Ceritasilat Novel Online

Pendekar Binal 5

Eps 5 Pendekar Binal - Khu Lung

Baca online Pendekar Binal - Khu Lung

Cersil Pendekar Binal - Khu Lung.

"Ahaa, bila Li-toasiok benar-benar datang, maka beruntunglah kita, beberapa budak keluarga Buyung itu tidak perlu kita takuti lagi betapa pun lihainya mereka."

"Jadi mereka telah lolos?"

Tanya Siau-hi-ji dengan tak acuh. Si sapi menghela napas, katanya.

"Kedatangan kami ini meski atas ajakan si ular hijau, tapi sesungguhnya kami juga sudah lama mengincar Buyung-san-ceng ini."

"Ya, obat mujarab dan benda mestika keluarga Buyung memang membuat orang mengiler,"

Kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Cuma sayang budak Buyung itu benar-benar setan cerdik, entah dari mana dia mengetahui akan kedatangan kami secara besar-besaran, sebelum kami tiba dia sudah kabur lebih dulu,"

Ucap si sapi dengan menyengir.

"Kabur?"

Siau-hi-ji menegas dengan terkejut.

"Bukan saja orangnya kabur, bahkan segala benda yang bernilai juga dibawa seluruhnya, bahkan pintu juga tidak terkunci, hanya tertinggal secarik kertas yang tertempel di depan pintu, bunyinya, 'Mati bagi yang berani masuk'. Hm, kentut busuk belaka,"

Demikian ucap si sapi dengan gemas.

"Benar, pada hakikatnya lebih busuk daripada kentut,"

Tukas Siau-hi-ji.

Kini ia sudah dapat menerka apa sebab kepergian Buyung Kiu-moay.

Bahwa Siau-sian-li dan Thi Sim-lan sama mengira Siau-hi-ji sudah kabur, dengan sendirinya mereka buru-buru ingin pergi mencarinya.

Buyung Kiu tahu biarpun di mulut kedua nona itu bicara garang terhadap Siau-hi-ji, tapi di dalam hati sebenarnya lunak, maka dengan sendirinya ia tidak mau memberitahukan tentang terkurungnya Siau-hi-ji, bahkan dia sengaja mengiringi Siau-sian-li dan Thi Sim-lan pergi mencari si anak muda ....

Berpikir sampai di sini, dengan mendongkol Siau-hi-ji lantas mencaci maki pula.

"Sungguh budak setan lebih busuk daripada kentut, bahkan lebih jahat daripada ular berbisa. Sungguh terpuji kalian telah membakar rumahnya, siapa yang pertama kali membakarnya, aku harus mentraktir dia minum dua cawan besar."

Dengan tertawa si sapi menanggapi.

"Meski yang membakar bukan kami, tapi kita juga boleh ..."

"Benar, kita boleh minum barang beberapa cawan. Ah, beberapa ratus cawan juga boleh,"

Seru Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Marilah kita berangkat, sembari berjalan sambil minum, akan kubawa kalian menemui Li Toa-jui, jika terlihat anak dara yang menarik dalam perjalanan, kita dapat pula ... hahaha, dapat apa tentunya kau sudah tahu sendiri bukan?"

"Haah, bagus, bagus!"

Sambut si sapi sambil berkeplok gembira.

"Dan kau bagaimana, bandot tua?"

Tanya Siau-hi-ji.

"Untuk ini, aku ... Cayhe ...."

Si kambing terbata-bata.

"Tidak soal bila kau tidak mau ikut,"

Ujar Siau-hi-ji.

"Nanti kalau bertemu dengan kakak Toa-jui akan kukatakan bahwa kau ada urusan lain dan tidak ingin menemuinya."

"Siapa bilang aku tidak mau ikut pergi? Sapi, kaukah yang bilang begitu?"

Teriak si kambing. Lalu ia dorong si sapi dan menambahkan.

"Ayolah berangkat, tunggu apalagi?" ***** Begitulah mereka bertiga lantas berangkat bersama, sambil berjalan sembari minum arak. Tiba-tiba Siau-hi-ji menemukan dirinya sendiri dalam hal minum arak ternyata juga berbakat, seakan-akan tak pernah mabuk biarpun minum betapa pun banyak. Terkadang ia pun heran, ke mana larinya arak yang masuk perutnya itu? Padahal ia sudah teliti perutnya sendiri yang berukuran tidak lebih besar daripada perut orang lain. Si kambing dan si sapi ternyata tunduk munduk-munduk kepada segala kehendak Siau-hi-ji, makan, minum, tidur, sama sekali anak muda itu tidak perlu pusing kepala, semuanya disediakan dan diatur oleh kedua orang itu dengan baik dan lengkap. Mau berhenti atau mau terus berangkat, si kambing dan si sapi juga menurut saja, bahkan sama sekali tidak pernah tanya ke mana anak muda itu hendak pergi. Bahwa dua gembong dari Cap-ji-she-shio yang terkenal buas itu mau tunduk kepada seorang anak kecil sebagai Siauhi-ji sungguh sama sekali sukar dibayangkan orang. Dengan sendirinya sepanjang jalan mereka pun sering bertemu dengan tokoh-tokoh Kangouw, kebanyakan memberi hormat dari kejauhan lalu menyingkir pergi dengan cepat, ada juga yang tidak kenal mereka, tapi demi nampak bentuk si kambing dan si sapi yang aneh itu, lekas saja sama menghindar dan tiada yang berani mencari perkara kepada mereka. Namun sesudah melintasi Kiam-bun-koan (gerbang tembok besar di ujung barat), tiba-tiba Siau-hi-ji merasakan adanya perubahan, ada sebagian orang cepat menyingkir pergi jika kepergok mereka, tapi ada sebagian pula yang diam-diam mengintil di belakang mereka. Ke mana mereka pergi, ke situ pula orang-orang itu mengikut. Sikap setiap orang sangat menghormat, tidak bicara juga tiada tanda-tanda hendak menyatroni mereka. Siau-hi-ji coba mengawasi si kambing dan si sapi, air muka mereka juga tenang-tenang saja tanpa berubah, seakan-akan tidak pernah melihat sesuatu yang ganjil, maka Siau-hi-ji juga tidak mau bicara. Petangnya mereka sampai di Kiam-kok, mereka mendapatkan sebuah hotel dan bermalam di situ.

"Arak keras berlauk-pauk ayam cabai, walau pasti mandi keringat, namun makin dimakan makin nafsu,"

Ucap Siau-hi-ji.

"Cocok, arak keras berlauk-pauk ayam cabai, sungguh nikmat,"

Teriak si sapi sambil tertawa.

Sudah biasa, asalkan Siau-hi-ji buka mulut, maka si kambing dan si sapi segera menyiapkan apa yang dikehendaki anak muda itu.

Tapi aneh, sekarang meski kedua orang itu sudah bersorak menyatakan setuju, tapi mereka diam saja tanpa bergerak.

Setelah menunggu sejenak, Siau-hi-ji berkata pula.

"Kalau cocok, mengapa tidak lekas kalian sediakan."

"Mulai sekarang, kami tidak perlu sediakan apa-apalagi,"

Ucap si sapi dengan tertawa.

"Tidak kalian sediakan, memangnya aku yang harus menyediakan?"

Kata Siau-hi-ji.

"Masa kami berani membikin repot engkau,"

Ujar si kambing.

"Habis kalau kita tidak mengambilnya sendiri dan juga tidak pesan pelayan, apakah arak dan ayam goreng itu akan jatuh dari langit atau tumbuh dari bawah bumi?"

Kata Siau-hi-ji.

"Sabar sebentar, lihat saja nanti,"

Ucap si sapi dengan tertawa.

Siau-hi-ji tidak berkata pula, ia mondar-mandir di dalam ruangan, sejenak kemudian terdengar pintu diketuk, cepat ia membuka pintu, ternyata tiada bayangan seorang pun, tapi di lantai terdapat sebuah baki besar berisi satu porsi kari ayam, satu porsi daging rebus, satu porsi jerohan babi, satu mangkuk besar kuah ayam, ada pula satu poci arak.

Mata Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya kemudian.

"He, kiranya kalian ini mahir ilmu gaib menyuruh setan mengantar barang."

"Ini bukan ilmu gaib suruh setan mengantar barang, tapi suruh anak cucu mengantar santapan,"

Ujar si sapi dengan tertawa.

"O,"

Siau-hi-ji bersuara singkat.

"Apakah engkau sudah melihat orang-orang yang mengintil di belakang kita sepanjang jalan itu?"

Tanya si kambing.

"Haha, kukira kalian tidak tahu ada pengikut sebanyak itu,"

Jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Masakah kami tidak tahu,"

Kata si sapi.

"Justru bocah-bocah itulah anak cucu yang taat dan berbakti kepada kami."

"Kiranya mereka itu adalah anak murid kalian,"

Kata Siau-hi-ji.

"Anak murid kentut anjing, bahkan kenal saja tidak,"

Ucap si sapi.

"Aneh, kalau tidak kenal, mengapa mereka mengintil di belakang kalian?"

Tanya Siau-hi-ji. Dengan tertawa si sapi menutur.

"Setiap orang Kangouw tahu bila Cap-ji-she-shio berada dalam perjalanan, maka di sana pasti ada jual-beli besar, sedangkan kawanan anak cucu itu tidak berani jual-beli sendiri, mereka selalu mengintil saja di belakang kami, soalnya Cap-ji-she-shio biasanya cuma mengambil benda mestika, emas perak tidak disukai, maka anak cucu yang mengintil di belakang itu sedikit banyak akan kebagian rezeki sampingan."

"Ya, makanya ke mana perginya Cap-ji-she-shio kami, ke situ pula kami selalu disambut dengan hormat,"

Sambung si kambing.

"Dan kalau ada keperluan apa-apa, segera mereka menyiapkan bagi kami, bila terjadi sesuatu, tanpa kami mencari tahu mereka pun akan memberi laporan."

"Haha, pantas Cap-ji-she-shio jarang bergerak keluar, tapi kalau sudah bergerak sekali tembak tentu kena, rupanya kalian mempunyai pengikut anak cucu sebanyak itu yang sama sekali tidak diketahui orang luar,"

Kata Siau-hi-ji dengan kagum.

"Akan tetapi sekali ini mereka telah tertipu,"

Kata pula si sapi.

"Bahkan mereka telah banyak berkorban secara sia-sia, seperti menimpuk anjing dengan daging, umpan hilang hasil nihil, jangankan untung, modal saja takkan kembali."

"Tapi semua itu mereka lakukan secara sukarela, kami pun menikmatinya tanpa sungkan-sungkan, kan bukan salah kita,"

Sambung si kambing dengan bergelak.

Perjalanan mereka selanjutnya sudah tentu terlebih senang, tak peduli apa kehendak mereka, asalkan mereka bicara rada keras, hanya sebentar saja segera diantarkan orang.

Setelah melintasi Kiam-bun-koan, Siau-hi-ji tidak mengarah ke timur lagi, tapi malah berbelok ke barat daya, dengan melalui kota-kota Liongcoan, Baysan, tampaknya seperti hendak menuju ke Gobi yang terletak di wilayah Sujwan.

Pemandangan alam daerah Sujwan memang indah permai dan berbeda jauh dengan suasana di daerah terpencil di luar tembok besar sana.

Siau-hi-ji sangat gembira, apalagi makanan dan minuman Sujwan sangat mencocoki seleranya sehingga membuatnya tidak habis memuji.

Sampai di Gobi, sedikit si sapi dan si kambing lengah, tahu-tahu Siau-hi-ji telah mengeluyur pergi sendirian, sampai tengah malam buta barulah dia pulang ke tempat pondokan.

Si sapi dan si kambing juga tidak menegurnya ke mana perginya anak muda itu, Siau-hi-ji sendiri juga tidak bicara.

Esoknya ia pun tidak menyatakan berangkat, tapi petangnya ia mengeluyur pergi pula.

Begitulah berturut-turut tiga hari telah berlalu, Siau-hi-ji tidak bilang mau berangkat, si kambing dan si sapi juga tidak tanya dan tidak tegur, pada hakikatnya lebih menurut daripada anaknya.

Tampaknya meski Li Toa-jui sudah lama mengasingkan diri, tapi dalam hati orang-orang itu masih ditakuti.

Nama "Cap-toa-ok-jin"

Atau sepuluh top penjahat ternyata tidak boleh dibuat main-main.

Lewat lohor hari ketiga, seorang diri Siau-hi-ji putar kayun pula di kota, dilihatnya banyak restoran dan warung makan hampir semuanya ada tamu yang diketahui pasti kaum Kangouw.

Tapi mereka hanya duduk-duduk dan minum iseng belaka, sama sekali tidak banyak bicara dan bergurau, pada hakikatnya bicara sepatah kata dua saja tidak.

Sudah tentu Siau-hi-ji tidak tahu nama mereka, apakah orang-orang itu dari Hek-to (kalangan hitam) atau Pek-to (kalangan putih), tokoh-tokoh yang sudah ternama atau kaum keroco yang tak terkenal?

Siau-hi-ji sama sekali juga tidak ambil pusing.

Di jalan raya terkadang juga berlalu lalang kaum Tojin (penganut agama To) yang berjubah merah dan berpedang dengan sikap yang angkuh luar biasa seakan-akan tidak memandang sebelah mata kepada orang lain.

Tapi lebih sering pula kaum tojin itu mengawasi orang lain dengan sorot mata yang tajam.

Tojin-tojin itu seperti lagi berjalan-jalan iseng di kota, tapi air muka mereka tampaknya sangat prihatin.

Siau-hi-ji tahu para Tojin itu pasti anak murid Go-bi-pay.

Ilmu pedang Go-bi-pay terkenal lihai, pantas kalau anak muridnya juga sok berlagak, apalagi di sini adalah kaki gunung Go-bi-san, tempat pangkal mereka, dengan sendirinya mereka suka pasang aksi seperti sedang mengawasi gerak-gerik setiap pendatang.

Setelah putar kayun, Siau-hi-ji membeli sebuah "Hiang-tay", yaitu kantongan yang berisi hiosoa (dupa lidi) lilin dan sebagainya untuk sembahyang.

Lalu dia membeli pula satu kati Loh-se-bak (daging masak) yang terkenal lezat di kota ini, habis itu barulah dia pulang ke hotel.

Di kamar hotel sudah tersedia satu meja perjamuan, si kambing dan si sapi tampak duduk menunggu, santapan sudah hampir dingin semuanya, tapi kedua orang itu sama sekali tidak berani mengutik-utik santapan itu.

Dengan tertawa Siau-hi-ji berkata kepada mereka.

"Selama tiga hari ini kalian ternyata lebih alim daripada gadis pingitan, melangkah keluar kamar saja tidak pernah, padahal di luar sangat ramai, masakah kalian tidak pingin melihatnya?"

"Memangnya siapa yang tidak pingin melihat keramaian?"

Ujar si sapi dengan menyengir.

"Cuma bagi kami berdua rasanya tidak leluasa bergerak di kaki gunung Go-bi ini, maka lebih baik minum arak saja di dalam rumah."

"Hah, masakah kaum Tosu Go-bi-pay itu sedemikian lihai sehingga kalian takut kepada mereka?"

Ucap Siau-hi-ji. Si sapi mengangkat cawan arak dan mengajak minum, katanya sambil menghela napas.

"Sudahlah, kita tak usah bicara urusan itu, marilah, Siautit (keponakan) menyuguh secawan kepada paman."

Tapi Siau-hi-ji lebih dulu membuka bungkusan Loh-se-bak yang dibelinya tadi, katanya dengan tertawa.

"Konon Loh-se-bak ini dibuat dengan kuah simpanan tahunan sehingga rasanya empuk dan lezat, lain daripada yang lain, silakan kalian mencobanya dahulu."

"Sudah banyak cucu yang menyediakan santapan sebaik ini, buat apa engkau orang tua mengeluarkan biaya pula?"

Ucap si sapi.

"Ah, setiap hari makan enak, bosan rasanya, ganti cita rasa kan juga ada baiknya,"

Ujar Siau-hi-ji.

"Orang tua menyuguh jangan ditolak,"

Kata si kambing, segera ia mendahului menyumpit sepotong Loh-se-bak terus dilalap sembari tiada hentinya memuji kelezatannya.

Setelah dia habis makan sepotong, dalam pada itu si sapi sudah melalap lima potong.

Siau-hi-ji juga habis meneguk dua cawan arak sehingga semakin menambah rasa gembiranya.

Katanya kemudian.

"Tampaknya ilmu pedang Go-bi-pay memang hebat, setiap kawan Kangouw yang datang ke sini ternyata bicara sedikit keras saja tidak berani, haha, lambat atau cepat aku harus belajar kenal dengan ilmu pedang mereka."

"Bila engkau orang tua sudah turun tangan, pasti kawanan Tosu Go-bi-pay itu akan lari kalang kabut,"

Demikian si sapi mengumpak. Si kambing menatap kantongan Hiosoa yang dibawa Siau-hi-ji itu, tanyanya.

"Apakah engkau orang tua akan naik ke Go-bi-san?"

"Sebenarnya aku ingin pergi bersama kalian agar kalian bertambah pengalaman, tapi kalian ternyata tidak berani perlihatkan diri di depan umum, terpaksa aku pergi sendirian."

"Bilakah engkau akan berangkat?"

Tanya si sapi.

"Besok pagi-pagi,"

Jawab Siau-hi-ji. Tiba-tiba si sapi menghela napas dan berkata.

"Cuma sayang rencanamu perlu diubah lagi."

"Mengapa harus diubah?"

Tanya Siau-hi-ji sambil mengernyitkan kening. Si sapi tidak menjawab melainkan tertawa saja, tertawa yang sangat aneh. Dengan tertawa terkekeh si kambing lantas menukas.

"Hah, masakah kau anak jadah ini belum lagi mengetahui?"

Bahwa dari sebutan "engkau orang tua"

Mendadak berubah menjadi "anak jadah", betapa pun Siau-hi-ji terkejut juga.

"Brak", anak muda itu lantas menggebrak meja dan berbangkit mendadak sambil mendamprat.

"Kau bandot tua, berani kau ...."

Belum habis ucapannya, dengan lemas ia lantas roboh terkulai.

"Hehe, anak jadah, sekarang tentunya kau tahu persoalan bukan?"

Kata si kambing.

"A ... arak itu beracun!"

Ucap Siau-hi-ji dengan suara lemah.

"Nah, kau baru nyaho sekarang,"

Jengek si sapi.

"Karena khawatir sukar mengakali kau, kami minum bersamamu dari poci arak yang sama, namun sebelumnya kami sudah minum obat penawar."

"Meng ... mengapa kalian berbuat begini?"

Tanya Siau-hi-ji.

"Memangnya kau kira kedatangan kami ke Buyung-san-ceng itu lantaran kami mengincar obat mujarab Buyung? Huh, kalau cuma obat buatan budak-budak keluarga Buyung itu kiranya belum perlu bikin repot Cap-ji-she-shio."

"Bicara terus terang, kedatangan kami ke sana adalah untuk mencari kau,"

Demikian si sapi menyambung.

"Soalnya di dunia ini mungkin hanya kau saja yang mengetahui tempat penyimpanan harta karun Yan Lam-thian itu,"

Kata si kambing pula.

"Demi berhasil membekuk dirimu, Coa-lolak (si ular nomor enam, maksudnya Pek-coa-sin-kun) kita telah memasang mata-mata di sekeliling Buyung-san-ceng di samping mengirimkan berita merpati kepada kami. Siapa tahu baru saja kami menyusul ke sana, si budak Buyung Kiu itu ternyata sudah kabur tanpa bekas."

"Tapi jelas kau masih ditinggalkan di dalam perkampungannya,"

Sambung si sapi pula.

"Kami lantas masuk ke situ untuk mencarimu, tapi meski kami sudah mencari ubek-ubekan, bayanganmu sama sekali tak ditemukan. Saking mendongkol kami lantas menyalakan api dan membakar perkampungan Buyung itu."

"Setelah rumah-rumah itu menjadi puing barulah kami melihat gudang batu itu,"

Si kambing menyambung pula.

"Rupanya kau anak jadah ini berbuat sesuatu sehingga kau dikurung di penjara berair itu."

"Sebenarnya tidak perlu heran,"

Ujar si sapi.

"Si budak Buyung Kiu memang suka girang dan marah tidak menentu ...."

"Tapi mengapa kemudian tertinggal kalian berdua saja?"

Tanya Siau-hi-ji.

"Sebelumnya kami sudah tahu kau anak jadah ini banyak tipu muslihat,"

Jawab si sapi dengan tertawa.

"Kalau kami paksa kau mengaku di mana tempat penyimpanan harta karun itu, bukan mustahil kau akan menjebak kami dengan akal setanmu. Selain itu kalau kau sembarangan menunjukkan sesuatu tempat, bukankah kami akan berputar sia-sia bersamamu, belum lagi kalau di tengah jalan kau sempat lolos, bukankah tambah penasaran?"

"Tapi saudara sapi kita sudah memperhitungkan dengan tepat, apabila kau dapat bergerak, maka tempat yang pertama-tama yang kau tuju pasti tempat penyimpanan harta karun Yan Lam-thian itu,"

Ujar si kambing.

"Makanya dia lantas memasang jeratan ini agar kau masuk perangkap."

"He, jadi kau yang mengatur perangkap ini?"

Tanya Siau-hi-ji sambil menatap tajam kepada si sapi.

"Tak terduga olehmu bukan?"

Jawab si sapi. Karena terkena obat bius yang dicampur di dalam arak, tubuh Siau-hi-ji tak dapat bergerak, terpaksa dia menghela napas dan berkata sambil meringis.

"Sungguh orang tidak boleh dinilai berdasarkan bentuknya, sapi goblok sebagai kau ternyata juga mempunyai akal setan, sungguh mimpi pun tak pernah kuduga."

"Hah, orang Kangouw yang pernah terjebak oleh akal saudara sapi kita jumlahnya sukar dihitung, kau anak jadah ini juga bukan orang pertama, kenapa kau mesti menyesal dan gegetun?"

Ujar si kambing dengan terkekeh.

"Tapi dari mana kau kenal diriku?"

Tanya Siau-hi-ji.

"Kau berada bersama putri Ong-say Thi Cian, dengan sendirinya kau ada hubungan erat dengan Cap-toa-ok-jin,"

Tutur si sapi.

"Makanya aku sengaja mengucap salah seorang di antara kesepuluh top penjahat itu dan kau terus percaya penuh dan masuk perangkap sendiri."

"Ini namanya salah pukul tapi kena dengan tepat, anggaplah kalian lagi mujur,"

Kata Siau-hi-ji.

"Memangnya aku pun lagi heran Cap-ji-she-shio yang terkenal mahabusuk, mengapa bisa berubah sedemikian penurut. Hah, tak tahunya bagiku juga ada kalanya terjadi 'kapal terbalik di selokan'."

"Huh, memangnya kau anak jadah kecil ini menganggap dirimu paling pintar?"

Jengek si sapi sambil tertawa.

"Terus terang kukatakan, untuk dapat berkecimpung di dunia Kangouw, kau masih terlalu jauh dan perlu belajar sepuluh tahun lagi."

"Kami Cap-ji-she-shio ini tokoh macam apa, kalau saja kami tidak sengaja hendak menipu kau, mana bisa kami bersikap begini padamu?"

Kata si kambing.

"Hm, biarpun Li Toa-jui datang sendiri juga kami menganggapnya sebagai kentut belaka, apalagi cuma anak jadah kecil macam dirimu ini."

"Sekarang kalau kau mau mengaku di mana letak tempat penyimpanan harta karun itu bisa jadi kami akan mengampunimu,"

Ucap si sapi dengan menyeringai.

"Kau bukan anak bodoh, tentu tahu bagaimana akibatnya jika tetap bandel."

Dengan mata terbelalak Siau-hi-ji mendengarkan ocehan mereka, setelah ocehan mereka agak kendur, mendadak ia bergelak tertawa dengan gaya sangat gembira. Si kambing menjadi gusar, dampratnya.

"Haram jadah kecil, memangnya kau kira kami tidak mampu membuat kau mengaku terus terang?"

"Haram jadah tua, memangnya kau kira aku benar-benar terjebak oleh perangkap kalian?"

Siau-hi-ji balas berolok-olok dengan tertawa.

"Hah, kau masih ada permainan apa, coba katakan,"

Ucap si sapi. Siau-hi-ji menghela napas gegetun, jawabnya.

"Ai, untuk berkata sih tidak sulit, yang kukhawatirkan adalah sebelum habis kubicara mungkin jiwa kalian sudah melayang."

"Apa betul?"

Kata si sapi tetap dengan tertawa. Siau-hi-ji juga tertawa, jawabnya.

"Tidak betul! Soalnya Loh-se-bak yang kalian makan itu tidak beracun, sedikit pun tiada racunnya."

Belum habis ucapannya, si sapi dan si kambing sama-sama tidak dapat tertawa lagi. Segera si kambing mencengkeram leher baju Siau-hi-ji dan membentak.

"Haram jadah kecil, apa katamu?"

"Kataku kalian jadah tua ini sangat pintar dan aku ini orang tolol,"

Jawab Siauhi-ji dengan tertawa.

"Sebab besok juga aku akan berangkat dan mulai mencari harta karun, meski kalian tidak diperbolehkan ikut, aku tidak sampai hati meracuni kalian, makanya tidak kutaruh racun dalam Loh-se-bak yang kalian makan itu."

Semakin dia bilang tidak menaruh racun, semakin ketakutanlah si kambing, air mukanya bertambah pucat, dengan suara parau ia membentak pula.

"Le ... lekas keluarkan obat penawarnya!"

"Ya, ya jangan khawatir, pasti akan kuserahkan obat penawarnya agar nanti kalian dapat membunuhku dengan bebas,"

Ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Hahaha, jangan lupa, selama kalian memerlukan diriku untuk menemukan harta karun, selama itu pula takkan meracuni aku. Sebaliknya aku tidak memerlukan kalian, memangnya aku tidak berani meracuni kalian? Haha, jangan lupa pula bahwa obat bius takkan membinasakan orang, sedangkan racun dapat membuat jiwa kalian melayang."

Tiba-tiba si sapi tertawa, ia menarik tangan si kambing dan berkata.

"Benar, memang benar, kita ini tolol dan tidak tahu urusan. Kita dikatakan kena racunnya, maka kita benar-benar menganggap diri kita sudah keracunan."

"Ya, hendaklah kalian jangan mau percaya,"

Tukas Siau-hi-ji.

"Tapi kalau saat ini kalian mau meraba tulang iga kelima di sisi kiri, yakni di bagian Ling-kin-hiat, kutanggung takkan terdapat sesuatu tanda penyakit apa pun, maka sebaiknya kalian tidak usah merabanya."

Belum habis dia bilang "tidak usah meraba" , tanpa kuasa tangan si sapi dan si kambing sudah lantas meraba Ling-kin-hiat di bagian iga masing-masing.

Celakanya, begitu tempat itu teraba, seketika wajah berubah menjadi pucat, kedua orang saling pandang memandang dengan melongo.

"O, tidak menjadi soal kalau di situ terasa kemeng,"

Ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Kujamin dalam waktu sejam-dua jam kalian takkan mati, jika perlu kalian masih sempat membunuhku lebih dulu."

Meski dia suruh mereka membunuhnya, tapi biarpun nyali kedua orang itu ditambah satu kali lipat juga mereka tidak berani turun tangan.

Maklumlah, kalau Siau-hi-ji mati, lalu siapa yang akan memberikan obat penawar?

Akhirnya si kambing bertanya.

"Kau ... kau sesungguhnya mau apa?"

"Apabila kujadi kalian, saat ini aku akan tunduk dan menawarkan dulu obat bius yang diminum olehku, habis itu berusaha menjilat dan mengambil hatiku agar rasa dongkolku terlampiaskan, kemudian bersumpah berat bahwa kalian akan senantiasa tunduk kepada perintahku, sedikit pun tidak berani membangkang ...."

"Tapi kalau sudah kutawarkan obat bius yang kau minum, lalu kau tidak menawarkan racun kami, lantas bagaimana?"

Ucap si sapi dengan napas tersengal.

"Ya, ya, benar juga, jika kau tidak menawarkan obat biusku, masakah aku mesti menawarkan racunmu?"

Si kambing dan si sapi saling pandang sekejap, habis itu mendadak mereka mendekati Siau-hi-ji. Namun dengan adem ayem anak muda itu berkata pula.

"Racun di dunia ini terkadang tak dapat ditawar dengan obat, apalagi selain yang menaruh racun, orang lain sukar mengetahui sampai di mana kadar racunnya. Tapi kalau kalian tidak percaya, boleh juga silakan kalian mencobanya."

Serentak si sapi dan si kambing tidak jadi melangkah maju, suruh mereka mencoba dengan barang lain tentu jadi, tapi suruh mereka mencoba dengan jiwa mereka sendiri, betapa pun mereka harus pikir-pikir dulu.

Di dalam hati mereka serentak pula timbul pikiran yang sama.

"Biarpun kami bersumpah dan setelah minum obat penawar, memangnya kami tidak dapat membinasakan dia? Sumpah bagi kami adalah seperti omong kosong belaka."

Maka mereka tidak bicara lagi, berbareng mereka berlutut dan mengucapkan sumpah yang paling keras, lalu dengan sangat hormat mereka mengeluarkan obat penawar dan dilolohkan ke mulut Siau-hi-ji.

Selang tak lama, dapatlah Siau-hi-ji berdiri, ia tepuk-tepuk debu di bajunya, lalu berkata dengan tertawa.

"Obat bius dan obat penawar Cap ji-she-shio ternyata sama manjur."

"Hehe, obat penawar engkau orang tua tentu terlebih manjur,"

Ucap si sapi dengan menyengir.

"Obat penawar apa?"

Tiba-tiba Siau-hi-ji bertanya. Seketika perut si sapi dan si kambing seakan-akan ditendang orang, serentak mereka berteriak.

"He, kau ... kau ...."

"Jangan khawatir, hahaha, aku hanya menggoda kalian saja,"

Ujar Siau-hi-ji dengan tertawa sambil mengeluarkan sebuah botol kecil, lalu menambahkan.

"Sebenarnya obat penawar berada di bajuku, mengapa kalian tadi tidak mau menggeledah badanku? Ai, manusia terkadang memang tidak boleh terlalu percaya kepada ucapan orang lain."

Sungguh gusar dan geregetan si sapi dan si kambing, kalau bisa mereka ingin mencekik mampus anak muda itu.

Tapi menyelamatkan jiwa sendiri lebih penting, tanpa pikir si sapi lantas mendahului menyerobot botol kecil yang dipegang Siau-hi-ji itu dan sebagian besar isi botol itu dituang sekaligus ke dalam mulutnya.

"He, mengapa kau minum se ... sebanyak itu?!"

Bentak si kambing cemas. Dengan tertawa si sapi menjawab.

"Tubuhku lebih gede, adalah pantas kalau mendapat bagian lebih banyak."

Dengan mendongkol si kambing merampas botol kecil itu dari tangan si sapi, sisa obat lantas diminumnya semua, habis itu mereka memandang Siau-hi-ji, dalam hati mereka berpikir.

"Haram jadah kecil, sekarang coba kau akan lari ke mana."

Siau-hi-ji juga sedang memandang mereka, katanya.

"Sekarang coba kalian meraba tempat tadi, apakah masih kemeng atau tidak."

Tanpa terasa kedua orang lantas meraba iga masing-masing dan benar juga rasa sakit kemeng tadi sudah lenyap.

"Mujarab benar obat penawarmu ini,"

Ujar si kambing dengan tertawa.

"Dan sekarang coba kau ...."

Belum habis ucapan si sapi, tiba-tiba Siau-hi-ji bergelak tertawa dan berkata pula.

"Tadi waktu meraba bagian iga, di situ kebetulan adalah tempat pertemuan aliran darah di tubuh kalian, biarpun diraba perlahan juga akan terasa sakit dan kemeng, kini aliran darah itu sudah lewat ke tempat lain, dengan sendirinya tidak terasa sakit lagi"

Keterangan ini membuat pula si sapi dan si kambing gemas setengah mati sehingga dada mereka seakan-akan meledak.

"Haram jadah kecil, kiranya kau menipu kami,"

Teriak si kambing dengan suara serak.

"Benar, aku memang sengaja menipu kau si haram jadah tua ini,"

Jawab Siauhi-ji dengan tertawa.

"Mengapa kalian tidak berpikir, kan Loh-se-bak itu bukan buatanku, cara bagaimana aku dapat menaruh racun di situ? Apalagi kalau kutaruh racun, mengapa kalian tidak mampus keracunan?"

"Hahahaha!"

Mendadak si sapi bergelak tertawa.

"Ya, anggaplah kau memang pintar dan cerdik, tapi kami juga tidak goblok. Ketahuilah bahwa bius itu meski sudah punah, tapi dalam setengah jam kau tetap belum mampu mengerahkan tenaga dan dengan mudah saja dapat kucabut nyawamu."

"O, betul begitukah?"

Ucap Siau-hi-ji.

"Tidak betul, masakah kusampai hati menyembelih kau, aku cuma mau memotong hidungmu, sebelah telingamu, sebelah tanganmu, dan sebelah kakimu,"

Kata si sapi dengan menyeringai.

"Aduh, celaka, aku menjadi ketakutan!"

Ujar Siau-hi-ji sambil berlagak ngeri.

"Jangan takut, aku bukan Li Toa-jui, takkan makan kau, hanya akan memotong dagingmu untuk umpan anjing,"

Kata si sapi sembari mendekati anak muda itu. Akan tetapi Siau-hi-ji tidak ambil pusing padanya, bahkan memandangnya saja tidak, mulutnya bergumam perlahan.

"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh ...."

Baru saja menghitung sampai tujuh, saat itu tangan si sapi pun menghantam tiba.

Namun Siau-hi-ji tetap diam saja dan sama sekali tidak menggubrisnya.

Aneh juga, entah mengapa, baru saja pukulan si sapi dilontarkan, belum lagi mencapai sasarannya, tahu-tahu tubuh sendiri jadi gemetar, air mukanya berubah, mendadak ia jatuh terjungkal.

Tertampak kedua matanya mendelik dan mulut berbusa laksana orang sakit ayan.

"He, ken ... kenapa jadi begini?"

Teriak si kambing kaget.

"Ah, tidak apa-apa, Loh-se-bak yang dimakannya tak beracun, tapi obat penawarnya yang beracun,"

Kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Lantaran dia suka main serobot dan ingin makan lebih banyak, dengan sendirinya ia pun roboh terlebih-dahulu dan lebih cepat."

Jilid 5.

Pendekar Binal Si kambing menggerung gusar terus menubruk maju, tapi baru saja badan terapung ke atas, laksana balok saja terus terjungkal ke bawah sehingga batok kepalanya membentur lantai dan benjut.

"Hahaha, sekali ini kau benar-benar jadi kambing bertanduk ...."

Siau-hi-ji berkeplok tertawa. Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong seorang membentak di luar.

"Huh, sudah tua begitu kena dipermainkan anak kecil, kalian si kambing dan si sapi ini masakah ada muka buat berkecimpung pula di dunia Kangouw?"

"Siapa itu?!"

Bentak Siau-hi-ji kaget.

Tertampak jendela terbuka sedikit, seorang manusia ular terus memberosot masuk, tubuhnya menghijau gilap dan licin.

Siapa lagi dia kalau bukan Pek-coa-sin-kun, si ular dari Cap-ji-she-shio.

Berputar biji mata Siau-hi-ji, segera ia menegur dengan tertawa.

"Eh, sudah lama tak bersua, baik-baikkah engkau? Silakan duduk dan minum-minum dulu."

Pek-coa-sin-kun menyeringai, katanya dengan dingin.

"Supaya kau tahu, obat bius yang mereka taruh di dalam arak itu adalah buatanku yang khas, terhadap khasiat obat bius itu rasanya akulah yang paling tahu, biarpun kau membual untuk mengulur waktu juga tiada gunanya, seumpama kau mengoceh lagi setengah hari juga tetap sukar bagimu untuk mengerahkan tenaga."

"Wah, jika begitu tampaknya hari ini aku memang lagi apes dan sukar lolos dari maut,"

Ucap Siau-hi-ji.

"Betul, memang begitulah?"

Ujar Pek-coa-sin-kun.

Dalam pada itu terdengar si kambing dan si sapi sedang merintih, mata mereka masih dapat memandang, sekujur badan terasa kaku, kaki dan tangan tak bisa bergerak, ingin bicara juga sukar, obat bius ini ternyata berpuluh kali lebih lihai daripada obat bius buatan Pek-coa-sin-kun.

Keruan mau tak mau Pek-coa-sin-kun terkesiap juga melihat kedua temannya itu, tanpa terasa ia berseru.

"He, 'Kiang-si-san' (puyer mayat hidup) si setengah manusia separo setan Im Kiu-yu!"

"Hah, tampaknya pandanganmu juga cukup tajam,"

Ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

"tadi mereka berebut minum obat, kukira setengah jam lagi mereka akan berubah menjadi mumi (mayat yang kaku). Meski tidak lantas mampus, tapi selanjutnya mereka hanya dapat berjalan jalan dengan berlompat-lompat. Haha, bakal ada kambing dan sapi berkeluyuran sepanjang jalan, kukira pasti sangat menarik."

Mendengar ucapan anak muda itu, keringat dingin sama merembes keluar sebesar kedelai di jidat si kambing dan si sapi, suara rintihan mereka pun bertambah keras.

Pek-coa-sin-kun memandang mereka sekejap, katanya.

"Apakah kedua saudara ingin kutolong kalian lebih dulu?"

Sekuatnya si sapi dan si kambing berusaha mengangguk, namun kepala mereka hanya dapat bergerak sedikit saja.

"Hehehe!"

Pek-coa-sin-kun menyeringai.

"Rezeki kalau terbagi menjadi tiga, rasanya terlalu sedikit jumlahnya, apalagi kalian sudah berjanji akan meninggalkan tanda sepanjang jalan agar aku dapat menyusul kemari, tapi mana itu tanda-tanda? Untung sebelumnya Siaute sudah tahu kepribadian kalian dan diam-diam menugaskan orang bercampur baur di antara anak cucu yang membuntuti kalian, kalau tidak mungkin saat ini sukar bagiku untuk menemukan kalian di sini."

Keringat dingin semakin menderas di dahi si sapi dan si kambing, sorot mata mereka mengunjuk rasa takut. Berkedip-kedip sinar mata Pek-coa-sin-kun, katanya pula dengan terkekeh.

"Biasanya kalian memang suka bermain setan-setanan, kalau sekarang kalian benar-benar berubah menjadi mumi, bukankah sangat menarik juga."

Habis itu mendadak tertawanya berhenti terus melangkah ke arah Siau-hi-ji.

"Eh, kalau kau hendak menutuk Hiat-toku, kuharap jangan terlalu keras,"

Kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Soalnya saat ini aku tak dapat mengerahkan tenaga, jika kumati tertutuk, tamatlah segalanya."

"Jika begitu aku takkan menutuk Hiat-tomu,"

Kata Pek-coa-sin-kun dengan menyeringai.

"Cukup kusuruh 'Pek-si' menggigit perlahan sekali, kau takkan merasa sakit, bahkan terasa rada-rada gatal dan nikmat, rasanya jauh lebih enak daripada memeluk perempuan."

Di tengah ucapannya itu, tiba-tiba tertampak seekor ular kecil warna hijau gilap menyusup keluar dari lengan bajunya, ular itu hanya sebesar cacing, tapi lidahnya yang merah itu tampak mulur mengkeret dan merayap dengan gesit sekali, sungguh mengerikan dan menakutkan.

Betapa pun tabahnya Siau-hi-ji, tidak urung berubah juga air mukanya sekarang.

Anehnya lengan baju Pek-coa-sin-kun itu seolah-olah ada sarang ularnya, hanya sekejap saja belasan ular hijau sebesar cacing dan sepanjang sumpit sama merayap ke kuduknya, ada pula yang menyusup ke leher bajunya.

Belasan ekor ular kecil yang dingin dan licin itu merayap-rayap di seantero tubuh, rasanya dapatlah dibayangkan.

Sekujur badan Siau-hi-ji serasa kaku, biarpun bertenaga juga tidak berani sembarangan bergerak.

Pek-coa-sin-kun mengacungkan jari tengah dan ibu jarinya serta berkata.

"Asalkan jariku menjentik perlahan, segera kau akan tenggelam ke surga impian, hehe, seakan-akan belasan perempuan merangkul kau sekaligus, rasa nikmat itu sungguh menggetar kalbu, selain kau kiranya tiada orang lain yang mampu merasakannya."

"Jika begitu rasanya merangkul perempuan, pantaslah kalau orang cerdik pandai lebih suka menjadi Hwesio,"

Ucap Siau-hi-ji.

"Huh, kau sendiri belum merasakan, dari mana tahu ...."

"Ahah, terima kasih banyak-banyak, rasa nikmat ini lebih baik tak kurasakan,"

Seru Siau-hi-ji.

"Maksudmu kau minta ampun?"

"Sudahlah,"

Ucap Siau-hi-ji dengan menyengir.

"Kau ingin ke mana, biarlah kubawa kau ke sana."

Bercahaya sinar mata Pek-coa-sin-kun, saking girangnya suaranya sampai serak, katanya.

"Apakah memang betul tempat penyimpanan harta karun itu terletak di atas Go-bi-san sini?"

"Ya, sedikit pun tidak salah,"

Sahut Siau-hi-ji. Pek-coa-sin-kun menelan air liur, katanya pula.

"Jika demikian, malam nanti dapatlah kutemukan harta karun itu."

"Bukan saja dapat kau temukan, bahkan boleh kau bawa pergi."

"Jika begitu, ayolah berangkat!"

Serentak Pek-coa-sin-kun melompat bangun.

"Berangkat? Tapi ... tapi ... ular-ular ini?"

"Kubiarkan tubuhmu dirangkul kawanan ular betina cantik ini, boleh dikatakan kau mendapat rezeki besar."

"Dirangkul si cantik sebanyak ini, mana aku sanggup berjalan pula?"

"Soalnya aku merasa tidak mampu mengawasi dirimu terpaksa kuminta bantuan mereka. Asalkan kau menurut, mereka pasti lemah lembut padamu, tapi kalau kau sembarangan bergerak, bila mulut mereka yang mungil itu mencium tubuhmu, hehehe, hahaha ...."

Mendadak Pek-coa-sin-kun terkekeh-kekeh.

Tiada jalan lain, terpaksa Siau-hi-ji menurut perintah, ia berdiri terus berangkat, sama sekali tidak sembarangan bergerak, bahkan batuk saja tidak berani.

Selama hidupnya belum pernah sealim ini.

Sekeluarnya dia masih terdengar suara rintihan si kambing dan si sapi yang masih tergeletak di lantai kamar itu, suaranya memelas, seperti mohon ampun dan seperti juga sedang mencaci maki, biarpun orang berhati baja juga pasti terharu bila mendengar.

Tapi hati Pek-coa-sin-kun ternyata jauh lebih keras daripada baja, pada hakikatnya dia tidak ambil peduli, apalagi Siau-hi-ji, keselamatannya sendiri saja tak terjamin, bagaimana dia dapat mengurusi kepentingan orang lain?

Tiba-tiba dari depan datang seorang pelayan, melihat Siau-hi-ji, pelayan itu memberi hormat dan menyapa.

"Siauya, engkau ...."

Tapi belum habis ucapannya, demi nampak muka Siau-hi-ji, seketika ia menjerit dan jatuh kelengar saking kagetnya seperti melihat hantu. Dengan meringis Siau-hi-ji berucap.

"Saat ini bentukku sangat menarik, telingaku berhias dua ekor ular, leherku juga berkalung ular, pergelangan tangan memakai gelang ular, jadi komplet perhiasan yang kupakai, kelak kalau ada kesempatan, perhiasan ini harus kuhadiahkan kepada Buyung Kiu."

Dia bergumam sendiri, Pek-coa-sin-kun sama sekali tidak menggubrisnya.

"Sebenarnya peta harta karun itu tidak begitu jelas lukisannya, aku memerlukan dua malam suntuk barulah dapat meraba letak tempatnya, siapa tahu kau yang mendapatkan untungnya,"

Demikian Siau-hi-ji berkata pula.

"Di mana tempatnya? Bagian depan atau belakang gunung?"

"Belakang gunung ...."

Belum habis ucapan Siau-hi-ji, sekonyong-konyong kepalanya telah dikerudungi sepotong kain hitam.

"Dari sini ke belakang gunung tidak memerlukan petunjukmu,"

Kata Pek-coa-sin-kun dengan dingin.

"Jika kau cerdik, kau harus menurut saja dan jangan coba-coba bertingkah untuk menarik perhatian orang lain."

Diam-diam Siau-hi-ji gegetun, tapi di mulut ia berkata dengan tertawa.

"Untuk apa kutarik perhatian orang lain? Di dunia ini aku hanya punya musuh, mana ada kawan?"

"Tutup mulut!"

Bentak Pek-coa-sin-kun mendadak.

"Ai, bicara saja tidak boleh?"

Omel Siau-hi-ji.

Dia benar-benar seperti orang buta dan dituntun orang, tapi kini dia terpaksa berubah pula menjadi bisu.

Kalau Pek-coa-sin-kun berjalan cepat, terpaksa, ia ikut cepat, bila orang berjalan lambat, mau tak mau ia pun melangkah perlahan, mengenai tempat mana yang dilaluinya sama sekali ia tidak tahu.

Tidak lama, suasana terasa mulai sepi, angin meniup sejuk, sekonyong-konyong Siau-hi-ji merasa ditarik orang ke tengah semak-semak.

Seketika terpikir olehnya.

"Apa barangkali keparat ini melihat seseorang yang ditakutinya ...."

Segera terdengar Pek-coa-sin-kun mengancam di tepi telinganya.

"Awas, jangan bersuara jika sayang akan jiwamu."

Baru saja habis ucapannya, kira-kira belasan meter di sebelah sana berjangkit suara orang berkata.

"Budak she Thi itu mengapa mendadak menghilang di sekitar sini?"

Mendengar suara nyaring itu, setiap katanya selalu membuat jantung Siau-hi-ji berdegup.

Kiranya itulah suara Siau-sian-li Thio Cing.

Mengapa nona itu bisa muncul di sini?

Menyusul lantas terdengar suara seorang lagi berkata.

"Bisa jadi dia mengetahui penguntitan kita."

Suara orang ini dingin ketus, jelas suara Buyung Kiu-moay.

Seketika jantung Siau-hi-ji berdetak-detak keras, biasanya dia sudah kabur secepatnya apabila tahu kedua nona itu berada di dekatnya.

Tapi kini dia berbalik berharap semoga kedua nona itu lekas kemari, makin cepat makin baik.

Tiba-tiba ia merasakan kedua nona ini meski musuhnya, tapi juga dapat dianggap sebagai anggota keluarganya.

Terdengar Siau-sian-li sedang berkata pula.

"Kita menguntit dia sepanjang jalan dan dia tidak tahu sedikit pun, masakah sampai di sini mendadak dia menyadari jejaknya dikuntit? Melihat tingkah lakunya yang linglung, yang dipikirnya jelas cuma si setan cilik itu melulu, seumpama di belakangnya mengintil satu barisan orang juga dia tidak merasakannya."

"Jika begitu masakah kau khawatir takkan menemukan dia?"

Ucap Buyung Kiu dengan hambar.

"Yang kukhawatirkan adalah ... adalah ...."

"Tak dapat menemukan setan cilik itu, maksudmu?"

Jengek Buyung Kiu.

"Benar,"

Jawab Siau-sian-li.

"Aku benar-benar khawatir tak dapat menemukan setan cilik itu dan khawatir tak dapat mengorek hatinya untuk dilihat bagaimana bentuk dan warnanya."

"Tidak perlu dilihat juga kau harus tahu ... pasti hitam!"

Kata Buyung Kiu.

Suara mereka ternyata tidak mendekat, sebaliknya malah semakin menjauh.

Sungguh Siau-hi-ji ingin berteriak memanggil mereka, tapi ia menyadari bila dirinya bersuara, maka kawanan ular "cantik"

Akan menggigitnya sekaligus dan urusan pasti runyam.

Terpaksa ia bersabar, asalkan jiwa selamat, segala urusan masih dapat dipikirkan.

Dari percakapan kedua nona tadi Siau-hi-ji dapat menerka Buyung Kiu-moay dan Siau-sian-li pasti sengaja membebaskan Thi Sim-lan, habis itu mereka lantas menguntitnya secara diam-diam.

Ini adalah akal kuno dan sederhana, tapi akal ini justru paling mudah dilaksanakan.

Lantas ke manakah Thi Sim-lan saat ini?

Beradanya Thi Sim-lan di sini sudah tentu bukan harta karun itu, dia hanya ingin menunggu Siau-hi-ji di sini, ia tahu harta karun tersebut tersimpan di Go-bi-san, ia pun tahu Siau-hi-ji pasti akan datang kemari.

Tapi Buyung Kiu-moay sendiri telah mengurung Siau-hi-ji di ruangan batu itu, dengan sendirinya ia yakin anak muda itu tak mungkin akan datang ke sini.

Lalu, untuk apakah dia juga ikut kemari?

Masakah perempuan yang berhati dingin ini pun menaruh perhatian terhadap harta karun?

Dalam pada itu Pek-coa-sin-kun telah membisiki Siau-hi-ji dengan nada bengis.

"Jangan-jangan kau juga memberitahukan tempat harta karun ini kepada orang lain?"

"Kau kira aku akan berbuat begitu atau tidak?"

Jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Adakah orang lain yang mengetahui tempat itu selain dirimu?"

"Kukira Yan Lam-thian sendiri pasti tahu."

Pek-coa-sin-kun merasa lega, katanya pula.

"Kita sudah sampai di belakang gunung Go-bi-san, sekarang boleh kau menunjukkan jalannya."

Segera pandangan Siau-hi-ji terbeliak, kerudung kepalanya telah ditanggalkan, walaupun di tengah malam gelap, tapi rasanya cahaya bintang malam ini jauh lebih terang daripada biasanya dan jauh lebih mempesona bagi anak muda itu.

"Ai, baru sekarang kutahu rasanya jadi orang buta memang tidak enak,"

Ucap Siau-hi-ji dengan menghela napas panjang.

Pegunungan Go-bi yang tinggi dan terjal itu kelihatan sangat mengerikan.

Lebih-lebih di bagian belakang gunung, terasa berpuluh puncak yang menjulang tinggi itu seakan-akan roboh menindih ke bawah.

Di mana berada sekarang adalah suatu bagian paling terpencil di atas Go-bisan, tidak lama mereka mendaki segera kabut tebal timbul dari bawah kaki mereka, setiba di pinggang gunung mereka pun sudah terbenam di tengah lautan awan dan kabut tebal.

Meski Siau-hi-ji bermaksud menggunakan kegesitan dan kelincahannya untuk melepaskan diri dari cengkeraman Pek-coa-sin-kun, terpaksa ia urungkan niatnya mengingat belasan ular hijau kecil masih membelit di tubuhnya.

Satu-dua jam kemudian, napas kedua orang itu pun terengah-engah.

"Sudah sampai belum?"

Tanya Pek-coa-sin-kun sambil tersengal-sengal.

"Memangnya kau merasa kurang cepat?"

Jawab Siau-hi-ji.

"Tanpa petunjukku, seumpama kau tahu tempatnya, biarpun kau mencarinya tujuh atau sepuluh hari juga belum tentu dapat menemukannya."

Mendadak Pek-coa-sin-kun tertawa dan berkata.

"Haha, kau sungguh anak yang pintar dan tangkas, jauh lebih cekatan daripadaku."

"Itu dia, sebelum menemukan harta karun itu memang perlu kau menjilat pantatku,"

Kata Siau-hi-ji.

"Nanti kalau harta karun sudah ditemukan bolehlah kau menyembelih dan mencincang diriku."

"Jangan khawatir,"

Kata Pek-coa-sin-kun dengan suara halus.

"Setelah menemukan harta karun itu aku malah takkan membunuh kau, bahkan akan kuberikan kebaikan kepadamu, kau ...."

Mendadak ia berteriak gusar.

"Setan cilik, ayo keluar, lekas keluar ...."

Kiranya selagi dia mencerocos dan lupa daratan, tahu-tahu Siau-hi-ji telah menghilang. Keruan Pek-coa-sin-kun kelabakan hingga keringat dingin merembes memenuhi dahinya, ia berteriak murka pula.

"Setan cilik, jika tidak lekas keluar, sekali aku bersuit segera kau bisa mampus! Tiada gunanya biarpun kau lari ke mana pun."

Tapi di tengah malam kelam berkabut tebal itu bayangan Siau-hi-ji tetap tidak kelihatan. Pek-coa-sin-kun seperti orang kebakaran jenggot, ia berteriak pula.

"Dengarkan setan cilik, ular itu bernama Pek-si-coa (ular benang hijau) dan juga disebut belatung penyusup tulang, tanpa perintahku, selamanya ular-ular itu akan terus menempel di tubuhmu sampai kau menjadi bangkai. Nah, pikirkan sendiri, apakah tindakanmu ini tepat atau tidak?"

Sekonyong-konyong terdengar orang mengikik tawa di sebelahnya, suara Siau-hi-ji lagi berkata.

"Hihi, aku berada di sini, apa yang kau ributkan?"

Pek-coa-sin-kun mengamat-amatinya hingga sekian lama, akhirnya baru dilihatnya di sebelah sana ternyata ada sebuah gua, banyak akar-akaran yang bergelantungan hingga menutupi mulut gua.

Entah sejak kapan Siau-hi-ji telah menyusup ke gua itu.

"Ayolah kemari, di sinilah jalan masuk ke tempat harta karun itu,"

Seru Siauhi-ji.

Sebenarnya Pek-coa-sin-kun sangat gemas, tapi mendengar ucapan anak muda itu, seketika sirap api amarahnya, cepat ia menyusup ke sana, segera pula ia merasa hawa dingin menyambar dari depan, tanpa terasa ia menggigil, katanya dengan gegetun.

"Sungguh hebat Yan Lam-thian itu dapat menemukan tempat begini ...."

Kalau tempat ini sedemikian rahasia dan tersembunyi, maka betapa besar jumlah harta karun yang terpendam di sini dapatlah dibayangkan.

Teringat akan rezeki nomplok ini, seketika Pek-coa-sin-kun kegirangan sehingga tidak merasakan dingin lagi.

Gelap gulita di dalam gua itu sehingga jari sendiri saja tidak kelihatan, Pek-coa-sin-kun lantas menyalakan geretan api, tapi mereka lantas menjerit kaget begitu api menyala.

Ternyata di dalam gua itu membujur tiga sosok mayat.

Ketiga sosok mayat itu sangat perlente, tangan masing-masing memegang pedang yang kemilau, tampaknya bukan sembarangan pedang.

Tapi mayat-mayat itu melingkar dengan mengenaskan.

Waktu diperiksa, meski kaki tangannya sudah dingin, tapi tubuh mayat itu masih lemas, belum kaku, suatu tanda kematian ketiga orang itu belum lama, tidak lebih daripada satu jam.

Pek-coa-sin-kun membalik ketiga sosok mayat itu dan memeriksa mukanya, seketika air mukanya berubah pucat serupa ketiga mayat itu, tangannya yang memegangi obor juga rada gemetar.

"Kau kenal mereka?"

Tanya Siau-hi-ji.

"Kim ... Kim-leng-sam-kiam, tajam pedangnya dapat memotong emas!"

Ucap Pek-coa-sin-kun dengan tergagap.

"Kiranya mereka juga tokoh ternama,"

Ujar Siau-hi-ji.

"Bukan saja ternama, bahkan terhitung jago kelas satu,"

Kata si ular.

"Jika tempat penyimpanan harta karun ini tidak diketahui orang lain, mengapa mereka dapat tiba di sini?"

Siau-hi-ji juga mengernyitkan kening, katanya.

"Ya, ini memang rada-rada aneh."

"Kau hanya heran saja?"

Bentak si ular dengan bengis. Siau-hi-ji angkat pundak, jawabnya.

"Toh ketiga orang ini sudah mati, buat apa kita merecokinya?"

"Meski mereka sudah mati, tapi orang yang membunuh mereka pasti masih berada di dalam gua ini,"

Kata si ular dengan gusar.

"Kalau orang ini sekaligus mampu membinasakan Kim-leng-sam-kiam (tiga pendekar pedang dari Kim-leng), bukankah dia terlebih menakutkan pula?"

"Aneh, siapakah gerangannya? Mengapa dia tahu rahasia tempat ini?"

Kata Siau-hi-ji.

"Memangnya kau tidak tahu? Masakah bukan kau yang memberitahukan mereka? Peta harta karun ini tentunya cuma selembar saja dan berada padamu, kecuali kau ...."

Belum habis ucapan si ular, sekonyong-konyong padam obor yang dipegangnya.

Tentu saja ia terkejut, tapi ia pun tahu pasti ada orang diam-diam mengerjainya, cepat ia melangkah mundur mepet dinding gua, lalu membentak.

"Siapa itu main sembunyi-sembunyi di situ?"

Dalam kegelapan seorang menjawab dengan perlahan.

"Dugaanmu memang tidak salah, orang yang membunuh Kim-leng-sam-kiam memang betul masih berada di sini, ialah aku!"

Suara itu tenang dan biasa saja, tiada sesuatu yang menonjol kedengarannya, tapi justru nada yang teramat biasa inilah kedengarannya menjadi rada menakutkan di dalam gua yang seram dan misterius ini, sampai tokoh macam Pek-coa-sin-kun juga bergidik.

"Sia ... siapa engkau?"

Tanya si ular.

"Apakah kau ingin tahu siapakah diriku?"

Kata suara itu.

Dengan tabahkan diri Pek-coa-sin-kun menyalakan obornya lagi, di tengah berkelebatnya cahaya obor, tertampak seorang berbaju kelabu melangkah keluar dari dalam gua.

Wajah orang juga remang-remang kelabu, tidak kelihatan hidung dan matanya, semuanya tidak kelihatan, selembar mukanya sungguh mirip serabi bulukan sehingga jauh lebih seram dan menakutkan daripada muka yang paling jelek di dunia ini.

Walaupun tahu orang ini pasti memakai kedok, namun tidak urung Siau-hi-ji juga merasa ngeri.

Kalau kedoknya menutupi mulut dan hidungnya, kenapa matanya juga dikerudungi?

Jika mata terkerudung, mengapa dia dapat berjalan dengan bebas?

Padahal tidak enak rasanya menjadi orang buta, Siau-hi-ji sendiri sudah merasakannya tadi.

Terlihat dahi Pek-coa-sin-kun berkeringat dingin, katanya pula dengan terputus-putus.

"Engkau ... engkau ini Hwe-pian-hok (si kalong kelabu)?"

"Hehe, jadi kau sudah melihat jelas?"

Kata si kelabu dengan tertawa hambar.

"Apakah Niau-thau-eng (burung kepala kucing, burung hantu atau kokokbeluk) juga ...."

Belum habis ucapan Pek-coa-sin-kun, seketika tubuhnya mematung kaku, serupa patung yang memegang obor, hanya keringat dingin masih mengucur dari keningnya.

Kiranya dari belakang Hwe-pian-hok itu tiba-tiba muncul seorang.

Tampaknya orang ini juga tiada sesuatu yang istimewa, tapi matanya melotot dan besarnya luar biasa serta bercahaya.

Dengan tertawa si baju kelabu lantas berkata.

"Kalau Hwe-pian-hok berada di sini, dengan sendirinya Niau-thau-eng takkan berada jauh. Lain kali kalau kau bicara dengan orang yang berdiri di depan, janganlah lupa memperhatikan belakangnya."

Sepasang mata Niau-thau-eng tampak melotot kepada Siau-hi-ji, katanya dengan terkekeh-kekeh.

"Hehehe, sungguh aku ingin tanya kalian, cara bagaimana kalian dapat menemukan tempat ini?"

Kalau dia tidak bicara memang tidak menarik, sekali dia membuka suara, benarlah namanya sesuai dengan julukannya, suaranya memang mirip burung hantu. Siau-hi-ji berkedip-kedip, jawabnya.

"Pakai tanya lagi, bukankah kau yang memberi tahu padaku?"

Niau-thau-eng, si kokokbeluk, melengak.

"Aku yang memberitahukan padamu?"

"Memangnya siapa lagi kalau bukan kau?"

Ucap Siau-hi-ji.

"Peta harta karun tinggalan Yan Lam-thian hanya satu helai, kalau bukan kau yang memberitahukan kami, cara bagaimana kami dapat menemukan tempat ini? Malahan kau minta bantuan kami untuk membinasakan Hwe-pian-hok supaya kau dapat mencaplok sendiri harta karun ini, mengapa sekarang kau ingkar janji dan pura-pura tidak tahu? Apa barangkali kau sudah mendapatkan bala bantuan yang lain lagi?"

Anak muda itu bicara dengan mendelik sambil bertolak pinggang, lagaknya seperti bersungguh-sungguh dan tak bisa dibantah. Keruan tidak kepalang gusar si kokokbeluk, dampratnya.

"Kau setan alas, sekecil ini usiamu, tapi sudah pandai memfitnah, kalau sudah besar bukankah akan jauh lebih jahat daripada gurumu?"

"Betul, sebaiknya lekas kau membunuh aku agar tiada saksi dan tiada bukti lagi,"

Ucap Siau-hi-ji.

"Aku justru ingin membinasakan kau keparat jahanam ini!"

Teriak Niau-thau-eng dengan murka, berbareng kedua tangannya dengan jari-jarinya yang tajam terus mencakar ke dada dan tenggorokan Siau-hi-ji.

Tapi sedikit pun Siau-hi-ji tidak bergerak, maklumlah kalau sembarangan bergerak, ia khawatir kawanan si "cantik"

Yang merayapi tubuhnya itu akan menggigit dan itu berarti akan tamatlah riwayatnya.

Syukurlah pada detik berbahaya itu, tiba-tiba sesosok bayangan menyelinap maju dan mengadang di depannya, kiranya si kalong yang bertindak membelanya sambil membentak.

"Mengapa kau turun tangan sekeji ini kepada seorang anak kecil?"

Terpaksa Niau-thau-eng menarik mentah-mentah serangannya, teriaknya dengan gemas.

"Mengapa kau merintangi aku? Jangan-jangan kau percaya pada ocehan setan cilik ini?"

"Aku cuma rada heran, jelas peta wasiat ini hanya ada satu lembar dan cuma kita berdua saja yang tahu, mengapa orang-orang ini dapat datang pula ke sini?"

Kata Hwe-pian-hok dengan hambar.

"Kita sudah bersahabat karib selama lebih dua puluh tahun, masakah kau tidak percaya padaku?"

Teriak Niau-thau-eng dengan parau.

"Sudah biasa orang buta diakali orang melek, mau tak mau rasa curiganya juga besar,"

Ucap Hwe-pian-hok.

"Bagus, tampaknya kau sendiri yang ingin mencaplok harta karun ini, makanya mencari alasan untuk menumpas kawan sendiri,"

Kata Niau-thau-eng dengan gemas.

"Hm, sebenarnya sudah lama kudengar si kalong buta sukar dipercaya, sayangnya aku tidak percaya kepada nasihat orang, sekarang ternyata ...."

Belum habis ucapannya, mendadak Hwe-pian-hok memukul dari jauh sehingga obor padam seketika.

Agar tidak ketiban pulung, cepat Siau-hi-ji melompat mundur.

Pada saat itulah mendadak terdengar Niau-thau-eng menjerit kaget.

"Bagus, bagus, kau benar-benar turun tangan keji!"

Menyusul lantas terdengar pula serentetan angin pukulan dahsyat.

Diam-diam Siau-hi-ji menduga si kokokbeluk pasti celaka, ia tahu si kalong itu buta, dalam keadaan gelap tentu mempunyai kepandaian yang istimewa, biarpun si burung hantu juga dapat melihat dalam kegelapan, tapi seketika pasti akan kecundang lebih dulu.

Benar saja, segera terdengar suara "krak-krek"

Beberapa kali, suara tulang patah. Menyusul lantas terdengar jerit ngeri Niau-thau-eng.

"Kejam amat kau ... suatu ... suatu hari pasti kau akan ... akan menyesal."

Setelah mengucapkan kata-kata terakhir itu, kembali terdengar keluhan tertahan, lalu tak terdengar sesuatu suara lagi.

Kemudian mulai terdengarlah gema suara Hwe-pian-hok, si kalong kelabu, ucapnya sekata demi sekata.

"Di manakah kau anak kecil?"

Siau-hi-ji menahan napas, tapi di dalam gua yang seram ini, saking tegangnya dari tubuhnya keluar hawa panas yang cukup menjadi petunjuk bagi si kalong untuk mendekatinya.

Maklumlah pada umumnya orang buta tentu indera pendengarannya dan penciumannya jauh lebih tajam daripada orang biasa.

Terdengar suara langkah si kalong semakin mendekat, dahi Siau-hi-ji sudah penuh keringat, bajunya yang mepet dinding gua juga sudah basah kuyup.

"Kiranya kau berada di sini,"

Kata si kalong dengan suara halus.

"Eh, mengapa kau tidak lekas lari?"

Tapi Siau-hi-ji tetap diam saja sambil menggigit bibir, keringat berketes-ketes melalui batang hidungnya ke mulut, ia merasa risi dan gatal, ingin sekali untuk mengusap dan menggaruknya, tapi ia tidak berani bergerak sama sekali, selama hidupnya belum pernah merasa ketakutan seperti sekarang ini.

Terasa tangan si kalong mulai terjulur ke arahnya, sekujur badan Siau-hi-ji serasa menegang, tapi masih tetap tidak bergerak.

Perlahan tangan si kalong meraba ke lehernya, katanya.

"Jangan khawatir, takkan kubikin kau menderita, akan kupencet dengan pelahan saja dan kau akan mati dengan enak, jangan kau salahkan aku, rezeki kalau dibagi dua rasanya terlampau sedikit ...."

Pada saat itulah mendadak ia menjerit kaget dan segera melompat mundur, serunya dengan suara gemetar.

"Le ... lehermu ...."

Kiranya jarinya yang meraba ke leher Siau-hi-ji itu mendadak kena dipagut oleh ular hijau yang ngendon di situ.

Seharusnya orang dapat melihat ular kecil yang melilit di leher Siau-hi-ji itu, namun Hwe-pian-hok buta, mana dia menduga akan leher Siau-hi-ji berkalungkan ular berbisa begitu?

"Nah, baru sekarang kau tahu rasanya ular sakti pelindung badanku ya?"

Ucap Siau-hi-ji dengan bergelak tertawa.

"Hahaha! Orang buta macam kau juga ingin membunuhku? Haha, masakah begitu mudah?"

"Ular ... ular berbisa ...."

Hwe-pian-hok berteriak serak.

Di tengah teriakan ketakutan itu ia terus menerjang keluar.

Tapi belum seberapa jauhnya dia berlari, terdengar suara gedebukan keras, ia roboh terjungkal.

Kaget dan girang Siau-hi-ji, girangnya karena musuh sudah mati, kagetnya karena ular piaraan Pek-coa-sin-kun itu ternyata lihai benar-benar.

Ia menghela napas lega dan bergumam.

"Wahai Hwe-pian-hok, apabila kau tidak begitu keji, tidak menyerang tenggorokanku, tentu jiwaku sudah melayang sejak tadi. Tapi kutahu tempat yang kau serang pasti tempat mematikan, padahal bagian-bagian tubuhku yang penting itu sama dililit oleh ular berbisa. Ai, ular yang dimaksudkan membunuhku kini berbalik telah menyelamatkan jiwaku, setiap kejadian di dunia ini terkadang memang aneh dan sukar dibayangkan."

Lemah lunglai tubuh Siau-hi-ji seperti kehabisan tenaga, maklumlah, tadi jiwanya memang ibarat telur berada di ujung tanduk, sesungguhnya dia telah menggunakan jiwa sendiri untuk bertaruh dengan Hwe-pian-hok.

Di dunia ini kecuali Siau-hi-ji siapa pula yang berani bertaruh secara demikian?

Begitulah ia termenung sejenak, ia bermaksud meraba geretan api milik Pek-coa-sin-kun, tapi tak berani pula sembarang bergerak, kelihaian ular-ular kecil itu sudah disaksikannya tadi.

Tanpa terasa ia menghela napas gegetun pula.

"Ai, belatung menempel tulang! Benar-benar belatung nempel tulang, kalau tak dapat membersihkan mereka, sungguh lebih baik mati saja."

Pada saat itulah, tiba-tiba ada cahaya api berkelebat di kejauhan, seorang lelaki kekar berewok berjubah sulam dengan membawa obor tampak memasuki gua, meski gua ini lembab dan seram, namun orang itu tampaknya tak gentar apa pun juga.

Sudah tentu Siau-hi-ji terkejut, tapi orang itu pun tidak kurang kagetnya demi nampak Siau-hi-ji serta mayat yang bergelimpangan di situ.

Seketika ia menyurut mundur dua-tiga tindak, lalu menegur bengis.

"Siapa kau?"

"Kau sendiri siapa?"

Jawab Siau-hi-ji.

"Aku saja kau tidak kenal, berani kau berkecimpung di dunia Kangouw?"

Teriak orang itu.

"Wah, tampaknya kau ini rada-rada terkenal ya?"

Ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Aku inilah Congpiauthau dari gabungan tujuh belas Piaukiok di barat-laut, si kepalan baja dan telapak besi menggetar Tiongciu, she Tio bernama Coan-hay, nama ini tentunya pernah kau dengar bukan?"

"Wah, panjang amat namamu, kedengarannya memang mentereng, tapi apakah kau tahu siapa diriku ini?"

Jawab Siau-hi-ji dengan tersenyum. Lelaki yang mengaku Tio Coan-hay itu mendengus, katanya.

"Hm, kau ini terhitung barang apa?"

"Hm, supaya kau tahu,"

Siau-hi-ji juga mendengus.

"aku inilah si raja diraja, si agung dari semua pendekar pedang, yang dipertuan dari semua ular, menyapu bersih tiga gunung enam bukit tanpa tandingan di dunia ini, penggetar langit dan pengguncang bumi Giok-ong-cu, pernahkah kau dengar namaku ini?"

Sekaligus ia menyebut nama dan julukannya yang dua kali lipat lebih panjang daripada nama dan julukan Tio Coan-hay tadi, keruan orang she Tio itu benar-benar dibuatnya melenggong.

"Ya, belum pernah kudengar tokoh Kangouw demikian ini!"

Ucap Tio Coan-hay kemudian.

"Meski kau tidak pernah dengar, boleh kau pulang dan tanya pada gurumu, tentu dia tahu,"

Kata Siau-hi-ji.

"Tokoh angkatan tua di dunia Kangouw pasti tunduk bila melihat diriku."

"Huh, anak ingusan seperti kau juga berani sembarangan mengoceh?"

Damprat Tio Coan-hay dengan gusar.

"Hm, kau kira usiaku ini masih kecil, begitu?"

"Memangnya berapa umurmu? Anakku juga lebih tua daripadamu."

"Barangkali kau belum tahu bahwa ilmu silat yang sudah terlatih sempurna dan mencapai puncaknya dapat membikin orang tua kembali muda?"

Kembali Tio Coan-hay melengak, ia menatap Siau-hi-ji dengan terkesima, tampaknya menjadi ragu-ragu, setengah percaya setengah sangsi. Siau-hi-ji berkata pula.

"Orang yang kubunuh hari ini sudah cukup banyak, aku sudah malas turun tangan pula, mengingat kau juga seorang lelaki gagah bolehlah kuampunimu dan lekas kau pergi."

"Hanya kau saja ingin menggertak lari diriku?"

Bentak Tio Coan-hay dengan gusar.

"Supaya tidak menyesal, coba silakan lihat dulu tokoh-tokoh macam apakah yang mampus ini,"

Kata Siau-hi-ji. Waktu Tio Coan-hay mengawasi mayat-mayat yang menggeletak itu, air mukanya berubah seketika, ia bergumam.

"Kim-leng-sam-kiam ... Hwe-pian-hok ... Niau-thau-eng dan ... dan ...."

"Pek-coa-sin-kun dari Cap-ji-she-shio, kau tidak kenal dia?"

Sambung Siau-hi-ji. Tio Coan-hay merasa ngeri, katanya.

"Masakah betul mereka ... mereka mati di tanganmu?"

"Ah, soal kecil bagiku,"

Kata Siau-hi-ji acuh.

"Boleh kau tanya kepandaianmu sendiri apakah lebih tinggi daripada orang-orang ini?"

"Tapi ... tapi dengan susah payah baru akhirnya Cayhe sampai di sini, kalau ... kalau Cianpwe suruh Cayhe pergi begini saja, sungguh terasa penasaran,"

Kata Coan-hay setelah termangu sejenak. Meskipun dia belum mau pergi, namun dalam hal bicara sudah berganti nada dan menyebut Siau-hi-ji sebagai "Cianpwe".

"Habis apa kehendakmu?"

Tanya Siau-hi-ji dengan tersenyum.

"Asalkan Cianpwe memperlihatkan sejurus dua padaku, habis itu segera Cayhe akan angkat kaki tanpa syarat,"

Kata Tio Coan-hay.

"Kau ingin tahu ilmu silatku? Apa sukarnya? Asalkan kau dapat membinasakan semua ular yang berada dalam tubuhku ini tanpa melukai sedikit pun diriku, dan kalau perlu harta karun ini pun akan kuberikan padamu,"

Ucap Siau-hi-ji dengan tenang.

"Sungguh?"

Tio Coan-hay menegas dengan sangsi.

"Kaum Cianpwe masakan omong kosong kepada kaum Wanpwe?"

Jawab Siau-hi-ji.

Dengan langkah lebar Tio Coan-hay lantas mendekati Siau-hi-ji, dengan melotot ia pandang ular-ular yang merayap di tubuh anak muda itu.

Diam-diam Siau-hi-ji bergirang dan berharap semoga orang ini memang punya kemampuan.

Tak terduga pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara mendering beradunya senjata.

Umumnya kalau pedang atau golok beradu tentu waktunya berselang sejenak, habis itu baru berbunyi.

Tapi sekarang beradunya senjata itu sedemikian kerap dan nyaring, seakan-akan suara satu dan lain berbunyi sekaligus.

Dengan kaget Tio Coan-hay berpaling, katanya dengan keder.

"Siapa lagi yang datang, cepat amat gerak pedangnya!"

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya.

"Jangan khawatir, asalkan kau berdiri di sampingku, siapa pun takkan berani melukaimu."

Tio Coan-hay memandangnya sekejap, lalu memandang ular-ular yang menghiasi anggota badan anak muda itu, bentuk yang aneh ini membuatnya mau tak mau harus percaya bahwa orang yang dihadapinya ini memang tokoh kosen angkatan tua.

Setelah memandang lagi sekejap, akhirnya ia memberi soja (menghormat dengan kedua kepalan di depan dada) dan mengucap terima kasih.

Suara beradunya pedang tadi datangnya benar-benar cepat, tadi kedengaran masih berada di mulut gua, tapi kini sudah mendekat.

Terdengar seorang menjengek dengan suara dingin.

"Swat-hoa-to (golok bunga salju), kau benar-benar hendak mengadu jiwa dengan aku?"

Seorang lagi menjawab.

"Sudah lama kudengar ilmu pedangmu teramat cepat dan tiada tandingan di daerah Kwan-gwa. Kini kau ternyata mengetahui juga tempat harta karun ini, terpaksa harus kutentukan mati hidup denganmu."

Suara ini lembut dan tajam, mirip suara perempuan.

"Apakah Swat-hoa-to itu perempuan?"

Tanya Siau-hi-ji. Tio Coan-hay menghela napas gegetun, jawabnya.

"Ya, dia adalah salah satu dari 'Sam-lo-sat' (tiga setan buas) yang terkenal dan pernah disegani orang Kangouw dahulu. Ilmu goloknya memang sangat lihai."

"Lalu siapa lagi yang seorang?"

"Dari ucapan Swat-hoa-to tadi, mungkin orang ini adalah tokoh terkemuka dari Tiang-pek-pay, si pedang naga sakti Pang Thian-ih. Kecepatan ilmu pedang orang ini memang tiada bandingannya di daerah Kwan-gwa."

"Ai, mungkin usiaku sudah lanjut sehingga berbagai tokoh ternama dari angkatan muda tak kukenal lagi,"

Ucap Siau-hi-ji dengan lagak menyesal. Alis Tio Coan-hay tampak berkerut, katanya.

"Tempat harta karun ini sedemikian rahasia, mengapa sekaligus datang orang sebanyak ini? Sungguh aneh dan mengherankan."

Dalam pada itu kelihatan sinar golok dan cahaya pedang bergulung-gulung menggelinding tiba, di tengah sinar pedang yang kemilau itu ada dua sosok bayangan orang, yang satu kurus tinggi berbaju hitam, yang lain berpakaian putih mulus dan berperawakan ramping.

Kedua orang bertempur dengan sengit.

Hati Tio Coan-hay ikut kebat-kebit menyaksikan pertarungan kedua orang itu.

Sedangkan Siau-hi-ji acuh-tak-acuh, katanya.

"Meski ilmu silat kedua orang ini lumayan juga, tapi banyak juga ciri kelemahannya. Kalau melayani aku, mungkin mereka tidak sanggup bertahan sepuluh jurus."

Mendadak terdengar suara "creng"

Yang panjang, sinar pedang dan cahaya golok sirna seketika, si baju hitam dan perempuan baju putih sudah berhenti bertempur dan melompat ke depan Siau-hi-ji.

Kini terlihat jelas si perempuan baju putih, yaitu si Swat-hoa-to, berusia setengah baya, tapi masih kelihatan sisa-sisa kecantikannya di masa muda, perawakannya juga masih ramping.

Kini ia pun dapat melihat Tio Coan-hay juga berada di situ, tiba-tiba ia berseru.

"He, Coan-hay, kau pun datang ke sini."

Tio Coan-hay menyengir, jawabnya.

"Sudah lama tak berjumpa, tampaknya engkau masih tetap cantik."

"Terima kasih,"

Kata si Swat-hoa-to dengan tersenyum manis.

"Sungguh tak terduga kita akan bertemu di sini. Rasanya sudah sebelas tahun ... ah, malah sudah hampir dua belas tahun kau tidak mencari diriku, memangnya kau hanya berpikir tentang nama dan harta saja dan tidak memikirkan urusan lain?"

Tio Coan-hay berdehem-dehem beberapa kali, jawabnya dengan kikuk.

"O, aku ... aku ...."

"Hahaha, bagus, bagus!"

Si baju hitam alias pedang naga sakti Pang Thian-ih mendadak mengejek.

"Kiranya kekasih lama bertemu kembali. Tapi biarpun Liu Giok-ju ditambah lagi seorang Tio Coan-hay juga aku Pang Thian-ih tidak gentar."

Merasa sudah mendapatkan bala bantuan, Swat-hoa-to Liu Giok-ju hanya mendengus saja dan tidak pedulikan olok-olok Pang Thian-ih itu, dia mengerling ke arah Siau-hi-ji yang berdiri di sisi Tio Coan-hay dan berkata.

"He, apakah kau membawa muridmu? Mengapa bentuknya seaneh ini?"

"Bu ... bukan,"

Jawab Tio Coan-hay dengan tergagap.

"Inilah Giok ... Giok-locianpwe."

Seketika mata Liu Giok-ju melotot heran.

"Giok-locianpwe?"

Ia menegas.

"Ya,"

Kata Tio Coan-hay.

"Kim-leng-sam-kiam, Hwe-pian-hok, Niau-thau-eng dan Pek-coa-sin-kun yang menggeletak di sini semuanya binasa di tangan Giok-locianpwe ini."

Keterangan ini bukan saja membikin Liu Giok-ju terkejut, bahkan Pang Thian-ih juga kaget, serentak mereka menyurut mundur dua-tiga tindak, mereka mengamat-amati Siau-hi-ji dengan ragu-ragu sambil menggenggam erat senjata masing-masing.

Diam-diam perut Siau-hi-ji hampir meledak saking gelinya, tapi lahirnya dia tenang-tenang saja.

Bahkan dia sengaja menegur.

"Apakah nona Liu juga memiliki peta harta karun?"

"Ehm,"

Liu Giok-ju mengangguk. Sorot mata Siau-hi-ji beralih ke arah Pang Thian-ih dan bertanya pula.

"Dan kau?"

"Kalau tiada peta wasiat, cara bagaimana dapat kutemukan tempat ini,"

Jawab Pang Thian-ih dengan dingin. Gemerlap sinar mata Siau-hi-ji, katanya pula.

"Sampai saat ini, peta harta karun sudah muncul enam helai. Sungguh lucu, suatu harta karun enam peta, benar-benar aneh."

Mendadak Pang Thian-ih angkat pedangnya dan berteriak.

"Tak peduli berapa orang yang datang kemari, kalau sudah mati semua, sisa orang terakhir, dialah majikan harta karun ini."

"Hm, jika kau ingin mampus saat ini juga pasti tiada yang keberatan,"

Kata Siau-hi-ji acuh.

"Tapi apakah kau tidak mati penasaran apabila tempat penyimpanan harta karun itu belum pernah kau lihat barang sekejap saja?"

Pang Thian-ih melengak, tanpa terasa pedangnya diturunkan kembali.

"Ucapan Giok-locianpwe memang benar,"

Kata Tio Coan-hay.

"Apa pun juga kita harus melihat buktinya dulu, kalau sudah jelas ditemukan harta karunnya barulah kita saling labrak mati-matian."

"Ehm, mendingan pandangan Congpiauthau kita ini,"

Ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. Lalu ia mendahului melangkah ke dalam gua, tapi baru saja beberapa langkah, tiba-tiba ia menoleh dan berkata kepada Tio Coan-hay.

"Eh, tolong periksakan apakah di dalam baju Pek-coa-sin-kun itu terdapat barang apa-apa."

Benar juga, dari saku baju Pek-coa-sin-kun ditemukan tiga buah kotak kecil buatan kayu cendana.

Bentuk tiga kotak itu serupa, cuma masing-masing ditempeli secarik kertas kecil, yang satu tertulis "Bi-hun" (bius), yang kedua "Kay-tok" (penawar racun) dan yang ketiga jelas tertulis "Coaliang" (makanan ular).

Sungguh girang Siau-hi-ji tak terkatakan setelah menerima kotak-kotak itu, hampir saja ia berjingkrak kegirangan.

Ia tahu dengan kotak makanan ular itu pasti dapat memancing pergi semua ular yang bersarang di tubuhnya itu.

Tapi setelah ia pikir, ia ambil keputusan untuk sementara takkan mengutik-ngutik kawanan ular itu, maka kotak itu hanya di masukkannya ke dalam baju saja.

Rupanya tiba-tiba ia temukan suatu resep mujarab untuk menggertak orang, yaitu dengan menggunakan ular-ular hijau itu.

Pada saat ini, detik ini, dia memang perlu main gertak pada beberapa orang itu.

***** Gua itu ternyata sangat dalam, bahkan berlekuk-lekuk dengan hawa dingin menyeramkan.

Siau-hi-ji berjalan paling depan diikuti Tio Coan-hay yang mengangkat obor, Liu-Giok-ju sengaja membiarkan Pang Thian-ih berjalan di depan.

Tapi orang she Pang itu tak gentar, dengan pedang terhunus ia terus mengintil di belakang Tio Coan-hay.

Tidak lama, tiba-tiba gua itu meluas, suasana menjadi terang dengan cahaya beraneka warna, banyak batu-batu berwarna aneh memenuhi dinding gua.

Di situ tertancap dua obor besar dan di bawah cahaya obor terlihat ada lima orang, yang tiga berdiri dan dua lagi duduk bersila berhadapan, empat tangan mereka saling menempel, kiranya sedang mengadu tenaga dalam.

Kedua orang yang bertanding itu seorang adalah Hwesio berjubah dan yang lain seorang tua kurus kering.

Rupanya kedua orang sudah cukup lama mengadu tenaga, biji mata keduanya tampak melotot dan butiran keringat memenuhi dahi masing-masing.

Ketiga orang yang berdiri di samping pun tampak prihatin dan tegang.

Meski Siau-hi-ji berempat sudah mendekati mereka, tapi ketiga orang itu seperti tidak ambil pusing.

Waktu Siau-hi-ji menoleh, dilihatnya air muka Tio Coan-hay, Liu Giok-ju dan Pang Thian-ih sama berubah pucat, agaknya mereka kenal kelima orang ini, bahkan pasti merasa jeri kepada mereka.

Tampaknya baik ilmu silat maupun nama kelima orang itu pasti jauh di atas Tio Coan-hay bertiga.

"Aneh, mengapa kelima makhluk aneh ini pun datang ke sini?"

Demikian Tio Coan-hay bergumam sendiri.

"Seorang kalau dijuluki makhluk aneh, rasanya pasti cukup terkenal,"

Ujar Siau-hi-ji.

"Bukan cuma terkenal, bahkan disegani,"

Tukas Tio Coan-hay.

"Pernahkah Cianpwe mendengar Eng-jiau-kang keluarga Ong di daerah Hwaylam? Ilmu cakar elang sakti mereka ini sudah sangat terkenal di dunia Kangouw sejak 70 tahun yang lampau."

"Ya, pernah kudengar,"

Kata Siau-hi-ji.

"Orang tua kurus kecil itulah tokoh utama Eng-jiau-bun sekarang,"

Tutur pula Tio Coan-hay.

"Namanya Ong It-jiau berjuluk 'Si-jin-ji-keh' (memandang orang seperti ayam)."

"Si-jin-ji-keh? Sungguh aneh, terhitung nama apakah ini?"

Kata Siau-hi-ji.

"Dia sendiri yang memilih nama begitu,"

Kata Tio Coan-hay dengan menyengir.

"Artinya, tidak peduli siapa pun juga dalam pandangannya tidak lebih hanya seperti anak ayam belaka. Elang menyambar anak ayam biasanya kan cuma sekali cengkeram saja?"

"Hm, aneh sekali namanya, besar amat nadanya ...."

Jengek Siau-hi-ji.

Waktu ia berpaling ke arah Hwesio jubah kuning, dilihatnya tubuh paderi itu sangat kekar, sama-sama duduk, tapi satu kepala lebih tinggi daripada si kakek yang bernama Ong It-jiau alias Si-jin-ji-keh.

Kini keempat tangan kedua orang itu saling menempel sehingga Ong It-jiau sendiri mirip anak ayam di bawah cakar si elang.

Siau-hi-ji menjadi geli, ia coba tanya Tio Coan-hay dengan perlahan.

"Menurut kau siapa di antara kedua orang ini yang lebih mirip anak ayam?"

Tio Coan-hay merasa geli juga, tapi tidak berani tertawa sehingga lebih tepat dikatakan menyengir. Dia berdehem untuk menutupi rasa kikuknya itu, lalu berkata.

"Paderi jubah kuning ini adalah Ui-keh Taysu (pendeta agung ayam kuning) dari Keh-bing-si di Ngo-tay-san."

Siau-hi-ji bergelak tertawa saking gelinya, katanya.

"Yang mirip anak ayam justru menganggap dirinya elang, yang menyerupai elang justru bernama ayam. Tampaknya kedua orang ini memang dilahirkan untuk menjadi musuh satu sama lain. Entah mereka ...."

"Tutup mulut?"

Mendadak seorang membentak.

Suaranya tidak terlalu keras, tapi terasa memekak telinga.

Kiranya yang membentak adalah salah seorang kakek berbaju biru yang berdiri di samping itu, dia membentak tanpa menoleh, perhatiannya terarah kepada Ong It-jiau dan Ui-keh Taysu yang sedang mengadu tenaga dalam.

"Orang macam apa pula bocah ini?"

Ucap Siau-hi-ji dengan lagak jagoan. Muka Tio Coan-hay menjadi pucat, ia pandang si kakek jubah biru dan memandang pula ular yang memenuhi tubuh Siau-hi-ji, akhirnya dia berkata dengan suara tertahan.

"Tuan inilah It-ho-kay-san (sekali bersuara menggugurkan gunung) Siau-hun Kisu yang terkenal dengan Khikangnya, dia adalah sahabat karib Ui-keh Taysu, boleh dikatakan sehidup semati persahabatan antara mereka berdua."

"Jika sahabat sehidup semati, mengapa dia tidak turun tangan membantu si Hwesio ayam kuning itu?"

Ujar Siau-hi-ji. Tio Coan-hay berbisik pula terlebih lirih.

"Dengan sendirinya Ong It-jiau juga tidak datang sendirian, kedua orang yang berdiri di belakangnya itu, yang seorang adalah tokoh Thian-lam-kiam-pay dan terkenal dengan ilmu pukulan serta ilmu pedangnya, seorang lagi adalah Khu Jing-po, Khujiya yang mengepalai keluarga Khu dari Ciatkang dengan ilmu tombaknya yang terkenal. Keluarga Khu dan keluarga Ong adalah sahabat turun temurun, dengan sendirinya mereka pun siap membela Ong It-jiau, cuma ... cuma Ui-keh Taysu dan Ong It-jiau tentu juga jaga gengsi dan tidak suka dibantu."

"Gengsi kentut anjing,"

Jengek Siau-hi-ji.

"Kalau Ong It-jiau datang sendirian, mustahil kalau si tua Siau-hun tidak mengerubutnya ...."

Habis ini mendadak ia melangkah maju dan memberi salam kepada Khu Jing-po serta menegur.

"He, apakah Khu-jite (adik kedua) selama ini baik-baik saja?"

Wajah Khu Jing-po itu putih bersih, dia sedang mengawasi pertarungan temannya dengan prihatin. Tapi demi nampak bentuk Siau-hi-ji yang aneh ini, mau tak mau ia pun melengak, jawabnya.

"Jite siapa? Dari mana kau kenal diriku dan cara bagaimana kau pun datang ke sini?"

"Haha, kau tidak kenal aku, tapi kukenal kau,"

Kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Sekali ini kubawa serta Tio Coan-hay, Pang Thian-ih dan nona Liu, si golok bunga salju, justru kami hendak membantumu, silakan kau dan saudara dari Thian-lam-kiam-pay itu turun tangan terhadap si tua Siau-hun, kutanggung mengantar si Hwesio ayam kuning pergi ke langit barat (artinya mati)."

Kejut dan heran pula Khu Jing-po, selagi bingung, tampak air muka Siau-hun Kisu berubah hebat, mendadak ia bersuit panjang nyaring sehingga api obor sampai tergoyang-goyang.

Dengan sendirinya perhatian Ong It-jiau dan Ui-keh Taysu juga terpengaruh oleh suara suitan keras itu, empat tangan yang tadinya saling menempel itu bergetar lepas seketika.

Kelima orang itu adalah tokoh-tokoh yang sudah berpengalaman luas dan berkepandaian tinggi, dengan sendirinya reaksi mereka pun sangat cepat.

Serentak senjata mereka sudah tergenggam di tangan, Ui-keh Taysu melompat bangun sehingga mirip gumpalan awan kuning yang mengambang di udara.

Terdengar Siau-hun Kisu membentak.

"Dengan nama kebesaran keluarga Ong dan Khu, apakah kalian juga ingin main kerubut?"

Tiba-tiba Siau-hi-ji bergelak tertawa dan menimbrung.

"Katanya kalian berlima adalah tokoh-tokoh luar biasa, padahal kalian juga tiada bedanya dengan kawanan bandit, kedua pihak sama-sama tidak dapat mempercayai pihak lain, masing-masing sama bermaksud busuk."

Dengan murka Siau-hun Kisu membentak.

"Siapa kau, sebenarnya apa kehendakmu?"

"Jangan khawatir,"

Jawab Siau-hi-ji.

"Aku takkan membela pihak mana pun, aku cuma tidak tega melihat kalian saling bunuh sebelum menemukan harta karunnya, bukankah kalian akan mati konyol dan sia-sia belaka?"

"Sesungguhnya siapa kau?"

Tegur Ong It-jiau dengan sorot mata tajam.

"Kau tidak kenal aku?"

Jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Tanyakan saja padanya."

Dia menuding Tio Coan-hay, maka lima pasang mata serentak menatap tajam ke arah orang she Tio itu. Keder juga Tio Coan-hay, dengan menunduk ia berkata dengan gelagapan.

"Inilah Giok ... Giok-locianpwe, si raja diraja, yang dipertuan dari segenap ilmu pedang, yang diagungkan oleh semua ular, mengguncang bumi dan menggetar langit tanpa tandingan, Giok-ong-cu, Giok-locianpwe ...."

"Hehe, walaupun kelompatan beberapa kalimat, tapi boleh juga,"

Ucap Siauhi-ji sambil manggut-manggut.

"Nah, kalau kalian tidak pernah dengar namaku ini, maka berarti kalian yang cetek pengalaman dan cupet pendengaran."

"Hm, bocah ingusan juga pakai serentetan nama begitu?"

Damprat Ong It-jiau.

"Tapi ... tapi Lwekang Giok-locianpwe ini sudah mencapai puncaknya,"

Tutur Tio Coan-hay.

"Kiam-leng-sam-kiam, Hwe-pian-hok, Niau-thau-eng dan Pek-coa-sin-kun, semuanya binasa di tangan Giok-locianpwe ini."

Sudah tentu keterangan ini membuat gempar Ong It-jiau berlima. Dengan sorot mata tajam Siau-hun Kisu membentak Tio Coan-hay.

"Orang-orang itu mati di tangannya, dari mana kau tahu? Apakah kau menyaksikan sendiri?"

"Aku ... aku, sudah tentu kusaksikan sendiri, mayat mereka saat ini pun masih menggeletak di luar sana,"

Jawab Tio Coan-hay.

Meski dia tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tapi dalam hati dia sudah percaya penuh.

Apalagi dalam keadaan demikian, ibarat orang sudah menunggang harimau dan sukar lagi turun, terpaksa ia harus menyatakannya secara tegas.

Seketika Ong It-jiau dan Khu Jing-po berlima saling pandang memandang, bila kemudian mereka berpaling ke arah Siau-hi-ji, maka sorot mata dan sikap mereka sudah jauh berbeda daripada tadi.

Maklumlah, meski kelima orang ini tidak memandang sebelah mata akan ilmu silat Tio Coan-hay, tapi terhadap keterangan orang she Tio itu mereka tak berani meremehkannya.

Nama Congpiauthau gabungan tujuh belas perusahaan pengawalan dari propinsi Holam dan Hopak betapa pun juga berbobot, kalau dibawa ke rumah gadai sedikitnya laku berapa tahil perak.

Dengan berseri-seri Siau-hi-ji mengerling semua orang, lalu berkata pula dengan tersenyum.

"Harta karun ini ada beberapa buah peta, apakah kalian tidak merasa heran atas kejadian ini dan tidak ingin mencari tahu sebab musababnya?"

Jika uraian Siau-hi-ji ini diucapkan tadi mungkin takkan diperhatikan dan direnungkan oleh orang-orang itu, kini kedudukannya sudah lain dalam pandangan mereka, dengan sendirinya bobot perkataannya juga sudah berbeda.

Segera pikiran Ong It-jiau dan lain-lain bekerja cepat, mereka pun merasa urusan ini rada ganjil dan mencurigakan.

Waktu Siau-hi-ji menengadah, terlihat di atas gua ada sebuah lubang angin, kelihatan bintang-bintang di langit, bahkan cahaya bulan juga menembus masuk dari situ.

"Sudah tiba saatnya!"

Serentak orang-orang itu berseru.

Siau-hun Kisu bersuit, Ong It-jiau terus ayun tangannya, api obor segera padam, hanya sinar bulan saja yang tepat menyoroti sebuah tonggak batu.

Rupanya tempat yang tersorot cahaya bulan itulah tepat jalan masuk ke tempat penyimpanan harta karun.

Ong It-jiau lantas mendahului melompat ke tonggak batu itu, sudah tentu yang lain tidak mau ketinggalan, beramai-ramai mereka memburu maju.

Tonggak batu itu memang benar dapat digeser, ketika obor dinyalakan pula, tertampaklah mulut lorong di bawah tanah yang penuh rahasia ini, belasan undak-undakan batu tampak menjurus ke bawah.

Segera Ong It-jiau mendahului turun ke situ, disusul oleh Ui-keh Taysu, Khu Jing-po dan lain-lain, satu mengawasi yang lain, khawatir ketinggalan rezeki.

Semuanya dengan perasaan tegang sehingga napas pun sama tersengal seakan-akan menghadapi musuh di medan perang.

Siau-hi-ji berada paling belakang, wajahnya masih tersenyum simpul, namun perasaannya rada tegang dan juga bersemangat, betapa pun rahasia di tempat ini belum jelas baginya.

Sekonyong-konyong terdengar Ong It jui bersuara "he", menyusul Ui-keh Taysu juga bersuara sama.

Kedua orang ini terhitung tokoh suatu aliran tersendiri, kalau tidak melihat sesuatu yang aneh luar biasa, rasanya tidak mungkin mengeluarkan suara keheranan begitu.

Dengan sendirinya orang-orang yang mengintil di belakang mereka pun memburu ke sana, maka sejenak kemudian Sun Thiam-lan, Tio Coan-hay dan lain-lain juga sama bersuara heran, semuanya berdiri terkesima dan tak dapat bersuara pula.

Kiranya di ujung lorong sana tiada terdapat harta karun apa segala, yang ada cuma beberapa buah peti mati.

Peti mati bercat hitam, di dalam gua yang remang-remang oleh cahaya obor tampaknya menjadi sangat seram dan misterius.

Di depan setiap peti mati itu ada tempat sembahyang, yaitu meja kecil dengan papan tanda pengenal dihiasi kelambu kuning.

Angin yang meniup masuk melalui lorong itu membuat kelambu kuning itu berkibar sehingga menambah seram suasananya.

Tanpa terasa Liu Giok-ju bergidik dan merapatkan tubuhnya ke dada Tio Coan-hay.

Diam-diam ia menghitung, peti mati itu seluruhnya ada tiga belas buah.

Karena berada paling belakang, ketika Siau-hi-ji sampai di tempat, sementara itu obor yang dibawa Tio Coan-hay dan Pang Thian-ih sudah padam.

Di tengah ruangan batu yang luas itu hanya terlihat kelap-kelip sepasang lilin kecil yang menyala di meja sembahyang pada peti mati paling tengah, cahaya lilin yang redup itu menyinari sebuah Lengpay (papan pengenal orang mati di meja sembahyang) yang bertuliskan.

"Tempat abu para Cosu turun temurun" . Di atas tulisan itu lamat-lamat ada pula dua huruf, tapi tertutup oleh kelambu hiasan sehingga tidak jelas terbaca. Diam-diam Siau-hi-ji menarik napas dingin, katanya.

"Tempat apakah ini?"

"Ditaksir dari tempatnya, di sini adalah tengah-tengah belakang gunung Go-bi,"

Demikian Khu Jing-po berkata.

"Konon di belakang Go-bi-san ada suatu tempat terlarang, yaitu tempat pemakaman para ketua Go-bi-pay turun temurun. Jangan-jangan tempat inilah tempat terlarang yang dimaksud itu?"

Ui-keh Taysu mengernyitkan kening, katanya.

"Jika betul tempat ini, lebih baik kita lekas keluar saja!"

"Benar, salah memasuki tempat larangan orang lain adalah pantangan besar kaum persilatan kita,"

Ucap Siau-hun Kisu. Sinar mata Ong It-jiau tampak gemerlap, selanya.

"Jika demikian, silakan kalian lekas keluar saja."

Ui-keh Taysu tampak ragu-ragu, sejenak kemudian ia jadi putar tubuh hendak keluar.

"Nanti dulu, Taysu"

Tiba-tiba Pang Thian-ih berseru.

"Janganlah kita kena tipu orang."

"Tipu? Tertipu bagaimana?"

Tanya Ui-keh Taysu.

"Coba pikirkan, adakah tempat penyimpanan harta pusaka di dunia ini yang lebih baik daripada peti mati?"

Tanya Pang Thian-ih.

Tergerak juga hati Ui-keh Taysu, serentak Siau-hun Kisu dan Ong It-jiau terus menyerbu ke samping peti mati paling tengah itu.

Tak terduga pada saat.

itu juga, dinding batu sekeliling ruangan itu serentak terbuka delapan buah pintu, delapan jalur cahaya lampu yang kuat terus menyorot tiba sehingga semua orang yang hadir di situ terlihat jelas.

Karena sorot lampu yang mendadak itu, seketika semua mematung tak berani bergerak, bahkan mata pun silau dan sukar terpentang.

Samar-samar cuma kelihatan di balik sinar lampu sana banyak bayangan orang serta berkelebatnya sinar pedang, tapi tak jelas siapa-siapa mereka itu.

Suara seorang yang berat parau lantas berjangkit di balik cahaya lampu itu.

"Kawanan bangsat dari mana, berani sembarangan menerobos ke tempat suci kami?"

Menyusul seorang lagi membentak dengan bengis.

"Menerobos ke tempat suci yang terlarang, hukumannya mati, buat apa tanya asal-usul mereka?!"

Suara orang terakhir ini diucapkan dengan perlahan-lahan, tapi menimbulkan semacam pengaruh yang membikin jeri orang. Segera Ui-keh Taysu berseru.

"Apakah di situ Sin-sik Totiang adanya?"

Orang tadi hanya mendengus saja. Lalu Ui-keh Taysu berkata pula.

"Apakah Totiang sudah lupa kepada Ui-keh Taysu dari Ngo-tay-san?"

"Di tempat suci ini tidak ada persoalan kenalan lama segala. Ciaat!"

Jawab suara itu dan begitu suara "ciaat"

Diucapkan, serentak berpuluh larik sinar pedang menyambar dari balik cahaya lampu sana dan secepat kilat menyerang Ui-keh Taysu, Ong It-jiau dan lain-lain, semuanya mengincar tempat mematikan seperti tenggorokan dan sebagainya.

Siau-hi-ji juga menjadi sasaran serangan, dia tidak berani berkelit walaupun sinar pedang musuh menyambar tiba.

Maklumlah, dia tidak berani sembarangan bergerak khawatir digigit ular.

Namun pedang musuh tidak kenal ampun dan tetap menyambar ke arahnya.

Dalam keadaan kepepet, saking cemasnya ia berbalik menengadah dan bergelak tertawa.

Karena tertawanya itu, kawanan ular yang melingkar di tubuhnya sama menegak leher dan menjulurkan lidah.

Ular memenuhi tubuh seorang anak tanggung, bentuknya yang luar biasa ini tentu saja mengagetkan semua orang.

Tanpa terasa dua pedang yang menusuk ke arahnya terhenti seketika.

Maka tertampaklah dua bayangan orang, kiranya dua Tojin berjubah ungu dan berjenggot.

Tojin sebelah kiri lantas membentak.

"He, kau bocah ini menertawakan apa?"

"Aku mentertawai Go-bi-pay kalian yang sok anggap pihak sendiri paling hebat, tak tahunya kalian hanya kawanan manusia linglung yang tidak dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk,"

Kata Siau-hi-ji.

"Coba jawab, seumpama betul kami melanggar tempat suci kalian yang dilarang didatangi orang luar, tapi cara bagaimana kalian mendapat tahu akan kedatangan kami ini?"

Tojin itu mendengus, jawabnya.

"Memangnya kau kira Go-bi-san adalah tempat yang boleh didatangi orang sesukanya? Ada orang menyusup ke belakang gunung masakah Go-bi-pay kami tidak tahu?"

"Jika kedatangan kami ini kepergok secara mendadak, maka penjagaan kalian yang ketat ini harus dipuji. Tapi jelas kalian memang sudah siap siaga di sini, memangnya Go-bi-pay kalian mempunyai ilmu nujum yang bisa tahu apa yang bakal terjadi di sini?"

"Soal ini bukan urusanmu,"

Bentak Tojin itu dengan bengis.

"Sudah tentu urusanku,"

Kata Siau-hi-ji.

"Soalnya sebelum kedatangan kami tentu ada orang memberi laporan rahasia kepada pihak kalian, betul tidak? Hm, apakah kalian tidak perlu berpikir mendalam dari mana orang itu mengetahui akan kedatangan kami ini?"

"Betul,"

Teriak Tio Coan-hay dari kejauhan sana.

"Semua itu adalah perangkap yang sengaja diatur oleh orang itu agar pihak kalian saling labrak dengan kami ...."

Belum habis ucapannya, mendadak ia menjerit, rupanya karena sedikit meleng saja ia telah dilukai oleh orang Go-bi-pay.

"Perangkap apa? Mana ada perangkap apa segala?"

Ujar si Tojin tadi sambil mengeryitkan kening. Siau-hi-ji berteriak.

"Asalkan kalian berhenti menyerang, segera dapat kubongkar perangkap ini ...."

Tapi seorang lantas berseru.

"Jangan percaya ocehannya, setan cilik itu sengaja main ulur waktu belaka."

"Betul, bekuk dia dulu baru bicara lagi nanti!"

Tojin tadi pun membentak.

Siau-hi-ji menyadari bila pihak lawan mulai turun tangan, maka jangan harap dirinya dapat lolos.

Diam-diam ia menyesal tadi tidak membersihkan kawanan ular itu dengan makanan ular dalam kotak itu, tapi sengaja membiarkan kawanan ular itu untuk menggertak orang segala, kini jadinya bikin susah dirinya sendiri.

Dalam keadaan kepepet, mendadak ia membentak, berbareng ketiga kotak kecil yang dipegangnya itu disambitkan ke arah kedua Tojin di depannya.

Tapi sekali pedang mereka bekerja, kontan ketiga kotak itu terbelah menjadi enam.

Obat bius, obat penawar bisa dan makanan ular jatuh berhamburan.

Dengan sendirinya daya serangan pedang kedua Tojin itu rada merandek, tapi dalam sekejap saja mereka lantas menubruk maju pula.

Diam-diam Siau-hi-ji mengeluh dan gegetun, katanya sambil menyeringai.

"Di waktu ingin mencelakai orang berbalik lupa akan kemungkinan membikin susah dirinya sendiri ...."

Belum lagi pedang lawan menyambar tiba, sekonyong-konyong terdengar suara mendesing belasan kali, begitu keras dan cepat suara mendesing itu, hanya sekejap saja api lilin yang redup serta cahaya lampu yang terang tadi sama padam seluruhnya.

Selagi Siau-hi-ji terkejut, tiba-tiba sebuah tangan telah memegangi tangannya disertai suara bisikan di telinganya.

"Ssst, jangan bersuara, ikutlah padaku!"

Siau-hi-ji merasa tangan itu dingin bagai es, tapi terasa pula licin dan lunak sekali, bahkan suara itu pun lembut tak terperikan dan rasanya sudah sangat dikenalnya.

Tanpa terasa timbul semacam rasa hangat dalam hatinya, dengan suara lirih ia pun bertanya.

"Kau Thi Sim-lan?"

"Ehm,"

Jawab singkat suara itu dengan lirih. Sambil ikut berjalan dengan nona itu, tanpa terasa ia menghela napas gegetun dan berkata.

"Baru sekarang kutahu kepandaianmu menggunakan Amgi (senjata rahasia) ternyata selihai ini, hanya sekejap saja dapat memadamkan belasan lampu, sungguh jauh lebih mahir daripadaku."

"Yang memadamkan lampu itu bukan diriku,"

Kata Thi Sim-lan.

"Bukan dirimu?"

Siau-hi-ji melengak. Sesudah lampu padam tadi, untuk sejenak suasana menjadi sunyi, tapi segera berjangkit suara bentakan dan jeritan, berpuluh orang saling membentak dalam kegelapan.

"He, siapa itu?"

"Siapa lagi yang menerobos kemari?"

"Nyalakan lampu, lekas!"

Dan belum sempat Thi Sim-lan menjawab pertanyaan Siau-hi-ji tadi, tahu-tahu cahaya lampu sudah terang benderang pula, kelihatan para Tosu Go-bi-pay sama mepet dinding sedangkan rombongan Ong It-jiau juga berkumpul di suatu sudut.

Di bawah sinar lampu itu tampak di ruangan situ sudah bertambah pula dua orang, pakaian mereka seputih salju, rambut hitam legam, kulit badan mereka ternyata lebih putih bersih daripada bajunya, biji mata mereka pun lebih hitam daripada rambutnya.

Semula Siau-hi-ji mengira orang yang mampu memadamkan belasan lampu sekaligus dalam sekejap itu tentulah seorang tokoh yang lihai, siapa tahu yang muncul adalah dua gadis jelita yang tampaknya lemah gemulai.

Yang berada di ruangan batu belakang gunung Go-bi saat ini adalah tokoh terkenal di dunia Kangouw, apalagi kawanan Tosu Go-bi-pay, semuanya adalah jago silat pilihan.

Tapi kedua gadis berbaju putih ini ternyata sama sekali tidak menaruh perhatian kepada siapa pun, sorot mata mereka tampak angkuh dan acuh tak acuh terhadap orang lain.

Sikap angkuh pembawaan dan tidak dibuat-buat dengan sendirinya mempunyai daya pengaruh tersendiri.

Meski cahaya lampu kini sudah terang benderang lagi, suasana di dalam ruangan malah berubah sunyi senyap dan mencekam.

Tiba-tiba Siau-hun Kisu mendengus.

"Hm, tempat Go-bi-pay yang terlarang ini ternyata sembarangan diterobos oleh orang perempuan dan anak murid Go-bi-pay hanya tinggal diam saja, sungguh kejadian aneh yang belum pernah terdengar di dunia Kangouw."

Dia bicara sambil melirik Sin-sik Totiang, jelas dia berharap tokoh utama Go-bi-pay itu dapat segera bertindak.

Wajah Sin-sik Totiang tampak prihatin, para anak murid Go-bi-pay sudah mulai berisik mengunjuk gusar.

Tapi kedua gadis jelita itu tetap tenang-tenang saja, yang sebelah kiri berperawakan ramping, raut muka potongan daun sirih, alisnya lentik di antara sikapnya yang dingin itu kelihatan cantik yang sukar dilukiskan.

Sedang gadis sebelah kanan bertubuh kecil, wajah bulat dengan mata yang besar, hidung mancung, tapi pada ujung hidung ada beberapa bintik jerawat, namun begitu jadi menambah keelokannya.

Dalam pada itu mata si gadis wajah bulat terbelalak semakin lebar dan berkata pada kawannya.

"Kakak Ho-loh, kau dengar tidak, katanya belakang gunung Go-bi ini seharusnya tidak boleh didatangi kita."

Gadis lain yang dipanggil dengan nama Ho-loh itu mendengus.

"Hm, tempat apa pun di dunia ini, kalau kita ingin datang boleh datang, mau pergi boleh pergi, siapa yang dapat merintangi kita dan siapa pula yang berani merintangi kita?"

Sin-sik Totiang tak tahan lagi, segera ia membentak bengis.

"Anak perempuan dari manakah kalian, besar amat nada ucapanmu!"

Karena bentakan pemimpinnya, anak murid Go-bi-pay tidak sabar pula, serentak dua larik sinar pedang menggunting ke arah kedua gadis jelita itu.

Tapi melirik saja tidak kedua nona itu, ketika sinar pedang sudah mendekat barulah tangan halus salah seorang itu meraih perlahan terus didorong ke samping.

Tiada seorang pun yang tahu persis bagaimana gerak tangan si gadis, tahu-tahu kedua pedang yang menyambar tiba itu ditolak balik sehingga pedang sebelah kiri kena menusuk pundak kanan murid Go-bi-pay dan pedang lain menabas putus secomot rambut Tojin Go-bi-pay yang lain.

Keruan kedua Tosu Go-bi-pay kaget setengah mati, rontok nyali mereka, seketika mereka berdiri mematung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Ong It-jiau, Ui-keh Taysu dan lain-lain juga melengak kaget, begitu pula tak terkecuali Sin-sik Totiang, segera ia melompat maju dan menegur.

"Apakah ... apakah ini gaya 'Ih-hoa-ciap-giok' dari Ih-hoa-kiong?"

"Hm, masih boleh juga pandanganmu,"

Jawab Ho-loh tawar. Si gadis muka bulat juga lantas menjengek.

"Hm, sekarang tentu kau tahu asal usul kami, apakah kau masih anggap nada ucapan kami tadi terlalu besar?"

Dengan wajah pucat Sin-sik Totiang bertanya pula.

"Selamanya Go-bi-pay dan Ih-hoa-kiong tiada permusuhan, untuk apakah kedatangan nona?"

"Kami juga tidak ingin apa-apa, hanya minta kau memperlihatkan harta karun tinggalan Yan Lam-thian,"

Kata Ho-loh.

"Sungguh kami hanya ingin melihatnya saja."

"Harta karun tinggalan Yan Lam-thian apa?"

Sin-sik menegas dengan melengak.

"Ah, pakai berlagak pilon segala,"

Jengek si gadis muka bulat.

"Pokoknya harus kau keluarkan, kalau tidak ... Hmk!"

"Go-bi-pay kami sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan Yan Lam-thian, cara bagaimana harta karunnya bisa tersimpan di sini?"

Kata Sin-sik dengan bingung. Mendadak sorot matanya memancar ke sekelilingnya, ia menyeringai, lalu menyambung.

"Ya, tahulah aku sekarang, rupanya kedatangan kalian juga ingin mencari harta karun ini?"

Ong It-jiau, Ui-keh Taysu dan lain-lain sama bungkam dan tak berani menanggapi, bahwa orang Ih-hoa-kiong telah muncul pula di dunia Kangouw, apalagi yang dapat mereka ucapkan.

Dengan suara serak Sin-sik Totiang berkata pula.

"Semua ini pasti suatu perangkap, kalian dan kami adalah orang-orang yang tertipu, jika kita saling labrak sendiri, inilah yang diharapkan jahanam yang mengatur perangkap keji itu."

Siau-hi-ji sudah mundur ke samping sana, segera ia menanggapi dengan mendengus.

"Hm, tadi sudah kukatakan begitu, kau justru tidak percaya, sekarang kau sendiri yang bilang demikian, ini namanya menampar mulutnya sendiri."

Dalam pada itu si gadis bermuka bulat berkata pula.

"Jadi maksudmu di sini tiada terdapat harta karun tinggalan Yan Lam-thian?"

"Dengar saja belum pernah,"

Jawab Sin-sik gegetun.

"Enci Ho-loh, kau percaya tidak pada ucapannya?"

Tanya si muka bulat.

"Selamanya aku tidak percaya kepada omongan orang lain,"

Jawab Ho-loh hambar.

"Ucapan siapa pun aku tetap tidak percaya."

"Jika nona tidak percaya, apa boleh buat,"

Ujar Sin-sik Totiang.

"Siapa bilang tidak boleh buat? Kami ingin menggeledah!"

Jengek si muka bulat.

"Menggeledah?"

Sin-sik menegas, air mukanya berubah hebat.

"Benar, geledah!"

Kata si muka bulat.

"Kulihat beberapa peti mati ini adalah tempat penimbunan harta karun yang paling bagus, maka harus kau buka dan perlihatkan kepada kami."

Sungguh tidak kepalang murka para murid Go-bi-pay, juga Sin-sik Totiang, rambut dan jenggotnya seakan-akan berdiri semua. Tapi sebisanya ia tetap bersabar, katanya dengan suara berat.

"Isi peti itu adalah jenazah leluhur Go-bi-pay kami turun temurun, siapa pun di dunia ini dilarang membukanya."

"Di sinilah kelihatan belangnya,"

Jengek si gadis muka bulat.

"Kalau betul isi peti itu adalah orang mati, lalu apa jeleknya diperlihatkan kepada kami, memangnya hanya dilihat saja akan kehilangan satu kerat tulang belulangnya? Bila keberatan diperlihatkan kepada kami, itu tandanya kau menyembunyikan sesuatu."

"Tidak bisa,"

Akhirnya Sin-sik Totiang membentak dengan murka.

"Siapa yang ingin membuka peti, dia harus melangkahi dulu mayat anak murid Go-bi-pay."

"Untuk itu makan waktu, kami tak sabar menunggu,"

Ucap si gadis muka bulat.

"Ih-hoa-kiong terlalu menghina orang, biarlah Go-bi-pay mengadu jiwa dengan kalian!"

Bentak Sin-sik Totiang mendadak, berbareng pedang lantas dilolos, sekali sinar pedang berkelebat, kontan menusuk tenggorokan nona itu.

Serangan dalam keadaan murka, dengan sendirinya luar biasa lihainya.

Betapa pun kedua gadis berbaju putih itu belum cukup sempurna kepandaian mereka, melihat serangan yang sangat lihai ini mereka tidak berani menggunakan gaya "Ih-hoa-ciap-giok"

Untuk menangkisnya.

Cepat mereka menggeser langkah dan berkelit ke samping.

Dalam pada itu berpuluh pedang anak murid Go-bi-pay juga sudah bergerak, biarpun kedua nona itu memiliki kepandaian bagus juga sukar melayani pedang yang mengamuk itu.

Mendadak Thi Sim-lan melepaskan pegangan tangan Siau-hi-ji, katanya.

"Kau tunggu di sini dan jangan bergerak, aku akan ...."

"Kau mau apa?"

Siau-hi-ji terbelalak.

"Waktu aku kesasar di pegunungan sunyi, mereka yang menolong aku, ketika kau terancam bahaya juga berkat pertolongan mereka,"

Tutur Thi Sim-lan.

"Sekarang mereka mengalami kesulitan, mana boleh kutinggal diam tanpa memberi bantuan?"

"Biarpun mengalami kesulitan, masakah orang Ih-hoa-kiong memerlukan bantuan orang luar?"

Ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Betul ucapanmu!"

Tiba-tiba seorang menyambung perkataan Siau-hi-ji itu.

Suaranya nyaring bening dan singkat, baru saja suara itu terdengar, tahu-tahu sesosok bayangan sudah melayang lewat di samping Siau-hi-ji.

Padahal keadaan terang benderang, namun Siau-hi-ji tidak dapat melihat jelas orang itu lelaki atau perempuan dan bagaimana bentuknya.

Padahal mata Siau-hi-ji sangat awas, tapi kini warna baju orang pun tak terlihat jelas.

Sungguh selama hidupnya belum pernah melihat gerakan secepat itu, lebih-lebih tak pernah terpikir di dunia ini ada orang secepat dan segesit itu.

Dalam sekejap saja terdengar suara mendering beradunya pedang, lalu berpuluh pedang sama jatuh ke lantai.

Orang lain sama sekali tidak tahu cara bagaimana pedang sebanyak itu terlepas dari pegangan yang empunya, hanya anak murid Go-bi-pay sendiri yang tahu bagaimana terjadinya, mereka merasa sekonyong-konyong suatu arus tenaga mahabesar membetot pedangnya untuk dibenturkan kepada kawannya, karena tenaga benturan yang kuat luar biasa itu, tangan mereka terasa linu dan pedang terlepas dari cekalan.

Semuanya menjerit kaget sambil memegangi pergelangan tangan masing-masing, pikiran mereka pun sama bingung karena tidak tahu persis bagaimana bisa terjadi begitu.

Pedang Sin-sik Totiang sendiri tidak sampai terlepas, tapi ia pun kaget dan cepat melompat mundur, ia coba mengawasi sekelilingnya, kecuali kedua nona baju putih tadi, mana ada bayangan orang lain?

Namun di bawah cahaya lampu yang terang, berpuluh pedang jelas berserakan di lantai.

Sin-sik Totiang menengadah dan menghela napas panjang, serunya penuh penyesalan.

"Sudahlah!"

Mendadak pedang terus menggorok leher sendiri.

Rupanya ia menjadi putus asa, Go-bi-pay yang termasyhur dan malang melintang di dunia Kangouw kini ternyata tidak mampu melawan ilmu silat seorang yang tak dikenal, jelas runtuhlah nama baik Go-bi-pay, untuk itu ia merasa hanya dapat menembusnya dengan kematian selaku seorang pimpinan.

Tak terduga pada detik yang menentukan itulah, sebuah tangan tiba-tiba terulur dari belakangnya dan perlahan menarik tangannya, sedang tangan yang lain lantas merampas pedangnya.

Padahal pedang Sin-sik Totiang ini boleh dikatakan sehidup semati dengan dia dan entah sudah mengalami betapa banyak pertempuran besar, pedang itu belum pernah berpisah dengan dia.

Tapi entah mengapa kini pedang dapat dirampas orang dengan mudah saja.

Keruan Sin-sik Totiang terkejut dan gusar pula.

Tertampak seorang pemuda baju putih melangkah keluar dari belakangnya, kedua tangan mendukung pedang rampasan dan memberi hormat dengan tersenyum, katanya.

"Harap Totiang suka memaafkan kelancanganku, apabila para Totiang kalian tidak mulai menyerang kaum wanita, betapa pun Tecu tidak berani sembarangan turun tangan."

Di bawah cahaya lampu tertampak dengan jelas pemuda ini paling-paling baru berumur 14-15 tahun, tapi ilmu silatnya, gayanya, sama sekali tak pernah terbayang oleh tokoh-tokoh persilatan yang hadir ini.

Baju putih yang dipakai juga kain yang sederhana, tapi sikapnya yang agung berwibawa itu sungguh sukar dibandingi oleh pemuda lain atau pangeran sekalipun.

Sebegitu jauh anak itu baru bicara beberapa patah kata saja, tapi gayanya, santunnya, sampai Swat-hoa-to Liu Giok-ju yang sudah banyak berpengalaman juga terpesona dan mabuk kepayang.

Seketika suasana menjadi sunyi, semua orang terkesima.

Sin-sik Totiang seolah-olah terpengaruh juga oleh gaya memikat anak muda itu sehingga mau tak mau harus bersikap ramah pula walaupun dia sangat murka.

Dengan membalas hormat ia menjawab.

"Apakah saudara ini datang dari Ih-hoa-kiong?"

"Benar, tecu Hoa Bu-koat, datang dari Ih-hoa-kiong,"

Jawab pemuda baju putih.

"Orang Ih-hoa-kiong sudah lama tak berkecimpung di dunia Kangouw sehingga sudah lupa pada adat istiadat, apabila ada sesuatu kesalahan, diharap para sahabat sudi memaafkan."

Cara bicaranya sedemikian sopan, begitu rendah hati, sikapnya itu mirip seorang majikan yang pada dasarnya memang ramah tamah sedang bicara kepada kaum hambanya, meski sikap pihak majikan begitu memang pembawaan, tapi bagi kaum hambanya terasa tidak tenteram di hati.

Walaupun wajahnya senantiasa tersenyum simpul dan bersikap ramah, tapi orang lain tetap mengagungkan dia.

Padahal Sin-sik Totiang, Ui-keh Taysu, Ong It-jiau, Khu Jing-po dan lain-lain hampir semuanya adalah tokoh dari suatu aliran tersendiri, kedudukan cukup terhormat, tapi entah mengapa di hadapan anak muda ini terasa serba salah dan kikuk, ingin bicara, tapi sukar keluar dari mulut.

Dengan suara nyaring Ho-loh lantas berseru.

"Nah, Kongcu kami sudah datang, sekarang peti mati ini boleh dibuka tidak?"

Air muka Sin-sik Toating berubah pula. Tapi sebelum menjawab, tiba-tiba si anak muda yang bernama Hoa Bu-koat itu menyela.

"Kukira tentang harta karun ini pasti omong kosong belaka, Cayhe berharap hadirin jangan mau tertipu oleh muslihat keji orang jahat, marilah kita berkawan saja daripada menjadi lawan, urusan ini mulai sekarang jangan kita ungkit-ungkit lagi."

"Omitohud! Pikiran Kongcu yang mulia sungguh harus dipuji,"

Ucap Ui-keh Taysu.

"Benar,"

Seru Ong It-jiau.

"bila ada yang ingin saling labrak lagi sehingga dijadikan buah tertawaan jahanam yang mengatur tipu muslihat ini, maka dia itu pasti orang tolol."

Serentak Khu Jing-po, Pang Thian-ih dan lain-lain juga menyatakan setuju dan ingin mohon diri.

Sin-sik Totiang memberi hormat kepada Hoa Bu-koat dan mengucapkan terima kasih.

Suasana pertempuran yang tadinya tegang itu hanya berdasarkan beberapa patah-kata Bu-koat Kongcu tadi segera berubah menjadi aman tenteram dan damai.

Kerlingan genit Liu Giok-ju sejak tadi terus melengket pada diri Hoa Bu-koat, Thi Sim-lan juga memandangi anak muda itu dan tanpa terasa tersembul juga senyuman kagum.

"Hmk!"

Mendadak Siau-hi-ji mendengus, lalu berlari keluar lorong bawah tanah itu.

Thi Sim-lan melenggong, setelah ragu-ragu sejenak, akhirnya ia pun ikut berlari keluar.

Sementara itu terdengar Tio Coan-hay sedang berseru.

"Giok-tayhiap, Giok-locianpwe ...."

Ho-loh juga berseru.

"He, nona itu, mengapa engkau juga pergi?"

Sin-sik Totiang memanggil juga.

"Eh, Siausicu itu, tadi banyak menerima petunjukmu, sudilah engkau mampir ke tempat kami."

Pada hakikatnya Siau-hi-ji tidak pedulikan seruan mereka, tanpa menoleh langsung ia lari keluar gua.

Di luar gua masih ada kabut tipis, tapi rembulan sedang memancarkan cahayanya yang indah.

Siau-hi-ji hanya memandang ke depan saja dan berjalan terus tanpa berhenti diikuti Thi Sim-lan.

Kira-kira seminuman teh, akhirnya anak muda itu menemukan sepotong batu besar dan duduklah dia di situ.

Thi Sim-lan menghela napas panjang, katanya.

"Urusan harta karun ternyata berakhir begini, sungguh tak pernah terpikir olehku."

"Memangnya apa yang pernah kau pikir?"

Tanya Siau-hi-ji dengan ketus. Thi Sim-lan melengak, ia menunduk, katanya pula dengan perasaan sedih.

"Aku banyak mengalami siksa derita lantaran peta harta karun yang ternyata tidak bernilai sepeser pun, bahkan jiwaku hampir melayang. Kalau kupikir sekarang sungguh sangat penasaran."

"Adalah pantas penderitaanmu itu,"

Kata Siau-hi-ji. Dengan menggigit bibir dan menunduk Sim-lan berkata.

"Kutahu engkau pasti banyak mengalami kesusahan di Buyung-san-ceng itu, makanya engkau meninggalkan diriku begitu saja, aku tidak menyalahkanmu, cuma engkau ...."

"Cuma apa? Umpama kau menyalahkan aku, lalu mau apa?"

Kata Siau-hi-ji dengan ketus. Mendadak Thi Sim-lan mengangkat kepalanya.

"Meng ... mengapa kau bicara demikian?"

"Cara kubicara memang begini, jika tidak suka janganlah kau mendengarkan. Hm, cara bicara orang lain lebih enak didengar, boleh kau mendengarkan ocehannya saja."

Mata si nona menjadi merah dan berkaca-kaca, setelah terdiam sejenak, kemudian ia memaksakan tertawa dan bertanya.

"Bilakah engkau datang ke Go-bi-san sini?"

"Hmk!"

Dengus Siau-hi-ji.

"Mengapa tubuhmu terdapat ular sebanyak ini?"

Tanya Sim-lan dengan suara lembut.

"Hmk!"

Kembali Siau-hi-ji menjengek.

Thi Sim-lan menjadi dongkol, ia membanting kaki dan duduk di atas batu itu.

Maka kedua orang kini duduk menempel punggung dan sama-sama tidak bicara.

Entah berapa lamanya, akhirnya Siau-hi-ji tidak tahan, tiba-tiba ia mengomel.

"Huh, lagaknya bocah itu!"

Tapi Thi Sim-lan seperti tidak mendengar sama sekali dan tidak menanggapinya. Siau-hi-ji menjadi kikuk, akhirnya tidak tahan pula, ia senggol si nona dengan punggungnya dan berseru.

"He, orang tuli, kau dengar tidak perkataanku?"

"Hmk!"

Thi Sim-lan mendengus menirukan suara Siau-hi-ji.

"Orang tuli mana bisa mendengar perkataan orang."

Siau-hi-ji melenggong, tapi segera ia berseru.

"Tapi ... tapi bukankah kau sudah mendengar? Kalau tidak mendengar, kenapa kau dapat menjawab? Kau ... kau ...."

Bicara ke sana ke sini, akhirnya ia sendiri menjadi geli dan bergelak tertawa.

Diam-diam Thi Sim-lan memang sedang tertawa geli, kini tanpa terasa ia pun terkikik-kikik.

Di tengah suara tertawa mereka, tanpa terasa kedua muda-mudi itu telah duduk berjajar, entah Thi Sim-lan yang menggeser kemari lebih dulu atau Siau-hi-ji yang menggeser duluan.

Sesudah sama-sama tertawa sejenak, mendadak Siau-hi-ji berkata.

"Hm, bocah itu benar-benar banyak lagaknya!"

"Sebenarnya juga bukannya dia berlagak, tapi orang lain yang menjunjung tinggi lagaknya,"

Ujar Thi Sim-lan dengan lembut.

"Hm, jangan kau mengira dia tidak berlagak, sikapnya itu hanya bikinan belaka agar orang memuji dia sopan santun, padahal .... Hm, kentut anjing!"

Jengek Siau-hi-ji pula.

"Maklumlah, Ih-hoa-kiong boleh dikatakan tempat suci yang diagungkan dunia persilatan sekarang, sebagai satu-satunya ahli waris Ih-hoa-kiong, adalah pantas juga jika dia sok berlagak,"

Ujar Sim-lan dengan tertawa.

"Hmk... Hmk-hmk ... hmk-hmk-hmk,"

Demikian berulang-ulang Siau-hi-ji mendengus.

Thi Sim-lan tertawa geli, perlahan ia meraba tangan anak muda itu, tapi cepat dia tarik kembali tangannya demi nampak ular yang melilit di pergelangan tangan Siau-hi-ji.

Katanya kemudian dengan tertawa.

"Eh, apakah kau tahu bahwa alis matanya sungguh sangat mirip dirimu, pada hakikatnya dia serupa denganmu, orang yang tidak kenal tentu mengira kalian adalah saudara sekandung."

"Jika aku pun berbentuk banci seperti dia, rasanya lebih baik kumati saja,"

Kata Siau-hi-ji. Thi Sim-lan hanya meliriknya dengan mengulum senyum dan tidak menanggapi lagi. Tiba-tiba Siau-hi-ji mendengus pula.

"Anehnya, manusia yang suka berlagak dan bicara seperti banci justru ada orang menyukainya."

"O ... siapakah yang menyukai dia?"

Tanya Sim-lan.

"Kau!"

Jawab Siau-hi-ji.

"Aku?"

Sim-lan melengak, akhirnya ia tertawa geli.

"Kau bilang aku menyukai dia? Hah, gila!"

"Jika kau tidak menyukai dia, mengapa kau memandang dia hingga terkesima? Dan bila kau tidak suka padanya, mengapa dalam segala hal kau suka bicara membelanya?"

Muka Thi Sim-lan menjadi merah saking gemasnya, katanya kemudian dengan gregetan.

"Baik, anggaplah aku menyukai dia. Ya, aku menyukai dia setengah mati. Toh kau bukan sanak kadangku, kau tidak perlu urus."

Mendadak ia membanting kaki dan duduk membalik tubuh pula. Siau-hi-ji sengaja memberosot duduk di tanah sambil mengomel.

"Hm, lagaknya seperti kakek kecil, manusia demikian paling menjemukan."

Tanpa menoleh Thi Sim-lan menanggapi.

"Tadi kau bilang dia seperti banci, mengapa sekarang kau katakan dia seperti kakek-kakek."

"Kumaksudkan dia seperti ... seperti nenek cilik,"

Jawab Siau-hi-ji dengan mengada-ada. Mendadak Thi Sim-lan mengikik tawa. Siau-hi-ji mendelik, semprotnya.

"Apa yang kau tertawai?"

"Hihi,"

Sim-lan mengikik pula, lalu menjawab dengan sekata demi sekata.

"Tahulah aku sekarang, kiranya kau cemburu!"

"Aku cemburu?"

Siau-hi-ji melonjak bangun.

"Hm, mustahil!"

Mendadak ia duduk dan bergumam dengan gegetun.

"Ya, rasanya sekarang aku memang rada-rada cemburu."

Sambil tertawa menggiurkan Thi Sim-lan menjatuhkan diri ke pangkuan anak muda itu. Tapi segera ia melompat bangun pula dan berseru dengan suara terputus-putus.

"He, ular ... ular-ular ini mengapa tidak kau enyahkan saja."

"Jika kudapat mengenyahkan mereka, maka bahagialah aku!"

Ucap Siau-hi-ji dengan bersungut.

"Kau ... kau tidak sanggup mengenyahkan mereka?"

Kaget juga Thi Sim-lan. Siau-hi-ji menghela napas, jawabnya.

"Setelah Pek-coa-sin-kun mati, kini mungkin tiada yang sanggup mengenyahkan mereka, siapa saja bila ingin menyentuh mereka, maka akulah yang akan dipagut paling dulu."

"Wah, lantas bagaimana ... bagaimana baiknya? Memangnya selamanya kau akan membawa serta mereka?"

Dengan murung Siau-hi-ji termangu-mangu, sejenak kemudian tiba-tiba ia berseru dengan lagak jenaka.

"Begini juga ada baiknya, tubuhku penuh ular, tentu tiada anak perempuan yang berani mendekati aku."

"Orang bicara dengan sungguh, kau justru sengaja bercanda,"

Omel Thi Sim-lan dengan mendongkol sambil berpaling pula ke arah lain. Tapi segera ia menoleh dan berkata dengan tertawa.

"He, aku ada akal."

"Bagus, bagaimana akalmu?"

Tanya Siau-hi-ji dengan girang.

"Ular-ular ini jangan kau beri makan, bila mereka mati kelaparan, dengan sendirinya mereka akan rontok semuanya."

Siau-hi-ji seperti lagi berpikir, jawabnya sambil manggut-manggut.

"Benar, benar, akalmu ini sungguh amat bagus!"

"Terima kasih,"

Ucap Thi Sim-lan dengan tertawa manis.

"Tapi kau melupakan sesuatu,"

Tiba-tiba Siau-hi-ji menambahkan pula.

"Sesuatu apa?"

"Ular-ular ini meski gundul, tapi mereka bukan Hwesio."

"Artinya?"

Thi Sim-lan melengak bingung.

"Kalau bukan Hwesio, tentu tidak pantang makan,"

Ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. Thi Sim-lan melenggong bingung, mendadak ia melonjak bangun dan berseru.

"He, maksudmu jika ... jika mereka lapar, maka dagingmu dan darahmu juga akan dimakannya?"

"Hah, kau ternyata anak jenius, baru sekarang kutahu,"

Ucap Siau-hi-ji dengan tak acuh.

"Wah, lantas bagaimana ini?"

Thi Sim-lan menjadi gelisah dan hampir menangis.

"Kukira harus ... harus ...."

"Harus"

Apa ternyata sukar diucapkannya, saking kelabakan ia hanya berputar-putar saja di situ. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara orang berkata.

"Mengapa budak itu bisa menghilang mendadak, sungguh aneh."

Lalu seorang lagi menanggapi dengan nada dingin.

"Hari ini dia kabur, besok juga kita akan membekuk dia."

Begitu mendengar suara kedua orang itu, seketika air muka Siau-hi-ji dan Thi Sim-lan berubah hebat.

"Siau-sian-li!"

Seru Sim-lan dengan saura tertahan.

"Dan Buyung Kiu!"

Sambung Siau-hi-ji.

"Mari lekas ... lekas kita lari!"

Akan tetapi baru sekarang mereka tahu bahwa jalan yang mereka tempuh ini adalah jalan buntu, tiga sisinya dinding tebing menjulang tinggi, jalan satu-satunya adalah arah yang dilalui Siau-sian-li itu.

Tangan dan kaki Thi Sim-lan menjadi dingin, katanya.

"Wah, ini ... ini ...."

"Sembunyi dulu!"

Seru Siau-hi-ji. Dan baru saja mereka sempat sembunyi, sementara itu Siau-sian-li dan Buyung Kiu sudah muncul.

"Aneh juga Go-bi-san ini, gunung seluas ini ternyata tiada tempat berteduh yang layak, hanya di sini mending dapat digunakan istirahat, marilah kita mengaso sejenak daripada mencari kian kemari,"

Demikian terdengar Siausian-li mengomel.

Lalu dia mendahului duduk di atas batu, yaitu tempat yang diduduki Siau-hi-ji dan Thi Sim-lan tadi.

Diam-diam Siau-hi-ji dan Thi Sim-lan mengeluh, kalau kedua nona itu tetap berada di situ, sukar diketahui sampai kapan baru mereka bisa lolos dengan selamat.

Entah sudah lewat berapa lama, tiba-tiba Siau-sian-li bersuara pula.

"Kau kedinginan tidak?"

"Huh, seperti putri pingitan, begini saja kedinginan,"

Jengek Buyung Kiu.

"Sekalipun di tanah bersalju juga aku takkan mengeluh kedinginan."

Siau-sian-li mengangkat pundak dan tidak menanggapi, lalu memejamkan mata untuk istirahat. Diam-diam Siau-hi-ji mencibir dan membatin.

"Sudah tentu kau tidak takut dingin, dengan telanjang bulat saja kau sanggup tiduran di atas balok es, memangnya siapa ingin berlatih ilmu setan seperti kau?"

Selang sejenak pula, tiba-tiba Siau-sian-li berdiri dan berkata.

"Kau tidak takut dingin, kau memang hebat, tapi aku tidak tahan."

"Tidak tahan juga harus bertahan,"

Ucap Buyung Kiu.

"O, nona Kiu, Cici yang baik, marilah kita mencari kayu bakar untuk membuat api unggun!"

Siau-sian-li memohon dengan tertawa.

Akhirnya Buyung Kiu berbangkit juga dengan kemalas-malasan.

Kedua nona melihat ke sana dan ke sini, akhirnya mereka menuju ke tempat sembunyi Thi Sim-lan dan Siau-hi-ji.

Keruan anak muda itu kebat-kebit, pikirnya.

"Sialan, mengapa kupilih tempat sembunyi yang terdapat ranting kayu bakar dan rumput kering ini, sungguh sial."

Maklumlah, mereka sembunyi di balik semak-semak yang banyak terdapat daun dan rumput kering serta akar-akar kering yang paling bagus untuk api unggun.

Tentu saja Thi Sim-lan terlebih cemas, tangan sampai berkeringat dingin dan tubuh pun rada gemetar.

Sementara itu Siau-sian-li dan Buyung Kiu sudah mendekat, karena gemetarnya Thi Sim-lan sehingga akar dan rumput kering ikut bergetar dan menerbitkan suara kresak-kresek.

Cepat Siau-sian-li menghentikan langkahnya dan berkata.

"He, dengarkan, suara apakah itu?"

"Jangan khawatir, memangnya ada setan?"

Ujar Buyung Kiu.

Tiba-tiba timbul akal Siau-hi-ji, cepat ia melepaskan ikat rambut sendiri sehingga semrawut, diam-diam ia tertawa geli sendiri, entah apa yang ditertawai.

Keruan hampir meledak perut Thi Sim-lan saking dongkolnya, dalam keadaan demikian anak muda itu masih sempat tertawa.

Sementara itu Siau-sian-li berjalan ke depan sambil mengomel.

"Andaikan tiada setan, mendadak keluar ular juga bisa celaka!"

"Ada aku, apa pun tidak perlu takut,"

Belum habis ucapan Buyung Kiu, sekonyong-konyong dari tempat gelap melompat keluar suatu makhluk aneh.

Siau-sian-li melonjak kaget, keringat dingin seketika membasahi tubuhnya.

Tapi Buyung Kiu lantas membentak.

"Siapa itu yang main gila di situ?"

Segera makhluk aneh menjerit.

"Buyung Kiu, wahai Buyung Kiu, betapa keji kau bikin celaka diriku, aku mati kelelap menjadi setan rendaman ... Buyung Kiu, ayo bayar jiwaku, Buyung Kiu!"

Di bawah cahaya rembulan Buyung Kiu dapat melihat jelas "makhluk aneh"

Ini sudah dikenalnya, siapa lagi kalau bukan Siau-hi-ji?

Anak muda yang sudah binasa terkurung di gudang es bawah tanah itu.

Betapa besar nyali Buyung Kiu juga tidak tahan, ia menuding Siau-hi-ji sambil berkata dengan suara gemetar.

"Kau ... kau ...."

Belum lanjut ucapannya, tanpa ampun ia jatuh pingsan.

Walaupun tidak tahu seluk-beluk terkurungnya Siau-hi-ji di gudang es oleh Buyung Kiu itu, tapi melihat tubuh Siau-hi-ji penuh ular dan Buyung Kiu semaput saking ketakutan, mau tak mau Siau-sian-li pun ngeri, ia menjerit satu kali, lalu putar tubuh dan lari tanpa menoleh lagi.

Hanya sekejap saja bayangan Siau-sian-li sudah menghilang, bukan lantaran nyalinya kecil, soalnya kejadian ini teramat luar biasa dan sukar dipercaya, siapa pun pasti akan pecah nyalinya.

Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya.

"O, ularku sayang, selanjutnya tak peduli akan membikin celaka diriku atau tidak, yang jelas aku harus berterima kasih padamu. Sedikitnya sudah dua kali kalian telah menyelamatkan jiwaku."

Yang paling bingung dengan sendirinya Thi Sim-lan, seperti orang linglung ia keluar dari tempat sembunyinya, ia pandang Siau-hi-ji dengan terbelalak heran, akhirnya ia tanya.

"Apa yang terjadi?"

"Apa yang terjadi, kau sendiri kan sudah menyaksikan,"

Jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Tapi ... tapi bilakah engkau dicelakai Buyung Kiu? Katanya kau mati kelelap dan menjadi setan rendaman segala, sungguh aku ... aku tidak mengerti."

"Anak perempuan memang lebih baik tidak mengerti, semakin banyak mengerti, semakin banyak pula kesukaranmu, cukup asalkan kau tahu aku masih mempunyai satu-dua jurus simpanan saja."

Thi Sim-lan termenung sejenak, katanya kemudian dengan gegetun.

"Kau memang mempunyai kepandaian simpanan, Buyung Kiu ternyata dapat kau gertak hingga kelengar, Siau-sian-li kena ditakuti olehmu hingga lari terbirit-birit. Kejadian ini kalau diceritakan kepada orang lain, mustahil orang mau percaya."

Siau-hi-ji memandang Buyung Kiu yang menggeletak tak sadarkan diri itu, katanya kemudian.

"Menurut pendapatmu, cara bagaimana harus kukerjai dia?"

Thi Sim-lan berpikir sejenak, lalu menjawab.

"Biarkan dia terbaring pingsan di sini, kita tinggal pergi saja."

Tapi setelah melihat air muka Siau-hi-ji tiada tanda-tanda setuju, segera ia menyambung pula.

"Atau ... atau kau ringkus dia dengan rotan, bila dia siuman, pukul dia beberapa kali untuk melampiaskan dendammu."

"Hm, kebijaksanaan perempuan, pikiran perempuan,"

Jengek Siau-hi-ji.

"Memangnya hukuman sekeras ini belum cukup?"

"Sudah tentu tidak cukup."

"Masakah akan ... akan kau bunuh dia?"

"Jika tidak kubunuh dia, memangnya harus kutunggu dia yang membunuh aku?"

"Tapi kalau engkau membunuhnya sekarang, bukankah kurang gemilang?"

"Gemilang? Hm, waktu dia hendak membunuh aku juga tak pernah terpikir olehnya cara gemilang segala,"

Jengek Siau-hi-ji.

"Tapi ... tapi apa pun dia adalah perempuan!"

"Memangnya kalau perempuan bukan manusia? Perempuan harus diberi hak istimewa?"

Thi Sim-lan membanting-banting kaki dan berkata.

"Sungguh tak kuduga engkau sedemikian ... sedemikian kejam. Aku ... aku ...."

"Kalau kau tidak ingin menyaksikannya, silakan menyingkir pergi,"

Kata Siauhi-ji. Dengan mendongkol Thi Sim-lan membanting kaki pula, lalu berlari pergi. Siau-hi-ji tidak menggubrisnya lagi, ia melototi Buyung Kiu dan bergumam.

"Kau perempuan yang berhati keji ini, kalau tidak kubunuhmu berarti aku berdosa kepada diriku sendiri."

Setelah merandek sejenak, lalu ia menjengek pula.

"Hm, kebetulan dapat kugunakan ular berbisa, ingin kulihat ular berbisa lebih jahat atau dirimu yang lebih beracun."

Habis itu ia lantas pegang tangan Buyung Kiu dan disodorkan kepada ular yang melilit di lengannya.

Saat itu rembulan sedang memancarkan sinarnya yang terang, wajah Buyung Kiu tertampak jelas, raut mukanya yang kekurus-kurusan potongan daun sirih tampak sangat pucat, bulu matanya yang panjang melengkung, kelopak matanya yang terpejam, walaupun dalam keadaan pingsan, tapi kelihatan sangat mempesona dan menimbulkan rasa kasihan.

Tangannya juga sangat halus dan lemas, tangan sebagus ini hendak disodorkan agar dipagut ular, siapa pula yang berhati setega itu?

Tangan Siau-hi-ji terasa sangat lemas, tapi bila teringat nona itu pernah mengurungnya di kamar batu hingga dirinya hampir mati kelaparan dan kedinginan, tanpa terasa api amarahnya berkobar pula.

Segera ia menjengek.

"Hm, apa pun juga kau tak dapat menyesali diriku, kalau kau tidak bermaksud membunuhku, tentu aku pun takkan membunuhmu ...."

Tiba-tiba seorang menanggapinya dengan suara kalem.

"Membunuh seorang anak perempuan dengan cara begitu, apakah tidak mengurangi nilai dirimu sebagai seorang lelaki?"

Siau-hi-ji melonjak kaget dan membentak.

"Siapa itu?"

Baru saja ia bersuara, tahu-tahu di depannya sudah bertambah satu orang, yaitu Bu-koat Kongcu yang sopan santun itu, di belakangnya berdiri pula tiga orang, yang dua berpakaian putih mulus, seorang lagi adalah Thi Sim-lan.

Ketiga nona itu sedang memandang Siau-hi-ji dengan melotot seakan-akan ingin menelannya bulat-bulat.

Dalam hati Siau-hi-ji entah betapa rasa gusarnya, tapi lahirnya dia tetap tertawa saja, ia masih memegangi tangan Buyung Kiu dan berkata dengan tersenyum.

"Maksudmu aku tidak boleh membunuhnya?"

Dengan suara ramah Hoa Bu-koat menjawab.

"Seorang lelaki adalah layak rada ramah-tamah terhadap anak perempuan, seumpama dia pernah berbuat sesuatu yang tidak baik padamu juga kau harus mengalah mengingat dia adalah perempuan."

"Hahaha, sungguh Hoa-kongcu yang berbudi halus dan pintar menyelami perasaan orang,"

Seru Siau-hi-ji sambil terbahak-bahak.

"Di dunia ini terdapat lelaki seperti engkau, sungguh bahagialah kaum wanita. Seharusnya perempuan di seluruh dunia ini harus bersatu dan memberikan medali emas kepadamu."

"Ah, masakah begitu?"

Sahut Hoa Bu-koat dengan tersenyum. Tapi Siau-hi-ji lantas menambahkan pula.

"Dan kalau kau hendak dibunuh orang perempuan, lalu bagaimana sikapmu, apakah kau akan memejamkan mata membiarkan dirimu terbunuh? Masakah kau tidak melawannya sama sekali?"

"Jika aku berbuat sesuatu yang salah padanya, andaikan dibunuhnya juga aku tidak menyesal,"

Jawab Hoa Bu-koat dengan kalem.

"Tapi bila si perempuan yang berbuat sesuatu kesalahan padamu, kau membunuhnya tidak?"

"Betapa pun lelaki harus mengalah sedikit kepada orang perempuan."

"Hah, jalan pikiranmu ini entah kau belajar dari mana? Kalau menurut dirimu, jadi semua lelaki di dunia pantas mampus, semuanya harus terjun ke laut."

"Juga tidak perlu begitu,"

Ucap Hoa Bu-koat dengan tertawa.

Siau-hi-ji melotot dongkol, ia menjadi bingung apakah Hoa Bu-koat ini orang pintar atau bodoh atau pura-pura bodoh.

Dengan tersenyum simpul Hoa Bu-koat memandang Siau-hi-ji, tidak mengunjuk gusar dan juga tidak cemas, kalau saja dia memang lemah lembut begitu tentu sejak tadi Siau-hi-ji sudah ayun tangan mengamparnya.

Celakanya Siau-hi-ji tidak berani bertindak demikian, soalnya ilmu silat Hoa Bu-koat benar-benar teramat tinggi baginya.

Terpaksa Siau-hi-ji hanya menghela napas dan berkata pula.

"Jadi maksudmu supaya aku membebaskan dia?"

"Ya, jika saudara membebaskan dia baru sesuai dengan perbuatan seorang ksatria sejati,"

Ucap Hoa Bu-koat.

"Sekarang kubebaskan dia, kalau kelak dia membunuh diriku, lalu bagaimana?"

"Urusan yang belum terjadi kan sukar diramal oleh siapa pun, betul tidak?"

"Baik, kalau kubunuh dia berarti bukan perbuatan seorang lelaki atau ksatria sejati, sebaliknya kalau dia hendak membunuhku adalah tindakan yang jamak, perbuatan yang adil, jika kuterbunuh juga pantas, begitu bukan?"

"Bukan begitulah maksudku,"

Jawab Hoa Bu-koat dengan tersenyum.

"hanya saja ...."

"Aku tidak pedulikan apa maksudmu, yang jelas sekarang aku tidak mampu menandingimu, andaikan kau kentut juga harus kudengarkan. Tapi bila kelak kau tak dapat menandingi aku, di hadapanmu nanti akan sengaja kubunuh beberapa perempuan."

Habis itu Siau-hi-ji lantas mencampakkan tangan Buyung Kiu dan menambahkan pula.

"Nah, anggaplah kau lebih lihai, bawalah dia pergi!"

Hoa Bu-koat juga tidak gusar oleh ejekan itu, dia tetap tersenyum dan berkata.

"Terima kasihlah kalau begitu."

Dalam pada itu si nona muka bulat berbaju putih tadi lantas memburu maju dan memondong Buyung Kiu. Jengeknya dengan melotot kepada Siau-hi-ji.

"Kalau saja Kongcu tidak hadir di sini, tentu sejak tadi sudah kubunuhmu agar kau tahu lihainya kaum perempuan."

"Hm, silakan saja sesukamu,"

Dengus Siau-hi-ji.

"Mau membunuh atau ingin memaki boleh silakan saja sebab kau adalah perempuan dan perempuan memang dilahirkan untuk memaki lelaki. Betul tidak, Hoa-kongcu?"

Hoa Bu-koat tertawa, jawabnya.

"Lelaki yang dimaki perempuan terhitung orang yang bahagia. Ada sementara lelaki, jangankan didekati anak perempuan, memakinya saja si perempuan tidak sudi."

"Hahaha, jika begitu, jadi aku ini sungguh berbahagia, kelak aku pun perlu mencari beberapa orang perempuan untuk membikin bahagia padamu."

"Jika betul, kelak Cayhe akan pasang telinga dan mendengarkan dengan hormat,"

Ujar Hoa Bu-koat dengan tersenyum.

Mata Siau-hi-ji jadi mendelik, hampir saja dadanya meledak saking dongkolnya.

Maklumlah, kedua anak muda ini sejak kecil hidup di dunianya sendiri-sendiri.

Yang satu dibesarkan di Ih-hoa-kiong, suatu tempat yang tiada terdapat orang lelaki, seluruh penghuni Ih-hoa-kiong seratus persen adalah perempuan, sejak kecil di bawah pengaruh orang perempuan, setiap saat hanya perempuan yang dilihatnya dan dididik pula oleh orang perempuan.

Sebaliknya yang seorang dibesarkan di suatu lembah yang terdiri dari lelaki melulu, total jenderal cuma ada seorang "setengah perempuan"

Saja.

Kalau kaum lelaki berkumpul, maka dapatlah dibayangkan bagaimana pandangan mereka terhadap orang perempuan.

Sebab itulah jalan pikiran kedua anak muda ini sama sekali berbeda, watak dan tabiatnya dengan sendirinya juga tidak sama.

Jadinya kedua anak muda itu memang pasangan yang berlawanan.

Dalam pada itu Ho-loh juga telah menarik tangan Thi Sim-lan dan berkata.

"Marilah nona, kau pun ikut pergi bersama kami."

"Aku ... aku ...."

Thi Sim-lan menunduk ragu, berulang-ulang ia melirik ke arah Siau-hi-ji.

"Lelaki begitu, untuk apa menggubrisnya, marilah ikut kami pergi saja,"

Kata si muka bulat dengan gemas.

"Kongcu kami juga ingin bercakap-cakap dengan engkau,"

Ujar Ho-loh dengan tersenyum.

"Ya, pergi, lekas pergi bersama mereka,"

Teriak Siau-hi-ji.

"Walaupun sekarang aku sial, tapi masih mendingan, bila kau tetap mengintil diriku, mungkin aku akan tambah sial."

Thi Sim-lan semakin menunduk, air matanya tampak berlinang-linang. Segera si nona muka bulat menarik Sim-lan dan berkata.

"Jangan gubris dia, ayolah kita pergi!"

Hoa Bu-koat memberi hormat dengan tersenyum simpul, lalu ia pun membalik tubuh untuk melangkah pergi.

Dilihatnya Buyung Kiu yang dipondong Ho-loh itu mendadak bergerak, mulutnya bergumam seperti mengigau.

"Siau-hi-ji, Kang Hi, Kang Siau-hi, lepaskan ... lepaskan diriku!"

Air muka Hoa Bu-koat tampak berubah hebat, sekonyong-konyong ia berpaling dan menatap tajam Siau-hi-ji.

"Kau inikah Kang Hi, Kang Siau-hi alias Siau-hi-ji?"

Tanyanya dengan sekata demi sekata. Melengak juga Siau-hi-ji, jawabnya kemudian.

"Benar! Apakah namaku ini sangat terkenal?"

Kembali Hoa Bu-koat menatapnya dengan termenung sejenak, lalu menghela napas perlahan, katanya.

"Sungguh menyesal ...."

"Menyesal? Mcngapa kau menyesal?"

Tanya Siau-hi-ji dengan terbelalak.

"Sebab aku hendak membunuhmu!"

Jawab Hoa Bu-koat dengan perlahan. Ucapan ini membuat semua orang terperanjat.

"He, apakah otakmu menjadi kurang waras? Mengapa mendadak hendak membunuhku?"

Tanya Siau-hi-ji.

"Sebab kau inilah Kang Hi, makanya akan kubunuh,"

Tutur Bu-koat.

"Di dunia seluas ini hanya seorang saja yang harus kubunuh, ialah kau, Kang Hi, Kang Siau-hi alias Siau-hi-ji."

Siau-hi-ji termenung sejenak, katanya kemudian.

"Ya, pahamlah aku, tentunya ada orang menyuruh kau membunuhku."

"Ya, atas perintah guruku!"

Jawab Bu-koat. Mendadak Thi Sim-lan berteriak histeris.

"Mengapa gurumu menyuruhmu membunuh dia ? Mengapa ... mengapa ...."

Dia ingin menerjang maju, tapi dirangkul kencang-kencang oleh si gadis baju putih.

Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat sedang muka berhadapan muka, maka tiada seorang pun yang memandang ke sana.

Selang sejenak, mendadak Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya.

"Bagus, memangnya aku pun ingin membunuhmu, soalnya sekarang aku memang bukan tandinganmu, makanya aku bersabar, namun kini ...."

Sekonyong-konyong ia angkat kedua tangannya terus menubruk ke arah Hoa Bu-koat.

Sesungguhnya ilmu silat Siau-hi-ji sama sekali bukan tandingan Hoa Bu-koat, tapi asalkan dapat menyentuh Hoa Bu-koat, maka ular berbisa di tubuhnya itu pasti akan menyerangnya.

Ular kan tidak kenal siapa pun juga.

Jadi jiwa Hoa Bu-koat pasti melayang, namun jiwa Siau-hi-ji sendiri juga sukar diramalkan.

Di luar dugaan, baru saja tangannya bergerak mendadak pergelangan kedua tangannya lantas kaku kesemutan, belum lagi tubuhnya mendekat lawan, tahu-tahu pandangannya menjadi gelap dan jatuh tersungkur ....

***** Waktu Siau-hi-ji siuman, yang pertama dilihatnya adalah sebuah anglo yang sedang mengepulkan asap dupa.

Bau dupa yang terendus itu terasa bukan gaharu dan juga bukan adas, tapi semacam bau harum yang sukar disebutkan, seperti bau harum bunga, juga seperti bau obat, jika dicium lebih teliti, rasanya juga seperti bau pupur anak perempuan.

Siau-hi-ji malas mencari tahu bau harum apakah dupa itu, pokoknya ia merasa nyaman mengendus bau sedap itu.

Lalu ia melihat pula sebilah pisau.

Gagang pisau itu bertatahkan batu permata dan tergantung di ujung pembaringannya, sarung pisau seperti terbuat dari kulit ikan hiu sehingga kelihatan sangat menarik, pisau dengan sarungnya itu seakan-akan khusus untuk hiasan belaka.

Tapi ruangan ini hanya terdapat sebuah hiasan ini, selebihnya sangat sederhana, cuma terawat dengan baik dan resik, rasanya nyaman.

Siau-hi-ji tak dapat menerka tempat apakah ini, ia menduga bisa jadi rumah gubuk yang dibangun Hoa Bu-koat sebagai tempat tinggal darurat karena harus berdiam di Go-bi-san.

Tapi cara bagaimana dia berada di tempat Hoa Bu-koat?

Bukankah dirinya tadi tergigit ular berbisa yang tak mungkin tertolong?

Apakah Hoa Bu-koat mau menolongnya?

Bukankah Hoa Bu-koat tegas menyatakan ingin membunuhnya?

Tapi begitu berpaling, segera dilihatnya pemuda she Hoa itu.

Cahaya sang surya menyinari jendela yang sederhana terbuat dari bambu.

Di bawah sinar matahari Hoa Bu-koat sedang duduk, alis matanya, wajahnya, sikapnya yang tenang, pakaiannya juga putih bersih, betapa pun Siau-hi-ji sendiri mau tak mau juga harus mengakui seterunya itu adalah pemuda cakap yang jarang ada bandingannya di dunia ini.

Tampaknya Hoa Bu-koat sudah duduk cukup lama di situ, tapi kelihatan adem ayem saja, sedikit pun tidak gelisah, tetap sabar, tampaknya dia masih sanggup duduk lebih lama lagi di situ.

Dalam hal ini pun Siau-hi-ji merasa kagum, jika Siau-hi-ji, pada hakikatnya sedetik saja dia tidak sabar duduk.

Diam-diam ia mengerahkan tenaga, terasa sehat-sehat saja tanpa kurang sesuatu apa pun.

Waktu ia memeriksa tubuh sendiri, ternyata ular-ular sialan itu sudah lenyap, tiada nampak seekor pun.

Diam-diam ia heran dan merasa lega.

"He, apakah kau yang menolong aku?"

Serunya kepada Hoa Bu-koat.

"Benar,"

Sahut Bu-koat acuh tak acuh.

"Racun ular selihai itu kau pun mampu menolongku?"

Tanya Siau-hi-ji.

"Dupa Sian-cu-hiang (dupa dewi) dan Soh-litan (pil gadis suci) yang sudah kau minum itu dapat menawar segala macam racun."

"Tadi bukankah engkau ingin membunuhku?"

"Sekarang pun tetap ingin kubunuhmu!"

"Jika begitu, untuk apa kau menawarkan racunku dengan obat mujarab yang tak ternilai itu?"

"Soalnya kuharus membunuhmu dengan tanganku sendiri, takkan kubiarkan kau mati disebabkan urusan lain."

Siau-hi-ji berkedip heran, tanyanya.

"Mengapa kau harus membunuhku dengan tanganmu sendiri?"

"Karena begitulah perintah yang kuterima."

Sejenak Siau-hi-ji terdiam, katanya kemudian.

"Kau diperintahkan untuk membunuhku dengan tanganmu sendiri? Aku tidak boleh mati di tangan orang lain dan urusan lain, apakah ... apakah kau tidak merasa heran? Kau ... kau tidak menanyakan apa sebabnya?"

"Aku tidak perlu tanya,"

Sahut Bu-koat.

"Ehm, tampaknya kau sangat penurut."

"Perintah Ih-hoa-kiong kami sangat keras dan tiada yang berani membangkang."

"Tampaknya kau pun sangat jujur, apa yang kutanya selalu kau jawab dengan tulus."

"Siapa pun yang tanya padaku tentu akan kujawab dengan sejujurnya, sekalipun aku harus membunuhmu, tapi tiada sangkut-pautnya dengan persoalan tanya jawab."

"Jadi sudah pasti kau ingin membunuhku dengan tanganmu sendiri?"

"Ya, pasti!!"

"Tapi kalau kau yang kubunuh, bagaimana?"

"Kau takkan mampu membunuhku."

"Kau berani bertempur terang-terangan denganku?"

"Justru aku harus mencabut nyawamu dengan cara jujur dan terang-terangan."

"Baik, kau mundur dulu beberapa tindak, biar kubangun!"

Kata Siau-hi-ji. Hoa Bu-koat benar-benar bangkit dan mundur hampir belasan tindak. Perlahan-lahan Siau-hi-ji merangkak bangun sambil bergumam.

"Kau ini sungguh teramat jujur, tapi aku tidak tahu apakah kejujuranmu ini tulen atau cuma pura-pura saja, bisa jadi kau terlalu yakin akan kesanggupanmu terhadap segala urusan, makanya kau bersikap seenaknya saja."

Sembari berkata mendadak ia lolos belati yang gagangnya bertatahkan batu permata dan tergantung di ujung pembaringan itu terus melompat turun.

Hoa Bu-koat tetap memandangi dia dengan hambar saja, sedikit pun tidak menunjuk perubahan sikap.

Hanya gayanya yang adem ayem dan tenang ini sudah cukup membikin malu tokoh terkemuka dunia persilatan yang paling tenang sekalipun.

Mendadak Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya.

"Kau ingin kematianku, hal itu tidak sulit, tapi kau ingin membunuhku dengan tanganmu sendiri, hahaha, kukira selama hidupmu ini jangan kau harap."

"Memangnya kenapa? Apa aku tidak mampu?"

Tanya Hoa Bu-koat acuh.

"Kenapa? Haha, kalau begini?"

Ujar Siau-hi-ji sambil mengacungkan ujung belati ke hulu hati sendiri. Baru sekarang air muka Hoa Bu-koat tampak sedikit berubah, tanyanya.

"Apa artinya ini?"

Siau-hi-ji memberi muka badut padanya, katanya dengan tertawa.

"Asalkan kau melangkah sedikit kemari, segera pisau ini kutikamkan dan selama hidupmu jangan harap lagi akan dapat membunuhku dengan tanganmu sendiri, sebab akulah yang membunuh diriku dengan tanganku sendiri."

Seketika Hoa Bu-koat terkesima tak dapat bicara lagi.

Sungguh tak terpikir olehnya akan langkah kejutan Siau-hi-ji ini.

Kalau bicara ilmu silat, sudah tentu Hoa Bu-koat jauh lebih tinggi, tapi bicara mengenai kecerdikan dan tindak mendadak menghadapi perubahan persoalan, betapa pun dia tak dapat menandingi Siau-hi-ji yang aneh dan cerdas serta banyak tipu akalnya ini.

Sudah tentu semua itu lantaran lingkungan hidup kedua anak muda itu sama sekali berbeda.

"Ih-hoa-kiong"

Yang diagungkan itu tentu mengutamakan tindak tanduk secara terang-terangan dan ksatria jelas tak dapat menandingi anak didik kawanan penjahat yang berkumpul di Ok-jin-kok itu.

Begitulah mimpi pun Hoa Bu-koat tak mengira Siau-hi-ji akan mempergunakan akal bulus begitu.

Dengan tertawa Siau-hi-ji lantas berkata.

"Nah, kau masih ingin membunuhku dengan tanganmu sendiri, maka sekarang kau harus bersabar dulu, janganlah mendekatiku, jangan bergerak ...."

Sambil bicara ia tatap Hoa Bu-koat seraya mundur ke belakang setindak demi setindak.

Seketika Hoa Bu-koat merasa mati langkah dan tidak tahu cara bagaimana harus menghadapi tindakan Siau-hi-ji ini, terpaksa ia diam saja di tempat dan menyaksikan Siau-hi-ji mundur keluar pintu.

Siau-hi-ji tidak berani bertindak gegabah dan lengah, meski sudah mundur sampai di luar pintu, tetap tanpa berkedip ia mengawasi Hoa Bu-koat.

Di luar masih berselimutkan kabut pagi, bunga pegunungan yang tak diketahui namanya tampak bergaya indah di tengah kabut, meski sang surya sudah mulai memancarkan sinarnya, tapi belum dapat menembus kabut pegunungan Go-bi yang tebal itu.

Setindak demi setindak Siau-hi-ji masih terus mundur ke belakang dan menelusuri jalan kecil yang diapit oleh tetumbuhan bunga pegunungan.

Ia masih terus mengawasi Hoa Bu-koat, khawatir kalau-kalau pemuda itu mengejarnya, karena itu ia tidak berani berpaling ke belakang.

Melihat Siau-hi-ji masih terus berjalan mundur, tiba-tiba Hoa Bu-koat seperti ingat sesuatu, cepat ia berseru.

"He, Kang Hi, lekas ... lekas berhenti ...."

Di tengah seruannya segera ia bermaksud memburu keluar. Tapi Siau-hi-ji lantas membentaknya.

"Jangan bergerak! Berani kau keluar pintu, segera ku ...."

Terpaksa Hoa Bu-koat menahan langkahnya di ambang pintu, ia menjadi gugup hingga keringat dingin membasahi jidatnya, ia berseru pula.

"Lekas berhenti, kau tidak boleh mundur lagi, di ... di belakangmu ...."

Baru saja kata-kata "di belakangmu"

Terucapkan, sebelah kaki Siau-hi-ji yang melangkah mundur sudah menginjak tempat kosong, disertai suara jeritan ngeri, seketika anak muda itu terjerumus ke bawah.

Di belakang Siau-hi-ji ternyata sebuah jurang yang sangat curam dan tertutup oleh kabut tebal sehingga dalamnya tak terkirakan.

Hoa Bu-koat menyaksikan Siau-hi-ji terjerumus ke bawah dan tidak sempat memburu maju untuk meraihnya.

Suara jeritan Siau-hi-ji yang melengking tajam dan singkat itu menimbulkan gema suara dari sekeliling lembah pegunungan secara susul-menyusul seakan-akan jagat ini penuh suara jeritan kaget Siau-hi-ji.

Hoa Bu-koat menjadi lemas lunglai dan bersandar di pintu, dengan linglung ia pandang kabut tebal di depan sana, butiran keringat berketes-ketes dari dahinya.

Sementara itu Thi Sim-lan telah memburu keluar dengan langkah sempoyongan, beberapa nona berbaju putih mengikut di belakangnya.

Setiba di depan Hoa Bu-koat, dengan cemas Sim-lan bertanya.

"Siapa itu menjerit? Apakah dia? ... apakah dia? ...."

Hoa Bu-koat hanya mengangguk tanpa menjawab.

"Dia ... dia di mana?"

Tanya Sim-lan.. Bu-koat hanya menghela napas sambil menggeleng. Melihat air muka anak muda itu, Sim-lan mundur dua langkah, katanya pula dengan suara gemetar.

"Apakah kau telah ... telah membunuhnya?"

Mendadak ia menubruk maju, ia hujani tubuh Hoa Bu-koat dengan kepalannya.

Namun Hoa Bu-koat tetap diam saja, tidak menangkis juga tidak menghindar.

Kepalan Thi Sim-lan menghantam tubuhnya dengan kuat, tapi dia seperti tidak merasakannya.

Para nona baju putih menjadi gusar dan khawatir, mereka membentak dan hendak menghajar Thi Sim-lan, Hoa Bu-koat malah mencegah mereka, katanya dengan gegetun kepada Thi Sim-lan.

"Aku tidak membunuh dia ... dia sendiri yang tergelincir ke dalam jurang."

Tergetar tubuh Thi Sim-lan, ia mundur dengan terhuyung-huyung, katanya.

"Kau ... kau benar-benar tidak ... tidak membunuh dia?"

"Selama hidupku belum pernah berdusta sepatah kata pun,"

Sahut Hoa Bu-koat.

"Jika begitu mengapa kau tidak membalas pukulanku?"

Seru Thi Sim-lan dengan serak. Hoa Bu-koat memandangnya dengan sorot mata yang halus, katanya dengan gegetun.

"Kutahu perasaanmu saat ini sangat berduka, biarpun kau melukai aku juga dapat kupahami, sama sekali aku tidak menyalahkanmu."

Thi Sim-lan berdiri melenggong, entah bagaimana rasa hatinya sukar untuk dilukiskan.

Hoa Bu-koat ini sedemikian bajik dan baik hati, sedemikian halus budinya, sedangkan Siau-hi-ji, ya busuk ya kasar, tapi justru Siau-hi-ji terlebih mendalam bersarang di lubuk hatinya, lebih membuatnya kesengsem dan berat untuk berpisah, membuatnya selalu terkenang dan sukar dilupakan.

Sorot mata Hoa Bu-koat tampak semakin lembut, katanya pula.

"Nona Thi, lebih baik engkau pergi istirahat saja, engkau ...."

"Ya, aku harus istirahat, harus pergi ...."

Mendadak Thi Sim-lan lari ke tepi jurang sambil berteriak dengan suara serak.

"Siau-hi-ji, tunggulah, kudampingimu untuk istirahat bersama ...."

Tapi sebelum ia tiba di tepi jurang, Hoa Bu-koat sudah menyusul dan menarik tangannya, sekuatnya Sim-lan meronta, tapi tak dapat melepaskan diri biarpun segenap tenaga sudah dikeluarkannya.

Dengan air mata bercucuran Thi Sim-lan berteriak.

"Lepaskan aku, lepaskan ... mengapa tidak biarkan kutemani dia .... Dia sendirian mati di bawah sana, alangkah kesepian dia ...."

Tiba-tiba seorang menanggapinya dengan suara dingin.

"Siapa yang mati di bawah sana? .... Seorang dapat mati dengan tenang dan sunyi, sungguh bahagialah dia."

Di tengah kabut putih tebal itu sesosok bayangan tubuh yang ramping tampak muncul dengan perlahan laksana badan halus dari alam arwah.

Siapa lagi dia kalau bukan Buyung Kiu.

Muka Buyung Kiu sangat pucat, kedua matanya yang besar dan jeli mempesona itu pun kehilangan cahayanya sehingga kelihatan seperti orang linglung.

Dengan geregetan Thi Sim-lan menjawabnya.

"Siau-hi-ji akhirnya mati, tentunya kau bergirang bukan? Dia mati di bawah jurang ini, apakah kau ingin melihat mayatnya?"

Buyung Kiu menggeleng perlahan, katanya.

"Tidak, dia tidak mati di sini, yang mati di sini pasti bukan dia."

Mendadak ia terkekeh-kekeh dan menyambung pula.

"Sudah lama dia mati di Buyung-san-ceng, aku sendiri yang membunuhnya, seorang tidak ... tidak mungkin mati dua kali, betul tidak?"

Rambutnya yang panjang itu tampak bertebaran ditiup angin, cara tertawanya seperti orang gila. Dengan perasaan haru dan kasihan Hoa Bu-koat memandanginya, katanya kemudian dengan perlahan.

"Ho-loh, nona ini sangat terkejut tadi sehingga pikirannya belum jernih kembali, kau payang dia ke dalam rumah saja."

Segera Ho-loh memegang tangan Buyung Kiu, tapi nona itu masih terkekeh-kekeh dan berseru.

"Aku sendiri yang membunuh dia, aku menyaksikan sendiri setannya! Hahaha, apakah kalian pernah melihat setan? Dapatkah ... dapatkah kalian membunuhnya?"

Mendadak Thi Sim-lan juga tertawa keras dan berteriak.

"Tiada seorang pun di antara kalian yang mampu membunuhnya, satu-satunya yang dapat membunuhnya ialah dia sendiri ...."

Dari tertawa keras mendadak ia menangis sedih, dengan suara pilu ia berteriak pula.

"Tapi akhirnya ia benar-benar membunuh dirinya sendiri, akhirnya ia menghancurkan dirinya sendiri ... mengapa orang pintar selalu akan menghancurkan dirinya sendiri ...."

Memang, orang pintar terkadang memang sok pintar sehingga akibatnya menjadi korban kepintarannya sendiri, akhirnya meski mereka dapat mencelakai orang lain, tapi juga membikin susah dirinya sendiri.

Akan tetapi Siau-hi-ji bukanlah manusia demikian ini.

Siau-hi-ji jauh lebih pintar daripada orang macam demikian.

Tadi, waktu sebelah kakinya menginjak tempat kosong dan terjerumus ke bawah, gerakan itu hanya pura-pura saja dan sengaja diperlihatkan kepada Hoa Bu-koat.

Kiranya sebelum itu dia sudah melihat jelas keadaan sekitarnya, waktu dia terjerumus ke bawah sudah diincarnya dengan tepat tempat perimbangan badannya.

Begitu tubuhnya terperosok ke bawah, segera belati yang dipegangnya itu menikam ke dinding tebing.

Gerakan berbahaya demikian sudah tentu memerlukan ketajaman mata, ketelitian dan keberanian.

Maklumlah, untuk menipu orang, lebih-lebih menipu orang macam Hoa Bu-koat, kalau tidak menyerempet bahaya mana bisa berhasil?

Maka ketika Thi Sim-lan menjerit dan menangis, Buyung Kiu mengakak dan berteriak, Hoa Bu-koat bicara dengan lembut, semua itu dapat didengar oleh Siau-hi-ji dengan jelas karena dia menempel pada dinding tebing.

Dengan sendirinya timbul macam-macam perasaan yang sukar dikatakan dalam hati Siau-hi-ji setelah mendengar jerit tangis dan teriak tawa itu, namun dia benar-benar berhati baja, dia tega, ia anggap tidak tahu dan tidak dengar semua itu.

Sampai akhirnya suasana menjadi sunyi, Siau-hi-ji menghela napas lega.

Selang sejenak pula, perlahan ia merambat ke atas, ia coba mengintip ke atas melalui tebing.

Benar juga, di atas sana tiada seorang pun.

Selagi dia hendak merangkak ke atas, siapa tahu pada saat itulah sekonyong-konyong di sebelahnya seperti ada suara orang.

Dalam kejutnya Siau-hi-ji cepat berpaling, segera dilihatnya suara itu bukan suara manusia melainkan suara kera, belasan ekor kera entah datang dari mana, semuanya sedang menirukan caranya merambat, bahkan menirukan caranya mengintip ke atas jurang.

Rupanya Go-bi-san memang banyak terdapat kawanan kera, bahwa kera suka menirukan gaya manusia, ini sudah sering didengar oleh Siau-hi-ji dari para paman penghuni Ok-jin-kok ketika dia masih kecil.

Kini ia benar-benar melihat kawanan kera yang nakal itu, ia menjadi geli dan dongkol pula.

Malahan ia pun bingung cara bagaimana mengusir mereka.

Terpaksa ia hanya mendesis-desis saja.

"Ssst, pergi ...."

Tapi kawanan kera itu pun balas mengejeknya dengan muka yang dibuat-buat jenaka, bahkan juga mendesis-desis dan bercuat-cuit.

Ada sebagian kera yang bermuka merah seperti pantat, kelihatan menakutkan ketika melotot.

Khawatir kawanan kera itu mengejutkan Hoa Bu-koat, diam-diam Siau-hi-ji menjadi gelisah, saking mendongkolnya tiba-tiba ia gunakan sebelah tangannya untuk memukul dan mengusirnya.

Tapi begitu tangannya terjulur, segera ia menyadari keadaan bisa runyam.

Kawanan kera itu mendadak juga menubruk tiba, semuanya menjulurkan tangan menirukan tingkah Siau-hi-ji.

Dalam keadaan biasa tentu Siau-hi-ji tidak perlu takut, tapi sekarang tubuhnya bergelantung di dinding jurang, kedua tangannya tidak bebas bergerak, maka begitu diserbu kawanan kera itu, seketika ia terjerumus lagi ke bawah.

Keruan tidak kepalang takut dan gugupnya, celakanya dia tidak berani berteriak minta tolong.

Hanya kedua tangannya meraih-raih sebisanya pada dinding tebing, belatinya juga sudah jatuh ke bawah, sampai lama sekali baru terdengar suara "trang".

Rupanya dinding tebing itu mendekuk ke dalam, makanya belati itu dapat jatuh lurus ke dasar jurang.

Dari kumandang suara jatuhnya belati yang sekian lama baru terdengar, dapat diperkirakan jurang itu sangat dalam.

Siau-hi-ji sudah mandi keringat dingin, tangan sudah tidak dapat meraih sesuatu tempat yang dapat digunakan untuk menahan tubuhnya, kalau terperosok sampai tempat mendekuknya dinding itu pasti akan langsung terjerumus ke bawah dan mustahil kalau tubuhnya tidak terbanting hingga hancur lebur.

Sungguh konyol, manusia paling pintar di dunia ini ternyata bisa mati di tangan kawanan kera.

Teringat ini, Siau-hi-ji hanya meringis saja, entah harus menangis atau harus tertawa.

Dilihatnya kawanan kera itu pun menirukan caranya terperosok ke bawah, tapi mendadak kawanan kera itu bercuit-cuit, satu sama lain bergandengan tangan, berpuluh kera itu saling tarik menarik dan kaki menahan dinding jurang, maka jadi mirip satu untai merjan yang bergelantungan di udara, tiada seekor pun yang terjatuh.

Sebaliknya Siau-hi-ji sudah terjerumus ke bawah, tangannya tidak dapat meraih sesuatu lagi.

Terpaksa ia hanya memejamkan mata dan pasrah nasib.

Pikirnya dengan menyeringai.

"Tamatlah riwayatku ... Siau-hi-ji akhirnya mati dibunuh kawanan kera ...."

Di luar dugaan, pada saat itu juga entah dari mana datangnya mendadak sebuah cakar kera yang berbulu lebat mencengkeram baju dadanya.

Tenaga cakar itu sungguh kuat luar biasa, namun daya perosot Siau-hi-ji ke bawah pun sangat keras, baju yang dicengkeram cakar kera robek dan tubuh Siauhi-ji masih terus terperosot.

Syukurlah pada detik terakhir itu cakar kera yang lain secepat kilat terjulur pula dan tepat berhasil menjambak rambut Siau-hi-ji.

Sudah tentu Siau-hi-ji meringis kesakitan hingga air mata hampir menetes, akan tetapi tubuhnya lantas tertahan dan tidak terjerumus ke bawah.

Sekilas terlihat untaian kera yang sedang main ayun-ayunan tadi sedang bercuit-cuit sambil menjibir padanya.

Sedangkan kedua cakar kera yang menyelamatkan jiwanya itu terjulur dari sebuah gua di dinding tebing itu.

Diam-diam Siau-hi-ji membatin.

"Yang mencengkeram diriku ini mungkin adalah raja kera, kalau tidak masakah memiliki tenaga sebesar ini. Terhadap manusia kiranya kera tiada punya kehendak baik, kalau aku sudah diseret ke atas, entah cara bagaimana aku akan disiksa."

Cara Siau-hi-ji ambil keputusan sungguh lebih cepat daripada siapa pun di dunia ini, begitu terpikir apa yang mungkin terjadi segera dia mengumpulkan tenaga dan bermaksud memanjat ke gua itu dan membekuk lawan lebih dulu.

Tak tahunya, belum lagi ia bergerak, tiba-tiba dari dalam gua berkumandang suara orang, suaranya kecil dan tajam, ucapnya dengan sekata demi sekata.

"Jangan bergerak, sekali bergerak segera kulemparkan kau ke jurang!"

Suara yang kecil dan tajam itu sungguh tujuh bagian mirip suara kera, tapi yang diucapkan jelas adalah bahasa manusia, memangnya kera juga dapat bicara manusia?

Wah, jangan-jangan di Go-bi-san ini ada siluman kera?

Kembali Siau-hi-ji berkeringat dingin, tanyanya dengan suara gemetar.

"Sesungguhnya kau ... kau ini apa?"

Suara itu terkikik-kikik dan menjawab.

"Kau sendiri apa, apa itulah diriku."

"Kau ... kau manusia?"

Tanya Siau-hi-ji.

"Coba terka aku ini manusia atau bukan?"

Siau-hi-ji menjadi ngeri, katanya pula.

"Apa kehendakmu?"

"Luruskan tanganmu dan tidak boleh bergerak,"

Kata suara itu.

Terpaksa Siau-hi-ji menurut, ia menurunkan kedua tangannya, mendadak tubuhnya diangkat ke atas oleh orang itu sehingga terasa seperti mengapung di udara.

Cakar kera itu menutuk pula kedua pundaknya, yang ditutuk ternyata tempat Hiat-to yang membuat tangannya tak dapat bergerak lagi.

Habis itu, ia benar-benar seperti seekor ikan diseret masuk ke dalam gua.

Mulut gua tidak besar, tapi di dalam gua ternyata tidak kecil.

Karena diseret begitu saja, sekujur badan Siau-hi-ji terasa pegal linu, kepala pusing.

Waktu ia membuka mata, dilihatnya seekor kera sedang tertawa lebar padanya.

"Kera"

Ini sungguh tidak kecil, juga tidak terlalu besar, malahan lebih pendek daripada Siau-hi-ji. Waktu dipandang lebih teliti.

"kera"

Ini ternyata berbaju, walaupun compang-camping, tapi jelas memang pakaian manusia, pakaian tulen, bukan tiruan. Ketika diteliti lebih lanjut, seluruh badan "kera"

Ini tidak saja berambut, bahkan berjenggot, jika dia ini kera, mengapa berambut dan berjenggot. Tapi kalau dia manusia, mengapa justru persis kera? "Nah, sekarang kau sudah melihat jelas bukan?"

Demikian "kera"

Itu bertanya dengan terkikik-kikik.

"Coba katakan, aku ini mirip apa?"

"Ada tiga bagian kau ini mirip manusia?"

Jawab Siau-hi-ji dengan tabahkan hati.

"Dan tujuh bagian lebih mirip kera, begitu bukan?"

"Ya, kalau tidak mendengar kau bicara manusia, pada hakikatnya setengah bagian saja kau tidak memper manusia."

Menghadapi kejadian aneh itu, ia sudah nekat dan tidak memikirkan mati-hidup lagi, sama sekali ia pun tidak gentar akan diperlakukan bagaimana oleh "makhluk aneh"

Itu. Tapi "kera"

Itu ternyata tidak marah, sebaliknya malah tertawa terkekeh-kekeh, katanya.

"Supaya kau tahu, aku ini memang keranya manusia dan manusianya kera, kau bilang aku ini manusia jelas betul, bilang aku kera juga tidak salah."

Siau-hi-ji jadi melengak, serunya.

"Keranya manusia ... manusianya kera ... memangnya kau ini ...."

"Jangan kau percaya ocehannya,"

Tiba-tiba suara seorang lagi menimbrung dengan dingin.

"Hakikatnya dia adalah manusia, cuma bentuknya saja mirip kera, pula berdiam lama dengan kawanan kera, maka sifat manusianya menjadi tersisa sedikit."

Bagian dalam gua itu sangat luas, cahaya matahari hanya dapat menembus masuk melalui mulut gua yang sempit itu, maka bagian belakang gua itu gelap gulita tak kelihatan apa pun.

Suara itu jelas berkumandang dari dalam gua, dingin, kaku, kedengarannya tidak terlalu mirip bicaranya manusia.

Keruan Siau-hi-ji terkejut pula, serunya.

"He, kau? Apa kau ini?"

Terlihat sesosok bayangan melangkah keluar perlahan dari tempat gelap, perawakannya juga kurus kecil, rambut semrawut, bentuknya juga cuma tiga bagian saja mirip manusia.

Tapi sorot matanya tampak bening, bahkan penuh kecerdasan, hanya manusia saja yang memiliki mata demikian ini.

Siau-hi-ji menghela napas lega, katanya.

"Ya, kau manusia, tapi ... siapakah kau sebenarnya? Mengapa berada di tempat begini? Sebab apa pula kau berubah seperti ini?"

Orang itu menghela napas panjang, katanya.

"Boleh kau tanya dia saja."

Belum lenyap suaranya, si "kera"

Tadi sudah lantas melonjak dan memaki dengan gusar.

"Tanya padaku? Hm, jika bukan lantaran kau, mana bisa kuterkurung di tempat seperti neraka ini dan mana mungkin berubah bentuk menyerupai kera begini?"

"Hm, memangnya kau mirip manusia?"

Jengek orang itu.

"Di antara Cap-ji-she-shio kalian siapakah yang menyerupai manusia?"

Sebenarnya Siau-hi-ji sedang memandang kedua orang ini dengan rasa kaget, heran dan rada geli pula melihat bentuk mereka, tapi demi mendengar ucapan ini, seketika ia terperanjat, ia pandang si "kera"

Dan bertanya.

"Jadi ... jadi engkau ini orang Cap-ji-she-shio?"

Mendadak si "kera"

Membusungkan dada dan menjawab.

"Betul, aku inilah Hian-ko-sin-kun (si malaikat penyuguh buah) dari Cap-ji-she-shio."

Tanpa terasa Siau-hi-ji melangkah mundur mepet gua, lalu berpaling kepada orang satunya lagi.

"Dan engkau ... engkau? ...."

"Hehe, kau masih muda, tentu tak pernah mendengar namaku ...."

Ucap orang itu dengan menyeringai. Mendadak ia berdiri tegak dan berseru.

"Tapi pada lima belas tahun yang lalu, kalau orang persilatan menyebut 'Hui-hoa-boan-thian, Lok-to-bu-seng' (bunga bertebaran di udara, jatuh ke tanah tanpa menimbulkan suara) Sim Gin-hong, kukira hampir setiap orang kenal namaku ini."

"Huh, kentutmu busuk!"

Jengek Hian-ko-sin-kun alias si kera.

"Sejak dulu paling-paling kau juga cuma tukang kawal saja, bila mendengar nama Cap-ji-she-shio kami, kau pasti kabur terbirit-birit."

"Hm, apa betul begitu?"

Sim Gin-hong balas mengejek.

Baca Juga: Patung Emas Kaki Tunggal 9

Baca Juga: Bangau Sakti 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert