Eps 8 Rahasia 180 Patung Mas - Gan Kl
Baca online Rahasia 180 Patung Mas - Gan Kl
Cersil Rahasia 180 Patung Mas - Gan Kl.
"Gurumu telah membunuh ke-18 tokoh besar di Hwe-liong-kok, kejadian itu dilihat oleh In-Ang-bi, saking kaget dan takutnya nona itu sakit ingatan. Karena yakin dia tidak dapat lagi menceritakan apa yang dilihatnya, maka jiwanya tidak kalian ganggu. Tapi kemudian ketika mengetahui guruku berniat menyembuhkan penyakitnya kalian merasa kuatir dan diam-diam berusaha mencelakai su-heng ku yang diutus ke sini oleh guruku untuk mencari Jian-lian-hok-leng. Sekarang kalian berusaha ingin merintangi usahaku dan memaksa aku menyerahkan Jian-lian-hok-leng dengan tujuan menutupi perbuatan jahat kalian supaya wajah asli kalian tidak tahukan. Betul tidak?"
"Tidak betul,"
Jawab Sih-Hou sambil menggeleng.
Guruku dan kami bertiga sangat jarang menginjak daerah Tiong-goan.
Mengenai peristiwa yang timbul di Tiong-goan sama sekalian kami tidak tahu menahu, bicara tentang terbunuhnya ke-18 tokoh itu, lebih-lebih tidak ada sangkut-pautnya dengan kami."
"Wah, tampaknya meski gurumu dan kalian memiliki kung-fu maha tinggi, namun nyali kalian justru terlebih kecil daripada nyali tikus,"
Ejek Kiam-eng. Sih-Hou menjadi gusar, bentaknya, tidak perlu lagi banyak omong, lekas serahkan Jian-lian-hok-leng!"
Kiam-eng tertawa, ia merogoh saku baju dan berkata.
"Tapi ingin aku tambahkan lagi, setelah aku serahkan Jian-lian-hok-leng, kalian juga harus membebaskan nona Ih, kalau kalian tidak menepati itu berarti kalian bukan manusia! ..."
Habis berucap, ia angkat tangan dan melemparkan sesuatu sambil berseru.
"Nah, ambil!"
"Blang", terdengar suara gemuruh, suara ledakan dahsyat dengan asap kuning tebal, itulah ciri khas Kau-hun-tan buatan Sai-hoa-to.
"Wah, itu Kau-hun-tan!"
"Betul, lekas tahan napas!"
Begitulah Sih-Hou bertiga berteriak panik dua-tiga kali, lalu tidak terdengar suaranya lagi, entah roboh pingsan atau sudah kabur.
Yang meledakkan Kau-hun-tan itu dengan sendirinya juga Su-Kiam-eng.
Rupanya tadi dia tidak berani melemparkan Kau-hun-tan lantaran hidung sendiri belum dipolesi dengan salep anti berbisa itu, kuatir senjata akan makan tuan, maka setelah melemparkan granat berbau pedas segera ia poles lubang hidung dengan salep, habis itu baru berani melemparkan Kau-hun-tan.
Dengan sendirinya ia tidak kabur pada waktu granat pertama dilemparkan sebab tujuannya juga ingin meneroboskan Sih-Hou bertiga.
Di tengah kabut tebal diam-diam ia menyelinap ke tengah hutan, ia panjat ke atas pohon besar dan sembunyi di tengah kelebatan daun, ditunggunya dengan sabar.
Tidak lama kemudian asap tebal granat yang pedas dan kabut kuning mulai buyar tertawa angin.
Waktu Kiam-eng mengamati ke bawah, ternyata tidak terlihat Sih-Hou bertiga menggeletak di tanah, ia tahu ke tiga orang itu tidak sampai pingsan oleh asap berbisa, diam-diam ia merasa gegetun.
Ia sembunyi lagi sejenak di atas pohon, setelah yakin ke tiga lawan tidak berada lagi di sekitar situ barulah ia melompat turun dan berlari jurusan utara.
Sekarang ia sudah ambil suatu keputusan, setelah si orang berkedok hijau mengetahui dirinya sedang mengejarnya, mereka tentu mengadakan penjagaan yang ketat, dalam keadaan demikian, jelas tidak ada harapan akan dapat menolong Ih-Keh-ki, terpaksa pulang dulu ke Tiong-goan dengan membawa Jian-lian-hok-leng, habis itu baru datang lagi dan berdaya untuk menyelamatkan si nona.
Begitulah sepanjang jalan ia tidak memperhatikan lagi jejak kawanan gajah, ia terus melintasi bukit dan menelusuri hutan dan pulang ke Tiong-goan.
Waktu lohor hari ke empat, setelah menerobos hutan lebat, sampailah dia perkampungan suku Pek-ih yang cuma beranjak satu hari perjalanan ke kota Ting-ciong.
Di perkampungan suku Pek-ih ini dahulu ia menitipkan ke dua ekor kuda hitam putih miliknya dan Keh-ki itu.
Sebenarnya ia merasa kalau ingin pulang ke Tiong-goan dengan aman seharusnya ia tinggalkan kuda tunggangannya itu.
Tapi lantas terpikir lagi dari sini ke Bu-lim-teh-coh masih berjarak belasan ribu li, hanya dengan menunggang kuda mestika itulah dapat tiba di Bu-lim-teh-coh dengan cepat.
Maka ia mengambil keputusan akan mencari Nan-si untuk minta kembali kudanya.
Setiba di depan kampung, ia lihat dua orang nona suku Pek-ih sedang mencuci pakaian di tepi sungai, dan terheran-heran ketika melihat kedatangan Kiam-eng.
"Kiam-eng mengangguk kepada mereka dan menyapa dengan tertawa.
"Ke dua nona ini apakah masih kenal padaku?"
"Tentu saja masih kenal,"
Jawab salah seorang nona itu.
"Tempo hari kudamu kau dititipkan kepada Nansi, betul tidak?"
"Betul apakah nona Nansi itu sekarang berada di rumah?"
Tanya Kiam-eng pula. Kembali nona Pek-ih itu mengangguk dan menjawab.
"Ada, cuma ..."
"Cuma apa?"
Tanya Kiam-eng. Nona itu tersenyum, katanya kemudian.
"Kau mau berkawan denganku?"
Kiam-eng tercengang, jawabnya dengan tertawa.
"Tentu saja mau. Cuma sekarang aku lagi sibuk urusan penting dan tidak sempat bertamu rumahmu."
Nona Pek-ih tampak merasa kecewa, katanya.
"Kau mau ambil kudamu ke rumah Nansi, bukan?"
"Betul, obat-obatan sudah aku dapatkan, sekarang aku harus pulang ke Tiong-goan."
"Jika engkau mau berkawan denganku, dapat aku beritahukan suatu hal padamu,"
Ucap nona Pek-Ih itu. Nona Pek-ih yang lain cepat menjawil kawannya dan mendesis.
"Ssst, jangan sembarangan omong, apa kamu minta mampus?"
Melihat kasak-kusuk mereka, Kiam-eng menjadi curiga, cepat tanyanya.
"Tidak boleh sembarangan omong apa?"
Karena diperingatkan kawannya, nona Pek-ih yang pertama tadi nampak ragu, jawabnya sambil menggeleng kepala.
"Oo, tidak, tidak jadi aku katakan."
"Katakanlah padaku, lain kali bila ada kesempatan tentu aku jadi tamu ke rumahmu, mau?"
"Lain kali itu kapan?"
Tanya nona itu dengan gembira.
"Tidak pasti, yang jelas aku pasti akan datang kemari lagi dan tentu aku cari nona,"
Jawab Kiam-eng. Setelah berpikir, nona Pek-ih itu berkata.
"Ah, sukar dipercaya cara begini, takkan aku katakan."
"Ya sudahlah kalau tidak mau bicara, biar aku cari Nansi saja dan aku yakin dia pasti akan memberitahukan padaku."
Habis berkata segera Kiam-eng melangkah ke depan. Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba berpikir sesuatu, ia menoleh dan tanya lagi.
"Eh, nona, apakah beberapa orang itu yang minta kamu jangan memberitahukan hal itu padaku, bukan?"
Nona Pek-ki itu tampak melengak, jawabnya "Dan mana kau tahu?"
Tergetar hati Kiam-eng, cepat ia mendekati tepi sungai tepi dan berkata.
"Mereka adalah kawanan serombongan, sekali aku tebak saja tentu kena."
Nona Pek-ki itu bersuara ragu, katanya.
"Benar ... benar mereka adalah kawanmu?"
"Tentu saja benar, bilakah mereka sampai di sini?"
Tanya Kiam-eng.
"Pagi tadi,"
Tutur nona itu.
"Mereka pesan kepada kami bilamana melihat kedatanganmu agar jangan memberitahukan mereka tinggal di rumah Nansi, kalau mereka akan membunuh ... Apakah benar mereka itu kawanmu?"
"Benar, cuma mereka terlampau ganas, Maka aku tidak suka berada bersama mereka,"
Ujar Kiam-eng.
"Dan sekarang apakah jadi kau cari mereka?"
Tanya nona Pek ih itu.
"Tidak, tidak jadi,"
Jawab Kiam-eng.
"Dan kau pun jangan katakan kepadaku mereka akan kedatanganku ini. Kalau tidak, bukan mustahil, kamu akan dibunuh mereka."
Dengan penuh harap nona Pek-ih itu berkata "Jika engkau tidak ingin menemui mereka, bagaimana kalau kau sembunyikan saja di rumahku?"
"Tidak, ada urusan penting harus aku cari Sinba, biarlah aku mampir, rumahmu lain hari saja,"
Tolak Kiam-eng dengan cara halus.
Habis berucap, dengan tersenyum ia melambai tangan kepada mereka, segera ia angkat kaki dan berlari secepat terbang menuju ke Ting-ciong.
Sama sekali tak terduga olehnya bahwa Sih-Hou bertiga bisa menanti dirinya di rumah Nansi karena itulah ia tidak berani ayal lagi, untuk amannya ia pun mengambil jalan pegunungan yang sepi.
Waktu lohor esok harinya ia sudah berada kembali di kota Ting-ciong.
Ia tahu cepat atau lambat Sih-Hou bertiga pasti akan mengetahui dirinya telah lalu di perkampungan suku Pek-ih itu, maka ia tidak berhenti terlampau lama di Ting-ciong, setelah membeli baju dan perbekalan seperlunya segera ia tinggalkan kota itu dan meneruskan perjalanan pulang ke utara.
Setelah meninggalkan kota Tiong-cing, lebih dulu ia sembunyi dalam hutan, ia menyamar dirinya menjadi penduduk setempat, dengan begitu barulah berangkat lagi dengan leluasa.
Meski rimba raya yang menakutkan itu sudah ditinggalkannya, namun keadaan di depan mata sekarang tetap hutan belukar yang tidak ada batasnya.
Hanya saja di hutan lebat sekarang ini tidak ada lagi binatang buas yang berkeliaran melainkan ada sebuah jalan dan terlihat orang yang berlalu lintas.
Teringat masih ada perjalanan berlaksa li jauhnya baru akan sampai di Tiong-goan, mau-tak-mau ia jadi terkenang kepada kuda putih kesayangannya.
"Tek-tok ... tek-tok ..."
Tiba-tiba bergema detak lari kuda dari belakang. Waktu Kiam-eng menoleh, terlihat lima ekor kuda gagah sedang membedal tiba. Ia terkesiap, pikirnya.
"Hm, jangan-jangan mereka telah memburu kemari?"
Oleh karena dia sudah menyamar maka ia tidak terlampau gugup, segera ia menyingkir ke tepi dan tetap meneruskan perjalanan.
Suara detak lari kuda semakin dekat, hanya sekejap saja sudah berada di belakangnya.
Waktu Kiam-eng menoleh lagi, dilihatnya ke lima kuda yang membedal tiba itu hanya ditunggangi tiga orang, dan ke tiga orang penunggangnya adalah Sih-Hou bertiga, ke dua ekor kuda yang tak berpenumpang itu ternyata kuda hitam putih miliknya dan milik Ih-Keh-ki itu.
Diam-diam Kiam-eng terkejut, pikirnya.
"Kurang ajar! Rupanya kalian bermaksud memperalat kuda kami untuk memancing kemunculanku."
Tengah berpikir, Sih-Hou bertiga sudah membedal lewat bersama kudanya ...
Justru pada saat baru saja kuda terakhir melampaui Kiam-eng.
Sih-Hou yang memimpin rombongan itu mendadak memberi tanda berhenti, ia putar kepala kudanya dan mengamat-amati Kiam-eng sejenak, lalu bertanya.
"Hei adakah kau lihat seorang, pemuda bangsa Han lalu di sini?"
Perlahan Kiam-eng mengangkat kepala, jawabannya berlagak bodoh.
"Seorang pemuda bangsa Han?"
"Ya, pemuda berusia likuran, berbaju warna hijau, pemuda bangsa Han!"
Kiam-eng pura-pura berpikir sebentar, lalu menggeleng dan menjawab.
"Tidak, tidak aku lihat."
"Oo,"
Sih-Hou bersuara singkat, katanya terhadap kedua kawannya.
"Wah, melihat gelagatnya, bocah itu seperti tidak menempuh jalan ini."
"Seumpama dia tidak melalui jalan ini, Thian-ti adalah tempat yang, harus dia lalui, biarlah kita menunggunya di Thian-ti saja."
Kata si pedang perak Kwa-Eng-seng. Tiba-tiba si pedang baja Ku-Tai-hong menyambung.
"Bocah itu mahir menyamar, untuk mencari dia rasanya sangat sulit."
"Justru lantaran dia pandai menyamar, makanya aku bawa kudanya kemari, aku yakin dia pasti merasa berat kehilangan kuda bagus ini, bila melihat kita membawa kudanya, tentu timbul hasratnya akan mencuri kuda. Dengan demikian kita pun ada kesempatan untuk menangkapnya. Berkata sampai di sini, Sih-Hou membalik kudanya lagi dan berkata.
"Ayo, kita mengejar lagi lebih lanjut!"
Tiba-tiba Kiam-eng memburu maju dan berseru.
"Eh, ke tiga tuan ini tunggu sebentar, ada suatu urusan ingin aku rundingkan dengan kalian ..."
Mestinya Sih Hou sudah hendak melarikan kudanya, mendengar itu ia menoleh dan bertanya.
"Ada urusan apa?"
Kiam-eng berkata dengan menyengir.
"Kebetulan aku pun hendak menuju ke Thian-ti entah ke tiga tuan sudi tidak meminjamkan seekor kuda ini bagiku?"
Sih-Hou mendengus, menjawab "tidak"
Saja ia tidak sudi dan segera ia mengentak tali kendali dan membedalkan kudanya ke depan. Kiam-eng masih terus mengejar dengan berlari serunya.
"Apabila ke tiga tuan sudi meminjamkan seekor kuda tunggangan ini, aku bersedia kerja bakti juga bagi kalian."
"He, kerja bakti apa yang dapat kau lakukan bagi kami?"
Dengan setengah bergurau Kwa-Eng-seng menanggapi. Sembari berlari Kiam-eng menjawab.
"Pekerjaanku di Thian-ti adalah perawat kuda dari sini ke Thian-ti masih ada perjalanan selama lima-enam hari, apabila ke tiga tua sudi meminjamkan seekor kuda tunggangan bagiku, sepanjang jalan biar aku rawat kuda kalian."
Kwa-Eng-seng merasa tawaran itu tidak jelek. Ia coba berkata kepada Sih-Hou yang berada di depan.
"Su-heng, ia bilang mau merawat kuda kita, untuk itu rasanya takkan mengganggu kecepatan perjalanan kita. Bagaimana kalau pinjamkan seekor kepadanya?"
Sih-Hou juga merasa Thian-ti masih cukup jauh, manusia dan kuda masih harus istirahat dalam perjalanan, jika sekarang ada orang mau menjaga kuda bagi mereka, rasanya akan sangat banyak meringankan bebannya.
Maka ia lantas mengangguk dan menjawab.
"Baiklah, boleh kau suruh dia naik saja!"
Kwa-Eng-seng lantas berkata kepada Kiam-eng dengan tertawa.
"Nah, su-heng ku sudah terima tawaranmu, bolehlah aku naik kuda putih itu saja."
Girang sekali Kiam-eng, segera ia meraih tali kendali yang mengintil di belakang Ku-Tai-hong dan mencemplak ke atas kuda.
Kuda putih itu memang kuda tunggangannya, sekarang ia pinjam kuda dalam kedudukan sebagai suku bangsa setempat, tentu saja diam-diam ia merasa geli.
Melihat cara menunggang kuda Kiam-eng tidak tanggung, dengan tertawa Ku-Tai-hong tanya dia.
"Hei, siapa namamu?"
"Aku she Peng dan bernama Tai-siu,"
Jawab Kiam-eng dengan nama samaran perawat kuda di hotel Thian-ti yang pernah dikerjainya itu.
"Oo, di peternakan kuda mana di kota Thian-ti kamu bekerja?"
Tanya Ku-Tai-hong pula tanpa sangsi.
"Oo, aku tidak bekerja melainkan menjadi perawat kuda di hotel Kun-beng-lo-can!"
Jawab Kiam-eng.
"Oo, dan untuk apa kamu berada di sini?"
Tanya pula Ku-Tai-hong.
"Ada seorang kakekku tinggal di Tiong-ciong, aku minta cuti untuk menjenguk kakak,"
Tutur Kiam-eng beralasan.
Begitulah empat orang berlima kuda makin lama makin cepat melarikan kudanya ke jurusan utara.
Sepanjang jalan, apabila Sih-Hou melampaui setiap orang, selalu ia berhenti mengamati orang lain itu.
Dengan sendirinya mimpi pun tidak pernah mereka duga bahwa orang yang hendak mereka cari itu justru berada di samping mereka.
Semula Kiam-eng merasa tegang, tapi kemudian setelah mengetahui ke tiga lawan tidak menaruh curiga sedikitpun terhadap dirinya, maka ia bertekad akan menunggu sampai di Thian-ti nanti baru akan berdaya untuk melepaskan diri.
Lohor hari ini mereka sampai di suatu dataran sunyi.
Sih-Hou menoleh dan tanya Kiam-eng.
"Hei, Peng-Tai-siu, apakah di sekitar sini ada pedusunan yang dapat dibuat tempat istirahat?"
"Tidak ada,"
Jawab Kiam-eng.
"Harus menempuh ratusan li lagi baru ada."
Sih-Hou lantas menghentikan kudanya di bawah pohon besar, aku tanya.
"Kalau begitu, biarlah kita mengaso dulu di sini."
Mereka melompat turun kuda masing-masing, Sih-Hou menyerahkan kudanya kepada Kiam-eng, katanya dengan tertawa.
"Nah, sekarang inilah waktunya kamu bekerja bakti."
Dengan senang hati Kiam-eng membawa ke lima ekor kuda itu ke sebuah sungai kecil dan membiarkan binatang tunggangan itu minum air, lalu membiarkan mereka makan rumput di tanah lapang.
Sih-Hou bertiga duduk santai di bawah pohon mereka mengeluarkan rangsum kering untuk isi perut.
Hati Ku-Tai-hong ternyata tidak jelek, ia tanya Su-Kiam-ong.
"Hai, Peng-Tai-siu, adakah kau bawa makanan?"
"Ada, bawa!"
Jawab Kiam-eng dari jauh. Lalu ia pun membuka rangselnya dan mengeluarkan rangsum untuk dimakan. Tidak lama kemudian manusia dan kuda sama makan kenyang, Sih-Hou melompat bangun dan berseru.
"Baiklah, sekarang kita berangkat!"
Kwa-Eng-seng masih duduk di tempatnya, katanya.
"Su-heng, aku kira bocah itu mungkin tertinggal di belakang sana, bagaimana kalau kita tunggu lagi sebentar?"
"Tidak, bocah itu sudah mendahului kita meninggalkan pedusunan suku Pek-ih itu setengah harian, bila dia juga mendapatkan kuda, saat ini tentu sudah jauh di depan sana."
Habis berkata Sih-Hou lantas mencemplak ke atas kudanya.
Tidak berani membantah lagi, terpaksa si pedang perak dan pedang baja ikut naik kuda masing-masing dan rombongan mereka lantas melanjutkan perjalanan lagi.
Kira-kira beberapa li jauhnya, tiba-tiba memergoki tiga penunggang kuda dari depan.
Ke tiga penunggang kuda ini ternyata sudah kenal semua oleh Su-Kiam-eng, mereka adalah murid Tok-pi-sin-kun yaitu Ji-Liang, si harimau terbang putih, si macan tutul Tong-hong-Beng dan si cantik bulan purnama Tiau-Soat-lan.
Sebulan yang lalu, Tok-pi-sin-kun yang terpukul luka oleh Sam-bi-sin-ong, menurut Sam-bi-sin-ong katanya diperlukan istirahat setengah tahun baru luka Tok-pi-sin-kun dapat pulih kembali.
Sekarang sebulan baru lalu dan Ji-Liang bertiga muncul di sini, mungkin sekali luka Tok-pi-sin-kun sudah mulai sembuh, maka ke tiga muridnya diperintahkan ke selatan sini untuk mencari Su-Kiam-eng sekaligus menuntut balas terhadap Sam-bi-sin-ong, selain itu juga ikut dalam barisan perebut kota emas.
Karena itulah diam-diam Kiam-eng terkesiap setelah mengenali ke tiga orang ini.
Cuma sekarang Kiam-eng dalam keadaan menyamar, ia yakin ke tiga orang itu tidak mungkin dapat mengenalnya, yang dikuatirkan bila Ji-Liang bertiga jadi bertarung dengan Sih-Hou bertiga, maka dirinya mungkin akan ikut terkena getahnya.
Benar juga begitu ke dua pihak sudah dekat, Ji-Liang bertiga lantas menghentikan kudanya, ke tiga orang berjajar di tengah jalan sehingga rombongan Sih-Hou terhalang.
Agaknya Sih-Hou bertiga juga mengenali Ji-Liang bertiga adalah murid Tok-pi-sin-kun, mereka pun berhenti, namun diam saja tanpa bersuara sikapnya tenang, seperti tidak memandang rombongan Ji-Liang sebagai lawan berat.
Setelah saling pandang dengan diam sejenak akhirnya Ji-Liang menjengek.
"Hm, siang hari bolong kenapa pakai kedok segala apakah kalian dapat menanggalkan kain kedok?"
"Untuk apa?"
Sih-Hou mendengus.
"Soalnya kami sedang mencari seorang,"
Kata Ji-Liang.
"Mencari siapa?"
Tanya Sih-Hou tertawa.
"Su-Kiam-eng!"
Jawab Ji-Liang.
"Hahaha, sungguh kebetulan, kami pun sedang mencari dia!"
Seru Sih-Hou. Mendadak Ji-Liang menarik muka dan berkata.
"Kalina mau menanggalkan kain kedok atau tidak?"
"Hm, kau kira satu di antara kami ini Su-Kiam-eng, begitu?"
"Betul,"
Ji-Liang mengangguk.
"Lantaran muka kami tertutup kain, maka aku yakin satu di antara kami pasti Su-Kiam-eng? Hehe, sungguh lucu!"
Ji-Liang menuding kuda putih yang ditunggangi Su-Kiam-eng itu dan berkata.
"Itu dia, kuda putih itu jelas aku kenal sebagai kuda Su-Kiam-eng!"
"Memang betul kuda itu milik Su-Kiam-eng, namun bocah she Su itu seharusnya menunggang kudanya kan?"
"Aku kira dia tidak punya keberanian begitu!"
"Apa artinya?"
Tanya Sih Hou.
"Memangnya kamu tidak kenal kami bertiga?"
Jengek Ji-Liang.
"O, aku kenal kalian adalah murid Tok-pi-sin-kun!"
Jawab Sih-Hou.
"Jika begitu, tentu kau tahu keonaran yang dilakukan Su-Kiam-eng putar kami?"
Kata Ji-Liang. Agaknya Sih-Hou sengaja hendak mengoceh lawan, ia menggeleng kepala dan berkata dengan tertawa.
