Ceritasilat Novel Online

Badik Buntung 12

Eps 12 Badik Buntung - GKH

Baca online Badik Buntung - GKH

Cersil Badik Buntung - GKH.

"Cay Siu, sungguh picik dan rendah amat perbuatanmu ini!"

Demikian maki si orang tua.

"Picik dan rendah?"

Leng-bin-siu-su menyeringai sadis.

"Saudara Pek yang mulia apakah tidak keterlaluan kau maki aku! Ini kan cuma suatu usaha demi mencapai tujuan belaka."

"Kau bicara begitu pengecut dan hina."

Demikian timbrung Thian-hi. jengeknya lebih lanjut.

"Kau bukan tandingannya bukan?"

"Siapa tahu mana yang lebih unggul?"

Demikian sahut Cay Siu dengan seringainya.

"Mungkin kau belum pernah dengar nama besarku, lihatlah sepasang kaki Sin-heng-siu Pek Kong-liang sudah buntung, mengandal apa dia berani turun tangan dengan aku. sayang seorang diri aku tidak bisa membagi tubuh untuk melawan dua musuh!"

"Sedemikian sombong kau mengandal lidahmu, seolah-olah mereka berdua sudah menjadi mangsa makan perutmu. Apakah kau tahu sudikah kami bantu kau?"

Cay Siu pandang Hun Thian-hi lekat-lekat, katanya tawar.

"Kau berani tidak tunduk pada perintahku."

"Pikiranmu terlalu jenaka, kalau kejadian bisa terjadi menurut jalan pikiranmu, jangan karena kau menawan orang kami sebagai sandera lantas mau main perintah dan dapat menguasai Bulim, kalau begitu anggapanimu kenapa pula kau harus merebut Kim-hoan-kiam-boh itu?"

Berubah paras putih Cay Siu. tapi sekilas saja wajahnya berubah wajar pula, serunya.

"Apapun yang kau katakan tidak berguna lagi, kalau hari ini kau tidak bisa merebut Kim-hoa-kiam-boh itu, gadis ini bakal mampus dihadapan kalian!"

Amarah Bun Cu-giok kelihatannya sudah sukar berunding lagi, berulang kali ia sudah bergerak hendak melabrak musuh, tapi selalu dapat ditekan oleh Ce-hun Totiang, sebenar-benarnyalah jantung Ce-hun Totiang juga kebat-kebit, bila Hum Thian-hi tidak mampu menghadapi persoalan yang gawat ini, jiwa Ciok Yan pasti celaka, bagaimana juga mereka tidak mungkin bantu Cay Siu.

tapi juga serba sulit untuk menggunakan kekerasan.

"Jangan kau main gertak! Kami tidak perlu gentar!"

Sahut Thian-hi dengan suara tawar, diamdiam ia sudah menerawang situasi yang terjepit ini, terpikir olehnya suatu cara yang cukup sempurna, ia harus berusaha untuk mengendalikan situasi menjadi lebih tenang.

Dalam berkata-kata diam-diam ia sudah kerahkan Pan-yok-hian-kang, tiba-tiba sebelah tangannya mencomot kedinding yang keras itu, dimana jari jemarinya mencengkeram dinding besi yang keras itu seketika menjadi remuk berhamburan, seperti meremas lempung saja, disusul ia gosokkan kedua telapak tangannya, secomiot besi ditangannya itu hancur lebur menjadi bubuk besi.

Cay Siu dan lain-lain berubah pucat melihat demontrasi kekuatan yang hebat sekali, tiada seorang pun yang hadir menyangka bahwa Thian-hi membekali ilmu sakti yang tiada taranya ini.

Thian-hi menenangkan hati dan mengatur pernapasan sebentar lalu berkata kepada Leng-binsiu-su Cay Siu.

"Jangan kau lupa, akulah ahli waris dari Wi-thian-cit-ciat-sek."

Tambah terkejut Cay Siu dibuatnya, nada Thian-hi secara tidak langsung balas mengancam padannya, betapapun ia tidak mandah diancam semena-mena, mengandal Lwekang Thian-hi yang mengejutkan itu, ditambah permainan pedang Wi-thian-cit-ciat-sek yang sakti pula, para hadirin tiada seorangpun yang menjadi tandingannya, menang atau kalah jelas tergenggam ditangannya.

Cay Siu berusaha mengendalikan rasa Kejut dan takutnya, dengan tertawa dibuat-buat ia berkata.

"Pembantu yang kuperlukan justru orang macam kau yang punya kepandaian tinggi, kalau kau yang menghadapi orang tua she Pek itu, persoalan pasti tidak akan berbuntut panjang."

"Jadi ada persoalan kalau menghadapi kau?"

"Kau berani!"

Bentak Cay Siu dengan muka pucat.

"Darimana kau tahu aku tidak berani. Hari ini terhitung kau masuk ke dalam jala dan menempuh jalan buntu, seluruh hadirin kalau bekerja sama, meski ditambah lagi seorang Lengbin-siu-su juga bakal mampus dibuatnya!"

Semakin pucat muka Cay Siu, ancamnya.

"Sedikit kau berani bergerak, jiwa Ciok Yan segera kutamatkan!"

"Eh, kenapa sih kau Leng-bin-siu-su! Sudah ketakutan ya?"

Demikian sindir Bian-hok Lojin.

"Sayang sampai hari ini luka-lukamu dulu baru sembuh, tapi begitu muncul lantas ketemu batunya."

"Urusan masa begitu gampang sesuai dengan bacotmu,"

Demikian balas jengek Cay Siu.

"Persoalan Kim-hoan-kiam-boh itu hari ini harus dibikin penyelesaian." -lalu ia berpaling ke arah Thian-hi dan sambungnya.

"Sekarang juga kau harus turun tangan atau jiwa Ciok Yan segera kubikin tamat!"

Meski terkejut Thian-hi masih bisa berlaku tenang, sahutnya tertawa wajar.

"Cukup sedetik saja jiwanya melayang, maka jiwamu juga segera akan menyusul ke akhirat. Cobalah kau pikir sekali lagi lebih masak, terserah bagaimana keputusanmu nanti!"

Selamanya belum pernah Leng-bin-siu-su Cay Siu dibikin terdesak serba runyam begini, hatinya menjadi gundah pikirnya.

"Apakah bantuan yang kupancing kemari dengan daya upaya yang memeras keringat ini menjadi hampa sama sekali?" -lalu terpikir pula.

"Dengan jerih payah kuculik gadis ini, apakah harus kuserahkan kembali begitu saja? Tidak mungkin terjadi!" -pikir punya pikir gengsinya merasa terpukul, ia tidak percaya Hun Thian-hi punya nyali begitu besar, cepat ia angkat sebelah tangannya serta mengancam kepada Hun Thian-hi.

"Apapun yang kau ucapkan tiada gunanya lagi, orang ini berada di tanganku, hidup atau mati akulah yang menentukan, sebelum aku menghitung sampai sepuluh kalau kau tidak turun tangan menggasak bangsat she Pek itu, akan kuhabisi jiwanya!"

Lalu ia mulai menghitung.

"Satu.... dua.... tiga...."

Thian-hi tidak menduga Cay Siu berani memilih jalan keras, kalau ancamannya ini berani dilaksanakan, pihak sendiri menjadi terdesak malah, biji matanya dipicingkan ia mencari akal, jalan satu-satunya yang harus ditempuh adalah menolong dulu Ciok Yan dari belenggu Cay Siu, urusan lain gampang diselesaikan.

Kalau Hun Thian-hi kebat-kebit, adalah Bian-hok Lojin lebih gelisah, mendadak ia bersuit panjang.

"sreng!"

Pedangnya terlolos keluar badannya lantas mencelat naik ke tengah udara, dimana sinar pedangnya terayun ia membacok dan menusuk, sekaligus ia lancarkan tiga serangan pedang yang hebat kepada Leng-bin-siu-su.

Leng-bin-siu-su tertawa gelak-gelak, dimana tangannya membalik sebat sekali iapun sudah melolos pedangnya terus mencelat terbang pula memapak ditengah udara.

Bian-hok Lojin berada di sebelah atas menyerang dengan musuh.

Hun Thian-hi merasa takjup juga melihat permainan pedang kedua musuh yang sallng seiang itu, begitu lincah dan cukup ganas pula, selayang pandang sukar dinilai siapa lebih unggul dan asor.

Tapi posisi Bian-hok Lojin lebih menguntungkan karena menyerang dari sebeiah atas, sehingga gebrak pertama ini sama kuat, jadi kalau dinilai secara wajar, dengan posisi yang lebih menguntungkan tapi ia tidak berhasil berada di atas angin, ini berarti ia sudah kalah seurat.

Kejap lain mereka sudah melompat mundur dan hinggap di tanah pula.

Tanpa menanti Bianhok Lojin menyerang lebih lanjut Leng-bin-siu-su membentak ke arah Hun Thian-hi.

"Lekas turun tangan, kau dengar tidak?"

"Begitu saja kau menghendaki aku turun tangan?"

Thian-hi balas bertanya dengan suara datar.

"Gampang saja bagi aku, cuma setelah mendapatkah Kim-hoan-kiam-boh itu lalu bagaimanaa penyelesaiannya? Kau inginkan Kiam-boh Wi-thian-cit-ciat-sek sekalian?"

Sementara itu Bian-hok Lojin sudah melabrak pula kepada Leng-bin-siu-su, ia tahu persoalan ini tidak gampang diselesaikan, dalam waktu singkat ini tak mungkin tersimpul cara penyelesaian yang sempurna oleh Thian-hi.

Melihat Bian-hok Lojin menerjang pula, Leng-bin-siu-su menjadi gusar, bentaknya.

"Orang tua keparat, ingin modar kau!" -pedang panjangnya mendadak berputar memuntir laksana lembayung yang melingkar2 dengan cahaya yang menyala.

"trang!"

Cukup sekali gentak ia berhasil menggetar lepas pedang panjang Bian-hok Lojin dan menancap di atas belandar. Si orang tua berubah tertawa dingin, selanya.

"Selama tiga puluh tahun ini kiranya kau tidak buang-buang waktu, jurus Hwi-hong-kian-jit (lembayung terbang menggulung matahari) yang merupakan kebanggaanmu ini kiranya berhasil kau latih dengan sempurna!"

Leng-bin-siu-su menyeringai bangga, sindirnya dengan sinis kepada Bian-hok Lojin.

"Bagaimana, masih ingin coba-coba?"

Diam-diam terkejut juga Hun Thian-hi melihat permainan pedang dengan jurus Hwi-hong-kianjit yang hebat itu. Kali ini Leng-bin-siu-su menghadapi Hun Thian-hi pula, katanya.

"Jangan kau kira Wi-thiancit~ ciat-sekmu itu cukup berharga dan menjadi rebutan semua insan persilatan, ketahuilah meski ilmu pedangmu itu tinggi dan hebat, Kim-hoan-kiam-boh ini pun bukan kepalang lihaynya. Kimhoan itu sendiri dapat mengobati segala racun. kau kira aku sudi mengincar Wi-thian-cit-ciatsekmu itu?"

Thian-hi tertawa besar, ujamja.

"Siapa tahu obrolanmu ini benar-benar atau tidak, Wi-thian-citciat-sek merupakan pelajaran pedang tingkat tinggi yang tiada bandingannya, masa kau rela kehilangan kesempatan yang baik ini?"

"Sudah diangan cerewet."

Sentak Leng-bin-siu-su.

"Apa yang kuperintahkan harus kau lakukan, kalau tidak diangan kau salahkan aku tidak sungkan-sungkan lagi!"

Thian-hi menjadi naik darah, ancamnya.

"Berani kau menyentuh seujung rambutnya akan segera kubuat badanmu dedel dowel." -Gagah dan penuh wibawa pula kata-katanya yang tandas itu, pelan-pelan ia pun sudah melolos Cu-hong-kiam. Mimpi pun Lengbin-siu-su tidak mengira reaksi Hun Thian-hi begitu ketus, melihat sikap Thianhi yang berapi-api, sesaat ia jadi kesima. dan mematung sekian saat, mau tidak mau ia harus berpikir kembali dua belas kali menghadapi sikap keras Hun Thian-hi ini, bila ia sembarangan bergerak bukan mustahil jiwanya bakal segera melayang di bawah ujung pedang Hun Thian-hi! Sin-heng-siu Pek Kong-liang memperdengarkan gelak tawa yang terkial-kial, serunya kepada Hun Thian-hi.

"Hun-siauhiap harap kendalikan dulu amarahmu!"

Leng-bin-siu-su berkesempatan mengendalikan ketenangannya.... dengan kebencian yang meluap-luap dia main ancam lagi.

"Aku tidak percaya kau tidak akan tunduk padaku, jikalau Ciok Yan mampus, cara bagaimana kau ada muka bertemu dengan orang-orang gagah di seluruh kolong langit?"

Thian-hi pun tidak mau kalah gertak, dengan lantang ia balas menyindir.

"Aku cuma, merasa kalau aku bantu kau merebut Kim-hoan-kiam-boh itu, cara bagaimana aku harus memberi keadilan terhadap seluruh manusia dikolong langit ini!"

Sin-heng-siu Pek Kong-liang menghela napas panjang, katanya kepada Hun Thian-hi.

"Siauhiap sambutlah ini!" -Berbareng ia sambitkan tangan kanannya, dua butir bola emas sebesar telur angsa melesat terbang dari telapak tangannya langsung terbang ke arah Thian-hi. Semula Thian-hi tercengang, namun dalam sekilas itu lantas ia paham tentu bola emas yang ingin direbut Leng-bin-siu-su itulah, cepat ia ulur tangan kirinya meraih ketangah udara. Terdengar Leng-bin-siu-su menggertak gusar, tiba-tiba tubuhnya mencelat secepat kilat menubruk ke arah Thian-hi, berbareng pedang panjangnya menusuk dan menyontek kebawah ketiak kiri Hun Thian-hi. Begitu memgulurkan tangan kiri Thian-hi berhasil menyambut kedua bola emas itu, berbareng ia rasakan angin tajam sudah menerpa tiba, keruan bercekat hatinya secara reflek kedua kakinya menggeser kedudukan melesat kesamping, tepat ia meluputkan diri dari tusukan pedang musuh yang sangat ganas. Sudah tentu Leng-bin-siu-su tidak menyia-nyiakan kesempatan yang bagus dalam inisiatif penyerangan ini, lagi-lagi pedang panjangnya bergerak lebih lanjut, begitu membalik sinar pedangnya memetakan kuntum demi kuntum titik sinar kemilau yang merabu keseluruh badan Hun Thian-hi tujuannya hendak merebut bola emas yang digenggam ditangan kiri Thian-hi. Terdengar Bian-hok Lojin menggertak nyaring, sebat sekali ia meluruk pula ke dalam gelanggang pertempuran, kedua telapak tangannya menggablok dan menghantam dari dua jurusan. Baru saja Thian-hi berhasil menghindari tabasan pedang Leng-bin-siu-su, jurus kedua serangan lawan tahu-tahu sudah menggasak tiba pula, serangan jurus kedua ini jauh lebih keji ganas dan mematikan. Amarah Hun Thian-hi sudah berkobar, terdengar ia menggeram murka, laksana kilat mendadak badannya melambung tinggi ke tengah angkasa, disaat tubuhnya melesat keataa kaki kanannya menendang ke arah pergelangan tangan Leng-bin-siu-su. jurus ini dia lancarkan kepada musuh sehingga pihak lawan berbalik terdesak harus membela diri lebih dulu. Sementara kaki kirinya pun tidak tinggal diam mendepak kemuka orang. Cukup dengan menekuk dengkul dan menundukkan kepala Leng-bin-siu-su menghindari mukanya dari tendangan kaki lawan, berbareng pedangnya diputar untuk membabat kedua kaki Thian-hi. Hun Thian-hi sudah memperhitungkan jurus balasan Leng-bin-siu-su ini, sejak tadi ia sudah siaga. sementara pedang ditangannya pun tidak tinggal diam, laksana seutas sabuk panjang tibatiba pedangnya menukik turun menyapu kemuka Leng-bin-siu-su pula, maka terdengarlah lengking panjang laksana pekik naga, kontan pedang panjang Leng-bin-siu-su kena dipapas kutung menjadi dua potong, dimana lembayung merah melandai tiba pula, tersipu-sipu Leng-binsiu-su jejakkan kedua kakinya mencelat mundur sejauh mungkin. meski selamat tak urung mukanya pucat pias, terang ia sudah jeri. Dalam pada itu serangan Bian-hok Lojin kebetulan sudah menghantam tiba pula dari sebelah belakang. menghadapi serangan bokongan yang dahsyat dari arah belakang ini Leng-bin-Siu-su memutar badan secepat gangsingan terus menerobos miring Ke arah kiri, untung ia berhasil menerobos lewat dari gencetan kilasan ujung pedang dan samberan pukulan telapak tangan. Meski jiwanya selamat, ujung pedang Thian-hi toh berhasil memapas kutung lengan bajunya. Dalam pada itu. menyusul Leng-bin-siu-su menjejakkan kedua kakinya menjulang tinggi kebetulan mencapai pedang Bian-hok Lojin yang menancap di atas belandar, waktu ia meluncur turun lagi sambil menenteng pedang kebetulan ia hinggap pula ditempatnya semula.... Dengan beringas ia awasi Thian-hi. Serangan, jotos dan samberan pedang ketiga lawan ini terjadi dalam waktu yang teramat singkat Bun Cu-giok dan Ce-hun Totiang yang menonton disamping sampai berkeringat dingin dan berdebur jantungnya, baru pertama kali seumur hidup mereka menyaksikan pertempuran yang begitu dahsyat begitu mempesonakan dan tegang. Si-heng-siu Pek Kong-liang sijago kawakan dari gurun utara pun sulit menekan perasaan hatinya yang tegang dan takjup, alisnya yang putih bertaut dalam. Adalah Bian-hok Lojin mau tidak mau harus mengakui kelihayan dan takjup pada Leng-bin-siu-Su yang berhasil meluputkan diri dari gencetan dua pukulan tingan dan sejurus serangan pedang yang hebat itu, setelah berputar-putar menjauh dan berdiri tegak lagi dengan waspada ia awasi Leng-bin-siu-su, berjagajaga menghadapi sergapan balasan musuh yang jahat ini. Sementara Hun Thian-hi juga sudah meluncur turun, tak urung hatinya heran dan terperanjat juga, jurus pedangnya tadi meski lanjutan dari permainannya yang berhasil memapas kutung pedang lawan, tapi perbawanya bukan olah-olah hebatnya. Dari hasil adu kepandaian segebrak ini Thian-hi dapat menilai bahwa kepandaian Lengbin-siu-su agaknya tidak di bawah Tok-sim-sin-mo, Bahwa sergapannya tidak membawa hasil malah jiwa yang hampir saja dikorbankan, sunggun membuat Leng-bin-siu-su giusar tak terperikan. Saking marah mukanya sampai pucat bersemu hijau dan berdiri mematung. Ia harus memeras otak cara, bagaimana menghadapi Hun Thian-hi lebih lanjut. Sin-heng-siu Pek Kong-liang berkata kalem kepada Leng-bin-siu-su Cay Siu.

"Kau tidak perlu menyebul jenggot mendelikkan mata, diantara kita tiada seorang pun yang menjadi tandingannya, menurut pendapatku kau terima takluk saja!"

Leng-bin-isau-su Cay Siu menyeringai ejek, belum sempat ia membuka suara Pek Kong-liang sudah berkata pula.

"Aku punya cara penyelesaian yang lebih menguntungkan bagi kau, bukankah kau pandang rendah diriku? Sekarang tibalah giliran kita untuk menyelesaikan urusan ini sendiri, kita tentukan satu babak pertempuran, pihak yang menang boleh mengambil Kim-hoankiam-boh itu bagaimana pendapatmu?"

