Eps 9 Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo.
"Harap lihiap suka mendengarkan dengan sebaiknya. Sudah dikatakan oleh mendiang anakku pula kepada lihiap, kami fihak Im-yang-pai sama sekali tidak pernah melakukan kekacauan di Kuil Ban-hok-tong itu. Kami telah menjadi korban fitnah, demikian pula orang tuamu. Yang menyamar dan mengaku sebagai anggauta-anggauta Im-yang-pai dan mengacau di kota Cin-an itu adalah orang-orang Beng-kauw, bukan kami!"
"Hemm, bagaimana aku dapat yakin bahwa hal itu bukan perbuatan Im-yang-pai? Apa buktinya?"
Kok Beng Thiancu mengepal tinju dan menarik napas panjang.
"Memang, sepintas lalu semua orang menyalahkan Im-yang-pai, akan tetapi kalau lihiap mau berlaku adil dan menyelidiki dengan sesungguhnya, kalau lihiap mau bersama kami menghadapi Beng-kauw, lihiap tentu akan melihat bukti dan kenyataannya kelak. Beng-kauw telah bersekutu dengan orang-orang asing, dengan orang Khitan dan orang Tibet. Beng-kauw menentang pemerintah bukan untuk membela rakyat dari kelalima melainkan untuk menjual tanah air kepada bangsa asing!"
Ling Ling mengerutkan alisnya, meragu.
"Benarkah Im-yang-pai tidak bersalah dalam kerusuhan yang mengakibatkan kematian ayah bundaku itu?"
"Lihiap, kami tidak perlu banyak bicara membela diri. Sebaiknya lihiap melihat buktinya sendiri kelak. Sayang bahwa puteriku telah tewas, padahal puteriku yang merupakan pejuang paling gigih untuk menentang Beng-kauw dan untuk membela rakyat dari kelaliman."
Kok Beng Thiancu kembali menarik napas panjang dan suaranya terdengar penuh kedukaan.Ling Ling merasa tidak enak sekali-"Kalau benar bahwa Beng-kauw telah memalsukan nama Im-yang-pai, berarti Beng-kauw yang menjadi biang keladi tewasnya orang tuaku dan aku akan membasmi Beng-kauw!"
Kata Ling Ling.
"Siancai""". harap lihiap tidak terlalu ceroboh dan terburu nafsu. Tidak mudah menghadapi Beng-kauw seorang diri saja. Beng-kauw merupakan perkumpulan yang amat besar dan kuat, memiliki hanyak orang sakti, apa lagi setelah bersekutu dengan para pendeta Lama dari Tibet dan tokoh tokoh Khitan, sebaiknya kalau lihiap bekerja sama dengan kami menghadapi mereka, demi rakyat jelata."
Kata Thai-kek Seng-jin. Ling Ling termenung.
"Akan kita lihat nanti."
"Sekarang kami persilakan lihiap menjadi tamu agung kami, kalau lihiap suka, untuk ikut memberi penghormatan terakhir kepada jenazah anakku""."
Kata Kok Beng Thiancu.
"Dan sekalian menanti sampai jenazah selesai diperabukan agar lihiap dapat bertemu dengan arwah orang tua lihiap dan arwah mendiang kauwcu."
Sambung Thai-kek Seng-jin cepat.
Akhirnya Ling Ling setuju untuk menanti sampai upacara memperabukan jenazah selesai.
Untuk itu dia harus bermalam di tempat itu seiama lima hari, dan selama itu dia melihat banyak tamu yang terdiri dari tokoh tokoh dunia kang-ouw datang berlayat, karena nama Im-yang-kauwcu telah terkenal di seluruh pelosok.
Dia merasa terharu juga mendengar betapa ketua Im-yang-pai dan ketua Pck-lian kauw berikut anak buah mereka, merahasiakan sebab kematian Im-yang kauwcu, hanya mengatakan bahwa kauwcu itu tewas karena penyakit.
Hal ini adalah untuk menghabiskan permusuhan antara mereka, demikian kata Kok Beng Thian kepadanya.
Ling Ling menanti dengan sabar sampai melihat sendiri peti jenazah itu habis dimakan api dalam suatu upacara pembakaran yang cukup meriah.
Diam-diam dia membayangkan ayah bundanya.
Apakah ayah bundanya merasa puas dengan hasilnya membalas dendam dan membunuh musuh besar itu?
Dan benarkah bahwa ayahnya pernah saling mencinta dengan wanita yang kini jenazahnya dimakan api itu?
Seperti orang melamun Ling Ling memandangi asap yang bergumpal-gumpal membubung ke udara.
Dia tidak tahu betapa sejak tadi Thai-kek Seng-jin, ketua Pek-lian-kauw, memandang wajahnya dan mulut kakek itu berkemak-kemik.
Tiba-tiba kakek itu mendekatinya dan berkata, suaranya terdengar aneh, tergetar dan berbisik-bisik, namun penuh wibawa.
"Gan-lihiap, lihat baik-baik"".. kauwcu telah meninggalkan raganya""""
Ling Ling menoleh dan melihat sepasang mata kakek itu memandangnya dengan tajam dan dia meiasakan sesuatu yang aneh menyerap ke dalam hatinya, dan melihat kakek itu menuding ke arah api, dia nunoleh dan memandang.
Bukan main kaget dan herannya, sampai kedua matanya terbelalak ketika dia melibat Kim-sim Niocu yang cantik itu berada di antara gumpalan asap, melambai dan tersenyum kepadanya, kemudian perlahan-lahan menghilang.
Ling Ling meloncat berdiri, akan tetapi tangan Thai-kek Seng-jin yang besar menyentuh lengannya.
"Harap lihiap tenang dan tidak mengganggu arwah yang sedang melakukan perjalanan...""
Ling Ling duduk kembali, matanya masih terbelalak, wajahnya pucat, akan tetapi dia segera menggosok kedua matanya dengan punggung tangan.
Kini dia tidak melihat lagi wanita cantik itu, melainkan asap bergumpal-gumpal "Be""
Benarkah itu""..? Mungkinkah aku dapat melihatnya""".?"
Dia berbisik. Kakek itu mengangguk.
"Itu tandanya bahwa dia senang sekali kepadamu, lihiap, bahwa dia tidak menaruh dendam kepadamu. Dan sikapnya itu memudahkan kita untuk dapat bertemu dengan dia. Mudah-mudahan dia berhasil untuk mengajak datang ayah ibumu."
"Ah, mudah-mudahan"".."
Ling Ling juga berbisik, seperti kepada diri sendiri, dan jantungnya berdebar penuh ketegangan.
Malam itu di luar gelap sekali.
Langit mendung dan bintang-bintang di langit tertutup awan mendung yang gelap.
Hawa amat dingin karena angin malam berhembus liar.
Suasana di dalam ruangan yang besar itu lengang dan menyeramkan bagi Ling Ling.
Keseraman itu datang karena dia akan dipertemukan dengan arwah ayah bundanya di dalam ruangan ini.
Asap hio yang mengepul harum menambah keseraman ruangan yang sunyi itu.
Hanya dia Kok Beng Thiancu, dan Thai-kek Seng-jin bertiga saja yang hadir di ruangan itu.
Setelah melayani ketua Pek-lian-kauw, mengangkat meja dan mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan oleh ketua Pek-lian-kauw itu, maka beberapa orang pendeta Pek-lian-kauw lalu meninggalkan ruangan itu pula.
Kini hanya dia tiga orang itulah yang berada di dalam ruangan.
Belasan batang lilin yang dipasang di tiap penjuru di ruangan itu menimbulkan cahaya yang bergoyang-goyang dan menambahi keseraman suasana.
Mereka duduk berhadapan menghadapi sebuah meja bundar dan membentuk segitiga.
Ketua Pek-lian-kauw duduk di sebelah kanan Ling Ling, sedangkan ketua Im-yang-pai duduk di sebelah kirinya.
Dinding sebelah kiri Ling Ling merupakan bagian yang paling menyeramkan karena dinding ini tertutup oleh kain berwarna hitam sehingga melihat dinding ini seperti melihat daerah tak terkenal yang amat dalam dan penuh rahasia.
"Lihiap, mendatangkan .arwah merupakan ilmu yang amat sukar dan membutuhkan ketelitian dan ketertiban. Oleh karena itu, kalau lihiap menghendaki agar kami berhasil mendatangkan arwah ayah bundamu, saya minta agar lihiap suka mentaati segala petunjuk dan permintaan saya, demikian pula Kok Beng Thiancu tidak boleh membantah sedikitpun."
Ling Ling mengangguk dan dia melihat ketua Im-yang-pai itupun mengangguk.
Dia sama sekali asing tentang urusan ini, dan karena dia memang amat mengharapkan untuk dapat melihat ayah bundanya, tentu saja dia sanggupi mentaati semua petunjuk kakek ini.
"Dan pantangannya adalah agar lihiap sama sekali tidak boleh mengeluarkan suara dan sama sekali tidak boleh bergerak meninggalkan bangku di mana lihiap duduk. Biarkan saya yang bercakap-cakap dengan mereka kalau kita berhasil mengundang mereka, lihiap hanya melihat dan mendengarkan saja."
"Baik, Thai-kek Seng-jin,"
Jawab Ling Ling dengan jantung berdebar tegang.
Dia masih belum dapat percaya begitu saja bahwa kakek ini dapat mengundang datang arwah ayah bundanya yang telah mati.
Kini terdengar ketua Pek-lian-kauw itu membaca mantera berbisik-bisik dan mengeluarkan .sebuah kantung merah dari saku jubahnya yang lebar Ling Ling dan Kok Beng Thiancu hanya memandang penuh ketegangan.
"Telentangkan kedua tangan kalian di ata meja!"
Tiba-tiba Thai-kek Seng-jin berkata suaranya penuh wibawa namun tidak bernada memerintah, melainkan memohon.
Ling Ling melihat betapa ketua Im-yang-pai meletakkan kedua tangan di atas meja dan kedua tangan itu ditelentangkan, maka diapun lalu mengikuti gerakan ini tanpa banyak bicara.
Nampak olehnya betapa besar perbedaan antara kedua tangannya dan kedua tangan Kok Beng Thiancu yang berada di sebelah kirinya.
Kedua tangannya itu berkulit putih halus, sedangkan kedua telapak tangan ketua Im-yang-pai itu besar, kasar sekali, dengan guratan-guratan mendalam dan warnanya kemerahan, kuku-kukunya panjang dan kotor tak terpelihara.
Kini Thai-kek Seng-jin mengeluarkan beberapa buah benda dari dalam kantung merah dan meletakkan benda-benda itu di atas meja.
Melihat benda benda itu, Ling Ling terkejut dan terheran, juga ngeri.
Benda pertama adalah sebuah tengkorak anak kecil, dengan lubang mata yang terlalu besar dan mulut yang giginya masih utuh dan rapi.
Ketika masih mempunyai wajah, anak itu tentu elok rupanya.
Selain tengkorak itu.
juga nampak sebuah pisau yang amat tajam mengkilap, seikat hio, tujuh batang lilin merah, dan seekor burung dara yang diikat kedua kaki dan sayapnya sehingga tidak mampu terbang, kecuali hanya menggerakkan kepalanya ke kanan kiri dan sepasang matanya yang bening kemerahan itu melirik ke sana-sini, penuh ketakutan.
Sambil terus mengucapkan mantera-mantera dalam bahasa yang aneh dan tidak dimengerti oleh Ling Ling, ketua Pek-liah-kauw itu menyalakan tujuh batang lilin dan menaruhnya di atas meja dengan sudut-sudut teratur yang aneh.
Kemudian dia menyalakan pula seikat hio itu dan mengepulkan asap tebal yang harum, menambah keharuman kamar yang sudah sejak tadi penuh asap dupa itu.
Thai-kek Seng-jin membagi seikat hio itu menjadi tiga, bagian yang terbanyak diberikannya kepada Ling.
Ling.
"Lihiap, peganglah hio-hio ini dengan kedua tangan, angkat tinggi di depan dahi dan pusatkanlah seluruh perhatian dan pancaindera lihiap kepada orang tua lihiap, mohon ke datangan arwah mereka sekarang ke tempat ini."
Ling Ling tidak membantah, menerima segebung hio itu dan mengangkatnya ke atas kedua ibu jarinya menempel di dahi dan dia lalu memejamkan mata, mengheningkan cipta ditujukan kepada orang tuanya yang telah tiada.
Tak lama kemudian terdengar lagi suara Thai-kek Seng-jin.
"Cukup, lihiap, kini taruhlah hio itu di sini."
Ling Ling membuka matanya dan dia melihat bahwa hio-hio di tangan kedua orang kakek tadi sudah ditancapkan atau dimasukkai ke dalam lubang di ubun-ubun tengkorak itu Diapun lalu memasukkan semua hio itu ke dalam lubang tengkorak kecil dan kini asap makin menebal, suasana makin menyeramkan.
"Telungkupkan kedua tangan kalian di atas meja dan pejamkan mata"".."
Suara Thai-kek Seng-jin terdengar seperti dari tempat jauh dan Ling Ling lalu mentaati perintah ini.
Jantung di dalam dada Ling Ling makin menegang.
Suasana amat menyeramkan dan yang terdengar hanya suara aneh dari kakek itu membaca mantera dan asap hio menyesakkan napas.
Namun berkat kepandaiannya, Ling Ling dapat mengatur napas dan dapat menolak pengaruh asap itu.
Tak lama kemudian, dia terkejut bukan main karena merasa betapa papan meja di mana tangannya tertelungkup itu tergetar, makin lama makin hebat.
"Siapa yang datang""..?"
Terdengar Thai-kek Seng-jin bertanya dengan suara yang gemetar.
Sunyi sampai lama dan meja itu terguncang makin keras.
Ling Ling yang merasa heran itu membuka mata, tidak melibat apa-pa.
Dua orang kakek itu masih duduk dengan kedua tangan bertelungkup seperti dia.
Tidak ada yang bergerak, akan tetapi jelas meja itu terguncang, kini makin liar sampai keempat kaki meja bundar itu terdengar berdetak seperti kaki kuda.
Dia berusaha mempergunakan sinkangnya untuk menekan meja itu, namun hasilnya sia-sia!
Meja itu tetap saja bergerak-gerak tanpa dapat dilawan oleh kekuatan sinkangnya!
"Siancai"", kami mengundang arwah-arwah tertentu datang dengan niat baik"..
siancai".!"
Kembali terdengar suara Thai-kek Seng-jin dan perlahan-lahan guncangan pada meja itupun melemah dan akhirnya berhenti sama sekali.
"Harap kalian membuka mata"".."
Thai-kek Seng-jin berkata dan Ling Ling memang sejak tadi sudah membuka kedua matanya.
Dia melihat kakek itu berkeringat dan kini ketua Pek-lian-kauw itu menggunakan ujung lengan baju untuk.
mengusap peluhnya, dan sepasang matanya yang bersinar-sinar aneh itu menatap wajah Ling Ling.
"Usaha kita akan berhasil, lihiap. Sekarang harap lihiap dan Kok Beng Thiancu mengikuti upacara."
Dengan gerakan lengan bajunya yang dikibaskan, ketua Pek-lian-kauw itu meniup padam beberapa batang lilin di sekitar kamar itu sehingga kini yang menyala hanya tujuh batang lilin merah di atas meja.
Tentu saja keadaan ruangan itu menjadi agak gelap dan remang-remang saja, menambah seram suasana.
Dan gerakan kakek itu yang memadamkan lilin dengan kibasan lengan baju dari jauh, diam-diam membuat Ling Ling kagum dan tahulah dia bahwa kakek ini memiliki kepandaian tinggi dan akan merupakan lawan yang tangguh dan berbahaya.
"Lihiap, karena arwah ayah bundamu dan arwah Im-yang kauwcu adalah arwah orang-orang gagah, maka untuk mengundang mereka haruslah diadakan pengorbanan dan harus ada nyawa suci yang menjemput mereka."
"Nyawa suci""..?"
Suara Ling Ling lirih dan agak gemetar. Kakek itu tersenyum dan tangan kirinya meraba burung dara yang terikat di atas meja.
"Inilah dia nyawa suci. Dan karena ada lihiap dan Thiancu di sini yang merupakan anggauta keluarga sedarah, maka akan lebih mudah mendatangkan mereka bertiga itu. Nah, harap ji-wi lihat baik-baik dan dengan penuh perhatian, saya akan mulai melakukan upacara pengorbanan!"
Tangan kiri kakek itu mengambil burung dara, membalikkannya dengan dada di atas dan meletakkannya di atas meja, tangan kanan mengambil pisau kecil yang amat tajam tadi, kemudian perlahan-lahan dia menggunakan pisau itu untuk membelah dada burung dara putih itu.
Pisau vang tajam itu merobek kulit daging, membuka dada dan terdengarlah suara rnencicit perlahan.
Burung itu meronta-ronta, merintih-rintih dan darah mengucur keluar dari dada yang terbuka.
Melihat betapa dada itu terbuka dan darah merah kelihatan jelas sekali di balik bulu-bulu putih, melihat isi dada yang masih hidup bergerak gerak, Ling Ling merasa muak dan hampir saja muntah kalau dia tidak cepat menggunakan sinkangnya bertahan.
"Lihiap. Untuk mengundang ayah bundamu, kita membutuhkan dua tetes darahmu. Nah, tusukkan pisau ini di ibu jari tangan kirimu."
Ling Ling tidak membantah. Diambilnya pisau itu dan dengan ujungnya yang runcing dia menusuk ujung ibu jari tangan kirinya.
"Teteskan dua tetes darah ke dalam sini, cepat selagi dia masih hidup!"
Ling Ling merasa ngeri, akan tetapi tidak berani membantah dan dia membawa ibu jari yang terluka itu ke atas burung yang terbuka dadanya.
Dua tetes darah menitik turun memasuki dada yang terbuka itu!
"Sekarang engkau, Thiancu.
Setetes darahmu untuk mengundang puterimu,"
Kata pula ketua Pek-lian-kauw dengan suara parau.
Ketua Im-yang pai juga meniru perbuatan Ling Ling tadi dan menjatuhkan setetes darahnya ke dalam burung dara yang terbuka dadanya "Sekarang, harap kalian meletakkan tangan menelungkup di atas meja seperti tadi.
Gan lihiap, kaucurahkan semua perhatianmu bayangkan wajah ayah bundamu, dan engkau bayangkan wajah puterimu, Thiancu, harap lakukan ini benar-benar, karena itulah syarat utamanya, Dan jangan ganggu aku kalau terjadi apa apa "
Dengan jantung berdebar tegang Ling Ling lalu meletakkan kedua telapak tangan di atas meja sambil memejamkan mata.
Otomatis dia mentaati perintah kakek itu dan kini dia mencurahkan seluruh ingatannya untuk membayangkan wajah ayah bundanya.
Tiba-tiba meja itu tergetar dan bergerak-gerak kembali, dan suara ketua Pek-lian kauw yang tadinya membaca mantera dan doa dalam bahasa asing, kini menjadi kacau baiau.
Kadang kadang mertjadi tinggi kecil seperti suara wanita, merdu dan nyaring, akan tetapi kadang-kadang berobah rendah dan parau seperti suara pria, dan bercampur aduk seolah-olah ada banyak sekali orang bicara di dalam tubuh kakek itu melalui mulutnya!
Suasana dalam kamar itu makin menyeramkan dan Ling Ling hampir tidak dapat menahan dirinya lagi karena tegangnya.
Dia membuka matanya dan memandang kepada ketua Pek-lian-kauw itu.
Dia merasa ngeri.
Wajah kakek itu menjadi tidak karuan, kerut-merut dan berobah robah.
matanya mendelik dan suara yang keluar dari mulutnya makin kacau-balau.
Akan tetapi tadi kakek ini sudah pesan agar tidak diganggu kalau terjadi apa-apa dengan dirinya.
Dan dia melihat bahwa ketua Im-yang-pai juga telah membuka mata.
"Lihiap, Seng-jin mulai mendapatkan hubungan dengan arwah-arwah"". mari kita pejamkan mata kembali agar jangan mengganggu, biarkan dia memilih arwah arwah yang betul seperti yang kita kehendaki"".."
Ling Ling menurut dan kembali dia memejamkan kedua matanya akan tetapi dia membuka kedua telinga lebar-lebar untuk menangkap segala gerak-gerik ketua Pek-lian-kauw dan apapun yang terjadi di dalam ruangan itu.
Suara campur aduk dan hiruk pikuk dari mulut Thai-kek Seng-jin makin lama makin mereda, lirih dan akhirnya berhenti sama sekali.
Suasana amat hening mencekam dan mejapun tidak lagi bergoyang-goyang.
Ling ling seperti merasa mendengar detak jantungnya sendiri dan detak jantung orang lain yang tidak dapat ditentukannya jantung siapa.
Asap dupa makin menyeakkan napas.
Tiba-tiba terdengar suara halus merdu.
"Ai Ling. kami datang""."
Ling Ling bampir terlonjak kaget.
Itulah suara Im-yang-kauwcu!
Suaranya begitu dekat!
Dan suara itu bukan suara palsu, karena dia masih ingat benar akan suara wanita musuh besarnya yang telah dibunuhnya itu!
Ling Ling cepat membuka matanya dan menoleh ke kiri.
Hampir dia menjerit dan sepasang matanya terbelalak memandang ke arah dinding yang tertutup kain hitam itu.
Di situ kini nampak bayangan tiga orang!
Dia segera mengenal wajab ayahnya, dan ayahnya menggandeng tangan ibunya yang berdiri di sebelah kanannya, akan tetapi tangan kiri ayahnya memeluk pinggang ramping dari Im-yang-kauwcu!
Ketua Im-yang kauw itu tersenyum manis sekali dan matanya bersinar-sinar memandang ke arah Ling Ling!
Ling Ling hendak melompat, hendak bangkit, akan tetapi dia merasa kakinya seperti lumpuh, bahkan seluruh tubuhnya tidak dapat digerakkan, kedua tangannya yang menelungkup di atas permukaan meja itu seperti melekat pada meja, tak dapat diangkatnya.
Dia hanya dapat mengeluh dan suara yang keluar dari mulutnya hampir tak dikenalnya sendiri.
"Ayah"".. ibu""..!"
"Tenanglah, Gan-lihiap, jangan bergerak, jangan ganggu mereka agar mereka tidak takut dan lari, tenang dan dengarkan saja baik-baik."
Terdengar bisikan suara Thai-kek Seng-jin, seolah-olah kakek itu menempelkan mulut di dekat telinganya.
Ling Ling tak kuasa membantah dan dia mengangguk, matanya tak pernah berkedip memandang ke pada wajah ayah dan ibunya.
Ayah dan ibunya, atau lebih tepat bayangan ayah dan ibunya itu tidak berkata-kata, akan tetapi dengan perlahan kedua bayangan itu lalu menudingkan telunjuk mereka ke arah Im-yang-kauwcu yang dirangkul pinggangnya oleh ayahnya, seolah-olah mereka memberi isyarat agar Ling Ling berhubungan dengan wanita cantik itu.
"Ai Ling, aku berterima kasih kepadamu. Engkau telah mengirimku ke alam baka, sehingga aku dapat berkumpul kembali dengan orang yang kucintai. Di sini kami tidak mengenal cemburu, lihat ibumu tidak cemburu padaku. Ai Ling, kami bertiga menjadi korban kepalsuan dan fitnah dari Beng-kauw, oleh karena itu, atas nama ayah bundamu kami minta agar engkau suka membantu Im-yang-pai untuk menentang Beng kauw, untuk membalas penasaran ayah bundamu."
"Biarkan mereka bicara sendiri! Ayah, ibu..."".. ucapkanlah kata-kata kepadaku"".!"
Tiba-tiba Ai Ling atau Ling Ling merasa lengannya disentuh orang, sentuhan tangan yang kasar dan teidengar suara Thai-kek Seng-jin.
"Tenanglah, Gan-lihiap"".."
Tiba-tiba bayangan ayahnya berkata lirih, suaranya seperti tidak bernada.
"Kami tidak boleh lama""""
Dan ibunya juga bersuara, suaranya juga hampa.
"Selamat tinggal""."
"Ayah"".! Ibu"".!"
Ling Ling menjerit dan memaksa diri untuk bangkit.
Dengan pengerahan tenaga sinkang sekuatnya akhirnyi kekuatan gaib yang seperti menekannya itu buyar dan dia mampu bangkit untuk meloncat Akan tetapi pada saat itu terdengar ledakan dan nampak asap kuning memenuhi udara dalam ruangan itu, dan Ling Ling merasa pandang matanya gelap, tiga bayangan "arwah"
Itu berlari-lari dan akhirnya dia tidak melihat apa-apa lagi karena dia sudah terguling dan pingsan Ketika (Lanjut ke
Jilid 33) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 33 dia siuman, Ling Ling mendapatkan dirinya sudah rebah di atas pembaringan dalam sebuah kamar, Dia cepat bangkit duduk dan melihat dua orang kakek tadi sudah berada di dalam kamar itu, duduk di atas bangku dan mereka segera bangkit berdiri melihat dia siuman.
"Kami menyesal sekali bahwa pertemuan dengan arwah itu menimbulkan guncangan batin sedemikian hebatnya kepadamu, lihiap."
Kata Thai-kek Seng-jin dengan suara penuh penyesalan. Ling Ling teringat semuanya dan menarik napas panjang.
"Aku sudah melihat sendiri".. akan tetapi masih sukar untuk percaya""
Mereka nampak seperti berduka, sebaliknya..... Im yang kauwcu kelihatan begitu gembira"".."
"Hal itu tidak aneh, lihiap. Orang yang sudah lama mati akan merasa sedih melihar keluarganya masih tidak mau melupakannya dan menderita karena kematiannya, seperti juga orang tuamu tentu merasa sedih kalau lihiap masih terus menderita karena kematian mereka, karena kematian adalah hal wajar yang tidak semestinya dibuat duka. Sebaliknya, kauwcu yang baru saja meninggal tentu girang dapat berhubungan dengan kita Oleh karena itu, memang sebetulnya tidak baik mengganggu ketenangan arwah orang yang sudah mati."
Ling Ling mengangguk, membenarkan ucapan ketua Pek lian-kauw itu.
"Semua adalah kesalahan Beng-kauw!"
Ketua Im yang pai berkata dengan suara penuh kemarahan.
"Kalau tidak gara-gara perbuatan Beng-kauw yang pengecut dan curang, mempergunakan nama Im-yang-pai untuk mengacau di Cin-an, tentu tidak akan mengakibatkan kematian orang tuamu dan puteriku, lihiap. Aku bersumpah untuk membalas dendam ini, dan kalau lihiap sudi bekerja sama dengan kami menghadapi Beng-kauw yang amat kuat, kami akan merasa senang sekali."
"Kami rasa sepatutnya demikianlah, mengingat betapa kini Gan-taihiap dan isterinya telah bersatu dengan kauwcu, maka akan baik sekali dan akan menggirangkan mereka bertiga kalau Gan-lihiap sudi bekerja sama dengan kami semua, menghadapi Beng-kauw, bukan hanya untuk membalas kejahatan mereka. akan tetapi juga untuk membela rakyat dari penindasan mereka yang hendak menguasai Tiongkok,"
Sambung ketua Pek-lian kauw. Akhirnya Ling Ling dapat terbujuk dan dia bangkit berdiri, mengepal tinjunya dan berkata.
"Aku suka bekerja sama dengan kalian untuk hal hal yang baik. Akan kuhadapi Beng kauw karena secara tidak langsung, merekalah yang menyebabkan kematian orang tuaku!"
Pada saat itu.
pintu ruangan terketuk orang, Setelah Thai-kek Seng-jin menjawab, muncul seorang anggauta Pek-lian-kauw yang melaporkan bahwa ada dua orang muda she Liang datang dan minta diperkenankan menghadap Kok Beng Thiancu.
Mendengar disebutnya dua orang muda she Liang, ketua Im yang pai itu lalu menjawab.
"Minta mereka segera masuk ke sini sekarang juga!"
Setelah anggauta Pek-lian-kiuw itu keluar. Kok Beng Thiancu berkata kepada tuan rumah, yaitu Thai-kek Seng-jin dan Ling Ling.
"Dua orang kakak beradik she Liang itu adalah anak murid kami yang pergi melakukan penyelidikan ke selatan, menyelidiki keadaan Beng kauw."
Tak lama kemudian masuklah dua orang muda, seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik.
Di pinggang pemuda itu tergantung sebatang golok tipis, sedangkan di pinngang gadis itu tergantung sebatang pedang.
Ketika keduanya melihat Kok Beng Thiancu, mereka lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyebut "Supek""".."
Dua orang muda itu bukan lain adalah Liang Kok Sin dan adiknya, Liang Hwi Nio.
Seperti pernah kita ketahui, dua orang kakak beradik ini adalah putera dan puteri dari mendiang Liang Bin Cu, seorang tokoh Im-yang-pai tingkat tiga yang terbunuh oleh fihak Beng kauw dan kemudian lencananya dipergunakan oleh Beng-kauw untuk menyamar sebagai orang-orang Im-yang pai dan d pakai untuk mengacau di Kuil Ban-hok-tong dalam kota Cin-an.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Liang Bin Cu tewas tanpa diketahui siapa pembunuhnya dan di mana mayatnya.
Akan tetapi berkat penyelidikan dua orang anaknya, yaitu Liang Kok Sin dan Liang Hwi Nio, akhirnya kedua orang muda ini beihasil mengikuti jeiak ayahnya dan tahulah mereka bahwa ayahnya tewas oleh orang-orang Beng kauw sehingga mereka menyusul ke selatan dan menyerbu sarang Beng-kauw.
"Kok Sin dan Hwi Nio. kalian baru kembali? Lekas ceritakan bigaimana hasil perjaIanan kalian menyelidiki keadaan Beng-kauw?""
Tanya kakek itu. Mendengar pertanyaan ini, Liang Hwi Nio menangis, dan Liang Kok Sin memperlihatkan muka penasaran dan berduka.
"Teecu berdua telah gagal, supek. Bukan hanya gagal, bahkan hampir saja Hwi Nio mengalami penghinaan dan hampir saja teecu berdua menjadi korban."
Dengan singkat pemuda itu lalu menuturkan tentang perjalanan mereka ke selatan dan betapa mereka telah berhasil bertanding melawan tokoh-tokoh Beng-kauw akan tetapi mereka kalah dan tertawan, sungguhpun mereka telah berhasil menewaskan dua orang tokoh wanita Beng-kauw.
"Hemm, Beng-kauw sungguh curang, mengeroyok dua orang muda dan mengajukan tokoh-tokohnya!"
Kok Beng Thiancu mengepal tinju.
"Akan tetapi, setelah kalian berdua tertawan, bagaimana masih dapat datang ke sini?"
Sebelum adiknya menjawab, Kok Sin lebih dulu berkata dengan cepat.
"Teecu berdua dimasukkan dalam tahanan karena mereka sedang sibuk dengan upacara pembakaran jenazah Maghi Sing, datuk mereka. Dan selagi para penjaga lengah, teecu berdua berhasil meloloskan diri dan melarikan diri ke sini. Untung mereka sedang sibuk, maka tidak ada yang memperhatikan teecu berdua, supek."
Hwi Nio mengerling ke arah kakaknya.
Dia mengerti bahwa kakaknya tidak senang menceritakan bahwa mereka berdua diselamatkan oleh seorang pemuda tokoh Beng-kauw pula, apa lagi mengingat betapa dia jatuh cinta kepada penolongnya itu.
Kakaknya di sepanjang jalan marah kepadanya, menganggap peristiwa itu amat memalukan dan tentu saja kakaknya tidak berani bercerita tentang pemuda itu kepada guru besar ini.
Hal ini malah menggirangkan hati Hwi Nio karena dia hendak menyimpan cinta kasihnya kepada Coa Gin San itu sebagai rahasianya sendiri yang amat menyenangkan dan dia percaya bahwa pemuda gagah perkasa itupun cinta kepadanya dan pada suatu waktu dia pasti akan bertemu kembali dengan kekasihnya.
"Supek, bagaimana keadaan suhu?"
Mendengar pertanyaan Hwi Nio ini, Kok Beng Thiancu terbelalak.
"Suhumu? Apa yang terjadi dengan dia? Kami sendiri sedang bingung memikirkan mengapa sekian lamanya dia tidak pernah muncul di sini sehingga tidak melihat ketika"".. puteraku tewas"".."
"Apa""..? Kauwcu tewas"".?"
Kok Sin berseru kaget sekali. Tadi ketika mereka berdua datang secara tergesa-gesa, mereka tidak melihat betapa suasana di tempat itu sedang berkabung dan ada tanda putih di pintu gerbang.
"Kauwcu tewas dalam pertempuran yang adil,"
Kata Kok Beng Thiancu dengan tenang dan dia lalu menceritakan dengan singkat pertempuran antara Im-yang-kauwcu melawan Ling Ling dalam urusan pribadi mereka.
"Urusan itu telah selesai sekarang, bahwa Gan-lihiap menyadari bahwa kedua fihak menjadi korban fitnah Beng-kauw, maka Gan-lihiap mengambil keputusan rntuk merobah permusuhan menjadi persahabatan. Ayah bunda Gan lihiap tewas di tangan Im-yang-kauwcu, sebaliknya Im-yang-kauwcu tewas di tangan Gan lihiap, maka hal itu sudah dikatakan adil. Mulai sekarang, Gan lihiap akan membantu Im-yang-pai dan Pek-lian-pai dalam menghadapi Beng kauw dan musuh-musuh kita."
Sambung ketua Pek lian kauw.
Kedua orang muda murid Cin Beng Thian cu itu memandang kepada Ling Ling yang juga memandang kepada mereka, kemudian mereka berbangkit dan menjura kepada gadis itu dengan penuh kagum.
Hampir mereka berdua tidak percaya bahwa seorang dara semuda ini sebaya dengan Liang Hwi Nio, mampu mengalahkan bahkan menewaskan Im-yang kauw padahal kedua orang muda ini tahu betul betapa lihainya sang kauwcu.
bahkan lebih lihai dari guru mereka atau supek mereka!
Di lain fihak, Ling Ling juga diam-diam mengakui bahwa kedua orang anak murid Im-yang-pai ini gagah perkasa dan bersikap sopan.
Maka dia membalas menghormat.
"Duduklah kalian dan ceritakan tentang sute Cin Beng Thiancu. apa yang telah terjadi dengan dia?"
Tanya Kok Beng Thiancu kepada dua orang murid keponakan itu.
Kok Sin dan Hui Nio lalu duduk dan berceritalah mereka betapa ketika mereka menyerbu ke sarang Beng-kauw, selain untuk menyelidiki keadaan Beng kauw juga untuk membalas dendam atas kematian ayah mereka, yaitu Liang Bin Cu.
muncul suhu mereka yang membantu mereka.
Betapa kemudian dalam pertempuran, suhu mereka terluka dan pergi, sedangkan mereka di berdua tertawan, akan tetapi akhirnya dapat meloloskan diri.
Mendengar penuturan ini, Kok Beng Thiancu menarik napas panjang.
Dia lalu menoleh kepada Ling ling dan berkata.
"Nah, engkau telah mendengar sendiri. Gan lihiap, betapa lihainya Beng-kauw. Suteku itu lihai sekali, tingkatnya hampir sama dengan tingkat kepandaianku. dan dua orang muridnya ini telah digemblengnya selama sepuluh rahun. Namun, suleku terluka dan mereka ini tertawari!"
Kakek itu menarik napas panjang dan memandang kepada dua orang murid keponakannya itu, lalu rnelanjutkan.
"Lihiap, mereka inilah putera-puteri dan tokoh Im-yang-pai yang telah lenyap dibunuh oleh fihak Beng-kauw yang bernama Liang Bin Cu. Dan lencana yang dipakai oleh orang-orang Beng-kauw ketika mereka mengacau Kuil Ban-hok-tong di Cin-an adalah lencana rampasan yang mereka ambil dari Liang Bin Cu itulah. Biarpun tidak ada buktinya, kami yakin bahwa Liang Bin Cw telah mereka bunuh, maka kedua orang puteranya setelah tamat belajar lalu pergi menyelidiki ke Beng-kauw, bahkan dilindungi oleh sute Cin Beng Thiancu, namun akhirnya gagal juga."
Ling Ling mengerutkan alisnya.
Kini dia tahu bahwa sesungguhnya yang jahat adalah Beng-kauw, sama sekali bukan Im yang-kauw atau Im-yang-pai.
Permusuban antara Im-yang pai dan orang tuanya terjadi karena fitnah itu.
Dan untuk pengacauan di Cin-an yang sesungguhnya dilakukan oleh Beng kauw itu, fihak Im-yang pai telah menderita karenanya, yaitu diserbu oleh pasukan pemerintah.
Orang tuanya telah salah sangka, demikian pula orang-orang gagah yang membantu pasukan pemerintah untuk menyerbu Im-yang-pai telah keliru menyalahkan orang.
Dan untuk menebus kesalahan itu, dia harus membantu Im yang pai!
"Hemm, orang-orang Beng-kauw palsu dan jahat.
Aku siap untuk menghadapi mereka.
Kok Beng Thiancu!"
Katanya perlahan, namun suaranya mengandung keteguhan hati yang penuh wibawa sehingga diam-diam Kok Sin memandang kagum bukan main sampai mulutnya agak terbuka dan matanya terbelalak.
Baru dia sadari ketika jari tangan adiknya menyentuh dan menowelnya.
dan cepat dia menundukkan muka kembali.
"Kita harus berhati hati lihiap. Selain mereka itu lihai dan memiliki tokoh-tokoh yang tinggi ilmunya, juga Beng-kauw dibantu oleh tokoh-tokoh Khitan dan Tibet yang lihai pula. Oleh karena itu, kita harus mengumpulkan tenaga dan sekali menyerbu ke Beng-kauw di muara Huang Ho tepi pantai Po-hai itu, harus dapat berhasil karena kalau sampai gagal, akan sukarlah kita membalas semua kejahatan Beng-kauw kelak"
Kata Kok Beng Thiancu.
"Benar sekali, kita tidak boleh ceroboh dan sekali pukul haruslah berhasil,"
Sambung ketua Pek-lian-kauw.
"Untuk itu, aku akan mengundang tokoh-tokoh perkumpulan kami dan setelah keadaan kita kuat, baru kita akan bersama-sama menghantam Beng-kauw dan membasmi sampai ke akar-akarnya. Selama Beng-kauw dan sekutu mereka belum hancur, maka perjuangan kita tidak akan mengalami kemajuan."
Ling Ling yang tidak begitu mengerti tentang urusan perjuangan, hanya mengangguk saja dan bersedia menanti.
Dia menjadi tamu kehormatan di sarang Pek-lian-kauw itu, dihormati semua orang orang Im yang pai yang juga untuk sementara menumpang pada Pek-lian-kauw dan dihormati pula oleh semua anggauta Pek lian-kauw.
Diam diam Kok Sin makin tergila gila kepada dara cantik jelita yang amat .lihai ini, akan tetapi tentu saja dia tidak berani lancang menyatakan perasaan hatinya, mengingat bahwa gadis itu bukanlah gadis biasa, melainkan seorang tamu agung yang memiliki kepandaian amat tinggi, lebih tinggi dari kepandaian supeknya bahkan menurut desas-desus, masih lebih lihai dari pada ketua Pek-lian-kauw sendiri!
Beberapa hari kemudian semenjak Ling Ling tinggal sebagai tamu agung di sarang Pek-lian kauw.
Dara ini sebenarnya merasa tidak betah tinggal di tempat itu, akan tetapi karena dia ingin sekali bersama dengan dua perkumpulan itu menyerbu dan membalas dendam kepada Beng-kauw, maka dia mempertahankan diri sambil menanti sampai tiba saatnya mereka berangkat menyerang Beng-kauw.
Malam itu sunyi sekali.
Untuk melewatkan waktu senggang, seperti biasa Ling Ling membaca kitab.
Di Pek-lian kauw terdapat banyak kitab-kitab kuno dan Ling Ling suka sekali membaca kitab kuno berisi dongeng-dongeng tentang para dewata dan tentang raja-raja bijaksana di jaman kuno.
Dengan penerangan lima batang lilin, dia membaca kitab kuno tentang perjalanan Tong Sam Cong, seorang pendeta Buddha yang melawat ke See-thian (Dunia Barat) untuk memperdalam ilmunya tentang Agama Buddha dan untuk mencari kitab-kitab agama itu.
Pendeta ini memiliki pengawal pengawal yang amat sakti, di antaranya yang paling sakti adalah seorang manusia monyet atau Raja Monyet yang bernama Sun Go Kong atau Kauw Cee Thian Di sepanjang perjalanan menuju ke See-thian (India) itu.
Tong Sam Cong menghadapi penghadangan-penghadangan para siluman, mengalami godaan-godaan iblis yang amat hebat mengerikan, namun selalu dapat diatasinya berkat keteguhan imannya dan kelihaian para pembantunya.
Cerita itu disebut See-yu-ki (Perjalanan ke Barat) dan amat menarik karena mengandung adegan-adegan tegang, lucu, mengherankan dan juga mengandung filsafat-filsafat tinggi.
Memang sesungguhnya cerita See-yu-ki itu mengandung pelajaran Agama Buddha, melambangkan perjalanan manusia menuju kepada tingkat yang lebih luhur dan disepanjang hidupnya mengalami rintangan-rintangan, godaan godaan yang kalau tidak kuat dihadapinya akan menyeret manusia ke jurang kesesatan dan kenistaan, sebaliknya kalau kuat menghadapinya akan menaikkan tingkat kehidupan manusia ke tempat yang lebih luhur .
Tentu saja bagi seorang muda seperti Ling Ling, yang menarik baginya adalah bagian bagian mengadu ilmu antara para pengawal Tong Sam Cong melawan para siluman, yang memang merupakan cerita yang amat menarik sekali.
Demikian asyiknya Ling Ling membaca kitab itu sehingga baru dia mendengar dan menjadi terkejut ketika tiba tiba ada suara aneh tertangkap oleh pendengarannya.
Padahal biasanya, sedikit suara yang tidak wajar saja tentu sudah membangkitkan kecurigaan dan kewaspadaan gadis ini.
Suara itu sejak tadi terdengar dan baru sekarang dia terkejut dan cepat dia meniup padam lima batang lilin itu, meletakkan kitabnya di atas meja, kemudian bagaikan seekor kucing saja dia sudah meloncat keluar dari kamarnya melalui jendela.
Setelah berada di luar kamarnya, makin jelas terdengar olehnya suara orang berbantahan dan suara itu terdengar di luar perkampungan Pek lian-kauw itu.
di luar pintu gerbang.
Dia cepat berloncatan ke tempat itu dan di bawah sinar lampu yang tergantung di luar pintu gerbang dia melihat Kok Beng Thiancu berdiri di samping Thai-kek Seng-jin dan di belakang kedua orang kakek ini nampak para penjaga, yaitu orang orang Im-yang pai dan Pek-lian-kauw.
Dua orang kakek itu berhadapan dengan seorang laki laki muda yang berpakaian serba putih, sederhana, namun sikapnya amat tinggi hati dan senyumnya mengejek.
"Tidak perlu kalian sembunyikan, hayo suruh keluar dia, wanita iblis ketua Im-yang-kauw untuk bertanding melawanku,"
Agaknya ucapan ini sudah beberapa kali dikeluarkan oleh pemuda itu denpan nada suara mengejek.
"Orang, muda, sebelum engkau memberi tahu siapa adanya engkau dan dari mana engkau datang, apa perlumu dengan Im-yang-kauwcu, kami tidak dapat melayanimu,"
Jawab Thai-kek Seng jin.
"Engkau berada di markas Pek lian kauw, dan kami adalah ketua di sini, maka kami yang mengambil keputusan tentang penerimaan tamu!"
"Heh heh, memang cocok sekali Im-yang-kauw dengan Pek lian kauw! Orang Pek lian-kauw, aku tidak ingin bermusuh dengan Pek-lian-kauw, juga aku tidak ada sangkut-paut dengan Im-yang kauw. Aku datang karena urusan pribadi dengan ketua Im yang kauw yang disebut Kim-sim-Niocu. Hayo suruh dia keluar dan membereskan urusan pribadi, dan kalian tidak perlu turut campur. Kalau aku tidak memandang kepada Pek lian-kauw apa kalian kira aku mau berdiri di luar pintu gerbang? Masuk ke dalam dan mencari sendiri apa sih sukarnya? Akan tetapi aku tidak mau ribut dengan orang-orang lain, dan akupun tidak perlu memperkenalkan diri, kecuali kepada iblis betina Kim-sim Niocu!"
"Keparat, mulutmu busuk dan hatimu congkak! Kim-sim Niocu tidak ada, yang ada adalah Kok Beng Thiancu, ayahnya. Hayo kaulawan saja akui"
Setelah berkata demikian, Kok Beng Thiancu yang sudah tidak sabar lagi sejak tadi mendengar puterinya disebut iblis betina itu, menerjang ke depan dengan tamparan tangan kirinya yang ampuh.
Karena dia tidak mengenal pemuda itu, tidak tabu sampai di mana kelihaian pemuda yang menantang puterinya ini, maka diapun tidak melakukan penyerangan sekuatnya, melainkan menampar saja untuk mencoba kepandaian orang.
"Wuuuttt"".. plakkkl"
Kok Beng Thiancu berseru kaget dan cepat menarik kembali tangannya yang tertangkis itu, karena merasa betapa lengannya tergetar hebat, tanda bahwa lawan muda ini memiliki sinkang yang amat kuat!
"Hemm, aku tidak mau bermusuhan dengan perkumpulan atau orang lain.
bukan berarti aku takut gertakan!
Suruh saja iblis betina itu keluar, ayahnya atau keluarganya yang lain tidak ada urusannya dengan aku!"
Kata pemuda itu, suaranya nyaring dan sikapnya makin berani.
"Bocah sombong, engkau sudah bosan hidup!"
Bentak Kok Beng Thiancu dan kini dia sudah menerjang dengan amat dahsyatnya.
Karena tahu bahwa lawannya adalah seorang yang berkepandaian tinggi, kini ketua im-yang-pai itu tidak segan-segan lagi menurunkan tangan maut.
Dia bertepuk tangan tiga kali dan terdengarlah suara meledak seperti dua benda keras diadu dan nampak asap mengepul Itulah tandanya bahwa ketua Im-yang-pai ini telah mengerahkan tenaga Thian-lui Sin-ciang (Tangan Sakti Geledek) yang ampuhnya bukan buatan itu!
Dan tubuhnya sudah meloncat, terdengar suara lengkingan nyaring dari mulutnya ketika dia menyerang dengan pukulan-pukulan kilat ke arah bagian tubuh yang berbahaya dari pemuda itu.
"Bagus! Aku memang ingin sekali mencoba kelihaian ketua Im-yang-pai!"
Pemuda itu sama sekali tidak kelihatan gentar dan cepat tubuhnya sudah melesat dan mengelak dari serangan lawan, kemudian dia sudah membalas dengan tendangan yang amat cepat datangnya, menyambar ke arah pusar lawan.
Kok Beng Thiancu juga mengelak, lalu mendesak lagi degan pukulan-pukulan Thian-lui Sin-ciang.
Setelah tiba di dekat pintu gerbang, Ling Ling tidak turun melainkan bersembunyi di atas pintu dan menonton ke arah pertempuran; di bawah itu dengan sinar mata kagum sekali.
Dia melihat betapa pemuda itu amat aneh gerakannya dan juga memiliki gerakan yang mengandung tenaga dahsyat!
Kehebatan pemuda itu segera dirasakan pula oleh Kok Beng Thiancu, karena semua pukulan Thian-lui Sin-ciang yang amat ampuh darinya itu dapat ditangkis dengan mudah oleh lawan.
Bahkan setiap tangkisan membuat tubuhnya tergetar hebat.
Padahal pukulan Thian lui Sin-ciang itu mengandung hawa panas yang luar biasa dan yang jarang dapat ditangkis lawan tanpa melukai lengan penangkisnya.
Kini, tangkisan pemuda itu membuat dia tergetar dan terhuyung.
"Mundurlah, aku tidak butuh bertanding denganmu atau siapa juga kecuali dengan iblis betina Kim-sim Niocu!"
Pemuda itu membentak dan kini dia menampar dengan seenaknya, namun dari telapak tangannya menyambar hawa pukulan yang ketika ditangkis oleh ketua Im yang-pai membuat kakek itu terhuyung ke belakang dan hampir terjungkal kalau saja tidak disambut oleh Thai-kek Seng-jin!
Kini ketua Pek-lian-kauw itu melangkah maju, tangannya bergoyang dan lengan bajunya yang lebar dan panjang itu bergoyang pula "Orang muda,"
Suaranya terdengar penuh wibawa.
"Sungguh perbuatanmu ini tidak pantas dan melanggar sopan santun dunia kang-ouw! Biarpun engkau berurusan dengan Im-yang-pai, akan tetapi pada saat ini Im-yang-pai menjadi tamu dari Pek-lian-kauw dan engkau mendatangi markas Pek-lian-kauw. Oleh karena itu, engkaupun menjadi tamu pula dari kami dan. sudah sepatutnya engkau mengaku kepada tuan tumah apa maksud kedatanganmu dan siapa adanya engkau, dari golongan mana"
"Hemrn, justru karena Im-yang-pai menjadi tamumu, maka aku tdak mau masuk ke dalam dan kalau engkau merupakan tuan rumah yang baik, tidak perlu engkau mencampuri urusan di antara para tamu. Lebih baik suruh Kim-sim Niocu keluar dan kami akan menyelesaikan urusan pribadi kami sendiri tanpa campur tangan dari Pek-Iian kauw atau siapapun juga!"
Jawaban yang tegas ini tentu saja mendatangkan perasaan marah dalam hati Thai-kek Seng-jin.
Dia adalah ketua Pek lian kauw yang terkenal, selain terkenal di dunia kang-ouw juga jarang ada tokoh kang-ouw yang tidak menaruh hormat kepadanya dan tidak memandang mukanya.
Akan tetapi, pemuda yang sama sekali tidak terkenal di dunia persilatan ini kelihatan memandang rendah kepadanya!
Dia tahu bahwa pemuda ini memiliki kepandaian silat yang amat tinggi sehingga Kok Beng Thiancu sendiri tidak mampu menandinginya.
Biarpun dia tidak takut karenanya, namun dia tahu bahwa kalau dia menghadapi pemuda ini mengandalkan ilmu silatnya, tentu akan terjadi pertandingan yang amat seru dan dia belum yakin akan dapat menang.
Oleh karena itu, dia mengambil keputusan untuk menaklukkan pemuda ini dengan ilmu sihir saja agar dia tidak kehilangan muka sebagai seorang tokoh Pek lian-kauw.
"Bocah sombong, engkau tidak tahu siapa aku? Aku adalah Thai-kek Seng-jin, ketua Pek-lian-kauw dan engkau ini bocah ingusan sudah sepatutnya kalau menghormatku dengan berlutut Hayo kau berlutut dan memberi hormat seperti seorang anak yang baik!"
Suaranya berobah menjadi penuh getaran dan berwibawa, sampai terasa oleh Ling Ling yang bersembunyi sambil mengintai.
Ada kekuatan gaib terkandung dalam suara itu yang membuat jantung Ling Ling berdebar penuh ketegangan, seolah-olah ada kekuatan tersembunyi yang hampir memaksa dia untuk menjatuhkan diri berlutut, akan tetapi dia tidak melakukannya karena perintah itu tidak ditujukan kepadanya.
Andaikata perintah itu ditujukan kepadanya dia tidak tahu apakah dia akan mampu rnembangkang terhadap perintah seperti itu.
Dan diapun menduga bahwa tentu pemuda itu akan menjatuhkan diri berlutut!
Akan tetapi dugaannya ternyata meleset jauh sekali!
"Ha ha, aku bukan anak kecil yang dapat kau takut-takuti!l"
Pemuda itu tertawa mengejek dan getaran suara ketua Pek-iian-kauw ltupun lenyaplah.
Bukan main kagetnya hati Thai-kek Seng-jin.
Dia tadi tidak hanya mempergunakan ilmu sihirnya dalam suara, akan tetapi juga dalam pandang matanya dan telah mengerahkan kekuatannya.
Akan tetapi pemuda itu tidak terpengaruh sama sekali dan hal ini hanya berarti bahwa pemuda itupun menguasai kekuatan rahasia dari ilmu sihir pula!
Akan tetapi kakek ini masih penasaran.
"Bocah sombong, engkau sudah bosan hidup kiranya. Lihat, harimau saktiku akan menerkammu!"
Dan kakek itu mengangkat tongkat bambunya.
Suaranya masih bergema dengan penuh wibawa ketika tiba tiba saja Ling Ling melihat tongkat itu berobah menjadi seekor harimau yang sebesar kerbau dan harimau ini dengan dahsyatnya menerkam ke arah pemuda itu!
Akan tetapi pemuda itu masih tertawa saja.
"Permainan sulapmu menarik sekali!"
Katanya dan pemuda itu mengambil sebuah batu, melontarkannya ke atas sambil berkata.
"Naga saktiku akan melawan harimaumu!"
Dan Ling Ling hampir tak dapat percaya akan matanya sendiri ketika nelihat seekor naga mengeluarkan bunyi mengakak, melebihi nyaringnya bunyi auman harimau itu dan bertemulah dua ekor binatang sakti yang buas itu di tengah udara!
Terdengar suara keras dan dua ekor binatang buas itu lenyap dan runtuh sebagai sebatang tongkat bambu dan sepotong batu!
Thai-kek Seng-jin menggerakkan tangannya dan tongkat bambu itu melayang kembali ke tangannya, sedangkan pemuda itu hanya tersenyum saja.
Bukan main kagetnya hati Thai-kek Seng jin.
Tidak salah dugaannya pemuda itu ternyata menguasai ilmu sihir pula dan telah memecahkan ilmu sihirnya dengan ilmu sihir juga.
""Orang muda, siapakah engkau dan dari golongan manakah?"
Tanyanya, suaranya agak berubah, sikapnya agak menghormat.
Pemuda itu bukan lain adalah Coa Gin San.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, pemuda ini mengunjungi Cin-an dan setelah dia mendengar bahwa gurunya, Gan Beng Han dan isteri gurunya itu tewas oleh ketua Im-yang-kauw, dia segera pergi menyelidiki dan mencari di mana adanya Im-yang-kauwcu itu untuk membalaskan dendam kematian suami isteri yang menjadi gurunya dan juga menjadi penolongnya dan dianggapnya sebagai ayah bunda sendiri itu.
Dia tahu bahwa yang mengakibatkan semua bencana itu adalah Beng-kauw, akan tetapi karena kematian suami isteri itu di tangan Im-yang-kauwcu, maka dia harus membalaskan kematian mereka.
Setelah dia melakukan penyelidikan dan mendengar bahwa Im-yang-pai telah diobrak-abrik pasukan pemerintah dan kini mereka mengungsi ke sarang Pek-lian-kauw, tanpa ragu-ragu lagi dia lalu mendatangi Pck-lian-kauw.
Akan tetapi, dia sendiri adalah tokoh nomer satu di Beng-kauw, pengganti gurunya yaitu mendiang Maghi Sing!
Maka dia mengambil keputusan untuk tidak memperkenalkan diri, baik namanya apa lagi kedudukannya di Beng kauw?
Dia hanya ingin menyelesaikan dendam pribadi atas kematian Gan Beng Han bersama isterinya kepada ketua Im-yang-kauw, dan dia tidak ingin terseret ke dalam permusuhan antara Im-yang-pai dan Beng-kauw yang dia tahu benar adalah disebabkan oleh kecurangan Beng-kauw.
Demikianlah, ketika Thai-kek Seng jin bertanya lagi tentang nama daa golongannya.
Gin San hanya tersenyum saja dengan sikap tenang dan dingin.
"Sudah kukatakan bahwa aku tidak mempunyai urusan apapun dengan Im-yang-kauw atau Pek lian kauw, oleh karena itu tidak ada perlunya aku memperkenalkan diriku. Aku hanya mempunyai urusan pribadi dengan ketua Im-yang-kauw atau Kim-sim Niocu, maka suruhlah dia keluar dan kami berdua akan menyelesaikan urusan kami di luar tahu kalian!"
Thai-kek Seng-jin merasa dipandang rendah, sekali.
"Bocah keparat, engkau sungguh sombong. Sebagai tamu engkau sungguh tidak mengenal aturan! Kamilah tuan rumahnya dan kalau kami menolak engkau sebagai tamu, engkau mau apa?"
"Kalau kalian tidak mau menyuruh keluar Kim-sim Niocu, aku akan terpaksa mencari sendiri di dalam, karena aku yakin dia bersembunyi di dalam sarang Pek-lian -kauw ini!"
"Keparat, kaurobohkan dulu Thai-kek Seng-jin!"
Bentak kakek itu dan dia segera menerjang ke depan, menggerakkan tongkat bambu di tangannya dengan kecepatan kilat dan tongkat bambu itu berubah menjadi sinar hijau bergulung-gulung dan menyambar ke arah Gin San.
Sebagai ketua Pek-lian-kauw wilayah timur, tentu saja ilmu kepandaian Thai-kek Seng-jin sudah mencapai tingkat tinggi sekali dan tenaga sinkangnya juga amat hebat, apa lagi karena dia merupakan seorang ahli sihir pula Dan tongkat di tangannya itu terbuat dari pada bambu Sisik Naga bagian bawah yang amat kuat dan tebal, berwarna hijau kekuningan dan berlekuk-lekuk dan agak melilit seperti badan seekor naga kecil.
Gin San maklum bahwa lawannya adalah seorang yang lihai, maka diapun tidak mau main main dan menghadapinya dengan penuh perhatian.
Dia memusatkan perhatiannya pada gerakan lawan dan menghindarkan diri dari ancaman tongkat yang berubah menjadi sinar kehijauan bergulung-gulung itu dengan mengandalkan ginkangnya yang istimewa.
Tubuhnya berkelebat ke sana-sini sehingga lenyaplah bentuk tubuhnya, yang nampak hanya bayangannya saja yang beikelebatan di antara sinar-sinar hijau itu.
Semua orang yang melihat pertandingan ini, kecuali Kok Beng Thiancu dan Ling Ling, merasa pening saking cepatnya gerakan dua orang itu.
Kok Beng Thiancu kagum bukan main sampai berkali kali memuji karena belum pernah dia, kecuali Gan Ai Ling, melihat seorang muda yang memiliki kepandaian sehebat ini.
Sedangkan Ling Ling juga memandang kagum karena dia dapat mengikuti gerakan kedua orang itu dan harus diakuinya bahwa pemuda itu memang hebat ilmu silatnya.
Dia merasa tertarik sekali dan ingin dia menguji kepandaian pemuda itu dengan kepandaiannya sendiri.
Akan tetapi dia ingin melihat dulu kesudahan dari pertandingan antara pemuda itu melawan Thai-kek Seng-jin yang dia tahu juga amat lihai Memang hebat sekali pertandingan antara, kedua orang itu.
Akan tetapi melihat kenyataan bahwa kalau ketua Pek-lian-kauw itu menggunakan senjatanya yang paling diandaikan sedangkan lawannya hanya bertangan kosong sudah menunjukkan bahwa tingkat kepandaian pemuda itu sesungguhnya lebih tinggi dari pada tingkat ilmu silat Thai-kek Seng-jin!
Dan memang sebenarnya demikianlah, ilmu ilmu yang diwarisi oleh Gin San dari mendiang Maghi Sing adalah ilmu ilmu silat yang amat hebat.
Setelah lewat seratus jurus menghadapi senjata tongkat yang lihai itu mengandalkan ginkangnya, Gin San tahu bahwa kalau dia tidak mengeluarkan ilmu simpanannya, biarpun dia tidak akan kalah, namun tentu akan makan waktu agak lama untuk merobohkan lawan yang ulet dan berpengalaman ini.
Akan tetapi, ilmu simpanannya, yaitu Cap-sha Tong thian (Tiga belas Pukulan Menggetarkan Langit) adalah ilmu yang amat luar biasa, dan sekali dipergunakan tentu akan menewaskan lawan, maka dia tidak mau sembarangan mengeluarkannya kalau tidak terpaksa.
Dan dia tidak ingin memperdalam permusuhan dengan Pek-lian-kauw.
Akan tetapi, melihat tongkatnya masih juga belum berhasil, ketua Pek lian kauw itu marah sekali dan dia mengeluarkan suara melengking tinggi dan kini tongkatnya berubah gerakannya, lebih ganas dan aneh karena dia kini juga mengeluarkan ilmu simpanan dari Pek-lian-kauw yang hanya dikuasai oleh golongan ketua perkumpulan itu.
Ilmu ini adalah Pek-lian-sin-kun tingkat atas, yang hanya diajarkan kepada para ketua cabang dari Pek-lian-kauw saja.
Ilmu Pek lian-sin kun dapat dimainkan dengan tangan kosong atau dengan senjata apapun juga, memiliki perkembangan yang luas dan gerakannya disesuaikan dengan ilmu sihir sehingga hanya dapat dikuasai oleh para ketua cabang Pek-lian-kauw.
Karena gerakannya diselingi kekuatan sibir, maka tentu saja amat berbahaya.
Terkejut juga hati Gin San melihat perobahan gerakan ini dan dia merasakan betapa dari gerakan-gerakan itu meluncur tenaga-tenaga rahasia yang amat dahsyat sehingga dalam belasan jurus saja hampir telinga kirinya tertusuk ujung tongkat.
Dia melempar diri kebelakang dan lawannya terus mendesaknya sehingga kini pemuda itu berada dalam keadaan terdesak hebat.
Tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan bentakan nyaring sekali dan dalam keadaan terdesak itu tiba-tiba dia membuat gerakan aneh, tubuhnya direndahkan setengah berjongkok dan kedua tangannya mendorong ke depan.
Angin dahsyat menerjang ke depan dan biarpun Thai-kek Seng jin cepat mengelak, namun tetap saja hawa pukulan itu menerjangnya dengan dahsyat.
Dia menangkis dengan tongkatnya.
"Krakkk!"
Tongkat bambu yang amat kuat itu bertemu dengan tangan Gin San dan patah, sedangkan tubuh kakek itu terdorong ke belakang, dia terhuyung dengan muka pucat.
Itulah jurus ke tiga yang aneh dan Ilmu Cap-sha Tong-thian dari Gin San!
Pada saat itu dari atas pintu gerbang menyambar turun sesosok bayangan yang amat cepat gerakannya, seperti seekor burung rajawali menyambar mangsanya.
Begitu melayang turun, Ling Ling langsung menerjang pemuda itu "Plakk"".
Gin San terkejut melihat serangan itu dan cepat menangkis dengan kedua lengannya.
"Ahhh""!"
Seruan ini keluar dari mulut mereka berdua, karena pertemuan antara lengan dan kaki itu membuat tubuh Ling Ling terpaksa membuat gerakan jungkir balik, poksai (bersalto) tiga kali baru turun ke atas tanah, sedangkan Gin San yang menangkis juga terhuyung ke belakang, terdorong oleh kekuatan dahsyat dari tendangan itu.
Keduanya terkejut dan maklum bahwa lawan memiliki sin-kang yang amat hebat!
Akan tetapi ketika Gin San melihat bahwa penyerangnya yang lihai itu adalah seorang wanita yang cantik jelita, dia lalu bertolak pinggang dan tertawa.
"Ha-ha, kiranya siluman betina Kim-sim Niocu akhirnya muncul jugal. Bagus, kita boleh membuat perhitungan!"
"Tutup mulutmu yang lancang dan buka lebar-lebar matamu! Jangan sembarangan menyamakan aku dengan orang yang sudah mati!"
Bentak Ling Ling.
"Apa? Siapa yang mati? Kau"".. kau bukan Kim-sim Niocu, ketua dari Im-yang-kauw?"
Tanya Gin San sambil menatap wajah yang cantik itu, yang tidak dapat dilihatnya dengan jelas karena penerangan di situ memang hanya remang-remang.
"Apakah matamu sudah buta?"
Ling Ling membentak.
"Mendiang Im-yang-kauwcu dua kali lebih tua dariku, tolol!"
"Ehhh"".. jadi dia benar-benar sudah mati? Kim-sim Niocu, atau Im-yang-kauwcu itu sudah"".. sudah mendiang""."
"Cerewet! Biarpun tidak ada dia, jangan kira di sini tidak ada orang berani melawanmu, dan jangan kira kau boleh seenak perutmu sendiri berlagak di sini. Terimalah ini!"
Berkata demikian, Ling Ling sudah menerjang dengan hebatnya, memukul dengan tangan kiri disusul dengan tamparan tangan kanan.
Mendengar suara angin bercicit nyaring keluar dari kedua tangan dara itu, Gin San merasa terkejut dan kagum bukan main.
Cepat dia menggunakan ginkangnya untuk mengelak dari pukulan tangan kiri dara itu, akan tetapi betapa kagetnya ketika dara itu mengimbangi kecepatannya dan tangan kanan yang menampar itu telah menyusul cepat, mengarah lehernya!
"Ehh""..!"
Gin San berseru kaget akan tetapi tangan kirinya cepat menangkis dan dia mengerahkan sinkangnya ketika menangkis ini.
"Dukk!"
Kembali keduanya menahan seruan kaget karena pertemuan lengan itu membuat tubuh mereka tergetar hebat, sampai terasa hampir lumpuh lengan mereka masing-masing!
Pada saat itu, Thai-kek Seng-jin dan Kok Beng Thiancu sudah menerjang maju diikuti pula oleh para anak buah Pek-lian-kauw dan Im-yang-pai yang menyerbu dari setiap penjuru.
Melihat ini, Gin San lalu meloncat tinggi ke belakang, berjungkir balik dan cepat menerobos keluar dari kepungan dan melarikan diri.
Tadi dia memperhatikan dan melihat ada bendera dan tanda-tanda kain putih, tandi berkabung di pintu gerbang, maka dia percaya bahwa Kim-sim Niocu memang sudah meoinvgul dunia, maka perlu apa dia bertahan terus?
Pula, gadis cantik itu lihai bukan main, jauh lebih lihai dari pada ketua Im-yang-pai atau bahkan ketua Pek-lian kauw!
Melawan gadis itu saja sudah merupakan lawan tangguh dan berbahaya, apa lagi ditambah dua orang kakek itu dan semua anak buahnya!
Dia tidak gentar, akan tetapi untuk apa dia mempertaruhkan nyawa menghadapi mereka tanpa alasan sama sekali?
Yang dimusuhinya hanyalah Im-yang kauwcu, setelah wanita itu meninggal dunia, tidak ada alasan baginya untuk bermusuh dengan Im-yang pai atau Pek lian kauw.
Apa lagi mengingat betapa Beng kauw pernah melakukan perbuatan curang dan bersalah terhadap Im-yang pai.
Maka larilah Gin San dikejar-kejar oleh para anggaota Pek-lian-kauw dan Im yang pai.
Akan tetapi malam itu gelap dan pemuda itu dapat berlari cepat sekali sehingga sebentar saja para pengejarnya sudah kehilangan jejaknya.
Seorang gadis masih terus mengejar dan tiba-tiba tangan seorang pemuda memegang lengannya.
"Hwi-moi, cukup, tak perlu mengejar lagi!"
Kata Liang Kok Sin yang memegang lengan adiknya, Liang Hwi Nio.
"Pula, kita tidak mampu melawannya, mau apa kau mengejarnya?"
Liang Hwi Nio menoleh dan memandang kepada kakaknya Di bawah sinar bintang-bintang di langit yang suram, dia memandang kepada kakaknya dan pemuda itu melihat bahwa adiknya itu tadi mengejar sambil bercucuran air mata.
"Hemm, kau menangis? Karena dia""..?"
Gadis itu terisak dan merangkul kakaknya, membenamkan muka di dada kakaknya.
"Koko, aku""..aku cinta padanya"".."
"Hemmm!"
Kok Sin menggeram gemas.
"Apa artinya cintamu kalau dia tidak cinta padamu?"
"Dia cinta padaku, aku yakin akan hal itu. Dia cinta padaku seperti aku juga cinta padanya koko""".."
"Hwi Nio, jangan bodoh! Ingat, dia adalah tokoh Beng-kauw, mengerti? Dan siapakah yang membunuh ayah kita? Ayah kita mati di tangan orang-orang Beng-kauw dan kau jatuh cinta kepada seorang tokoh Beng-kauw?"
"Tapi"".. tapi bukan dia pembunuh ayah"""dan dia". dia telah menyelamatkan kita, koko"".."
"Diam! Apa kau ingin semua orang tahu bahwa puteri mendiang Liang Bin Cu yang terbunuh oleh Beng-kauw kini tergila-gila kepada seorang tokoh Beng kauw?"
"Koko"".!"
Hwi Nio menangis dan dia masih sesenggukan ketika kakaknya mengajaknya pulang, diam-diam tangan kanannya menggenggam potongan mata rantai perak ikat pinggang pemuda yang dipujanya itu, menggenggamnya dan menekankannya pada dadanya.
Sementara itu, Kok Beng Thiancu dan Thai-kek Seng jin merasa penasaran dan marah sekali setelah mereka kembali ke dalam gedung dan membicarakan pemuda itu bersama dengan Ling Ling.
"Takkan salah dugaanku!"
Kata Thai-kek Seng-jin sambil mengepal tinjunya.
"Bocah itu tentu datang dari Beng-kauw! Sungguhpun aku sendiri tidak mengenal ilmu silatnya yang lihai, atan tetapi dia paham ilmu sihir! Dan memang tiga orang ketua Beng-kauw adalah ahli-ahli sihir."
"Agaknya dia seorang murid dari tiga ketua Beng-kauw,"
Kata Kok Beng Thiancu. Mendengar ini, Thai-kek Seng-jin menggeleng kepala keras-keras.
"Tidak mungkin! Aku pernah menyaksikan tingkat kepandaian mereka bertiga, dan terus terang saja, menghadapi mereka bertiga, kiranya aku tidak akan kalah. Akan tetapi tingkat kepandaian bocah itu luar biasa sekali!"
"Sungguh aneh, belum pernah aku mendengar akan seorang tokoh Beng-kauw yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari tiga orang ketuanya dan masih sedemikian mudanya. Ah, belum lama ini Kok Sin dan Kwi Nio menyerbu Beng-kauw, kiranya mereka tentu melihat atau pernah mendengar tentang tokoh itu,"
Kata Kok Beng Thiancu dan segera dia memanggil dua orang murid keponakan itu.
Wajah Hwi Nio masih pucat, akan tetapi hanya Ling Ling yang memandang heran karena dara ini tahu benar bahwa Hwi Nio habis menangis!
"Kalian berdua kupanggil untuk kami tanya tentang pemuda yang tadi mengacau di sini.
Ketika kalian berdua menyerbu Beng-kauw, apakah kalian tidak melihat pemuda itu?
Kami menduga bahwa dia adalah seorang tokoh Beng-kauw,"
Tanya Kok Beng Thiancu. Hwi Nio menunduk saja, akan tetapi tiba-tiba Kok Sin berkata.
"Memang benar, supek. Pemuda itu adalah seorang tokoh Beng-kauw, kalau tidak salah dia adalah adik seperguruan dari ketiga orang ketua Beng-kauw, karena disebut sute oleh mereka."
"Ahhh"".!"
Kok Beng Thiancu dan Thai-kek Seng-jin saling pandang.
"Sute dari ketiga orang ketua Beng-kauw? Kalau begitu dia murid terakhir dari Maghi Sing!,"
Kok Beng Thiancu mengangguk-angguk.
"Boleh jadi sebelum mati, Maghi Sing telah meninggalkan ilmu yang lebih tinggi kepada muridnya yang terakhir itu."
Thai-kek Seng-jin juga mengangguk-angguk, kemudian berkata.
"Beng-kauw telah berani secara terang-terangan memusuhi Pek-lian-kauw dengan mengirim bocah itu mengacau di Pek-lian-kauw. Oleh karena itu, akan merendahkan nama kita kalau kita tidak segera turun tangan, membalas dan menyerbu Beng-kauw yang sombong. Gan-Iihiap, harap lihiap sudi membantu kami, karena inilah saatnya lihiap membalas kepada Beng-kauw yang dulu pernah mengacau di Cin-an menggunakan nama Im-yang-pai."
"Aku memang ingin sekali menandingi tokoh-tokoh Beng-kauw,"
Kata Ling Ling yang merasa penasaran karena tadi tidak sempat bertanding sampai puas melawan pemuda sombong itu karena dua orang kakek ini turun tangan mengeroyok bersama anak buahnya dan pemuda itu keburu melarikan diri.
"Selama beberapa hari ini, kami sudah mengadakan hubungan dengan para pembantu kami. Sekutu kami, yaitu jagoan-jagoan Uighur, akan datang malam nanti, dan juga beberapa orang tokoh Pek-lian-kauw akan berkumpul malam nanti. Besok pagi kita berangkat menyerbu ke sarang Beng-kauw di tepi pantai Po-hai, di muara Sungai Huaug-ho!"
Demikianlah Thai-kek Seng-jin dan Kok beng Thiancu segera mempersiapkan jagoan-jagoannya, untuk diajak menyerbu Beng-kauw dan hati mereka besar karena di samping mereka terdapat Gan Ai Ling yang boleh mereka andalkan.
Tadipun mereka melihat sendiri betapa pemuda Beng-kauw yang amat lihai itu menemukan tandingan ketika bergebrak melawan Ling Ling.
Dara ini sendiri bersikap tenang karena dia tidak memperdulikan urusan Pek-lian-kauw ataupun Im-yang-pai.
Kalau dia mau bersama mereka untuk menghadapi Beng-kauw adalah karena dia sendiri tidak senang kepada Beng-kauw yang telah berlaku curang dan yang menjadi penyebab dari kematian ayah bundanya.
"Tan-taihiap"". Ah, sungguh girang hatiku bertemu dengan taihiap di sini! Sudah lamakah taihiap berada di kota raja? Selamat datang dan silakan duduk!"
Perwira Ong yang gagah perkasa itu meloncat dari tempat duduknya ketika dia menerima kunjungan Sian Lun, wajahnya berseri dan matanya yang lebar dan tajam itu bersinar sinar.
Mereka saling memberi hormat dan dengan hati gembira pula bertemu dengan perwira muda perkasa yang memang dicarinya ini, Sian Lun lalu duduk bersama tuan rumah dalam ruangan tamu.
Seperti kita ketahui, Sian Lun telah berjumpa dengan keluarga Yap Yu Tek, bahkan telah membantu keluarga itu ketika diserang oleh tokoh-tokoh Beng-kauw, Tibet dan Khitan.
Melihat betapa negara terancam oleh gerombolan-gerombolan asing yang bersekutu dengan pemberontak-pemberontak, Sian Lun tergerak hatinya, terutama memang tadinya sudah digerakkan oleh percakapannya dengan Ong-ciangkun, maka diapun lalu berpamit dari keluarga yang menariknya sebagai calon mantu itu untuk pergi ke kota raja dan mencari Ong-ciangkun.
Tidak sukar baginya menemukan tempat tinggal Perwira Ong Gi yang biarpun masih muda sudah amat terkenal itu, dan seperti yang dibayangkannya kedatangannya itu disambut secara ramah dan gembira oleh tuan rumah.
"Aku sengaja datang ke kota raja untuk mencarimu, Ong-ciangkun,"
Kata Sian Lun, terus terang.
"Ah, bagus! Dan engkau tidak mengalami kesukaran mendapatkan tumahku ini, bukan?"
"Tidak, mudah sekali. Kiranya semua orang mengenal belaka kepada Perwira Ong Gi yang gagah perkasa."
Sian Lun memandang ke sekitar ruangan tamu itu. Sebuah rumah yang tidak berapa besar, sederhana namun cukup menyenangkan.
"Hemm, enak tempat tinggalmu ini Ong-ciangkun. Engkau tinggal bersama keluargamu?"
Sambil tersenyum lebar perwira itu menggleng kepalanya.
"Orang tuaku adalah keluarga petani, sejak nenek moyang menjadi petani, mana mungkin mau meninggalkan sawah ladang untuk tinggal di kota yang berisik dan berdebu? Hanya aku seorang yang menyeleweng dari pekerjaan nenek moyang. Ha ha!"
Ong-ciangkun tertawa.
Sian Lun tersenyum juga.
Orang ini selain gagah perkasa, juga amat jujur dan sama sekali tidak memandang rendah kepada kaum petani yang biasanya dianggap sebagai golongan masyarakat yang rendah dan bodoh.
Dia bahkan seperti bangga mengaku datang dari keluarga petani.
Benar-benar perwira ini hebat, pikirnya kagum.
"Maksudku bukan keluarga orang tuamu yang terhormat, ciangkun, melainkan keluarga mu sendiri."
"Aku? Berkeluarga? Ha ha, aku belum berkeluarga, seperti""
Engkau juga agaknya. Orang yang pekerjaannya perang dan selalu diancam maut seperti aku ini, apa baiknya berkeluarga? Jangan-jangan hanya akan meninggalkan janda muda dan anak-anak kecil tanpa ayah!"
Kembali perwira itu tertawa, kemudian sambungnya dengan suara yang lebih sungguh-sungguh.
"Engkau datang tentu membawa keperluan penting, taihiap. Cukup kiranya sendau-gurau ini. Apa keperluanmu? Katakan saja dan jangan khawatir, di sini tidak ada orang lain kecuali beberapa orang pelayan yang berada di belakang. Aku tinggal seorang diri saja di rumah ini."
"Memang benar, ciangkun. Kedatanganku ini adalah karena aku ingat akan anjuranmu dahulu, dan aku ingin menyumbangkan tenaga untuk membantu pemerintah menghalau gerombolan-gerombolan yang mengancam keamanan rakyat dan negara"
Sian Lun lalu menceritakan pengalamannya ketika dia melawan orang orang Beng-kauw, Khitan dan Tibet.
"Ketika pasukanmu menghadapi orang-orang Pek-lian-kauw dan Uighur, aku masih belum yakin benar akan bahaya itu. Akan tetapi selelah aku melihat sendiri gerombolan ke dua, yaitu Beng-kauw, Khitan dan Tibet, yang hendak menyerang keluarga Yap-taijin, baru aku merasa yakin dan aku mengambil keputusan untuk membantu pemerintah menghadapi mereka sampai bersih."
"Bagus! Aku girang sekali, taihiap! Kalau pemerintah dapat memperoleh bantuan orang-orang muda seperti engkau, aku yakin dalam waktu singkat saja negara kita akau dapat kita bersihkan dari gangguan gerombolan-gerombolan itu. Mari, mari kau ikut bersamaku menghadap Thio taijin."
"Siapakah Thio-taijin itu, ciangkun?"
"Thio taijin? Ah, semua orang di kota raja ini semua kota besar mengenal siapa beliau! Thio-taijin adalah penghimpun orang-orang gagah dan beliau adalah seorang kepercayaan Kaisar. Marilah, engkau akan senang bertemu dengan Thio taijin yang bijaksana,"
Kata Ong-cingkun dan hati Sian Lun girang sekali bahwa akan dipertemukan dengan orang yang kedudukannya demikian tinggi, kepercayaan Kaisar.
Siapakah Thio-taijin yang dimaksudkan oleh Ong Gi itu?
Dia ini bukan lain adalah Thio-thaikam!
Pembesar kebiri yang gendut bermuka merah itu ternyata kini masih berkuasa di istana!
Seperti telah diceritakan di bagian depan dari cerita ini, belasan atau duapuluh tahun yang lalu.
Thio thaikam sudah menjadi pembesar kebiri yang amat berpengaruh di istana bahkan menjadi orang kepercayaan nomor satu dari Kaisar tua, yaitu Kaisar Hian Tiong atau Kaisar Beng ong (712"755).
Ketika terjadi penggantian Kaisar setelah kematian Kaisar tua, diganti oleh puteranya, yaitu Kaisar Su Tiong, dengan amat pandainya Thio-thaikam dapat menempatkan dirinya sedemikian rupa sehingga Kaisar muda inipun terjatuh ke dalam pengaruhnya, sungguhpun kini keadaan agak berlainan dan Thio-thaikam itu seakan-akan dapat menyulap dirinya menjadi seorang pembesar yang amat keras dan baik!
Dengan cerdiknya dia dapat menahan diri dan dapat menyembunyikan keserakahan dan korupsinya, kini dia menjadi seorang pembesar yang berjiwa patriot!
Apa lagi Kaisar baru, bahkan sasterawan Han Gi yang bijaksana dan yang kini diangkat menjadi Penasehat Angkatan Perang itupun dapat dikelabui dan menganggap bahwa Thio-thaikam adalah seorang pembesar setia yang amat baik!
Thio-thaikam dengan sikap keras memusuhi dua gerombolan yang anti pemerintah, yaitu gerombolan gabungan Beng-kauw-Tibet-Khitan dan gabungan Im-yang-kauw, Pek-lian-kauw dan Uighur.
Dengan pandainya, Thio-thaikam dapat menarik hati orang-orang gagah dan dengan dalih menindas kaum pemberontak dan gerombolan-gerombolan asing itu, dia malah dapat menarik fihak Siauw-lim-pai, Thai-san-pai dan lain-lain untuk memihak pemerintah.
Hal ini sebetulnya ada sebabnya.
Seperti telah kita ketahui, belasan tahun yang lalu Thio-thaikam ini diam-diam bersekutu dengan orang-orang Turki dan dia sendiri mempunyai ambisi untuk merampas tahta kerajaan.
Akan tetapi usahanya itu gagal di tengah jalan dan untuk membersihkan namanya, dia terpaksa kini harus memakai jubah patriot, apa lagi karena pemberontakan Beng-kauw, Im-yang-kauw dan Pek-lian kauw itu sebagian besar disebabkan karena tidak puas dengan adanya para pembesar korup dan jahat, terutama sekali karena perkumpulan-perkumpulan itu amat membenci dia.
Inilah sebabnya maka dengan gigihnya Thio-thaikam berusaha untuk menghancurkan mereka dengan bersembunyi di balik pasukan-pasukan pemerintah dan dengan dalih membela negara membasmi kaum pemberontak!
Perang, permusuhan, pertentangan terjadi di mana-mana di permukaan bumi ini.
Umum hanya menganggap bahwa perang itu terjadi; antar bangsa, antar ideologi, antar ras, antar agama, tanpa ada yang.
mau membuka mata melihat kenyataan apakah sebenarnya yang menjadi SEBAB UTAMA dari semua pertentangan dan perang itu!
Seperti jalannya seekor ular, dari leher ke bawah sampai ke ekornya, hanya mengikuti saja dengan membuta ke mana sang kepala membawanya!
Demikian pula dengan anggauta-anggauta partai, anggauta-anggauta kelompok ras, anggauta-anggauta perkumpulan agama, dan keluarga rakyat jelata.
Maka jelaslah bahwa yang menentukan adalah sang kepala!
Kalau sang kepala itu merupakan seorang manusia yang masih besar nafsu-nafsunya, masih mementingkan diri sendiri belaka, mementingkan ambisi pribadinya, maka jelaslah bahwa segala sepak terjangnya akan didasarkan kepada pengejaran kesenangan untuk pribadinya, dan untuk ini dia tidak segan-segan menempuh segala cara, kalau perlu mengenakan jubah perjuangan rakyat dan negara untuk menutupi ambisi pribadinya yang mengejar ke senangan dalam bentuk apapun juga.
Kesenangan pribadi ini dapat berupa pengejaran harta benda, pengejaran kedudukan, pengejaran kemuliaan, pengejaran nama dan sebagainva lagi.
Beruntunglah rakyat yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang tidak lagi menjadi hamba dari nafsu nafsu pribadinya, karena pemimpin seperti itu tentu benar benar memperhatikan kesejahteraan rakyatnya dan segala tindakannya ditujukan demi untuk mendatangkan kebahagiaan kepada rakyatnya.
Akan tetapi, pemimpin yang mengutamakan kepentingan nafsu pribadi akan menyeret rakyat ke dalam permusuhan dan perang, menyeret rakyat ke dalam kematian, bunuh-membunuh, dan kesengsaraan!
Sudah menjadi kenyataan yang tak dapat dibantah lagi bahwa perang, dengan dalih apapun juga, hanya mendatangkan kesengsaraan bagi manusia, di manapun juga di dunia ini!
Dalam perang, baik bagi yang kalah maupun bagi yang menang, pasti muncul kebencian, dendam, bunuh-membunuh, yang akan berekor panjang sekali, dan yang kesemuanya akan menjerumuskan manusia ke dalam kesengsaraan belaka.
Mungkin ada segelintir manusia yang menikmati kesenangan akibat menang perang, yaitu para pemimpin yang berambisi untuk kepentingan pribadi dan yang memperoleh kemenangan dalam perang, dan di samping beberapa gelintir manusia ini, juga""..
iblis sendiri!
Thio-thaikam adalah seorang manusia hamba dari nafsu dan ambisinya.
Demi pengejaran kesenangan bagi dirinya sendiri, kalau perlu dia mampu untuk beralih rupa, dan semenjak sasterawan Han Gi menjadi pembesar tinggi, dia merobah taktiknya dan kini Thio-thaikam berobah menjadi seorang pembesar "patriot"
Yang terkenal dan disegani karena pengaruh dan kekuasaannya yang besar di istana.
Sian Lun merasa seperti seorang asing, dan seperti seorang bodoh ketika dia memasuki gedung besar di kompleks istana itu.
Segala-galanya serba besar, serba megah dan indah sehingga beberapa kali dia menjadi bengong dan takjub.
Patung-patung dan ukiran-ukiran besar dan indah, warna warni yang belum pernah dilihat sebelumnya, lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan bergaya indah tergantung di ruangan-ruangan yang amat luas, semua itu membuat dia melongo keheranan.
Juga pengawal-pengawal yang berpakaian megah dan gemerlapan menjaga di tempat-tempat yang dilaluinya dengan sikap tegak seperti arca batu membuatnya kagum.
Namun dia merasa senang melihat betapa setiap orang pengawal selalu bersikap hormat kalau bertemu dengan Ong-ciangkun dan akhirnya Ong ciangkun disambut oleh kepala pengawal.
Setelah Ong ciangkun menyatakan bahwa dia ingin menghadap Thio-thaikam membawa seorang tamu yang merupakan seorang pemuda lihai yang ingin menyumbangkan tenaganya kepada kerajaan, pengawal itu lalu mempersilakan mereka menanti di dalam ruangan tamu yang luas sekali.
Ong-ciangkun mengajak Sian Lun duduk dalam ruangan itu dan Sian Lun melihat bahwa ruangan itu luasnya sampai tiga-puluh meter persegi, hanya terdapat beberapa tempat duduk di sudut dan dinding ruangan itu terhias oleh lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan yang bersifat gagah.
Di sudut-sudut ruangan itu berdiri seorang pengawal dengan tombak di tangan.
Tak lama kemudian, pintu di sebelah dalam terbuka dan muncul empat orang pengawal mendahului datangnya seorang laki-laki berusia enampuluhan tahun, tubuhnya gendut dan mukanya merah dan dihias senyum ramah, pakaiannya mewah dan kepalanya memakai topi ke-besaran yang terhias emas.
Di belakang laki-laki gendut ini berjalan lima orang pengawal pribadinya yang berpakaian ringkas dan kelihatannya sigap dan kuat.
Ketika laki-laki gendut itu yang bukan lain adalah Thio-thaikam melihat Ong-cian-kun, wajahnya berseri dan senyumnya makin melebar.
Dia mengangkat tangan ke atas sebagai salam dan berseru "Aih, kiranya Ong-ciangkun yang datang!"
Ong-ciangkun cepat bangkit dan memberi hormat, diikuti oleh Sian Lun.
"Taijin, hamba datang membawa berita yang menggembirakan paduka,"
Kata panglima muda itu dengan penuh hormat.
Memang, Thio-thaikam telah memiliki kedudukan yang demikian tingginya, tidak kalah oleh kedudukan para menteri negara sehingga panglima muda itu amat menghormatinya.
"Ha-ha, kedatanganmu saja sudah menggembirakan, apa lagi kalau ditambah dengan berita yang (Lanjut ke
Jilid 34) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 34 menggembirakan. Duduklah, ciangkun, dan engkau pula, orang muda,"
Katanya mempersilakan.
Dua orang muda itu duduk kembali menghadapi pembesar itu yang duduk di alas kursi kebesarannya, terhalang meja.
lima orang pengawal pribadinya berdiri dengan sikap gagah di belakangnya, siap menjaga keselamatan pembesar itu dengan taruhan nyawa mereka.
Sedangkan para pengawal lain, tanpa diperintah telah mengerti akan tugas mereka, semua bubar dan meninggalkan ruangan itu untuk menjaga di luar ruangan itu agar mereka tidak dapat mendengar percakapan si pembesar gendut.
Hanya lima orang pengawal pribadi itu saja yang selalu diperbolehkan mendengarkan semua percakapan Thio-thaikam, karena mereka itu adalah pengawal-pengawal pribadi yang sudah amat dipercaya dan amat setia terhadap Thio-thaikam.
"Taijin, hamba datang untuk menghadapkan kepada paduka, seorang pendekar muda yang berkepandaian tinggi dan inilah Tan Sian Lun taihiap, yang menyatakan ingin membantu pemerintah untuk menumpas para pemberontak. Hamba sendiri ketika menggiring tawanan orang-orang Pek-lian kauw tentu akan gagal bahkan mungkin tewas kalau tidak ada Tan-taihiap yang telah menolong hamba."
Mendengar ucapan itu, Thio-thaikam menendang kepada Sian Lun dengan sinar mata penuh selidik dan jelas dia tertarik bukan main Memang pembesar ini suka sekali mengumpulkan orang-orang pandai untuk menjadi pembantu pembantunya, dan tentu saja dengan dalih mengamankan negara namun sesungguhnya diam-diam dia ingin menarik para orang lihai itu agar setia kepadanya, bukan kepada negara!
"Ah, sungguh menyenangkan sekali!
Siapakah orang tua Tan-taihiap dan dari perguruan atau golongan manakah taihiap?"
Tanya pembesar gendut itu dengan senyum ramah dan dia menatap wajah pemuda yang tampan gagah itu dengan kagum.
Semenjak dia dikebiri dan tidak lagi mampu melakukan hubungan dengan wanita, sifat orang she Thio ini berubah dan dia mulai merasa suka kepada pria-pria muda yang tampan.
Makin tua, kesukaan ini makin mendalam dan akhir-akhir ini dia dikenal sebagai seorang pembesar yang mempunyai banyak pelayan pria-pria muda tampan yang menjadi "peliharaan"
Dan kekasihnya!
Tentu saja dalan hal memuaskan kesenangan istimewa ini, Thio-thaikam berlaku hati-hati sekali dan dia tidak mau sernbarangan memperlihatkan kepada orang lain, juga tidak berani mencoba-coba menggoda para pembantunya yang muda dan umpan, sungguhpun di dalam hatinya dia merasa suka sekali.
Maka, orang-orang muda gagah dan tampan seperti Ong-ciangkun belum pernah digoda olehnya sehingga, Ong-ciangkun sendiri menolak desus-desus yang pernah didengarnya tentang kesukaan aneh, dari pembesar gendut ini.
Mendengar pertanyaan itu, Sian Lun mengerutkan alisnya.
Dia pernah mendengar dari pamannya, Gan beng Han berdua, bahwa ayah dan ibunya telah tewas ketika ayahnya yang.
menjadi pecdekar itu sedang berjuang membasmi pembesar yang murtad, dan ibunya terkena akibatnya, terbunuh pula bersama keluarga ibunya, yaitu keluarga Pangeran Song yang dicap, sebagai pemberontak.
Tentu saja dia tidak ingin menceritakan tentang orang tuanya itu, maka dengau hormat dia menjawab.
"Semenjak bayi, hamba telah ditinggal mati ayah ibu hamba sehingga hamba sendiri tidak pernah mengenal ayah bunda, dan hambapun tidak menjadi anggauta dari golongan atau perguruan manapun juga."
"Hemm, sungguh aneh kalau taihiap memiliki kepandaian yang begitu tinggi akan tetapi tidak termasuk golongan manapun. Siapakah yuru taihiap?"
"Guru hamba hanyalah seorang pertapa yang tiada nama, taijin, dan beliau tidak termasuk golongan manapun, dan sekarang suhu hamba telah meninggal dunia maka harap taijin sudi memaafkan karena hamba tidak berani menyebut-nyebut namanya."
Biarpun pemuda itu seperti hendak menyembunyikan keadaan dirinya, namun karena sikapnya merendah dan hormat, Thio-thaikam tidak merasa kecewa atau marah.
Selama beberapa lama ini, dia sudah banyak berhubungan dengan orang-orang kang-ouw dan sudah banyak melihat keanehan-keanehan sikap para tokoh kang ouw itu, maka sikap pemuda ini yang hendak menyembunyikan keadaan dirinya dianggap biasa saja.
"Kebetulan sekali bahwa istana membutuhlah beberapa orang pengawal bagian dalam yang baru, Karena ada beberapa orang pengawal tua yang dipensiun. Akan tetapi, untuk menjadi pengawal istana, apa lagi pengawal bagian dalam, haruslah memenuhi dua syarat, yaitu pertama, harus memiliki ilmu kepandaian yang boleh diandalkan, dan ke dua, harus memiliki kesetiaan yang telah teruji dan terbukti pula. Maka, bagaimana kalau sekarang, di depan Ong-ciangkun, kami hendak menguji kepandaianmu, Tan taihiap?"
"Kalau paduka sudah sudi untuk menguji hamba, itu berarti bahwa paduka sudah menaruh kepercayaan kepada hamba. Hamba tahu bahwa tidak mudah masuk menjadi pengawal, maka kalau paduka hendak menguji, silakan,! hamba sudah siap,"
Jawab Sian Lun dengan sikap tenang.
"Bagus!"
Ong-ciangkun berseru girang.
"Akan tetapi harap paduka jangan menyuruh hamba yang mengujinya. Kepandaian hamba tidak ada seperempat bagian dari kepandaian Tan taihiap, tajjin!"
Makin girang hati Thio thaikam mendengar pengakuan jujur dari Ong-ciangkun ini.
Kepandaian panglima muda itu saja sudah cukup terkenal, akan tetapi panglima muda itu begitu merendah, maka jelaslah bahwa ilmu kepandaian pemuja she Tan ini tentu hebat.
Akan tetapi dia belum yakin benar, maka dia lalui memberi isyarat dengan mata dan tangan kepada seorang di antara pengawal pribadinya.
Pengawal kepala ini adalah seorang laki laki yang bertubuh jangkung kurus, bermata sipit sekali dan hidungnya pesek.
Dia merupakan orang terlihai di antara lima orang pengawalnya, dan bahkan lebib lihai dari pengawal-pengawal istana pada umumnya.
Orang ini bernama Liem Kiat dan berjuluk Ang see-ciang Tiat-liong ( Naga Besi Bertangan Pasir Merah).
Usianya kurang lebih empatpuluh tahun dan semenjak masih muda menjadi pengawal pribadi dari Thio-thaikam maka dia amat dipercaya dan kini menjadi kepala pengawai pribadi yang amat dipercaya.
"Liem Kiat, kau ujilah kepandaian Tan-taihiap ini,"
Kata si pembesar dengan senyum lebar Banyak sudah orang-orang yang mengaku pandai setelah dihadapkan kepada pengawalnya ini, dihajar babak belur sehingga pergi lagi dengan malu dan dia tidak ingin kecelik dan memperoleh pembantu-pembantu macam begitu, Liem Kiat melangkah maju memberi hormat kepada majikannya, kemudian berjalan menjauh ke tengah ruangan yang luas itu, lalu menghadap ke arah Sian Lun simbil membungkuk dan berkata.
"Saudara Tan, majulah dan mari kita main-main sebentar."
Dari sebutannya itu saja, kepala pengawal iui masih belum mau mengakui bahwa pemuda sederhana ini pantas disebut taihiap, maka dia menyebutnya saudara.
Sungguhpun di depan majikannya dia tidak berani bersikap congkak namun jelas dari pandang matanya, yang sempit dan sipit itu dia amat memandang rendah kepada Sian Lun.
Pemuda ini menoleh kepada Ong-ciangkun yang mengangguk-angguk seperti memberi dorongan kepadanya dan agar tidak ragu-ragu untuk melayani tantangan dan ujian pembesar itu.
Sian Lun menoleh kepada pembesar gendut itu, menarik napas panjang dan berkata.
"Baiklah, taijin, maafkan hamba!"
Lalu dia menghadap pengawal jangkung itu dan berkata.
"Kau mulailah!"
Pengawal itu tentu saja ingin sekali memperlihatkan kepandaiannya kepada majikannya yang tentu akan merasa bangga kalau dia mampu merobohkan pemuda yang kelihatan sederhana ini secepat mungkin.
Oleh karena itu.
diapun lalu memasang kuda-kuda, kemudian membentak nyaring untuk memberi tanda kepada lawan bahwa dia mulai menyerang dan langsung saja dia sudah menerjang dengan jurus yang paling diandalkannya, dan pukulan bertubi dengan kedua tangannya itu dilakukan dengan pengerahan tenaga sekuatnya.
Julukan Liem Kiat si jangkung ini adalah Ang-see ciang Tiat-liong.
Mungkin saja julukan Tiat-liong (Naga Besi) itu hanya kosong belaka, akan tetapi julukan Ang-see-ciang (Tangan Pasir Merah) bukanlah kosong.
Sian Lun melihat betapa kedua tangan lawannya itu.
sampai ke pergelangaa tangan, kelihatan kemerahan dan tahulah dia bahwa kedua tangan lawan itu amat berbahaya, telah digembleng dengan semacam pukulan ampuh yang mungkin beracun.
Oleh karena itu, diapun tidak mau memandang rendah dan begitu menangkis, dia sudah mengeluarkan sebagian tenaga sinkangnya.
"Plak"". desss!!"
Bukan main terkejut dan menyesalnya hati Sian Lun, Kiranya dia terlalu banyak mengeluarkan tenaga sehingga begitu kedua lengan bertemu, tubuh lawannya terlempar jauh ke belakang sampai membentur dinding!
Dia yang belum banyak pengalaman ini belum dapat menilai sampai di mana ketinggian ilmunya sendiri sehingga dia tidak menyangka bahwa Ilmu Ang-see-ciang yang boleh jadi amat ganas bagi lawan kebanyakan itu baginya tidak ada artinya sama sekali!
"Uhhhhh"".!"
Si jangkung mengeluh dan bangkit dengan muka pucat, matanya yang sipit agak dilebarkan karena dia benar-benar terkejut dan tidak mengerti bagaimana dalam segebrakan saja dia sudah terlempar seperti itu.
Dia tadi hanya merasa betapa tubuhnya seperti dilanda angin badai yang tak dapat ditahannya!
"Maafkan"..
Maafkan"""
Kata Sian Lun sambil menjura ke arah si jangkung itu yang masih merasa agak pening kepalanya.
"Bagaimana, Liem Kiat. apakah engkau tidak akan melawannya lagi?"
Thio-taijin bertanya dengan hati tegang karena pembesar inipun terkejut bukan main melihat betapa pengawal pribadinya yang amat diandalkannya itu ternyata kalah dalam segebrakan saja!
Sungguh hal ini sukar dapat dipercaya!
Pengawal itu cepat melangkah maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan majikannya dengan wajah masih pucat.
"Mohon paduka sudi memberi ampun kepada hamba. Tan-taihiap adalah seorang sakti, hamba bukan lawannya sama sekali dan hamba yakin bahwa tak ada seorangpun pengawal di istana ini yang akan mampu melawannya."
Wajah Thio-taijin makin terheran dan sepasang matanya bersinar-sinar.
Banyak sudah dia berkenalan dan menerima bantuan orang pandai, akan tetapi belum pernah dia bertemu dengan seorang yang masih begitu muda namun telah memiliki kepandaian sedemikian hebatnya.
"Kalau begitu kau lekas panggil Ciong Bu-su ke sini!"
Perintahnya kepada pengawalnya yang kalah itu.
Liem Kiat memberi hormat kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.
Thio-taijin lalu menoleh kepada Sian Lun yang masih berdiri agak menanti di tengah ruangan.
"Tan-taihiap, harap kau duduk dulu. Kami masih ingin mengujimu untuk menghadapi seorang komandan pengawai dari istana yang akan menentukan apakah engkau akan dapat diterima sebagai pengawal dalam di istana atau tidak."
Sian Lun menjura lalu dengan tenang dia kembali duduk di atas kursinya yang tadi.
Ong-ciangkun memandangnya dengan sinar mata penuh kagum, akan tetapi diam-diam Sian Lun merasa menyesal mengapa tadi dia terlalu mengerahkan tenaga sehingga dalam segebrakan saja dia telah mengalahkan pengawal Thio-taijin.
Bukan niatnya untuk terlalu menonjolkan atau memamerkan kepandaiannya.
Maka dia mengambil keputusan untuk lebih berhati-hati dengan kepandaiannnya kalau menghadapi lawan dalam ujian itu lagi nanti.
Tak lama kemudian datanglah Liem Kiat bersama seorang laki laki berusia limapuluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan bermuka agak kehitaman.
Dari potongan badan dan sigapnya saja sudah nampak jelas bahwa orang ini memiliki tenaga yang besar dan tubuhnya kukuh kuat seperti pagoda besi!
Pakaiannya indah gemerlapan karena dia berpakaian komandan pasukan pengawal Gi lim kun, yaitu pasukan pengawal Kaisar, merupakan pasukan pengawal pribadi yang bertugas di sebelah dalam istana, dan yang biasanya mengawal Kaisar ke manapun Kaisar pergi.
Sebagai komandan pasukan Gi lim-kun, tentu saja orang ini sudah mempunyai kedudukan yang cukup tinggi akan tetapi begitu berhadapan dengan Thio-taijin yang memanggilnya begitu saja, dia cepat memberi hormat dengan sikap merendah.
Hal ini saja sudah membuktikan bahwa Thio-taijin memang memiliki pengaruh dan kekuasaan besar di dalam istana sehingga komandan yang menjadi orang kepercayaan Kaisar, bahkan yang bertugas melindungi keselamatan Kaisar ini demikian menghormatnya.
Kepada Ong-ciangkun dia hanya melirik saja dan mengangguk sedikit, sedangkan kepada Sian Lun dia tidak memperdulikannya sama sekali.
"Taijin memanggil saya, ada keperluan, apakah?"
Tanyanya dengan singkat dan agaknya memang komandan pasukan pengawal ini tidak pandai bicara dan tidak biasa banyak bicara, karena memang biasanya dia lebih banyak bertindak dari pada bicara.
"Ciong Bu-su, aku menemukan seorang calon pengawal sri baginda yang baik sekali. Tan taihiap inilah orangnya, harap Ciong Bu-su suka mengujinya lebih dulu agar kita sama mengetahui bahwa dia memang benar benar memenuhi syarat"
Ternyata terhadap komandan pengawal Kaisar ini Thio-taijin juga mengambil sikap cukup hormat.
Kini Ciong Bu-su, komandan pengawal tinggi besar itu, mulai menaruh perhatian kepada Sian Lun.
Dia menoleh dan memandang Sian Lun dengan sinar mata tajam seperti menaksir dan menilai, dari atas ke bawah dan agaknya timbul keraguan dalam pandang matanya.
Thio-taijin melihat hal ini dan dia tertawa.
"Ciong Bu-su harap jangan pandang rendah kepada Tan-taihiap. Aku berani tangguug bahwa di antara seluruh anggauta pasukan Gi-1im kun, tidak ada seorangpun yang akan mampu menandinginya."
Mendengar ini.
sinar mata yang memandang pemuda itu mengalami perobahan, kini bersinar-sinar penuh perhatian dan kedua alisnya berkerut.
Tanpa banyak cakap lagi Ciong Bu-su bangkit berdiri, lalu melangkah ketengah ruangan sambil berkata kepada Sian Lun.
"Orang muda, mari kita saling mengukur kepandaian."
Orang ini wataknya terbuka dan terus terang, pikir Sian Lun.
Mengajaknya bertanding tanpa banyak basa-basi lagi!
Maka diapun bangkit berdiri, menjura ke arah Thio taijin dan pembesar ini sambil tersenyum lebar menggerakkan tangannya dengan girang karena menganggap bahwa pemuda tampan itu sungguh gagah perkasa dan tahu aturan pula!
"Ciangkun.
maafkau kelancanganku dan silakan!"
Sian Lun berkata setelah dia berhadapan dengan orang tinggi besar bermuka hitam itu.
Sejenak mereka berdiri berhadapan tanpa bergerak, hanya dua pasang mata itu saling pandang seperti hendak mengukur keadaan lawan dengan pandang mata.
Sian Lun berdiri seenaknya saja sedangkan Ciong Bu-su mulai memasang kuda kuda.
Dari pasangan kuda kuda ini saja sudah dapat nampak oleh Sian Lun bahwa orang ini memiliki tenaga yang amat kuat, jauh lebih kuat dari pada pengawal jangkung tadi.
Maka diapun bersikap waspada, sungguhpun kini dia lebih hati hati dan tida ingin mengulangi kesalahan seperti tadi sehingga dia mengalahkan lawan hanya dalam segebrakan saja.
Tadinya Ciong Bu-su menanti agar pemuda itu memasang kuda kuda karena dari pasangan kuda kuda, itu dia akan mencoba untuk mengenal aliran persilatan yang dimiliki oleh pemuda itu.
Akan tetapi pemuda itu berdiri biasa saja, seenaknya dan sama sekali tidak memasang kuda-kuda yang kuat.
Hal ini hanya dapat diartikan bahwa pemuda itu hanya seorang ahli silat yang masih mentah, atau sebaliknyi seorang ahli silat yang telah memiliki ilmu amat tinggi sehingga tidak dapat dikenal kuda-kudanya karena setiap gerakan, setiap kedudukan badan sudah merupakan kuda-kuda dan setiap saat seluruh urat syaraf dalam badan seorang ahli yang sudah mencapai tingkat tinggi selalu siap sedia!
"Awas serangan!"
Tiba-tiba Ciong Bu-su berseru dengan suara nyaring sekali dan tubuhnya sudah menerjang ke depan.
Gerakannya kuat dan cepat, jauh bedanya dengan gerakan Liem Kiat tadi, yang hanya mengandalkan tenaga kasar dan terutama hanya mengandalkan Ang-see-ciang.
Serangan Ciong Bu-su ini mendatangkan hawa pukulan yang amat kuatnya, berhawa panas dan sebelum pukulannya tiba, lebih dulu ada hawa panas menyambar ke arah Sian Lun.
Dengan mudah Sian Lun mengelak dan dari sambaran angin itu dia sudah dapat mengukur sampai di mana kekuatan lawan.
Setelah dia dapat mengira-ngira, barulah pada serangan selanjutnya dia berani menangkis dengan kekuatan yang seimbang, tidak seperti ketika menangkis serangan pengawal jangkung tadi sehingga dia terlalu kuat bagi lawan.
Serangan bertubi-tubi dari Ciong Bu-su dihadapinya dengan elakan dan kadang-kadang dia menangkis.
"Duk-duk-dukk!"
Ciong Bu-su mengeluarkan seruan kaget karena setiap kali tertangkis dia merasakan lengannya sakit sekali!
Tak disangkanya bahwa pemuda itu benar-benar memiliki kekuatan luar biasa!
Dia merasa penasaran dan menyerang terus dengan lebih dahsyat, namun percuma saja, semua serangannya dapat dielakkan atau ditangkis oleh Sian Lun!
Dan pemuda itu sama sekali tidak pernah membalas.
Setelah lewat limapuluh jurus, Ciong Bu-su merasa puas dan tahulah dia bahwa kalau pemuda itu membalas serangannya, belum tentu dia akan mampu bertahan sampai limapuluh jurus!
"Sudahlah, pemuda ini behar-benar memenuhi syarat, taijin!"
Katanya sambil menghentikan serangannya dan memandang dengan mata terbelalak karena heran dan kagum kepada Sian Lun.
"Eh, kenapa berhenti, Ciong Bu-su? Dia atau engkau belum ada yang kalah!"
Kata Thio.
taijin heran.
Komandan pengawal Gi-lim-kun itu menghampiri Thio-taijin dan mengulur kedua lengan, memperlihatkan lengannya sambil menggulung lengan baju Kiranya kedua lenganeya nampak matang biru!
"Inilah buktinya bahwa pemuda itu memang hebat, taijin.
Dia cukup pandai untuk menjadi anggauta pengawal Gi-lim-kun."
"Bagus, bagus! Kalau begitu, biarlah dia kau terima menjadi anak buahmu untuk menguji kesetiaannya. Aku titipkan dulu kepadamu dan kalau kelak dia berjasa, akan kuajukan kepada sri baginda sendiri."
Ciong Bu-su mengangguk.
Sudah sering dia menjadi penguji dan akhirnya orang-orang pandai yang telah memperlihatkan jasanya diambil oleh pembesar istana ini sebagai pembantu dan diberi kedudukan yang lebih tinggi.
"Akan tetapi, Thio-taijin yang bertanggung jawab""?"
Tanyanya.
"Tentu saja! Dia datang bersama Ong-ciangkun tentu dapat dipercayai"
Jawab pembesar gendut itu sambil menoleh ke arah Ong Gi.
"Hamba menanggungnya dengan taruhan nyawa hamba!"
Kata Ong-ciangkun yang menjadi gembira dan bangga bukan main melihat betapa Sian Lun telah berhasil lulus dari ujian, bahkan tadi dia menyaksikan betapa pemuda itu dapat menghadapi semua serangan hebat dari Ciong Bu-su selama limapuluh jurus tanpa membalas sedikitpun!
Hal ini saja sudah amat luar biasa.
Mendengar ucapan ini, diam .
diam Sian Lun merasa terharu karena ucapan itu hanya dapat keluar dari hati yang sudah menaruh kepercayaau sepenuhnya kepadanya.
Dia tidak akan memalukan Ong-ciangkun dan tidak akan mengecewakan kepercayaan itu, demikian dia berjanji seorang diri.
Dengan pandainya, Thio-thaikam lalu menjamu mereka bertiga dengan hidangan hidangan mewah dan dalam perjamuan ini dia memuji-muji Sian Lun.
Dan pada hari itu juga, diterimalah Sian Lun sebagai anggauta dari pasukan Gi-lim kun, bertugas menjaga di dalam istana.
Karena dia belum membuktikan kesetiaannya, maka tentu saja Ciong Bu-su belum berani menugaskan dia untuk mengawal pribadi Kaisar di tempat tempat terbuka, melainkan hanya menugaskannya untuk meronda di dalam istana dan menjaga keselamatan istana.
Seperti telah kita diketahui, Tiongkok baru saja dilanda perang dan pemberontakan yang besar, perang saudara yang amat mengerikan dan menjatuhkan korban banyak sekali di antara rakyat.
Dan biarpun pemberontakan itu telah berhasil dipadamkan, namun akibatnya masih terasa sampai belasan tahun lamanya.
Perang terbuka memang sudah tidak terjadi lagi, namun perang dalam batin masih terus berlangsung, berupa dendam golongan dan pribadi karena kerugian dan bencana yang mereka derita di waktu perang.
Yang menang mabuk kekuasaan, yang kalah memupuk dendam.
Keadaan seperti ini mana mungkin dapat diharapkan adanya ketenteraman?
Hanya kalau yang mabok kekuasaan di satu fihak dan yang memupuk dendam di lain fihak sudah tidak ada lagi maka barulah dapat diharapkan adanya ketenteraman dan perdamaian yang sungguh-sungguh.
Setelah pemberontakan yang dimulai oleh An Lu Shan dapat dipadamkan.
Kaisar Su Tiong dan para menterinya hidup dalam keadaan mulia dan gembira, lupa diri dan mabok kemenangan, sama sekali tidak menghiraukai adanya fihak fihak yang menaruh dendam karena di samping berenang dalam lautan kemenangan, mereka itu telah mempercayakan keselamatan diri mereka pada bala tentara yang dikerahkan untuk melakukan pembersihan di mana-mana.
Hal ini menimbulkan tindakan sewenang wenang dari mereka yang menang, dan untunglah bahwa Kaisar Su Tiong mengangkat Sasterawan Han Gi menjadi penasihat sehingga sasterawan yang bijaksana ini dapat mengendalikan dan mencegah terjadinya kesewenang-wenangan lebih lanjut lagi.
Namun tentu saja pembesar baru yang bijaksana ini tidak akan dapat mengawasi seluruh pelaksana yang tersebar di mana-mana itu, dan masih saja terjadi hal hal yang bertentangan dengar kehendaknya Kalau saja peraturan yang diadakan oleh Han Gi ditaati oleh semua petugas agaknya negara akan menjadi aman dan dendam dendam dan penasaran akan mereda dan akhirnya menghilang karena adanya peratuian-peraturan yang menguntungkan rakyat.
Akan tetapi, sebagian para pembesar tentu hanya lahirnya yang menyetujui peraturan-peraturan yang meringankan beban rakyat itu, akan tetapi pada batinnya mereka sama sekali tidak setuju karena peraturan peraturan itu biarpun meringankan beban rakyat, memperkecil hasil yang dapat mengalir ke dalam kantung mereka sendiri, maka diam-diam mereka mengadakan aturan aturan sendiri yang menyimpang dari pada peraturan yang ditentukan oleh Menteri Han Gi.
Maka, tetap saja rakyat menderita di bawah kelaliman pembesar seperti ini, dan perasaan dendam dan penasaran menjadi makin menebal.
Akibat dari perang saudara itu, kekuatan pemerintah menjadi lemah dan di sana sini muncul gerombolan-gerombolan penjahat yang menyaingi tindakan para penbesar lalim untuk mengganggu dan menggerogoti kehidupan rakyat jelata.
Akan tetapi banyak pula gerombolan yang mendendam kepada pemerintah, dan gerombolan-gerombolan seperti ini banyak memperoleh dukungan rakyat yang memang sudah penasaran terhadap pemetintah sehingga timbullah pengacauan pengacauan di man-mana oleh gerombolan-gerombolan itu.
Di antara gerombolan-gerombolan yang menentang pemerintah ini terdapat gerombolan yang menamakan dirinya Hek-san-pang (Perkumpulan Kipas Hitam).
Hek san pang bukanlah perkumpulan baru, bahkan sudah ada semenjak duapuluh tahun lebih yang lalu.
Seperti telah diceritakan di bagian depan dari cerita ini.
Hek-san-pang pernah dihancurkan oleh pendekar wanita Kui Eng atau nyonya Gan Beng Han ketika wanita itu masih muda.
dan perkumpulan itu dibubarkan, sarangnya dibakar oleh pendekar wanita ini.
Akan tetapi tiga saudara Can yang menjadi ketua Hek-san-pang masih hidup dan mereka bertiga lalu diam-diam membentuk lagi perkumpulan mereka, bahkan akhir-akhir ini Hek-san-pang terkenal karena pengacauan-pengacauan mereka terhadap pemerintah dimana-mana.
Mulah kemudian mereka berani mengadakan kekacauan di sekitar kota raja!
Tiga orang ketua Hek-san-pang yang bernama Can Kok, Can An, dan Can Sam kini tidak lagi memimpin perkumpulan itu.
Yang menggantikan mereka adalah Can Hun Sek, putera tunggal dari Can Sam yang telah meninggal dunia.
Can Kok juga sudah meninggai dunia dan yang masih hidup diantara ketiga saudara Can itu hanyalah Can An, kakek pendek kate bermuka putih yang kini usianya sudah enampuluh lima tahun dan dia sudah tidak mau berurusan lagi dengan dunia ramai, tinggal dipensiun oleh keponakannya yaitu Can Hun Sek.
Kalau tiga orang ketua Can itu dahulu terkenal dengan kepandaian mereka, terutama sekali permainan senjata kipas mereka, makn kini kepandaian Can Hun Sek malah lebih hebat dari pada kepandaian ayahnya atau kedua orang pamannyal Selain mewarisi ilmu-ilmu dari ketiga orang ketua Hek-san-pang itu, dia juga berguru kepada banyak guru silat yang pandai sehingga dia menguasai banyak macam ilmu silat, akan tetapi tentu saja yang menjadi keahliannya adalah permainan kipasnya dan ilmunya menotok yang menjadi ilmu andalan mendiang ayahnya.
Can Hun Sek berusia tigapuluh lima tahun, tubuhnya tinggi tegap, sikapnya lincah, pakaiannya mewah dan dia memang seorang pesolek yang berwajah tampan, bersikap genit dan cabul.
Sampai berusia tigapuluh lima tahun dia tidak mau menikah, sungguhpun dia mempunyai belasan orang selir dan masih suka mengganggu wanita-wanita di luar, baik yang sudah bersuami maupun yang belum, dengan mempergunakan ketampanannya atau kepandaiannya.
Selain sifat-sifat itu, Can Hua Sek ini paling membenci pemerintah, dan dia bahkan berusaha untuk dapat membunuh Kaisar yang amat didibencinya, karena dia menganggap bahwa Kaisarlah yang bersalah sehingga dia sampai menjadi anak penjahat dan hidup di lingkungan keluarga penjahat!
Memang kedengarannya aneh sekali!
Seperti kita ketahui dari bagian depan, mendiang Can Sam adalah adik angkat dari dua saudara kate Can Kok dan Can An, dan sebetulnya Can Sam bukanlah seorang yang berwatak jahat.
Dia hanya terseret saja oleh dua orang kakak angkatnya itu.
Biarpun dia tidak dapat membantah kepada dua orang kakak angkatnya dan terpaksa menjadi ketua ke tiga dari Hek-san pang, namun di dalam hatinya, Can Sam merasa selalu berduka dan penasaran bahwa dia sampai terjerumus menjadi ketua dari perkumpulan yang sering melakukan kejahatan itu.
Maka, ketika dia memperoleh seorang putera, diam diam dia mendidik puteranya agar menjadi seorang yang baik, menjejali puteranya itu dengan pelajaran pelajaran yang patriotic dan dia mengharapkan puteranya menjadi seorang pendekar yang budiman!
Akan tetapi, pelajaran yang langsung bagi seorang anak adalah kelakuan dari orang tuanya!
Tidak mungkin seorang ayah mengajar anaknya agar jangan memaki kalau si ayah sendiri mempunyai kebiasaan memaki!
Seorang penjudi tidak mungkin mengajar anaknya agar jangan suka berjudi.
Demikian pula dengan Can Sam, Dia mengajar anaknya agar menjauhi kejahatan akan tetapi dia sendiri bergelimang kejahatan dan kehidupan di sekeliling anaknya itu penuh dengan kejahatan!
Maka, biarpun pikiran anak itu dijejali kebaikan kalau setiap harinya dia berada di lingkungan yang jahat, akan sia sialah semua pelajaran itu.
Kebaikan kebaikan itu hanya akan menjadi semacam pengetahuan kosong belaka!
Apalagi setelah Can Sam meninggal dunia dalam suatu pertempuran menghadapi pasukan pemerintah, tidak ada lagi yang mengamati kelakuan Can Hun Sek dan anak ini tumbuh meniadi seorang yang tidak ada bedanya dengan semua anggauta lingkungannya!
Bahkan lebih hebat iagi karena memang dia memiliki bakat yang amat baik dalam ilmu silat sehingga dia dapat mewarisi kepandaian tiga orang ketua Hek-san pang, bahkan karena dia amat senang ilmu silat, dia memperdalam ilmunya itu dengan belajar dari guru guru silat lain.
Akhirnya, sebagai orang paling kuat di Hek-san pang, setelah Can An merasa lemah dan tua, Can An mengangkat keponakannya ini menjadi ketua Hek-san pang dan semenjak Can Hun Sek menjadi ketua, perkumpulan itu menjadi makin kuat akan tetapi juga makin jahat!
Karena jejalan pelajaran dari mendiang ayahnya itulah yang membuat Can Hun Sek kadang-kadang merasa menyesal sekali mengapa dia tidak bisa menjadi seorang pendekar yang baik!
Dan semua ini dia salahkan kepada Kaisar!
Apa lagi ditambah dengan dendam bahwa ayahnya tewas ketika bertempur melawan pasukan kerajaan, membuat kebenciannya terhadap Kaisar dan kerajaan makin mendalam.
Dia merencanakan untuk membunuh Kaisar?
Inilah tujuan satu satunya dalam hidupnya, dan dia akan merasa bahagia kalau sampai berbasil membunuh Kaisar.
Tumpuan harapan satu-satunya ini merupakan hasil dari kumpulan pendidikan ayahnya yang mengharapkan dia menjadi seorang pendekar budiman.
Can Hun Sek menganggap bahwa kalau sampai dia berhasil membunuh Kaisar yang dianggapnya lalim dan membikin sengsara dia dan rakyat, maka jasanya itu akan mengatasi jasa semua pendekar yang bagaimanapun juga!
Maka, sejak bertahun tahun yang lalu dia mengatur siasat untuk mendapatkan kesempatan mendekati dan membunuh Kaisar!
Untuk itu, dia berusaha menyelundupkan anak buahnya dan akhirnya, beberapa bulan yang lalu, dia berhasil menyelundupkan seorang gadis cmtik yang menjadi dayang dalam istana Kaisar!
Gadis itu jatuh dalam rayuannya, akan tetapi Hun Sek yang cerdik tidak mau mengganggunya dan berjanji mengawininya menjadi isteri kalau gadis itu dapat membantunya sampai berhasil.
Berkat rayuannya yang lihai, akhirnya gadis itu bersedia membantunya dan dengan perantaraan seorang pembesar di kota raja yang dapat pula dipengaruhinya, Su Hong, gadis itu diterima menjadi dayang dalam istana Kaisar!
Can Hun Sek girang bukan main, akan tetapi dia harus sabar menanti sampai berbulan-bulan karena gadis pembantunya itu harus pandai-pandai membawa diri agar dapat menjadi kepercayaan Kaisar.
Karena kalau hanya menjadi dayang yang bekerja di sebelah luar saja maka belum memenuhi syarat untuk membantu dengan rencananya yang besar, yaitu membunuh Kaisar!
Akhirnya, yang dinanti-nanti oleh Can Hun Sek itupun tibalah.
Gadisnya itu, Su Hong, berhasil diangkat menjadi pelayan di sebelah dalam sehingga dia bebas keluar masuk di dalam kamar-kamar Kaisar.
Biarpun dia tidak dipilih oleh Kaisar untuk melayaninya dan menjadi calon selir seperti diharapkan oleh semua pelayan atau dayang, namun oleh kepala dayang dia dipercaya untuk bekerja di sebelah lain!
Berita ini didengar oleh Hun Sek dengan girang dan bahkan pada suatu hari dia memperoleh kesempatan untuk datang berkunjung kepada Su Hong dengan mengaku sebaga kakak kandungnya!
Kunjungan ini dimanfaatkan untuk mempelajari keadaan istana dan diam diam dia mengatur rencana untuk dapat menyerbu istana dalam usahanya membunuh Kaisar, dan tentu saja dia mengatur siasatnya itu dengan Su Hong.
Sementara itu, Kaisar yang selalu hidup dalam kesenangan sama sekali tidak pernah menduga bahwa ada orang yang berani mengatur rencana untuk menyerbu istana, apa lagi membunuhnya!
Pada jaman itu, kehidupan seorang Kaisar sedemikian senang, mulia dan penuh kuasa sehingga akan amat sukarlah dipercaya oleh orang-orang yang hidup di jaman sekarang Kaisar dianggap sebagai "wakil Tuhan"
Atau "putera Tuhan"
Sehingga apapun yang dikehendakinya adalah benar dan harus terlaksana.
Oleh karena itu, dalam mengejar kesenangan dan kenikmatan hidupnya, seorang Kaisar tidak mengenal batas lagi.
Demikian pula dalam mengejar kesenangan menurutkan dorongan nafsu berahinya, seorang Kaisar boleh berbuat sesuka hatinya tanpa ada yang berani menentangnya, bahkan setiap perbuatannya dianggap benar belaka.
Seperti hampir kebanyakan para raja di jaman dahulu, Kaisar Su Tiong juga merupakan seorang pria yang lemah terhadap kekuasaan nafsu berahinya.
Hal ini merupakan kelemahan hampir setiap orang pria yang telah memperoleh kedudukan dan kekuasaan tinggi.
Di dalam istana itu penuh dengan selir-selir Kaisar yang muda-muda dan cantik-cantik, bahkan tiap bulan pasti ditambah jumlahnya karena Kaisar Su Tiong ingin mendapatkan seorang gadis baru yang masih perawan setiap bulannya, sedikitnya dua atau tiga orang.
Karena inilah, maka dalam waktu beberapa tahun saja haremnya penuh dengan selir selir yang muda.
Celakanya, Kaisar itu adalah seorang pria pembosan sehingga seorang selir baru yang sudah didekatinya selama beberapa minggu saja sudah menimbulkan bosan kepadanya dan untuk menjaga agar haremnya tidak terlalu penuh, banyak selir-selir lama yang dikeluarkan dari situ, dihadiahkan kepada para pengawalnya yang dianggap berjasa!
Dan begitu yang lama dikeluarkan, selalu ada yang baru dimasukkan.
Biarpun hidupnya siang malam dikelilingi wanita-wanita muda yang cantik cantik, yang akan melakukan apa saja yang dikehendakinya, namun seperti biasa pada setiap manusia, apabila nafsu ditaati, maka nafsu tidak menjadi reda.
Nafsu sifatnya mirip api.
makin diberi umpan, makin berkobar dan membesar, makin menuntut umpan yang lebih banyak lagi!
Demikian pula dengan nafsu berahi.
Makin dituruti, makin menuntut yang lebih sering dan lebih banyak.
Kaisar Su Tiong agaknya tidak pernah mengenal puas dan cukup.
Adanya selir yang demikian banyaknya masih belum membuat dia jinak, bahkan dia makin menjadi beringas setiap kali dia melihat seorang gadis baru yang belum pernah melayaninya untuk memuaskan nafsunya.
Dapat dibayangkan bagaimana keadaan pemerintahan di jaman dahulu kalau kaisar-kaisarnya seperti Kaisar Su Tiong itu hidupnya.
Siang malam yang memenuhi benaknya hanyalah kenikmatan-kenikmatan jasmani yang dikejar-kejarnya selalu.
Urusan pemerintahan tentu saja lalu terjatuh ke dalam genggaman tangan para pembesar yang berkuasa dan Kaisar hidup sebagai boneka belaka.
Yang lebih menghidupkan kehausan Kaisar akan nafsu berahinya ini, atau yang lebih mengobarkan api berahi dalam dirinya adalah sikap para wanita itu sendiri.
Pada jaman itu hampir setiap orang wanita mendambakan perhatian Kaisar!
Kalau sampai terpilih olehi Kaisar, apa lagi sampai dipanggil untuk melayani Kaisar di atas pembaringan, baru dipilih sebagai dayang saja sudah merupakan suatu kehormatan besar yang amat didambakan oleh setiap orang wanita!
Karena, dipilih ke dalam istana berarti kemuliaan, kehormatan, dan kemewahan!
Apa lagi yang dibutuhkan oleh seorang wanita kalau sudah memperoleh kebormatan dan kemewahan?
Demikianlah pendapat umum di jaman itu.
Maka, setiap orang wanita yang memperoleh kesempatan mendekati Kaisar, yaitu para dayang, para puteri pembesar, bahkan para isteri pembesar, selalu berusaha untuk menarik perhatian Kaisar, karena biarpun isteri seorang pembesar kalau sampai berhasil menarik perhatian Kaisar, apa lagi sampai berhasil dipanggil ke dalam kamarnya, akan berarti kemuliaan, bukan hanya untuk si wanita, bahkan untuk keluarganya, karena sang suami tentu akan memperoleh kenaikan pangkat!
Hal ini tentu saja membuat Kaisar makin gila dalam mengejar wanita cantik!
Akan tetapi, demikian banyaknya wanita muda dan cantik merubung diri Kaisar sehingga kalau tidak cantik benar-benar, tentu saja akan sukar untuk menarik perhatian Kaisar Su Tiong.
inilah sebabnya rrengapa Su Hong, gadis yang menjadi kaki tangan Can Hun Sek itu, selalu gagal untuk menarik perhatian Kaisar dan dia boleh merasa beruntung sudah diangkat menjadi pelayan dalam sehingga boleh memasuki kamar Kaisar setiap kali Kaisar membutuhkan sesuatu, bersama dengan para dayang lain.
Padahal Su Hong juga merupakan seorang gadis yang cukup cantik!
Pilihan kaisar malah terjatuh kepada Ci Siang Bwee, seorang dayang muda yang juga baru saja dijadikan pelayan dalam.
Dayang ini adalah seorang dayang yang dihaturkan oleh Thio thaikam sendiri untuk Kaisar, dalam usaha pembesar gendut itu untuk selalu mencari muka dan menyenangkan hati junjungannya.
Berbeda dengan setiap orang dayang yang berada di dalam istana itu.
dan mendatangkan keheranan kepada semua wanita di situ, begitu Siang Bwee mendengar bahwa dia terpilih oleh Kaisar, dia terus menangis dengan sedihnya.
Dia menyesali nasibnya yang sial.
karena dia menarik perhatian Kaisar tanpa disengajanya.
Ketika itu, bersama Su Hong dan beberapa orang dayang lainnya, dia melayani Kaisar dan para selir Kaisar yang bersenang-senang di dalam taman.
Pada waktu itu Kaisar yang merasa bingung untuk memilih siapa di antara para selirnya yang malam itu harus melayaninya karena semua selirnya cantik-cantik belaka dan semuanya bergairah untuk dipilih, memperoleh suatu permainan baru.
"Kalian duduk berkeliling membentuk sebuah lingkaran dan aku akan memilih seorang di antara kalian dengan mata tertutup."
Kata Kaisar yang pandai mencari permainan baru untuk memuaskan nafsu nafsunya itu.
Sambil tertawa cekikikan, dua puluh lebih selir muda yang pada waktu itu bergilir untuk melayani Kaisar, lalu memilih tempat duduk di dalam taman itu, ada yang duduk di atas rumput di atas bangku, atau di atas akar pohon, membentuk lingkaran dan Kaisar berada di tengah-tengah mereka.
Lalu Kaisar menyuruh seorang dayang untuk menutupi mata Kaisar dengan mengikatkan saputangan sutera.
Setelah itu, sambil tertawa-tawa Kaisar lalu bergerak perlahan-lahan, maju dengan kedua tangannya terpentang, meraba-raba ke depan, mencari-cari.
Sekali ini dia ingin memilih calon teman tidur semalam itu tidak mengandalkan dua matanya, melainkan mengandalkan jari-jari tangannya.
Dengan jantung berdebar tegang oleh permainan baru itu, para selir menanti-nanti dan mengharapkan akan terpilih oleh tangan Kaisar yang meraba-raba itu.
Kaisar meraba sana-sini, kalau dapat memegang orang selir, jari-jari tangannya meraba-raba, kemudian melepaskannya lagi dan mencari yang lain.
Karena kedua matanya tertutup, Kaisar tidak tahu bahwa dia telah keluar dari lingkaran para selirnya itu!
Seperti biasa, dalam selagala hal, tidak ada seorangpun berani menegur atau menyalahkannya dan kini Kaisar meraba-raba di luar lingkaran dan kebetulan sekali dia meraba tubuh Ci Siang Bwee, seorang di antara para dayang yang berlutut di luar lingkaran siap melayani segala perintah Kaisar dan para selir.
Di dalam rombongan para selir yang berpakaian indah-indah dengan wajah dirias sedemikian rupa, para dayang yang cantik ini kelihatan tidak bersinar.
Akan tetapi kini Kaisar meraba dengan mata tertutup dan ketika pundaknya kena terpegang, Siang Bwee sudah menggigil dan berlutut dengan mata terpejam.
Apa lagi bersuara, bahkan bernapas pun dia tidak berani!
Jantungnya berdebar kencang apa lagi ketika jari-jari tangan Kaisar itu dengan nakalnya meraba-raba sesukanya, membuat Siang Bwee menggeliat dan merintih lirih.
"Ah, engkau..."..! Engkau pilihanku.....!"
Kaisar berseru dan membuka saputangan yang.
menutup mukanya.
Agak terheran dan terkejut ketika Kaisar melihat bahwa yang dirangkulnya adalah seorang dayang!
Akan tetapi jari-jari tangannya telah menemukan janji-janji yang menggairahkan hatinya, maka dengan halus dia lalu memegang dagu Siang Bwee dan mengangkat muka yang berbentuk bulat telur itu agar menengadah.
Kaisar tersentuh perasaan hatinya ketika melihat seraut wajah yang amat cantik manis, sederhana, dengar sepasang alis aseli yang hitam kecil, sepasanng mata jeli tanpa bulu mata palsu, melainkan bulu mata aseli yang hitam panjang, hidung kecil mancung, sepasang mulut yang menggairahkan, dan kulit muka yang kemerahan tanpa yanci, dan dua titik air mata seperti dua butir mutiara di atas pipi.
Kaisar menunduk dan mencium mulut itu.
Tubuh Siang Bwee menggelepar, dadanya terisak, dan Kaisar tersenyum.
Belum pernah dia mendapatkan seorang gadis seperti ini!
Dia merasa seperti memegang seekor kelinci putih yang ketakutan.
"Engkau kupilih, malam nanti engkau layani aku,"
Katanya lirih. Siang Bwee hanya berlutut dan menundukkan mukanya yang pucat, tanpa berani berkutik atau bersuara.
"Siapa namamu?"
Hampir tidak terdengar suara gadis itu yang gemetar.
"Ci""
Siang Bwee"""
Kaisar lalu bertepuk tangan memanggil para dayang, memerintahkan para dayang membawa pergi Siang Bwee dan melapor kepada para thaikam penjaga agar "mempersiapkan"
Siang Bwee untuk melayaninya malam nanti.
Kemudian, setelah sambil tertawa dia melihat gadis itu dituntun pergi, Kaisar melanjutkan.
permainannya dengan para selir yang diam-diam kecewa karena mereka tidak terpilih.
Akan tetapi, seperti biasa, mereka tidak berani menyatakan perasaan mereka.
Mereka itu hanya alat, mereka itu seperti benda benda yang hanya boleh menurut, tidak boleh menuntut!
Di antara para dayang yang menuntun pergi Siang Bwee terdapat Su Hong.
Diam-diam gadis inipun merasa iri hati terhadap "nasib baik"
Dari rekannya itu.
Akan tetapi pada saat itu dia mempunyai kesibukan lain yang sejak tadi membuat Su Hong kelihatan tegang dan khawatir.
Malam itu adalah malam yang dipilih oleh ketuanya, yaitu Can Hun Sek, untuk turun tangan menyerbu ke dalam istana!
Untuk keperluan ini, siang tadi Can Hun Sek sudah datang berkunjung sebagai kakak kandungnya, kemudian Can Hun Sek menyelinap dan bersembunyi, sedangkan belasan orang anak buahnya yang terpilih, yaitu para tokoh Hek-san-pang, sudah siap di luar tembok, tinggal menanti isyarat dari Su Hong yang akan membiarkan mereka masuk dan menjadi petunjuk jalan bagi mereka!
Peristiwa ini cukup menegangkan hatinya maka dia tidak begitu memikirkan tentang "nasib baik"
Yang jatuh kepangkuan rekannya itu, dan setelah dia selesa menyerahkan pilihan Kaisar itu kepada dari thaikam yang bertugas untuk itu, dia lalu bergegas menyelinap pergi untuk menemui ketuanya di tempat persembunyiannya, mengatur siasat bersama Can Hun Sek untuk penyerbuan yang akan dilakukan malam itu.
Senja hari itu, seorang pengawal yang meronda di bagian dalam dari para istana itu tiba tiba berhenti karena mendengar suara tangis wanita yang lirih, namun tidak terlepas dari pendengarannya yang amat tajam.
Pengawal bu mengerutkan alisnya, merasa bimbang apakah termasuk kewajibannya untuk menyelidiki seorang wanita yang menangis di senja hari itu!
Maklumlah, pengawal itu bukan lain adalah Tan Sian Lun yang masih baru dalam pekerjaannya ini.
Dia ditugaskan oleh kepala pengawal untuk menjaga keamanan di sebeIah dalam istana, akan tetapi dia tidak tahu sampai mana batas dari penjagaannya itu dan apakah tangis wanita ini perlu diselidikinya ataukah tidak!
Tangis itu terdengar dari bagian di luar harem, yaitu tempat terlarang bagi para pengawal, maka dia lalu memberanikan hatinya karena dia tidak tega mendiamkan suara tangis itu tanpa menyelidikinya dan kalau perlu menolongnya.
Dengan kepandaiannya yang tinggi, mudah saja bagi Sian Lun untuk mendekati kamar itu dan mengintai ke dalam tanpa didengar atau dilihat oleh siapapun.
Dan dia menjadi terheran-heran ketika melihat ke dalam ruangan itu.
Dia melihat dua orang thaikam gendut sedang menyisiri dan meminyaki rambut seorang gadis yang hanya memakai pakaian dalam dari sutera indah yang amat tipis, gadis itu duduk di atas bangku dekat bak mandi dan agaknya baru saja dia mandi atau dimandikan oleh dua orang thaikam itu karena kulit lehernya dan sebagian rambutnya masih nampak basah.
Bau harum semerbak memenuhi kamar itu bahkan tercium oleh Sian Lun yang mengintai di luar.
Gadis itulah yang mengeluarkan suara tangis tadi.
Dan kini dia hanya terisak lirih, agaknya menahan tangisnya karena takut, dan dua orang thaikam yang sedang meminyaki dan menyisir rambutnya itu mengeluarkan kata-kata yang nadanya menghibur dan juga mengancam.
"Bodoh, mengapa menangis? Lain orang gadis biasanya tersenyum-senyum dan berseri wajahnya, riang gembira karena dipilih olehi sri baginda!"
"Sudah, hentikan tangismu. Kalau sribaginda melihat engkau menangis, tentu beliau akan marah dan engkau akan dihukum berat!"
Sian Lun memandang dengan jantung berdebar.
Dia sudah mendengar berita selentingan!
tentang kebiasaan Kaisar memilih gadis-gadis cantik untuk menjadi selir barunya yang amat banyak.
Agaknya gadis ini merupakan pilihan baru, pikirnya dan dia memperhatikan gadis itu.
Rambut yang disisir itu amat hitam, halus dan banyak, juga panjang sekali.
Wajah itu agak pucat, namun jelas nampak cantik dan manis sekali.
Dan tubuh yang membayang dari sutera tipis itu amat indah.
Sian Lun tidak berani mengintai lebih lama lagi.
Gadis itu tidak membutuhkan pertolongan.
Benarkah?
Dia ragu-ragu.
Pertolongan apa yang dapat diberikan kepada seorang gadis yang dipilih menjadi selir Kaisar?
Dan mungkin benar ucapan thaikam itu.
Bodoh kalau gadis itu menolak dan bersedih.
Bukankah menjadi selir Kaisar merupakan penghormatan terbesar bagi seorang wanita di jaman itu?
Sian Lun melanjutkan perondaannya.
Akan tetapi entah mengapa, wajah pucat dari gadis itu selalu terbayang olehnya dan hatinya diliputi perasaan iba.
Dia berusaha mengusir perasaan ini dan menekankan kepada hatinya bahwa itu bukan urusannya, akan tetapi tetap saja ada sesuatu yang mendorongnya untuk memperhatikan bagaimana nasib gadis itu selanjutnya.
Dorongan inilah yang membuat Sian Lun tidak mau meninggalkan tempat itu, yaitu di sekitar dinding tinggi di mana harem dan tempat Kaisar beradu berada di baliknya.
Dinding pemisah itu merupakan batas bagi seorang pengawal seperti dia, dan yang boleh memasuki tempat itu hanyalah para dayang dan para thai-kam saja.
Sian Lun berjalan-jalan di sekitar tempat itu dan wajah gadis itu selalu terbayang olehnya.
Dia membayangkan yang bukan-bukan.
Membayangkan betapa gadis itu diperkosa oleh Kaisar!
Betapa gadis itu menjerit dan menangis tanpa ada yang berani menolongnya!
Hatinya merasa amat tidak enak dan gelisah merasa tidak berdaya dan mulailah Sian Lun meragukan tindakannya.
Benarkah kalau dia menjadi pengawal di tempat itu, melihat kesewenang-wenangan tanpa berdaya sedikitpurj juga?
Di istana ternyata bukan tempat tinggal orang-orang baik.
Baru melihat gadis yang menangis sedih karena "bernasib haik"
Diterima sebagai selir Kaisar itu saja sudah merupakan kenyataan yang menyolok betapa di tempat indah dan megah ini terjadi kejahatan dan pemerkosaan yang tidak dianggap jahat lagi karena keadaan.
Apakah bedanya perkosaan yang dilakukan seorang Kaisar dan seorang jai-hoa cat (penjahat pemerkosa wanita)?
Bedanya hanyalah bahwa kalau Kaisar mengandalkan pengaruh kekuasaannya, maka seorang pemerkosa wanita mengandalkan kekuatannya!
Korbannya sama.
seorang wanita lemah yang tidak berdaya!
Akan tetapi, apa yang dapat dilakukannya di tempat ini?
Kalau dia berada di luar dan ada seorang penjahat mempergunakan kekuatannya memperkosa wanita, dia dapat turun tangan menghajar penjahat itu dan mencegah terjadinya kelaknatan itu.
Akan tetapi di sini, dia malah harus menjaga keamanan pria yang memperkosa wanita itu, karena pria itu kebetulan menjadi Kaisar!
Kenyataan ini mendatangkan kepahitan hebat dalam hati Sian Lun yang menjadi bingung sendiri!
Ah, pendekar macam apakah dia ini?
Dia menyumpah diri sendiri.
Makin dipikir makin kecut rasa hatinya.
Boleh jadi umum memandang dia sebagai seorang pengawal Kaisar yang pongah dan terhormat, akan tetapi wanita tadi akan tetap memandangnya sebagai begundal yang rendah dan kejam, kaki tangan seorang pemerkosa yang tak mengenal prikemanusiaan.
Alangkah rendahnya!
Tiba-tiba Sian Lun menyelinap ke dalam bayangan gelap.
Dia melihat berkelebatnya bayangan orang.
Terkejutlah dia karena dia melihat banyak sekali bayangan berkelebat meloncati dinding yang menjadi batas daerah terlarang itu!
Celaka, pikirnya.
Hal itu jelas tidak wajar sama sekali.
Tidak mungkin mereka itu para pengawal, karena sudah terdapat larangan bagi para pengawal untuk memasuki daerah itu apa lagi dengan cara meloncati dinding tembok seperti kelakuan maling-maling itu.
Maling?
Tiba-tiba dia tertegun dan cepat kedua kakinya menggenjot dan tubuhnya sudah melayang dengan cepat, mengejar bayangan-bayangan yang mencurigakan itu.
Dia tidak perduli lagi apakah dia melanggar daerah terlarang, karena tugasnya adalah menjaga keselamatan Kaisar dan gerakan bayangan bayangan itu sungguh amat mencurigakan hatinya.
Cepat bagaikan seekor burung rajawali terbang, tubuh Sian Lun sudah melayang naik ke atas dinding untuk mengejar bayangan-bayangan tadi.
Dia sudah diberi tahu tentang letak bangunan-bangunan di seluruh istana dan dia tahu di mana adanya kamar Kaisar kalau beliau sedang bersenang-senang dengan para selirnya.
Maka ke tempat itulah dia menuju.
Tiba tiba terdengar bentakan-bentakan dan disusul dengan suara beradunya senjata-senjata tajam.
Ternyata bayangan-bayangan orang yang menyerbu itu telah disambut oleh para thaikam pengawal.
Hanya thaikam-thaikam saja yang boleh menjaga di sebelah dalam ini dan di antara para thaikam memang ada yang memiliki ilmu silat yang cukup tangguh Akan tetapi, agaknya para penyerbu iiu terdiri dari orang orang yang lihai karena segera terdengar teriakan teriakan kesakitan dan para thaikan itu roboh mandi darah.
"Keparat, berani kalian mengacau di sini?"
Sian Lun membentak ketika melihat mereka merobohkan lima orang thaikam.
Dengan cepat dia sudah menerjang, dan biarpun para penyerbu itu menyambut terjangannya dengan pedang namun gerakan Sian Lun terlampau cepat dan hawa pukulan tangannya saja sudah cukup membuat mereka terpelanting, disusul tamparan dan tendangan sehingga dalam sekejap mata saja tiga orang anggauta penyerbu itu roboh dan pingsan!
Melihat munculnya seorang pengawal yang demikian tangguhnya, seorang thaikam pengawal menjadi girang dan cepat berkata.
"Cepat, harap lindungi sri baginda!"
Mendengar teriakan ini, Sian Lun berlari menuju ke kamar Kaisar.
Dia melihat tiga bayangan orang juga berlari ke arah kamar itu dan begitu tiba di dekat kamar, dia sudah mendengar isak tangis seperti senja tadi, isak tangis gadis berwajah pucat itu.
Tanpa memperdulikan apa-apa lagi, karena yang dituju hanya menyelamatkan Kaisar, Sian Lun mendahului tiga bayangan itu dan langsung meloncat menerjang jendela kamar itu.
"Brakkkk"".!"
Jendela itu jebol dan Sian Lun sudah berada di dalam kamar.
Kaisar sedang merangkul dan menciumi Siang Bwee yang menangis lirih.
Mendengar suara pecahnya jendela disusul masuknya seorang pengawal, Kaisar terkejut bukan main.
Sebelum Kaisar sempat menegur, Sian Lun sudah berkata.
"Cepat sri baginda, harap menyingkir dan bersembunyi!"
Kaisar segera dapat memaklumi keadaan, maka dalam keadaan setengah telanjang, Kaisar meloncat dan sebentar kemudian lenyap melalui sebuah pintu rahasia di balik almari.
Siang Bwee cepat membungkus tubuhnya dengan selimut, mukanya pucat dan matanya memandang terbelalak kepada Sian Lun yang berdiri tegak menghadap ke arah jendela yang dijebolnya tadi.
"Serbuuuu""..!"
Terdengar teriakan dan muncullah tiga orang laki-laki berloncatan dengan sigapnya melalui jendela itu sambil memutar pedang mereka yang berobah menjadi gulungan sinar menyilaukan mata.
Dan di belakang mereka muncul pula seorang laki-laki yang memegang sebuah kipas hitam yang besar dan panjang!
Orang ini bukan lain adalah Cai Hun Sek, ditemani oleh tiga orang tokoh Hek-san-pang yang memegang pedang di tangan kiri.
Melihat betapa empat orang itu semua memegang sebatang kipas hitam, Sian Lun merasa heran, akan tetapi dia tidak sempat bicara lagi karena tiga orang berpedang itu sudah menerjangnya dengan serangan kilat.
Tiga batang pedang menyambar diikuti kebutan kipas yang mendatangkan angin kuat!
Ketika Can Hun Sek tadi mendengar teriakan Sian Lun yang mendahului masuk kamar Kaisar dia terkejut dan marah, lalu bersama tiga orang temannya mengejar.
Akan tetapi setelah masuk kamar itu, dia tidak lagi melihat Kaisar hanya seorang wanita cantik yang berselimut dan kini mendekap selimut yang menyelubungi tubuhnya dan mendekam di sudut dengan muka pucat.
Can Hun Sek membiarkan tiga orang kawannya mengeroyok pemuda berpakaian pengawal yang bertangan kosong itu sedangkan dia sendiri cepat mencari-cari Kaisar.
Namun percuma.
Dia tidak dapat menemukan Kaisar, bahkan tidak menemukan pintu lain kecuali pintu depan dan jendela.
Ketua Hek-san-pang ini terkejut dan heran bukan main.
Dia tidak melihat Kaisar keluar, dan dia tadi merasa yakin bahwa Kaisar berada di dalam kamar ini!
Tentu ada pintu rahasia, pikirnya, dan hal ini memang sudah diberitahukan oleh Su Hong, akan tetapi gadis yang menjadi dayang itu sendiri tidak tahu di mana adanya pintu rahasia itu karena yang mengetahuinya hanyalah Kaisar sendiri!
Pintu rahasia itu menembus ke dalam kamar Kaisar di istana, kamar besar di sebelah dalam, bukan di bagian harem lagi.
Selagi dia membongkar-bongkar meja kursi dan lemari untuk mencari kamar di balik pintu rahasia itu, terdengar suara hiruk-pikuk dari para pengawal di luar, dan ketika dia melihat ke arah tiga orang kawannya, dengan kaget dia melihat tiga orang kawannya itu terdesak hebat oleh si pengawal muda bahkan seorang di antara mereka telah terluka dan terhuyung.
Celaka, pikirnya.
Can Hun Sek yang cerdik segera melihat wanita yang masih mendekam di sudut.
Tentu selir tersayang dari Kaisar, pikirnya.
Dapat dipergunakannya sebagai sandera untuk meloloskan diri!
Maka tanpa banyak cakap lagi, dia lalu menyambar pinggang wanita itu dan membawanya lari keiuar!
Siang Bwee menjerit, akan tetapi segera bungkam karena ditotok dan dipanggul lalu dibawa meloncat keluar melalui jendela yang jebol tadi.
Melihat ini, Sian Lun menjadi marah.
Dia mengeluarkan bentakan nyaring, tubuhnya bergerak cepat dan dua orang pengeroyoknya berteriak, pedang mereka terpental, kipas mereka pecah dan mereka sendiri roboh terjengkang seperti teman mereka yang pertama.
Akan tetapi dari ujung atau gagang kipas mereka berhamburan jarum-jarum hitam yang hampir saja mengenai tubuh Sian Lun kalau pemuda ini tidak cepat melempar tubuhnya ke belakang sambil bergulingan.
Sementara-itu, Can Hun Sek yang merasa gagal usahanya itu cepat lari keluar dan lima orang pengawal yang menghadangnya menjadi bingung dan tidak berani menyerang karena melihat penjahat itu memanggul tubuh seorang wanita.
Wanita yang keluar dari kamar Kaisar itu sudah pasti adalah selir Kaisar yang terkasih, maka tentu saja mereka tidak berani melukai tubuh selir Kaisar.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Can Hun Sek untuk menekan alat pada gagang kipasnya Sinar hitam menyambar-nyambar dan lima orang pengawal itu berteriak dan roboh terguling, terkena serangan gelap dari jarum-jarum beracun yang keluar dari gagang kipas hitam!
Can Hun Sek cepat meloncat dan lari sambil memanggul tubuh Ci Siang Bwee.
"Pangcu, cepat ke sini""l"
Terdengar bisikan Su Hong yang sudah mencegat dan di bawah petunjuk dayang ini, akhirnya Can Hun Sek dapat melarikan diri melalui sebuah pintu tembusan yang biasanya dipergunakan oleh para thaikam atau dayang yang keluar masuk daerah terlarang itu.
Sambil memanggul tubuh Siang Bwee yang hanya terbungkus selimut, Hun Sek cepat menyelinap melalui pintu kecil di taman itu dan hendak melarikan diri.
"Pangcu, tunggu saya""..!"
Su Hong berseru dan lari mengejar.
"Mereka tentu tahu kalau saya ikut main dalam peristiwa ini dan saya akan dihukum berat....., tunggu dan bawa saya, pangcu"..!"
Sebagai anggauta Htk-san-pang, sedikit banyak gadis ini mengerti ilmu silat dan diapun dapat berlari cepat, sungguhpun tentu saja dibandingkan dengan ketuanya itu dia kalah jauh.
Akan tetapi tiba-tiba Can Hun Sek membalik, tangannya yang memegang kipas hitam bergerak dan sinar hitam menyambar ke arah Su Hong.
Gadis ini terkejut bukan main, tahu apa artinya sinar hitam itu namun tidak sempat mengelak dan dia menjerit dengan nyaring sekali, lalu tubuhnya terjengkang dan tewas, beberapa batang jarum beracun bersarang di tenggorokannya!
Can Hun Sek membunuhnya karena kalau gadis itu ikut, tentu dia tidak dapat melarikan diri dengan leluasa dan cepat maka jalan paling baik baginya adalah membunuh anak buahnya sendiri yang mencintanya itu.
Akan tetapi justeru perbuatannya inilah yang mendatangkan bencana baginya.
Tadinya Sia Lun sudah kehilangan jejaknya.
Pemuda ini tidak tahu harus mengejar ke mana, karena memang dia tidak hafal akan keadaan di dalam daerah terlarang ini, tidak tahu akan adanya pintu kecil rahasia di dalam taman itu.
Selagi dia kebingungan dan melangkah mencari-cari dan tanpa diketahuinya dia malah menjauhi buronannya, tiba tiba dia mendengar jerit melengking dari Su Hong itu.
Maka cepat dia (Lanjut ke
Jilid 35) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 35 meloncat dan lari mengejar ke arah suara jeritan wanita itu yang disangkanya tentu jeritan selir Kaisar yang dilarikan penjahat tadi.
Setelah dia tiba di pintu kecil tersembunyi di dalam taman itu, dia melihat tubah seorang wanita muda menggeletak tak bernyawa lagi.
Dia cepat memeriksa dan melihat bahwa wanita itu adalah seorang gadis yang cantik, berpakaian dayang.
Maka teringatlah dia akan teriakan seorang thaikam tadi bahwa pemimpin para penyerbu itu adalah kakak dari dayang Su Hong.
Inikah dayang Su Hong?
Akan tetapi dia tidak sempat menyelidiki hal itu, melainkan cepat meloncat keluar dari pintu kecil itu dan terus lakukan pengejaran.
Akhirnya, setelah dia berloncatan ke atas genteng rumah-rumah penduduk kota raja, dia melihat bayangan orang yang dikejarnya.
Dia segera mengenal bayangan itu memanggul tubuh seorang lain.
Cepat dia mengejar dan bayangan itu telah riba di dekat dinding kota raja yang tinggi.
Dia berpikir bahwa tidak mungkin bayangan itu akan dapat meloncati dinding yang sedemikian tingginya, maka Sian Lun mempercepat larinya, terus mengejar.
Akan tetapi, terkejutlah dia ketika dia melihat bahwa penjahat itu sudah tiba di dinding dan melihat bayangan itu merayap naik melalui seutas tali yang agaknya memang sudah di persiapkan terlebih dulu di tempat itu.
Tcmpat yang sunyi dan jauh dari pintu gerbang, jauh dari para penjaga tembok benteng itu!
Dengan cepatnya bayangan yang memanggul gadis istana itu memanjat ke atas dan ketika Sian Lun akhirnya tiba di bawah dinding, penjahat itu telah berada di atas!
Dinding itu memang terlampau tinggi untuk diloncati, maka Sian Lun cepat menyambar tali yang tadi dipergunakan oleh penjahat itu untuk melarikan diri dan diapun segera memanjat dengan tali itu ke atas.
Tiba tiba terdengar suara ketawa dan tali yang dipergunakan untuk memanjat itu putus, diputus dari atas oleh Hun Sek sambil tertawa.
Pada saat itu, Sian Lun baru tiba di tengah-tengah dinding yang tinggi itu!
Akan tetapi pemuda sakti ini tidak menjadi bingung.
Begitu merasa betapa tali itu terlepas, secepat kilat dia menggunakan kedua telapak tangannya untuk menempel pada dinding!
Kemudian, dengan pengerahan tenaga sinkangnya, dia merayap di dinding itu seperti seekor cecak, perlahan-lahan terus naik ke atas!
Akan tetapi hambatan ini memberi kesempatan kepada ketua Hek-san pang itu untuk loncat turun dari atas dinding dan melarikan diri.
Para penjaga melihatnya dan melakukan pengejaran, namun tidak ada seorangpun penjaga yang mampu menandingi kecepatan lari ketua Hek san-pang itu.
Setelah Sian Lun berhasil mencapai puncak tembok, dia melihat di bawah sinar bintang yang remang-remang bayangan para penjaga yang melakukan pengejaran.
Dia cepat meloncat turun dan mengerahkan kepandaiannya berlari cepat, mengejar.
Sebentar saja dia sudah dapat menyusul para penjaga yang ketinggalan jauh.
Melihat bahwa yang mengejar adalah seorang yang berpakaian pengawal istana, para penjaga cepat menunjukkan ke mana larinya penjahat itu.
Sian Lun terus mengejar dan para penjaga itu akhirnya menghentikan pengejaran mereka karena sebentar saja mereka sudah kehilangan bayangan dua orang yang berkejaran itu.
"Pembunuh keji, engkau hendak lari ke mana?"
Sian Lun membentak ketika akhirnya dia dapat menyusul buronannya di luar sebuah hutan yang sunyi di lereng bukit.
Sejak tadi Can Hun Sek sudah merasa khawatir sekali melibat betapa pengawal muda yang lihai itu terus mengejarnya dan biarpun dia sudah mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat, tetap saja pengejarnya makin lama makin dekat di belakangnya.
Mendengar bentakan ini, dia tiba-tiba menghentikan larinya, membalik dan kipasnya ditodongkan.
Sinar hitam menyambar ke arah Sian Lun.
Akan tetapi Sian Lun sudah mengenal serangan senjata gelap ini dan dengan mudah dia menyampok sinar hitam itu dengan lengan bajunya sambil mengerahkan tenaga saktinya.
Jarum-jarum hitam itu runtuh ke atas dan Sian Lun tetap menerjang ke depan dengan sikap mengancam.
"Tahan! Atau"". kubunuh wanita ini!"
Can Hun Sek berteriak sambil mengancamkan kipasnya ke tengkuk Siang Bwee yang dipondongnya.
Sian Lun terkejut dan memandang kepada wajah gadis yang kini berada dalam pondongan Hun Sek, menjadi perisai bagi tubuh penjahat itu.
Wajah yang pucat, sepasang mata yang terbelalak lebar penuh rasa takut, akan tetapi melihat keadaan yang lemas itu tahulah Sian Lun bahwa gadis itu tertotok.
Gadis yang pernah dilihatnya menangis ketika disisiri rambutnya oleh dua orang thaikam.
Akan tetapi tentu saja bagi Sian Lun yang terpenting adalah menangkap penjahat yang berusaha membunuh kaisar itu, maka dia tetap melangkah maju.
"Tidak ada artinya engkau membunuhnya, tetap saja engkau takkan terlepas dari tanganku!"
Tentu saja Hek san pangcu itu menjadi terkejut dan juga kecewa.
Tadinya dia mengira bahwa gadis yang telah diculiknya itu akan menjadi sandera yang amat berharga dan dapat menolong dirinya dalam melarikan diri, seorang puteri yang penting, atau selir kaisar yang terkasih sehingga orang akan mau melepasnya untuk mendapatkan kembali puteri atau selir itu.
Akan tetapi siapa sangka, agaknya pengawal yang amat lihai itu tidak mengambil pusing apakah dia akan membunuh wanita itu ataukah tidak!
Celaka, pikirnya, susah-susah dia culik!
Tadinya, melihat kecantikan dara itu, dia memiliki dua niat.
Pertama, menjadikan gadis itu semacam sandera yang dapat dipergunakannya kalau ada bahaya mengancamnya, ke dua kalau sampai dia berhasil lari bersama gadis itu, tentu dia akan memperoleh seorang gadis cantik yang akan menyenangkan hatinya!
Akan tetapi kiranya semua itu hanya mimpi kosong belaka dan gadis ini agaknya tidak berguna sama sekali!
"Sialan!"
Dia berseru marah dan melemparkan tubuh gadis itu ke samping, kemudian dia meloncat ke belakang dan jarum-jarum hitam dari kipasnya meluncur ke arah gadis itu.
Inilah satu-satunya jalan baginya untuk memancing pengawal lihai itu dan dia berhasil!
Melihat gadis itu dilemparkan ke bawah kemudian diserang dengan jarum-jarum yang amat berbahaya itu, Sian Lun terkejut bukan main.
Tentu saja sebagai seorang pendekar yang selalu siap untuk melindungi fihak lemah yang terancam bahaya, dia tidak mungkin membiarkan gadis itu terancam bahaya tanpa turun tangan.
Melihat sinar hitam menyambar ke arah gadis itu, dia cepat menubruk ke depan, menghadang antara gadis itu dan sinar hitam yang menyambarnya, sambil mengebutkan tangan kirinya ke arah jarum-jarum yang meluncur datang.
Jarum-jarum itu terpukul angin dan runtuh, akan tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh Hun Sek untuk melarikan diri secepat mungkin.
Gadis itu terlempar dan selimut yang membungkus tubuhnya itu terbuka tanpa dia mampu membetulkan kembali karena kaki tangannya tidak dapat digerakkan.
Maka dia menjadi bingung, malu dan hanya dapat mengeluh, akan tetapi biarpun dia tertotok, tak mampu bergerak atau berteriak, Siang Bwee tahu betul bahwa dia diselamatkan oleh pengawal muda yang gagah perkasa itu.
Setelah melihat bahwa gadis yang mengeluh itu tidak terluka, Sian Lun cepat membuka totokannya sehingga Siang Bwee mampu bergerak dan cepat-cepat membetulkan selimut yang terbuka itu dan Sian Lun sudah melompat pergi menghilang ke dalam gelap untuk melakukan pengejaran.
Akan tetapi, dia telah mempergunakan waktu terlampau banyak untuk menyelamatkan Siang Bwee tadi dan kini bayangan buronan itu sudah tidak nampak lagi, sudah ditelan oleh kegelapan yang pekat dari.
hutan di depan itu.
Sian Lun masih mencoba untuk mencari-cari di dalam hutan gelap itu namun hasilnya sia-sia dan akhirnya terpaksa dia kembali ke tempat di mana Siang Bwee tadi ditinggalkannya.
Dia melihat gadis itu masih mendekam dan menangis tersedu-sedu.
Gadis itu ketakutan bukan main, tidak tahu harus pergi ke mana dan tidak tahu pula berada di mana.
Dia sama sekali tidak berdaya, dan tempat itu demikian gelap dan sunyi maka dia hanya dapat menangis.
"Nona"".."
Siang Bwee terkejut, mengangkat mukanya yang tadi menunduk dan ternyata pemuda yang menolongnya tadi telah berada di depannya.
Bukan main girang rasa hatinya dan Siang Bwee cepat menjatuhkan diri berlutut di depan Sian Lun.
"Terima kasih atas pertolonganmu, taihiap"".."
"Ahh, harap nona jangan merendahkan diri seperti itu,"
Sian Lun cepat berkata sambil memegang kedua lengan itu dan menariknya bangkit berdiri.
"Saya hanya seorang pengawal biasa, dan nona adalah sedang"".."
Dia hendak mengatakan selir sri baginda akan tetapi teringat betapa gadis ini menangis ketika dia hendak dijadikan selir kaisar, dia ragu-ragu.
"Dan aku hanya seorang wanita lemah yang telah kauselamatkan nyawanya, taihiap"
"Sudahlah, itu sudah merupakan tugasku, nona. Mari kuantar nona kembali istana."
Siang Bwee menunduk dan memejamkan mata, lalu menggeleng kepala. Sian Lun menjadi tidak sabar.
"Mari nona"".."
"Tidak"".. tidak"". jangan bawa aku kembali"".."
Pada saat itu datang sepasukan pengawal dan melihat betapa Sian Lun telah menyelamatkan selir kaisar, mereka merasa gembira dan kagum sekali.
Beramai-ramai Siang Bwee lalu dikawal kembali ke istana.
Siang Bwee tidak dapat membantah lagi dan hanya dapat menangis.
Diam-diam Sian Lun yang mengikuti di belakangnya merasa kasihan kepada gadis ini, akan tetapi bagaimana dia mampu menolongnya?
Diapun tahu bahwa gadis ini tidak suka menjadi selir kaisar, bahwa gadis itu terpaksa dan seperti diperkosa, dan bahwa menurut watak pendekar, dia sudah seharusnya mencegah terjadinya perkosaan atau paksaan itu.
Akan tetapi betapa mungkin?
Yang melakukannya adalah kaisar, dan dia telah menjadi pengawal kaisar!
Ketika rombongan pengawal bersama Siang Bwee tiba kembali di istana, ternyata berita tentang tertolongnya selir baru kaisar itu telah didengar oleh istana dan yang menyambut mereka adalah kaisar sendiri bersama Thio thai-kam yang telah mendengar tentang kerusuhan itu dan sudah cepat-cepat datang ke istana.
Pembesar gendut ini sudah mendengar betapa pengawal muda yang baru saja diterimanya dan diangkatnya menjadi anggauta pasukan pengawal itu ternyata telah berhasil menyelamatkan kaisar dan kini malah datang setelah berhasil menolong pula selir yang diculik penjahat!
Tentu saja dia merasa bangga bukan main, apa lagi ketika kaisar memuji-muji pemuda pengawal itu di depannya.
Semua pengawal berikut Siang Bwee menjatuhkan diri berlutut ketika mereka melihat kaisar berada di dalam ruangan itu menyambut mereka.
Kaisar tersenyum dan memandag kepada Sian Lun.
"Siapa namanya?"
Tanyanya kepada Thio thaikam.
"Namanya Tan Sian Lun, sri baginda,"
Jawab pembesar kebiri gendut itu sambil menjura.
"Sian Lun, kau majulah,"
Kaisar berkata dan Sian Lun terkejut, lalu merangkak maju dan berlutut dengan penuh hormat, mukanya menunduk.
"Angkat mukamu, kami ingin melihat wajahmu". Terpaksa Sian Lun mengangkat mukanya dan dia menatap wajah kaisar yang tersenyum ramah, wajah yang membayangkan pengaruh dan kekuasaan. Dia merasa jerih dan menunduk kembali.
"Ha ha, memang engkau tampan dan gagah, Sian Lun. Kami girang sekali bahwa engkau telah memperlihatkan kebaktianmu, telah menyelamatkan kami dan berhasil pula merampas kembali Siang Bwee yang diculik penjahat."
Kaisar mengerling ke arah Siang Bwee yang kini telah memakai pakaian, diberi oleh para pengawal tadi untuk menutupi tubuhnya yang tadinya hanya tertutup selimut.
"Maka sekarang katakanlah, apakah yang engkau kehendaki sebagai hadiahmu? Kami akan memenuhi semua permintaanmu!"
Semua orang merasa terkejut dan merasa iri terhadap Sian Lun.
Kalau pada saat itu pemuda ini menyatakan minta apapun, kiranya permintaan itu akan terpenuhi dan hal ini bukan merupakan kelakar belaka.
Andaikata dia minta harta yang amat besar, atau kedudukan yang amat tinggi, kiranya akan dilaksanakan oleh kaisar yang sedang amat gembira dan berterima kasih itu.
Keadaan menjadi hening, semua telinga menanti jawaban pemuda itu dengan hati tegang berdebar.!
"Sri baginda, semua yang hamba lakukan sudah menjadi tugas kewajiban hamba, oleh karena itu hamba tidak mengharapkan hadiah apapun, dan beribu terima kasih hamba haturkan atau kebijaksanaan paduka."
Semua mata kini memandang kepada Sian Lun dengan.
terbelalak, karena jawaban ini sungguh amat mengejutkan hati mereka.
Sian Lun melihat ini dan diapun menjadi gugup.
Dia khawatir kalau-kalau dia salah bicara, ketika melihat ke arah Siang Bwee, dia melihat pula gadis itu memandang kepadanya dengan sinar mata seperti orang memohon, maka dia teringat dan cepat-cepat dia bergerak menghormat ke arah kaisar dan melanjutkan kata-katanya tadi.
"Atas berkah Thian dan kemuliaan paduka, hamba telah berhasil menyelamatkan nona ini..."", dan hamba mengembalikannya kepada paduka"".."
Dia meragu, khawatir salah bicara.
"Taihiap"". taihiap telah menyelamatkan aku dari malapetaka, jangan kepalang menolongku, taihiap"""
Bawa aku pergi dari sini"""!"
Ucapan Siang Bwee ini mengejutkan semua orang pula, dan yang lebih terkejut adalah Sian Lun, yang cepat membantah.
"Nona"".ini"". ini"".jangan berkata begitu"".."
Keadaan menjadi gaduh karena semua ponggawa dan pengawal yang hadir saling pandang dan saling berbisik bisik, sedangkan kaisar sendiri setelah memandang terbelalak lalu tertawa dan bicara lirih dengan Thio-thaikam yang agaknya mengusulkan sesuatu kepada kaisar.
"Bagus!"
Tiba-tiba kaisar berkata dengan suara nyaring dan agaknya nampak gembira sekali.
"Engkau telah menentukan pilihanmu, Sian Lun. Engkau akan kami angkat menjadi panglima yang memimpin pasukan untuk membasmi para pemberontak, mengepalai selaksa perajurit, dan selain itu, kami akan menghadiahkan Siang Bwee kepadamu!"
Sian Lun terkejut bukan main mendengar kalimat terakhir itu dan cepat dia hendak membantah. Melihat ini, Thio-thaikam cepat berkata dengan suara setengah berbisik, dan terdengar khawatir.
"Tan-taihiap, cepat mengaturkan terima kasih atas kemurahan sri baginda"
Sian Lun sadar bahwa menolak pemberian kaisar dapat dianggap menghina, maka dia lalu memberi hormat dan berbisik.
"Beribu terima kasih hamba haturkan kepada paduka sri baginda yang mulia""."
Kaisar masih tertawa, lalu berkata lagi "Akan tetapi, sebelum itu, engkau harus memperlihatkan kesetiaanmu dan membuat jasa.
lagi, yaitu dengan mengejar dan membasmi gerombolan yang tadi berani mengacau di istana.
Setelah engkau berhasil, baru engkau akan menerima hadiahmu."
Setelah berkata demikian, kaisar lalu melambaikan tangan dan membalikkan tubuh, masuk kembali ke dalam istana diantarkan oleh para ponggawa dan pengawalnya.
Beberapa orang thaikam lalu menggandeng kedua lengan Siang Bwee, setengah memaksanya masuk ke dalam.
Gadis itu meronta sedikit, menoleh dan memandang kepada Sian Lun yang masih berlutut dan pemuda ini tidak berani mengangkat muka.
Sebuah tangan menyentuh pundaknya dan ternyata itu adalah Thio-thaikam.
"Taihiap engkau beruntung sekali. Pangkatmu tinggi dan gadis itu manis""""
Melihat di situ tidak ada orang lagi, Sian Lun bangkit berdiri dan sambil mengerutkan alisnya dia berkata.
"Akan tetapi, taijin, saya tidak ingin menerima wanita, saya tidak ingin beristeri sekarang ini."
"Hemm, tidak perlu menjadi isterimu, taihiap, sebagai seorang panglima, apa salahnya mempunyai selir? Ha-ha-ha, tidak perlu engkau malu-malu."
Wajah Sian Lun menjadi merah sekali, dalam hati dia sama sekali tidak setuju, akan tetapi tidak berani menyatakan dengan mulut, maka dia lalu berkata.
"Thio-taijin, saya hendak berangkat sekarang juga mengejar penjahat itu."
"Nanti dulu, taihiap. Tidak akan begitu mudah kalau engkau tergesa-gesa. Sebaliknya, engkau membawa pasukan yang sudah tahu akan gerombolan Hek-san-pang itu."
"Hek-san-pang?"
Sian Lun teringat akan kipas-kipas hitam yang dipergunakan oleh para penjahat. Thio-thaikam mengangguk.
"Marilah ikut bersamaku dan kita bicarakan tentang cara membasmi gerombolan itu seperti yang diperintahkan kaisar. Engkau tentu tidak ingin gagal, bukan?"
Karena Sian Lun memang tidak tahu ke mana dia harus mencari gerombolan itu, dan agaknya pembesar ini mengerti betul dan mengenal gerombolan Kipas Hitam yang telah berani mencoba membunuh kaisar, maka dia mengangguk dan mengikuti Thio-thaikam menuju ke gedung pembesar itu yang berada di kompleks istana karena Thio-thaikam adalah pembesar yang mengepalai semua thaikam istana.
Dan memang benar dugaannya, Thio-thaikam dan beberapa orang perwira telah mengenal gerombolan itu dan Sian Lun mendapat banyak keterangan tentang Hek-san-pang.
Hek-san-pang adalah perkumpulan yang bersarang di Ma-kun-san, memiliki kekuatan kurang lebih seratus orang dan amat ditakuti di daerahnya sehingga pembesar setempatpun tidak berani mengganggunya.
Setelah menerima petunjuk-petunjuk dan keterangan akhirnya berangkatlah Sian Lun membawa seratus orang perajurit.
Dia tidak mau membawa lebih banyak pasukan ketika mendengar bahwa gerombolan itu hanya berkekuatan kurang lebih seratus orang.
Ekspidisi pasukan yang hendak membasmi gerombolan Hek-san-pang itu sengaja oleh Sian Lun dilakukan dengan diam-diam tanpa memberi kabar atau mengirim kurir terlebih dulu ke kota-kota di depan.
Dia tidak ingin kalau fihak gerombolan mengetahui terlebih dulu.
Betapapun juga, begitu tiba di sarangnya, Can Hun Sek cepat mengumpulkan semua anak buahnya dan bersiap-siap.
Dia tahu bahwa dia telah melakukan suatu hal yang amat berbahaya dan setelah usahanya membunuh kaisar gagal, tentu akan datang pembalasan dari fihak kota raja.
Dia bahkan berhasil membujuk supeknya, yaitu pamannya sendiri, Can An, tokoh Hek-san-pang tua yang kini tidak lagi mencampur urusan dunia, untuk membantu dan melindunginya!
Can An mencela keponakannya.
"Engkau terlalu ceroboh,"
Tegurnya.
"Bagaimana engkau berani mencoba untuk membunuh kaisar? Dan setelah usahamu gagal, jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri hanya lari dari sini."
"Tidak, supek. Kami akan melawan dan harap supek membantu dan melindungi kami."
Can An menarik napas panjang.
"Orang setua aku ini sudah tidak takut menghadapi kematian, akan tetapi Hek-san-pang yang kami bina dengan susah payah dan kini akan melihat kehancurannya, sungguh membuat hati merasa gelisah dan berduka. Aku tidak takut menghadapi lawan, Hun Sek. Akan tetapi, melawan pasukan pemerintah sama dengan bunuh diri."
Can Hun Sek yang amat membenci pemerintah, terutama setelah kegagalannya itu mengerutkan alisnya.
"Kalau supek tidak berani, supek boleh pergi menyelamatkan diri, akan tetapi aku Can Hun Sek akan berjuang sampai mati!"
Dia menepuk dadanya. Kakek pendek yang mukanya putih itu memandang dengan mata terbelalak dan mukanya berobah merah.
"Sungguh engkau telah merendahkan supekmu, Hun Sek!"
Akan tetapi ketua Hek-san-pang itu tidak memperdulikannya lagi karena dia sudah yakin bahwa supeknya tentu akan mau membantunya.
Dia sudah berhasil membakar hati supeknya.
Orang yang cerdik ini tahu betapa supeknya memiliki keangkuhan besar dan kalau dibakar hatinya tentu akan mau membantunya melawan musuh.
Beberapa hari kemudian, lewat tengah hari, tibalah pasukan yang dipimpin oleh Sian Lun di sarang Hek-san-pang.
Mereka ini tidak sempat mengurung atau mengancam, karena begitu mereka tiba, fihak Hek-san-pang telah menyambut dengan hangat, dengan serbuan sambil berteriak-teriak seperti serigala-serigala yang buas!
Can Hun Sek sendiri bersama Can An sudah maju menghadapi Sian Lun yang oleh Tbio-thaikam telah diberi pakaian panglima yang gagah, dengan sebatang pedang panglima tergantung di pinggangnya.
Melihat serbuan fihak Hek-san-pang, Sian Lun lalu mengeluarkan aba-aba untuk menyambut dan terjadilah perang kecil yang amat seru dan hebat di lereng Bukit Ma-kun san.
Melihat dua orang tua dan muda dengan kipas hitam lebar itu menghadapinya, Sian Lun bersikap tenang dan membentak.
"Pemberontak laknat! Lebih baik kalian menyerah dan menjadi tangkapan kami untuk kami bawa ke kota raja dari pada kalian mengalami kehancuran!"
"Penjilat kaisar lalim!"
Can Hun Sek menudingkan kipas hitamnya dengan sikap menghina.
"Kami adalah orang-orang gagah yang siap berjuang sampai titik darah terakhir, tidak sudi tunduk kepada anjing penjilat macam engkau!"
Setelah berkata demikian, Can Hun Sek sudah menyerang dengan nekat.
Melihat ini, Can An terpaksa maju pula menggerakkan kipasnya, membantu keponakannya menghadapi panglima yang telah dikenal oleh Hun Sek sebagai pengawal lihai yang menggagalkan usahanya membunuh kaisar.
Sian Lun menjadi marah mendengar makian itu.
Dia melihat gerakan mereka dan tahu bahwa baginya, tingkat kepandaian mereka itu tidaklah terlalu membahayakan, maka diapun menyambut serangan mereka tanpa mencabut pedang!
Dengan mudah dia mengelak dari sambaran dua kipas hitam yang bertubi-tubi melakukan totokan-totokan itu.
Setelah dia memperhatikan cara penyerangan lawan, dia mulai membalas dengan tamparan-tamparan tangannya yang mengandung sinkang kuat sekali sehingga setiap kali dua orang lawannya itu menangkis, kipas mereka terpental dan tubuh mereka terhuyung.
Bukan main kagetnya hati Can An melihat kelihaian panglima muda ini.
Dia tahu bahwa dia dan keponakannya sama sekali bukanlah tandingan panglima ini maka dia lalu berseru.
"Hun Sek, kau larilah, biar aku menghadangnya!"
Akan tetapi, Sian Lun justeru mendesak Hun Sek karena dia mengenal orang ini sebagai penjahat yang melarikan Siang Bwee dan yang berusaha membunuh kaisar, sehingga tidak ada kesempatan sama sekali bagi Hun Sek untuk melarikan diri!
Dengan nekat Can An yang berusaha menyelamatkan keponakannya itu menyerang dan menubruk dari belakang, kipasnya digoyang dan segulung asap hitam menyambar ke arah Sian Lun!
Pemuda ini, terkejut, maklum bahwa itu adalah asap beracun, maka cepat dia menggunakan khikang dan meniup ke arah asap yang membuyar dan tertiup membalik.
Pada saat itu Can Hun Sek juga menyerangnya dengan jatum-jarum hitam yang menyambar keluar dari kipasnya.
Dalam keadaan berbahaya ini, Sian Lun menggunakan ujung lengan bajunya mengebut sambil mengerahkan sinkangnya dan terdengar Hun Sek menjerit dan roboh karena di antara jarum-jarum hitamnya yang membalik secepat kilat oleh kebutan ujung lengan baju Sian Lun tadi telah memasuki matanya!
Tubuhnya berkelojotan karena jarum itu menusuk sedemikian kuatnya sehingga menembus mata dan memasuki otak membuat dia tewas tak lama kemudian.
"Berani kau membunuh pangcu kami!"
Bentak Can An yang menyerang lagi dengan nekat.
Sian Lun menyambutnya dengan sebuah tendangan yang mengenai dadanya.
Tubuh kakek kate ini terlempar menimpa beberapa orang perajurit pemerintah yang segera menggerakkan senjata mereka dan tewaslah Can An dengan tubuh penuh luka luka.
Tewasnya dua orang ini membuat para anak buah Hek san pang menjadi gentar dan panik sehingga dalam waktu kurang dari satu jam saja mereka telah dapat dirobohkan semua oleh pasukan pemerintah!
Mayat mereka malang melintang memenuhi lereng bukit itu.
Tidak ada seoranpun anggauta Hek-san-pang yang ikut perang dapat lolos karena fihak pasukan menggunakan anak-anak panah untuk merobohkan mereka yang mencoba untuk melarikan diri!
Dengan kemenangan besar ini Sian Lun disambut di kota raja dengan senyum lebar oleh Thio-thaikam dan dia lalu diarak memasuki sebuah gedung yang diberikan untuknya oleh kaisar melalui Thio thaikam!
Sebuah gedung yang cukup megah, lengkap dengan perabot-perabot rumah yang serba mewah, dan pelayan yang lengkap.
Sejak saat itu, Tan Sian Lun, pemuda sederhana yang sejak kecil hidup sebagai petani atau nelayan sederhana bersama gurunya, berubah menjadi seorang panglima muda yang terhormat, memiliki gedung yang megah dan mewah, Dan pada sore hari itu, lewat senja, di waktu matahari mulai terbenam di barat, serombongan orang dengan pakaian indah diiringkan tambur dan gembreng mengantar sebuah joli yang dihias rapi memasuki halaman gedung panglimi muda yang baru ini.
Sian Lun merasa terkejut dan heran ketika menerima laporan dari pelayannya bahwa rombongan utusan kaisar yang mengantar "nona pengantin"
Telah tiba! Tergesa-gesa dan dengan hati tegang Sian Lun hendak keluar, akan tetapi seorang pelayannya memberi tahu bahwa selayaknya majikannya itu menanti saja di dalam kamar dan "nona pengantin"
Akan diantar sampai ke dalam kamarnya!
Karena belum tahu akan hal-hal seperti itu, Sian Lun menurut dan duduklah dia di dalam kamarnya, kamar yang baru dan cukup mewah.
Dia duduk di atas kursi dalam kamar itu dengan hati berdebar tegang.
Dia tadinya sudah lupa akan janji kaisar untuk menghadiahkan nona cantik itu kepadanya.
Dia sudah bertukar pakaian dan mengenakan pakaian biasa, dan di dalam hatinya yang tegang itu terdapat kebingungan akan tetapi juga keputusan yang akan diambilnya kalau sudah berhadapan dengan wanita itu karena kini dia dapat menduga bahwa wanita yang disebut "nona pengantin"
Itu dan yang dikirim oleh kaisar, tentu bukan lain adalah selir yang ditolongnya dari tangan penculik itu.
Pintu kamar itu terketuk dari luar.
Sian lun adalah seorang pemuda gagah perkasa, namun saat itu dia hampir melonjak kaget mendergar ketukan yang sudah dinanti nantinya itu!
"Siapa?"
"Ciangkun, Thio-taljin telah datang hendak bertemu dengan ciangkun!"
Terdengar suara pelayan.
"Silakan beliau masuk!"
Sian Lun cepat bangkit dan pintu kamar itu terbuka. Masuklah Thio-thaikam yang gendut mengiringkan Ci Siang Bwee dara cantik jelita itu! "Wah, kionghi. Tan-ciangkun!"
Thio-thaikam menyoja ke arah Sian Lun yang cepat membalas.
"Selamat atas anugerah yang ciangkun terima dari sri baginda, terutama hadiah berupa nona ini. Saya sendiri yang mengantar Siang Bwee yang sudah siap melayani ciangkun, Nah, sekali lagi selamat dan sampai jumpa besok."
"Tapi"". Thio-taijin apakah tidak duduk dulu? silakan"
Sian Lun berkata gugup.
"Hi hik, mengganggu saja. Terima kasih, saya hendak pergi saja,"
Kata pembesar gendut itu dengan lagak kegenit-genitan.
"Siang Bwee, layani Tan ciangkun baik-baik"
Dia lalu keluar dan daun pintu itu ditutup dari luar.
Sejenak Sian Lun tertegun, kemudian menoleh dan melihat dara itu masih berdiri di situ seperti patung, tersenyum senyum malu.
Kedua kaki Sian Lun terasa lemas dan gemetar, maka dia lalu mundur dan menjatuhkan diri duduk kembali ke kursinya yang tadi.
Sejenak hening di kamar itu, Sian Lun duduk seperti patung, dara itu berdiri menunduk seperti patung pula, hanya mulutnya tersenyum malu-malu.
Kemudian mata yang jeli itu mengerling dan melihat Sian Lun duduk seperti patung, bengong memandangnya dia lalu membalikkan tubuh menghadap pemuda itu dan melangkah maju sampai dia berdiri dalam jarak dekat dengan Sian Lun.
"Taihiap .."
Katanya, suaranya lirih seperi bisikan, bingung dan canggung dan malu-malu matanya bersinar-sinar amat indahnya, bibirnya tersenyum malu-malu dan wajah yang berdagu runcing itu amat manisnya.
Dara itu mengenakan pakaian yang amat indah, akan tetapi juga amat tipis setelah jubah luarnya dibuka sebelum memasuki kamar iiu sehingga terbayanglah lekuk lengkung tubuhnya yang padat melakui pakaian sutera tipis itu.
Seorang dara yang amat jelita, yang berdiri malu-malu dan tidak tahu agaknya harus berkata apa.
"Taihiap...."
Kembali Siang Bwee berbisik, tangan kanannya diangkat ke atas menyentuh muka sendiri dengan gaya malu-malu.
"Nona. mengapa engkau datang ke sini?"
Akhirnya Sian Lun dapat juga mengeluarkan suara, suara yang parau dan sumbang.
Mendengar pertanyaan ini, sepasang mata yang indah itu terbelalak, bulat dan bening, berseri-seri dan akhirnya dara itmenjatuhkan diri berlutut di depan kaki Sian Lun.
"Mengapa. taihiap? Sri baginda sendiri yang menyerahkan aku kepadamu, dan aku"".. merasa girang sekali, aku merasa bahagia sekali...".ah, betapa baiknya sri baginda, aku merasa berbahagia sekali, taihiap"".."
Kembali dara itu mengerling dan tersenyum malu-malu sinar matanya seperti mengeluarkan seribu satu kata-kata yang jelas namun yang tidak mau Sian Lun menerimanya.
Melihat dara itu berlutut di depannya dan kini menengadah, nampak wajahnya yang ayu, dan karena dara itu berlutut di sebelah bawah, dia dapat melihat belahan dada muda yang padat di antara lipatan bajunya yang tipis, darah tersirap naik di dalam tubuh Sian Lun.
Pemuda ini memejamkan kedua matanya, menarik naas panjang lalu berkata.
"Bangkitlah, nona dan duduklah. Kita bicara baik-baik."
Ada sesuatu dalam suara pemuda itu yang membuat Siang Bwee mengerutkan alisnya dengan gelisah, dan membuat dia tidak berani membantah, perlahan dia bangkit berdiri lalu dengan halus menghampiri sebuah bangku bundar di balik meja, kemudian duduk dengan patuh dan mukanya menunduk namun sepasang matanya mengerling ke atas, menatap wajah yang tampan itu penuh selidik.
"Tan-taihiap"""
Bisiknya khawatir melihat pemuda itu masih duduk tak bergerak sambil memejamkan kedua matanya.
Sian Lun membuka matanya dan sejenak pandang mata mereka bertemu.
Akan tetapi Sian lun lalu mengalihkan pandang matanya ke bawah.
"Nona, mengapa di depan sri baginda nona berani minta kepadaku untuk membawa pergi dari istana?"
Tiba-tiba Sian Lun bertanya, suaranya penuh teguran karena selain hal itu dianggapnya terlalu sekali, juga itulah sebabnya mengapa kini sri baginda, dinasihati oleh Thio-thaikam agaknya, menyerahkan gadis ini sebagai hadiah kepadanya!
Kalau Siang Bwee tidak bersikap seperti itu, tentu tidak mungkin gadis itu kini berada di dalam kamarnya, membuat dia kebingungan karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Kehadiran gadis ini menghilangkan rasa gembiranya telah memperoleh kedudukan dan kesempatan membantu pemerintah.
"Ahhh"". maafkan saya, taihiap".."
Gadis itu menunduk dan alisnya yang kecil hitam melengkung indah itu bergerak dan ada kesedihan membayang di wajah yang berkulit halus seperti sutera yang menutupi tubuhnya itu.
"Memang sikap itu amat tidak patut, akan tetapi" .aku memang takut berada di istana, dan aku""
Aku ingin menghambakan diri kepadamu, taihiap."
Makin bingunglah rasa hati Sian Lun mendengar ini.
"Hemm, mengapa begitu? Bukankah engkau telah menjadi selir sri baginda di malam terjadinya keributan itu?"
Wajah itu menjadi merah, sepasang mata itu terbelalak memandang kepada Sian Lun kemudian menunduk lagi dan berobah pucat.
"Ahhh".. itulah sebabnya, taihiap. Aku belum menjadi selir sri baginda! Tidak""..! Belum terjadi, taihiap, kalau sudah terjadi, apa taihiap kira aku masih mau hidup? Aku sudah mengambil keputusan malam itu bahwa kalau sampai aku dipaksa dan tidak dapat melawan, besoknya aku akan membunuh diri! Dan itu pulalah sebabnya mengapa aku merasa berhutang budi kepadamu, taihiap, lebih dari nyawaku. Engkau telah membebaskan diriku dari peristiwa yang tak kukehendaki itu, kemudian engkau malah membebaskan aku dari malapetaka lebih hebat lagi ketika aku diculik penjahat "
Mendengar penuturan ini, Sian Lun mulai memperhatikan gadis itu yang masih menunduk.
Sungguh aneh sekali gadis ini!
"Eh, nona.
Bukankah semua wanita akan merasa berbahagia sekali kalau terpilih menjadi selir sri baginda?"
Wajah yang ayu itu diangkat kembali dan kini sinar mata yang memandang Sian Lun bersinar-sinar penuh semangat dan kedua pipi yang tadinya pucat itu kini menjadi kemerahan seperti buah tomat masak.
Sian Lun makin terheran-heran melihat betapa pipi itu dapat demikian cepatnya berobah warna, sebentar pucat sebentar merah!
Kalau saja yang memiliki pipi itu seorang ahli sinkang, dia tidak akan merasa heran karena dia sendiri setiap saat dapat saja membuat mukanya menjadi pucat kehilangan darah atau menjadi kemerahan penuh aliran darah.
Akan tetapi gadis ini berobah-robah mukanya karena perobahan perasaan hatinya!
Betapa peka dan halusnya!
"Tan-taihiap, harap engkau ketahui bahwa aku bukanlah termasuk wanita yang gila kehormatan, kemuliaan dan harta benda!
Aku bukan wanita yang suka mengorbankan badan dan batin demi untuk mengejar kesenangan!"
Ucapan ini keluar dengan semangat berapi api sehingga mulai berobah pandangan Sian Lun terhadap gadis ini.
Sampai agak lama mereka berdiam diri sehingga suasana dalam kamar itu menjadi sunyi, Kemudian terdengar Sian Lun berkata.
"Akan tetapi mengapa engkau mau menerima ketika diserahkan kepadaku, bahkan tadi engkau mengatakan bahwa engkau berbahagia sekali dapat berada di sini?"
Sambil berkata demikian, Sian Lun memandang wajah itu penuh selidik.
Kembali wajah itu yang tadi sudah merah penuh semangat, kini bahkan menjadi makin merah sampai ke leher dan telinganya.
Sejenak gadis itu tidak mampu menjawab, hanya menunduk, kemudian terdengar kata-katanya lirih.
"Tan-taihiap. bagaimana aku tak akan merasa berbahagia? Engkau telah menyelamatkan diriku, aku berhutang budi, berhutang nyawa dan kehormatan. Aku ingin membalas budi taihiap itu dengan jalan menghambakan diri, melayani taihiap"".."
"Hemm, hanya itu? Jadi engkau"".. akan suka menjadi"".isteriku, atau"". selirku?"
Gadis itu memejamkan kedua matanya sambil tetap menunduk dia berkata.
"Aku bersedia dengan segenap kerelaan hatiku, taihiap!"
"Nona"
"Namaku Ci Siang Bwee, taihiap, harap jangan menyebut nona""
Aku adalah hambamu, taihiap."
"Baiklah, Siang Bwee. Sekarang jawablah dengan sejujurnya, apakah engkau cinta kepadaku?"
Gadis itu memandang terbelalak dan sejenak dia bengong, kemudian dia menunduk kembali.
"Aku"". aku tidak tahu".., taihiap"..aku tidak tahu"".."
"Hemm, tanpa cinta engkau bersedia menyerahkan diri kepadaku. Lalu apa bedanya dengan kalau engkau menyerahkan diri kepada sri baginda?"
"Jauh bedanya! Aku berhutang budi kepadamu, aku ingin membayar, aku ingin membalas budimu, dan selain itu"". aku kagum kepadamu, taihiap, aku memujamu karena taihiap mengingatkan aku akan mendiang Tan-taihiap lain yang semenjak kecil sudah menjadi tokoh pahlawan dalam hatiku. Aku membayangkan taihiap seperti Tan-taihiap pujaanku itulah, maka aku bersedia melayanimu. Perasaan kagum dan pujaanku terhadap taihiap mungkin melebihi rasa cinta, taihiap."
Sian Lun makin tertarik dan dia mengerutkan alisnya.
"Sudahlah jangan kau bicara tentang melayani aku, Siang Bwee. Ketahuilah bahwa aku belum berniat untuk mempunyai isteri, apa lagi selir! Aku hanya menerimamu karena aku tidak dapat menolak, karena menolak berarti akan menghina kaisar ."
"Tapi"".. tapi"".. kalau sri baginda dan terutama sekali""
Thio-taijin tahu bahwa taihiap akhirnya tidak menerimaku, tentu hal itu amat"".
tidak baik bagimu, taihiap.
Taihiap akan dianggap menolak anugerah kaisar, dan selain mungkin aku akan diambil kembali, juga taihiap dapat dituduh menghina.
Ah, jangan lakukan itu, taihiap, jangan sampai aku dibawa kembali ke harem kaisar"".."
Gadis itu menangis dan tiba-tiba kembali dia menjatuhkan diri berlutut.
"Tenanglah, Siang Bwee, tenanglah dan kau duduklah "
Sian Lun menariknya berdiri dan menyuruhnya duduk kembali dengan halus.
Dia tidak berani lama-lama menyentuh lengan gadis itu yang hangat dan halus, apa lagi ketika dekat dia mencium bau yang harum menggairahkan.
"Jangan khawatir. Siang Bwee. Engkau kuterima di sini, dan biarlah engkau boleh pura-pura menjadi""
Eh, selirku.
Akan tetapi engkau harus tahu bahwa aku sama sekali tidak niat mempunyai selir, maka hanya terhadap orang luar saja kita pura-pura menjadi""..eh, suami isteri.
Mengertikah engkau?
Semua itu hanya demi menjaga agar jangan sampai engkau diambil kembali ke dalam istana dan aku dituduh menolak pemberian kaisar."
"Terima kasih, aku memang selalu yakin bahwa taihiap adalah seorang pendekar budiman. Akan tetapi".. aku juga khawatir kalau kalau kehadiranku taihiap terima dengan terpaksa dan taihiap merasa terganggu karena""
Apakah".. taihiap tidak".. cinta padaku".?"
Kini wajah Sian Lun yang berobah merah. Tanpa berani memandang wajah cantik itu dia menjawab.
"Aku tidak tahu. Siang Bwee. Aku tidak tahu tentang cinta"".."
"Tapi taihiap tidak membenciku, bukan?"
"Sama sekali tidak, aku tidak benci padamu, aku malah suka sekali kepadamu karena engkau seorang gadis yang aneh dan baik, juga jujur."
"Dan aku amat memujamu taihiap, seolah-olah Tan taihiap pujaanku semenjak aku kecil Itu kini hidup kembali dalam dirimu. Setiap malam aku akan bersembahyang untuk keselamatan dan kebahagianmu, taihiap."
Mendengar ini, Sian Lun merasa terharu, akan tapi juga tertarik karena gadis ini beberapa kali menyebut nama seorang Tan-taihiap lain yang dikenal oleh gadis itu semenjak kecil.
"Eh, Siang Bwee, siapakah dia Tan taihiap yang kausebut sebut tadi itu?"
Aneh sekali, sebelum menjawab, Siang Bwee menoleh ke kanan kiri, kemudian mendekat dan berbisik.
"Namanya adalah mendiang Tan Bun Hong""."
Tentu saja Sian Lun menjadi terkejut bukan main seperti mendengar suara halilintar Dia bangkit dari tempat duduknya dan mengulang nama itu.
"Tan Bun Hong""..?"
"Sssttt, taihiap, harap jangan meneriakkan nama itu keras-keras. Kalau terdengar orang lain, amat berbahaya""."
Sian Lun sudah menguasai hatinya yang terguncang tadi.
Dia tadi hanya terkejut karena tidak menyangka sama sekali bahwa dayang ini akan menyebutkan nama mendiang ayahnya "Hemm, mengapa begitu.
Siang Bwee?
Dan bagaimanakah engkau bertemu dengan pendekar yang bernama Tan Bun Hong itu?
Ceritakanlah kepadaku "
"Taihiap, aku sendiri ridak pernah bertemu dengan beliau, akupun hanya mendengar cerita itu dari ibuku yang juga amat memujanya bagai seorang pendekar budiman yang bernasib malang. Tan-taihiap itu menjadi mantu dari Pangeran Song, dan ketika itu ibuku adalah seorang di antara selir Pangeran Song. Ketika Tan-taihiap dan seluruh keluarga Pangeran Song terbasmi pemerintah karena dituduh memberontak, ibuku yang cantik dan masih muda tidak ikut dibunuh melainkan dihadiahkan kepada seorang pengawal."
Siang Bwee lalu menceritakan riwayatnya.
Ibunya, bekas selir Pangeran Song yang masih muda dan cantik itu terhindar dari hukuman mati karena ditolong oleh Thio-thaikam dan dihadiahkan kepada seorang pengawal yang berjasa.
Setelah menjadi isteri pengawal she Ci bekas selir itu melahirkan seorang anak perempuan, yaitu Siang Bwee.
Ibu yang selalu masih terkenang kepada keluarga Song inilah yang menceritakan kepada puteri tunggalnya tentang keluarga Song dan tentang seorang pendekar bernama Tan Bun Hong yang amat dikaguminya, dan ibu ini selalu berpesan kepada puterinya agar kelak puterinya dapat berjodoh dengan seorang pendekar gagah perkasa dan berbudi seperti Tan-taihiap itu.
Sayang sekali bahwa ayahnya, pengawal she Ci itu tewas dalam tugasnya, dan ibunya juga meninggal dunia ketika dia berusia sepuluh tahun.
Maka dia lalu dipelihara oleh Thio-thaikam sebagai pelayan dalam, Dan akhirnya karena dia cantik dan pandai, oleh Thio-thaikam dia dihadiahkan kepada kaisar sebagai dayang.
Siang Bwee bercerita pula tentang semua yang didengar dari ibunya mengenai riwayat pendekar Tan Bun Hong.
Betapa pendekar itu menentang pembesar-pembesar yang bertindak sewenang-wenang menindas rakyat, betapa pendekar itu menentang Thio-thaikam sehingga dikejar-kejar dan tentu sudah celaka kalau tidak ditolong oleh keluarga Pangeran Song sehingga akhirnya menjadi mantu Pangeran Song yang budiman.
"Akan tetapi"".. Thio-thaikam dan kaki tangannya mengenalnya sehingga akhirnya Tan-taihiap itu dikeroyok dan tewas, sedangkan seluruh keluarga Song ditangkap dan dihukum mati semua"".."
"Ahh"".!"
Sian Lun menjadi pucat sekali setelah mendengar semua penuturan Siang Bwee.
Memang pernah dia mendengar dari paman dan bibinya, mendiang Gan Beng Han dan Kui Eng yang tinggal di Cin-an tentang ayahnya.
Akan tetapi mereka itu hanya menceritakan bahwa ayahnya adalah seorang pendekar yang menentang pembesar-pembesar jahat dan betapa ayahnya itu kemudian tewas dalam tugasnya membasmi pembesar murtad, dan ibunya beserta semua keluarga ibunya juga tewas karena tuduhan memberontak.
Kini, dari gadis ini dia mendengar kesemuanya dengan jelas.
Jadi kematian ayahnya itu karena Thio-thaikam!
"Apakah ibumu pernah menceritakan kepadamu siapakah yang telah membunuh"..
pendekar Tan Bun Hong itu Siang Bwee?"
Tanyanya, menekan suaranya yang terdengar agak gemetar .
"Tidak, taihiap. ibuku hanya menceritakan bahwa ketika itu yang menjadi kaki tangan dan pembantu pembantu utama dari Thio-thaikam adalah Tek Po Tosu, Bong Kak Liong dan Bong Kak Im."
Sian Lun mengepal tinjunya.
"Di mana adanya mereka itu sekarang?"
"Dua orang saudara Bong itu menurut ibuku telah tewas di tangan para pendekar, sedangkan tosu itu kini tidak lagi membantu Thio-taijin, hanya mewakilkan muridnya yang menjadi kepala pengawal pribadi Thio taijin"
"Ah, kaumaksudkan Liem Kiat itu?"
Sian Lun teringat akan pengawal yang bertubuh jangkung kurus bermata sipit dan berhidung pesek itu. Siang Bwee mengangguk dan menoleh ke kanan kiri.
"Sudahlah, taihiap tidak baik membicarakan mereka dan"". eh, kenapakah engkau, taihiap? Engkau"". engkau...". menangis?"
Siang Bwee memandang terbelalak melihat pemuda perkasa itu mengepal tinjunya dan kedua matanya menitikkan beberapa tetes air mata.
Memang Sian Lun tak dapat menahan air matanya ketika dia mendengar tentang ayah ibunya yang tewas.
Sungguh celaka, mereka itu tewas di tangan Thio-thaikam dan dia sendiri kini menjadi kaki tangan Thio-thaikam!
Itulah yang membuat dia tidak dapat menahan beberapa titik air matanya tanpa disadarinya sehingga nampak oleh Siang Bwee yang bertanya karena heran.
Sian Lun dapat mempercaya wanita ini, bahkan inilah satu-satunya orang yang boleh dipercaya mengenai keadaan pribadinya, rnaka dia mengusap kedua mata dengan lengan baju, menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya, kerpudian dia berkata lirih.
"Dengar baik baik, Siang Bwee, engkau adalah satu-satunya orang yang kupercaya di sini, maka demi arwah mendiang ibumu dan mendiang ayah bundaku, ketahuilah bahwa aku adalah putera tunggal dari Tan Bun Hong dan Song Kiu Bwe."
"Ohhh"".. ohhh".."
Siang Bwee terbelalak memandang, dari kedua matanya kini bercucuran air mata dan mulutnya ternganga keheranan. Akhirnya dia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Sian Lun.
"Kiranya taihiap adalah putera mereka""
Ah, aku ikut menangis di waktu masih kecil mendengar penuturan ibu bahwa Tan-taihiap mempunyai seorang putera yang entah ke mana hilangnya namun ibu yakin bahwa putera itu tidak ikut terbasmi.
Kalau tidak salah ingat, ibu pernah mengatakan nama putera itu, kalau tidak salah""..
Sian Lun namanya""."
"Ibumu benar, akulah Tan Sian Lun. dan aku berhasil diselamatkan oleh mendiang paman dan bibiku"".."
Kembali Sian Lun merasa hatinya tertusuk mengingat akan kebaikan Gan Beng Han dan Kui Eng yang juga tewas terbunuh orang.
Mengapa semua orang baik-baik di dunia ini terbunuh oleh orang-orang jahat?
Mengapa semua orang baik-baik di dunia ini bernasib malang dan orang orang jahat bahkan bernasib baik dan hidup makmur dan bahagia?
Pendapat seperti apa yang saat itu mengganggu pikiran Sian Lun merupakan semacam "penyakit"
Yang dimiliki oleh hampir semua orang di dunia ini.
Kita sudah terbiasa semenjak kecil untuk memandang diri sendiri sebagai yang terbaik, yang terbersih, yang terpandai dan yang paling sebagainya lagi.
Diri sendiri itu dapat diperluas meniadi keluarga sendiri, kelompok sendiri, suku sendiri, bangsa sendiri.
Karena pandangan ini, maka setiap kali ada kemalangan atau malapetaka menimpa diri kita, maka kita memperbesar iba diri dengan keluhan mengapa orang "sebaik"
Kita ini tertimpa kemalangan, malapetaka dan sebagainya lagi!
Dan hal ini merupakan satu di antara sebab sebab yang menimbulkan rasa penasaran, dendam, ketidakpuasan dan kebencian.
Selama hidup aku tidak pernah menipu atau merugikan orang, kenapa sekarang aku ditipu dan dirugikan orang?
Selama hidup aku suka menolong orang dan aku hidup sebagai orang yang baik hati, mengapa nasibku selalu malang dan sengsara?
Selama hidup aku baik terhadap orang lain, mengapa tidak ada orang yang baik kepadaku?
Demikianlah kita selalu mengeluh dengan hati penasaran!
Kalau kita membuka mata memandang diri sendiri, kiranya kita akan mendapat kenyataan bahwa "penyakit"
Macam itu juga ada pada kita!
Tidaklah demikian halnya?
Mengapa kita selalu ingin menonjolkan diri sebagai yang terbaik?
Mengapa pula kita mengharapkan suatu imbalan atau hadiah bagi semua tindakan yang kita anggap baik itu?
Tidak, aku tidak minta imbalan atas kebaikanku, bantah seseorang mungkin.
Akan tetapi, kalau sekali waktu tertimpa kemalangan lalui "mengeluh"
Mengapa dia yang baik itu tertimpa kemalangan, bukankah hal ini sama saja dengan mengharapkan imbalan, agar KEBAIKANNYA iiu menjauhkan segala kemalangan.
Apakah kebaikan yang mengandung pamrih memperoleh imbalan itu kebaikan namanya?
Bukankah itu merupakan suatu kemunafikan yang menyulap suatu daya upaya memperoleh keuntungan menjadi suatu kebaikan?
Mengapa kita selalu cenderung menganggap bahwa setiap kemalangan tidak patut dijatuhkan kepada kita, sebaliknya setiap keberuntungan memang sudah tepat menjadi milik kita?
Pendapat ini hanya mengundang datangnya sesal dan kecewa, yang menuntun kepada rasa penasaran, kebencian, dan kesengsaraan batin.
Yang dinamakan KEBAIKAN itu bukan lagi kebaikan kalau sudah kita sadari sebagai kebaikan!
Misalnya ada seorang kelaparan, kita lalu memberinya makan.
Kalau perbuatan ini kita lakukan karena dorongan iba hati terhadap orang yang kelaparan itu, maka inilah perbuatan wajar, perbuatan yang mengandung cinta kasih.
Akan tetapi kalau kita menyadari bahwa itu adalah perbuatan baik, dan demi "kebaikan"
Itu kita lalu menolongnya, sadar bahwa kita telah melakukan kebaikan, maka kebaikan macam ini adalah kebaikan yang condong berpamrih.
Macam-macamlah pamrihnya itu, mungkin untuk mencari pujian dari orang lain, mungkin untuk menerima syukur dan terima kasih dari yang ditolong, mungkin untuk memuaskan perasaan sendiri yang telah "berbuat baik", bahkan mungkin lebih luas dan tinggi lagi yaitu mengharapkan agar kebaikannya itu dicatat di "sana"
Sebagai tabungan untuk kelak diambil kalau sudah mati atau di raktu perlu.
Perbuatan yang oleh umum dianggap baik itu lenyap sifat kebaikannya kalau di waktu melakukannya kita sadari sebagai kebaikan.
Hanva orang lainlah yang menilai.
Kita sendiri hanya beibuat dengan dasar cinta kasih yang dapat berbentuk belas kasih atau iba hati.
Segala macam peristiwa yang menimpa diri kita hanyalah merupakan akibat dari segala macam perbuatan kita.
Peristiwa yang menimpa diri kita merupakan pemetikan buah dari pohon perbuatan yang kita tanam sendiri, dan ini terjadi tanpa kita sadari.
Semua perbuatan kita atau pohon yang kita tanam sehari-hari, hanja dapat bersih dan sehat apabila kita mau waspada setiap saat, waspada dengan membuka mata memandang diri sendiri, pikiran sendiri perbuatan sendiri sehingga kita dapat waspada dan sadar setiap saat dan dengan kewaspadaan ini kita pasti akan dapat menyingkirkan semua perbuatan yang tidak benar yang berarti kita menghindarkan penanaman pohon yang jahat, yang kelak sudah pasti tanpa kita sadari atau minta, akan menghasilkan buah yang jahat pula yang harus kita petik sendiri.
Oleh karena itu, setiap kali datang kemalangan atau malapetaka menimpa diri kita, dari pada kita mengeluh dan merasa penasaran mengapa kita yang "begini baik"
Tertimpa mala petaka yang "begitu buruk", adalah jauh lebih bermanfaat apabila kita merenung dan meneliti diri sendiri dan selalu waspada terhadap segala apa yang terjadi, haik di sebelah dalam maupun di luar diri kita, tanpa menamakan peristiwa itu sebagai yang baik ataupun yang buruk, tanpa menyesal kepada Tuhan, kepada musia lain.
maupun kepada setan atau kepada alam.
Kita meneliti diri sendiri setiap saat karena diri pribadi adalah SUMBER dari terjadinya segala sesuatu atas diri kita itu.
Sampai lama Sian Lun dan Siang Bwee diam saja.
Sian Lun menunduk, termenung, sedangkan Siang Bwee memandang kepada pemuda ini dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
Sama sekali tidak disangka-sangkanya bahwa pemuda yang amat dikaguminya dan dipujanya karena telah menyelamatkannya itu, pemuda yang mengingatkan dia akan tokoh pujaannya, yaitu mendiang Tan-taihiap yang semenjak dia kecil merupakan tokoh pujaannya, ternyata pemuda ini adalah putera tuugaI tokoh pujaannya itu!
Betapa anehnya.
"Thian Yang Maha Kuasa""!"
Gadis itu mengucapkan bisikan seperti berdoa "Sungguh untung sekali aku"". ah. makin rela aku untuk menghambakan diri kepadamu, taihiap."
Sian Lun juga sudah dapat menguasai dirinya lagi.
Dia teringat akan nasehat gurunya bahwa dia harus mengesampingkan urusan pribadinya dan mendahulukan kepentingan negara.
Kini.
dia tahu siapa yang mencelakakan ayah bundanya.
Thio-thaikam dan kaki tangannya, yaitu yang masih ada hanya Tek Po Tosu, guru dari Liem Kiat, kepala pengawal pribadi Thio-thaikam!
Akan tetapi yang amat mengherankan hatinya adalah keadaan Thio-thaikam.
Mendiang ayahnya memusuhinya dan tentu hal itu terjadi karena Thio-thaikam merupakan seorang pembesar lalim yang menindas rakyat.
Akan tetapi mengapa seorang panglima seperti Ong-ciangkun yang dia tahu gagah perkasa itu memuji Thio-thaikam sebagai pembesar yang baik?
Dan dia melihat sendiri betapa pembesar kebiri itu amat dipercaya dan disuka oleh kaisar.
"Siang Bwee, katakanlah sejujurnya?, apakah engkau tidak suka kepada Thio-taijin?"
Tanpa berpikir lagi Siang Bwee berkata "Tidak, aku sama sekali tidak suka, kepadanya, aku bahkan membencinya, taihiap.
Sebaiknya taihiap jangan mau menjadi pembantunya, sebaiknya, taihiap menjauhi saja orang itu!"
"Eh, kenapa begitu? Mengapa engkau membencinya?"
"Karena dialah yang telah menghancurkan keluarga ayah taihiap! Sejak dahulu, begitu mendengar dari ibu bahwa Thio-taijin menjadi biang keladi kehancuran mendiang Tan-taihiap dan keluarga Pangeran Song, aku sudah membencinya"
"Maksudku,bagaimana engkau melihat kehidupan Thio-taijin? Bagaimana kenyataannya? Lepas dari soal dia menghancurkan kehidupan ayah bundaku, apakah dia itu seorang pembesar yang baik ataukah jahat?"
Kini Siang Bwee mengerutkan alis berpikir sampai agak lama.
"Terus terang saja, taihiap. semenjak ibu meninggal dan dalam usia sepuluh tahun aku dipeliharanya, aku tidak pernah melihat atau mendengar bahwa dia itu seorang pembesar yang sewenang-wenang. Aku memang sering kali merasa heran mengapa dahulu ibu menceritakan kepadaku bahwa Thio-taijin adalah seorang pembesar yang menindas rakyat. Kini dia tidak mengurus pemasukan uang pajak seperti dahulu, melainkan lebih menguruskan keamanan dan hubungan dengan bangsa asing. Oleh karena itu maka dia tidak kelihatan melakukan penindasan terhadap rakyat. Akan tetapi aku tetap benci kepadanya karena dia telah menghancurkan kehidupan ayah bunda taihiap."
Sian Lun menarik napas panjang.
Urusan negara harus didahulukan, pikirnya.
Tidak baik menuruti nafsu perasaan dan dendam atas kematian ayah bundanya.
Pula, dia dapat mengerti mengapa ayahnya dan keluarga ibunya dihukum mati, tentu karena ayahnya melawan pembesar dan pemerintah, maka dianggap pemberontak.
Apapun alasan ayahnya tetap saja kenyataannya ayahnya melawan pemenntah sehingga menerima hukuman.
Dia harus dapat melihat kenyataan ini, dan sudah menjadi kewajiban Thio-thaikam dan kaki tangannya untuk menentang pemberontak dan mengabdi kepada negara.
Dia sama sekali tidak boleh mendendam karena urusan antara ayahnya dan Thio-thaikam bukan merupakan urusan pribadi, melainkan urusan antara yang menentang pemerintah dan yang membela pemerintah.
Dan dalam hal itu, dia tidak dapat menyalahkan Thio-thaikam.
Pikiran ini membuat hatinya agak lega dan hilanglah rasa penasaran dan dendam yang membuat hatinya panas tadi.
"Sudahlah, Siang Bwee, mulai sekarang kita tidak perlu membicarakan tentang mereka lagi, dan mulai sekarang, bagi orang lain engkau telah menjadi"".. eh, selirku seperti yang dikehendaki oleh kaisar." (Lanjut ke
Jilid 36) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 36 Siang Bwee mengangguk dan hatinya seperti tertusuk.
Dia sendiri tidak boleh mengharapkan lebih, akan tetapi dia akan merasa berbahagia sekali kalau Sian Lun benar-benar mau menerimanya sebagai selir atau lebih lagi, sebagai isteri.
Dia tahu bahwa dia telah jatuh cinta kepala pemuda perkasa ini semenjak pemuda itu melepaskannya dari pencemaran oleh kaisar kemudiau menolongnya dari tangan penjahat, dan cintanya semakin mendalam setelah dia mengetahui bahwa pemuda ini adalah putera tunggal dari pendekar pujaannya.
"Hanya bagi orang lain... baiklah, taihiap, aku mengerti."
Sian Lun memandang wajah yang menunduk itu dan agaknya dia dapat merasakan kekecewaan gadis itu, dan dia menarik napas panjang, tidak, dia sama sekali belum memikirkan wanita, belum memikirkan tentang cinta.
Tugasnya masih menggunung di depannya.
Pada saat itu terdengar pintu kamar diketuk orang dan ketika Sian Lun menyuruh pengetuk itu masuk, seorang pengawal melaporkan bahwa Ong-ciangkun datang dan mohon bertemu dengan Tan-ciangkun.
Sian Lun girang sekali dan berkata.
"Persilakan beliau masuk!"
Akan tetapi dari luar pintu kamar itu terdengar suara orang tertawa.
"Ah, aku sudah berada di sini!"
Itulah suara Ong-ciangkun yang sambil tertawa sudah muncul dan memasuki kamar itu.
"Aku datang untuk menghaturkan selamat, Tan-taihiap""
Eh, maksudku Tan-ciangkun! Aku telah mendengar akan pengangkatan itu yang ditentukan sendiri oleh sri baginda. Sungguh aku ikut merasa girang. Kionghi, kionghi (selamat, selamat)!"
Kata panglima muda itu dengan wajah berseri dan mengangkat kedua tangan, dikepal di depan dada.
"Terima kasih, Ong-ciangkun, semua ini terjadi karena hasil bantuan dan jerih payahmu,"
Sian Lun cepat menjawab sambil tersenyum dan memberi hormat pula. Tiba-tiba Ong-ciangkun melihat Siang Bwee yang sudah bangkit berdiri dan menundukkan mukanya, berdiri di sudut.
"Eh, dia ini"". ah, tak salah lagi, tentu dia ini nona yang dihadiahkan oleh sri baginda kepadamu, bukan?"
Wajah Sian Lun berobah merah dan dia hanya mengangguk sambil menahan senyumnya.
"Bukan main! Engkau sungguh beruntung, Tan-ciangkun. Sekali lagi kionghi untuk kebahagiaanmu ini dan kuharap kalian akan menikmati bulan madu kalian, ha-ha!"
Makin merah wajah Sian Lun, juga Siang Bwee makin menunduk untuk menyembunyikan kekecewaan hatinya karena ucapan selamat itu baginya seperti juga ejekan yang amat menyakitkan hati.
"Terima kasih, terima kasih. sahabatku yang baik. Mari kita duduk di ruangan dan bicara dengan enak sambil mencoba kiriman arak harum yang baru saja kudapat dari Thio-taijin."
Sambil bergandeng tangan, dua orang sahabat itu keluar dari dalam kamar, dan dengan cekatan Siang Bwee lalu lari ke dapur dan mempersiapkan arak dan hidangan seadanya untuk tamu yang menjadi sahabat majikannya itu.
Ketika Siang Bwee dengan diikuti dua orang pelayan wanita mengeluarkan hidangan makanan dan arak wangi, dia mendapatkan dua orang perwira muda itu tengah asyik bercakap cakap Dengan sikap lemah lembut dan sopan santun, Siang Bwee mempersilakan tuan rumah dan tamunya makan minum, kemudian dengan membungkukkan tubuh dengan lemah gemulai dia mengundurkan diri bersama para pelayan.
Semenjak tadi Ong-ciangkun memandang wanita ini dan sinar matanya membayangkan kekaguman besar.
Setelah Siang Bwee pergi, dia berkata dengan sikapnya yang jujur kepada Sian Lun.
"Tan ciangkun, sungguh engkau berbahagia sekali memperoleh seorang isteri seperti dia itu. Kapankah diadakan upacara pernikahan sehingga aku dapat minum arak pengantin sampai mabok?"
"Ah, terus terang saja, aku belum memikirkan tentang pernikahan atau isteri, Ong-ciangkun."
"Eh? Jadi kalau begitu dia hanya menjadi selirmu?"
"Beginilah. Eh apa katamu tadi tentang gerakan gerombolan yang menentang pemerintah? Benarkah bahwa gerombolan Im-yang-kauw kini mempunyai seorang pemimpin wanita yang amat pandai dan telah mengobrak abrik sepasukan tentara? Sukar dipercaya seorang wanita yang masih muda dapat mengobrak-abrik dan memaksa pasukan yang terdiri dan seratus limapuluh orang sampai mundur."
"Tadinya aku sendiripun tidak percaya. Akan tetapi setelah aku melakukan pemeriksaan, ternyata bahwa berita itu tidak bohong. Seorang perwira yang ikut dalam pasukan itu menceritakan sendiri kepadaku betapa lihainya wanita muda itu Katanya, wanita itu cantik jelita dan memiliki kesaktian yang amat hebat! sehingga setiap orang yang berani mengeroyok dan mendekatinya pasti dirobohkannya dengan mudah, bahkan perwira itu sendiri biru kena disambar angin pukulannya saja sudah terlempar dan jatuh dari atas punggung kudanya. Padahal perwira itu kukenal sebagai seorang yang tidak rendah ilmu silatnya."
"Hemm, kalau tidak salah, wanita pemimpin Im-yang-kauw itu pastilah Im-yang kauwcu yang bernama Kim-sim Niocu, seorang wanita yang memang memiliki kesaktian hebat Bukankah wanita itu berpakaian serba putih dan pandai memainkan sabuk hitam?"
Sian Lun mendapatkan keterangan tentang Kim-sim Niocu dari ayah dan ibu Yap Wan Cu.
"Ah, engkau sudah mengenalnya, Tan ciangkun? Memang kabarnya dia berpakaian putih dan cantik sekali, akan tetapi apakah dia pandai memainkan sabuk hitam atau tidak, aku tidak mendengar beritanya. Hanya yang jelas, dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali. Memang aku sendiri pernah mendengar tentang Kim sim Niocu itu, akan tetapi bukankah dia dan anak buahnya telah diserbu dan dibasmi oleh pasukan pemerintah yang dibantu oleh para pendekar, beberapa tahun yang lalu?"
Tentu saja Sian Lun juga tahu akan hal ini.
Dalam penyerbuan itulah matinya paman Gan Beng Han dan bibi Kui Eng, pikirnya.
Merekapun tewas oleh Kim sim Niocu itu, dalam pertandingan yang adil, dan memang wanita itu lihai bukan main.
"Tentu dia telah menghimpun kekuatan lagi. Aku akan suka sekali kalau ditugaskan membawa pasukan dan membasmi gerombolan itu"
"Mengapa tidak? Kalau sekarang kita menghadap Thio taijin dan membicarakan hal itu. tentu dia setuju sepenuhnya kalau engkau memimpin pasukan menyerbu Im-yang-kauw yang kabarnya kini telah bergabung dengan Pek lian-kauw itu. Kurasa memang hanya engkau yang akan dapat menandingi wanita sakti itu, Tan ciangkun."
Dua orang sahabat yang sama-sama muda, gagah perkasa dan memiliki kedudukan tinggi dalam ketentaraan Kerajaan Tong tiauw itu, kini meninggalkan rumah gedung Sian Lun untuk pergi mengunjungi Thio-thaikam.
Di sepanjang perjalanan menuju ke istana thaikam ini, Sian Lun memancing agar Ong-ciangkun suka bercerita tentang keadaan orang she Thio itu.
"Ong ciangkun, engkau mengerti bahwa Thio-thaikam menjadi orang atasanku, oleh karena itu aku harus mengenal betul pribadinya. Melihat sikapnya, dia itu bukan seorang ahli perang dan tidak memiliki kepandaian bu (silat), mengapa dia dapat berkuasa dalam bidang pertahanan dan keamanan?"
"Memang benar, Tan-ciangkun. Dahulu Thio-thaikam giat dalam urusan pemerintahan, bahkan kalau tidak salah dia dahulu pernah menjabat sebagai pengumpul dana dan pengatur pajak. Akan tetapi semenjak beberapa tahun ini, dia lebih giat mengurus soal keamanan dan sepanjang yang kudengar, dia amat baik dan menjalankan segala nasihat dan petunjuk Menteri Han Gi yang bijaksana Memang sebaiknya dia menjabat kedudukannya yang sekarang dari pada dia menjadi pengumpul dana, karena""."
Perwira itu tidak melanjutkan.
"Karena apa, Ong ciangkun?"
Melihat keraguan temannya itu, Sian Lun memberanikan-nya dengan berterus-terang.
"karena seperti yang pernah kudengar, beliau itu menindas rakyat dengan peraturan pajaknya?"
"Ssst, lebih baik kita tidak membicarakan hal itu, sahabatku. Urusan itu sudah lama lewat dan kalaupun beliau pernah mendapatkan nama buruk dari pekerjaannya itu, kini nama buruknya telah terhapus dan tertutup oleh jasa-jasa dan nama baiknya Orang tidak selamanya jahat dan tidak selamanya pula baik, bukan?"
Sian Lun mengangguk.
Biarpun singkat, ucapan Ong Gi itu beralasan.
Tidak adillah kalau menilai seseorang dari satu perbuatan yang pada suatu saat saja, dengan menekankan pada perbuatannya yang satu itu.
Ada kalanya orang berbuit baik, ada kalanya pula berbuat sebaliknya.
Ayah bundanya tewas sebagai korban keadaan saja.
Hatinya lebih lapang ketika dia bersama sahabatnya tiba di depan istana Thio taijin, sungguhpun semenjak mendengar penuturan Siang Bwee, terdapat ganjalan di dalam dadanya terhadap pembesar ini.
Kurang lebih seratus orang itu berbaris dengan rapi dan muncul bersama dengan terbitnya matahari pagi di muara Sungai Huang-ho, di pantai lautan Po-hai itu.
Mereka terdiri dari anggauta-anggauta Pek-lian kauw dan anggauta-anggauta Im yang kauw yang dapat dilihat dari pakaian mereka.
Para anggauta Pek lian kauw mempunyai tanda gambar teratai putih di dada mereka sedangkan para anggauta im-yang-kauw memakai tanda gambar Im Yang di dada mereka.
Mereka berjalan dalam barisan tanpa mengeluarkan suara, dan sikap mereka keren sekali.
Di bagian depan dari pasukan yang berjalan kaki ini berjalan empat orang.
Yang pertama adalah seorang Bangsa Uighur yang bertubuh seperti raksasa hitam, otot-otot lengannya nampak menjendol dan gerak-geriknya membayangkan seorang yang bertubuh kokoh kuat dan bertenaga besar.
Dia ini bukan lain adalah Gu Lam Seng, tokoh Uighur yang kepalanya di bungkus sorban, jago silat dan gulat Bangsa Uighur yang dikirim oleh bangsanya untuk bekerja sama dengan fihak Pek-lian-kauw, dai lm-yang-kauw.
Di samping Gu Lam Sing berjalan Thai-kek Seng-jin, kakek berkepala botak yang membawa tongkat bambu Sisik Naga, ketua Pek-lian kauw wilayah timur yang memiliki kepandaian silat dan sihir yang lihai itu.
Di belakang mereka ini berjalan Kok Beng Thiancu, kakek yang masih nampak gagah dan tampan, berpakaian sederhana akan tetapi sikapnya penuh wibawa itu.
Di sebelahnya berjalan seorang dara yang kelihatan gagah dan cantik jelita, berpakaian sutera putih tanpa kembang tanpa tanda apapun, sabuknya merah dan di balik pakaian sutera putih itu membayang pakaian dalam warna kehijauan.
Gadis ini cantik sekali, terutama sepasang matanya yang lebar dan jernih bersinar tajam.
Gadis ini bukan lain adalah Gan Ai Ling yang kini telah menjadi pengganti Im-yang kauwcu yang telah tewas di tangannya!
Akan tetapi rentu saja Ling Ling tidak mau menjadi kauwcu, biarpun sedikit-sedikit dia mempelajari pula Im-yang-kauw untuk mengenal agama ini.
Kalau dulu dia suka berpakaian serba hijau, kini dia suka berpakaian putih, bukan untuk meniru mendiang Im-yang kauwcu, melainkan karena dia ingin berkabung untuk ayah bundanya sungguhpun kini pembunuh ayah bundanya itu telah dia balas dan bunuh pula.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, gadis yang amat lihai dan tinggi ilmu silatnya akan tetapi masih kurang pengalaman ini terjatuh ke dalam kekuasaan sihir dari Thai-kek Seng-jin ketua Pek-lian-kauw yang mengingatkan kepada gadis itu betapa ayah bundanya dahulu adalah pembela rakyat penentang pembesar pembesar lalim, Ling Ling dapat terbujuk dan gadis ini sekarang menganggap bahwa Pek-lian-kauw dan Im-yang-kauw adalah perkumpulan orang-orang gagah, kaum patriot yang membela rakyat yang tertindas!
Memang mudah bagi kita untuk mencela Ling Ling sebagai seorang dara yang hijau dan tidak berpengalaman dan bodoh, mau saja ditipu oieh bujuk rayu ketua Pek-lian-kauw sehingga dia mati-matian membela perkumpulan itu!
Sebaiknya kalau kita menilai diri kita sendiri.
Bukankah kita semua ini juga tidak banyak bedanya dengan keadaan Ling Ling?!
Sampai sekarangpun, peristiwa yang menimpa diri Ling Ling itu masih terus berulang dan tanpa kita sadari, kita mendiri juga menjadi koiban Semua kelompok, semua perkumpulan, semua partai di dunia ini dalam perjuangannya tentu selalu mengangkat diri sebagai pembela rakyat.!
Semua pemimpin golongan selalu mendengung-dengungkan perjuangan demi membela rakyat jelata, dengan kata kata penuh semangat dan amat menarik sehingga kita semua percaya secara membuta dan membantu serta membela usaha golongan itu, membela usaha partai itu,!
berjuang menurut apa yang mereka gariskan secara mati-matian dan fanatik.
Padahal, hampir selalu dan hal ini dapat dibuktikan dari sejarah, para pemimpin kelompok, golongan atau partai itu pada hakekatnya hanya mengejar sukses bagi diri mereka sendiri saja yang pada saat pengejarannya selalu menggunakan nama demi rakyat, demi negara dan sehagainya lagi.
Buktinya?
Sudah terlalu banyak, sudah terlalu sering, namun baru disadari setelah terlambat.
Betapa banyaknya golongan atau partai yang gagal dalam perjuangannya, menjadi pecundang, menjadi buronan, yang pertama-tama menjadi korban adalah para pengikut yang tadinya tidak tahu apa-apa itulah.
Dan para pemimpinnya?
Para pimpinan dari partai yang kalah dan gagal itu?
Sudah berbondong-bondong berlumba untuk menyelamatkan diri, melarikan diri sambil membawa harta benda yang berhasil mereka kumpulkan!
Kita semua sudah melihat sendiri kenyataan ini dan telah terjadi pula di seluruh pelosok dunia.
Dan bagaimana seandainya gotongan atau partai yang kita bela karena kita terkena bujukan itu memperoleh kemenangan dan jaya?
Tak perlu kita berpura-pura, dapat kita lihat pula betapa yang jaya hanyalah beberapa gelintir orang yang tadinya menjadi pimpinan itulah.
Sedangkan para pengikut yang tadinya membela perjuangan itu secara mati-matian?
Dilupakan sudah!
Para pengikut yang tidak tahu apa-apa itu hanya diperlukan di waktu terjadi perebutan, di waktu terjadi pertentangan, di waktu terjadi perang dan permusuhan.
Kalau kalah?
Para pengikut ini mati konyol lebih dulu.
Kalau menang?
Para pengikut ini hanya menjadi penonton dari mereka yang mabok kemenangan dan hanya menggigit jari, atau kalau kebagianpun hanya sisanya Bagaimana dengan para pemimpin yang pandai membujuk?
Kalau kalah mereka berlomba melarikan diri.
Kalau menang mereka berlomba pula memperkaya diri!
Yang dipaparkan di sini bukan sekedar pendapat penuh sentimen belaka, melainkan kenyataan yang tak dapat ditutup-tutupi lagi.
Demikian pula Ling Ling.
Dara ini, seperti juga kita, telah terpikat oleh segala slogan dan bujuk rayu sehingga dia percaya bahwa apa yang diperbuatnya itu adalah tindakan yang benar dan gagah perkasa, bahwa dia membantu dan membela perkumpulan yang patriotik!
Inilah sebabnya mengapa ketika golongannya bertemu dengan pasukan pemerintah dan pasukan itu hendak menangkap orang-orang Pek-lian-kauw yang dianggap pemberontak, dia telah mengamuk dan merobohkan banyak perajurit, mengobrak-abrik pasukan itu dengan mengandalkan kedua tangan dan kakinya yang ampuh!
Akan tetapi, karena Ling Ling tidak mau memperkenalkan namanya, dan hal ini juga menurut nasihat Thai kek Seng jin, maka dia terkenal sebagai Im-yang-kauwcu!
"Menentang pemerintah lalim sebaiknya menyembunyikan nama sendiri karena hal itu akan membahayakan diri kita.
Tentu saja pemerintah mempunyai mata-mata di manapun, sehingga kalau nama kita sudah dikenal, tentu kehidupan kita menjadi tidak pernah aman, biarpun berada di mana juga."
Demikian Thai kek Seng-jin menasihatkan.
Tentu saja tujuan nasihatnya itu berbeda sama sekali dari pada yang diduga oleh Ling Ling.
Kakek cerdik ini bermaksud agar dunia kang ouw tangan ada yang tahu bahwa puteri mend ang Gin Beng Han itu kini membantu Pek lian-kaiw, karena hal ini temtn akan mengundang banyak tokoh kang ouw untuk datang dan menyadarkan Ling Ling!
Dan agaknya Ling Ling, biarpun tidak mau secara resmi menjadi Im yang-kauweu, tidak merasa rendah disangka orang sebagai ketua Im-yang-kauw yang baru, pengganti dari Kim sim Niocu.
Pagi hari itu, setelah melakukan perjalanan beberapa hari lamanya, para tokoh Pek lian-kauw dan Im-yang-kauw ini, ditemani oleh tokoh Uighur itu, memimpin serombongan orang Pek lian kauw dan Im-yang kauw untuk menyerbu sarang Beng-kauw!
Seperti telah diceritakan di bagian depan.
Gin San pernah membuat geger di Pek-lian-kauw ketikaka dia mencari Im-yang kauwcu.
Biarpun Gin San sudah bertanding beberapa gebrakan melawan Ling Ling, namun kedua orang muda ini tidak saling mengenal karena keadaan yang gelap remang-remang.
Akan tetapi setelah melihat ilmu kepandaian tinggi dari pemuda itu, apa lagi ketika Gin San mampu menandingi ilmu sihir dari Thai-kek Seng-jin, para tokoh Pek lian-kauw dan Im-yang-kauw itu dapat menduga bahwa pemuda itu tentu seorang tokoh Beng-kauw.
Hal ini kemudian dipastikan oleh penjelasan Liang Kok Sin bahwa memang pemuda lihai itu adalah sute dari tiga orang ketua Beng kauw.
Kenyataan bahwa ada tokoh Beng-kauw berani mengacau itu mendatangkan rasa penasaran dan marah sekali dalam hati Thai-kek Seng-jin dan Kok Beng Thiancu.
Mereka lalu membujuk Ling Ling untuk membantu.
Tentu saja Ling Ling suka sekali membantu, pertama tama karena dia memang ingin sekali membasmi Beng-kauw yang menjadi biang keladi utama yang menyebabkan kematian ayah bundanya, dan ke dua karena dia memang ingin membantu semua perjuangan Pek lian-kauw dan Im-yang-kauw yang patriotik, dan ketiga kalinya karena dia ingin sekali mengadu kepandaian dengan pemuda tokoh Beng kauw yang lihai itu.
Di antara para anak buah Im yang kauw, terdapat pula Liang Kok Sin dan Liang Hwi Nio, karena kakak beradik yang pernah menyerbu Beng-kauw ini bertugas sebagai penunjuk jalan.
Demikianlah, pada pagi hari itu mereka telah mendekati sarang Beng-kauw yang masih sunyi.
Guha-guha di sepanjang pantai Po-hai yang menjadi sarang Beng-kauw itu masih gelap dan sunyi, belum dimasuki sinar matahari dan agaknya orang-orang Beng-kauw masih tidur nyenyak!
Akan tetapi, kelirulah kalau menduga bahwa orang-orang Beng-kauw itu lengah.
Sebaliknya malah.
Kedatangan rombongan orang Pek-lian-kauw dan Im yang kauw itu jauh-jauh telah diketahui mereka!
Mereka itu sejak subuh tadi sudah siap sedia dan begitu rombongan musuh itu semua telah berkumpul di depan guha guha.
tiba-tiba terdengar suitan-suitan saling sahut di sekeliling tempat itu dan muncullah para anggauta Beng-kauw dari belakang batu-batu dan para anggauta Beng-kauw yang berjumlah kurang lebih seratus orang inipun sudah mengurung tempat itu.!
Orang-orang Pek-lian-kauw dan Im-yang-kauw terkejut dan bersiap siap untuk menyerbu, akan tetapi mereka melihat betapa Kok Beng Thiancu dan Thai kek Seng-jin memberi isyarat agar mereka semua tenang saja, sedangkan dara perkasa yang mereka andalkan itu berdiri tegak saja memandang dengan senyum merendahkan.
Maka besarlah hati mereka dan para anggauta dua perkumpulan itu pun hanya berdiri tegak dan siap untuk bergerak apabila aba-aba sudah dikeluarkan.
Kok Beng Thiancu yang dianggap sebagai pimpinan penyerbuan ini karena dialah ketua dari Im-yang pai, segera membuka mulut berkata, suaranya dalam dan mengandung getaran amat kuat karena kakek yang gagah ini sudah mengerahkan khikangnya untuk membuat suaranya bergema sampai jauh.
"Kami pimpinan Im-yang-pai mengundang pimpinan Beng-kauw agar keluar dan bicara dengan kami sebagai laki-laki, bukan hanya bersembunyi dan mengandalkan anak buah untuk menakut nakuti kami!"
Karena suara itu bergetar hebat, maka para anggauta Beng-kauw menjadi terkejut juga, dan suasana menjadi sunyi setelah gema suara itu lenyap.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa bergelak dari sebuah guba yang besar tak jauh dari situ, suara ketawa inipun bergema dengan nyaringnya, apa lagi karena keluar dari sebuah guha maka gaungnya lebih kuat dari pada suara Kok Beng Thiancu yang membuyar di tempat terbuka.
"Ha-ha-ha, sudah lengkaplah persekutuan busuk itu! Kok Beng Thiancu dari lm-yang-pai Thai-kek Seng-jin dari Pek-lian-kauw, dan Gu Lam Sing dari Uighur! Agaknya menghimpun kekuatan untuk menentang kami, ha ha-ha!"
Suara itu belum lenyap gaungnya ketika tiba tiba dari dalam guha itu keluar gulungan asap hitam dan dari dalam asap ini muncullah tiga orang kakek ketua Beng-kauw yang melangkah menghampiri pimpinan Pek-lian-kauw dan Im-yang-pai itu sambil tersenyum lebar dan pandang mata mengejek.
Mereka itu adalah Kwan Cin Cu, Hok Kim Cu dan Thian Bhok Cu.
Melibat munculnya tiga orang ketua mereka para anak buah Beng-kauw menjadi tabah dan besar hati, maka merekapun tersenyum-senyum mengejek dan membusungkan dada.
Setelah mereka berhadapan muka.
Kok Beng Thiancu menjadi merah mukanya karena dia teringat betapa Beng-kauw telah banyak melakukan hal-hal yang merugikan perkumpulannya.
Akan tetapi, sesuai dengan sikap seorang pemimpin besar perkumpulan Im-yang-pai yang terkenal, dia menjura kepada mereka dan berkata.
"Agaknya kami berhadapan dengan tiga orang ketua Beng-kauw yang bernama Kwan Cin Cu, Hok Kim Cu, dan Thian Bok Cu. Benarkah?"
Kwan Cin Cu yang biasanya pendiam itu kini maju menjawab. Menghadapi tamu penting seperti ini, maka dialah yang meniawab sendiri selaku ketua nomor satu dari Beng-kauw wilayah utara dan timur ini.
"Dugaanmu benar, Kok Beng Thiancu. Biarpun baru sekarang kita saling bertemu muka, namun kita sudah saling mengenal nama lama sekali. Ketua lm-yang pai datang bersama sekutunya dan anak buahnya, apakah demikian pengecut untuk tidak datang sendiri melainkan mengandalkan banyak orang?"
Sepasang mata Kok Beng Thiancu seperti mengeluarkan sinar kilat.
"Sudah lama kami mendengar nama besar tiga ketua dari Beng-kauw dan merasa beruntung hari ini dapat berhadapan muka. Kami adalah laki-laki sejati, bukan seperti orang-orang yang suka berlaku curang dan pengecut, menggunakan nama perkumpulan lain untuk mengacau di Cin-an seperti yang telah dilakukan oleh Beng-kauw beberapa tahun yang lalu. Kemudian tokoh terbesar dari Beng-kauw telah begitu tak bermalu pula untuk melayani murid-murid kami yang muda. Telah terlalu banyak perhitungan bertumpuk antara Beng-kauw dan Im-yang-pai. maka hari ini sengaja kami datang untuk menyelesaikannya!"
Tiga orang ketua Beng-kauw itu masih tenang-tenang saja dan tersenyum mengejek.
Melihat yang muncul hanya ketua Im-yang pai, ketua Pek-lian-kauw wilayah timur , dan tokoh pertengahan Uighur, bersama seorang dara yang masih amat muda, mereka sama sekali tidak merasa jerih karena mereka sudah mendengar sampai di mana kelihaian tiga orang tokoh itu dan merasa bahwa mereka masih mampu menandingi lawan.
Juga jumlah anak buah fihak musuh kurang lebih seratus orang itu bukan merupakan lawan berat.
Tadinya mereka masih khawatir kalau Im-yang-kauwcu ikut bersama fihak lawan, karena mereka tahu bahwa kauwcu yang cantik itu memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari ayahnya, ketua Im-yang-pai.
Akan tetapi ternyata wanita cantik itu tidak ikut datang sehingga hati mereka merasa lega.
"Kok Beng Thiancu, kami adalah fihak tuan-rumah, akan tetapi kami sudah biasa menghargai tamu. Nah, sekarang boleh kau pilih sendiri, apakah kalian akan majukan jagoan untuk melawan kami seorang lawan seorang, ataukah akan main keroyokan? Silakan pilih sesukamu!"
Tantangan yang keluar dari mulut Kwan Cin Cu ini tentu saja merupakan ejekan yang amat memandang rendah kepada fihak lawan.
Kok Beng Thiancu memang sudah bersepakat dengan sekutunya bahwa untuk menghadapi tiga orang ketua Beng-kauw, yang akan maju adalah dia sendiri, Thai-kek Seng-jin, dan Ling Ling.
Maka mendengar tantangan itu dia menjawab.
"Kami tahu bahwa semua kejahatan yang dilakukan oleh Beng-kauw terhadap kami adalah diatur oleh kalian bertiga. Oleh karena itu, kedatangan kami untuk membuat perhitungan dengan kalian bertiga pula, kalau mungkin, tanpa mencampurkan anak buah kita ke dalam pertandingan. Tiga ketua Beng-kauw, kami bertiga menantang kalian untuk mengadu kepandaian secara adil dan gagah!"
Ketika ketua Im-yang-pai berkata demikian, Thai-kek Seng-jin dan Ling Ling telah maju dan berdiri di sampingnya.
Tiga orang ketua Beng-kauw itu terkejut melihat majunya Ling Ling.
Sama sekali tidak disangkanya bahwa gadis itu yang akan maju, mereka menyangka bahwa tentu jago Uighur itu yang akan menjadi orang ke tiga.
Akan tetapi mereka tidak merasa khawatir dan ketiganya tertawa bergelak.
Mereka tahu bahwa di antara para lawan ini, hanya Thai-kek Seng-jin yang memiliki kepandaian tinggi dan yang merupakan lawan berat.
Maka mereka bertiga lalu saling memberi isyarat, tangan mereka bergerak dan nampaklah sinar berkilauan ketika Kwan Cin Cu sudah mencabut golok peraknya, Hok Kim Cu mengeluarkan pedang emasnya, dan Thian Bbok Cu menggerakkan tongkat kayunya.
"Ha-ha, kami bertiga sudah siap. Kalian majulah kalau sudah bosan hidup!"
Kata Kwan Cin Cu yang menghadapi Thai-kek Seng-jin, sedangkan Hok Kim Cu menghadapi Kok Beng Thiancu sedangkan Thian Bhok .Cu menghadapi Ling Ling.
"Tahan dulu!"
Baca Juga: Pedang Kayu Harum 16
Baca Juga: Naga Beracun 9