"Ah, maaf, kami tidak tahu keonaran apa yang diterbitkan Su-Kiam-eng di tempat kalian itu?"
Ji-Liang juga cukup licin, ia tidak mau menceritakan kejadian Su-Kiam-eng mengacau istana putar tempo hari, ia cuma menjawab.
"Pendek kata, Su-Kiam-eng adalah orang yang harus kami binasakan."
"Kalau begitu jadi kita berdua pihak boleh dikatakan mempunyai tujuan yang sama,"
Ujar Sih-Hou tertawa.
"Bilamana Su-Kiam-eng dapat kami tangkap, tentu akan kami antar ke tempat kalian dan terserah cara bagaimana akan perlakukan dia."
"Agar kami dapat mempercayai perkataanmu, betapapun kalian harus menanggalkan dulu kain kedok kalian!"
Ucap Ji-Liang.
"Wah, cara ini kurang baik,"
Kata Sih-Hou.
"Sebab setelah kau lihat wajah kami maka seketika kalian harus binasa. Ini kan tidak untung bagimu?"
Wajah Ji-Liang seketika berubah beringas, mendadak ia melompat turun dari kudanya dan melepaskan pedang lemas yang melibat di pinggangnya, bentuknya.
"Nah, turun kemari, aku kira kalian takkan menitikkan air mata sebelum melihat peti mati!"
Serentak Tong-hong-Beng dan Tiau-Soat-lan juga ikut melompat turun dan melolos pedang siap tempur.
Sih-Hou bertiga saling pandang dengan tersenyum, dengan tenang mereka pun melompat turun dari kuda masing-masing dan melolos pedang dengan perlahan.
Kiam-eng berlagak takut dan menarik kudanya menyurut mundur hingga belasan meter jauhnya, lalu berdiri di sana dengan lagak gemetar.
Ji-Liang mendengus sekuatnya ia menyendal sehingga pedangnya yang lemas itu melurus tegak ia tuding Kiam-eng dan bertanya.
"Ada apa dengan sahabat itu?"
"Dia bukan rombonganku dia cuma meminjam naik seekor kuda kami saja!"
Tutur Sih-Hou tertawa.
"Hm, apa betul?"
Jengek Ji-Liang.
"Betul,"
Sih-Hou mengangguk.
"Betapapun kalian juga murid perguruan ternama, seharusnya dapat kau lihat dia orang macam apa. Dia kan cuma seorang perawat kuda yang biasanya bekerja di Kun-beng-lo-can."
Ji-Liang mengamati Kiam-eng dengan sorot mata tajam, jengeknya kemudian.
"He, hampir setiap pelayan dan pekerja di hotel Kun-beng-lo-can aku kenal, rasanya tidak pernah aku lihat orang seperti dia."
Tergetar hati Kiam-eng, cepat ia berseru "Omong kosong, sudah tiga-empat tahun aku bekerja sebagai perawat kuda tamu di Kun-beng-lo-can, masakah tidak kenal diriku?"
"Coba katakan, siapa namamu?"
Tanya Ji-Liang dengan melirik hina. Diam-diam Kiam-eng menyesal telah mengaku bernama Peng-Tai-siu terpaksa ia menjawab.
"Namaku Peng-Tai-siu, setiap tamu yang pernah tinggal di Kun-beng-lo-can tentu kenal padaku."
Ji-Liang menyangka tujuan Kiam-eng memalsukan nama Peng-Tai-siu hanya untuk menipu Sih-Hou bertiga dan tidak ada tujuan lain, tak diketahuinya bahwa dia justru adalah Su-Kiam-eng yang sedang dicarinya.
Maka ia hanya mendengus saja setelah mendapat jawaban Kiam-eng itu, segera ia memandang Sih-Hou berkata pula.
"Nah, boleh silakan memberi petunjuk beberapa jurus!"
Sih-Hou mengangguk, perlahan ia angkat pedang dan menuding dada Ji-Liang dari jauh, habis itu mendadak tubuhnya berputar, secepat kilat ia melompat balik ke sana, menerjang ke arah Su-Kiam-eng.
Perubahan mendadak ini membuat Ji-Liang bertiga melengong bingung.
Namun sebelum Su-Kiam-eng sudah tahu setelah Sih-Hoa mengikuti tanya-jawab antara Ji-Liang dengan dirinya, tentu sudah timbul curiga terhadapnya.
Maka lebih dulu ia sudah waspada, dan begitu melihat gerak putar tubuh Sih-Hou, segera pula Kiam-eng ayun sebelah tangan sambil membentak.
"Lihat pukulan!"
Berbareng itu ia pun putar kudanya, ke dua kaki mengempit kencang, serentak ia larikan kuda arah lain.
Memangnya kuda putih itu adalah kuda mestika seharian sanggup lari ribuan li, namun waktu lari pertama kecepatannya sukar melebihi kecepatan gerak tubruk seorang.
Namun waktu Kiam-eng ayun tangannya tadi sebuah granat berbau pedas telah dilemparkan, maka ketika Sih-Hou baru saja menerjang tiba terdengarlah suara ledakan dahsyat dan suasana pun serentak berubah sama sekali.
Asap hitam tebal dari ledakan itu segera menenggelamkan semua orang dalam lautan asap.
Lantaran sudah beberapa kali merasakan betapa lihainya granat berbau pedas itu, masih Sih-Hou bertiga terkejut, tapi juga tidak terlalu panik.
Sebaliknya Ji-Liang bertiga menjadi kelabakan dan menjerit kuatir.
Di tengah kabut tebal itulah terdengar serentetan derap lari kuda, selagi semua orang berteriak panik, suara lari kuda itu semakin menjauh.
"Lekas kejar, bocah itu kabur!"
Teriak Sih-Hou. Ji-Liang bertiga berulang-ulang bersin, tanyanya kemudian.
"Siapa ... siapa bocah yang kau ... aciih ... yang kau maksudkan?"
"Dia itulah Su-Kiam-eng,"
Jawab si pedang emas Sih-Hou.
"Ahh, kiranya dia Su-Kiam-eng yang kita cari!".
"Wah, kejar, lekas susul dia!"
Namun ketika mereka dapat menenangkan diri dan membawa kuda mereka yang kaget meninggalkan lautan kabut, sementara itu Su-Kiam-eng sudah berada ratusan meter jauhnya.
Segera mereka membedal kuda dan mengejar mati-matian.
Su-Kiam-eng juga melarikan kudanya secepat terbang.
Karena kuda putih itu memang kuda mestika, kecepatan larinya jarang ada bandingannya, maka jarak antara Kiam-eng dan para pengejarnya semakin jauh, tidak lama kemudian Kiam-eng telah jauh meninggalkan mereka." -* -Dua bulan kemudian, suatu pagi hari, sampailah Kiam-eng di tanah air sendiri, di daerah Tiong-goan, di tepi danau Tong-ting yang luas itu.
Ia titip kudanya pada sebuah rumah penginapan, lalu menyewa perahu mengarungi danau Tong-ting, menuju ke Li-hun-to, pulau yang terletak di tengah danau.
Menjelang lohor, sampailah perahunya di pulau kecil itu.
Setelah membayar sewa perahu, secepat terbang ia lari ke tengah pulau.
Tapi baru melintasi suatu tanah tanjakan, tiba-tiba terdengar suara desing busur, mendadak berpuluh anak panah serupa hujan menghambur ke arahnya.
Kejadian tak terduga ini membuat Kiam-eng terkejut, cepat ia melompat dan sembunyi di balik sebuah batu karang, lalu berteriak.
"Jangan lepas panah! Aku Su-Kiam-eng, khusus datang untuk menyambangi Leng-to-cu kalian!"
Mungkin kawanan perempuan cacat yang tinggal di Li-hun-to sudah kenal nama Su-Kiam-eng, maka teriakan anak muda itu mereka tidak membidikkan panah lagi, segera suara seorang perempuan bergema dari dalam hutan sana.
"Jika benar engkau Su-siau-hiap, silakan tampil ke depan, biar kami lihat dulu!"
Dalam perjalanan pulang ini Su-Kiam-eng sudah beberapa kali ganti rupa dengan kepandaian yang khas merias wajahnya, sekarang ia pun belum memulihkan wajah aslinya.
Maka cepat ia membusuk mukanya hingga bersih dari polesan lalu muncul dari tempat sembunyinya.
Mungkin kawanan perempuan yang sembunyi di tengah hutan itu dapat mengenali dia sebagai Su-Kiam-eng, segera ada yang berseru.
"Baiklah, silakan Su-siau-hiap tunggu sebentar, biar kami lapor dulu kepada Te-cu!"
Jelas nadanya sudah berubah hormat, namun mereka tetap tidak memperlihatkan diri.
Kiam-eng tahu Li-hun-to biasanya dilarang didatangi oleh kaum lelaki, maka ia tidak heran, bila diperlakukan dingin oleh lawan.
Setelah mendengar ucapan lawan tadi, ia hanya tersenyum dan berdiri menunggu di situ dengan tenang.
Kedatangannya ke Li-hun-to ini bertujuan menjelaskan kepada Li-hun-to-cu Leng-Jing-jing tentang pengalamannya di kota emas itu, sebab ia pernah berjanji kepada Leng-Jing-jing bilamana menemukan kota emas, ia mau menyumbangkan seluruh harta benda yang diperoleh dari kota purba itu untuk dana kesejahteraan ribuan orang perempuan cacat di pulau itu.
Usahanya ternyata belum berhasil, maka ia merasa perlu memberi penjelasan kepada Leng-Jing-jing.
Begitulah setelah menunggu sekian lama, terlihat Li-hun-to-cu Leng-Jing-jing yang ke dua mata-buta itu bergegas datang didampingi dua orang perempuan cacat yang lain.
Wajah Li-hun-nio-nio tampak menampilkan rasa girang, dengan langkah cepat ia mendekati Su-Kiam-eng dan memberi salam hormat.
"maaf bila kedatangan Su-siau-hiap ini tidak sempat kami sambut dengan selayaknya!"
Kiam-eng membalas hormat dan menjawab.
"Ah, terima kasih. Apakah Leng-to-cu baik-baik saja selama berpisah?"
Terkilas senyuman getir pada wajah Li-hun-nio-nio, jawabnya.
"Terus terang, kurang baik!"
"Oo,"
Kiam-eng terkesiap.
"Adakah sesuatu kejadian yang tidak berkenan di hati Leng-to-cu"
"Tempat ini bukan tempat bicara yang layak silakan Su-siau-hiap duduk di rumah saja dan nanti kita bicara lebih lanjut,"
Kata Li-hun-nio-nio dengan tersenyum.
"Baiklah, silakan!"
Kiam-eng menyilakan tuan rumah.
Akan tetapi Leng-Jing-jing juga menyilakan dengan hormat.
Setelah beramah-tamah ke dua nya lantas menuju ke tengah pulau dengan jalan berjajar.
Berada di bawah pimpinan Leng-Jing-jing Li-hun-to dibenahi hingga indah permai serupa sebuah taman alam.
Namun sekarang dirasakan oleh Su-Kiam-eng di mana-mana terdapat pos penjagaan, perempuan yang dilihatnya sepanjang jalan semuanya bersenjata dan siap siaga serupa lagi menghadapi kedatangan musuh.
Mau tak mau ia menjadi heran, ia pikir jangan jangan Li-hun-to segera akan diserang pihak musuh?
Beberapa kali ia bermaksud minta keterangan cuma dirasakan sebagai tamu yang baru saja bertandang, rasanya tidak sopan untuk banyak tanya ini dan itu.
Begitulah rombongan mereka lantas masuk ke ruang pendopo, segera pelayan menyuguhkan minuman, Li-hun-nio-nio mendahului bicara.
"Su-siau-hiap ternyata, seorang yang suka pegang janji. Dan entah bagaimana dengan hasil perjalananmu ke kota emas itu?"
Kiam-eng menghela napas perlahan, tuturnya.
"Pujian Leng-to-cu terhadap diriku sebagai orang yang suka janji sungguhan membuatku merasa malu."
Li-hun-to-cu tampak merasa agak kecewa, ucapnya.
"Su-siau-hiap berkata demikian, jangan-jangan karena kota emas itu tidak ditemukan?"
"Tidak, kota emas itu telah aku temukan,"
Kata Kiam-eng.
"Cuma sayang aku tidak mampu menepati janjiku terhadap Leng-to-cu dahulu."
"Maksudmu harta benda di kota kuno itu sudah direbut orang?"
Tanya Li-hun-to-cu dengan terkesiap.
"Ya, seluruhnya direbut orang,"
Kiam-eng mengangguk.
"Siapa perampas itu?"
Tanya Li-hun-nio-nio.
"Seorang berkedok kain hijau yang mengaku sebagai 'Raja Rimba',"
Tutur Kiam-eng.
"Oo, Raja Rimba?"
Li-hun-nio-nio menegas dengan tercengang.
"Betul, tapi sebutan lawan ini jelas sengaja dibuat-buat, sebenarnya dia orang Tiong-goan, harap Leng-to-cu ikuti ceritaku ini ..."
Agar orang dapat mengikuti kejadian seluruhnya dengan jelas, Kiam-eng mulai ceritanya dengan pembelian kuda putih mestika di tengah perjalanan itu, bagaimana berkenalan dengan Ih-Keh-ki dan menyelamatkan Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho, lalu cara bagaimana ia menyamar sebagai Oh-tok-hong dan menyusup ke istana putar.
Tok-pi-sin-kun, kemudian dapat merebut kembali peta asli dan bersama Sam-bi-sin-ong dan Lau-ho-li serta Ih-Keh-ki menuju ke daerah selatan yang masih liar itu.
Setelah berada di tengah rimba raya purba, cara bagaimana mengalami berbagai bahaya dan akhirnya dapat mencapai kota emas.
Lalu cara bagaimana menyingkap rahasia si orang berkedok hitam ternyata samaran Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho, kemudian cara bagaimana ke-18 buah patung emas, dan untuk ke dua kalinya ketika ia masuk ke kuil raksasa diketahui ke semua patung emas telah diangkut bersih oleh si orang berkedok hijau.
Semuanya ia kisahkan dengan jelas.
Air muka Li-hun-nio-nio berubah-ubah mengikuti jalan cerita Su-Kiam-eng itu, di antaranya yang paling membuatnya terkejut dan tak terduga adalah kemunculan Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho sebagai orang berkedok hitam dan menggunakan Gak-Sik-lam sebagai sandera serta bermaksud merebut kota emas itu.
Setelah mengikuti cerita Su-Kiam-eng itu, ia terdiam sejenak, akhirnya ia menghela napas dan berkata.
"Perjalanan Su-siau-hiap ke daerah selatan ini sungguh suatu pengalaman yang luar biasa lagi orang hidup."
"Betul, di sana telah aku saksikan sisi manusia yang paling memalukan dan paling menakutkan!"
Ucap Kiam-eng dengan tersenyum getir.
"Mendingan aku terima nasihat Su-siau-hiap dan membatalkan perjalanan ke selatan, kalau tidak, tentu aku pun sukar terhindar daripada nasib terkubur di wilayah yang masih biadab itu,"
Kata Li-hun-nio-nio.
"Sejauh ini aku rasakan harta karun di sana seyogianya menjadi bagian ribuan penghuni pulau To-cu ini,"
Ucap Kiam-eng.
"Namun usahaku ternyata gagal, sungguh aku merasa malu ..."
"Ah, janganlah Su-siau-hiap berkata demikian,"
Cepat Li-hun-to-cu memotong.
"Harta benda itu memang bukan milik kami, sekarang Su-siau-hiap sudi berkunjung kemari untuk memberi penjelasan pengalaman perjalananmu, melulu hal ini saja sudah cukup membuktikan kebesaran jiwa Su-siau-hiap yang luhur dan patuh pada janji yang pernah diucapkan. Untuk itu, biarlah atas nama ribuan perempuan cacat penghuni pulau ini aku sampaikan rasa terima kasih sebanyak-banyaknya terhadap Su-siau-hiap."
Berkata sampai di sini, segera ia berbangkit dan hendak menyembah kepada Su-Kiam-eng. Cepat anak muda itu bertanya dan berseru.
"Wah, janganlah Leng-to-cu berlaku demikian, betapapun aku malu untuk menerima penghormatan sebesar api."
Setelah Li-hun-nio-nio duduk kembali, segera memerintahkan pelayan menyingkap perjamuan, lalu tanya pula terhadap Su-Kiam-eng.
"Apakah Su-siau-hiap sudah bertemu dengan gurumu?"
"Betul, makanya aku pikir segera akan berangkat pulang ke Bu-lim-teh coh untuk menemui Su-hu,"
Jawab Kiam-eng.
"Berangkatlah setelah dahar,"
Pinta Li-hun-nio-nio.
"Hanya perjamuan siang saja aku layani Su-siauhiap, sesudah itu andaikan Su-siau-hiap tak mau berangkat juga terpaksa akan aku usir."
Kiam-eng menyangka orang cuma bercanda saja, ia tersenyum dan berkata.
"Aku tahu, mungkin selamanya pulau To-cu ini tidak pernah menerima tamu lelaki, apalagi sampai bermalam di sini."
"Bukan begitu soalnya,"
Tutur Li-hun-nio-nio.
"Aku tidak berani menahan Su-siau-hiap bermalam di sini oleh karena ada alasan lain."
Melihat orang bicara dengan serius, segera Kiam-eng teringat kepada keadaan siaga yang dilihatnya tadi, ia coba tanya.
"Apakah Leng-to-cu dapat memberitahukan alasannya?"
Li-hun-nio-nio termenung sejenak, lalu berucap dengan prihatin.
"Boleh juga aku beritahu, namun Su-siau-hiap harus berjanji suatu hal padaku."
"Leng-to-cu minta janji harus apa dariku?"
Tanya Kiam-eng.
"Su-siau-hiap harus berjanji takkan ikut campur urusan orang lain."
"Asalkan Leng-to-cu tidak berbuat sesuatu yang tidak benar atau membantu pihak yang jahat, dengan sendirinya aku tidak perlu ikut campur urusanmu ... Apakah hari ini Leng-to-cu akan kedatangan tamu?"
Chapter 19. Rahasia 180 Patung Mas "Betul, beberapa tamu yang sangat hebat!"
Tutur Li-hun-nio-nio. Padahal Kiam-eng cukup kenal betapa tinggi kung-fu Leng-Jing-jing, kini ada tamu yang disebutnya "sangat hebat,"
Ini menandakan orang yang bakal menyatroni Li-hun-to-cu ini memang bukan tokoh sembarangan.
"Memangnya siapakah mereka?"
Tanyanya kemudian.
"Hm, sungguh memalukan, aku pun tidak tahu siapa mereka!"
Jawab Li-hun-nio-nio.
"Mengapa Leng-to-cu bisa bersengketa dengan tokoh yang tidak diketahui asal-usulnya?"
Tanya Kiam-eng pula dengan heran.
"Tidak, sama sekali tidak ada sengketa apa pun,"
Tutur Li-hun-nio-nio.
"Mereka seluruhnya bertiga orang, semuanya memakai kedok kulit manusia dan mengaku sebagai duta 'Thian-ong-pang' (klik raja langit), setiap perguruan dan aliran persilatan diminta memuja Thian-ong-pang sebagai pimpinan dan setiap tahun harus membayar upeti satu laksa tahil emas.
"Selama beberapa bulan ini ke tiga duta mereka berturut-turut sudah mengalahkan ketua Siau-lim-pai, Hoa-san-pai dan Kong-tong-pai. Beberapa hari yang lalu mereka mengirim surat dan minta aku takluk kepada mereka atau membayar upeti, sesuai kehendak mereka. Mereka menyatakan akan datang minta jawaban tegas hari ini. Hehe, memang sudah aku siapkan jawaban tegas, yaitu dengan tongkatku ini."
Kiam-eng tercengang oleh cerita itu, serunya "Wah, bisa terjadi. Setiap orang di antara ke tiga duta mereka itu memang mempunyai kemampuan mengalahkan setiap ketua perguruan dan aliran mana pun."
"Dan tidak ada orang mengenali asal-usul mereka?"
Kiam-eng menegas.
"Ya, ilmu silat mereka sangat majemuk, yang sukar dibayangkan adalah cara mereka mengalahkan pimpinan setiap perguruan dan aliran, yang digunakan selalu dengan kung-fu perguruan yang dihadapinya."
Tergerak hati Kiam-eng, ucapnya.
"ah, jika begitu, ke tiga duta Thian-ong-pang itu sangat mungkin adalah se komplotan dengan orang berkedok hijau itu."
"Apakah kung-fu orang berkedok hijau itu juga sangat majemuk?"
Tanya Li-hun-nio-nio terkesiap.
"Betul, menurut cerita Ang-pang-cu dari Kai-pang, katanya kung-fu orang itu sangat majemuk dan mahir kung-fu andalan berbagai perguruan terkemuka, begitu pula bertiga anak muridnya."
"Oya, tadi kau bilang It-sik-sin-kai hanya sanggup melawan tiga ratusan jurus terhadap si orang berkedok hijau?"
"Betul, dari itu dapat disayangkan kepandaiannya memang lebih tinggi daripada Kiam-ong Ciong-Li-cin."
"Jika begitu, bila Thian-ong-pang ada seorang Pang-cu, mungkinkah dia adalah orang berkedok hijau itu?"
"Ya, sangat mungkin,"
Jawab Kiam-eng prihatin.
"Akan tetapi orang berkedok hijau itu kan tidak berada di Tiong-goan, masa anak buahnya berani berbuat keonaran sebesar ini?"
Ujar Li-hun-nio-nio.
"Jika Leng-to-cu bilang setiap orang dari ke tiga duta Thian-ong-pang itu mempunyai kemampuan mengalahkan setiap ketua perguruan dan aliran mana pun, kalau benar begitu, kenapa mereka tidak berani berbuat sekehendaknya?"
Li-hun-nio-nio mengangguk perlahan dan terdiam.
"Tentang ke tiga duta itu,"
Ucap Kiam-eng pula dengan tersenyum.
"sementara ini tidak perlu dipersoalkan apakah mereka anak buah si orang berkedok hijau atau bukan, yang jelas tanpa sebab dan tanpa alasan mereka mengganggu ketenangan Li-hun-to kalian, ini menandakan mereka sedang melakukan rencana penaklukan setiap aliran dunia persilatan secara bertahap. Urusan yang menyangkut kepentingan orang banyak seperti ini, mengapa Leng-to-cu melarangku ikut campur?"
"Kau tahu, selama berpuluh tahun tidak pernah ada orang mencari perkara ke Li-hun-to kami ini,"
Jengek Li-hun-nio-nio.
"Sekarang ke tiga keparat itu berani mengirim surat tantangan kepadaku dengan nada yang congkak, sedikit pun tidak menghargai diriku, sebab itulah aku ingin minta bantuan luar dan akan aku hadapi mereka sendirian."
"Jika demikian cara berpikir Leng-to-cu, aku kira engkau pasti akan kalah!"
Li-hun-nio-nio mendengus kurang senang.
"Hm, kau anggap aku pasti bukan tandingan mereka, begitu?"
"Jika satu lawan satu, mungkin Leng-to-cu ada kesempatan akan menang. Sekarang ingin aku tanya, selain engkau sendiri, siapa lagi di antara pembantumu yang sanggup menghadapi ke dua duta Thian-ong-pang yang lain?"
"Meski tidak ada, namun sudah ada akalku untuk menumpas musuh, bilamana aku rasakan tidak sanggup bertahan, dapat juga aku halau mereka pulau ini."
"Apa akal Leng-to-cu, bolehkah aku beritahu kan padaku?"
Tanya Kiam-eng. Li-hun-nio-nio mengangguk, dengan suara lirih ia tuturkan tipu akalnya yang telah disiapkan untuk menghadapi musuh. Kiam-eng manggut-manggut, katanya.
"Sekalipun akal Leng-to-cu ini cukup bagus, namun bagaimana dengan nasib para perempuan cacat yang tidak paham ilmu silat penghuni pulau ini?"
"Kemarin sudah aku pindahkan mereka ke suatu tempat yang aman,"
Tutur Li-hun-nio-nio dengan tertawa.
"Bagus kalau begitu, cuma apabila Leng-to-cu percaya padaku, bolehlah izinkan diriku tinggal di sini untuk mengikuti apa yang bakal terjadi nanti?"
"Untuk menonton keramaian saja boleh-boleh saja, cuma ingat, dilarang ikut turun tangan!"
"Baiklah, biar aku mengintip saja dari tempat tersembunyi!"
Tengah bicara, seorang pelayan datang melapor bahwa perjamuan sudah siap.
Li-hun-nio-nio lantas membawa Kiam-eng ke rumah makan.
Baru masuk ruang makan, terlihatlah seorang perempuan berpakaian singkat berlari datang memberi lapor.
"Lapor To-cu, ke tiga orang Thian-ong-pang sudah memasuki perairan Tong-ting-oh kita!"
"Jenis kapal apa yang mereka tumpangi?"
Tanya Li-hun-nio-nio dengan tenang.
"Dari merpati pos yang dikirim menara pengintai sana, katanya mereka menumpang sebuah rakit kayu,"
Lapor perempuan tadi.
"Mereka hanya bertiga dan tidak membawa kawan lain?"
Tanya pula Li-hun-nio-nio.
"Ya, mereka tidak menyewa tukang perahu, juga tidak ada pembantu lain, mereka meluncurkan rakit dengan kekuatan kebasan lengan baju dan tolakan angin pukulan,"
Tutur perempuan itu. Air muka Li-hun-nio-nio agak berubah.
"Masih beberapa jauh jarak mereka dari sini?"
"Kira-kira masih 20 li jauhnya, sedikitnya perlu setengah jam baru dapat mencapai pulau kita."
"Ehm, baiklah, nanti kalau mereka sudah mendekati pulau kita boleh datang lapor lagi, perintah Li-hun-nio-nio. Perempuan itu mengiakan dan mundur diri. Lalu Li-hun-nio-nio berkata kepada Su-Kiam-eng.
"Mari, kita makan dulu."
Setelah mengambil tempat duduk, menyusul datang seorang perempuan buta setengah baya mengiringi mereka makan. Dengan tertawa Li-hun-nio-nio tanya Su-Kiam-eng.
"Apakah Su-siau-hiap masih kenal kawanan kami ini?"
Kiam-eng memandang sikap perempuan buta setengah baya itu, jawabnya sambil menggeleng "Maaf, tempo hari waktu aku datang ke pulau ini, rasanya belum bertemu dengan Toa-nio ini ..."
"Dia bukan lain daripada Ciok-Biau-eng, Ciok-hou-hoat yang dahulu menyaru sebagai diriku itu,"
Tutur Lihun-nio-nio dengan tertawa.
Kiranya dahulu waktu Kiam-eng berjumpa dengan Ciok-Biau-eng, saat itu dia dalam keadaan menyaru sebagai Li-hun-nio-nio, maka wajah aslinya tidak dikenal.
Kiam-eng berseru kaget dan berbangkit memberi hormat, katanya.
"Ahh, kiranya Ciok-hou-hoat adanya. Maaf bila aku kurang hormat karena sudah pangling!"
Ciok-Biau-eng membalas hormat dan menjawab.
"Su-siau-hiap jangan sungkan."
Setelah duduk kembali, Kiam-eng coba tanya.
"Dahulu cara bagaimana Ciok-hou-hoat melepaskan diri dari recokan Kui-kok-ji-bu-siang?"
"Sungguh lucu kalau aku ceritakan,"
Tutur Ciok-Biau-eng tertawa.
"Meski ke dua setan itu memaksa aku membawa mereka untuk mencari Sai-hoa-to, namun mereka berdua pada dasarnya memang pemalas, baru menempuh perjalanan sehari semalam mereka sudah menguap dan berkedok kantuk, katanya ingin tidur. Kesempatan itu segera aku gunakan untuk minta istirahat dulu.
"Setelah kami berhenti di suatu tempat sepi, mereka berunding dan sepakat yang seorang tidur dan yang lain menjaga diriku. Yang tidur lebih dulu adalah si setan kayu. Akan tetapi ketika si setan lempung melihat aku tidur dengan nyenyak, ia sendiri pun tidak tahan dan akhirnya terpulas juga"
"Dan kesempatan itu lantas digunakan Ciok-hou-hoat untuk meninggalkan mereka?"
Ucap Kiam-eng dengan tertawa.
"Memang betul. Coba, lucu atau tidak?"
Kata Ciok-Biau-eng. Li-hun-nio-nio mengajak angkat cawan, katanya.
"Marilah kita makan sembari bicara!"
Setelah makan minum cukup kenyang, perempuan semula datang melapor lagi "Te-cu jarak mereka dengan pulau kita tinggal tiga-empat li saja."
"Baik, lakukan menurut rencana,"
Kata Li-hun-nio-nio.
"Tunggu setelah mereka mendarat segera berusaha menyabot rakit mereka."
Setelah perempuan baju singsat itu pergi, Li-hun-nio-nio lantas berkata kepada Ciok-Biau-eng.
"Apakah semuanya sudah siap?"
"Sudah, begitu tanda bahaya digunakan, segalanya lantas mulai bergerak,"
Jawab Ciok-Biau-eng.
"Jika begitu, saat ini boleh mulai membunyikan genta tanda bahaya!"
Perintah Li-hun-nio-nio. Ciok-Biau-eng mengiakan dan segera meninggalkan meja makan. Ia berdiri di depan pintu sama dan memberi tanda. Dalam waktu singkat terdengarlah bunyi genta yang riuh nyaring.
"Setelah bunyi genta, diperlukan berapa lama baru seluruhnya dapat dipindahkan?"
Tanya Kiam-eng.
"Tidak lama, dalam waktu setanakan nasi saja sudah selesai."
"Mungkinkah tempat sembunyi kalian akan diketahui ke tiga orang musuh itu?"
"Tidak, mereka datang dari depan pulau dan kami turun melalui pintu belakang,"
Tutur Li-hun-nio-nio. Sampai di sini, segera ia pun meninggalkan meja makan dan berkata.
"Mari, biar aku tunjukkan suatu tempat sembunyi bagimu."
Ia bawa Kiam-eng ke luar dari ruang makan dan menuju ke bawah sebatang pohon beringin yang rindang, ucapnya sambil mendongak.
"Boleh kau panjat ke atas pohon ini, dari atas tentu dapat kau ikuti segala kejadian di bawah. Cuma ingat, engkau dilarang ikut campur tangan. Bila melihat kami kabur, sebaiknya kau pun ikut lari saja."
"Baiklah,"
Kiam-eng mengangguk.
Biar aku saksikan pertarungan yang menarik.
Cuma, bila salah seorang di antaranya dapat dirobohkan Leng-to-cu, tentunya aku boleh muncul untuk membantu Leng-to-cu membereskan dua orang lain, boleh?"
Li-hun-nio-nio berpikir sejenak, katanya kemudian.
"Baiklah, boleh juga. Saat ini mungkin mereka sudah mendarat. Silakan Su-siau-hiap memanjat pohon."
Kiam-eng mengiakan dan melompat ke atas pohon beringin tua itu. Pada saat itu perempuan berbaju singsat tadi tampak memimpin tiga orang berlari dari jauh dan melapor kepada Li-hun-nio-nio.
"Lapor Te-cu, mereka sudah tiba!"
Li-hun-nio-nio menyatakan tahu, bersama Ciok-Biau-eng segera mereka menuju ke lapangan sana.
Kiam-eng menyingkap ranting pohon yang rimbun itu dan mengintai jauh ke sana.
Terlihat segenap orang perempuan di pulau kecil ini sudah lenyap tanpa bekas.
Diam-diam ia kagum atas disiplin yang ditanamkan Li-hun-nio-nio terhadap anak buahnya.
Diam-diam ia pikir bila hari ini tidak terjadi sesuatu di luar perhitungan, nasib ke tiga orang Thian-ong-pang itu pasti akan mati konyol di sini.
Tengah pikir, ke tiga duta Thian-ong-pang sudah memasuki lapangan.
Berbareng Li-hun-nio-nio dan Ciok-Biau-eng juga muncul di lapangan itu.
Ke dua pihak berhadapan dalam jarak belasan meter, lalu kedua pihak sama memandang dengan diam.
Ke tiga orang yang pernah mengalahkan ketua Siau-lim-pai dan ke tiga perguruan besar lain, semuanya memakai penutup muka yang tipis serupa kulit manusia, sebab itulah air muka mereka kaku dan dingin, yang lebih membingungkan orang adalah perawakan mereka, bajunya dan gerak-geriknya juga sama sehingga sepintas pandang mereka seperti saudara kembar tiga dan sukar dibedakan satu sama lain.
Kedok yang mereka pakai itu sangat tipis, sebab itulah sedikit banyak perubahan air muka mereka masih dapat terlihat, yang menghias wajah mereka sekarang agaknya semacam senyuman ejek mereka sama memandangi Li-hun-nio-nio dengan tenang setelah sekian lama seorang di antaranya baru berucap.
"Leng-Jing-jing, kami sudah menyampaikan surat peringatan tentu sudah kau terima bukan?"
"Ya, sudah aku terima!"
Jengek Li-hun-nio-nio.
"Lalu, bagaimana keputusanmu?"
Tanya pula orang itu.
"Apakah kamu akan takluk kepada Thian-ongpang kami atau setiap tahun mau setor upeti satu laksa tahil emas sebagai biaya perlindungan?"
"Sebelum aku jawab, ingin aku minta sedikit penjelasan,"
Ucap Li-hun-nio-nio.
"Penjelasan apa kau minta?"
"Ingin aku ketahui yang berbicara denganku sekarang ini beberapa kutu busuk macam apa?"
Jengek Lihun-nio-nio.
"Hehe, meski ucapanmu ini agak kurang sopan, namun tetap akan aku beri penjelasan. Aku ini duta dan yang nomor satu dari Thian-ong-pang. Kawan di sebelah kiriku adalah duta nomor dua dan yang di sebelah kanan adalah duta nomor tiga."
"Selain itu, aku ingin tahu pula Thian-ong-pang itu barang macam apa lagi?"
Tanya Li-hun-nio-nio. Si orang yang mengaku sebagai duta nomor satu itu hanya mendengus sekali, namun tetap memberi jawaban.
"Thian-ong-pang kami adalah sebuah organisasi yang baru berdiri belum lama ini, tujuannya ingin mempersatukan dunia persilatan dan melaksanakan keadilan bagi sesamanya."
"Pang-cu kalian orang macam apa?"
Tanya Li-hun-nio-nio.
"Tentang ini, biarlah nanti kalau Leng-to-cu sudah bergabung dengan Pang kami batu aku beri tahu."
"Tidak, biarpun mataku buta, namun hatiku tidak buta. Sebelum aku tahu jelas orang macam apa Pangcu kalian, bila aku takluk begitu saja dengan ngawur, apakah aku takkan ditertawakan orang?"
"Leng-to-cu tidak perlu kuatir akan hal ini. Saat ini setiap orang persilatan sama tahu ketua Siau-lim-pai dan sebagainya telah kami kalahkan, berdasarkan perhitungan apa yang terjadi ini, tentu dapat kau bayangkan betapa tinggi kemampuan Pang-cu kami. Maka Leng-to-cu boleh bergabung saja dengan Pang kami dan tidak perlu kuatir ditertawakan orang."
"Tidak,"
Jawab Li-hun-nio-nio tegas.
"Untuk bergabung juga tidak sulit, syaratku juga ringan, asal saja Pang-cu kalian mau mencucikan kakiku segera aku berjanji akan bergabung dengan Pang kalian."
Tentu saja duta nomor satu itu sangat marah, bentaknya.
"Dasar tua bangka buta, bicara sekian lama ternyata kamu tidak ada niat baik. Apakah kami sudah bosan hidup, ya?"
"Ya, cuma kalian mungkin tidak mampu membinasakan diriku."
Sinar mata si duta nomor satu berkilat tajam, ia terkekeh dan berkata.
"Hehe, biar aku katakan padamu, bukan saja aku mampu membinasakan bahkan hari ini kami akan membual ludes Li-hun-nio-nio kalian ini tanpa tertinggal satu nyawa pun."
"Huh, jika begitu, apalagi yang kalian tunggu jengek Li-hun-nio-nio sambil melintangkan tongkatnya."
"Hehe, Leng-Jing-jing, jangan kau kira kamu sangat cerdik. Ketahuilah bahwa kami sudah tahu akal busukmu, lebih baik kamu menyerah saja secara baik-baik"
Air muka Li-hun-nio-nio agak berubah jengeknya.
"Hm, tampaknya kamu seperti seorang ahli nujum yang dapat meramal apa yang belum terjadi. Boleh juga coba kau katakan, akal apa yang telah aku siapkan untuk menghadapi kalian?"
"Hehe, kalian telah siap membakar Li-hun-to ini agar kami terkurung mati di pulau ini, benar tidak?"
Jengek si duta nomor satu. Tergetar hati Li-hun-nio-nio. Namun sedapatnya ia berlagak tenang, jawabnya.
"Haha, itu memang gagasan yang baik. Cuma sayang, betapa pun aku harus memikirkan kepentingan ribuan orang perempuan cacat di pulau ini, kalau tidak akal yang kau katakan itu memang boleh juga dicoba."
"Huh, tidak perlu kau putar lidah untuk menutupi akal busukmu itu. Sebelumnya kamu sudah menyingkirkan kawanan perempuan yang tidak paham ilmu silat itu dan cuma tertinggal ratusan orang perempuan yang mahir ilmu silat. Pula saat mereka pun sedang diungsikan dengan perahu melalui belakang pulau ini. Akal yang telah kamu atur adalah, pertama, bilamana kami bertiga sudah mendarat, lalu rakit kami akan melemparkan Mo-yan-tan dan kabur menumpang kapal yang terakhir. Pada waktu itu anak buahmu akan melepaskan panah berapi dari atas kapal agar segenap pepohonan dan bangunan di pulau ini terbakar hidup-hidup di sini. Betul tidak?"
Pucat pasi air muka Li-hun-nio-nio, sama sekali tak tersangka olehnya bahwa pihak lawan ternyata sudah dapat menyelidiki dan jelas akan rencananya, dan kalau pihak lawan sudah tahu dia bakal membakar Lihun-to dan tetap berani datang menantangnya, ini menandakan sebelumnya mereka sudah siap dengan cara perlawanan yang baik, juga menandakan rencana yang telah diaturnya pasti akan gagal total.
Seketika butiran keringat dingin memenuhi kening Li-hun-to-cu Leng-Jing-jing.
Diam-diam Su-Kiam-eng yang mengintip di tempat sembunyinya juga terkejut.
Ia menyadari setelah keadaan berkembang sedemikian rupa, jelas perangkap yang telah diatur Li-hun-nio-nio itu telah gagal total.
Sekarang selain bertempur mati-matian jelas tidak ada jalan lain.
Sebab itulah ia bertekad akan turun tangan membantu Li-hun-nio-nio.
Segera Kiam-eng mengeluarkan salep anti gas Kau-hun-tan buatan Sai-hoa-to itu dan dipolesnya di dekat lubang hidung.
Kau-hun-tan pun disiapkan di tangan setiap saat akan dilemparkannya.
Pada saat itu si duta nomor satu sedang terbahak-bahak gembira ketika dilihatnya sikap Li-hun-nio-nio yang agak gugup itu, jengeknya.
"Hah, Leng-Jing-jing, sekarang biar aku perlihatkan lagi sesuatu benda kepadamu!"
Sembari bicara ia angkat tangan dan memberi tanda, serentak tiga sosok bayangan orang tampak melayang tiba dari ujung lapangan sana secepat terbang.
Sesudah dekat, terlihat usia ke tiga orang ini rata-rata sudah 50-an, semuanya berdandan sebagai kaum nelayan.
Akan tetapi pada tangan mereka masing-masing sekarang sama menjinjing empat buah kepala orang perempuan dengan darah masih menetes.
Tiga orang membawa 12 buah kepala sungguh mengerikan bagi yang melihatnya.
Meski Li-hun-nio-nio dan Ciok-Biau-eng adalah orang buta, namun dapat mereka dengar ke tiga orang musuh sudah sampai di lapangan itu dan terendus juga bau anyir darah keruan air muka mereka sama berubah pucat, sebab mereka tahu tentu sebagian anak buahnya telah dibunuh pihak lawan.
Begitulah setelah ke tiga orang kakek berdandan sebagai nelayan itu berada di tengah lapangan segera mereka melemparkan ke-12 buah kepala perempuan itu ke tanah.
Si duta nomor satu lantas terbahak-bahak, katanya.
"Nah, Leng-Jing-jing ke-12 buah kepala ini adalah tukang perahu kalian. Mereka sudah siap membawa pergi ke-12 buah perahu dengan ratusan anak buahmu. Maka lebih dulu telah aku kirim orang untuk memenggal kepala mereka."
Sungguh kejut sekali Li-hun-nio-nio dan juga sangat murka.
Kulit mukanya berkerut-kerut menahan gejolak perasaannya, ke dua matanya yang buta itu seakan-akan hendak menyemburkan api.
Gigi pun gemertak.
Sampai agak lama barulah tercetus dengusan pedih.
"Bagus, hari ini kalau bukan aku yang gugur biarlah kalian yang harus mampus!"
Sembari bicara segera ia putar tongkatnya dan menerjang maju, dengan dahsyat tongkatnya terus menyabet.
Kung-fu Leng-Jing-jing memang tidak di bawah setiap ketua perguruan besar, sekarang ia menyerang dengan murka, tentu saja daya serangnya lihai luar biasa bagai gugur gunung dahsyatnya.
Namun si duta nomor satu ternyata tidak gentar sedikit pun.
Begitu melihat tongkat lawan menyerang tiba, bukannya mundur ia berbalik melangkah maju, ketika tongkat hampir menyambar tubuhnya, sekonyong-konyong ia meloncat ke atas, pada saat menghindari tongkat itulah berbareng ke dua kakinya menendang secara beruntun mengarah dada lawan.
Serangan demikian bagi lawan yang sama kuat boleh dikatakan cuma untuk bertahan saja, meski juga sedikit menyerempet bahaya.
Namun bagi Li-hun-nio-nio yang buta, cara si duta nomor satu ini lebih memperlihatkan keculasannya.
Akan tetapi, biarpun mata Li-hun-nio-nio tidak dapat memandang, namun kemahirannya mendengarkan sambaran angin dan membedakan arah serangan justru satu tingkat lebih tinggi daripada orang lain.
Begitu mendengar suara angin segera ia tahu si duta nomor satu telah meloncat ke udara, juga tahu pihak lawan sedang menendangnya secara berantai.
Sebab itulah ia sengaja setengah berjongkok ke bawah, tangan kiri terus terangkat ke atas melancarkan suatu pukulan keras.
Di tengah gelak tertawa si duta nomor satu, tubuhnya yang mengapung itu mendadak berjumpalitan ke samping sehingga beberapa meter jauhnya.
Ketika kaki menyentuh tanah secepat kilat ia putar tubuh dan juga melancarkan pukulan dahsyat dari jauh.
Begitulah ke dua orang itu saling serang dengan cepat dan ketat.
Pada saat itu pula si duta nomor dua juga telah menerjang maju ke arah Ciok Biau-eng, katanya dengan terkekeh.
"Hehe, Ciok Biau-eng, supaya kamu tidak menganggur, sambutlah seranganku ini!"
Sembari bicara sebelah tangannya lantas menghantam muka Ciok-Biau-eng.
Cepat Ciok-Biau-eng mengegos sambil melolos pedang, menyusul pedangnya lantas menebas.
Serangan cepat dan ganas, menandakan akan bertempur mati-matian.
Duta nomor dua itu mendengus, ia mengelak menyusul sebelah kakinya mendepak bagian bawah Ciok-Biau-eng.
Begitulah terjadi pertarungan sengit seperti partai antara Li-hun-nio-nio melawan si duta nomor satu.
Akan tetapi setelah mengikuti pertempuran itu sejenak, segera Kiam-eng tahu Ciok-Biau-eng pasti bukan tandingan si duta nomor dua.
Sedangkan Li-hun-nio-nio, meski untuk sementara dapat mengimbangi si duta nomor satu, namun melihat gelagatnya juga takkan tahan lama.
Hal ini sangat mengejutkan Kiam-eng.
Ia pernah menyaksikan betapa tinggi kepandaian si pedang emas Sih-Hou bertiga, sekarang merasa ke tiga duta Thian-ong-pang ini ternyata lebih lihai daripada Sih-Hou bertiga.
Berdasarkan apa yang terlihat ini, ia pikir andaikan dirinya ikut terjun menghadapi si duta nomor tiga juga sukar memperbaiki posisi Li-hun-nio-nio yang bakal kalah itu.
Sebab itulah ia mengambil keputusan akan melemparkan dulu sebuah Kau-hun-tan buatan Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho itu.
Pada saat dia sudah hampir melemparkan granat berbau obat bau itu, tiba-tiba terlihat langkah Ciok-biau-eng agak sempoyongan dan menyurut mundur dua-tiga langkah, sebaliknya si duta nomor dua terus mendesak maju, secepat kilat ia sambar ke dua kaki Ciok-Biau-eng terus diangkat ke atas.
Keruan Kiam-eng terkejut, cepat ia lemparkan Kau-hun-tan.
"Blangg!"
Segera terdengar jeritan pula, suara ledakan Kau-hun-tan dan jeritan ngeri Ciok-Biau-eng timbul bersama.
Seluruh lapangan itu pun berubah menjadi lautan asap kuning tebal yang bergulung-gulung.
Dalam sekejap itu pertempuran dahsyat tadi pun terhenti, suasana menjadi sunyi senyap tanpa terdengar apa pun.
Diam-diam Kiam-eng bergirang, ia tahu ke tiga duta itu pasti tidak tahu bahwa yang diledakkan itu berasap yang dapat membuat orang pingsan.
Sebab itulah kemungkinan mereka akan pingsan sangat besar, dan asalkan salah seorang di antara mereka jatuh pingsan tentu sulit lagi untuk dikorek keterangannya mengenai organisasi Thian-ong-pang.
Keadaan masih sunyi senyap, asap kuning tebal lambat-laun mulai buyar.
Tidak lama kemudian keadaan di lapangan itu samar-samar sudah mulai kelihatan.
Akan tetapi yang segera terlihat menggeletak di lapangan itu justru adalah Li-hun-nio-nio, Ciok-Biau-eng dan ke tiga kakek yang berdandan sebagai nelayan tadi.
Sebaliknya ke tiga duta Thian-ong-pang yang lihai itu sudah lenyap tanpa bekas.
Sedangkan Ciok-Biau-eng yang terlihat itu sungguh keadaannya yang membuat orang ngeri dan tidak sampai hati untuk memandangnya lagi.
Tubuh perempuan buta itu sudah dirobek menjadi dua bagian oleh si duta nomor dua sehingga semua isi perutnya berhamburan di tanah dengan darah muncrat ke mana-mana.
Hanya tertegun sejenak, segera Kiam-eng meloncat turun, memburu ke samping Li-hun-nio-nio, ia poles sedikit salep di lubang hidung orang, mengamati sekitarnya dan tetap tidak tertampak bayangan ke tiga duta Thian-ong-pang itu.
Diam-diam Kiam-eng merasa heran, pikirnya.
"Sungguh aneh, Kau-hun-tan buatan Sai-hoa-to yang khas ini hanya pernah digunakan satu kali di Tiong-goan, mengapa ke tiga duta Thian-ong-pang ini sudah tahu cara mengamankan diri dengan menahan napas supaya tidak jatuh pingsan?"
Dan lantas terpikir pula olehnya.
"Wah, celaka. Jika mereka sudah tahu cara melawan granat berbisa ini, tentu mereka tidak kabur meninggalkan Li-hun-to, sebentar bila asap kuning sudah buyar bersih, tentu mereka akan datang lagi ..."
Terpikir demikian, cepat ia mengangkat Li-hun-nio-nio yang pingsan itu.
Akan tetapi pada saat itu juga Li-hun-nio-nio sudah mulai siuman.
Melihat kelopak mata Leng-Jing-jing mulai bergerak, cepat Kiam-eng berbisik dan bertanya.
"Leng-to-cu, engkau tidak apa-apa bukan?"
Li-hun-nio-nio terdiam sejenak, agaknya sedang mengingat-ingat apa yang terjadi lalu ia memberosot turun dari pondongan Su-Kiam-eng dan bertanya.
"Apakah yang terjadi tadi?"
"Aku melemparkan sebuah Kau-hun-tan!"
Tutur Su-Kiam-eng.
"Dari mana kau dapatkan benda seperti itu?"
Tanya Li-hun-nio-nio.
"Aku dapatkan dari Sai-hoa-to ketika dia binasa di kota emas sana,"
Kata Kiam-eng.
"Kau-hun-tan ini ternyata sangat lihai, semula aku kira Ciok-hou-hoat yang melemparkannya maka tidak aku perhatikan, siapa tahu ketika aku rasakan baunya tidak sama dengan granat berasap buatanku namun sudah nasip ... Eh, di manakah ke tiga duta keparat itu?"
Kiam-eng menjawab dengan kuatir.
"Sudah kabur. Mungkin mereka sudah kenal Kau-hun-tan maka begitu melihat yang meledak berasap kuning segera mereka menahan napas dan berhasil lari."
"Dan bagaimana dengan Ciok-hou-hoat?"
Tanya pula Li-hun-nio-nio. Kiam-eng terdiam sejenak, akhirnya menjawab.
"Dia sudah ... sudah meninggal!"
Tergetar tubuh Li-hun-nio-nio, ucapnya dengan pedih.
"Apabila lebih cepat aku lemparkan Yan-mo-tan tentu dia takkan mati secepat ini ..."
"Ya, betul mengapa Leng-to-cu tadi tidak mau melemparkan Yan-mo-tan?"
Tanya Kiam-eng. Soalnya ingin aku biarkan kau lihat jelas asal-usul kung-fu mereka,"
Ujar Li-hun-nio-nio dengan sedih.
"Dan bagaimana, sudah kau kenali gaya kung-fu mereka?"
"Tidak,"
Jawab Kiam-eng dengan malu.
"Pada waktu si duta nomor satu bergebrak dengan Leng-to-cu, semula dia menggunakan tendangan berantai gaya kung-fu Siau-lim-pai, kemudian dia menggunakan ilmu pukulan Pat-kwa-ciang dari Bu-tong-pai, berulang ia ganti kung-fu dari perguruan yang berbeda-beda."
Setelah berhenti sejenak, lalu ia sambung pula.
"Untung kita sudah berhasil menangkap tiga anak buahnya, aku pikir kita dapat mengorek keterangan dari mereka."
Terbangkit semangat Li-hun-nio-nio, katanya "Oo, ke tiga orang yang datang kemudian itu dapat kau robohkan dengan asap Kau-hun-tan?"
"Betul,"
Jawab Kiam-eng.
"Ke tiga duta keparat itu sangat mungkin akan datang lagi, marilah lekas kita membawa pergi ke tiga orang tawanan ini."
Segera ia menuju ke sana dan memanggul dua orang kakek yang berdandan sebagai nelayan itu. Li-hun-nio-nio juga memanggul seorang lagi lalu mendahului melangkah dan berkata.
"Silakan Su-siauhiap ikut padaku."
Meski matanya buta, namun keadaan di atas pulau baginya serupa dia apal terhadap jarinya sendiri.
Dengan langkah cepat ia membawa Kiam-eng meninggalkan lapangan itu dan masuk ke kamar tidurnya, ia pencet alat rahasia sehingga terbuka sebuah pintu rahasia, dengan menunduk ia mendahului menerobos ke dalam.
Di dalam pintu rahasia itu adalah sebuah jalan, di bawah tanah yang menurun miring ke bawah.
Ia memberi petunjuk kepada Kiam-eng agar merapatkan lagi pintu rahasia.
Lalu mendahului lagi menerobos lorong bawah tanah itu.
Sembari mengintil di belakang orang Kiam-eng bertanya.
"Lorong bawah tanah ini menembus ke mana?"
"Menembus ke tepi danau,"
Tutur Li-hun-nio-nio.
"Apakah Leng-to-cu bermaksud meninggalkan pulau ini sekarang juga?"
"Tidak, di bagian tengah lorong bawah tanah adalah sebuah kamar biarlah kita istirahat dulu di kamar itu."
Lorong itu lurus ke depan, cuma gelap gulita, jari sendiri pun tidak kelihatan, kira-kira 200 langkah, tiba-tiba ada cahaya api di depan sana.
Kiranya mereka sudah sampai di kamar yang dituju.
Kamar di bawah tanah ini luasnya kurang lebih lima meter persegi, sekelilingnya adalah dinding batu, ada sebuah pintu besi yang menghadap lorong, bagian atap kamar terbingkai satu biji mutiara besar yang memancarkan cahaya gemerlapan untuk menerangi kamar itu.
Li-hun-nio-nio melemparkan si kakek yang dipanggulnya, lalu berkata.
"Su-siau-hiap, bagaimana bentuk ke tiga orang ini?"
Kiam-eng juga melemparkan ke dua orang yang dipanggulnya dan menjawab.
"Mereka berdandan sebagai kaum nelayan, usianya rata-rata 50-an."
"Di danau Tong-ting ini ada banyak kaum nelayan, pantas anak buahku dapat dikelabui mereka,"
Ucap Li-hun-nio-nio gegetun.
"Ai, aku kira ratusan anak buahku itu mungkin sudah terbunuh semua oleh ke tiga orang ini."
Kiam-eng coba menutuk hiat-to kelumpuhan salah seorang kakek itu lalu ia tanya Leng-Jing-jing.
"Apakah Leng-to-cu ingin menyadarkan mereka untuk ditanyai?"
"Ya, di sini cukup aman,"
Li-hun-nio-nio mengangguk.
"Aku kira ke tiga duta keparat itu takkan menemukan tempat ini."
Kiam-eng lantas mengeluarkan salep dan memoles sedikit di lubang hidung mereka, sejenak kemudian ke tiga kakek itu mulai siuman.
"Su-siau-hiap, bagaimana kalau aku yang memeriksa ke tiga orang ini?"
Tanya Li-hun-nio-nio.
Kiam-eng tahu dirinya tidak sampai hati untuk memeriksa tawanan secara kejam, bila Leng-Jing-jing yang memeriksa mungkin akan lebih besar hasilnya, maka ia mengangguk dan berkata.
"Baik, silakan Leng-to-cu!"
Li-hun-nio-nio lantas menyeret ke dua kakek itu ke kaki dinding sana dan membiarkan mereka duduk bersandar, lalu ia cengkeram salah seorang kakek itu dan di tekan ke dinding sembari bertanya dengan muka bengis.
"Nah, kawan, coba beritahukan dulu namamu."
Kakek itu memejamkan mata tanpa menjawab rupanya ia sudah siap menerima segala akibat daripada tutup mulutnya itu sekalipun harus mengalami siksaan.
Li-hun-nio-nio mengguncang tubuh orang dengan kuat sambil membentak.
"Kamu dengar tidak? Lekas bicara!"
Timbul senyum ejek pada wajah kakek itu, jawabnya.
"Huh, mau bunuh atau mau cincang boleh terserah padamu, kenapa mesti banyak omong!"
Li-hun-nio-nio mendengus.
"Hm, apakah betul ucapanmu?"
"Kalau aku sampai mengernyitkan kening sedikit saja aku bukan lagi orang Thian-ong-pang,"
Ucap kakek itu.
"Bagus!"
Dengus Li-hun-nio-nio, lalu ia tanya Kiam-eng.
"Su-siau-hiap, adakah kau bawa belati, coba aku pinjam."
Kiam-eng meloloskan belatinya dan diberikan kepada Leng-Jing-jing.
Setelah menerima belati, Li-hun-nio-nio lantas menarik tangan kiri si kakek, mendadak belati itu ditubleskan pada telapak tangan orang sehingga terpantek di dinding.
Habis itu ia pun mengeluarkan belatinya sendiri, sebelah tangan si kakek yang lain juga dipaku di dinding.
Dengan begitu kakek itu terpantek tegak di kaki dinding.
"Apakah benar dia tidak mengernyitkan kening?"
Tanya Li-hun-nio-nio kepada Su-Kiam-eng.
"Masa tidak, dia tidak menemui syarat untuk mengaku sebagai jagoan Thian-ong-pang,"
Kata Kiam-eng dengan tertawa.
"Jika begitu, coba pinjam lagi pedangmu,"
Ucap Li-hun-nio-nio. Kiam-eng mengangsurkan pedangnya, diam-diam ia pun merasa ngeri, katanya.
"Coba Leng-to-cu tanyai dia lebih dahulu, bilamana dia menjawab ..."
"Tidak, aku tidak ingin buang-buang waktu,"
Potong Li-hun-nio-nio setelah menerima pedang, perlahan ia berputar, ujung pedang menusuk ke ulu hati si kakek.
Hiat-to kelumpuhan kakek itu tertutuk sehingga sekujur badan tak bisa berkutik, namun mulut bisa bicara.
Ketika ujung pedang kelihatan hampir ambles ke dalam perutnya, saking takutnya mukanya menjadi pucat dan ia berteriak dengan suara gemetar.
"Kau ... kau ingin tahu soal apa!"
Li-hun-nio-nio tidak menjawab melainkan menubleskan pedang ke ulu hati orang dengan perlahan pula membedah ke bawah.
Gerakan cepat menebas takkan membuat sakit korbannya, sebaliknya membedah secara perlahan justru membuat korbannya kesakitan setengah mati.
Dan saat ini yang dirasakan si kakek tidak cuma sakit, tapi ketika lubang bedah pada perutnya mulai melebar, isi perut pun kelihatan dengan jelas dan darah pun mengucur tentu saja merasa ngeri menghadapi rengutan maut demikian.
Sebab itulah sekujur badannya mulai gemetar ketika pedang membedah sampai bagian pusar, ia menjerit ngeri matanya melengking serupa pekik setan dan membuat orang merinding.
Namun Li-hun-nio-nio seperti tidak mau tahu dan dengar, ia tancapkan pedang di lantai lalu mencabut ke dua belati yang memantek kedua tangan si kakek, akhirnya si kakek yang sudah lunglai itu diseret ke sebelah sana.
Kakek itu belum lagi mati hanya sekarat saja mulut masih mengeluarkan suara raungan seram.
Berkerenyit kening Su-Kiam-eng, katanya.
"Leng-to-cu, bagaimana kalau menghabisi dia saja?"
"Tidak, biarkan anak buahku yang menjadi korban keganasannya mendengar suara jeritannya ini,"
Kata Li-hun-nio-nio tegas.
Habis itu ia seret lagi seorang kakek yang lain ke dekat kaki dinding.
Kakek yang segera akan mengikuti nasib serupa kawannya itu tentu saja ketakutan setengah mati setelah menyaksikan apa yang menimpa kawannya itu.
Maka baru saja Li-hun-nio-nio menarik sebelah tangannya, langsung ia sudah mendahului berteriak minta ampun.
"Nanti dulu! Aku akan bicara aku minta ampun, akan aku beritahukan apa pun yang Leng-to-cu ingin tahu!"
"Jika begitu, ayo lekas bicara!"
Bentak Li-hun-nio-nio. Kakek ke dua itu seperti menemukan kembali nyawanya, ia menghela napas lega, lalu berkata "Apa ... apa yang Leng-to-cu ingin tahu dariku?"
"Katakan dulu siapa namamu?"
"Ya, ya, aku she Ban bernama Hai-to dan berjuluk Bu-sim-kek (si tamu tak berhati) ..."
Tutur kakek itu.
"Dan siapa dia?"
Tanya Li-hun-nio-nio sambil menunjuk kakek yang perutnya terobek itu.
"Dia bernama Pian-si-jiu (si tukang merangket mayat) Pui-Piu dan seorang lagi bernama Tok-coa (ular berbisa) Tang-Jian-ciok,"
Tutur si kakek yang mengaku bernama Ban-Hai-to.
"Jadi ratusan anak buahku itu telah kalian bunuh seluruhnya?"
Tanya pula Leng-Jing-jing. Mulut Ban-Hai-to bergerak dengan tergegap.
"Kami ... kami hanya melaksanakan tugas atas ... atas perintah saja, padahal ... padahal ..."
"Baik, sekarang pertanyaan ke dua, Pang-cu Thian-ong-pang kalian itu orang macam apa?"
"Wah, ini sama sekali tidak kami ketahui,"
Jawab Ban-Hai-to dengan bingung.
Li-hun-nio-nio mengangguk dan tidak tanya lagi, ia tarik tangan kiri orang dan ditempelkan di dinding, belatinya terus menusuk.
Seketika si kakek ke dua menjerit seperti bahu hendak disembelih, teriaknya.
"Sungguh, kami memang tidak tahu siapa Pang-cu kami. Kami hanya tiga orang bawahan saja, sama sekali tidak tahu ... aduh ..."
Begitulah Li-hun-nio-nio tidak peduli penjelasan orang, kembali ia tarik tangan kanan dan membuka baju dada orang, lalu cabut pedang yang menancap di lantai itu, dengan cara yang sama perlahan ia mulai membedah perutnya.
Seketika butiran keringat dingin menghias Ban-Hai-to, teriaknya kuatir "Ampun, Leng-to-cu!
Sungguh aku tidak tahu siapa Pang-cu kami.
Di rumahku masih ada ibu yang sudah tua renta berumur 80 tahun ...
aduhh ..."
Saking takutnya, baru saja ujung pedang Li-hun-nio-nio menyentuh dadanya, kontan ia menjerit dan jatuh pingsan.
Li-hun-nio-nio tidak mau membedah korban dalam keadaan pingsan, ia tarik kembali pedangnya dan mengeluarkan sepotong handuk kecil diberikan kepada Su-Kiam-eng, katanya.
"Su-siau-hiap, di lorong bawah tanah sana ada genangan air harap bantu membasahi handuk ini dengan air. Kiam-eng tidak dapat menolak permintaan orang, ia terima handuk itu dan masuk lagi ke lorong di bawah tanah sana untuk membasahi handuk, lalu diserahkan kepada Li-hun-nio-nio dan berkata.
"Jika Leng-to-cu tidak ingin menanyai dia kenapa tidak membunuh dia saja daripada ..."
"Hm, jika membunuh ia begitu saja, kan anak buahku yang menjadi korban keganasannya itu penasaran?"
Jengek Leng-Jing-jing.
Sembari bicara ia bentang handuk basah itu untuk menutup muka Ban-Hai-to, lalu melangkah mundur dan menunggu dengan tenang.
Tidak lama kemudian terdengar suara rintihan perlahan Ban-Hai-to, perlahan dia mulai siuman.
Segera Li-hun-nio-nio membuka handuk yang menutupi muka orang, ia angkat pedang lagi dan menusuk pula ulu hati Ban-Hai-to, perlahan dibedahnya ke bawah, di mana ujung pedang berlalu, dengan persis hanya kulit perut saja yang robek tanpa melukai isi perut.
Dengan badan gemetar Ban-Hai-to merintih dan juga memaki.
"Leng-Jing-jing, kamu tua bangka busuk, jika kamu masih punya perasaan manusia, seharusnya sekali tusuk kau bunuh diriku saja!"
"Huh, kalau aku ada perasaan manusia tentu aku tidak berjuluk Li-hun-nio-nio,"
Jengek Leng-Jing-jing.
Dan ketika ujung pedang membedah sampai bawah perut akhirnya usus besar dan kecil sama membrojol keluar bersama darah segar.
Ke dua mata Ban-Hai-to terbelalak hingga serupa biji gundu, setelah menatap tajam Leng-Jing-jing sekian lama, akhirnya sinar matanya mulai buram dan melayang jiwanya.
Dengan tertawa Li-hun-nio-nio berkata kepada Su-Kiam-eng.
"Su-siau-hiap, coba periksakan, apakah orang ini punya hati?"
"Ada, hatinya kelihatan masih berdenyut,"
Jawab Kiam-eng.
"Akan tetapi dia justru berjuluk 'Bu-sim-kek', padahal seharusnya dia berjuluk 'Oh-sim-kek' (si hati hitam) saja!"
Sembari bicara Li-hun-nio-nio mencabut ke dua belati yang memantek tangan Ban-Hai-to itu, lalu mayat orang didepaknya hingga mencelat ke samping.
Lalu ia menancapkan lagi pedang di lantai, perlahan ia berpaling ke arah si kakek terakhir yang masuk duduk bersandar dinding yaitu si ular berbisa Tang-Jian-ciok.
Bergetar tubuh Tang-Jian-ciok melihat perhatian orang tertuju kepadanya, wajahnya yang sudah pucat bertambah pucat serupa mayat.
Tiba-tiba Kiam-eng berkata.
"Leng-to-cu, bagaimana kalau sisa seorang ini biar aku tanyai dia saja?"
Li-hun-nio-nio tidak jadi mendekati Tang-Jian-ciok, setelah berpikir sejenak, jawabnya kemudian.
"Boleh juga. Asalkan dia mau mengaku terus terang, tentu akan aku beri keringanan hukuman kepadanya."
Dengan girang Kiam-eng melompat ke samping Tang-Jian-ciok, ucapnya dengan menarik muka.
"Nah, kau dengar tidak apa yang dikatakan Leng-to-cu?"
"Dengar,"
Jawab Tang-Jian-ciok cepat.
"Segala apa yang aku ketahui pasti akan aku katakan dan supaya apa yang aku katakan pasti benar. Hanya saja aku mohon kalian mau percaya kepada keterangan yang aku berikan nanti."
"Tadi kawanmu bilang sama sekali tidak tahu siapa Thian-ong-pang pang-cu, apakah betul keterangannya itu?"
Tanya Kiam-eng.
"Betul, seratus persen betul,"
Kata si ular berbisa Tang-Jian-ciok.
"Jiwa kan lebih penting, masakah kami berani bohong dan bertaruh dengan jiwa sendiri?"
"Jika begitu, ke tiga orang yang mengaku sebagai duta Thian-ong-pang tadi, siapa mereka tentunya kau tahu bukan?"
Tanya Kiam-eng pula. Dengan wajah memelas Tang-Jian-ciok menjawab.
"Mohon maaf, mengenai ke tiga duta ini sesungguhnya kami cuma tahu mereka adalah tokoh yang berkedudukan sangat tinggi dalam Thian-ongpang, mengenai nama dan asal-usul mereka, sungguh kami juga tidak tahu."
Seketika air muka Li-hun-nio-nio tampak beringas demi mendengar uraian Tang-Jian-ciok yang dianggapnya bohong itu, jengeknya tiba-tiba.
"Su-siau-hiap, biarkan aku saja yang menanyai dia!"
Tentu saja Tang-Jian-ciok ketakutan setengah mati, serunya parau.
"Sungguh, mohon kalian percaya kepada keteranganku. Bila satu kata saja aku berdusta, biarlah anggap aku ini anak sundel."
"Hm, tampaknya kamu sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai Thian-ong-pang, begitu bukan?"
Tanya Kiam-eng dengan tertawa.
"Betul."
Jawab Tang-Jian-ciok gugup.
"Kami hanya tahu melaksanakan tugas sebagai anggota Thian-ongpang saja,"
"Jika benar kalian tidak tahu apa-apa mengenai Thian-ong-pang, mengapa kalian mau masuk menjadi anggota dan rela diperbudak oleh mereka?"
"Soalnya ... soalnya setelah kami menjadi anggota, setiap bulan kami mendapatkan ... mendapatkan gaji seribu tahil perak ..."
"Baiklah, sekarang ceritakan sejak awal cara bagaimana kamu masuk menjadi anggota Thian-ong-pang. Merasa jiwa sendiri masih ada harapan diselamatkan, segera Tang-Jian-ciok berdehem untuk membersihkan kerongkongan, lalu mulai bercerita.
"Begini awalnya. Antara setengah tahun yang lalu pada tengah malam suatu hari mendadak lima orang berkedok menerobos ke rumahku, mereka membangunkan aku dan menyuruhku masuk menjadi anggota Thian-ong-pang dengan imbalan seribu tahil perak tiap bulan, pula tidak perlu harus bekerja di tempat mereka melainkan cukup berdiam saja di rumah sendiri untuk menunggu perintah dan melaksanakan tugas saja.
"Waktu itu pernah coba aku tanya keterangan mengenai Thian-ong-pang, namun mereka tutup mulut dengan rapat dan tidak mau menjelaskan apa pun. Mestinya ingin aku tolak, namun melihat sikap mereka itu, tampaknya bila aku tolak kehendak mereka seketika juga aku akan mereka bunuh lantaran itulah terpaksa aku terima tawaran mereka.
"Kemudian seorang di antara mereka lantas mengeluarkan sebuah medali emas yang bergambar Thian-ong (raja langit) untuk diperkenakan kepadaku, katanya bila selanjutnya ada orang datang padaku dengan membawa medali tanda pengenal semacam itu, maka segera perintah harus aku turut dan aku laksanakan dengan baik.
"Habis itu, mereka lantas memberikan lebih dulu gaji bulan pertama, yaitu seribu tahil perak, lalu tinggal pergi. Seterusnya aku pun tinggal di rumah saja. Selang beberapa bulan tidak pernah aku terima perintah apa pun, sebaliknya gaji tetap aku terima penuh, setiap bulan salah seorang diantara mereka ke rumahku ..."
Mendengar sampai di sini, Kiam-eng memberi tanda dan memotong ceritanya.
"Siapakah orang yang bertugas mengantar gaji kepadamu itu?"
"Seorang karyawan Po-ki-gin-ceng (nama bank) di kota Gak-yang,"
Tutur Tang-Jian-ciok cepat.
"Baiklah, coba teruskan ceritamu,"
Kata Kiam-eng.
"Dan sampai beberapa hari yang lalu, satu antara ke tiga duta itu mendadak datang ke rumahku di tengah malam buta, setelah memperlihatkan medali emas berukiran gambar raja langit, lalu ia memberi perintah kepadaku berangkat ke suatu tempat untuk bergabung dengan mereka berdua. Sampai di sini ia menuding mayat Ban-Hai-to dan Pui-Piu yang menggeletak di samping itu, lalu menyambung lagi ceritanya.
"Kemudian ke tiga duta itu memberikan tugas penting ini kepada kami, yakni melakukan sergapan ke Lihun-to sini. Meski aku tahu tidak pantas mengganggu kawanan perempuan penghuni pulau ini, namun apa daya, aku sudah menerima upah orang dan harus menjual tenaga baginya. Terpaksa aku laksanakan perintah yang aku terima."
"Sudah habis?!"
Tanya Kiam-eng.
"Ya,"
Jawab Tang-Jian-ciok sambil melirik Leng-Jing-jing sekejap dengan rasa takut.
"Apa yang aku katakan seluruhnya benar, tidak ada satu kata pun dusta."
Kiam-eng mengangkat pundak, ucapnya.
"Jika begitu jadi meski kalian masuk menjadi anggota Thian-ong-pang kalian justru tidak tahu menahu seluk-beluk organisasi ini, bahkan kalau ada anggota Thian-ong-pang yang lain lewat di sebelahku juga tidak kau ketahui?"
"Memang begitulah,"
Sahut Tang-Jian-ciok "Pui-Piu dan Ban-Hai-to adalah sahabat karibku namun sampai saat aku diperintahkan bergabung dengan mereka baru aku tahu mereka juga sudah masuk Thian-ongpang."
"Ada perkataan apa lagi yang hendak kau tuturkan kepadaku?"
Tanya Kiam-eng.
"Tidak ada lagi, apa yang aku ketahui hanya seperti uraianku tadi ..."
Kiam-eng menyurut mundur ke kaki dinding katanya kepada Li-hun-nio-nio.
"Leng-to-cu, apa yang diceritakan orang ini mungkin tidak palsu, boleh kau hukum dia dengan ringan saja."
Li-hun-nio-nio mengangguk, ia mendekati Tang-Jian-ciok, mendadak pedang berkelebat, sebelum Tang-Jian-ciok sempat menjerit, tahu-tahu kepala sudah terpenggal meninggalkan lehernya, darah pun muncrat bagai air mancur.
Kiam-eng melengak, serunya.
"Hei, cara beginikah hukuman ringan yang Leng-to-cu maksudkan?"
"Betul,"
Sahut Li-hun-nio-nio dengan dingin.
"Ia mati tanpa menderita sakit, bukan?"
Kiam-eng tahu orang sakit karena ratusan anak buahnya telah dibunuh musuh, maka ia pun tidak mau mengampuni jiwa orang. Ia tidak menanggapi lagi melainkan cuma menghela napas saja, katanya.
"Menurut apa yang diuraikan Tang-Jian-ciok ini, Thian-ong-pang sungguh sebuah organisasi yang ketat dan rahasia, mereka tidak serupa organisasi atau perkumpulan umumnya yang mempunyai markas tetap dan pimpinan terbuka, maka kalau kita ingin mencari mereka, mungkin teramat sulit ..."
Li-hun-nio-nio mengembalikan pedang kepada anak muda itu, ucapnya dengan gemas.
"Ya, mungkin betul begitu. Namun selama hidupku jelas takkan kenal kompromi dengan mereka."
"Dan entah ke tiga duta keparat itu sekarang apakah masih berada di pulau itu?"
"Entah, coba aku lihat ke sana!"
Lalu Li-hun-nio-nio membalik tubuh hendak masuk ke lorong bawah tanah lagi. Cepat Kiam-eng mencegatnya.
"Jangan, Leng-to-cu tidak dapat melihat mereka, biar aku saja yang ke luar!"
Li-hun-nio-nio merasa memang lebih baik kalau anak muda itu yang pergi melihat keadaan di luar, maka ia mengangguk setuju.
"Baiklah. Jika mereka belum lagi meninggalkan pulau ini mungkin mereka sedang mencari diriku di segenap pelosok, maka sebaliknya Su-siau-hiap jangan membuka pintu rahasia, boleh mengintip saja dari balik pintu."
Kiam-eng mengiakan merunduk kembali ke sana.
Dengan setengah berjongkok terus lari ke lubang keluar lorong sana.
Hanya sekejap saja sudah sampai di depan pintu rahasia, ia coba pasang telinga di daun pintu, maka terdengarlah suara orang bicara di kamar Li-hun-nio-nio.
"Aku kira Leng-Jing-jing sudah kabur meninggalkan Li-hun-to"
"Belum tentu, sangat mungkin dia masih sembunyi di pulau ini!"
"Akan tetapi kita sudah mencari di segenap pelosok tempat di pulau ini dan tidak menemukan bayangan seorang pun."
"Bisa jadi ia sembunyi di suatu ruang rahasia."
"Maksudmu sembunyi bersama Sai-hoa-to itu?"
"Ya, kira-kira begitu."
"Aneh juga, kabarnya Sai-hoa-to itu sudah menuju ke rimba raya di daerah selatan sana, mengapa mendadak dia bisa muncul di Li-hun-to sini?"
"Betul, aku pun merasa heran. Apakah benar Si-ko memang melihat Kau-hun-tan itu bukan dilemparkan oleh Jing-jing?"
"Ya, Kau-hun-tan jelas dilemparkan dari atas pohon yang berada di tepi lapangan."
Ternyata orang yang sedang bercakap itu adalah ke tiga duta Thian-ong pang.
Sembari bicara mereka terus mengobrak-abrik seisi kamar, entah apa yang sedang mereka cari.
Bisa jadi mereka ingin mencari lubang masuk ke lorong bawah tanah.
Bernapas keras pun Kiam-eng tidak berani atas kelihaian ke tiga duta Thian-ong-pang itu.
Kalau menimbulkan setitik suara saja pasti sukar terhindar dari daya pendengaran mereka.
Pada saat itulah si duta nomor satu sedang membuka mulut pula.
"Go-te, tadi kau bilang di seluruh pulau ini tidak terdapat lagi sebuah kapal pun"
"Betul, segenap kapal sudah dirusak oleh Pui-Piu bertiga,"
Jawab si duta nomor dua.
"Jika begitu, aku percaya mereka masih berada di pulau ini."
Terdengar si duta nomor tiga menukas.
"Pui-Piu berada dalam cengkeraman mereka entah apa yang akan dilakukannya."
"Jelas pasti akan mati, Leng-Jing-jing bukanlah perempuan yang berhati lunak,"
Kata si duta nomor satu.
"Mendingan Pui-Piu bertiga tidak membocorkan rahasia kita,"
Ujar si duta nomor dua dengan tertawa. Duta nomor satu tepekur sejenak, tanyanya kemudian.
"Go-te, menurut pendapatmu, bilamana Leng-Jing-jing dan Sai-hoa-to itu sembunyi di ruang bawah tanah, lalu lubang masuk ruang rahasia sepantasnya terletak di mana?"
"Aku kira mestinya terletak di dalam kamar tidur Leng-Jing-jing ini,"
Jawab si duta nomor dua.
"Bagus, jika begitu, sekarang juga kita mulai mengobrak-abrik kamar tidur ini, mungkin lubang keluar-masuk ruang rahasia itu dapat kita temukan di sini."
Mendengar sampai di sini, Kiam-eng terkesiap tidak berani mendengarkan lagi, diam-diam mengundurkan diri dan kembali ke ruang rahasia itu, katanya kepada Li-hun-nio-nio.
"Wah Leng-to-cu, saat ini mereka berada di kamarmu dan sedang mengobrak-abriknya, mungkin selekasnya mereka akan menemukan lorong bawah tanah ini."
"Bagus sekali, biarlah kita menempur mereka mati-matian di ruang ini,"
Jengek Li-hun-nio-nio. Kiam-eng melengak, lalu ia tersenyum dan berkata.
"Leng-to-cu ingin menuntun belas bagi anak buahmu atau tidak?"
"Tentu saja ingin,"
Sahut Li-hun-nio-nio dengan mengangguk.
"Jika begitu, saat ini bukan waktunya yang tepat,"
Ujar Kiam-eng.
"Kita berdua jelas sukar mengalahkan mereka berdua. Jalan yang paling baik sekarang adalah menghindari mereka untuk sementara, kalau tidak, bukannya berhasil menuntut balas, sebaliknya malah ..."
"Su-siau-hiap, apakah engkau tidak berani bertempur dengan mereka?"
Potong Leng-Jing-jing dengan tertawa.
"Benar, soalnya aku memang tidak punya keberanian cara bodoh ini,"
Sahut Kiam-eng tersenyum. Kata "keberanian cara bodoh"
Membuat muka Li-hun-nio-nio rada merah jengah, ia berpikir sejenak, lalu mengangguk.
"Baiklah, mari kita pergi!"
Ia lantas membuka pintu besi dan membiarkan Kiam-eng memasuki dulu lorong bawah tanah itu, lalu ia sendiri melangkah keluar dan menutup kembali pintu besi, segera ia membawa Kiam-eng menelusuri lorong panjang itu.
Kira-kira hampir satu li jauhnya, genangan air dalam lorong bawah tanah itu makin tinggi sebatas betis, namun lorong itu pun makin lebar dan mulai tampak ada cahaya di depan sana.
Kiam-eng coba mengamati keadaan setempat tanyanya kemudian.
"Leng-to-cu, tempat ini serupa sebuah gua air?"
"Betul,"
Jawab Li-hun-nio-nio.
"Justru semula aku temukan gua air ini, maka sengaja aku buat terowongan panjang untuk menembus gua ini."
"Dari percakapan mereka tadi aku dengar bahwa seluruh kapal yang terdapat di sini sudah dirusak Pui-Piu bertiga, sekarang cara bagaimana kita akan meninggalkan pulau ini?"
"Jangan kuatir, masih cukup banyak kapal,"
Ujar Leng-Jing-jing. Benar juga, hanya puluhan langkah mereka maju ke depan lantas terlihat oleh Su-Kiam-eng ada lima buah sampan berlabuh di mulut gua.
"Terlihat tidak?"
Tanya Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing dengan tertawa.
"Cara mengatur Leng-to-cu sungguh sangat cermat, sungguh aku sangat kagum,"
Kata Kiam-eng.
"Kita hanya perlu pakai sebuah sampan, ke empat sampan lain boleh kau rusak saja,"
Ucap Li-hun-nionio.
"Betul, biar aku laksanakan!"
Kata Kiam-eng.
Segera ia melolos pedang dan membobol badan tampan sehingga kemasukan air dan tenggelam.
Lalu ia silakan Li-hun-nio-nio naik sampan yang masih tersisa dan mendorong keluar gua sesudah agak jauh, Kiam-eng melompat juga ke atas sampan dan didayung menuju ke tengah danau yang luas.
Saat itu hari sudah siang, air danau berkilauan tertimpa sinar matahari dan menyilaukan mata.
Setelah beberapa ratus meter meninggalkan gua tadi, Kiam-eng coba memandang Li-hun-nio-nio yang sudah jauh di belakang itu dan tidak terlihat dikejar ke tiga duta Thian-ong-pang, dengan tertawa ia berkata.
"Mungkin mereka belum lagi menemukan pintu rahasia lorong bawah tanah itu, kalau tidak, saat ini seharusnya mereka sudah mengejar tiba."
"Biarpun pintu rahasia itu diketemukan mereka, untuk membuka pintu besi penghalang di dalam terowongan juga memerlukan waktu cukup lama,"
Tutur Li-hun-nio-nio. Setelah meninggalkan danau Tong-ting ini, Leng-to-cu bermaksud pergi ke mana?"
Tanya Kiam-eng.
"Aku ingin menjenguk dahulu anak buahku yang cacat itu, kemudian mencari akal untuk menuntut balas,"
Jawab Leng-Jing-jing.
"Leng-to-cu menyembunyikan mereka di mana?"
Tanya Kiam-eng.
"Di pegunungan Bo-po-san ..."
"Mereka semuanya tidak mahir ilmu silat?"
"Ya."
"Jika begitu, selain Leng-to-cu harus menjaga keselamatan mereka juga ingin menuntut balas terhadap Thian-ong-pang, apakah dapat berhasil dengan baik?"
"Mereka dapat menjaga dirinya sendiri."
"Aku kira untuk sementara ini hendaknya Leng-to-cu tinggal bersama mereka, aku kira kalau Thian-ongpang itu benar komplotan si orang berkedok hijau, nanti sesudah aku lapor kepada guruku dan habis menyembuhkan penyakit In-Ang-bi, mungkin selekasnya dapat diketahui siapa sebenarnya si orang berkedok hijau itu. Tatkala mana biarlah kita mengundang segenap tokoh ke-18 perguruan dan aliran yang bersangkutan, beramai-ramai kita akan menghadapi dan menumpas mereka."
"Ehm, Su-siau-hiap memang harus berbuat demikian,"
Kata Li-hun-nio-nio.
"Akan tetapi akan lebih suka bertindak sendirian, selanjutnya cukup kita selalu mengadakan kontan saja."
"Baiklah, untuk mengetahui jejakku, boleh Leng-to-cu mencari keterangan kepada Wi-ho-lo-jin di Bu-lim-teh-coh, dia tentu akan memberi keterangan kepadamu."
"Kuda tunggangan Su-siau-hiap ditaruh di mana?"
Tanya Leng-Jing-jing.
"Di hotel dalam kota Gak-yang, cuma jarak Gak-yang dengan Wi-ho-lau tidak jauh lagi, tidak perlu aku naik kuda untuk pulang ke sana agar jejakku tidak diketahui musuh yang mungkin senantiasa mengintai."
"Jika begitu, boleh Su-siau-hiap dayung sampan ini menuju ke Moa-tong dan mendarat saja di sana supaya lebih bebas bagimu dan juga bagiku."
Tidak sampai setengah jam lagi sampan mereka sudah merapat di tepi Moa-tong.
Setelah mendarat dan menempuh perjalanan dua-tiga li jauhnya, langsung Li-hun-nio-nio menuju ke Bo-po-san dan Su-Kiam-eng menyamar sebagai kaum pelayan terus pulang ke Wi-ho-lau.
Sepanjang jalan tidak terjadi apa pun.
Hari ke tiga menjelang magrib, sampailah Su-Kiam-eng di kampung halamannya, Wi-go-san.
Hanya tujuh delapan bulan meninggalkan Tiong-Goan, namun ketika Kiam-eng sampai di Wi-go-sin, ia justru sangat gembira serupa seorang pengembara yang pulang kampung.
Dengan sendirinya hal ini disebabkan banyak pengalaman pahit dan berhasil membawa pulang Jian-lian-hok-leng dari tempat jauh serta segera akan bertemu dengan sang guru.
Ia pikir Su-hu dan In-Ang-bi tentunya belum lagi meninggalkan Bu-lim-teh-coh.
Sebab sang guru pernah menyatakan akan menunggu kepulangannya di Bu-lim-teh-coh.
Sebelum bertemu lagi tentu sang guru takkan meninggalkan tempat minum ini.
Menjelang malam keadaan di Wi-ho-lau agak sepi, orang pelesir sangat sedikit, Sembari berpikir Kiam-eng terus menuju Bu-lim-teh-coh dengan lebar.
Ketika hampir mendekati tempat minum itu sekilas pandang, serentak ia hentikan langkahnya dan melongo kaget.
Ternyata Bu-lim-teh-coh yang dilihatnya sekarang dan beberapa warung di kanan-kiri rumah minum itu kini sudah berubah menjadi reruntuhan puing.
Agaknya Bu-Lim-teh-coh ternyata sudah terbakar ludes.
Sesudahnya apakah yang telah terjadi?
Terbakar tanpa sengaja, atau dibakar musuh?
Kiam-eng mengkirik dan tidak berani membayangkannya.
Sungguh mimpi pun tak pernah terbayang olehnya akan terjadi seperti ini.
Kejadian di luar dugaan ini sungguh merupakan pukulan berat baginya, sebab gurunya, In-Ang-bi dan Wi-ho-Lo-jin bisa jadi juga sudah terkubur di tengah kebakaran itu.
Andaikan mereka dapat menyelamatkan diri dan bila dirinya hendak mencari mereka, keadaannya pun serupa mencari jarum di tengah samudra.
Begitulah ia berdiri termangu sekian lama di situ sampai dia disadarkan oleh suara orang berbicara di sampingnya.
"Hei, ada apa berdiri melamun di sini?"
Yang menegurnya ternyata seorang anak tanggung berkepala bisulan dan berdandan sebagai penjaja makanan.
Dulu Kiam-eng pernah menyamar sebagai pelayan selama tiga bulan di Bu-lim-teh-coh, terhadap setiap orang yang biasa muncul di rumah minum itu tentu dikenalnya.
Tapi sekarang bocah penjual makanan di depannya ini ternyata tidak dikenalnya, tergerak pikirannya, maka ia berlagak terkesiap dan bertanya sambil menunjuk reruntuhan puing itu.
"Apa ... apakah yang terjadi atas rumah ini?"
"Kan terbakar, masakah tidak kau lihat jelas?"
Ujar penjual makanan yang bisulan itu.
"Kapan terjadinya?"
Tanya Kiam-eng pula.
"Tengah malam setengahan bulan yang lalu,"
Tutur si kepala bisulan.
"Oo, adakah orang mati terbakar?"
"Ada, seorang perempuan ada seorang pelayan."
Cemas juga perasaan Kiam-eng, badan terasa lemas lunglai dan hampir tidak sanggup berdiri.
Yang menjadi korban kebakaran itu ada seorang perempuan.
Padahal di Bu-lim-teh-coh ini kecuali InAng-bi masakah masih ada orang perempuan lain?
Apakah benar In-Ang-bi yang mati terbakar?
Padahal dengan susah payah dirinya telah menempuh perjalanan berlaksa li jauhnya dan banyak mengalami kesukaran dan kenyang pahit getir akhirnya dapat membawa pulang Jian-lian-hok-leng akan tetapi In-Ang-bi yang ingin disembuhkannya itu ternyata sudah mati.
Kiam-eng merasakan kedukaan yang tak pernah dialaminya, sungguh ia ingin menangis sepuasnya.
Namun ia tidak menangis, bahkan tidak memperlihatkan rasa duka pada wajahnya, sebab ia tahu si bocah bisulan yang berdiri di depannya sekarang adalah seorang "mata-mata"
Musuh sedikit dirinya memperlihatkan tanda mencurigakan itu akan mendatangkan malapetaka bagi diri sendiri.
Ada satu hal yang sukar dimengertinya.
Bahwa Bu-lim-teh-coh jelas dibakar oleh musuh, hal ini memang tidak perlu disangsikan lagi.
Tapi jika benar terbakar pada waktu setengah bulan yang lalu, maka orang yang membakar tentu bukanlah si orang berkedok hijau dan Sih-Hou bertiga, sebab kecuali mereka bisa terbang, kalau tidak, saat ini tentu mereka masih berada jauh di selatan sana.
Dan jika yang membakar bukan yang berkedok hijau dan ke tiga anak muridnya itu, lalu perbuatan siapa?
Apakah perbuatan ke tiga duta Thian-ong-pang itu?
Jika ke tiga duta itu pun anak murid atau buah si orang berkedok batu ada kemungkinan mereka membakar Bu-lim-teh-coh, sebab rumah minum ini bukan sesuatu perkumpulan atau suatu aliran apa pun, Wi-ho-Lo-jin juga tidak pernah bermusuhan dengan orang.
Lantas siapa?
Ya, siapa yang membakar Bu-lim-teh-coh?
Selagi pikiran Kiam-eng berputar cepat, si bocah penjual makanan kembali bertanya.
"Eh Lau-heng (saudara), apakah engkau datang kemari hendak minum teh di Bu-lim-teh-coh."
"Betul,"
Kiam-eng mengangguk.
"Aku cari juragan Wi-ho-Lo-jin untuk menagih."
"Oo, kamu hendak menagih, tagihan apa?"
Tanya si bisulan.
"Tagihan uang teh!"
Jawab Kiam-eng.
"Uang teh?"
Si bisulan menegas dengan tidak mengerti.
"Betul, sejak Bu-lim-teh-coh mulai berusaha selama ini selalu memakai daun teh hasil kebun kami. Biasanya setengah tahun satu-kali kami membereskan utang piutang. Dan hari ini adalah hari perhitungan, tak terduga rumah minum ini sudah terbakar ludes. Wah, sekali ini kami pun ikut celaka."
"Berapa tagihanmu terhadap rumah minum ini?"
Tanya pula si bisulan.
"Sedikitnya seratus tahil perak,"
Sahut Kiam-eng dengan nada sedih.
"Wi-ho-Lo-jin belum lagi mati, boleh kau cari dia untuk menagih,"
Tutur si bisulan dengan tertawa.
"Oo, apa betul? Tapi entah dia ber ... berada di mana?"
Tanya Kiam-eng. Mata si bisulan berkedip-kedip, ucapnya dengan tertawa.
"Aku tahu di mana Wi-ho Lo-jin berada, dapat aku bawa kamu mencarinya, cuma ..."
"Cuma apa?"
Kiam-eng berlagak bingung. Si bisulan memicingkan mata dan menjawab.
"Jika aku bawa kamu mencarinya dia akan berarti malam ini aku tidak dapat berjualan, maka ... maka ... tentu kau paham maksudku."
"Oo,"
Kiam-eng berlagak mengerti dan cepat rogoh ke luar segenggam uang receh serta diberikan kepada si bisulan, katanya.
"Ini sedikit ganti rugi untukmu, harap Lau-heng suka membantuku. Dengan tertawa si bisulan menerima uang tanpa sungkan, segera ia putar tubuh dan angkat, katanya.
"Ayo, ikut padaku!"
Sembari ikut melangkah ke sana Kiam-eng tanya.
"Wi-ho-Lo-jin tinggal di mana sekarang?"
"Di tengah gunung,"
Jawab si bisulan. Ia tidak ingin membangun kembali Bu-lim-teh-coh ini?"
"Katanya ingin, mungkin beberapa hari lagi akan mulai dibangun kembali."
"Sungguh malang. Cara bagaimanakah terbakarnya?"
Tanya Kiam-eng.
"Kabarnya karena kurang hati-hatinya pelayan, api lilin tidak dipadamkan, ketika lilin terbakar habis dan sumbu menjilat taplak meja akibatnya api lantas menjalar."
Sembari bicara sambil berjalan, tanpa terasa mereka sudah memasuki Wi-go-san.
Setelah melintasi sebuah tanjakan, si bisulan mendahului masuk ke sebuah jalan setapak.
Padahal jalan setapak ini tidak asing bagi Su-Kiam-eng, ia tahu pada ujung jalan sana adalah tanah pekuburan.
Tiba-tiba Kiam-eng memegang pundak si bisulan dan berkata.
"Em, coba kau lihat apa ini?"
Chapter 20. Rahasia 180 Patung Mas Waktu bocah bisulan itu menoleh dan bertanya.
"Lihat apa?"
Mendadak telapak tangan Kiam-eng yang memegang pundak orang terus menebas tenggorokan orang.
Karena tidak sempat mengelak, kontan leher si bisulan tertebas cepat.
Ia hanya sempat bersuara kaget terus roboh terjungkal.
Ia tidak dapat bergerak lagi, sebab tebasan telapak tangan Su-Kiam-eng itu telah mematahkan tulang kerongkongannya.
Cepat Kiam-eng mengangkat tubuh orang dan dibawa lari ke suatu tempat ketinggian di sekitar situ.
Setelah mencapai tempat tujuan, ia taruh bocah bisulan itu di tanah, diamat-amatinya wajah orang dengan cermat, lalu ia menyingkap kedok tipis yang menutup muka orang.
Maka terlihatlah dengan jelas, bocah bisulan itu ternyata seorang pemuda yang berwajah gagah dan tangkas.
Kiam-eng tidak mengenalnya, ia coba menggeledah lagi badan orang, hasilnya tidak menemukan sesuatu benda yang dapat membuktikan siapa asal-usul pemuda ini.
Segera ia buka baju dan sepatu lawan dan mulai menyamar.
Hanya sebentar saja sudah berubah menjadi bocah penjaja panganan yang kudisan itu.
Lalu ia jinjing keranjang makanan orang dan meneruskan perjalanan ke tanah pekuburan sana.
Hanya sebentar saja ia sudah sampai di tempat tujuan.
Ia coba memandang sekelilingnya, yang ada cuma makam belaka tanpa bayangan seorang pun.
Diam-diam ia membatin, saat itu musuh yang sembunyi di sekitar situ tidak tahu kapan dirinya akan pulang ke Bu-lim-teh-coh, maka kalau musuh menunggunya di tempat pekuburan ini, mestinya mereka sembunyi di dalam salah sebuah pekuburan.
Lantai di kuburan manakah musuh bersembunyi?
Besar-kecil makam yang berada di tanah pekuburan umum ini tidak kurang dari 500 buah dengan sendirinya Kiam-eng tidak dapat menggeledahnya satu demi satu.
Apalagi jika ia mencarinya secara demikian tentu rahasia penyamarannya akan terbongkar.
Sebab itulah setiba di pekuburan itu segera berteriak.
"Ubi goreng! Yu-ca-kue, Kacang goreng! Semua masih hangat-gurih dan renyah!"
Sembari menawarkan jajanannya ia terus menuju ke tengah tanah pekuburan itu."
Mendadak terdengar suara "bluk"
Sekali, batu nisan sebuah makam di sebelah kiri mendadak ambruk, lalu sebuah kepala orang tua yang bengis, menongol dari lubang kubur serta menegur dengan kurang senang "Poa cilik, kamu main gila apa lagi?"
Kiam-eng terbahak, jawabnya.
"Haha, aku kan lagi menjual kacang goreng?! Kacang gorengku masih hangat, gurih dan renyah, aku pikir kawanan setan dan arwah gentayangan di makam umum ini pun ingin makan kacang gorengku."
Sembari bicara Kiam-eng terus mendekati lubang kubur itu.
"Ada berita apa yang kau peroleh?"
Tanya si kakek muka bengis.
"Bicaralah di dalam nanti,"
Kata Kiam-eng.
Tanpa bicara lagi si kakek lantas mengeret ke dalam kubur.
Kiam-eng pun berjongkok dan menerobos ke dalam.
Terlihat luas ruang kubur itu ada tiga kali lima meter di bawah tanah, di dalam situ ada sebuah pelita minyak.
Kecuali orang tua bermuka bengis tadi masih duduk meringkuk di situ dan orang sastrawan setengah baya dengan dandanan yang aneh.
Sekilas pandang dan mengetahui siapa mereka diam-diam Kiam-eng terkejut, pikirnya.
"Hm, kiranya ke dua keparat ini."
Ke dua orang ini berjuluk "Lo-san-siang-mi-yang"
Atau sepasang bencong dari Lo-san.
Lo-toa atau si kakek bernama Ubun-Pin, Lo-ji atau yang ke dua bernama Ubun-Giok.
Keduanya adalah saudara sekandung, namun tidak normal pertumbuhan fisik mereka sehingga Lo-toa suka berubah menjadi lelaki dan Lo-ji bisa berubah menjadi perempuan hubungan antara ke duanya pun kurang beres.
Namun mereka memiliki kung-fu yang tinggi, senjata rahasia jarum berbisa terlebih lihai.
Mereka pernah muncul di Bu-lim-teh-coh, maka Kiam-eng kenal mereka.
Sekarang dengan cepat Kiam-eng sedang menimang-nimang keadaan, jika dirinya mendadak turun tangan, untuk membinasakan kakek bermuka bengis ini jelas tidak sulit tapi jarum berbisa Lo-san-siang-im-yang bisa menyamber cepat luar biasa di ruang kuburan yang sempit ini tentu sangat sulit menghindari jarum berbisa mereka.
Lantas apa daya?
Karena kung-fu nya tinggi dan nyali besar, ia pikir setelah masuk ke dalam makam baru akan merobohkan musuh secara mendadak.
Namun sama sekali tak terpikir bahwa dua orang musuh lain ternyata adalah tokoh ternama dengan jarum berbisa yang lihai itu, sebab itulah ia agak menyesal.
Tahu begitu, sebelum masuk ke dalam makam tentu si kakek bermuka bengis itu sudah dibereskan dulu, habis itu cukup menunggu saja di mulut makam dan Lo-san-siang-mi-yang dapat dikubur hidup-hidup di situ.
Kini terpaksa ia tidak berani sembarangan bertindak melainkan hanya ikut duduk di situ bersama si kakek berwajah bengis.
Tapi baru saja duduk, Ubun-Pin lantas buka suara.
"Poa cilik, kenapa batu kuburan tidak kau tutup?"
Kiam-eng mengiakan perlahan dan berbangkit lagi untuk menutup batu nisan.
Pada kesempatan itu sebenarnya ia dapat kabur ke luar makam, namun dia tidak bertindak demikian, ia bertekad tetap menyamar sebagai "Poa cilik"
Dengan harapan akan mengetahui apa tujuan ke empat lawan ini mengeram di dalam makam ini, sebab ia menarik kesimpulan ke empat orang inilah yang membakar Bu-lim-teh-coh.
Setelah merapatkan batu nisan kuburan.
Kiam-eng mundur kembali dan duduk di tempat tadi.
Ubun-Pin lantas tanya lagi.
"Apakah kau lihat di luar sana, Poa cilik?"
Kiam-eng menaruh keranjang makanan di lantai lalu menjawab.
"Aku lihat orang yang sedang kita tunggu itu."
Lo-san-siang-im-yang dan si kakek bermuka bengis tersentak bangkit, berbareng mereka tanya.
"Su-Kiam-eng maksudmu?"
"Betul, bocah itu sudah pulang,"
Tutur Kiam-eng.
"Dia pulang sendirian?"
Tanya si kakek.
"Ya, pulang sendirian,"
Kembali Kiam-eng mengangguk.
"Dan sekarang dia berada di mana?"
Tanya Ubun-pin lagi. Kiam-eng sengaja jual mahal, setelah merandek sejenak batu menjawab perlahan.
"Jangan tergesa-gesa, biar aku tuturkan dengan perlahan."
Bilamana malam tiba, Ubun-Pin suka berubah menjadi lelaki perkasa, wataknya menjadi agak kasar, perkataan Kiam-eng membuatnya tidak sabar, teriaknya.
"Keparat, pakai bicara perlahan segala? Apa kamu tidak kuatir 40 ribu tahil perak itu akan terbang meninggalkan kita?"
"Justru karena tidak mungkin terbang, maka aku minta kalian bersabar sebentar,"
Ujar Kiam-eng dengan tertawa. Ubun-Giok tertawa ngikik, ucapnya dengan suara yang dibuat lembut.
"Poa cilik, ayolah jangan jual mahal lagi. Apa benar kau lihat Su-Kiam-eng itu sudah pulang?"
Meski bentuknya kelihatan banci, betapapun unsur kelihaiannya terlebih kuat, maka suara lembutnya yang dibuat-buat terasa memuakkan bagi pendengarnya.
Kiam-eng juga merinding, tapi ia berlagak bangor dan meliriknya sekejap sambil berucap.
"Tidak cuma melihatnya saja, bahkan aku bicara dengan dia."
Melihat Kiam-eng tidak mau bicara terus terang, si kakek tampak kurang senang, omelnya.
"Poa cilik, meski kedudukan kita berempat sama tingginya, tapi bicara tentang tingkatan, jelas kami terlebih tua dari padamu. Aku kira kamu perlu menghormati orang tua."
Kiam-eng angkat pundak, tuturnya kemudian "Begini yang terjadi.
Pada waktu aku jajakan kacang goreng di sana, tiba-tiba aku lihat seorang berdiri termenung di samping reruntuhan puing Bu-lim-teh-coh.
Waktu aku dekati baru aku kenali dia sebagai Su-Kiam-eng."
"Tentu dia terkejut demi melihat Bu-lim-teh-coh sudah berubah menjadi reruntuhan puing, begitu bukan?"
Tanya Ubun-Pin.
"Ya, kata Kiam-eng.
"Waktu aku lihat dia berdiri termenung, kesempatan itu mestinya ingin aku gunakan untuk menutuk roboh dia. Namun pada saat itu juga mendadak ia berpaling ke arahku, sorot matanya tampak menampilkan rasa duka dan gusar seperti ingin membunuh orang untuk melampiaskan perasaannya. Sebab itulah aku tidak jadi turun tangan melainkan cuma menegurnya apakah dia datang mencari Bu-lim-teh-coh. Ia membenarkan dan menyatakan hendak menagih utang kepada Wi-ho-Lo-jin ..."
"Menagih utang? Utang apa?"
Tanya si kakek wajah bengis.
"Itulah, seketika aku pun tidak mengerti, maka aku pun tanya dia menagih uang apa, dan dia menjawab uang daun teh."
"Uang daun teh? Apa artinya itu?"
Tanya Ubun-Pin bingung.
"Artinya ia tahu pasti ada alasan terbakarnya Bu-lim-teh-coh, maka ia tidak mau terang-terangan mengaku sebagai Su-Kiam-eng melainkan pura-pura mengaku sebagai pedagang daun teh yang hendak menagih utang kepada Bu-lim-teh-coh."
"Oo, kiranya begitu. Baiklah coba ceritakan seterusnya."
"Waktu itu aku tanya dia berapa banyak utang Bu-lim-teh-coh kepadanya. Ia menjawab ada sekitar seratus tahil perak. Aku bilang Wi-ho-Lo-jin kan tidak mati, boleh kau cari dia untuk menagih utang padanya. Ia menjawab tidak diketahui ke mana perginya Wi-ho-Lo-jin.
"Aku katakan padanya tahu di mana Wi-ho-Lo-jin berada dan bersedia memanggilnya, cuma, untuk itu berarti aku harus membuang waktu dan tidak dapat berjualan. Maka ...
"Sebelum aku katakan lebih lanjut maksudku segera ia mengeluarkan sekian uang receh dan diberikan padaku dan minta aku bawa menemui Wi-ho Lo-jin. Namun aku menolak, aku bilang cuma ada dua teman yang aku ketahui sering disinggahi Wi-ho-Lo-jin, namun tidak tahu pasti sebenarnya orang tua itu berada di mana. Aku suruh dia tunggu saja di sana, biar aku cari tahu di mana beradanya Wi-ho-Lo-jin baru akan datang lagi untuk membawanya ke sana. Aku bilang kalau dia kuatir aku lari setelah mendapat persen, maka hendak aku kembalikan saja uang pemberiannya itu.
"Namun dia menolak dan menyatakan percaya kepada keteranganku, ia minta aku pergi mencari Wi-ho-Lo-jin dan kalau dapat supaya orang tua itu diundang ke situ dengan pesan dicari oleh pedagang daun teh dari Bu-ih-san ..."
Sampai di sini, tiba-tiba Ubun-Pin menyela lagi.
"Hm, menurut rencana kita semula kan seharusnya kau pancing dia ke sini, mengapa sembarangan kau langgar rencana semula?"
"Aku memang ingin melaksanakan rencana semula tapi pada saat terakhir tiba-tiba aku rasakan ada titik kelemahan dalam rencana kita itu,"
Ujar Kiam-eng tertawa.
"Tidak lemah bagaimana?"
Tanya Ubun-Pin.
"Apakah kau tahu Su-Kiam-eng pernah menjadi pelayan di rumah minum Bu-lim-teh-coh?"
Tanya Kiam-eng.
"Ya, tahu,"
Ubun-Pin mengangguk.
"Memangnya kenapa?"
"Justru di sini letak titik lemahnya,"
Ucap Kiam-eng.
Jika bocah itu pernah menjadi pelayan di Bu-lim-teh-coh, tentu dia sangat apal terhadap daerah ini, terutama sekitar Wi-go-san.
Bila aku pancing dia ke tanah pekuburan ini, memangnya dia takkan curiga?"
"Ah, betul juga,"
Kata Ubun-Ping. Wi-ho-Lo-jin jelas takkan sembunyi di tanah pekuburan ini. Hal ini memang kurang sempurna dan tak pernah terpikir oleh kita."
"Makanya, terpaksa aku ganti haluan dan mengubah rencana semula,"
Tutur Kiam-eng "Lebih dulu aku bohongi dia agar menanti di sana, lalu aku pulang kemari untuk berunding dengan kalian."
"Begini saja, biarlah kita pergi ke sana dan beramai-ramai membereskan dia,"
Ucap si kakek muka bengis.
"Wah, kurang baik,"
Kiam-eng menggelengkan kepala.
"Di tempat terbuka dan di depan orang banyak, apa yang terjadi tentu gampang tersiar ke telinga gurunya, yaitu Kiam-ho Lok-Cing-hui, pula mudah membuat kabur pecah she Su itu."
"Dan kalau menurut pendapatmu, sebaliknya apa yang harus kita lakukan?"
Tanya si kakek muka bengis.
"Biarlah kita ganti tempat dan melaksanakan sesuai rencana semula,"
Kata Kiam-eng. Ubun-Giok menimbrung.
"Jika ingin ganti tempat, aku kira hanya ada suatu tempat yang paling cocok."
"Tempat mana?"
Tanya Kiam-eng.
"Yaitu rumah gubuk tempat tinggal Sai-hoa-Sim-Tiong-ho,"
Jawab Ubun-Giok.
"Aha, betul!"
Seru Kiam-eng setuju.
"Wi-ho-lo-jin dan Sai-hoa-to adalah sahabat karib selama berpuluh tahun. Kalau di beritahu Wi-ho-Lo-jin sebagai di tempat Sai-hoa-to tentu Su-Kiam-eng akan percaya penuh tanpa curiga."
"Baiklah, sekarang kita bertiga segera menuju ke gubuk Sai-hoa-to itu,"
Ajak si kakek muka bengis.
"Wah, tidak perlu terburu-buru,"
Kata Kiam-eng.
"Paling baik satu di antara kalian ikut pergi bersamaku untuk menjaga segala kemungkinan, bilamana urusan sampai ketahuan dapat kita cegah kaburnya bocah she Su itu."
"Betul, biar aku pergi bersamamu,"
Tukas Ubun-Giok. Kehendak orang kebetulan bagi Su-Kiam-eng, ia mengangguk dan berkata.
"Bagus, jarum mencabut nyawa kalian maha ampuh, bilamana Ubun-heng sudi ikut pergi bermaksud tentu urusan tidak perlu aku kuatirkan lagi."
"Lebih baik aku saja yang pergi, Lo-jin,"
Kata Ubun-Pin. Ubun-Giok memelototi sang kakak, ucapnya dalam hal apa kamu lebih kuat daripadaku? Maka kamu ingin berebut denganku?"
Lalu ia memberi tanda kepada Su-Kiam-eng dan berkata.
"Ayo, kita berangkat!"
Segera pula ia mendahului menerobos keluar makam itu. Selagi Kiam-eng hendak ikut menerobos keluar, tiba-tiba Ubun-Pin menariknya dan membisikinya dengan nada mengancam.
"Awas, Poa cilik, jika kau berani mengganggu saudaraku, bisa jadi aku bunuh dirimu."
Kiam-eng menepuk pundak orang, katanya tertawa.
"Jangan kuatir, istri teman sendiri tidak boleh diganggu, apalagi dia adikmu."
Habis berucap ia lantas menerobos keluar.
Berturut-turut Ubun-Pin dan si kakek wajah bengis juga ikut menerobos keluar.
Mereka meninggalkan tanah makam itu, lalu terpencar.
Dua orang langsung menuju ke gubuk tempat tingga1 Sai-hoa-to, dua lagi menuju ke Wi-ho-lau.
Kiam-eng dan Ubun-Giok menelusuri jalan setapak sekian jauh, ditaksir jarak dengan Wi-ho-lau tinggal satu-dua li saja, selagi Kiam-eng hendak turun tangan menghabisi Ubun-Giok, sekonyong-konyong orang bencong itu berucap dengan suara genit.
"Eh, Poa cilik, aku tidak sanggup berjalan lagi, marilah kita duduk mengaso sebentar."
Dan tanpa menunggu jawaban Su-Kiam-eng langsung ia duduk di tepi jalan. Terpaksa Kiam-eng berhenti dan membalik tubuh, tanyanya.
"Apakah Ubun-heng kelelahan?"
"Ya, hampir mati kelelahan,"
Ucap Ubun-Giok dengan gaya memikat. Kiam-eng duduk di samping orang, ucapnya dengan tertawa.
"Untung Su-Kiam-eng takkan tahu akan kedatangan kita, bolehlah kita mengaso sebentar di sini."
Karena duduk bertanding, kesempatan itu digunakan Ubun-Giok untuk menyandarkan kepala pada Su-Kiam-eng sambil bertanya.
"Poa cilik, di dalam makam tadi, apa yang dikatakan kakakku terhadapmu?"
Kiam-eng sengaja mencolek dagu orang dan menjawab.
"Ia memperingatkan aku agar jangan mengganggumu. Kalau aku tidak menurut, bisa jadi aku akan dibunuhnya."
"Huh, jangan percaya ocehannya,"
Dengus Ubun-Giok dengan mulut menjengkit.
"Dia memang cuma mementingkan diri sendiri. Siang hari ia sendiri sering mencari orang lelaki, tapi malam hari aku dilarang mencari lelaki. Sungguh terlalu egois."
"Maksudnya kan ingin membelamu, setiap kakak tentunya tidak suka adik sendiri diganggu orang,"
Ujar Kiam-eng dengan tertawa.
"Akan tetapi bila siang hari dia kan jadi kakak perempuanku dan aku adalah adik lelakinya dan apa yang dilakukannya siang hari dengan orang lelaki tidak pernah aku larang."
Hal ini mungkin disebabkan dia ... dia sangat sayang padamu,"
Kata Kiam-eng.
"Sayang kentut!"
Omel Ubun-Giok.
"Aku justru tidak sayang padanya. Setiap lelaki lain pasti lebih tangkas daripada dia. Biar aku beritahukan padamu, dia ..."
Kiam-eng tahu apa yang akan dikatakannya, cepat ia memotong.
"Sudahlah, aku tahu, tidak perlu kau katakan lagi."
Ubun-Giok mendongak dengan manja dan berucap.
"Jika begitu, apakah engkau sudi berbaikan satu kali denganku?"
"Tidak, bilamana diketahui kakakmu, jiwaku bisa melayang,"
Kiam-eng menggeleng. Ke dua tangan Ubun-Giok merangkul pinggang Kiam-eng dengan erat, sorot matanya menampilkan cahaya kehausan yang sangat diharapkannya, desisnya.
"Total, masakah aku beritahukan dia apa yang kita lakukan ini? Marilah kita ..."
Sembari berucap segera tangannya meraba dan hendak membuka celana Kiam-eng. Namun tangan Kiam-eng tepat pada waktunya "meraba"
Hiat-to kelumpuhan orang, begitu ia tekan dengan kuat, tubuh Ubun-Giok bergetar sedikit, lalu terperosot ke tanah dan tak bisa berkutik lagi.
Dengan sendirinya si bencong tidak mengerti mengerti sebab apa si Poa cilik menutuk hiat-to kelumpuhannya, maka setelah terguling ia masih bingung dan heran, tanyanya.
"Hei, Poa cilik, kamu main gila apa?"
Kiam-eng melolos belatinya dan mengancam di leher orang, ucapnya dengan tertawa.
"Jangan bersuara keras-keras, bila kamu berteriak segera aku tusuk lehermu."
Tentu saja Ubun-Giok ketakutan, ucapnya dengan gemetar.
"Hei, Poa cilik, apa artinya perbuatanmu ini? Kan aku terima segala permintaanmu, ke ..."
"Sialan."
Omel Kiam-eng.
"Aku bukan Poa cilik atau Poa gede, Poa cilik sudah mampus, tahu?"
Ubun-Giok terbelalak kaget, ia menegas.
"Apa katamu?"
Sekata demi sekata Kiam-eng menjawab.
"Aku bilang aku bukan Poa cilik segala, Poa cilik itu sudah mampus aku bunuh, tahu?"
"Hahh, lantas ... lantas siapa engkau?"
Tanya Ubun-Giok kaget.
"Aku ini bernama 40 ribu tahil perak!"
Dengus Kiam-eng. Ubun-Giok tahu apa arti ucapan itu dengan ngeri ia berkata "Oo, jadi ... jadi engkau ini Su ... Su Kiam eng?"
"Betul,"
Kiam-eng mengangguk.
"Cuma kamu pun tidak perlu takut asal kau bicara sejujurnya apa yang aku tanyakan nanti, tentu kamu masih diberi kesempatan untuk hidup."
"Baik ... baiklah, silakan ... silakan tanya!"
Sahut Ubun-Giok dengan gemetar.
"Nah, coba katakan, kalian berempat ini membakar Bu-lim-teh-coh atas perintah siapa?"
"Ti ... tidak, bukan ... bukan kami yang membakar Bu-lim-teh-coh ..."
"Habis siapa?"
"Entah, aku tidak tahu."
"Em, jangan bohong. Jika tidak bicara terus terang, sekali tubles aku tembus tenggorokanmu."
"Betul, aku benar-benar tidak tahu apa pun, aku ... aduhh!"
Rupanya ujung belati Kiam-eng telah menusuk ke dalam tenggorokan orang, namun cuma masuk setitik saja, jadi boleh dikatakan cuma terluka lecet saja, akan tetapi hal itu sudah cukup membuat Ubun-Giok ketakutan setengah mati, mata tampak mendelik, rupanya jatuh pingsan.
Hal ini sama sekali di luar perhitungan Su-Kiam-eng.
Setahunya, biarpun Lo-san-siang-im-yang ini orang bencong alias benci, sebentar luka menjadi lelaki dan lain saat berubah menjadi perempuan, namun pada waktu mereka menjadi perempuan, ilmu silat dan keganasan mereka tidak menjadi lemah.
Tak tersangka sekarang hanya, termasuk sedikit saja sudah membuatnya semaput saking takutnya.
Kiam-eng coba memandang sekitar dan tidak terlihat ada air, terpaksa ia menyeret orang ke tengah hutan di dekat situ, hendak ditanyai lagi bila orang sudah siuman nanti.
Sebabnya Kiam-eng tidak mau melepaskan Giok ini adalah karena di antara ke tiga lawan itu hanya Ubun-Giok ini yang paling lemah, jika dari Ubun-Giok tidak dapat dikorek sesuatu keterangan, maka Ubun-Pin dan si kakek muka bengis jelas terlebih sulit lagi.
Akan tetapi sebelum lanjut ucapannya Su-Kiam-eng telah menambahi dengan sekali hantam pada belakang kepalanya sehingga mencelat dan jatuh terkabar.
Di tengah malam gelap.
si kakek muka bengis tidak tahu jelas apa yang terjadi, namun suara panggilan "Nah-heng"
Yang diucapkan Ubun-Pin dan suara jatuhnya dapat didengarnya dengan jelas, maka cepat ia memburu ke sana dan bertanya.
"Heh, Ubun-heng, ada apa?"
Kiam-eng mendekatinya dan menjawab.
"Jangan kuatir, Na-heng, Ubun-heng cuma kena aku tutuk saja."
Melihat sorot mata Kiam-eng penuh rasa permusuhan, pula melihat Ubun-Pin menggeletak di situ, si kakek muka bengis terkesiap dan bertanya pula.
"Poa cilik, kamu main gila apa?"
"Hm, main gila apa? Aku cuma ingin mengangkangi sendiri ke-40 ribu tahil perak itu,"
Jengek Kiam-eng.
"Keparat! Apa kamu sudah gila?!"
Damprat si kakek dengan gusar.
"Aku tidak gila, tapi keinginanku pasti akan terkabul,"
Ucap Kiam-eng dengan tertawa. Kejut dan gusar si kakek muka bengis, dengusnya.
"Hm, hanya dengan tenagamu sendiri, memangnya kau mampu menangkap Su-Kiam-eng?"
"Ya, justru dia sudah dapat aku tangkap,"
Kiam-eng mengangguk. Melengong juga si kakek, katanya kemudian.
"Aha, kiranya begitu. Tapi ingin aku ingatkan padamu, jangankan saat ini masih ada aku Ok-sat-sin Na-Bu-hui di sini, andaikata dapat kau bunuh diriku dan ingin membawa Su-Kiam-eng untuk mengambil hadiah, mungkin sebelum kau dapatkan 40 ribu tahil perak hadiah itu kamu sudah harus menerima tuduhan membunuh kawan sendiri."
Kiam-eng angkat pundak, katanya "Aku kira tidak, tujuan cu-kong kita hanya pada diri Su-Kiam-ong dan takkan menghiraukan kematian anak buah sendiri. Seketika wajah si kakek tambah beringas, ucapnya.
"Tampaknya kamu akan main gila benar-benar?"
"Ya, umpama kamu dapat membunuhku, maka ke-40 ribu tahil perak itu pun akan menjadi milikmu,"
Kata Kiam-eng dengan tertawa. Mendadak Ok-sat-sin Na-Bu-hui, si kakek bermuka bengis, melolos batang golok tebal berlukis kepala setan dan mendesak maju, ucapnya sambil menyeringai.
"Tepat ucapanmu, biarlah sekarang juga kita tentukan siapa yang berhak mengambil hadiah ke-40 ribu tahil perak itu."
Sejak menyamar sebagai "Poa cilik,"
Kiam-eng menyembunyikan pedangnya di tengah hutan, maka sekarang ia hanya menghadapi lawan dengan bertangan kosong.
Namun ia tidak gentar sedikit pun, sebab Na-Bu-hui ini meski seorang tokoh terkemuka di kalangan hitam namun ia cukup yakin mampu membinasakannya dengan bertangan kosong maka dengan tersenyum saja ia hadapi orang.
Dengan sendirinya Na-Bu-hui tidak tahu Poa cilik alias Poa-Siu-ho yang berjuluk Coan-san-cu atau si tikus penyusup gunung, bukan lagi Poa-Siu-ho yang asli, hatinya tambah panas ketika dilihatnya "Poa cilik"
Menghadapinya dengan sikap pongah seakan akan pasti akan menang.
Sambil meraung segera goloknya menebas ke pinggang Kiam-eng.
Begitu cepat dan dahsyat tebasan goloknya, jelas tidak kepalang lihainya.
Akan tetapi baru saja goloknya menyambar tahu-tahu "Poa cilik"
Yang berdiri di depan itu mendadak menghilang.
Malahan pada saat itu juga tiba-tiba serangkum angin kencang menyambar dari belakang.
Keruan ia terkejut dan cepat menjatuhkan diri ke samping, menyusul ke dua kaki lantas menendang secara berantai.
Caranya mengelak itu tidak bagus, namun cukup praktis juga di luar dugaan Su-Kiam-eng.
Pukulan Kiam-eng itu bila diteruskan sebenarnya dapat mengenai perut lawan, akan tetapi tendangan lawan juga akan mengenai dadanya.
Sambil berseru memuji, cepat Kiam-eng melompat mundur.
Kesempatan itu digunakan Na-Bu-hui untuk melompat bangun terus hendak kabur, namun Kiam-eng terus membayangi lagi jari kembali menutuk.
Setelah saling gebrak dan merasa menghadapi lawan berat, timbul curiga Na-Bu-hui, sambil mengelak ke balik pohon segera ia pun membentak.
"Berhenti dulu, aku ingin bicara!"
Terpaksa Kiam-eng berhenti melihat orang berlindung di balik pohon, tanyanya dengan tertawa.
"Kau mau kentut apa, lekas katakan!"
Na-Bu-hui coba mengamat-amati Kiam-eng dengan teliti, mendadak ia terkekeh dan bertanya "Hehe, sebenarnya siapa engkau?"
"Siapa lagi, aku kan Coan-san-cu Poa-Siu-ho, memangnya kamu sudah pikun?"
Sahut Kiam-eng tertawa.
"Omong kosong,"
Jengek Na-Bu-hui.
"Berapa banyak bulu kalong di pantat Coan-san-cu pun aku tahu jelas, tidak perlu kamu bohong. Nah, sesungguhnya kamu ini siapa?"
"Haha, boleh juga pandanganmu,"
Kiam-eng terbahak.
"Baiklah, biar aku katakan terus terang. Namaku ialah si 40 ribu tahil perak."
"Hahh, jadi engkau ini Su-Kiam-eng?"
Na-Bu-hui menegas dengan muka pucat.
"Betul, jika aku dapat kau lawan, bukankah kamu akan menerima hadiah 40 ribu tahil perak?"
Ucap Kiam-eng.
Diam-diam Na-Bu-hui merasa jeri.
Agaknya ia tahu betapa tinggi kepandaian Su-Kiam-eng, tanpa dibantu Lo-san-siang-im-yang dan Coan-san-cu Poa-Siu-ho, sendirian tidak mungkin baginya untuk melawan Su-Kiam-eng.
Padahal sekarang jelas ke tiga kawannya itu sudah tamat riwayatnya, maka dalam benaknya sekarang bukan lagi berpikir tentang cara bagaimana menawan Su-Kiam-eng untuk mendapatkan hadiah besar melainkan cara bagaimana mencari jalan singkat untuk meloloskan diri.
Begitulah dengan takut ia menyurut mundur berulang, habis itu mendadak ia melompat jauh ke belakang terus lari secepatnya.
Namun Kiam-eng sudah tahu maksud orang, sambil tertawa panjang ia melayang lewat di atas kepala lawan dan hinggap di depannya, sebelah tangan meraih, segera ia hendak mencengkram musuh.
Na-Bu-hui tidak berani balas menyerang, ia hanya menghindar ke samping dan berusaha menyusup ke tengah hutan yang gelap.
Akan tetapi gerakan Su-Kiam-eng terlebih cepat dari dia, kembali ia menghadang di depan ruang sambil menegur dengan tertawa.
"Na-Bu-hui, sebaiknya kamu menerima nasib saja!"
Sembari bicara jarinya kembali menyambar bagian dada lawan.
Na-Bu-hui menyadari sukar meloloskan diri, terpaksa ia nekat dan melawan sekuatnya, ia putar golok dan balas membacok lengan kanan Kiam-eng.
Pertarungan ulangan ini terlebih payah bagi Ok-sat-sin Na-Bu-hui, soalnya setelah sekarang mengetahui lawannya adalah Su-Kiam-eng, rasa jeri tentu saja berpengaruh dalam benak Na-Bu-hui, maka setelah melawan beberapa gebrakan ia pun mulai panik.
Pada suatu kesempatan.
"plak", telapak tangan Kiam-eng berhasil menebas patah tulang pergelangan tangan lawan sehingga golok yang dipegangnya mencelat ke udara. Na-Bu-hui menjerit kaget dan terhuyung-huyung mundur beberapa tindak, butiran keringat pun menghias dahinya, ucapnya dengan menahan sakit "Berhenti dulu, aku mengaku kalah!"
"Hanya mengaku kalah saja tidak ada gunanya, kamu harus menjawab terus terang pernyataanku baru jiwamu dapat diselamatkan,"
Jengek Kiam-eng. Sambil memegangi pergelangan tangan yang patah Na-Bu-hui menjawab.
"Baiklah, pasti aku jawab sebenarnya segala pertanyaan Su-siau-hiap ..."
"Jika begitu, bolehlah kau duduk,"
Kata Kiam-eng. Na-Bu-hui menurut dan duduk dengan lesu seperti ayam jago yang sudah keok. Kiam-eng bersandar di batang pohon, tanyanya dengan tertawa.
"Nah, sekarang katakan, siapa cu-kong mu?!"
Ok-sat-sin Na-Bu-hui terdiam sejenak, akhirnya menjawab perlahan.
"Thian-ong-pang!"
"Aku tahu Thian-ong-pang, apakah tidak dapat menjawab lebih jelas lagi?"
"Kami berempat adalah petugas Thian-ong-pang dengan honorarium seribu tahil perak setiap bulan, kami hanya melaksanakan setiap tugas yang kami terima dari Thian-ong-pang, meski sudah sekian bulan kami bekerja bagi Thian-ong-pang, namun selama ini belum pernah kami lihat wajah sang Pang-cu, juga tidak tahu orang macam apakah beliau itu ..."
"Ya, aku tahu,"
Tukas Kiam-eng.
"Cara kalian menggabungkan diri pada suatu tengah ke tiga duta Thian-ong-pang mendadak berkunjung ke tempat tinggalmu dan menyuruhmu masuk Thian-ong-pang dengan janji akan memberi gaji seribu tahil perak setiap bulan. Kalian tidak perlu datang ke tempat Thian-ongpang melainkan menunggu tugas saja di rumah, bilamana ada orang datang dengan membawa sebuah medali emas dengan ukiran raja langit, maka kamu harus tunduk kepada perintahnya ... Nah, begitu bukan?"
"Betul, memang begitulah. Kiranya engkau sudah tahu semuanya!"
"Hm, lantas bagaimana penjelasanmu tentang 40 ribu tahil perak itu?"
"Itu terjadi setengah bulan yang lalu ketika salah seorang duta Thian-ong-pang datang menemuiku dan menyuruhku bergabung dengan Poa-siu-ho dan Lo-san-siang-im-yang untuk datang ke Bu-lim-teh-coh ..."
"Untuk apa?"
Tanya Kiam-eng.
"Ia memberi perintah kepada kami agar membakar Bu-lim-teh-coh serta bersembunyi di sekitar sini untuk menunggumu, serta berusaha menangkapmu."
"Baik, sekarang coba ceritakan dulu cara bagaimana kalian membakar Bu-lim-teh-coh dan apa yang terjadi?"
"Duta Thian-ong-pang itu memberitahukan kepada kami bahwa gurumu berada di Bu-lim-teh-coh, sebab itulah kami tidak berani turun tangan secara terang-terangan melainkan diam-diam menyiram dinding Bu-lim-teh-coh dengan dua emper minyak bakar pada waktu malam ..."
"Berhenti dulu,"
Sela Kiam-eng.
"Coba katakan, apa tujuan perintah duta Thian-ong-pang itu agar kalian membakar Bu-lim-teh-coh?"
"Katanya untuk membakar hangus gurumu."
"Sebab apa mereka ingin membunuh guruku?"
"Hal ini tidak diberinya keterangan, cuma saja, bila Thian-ong-pang ingin merajai dunia persilatan, dengan sendirian Kiam-ho dan Kiam-ong berdua adalah sasaran yang harus ditumpasnya."
"Apakah si duta itu tidak memberitahukan pada kalian bahwa di Bu-lim-teh-coh juga ada seorang nona bersama In-Ang-bi?"
"Tidak."
Diam-diam Kiam-eng merasa heran, ia pikir kalau si duta tidak menyebut In-Ang-bi, apakah mungkin mereka bukan sekomplotan dengan si orang berkedok hijau?
Dan kalau bukan orang sekomplotan, mengapa mereka pun ingin menangkapku?"
Setelah berpikir sejenak lalu ia tanya pula.
"Jika begitu, lantas apa tujuannya kalian disuruh menangkap diriku?"
"Membabat rumput kalau tidak sampai akar-akarnya, tentunya mereka tidak merasa aman,"
Ucap Na-Bu-hui.
"Ehm, betul juga. Coba bicara terus!"
"Setelah kami siram dinding Bu lim-teh-coh dengan minyak bakar, lalu kami sembunyi di tempat gelap dan keluarkan panah berapi yang sudah disiapkan dan membidikkannya, maka api pun segera berkobar dan Bu-lim-teh-coh pun menjadi api ..."
"Adakah Wi-ho-Lo-jin dan guruku menyelamatkan diri?"
"Ya, mereka menjebol atap rumah dan melayang ke luar dan kabur."
"Kau lihat dengan jelas?"
"Tidak terlampau jelas, cuma aku lihat dua sosok bayangan orang melayang ke luar, hanya begitu saja,"
"Kemudian, beberapa sosok mayat yang kalian temukan di tengah reruntuhan puing Bu-lim-teh-coh?"
"Dua, sosok di antaranya dapat dikenali sebagai orang perempuan, mungkin dia itulah nona In-Ang-bi yang kau maksudkan."
"Betul, dia putri kesayangan Bu-tek-sin-pian In-Giok-san, ia yang menyaksikan sendiri terbunuhnya ke-18 tokoh Bu-lim di Hwe-liong-kok dulu, sekarang kematiannya menjadi ..."
Sampai di sini mendadak Kiam-eng berhenti, wajah menampilkan rasa kejut dan takut ...
"He, ada apa?"
Tanya Na-Bu-hui bingung demi lihat air muka Su-Kiam-eng yang aneh itu.
Kiam-eng tidak menjawab, sebaliknya sorot matanya tampak buram, tubuh pun lantas mendoyong ke samping dan akhirnya jatuh terkapar.
Ok-san-sin Na-Bu-hui melongo kaget, menyusul ia pun melonjak girang dan berseru.
"He Ubun-heng, engkau bukan?"
Sesosok bayangan muncul dari balik pohon sana serupa bayangan setan. Siapa lagi dia kalau bukan Ubun-Pin. Dengan girang Na-Bu-hui berseru pula.
"Bagus, bagus sekali. Akhirnya kita yang menang!"
Perlahan Ubun-Pin mendekat, sebelah kakinya menginjak tubuh Su-Kiam-eng, tapi matanya menatap tajam terhadap Oh-sat-sin, ucapnya dengan dingin.
"Na-heng, kau gunakan istilah 'kita', apakah tidak ada perasaan risi dalam hatimu?"
Muka Na-Bu-hui berubah merah, sahutnya.
"Dengan ucapan Ubun-heng ini, apakah engkau bermaksud mengangkangi sendiri ke-40 ribu tahil perak itu?"
"Hm, andaikan ada maksudku memberi sebagian padamu, aku kira Na-heng juga takkan berani terima,"
Jengek Ubun-Pin. Dengan tergegap Na-Bu-hui menjawab.
"Asal saja ... asal saja Ubun-heng ..."
"Setiap bulan kita menerima gaji seribu tahil perak, tentunya kita diharuskan setia melaksanakan tugas. Sekarang kamu sudah menyerah kepada musuh, apakah kamu masih punya muka untuk menerima hadiah?"
Na-Bu-hui menghela napas, tanyanya.
"Tadi bukankah Ubun-heng juga tertutuk oleh bocah she Su itu?"
"Betul, tapi ada kemampuanku melancarkan hiat-to sendiri, sahut Ubun Pin.
"Tapi kalau tidak aku ajak bicara padanya, mana ada waktu bagi Ubun-heng untuk menjebol hiat-to sendiri yang tertutuk?"
"Betul juga, maka boleh aku beri kelonggaran padamu, apabila Na-heng sayang pada nyawa sendiri, boleh silakan mencari selamat sekarang juga."
Berkerenyit kening Na-Bu-hui katanya.
"Baiklah, cuma ... pergelangan tanganku ini mohon dibetulkan oleh Ubun-heng."
Ubun-Pin mengangguk.
"Baik, namun janganlah Na-heng pakai akal licik, kalau tidak, jangan menyesal bila tanganku tidak kenal ampun."
"Ubun-heng jangan kuatir, mana berani aku balas kebaikan dengan cara busuk,"
Sahut Na-Bu-hui dengan menyengir.
Ubun-Pin tersenyum, segera ia melangkahi tubuh Kiam-eng dan hendak membetulkan tulang pergelangan tangan Na-Bu-hui yang patah itu.
Siapa tahu, pada saat ia melangkahi tubuh Su-Kiam-eng itulah, anak muda yang semula rebah diam saja itu mendadak menyambar ke dua kaki Ubun-Pin.
Keruan Na-Bu-hui terkejut dan berseru.
"Awas, Ubun-heng!"
Namun sudah kasip, tahu-tahu Ubun-Pin sudah terangkat oleh Su-Kiam-eng terus dilemparkan sekuatnya ke batang pohon di sebelah sana.
Oleh karena gerakan Su-Kiam-eng sangat cepat lagi tak terduga, sama sekali tidak ada waktu bagi Ubun-Pin untuk melawan, maka terdengarlah jeritan ngeri, kepala Ubun-Pin membentur batang pohon dan hancur, kontan binasa.
Tentu saja Ok-san-sin Na-Bu-hui ketakutan, ucapnya dengan gemetar.
"Jadi engkau tidak ... tidak terkena jarum-mautnya?"
Kiam-eng melompat bangun, dijemputnya sebuah jarum dari tanah, katanya dengan tertawa "Coba lihat, bukankah ini jarumnya?"
"Oo, kiranya jarumnya yang mengenai hiat-to mu,"
Ucap Ok-sat-sin.
"Bukan begitu halnya,"
Ujar Kiam-eng dengan tertawa.
"Pada waktu dia datang sudah aku ketahui lebih dulu, maka jarumnya ini dapat aku sambar dengan tanganku."
Dengan gemas Na-Bu-hui melirik sekejap mayat Ubun-pin dan memaki.
"Orang banci ini tidak tahu diri, kebetulan kalau dia mampus."
"Dan kamu sendiri kenapa tadi berseru memperingatkan dia supaya awas?"
Air muka Na-Bu-hui berubah pucat, ucapnya gugup.
"O, itu ... karena lupa, padahal aku merasa benci padanya ..."
"Kamu tidak perlu pakai alasan, sekarang tinggal sepatah katamu saja."
"Baiklah, silakan Su-siau-hiap, bicara, tentu akan aku turut sepenuhnya."
"Aku cuma ingin tanya, bilamana aku tertawa kalian, cara bagaimana kalian akan memperlakukan diriku?"
"Dengan sendirinya kami akan ... akan memberitahukan ke tiga duta itu dan menerima ... menerima hadiah 40 ribu tahil perak ..."
"Ke tiga duta itu berada di mana saat ini?"
Tanya Kiam-eng.
"Entah mereka hanya meninggalkan pesan kepada kami berempat, bilamana Su-siau-hiap dapat ditawan, segera kami diharuskan mengirim kabar kepada mereka dengan merpati pos dan segera pula mereka akan memburu tiba."
"Di mana merpati pos yang kau katakan?"
Tanya Kiam-eng.
"Di atas pohon yang terletak di dekat tanah pemakaman sana."
Setelah berpikir, Kiam-eng mendekati orang dan berkata.
"Mari, aku sambung tulang pergelangan tanganmu."
Dengan takut Ok-sat-sin menyurut mundur dan berkata.
"Apa ... apa yang aku katakan adalah sejujurnya mohon Su-siau-hiap ..."
"Kau hendak aku sambung tulangmu?"
Ujar Kiam-eng. Ok-sat-sin tidak berani sangsi lagi, terpaksa ia mengangguk.
"Ya, ya, terima kasih."
Setelah Kiam-eng membetulkan tulang tangan orang ia memberi tanda.
"Ayo, kita ke dalam rumah."
Sesudah berada di dalam gubuk, Kiam-eng memberi tanda, supaya orang duduk ia sendiri lantas berbareng di tempat tidur, katanya.
"Na-Bu-hui, kamu boleh istirahat sesukamu di sini tapi kalau kau berani sembarangan lari segera aku cabut nyawamu."
Berulang Ok-sat-sin mengiakan dan duduk di sebuah kursi bambu penurut seperti anjing piaraan.
Kiam-eng tersenyum, ia rebah berbantalkan tangan dan memejamkan mata.
Apakah dia tidur?
Tidak dia justru sedang merenungkan suatu urusan, yaitu cara bagaimana menggunakan merpati pos.
Asalkan ia paksa Ok-sat-sin melepaskan pos itu, ke tiga duta itu pasti akan memburu tiba.
Tapi bila mereka sudah datang, lantas dirinya dapat mengapakan mereka?
Kung-fu ke tiga duta itu jelas maha tinggi, paling banter dirinya hanya sanggup melawan satu di antaranya, apabila tidak ada akal bagus untuk menghadapi mereka, kan sama saja seperti mengundang maut?
Tapi dengan akal bagus cara bagaimana supaya dapat menawan ke tiga orang itu sekaligus?
Dirinya memang masih dapat menyamar sebagai Coa-san-cu Poa-Siu-ho.
Ok-sat-sin juga dapat dipaksa mengikuti perintah, tapi siapakah yang mesti menyamar sebagai "Su-Kiam-eng"
Yang tertawan?
Coba, kalau ada dua orang pembantu lagi tentu urusan akan menjadi mudah dipecahkan.
Teringat kepada pembantu, seketika terpikir olehnya akan Li-hun-nio-nio, tapi setelah berpikir lagi, tanpa terasa ia menggeleng kepala dan bergumam.
"Tidak, dia sudah pergi ke Mo-po-san, pula ilmu silatnya tidak cukup kuat untuk membantuku ..."
Baru berucap sampai di sini, tiba-tiba di luar ada suara "plos"
Yang perlahan, seperti suara kaki orang menginjak ranting kayu kering.
Tergetar hati Kiam-eng, cepat ia melompat bangun.
Waktu ia pasang telinga dan mendengarkan dengan cermat, benar juga terdengar ada suara langkah orang sedang mendekati rumah gubuk ini dengan perlahan.
Cepat ia turun dari tempat tidur dan mendekati Ok-sat-sin dengan perlahan serta membisikinya.
"Ada orang datang, tapi kamu dilarang bersuara, kalau melanggar sekali hantam aku mampuskanmu."
Habis berkata segera ia menyelinap ke balik pintu dan atap melancarkan serangan maut.
Terdengar ketika pendatang itu sampai di depan pintu, mendadak berhenti dan tidak lantas masuk ke dalam gubuk.
Sampai sekian lama ia berdiri diam di luar, lalu terdengar ia mendengus sekali dan segera menerjang ke dalam.
Kiam-eng cukup cekatan dengan gerak cepat ia menebas dengan telapak tangan dan tepat mengenai pinggang orang itu.
Tak terduga setelah terkena serangan, pendatang itu tidak mengeluarkan suara sedikit pun waktu jatuh juga tertampak ringan sekali.
Setelah diamati barulah Kiam-eng terkesiap.
Kiranya yang terkena pukulannya itu bukanlah manusia melainkan cuma sehelai baju panjang.
Serentak terdengar suara gelak tawa nyaring di luar.
"Hahahaha! Ayo, anjing keparat yang sembunyi di dalam itu, lekas menggelinding ke luar!"
Dari suara Kiam-eng yakin kepandaian lawan pasti tidak rendah, diam-diam ia terkejut.
Segera ia menggeser ke ambang pintu, ia lihat yang berdiri di luar sana adalah seorang kakek berambut putih, alias tebal dan mata besar, ia pikir lawan mungkin adalah orang kiriman ke tiga duta itu, padahal dirinya sendiri masih dalam samaran sebagai penjaga panganan yang kudisan, mungkin lawan mengenalnya sebagai Coan-san-cu Poa-Siu-ho, jika begitu dirinya masih boleh tetap menyamar dan mencari kesempatan baik untuk membekuk lawan.
Begitulah maka ketika ia menampakkan diri, ia tidak lantas bersuara melainkan cuma berdiri diam saja dengan tersenyum.
Sekilas mengetahui siapa yang muncul, kakek di luar itu melengong, serunya.
"Heh, kiranya ... kiranya kau ..."
Kiam-eng mengangguk dan menjawab.
"Betul, sangat di luar dugaanmu bukan?"
Si kakek menarik muka, jawabnya.
"Betul, tampaknya kamu si bocah ini bukanlah orang yang sederhana."
"Tidak perlu heran,"
Sahut Kiam-eng. Memangnya apa kehendakmu datang kemari tengah malam begitu?"
"Aku datang untuk menangkap setan,"
Kata si kakek. Begitu kata "setan"
Diucapkan, langsung ia menubruk maju, sebelah tangan terus mencengkeram. Kiam-eng mengegos ke samping sambil berseru "Eh, janganlah Lau-heng salah paham, aku ini kan Coan-san-cu Poa-Siu-ho?!"
Mendengar penjelasan itu si kakek tidak berhenti menyerang, sebaliknya ia berputar cepat dan segera hendak mencengkeram lagi sambil berkata "Hm, justru karena kamu ini si Coan-san-cu, maka aku sengaja hendak membekuk tikus?"
Setelah mendengar nada ucapan orang dan gaya serangan orang yang indah, tahulah Kiam-eng bahwa orang bukanlah utusan ke tiga duta Thian-ong-pang, sekaligus ia pun tahu siapa pihak lawan, dengan girang segera ia melompat lagi ke samping sambil berteriak.
"Berhenti dulu, paman Wi, aku ini Su-Kiam-eng!"
Si kakek berambut putih menghentikan gerak serangannya, ucapnya dengan melongo heran.
"Apa ... apa katamu?"
Cepat Kiam-eng membuka kedoknya dan menjawab dengan tertawa.
"Wah, kalau saja tidak mengenali gaya paman Wi yang indah, hampir saja kita saling labrak sendiri."
Kakek berambut putih ini memang benar samaran Wi-ho-Lo-jin, melihat lawannya memang benar Su-Kiam-eng adanya, ia melonjak kegirangan dan berseru.
"Aha, kiranya kamu sudah pulang. Selama beberapa hari ini aku lihat kamu menyamar sebagai penjaja makanan di Wi-ho-lau, sama sekali tidak aku sangka akan dirimu."
Lantaran terharu dan kegirangan sehingga suaranya rada gemetar.
Kiam-eng menjawab dengan memberi hormat "Si penjaja makanan kudisan yang dilihat paman Wi selama beberapa hari itu memang betul adalah Coan-san-cu Poa-Siu-ho, menjelang malam tadi barulah wan-pwe merunduk ke sini."
"Oo, dan mengapa kamu menyamar seperti ini?"
Tanya Wi-ho-Lo-jin heran.
"Panjang sekali bila diceritakan,"
Tutur Kiam-eng.
"Silakan paman Wi masuk ke dalam rumah nanti aku ceritakan dengan jelas."
Wi-ho-Lo-jin mengangguk dan menuju ke dalam gubuk, tanyanya pula sambil menunjuk hutan sana.
"Si banci Ubun-Pin yang menggeletak di dalam hutan itu pun dibunuh olehmu?"
"Ya, saat itu di dalam rumah masih ada seorang Ok-sat-sin Na-Bu-hui,"
Jawab Kiam-eng. Setelah berada di dalam rumah, Wi-ho-Lo-jin memandang sekejap terhadap Ok-sat-sin yang lesu itu, lalu tanya Kiam-eng lagi.
"Mereka seluruhnya berapa orang?"
"Empat. Dua orang lagi adalah Ubun-Giok dan Coan-san-cu Poa-Siu-ho, keduanya sudah aku binasakan."
"Bagaimana asal-usul ke empat orang ini?"
Tanya Wi-ho-Lo-jin tercengang.
"Mereka adalah anggota Thian-ong-pang, mereka inilah yang membakar Bu-lim-teh-coh,"
Tutur Kiam-eng.
"Apakah paman Wi sudah dengar cerita tentang ke tiga duta?"
Wi-ho-Lo-jin mengangguk dan menyuruh Kiam-eng duduk di tepi ranjang, katanya cepat "Sudahlah, jangan urus dulu Thian-ong-pang dan ke tiga duta segala, ceritakan saja pengalaman ke daerah selatan yang masih liar itu?"
"Syukur wan-pwe tidak mengecewakan harapan paman Wi, Jian-lian-hok-leng berhasil aku bawa pulang, akan tetapi apakah masih berguna?"
Ucap Kiam-eng dengan menyesal.
"Hah, jadi Jian-lian-hok-leng berhasil kau bawa pulang?"
Wi-ho-Lo-jin menegas dengan gembira. Kiam-eng mengeluarkan obat mujarab itu dan dilemparkan di atas ranjang, ucapnya dengan gemas.
"Ya, lantaran barang ini, hampir saja aku menjadi mayat di daerah yang masih biadab itu. Sekarang barang ini berhasil aku bawa pulang, akan tetapi nona In justru sudah meninggal."
"Apa katamu? Nona In sudah meninggal?"
Wi-ho-Lo-jin melonjak kaget. Kiam-eng melengong, ucapnya dengan mata terbelalak.
"Betul, masa paman Wi malah tidak tahu bahwa nona In sudah meninggal?"
"Betul tidak tahu, sebab sudah setengahan bulan aku tidak bertemu dengan gurumu,"
Jawab Wi-ho-Lojin.
"Apakah sudah kau temui gurumu."
"Belum, malahan wan-pwe tidak tahu saat ini Su-hu berada di mana?"
"Jika belum bertemu dengan gurumu, dari mana kau tahu nona In sudah meninggal?"
Tanya Wi-ho-Lo-jin bingung.
"Bukankah nona In sudah terkubur di lautan api?"
Kiam-eng heran. Wi-ho-Lo-jin melengak, tapi lantas terbahak-bahak.
"Hahahaha, kiranya kau sangka perempuan yang mati terbakar itu sebagai nona In, hahahaha ..."
Kiam-eng juga melonjak girang dan berteriak.
"Haha, jika begitu, jadi perempuan yang mati terbakar itu bukanlah nona In?"
Wi-ho-Lo-jin mengangguk.
"Ya, orang perempuan itu adalah babu yang aku pekerjakan untuk melayani nona In."
Cepat Kiam-eng meraih lagi Jian-lian-hok-leng yang dilemparkan itu, jeritnya.
"Oo, Tuhanku, hampir saja aku buang Jian-lian-hok-leng yang aku temukan dengan susah payah ini."
Sejenak kemudian, ia tanya pula.
"Paman Wi, di mana Su-hu dan nona In saat ini?"
Wi-ho-Lo-jin melirik Na-Bu-hui sekejap, lalu berucap dengan lirih.
"Gurumu dan nona In saat ini berada di rumah seorang sahabatku di lereng Kiu-kiong-san."
Kiam-eng merasa lega dan menghela napas panjang.
"Terima kasih kepada langit dan bumi. Tadinya aku sangka segala jerih payah usahaku hanya sia-sia belaka."
"Kung-fu gurumu sudah mencapai puncaknya, kalau seorang nona saja tidak dapat dilindunginya, kau lucu jadinya?"
Ujar Wi-ho-Lo-jin dengan tertawa. Berkata sampai di sini, tiba-tiba ia seperti teringat sesuatu, tanyanya.
"Oya, tidak lama setelah kau tinggalkan Bu-lim-teh-coh segera Sai-hoa-to diculik oleh musuh yang tidak jelas asal-usulnya dan tiada kabar beritanya sampai sekarang. Aku dan gurumu menduga dia pasti diculik untuk dibawa serta ke daerah selatan oleh komplotan yang juga mengincar kota emas itu. Adakah kau lihat dia ketika berada di selatan sana?"
Mendengar orang menyebut Sai-hoa-to, Kiam-eng mendengus.
"Ya, aku lihat dia, sebelum tiba di selatan pun sudah aku lihat dia."
Melihat cara bicara anak muda itu agak aneh Wi-ho-Lo-jin tanya dengan heran.
"Apakah saat ini dia masih berada dalam cengkeraman musuh?"
"Tidak, saat ini dia sudah mati,"
Sahut Kiam-eng.
"Hah, sudah mati? Siapa yang membunuh dia?"
Seru Wi-ho-Lo-jin kaget.
"Kalau dibicarakan dengan sebenarnya, orang yang membunuh dia selamanya adalah aku sendiri."
"Kamu yang membunuh dia? Mengapa bisa begitu?"
Tanya si kakek bingung. Kiam-eng menghela napas, tuturnya.
"Untuk menjelaskan peristiwa ini, sebaliknya aku ceritakan mulai awal ..."
Begitulah segera ia mengisahkan pengalamannya sejak ia menyamar sebagai Sai-hoa-to dan diculik oleh Hu-kui-ong dan dibawa ke Hu-kui-san-ceng, lalu apa yang dialaminya sepanjang jalan serta apa yang ditemukannya setiba di kota emas, semuanya ia ceritakan dengan jelas.
Wi-ho-Lo-jin mendengarkan dengan penuh perhatian, ketika mendengar si orang berkedok hitam ternyata adalah samaran Sai-ho-to Sim-Tiong-ho, mau-tak-mau ia pun terkejut dan berseru.
"Hahh, sungguh tak tersangka Sai-hoa-to bila berbuat demikian?"
"Manusia mati karena harta, burung binasa karena pangan, hal ini memang tidak perlu diherankan,"
Ujar Kiam-eng gegetun.
"Tidak berani aku bilang Sai-hoa-to itu berjiwa kotor, mungkin cuma lima dan pendiriannya yang kurang teguh."
Wi-ho-Lo-jin juga menyesal, katanya.
"Yang paling sukar dimengerti adalah selama ini dia suka memandang hina terhadap orang sebagai Te-Long, Oh-Kong dan lain-lain, tak tersangka dia sendiri justru berkomplotan dengan mereka."
"Oya, apakah paman Wi tahu tempat tinggal Te-Long dan Oh-Kong itu?"
Tanya Kiam-eng tiba-tiba. Wi-ho-Lo-jin menggeleng.
"Entah, aku tidak tahu ke dua orang itu selama ini terluntang-lantung di dunia kang-ouw tanpa tempat tinggal yang tetap."
"Jika begitu, ke manakah aku cari dan menolong su-heng dan su-so ku?"
Ucap Kiam-eng dengan murung.
"Nanti dulu, agaknya Oh-Kong dan Te-Long juga mempunyai begundal, biarlah nanti aku carikan kabar bagimu ..."
Kiam-eng mengangguk, tanyanya.
"Sejak Bu-lim-teh-coh dibakar, selama itu paman Wi tinggal di sini?"
"Betul, meski gurumu dari aku tidak tahu siapa yang membakar, tapi diketahui tujuan mereka adalah untuk membakar nona In. Sebab itulah aku masih terus tinggi di sini, tujuan utama adalah menunggu kepulanganmu agar dapat membawamu untuk menemui gurumu. Nah, bagaimana kalau sekarang juga kita menemui gurumu?"
"Tidak, aku pikir akan menghadapi dahulu ke tiga duta Thian-ong-pang itu, bilamana dugaanmu tidak keliru, sangat mungkin ke tiga duta itu juga anak buah di orang berkedok hijau, asalkan kita dapat menangkap adalah seorang di antaranya, tentu tidak sulit untuk mengetahui siapa sebenarnya orang berkedok hijau itu."
Wi-ho-Lo-jin berkerut kening, ucapnya.
"Bukan sengaja aku agulkan orang lain dan mengasorkan diri sendiri, aku dengar ke tiga duta itu berkepandaian sangat tinggi dan berturut-turut telah mengalahkan para ke tua Siau-lim-pai dan lain-lain dalam keadaan begitu, mungkin tenaga kita berdua saja sulit menghadapi mereka."
"Betul, tapi ke tiga duta itu pasti akan datang, dan kita dapat menjebak mereka dengan akal."
Wi-ho-Lo-jin matanya dangan tajam.
"Akal apa yang akan kau pakai?"
Kiam-eng membisikinya akal yang terpikir olehnya. Berulang Wi-ho-Lo-jin mengangguk dengan tersenyum, ucapnya.
"Ehm, akal bagus, cuma diperlukan dia ..."
Ia pandang Ok-sat-sin Na-Bu-hui dan menyambung lagi.
"... untuk bekerja sama dengan kita."
"Nah, Na-Bu-hui."
Segera Kiam-eng berkata.
"lekas katakan, kamu ingin mati minta atau hidup?"
"Semut saja ingin hidup, masakah aku masih ingin mati?"
Ucap Ok-sat-sin.
"Jika begitu, seterusnya kamu harus tunduk kepada perintahku,"
Kata Kiam-eng.
"Baik, asalkan sesudah ke tiga duta itu ditangkap Su-siau-hiap, hendaknya segera bebaskan diriku,"
Pinta Ok-sat-sin.
"Tentu aku bebaskan dirimu."
Kata Kiam-eng. Lalu katanya terhadap Wi-ho-Lo-jin.
"Harap paman Wi menjaganya sementara, biar aku pergi menangkap merpati pos itu."
"Ya, mayat Lo-san-siang-im-yang dan Coan-san-cu itu juga sekalian boleh kau kubur supaya tidak dipergoki musuh,"
Pesan Wi-ho-Lo-jin.
Kiam-eng mengiakan dan segera meninggalkan gubuk itu menuju ke tanah makam di lereng gunung sana.
Ketika mendekati jalan setapak tanah makam lebih dulu ia belok ke tempat kemarin untuk mengambil pedang dan bajunya lalu mayat Ubun-Giok dan Poa-Siu-ho dikuburnya, habis itu baru menuju ke tanah makam.
Ia mencari sekian lama, akhirnya ditemukan juga dua ekor merpati pos yang terkurung dalam sebuah kurungan kecil yang tergantung di dahan pohon.
Segera ia ambil kurung burung itu dan dibawa lari kembali ke gubuk tadi ...
" **************** Dengan cepat dua hari telah berlalu. Menjelang lohor hari ke tiga, selagi Su-Kiam-eng sedang mengobrol iseng dengan Ok-sat-sin Na-Bu-hui di dalam gubuk, mendadak terdengar suara "plok"
Perlahan, ada orang melemparkan sebiji batu kecil dari luar rumah. Dengan girang Kiam-eng mendesis.
"Aha! itu dia mereka sudah datang. Harus kau kerjakan menurut pesanku, kalau tidak hanya ada mampus bagimu."
Habis berkata ia lantas rebah di tempat tidur dan bertegak lagi tidur nyenyak.
Ok-sat-sin berjalan mondar-mandir di dalam rumah dengan sikap gelisah, seperti orang lagi menghadapi saat mati atau hidup.
Sejenak kemudian tiga sosok bayangan tampak masuk ke satu.
Ternyata yang datang memang benar adalah ke tiga duta Thian-ong-pang.
Meski sudah tahu siapa yang akan datang namun sekilas melihat mereka mendadak muncul di situ serupa arwah halus, tidak urung Ok-sat-sin terkejut juga.
Cepat ia memberi hormat dan menyapa.
Ke tiga duta itu berdiri diam sejenak di ambang pintu, lalu duta nomor satu mengangguk dan melangkah ke dalam serta bertanya.
"Di mana ke tiga kawanmu!"
Ok-sat-sin menjawab dengan menunduk.
"Sudah mati semua terbunuh oleh Su-Kiam-eng ini."
Sekilas pandang si duta nomor satu melihat Su-Kiam-eng yang rebah di tempat tidur, ia berpaling dan tanya Ok-sat-sin dengan heran.
"Mereka bertiga dibunuh oleh dia, tapi kamu sendiri malah dapat menangkap dia?"
"Tidak,"
Jawab Ok-sat-sin.
"Dapatkah hamba menangkap bocah ini, sesungguhnya atas jasa Ubun Pin ..."
"Oo ..."
Si duta nomor satu bersuara perlahan, lalu duduk di kursi bambu dan bertanya pula.
"Baiklah, coba ceritakan pengalamanmu."
Ok-sat-sin berlagak sangat menghormat, ia ambilkan kursi bambu yang lain dan sebuah kayu untuk tempat duduk si duta nomor dua dan tiga, lalu mulai bertutur.
"Ini terjadi menjelang malam hari ke tiga yang lalu, Poa cilik yang menyamar sebagai penjaga makanan kudisan menemukan bocah ini berdiri termangu di depan reruntuhan puing Bu-lim-teh-coh, ia lantas mendekatinya dan mengajaknya bicara. Bocah she Su ini tanya Poa cilik sebab apa Bu-lim-teh-coh terbakar, Poa cilik menerangkan api lilin yang ambruk dan lumer akhirnya menjilat meja kursi terus menjalar ke seluruh rumah, ditanyai pula hendak mencari siapa.
"Bocah she Su ini pun cukup cerdik, ia pura-pura mengaku sebagai saudagar daun teh, katanya datang ke Bu-lim-teh-coh untuk menagih utang kepada Wi-ho-Lo-jin. Poa cilik memberitahukan bahwa ia tahu di mana Wi-ho-Lo-jin tinggal sekarang dan mau membawanya untuk menemui orang tua itu. Maka bocah she Su ini lantas ikut ke sini ..."
"Si duta nomor satu mendadak memberi tanda dan memotong.
"Semula kan aku suruh kalian memancingnya ke tanah pemakaman itu, mengapa kalian memancingnya ke sini malah?"
"Soalnya tiba-tiba hamba teringat pada bocah she Su ini dahulu pernah berlagak menjadi pelayan Bu-lim-teh-coh, tentu dia sangat apal terhadap keadaan sekitar tempat ini, jika kita memilih tanah pemakaman, tentu akan menimbulkan curiga bocah ini, sebab tidak mungkin Wi-ho-Lo-jin bersembunyi di tanah makam. Karena itulah setelah kami berunding kami anggap rumah gubuk ini adalah tempat yang lebih baik."
Si duta nomor satu manggut-manggut sebagai tanda memuji, katanya.
"Bagus, coba teruskan ceritamu."
Ok-sat-sin berdehem untuk membersihkan kerongkongannya, lalu bercerita lagi.
"Setelah Poa cilik memancing bocah ini ke sini, hamba bertiga lantas muncul dan mengerubutnya. Setelah terjadi pertarungan sengit, Poa cilik dan Ubun-Giok terbunuh olehnya, kemudian Ubun Pin tertusuk tembus lagi perutnya oleh pedang bocah ini, namun hampir pada saat yang sama Ubun-Pin sempat menimpukkan sebatang jarum mautnya dan tepat mengenai dada orang ini. Kesempatan itu segera aku gunakan untuk mendepaknya hingga terjungkal. Beginilah kejadian keseluruhannya."
Si duta nomor satu menoleh ke arah Su-Kiam-eng yang rebah di tempat tidur, tanyanya pula.
"Sudah kau tawarkan racun jarum yang mengenai bocah itu?"
"Ya, bilamana racun jarum maut Ubun-heng itu tidak ditawarkan dalam waktu setengah jam, tentu racun akan bekerja dan orang binasa. Karena hamba tahu yang ingin ditangkap ke tiga Su-cia-tai-jin (duta yang mulia) adalah orang hidup, maka telah aku gunakan obat penawar Ubun-heng untuk memunahkan racun dalam tubuh bocah itu, kemudian aku ganti dengan menutuk hiat-to pingsannya."
"Adakah dia membawa sebuah Jian-lian-hok-leng?"
Tanya si duta nomor satu.
"Oya, ada, barang itu masih berada padanya,"
Ucap Ok-sat-sin. Segera si duta nomor satu berkata kepada duta nomor tiga.
"Lak-te, coba ambil Jian-lian-hok-leng yang dibawanya itu."
Si duta nomor tiga mengiakan terus menuju ke depan tempat tidur, engkau terjulur dan bermaksud menggerayangi baju Su-Kiam-eng. Siapa tahu mendadak sebuah telapak tangan Su-Kiam-eng menghantam.
"blang,"
Dengan tepat ulu hati duta ke tiga tersodok.
Hanya terdengar si duta nomor tiga menjerit, darah segar pun menyembur ke luar dari mulutnya, ke dua tangan memegang ulu hati, tubuh pun lantas dan roboh perlahan.
Kejadian mendadak ini membuat si duta nomor satu dan nomor dua terkejut, setelah terbangun sejenak, serentak mereka melompat bangun dan menubruk ke arah Kiam-eng.
"Blang", sebuah Kau-hun-tan meledak tepat pada waktunya di dalam rumah, asap kuning tebal pun bergulung-gulung memenuhi seluruh gubuk itu. Di tengah kabut tebal terdengar si duta nomor dua menjerit.
"Wah, celaka, kembali Kau-hun-tan lagi?"
Cepat si duta nomor satu membentak.
"Si-te, lekas terjang ke luar dan jaga di depan pintu, jangan sampai bocah ini kabur!"
Si duta nomor dua tidak berani membuka mulut, ia hanya mengiakan dengan mulut terkatup terus melompat ke luar rumah.
Siapa duga baru saja ia melompat ke luar, sekonyong konyong serangkum angin dahsyat menyambar dari samping pintu.
Meski dia menyadari apa yang terjadi pada waktu yang tepat, namun sukar baginya untuk menghindar dengan sempurna, maka terdengarlah luar suara "bluk", pinggang terkena pukulan sehingga dia jatuh terguling.
Ternyata yang menyergapnya adalah Wi-ho-Lo-jin yang berjaga di luar situ.
Cuma pukulan Wi-ho-Lo-jin ini jelas tidak tepat mengenai tempat fatal musuh, sebab si duta nomor dua hanya berguling satu-dua kali saja, lalu melompat bangun dengan gesit, berbareng ia pun balas menghantam ke arah Wi-ho-Lo-jin.
Si duta nomor satu yang berada di dalam rumah dapat mendengar suara pukulan yang mengenai kawannya itu, ia terkejut dan menyadari telah terjebak oleh perangkap Su-Kiam-eng.
Ia curiga jangan-jangan yang menyergap di luar itu adalah Kiam-ho Lok-Cing-hui, seketika ia kehilangan semangat tempur, diam-diam ia keluarkan sejenis bubuk dan ditaburkan di muka si duta nomor satu yang menggeletak tak berkutik itu, lalu ke dua tangannya menyodok sekuatnya pada sebelah dinding gubuk itu, menyusul orangnya terus menerjang ke luar.
"Blang", dinding gubuk ambrol tersodok tenaga pukulan yang dahsyat sehingga berwujud sebuah lubang, secepat terbang si duta nomor satu lantas menerobos ke luar. Ia melompat ke tempat ketinggian di sebelah kiri sana sambil berseru.
"Go-te, bagaimana keadaanmu?"
Lantaran asap tebal membanjir ke luar rumah, maka sukar baginya untuk melihat keadaan pertarungan antara duta ke dua dengan musuh.
Padahal sesudah beberapa gebrakan si duta nomor dua melawan Wi-ho-Lo-jin, selera diketahuinya lawan tidak sulit untuk ditundukkan, tapi pada saat si duta nomor satu bersuara tanya kepadanya itulah mendadak Su-Kiam-eng lagi keluar dan ikut dalam pertempuran.
Dengan sendirinya si duta nomor dua tahu orang yang ikut mengerebutnya itu ialah Su-Kiam-eng, juga menyadari posisi sendiri menjadi gawat, maka hanya satu kali saja ia tangkis serangan Su-Kiam-eng, cepat ia melompat mundur dan melayang ke tempat ketinggian untuk bergabung dengan si duta nomor satu.
Melihat sang Go-te (adik ke lima) sudah melompat tiba, cepat si duta nomor satu bertanya padanya.
"Go-te, siapa orang itu?"
"Entah, tidak aku kenal, seperti seorang kakek berambut ubanan,"
Tutur si duta nomor dua.
"Bagaimana kepandaiannya?"
"Lumayan, cuma mestinya dapat aku bereskan dia."
Si duta nomor satu memandang asap tebal yang masih menyelimuti sekeliling rumah, katanya.
"Bagus jika begitu. Setelah asap buyar biarlah kita turun lagi untuk membereskan mereka."
Meski percakapan mereka dilakukan dengan suara tertahan, namun dapat di dengar oleh Su-Kiam-eng.
Ia merasa tujuannya sudah tercapai setelah dapat merobohkan si duta nomor tiga dan tidak perlu terlibat pertempuran lebih lama dengan musuh, segera ia keluarkan sebiji granat berasap pedas terus dilemparkan ke tanah ketinggian sana, berbareng itu ia berlagak tertawa menirukan suara Sam-bi-sin-ong.
"Hahaha. kalian jangan lari dulu, inilah kakek datang menemui kalian!"
Sam-bi-sin-ong Pek-li-Pin adalah orang kosen nomor lima menurut urutan dunia persilatan, tokoh besar semacam dia, muncul di mana pun akan membuat orang terkejut.
Dengan sendirinya ke dua duta Thian-ong-pang itu pun terkesiap demi mendengar akan kedatangan kakek sakti itu.
Malahan menyusul lantas terdengar suara ledakan yang keras disertai asap hitam tebal, hal ini membuat ke dua duta itu lebih percaya lagi bahwa yang bersuara itu memang betul Sam-bi-sin-ong adanya.
Tentu saja ia tidak berani berhenti lagi di situ, sembari bersuit panjang serentak mereka melompat pergi secepatnya.
Semua itu boleh dikatakan sudah dalam perhitungan Su-Kiam-eng, maka setelah kedua lawan sudah kabur, ia lantas tanya Wi-ho-Lo-jin.
"Paman Wi, engkau tidak berhalangan bukan?"
"Ya, tidak apa-apa, obat salep buatan Sai-hoa-to itu memang sangat mujarab ... Eh, kamu tidak pernah bergebrak dengan duta nomor satu itu?"
"Tidak pernah, cuma Ok-sat-sin mungkin sudah mati terpukul olehnya,"
Sahut Su-Kiam-eng.
Tengah bicara, asap kuning di dalam dan luar rumah sudah mulai buyar, waktu mereka masuk ke sana dan memeriksanya, benar juga kepala Ok-sat-sin sudah remuk dan menggeletak binasa di situ.
Akan tetapi yang paling membuat mereka terkejut adalah si duta nomor tiga itu.
Ternyata buah kepalanya sudah lenyap.
Wi-ho-Lo-jin terbelalak heran dan berseru.
"He, apakah kepalanya kau penggal?"
"Tidak,"
Kiam-eng juga berseru heran.
"Bilakah pernah aku penggal kepalanya?"
Ke dua orang lantas mendekat ke sana untuk memeriksanya dengan cermat, baru diketahui apa sebab buah kepala si duta nomor tiga itu hilang.
"Hoa-kut-cui!"
Seru mereka bersama dengan kaget, Memang betul, buah kepala si duta ke tiga itu memang telah hancur luluh akibat Hoa-kut-cui atau air penghancur tulang.
Ini sungguh kejadian yang tak pernah terpikir oleh Su-Kiam-eng, dengan susah payah dan berharap dapat menawan hidup-hidup seorang musuh atau membunuh salah seorang duta itu, tujuannya adalah ingin melihat jelas wajah aslinya.
Tak tersangka setelah seorang musuh dapat di bunuhnya, kepala yang penting itu justru telah dihancurkan dan sukar dikenali lagi.
Baca Juga: Pendekar Binal 5
Baca Juga: Pedang Pusaka Dewi Khayangan 9