Leng-bin-siu-su menyeringai iblis, katanya sambil menetap tadiam ke arah Pek Kong-liang.

"Kau bukan berkelakar bukan!" -Agaknya ia belum yakin akan kebenar-benaran kata-kata Pek Kongliang. Pek Kong-liang tertawa besar, ujarnya.

"Kapan kau pernah melihat aku guyon-guyon, bicara terus terang mengandal kepandaian permainan pedangmu yang tidak berarti itu, tidak kupandang sebelah mataku, hayolah maju, kau tak usah kuatir!"

"Jangan kau menyesal dan pungkir janji ya?"

Leng-bin-siu-su menegas.

"Pelajaran ilmu dari bola emas itu sudah tercetak dalam otakku, kenapa aku harus takut pada kau. Besarkan nyalimu, cuma aku kuatir kaulah nanti yang bakal terjungkal!"

Mau tak mau termakan juga kata-kata Pek Kong-liang oleh Cay Siu. pikirnya.

"Bola emas itu sudah tiga puluh tahun digembol olehnya, bukan mustahil dia sudah apal diluar kepala seluruh pelajaran silat itu. Aku harus waspada!"

Menganalisa situasi yang dihadapi sekarang, pihak Hun Thian-hi jelas tidak kena digertak, kedua kaki Pek Kong-liang sudah cacat, seumpama ilmu silatnya maju berlipat ganda, perbawanya juga pasti banyak berkurang.

Apalagi dirinya pun tidak pernah berhenti berlatih selama tiga puluh tahun terakhir ini, meskipun karena luka-lukanya dulu sehingga latihannya belum mencapai titik kesempurnaannya, tapi ia yakin bahwa hasil yang dicapainya pun cukup hebat, menghadapi seorang lawan yang cacat sepasang kakinya kiranya cukup berkelebihan bekal ilmu silatnya, dengan keyakinan yang teguh ini berlipat ganda pula keberaniannya!.

Sambil menengadah Leng-bin-siu-su bergelak tawa.

serunya.

"Begitupun baik, urusan kami biar kami berdua yang menyelesaikan sendiri, tak perlu orang lain ikut campur dalam penyelesaian urusan ini. Kau sudah mempelajari ilmu dalam bola emas itu, begitupun tiada jeleknya, supaya orang tidak menyebar kabar angin mengatakan aku menghina seorang yang sudah buntung kakinya." -Lalu ia, tertawa lebih keras lagi. Mendengar Leng-bin-siu-su bernada menghina, tak tahan bergelora amarah Pek Kong-liang, sambil mengeluarkan pedangnya ia menantang.

"Jangan cerewet! Silakan mulai!"

Leng-bin-siu-su terkial-kial, tawanya semakin menggila bernada dingin mengandung pada menghina, Ciok Yan yang dikempit ditangan kirinya tidak mau dilepaskan, begitu pedang panjangnya bergerak langsung ia menyerang kepada Pek Kong-liang.

Diam-diam Hun Thian-hi kuatir bagi keselamatan Pek Kong-liang.

tadi ia sudah mengukur sampai dimana tingkat kepandaian Leng-bin-siu-su, Sin-heng-su Pek Kong-liang sudah buntung kedua kakinya.

untuk menghadapi rangsakan pedang lawan yang begitu hebat rasanya tidaklah mudah.

Gebrak yang menentukan menang dan kalah, pertaruhan jiwa antara hidup dan mati ini.

sulitlah dibayangkan bagaimana kesudahannya nanti.

Dengan segala kekuatan dan kemampuannya Leng-bin-siu-su mulai lancarkan serangan pedangnya.

tapi Sin-heng-su Pek Kong-liang mandah tertawa ejek.

"Cay Siu, jangan kau takabur!"

Sikap Leng-bin-siu-su tidak berubah hakikatnya ia anggap tidak dengar cemoohan lawan, pedang panjangnya malah bergerak semakin kencang dengan serbuan yang mematikan, menusuk menabas dan menggores dengan berbagai kembangan yang rumit, terakhir ujung pedangnya menyelonong keluar menusuk diantara kedua mata, Pek Kong-liang.

Sin-heng-siu Pek Kong-liang cukup menegakkan pedangnya terus digentak kesamping, tapi pedang Cay Siu tidak berhenti sampai disitu, beruntun ia ganti pula dengan empat lima jurus tipu pedang yang lihay dan licik, namun semua serangannya menjadi kandas ditengah jalan dipatahkan oleh perlawanan Pek Kong-liang yang mainkan pedangnya tidak kalah lihay dan hebatnya, akhirnya ia jadi gugup dan kaget juga.

Sungguh ia tidak nyana setelah kedua kakinya cacat Sinheng-siu masih membekal Lwekang yang begitu tinggi, perbawa ilmu pedangnya jauh lebih hebat dibanding masa mudanya dulu, rasanya malah setingkat lebih tinggi.

Giris hati Leng-bin-siu-su, pedang panjangnya tidak bergerak selincah tadi, sekarang ia amat hati-hati pada setiap gerak pedangnya, setiap kali ia mengganti posisi dan kedudukan pedang panjang baru pelan-pelan ditusukkan, setiap tusukan dan tabasan pedangnya selalu mengarah tempat penting yang mematikan ditubuh Sin-heng-siu Pek Kong-liang.

Hun Thian-hi menonton dengan cermat.

Beberapa gebrak kemudian baru hatinya jadi tentram, didapatinya bahwa kepandaian silat Sin-heng-siu Pek Kong-liang dari gurun besar itu tidak kalah hebatnya dari Leng-sin-siu-su Cay Siu.

Dalam hal ilmu pedang dan Lwekang malah setingkat lebih tinggi, terutama permainan ilmu pedangnya yang begitu ketat, rapat dan hebat itu terang Lengbin-siu-su tidak mungkin dapat menyamai.

Tanpa bergerak dari tempat duduknya Sin-heng-siu Pek Kong-liang menggerakkan pedangnya melawan musuh, sekejap mata ratusan jurus sudah lewat, tiba-tiba tergerak hatinya, sambil bersuit nyaring panjang sebeiah telapak tangan kirinya menepuk tanah, kontan badannya melejit mumbul ke tengah udara, laksana bintang meteor langsung menubruk ke arah Leng-bin-siu-su, pedang panjang ditangannya tergetar memetakan berlapis2 sinar pedang yang berkembang melebar laksana sapu jagat.

Kiranya ia sudah kembangkan jurus Pat-hong-hong-hi (hujan angin didelapan penjuru angin) dari pelajaran Kim-hoan-kiam-boh itu.

Lapisan sinar pedangnya semakin melebar besar laksana jala berkilauan menyilaukan mata, lalu merangsak bersama dari delapan penjuru angin ke arah Leng-bin-siu-su.

Tercekat hati Leng-bin-siu-su, untung pengalaman tempurnya sudah matang, dalam keadaan yang kurang waspada dan tidak bersiap ini, seluruh tubuhnya sudah terkenang oleh jurus Pathong-hong-hi.

Apa boleh buat demi keselamatan jiwa sendiri secara licik ia lemparkan tubuh Ciok Yan ke tengah udara.

Dengan seksama Hun Thian-hi menonton dipinggir gelanggang, begitu tubuh Ciok Yan terlempar ke tengah udara, laksana naga meluncur tangkas sekali ia melesat terbang mengejar sekali raih tepat ia dapat mengempit tubuh orang.

Dengan akal liciknya ini memang Leng-bin-siu-su berhasil menyelamatkan jiwanya.

Sementara Thian-hi langsung menyerahkan Ciok Yan yang ditolongnya kepada Bun Cu-giok, cepat Cu-giok membuka jalan darahnya serta mengurut urat2nya, melancarkan darah yang tersumbat sekian lamanya....

Kuatir melukai orang lain waktu lawan dengan akal licik melemparkan tubuh orang bagi umpan pedangnya, syukur Sin-heng-siu cukup cekatan dan waspada pula, luar biasa cepatnya ia tarik balik dan batalkan seluruh kembangan serangannya lalu melayang balik kembali ke tempat duduknya semula.

Diam-diam girang hatinya, baru pertama kali ini ia mengembangkan pelajaran baru yang dipelajari dari Kim-hoan-kiam-boh, nyata hasilnya luar biasa sekali, cukup sejurus dengan mudah ia sudah memaksa Leng-bin-siu-su melemparkan Ciok-Yan.

Setelah berdiri tegak dengan nanar Leng-bin-siu-su mengawasi Sin-heng-siu, sungguh ia tidak habis berpikir ternyata begitu gampang ia terjungkal di bawah tekanan pedang lawannya yang buntung ini, semakin dipikir semakin berkobar amarahnya, geram sekali ia membentak.

"Pek-lothau, tak nyana selama tiga puluh tahun ini kiranya kau sudah menggembleng diri, pelajaran Kimhoan-kiam-boh itu terhitung sudah dapat kau curi belajar sebagian."

Sin-heng-siu tertawa besar, ujarnya.

"Jangan sungkan! Ilmu kebanggaanmu sendiri belum lagi kau kembangkan, kenapa begitu cepat mengaku asor?"

"Jangan kau takabur", semprot Leng-bin-siu-su.

"lihat saja nanti, aku masih berkelebihan dapat membereskan kau!" -ia insaf bahwa posisinya sudah mulai terdesak di bawah angin, Ciok Yan yang tadi dijadikan sandera kini sudah tertolong oleh Hun Thian-hi, harapan satu-satunya sekarang ia harus berhasil mengalahkan Pek Kong-liang, kalau tidak tiada jalan hidup bagi dirinya. Dalam pada itu Ciok Yan sudah pelan-pelan siuman, betapa girang ia melihat dirinya di dalam pelukan suaminya, BUn Cu-giok. Dipihak lain, Leng-bin-siu-su sudah tak sabar lagi, dengan memekik seperti kesetanan pedangnya dibolang balingkan mengeluarkan deru angin yang ribut, dengan kepandaian permainan pedangnya yang hebat ia menyerbu pula kepada Sin-heng-siu Pek Kong-liang, Gebrak kedua ini ia betul-betul sudah kerahkan segala tenaga dan kemampuannya, bertekad untuk mengadu jiwa sampai titik darah penghabisan. Cukup sejurus ilmunya yang hebat tadi Sin-heng-siu memperoleh kemenangan, keyakinan hatinya semakin teguh, menghadapi rabuan pedang lawan ia mencelat naik keudara lagi, tak ketinggalan pedangnya pun berkelebat menyongsohg kemuka Leng-bin-siu-su. Leng-bin-siu-su sudah bertekad untuk gugur bersama, begitu Sin-heng-siu maju memapak justru sesuai dengan keinginannya, terdengar ia terkekeh dingin, seluruh tenaga dikerahkan di atas pedangnya, tanpa mau kalah wibawa iapun songsongkan pedangnya ke depan. Dua batang pedang saling bentrok ditengah udara, terdengarlah suara nyaring yang menusuk telinga bergema sekian lamanya, dua belah pihak mengerahkan setaker tenaga, kesudahannya tetap sama kuat. Sekonyong-konyong sebelum tubuh meluncur turun Sin-heng-Kiu percepat gerak pedangnya memberondong dengan serangan pedang yang cukup dahsyat, yang terlihay justru tiga jurus tabasan pedang terakhir yang mengarah muka tenggorokan dan dada Leng-bin-siu-su. Semula Leng-bin-siu-su tidak mengira begitu dua pedang saling bentrok, Sin-heng-siu purapura menarik pedang dan meluncur turun, disaat ia tercengang itulah mendadak Pek Kong-liang sudah lancarkan tiga serangan pedangnya. Tiada tempo bagi Leng-bin-siu-su untuk memeras otak, sambil kertak gigi sebisa mungkin ia ayunkan pedangnya dengan jurus Hwi-hong-kian-jit, inilah jurus pedang kebanggaannya yang dilancarkan dengan tenaga besar dilandasi terbakarnya rongga dadanya, cuma satu harapannya berusaha menangkis atau menyelamatkan jiwa dari tabasan pedang Pek-Kong-liang yang hebat itu. Sebetulnya posisinya jauh lebih menguntungkan bagi Sin-heng-siu, sayang ditengah jalan ia ragu-ragu, kalau tidak tentu pedangnya sudah berhasil mencopot kepala Leng-bin-siu-su dari badannya. Cuma sedikit merandek itulah kedua pedang paling bentrok lagi, tapi suaranya tidak senyaring tadi, sebaliknya malah terdengar suara "cras, cras!"

Lalu didengarnya pula gerungan mereka seperti babi disembelih.

Kiranya jurus Hwi-hong-kian-jit Leng-bin-siu-su betapa pun tidak kuasa menandingi ilmu pedang lawan, keruan kejut hatinya bukan main, Lwenkang Sin-heng-siu bahwasanya sudah jauh melompat lebih tinggi dibanding beberapa tahun yang lalu, keruan bercekat sanubarinya.

Tapi dasar licik sekilas dilihatnya kedua kaki Sin-heng-siu yang buntung itu.

kontan ia mengulum senyum dingin diujung mulutnya.

Bentrokan kedua pedang lawan sama-sama tidak mau mengalah, agaknya Sin-heng-siu juga sudah terhanyut dalam mengejar kemenangan, semangat diempos hawa murni dikerahkan tenaga dalam pun kontan melandai keluar.

Sekali tekan kebawah ia bikin badan Leng-bin-siu-su terdesak turun kebawah.

Tapi Leng-bin-siu-su sendiri sudah nekad dan melawan sekuat tenaga, ia insaf bila gebrak ini kalah, untuk meloloskan diri dengan selamat tidaklah mudah, mau tidak mau ia harus berusaha mati-matian.

Karena sama-sama mau menang, kedua belah pihak sudah mempertaruhkan jiwa masingmasing, Hun Thian-hi yang menonton diluar gelanggang jadi kebat kebit dan kuatir, jikalau lintasan selanjutnya Sin-heng-siu Pek Kong-liang tidak berhasil memperbaiki posisinya yang lebih unggul, alhasil ia sendiri yang bakal terjungkal kalah, apalagi kedua kakinya sudah buntung, bagaimana juga ia tidak akan kuasa bertahan lama.

Sudah tentu Pek Kong-liang sendiri juga sudah menginsafi kelemahannya ini, hatinya pun semakin gelisah, menurut perhitungannya saat itu ia pasti sudah berhasil mengalahkan Leng-binsiu-su, kenyataan sukar sekali diluar perhitungan.

Dia sudah tidak mampu bertahan lebih lama lagi, pedang panjang ditangan kanannya ditekankan sekuat tenaga, lalu ia mengirup hawa mengganti napas, baru ia berusaha menarik pulang pedangnya, lalu disusul dengan melancarkan tipu Kim-in-ho-tong (bayangan emas berkelebatan) menggasak musuhnya.

Tak nyana Leng-bin-siu-su sudah dapat meraba jalan pikirannya sekuat tenaga ia pun kerahkan tenaganya mendempel pedang lawan dan tidak dilepaskan sehingga lawan tak berkesempatan membebaskan diri merubah posisinya.

Dalam perang batin dan pikiran ini Leng-bin-siu-su terang berada di atas angin, serta merta ia mengumbar rasa hatinya dengan tertawa panjang, pedang panjangnya masih bertahan sekuat2nya, sedikitpun ia tidak beri kesempatan Sin-heng-siu-Pek Kong-liang menghirup napas.

Semakin gundah hati Pek Kong-liang, sekali kurang hati-hati atau lena jikalau sampai kena dikalahkan lawan, bagaimana baiknya nanti?

Apakah secara rela menyerahkan Kim-hoan-kiam-boh kepada Leng-bin-siu-su yang jahat ini?

Tidak mungkin terjadi!

Dalam keadaan bertahan adu kekuatan tenaga dalam ini, meski ia membekali tipu pedang yang beraneka ragam dan lihay juga tidak berguna lagi.

Leng-bin-siu-su juga maklum dirinya tidak akan mampu balas menyerang, tapi ia pun tidak akan membiarkan Pek Hong-liang melepasKan diri, begitulah kedua musuh ini saling berkutat, kalau posisi begini berlangsung terus jelas pihak sendiri yang bakal menang.

Beberapa saat sudah berselang, Pek Kong-liang jelas tidak kuasa lagi mempertahankan diri, otaknya diperas akhirnya tersimpul suatu cara, kecuali cara yang nekad ini ia tidak bakal memperoleh kemenangan.

Setelah mantap tiba-tiba ia dorongkan pedangnya ke depan dengan sisa tenaganya, Leng-binsiu-su mandah menyeringai dingin, tanpa menanti Leng-bin-siu-su Cay Siu menduga-duga atau menyimpulkan pikiran lain, Sin-heng-siu Pek Kong-liang melanjutkan usahanya supaya orang menyangka bahwa dirinya berusaha meloloskan diri, secara tiba-tiba telapak tangan kirinya secepat kilat menggablok kebawah ketiak Leng-bin-siu-su, serangan kali ini ia lancarkan dengan seluruh sisa tenaganya.

Mimpi juga Leng-bin-siu-su tidak menyangka bahwa Pek Kong-liang bakal berani menyerang dirinya dengan menempuh resiko besar.

Keruan ia terkejut, tapi bagaimana juga ia pantang mundur, sekali ia tersurut mundur jelas dirinya pasti terjungkal, tapi bagaimana kalau tidak menyurut mundur meluputkan diri?

Tiada tempo berkelebihan memberi kesempatan otaknya berpikir, dalam kejap yang hampir sama telapak tangan kirinya juga balas menggempur kelambung Pek Kong-liang, terpaksa ia harus menempuh cara adu jiwa.

Kalau Pek Kong-liang masih sayang pada jiwanya sendiri pasti ia lekas-lekas batalkan serangannya.

Terdengar Pek Kong-liang menggerung pendek, ia insaf bila ia batalkan serangannya pasti ia kalah, jelas Kim-hoan-kiam-boh harus terjatuh ketangan Leng-bin-siu-su, akibat apa yang bakal terjadi sungguh ia tidak berani bayangkan.

Ia cukup bijaksana untuk memilih akibat yang berat dari pada yang ringan, demi kepentingan ribuan jiwa manusia ia rela mengorbankan jiwa sendiri, cepat ia kerahkan hawa pelindung badan menjaga tubuhnya, sementara telapak tangan kiri bukan saja tidak ditarik balik tidak kendor malah dipercepat dan kekuatan pun dilipat gandakan.

Mata Leng-bin-siu-su memancarkan rasa takut dan jeri, sungguh ia tidak nyana bahwa akibatnya bakal begini fatal, apa boleh buat terpaksa ia harus menyambut dengan kekerasannya.

Maka terdengar pula dua suara menguak yang keras seperti hampir muntah2, seketika bayangan dua orang terpental jauh lepas kedua jurusan, seluruh hadirin sama terkejut, tiada seorang pun menyangka pertempuran adu jiwa ini bakal berakibat begitu parah, sesaat saking kesima mereka jadi lupa memburu maju memberi pertolongan.

Luka yang diderita Leng-bin-siu-su jauh lebih parah, terbanting lagi dengan keras di atas tanah, kontan ia semaput tak sadarkan diri.

Pek Kong-liang sendiri juga muntah darah, setelah mengatur pernapasannya ia berkata tertawa.

"Untung aku tidak sampai kalah!"

Habis berkata ia menyemburkan darah lagi, selanjutnya ia pejamkan mata istirahat.

Dengan menggeram Bian-hok Lojin memburu maju ke arah Leng-bin-siu-su, kaki sudah terangkat hendak menginjak hancur batok kepala Cay Siu.

Bab 35 Keburu Pek-kong-liang membuka mata, cepat ia berseru mencegah.

"Sute, jangan lakukan."

"Suheng!"

Seru Bian-hok Lojin.

"Apakah perbuatan jahatnya masih kurang, kalau tidak dibunuh kelak bakal menimbulkan bencana lagi, mana boleh dia tetap hidup!"

Sementara itu, Leng-bin-siu-su sudah siuman dari pingsannya, sekian saat ia menggape2 berusaha hendak merajap bangun, tapi ia sudah tidak kuasa bergerak lagi.

Hun Thian-hi tidak tega, katanya kepada Bian-hok Lojin.

"Lukanya sangat parah, tinggalkan saja jiwanya!"

Sementara itu, Leng-bin-siu-su sudah berhasil merajap duduk, dengan gusar ia mendelik teriaknya serak.

"Berani kalian melepas aku, kelak tunggulah pembalasanku!"

"Kau ingin menuntut balas? Besar benar-benar tekadmu, mengandal kau sekarang masa kau mampu!"

Demikian cemooh Bian-hok Lojin.

"Jangan kau takabur, jangan cuma kau ditambah sepuluh orang pun aku tidak gentar terhadap kau, soalnya aku kurang hati-hati sehingga terluka!"

Demikian maki Leng-bin-siu-su dengan amarah yang meluap-luap.

Mendengar ucapan orang Thian-hi tahu bahwa Leng-bin-siu-su tengah menggunakan akal pancingan supaya Bian-hok Lojin melepas dirinya.

Tapi kelihatannya Bian-hok Lojin bukan kaum kroco, dengan tertawa panjang ia berkata.

"Tiada gunanya kau membakar hatiku, ketahuilah aku punya caraku untuk menyelesaikan jiwamu!"

Habis berkata tubuhnya melejit maju kedua jari tengahnya terangkap telak sekali menutuk jalan darah Sam-kiau-hiat, Leng-bin-siu-su berusaha menghindar tapi apa daya tenaga sudah lemas kontan ia mengeluarkan suara menguak mulut terpentang menyemburkan darah segar.

Thian-hi terkejut, perbuatan Bian-hok Lojin cukup keji, tutukannya itu sekaligus memunahkan ilmu silat dan memecahkan tenaga dalamnya, selanjutnya Leng-bin-siu-su menjadi orang cacat dan tidak akan bisa mengganas pula.

Sekuat tenaga ia berusaha merangkak bangun terus mengelojor pergi tanpa berani banyak cingcong lagi.

Sampai tahap sekarang urusan menjadi beres, hati Hun Thian-hi menjadi lega ia kembalikan pula bola mas itu serta katanya.

"Urusan sudah selesai. Karena terpaksa kami menerobos ke tempat terlarang ini, harap Lo-cianpwe suka memberi maaf. Sekarang kami mohon diri."

Bian-hok Lojin menyambuti bola mas itu serta ujarnya.

"Sudah, urusan tak perlu diungkat kembali. Selama tiga puluh tahun tiada seorang pun yang tinggal hidup bila berani masuk ke dalam gedung ini. Dan kalian pun tidak punya maksud jahat terhadap bola mas ini, bolehkah kalian silakan saja."

Tiba-tiba Pek Kong-liang membuka mata, teriaknya.

"Saudara-saudara, tunggu sebentar!"

"Cianpwe ada petunjuk apa?"

Tanya Hun Thian-hi membalik.

"Terhitung aku sudah ketemu dengan ahli waris Wi-thian-cit-ciat-sek, kelak pasti kau dapat mengembangkan ilmu pedang tiada taranya ini dan menjagoi seluruh Kangouw, untuk itu kau harus menandingi Hui-sim-kiam-hoat Bu-bing Loni, kuharap kau tidat sampai kalah."

"Terima kasih akan petuah Cianpwe!"

Segera Thian-hi menjura hormat.

Pek Kong-liang manggut-manggut lalu pejamkan mata pula.

Setelah pamitan Thian-hi berempat segera keluar dari gedung kayu itu langsung melanjutkan perjalanan ke arah timur.

Belum jauh mereka menempuh perjalanan, terdengar pekik suara burung kumandang di angkasa, tampak seekor burung dewata terbang menukik ke arah mereka.

Thian-hi jadi kebat-kebit dan girang pula, entah Ham Gwat atau Bu-bing Loni yang datang.

Kejap lain burung dewata sudah meluncur turun, sekilas pandang dilihat oleh Thian-hi, Bu-bing Lonilah yang bercokol di punggung burung dewata itu, suatu perasaan aneh yang menghantui sanubarinya timbul dalam benaknya.

Wibawa Bu-bing Loni betapa pun masih berpengaruh dalam hatinya.

Sambil menyeringai dingin Bu-bing Loni menatap Hun Thian-hi tanpa bersuara.

Dengan berani Thian-hi pun balas menatap dengan tajam.

"Akhirnya kita ketemu pula."

Akhirnya Bu-bing membuka kesunyian. Lalu ia menyapu pandang Ce-hun bertiga.

"Benar, benar,"

Sahut Thian-hi sinis.

"Sayang tempo hari kau tidak berhasil mendapatkan Jianlian-hok-ling itu, sungguh sangat disesalkan."

Sebetulnya Bu-bing sendiri juga rada gentar menghadapi Hun Thian-hi yang merupakan musuh paling tangguh satu-satunya pada masa itu.

Ia insaf bahwa tingkat kepandaian silatnya tidak terpaut jauh dibanding kepandaian Hun Thian-hi sekarang.

Dia harus bekerja cepat melenyapkan musuh besar ini sebelum orang tumbuh sayap dan unjuk gigi, dengan segala cara yang dapat ia gunakan.

Maka Bu-bing Loni tertawa dingin, katanya.

"Tidak menjadi soal. Sekarang tibalah saatnya untuk menentukan siapa menang dan siapa asor."

"Tepat, kiranya hampir tiba saatnya untuk penentuan itu,"

Demikian tantang Thian-hi sambil mengerut kening.

"Aku harus membalas sakit hati para Cianpwe dari Soat-san, dan kau sudah cukup malang-melintang selama empat puluh tahun dengan ilmu pedangmu, hari ini aku harus jajal sampai dimana kehebatan ilmu pedangmu itu."

Lalu dilolos pedang di punggungnya. Begitu melihat pedang yang dipegang tangan Thian-hi, berkilat pandangan Bu-bing, seringainya.

"Ternyata kau sudah ganti senjata menggunakan pedang, malah sebilah pedang pusaka."

"Jangan cerewet!"

Sentak Thian-hi gusar.

"keluarkan pedangmu!"

Diluar dugaan Bu-bing tidak keluarkan pedangnya, mulutnya malah menjengek dingin.

"Kenapa ke-susu, aku sendiri tidak tergesa-gesa, apa pula yang kau ributkan?"

"Aku tidak biasa membunuh orang yang tidak bersenjata."

Berkobar amarah Bu-bing Loni mendengar cemooh orang, selamanya belum pernah ada manusia berani begitu kurang ajar terhadap dirinya, pelan-pelan ia sudah lolos pedangnya, tapi baru separo ia urungkan niatnya, katanya.

"Dalam sepuluh hari ini kunanti kedatanganmu di Jianhud-tong!" -tanpa bicara lagi ia naik ke punggung burung dewata terus terbang pergi. Thian-hi tertegun, mulutnya menggumam.

"Sepuluh hari kemudian di Jian-hud-tong!"

Tak perlu disangsikan lagi bahwa Bu-bing sudah sekongkol dengan Tok-sim-sin-mo untuk menghadapi dirinya, mau tak mau bergejolak pikirannya.

Tengah ia menjublek di tempatnya, mendadak dari dalam hutan di depan sana muncul seorang gadis, pandangan Thian-hi menjadi terang, ia tersentak kaget dan berteriak girang, yang muncul ini bukan lain adalah Ham Gwat yang selalu dikenangnya itu.

Sungguh tidak habis heran hatinya, bahwa Ham Gwat tiba-tiba muncul di tempat itu.

Cepat ia berlari maju memapak.

Sekian lama mereka berpandangan, akhirnya Ham Gwat membuka suara.

"Bukankah kau sudah menemukan mereka? Dimana mereka sekarang?"

Thian-hi tahu maksud pertanyaan orang, cepat ia menjawab.

"Mereka telah ditolong seorang Cianpwe aneh yang berkepandaian tinggi."

"Siapa dia?"

"Beliau tidak mau menjelaskan...."

Ham Gwat terbungkam sekian lamanya, akhirnya berkata.

"Ucapan Bu-bing tadi kudengar semua, sepuluh hari kemudian, kau harus menghadapi bahaya yang paling besar selama hidupmu ini."

Hun Thian-hi manggut-manggut. Tanyanya.

"Apakah paman dan bibi baik?"

Muka Ham Gwat jadi masam, lekas ia berpaling muka, sesaat baru terdengar jawabannya.

"Mereka ditawan oleh Tok-sim-sin-mo dan Bu-bing Loni."

Mencelos hati Thian-hi, perkembangan ini sungguh diluar dugaannya.

Sekian lama mereka sama menjublek tak bersuara.

Ce-hun Totiang bertiga juga mendengar kabar jelek ini, mereka sama ikut merasakan tekanan batin yang berat ini.

Siapa akan menduga Bu-bing Loni yang congkak dan tinggi hati itu ternyata sudi merendahkan derajatnya bersekongkol dengan orang orang lain.

"Marilah sekarang juga kita susul ke Jian-hud-tong."

Demikian ajak Thian-hi nekad. Ham Gwat menggeleng kepala, sahutnya.

"Meluruk secara serampangan takkan ada gunanya."

Thian-hi angkat pundak.

Urusan berlarut semakin ruwet sulit ditanggulangi, ia jadi termenung memikirkan daya upaya.

Sekonyong-konyong didengarnya langkah kaki yang lirih, Thian-hi terkejut cepat ia putar tubuh terlihat dari dalam hutan berjalan keluar dua Hwesio tua.

Begitu melihat kedua Hwesio ini tiba-tiba Ciok Yan memburu ke depan seraya berteriak kegirangan.

"Ajah! Kemana saja kau selama ini."

Kedua Hwesio ini bukan lain adalah Go-cu Taysu dan Ciok Hou-bu, melihat Ciok Yan memburu tiba tersipu-sipu Ciok Hou-bu berkelit kesamping sambil bersabda buddha dan merangkap tangan.

Ciok Yan lantas menubruk dan memeluk kedua kaki Ciok Hou-bu serta menangis sejadi2nya.

Sementara Ciok Hou-bu sedang bicara dengan putri dan menantunya Bun Ciu-giok.

Segera Thian-hi berdua unjuk hormat kepada Go-cu Taysu.

"Jangan sungkan,"

Cegah Go-cu.

"Bisa jumpa dengan tunas muda yang gagah perwira sungguh Lolap sangat senang."

Sudah lama Hun Thian-hi kenal nama Go-cu Taysu, baru sekarang ia sempat bertemu, tampak orang berperawakan kurus kecil, tapi sepasang matanya bersinar terang, jidatnya sudah berkeriut, selintas pandang orang akan menaruh hormat dan segan pada padri.

yang kenamaan ini.

Berkatalah Go-cu taysu.

"Agaknya kalian punya jdoh dengan kalangan agama kami, baru pertama kali ini aku berkesempatan ketemu, sebetulnyalah sejak lama sudah kenal."

Thian-hi merendah, katanya.

"Wanpwe pun sudah lama mendengar kebesaran nama Taysu dan ingin bertemu, sayang tidak berjodoh, beruntung hari ini bisa ketemu disini, harap Cianpwe Sudi memberi petunjuk!"

Go-cu menghela napas, ujarnya.

"Bu-bing Loni dan Tok-sim-sin-mo ada intrik dan melakukan perbuatan kotor yang terkutuk, mereka bertekad mendapatkan Ni-hay-ki-tin, ayah bunda Ham-sicu ini juga ditawan dijadikan sandera dikurung di dalam istana sesat, mereka perlu segera diberi pertolongan...."

Berubah pucat paras Ham Gwat, tubuhnya terhujung hampir roboh.

Cepat Hun Thian-hi memapah tubuhnya.

Ham Gwat menenangkan pikiran dan membesarkan hati, ia berdiri tegak pula.

Go-cu Taysu berkata lebih lanjut.

"Tak berguna sekarang kalian meluruk kesana, yang penting kalian harus lekas-lekas melaksanakan urusan lain yang lebih penting. Sebab Bu-bing dan Toksim-sin-mo sudah mendapatkan gambar peta dari rahasia Ni-hay-ki-tin itu, cuma belum dapat memecahkan inti rahasianya, kalau tidak tentu Ni-hay-ki-tin sejak lama sudah berada di tangan mereka, keadaan pasti lebih runyam dan tak tertolong lagi."

"Apakah Cianpwe punya cara untuk mengatasi?"

Tanya Hun Thian-hi.

"Sekarang kalian harus memohon bantuan pada seseorang, bila beliau suka memberi petunjuk, urusan betapa sulit pun akan dapat dipecahkan."

Hati Ham Gwat sedang gundah dan gelisah, ia hampir tidak percaya ada seseorang bisa mengatasi persoalan rumit ini sedemikian gampang.

Agaknya Go-cu merasakan kesangsian Ham Gwat ini, ia tertawa, ujarnya.

"Kusebut seseorang, mungkin kalian tidak akan mau percaya."

"Siapa dia?"

Tanya Thian-hi.

"I-lwe-tok-kun!"

"Dia?"

Teriak Hun Thian-hi tercengang. Memang ia tidak menyangka bila Go-cu bisa menyebut I-lwe-tok-kun, itu gembong sesat nomor satu pada jamannya dulu. Go-cu manggut-manggut, katanya tersenyum.

"Sedikit orang yang tahu bahwa dia sudah lama lolos keluar, malah sekarang sedang mawas diri dan mengasingkan diri di suatu tempat tersembunyi."

"Betulkah dia?"

Thian-hi menegas.

"Kau tahu siapa dia sebenar-benarnya?"

Go-cu melanjutkan.

"Dia adalah majikan dari Jian-hudtong pada empat puluh tahun yang lampau, setelah dia terkalahkan oleh Ka-yap Cuncia dia masih menetap di dalam Jian-hud-tong itu. Banyak tempat gang orang lain belum pernah mencapainya ia sudah pernah pergi kesana, kuduga kepandaian ilmu silatnya yang tinggi itupun ia peroleh di tempat itu. Sebab dia tidak punya perguruan, menurut hemadku, mungkin dia pun pernah menjelajahi istana sesat itu.... Tempat pengasingannya tidak jauh dari tempat ini,"

Demikian Go-cu menambahkan.

"Aku bisa ajak kalian kesana, tapi dia menderita luka dalam yang tak mungkin disembuhkan lagi, belum tentu beliau suka membantu kesukaran kalian ini."

Hun Thian-hi menepekur, I-lwe-tok-kun adalah guru Mo-bin Suseng, muridnya terbunuh olehnya entah bagaimana sikapnya nanti terhadap aku.

Tapi dalam keadaan kepepet ini cuma akulah yang harus mohon bantuan padanya, terpaksa ku-coba-coba saja."

Go-cu Taysu membawa Thian-hi berdua menyelinap ke dalam hutan yang semakin lebat, setelah melampaui sebidang tanah lapang di pengkolan sebelah hutan terdapat sebuah mulut gua yang teramat besar.

Kata Go-cu Taysu pada Thian-hi berdua.

"I-lwe-tok-kun menetap di dalam gua besar itu, bekerjalah menurut gelagat, semoga kalian berhasil, Lolap mohon diri" -lalu ia putar balik mengajak Ciok Hong-hu, Ce-hun Totiang, Bun Cu-giok dan Ciok Yan pergi. Thian-hi berdua terus maju sampai diambang gua, kata Thian-hi.

"Nona Ham Gwat, silakan kau tunggu disini, biar aku saja yang masuk?"

"Apakah tidak lebih baik kita masuk bersama?"

Usul Ham Gwat dengan suara lembut.

Thian-hi tidak berani menyatakan apa-apa, terpaksa manggut-manggut.

Pelan-pelan mereka langsung masuk, setelah berjalan beberapa kejap terasa bahwa gua ini sangat panjang, mengandal ketajaman mata mereka tidak kelihatan sampai dimana ujung pangkal dari gua besar ini.

Semakin ke dalam gua semakin gelap, jantung Thian-hi jadi kebat-kebit dan tegang.

Beberapa kejap kemudian terasa dari langit2 gua ada air menetes jatuh, jalan yang diinjak pun berlumut sangat licin.

Keadaan gelap dan hening membuat hati mereka rada heran.

Gua ini begini panjang lalu dimana I-lwe-tok-kun bersemajam, untungnya jalan gua ini cuma satu, kalau bercabang dua atau tiga entah kemana mereka harus mencari.

Sekonyong-konyong dilihatnya dari sebelah dalam sana berkelebat dua sosok bayangan hitam menubruk datang ke arah mereka.

Hun Thian-hi terperanjat, secara reflek ia tarik Ham Gwat ke belakangnya, sebelah tangannya cepat mengeluarkan pedang.

Begitu menubruk dekat tanpa bersuara kedua bayangan itu lantas menyerang dengan kedua telapak tangan masing-masing.

Hun Thian-hi menegakkan badan, kakinya memasang kuda-kuda yang kokoh, pedangnya teracung miring ke depan atas, sekali putar dan babat beruntun ia punahkan serangan kedua musuhnya yang hebat.

Tapi kedua musuh beruntun lancarkan puluhan pukulan, agaknya mereka hendak mendesak Thian-hi berdua mundur keluar gua, maka serangan mereka tidak mengarah tempat-tempat penting yang mamatikan.

Pedang Thian-hi beterbangan, setiap kali gerakan pedangnya selalu berhasil memunahkan daya pukulan musuh.

Diam-diam hatinya menjadi heran dan girang pula, batinnya.

"Entah siapa kedua orang ini, sedemikian ampuh dan tinggi Lwekang mereka."

Melihat Thian-hi berdiri tak tergoyahkan, kedua penyerangnya itu semakin gugup, salah seorang sembari menyerang tiba-tiba bersuara. rendah tertahan.

"Keluar!"

Begitu mendengar suara itu Hun Thian-hi tertegun, pikirnya.

"Suara yang amat kukenal!" -serta merta gerak pedangnya diperlambat kontan ia terdesak mundur satu tindak. Tanpa memberi kesempatan banyak pikir terdengar seorang yang lain juga membentak rendah tertahan.

"Tidak mau mendengar kita ya?"

Tergetar hati Thian-hi, sekarang baru ia sadar.

"Ternyata kedua orang ini adalah Hwesio jenaka dan Siau-bin-mo-in, mengapa nada ucapan mereka begitu ketus dan begitu serius. Apakah terjadi sesuatu peristiwa yang luar biasa? Kalau tidak masa begitu tegang."

Karena pikirannya ini tanpa ayal cepat ia tarik Hum Gwat, laksana meteor jatuh ia berlari terbang mundur kemulut gua.

Hwesio jenaka seorang saja yang mengejar sampai diluar gua, mukanya sudah kehilangan senyum tawanya yang selalu berseri lucu itu, dengan nada sedih ia bertanya.

"Untuk apa kau datang kemari?"

Melihat sikap Hwesio jenaka ini heran Thian-hi dibuatnya, katanya tertawa.

"Siausuhu, apakah I-lwe-tok-kun benar-benar ada di dalam gua!"

Hwesio jenaka tersentak, matanya menatap tajam, sahutnya.

"Benar-benar, darimana kau bisa tahu!"

"Wanpwe ada urusan yang mendesak mohon petunjuknya."

"Kau ada urusan apa?"

Tanya Hwesio jenaka penuh tanda tanya.

Terpaksa Hun Thian-hi menceritakan kejadian belakangan ini, ia jelaskan pula maksud kedatangannya, iapun jelaskan sudah bertemu dan mendapat petunjuk dari Go cu Taysu.

"Sudah tidak mungkin!"

Sahut Hwesio jenaka sesaat kemudian.

"Kalian terlambat tiba."

Thian-hi terkejut, teriaknya.

"Apa! Datang terlambat? Maksudmu beliau sudah meninggal?"

Hwesio jenaka menepekur, ia geleng-geleng kepala tanpa bicara. Thian-hi girang timbul setitik harapan.

"Asal orang belum ajal saja."

Demikian batinnya. Setelah menghela napas Hwesio jenaka berkata.

"Keadaannya seperti orang sudah mati, sekarang dia sudah gila, betapapun panjang usianya, takkan kuasa hidup beberapa hari lagi."

Hun Thian-hi tertegun, katanya.

"Siau suhu...."

"Aku tahu maksudmu,"

Demikian tukas Hwesio jenaka.

"Kau masih ingin bertemu dengan beliau?"

Thian-hi manggut-manggut, tambahnya.

"Urusian ini sangat penting, betapa pun aku harus bertemu dengan beliau."

"Bukan aku tidak mengijinkan, yang benar-benar dia sudah tidak bisa membedakan orang, kami bersaudara pun dilarang mendekat, apalagi kalian."

"Bagaimana juga aku mengharap bisa menemui beliau sebentar saja."

"Baiklah. Tapi harapannya terlalu kecil, mengandal kalian tentu, tidak mudah terluka ditangannya, tapi harus berhati-hati,"

Kembali ia bawa Hun Thian-hi berdua masuk ke dalam gua.

Tak berapa lama mereka sudah tiba diujung gua.

Dimana Siau-bin-mo-in sedang berjaga diambang pintu sebuah kamar batu, melihat Hwesio jenaka membawa Hun Thian-hi dan Ham Gwat ia mengerutkan alis, tapi tidak bicara.

Hwesio jenaka berbisik-bisik dengan Siau-bin-mo-in, lalu Hwesio jenaka berbisik pula dipinggir telinga Thian-hi.

"Tok-kun sedang tidur, mari kuajak masuk, kalian harus hati-hati."

Hum Thian-hi berdua dibawa masuk ke dalam kamar batu itu, lalu ia mengundurkan diri keluar.

Begitu berada di dalam kamar batu Hun Thian-hi merasa hawanya sangat lembab, dinding sekelilingnya ada mengalir air, dari celah-celah sebelah depan sana ada lobang kecil selarik sinar menyorot masuk sehingga keadaan kamar batu rada terang.

Ditengah membelakangi dinding sana terdapat sebuah dipan batu, dimana duduk bersila seorang tua kurus kering, kedua matanya terpejam, suara napasnya terlalu berat.

Hun Thian-hi membatin orang inikah I-lwe-tok-kun, sekian saat ia amat-amati orang tua di hadapannya ini.

Kedua biji matanya sudah cekung, mukanya pucat berpenyakitan, tak serupa sabagai seorang gembong iblis yang sangat ditakuti, yang terang tak lain sebagai kakek tua renta yang sudah loyo, berpenyakitan lagi, serta merta ia menghela napas.

Bersama Ham Gwat, Thian-hi berdiri diam ditengah-tengah kamar.

Suasana hening lelap cuma tetesan air yang tak-tik saja yang terdengar, tak lama kemudian cahaya matahari yang remakin dojong menyinari muka I-lwe-tok-kun, tiba-tiba terdengar tenggorokannya bersuara lirih, pelan-pelan ia mulai membuka mata.

Hati Thian-hi dan Ham Gwat menjadi tegang, entah bagaimana sikap 1-lwe-tok-kun serta melihat kehadiran mereka di dalam kamar ini?

Menyerang atau mencaci maki mereka?

Sungguh mereka tidak berani membayangkan akibatnya, dengan rasa tegang mereka awasi gerak-gerik Ilwe-tok-kun.

Begitu membuka mata, I-lwe-tok-kun seperti tidak melihat mereka, dengan pandangan redup ia menyapu keadaan sekelilingnya baru akhirnya pandangannya jatuh pada wajah mereka.

Semula matanya mengunjuk rasa heran dan tak mengerti, mendadak sorot matanya berubah beringas dan mendelik tajam laksana ujung senjata menghunjam ke ulu hati mereka.

Akhirnya tercetus pertanyaannya.

"Kalian untuk apa datang kemari?"

Hun Thian-hi jadi melenggong, bukankah tadi Hwesio jenaka mengatakan I-lwe-tok-kun sudah gila? Kenapa bisa mengajukan pertanyaan yang genah ini. Desak I-lwe-tok-kun pula.

"Siapa kalian adanya?"

Melihat sikap orang yang kalem dan sadar, Hun Thian-hi tidak beragu lagi, cepat ia menyahut.

"Wanpwe Hun Thian-hi bersama Ham Gwat, ada sesuatu urusan mohon petunjuk Cianpwe."

I-lwe-tok-kun termangu sekian lama, pelan-pelan berkata.

"Kau bernama Hun Thian-hi? Kaukah murid Ka-yap Cuncia itu?"

"Memang Wanpwe adanya."

I-lwe-tok-kun menghela napas lalu menunduk, tak lama kemudian ia bersuara pula.

"Jadi kau benar-benar adalah murid Ka-yap Cuncia, kalau begitu ada urusan apa silakan katakan saja."

Hun Thian-hi semakin mendapat hati dan tabah, katanya.

"Konon kabarnya Cianpwe dulu pernah menetap di dalam Jian-hud-tong, apakah kabar ini benar-benar?"

Perlahan-lahan I-lwe-tok-kun manggut-manggut.

"Ada sebuah urusan mohon Cianpwe suka bantu memecahkan. Sekarang Tok-sim-sin-mo dan Bu-bing Loni ada sekongkol dan menjadikan Jian-hud-tong sebagai markas mereka. Kami mohon petunjuk mengenai rahasia dari istana sesat itu. Cianpwe lama berdiam disana tentu sudah apal mengenai segala seluk beluk disana, harap suka memberi penjelasan."

Terbayang senyum lebar dimuka I-lwe-tok-kun, katanya kalem.

"Aku tahu aku bakal segera mati, aku kuatir tak mampu lagi bantu kalian."

Hun Thian-hi terbungkam dan termangu tak bicara.

"Tentu kau tidak mau percaya, ya bukan?"

Ujar I-lwe-tok-kun tertawa ringan.

"Tapi aku sendiri punya perhitunganku, dalam sepuluh hari ini, baru sekarang aku sadar dan pulih ingatanku!"

Ia mendehem dan manggut-manggut lalu sambungnya.

"Aku tahu ini cuma pertanda bahwa ajalku sudah semakin dekat."

Thian-hi berdua masih bungkam tak bergerak.

"Kau tidak perlu kubantu lagi,"

Demikian I-lwetok-kun melanjutkan.

"Dalam kolong langit sekarang kecuali aku mungkin tiada orang kedua yang pernah menjelajah istana sesat."

"Dapatkah Cianpwe memberi petunjuk tentang cara keluar masuknya istana sesat itu."

"Tidak! Apakah Tok-sim-sin-mo punya cara keluar masuk."

Ia tertawa-tawa, lalu sambungnya.

"Siapa tahu jalan masuk ke dalam istana sesat, dia bakal mampus seketika...."

Thian-hi tercengang tanpa bicara, tak terpikir olehnya kenapa I-lwe-tok-kun mengatakan begitu.

"Mungkin kau tidak percaya,"

I-lwe-tok-kun melanjutkan.

"Sebelum ajal biarlah kuberi tahu pada kau. Dulu aku sudah berdaya upaya menghabiskan tenaga dan memeras otak untuk masuk ke dalam istana sesat, Kupikir di dalam istana sesat itu pasti ada dipendam harta benda yang tak ternilai dan tak terhitung banyaknya, kalau tidak masa orang sudi membangun Istana sesat di tempat itu. Tapi setelah aku berada di dalam istana sesat kudapati tempat itu merupakan daerah mati, mungkin memang ada harta terpendam, tapi dibagian lebih dalam ada tersebar luas hawa beracun yang teramat jahat. Aku dijuluki Tok-kun, aku berani membanggakan diri segala racun pernah kuperoleh, tapi kalau dibanding hawa beracun disana bedanya antara langit dan bumi, sedikit kulitmu tersentuh hawa beracun itu, seketika kau akan mampus dan cara kematianmu adalah sedemikian mengerikan!"

Sampai disini I-lwe-tok-kun tertawa-tawa lagi, katanya lebih lanjut.

"Maka tadi kukatakan tak usah kau urus dan bercapek lelah mengenai istana sesat itu, tak usah kuatir Tok-sim-sin-mo berbuat apa-apa, sekali dia berani menerjang masuk kesana, kematian akan menunggunya."

"Banyak terima kasih akan petunjuk Cianpwe!"

Tersipu-sipu Thian-hi menjura.

"Sampai tahap sekarang ini baiklah kuberitahu kepada kau,"

Demikian I-lwe-tok-kun menambahkan.

"Sebelum melakukan sesuatu sebelumnya harus dipikir biar masak, jangan kau menyesal sesudah kasep, itu tidak berguna!"

Bercekat hati Thian-hi, ia tunduk diam mendengar petuah ini, banyak akibat dari perbuatannya yang harus disesalkan.

"Dulu,"

Demikian, ujar I-lwe-tok-kun sambil mengawasi muka mereka.

"Aku malang melintang bersimaharaja anggapku akulah yang paling berkuasa melebihi raja. tapi kenyataan toh aku dikalah-kan oleh Ka-yap Cuncia. Sampai sekarang meski aku ingjn berjuang dan mencapai puncak kedigjayaan itu akhirnya toh mampus juga."

"Cianpwe sekarang sudah insaf dan menyesal, bukankah ini suatu hal baik?"

Tanya Thian-hi.

"Orang purba mengatakan, tahu salah dapat memperbaiki, betapa bahagia dan bijaksananya ini memang tidak salah, tapi jauh lebih baik kalau kau tidak berbuat kesalahan itu bukan? Cuma orang purba itu pun tidak menyadari bahwa nyawa, atau hidup manusia itu ada batasnya, adanya batas nyawa itu tidak mungkin ada batas penyesalan...."

Thian-hi merenungkan petuah I-lwe-tok-kun yang mengandung arti yang dalam ini, ini merupakan suatu kritik yang mendalam pula bagi dirinya, jiwa mannsia memang cukup pendek dan terbatas, nyawa itu serdiri tidak akan membiarkan manusia berbuat penyesalan yang tiada batasnya, disadari olehnya apa pula yang harus segera dikerjakan sekarang, dia tidak boleh main lambat-lambat dan ragu-ragu lagi.

Selama itu Ham Gwat diam saja, iapun tenggelam dalam pikirannya, banyak yang dapat ia simpulkan dari percakapan ini, dan pendapatannya justru yang paling banyak.

"Aku sudah letih,"

Tiba-tiba I-lwe-tok-kun mengeluh.

"kalian boleh segera keluar!" -pelanpelan ia pejamkan mata. Waktu Hun Thian-hi dan Ham Gwat keluar Hwesio jenaka sudah menyongsongnya diambang pintu, katanya tertawa.

"Sungguh beruntung nasib kalian."

Lalu, ia menghela napas serta ujarnya pula.

"Dengan memejamkan mata, tentu Tok-kun tidak akan membuka mata lagi selamanya."

Hun Thian-hi manggut-manggut, ia maklum kemana juntrungan ucapan orang.

"Tujuan kalian sudah tercapai, mungkin kalian masih ada urusan lain, maaf, kami tidak mengantar kalian."

Segera Hun Thian-hi nyatakan terima kasih terus keluar bersama Ham Gwat.

Tanpa membuang waktu Hun Thian-hi dan Ham Gwat langsung menempuh perjalanan menuju ke Jian-hud-tong.

Sepandiang jalan itu mereka jarang bicara.

Suatu ketika mereka kepergok dengan sebuah bayangan orang, tiba-tiba Hun Thian-hi berjingkrak kegirangan dan memapak maju.

Ternyata dilihatnya Sutouw Ci-ko muncul di tempat itu.

"Sutouw cici bagaimana kau datang!"

Teriaknya.

"Ya, aku datang bersama Gihu (ajah angkat), tapi beliau ada urusan nanti akan menyusul, kemari,"

Lalu ia berpaling mengamati Ham Gwat, katanya berseri tawa.

"Bukankah ini nona Ham Gwat! Sungguh cantik sekali, tak heran adik Hun terpincut kepada kau,"

Demikian godanya. Ham Gwat tertunduk ke-malu-maluan, katanya lirih.

"Cici tentu nona Sutouw adanya!"

Melihat muka dan sikap Ham Gwat yang murung itu Sutouw Ci-ko hertanya kepada Thian-hi.

"Eh. kenapakah kalian, kok tidak bicara."

Setelah bersua dengan Sutouw Ci-ko perasaan Hun Thian-hi rada ringan, sahutnya tortawa.

"Tidak apa-apa, cuma ayah bunda nona Ham Gwat kena tertawan oleh Tok-sim-sin-mo dan Bubing Loni."

"O, Sungguh maaf,"

Sutouw Ci-ko tersipu-sipu minta maaf.

"Aku tidak tahu ada kejadian ini."

"Ci-ko cici!"

Ham Gwat berkata sambil memandang ke arah Thian-hi. Sutouw Ci-ko maklum maka segera ia berkata,.

"Adik Thian-hi, coba kau menyingkir, kami hendak bicara"

Apa boleh buat terpaksa Hum Thian-hi menyingkir rada jauh.

"Ci-ko cici."

Ujar Ham Gwat setelah Thian,-hi menyingkir.

"Boleh aku panggil begitu?"

"Sungguh aku senang mendapat adik secantik kau, entah siapa yang bakal beruntung dapat mempersunting putri secantik bidadari ini!"

Ham Gwat tertunduk malu, ujarnya pula.

"Ci-ko cici, apakah kau merasa seolah-olah aku tidak punya perasaan?"

Bercekat hati Sutouw Ci-ko, tapi ia tertawa dibuat-buat, sahutnya.

"Adik Ham Gwat, kenapa kau berpikiran begitu? Sedikit pun aku tidak punya perasaan begitu."

Dengan nanar Ham Gwat pandang rona wajah Sutouw Ci-ko, sesaat ujung mulutnya maengulum senyum manis, katanya pelan-pelan.

"Perjalanan ke Jian-hud-tong ini, sungguh aku sangat kuatir bagi keselamatan Thian-hi. Dia harus bertempur untuk menentukan mati atau hidup melawan Bu-bing Loni, sedang ayah bundaku tertawan pula oleh mereka, menurut pendapatmu bagaimana aku harus bertindak!"

Haru dan tersentuh sanubari Sutouw Ci-ko serta. mendengar curahan hati Ham Gwat yang penuh membawa perasaan hatinya. Terdengar Ham Gwat melanjutkan.

"Kau tahu, dia terlalu ceroboh. gugup dan lalai lagi, bila sampai tertipu tak berani aku membayangkan akibatnya."

"Kau tak usah kuatir."

Sutouw Ci-ko coba menghibur.

"Bukankah kau selalu mendampinginya? Aku dan Gihu juga akan kesana, kau tidak perlu kuatir!"

"Tapi dia akan berpencar dengan kita, bagaimana baiknya."

"Itu tergantung pada kau, asal kau dapat mengendalikan dia, kutanggung tidak akan ada persoalan"

Demikian ujar Sutouw Ci-ko sambil tertawa penuh arti.

"Aku tahu sanubarimu penuh mengandung perasaan, tapi tak pernah kau tunjukkan dilahirmu. Hubunganmu dengan Thian-hi terasa sangat asing bagi dia, kalau kau bisa mengumbar sedikit perasaanmu aku percaya Thian-hi akan menyetujui segala perintahmu. Aku dapat menyelami isi hatinya, kalau huhungan kalian sudah erat dan terbuka hati kalian bisa saling mengisi, dia akan tanya padamu apa yang harus dia lakukan, yakinlah akan hal ini!"

"Memang Thian-hi rada jerih terhadap kau,"

Demikian Sutouw Ci-ko melanjutkan.

"Tapi cuma kaulah yang kuasa mengendalikan dia, hal ini tak perlu disangsikan."

"Aku kuatir aku tidak punya wibawa begitu besar,"

Timbrung Ham Gwat tertawa.

"Dihadapan orang lain biasanya Thian-hi terlalu bebas dan berani, tapi dihadapanmu seperti bicara pun tak berani keras. Kukira sejak mula kalian sudah sama-sama canggung dan risi sehingga sikap kalian sama-sama kurang wajar."

Ham Gwat menjadi geli. Dalam hati ia mengakui akan kebenar-benaran ini, kini setelah ganjalan hati ini terbuka ia menjadi paham dan lapanglah dadanya, katanya.

"Untuk selanjutnya kukira tidak akan terjadi pula!"

"Itulah baik. Aku salut pada kalian!"

Demikian ujar Sutouw Ci-ko, lalu ia berpaling ke arah hutan serta berteriak.

"Thian-hi, keluarlah!"

Tapi berulang kali ia berkaok2 tanpa mendapat penyahutan, hati mereka menjadi tegang dan bertanya-tanya.

Lekas mereka memburu ke dalam hutan, keadaan disitu sunyi dan melompong, agaknya Thian-hi sudah tinggal pergi lebih dulu.

Sekilas pandangan Ham Gwat menjelajah sekitarnya dilihatnya sebaris tulisan didahan pohon yang berbunyi.

"Paman Pek menghadapi bahaya, aku pergi menolong."

Mereka maklum setalah berhasil menolong Pek Si-kiat tentu Thian-hi langsung menyusul ke Jian-hud-tong, maka mereka pun tidak banyak kata lagi, buru-buru mereka melanjutkan perjalanan.

Ooo)*(ooO Melihat Ham Gwat berdua mau bicara segera Thian-hi menyingkir ke dalam hutan, tengah ia keisengan tiba-tiba dilihatnya tiga sosok bayangan orang berlari kencang saling kejar di kejauhan, jelas terlihat olehnya orang yang dikejar itu adalah Pek Si-kiat, sedang dua orang pengejarnya adalah Ciang-ho-it-koay dan Ce-han-it-ki.

Cepat ia menulis beberapa patah kata di atas pohon terus lari mengejar dengan kencang, Kirakira sepul"uh li kemudian baru ia melihat tiga bayangan di depan, segera ia kerahkan tenaganya mengejar lebih pesat.

Untung tiba-tiba dilihatnya ketiga orang yang saling kejar itu mendadak sama berhenti, sementara laksana terbang Hun Thian-hi sudah menyandak dekat, cuma sebelum tahu duduk persoalannya ia tak mau muncul unjukkan diri, lekas ia melesat naik kepuncak sebuah pohon lebat dan sembunyi disitu.

Diam-diam heran dan bertanya-tanya benak Thian-hi, entah karena urusan apa ketiga tokoh kelas tinggi ini saling kejar.

Tampak Pek Si-kiat membelakangi sebuah pohon besar menghadapi kedua pengejarnya, katanya.

"Aku sudah bersabar, tapi kalian mendesak begini rupa, apa maksud kalian?"

"Pek Si-kiat jangan banyak bacot lagi, persoalan empat puluh tahun yang lalu masa pura-pura kau lupakan?"

Demikian jengek Ce-han-it-ki' "Benar-benar, memang dulu tidak sedikit aku membunuh orang.

tapi sekarang aku sudah sadar dan insaf, apa kalian masih mendesak sedemikian rupa?"' "Menyesal dan sadar apa?"

Demikian jengek Ciang-ho-it-koay.

"Dengan menyesal dan sadar lantas cukup kau tebus jiwa orang-orang yang kau bunuh itu?"

"Jadi maksud kalian aku Pek Si-kiat harus menembus dengan jiwaku?"

"Dulu Pek-kut-sin-kangmu menggetarkan Bulim biar hari ini aku mencoba pukulan saktimu itu,"

Demikian Ciang-ho-it-koay tampil ke depan terus menyerahg dengan kedua telapak tangannya.

Pek Si-kiat.

melejit mundur menghindar.

Kalau dua lawan satu terang ia bukan tandingan, maka ia harus berusaha mencari kesempatan melarikan diri, segera ia kerahkan delapan kekuatan Pek-kutsin-kang balas menggempur.

Begitu dua pukulan saling bentur, hawa bergolak debu dan pasir beterbangan memenuhi angkasa, kedua belah pihak sama tergetar mundur lima kaki.

Begitu tersentak mundur Ciang-ho-it-koay segesit kera sudah melompat maju pula seraya kirim lagi tamparan maut.

Sementara itu Pek Si-kiat berdiri tegak, ia sudah siap menghadapi rangsakan musuh lebih lanjut, tapi ia cukup cerdik untuk memancing kelengahan musuh, tiba-tiba ia melejit mundur lagi, Ciang-ho-it-koay menjadi gemas.

tanpa.

menghiraukan seruan Ce-han-it-ki ia mengejar maju seraya menjengek.

"Iblis tulang putih hayo jangan lari!"' Kini persiapan Pek Si-kiat sudah sempurna, tanpa berkelit lagi ia songsongkan pukulan telapak tangan dengan dilandasi kekuatan Pek-kut-sin-kang. Waktu mendengar peringatan Ce-han-it-ki, paling tidak Ciang-ho-it-koay sudah waspada, begitu melihat lawan menyongsong pukulannya ia berusaha mengijak. hakikatnya sikap Pek Si-kiat ini tidak pandang sebelah mata dirinya, berani dia menyongsong gempuran pukulannya cuma dengan sebelah tangannya saja. Seketika berkobar amarahnya sambil kerahkan seluruh tenaganya, kedua telapak tangan menggempur ke arah Pek Si-kiat. Diluar tahunya siang-siang Pek Si-kiat sudah memperhitungkan dengan masak, begitu melihat lawan menggempur dengan kekerasan, cepat ia tarik pukulannya seraya berkelit kesamping. Memang Ciang-ho-it-koay menduga Pek Si-kiat tidak akan berani melawan secara kekerasan, begitu melihat lawan berkelit, tiba-tiba ia memutar setengah lingkaran berbareng kedua tangannya menyapu miring terus menggempur pula kehadapan Pek Si-kiat. Mimpi pun Pek Si-kiat tidak menduga bahwa lawan bisa tergerak begitu cepat dan tangkas, tak sempat berkelit atau merubah permainan, terpaksa ia angkat tangan menangkis dengan sisa tenaga yang masih terkerahkan. Suara gemuruh seketika menyentak mundur kedua pihak dua tindak ke belakang. Secara langsung dapatlah dinilai dalam adu kekuatan pukulan ini, bahwa Pek Ki-kiat setingkat lebih tinggi dari kepandaian Ciang-ho-it-koay, karena hasilnya seri, pada hal Pek Si-kiat cuma menggunakan sisa tenaga yang masih terkerahkan.

"Lwekang yang hebat,"

Derdengar Ce-han-it-ki memuji.

"Cukat Lote! biar kucoba-coba kepandaian sejati Iblis tulang putih ini!"

Ciang-ho-it-koay maklum bahwa diri sendiri bukan tandingan orang, segera ia mengundurkan diri.

Melihat Ce-han-it-ki tampil ke depan, bercekat hati Pek Si-kiat, ia maklum kepandaian orang jauh lebih tinggi dari Ciang-ho-it-koay, mau tak mau ia harus mengempos semangat dan meningkatkan kewaspadaan.

Dalam pada itu Ce-han-it-ki sudah saling berhadapan, seperti dua jago aduan mereka saling pandang tak berani sembarangan bergerak, mereka menanti kesempatan yang paling baik untuk turun tangan.

Sekonyong-konyong Ce-han-it-ki bergerak dulu, kakinya melangkah miring ke depan menduduki posisi yang menguntungkan terus menggempur berhadapan ke arah Pek Si-kiat Mencelot hati Pek Si-kiat.

Cara Ce-han-it-ki menyerang ini entah mengunakan tipu silat apa.

Karena itu dia tidak berani gegabah sedikit angkat kedua tangannya cukup mebendung gempuran tenaga lawan, sementara sebelah kakinya menyurut selangkah.

Tak duga gerakan Ce-han-it-ki ini merupakan pancingan belaka, melihat Pek Si-kiat tidak berani balas menyerang, ia tertawa panjang, cepat sekali permainan pukulannya berubah, ia kembangkan Nu-hun-ciang-hoat (pukulan comot awan), gambaran telapak tangan berkelebatan menerbitkan gelombang angin yang menderu keras, jari-jari kedua telapak tangannya bagai cakar burung mencomot ketubuh Pek Si-kiat.

Karena inisiatif penyerangan didahului lawan, kontan Pek Si-kat terdesak di bawah angin dan mati kutu, Pek-kut-ciang sulit dikembangkan lagi, paling-paling cukup untuk membela diri saja.

Namun demikian ia kuat bertahan sampai ratusan jurus, sementara kedudukan Ce-han-it-ki semakin unggul, permainan pukulan telapak tangannya semakin ganas dan deras.

Dalam pengalaman bertempur untung Pek Si-kiat jauh lebih matang dari Ce-han-it-ki, detikdetik permulaan tadi lantas ia menginsafi kedudukannya yang kejepit ini, tanpa balas menyerang ia menjaga diri dengan rapat.

Tapi setiap kali lawan mengunjuk setitik lobang kelemahan pasti ia menyergap dengan rangsakan yang cukup membuat lawan kelabakan.

Kira-kira dua ratusan jurus mereka saling hantam, Pek Si-kiat jadi mengerutkan kening, sebaliknya Ce-han-it-ki semakin bernafsu.

Mendadak Pek Si-kiat mengendorkan pukulan tangannya, Ce-han-it-ki segera menerjang dengan sebelah pukulan tangan, gesit sekali Pek Si-kiat miringkan tubuh sambil balas menggempur.

Sudah tentu Ce-han-it-ki tidak sudi gugur bersama, terpaksa ia sampokan sebelah tangan menangkis.

"blang!"

Dua musuh sama-sama tersurut mundur, sekarang mereka berdiri berhadapan lagi.

Sekonyong-konyong eesosok bayangan orang meluncur turun dan hinggap ditengah gelanggang.

Kedua belah pihak sama kaget Melihat Hun Thian-hi, Ce-han-it-ki semakin beringas, desisnya.

"Apa kau ingin membela Pek Sikiat?"

Hun Thian-hi manggut-manggut, sahutnya.

"Aku cuma menuntut keadilan saja, harap Cianpwe tidak terbawa oleh perasaan hati."

"Pek Si-kiat dulu terlalu banyak membunuh orang, berani kau menghadapi kemarahan kaum Bu-lim?"

"Lain dulu lain sekarang, kenyataan sekarang ia tidak pernah membunuh orang."

"Hun Thian-hi,"

Sela Ciang-ho-it-koay.

"Persoalan Giok-yan Cinjin belum beres, berani kau bertingkah disini?"

"Kukira Cianpwe masih belum pikun. seseorang yang berlatih ilmu Lwekang dari aliran murni macam tokoh Giok-yap Cinjin apakah mungkin bisa tersesat latihannya?"

Ciang-ho-it-koay jadi melengak, ia cuma percaya obrolan orang dan belum pernah memikirkan secara cermat.

Kini baru ia jelas duduk persoalannya, jadi kematian Giok-yap memang bukan perbuatan Hun Thian-hi.

Seketika ia bungkam seribu basa.

"Sekarang kita tidak mempersoalkan kematian Giok-yap. Kami menagih hutang jiwa Pek Si-kiat pada empat puluh tahun yang lalu."

Ce-han-it-ki mengembalikan persoalan semula.

"Bagaimana kejadian empat puluh tahun yang lalu aku tidak tahu. Memang kudengar sepak terjang Si-gwa-sam-mo dulu terlalu ganas dan telengas. Tapi paman Pek sekarang sudah sadar dan bertobat, malah Ka-yap Cuncia sendiri yang membebaskan beliau. Masakah empat puluh tahun kemudian, hari ini kalian masih mengungkat2 urusan lama dan mendesak sedemikian rupa."

Demikian debat Hun Thian-hi.

"Baiklah, kami tidak usah menuntut balas pula padanya,"

Demikian ujar Ce-han-it-ki menjadi sabar kembali.

"Tapi seperti katamu tadi kau harus memberi keadilan bagi keluarga kami yang dibunuh olehnya, bagaimana penyeleaaiannya?"

"Bagaimana menurut pendapat Cianpwe?"

Dasar cerdik Hun Thian-hi kembalikan persoalan ini supaya orang jawab sendiri.

Ce-han-it-ki tidak menduga bahwa Hun Thian-hi mengembalikan peraoalan ini pada dirinya diam-diam ia mengumpat dalam hati, sekian lama ia berpikir dan tak kuasa mengambil kepastian.

Tiba-tiba Ciang-ho-it-koay menimbrung dari samping.

"Dalam jangka tiga bulan suruh dia datang kegunung Tiang-pek langsung minta maaf kepada kami."

Hun Thi-hi tertegun.

Pek Si-kiat pun menjadi marah, sungguh ia tidak ingat lagi siapa yang ia bunuh sehingga kedua orang ini menuntut balas pada dirinya, sekarang suruh aku datang ke Tiang-pek-san minta ampun pada mereka.

Mana bisa jadi, hampir saja ia mengumbar amarahnya pula, tapi sekilas pikir, ia mengakui kesalahan terletak dipihak sendiri, mana boleh bekerja menurut adat sendiri.

Bahwasanya kaum persilatan yang terjungkal jatuh pamor sudah umum dan biasa terjadi, tapi kalau minta orang minta ampun kerumah orang belum pernah terjadi.

Kedengarannya pembicaraan mereka cukup ramah dan tanpa syarat apa-apa lagi, tapi pelaksanaannya bagi Pek Si-kiat justru sangat berat.

Thian-hi maklum akan hal ini, ia, jadi bingung dan sulit ambil kepastian, seumpama dia sendiri pun belum pasti mau, tapi soalnya sekarang kalau ditolak mentah-mentah pertempuran sengit tentu berulang kembali, dan ini tidak ia kehendaki.

Pek Si-kiat sendiri menjublek ditempatnya, terbayang penghidupan empat puluh tahun di dalam gua yang sunyi, kumandang nasehat dan petuah Ka-yap Cuncia dipinggir kupingnya, ia pun sudah berjanji tidak akan membunuh orang lagi.

Sekilas dilihatnya sikap kebingungan Hun Thian-hi, tibatiba ia merasa persoalan adalah kesalahanku asal aku mengangguk kepala, segalanya menjadi beres, kalau dulu aku membunuh keluarga mereka, tuntutannya cuma mohon ampun belaka, imbalan ini terlalu ringan bagi dirinya.

Mendadak ia bersuara.

"Baik! Kululusi syarat kalian ini."' Keruan Hun Thian-hi bertiga menjadi terkejut. Ce-han-it-ki dan Ciang-ho-it-koay sama heran dan tak mengerti, mimpi juga mereka tidak menduga Pek Si-kiat begitu polos menerima syarat yang mereka ajukan. Kenyataan sudah mereka hadapi, sesaat menjadi bungkam. Mengandal kedudukan Pek Si-kiat di Bulim, kata-kata yang sudah diucapkan tidak bakal dijilat kembali, apalagi ada Hun Thian-hi menjadi saksi, untuk menyesalpun sudah kasep.

"Kalau begitu, baiklah kami mohon diri, Kutunggu kedatanganmu."

Demikian ujar Ce-han-it-ki lalu mendahului berlari pergi. Setelah bayangan kedua orang ini menghilang tak tertahan lagi, Hun Thian-hi berseru haru.

"Paman Pek!"

Pek Si-kiat tersenyum, ujarnya.

"Untung kaulah yang datang, kalau tidak entah bagaimana akibatnya tadi Kau sudah ketemu Sutouw Ci-ko belum?"

"Tadi memang aku bersama mereka, tapi melihat paman Sedang dikejar mereka maka kususul kemari lebih dulu."

"Mereka? Siapa saja yang kau maksudkan?"

"Sekarang Ci-ko bersama nona Ham Gwat Kemungkinan mereka langsung menuju ke Jian-hudtong!"

"Agaknya hubunganmu dengan Ham Gwat sudah lebih akrab. marilah kita pun menyusul kesana."

Demikian ajak Pek Si-kiat. sambil berjalan ia menambahkan.

"Kulihat kalian memang jodoh yang setimpal. ini soal besar yang menentukan hari depanmu. Nona Ham Gwat adalah gadis yang baik, berkobar perasaan di dalam sanuharinya, soalnya sejak kecil ia, dibimbing Bu-bing dalam suasana dingin dan mengikuti watak gurunya, sebetulnyalah riwayat hidupnya. harus dikasihani, maka perasaan hatinya sulit ia limpahkan dengan kata-kata."

Hun Thian-hi tertunduk, ia renungkan setiap kata Pek Si-kiat yang banyak membawa manfaat besar bagi diranya.

"Kau dapat memahami maksudnya tidak?"

Tanya Pek Si-kiat "Kurang begitu paham!"

Sahut Thian-hi terus terang.

"Sedikitnya."

Pek Si-kiat memberi petunjuk.

"Setiap kali berhadapan dengan dia kau tidak boleh terlalu canggung dan kikuk, bawalah kewajaran dalam hubungan kalian. Kalau tidak perasaan dingin di dalam sanubarinya itu tidak akan luber, perasaan hatinya pun sulit dilimpahkan."

Sementara Hun Thian-hi merenungkan kata-katanya, Pek Si-kiat menamhahkan.

"Yang terpenting belum kututurkan kukira kau masih teringat akan Sin-jiu-mo-ih Lam In bukan?"

Bercekat hati Thian-hi, sesaat ia tertegun, ia sendiri pernah saksikan sepak terjang tabib iblis bertangan sakti itu, adakah terjadi sesuatu diluar dugaan? Demikian ia bertanya-tanya dalam hati.

"Persoalan tidak terletak pada Lam In itu sendiri, sekarang dia berada di tempat Kim-eng Lojin, orang tua pemelihara burung rajawali mas besar itu."

"Jadi maksudmu tentang obat2an ciptaannya yang menjadi persoalan?"

Pek Si-kiat manggut-manggut, katanya.

"Dulu Sin-jiu-mo-in pernah berjanji akan memberi bubuk obat Kiu-li-san, orang yang dicekoki obat ini akan kehilangan akal sehatnya, dia patuh segala perintah orang yang memberi obat beracun ini. Waktu dia pulang kerumah ternyata bahwa bubuk obat itu sudah jcuri oleh Tok-sim-sin-mo"

"Dengan hasil obat curiannya ini, Tok-sim-sin-mo yang berhasil lolos itu meracun Bing-tiongmo, tho. Lam-bing-it-hiong dan lain-lain kaki tangannya dulu. Apalagi sekarang dia telah berintrik dengan Bu-bing Loni maka kekuatannya berlipat lebih besar."

Bab 36 Thian-hi semakin terkejut, melawan Bu-bing saja sudah berat ditambah orang-orang yang dicekoki racun kena dipengaruhi itu, semakin sulit lagi dilawan "Kini dia lebih apal lagi keadaan dalam Jian-hud-tong, aku kuatir sulit untuk membekuk dan mengatasi mereka.

Cuma untung dari Lam In sendiri atas prasaran Kim-eng Lojin aku mendapat obat pemunah racun Kiu-li-san itu."

Thian-hi jadi berjingkrak girang.

"Obat pemunah macam apakah?"

Tanyanya.

"Berupa bubuk juga. Cukup ditebarkan saja, sekali mereka mengendus bau obat yang harum itu seketika mereka akan sadar, dan tidak terkendali lagi oleh Tok-sim-sin-mo."

"Kalau begitu kita tidak perlu gentar menghadapi bangsat laknat itu."

"Tapi obat itu cuma sebungkus, sebungkus ini harus sekaligus dapat mengobati sekian banyak orang. Untuk meramunya lagi waktunya terang tidak keburu lagi."

Thian-hi terbungkam kuatir, ia terlongong sekian saat.

"Kau simpanlah obat ini,' ujar Pek Si-kiat menyerahkan sebungkus obat.

"jelas dia akan menghadapimu sekuat tenaganya."

Thian-hi sambuti bungkusan obat itu, ujarnya.

"Sebungkus ini lebih baik kubagi menjadi dua saja." -lalu ia membuka bungkusan itu dan dibagi menjadi dua lalu dibungkus lagi, sebungkus yang lain ia berikan kepada. Pek Si-kiat.

"Nak, marilah percepat, mungkin Ci-ko dan Han Gwat sudah tiba disana."

Demikian ajak Pek Sikiat.

Thian-hi mengiakan, mereka langsung menuju ke Jian-hud-tong.

Waktu terang tanah Sotouw Ci-ko dan Ham Gwat sudah tiba diambang mulut gua seribu buddha.

Sekian lama mereka berdiri menjublek susah ambil ketetapan.

Akhirnya Sutouw Ci-ko berkata.

"Adik Ham Gwat, kita terjang ke dalam atau menunggu kedatangan Hun Thian-hi."

"Entah Thian-hi sudah tiba atau belum, mungkin sudah tiba dan langsung menerjang masuk maka kita pun tak perlu beragu lagi. Cuma untuk menjaga segala kemungkinan, lebih baik kita tinggalkan beberapa patah kata disini, umpama mereka terlambat segera bisa menerjang masuk."

Sutouw Ci-ko manggut-manggut, dengan ujung pedang ia menggores beberapa huruf dibatang pohon.

Tiba-tiba di belakang mereka terdengar suara dingin.

Waktu berpaling seketika berubah air muka mereka, yang datang ini kiranya bukan lain Bu-bing Loni adanya, dengan dingin ia menatap muka Ham Gwat.

Dengan dingin dan takabur Ham Gwat balas tatap Bu-bing Loni, saat mana sedikitpun ia tidak lagi merasa gentar menghadapi Bu-bing.

Setelah dia jelas mengetahui riwayat hidupnya sendiri, lebih besar pula rasa bencinya terhadap Bu-bing musuh ayah bundanya.

Hawa amarah bergejolak dirongga dadanya menggantikan perasaan takutnya.

Semula Bu-bing tidak percaya bahwa Ham Gwat berani bersikap begitu garang dan kurang ajar terhadap dirinya.

'Ham Gwat,' jengeknya dingin.

"Setelah berhadapan, kau masih berani melawan aku?"

"Jangan toh melawan melihat kau, melihat musuh besarku, aku benci kau ketulang sungsummu, ingin rasanya kusayat dagingmu kubeset kulitmu."

Sembari berkata ia melolos pedang. Bu-bing menyeringai sadis, ia tahu Ham Gwat sudah terlalu benci padanya, Ham Gwat harus dilenyapkan dulu dari depan hidungnya, maka iapun melolos pedang, ejeknya.

"Permainan pedangmu hasil ajaranku, kau berani melawan gurumu, agaknya kau sedang mimpi!"

Ham Gwat mandah menyeringai dingin, setindak demi setindak ia menghampiri kehadapan Bubing Loni....

Sutouw Ci-ko menjadi Kuatir, murid mana bisa menang melawan guru, situasi membuat hatinya menjadi tabah, rasa takutnya terhadap Bu-bing sudah lenyap, pelan-pelan iapun keluarkan pedangnya ikut mendesak maju.

Ham Gwat tahu juga akan tindakan Sutouw Ci-ko ini, cepat ia mencegah tanpa menoleh.

"Ci-ko cici kau mundur saja, aku punya cara menghadapi dia!"

Sutouw Ci-ko tertegun, sambil menyoreng pedang ia berdiri disamping.

"Apa kemampuanmu kau berani melawan aku."

Demikian cemooh Bu-bing.

Sementara pedangnya sudah terangkat lempang pelan-pelan menuding ke arah Ham Gwat Langkah Ham Gwat tak berhenti, kedua biji matanya sedingin es menatap Bu-bing, dalam hati ia sedang menerawang cara menghadapi musuh besar ini.

Rasa gusar sudah menghayati keberaniannya.

Adalah Bu-bing sendiri sebaliknya menjadi bersitegang leher, pandangan Ham Gwat yang dingin setajam sembilu menusuk sanubarinya, bertambah besar rasa jerinya.

Tiba-tiba Ham Gwat tersenyum sinis, badannya pun melejit ke depan, pedangnya panjang menyampok miring terus menutul bergantian.

sekaligus ia menutuk jalan darah Thay-yang-hiat dikedua pelipis Bu-bing Loni.

Mencelos hati Bu-bing, tipu serangan ini bukan dia yang mengajarkan, bukan pula pelajaran dari ibu kandung Ham Gwat.

Ong Ging-sia, belum pernah ia melihat jurus serangan aneh ini, begitu ganas dan cepat sekali, keruan bertambah kebat-kebit hatinya, serta merta meningkatkan perhatiannya.

Mungkinkah Ham Gwat mendapatkan hasil kemujijadan?

Kalau tidak dari mana ia peroleh jurus aneh ini.

Tidak berani balas menyerang ia cuma gerakan pedangnya memunahkan serangan Ham Gwat ini ditengah jalan Benar-benar diluar tahunya, bahwa serangan pedang aneh yang dilancarkan seenaknya ini justru membawa pukulan batin yang teramat besar bagi Bu-bing Loni, hampir saja karena rasa curiganya itu Bu-bing sudah hendak berlari masuk ke dalam gua.

Sebelum kedua batang pedang saling bentur, Ham Gwat memuntir pedangnya, seketika bianglala berkelebat melambung, dengan jurus permainan Hui-sim-kian-hoat ia menyerang secara ganas kepada Bu-bing.

Melihat Ham Gwat tidak melancarkan jurus aneh lagi, rada lega hati Bubing, tapi hatinya sudah tertekan dan dihantui oleh kekuatiran sendiri, ia jadi was-was bila Ham Gwat melancarkan jurus pedang aneh, maka ia tidak berani balas menyerang setaker tenaganya.

Dengan permainan pedang yang sama, mereka serang menyerang tak berkeputusan, tahu-tahu seratus jurus sudah lewat.

Baru sekarang ia sadar bahwa jurus permulaan dari permainan pedang Ham Gwat tadi melulu cuma gertakan belaka, terang dirinya kena tipu belaka.

Keruan ia naik darah, dari berjaga kini ia balas menyerang dengan gencar, seketika Ham Gwat terdesak kerepotan di bawah angin.

Tapi Haa Gwat sudah tidak merasa takut lagi terhadan Bu-bing, bahwasanya Lwekangnya sekarang terpaut tidak terlalu jauh dibanding Bu-bing, apalagi permainan pedang Bu-bing pun dipahami pula, dalam seratus jurus betapa pun ia tidak akan terkalahkan, asal Bu-bing tidak melancarkan Lian-hoan-sam sek, jurus berantai terakhir yang paling hebat.

Dari bertahan sekarang Bu-bing berinisiatif menyerang, hawa pedangnya berkembang melebar melingkupi gelanggang pertempuran, tapi Ham Gwat tumplek seluruh perhatian dan semangatnya melayani setiap rangsakan lawan, sedemikian rapat dan hati-hati ia menghadapi lawan sehingga musuh tak berikesempatan menyelinap membokong atau mencari lobang kelemahannya.

Jurup demi jurus terus berlalu, lama kelamaan Bu-bing jadi uring-uringan dan dongkol, masa murid didiknya sendiri ia tidak mampu membereskan, ini merupakan pukulan batin dan kejadian yang sangat memalukan....

Soalnya Ham Gwat bermain semakin mantap sehingga ia tidak kuasa berbuat apa-apa lagi.

Semakin lama serangan Bu-bing semakin gencar, nafsunya membunuh semakin berkobar pula, tidak melabrak dengan kesengitan tiba-tiba ia menarik mundur pedangnya malah dan terus menyurut mundur.

Ham Gwat juga melintangkan pedang mundur beberapa tindak, ia tidak mengejar lebih lanjut.

Permainan ilmu pedang Bu-bing sedemikian sampurna, Lwekangnya pun tinggi setingkat di atas kemampuannya, cuma berjaga membela diri saja ia sudah kepayahan, mana ia berani maju mengejar.

Setelah mundur sampai jarak yang tertentu Bu-bing berhenti dan mengawasi Ham Gwat dengan rasa kebencian yang meluap-luap, hawa membunuhnya sudah menghantui sanubarinya, sorot matanya berubah beringas buas seperti mata serigala kelaparan.

Dia sudah berkeputusan untuk menggunakan ilmu pedang Lian-hoan-sam-sek yang menjadi permainan pedang rahasia pribadinya, besar tekadnya melenyapkan jiwa Ham Gwat seketika itu juga.

Pedang panjang sudah terangkat pelan-pelan, sekonyong-konyong tergerak hatinya, dengan menuruti kemauan hati melulu ia merasa betapa goblok dirinya ini, bukankah masih ada musuh besar yang paling tangguh macam Hun Thian-hi belum lagi sempat kulenyapkan.

Bukankah Ham Gwat merupakan bahan sandera yang paling bermanfaat?

Kenapa aku tidak meringkus Ham Gwat untuk kujadikan kaki tangan dan alat melawan musuh.

Dengan berbagai akal akhirnya berhasil menawan ayah bunda Ham Gwat kesini, dan sekarang tibalah saatnya mereka dimanfaatkan....

Karena pikirannya ini.

Bu-bing mengurungkan niatnya, pedang ditarik kembali, tiba-tiba ujung mulutnya mengulum senyum licik, tanpa bersuara tiba-tiba ia membalik dan lari ke dalam Jianhud-tong.

Heran dan tak habis mengerti Ham Gwat dibuatnya.

Tadi ia lihat Bu-bing sudah mengkonsentrasikan diri untuk melancarkan Lian-hoan-sam-sek dengan setaker tenaganya, pertarungan yang bisa bikin dirinya kalah dan konyol daripada menang ternyata batal dan terhenti.

Keruan bukan kepalang rasa lega dan syukurnya.

Pelan-pelan iapun simpan kembali pedangnya, pandangannya menjadi kosong mengawasi mulut gua di mana tadi Bu-bing menghilang, hatinya tengah menerawang tindakan Bu-bing untuk selanjutnya.

Sudah lentu segala sepak terjang dan tindak tanduk Bu-bing tidak lepas dari pengawasannya karena sekian tahun ia hidup berduaan dengan Bu-bing, maka watak dan perangai orang sedikit banyak sudah diselami olehnya.

Setelah menyadari tindakan apa yang akan dilakukan oleh Bu-bing Loni, ia jadi termenung dan menekan perasaannya, terpikir olehnya.

"apa yang harus kulakukan sekarang? Masuk ke Jian-hud-tong? Apa yang bakal terjadi di dalam nanti sebelumnya sudah dapat ia bayangkan, sampai ia. menjadi ragu-ragu terhadap diri sendiri apakah aku punya keberanian itu? Tapi bisakah aku tidak usah masuk?' "Marilah kita masuk!"

Dari samping Sutouw Ci-ko mengajak.

Setelah direnungkan akhirnya Ham Gwat berkepastian, ia manggut-manggut, dengan kalem mereka melangkah masuk ke dalam Jian-hud-tong.

Tak berapa jauh mereka masuk, tahu-tahu mereka dihadapi sebuah jalan bercabang, mereka jadi bingung jalan mana harus mereka tempuh.

Disaat Ham Gwat berdua sangsi itulah mendadak Ham Gwat memutar tubuh dengan sebat.

sesosok bayangan tahu-tahu sudah mengindap dekat di belakang mereka, begitu Ham Gwat bergerak orang itu lantas menubruk dengan kecepatan kilat seraya menghantamkan kedua telapak tangannya.

Ham Gwat mendengus berat, serta merta pedang panjangnya berkelebat menyontek miring terus ditegakkan ke atas menusuk dada lawan.

Nyata gerak gerik sipembokong ini sebat luar biasa.

ditengah jalan mendadak ia jumpalitan mencelat mundur, disaat yang sama berbareng bayangan hitam yang lain sudah menyergap datang pula dari sebelah samping.

Dikala mendesak mundur penyergap pertama tadi sekilas pandang Ham Gwat sudah dapat melihat orang itu adadah Bing-tiong-mo-tho Sukong Ko, hatinya bercekat, dalam hati ia membatin bukankah dia sudah berjanji kepada Thian-hi untuk menyembunyikan diri tidak terjun kedunia Kangouw pula?

Kenapa sekarang kembali ke Jian-hud-tong?

Waktu ia membalik tubuh dan menangkis sergapan musuh kedua dari samping lagi-lagi bertambah besar kejutnya, mereka adalah gembong-gembong iblis yang pernah berjanji pada Thian-hi untuk mengasingkan diri.

Bing-tiong-mo-tho dan kawan2nya merupakan tokoh-tokoh tingkat tinggi, begitu terdesak mundur tangkas sekali mereka sudah merangsak maju pula.

Terpaksa Ham Gwat tidak pandang bulu, sambil menghardik nyaring sebelah tangan kiri menarik Sutouw Ci-ko berbareng pedang ditangan kanan berkelebat laksana lembayung memancarkan cahaya merah dadu, dengan sejurus Wi-thian-tong-te (menjungkir langjt menggetar bumi), ia lancarkan serangan pedang yang dahsyat untuk membela diri.

sekaligus ia berhasil mendesak kedua musuhnya mundur pula, selintas kesempatan mereka berhasil membelakangi dinding, dengan cermat mereka siap menghadapi situasi di depan mata.

Bing-tiong-mo-tho membawa dua kawan, mereka mengepung dan merangsak dari tiga jurusan, sementara itu mereka tengah berhenti menghimpun tenaga dan mengatur napas untuk melancarkan serangan gelombang kedua.

Saking uring-uringan cepat Ham Gwat menghardik.

"Tahan! Bukankah kalian dulu pernah berjanji tidak akan terjun kedunia persilatan lagi?"

Tapi ketiga orang itu tidak hiraukan segala ocehan Ham Gwat, pelan-pelan mereka sudah angkat tangan, berbareng melancarkan gempuran ke arah Ham Gwat dan Sutouw Ci-ko.

Mencelos hati Ham Gwat, tak sempat banyak pikir, gelombang dahsyat laksana gugur gunung dari gempuran gabungan ketiga musuh sudah melandai tiba, menghadapi rangsakan tenaga raksasa ini Ham Gwat tidak berani menyambut secara keras, sambil menggeret Sutouw Ci-ko, laksana seenteng asap terbawa angin.

tahu-tahu mereka melayang menyingkir sebelum gempuran dahsyat musuh tiba, begitu badan melejit terbang mereka mencari tempat berpijak di dalam lorong gua sebelah lain.

Gerak-gerik ketiga musuh juga tak kalah gesitnya, serempak mereka memutar dan memburu maju, enam pasang mata mendelik ke arah Ham Gwat berdua.

Begitu melihat sinar mata ketiga orang ini baru bercekat hati Ham Gwat, sorot mata mereka guram dan kaku seperti orang mati, lapat-lapat sanubarinya menyadari sesuatu keganjilan yang sudah menjadi kenyataan, tak heran mereka tidak mau hiraukan seruannya, kiranya mereka sudah sama dikerjain oleh Tok-sim-sin-mo.

Sementara itu ketiga musuh sudan menghampiri dekat, pikiran Ham Gwat bekerja cepat, kedua matanya yang jeli dan tajam menerawang keadaan sekelilingnya.

sambil menarik Sutouw Ci-ko ia berkata.

"Cici! Mari cari tempat lain untuk memghadapi mereka." -sembari bersuara badan mereka pun sudah melambung tinggi melesat masuk ke dalam sebuah mulut gua disebelah atas dipojok Sana. Cepat Sutouw Ci-ko ditarik ke belakangnya, dengan sebilah pedang ia rintangi ketiga musuh yang mengejar datang. Di tempat yang sangat sempit ini Bing-tiong-mo-tho bertiga menjaj mati kutu, apalagi mulut gua itu cukup tiba untuk lewat satu orang saja, tak mungkin mereka bisa merangsak bersama pula. Meskipun Bing-tiong-mo-tho bertiga sama tokoh-tokoh kosen, tapi kepandaian Ham Gwat rasanya tidak lebih asor dari mereka, apalagi dengan bersenjatakan pedang, dalam sekejap saja ia mampu mentaburkan batang pedangnya laksana kitiran membentuk gugusan sinar pedang laksana gunung kokohnya, maka dengan tenang dan mantap tanpa takut sedikitpun selalu ia berhasil menghalau setiap gempuran mereka bertiga. Sekejap saja saking cepat pertarungan mereka, seratus jurus sudah berlalu. Ham Gwat lantas berkata kepada Sutouw Ci-ko.

"Cici! Kau mundur dulu, segera kususul kau!"

Sutouw Ci-ko insaf kehadirannya di tempat itu menjadi penghalang dan mengganggu konsentrasi permainan Ham Gwat melulu, cepat ia manggut mengiakan terus mundur ke belakang.

Setelan berjaga sekian lamanya dan dirasa temponya sudah mencukupi, pedangnya mendadak menggelegak getar, hawa pedang lantas luber kesekelilingnya, sekaligus ia gempur ketiga musuhnya tersurut mundur berulang-ulang, mendapat kesempatan ini gesit sekali ia memutar tubuh dan berlari ke sebelah dalam.

Sudah tentu Bing,tiong-mo-tho bertiga tidak rela melepaskan Ham Gwat berdua.

mereka mengejar dengan ketat.

Sekian saat Ham Gwat berlari-lari akhirnya ia tiba dimulut gua sebelah sana, tapi seketika ia tersentak menjublek ditempatnya.

Kiranya Bu-bing Loni sudah menunggu disebelah depan sambil menyeringai iblis.

Sutouw Ci-ko meringkuk dibawan kakinya.

Tanpa dipikir Ham Gwat lantas maklum apa yang telah terjadi, sudah tentu parasnya berubah merah padam, dengan sengit segera ia labrak dengan seluruh tenaganya, pedangnya memancarkan kuntum sinar pedang yang berkelompok2 sama menggempur ke arah Bu-bing.

Bu-bing kelihatan beringas, ujung kaki kanannya tiba-tiba diangkat serta mengancam dijalan darah kematian dikepala Sutouw Ci-ko, serunya dengan gusar.

"Jangan bergerak!" -lalu ia tertawa dingin beberapa kali. Relung hati Ham Gwat laksana kena dipukui godam, kalau ia turun tangan paling banyak cuma berhasil mendesak mundur Bu-bing, tapi jiwa Sutouw Ci-ko bakal melayang dengan mengenaskan di bawah injakan kakinya.... Serta merta ia menghentikan gerak tubuhnya, serta mundur dua langkah, pedang semampai turun dengan lemas, dengan putus asa. ia menghela napas. Dalam pada itu Bing-tiong-mo-tho bertiga sudah mengejar tiba pula dibelakangnya, serentak mereka menghentikan kaki karena bentakan Bu-bing Loni. Tanpa berpaling Ham Gwat sudah tahu bahwa tiga pengejarnya sudah menyandak tiba. dalam keadaan ke depan tiada jalan dan belakang ada pengejar datang, Ham Gwat menjadi tenang malah. Otaknya diperas untuk mencari jalan meloloskan diri, ia sudah dapat meraba perbuatan Bu-bing ini pasti ada latar belakang yang tertentu. tujuannya bukan hendak membunuh dirinya. Sambil tersenyum sinis Bu-bing Loni berkata.

"Sekarang apa pula yang dapat aku katakan?"

Dalam waktu dekat Ham Gwat menjadi serba sulit.

di belakang ada tiga musuh tangguh, tempatnya pun sempit.

di depan ia cuma menghadapi Bu-bing yang tidak membekal senjata untuk menerjang keluar mungkin bisa berhasil cuma Sutouw Ci-ko yang meringkuk di bawah Bu-bing itulah yang menjadi kekuatirannya.

Tujuan Bu-bing hendak memperalat Ham Gwat.

sudah tentu ia tidak menghendaki orang mampus saat ini juga.

jikalau mau dengan sergapan dari dua jurusan, tambah seorang Ham Gwat lagipun jangan harap dapat lari keluar.

Cuma ia sudah mengenal karakter Ham Gwat, orang tidak akan begitu mudah dikekang, bukan mustahil dalam keadaan yang kepepet ia terima bunuh diri saja.

"Ham Gwat!"

Bu-bing menyeringai pula.

"Sekarang masih dapat kuampuni jiwamu, dimana Hun Thian-hi sekarang?"

Mendengar ucapan Bu-bing Loni, tekanan perasaan Ham Gwat menjadi kendor, asal Hun Thianhi keburu datang situasi bakal berubah dengan cepat.

Akal yang menguntungkan satu-satunya bagi dirinya yaitu mengulur waktu, setelah melihat tulisan yang ditinggalkan di atas pohon sekejap saja Hun Thian-hi pasti dapat menyusul tiba.

Tapi dilahirnya sengaja ia mengunjuk rasa keheranan, tanyanya kepada Bu-bing.

"Kau dapat mengampuni aku?"

Kini ganti Bu-bing merasa diluar dugaan, ia tahu perangai Ham Gwat maka bukan kepalang herannya setelah mendengar pertanyaan Ham Gwat ini.

Kalau menurut biasanya, tentu dengan sikap dingin dan menantang ia balas mengejek dirinya.

Sambil mendengus ia berpikir.

"Mungkin setelah bertemu dengan sanak kadangnya, perangainya sudah berubah. Masa ada manusia yang benar-benar tidak takut menghadapi kematian?"

Demikian pikir Bu-bing, maka cemoohnya.

"Jadi kau sudah takut mati?"

Pertanyaan Bu-bing ini justru menepati tujuan Ham Gwat. ia jadi berkesempatan melantur lebih jauh.

"Apakah begitu anggapanmu?" -ia pun balas menyeringai.

"Ya, orang yang ikut bersama aku tiada yang takut mati, namun sekali dia berpisah dengan aku, selalu kalian akan dikejar2 rasa ketakutan itu."

Demjkian jengeknya.

Memang siapa saja yang pernah hidup bersama Bu-bing apalagi sejak kecil ia sudah biasa melihat adegan2 seram yang lebih menakutkan dari kematian, dalam ini Ham Gwat memaklumi kata-katanya, karena dia sendiri pernah menyaksikan betapa kejam Bu-bing menyiksa korbannya, tidak begitu gampang mereka mencari kematian.

Terbayang senyum manis diparas Ham Gwat, katanya tawar.

"Orang yang hidup bersamamu tidak akan merasa bahwa hidup di dunia banyak kejadian yang bisa meninggalkan kesan mendalam dalam sanubarinya, lain pula bagi mereka yang hidup bebas, justru mereka terbenam dalam kenangan indah yang selalu akan menghayati lubuk hati mereka."

"Jadi menurut katamu, kau ini merasa berkesan dan berat pula bagi kehidupan manusia di dunia fana ini? Tapi kau harus ingat bahwa aku mampu membuatmu melenyapkan segala kenangan dan kesan yang mendalam itu."

Berubah air muka Ham Gwat, entah tindakan apa yang akan dilakukan Bu-bing atas dirinya.

Bubing terkenal berhati culas dan kejam, perbuatan2 kejinya itu sudah menjadi kebiasaan bagi tontonan.

Dasar cerdik Ham Gwat tidak mau kalah adu mulut, ejeknya.

"Aku kuatir justru kau sendirilah yang tidak akan sempat lagi mengenang masa silammu. Ketahuilah Wi-thian-cit-ciat-sek latihan Hun Thian-hi sudah sempurna. dan kau tidak akan lama tinggal hidup dalam dunia ini."

"Betulkah begitu? Tadi sudah kutanyakan jejaknya bukan? Dimana dia sekarang?"

"Dimana masa kau belum tahu? Sejak tadi dia sudah masuk! Tuh dibelakangmu!"

Tanpa sadar Bu-bing melengak dibuatnya, mengandal kepandiaian Thian-hi sekarang kemungkinan dia sudah berada dibelakangnya tanpa diketahui, seketika dingin perasaan hatinya.

Tanpa bersuara Ham Gwat gunakan kesempatan yang balk ini, mendadak laksana anak panah melesat ia berkelebat ke arah samping Bu-bing Loni.

Dikala Bu-bing sadar telah kena tipu, ia menghardik dengan amarah yang berapi-api, kedua telapak tangannya menepuk melintang menempiling kepala dan membabat kepinggang.

Ham Gwat juga menggembor keras, pedang panjangnya tergetar mendengung ujung pedangnya menusuk telak kedua biji mata Bu-bing Loni.

Apa boleh buat terpaksa Bu-bing urungkan serangan tangannya, ia membela diri lebih dulu untuk menyelamatkan kedua matanya, sementara tubuh Ham Gwat sudah berkelebat pergi menyingkir jauh.

Tapi baru saja kakinya menginjak tanah.

Bu-bing sudah membentak keras.

"Ham Gwat, apakah kau tidak hiraukan ayah bundamu lagi?"

Ham Gwat jadi tertegun.

niatnya hendak menyingkir dulu baru mencari daya menolong Sutouw Ci-ko.

Namun ayah bundanya memang berada dicengkeraman musuh, mendengar ancaman itu mau tidak mau ia harus berhenti dan lekas berpaling.

Tampak Ong Ging-sia dan Kiang Tiong-bing sedang berdiri disebelah sana, mereka sama mengawasi dirinya.

Tiba-tiba tergerak hati Ham Gwat, ia insaf bila ia tetap tinggal disitu keadaannya pasti semakun runyam, cepat ia bergerak hendak tinggal pergi pula.

Tak duga tiba-tiba didengarnya suara Ong Ging-sia membentak.

"Gwat-ji, Jangan pergi!"

Lagi-lagi Ham Gwat tertegun, karena kesangsiannya ini, sementara itu Bu-bing sudah berkesempatan mencegat jalan larinya pula, sedang Bing-tiong-mo-tho bertiga pun sudah mengepung dirinya juga.

Sekilas Ham Gwat melirik ke arah ayah bundanya.

ia tahu bahwa mereka tentu sudah dicekoki obat beracun dan mendengar perintah Bu-bing, maka ia menyurut mundur terus, akhirnya membelakangi dinding, keempat musuhnya pun mendesak maju dari berbagai penjuru.

Sekonyong-konyong ia merasa seluruh tenaganya seperti terkuras habis, tak tertahan lagi air mata mengalir keluar.

Kata Bu-bing dengan sikap dingin.

"Ajah bundamu berada disini, akan kulihat bagaimana kau bersikap!"

Ong Ging-sia maju beberapa langkah, ujarnya.

"Mana boleh kau begitu kasar terhadap bibimu, semakin besar kau menjadi tidak genah, kenapa kau tidak mau dengar nasehatnya."

Didapati oleh Ham Gawt sinar mata Ong Ging-sia dan Kiang Tiong-bing sama pudar tak bercahaya, mimik wajahnya pun kaku tanpa ada perubahan apa-apa.

Mata Bu-bing menyorotkan perasaan senang dan seperti puas akan kemenangan, tapi merasa dengki pula akan hubungan cinta kasih dan kasih sayang Ong Ging-sia terhadap Ham Gwat, tampak matanya mendelik dan alis terangkat.

Ong Ging-sia segera maju sambil mengulurkan sebuah bungkusan kepada Ham Gwat, katanya.

"Telanlah sebungkus obat ini!"

Tanpa disadari Ham Gwat menyamputi bungkus obat itu dan lantas hendak ditelannya.

Mendadak terlintas diujung matanya sorot mata Bu-bing yang memancarkan cahaya terang, seketika ia menjadi sadar, batinnya.

"Mana boleh aku menelan obat macam ini, kalau aku menelan obat ini bagaimana nanti kalau Hun Thian-hi juga datang? -Tatkala itu mereka pasti memperalat diriku untuk menekan atau memancing Hun Thian-hi, atau mungkin pula sebelum Hun Thian-hi bersua dengan Bu-bing sudah keburu mampus ditangan mereka."

Karena terpikir sampai disitu segera ia angkat kepala, dengan tajam ia menyapu pandang kesekelilingnya. Melihat sikap kesangsian Ham Gwat ini, cepat Bu-bing mendesaknya.

"Perintah ibumu berani juga kau bangkang?"

Begitu meneliti keadaan sekelilingnya, Ham Gwat sudah menyadari keadaannya yang serba terjepit ini, mana ia mau menelan obat itu, mendadak ia ayun tangan kiri menghamburkan obat Kiu-li-san itu ke arah Bu-bing.

Mimpi juga Bu-bing tidak menyangka Ham Gwat berani berlaku senekad itu, sebat sekali ia melejit menyingkir sembari membentak gusar.

"Ham Gwat! Jangan kau salahkan aku bertindak tidak sungkan-sungkan lagi terhadap kau!"

Dengan tenang Ham Gwat berdiri ditempatnya tanpa bersuara. Sambil menggeram Bu-bing mengeluarkan sebungkus obat lagi diangsurkan kepada Ham Gwat, katanya.

"Kau kan paham, jiwa beberapa orang ini tergenggam ditanganku, kalau kau tidak menelan obat ini.... Hm! Apa akibatnya kukira kau tentu paham."

"Jadi kau memang sengaja mau menekan dan mengancam aku?"

"Benar-benar! Memang aku mengancam kau, berani kau tidak dengar perintahku."

"Tujuanmu setelah aku menelan obat itu untuk menghadapi Hun Thian-hi bukan?"

"Begitulah, sekarang tergantung kau mau menelan tidak. Jangan kau lupa, jiwa ayah bundamu tergenggam ditanganku." -sambil menyeringai penuh arti ia angsurkan pula bungkus obat itu. Bertaut alis Ham Gwat. Menghadapi persoalan antara mati dan hidup, maka ia harus cepat ambil keputusan, karena kalau dia menolak jiwa Ong Ging-sia dan Kiang Tiong-bing bakal tamat. Sebaliknya kalau dia menelan obat itu belum tentu Hun Thian-hi bisa terjebak dan melayang jiwanya, pikir punya pikir akhirnya ia memilih yang ringan dari pada akibat yang berat, pelan-pelan akhirnya ia angsurkan tangan menyambuti Kiu-li-san itu. Bu-bing menyeringai lebar penuh kemenangan, bagaimana juga toh akhirnya Ham Gwat tunduk pada dirinya. Tepat pada saat itulah dinding sebelah kiri mendadak mengeluarkan suara gemuruh dan terbukalah sebuah pintu besar, sesosok bayangan manusia sambil membawa suitan panjang melayang keluar, selarik cahaya merah terbang menyerang ke arah Bu-bing Loni. Kejut Bu-bing seperti disengat kala, tanpa sempat mengendalikan yang lain, sebat sekali ia berusaha berkelebat menyingkir. Kedatangan Hun Thian-hi ini membawa kesiur angin berbau harum wangi yang cepat sekali memenuhi seluruh ruang gua itu. Begitu melihat Hun Thian-hi benar-benar keburu tiba, saking girang dan diluar dugaan Ham Gwat sampai berjingkrak kegirangan dan berteriak.

"Thian-hi!"

Ia berteriak secara reflek diluar kesadarannya, saking senang air mata sampai meleleh keluar.

Begitu Hun Thian-hi menginjak tanah, Bu-bing lantas menyeringai dingin, kedatangan Thian-hi ini bukankah masuk perangkap sendiri?

Cepat tangan kanannya melolos pedang sementara matanya menoleh ke arah Bing-tiong-mo-tho maksudnya hendak memberi aba-aba, tapi seketika itu berubah air mukanya, terlihat olehnya Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain kelihatannya sudah sadar dan sedang termangu keheranan ditempatnya.

Cepat Hun Thian-hi berkata kepada Ham Gwat.

"Cepat kau antar dulu paman dan bibi keluar gua. Mereka baru saja siuman tentu masih letih dan lemas."

Bertambah girang hati Ham Gwat, sungguh tidak terkirakan olehnya, begitu Thian-hi muncul sekaligus telah memunahkan obat beracun yang menyesatkan pikiran mereka, segera ia mengiakan.

Sementara itu Ong Ging-sia dan Kiang Tiong-bing memang sudah siuman, begitu melihat Ham Gwat, berbareng mereka berseru.

"Nak....!"

Ham Gwat menubruk maju, bertiga mereka saling berpelukan.

Dalam pada itu Bing-tiong-mo-tho bertiga juga tengah termangu, agaknya mereka sedang berpikir cara bagaimana mereka bisa berada di tempat itu.

Sudah tentu Bu-bing berjingkrak gusar, mendadak ia membanting kaki, secepat kilat badannya melejit terbang menuju ke arah Sutouw Ci-ko yang meringkuk di tanah.

Hun Thian-hi menggertak panjang, semula ia tidak perhatikan Sutouw Ci-ko, saking gugup sekali raup ia lantas timpukan serulingnya, berbareng ia tutul kakinya melejit ke arah Sutouw Ci-ko pula.

Serulingnya bersuit nyaring terbang mengarah punggung Bu-bing.

Terpaksa Bu-bing harus menyelamatkan diri lebih dulu dengan memiringkan tubuh dan menggeser ke kiri sembari menyampokkan pedangnya ke belakang memukul jatuh seruling itu.

Tapi karena sedikit ayal ini Hun Thian-hi sudah keburu hinggap disamping Sutouw Ci-ko, sekaligus ia mengulur tangan membebaskan tutukan jalan darah Sutouw Ci-ko terus ditariknya mundur ke arah Ham Gwat beramai.

Dengan pandangan beringas yang meluap-luap gusarnya Bu-bing mendelik ke arah mereka.

Tanpa membuang waktu lagi.

tiba-tiba ia melompat maju pedang diputar sekaligus ia lancarkan tiga gelombang serangan pedang kepada Hun Thian-hi.

Thian-hi tidak berani gegabah, ia insaf Lwekang sendiri setingkat lebih rendah dibanding lawan, betapa pun ia harus melawan sekuat tenaga.

Tanpa ayal ia pun gerakkan pedangnya dengan permainan Gin-ho-sam-sek setabir cahaya merah bergulung-gulung melingkupi seluruh tubuhnya, ia pusatkan seluruh perhatian dan semangat menghadapi musuh tangguh ini.

Bu-bing Loni terkial-kial panjang, dimana pedangnya diputar laksana naga terbang selulup timbul mempermainkan bola ditengah mega, seiring dengan berkelebatnya badan, yang selalu naik turun itu.

ia gempur Hun Thian-hi dari berbagai penjuru.

"Lekas mundur!"

Teriak Hun Thian-hi.

Ia menyadari keadaan yang gawat ini maka ia balas melancarkan tiga serangan pedang yang dilandasi kekuatan tenaga dalamnya.

Ham Gwat juga menyadari situasi yang krisis ini, dengan penuh perhatian segera ia berteriak.

"Thian-hi kau sendiripun harus hati-hati!"

Lalu bersama Sutouw Ci-ko mereka melindungi Ong Ging-sia berdua mundur keluar gua.

Begitu mendengar seruan yang penuh rasa kasih sayang dan prihatin itu, hangat dan sjur hati Thian-hi, seketika terbangkit berlipat ganda semangat dan tenaganya, dimana pedangnya berkelebat cahaya yang terpancar dari batang pedang semakin menyala, Bu-bing menjadi kewalahan juga menghadapi tekadnya yang besar ini.

Kini gelanggang adu kepandaian tinggal Bu-bing dan Thian-hi berdua, betapapun Bu-bing tidak akan melepas Hun Thian-hi lagi, ia sudah berkeputusan melancarkan Lian-hoan-sam-sek, ilmu pedang yang dibanggakan dan paling diandalkan.

Tiba-tiba bayangan mereka terpental mundur berpencar....

Saat itu juga tiba-tiba dari sebelah kiri yang dekat sekali berkumandang suara gelak tawa yang memekak kuping, di lain saat Pek Sikiat sudah meluncur tiba di gelanggang pertempuran.

Keruan Bulbing kaget bukan main, pihak lawan kedatangan bala bantuan, sedang Tok-sim-sinmo dan kaki tangannya berada di gua belakang menyelidiki keadaan istana sesat, dengan seorang diri meski ia tidak takut tapi untuk mengalahkan kedua tokoh tangguh ini terang tidak mungkin, maka tak berguna ia tinggal terlalu lama di tempat itu, Cepat ia putar tubuh terus lari sipat kuping ke dalam sana.

Sementara itu Pek Si-kiat sudah meluncur tiba disamping Thian-hi, cepat ia berseru.

"Lekas kejar, dalam jarak sepemanahan kita harus menyandaknya."

Semula Thian-hi tiada niat mengejar, tapi mendengar seruan Pek Si-kiat ini ia menjadi berkeputusan untuk menyelesaikan persoalan ini secepat mungkin.

Laksana luncuran meteor di bawah petunjuk Pek Si-kiat mereka mengejar melalui jalan-jalan lain yang lebih pendek, setelah berputar dan keluar masuk beberapa tikungan di dalam lorong gelap benar-benar juga Bu-bing terlihat tidak jauh disebelah depan.

"Berhenti!"

Hun Thian-hi membentak terus melompat tinggi menubruk disebelah belakang seraya tabaskan pedangnya.

Tiba-tiba Bu-bing pun berhenti seraya membalik dan menusukan pedangnya juga, cukup sejurus serangan balasan ia patahkan serangan lawan dan desak mundur Hun Thian-hi, jengeknya.

"Kau kira aku takut terhadap kalian...."

Tanpa banyak bacot Thian-hi menerjang maju pula dengan sejurus Hun-liong-pian-yu, Bu-bing mandah tersenyum ejek, pedangnya melintang kesamping terus memutar balik beruntun ia balas menyerang dengan tiga tabasan berantai, ketiga serangan pedang ini sama mengarah tempat mematikan ditubuh Thian-hi.

Thian-hi didesak untuk menyelamatkan diri lebih dulu.

Dalam pada itu Pek Si-kiat juga sudah menerjang tiba, sambil menggembor seperti auman singa kedua kepelannya menggenjot bergantian, dengan sepuluh bagian tenaganya ia lancarkan pukulan Pek-kut-sin-ciang.

Bu-bing mandah menyeringai seram, pedangnya dipuntir dan disampokkan kesamping, sekaligus dengan gerakan sambungan ia berhasil memunahkan rangsakan gelombang pukulan Pek Si-kiat.

Di saat Pek Si-kiat kesima keheranan itulah, Bu-bing sudah menyambung gerakan pedangnya, Beruntun ia lancarkan Lian-hoan-sam-sek, tampak bibirnya menjebir bersuit panjang menambah perbawa gerakan pedangnya, dimana badannya terapung selarik sinar pedang laksana sabuk putih yang panjang sambung-menyambung berputar-putar mengandung tenaga dahsyat yang bisa menggempur hancur gunung menerjang ke arah Thian-hi berdua.

Terkesiap darah Thian-hi, ia tak sempat melancarkan Wi-thian-cit-ciat-sek, sebisa gerakan tangan Cu-hong-kiam ditangan kanan menggunakan jurus Gin-ho-sam-sek jurus kedua dan ketiga yang punya daya pertahanan kuat dan rapat itu berkembang luas melingkupi seluruh ruang gua itu.

Larikan cahaya putih laksana bianglala yang menyolok mata sementara itu sudah menukik turun langsung menembus ke dalam hawa pedang yang bercahaya merah itu.

Dimana ketajaman pedang yang kemilau itu menyelonong maju, hawa pedang Cu-hong-kiam kena terpecah kedua arah dan akhirnya tak kuasa lagi bertahan.

Hun Thian-hi sudah mengerahkan seluruh tenaganya, tapi toh tak kuasa melawan serangan dahsyat musuh.

Begitu cahaya kemilau membacok turun ujung pedang Bu-bing Loni sudah tiba di atas kepalanya.

Disaat ia pejamkan matanya menunggu ajal tiba-tiba Pek Si-kiat menggembor keras, dengan Pek-kut-sin-kang ia menghantam sekuatnya ke arah lambung musuh.

Pukulan ini merupakan serangan yang mematikan, terpaksa Bu-bing harus berkelit dan tenaga pukulan itu menjadi mengenai batang pedangnya, oleh benturan tenaga dahsyat ini pedangnya kena tersampuk miring kesamping.

Keruan bukan kepalang senang Thian-hi, pedang panjangnya terayun naik menangkis rangsakan pedang Bu-bing yang hampir saja menembus kepundaknya.

Begitu saling bentur, lelatu api cuma meletik sedikit, ini membuktikan bahwa dua belah pihak sudah sama kehabisan tenaga, mereka tidak kuasa lagi menggunakan keampuhan Lwekang masing-masing untuk adu kekuatan.

Dilain saat tiga pihak sama mencelat mundur pula.

Jidat Hun Thian-hi sudah berkeringat, keadaannya sudah sangat payah.

Demikian juga Bu-bing merasa dada mual cuma ia pura-pura menenangkan hati.

Keadaan Pek Si-kiat jauh lebih mending.

Tapi masih berdiri mematung tak berani bergerak.

Setengah jam kemudian, tenaga masing-masing sudah dihimpun pulih sebagian besar, Thian-hi berkeputusan menggunakan Wi-thian-cit-ciat-sek untuk menempur Bu-bing.

Bu-bing Loni juga menginsyafi bila Wi-thian-cit-ciat-sek Thian-hi sudah dilatih sempurna belum tentu ia bisa mengambil kemenangan, apalagi dipihak lawan masih ada Pek Si-kiat seorang, te-paksa ia menantang.

"Hun Thian-hi! Berani kau bertempur satu lawan satu menentukan kemenangan."

Mendengar tantangan Bu-bing Loni, Thian-hi menghentikan gaya permulaan dari permainan pedangnya yang sudah dipersiapkan hendak dilancarkan.

Sebaliknya Pek Si-kiat yang cukup berpengalaman terpaksa tertawa gelak-gelak, cemoohnya.

"Sekarang pihak kami dua melawan kau seorang. Sebaliknya berapa banyak pihakmu tadi kau mengeroyok Ham Gwat seorang?"

"Ham Gwat maksudmu?"

Seringai Bu-bing.

"Aku sendiri sudah lebih dari cukup untuk membekuknya, buat apa harus orang lain, mereka cuma merintangi dia melarikan diri saja...."

"Kau mengancam dan menekan dia menelan obat beracun, apakah ini yang dikuatirkan dia melarikan diri?"

Demikian jengek Hun Thian-hi. Mendelik mata Bu-bing, serunya.

"Kalian maju bersama pun aku tidak gentar, hayo kenapa bermuka2 saja. silakan turun tangan."

Hun Thian-hl menjadi sengit, ucapan Bu-bing telah membakar sifat congkaknya, segera ia berpaling katanya kepada Pek Si-kiat.

"Paman Pek! Kau jaga disamping biar kutempur Bu-bing seorang diri"

"Jangan!"

Dengan tegas Pek Si-kiat menggeleng kepala, ia tahu bahwa satu lawan satu Hun Thian-hi masih belum tandingan Bu-bing Loni.

"Sekarang belum bisa! Kau harus waspada akan tipunya mengulur waktu menanti bala bantuan. Bagaimana kalau Tok-sim-sin-mo keburu tiba?"

Bu-bing terkekeh-kekeh panjang sembari menabaskan pedangnya memutus pembicaraan mereka.

sekali turun tangan pedangnya bergerak terpencar kedua jurusan sekaligus dalam segebrak ia menyerang kedua jurusan, seketika mereka berkutet lagi, serang menyerang dengan sengit dan gegap gempita.

Sekejap saja seratus jurus telah berlalu, selama itu Bu-bing belum melihat Tok-sim-sin-mo muncul, akhirnya ia tidak sabaran lagi, batang pedangnya menjungkit naik terus membabat miring dari atas kebawah, Thian-hi berdua kena terdesak mundur, Bu-bing membalik tubuh terus lari pula kegua sebelah belakang.

Sudah tentu Pek Si-kiat dan Hun Thian-hi juga maklum kemana jalan pikiran Bu-bing, kalau dua belah pihak benar-benar bentrok, pihak sendiri dengan kekuatan dua orang ini saja tentu sulit mengambil kemenangan.

Tak berapa jauh, tiba-tiba Bu-bing berhenti dan menyeringai tawa menunggu mereka dikala Hun Thian-hi berdua mengejar tiba ke sebelah dalam sana, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan hitam dtsertai gelak tawanya yang nyaring.

Tahu-tahu Tok-sim-sinmo sudah muncul dihadapan mereka.

Keruan Thian-hi berdua terkejut, tapi soal ini sudah mereka duga sebelumnya, setelah tertegun sebentar, segera menerjang maju tanpa gentar.

Tok-sim-sin-mo mengeluarkan sebatang pedang, berendeng sama Bu-bing dua bilah pedang dari kiri kanan menyongsong rangsakan Thian-hi dan Pek Si-kiat.

Kontan Thian-hi berdua terdesak mundur setindak.

"Samte!"

Tiba-tiba Tok-sim-sin-mo menyeringai sadis.

"Baik saja selama berpisah?"

Berubah air muka Pek Si-kiat, ia mandah menjengek dingin. Tiba-tiba Tok-sim-sin-mo meraih ke belakang lalu melemparkan sebatang pedang kepada Pek Si-kiat, serunya.

"Kau tidak hiraukan hubungan persaudaraan kita dulu. tapi aku masih punya rasa kesetiaan akan persaudaraan dulu. Hari ini meski pun kalian sendiri yang masuk perangkap, tapi sebelum ajal kuhadiahkan sebatang pedang kepadamu, jangan nanti kau gunakan istilah "kesetiaan"

Itu untuk menista aku."

Pek Si-kiat menyambuti pedang itu tanpa bersuara, ia menginsafi situasi sangat mendesak, maka tanpa sungkan-sungkan ia terima pemberian pedang itu.

"Jangan harap kalian bisa lolos dari kematian."

Demikian ejek Tok-sim-sin-mo, tangan diulapkan enam laki-laki tua yang menenteng pedang segera melangkah keluar.

Bukan saja Lam-bing-itthiong ada diantara mereka, Bing-tiong-mo-tho pun ada bersama.

Sudah tentu kejadian yang tak terduga-duga ini membuat Pek Si-kiat dan Hun Thian-hi sama kesirap, Bu-bing sendiri pun ikut terlongong, sungguh tak kira Tok-sim-sin-mo punya akal yang sedemikian lihay dan licik.

Hun Thian-hi menjadi was-was, entah bagaimana keadaan Ham Gwat berempat.

"Kau merasa diluar dugaan bukan? Sebetulnya kan soal gampang saja, siang-siang sudah kutunggu di sebelah depan, mereka bertiga baru saja sembuh berani angkat senjata melawan aku memberi kesempatan empat yang lain kabur lebih dulu,"

Sampai disini ia memicingkan mata sambil mengulum senyum sadis, lalu sambungnya.

"Seluk belukmu aku jelas sekali, kau dapat menolong mereka sekali tidak mungkin menolong yang kedua kalinya, benar-benar tidak? Hehehe, obat pemunah itu sayang cuma ada satu bungkus!"

Ia tertawa terpingkal-pingkal, seolah-olah sangat bangga dan puas akan sepak terjangnya ini.

Bahwa segala tindak tanduk Hun Thian-hi tidak lepas dari pengawasannya, ini berarti ia sudah setingkat menang diatasnya.

Tapi justru perasaan Hun Thian-hi menjadi longgar setelah mendengar penjelasannya ini, bahwa Ham Gwat berempat tidak mengalami bahaya lagi, sekarang tinggal menunggu keenam orang ini maju lebih dekat.

Tok-sim-sin-mo tidak memberi kesempatan bagi Thian-hi menimang-nimang, ia melirik memberi aba-aba kepada Bu-bing Loni, bersama mereka gerakan pedang menyerbu.

Lam-bing-ithiong berenam serempak juga lancarkan serangan pedang, dari delapan panjuru angin, delapan batang pedang sekaligus menuruk ke arah mereka.

Seketika Hun Thian-hi rasakan tekanan besar bagai gugur gunung melandai dari berbagai arah, napas menjadi sesak, tapi mati-matian mereka mainkan pedangnya, kedua batang pedang mereka bergerak mentaburkan jala sinar pedang yang silang menyilang sangat rapat membendung serbuan kedelapan musuhnya.

Betapapun mereka bersuara, dengan kekuatan dua tenaga mana mampu melawan delapan orang.

Beruntun Thian-hi berdua sudah terdesak mundur enam langkah dengan sempoyongan.

Tok-sim-sin-mo bergelak menggila, tanyanya mengejek kepada Bu-bing Loni.

"Suthay menghendaki mereka segera mampus? Atau akan disiksa dulu biar mati lambat-lambat?"

"Kalau Ham Gwat dan lain-lain menyusul tiba, tentu keadaan sulit diselesaikan, lebih baik bunuh saja mereka."

Demikian sahut Bu-bing.

"Agaknya Suthay terlalu lemah hati,"

Demikian ujar Tok-sim-sin-mo sambil bergelak tawa pula, sekali ayun serempak delapan pedang mulai bergerak pula.

Sementara itu Hun Thian-hi berdua sudah terdesak mundur berulang-ulang, terpaut tiga kaki lagi mereka sudah terdesak mepet dinding.

Sejak tadi Hun Thian-hi sudah waspada menerawang situasi gelanggang, sebelum kedelapan pedang musuh melancarkan gelombang serangan yang ketiga kali, mendadak ia bersuit nyaring, seiring dengan itu tubuhnya melejit menerjang ke arah satu jurusan.

Tepat pada saat itu pula kedelapan pedang musuh, susul menyusul sudah merangsak tiba merintangi jalan larinya.

Hun Thian-hi menghardik laksana geledek, dengan dilandasi seluruh kekuatannya pedangnya melancarkan jurus terakhir dari Gin-ho-sam-sek yang hebat penjagaannya itu, jurus ini memang peranti untuk membela diri tapi juga berguna balas menyerang, ujung pedangnya sampai menyala seperti besi terbakar balas menyerang ke arah musuh.

Untungnya gerakan kedelapan pedang musuh kurang serasi dan saling atas-mengatasi sendiri, justru serangan balasan Hun Thian-hi tepat pada waktunya dan persis pula menyusup ke lobang kelemahan mereka, ujung pedangnya sekaligus berhasil menyampok miring senjata musuh malah ada yang sampai terpental terbang.

Dengan kesempatan ini ia berhasil menjebol kepungan dan melesat keluar.

Di saat itu juga bau wangi segera berkembang luas di tengah udara.

Keruan Toksim-sin-mo dan Bu-bing Loni sama berjingkrak kaget.

Cepat mereka lihat Bing-tiong-mo-tho dan Lam-bing-it-hiong berenam sedang tongol2 goyang2 kepala mulai siuman dan mendeprok lemas duduk di tanah.

Dikala Tok-sim-sin-mo dan Bu-bing sama melongo tertegun inilah, Hun Thian-hi dan Pek Si-kiat sudah melabrak tiba pula lebih sengit dan gemas.

Kontan kedua gembong jahat ini menjadi gelagapan, ciut nyalinya, sekarang mereka yang balik terdesak mundur, tapi ini cuma sementara waktu karena tadi belum bersiaga, setelah pikiran tenang kini mereka mampu balas menyerang pula mengatasi situasi.

Dalam pada itu Lam-bing-it-hiong berenam sudah duduk samadi mengempos semangat memulihkan tenaga.

Keruan Hun Thian-hi berdua sangat girang, gabungan permainan pedang mereka berkembang laksana layar perahu berkembang tertiup angin kencang, sedemikian rapat mereka menjaga diri tanpa balas menyerang.

Tok-sim-sin-mo dan Bu-bing menjadi kewalahan dan tak mampu berbuat banyak menghadapi kedua musuhnya ini.

Mereka insaf kalau terlalu lama bila keenam orang itu sudah pulih tenaganya, tentu mereka bakal bantu pihak Hun Thian-hi melabrak diri sendiri, betapapun tinggi ilmu silat mereka mana mampu melawan keroyokan delapan musuh.

Cuma tak habis heran Tok-sim-sin-mo bahwa Hun Thian-hi ternyata masih punya bungkusan obat pemunah yang lain.

Tahu bila dilanjutkan situasi tidak menguntungkan pihaknya akhirnya Tok-sim-sin-mo berkeputusan, serunya.

"Kalian jangan keburu senang, ketahuilah rahasia Badik buntung itu sudah dapat kupecahkan, aku sudah berhasil menemukan peta yang berada di kerangka Badik buntung itu!"

Tepat pada saat itu juga dilihatnya Lam-bing-it-hiong berenam sudah membuka mata dan serempak berdiri sambil menenteng pedang. Tok-sim-sin-mo bergelak menggila, serunya.

"Sementara kami mohon diri, selamat bertemu di dalam istena sesat!" -bersama Bu-bing, mereka lari ke dalam. Terpaksa Pek Si-kiat dan Hun Thian-hi pimpin pengejaran. Pada saat itu pula Ham Gwat dan lain-lain juga tengah mengejar tiba di belakang mereka. Tok-sim-sin-mo dan Bu-bing Loni iangsung lari ke arah istana sesat. Teringat akan peringatan IIwe-tok-kun, Hun Thian-hi menjadi gugup, bentaknya.

"Jangan masuk kesana!"

Tapi dengan dipimpin Tok-sim-sin-mo diikuti Bu-bing Loni mereka terus menerjang masuk ke dalam sebuah lorong panjang.

Begitu mendengar derap langkah Hun Thian-hi dibelakang, diam-diam bercekat hatinya.

"Bagaimana membebaskan diri dari kejaran Hun Thian-hi, Ni-hay-ki-tin terletak didasar istana sesat ini, sekali2 jangan sampai Hun Thian-hi ikut sampai di tempat itu" -serta merta langkah kakinya dipercepat melesat ke arah depan. Bu-bing mengintil tak jauh dibelakangnya. Melihat orang menuju kejalan kematian, teriakannya tidak dihiraukan, Thian-hi menjadi kehabisan akal. Kalau Tok-sim-sin-mo mempercepat langkah, sebaliknya ia harus memperhatikan berapa kali tikungan kekanan atau kekiri, sehingga langkahhnya tidak bisa cepat, tak lama kemudian bayangan kedua orang di depan sudah lenyap tak kelihatan. Thian-hi menjadi gugup, baru saja ia mempercepat langkahnya, mendadak didengarnya suara jeritan orang yang menusuk kuping, cepat ia melesat ke depan. Tampak disebelah depan sana ditaburi kabut yang bergulung-gulung, Bu-bing Loni sedang berdiri terpaku ketakutan. Sementara itu Tok-sim-sin-mo sudah menerjang ke dalam kabut itu. tampak pedangnya terjatuh di tanah, kedua tangannya saling cengkeram dengan kencang, pelan-pelan badannya mulai roboh terkapar, tak lama kemudian seluruh tubuhnya mencair menjadi genangan air kuning. Terbelalak Hun Thian-hi menyaksikan adegan yang seram ini, hatinya mencelos. Ucapan I-lwetok-kun. memang tidak salah, racun sedemikian jahatnya siapa yang pernah menyaksikan. Tiba-tiba Bu-bing Loni membalik tubuh, serta dilihatnya Hun Thian-hi mengadang disana, matanya memencarkan dendam dan gusar yang meluap-luap. Selama ini belum pernah Thian-hi melihat mimik wajah Bu-bing sedemikian seram, tanpa sadar ia tergetar mundur. Bu-bing melangkah setindak, pedangnya bergerak ia berkeputusan melancarkan Lian-hoansam-sek menggempur Hun Thian-hi. Dalam detik-detik antara mati dan hidup ini, entah darimana kekuatan Hun Thian-hi, mulutnya menggembor keras, tubuhnya melambung ke tengah udara, Cu-hong-kiam bergetar melancarkan Wi-thian-cit-ciat-sek, disaat batang pedangnya cuma bergeser beberapa senti itu, tenaga bergelombang laksana damparan ombak dahsyat melandai ke depan dari tujuh arah sasaran yang berbeda menyongsong rangsakan Lian-hoan-sam-sek Bu-bing Loni. Dua macam ilmu pedang tingkat tinggi yang tiada taranya saling mengadu kekuatan, seketika hawa pedang membuat udara bergolak, cahaya merah dan putih saling berkutat berkembang menjadi jalur2 laksaan banyaknya.

"Tring"

Maka terlihat Hun Thian-hi terpental mundur melayang jatuh dengan enteng dan tenang.

Sebaliknya, Bu-bing Loni terpental mundur sempoyongan ke belakang dimana kabut jahat itu menanti kedatangannya.

Mimpi pun Hun Thian-hi tidak menyangka bahwa latihan Wi-thian-cit-ciat-seknya sekarang sudah berada di atas tingkatan Lian-hoan-sam-sek, karena kegirangan sesaat dia tertegun melongo, serta dilihatnya Bu-bing hampir roboh ke dalam kabut, kejutnya bukan kepalang, rasa kemanusiaannya secara reflek menghendaki ia bertindak cepat.

Laksana kilat sembari menghardik ia melesat ke depan sambil meraih baju Bu-bing terus ditarik balik mentah-mentah.

Bu-bing angkat kepala dengan pandangan heran dan kejut ia awasi Hun Thian-hi, tapi rasa heran dan kejut ini cuma sekilas saja, tiba-tiba pedang panjangnya menabas miring menyapu pinggang Thian-hi....

Thian-hi tidak kira setelah jiwanya tertolong Bu-bing malah membalas budi dengan dendam.

tak sempat berkelit tahu-tahu bawah ketiak sebelah kanan sudah tergores panjang terluka oleh pedang panjang Bu-bing.

Sambil menahan sakit ia menyurut mundur dua tindak, dengan pandangan kaget dan tak mengerti ia awasi Bu-bing.

Bu-bing jadi melongo, tabasan pedangnya gerakan secara reflek saja karena ia menyangka Hun Thian-hi hendak menawan dirinya.

Tapi dari sorot mata Hun Thian-hi ini baru dia menyadari tindakkannya yang salah, tujuan Hun Thian-hi tak lain cuma hendak menolong jiwanya.

Kematian Tok-sim-sin-mo yang mengerikan itu segera terbayang dalam benaknya, selama hidup ini baru pertama ini timbul rasa penyesalan dalam sanubarinya.

Sekonyong-konyong seorang Nikoh pertengahan umur berjubah hijau mulus hinggap dihadapan mereka.

Seketika Hun Thian-hi menjerit heran, Nikoh ini bukan lain yang tempo hari menolong Ma Gwat-sian dan gurunya.

Sebaliknya begitu melihat Nikoh ini seketika pucat muka Bu-bing, badan gemetar dan lemas, pedang tak kuasa dipegang lagi jatuh berkerontangan di tanah.

Lagi-lagi terdengar seruan kejut, Ham Gwat berlari datang ke depan Thian-hi.

serunya sambil menahan air mata.

"Thian-hi bagaimana kau! Kenapa terluka begini berat?"

Hati Thian-hi menjadi sjurr dan hangat, sambil tersenyum manis pelan-pelan ia tarik Ham Gwat ke dalam pelukannya, sahutnya tertawa.

"Adik Ham Gwat, luka ringan saja. tidak menjadi soal!"

Merah jengah selebar muka Ham Gwat, katanya gugup.

"Ajah dan ibu juga datang!"

Hun Thjan-hi melengak sebentar. ia pun rada jengah dar terhibur malah, katanya tanpa berpaling.

"Tidak menjadi soal!"

Karena dipeluk Ham Gwat tak enak meronta, terpaksa ia sesapkan kepalanya ke dada Thian-hi.

ia tak berani bersuara saking malu.

Sementara itu Nikoh pertengahan umur sudah berpaling ke arah mereka, katanya.

"Ma Gwatsian dan gurunya berada di tempatku, mereka minta aku menyampaikan salam bahagia terhadap kalian, keadaan mereka baik-baik saja supaya kalian tak usah kuatir."

Terangkat kepala Ham Gwat, ia pandang Nikoh pertengahan umur dengan rasa girang dan bersyukur pula. Nikoh itu berpaling muka lalu ujarnya pula.

"Aku bernama julukan Ceng-i sian-cu! Sekarang aku harus cepat pulang. Bu-bing kubawa sekalian!" -tanpa menanti penyahutan Thian-hi berdua, ia tarik Bu-bing terus melayang pergi, sekejap saja menghilang dari pandangan mata. Ham Gwat dan Hun Thian-hi sesaat melongo. Ceng-i sian-cu, bukankah beliau kekasih Ah-lam Cuncia yang akhirnya menikah dengan Jing-bau-khek, bibi dari Goan Cong dan Goan Liang, murid tunggal Hui-sim Sini? Ternyata dia masih hidup. Tiba-tiba mereka mendengar suara tawa orang banyak, waktu mereka berpaling, dimana berdiri sebaris orang, Sutouw Ci-ko dan ayah bunda Ham Gwat sama tersenyum girang penuh bahagia. Saking malu jantung Ham Gwat hampir melonjak keluar, cepat ia sesapkan kepalanya di pelukan Thian-hi pula. Sekian lama mereka saling berpelukan tanpa bersuara tanpa hiraukan godaan orang lain lagi. Entah berapa lama berselang akhirnya Ham Gwat angkat kepala, tampak oleh Thian-hi kedua pipinya bersemu merah seperti delima matang, paras kulit yang putih halus ini tidak terlihat pucat seperti dulu lagi, pancaran matanya malah begitu mesra dan penuh cinta kasih. TAMAT

Baca Juga: Asmara Si Pedang Tumpul 5

Baca Juga: Kisah Tiga Naga Sakti 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert