangkan Kiam-ong Ciong-Li-cin belum keluar tenaga sedikit pun bagi kaum kita kalau sekarang dia cuma kehilangan seorang cucu murid kan juga belum apa-apa?"
Sampai di sini, ia berpaling dan tanya Kiam-eng.
"Betul tidak anak Eng?"
Tergetar tubuh Kiam-eng, dengan suara agak gemetar ia mengiakan. Kembali Lok-Cing-hui memandang Sih-Hou bertiga dan berkata.
"Nah, sudah jelas? Sekarang silakan kalian mulai!"
Sama sekali Sih-Hou bertiga tidak menyangka Lok-Cing-hui tega mengorbankan jiwa Wi-ho-Lo-jin dan Ih-Keh-ki, seketika ia berbalik bingung dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Lok-Cing-hui mendengus, dengan ilmu gelombang suara ia coba tanya Su-Kiam-eng.
"Anak Eng, bagaimana kung-fu ke tiga orang ini?"
Dengan cara yang sama Kiam-eng menjawab "Kira-kira setingkat dengan ke tiga duta Thian-ong-pang yang muncul baru-baru ini, Sam-bi-sin-ong Pek-li-Pin pernah bergebrak dengan mereka dan sukar menundukkan mereka dengan satu lawan tiga."
"Jika begitu, boleh kau hadapi si pedang emas biarlah aku membereskan yang dua lagi ... Nah, turun tangan saja!"
Selesai berkata begitu, serentak Lok-Cing-hui menerjang ke sana.
Apabila Sih-Hou bertiga tidak memegang sandera sebagai Wi-ho-Lo-jin dan Ih-Keh-ki, biarpun mereka punya nyali sebesar gunung juga tidak berani datang kemari untuk bicara tentang bisnis dengan Lok-Cing-hui.
Maka begitu melihat jago pedang itu menerjang tiba tentu saja mereka terkejut sehingga tidak sempat memikirkan mencelakai Wi-ho-Lo-jin dan Ih-Keh-ki melainkan cepat melompat mundur.
Akan tetapi betapa cepat gerak tubuh Lok-Cing-hui berkelebat cahaya kilat baru saja Sih-Hou bertiga melompat, pada saat itu pula ke dua telapak tangannya sudah menyambar sampai di depan dada Kwa-Eng-sing dan Ku-Tai-hong.
Jika berada dalam keadaan lain, dengan gabungan mereka berdua menghadapi Lok-Cing-hui seorang mungkin mereka mampu bertahan sekian jurus.
Namun sekarang mereka sama merasa berat untuk melepaskan Wi-ho-Lo-jin dan Ih-Keh-ki, terpaksa mereka hanya dapat melayani musuh dengan sebelah tangan dan keadaan demikian tentu saja sangat tidak menguntungkan mereka.
Dalam pada itu secepat kilat pukulan Lok-Cing-hui tampaknya sudah akan mengenai dada mereka, pada saat itulah tiba-tiba terdengar Han-Keng-Ting yang diminta menjaga In-Ang-bi di dalam kamar itu berteriak kuatir.
"Wah, celaka, Lok-heng, lekas kemari!"
Tentu saja Lok-Cing-hui terkesiap, mendadak gerak tubuhnya berubah meloncat balik ke samping, menuju ke rumah gubuk sana secepat terbang, terdengar suara "blang", langsung ia menjebol dinding dan menerobos ke dalam rumah.
Sekilas pandang sempat dilihatnya Tiok-kiam-sian-sing Han-keng-ting kena dipukul orang dan tampak sempoyongan mundur ke pojok rumah.
Menyusul seorang berbaju hijau dan berkedok menerjang masuk terus menghantam pula dari jauh ke arah In-Ang-bi yang duduk termangu di tempat tidur sana.
Melihat itu, seketika Lok-Cing-hui menjadi murka, sambil meraung, tubuh yang masih mengapung itu pun berputar, dari jauh ke dua tangan menghantam sekaligus ke arah si baju hijau.
Meski kung-fu Lok-Cing-hui mengutamakan ilmu permainan pedang, namun tenaga pukulannya juga bukan kelas rendahan, sekarang tenaga pukulannya mendampar sedahsyat angin puyuh, lihainya tidak kepalang.
Terdengar si baju hijau tertawa panjang, pukulan yang semula terarah kepada In-Ang-bi mendadak berbalik menyambut serangan Lok-Cing-hui.
Benturan tenaga pukulan tak terhindar lagi, seketika angin dahsyat mengguncang rumah gubuk dan menimbulkan bunyi kresek yang ramai bagai gempa bumi.
Karena tubuh Lok-Cing-hui masih terapung di udara, ia tergetar mencelat beberapa meter jauhnya dan menumbuk dinding rumah sebelah sana.
Si baju hijau berkedok juga tergetar mundur dua-tiga tindak.
namun dia masih dapat berdiri dengan kukuh, habis itu lantas menerjang lagi ke dalam rumah dan kembali melancarkan pukulan terhadap InAng-bi.
Saat itu tubuh Lok-Cing-hui baru saja menumbuk dinding, untuk menolong In-Ang-bi sudah tidak keburu lagi.
Pada detik yang gawat itulah sekonyong-konyong terdengar gemuruh di atap rumah.
"blang"
Serupa sepotong batu raksasa jatuh dari langit, tahu-tahu atap rumah ambrol dan runtuh ke bawah.
Apakah benar batu raksasa?
Ternyata bukan melainkan seorang manusia!
Dengan ilmu "Jian-kin-tui" (daya anjlok 10-ribu kati) orang itu membobol atap rumah untuk menerjang ke bawah, belum lagi kaki menyentuh tanah, tongkat bambu yang dibawanya kontan menutuk ke muka si baju hijau betapa cepat serangannya sehingga hampir tidak terlihat jelas.
Pukulan si baju hijau saat itu baru terlontar setengah jalan, ketika melihat seorang anjlok dari atap rumah, ia pun tertegun, lantaran itulah tongkat bambu lawan sempat menyambar ke mukanya, hal ini membuatnya terkejut dan cepat melompat mundur keluar rumah, sekali loncat lagi lantas menghilang.
Sekarang pun Lok-Cing-hui dapat melihat jelas orang yang menerobos atap rumah itu bukan lain daripada Kai-pang-pang-cu, ketua himpunan kaum pengemis, It-sik-sin-kai Ang-Pek-ko adanya.
Tentu saja ia berseru.
"Aha, kedatangan Ang-heng sungguh sangat kebetulan, ayolah lekas kejar musuh!"
Si pengemis tua tertawa panjang sekali tongkat bantu menolak tanah, langsung tubuhnya membal ke atas serupa bola dan tetap menerobos keluar melalui lubang atap yang ambrol tadi.
Kiam-lo Lok-Cing-hui juga mengejar ke luar melalui pintu namun setiba di luar sudah tidak terlihat lagi bayangan si baju hijau berkedok, ia coba melompat ke atas rumah dan memandang jauh sekitarnya, yang terlihat cuma It-sik-sin-kai berdiri di ujung selatan rumah sana ia coba mendekatinya dan bertanya.
"Apakah sudah kabur?!"
"Ya, kabur melalui jurusan ini,"
Sahut si pengemis tua sambil menunjuk lereng sebelah selatan.
"Mengapa Ang-heng tidak mengejar ke sana?"
Tanya Lok-Cing-hui. Pengemis tua mengangkat bahu, ucapnya dengan menyengir.
"Mengejarnya? Hehe, pengemis tua masih ingin hidup beberapa tahun lagi!"
Seorang ketua Kai-pang yang terhormat dan disegani dapat bicara seperti ini, sungguh Lok-Cing-hui dibuatnya tercengang, tanyanya pula.
"Oo, apakah lawan sedemikian lihainya?"
"It-sik-sin-kai mengangguk.
"Ya, masakah Lok-heng belum mendapatkan laporan muridmu si Kiam-eng?"
"Oo, jadi orang tadi itulah yang menyebut dirinya sebagai Raja Rimba? Ai, seketika aku tidak ingat padanya ..."
Bicara sampai di sini, mendadak ia meloncat turun dan memburu ke halaman sana, ternyata Su-Kiam-eng dan Sih-Hou bertiga sudah tidak terlihat lagi ia coba tanya si pengemis tua yang masih berdiri di atap rumah itu.
"Ang-heng, apakah kau lihat muridku itu?"
It-sik-sin-kai melompat turun ke halaman dan menjawab.
"Ya, tadi aku lihat dia bergebrak beberapa jurus dengan Sih-Hou, lalu aku lihat Kwa-Eng-sing berdua membawa lari Wi-ho-Lo-jin dan nona Ih sehingga dia juga mengantar ke sana. Lok-Cing-hui berkerenyit kening, ucapnya.
"Hm, hanya tenaganya saja sanggup menyelamatkan Wi-ho-Lo-jin dan nona Ih?"
"Anak muda itu banyak tipu akalnya, mungkin dia mempunyai caranya sendiri untuk menolong orang,"
Ujar si pengemis tua dengan tertawa. Namun Lok-Cing-hui tetap merasa tidak tentram, katanya.
"Harap Ang-heng menjaga Han-heng dan nona In, biar aku susul ke sana ke sana sebentar!"
Habis berucap segera lari ke luar perkampungan secepat terbang. Tapi baru saja sampai di mulut kampung lantas terlihat Su-Kiam-eng berlari pulang, ia berhenti dan bertanya.
"Bagaimana, anak Eng?"
"Paman Wi dan nona Ih telah dibawa kabur ke lereng gunung oleh pedang perak dan pedang baja, mestinya te-cu ingin mengejar ke sana, namun terhalang oleh Sih-Hou,"
Tutur Kiam-eng.
"Akhirnya Sih-Hou juga kabur setelah menyambitkan beberapa pisau terbang ke arah te-cu."
Lok-Cing-hui manggut-manggut dan masuk kembali ke tengah kampung, katanya.
"Ayo kembali ke sana, mungkin Han-lo-cian-pwe terluka, kita harus menolongnya dahulu". Setiba di dalam rumah, terlihat si pengemis tua sedang memeriksa keadaan luka Tiok-kiam-sian-sing Han-Keng-ting. Cepat Lok-Cing-hui mendekat dan bertanya.
"Bagaimana keadaan luka Han-heng?"
"Tidak terlampau parah, hanya sekujur badan merasa tidak anak,"
Tutur Han-Keng-ting dengan menyengir.
"Tidak terlampau parah?"
Jengek si pengemis tua.
"Hm, kalau tidak lekas mendesak keluar racun dalam tubuhmu, selang setengah jam lagi mungkin jiwamu akan melayang". Han-Keng-ting terperanjat, tanyanya kuatir.
"Hah, maksudmu pukulan keparat itu berbisa?"
Dengan prihatin It-sik-sin-kai menjawab.
"Betul, ia menguasai ilmu pukulan berbisa yang sudah menghilang dari dunia persilatan selama 300 tahun yaitu Pek-hoa-hiang-bun-ciang (pukulan seratus harum bunga pencabut nyawa)."
Terkesiap juga Lok-Cing-hui oleh keterangan itu cepat ia mengitar ke belakang Han-Keng-ting dan berkata.
"Harap Han-heng lekas bersemadi pusatkan segenap tenaga dalam, biarkan aku bantu menghalau racun dalam tubuhmu."
Han-Keng-ting menurut dan duduk bersila sembari bertanya.
"Memangnya apa itu Pek-hoa-hiang-hun-ciang?"
"Artinya gas racun dari ratusan bunga yang harum,"
Tutur Lok-Cing-hui.
"Pukulan berbisa ini sangat sulit dilatih, sedikit lengah saja dapat menjadi bumerang dan membuat orang yang melatihnya binasa sendiri. Namun bila berhasil diyakinkan maka lihainya tidak kepalang. Barang siapa terkena pukulannya berarti akan keracunan dan tidak sampai setengah jam pasti akan binasa bila tidak segera diobati. Sungguh lihai dan keji luar biasa". Air muka Han-Keng-ting berubah agak pucat tidak berani ayal dan cepat menghimpun tenaga dalam sesuatu permintaan Lok-Cing-hui. Dengan telapak tangan kanan Lok-Cing-hui menahan hiat-to di punggung orang, perlahan ia salurkan tenaga murni sendiri untuk membantunya menghalau hawa berbisa. Kiam-eng mendekat dan memberi hormat kepada It-sik-sin-kai, tanyanya.
"Ang-pang-cu apakah kepulanganmu ke Tiong-goan sini membuntuti jejak mereka?"
"Betul,"
Jawab si pengemis tua dengan tertawa.
"Setelah aku bawa nona. Kalian ke luar dari rimba raya itu di luar dugaan aku pergoki si baju hijau berkedok di kota Ting-ciong maka diam-diam lantas aku buntuti dia pulang ke sini."
"Dan bagaimana dengan Sam-bi-sin-ong?"
Tanya Kiam-eng.
"Tadi ia pun berada di sini,"
Jawab si pengemis tua.
"Hah, ia juga membuntuti jejak si baju hijau?"
Kiam-eng terkesiap.
"Betul, cuma tujuannya membuntuti si baju hijau adalah untuk harta karun, maka dia tidak mau memperlihatkan diri."
"Lantas bagaimana dengan nona Kalina, apakah Ang-pang-cu telah mengantar dia pulang?"
Tanya Kiam-eng pula.
"Tidak malahan telah aku bawa dia ke Tiong-goan sini."
Tutur It-sik-sin-kai. Kiam-eng terbelalak kaget.
"Hahh, mana boleh Ang-pang-cu membawanya kemari?"
"Mengapa tidak boleh? Dia seorang nona yang pintar dan cerdik, dia tidak mau hidup sengsara dan miskin di daerah selatan yang terpencil dan kesepian itu maka ia memohon dengan sangat agar pengemis tua membawanya ke Tiong-goan, dengan sendirinya alasan yang terpenting adalah karma dia ingin mencari kakak perempuan dan ipar yang tidak jelas jejaknya itu ... Oya, apakah sudah kau temukan su-heng mu?"
"Belum,"
Jawab Kiam-eng cepat.
"Namun Ang-pang-cu, nona Kalina kan juga seorang nona yang lemah, setiba di Tiong-goan di negeri asing tanpa sanak dan saudara ini, cara bagaimana dia sanggup menjaga diri?"
"Hal ini pun sudah aku pikirkan, maka sesudah aku pertimbangkan beberapa hari, lalu aku tetapkan untuk menerimanya sebagai murid,"
Tutur It-sik-sin-kai.
"Hah, dia kau terima sebagai murid?"
Kiam-eng melengak.
"Ya, memangnya tidak boleh?"
Ucap si pengemis tua.
"Tentu saja boleh,"
Jawab Kiam-eng girang-girang kejut.
"Soalnya hal ini aku ratakan sangat di luar dugaan. Dan sekarang dia berada di mana?"
"Oleh karena pengemis tua ingin meneruskan penguntitan terhadap si baju hijau, jika membawa serta dia tentu kurang leluasa, maka setiba di Tiong-goan lantas aku titipkan dia pada seorang Tiang-lo (tertua) pang kami agar diberi pelajaran sedikit dasar-dasar ilmu silat, nanti kalau aku ada waktu luang tentu akan aku ajarkan kung-fu langsung padanya."
Kiam-eng merasa Kalina kelak pasti akan menjadi seorang pesilat wanita kelas tinggi kalau dapat berguru pada It-sik-sin-kai, maka ia sangat bergirang bagi Kalina, dengan tertawa ia tanya pula.
"Tempo hari setelah dia tahu kepergianku, apakah dia marah padaku?"
"Ya, dia sangat berduka,"
Tutur si pengemis tua.
"Hal itu pun merupakan salah satu alasannya untuk memohon pengemis tua membawanya ke Tiong-goan sini. Katanya pada suatu hari dia ingin mendapatkan seorang teman muda bangsa Han yang cakap dan gagah untuk dipamerkan padamu. Muka Kiam-eng menjadi merah, katanya dengan tertawa.
"Ai, syukurlah jika betul begitu ..."
It-sik-sin-kai anggap tidak tahu terhadap sikap Kiam-eng yang serba canggung itu, ia pandang In-Ang-bi yang duduk termangu di tempat tidur itu dan bertanya.
"Apa dia ini putri Bu-tek-sin-pian In-Giok-san yang bernama In-Ang-bi itu?"
"Betul,"
Kiam-eng.
"Tadi baru saja aku mau membuat api untuk memasak obat dan keburu Sih-Hou bertiga muncul di sini."
"Oo,"
It-sik-sin-kai bersuara singkat, mendadak ia meraba perut dan berucap dengan kening berkerenyit.
"Wah, bicara tentang membuat api, aku jadi teringat akan sesuatu ..."
Kiam-eng menyangka si pengemis tua juga terluka dan perlu makan obat, cepat ia tanya.
"Ang-pang-cu teringat urusan apa?"
Dengan bersungut It-sik-sin-kai menjawab.
"Sudah dua hari pengemis tua tidak makan sesuatu"
"Oo, kiranya begitu,"
Kiam-eng tertawa geli.
Harap Ang-pang-cu tunggu sebentar, bilamana racun dalam tubuh Han-lo-cian-pwe sudah dihalau ke luar, aku yakin dia akan menjamu Ang-pang-cu sepuasnya".
Si pengemis tua memandang kanan-kiri, katanya.
"Tampaknya tiada seorangpun pelayan di sini".
"Ya, seperti tidak ada, Han-lo-cian-pwe ..."
Bicara sampai di sini, tiba=tiba Kiam-eng melihat Han-Keng-ting menghela napas panjang dan berbangkit perlahan.
Dari dada kiri orang tua itu merembes keluar air darah hitam, jelas air racun yang terdesak ke luar dari dalam tubuh.
"Bagaimana, Han-heng, sudah baik?"
Tanya It-sik-sin-kai.
"Cukup baik,"
Jawab Han-Keng-ting.
"Syukurlah Ang-heng dapat melihat racun yang menyerang diriku ini, kalau tidak tamatlah riwayatku hari ini".
"Pada waktu bergebrak dengan dia di daerah selatan sana aku pun terkena pukulannya, untung dapat aku rasakan pada waktu yang tepat, kalau tidak tentu aku pun sudah binasa di selatan sana,"
Tutur si pengemis tua.
"Sesungguhnya orang macam apakah dia dan dari mana asal-usulnya, mengapa dapat meyakinkan kung-fu berbisa selihai itu?"
Tanya Han-Keng-ting dengan masih ngeri.
"Agar dapat mengetahui siapa dia, jalan paling baik adalah lekas menyembuhkan penyakit linglung InAng-bi,"
Ujar It-sik-sin-kai.
"Betul, sekarang juga biar aku buatkan api untuk memasak obat dan sekalian mengolah makanan bagi kalian,"
Kata Han-Keng-ting sambil melangkah keluar kamar. Lok-Cing-hui coba memeriksa keadaan In-Ang-bi, nona itu tampaknya tidak mengalami cedera apa pun, ia merasa lega tanyanya terhadap It-sik-sin-kai.
"Ang-heng, tadi kau bilang pernah bergebrak dengan orang yang mengaku sebagai Raja Rimba itu, hasilnya bagaimana?"
Pengemis tua angkat pundak.
"Hanya 30-an jurus saja aku lantas kalah."
"Oo, hanya 30-an jurus saja engkau melawan dia?"
Lok-Cing-hui terkejut.
"Betul, sebab itulah urut-urutan kita beberapa orang ini perlu digeser sedikit, ujar It-sik-sin-kai.
"Yang nomor satu adalah dia, nomor dua baru Ciong-Li-cin dan nomor tiga adalah dirimu nomor tiga adalah dirimu nomor empat Tok-pi-sin-kun ..."
Lok-Cing-hui terdiam sejenak dangan prihatin katanya kemudian terhadap Su-Kiam-eng.
"Anak Eng mumpung Han-lo-cian-pwe sedang menyiapkan santapan boleh kau ceritakan pengalaman perjalananmu ke selatan sana."
Kiam-eng mengiakan segera ia mulai bercerita sejak dia menyamar sebagai Sai-hoa-to dan ditawan oleh Hu-kui-ong dan apa yang terjadi sepanjang perjalanannya.
Baru bercerita sampai mengetahui orang yang menculik sang su-heng ternyata bukan lain dari pada Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho, saat itulah Han-Keng-ting sudah datang membawakan se nampan makanan dan sebuah anglo berapi.
Segera Lok-Cing-hui menaruh ceret obat di atas anglo dan dituangi dua mangkuk air, lalu mereka mulai makan bersama.
Kiam-eng pun menyambung kisahnya.
Bercerita sampai Sai-hoa-to dilemparkan dari ruang besar tempat ke-180 patung emas dan dipukul mati oleh si orang berbaju hijau Lok-Cing-hui geleng-geleng kepala dan berkata dengan menyesal "Sungguh tidak nyana Sim-Tiong-ho ternyata juga manusia tamak ...
"Waktu itu aku pun merasa sayang baginya,"
Tukas It-sik-sin-kai.
"tapi setelah dipikir lagi sekarang terasa pula tidak perlu menyesal. Meski ilmu pengobatannya tidak ada bandingannya, namun jiwanya justru tidak terpuji. Serupa si baju hijau berkedok itu, ilmu silatnya boleh dikatakan tidak ada tandingan di kolong langit ini, namun dia justru seorang gembong iblis yang kejam. Lok-Cing-hui manggut-manggut, katanya terhadap Kiam-eng.
"Baiklah, lanjutkan kisahmu". Kiam-eng lantas bercerita pula cara bagaimana menemukan Jian-lian-hok-leng dan untuk ke dua kalinya masuk ke ruang pendopo istana kuno itu, di situ diketahui ke-180 patung emas telah diangkut pergi oleh si orang berkedok dan berbaju hijau, lalu dirinya melakukan penguntitan terhadap musuh dan berakhir tanpa sesuatu hasil, paling akhir ia pun pulang sampai di Bu-lim-teh-coh. Hampir setengah jam barulah habis ceritanya. Kata Lok-Cing-hui setelah termenung sejenak.
"Jadi menurut ceritamu itu, si orang berkedok dan berbaju hijau itu sama juga Pang-cu-Thian-ong-pang?"
Kiam-eng mengangguk.
"Ya, orang berkedok dan berbaju hijau itu mengaku sebagai Raja Rimba, jelas ia sengaja memberi nama demikian, julukan Sih-Hou bertiga itu pun palsu, sebab meski mereka mengaku sebagai si pedang emas, pedang perak dan pedang baja segala, senjata yang mereka gunakan ternyata pedang biasa belaka"
"Coba aku lihat kedua medali emas yang kau dapatkan itu,"
Kata Lok-Cing-hui. Kiam-eng menyerahkan ke dua medali emas kepada sang guru. Setelah mengamat-amati ke dua potong medali emas itu. Cing-hui berkata.
"Tulisan semacam ini tampaknya mirip tulisan Thian-tiok ...."
"Betul, paman Wi juga bilang itu huruf Thian-tiok,"
Tukas Kiam-eng. Lok-Cing-hui memandang It-sik-sin-kai dan Han-Keng-ting, katanya.
"Apakah kalian tahu di negeri kita ada orang yang paham tulisan Thian-tiok?"
"Wah, kurang tahu,"
Si pengemis tua dan Tiok-kiam-sian-sing sama menggeleng.
"Cuma,"
Sambung Han-Keng-ting.
"aku percaya pasti ada orang paham tulisan Thian-tiok. Kota Tiang-an adalah tempat berkumpulkan orang terpelajar, aku yakin di sana dapat ditemukan orang yang mahir tulisan asing ini."
"Betul, di Tiang-an memang ada seorang paham akan tulisan Thian-tiok ini,"
Ujar Kiam-eng.
"Oo, siapa dia?"
Tanya Lok-Cing-hui cepat.
"Yaitu Boh-to-Siang-jin dari Tai-hin-si,"
Tutur Kiam-eng.
"Dari mana kau tahu?"
Tanya Cing-hui girang.
"Aku dapat tahu dari paman Wi. Maka bila sudah minum obat dan penyakit ingatan nona In belum dapat dipulihkan, te-cu akan coba pergi ke Tiang-an ..."
Lok-Cing-hui mengembalikan ke dua medali emas itu kepada Kiam-eng, katanya.
"Bagus sekali apakah penyakit nona In dapat sembuh atau tidak selang beberapa hari lagi mungkin dapat diketahui". Kiam-eng menyimpan kembali medali emas dan bertanya.
"Su-hu, sekarang Paman Wi dan nona Ih masih berada dalam cengkeraman si baju hijau, cara bagaimana kiranya agar dapat kita menolong mereka?"
"Sedangkan di mana tempat bercokol musuh saja belum diketahui sampai saat ini, cara bagaimana kita dapat menolong mereka?"
Ucap Lok-Cing-hui dengan menyesal.
"Tadi Ang-pang-cu bilang Sam-bi-sin-ong juga sedang membuntuti jejak si baju hijau, bilamana dia mau kontan dengan kita tentu urusan akan beres,"
Kata Kiam-eng.
"Tujuan Sam-bi-sin-ong hanya pada harta karun itu, sebelum dia berhasil mengetahui di mana si baju hijau menyembunyikan ke 180 patung emas, jelas dia takkan mau menemui kita."
"Dan kalau si orang berkedok berbaju hijau itu adalah si pengganas yang membunuh ke-18 tokoh Bu-lim dahulu, dia pasti juga takkan tinggal diam dan pasti akan berusaha membunuh nona In pula,"
Kata Lok-Cing-hui.
"Maka biarlah kita tunggu saja kedatangannya dan tidak perlu kita mencari dia."
Lalu katanya terhadap It-sik-sin-kai.
"Ang-heng jika engkau sudah datang kemari maka harap kau pun tinggal sementara ini di sini sampai penyakit nona In dapat dipulihkan barulah berangkat lagi?"
"Boleh saja cuma untuk tinggal di sini rasanya ada sesuatu yang tidak biasa,"
Kata Pengemis tua.
"Memangnya apa arti ucapan Ang-pang-cu ini?"
Tanya Han-Keng-ting cepat.
"Kita kan kenalan lama, jika aku tinggal di sini kan lama juga seperti rumahmu, apanya yang terasa tidak biasa?"
It-sik-sin-kai menunjuk beberapa macam makanan di atas meja, katanya dengan tertawa.
"Inilah yang terasa kurang biasa. Engkau suka makan sayur sayuran, pengemis tua justru gemas seakan enak sebangsa ikan dan daging".
"Oo, untuk ini kan mudah saja, biarlah aku turun gunung dan membelikan barang kegemaranmu,"
Ucap Han-Keng-ting. Namun Lok-Cing-hui lantas menggeleng kepala.
"Tidak, untuk beberapa han ini Han-heng jangan meninggalkan Cui-sia-san-ceng ini."
"Sebab apa?"
Tanya Han-Keng-ting heran.
"Si baju hijau berkedok itu dan ke tiga muridnya pasti masih berada di sekitar pegunungan ini jika Han-heng meninggalkan perkampungan ini kan sama dengan memberi tambahan sandera bagi mereka?"
Kata Cing-hui.
"Jika begitu, biarlah nanti kalau ada orang datang dan kota baru akan aku pesan agar dibelikan ikan dan daging yang kita perlukan,"
Ujar Han-Keng-ting.
"Pengemis tua gemar makan daging anjing dan sapi, bilamana di kota ada dijual, hendaknya kau pun minta dibelikan,"
Ujar It-sik-sin-kai. Han-Keng-ting mengangguk.
"Boleh, boleh ..."
Begitulah sembari makan sambil bicara selesai makan obat pun sudah masak, Lok-Cing-hui menuang air obat dalam mangkuk, sesudah agak dinding baru disodorkan kepada In-Ang-bi, katanya.
"Ayo, minumlah!"
Melihat air obat warna hitam itu, In-Ang-bi tahu apa itu, ia tidak mau minum, sambil menggeleng kepala ia menyurut ke pojok tempat tidur dan berkata.
"Tidak, aku tidak mau minum obat."
"Minumlah, sebentar paman membawamu pesiar ke bawah gunung lekas minum,"
Bujuk Cing-hui dengan tertawa.
"Tidak, tidak mau,"
Kembali In-Ang-bi menggeleng kepala. Terpaksa Cing-hui menakutinya.
"Ayolah minum kalau tidak biar aku suruh mereka mencekokimu."
"Barang siapa berani mencekoki aku, akan aku gigit tangannya,"
Jawab si nona dengan melotot. Lok-Cing-hui merasa kewalahan, katanya terhadap It-sik-sin-kai dan Han-Keng-ting yang berdiri di belakang.
"Ang-heng, harap kau pegang ke dua tangannya, dan Han-heng boleh pencet hidungnya!"
Seketika In-Ang-bi melonjak bangun dan bersikap siap menyerang sambil berteriak.
"Tidak, jangan coba mendekat atau rasakan pukulanku!"
"Wah, galak amat nona ini,"
Ucap It-sik-sin kai dengan tertawa.
"Sehari-hari dia sangat lembut tak tersangka suruh dia minum obat mendadak menjadi rewel begini,"
Ujar Cing-hui tanpa berdaya.
"Bagaimana bila aku tutuk saja hiat-to kelumpuhannya?"
Tanya si pengemis tua.
"Eh, jangan,"
Cepat Kiam-eng berseru.
"Dia tidak mau minum, biar aku saja yang minum."
Tentu saja Lok-Cing-hui melengong, tapi segera ia mengomel.
"Busyet, kamu ini main gila apa?"
"Sungguh, biar aku minum saja,"
Tegas Kiam-eng "Budak ini tidak tahu maksud baik orang, dia tidak mau minum obat kecantikan yang sudah kita sediakan ini, padahal setelah minum entah betapa dia akan berubah cantik molek.
Maka, biar aku saja yang minum."
Ketika terlihat air muka In-Ang-bi agak tergerak, segera Kiam-eng berlagak pula hendak berebut mangkuk obat itu.
"Eh, kau bilang akan berubah bagaimana setelah minum?"
Tanyanya cepat dengan ragu.
"Aku bilang akan berubah sangat cantik molek,"
Jawab Kiam-eng.
"Apa betul?"
In-Ang-bi menegas.
"Tentu saja betul, kalau tidak percaya biar aku saja yang minum,"
Habis berkata Kiam-eng benar-benar mengambil mangkuk obat dari tangan sang guru. In-Ang-bi menjadi gugup, serunya.
"Eh, nanti dulu, itu kan hendak diminumkan padaku?!"
Kiam-eng berlagak mendekatkan mangkuk obat ke bibir dan menjawab.
"Sebenarnya memang hendak diminumkan padamu, tapi kamu tidak mau minum, maka boleh berikan saja padaku"
Mendadak In-Ang-bi berseru.
"Tidak, akan aku minum!"
"Jangan, obat ini sangat pahit, mungkin kamu tidak doyan."
Kata Kiam-eng.
"Aku tidak takut pahit, bawa kemari, biar aku minum,"
Seru Ang-bi.
Kiam-eng berlagak kewalahan sambil angkat pundak dan menyodorkan air obat itu.
Setelah menerima mangkuk obat, dengan mata terpejam, sekaligus In-Ang-bi menegak habis semangkuk obat itu.
Habis itu dengan tegang ia lantas tanya.
"Bagaimana?"
Apakah sekarang aku sudah berubah cantik?"
"Huh, masakah begitu cepat,"
Jengek Kiam-eng. In-Ang-bi melengong.
"Habis tunggu sampai kapan lagi?"
"Malam, nanti kamu perlu minum lagi semangkuk dan esok pagi-pagi juga minum semangkuk, dengan begitu, selang beberapa hari lagi baru akan berubah cantik."
"Bagaimana kalau ke dua mangkuk itu aku minum sekaligus sekarang saja?"
Tanya si nona.
"Tidak boleh, setiap tiga jam kemudian baru boleh minum satu kali bila sekaligus minum tiga mangkuk. bukannya berubah cantik, sebaliknya akan berubah buruk rupa". In-Ang-bi terkejut, cepat ia mengangguk dan berkata.
"Baik, aku menurut ... Eh, kau bilang kapan baru minum lagi?"
"Malam nanti,"
Jawab Kiam-eng.
"Baiklah, aku tunggu sampai malam nanti,"
Habis berkata si nona lantas rebah di tempat tidur.
"Eh, lekas bangun kamar ini tidak dapat digunakan lagi,"
Cepat Lok-Cing-hui memanggilnya.
"Ada apa?"
Tanya Ang-bi bingung. Lok-Cing-hui menunjuk atap yang berlubang besar itu, katanya.
"Coba lihat, atap bolong sebesar itu bila hujan kan kamu bisa basah kuyup?"
In-Ang-bi menengadah dan memandang lubang atap, ucapnya sedih.
"Ya, lantas apa yang dapat aku perbuat?"
"Bangun mari tidur di kamar lain saja,"
Tukas Tiok-kiam-sian-sing Han-Keng-ting. In-Ang-bi mengamat-amati Han-Keng-ting sejenak, lalu menggeleng kepala dan berkata.
"Tidak, aku tidak mau ikut padamu".
"Habis, ingin dibawa siapa?"
Tanya Han-Keng-ting tertawa. Ang-bi menunjuk Su-Kiam-eng dan menjawab.
"Dia!"
It-sik-sin-kai terbahak-bahak.
"Haha, orang bilang anak gadis suka cakap, pamor ini ternyata benar. Meski daya ingatan nona ini terganggu, semua pandangannya ternyata tidak ngawur". Muka Kiam-eng menjadi merah, ia teringat kepada ucapan Ih-Keh-ki yang menguatirkan setelah anak muda itu menyembuhkan penyakit ling-lung In-Ang-bi, lalu si nona akan merasa utang budi dan diperistri olehnya. Seketika hati Kiam-eng berdebar. Sementara itu Han-Keng-ting berkata padanya.
"Kamar sebelah masih kosong, boleh kau bawa dia ke sana"
Kiam-eng tertawa rikuh, terpaksa ia berkata kepada In-Ang-bi.
"Ayo bangun, biar aku bawa kamu ke sebelah". Dengan gembira In-Ang-bi melompat turun dari tempat tidur, digulungnya kasur dan ikut Su-Kiam-eng ke kamar sebelah. Menjelang magrib, In-Ang-bi minum obat mangkuk ke dua, lantaran dia suka berada bersama Su-Kiam-eng, Lok-Cing-hui lantas menyuruh anak muda itu meladeni si nona, mereka bertiga orang tua sepanjang malam berjaga di luar. Semalaman berlalu dengan aman tanpa terjadi sesuatu, tidak timbul hal-hal seperti apa yang dikuatirkan semula. Esok paginya, kembali In-Ang-bi minum obat mangkuk ke tiga. Dengan agak gelisah Kiam-ho Lok-Cing-hui dan Su-Kiam-eng sama menanti perkembangan selanjutnya, demi untuk menyembuhkan penyakit In-Ang-bi sejak tiga tahun yang lalu mereka guru dan murid bertiga sudah berusaha mencari Jian-lian-hok-leng, akibatnya Gak-Sik-lam menjadi korban dan menjadi cacat total, kehilangan tangan dan kaki. Su-Kiam-eng juga mengalami berbagai bahaya dan akhirnya dapat menemukan Jian-lian-hok-leng. Jerih payah antara ke tiga guru dan murid itu bagi seorang sakit boleh dikatakan sungguh jarang ada bandingannya sejak dulu hingga sekarang. Namun begitu, apakah daya ingat In-Ang-bi dapat dipulihkan atau tidak masih tetap merupakan tanda tanya sebab mereka hanya tahu Jian-lian-hok-leng mungkin dapat menyembuhkan penyakit ling-lung In-Ang-bi, tapi tidak yakin "mutlak"
Akan dapat menyembuhkannya.
Setengah hari kembali sudah berlalu.
Keadaan In-Ang-bi ternyata masih serupa sehari-harinya tanpa sesuatu perubahan.
Melihat Lok-Cing-hui agak murung, It-sik-sin-kai coba bertanya.
"Lok-heng, dalam urusan pengobatan ini apakah pernah kau minta petunjuk Sai-hoa-to?"
"Pernah,"
Jawab Cing-hui.
"Pandangannya sama dengan aku yakin Jian-lian-hok-leng dapat memulihkan daya ingatannya".
"Adakah dia mengatakan setelah minum obatnya, diperlukan berapa lama baru akan kelihatan khasiatnya?"
Tanya pula si pengemis tua.
"Tidak,"
Cing-hui menggeleng kepala.
"Tapi setahuku, penyakit nona In ini, setelah minum obat dia akan tertidur pulas. Akan tetapi, coba kau lihat, dia justru terus menerus mengoceh dengan muridku itu, sedikit pun tidak ada tanda mengantuk".
"Apakah bukan lantaran kadar obatnya kurang keras?"
Tanya pengemis tua.
Lok-Cing-hui berpikir sejenak, katanya kemudian "Aku kira tidak.
Ramuan obatku ini pada 30 tahun lampau sudah pernah menyembuhkan penyakit seorang serupa nona In, malahan keadaan orang itu lebih parah daripada nona In, namun setelah minum tiga mangkuk obat, keadaannya lantas kelihatan banyak kemajuan".
"Jika begitu, apakah tidak mungkin ada pengaruh faktor lain?"
Ujar It-sik-kin-kai dengan tertawa.
"Umpamanya karena nona In ini menaruh perhatian terhadap muridmu sehingga rasa kantuknya pun hilang."
Tergetar perasaan Lok-Cing-hui, ucapnya dengan tertawa.
"Betul mungkin begitulah. Ayo kita panggil ke luar Kiam-eng saja."
Lalu ia melangkah cepat ke dalam rumah.
Setiba di luar kamar, terdengar ada suara tertawa di dalam kamar, entah geli karena apa suara In-Ang-bi sedang terkikik-kikik.
Tentu saja Cing-hui tercengang, ucapnya lirih.
"Ternyata benar dugaanmu. Sejak kehilangan daya ingat, belum pernah budak ini tertawa riang seperti ini".
"Berapa umurnya tahun ini?"
Tanya It-sik-sin-kai.
"18 tahun, selang empat bulan lagi akan genap 19 tahun,"
Tutur Lok-Cing-hui.
"Itulah usia seorang gadis yang ibarat bunga sedang mekar, pantas sekali kenal muridmu lantas jatuh hati."
Kata si pengemis tua dengan tertawa. Cing-hui tersenyum, selagi ia hendak menolak pintu dan masuk ke situ, tiba-tiba terdengar In-Ang-bi lagi bicara.
"Eh, sudah sekian lama kita mengobrol, ternyata belum lagi aku tanya siapa namamu?"
Ucapan ini membuat Lok-Cing-hui terkesiap pula, tanpa terasa ia tarik kembali tangannya yang hampir mendorong pintu, ia menoleh dan berkata kepada si pengemis tua.
"Selama ini belum pernah ia tanya siapa namaku, tak tersangka seorang nona yang ling lung begitu bertemu dengan pemuda juga bisa timbul rasa sukanya ..."
"Ssst, jangan bicara lagi, coba dengarkan apa yang sedang mereka bicarakan?!"
Desis It-sik-sin-kai. Belum habis ucapannya, terdengar Su-Kiam-eng menjawab di dalam kamar.
"Heh, masa kamu tidak tahu siapa aku?"
"Dahulu seperti pernah aku lihat dirimu, cuma tidak ingat lagi."
"Aku she Su, bernama Kiam-eng".
"Su-Kiam-eng? Rasanya ... rasanya nama ini seperti pernah aku dengar ... ?"
"Ya, coba ingat-ingat lagi lebih cermat!"
"Aku ... aku tidak ingat... Eh. Su-Kiam-eng, mengapa engkau tidak tanya siapa namaku?"
"Aha, benar, numpang tanya siapa nama nona yang harum?"
"Aku she In, bernama Ang-bi!"
"Ehm, Ang-bi (mawar-merah), sungguh nama yang indah!"
"Kau tahu aku ini putri siapa?"
"Tidak, justru aku ingin tahu, lekas katakan engkau ini putri siapa?"
"Hm, mengapa air mukamu berubah merah? Apa yang membuatmu tegang tampaknya?"
"Oo, tidak apa-apa ... aku kira engkau pun tidak sudi menyebutkan nama ayahmu."
"Omong kosong! Mengapa aku tidak mau menyebutkan nama ayah?"
"Jika begitu lekas katakan!"
"Ayahku adalah salah satu daripada ke-18 tokoh terkemuka dunia persilatan Tiong-goan, Bu-tek-sin-pian In-Giok-san!"
"Ahh, benar, tepat! Nah, lekas katakan lagi di mana ayahmu berada saat ini?"
"Sebentar, biar aku ingat-ingat dulu ... Ai, sungguh aneh rasanya sudah lama sekali aku tinggalkan ayahku ... sesungguhnya ke manakah beliau?"
"Coba ingat-ingat lagi dengan sabar, jangan terburu-buru ..."
"Wahhh?"
Jerit Ang-bi tiba-tiba.
"Ada apa?!"
Tanya Kiam-eng.
"Teringatlah sekarang Ayah ... ayahku telah di ... dibunuh orang!"
"Dibunuh orang di mana?"
Tanya Kiam-eng.
"Di Hwe-liong-kok! Dengan mata kepalaku sendiri aku saksikan dia dibunuh orang! Juga ke-17 tokoh yang lain, mereka pun terbinasa seluruhnya. Oo, Tuhan ..."
Suara bicara In-Ang-bi terdengar gemetar, sampai di sini mendadak ia menangis keras.
Sebaliknya Kiam-ho Lok-Cing-hui dan It-sik-sin-kai yang mendengarkan di luar menjadi bersemangat, serentak mereka menolak pintu dan melompat masuk sambil berteriak.
"In-Ang-bi, wahai In-Ang-bi! Kamu masih kenal padaku tidak?"
Saat itu Ang-bi sedang menangis dengan mendekap mukanya, mendengar seruan Lok-Cing-hui, mendadak ia angkat kepala dan memandang Lok-Cing-hui dengan termangu-mangu hingga sekian lama, lambat-laun wajahnya menampilkan rasa girang dan kejut terus berteriak.
"Aha, teringatlah aku! Engkau ini paman Lok! Ai, mengapa sejauh ini aku tidak ingat kepada paman Lok."
Sungguh tak terperikan rata girang Lok-Cing-hui serunya.
"Biar aku katakan padamu, soalnya kamu jatuh sakit payah, sekarang penyakitmu telah sembuh, maka dapatlah kamu teringat kepada paman Lok ini". Mendengar dirinya jatuh sakit, In-Ang-bi melengong dan berkedip-kedip sambil mengingat-ingat, akhirnya ia seperti mulai paham duduknya perkara, wajahnya bersemu merah, tapi lantas menunduk dan menangis terguguk. Lok-Cing-hui melangkah maju dan duduk di samping si nona, bujuknya.
"Jangan menangis sekarang kamu kamu sudah sehat bukan?"
Tangis Ang-bi tambah duka ratapnya.
"Akan tetapi ayah telah dibunuh orang! Ia terbunuh di Hwe-liong-kok, aku saksikan sendiri dia dibunuh orang ..."
Dengan bersemangat Lok-Cing-hui memandang It-sik-sin-kai dan Su-Kiam-eng cepat ia tanya pula kepada In-Ang-bi.
"Coba katakan siapakah orang yang membunuh ayahmu itu!"
"Aku lihat dia ... kemudian dia lalu di sampingku, dia ... dia seorang kakek berambut putih memakai baju biru dia ... dia ..."
"Dia siapa?"
Lok-Cing-hui menegas dengan tak sabar. Pandangan In-Ang-bi tampak hampa, ia termenung sampai sekian lama, dia seperti teringat akan orang itu, air mukanya mendadak berubah dan berseru.
"Ialah ..."
Belum lanjut ucapannya, mendadak terdengar suara "brak", pintu kamar ditolak orang hingga terpentang.
Dengan terkejut Lok-Cing-hui, It-sik-sin-kai dan Su-Kiam-eng serentak membalik tubuh dan melancarkan pukulan ke arah pintu.
Terdengar teriakan kaget dua orang dua sosok bayangan cepat menghindari ke samping kanan-kiri pintu.
Dalam sekejap itu Lok-Cing-hui bertiga juga sempat melihat jelas wajah ke dua orang itu, tanpa terasa mereka bersuara heran dan menahan serangan lebih lanjut katanya dengan tercengang.
"Hah kiranya engkau ... Wi-ho-Lo-jin!"
Segera kedua orang yang menghindar ke samping kanan-kiri pintu itu pun muncul kembali kiranya mereka adalah Tiok-kiam-sian-sing Han-Keng-ting dan Wi-ho-Lo-jin.
Dengan tersenyum Wi-ho-Lo-jin melangkah ke dalam kamar sambil berkata.
"Aku tidak mati di tangan orang berkedok berbaju hijau itu, tapi hampir mampus dipukul kalian bertiga, memangnya ada apakah?"
Dengan girang dan kejut Lok-Cing-hui memberi salam dan bertanya.
"Hei, cara bagaimana Wi-heng dapat meloloskan diri?"
Wi-ho-Lo-jin ambil tempat duduk dengan tenang, lalu menjawab.
"Percaya atau tidak terserah padamu aku justru dibebaskan sendiri oleh si baju hijau berkedok itu."
"Masa dia mau membebaskanmu?"
Lok-Cing-hui menegas dengan heran. Soalnya dia membiarkan aku pulang untuk berunding suatu urusan dengan Lok-heng,"
Tutur Wi-ho-Lojin.
"Oo, berunding urusan apa?"
Tanya Cing-hui dingin. Wi-ho-Lo-jin memandang sekejap It-sik-sin-kai dan Tiok-kiam-sian-sing, katanya dengan rasa menyesal.
"Urusan ini menyangkut nama baik Lok-heng, apakah kalian sudi menyingkir sebentar?"
Jika urusan menyangkut kehormatan pribadi Lok-Cing-hui, dengan sendirinya It-sik-sin-kai berdua tidak enak untuk ikut mendengarkan, segera mereka mengundurkan diri dari kamar.
Sesudah kedua orang keluar agak jauh, dengan suara tertahan Wi-ho-Lo-jin lantas berkata pula.
"Si baju hijau berkedok itu tahu dari nona MISSING 57-63 Orang yang disebut sebagai Ok-to-hu Cian-Kui, si tukang jagal jahat itu menyengir, jawabnya.
"Betul, kiranya Ang-pang-cu masih kenal diriku!"
It-sik-sin-kai menjengek, ucapnya terhadap Lok-Cing-hui.
"Masa Lok-heng tidak kenal orang ini?"
"Hanya pernah aku dengar dari cerita orang."
Jawab Lok-Cing-hui.
"Kabarnya orang ini pernah menjabat To-cu di Kai-pang kalian, apa betul?"
"Memang betul,"
Jawab It-sik-sin-kai dengan gegetun.
"Sebenarnya dia cukup tangkas, cuma sifatnya agak kejam, suka main bunuh. Maka belasan tahun yang lalu sudah aku beri tanda khas pada mukanya dan memecat dia dari Kai-pang. Tak tersangka setelah meninggalkan Kai-pang perilakunya bertambah kejam, sudah lama ingin aku tumpas dia, namun sukar menemukan dia ..."
Sampai di sini, pengemis tua berpaling dan berkata kepada Ok-tok-hu.
"Nah, lekas katakan, atas suruhan siapa kamu ditugaskan kemari membunuh nona In?"
Ok-to-hu Cian-Kui meludah sekumur darah segar, jawabnya ketus.
"Huh, atas suruhan siapa memangnya kalian tidak tahu dan masih perlu tanya?"
"Jadi kamu sudah menghamba di bawah orang berkedok dan berbaju hijau itu?"
Tanya It-sik-sin-kai dengan beringas.
"Betul."
Jawab Ok-to-hu angkuh.
"Dia cukup murah hati, paling sedikit jauh lebih baik dari padamu. Ang-Pek-ko."
"Hm, dia tidak mengatakan padamu bahwa pengemis tua berada di sini?"
Jengek It-sik-sin-kai. Chapter 23. Rahasia 180 Patung Mas "Ada dikatakan, bahkan menceritakan keadaan perkampungan ini dengan sangat jelas,"
Jawab si jagal.
"Jika begitu kenapa kau berani datang kemari?"
Tanya It-sik-sin-kai.
"Kenapa tidak berani? Kalau berhasil akan terima 10 kati emas, bila gagal paling-paling cuma mati saja, masa perlu gentar?"
Pengemis tua manggut-manggut, lalu tanyanya kepada Lok-Cing-hui.
"Cara bagaimana Lok-heng akan membereskan orang ini!?"
"Dia kan bekas anak buah Ang-heng,"
Ujar Lok-Cing-hui dengan tertawa.
"Silakan cara bagaimana sebaiknya akan Ang-heng bereskan dia."
Segera It-sik-sin-kai menyeret Ok-to-hu ke luar rumah, tanpa bicara lagi ia kepruk kepala orang dengan pentungnya.
"prak", kontan kepala Ok-to-hu pecah dan otak berceceran dan roboh binasa. Setelah pengemis tua itu masuk lagi ke dalam rumah baru Lok-Cing-hui berkata kepada In-Ang-bi.
"Nah, sekarang ceritakan Ang-bi, siapakah si pengganas yang membunuh ke 18 tokoh dahulu itu?"
"Dia bukan lain dari pada Kiam-ong Ciong-li-Cin!"
Tutur In-Ang-bi. Keterangan ini sungguh serupa bunyi guntur di siang bolong, semua orang sama melonjak kaget dan berseru.
"Apa katamu? Kau bilang Kiam-ong Ciong-li-Cin?!"
Ang-bi mengangguk dan menjawab.
"Betul, Kiam-ong Ciong-li-Cin!"
Pucat air muka Lok-Cing-hui berempat dan saling pandang dengan melongo.
Sungguh, ini benar-benar peristiwa yang mengagetkan orang, bilamana orang tidak mendengar sendiri keterangan itu ke luar dari mulut In-Ang-bi, mungkin tiada seorang pun di dunia ini mau percaya bahwa orang yang membunuh ke-18 tokoh dunia persilatan di Hwe-liong-kok dahulu itu ialah Kiam-ong Ciong-liCin yang dipuja itu.
Dan sekarang, meski Lok-Cing-hui berempat tahu apa yang dikatakan In-Ang-bi itu pasti bukan omong kosong belaka, namun mereka tetap tidak berani percaya apa yang dikatakan itu adalah kejadian yang sebenarnya, sebab terlampau tidak masuk diakal bilamana dikatakan Kiam-ong Ciong-li-Cin adalah si pengganas yang keji itu.
Walaupun Ciong-li-Cin bukanlah tokoh yang suka bertindak membela keadilan serupa kebiasaan Lok-Cing-hui, tapi ia pun seorang tokoh dari golongan putih yang sukar dicari ciri kejelekannya.
Sejak mendapat nama sebagai tokoh utama, belum pernah diketahui dia berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran dan keadilan, apalagi sekarang dia sudah berusia hampir 80 tahun, juga tokoh utama yang dipuja oleh segenap orang persilatan, dengan alasan apakah dia perlu membunuh ke 18 tokoh dunia parsilatan itu?
Sebab itulah setelah Lok-Cing-hui berempat termangu-mangu sejenak, tanpa terasa mereka sama menggeleng kepala sebagai tanda tidak habis mengerti mengapa Kiam-ong Ciong-li bisa berbuat demikian?
In-Ang-bi memandang Lok-Cing-hui dengan sayu, katanya kemudian.
"Paman Lok, apakah engkau tidak percaya atas keteranganku?"
"Ya, sungguh sukar untuk dipercaya,"
Jawab Lok-Cing-hui. Tanpa terasa air mata meleleh di pipi In-Ang-bi, ucapnya.
"Jika begitu, paman Lok menganggap keteranganku hanya karangan belaka tanpa dasar?"
"Bukan begitu maksudku, aku percaya penuh apa yang kau katakan itu pasti betul,"
Ujar Lok-Cing-hui.
"Jika begitu ..."
In-Ang-bi merasa bingung. Lok-Cing-hui menghela napas, katanya.
"Ang-bi, coba ceritakan saja dari awal hingga akhir apa yang menjadi sebab timbulnya peristiwa tragis itu?"
Ang-bi mengiakan dan mulai bertutur.
"Urusan harus diceritakan mulai dari berakhirnya pertemuan besar tokoh persilatan belasan tahun yang lalu itu. Mungkin paman Lok masih ingat sesudah ayah dan ke-l7 tokoh lain mengalami kekalahan dari medan pertandingan itu, mereka lalu membentuk sebuah perhimpunan yang disebut Kiam-sut-gian-kiu-hwe (forum diskusi ilmu pedang)."
"Ya, betul,"
Jawab Lok-Cing-hui.
"Di antara ke-18 tokoh itu ada 12 orang berkedudukan sebagai ketua sesuatu perguruan. Dengan sendirinya mereka merasa malu karena dalam partandingan itu mereka tidak dapat masuk ke tingkatan atas, maka mereka lantas membentuk forum diskusi itu dengan harapan akan dapat menciptakan semacam ilmu permainan pedang maha sakti untuk mengalahkan Ciong-li-Cin dan juga diriku ..."
"Begitulah,"
Sambung In-Ang-bi.
"Tapi paman Lok mungkin juga tahu sesungguhnya ayahku dan kelompoknya itu tidak menaruh dendam kepada Ciong-li-Cin dan paman Lok, mereka hanya menjadikan kemahiran ilmu pedang kalian saja sebagai sasaran".
"Ini pun aku ketahui,"
Kata Lok-Cing-hui.
"Bahwa mereka dapat mengesampingkan perbedaan aliran-aliran dan golongan dan melulu mengutamakan memperdalam kung-fu sejati, hal ini memang harus dipuji. Sebab itulah aku sangat senang ketika mendengar kabar terbentuknya perhimpunan diskusi mereka itu. Ciong-li-Cin juga menunjuk rasa gembiranya. Cuma sayang forum diskusi itu hanya berlangsung dua kali, lalu dibubarkan entah apa sebabnya?"
"Tidak, tidak dibubarkan,"
Ujar Ang-bi.
"Oo, tidak dibubarkan?"
Lok-Cing-hui menegas dengan tercengang.
"Betul, sesudah dua kali berkumpul di antara kelompok ayahku itu, lalu timbul berbagai macam isyu di dunia persilatan, katanya biarpun tercipta kung-fu maha tinggi dari ke-18 tokoh itu dan dapat mengalahkan Kiam-ong Ciong-li-Cin, kemenangan itu pun dirasakan kurang sportif dan macam-macam isyu-isyu ... Paman Lok menurut pendapatmu, apakah tepat isyu yang disebarkan itu?"
"Tentu saja tidak tepat pandangan orang itu,"
Jawab Lok-Cing-hui dengan prihatin.
"Mereka tidak menyadari bahwa kung-fu sejati pada awalnya juga timbul dari hasil ciptaan orang banyak."
"Tentu saja tidak menyadari bahwa kung-fu sejati pada awalnya juga timbul dari hasil ciptaan orang banyak."
"Akan tetapi ayah dan kelompoknya justru sukar menahan derasnya isyu yang mencemoohkan itu. Maka kelompok diskusi mereka yang semula dibentuk secara terbuka itu lantas berubah menjadi berlangsung secara rahasia. Setiap tahun berkumpul satu kali, lamanya berkumpul sebulan tempatnya adalah Hwe-liong-kok. Nona itu berhenti sejenak, lalu menyambung lagi.
"Sejak kelompok diskusi itu berlangsung secara rahasia karena merasa ingin tahu sering aku minta ayah membawaku ikut dalam pertemuan mereka untuk menambah pengalaman. Akan tetapi permintaanku selalu ditolak ayah ..."
Lok-Cing-hui tersenyum dan menyela.
"Waktu itu usiamu baru 13-14 tahun baru seorang dara cilik yang belum tahu urusan dengan sendirinya ayahmu tidak mau membawamu mengikuti pertemuan yang penting itu". Muka Ang-bi menjadi merah.
"Ya, namun aku justru sangat ingin tahu sebab setiap kali ayah pulang dari pertemuan itu jelas ilmu pedangnya lantas tambah maju setingkat".
"Sebenarnya ayahmu terkenal lihai dengan ruyungnya, tak tersangka kemudian dia jadi menyukai permainan pedang,"
Ujar Lok-Cing-hui dengan tertawa.
"Selama 20 tahun ayah mendalami permainan ruyung, rasanya tiada orang ke dua lagi yang dapat melampaui beliau, sebab itulah ayah merasa kurang tertarik lagi, lalu berganti haluan dan berlatih ilmu pedang, hanya tiga tahun hasilnya ternyata tidak lagi di bawah para pimpinan berbagai perguruan lain ..."
"Betul, ayahmu memang seorang jenius dunia persilatan,"
Puji Lok-Cing-hui. Masih aku ingat waktu pertemuan besar dulu aku lihat dia bertanding dengan ..."
Sampai di sini ia berpaling ke arah Tiok-kiam-siang-sing dan menyambung dengan tertawa.
"Tiok-kiam-siang-sing ini, pernah dia aku katakan sesuatu kepada Ang-pang-cu ..."
"Ya, Lok-heng bilang, bila berlatih lagi sepuluh tahun, ilmu pedang orang ini pasti akan mencapai lima besar. Ai, sayang orang pandai cekak umur, tahu-tahu dia sudah dicelakai orang."
"Peristiwanya terjadi pada pertemuan yang ke enam,"
Tutur In-Ang-bi lebih lanjut dengan mencucurkan air mata.
"Sebelum berkumpul, entah berita apa yang diterima oleh ayahku, dia kelihatan hati tidak tentram. Pernah aku tanya apakah terjadi sesuatu pada kelompok diskusinya, namun ayah tidak mau menjawab. Sebab itulah diam-diam keputusan akan ikut pergi melihat apa yang terjadi ..."
"Waktu itu kamu tidak tahu bahwa tempat berkumpul itu terletak di Hwe-liong-kok?"
Tanya It-sik-sin-kai.
"Betul,"
Jawab Ang-bi.
"Maka begitu ayah berangkat, diam-diam aku susul dan menguntit sampai di hwe-liong-kok. Keadaan lembah gunung itu sangat terjal, dengan susah payah dapatlah aku rambat sampai di puncak Hwe-liong-kok, waktu mengintip ke bawah, aku lihat kelompok ayah berjumlah 18 orang duduk melingkar di situ, mereka duduk diam saja seperti belum ada pembicaraan ..."
"Puncak tebing itu ada berapa tingginya dari dasar lembah!"
Tanya pula si pengemis tua.
"Kira-kira seratusan meter."
Tutur Ang-bi "Sebab itulah umpama mereka berbicara juga takkan aku dengar."
"Jadi begitu, dari mana kau tahu mereka tidak berbicara?"
Tanya pengemis tua.
"Sebab aku lihat mereka tetap duduk tenang saja tanpa bergerak dan juga tidak ada yang memperlihatkan sesuatu gerak tangan atau kaki ..."
"Jadi maksudmu, mungkin mereka sedang menunggu seseorang umpamanya?"
Tanya Lok-Cing-hui.
"Tepat,"
Ang-bi mengangguk.
"Melihat gelagatnya, jelas mereka sedang menunggu seseorang. Sebab itulah waktu itu aku merasa heran dan tidak mengerti, sebab pertemuan kelompok ayah itu dilakukan secara rahasia, siapakah yang akan bertemu dengan mereka selagi mereka melangsungkan pertemuan rahasia? ..."
"Selagi aku sangsikan hal itu, tiba-tiba terlihat di puncak tebing sebrang sana ada setitik bayangan warna biru melayang turun ke dasar lembah bagai batu meteor cepatnya. Hanya dalam sekejap saja orang itu sudah sampai di dasar lembah, Waktu itu hanya dapat aku lihat orang itu adalah seorang kakek berambut putih berbaju biru."
"Orang itu mendekati kelompok ayahku yang sedang duduk itu serentak ke-18 tokoh itu berdiri dan memberi hormat kepada si kakek. Lalu mereka bicara sebentar dan terlihat si kakek mengeluarkan sesuatu serupa kotak dan diserahkan kepada ketua Siau-lim-pai, kemudian dia mohon diri dan berlari cepat ke arah puncak tebing tempat sembunyiku.
"Kuatir dipergoki, cepat aku sembunyi di tengah semak rumput yang lebat. Tidak lama aku lihat kakek berambut putih itu sudah sampai di atas dan melayang lewat belasan meter di samping tempat sembunyiku. Waktu itulah baru dapat aku lihat jelas dia bukan lain daripada Kiam-ong Ciong-li-Cin.
"Benar-benar kau kenali dia sebagai Ciong-li-Cin dan tidak keliru lihat?"
Lok-Cing-hui menegas.
"Tidak mungkin keliru pernah dua kali aku lihat dia, pasti tidak salah lagi,"
Jawab Ang-bi.
"Baik, teruskan ceritamu."
Lok-Cing-hui mengangguk.
"Setelah aku lihat jelas dia adalah Kiam-ong Ciong-li-Cin, sama sekali tidak aku rasakan sesuatu keganjilan,"
Tutur Ang-bi dengan pedih.
"Siapa tahu setelah aku pandang lagi ke dalam lembah tiba-tiba aku lihat kelompok ayah yang berjumlah 18 orang itu sama terhuyung-huyung seperti orang mabuk, ketika itu masih aku sangka mereka sedang berlatih semacam kung-fu aneh, tak terduga hanya sebentar saja aku lihat mereka sama roboh secara berturut-turut, lalu tidak bergerak lagi.
"Pada saat itu juga, mendadak aku lihat Kiam-ong Ciong-li-Cin yang baru pergi itu muncul kembali, cepat aku sembunyi lagi di tengah semak rumput. Aku lihat setiba di tepi tebing dan melongok ke dalam lembah, lalu ia menengadah dan terbahak-bahak gembira.
"Sampai sekian lama ia tertawa, habis itu baru dia meninggalkan tepi tebing curam itu dengan bersemangat riang. Setelah dia pergi jauh barulah aku cari jalan untuk turun ke dasar lembah, aku lihat tubuh ke-18 orang yang menggeletak di situ berubah hitam, mata telinga dan hidung berdarah, semua sudah meninggal ... Waktu itu rasanya aku pun roboh pingsan sehingga apa yang terjadi selanjutnya tidak aku ketahui. Nah, paman Lok, bukankah aku ... aku ..."
Lok-Cing-hui menghela napas gegetun.
"Ya, lantaran melihat kematian ayahmu yang mengenaskan itu, batinmu terpukul hebat sehingga terganggu urat sarafmu, kemudian orang melihat kamu berkeliaran di sekitar Hwe-liong-kok, ada yang melaporkan hal itu padaku, maka berita tentang terbunuhnya ayahmu dan kelompoknya lantas tersiar dan menggemparkan dunia persilatan."
"Kemudian paman Lok lantas membawaku pulang ke Ciok-lau-san sini?"
Tanya In-Ang-bi dengan air mata bercucuran.
"Betul,"
Sahut Lok-Cing-hui.
"Waktu itu sudah dapat aku duga mungkin terganggunya pikiranmu mungkin lantaran menyaksikan kejadian yang menimpa ayahmu, maka aku putuskan harus ... harus menyembuhkan penyakitmu, dan ... syukurlah sekarang kesehatanmu sudah pulih kembali ..."
"Sejak ayah meninggal, sudah berulang berapa lamakah hingga sekarang?"
Tanya Ang-bi dengan menangis.
"Sudah tiga tahun tujuh bulan". Mendadak Ang-bi merosot ke bawah tempat tidur dan berlutut di depan Lok-Cing-hui, ratapnya sambil merangkul kaki orang tua itu.
"Oo, paman Lok, mohon engkau sudi membalaskan sakit hati ayah dan membunuh bangsat Ciong-li-Cin, cincang tubuhnya hingga hancur lebur. Berjanjilah paman aku mohon engkau berjanji ..."
Lok-Cing-hui mengangkat bangun nona itu, lalu ia mondar mandir di dalam kamar akhir ia berhenti dan menatap It-sik-sin-kai, katanya dengan tersenyum getir.
"Ang-heng bagaimana pandanganmu?"
Si pengemis tua mengangkat bahu dan menjawab.
"Aku tidak dapat memberi komentar apa-apa!"
"Apakah kau percaya si tua Ciong-li itu adalah si pengganas yang membunuh ke-18 tokoh di Hwe-liong-kok ini?"
Tanya Lok-Cing-hui.
"Mestinya aku tidak percaya,"
Jawab pengemis, tua.
"Tapi apa mau dikatakan lagi, kejadian itu disaksikan sendiri oleh nona In."
"Jadi kau percaya si tua Ciong-li-Cin adalah pembunuhnya?"
"Tidak, aku tidak mempunyai komentar apa pun,"
Si pengemis tua menggeleng.
"Dan bagaimana dengan pandangan Han-heng?"
Tangan Lok-Cing-hui terhadap Tiok-kiam-sian-sing Han-Keng-ting. Sambil meraba dagu Han-Keng-ting termenung sejenak, katanya kemudian.
"Rasanya aku pun tidak percaya Ciong-li-Cin dapat melakukan hal ini, namun apa yang terjadi itu dilihat sendiri oleh nona In ini menjadi ... menjadi aneh ..."
"Lantas apa alasan kalian tidak dapat mempercayai si tua Ciong-li-Cin adalah si pengganasnya?"
Tanya Lok-Cing-hui.
"Untuk memberi alasannya diperlukan mempelajari dulu sebuah musababnya ke 18 tokoh itu sampai dimusuhi dan dibunuh orang,"
Ujar Tiok-kiam-sian-sing.
"Sebabnya ke-18 tokoh itu dibunuh, dengan sendirinya lantaran ada orang kuatir ilmu pedang yang akan diciptakan mereka itu akan jauh mengalahkan mereka dahulu pantas dicurigai."
"Jika begitu, jadi Kiam-ong Ciong-li-Cin, Kiam-ho Lok-Cing-hui, Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun dan engkau It-si-sin-kai juga tak terlepas dari tersangka?"
Tanya Tiok-kian-sian-sing.
"Memang begitulah,"
Sahut si pengemis tua.
"Selain itu masih ada lagi Sam-bi-sin-ong Pek-li-Pin, Lau-ho-li Cu-kat-Leng dan tokoh terkemuka yang lain."
"Coba kita bicara mengenai Ciong-li-Cin dahulu,"
Ujar Lok-Cing-hui.
"Menurut pendapat kalian, apa alasannya dia tidak membunuh orang dan bukan alasannya dia membunuh ke-18 toko itu?"
Untuk dia hanya perlu ditanyakan apa alasannya dia tidak membunuh orang dan bukan alasannya membunuh orang,"
Tukas Tiok-kiam-sian-sing.
"Apa maksudku alasannya tidak membunuh orang?"
Tanya Lok-Cing-hui.
"Kita sama tahu, kung-fu Ciong-li-Cin diakui sebagai nomor satu di dunia. Untuk memadai dia sedikitnya ke-18 tokoh itu harus berlatih lagi belasan tahun. Padahal selama belasan tahun kemudian umpama Ciong-li-Cin masih hidup juga pasti sudah berwujud kakek-kakek yang loyo dan tidak lama lagi sisa hidupnya tidak nanti dia mau berlomba lagi dengan orang lain. Sebab itulah biarpun dipandang dari sudut mana pun, mutlak Ciong-li-Cin tidak ada alasan buat membunuh ke-18 tokoh itu."
"Ucapan Han-heng memang sama dengan apa yang kau pikirkan,"
Kata Lok-Cing-hui.
"Aku pun berpendapat tidak ada alasan bagi Ciong-li-Cin untuk membunuh mereka."
Tiok-kiam-sian-sing melirik In-Ang-bi sekejap lalu berkata pula.
"Tapi nona In ini justru menyaksikan sendiri mereka dibunuh oleh Ciong-li-Cin. Hehe, lantas cara bagaimana memberi penjelasan akan fakta ini?"
"Hanya ada suatu dalih untuk menjelaskan peristiwa ini, yaitu Ciong-li-Cin yang dilihat nona, itu adalah Ciong-li-Cin palsu."
Ucap Lok Cing-hui.
"Hah, palsu?"
Seru Tiok-kiam-sian-sing dan Ang-bi berbareng dengan melengak.
"Ya, orang itu menyamar sebagai Ciong-li-Cin dan menghadiahkan sekotak racun dengan pura-pura menyatakan sebagai obat yang dapat menambah kekuatan mereka,"
Tutur Lok-Cing-hui.
"Mengingat Kiam-ong Ciong-li-Cin adalah orang yang terhormat, ke-18 tokoh itu tentu saja tidak curiga, akibatnya mereka masuk perangkap orang itu."
"Perkiraan Lok-heng ini memang masuk di akal, namun masih perlu dibuktikan lagi."
Ujar It-sik-sin-kai tersenyum.
"Cara bagaimana membuktikannya."
Tanya Tiok-kiam-sian-sing.
"Sangat sederhana,"
Kata Lok-Cing-hui.
"Biar aku pergi ke Hou-ge-san untuk mengunjungi si tua Ciong-li setiba di sana apakah benar Ciong-li-Cin itu si pengganas atau bukan tentu segera akan ketahuan."
"Betul, pengemis tua bersedia mendampingi Lok-heng ke Hou-ge-san."
Tukas It-sik-sin-kai. Tentu saja Lok-Cing-hui sangat senang dapat ditemani pengemis tua, segera ia memberi pesan kepada Su-Kiam-eng.
"Anak Eng, boleh berbenah seperlunya, biar kita berangkat sekarang juga."
Tidak lama Lok-Cing-hui, It-sik-sin-kai, Su-Kiam-eng dan In-Ang-bi berempat sudah meninggalkan Kiu-kiong-san dan menuju ke arah barat.
Hari ini mereka cuma menempuh sejauh 30 an li, lalu mondok di suatu pedusunan, esoknya mereka sampai di kota Cong-yang, di sini mereka menyewa kereta untuk meneruskan perjalanan.
Hou-ge-san terletak ratusan li di sebelah barat kota Kang-leng, di tepi utara sungai Yang-ce dan berhadapan dengan Heng-bun-san yang terletak di seberangnya.
Menurut rencana Lok-Cing-hui, dengan menumpang kereta sampai di Liok-kau-keh, lalu akan menumpang kapal untuk menuju ke hulu, dengan demikian antara sepuluh hari kemudian akan sampai di tempat tujuan.
Mendengar akan menumpang kapal, It-sik-sin-kai lantas berkata.
"Menumpang kapal tidak lebih cepat daripada menunggang kuda, mengapa kita tidak membeli empat ekor kuda saja!"
"Menunggang kuda memang bisa lebih cepat, tapi kurang aman,"
Ujar Lok-Cing-hui dengan tertawa.
"Apakah Lok-heng menganggap mereka masih akan membikin susah nona ini?"
Tanya si pengemis tua.
"Tidak, sebab kalau orang berkedok hijau itu benar Ciong-li-Cin adanya, bila dia melihat perjalanan kita ini, tentu ia tahu rahasianya telah terbongkar maka orang yang akan dibinasakannya tidak lagi hanya nona In seorang melainkan kita berempat. Maka menumpang kapal akan lebih aman daripada menunggang kuda, sekaligus juga mengurangi kerepotan harus mencari tempat bermalam setiap hari."
"Betul juga ucapanmu,"
Si pengemis tua mengangguk.
"Menumpang kapal juga lebih gampang untuk menjaga segala kemungkinan, pula dapat langsung mencapai Hou-ge-san ..."
"Dari sini ke Liok-kau-keh juga masih ratusan li jauhnya, maka selama dua hari ini kita perlu lebih berhati-hati,"
Kata Lok-Cing-hui.
"Kira-kira kapan baru akan sampai di Liok-kau-keh?"
Tanya Kiam-eng.
"Mungkin menjelang lohor esok lusa,"
Jawab Lok-Cing-hui.
"Jika begitu, yang perlu kita perhatikan malam nanti,"
Kata Kiam-eng.
"Bila malam nanti tidak terjadi sesuatu, perjalanan selanjutnya tentu takkan menjadi soal lagi."
Maka pada waktu magrib, ketika mereka tinggal di hotel dalam kota Poh-kin untuk bermalam, kecuali InAng-bi, Lok-Cing-hui, It-sik-sin-kai dan Su-Kiam-eng bertiga belum lagi tidur dan sedang duduk semadi dalam kamar untuk menjaga segala kemungkinan.
Namun semalaman tetap tidak terjadi apa pun.
Menjelang lohor hari ke tiga, sampailah mereka dengan selamat di Liok-kau-keh, suatu tempat tambangan di hulu Tiang-kang.
Setelah istirahat sekadarnya, lalu mereka mendatangi tempat penyeberangan.
Baru sampai di tepi sungai segera terlihat ada sebuah kapal barang berlabuh di situ.
Kiam-eng merasa menumpang kapal barang akan lebih mantap, setelah minta persetujuan sang guru, ia lantas berseru.
"Wahai bapak itu, apakah kapal kalian hendak berlayar menuju ke hulu?"
"Betul, akan berlayar ke Gi-jiong,"
Sahut seorang anak kapal.
"Kapal akan mengangkat jangkar?"
Tanya Kiam-eng pula.
"Hampir, tidak lama lagi,"
Sahut si anak kapal.
"Apakah tuan tamu ada barang muatan?"
"Bukan barang, kami berempat hendak pergi ke Hou-ge-san, apakah kapal kalian mau menerima penumpang?"
"Wah, untuk ini harus aku tanyakan dulu kepada juragan kapal,"
Jawab anak kapal itu.
"Jika begitu, mohon bantuanmu, coba ditanyakan,"
Pinta Kiam-eng. Anak kapal itu mengiakan dan turun ke bawah anjungan, tidak lama kemudian muncul seorang tua dan menyapa.
"Apakah tuan berempat ingin ke Hou-ge-san?"
"Betul, apa bisa?"
Tanya Kiam-eng.
"Tapi dalam kapal kami hanya ada dua kamar kabin, bilamana tuan berempat mau berdesakan sedikit boleh silakan naik kemari,"
Jawab orang tua itu. Su-Kiam-eng lantas tanya pendapat sang guru dan Lok-Cing-hui ternyata tidak keberatan. Mereka berempat lantas bergegas melompat ke atas kapal barang itu.
"Numpang tanya siapa she juragan yang terhormat?"
Tanya Lok-Cing hui kepada si juragan kapal.
"Aku she Lo bernama Ciok-cu, pemilik kapal barang ini."
Jawab si juragan kapal.
"Silakan tuan-tuan turun ke bawah."
Lalu ia mendahului turun ke tingkat bawah diikuti Lok-Cing-hui berempat. Lo-Ciok-cu membuka pintu sebuah kamar kabin dan berkata.
"Begitulah kamar kabin kapal ini, sebuah lagi di sebelahnya, setiap kamar dapat dihuni dua tamu cuma perlengkapannya agak terlampau sederhana ..."
Di dalam kamar ternyata ada dua tempat tidur dan sebuah meja, Lok-Cing-hui mengangguk dan berkata dengan tertawa.
"Beginilah sudah boleh, cukuplah asal ada tempat tidur".
"Tuan tamu membawa rangsum sendiri atau ingin menumpang makan juga bersama kami!"
Tanya pula si juragan kapal.
"Baiklah, biar bikin repot sekalian pada juragan, setiba di Hou-ge-san boleh diperhitungkan biaya seluruhnya."
Jawab Lok-Cing-hui.
"Baik, cuma, dengan begitu, kalian setiap orang mungkin perlu biaya dua tahil perak ..."
"Seorang dua tahil empat orang delapan tahil nanti aku bayar sepuluh tahil, hanya aku minta disediakan santapan yang agak baik,"
Kata Lok-Cing-hui. Lo-Ciok-cu tertawa.
"Tentu, tentu! Silakan ke dua tuan tua tidur kamar ini, sedangkan pasangan suami-istri muda ini ..."
Ia berpaling dan berkata terhadap Su-Kiam-eng.
"Silakan tidur kamar sebelah sana". Muka In-Ang-bi menjadi marah, omelnya.
"Sembarangan omong, pasangan suami istri siapa?"
Lo-Ciok-cu melengak, cepat ia berkata.
"Oo, kiranya kalian bukan ... bukan ... Wah, lantas bagaimana ...
"Tidak apa-apa mereka adalah saudara sekandung, tidur sekamar juga tidak menjadi soal."
Sela Lok-Cing-hui.
Ada maksud Su-Kiam-eng agar sang guru yang tinggal sekamar dengan In-Ang-bi, sekarang gurunya berkata demikian, ia tahu orang tua itu sengaja hendak menjodohkan mereka ia menjadi gugup dan berkata cepat.
"Tidak, Su-hu, lebih baik ..."
"Sudahlah aku perlu bicara dengan Ang-pang-cu, kalian kan saudara sekandung apa alasannya tinggal satu kamar?"
Potong Lok-Cing-hui.
Seketika Kiam-eng tidak dapat berbuat apa-apa karena sang guru dengan tegas-tegas menyatakan mereka adalah kakak beradik sekandung, terpaksa ia berkata kepada In-Ang-bi dengan menyengir.
"Baiklah adik Bi, mari kita coba melongok kamar itu". Lo-Ciok-cu lantas membawa mereka ke kamar sebelah, di situ juga ada dua tempat tidur, hati Kiam-eng rada lega, segera ia menaruh barang bawaan di tempat tidur, lalu berkata kepada juragan kapal.
"Makan siang sudah kami lakukan di kota tadi, maka kami tidak perlu disediakan lagi."
"Baiklah, silakan mengaso, selekasnya kapal akan diberangkatkan,"
Jawab Lo-Ciok-cu dengan tertawa sambil tinggal pergi. Sesudah juragan kapal pergi, Kiam-eng berkata kepada In-Ang-bi dengan suara perlahan.
"Nona In, apabila kamu merasa tidak mau tinggal sekamar denganku, boleh kau katakan kepada guruku, aku kira akan lebih leluasa bila kamu tinggal satu kamar saja dengan guruku ..."
In-Ang-bi menunduk malu, jawabnya lirih.
"Tidak, jika engkau tidak suka, boleh kau bicara sendiri kepada su-hu mu".
"Wah, biasanya guruku tidak suka menerima usulku, setiap aku bicara begitu lantai melotot, aku menjadi takut ..."
In-Ang-bi tertawa katanya.
"Asalkan kita berlaku sebagai saudara sekandung, apa halangannya tinggal satu kamar?"
Mendengar si nona sendiri tidak keberatan tinggal satu kamar dengan dia, Su-Kiam-eng angkat pundak, katanya.
"Kalau nona sendiri tidak keberatan, tentu saja aku terlebih tidak menjadi soal, Toh yang rugi bukan diriku, hehe ..."
"Apakah tinggal satu kamar denganmu aku akan rugi?"
Tanya Ang-bi tertawa.
"Betul."
Jawab Kiam-eng.
"Kamu kan seorang gadis tinggal sekamar dengan seorang lelaki kan bisa ditertawakan orang?"
"Siapa yang akan mentertawai diriku?"
Tanya Ang-bin dengan tertawa.
"Mereka si juragan dan para anak kapalnya."
Kata Kiam-eng sambil menuding ke atas.
"Bukankah sekarang mereka tahu kita ini saudara sekandung?"
Ujar Ang-bi. Kiam-eng tahu sukar menolak lagi, terpaksa ia angkat pundak pula dan berkata.
"Baiklah, waktu tidur malam tiba, mari kita menemui Su-hu dan Ang-pang-cu".
"Setelah menemui mereka boleh kita kembali ke kamar untuk berbincang-bincang, mau?"
"Berbincang-bincang apa?"
Tanya Kiam-eng dengan kebat-kebit.
"Aku ingin tahu bagaimana pengalaman su-heng mu dan kau sendiri waktu mencari Jian-lian-hok-leng di selatan sana".
"Untuk ini, kan sama saja bila kita bicarakan di depan guruku?"
Ang-bi menunduk dan berucap kesal.
"Beberapa hari ini tampaknya engkau selalu menghindari diriku, apakah aku membuat jemu padamu?"
"Oo, tidak jawab Kiam-eng cepat.
"Sudahlah, jangan kau risau ... Eh, mari, kita ke kamar sebelah". Mereka lantas mendatangi kamar Lok-Cing-hui dan It-sik-sin-kai.
"Bagaimana dengan kamar kalian?"
Tanya Cing-hui dengan tertawa.
"Serupa dengan kamar ini,"
Jawab Kiam-eng. Lok-Cing-hui memandang In-Ang-bi, katanya dengan tertawa.
"Ang-bi, biarpun muridku ini kurang adat , namun aku pun berada di sini, aku yakin dia takkan berani sembarangan berbuat, jangan kuatir".
"Janganlah paman Lok bicara demikian,"
Jawab Ang-bi dengan hormat.
"Jiwaku ini diselamatkan oleh paman dan Su-toa-ko, budi hidup kembali ini masakah tidak aku pikirkan untuk selanjutnya aku rela meladeni paman Lok dan Su-toa-ko sebagai budak".
"Hus, omong kosong!"
Justru Cing-hui dengan tergelak.
"Jika kami perlu diladeni kaum budak dengan mudah dapat kami beli seorang atau dua orang, buat apa jauh-jauh pergi ke selatan untuk mencari Jian-lian-hok-leng segala?"
Ang-bi mencucurkan air mata katanya terharu.
"Bila paman Lok tidak memberi kesempatan padaku untuk membalas budi, sungguh mati pun aku penasaran".
"Jika kau ingin membalas budi aku kira memang ada suatu jalan, cuma entah kau tahu atau tidak?"
Ucap Lok-Cing-hui.
"Silakan paman Lok memberi petunjuk, sekalipun tubuh harus hancur lebur juga takkan aku tolak,"
Sahut Ang-bi.
"Tidak segawat itu,"
Kata Cing-hui.
"Maksudku, asal saja kau mau mengangkat guru padaku maka itu pun dapat dianggap sebagai balas budi."
Ang-bi melengong, tapi segera ia kegirangan dan cepat menyembah.
"Oo, sungguh bahagia sekali jika paman mau menerimaku sebagai murid masakah aku tidak mau. Harap Su-hu menerima penghormatanku ini". Lok-Cing-hui membangunkan nona itu, katanya dengan tergelak.
"Hah, lekas bangun! Cuma cara pengajaranku sangat keras, selanjutnya kamu jangan mengeluh". Ang-bi lantas berpaling dan memberi hormat kepada Su-Kiam-eng.
"Su-su-heng, terimalah hormatku juga".
"Ah, Su-moai tidak perlu banyak adat,"
Cepat Kiam-eng membalas hormat. It-sik-sin-kai juga mengucapkan selamat kepada Lok-Cing-hui, katanya.
"Selamat Lok-heng. Cuma apakah kau tahu aku pun baru menerima seorang murid perempuan?"
"Oya, pernah aku dengar darimu, ada apa?"
Jawab Lok-Cing-hui.
"Rasanya pengemis tua sudah mempunyai firasat, bila jadi kelak antara dirimu dan aku akan berubah menjadi bermusuhan."
Ucap It-sik-sin-kai dengan gegetun.
"Mutlak takkan terjadi,"
Lok-Cing-hui menggeleng.
"Aku cukup kenal watak muridku, aku yakin dia dapat mengaturnya sehingga semua pihak sama bahagia". Merah muka Su-Kiam-eng dan berdebar juga hatinya, cepat ia memberi hormat dan berkata.
"Su-hu, silakan bicara dengan Ang-pang-cu, murid mohon diri untuk kembali ke kamar ..."
Habis bicara segera ia hendak mengeluyur pergi. Namun Lok-Cing-hui lantas mencegahnya.
"Nanti dulu! Masih ada sesuatu perlu aku bicarakan denganmu". Terpaksa Kiam-eng putar balik ucapnya dengan kikuk.
"Su-hu ada apa?"
Mendadak Lok-Cing-hui bicara dengan prihatin.
"Baru saja Ang-pang-cu memberitahu bahwa juragan kapal ini mungkin tidak beres, maka kamu harus berhati-hati". Terkesiap Kiam-eng ia pandang It-sik-sin-kai dan bertanya.
"Adakah sesuatu yang dilihat Ang-pang-cu?"
"Tidak ada,"
Sahut si pengemis tersenyum "Soalnya sejak kita berangkat Cui-sia-san-ceng sepanjang jalan pengemis tua selalu mendapat perhatian orang.
Namun ketika aku ikut numpang kapal bersama kalian, juragan kapal dan para anak kapalnya ternyata tidak memperhatikan diriku sama sekali, hal ini agak ganjil, maka ia perlu berhati-hati sedikit".
"Wan-pwe jangan menaruh perhatian, bisa jadi mereka sudah terbiasa mengembara kian kemari, maka tidak heran melihat orang semacam Ang-pang-cu,"
Ujar Kiam-eng.
"Mungkin juga begitu, namun tidak ada salahnya berlaku hati hati,"
Kata It-sik-sin-kai.
Su-Kiam-eng mengiakan, lalu mengundurkan dari kamar sang guru dan kembali ke kamar sendiri bersama In-Ang-bi serta berbaring tanpa membuka baju.
Pada saat itulah tubuh terasa berguncang sedikit, agaknya kapal itu sudah mulai meninggalkan tempat penyeberangan itu.
Kiam-eng tidak begitu menaruh perhatian terhadap sinyalemen It-sik-sin-kai, yang memenuhi benaknya sekarang hanya cara bagaimana kelak harus berusaha supaya "sama bahagia"
Bagi semua pihak.
Yang jelas Ih-Keh-ki sudah tukar tanda mata dengan dirinya kecuali Kiam-ong Ciong-li-Cin memang benar adalah si pengganas yang membunuh ke-18 tokoh kalau tidak mustahil dirinya boleh ingkar janji dan meninggalkan nona itu!
Kalina juga jelas menaruh hati padanya, pula dia adalah adik istri sang su-heng, sekarang Kalina juga ikut ke Tiong-goan bersama It-sik-sin-kai masakah dirinya boleh bersikap dingin tanpa menggubris nona itu?
Mengenai In-Ang-bi, agaknya tepat dugaan Ih-Keh-ki yaitu ingin membalas budi dengan menyerahkan diri sebagai istrinya.
Celakanya sang guru juga berniat menjodohkan mereka jelas dirinya tidak dapat membantah perintah sang guru.
Begitulah setelah berpikir lagi, Kiam-eng merasa sukar untuk melepaskan diri dari maksud baik ke tiga nona itu.
Tentu saja pikiran anak muda itu menjadi kusut dan risau.
Mendadak pintu kamar diketuk orang beberapa kali.
Cepat Kiam-eng melompat bangun dan bertanya.
"Siapa itu?"
"Aku!"
Jawab suara seorang dengan malu malu.
"Bolehkah aku masuk?"
"Tentu saja boleh, sebagian dari kamar ini kan menjadi hakmu!"
Sahut Kiam-eng. In-Ang-bi menolak pintu dan melangkah masuk katanya dengan malu.
"Su-hu menyuruhku ikut belajar lwe-kang kepada su-heng, katanya untuk berlatih Pen-lui-kiam-sut diharuskan berlatih lwe-kang dulu.
"Baiklah, silakan Su-moai duduk di tempat tidur,"
Kata Kiam eng. In-Ang-bi menurut ia duduk bersila di atas tempat tidur, tanyanya.
"Apakah begini sikapnya?"
"Begini,"
Kata Kiam-eng sambil menaruh ke dua tangan di atas lutut.
"Ke dua tangan ditaruh di siku dengkul, jari tengah menahan ruas tulang dengkul. Nah, begitulah. Sebelum menarik napas hendaknya mengendurkan otot daging pikiran harus tenang dan dada lapang, bersihkan segala pikiran lain dilarang gelisah dan tegang lalu mengatur napas perlahan ... In-Ang-bi mengikuti petunjuk itu dengan baik. Tak terduga, baru saja mata terpejam, segera ia membuka mata lagi dan menggeleng kepala katanya.
"Wah, gagal, sulit bagiku untuk menghilangkan berbagai pikiran".
"Pada waktu mulai memang banyak halangan,"
Ujar Kiam eng.
"Tapi sedapatnya kamu jangan banyak berpikir, lambat-laun tentu dapat memusatkan pikiran dan lama lama akan memasuki keadaan lupa diri".
"Ya, tapi aku kira agar tidak banyak berpikir lebih dulu harus hilangkan dulu keruwetan batin,"
Kata Ang-bi dengan tersenyum.
"Memangnya kamu ada keruwetan batin apa?"
Tanya Kiam-eng.
"Ada, misalnya, tidak habis aku pikir sebab apakah Toa-su-heng jauh-jauh menuju ke selatan sana untuk mencari Jian-lian-hok-leng bagiku dan sampai kini tidak pernah pulang? Kemudian engkau juga pergi ke sana dan cara bagaimana mendapatkan Jian-lian-hok-leng? Lalu bagaimana keadaan kota emas di sana? Semuanya itu adalah hal-hal yang ingin aku ketahui. Bilamana tidak kau ceritakan, tentu benakku akan selalu dipenuhi berbagai macam pikiran itu". Kiam-eng menghela napas, katanya.
"Baiklah belum lama kamu baru sembuh dari penyakitmu seharusnya tidak boleh tanya hal-hal itu. Jika kamu berkeras ingin tahu, bolehlah dengarkan ceritaku ..."
Lalu ia mulai berkisah sejak Gak-Sik-lam diperintahkan ke selatan untuk mencari Jian-lian-hok-leng sehingga menumpang kapal Lo-Ciok-cu ini, sampai hampir dua jam Kiam-eng bercerita.
Air mata Ang-bi bercucuran demi mendengar Gak-Sik-lam mengalami cedera berat dan sampai sekarang mati-hidupnya tidak diketahui, ratapnya sedih.
"Demi diriku Toa-su-heng berubah menjadi cacat total, sungguh ... sungguh hatiku tidak bisa tentram".
"Apa pun yang terjadi dia tidak menyesali dirinya,"
Ujar Kiam-eng.
"Ia pun tidak mengharapkan balas budi darimu, pada hakikatnya sebabnya dia berubah cacat adalah karena dia bersahabat dengan Kalina dan tidak ada sangkut-pautnya dengan pencarian Jian-lian-hok-leng, untuk ini kamu tidak perlu berduka". Tidak bilamana dia tidak pergi ke daerah selatan tentu dia takkan mengalami nasib buruk seperti itu, maka sesungguhnya akulah yang membikin susah dia,"
Ratap Ang-bi.
"Caramu berduka ini bukanlah semacam balas budi terhadapnya,"
Ujar Kiam-eng.
"Tapi apa ... apa yang dapat aku lakukan?"
Tanya Ang-bi terisak.
"Nanti kalau ilmu pedang sudah berhasil kau latih boleh kau bantu menemukan dia, dan ini pun sudah cukup".
"Ya, betul, kalau Toa-su-heng dan istrinya tidak kita temukan kembali sungguh aku tidak ingin ..."
"Tidak ingin apa?"
Tanya Kiam-eng karena nona itu tidak melanjutkan ucapannya.
"Tidak mau menikah,"
Sambung Ang-bi tegas. Kiam-eng melengong.
"Dan bila Toa-su-heng mengalami nasib malang, misalnya sudah meninggal, lantas bagaimana?"
"Jika begitu, aku akan mencukur rambut dan menjadi nikoh setiap hari aku berdoa bagi Toa-su-heng semoga arwah beliau menemukan kebahagiaan di nirwana". Kiam-eng sangat terharu, namun ia lantas menggeleng kepala dan berkata.
"Jika benar kamu berbuat demikian, pasti Toa-su-heng takkan senang".
"Tapi aku sudah bertekad berbuat demikian"
Kiam-eng menghela napas katanya sambil berbangkit.
"Harap Su-moai istirahat dulu biar aku keluar sebentar". Ia tinggalkan kamar dan masuk ke kamar sebelah dilihatnya sang guru dan It-sik-sin-kai sedang duduk semadi di tempat tidur. Ia tidak berani mengganggu diam-diam ia mengundurkan diri dan menuju ke geladak kapal. Angin malam meniup semilir, cahaya bulan memancar lembut, kapal barang ini melaju perlahan menyongsong arus sungai. Kiam-eng melihat juragan kapal sedang mengobrol iseng dengan anak kapal. Ia coba mendekat dan menyapa.
"Laju kapal ini ternyata tidak cepat, juragan!"
"Ya, menyongsong arus, tentu saja lambat,"
Sahut Lo-Ciok-cu tertawa.
"Barang apakah yang dimuat kapalmu ini?"
"Suatu partai ikan asin".
"Ikan asin dari mana?"
"Hei-bun".
"Tempat tujuan adalah Gin-jiang?"
"Betul".
"Sudah berapa lama juragan menjelajahi alur sungai ini?"
"Sudah belasan tahun".
"Pantas, rasanya sudah pernah aku kenal,"
Ucap Kiam-eng sambil menatap tajam.
"Kalau tidak salah ingat, rasanya seperti pernah aku lihat juragan di kota tambangan Ka-hi".
"Oo, apa betul?"
Si juragan kapal tampak melengak.
"Sebabnya masih aku ingat adalah karena waktu itu juragan sedang ribut mulut dengan seorang tua di atas kapalmu dan hampir saja baku hantam ... Eh, ya ada persoalan apakah waktu itu?"
Lo-Ciok-cu berpikir sejenak, lalu berkata seperti terjadi kejadian dahulu.
"Oya, orang tua itu adalah penyewa kapalku, ia mengangkut satu partai kain sutra ke Ka-hi, di tengah jalan mengalami hujan badai, sebagian kain tersiram air hujan dan mengalami kerusakan, itu kan pembungkusannya yang kurang rapi dan bukan salah kami, namun dia menuduh kapal ini kurang baik dan macam-macam lagi, ia menuntut ganti rugi padaku. Lantaran itulah terjadi ribut mulut."
"O, kiranya begitu. Waktu itu karena ada urusan penting sehingga aku tidak tahu kejadian selanjutnya. Lalu bagaimana akhirnya juragan memberi ganti rugi?"
"Ah, tidak. Mana mau aku beri ganti rugi, kan bukan salahku".
"Ya, jika pembungkusannya yang kurang rapi, dengan sendirinya bukan risiko juragan ... Eh, hari ini tanggal berapa?"
"Tanggal 14 bulan delapan, besok adalah hari Tiong-ciu,"
Jawab Lo-Ciok-cu.
"Pantas cahaya bulan seterang dan seindah ini,"
Ujar Kiam-eng.
"Menikmati cahaya membuka di atas kapal ternyata menyenangkan juga".
"Ya, namun orang yang setiap hari berada di kapal seperti kami tidak merasakan apa-apa lagi ..."
Kiam-eng tertawa dan berjalan mengelilingi geladak kapal, lalu turun dan kembali ke kamar sang guru.
"Baru saja kau bicara dengan siapa?"
Tanya Lok-Cing-hui dengan tersenyum. Kiam-eng merapatkan pintu, jawabnya.
"Dengan juragan kapal. Su-hu sudah dengar seluruhnya?"
"Tidak begitu jelas, apa yang kalian bicarakan?"
Tanya Cing-hui.
"Bicara tentang kejadian tahun yang lalu juragan kapal itu ribut mulut dengan seorang penyewa kapal ..."
Mendadak It-sik-sin-kai membuka mata, tanyanya.
"Apakah kejadian sesungguhnya?"
"Tidak,"
Sahut Kiam-eng.
"Dugaan Ang-pang-cu ternyata tidak keliru, kita memang sudah masuk perangkap musuh". Air muka Lok-Cing-hui rada berubah, tanyanya lirih.
"Maksudmu, kapal barang ini sengaja disediakan si kedok berbaju hijau itu untuk menjebloskan kita?"
"Kira-kira begitulah,"
Kiam-eng mengangguk "Mungkin dia berhasil mencari tahu bahwa kita ada maksud menumpang kapal maka dia mendahului datang ke Liok-kau-keh dan menyiapkan sebuah kapal barang untuk memancing kita kemudian akan mencari kesempatan untuk membunuh kita berempat."
"Sungguh hebat!"
Jengek It-sik-sin-kai.
"Cuma tidak diketahui cara bagaimana mereka akan turun tangan?"
"Sudah sekadar aku periksa keadaan kapal ini, kecuali Lo-Ciok-cu seorang, sisanya adalah anak kapal seluruhnya, sebab itulah aku kira mereka tidak berani turun tangan secara terang-terangan, sangat mungkin mereka akan menaruh racun dalam makanan atau membakar kapal selagi kita tertidur nyenyak."
Lok-Cing-hui mengangguk, tanyanya pula.
"Apakah tempat barang muatan juga sudah kau longok?"
"Tidak,"
Jawab Kiam-eng.
"Menurut orang she Lo itu katanya barang muatannya adalah satu partai ikan asin. Biarlah besok aku cari kesempatan untuk memeriksanya ... Ah, ada orang turun ke bagian kabin ini."
Benar juga, sejenak kemudian di luar kamar ada orang mengetuk pintu dan berseru.
"Tuan tamu, ini antarkan santapan malam!"
Kiam-eng membukakan pintu, terlihat seorang anak kapal membawa senampan makanan dan berkata pula.
"Inilah santapan malam tuan-tuan!"
"Baiklah, taruh saja di meja,"
Jawab Kiam-eng. Segera anak kapal itu menaruh makanan dan sebotol arak di atas meja. Tanpa sungkan lagi si pengemis tua melompat maju, botol arak dipegang terus ditenggak begitu saja.
"Wah, boleh juga arak ini?"
Seru si pengemis tua sambil mengusap mulut.
"Ini arak Li-ji-ang, khusus disediakan oleh juragan kami,"
Tutur si anak kapal sambil putar tubuh hendak tinggal pergi.
"Nanti dulu, dik!"
Seru It-sik-sin-kai.
"Bapak ini ada pesan apa?"
Tanya si anak kapal.
"Kabarnya di kapal kalian ada ikan asin?"
Anak kapal itu mengangguk.
"Betul, apakah bapak ini ingin makan ikan asin?"
"Betul, memang hobiku suka makan ikan asin dapatkah kau bawakan sedikit?"
"Wah, sulit! Itu barang juragan kami, tidak berarti aku sentuh."
"Apakah pemilik barang tidak ikut menumpang kapal?"
Tanya pengemis tua.
"Ada, dia juga ikut menumpang kapal kami".
"Aha, bagus, biar aku minta langsung kepadanya,"
Kata pengemis tua dengan gembira segera ia melangkah ke luar kamar.
Lok-Cing-hui dan Kiam-eng tahu pengemis tua itu ingin tahu kejadian gudang kapal maka setelah anak buah kapal pergi Cing-hui lantas berkata kepada Kiam-eng "Anak Eng, mungkin si baju hijau itu pun sembunyi di gudang lekas kau susul Ang-lo-cian-pwe."
Kiam-eng mengiakan dan segera meninggalkan kamar, sampai di geladak, dilihatnya It-sik-sin-kai sedang bicara dengan Lo-Ciok-cu, ia segera mendekat dan bertanya.
"Ada urusan apa, Ang-pang-cu?"
Si pengemis tua tidak menjawab, malahan ia harus cengkeram leher baju Lo-Ciok-cu sambil menghardik.
"Kamu juragan kapal brengsek, pengemis tua suka makan ikan asin, maka ingin aku minta sekati dua kati kepada pemilik ikan mengapa tidak boleh?"
"Bukan tidak boleh, cuma tidak leluasa,"
Sahut Lo-Ciok-cu.
Baca Juga: Hong Lui Bun 2
Baca Juga: Misteri Pulau Neraka 4