Eps 10 Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo.
Tiba-tiba Ling Ling membentak nyaring, suaranya mengandung getaran yang amat kuat.
"Harap ji-wi mundur dulu dan biarkan aku bicara dengan manusia iblis ini!"
Katanya kepada Kok Beng Tbiancu dan Thai-kek Seng-jin.
Dua orang kakek ini mengangguk dan melangkah mundur, karena memang mereka ingin mempergunakan dara yang amat lihai ini untuk menghadapi para musuh mereka.
Tiga orang ketua Beng kauw kini memandang kepada Ling Ling dengan alis berkerut.
Kwan Cin Cu yang selalu berhati-hati tidak memandang rendah, hanya menduga-duga siapa gadis ini, karena kalau gadis ini seorang tokoh Im yang-kauw atau Pek lian kauw, mengapa namanya belum pernah terkenal di dunia kang-ouw, sebaliknya kalau bukan tokoh besar, tidak mungkin diajukan sebagai jagoan.
Hok Kim Cu memandang dengan wajah berseri, menaksir naksir dan membayangkan betapa akan bahagianya kalau dia bisa memperoleh keturunan dari seorang gadis yang begini cantik jelita dan gagah perkasa.
Sedangkan Thian Bhok Cu yang selamanya tidak suka kepada wanita itu memandang Ling Ling dengan penuh kebencian."
"Eh. kalian tiga orang kauwcu dari Beng-kauw. Kalau kalian bukan pengecut-pengecut tak tahu malu, tentu kalian akan mengakui semua perbuatan kalian dan berani bertanggung jawab. Aku bertanya, apakah sepuluh tahun yang lalu orang-orang kalian mengacau di Cin-an dengan menyamar sebagai orang-orang Im-yang-pai. Kwan Cin Cu merasa tidak perlu lagi menutupi kenyataan itu karena memang dia tahu ketika datang Cin Beng Thiancu dan dua orang muda Im-yang-kauw tempo hari bahwa fihak Im-yang-kauw telah mengetahui rahasia itu. Maka dengan mengangkat dada dia berkata.
"Kalau benar demikian, engkau mau apakah dan siapakah engkau, nona muda?"
"Perbuatan Beng-kauw yang pengecut dan curang itu telah menjadi sebab kematian pendekar Gan dan isterinya,"
Kata Ling Ling yang tidak mau memperkenalkan diri.
"kedatanganku ini untuk menebus kematian mereka. Pertama-tama aku ingin sekali bertemu dengan mereka yang sepuluh tahun lalu mengacau di Cin-an, kalau tidak salah, ada beberapa orang saikong dan nenek iblis. Aku tantang mereka untuk keluar dan melawanku, sebelum kami membuat perhitungan dengan kalian tiga orang ketua Beng-kauw!"
Ucapan yang lantang ini membuat semua anggauta Beng-kauw merasa penasaran.
Gadis itu masih muda sekali, kelihatan lemah, mengapa berani mengeluarkan suara besar seperti itu?
Kwan Cin Cu saling pandang dengan dua orang saudaranya.
Dia berpikir bahwa gadis ini agaknya seorang tokoh baru fihak musuh, sama sekali tidak terkenal sehingga sukar untuk mengukur kepandaiannya.
Sekarang gadis itu menantang murid-murid mereka yang dahulu bertugas mengacau di Cin-an, sungguh merupakan kesempatan baik untuk mengujinya.
Maka dia lalu memandang ke kiri dan berkata.
"Ui-bin dan Hek-bin, kalian ditantang, majulah dan layani nona ini!"
Sejak tadi memang Ui-bin Sai-kong dan Hek bin Sai-kong yang merasa penasaran menyaksikan sikap para musuhnya, apalagi mendengar tantangan gadis itu.
Kini, mendapat perintah guru mereka, keduanya sudah cepat meloncat ke depan dan menghadapi Ling Ling.
"Kami berdua yang dulu mengacau di Cin-an!"
Kata Hek-bin Sai-kong yang bermuka hitam penuh brewok itu.
"Engkau siapakah dan mau apa?"
Ling Ling memandang kedua orang kakek itu dengan sinar mata tajam penuh selidik.
Dia mengingat-ingat dan dia mengenal mereka itu.
Ya, dia teringat akan dua orang saikong yang dulu hampir saja membunuh dia dan Sian Lun ketika mereka berdua membantu Pek I Nikouw melawan dua orang saikong ini.
Maka dia mengangguk-angguk dan berkata.
"Benar, aku ingat kepada kalian! Akan tetapi mana itu dua orang nenek iblis yang dulu mengacau di belakang Kuil Ban-hok-tong di Cin-an? Suruh mereka berdua maju sekalian untuk kubereskan!"
Dua orang saikong itu terkejut dan marah.
Mereka tentu saja tidak mengenal lagi gadis ini sebagai anak perempuan yang dulu membantu Pek I Nikouw.
Ketika dara remaja ini bertanya tentang dua orang nenek yang bukan lain adalah Mo-kiam Kui-bo dan Leng-kiam Kui bo, mereka makin marah, teringat betapa dua orang sumoi mereka itu telah tewas pula di tangan dua orang muda Im-yang kauw.
"Bocah sombong! Untuk menghadapi engkau, cukup dengan kami berdua!"
Bentak Ui-bin Sai-kong sambil menggerakkan kedua tangannya yang memegang senjata kongce, semacam tombak trisula yang pendek.
Hek-bin Sai-kong juga sudah mencabut sepasang pedangnya dan memasang kuda-kuda.
Ling Ling memandang tajam, melihat senjata kedua orang kakek ini teringatlah dia akan peristiwa sepuluh tahun yang lalu ketika ia melawan kongce itu dengan sebatang pedang kecil sehingga pedangnya patah dan dia nyaris tewas oleh tendangan kakek bermuka kuning ini kalau saja tidak ditangkis oleh Sian Lun!
Maka sambil tersenyum mengejek dia berkata.
"Nah, kalian majulah!"
Tentu saja dua orang saikong itu merasa sungkan untuk menyerang seorang dara remaja yang bertangan kosong dengan menggunakan senjata, apa lagi mengingat bahwa mereka maju berdua.
Dengan mata mendelik karena sudah marah sekali, Ui-bin Sai-kong membentak.
"Bocah sombong, keluarkan senjatamu!"
Akan tetapi Ling Ling tersenyum."Saikong siluman, semenjak pedang kecilku kaupatahkan dengan kongcemu itu sepuluh tahun yang lalu.
aku ingin sekali mematahkan kongcemu dengan tangan kosong saja.
Majulah!"
Alis Ui-bin Sai-kong berkerut dan kini teringatlah dia kepada anak perempuan kecil yang pernah menyerangnya, membantu Pek I Nikouw yang lihai.
"Ah, kiranya engkau bocah setan itu?"
Bentaknva, diam-diam dia merasa jerih juga karena ketika anak itu berusia delapan tahun saja sudah membuktikan keberanian yang luar biasa.
Sekarang, dengan sikap yang angkuh ini, kiranya anak luar biasa yang telah menjadi dara remaja ini tentu mempunyai suatu andalan yang cukup kuat Maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu membentak keras dan menyerang dengan sepasan kongcenya.
Sinar putih menyambar dari kanan kiri, mengarah kepala dan lambung Ling Ling.
Biarpun bagi orang awam dan bagi para anggauia perkumpulan yang hidir dan yang rata-rata memiliki ilmu silat cukup kuat itu nampak betapa sepasang kongce itu menyambar amat cepatnya sehingga berobah menjadi dua sinar putih, namun bagi Ling Ling, gerakan itu terlampau lamban!
Dengan amat mudahnya dia mengelak dan mundur dua langkah ke belakang.
Akan tetapi pada saat itu, terdengar bentakan parau dan Hek-bin Sai-kong sudah menyerang dari kiri, sepasang pedangnya juga berobah menjadi dua gulungan sinar yang menusuk dan membabat.
Pada saat yang hampir bersamaan, sepasang kongce yang tadi tidak mengenai sasaran, kini sudah meluncur datang lagi melengkapi serangan sepasang pedang.
Boleh dikara empat batang senjata menyambar dari pelbagai jurusan secara hampir serentak.
Dengan gerakan indah dan lincah, senyumnya tak pernah meninggalkan bibir, Ling Ling terus mengelak dan dia bersilat dengan gaya Kong-jiu-jip-pek-to (Dengan Tangan Kosong Memasuki Ratusan Golok), ilmu silat yang menjadi kebanggaan dari perguruan di Kwi-hoa-san.
Ilmu ini tentu saja mengandalkan kelincahan atau ginkang yang amat tinggi, di samping langkah-langkah kaki yang amat hebat sehingga setiap gerakan tubuh, setiap langkah kaki, sudah mampu menghindarkan diri dari serangan lawan yang bagaimana hebatpun.
Melihat betapa sampai belasan jurus senjata mereka belum juga berhasil mencium lawan, dua orang saikong itu terkejut bakan main.
Tahulah mereka bahwa gadis ini adalah seorang yang amat mahir dalam ilmu ginkang, maka merekapun merobah siasat penyerangan mereka.
Kalau tadi mereka menyerang jurus demi jurus dengan gerakan kuat dan langsung, kini mereka mulai memutar senjata mereka dan hendak mempergunakan kecepatan putaran senjata itu untuk mengimbangi kecepatan lawan.
Maka nampaklah empat gulungan sinar yang berputar-putar dan mengepung Ling Ling dari empat penjuru, seolah-olah menutup seluruh jalan keluarnya!
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara melengking panjang dan lenyaplah tubuh dara itu dari depan mereka!
Dua orang kakek itu terkejut bukan main, cepat memutar tubuh dan menubruk dara itu yang sudah berada di belakang mereka.
Namun, kembali tubuh itu melesat dan berobah menjadi bayangan yang menghilang!
Demikian cepatnya gerakan dara ini sehingga kedua orang kakek itu menjadi pening dan kabur pandangan mata mereka setelah beberapa kali mereka berputaran karena selalu dara itu lenyap setiap kali diserang.
Inilah ilmu ginkang yang sudah mencapai puncaknya dan hal ini tidak mengherankan.
Dara itu dibimbing sendiri oleh Bu Eng Lojin, kakek sakti itu.
Dari julukan ini saja, Bu Eng (Tanpa Bayangan), orang dapat menduga bahwa kakek itu adalah seorang ahli ginkang yang luar biasa, dan memang demikianlah adanya.
Maka, setelah Ling Ling dapat mewarisi ginkang dari suhunya ini, dia dapat pula melakukan gerakan gerakan yang sedemikian cepatnya seolah olah dia dapat menghilang saja seperti setan!
Kalau Ling Ling menghendaki, tentu dia sudah dapat merobohkan dua orang lawannya itu dalam beberapa jurus saja karena memang tingkat kepandaian dua orang saikong itu masih jauh di bawah tingkatnya.
Akan tetapi Ling Ling memang ingin menguji kepandaian dua orang lawan itu dulu di samping keinginannya menguji diri sendiri.
Kini, setelah dua orang kakek itu pening dan tubrukan-tubrukan serta serangan-serangan mereka mulai ngawur, tiba-tiba dia melengking nyaring dan ketika dua orang kakek itu menubruknya, tubuhnya mencelat ke atas dan dari atas dia sudah cepat mengulur tangan dan di lain saat kedua tangannya telah merampas sebatang pedang dan sebatang kongce!
Dua orang kakek itu marah sekali, membalik dan melihat betapa dara itu telah berdiri menanti mereka dengan dua macam senjata itu di tangan!
Dua orang saikong itu mengeluarkan suara menggereng seperti singa dan mereka menubruk dengan senjata mereka yang tinggal sebelah itu.
Ling Ling tidak mengelak, melainkan menggunakan kedua senjata itu menangkis sambil mengerahkan sinkangnya.
"Cringgg! Cringggg!!"
Bunga api berhamburan ketika kongce bertemu kongce dan pedang bertemu pedang, dan akibatnya pedang dan kongce di tangan Ui-bin Sai-kong dan Hek-bin Sai-kong telah patah!
Dan sebelum dua orang saikong itu mampu menghilangkan rasa kaget, kembali dara itu mengeluarkan lengking panjang, kedua tangannya bergerak dan nampaklah dua sinar berkeredepan menyambar ke depan.
Dua orang kakek itu berteriak mengerikan dan roboh dengan dada tertancap senjata masing-masing sampai tembus ke punggun!
Tewaslah mereka dengan mandi darah!
Melihat tewasnya dua orang murid yang di andalkan dalam keadaan mengerikan itu, Kwa Cin Cu marah bukan main.
"Keparat, berani engkau membunuh murid kami?"
Bentaknya dan sinar terang menyambar dahsyat ketika golok peraknya meluncur dan dia sudah menyerang Ling Ling dengan kemarahan meluap.
Golok itu menyambar bagaikan seekor harimau menerkam kelinci, dan begitu Ling Ling mengelak dengan loncatan ringan ke kiri, kembali sinar golok sudah mengejar dan menyerang dengan babatan pada kedua pahanya!
Kembali Ling Ling meloncat ke kanan, akan tetapi dari sebelah kanan ini tangan kiri Kwan Cin Cu sudah bergerak memukul dan nampaklah uap hitam menyambar.
Itulah tanda bahwa kakek ini telah melakukan pukulan yang lebih keji dari pada goloknya karena pukulan itu adalah ilmu Toat-ben tok-ciang (Tangan Beracun Mencabut Nyawa) yang ketika melatihnya dipergunakan otak dan darah segar anak-anak!
Ling Ling tidak terkejut, bahkan dengan berani dia juga menggerakkan tangan kanan menyambut hantaman pukulan sakti itu.
Melihat ini, Kwan Cin Cu yang agak memandang rendah lawan yang disangkanya hanya memiliki ginkang yang tinggi saja dan nona semuda itu tidak mungkin dapat menahan pukulannya Toat-beng-tok-ciang, merasa girang sekali dan dia menambah tenaga pada dorongan tangan kirinya.
"Desss""..!!"
Akibat benturan dua telapak tangan itu sungguh tak terduga sama sekali oleh ketua pertama dari Beng-kauw ini.
Dia terpental sampai tiga meter dan tubuhnya tergetar hebat sehingga tubuhnya terasa panas dingin, sedangkan tubuh dara itu hanya mendoyong ke belakang saja!
Melihat betapa dalam adu tenaga itu suheng mereka kalah kuat, Hok Kim Cu dan Thian Bhok Cu sudah menerjang pula untuk mengeroyok Ling Ling.
Akan tetapi Thai-kek Seng-jin sudah meloncat ke depan menyambut Hok Kim Cu, sedangkan Kok Beng Thiancu juga maju menyambut Thian Bhok Cu!
Terjadilah pertempuran antara enam orang tokoh itu, tiga lawan tiga!
Hok Kim Cu dengan pedang emasnya yang lihai itu bertemu lawan tangguh dan seimbang, yaitu Thai-kek Seng-jin yang mainkan tongkat bambunya yang terbuat dari bambu Sisik Naga.
Mereka sama-sama mengeluarkan segala ilmu kepandaian mereka, mengerahkan seluruh tenaga untuk merobohkan lawan, dan saking cepatnya mereka memutar senjata, maka tubuh mereka sampai lenyap terbungkus oleh gulungan sinar emas dan sinar hijau dari pedang dan tongkat itu.
Pertandingan ini sungguh hebat, seru dan seimbang sehingga amat menegangkan hati mereka yang menontonnya.
Thian Bhok Cu juga menghadapi lawan sang seimbang, yaitu Kok Beng Thiancu.
Ketua Im-yang-pai ini memang lihai bukan main dan biarpun dia menghadapi tongkat kayu Thian Bhok Cu agaknya seperti dengan kedua tangan kosong belaka, namun sesungguhnya tidak demikian karena kedua tangannya itu menggenggam masing-masing sebatang pisau kecil yang tak diperlihatkan dan ditekuk ke dalam, tersembunyi di balik lengan baju sedangkan gagangnya tergenggam tangan.
Akan tetapi, setiap pukulannya kalau dielakkan lawan, maka pisau yang tersembunyi itu akan mencuat keluar dan menyerang ke arah tubuh lawan yang mengelak.
Gerakan pisau ini disontekkan dengan pergelangan tangan sehingga tidak tersangka-sangka datangnya.
Lawan yang sudah mengira berhasil mengelak pukulan akan terkejut karena tiba-tiba ada pisau kecil yang merobek kulit tubuhnya!
Akan tetapi, Thian Bhok Cu adalah ketua nomor tiga dari Beng-kauw yang sudah banyak pengalaman dan sudah mendengar akan senjata aneh lawannya inil, maka diapun tidak mau bertempur dalam jarak dekat, melainkan menggunakan keuntungan yang ada padanya dalam pertempuran itu, dengan mengandalkan tongkatnya yang panjang mengirim totokan-totokan maut ke arah jalan darah lawan.
Maka, tak 1ama kemudian Kok Beng Thiancu terdesak hebat dan hanya mampu mengelak atau menangkis sambil melim dungi lengan yang menangkis dengan matj pisau yang disembunyikan iiu.
Sementara itu, Kwan Cin Cu masih berusaha mendesak Ling Ling dengan golok peraknya yang menyambar-nyambar ganas diselingi pukulan-pukulan Toat-beng-tok-ciang.
Namun justeru ketua pertama dari Beng-kauw inilah yang memperoleh lawan terlampau berat baginya, tidak seperti dua orang sutenya yang setidaknya masih dapat mempertahankan diri dalam pertandingan yang seru dan berimbang.
Betapapun Kwan Cin Cu telah mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya, namun Ling Ling masih dapat mempermainkannya karena dara remaja itu mengandalkan ginkangnya yang amat luar biasa Bahkan Kwan Cin Cu sendiri sempat dibikin pening dan bingung karena beberapa kali lawannya itu tiba tiba saja lenyap dan tahu-tahu muncul dibelakang atau di kiri atau kanannya dengan serangan maut berupa pukulan yang mengandung hawa panas mengerikan!
Kwan Cin Cu menjadi nekat dan sambil menyerang makin ganas, dia mengeluarkan pekik yang memerintahkan anak buahnya untuk menyerbu musuh!
Orang orang Beng-kauw yang tadinya asyik menonton pertandingan tingkat tinggi itu, menjadi terkejut dan mereka lalu berteriak teriak, megangkat senjata dan menyerbu rombongan orang-orang Pek-lian-kauw dan Im-yang-kauw.
Tentu saja fihak dua perkumpulan inipun menyambut serbuan itu dengan marah dan terjadilah pertempuran di pagi hari yang cerah di tepi pantai Po-hai itu!
Gu Lam Sing, tokoh Uighur dan jago gulat itu, seperti orang berpesta saja karena dia tidak mendapatkan lawan yang terlalu tangguh, dan setiap kali dia berhasil menangkap lengan seorang musuh, tentu orang itu ditekuknya seperti menelikung ayam, membantingnya dan lawan itu tewas dalam keadaan mengerikan, kepala pecah dan tulang remuk-remuk atau dengan kaki dan lengan terlepas sambungan tulangnya!
Beberapa kali Kwan Cin Cu dan dua orang sutenya berusaha mempergunakan ilmu sihir bahkan Kwan Cin Cu hampir saja berhasil menundukkan Ling Ling dengan ilmunya Sin gan Hoat lek, yaitu semacam ilmu hypnotism yang mencengkeram dan menguasai batin lawan.
Akan tetapi semua usahanya dan usaha dua orang sutenya itu selalu digagalkan pada saat munculnya oleh Thai-kek Seng-jin yang waspada akan hal semacam itu.
Setiap ilmu sihir yang dikeluarkan oleh tiga orang ketua Beng-kauw ini lenyap oleh bentakan ketua Pek-lian-kauw ini.
Dan memang dalam ilmu sihir Pek-lian-kauw sudah terkenal mempunyai banyak ahlinya yang kuat sekali, termasuk Thai-kek Seng-jin inilah.
Dan tentu saja pengaruh sihir yang dilepas oleh tiga orang ketua Beng kau itu tidak dapat dengan sepenuhnya mempengaruhi orang-orang yang memiliki sinkang sekuat Kok Beng Thiancu dan Ling Ling sehingga tenaga sihir mereka itu sudah banyak berkurang kekuatannya.
Melihat betapa pertempuran telah berlangsung antara anak buah Beng kauw melawan anak buah Pek-lian-kauw dan Im-yang-pai Ling Ling mengeluarkan suara melengking panjang dan kini gerakannya makin cepat lagi, membuat lawannya bingung dan pada saat Kwan Cin Cu dengan bingung memutar tubuhnya membalik, Ling Ling sudah meloncat lagi dengan kecepatan kilat ke sebelah kanan lawan dan begitu dia membentak nyaring dan tangannya menghantam, Kwan Cin Cu mengeluh dan golok peraknya terlepas dari pegangan karena lengan kanannya terasa nyeri seperti retak tulangnya ketika terkena pukulan Ling Ling dengan tangan miring.
"Aduhhh""..!"
Kakek ini masih sempat melempar tubuh ke belakang untuk menyelamatkan diri, akan tetapi baru saja dia meloncat bangun, kiranya dara itu sudah lebih dulu dari padanya dan menyambutnya dengan tendangan ke arah pusarnya.
Tendangan itu sedemikian cepat dan kuatnya sehingga Kwan Cin Cu dengan kaget menyilangkan kedua tangan di depan pusar untuk melindungi bagian berbahaya ini, akan tetapi pada saat itu, kedua tangan Ling Ling bergerak cepat, yang kanan menampar kepala yang kiri menotok ke arah dada!
Kwan Cin Cu mengangkat tangan kiri ke atas sambil mengerahkan tenaga Toat-beng-tok-ciang, menangkis tamparan ke arah kepalanya, namun karena kecepatan dara itu memang jauh lebih menang, kakek ini tidak dapat mengelak lagi ketika tangan kiri dara itu menotok dadanya, tepat mengenai jalan darah besar yang langsung berhubungan dengan jantungnya.
"Kekkk"".!!"
Kwan Cin Cu megap-megap, kedua tangannya mendekap dadanya dan roboh terjengkang, tewas tak lama kemudian karena jalan darah itu telah pecah dan jantungnya terguncang hebat!
Melihat lawannya telah roboh, Ling Ling cepat meloncat dan membantu Kok Beng Thiancu yang masih sibuk menghadapi desakan tongkat Thian Bok Cu.
Melihat suhengnya roboh Thian Bhok Cu marah dan menyambut terjangan Ling Ling dengan tusukan tongkat ke arah ke dua mata dara itu!
Akan tetapi, Ling Ling sekali ini memperlihatkan kepandaiannya.
Dia tidak mengelak, bahkan memapaki dan ternyata gerak tangannya lebih cepat dari pada gerakan tongkat lawan sehingga sebelum tongkat itu menyentuh bulu matanya dia telah terlebih dulu dapat menangkapnya, mengerahkan tenaga sinkang, menekuk dan"".
"Krekkkk!"
Tongkat itu patah menjadi tiga potong!
Pada saat Thian Bhok Cu terkejut sekali melihat tongkatnya yang ampuh itu patah-patah, Kok Beng Thiancu telah menubruk dan dua batang pisaunya amblas memasuki leher dan dada ke tua nomor dua dari Beng-kauw itu.
"Crepp"""
Blessss"".. aughhhh"".."
Thian Bhok Cu roboh pula dan tewas.
Melihat betapa suheng dan sutenya tewas, bukan main marahnya hati Hok Kim Cu.
Akan tetapi kemarahan ini bercampur rasa gentar karena dia tahu bahwa melanjutkan perlawanan berarti akan membunuh diri.
Fihak lawan terlalu kuat.
Kalau masih ada Maghi Sing, tidak mungkin fihak lawan akan dapat menandingi.
Beng-kauw, bahkan kalau di situ ada Gin San saja, tentu fihak musuh dapat dipukul mundur.
Akan tetapi kini dua orang ketua Beng-kauw telah tewas dan kalau dia tidak cepat melarikan diri, dia tentu akan tewas pula.
Tiba-tiba dia membentak nyaring dan pedang emasnya melakukan serangan yang dahsyat sekali terhadap Thai-kek Seng-jin.
Ketua Pek-lian-kauw ini terkejut dan terpaksa meloncat mundur sambil memutar tongkat bambunya untuk melindungi tubuhnya.
Akan tetapi kiranya lawan yang membuka serangan dahsyat tadi tidak melanjutkan serangannya, bahkan mempergunakan kesempatan selagi dia meloncat ke belakang tadi, kini Hok Kim Cu membalikkan tubuhnya dan melompat jauh untuk melarikan diri!
Tiba-tiba nampak bayangan orang berkelebat cepat sekali dan tahu-tahu Ling Ling telah menerjang Hok Kim Cu dari samping.
Hok Kim Cu masih melihat berkelebatnya bayangan di sebelah kanannya ini, maka dia cepat menggerakkan pedang emasnya untuk menyerang.
Akan tetapi Ling Ling sudah miringkan tubuhnya sambil mengirim tendangan yang tak terduga-duga dan yang tepat mengenai lutut kanan Hok Kim Cu.
"Krekkk! Aughhh"".!"
Karena sambungan lututnya patah, tubub Hok Kim Cu terguling dan dia masih berusaha untuk menggunakan pedangnya membacok ke arah kaki Ling Ling Namun dara itu lebih cepat, sudah meloncat menghindar, bahkan kini kakinya menyambar lagi, tepat mengenai punggung tangan yang memegang pedang sehingga pedang emas itu terlempar.
Dan sebelum Hok Kim Cu mampu bangkit, nampak ada seorang dara lain yang menubruk dengan pedangnya.
"Blessss""..!"
Pedang di tangan gadis ini menusuk perut Hok Kim Cu sampai tembus.
Kakek ini mengeluarkan teriakan mengerikan dan darah menyembur keluar.
Tewaslah dia dalam keadaan mengerikan pula.
Ling Ling melihat bahwa yang membunuh Hok Kim Cu adalah Liang Hwi Nio, gadis cantik murid Im-yang-kauw yang pernah menyerbu ke sarang Beng-kauw dan pernah tertawan.
Liang Hwi Nio sudah mencabut kembali pedangnya sambil meloncat mundur, kemudian membungkuk ke arah Ling Ling sambil berkata.
"Harap lihiap maafkan kelancanganku, sekarang baru puas hatiku telah membunuh jahanam ini!"
Ling Ling hanya mengangguk dan tersenyum, dapat menduga bahwa kebencian gadis itu tentu ada sebabnya, dan dia dapat menduganya.
Tentu Hok Kim Cu pernah bersikap menyakitkan hati ketika gadis ini menjadi tawanan dahulu.
Dugaannya memang benar.
Hok Kim Cu hampir saja berhasil memperkosa Hwi Nio dan dia itu tentu telah menjadi korbannya kalau tidak muncul Gin San yang menyelamatkannya.
Melihat betapa tiga orang ketua mereka telah roboh dan tewas, lenyaplah semangat para anggauta Beng-kauw.
Mereka melarikan diri meninggalkan mayat hampir setengah jumlah mereka yang diamuk oleh Gu Lam Sing dan para anggauta Pek-lian-kauw dan Im-yang-pai.
Dengan kegembiraan besar sebagai orang-orang yang menang perang, rombongan itu meninggalkan sarang Beng-kauw dan kembali ke sarang mereka, yaitu sarang Pek lian kauw karena untuk sementara Im-yang-pai menumpang di tempat sekutunya itu.
Telaga Po-yang terletak dalam Propinsi Kiang-si di selatan.
Telaga ini cukup besar dan pemandangan alam di sekitar telaga itu amat indah.
Hawanyapun sejuk sekali karena telaga ini terletak di antara bukit-bukit yang penuh dengan hutan-hutan liar.
Di dalam sebuah hutan di tepi Telaga Po-yang ini terdapat sekumpulan rumah yang merupakan sebuah perkampungan.
Namun sesungguhnya bukan sebuah kampung atau dusun biasa, melainkan sebuah markas atau sarang dari perkumpulan Beng-kauw.
Beng-kauw di selatan ini menjadi sumber atau pusat dari Beng-kauw yang banyak didirikan di mana-mana sebagai cabangnya.
Karena Beng-kauw yang berada di tepi Telaga Po-yan ini merupakan pusatnya, maka kegiatan di situ sebagian besar hanya mengajarkan dan mengembangkan pelajaran agama itu.
Biarpun demikian.
Nama Beng kauw di tempat ini amat terkenal oleh semua golongan kang-ouw, karena Beng kauw terkenal mempunyai banyak orang sakti, sungguhpun mereka itu tidak pernah mengadakan bentrokan dengan siapapun.
Kalau membandingkan sepak terjang Beng kauw pusat ini dengan Beng-kauw yang berada di cabang-cabang, sungguh mengherankan semua orang.
Beng kauw di pusat ini seperti sebuah perkumpulan agama yang serius, yang melakukan ibadat dan menjauhkan diri dari perbuatan jahat, sebaliknya Beng-kauw di cabang, terutama yang berada di utara dan dipimpin oleh Maghi Sing, selain memasuki kesibukan dunia kang-ouw, bahkan menjurus ke arah pergerakan politik!
Akan tetapi Beng kauw pusat di tepi Telaga Po-yang ini masih murni, oleh karena itu maka dihormati oleh semua golongan kang-uw Peraturannya bagi anak buahnya amat keras.
Terutama sekali karena Beng kauw itu diketuai oleh seorang yang memiliki kepandaian amat luar biasa yang tidak pernah memperlihatkan ilmu ilmunya itu di luar Ben kauw, maka orang-orang kang ouw makin segan dan menghormat, tidak berani sembarangan mencampuri urusan pribadi Beng kauw.
Ketua Beng kauw itu adalah seorang kakek tua renta, sukar ditaksir berapa usianya akan tetapi jelas lebih dari seratus tahun!
Kakek ini hanya dikenal julukannya saja, yaitu Bu Heng Locu.
Menurut kabar angin, kakek ini selama puluhan tahun bertapa di dunia barat, di antara puncak-puncak Himalaya dan baru setelah usianya tua dia kembali ke timur membawa Agama Beng-kauw itu untuk dikembangkan.
Maghi Sing yang menjadi tokoh Beng-kauw di utara itu adalah murid keponakannya.
Melihat kehebatan ilmu kepandaian Maghi Sing, maka dapat dibayangkan betapa saktinya kakek tua renta yang seperti sudah pikun ini!.
Beng-kauw pusat ini merupakan semacam penggemblengan bagi calon-calon pendeta Beng-kauw yang setelah tamat ditugaskan untuk memperkembangkan agama itu ke seluruh pelosok dunia.
Selain Bu Heng Locu sebagai ketuanya, juga di situ terdapat lima orang kakek yangj usianya sebaya dengan sang ketua, lima orang kakek tua renta yang amat dihormati karena mereka ini adalah Lima Penasihat Tua, yang merupakan dewan penasihat dari pusat perkumpulan Beng-kauw ini!
Dan para calon pendeta yang menjalani penggemblengan disitu, bukan hanya digembleng dengan ilmu agama, akan tetapi juga dengan ilmu silat Beng kauw yang amat tinggi, tidak pernah lebih dari lima-puluh orang jumlahnya.
Dewan Penasihat atau Lima Penasihat Tua itu, biarpun amat dihormati dan merupakan ahli-ahli Agama Beng kauw, namun dalam hal ilmu silat mereka tidaklah sehebat kepandaian sang ketua, karena memang mereka jauh lebih condong memperdalam ilmu agamanya dari pada ilmu silatnya.
Namun mereka ini dihormati oleh semua anggauta, bahkan sang ketua sendiri tunduk kepada mereka dan selalu mempertimbangkan nasihat-nasihat mereka.
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, nampak perobahan besar terjadi di perkampungan Beng kauw ini.
Biasanya, perkampungan ini sunyi dan tenang sekali, nampak damai dan tenteram, hanya terdengar bunyi pendeta membaca doa atau mantera, atau terdengar pula suara mereka kalau sedang berlatih silat, dan yang nampak di luar rumah-rumah itu hanya para anggauta yang bekerja di sawah ladang di mana mereka menanam sayur-sayuran yang hidup lengan suburnya.
Akan tetapi, pagi hari itu, nampak perobahan besar ketika semua anggauta berkumpul di tanah terbuka yang berada di tengah-tengah pedusunan itu, tanah terbuka yang bersih dan ditumbuhi rumput hijau tebal.
Kurang lebih limapuluh orang anggauta itu semua berkumpul di situ, duduk membentuk lingkaran besar dan di tengah-tengah lingkaran duduk lima orang kakek yang bukan lain adalah Lima Penasihat Tua.
Juga para tokoh Beng kauw yang kedudukannya lebih inggi, yang telah berhak memakai jubah pendeta Beng-kauw, yang jumlahnya ada tujuh orang, telah berkumpul dan duduk tidak jauh dari Lima Penasehat Tua itu.
Mereka sedang merundingkan sesuatu dengan wajah serius.
Apakah yang telah terjadi?
Mereka itu sedang merundingkan keadaan sang ketua, Bu Heng Locu yang sedang dilanda sakit yang mengakibatkan kedua kaki kakek ini menjadi lumpuh!
Keadaan ini tentu saja mendorong para anggauta untuk memikirkan calon pengganti ketua, karena seorang ketua yang dalam keadaan sakit berat dan lumpuh tentu saja tidak dapat bekerja dengan baik dan perlu beristirahat.
Bahkan Bu Heng Locu sendirilah yang minta kepada para tokoh Beng-kauw untuk mengadakan pemilihan ketua baru, maka pada hari itu mereka semua, kecuali sang ketua yang rebah di dalam kamarnya, berkumpul di tanah terbuka semacam padang rumput itu untuk membicarakan persoalan penting itu.
Semenjak subuh tadi sudah diadakan perundingan, akan tetapi di antara tujuh orang murid Bu Heng Locu yang hadir di situ, tidak seorangpun berani menjabat kedudukan ketua Mereka merasa belum mampu untuk menggantikan kedudukan guru mereka.
"Hemm, kalau kalian sebagai murid-murid ketua kita merasa tidak mampu, lalu siapa yang yang patut menjadi ketua Beng-kauw?"
Akhirnya seorang di antara Lima Penasehat Tua berkata sambil menarik napas panjang.
"Kwan Liok, menurut pandangan kami, juga menurut pendapat suhumu, engkaulah satu satunya orang yang patut menggantikan kedudukan suhumu sebagai ketua Beng-kauw Mengapa engkau menolaknya?"
Seorang kakek lain di antara Lima Penasihat Tua itu berkata.
Kwan Liok adalah seorang di antara tujuh orang murid Bu Heng Locu, bahkan seorang murid terbaik, baik dalam ilmu silat maupun ilmu agama.
Akan.
tetapi, Kwan Liok yang terkenal sebagai seorang yang amat mencinta suhunya itu menggeleng kepala keras-keras dan dia mengerutkan alisnya sambil berkata.
"Maafkan saya, ngo-wi loclanpwe. Biarpun dalam keadaan sakit namun suhu masih ada, mengapa kita sibuk mencari pengganti ketua? Biarlah suhu tetap menjadi ketua dan kalau beliau tidak dapat (Lanjut ke
Jilid 37) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 37 melakukan tugasnya selagi sakit, dapat saja beliau memerintah kami sebagai murid-murid beliau untuk mewakili tugas beliau.
Akan tetapi kedudukan ketua sebaiknya biarlah tetap dipegang oleh suhu."
Enam orang murid yang lain mengangguk setuju dan agaknya semua anggauta yang lain juga setuju dan mulailah mereka berbisik-bisik sehingga keadaan menjadi agak bising.
Kebisingan itu membuat mereka agak lengah sehingga tidak melihat bahwa ada seorang lain yang datang.
Dari gerakannya yang seperti terbang cepatnya dan tidak diketahui oleh banyak orang pandai di situ membuktikan bahwa orang ini memiliki kepandaian tinggi.
Dia ini seorang laki-laki yang memakai jubah pendeta, akan tetapi pakaian dan jubahnya itu serba baru dan mewah, terbuat dari kain yang mahal dan bersulam, sepatunya hitam mengkilap baru dan pinggangnya memakai sabuk rantai emas, tangannya juga memegang sebatang tongkat terbuat dari pada emas!
Laki-laki ini usianya kurang lebih limapuluh tahun, akan tetapi wajahnya nampak muda, tampan dan gagah.
"Ha-ha ha, kalian semua telah melupakan aku agaknya!"
Tiba tiba dia berkata dan semua orang menoleh, memandang kepada laki-laki berpakaian pendeta yang memasuki lingkaran itu dengan lagak tinggi hati akan tetapi wajahnya berseri dan mulutnya tersenyum lebar.
Dengan langkah lebar dia menghampiri Lima Penasehat Tua dan membungkuk dengan sikap gagah.
"Ngo-wi locianpwe. aku menyampaikan salam hormatku!"
Kini semua orang mengenal orang ini, dan Lima Penasehat Tua juga segera mengenalnya, dan mereka merasa terkejut sekali.
Orang ini bukanlah orang asing bagi semua orang Beng Kauw.
Dia adalah Ouw Sek yang sudah berani berjuluk Pek-ciang Cin-jin.
Siapa yang berani berjuluk Cin-jin seharusnya adalah seorang pendeta yang benar-benar telah hidup dengan bersih, akan tetapi orang ini mempergunakan julukan seperti untuk mengejek saja!
Ouw Sek ini adalah bekas murid dari Bu Heng Locu, bahkan murid pertama dan yang paling dikasihi karena memang Ouw Sek memiliki bakat yang amat luar biasa dalam ilmu silat.
Dia hampir dapat mewarisi semua ilmu dari suhunya itu, dan andaikata tidak terjadi sesuatu yang membuat dia ternoda, agaknya semua tokoh Beng kauw sekarang tidaklah akan bingung menentukan siapa yang harus menggantikan kedudukan ketua Beng-kauw.
Tentu pilihan akan terjatuh kepada Ouw Sek ini Akan tetapi, tiga tahun yung lalu terjadilah hal yang hebat, hal yang bahkan menjadi sebab dari sakitnya ketua Beng-kauw sampai sekarang dan yang mengakibatkan Ouw Sek diusir dari Beng-kauw dan tidak diakui lagi sebagai murid atau anggauta Beng kauw.
Seperti kebiasaan para tokoh Agama Beng-kauw, pendeta-pendeta Beng-kauw tidak dilarang untuk beristeri.
Bu Heng Locu yang sudah tua itupun mempunyai seorang isteri muda yang cantik, yang usianya baru tigapuluh tahun.
Tiga tahun yang lalu, pada suatu malam yang sial, Bu Heng Locu yang biasanya kalau bersamadhi mengeram diri sendirian dalam sebuah guha di bukit yang tak jauh dari perkampungan Beng-kauw sampai satu bulan baru pulang, malam itu pulang dengan tiba-tiba setelah bersamadhi selama satu minggu.
Dan dapat dibayangkan bagaimana perasaan hatinya ketika dia melihat dalam kamarnya muridnya yang terkasih, Ouw Sek sedang berjina dengan isteri mudanya!
Kakek ini dapat menenangkan hatinya sehingga tidak melakukan hal yang keras.
Dia hanya menegur muridnya itu dan karena muridnya telah melakukan suatu pelanggaran yang amat besar, maka sesuai dengan peraturan, Ouw Sek diusir dan tidak diakui lagi sebagai anggauta Beng kauw.
Biarpun Ouw Sek menangis dan minta minta ampun, namun Bu Heng Locu tidak merobah keputusannya.
Ouw Sek terpaksa lalu pergi dari perkampungan Beng-kauw diantar pandang mata menghina dan merendahkan oleh semua anggauta Beng-kauw.
Akan tetapi, peristiwa itu tidak berbenti sampai di situ saja.
Isteri muda dari Bu Heng Locu itu saking malunya, telah menggantung diri sampai mati di dalam kamar mandi!
Peristiwa ini mendatangkan pukulan batin yang hebat bagi Bu Heng Locu yang sudah amat tua, ditambah lagi oleh jasmaninya yang memang telah tua dan lemah, maka dia jatuh sakit sakitan dan selama tiga tahun ini dia tak pernah sehat sampai akhirnya kedua kakinya menjadi lumpuh!
Oleh karena itu, dapat dibayangkan betara kagetnya semua orang ketika melihat munculnya murid murtad itu.
Akan tetapi, Lima Penasihat Tua adalah orang orang yang berpengalaman dan tidak mudah menjadi gugup.
Seorang di antara mereka lalu bangkit berdiri dan berkata dengan suara berwibawa, Enam orang murid yang lain mengangguk setuju dan agaknya semua anggauta yang lain juga setuju dan mulailah mereka berbisik-bisik sehingga keadaan menjadi agak bising.
Kebisingan itu membuat mereka agak lengah sehingga tidak melihat bahwa ada seorang lain yang datang.
Dari gerakannya yang seperti terbang cepatnya dan tidak diketahui oleh banyak orang pandai di situ membuktikan bahwa orang ini memiliki kepandaian tinggi.
Dia ini seorang laki-laki yang memakai jubah pendeta, akan tetapi pakaian dan jubahnya itu serba baru dan mewah, terbuat dari kain yang mahal dan bersulam, sepatunya hitam mengkilap baru dan pinggangnya memakai sabuk rantai emas, tangannya juga memegang sebatang tongkat terbuat dari pada emas!
Laki-laki ini usianya kurang lebih limapuluh tahun, akan tetapi wajahnya nampak muda, tampan dan gagah.
"Ha-ha ha, kalian semua telah melupakan aku agaknya!"
Tiba tiba dia berkata dan semua orang menoleh, memandang kepada laki-laki berpakaian pendeta yang memasuki lingkaran itu dengan lagak tinggi hati akan tetapi wajahnya berseri dan mulutnya tersenyum lebar.
Dengan langkah lebar dia menghampiri Lima Penasehat Tua dan membungkuk dengan sikap gagah.
"Ngo-wi locianpwe. aku menyampaikan salam hormatku!"
Kini semua orang mengenal orang ini, dan Lima Penasehat Tua juga segera mengenalnya, dan mereka merasa terkejut sekali.
Orang ini bukanlah orang asing bagi semua orang Beng Kauw.
Dia adalah Ouw Sek yang sudah berani berjuluk Pek-ciang Cin-jin.
Siapa yang berani berjuluk Cin-jin seharusnya adalah seorang pendeta yang benar-benar telah hidup dengan bersih, akan tetapi orang ini mempergunakan julukan seperti untuk mengejek saja!
Ouw Sek ini adalah bekas murid dari Bu Heng Locu, bahkan murid pertama dan yang paling dikasihi karena memang Ouw Sek memiliki bakat yang amat luar biasa dalam ilmu silat.
Dia hampir dapat mewarisi semua ilmu dari suhunya itu, dan andaikata tidak terjadi sesuatu yang membuat dia ternoda, agaknya semua tokoh Beng kauw sekarang tidaklah akan bingung menentukan siapa yang harus menggantikan kedudukan ketua Beng-kauw.
Tentu pilihan akan terjatuh kepada Ouw Sek ini Akan tetapi, tiga tahun yung lalu terjadilah hal yang hebat, hal yang bahkan menjadi sebab dari sakitnya ketua Beng-kauw sampai sekarang dan yang mengakibatkan Ouw Sek diusir dari Beng-kauw dan tidak diakui lagi sebagai murid atau anggauta Beng kauw.
Seperti kebiasaan para tokoh Agama Beng-kauw, pendeta-pendeta Beng-kauw tidak dilarang untuk beristeri.
Bu Heng Locu yang sudah tua itupun mempunyai seorang isteri muda yang cantik, yang usianya baru tigapuluh tahun.
Tiga tahun yang lalu, pada suatu malam yang sial, Bu Heng Locu yang biasanya kalau bersamadhi mengeram diri sendirian dalam sebuah guha di bukit yang tak jauh dari perkampungan Beng-kauw sampai satu bulan baru pulang, malam itu pulang dengan tiba-tiba setelah bersamadhi selama satu minggu.
Dan dapat dibayangkan bagaimana perasaan hatinya ketika dia melihat dalam kamarnya muridnya yang terkasih, Ouw Sek sedang berjina dengan isteri mudanya!
Kakek ini dapat menenangkan hatinya sehingga tidak melakukan hal yang keras.
Dia hanya menegur muridnya itu dan karena muridnya telah melakukan suatu pelanggaran yang amat besar, maka sesuai dengan peraturan, Ouw Sek diusir dan tidak diakui lagi sebagai anggauta Beng kauw.
Biarpun Ouw Sek menangis dan minta minta ampun, namun Bu Heng Locu tidak merobah keputusannya.
Ouw Sek terpaksa lalu pergi dari perkampungan Beng-kauw diantar pandang mata menghina dan merendahkan oleh semua anggauta Beng-kauw.
Akan tetapi, peristiwa itu tidak berbenti sampai di situ saja.
Isteri muda dari Bu Heng Locu itu saking malunya, telah menggantung diri sampai mati di dalam kamar mandi!
Peristiwa ini mendatangkan pukulan batin yang hebat bagi Bu Heng Locu yang sudah amat tua, ditambah lagi oleh jasmaninya yang memang telah tua dan lemah, maka dia jatuh sakit sakitan dan selama tiga tahun ini dia tak pernah sehat sampai akhirnya kedua kakinya menjadi lumpuh!
Oleh karena itu, dapat dibayangkan betara kagetnya semua orang ketika melihat munculnya murid murtad itu.
Akan tetapi, Lima Penasihat Tua adalah orang orang yang berpengalaman dan tidak mudah menjadi gugup.
Seorang di antara mereka lalu bangkit berdiri dan berkata dengan suara berwibawa.
"Ouw Sek, engkau tidak berhak untuk datang ke tempat kami. Eugkau dan semua orang tahu bahwa engkau bukan lagi menjadi anggauta Beng-kauw. Orang she Ouw, harap kau pergi dari sini dan jangan mengganggu urusan Beng kauw!"
Akan tetapi, mendengar pengusiran ini, Ouw Sek tertawa bergelak.
Suara ketawanya bergema di empat penjuru karena memang dia sengaja memamerkan khikangnya yang terkandung dalam suara ketawanya itu.
Lima orang Penasehat Tua dan tujuh orang murid Bu Heng Locu terkejut bukan main.
Dari suara itu saja mereka tahu bahwa Ouw Sek ternyata kini telah memiliki tingkat kepandaian yang amat tinggi dengan tenaga sinkang yang hebat.
Kiranya selama tiga tahun ini orang she Ouw itu telah memperdalam ilmu-ilmu yang diwarisinya dari Bu Heng Locu!
Suasana menjadi tegang dan semua orang memandang dengan khawatir.
"Ha-ha ha, siapa bilang bahwa aku adalah orang luar Beng kauw? Aku bahkan merupakan ahli waris dari suhu Bu Heng Locu, dan kalau ada "rang yang paling tepat dan patut menduduki jabatan ketua Beng-kauw menggantikan suhu yang sakit sakitan, maka orang itu adalah aku!"
"Keparat""..!"
Terdengar teriakan nyaring dan tujuh orang murid Bu Heng Locu sudah meloncat bangun menghadapi Ouw Sek. Melihat tujuh orang ini yang dipimpin oleh Kwan Liok, Ouw Sek tertawa mengejek.
"Hemm, kalian mau apa berlagak di depanku? Lupakah kalian bahwa akulah orangnya yang telah melatih kalian mewakili suhu? Aku adalah twa-suhengmu, juga seperti gurumu sendiri."
"Orang she Ouw, harap engkau tahu diri dan tidak mengacau di Beng-kauw kami!"
Kata Kwan Liok.
"Mengingat bahwa engkau telah diampuni oleh suhu, dan mengingat hubungan lama antara kita semua, kuharap engkau suka tahu diri dan meninggalkan kami sccara baik-baik."
Kwan Liok adalah seorang di antara para sutenya yang dulu amat disayang oleh Ouw Sek, bukan hanya karena Kwan Liok memiliki bakat baik dalam ilmu silat, akan tetapi juga karena Kwan Liok memiliki watak terbuka jujur dan gagah perkasa.
Pek-ciang Cin-jin Ouw Sek memandang bekas sutenya ini dengan alis berkerut dan sinar mata mencela, lalu berkata.
"Hmmm, Kwan-sute, apakah engkau telah lupa betapa dahulu aku selalu sayang kepadamu, bahkan membimbingmu lebih baik dari pada yang lain dalam ilmu silat? Apakah sekarang engkau hendak menentangku?"
"Ouw Sek, engkau sekarang adalah seorang yang telah murtad dari Beng-kauw, dan kalau engkau mengacau Beng-kauw, berarti engkau musuh Beng-kauw dan karenanya musuhku pula,"
Jawab Kwan Liok, suaranya halus akan tetapi matanya memancarkan sinar menentang. Ouw Sok tertawa.
"Ha-ha engkau selamanya penuh semangat dan setia kepada Beng. kauw, bagus sekali, Kwan-sute. Kalau aku menjadi ketuanya, engkau sepatutnya menjadi pembantu utama."
"Engkau manusia murtad!"
Bentak Kwan Liok dan dia sudah menyerang dengan pukulan tangan kanan ke arah dada bekas suhengnya itu. Akan tetapi, sambil tersenyum mengejek Ouw Sek mengelak dengan mudahnya, kemudian berseru.
"Hayo kalian maju semua kalau hendak melihat bahwa aku pantas menjadi ketua kalian!"
Enam orang murid utama lain dari Beng-kauw yang sudah menjadi marah sekali melihat sikap orang murtad itu kini menerjang maju membantu Kwan Liok.
Ouw Sek dikeroyok oleh tujuh orang sutenya!
Menurut perhitungan dan dugaan para murid ketua Beng-kauw itu, tidak mungkin bekas suheng yang murtad ini akan mampu menandingi mereka, bertujuh yang maju berbareng.
Tingkat kepandaian orang she Ouw itu paling hebat setanding dengan tiga orang di antara mereka, maka kalau dikeroyok tujuh sudah pasti mereka akan mampu mengalahkannya.
Akan tetapi mereka terkejut bukan main ketika tiba-tiba Ouw Sek tertawa bergelak diikuti oleh berkelebatnya tubuhnya yang berderak dengan kecepatan yang tidak lumrah!
Sebelum mereka mampu menjaga diri, terdengar teriakan-teriakan keras dan berturut-turut tujuh orang murid Beng-kauw itu menghadapi serangan-serangan yang amat dahsyat, pukulan-pukulan yang mendatangkan angin berpusing sehingga dua orang di antara mereka yang tidak dapat menangkis dengan tepat sudah roboh dengan dada terpukul dan terdcngar suara keras dan patahnya tulang-tulang iga mereka.
Dua orang itu roboh dan tewas seketika, sedangkan lima orang lain yang berhasil menangkis atau mengelaknya sampai terhuyung dan terpental!
Bukan main kagetnya lima orang murid ketua Beng-kauw itu.
Tak mereka sangka bahwa kini Ouw Sek telah menjadi selihai itu!
Akan tetapi melihat roboh dan tewasnya dua orang saudara seperguruan mereka, Kwan Liok dan empat orang saudaranya menjudi marah sekali dan mereka kini mengeluarkan senjata masing-masing dan menyerang dengan ganas.
"Ha-ha-ha, kalian masih belum mau membuka mata melihat kenyataan?"
Ouw Sek mengejek sambil mengelak ke sana-sini dengan cepat sekali.
"Baiklah, aku akan mengadakan pemilihan di antara kalian, yang tidak berguna bagiku akan mampus!"
Setelah dia berkata demikian, tiba tiba terdengar suara bercicitan nyaring dibarengi sinar emas berkeredepan menangkisi senjata lima orang murid utama Beng-kauw itu dan terdengar suara nyaring beradunya senjata ketika tongkat emas di tangan Ouw Sek bertemu dengan senjata mereka.
Terjadi perkelahian yana amat hebat dan seru akan tetapi, segera ternyata pula bahwa Ouw Sek memang hebat bukan rnain.
Sinar tongkatnya yang berwarna kuning emas itu luar biasa sekali gerakannya dan mengurung sinar senjata lima orang lawanannya, bahkan makin lama makin menekan sehingga lima orang pengeroyok itu merasa terhimpit dan terkurung.
Seolah-olah merekalah yang dikeroyok, bukan mengeroyok!
Kecepatan gerakan Ouw Sek amat hebat, dan juga dalan hal tenaga sinkang, Ouw Sek jauh menang sehingga kembali terdengar teriakan teriakan susul-menyusul dan robohlah lima orang itu satu demi satu!
Ternyata di antara mereka yang hanya terluka saja adalah Kwan Liok dan dua orang sute lain, sedangkan yang dua orang lagi roboh dan tewas!
Ternyata Ouw Sek telah mengadakan pemilihan, tidak membunuh tiga di antara para bekas sutenya termasuk Kwan Liok yang dianggapnya berguna baginya kelak kalau dia sudah menjadi ketua Beng-kauw sedangkan yang empat orang lagi dibunuhnya.
Tentu saja hal ini membuat semua anggauta Beng kauw terbelalak dan keadaan menjadi geger.
Akan tetapi melihat betapa tujuh orang murid utama Beng-kauw saja sama sekali tidak mampu menandingi Ouw Sek, tentu saja tidak ada seorangpun di antara para anggauta Beng-kauw yang berani berkutik, maklum bahwa tingkat kepandaian mereka jauh ketinggalan untuk dapat melawan orang yang lihai itu.
Dengan lagak sombong, tangan kiri mengempit tongkat emasnya dan tangan kanan mengebut-ngebutkan pakaiannya yang terkena debu, Ouw Sek menghampiri lima orang kakek penasihat Beng-kauw itu.
Dia tersenyum lebar menatap wajah yang pucat-pucat dari lima orang kakek tua renta itu.
"Nah, ngo-wi locianpwe melihat bahwa aku tidak main-main. Aku yang berhak menjadi ketua menggantikan suhu yang sudah tua dan..."."
Dia berhenti berkata lalu memandang ke sekeliling, ke arah semua anggauta Beng-kauw dengan sinar mata tajam mengancam.
"siapa di antara kalian ada yang tidak setuju, boleh maju dan menyatakan itu di depanku!"
Keadaan menjadi sunyi yang amat menegangkan, sehingga banyak anggauta Beng kauw yang hampir tidak berani bernapas.
Mereka itu bukanlah orang-orang penakut atau pengecut.
Kalau ada orang asing yang menyerang Beng-kauw, betapapun lihai orang itu tentu akan mereka lawan mati-matian.
Akan tetapi Ouw Sek adalah bekas murid utama dari ketua mereka, maka mereka menjadi jerih dan tidak tahu harus berbuat apa karena ketua mereka sendiri sedang sakit, dan tujuh orang murid utama itu telah roboh oleh Ouw Sek.
Biarpun terkejut dan marah sekali melihat tujuh orang murid itu roboh, namun Lima Penasihat Tua masih bersikap tenang.
Seorang di antara mereka berkata dengan suara lantang "Ouw Sek, betapapun juga engkau pernah menjadi murid Beng-kauw dan tentu engkau masih belum lupa akan peraturan-peraturan Beng kauw yang kami junjung tinggi dan yang kami hargai lebih dari pada nyawa sendiri.
Engkau tentu tahu bahwa seorang ketua Beng kauw barulah sah dan diakui oleh seluruh dunia apabila ketua itu memiliki Bendera Keramat yang menjadi ciri khas dan tanda kekuasaan ketua Beng-kauw.
Oleh karena itu, mana mungkin engkau mengajukan diri sebagai calon ketua Beng-kauw kalau engkau tidak memiliki tanda itu?
Seluruh dunia tentu akan mentertawakan kita kelak dan Beng-kauw akan dipandang rendah sebagai perkumpulan yang sudah melupakan peraturannya sendiri!"
Tentu saja ucapan seorang di antara Lima Penasehat Tua itu adalah siasat mereka untuk menentang kehendak Ouw Sek menjadi ketua Beng-kauw.
Mereka tahu bahwa bendera pusaka iu berada di tangan Bu Heng Locu, sang ketua.
Oleh karena itu mereka menyinggung ini agar Ouw Sek tidak dapat memaksakan kehendaknya dan bahwa penggantian ketua hanya mungkin kalau Bu Heng Locu mewariskan bendera pusaka itu kepada seorang calon yang dipilih oleh sang ketua itu sendiri.
Akan tetapi, tiba-tiba Ouw Sek tertawa bergelak mendengar kata-kata ini dan tangan kanannya merogoh ke balik bajunya yang merupakan jubah pendeta itu dan ketika tangan kanan itu ditarik dan digerakkan, maka berkembang dan berkibarlah sebuah bendera kecil berwarna putih mengkilap yang warnanya menyilaukan mata.
Bendera itu seperti bernyala, atau warna putihnya mengandung sesuatu yang membuat bendera itu bercahaya terang!
Tentu saja semua anggauta Beng-kauw mengenal bendera pusaka ini dan mereka segera berlutut!
Keadaan menjadi gempar dan Lima Penasehat Tua itupun saling pandang dengan mata terbelalak, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan karena merekapun mengenal bendera pusaka dari Beng-kauw yang kini ternyata telah berada di tangan Ouw Sek!
"Ouhhh"".
manusia terkutuk""!"
Suara terdengar halus menggetar dan semua orang menengok ke arah dari mana datangnya suara itu.
Suara itu datang dari balik pondok ketua di mana terdapat guha yang menjadi tempat bersamadhi ketua itu, dan tiba-tiba nampak tubuh seorang kakek melayang menuju ke padang rumput itu!
Tubuh itu benar-benar "melayang"
Karena kedua kakinya duduk bersila namun tubuh itu dapat meluncur dengan ringannya ke tempat itu dan turun dengan empuk ke atas tanah dalam keadaan duduk bersila, menghadapi Ouw Sek.
Ternyata orang ia adalah Bu Heng Locu, kakek tua renta ketua Beng-kauw pusat!
Wajahnya sudah penuh keriput, sepasang matanya yang muram dan sayu itu kini mengeluarkan sinar berapi ditujukan ke arah Ouw Sek, dan memandang kepada bendera pusaka yang masih berada di tangan bekas muridnya itu.
Kakek ini memang memiliki kesaktian hebat.
Biarpun kedua kakinya sudah lumpuh, namun dengan menggunakan sisa tenaganya dia mampu membuat lompatan seperti itu sehingga tubuhnya seperti melayang saja.
Wajah kakek ini pucat sekali dan jelas nampak bahwa dia tidak sehat dan amat lemah, dalam keadaan sakit.
Sambil bersila di atas tanah berumput tebal itu, Bu Heng Locu menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka bekas muridnya yang masih menyeringai lebar.
"Ouw Sek manusia iblis Engkau"". engkau telah mencuri bendera pusaka Beng kauw""..!"
Jelas betapa kakek ini dikuasai oleh amarah yang membuai suaranya sukar untuk keluar.
Mendengar ucapan itu, terkejutlah Lima Penasihat Tua karena mereka kini mengerti mengapa bendera pusaka itu berada di tangan Ouw Sek.
Kiranya sebelum datang ke padang rumput itu, Ouw Sek telah mempergunakan kesempatan selagi semua orang berkumpul di situ dan selagi ketua Beng kauw sakit dan bersamadhi di dalam guha, dia telah memasuki kamar ketua itu dan mencuri bendera pusaka Beng-kauw!
Akan tetapi Ouw Sek tertawa sambil menggulung bendera pusaka itu dan menyimpannya di dalam bajunya lagi.
"Ha-ha-ha, suhu memang sudah terlalu tua, lemah dan pikun!"
Katanya lantang dan berani.
"Manusia she Ouw, sungguh tak kusangka bahwa engkau tidak menjadi baik, tidak mau bertobat, bahkan telah menumpuk dosamu dengan perbuatan-perbuatan terkutuk. Hayo cepat kembalikan bendera pusaka kami dan cepat enyah dari sini!"
Bentak Bu Heng Locu dengan dada bergelombang saking marahnya.
"Suhu, mengapa suhu tidak mau tenang? Kemarahan bisa membikin putus napasmu, suhu! Suhu sudah tua dan pikun! Siapakah yang tidak tahu bahwa akulah yang sudah mewarisi semua ilmu Beng kauw, dan aku pula yang sudah mewarisi bendera pusaka Beng-kauw! Akulah yang berhak mewarisi kedudukan ketua Beng-kauw!"
Dia membusungkan dadanya dengan sikap congkak.
"Manusia jahat dan murtad! Selama aku masih hidup, jangan harap engkau akan dapat memperkosa Beng-kauwl"
Bu Heng Locu berteriak. Akan tetapi kini Ouw Sek menghadapi Lima Penasihat Tua dan berkata.
"Ngo-wi locianpwe, harap pertimbangkan baik-haik. Siapakah yang melanggar peraturan Beng-kauw Menurut peraturan Beng-kauw yang kalian semua junjung tinggi, siapa yang memiliki bendera pusaka dialah yang berhak menjadi kauwcu Dan aku telah memiliki bendera itu! Aku telah memiliki ilmu ilmu yang harus dimiliki ketua Beng-kauw, dari ilmu silat, ilmu agama dan sebagainya. Di antara kita ini, siapakah yang akan mampu menandingi aku? Aku berhak menjadi ketua dan sudah sepatutnya kalau aku yang menjadi ketua. Suhu terlalu tua, terlalu lemah sehingga Beng-kauw selama ini tidak memperoleh kemajuan! Aku adalah tenaga muda, akulah yang akan memajukan Beng-kauw, akan memperkembangkan Beng-kauw dan kalian lihat saja, aku akan membuat Beng-kauw kelak menjadi agama istana! Dan menurut peraturan dari Beng-kauw pula, siapa yang merasa tidak setuju dengan kauwcu yang memegang bendera, dia boleh maju untuk mengalahkan kauwcu dalam adu kepandaian! Nah, siapakah yang merasa tidak setuju kalau sku menjadi kauwcu dari Beng-kauw?"
"Keparat jahanam! Akulah yang akan menentangmu!"
Bu Heng Locu melakukan gerakan dan tubuhnya yang bersila itu meloncat ke depan, gerakannya ringan sekali biarpun gerakan itu membuat orang merasa iba karena kedua kakinya lemas dan tidak dapat digerakkan sama sekali.
"Kauwcu, harap suka mundur dan ingat akan kesehatan kauwcu!"
Kata seorang di antara Lima Penasihat Tua itu dan mereka berlima kini maju berjajar di depan Ouw Sek. Seorang di antara mereka mewakili teman-temannya berkata dengan suara keren dan penuh wibawa.
"Ouw Sek! Selama Beng-kauw berdiri, belum pernah ada orang luar berani memperkosa perkumpulan kami. Kami sebagai Lima Penasibat Tua yang mengembangkan pelajaran Agama Beng-kauw, sesuai dengan agama yang Iniengutamakan sinar terang untuk memerangi Kegelapan, kami berkewajiban untuk menentang kehendakmu yang melanggar peraturan Beng-kauw yang tidak pernah dilandasi kekerasan Engkau hendak menjadi kauwcu secara paksa, hal ini bertentangan dengan pelajaran kami karena perbuatanmu itu termasuk suatu perbuatan gelap, maka kami akan menentangnya. Kami bertugas menasehati dan menentukan mana yang benar dan sesat dalam Beng-kauw, dan tindakanmu adalah sesat, maka kami akan menentangnya dengan taruhan nyawa!"
Diam diam Ouw Sek terkejut bukan main dan wajahnya agak berobah pucat.
Dia adalah seorang yang semenjak kecil berada di Beng-kauw dan tentu saja dia sudah cukup tahu bahwa kedudukan penasehat dalam Beng-kauw amat dihormati dan dijunjung tinggi sebagai pendeta-pendeta Beng-kauw yang mendalam pengetahuannya tentang agama itu, merupakan kalangan tua yang patut ditaati semua nasihatnya.
Maka, biarpun para kakek yang menjadi penasehat itu hanya memiliki pengertian mendalam tentang agama dan hanya sedikit saja tahu akan ilmu silat sebagai latihan menyehatkan badan, namun di kalangan Beng kauw mereka ini dihargai dan dihormati sekali.
Kini, Lima Penasehat Tua itu berdiri menentangnya!
Akan tetapi, dia sudah melangkah terlalu jauh untuk dapat mundur kembali.
Apapun yang menghalang di depannya harus dibersihkan!
Dengan mengeraskan hatinya dia berkata sambil tersenyum.
"Kalian ini lima orang tua bangka yang sudah pikun, hendak mengandalkan kedudukan kalian menentangku? Dengan orang-orang macam kalian ini, perkumpulan kita akan makin mundur dan lemah Kalian sudah tidak ada gunanya lagi, ketinggalan jaman, akupun tidak butuh kalian kalau aku menjadi ketua Beng-kauw!"
Ucapan ini benar-benar hebat dan mengejutkan sekali.
Semua anggauta Beng kauw sampai menjadi pucat mendengar ini.
Lima Penasihat Tua itupun terkejut dan melihat bahwa Beng-kauw terancam bahaya besar kalau sampai terjauh ke tangan manusia ini.
Maka.
biarpun mereka itu adalah orang orang tua yang hanya memiliki kepandaian silat rendah saja kalau dibandingkan dengan Ouw Sek, mereka menubruk maju dengan nekat demi mencegah kerusakan Beng-kauw oleh murid murtad ini.
"Ha ha-ha, memang kalian sudah pantas meninggalkan dunia ini!"
Bentak Ouw Sek dan tanpa ragu-ragu, tidak tanggung-tanggung lagi dia lalu memutar tongkat emasnya secepat kilat menyambut mereka.
Terdengar suara keras lima kali ketika tongkat emas itu menghantam kepala mereka dan lima orang kakek itu roboh tersungkur dengan kepala pecah dan tewas seketika!
"Ouhhhh"
Kau"
Kau"
Manusia laknat"!"
Melihat betapa Lima Penasehat Tua yang menjadi junjungan Beng-kauw itu tewas dalam keadaan demikian menyedihkan, Bu Heng Locu menjerit dengan suara seperti orang menangis dan dia sudah menerjang ke arah bekas murid itu dengan kedua tangan di ulur dan mencengkeram ke arah dada dan ke pala Ouw Sek.
Ouw Sek maklum bahwa biarpun gurunya itu sedang dalam keadaan sakit, namun ketua Beng-kauw ini memiliki kepandaian yang hebat sekali.
Memang dia sudah memperhitungkan semua tindakannya.
Andaikata gurunya itu tidak sedang sakit sehingga kedua kakinya lumpuh, tentu dia akan berpikir sepuluh kali lebih dulu sebelum melakukan tindakan mencoba untuk menguasai Beng-kauw.
Biarpun dia selama tiga tahun ini telah menggembleng diri dan memperkuat ilmu silat dan ilmu sihirnya namun kalau bekas suhunya berada dalam keadaan sehat, dia masih ragu ragu apakah dia akan mampu menandingi Bu Heng Locu!
Akan tetapi.
setelah kakek itu menderita sakit sampai lumpuh kedua kakinya, tentu saja dia tidak merasa takut.
"Hemm.. ..!"
Dia mendengus sambil mengelak ke belakang dan tongkat emasnya menyambar ke depan dalam usahanya membabat serangan bekas gurunya itu.
Bu Heng Locu berjungkir balik di udara untuk menghindarkan diri, kemudian tubuhnya meluncur turun dari atas, dan kedua tangannya kembali menyerang dari kanan kiri ke arah kedua pelipis kepala lawan.
Hebat bukan main ilmu ginkang dari kakek ini, akan tetapi karena memang tubuhnya lemas oleh sakit, gerakannya masih kurang cepat bagi Ouw Sek yang kini telah memiliki tingkat tinggi sekali dalam ilmu silatnya.
Akan tetapi Ouw Sek juga tahu akan bahayanya serangan itu.
maka dia tidak berani bertindak ceroboh menangkis serangan itu, melainkan membuang tubuh ke belakang dan berjungkir balik tiga kali.
Melihat kakek itu turun ke atas tanah dan napas kakek itu agak terencah, giranglah hati Ouw Sek, dan dia mengeluarkan bentakan nyaring, terus menubruk ke depan dan melakukan serangan bertubi tubi dengan tongkatnya.
Dia menotok, menusuk, memukul dan tongkatnya berobah menjadi sinar bergulung gulung yang mengeluarkan suara bercuitan mengerikan.
"Plak-plak-plak-plakl"
Kedua tangan Bu Heng Locu menangkis dengan sibuk ketika kembali dia meloncat dan melindungi tubuhnya dengan jalan menangkis.
Akan tetapi karena tubuhnya berada di udara, tentu saja pertemuan tenaga itu membuat dia terlempar ke belakang.
Memang sukarlah bagi kakek itu untuk dapat menandingi bekas muridnya sendiri yang lihai itu.
Pertama, dia tidak dapat lagi mengandalkan kedua kakinya dan betapapun lihainya seorang ahli silat, kalau dia sudah tidak dapat mengandalkan kuda kuda, tentu saja dia kehilangan kekuatannya.
Pokok kekuatan adalah pada kedua kaki dan kini ke dua kakinya lumpuh.
Biarpun dia dapat mengandalkan ginkangnya untuk berloncatan, namun tenaga selagi tubuh melayang ini tentu saju tidak dapat terlalu diandalkan untuk melawan tenaga lawan yang dapat memasang kuda kuda yang amat kuat.
Namun, kematangan ilmu kepandaian silat dari Bu Heng Locu benar-benar hebat.
Biarpun dia berkali-kali terpental dan terlempar, namun sampai lewat seratus jurus belum juga Ouw Sek mampu merobohkannya.Wajah kakek itu sudah amat pucat dan napasnya makin memburu!
"Ha ha ha.
Bu Heng Locu.
mengapa engkau begitu bodoh?
Menyerahlah dan sahkan aku sebagai ketua Beng kauw, dan engkau akan kuangkat menjadi penasihat, dari pada engkau mati konyol di tanganku!"
Ouw Sek membujuk, bujukan yang lebih ditujukan untuk memukul batin bekas suhu itu.
Serangan dengan kata-kata ini memang hebat sekali akibatnya.
Terdengar Bu Heng Locu berteriak dan muntah darah.
Itulah akibat dari kemarahan yang meluap-luap!
Kemudian dengan nekat sekali kakek ini mengeluarkan suara melengking panjang dan tubuhnya kembali mencelat ke atas dan dia sudah menubruk dengan nekat tanpa memperdulikan lagi pertahanan dirinya!
Melihat ini, Ouw Sek tertawa, memasang kuda kuda sekuatnya dan mengerahkan seluruh tenaganya, lalu menyambut kedua tangan suhunya itu dengan dorongan tangan kiri dan hantaman tongkat yang dipegang tangan kanan.
"Plakk! Dessss"".!"
Tubuh kakek itu terlempar dan terbanting keras ke atas tanah. Kakek itu terluka parah di sebelah dalam tubuhnya! Akan tetapi, Ouw Sek juga tergetar hebat sehingga"
Wajahnya berobah pucat, sungguhpun dia tidak sampai terluka.
Ouw Sek yang maklum bahwa bekas gurunya itu belum tewas, dan selama kakek itu belum tewas tentu akan menjadi penghalang baginya, cepat meloncat ke depan dan tangan kirinya bergerak untuk memberi pukulan terakhir.
Tangan kirinya menyambar dahsyat ke arah kepala Bu Heng Locu yang sudah tidak mampu untuk mengelak atau menangkis lagi.
"Dukkk!!"
Ouw Sek merasakan lengannya yang tertangkis itu nyeri dan terpental, tanda bahwa penangkis itu memiliki tenaga sinkang yang amat kuat.
Dia cepat mengangkat muka memandang dan terkejutlah dia melihat bahwa penangkisnya adalah seorang pemuda tampan yang usianya baru antara duapuluh tahun!
Hampir dia tidak percaya menghadapi kenyataan ini maka sejenak dia hanya memandang dengan mata terbelalak heran.
Di samping kekagetan dan keheranannya, juga Ouw Sek merasa khawatir kalau-kalau para anggauta Beng-kauw akan serentak maju menentangnya.
Dia tidak gentar menghadapi pengeroyokan mereka semua, akan tetapi kalau semua anggauta Beng-kauw menentangnya, unuk apa dia menjadi ketua?
Maka dia lalu mencabut keluar bendera pusaka atau Bendera Keramat yang disimpannya dibalik jubahnva.
Nampak cahaya berkilauan ketika bendera putih itu dia kibarkan.
"Sebagai pemegang Bendera Keramat, aku perintahkan seluruh anggauta Beng-kauw untuk berlutut!"
Teriakannya nyaring sekali dan mengandung wibawa besar karena dikeluarkan dengan pengerahan khikang yang amat kuat hingga sebagian besar dari para anggauta Beng-kauw sudah menjatuhkan diri berlutut dengan kaki menggigil.
Akan tetapi, Ouw Sek mengerutkan alisnya dan menatap tajam ketika dia melihat betapa pemuda yang tadi menangkisnya dan kini masih berdiri menghadangnya seperti hendak melindungi Bu Heng Locu, tersenyum saja memandangnya.
Aku perintahkan kepadamu untuk berlutut menghormati Bendera Keramat!"
Bentak Ouw Sek penuh wibawa.
Akan tetapi pemuda tampan itu memperlebar senyumnya dan tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan sebuah benda dari balik bajunya, dan sekali dia menggerakkan tangannya, nampaklah cahaya berkilauan dan sebuah bendera putih yang sama dengan yang dipegang oleh Ouw Sek nampak berkibar!
Kiranya pemuda itu adalah Coa Gin San!
Seperti telah kita ketahui, pemuda ini telah mewarisi Bendera Keramat dari mendiang gurunya, yaitu Maghi Sing, dan dia menjadi pimpinan tertinggi atau ketua dari Beng-kauw wilayah utara.
Setelah Gin San yang hendak mengunjungi pendekar Gan Beng Han mendapat kenyataan akan kematian gurunya dan isteri gurunya, kemudian mencari pembunuhnya dan mendapat kenyataan ketika dia menyerbu Pek-lian-kauw bahwa wanita pembunuh gurunya yang menjadi ketua Im-yang-kauw itu telah mati, pemuda ini lalu melanjutkan perrjalanannya, menuju ke selatan untuk memenuhi pesan mendiang Maghi Sing.
Dia akan menghadapi ketua dari Beng-kauw pusat di selatan yang menurut Maghi Sing adalah paman guru dari tokoh Beng-kauw itu.
Selain memperkenalkan diri sebagai ahli waris dari Maghi Sing, juga Gin San bermaksud untuk minta kitab-kitab Beng-kauw yang asli agar dia dapat mengembalikan Beng-kauw wilayahi utara itu ke dalam jalan yang benar Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia tiba di perkampungan Beng-kauw itu, dia melihat peristiwa yang hebat itu, yaitu pemberontakan seorang murid murtad yang lihai.
Kedatangannya terlambat sehingga selain Lima Penasihat Tua telah tewas di tangan Ouw Sek, juga paman dari mendiang gurunya.
Bu Heng Locu, telah terkena pukulan hebat dan terancam nyawanya ketika Ouw Sek melancarkan pukulan terakhir.
Maka tanpa banyak cakap lagi dia segera turun tangan menangkis Kalau tadinya dia hanya diam saja dan mendengarkan percecokan itu adalah karena dia masih meragu dan tidak tahu apa yang terjadi, siapa yang salah dan dia adalah seorang asing yang tidak mengenal siapapun di situ.
Kini dia telah mendapat gambaran siapa adanya Ouw Sek yang lihai itu dan orang macam apa dia itu, maka diapun tanpa ragu ragu lagi turun tangan menentangnya.
"Manusia keji, Bendera Keramat Beng kauw adalah sebuah benda yang dikeramatkan dan untuk menghukum murid-murid yang murtad, akan tetapi engkau telah meremehkan dan menodakan Bendera Keramat itu untuk melakukan kejahatan dan kekejian!"
Mendengar ucapan Gin San yang nadanya penuh teguran itu, semua orang terkejut terutama sekali Ouw Sek yang sama sekali tidak mengira bahwa masih ada bendera keramat lain dan kini berada di tangan pemuda asing yang logat bicaranya menunjukkan bahwa pemuda ini datang dari daerah utara.
"Siapa engkau!"
Bentaknya marah.
"Dari mana engkau mencuri Bendera Keramat itu?"
Mendengar ini Gin San tersenyum mengejek.
"Kiranya engkau tidak lebih hanya seorang pencuri kaliber kecil yang selalu memaki orang lain pencuri. Engkaulah yang mencuri Bendera Keramat itu, sedangkan aku memperoleh dari mendiang suhuku sebagai ahli waris."
"Siapa suhumu?"
"Suhu yang terhormat dan yang sudah meninggal dunia adalah Maghi Sing"".."
Terdengar seruan-seruan kaget ketika para anggauta Beng-kauw mendengar disebutnya nama ini.
Maghi Sing adalah seorang tokoh besar Beng-kauw, dan biarpun terhitung murid keponakan dari Bu Heng Locu, namun terkenal memiliki kepandaian yang tinggi dan menjadi tokoh dari Beng-kauw wilayah utara dan timur.
Tentu saja Ouw Sek juga terkejut dan dia ini bukan saja telah mendengar nama Maghi Sing, bahkan pernah dia bertemu dengan orang yang masih terhitung suhengnya itu.
Maghi Sing adalah murid dari supeknya, dan dia tahu betapa lihainya Maghi Sing.
Akan tetapi kekagetan ini berbalik berobah menjadi kegirangan ketika dia mendengar dari pemuda ini bahwa suhengnya yang lihai itu telah meninggal dunia.
Memang dia agak gentar mendengar nama Maghi Sing, akan tetapi kalau suhengnya itu telah meninggal dunia dan yang berada di depannya ini hanyalah seorang pemuda yang menjadi murid suhengnya itu, tentu saja dia tidak takut.
"Bagus sekali! Orang muda yang gagah, siapakah namamu?"
"Namaku Coa Gin San"
"Gin San, sungguh senang hatiku mendengar bahwa Beng-kauw wilajah utara dan timur telah dipimpin oleh seorang muda seperti engkau!"
Ouw Sek memotong.
"Memang sudah tiba waktunya Beng kauw harus dipimpin olehi orang-orang muda, dan kini yang di wilalayah utara engkau pimpin, sedangkan pusatnya di selatan ini aku yang memegangnya. Kita akan dapat bekerja sama memajukan Beng-kauw yang sudah terlepas dari cengkeraman orang-orang kolot yang kuno!"
"Hemm, aku tidak sependapat denganmu, orang she Ouw""."
"Coa Gin San, engkau tidak tahu siapa aku! Mendiang gurumu, Maghi Sing itu adalah suhengku.dia adalah murid dari supek! Jadi engkau ini masih terhitung murid keponakanku sendiri!"
"Orang she Ouw, paman guru macam apa engkau ini? Engkau telah membunuhi tokoh tokoh tua dari Beng kauw, bahkan engkau telah melawan dan memukul guru sendiri. Tidak, engkau bukan paman guruku, engkau bukan murid Beng-kauw, engkau adalah seorang murtad yang telah mencuri Bendera Keramat Beng-kauw dan karenanya harus dihukum!"
Suasana menjadi tegang sekali.
Semua murid Beng-kauw mengikuti percakapan dan perbantahan itu, termasuk Bu Heng Locu sendiri yang terluka dan kini sudah bersila dengan muka pucat, akan tetapi tidak pernah lengah, memperhatikan munculnya seorang muda yang mengaku murid Maghi Sing dan yang kini dengan beraninya menentang Ouw Sek yang amat lihai itu.
"Coa Gin San!"
Ouw Sek membentak marah.
"Ingat, aku adalah paman gurumu sendiri! Engkau berani melawan paman gurumu?"
Gin San tersenyum.
"Hemm, orang she Ouw, andaikata benar engkau ini paman guruku, maka engkau telah memberi contoh kepadaku. Engkau telah melawan gurumu sendiri maka kalau sekarang engkau dilawan murid keponakanmu sendiri, bukankah hal itu sudah adil dan patut? Orang she Ouw, keadaan kita sama, engkau memegang Bendera Keramat yang kaudapatkan dengan jalan mencuri sedangkan aku pun memegang Bendera Keramat yang kudapatkan dari warisan mendiang suhu. Maka, tidak ada hal yang dibuat penasaran lagi dan aku menantangmu untuk bertanding, engkau sebagai seorang murid murtad, dan aku sebagai seorang-murid pembela Beng-kauw!"
Tentu saja wajah Ouw Sek menjadi merah saking marahnya.
Anak ini terlalu sombong, pikirnya.
Tentu saja dia tidak takut menghadapi bocah itu yang menurut usianya patut menjadi anak atau muridnya, dan menurut kedudukanpun adalah, murid keponakannya.
Maka diam diam dia lalu mengerahkan tenaga sinkang dan mempergunakan kekuatan pada pandang matanya dengan Ilmu Sin-gan Hoat lek, bermaksud untuk menyihir Gin San dan menaklukkan pemuda itu.
Tiba-tiba Ouw Sek berteriak dengan suara yang berpengaruh, karena dia telah mempergunakan ilmu sihirnya.
"Coa Gin San, aku adalah wakil gurumu! Berlututlah engkau kepadaku"
Gin San sudah tahu bahwa lawannya mempergunakan sihir, akan tetapi dia tidak mengelak bahkan dengan berani dia balas memandang sambil mengerahkan tenaga pada pandang matanya pula, tanpa mengucapkan kata-kata, namun melawan kekuatan sihir itu dengan tenaga saktinya.
Ouw Sek terkejut ketika merasa betapa dari sinar mata Gin San itu keluar tenaga yang amat dahsyat, yang membuat matanya terasa pedih dan penat, jangankan dia dapat menguasai pemuda itu, bahkan dia merasa amat lelah dan hampir dia tidak dapat bertahan untuk tidak memejamkan matanya.
Tahulah dia bahwa pemuda itu ternyata memiliki kekuatan sihir yang amat kuat pula dan dia tidak akan mampu menaklukkan pemuda itu dengan kekuatan sihir.
Dia memang tahu bahwa dalam hal ilmu sihir, mendiang Maghi Sing adalah seorang yang ahli, bahkan kabarnya tidak kalah lihai dalam hal sihir dibandingkan dengan Bu Heng Locu sendiri.
Akan tetapi, tiba-tiba kedua kakinya seperti dipaksa untuk berlutut dan ketika dia memperhatikan, tahulah dia bahwa diam-diam Bu Heng Locu yang sudah terluka itu mempergunakan kekuatan sihir untuk membantu Gin San dan menyerangnya!
Hal ini amat mengejutkan dan tiba tiba Ouw Sek mengeluarkan lengking nyaring untuk membuyarkan tekanan ilmu sihir itu kepadanya, daa lengking itu disusul dengan gerakan tubuhnya yang sudah menyerang Gin San dengan tongkat emasnya!
Mendengar suara bercicit dibarengi sinar kuning emas yang berkeredepan menyambar ke arahnya, tahulah Gin San bahwa lawannya ini benar-benar lihai sekali.
Dia cepat mengelak dan dari bawah, tangannya bergerak menangkis.
"Plakkk!"
Gin San meloncat ke belakang dengan kaget karena telapak tangannya terasa dingin sekali seperti bersentuhan dengan es, dan ada tenaga yang menggetarkan lengannya Seketika dia menangkis tongkat emas tadi.
Terdengar Ouw Sek tertawa mengejeknya dan orang she Ouw itu sudah meloncat, mengejar dan mengirim serangan lagi yang lebih hebat.
"Trakkk!"
Gin San kini menggunakan suling yang sudah dicabutnya untuk menangkis tongkat itu sambil mengerahkan tenaga dan biarpun dia masih merasa betapa tenaga lawan membuat lengannya tergetar hebat, namun dengan suling itu dia lebih dapat mengimbangi tenaga lawan yang disalurkan lewat tongkat emas.
Suling ini sebenarnya merupakan benda yang disukai oleh Gin San.
Sejak kecil dia suka meniup suling, maka dia tidak pernah berpisah dari sulingnya, dan baru sekarang dia terpaksa mempergunakan sulingnya untuk senjata.
Tangan kirinya juga sudah melolos sabuk rantai peraknya, karena dia tahu akan lihainya lawan.
Ketika serangan pertama dari tongkat emasnya itu dapat ditangkis lawan, Ouw Sek makin marah dan sambil mengeluarkan gerengan seperti harimau marah dia sudah menerjang lagi dengan hebat.
Gin San menggerakkan suling dan rantai peraknya, menangkis dan membalas serangan lawan.
Terjadilah pertandingam yang amat hebat dan seru, yang diikuti oleh pandang mata semua orang yang berada di situ dengan hati penuh ketegangan.
Bu Heng Locu sendiri yang telah terluka hebat dan tidak mungkin membantu Gin San, hanya memandang pula penuh harapan Dia sudah mendengar semua pembantahan tadi dan dia meletakkan harapannya untuk menolong Beng kauw kepada pemuda tampan yang masih terhitung cucu muridnya itu.
Kalau benar pemuda itu telah mewarisi ilmu kepandaian Maghi Sing, dapat diharapkan pemuda itu akan mampu menandingi Ouw Sek karena dia tahu keponakan muridnya itu memiliki kepandaian istimewa.
Tadi ketika Ouw Sek menyerang Gin San dengan ilmu sihir, dia melihat bahwa murid Maghi Sing itu dapat mengimbangi Ouw Sek, dan dalam pertandingan sihir tentu saja dia masih dapat membantu.
Akan tetapi dalam pertandingan ilmu silat, dia sama sekali tidak akan dapat membantu karena begitu dia bergerak dan mengerahkan sinkang, berarti dia membunuh diri sendiri.
Dia berada dalam keadaan tidak sehat, dan pukulan yang dideritanya tadi amat hebat, bahkan sekarangpun hampir dia tidak kuat menahannya.
Harapan Bu Heng Locu itu tidak begitu dikecewakan karena ternyata dalam gebrakan-gebrakan selanjutnya, Gin San mampu menangkis, mengelak dan balas menyerang dengan sama dahsyatnya.
Karena dua orang yang sedang bertanding itu sealiran, maka mereka saling mengenal gerakan lawan, dapat menjaga diri dengan baik dan dapat balas menyerang, seolah-olah mereka adalah dua orang saudara seperguruan yang sedang berlatih silat karena gerakan dan gaya mereka sama dasarnya.
Akan tetapi, lewat seratus jurus kemudian, terjadi perobahan.
Ouw Sek mengeluarkan suara melengking nyaring dan tongkat emasnya bergerak secara aneh, mengeluarkan bunyi nyaring dan gulungan sinar keemasan makin melebar, Gin San terkejut, sulingnya diputar dan terdengar suara aneh seolah-olah suling itu ditiup dan dimainkan orang, dan dia menahan diri sebaiknya.
Nimun, kini nampak jelas oleh Bu Hong Locu betapa pemuda harapannya itu mulai terdesak!
Dan dia tahu, mengapa demikian.
Dalam hal ilmu silat, pemuda itu benar-benar hebat dan tidak usah kalah menghadapi Ouw Sek, akan tetapi jelas bahwa pemuda yang usianya kurang lebih duapuluh tahun itu kalah matang gerakannya, dan ini berarti kalah terlatih dan kalah pengalaman!
Mulailah Gin San terdesak hebat biarpun pemuda ini sudah menggerakkan suling dan rantainya untuk mempertahankan diri sebaiknya.
"Prakkk!"
Tiba-tiba suara suling mendenging-denging itu mati dan yang terdengar hanya bercicitnya tongkat emas, dan ternyata bahwa suling itu telah remuk!
Gin San terkejut dan membuang sulingnya yang sudah tidak dapat dipergunakan sebagai senjata maupun sebagai alat musik lagi itu, dan dia harus membuang diri ke belakang dan berjungkir balik untuk menghindarkan desakan Ouw Sek yang, merasa girang melihat kemenangan ini.
Ouw Sek diam-diam harus mengakui bahwa dalam diri pemuda ini dia menemukan lawan yang amat tangguh, dan andaikata dia tidak menang pengalaman dan kematangan latihan, kiranya akan sukar sekali baginya untuk dapat mengalahkan Gin San.
Ada beberapa gerakan-gerakan dari pemuda ini yang tidak dikenalnya!
Sebaliknya, agaknya semua gerakannya dikenal belaka oleh pemuda itu.
Hanya kematangan latihan saja yang membuat dia lebih mahir dalam gerakan-gerakannya sehingga dapat mendesak lawan dan akhirnya berhasil meremukkan suling pemuda itu.
Ouw Sek tertawa dan menggoyangkan tongkat emasnya.
"Ha-ha, Gin San, masih belum sadarkah engkau bahwa engkau tidak akan menang melawan paman gurumu? Sayang kalau tenaga sebaik engkau sampai harus kuhancurkan. Insyaflah dan berlututlah, mari kita bersama membangun Beng-kauw yang baru dan engkau menjadi pembantuku yang baik! Kita bawa Beng-kauw menyusup sampai dalam istana!"
Gin San tidak menjawab, bahkan kini dia menyimpan rantai perak itu, dikalungkan di pinggangnya lagi kemudian dia menggulung kedua lengan bajunya, memasang kuda-kuda dengan kedua kaki ditekuk rendah dan matanya mencorong aneh!
Pemuda yang merasa penasaran ini mulai menggerakkan jurus dari ilmu rahasia atau ilmu simpanannya, yaitu Cap-sha Tong-thian!
Tadinya dia tidak ingin mengeluarkan ilmu ini, apa lagi di depan para tokoh Beng-kauw karena mendiang gurunya memesan kepadanya agar kalau tidak amat penting, ilmu ini jangan sampai dipergunakan atau diperlihatkan kepada orang lain.
Akan tetapi setelah dia tahu betul bahwa lawannya ini amat lihai dan dia tidak akan menang, bahkan akan terancam bahaya kalau dia melanjutkan melawannya dengan ilmu-ilmu biasa, terpaksa Gin San mulai menjalankan jurus ilmu silat luar biasa itu.
Begitu Gin San menekuk lututnya dan menggerakkan kedua tangannya ke depan, tiba-tiba serangkum tenaga yang mendatangkan angin dahsyat menyambar ke arah Ouw Sek.
Orang ini terkejut sekali dan mengelak dengan loncatan ke samping, akan tetapi secara aneh tahu-tahu tangan Gin San sudah mencengkeram lehernya dari samping.
Serangan ini luar biasa dan cepat, sama sekali tidak dikenal oleh Ouw Sek.
"Plak-plakkk!"
Ouw Sek yang amat lihai itu masih juga dapat menyelamatkan dirinya dengan memutar tubuhnya dan menangkis dengan tongkat emasnya.
Jurus luar biasa dari Cap sha Tong-thian, yang sukar ditangkis orang lain itu ternyata masih dapat dihindarkan dalam saat terakhir oleh Ouw Sek!
Ini sudah membuktikan betapa lihainya tokoh murtad dari Beng kauw ini.
Akan tetapi.
Ilmu Cap-sha Tong-thian adalah ilmu aneh yang merupakan ringkasan dari semua jurus pilinan.
Biarpun dapat ditangkis namun kedudukan Ouw Sek menjadi kacau dan saat itu Gin San telah mengirim serangan ke dua.
Tubuhnya bergerak dengan langkah lankah ringan seperti orang menari, dan agaknya di tidak menyerang ke arah lawan, melainkan menggerakkan tubuh menghadap lain jurusan, akan tetapi tiba tiba saja tubuhnya membalik dan kedua tangan itu dari samping diluncurkan ke depan.
Terdengar suara bercuit nyaring dan seramkum hawa yang tajam sekali menyambar seperti pedang pusaka ke arah dada Ouw Sek.
Inilah satu di antara jurus-jurus Cap-sha Tong-thian, dan pukulan ini sama hebatnya dengan sambaran sebatang pedang pusaka yang diluncurkan secara tiba-tiba dari samping sehingga amat sukar dihadapi lawan yang bagaimana pandai sekalipun.
"Ehhh""..!"
Ouw Sek berteriak dan cepat dia memasang kuda-kuda, mengerahkan tenaga sinkangnya ke dalam tongkat emas dan menangkis.
"Wuuuutttt""..plakkkk!"
Tongkatnya berhasil menangkis, namun hawa pukulan yang mengandung angin tajam itu masih merobek ujung lengan baju dari tangan Ouw Sek yang memegang tongkat emas.
"Brettt""..aihhh!"
Ouw Sek terkejut bukan main dan wajahnya berobah.
Dengan marah dia lalu menubruk dan memutar tongkatnya, dan kembali Gin San terdesak hebat sehingga pemuda ini terpaksa harus memutar tubuh dan berloncatan menghindar, kemudian meloncat jauh ke belakang dan sebelum lawan menerjang lagi, dia sudah merendahkan tubuhnya seperti berjongkok dan memutar-mutarkan kedua lengannya.
Muncullah angin pukulan yang berpusing seperti terjadi angin puyuh yang kuat menyambar ke arah Ouw Sek.
Itulah jurus ke tiga dari Cap-sha Tong-thian dan kembali Ouw Sek mengeluarkan seruan kaget.
Serangan ini hebat bukan main, lebih hebat dari pada serangan pertama dan ke dua tadi dan makin heranlah Ouw Sek.
Belum pernah selamanya dia melihat jurus-jurus aneh seperti itu.
Namun, karena dia adalah seorang yang sudah mendapat gemblengan seorang sakti dan sudah mematangkan ilmu-ilmunya, dia masih dapat memutar tongkatnya dan berusaha melawan keras dengan keras.
Akan tetapi, biarpun dia dapat juga menangkis serangan ke tiga ini, tidak urung tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang dan hanya setelah dia membuat loncatan dengan pok-sai (jungkir balik) beberapa kali baru dia dapat mengatur keseimbangan tubuhnya dan berdiri lagi dengan mukai berkeringat!
Bu Heng Locu menderita hebat sekali dan dia sudah amat lemah, bahkan penglihatannya sudah mulai kabur.
Samar-samar dia masih melihat betapa pemuda murid Maghi Sing yang diharapkannya itu melakukan serangan dengan jurus-jurus yang amat aneh.
Akan tetapi dia sudah terlampau lelah dan pening, dia khawatir kalau-kalau pemuda itu tidak akan mampu menanggulangi kelihaian Ouw Sek, maka dengan pengerahan tenaga terakhir, ketua Beng kauw mengambil keputusan bulat dan berteriak, suaranya nyaring penuh wibawa.
"Semua anggauta Beng-kauw, aku sebagai ketua kalian memerintahkan kalian majuuuuu! Demi keselamatan Beng-kauw, serbu dan hancurkan manusia she Ouw yang jahat ini!"
Menerima komando ini, serentak limapuluh lebih anak buah Beng-kauw itu bergerak, mencabut senjata masing-masing dan menyerbu ke arah Ouw Sek yang baru saja terhindar dari serangan Gin San yang ke tiga dan masih terhuyung-huyung.
Melihat ini, Ouw Sek menjadi gentar.
Andaikata di situ tidak ada Gin San yang ternyata lihai luar biasa itu, tentu saja dia tidak takut menghadapi pengeroyokan para anggauta Beng-kauw, atau sebaliknya andaikata limapuiuhan orang itu tidak maju mengeroyok, dia tentu akan melanjutkan penandingannya dengan Gin San dan belum tentu dia akan kalah.
Akan tetapi, seorang Gin San saja sudah merupakan lawan tangguh yang sukar sekali dirobohkan, apa lagi kalau ditambah limapuluhan orang anggauta Beng-kauw!
Dengan marah dan kecewa sekali dia meloncat ke belakang, jauh sekali dan melarikan diri setelah dia berseru dengan nyaring.
"Coa Gin San, tunggu saja".! Akan tiba saatnya aku menghadapimu dan menghancurkanmu!"
Gin San tidak mengejar, demikian pula pari anggauta Beng-kauw, karena Gin San maklum bahwa lawannya itu benar-benar amat lihai sekali.
Belum pernah dia menemui lawan yang sedemikian lihainya!
Gin San lalu menghampiri tempat di mana Bu Heng Locu masih duduk bersila di atas rumput dan pemuda ini lalu menjatuhkan dirinya berlutut.
"Susiok-couw, harap maafkan kedatangan teecu yang mengganggu,"
Katanya. Kakek itu bernapas berat sekali, membuka kedua mata yang sayu, lalu berkata dengan lirih.
"Bagus". engkau"..engkaulah yang bertugas membersihkan Beng-kauw".. aku serahkan padamu, Coa"". Gin San""."
Dan kakek itu tidak melanjutkan kata-katanya, ke dua matanya terpejam dan dia masih tetap dalam keadaan duduk bersila, akan tetapi napasnya telah putus!
Melihat ini, Gin San memberi hormat sambil berlutut dan berkata lirih pula.
"Teecu akan mentaati pesan susiok-couw, dan selamat jalan, semoga susiok-couw mendapatkan jalan terang"
Semua anak murid Beng-kauw menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah jenazah yang masih duduk bersila itu dan mereka tenggelam ke dalam kedukaan, apa lagi yang tewas bukan hanya sang ketua, melainkan juga Lima Penasihat Tua dan empat orang murid utama.
Sekaligus Beng-kauw telah kehilangan sepuluh orang tokoh besarnya, maka tentu saja Beng kauw mengalami perkabungan yang amat hebat.
Gin San yang amat dihormati oleh sisa para murid utama dari Beng-kauw, menghadiri upacara pembakaran jenazah sampai selesai.
Setelah selesai, tiga orang murid Bu Heng Locu, yaitu Kwan Liok dan dua orang sutenya minta kepadanya agar dia suka memegang tampuk pimpinan Beng-kauw di selatan, bahkan yang juga menjadi pusat dari pergerakan Agama Beng-kauw.
Akan tetapi Gin San menolaknya dengan halus.
"Harap para susiok (paman guru) suka memaafkan saya. Bukan sekali-kali bahwa saya tidak mentaati pesan terakhir dari susiok-ouw. Sama sekali tidak. Saya bahkan akan berusaha membersihkan Beng-kauw diutara yang banyak menyeleweng dari pada kebenaran. Akan tetapi di samping itu, saya tidak suka untuk duduk di suatu tempat tertentu, saya masih ingin banyak merantau. Oleh karena itu, saya usulkan agar Beng-kauw di selatan ini dipimpin oleh Kwan-susiok."
Gin San memang merasa kagum kepada Kwan Liok yang tadi telah dilihatnya sebagai seorang gagah yang berani membela Beng-kauw dan gurunya secara mati-matian.
Dia percaya bahwa di bawah pimpinannya, perkumpulan itu tentu akan berjalan di jalan yang benar.
Kini dia dapat melihat bahwa Beng-kauw adalah perkumpulan yang dipimpin oleh orang-orang gagah perkasa, seperti susiok-couwnya yang tewas, lima orang kakek penasihat dan para murid susiok-couwnya yang semua terdiri dari orang-orang gagah.
Betapa jauh bedanya antara tiga orang ketua Beng-kauw di utara itu kalau dibandingkan dengan para pimpinan Beng-kauw di selatan ini!
(Lanjut ke
Jilid 38) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 38 Karena pemuda gagah perkasa dari utara itu menolak kedudukan pimpinan Beng-kauw dengan alasan-alasan tepat, maka akhirnya semua anggauta menerima usul itu, mengangkat Kwan Liok menjadi pengganti ketua Beng kauw, sedangkan kedua orang sute dari Kwan Liok diangkat menjadi penasihat, mendampingi sang ketua baru.
Gin San sendiri lalu mohon diri kembali ke utara setelah dia dibekali dengan kitab-kitab tentang Agama Beng-kauw yang lengkap untuk bahan pelurusan jalannya Beng-kauw di utara.
Pemuda ini berangkat ke utara kembali dengan diantar oleh para pimpinan Beng-kauw sampai di tepi wilayah Beng-kauw.
Semenjak sejarah dicatat orang, manusia di dunia ini sudah sejak dahulu kala berusaha untuk menghindarkan kesengsaraan hidup dan mencari kebahagiaan hidup.
Manusia melihat kenyataan betapa kehidupan penuh dengan duka dan sengsara, dan melihat pula bahwa yang mendatangkan kedukaan itu adalah perbuatan perbuatan yang dinamakan jahat.
Oleh karena itu, manusia berusaha menentang kejahatan dengan pelajaran-pelajaran tentang kebaikan, melalui berbagai macam agama, tradisi dan kebudayaan.
Namun, kenyataan pahit membuktikan bahwa sampai kini, usaha itu masih berjalan terus dan nampaknya tidak banyak mendatangkan hasil baik!
Kejahatan masih merajalela, kalau tidak mau dikatakan makin menjadi-jadi, permusuhan, kebencian, pertentangan, baik antara pribadi, antara golongan, maupun antara bangsa bukan mereda bahkan makin meluas.
Usaha ribuan tahun telah gagal.
Manusia, sampai saat ini, masih menderita duka sengsara, masih menghayati kehidupan di dunia yang penuh kebencian dan permusuhan!
Kebaikan tidak mungkin dapat dipelajari!
Kebahagiaan tidak mungkin dapat dipupuk, cinta kasih tidak mungkin dapat dilatih.
Kebaikan dalam setiap tindakan dengan sendirinya ada, apabila kejahatan telah bersih dari dalam diri, dari dalam batin, bukan kebaikan yang dibuat, melainkan kebaikan yang wajar, seperti kebersihan yang ada setelah kekotoran lenyap.
Seribu satu macam pelajaran tentang kebaikan, laksaan bait ujar-ujar tentang kebaikan hidup, tentang bagaimana kita harus mennjadi orang baik, hanya merupakan teori-tori kosong belaka, pelajaran yang mati dan kenyataannya semua pelajaran itu hanya menjadi alat untuk membanggakan diri sebagal orang yang pandai, alat untuk berdebat dengan orang lain tentang kebajikan dan sebagainyn, alat pemanis bibir agar dianggap sebagai orang bijaksana dan pandai!
Yang penting bukanlah menghafal segala macam kata mutiara, kata suci tentang filsafat dan kebatinan, melainkan membuka mata dengan penuh kewaspadaan mengenal diri pribadi.
Semua pelajaran tentang kebatinan, kata-kata muluk yang dirangkai indah, semua itu seperti pakaian yang indah dan bersih belaka.
Apa artinya pakaian indah bersih dipakai oleh badan kita yang kotor!
Mengenal diri sendiri berarti membuka mata memandang dan melihat kekotoran diri sendiri mengenal segala kebencian, iri hati, dengki, kesombongan, kegelisahan, kekecewaan dan sebagainya yang memenuhi batin kita sendiri.
Selama semua ini masih memenuhi batin kita, mana mungkin kita mau bicara tentang kebajikan, tentang kebahagiaan, tentang cinta kasih.
Berbuat baik bukan sebagai hasil latihan adalah suatu kewajaran, dan hal ini baru mungkin apabila ada landasan cinta kasih.
Kalau sudah begini, keindahan dan kebahaginan hidup tidak perlu lagi dikejar-kejar!
Karena di dalamnya sudah terdapat keindahan, sudah terdapat kebahagiaan!
Cinta kasih dan kebahagiaan tidak dapat dipisah-pisahkan, demikian pula dengan apa yang dinamakan kebaikan.
Tanpa adanya cinta kasih, di mana mungkin ada kebaikan?
Tanpa adanya cinta kasih, di mana mungkin ada kebahagiaan?
Kebaikan tanpa cinta kasih adalah kebaikan buatan yang dibaliknya bersembunyi pamrih memperoleh ganjaran atau imbalan, dan karenanya bukan lagi kebaikan namanya, melainkan suatu cara dari usaha memperoleh keuntungan berupa ganjaran atau imbalan itulah.
Perbuatan baik dengan dasar cinta kasih adalah perbuatan wajar yang oleh yang berbuat sendiri tidak disadari sebagai suatu kebaikan!
Di dalam perbuatan seperti ini terkandung keindahan dan kebahagiaan.
Kebahagiaan tanpa cinta kasih hanya merupakan kesenangan belaka, kesenangan badaniah maupun batiniah yang diikuti oleh kebosanan, kekecewaan, kekhawatiran dan keinginan untuk memperoleh lebih banyak lagi, yang menyeret kita ke dalam lingkaran setan dari senang dan susah.
Coa Gin San melakukan perjalanan yang jauh itu tanpa merasa lelah karena dia menikmati semua pemandangan baru di sepanjang jalan.
Dia tidak mengambil jalan yang sama dengan ketika dia pergi ke selatan.
Perjalanan pulang ini dilakukannya melalui sepanjang pantai timur.
Akhirnya, pada suatu senja yang sunyi, tibalah dia di tepi pantai Po-hai, di depan guha-guha yang menjadi sarang Beng-kauw.
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya melibat bahwa tempat itu sunyi sekali tanpa ada manusianya seorangpun dan yang ditemui hanyalah kerangka-kerangka, manusia berserakan di depan gua-gua itu!
"Apakah yang telah terjadi?"
Bisiknya dan dia berlari ke sana-sini, memasuki guha-guha, berteriak-terik memanggil, namun dia tidak melihat seorangpun.
Biarpun tidak ada orang yang menceritakan, melihat keadaan di tempat itu, melihat kerangka-kerangka berserakan itu tengkorak-tengkorak yang bermata kosong dan hitam lebar itu seolah-olah sudah bercerita banyak.
Dia dapat menduga bahwa tentu terjadi pertempuran besar di tempat itu, dan melihat dari sisa pakaian yang masih ada di sekitar tempat itu, dia tahu bahwa tulang-tulang berserakan itu adalah kerangka-kerangka dari para anggauta Beng-kauw!
Diam-diam dia menghitung dan ternyata jumlah kerangka manusia itu ada puluhan banyaknya!
Dia merasa ngeri dan kini pertanyaan itu keluar dengan nyaring dari mulutnya.
"Apa yang telah terjadi??"
Tiba-tiba terdengar suara lirih, suara seperti rintihan panjang.
Sekali menggerakkan tubuhnya, Gin San sudah meloncat ke arah suara itu dan dia berhadapan dengan seorang laki-laki yang terbongkok-bongkok.
Jelas bahwa orang ini menderita kesakitan hebat dan begitu melihat Gin San, dia lalu menjatuhkan diri berlutut sambil menangis!
Gin San melihat bahwa orang itu adalah seorang di antara anggauta Beng-kauw, akan tetapi melihat keadaannya, dia tahu bahwa orang ini selain menderita luka di sebelah dalam tubuhnya, juga menderita gangguan pada otaknya, agaknya karena takut, atau karena batinnya terguncang hebat, atau karena dia menderita pukulan pada kepalanya.
"Apa yang terjadi""..?"
Gin San bertanya sambil mengguncang pundak orang itu dengan halus.
"Celaka"". celaka"".. semua habis"".semua binasa"".."
"Siapa yang tewas?"
Gin San bertanya, maklum bahwa orang ini tidak dapat diajak bicara dengan panjang lebar.
"Tiga orang ketua kita"".. semua tewas, dan banyak anggauta kita...".habis sudah""
Sebagian lagi melarikan diri"""."
"Siapa yang membunuh tiga orang ketua?"
"Seorang wanita"""
Cantik"".. ketua Im-yang-kauw"""
Dan banyak anggauta Im-yang-pai..."". hu-hu-huuukkk"".."
Dan orang itupun menangis terisak-isak.
Keterangan itu sudah cukup bagi Gin San.
Tentu fihak Im-yang pai telah datang dan membalas dendam!
Dia menarik napas panjang.
Karena gara-gara tiga orang ketua Beng kauw yang menyeleweng, maka Beng-kauw telah melakukan fitnah curang sehingga Im-yang pai diserbu pemerintah dan banyak anak buah Im-yang-pai yang tewas.
Kini, Im-yang pai datang membalas dendam.
Hal ini sudah wajar.
Kematian tiga orang ketua Beng-kauw juga tidak mengherankan.
Tiga orang tua itu menyeleweng dan kalau sampai terbunuh, hal itupun adalah karena kesalahan mereka sendiri.
Tidak ada hal yang patut dibuat penasaran dengan terjadinya penyerbuan Im-yang kauw atau Im-yang-pai itu.
Akan tetapi, sebagai seorang anak murid Beng kauw, tentu saja dia merasa penasaran kalau belum bertemu dengan wanita pembunuh tiga orang ketua Beng-kauw itu, untuk diajak bertanding.
Kalau dia tidak turun tangan, tentu Beng-kauw akan dipandang rendah oleh dunia kang-ouw.
"Coba kuperiksa lukamu!"
Katanya dan tanpa menanti jawaban, dia sudah memegangi lengan orang itu dan tahulah dia bahwa orang itu menderita luka pukulan yang cukup parah.
Maka Gin San lalu menempelkan tangan kirinya di punggung orang itu, mengerahkan sin-kang untuk mengobati luka di sebelah dalam itu dengan hawa sakti melalui tapak tangannya.
Setelah selesai, dia lalu mengajak orang itu membantunya mengumpulkan semua tulang, ditumpuknya di atas kayu-kayu kering yang ukup banyak, kemudian dia membakar semua tulang itu sampai habis menjadi abu.
Pekerjaan ini dilakukannya semalam suntuk dengan bantuan orang itu.
Setelah selesai, dia minta kepada orang itu untuk meniaga bekas sarang Beng-kauw, kemudian setelah dia menyembunyikan kitab-kitab Beng-kauw di dalam sebuah guha kecil yang ditutupnya dengan batu besar, Gin San lalu meninggalkan pantai Po-hai itu untuk pergi mencari wanita yang telah memimpin anak buah Im-yang-pai menyerbu Beng-kauw.
Dia teringat akan wanita muda yang sakti, yang pernah bergebrak selama beberapa jurus dengannya ketika dia menyelidiki ketua Im-yang-kauw di sarang Pek-lian-kauw.
Maka ke sarang Pek-lian-kauw itulah dia pergi.
Pada suatu pagi yang sejuk, tibalah dia di atas sebuah bukit.
Dari tempat yang agak tinggi di tepi Sungai Huang-ho ini dia dapat melihat ke bawah sana, ke dataran hijau di mana terdapat sarang Pek-lian-kauw yang merupakan sebuah perkampungan kecil di lembah sungai itu, di kaki Pegunungan Tai-hang-san.
Akan tetapi dia bukan seorang yang ceroboh.
Gin San tahu bahwa setelah melakukan penyerbuan yang berhasil kepada Beng-kauw itu tentu saja fihak Im-yang-kauw berjaga-jaga dengan hati-hati, mengkhawatirkan pembalasan dari fihak Beng-kauw.
Oleh karena itu dia tidak berani sembarangan memasuki daerah musuh itu.
Dia harus lebih dulu menyelidik karena sesungguhnya dia tidak bermaksud menyerbu Im-yang-kauw.
Tidak ada alasan baginya untuk memusuhi Im-yang-kauw hanya karena penyerbuan Im-yang-kauw (terhadap) Beng-kauw.
karena hal itu dianggap sudah semestinya dan tidak boleh dibuat penasaran.
Im-yang-kauw telah membalas dendam dan perkara sebaiknya dihabiskan sampai di situ saja.
karena Beng-kauw sudah menebus kesalahannya ketika melakukan fitnah.
Akan tetapi dia datang untuk menemui wanita Im-yang-kau yang telah membunuh tiga orang ketua Beng kauw, untuk ditandinginya, agar Beng-kauw tidak dipandang rendah.
Kalau dunia kang ouw mendengar bahwa Beng-kauw hancur oleh seorang wanita, tentu nama besar Beng kauw akan runtuh.
Maka dia harus menemui wanita itu dan ditantangnya untuk bertanding!
Untuk menyelidiki di mana adanya wanita yang dicarinya itu, Gin San lalu mengambil jalan memutar.
Dari atas bukit itu nampak olehnya betapa di sebelah utara perkampungai Pek-lian-kauw itu terdapat sebuah hutan yang amat besar dan lebat, dan jalan masuk ke perkampungan itu kesemuanya terbuka, kecuali yang dari hutan itu, maka dia mengambil keputusan untuk memasuki Pek-lian-kauw melalui hutan lebat itu.
Dengan mempergunakan ilmunya berlari cepat, dia memutari perkampungan itu dan memasuki hutan yang gelap dan lebat itu.
Tiba-tiba pendengarannya yang tajam dapat menangkap suara yang tidak wajar, suara yang tidak pantas terdengar di dalam hutan itu.
Kalau yang bersuara itu ayam hutan atau burung atau binatang hutan, tentu hal ini tidak akan menarik perhatiannya, akan tetapi yang didengarnya adalah suara isak tangis seorang wanita!
Tentu saja amat aneh mendengar suara tangis wanita di dalam hutan yang demikian lebat dan gelapnya.
Akan tetapi suara itu datang dari tempat yang agak jauh, dari sebelah dalam hutan, dan hanya kebetulan terdengar olehnya, tertangkap oleh pendengarannya ketika angin yang lewat membawa suara tu.
Dengan hati-hati Gin San berindap-indap mendekat ke arah datangnya suara itu.
Gin San makin terheran ketika dia melihat adanya sebuah pondok kecil mungil di dalam hutan yang gelap itu, sebuah pondok yang berdiri tersembunyi di antara pohon-pohon besar, sebuah pondok yang kelihatan masih baru, tentu baru beberapa bulan pondok itu dibuat orang.
Catnya masih baru dan keadaan di situ sunyi sekali, yang terdengar hanya suara isak tangis yang kini terdengar makin jelas, bukan dari dalam rumah, melainkan dari belakang rumah itu.
Gin San menyelinap dengan hati-hati, tidak menimbulkan suara apa-apa, memutari rumah itu dan sampai di bagian belakang rumah.
Di antara pohon-pohon itu, di atas rumput hijau yang tebal, dia melihati seorang wanita tengah duduk menangis terisak isak!
Gin San menyelinap di balik semak-semak, mengintai dengan penuh keheranan.
Memang sukar dipercaya untuk menemukan seorang wanita yang amat cantik jelita, berpakaian serba hijau dari sutera halus tipis, rambutnya panjang digelung ke atas, seorang wanita yang sepatutnya berada di dalam istana, kini berada seorang diri di tempat sunyi itu.
Dan melihat keadaannya, wanita itu tidaklah muda remaja lagi, sungguhpun sukar untuk menaksir usianya, karena dia amat cantik seperti seorang gadis yang usianya baru dua puluhan tahun, akan tetapi tarikan muka dan sinar matanya yang sedang bersedih itu membayangkan usia yang sudah matang.
Betapapun juga, diam-diam Gin San harus mengakui bahwa jarang dia bertemu dengan seorang wanita secantik itu, dengan bentuk tubuh yang demikian menggairahkan, penuh dan padat lembut di balik pakaian sutera hijau yang membayangkan lekuk lengkung tubuhnya.
Karena ingin melihat lebih jelas wajah yang menunduk dan terisak itu, Gin San mendoyongkan tubuhnya dan gerakan ini menimbulkan sedikit suara pada daun kering yang terpijak olehnya.
Tiba-tiba saja wanita itu menggerakkan tangannya dan sebuah benda kecil hitam menyambar ke arah Gin San dengan kecepatan kilat!
Pemuda itu tentu saja terkejut bukan main, sama sekali tidak pernah menduga bahwa wanita itu ternyata dapat mendengar suara daun terpijak itu, apa lagi menyerangnya secara demikian tiba-tiba dan cepat.
Akan tetapi dengan tenang dia mengulur tangan dan menangkap benda hitam yang menyambarnya, dan ternyata tu adalah sebuah batu kecil yang dipergunakan wanita itu untuk menyerangnya.
Pada saat itu, wanita cantik tadi telah bergerak meloncat dan telah tiba di depannya, memandangnya dengan sepasang mata yang lebar dan indah, penuh keheranan, akan tetapi juga membayangkan kekhawatiran dan kemarahan.
"Engkau"". mata-mata busuk yang bosan hidup!"
Wanita itu berkata dan begitu tangannya bergerak, nampak sinar hitam berkelebat menuju ke arah leher Gin San.
Pemuda itu kembali terkejut bukan main.
Sinar hitam itu adalah sehelai sabuk hitam yang dipergunakan oleh wanita itu untuk menyerangnya dan melihat gerakan sabuk itu, tahulah Gin San bahwa wanita itu lihai bukan main, memiliki kekuatan sinkang yang membuat sabuk yang lemas itu menjadi senjata yang ampuh dan serangan itu saja sudah merupakan serangan maut yang amat berbahaya.
Maka diapun tidak berani lengah, cepat dia miringkan kepala dan tubuhnya mengelak, lalu melangkah ke belakang sambil berkata.
"Maaf". aku bukan mata-mata""..!"
Akan tetapi wanita itu agaknya merasa penasaran bukan main melihat betapa pria muda remaja yang diserangnya itu dapat menghindarkan diri sedemikian mudahnya dari serangan sabuknya tadi.
Tidak banyak tokoh kang-ouw yang dapat menghadapi serangan sabuknya semudah itu.
Maka dia mendesak lagi, kini sinar hitam itu bergulung-gulung dan terdengar bunyi mengerikan, bercuitan seperti senjata tajam diputar cepat, dan secara bertubi-tubi Gin San diserang kalang-kabut oleh wanita baju hijau itu!
"Eh, eh""..nona, tunggu dulu"..
mengapa hendak membunuhku mati-matian?"
Gin San berloncatan mengelak dan menggunakan kedua tangannya untuk menyampok.
Terpaksa dia harus mengerahkan sinkangnya untuk menangkis ujung sinar hitam itu yang ternyata amat kuat dan berbahaya.
Karena tangkisan-tangkisannya, setiap kali ujung sabuk bertemu dengan tangannya, sabuk itu membalik sehingga wanita itu nampak terkejut bukan main.
"Engkau telah melihatku, melihat pondokku, engkau harus mampus!"
Teriaknya lagi dan kembali dia menyerang, sekali ini bukan hanya sabuk yang menjadi sinar hitam itu yang menyerang, akan tetapi juga tangan kirinya memukul dan menotok dengan gerakan cepat dan mengandung penuh tenaga dahsyat!
Barulah Gin San benar-benar tidak berani memandang ringan.
Tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita yang memiliki tingkat tinggi dalam ilmu silat.
Maka diapun tidak banyak cerewet lagi dan selain mengelak dan menangkis, dia kinipun membalas serangan lawan!
Terjadilah pertandingan yang amat seru di bawah pohon-pohon itu, tanpa disaksikan oleh manusia lain.
Demikian cepat gerakan mereka sehingga tubuh mereka lenyap berobah menjadi bayangan-bayangan yang amat cepat, dan angin-angin pukulan membuat daun-daun pohon rontok dan debu beterbangan!
Namun, karena dia tidak mengenal wanita ini dan tidak mempunyai permusuhan apapun dengan wanita ini, biarpun dia membalas serangan lawan, Gin San tidak bermaksud membunuhnya atau melukainya.
Serangan-serangan balasan yang dilakukannya terbatas sekali.
"Tahan dulu!"
Tiba-tiba Gin San berseru, Dia tahu bahwa tingkat kepandaian wanita ini seimbang dengan tingkat kepandaian tiga orang ketua Beng-kauw yang telah tewas, bahkan mungkin lebih tinggi karena sabuk hitamnya itu lihai bukan main, maka timbul dugaannya bahwa jangan-jangan wanita ini adalah tokoh Im-yang-kauw yang telah membunuh tiga orang ketua Beng-kauw itu!
"Apakah engkau orang Im-yang-kauw?"
Wanita itu meloncat ke belakang, kini sepasang matanya yang bening itu memandang kepadanya penuh kagum dan kaget.
Sukar dia dapat percaya ada seorang pemuda yang dapat menandinginya sampai limapuluh jurus dengan tangan kosong begitu saja!
"Kalau aku orang Im-yang kauw kenapa, dan kalau bukan bagaimana?"
Wanita itu membentak dan memandang tajam.
Gin San harus mengakui bahwa wanita ini, yang dia taksir tentu berusia kurang lebih tigapuluh tahun namun masih amat cantik jelita dan amat menarik hati.
Sepasang matanya begitu indah dan jeli, mulutnya yang bergerak-gerak ketika bicara itu demikian manis dan penuh daya tarik, bibir itu kalau bicara seperti menantang untuk dicumbu.
Gin San menarik napas panjang.
Betapa banyaknya orang-orang lihai di dunia ini.
Wanita muda yang dijumpainya di Pek-Iian-kauw dahulu itupun lihai bukan main, dan kini wanita cantik inipun hebat!
"Kalau engkau bukan orang Im-yang kauw, aku tidak ada urusan antara kita dan tidak semestinya kita bertempur.
Akan tetapi kalau engkau ketua Im-yang-kauw, atau seorang tokoh Im-yang-kauw yang pernah menyerbu Beng-kauw dan membunuh tiga orang ketua Beng-kauw, maka kebetulan sekali karena aku memang sedang mencarimu!"
Pandang mata wanita itu penuh selidik dan kembali sinar matanya mengandung kekaguman besar.
Setelah amarahnya mereda ia melihat bahwa pemuda di depannya ini selain lihai bukan main, juga masih amat muda dan berwajah tampan, bersikap gagah perkasa!
"Mau apa engkau mencari ketua Im-yang-kauw yang membunuh tiga orang ketua Beng-kauw?
Apakah engkau orang Beng-kauw yang hendak membalas dendam?"
Gin San tersenyum dan wanita itu makin tertarik.
"Terus terang saja, aku memang seorang dari Beng-kauw, toanio. Akan tetapi aku tidak mendendam atas kematian tiga orang ketua Beng-kauw, dan aku menganggap penyerbuan Im-yang-kauw ke Beng-kauw itu sudah sewajarnya. Berg-kauw telah menebus kesalahannya terhadap Im-yang-kauw yang mengakibatkan Im-yang-kauw diserbu pasukan kerajaan. Nah, sekarang telah lunas semua perhitungan dan aku bahkan akan mengusahakan agar di antara kedua perkumpulan terjalin hubungan baik."
"Kalau begitu, mengapa engkau mencari ketua Im-yang-kauw?"
"Karena aku ingin mencoba kepandaiannya Aku ingin memperlihatkan bahwa Beng kauw tidaklah selemah yang disangka orang. Aku ingin memperkenalkan Beng kauw dan mengajak Im-yang-kauw bersahabat melalui ujian kepandaian. Apakah toanio seorang tokoh Im-yang-kauw?"
"Bukan! Akan tetapi engkau telah melanggar tempat tinggalku yang kusembunyikan, maka engkau harus mampus!"
Kembali wanita itu secara tiba-tiba menyerangnya dan Gin San cepat menangkis.
Wanita itu terus mendesak dengan pukulan-pukulan maut secara bertubi tubi sehingga terpaksa Gin San melayaninya menangkis, mengelak dan membalas serangan itu dengan penuh semangat karena dia tahu akan kelihaian lawan.
Akan tetapi kini Gin San lebih banyak mendesak.
Pemuda ini menduga bahwa sedikit banyak wanita lihai ini tentu mempunyai hubungan dengan Im yang kauw.
Buktinya, selain wanita ini berkepandaian tinggi, juga wanita ini tinggal di dekat perkampungan yang menjadi sarang bersama antara Pek-lian-kauw dan Im-yang-kauw, juga tadi wanita itu nampaknya tertarik mendengar tentang urusannya dengan Im-yang-kauw.
Maka, dia harus memperlihatkan kepandaiannya agar wanita ini dapat menceritakan kepada orang-orang Im-yang-kauw bahwa Beng-kauw tidaklah selemah yang mereka kira!
Ketika dia melakukan perjalanan pulang ke utara, di tengah jalan dia telah membuat lagi sebatang suling bambu.
Memang alat musik ini merupakan kegemarannya dan setiap kali dia berhenti dan duduk termenung dia tentu memainkannya.
Kini, menghadapi sabuk yang amat lihai itu, Gin San lalu mencabut keluar sulingnya dan terdengarlah suara suling seperti ditiup dan dimainkan orang ketika pemuda ini menggerakkannya.
Wanita itu mengeluarkan seruan kaget dan juga penuh kagum ketika tiba-tiba dia melihat gulungan sinar hijau yang dibarengi suara suling ditiup mengalun tinggi rendah seirama dengan gerakan pemuda itu.
Dia terdesak mundur dan tiba-tiba dia menggerakkan tangannya yang memegang sabuk.
Sabuk itu seperti seekor ular hidup melingkar dan membelit suling, kemudian tangan kiri wanita itu menampar ke arah kepala Gin San.
Pemuda ini sudah memperhitungkan serangan ini, maka sambil tersenyum diapun menggerakkan tangan kirinya.
"Plakk!"
Dua telapak tangan bertemu di udara dan wanita baju hijau itu mengeluarkan seruan kaget bukan main ketika merasa betapa telapak tangannya melekat pada telapak tangan lawan!
Betapapun dia berusaha melepaskannya, dia gagal dan akhirnya dia malah mengerahkan tenaga untuk mendorong lawan.
Namun, tenaganya amblas dihisap oleh telapak tangan lawan.
Dan mulailah terasa hawa yang hangat memasuki telapak tangannya.
Tiba-tiba muka wanita itu menjadi merah sekali, jantungnya berdebar kencang dan matanya setengah terpejam.
Gerakan hawa sinkang itu menimbulkan kehangatan dan mengguncangkan perasaannya, menimbulkan rangsangan berahi!
"Ahhh""
Aku"". aku mengaku kalah""
Dia merintih, matanya yang setengah terpejam itu memandang kepada wajah Gin San, dan mulutnya yang manis tersenyum malu-malu penuh daya tarik. Gin San tersenyum, kebengalannya timbul.
"Hemm, kalau benar mengakui kalah, apa buktinya?"
Sambil bicara, Gin San masih mengerahkan sinkangnya, mengirim getaran ketubuh lawan im melalui telapak tangan sehingga wanita itu menjadi semakin merah mukanya, napasnya agak terengah.
"Aku menyerah"". bukti apa yang kau kehendaki? Aku menyerah kalah"".."
Kata wanita baju hijau itu, terengah engah, mulutnya agak terbuka dan lidahnya menjilat bibir seperti kepala seekor ular kecil berwarna merah. Gin San memandang ke arah bibir itu, lalu berkata.
"Kalau engkau menyerah, harus kau buktikan dengan ciuman"".!"
Kenakalan timbul dan jantungnya berdebar, teringat dia akan pengalaman-pengalamannya ketika dia menciumi wanita-wanita, pertama Liang Hwi Nio, kemudian Yo Giok Hong, janda berusia tigapuluh lima tahun yang masih cantik itu, dan terakhir Tio Bi Cin, dara remaja puteri janda itu.
Akan tetapi, tiga orang wanita itu hampir tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan wanita baju hijau yang memiliki daya tarik luar biasa ini.
Sepasang mata yang hampir terpejam itu sejenak terbelalak, kedua pipi itu menjadi makin merah dan senyumnya melebar, memperlihatkan deretan gigi yang putih berkilauan.
"Bagaimana, maukah engkau?"
Gin San bertanya sambil menambah kekuatan sinkangnya.
"Oohhhh"".."
Wanita itu mengeluh, tubuhnya tergetar hebat.
"Mengapa tidak mau? Engkau begini tampan dan gagah perkasa""..,tapi"".. bagaimana aku dapat melakukannya kalau aku tidak mampu menggerakkan tanganku"".."
Gin San tertawa dan menyimpan kembali tenaganya.
Wanita itu merintih lagi dan tiba-tiba kedua tangannya seperti dua ekor ular merangkul leher Gin San, sabuk itu melibat pinggang pemuda itu dan dengan penuh semangat wanita baju hijau itu lalu mencium bibir Gin San dengan bibirnya yang terengah dan hangat.
Gin San terperanjat bukan main.
Sudah tiga kali dia pernah mencium wanita, akan tetapi belum pernah dia merasakan yang seperti ini!
Biarpun janda Yo Giok Hong juga mencium dengan hangat dan berani, akan tetapi kalau dibandingkan dengan wanita ini, sungguh teramat jauh bedanya.
Ciuman wanita ini demikian beraninya, demikian merangsangnya sehingga membangkitkan berahinya, membuatnya berkobar-kobar!
Bukan hanya bibir lunak hangat itu yang mencium, dengan getaran-getaran yang menggigilkan, akan tetapi juga lidahnya, dan kedua tangannya mencengkeram pundak dan rambutnya, dan tubuh wanita itu menempel ketat sehingga terasa olehnya geseran-geseran tubuh itu, dan dari dalam dada wanita itu membubung naik rintihan-rintihan yang tersumbat oleh bertemunya bibir mereka.
Gin San merasa betapa jantungnya berdebar kencang, kedua kakinya menggigil dan dia pasti akan roboh terguling kalau tidak dipeluk erat-erat oleh wanita itu.
Mereka terpaksa melepaskan bibir karena napas mereka hampir putus, terengah-engah, saling pandang dengan mata terbelalak, dan wanita itu lalu mendekap tubuh Gin San, menyembunyikan wajah di dada pemuda itu.
"Ahhhh""..kau jantan"". ahhhh"".aku"".. aku tergila-gila kepadamu!"
Gin San masih terbelalak dan terengah, merasa aneb.
Akan tetapi kembali wanita itu mengangkat muka, menarik lehernya dan kembali ciuman maut yang membuat dia seperti diseret angin badai berpusing dan membawanya membubung tinggi jauh di antara awan-awan!
Gin San tidak tahu lagi bagaimana mereka memasuki pondok mungil itu.
Dia seperti tidak ingat apa-apa lagi, seperti lumpuh segala kemauannya, dan dia menurut saja dibuai dan dibujuk rayu.
Memang wanita itu pandai sekali merayu.
Rayuan maut yang membuat Gin San seperti terpesona dan terpengaruh oleh sihir.
Padahal, sebagai seorang ahli sihir dia tahu bahwa dia tidak disihir oleh wanita itu, melainkan tersihir oleh nafsu yang menggelora, membuat dia ingin sekali tahu dan mengalami hal-hal yang telah lama dibayangkannya dalam mimpi.
Gin San merasa seperti dalam mimpi.
Seperti tidak mempunyai daya lagi untuk menguasai dirinya sendiri, membiarkan dirinya dirangkul dan dituntun oleh wanita baju hijau yang cantik jelita itu memasuki kamar.
Selanjutnya dia hanya menyerah saja dan wanita yang ahli merayu itu menjadi gurunya.
Gin San seperti orang mabok, makin mabok makin ingin minum lebih banyak, makin tidak sadar.
Dan wanita itu demikian pandai, demikian lembut, demikian cantik.
Gin San terseret dan hanyut dalam permainan nafsu berahinya sendiri yang dikobarkan oleh wanita yang ahli merayu itu.
Dalam keadaan terlelap dan lupa akan kesadarannya itu Gin San membiarkan dirinya dipermainkan oleh wanita itu dan nafsunya sendiri.
Baru pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia terbangun dari tidur nyenyak karena kelelahan.
Baru dia sadar dan begitu dia membuka mata, dia terperanjat dan terheran mengapa dia berada di atas pembaringan dalam sebuah kamar yang asing baginya.
Bau harum menusuk hidungnya dan dia menoleh ke kanan.
Wanita itu rebah terlentang di sampingnya dalam keadaan yang amat mempesona.
Sebuah lengan wanita itu masih menindih dadanya sebagian rambut yang panjang itu masih melibat lehernya.
Wanita itu tertidur nyenyak dengan bibir terhias senyum kepuasan.
Gin San bangkit duduk.
Dia teringat kini dan kedua alisnya berkerut, suatu perasaan sesal yang amat hebat menusuk hatinya.
Mengapa dia membiarkan dirinya dipermainkan wanita ini, dipermainkan nafsu?
Mengapa dia telah melanggar pantangan dari mendiang suhunya?
Dia menyesal sekali, dan terasa hatinya hampa dan kecewa.
"Engkau"""
Jantan""..!"
Bisikan ini membuat Gin San kembali menengok.
Ternyata wanita itu telah terbangun, mungkin karena gerakannya ketika bangkit duduk tadi.
Selimut penutup tubuh wanita itu merosot, memperlihatkan dadanya yang padat dan indah bentuknya.
Gin San membuang muka, merasa malu kepada diri sendiri.
"Kekasihku"". engkau hebat"..ah, betapa aku cinta padamu, aku bersedia mati untukmu...".., ah, engkaulah yang dapat mengisi kekosongan hatiku selama ini, engkau merupakan penghibur yang mengobati luka-luka di hatiku, engkau penawar yang membuat semua kesengsaraan lenyap dari hatiku"..ah, orang gagah, betapa aku berterima kasih kepadamu""."
Dua pasang mata bertemu pandang, dan Gin San melihat betapa cantiknya wanita itu, baik wajah maupun tubuhnya.
Dan ketika wanita itu mengembangkan kedua lengannya yang telanjang, dengan gaya penuh pikatan, Gin San tak dapat menahan gelora hatinya dan kembali dia tenggelam dalam pelukan wanita itu, kembali dia tidak berdaya menolak, bahkan menerima segalanya dengan gembira, kembali muncul kehausan yang tak kunjung kenyang atau puas itu.
Demikianlah kenyataan dari pada kelemahan manusia menghadapi nafsu-nafsu yang ditimbulkan oleh keinginan mengulang apa yang dianggap menyenangkan.
Hubungan kelamin antara pria dan wanita bukanlah sesuatu yang jorok, bukanlah sesuatu yang kotor, bukanlah sesuatu yang hina.
Namun, hubungan itu harus didasari dengan cinta kasih!
Tanpa dasar cinta kasih, maka hubungan kelamin itu hanya menjadi pemuas nafsu belaka, menjadi tujuan pengejaran kesenangan!
Dan kalau sudah menjadi pengejaran kesenangan untuk memuaskan nafsu berahi, maka terjadilah hal-hal yang amat rendah!
Akhirnya kedua orang insan itu untuk sementara merasa puas dan mereka rebah terlentang berdampingan.
"Siapakah engkau""..?"
Gin San bertanya lirih, merasa heran terhadap diri sendiri mengapa dia merasa tidak berdaya dan amat lemah menghadapi wanita ini.
"Hik-hik, betapa lucunya keadaan kita."
Wanita itu berbisik, dan jari-jari tangannya yang kecil halus itu membelai dada dan leher Gin San dengan lembutnya, belaian yang membuat bulu-bulu di tubuh pemuda itu meremang, yang menimbulkan gelitik berahi.
"Mengapa lucu?"
"Kita sudah melakukan segalanya ini, sudah bermain cinta, sudah semesra ini, sudah saling mengenal secara mendalam sekali, akan tetapi namapun masing-masing belum tahu. Tidak lucukah ini?"
Wanita itu tertawa, suara ketawanya lembut dan merdu, seperti bernyanyi.
Ketika wanita itu bangkit dan menciumnya, Gin San mendapatkan dirinya benar-benar telah tenggelam secara dalam sekali.
Wanita ini demikian menyenangkan hatinya.
"Siapakah engkau!"
Kembali dia bertanya setelah wanita itu berbaring lagi. Mereka saling menggenggam tangan.
"Aku adalah seorang janda yang hidup seorang diri di sini, hidup merana dan sengsara, kesepian dan gelisah, sampai engkau muncul, kekasihku, dan mengisi kehidupanku yang sunyi hampa dengan sinar matahari dan seribu bunga. Namaku Tang Kim Hwa"".., dan siapakah engkau, wahai pemuda perkasa, tokoh Beng-kauw yang hebat?"
Akan tetapi Gin San belum mau menjawab pertanyaan ini.
"Mengapa engkau berada di sini seorang diri saja? Bukankah tempat ini termasuk wilayah Im yang-kauw?"
"Tempat ini adalah hutan belukar, tidak menjadi wilayah siapapun, melainkan daerah bebas. Dan Im-yang-kauw".. ah, jangan sebut-sebut Im-yang-kauw""."
"Mengapa?"
"Suamiku adalah seorang pemburu yang gagah perkasa, jauh sebelum Im-yang-kauw datang ke tempat ini. Pada suatu hari, suamiku bentrok dengan orang-orang Im-yang-kauw ketika memperebutkan daerah perburuan. Suamiku bertanding melawan tokoh Im-yang-kauw dan tewas. Semenjak itu, telah beberapa bulan lamanya, aku hidup seorang diri, tidak ingin pergi dari tempat sunyi ini""
Sampai Thian mengirim engkau untuk mengisi hidupku. Ahhh kekasihku, aku telah menyerahkan jiwa ragaku kepadamu, engkau kasihanilah aku, jangan engkau tinggalkan aku lagi"".!"
Wanita itu kembali merangkul. Akan tetapi Gin San dengan halus menolaknya ketika wanita itu kembalf hendak merayunya.
"Nanti dulu, kita harus saling mengenal dengan baik. Kulihat ilmu silatmu amat lihai mengapa engkau tidak membalas kematian suamimu terhadap Im-yang-kauw?"
"Ah, engkau pandai memuji ilmu silatku ini, mana mungkin dapat dibandingkan dengan para tokoh Im-yang-kauw atau Pek-lian-kauw Aku tidak mau mencari penyakit. Aku tidak mau mencari mati konyol seperti suamiku, dan pula, kematian suamiku adalah keraatian gagah, dalam pertandingan yang adil. Dia kalah pandai dan tewas, hal itu sudah wajar dan tidak perlu aku menaruh dendam, hanya menyesali diri sendiri mengapa tidak memiliki kepandaian setinggi kepandaianmu, misalnya. Wahai, orang muda perkasa, siapakah engkau? Siapa namamu?"
"Namaku Coa Gin San, dan seperti kukatakan kemarin, aku adalah murid Beng-kauw yang hendak mencari ketua Im-yang-kauw yang telah membunuh tiga orang ketua Beng-kauw."
"Hemm, engkau hendak membalas dendam?"
"Tidak, sama sekali tidak! Beng kauw pernah menyeleweng dan merugikan Im-yang kauw, maka kalau Im-yang-kauw membalas dendam, hal itu sudah sewajarnya dan Beng-kauw runtuh karena kesalahan para pemimpirnya sendiri Akan tetapi aku hendak memperlihatkan bahwa Beng-kauw bukanlah perkumpulan lemah yang tidak mempunyai orang pandai, maka aku ingin menguji kepandaian ketua Im-yang-kauw yang katanya wanita lihai itu bukan untuk balas dendam, melainkan untuk membuktikan mana yang lebih unggul antara tokoh Beng-kauw dan tokoh Im yang-kauw."
"Hemm, engkau akan menghadapi banyak sekali tokoh Im-yang-kauw, Pek-lian-kauw, dan banyak pula anak buah mereka!"
Wanita itu berkata dengan suara mengandung kekhawatiran.
"Jangan engkau begitu nekat."
"Karena itulah aku mengambil jalan memutar, aku ingin menjumpai ketua itu sendirian dan menantangnya secara gagah, tidak main keroyokan. Sungguh tidak kusangka, aku tidak bertemu dengan ketua Im-yang-kauw, melainkan bertemu dengan engkau, Kim Hwa"""..!"
"Dan engkau menyesal?"
Gin San tersenyum.
"Tidak, bahkan aku girang sekali."
Mereka tertawa dan saling rangkul, saling berciuman pula.
"Nanti dulu"".., Kim Hwa, apakah engkau mengenal orang-orang Im-yang-kauw dan Pek-lian-kauw itu?"
Wanita itu masih merangkul dan dia mengangguk, lalu menarik napas panjang, membelai rambut di pelipis Gin San.
"Ketua Im-yang pai berjuluk Kok Beng Thiancu, kepandaiannya hebat. Dan ketua Pek-lian-kauw lebih hebat lagi, namanya Thai-kek Seng-jin, ilmunya amat tinggi. Ada pula orang Uighur yang sakti di sana, namanya Gu Lam Sing, dan mereka bertiga itu saja merupakan lawan yang sukar dikalahkan"".."
"Aku tidak perduli dengan mereka yang kausebutkan tadi. Aku mencari ketua Im-yang-kauw, katanya seorang wanita yang lihai"
Wanita itu mengangguk.
"Dia memang lebih lihai dari mereka bertiga itu! Yang membunuh orang-orang Beng-kauw adalah wanita itulah. Namanya"". ah, dia itu orang baru, aku tidak mengenal namanya, bahkan belum pernah jumpa. Hanya suamiku pernah menceritakan kehebatan wanita itu, dan suamiku""roboh oleh dia itulah!"
"Heemmmm""..!"
Gin San mengerutkan alisnya.
"Demikian hebatkah dia?"
"Memang dia hebat sekali, kaupun agaknya bukan lawan dia!"
Dibakar seperti itu, Gin San bangkit duduk dan alisnya berkerut.
"Aku mau cari dia! Mau tahu sampai di mana kepandaian wanita yang telah membunuh tiga orang ketua Beng-kauw itu! Aku harus menandinginya dan aku akan mengalahkannya!"
Wanita itu juga bangkit duduk, tidak memperdulikan selimut yang merosot dan memperlihatkan tubuh atasnya yang telanjang. Dia merangkul pundak Gin San dengan sikap manja.
"Coa Gin San, apakah engkau hendak memusuhi Im-yang-kauw?"
"Sama sekali tidak! Dalam permusuhan antara Im-yang-kauw dan Beng-kauw itu, fihak Beng-kauw yang bersalah. Akan tetapi Im-yang-kauw tidak boleh memandang rendah Beng-kauw, bahkan aku hendak mengulurkan tangan, mengajak Im-yang-kauw untuk bersahabat dengan Beng kauw. Akan tetapi aku harus mengalahkan wanita itu lebih dulu."
Wanita itu tersenyum girang.
"Bagus, kalau begitu aku dapat membantumu mencari wanita itu."
Gin San kaget dan girang, lalu balas merangkul.
"Engkau manis sekali! Benarkah engkau dapat membantuku menemukan dia?"
Kim Hwa cemberut, namun tentu saja kelihatan makin menarik ketika bibir bawahnya dijebikan itu.
"Aku mau membantumu, akan tetapi apa upahnya?"
Gin San tertawa.
"Upahnya ini!"
Dia lalu mencium dan Kim Hwa membalasnya penuh gairah. Untuk beberapa lamanya mereka kembali bermesraan.
"Sudahlah, masih banyak waktu untuk bersenang, akan tetapi aku harus dapat menemukan tokoh Im-yang-kauw itu dan mengadu ilmu dengan dia!"
Gin San bangkit dan menyambar pakaiannya.
"Hi-hik, engkau takut menjadi lemah? Jangan khawatir, kekasihku. Aku sudah menguji kepandaianmu dan aku yakin engkau akan dapat mengalahkan musuh yang bagaimana kuatpun. Nah, dengar baik-baik. Tokoh wanita itu pernah kulihat beberapa kali berada di puncak bukit yang ada telaganya di sana itu. Agaknya setiap senja dia mandi di telaga dan menikmati pemandangan matahari tenggelam di waktu senja. Memang indah sekali pemandangan di sana di waktu senja. Kalau engkau pergi ke sana senja ini, engkau tentu akan bisa mendapatkan dia seorang diri saja."
"Ah, terima kasih! Sore nanti aku pasti akan mencarinya di sana!"
Kim Hwa lalu berpakaian dan turun dari pembaringan, dengan gembira dia menggandeng pemuda itu keluar, sambil bersendau gurau dia lalu membuat masakan, memotong ayam dan menanak nasi, memasak bermacam masakan dibantu oleh Gin San.
Kiranya di tempat itu, Kim Hwa mempunyai persediaan bahan masakan yang cukup banyak, bahkan cukup mewah!
Ada ayam hidup, banyak telur, ada pula ikan-ikan laut kering, dan banyak pula bumbu-bumbu yang mahal!
Sambil diseling sendau-gurau dan peluk cium penuh kemesraan, mereka masak, makan dan bercakap-cakap.
Sepanjang hari itu mereka lewatkan dengan makan minum, bergurau, bercinta dan tertawa seperti kelakuan sepasang suami isteri yang berbulan madu sebagai pengantin baru saja!
Tanpa disadarinya, Gin San tenggelam semakin dalam dan dia merasa seolah-olah menemukan kebahagiaan di samping wanita yang pandai merayu ini.
Sebaliknya, wanita yang pada pertemuan pertama kali itu dilihat oleh Gin San sedang duduk menangis terisak sedih, kini lenyap sudah semua bekas kesedihannya dan bersikap amat gembira, juga agaknya amat mencinta pemuda itu!
Menjelang senja, setelah memperoleh petunjuk letak bukit yang nampak dari situ, Gin San berangkat untuk mencari tokoh Im-yang-kauw yang telah membunuh tiga orang bekas-suhengnya itu.
"Gin San, berhati-hatilah engkau"". ah, aku takkan kuat lagi hidup sendirian tanpa engkau di sampingku!"
Wanita itu merangkulnya ketika dia hendak berangkat. Gin San memegang dagunya dan mencium bibirnya.
"Jangan khawatir, Kim Hwa. Aku akan dapat menundukkannya. Kautunggulah saja di sini, aku pasti akan kembali."
Setelah melepaskan rangkulan Kim Hwa, sekali berkelebat Gin San sudah lenyap dari depan wanita itu. Kim Hwa terbelalak penuh kagum, lalu tersenyum dan mengepal kedua tinjunya yang kecil.
"Aku takkan melepasnya lagi"". tidak akan melepaskannya lagi""..!"
Dan diapun menyelinap di antara semak-semak belukar.
Benar seperti dikatakan oleh Kim Hwa, pemandangan dari atas puncak bukit itu memang amat indah.
Sinar matahari menjelang senja yang sudah redup dan sejuk kemerahan itu membuat air telaga seperti genangan emas yang mempersona.
Akan tetapi Gin San tidak melihat gadis yang dicarinya itu.
Dengan amat hati-hati dia lalu mendekati telaga karena menurut keterangan Kim Hwa, biasanya tokoh wanita Im-yang-kauw yang lihai itu selalu setiap senja mandi di telaga lalu duduk termenung memandang ke barat, ke arah matahari terbenam.
Akan tetapi, di mana adanya gadis itu sekarang?
Mulai timbul kekhawatiran di hatinya bahwa secara tidak kebetulan sekali gadis itu tidak muncul senja ini.
Tiba-tiba pendengarannya yang tajam menangkap suara air gemercik, padahal air telaga yang bermandikan cahaya matahari kemerahan itu nampak tenang, sedikitpun tidak berkeriput.
Dia cepat memandang dan dia terpesona!
Dengan jantung berdegup tegang Gin San mengintai dari balik batang pohon besar.
Tempat itu masih agak jauh, namun cukup jelas baginya melihat dara itu mandi di tepi telaga!
Nampak jelas lekuk lengkung tubuh yang telanjang itu, yang berdiri dalam air sebatas pinggang.
Terbelalak Gin San memandang.
Tubuh yang berkulit putih keemasan terkena cahaya matahari senja.
Bukan main!
Seperti arca dari emas!
Akan tetapi patung emas ini hidup Kedua tangannya menepuk-nepuk air yang muncrat ke atas dan dia nampak gembira bermain-main seorang diri di air itu.
Setumpuk pakaian berada di tepi telaga, di atas sebuah batu besar.
Gin San tak berani bergerak, akan tetapi matanya tak pernah berkedip.
Bukan hanya tubuhnya saja yang hebat, akan tetapi juga wajah dara itu nampak demikian ayu, demikian manis dan membuat Gin San melongo.
Baru saja dia dirayu seorang wanita yang sudah matang seperti Kim Hwa.
akan tetapi sekarang dia melihat tubuh seorang dara remaja yang, demikian jauh lebih muda, yang seolah-olah menjanjikan kehangangatan dan kemesraan yang jauh melebihi apa yang telah dialami dan didapatkannya dari Kim Hwa!
Dari sinilah timbulnya nafsu, baik nafsu berahi maupun nafsu apapun juga.
Dari pikiran yang mengingat-ingat, yang membayangkan hal-hal yang menyenangkan atau dianggap menyenangkan, yang nikmat dan sebagainya.
Pikiran yang membayang-bayangkan ini mengharapkan kesenangan, maka timbullah keinginan untuk mengalami apa yang dibayangkannya sebagai kesenangan yang nikmat itu.
Apabila seorang pria melihat wanita cantik atau seorang wanita melihat pria tampan lalu merasa tertarik dan suka, hal ini adalah wajar dan biasa karena memang terdapat daya tarik antara kedua jenis kelamin ini.
Akan tetapi begitu pikiran masuk dan membayangkan hal-hal yang dianggapnya menyenangkan, jika pikiran membayangkan betapa akan senangnya kalau bercinta dengan pria atau wanita yang menarik hatinya itu, maka timbullah keinginan memiliki, timbullah nafsu berahi yang tidak wajar lagi, buatan pikiran yang ingin menikmati kesenangan.
Melihat bunga indah harum merasa suka, itu sudah wajar.
Akan tetapi begitu pikiran masuk dan membayangkan betapa akan senangnya kalau dapat memiliki kembang itu untuk dirinya sendiri, maka timbullah keinginan untuk memetiknya, dan pengejaran keinginan ini pelaksanaannya sering kali mendatangkan perbuatan maksiat.
Mungkin kembang milik orang lain itu akan dipetiknya!
Gin San terpesona.
Tertarik oleh kecantikan dara yang sedang mandi dan diintainya itu.
Tak lama kemudian dara itu, seolah-olah merasakan sesuatu menyudahi mandinya dan sekali bergerak, tubuhnya yang telanjang itu meloncat ke balik batu besar, lenyap dari penglihatan Gin San.
Gin San terkejut dan kagum.
Dapat meloncat seperti itu dari dalam air yang merendam tubuh setinggi perut, padahal letak batu besar itu agak tinggi dan cukup jauh, menunjukkan bahwa dara itu memiliki ginkang yang amat hebat!
Dia sendiri masih harus menimbang nimbang dulu apakah akan dapat melakukan loncatan seperti itu.
Dua buah tangan yang kecil dan putih meraih pakaian di atas batu besar dan tak lama kemudian dara itu telah berjalan dengan langkah-langkah tenang menuju ke puncak dekat telaga.
Pakaiannya serba putih dan halus, lenggangnya tidak dibuat-buat dan wajar, namun gerakan kedua pinggul dan pinggang itu seperti langkah seekor harimau, demikian lemah gemulai namun membayangkan kekuatan dahsyat di dalamnya.
Dan Gin San makin terpesona!
Gadis itu lalu duduk di atas batu di puncak, menghadap ke barat di mana matahari mulai terbenam dan menciptakan warna-warna indah kemerahan yang mengandung segala macam warna di angkasa barat.
Gadis itu menggunakan kedua tangannya membereskan rambut dan menyanggulnya dengan sederhana, namun di dalam gerakan itu sendiri terkandung sifat kewanitaan yang lembut dan manis.
Dara cantik jelita yang membuat Gin San seperti tergila-gila itu bukan lain adalah Ling Ling.
Seperti kita ketahui, dara ini terkena bujukan Thai-kek Seng-jin yang mempergunakan ilmu sihir, kemudian dengan gaya cerita yang menarik ketua Pek-lian-kauw itu berhasil meyakinkan hati Ling Ling bahwa Pek-lian kauw dam Im-yang-kauw adalah perkumpulan-perkumpulan para patriot, para pendekar pejuang dan pembela rakyat kecil, sama dan sejiwa dengan mendiang ayah bundanya yang juga selalu membela rakyat tertindas dan menentang kekuasaan yang lalim.
Dia diperlakukan dengan penuh hormat oleh dua perkumpulan itu, dan biarpun dia tidak secara resmi menjadi ketua Im-yang-kauw, namun dia dipandang sebagai seorang tokoh besar di perkumpulan itu, di samping Kok Beng Thiancu yang bersikap sebagai ayah kepadanya.
Ling Ling merasa bahwa pesan gurunya.
Bu Eng Lojin, dan sukongnya Lui San Lojin kepadanya tidaklah sia-sia.
Dia telah menjadi seorang pejuang atau pendekar pembela rakyat dan penentang para pembesar yang menindas rakyat!
Inilah sebabnya mengapa dia mengamuk dengan dahsyat kalau Pek-lian-kauw dan Im-yang-kauw menyerbu pasukan pemerintah yang dianggap sebagai penindas rakyat jelata!
Memang sudah menjadi kesukaan Ling Ling untuk mandi di telaga itu setiap sore.
kemudian menikmati pemandangan indah yang diciptakan oleh matahari senja yang mulai terbenam meninggalkan sinar lembayung kemerahan.
Pada senja hari itupun dia seperti biasa mandi di telaga, akan tetapi dia merasakan sesuatu yang tidak seperti biasanya.
Timbul bayangan betapa akan memalukan kalau ada orang melihatnya bertelanjang mandi di tempat itu!
Dan bukan tidak mungkin kalau ada orang yang mengintai, mengingat bahwa tempat itu penuh dengan semak belukar dan pohon-pohon besar, Bayangan ini membuat dia cepat-cepat menyudahi mandinya, berpakaian lalu duduk di atas batu di puncak dari mana dia dapat melihat matahari terbenam di balik bukit dengan jelas karena tempat menghadap ke barat itu tinggi dan terbuka.
Tiba-tiba dara itu menegakkan tubuhnya dan mencurahkan perhatiannya kepada pendengarannya.
Jelas sekali terdengar suara orang-seolah-olah orang itu bicara di dekat telinga nya.
"Benarkah nona orangnya yang telah menyerbu Beng kauw dan membunuh tiga orang ketuanya?"
Ling Ling cepat menengok ke kanan, kearah datangnya suara itu.
Dia memandang dengan tajam, namun tidak melihat siapa-siapa bahkan tidak ada semak-semak bergerak, seolah olah yang bicara tadi adalah setan yang tidak nampak.
Akan tetapi dia bukan seorang dara penakut, dan dia cukup cerdik untuk dapat menduga bahwa tentu ada orang pandai yang sengaja memamerkan kepandaian, mempergunakan Ilmu Coan-im-jip-bit (Mengirim Suara Dari Jauh), yaitu ilmu yang didasarkan atas kekuatan khikang sehingga orang itu dapat mengirimkan suaranya dari jarak jauh.
Dan orang itu bertanya tentang Beng-kauw!
Tentu orang ini musuh adanya, musuh yang datang dari Beng-kauw, mungkin untuk membalas dendam atas kematian tiga orang ketua Beng-kauw.
Akan tetapi dia tidak takut dan dia lalu berdiri dengan tenang, menghadap ke arah suara itu, mengerahkan khikangnya dan menjawab dengan ilmu yang sama.
"Apakah engkau orang yang pernah mengacau di Pek-lian kauw dan pernah menantang Im-yang-kauwcu?"
Kini giliran Gin San yang terkejut dan kagum bukan main.
Gadis itu ternyata bukan hanya memiliki ginkang yang hebat, akan tetapi juga memiliki khikang yang kuat sehingga dapat membalas ilmunya!
Selain itu, bahkan gadis itu telah mengenal suaranya pula.
Makin besar keinginan hatinya untuk menguji kepandaian nona ini, kalau benar nona ini yang telah membunuh tiga orang suhengnya, ketua dari Beng-kauw itu.
Dari balik semak-semak di mana dia bersembunyi dan berdiri terhalang oleh semak-semak dan pohon besar, dia lalu menjawab dengan pengerahan khikang pula "Benar, akulah orangnya, nona!"
Hening sejenak dan sedikit waktu itu dipergunakan oleh Ling Ling untuk menyelidiki dari arah suara itu di mana gerangan sembunyinya orang yang mengeluarkan suara itu.
Kemudian, begitu tubuhnya bergerak melesat ke depan angin menyambar dan membuat daun-daun pohon dan semak-semak di mana Gin San bersembunyi itu rontok, dan di lain saat dara itu telah berdiri di depannya!
Karena terhalang pohon-pohon besar, maka hanya sedikit saja sinar matahari lembayung dapat menerobos ke tempat ini sehingga cuacanya agak gelap di situ.
Sejenak dua orang muda itu berdiri saling berpandangan dengan sinar mata penuh selidik.
"Hemm, kiranya engkau!"
Ling Ling berkata dengan nada suara mengejek dan dia masih penasaran teringat betapa dulu dia tidak sempat melanjutkan pertandingan melawan tokoh Beng-kauw muda yang dia tahu amat lihai.
"Menjawab pertanyaanmu tadi, benar akulah orangnya yang telah membunuh tiga orang ketua Beng-kauw. Habis, engkau mau apa?"
Dara itu membusungkan dada dan menegakkan kepala, sikapnya penuh tantangan.
Biarpun sesungguhnya tiga orang ketua Beng-kauw itu tidak mati di tangannya semua, akan tetapi dia mengaku saja karena dia tidak takut menghadapi pemuda ini!
Mendengar ucapan itu dan menyaksikan sikap nona itu, Gin San menarik napas panjang.
Sikap nona ini jelas mengandung permusuhan dan kebencian terhadap Beng-kauw.
Dan dia tidak dapat menyalahkan kalau nona ini seorang tokoh Im-yang-kauw, karena apa yang dilakukan oleh Beng-kauw belasan tahun yang lalu di Cin-an memang amat curang dan telah mengakibatkan Im-yang-kauw diserbu dan dibasmi oleh pasukan pemerintah!
"Nona, kalau boleh aku bertanya, apakah engkau seorang tokoh Im-yang-kauw?
Apakah engkau kauwcu (kepala agama) dari Im-yang-kauw?"
"Bukan!"
Jawab Ling Ling pendek dan ketus.
"Ah, kalau begitu engkau seorang tokoh Pek-lian-kauw?"
Tanya Gin San agak kecewa, Dia sudah cukup mengenal Pek-lian-kauw sebagai perkumpulan yang mempergunakan agama untuk mengelabuhi rakyat, untuk membakar hati rakyat agar memberontak terhadap pemerintah yang berkuasa.
Pek-lian-kauw selalu mempergunakan kesempatan selagi terjadi perang saudara dan banyak kesengsaraan di antara rakyat untuk mengembangkan agama mereka!
Demikianlah kesan yang didapatnya ketika dia mendengar berita-berita tentang Pek-lian kauw.
Dan nona yang amat dikaguminya ini adalah tokoh Pek-lian-kauw!
Akan tetapi hatinya lega ketika dia mendengar nona itu menjawab dengan tegas pula.
"Juga bukan! Aku membantu Im-yang-kauw dan Pek lian kauw karena dua perkumpulan itu adalah perkumpulan orang-orang gagah, patriot-patriot sejati, sebaliknya Beng-kauw adalah perkumpulan yang curang dan jahat!"
"Tapi, nona! Beng kauw tidak"".."
"Sudahlah! Engkau datang mau apa?"
Bentak Ling Ling.
Panas juga rasa hati Gin San melihat sikap nona ini, sungguhpun dia makin kagum kepada, dara ini, karena setelah berhadapan muka, biarpun dalam cuaca remang-remang, dia dapat melihat kecantikan asli yang amat mengagumkan, dan dia dapat merasakan kesegaran terpancar dari pribadi nona ini.
Dia merasa panas dan penasaran.
"Nona, akupun tahu bahwa dalam urusan antara Im-yang-kauw dan Beng-kauw, fihak Beng-kauw telah bersalah dan telah menebus kesalahannya itu dengan kehancuran. Dan kematian tiga orang ketua Beng-kauw juga adalah karena kesalahan langkah dari mereka sendiri Aku tidak menaruh (Lanjut ke
Jilid 39) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 39 dendam apa-apa terhadap Im-yang-kauw Akan tetapi, sebagai seorang murid Beng kauw, tidak mungkin aku diam saja melihat Beng-kauw dibasmi orang, dan aku ingin mencoba kepandaian jagoan yang telah diperalat oleh Im-yang-kauw dan Pek-lian-kauw!
Tidak tahu berapa banyakkah nona dibayar untuk menjadi jagoan mereka?"
Sepasang mata yang indah itu terbelalak dan mengeluarkan sinar berapi, mukanya menjadi merah saking marahnya.
Dia telah dimaki secara tidak langsung!
Dia dikatakan jagoan yang menerima bayaran!
"Keparat sombong bermulut lancang!"
Bentaknya.
"Mari kuantar engkau pergi ke neraka menyusul iblis-iblis Beng-kauw!"
Dan Ling Ling sudah menerjang dengan hebatnya!
Gin San cepat mengelak dan harus diakuinya bahwa serangan dara itu cepat bukan main, bahkan terlalu cepat baginya dan pukulan tangan yang kecil mungil itu mengandung kekuatan dahsyat!
Dia mengelak lalu menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
"Dukkk!"
Keduanya terpental dan ternyata bahwa tenaga sinkang mereka berimbang kekuatannya!
Melihat kenyataan ini, Gin San makin kagum.
Akan tetapi lawannya tidak memberi kesempatan kepadanya untuk banyak meragu, karena Ling Ling sudah menerjang lagi dengan kecepatan seperti seekor burung walet menyambar-nyambar.
Mula mula Gin San hanya mempertahankan diri saja, berusaha untuk mempelajari ilmu silat lawan agar mudah baginya untuk menguasainya.
Akan tetapi, tidak semudah itu kenyataannya.
Ginkang dari dara ini ternyata masih menang setingkat dibandingkan dengan ginkangnya, sehingga dia harus bergerak cepat dan waspada, sama sekali tidak sempat lagi untuk mempelajari gerakan lawan, bahkan kalau dia tidak cepat balas menyerang tentu akhirnya dia yang celaka!
Kalau dibuat perbandingan antara dua orang muda perkasa ini, memang dalam hal ilmu meringankan tubuh, Ling Ling masih menang setingkat.
Ilmu ginkang ini merupakan keistimewaan yang khas dari gurunya, yaitu Bu Eng Lojin.
Baru nama julukan kakek yang bertapa di Kwi-hoa-san ini saja sudah menunjukkan betapa kakek ini seorang ahli ginkang yang jarang bandingannya.
Julukan Bu-Eng atau Tanpa Bayangan sudah jelas membayangkan keahliannya, dan keahlian ini tentu saja diturunkan kepada Ling Ling.
Sebagai seorang dara yang memiliki pembawaan lincah gembira, ilmu ini memang cocok sekali untuk Ling Ling sehingga dia dapat menguasai ginkang yang amat hebat dari gurunya.
Mengenai ilmu silat pada umumnya, sukar dibuat perbandingan antara Ling Ling dan Gin San, apa lagi karena memang pada hakekatnya dasar dasar yang menjadi sifat ilmu silat mereka jauh berbeda.
Oleh karena itu, perkelahian antara dua orang muda itu amat bebat dan serunya.
Gin San kalah cepat dan dia harus mempergunakan tenaganya yang masih sedikit lebih kuat untuk menutup kekalahan dalam ginkang ini, dan diapun membalas setiap pukulan lawan dengan pukulannya sendiri yang ampuh.
Cuma bedanya, kalau dalam setiap serangan Ling Ling terkandung niat sepenuhnya untuk merobohkan lawan tanpa memperdulikan apakah lawan itu akan tewas karenanya, sebaliknya Gin San selalu membatasi diri dan menjaga agar jangan sampai dia kesalahan tangan membunuh nona yang amat dikaguminya ini.
Dia datang hanya untuk menguji kepandaian, bukan untuk berkelahi saling bunuh!
"Dukk, plakk""!!"
Gin San terhuyung ke belakang.
Dia berhasil menangkis pukulan yang menyambar ke arah kepalanya, akan tetapi pukulan ke dua masih meleset mengenai pundaknya sehingga dia terhuyung.
Serangan yang dilakukan oleh Ling Ling tadi memang merupakan serangan maut yang amat berbahaya dan amat cepat datangnya.
Dan selagi tubuhnya terhuyung, nona itu sudah menerjang lagi dengan hebatnya.
Gin San cepat menggulingkan dirinya, menghindar dari serangan susulan itu, akan tetapi lawannya terus mendesak, beberapa kali melakukan tendangan keras yang semua dapat dihindarkan oleh Gin San yang berloncatan ke sana-sini namun membuat dia terdesak dan kehilangan keseimbangan.
"Nona, kita hanya saling menguji kepandaian""."
Dia memperirgatkan, namun Ling Ling tidak perduli, mendesak terus sehingga kini Gin San benar-benar terdesak hebat.
Karena merasa dirinya berada dalam bahaya, Gin San sudah siap untuk menggunakan ilmu simpanannya, yaitu Cap-sha Tong thian.
Akan tetapi dia masih ragu ragu karena dia tahu betapa ampuhnya jurus-jurus ilmu ini dan dia khawatir kalau akan mencelakakan lawannya yang amat dikaguminya.
Pada saat itu, tiba-tiba berkelebat bayangan hijau.
Cuaca sudah mulai gelap sehingga Ling Ling tidak mengenal siapa adanya orang baju hijau yang bergerak cepat ini, dia hanya tahu bahwa orang ini adalah seorang wanita yang lihai.
Tiba-tiba saja wanita itu menubruknya dengan cengkeraman yang hebat sekali.
Ling Ling mengelak, akan tetapi dari samping kirinya, pukulan Gin San sudah datang sehingga terpaksa dia menangkisnya.
"Plakk! Dukkkk.....!"
Ling Ling mengeluh lirih dan terguling, pingsan karena ketika dia menangkis pukulan Gin San tadi, dia telah ditotok oleh wanita baju hijau yang lihai itu sehingga dia terguling roboh dan tak sadarkan diri!
Wanita itu, yang bukan lain adalah Tang Kim Hwa si baju hijau yang lihai, bergerak ke depan hendak mengirim pukulan maut untuk membunuh Ling Ling, akan tetapi tiba-tiba Gin San meloncat dan menangkap lengannya.
"Jangan"".!"
Serunya dan dia mengerahkan tenaganya.
Wanita baju hijau itu berusaha melepaskan lengannya yang dipegang, namun betapapun dia mengerahkan tenaga tetap saja pegangan Gin San tak dapat terlepas.
Diam-diam dia harus mengakui kekuatan pria yang membuatnya tergila-gila itu.
"Kenapa tidak boleh dibunuh? Dia hampir saja tadi membunuhmu!"
Teriak Tang Kim Hwa dengan penasaran. Gin San menggeleng kepalanya.
"Jangan bodoh, dia tidak mungkin dapat mengalahkan aku. Aku tadi memang sengaja mengalah, karena antara dia dan aku sesungguhnya tidak ada permusuhan sesuatu. Aku hanya ingin menguji kepandaiannya, dan ternyata dia amat hebat dan"".. cantik jelita""."
"Ah, kau"""
Kau tertarik oleh kecantikannya! Dia harus kubunuh!"
Kim Hwa menjerit marah penuh dengan perasaan cemburu dan dia sudah menubruk lagi ke arah tubuh Ling Ling yang sudah tidak bergerak itu.
"Bresss!"
Dia terlempar ke belakang dan ternyata dia telah didorong dengan keras oleh Gin San. Wanita itu kembali menjerit dan membelalakkan matanya, memandang kepada Gin San dengan penuh kemarahan.
"Kau"". kau memukulku"".? Ah, Gin San, kita saling mencinta dan kau"".. kau kini memukul karena gadis ini"".?"
Gin San bersungut-sungut.
"Engkau tidak boleh membunuhnya, dan kalau engkau nekat, terpaksa aku akan menentangmu!"
"Kau"".. kau sudah tergila-gila kepadanya? Kau"".. jatuh cinta kepada gadis ini?"
Tang Kim Hwa berseru dan kini dalam suaranya terkandung tangis dan memang dia sudah mulai mencucurkan air mata karena hatinya terasa perih oleh cemburu, Gin San berdiri memandang kepada tubuh dara yang rebah terlentang di atas tanah itu.
Biarpun cuaca sudah mulai remang-remang gelap, namun dia masih dapat melihat garis tubuh yang penuh lekuk lengkung menggairahkan itu dan dia mengepal tinjunya, lalu berkata perlahan namun dengan hati geram.
"Salahmu semua ini! Salahmulah kalau aku sekarang tergila-gila kepadanya!"
Tang Kim Hwa terbelalak memandang pemuda itu.
"Salahku? Apa"".. apa maksudmu Gin San?"
"Sebelum aku bertemu denganmu, banyak sudah aku menjumpai gadis-gadis cantik, wanita-wanita cantik yang akan suka menyerahkan diri kepadaku namun semua kutolak! Aku pantang melakukan hubungan badan dengan wanita, aku masih seorang perjaka! Akan tetapi""..engkau menodaiku, engkau merayuku sampai aku jatuh...".. dan engkau membangkitkan berahiku sehingga begitu aku melihat dia yang begitu cantik, bangkit berahiku dan aku harus memilikiya...""
"Gin San! Tapi""
Kita saling mencinta"., aku cinta padamu, aku akan mati kalau engkau mencinta wanita lain"".!"
Gin San menggeleng kepala, mengerutkan alisnya.
"Aku tidak tahu apa itu cinta, aku hanya ingin melampiaskan nafsu birahiku kepadanya, dan kalau engkau menghalangi, biarkan aku pergi dengan dia dan meninggalkanmu, Kim Hwa!"
Gin San sudah melangkah menghampiri Ling Ling yang masih tak sadarkan diri itu.
"Jangan""! Ah, aku mengerti, Gin San, aku mengerti. Biarlah, kau boleh saja bermain-main dengan wanita manapun juga, asalkan engkau tidak meninggalkan aku dan asal engkau selalu mencintaku, menjadi kekasihku."
Tiba-tiba wanita itu merangkul pundak Gin San dan sikapnya sama sekali berobah, penuh rayuan.
"Dengar, Gin San, aku tadi gila karena cemburu. Salahku sendiri. Tak baik engkau bawa pergi gadis ini begitu saja. Kalau ketahuan fihak Pek-lian-kauw dan Im-yang kauw, tentu engkau akan dikejar-kejar dan dikeroyok. Kalau engkau memperkosanya, tentu mereka akan selalu memusuhimu. Sebaiknya bawa dia ke pondok, kemudian aku akan memberinya obat agar dia menyerahkan diri kepadamu dengan suka rela, bukan dengan jalan pemerkosaan. Bukankah baik sekali begitu?"
Gin San memandang Kim Hwa dan akhirnya dia mengangguk.
"Baik, engkau sungguh manis, Kim Hwa. Aku berterima kasih kepadamu kalau gadis ini mau menyerahkan diri dengan suka rela kepadaku, dan aku takkan melupakan kebaikanmu itu."
Gin San lalu memondong tubuh Ling Ling yang masih lemas, kemudian bersama Tang Kim Hwa mereka kembali ke pondok sunyi dalam hutan itu.
Wanita cantik itu cepat menyalakan lampu-lampu dan membawa sebuah lampu minyak ke dalam kamar di mana Gin San merebahkan Ling Ling di atas pembaringan.
Melihat wajah yang manis di bawah sinar lampu yang kemerahan itu, makin tertarik hati Gin San dan dia harus diam-diam mengakui bahwa dia telah jatuh cinta kepada dara ini!
Makin bangkit berahinya sampai berkobar dan dia sudah tidak sabar lagi menanti ketika dia melihat Tang Kim Hwa mengambil sebungkus obat bubuk merah dan mencampur obat bubuk ini dengan setengah cawan arak.
Kemudian, dengan bantuan Gin San yang mengangkat leher Ling Ling dan memangkunya, Kim Hwa menuangkan arak itu sedikit demi sedikit ke dalam mulut Ling Ling sampai habis.
Dara itu lalu direbahkan lagi, dan Kim Hwa berkata.
"Sekarang kautunggulah saja sampai dia bangun, tentu obat itu telah bekerja dengan baik"
Gin San memandang kepada wanita itu dan mengangguk.
"Terima kasih, Kim Hwa, engkau sungguh baik sekali."
Kim Hwa menghampiri, merangkul dan mencium bibir pemuda itu dengan mesra.
"Jangan kau lupa padaku, Gin San."
Gin San balas mencium "Tidak, engkau adalah wanita pertama yang telah menjatuhkan hatiku, Kim Hwa."
Wanita itu menahan isak dan berlari keluar, diikuti pandang mata Gin San yang tersenyum.
Gin San duduk di atas pembaringan, di dekat tubuh Ling Ling yang masih rebah terlentang.
Sejenak dia tertegun, teringat betapa telah terjadi perobahan hebat pada dirinya.
Dulu, biarpun dia selalu tertarik dan suka melihat wanita cantik, namun dia berkeras tidak mau menyerah kepada desakan nafsu berahi.
Teringat betapa dia mudahnya dia akan dapat merayu wanita-wanita yang jatuh cinta padanya untuk bermain cinta, seperti Liang Hwi Nio murid Im yang kauw itu, kemudian Yo Giok Hong janda yang amat cantik itu dan puterinya, Tio Bi Cin.
Akan tetapi dia tidak mau melakukan hal itu.
Sekarang, setelah dia jatuh dalam pelukan Tang Kim Hwa, dia menjadi lemah dan tidak kuasa lagi mengalahkan nafsu berahinya.
Akan tetapi betapapun juga dia tidak mau melakukan perkosaan, ah, tidak, dia tidak mau merosot sampai serendah itu!
Dia tidak akan menjadi seorang penjahat jai hwa cat (penjahat pemerkosa wanita).
Maka diapun hanya duduk bersila saja di dekat tubuh yang menggairahkannya itu, bersamadhi untuk menekan nafsunya yang menggelora.
Dia hanya akan mau menjamah wanita kalau si wanita itu memang mau melayaninya.
Dan dia percaya bahwa obat yang diberikan oleh Kim Hwa tadi akan membuat dara yang membuatnya tergila-gila ini akan membalas cintanya!
Menjelang pagi, barulah Ling Ling mulai bergerak.
Dia menggeliat, merintih lirih, matanya setengah terpejam dan kedua tangannya membuka-buka kancing bajunya dan mulutnya mengeluh seperti orang mimpi.
""".ah, panas...".. panas"".."
Gin San sudah membuka matanya, lalu dia mendekati, menelungkup di dekat Ling Ling, nafsunya bernyala nyala dan jari-jari tangannya membelai rambut yang hitam halus dan panjang kusut itu, lalu perlahan-lahan dia merangkulnya sambil melihat apa yang akan menjadi tanggapan dara itu.
Ling Ling dengan mata setengah terpejam menoleh, tersenyum aneh dan masih merintih, akan tetapi lengannya yang berkulit halus itu membalas rangkulan Gin San!
"Ah, nona, engkau manis sekali""..
ah, betapa aku cinta padamu...."
Gin San mendekap dan mencium.
Dengan girang dia merasakan betapa dara itu tidak menolak, bahkan menyerah dengan penuh semangat, merintih dan rangkulannya makin kuat.
biarpun dara itu tidak menolak diciuminya.
namun mendengar suara rintihan-rintihan itu khawatir juga hati Gin San.
Dia menahan tubuh dengan tangan, memandang wajah yang cantik kemerahan dan masih setengah terpejam itu, kemudian berbisik.
"Nona"".. kenapakah? Engkau tidak sakit..."..?"
"Hemm..."? Panas""! Panas sekali....!"
Ling Ling mengeluh dan menggunakan kedua tangan untuk menyingkap rambutnya yang panjang terurai menutupi sebagian muka dan lehernya itu, menyingkapnya tinggi-tinggi agar lehernya tidak terasa terlalu panas.
Tiba-tiba Gin Sin tersentak kaget dan matanya terbelalak memandang ke arah leher yang panjang dan berkulit putih halus kemerahan itu, melekat pada setitik tahi lalat di leher itu.
Kemudian pandang matanya merayap ke arah wajah yang memang seperti telah dikenalnya itu dan kini teringatlah dia akan mata itu, bibir itu, hidung itu.
"Ai Ling""! Ling Ling""!!"
Gin San berseru keras seperti orang baru sadar dari mimpi buruk dan dia mengguncang tubuh Ling Ling.
Dara itu membuka matanya, sepasang mata yang jernih dan indah, akan tetapi pada saat itu agak sayu, bibirnya merekah dalam senyuman yang memikat, dengan giginya yang putih nampak berkilat, senyum manis dan malu-malu yang amat merangsang.
"Engkau"".mengenal nama kecilku"".? Ahhh...""
Engkau sungguh gagah""."
Melihat keadaan gadis ini yang tidak sewajarnya, yang agaknya sudah tak berdaya dalam rangsangan obat perangsang yang amat kuat itu, secepat kilat Gin San menggerakkan tangan menotok dua kali.
Ling Ling mengeluh dan rebah pingsan lagi!
Sejenak Gin San duduk bengong memandang wajah dara yang pingsan itu, dan dia mengusap keringat dingin di dahinya.
Celaka, hampir saja dia melakukan perbuatan terkutuk atas diri Ling Ling!
Gan Ai Ling!
Pantas saja dia seperti merasa tidak asing dan sudah mengenal dara perkasa itu.
Dan kiranya adalah Ling Ling!
Gin San meloncat turun dari atas pembaringan dan berjalan hilir-mudik meredakan perasaannya yang tegang luar biasa tadi.
Hampir saja dia menyeret Ling Ling ke dalam perbuatan hina!
Kenyataan bahwa dara itu adalah Ling Ling seketika menyadarkannya dan mengusir semua nafsu berahinya, sungguhpun kenyataan ini makin menggores di hatinya dan membuat dia makin mencinta gadis itu.
Gan Ai Ling, Ling Ling, dan dia jatuh cinta kepada bekas su-moinya ini!
Setelah merasa tenang Gin San lalu menghampiri pembaringan, perlahan-lahan dia mengumpulkan tenaga sinkangnya pada kedua telapak tangannya dan mulailah dia mengurut dan mendorong dengan sinkangnya untuk mengusir hawa beracun yang menimbulkan rangsang berahi itu dari tubuh Ling Ling.
Tak lama kemudian, tubuh dara itu sudah tidak panas lagi dan wajahnya sudah tidak kemerah-merahan seperti tadi, napasnya tidak terengah-engah, Gin San lalu menotoknya, membebaskannya dan Ling Ling membuka matanya.
Begitu matanya terbuka, dia mengeluh akan tetapi ketika dia melihat Gin San, dia bergerak cepat dan meloncat turun dari atas pembaringan.
Dengan liar matanya memandang ke pembaringan, ke arah pakaiannya, kemudian kepada pemuda yang duduk di atas bangku.
"Apa.... apa yang terjadi""..? Ah, kau"
Setan Beng-kauw""..!"
Dia sudah siap untuk menerjang lagi.
"Ling Ling, tenanglah, dan kau lihat baik-baik, siapakah aku? Lupakah engkau kepada Coa Gin San...""?"
"Gin San...""? Kau"".. Gin San"".? Ah, benar, engkau Gin San! Tapi"". bukankah engkau tokoh Beng-kauw yang menyerangku itu""..?"
Gin San mengangguk.
"Ah, agaknya nasib membuat kita berdiri dan saling berhadapan seperti musuh, Ling Ling. Engkau tahu-tahu menjadi seorang tokoh Im yang pai dan Pek-lian kauw. sedangkan aku menjadi seorang tokoh Beng-kauw, dan kita berhadapan sebagai musuh. Betapa menyedihkan! Akan tetapi, Ling Ling, sungguh aku tidak mengerti sarna sekali, bagaimana mungkin engkau menjadi tokoh Im-yang-kauw, padahal orang tuamu tewas oleh ketua Im-yang-kauw? Dan bersekutu dengan Pek lian-kauw""..?"
Sejak tadi Ling Ling memandang wajah Gin San dengan penuh keheranan.
Gin San si anak nakal itu telah menjadi seorang pemuda yang harus diakuinya tampan dan gagah, dan lebih dari itu lagi, ilmu kepandaian Gin San benar-benar hebat sehingga dia sendiri sampai kewalahan menghadapinya!
Kini, mendengar pertanyaan itu, Ling Ling bersungut-sungut dan berkata.
"Dan engkau sendiri, mengapa menjadi tokoh Beng kauw? Tak tahukah engkau bahwa ayah dan ibu sampai tewas karena kecurangan Beng-kauw yang menyamar sebagai orang orang Im-yang-kauw ketika mereka mengacau di kuil dulu itu?"
"Panjang sekali ceritanya, Ling Ling""."
"Dan panjang pula riwayatku mengapa aku membantu Im-yang-kauw dan Pek-lian-kauw".."
Pada saat mereka saling menegur itu, tiba-tiba mereka tertarik akan suara hiruk-pikuk dari jauh, makin gaduh suara itu dan lapat-lapat terdengar suara orang-orang berteriak, seperti suara orang-orang yang sedang bertempur.
Banyak sekali orang!
Perang agaknya!
"Aah""..!
Agaknya ada terjadi sesuatu pada Im-yang pai dan Pek-lian kauw!
Suara itu dari sana"".!"
Ling Ling meloncat keluar diikuti oleh Gin San, Pemuda ini mencari-cari dengan pandang matanya dan diam-diam merasa heran mengapa dia tidak mendengar atau melihat Kim Hwa.
Jelas bahwa wanita itu tidak berada di dalam pondok, dan agaknya Kim Hwa tentu sudah mendengar suara orang-orang bertempur itu dan sudah lebih dulu lari ke sana, pikirnva.
Dia merasa amat canggung dan tidak enak kalau teringat akan Kim Hwa, takut kalau-kalau terjadi pertemuan antara Kim Hwa, dan Ling Ling dan dia tidak ingin Ling Ling tahu akan hubungannya dengan wanita cantik itu.
Ketika lari ini, Ling Ling mengerahkan ilmunya berlari cepat dan diam-diam dia kagum sekali melihat bahwa Gin San tidak tertinggal jauh, padahal dia selalu percaya bahwa ilmunya berlari cepat sudah amat hebat sekali.
Dia ingin mengetahui siapa gerangan guru dari Gin San yang dulu lenyap dilarikan oleh orang-orang Beng-kauw yang menyamar sebagai orang-orang Im-yang kauw itu!
Makin dekat dengan tempat yang menjadi pusat sementara dari Im yang-kauw dan Pek lian-kauw, makin yakinlah hati Ling Ling bahwa memang terjadi pertempuran hebat di situ, bukan hanya pertempuran antara sedikit orang, melainkan suatu pertempuran banyak orang, atau lebih mirip perang kecil yang terjadi amat hebatnya dengan suara hiruk-pikuk, pekik kesakitan, sorak kemenangan dan diseling beradunya senjata tajam amat gaduhnya.
Dia mempercepat larinya, diikuti oleh Gin San dan begitu melihat bahwa memang benar tempat itu diserbu oleh pasukan pemerintah, Ling Ling menjadi marah sekali!
Dia tidak mau sembarangan melayani para perajurit, melainkan langsung menyerbu ke tengah mencari para komandan dari pasukan kerajaan yang sedang menekan dan menyerang orang-orang Im-yang kauw dan Pek-lian-kauw itu.
Akhirnya, di tengah-tengah pertempuran itu, Ling Ling melihat seorang perwira muda yang mengamuk dengan hebatnya dan dia terkejut bukan main.
Perwira muda ini sama sekali tidak mempergunakan senjata, hanya dengan kedua tangan kosong saja dia melempar-lemparkan para pengeroyoknya seperti orang melempar-lemparkan rumput kering saja.
Dia melihat pula Kok Beng Thiancu, Thai-kek Seng-jin dan yang lain lain juga mengeroyok perwira muda itu yang dibantu oleh perwira-perwira lain yang mempergunakan senjata tajam akan tetapi tidak ada seorangpun di antara mereka yang demikian lihai seperti perwira muda itu.
Maka tahulah dia apa yang harus dilakukannya.
Dia meloncat, mengeluarkan suara melengking nyaring dan dia sudah menerjang perwira muda itu dengan ganasnya!
Perwira muda itu terkejut melihat datangnya seorang wanita berpakaian putih yang menyerang dengan ganasnya.
Cepat dia mengelak, akan tetapi sekali pukulannya luput, wanita itu telah membalik dan tangannya sudah menyerang lagi dengan totokan ke arah leher sedangkan, tangan kanannya menusuk dengan jari jari tangan terbuka ke arah lambung.
Perwira itu mengeluarkan seruan kaget dan cepat menangkis.
"Plak! Plak!"
Keduanya tergetar dan melangkah mundur, akan tetapi dara cantik yang menyerang itu sudah menerjang lagi dengan langkah-langkah kaki yang indah.
Perwira itu dapat menangkis dengan baik dan tiba-tiba wanita itu berkelebat lenyap dan tahu-tahu sudah berada di belakangnya.
Karena terkejut melihat kecepatan gerak lawan ini, perwira yang lihai itu membalikkan tubuh dan langsung membalas serangan lawan.
"Aihhh""!"
Ling Ling berseru kaget ketika mengenal gerakan itu.
Itulah Sin-liong-hoan-sin (Naga Sakti Memutar Tubuh), yang merupakan jurus dari perguruannya.
Karena kaget ini, hampir saja dia kena terpukul dan dia terhuyung.
Pada saat itu, Gin San sudah meloncat ke depan dan menyerang perwira itu untuk membantu Ling Ling karena tadi dia melihat Ling Ling terhuyung dan mengira bahwa Ling Ling membutuhkan bantuan.
Perwira itu terkejut bukan rnain dan merasa heran betapa di tempat itu muncul banyak orang muda yang begini lihai.
Dia cepat menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
Dua tangan bertemu dan keduanya kembali tergetar dan terdorong mundur sampai tiga langkah.
Mereka saling pandang, keduanya terbelalak, apa lagi ketika perwira itu melirik ke arah wajah Ling Ling yang sudah siap menyerangnya lagi.
"Ling-moi"".! Gin San...".!"
"Heiii, kau"
Sian Lun!"
Teriak Gin San.
"Lun-suheng....! ". teriak pula Ling Ling. Mereka itu tertegun dan saling pandang dengan terheran heran. Sungguh Ling Ling dan Gin San tak pernah mimpi bahwa pemuda yang mengenakan pakaian perwira gagah ini adalah Sian Lun! Sian Lun juga tentu saja tidak pernah mimpi akan bertemu dengan kedua orang yang dirindukannya ini di antara musuh, di antara orang-orang Im-yang-kauw dan Pek-lian-kauw. Sungguh suatu hal yang amat mengejutkan, mengherankan dan juga membingungkannya. Maka dia lalu cepat berkata.
"Hayo kalian ikut dan bicara denganku di luar tempat ini!"
Ling Ling dan Gin San yang juga masih termangu-mangu dan bingung, mengangguk, dan Sian Lun cepat mendekati Ong ciangkun dan berseru.
"Ong ciangkun, cepat tarik mundur dulu pasukan dan tunggu laporanku. Ada perobahan besar!"
Setelah berkata demikian, Sian Lun lalu memberi isyarat kepada Ling Ling dan Gin San untuk mengikutinya mengerahkan ilmu berlari cepat meninggalkan medan pertempuran itu dan memasuki sebuah hutan di sebelah selatan tempat itu.
Sementara itu, biarpun merasa terheran-heran, Ong Gi ciangkun yang sudah percaya penuh kepada Sian Lun, cepat membunyikan aba aba untuk menarik mundur pasukan.
Pasukan kerajaan juga merasa heran sekali.
Jumlah mereka jauh lebih besar dari pada fihak musuh, tiga empat kali lebih besar dan mereka sudah mulai mendesak fihak musuh, mengapa tiba-tiba disuruh mundur?
Namun tentu saja mereka tidak berani membantah dan cepat mereka lalu meninggalkan gelanggang pertempuran dan mengundurkan diri ke balik bukit di mana mereka berkumpul dan mengatur barisan sambil menanti perintah selanjutnya.
Adapun fihak Im-yang-kauw dan Pek-lian-kauw yang mengalami pukulan hebat dan tahu bahwa fihak mereka kalah kuat, tidak melakukan pengejaran.
Mereka bertiga kini berdiri saling berhadapan untuk beberapa lamanya.
Melihat dua orang pemuda ini, teman-temannya sejak kecil yang tadinya lenyap, datang keharuan yang mendalam di hati Ling Ling dan dia melangkah maju, memegang tangan mereka dengan kedua tangannya dan tak tertahankan lagi dia menangis!
"Twa-suheng""..!Ji-suheng"".I"
Kini Ling Ling menyebut suheng kepada mereka dan teringatlah dia akan ayah bundanya yang telah tiada dan tangisnya makin mengguguk.
Sian Lun dan Gin San lalu merangkulnya dengan sebelah lengan sedangkan lengan yang lain saling rangkul sehingga mereka bertiga kini berangkulan di dalam hutan yang sunyi itu.
Mereka merasa terharu sekali, dan juga diam-diam merasa kagum dan heran betapa mereka bertiga bertemu di tempat yang tak tersangka-sangka dan mereka sama-sama memiliki ilmu kepandaian yang tinggi!
Sian Lun yang masih seperti dulu, bersikap tenang itu, segera dapat menguasai keharuannya dan dia berkata.
"Mari kita saling menceritakan riwayat masing masing agar kita dapat saling mengetahui keadaan masing-masing dan mengapa kita sampai berhadapan sebagai lawan. Sute, engkau yang lebih dahulu menghilang ketika itu, maka engkau pula yang sepatutnya menceritakan lebih dulu pengalamanmu."
Gin San tersenyum dau mengangguk-angguk.
"Baik, baik""."
Mereka lalu duduk dibawah pohon saling berhadapan, dan saling berpandangan.
Atau lebih lepat lagi, Gin San dan Sian Lun tiada hentinya memandang wajah Ling Ling, sedangkan dara ini memandang kepada mereka bergantian dengan wajah berseri.
Terjadi sesuatu dalam hati Sian Lun seperti yang terjadi dalam hati Gin San.
Dua orang pemuda ini diam-diam mengagumi Ling Ling dan diam-diam mereka jatuh hati kepada dara ini!
Sementara itu, Ling Ling mengagumi keduanya dan dia gembira bukan main dapat bertemu dengan dua orang suhengnya yang kini telah menjadi pemuda pemuda yang demikian tampan dan gagah perkasa, berkepandaian tinggi!.
Gin San menceritakan secara tingkat betapa dahulu dia ditawan oleh orang-orang Beng-kauw untuk menjadi sandera, akan tetapi betapa dia kemudian diambil murid oleh tokoh besar Beng-kauw di utara yang bernama Maghi Sing.
Dia telah mewarisi kepandaian Maghi Sing dan telah mengadakan perjalanan ke selatan, di pusat dari Beng-kauw dan kemudian menceritakan betapa dia kembali ke utara, mendengar akan kematian Gan Beng Han dan isterinya.
"Beng-kauw di utara memang menyeleweng,"
Katanya.
"dan aku mendapat perintah dari susiok-couw di selatan untuk membersihkan Beng-kauw utara. Itulah sebabnya ketika mendengar Beng-kauw diserbu oleh Im yang-kauw, aku tidak mendendam, karena kematian para ketua Beng-kauw utara adalah salah mereka sendiri. Juga aku tidak mendendam kepada Im-yang-kauw atas kematian suhu dan subo, karena aku tahu bahwa yang bersalah sebenarnya adalab Beng-kauw."
"Jadi engkau mencari ketua Im yang-kauw dahulu itu adalah untuk membalaskan kematian ayah ibuku? Kemudian engkau mencari ketua Im-yang-pai untuk menguji kepandaiannya karena sebagai orang Beng kauw engkau hendak mengangkat kembali nama Beng-kauw dari kehancuran?"
Tanya Ling Ling dan Gin San mengangguk.
"Aku girang telah datang karena dengan demikian aku dapat bertemu denganmu, sumoi."
"Ah, kalau begitu tidak mengherankan apa bila engkau menjadi tokoh Beng-kauw, sute. Kuharap saja engkau akan berhasil membawa Beng-kauw ke jalan terang sesuai dengan tujuan agama itu, dan tidak menjadi perkumpulan yang memberontak kepada pemerintah."
Gin San mengangguk dan tersenyum.
"Setelah aku menceritakan pengalamanku, sekarang giliran siapa?"
"Twa-suheng yang lebih dulu pergi meninggalkan aku, hayo ceritakan pengalamanmu, suheng,"
Kata Ling Ling.
Diam diam dara ini pun kagum karena melihat bahwa suhengnya ini selain menjadi seorang pemuda tampan dan gagah, juga agaknya kedudukannya dalam ketentaraan cukup tinggi dan kekuasaannya besar, buktinya sekali perintah saja, pasukan pemerintah benar-benar mengundurkan diri dan pertempuran itupun telah berhenti.
Sian Lun menarik napas panjang, memandang kepada Ling Ling dengan tajam, lalu berkata.
"Agaknya ada persamaan di antara kita, sumoi, melihat gerakan-gerakanmu itu""". hemm, baiklah, kalian dengarkan riwayatku."
Sian Lun lalu bercerita, betapa ketika dia hendak melindungi Ling Ling dalam keributan dahulu itu, hampir saja dia menjadi korban penyerangan orang-orang Beng-kauw dan pada saat itu muncul seorang kakek lihai yang menolongnya.
Kakek itu adalah Siangkoan Lojin yang terhitung susiok-couwnya sendiri, akan tetapi kemudian menjadi gurunya!
Kemudian dia menceritakan betapa dia mendengar akan kematian paman dan bibinya Gan Beng Han suami isteri, betapa kemudian dia mencari Ling Ling ke rumah keluarga Yap Yu Tek di An-kian.
"Aku mendengar betapa ada golongan-golongan yang menentang pemerintah, dan karena di antara golongan-golongan itu terdapat nama Im-yang-pai dan Beng-kauw, maka aku lalu mengambil keputusan untuk membantu pemerintah. Aku mendengar betapa Im-yang-pai bersekutu dengan Pek-lian-kauw dan bersarang di sini, maka aku lalu memimpin pasukan besar bersama para perwira lain dan aku lalu menyerbu ke sini. Sungguh tak kusangka bahwa di sini aku akan dapat bertemu dengan kalian!"
Sian Lun sama sekali tidak merasa perlu untuk menceritakan tentang Ci Siang Hwee dan Thio thaikam yang menjadi musuh besar mendiang ayah bundanya.
"Ah, jelaslah kalau begitu persoalannya Mengapa suheng memimpin pasukan pemerintah untuk menyerbu tempat ini. Sekarang giliranmu, sumoi. Ceritakanlah bagaimana engkau sampai dapat memiliki ilmu kepandaian sehebat itu dan bahkan menjadi seorang tokoh dari Im-yang-kauw dan Pek-lian kauw!"
Kata Gin San.
Dua orang pemuda itu tertarik sekali dan ingin sekali tahu mengapa Ling Ling menjadi pelindung Im-yang-kauw malah.
Dara itu menarik napas panjang, lalu dia bercerita.
Ling Ling menceritakan bahwa dia dibawa pergi oleh gukongnya sendiri, yaitu Lui Sian Lojin, kemudian dihadapkan kepada sucouwnya, atau kakek buyut gurunya, Bu Eng Lojin, dan menjadi murid kakek sakti ini sehingga kakek gurunya sendiri lalu menjadi suhengnya!
Dia menceritakan pula betapa dia mencari musuh besarnya, pembunuh ayah bundanya, yaitu Kim-sim Niocu, atau Im-yang kauweu dan dalam suatu pertempuran yang adil satu lawan satu akhirnya dia berhasil menewaskan musuh besarnya itu.
"Pertemuan itu diusahakan oleh ketua Pek-lian-kauw, dan melihat keadaan Im-yang kauw yang sebanarnya tidak bersalah mengingat pula bahwa tewasnya ayah bundaku adalah dalam pertandingan adil melawan Im-yang kauweu, maka aku bersimpati dengan mereka. Apa lagi karena mereka adalah perkumpulan-perkumpulan yang berjiwa patriot menentang pemerintah yang lalim, cocok sekali dengan watak mendiang ayah bundaku. Oleh karena itulah, maka aku lalu membantu mereka untuk menghadapi pemerintah, dan terutama sekali untuk menghadapi Beng kauw yang menjadi biang keladi kematian ayah bundaku. Dan karena engkau adalah murid susiok Siangkoan Lee, maka aku tetap adalah sumoimu dan kita tetap seperguruan, twa suheng."
Dia mengakhiri ceritanya itu sambil memandang Sian Lun.
Akan tetapi Sian Lun mengerutkan alisnya mendengar penuturan terakhir itu.
Dia girang bahwa Ling Ling ternyata telah menjadi murid Bu Eng Lojin, kakek sakti kakak seperguruan dari gurunya sendiri itu, dan girang bahwa Ling Ling berhasil menewaskan pembunuh orang tua dara itu, akan tetapi mendengar dara itu membantu Pek-lian kauw untuk menentang pemerintah, sungguh dia terkejut sekali.
"Sumoi, engkau telah kena dibujuk dan ditipu oleh Pek-lian kauw! Memang bagi Im-yang-kauw masih perlu diselidiki lebih dahulu apakah perkumpulan itu memberontak dan jahat, akan tetapi Pek-lian-kauw semenjak dahulu adalah perkumpulan jahat yang selain memberontak juga mengelabui rakyat dengan kedok perjuangan!"
"Dan Im-yang-kauwcu yang telah kau tewaskan itu, seperti apakah dia, sumoi? Apakah dia seorang wanita cantik yang tinggal sendirian di dalam pondok di hutan tak jauh dari sini? Aku pernah bertemu dia"".."
Gin San tak dapat melanjutkan kata-katanya karena mukanya telah berobah merah karena malu, dan pada saat itu, mereka bertiga berloncatan bangun karena melihat munculnya belasan orang yang mempergunakan ilmu beilari cepat menuju ke tempat itu Kiranya mereka itu adalah Kok Beng Thiancu.
Thai-kek Seng-jin dan pembantunya lt Gan Thiancu, lalu Gu Lam Sing tokoh Uighur yang lihai itu, lalu belasan orang-orang campuran, yaitu tokoh-tokoh Im-yang pai, Pek-lian-kauw, dan Uighur.
Dan di antara mereka itu terdapat wanita yang amat dikenal oleh Gin San, yaitu Tang Kim Hwa.
akan tetapi kini Tang Kim Hwa mengenakan pakaian putih dari sutera halus yang mencetak tubuhnya, dengan sabuk hitam dan nampak amat cantik dalam pakaian sederhana itu!
Akan tetapi begitu melihat wanita ini, Ling Ling terkejut bukan main, mukanya pucat, matanya terbelalak dan dia menudingkan telunjuknya ke arah wanita itu sambil berkata, suaranya gemetar.
"Kau"". kau..hidup lagi""?"
Im-yang-kauwcu tersenyum manis dengan sikap mengejek.
"Aku hidup lagi untuk menghukummu, Gan Ai Ling, karena engkau telah bersekutu dengan musuh!"
"Sumoi, kau dibohongi! Dia tidak pernah mati! Dialah yang mengaku bernama Tang Kim Hwa kepadaku!"
"Tapi""
Tapi"""
Aku sendiri membunuhnya dalam pertempuran"".!"
Ling Ling masih pucat dan suaranya gemetar .
Terdengar suara tertawa, suara ketawa ini mengandung wibawa hebat sehingga menggetarkan jantung Ling Ling dan Sian Lun.
Mereka terkejut sekali dan suara ketawa itu disusul oleh suara Thai-kek Seng-jin.
"Tiga orang muda bodoh, lebih baik kalian menyerah! Lihatlah, kalian tidak mungkin dapat melawan kami. Berlututlah kalian!"
Tiga orang muda itu mengangkat muka memandang dan ketika Thai-kek Seng-jin melantarkan tongkat bambu Sisik Naga itu ke atas, maka tongkat itu berobah menjadi seekor naga hijau yang membuka mulut mengerikan!
Ling Ling dan Sian Lun terbelalak, akan tetapi terdengarlah suara halus Gin San di belakang mereka.
"Suheng, sumoi, itu hanya sulapan, kuatkan tenaga batinmu untuk menolak!"
Ling Ling dan Sian Lun mengerahkan sin-kang , akan tetapi biarpun mereka tidak takut lagi, bayangan naga itu masih mengancam.
"Hmmm, kakek tua bangka dari Pek-lian-kauw, setelah aku berada di sini, engkau masih hendak berlagak main sulap untuk menakuti anak kecil?"
Dia mendorong dengan telapak tangan terbuka ke arah "naga"
Itu dan runtuhlah tongkat itu, disambut kembali oleh tangan Thai kck Scng-jin yang mengenal Gin San sebagai pemuda yang pernah menyerbu Pek-lian-kauw dan yang memiliki kekuatan sihir yang amat kuat itu.
Maka marahlah dia dan dengan tongkatnya itu dia menyerang Gin San, sedangkan yang lain lain-pun menyerbu dan mengepung serta mengeroyok tiga orang muda itu.
Terjadilah perkelahian yang amat seru dan hebat, di mana tiga orang muda itu mengamuk seperti tiga ekor naga sakti mengamuk di angkasa!
Gin San dikeroyok dua oleh Thai-kek Seng-jin dan pembantunya yang lihai, yaitu It Gan Thiancu.
Keduanya mempergunakan tongkat dan memang dua orang ini lihai, terutama sekali Thai-kek Seng-jin.
Namun Gin San tidak jerih dan dia sudah mencabut keluar sulingnya dan sabuk rantai peraknya, memutar dua senjata itu sehingga terdengar suara suling itu seperti dimainkan dan ditiup mengeluarkan nada tinggi rendah yang aneh.
Karena menghadapi lawan yang pandai sihir, maka kedua fihak tidak dapat mengandalkan sihir untuk membantu teman-teman, melainkan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian untuk merobohkan lawan yang lihai ini.
Ling Ling yang marah sekali karena merasa tertipu dan dipermainkan, mungkin dengan ilmu sihir, pikirnya, sudah menerjang Im-yang-kauwcu dengan sengit.
Im yang-kauwcu cepat mengelak dan mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yaitu sabuk hitamnya.
Kok Beng Thiancu juga menerjang maju dengan sepasang pisau belatinya, membantu puterinya karena dia maklum akan kelihaian nona muda itu.
Sian Lun hendak membantu sumoinya, akan tetapi dia sudah dihadang oleh Gu Lam Sing yang dibantu oleh tokoh-tokoh Im yang kauw dan Pek-lian-kauw yang lain sehingga sebentar saja Sian Lun sudah dikepung dan dikeroyok oleh belasan orang banyaknya!
Sian Lun mengamuk hebat, mempergunakan Sin-liong-jiauw-kang dan dalam beberapa jurus saja dia sudah berhasil merobohkan tiga orang pengeroyok dan melemparkan mereka sampai terbanting tanpa dapat bangkit kembali.
Sungguh pertempuran itu amat hebatnya.
Karena dikeroyok, maka Gin San dan Ling Ling memperoleh tandingan yang seimbang, bahkan dua orang ini harus mengerahkan seluruh kepadaian untuk dapat bertahan dan jangan sampai terdesak, karena lawan mereka memang lihai.
Gin San masih dapat mengatasi dua orang pendeta Pek-lian-kauw itu, akan tetapi Ling Ling agak terdesak oleh Im-yang-kauwcu dan ayahnya.
Ayah dan anak ini selain lihai, juga mereka menggunakan senjata sedangkan Ling Ling hanya bertangan kosong saja, Memang, dengan ginkangnya yang amat luar biasa, yang terlalu cepat bagi dua orang lawannya, dara ini selalu dapat mengindarkan diri dari semua serangan mereka, namun serangan balasannya juga selalu gagal karena sinar sabuk hitam yang bergulung-gulung itu selalu menghadangnya dan sebelum dia berhasil menangkap ujung sabuk hitam, selalu ada pukulan Thian lui-sin-ciang yang hebat atau belati-belati yang berbahaya itu menyambarnya.
Ketika pertempuran sedang berlangsung dengan seru dan mati-matian, tiba-tiba terdengar suara gaduh pettempuran lain yang lebih besar.
Mula-mula Sian Lun terkejut dan mengira bahwa Ong-ciangkun telah mengerahkan pasukan menyerang lagi, akan tetapi ternyata bukan, karena yang bertempur itu adalah orang-orang Im-yang-kauw yang tiba-tiba saja menyerang orang-orang Pek-lian-kauw!
Apakah yang terjadi?
Penyerangan itu dipimpin oleh Cin Beng Thiancu, ji-pangcu atau ketua nomor dua dari Im-yang-pai.
Seperti diketahui, Im-yang-pai sesungguhnya bukanlah perkumpulan yang jahat atau yang berambisi untuk memberontak terhadap pemerintah, sungguhpun memang harus diakui bahwa tokoh tokoh Im-yang-pai tidak suka kepada pemerintah atau penguasa.
Yang dianggap musuh atau saingan dalam penyebaran agama adalah Beng-kauw, dan aliran-aliran agama lain.
Ketika terjadi fitnah yang dilakukan oleh Beng-kauw sehingga mengakibatkan Im-yang-kauw diserbu pemerintah, para tokoh Im-yang-kauw dan Im-yang-pai, kecuali Cin Beng Thiancu, merasa sakit hati kepada pemerintah dan karena itu maka mudahlah bagi mereka untuk terkena hasutan Pek-lian-kauw.
Akan tetapi tidak demikian dengan Cin Beng Thiancu.
Kakek yang keras hati, bengis memegang teguh peraturan dan juga jujur ini, tidak mau terbujuk oleh Pek-lian-kauw dan dia hanya tujukan kemarahannya kepada Beng-kauw saja.
Oleh karena inilah maka dia juga melakukan penyelidikan dan akhirnya dia datang ke sarang Beng-kauw bersamaan dengan munculnya dua orang muda tokoh Im-yang-kauw, yaitu Liang Kok Sin dan Liong Hwi Nio.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, dua orang kakak beradik ini tidak membalaskan kematian ayah mereka, dan akhirnya mereka tertawan oleh Beng kauw namun dapat diselamatkan dan dibebaskan oleh Gin San.
Sedangkan Cin Beng Thiancu melakukan perlawanan terluka berat oleh Kwan Cin Cu, seorang di antara ketua Beng kauw utara.
Cin Beng Thiancu sebagai seorang gagah, mengakui kekalahannya dan pergi membawa lukanya yang berat.
Kakek tokoh Im-yang-pai ini mengobati lukanya dan bertapa di puncak sebuah bukit kemudian setelah dia memperdalam ilmunya, dia kembali ke Im-yang-pai yang ternyata kini telah menjadi sekutu Pek-lian kauw.
Melihat ini, dia mencoba membujuk suhengnya, yaitu Kok Beng Thiancu, untuk melepaskan diri dari persekutuan itu.
Di samping ini, juga dia mencela keras sikap keponakannya, yaitu Im-yang-kauwcu yang menggunakan siasat membohongi Gan Ai Ling sehingga kini dara itu diperalat oleh Pek lian kauw.
Namun, celaannya tidak didengar oleh suhengnya sehingga dengan penasaran dan marah Cin Beng Thiancu meninggalkan Im-yang-pai, bertapa sendiri di atas bukit tidak jauh dari sarang Pek-lian-kauw dan Im-yang pai itu, diam-diam mengamati gerak gerik dan sepak terjang suhengnya dengan hati prihatin.
Dia amat setia dan sayang kepada Im-yang-pai dan amat taat kepada Agama Im-yang kauw, maka hatinya terasa sakit sekali menyaksikan betapa perkumpulan agama itu diselewengkan oleh suhengnya dan keponakannya.
Namun, apa yang dapat dilakukannya?
Dia tidak berdaya dan melawanpun tidak akan ada gunanya.
Demikianlah, ketika dia menyaksikan penyerbuan pasukan besar dari kota raja, dia terkejut bukan main.
Ketika melihat pasukan pemerintah ditarik mundur, kemudian betapa semua tokoh Pek-lian-kauw dan Im-yang.kauw bertanding melawan tiga orang muda yang amat lihai, satu di antaranya dikenalnya sebagai pemuda tokoh Beng-kauw yang amat lihai dan baik itu, yang jauh berbeda dari para tokoh Beng-kauw lainnya, Cin Beng Thiancu melihat kesempatan baik sekali untuk mencuci bersih nama Im-yang-pai!
Dia melihat bahwa kekuatan pasukan pemerintah amat besar, dan memang selamanya dia tidak setuju untuk memusuhi pemerintah.
Sungguhpun dia sendiri juga amat benci kepada para pejabat pemerintah yang menindas rakyat, maka dia cepat turun tangan, mendatangi orang-orang Im-yang-kauw yang sedang bingung tak tahu apa yang harus dilakukan dan merasa jerih karena adanya pengurungan pasukan pemerintah yang amat besar, lalu memerintahkan mereka untuk menyerang orang-orang Pek-lian kauw.
Dia sendiri yang memimpin penyerangan ini!
Karena para tokoh Pek-lian-Kauw sedang sibuk melawan tiga orang muda yang perkasa itu, maka tentu saja Pek lian kauw tidak mampu menahan amukan Cin Beng thiancu dan orang-orangnya, banyak di antara orang-orang Pek-lian-kauw yang tewas dan sebagian lagi kabur meninggalkan tempat itu mencari keselamatan masing masing.
Pertandingan antara tiga orang muda yang gagah perkasa seperti tiga ekor naga sakti itu melawan para pengeroyoknya juga mengalami perobahan hebat.
Gin San selalu dapat mendesak dua orang tokoh Pek-lian-kauw, dan Ling Ling masih dapat selalu bertahan biarpun dia dihimpit terus oleh Kok Beng Thiancu dan Bu Siauw Kim, akan tetapi Sian Lun dapat membuat para pengeroyoknya kocar kacir setelah dia berhasil merobohkan Gu Lam Sing, jagoan Uighur itu.
Dengan tamparan tangan kirinya yang tepat mengenai leher Gu Lam Sing, raksasa hitam Bangsa Uighur ini terpelanting dan tewas seketika karena tulang lehernya patah.
Setelah raksasa Uighur ini roboh, tentu saja para pengeroyok ini bukan apa-apa lagi bagi Sian Lun, dia mengamuk dan akhirnya dia menerjang Kok Beng Thiancu yang masih mengeroyok Ling Ling!
Gin San yang sudah merasa cukup mempermainkan dua orang Pek-lian-kauw itu, tiba-tiba menyimpan suling dan sabuk rantainya, dengan kedua tangan kosong dia lalu menghadapi dua orang kakek bertongkat itu!
Akan tetapi, gerakan-gerakan kedua tangan dan kakinya aneh sekali dan ternyata dia telah menggunakan jurus Cap-sha Tong-thian yang luar biasa!
Tiba-tiba dia memekik, tangannya menyambar ke depan dan terdengar suara bercuitan dan robohlah It Gan Thiancu, lehernya berlubang dan berdarah, dan kakek ini tewas seketika!
Melihat ini, tentu saja Thai-kek Seng-jin terkejut bukan main, apa lagi hati ketua Pek-lian-kauw ini sudah gentar sekali melihat betapa anak buahnya diserang sendiri oleh Im-yang-kauw.
Dalam gugupnya dia berusaha untuk meloncat dan melarikan diri.
Namun Gin San menubruk dengan gerakan aneh, kembali dia memekik dan kedua tangannya membuat gerakan dari kanan kiri seperti menggunting!
Thai-kek Seng-jin tidak mengenal jurus aneh duri Cap-sha Tong-thian ini, tongkatnya digerakkan untuk memukul ke depan karena disangkanya pemuda itu akan menubruknya.
"Krekk!"
Tongkat itu patah-patah menjadi beberapa potong!
Pucatlah wajah ketua Pek-lian-kauw itu dan dia segera menyemburkan sesuatu dari mulutnya.
Nampak sinar hitam menyambar ke arah Gin San, namun pemuda itu masih menggunakan jurus Cap-sha Tong-thian, kedua tangannya didorongkan ke depan dan sinar itu tertolak, bahkan hawa pukulan mukjijat itu langsung menghantam perut lawan.
Thai-kek Seng-jin mengeluarkan pekik mengerikan dan roboh terjengkang, muntah darah dan tewas dengan mata mendelik!
Sambil tertawa Gin San lalu melompat dan membantu Ling Ling.
Melihat ini, Im yang kauwcu cepat mengebutkan saputangan merahnya dan bubuk merah yang harum menyambar ke depan.
"Sumoi, awas""..!"
Gin San berteriak, akan tetapi Ling Ling sudah mengenal kelihaian wanita itu dan sudah melompat ke belakang, demikian pula Gin San melangkah mundur.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Kim-sim Niocu Bu Siauw Kim untuk .meloncat jauh dan melarikan diri.
"Lari ke mana kau, iblis betina?"
Ling Ling juga meloncat dan mengejar.
"Ling-sumoi, hati-hati""..!"
Gin San berteriak, akan tetapi pada saat itu Bu Siauw Kim sudah melemparkan sebuah benda ke arah Ling Ling.
Baiknya dara ini cepat mengelak dan benda kecil itu terbanting ke atas tanah, mengeluarkan suara ledakan dan mengepulkan asap hitam tebal yang baunya keras sekali!
Ling Ling terpaksa meloncat ke belakang lagi karena dia ragu-ragu untuk menerjang asap itu, khawatir kalau-kalau asap itu beracun.
Akan tetapi Gin San sudah meloncat dengan jalan memutar dan ketika Ling Ling juga mengambil jalan memutar, dia sudah tidak melihat lagi ketua Im-yang-kauw dan Gin San yang mengejarnya.
Ling Ling sudah melihat kelihaian Gin San tadi, maka dia tidak khawatir kalau-kalau Gin San akan kalah oleh wanita iblis itu dan dia kembali untuk membantu Sian Lun menghadapi Kok Beng Thiancu.
Melihat kakek tua itu didesak hebat oleh Sian Lun, timbul rasa kasihan di dalam hati Ling Ling.
Dara ini tahu benar bahwa yang menjadi racun sesungguhnya adalah Thai-kek Seng-jin, ketua Pek-lian kauw itu yang menggunakan ilmu sihirnya menguasai ketua Im-yang pai.
Dia sudah pernah tinggal di situ dan mengenal dekat Kok Beng Thiancu sebagai seorang tua yang gagah perkasa dan sama sekali tidak jahat.
"Twa-suheng, tahan""..!"
Teriaknya ketika dia melihat ketua Im-yang-pai itu terhuyung ke belakang dengan wajah pucat dan Sian Lun sudah menerjang ke depan untuk mengirim pukulan maut.
Mendengar teriakan sumoinya ini, Sian Lun berhenti menyerang dan menengok ke arah Ling Ling.
Dara itu memberi isyarat dengan tangannya agar su-hengnya tidak memukul kakek itu, dan dia sendiri lalu menghadapi Kok Beng Thiancu yang berdiri dengan muka pucat dan kepala ditundukkan.
"Nah, Kok Beng Thiancu. engkau hendak berkata apa sekarang?"
Kakek itu mengangkat muka memandang kepada dara itu, lalu menoleh ke arah mayat dua orang ketua Pek-lian-kauw dan Gu Lam Sing dan beberapa orang tokoh Im-yang-kauw dan Pek-lian-kauw, menarik napas panjang dan berkata.
"Kami telah bersalah, kalau lihiap hendak membunuhku, lakukanlah, sudah sepatutnya itu!"
Diam-diam Sian Lun kagum juga menyaksikan sikap yang gagah ini. Dan pada saat itu datang banyak orang Im-yang kauw ke tempat itu, dipimpin oleh Cin Beng Thiancu. Melihat ini, Kok Beng Thiancu berseru.
"Tahan, mundur kalian!"
Dia mengira bahwa Cin Beng Thiancu yang baru muncul itu bersama anak buahnya hendak membelanya dan menentang gadis itu.
Akan tetapi Cin Beng Thiancu membawa anak buah Im-yang-pai itu menjatuhkan diri berlutut di depan Ling Ling dan Sian Lun, lalu katanya dengan suara sedih.
"Harap ji-wi suka mengampuni kesalahan ketua kami, karena dia telah kena dibujuk oleh Pek-lian-kauw, dan untuk menebus kesalahan itu kami telah menyerbu dan membasmi orang-orang Pek-lian-kauw."
Ling Ling mengangguk-angguk.
"Bangkitlah kalian. Aku sudah tahu bahwa sebenarnya Im-yang-pai bukan golongan pemberontak yang jahat, hanya karena ketua Im-yang-kauw adalah seorang wanita lemah dan Kok Beng Thiancu juga terlalu memanjakan puterinya, maka Im-yang-pai sampai dapat terbujuk oleh Pek-lian-kauw. Kok Beng Thiancu, kalau engkau mau berjanji bahwa mulai sekarang engkau akan memimpin Im-yang pai ke jalan yang benar sesuai dengan ajaran Im yang kauw, maka biarlah kita habiskan saja urusan sampai di sini."
Kok Beng Thiancu menarik napas panjang lalu menjura ke arah Ling Ling.
"Sejak dahulu memang aku telah merasa menyesal sekali dengan peristiwa yang terjadi karena gara-gara Beng-kauw sehingga melibatkan kami dan meninggalnya orang tuamu, lihiap, akan tetapi aku tidak berdaya dan"".. baiklah, yang sudah biarlah lalu dan mulai sekarang aku akan mengerahkan seluruh kesanggupanku untuk membawa perkumpulan ke jalan benar."
Setelah mendapatkan persetujuan Sian Lun dan Ling Ling, dua orang kakek itu lalu mengundurkan diri dan mengurus para korban yang roboh karena pertempuran tadi.
Sian Lun dan Ling Ling menanti datangnya Gin San yang tadi melakukan pengejaran terhadap Kim-sim Niocu Bu Siauw Kim.
Apakah yang terjadi dengan pemuda ini?
Berhasilkah dia menyusul wanita cantik itu?
Tentu saja Gin San dapat menyusui wanita itu.
Dengan kepandaiannya yang tinggi, ginkangnya lebih lihai dari pada Kim-sim Niocu dan dia pun dapat menduga ke mana wanita itu akan melarikan diri, maka sebelum tiba di pondok dalam hutan itu, Gin San sudah dapat menyusulnya dan berseru.
"Kau hendak lari ke mana?"
Melihat bahwa yang mengejarnya hanya Gin San seorang, tiba-tiba wanita itu membalik, lalu menjatuhkan diri dan menangis tersedu-sedu!
Gin San berdiri mengerutkan alisnya, tidak tahu harus berbuat apa terhadap wanita cantik yang menangis ini.
"Sudahlah, tidak perlu lagi menangis. Menyesalpun tidak ada artinya. Engkau adalah seorang wanita yang banyak dosa. Engkau telah menipu sumoi dan menyeret sumoi sehingga mudah saja diperalat oleh Pek-lian-kauw."
Bu Siauw Kim mengangkat mukanya yang pucat dan basah air mata, namun masih cantik sekali itu. Dengan sinar mata penuh kasih sayang dia memandang pemuda itu.
"Gin San, setelah apa yang terjadi antara kita"".haruskah kita berhadapan sebagai musuh?"
"Tidak perlu kau merayu lagi, hayo kau ikut denganku sebagai tawanan, jangan sampai aku harus mempergunakan kekerasan kepadamu."
"Kau mau menggunakan kekerasan? Gin San, lupakah engkau akan hubungan antara kita kemarin yang begitu mesra? Betapa dengan pandang matamu, dengan senyummu, dengan getaran jari-jari tanganmu engkau sungguh mencintaku?"
"Diam! Engkau telah merayuku, menyeretku ke jalan sesat sehingga aku lupa diri!"
Bentak Gin San merasa menyesal sekali sekarang akan apa yang telah dilakukannya dengan wanita itu.
"Biar sumoi yarg memutuskan apa yang akan dilakukannya kepadamu!"
"Ah, Gin San"".. benarkah engkau tega kepadaku? Baiklah kuceritakan kepadamu segala yang kualami. Aku dahulu jatuh cinta kepada ayahnya, kepada pendekar Gan Beng Han"".dan diapun mencintaku, seperti""..seperti keadaan kita berdua kemarin. Lalu isterinya, ibu Ai Ling melihatnya dan karena cemburu dia lalu menyerangku mati-matian, dan dalam perkelahian itu ibunya tewas, kemudian Gan Beng Han yang menyerangkupun mati pula. Salahkah aku kalsu aku membela diri dan menang dalam perkelahian itu? Kemudian muncul Ai Ling, dia berkeras hendak membalas dendam dan membunuhku. Aku lalu menyelamatkan diri dengan pura-pura mati, salahkah pula itu? Kau melihat betapa aku merana di hutan ini, aku kehilangan cintaku, lalu muncul engkau dan aku bahagia sekali karena engkau dapat menggantikan kedudukan Gan Beng Han di hatiku, akan tetapi"".. kau"". kau"".sekarang memusuhiku pula"". uhuuuhuu huuhh""..!"
Wanita itu menangis terisak-isak, pundaknya bergoyang-goyang dan kedua tangannya menutupi mukanya.
Air mata menetes netes dari celah-celah jari tangannya.
Gin San menjadi tertegun.
Betapapun juga, wanita ini pernah dicintanya, biarpun hanya cinta berahi saja, namun harus diakuinya bahwa wanita ini telah menempati suatu sudut tertentu di dalam lubuk hatinya.
Mana mungkin dia kini tega melihat dia tersiksa atau terbunuh?
Pula, kalau dipikirkan secara mendalam, kematian ayah bunda Ling Ling memang bukan disebabkan kejahatan wanita ini, melainkan karena akibat perkelahian yang cukup adil.
Dan makin diingat, makin terbayanglah dia akan segala kemesraan, segala kenikmatan yang dialaminya bersama wanita ini, baru beberapa hari yang lalu, baru kemarin dulu!
"Sudahlah, kau pergilah jauh-jauh dari sini dan tinggalkan jalan sesat!"
Bu Siauw Kim mengangkat mukanya memandang kemudian dia meloncat dan merangkul Gin San, menciumi muka dan bibir pemuda itu dengan penuh kemesraan.
Gin San mendorongnya halus dan berkata dengan kening dikerutkan.
"Sudahlah, pergilah engkau"".!"
"Tapi"". tapi"".. keputusanmu ini menunjukkan bahwa engkau masih cinta kepadaku. Gin San, tidak maukah engkau pergi bersamaku, meninggalkan segala keruwetan dunia ini, hidup berdua di tempat sunyi, menikmati cinta kasih kita?"
"Tidak, tidak, pergilah sebelum berobah lagi pikiranku!" (Lanjut ke
Jilid 40) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 40 Bu Sian Kim terisak, lalu membalikkan tubuhnya dan lari dari tempat itu.
Gin San menarik napas panjang, mengusap pipi dan bibirnya sambil mengeluh dalam batin karena perbuatan wanita itu tadi saja sudah membuat berahinya berkobar dan kalau dilanjutkan lebih lama sedikit saja, belum tentu dia akan kuat bertahan!
Sambil menyesali dirinya sendiri yang telah menjadi demikian lemah terhadap berahi, Gin San lalu berlari, kembali ke tempat pertempuran tadi di mana dia melihat dengan heran betapa Kok Beng Thiancu dan para anak buahnya sedang membersihkan tempat itu dengan tenang.
Bahkan di antara mereka nampak pula Liang Kok Sin dan Liang Hwi Nio.
Gadis ini menyongsongnya, akan tetapi tidak berani memanggil, hanya memandang kepadanya dengan sinar mata berseri-seri dan bibir tersenyum manis.
Gin San merasa jantungnya berdebar dan diapun balas tersenyum, lalu berlari menghampiri Ling Ling yang sedang bercakap cakap dengan Sian Lun.
"Bagaimana, ji-suheng? Wanita iblis itu".
"Dia lolos, sumoi. Menyesal sekali, akan tetapi aku kehilangan jejaknya"".."
"Sudahlah, setelah mendengar penuturan Ling-moi dengan jelas, kurasa seperti juga ayahnya, wanita itu bukan seorang yang terlalu jahat, mungkin hanya seorang wanita yang lemah batinnya. Dia tidak sengaja membunuh paman Gan Beng Han dan bibi, dan juga kalau memang dia jahat, tentu dia tidak hanya membohongi sumoi dengan berpura-pura mati, akan tetapi berbuat lebih hebat dari itu karena sumoi telah terpedaya oleh ketua Pek-lian-kauw dengan ilmu sihirnya."
"Memang akulah yang bodoh, dapat saja dipengaruhi mereka sehingga tanpa kusadari bahwa aku bersalah besar, aku mati-matian membantu Pek-lian-kauw yang kuanggap sebagai perkumpulan para patriot dan pejuang bangsa. Karena itu, mulai sekarang aku akan memusuhi Pek-lian-kauw, dan akupun akan selalu mengawasi kalau kalau Im-yang-pai menyeleweng tentu aku sendiri yang akan turun tangan membasminya!"
Kata Ling Ling dengan suara penuh penyesalan.
"Tanpa kusadari aku terseret menjadi pemberontak!"
"Penyesalan saja tidak ada gunanya, sumoi. Yang penting engkau telah menyadari kekeliruan itu dan itu cukuplah, karena kesadaran itu yang akan merobah kekeliruan kita dengan tindakan yang tegas dan seketika merobahnya. Akupun sesungguhnya merasa canggung dan tertekan. Bayangkan saja, aku ingin berbakti kepada negara dan membantu pemerintah menentang para pemberontak, akan tetapi dengan demikian aku menjadi anak buah dan musuh-musuh besar yang menyebabkan kematian ayah bundaku sendiri!"
"Ahh""..!"
Ling Ling dan Gin San berseru kaget.
"Mengapa begitu, twa-suheng?"
Tanya Ling Ling.
"Tentu kalian pernah mendengar bahwa mendiang ayahku, bersama ayah dan ibu Ling-moi, merupakan tiga orang pendekar yang dikenal sebagai tiga naga sakti yang menggegerkan kota raja karena dengan beraninya mereka bertiga menentang pembesar-pembesar lalim. Mereka tidak menentang pemerintah, mereka bukan pemberontak, melainkan menentang pembesar-pembesar lalim yang menindas rakyat. Mereka langsung berhadapan dengan seorang pembesar istana yang amat berkuasa, dan akhirnya ayah dan ibuku, bersama seluruh keluarga ibu binasa oleh pembesar itu karena dituduh pemberontak. Nah, sekarang tahukah kalian siapa adanya pembesar yang membinasakan seluruh keluargaku itu? Atasanku yang sekarang inilah!"
"Ahhh! Kalau begitu kita harus bunuh dia, suheng!"
Teriak Ling Ling dan Gin San juga mengangguk membenarkan.
"Itulah kesalahanku, memang seharusnya aku melakukan itu! Dan aku harus keluar dari jabatanku, karena setelah melakukan itu, tak mungkin lagi aku dapat melanjutkan pekerjaanku sebagai perwira."
"Akan tetapi, pembesar lalim macam itu adalah racun yang merugikan kedua fihak, suheng!"
Kata Ling Ling.
"Pertama, dia merugikan negara dengan tindakan korupsi dan memburukkan nama pemerintah sebagai wakil yang lalim, dan ke dua dia merugikan rakyat dengan tindakannya sewenang-wenang! Sebaliknya kita untuk membela negara dan rakyat, tidak perlu harus menjadi perajurit! Sebagai rakyat biasapun kita dapat menentang mereka yang sewenang-wenang!"
Kembali Gin San hanya mengangguk saja karena sesungguhnya dia sendiri kurang tertarik dengan perbuatan para pendekar itu! "Bagaimana dengan engkau, sute?"
Tiba tiba Sian Lun bertanya.
"Menurut keterangan, yang dapat kuperoleh, tadinya ada dua golongan yang terpisah dan menentang pemerintah. Golongan pertama adalah Im-yang-pai yang bersekutu dengan Pek-lian kauw dan orang-orang Uighur. Golongan ini sekarang telah dihancurkan, atau setidaknya, sumoi telah bersiap untuk mengawasi Im-yang pai dan kita semua akan menentang Pek lian-kauw dan orang-orang Uighur. Adapun golongan ke dua adalah Beng-kauw yang bersekutu dengan Bangsa Tibet dan Khitan. Engkau sebagai seorang murid tokoh besar Beng kauw, apa yang akan kaulakukan?"
Gin San menarik napas panjang.
"Harap jangan salah mengerti, suheng. Sesungguhnya yang dikabarkan orang sebagai Beng-kauw yang hendak menentang pemerintah adalah Beng-kauw utara yang sekarang telah dihancurkan oleh Im-yang-pai yang dibantu oleh sumoi. Sedangkan Beng-kauw pusat di selatan malah menentang penyelewengan-penyelewengan itu dan kini aku yang bertugas untuk mengawasi agar Beng-kauw jangan sampai menyeleweng. Serahkanlah Beng-kauw kepadaku dan aku yang akan bertindak untuk mencegah mereka menentang pemerintah sebagai pemberontak-pemberontak."
"Bagus! Kalau begitu kita bertiga dapat melanjutkan perjuangan mendiang ayahku dan ayah bunda sumoi, menjadi tiga orang pendekar pembela rakyat dan menentang orang-orang jahat dan pembesar-pembesar lalim!"
Kata Sian Lun dengan girang.
Pada saat itu datanglah Kok Beng Thiancu dan Cin Beng Thiancu.
Dengan hormat mereka lalu mempersilakan tiga orang muda itu untuk datang ke ruangan tamu di mana telah disediakan perjamuan untuk menghormati mereka bertiga!
Tiga orang pendekar muda ini tidak dapat menolak, apa lagi karena mereka masih saling rindu dan masih banyak hal yang harus mereka bicarakan bersama, maka mereka mengambil keputusan untuk bermalam di situ semalam dan menerima undangan makan ketua Im-yang-pai.
"Biar kuberi tahu dulu kepada Ong-ciangkun agar dia suka menarik kembali pasukannya, kembali ke kota raja karena di sini sudah tidak ada apa-apa lagi yang perlu dibereskan."
Kata Sian Lun dan seorang diri lalu dia pergi ke balik bukit menjumpai Ong Gi.
Dengan singkat ia menuturkan betapa Pek-lian-pai telah diserbu sendiri oleh Im-yang pai yang telah sadar, dan bahwa selanjutnya Im-yang-pai dapat diharapkan sebagai perkumpulan yang amat taat kepada pemerintah dan boleh diharapkan membantu menentang para pemberontak.
"Aku telah bertemu dengan sute dan sumoiku yang telah berpisah dariku semenjak kecil, Ong ciangkun, maka hendaknya engkau membawa pasukan pulang lebih dulu, dan aku akan menyusul besok."
"Tapi, Tan-ciangkun, benarkah bahwa engkau masih ada hubungan dengan..."
Gadis tokoh Im-yang kauw itu?"
Tanya Ong Gi penuh keraguan.
"Benar, dia itu adalah sumoiku sendiri, Ong-ciangkun. Tadinya dia terbujuk oleh Pek-lian-kauw karena pengaruh sihir dan sekarang dia sudah sadar, bahkan dia kini yang hendak mengawasi Im-yang-pai, dan hendak menentang Pek-lian-kauw. Jangan khawatir, tentang sumoi, akulah yang tanggung!"
Diam-diam Ong Gi merasa khawatir sekali, akan tetapi dia tidak berani membantah dan malam itu juga dia memimpin pasukan meninggalkan tempat itu dan kembali ke kota raja.
Sementara itu, tiga orang muda perkasa itu dijamu oleh para ketua Im-yang-pai, dan dilayani oleh para anak buah Im-yang-kauw, termasuk juga Liam Hwi Nio gadis cantik yang bermulut indah dihias lesung pipit itu yang sambil melayani tiada hentinya mengirim kerling memikat kepada pemuda yang selama ini dipuja dan dicintanya, yaitu Coa Gin San!
Muka Gin San menjadi merah dan jantungnya menjadi berdebar menghadapi gadis ini, akan tetapi karena di situ terdapat banyak orang lain, terutama Ling Ling dan Sian Lun, maka dia pura-pura tidak melihat dan menunduk saja, melanjutkan makan minum dan hanya menujukan perhatiannya kepada sumoi dan suhengnya.
Setelah makan minum, tiga orang muda itu melanjutkan percakapan mereka bertiga saja di ruangan tamu di mana mereka menceritakan kembali semua riwayat perjalanan mereka selama mereka berpisah, akan tetapi tentu saja rahasia-rahasia pribadi mereka tidak mereka ceritakan.
Sian Lun tidak menceritakan betapa dia hendak diambil mantu oleh keluarga Yap Yu Tek, dijodohkan dengan Yap Wan Cu, dan Gin San tentu saja tidak menceritakan tentang petualangannya dengan wanita-wanita.
Selama percakapan berlangsung, Gin San lebih banyak mendengarkan saja, karena betapapun juga dia merasa bahwa dia telah banyak melakukan penyelewengan, dan diapun merasa bahwa dia bukan anggauta keluarga dari "tiga naga sakti"
Yaitu ayah Sian Lun dan ayah bunda Ling Ling, sungguhpun harus diakuinya bahwa ayah bunda Ling Ling telah merawatnya dan mendidiknya semenjak dia kecil, mengangkatnya dari lembah kesengsaraan sebagai seorang anak yatim piatu gelandangan.
Menjelang tengah malam, barulah tiga orang itu mengaso dan memasuki kamar masing-masing yang telah disediakan oleh Im-yang-pai untuk mereka.
Dan belum lama setelah Gin San merebahkan tubuhnya di atas pembaringan, pintu kamarnya diketuk orang perlahan-lahan dari luar.
Pemuda ini cepat meloncat dan membuka pintu dengan waspada, dan dia terbelalak girang ketika melihat bahwa yang mengetuk pintu itu adalah Liang Hwi Nio!
Gidis cantik ini dengan muka merah dan menunduk kemalu maluan berdiri di situ dengan sikap pasrah!
Gin San menarik tangannya ke dalam kamar, menutup pintu dan memeluk gadis itu, menciuminya dengan penuh perasaan rindu.
Hwi Nio terkejut sekali melihat sikap ini!
Gin San yang dahulu bersikap halus itu kini begitu penuh dengan nafsu yang bernyala nyala dan menciuminya sampai dia kehabisan napas!
"Ahh"..
Hwi Nio".
Hwi Nio, betapa aku rindu kepadamu, kekasihku...."
Dia berbisik dan dara itu menyembunyikan mukanya di dada pemuda yang dipujanya selama ini.
"Telah lama"". aku menanti nantimu ..,taihiap""."
"Tidak leluasa di sini, mari kita bertemu di luar saja""."
""". di mana""..?"
Dada gadis itu turun naik dan napasnya agak terengah oleh belaian yang penuh nafsu tadi.
"Kau tahu pondok dalam hutan tempat tinggal kauwcu""..?"
Gadis itu mengangguk.
"Nah, kau keluarlah, kita bertemu di sana"."
Hwi Nio mengangguk lagi, lalu keluar dari kamar itu.
Dengan jantung berdebar Gin San memperhatikan dengan telinganya, khawatir kalau ada yang tahu akan kedatangan gadis itu tadi.
Akan tetapi sunyi saja di sekeliling itu, tanda bahwa semua orang telah pergi tidur setelah mengalami ketegangan dan kelelahan pertempuran siang tadi.
Diapun cepat membuka jendela dan meloncat keluar, berhati-hati sekali karena maklum bahwa di situ, selain suhengnya dan sumoinya, terdapat orang-orang pandai yang akan dapat mendengar gerakannya kalau dia tidak berhati-hati.
Tak lama kemudian, Gin San sudah berjalan menuju ke dalam hutan, menuju ke pondok bekas tempat tinggal Tang Kim Hwa atau Kim-sim Nio-cu Bu Siauw Kim!
Setelah tiba di depan pondok, dia disambut oleh Hwi Nio yang telah menanti di situ dengan hati berdebar-debar.
Tanpa banyak cakap, dengan jantung berdebar mereka saling dekap, saling cium dan terhuyung-huyung masuk ke dalam pondok.
Ketegangan dan nafsu berahi yang menggelora membuat Gin San seperti kehilangan suaranya, tidak mampu berkata kata, hanya menghujani gadis itu dengan ciuman dan belaian penuh nafsu.
Sebaliknya, Hwi Nio yang sejak dahulu mencinta pemuda ini, hanya menyerah pasrah dan rasa malu dan tegang membuat diapun tidak dapat berkata apa-apa.
Keduanya masuk ke dalam kamar tidur seperti dengan sendirinya, dan tenggelamlah keduanya ke dalam permainan nafsu asmara yang berkobar kobar!
Sungguh kasihan sekali Hwi Nio!
Dia adalah seorang perawan yang selama hidupnya belum pernah berdekatan dengan pria, apa lagi bermain cinta seperti itu.
namun, dia sudah jatuh cinta secara mendalam kepada Gin San dan dia rela menyerahkan tubuh dan nyawanya untuk pemuda itu!
Apa lagi, dia adalah seorang penganut Agama Im yang kauw di mana tidak terdapat tekanan terhadap hubungan jasmani antara pria dan wanita!
Hubungan seks antara pria dan wanita dianggap sebagai pertemuan antara Im dan Yang, dan karenanya dianggap wajar dan tidak perlu ditentang!
Inilah sebabnya mengapa Im-yang-kauwcu sendiri melakukan hubungan seks secara bebas dengan siapa saja yang disukainya tanpa ada tantangan dari ayahnya sendiri, karena memang di dalam agama mereka tidak mengajarkan hukum-hukum susila yang menentang hubungan seks gelap yang biasanya disebut perjinaan oleh kesusilaan masyarakat umumnya itu.
Memang patut dikasihani seorang perawan seperti Hwi Nio itu!
Demikianlah pandangan umum, karena umum terikat oleli hukum hukum kesusilaan yang membatasi hubungan antara pria dan wanita itu.
Hubungan seks baru dianggap "
Sopan "
Dan sah kalau hal itu dilakukan oleh pria dan wanita yang telah menjadi suami isteri.
Baik ada cinta kasih di situ atau tidak, baik si isteri itu adalah seorang wanita yang memang dengan rela mau menjadi isteri, hal ini tidak lagi masuk hitungan.
Pendeknya, asal sudah "menikah"
Maka hubungan seks dianggap sopan dan baik, sungguhpun wanita yang disebut isteri itu boleh menangis lahir atau batinnya ketika terpaksa harus melayani sang suami yang tidak dicintanya.
yang dikawinmya karena harta, karena kedudukan, karena paksaan orang tua dan sebagainya lagi.
Benarkah Hwi Nio patut dikasihani?
Dia seorang gadis yang bebas, yang menyerahkan dirinya dengan penuh kesadaran, dengan penuh kerelaan dan didasari cintanya terhadap Gin San!
Dia menyerahkan dirinya dengan hati bersih!
Akan tetapi, sungguh sayang, dara yang mulus hatinya ini menjadi korban nafsu berahi dari pemuda yang telah dibangkitkan nafsunya oleh Bu Siauw Kim itu!
Gin San sebaliknya menggauli Hwi Nio bukan berdasarkan cinta, melainkan berdasarkan gelora nafsu berahi!
Inilah yang patut disayangkan sehingga dara itu menjadi korban, sungguhpun demi cintanya, Hwi Nio tidak akan pernah menyesal.
Hanya, umum akan memandangnya rendah dan hina!
Apa lagi kalau kelak dia sampai melahirkan anak tanpa ayah!
Akan celakalah hidupnya, akan dikutuk masyarakat, dijauhkan orang sebagai sampah!
Sebaliknya, seorang wanita yang dipaksa menjadi isteri orang karena harta, karena paksaan orang tua dan sebagainya lagi itu, wanita yang melayani pria yang dinamakan suaminya bukan karena cinta melainkan karena tertarik oleh harta atau oleh paksaan, wanita seperti ini dihormati orang dianggap sebagai seorang isteri yang sah dan bersusila!
Betapa janggalnya kalau kita menjenguk ke dalam apa yang kita namakan kebudayaan dan kesusilaan ini!
Betapa banyak hal hal yang amat aneh terjadi di dalamnya, namun yang sudah kita terima begitu saja dengan kedua mata terpejam!
Semalam itu Hwi Nio tenggelam dalam pelukan pria yang dicintanya dan dia merasa puas, dia merasa bahagia, dia merasa gembira.
Menjelang pagi, mereka terbangun dari tidur nyenyak dan begitu saling memandang, timbul pula gairah mereka dan kembali mereka memadu kasih yang tak mengenal kepuasan itu.
Akhirnya Gin San yang bangkit dan menarik tangan Hwi Nio.
"Lekas kita kembali, jangan sampai ada yang tahu!"
Hwi Nio membelalakkan matanya yang indah.
"Kalau ada yang tahupun mengapakah, koko? Aku akan merasa bangga sekali!"
"Ah, akan tetapi, manis"".. aku""
Aku belum mempunyai ingatan untuk menikah dalam waktu dekat ini."
Dia menduga bahwa tentu Hwi Nio akan menangis sedih, akan tetapi dugaannya itu meleset sama sekali. Hwi Nio merangkul dan mencium dagunya.
"Terserah kepadamu, koko. Akupun menyerahkan diri kepadamu bukan untuk sebuah perkawinan, melainkan karena dasar cintaku kepadamu. Aku tidak mengharapkan apa-apa "
"Ohh...".?"
Gin San terbelalak dan hatinya seperti ditusuk rasanya.
Ah, betapa murni hati dara ini!
Dan betapa besar cinta kasihnya kepadanya!
Dan dia telah mempermainkan begitu saja!
"Hwi Nio, kau"".
kau maafkan aku"
"Ih, apa yang harus dimaafkan?"
"Aku telah merenggut keperawananmu""
Tanpa...". janji untuk menikah"".."
"Kalau kita saling mencinta, apa salahnya?"
Gin San tidak mengerti tentang Agama Im-yang kauw, maka dia makin terheran.
Diam-diam dia merasa mukanya seperti ditampar oleh kata-kata itu Apakah dia mencinta Hwi Nio?
Kalau dia mencinta, tentu dia tidak akan membiarkan nafsu berahinya menyeretnya sehingga dia menggauli Hwi Nio yang masih perawan!
Kalau dia mencinta Hwi Nio tentu dia akan mengawini gadis ini sebelum mengajaknya tidur!
Tidak, dia tidak mencinta gadis ini hanya tertarik oleh kecantikannya dan hanya ingin memperalat gadis itu untuk melampiaskan nafsu berahinya!
Gin San memejamkan mata, kemudian dia memegang tangan Hwi Nio, memandang wajah dara itu sejenak, kemudian dia berkata.
"Aku kembali lebih dulu!"
Sekali meloncat dia sudah lenyap dari depan gadis itu.
Hwi Nio merangkapkan kedua tangan di depan dada, matanya berseri seri dan hatinya dipenuhi oleh rasa bahagia.
Tidak ada rasa penyesalan di dalam hatinya, karena merang dia tidak mengenal hukum yang menyalahkan perbuatannya itu.
sesuai dengan pendidikannya di dalam Im-yang-kauw.
Dia tahu bahwa kakaknya tidak akan menyukai hal ini, akan tetapi dia tidak perduli.
Dia mencinta Coa Gin San dan bersedia mengorbankan apapun untuk kebahagiaan pemuda itu!
Pagi hari itu juga, tiga orang muda perkasa itu pergi meninggalkan Im-yang-pai, diantar oleh dua orang ketuanya sampai di luar hutan.
Liang Hwi No juga ikut mengantar, dan dia tahu bahwa dia tidak boleh memperlihatkan cinta kasihnya kepada orang lain terhadap Gin San, seperti yang dipesankan oleh Gin San semalam kepadanya, maka hanya pandang matanya saja yang ditujukan kepada pemuda itu penuh kasih sayang dan kemesraan.
Gin San menangkap sinar mata ini yang langsung menusuk jantungnya dan membuatnya terharu.
Betapa mungkin dia akan dapat melupakan pandang mata seperti itu!
Kurang lebih limapuluh orang yang berkumpul di dalam hutan yang lebat itu kelihatan berduka dan juga penasaran Sebagian besar kelihatan seram dan berwajah kejam, dengan mata kemerahan tanda orang yang biasa mempergunakan kekerasan, akan tetapi ada pula yang berwajah pucat seperti orang putus harapan.
Pakaian merekapun macam-macam, ada yang pakaian dan gelung rambutnya seperti para tosu, akan tetapi ada pula yang berpakaian biasa seperti petani, ada yang seperti pakaian ahli ahli silat dan ada juga yang pakaiannya tambal-tambalan.
Baca Juga: Harta Karun Kerajaan Sung 3
Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 11