Ceritasilat Novel Online

Bangau Sakti 1

Eps 1 Bangau Sakti - Chin Tung

Baca online Bangau Sakti - Chin Tung

Cersil Bangau Sakti - Chin Tung.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Bangau Sakti Karya Chin Tung Judul Asli . Sin Hok Sin Cin Upload by l4g1b3t3 Di

http.//indozone.net

Pdf Ebook oleh . Dewi KZ dan di upload di

http.//cerita-silat.co.ce/

Di antara kebun raya To Hoa Goan di sebelah Utara propinsi Hunan, ketika bunga-bunga Bwee sedang mekar nya, tiba-tiba keluarlah dari hutan pohon-pohon Bwee tersebut seorang gadis yang berpakaian merah dan memegang seikat bunga-bunga Bwee di tangan kirinya.

Gerakannya sangat lincah ketika ia berjalan dari hutan pohon-pohon Bwee itu menuju ke tepi sungai Gadis itu berparas cantik, dan

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

pakaiannya yang dari sutera merah itu menyebabkan lebih cantik lagi kelihatannya, Setelah ia tiba di tepi sungai dipetiknya beberapa tangkai bunga-bunga Bwee yang sedang dipegangnya dengan tangan kirinya dan dilemparkannya ke dalam sungai yang mengalir dengan sangat derasnya itu.

Pada saat itu dari hulu sungai datanglah sebuah perahu dengan laju sekali karena didorong oleh arus air yang deras itu.

Di atas perahu itu berdiri seorang pendeta yang berusia enam puluh tahun lebih, berjubah abu-abu, dengan wajah yang menampakkan kemurahan hatinya, setelah melihat pendeta itu, dengan tegas gadis itu berseru dengan suara yang nyaring.

"Suhu (guru)..."

Lalu melemparkan seikat bungabunga Bwee ke dalam sungai ia menghantamkan ujung jari kakinya ke tanah, dan secepat kilat meloncatlah ia ke atas perahu itu setelah menyentuh terlebih dahulu dengan ujung jari kakinya, ikatan bunga-bunga yang terapung di atas sungai ia meloncat dari tepi sungai ke samping pendeta itu dengan gesit sekali pendeta tua itu tertawa dan berkata.

"Gadis berusia tujuh belas tahun, mengapa demikian nakalnya!"

Lalu diambilnya jangkar besi dan dilemparkannya ke tepi sungai.

Tenaga pendeta tua itu betul-betul amat menakjubkan, karena baru saja gadis itu berada di sampingnya, jangkar besi itu telah dilemparkannya ke tepi sungai dan terpancang di dalam tanah di tepi sungai itu, Lalu dengan mengibaskan lengan bajunya, pendeta tua itu meloncat ke tepi, walaupun jarak dari perahu ke tepi sungai itu masih lima depa lagi jauhnya.

Setelah berada di tepi sungai, pendeta tua itu melihat bahwa gadis itu juga ingin meloncat ke tepi sungai, Rupanya gadis itu kurang cukup mengeluarkan tenaganya Agaknya ia akan kecemplung ke dalam sungai, akan tetapi lekas dibentangkannya kedua lengannya ke atas, dan ia pun melonjak ke atas lalu mendarat di samping pendeta tua itu!

Sambil tertawa ia berkata.

"Suhu, bagaimana pendapat Suhu tentang ilmu burung walet terbang di udara?"

Pendeta tua itu

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

menyahut sambil tersenyum.

"Kau telah peroleh kemajuan Tetapi tenaga yang kau curahkan masih kurang, Jika kau berada di dalam kepungan musuh, loncatan serupa tadi itu tak akan berhasil untuk membebaskan dirimu dari kepungan Mendengar celaan itu gadis tersebut rupa-rupanya tidak gembira, dan ia diam tidak bicara lagi Si pendeta tua mengerutkan keningnya, dan berpikir "Aku tak dapat memanjakannya terus-menerus, Ada baiknya aku cela ia pada kesempatan ini agar ia dapat mengerti maksud baik dari celaan itu, Jika sifat kepala batunya telah dapat dibasmi, maka mudahlah bagiku untuk mengajarnya Jika aku melihat parasnya yang cantik dan sikapnya yang menawan hati, aku teringat akan ibunya pada tiga puluh tahun yang lalu dan aku menjadi sedih, Tak sampai hatiku mencelanya lagi"

Dan dengan tak disadarinya, berkatalah ia dengan suara rendah.

"Loan Jie, mari sini!"

Gadis yang sedang menahan kemarahannya itu menoleh ke arah pendeta tua itu ketika mendengar teguran itu, ia melihat mata pendeta tua itu berlinang-linang.

Terkejutlah ia dan cepat-cepat ia berlutut di hadapannya Sambil menangis ia berkata.

"Suhu, jangan marah, Loan Jie tak akan bersikap angkuh lagi terhadap Suhu, Mohon Suhu sudi memaafkan."

Pendeta tua itu lalu mengangkatnya sampai berdiri dan berkata sambil tersenyum.

"Hian Ceng Totiang dari kuil San Ceng Koan adalah salah seorang dari ketiga guru-guru partai Kun Lun. ilmu silat pedang Hun Kong Kiam Hoatnya tak ada taranya di kolong langit Untuk melatih ilmu silatmu, aku telah berjanji dengan dia untuk tukar menukar mengajar mu-ridmurid masing-masing. ialah yang akan berhasil mempelajari ilmu silat pedang tersebut agar kau sendiri dapat membalas dendam ibu-bapakmu...."

Ia berhenti, mengerutkan keningnya, dan tak bicara lagi ia terkenang lagi pada kisah yang lampau.

Si gadis merasa cemas melihat Suhunya tidak berbicara lagi Dipegangnya tangan pendeta tua itu, dan dengan suara yang ramah ia menghibur "Suhu, jangan bersedih hati lagi Loan Jie telah berjanji tak akan menyedihkan Suhu lagi."

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

teringat suatu soal, dan bertanya.

"Suhu, baru saja Suhu berbicara tentang ibu-bapakku, Soal itu selalu menjadi buah pikiranku, tetapi Suhu tidak sudi menceritakan tentang kelahiranku Aku tak ingat sedikit pun tentang ibu-bapakku, jika Suhu tidak menceritakannya, Loan Jie betul-betul merasa sedih."

Air matanya pun mengucur keluar dari kedua matanya. Wajah pendeta tua itu menjadi sedih. Diusap-usapnya rambut gadis itu dan berkata.

"Soal itu akan kuceritakan juga kelak kepadamu, Hanya waktunya belum tepat, Aku menghendaki agar kau mempelajari ilmu pedang Hun Kong Kiam Sut dulu dari paman gurumu Hian Ceng Totiang...."

Ketika pembicaraan mereka sampai di situ, pendeta tua itu melihat seorang pemuda bertubuh tegap, berwajah tampan dan berpakaian hijau berjalan keluar dari kebun pohon-pohon Bwee, Dihampirinya pendeta tua itu, lalu sambil membungkukkan tubuh memberi hormat, berkatalah ia.

"Guruku mengetahui bahwa Ngo KongSu Pek akan datang menyambut Teecu tidak menduga Su Pek telah tiba."

Si pendeta tua berkata sambil tertawa.

"Selama tiga bulan Loan Jie mungkin telah berbuat kenakalan dan mengganggu gurumu Ceng Siu."

Cepat-cepat pemuda itu menggoyangkan tangannya dan menyahut.

"Ceng Loan Sumoy sangat pintar dan cerdas, ia telah mempelajari ilmu silat dari Ngo Kong Su Z Pek. Guruku sering berkata bahwa kemajuannya di kemudian hari tak akan terhingga, Teecu ini bodoh. Selama tiga bulan telah berlatih silat bersama-sama Ceng Loan Sumoay, dan Teecu memperoleh banyak manfaat dari-padanya, Bagaimanakah dapat dikatakan ia mengganggu?"

Si gadis mendengar ia dipuji merasa gembira, dan wajahnya yang sedih tadi lenyap, berubah menjadi berseri-seri.

ia mengawasi pemuda itu, yang tak berani mengawasinya kembali Melihat sikap pemuda dan pemudi itu, pendeta tua itu menarik napas dan berpikir "Setelah Loan Jie berjumpa

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

dengan pemuda ini, ia sering-sering mengajak aku datang ke kuil San Ceng Koan dengan alasan memetik bunga-bunga Bwee.

Aku insyaf bahwa Loan Jie telah jatuh cinta pada pemuda ini, jika aku ingat akan masa muda ku, aku pun pernah menghebohkan karena asmara, Tetapi aku beruntung dapat menjumpai seorang sakti, guna mempelajari ilmu silat yang luar biasa.

Ya...

kisah-kisah yang lampau laksana impian, Selama dua puluh tahun aku menjadi pendeta dan sembahyang di hadapan Hut-cu, Tapi aku tak dapat menghilangkan kenang-kenangan itu.

Hampir tiap-tiap malam aku berjumpa dengannya di dalam mimpi.

Kini ia telah meninggal dunia karena dicelakakan orang.

Ketika ia hendak menarik napas yang penghabisan ia mengatakan bahwa Loan Jie adalah puterinya, Aku harus menjaga Loan Jie baik-baik demi untuk kenang-kenangan...."

Ketika itu keringat keluar dari seluruh tubuhnya, Matahari pun sudah condong ke sebelah Barat, dan melalui hutan pohon-pohon Bwee menyorot muka Ceng Loan yang masih mengawasi pemuda itu.

pendeta tua itu pun mengawasi pemuda itu dan berpikir "Hian Ceng telah pilih pemuda ini sebagai murid, sebetulnya pemuda ini luar biasa.

Hati Loan Jie yang cantik jelita telah tertawan padanya, akan tetapi ia seakan-akaa tak tertarik pada Loan Jie!"

Pada saat itu pemuda berpakaian hijau itu membungkukkan tubuhnya memberikan hormat lagi, dan berkata.

"Guruku telah menanti Su Pek (paman guru) di kamarnya. Mohon Su Pek datang ke kuil."

Si pendeta tua menganggukkan kepalanya dan mereka bersama-sama menuju ke kuil San Ceng Koan dengan jalan melalui hutan pohon-pohon Bwee, Ketiga orang itu baru saja berjalan beberapa tindak, tetapi sekonyong-konyong terdengar oleh mereka suara jeritan yang nyaring seperti juga seekor burung terluka dan menjerit-jerit karena sakit dan sedih sehingga menyebabkan bulu roma berdiri Ngo Kong Toa-su mengerutkan keningnya, dan Ceng Loan beserta pemuda berpakaian hijau itu juga telah berhenti dan berdiri tegak, jeritan itu kedengaran makin lama makin dekat.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Ketika suara jeritan tersebut berhenti, terdengar oleh mereka suara senjata yang saling beradu seakan-akan dua orang sedang bertarung dengan menggunakan senjata tajam.

Pemuda yang berpakaian hijau mengerutkan kening dan berpikir.

"Tempat di luar kuil San Ceng Koan maupun di tepi sungai Goan Kang senantiasa aman dan tenang, Suara itu rupanya dari tepi sungai Masa perampok-perampok berani datang ke sini dan merampok para saudagar yang kebetulan lewat di sini Aku harus pergi menyelidiki Lalu ia lari ke tepi sungai Ceng Loan masih saja dimabuk asmara, dan setelah melihat pemuda itu lari ke tepi sungai, ia pun tak dapat menahan diri ia berseru-seru.

"Bee Suheng, tunggu aku! Kita pergi bersama-sama!"

Si pemuda berhenti sejenak menunggu Ceng Loan yang berseri-seri wajahnya Tepat pada saat itu, di jalan hutan pohon-pohon Bwee lari keluar seorang yang bertubuh besar dengan berlumuran darah, ia memegang sebuah golok besar, dan di belakangnya mengejar dua orang, Ketiga orang itu pesat sekali larinya, dan sudah hampir mendekati Ceng Loan dan pemuda berpakaian hijau itu.

Orang yang mengejar paling depan mengeluarkan pisau perak dan melemparkannya ke punggung orang yang dikejarnya itu.

Meskipun sudah luka dan kena senjata rahasia, orang yang dikejar itu masih berusaha lari secepat-cepatnya.

Ketika melihat si gadis dan si pemuda, orang yang dikejar itu berteriak.

"Lekas-lekas panggil kepala kuil San Ceng Koan!"

Pada saat itu ia berteriak, ia telah tertangkap, dan dipukul oleh kedua orang yang mengejarnya, Orang yang bertubuh besar itu tak dapat bertahan lagi ia jatuh ke tanah, dan darah mengalir keluar dari mulutnya, Pemuda berpakaian hijau yang menyaksikan dahsyatnya tinju-tinju kedua orang yang mengejar itu, juga terkejut ia telah mendengar orang yang jatuh itu menyuruhnya lekas-lekas

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

memanggil kepala kuil San Ceng Koan, gurunya, ia menduga bahwa orang itu ada hubungannya dengan gurunya.

Dengan tidak memikirkan akan akibatnya, ia meloncat dan berdiri di hadapan orang-orang yang sedang memukul orang yang bertubuh besar itu, Kedua pengejar-pengejar itu telah melihat bahwa orang yang bertubuh besar itu telah kena jarum Liong Si Cin (kumis naga) dan tinju Pai San Cong (menggempur gunung), dan yakin orang itu tak akan dapat melarikan diri lagi Mereka berhenti memukul dan menghadapi pemuda itu.

Pemuda yang berpakaian hijau bernama Bee Kun Bu.

ia adalah murid kesayangan Hian Ceng Totiang dari kuil San Ceng Koan, dan Hian Ceng Totiang adalah salah seorang dari ketiga guru-guru partai Kun Lun yang termasyhur dengan ilmu pedang Hun Kong Kiam (memancarkan sinar) dan ilmu silat tinju Tian Kang Cong (meninju bintang-bintang di langit) di kalangan Bu Lim, Bee Kun Bu telah tinggal bersama gurunya, Hian Ceng Totiang selama dua belas tahun dan telah mempelajari hampir semua ilmu silat partai Kun Lun.

Dengan berdiri tegak Bee Kun Bu mencegah kedua orang itu.

Ketika ia mengawasi wajah kedua orang.

itu, ia pun terkejut ia melihat bahwa kedua orang itu berusia lebih dari lima puluh tahun, Yang seorang mempunyai alis mata yang merupakan huruf M, matanya berbentuk segi tiga, mukanya hitam di sebelah kiri dan putih di sebelah kanan, dan rambutnya hanya tiga dini panjangnya.

Yang seorang lagi, mukanya agak putih, akan tetapi pucat pasi seperti mayat dan berkumis kuning, Keduanya berjubah kain goni dan bersandal kain goni pula, Pada umumnya rupa keduanya membangkitkan perasaan seram!

Ceng Loan melihat Bee Kun Bu maju seorang diri, merasa khawatir kalau-kalau ia tak dapat meladeni kedua orang itu.

ia meloncat maju, tetapi ketika melihat rupa kedua orang itu, ia pun merasa seram!

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Lalu orang yang bermuka belang itu bertanya dengan mengejek.

"Kamu ini, pemuda dan pemudi, apakah hubunganmu dengan kuil San Ceng Koan? Ayo! Lekas-lekas enyah! jangan merintangi kami!"

Bee Kun Bu sangat waspada, karena ia tadi telah menyaksikan betapa dahsyatnya tinju kedua orang itu, ia menduga, bahwa kedua orang ini, jika bukan perampokperampok besar, tentunya jago-jago silat Sebelum ia memperoleh sesuatu keterangan ia pun tidak ingin mencari kerusuhan, Apalagi kedua orang itu bukan musuhnya.

ia bermaksud merintangi perbuatan kejam dari kedua orang itu dengan jalan memberi peringatan, sambit mengulur waktu sampai gurunya datang.

Lalu dengan suara rendah ia berbisik pada Ceng Loan.

"Loan Sumoay, kau lekas-lekas pergi minta Su Pek datang."

Ceng Loan menganggukkan kepalanya, lalu lari memanggil Suhunya, Kemudian sambil membungkukkan tubuh, dengan ramah Bee Kun Bu berkata kepada kedua orang yang ganjil itu.

"Hamba adalah murid dari San Ceng Koan, Hamba ingin mengetahui nama-nama kedua Bapak ini, agar hamba dapat menyampaikan kepada guru hamba, bahwa ada tamu-tamu datang."

Kedua orang ganjil itu telah menerka maksud Bee Kun Bu, dan dengan tertawa si muka belang mengejek.

"Kau ini banyak akal. Apakah kau kira dengan menggunakan nama Hian Ceng Totiang kau dapat menakut-nakuti kita?!"

Belum lagi selesai ia bicara, si muka pucat meneruskan.

"Lote, mengapa kau banyak bicara."

Lalu ia menerkam orang yang bertubuh besar yang menggeletak di tanah, Bee Kun Bu tak dapat menyabarkan dirinya.

Dengan menggunakan ilmu tenaga dalamnya, dirintanginya si penerkam dengan ilmu Heng Kang Cai Tou atau melangkah lebar untuk mengambil bintang.

"Buk!"

Terdengar suara dari dua tenaga yang beradu! Tubuhnya Bee Kun Bu terdorong mundur lima atau enam kaki, dan tubuhnya si muka pucat, yang tidak menduga lihaynya Bee Kun Bu, juga

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

terdorong mundur tiga atau empat kaki, Bee Kun Bu merasa kepalanya pusing, akan tetapi ia masih dapat melihat bahwa orang yang telah terluka dan menggeletak di tanah itu terguling-guling tujuh atau delapan kaki jauhnya, Dengan kedua matanya terbelalak, dan darah mengalir keluar dari hidung dan mulutnya Kedua orang-orang ganjil itu menyerang lagi dari kiri dan kanan, dan si muka belang membentak.

"Kau ini mau mati! jangan menyalahkan kami kejam!"

Baru saja Bee Kun Bu dapat merasakan, bahwa ia tak dapat melawan si muka pucat, bagaimanakah sekarang ia dapat melawan mereka berdua?

ia bertekad untuk melawan terus, karena ia ingin mengetahui barang apakah yang hendak mereka ambil, dan ia menduga bahwa barang itu tentu ada hubungannya dengan gurunya, Maka ketika ia diserang oleh kedua orang itu, dibentangkannya kedua lengannya dan menangkis dengan sekuat tenaga, Baru saja ia mementangkan kedua lengannya, terdengar olehnya suara orang berseru.

"Kun Bu! Lekas mundur! Apakah kau tidak sayang dengan jiwamu?!"

Mendengar seruan itu, Bee Kun Bu buru-buru menarik kembali kedua lengannya, dan dengan ilmu Yan Ceng Cap Pwee Hoan atau "Burung walet melakukan delapan belas putaran", ia meloncat terbang ke atas membebaskan diri dari seranganserangan dahsyat lawannya!

ia membaui hawa yang harum dan punggungnya terdorong ke depan!

Sebetulnya, ketika Bee Kun Bu diserang oleh kedua orang yang ganjil itu, meloncatlah dari udara seorang pendeta dan seorang rahib yang menangkis serangan-serangan kedua orang yang ganjil itu, Tangkisan tersebut dilakukan dengan menggunakan ilmu Pik Kong Cong Lit atau tinju menumbangkan tembok besi sehingga kedua perampok itu terpelanting jauh sekali Hian Ceng Totiang lalu menghampiri murid kesayangannya dan mengetahui bahwa muridnya telah terluka enteng, Dengan kedua mata terbelalak Hian Ceng Totiang membentak.

"Hei! siluman dari sebelah Selatan sungai! Mengapa kamu mengganggu daerah San Ceng Koan lagi! Mengapa kamu melukai murid-muridku? Aku, meskipun

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

memegang pedang bertahun-tahun, tak pernah mengganggu orang-orang dari kalangan Kang Ouw, Kamu telah menghina dan melukai murid-muridku, apakah kamu ingin memaksa aku untuk menggunakan pedang?!"

Kedua perampok itu belum menyahut, tetapi orang yang menggeletak dan berlumuran darah di seluruh tubuhnya tibatiba berusaha bangkit dan sambil menunjuk dadanya ia menjerit "Suhu!

Peti surat rahasia Kui Goan...."

Sayang ucapan itu belum habis, si muka pucat melemparkan Huitonya (senjata tajam yang pendek) ke tubuh orang yang terluka itu.

Hian Ceng Totiang tidak menduga, bahwa siluman itu sedemikian benar kejamnya, ia tak sempat menolong, Huito itu terpancang di dada orang yang terluka itu.

ia telah kena Liong Si Cin (senjata rahasia kumis naga), dan meskipun ia berusaha menahan dengan tenaga dalamnya, ia pun tak dapat menahan lagi, ia menjerit keras, menarik napas panjang, dan jatuh lagi untuk menarik napas yang penghabisan!

Hian Ceng Totiang mengenali bahwa orang yang terbunuh itu adalah Sim Cong, muridnya sendiri yang telah di usir nya dua puluh tahun yang lampau, karena perbuatannya yang rendah, Meskipun demikian, ia merasa sedih menyaksikan kematiannya.

ia menjadi gusar sekali, dan menghadapi kedua perampok itu.

Tetapi si muka belang telah secepat kilat meloncat menerkam dada Sim Cong yang telah menjadi mayat!

Kali ini, Hian Ceng to Tiang telah siap, ia tidak memberi kesempatan lagi, Sambil menjerit, dengan jurus Hong Lui Kauw Kit atau "Geledek Menyambar di Waktu Badai"

Ia mendorong dengan kedua telapakan tangannya ke depan ke arah tubuh si muka belang!

Ngo Kong Toa-su yang telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa kejamnya kedua siluman tersebut menyerang orang yang telah terluka, juga bukan main marahnya Dengan lengan bajunya dikipaskannya muka si muka pucat dengan ilmu Liu Eng Bu Kong atau "Kunang-kunang Mencari di Angkasa",

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Hian Ceng Totiang adalah yang sangat ditakuti di kalangan Bu Lim pada dewasa itu, dan dorongan tersebut betul-betul hebat seperti petir.

Si muka belang yang sedang menerkam mayat Sim Cong merasakan angin serangan itu, tetapi tak sempat mengelak Dengan tinju kanannya dicoba nya menangkis, Tapi lengannya segera patah dan ia terlempar tujuh atau delapan kaki jauhnya membentur sebuah pohon!

Ngo Kong Toa-su juga menyerang si muka pucat dengan seluruh tenaga, Kebutan lengan baju itu ditahan oleh si muka pucat dengan kedua tinjunya disertai dengan tenaga dalam, Tubuhnya tergetar, dan ia buru-buru menarik kembali tinjunya, akan tetapi terlambat ia merasa seakan-akan dadanya di timpa palu yang beratnya seribu kilo, ia jatuh tertelentang di tanah, dan darah mengalir keluar dari hidung dan mulutnya, Kedua siluman itu telah menderita luka-luka yang hebat sekali di dalam tubuhnya, akan tetapi karena ilmu silat yang sangat tinggi, mereka tidak segera mati, Si muka belang menggunakan ilmu tenaga dalamnya, lalu ia berdiri lagi, Dengan tertawa sebagai orang gila ia berkata.

"Hian Ceng Totiang, Ngo Kong Toa-su, serangan-serangan itu hebat sekali, dan kita tak akan lupa, Begitu lama kita masih bernapas, kita pasti datang membalas dendam ini!"

Ketika itu si muka pucat juga telah bangkit setelah menahan mengalirnya darah dengan ilmu tenaga dalamnya, Lalu bersama-sama si muka belang, ia lari ke dalam hutan menjerit-jerit seperti setan-setan menangis, dan dalam sekejap mata saja mereka tak kelihatan lagi, Lalu Hian Ceng Totiang menghampiri Bee Kun Bu yang menderita sedikit luka, dan Ngo Kong Toa-su yang bermurah hati, juga tak mengejar kedua jahanam yang lari ke dalam hutan, Setelah yakin bahwa Bee Kun Bu tidak menderita hebat, Hian Ceng Totiang menghampiri Hian Ceng Totiang menampak bahwa di atas kain sutera itu ada lukisan pemandangan gunung, sungai dan sebagainya mayat Sim Cong yang penuh dengan tusukan senjata tajam, dan seluruh pakaiannya basah kuyup oleh darah.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

mengucurkan air mata ketika mengingat bahwa Sim Cong itu adalah bekas muridnya.

Lalu diperiksanya dada mayat itu, karena ia ingat bahwa ketika Sim Cong hendak menarik napas yang penghabisan, ia telah mengatakan tentang suatu di dadanya, Betul saja Hian Ceng Totiang menemukan sebuah kotak kecil, yang terbuat dari batu Giok.

Kotak itu dibukanya, dan tampaklah sehelai sutera putih yang luasnya lebih kurang satu kaki persegi, dan di atas kain sutera itu ada lukisan pemandangan gunung, sungai dan sebagainya, Lukisan tersebut memperlihatkan tiga puncak gunung yang berdiri tegak merupakan segi tiga karena sebuah puncak berada di belakang dua puncak yang berdampingan Air terjun mengalir dari puncak yang di belakang dan di tengah.

Hian Ceng Totiang tak dapat menafsirkan arti daripada lukisan di atas kain sutera itu.

ia membalikkan kain sutera itu, dan melihat bahwa kain sutera itu terdiri dari dua lapis yang dijahit menjadi selapis, Dibukanya lapisan itu dan diperiksanya di dalamnya, Segera ia merasa seolah-olah jantungnya tertusuk, dan air matanya mengalir keluar!

Agak lama juga mayat Sim Cong diawasinya, Sambil menarik napas panjang ia berkata.

"Dengan kesetiaanmu kau telah menunaikan tugasmu, Meskipun kau telah tewas, namun kau tewas sebagai seorang murid partai Kun Lun yang setia...."

Perbuatan Hian Ceng Totiang membikin Ngo Kong Toa-su berdiri terpesona, Bee Kun Bu karena hendak merintangi perbuatan yang kejam dari kedua siluman itu, telah menderita luka di dalam tubuhnya, Beruntung sekali Hian Ceng Totiang cepat tiba untuk menolong, dan ia terluput dari tinju yang maha dahsyat dari kedua siluman tadi, Dan ketika ia terpental ke udara karena angin yang timbul dari tinju yang maha dahsyat itu, Ceng Loan cepat tiba menangkap tubuhnya dan menolong membebaskan jalan darahnya.

Betul Bee Kun Bu telah menggunakan tenaga dalamnya menahan tinju kedua siluman itu, akan tetapi jalan darahnya

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

harus dibebaskan agar ia tidak pingsan.

Ketika ia membuka matanya dilihatnya bahwa ia berada dalam pelukan Ceng Loan.

Mukanya merah karena malu dan ia cepat-cepat berdiri Melihat Bee Kun Bu telah dapat berdiri, Ceng Loan menjadi gembira dan bertanya.

"Bee Suheng, apakah engkau luka?"

Bee Kun Bu menganggukkan kepalanya dan menyahut.

"Baru saja aku merasa sukar bernapas. Tapi sekarang aku merasa lega, berkat pertolongan Sumoay, Terima kasih."

Sambil tersenyum Ceng Loan berkata lagi.

"Jika demikian halnya, aku merasa puas."

Lalu mereka menghampiri Hian Ceng Totiang yang sedang mencoba mengangkat mayat Sim Cong, Bee Kun Bu bertanya.

"Suhu, siapakah ia? Biarlah Teecu yang mengangkat Hian Ceng Totiang melihat, bahwa ia sudah segar kembali juga merasa gembira, dan berkat a.

"Orang ini adalah Suhengmu, Ayo beri hormat kepada jenazah -nya!"

Bee Kun Bu terkejut, karena disangkanya Hian Ceng Totiang hanya mempunyai seorang murid -yakni ia sendiri dan gurunya belum pernah memberitahukan bahwa ia mempunyai murid-murid lain, Mengapa sekarang secara tibatiba saja datang seorang murid yang telah menjadi mayat?

Melihat wajah gurunya yang muram, ia pun tak berani menanyakan hal itu lebih lanjut ia memberi hormat dengan membungkukkan tubuh di hadapan mayat itu, lalu dengan kedua lengannya diterimanya mayat itu dari tangan gurunya.

Ngo Kong Toa-su yang juga mendengar ucapan Hian Ceng Totiang itu tak ingin pula menanyakan Bersama-sama Ceng Loan ia berjalan melalui hutan pohon-pohon Bwee ke kuil San Ceng Koan, setibanya di kuil, Hian Ceng Totiang membakar mayat Sim Cong, lalu abunya dimasukkan ke dalam sebuah guci kecil dari porselin untuk dikuburkan di pekarangan belakang kuil itu.

Di depan kuburannya ditegakkan sebuah batu dengan tu-lisan.

"Kuburan murid partai Kun Lun, Sim Cong."

Pekerjaan mengurus jenazah Sim Cong telah berlangsung sampai senja, Malam itu kebetulan terang bulan, Untuk

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

menghilangkan perasaan sedihnya, Hian Ceng Totiang keluar berjalan-jalan di sekitar kuil, disertai oleh muridnya Bee Kun Bu.

ia mengenangkan kisah yang terjadi pada beberapa puluh tahun yang lampau, dan dengan tak sadar ia berkata.

"Hai! Muridku, Suhengmu karena tabiatnya yang berangasan telah bersalah karena melukai orang-orang dari partai silat Siauw Lim, dan hampir-hampir merenggangkan kedua partai silat itu. Karena perbuatannya yang rendah itu, aku terpaksa mengusirnya. Tapi... ia kemudian menyesal dan insyaf akan kesalahannya, dan berusaha memperbaiki dirinya. Dengan susah payah ia telah kembali dan minta ampun kepadaku. Tiga kali ia datang, tetapi ketiga-tiga kalinya aku menolak menerimanya kembali menjadi murid. Pada ketiga kalinya, ia bersumpah di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa ia akan menunaikan tugas apapun yang diberikan kepadanya asal saja ia dapat diterima kembali olehku, Ketika itu aku mengatakan kepadanya "Cari peta asli dari barang-barang simpanan berharga dari kalangan Bu Lim. Jika kau gagal memperoleh peta asli itu, jangan pikirkan hendak kembali pada ku ! Dengan tekun ia berusaha menunaikan tugas itu, dan selama dua puluh tahun ia telah berusaha mencari peta asli itu, ia berhasil, dan dalam perjalanannya kembali ke kuil ini, sebagaimana telah kau saksikan, ia telah dikejar oleh kedua siluman yang kejam dari sebelah selatan sungai, dan ia telah terbunuh di luar kuil San Ceng Koan. Dikemudian hari, setelah kau memahami betul-betul ilmu silat yang kuajarkan kepadamu, kau tak boleh berlaku kejam terhadap orang yang baik, akan tetapi orang-orang yang jahat di kalangan Kang Ouw, harus kau basmi dengan sesungguh hati!"

Bee Kun Bu yang mengikuti gurunya dari belakang hanya mengangguk dan menyatakan akan memperhatikan pesan gurunya itu.

Lalu mereka kembali ke kuil Ngo Kong Toa-su sedang menunggu di kamar, dan ingin berbicara dengan Hian Ceng Totiang, Tapi melihat wajahnya yang masih muram, tidak ingin ia memusingkan kawannya itu dengan banyak pertanyaan ia hanya berdiri mengawasi perubahan sikap kawan karibnya itu!

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Setelah masuk ke dalam sebuah kamar, Hian Ceng lotiang membuka laci sebuah meja dan mengeluarkan sebuah kotak kayu yang berwarna merah.

Kotak merah itu ditaruhnya di atas meja, lalu ia berlutut dan memberi hormat Dibukanya kotak itu, dan diambilnya sehelai kain sutera untuk dipancarkan di atas tembok di belakang meja itu, Bee Kun Bu mengawasi lukisan di atas kain sutera itu.

Di atas kain sutera yang berwarna kuning itu tersulam dengan benang putih gambar seorang tua yang mengenakan jubah.

Dari punggungnya menonjol keluar sebatang pedang, Setelah melihat gambar itu Bee Kun Bu terpesona dan tibatiba dibentak oleh Hian Ceng Totiang.

"Kun Bu! Ayo beri hormat kepada nenek laki-laki dari partai silat Kun Lun yang menciptakan ilmu silat pedang Tin San Kiam Hoat (ilmu silat pedang yang dapat menumbangkan gunung)!"

Ngo Kong Toa-su yang menyaksikan itu, setelah mendengar ucapan kawan karibnya, buru-buru maju ke depan meja itu dan membungkukkan diri memberikan hormat kepada gambar di atas tembok itu!

Kemudian ditariknya lengan Ceng Loan, keluar dari kamar itu.

Setelah Bee Kun Bu memberi hormat dengan berlutut di depan gambar itu dan membungkukkan tubuh sehingga kepalanya menyentuh lantai tiga kali, Hian Ceng Totiang menyimpan kembali gambar itu baik-baik di dalam laci.

Dengan khidmat ia berkata.

"Di kalangan Bu Lim banyak orang salah anggap bahwa ilmu silat pedang Kun Lun Hun Kong Kiam Hoat (memancarkan sinar) hanya ada sembilan puluh enam rupa, Anggapan itu keliru! Hun Kong Kiam Hoat adalah seratus delapan rupa dengan seratus delapan jurus, Di antara seratus delapan jurus itu, ada dua belas jurus yang paling dahsyat dan yang paling sukar dipahami, dan dua belas jurus ini mempunyai nama istimewa ialah.

"Cui Hun Ciap Ji Kiam atau Dua belas Jurus Mengusir Setan"! Aku telah berjanji dengan Su Pekmu (paman Guru), jika tidak dapat persetujuannya ketiga guru-guru dari partai Kun Lun, aku tak dapat menurunkan ilmu silat ini kepada murid yang manapun,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Malam ini aku telah minta izin dari nenek laki-laki partai silat Kun Lun kita untuk melanggar janji itu dan mengajarkan dua belas jurus tersebut kepadamu, Nah...

mulai besok, kuajarkan kepadamu satu jurus tiap-tiap hari...."

Lalu ia diam sejenak Kemudian diperintahkannya Bee Kun Bu.

"Sekarang kau keluar dan panggil Ngo Kong Su Pek, Malam ini adalah malam terang bulan, kau dapat berjalanjalan dengan Ceng Loan, atau berlatih silat dengan dia. Jika aku tidak memanggilmu, kamu tidak boleh masuk ke kamar ini." -ooo0oooPertempuran dahsyat di atas puncak Bee Kun Bu tak berani bertanya lagi meskipun ia mengetahui bahwa kematian Sim Cong bukanlah urusan remeh. ia membungkukkan tubuh memberi hormat, lalu keluar dari kamar itu. Ngo Kong Toa-su berada di pekarangan belakang sedang memberi petunjuk-petunjuk kepada Ceng Loan tentang cara berlatih ilmu silat Bee Kun Bu menyampaikan pesan gurunya kepada Ngo Kong Toa-su. Kemudian diusulkannya pada Lie Ceng Loan untuk berlatih ilmu silat bersama-sama, Usul tersebut diterima dengan gembira oleh si gadis. Ngo Kong Toa-su masuk ke kamar di mana Hian Ceng Tetiang masih memperhatikan kotak yang berisi gambar peta. Ketika Ngo Kong Toa-su menghampiri ia pun terkejut Lalu kemudian bersama-sama mereka mempelajari peta itu. Di atas kain sutera putih tertulis tiga huruf yang berbunyi.

"Peta asli simpanan barang-barang yang berharga"

Dan di bawah tiga huruf tersebut tertulis pula suatu sajak yang berarti.

"Kembali dengan rahasia dari perjalanan Pedang sakti selalu membawa jasa baru Pohon cemara menyaring sinar bulan Air bening mengalir di atas batu."

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Di bawah sajak tersebut ada lukisan tiga puncak gunung yang mengapit sebuah lembah curam, di mana jalannya berliku-liku dan pohon-pohon cemara tumbuh dengan sangat suburnya, Tampak pula sebuah pohon cemara yang lebih tinggi dari pohon-pohon yang lain, dan daunnya yang rindang merupakan payung.

Sinar bulan memancar melalui daun-daun pohon itu ke atas sebuah sungai yang mengalir di bawah pohon itu.

Meskipun sungai itu tidak luas, tapi dalam, Sambil mengawasi Ngo Kong Toa-su, Hian Ceng Totiang berkata.

"Peta asli simpanan barang-barang berharga ini adalah suatu mustika di kalangan Bu Lim. Untuk mencari peta asli ini, banyak jago-jago silat telah tewas selama seratus tahun ini. Tapi tanpa banyak kesukaran, aku telah memperolehnya,.,."

Ia teringat lagi akan tewasnya Sim Gong, dan ia merasa sedih kembali Tentang sajak yang tertulis di dalam peta asli itu, telah pula kudengar sedikit Tapi tafsirannya beraneka warna,"

Kata Ngo Kong Toa-su.

"Partai silat Kun Lun telah menjagoi di kalangan Kang Ouw beberapa puluh tahun, dan mempunyai banyak pengalaman Aku minta saudara menceritakannya."

Hian Ceng Totiang tersenyum, lalu berkata.

Tentang arti garis pertama.

Kembali dengan rahasia dari perjalanan kita harus menceritakan kisah yang terjadi pada tiga ratus tahun yang lalu mengenai seorang yang luar biasa dan seorang Shin Ni (rahib perempuan), kedua orang tersebut mempunyai ilmu silat yang luar biasa tingginya, dan dapat dikatakan tak ada lawannya, karena ilmu silat luar maupun dalamnya telah mencapai tingkat yang tertinggi Pada zaman itu terdapat banyak partai-partai silat, tapi partai silat Siauw Lim dan Bu Tong adalah yang terkenal, dan murid-muridnya terbanyak.

Lalu partai-partai silat Hua San, Kun Lun, Tiam Cong, Tong Kong, Ceng Sia, Tiang Uong, Ngo Bie menduduki urutan kedua, Partai-partai silat yang lain-lainnya, meskipun banyak jumlahnya, dan mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri, tak dapat juga menandingi ke sembilan partai silat tersebut Lagi pula tiap-tiap partai silat yang terkenal itu mempunyai jago-

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

jago silat yang lihay sekali, dan zaman itu boleh dikatakan zaman emasnya kalangan Bu Lim.

Tiap-tiap partai silat yang terkenal itu, karena ingin menjagoi di kalangan Bu Lim, telah berjanji mengadu silat pedang di atas puncak gunung Sao Sit Hong, dan janji tersebut telah menarik banyak jago-jago silat untuk memperlihatkan kelihayannya, Dengan demikian daerah di sekitar puncak gunung Sao Sit Hong itu telah menjadi tempat berkumpul para jago-jago silat.

Masing-masing partai dari ke sembilan partai silat yang terkenal itu mengirimkan tiga orang jago-jago silat untuk bertempur silat pedang dengan bergiliran melawan saingansaingan dari partai silat lain selama tujuh hari.

Jago-jago silat dari ke sembilan partai silat itu banyak yang luka dan tewas, Partai-partai silat Hua San, Tiam Cong, Tong Kong, Hua San telah dikalahkan, dan partai-partai silat Siauw Lim, Bu Tong, Kun Lun, Ceng Sia dan Ngo Bie masuk dalam pertempuran yang menentukan Sudah pasti jago-jago silat yang harus bertempur adalah jago-jago silat yang luar biasa dari yang luar biasa kelihayannya.

Tewasnya seorang jago silat, berarti hilangnya kepandaian silat yang harusnya diwariskan kepada angka tan-angkatan muda.."

Ia menarik napas panjang, dan tidak meneruskan pereakapannya, Ngo Kong Toa-su yang ingin mendengar seterusnya, mendesak.

"Bagaimanakah hasil pertempuran silat pedang itu? partai silat yang manakah yang keluar sebagai pemenang?"

Hian Ceng Totiang terpaksa meneruskan "Jika pertempuran-pertempuran ketika itu dapat menentukan sehingga dapat pula menetapkan urutan-urutan dari partaipartai silat, mungkin dapat menciptakan keamanan di kalangan Bu Lim walaupun akan banyak memakan korban justru pada ketika para jago itu ingin bertempur, Giok liong Cin Jin buru-buru datang ke puncak Sao Sit Hong dan membujuk supaya pertempuran itu dihentikan saja, Tapi para jago silat dari kelima partai itu, yang dalam beberapa ratus tahun telah

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

dipusingkan mengenai urutan-urutan tentang ketangkasan dan kelihayan silatnya masing-masing, tidak mudah dibujuk, dan tidak ingin menghentikan pertempuran yang menentukan itu, Giok Liok Cin Jin yang telah berusaha membujuk, dan melihat bahwa bujukannya itu sia-sia belaka, menjadi murka, dan dengan kedua tinjunya dilawannya jago-jago silat dari kelima partai silat Siauw, Lim, Bu Tong, Kun Lun, Ngo Bie dan Ceng Sia itu, Jago-jago silat kelima partai itu pun merasa terhina, dan bersama-sama mereka menggempurnya, Tapi...

dengan ilmu silat yang tak ada taranya, Giok Liong Cin Jin dengan kedua tinjunya telah mengalahkan semua jago-jago silat dari kelima partai itu hanya dalam lebih kurang lima ratus jurus, Mereka harus mengakui bahwa Giok Liong Cin Jin mempunyai ilmu silat yang nomor satu!

Dan perebutan kedudukan oleh kelima partai silat itu lenyap dengan sendirinya!"

Ngo Kong Toa-su menganggukkan kepalanya dan berkata.

"Giok Liong Cin Jin sebetulnya bermaksud baik, ia menghendaki semua jago-jago silat dari kelima partai yang terkenal di kalangan Bu Lim itu memelihara dan memperbaiki ilmu silatnya masing-masing, Buktinya? Bukankah ilmu silat di kalangan Bu Lim pada dewasa ini sangat terkenal?"

"Giok Liong Cin Jin telah membubarkan pertempuran yang menentukan urutan masing-masing partai di puncak Sao Sit Hong,"

Hian Ceng Totiang meneruskan.

Tapi untuk penetapan urutan itu, kelima partai silat tidak tinggal diam, Dengan segala jalan mereka berusaha mengirimkan mu rid-murid nya masuk ke dalam partai silat lain agar dapat mencuri ilmu silat dari lawan-lawannya sebagai persiapan pertempuran yang kedua kalinya, Oleh sebab itu, masing-masing partai silat sangat berhati-hati menerima murid, Disamping memperhatikan watak dan ketangkasan seorang calon murid, riwayat si calon murid tersebut sangat diperhatikan sekali untuk mencegah supaya orang dari partai lawan tidak masuk pertempuran terang-terangan dan penyelundupan calon-calon murid ke partai lain untuk mencuri ilmu silat telah berlangsung selama beberapa ratus tahun

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

sehingga guru dari tiap-tiap partai khawatir mengajarkan ilmu silat yang istimewa kepada tiap-tiap murid.

Namun ilmu silat dari masing-masing partai makin hari makin maju, berkat hasrat hendak menjagoi di kalangan Kang Ouw.

Sangat disesalkan bahwa masih ada dua atau tiga guru silat yang mahir sekali silatnya, segan-segan mengajarkan kepandaiannya kepada murid-muridnya, Misalnya bila seorang murid telah terpilih dan beruntung akan memperoleh , ilmu silat yang luar biasa dari seorang guru, maka murid tersebut harus bersumpah setia kepada partainya, partai partai silat maju tampaknya, akan tetapi jumlah dari jago-jago silat yang telah memahami ilmu-ilmu silat istimewa dari guru masingmasing makin hari makin berkurang!"

"Karena ingin memperoleh nama dan kedudukan, maka partai-partai silat dengan tak terasa telah membuat rintanganrintangan untuk seorang guru mewariskan kepandaiannya kepada seseorang murid!"

Ngo Kong Toa-su berkata sambil menepuk tangan, Hian Ceng Totiang menarik napas panjang, lalu meneruskan.

"Sekarang kita bereerita tentang partai silat Kun Lun! Setelah mengadu silat pedang di puncak gunung Sao Sit Hong pada waktu itu, jago-jago silat dari angkatan tua lalu dengan tekun menciptakan ilmu silat pedang Hun Kong Kiam Hoat (memancarkan sinar) dan Tian Kang Cong Hoat (meninju bintang-bintang di La-ngit), Tapi jurus Hun Kong Kiam Hoat yang dinamakan Cui Hun Cap Ji Kiam tak dapat diturunkan kepada m u rid-murid nya. Pada dewasa ini, disamping aku dan Sutee dan Sumoay semua orang di kalangan Bu Lim mengira bahwa Hun Kong Kiam Hoat dari partai Kun Lun hanya mempunyai sembilan puluh enam jurus, sebetulnya ada seratus delapan jurus, Dua belas jurus yang tak dapat diajarkan kepada murid-murid, merupakan kelihayan daripada seluruh ilmu pedang Hun Kong Kiam Hoatl Aku, Sutee dan Sumoyku telah berjanji bahwa pada seseorang murid pilihan dapat diajarkan setelah ketiga orang setuju Kini aku telah merubah pikirau Aku melanggar janji kami bertiga itu, dan

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

mengambil keputusan mengajarkan Cui Hun Cap Ji Kiam ini kepada Bee Kun Bu.

Anak itu cerdas dan wataknya baik sekali, Tapi ia sangat pemurah hati.

ia telah belajar padaku selama dua belas tahun, dan jika telah kuajarkan Cui Hun Cap Ji Kiam padanya, tak dapat lagi aku mengajarnya ilmu yang lain."

Hian Ceng Totiang tertawa keras, dan suara tertawa itu mirip seperti bunyi seekor naga atau raung seekor macan sehingga api dari kedua lilin yang di atas meja itu tergetar Ngo Kong Toa-su menjadi heran dengan suara tertawa yang ganjil itu, dan ia terus mengawasi sikap rekannya.

"Kunci daripada semua urusan ini ada di dalam peta asli ini!"

Hian Ceng Totiang berkata sambil tertawa.

"Pertandingan silat pedang di atas puncak Sao Sit Hong oleh kelima partai telah gagal, dan urutan dari kelima partai silat itu belum lagi ditetapkan, dan meskipun para jago silat dari kelima partai tersebut belum merasa puas, akan tetapi Giok Liong Cin Jin meninggalkan suatu peringatan ia berkata bahwa ilmu silat dari partai manapun sama baiknya, dan para jago-jago silat harus seperti saudara jangan berebut nama atau kedudukan ia pun berkata bahwa ia tak akan tinggal diam jika masih ada jago-jago silat yang bertempur untuk merebut kedudukan atau nama, Tapi maksudnya yang baik itu telah memusingkan dirinya senti iri!"

Tapi dengan ilmu silat yang demikian lihaynya, mengapa ia bisa menjadi pusing?"

Bertanya Ngo Kong Toa-su.

"Dunia ini luas,"

Sahut Hian Ceng Totiang.

"Kadang"

Kadang kita menyaksikan hal-hal yang luar biasa, Betul Giok Liong Cin Jin mempunyai ilmu silat yang demikian lihay, sehingga dengan seorang diri ia dapat menaklukkan para jago silat dari kelima partai silat yang terkenal tetapi ia tetap manusia, ia dapat meninggal dunia jika tiba saatnya, Menurut cerita sarang ilmu silatnya itu didapat-nya dari sebuah buku, bukan dari seseorang guru.

Ten-tang riwayatnya, orang pun tidak mengetahui Sebelum sembilan partai silat pergi ke

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

puncak Sao Sit Hong mengadu silat, semua orang di kalangan Kang Ouw belum pernah mendengar namanya, Tapi setelah ia tiba di puncak itu dan menaklukkan para jago silat, namanya segera terkenal di seluruh kalangan Kang Ouw, dan ia dipuja sebagai jago silat nomor satu dan ia dipanggil Tian Sia Bu Kong Tee It Giok Liong Cin Jin."

Tapi mengapa kedudukan nomor satu itu mencelakakannya?"

Tanya Ngo Kong Toa-su. Sambil menggoyang-goyangkan kepalanya Hian Ceng Totiang menyahut.

"Di kalangan Bu Lim, meskipun kita mempunyai ilmu silat yang luar biasa, dan memandang harta benda hanya sebagai rumput, namun sifat manusia tak banyak berbeda Giok Liong Cin Jin dengan kedua tinjunya telah menaklukkan para jago silat, sehingga ia dapat julukan Tian Sia Bu Kong Tee It (jago silat nomor satu di kolong langit). Nama ini telah menimbulkan iri hati seorang yang bertabiat ganjil, Orang itu bukan saja seorang wanita tapi juga seorang rahib. Pada tahun ketiga setelah Giok Liong Cin Jin menaklukkan para jago silat di puncak Sao Sit Hong, rahib wanita itu, yang bernama Sa Im Shin Ni dengan tidak menghiraukan jarak yang jauh telah datang dari pegunungan Altai di sebelah Barat ke Timur, ia datang ke desa Ceng Yun Giam di kaki pegunungan Koat Cong San di propinsi Cek-kiang untuk mengadu silat dengan Giok Liong Cin Jin. Mulailah suatu pertempuran yang maha dahsyat di desa Ceng Yun Giam itu, pertempuran itu berlangsung selama tiga hari tiga malam, dan telah lebih dari lima ribu jurus yang dijalankan! Namun demikian belum ada juga tampak siapayang kalah dan siapa yang menang! Pada hari ke empat, masing-masing menggunakan seluruh tenaga dalamnya, dan demikian dahsyatnya pertarungan tersebut sehingga keduaduanya luka parah dan kedua-duanya kalah. Masing-masing mengetahui bahwa mereka tak akan lama lagi hidup dan dalam keadaan payah itu, kedua-duanya jadi

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

berkawan, Mereka tidak mempunyai murid, Bersama-sama mereka mengarang kemahiran dan kepandaian silatnya dan menjadikannya tiga

Jilid buku, yang mereka simpan di dalam sebuah gua batu di pegunungan Koat Cong San, dan bukubuku tersebut mereka namakan Kui Goan Pit Cik yang artinya sebagai berikut.

"Semua ilmu silat dari segala jurusan mengalir ke satu tempat, dan tak dapat menyimpang dari tujuannya Setelah selesai menyusun tiga buku tersebut, mereka menggambar sebuah peta yang bernama peta asli simpanan barang-barang berharga atau Cong Cin To, dan yang memberi petunjuk tempat tersimpannya barang-barang berharga itu. Cong Cin To itu ditaruh di dalam sebuah kotak dari batu Giok, dan disembunyikan di antara dua jurang. Kemudian kedua orang-orang yang aneh itu meninggal dunia di pegunungan Koat Cong San. Kisah tersebut telah turun temurun sehingga sekarang selama tiga ratus tahun lebih, Semua partai silat di kalangan Bu Lim selalu mencurahkan perhatiannya dan berusaha memperoleh peta aslinya untuk mendapatkan buku-buku ilmu silat itu. Disamping jago-jago silat, juga orang-orang sakti yang telah bertapa, perampok-perampok yang kejam, semuanya dengan segala jerih payah berusaha mendapatkan peta tersebut, dan kemudian buku-buku itu. Pada seratus tahun yang lewat peta itu telah didapat oleh seorang perampok besar. Tapi ia terlampau kejam dan dengan sendirinya banyak musurmya. Ditambah pula dengan amat banyaknya jago-jago silat yang menghendaki peta asli ini. Betapapun juga tingginya ilmu silatnya, setelah ketahuan ia yang mendapat peta asli itu, ia segera dikejar-kejar dan tak dapat lagi ia menghindarkan diri dari penganiayaan atau keroyokan orang lain yang menghendaki peta ini. Kemudian peta asli ini berpindah-pindah tangan entah beberapa kali, dan entah berapa pula jiwa yang telah melayang karenanya, Tapi belum terdengar bahwa buku-buku Kui Goan Pit Cik tersebut telah didapat orang, Aku pun tak

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

mengetahui bagaimana caranya Sim Cong memperoleh peta asli Cong Cin To ini. Kedua siluman dari sebelah selatan sungai telah mengejar dan membunuh mati Sim Cong karena ingin merebut Cong Cin To ini!"

Ia menarik napas panjang dengan wajah terharu! Ngo Kong Toa-su bertanya lagi.

"Peta asli Cong Cin To telah jatuh di tanganmu.... Apakah yang hendak kau lakukan? Apakah kau ingin mencari buku-buku Kui Goan Pit Cik?"

Hian Ceng Totiang menganggukkan kepalanya dan menyahut.

"Setelah kuajarkan Cui Hun Cap Ji Kiam kepada muridku Bee Kun Bu, aku siap membawa tubuhku yang sudah tua ini untuk dikuburkan di pegunungan Koat Cong San. Coba pikir, selama tiga ratus tahun lebih semua partai-partai silat berusaha mempertahankan perdamaian. sebetulnya mereka mencurahkan semua tenaga mencari Kui Goan Pit Cik itu. Dalam seratus tahun ini, partai silat Hua San rupanya yang menjagoi di kalangan Bu Lim. Dan semenjak gurunya Tu Wee Seng, yang dikatakan mempunyai delapan lengan karena jurus silatnya yang cepat bagaikan kilat itu, menerima muridmurid, maka banyak sekali jago-jago silat f berkecimpung di kalangan Bu Lim. peristiwa yang memalukan di puncak Sao Sit Hong, tak dapat dilupakan oleh semua partai-partai silat Misalnya partai silat Tian Liong yang tiba-tiba timbul di propinsi Kwi-ciu. Hanya dalam jangka waktu dua puluh tahun, pengaruhnya telah menjalar hampir di seluruh daerah sebelah Selatan sungai Kepala dari partai silat Tian Liong itu, Souw Peng Hai, bersama-sama dengan partai-partai cabangnya yang menggunakan bendera-bendera merah, kuning, biru, putih dan hitam telah mengumpulkan semua jago-jago silat yang tak berpartai dengan maksud mendirikan sebuah partai silat yang besar disamping ke sembilan partai silat yang terkenal itu. Pada dewasa ini, keadaan di kalangan Kang Ouw tampaknya tenteram saja, Tapi, keadaan yang sebenarnya sangat tegang, Aku kira pertarungan yang kedua kalinya untuk menetapkan urutan kedudukan di kalangan Kang Ouw tidak

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

lama lagi terjadi!"

Ia berhenti sejenak, lalu meneruskan.

"Bukubuku Kui Goan Pit Cik rupanya akan mempunyai hubungan yang erat dengan nasib partai-partai silat kalangan Kang 0uw. Jika buku-buku tersebut jatuh ke tangan orang-orang yang jahat, tak dapat kita bayangkan betapa hebat akibatnya. Untuk mencegah itu, aku harus pergi ke pegunungan Koat Cong San. Tetapi urusan itu tak dapat dilaksanakan oleh satu orang. Jika kau mempunyai hasrat untuk turut dengan aku,., tapi kau adalah seorang pendeta yang selalu bertindak bijaksana, dan mungkin tidak sudi mengambil resiko, Ya... jika kau tidak sudi turut, aku pun tak dapat memaksa kau. Aku harus mengajari Bee Kun Bu ilmu silat Cui Hun Cap Ji Kiam, Diwaktu aku hendak berangkat, aku akan mengajak kau lagi."

Ngo Kong Toa-su menundukkan kepalanya yang penuh dengan berbagai-bagai pikiran. Tiba-tiba ia mengangkat kembali kepalanya dan berkata dengan khidmat.

"Urusan ini besar sekali hubungannya dengan nasib kalangan Bu Lim. Aku si tua bangka tidak dapat menolak Lagi pula usiaku sudah lanjut Mati atau hidup tak ada artinya lagi bagiku, Aku hanya khawatir tentang Ceng Loan, karena ia seorang anak piatu, dan ia mempunyai tugas untuk membalas dendam...."

Belum lagi habis pembicaraan itu, Hian Ceng Totiang berkata sambil ter-senyum.

"Urusan Loan Jie, telah kuatur, Jika kau sudi dan memperkenankan ia masuk partai silat Kun Lun, aku dapat menulis surat kepada Sumoayku (saudari seperguruan) Giok Cin dan Loan Jie dapat bernaung di bawah penjagaannya, Kedua siluman dari sebelah Selatan sungai telah kabur, dan telah mengetahui tentang peta asli Cong Cin To ini. Kuil San Ceng Koan ini tak dapat dipertahankan lebih lama lagi. Tidak sampai sebulan, pasti ada orang yang datang menyerbu. Oleh karena itu, sebelum aku berangkai aku harus memindahkan kedua anak-anak itu ke tempat yang aman."

Sambil tertawa Ngo Kong Toa-su menyahut.

"Jika ia dapat diterima masuk partai silat Kun Lun, ia akan memperoleh banyak i1mu. Aku si tua bangka rela mati di pegunungan Koat Cong San. Hanya ia memikul beban untuk membalas dendam,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Ketika ibunya hendak menarik napas penghabisan ia berpesan kepadaku agar ia bila sudah besar membalas dendam dan membunuh mati musuh orang tuanya, Urusan ini harus kuberitahukan kepadanya, Dan pembalasan dendam itu harus dilaksana-kannya, Apakah pembalasan dendam itu tidak akan memusingkan partai silat Kun Lun?

Ya...

aku harus berterus-terang, supaya jangan sampai menjadi penyesalan,"

Dengan wajah yang khidmat, Hian Ceng Totiang berkata "

Apakah Ceng Loan Bukan puterinya Li Kwi Cee?"

Si pendeta itu segera berubah wajahnya dan ia bertanya kembali.

"Bagaimana... bagaimana kau mengetahui urusan ini?!"

Sambil menarik napas Hian Ceng Totiang menceritakan kisahnya.

"Kira-kira lima belas tahun yang lampau, suami isteri Li Kwi Cee, ketika melewati sebuah gunung, telah menjumpai kecelakaan, peristiwa tersebut telah diketahui oleh banyak orang-orang di kalangan Kang Ouw, Tapi aku mohon supaya kau tidak memberitahukan riwayatnya ini pada Ceng Loan, karena yang membunuh kedua suami isteri Li Kwi Gee itu adalah Ouw Lam Peng, si kaki terbang, dan ia telah masuk partai silat Tian Liong dan menjadi kepala cabang bendera merah dari partai tersebut Soal pembalasan dendam itu sebaiknya ditunggu sampai ada ketika yang baik, dan tak dapat dilakukan dengan sembrono, jika kau beritahukan Ceng Lian sekarang, sama juga artinya dengan kau mencelakakannya."

Ngo Kong Toa-su membuka matanya lebar-lebar dan dengan tubuh gemetar ia berseru.

"Jika demikian halnya, aku si tua bangka ini yang harus gempur Ouw Lam Peng!"

Hian Ceng lotiang tersenyum, dan berkata.

"Jika kau gempur Ouw Lam Peng, aku yakin kau akan menang, Soalnya... ialah orang-orang partai Tian Liong amat banyak Lagi pula kepala dari partai Tian Liong itu, Souw Peng Hai, adalah seorang jago silat yang lihay sekali pada dewasa ini. Mungkin kau pernah mendengar bagaimana ia seorang diri menaklukkan empat orang musuh-musuhnya! Empat jahanam

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

itu di propinsi Su-coan dan Hupeh telah berbuat sewenangwenang, dan meskipun jago-jago silat dari partai-partai Bu Tong, Ngo Bie, Ceng Sia telah berusaha mengepung mereka, tetapi mereka dapat memukul kocar-kacir lawan-lawannya, dan orang-orang dari ketiga partai silat itu telah menderita luka-luka.

Ketika Souw Peng Hai melalui sebuah jalan di propinsi Hupeh, pada suatu ketika berjumpa dengan keempat jahanam-jahanam itu, dan hanya dalam semalam saja telah dapat keempat-empatnya ditaklukkannya kemudian diterima mereka sebagai anggota partai Tian Liong, peristiwa ini telah tersiar di kalangan Bu Lim selama tiga tahun yang lampau.

Pada dewasa ini partai Tian Liong dengan semua cabangcabangnya rupanya menjagoi diantara ke sembilan partai yang telah terkenal jika aku tak salah meramalkan, di dalam jangka waktu sepuluh tahun ini akan timbul perubahan besar, mungkin juga banyak jago-jago silat akan binasa dalam pertarungan-pertarungan yang hebat Urusan pembalasan dendam dari Lie Ceng Loan, harus kita lakukan dengan hatihati.

jika ia telah masuk partai Kun Lun, ia pasti dijaga dan dilindungi oleh kami dari partai Kun Lun."

Ngo Kong Toa-su menarik napas panjang, lalu berkata.

"Aku sebetulnya sudah tidak hendak memusingkan kepala lagi mengenai urusan di dunia ini. Tapi urusan Ceng Loan ini senantiasa melekat di pikiranku Orang tak dapat berlaku acuh tak acuh terhadap kejadian-kejadian di sekitarnya selama ia masih bernapas Baiklah, aku pulang dahulu ke kuil Hua Lim Si. Aku si tua bangka ini yang ingin mati di pegunungan Koat Cong San harus lebih dahulu menyerahkan urusan kuil Hua Lim Si ke-. pada orang lain. Nanti tiga hari lagi, aku datang kembali ke sini untuk mengajarkan ilmu silat tinju Cap pwee Lo Han Cong kepada muridmu."

Lalu ia berdiri, Setelah ia berada di luar kamar, dengan mengipaskan lengan baju-nya, ia telah menghilang dengan cepat, menuju ke kuil Hua Lim Si.

Setelah lewat tiga hari Ngo Kong Toa-su betul-betul kembali ke kuil San Ceng Koan, Kali ini ia membawa sebuah

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

toya, Lalu dalam jangka waktu setengah bulan kedua orang sakti itu masing-masing mengajarkan ilmu silat pedang Cui Hun Cap Ji Kiam dan ilmu silat tinju Cap Pwee Lo Han Cong kepada Bee Kun Bu.

Jurus Cui Hun Cap Ji Kiam itu adalah jurus yang lihay sekali dari partai Kun Lun.

Lie Ceng Loan belum masuk partai Kun Lun maka Hian Ceng To Tiang tidak dapat mengajarkan jurus itu kepadanya, Jurus Cap Pwee Lo Han Cong telah dipahami oleh Lie Ceng Loan, maka dalam setengah bulan itu, Bee Kun Bu sangat sibuknya, sebab siang hari ia harus mempelajari ilmu tinju dan malam hari ilmu silat pedang, apalagi jurus Cui Hun Cap li Kiam itu sangat sulit Dalam setengah bulan Bee Kun Bu telah paham seluk beluk ilmu itu, akan tetapi ia belum mahir menggunakannya.

Hian Ceng Totiang yang harus lekas-lekas pergi ke pegunungan Koat Cong San tidak sempat melatih muridnya sampai mahir betul Pada suatu hari, dipanggilnya Lie Ceng Loan dan Bee Kun Bu masuk ke dalam kamar ia mengambil dua pucuk surat, dan diberikannya kepada Bee Kun Bu sambil berkata.

"Kau telah mengikuti aku selama dua belas tahun, dan kau harus pulang menjelang ibu bapakmu, Setelah kau menemui mereka, kau tak usah kembali ke kuil San Ceng Koan ini untuk mencari aku, tapi kau harus membawa kedua surat ini ke kuil San Goan Kong di atas puncak Kim Teng Hong dari pegunungan Kun Lun dan berikan kepada kedua paman gurumu di sana."

Bee Kun Bu menerima kedua surat itu, Mengingat bahwa ia telah mengikuti gurunya selama dua belas tahun, sedangkan kini harus pula berpisah, ia terharu sekali, ia berlutut di hadapan gurunya dan mengucurkan air mata.

"Di kolong langit tak ada pesta yang tak bubar jangan nangis, lekas bangun!"

Demikianlah perintah Hian Ceng Totiang.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Ngo Kong Toa-su mengusap-usap rambut Ceng Loan, ia berkata.

"Paman gurumu, Hian Ceng Totiang, merasa kasihan padamu yang sebatang kara, dan ia telah menerima kau masuk partai Kun Lun. Sekarang kau pergi ke puncak Kim Teng Hong di pegunungan Kun Lun untuk memberi hormat kepada guru-gurumu, dan kau harus sungguh-sungguh belajar."

Tak dapat ia menahan air matanya yang mengucur keluar Mendengar ucapan tersebut, kedua mata Ceng Loan terbelalak, lalu dengan sedih dan sambil mengucurkan air mata ia bertanya.

"Mengapa? Apakah Suhu tidak suka menjaga Loan Jie lagi.,.?"

Dengan tertawa yang dipaksa-paksa Ngo Kong Toa-su berkata.

"Aku menyerahkanmu di bawah perlindungan partai Kun Lun, hal mana amat bermanfaat bagimu sendiri, Masa anak sebesar kau ini tidak mengerti? Kau pergi ke pegunungan Kun Lun bersama-sama Suhengmu, Bee Kun Bu!"

Ucapan terakhir itu menggembirakan Lie Ceng Loan, karena ia akan banyak mendapat kesempatan berdampingan dengan Bee Kun Bu.

Lalu Hian Ceng Totiang menerima sebuah bungkusan kecil dari kain putih dari Ngo Kong Toa-su dan menyerahkannya kepada Bee Kun Bu sambil berkata.

"Bungkusan ini kau serahkan sendiri kepada Sam susiokmu!"

Bee Kun Bu menerima bungkusan itu, lalu gurunya berkata.

"Kau boleh tinggal di rumah selama sebulan, baru menjaga Sumoaymu Lie Ceng Loan baik-baik!"

Bee Kun Bu membungkukkan badannya memberi hormat dan menerima semua pesanpesan, dan segera didesak oleh Hian Ceng Totiang agar mereka pagi itu juga meninggalkan kuil San Ceng Koan, Tidak lama setelah Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan meninggalkan kuil itu, Hian Ceng Totiang memanggil pendetapendeta yang tinggal di dalam kuil itu berkumpul untuk memberitahukan bahwa ia akan meninggalkan kuil itu dan

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

menyerahkan semua urusan kuil kepada pendeta yang tertua.

Lalu bersama-sama Ngo Kong Toa-su, ia pun meninggalkan kuil San Ceng Koan menuju ke pegunungan Koat Cong San di propinsi Cek-kiang.

Dieeritakan bahwa setelah Bee Kun dan Lie Ceng Loan berpisah dari Hian Ceng Totiang dan Ngo Kong Toa-su di kuil tersebut, mereka naik perahu menuju ke rumah orang tua nya.

Karena air sungai itu sangat deras, perahu itu pun berlayar dengan lajunya, Di atas perahu itu Lie Ceng Loan duduk di samping Bee Kun Bu.

Tiba-tiba ia bertanya.

"Bee Suheng, apakah kau pernah pergi ke pegunungan Kun Lun?"

Bee Kun Bu menggeleng dan menyahut.

"Selama dua belas tahun, selainnya aku dibawa guru pulang ke rumah untuk menengok ibu bapakku dua kali, aku belum pernah menanggalkan kuil San Ceng Koan."

Sambil menempelkan badannya ke badan Bee Kun Bu, Lie Ceng Loan berkata.

"Aku masih kecil sekali dibawa oleh guruku ke kuil Hua Lim Si, Selama sepuluh tahun lebih, selain di kuil Hua Lim Si dan ke kuil San Ceng Koan, aku juga belum pernah pergi ke tempat lain. Guruku belum pernah menceritakan tentang riwayatku. Aku mengira bahwa ibu bapakku tidak sayang padaku, dan tidak ingin menerimaku Jika tidak, mengapa selama sepuluh tahun lebih ini, mereka tidak datang menengok aku!"

Ia tak dapat menahan kesedihannya, dan air matanya pun bereucuran di kedua pipinya! Bee Kun Bu juga ikut bersedih hati, dan ia berusaha menghibur dengan sikap yang canggung.

"Aku tak mengetahui cara bagaimanakah aku harus meredakan sedih hatimu...."

Mereka tiba di telaga Tung Ting Ouw waktu lohor Di tepi telaga yang luas itu tampak oleh Lie Ceng Loan perahuperahu para nelayan, Untuk bermalam, mereka harus mendarat dan mencari rumah penginapan Lalu perahunya ditujukan ke tepi.

Pada saat itu, perahu mereka telah ditubruk oleh sebuah perahu yang datang dari jurusan lain.

Lie Ceng

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Loan menjadi gusar, dan hendak menegur Tapi Bee Kun Bu menasehatkan supaya ia bersabar dan berkata.

"Aku ingat akan pesan guruku, Di kalangan Kang Ouw, seringkali menemui peristiwa-peristiwa yang luar biasa. Terhadap kejadian yang remeh lebih baik kita sabar."

Setelah mereka mendarat, Lie Ceng Loan bertanya.

"Kakak Kun Bu, kemanakah kita pergi?"

Bee Kun Bu yang telah jatuh cinta terhadap gadis yang cantik jelita itu menyahut dengan suara rendah.

"Kita ke Timur untuk mencari rumah penginapan."

Mereka mencari rumah penginapan tanpa hasil Bee Kun Bu lalu mengusulkan naik perahu kembali untuk meneruskan perjalanan "Jika kita berlayar dengan cepat dan tanpa rintangan besok kita akan tiba di rumahku,"

Katanya. Di atas perahu itu Lie Ceng Loan bertanya.

"Kakak Kun Bu, siapakah yang berada di rumah, Apakah ibumu dapat merasa gembira melihat aku? Aku telah dimanjakan oleh Ngo Kong Toa-su sehingga menjadi sangat nakal."

"Ibuku sangat ramah, ia pasti menyukaimu,"

Sahut Bee Kun Bu. Sambil tertawa Lie Ceng Loan berkata.

"Jika demikian aku akan berlaku alim agar ia tidak gusar."

Telaga Tong Ting Ouw itu sangat luas, dan panjangnya tiga ratus lie lebih, airnya bening, seperti kaca.

Angin yang berhembus demikian halusnya sehingga menyebabkan pemuda dan pemudi itu gembira sekali Di sepanjang jalan perahu mereka telah melewati banyak perahu-perahu nelayan, pada suatu ketika tampak oleh mereka sebuah perahu layar yang besar berlayar dengan sangat pesatnya seakan-akan mengejar perahunya, Perahu layar yang besar itu diikuti oleh empat buah perahuperahu yang lebih kecil, Untuk menjaga diri, Lie Ceng Loan mengambil pedangnya dan memberikan pula sebuah kepada Bee Kun Bu sambil berkata.

"Kakak Kun Bu, rupanya perahu yang menubruk kita tadi sedang mengejar kita!"

Baru saja ucapannya selesai ke empat perahu-perahu yang kecil itu telah berada di depan perahu mereka, dan di

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

depan tiap-tiap perahu berdiri seorang yang bertubuh besar, Dengan pedang terhunus, Bee Kun Bu lalu menegur "Aku sebetulnya tidak kenal kalian, Kita juga bukannya saudagar yang kaya.

Kalian telah merintangi perahu kita, apakah sebabnya?"

Orang yang berdiri di atas perahu di sebelah kiri dan yang berusia lebih kurang empat puluh tahun, Menyahut.

"Jika kamu saudagar-saudagar, kaya, kita tidak menghiraukan Kita ingin bertanya, apakah hubunganmu dengan Hian Ceng Totiang dari kuil San Ceng Koan?"

"Hian Ceng Totiang adalah Suhuku, mau apa?!"

Sahut Bee Kun Bu dengan gusar Orang itu berkata lagi.

"Hian Ceng Totiang telah menggemparkan kalangan Kang Ouw, Guru kita yang telah mendengar bahwa ilmu silat pedang dari partai Kun Lun yang tak ada taranya di kolong langit, ingin mengambil kesempatan untuk belajar kenal dengan kedua muridnya!"

Dengan sahutan yang ramah itu, Bee Kun Bu menjadi agak reda. ia berkata lagi.

"Aku baru keluar dari rumah dan baru berpisah dari guruku, oleh sebab itu aku tak mengerti peraturan dari kalangan Kang Ouw, jika guru saudara ingin menjumpai kami, bukankah lebih baik jika kami yang datang memberikan hormat kepada nya ?"

Orang itu menyahut."

Tapi guru kita telah datang."

Orang tua itu mengangkat kedua tangannya memberi hormat dan sambil tersenyum berkata.

"Kami dengan tak sengaja telah melanggar perahu saudara, aku menghaturkan maaf."

Lalu ia menunjuk ke arah perahu layar yang besar Bee Kun Bu menengok ke arah perahu yang besar itu, yang sangat terang karena amat banyaknya lilin dipasang orang.

Di atas sebuah kursi yang ditutupi dengan kulit macan duduk seseorang yang berusia lima puluh tahun lebih, tapi seluruh rambut dan jenggotnya berwarna putih, Di kiri dan kanannya

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

berdiri dua orang yang bertubuh tegap dan memegang golok besar Setelah perahunya berdempetan dengan perahu Bee Kun Bu, orang tua itu bangun dari kursi nya.

ia mengangkat kedua tangannya memberi hormat, dan berkata sambil tertawa.

"Kami dengan tak sengaja telah melanggar perahu saudara, aku menghaturkan maaf!"

Bee Kun Bu berbisik pada Lie Ceng Loan.

"Kita harus waspada. Mari kita pergi ke perahunya."

Lalu dengan sekali meloncat, mereka telah berdiri di hadapan orang tua itu, Orang tua itu melihat kepada orang-orangnya yang berada di ke empat perahu-perahu kecil dan berkata.

"periksalah apakah perahu tamu kita mendapat kerusakan karena bentrokan tadi, Jika ada kerusakan, harus kamu perbaiki dengan segera,"

Semua orang-orangnya serentak mengangkat lengan kiri dan menekan dada, lalu membungkukkan tubuh memberi hormat, Mereka segera memeriksa perahu Bee Kun Bu.

Dengan menghadapi Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan orang tua itu berkata sambil tertawa.

"Aku ini kurang hati-hati, Jika perahu saudara menderita kerusakan, aku minta maaf Mari kita minum arak dulu."

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan membungkukkan tubuh memberi hormat, lalu Bee Kun Bu berkata.

"Kami baru berpisah dari guru kami, dan tidak mengenal peraturan Mohon dimaafkan Apakah kami dapat kehormatan mengenal tuan dari angkatan tua?"

Orang tua tersebut tertawa dan menyahut.

"Pada dua puluh tahun berselang aku telah bertempur melawan Hian Ceng Totiang, dan karena ia baik hati, aku dapat hidup lagi beberapa puluh tahun Mari kita minum arak dulu. Ada banyak hal-hal yang hendak kutanyakan."

Lalu ia mengajak pemuda dan pemudi itu masuk ke dalam kabin Empat orang yang memegang golok besar di depan kabin itu membungkukkan tubuh memberi hormat kepada mereka.

Di dalam kabin itu terang benderang karena sinar lilin yang amat banyak dan dihias dengan indah sekali Di atas meja persegi delapan telah

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

tersedia beberapa cangkir teh dan sebuah teko, Dua orang anak yang berbaju hijau menjadi pelayan Setelah mereka duduk, orang tua itu berkata."

Apakah Siocia ini juga dari partai silat Kun Lun?"

"Betul, Aku dan kakak Kun Bu tidak minum arak, Kau ada urusan apa? Ayo lekas-lekas bilang, Kami tak banyak mempunyai waktu, Kami harus lekas-lekas meneruskan perjalanan!"

Sahut Lie Ceng Loan dengan tidak sabar, Bee Kun Bu mengerutkan kening mendengar jawaban yang agak kasar itu, tapi orang tua itu hanya tertawa.

"Baiklah, Siocia,"

Katanya.

"Kemanakah kamu hendak pergi? Aku dapat mengikuti agar kamu tak terlambat, dan kita dapat bereakapcakap sambil perahu-perahu kita berlayar ke tempat yang kau tuju."

Bee Kun Bu menjawab.

"Kita bermaksud mendarat di kota Gak Yo, dan kita tidak ingin menyusahkan". Orang tua itu menggelengkan kepalanya dan berkata.

"Tidak susah, kita dapat bereakap-cakap sambil berlayar."

Lalu diperintahkannya orang-orangnya memasang layarlayar besar agar perahu itu dapat berlayar pesat menuju kota Gak Yo.

Diperintahkannya kedua anak kecil yang menjadi pelayan menyuguhkan teh dan menyiapkan makanan untuk kedua tamunya, Sambil makan dan mi-num, mereka melanjutkan pembicaraan "Gurumu telah menanam budi yang besar padaku, ia telah menolong jiwaku, Aku merasa malu tak dapat membalas budinya selama dua puluh tahun ini,"

Memulai orang tua itu.

"Kemarin dulu aku mendapat kabar, bahwa ia telah memperoleh peta asli Cong Cin To. Kabar itu telah menyebabkan banyak jago-jago silat dari kalangan Kang Ouw berkumpul di propinsi Hupeh. Aku khawatir dalam beberapa hari ini akan terjadi pertempuran-pertempuran dahsyat untuk merebut peta asli Cong Cin To itu. Untuk Cong Cin To itu, selama seratus tahun belakangan ini telah tewas banyak jagojago silat Kamu adalah dari partai Kun Lun, dan kamu tak

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

akan luput dari bokongan-bokongan dari partai silat lain.

Aku tidak berani memastikan, bagaimana akibatnya, Aku pun datang dan menjumpai kamu atas perintah orang lain, karena peta asli Cong Cin To itu, Aku yakin dengan ilmu silat yang kamu pelajari dari Hian Ceng Totiang, kamu dapat menjaga dfri, Tapi gerak-gerik atau tindak-tanduk kamu berdua harus dirahasiakan jika ketahuan bahwa kamu dari partai Kun Lun dari Hian Ceng Totiang, kamu segera diintai oleh banyak jagojago silat Tipu muslihat dan siasat di kalangan Kang Ouw seribu satu macam, dan untuk mencapai maksud nya, mereka akan menjadi kejam dan buas, peringatan inilah yang ingin kuberikan sebagai tanda membalas budi Hian Ceng Totiang yang telah menolong jiwaku, Hari ini beruntung sekali kamu berjumpa dengan kami...

jika tidak, mungkin kamu harus melawan dan bertempur dengan susah payah!"

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan mendengarkan keterangan-keterangan itu dengan sikap gelisah.

"Kita telah berpisah dari guru, dan lebih daripada setengah bulan telah lewat semenjak suhengku Sim Cong dibunuh mati selagi membawa suatu benda..."

Pikir Bee Kun Bu, dan lalu memandang Lie Ceng Loan yang kini telah menjadi bebannya pula. Tiba-tiba ia berseru.

"Aku telah memperoleh perhatian tuan dari angkatan tua, dan aku mengucapkan banyak-banyak terima kasih, Apakah guruku telah memperoleh peta asli Cong Cin To atau belum, aku tidak tahu dengan pasti Jika para jago silat telah berkumpul di Hupeh untuk bertempur melawan guruku dan mungkin juga melawan tuan dari angkatan tua, kami pun sebagai murid-murid partai Kun Lun tidak takut mati, Tuan dari angkatan tua telah datang ke sini atas perintah untuk mencari peta asli itu, kami pun tidak ingin merintangi lagi, dan kami segera minta diri!"

Setelah mengucapkan perkataan itu, Bee Kun Bu mengajak Lie Ceng Loan keluar dari kabin. Tapi orang tua itu tertawa terbahak-bahak dan berkata dengan suara keras.

"Tidak salah jika Hian Ceng Totiang seorang satria, Coba lihat muridnya, orang-orang dari partai Kun Lun betul-betul tidak dapat dianggap remeh, Aku sangat memuji mereka. Ayo kembali, besok pagi kita mungkin

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

sudah tiba di Gak Yo. Kesempatan ini sukar didapat Ayo kita bereakap-cakap lagi. Siapa tahu di kemudian hari aku harus mohon Siotee mengajarkan kepadaku ilmu silat pedang Hun Kong Kiam Hoat"

Bee Kun Bu tak dapat menolak ia yakin bahwa orang tua itu merasa girang dapat membalas sedikit budi guru-nya, dan juga merasa canggung karena ia harus merebut peta asli Cong Cin To dari tangan gurunya itu, ia duduk kembali di dalam kabin dan berkata.

"Kita betul-betul berterima kasih atas kebaikan tuan dari angkatan tua, sebetulnya aku tak tahu pasti apakah peta asli Cong Cin To itu telah jatuh di tangan guruku."

"Aku pun tidak mengetahui dengan pasti, Tapi atas perintah orang lain, aku harus merebut peta asli itu. Aku hanya ingin memperingatkan kamu lagi, bila berada di daerah ini, yaitu daerah partai Tian Liong, kamu harus bertindak hati-hati sekali, karena jaring dari partai Tian Liong itu sangat rapat, dan orang-orangnya banyak,"

Berkata si orang tua, lalu meneguk secangkir arak, Seterusnya mereka tidak mempereakapkan lagi soal peta Cong Cin To, melainkan hanya menceritakan segala sesuatu yang luar biasa di kalangan Kang Ouw, Perahu layar itu berlayar dengan laju sekali, dan ketika fajar menyingsing, mereka telah tiba di kota Gak Yo.

Mereka mendarat, dan melihat bahwa ke empat perahu yang kecil disertai perahu Bee Kun Bu telah tiba juga.

Lalu Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan meloncat ke atas perahu kecilnya setelah minta diri dari orang tua itu.

Bee Kun Bu lalu memeriksa barang-barangnya di dalam perahu dan ternyata tidak ada barang yang diganggu, perahunya berlayar sedikit lagi, lalu mereka mendarat Ketika itu suasana belum terang, karena matahari belum terbit juga tidak kelihatan orang berkeliaran di jalan.

Dengan ilmu meringankan tubuh mereka berjalan dengan pesat sekali dan dalam sekejap saja mereka telah menempuh jarak dua puluh lie lebih, Di depan mereka tampak dari jauh sebuah desa yang dilingkari gunung-gunung.

Suara air mengalir dari

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

sebuah sungai terdengar dengan nyata, Di sebelah Barat desa itu terletak sebuah rumah bergenteng merah. Sambil menunjuk ke arah rumah itu Bee Kun Bu berkata.

"Rumah itu adalah rumahku, Ayahku telah menetap di desa Tiong An ini sejak dua puluh tahun ini."

Sambil tersenyum Lie Ceng Loan berkata.

"Desa ini indah sekali, Kita dapat menangkap ikan di dalam sungai diwaktu senggang."

Ucapan ini menyebabkan Bee Kun Bu terkenang akan masa kanak-kanaknya, ketika ia ber-sama-sama saudara sepupu perempuannya, Ling Sio Cien, menangkap ikan di dalam sungai, Ling Sio Cien, lebih tua tiga tahun daripadanya, dan menjadi yatim piatu ketika masih kecil.

Lalu ia dipelihara oleh ibunya, dan Bee Kun Bu menganggapnya sebagai kakaknya sendiri, Ling Sio Cien pun yang pintar dan cerdas, juga amat sayang padanya, Ketika Bee Kun Bu berusia delapan tahun dan dibawa oleh Hian Ceng Totiang, bukan main sedih hatinya.

Mereka telah berpisah selama dua belas tahun.

Betul ia pernah mengunjungi ibu bapaknya dua kali, akan tetapi ia tidak tinggal lama-lama.

Ia hanya menginap dua hari, lalu kembali lagi ke kuil San Ceng Koan, Ketika ia kembali untuk kedua kalinya, ia telah berusia delapan belas tahun, dan Ling Sio Cien dua puluh satu tahun.

Mereka telah menjadi jejaka dan gadis, dan masing-masing merasa canggung untuk bereakap-cakap lagi, Ling Sio Cien hanya bisa menasehatkan supaya ia belajar silat dengan tekun.

"Hian Ceng Totiang adalah seorang yang luar biasa, Kau beruntung menemuinya dan diterima sebagai muridnya."

Demikian nasehatnya, Bee Kun Bu yang cerdik segera mengerti maksudnya itu.

Kini ia kembali dengan mengajak Lie Ceng Loan, Apakah ia akan menimbulkan salah paham?

ia berhenti berjalan ketika pikiran itu datang, Melihat ia terpesona, Lie Ceng Loan menegur "Kakak Kun Bu, apakah yang kau pikiri?"

Bee Kun Bu terkejut dan menyahut.

"Aku memikirkan Suhu...."

Lalu ia berjalan lagi menuju ke rumah yang bergenteng merah itu.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Setelah mereka menyeberangi sungai kecil dan melalui padang rumput dan hutan bambu, mereka tiba di depan pintu rumah itu, yang memakai papan nama "Sui Goan San Cong" (rumah pegunungan terang bulan"), Seorang bujang tua yang berusia lima puluh tahun lebih yang berada di pekarangan depan melihat mereka datang berseru.

"Majikan muda telah datang, Kemarin majikan tua telah berbicara tentang majikan muda, karena besok adalah hari ulang tahun wafat nya Ling Sio Cien Siocia...."

Belum lagi ucapan itu selesai, Bee Kun Bu merasa ngeri dan terkejut! ia bertanya dengan bernafsu.

"A Luk! Apakah katamu?! Kakak sepupuku meninggal?!"

Dengan menarik napas panjang bujang tua itu menyahut."Tuhan tak bermata.... Ling Sio Cien yang cantik jelita meninggal lebih dulu daripada aku si tua bangka ini...."

Dengan mencengkeram kedua pundak bujang tua itu Bee Kun Bu bertanya lagi.

"Bagaimanakah matinya?!"

Sedih sekali hatinya, seakan-akan ditusuk-tusuk dengan belati!

Bujang tua itu mengucurkan air mata, dan tak dapat segera menjawab Lie Ceng Loan yang melihat adegan menyedihkan itu juga terharu, tetapi ia masih hijau dan tak dapat menghibur Ketika itu dari dalam rumah berjalan keluar seorang tua yang sudah putih rambutnya dan berpakaian congsam (baju panjang).

ia memberitak.

"Kun Bu, lepaskan cengkeraman itu, Apakah kau sudah gila? pundak itu bisa remuk!"

Bentakan itu menyadarkan Bee Kun Bu. Dilepaskannya cengkeraman nya. ia menoleh ke rumah, dan melihat ayahnya berjalan keluar ia berlari mendatangi dan berlutut di hadapan ayahnya sambil berkata.

"Ananda telah pulang."

Ayah Bee Kun Bu lalu bertanya pada bujang tua itu, apakah ia terluka, Bujang tersebut menyahut sambil meringis.

"Tidak apa-apa. Hanya sakit sedikit! Tapi hebat betul cengkeramannya!"

"Kau seperti anak kecil! Jika aku datang terlambat sedikit, mungkin pundaknya A Luk sudah remuk!"

Demikian ayahnya memarahi Kun Bu.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Anda minta maaf, ananda telah lupa karena mendengar kabar buruk tentang meninggalnya kakak Ling Sio Cien!"

Sahut Bee Kun Bu.

"Cien Ji masih muda, Sayang sekali ia meninggal dalam usia sedemikian muda, Aku dan ibumu telah berusaha sedapat-dapatnya, tapi manusia berusaha, Tuhan berkuasa!"

Ia berkata sambil menarik napas panjang, Ketika ia melihat Lie Ceng Loan ia bertanya.

"Siapakah gadis berbaju merah ini?"

Bee Kun Bu bangkit dan berkata.

"lni adalah Sumoayku bernama Lie Ceng Loan. Atas perintah Suhu, ananda harus membawanya ke pegunungan Kun Lun."

Ketika itu Lie Ceng Loan mendekati Bee Kun Bu, dan sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat ia berseru.

"Paman!"

Ayah Bee Kun Bu bernama Bee Liong, ia pernah menjadi kepala kampung, akan tetapi karena ia di geser oleh orang atasannya Lauw Khin, ia telah diberhentikan dan kembali ke kampung halamannya, ia tinggal di rumahnya menjalani hari tuanya sambil mempelajari kesusasteraan.

Ketika Bee Kun Bu berusia empat tahun dan sedang bermain-main dengan Ling Sio Cien di padang rumput, kebetulan Hian Ceng Totiang lewat, dan melihatnya, Dengan matanya yang awas, Hian Ceng Totiang segera mengetahui bahwa anak itu luar biasa, dan segera timbul hasratnya untuk mengambilnya sebagai murid.

Bee Liong yang mengetahui bahwa Hian Ceng Totiang itu bukan orang sembarangan lalu mengundangnya masuk rumah, pertemuan itu telah menyebabkan keduanya mengikat tali persahabatan.

Dan seterusnya tiap tahun Hian Ceng Totiang pasti datang ke rumah Bee Liong.

Ketika Bee Kun Bu berusia delapan tahun, Hian Ceng Totiang memberitahukan pada Bee Liong bahwa pu-teranya adalah anak yang luar biasa dan berbakat Bee Liong menyahut "Aku ini orang desa, dan aku tidak mempunyai harapan bahwa puteraku akan menjadi terkenal Jika saudara sudi menerimanya sebagai murid, aku rela menyerahkan."

Jawaban itulah justru yang diharap-harap oleh Hian Ceng Totiang, ia segera menyanggupi untuk menerima

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Bee Kun Bu sebagai muridnya, dan berjanji akan mengajarkan segala ilmu silat partai Kun Lun, dan merawatnya seperti anaknya sendiri.

Demikianlah Bee Kun Bu dibawa ke kuil San Ceng Koan, dan telah diajari ilmu silat selama dua belas tahun sehingga ia menjadi seorang jago silat yang luar biasa dari yang luar biasa di kalangan Kang Ouw, Bersama-sama mereka masuk ke dalam ruangan tamu, Setelah duduk, Bee Liong bertanya.

"Apakah gurumu baikbaik saja? Kapankah kau kembali lagi ke kuil San Ceng Koan?"

Bee Kun Bu menyahut.

"Suhu telah memerintahkan ananda menengok ibu dan ayah dulu, Setelah lewat sebulan, ananda harus mengantar Lie Sumoy pergi ke pegunungan Kun Lun menemui paman-paman guru, dan tak akan kembali lagi ke kuil San Ceng Koan."

"Kau adalah murid partai silat Kun Lun, dan harus menaati segala perintah gurumu, Aku dan ibumu sudah berusia lanjut, dan kami tak menghiraukan lagi segala urusan dunia, semenjak kakakmu Sio Cien meninggal, ibumu sangat bersedih hati, dan tiap-tiap hari ia membaca kitab suci, Jika ia sedang membaca, siapapun tak boleh mengganggu sebetulnya ibumu seorang sakti, ia telah dapat meramalkan bahwa Sio Cien tak dapat hidup sampai umur dua puluh lima tahun, Betul juga ia meninggal setahun yang lewat karena menderita sakit cacar, Pamanmu, ketika menjadi wedana, pernah berbuat banyak perbuatan yang bukan-bukan, dan ia telah memperoleh balasan yang setimpal, bahkan dosanya telah menimpa puterinya, Sio Cien itu. sebentar jika ibumu telah selesai dengan membaca kitab suci, kau dapat menjumpainya Besok kau harus pergi sembahyang di hadapan kuburan Sio Cien, Apa yang hendak kau lakukan di kemudian hari, aku tidak menghiraukan karena gurumu tentu lebih mengetahui jalan apakah yang harus kau tempuh, Ya... aku sudah tua, mungkin tak dapat bertemu muka lagi."

Lalu ia menganggukkan kepalanya kepada Lie Ceng Loan dan keluar dari ruang tamu itu.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Bee Kun Bu mendengarkan uraian ayahnya dengan kedua mata terbelalak seperti sebuah patung.

ia mengawasi ayahnya yang berjalan keluar tanpa menoleh-noleh lagi ke belakang.

ia tak mengetahui bahwa ayahnya telah menjadi seorang suci yang tak menghiraukan harta dunia atau kesenangan dunia, dan yang tak mau dipusingkan oleh apa saja yang akan datang, Ya...

ia telah bertapa di rumah itu selama dua puluh tahun dengan tenteram, aman dan tenang, Orang semacam itu tidak lagi membedakan mati atau hidup.

Dengan tak disadarinya, air matanya mengucur Lie Ceng Loan menghibur "Kakak Kun Bu, sudahlah, jangan bersedih hati!"

Bee Kun Bu lekas-lekas menyusut air matanya, dan dengan senyum paksaan ia mengajak Lie Ceng Loan menemui ibunya.

Setelah berjalan melalui sebuah taman bunga, mereka tiba di sebuah kamar di mana tampak seorang wanita yang berusia setengah abad, berparas cantik, sedang memejamkan mata menyanyikan sajak dari kitab suci yang terletak di pinggir meja kayu cemara dan berbentuk delapan persegi Bee Kun Bu menghampiri ibunya, lalu berlutut di hadapannya sambil berkata.

"lbu, ananda telah pulang!"

Lalu Bee Hujin membuka matanya, ia mengusap-usap kepala puteranya, dan berkata.

"Kau telah pulang, Kebetulan sekali! Besok adalah hari ulang tahun meninggalnya kakakmu, Sebelum ia menutup mata, ia telah menyebut-nyebut namamu, Besok kita pergi ke kuburannya, ia dikuburkan di kaki gunung di sebelah Barat, dimana kamu suka bermainmain ketika masih kecil."

Dengan mata yang berlinang-linang Bee Kun Bu menyahut.

"Sayang ananda tak dapat bertemu dengan ia ketika ia meninggal!"

Dengan wajah seorang ibu yang mencintai anaknya, Bee Hujin berkata lagi sambil menarik napas.

"Sio Cien pintar dan cerdas, Sayang umurnya pendek. ia meninggal karena dosa ayahnya, Hai, siapakah gadis ini?"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Lie Ceng Loan yang juga turut berlutut, ketika ditegur, segera menyahut.

"Bibi, aku Lie Ceng Loan, bersama-sama kakak Kun Bu adalah murid dari partai Kun Lun."

Bee Hujin lekas-lekas mengangkatnya, dan mengawasi paras mukanya.

"O! Kau Sumoynya Kun Bu, berapa usiamu tahun ini?"

"Tahun ini aku berusia tujuh belas tahun,"

Sahut Lie Ceng Loan.

"Kau berasal dari mana? siapakah ibu bapakmu?"

Pertanyaan itu menusuk hati si gadis.

ia ingat bahwa ia dari kecil telah dipelihara oleh Ngo Kong Toa-su yang mencintainya seperti puteri kandungnya, ia merasa sedih karena belum pernah menikmati kasih sayang seorang ibu dan ia pun tak mengetahui siapakah ibu bapaknya.

Pertanyaan tersebut menyebabkan ia menangis, lalu menjawab.

"Loan Jie anak piatu semenjak bayi, Ngo Kong Toa-su mengatakan bahwa aku bernama Lie Ceng Loan, akan tetapi tak mengetahui siapakah ibu bapakku...."

Tiap-tiap perkataan yang diucapkan memilukan hati. Bee Hujin mengusap-usap rambutnya seperti seorang ibu yang menghibur puterinya.

"Sudahlah, jangan bersedih hati lagi!"

Setelah menyusut air matanya, ia bertanya.

"Bibi apakah aku akan bernasib seperti kakak Sio Cien, berumur pendek juga?"

Pertanyaan itu hanya dijawab dengan senyuman seorang ibu. -ooo0oooBersumpah di depan kuburan Lalu untuk meredakan Bee Hujin berkata.

"Anak, kau beruntung, kau tidak senasib dengan Sio Cien,"

Kemu-dian sambil menghadapi puteranya ia berkata.

"Anak, ayahmu telah berubah, ia telah berkeras hati bertapa di rumah di desa yang terpencil ini. Aku meskipun telah mempelajari kitab-kitab suci

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

dari Buddha, hatiku tidak sekeras hati ayahmu, Aku senantiasa memikirkan kau. Aku yakin kau berwatak ksatria, dan aku ingin kau selalu begitu, jangan sekali-kali melupakan budi orang."

Lalu Bee Hujin memejamkan mata kembali untuk menyanyikan sajak dari kitab suci.

Bee Kun Bu juga tidak ingin lagi mengganggu ia mengajak Lie Ceng Loan keluar dari kamar itu.

Bujang tua sudah menyiapkan kamar untuk majikan mudanya, dan juga untuk Lie Ceng Loan.

Keesokan harinya ia telah menyiapkan keperluankeperluan untuk sembahyang, dan menunjukkan jalan ke kuburan Ling Sio Cien, setibanya di kuburan itu, Bee Kun Bu berkata.

"A Luk, pulanglah kau, tinggalkan aku seorang diri di sini."

A Luk berkata sebelum pergi.

"Orang yang sudah mati tak akan hidup kembali Majikan muda tak usah terlampau bersedih hati, Aku akan datang sebentar lagi."

Setelah A Luk pergi, Bee Kun Bu tak tahan lagi, Air matanya mengucur, dan karena amat sedihnya ia terjatuh di depan kuburan itu!

A Luk yang belum pergi jauh, setelah melihat ini, lekas-lekas datang, dan berusaha menyadarkan majikannya, tetapi tak berhasil ia lekas-lekas lari memberitahukan kepada Lie Ceng Loan yang kebetulan berdiri di depan rumah, Dengan ilmu meringankan tubuh, gadis itu telah tiba di kuburan dan menyaksikan Bee Kun Bu jatuh bertiarap di depan kuburan, ia terkejut dan menubruk sambil berteriak.

"Kakak Kun Bu,., kakak Kun Bu... kakak Kun Bu...."

Tapi Bee Kun Bu tidak bergerak. Dirangkulnya tubuh Bee Kun Bu dan menangis keras-keras, ia berseru.

"Kakak Kun Bu, jika kau mati, aku pun tidak mau hidup lagi."

Tiba-tiba ia merasa hembusan angin dan mendengar suara orang yang telah dikenalnya.

"Sobat! Apakah kau tidak ingin ia hidup?!"

Membentak suara itu. Lie Ceng Loan segera berdiri dan mencari orang

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

yang membentak itu.

Si jenggot putih yang dijumpainya di telaga Tong Ting Ouw berdiri di depan nya.

Si jenggot putih tak menunggu Lie Ceng Loan berbicara, lalu menjelaskan "Karena terlampau bersedih hati ia telah merintangi jalan napasnya, Jika kau rangkul ia sekeras itu, hawa di dalam tubuhnya sukar keluar, dan ia akan menderita Iuka-luka di dalam tubuh, Dan...

ia bisa mati atau menjadi orang cacad."

Sambil menangis tersedu-sedu ia berkata.

"Cara bagaimanakah kita harus menolongnya.,.? Jika ia mati, aku pun tidak sudi hidup...."

Si jenggot Putih menghampiri tubuh Bee Kun Bu, Lalu dengan tinju kanannya dipukul nya jalan darah di punggungnya, dan dengan jari-jari tangan kirinya, ia membebaskan jalan-jalan darah di dada dan paru-parunya.

Sejenak kemudian, Bee Kun Bu menjerit dan menghembuskan napas dari lubang hidung dan mulutnya, ia sadar, dan segera berdiri kembali Lie Ceng Loan menghaturkan terima kasih kepada si jenggot putih lalu memeluk Bee Kun Bu sambil bertanya.

"Kakak Kun Bu, mengapa kau tadi?"

Bee Kun Bu tidak menyahut, tapi ia menghaturkan terima kasih kepada si jenggot putih yang berkata.

"sebetulnya Sumoaymu juga dapat menolong kau, Hanya ia kurang berpengalaman dan tidak tahu yang harus diperbuatnya apa dalam kebingungan tadi"

"Tuan dari angkatan tua telah memberi peringatan kepada kami ketika di atas perahu, Kini telah menolong jiwaku lagi, Budi tersebut tak akan dapat kulupakan,"

Sahut Bee Kun Bu, Sambil tertawa si jenggot putih berkata lagi "Bee Siotee telah bicara dengan cepat sebetulnya partai Tian Liong kami dan partai Kun Lun tidak bermusuhan Tapi peta asli Cong Cin To itu merupakan suatu mustika yang sedang diperebutkan oleh berbagai-bagai partai silat Ketika di atas perahu, bukankah aku pernah mengatakan bahwa kita berjumpa lagi, mungkin aku minta Siotee mengajarku ilmu silat pedang Hun Kong Kiam Hoat?"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Tuan dari angkatan tua telah datang ke sini dengan maksud mengejar peta asli Cong Cin To, Sesungguhnya, Con Cin To itu tidak berada di tanganku,"

Berkata Bee Kun Bu sambil tersenyum "Jika demikian halnya, aku minta Siotee menemui pemimpin partai Tian Liong kami,"

Kata si jenggot putih. Bee Kun Bu berpikir sejenak, lalu menyahut.

"Dari pembicaraan itu, rupa-rupa nya tuan dari angkatan tua ingin menangkap aku hidup-hidup, bukan ?"

Si jenggot putih mengurut-urut jenggotnya dan ber-kata.

"Peraturan partai ku sangat keras. Aku si tua bangka tak dapat mengambil keputusan sendiri Aku terpaksa membawa kau menemui pemimpin partaiku."

Dengan berdiri tegap, Bee Kun Bu menjawab.

"Kita dari partai Kun Lun tidak mudah digertak Lagi pula menangkap aku hidup-hidup tidak mudah!"

Pada saat itu, si jenggot putih mengejek.

"Gurumu betul terkenal sekali, dan kau sendiri mungkin lihay, Tapi aku ingin mencoba ilmu silatmu dalam beberapa jurus! Kemudian baru kita berbicara lagi!"

Dengan merendah Bee Kun Bu berkata.

"Siotee tak berpengalaman, ilmu silat yang telah dipelajaripun tidak lihay. Tapi Siotee merasa beruntung dapat kesempatan menguji silat melawan tuan dari angkatan tua dan dengan demikian mungkin banyak mendapat manfaatnya, Tapi kita telah bertemu dua kali, dan sampai sekarang aku belum mengenal siapa sebetulnya tuan dari angkatan tua ini."

"Aku ini pemimpin cabang daerah sungai Yang Tsu dari partai Tian Liong bernama Tee Ju Liong, alias Naga Sakti dari Sungai Yang Tsu,"

Ia menjelaskan sambil tertawa.

"Nah, Siotee! jaga serangan ini!"

Peringatan itu diiringi dengan cengkeraman tangan kanan secepat kilat ke muka Bee Kun Bu, yang buru-buru mengelak Lie Ceng Loan tak tinggal diam.

ia membalas menyerang dengan kedua tangannya yang putih

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

halus dengan ilmu Ouw Tiap Hui Bu atau kupu-kupu menarinari di sinar matahari yang memaksa Tee Ju Liong mundur untuk menghindarkan serangan cakaran yang bertubi-tubi itu! Lie Ceng Loan membentak.

"Kau telah menolong kakakku, aku berterima kasih. Tapi jika kau menyerang ia, aku pasti membalas!"

Dengan wajah yang seram Tee Ju Liong menyahut.

"Siocia lihay betul silatnya, Tapi aku Tee Ju Liong tidak sudi bertempur melawan anak perempuan Siocia diminta berdiri di pinggir Aku hanya ingin bertarung melawan kakakmu!"

"Ha! Ha! Kakakku lebih lihay daripadaku Bagaimanakah kau dapat melawannya?!"

Ejekan itu menyebabkan Tee Ju Liong gusar sekali.

"Jika kau tidak mengerti maksud baik ini, kau harus mencoba serangan-seranganku!"

Bentaknya.

"ltu baru betul! jika aku kalah, kau baru menggempur kakakku!"

Sahut Lie Ceng Loan.

ia tersenyum kepada Bee Kun Bu, lalu dikipaskannya lengan baju merahnya, dan dengan kedua tangannya ia menyodok mata lawannya, Sambil tertawa Tee Ju Liong mencoba mencekal tangan kanan lawannya dengan tangan kirinya dengan maksud hendak memijit jalan darah di tangan kanan lawannya, dan tinju kanannya dikirim ke bahu lawannya secepat kilat Si gadis tidak menunggu sampai serangan itu tiba, melainkan lekas-lekas mengubah serangannya.

Dengan tinju kiri ditotoknya lengan kanan lawannya dengan ilmu Peh Hok Tiam Ko atau bangau putih mematok gabah, Tee Ju Liong tidak menduga bahwa serangan itu demikian pesat nya.

ia merasa kena ditotok, karena lengan kanannya menjadi lemas, ia gusar, dan menyerang lawannya kembali dengan kedua tinjunya delapan jurus sekaligus, Serangan yang gencar itu tak tiapat ditahan oleh Lie Ceng Loan.

ia buru-buru mundur beberapa langkah, dan menanti sampai jurus-jurus lawannya selesai, untuk menendang

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

kemaluan lawannya dengan kaki kanannya, Tee Ju Liong terkejut dan meloncat mundur cepat-cepat.

Bee Kun Bu yang menyaksikan pertempuran itu merasa khawatir Sumoynya tak dapat melawan.

ia ingin membantu, tapi tendangan maut yang baru saja dilepas menyebabkan ia ingat kepada Ngo Kong Toa-su dengan ilmu silat tinju Cap pwee Lo Han Congnya, Betul saja tendangan itu diiringi dengan tinju keras ke arah kepalanya Tee Ju Liong!

Tee Ju Liong mengelak.

pertempuran berlangsung lebih kurang lima puluh jurus, dan masih belum ada yang kalah.

Si gadis dengan silat tinjunya yang gencar dan cepat dapat melawan si jenggot putih yang silat dan tenaganya lebih baik.

"Aku sebagai kepala dari cabang partai Tian Liong, jika kalah melawan gadis ini, tentu akan malu sekali menemui pemimpin partai Tian Liong,"

Pikirnya sambil bertempur.

Lalu ia mengubah jurus serangannya, Dengan satu tinju yang dibarengi dengan satu tendangan ia mendesak si gadis, Serangan itu dilakukan dengan tenaga dalam yang besar sekali sehingga Lie Ceng Loan yang kalah tenaga harus lekas-lekas meloncat seperti seekor bajing, ia terkejut dan tubuhnya mengeluarkan keringat dingin!

Bee Kun Bu cemas melihatnya, dan menjadi gusar mengapa si tua bangka terlalu kejam menyerang seorang gadis, ia hendak membantu, tapi si gadis sudah mengubah lagi jurus-jurus serangannya.

Rupanya ia menggunakan ilmu silat tinju Cap pwee Lo Han Cong dengan sedikit perbedaan sebetulnya ilmu silat tinju Cap Pwee Lo Han Cong yang telah diajarkan Ngo Kong Toa-su kepada Lie Ceng Loan dapat melawan musuh yang manapun juga, Tapi harus dilakukan oleh orang laki-laki yang besar tenaganya, Lie Ceng Loan seorang gadis, dan betapa besar pun tenaganya, ia tidak akan dapat menandingi tenaga seorang jago silat laki-Iaki.

Oleh karena itu Ngo Kong Tao-su telah mengajarkan pula ilmu silat tinju Liu Yun Cong atau Tinju Awan Terapung yang cocok sekali bagi si gadis yang gesit dan lincah itu, Seperti

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

awan terapung tubuh gadis itu ber!ari-Iari kian kemari sehingga lawannya tak dapat mengirim jotosan yang jitu, tetapi ia dapat sebentar-sebentar mengirim jotosan-jotosan ke tubuh Iawannya.

Karena Tee Ju Liong kuat sekali, ia masih dapat bertahan.-Tapi jika tinjunya mengenai sasaran, gadis itu pasti tewas atau luka parah!

Bee Kun Bu insyaf bahwa pertempuran itu akan berlangsung lama, ia mengangkat kedua lengannya, lalu menerjang masuk di antara kedua orang itu dengan ilmu Hun Lang Toan Li atau memecah arusnya dua ombak.

Kedua lengannya mendorong ke arah kedua orang itu dan berkata sambil tertawa.

"Kedua-duanya tak mempunyai dendam, mengapa bertempur mati-matian? Tuan dari angkatan tua besar tenaganya, jika bertempur terus, Lie Sumoay pasti kalah, Lebih baik berhenti bertempur!"

Tee Ju Liong mengerti bahwa perkataan itu adalah untuk merendahkan diri, ia insyaf bahwa ia tak dapat mengalahkan gadis itu, Mendengar ucapan tersebut, ia menyahut.

"Silat partai Kun Lun tidak dapat diremehkan, Jika hari ini aku betulbetul mengadu silat melawan Sumoaymu, aku mengaku kalah."

"Yang satu lihay tenaganya dan yang lain lincah gerakgeriknya. Jika tuan dari angkatan tua sudi berhenti bertempur sampai di sini saja,"

Kata Bee Kun Bu.

"Nanti aku, Bee Kun Bu, setelah menunaikan tugas pergi ke Barat, pasti datang menjumpai tuan dari angkatan tua dan pemimpin partai Tian Liong untuk menjelaskan kesalah-pahaman karena peta asli Cong Cin To itu, dan bersedia pula mencegah timbulnya perselisihan antara kedua partai kita. Tapi jika tuan dari angkatan tua ingin juga meneruskan, aku tidak dapat tinggal diam, aku harus membela nama partai kami, Harap tuan dari angkatan tua berpikir masak-masak."

Tee Ju Liong si Naga Sakti dari Sungai Yang Tsu mengawasi wajah Bee Kun Bu sejenak, lalu ia menganggukkan kepalanya dan berkata.

"Bee Lotee betul

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

omongan nya. Akupun tahu kami bukan musuh, Tapi aku datang atas perintah Harap Bee Lotee memberi maaf."

"Ha! jadinya kita harus bertempur lagi?!"

Kata Bee Kun Bu dengan heran, Belum lagi perkataannya selesai, terdengar suara siulan, Empat orang datang berlari-lari ke tempat itu.

Empat orang itu dikenal oleh Bee Kun Bu, Mereka adalah orang-orang Tee Ju Liong yang masing-masing berdiri di muka perahu di telaga Tong Ting Ouw, Mereka berlari mendatangi dengan golok terhunus!

Bee Kun Bu mengawasi ke empat orang-orang itu, lalu dengan menghadapi Tee Ju Liong ia membentak.

"Rupanya tuan dari angkatan tua telah merencanakan bokongan ini?!"

Tapi Tee Ju Liong tidak menjawab. ia bertanya pada salah seorang dari keempat orang-orang-nya.

"Apakah orang-orang dari pusat sudah datang?!"

Orang yang ditanya membungkukkan tubuh dan menyahut.

"Kepala cabang bendera merah Ci dan kepala cabang bendera hitam Ko telah bersama-sama memimpin orang-orangnya pergi ke kuil San Ceng Koan. Souw Hiang Cu dari pusat juga telah tiba di telaga Tong Ting Ouw, Mungkin ia kelak datang ke sini."

Tee Ju Liong mengerutkan keningnya dan berkata.

"Mengapa sampai puteri pemimpin juga datang?"

Orang itu menyahut.

"Menurut pemimpin sendiri, mungkin beliau sendiri akan datang karena urusan ini amat pentingnya,"

Pereakapan tersebut didengar oleh Bee Kun Bu dengan jelas dengan wajah tidak berubah, Tee Ju Liong menarik napas panjang, karena ia merasa malu jika mengingat budi Hian Ceng Totiang.

Karena Tee Ju Liong tidak menyerang, Bee Kun Bu mengajak Lie Ceng Loan pergi, Ke empat orang-orang-nya Tee Ju Liong mencoba menahan, tapi Tee Ju Liong melarang mereka.

Setelah kedua pemuda dan pemudi itu pergi jauh, Tee Ju Liong berkata kepada empat orang-orangnya "Jika kita lawan mereka sekarang, tidak ada gunanya, Setelah kita mendapat bantuan, tidaklah terlambat kalau kita menyerang

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

mereka lagi sekarang kita bersembunyi di sekitar rumahnya dan mengintai gerak-gerik mereka."

Salah satu dari empat orang-orangnya bertanya.

"Apakah perlu minta Souw Hiang Cu lekas-lekas datang ke sini?"

Tee Ju Liong menganggukkan kepalanya, dan orang itu segera pergi.

Tee Ju Liong dan ketiga orang-orangnya lalu menuju ke rumah Bee Kun Bu.

Baru saja mereka berjalan beberapa langkah, dari hutan terdengar suara ejekan, Tee Ju Liong menoleh ke belakang, dan di atas sebuah gundukan tanah di pinggir hutan tadi berdiri seorang tua yang kurus kering.

Rupanya kulitnya tertutup dengan bulu ayam dan bulu bangau, rambutnya putih laksana perak, mengenakan Cong Sam (baju kurung panjang) yang hitam ia mirip seorang hweesio atau pendeta, memegang sebuah tongkat yang hitam mengkilat dan ujung tongkat tersebut berbentuk kepala ular ia berdiri di atas gundukan tanah itu dengan tak bergerak-gerak, Orang tua itu tidak seram kelihatannya.

Hanya pakaiannya yang ganjil dan tongkat hitam berujung kepala ular itu menyebabkan orang seram melihatnya Tee Ju Liong sudah lama berkecimpung di kalangan Kang Ouw, Tentang orang yang ganjil itu rupanya telah pernah ia mendengar Hanya pada saat itu tak dapat mengingatnya, Dengan suara rendah ia perintahkan orang-orangnya.

"Jangan hiraukan, Kita jalan terus."

Mereka berjalan terus, Ketika mereka menoleh lagi, orang tua itu telah hilang entah ke mana.

"Bukan main cepatnya,"

Tee Ju Liong berpikir.

"Rupanya rumah Bee Kun Bu telah didatangi orang banyak, dan Bee Kun Bu sudah dikurung oleh musuh-musuh. Partaiku ingin menangkap Bee Kun Bu untuk dijadikan jaminan, dan pasti akan banyak menjumpai rintangan-rintangan, dan harus bertempur melawan saingan yang tak sedikit Ai! Peta asli Cong Cin To itu betul-betul banyak mencelakakan orang."

Ketika sudah dekat rumah Bee Kun Bu yang bernama "Sui Goat San Cong", mereka bersembunyi di belakang semak belukar

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Pada saat Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tiba di rumah, ayahnya Bee Liong sedang berada di ruang tamu membaca buku, Melihat anaknya dan Lie Ceng Loan kembali, ia menegur "Kamu baru kembali dari kuburan Ling Sio Cien?"

"BetuI,"

Sahut Bee Kun Bu.

"Ananda pikir, lebih baik kami lekas-lekas pergi ke pegunungan Kun Lun."

"Baik,"

Sahut ayahnya.

"Aku pun telah suruh A Luk menyiapkan keperluanmu lihat bungkusan itu di atas meja."

Ia menunjuk sesuatu ransel besar berikut pedang Bee Kun Bu dan pedang Lie Ceng Loan.

Rupanya ayahnya ingin supaya mereka lekas-lekas berangkat Bee Kun Bu terpaksa lekaslekas pergi, karena semakin lama mereka berangkat, semakin berbahaya bagi mereka, bahkan bagi ibu bapaknya.

Setelah berlutut di hadapan ibu dan ayahnya untuk minta diri, mereka keluar dari rumah itu menuju ke pegunungan Kun Lun.

Di sepanjang jalan Bee Kun Bu selalu termenung ia mengenang-ngenangkan bahwa ia harus lekas-lekas berangkat meskipun baru saja dua hari sampai di rumah, Dengan meninggal nya kakak sepupunya Ling Sio Cien yang cantik jelita dan berbudi, ibu bapaknya tak menghiraukan lagi kesenangan dunia, Dan peta asli Cong Cin Toyang diperebutkan oleh para jago-jago silat sehingga merupakan sumber maut Lie Ceng Loan menegur.

"Kakak Kun Bu, apa yang direnungkan?"

"O!"

Sahutnya sambil tersenyum.

"Apakah kau mengetahui bahwa banyak jago-jago silat di kalangan Kang Ouw mengintai-intai kita? Kita harus lekas-lekas keluar dari daerah ini untuk luput dari kurungan mereka."

"Dengan berada di samping kakak, apapun juga tidak kutakuti?"

Sahut si gadis dengan penuh tekad "Kakak suka aku terus mengikuti?"

"Aku akan menjaga kau sebagai adik kandungku,"

Kata Bee Kun Bu,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Setelah lewat sejam, mereka sudah kembali lagi ke jalan yang menuju ke kota Gak Yo.

Di jalan itu tampak tiga ekor kuda yang sedang dipacu ke arah mereka.

Kuda yang terdepan ditunggangi oleh seorang gadis berbaju hijau, dan gagang pedang terlihat keluar punggungnya.

Sedang kuda yang lain ditunggangi oleh dua orang laki-laki yang tinggi besar tubuhnya, Kemudian tampak lagi seorang laki-laki yang disuruh memanggil orang oleh Tee Ju Liong, ketika Lie Ceng Loan bertempur melawan si Naga Sakti Sungai Yang Tsu di depan kuburannya Ling Sio Cien.

Begitu sampai di depan Bee Kun Bu, gadis berbaju hijau itu menahan kudanya, Orang yang paling belakang lalu berseru.

"Souw Hiang Cu! itu mereka!"

Souw Hiang Cu menghentikan kudanya, ia mengawasi Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, Lalu bertanya sambil tertawa.

"Apakah kedua saudara ini dari partai Kun Lun?"

"Betul,"

Sahut Bee Kun Bu.

"Siocia ada urusan apakah maka menanya kami?"

Si gadis berbaju hijau itu segera turun dari kudanya, lalu berkata.

"Partai Kun Lun dengan ilmu silat pedang Hun Kong Kiam Hoat dan ilmu tinju Tian Kong Cong telah terkenal di kalangan Bu Lim, Aku tak berani merintangi saudara berdua, Aku hanya ingin mengurus sesuatu hal dengan cara damai."

Bee Kun Bu menaksir gadis itu berusia dua puluh dua tahun, Kedua pipinya merah jambu, kedua alisnya melengkung kedua bibirnya berbentuk buah lengkak, hidungnya bangir dan air mukanya cantik molele Hanya dari sorot matanya kelihatannya ia gagah perkasa dan kejam.

Sambil bertindak mundur Bee Kun Bu berkata.

"Siocia ada urusan apakah? Sebutlah!"

"Tapi jika kau tak setuju...?"

Tanya si gadis, Ucapan itu seperti ancaman, dan Bee Kun Bu menjadi naik darah.

"Setuju atau tidak itu urusanku, Kau tak dapat memaksaku!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Sambil tersenyum si gadis mengejek "Rupanya kau ini kepala batu! Aku akan memaksamu jika kau tak setujui Terhadap gurumu juga aku akan menuntut begini!"

"Ha! siapakah kau! Mulutmu terlampau besar!"

Bentak Bee Kun Bu.

"Apakah peta asli Cong Cin To bukannya di tangan partai Kun Lun?! Jika berada di tanganmu, lekas-lekaslah serahkan kepadaku untuk menghindarkan hal-hal yang tak diingini!"

Dengan cepat tusukan itu ditangkis oleh si gadis berbaju hijau, kedua pedang segera bentrok dan Bee Kun Bu merasa lengan kanannya tergetar seakan-akan pedangnya akan terlepas dari pegangannya.

Dengan suara mengejek, Bee Kun Bu menyahut.

"Misalnya peta itu ada di tanganku, dan aku tidak mau menyerahkan, kau mau apa?! "O begitu? Kamu berdua tak dapat keluar dari jalan ini."

Mengancam si gadis berbaju hijau, Bee Kun Bu tak dapat bersabar lagi, ia berbisik pada Lie Ceng Loan supaya menerjang bersama-sama.

Lalu secepat kilat mereka mencabut pedangnya dan meloncat sedepa lebih ke belakang untuk mengambil posisi Tapi secepat kilat pula si gadis baju hijau dengan pedang terhunus sudah berada di hadapan Bee Kun Bu untuk merintanginya maju.

"Pikir lagi, apakah kau ingin aku menggunakan kekerasan?!"

Mengancam si gadis berbaju hijau itu, Sambil menusuk dengan pedangnya, Bee Kun Bu berteriak.

"Kau ini keterlaluan! jaga tusukan ini!"

Dengan cepat tusukan itu ditangkis oleh si gadis berbaju hijau, dan kedua pedang itu beradu, dan Bee Kun Bu merasa lengan kanannya tergetar seakan-akan pedangnya akan terlepas dari pegangannya, Pada saat itu ia melihat wajah lawannya juga berubah menjadi pucat!

Dilain pihak Lie Ceng Loan sibuk bertempur melawan tiga orang lain-lain yang bertubuh besar

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Lie Ceng Loan tidak sabar seperti Bee Kun Bu.

ia ingin segera menaklukkan lawan-lawannya dengan ilmu pedang Hun Kong Kiam Hoatnya, ia menyerang ke kiri dan ke kanan seakan-akan naga menari-nari di lautan.

sebetulnya ilmu silat pedang Kun Lun itu tak ada taranya di kalangan Bu Lim, karena serangan-serangannya maupun kelitan-kelitannya beraneka warna dan secepat kilat Hanya dalam sepuluh jurus saja tiga orang laki-laki yang bertubuh besar itu sudah berada di pinggir jurang kematian!

Bee Kun Bu yang hanya ingin luput dari kepungan agar dapat lekas-lekas tiba di pegunungan Kun Lun, setelah bertempur sepuluh jurus, segera insyaf bahwa gadis lawannya itu bukan lawan yang enteng, ia tak dapat berlalai-lalai.

Lalu digunakannya ilmu Cui Hun Cap Ji Kiam atau ilmu mengusir roh.

Dengan jurus Kie Hong Teng Kiauw (burung Hong mematok naga), jurus Ni Hong Bong Siauw (angin taufan menderu-deru) dan jurus Bu Hiam Yun Siu (pedut meliputi awan bergumul) si gadis terdesak mundur untuk meluputkan diri dari tusukan-tusukan atau tebasan-tebasan maut!

Setelah mendesak mundur lawannya, ia meloncat ke samping Lie Ceng Loan, dan menebas putus tangan lawan Lie Ceng Loan, sambil berbisik.

Turut aku menerjang keluar!"

Lalu sambil tersenyum Lie Ceng Loan mengeluarkan jurus Hun Hua Hut Hut, (bunga berhamburan diembus angin) pedangnya menusuk lawan-lawannya sehingga mereka harus kocar-kacir jika tidak ingin dikirim ke akhirat!

kemudian dengan ilmu meringankan tubuh, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan meloncat keluar dari kepungan itu, dan dalam sekejap saja sudah menghilang, Souw Hiang Cu masih juga belum hilang dari terkejut nya.

ia berdiri terpesona Lalu diperintahkannya salah seorang pengiringnya.

"Kau laporkan kepada pemimpin partai bahwa mereka sudah luput dari kepungan Beritahukan supaya beliau menunggu di tepi telaga Tong Ting Ouw untuk sementara waktu!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Setelah itu, dipacunya kudanya, dan seorang diri berusaha mengejar Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, Diceritakannya bahwa setelah Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan merasa aman dari pengejaran, mereka mengambil jalan yang melalui hutan.

Diwaktu lohor, tiba-tiba langit menjadi gelap, Hujan akan segera turun, Untuk berlindung dari hujan, mereka harus mencari sebuah pohon besar Betul juga hujan turun dengan derasnya, Tapi mereka masih kebasahan, Bee Kun Bu memanjat pohon itu dan mencoba mencari tempat berlindung yang lebih baik, Dari jauh tampak olehnya sebuah rumah kecil ia turun dan bersama-sama Sumoynya menuju ke rumah kecil itu, Rumah kecil itu adalah sebuah kuil tua yang telah ditinggalkan Ruang tengahnya masih utuh dan patungpatung yang besar-besar masih berdiri di belakang sebuah meja sembahyang, Mereka merasa aman di dalam ruangan itu, sedang di luar hujan turun dengan lebatnya dan angin menderu-deru.

Selagi mereka duduk di lantai di ruangan itu, tiba-tiba Lie Ceng Loan bertanya.

"Kakak Kun Bu, apakah peta Cong Cin To berada di tanganmu?"

"Tidak,"

Sahut Bee Kun Bu sambil menggelengkan kepalanya.

"Mereka itu tak mengenal aturan, Kau tidak memegang peta itu, mengapa kau yang dikejar-kejar?!"

"Mereka ingin menangkap aku untuk dijadikan jaminan guna memaksa Suhuku memberikan peta asli Cong Cin To itu!"

Bee Kun Bu menjelaskan "Jika demikian peta asli Cong Cin To itu berada di tangan Hian Ceng Totiang?"

Menanya si gadis.

"Aku pun belum mengetahuinya soal itu,"

Sahut Bee Kun Bu.

Lalu mereka merebahkan diri di lantai untuk beristirahat pemuda itu tertarik sekali oleh cantik jelita-nya si gadis, akan tetapi ia adalah seorang pemuda yang agung, dan dipandangnya gadis itu sebagai adik kandungnya!

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Dihalaukannya semua pikiran-pikiran atau maksud-maksud yang keji!

Di dalam gemuruh hujan yang lebat itu, ketika hari sudah mulai malam, terdengar oleh mereka suara siulan yang panjang, Bee Kun Bu menendang Lie Ceng Loan, lalu mereka berdiri Di luar kuil itu mereka dengar orang berkata sambil tertawa.

"Hujan ini tak lekas-lekas berhenti Coba kau naik ke atas atap kuil dan mengadakan penyelidikan Aku ingin masuk ke dalam dulu."

Bee Kun Bu menarik tangan Lie Ceng Loan untuk bersembunyi di belakang patung-patung yang besar Kemudian mereka lihat dua orang masuk berturut-turut Yang pertama adalah seorang pendeta berjubah hitam, bertubuh tinggi besar, matanya besar, alisnya berdiri, brewokan dan berusia lima puluh tahun lebih, Di pundaknya kelihatan sebuah pedang, dan tangannya memegang senjata gaitan, Yang kedua adalah seorang pelajar berwajah putih dan berusia lebih kurang empat puluh tahun, ia berpakaian baju biru dan di pinggangnya terselip senjata, Setelah mereka masuk ke dalam, mereka menyusut air hujan dari pakaiannya, lalu duduk berhadap-hadapan di lantai, Si pelajar berkata.

"Pemimpih kuil San Ceng Koan bukannya jago silat picisan, Untuk merebut peta Cong Cin To, pertarungan dahsyat tak dapat dihindarkan. Menurut pendapatku selama dua hari ini, banyak jago-jago silat yang telah mengetahui itu, Tapi jumlah orang-orang yang terbanyak adalah dari partai Tian Liong, Hua San dan Kong Tong, Partai-partai lain misalnya partai-partai Bu Tong, Siauw Lim, Ngo Bie, Ceng Sia hanya mengirim murid-muridnya. Pemimpin-pemimpinnya belum datang, dan kita tak usah khawatir Yang kita takuti ialah orang-orang partai Tian Liong dan partai Hua San, Aku mendapat kabar bahwa partai Hua San dipimpin sendiri oleh pemimpinnya Tu Wee Seng, si lengan delapan, partai Tian Liong, meskipun pemimpinnya Souw Peng Hai tidak datang, akan tetapi kepala-kepa!a

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

cabang bendera hitam, bendera putih dan bendera merah sudah datang ke propinsi Hunan. Siapa yang datang dari partai Kong Tong, belum kudapat kabar."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

"Suheng kita (saudara seperguruan) belum datang, Bila hanya kita berdua saja, tak dapat kita melawan orang-orang partai Hua San dan Tian Liong,"

Si pendeta menganggukkan kepalanya dan berkata.

"San-tee (adik ke tiga) terlampau cemas, Tapi cara kita bertindak berlainan Betul orang-orang partai Tian Liong dan partai Hua San banyak jumlahnya, akan tetapi orangorangnya yang penting-penting berkumpul di sekitar kuil San Ceng Koan. Lagi pula ilmu silat Hian Ceng Totiang tidak dibawah ilmu silat Tu Wee Seng si lengan delapan Dengan orang sebegitu banyak mungkin mereka dapat mengalahkan Hian Ceng Totiang, tapi untuk menangkapnya hidup-hidup... pasti tak mungkin! Kita harus menangkap muridnya dulu, Lalu kita pergi ke kuil San Ceng Koan menemui Hian Ceng Totiang, Muridnya itu adalah jaminan kita untuk membujuknya supaya ditukar dengan peta Cong Cin To."

Baru saja ucapannya selesai dari luar kuil terdengar suara orang tertawa terbahak-bahak, dan seterusnya di ambang pintu berdiri orang tua yang kulitnya berbulu bangau, berjubah abu-abu, berambut putih, dan memegang sebatang tongkat bambu, ia masuk tanpa menyusut air hujan di atas pakaiannya, Kedua matanya bersinar dan sambil mengawasi pendeta dan si pelajar itu ia menegur "Kamu berdua bukan main gembiranya bereakap-cakap di dalam kuil tua ini.

Apakah Suhengmu tidak datang?"

Mereka mengawasi orang tua itu, dan segera mengenalinya bahwa ia adalah pemimpin partai Hua San, Tu Wee Seng, si lengan delapan, Mereka terkejut, dan buru-buru mengangkat tangan memberi hormat, sambil serentak menyahut.

"Suheng kami sibuk mengurus urusan partai, dan jarang turun gunung, Kami selalu berkelana di kalangan Kang Ouw, dan merasa beruntung dapat menjumpai saudara Tu."

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Tu Wee Seng berkata.

"Partai Tiam Cong semenjak dipimpin oleh Suhengmu telah tampak banyak kemajuan-nya. Tapi kamu berdua juga banyak membantunya, dan berjasa terhadap partai, Aku pun merasa gembira dapat berjumpa denganmu!"

Pendeta berjubah hitam itu menyahut sambil tersenyum.

"Saudara Tu memimpin partai Hua San, dan terkenal sebagai pendekar yang lihay. Apakah ada urusan penting, maka kali ini datang ke propinsi Hunan?"

Dengan kedua matanya dia menyapu si pendeta dan si pelajar, lalu menyindir Tertanyaanmu itu lucu sekali, Apakah urusanmu yang penting, sehingga kamu datang ke propinsi Hunan?"

Si pelajar berusaha menyimpang dan berkata.

"Lebih baik kita berbicara tentang urusan lain, Untuk apa kita berselisih?"

Tu Wee Seng membentak.

"O! Jadi kamu ingin mencari gara-gara?!"

Si pelajar juga melotot dan berkata.

"Saudara Tu kau dengan biji emasmu mungkin ditakuti orang-orang di kalangan Bu Lim, tapi kami sepasang belibis dari partai Tiam Cong tidak gentar menghadapi itu!"

Tu Wee Seng si lengan delapan tertawa terbahak-bahak, dan suaranya seperti seekor naga meraung sehingga atap kuil itu bergetar! Setelah berhenti tertawa berkatalah ia.

"Ketigatiga belibis dari partai Tiam Cong betuI-betuI besar nyalinya, Sayang Suhengmu tidak datang!"

Si pendeta membentak.

"Untuk melawan kau, tidak usah Suheng kami ikut pula!"

"Ha! Ha! Ha! Baiklah, aku akan menguji silat kedua belibis ini!"

Mengejek Tu Wee Seng, Tapi,"

Memotong si pelajar.

"Kalau kita sekarang bertanding, tak kan ada gunanya, Kesempatan kita untuk mendapatkan peta Cong Cin To. Tapi sekarang kita berjumpa kembali masih banyak, Kita datang untuk sudah saling bunuh-

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

membunuh, sedangkan hasilnya orang lain yang akan memperoleh Bukankah bodoh perbuatan kita itu?"

Tu Wee Seng menganggukkan kepalanya dan berkata.

"Betul, jumlah orang-orang dari partai Tian Liong banyak seka!i... kita harus,.,."

Belum lagi selesai per-cakapannya, terdengarlah dari luar kuil suatu jeritan yang keras sekali Tu Wee Seng berlari keluar untuk menyelidiki.

ia bersiul menyambut jeritan itu.

Dua orang laki-Iaki yang bertubuh besar datang seakan-akan jatuh dari langit dan berdiri di depan Tu Wee Seng, Keduanya lalu berbisik di telinga Tu Wee Seng, Kemudian ketiga-tiganya meninggalkan kuil itu, meskipun hujan masih sangat lebat.

Si pelajar berkata kepada si pendeta berjubah hitam.

"Tu Wee Seng itu pasti menerima laporan murid-mu-ridnya, Ayo kita selidiki!"

Si pendeta menganggukkan kepalanya, lalu bersama-sama mereka keluar dari kuil itu untuk mengejar Tu Wee Seng.

Segala sesuatu yang telah terjadi dan telah diucapkan oleh ketiga orang tadi di dalam kuil itu telah dilihat dan didengar oleh Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan yang bersembunyi di belakang patung-patung.

"Ketiga orang itu sedang mencari kita, Jika kita menjumpai mereka, pertarungan tak dapat dihindarkan lagi, bukan?"

Bertanya Lie Ceng Loan.

Bee Kun Bu tak segera menyahut.

ia sedang memikirkan betapa berbahayanya kedudukan mereka, Yang ingin menangkapnya bukan orang-orang sembarangan semuanya jago-jago silat yang luar biasa, Dengan hanya dibantu oleh Lie Ceng Loan saja, ia yakin bahwa semua rintangan itu tak akan teratasi Dengan wajah yang menyatakan kecemasan, ia menyahut.

"Betul, Oleh karena itu kita harus menghindarkan segala pertempuran sebentar lagi jika hujan sudah agak reda, dalam suasana gelap gulita, kita harus berlalu dari kuil ini, dan lekas-lekas menuju ke utara, Jika kita sudah di luar propinsi Hunan ini, aku yakin kita baru merasa aman."

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Lie Ceng Loan selalu menuruti kehendak Bee Kun Bu.

ia duduk diam di belakang patung menanti hujan berhenti Hujan berhenti pada tengah malam, lalu dengan waspada mereka keluar dari kuil itu menuju ke utara, Pada waktu fajar mereka telah berada dekat jalan raya, tetapi mereka berjalan terus.

Mereka tidak mengetahui bahwa di belakang ada orang yang mengikuti itu menegur.

"Rupanya kamu berdua sedang riang gembira!"

Bee Kun Bu menoleh ke belakang, dan kiranya orang yang menegur itu adalah gadis yang pernah merintangi mereka kemarin pagi, hanya kali ini ia mengenakan baju hitam ia bersenjata pedang dan pada ikat pinggangnya yang terbuat dari sutera putih tergantung sebuah kantong piauw (senjata seperti kepala lembing), Dengan sabar Bee Kun Bu menegur.

"Mengapa Siocia selalu ingin merintangi kami? Kau dan kami tidak bermusuh, bukan?"

"Siapakah gadis itu?"

Bertanya si gadis baju hitam "la Sumoyku, jika kau masih saja merintangi kami, aku, Bee Kun Bu tidak takut melawan mu!"

Sahut Bee Kun Bu, yang telah mulai murka.

"Mengapa kau menjadi beringas? ilmu silat pedang Hun Kong Kiam Hoat telah kusaksikan Jika kau betu!-betuI bertarung mati-matian, aku pun belum tentu kalah, Hai! Sumoymu cantik Aku senang melihatnya,"

Kata si gadis baju hitam Bee Kun Bu tidak ingin meladeninya lagi, Diajaknya Lie Ceng Loan berjalan 4erus.

Tapi dengan ilmu Pwee Pu Kan San atau delapan langkah mengejar jangkrik, si gadis baju hitam telah melompat dan berdiri di hadapan mereka.

"Daerah seluas seratus lie ini dijaga oleh orang-orangku, Kau akan sukar melewatinya!"

Mengancam si gadis baju hitam itu. Bee Kun Bu membentak. Tak usah kau turut campur dalam urusan ini! Jika kau masih saja berkepala batu, aku terpaksa menggunakan kekerasan!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Hai Apakah kau kira aku takut? Apakah yang pernah ditakuti oleh Bo Ing Li Hiap, Souw Hui Hong alias Souw Hiong Cu? Aku telah memperingatimu dengan baik jhati, tapi kamu masih saja berkepala batu!"

Kata si gadis baju hitam Bee Kun Bu yang hanya ingin menghindarkan segala pertempuran lalu menjawab dengan ramah.

"Maaf, jika aku telah menyinggung, Siocia, Kini baru aku mengetahui bahwa Siocia adalah puteri dari pemimpin partai silat Tian Uong."

Souw Hui Hong terkejut "Mengapa ia mengenal aku?"

Pikimya, sebetulnya Bee Kun Bu juga hanya menerka saja, Soal itu pernah didengarnya dari per-cakapan si naga sungai Yang Tsu.

"Souw Siocia telah terkenal sekali di kalangan Kang Ouw, dan aku Bee Kvfh Bu sangat mengagumi ilmu silat Siocia yang lihay, KaU ini kami minta diri, Sampai bertemu lagi,"

Katanya sambil menarik tangan Lie Ceng Loan Dengan pujian yang muluk itu Souw Hui Hong menjadi terharu, ia tidak merintangi lagi, dan hanya melihat saja mereka berdua pergi.

sebetulnya ia juga telah tertarik oleh wajah yang tampan dan sikap yang gagah dari Bee Kun Bu, oleh sebab itu ia pun menjadi iri hati terhadap Lie Ceng Loan.

ia menarik napas panjang, lalu dengan menghantamkan kedua ujung jari kakinya ia melompat terbang mengejar Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan kembali Ketika Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan harus melalui sebuah hutan pohon-pohonan, mereka berjalan perla-hanlahan dengan sikap yang waspada.

Baru saja mereka keluar dari hutan itu, muncullah di hadapan mereka seorang orang tua yang kurus kering, berjenggot putih, berbaju hitam dan memegang tongkat bergagang menyerupai kepala ular Bukan main terkejut mereka melihat orang tua yang ganjil itu!

Mereka berhenti sejenak Lalu Bee Kun Bu menarik tangan Lie Ceng Loan berjalan ke samping orang tua itu, Tapi orang tua itu mengejek.

"Aku tak ingin menyerang kamu, Kamu hanya harus bicara terus-terang. Di mana peta asli Cong Cin To? Jika kamu beritahukan padaku, akan kuantarkan kamu

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

keluar dari daerah ini dengan selamat Aku telah menotok jalan darah semua orang-orang partai Tian Liong yang mengurung rumah ayahmu, sehingga mereka tak berdaya lagi.

Tapi di daerah seluas seratus lie dari kota Gak Yo, telah banyak jagojago silat yang amat lihay menantikanmu, dan kamu berdua tak akan dapat melawan mereka.

Nah!

sekarang kamu pilih.

Kamu beritahukan kepadaku, kau akan keluar dengan selamat dari daerah ini.

Tidak mau memberitahukan kamu pasti menjumpai bahaya maut!"

Bee Kun Bu mengawasi orang tua itu, dan memperhatikan juga bahwa gagang tongkat yang berbentuk kepala ular itu dibuat dari baja, ia menjawab dengan tenang.

"Bagaimana bentuknya peta asli Cong Cin To tak kuketahui karena aku belum pernah melihatnya, Ba-gaimanakah aku dapat memberitahukan kepada bapak?"

"Kau belum pernah melihat peta asli itu? Mungkin kau mengatakan dengan sejujurnya, Tapi,., jika peta itu berada di tangan Suhumu Hian Ceng Totiang, masa kau tak diberitahukannya?!"

Kata orang tua itu lagi, lalu dihampirinya Bee Kun Bu.

"Ya, aku harus menangkap kamu berdua untuk dijadikan jaminan, Kemudian akan kutukarkan kamu dengan peta itu kepada Suhumu!"

Bee Kun Bu mundur selangkah, lalu membentak.

"Siapakah kau yang berani bertindak sewenang-wenang!"

Orang tua itu tidak menyahut Dari jauh terdengar siulan panjang, Segera juga tiga orang meloncat turun di hadapan orang tua itu.

Ketika itu Bee Kun Bu segera mengenali bahwa yang datang adalah Tu Wee Seng, si lengan delapan, bersama-sama dua orang-orangnya, Tu Wee Seng yang memegang tongkat bambu lalu melihat orang tua yang memegang tongkat bergagang kepala ular, ia berkata sambil tersenyum.

Tan Heng betul-betul panjang umurmu, Kau betul-betul belum mati!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Orang tua yang kurus kering menyahut Terima kasih, Aku masih segar bugar! Beruntung sekali kita dapat berjumpa di sini!"

Lalu Tu Wee Seng bertanya kepada Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan.

"Hai! Kamu berdua dari partai Kun Lun?"

Bee Kun Bu yang telah mendengar pereakapan mereka di dalam kuil dan mengenalinya sebagai pemimpin partai Hua San, lalu mengangkat kedua tangannya memberi hormat sambil menyahut.

"Kami dari angkatan muda betul dari partai Kun Lun. Apakah tuan dari angkatan tua pemimpin dari partai Hua San?"

Tu Wee Seng terkejut "Mengapa mereka mengenal aku?"

Pikirnya, Lalu ia menganggukkan kepalanya dan berkata.

"Betul! Aku ini Tu Wee Seng. Mengapa kamu mengenal aku?"

Siasat yang sedang dilaksanakan oleh Bee Kun Bu itu ialah untuk melunakkan lawan. Sambil tersenyum ia berkata.

"Aku sering mendengar dari guruku tentang partai dari bapak Tu, dan guruku sangat menghargai bapak karena ilmu silat bapak yang amat tinggi itu."

Tu Wee Seng tertawa terbahak-bahak karena gembira, lalu berkata.

"SebetuInya aku dan gurumu telah sering berjumpa, partai Kun Lun dan partai Hua San adalah partai silat yang terpenting di kalangan Bu Lim.... Tapi... apakah gurumu telah memperoleh peta Cong Cin To?"

Bee Kun Bu pikir, bahwa jika ia mengatakan tak tahu, mungkin mengakibatkan si tua bangka marah, ia menyahut.

"Menurut pandanganku, guruku telah memperoleh sebuah kotak yang indah, Tapi, apakah isinya peta Cong Cin To atau bukan, aku tak mengetahuinya."

"Suhumu telah meninggalkan kuil San Ceng Koan. Ke mana ia pergi?"

Tanya Tu Wee Seng. Belum sampai Bee Kun Bu menjawab, orang tua yang kurus kering membentak.

"Hm! Kau menipu aku. Akan kuhajar kamu du!u!"

Lalu ia menyerang dengan tongkat gagang kepala

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

ular nya dengan ilmu Hui Pu Liu Coan atau air terjun menimpa mata air, Tapi serangan itu ditangkis oleh Tu Wee Seng dengan ilmu Lan Kang Cai To atau merintangi bintang sapu jatuh. ia mengejek.

"Hm! Apakah kau mengira dengan ilmu silatmu yang begitu saja dapat menghina angkatan muda, Tan Piauw!"

Tan piauw menjadi marah, dan menyahut.

"Kau jangan bermanis mulut, Kau juga datang dari jauh ke propinsi Hunan untuk merebut peta Cong Cin To!" -ooo0oooPertolongan datang melalui jalan berduri Dengan tertawa terbahak-bahak Tu Wee Seng berkata lagi.

"BetuI! siapapun juga tentu menghendaki peta Cong Cin To ilu. Kini peta itu berada di tangan Hian Ceng Totiang, dan kita harus menangkap kedua murid ini!"

Tan Piauw mengejek.

"Saudara Tu, kau memandang enteng kepadaku, Soalnya tidak demikian mudah!"

Tu Wee Seng membentak.

"Apa? Kau berani merintangiku?!"

Lalu ia menyerang dengan ilmu Ni Lui Kit Teng atau "petir menyambar atap rumah"

Ke lambung Tan Piauw, Dengan ilmu Wan Te Hoan Yun atau angin taufan membuyarkan awan, Tan Piauw mengelakkan serangan itu.

Sambil menjerit keras Tu Wee Seng menyeruduk dan menyerang bertubi-tubi dengan cepat sekali.

Tidak salah jika ia memperoleh julukan si lengan delapan, dan tidak pereuma ia menjadi pemimpin partai Hua San, Tiap-tiap serangannya dahsyat sekali, dan Tan Piauw harus mengeluarkan semua kepandaiannya mengelit, mengegos dan menangkis serangan-serangan maut itu.

pertempuran berlangsung dengan hebat sekali sehingga angin dari sabetan-sabetan tongkat-tongkat mereka menderuderu, Tan Piauw juga bukan lawan yang remeh, dan sangat ditakuti orang di kalangan Kang Ouw, Pada dua puluh tahun yang lampau, mereka pernah bertempur, dan Tan Piauw pernah kalah.

Untuk mencuci malu yang besar ini, ia pergi

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

bersembunyi di pegunungan Kauw Hua San, dan dengan tekun melatih dan memperdalam ilmu silatnya.

Dalam jangka waktu dua puluh tahun, ia telah memperoleh kemajuan besar Dilain pi-hak, Tu Wee Seng dengan ilmu silat tongkat terdiri dari delapan puluh satu jurus belum pernah mengalami kekalahan dan belum pernah ada seorang lawan pun yang dapat melawannya selama sepuluh jurus saja, Tapi kini setelah pertempuran berlangsung dua puluh jurus lebih ia masih juga belum dapat menaklukkan si tua bangka, yang kurus kering itu.

ia menjadi marah sekali, dan menyerang dengan lebih ganas lagi.

Sebetulnya Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan dapat menggunakan kesempatan untuk lekas-Iekas lari.

Tapi pertempuran yang maha dahsyat itu menarik perhatian mereka, dan dengan menyaksikannya, mereka banyak mendapat pelajaran Tiba-tiba Bee Kun Bu merasa tangannya ditarik dengan diiringi seruan.

"Ayo, kita lari, Kesempatan ini baik sekali!"

Bee Kun Bu mengira bahwa yang menarik tangannya itu pasti Lie Ceng Loan, ia menoleh.

Tapi kiranya Souw Hui Hong yang telah jatuh hati ke p ada nya.

Lie Ceng Loan juga merasa heran mengapa gadis itu demikian ramahnya terhadap Bee Kun Bu.

ia ingin menanyakan Baru saja ia hendak membuka mu!ut, Bee Kun Bu berkata dengan suara rendah.

"Jangan banyak omong. Ayo! Kita lari!"

Souw Hui Hong mengawasi dari belakang ketika mereka lari masuk ke dalam sebuah hutan yang lebat.

Pertempuran antara Tu Wee Seng dan Tan Piauw berlangsung terus, Souw Hui Hong yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketinggian ilmu silat dari kedua belah pihak, menjadi terperanjat ia juga tidak yakin bahwa ia akan dapat melawan salah seorang dari keduanya, Bagaimanakahjika ia dijadikan sasaran setelah Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan lari?

Tu Wee Seng sudah tahu bahwa Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan telah Jari.

Sambil menjerit keras ia menyapu

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

dengan tongkat bambu nya untuk memaksa Tan Piauw mundur beberapa tindak, Lalu dengan tinju kirinya yang disertai dengan tenaga dalam diserangnya dada lawannya.

pukulan itu seperti palu yang beratnya seratus kilo.

Tan Piauw mengetahui bahwa jika ia menangkis jotosan itu dengan tenaga dalamnya, kedua belah pihak dapat tewas dengan segera, Secepat kilat ia menghantamkan jari-jari kakinya dan dengan segera seluruh tubuhnya melonjak ke atas, ia terhindar dari jotosan maut itu, tetapi hembusan angin nya telah mematahkan banyak cabang-cabang kayu dan merontokkan daun-daunan di hutan!

Tan Piauw jatuh tepat di hadapan Souw Hui Hong yang ingin melarikan diri, Dengan heran ia bertanya.

"Hai! Siocia ini siapa? Kemanakah pemuda dan pemudi tadi?r Souw Hui Hong yang telah merasa simpati terhadap Bee Kun Bu tidak ingin memberitahukan apalagi setelah dilihatnya betapa tingginya ilmu silat orang tua tersebut, ia khawatir kalau-kalau Bee Kun Bu tak dapat melawannya. ia tak menjawab Lalu Tu Wee Seng membentak.

"Hai! Apakah kau ini juga muridnya partai Kun Lun?! jika kau masih berdiam diri, jangan nanti aku disalahkan lagi!"

Souw Hui Hong telah dijaga keras oleh kedua orang tua itu, dan tak dapat meloloskan diri, ia menyahut dengan ramah.

"Aku pun sedang mencari murid-murid partai Kun Lun. Ketika melihat bapak-bapak berdua bertarung demikian dahsyatnya, aku telah tertarik oleh ilmu silat bapak-bapak, Kini pertempuran telah berhenti, aku pun hendak pergi."

Lalu ia melangkah untuk pergi.

Tu Wee Seng yang melihat sikap congkak dari si gadis itu merasa tersinggung "Tanpa memberi hormat lagi terhadap orang yang lebih tua, gadis ini segera hendak pergi, kurang ajar!"

Pikirnya, Dirintanginya gadis itu sambil membentak.

"Hei! Hendak ke mana kau?"

Bentakan itu diiringi dengan sebuah pukulan tangan kanannya, Souw Hui Hong mengegos dengan sigap. ia yang selalu dimanjakan oleh ayahnya, tidak senang

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

dihina, Tetapi meskipun ia yakin, bahwa ia tak akan dapat melawan, namun ia tidak mau tunduk. Dicabutnya pedangnya, dan dengan membelalakkan matanya ia membentak.

"Hei, tua bangka ? Apakah maksudmu merintangiku?! Aku dapat menerobosi "Ha! Ha! Ha! Cobalah menerobosi mengejek Tu Wee Seng, Lalu Souw Hui Hong menyerang dengan pedangnya, dan serangan itu ditangkis oleh angin dari kedua tinju Tu Wee Seng, Tadi baru saja Souw Hui Hong telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa hebatnya tenaga dalam yang keluar dari kedua tinju Tu Wee Seng, sehingga dapat mematahkan batang-batang kayu walaupun beberapa puluh depa jauhnya, ia yakin bahwa jika ia terus memegang pedangnya, mungkin pergelangan tangannya akan patah! Lekas-lekas ditariknya kembali serangan itu, dan dirubahnya dengan ilmu Tie Ki Tok Cut atau besi potongan tiba-tiba menyambar Disabetnya kedua kaki Tu Wee Seng, Tapi tanpa bergeser Tu Wee Seng mengipaskan serangan itu dengan lengan bajunya, lalu dengan disertai hembusan angin ia telah melompat ke samping si gadis, ia tidak ingin menyerang gadis itu. ia hanya ingin supaya pedang Souw IJui Hong terlepas, Maka setelah berada di sampingnya, dicobanya menotok jalan darah di bahu kanan Souw Hui Hong dengan tangan kirinya. Si gadis mengegos lagi, Tidak pereuma saja ayahnya, Souw Seng Hai, yang menjadi pemimpin partai Tian Liong, menurunkan ilmu silat pedangnya kepadanya, Tu Wee Seng mengira bahwa hanya dengan empat atau lima jurus ia akan berhasil menaklukkan si gadis, Tapi setelah pertempuran berlangsung dua puluh jurus lebih, belum juga pedang itu terlepas dari tangan si gadis, yang telah mempelajari hampir tujuh puluh persen dari ilmu silat pedang ayahnya, Tu Wee Seng mengetahui bahwa ilmu silat pedang yang lihay adalah dari partai-partai Bu Tong, Kun Lun dan Ngo Bie.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Tapi ia tak tahu dari partai manakah ilmu silat pedang si gadis ini, yang selama ini belum pernah dilihatnya, tetapi ternyata cukup lihay.

Lalu dilepaskannya tiga buah tinju secara bertubi-tubi, Sungguh dahsyat tinju-tinju itu, dan hembusan anginnya telah mendorong gadis itu mundur sedepa lebih, Si gadis yang telah dimanjakan itu masih juga melawan, ia menyerang kembali dengan pedangnya, Tu Wee Seng tak sabar lagi, ia harus memberi hajaran, ia menanti ujung pedang itu datang, lalu dengan tenaga dalam dijepitnya pedang tersebut.

Si gadis merasa, bahwa jika dipegangnya terus gagang pedang itu, mungkin pergelangan tangannya akan putus!

Dengan sengaja dilepaskannya, dan terlempar lah pedang itu tujuh atau delapan depa jauhnya!

Buru-buru diambilnya sebuah Piauw (senjata berbentuk kepala lembing) dari kantongnya, dan sambil menjerit dilontarkannya ke arah Tu Wee Seng, Piauw itu terbang seperti burung walet, dan di ujungnya ada sebuah jarum tajam yang beracun, Tu Wee Seng yang banyak pengalaman mengawasi Piauw itu menyambar kepalanya.

Dengan tinju kirinya ia mengipas ke udara, dan angin yang keluar dari kipasan tinju itu segera menampar Piauw yang datang menyerang kepalanya dan jatuh di tanah!

Ketika jarum di ujung, Piauw menyentuh tanah, racun dari jarum itu menyempit keluar Tu Wee Seng yang tajam sekali penglihatannya, buru-buru meloncat jauh-jauh untuk menghindarkan racun yang menyemprot itu.

"Hei! Anak sambal! Kau menggunakan senjata rahasia yang beracun! Hari ini harus kuhajar kau!"

Ucapan itu diiringi dengan jotosan tinju kiri.

Piauw kedua Souw Hui Hong yang kedua belum lagi dilontarkan, tapi jotosan itu telah dilepas, dan anginnya menyerang tubuh Souw Hui Hong.

ia tak berani menangkis serangan itu, Dengan ilmu Kim He To Coan Po atau ikan emas menyelam di dalam laut ia mundur dua depa lebih, Tapi Tu Wee Seng mengejar Souw Hui Hong tidak sempat bangkit ia lekas-lekas berguling ke sebelah kiri.

Ketika ia hendak

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

bangun, didengarnya Tu Wee Seng mengejek.

"Kepandaian apakah lagi yang kau punyai?!"

Ucapan itu dibarengi dengan jotosan ke bahunya.

Tapi Souw Hui Hong berhasil meloncat ke depan dan menghindari lagi jotosan itu, Tu Wee Seng mengejar, dan menotok jalan darah di punggungnya, Kali ini Souw Hui Hong tak dapat mengegos lagi...

tapi sekonyong-konyong dari udara jatuh dua orang yang segera melepaskan tinju dengan berbareng!

Tu Wee Seng harus lekas-lekas menghindarkan jotosan kedua orang itu dengan jalan melompat secepat kilat ke samping, ia mengawasi kedua orang yang datang itu.

Dua-duanya berusia lima puluh tahun lebih, dan berbaju hitam.

Yang satu bersenjata palu, dan yang lain arit baja, Kedua orang itu sangat terkenal di kalangan Kang Ouw, karena yang bersenjata arit adalah kepala cabang bendera merah partai Tian Liong, Ouw Lam Peng, si langkah terbang, dan yang bersenjata palu adalah kepala cabang bendera hitam dari partai Tian Liong, Kiok Goan Hoat, si tangan kilat Ouw Tu Wee Seng mengejar dan menjotos ke jalan darah di punggung si nona, Katl ini Souw Hui Hong tak dapat mengegos lagU tapi sekonyong-konyong dari udara turun dua orang yang segera melepaskan tinjunya dengan berbareng.

Lam Peng membungkukkan tubuh membantu Souw Hui Hong, dan Kiok Goan Hoat mengejek.

"Ai! Betul-betuI kejam kau! Mengapa kau demikian kejam terhadap seorang gadis? Apakah kau tidak malu jika peristiwa ini tersiar di kalangan Kang Ouw, bahwa si lengan delapan, pemimpin partai Hua San berbuat kejam terhadap seorang gadis?! Hm! Tidak malu?"

Merah sekali muka Tu Wee Seng mendengar ejekan itu. ia menyahut.

"Aku telah berkali-kali menanyakan namanya, tapi ia tak menyahut Aku hanya ingin supaya ia melepaskan pedangnya, dan aku senantiasa hanya menggunakan tangan telanjang melawannya. Tapi,., ia telah menggunakan senjata

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

rahasia yang beracun melawanku.

Tidak pereaya...

tanya saja Tan Piauw yang menyaksikan pertempuran kami!

Kau jangan menfitnahku dengan sembarangan!

Apakah kau kira, aku takut melawan kau, Kiok Goan Hoat?"

Kiok Goan Hoat mengejek lagi.

"Kita tak usah menyebutnyebut takut atau tidak takut Partai Tian Liong kami pada satu waktu pasti bertempur melawan partaimu."

Lalu sambil tertawa terbahak-bahak ia mengawasi Tu Wee Seng. Ouw Lam Peng berbisik kepada Souw Hui Hong.

"Untung kau, apakah kau dapat luka di dalam?"

Sambil menggelengkan kepala Souw Hui Hong menyahut. Tidak apa, Lukanya belum sampai ke dalam tubuh."

Lalu Ouw Lam Peng menghadapi Tu Wee Seng dan mencaci maki.

"Hei, orang kejam!"

Tu Wee Seng menjadi marah sekali difitnah demikian ia mengawasi Kiok Goan Hoat yang sedang mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyerang, ia pun mengerahkan tenaga dalamnya untuk melepaskan tinju mautnya, Ketika itu Ouw Lam Peng insyaf bahwa jika mereka bertempur salah seorang pasti ada yang tewas, ia lekas-lekas berdiri di tengah kedua orang itu dan dengan tertawa paksaan ia berkata.

"Kedua saudara harus sabar Dengar aku berbicara, Saudara Tu telah meng-gempur Souw Hui Hong karena ia tidak mengetahui Souw Hui Hong itu adalah puteri kesayangan pemimpin partai Tian Liong kita, Tapi Souw Siocia tidak menderita luka parah. Saudara Kiok, harap kau sabar."

Lalu ia menghadapi Tu Wee Seng dan berkata.

"Saudara Tu, sebetulnya totokan jari tanganmu itu tak ada taranya di katangan Bu Lim. Saudara Kiok dan Siotee sudah lama mengaguminya, Pemimpin kita telah mengirim surat-surat undangan kepada para jago-jago silat dari kesemutan partai silat terbesar untuk mengadu silat, dan waktunya itu tak lama lagi, Apakah tidak baik pada waktu itu kita baru mengadu silat kita, Aku harap

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

supaya saudara Tu menyabarkan diri dan dapat menghindarkan pertempuran sekarang ini!" ( Kemarahan Tu Wee Seng menjadi reda, dan dengan mengangkat tongkat bambunya ia berkata sambil tertawaj "Hm!

pemimpin partai Tian Liong mempunyai usul demi-kian?

Baik sekali!

Kita dari partai Hua San pasti mengirim jago-jago silat kita pada waktu yang ditetapkan itu.

Tadi, karena tidak mengenal gadis itu, aku telah melukai puteri pemimpin saudara, aku mohon maaf, dan aku minta kedua saudara menyampaikan permintaan maafku ini kepada pemimpin saudara-saudara."

Lalu ia bersiul panjang dan pergi entah ke mana, diikuti oleh kedua orang-orangnya, Setelah Tu Wee Seng pergi, Ouw Lam Peng datang menghampiri Tan Piauw dan berkata.

"Hei, kau ini tua bangkai pemimpin kita telah mengutus orangorangnya mencari kau sampai tiga kali, namun kau tak juga mereka jumpai Hari ini kita dapat bertemu bagaimana pendapat mu ?"

Sambil tertawa Tan Piauw berkata.

"Untuk menghendaki aku masuk partaimu, tidak sukar Tapi aku ingin melihat dulu, pemimpin partai Tian Liong, Souw Peng Hai, telah dapat membujuk kamu berdua, tentu ini disebabkan oleh caranya yang luar biasa. Tapi aku ini, jika belum sampai ke sungai Hoang-ho, aku belum ingin menjumpai pemimpinmu. Ya... tunggu tiga atau empat tahun lagi! Mengapa aku harus terburu nafsu?"

"Ha! Kau betul-betuI sombong! Meskipun kau berlatih lima puluh tahun lagi, kau tak dapat melawan Souw Peng Hai dalam sepuluh jurus! Kau tak pereaya? Mari, akan kutunjukkan padamu!"

Kata Kiok Goan Hoan, Sambil tertawa Kiok Goan Hoat dengan kedua matanya yang tajam, Tan Piauw mengejek.

"O! Jika demikian, kau tak dapat melawan Souw Peng Hai dalam sepuluh jurus, bukan?"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Kiok Goan Hoat marah, ia membentak. Tiap-tiap kepala dari cabang partai Tian Liong pasti dapat meng-gempur kau, Tan Piauw, Mau coba?!"

Tan Piauw menyahut dengan tenang.

"Baiklah! Aku berjanji bahwa dalam jangka waktu setengah tahun, akan datang melawan Souw Peng Hai, Tapi sekarang aku tak sudi melawan kamu, Nah, sampai bertemu lagi!"

Lalu ia pun pergi, Setelah Tan piauw tak kelihatan lagi, Ouw Lam Peng bertanya pada Souw Hui Hong.

"Apakah kau telah menemui murid-murid Hian Ceng Totiang?"

"Aku pernah melihatnya sekali, tapi aku tak dapat menahannya. Apakah Hian Ceng Totiang masih berada di dalam kuil San Ceng Koan?"

Tanya si gadis, Kiok Goan Hoat menggelengkan kepalanya dan berkata.

"Pendeta itu telah berlalu, Mengapa kau bertempur melawan Tu Wee Seng?"

Souw Hui Hong telah mengetahui bahwa di antara kelima kepala cabang partai Tian Liong, kepala cabang bendera merah lah yang paling tertib gcrak-geriknya dan paling banyak tipu muslihatnya, dan kepala cabang bendera hitam Kiok Goan Hoat yang paling buruk tabiatnya dan yang paling kejam.

Jika diberitahukan nya peristiwa tentang Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, berarti bahwa ia hanya menerbitkan rintangan yang lebih banyak lagi bagi mereka berdua, Tapi peta Cong Cin To sedang dicari oleh ayahnya.

ia menjadi serba susah, ia tak dapat segera menjawab Dicobanya mengelakkan pertanyaan itu dengan jawaban lain.

"Aku bertemu dengan mereka di mulut gunung Tong Bo Leng. ilmu silat pedang partai Kun Lun betul-betul lihay, Aku tak dapat melawan, dan mereka berhasil menerobos, Aku kejar mereka sampai ke sini, dan aku menyaksikan Tu Wee Seng dan Tan Piauw sedang bertempur Aku tertarik, dan menonton Tapi Tu Wee Seng memaksa aku memberitahukan ke mana murid-murid partai Kun Lun itu lari, dan pertempuran pun segera terjadL"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Lalu Ouw Lam Peng berkata.

"Menurut pandanganku Hian Ceng Totiang telah tiba di pegunungan Koat Cong San di propinsi Cek-kiang. Jika ia telah memperoleh kitab-kkab Kui Goan Pit Cek, maka walaupun kita telah menawan muridnya untuk dijadikan jaminan, namun ia tak akan sudi menukar murid-muridnya dengan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu. Aku akan menemui pemimpin kita dan membujuknya supaya mengerahkan semua jago-jago silat dari ke lima-lima cabang untuk mengejar Hian Ceng Totiang di pegunungan Koat Cong San. Aku yakin bahwa peta Cong Cin To itu benar-benar berada di tangannya, dan ia segan mempereayakannya pada murid-muridnya, tak ada gunanya untuk menangkap muridmuridnya itu!"

Souw Hui Hong tertawa, dan merasa lega, ia berkata.

"Perkataan itu tepat Lebih baik kamu keduanya lekas-lekas kembali menemui ayahku dan membujuknya!"

Kiok Goan Hoat berkata.

"Ayo, kau juga ikut dengan kami. Pada dewasa ini banyak jago-jago silat berada di daerah ini. Kau berangasan, dan mudah berselisih dengan orang lain."

Souw Hui Hong menyahut.

"Aku tak takut jalanlah kamu lebih dahulu menemui ayahku, Aku pulang setengah bulan lagi!"

Ia tak menunggu jawaban lagi, di-pungutnya pedangnya yang dilemparkan oleh Tu Wee Seng, dan lari seperti terbang entah ke mana, meninggalkan Kiok Goan Hoat dan Ouw Lam Peng berdiri keheran-heranan!

Diceritakan, bahwa Bee Kun Bu setelah menarik tangan Lie Ceng Loan untuk lekas-Iekas melarikan diri, telah melalui hutan yang lebat dengan pesatnya.

Setelah mereka berlari dua puluh lie lebih, mereka baru berjalan.

"Kakak Kun Bu, tadi kedua orang tua itu bertempur dengan hebat sekali, dan lihay betul ilmu silat mereka, Tapi... gadis yang berbaju hitam itu, bukankah ia bermaksud hendak merintangi kita? Mengapa ia beramah tamah terhadap kakak?"

Tanya Lie Ceng Loan.

"Ya, jika ia tak mendesakkita lari, mungkin kita masih berada dalam bahaya."

Sahut Bee Kun Bu,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Rupanya Lie Ceng Loan sedang gembira.

Di bawah sinar bulan ia berjalan dengan lincahnya di samping Bee Kun Bu.

Ketika mereka membelok di sebuah tikungarr, ia telah bertumbukan dengan seseorang, ia merasa bahwa bahu kirinya dicekal orang itu, Sambil membentak dicoba-nya menangkis cekalan orang itu, dengan tangan kanannya.

Orang itu adalah seorang rahib wanita, yang berusia lebih kurang dua puluh empat tahun, berambut hitam, berparas cantik, dan berbibir merah delima, Setelah melihat egosan yang cepat dari Lie Ceng Loan, ia mencoba pula menotok jalan darahnya.

Tapi Lie Ceng Loan buru-buru meloncat mundur tujuh atau delapan kaki jauhnya, Lalu dengan pedang terhunus dihampirinya orang itu, Orang itu lekas-lekas mengelakkan tusukan pedang yang pertama, lalu mencabut pula pedangnya, Mereka bertempur selama delapan jurus, dan kedua-duanya merasa heran, karena semua jurus-jurus serangan atau tang-kisan-tangkisan mereka adalah dari ilmu silat pedang Hun Kong Kiam Hoat dari partai Kun Lun!

Rahib ingin menghentikan pertempuran tapi Lie Ceng Loan masih saja merasa gusar dan menyerang terus.

Bee Kun Bu tidak memperhatikan jurus-jurus silat yang dilancarkan oleh rahib itu.

ia mencabut pula pedangnya dan dengan ilmu Ciok Po Tian Keng (batu pecah menggetarkan langit) dan Tio Hoat Lam Hay (ombak bergulung di lautan selatan) dari Cui Hun Cap Ji Kiam ia berhasil mendesak rahib itu sampai mundur ia tidak kejam, Sudah cukup baginya bila ia dapat mendesak mundur lawannya itu, Lalu ditariknya tangan Lie Ceng Loan untuk lari terus, Tapi baru saja mereka berlari enam atau tujuh depa jauhnya, dengan tiba-tiba melompatlah turun seorang rahib perempuan di depan mereka, yang berusia setengah abad, dan sambil memegang sebilah pedang.

Dengan khidmat rahib perempuan itu mencegat mereka berdua, Bee Kun Bu menyerang dengan ilmu Pe Yen Kian Wie atau burung walet menggunting buntut.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Melihat Bee Kun Bu menerobos itu, rahib perempuan itu menjadi gusar Dengan pedangnya diserangnya Bee Kun Bu dengan ilmu Shin Liong Pay Bie atau naga sakti menggoyanggoyangkan ekor tiga jurus sekaligus!

Tapi jurus-jurus itu ditangkis oleh Bee Kun Bu, yang segera merasa lengan kanannya kesemutan Sambil menahan pedang Bee Kun Bu dengan pedangnya, rahib perempuan itu bertanya.

Tadi kau menggunakan jurus-jurus Cui Hun Cap Ji Kiam, siapakah yang mengajarkannya?!"

Pertanyaan itu mengejutkan Bee Kun Bu, karena jurus Cui Hun Cap Ji Kiam hanya gurunya dan saudara atau saudari gurunya yang tahu. ia buru-buru menghentikan pertempuran mundur dua langkah dan menyahut.

"Siotee adalah murid Hian Ceng Totiang dari partai Kun Lun. Shin Ni siapakah? Apakah sebabnya sampai dapat mengenali ilmu silat pedang Cui Hun Cap Ji Kiam?"

Sebelum rahib wanita itu menyahut, rahib yang lebih muda yang tadi bertempur melawan Lie Ceng Loan, membentak.

"Jika kau murid paman guru kita, Hian Ceng Totiang, mengapa melihat bibi kita kau tidak menghaturkan hormat?!"

Bee Kun Bu berdiri bingung, tak dapat dengan segera menyahut Rahib yang lebih tua berkata.

"Aku bernama Giok Cin Cu. Apakah Suhumu tidak pernah memberitahukan kepadamu?"

Ucapan itu melenyapkan kecurigaan Bee Kun Bu. ia segera berlutut di hadapan rahib perempuan itu memberi hormat, seraya berkata.

"Teecu diperintahkan datang ke pegunungan Kun Lun untuk menemui paman guru ke dua Kim An dan membawa surat untuk bibi guru, Aku tak menduga akan menjumpai bibi guru di tempat ini."

Giok Cin Cu lalu mengawasi sikap dan wajahnya Bee Kun Bu. Sambil tersenyum ia berkata.

"Aku tidak menyangka Suheng mengajari Cui Hun Cap Ji Kiam kepadamu. Apakah gadis berbaju merah itu juga murid partai Kun Lun?"

Bee Kun Bu buru-buru menarik Lie Ceng Loan untuk berlutut dan memberi hormat Lalu dari kantong di dadanya dikeluarkannya

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

dua pucuk surat dari gurunya dan diberikan nya pada bibi gurunya, ia menyahut.

"Teecu telah diperintahkan membawa kedua pucuk surat ini kepada bibi guru. Tentang isinya, tentu bibi guru akan paham setelah membacanya."

Giok Cin Cu menerima surat-surat itu, membukanya dan membaca, Surat-surat tersebut ditulis sendiri oleh Hian Ceng Totiang, ia terkenang akan kisah tiga puluh tahun yang lampau.

Ketika ia baru berusia belasan tahun, tapi ia dirawat dan disayangi oleh kedua Suhengnya.

Setelah guru mereka meninggal, sebetulnya ia dan Toa Suhengnya, Hian Ceng Totiang yang harus menjaga kuil, akan tetapi karena Toa Suheng melihat bahwa Ji suhengnya amat menyayanginya.

Toa Suheng mengalah dan berpisah, agar urusan kuil dapat diurusnya bersama-sama dengan Ji Suheng, Toa Suheng pergi selama lima tahun, dan ia sendiri tak mengetahui entah kemana, Ji Suheng yang bernama Tong Leng Tojin telah berusaha keras mencarinya, karena ia lebih muda tentu saja tak berani memegang kuil itu jika Toa Suheng masih ada.

Setelah mereka mencari tanpa hasil, Tong Leng Tojin terpaksa menjadi kepala kuil itu, Tapi setelah menjadi kepala dua tahun, barulah Hian Ceng Totiang telah kembali ke kuil San Goan Kong di puncak gunung Kim Teng Hong dari pegunungan Kun Lun, Lalu Tong Leng Tojin mengembalikan kekuasaan kepada Hian Ceng Totiang, tapi selalu ditolak, ia berkata.

"Setelah kau mengurus kuil, kau harus meneruskan Aku berhasrat pergi ke suatu tempat, dan setelah urusanku beres, aku segera berangkat."

Betul saja, setelah Hian SlAN HOK SBS CKS -T.S.S.

Jilid I 93 Ceng Totiang tiba di kuil San Goan Kong dan menginap selama sepuluh hari lebih, ia meninggalkan pegunungan Kun Lun, dan tinggal dengan tenang di kuil San Ceng Koan di propinsi Hunan, dan jarang kembali lagi ke pegunungan Kun Lun, Maksudnya ialah, supaya Tong Leng Tojin dan Giok Cin

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Cu dapat kawin, kemudian barulah kembali ke kuil San Goan Kong.

Tapi Tong Leng Tojin dan Giok Cin Cu telah mengerti maksud Toa Suhengnya, dan tidak mau lagi membicarakan soal-soal asmara, ia sendiri sebetulnya mencintai Toa Suheng, tetapi ia pun tak ingin pula melukai hati Ji Suheng, Oleh karena itu ia berpegang teguh pada pendirian.

hidup dengan tidak kawin selama beberapa puluh tahun, Kini ia telah berusia setengah abad, dan kisah itu sudah lewat Tapi tetap merupakan suatu kenang-kenangan, Giok Cin Cu ngelamun dan lupa bahwa Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan masih terus berlutut dihadapannya, Rahib yang muda menghampiri Giok Cin Cu dan berkata.

"Suhu, lekaslekas suruh mereka bangun!"

Dengan terkejut Giok Cin Cu menyuruh mereka bangun, Lalu diteruskannya membaca surat-surat itu di bawah sinar bulan. Setelah selesai membacanya, ia bertanya pada Lie Ceng Loan sambil tersenyum.

"Apakah kau yang bernama Lie Ceng Loan? Kau sudi menjadi murid partai Kun Lun?"

Lie Ceng Loan menganggukkan kepalanya. Bee Kun Bu lalu membisikkan agar ia lekas-lekas berlutut kembali memberi hormat sebagai murid yang resmi. Lie Ceng Loan berlutut dan berseru.

"Loan Jie memberi hormat kepada Suhu!"

Tentang riwayat Lie Ceng Loan, sudah dijelaskan oleh Hian Ceng Totiang di dalam su-ratnya, Lalu Giok Cin Cu berkata.

"Loan Jie, bangun, Beri hormat kepada Sucimu itu!"

Lie Ceng Loan menghadap kepada rahib muda itu dan menyebut.

"Cici!"

Rahib muda itu juga menganggukkan kepalanya membalas penghormatan itu, dan ber-kata.

"Sumoy, aku bernama Liong Giok Pin."

Bee Kun Bu lalu menganggukkan kepalanya memberi hormat dan berseru.

"Giok Pin Cici, Siotee bernama Bee Kun Bu."

Pemberian hormat itu dibalas dengan senyum manis.

"Kau lebih besar daripadaku, lagi pula kau adalah murid Toa Suhu. Panggii aku

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Sumoy saja! Aku adalah anak yatim piatu, Ketika aku berusia dua tahun, aku ditolong oleh Suhu dan dibawa ke pegunungan Kun Lun. Aku telah dirawat, dididik selama delapan belas tahun,"

Katanya.

"Kau lebih tama daripada aku masuk partai Kun Lun. Aku hanya baru dua belas tahun, Aku harus panggil kau Suci,"

Sahut Bee Kun Bu. Lie Ceng Loan memotong pereakapan mereka dengan berkata.

"Pin Cici, aku juga seperti kau, sudah semenjak bayi tak mempunyai ibu dan ayah lagi."

Ketika itu Giok Cin Cu sedang memikirkan bagaimana harus mengurus peta asli Cong Cin To, karena Hian Ceng Totiang telah memberitahukan padanya bahwa peta itu sudah diperoleh, dan bahwa ia telah mengambil keputusan untuk pergi ke pegunungan Koat Cong San bersama-sama Ngo Kong Toa-su dari kuil Huan Lim Si untuk mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, dan bahwa Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan harus tinggal di kuil San Goan Kong di puncak Kim Teng Hong.

jika kitab-kitab tersebut telah diperoleh, Hian Ceng Totiang akan kembali ke pegunungan Kun Lun, dan ia tidak ingin Leng Tong Tojin atau Giok Cin Cu pergi mencarinya di pegunungan Koat Cong San.

Tapi Hian Ceng Totiang tidak menduga Giok Cin Cu telah datang ke propinsi Hunan untuk mencarinya.

Setelah berpikir sebentar, Giok Cin Cu berkata kepada Bee Kun Bu.

"Suhumu telah mendapatkan peta Cong Cin To, dan telah pergi menuju pegunungan Koat Cong San. Desasdesusnya banyak sekali, tapi aku belum mau pereaya, Malam ini jika tak bertemu dengan kamu berdua, mungkin kami pergi ke kuil San Ceng Koan untuk mengetahui dengan pasti."

Ia berhenti sebentar, lalu meneruskan "Sebetulnya menurut kehendak Suhumu, kau dan Lie Ceng Loan harus tinggal di kuil San Goan Kong.

Tapi sekarang keadaan telah berubah.

ia tak mengira bahwa aku akan datang ke propinsi Hunan, Dari sini ke

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

pegunungan Kun Lun masih jauh, Jika berita tentang peta Cong Cin To itu bocor aku khawatir akan keselamatanmu berdua, karena kamu kurang pengalaman aku khawatir kalaukalau kamu akan menjumpai banyak rintangan-rintangan, Lebih baik kamu tidak pergi ke pegunungan Kun Lun, melainkan kita bersama-sama pergi ke pegunungan Koat Cong San mencari Suhumu, dan bila perlu membantunya."

Ucapan itu menyebabkan Bee Kun Bu menceritakan semua peristiwa-peristiwa yang telah dialaminya bersamasama dengan Lie Ceng Loan selama dua hari ini.

Setelah mendengar keterangan itu, sambil mengerutkan keningnya berkatalah Giok Cin Cu.

"Tu Wee Seng dari partai Hua San, tiga belibis dari partai Tiam Cong, dan pendeta kurus Tan Piauw, semuanya adalah jago-jago silat yang lihay sekali, Lagi pula, pengaruh partai silat Thian Liong dengan cabang-cabangnya di sebelah selatan sungai juga tak dapat dipandang enteng. Suhumu, meskipun lihay silatnya, mungkin tak dapat melawan semua jago-jago silat itu. Mereka semua hendak merebut peta Cong Cin To, dan akan menggunakan segala tipu muslihat busuk untuk memperolehnya. Ya! Malam ini juga berangkat menuju ke pegunungan Koat Cong San!"

Berbicara sampai di sini, Giok Cin Cu berhenti Kedua matanya mengawasi ke arah sebuah pohon besar yang tiga depa jauhnya, ia menegur.

"Siapakah yang datang? Mengapa bersembunyi?"

Baru saja teguran itu diucapkannya, maka meloncatlah dari atas pohon yang besar itu seseorang dengan wajah kanak-kanak, disertai tertawanya yang terbahak-bahak, rambutnya seperti bulu bangau, jenggotnya putih seperti perak, dan mengenakan baju kurung berwarna abu-abu.

ia memegang tongkat bambu.

Sambil tersenyum ia menyahut.

"Aku ini Tu Wee Seng, tidak sejajar dengan orang-orang dari partai Kun Lun!", Bee Kun Bu yang telah mengenali Tu Wee Seng, dan khawatir kalau-kalau ia akan menyerang lagi, segera memegang pedangnya, Giok Cin Cu berkata sambil tertawa.

"Aku kira

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

siapa yang datang, Kiranya adalah pemimpin partai Hua San. Aku mohon maaf jika kurang hormat menerimamu."

Dengan tertawa Tu Wee Seng menyahut.

"Aku tak dapat menerima penghormatan yang terlampau besar Partai Kun Lun betul-betul tidak pereuma namanya, Masih ada dua orang lagi orang-orangku yang selalu mengikuti aku."

"Mengapa tidak kau suruh mereka menunjukkan dirinya,"

Menegur Giok Cin Cu.

Dari tempat sejauh lima depa, terdengar lagi suara orang tertawa, dan segera secepat kilat meloncatlah keluar dari dahan pohon itu dua orang, dengan disertai hembusan angin, Yang seorang bertubuh tinggi besar, brewokan, kedua matanya besar, alisnya berdiri dan berusia lima puluh tahun lebih, Yang lain mirip seperti seorang pelajar, wajah mukanya putih kelimis, berbaju biru dan kepala diikat dengan sehelai kain.

Lalu Tu Wee Seng berkata.

"Aku datang untuk memperkenalkan kedua saudaraku ini. Mereka adalah Lao-ji dan Lao-san, dua orang dari tiga belibis yang terkenal dari partai silat Tiam Cong dari propinsi Kwi-ciu. Dan ini adalah salah seorang dari tiga pemimpin-pemimpin partai Kun Lun, Giok Cin Cu."

Sambil tersenyum Giok Cin Cu berkata.

"Sudah lama aku mendengar nama-nama yang termasyhur itu. Aku beruntung dapat menjumpainya."

Lalu Lao-ji dan Lao-san mengangkat kedua tangannya menghaturkan hormat, dan Lao-san berkata.

Tiga pemimpin dari partai Kun Lun juga sangat mashur namanya di kalangan Bu Um, terutama ilmu silat pedangnya yang bernama Tian Kang Kiam dan Hun Kong Kiam Hoat, Kita juga beruntung dapat menjumpai salah seorang pemimpinnya di propinsi Hunan ini."

Lalu Tu Wee Seng berkata.

"Aku ada urusan, oleh sebab itu harus segera pergi, Kita bertemu lagi di pegunungan Koat Cong San."

Kemudian ia mengulurkan keluar tinju kirinya, dan dengan melalui kedua belibis itu, meloncatlah ia seakan-akan terbang keluar dari tempat itu, Lao-san berseru.

"Saudara Tu, tunggul Kita berangkat bersama-sama!"

Lalu ia pun minta diri

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

kepada Giok Cin Cu dan mengejar Tu Wee Seng, diikuti oleh Lao-ji. Setelah mereka pergi Giok Cin Cu menarik napas dan berkata.

"Aku hanya ingin mengutarakan maksudku kepada kamu berdua, tapi ucapan itu telah terdengar oleh mereka sehingga mereka mengetahui kemana suhengku pergi."

Sambil menundukkan kepalanya, berkatalah ia lebih lanjut.

"Kun Bu, kita pun harus lekas-lekas berangkat."

Pegunungan Koat Cong San terletak di sebelah tenggara propinsi Cek-kiang, dan lebih dari seribu lie dari propinsi Hunan, Karena memikirkan keselamatan Su-hengnya, mereka terus-menerus melanjutkan perjalanannya siang dan malam, Dengan pengalamannya dan pim-pinannya, mereka dapat berjalan lebih cepat, dan setelah lebih dua puluh hari mereka telah tiba di perbatasan propinsi Cek-kiang di suatu distrik Sian Kie Hian.

Distrik Sian Kie Hian terletak di kaki gunung Koat Cong San dan agak terpencil, tapi kedai-kedai dan rumah-rumah penginapan cukup banyak.

Setelah tiba di distrik itu Giok Cin Cu mencari sebuah rumah penginapan -Giok G'h Cu dan Bee Kun Bu masing-masing memakai sebuah kamar, dan Lie Ceng Loan dengan Liong Giok Pin bersama-sama di sebuah kamar, Lalu mereka memesan makanan dan minuman, Setelah selesai makan dan minum, Giok Cin Cu berkata.

"Besok kita berangkat masuk ke pegunungan Koat Cong San, pegunungan itu luasnya lebih dari seribu lie, dan banyak sekali puncak-puncaknya dengan jurang-jurangnya yang curam dan berbahaya, Untuk mencari orang di pegunungan itu tidaklah mudah, dan kita pun tidak mengetahui berapakah lamanya kita akan berada di pegunungan itu. Malam ini lebih baik siang-siang tidur agar dapat beristirahat secukupnya, Besok pagi-pagi sekali kita dapat berangkat. Pesan itu diterima dengan khidmat, lalu mereka semuanya masuk ke kamar untuk tidur.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Selama perjalanan yang berlangsung dua puluh hari lebih, Lie Ceng Loan selalu berada di samping Liong Giok Pin, dan ia menceritakan segala-galanya kepadanya.

Malam itu setelah mereka makan dan minum, mereka pun tidak segera tidur Dengan duduk berhadap-hadapan di dalam kamar, Lie Ceng Loan bertanya.

"Cici, jika aku masuk partai Kun Lun, apakah aku juga harus menjadi rahib perempuan?"

Liok Giok Pin menyahut sambil tertawa.

"Belum tentu, itu terserah atas kemauan kau sendiri Tapi murid-murid dari partai Kun Lun kebanyakan memang menjadi pendeta atau rahib wanita,"

Lie Ceng Loan tidak segera melanjutkan pembicaraannya, ia menarik napas panjang, lalu berkata.

"Sebetulnya aku ingin kawin, Tapi jika aku menjadi rahib perempuan, tentu aku tak dapat sering-sering bermain dengan kakak Kun Bu. Oleh karena itu, aku minta Cici menolong aku jika perlu."

Perkataan itu diucapkan dengan setulus hati Liong Giok Pin terharu, dan sambil mengusap-usap rambutnya, ia berkata.

"Cici akan menolong kau, Tapi Suhu tak dapat memaksamu kawin, itu terserah kepada kemauanmu sendiri. Dengan tertawa yang dipaksa-paksa Lie Ceng Loan berkata.

"Kakak Kun Bu sangat baik budinya, Apakah Cici menyukainya?"

Pertanyaan itu menyebabkan muka Liok Giok Pin merah dan kepalanya pusing. Tapi karena ia paham bahwa Lie Ceng Loan seorang gadis yang murni dan jujur, ia tak tersinggung. ia balik menanya.

"Jika kakak Ku Bu-mu bermain-main dengan gadis lain, bagaimanakah perasaanmu?"

Lie Ceng Loan duduk terpaku, kepalanya menjadi pusing, kedua matanya terbelalak mengawasi wajah Liok Giok Pin, Lalu ia menyahut.

"Jika ia tetap baik kepadaku, aku tak pusing, Tapi jika ia berubah terhadapku, dan tidak menyukaiku lagi, aku kira pereuma juga aku hidup!"

Dengan tak terasa olehnya, air matanya berlinang di kedua matanya, dan mengucur jatuh ke atas pakaiannya, Untuk menghibur Liong Giok Pin

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

memeluknya dan berkata.

"Aku yakin kakak ku Bu-mu tetap mencintai kau, dan tak akan berubah hatinya, Ayolah kita tidur!"

Tapi Lie Ceng Loan menyahut.

"Cici tidurlah kau dahulu, aku hendak pergi menemui kakak Kun Bu dan menanyakan apakah hatinya dapat berubah atau tidak di kemudian hari."

Liong Giok Pin terkejut, dan mencoba menahan, tetapi gadis tersebut telah keluar dari kamar menuju ke kamar Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu juga belum tidur ia sedang duduk di dalam kamarnya, Ketika Lie Ceng Loan masuk, ia pun terkejut ia buru-buru menyambut dan menanyai "Apakah sebabnya, maka kau juga belum tidur?"

Si gadis menanyai "Kakak Kun Bu, apakah bisa berubah hatimu terhadap aku?"

Bee Kun Bu terpaku, lalu menanya.

"Mengapa kau bertanya demikian? Hatiku tak akan berubah. Ayo, lekas pergi tidur!"

Lie Ceng Loan menyusut air matanya, dengan tersenyum keluarlah ia dari kamar itu sambil berkata.

"Kakak Kun Bu, kau betul-betul baik...."

Apa yang sedianya akan diucapkannya, pasti lebih kuat dari sumpah apapun juga, Ular dan Bangau bertempur menginsyafkan Bee Kun Bu Pada esok paginya, keempat orang itu meninggalkan distrik Hian Kie Shien menuju ke kaki pegunungan Koat Cong San.

Betul Giok Cin Cu telah lama berkecimpung di kalangan Kang-ouw, akan tetapi di pegunungan Koat Cong San yang luas itu, tak ubahnya ia seperti sebuah perahu kecil di tengahtengah samudera yang luas dan besar, Jurang-jurang yang curam dan berbahaya, puncak-puncak yang tinggi dan ganjilganjil bentuknya, dan hutan-hutan yang lebat menakjubkan sekali.

Lagi pula Hian Ceng Totiang tidak memberitahukan ke bagian yang manakah ia hendak pergi.

Meskipun Giok Cin Cu

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

sangat pintar dan cerdas, akan tetapi ketika ia berada di lereng gunung itu, ia pun menjadi cemas, Tidaklah dapat diketahui dimanakah jalan gunung yang berliku-liku itu berakhir Mula-mula mereka masih dapat menjumpai dua atau tiga orang penebang kayu, Kemudian tidak kelihatan lagi sebuah jalan kecil pun.

Dengan ilmu meringankan tubuh mereka dapat mendaki lereng gunung yang curam itu dengan mudah sekali, Ketika mereka telah melewati beberapa puncak yang tinggi, matahari telah berada di sebelah Barat Mereka beristirahat di tepi sebuah batu gunung yang besar, dan mengeluarkan makanan dari bungkusan masing-masing, Kemudian Giok Cin Cu mendaki sebuah puncak gunung yang curam di sebelah kanan.

Dengan ilmu meringankan tubuhnya dalam sekejap saja ia telah sampai setinggi beberapa ratus depa.

Lie Ceng Loan sangat kagum akan kepandaiannya menyaksikan bagaimana caranya ia mendaki puncak gunung, dan ia berseru.

"llmu meringankan tubuh Suhu betul-betul lihay, Aku ingin belajar sampai selihay itu pula!"

Bee Kun Bu berkata.

"Jika kau ingin betul-betul mempelajari ilmu, kau jangan malas-matas. Dengan ketekunan kau pasti berhasil mempelajarinya."

Sambil tersenyum Liong Giok Pin berkata.

"ilmu dalam maupun luar dari Loan Sumoy sudah mempunyai dasar yang baik, Dengan tubuhnya yang langsing, dalam waktu tiga tahun ia tentu dapat mempelajari ilmu meringankan tubuh maupun ilmu silat lain-lainnya, dari Suhu, ia hanya harus dengan tekun mempelajari nya, dan Bee Sutee harus senantiasa memberi anjuran kepada nya,"

Muka Bee Kun Bu menjadi merah dan ia pun tak dapat lagi menjawab, ia menoleh ke dalam sebuah jurang, sedang Lie Ceng Loan menoleh ke udara mengawasi awan yang terapung-apung di ang-kasa, sekonyong-konyong Bee Kun Bu terkejut dan berseru, Liong Giok Pin dan Lie Ceng Loan segera menoleh ke bawah jurang,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Di bawah jurang yang curam itu tampak oleh Bee Kun Bu seekor ular yang panjangnya lebih kurang dua depa sedang bertarung dengan seekor bangau putih, Ular hitam dengan sisiknya yang berkilau-kilauan itu sedang melingkar menanti kesempatan untuk menyerang, Ba-ngau putih itu juga pun luar biasa besarnya, mungkin tiga atau empat kali lebih besar daripada bangau biasa, Jeng-gernya merah seperti api dan ia sedang berputar-putar di udara menanti kesempatan menyerang ular yang melingkar di bawahnya, Tiba-tiba ular itu melonjak ke atas menyambar bangau putih itu, akan tetapi bangau putih itu dengan gesit segera terbang lebih tinggi Yang ganjil ialah ketika tiap-tiap kali bangau putih itu menyerang dengan paruhnya, ular besar itu menyemburkan uap beracun, Bangau putih itu segera terbang lebih tinggi untuk menghindarkan uap beracun itu, lalu terbang turun untuk menyerang lawannya kembali Kedua binatang tersebut bertarung dengan dahsyatnya selama lebih kurang seperempat jam, dan rupanya ular itu tak dapat lebih bertahan ia ingin melarikan diri ketika bangau terbang ke atas untuk menghindarkan uap beracunnya, tapi bangau itu lebih cepat lagi menyerangnya Bee Kun Bu memperhatikan sikap bangau itu, Dilihatnya bahwa bangau putih itu sengaja memancing supaya ular itu menyemburkan uap beracunnya, dan ia sendiri membuka mulutnya untuk menghisap uap racun itu, lalu kemudian menyerang kembali Pada suatu ketika, ular hitam itu melonjak ke atas dan menyambar dengan gigi racunnya, Bangau putih itu memukul dengan sayapnya yang besar, lalu mencakar kepala ular itu dengan kukunya, PukuIan dan cakaran itu dilakukan demikian cepatnya sehingga tampak ular tersebut terangkat dari tanah ke udara, lalu jatuh kembali ke tanah dengan tidak bergerak lagi!

Setelah membunuh ular besar itu, bangau tersebut merobek perut ular itu dengan kuku-kukunya untuk makan empedu ular itu.

Kemudian dibentangkannya kedua sayapnya, lehernya dilonjongkan dan terbanglah ia ke atas sambil

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

menjerit Bangau itu terbang berputar-putar di atas Bee Kun Bu dan kawan-kawannya, dan tampaklah oleh mereka bahwa sayap bangau itu lebih kurang lima kaki panjangnya, Di pegunungan Kun Lun, Liong Giok Pin sering melihat burung atau binatang yang ganjil dan luar biasa, akan tetapi bangau itu adalah untuk yang pertama kali dilihatnya Seluruh bulunya putih laksana salju, jengger merahnya sebesar tinju manusia, paruhnya yang panjang keras seperti baja, dan kuku-kukunya yang tajam seperti gaetan besi.

Karena khawatir kalau-kalau burung itu datang menyerang, Bee Kun Bu dan kawan-kawan nya bersikap waspada, Tapi setelah berputar-putar di atas mereka, bangau tersebut terbang ke arah timur Setelah tak kelihatan lagi, Lie Ceng Loan menarik napas panjang, lalu berkata.

"Ai! bukan main besarnya bangau putih itu. jika dapat kutunggangi pasti aku dapat dibawanya naik ke langit!"

Ketika itu Bee Kun Bu sedang memikirkan cara bangau putih itu bertempur, sedangkan Liong Giok Pin merasa kasihan pada ular hitam yang telah binasa ttu.

Ular itu pasti berusia ratusan tahun karena demikian benar panjangnya, Suhunya pernah memberitahukan dan jika dibuat untuk bahan baju, ia dapat menghindarkan segala macam senjata tajam, dan sangat disegani oleh para jago-jago silat di kalangan Bu Lim, Hanya saja untuk mencarinya amat sukar Bee Kun Bu yang tengah memikir cara-cara bangau putih itu bertempur, dengan tidak sadar mencoba meniru gerakgerik bangau putih tadi.

Diangkatnya lengan kirinya ke atas, dan menerkam ke depan dengan lengan kanannya, Lie Ceng Loan memperhatikan gerak-geriknya, dan ingin menegur Tapi sekonyong-konyong didengarnya Giok Cin Cu menegur dengan suara rendah.

"Jangan ganggu ia!"

Lie Ceng Loan terkejut dan bertanya "Suhu, apakah yang sedang dilakukannya?"

"la sedang berlatih silat ia sangat cerdas, dan ia ingin belajar dari apa saja yang dianggapnya akan berguna. Tidak heran jika Toa suhengku mengajari ilmu silat pedang Cui Hun

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Cap Ji Kiam kepadanya, Mungkin juga partai Kun Lun kita akan terkenal karena ia,"

Menjelaskan Giok Cin Cu.

Karena ia sendiri telah jatuh hati kepada Hian Ceng Totiang, tapi impiannya itu tak terkabul merasa simpati terhadap Lie Ceng Loan yang telah jatuh hati terhadap Bee Kun Bu.

ia akan berusaha agar mereka berdua dapat mengikat tali perjodohannya, dan agar Lie Ceng Loan tidak akan mengalami nasib seperti ia.

ia menjadi sayang sekali kepada Lie Ceng Loan yang cantik jelita itu, Tapi...

manusia berusaha, dan Tuhan berkuasa, Kadang-kadang idam-idaman itu hanya impian belaka!

"Kau jangan bicara, Lihat betapa tekunnya ia berlatih silat,"

Giok Cin Cu menasehati Lie Ceng Loan.

Setelah Bee Kun Bu meniru cara bangau putih menerkam mangsanya berkali-kali, masih belum juga dapat rupanya ia memahaminya.

Ditariknya napas panjang-panjang, dan berhenti ber!atih.

Ketika melihat Susioknya, (paman atau bibi gurunya) yang walaupun telah berusia hampir setengah abad, tapi masih tetap cantik seperti baru berusia tiga puluh tahun lebih, ia lekas-lekas memberi hormat kepadanya, dan bertanya.

"Susiok, jurus apakah yang baru saja kulakukan?"

"Mula-mula kukira kau sedang melakukan jurus Cek Sou Pok Liong atau tangan telanjang menangkap naga dari ilmu silat tinju Tian Kong Cong. Tapi kiranya bukan. Dari mana kau belajar jurus tersebut?"

Kata Giok Cin Cu.

"Baru saja aku telah menyaksikan cara seekor bangau putih yang luar biasa besarnya menerkam seekor ular hitam dan berbisa dan yang juga luar biasa panjang dan besamya. Aku lihat bahwa bangau itu dengan sekali terkam saja dengan kuku-kukunya telah dapat membunuh mati ular tersebut. Rupanya memang seperti jurus Cek Sou Pok Liong dari ilmu silat Tian Kong Cong. Teecu telah mencoba menirunya dan berlatih, akan tetapi masih juga belum memahami nya,"

Sahut Bee Kun Bu.

"Sayang sekali aku tak menyaksikan Tadi aku menyaksikan kau berlatih dengan kedua tangan menyambar

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

dan menerkam dengan serentak, aku yakin jika jurus itu dipahami betul-betul, besar sekali manfaatnya,"

Kata Giok Cin Cu selanju tnya.

"Sebetulnya tiap-tiap jurus dari ketiga pukulan enam jurus-jurus dari ilmu silat tinju Tian Kong Cong, telah banyak memakan jerih-payah angkatan tua kita untuk membuat supaya jurus-jurus itu lihay sekali Dan jika kau sendiri berhasil menciptakan jurus baru, dan menambah jurus Tian Kong Cong menjadi tiga puluh jurus, bukankah kau juga akan berjasa bagi partai Kun Lun kita?"

Anjuran itu diperhatikan sekali oleh Bee Kun Bu.

Ketika itu, Liong Giok Pin yang juga seperti Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, tak mengetahui bahwa Giok Cin Cu telah kembali entah dari mana, tampil di hadapan gurunya dan bertanya.

"Suhu, coba lihat ular hitam itu. Apakah itu bukan ular hitam yang bersisik besi? Baru saja ia bertempur melawan seekor bangau putih, dan dari mulutnya tak berhenti-hentinya menyembur keluar uap beracun."

Giok Cin Cu memperhatikan ular hitam yang mati itu, ia terkejut.

Ular itu betul ular hitam yang bersisik besi, tapi alangkah besar dan panjangnya!

ia belum pernah melihat ular sebesar dan sepanjang itu!

"Ayo!

kita turun melihat dari dekat!"

Perintahnya, Segera mereka berempat, setelah mendapat tempat yang baik meloncatlah mereka ke bawah melewati banyak batubatu, karang-karang dan pohon-pohon tanpa kesukaran, Setelah tiba di bawah, Giok Cin Cu mencari sebuah batu gunung, dan dengan sebuah tendangan, terlontarlah batu itu ke tubuh ular tersebut Batu itu seakan-akan membentur baja, karena ular itu tergerak, tapi batunya telah hancur menjadi potongan-potongan kecil, Kulit ular itu sedikitpun tak luka.

Mereka menghampiri ular yang telah mati itu, Giok Cin Cu tertawa dan berkata.

"Kita beruntung sekali Kita telah memperoleh benda yang sangat berharga sekali! Cobalah kamu cabut pedangmu, dan pancung tubuh ular ini!"

Bee Kun Bu segera mencabut pedangnya, lalu memancung dengan sekuat tenaganya sampai tiga kali, tapi sedikitpun tubuh ular itu tidak luka, sedangkan mata pedangnya menjadi tumpul ia

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

terpesona dan menjadi bisu.

Giok Cin Cu mengambil pedang Bee Kun Bu.

Dengan pedang itu dibalikkannya tubuh ular itu, Kemudian dengan mengikuti garis putih di bagian perut ular itu, dibelahnya perut itu dengan ujung pedang.

Lalu keluarlah darah yang amis sekali baunya, Kemudian mereka berempat sibuk mencuci kulit ular itu sampai bersih.

Giok Cin Cu berkata.

"Ular hitam yang berbisa ini sangat ganas. Uap beracun yang disemburkan nya dapat segera memabukkan dan memingsankan orang. Kulitnya sangat berharga sekali, dan sangat disukai oleh para jago silat di kalangan Kang-ouw, karena jika baju dibuat dari kulit itu, maka segala senjata tajam tidak dapat menusuk atau melukainya, Baru pertama kali inilah aku melihat ular sebesar ini."

Lalu dilipatnya kulit itu dan kemudian diperintahkannya semua naik kembali ke puncak gunung.

Giok Cin Cu telah mendengar bahwa peta Cong Cin To terletak di dekat puncak Peh Yun Giam.

Betul Peh Yun Giam belum pernah didakinya, tapi menurut pendapatnya, puncak itu seharusnya senantiasa diliputi oleh awan-awan putih, Dari pada berjalan tanpa tujuan, lebih baik jika mereka menuju ke suatu puncak di sebelah tenggara yang diliputi oleh awanawan putih begitulah pikiran Giok Cin Cu.

Dipimpinnya ketiga murid-murid-nya ke arah puncak di sebelah tenggara, Di sepanjang jalan Lie Ceng Loan masih saja berpikir tentang bangau putih tadi, ia bertanya kembali pada Bee Kun Bu.

"Bangau yang tadi itu besar sekali, Aku ingin menung-ganginya."

Bee Kun Bu menyahut sambil tersenyum.

"Nanti jika ia kujumpai kembali, akan kutangkap untukmu !"

"Bangau itu terbangnya pesat sekali Cara bagaimanakah kau dapat menangkapnya?"

Tanya Lie Ceng Loan, pertanyaan tersebut memerankan muka Bee Kun Bu. sebetulnya jawaban tadi hanya untuk menghibur saja, tapi si gadis menganggapnya dengan sungguh-sungguh.

"Betul, aku tak dapat menangkapnya,"

Sahutnya.

"Bu Koko, kau tak usah merasa kecewa, akupun tak ingin menunggangi bangau itu,"

Menghibur Lie Ceng Loan,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Sambil tersenyum Bee Kun Bu berkata.

"Baiklah, tapi aku akan menangkapkan yang kecil untukmu."

"Kau harus tangkap dua ekor, kau juga perlu mempunyai seekor, bukan?"

Lie Ceng Loan berkata sambil mengirimkan kasihnya melalui pandangan ke arah wajah Bee Kun Bu.

Pada malam itu mereka bermalam di atas gunung di bawah sebuah pohon yang besar, Pada waktu fajar, mereka berangkat lagi, dan tiba tengah hari di tengah-tengah pegunungan Koat Cong San.

Dengan jurang-jurang yang curam di sekitar mereka, suara air terjun dari berbagai sudut, suasana yang sunyi senyap, mereka merasa seolah-olah berada di dunia lain, Mereka harus berjalan terus jika matahari masih menerangi tempat itu, dan sudah berapa banyaknya puncak-puncak gunung yang telah mereka lewati, tapi puncak yang senantiasa diliputi oleh awan-awan putih masih juga belum tampak, Giok Cin Cu menjadi cemas.

Apakah pegunungan Koat Cong San tak ada batasnya?

Pada waktu senja, dengan tiba-tiba terdengar raungan seekor binatang buas menggema di daerah pegunungan itu.

Mereka mengawasi dari mana datangnya suara itu.

Di salah sebuah sisi sebuah puncak tampak oleh mereka sejauh kira-kira lima depa sebelah atas, seekor singa sedang berjalan, Singa itu berhenti ketika melihat mereka, dan mengawasi dengan kedua matanya yang besar.

Tiba-tiba singa itu meloncat ke bawah hendak menerkam mereka, Giok Cin Cu menantikan singa itu sampai dengan tenang, Lalu dengan tenaga dalamnya ia siap untuk mengirim tinjunya, sementara itu, Bee Kun Bu, Lie Ceng Loan dan Liong Giok Pin masing-masing telah mencabut pedang-pedangnya dan berdiri berdamping-dampingan siap menghadapi segala kemungkinan Tapi, setelah singa itu meloncat sampai di hadapan mereka, ia berbalik dan lari kabur Giok Cin Cu heran menyaksikan singa yang dapat julukan raja hutan menjadi demikian takutnya melihat mereka, dan segera kabur, Belum lagi ia dapat mencari sebab-sebabnya, tiba-tiba dari atas terdengar jeritan seekor bangau, Mereka menoleh ke atas.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Betul saja seekor bangau yang besar dan berjengger merah sedang terbang turun ke arah mereka, Lie Ceng Loan bertepuk tangan dan berseru.

"Bu Koko, bangau yang kemarin datang lagi!"

Kira-kira seratus depa lagi jauhnya dari mereka, bangau itu membelok ke arah larinya singa tadi, di jalan antara dua jurang yang sempit Giok Cin Cu makin menjadi heran.

Kedua kupingnya dipasangnya sungguh-sungguh untuk mendengar dari segala suara, Lalu terdengar suara jeritan, serupa dengan suara seruling yang ditiup dengan penuh semangat dan perasaan.

Mereka semuanya merasa tertarik oleh suara yang ganjil itu.

Bee Kun Bu berkata.

"Susiok, suara jeritan yang serupa dengan suara seruling itu betul-betul luar biasa, ia dapat menarik kita sampai kita lupa akan jejak kita sendiri. Suara apakah sebenarnya itu?"

Giok Cin Cu tidak lantas menjawab ia terus mendengarkan suara itu.

Tiba-tiba suara itu berhenti Lalu Giok Cin Cu menjelaskan "Suara jeritan yang serupa suara seruling tadi adalah suara yang dikeluarkan oleh tenaga dalam yang luar biasa tingginya, Menurut fahamku, orang-orang yang mempunyai ilmu tenaga dalam yang demikian tingginya tidak banyak jumlahnya, Masa Giok Siauw Sian Cu (Dewa Seruling Giok) telah datang juga ke pegunungan Koat Cong San ini?

Jika siluman wanita yang menamakan dirinya Giok Siauw Sian Cu itu betul-betul telah datang ke pegunungan ini, maka keadaan atau kedudukan guru-mu, Hian Ceng Totiang, menjadi sangat gawat!"

"Siapakah Giok Siauw Sian Cu itu? Apakah ia lebih lihay dari pada Tu Wee Seng si lengan delapan, atau Souw Peng Hai pemimpin partai silat Tian Liong?"

Tanya Bee Kun Bu.

Sambil menganggukkan kepalanya Giok Cin Cu menyahut "Bagaimana rupanya Giok Siauw Sian Cu itu tak dapat orang melukiskan, karena sedikit sekali orang yang pernah melihatnya, Suara jeritan yang serupa seruling dan

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

mempunyai gaya penarik itu telah banyak sekali menaklukkan jago-jago silat di kalangan Bu Lim, Oleh karena itulah orangorang memberikan julukan Giok Siauw Sian Cu (Dewi seruling Batu Giok), Kata orang Giok Siauw Sian Cu itu adalah seorang wanita berbaju hitam, dan selalu menutupi mukanya dengan kain hitam yang jarang, Bagaimana wajahnya yang sejati, belum pernah orang melihatnya."

Baru saja selesai keterangannya, terdengar lagi dari jauh suara jeritan burung bangau dan raung seekor singa, Hanya kali ini suara tersebut makin hebat Giok Cin Cu berkata.

"Ayo! Kita hampiri, dan lihat apa yang terjadi"

Lalu dengan sebuah loncatan ia telah mendaki sebuah jurang yang curam, dan diikuti oleh ketiga murid-mu-ridnya, Mereka menuju ke arah datangnya suara-suara tadi, jalan yang ditempuh sangat berliku-liku dan sebentar naik sebentar turun.

Setelah mereka melewati sebuah puncak, tiba-tiba pemandangan yang mereka hadapi beubah.

Di bawah mereka tampak sebuah lembah yang dilingkari oleh puncak-puncak gunung, Lembah itu sempit, hanya tiga atau empat depa luas nya, Di atas lembah sempit yang datar itu telah tumbuh bunga-bunga yang ganjil dan harum, dan rumput yang hijau dan segan Tapi singa dan bangau tadi entah ke mana perginya.

Dengan ilmu meringankan tubuh keempat orang itu turun ke bawah dan lari di sepanjang lembah itu.

Setelah mereka melewati beberapa puluh puncak-puncak yang agak kecil, hari telah senja, Giok Cin Cu melihat bahwa Bee Kun Bu dan lainlainnya telah Ietih.

ia menganjurkan "Hawa lembab ini hangat seperti hawa di musim semi.

pemandangannya permai.

Marilah kita beristirahat sejenak!"

Matahari mulai terbenam di sebelah barat, dan sinarnya yang merah kelihatan berkiiaukilauan.

Lie Ceng Loan merebahkan diri di atas rumput sambil menikmati pemandangan yang indah itu.

Giok Cin Cu senantiasa bersikap waspada dan mengawasi keadaan di sekitar nya.

Tiba-tiba ia melonjak-lonjak dan lari menuju ke pinggir jurang, ia bersandar menghadap ke dinding

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

jurang-jurang itu, dan dengan ilmu Pik Houw Pan Pik atau Cecak merayap di atas tembok, kedua telapak tangannya menempel di dinding jurang tersebut dan kedua kakinya mengenjot ke atas, Dalam sekejap saja ia telah sampai ke atas jurang, Ketiga muridnya menyaksikan perbuatan itu dengan perasaan kagum.

Bee Kun Bu berkata kepada Liong Giok Pin.

"llmu Pik Houw Pan Pik dari Susiok betul-betul Iihay. Hanya dengan sekali enjot ia telah naik seratus depa lebih, sedangkan aku hanya dapat naik lebih kurang empat puluh depa!"

Sambil tersenyum Liong Giok Pin menyahut.

"Aku lebih lemah daripada kau, dan aku hanya dapat naik lebih kurang dua puluh depa."

Belum lagi Bee Kun Bu menyambung pereakapan itu, Lie Ceng Loan berseru.

"Bu Koko, ada orang datang!"

Mereka segera berdiri dan menoleh ke arah orang yang datang itu.

Kiranya benarlah datang, dari sebelah timur seorang pemuda berbaju hijau, Dalam sekejap saja ia telah melewati mereka, Pemuda berbaju hijau itu se-akan-akan tidak menginjak rumput!

Bee Kun Bu berpikir "la dapat menempuh jarak lebih kurang lima puluh depa dalam sekejap saja, Alangkah lihaynya ilmu meringankan tubuhnya, mungkin juga lebih lihay daripada Susiok!"

Diceritakan bahwa setelah Giok Cin Cu naik ke atas jurang, ia melihat bahwa di sebelah timur berdiri tiga buah puncak gunung dan merupakan sudut-sudut dari satu segi tiga, Pada puncak yang di tengah tampak garis putih seperti perak yang menurun ke bawah, dan garis putih itu berkilaukilauan karena sinar matahari yang akan terbenam, Apakah garis putih itu suatu air terjun?

Keadaan di bawah puncak itu gelap sekali dan entah berapa dalamnya, Giok Cin Cu memperhatikan letak, bentuk dan keistimewaan dari ketiga puncak itu, lalu dengan ilmu Pik Houw Pan Pik ia kembali kepada murid-murid nya.

Bee Kun Bu menceritakan peristiwa menemui pemuda berbaju hijau tadi.

Wajah jago silat wanita yang lihay itu

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

berubah setelah mendengar peristiwa itu, Agak lama juga ia berpikir tanpa berbicara, Dengan ilmu meringankan tubuh yang lebih lihay daripada ilmunya, pemuda tersebut bukan saja dapat melukai lawannya dengan sehelai daun kayu atau sebuah bunga, bahkan juga dapat melintasi segala sungai yang luas dengan hanya menggunakan sepotong ranting kayu, Giok Cin Cu yang telah banyak pengalaman dan lama berkecimpung di kalangan Kang-ouw, belum pernah mengenal orang dengan ilmu meringankan tubuh yang demikian lihaynya seperti yang diceritakan atau dilukiskan Bee Kun Bu.

Lalu ia bertanya.

"Berapa kira-kira usianya?"

Bee Kun Bu menggaruk-garuk kepalanya, dan dengan perasaan malu ia menyahut.

"Teceu malu sekali. pemuda itu kelihatannya berjalan perlahan-lahan, tapi sebetulnya ia bergerak secepat kilat Teecu hanya memperhatikan gerakgeriknya, dan tidak memperhatikan wajahnya, Tubuhnya kurus, tapi usianya.,., Teecu tak dapat mengetahui"

Sambil menggoyang-goyangkan kepala, Giok Cin Cu berkata.

"Jika apa yang telah kau luluskan itu tidak salah, bukankah tidak terasa juga hembusan anginnya, ketika ia melewati kamu?"

"Betul,"

Sahut Bee Kun Bu seperti orang baru sadar.

"Ketika ia lewat, bukan saja hembusan anginnya tak terasa, bahkan pakaiannya pun tidak tergerak, dan kedua lututnya tak bengkok, Tindakannya lemas seakan-akan awan terapungapung di angkasa!"

Giok Cin Cu jadi semakin heran, tetapi ia tetap bersikap tenang, ia tak ingin meneruskan pereakapan tentang pemuda berbaju hijau itu.

Suasana mulai menjadi gelap, tetapi tak lama kemudian tampaklah bulan yang bundar seperti roda di langit sebelah timur Giok Cin Cu berjalan-jalan perlahan-lahan di atas rumput sambil melihat ke bulan.

Liong Giok Pin mengetahui bahwa suhunya sedang memikiri sesuatu.

Dalam suasana yang sunyi senyap itu tiba-tiba terdengar dari jauh suara siulan yang panjang.

Bee Kun Bu, Lie Ceng

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Loan dan Liong Giok Pin segera berdiri dengan sikap waspada, Giok Cin Cu memperhatikan siulan itu dan setelah tak terdengar lagi, ia berkata kepada muridmu rid nya.

"Mungkin telah banyak jago-jago silat datang ke pegunungan Koat Cong San ini. Siulan tadi datangnya dari tempat yang kira-kira lima lie jauhnya, Ayo kita berangkat lagi!"

Dengan ilmu menerbangkan tubuh keempat orang itu lari dengan pesat sekali, dan hanya dalam dua jam saja telah lebih delapan puluh lie jarak yang mereka tempuh.

tapi lembah itu seolah-olah tak ada batasnya, Makin jauh, makin ganjil suasananya, Kemudian mereka membelok ke kiri dan terdengarlah oleh mereka suara air terjun.

Mereka menoleh ke atas.

Di bawah sinar bulan berdirilah tiga buah puncak-puncak yang merupakan sudut-sudut dari sebuah segi tiga, sungguh sangat angker kelihatannya dan air terjun dari puncak yang di tengah kelihatan seperti kain sutera putih metambai-!ambai dari angkasa!

Hembusan angin membawa bau yang harum dari seribu satu macam bungabunga, dan di tengah-tengah lembah itu terletak hutan pohonpohon cemara yang tertinggi Di pinggir hutan itu mengalir sebuah sungai kecil yang bening sekali airnya.

Suara air terjun yang menderu-seru sangat memusingkan dan menyebabkan bertambah-tambah seramnya suasana!

Mereka menghampiri tempat di mana air terjun itu jatuh, Tempat itu merupakan sebuah kolam yang besar, Tapi di belakang air terjun itu tampaklah seperti ada sebuah goa yang mungkin menembusi kaki puncak itu.

Meskipun sinar bulan cukup terang, namun goa di belakang air terjun itu gelap gulita.

Mereka mengamat-amati goa itu.

sekonyong-konyong dari suasana yang gelap gulita dan sunyi senyap itu berkelebatan suatu bayangan putih, dan dalam sekejap mata saja di mulut goa itu berdiri seekor bangau yang bersayap putih laksana salju, Bangau itu adalah bangau yang telah mematok mati ular hitam yang beracun itu.

Dengan tak menginsyafi bahaya yang mengancamnya Lie Ceng Loan berseru sambil menepuk-

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

nepuk tangannya.

"O! Di dalam goa inikah tinggal bangau yang besar itu?!"

Seruan itu menyebabkan Bee Kun Bu terkejut ia meloncat ke depan dengan tinju kirinya menjagai mukanya, sedangkan dengan tinju kanannya ia menerjang keluar dengan mempergunakan ilmu Tian Kong Cong, Jurus Cek Siu Pok Liong atau tangan telanjang menangkap naga dari ilmu Tian Kong Cong itu dilepaskannya dengan cepat sekali seperti anak panah terlepas dari busurnya ke arah bangau putih itu.

Bangau yang sedang menoleh ke atas itu, setelah melihat serangan tinju itu, segera membalikkan tubuhnya dan dengan sayap kirinya disapukannya ke arah Bee Kun Bu.

Angin dari tinju Bee Kun Bu itu terbentur dengan angin dari sapuan sayap bangau, Bee Kun Bu terkejut dan dengan tak disadarinya ia pun tersapu ke atas sampai sedepa lebih tingginya, ia tak ada kesempatan untuk membela diri.

ia jatuh ke tanah meskipun Giok Cin Cu berusaha untuk menangkapnya, Lie Ceng Loan hanya dapat berdiri terpesona tak berdaya.

Setelah bangau putih itu menyapu Bee Kun Bu, lalu terbanglah ia ke atas entah ke mana, Giok Cin Cu lekas-lekas memijit-mijit jalan darah Bee Kun Bu untuk menyadarkannya kembali ia melihat mata Lie Ceng Loan berlinang-linang.

Lalu tegurnya.

"Mengapa kau menangis? Aku tidak terluka."

Lie Ceng Loan menghapus air matanya, dan menyahut.

"Bangau itu berbahaya sekali Aku tak akan menginginkannya lagi!"

Baru saja perkataan itu selesai diucapkannya, dari hutan pohon cemara terdengar suara orang menegur.

"Apakah Loan Jie? Mengapa kau datang ke pegunungan Koat Cong San ini?"

Suara itu sudah dikenalnya betul Lie Ceng Loan telah mendengar suara tersebut selama sepuluh tahun lebih, Tanpa menoleh lagi ia berseru.

"Suhu! Suhu!"

Dari hutan pohon cemara itu keluarlah dua orang. ialah Hian Ceng Totiang dan Ngo Kong Toa-su. Lie Ceng Loan lari menubruk Ngo Kong

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Toa-su yang memeluknya erat-erat dan berkata.

"Loan Jie, kau sudah menjadi murid partai Kun Lun. Mengapa masih panggil aku Suhu?"

Giok Cin Cu begitu melihat Hian Ceng Totiang menjadi sangat terharu, Asmara yang dipendamnya selama beberapa puluh tahun itu tiba-tiba merangsang jantungnya lagi Seluruh tubuhnya menjadi panas, ia berdiri terpesona agak lama.

Lalu ia mengangkat kedua tangannya untuk memberi hormat sambil berkata.

Toa-Suheng (kakak besar seperguruan) apakah kau baik-baik saja?"

Hian Ceng Totiang menganggukkan kepalanya membalas hormat itu, dan sambil tersenyum ia menyahut.

"Mengapa kamu datang ke pegunungan Koat Cong San. Apa Sutee yang memegang pimpinan kuil di pegunungan Kun Lun ada dalam keadaan baik-baik saja?"

Dengan mata berlinang-linang Giok Cin Cu menyahut.

"JieSuheng baik-baik saja. ia dan aku senantiasa mengingat ToaSuheng, Aku tidak menghiraukan perjalanan yang jauh dari pegunungan Kun Lun hendak datang ke kuil San Ceng Koan di propinsi Hunan, Tapi di perjalanan aku berjumpa dengan mereka ini Aku telah membaca surat dari Toa-Suheng, dan mengetahui bahwa Toa-Suheng sedang menuju ke pegunungan Koat Cong San ini Oleh karena itu, aku ajak mereka datang ke sini."

Hian Ceng Totiang tidak menjawab ia hanya tersenyum, Lalu diperkenalkannya Giok Cin Cu kepada Ngo Kong Toa-su. Si pendeta tua mengangkat kedua tangannya memberi hormat dan berkata.

"Aku telah mendengar tentang Sumoy, dan telah lama aku ingin berjumpa, Loan Jie yang yatim piatu telah Sumoy terima, dan aku harap Sumoy dapat mengajarinya dengan baik. Aku si pendeta tua ini tak akan melupakan budi itu, dan dengan kesempatan ini menghaturkan banyak terima kasih!"

Lalu ia memberi hormat lagi.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Giok Cin Cu lekas-lekas membalas hormat itu dan berkata.

"llmu silat Loan Jie sudah baik sekali berkat pengajaran Toasu. Aku Giok Cin Cu mungkin tak dapat mengajarkan yang lebih lihay lagi kepadanya, sebaliknya diwaktu Toa-Suhengku perlu bantuan, Toa-su rela menyertai, Budi ini, tak akan dapat kulupakan....N Hian Ceng Totiang memotong pereakapan itu dan berkata "San-sumoy tak usah terlalu cemas. Urusan partai Kun Lun adalah urusan kita semua, dan segala sesuatu yang bersangkutan dengan partai kita, harus kita usahakan bersama-sama."

"Jie-Suheng telah diserahi pimpinan kuil di pegunungan Kun Lun, dan ia pasti menunaikan tugasnya dengan baik, ia pun telah menerima budi besar dari Toa-Suheng, dan ia pasti tak akan membangkang terhadap segala perintah ToaSuheng,"

Sahut Giok Cin Cu sambil tersenyum Ngo Kong Toa-su belum mengetahui bahwa di antara tiga pemimpin partai Kun Lun itu telah timbul peristiwa asmara segi tiga, dan ia tak mengerti pereakapan yang diucapkan oleh Hian Ceng Totiang dan Giok Cin Cu itu, tapi setelah mendengar kesanggupan Giok Cin Cu menerima Lie Ceng Loan sebagai murid, ia pun menjadi terharu, Dengan menotok tanah dengan tongkat besinya ia berseru.

"Meskipun aku bukan dari partai Kun Lun, tapi aku pasti ingin berkorban untuk partai Kun Lun!"

Ketika itu Hian Ceng Totiang sedang memikirkan peta Cong Cin To yang berada di tangannya, dan berita ini akan menerbitkan banyak rintangan-rintangan bagi usahanya, karena para jago silat pasti datang ke pegunungan Koat Cong San untuk mengejarnya, Kini Giok Cin Cu dan murid-muridnya telah datang ke pegunungan Koat Cong San.

Betul mereka dapat membantu, akan tetapi ia pun harus melindungi mereka, dan dengan demikian bertambahlah bebannya, Semua ini memasgulkan hatinya!

Giok Cin Cu yang telah sepuluh tahun lebih tiada bertemu dengan Hian Ceng Totiang menggunakan kesempatan itu untuk bereakap cakap di bawah sinar bulan bersama-sama

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Ngo Kong Toa-su dan murid-muridnya.

ia menuturkan semua pengalamannya selama dalam perjalanan dari pegunungan Kun Lun sampai ke pegunungan Koat Cong San itu.

Setelah para jago silat dari berbagai-bagai partai mendengar berita bahwa peta Cong Cin To berada di tangan Hian Ceng Totiang, datanglah mereka berkumpul di propinsi Hunan utara.

Setelah mendengar keterangan Giok Cin Cu bahwa si lengan delapan (Tu Wee Seng) dari partai Hua San, kedua belibis dari partai Tiam Cong dan Souw Peng Hai dari partai Koat Cong San, Hian Ceng Totiang menjadi cemas, Suara siulan dari seruling batu Giok yang terdengar di lembah dan pemuda berbaju hijau yang tampak datang dan pergi di kaki jurang sebagaimana telah dituturkan oleh Giok Cin Cu menyebabkan ia lebih cemas lagi Apakah mereka berdua itu juga telah datang ke pegunungan Koat Cong San untuk merebut peta Cong Cin To?

Dengan segala kecemasan Hian Ceng Totiang masih tetap bersikap tenang, ia berpaling kepada Giok Cin Cu dan berkata.

"Aku dan Ngo Kong Toa-su telah setuju mencari bersama-sama di mana letaknya kitab Kui Goan Pit Cek menurut petunjuk-petunjuk peta Cong Cin To, tapi kita baru tiba di bagian ini."

Lalu di bawah sinar bulan dibukanya peta yang dibuat di atas sehelai kain sutera itu.

Betul di atas peta itu terlukis tiga puncak yang berdiri tegak merupakan sudut-sudut dari sebuah segi tiga, dan tampak air terjun di puncak yang di tengah, Mereka sekarang berada di tempat yang tertulis di peta itu.

Menurut pendapat mereka kitab-kitab Kui Goan Pit Cek tentu tersembunyi dekat-dekat mereka sekarang, Hanya peta itu tidak menunjukkan letak yang tepat Mereka harus memeras otak untuk dapat menafsirkan letak kitab berharga itu dengan tepat Hian Ceng Totiang menoleh ke langit dan mengawasi keadaan sekitarnya, dan dengan tak diinsyafinya ia berseru.

"Pohonpohon cemara me-nyaring sinar bulan, Di atas batu-batu air jernih beraliran."

Sajak itu tertera juga di atas kain sutera putih itu.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Tiba-tiba ia terlompat-lompat Dikelilingnya pohon-pohon cemara yang tumbuh dekat pinggir sungai yang banyak berbatu-batu itu.

Sungai itu mengalir melewati sebuah batu yang besar sebelumnya mengalir masuk ke dalam sebuah goa.

Batu besar itu rupanya belum pernah diganggu, Dicabutnya pedangnya dan dicobanya menusuk dan memukul-mukul batu itu, tapi tak tampak tanda-tanda yang mungkin dijadikan kunci untuk membuka rahasia tempat kitabkitab itu tersembunyi Melihat air sungai yang jernih, Lie Ceng Loan yang sudah tiga hari tidak mandi, membuka sepatunya dan mencelupkan kedua kakinya ke dalam air sungai itu, Lalu ia berjalan mengarungi sungai yang hanya tujuh atau delapan kaki lebarnya Kemudian ia duduk di tepi sungai dengan kedua kakinya direndamkan di dalam air.

"Jika sungai ini agak dalam dan merupakan suatu ko!am, betapa enaknya aku mandi di sini!"

Pikirnya. Bee Kun Bu telah mengikuti Suhunya dan juga telah melihat batu besar yang terletak di depan gua. Apakah yang terletak di bawah batu besar itu? Sajak itu mengatakan.

"Air jernih mengalir di atas batu-batu."

Apakah batu-batu di dalam sungai ini ada hubungannya dengan letaknya kitab-kitab Kui Goan Pit Cek?"

Pikirnya.

"Tidak salah! Di bawah batu ini mungkin ada sesuatu!"

Serunya dengan tak terasa, Seruan itu telah menarik perhatian yang lain-lainnya, dan mereka berlarilari mendatanginya.

Lalu diceritakannya tafsirannya tentang batu besar itu, Hian Ceng Totiang menundukkan kepala berpikir Ketika diangkatnya kepalanya kembali diperintahkannya Bee Kun Bu mencari rotan yang besar dan kuat Setelah rotan itu dibawa dan diberikan kepadanya, Hian Ceng Totiang berkata.

"Batu besar ini rupanya dapat memberikan kita kunci dari usaha kita, Aku ingin menyelam dan menyelidiki apa yang terletak di bawah batu besar itu, Kamu menanti aku di tepi sungai ini!"

Lalu diikatnya pinggangnya dengan rotan yang telah disambung-sambung itu dan diperintahkannya Bee Kun Bu

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

memegang ujung rotan yang telah disambung-sambung itu, sebelumnya Hian Ceng Totiang menyelam, Bee Kun Bu berkata.

"Suhu, biarlah teecu yang menyelam...."

Tapi Hian Ceng Totiang tersenyum dan menyahut.

"Dalamnya sungai ini tak terduga, Apakah di bawahnya ada makhluk-makhluk yang beracun, kita pun belum mengetahui Aku merasa lega jika aku sendiri yang melakukannya."

Giok Cin Cu juga berkata.

"Toa-Suheng, biarlah aku yang lakukan."

Hian Ceng Totiang menggelengkan kepalanya dan menyahut ."

Tidak!

Kau harus membantu Jie-Suheng memimpin partai Kun Lun.

Jika aku tewas, kau harus menjaga Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan yang telah kuserahkan kepadamu, dan ajari betul ilmu silat pedang Cui Hun Cap Jie Kiam!"

Merembes masuk ke dalam goa dan memperoleh mustika.

Kemudian Hian Ceng Totiang terjun ke dalam air dan menyelam sedangkan Bee Kun Bu mengulur rotan yang disambung-sambung itu, Telah lebih dua ratus depa rotan yang diulur kemudian terasa isyarat dari dalam air, barulah penguluran itu dihentikan Mereka mengetahui bahwa Hian Ceng Totiang telah tiba di dasar sungai, Mereka menunggu Sejam...

dua jam, tapi mereka belum juga memperoleh isyarat dari Hian Ceng Totiang, Mereka menjadi cemas, tapi tak berdaya!

Bee Kun Bu tak dapat menahan kegelisahannya.

"Susiok, aku harus menyelam untuk menyelidiki keadaan Suhu!"

Ia memaksa, Giok Cin Cu mengetahui ia tak dapat mencegah ia menganggukkan kepalanya dan memperingat "Kau harus hatihati. Jika tidak melihat Suhu, kau harus lekas-lekas naik ke atas!"

Lalu Bee Kun Bu mengikat pinggangnya dengan rotan yang telah disambung-sambung. Setelah ia menyelam sepuluh depa lebih, ia merasa dingin sekali. Dengan menggunakan ilmu tenaga dalam

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

dihangatkannya tubuhnya, ia memperhatikan juga bahwa makin dalam ia menyelam, makin terus dasar sungai itu, Setelah ia menyelam sampai dua ratus depa lebih barulah ia tiba di dasarnya.

Rupanya batu besar itu menutupi sebuah goa di dasar sungai yang luasnya hanya sedepa persegi.

Dari situ air mengalir dengan sangat deras ke dalam goa.

Goa itu sangat gelap, tapi agak tinggi.

Air yang mengalir deras hanya setinggi lima kaki dan Bee Kun Bu dapat berdiri di dalam air yang mengalir deras itu dengan kepalanya bebas, ia melihat bahwa ia dapat naik ke atas tebing-tebing di kedua pinggir goa itu.

ia segera meloncat naik ke atas tebing itu dan jalan dengan hati-hati menuju ke ujung goa yang agak terang tampaknya.

Betul saja makin jauh ia berjalan, makin terang suasana di dalam goa itu, karena sinar fajar menyorot ke dalam dari mulut atau ujung goa itu, ia berjalan cepat-cepat dan ketika ia sampai di luar, ia menjadi terpesona.

ia berseru "Wahai!

Luas betul dunia ini!

ajaib betul dunia ini!

siapakah yang akan menduga bahwa dari dasar sungai orang dapat menemui tempat yang seindah ini dengan melalui gua yang dapat dikatakan terletak di dasar sungai!"

Lalu ia berjalan terus sambil mengawasi apa saja yang ada di sekitarnya, Dalam keadaan yang sunyi senyap itu, suara apapun juga dapat terdengar ia mendengar suara orang sedang menarik napas panjang, ia tahu bahwa suara itu adalah suara tarikan napas gurunya, ia lari menuju ke arah suara itu, Di suatu lapangan rumput di antara pohon-pohon bunga tampak olehnya gurunya Hian Ceng Totiang sedang duduk sambil menengadah ke langit, Meskipun hanya dua depa jarak antar mereka, tapi tampaknya gurunya seakanakan tak mengetahui kehadirannya di sana, Bee Kun Bu merasa heran, ia ingin maju, tapi ia berpikir "Mengapa Suhu duduk terpaku seakan-akan seorang yang hilang ingatan?

Apakah Suhu terkurung oleh pohon-pohon bunga ajaib itu sehingga tak dapat bergerak?"

Baru saja ia ingin bertindak maju, tiba-tiba Hian Ceng Totiang berdiri dan menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, Lalu ia

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

melangkah sambil menghitung jumlah langkah-langkah tersebut ia melangkah ke kiri dan ke kanan, tapi tidak melewati batas sebuah lingkaran yang garis menengahnya tidak lebih dari lima depa.

Pada suatu ketika ia rupanya dapat keluar dari semak pohon-pohon bunga, tapi kemudian ia balik lagi ke tempat asalnya, Bee Kun Bu berteriak.

"Suhu! Melangkah dua langkah lagi, dan Suhu dapat keluar dari semak pohon-pohon bunga itu!"

Jeritan yang keras itu seakan-akan tidak terdengar oleh Suhunya, karena suhunya tetap kembali ke tempat asal dan duduk sebagaimana pertama kali sambil menarik napas panjang yang terdengar nyata oleh Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu menjadi sangat cemas, Suhunya dengan ilmu Pat Kwa Jie Li Ngo Heng atau lima langkah melampaui rintangan dari delapan jurusan tidak mampu keluar dari belenggu pohon-pohon bunga yang ajaib itu!

Dan...

ia sendiri tak mampu menolong gurunya!

Apakah yang harus dilakukannya?

ia mengasah otaknya mencari akal untuk menolong gurunya.

Dihitungnya jumlah pohon-pohon bunga yang mengurung gurunya, dan ternyata ada sembilan kali sembilan sama dengan delapan puluh satu, jika ditebangnya sebuah pohon, mungkin khasiat pohon-pohon bunga ajaib yang mengurung gurunya dapat dipunahkan Dengan tekad yang demikian dicabutnya pedangnya dan dipancungnya sebuah pohon bunga, ia menunggu sebentar, tapi tidak tampak perubahan Dipancungnya sebuah lagi, juga tak tampak perubahan.

ia menjadi marah.

Dipancungnya terus sampai tiga kali tiga kali tiga sama dengan dua puluh tujuh buah pohon.

"Sing.... sing.... sing!!!"

Bunyi suara yang nyaring dan bising entah dari mana.

Dan...

kedua mata Hian Ceng Totiang bersinar!

ia menengok ke arah Bee Kun Bu sambil bangun berdiri Lalu dengan tenang ia melangkah keluar dari tengahtengah pohon-pohon bunga itu, dan berkata.

"Ai! Aku telah menggunakan ilmu Pat Kwa Ji Li Ngo Heng untuk keluar dari perangkap pohon-pohon bunga yang ajaib ini, tapi tak berhasil

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Untung sekali kau datang menoIong, Tapi... bagaimanakah caranya kau datang ke sini?"

Bee Kun Bu merasa girang karena telah dapat menolong gurunya, Lalu diceritakan nya bahwa karena ia khawatir akan keselamatan gurunya, ia pun menyelami sungai, Tentang bagaimana caranya Teecu menolong Suhu,"

Ia melanjutkan Teecu pun tidak mengetahui Teecu hanya menolong menurut pendapat sendiri untuk melepaskan orang dari jaring, kita harus memotong putus talinya, bukan?

Rupanya pohon-pohon bunga itu telah merintangi jalan keluar untuk Suhu, maka Teecu tebaslah mereka itu."

Sambil menggoyang-goyang kepalanya, Hian Ceng Totiang berkata.

"Ai! Aku dengan membabi buta telah masuk ke dalam semak pohon-pohon bunga itu, dan tidak menghiraukan akibatnya, Kini dua puluh tujuh pohon-pohon telah kau tumbangkan, aku kira mereka tak berbahaya lagi! Mari kita masuk lagi dan menyelidiki hal-hal yang lain-lainnya! Bee Kun Bu masih juga khawatir Dicabutnya pedangnya, dan dengan pedang terhunus diikutinya guru-nya. Dengan mata kepalanya sendiri disaksikannya kerangka-kerangka manusia di bawah pohon-pohon itu, ada yang berbaring, ada yang duduk, dan ada pula yang berlutut dengan kepala di atas tanah, ia terkejut dan bertanya.

"Suhu! Apakah rangka-rangka ini korban dari perangkap pohon-pohon bunga itu?"

Hian Ceng Totiang tak segera menyahut ditariknya napas panjang-panjang, lalu berkatai "Hai.,.!

Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek telah banyak mengambil korban.

orang-orang ini telah berusaha mencarinya, dan telah masuk ke dalam perangkap pohon-pohon bunga ajaib ini.

Mereka tak dapat keluar Mereka tewas karena kelaparan dan kedinginan Aku pun bisa seperti mereka, meninggalkan rangka di sini, jika kau tak datang menolong!

Hai...."

Setelah melalui semak pohon-pohon bunga ajaib itu, mereka menghadapi sebuah dinding jurang gunung yang curam.

Di kaki jurang itu ada dua buah batu gunung yang besar yang merupakan pintu dari sebuah gua.

Dengan tenaga

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

dalamnya, Hian Ceng Totiang mengirim pukulan ke arah batubatu itu, dan sekarang terbukalah pintu tersebut Mereka menjenguk ke dalam dan tampaklah sebuah batu gunung yang besar sekali dan dua batu hijau yang lebih kecil di kedua sampingnya, Di atas kedua batu yang lebih kecil itu ada dua buah patung.

sebuah merupakan pendeta laki-laki dan yang lain merupakan rahib perempuan Di atas batu yang besar terletak sebuah kotak dari batu Giok yang berukuran satu kaki kali satu kaki kali lima dim (atau tiga puluh sentimeter kali tiga puluh sentimeter kali lima belas sentimeter).

Di depan batu yang besar terdapat sebuah pedupaan dari batu yang berwarna putih, dan di dalam pedupaan itu masih terdapat abu hio (semacam menyan wangi) yang sangat harum baunya, Bau harum ini berhamburan di udara dan menusuk hidung ketika pintu batu terbuka.

Hian Ceng Totiang lalu menjelaskan.

"Pendeta laki-laki itu adalah Hian Kie Cin Jin, dan rahib perempuan itu adalah San Im Shin Nie. Keduanya telah menulis ilmu-ilmu silat yang maha dahsyat dan membuat kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. Kita harus berlutut memberi hormati Mereka segera berlutut di hadapan patung-patung itu. Kemudian dengan ilmu meringankan tubuh, Hian Ceng Totiang meloncat ke atas batu yang besar tadi dan melihat kotak dari batu Giok itu, Diperiksanya dengan teliti, dan di atas kotak tersebut tertulis delapan huruf yang berbunyi. Pit Cek Cung Po, Cin Si Mok Sen (Kitab-kitab ini sangat berharga, Harus dijaga baik-baik). Kitab-kitab itu adalah kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang dicari oleh para jago silat selama beratus-ratus tahun, Kini Hian Ceng Totiang yang menemuinya. ia terharu, bereampur gembira, seluruh tubuhnya gemetar Dengan kedua tangannya yang gemetar, dicobanya membuka kotak itu, dan di dalamnya ada tiga buah kitab yang tidak terlampau tebal Disampul kitab yang paling atas tertulis dalam huruf merah Kui Goan Pit Cek. Hian Ceng Totiang merasa seolah-olah jantungnya hendak putus, bahna kegirangan Buru-buru ditutupnya kotak itu

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

kembali Dari kantong di dadanya, dikeluarkannya sehelai kain tebal, dan dengan itu dibungkus nya kotak tersebut dengan hati-hati.

Kemudian ia turun dari batu itu, memberi hormat kembali kepada kedua patung-patung itu, dan akhirnya diajaknya muridnya lekas-lekas keluar dari gua itu, Setelah keluar, Hian Ceng Totiang menjerit keras, suaranya seperti seekor naga meraung dan bising sekali Suara jeritan itu dikeluarkan dengan tenaga dalam dan terdengar oleh Ngo Kong Toa-su dan Giok Cin Cu yang sedang menanti di tepi sungai dengan perasaan khawatir yang amat sangat sebetulnya untuk pergi ke gua di mana terletak kitab Kui Goan Pit Cek itu, orang harus menyelam ke dalam sungai Kemudian melalui gua di dasar sungai menerobos keluar ke lembah di mana tumbuh pohon-pohon bunga ajalb, sebelumnya semak pohon-pohon bunga itu dapat dilewati orang tak dapat mendekati dinding jurang yang sangat curam itu untuk membuka pintu batu yang menutupi gua di mana kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu tersimpan.

Hian Ceng Totiang dan Bee Kun Bu dengan ilmu tenaga dalam dan meringankan tubuhnya telah berhasil menyelam, menerobos masuk gua di dasar sungai, bahkan melewati semak pohon-pohon bunga yang ajaib, Lalu sebagaimana telah diceritakan telah membuka pintu batu dan mengambil kitab-kitab Kui Goan Pit Cek.

Lembah dimana mereka berada tak dapat dicapai dengan jalan menuruni jurang yang amat curam itu, dan senantiasa disetubungi kabut yang tebal sekali Kini setelah memperoleh kitab-kitab mujizat itu, dengan ilmu Cit Tiang Sin Kong atau terbang melonjak menembusi langit, mereka menotok tanah dengan kedua ujung jari kakinya, lalu tubuhnya melonjak ke atas secepat kilat dan tiba di atas jurang, kemudian dengan ilmu meringankan tubuh mereka lari dengan pesat melalui batu-batu, semak-semak dan segala rintangan-rintangan, dan berkumpul kembali dengan kawankawannya!

Semuanya dapat berlega hati kembali Giok Cin Cu adalah orang yang pertama bertanya pada Hian Ceng Totiang.

Toa-

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Suheng, mengapa lama sekali kau di dasar sungai itu? Apakah kitab-kitab Kui Goan Pit Cek telah diperoIeh?"

Sambil tersenyum Hian Ceng Totiang menyahut "Aku telah masuk perangkap semak pohon-pohon bunga, dan hampir tewas, Tapl., ya, sudahlah, akhirnya kitab-kitab Kui Goan Pit Cek telah kuperoleh Berkat pertolongan Bee Kun Bu, aku telah beruntung memperoleh kitab-kitab mujizat ini"

Lalu diceritakannyalah pengalaman-pengalamannya menyelam ke dasar sungai, cara muridnya menolongnya dari perangkap, dan cara mereka keluar dari lembah yang terpencil tadi Giok Cin Cu mengawasi Bee Kun Bu dengan perasaan kagum, lalu berkata.

"Bukan saja ia cerdik dan cerdas, tapi juga seorang yang budiman, Toa-Suheng beruntung sekali mempunyai murid seperti dia yang dapat menjunjung tinggi kemasyhuran partai Kun Lun kita."

Dengan pujian itu Bee Kun Bu merasa canggung, Hian Ceng Totiang mengawasi muridnya dan berpikir "Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek telah diperoleh, dan aku harus mencari suatu tempat yang terpencil dan tentram untuk mempelajari ilmu silat dari kitab-kitab ini yang mungkin memakan tempo setahun atau dua tahun, karena kitab-kitab ini, kalangan Bu Lim menjadi bergolak, dan gelombangnya mungkin dapat menyapu anggota-anggota dari partai Kun Lun.

Ya...

karena perebutan kitab-kitab ini, para partai silat akan bertarung matimatian, Betul kitab-kitab ini sangat berharga, akan tetapi mereka pun merupakan sumber dari segala malapetaka!"

Ia menarik napas panjang memikirkan akibat-akibatnya.

Giok Cin Cu juga merasa heran mengapa Toa-Suhengnya setelah memperoleh kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu masih juga merenung, ia bertanya.

Toa-Suheng, kitab-kitab Kui Goan Pit Cek sudah di tangan, seharusnya Toa-Suheng bergembira, Tetapi mengapa sekarang masih duduk terpekur?"

Lalu dikeluarkannya kulit ular hitam dan diperlihatkannya sambil berkata.

"Aku datang ke pegunungan Koat Cong San ada juga memperoleh hasil Cobalah lihat kulit ular ini! Bukankah kulit ini mujizat?"

Hian Ceng Totiang mengambil kulit ular itu dan

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

melihat dengan teliti sisik-sisiknya, lalu sambil tersenyum ia berkata.

"Kulit ini betut-betul berharga, dan sukar dicari Dari mana kau peroleh?"

"Kulit ular ini aku peroleh tanpa kesukaran, Jika aku sengaja mencarinya pasti tidak akan berhasil Partai Kun Lun kita dengan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek dan kulit ular ini pasti akan menjagoi di kalangan Bu Lim..."

Sahut Giok Cin Cu.

Belum habis Giok Cin Cu bicara, tiba-tiba terdengar suara tertawa, Hian Ceng Totiang terkejut ia bangun dan membuka kedua matanya dan mengawasi keadaan di sekitarnya.

Suara tertawa itu kedengarannya dekat sekali, tetapi entah dari mana asaInya.

Dengan ilmu tenaga dalamnya ia dapat mengetahui daun pohon jatuh lejauh lima depa, Tapi suara tertawa yang kedengarannya sangat dekat itu, tak dapat diketahuinya dari mana datangnya.

Giok Cin Cu dan Ngo Kong Toa-su juga mendengar suara tertawa itu akan tetapi sedikit pun tak tampak tanda-tanda dari mana datangnya, Sekonyong-konyong Lie Ceng Loan menjerit.

"O! Bangau putih datang kembali!"

Semuanya menoleh ke atas, Bangau itu datang dan menyambar Hian Ceng Totiang secepat kilat dengan sayapnya dan sekaligus merebut kulit ular dari tangannya, Giok Cin Cu yang berdiri dekat Toa-Suhengnya melihat bangau putih itu merampas kulit ularnya dari tangan Toa-Suhengnya.

Sambil menjerit dikibaskannya lengan bajunya dan ia terbang ke atas untuk mengirim jotosan dengan tinju kanannya ke arah bangau putih itu.

Baca Juga: Rajawali Lembah Huai 5

Baca Juga: Badai Laut Selatan 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert