Eps 8 Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo.
Sinar kecil dari jarum-jarum halus menyambar ke arah Hek bin Sai kong Itulah jarum-jarum amat terkenal dari Pek I Nikouw yang telah dipelajari dara itu dari ibunya, yaitu jarum-jarum Cai-li Toat beng ciam, semacam jarum pencabut nyawa yang luar biasa ampuhnya.
"Huhh"".!"
Hek-bin Sai-kong cepat menggerakkan tangannya dan lengan baju yang lebar itu menyampok, akan tetapi dengan terkejut dia terpaksa menarik tubuh atas ke belakang karena masih ada jarum yang lewat dan mengancam mukanya.
Dia terkejut sekali dan marahlah saikong ini.
Akan tetapi sebelum dia dapat menyerang Wan Cu, Pek I Nikouw telah meloncat ke depannya sambil menghadang dan membelakangi cucu muridnya.
"Hek-bin Saikong, pinni (aku) terima tantanganmu!"
Kata Pek I Nikouw dengan sikap tenang.
"Akan tetapi, kalian tidak boleh membawa-bawa nona ini! Biarlah kalau pinni dan Tiong-san Lo-kai kalah, kalian boleh melakukan apa saja terhadap kami, sebaliknya kalau kalian kalah, kalian harus cepat pergi dan tidak boleh mengganggu wilayah An kian lagi. Bagaimana?"
"Bagus, terima saja, Hek-bin Sai-kong,"
Terdengar Tai-lek Hoat-ong berkata dan Hek-hin Sai-kong mengangguk.
"Baik, Pek I Nikouw, kami menerima taruhanmu!"
Dari jawaban ini dan sikap saikong itu, tahulah Pek I Nikouw dan Tiong-san Lo-kai bahwa yang sesungguhnya menjadi pemimpin dari empat orang itu adalah orang Khitan ini.
"Nikouw tua, biarkan aku yang maju menghadapi mereka!"
Tiong-san Lo-kai yang diam-diam merasa penasaran itu berseru.
"Tidak, Lo kai. Pinni adalah penghuni kuil ini dan menjadi nyonya rumah, engkau adalah tamu, sungguhpun kita berdua yang ditantang, akan tetapi pinni biarkan maju dulu. Kalau pinni kalah barulah engkau yang maju!"
Bantah Pek I Nikouw.
Memang pada waktu itu, secara kebetulan saja Tiong-san Lo-kai berkunjung ke Kuil Kwan-im-bio dalam perjalanannya menuju ke An-kian untuk menengok muridnya, yaitu Yap Yu Tek.
Dan ucapan nikouw tua itupun bukan tanpa alasan, karena dia maklum bahwa ilmu kepandaian kakek pengemis itu masih lebih tinggi setingkat dibandingkan dengan kepandaiannya, maka sebaiknya dia yang maju lebih dulu dan kalau dia terdesak oleh lawan, baru kakek pengemis itu yang turun tangan.
Pada saat itu, Sian Lun sudah melangkah maju dan memberi hormat kepada Pek I Ni-kouw dan Tiong-san Lo-kai sambil berkata.
"Ji-wi locianpwe, harap ji-wi suka mengijinkan teecu untuk mewakili ji-wi menghadapi mereka ini."
Pek I Nikouw dan Tiong-san Lo-kai memandang dengan heran kepada pemuda itu Mereka tadipun sudah melihat bahwa cucu murid mereka datang bersama pemuda asing ini dan kini mendengai bahwa pemuda itu minta persetujuan mereka untuk mewakili mereka menghadapi empat oiang lawan yang amat tangguh itu, mereka tentu saja terkejut dan terheran.
"Siapakah tuan muda ini?"
Tanya Pek I Nikouw kepada Wan Cu.
Wan Cu sendiri terkejut mendengar permintaan Sian Lun dan hatinya terasa hangat karena kagum dan senang mendengar pemuda itu membela nenek dan kakek gurunya.
Sikap pemuda itu dianggapnya gagah berani dan ini amat mengagumkan hatinya, walaupun dia merasa lucu betapa seorang seperti Sian Lun ini berani menghadapi orang-orang yang demikian lihainya sehingga dia sendiri saja sama sekali tidak berdaya menghadapi saikong itu, apa lagi yang lain, yang kelihatan juga amat aneh dan tentu lihai sekali.
Sikap Sian Lun itu membuatnya bangga, maka tanpa ragu-ragu dia lalu berkata, menjawab pertanyaan Pek I Nikouw memperkenalkan.
"Dia adalah Tan Sian Lun suheng!"
Jawaban ini membuat empat orang lawan itu diam-diam memandang rendah.
Apa artinya pemuda itu kalau hanya suheng dari nona muda ini, pikir mereka.
Ditambah sepuluh orang lagi seperti pemuda itupun mereka tidak akan takut.
Akan tetapi Pek I Nikouw dan Tiong-sin Lo-kai memandang dengan alis berkerut dain tentu saja mereka tidak dapat meluluskan permintaan itu.
"Suhengmu dari mana""?"
Pek I Nikouw bertanya lagi karena kalau cucu muridnya ini mempunyai seorang suheng, tentu dia mengenalnya, akan tetapi dia merasa tidak pernah jumpa dengan pemuda ini.
"Dia adalah murid keponakan dari mendiang paman Gan Beng Han."
"Omitohud"".. dia yang dulu dibawa pergi oleh seorang locianpwe""..?"
Pek I Nikouw memandang kepada Sian Lun yang hanya mengangguk lalu menundukkan mukanya karena dia tidak ingin bicara tentang gurunya.
Akan tetapi, melihat bahwa Sian Lun masih amat muda, di dalam hatinya Pek I Nikouw dan Tiong san Lo-kai tentu saja sangsi apakah orang semuda ini boleh diandalkan untuk menghadapi lawan-lawan yang mereka tahu amat lihai.
Dan urusan ini sama sekali tidak menyangkut diri pemuda itu, maka tentu saja mereka tidak mau membiarkan pemuda itu terancam bahaya.
Apa lagi pemuda itu bukan merupakan murid segolongan, maka amat tidak baik menyeretnya ke dalam bahaya sehingga melibatkan perguruan atau partai lain ke dalam urusan pribadi.
"Terima kasih atas kesediaanmu, sicu, akan tetapi biarlah pinni dan Lo kai yang akan menghadapi mereka, tua sama tua,"
Kata Pek I Nikouw yang kemudian menghadapi empat orang kakek itu dan berkata.
"Nah, siapakah yang akan memberi petunjuk kepada pinni?"
Agaknya di antara empat orang penantang itu sudah ada persepakatan, karena tiba-tiba pendeta Lama itu sudah melangkah maju menghadapi Pek I Nikouw dan mengangkat kedua tangan memberi hormat.
"Siancai, pinceng mendapat kehormatan untuk melayani Pek I Nikouw, ketua Kwan-im-bio yang terkenal itu! Karena di fihak kalian ada dua orang yang maju, maka fihak kamipun akan maju dua orang, yaitu pinceng sendiri dan Tai lek Hoat-ong."
Pek I Nikouw memandang calon lawan ini dengan penuh perhatian.
Dia hanya pernah mendengar nama Sin Beng Lama, satu di antara para pendeta Lama dari Tibet yang berkeliaran di daratan besar, dan yang namanya terkenal di dunia kang-ouw sebagai seorang yang berilmu tinggi, dan kabarnya Sin Beng Lama ini adalah murid kepercayaan dari tokoh besar Tibet yang berjuluk Ba Mou Lama, yaitu ketua Lama Jubah Merah.
Pendeta ini usianya lima-puluh lebih, bertubuh tinggi kurus dan nampaknya masih kuat, pakaiannya sederhana dan jubahnya berwarna merah, sepatunya berlapis baja dan di pinggangnya sebelah kiri terselip sebatang tongkat kuningan yang kecil dan tidak begitu panjang, hanya sepanjang sebatang pedang biasa.
Melihat sepatu itu, Pek I Nikouw menduga bahwa lawan ini agaknya seorang ahli tendangan, maka dia mencatat dugaan ini di dalam hatinya.
"Baik, majulah, Sin Beng Lama!"
Pek I Nikouw berkata halus dan nenek tua ini sudah memasang kuda kuda setelah dia membalas penghormatan Lama itu.
"Lihat serangan!"
Sin Beng Lama berseru keras dan dia mulai menyerang dengan pukulan menyilang.
Dua orang ini kelihatan sungkan sungkan Karena mereka berdua adalah pendeta-pendeta yang berjubah pendeta pula, biarpun bukan segolongan namun setidaknya mempunyai aliran yang sama.
Pek I Nikouw adalah seorang nenek yang sudah tua, tidak kurang dari tujuhpuluh tahun, usianya dan pada dasarnya nikouw ini tidak menyukai kekerasan sungguhpun dia merupakan seorang tokoh Thai-sin pai tingkat dua yang berilmu tinggi.
Sudah bertahun-tahun dia tidak pernah bertempur, bahkan dia lebih tekun memperhatikan persoalan batin dari pada ilmu silat, maka boleh dibilang dia kurang latihan.
Selain itu, juga tenaganya sudah banyak berkurang, maka kini sekali bertanding menghadapi seorang lawan yang lihai, maka tahulah dia bahwa dia menghadapi bahaya.
Melihat cara lawan menyerang dengan ganas, tak tertahankan lagi dia berseru sedih.
"Omitohud""..!"
Dan meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri.
Hatinya bersedih mengingat bahwa dia harus berkelahi melawan seorang pendeta pula!
Memang sesungguhnya amat menyedihkan melihat kenyataan betapa kekerasan tak pernah meninggalkan manusia, atau lebih tepat lagi manusia tak pernah dapat terbebas dari kekerasan, biarpun dia telah memiliki pengetahuan bertumpuk-tumpuk dan telah mengusahakan sedapat mungkin untuk menjadi orang baik, menjadi pendeta atau bahkan pertapa!
Jelaslah bahwa kebersihan manusia tidak dapat diukur dari kedudukan, usia, bangsa, agama ataupun kepercayaan.
Apa lagi diukur dari pakaian yang membeda-bedakan manusia sebagai karyawan, usahawan, seniman, sarjana, pendeta dan sebagainya lagi itu.
Yang menentukan adalah tindakan yang merupakan pelaksanaan dari pada keadaan batin setiap orang, dan keadaan batin ini hanya diketahui oleh diri sendiri masing-masing!
Oleh karena itu, yang dapat membersihkan batin, membebaskan batin, hanyalah diri sendiri belaka!
Dan pembersihan ini baru mungkin terjadi apa bila kita masing-masing mengenal diri sendiri, mengenal diri sendiri yang penuh dengan keinginan, ingin senang, ingin baik, ingin berhasil, ingin "maju", ingin melebihi orang lain dalam segala-galanya, dan seribu satu macam keinginan lagi, mengenal diri sendiri yang penuh dengan kemunafikan, kepalsuan, kebencian, iri hati, permusuhan, rasa takut, dan sebagainya.
Kitalah yang dapat mengenal diri sendiri, dengan mengamatinya Setiap saat, mengamati gerak-gerik jasmani kita, mengamati gerak-gerik hati dan pikiran kita.
Tanpa mengenal kekotoran yang melekat pada diri sendiri, mana mungkin timbul pembersihan?
Kita selalu menganggap bahwa kita adalah orang yang paling bersih, paling baik, dan dengan demikian kita tenggelam ke dalamkepalsuan ini dan yang kotor menjadi tetap kotor, bahkan menjadi semakin kotor!
Demikian pula dengan halnya Pek I Nikouw.
Dia berduka melihat orang lain menggunakan kekerasan, tanpa menyadari bahwa tanggapannya terhadap kekerasan orang lainitupun merupakan kekerasan yang tidak ada bedanya!
Mungkin, seperti yang kita lakukan kalau kita menghadapi kekerasan orang lain dengan ke kerasan pula, Pek I Nikouw akan beranggapan bahwa dia mempergunakan kekerasan demi membela kebenaran!
Inilah senjata kita yang selalu kita pergunakan untuk membela diri sendiri, untuk mcmbenarkan diri sendiri, untuk mencarialasan mengapa kita melawan, mengapa kita menggunakan kekerasan.
Kita selalu beranggapan bahwa kita marah, kita keras, karena kita membela kebenaran!
Kita sama sekali tidak mau memandang diri sendiri sehingga nampak jelas bahwa MARAH, BENCI, BERKERAS itu sendiri sudah TIDAK BENAR!
Namun kita pakai untuk membela kebenaran!
Kebenaran siapa?Tentu saja kebenaran kita sendiri yang boleh saja kita selimuti dengan umum kebenaran agama, bangsa, golongan dan lain-lain lagi yang hanya merupakan pengluasan saja dari pada kebenaran UNTUK AKU.
Kita lupa bahwa kalau kita sudah menentukan suatu kebenaran untuk diri sendiri sendiri, maka sudah tentu fihak lawan kitapun memiliki ketentuan suatu kebenaran untuk dirinya sendiri.
Maka terjadilah perang kebenaran, perebutan kebenaran dan sudah jelas dapat kita lihat bersama bahwa kebenaran yang diperebutkan itu sesungguhnya BUKANLAH KEBENARAN ADANYA.
Semenjak sejarah dicatat manusia, selalu manusia berenang dalam lautan kekerasan.
Kita menyamakan diri dengan hal-hal yang kita anggap lebih tinggi dari pada kita.
Melihat diri kita sendiri yang tidak berarti, yang tidak abadi, maka kita suka melekatkan diri kepada yang kita anggap lebih besar, seperti bangsa, agama, partai, golongan, keluarga, dan lain-lain di mana kita mengharapkan akan dapat "membonceng"
Untuk mengisi kekosongan dan kedangkalan diri kita sendiri. Maka terjadilah perpindahan kekerasan. Kalau tadinya kita memberatkan "aku"
Masing masing dan menjadi marah, membenci dan sebagainya kalau aku diganggu, maka kini terjadi perpindahan atau bahkan pengluasan si "aku"
Yang menjadi "negaraku, bangsaku, agamaku, partaiku, golonganku"
Sehingga marahlah kita kalau semua itu diganggu.
Bahkan ada yang mengesampingkan dirinya sendiri, seperti para pendeta dan pertapa, tidak akan marah kalau dirinya diganggu, akan tetapi awas, jangan mengganggu agamanya atau golongannya, karena kalau itu diganggu, dia akan marah dan menggunakan kekerasan!
Padahal, golonganku, partai ku, bangsaku dan sebagainya itu hanya merupakan pengluasan dari pada si aku itu juga!
Dapatkah kita hidup bebas dari segala ikatan, segala pelekatan, segala penyamaan diri bebas dari si aku dengan segala bentuknja dan pengluasannya yang penuh dengan pengajaran kesenangan sehingga menimbulkan kebenaran sendiri-sendiri dan akibatnya menimbulkan konflik dan pertentangan?
Karena terus diserang dan didesak oleh lawannya, akhirnya Pek I Nikouw juga membalas serangan serangan lawan dengan serangan-serangan maut dan pukulan-pukulannya yang kelihatannya lemah lembut namun sesungguhnya mengandung tenaga sinkang yang murni dan masih kuat di samping ketepatan sasaran yang disambar oleh jari-jari tangannya yang kecil, yaitu bagian bagian yang mematikan.
Tiba-tiba terdengar Sin Beng Lama mengeluarkan bentakan nyaring dan terus-menerus.
Kiranya dia telah mempergunakan ilmu tendangannya dan kedua kaki yang terbungkus sepatu berlapis baja itu sudah menyambar bertubi-tubi dan saling susul kiri dan kanan-Hebat sekali tendangan-tendangan itu karena selain cepat dan kuat, juga datangnya secara tidak terduga duga.
Agaknya kedua kaki pendeta Lama ini dapat melancarkan tendangan diri segala macam posisi.
Agak repot juga Pek I Nikouw menghadapi serangkaian tendangan ini.
Akan tetapi setelah terancam bahaya, nikouw tua ketua Kwan-im-bio yang memang memiliki dasar ilmu silat murni dari Thai-san-pai ini, mendapatkan kembali ketenangannya dan pulih kembali kelincahannya yang dahulu, secara otomatis tubuhnya bergerak dan mengulur langkah-langkah Thai-san sin-po sehingga akhirnya lawannya sendiri yang terengah-rngah kehabisan tenaga karena melakukan tendangan lebih membutuhkan dan menghamburkan tenaga dari pada pukulan tangan.
"Lihat senjata!"
Tiba-tiba pendeta Tibet itu berseru dan nampak sinar kuning berkelebat.
Kiranya dia telah mencabut tongkat kuningan dan menggunakan senjata ini untuk melakukan totokan ke arah leher lawan.
Terkejutlah Pek l Nikouw karena nyaris di terkena totokan maut itu.
Cepat dia membuang tubuhnya yang tua ke belakang dan karena dia meragukan kelincahan tubuhnya yang sudah tua, dia tidak berani berjungkir balik seperti ketika masih muda, melainkan terus menjatuhkan diri ke belakang lalu bergulingan menyelamatkan diri dari pengejaran tongkat.
Ketika dia meloncat berdiri, seorang nikouw yang membawa pedangnya telah melemparkan pedang itu ke arah Pek I Nikouw yang cepat menyambar gagang pedangnya.
Timbul kembali semangat Pek I Nikouw setelah merasakan gagang pedangnya di tangan.
Melihat lawan sudah menerjang lagi, dia memutar pedangnya dan segera pedang itu lenyap bentuknya, berobah menjadi gulungan sinar yang indah sekali karena nenek ini telah mainkan ilmu pedang Thai san-pai yang sudah terkenal keindahannya, yaitu Ngo-lian Kiam-hoat (Ilmu Pedang Lima Teratai).
Berkali-kali terdengar suara berdencing nyaring kalau pedang bertemu dengan tongkat kuningan dan yang nampak hanya dua gulungan sinar putih dan kuning, diseling muncratnya bunga api yang berpijar.
Diam-diam Wan Cu merasa khawatir dan terkejut sekali.
Baru sekarang dia melihat betapa sikapnya tadi amat lucu dan memalukan.
Sedangkan nenek gurunya saja agaknya tidak mudah mengalahkan seorang lawan, apa lagi dia sebagai cucu murid Pek I Nikouw?
Dan dia tadi membuka mulut besar menantang mereka!
Dan Sian Lun juga menawarkan diri untuk mewakili nenek dan kakek sakti itu untuk menghadapi lawan!
Wan Cu mengerling ke samping dan melihat betapa wajah pemuda itu tetap biasa dan tenang saja, sungguhpun pandang mata pemuda itu mengikuti jalannya pertandingan dengan penuh perhatian.
Huh, mana kau bisa tahu bagaimana jalannya pertandingan, pikir Wan Cu.
Dia sendiri tidak dapat melihat jelas bagaimana jalannya pertandingan antara nenek gurunya dan lawannya, karena gerakan pedang dan tongkat itu begitu cepat sehingga gulungan sinar putih dan kuning itu menjadi satu dan menyilaukan mata.
"Lun-ko, untung engkau tadi tidak diperbolehkan mewakili, kalau engkau jadi maju, sungguh berbahaya bagimu. Lama itu terlalu lihai!"
Bisik Wan Cu untuk membuyarkan perhatian Sian Lun karena dia merasa penasaran melihat pemuda itu pura-pura tertarik melihat pertempuran yang terlampau cepat sehingga sukar diikuti pandang mata itu.
"Hemm? Oh, ya, dia lihai sekali"".."
Jawab Sian Lun yang hanya menengok sebentar 1alu memandang lagi ke depan.
"Uh, jangan pura-pura pandai kau,"
Pikir Wan Cu, mendongkol juga karena pemuda itu seolah-olah tidak memperhatikan dia, agaknya lebih tertarik menonton pertandingan yang tak mungkin dapat diikutinya itu dari pada memandang kepadanya.
"Kalau engkau yang maju, apakah kau mampu melawannya dan dapat bertahan lebih dari duapuluh jurus?"
Tanyanya lagi memancing, maksudnya untuk membikin pemuda itu malu karena dia makin mendongkol.
"Ahh"""? Mungkin"".. tidak mampu akan tetapi yang jelas, Pek I Nikouw akan menang"".
"Apa..."..? Bagaimana kau tahu""..?"
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara berdencing nyaring, disusul suara pendeta Tibet itu memekik kesakitan, tongkatnya terlepas dan dia meloncat ke belakang, tangan kanan yang tadi memegang tongkat berdarah karena tergores pedang.
Biarpun pendeta ini tidak tcrluka parah, namun jelas bahwa dia sudah tidak mungkin bertanding lagi karena tangan kanannya tidak dapat memainkan senjata dengan baik.
Melihat lawannya mundur dan memandang tongkat yang terlempar ke atas tanah dengan muka pucat, Pek l Nikouw cepat melemparkan pedangnya kepada seorang nikouw, lalu mengambil tongkat itu dan menyerahkan kepada Sin Beng Lama.
"Terima kasih bahwa Sin Beng Lama suka mengalah terhadap pinni,"
Katanya halus.
Sin Beng Lana menyambar tongkatnya dengan tangan kiri, lalu membalikkan tubuh dan kembali kepada rombongannya.
Pada saat itu menyambar angin keras dan tubuh Tai-lek Hoat ong yang tinggi besar dan bongkok itu sudah meloncat ke depan Pek I Nikouw.
"Kepandaian Pek I Nikouw sungguh hebat, ingin sekali saya belajar kenal dengan kehebatan ilmu Thai san-pai!"
Kata kakek bongkok yang tinggi besar itu dan sebelum Pek I Nikouw menjawab, dia sudah menggerakkan kedua tangannya ke depan dengan gerakan mendorong secara bergantian.
Ketika menyambar angin yang hebat, Pek I Nikouw terkejut sekali dan cepat diapun mendorongkan kedua telapak tangan ke depan karena maklumlah dia bahwa kakek Khitan itu sudah menyerangnya dengan pukulan jarak jauh mengandalkan sinkang!
Dua tenaga yang tidak nampak bertemu dan akibatnya Pek I Nikouw terdorong ke belakang, dan hampir saja terjengkang kalau dia tidak cepat meloncat ke samping, Tai-lek Hoat-ong tertawa dan dengan beberapa langkah saja dia sudah mengejar, lalu menyerang dengan tamparan-tamparan kedua tangannya yang besar.
Kelihatannya perlahan saja dia menampar, akan tetapi ternyata tamparan itu membawa hawa pukulan yang amat kuat.
Karena Pek I Nikouw tidak sempat mengelak, dia terpaksa menangkis.
"Plakk!"
Tubuh Pek I Nikouw terguling Tiong-san Lo kai cepat meloncat ke depan sedangkan Pek I Nikouw segera ditolong oleh para nikouw. Nikouw tua itu bangkit dengan muka pucat, dia tidak (Lanjut ke
Jilid 29) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 29 sampai terluka hebat akan tetapi lengan kanannya seperti lumpuh rasanya.
Tahulah dia bahwa tidak percuma tokoh Khitan itu memakai sebutan Tai-lek yang berarti Tenaga Besar.
Melihat majunya kakek pengemis itu, Tai lek Hoat-ong tertawa.
"Ha-ha-ha, kiranya tidak berapa hebat kepandaian tokoh Thai-san-pai dan ingin aku mencoba kepandaian Tiong-san Lo-kai sebagai tokoh Bu tong pai."
Tiong-san Lo-kai tadi sudah menyaksikari kelihaian kakek tinggi besar bongkok ini dan tahulah dia bahwa lawannya ini memiliki tenaga besar, sesuai dengan julukannya, oleh karena itu sebagai seorang tokoh tua yang cerdik dan banyakpengalamannya di dumi kang otw, dia tentu saja tidak berniat untuk mengadu tenaga dengan tokoh Khitan itu.
Sambil tersenyum dia memegang tongkatnya melintang di depan dada seperti orang memegang sebatang pedang, dia berkata.
"Tai-lek Hoat-ong, kiranya engkau hanya seorang tua Bangka sombong. Mari kita main main sebentar!"
Tai lek Hoat-ong atau Tayatonga juga maklum bahwa senjata tongkat lawan itu adalah senjata yang berbahaya karena ulet dan lemas, tidak terbuat dari logam keras yang dapat dipatahkan dengan tenaganya yang besar, melainkan terbuat dari kayu yang lemas.
Di samping ini, juga tongkat itu dapat dipergunakan untuk menotok jalan darah dan beberapa bagian jalan darah yang berbahaya dan lemah tidak mungkin dilindunginya dengan kekebalan.
Akan tetapi karena dia merasa yakin bahwa kepandaiannya masih beberapa tingkat lebih tinggi dari pada tingkat lawan, dia tersenyum lebar.
"Baik, baik, kau majulah, jembel tua!"
Mulutnya berkata demikian seolah-olah dia mengalah dan mempersiapkan lawan untuk mulai menyerang, akan tetapi ternyata kedua langannya sudah bergerak lebih dulu, yang kiri mencengkeram ke arah tongkat di tangan inan lawan, sedangkan yang kanan menampar dengan kekuatan dahsyat ke arah kepala lawan.
Sekali bergerak, tokoh Khitan ini selain hendak merampas tongkat, juga hendak membikin pecah kepala lawan dengan tamparannya yang hebat itu!
Tiong-san Lo-kai cepat menarik tongkatnya ke belakang dan sambil mengelak dari tamparan itu, tongkatnya berkelebat menotok ke arah pergelangan tangan kanan yang tadi menimparnya, kemudian dengan membalikkan tongkat pada saat lawan menarik kembali tangannya, dia sudah menotok ke arah tiga jalan darah penting di leher, pundak dan ulu hati secara susul-menyusuli "Bagus!"
Terdengar Tai-lek Hoat-ong berseru keras dan tiba-tiba kedua tangannya bergerak ke depan dan kini Tiong-san Lo-kai menahan seruannya karena terkejut bukan main ketika dari tangan kiri lawan itu menyambar hawa pukulan yang sekaligus menolak atau mendorong kembali tongkatnya dan tangan kanan lawan itu kembali sudah mencengkeram ke arah lambungnya!
Tiong-san Lo-kai cepat memutar tongkatnya membentuk perisai melindungi lambungnya dan dia lalu cepat mainkan Ilmu Tiong-san-tung-hoat (Ilmu Tongkat dari Tiong-san) yang sesungguhnya dia ciptakan dari sumber ilmu pedang Bu-tong Kiam-hoat.
Sejak tadi Sian Lun tidak pernah lengah memperhatikan jalannya pertempuran dan dari semula juga dia maklum bahwa seperti juga Pek I Nikouw, tingkat ilmu kepandaian Tiong-san Lo-kai, apa lagi tenaga sinkangnya, sama sekali bukanlah lawan kakek Khitan itu yang benar-benar amat lihai sekali.
Biarpun harus diakuinya bahwa ilmu tongkat yang dimainkan oleh kakek pengemis itu hebat, namun tidak cukup kuat untuk melindungi Tai-lek Hoat-ong yang dengan kekuatan sinkangnya dapat menolak semua serangan tongkat sebelum tongkat itu dapat mendekati tubuhnya, sebaliknya, dengan pukulan-pukulan jarak jauh dia sudah dapat membuat Tiong-san Lo-kai kewalahan dan beberapa kali kakek pengemis mi terhuyung ke belakang.
Tiong-san Lo-kai juga terkejut bukan main dan diapun maklum bahwa dia bukanlah lawan kakek yang amat sakti ini.
Timbullah rasa khawatir di dalam hatinya, bukan mengkhawatirkan dirinya sendiri.
Dia sudah tua dan tenaganya memang sudah banyak berkurang dan dia sama sekali tidak takut mati.
Akan tetapi ia mengkhawatirkan cucu muridnya, juga mengkhawatirkan muridnya, dan keluarga muridnya yang tentu akan terancam bahaya dari persekutuan itu kalau sampai dia kalah oleh Tai-lek Hoat-ong.
Diapun tahu bahwa Pek I Nikouw juga tidak berdaya menghadapi mereka dan siapakah akan mampu melindungi keluarga Yap Yu Tek, muridnya yang terkasih?
Karena kekhawatiran ini, timbul kenekatan di dalam hati Tiong-san Lo-kai.
Dia harus dapat merobohkan Tai-lek Hoat-ong, kalau perlu dia akan mengadu nyawanya.
Tiba-tiba kakek pengemis itu mengeluarkan suara bentakan nyaring sekali karena bentakan ini dilakukan dengan pengerahan khikang kemudian tongkatnya menyambar dahsyat sekali karena dia telah menggunakan seluruh tenaga dan perhatiannya, dipusatkan kepada serangannya itu tanpa memperdulikan lagi segi pertahanan.
Melihat ini, Pek I Nikouw terkejut bukan main, juga Sian Lun menahan napas karena maklum bahwa kakek pengemis itu tentu akan celaka.
Tai-lek Hoat-ong juga terkejut melihat serangan tongkat yang demikian ganas dan dahsyatnya.
Biarpun dia sudah mengelak lalu menangkis, tetap saja kulit lengannya dekat siku terobek sedikit, akan tetapi pada lain saat, dengan tangan kanan dia berhasil menangkap kedua tangan lawan pada pergelangannya dan mengerahkan tenaganya sehingga Tiong-san Lo-kai tak mampu bergerak lagi, tongkatnya patah-patah dan kedua pergelangan tangannya telah "terbelenggu"
Oleh jari-jari tangan kanan Tai-lek Hoat ong yang mengandung tenaga amat kuatnya itu.
Sambil tertawa mengejek Tai-lek Hoat-ong mengerahkan tenaga lebih keras lagi dan kakek pengemis itu memejamkan mata dan menggigit bibir menahan rasa nyeri yang hebat karena tulang-tulang pergelangan tangannya serasa akan patah terhimpit jari-jari yang amat kuat itu.
Akan tetapi sedikitpun tidak terdengar keluhan dari mulutnya dan dia memang sudah siap untuk menerima kematian kalau serangan nekatnya gagal.
Tiba tiba terdengar bentakan Wan Cu.
"Lepaskan sukong (kakek guru)!"
Dara itu dengan nekat telah menerjang ke depan dan menggerakkan tangan untuk menyerang Tai-lek Hoat-ong.
Akan tetapi dengan tenang saja kakek raksasa bongkok itu menggerakkan kakinya dan tubuh Wan Cu terlempar ke belakang!
"Omitohud, engkau sungguh kejam""..!"
Pek I Nikouw berseru dan nenek inipun sudah menerjang ke depan untuk menolong temannya, akan tetapi tangan kiri Tai-lek Hoat-ong bergerak mendorong ke depan dan nikouw tua itu terpaksa mundur kembali terdorong oleh tenaga yang amat kuat sampai dia terhuyung-huyung.
"Ha-ha-ha, orang-orang macam kalian berani memusuhi Beng-kauw dan kami?"
Tai-lek Hoat-ong berseru mengejek dan memperkuat cengkeramannya pada kedua pergelangan tangan Tiong-san Lo-kai.
"Krekkk!"
Tulang pergelangan tangan kiri kakek pengemis itu patah dan kakek itu menggigit bibirnya sendiri sampai berdarah, namun sama sekali tidak mengeluarkan keluhan.
"Aha, kiranya Tai-lek Hoat-ong yang namanya disohorkan orang sebagai datuk orang Khitan yang memiliki kepandaian tinggi, ternyata hanya seorang sombong yang suka melanggar janjinya sendiri dan hanya mampu menghina lawan yang sudah tidak berdaya."
Tiba-tiba Sian Lun berkata, suaranya nyaring dan penuh wibawa sehingga Tai-lek Hoat-ong terkejut lalu menoleh, memandang kepada pemuda itu dengan alis berkerut dan mata bersinar penuh amarah.
"Orang muda, apa maksudmu dengan kata kata itu?"
"Apakah bunyi perjanjian antara kedua fihak sebelum bertanding tadi? Bukankah kalian boleh memperlakukan kami sesuka hati kalian kalau kami sudah kalah?"
Kata pula Sian Lun.
"Ha-ha, memang benar. Dan kalian sudah kalah. Bukankah Pek I Nikouw dan Tiong-san Lo kai sudah kalah olehku sehingga aku boleh memperlakukan mereka sesuka hatiku kecuali"". kecuali kalau nona ini mau menjadi isteri murid Beng-kauw?"
Tai-lek Hoat ong melihat bahwa keuntungannya akan lebih besar kalau cucu Yap-taijin dapat menjadi isteri murid Hek bin Saikong karena dengan demikian pembesar itu menjadi keluarga dan tentu akan menyokong gerakan mereka.
"Siapa bilang sudah kalah? Di antara kami berempat, masih ada aku yang belum maju bertanding. Hayo cepat lepaskan Tiong-san Lokai dan kalahkan aku dulu kalau engkau dan kawan-kawanmu tidak mau disebut pengecut pengecut tak tahu malu!"
Mendengar ini, tentu saja Tai-lek Hoat-ong menjadi marah dan sekali mendorong, tubuh Tiong-san Lo-kai terlempar ke belakang dan kakek ini tentu roboh kalau tidak cepat disambar oleh Pek I Nikouw yang cepat menolongnya dan mengobatinya dengan obat penyambung tulang.
Sementara itu, Wan Cu memandang kepada Sian Lun dengan hati penuh khawatir.
Dia tahu bahwa pemuda itu menghinakan kata-kata yang mengandung akal hanya untuk menyelamatkan kakek gurunya dan sekarang pemuda itu tentu akan celaka karena akal apa lagi yang dapat dipergunakannya untuk menghadapi empat orang yang amat lihai itu?
Di fihak Tai-lek Hoat-ong, Hek-bin Saikong sudah marah sekali.
Tentu saja dia memandang rendah kepada pemuda ini.
Bukankah tadi Yap Wan Cu mengaku pemuda ini sebagai suhengnya?
Apa sih kepandaian suheng dari nona itu?
Sedangkan kakek guru dan nenek gurunya saja sudah kalah, masa sekarang kakak seperguruannya yang hendak maju?
"Biarlah aku saja yang menghadapi pemuda ingusan ini!"
Hek bin Sai-kong membentak dan Tai-lek Hoat-ong mengangguk.
Tokoh Khitan ini tentu saja merasa terlalu tinggi untuk melayani seorang pemuda yang menjadi cucu murid kakek dan nenek yang baru saja dikalahkannya itu dan menilik dari tingkatnya, tentu Hek-bin Sai-kong sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan pemuda ini.
"Kau tamatkan saja riwayat pemuda bermulut lancang ini!"
Kata Tai-lek Hoat-ong dan Hek-bin Sai-kong menyeringai sambil maju mcnghadapi Sian Lun.
Memang sudah menjadi niat hatinya untuk membunuh pemuda ini.
Pemuda ini kelihatan halus dan tampan, maka di menduga bahwa tentu ada "hubungan"
Antar pemuda ini dan nona itu. Kalau nona itu akan menjadi mantu muridnya, maka pemuda ini harus dilenyapkan lebih dulu, pikirnya.
"Bocah sombong bosan hidup, coba kau terima ini!"
Ucapan Hek-bin Sai-kong itu diikuti oleh serangan dahsyat.
Kedua tangan kakek itu menyambar dari kanan kiri dan dia merasa yakin pemuda itu tidak akan mampu mengelak karena semua jalan keluar sudah ditutupnya dengan gerakan kedua tangan itu.
Melihat ini Pek I Nikouw dan Tiong-san Lo-kai mengerutkan alisnya penuh kekhawatiran sedangkan Wan Cu memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak, membayangkan betapa pemuda yang baru saja dijumpainya itu tentu akan roboh dan tewas dalam beberapa gebrakan saja.
Namun mereka bertiga tentu saja tidak mampu menolong karena kalau mereka bergerak, tentu tiga orang lawan lainnya yang lebih lihai itu akan menghalangi mereka, dan pula, pertandingan dilakukan satu lawan satu, sebagai orang-orang gagah merekapun malu untuk melakukan pengeroyokan.
"Wuuut""
Wuuuttt""!!"
Hebat memang serangan yang dilakukan Hek-bin Sai-kong itu.
Hati Wan Cu sampai merasa ngeri melihat kedua tangan yang besar itu terbuka dan mencengkeram ke arah tubuh Sian Lun dari kanan kiri.
Dia ingin memejamkan matanya, akan tetapi dipaksanya matanya terbuka karena dia hendak melihat bagaimana pemuda itu dapat menyelamatkan diri dari serangan sedemikian dahsyatnya.
"Plak-plakk!"
Wan Cu terbelalak, juga Pek I Nikouw, Tiong-san Lo-kai, dan tiga orang lain fihak lawan melongo saking herannya melihat tubuh Hek-bin Sai-kong tiba-tiba "terbang"
Ke atas dan terbanting di atas genteng sehingga menimbulkan suara hiruk-pikuk karena beberapa buah genteng yang keras itu pecah-pecah ditimpa tubuh kakek bermuka hitam penuh brewok itu!
Mereka tadi hanya melihat pemuda itu menggerakkan kedua tangan menangkis dan tahu-tahu tubuh tokoh Beng-kauw itu telah terlempar seperti terbang ke atas!
Kalau semua orang bengong memandang ke atas genteng, adalah Hek-bin Sai-kong sendiri yang juga kelihatan kaget, matanya terbelalak, mulutnya mengeluarkan suara ah ah uh uh dan mukanya pucat sekali.
"Sute, mengapa kau di sana? Lekas turun!"
Ui-bin Sai-kong menghardik karena merasa malu melihat peristiwa yang masih belum dapat dipercaya sepenuhnya itu dan dia bahkan menyangka sutenya main main.
"Aughhh"". tidak bisa, suheng".. kakiku"". agaknya teikilir..."""
Dengan gerakan ringan, Ui bin Sai-kong sudah melayang naik ke atas genteng dan langsung dia memeriksa kaki sutenya.
Memang benar mata kaki sutenya yang kanan bengkak dan biru.
Dia lalu mengempit tubuh sutenya, dibawa meloncat turun dan dia mengomel.
"Siapa suruh kau main main dan meloncat ke atas genteng?"
"Aku? Main-main? Meloncat ke atas genteng? Siapa yang meloncat?"
Hek-bin Sai kong mengulang pertanyaan pertanyaan itu sambil bersungut-sungut karena mendongkol.
Dia merasa diejek oleh suhengnya itu, padahal Ui-bin Sai-kong benar benar tidak tahu bahwa sutenya itu bukan "meloncat"
Melainkan dilontarkan oleh lawannya yang muda itu.
Akan tetapi Ui-bin Sai-kong sudah terlalu marah untuk memperhatikan sutenya, maka setelah menurunkan sutenya dia lalu meloncat ke depan Sian Lun yang masih berdiri dengan sikap tenang.
Ui-bin Sai kong adalah murid pertama dari para ketua Beng kauw, tingkat kepandaiannya tentu saja paling tinggi di antara murid-murid yang lain, Karena sekali ini Ui-bin Saikong hendak menebus rasa malu oleh tingkah sutenya tadi, maka dia maju sambil memegang sepasang kongce, yaitu senjatanya yang amat diandalkan.
Pendeta muka kuning ini memandang kepada Sian Lun dengan sikap bengis dan dia sudah menantang.
"Orang muda, hayo sebutkan namamu sebelum engkau menjadi mayat dan tidak akan mampu mengaku lagi siapa namamu."
"Namaku adalah Tan Sian Lun,"
Jawab Sian Lun sederhana.
"Tan Sian Lun, benarkah engkau mewakili fihak Pek I Nikouw untuk menghadapi kami?"
Tanya pula Ui-bin Sai-kong karena dia masih tidak percaya bahwa pemuda ini yang kedudukannya hanya sebagai suheng gadis itu, berarti hanya cucu muid pula dari Pek I Nikouw, akan dapat mengalahkan sutenya atau dia.
Betapapun, dia tidak mau bersikap kepalang tanggung, maka dia telah mengeluarkan senjatanva.
"Benar,"
Jawab pula Sian Lun singkat.
"Bagus! Sumoimu, kakek dan nenek gurumu semua sudah kalah, agaknya engkau sudah bosan hidup. Nah, keluarkanlah senjatamu orang muda!"
Bentaknya. Tiba-tiba Wan Cu melangkah maju mendekati Sian Lun.
"Suheng, kaupakailah pedangku ini!"
Dia menyerahkan sebatang pedang kepada pemuda itu, akan tetapi Sian Lun tersenyum, menggeleng kepala dan mengisyaratkan dengan pandang mata dan gerakan tangannya agar dara itu minggir.
Kemudian dia menghadapi Ui-bin Sai-kong dan berkata lantang.
"Sai-kong, orang yang membawa senjata hanya orang yang memang sudah mempunyai iktikad untuk menyerang orang lain. Aku tidak bermaksud menyerang siapapun, maka aku tidak membawa senjata. Kalau engkau hendak menggunakan sepasang kongce itu untuk membunuhku, silakan!"
Ucapan ini sederhana saja, akan tetapi oleh Ui-bin Sai-kong dianggap sebagai tantangan dan penghinaan besar.
Tentu saja ucapan itu akan membuatnya malu untuk maju dengan senjata di tangan melawan seorang pemuda bertangan kosong, akan tetapi pendeta ini lebih cerdik dari pada sutenya.
Dia menduga bahwa kalau berani menghadapi dia yang bersenjata, hal ini berarti bahwa tentu pemuda itu memiliki sesuatu yang diandalkan "Bagus!
Semua orang di fihakmu dan fihakku mendengarkan sebagai saksi bahwa engkau akan menghadapi sepasang kongceku dengan tangan kosong!"
"Phuhh! Sudah tua bangka dan pendeta pula, masih bersikap curang dan licik sekali! Tak tahu malu melawan orang muda bertangan kosong dengan senjata!"
Tiba-tiba Wan Cu memaki.
"Biarlah, Wan Cu. Sepasang senjatanya itu hanya pantas untuk menakut-nakuti anak kecil saja, aku tidak takut,"
Kata Sian Lun.
Tadinya ejekan Wan Cu itu sudah membuat wajah Ui-bin Sai-kong yang biasanya warna kuning itu menjadi agak merah, akan tetapi jawaban Sian Lun kembali menikam perasaan hatinya dan dia merasa dihina, maka dengan kemarahan meluap-luap yang mengatasi perasaan sungkan dan malunya, dia sudah menggerakkan sepasang senjatanya itu dan menerjang Sian Lun tanpa banyak cakap lagi, serangan sepasang kongce ini dahsyat bukan kain dan sama sekali tidak boleh disamakan dengan penyerangan Hek-bin Sai-kong tadi, sungguhpun tingkat kepandaian kedua orang saikong ini memang tidak banyak selisihnya.
Perbedaannya adalah tadi Hek bin Sai kong hanya menyerang dengan kedua tangan kosong yang dilakukan dengan sikap memandang ringan sehingga pendeta pertama itu tidak mencurahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya kini Ui-bin Sai-kong menyerang dengan senjata kongce yang menjadi andalannya, dan serangannya dilakukan sepenuh tenaga dan dia sudah mengeluarkan jurus pilihannya ketika dua batang senjata itu berobah menjadi dua gulungan sinar yang menyambar seperti halilintar ke arah tubuh Sian Lun.
Apa lagi Wan Cu, bahkan Pek I Nikouw dan Tiong-san Lo-kai sendiri mengerutkan ali mereka dengan hati khawatir.
Dua orang tua ini menganggap bahwa Sian Lun terlalu merendahkan lawan dan kini berada dalam bahaya tanpa mereka berdua mampu untuk mem bantunya.
Akan tetapi, serangan bertubi-tubi yang dilakukan Ui-bin Sai-kong hanya dielakkan dengan mudah saja oleh Sian Lun dan pemuda ini menggerakkan tubuhnya secara aneh, ke dua kakinya melakukan langkah-langkah yang teratur maju mundur dan ke kanan kiri, seperti orang menari saja, akan tetapi anehnya gulungan sinar sepasang kongce yang menyambar-nyambar itu tidak pernah menyentuh ujung bajunya, apalagi mengenai tubuhnya!
Melihat langkah-langkah ini.
Pek I Nikouw dan Tiong-san Lo-kai makin terheran-heran karena mereka seperti mengenal dasar-dasar gerakan kaki dari ilmu silat yang dimiliki oleh Lui Sian Lojin, guru dari mendiang tiga pendekar Naga Sakti, yaitu Gan Beng Han, Tan Bun Hong dan Kui Eng!
Agaknya pemuda ini telah mewarisi pula kepandaian pendekar-pendekar itu, dan kalau memang benar demikian, kepandaiannya tentu tidak akan melebihi tingkat tiga orang pendekar yang sudah meninggal itu!
Dan sudah jelas tingkat itu tidak akan lebih tinggi dari tingkat Pek I Nikouw atau Tiong-san Lo-kai!
Mana mungkin dapat diandalkan untuk menghadapi lawan berat seperti Sin Beng Lama tokoh Tibet itu, apa lagi lawan Tai-lek Hoat-ong, kakek raksasa Khitan yang sakti itu?
Betapapun juga, dua orang tua ini dapat mengikuti jalannya perkelahian itu dengan seksama dan mereka maklum batwa setidaknya pemuda itu akan mampu mengatasi lawannya yang sekarang menyerangnya dengan sepasang kongce sehingga mereka tidak perlu mengkhawatirkan akibat dari pertempuran ini.
Tidak demikian dengan Yap Wan Cu.
Dara ini sejak tadi sudah merasa khawatir sekali.
Semenjak jumpa dengan Sian Lun memang ada perasaan aneh menyelinap di dalam hatinya, akan tetapi perasaan itu tertutup oleh perasaan memandang rendah kepada pemuda yang dianggapnya lemah itu.
Maka, begitu melihat Sian Lun berani maju mewakili dua orang locianpwe untuk menghadapi lawan-lawan yang demikian saktinya, dia merasa heran, terkejut dan juga senang sekali.
Dia kagum bukan main danmenganggap Sian Lun seorang pemuda yang berjiwa pendekar, gagah perkasa dan tidak mengenal takut sehingga berani menentang lawan-lawan yang telah mengalahkan nenek dan kakek gurunya!
Dan ketika dia melihat Sian Lun secara aneh sekali berhasil membuat Hek-bin Sai-kong terlempar ke atas genteng, kekagumannya membuat dia harus mengaku dalam hatinya bahwa dia suka kepada pemuda ini.
Hatinya menjadi makin gelisah ketika Sian Lun menolak pemberian pedangnya dan kini, melihat pemuda itu mengelak secan aneh, seolah-olah terdesak oleh sepasang kongce yang dahsyat itu, tanpa berkesempatan untul membalas, hatinya makin bingung dan khawalir.
Dia tidak dapat menahan perasaan gelisah nya lagi ketika melihat sinar senjata pendeta itu makin hebat mengurung Sian Lun, dan melompatlah dia ke depan dengan pedang ditangannya.
"Pendeta pengecut!"
Bentaknya dan pedangnya sudah menerjang dengan ganasnya kepada Ui-bin Sai-kong untuk menolong Sian Lun.
"Wan Cu, jangan..."..!"
Pek I Nikouw yang maklum bahwa pemuda itu sama sekali tidak membutuhkan bantuan sudah berteriak, juga Tiong-san Lo-kai berseru mencegah dara itu bertindak lancang, namun terlambat karena gerakan Wan Cu sama sekali tidak tersangka-sangka oleh siapapun juga.
Sian Lun sendiri terkejut bukan main ketika melihat Wan Cu dengan nekat telah menyerbu dan menusukkan pedangnya ke arah dada Ui-bin Saikong.
Saikong itu menggerakkan kongce di tangan kiri untuk menangkis serangan Wan Cu sepenuh tenaga, dan menggunakan kongce kanan untuk menyerang leher Sian Lun.
"Trangg!"
Pedang di tangan Wan Cu terlempar jauh dan kongce itu masih terus menyambar ke dada Wan Cu.
Ternyata tokoh Beng-kauw ini terlalu kuat bagi Wan Cu sehingga selain pedang dara itu terlempar, juga kini nyawanya terancam maut!
Akan tetapi, tiba-tiba pendeta itu tidak melanjutkan serangannya kepada Wan Cu karena lengan kirinya merasa lumpuh, tak dapat digerakkan untuk beberapa detik lamanya.
Tanpa diketahui oleh pendeta itu sendiri, ternyata tadi Sian Lun telah menyelinap dari bawah kongce yang menyambar lehernya, dan melihat Wan Cu terancam bahaya, dia cepat menggerakkan jari tangannya dan menyentuh bawah siku kanan pendeta itu sehingga kongcenya tidak dapat dilanjutkan menyerang Wan Cu.
Sian Lun lalu menyentuh pundak Wan Cu dan menggunakan sedikit tenaga untuk mendorong dara itu ke pinggir.
Akan tetapi Wan Cu sudah merasa seperti dilontarkan maka dia terkejut sekali dan tubuhnya sudah melayang ke dekat Pek I Nikouw!
"Cu-moi, harap jangan membantuku!"
Kata Sian Lun sambil tersenyum kepadanya dan dara itu memandang dengan kedua pipi berobah merah dan jantung berdebar aneh.
Kini dia tahu betapa lihainya pemuda itu dan betapa lucu dan mentertawakan tindakannya tadi yang hendak membantu si pemuda!
Sementara itu, Ui bin Sai kong yang beluu sadar bahwa lumpuhnya lengan kirinya untuk beberapa detik sehingga menggagalkan serangannya terhadap Wan Cu tadi adalah perbuatan pemuda yang menjadi lawannya, kini menjadi marah bukan main.
"Gadis liar, kautunggu, kubunuh dulu dia ini, baru engkau!"
Setelah berkata demikian, dia memutar sepasang kongce itu seperii kitiran angin cepatnya menyambar nyambar ke arah kepala dan tubuh Sian Lun Akan tetapi Sian Lun tidak mau membuang banyak waktu lagi kini.
Tadi sudah cukup baginya untuk terus mengelak sambil mempelajari sifat gerakan sepasang kongce itu.
Kini dia sudah mengenal dasarnya dan begitu sepasang kongce itu bergerak, dia sudah mendahului dengan kedua tangannya, menyambar dari dalam karena sepasang kongce itu mempunyai gerakan menyambar dari luar dan sebelum Ui-bin Sai-kong tahu apa yang terjadi, jari-jari tangannya sudah dicengkeram, nyeri bukan main rasanya sehingga terpaksa jari-jari tangannya itu melepas gagang sepasang senjatanya yang terampas dan dengan satu gerakan cepat Sian Lun membalikkan ujung kedua senjata itu ke arah lengan pemiliknya.
"Aduhhh...".!"
Ui-bin Sai-kong berteriak keras dan meloncat ke belakang, lalu dengan mata terbelalak memandang dua batang tombaknya yang sudah menancap di kedua lengannya dekat siku, menembus daging lengannya!
Dengan kaki terpincang-pincang Hek-bin Sai-long cepat menolong suhengnya, mencabut sepasang kongce yang menancap di kedua lengan itu.
Untung senjata itu tidak menembus atau mematahkan tulang, hanya menembus kulit daging saja, maka cepat Hek bin Sai-kong menaruh obat di atas luka-luka di kedua lengan suhengnya.
Sin Beng Lama berseru heran.
"Omitohud"l"
Dia meloncat ke depan, menghadapi Sian Lun dengan sepasang mata memandang penuh selidik dan mulutnya berkemak-kemik membaca jampi jampi penolak bahaya!
Akan tetapi Sian Lun tenang saja menentang pandang mata pendeta Lama dari Tibet itu, maklum bahwa pendeta itu memiliki kekuatan luar biasa yang dapat mempengaruhi orang dengan sihirnya.
Akan tetapi Sian Lun adalah seorang pemuda gemblengan kakek sakti Siangkoan Lojin dan tentu saja sudah dibekali ilmu untuk menghadapi pengaruh ilmu sihir atau ilmu hitam.
Dengan kekuatan sinkangnya yang hebat, Sian Lun menatap pandang mata lawan itu dengan tabah dan getaran yang mengandung hawa aneh sama sekali tidak mempengaruhinya!
Sin Beng Lama juga merasakan adanya penolakan kuat ini, maka jantungnya sendiri terguncang dan dia cepat menghentikan serangan ilmu hitamnya.
"Omitohud...", orang muda yang aneh, engkau sungguh berani menentang kami. Setelah engkau dapat mengalahkan kedua saikong, mari main-main dengan aku sebentar"
Pendeta Lama itu mengibaskan lengan bajunya yang lebar dan nampaklah tongkatnya yang pendek, sebuah tongkat kuningan yang panjangnya hanya seperti pedang biasa Biarpun tadi kakek ini sudah terluka tangannya oleh pedang Pek I Nikouw, akan tetapi berkat pertolongan Tai-lek Hoat-ong, luka itu telah mengering dan tidak terasa nyeri lagi, dan karena kini yang dihadapi adalah seorang pemuda, maka dia merasa yakin akan dapat memenangkannya.
Kembali hati Pek I Nikouw dan Tiong-san I Lo-kai berdebar tegang melihat Sian Lun menghadapi Sin Beng Lama yang amat lihai itu dengan tangan kosong saja.
Pek l Nikouw sudah merasakan kelihaian pendeta Tibet itu yang memiliki tingkat hampir sama dengan dia, maka tentu saja dia merasa amat khawatir kalau pemuda itu hanya menghadapinya dengan tangan kosong.
"Tan-sicu, kaupakailah pedang pinni!"
Berkata demikian, nikouw tua itu melontarkan pedangnya yang meluncur cepat ke arah Sian Lun. Sian Lun menengok, tersenyum dan menggeleng kepala.
"Terima kasih, locianpwe, teecu tidak biasa mempergunakan senjata,"
Katanya dan dengan jari telunjuknya dia menyentil pedang yang meluncur ke arahnya itu.
Terdengar suara berdencing nyaring dan pedang itu telah, membalik dan terbang ke arah pemiliknya!
Pek I Nikouw menerima pedangnya dan menarik napas panjang, lalu berbisik kepada Tiong-san Lo-kai.
"Entah bagaimana Lui Sian Lojin dapat mempunyai murid sepandai ini!"
"Tak mungkin dia murid Lui Sian Lojin tua bangka di Kwi-hoa-san itu, kulihat ilmu kepandaiannya tidak kalah oleh kakek itu,"
Bisik Tiong-san Lo-kai penuh kagum. Kini Sian Lun menghadapi Sin Beng Lama dan dengan tenang dia berkata.
"Bukankah kedatangan kalian ini memang bermaksud untuk menyebar maut? Hanya pada lahirnya saja kalian mengatakan hendak mengadu ilmu, akan tetapi sesungguhnya kalian memang sengaja hendak membunuh orang. Persekutuan busuk kalian di dalam kuil tua di hutan itu, siapakah yang tidak tahu?"
Mendengar ini, Sin Beng Lama dan Tai-Lek Hoat-ong terkejut bukan main dan pendeta Tibet itu sudah menerjang tanpa banyak cakap lagi, memutar tongkat kuningannya dan menyerang dengan totokan-totokan bertubi-tubi yang kesemuanya mengarah jalan darahkematian "Hemm, kalau semua orang jahat dan kejam berjubah pendeta, akan bagaimana jadinya dengan dunia ini?"
Sian Lun membentak dan kini diapun tidak mau memberi hati lagi.
Di sudah mengerahkan tenaganya dan dengan tangan kosong dia menangkis tongkat itu.
Pertemuan antara lengan dan tongkat kuningan itu membuat Sin Beng Lama tergetar dan terhuyung ke belakang.
D apat dibayangkan betapa kaget rasa hati pendeta itu, dan kembali di menerjang dengan lebih dahsyat.
Namun, Sian Lun kini menyambut keras lawan keras dan sambil menangkis tongkat kuningan dengan tangan kanan, tangan kirinya mengirim tamparan yang disertai pengerahan tenaga sinkang.
Begitu tangannya akan bertemu tongkat, tangan itu bcrobah menjadi cengkeraman seperti kuku naga sakti dan tak dapat dielakkan lagi oleh Sin Beng Lama, tongkat kuningan itu telah kena dicengkeram, sedangkan tangan kiri pemuda itu masih terus menampar ke arah pelipis.
Sin Beng Lama terkejut sekali karena merasa betapa dia tidak mampu menarik kembali tongkatnya yang dicengkeram lawan, maka dia mengeluarkan suara melengking dan dari ujung tongkat itu menyambar sinar hitam ke arah dada Sian Lun.
Melihat ini, baik Pek I Nikouw maupun Tiong-san Lo-kai mengeluarkan seruan tertahan, dan Wan Cu memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak.
"Krekkk!"
Tongkat itu hancur dalam cengkeraman Sian Lun dan secepat kilat tangan kanan yang mencengkeram hancur tongkat itu kini ditarik ke depan dada.
Pemuda itu tak sempat mengelak dari sambaran sinar hitam mg muncul dari ujung tongkat tadi, dari jarak sedemikian dekatnya, maka jalan satu satunya baginya hanya menerima sinar hitam itu dengan tangannya, sedangkan tangan kirinya masih tetap melanjutkan tamparan tadi.
"Trikkkkk!"
Paku-paku halus yang meluncur dari ujung tongkat tadi bertemu dengan telapak tangan Sian Lun yang penuh dengan hancuran kuningan, dan paku paku itu runtuh semua ke atas tanah.
Sin Beng Lama kaget sekali dan dia sudah miringkan tubuhnya dan menangkis tamparan dengan lengan kiri dari samping.
"Dukkk!!"
Dan tubuh pendeta Lama itu terguling!
Tentu saja semua orang yang menonton pertandingan itu hampir tidak percaya melihat pendeta Lama dari Tibet yang sakti itu akan terguling hanya dalam beberapa kali gebrakan saja!
Bahkan Sin Beng Lama sendiripun merasa penasaran bukan main dan biarpun tubuhnya sudah terguling, dia malah bergulingan cepat dan tiba-tiba saja sisa tongkat di tangannya meluncur dari bawah menyambar ke arah tenggorokan Sian Lun seperti anak panah, kernudian serangan itu disusul oleh tubuhnya yang sudah meloncat dan seperti seekor harimau menubruk kambing!
"Awas".!"
Wan Cu tak tertahan lagi menjerit menyaksikan serangan yang nekat itu.
Akan tetapi dengan sikap tenang sekali Bian Lun menggunakan lagi jari telunjuknya untuk menyentil tongkat kuningan yang meluncur ke arah lehernya itu sehingga terdengar suara nyaring dan tidak seperti pedang Pek-I-Nikouw yang tadi diterbangkannya kembali pada pemiliknya, kini sisa tongkat yang disentil itu meluncur ke bawah dan amblas ke dalam tanah sampai tidak kelihatan lagi.
Dan ketika tubuh Sin Beng Lama menyusul dengan serangannya yang dahsyat, dengan dua pasang kaki dan tangannya menubruk, Sian Lun memapakinya dengan dorongan kedua tangannya, sebelum tubuh lawan itu dapat menyentuhnya tubuh pendeta itu sudah dipapaki hawa pukulan dahsyat yang membuatnya kembali terjengkang dan terbanting sedemikian kerasnya sampai Lama itu menjadi pingsan seketika!
Tiba-tiba terdengar teriakan keras seperti teriakan seekor biruang marah dan tubuh tinggi besar agak bongkok dari Tayatonga atau Tai-lek Hoat-ong sudah melayang ke depan dan berhadapan dengan Sian Lun.
Sepasang mata raksasa peranakan Khitan ini menatap wajah Sian Lun dengan tajam, kemudian pandang matanya menggerayangi tubuh pemuda itu penuh selidik, seolah-olah dia tidak mau percaya kepada pandang matanya sendiri.
"Orang muda, murid siapakah engkau?"
Tanyanya dengan suara dalam karena kakek itu sudah menahan kemarahannya yang timbul melihat betapa tiga orang temannya telah kalah semua melawan pemuda ini.
Sian Lun juga membalas pandang mata tajam itu, kemudian penuda ini menarik napas panjang.
Teringat dia akan cerita dari Ong Gi atau Ong ciangkun tentang keadaan negara di mana terdapat tiga kelompok yang saling bertentangan.
Dia tahu bahwa kakek ini mewakili Khitan dalam kelompok persekut Khitan, Tibet, dan Beng-kauw.
"Tai-lek Hoat-ong, siapa adanya guruku tidik ada sangkut-pautnya sama sekali denganmu. Aku tahu siapa adanya engkau, seorang tokoh Khitan, seorang asing di negeri ini. Mengapa engkau hendak melakukan kekacauan di sini? Lebih baik engkau kembali saja ke negerimu sendiri dan mengajak pergi teman temanmu ini."
Muka raksasa berpakaian pendeta itu menjadi merah dan matanya melotot ketika dia mendengar ucapan itu. Kembali terdengar suara menggereng dari tenggorokannya, seperti singa.
"Hemmm, bocah masih ingusan sudah sombong bukan main! Kau anak kecil lahu apu tentang kami orang-orang Khitan? Huh, bocah sombong, kalau tidak ada bangsa kami orang orang Khitan, tentu kerajaan sudah hancur oleh pemberontak! Kami adalah bangsa penolong kerajaan ini dari tangan pemberontak, dan engkau anuk kecil berani menuduh kami mengacau?"
Bantahan itu merupakan lagu lama bagi Sian Lun yang sebetulnya telah mendengar penuturan Ong-ciangkun tentang keadaan kerajaan, maka tentu saja dia tersenyum mendengar bantahan itu.
Maka diapun tidak mau berbantahan tentang kedudukan orang-orang Khitan di negeri ini.
hanya langsung membicarakan tentang urusan perorangan.
"Tai-lek Hoat-ong, aku tidak sembarangan menuduh melainkan bicara menurut kenyataan. Kalau engkau tidak mengacau. mengapa engkau berada di sini dan menantang para locianpwe di sini, bahkan engkau membela orang Beng-kauw yang hendak kurang ajar terhadap nona ini?"
"Bocah lancang mulut! Engkau sendiri bukankah juga membela mereka? Bela membela antara sahabat sudah menjadi kebiasaan orang orang gagah! Memang aku membela dua orang saudara dari Beng-kauw ini dan sekarang tak perlu banyak cakap, kalau engkau mewakili mereka, akupun mewakili fihak kami. Hayo, majulah dan keluarkan semua kepandaianmu!"
Kakek raksasa Khitan yang berusia enam.
puluh tahun lebih itu telah melolos sabuknya yang ternyata merupakan sebatang rantai terbuat dari pada emas dan ujung rantai itu terdapat kaitannya yang berbentuk mata kail.
Kaitan ini dipakai untuk menggunakan rantai emas itu sebagai sabuk, akan tetapi setelah dilepas, maka kaitan itu merupakan senjata yang mengerikan sekali.
Dengan memegang gagang rantai di tangan kanan dan jari-jari tangan kirinya memainkan ujung rantai yang berbentuk kaitan, kakek itu memandang lawannya dengan sinar mata beringas dan seperti seekor kucing memandang seekor tikus yang hendak dipermainkannya lebih dulu sebelum dibunuh dan diganyangnya.
"Hoat-ong, sudah kukatakan bahwa aku tidak biasa membawa-bawa senjata untuk menakut-nakuti orang, maka kalau kau memaksaku untuk bertanding, aku akan menghadapimu dengan alat yang ada padaku semenjak lahir ini!"
Sian Lun melonjorkan kedua lengan dan kakinya.
Jawaban dan sikap pemuda ini sama sekali bukan muncul dari kesombongannya, juga merupakan sikap yang sembrono karena Sian Lun bukan seorang pemuda bodoh yang suka menyombongkan diri.
Kalau dia berani menantang akan menghadapi lawan yang bersenjata itu dengan tangan kosong adalah karena dia sudah mengukur dan sudah dapat menilai sampai di mana tingkat kepandaian kakek Khitan ini ketika Tai-lek Hoat ong tadi bertanding melawan Pek I Nikouw dan Tiong-san Lo-kai.
Dia sudah memperhitungkan dan tahu benar bahwa dengan kedua tangan kosong dia tidak akan kalah oleh kakek ini, maka diapun berani bersikap seperti itu.
Biarpui kini Pek I Nikouw dan Tiong-san Lo-kai sudah percaya benar bahwa pemuda ini sungguh memiliki kepandaian yang hebat, akan tetapi mereka merasa khawatir juga melihat pemuda itu hendak melawan jagoan Khitan itu dengan tangan kosong, karena mereka maklum bahwa Tai-lek Hoat-ong sama sekali tidak boleh disamakan dengan Sin Beng Lama, apa lagi dengan dua orang tokoh Beng kuuw itu.
"Ha-ha, sungguh tontonan yang amat menarik di mana tokoh utama Khitan, seorang kakek gagah perkasa yang berkedudukan tinggi, dengan senjata lengkap di tangan, melawan seorang pemuda yang belum ada nama, yang akan melawannya dengan tangan kosong. Sungguh lucu dan menarik!"
Jelas bahwa ucapan kakek berpakaian pengemis ini bermaksud untuk mengejek dan agar orang Khitan mau menjadi malu dan tidak akan menggunakan senjatanya yang aneh itu.
Akan tetapi, Tai-lek Hoat-ong juga tahu akan maksud ucapan itu.
Dia sudah melihat kelihaian Sian Lun.
maka untuk merasa yakin bahwa dia akan berhasil merobohkan pemuda itu, dia harus mempergunakan senjatanya.
Maka, karena dia tidak pandai menjawab ejekan yang tepat itu, dia hanya melotot dan membentak.
"Gembel tua, kautunggu saja giliranmu, kalau bocah ini sudah mampus, engkaupun akan segera menyusulnya!"
Setelah berkata demikian, tiba tiba dia sudah menerjang dengan dahsyat kepada Sian Lun tanpa memberi peringatan lagi.
Sinar emas menyilaukan mata menyambar ketika kakek Khitan ini menggerakkan rantai emasnya ke arah kepala Sian Lun.
Sian Lun maklum bahwa biarpun dia sudah dapat menilai sampai di mana tingkat kepandaian kakek ini, dia tidak boleh bersikap lengah karena memang rantai emas itu rnerupakan senjata yang amat berbahaya dan sesuai dengan julukannya, kakek ini memiliki tenaga gajah yang amat kuat!
Maka begitu sinar emas itu menyambar, dia menggerakkan tubuhnya membiarkan sinar itu lewat.
Akan tetapi, cepat sekali bagaikan petir menyambar, sinar yang luput nengenai dirinya itu telah menyambar balik, kini menuju ke arah lambungnya dari atas!
Kembali Sian Lun mengelak dan sampai belasan jurus dia dikejar-kejar sinar emas itu dan dia menghindarkan dirinya dengan jalan mengelak amat cepatnya.
Kemudian, setelah dia mulai dapat mengikuti perkembangan gulungan sinar emas senjata lawan, mulailah pemuda ini membalas dan sekali dia membalas, dia telah menggunakan Sin liong jiauw-kang yang ampuh.
Kedua tangannya membentuk cakar naga dan tubuhnya juga meluncur seperti naga terbang di angkasa, sekali membalas kedua tangannya itu berputar secara aneh, lalu mencengkeram dari atas dan dari bawah dengan tenaga yang berlawanan, yaitu yang dari atas menyambar secara kasar dan dari bawah menyambar secara halus.
Menghadapi serangan kaligus yang bertentangan ini, kakek Khitan itu berseru kaget dan menjadi bingung, akan tetapi mengandalkan tenaganya yang besar, dia mengangkat lengan kiri menangkis dengan tenaga yang sama kerasnya ke arah lengan kanan lawan yang datang dari atas, sedangkan untuk menghadapi serangan dengan tenaga halus dari bawah itu, dia menggerakkan rantainya untuk melibat tangan kiri lawan atau untuk mengaitnya dengan mata kail yang runcing itu.
Akan tetapi, betapa kagetnya ketika lengannya bertemu dengan lengan kanan lawan yang tadi menyambar dengan lebih dulu mengeluarkan hawa pukulan keras, lengannya itu seperti bertemu dengan agar agar yang amal lunak dan tenaga keras dari lengan kirinya yang menangkis itu seperti terserap oleh sesuatu yang lunak sehingga tenaganya lenyap sepert lemparan batu mengenai air yang dalam!
Di sebaliknya, tangkisannya menggunakan rantai emas itu malah kini akan dicengkeram oleh tangan kiri lawan yang tiba tiba berubah menjadi sumber tenaga yang panas dan keras.
Kiranya pemuda itu telah dapat merobah-robah tenaga di kedua tangannya secara mendadak, hal yang sesungguhnya amatlah sukar untuk dilakukan!
Akan tetapi, Tai-lek Hoat-ong adalah seorang tokoh banyak pengalamannya, maka begitu melihat keganjilan ini, dia maklum dirinya berada dalam bahaya dan akan celakalah kalau dia melanjutkan kedua tangkisannya itu maka dia menyimpan kembali tenaganya dan melernpar diri kebelakang sambil memutar rantai membentuk gulungan sinar untuk melindungi tubuhnya.
Dan dia berhasil lolos dari lubang jarum!
Biarpun pakaiannya menjadi kotor terkena debu ketika dia melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan ke atas tanah, namun dia terlepas dari serangan balasan Sian Lun, dan kakek raksasa itu meloncat bangun dengan muka berobah agak pucat dan tahulah dia bahwa lawannya ini biarpun masih muda akan tetapi benar-benar memiliki kepandaian yang amat luar biasa!
Dia merasa penasaran sekali, dan juga agak malu karena dalam segebrakan saja dia hampir celaka!
Kenyataan ini sungguh sukar untuk dipercaya karena dia adalah tokoh utama dari golongan Khitan yang berada di Tiongkok.
Rasa malu dan penasaran membuat kemarahannya makin berkobar dan dia lalu mengeluarkan teriakan yang amat nyaring, teriakan yang menggetarkan jantung dan memekakkan telinga sehingga Wan Cu cepat menutupi kedua telinganya dengan tangan.
Dengan teriakan masih menggema, kakek itu kini menerjang ke depan dan mengirim serangan yang lebih cepat dan lebih kuat lagi, rantai emasnya tidak hanya berobah menjadi sinar emas bergulung-gulung, akan tetapi juga mengeluarkan suara bercuitan dan berdesingan!
Sian Lun maklum akan kelihaian lawan,!
maka dia bersikap hati-hati sekali, menggunakan kecepatan gerakan dan kekebalan kedua lengan untuk mengelak dan menangkis, kemudian kadang-kadang dia membalas dengan tamparan tamparan atau cengkeraman cengkeraman kedua tangannya yang memainkan ilmu Cakar Naga Sakti (Sin hong-jiauw kang) yang amal hebat itu!
Biarpun kakek itu kelihatannya lebih banyak menyerang, namun sesungguhnya dialah yang terdesak dan terancam karena setiap serangan balasan dari Sian Lun selalu, membuat dia kewalahan dan nyaris terkena tangan ampuh pemuda itu, sedangkan semua serangan rantai emasnya itu hanya lebih condong kepada perlindungan diri belaka untuk mencegah pemuda itu dapat membalas dengari serangannya yang luar biasa.
Betapapun juga sudah dua kali Tai-lek Hoat-ong terpental ketika ujung-ujung jari tangan Sian Lun berhasil mencium ujung pundak dan pinggiran pinggulnya.
Tubuh kakek itu tergetar dan rasa nyeri menembus ke tulang sungsum, akan tetapi dia tidak mau menyerah karena merasa malu dan bahkan menyerang terus, sungguhpun hatinya sudah merasa kecut dan gentar karena makin yakin dia kini akan kelihaian lawan.
Pek I Nikouw dan Tiong-san Lo-kai menonton dengan mata terbelalak.
Baru sekarang mereka juga tahu benar bahwa pemuda itu memiliki tingkat yang amat hebat, jauh lebih tinggi dari pada tingkat mereka, bahkan agaknya masih jauh lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian kakek Khitan itu!
Sungguh luar biasa dan sukar untuk dapat dipercaya!
Sedangkan Wan Cu yang juga terus mengikuti jalannya pertempuran dengan mata silau dan kepala agak pening karena baginya jalannya pertandingan itu terlalu cepat, kini merasa makin kagum kepada pemuda itu.
Dan dia merasa makin malu kepada diri sendiri mengapa tadinya dia berani memandang ringan pada Sian Lun, bahkan diajaknya pemuda itu berlumba lari, dianggapnya seperti seorang pemuda yang tingkat kepandaian silatnya masih rendah saja.
Kiranya kini mampu menandingi lawan seperti Tai-lek Hoat-ong yang telah mengalahkan nenek guru dan kakek gurunya!
Tiba-tiba terdengar Tai-lek Hoat-ong mengeluarkan suara bentakan nyaring dan rantai emasnya menyambar ke arah kepala Sian Lun, dibirengi dengan hantaman tangan kirinya ke arah lambung.
Sian Lun menyambutnya dengan tenang, akan tetapi juga diam diam mengerahkan tenaganya.
Tangan kirinya menangkis lalu mencengkeram, sedangkan tangan kanannya memapaki hantaman tangan kiri lawan yang menuju lambung.
"Desss! Krekkk!"
Tubuh Tai-lek Hoat-ong terlempar dan terjengkang, rantai emasnya patah dan sebagian tertinggal dalam cengkeraman Sian Lun.
Kakek raksasa Khitan itu meloncat dan siap untuk menerjang lagi, akan tetapi pada saat itu nampak debu mengebul dibarengi suara derap kaki kuda.
Ada pasukan yang datang ke tempat itu dan melihat ini Tai-lek Hoat-ong dan teman-temannya segera meninggalkan tempat itu tanpa pamit lagi!
"Heii, pengecut-pengecut, hendak lari ke mana kalian?"
Wan Cu berteriak, akan tetapi ketika dia hendak mengejar, Sian Lun mencegahnya.
"Sudahlah, moi moi, biarkan mereka pergi!"
Wan Cu memandang kepada pemuda itu dengan wajah berseri dan sinar mata penuh kagum.
"Aihh, suheng. engkau benar-benar nakal! Engkau memiliki kepandaian demikian tinggi dan lihai, akan tetapi kau pura-pura bodoh dan lemah sampai aku sendiri kena kau kelabuhi!"
Sian-Lun hanya tersenyum dan pada saat itu, pasukan sudah tiba di situ.
Ternyata itu adalah pasukan keamanan yang dipimpin sendiri oleh Yap Yu Tek yang mengkhawatirkan keselamatan puterinya dan juga untuk membantu kalau ada musub menyerbu Kuil Kwan im-bio seperti yang diberitakan oleh Tan Sian Lun.
Ketika Yap Yu Tek mendengar akan pertempuran yang terjadi di situ, diceritakan secara lancar dan lincah oleh puterinya, dia merasa kagum bukan main kepada Sian Lu.
Mereka lalu masuk ke dalam kuil dan di situ Pek I Nikouw memandang kepada Sian Lun dengan sinar mata penuh selidik.
"Tan-taihiap memiliki kepandaian yang demikian hebatnya, dan kalau tidak salah pinni melihat dasar-dasar ilmu silat dari Lui Sian Lojin. Mengingat bahwa mendiang ayah taihiap, juga mendiang paman dan bibi gurumu yang mendidik taihiap adalah murid murid dari Lui Sian Lojin, maka ilmu silat yang taihiap miliki itu tidaklah aneh. Akan tetap tingkat kepandaian taihiap sedemikian luar biasa! Puteri mendiang Gan-taihiap ketika masih kecil diajak pergi oleh Lui Sian Lojin dan agaknya dididik oleh kakek gurunya itu apakah taihiap juga dididik oleh Lui Sian Lojin? Apakah pertapa di Kwi-hoa-san itu yang menjadi guru taihiap?"
Sian Lun merasa bingung.
Sebenarnya dia tidak ingin bercerita tentang dirinya, tentang mendiang gurunya.
Akan tetapi menghadapi pertanyaan yang diajukan oleh Pek I Nikouw itu, yang didukung oleh pandang mata dari Yap Yu Tek, Yap Wan Cu, dan juga Tiong-san Lo-kai yang agaknya ingin sekali mendengar jawabannya, dia tidak melihat jalan lain untuk mengelak.
"Sebenarnya"". saya bukan murid Lui San Lojin suheng"".."
"Suheng"".?"
Pek I Nikouw dan Tiong-san Lo-kai berseru hampir berbareng karena mereka terheran-heran mendengar pemuda itu menyebut "suheng"
Kepada kakek gurunya!
Lui Sian Lojin adalah guru dari tiga orang pendekar naga sakti, guru dari ayah, paman dan bibi pemuda ini, jadi berarti kakek guru pemuda ini.
Bagaimana mungkin pemuda ini menyebutnya suheng?
"Lun-ko, bukankah kakek sakti itu adalah kakek gurumu, bagaimana koko menyebutnya suheng?"
Wan Cu bertanya secara langsung, dan terus terang.
"Saya".. eh, ketika terjadi keributan"".
"Kabarnya engkau dibawa pergi oleh seorang sakti"".."
Sambung pula Wan Cu.
"Siapakah locianpwe sakti itu, taihiap?"
Tanya Pek I Nikouw dan Sian Lun merasa makin canggung dan jengah karena disebut taihiap (pendekar besar) oleh nikouw tua ini.
"Beliau adalah paman guru dari suheng Lui Sian Lojin. dan mendiang suhu telah pesan agar saya tidak menyebut-nyebut namanya"""
"Hmmmm."
Tiong-san Lo-kai mengelus jenggotnya dengan tangan kaku karena pergelangan tangannya sedang dalam pengobatan dan masih dibalut karena dipatahkan oleh Tai-lek Hoat-ong tadi "Kalau aku tidak salah, guru dari Lui Sian Lojin adalah Bu Eng Lojin dan saudara seperguruan dari kukek sakti ini pernah dikenal sebagai seorang kakek aneh bernama Siangkoan Lojin"".
Akan tetapi dua orang tua itu hanya tinggal nama saja, tidak pernah muncul lagi di dunia ramai""..apakah engkau hendak mengatakan bahwa seorang di antara mereka adalah suhumu, taihiap?"
Sian Lun mengangguk.
"Mendiang suhu memang she Siangkoan""""
"Omitohud""! Pantas saja taihiap demikian lihai, kiranya murid seorang sakti dan taihiap masih terhitung sute dari Lui Sian Lojin!"
Pek I Nikouw berseru penuh kagum.
"Dan kalau begitu, mana pantas aku menyebut suheng? Engkau, kalau dihitung dari tingkat pantas kusebut""..susiok kong (paman kakek guru)!"
Kata Wan Cu.
Sian Lun hanya tersenyum kepada dara itu, dan mereka lalu bercakap cakap.
Dengan penuh perhatian Sian Lun mendengarkan penjelasan Yap Yu Tek tentang keadaan negara dan sebagian besar dari penjelasan itu sudah di dengarnya dari Ong-ciangkun.
Akan tetapi penuturan tentang adanya babaya yang mengancam pemerintah, bahkan kini bahaya itu sudah dirasakannya sendiri dengan adanya penyerbuan orang Khitan, Tibet dan Beng-kauw, mendorongnya untuk membantu pemerintah.
Dia merasa yakin bahwa kalau ayahnya masih hidup, atau paman dan bibinya masih hidup, tiga orang pendekar perkasa itu tentu tidak akan mendiamkan saja negara terancam oleh para pemberontak yang dibantu oleh orang oraug asing itu.
Sian Lun menceritakan kepada mereka tentang pertemuannya dengan Ong ciangkun dan tentang cerita panglima itu.
"Ah, negara sedang kalut dan ketenteraman sedang terancam bahaya,"
Kata Yap Yu Tek.
"kalau dibiarkan saja, akhirnya orang-orang macam mereka yang menyerbu ke sini tadi tentu akan makin menyusun kekuatan dan merajalela, dan kalau pemberontakan sampai pecah lagi, kembali rakyat jelata yang akan menderita hebat."
"Saya akan berangkat menyusul Ong-ciangkun di kota raja dan saya akan membantu pemerintah untuk menentang para pemberontak itu"
Kata Sian Lun yang tergugah semangatnya melihat sikap orang-orang tua yang masih bersemangat itu.
"Bagus!"
Yap Yu Tek berseru girang.
"Memang orang-orang muda seperti engkau inilah yang amat dibutuhkan oleh negara untuk menyelamatkan negara!"
Kemudian Yap Yu Tek mengajak Sian Lun untuk singgah ke rumahnya.
Tadinya Sian Lun hendak berpamit dan hendak langsung melanjutkan perjalanan, akan tetapi Yap Yu Tek menahannya, dan setelah Wan Cu juga ikut menahannya, dan mempersilakan dia untuk singgah, terpaksa Sian Lun ikut bersama rombongan itu, kembali ke kota.
Gan Beng Lian, ibu dari Wan Cu merasa kagum bukan main mendengarkan penuturan Wan Cu betapa pemuda sederhana itu telah menghalau semua musuh dan betapa pemuda itu memiliki tingkat kepandaian yang lebih hebat dari pada Pek I Nikouw atau Tiong-san Lo-kai.
Maka timbullah suatu keinginan di dalam hatinya.
Mereka mempersilakan Sian Lun untuk bermalam di rumah mereka untuk sedikitnya satu malam, dan malam itu suami isteri Yap ini saling bersepakat untuk menarik pemuda itu sebagai mantu mereka!
"Ayahnya adalah seorang pendekar sakti yang amat gagah perkasa, adik seperguruan kakakku Beng Han,"
Antara lain nyonya membujuk suaminya.
"Dan ibunya adalah orang puteri pangeran. Sekarang, dia memiliki kepandaian hebat, dan juga wataknya amat baik, pendiam, sederhana dan tidak sombong. Dia amat pantas menjadi suami anak tunggal kita."
Yap Yu Tek mengangguk-angguk, akan tetapi alisnya agak berkerut.
"Engkau tentu mengerti betapa senang rasa hatiku kalau saja aku bisa mendapatkan seorang mantu seperti pemuda itu, isteriku. Akan tetapi, akupun teringat bahwa syarat utama bagi suatu perjodohan adalah perasaan cinta kasih antara dua orang muda yang akan dijodohkan. Tanpa adanya cinta kasih, aku tidak akan memaksa puteriku"
"Akan tetapi aku sudah melihat tanda tanda bahwa anak kita itu amat kagun dan suka kepada Sian Lun. Lihat saja sinar matanya kalau dia memandang pemuda itu, dan seri wajahnya ketika dia menceritakan kegagahan pemuda itu, seolah-olah dia ingin sekali menonjolkan jasa pemuda itu kepada kita."
Yap Yu Tek tersenyum dan merangkul isterinya.
"Mungkin engkau benar karena aku percaya engkau memiliki perasaan halus dan mudah menangkap gejala-gejala seperti itu. Baiklah, besok kita bicarakan dengan Sian Lun."
"Dan malam ini aku akan menjajagi isi hati Wan Cu,"
Kata Gan Beng Lian dengan hati senang dan penuh harapan.
Ketika malam hari itu Gan Beng Lian mengajukan persoalan perjodohan itu kepada Wan Cu, dara yang biasanya gagah perkasa dan tak pernah mengenal takut ini menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali dan sama sekali tidak berani menentang pandang mata ibunya!
Ibunya tersenyum dan sudah maklum akan isi hati puterinya.
Kalau seorang gadis tidak menyetujui suatu usul perjodohan, tentu dia akan langsung saja menolak, marah-marah dan menangis.
Akan tetapi, kalau perawan itu menundukkan muka yang menjadi merah, menahan senyum dan tidak berani menentang pandang mata, hanya jari-jari tangannya saja yang memainkan ujung baju untuk melawan ketegangan hati yang penuh rasa malu, berarti bahwa gadis itu menerimanya!
"Wan Cu, ibumu tahu akan perasaan hatimu terhadap Sian Lun.
Memang dia seorang pemuda yang patut dikagumi dan patut dicinta, akan tetapi kami, ayah ibumu, tidak akan memaksamu kalau engkau tidak setuju.
Oleh karena itu, setujukah engkau kalau besok ayah ibumu membicarakan perjodohan ini dengan Sian Lun?
Kalau engkau tidak setuju, jawablah, kalau setuju, cukup engkau mengangguk."
Jari-jari tangan yang memainkan ujung baju itu gemetar, sejenak Wan Cu mengangkat muka, akan tetapi begitu bertemu dengan pandang mata ibunya, dia menunduk kembali dan ada titik air mata jatuh di atas kedua pipinya walaupun bibirnya menahan senyum!
Lalu dia mengangguk perlahan, menahan isak, dan gadis itu meloncat terus lari keluar dari kamar ibunya!
Gan Beng Lian tersenyum, akan tetapi tanpa disadari lagi air matanya bercucuran karena haru.
Dia cepat memberi tahu suaminya bahwa puteri mereka telah menyalakan "lampu hijau".
"Sian Lun, sebenarnya apa yang hendak kami bicarakan denganmu ini menurut patut haruslah melalui perantara dan walimu,"
Demikian pada keesokan harinya setelah makan pagi.
Yap Yu Tek yang didampingi oleh isterinya itu mulai membuka percakapan yang didengarkan oleh Sian Lun dengan penuh perhatian akan tetapi juga penuh keheranan karena pemuda itu belum tahu ke mana arah percakapan yang dimulai oleh tuan rumah itu.
"Akan tetapi, mengingat bahwa ayah bundamu telah tiada, juga pamanmu Gan Beng Han dan bibimu telah meninggal dunia, bahkan gurumu Siangkoan Lojin telah meninggal dunia pula sehingga engkau (Lanjut ke
Jilid 30) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 30 hidup sebatangkara dan tanpa wali, maka terpaksa kami tidak dapat menghubungi seorang walimu."
Sampai di sini, Sian Lun masih juga tidak mengerti, maka dia hanya mengangguk tanpa mengganggu lanjutan ucapan pendekar itu.
"Selain itu,"
Tiba-tiba Gan Beng Lian menyambung.
"Kami sudah mengenalmu sejak kecil, dan mengingat bahwa engkau adalah putera sute dari kakakku Gan Beng Han, bahkan kemudian seperti putera sendiri dari mendiang Han-koko, maka boleh dikata bahwa engkau adalah orang atau keluarga sendiri."
Yap Yu Tek mengangguk.
"Benar ucapan bibimu ini, Sian Lun. Maka kamipun tidak merasa ragu-ragu lagi untuk secara langsung bicara denganmu mengenai urusan ini."
Makin lama makin memuncak keinginan tahu Sian Lun karena belum juga dia dapat meraba, apa lagi mengerti, akan maksud dari ucapan-ucapan suami isteri itu "Urusan apakah gerangan yang paman dan bibi maksudkan?"
"Urusan perjodohanmu, Sian Lun,"
Kat Gan Beng Lian cepat-cepat.
Sepasang mata pemuda itu terbelalak lebar menatap wajah bibinya ini, kemudian menengok dan menatap wajah pamannya yang tersenyum saja.
Sepasang pendekar itu memandangnya dengan tersenyum dan Sian Lun menjadi makin bingung.
"Urusan per"". perjodohanku...?"
Akhirnya dia mengulang dengan gagap.
"Ya, perjodohanmu dengan puteri kami Sian Lun. Kami mengambil keputusan untuk menjodohkan Wan Cu denganmu, tentu saja kalau engkau tidak keberatan,"
Kata Yap Yu Tek dengan sikap halus, sedangkan Gan Beng Lian menatap wajah pemuda itu dengan mata berseri-seri.
Senang sekali rasa hati nyonya itu melihat wajah pemuda yang tampan sederhana itu tiba-tiba berubah merah sekali dan matanya sejenak terbelalak, akan tetapi wajah itu lalu menunduk dan pemuda itu menjadi gugup.
"Paman"".. dan bibi"".. ini"". ini""
Pemuda itu tidak mampu melanjutkan kata-katanya karena pemberitahuan itu datangnya sama sekali tak disangkanya dan benar-benar amat mengejutkan hatinya.
"Kami tahu bahwa engkau tentu terkejut dan bingung, dan tentu tidak dapat mengambil keputusan ini secara mendadak, Sian Lun. Akan tetapi pikirkanlah baik-baik. Kalau menurut perhitunganku, usiamu tentu sudah cukup dewasa, lebih tua dua tiga tahun dibandingkan dengan Wan Cu,"
Kata nyonya itu.
"Berapakah usiamu tahun ini?"
"Duapuluh tahun, bibi,"
Sian Lun menjawab sambil masih menundukkan mukanya.
"Nah, duapuluh tahun! Sudah cukup dewasa dan adikmu Wan Cu berusia tujuhbelas tahun. Mengingat akan hubungan antara orang tuamu dengan keluarga kami, maka kami anggap amatlah tepat kalau Wan Cu menjadi calon isterimu. Puteri kami itu begitu bertemu denganmu telah merasa suka dan kagum sekali."
Melihat Sian Lun menunduk dan kelihatan bingung, dan merasa betapa isierinya terlalui mendesak, Yap Yu Tek lalu berkata dengan tenang dan lembut.
"Sian Lun, tentu saja kamipun tidak ingin mendesakmu, betapapun senang hati kami kalau engkau tidak menolak niat kami yang baik ini. Biarlah kami memberi waktu kepadamu selama setengah tahun untuk menentukan jawabanmu. Ingatlah bahwa sementara itu, kami menganggap Wan Cu adalah calon isterimu, harap engkau tidak melupakan hal ini."
Sian Lun adalah seorang pemuda yang semenjak kecil ditinggal oleh kedua orang tuanya, kemudian dipelihara oleh Gan Ben Han dan isterinya, menganggap mereka sebagai pengganti orang tua akan tetapi segera dia dipisahkan lagi dari suami isteri ini, bahkan begitu dia kembali kepada mereka, dia hanya mendapatkan makam mereka.
Oleh kesengsaraan hidup yang bertubi-tubi ini dia menjadi perasa sekali, maka mendengar ucapan suami isteri ini merasakan betapa baiknya mereka kepadanya, apalagi dia telah dipilih sebagai calon mantu, suatu kepercayaan dan budi yang melimpah ruah kepadanya, dia tidak dapat menahan keharuan hatinya dan segera dia menjatuhkan diri berlutut di depan mereka.
Suami isteri itu tercengang melihat ini.
"Paman Yap Yu Tek dan bibi, sungguh paman berdua telah melimpahkan budi yang teramat besar kepada saya yang sebatangkara, miskin dan papa ini, melimpahkan kepercayaan yang luar biasa sehingga akan menjadi manusia tak kenal budilah kalau saya menolak usul paman berdua. Akan tetapi, apa yang paman berdua kemukakan itu adalah hal yang sama sekali tidak pernah terpikir oleh saya, tidak pernah saya sangka-sangka sehingga saya masih bingung, tidak tahu harus, menjawab bagaimana karena memang sedikitpun tidak pernah terpikir oleh saya tentang perjodohan. Oleh karena itu, mohon paman berdua sudi mengampunkan saya yang tidak mengenal budi ini, dan terima kasih atas kelonggaran yang paman berikan kepada saya. Demi langit dan bumi, saya tentu akan menyampaikan jawaban saya sebelum setengah tahun ini."
Yap Yu Tek saling pandang dengan isterinya kemudian mereka membangunkan pemuda itu dan menyuruhnya duduk kembali.
"Sian Lun, aku yakin sekali bahwa arwah mendiang ayah bundamu, juga arwah mendiang Han-koko dan isterinya pasti akan merasa berbahagia kalau engkau dapat berjodoh dengan Wan Cu. Maka, kuharap saja engkau kelak tidak akan mengecewakan kami, mengecewakan mereka, dan akan menerima tali perjodohan ini dengan resmi,"
Kata Beng Lian dan Sian Lun hanya mengangguk.
Tak lama kemudian Sian Lun berpami untuk melanjutkan perjalanan ke kota raja, karena sudah bulat tekadnya untuk mencari Ong ciangkun dan membantu pemerintah menghadapi golongan-golongan yang menentang pemerintah dan yang mempunyai kecondongan untuk memberontak atau membantu pemberontak.
Selama dia bercakap-cakap dengan suami isteri itu.
Wan Cu tidak pernah muncul.
Sian Lun juga tidak berani bertanya, karena setelah pernyataan tentang perjodohan itu oleh Yap Yu Tek berdua, maka nama gadis itu saja tak berani dia menyebutnya, bahkan teringat akan Wan Cu saja sudah cukup membuat jantungnya berdebar dan mukanya menjadi merah.
Akan tetapi pemuda ini dapat menduga bahwa tentu gadis itu sudah tahu akan kehendak ayah bundanya maka tentu merasa malu untuk bertemu muka dengan dia.
Oleh karena itu, setelah berpamit kepada suami isteri itu, Sian Lun lalu pergi pada pagi hari itu meninggalkan kota An-kian, tanpa berani menanyakan Wan Cu sehingga dia pergi tanpa pamit kepada gadis itu.
Akan tetapi, ketika dia keluar dari kota An-kian dan tiba di tikungan jalan yang sunyi, terdengar suara halus memanggilnya.
"Lun-koko"..!"
Sian Lun berhenti dan menoleh.
Kiranya Wan Cu sudah berada di situ, di tepi jalan dan agaknya memang sudah sejak tadi menantinya!
Jantungnya berdebar dan mukanya menjadi merah sekali ketika dia melangkah menghampiri dara itu yang berdiri dengan kepala menunduk.
Dara itu memakai pakaian baru dan kelihatan cantik sekali, akan tetapi pada saat itu Wan Cu menundukkan mukanya dan hanya mengerling dari bawah dengan sikap yang malu-malu.
"Adik Wan Cu""..kau..."". di sini"..?"
Sian Lun berkata, suaranya lirih sekali, seperti berbisik, bahkan hampir tidak dapat keluar dari mulutnya dan kerongkongan lehernya terasa kering.
Dia sendiri merasa heran mengapa dia menjadi seperti orang ketakutan dan bingung macam ini!
Wan Cu mengangguk.
"Aku"". sejak tadi menantimu di sini, koko."
Melihat sikap dara itu yang malu-malu, mengertilah Sian Lun bahwa memang gadis ini sudah tahu akan ikatan jodoh antara merela yang diusulkan oleh orang tua gadis itu, maka dia menjadi makin canggung dan malu.
Sejenak mereka berdua diam saja, dan keduanya berdiri berhadapan dengan kepala ditundukkan, masing-masing tidak berani mengangkat muka untuk saling memandang!
Sungguh lucu sekali keadaan dua orang muda ini, serba canggung dan serba sungkan dan malu.
Terasa benar kesunyian mencekam hati dan membuat keduanya makin merasa canggung dan gugup.
Akan tetapi akhirnya Sian Lun dapat menguasai ketegangan hatinya setelah beberapa kali dia menarik napas dalam.
"Cu moi, aku tidak tahu mengapa engkau menantiku di sini, akan tetapi maafkanlah aku bahwa aku pergi tanpa pamit darimu karena"". karena"". setelah orang tuamu bicara tentang"". eh, perjodohan itu""
Entah mengapa, aku merasa malu untuk menanyakanmu.....maka aku pergi tanpa pamit."
Wan Cu tersenyum malu-malu akan tetapi melihat pemuda itu sudah dapat bicara lancar diapun dapat menenangkan hatinya, dia mengangkat mukanya dan sejenak keduanya saling pandang, Wan Cu adalah seorang gadis yang biasanya lincah jenaka dan tak kenal takut, akan tetapi sekarang dia mengalami hal aneh yang membuatnya malu-malu dan merasa canggung sekali.
"Koko, akupun""malu bertemu muka denganmu di hadapan orang lain"". maka ketika mendengar bahwa engkau akan ke kota, aku sengaja menanti di sini."
Setelah saling menceritakan perasaan hati mereka yang sama sama malu, aneh sekali bagi kedua orang muda itu, perasaan canggung dan malu itu malah lenyap! Mereka berani saling pandang dengan terbuka.
"Cu-moi, aku senang kita dapat saling jumpa di sini dan aku mendapatkan kesempatan untuk pamit kepadamu. Aku hendak pergi ke kota raja, moi-moi, dan aku berterima kasih atas semua kebaikanmu dan kebaikan keluargamu terhadap diriku."
Sian Lun menjura dan segera dibalas oleh Wan Cu.
"Aih! yang seharusnya berterima kasih adalah aku, Lun-koko. Engkau telah menolongku, bahkan menolong keluargaku Aku sengaja menghadangmu di sini untuk mengucapkan terima kasih dan selamat jalan kepadamu".."
"Terima kasih, engkau baik sekali, Cu-moi."
"Dan selain itu, aku"".aku.. ."
Tiba-tiba dara itu menjadi gugup kembali dan kini dengan kedua tangan gemetar dia meraba-raba ke arah lehernya di balik bajunya.
"Ada apakah, moi-moi?"
Sian Lun bertanya, memandang tajam dan agak khawatir.
Kini kedua tangan yang gugup dan gemetar tadi sudah berhenti meraba-raba leher, dan sudah turun lagi dan di tangan kanan itu tergantung seuntai kalung emas dengan hiasan mata batu giok hijau.
""".. ini"".. aku ingin memberikan kalungku ini kepadamu, koko"".."
"Ehh? Kalung begitu indah dan tentu mahal, untuk apa kauberikan kepadaku, moi-moi? Aku seorang laki-laki, tidak biasa memakai perhiasan....."
Pemuda yang masih hijau ini bertanya dengan jujur karena memang dia merasa bingung dan tidak mengerti mengapa dara itu memberikan kalungnya kepadanya!
Wan Cu adalah seorang gadis kota, tentu saja dia sudah sering mendengar dan tahu akan arti pemberian benda-benda berharga antara tunangan atau pacar.
Akan tetapi, mendengar pertanyaan ini dia tidak merasa tersinggung atau marah.
Dia juga tahu bahwa pemuda ini sejak kecil pergi bersama orang sakti dan pemuda ini amat jujur, benar-benar tidak mengerti akan pemberian antara muda-mudi itu.
Justeru karena ketidak mengertian pemuda itu, rasa canggung dan malunya meluntur dan ia tersenyum.
"Koko, terimalah pemberianku ini untuk tanda mata untuk tanda terima kasihku kepadamu. Tanda mata ini boleh saja kaupakui, atau boleh kau simpan sebagai kenang-kenangan, koko."
Gadis itu menyerahkan kalungnya dan diterima olehSian Lun dengan jantung berdebar karena biarpun dia tidak mengerti, akan tetapi ada sesuatu yang menggerakkan perasaannya dalam pemberian ini, pemberian sebuah kalung yang biasanya menempel di leher dan dada gadis itu!
Ketika menerima kalung, tanpa disengaja jari jari tangan mereka saling bersentuhan dan ini menimbulkan getaran yang sedemikian hebatnya sehingga terasa oleh keduanya sampat ke ujung kaki!
"Terima kasih, moi moi, akan tetapi""
Pemberianmu begini berharga, sedangkan aku...". aku tidak mempunyai apa apa untuk diberikan kepadamu."
Wan Cu menoleh ke kanan kiri dan ke bawah, lalu dia tersenyum dan berkata.
"Biarpun hanya setangkai bunga, sehelai daun, atau sepotong batu akan merupakan barang berharga bagiku asal engkau yang memberi kepadaku Lun-ko."
"Bunga""..? Batu"".?"
Sian Lun menengok ke kanan kiri.
Tidak ada bunga di situ dan biarpun ada pohon di tepi jalan, kalau hanya memberi daun rasanya amat tidak patut mending kalau ada bunga, Dan batu!
Banyak batu berserakan di jalan, dan teringatlah dia ketika dia baru melatih, sinkang di bawan bimbingan Siangkoan Lojin, dia sering membuat mainan-mainan dari batu dengan kedua tangannya.
Sian Lun lalu memungut sepotong batu sebesar kepalan tangan, kemudian dia mengerahkan sinkangnya dan menggosok gosok batu itu dengan tangan.
Nampak debu mengepul dan batu itu telah digosoknya sampai menjadi semacam bola yang amat halus permukaannya!
"Aku tidak memiliki apa-apa, moi-moi, nah, biarlah benda ini, sepotong batu biasa, kuberikan kepadamu."
Wan Cu terbelalak, matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri dan kedua pipinya meniadi kemerahan, hatinya girang bukan main. Dia menerima batu itu.
"Ah, terima kasih, koko, aku akan menyimpan benda ini selama hidup"
Dan kembali jari-jari tangan mereka saling sentuh.
Anehnya, mereka berdua tidak segera menarik tangan dan jari-jari tangan itu sampai agak lama saling bersentuhan, dan dari jari-jari tangan mereka itu keluar getaran hangat yang langsung menyerbu jantung.
"Nah, sekarang aku akan melanjutkan perjalananku, Cu-moi. Selamat tinggal."
"Selamat jalan, koko, sampai jumpa lagi."
"Sampai jumpa lagi"".."
Sian Lun mulai melangkah pergi.
"Koko"".!"
Sian Lun menahan langkahnya dan memutar tubuhnya. Dara itu telah mengikutinya dan kini memandang kepadanya dengan sinar mata aneh dan lembut, setengah terpejam dan bulu matanya bergerak-gerak.
"Ada apakah, Cu-moi?"
"Koko, engkau tentu...". akan cepat datang ke sini, bukan?"
Sian Lun tersenyum.
"Begitu ada kesempatan, aku akan mengunjungi keluargamu."
"Sebelum enam bulan?"
Suara dara itu mengandung desakan dan Sian Lun segera teringat akan janjinya terhadap orang tua dara ini untuk memberi keputusan tentang perjodohan itu sebelum enam bulan.
Teringat akan itu, tiba-tiba mukanya berobah merah.
Tadinya ada perasaan mesra di hatinya terhadap dara ini sebagai saudara, atau sebagai sahabat baik sekali, akan tetapi begitu teringat akan perjodohan, pemuda ini menjadi gugup dan bingung lagi.
Dia tidak menjawab, hanya mengangguk saja.
Wajah Wan Cu berseri.
"Koko, selamat jalan dan aku"".aku akan menantimu siang malam dengan penuh harapan""
". Dan mendekapkan batu itu ke dadanya dan melihat ini Sian Lun cepat, mengangguk sebagai penghormatan terakhir dan cepat pergi meninggalkan dara itu. Setelah melalui sebuah tikungan, baru Sian Lun berani menengok dan tidak melihat lagi adanya gadis itu, dan barulah dia berjalan perlahan-lahan dan tenggelam dalam lamunan. Dia merasa heran sekali mengenangkan sikap Wan Cu yang demikian baik dan mesra terhadap dirinya. Dan dia sendiripun tidak tahu perasaan apa yang terkandung di hatinya terhadap dara itu. Dia suka dan kasihan kepada Wan Cu, akan tetapi dia tidak tahu apakah dia akan suka menjadi suami dara itu ataukah tidak. Sama sekali dia belum pernah memikirkan tentang perjodohan, dan pernyataan orang tua gadis itu sungguh membuat dia bingung. Akan tetapi, mereka telah demikian baik kepadanya, dan gadis itu sendiri sedemikian ramah dan baiknya. Orang tua gadis itu adalah pendekar-pendekar gagah perkasa, dan gadis itu seorang yang cantik dan gagah pula, berbudi baik, keturunan pembesar dan kaya raya. Apalagi yang kurang? la harus mengakui bahwa orang yatim piatu miskin seperti dia, seolah-olah menerima ganjaran yang luar biasa besarnya kalau sampai dapat menjadi suami Wan Cu! Mana mungkin dia dapat menolak mereka? Apa yang akan dijadikan alasan untuk menolak Wan Cu? Akan tetapi, waktunya masih lama dan kini urusan besar dan penting menantinya, yaitu pertemuan dengan Ong-ciangkun dan menawarkan tenaganya untuk membantu pemerintah menentang pemberontakan, mempertahankan ketenteraman rakyat sesuai dengan yang dipesankan oleh mendiang gurunya. Perjodohan? Siapa yang memikirkan hal itu dalam keadaan sebatangkara seperti dia ini? Tidak ada orang yang dekat dengannya. Dan setelah kematian Gan Beng Han dan isterinya maka orang yang terdekat dengan dia adalah, Ling Ling atau Gan Ai Ling puteri pamannya itu dan barangkali juga Coa Gin San, murid mendiang paman dan bibinya. Ah, kalau saja ada mereka berdua, tentu dia dapat memperbincangkan urusan perjodohan yang diajukan oleh orang tua Wan Cu itu dengan mereka. Dan biasanya. Gin San amat cerdik dalam menghadapi soal-soal yang sulit, tentu sahabatnya atau juga sutenya itu akan menemukan jalan bagaimana baiknya. Dimanakah mereka berdua? Teringat akan Gin San yang nakal dan Ling Ling yang lincah jenaka, wajah pemudi itu berseri gembira, akan tetapi segera menjadi muram ketika dia teringat bahwa dua orang itu masih belum diketahuinya berada di mana. Kakek itu sudah tua sekali, tentu sudah mendekati seratus tahun usianya. Dia berdiri di depan guha yang besar itu, dan biarpun wajahnya penuh keriput usia tua, namun tubuhnya masih dapat berdiri tegak dengan punggung lurus, dan kedua kakinya terpentang lebar. Pada wajah yang keriputan itu tidak terbayang perasaan apapun, namun pandang matanya berseri ketika dia memandang kepada seorang dara yang berlutut di depannya. Dara itu berusia delapanbelas tahun, berpakaian sederhana berwarna hijau. Wajahnya manis sekali, dan terutama sekali sepasang matanya yang lebar itu demikian hidup penuh semangat, bulu matanya lentik panjang dan sinar matanya tajam, terbuka, dan hampir selalu tersenyum bersama bibirnya. Dara ini adalah .Gan Ai Ling atau Ling Ling, puteri tunggal suami isteri pendekar Gin Beng Han dan Kui Eng. Di sebelah dara itu nampak seorang kakek yang sudah tua pula, dan kakek inipun berlutut di samping Ling Ling. Kakek yang berlutut ini bukan lain adalah Lui Sian Lojin, pertapa puncak Gunung Kwi hoa san yang terkenal bagai seorang yang lihai dan disegani orang-orang kang ouw. Melihat Ling Ling berlutut bersama Lui Sian Lojin, mudah diduga siapa adanya kakek tua renta yang berdiri tegak itu. Dia bukan lain olah Bu Eng Lojin yang sudah puluhan tahun bersembunyi saja di dalam guha pertapaan, di tempat rahasia sekitar Pegunungan Kwi-hoa-san. Seperti kita ketahui, Bu Eng Lojin adalah guru dari Lui Sian Lojin dan sepuluh tahun yang lalu, karena merasa kasihan dan tertarik kepada bakat terpendam yang dimiliki oleh Ling Ling, kakek ini berkenan mengambil Ling Ling sebagai muridnya dan menggembleng dara itu selama sepuluh tahun, dibantu oleh Lui Sian Lojin sendiri. Dan memang penglihatan kakek sakti ini tajam sekali, dugaannya tidak meleset karena lewat tujuh tahun saja Lui Sian Lojin sudah tidak mampu membimbing Ling Ling lagi, seluruh kepandaiannya telah tersedot habis oleh sumoinya itu. Maka Bu Eng Lojin turun tangan sendiri, menggembleng Ling Ling selama tiga tahun dan kini dara itu telah menjadi seorang dewasa, cantik manis dan memiliki kepandaian yang amattinggi, bahkan Lui Sian Lojin sendiri menduga bahwa tingkat sumoinya itu tentu lebih tinggi sekarang daripada tingkat kepandaiannya sendiri! Dan padi pagi hari itu, pagi-pagi sekali. Bu Eng Lojin keluar dari guha pertapaannya dan memanggl dua orang muridnya itu.
"Ai Ling,"
Terdengar Bu Eng Lojin berkata sepasang matanya dengan berseri-seri menatap wajah dara yang selama tiga tahun terakhir ini setiap hari digemblengnya itu.
"engkau ku panggil pagi ini untuk memberi tahu bahwa hari ini engkau boleh meninggalkan Kwi-hoa-san karena tidak ada apa-apa lagi yang dapat kuajarkan kepadamu."
Mendengar ucapan gurunya ini, sepasang mata yang indah itu melebar, wajah yang manis itu berseri dan mulutnya tersenyum.
"Oh, terima kasih, suhu! Teecu akan dapat mencari pembunuh ayah bunda teecu!"
Katanya tanpa menyembunyikan perasaannya. Bu Eng Lojin menggeleng kepalanya dan menarik napas panjang.
"Aku selama ini mendidikmu karena melihat bakat baik pada dirimu, dan bukan maksudku agar engkau menggunakan kepandaian untuk melakukan kekerasan. Tentang urusan pribadimu, sebaiknya engkau menurutkan nasihat dan petunjuk suhengmu."
Biarpun kakek itu bicara dengan nada suara halus, namun Ling Ling dapat menangkap wibawa yang amat kuat, dan dia menunduk sambil berkata.
"Baik, suhu."
"Bu Cin Lok, mulai saat ini, siapapun tidak boleh menggangguku dari dalam guha. dan engkaupun tidak boleh menggangguku. Aku takkan keluar lagi sampai kematian menjemputku, dan kau bimbinglah sumoimu yang masih muda ini, terserah kepadamu."
Lui Sian Lojin yang bernama Bu Cin Lok itu memberi hormat.
"Teecu akan melaksanakan perintah suhu."
"Bagus! Nah, sampai di sini saja pertemuan terakhir antara kita, dan sebelum kalian pergi, hendaknya kalian suka menutupkan batu besar itu ke depan guha, agar aku tidak akan terganggu oleh siapapun juga."
Setelah berkata demikian, kakek tua renta itu melangkah memasuki guha, dipandang oleh dua orang muridnya.
Sedikit banyak, ada perasaan terharu di dalam hati Ling Ling karena dia maklum apa artinya semua ucapan suhunya itu.
Dia seolah olah melihat gurunya itu melangkah ke dalam alam lain, alam kematian yang seperti berada di balik guha itu!
"Suhu, terima kasih atas semua kebaikan suhu kepada teecu selama ini!"
Dia berkata akan tetapi kakek itu melangkah terus tanpa menengok, memasuki guha sampai bayangannya ditelan kehitaman dalam guha yang gelap dan belum disentuh sinar matahari pagi.
"Suhu, selamat tinggal""!"
Kembali dara itu berseru ke arah guha yang gelap itu. Bayangan kakek itu sudah tidak knampak lagi, akan tetapi kini terdengar suaranya, seperti gema suara mengaung saja.
"Siapakah yang pergi dan siapa yang datang? Siapakah yang berpisah dan siapa yang berkumpul? Siapa yang mati dan siapa yang hidup? Adakah perbedaan di antara kedua itu?"
Lalu sunyi senyap, tidak terdengar suara apapun.
"Suhu"".!"
Tidak ada jawaban. Ling Ling merasa pundaknya disentuh tangan orang. Dia menengok dan melihat kakek berjenggot putih yang menjadi suhengnya itu berdiri di belakangnya.
"Sudah, mari kita taati pesan suhu,"
Kata kakek itu dengan suara tenang.
"Batu itu berat sekali dan tenaga badanku yang sudah tua mana mampu menggerakkannya?"
Ling Ling teringat akan pesan gurunya maka diapun bangkitlah lalu bersama suhengnya menghampiri batu besar yang berada di tepi guha.
Batu itu besar sekali dan besarnya memang seukuran dengan mulut guha seolah-olah batu itu memang sengaja diadakan untuk menjadi pintu atau penutup guha.
Batu itu amat besar dan tentu beratnya ribuan kati, maka untuk dapat menggerakkannya apa lagi menggulingkannya, tentu membutuhkan tenaga yang amat besar.
Mula-mula kakek sakti itu menghampiri batu dan mendorongnya.
Batu bergoyang sedikit, akan tetapi dia tidak mampu menggerakkan lebih lanjut, dan batu yang sudah bergoyang itu kembali lagi ke tempat semula.
Muka kakek itu agak merah dan napasnya agak terengah "Biarkan aku mencobanya, suheng!"
Kata Ling Ling dan dara ini segera menyingsingkan lengan bajunya sehingga nampak kulit lengannya yang putih mulus.
Dia lalu melangkah kedepan dan menggantikan suhengnya, menarik napas panjang sampai dadanya penuh, kemudian menyalurkan sinkang ke arah kedua lengannyasetelah dia memasang kuda-kuda yang amat kuat.
Kedua telapak tangannya ditempelkan kepada batu besar itu, mengerahkan tenaga dan diapun mendorong.
Batu itu bergerak!
Ling Ling merasa betapa beratnya batu itu, namun dia menambah tenaganya dan batu itu mulai menggelinding!
Melihat ini, Lui Sian Lojin terbelalak kagum, lalu diapun melangkah maju dan membantu sumoinya.
Dengan penggabungan tenaga sakti dari dua orang ini batu akhirnya menggelinding dan menutup guha dengan suara keras dan nampak debu mengebul dan tanah tergetar ketika berat batu itu menimpa mulut guha dan beradu dengan mulut guha batu itu.
Mereka meloncat mundur dan memandang guha yang kini sudah tertutup batu besar itu.
Lui Sian Lojin mengatur pernapasannya yang terengah-engah dan dia melirik ke arah sumoinya.
Dara itu berkeringat dan kedua pipinya menjadi merah sekali, akan tetapi napasnya tidak memburu.
Diam-diam kakek ini merasa kagum bukan main.
Tahulah dia bahwa suhunya telah menurunkan kepandaiannya pada sumoinya ini yang jelas memiliki sinkang yang bahkan lebih kuat dari padanya!
"Sumoi, mari kita menghaturkan terima kasih kepada suhu.
Engkau tidak dapat membayangkan betapa hebat suhu telah bekerja untukmu.
Mari!"
Dan kakek itupun menjatuhkan diri berlutut menghadap guha yang sudah tertutup itu.
Melihat ini, biarpun dia belum mengerti benar akan maksud ucapan subengnya, Ling Ling juga menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat ke arah guha yang tertutup.
Dia mendengar suara suhengnya berkata lagi lirih.
"Sumoi, engkau harus mengerti bahwa suhu sudah berusia tua sekali, sedikitnya duapuluh tahun lebih tua dari pada aku. Sedangkan aku sendiri saja sudah merasa lemah lahir batin, apa lagi suhu, namun tetap beliau mengerahkan seluruh semangat dan tenaga terakhir untuk mendidikmu. Beliau tidak hanya telah mengorbankan tenaga, akan tetapi juga perasaannya ketika menurunkan semua ilmu kepadamu."
"Korban perasaan"""! Apa maksudmu, suheng?"
Tanya Ling Ling. Kalau gurunya mengorbankan tenaga, hal itu jelas, akan tetapi dia tidak mengerti mengapa dikatakan suhengnya bahwa suhunya mengorbankan perasaan.
"Suhu tidak suka akan kekerasan, oleh karena itulah beliau menyembunyikan dirinya sampai puluhan tahun. Dan suhu tetap mewariskan ilmunya kepadamu, sungguhpun suhu maklum bahwa dengan ilmu itu, engkau akan melakukan tindakan-tindakan kekerasan yang amat menyedihkan hati beliau."
Kini mengertilah Ling Ling. Dia termenung lalu berkata.
"Suheng, biarpun tindakan keras, kalau dilakukan untuk menentang kejahatan, bukankah itu merupakan suatu kebenaran?"
Kakek itu menarik napas panjang.
"Demikian pula yang menjadi pendirian semua orang, termasuk pendirianku dahulu, sumoi. Akan tetapi engkau belum mengerti tentang apa yang dinamakan kebenaran itu. Tindakan keras itu sendiri sudah tidak benar, bagaimana mungkin mengakibatkan kebenaran? Dan kalau sudah dinamakan kebenaran, maka itu bukan kebenaran lagi, karena kebenaranmu tentu akan berlawanan dengan kebenaran orang lain!"
Kakek itu mengeluh. Kemudian dia memandang wajah sumoinya dengan tajam, lalu dia berkata lagi, suaranya kini biasa, tidak mengandung kemurungan seperti tadi.
"Sumoi, sebenarnya aku, seperti suhu, sudah muak dengan segala macam urusan dunia, urusan antara manusia yang penuh dengan permusuhan dan kebencian. Akan tetapi, teringat akan pesan suhu, aku tidak tega membiarkan engkau pergi begitu saja tanpa bekal pengalaman. Maka, sebelum aku membiarkan engkau pergi seorang diri menempuh kehidupan ramai, lebih dulu engkau akan kuajak pergi ke Kiam kok (Lembah Pedang ) di Pegunungan Tai-hang san."
"Mengapa kita ke lembah itu suheng?"
Kakek itu menarik napas panjang.
"Aku tahu bahwa engkau selama ini tekun mempelajari ilmu silat tentu dengan maksud untuk mencari pembunuh ayah bundamu untuk membalas kematian mereka, bukan?"
Dara itu tiba-tiba memandang keras dan kedua tangannya dikepal, dan sambil bangkit berdiri dia berkata lantang.
"Dugaan suheng benar sekali!"
"Itulah! Dari pada membiarkan engkau seorang diri meniadi setan penyebar maut dan mungkin saja engkau kesalahan tangan membunuh orang orang yang tidak berdosa, maka engkau akan kuajak ke sana, karena di sana akan diadakan pertemuan besar antara tokoh-tokoh dan partai-partai persilatan. Di sana tentu akan dapat kau temui musuh musuh ayah bundamu, yaitu ketua ketua Im yang pai dan Im yang kauw. Aku akan menjaga agar engkau menyelesaikan perhitungan pribadi ini dengan pribadi pula, dan tidak lalu memusuhi seluruh orang Im yang-pai."
Ling Ling menjadi girang sekali.
"Ah, aku akan dapat bertemu denganpembunuh ayah bundaku di sana? Bagus! Mari kita berangkat, suheng!"
Tak lama kemudian, suheng dan sumoi itu meninggalkan Kwi-hoa san, menuruni puncak puncak dan lereng lereng pegunungan itu dengan cepat karena dalam keadaan penuh semangat Ling Ling mempergunakan ginkang untuk berlari cepat sehingga beberapa kali suhengnya harus berteriak menyuruh dara itu menunggunya karena dia sendiri tidak mau berlari-larian seperti dara itu.
"Sumoi, kautunggu aku. jangan berlari terlalu cepat!"
Teriak kakek itu yang terpaksa agak mempercepat langkahnya.
"Aku ingin segera sampai di tempat itu, suheng!"
"Hemm, tenanglah. Pertemuan besar itu akan diadakan pada permulaan bulan depan, kita masih banyak waktu. Pula, kalau berlari lari seperti engkau itu, mana kita dapat menikmati keindahan tamasya alam di sepanjang perjalanan? Juga, aku sudah terlalu tua untuk berlarian secepat itu!"
Setelah kini berjalan di samping suhengnya dan membuka mata, baru Ling Ling melihat kebenaran kata-kata kakek itu.
Pemandangan alam di sepanjang perjalanan itu amat indahnya sehingga beberapa kali dara ini memuji, berhenti sejenak untuk mengagumi alam yang terbentang luas di depan kakinya, keindahan yang tak mungkin dapat dilukiskan dengan kata-kata.
"Aihhhh, lihat telaga jauh di sana itu, suheng! Seperti cermin tertimpa sinar! Betapa indahnya! Dan puncak bukit di sana itu! Seperti kepala seekor burung. Aduh, bukan main luas dan indahnya!"
Melihat sumoinya menunjuk sana-sini, memuji-muji dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar, Lui Sian Lojin tersenyum.
Teringatlah kakek ini akan sikap anak-anak yang pernah dipanggulnya, tiga orang anak yang bawanya ke puncak Kwi hoa san hampir tigapuluh tahun yang lampau.
Mereka itu adalah ayah bunda dari sumoinya ini.
Gan Beng Han dan Kui Eng, bersama Tan Bun Hong, tiga orang anak-anak yang kemudian menjadi murid-muridnya.
Seperti sumoinya inilah sikap Kui Eng, ibu kandung anak ini, begitu gembiranya menikmati keindahan alam.
Ah, sumoi, engkau belum mengerti tentang kebesaran dan keagungan alam, dan keindahan yang kaunikmati itu hanya merupakan kesenangan hampa saja, pikirnya.
Kebesaran dan keagungan alam terdapat di mana-mana, bukan hanya di pegunungan atau di tepi lautan, bukan hanya di tempat sunyi, melainkan di manapun kita berada.
Kebesaran dan keagungan alam yang penuh pesona, penuh hikmat, penuh keajaiban dan mujizat, penuh dengan ketertiban, setertib awan berarak di angkasa raya, setertib ombak mengalun beriring-iringan, setertib angin mendesau di antara pohon pohon.
Keagungan ini sudah berada di atas keindahan dan keburukan, di atas sifat menyenangkan atau tidak menyenangkan dan hanya nampak atau terasa oleh mereka yang tidak dipengaruhi oleh batin yang menilai dan membanding bandingkan karena penilaian dan perbandingan itu hanyalah kesibukan pikiran yang berpusat kepada si aku.
Keindahan yang nampak karena kecocokan selera bukan lagi keindahan, karena timbul dari perbandingan dan penilaian, dan hasil perbandingan dan penilaian tentu akan menimbulkan konflik.
Hanya batin yang hening tidak dikotori oleh perbandingan, tidak dikotori oleh ingatan akan yang baik atau buruk, yang senang atau susah hanya batin yang benar-benar hening tanpa membandingkan, tanpa pendapat, tanpa kesimpulan, tanpa pamrih, yang akan benar benar bertemu dengan keagungan dan kebesaran itu.
Sekali batin terjerumus ke dalam perbandingan, tentu akan mengejar yang menyenangkan dan menjauhi yang tidak menyenangkan, terseret ke dalam lingkaran setan dari kebalikan kebalikan, indah buruk, senang susah, baik jahat dan selanjutnya.
Hanya batin yang hening sajalah yang wajar dan akan bertemu, bahkan menjadi satu dengan KEWAJARAN.
Keindahan yang agung, kebahagiaan, terdapat di dalam batin yang hening yang tidak mengejar apa apa, tidak kepingin apa-apa.
Pengejaran dan keinginan yaitu keinginan yang berada di luar dari pada kebutuhan jasmani yang pokok, hanya merupakan permainan dari pikiran atau si aku yang ingin senang, ingin mengulang apa yang dianggap enak dan nikmat, dan di dalam pengejaran keinginan untuk senang ini terkandung kebalikannya, terkandung kekecewaan, rasa takut, kekhawatiran, dan kesusahan.
Kebahagiaan bukanlah suatu basil usaha, kebahagiaan tidak mungkin dapat didatangkan melalui daya upaya, tidak mungkin diperoleh melalui pengejaran.
Yang dapat diperoleh melaluipengejaran hanyalah kesenangan, dan setiap kesenangan itu membawa rangkaiannya, yaitu kekecewaan, kebosanan, dan kesusahan.
Hal ini jelas sekali.
Bukan berarti bahwa kita HARUS MENOLAK KESENANGAN!
Sebaliknya, kesenangan mendapatkan keadaan yang lain sama sekali kalau kita tidak mengejar-ngejarnya.
Sesungguhnya, tanpa pengejaran apapun, yang dinamakan kesenangan itu sudah bukan kesenangan lagi, melainkan suka cita yang hanya dirasakan saat demi saat, tidak meninggalkan bekas dalam ingatan, karena sekali meninggalkan bekas, maka bekas atau guratan itu akan membentuk pengejaran yang ingin mengulangi lagi apa yang telah dialaminya tadi.
Dari situlah timbulnya pengejaran kesenangan!
Maka, pertanyaan yang teramat penting bagi kita, dapatkah kita hidup tanpa kesan-kesan yang mencatat dalam pikiran sehingga menimbulkan pengejaran kesenangan, juga menimbulkan kekhawatiran dan rasa takut?
Pertanyaan ini tak dapat dijawab dengan kata-kata belaka, hanya dapat dijawab dalam tindakan, dalam penghayatan hidup sehari-hari.
Pemandangan alam di sepanjang sungai yang mengalir di antara lembah-lembah di Pegunungan Tai-hang-san tidak mudah untuk dilukiskan keindahannya.
Setiap lekuk, setiap tanjakan, setiap jurang, setiap lembah memiliki keindahan tersendiri yang tiada keduanya.
Terutama sekali di sepanjang sungai drkat lembah yang tebingnya merah, di situ banyak ditumbuhi berbagai macam pohon bambu yang beraneka macam.
Ling Ling sampai bengong melihat pohun pohon bambu itu.
"Bukan main! Selama hidupku, baru sekarang aku melihat pohon-pohon bambu, seperti itu, suheng!"
Teriaknya.
"Memang,"
Kata suhengnya.
"pohon bambu merupakan satu di antara pohon-pohon keramat bagi rakyat. Rakyat mengenal "tiga sahabat di musim dingin", yaitu pohon bambu, pohon tusam dan pohon bunga mei yang dapat bertahan di musim dingin. Bahkan pohon bambu nampak lebih kuat dan buku-bukunya lebih menonjol dihembus angin dan embun musim dingin. Tiga macam pohon itu dianggap sebagai lambang keteguhan dan keluhuran."
Karena di situ tumbuh bermacam pohon bambu, dan melihat sumoinya amat tertarik, Lui Sian Lojin lalu mengajak sumoinya menuruni lembah dan mendekati pohon-pohon bambu di tepi sungai itu.
Kakek yang sudah berpengalaman ini lalu menjelaskan satu demi satu tentang bambu-bambu yang tumbuh di situ.
Memang, kiranya hanya di Tiongkok sajalah tumbuh pohon-pohon bambu yang demikian banyak macamnya.
Tidak mengherankan apabila pohon ini merupakan pujaan bagi para penyair dan pelukis karena keindahannya, kekuatannya, dan keserbagunaannya.
Bambu muda terkenal sebagai bahan makanan yang lezat, batangnya dapat dipergunakan sebagai alat bangunan, daunnya dapat dipakai sebagai pembungkus makanan yang dimasak, akar dan rantingnya merupakan bahan bakar yang baik, dan keseluruhannya dapat menjadi contoh lukisan yang indah Ditambah lagi tumbuhnya amat mudah dan subur, tidak membutuhkan pemeliharaan yang sulit.
Lui Sian Lojin mulai dengan penuturannya tentang bambu.
"Ada seratus jenis lebih pohon bambu yang kesemuanya mempunyai keistimewaan masing-masing, bahkan masing-masing bambu mempunyai dongengnya sendiri-sendiri."
Kakek itu lalu menunjuk sebatang bambu yang indah.
Batangnya berwarna hijau muda, dan pada batang itu nampak garis-garis hijau tua kehitaman yang lurus dan rata, seperti digaris saja, ada pula yang agak lebih kecil batangnya dengan batang berwarna kuning keemasan dengan garis-garis berwarna hijau tua.
"Yang bergaris lurus seperti dicetak ini adalah Bambu Dawai Kecapi,"
Kakek itu menjeiaskan. Kemudian mereka mengagumi bambu yang batangnya berwarna hijau berbintik bintik coklat, bintik bintiknya tidak rata, tapi indah seperti lukisan seniman yang pandai.
"Yang ini namanya Bambu Berbintik, baik sekali dipakai menjadi tangkai pancing karena kuat dan lentur, tidak mudah patah."
"Tapi yang kecil berbintik bintik ini lebih indah batangnya."
Kata Ling Ling.
"Itu adalah Bambu Selir Siang,"
Lui Sian Lojin menjelaskan "Eh? Namanya aneh sekali."
"Memang bambu ini mengandung sebuah dongeng kuno. Pada jamandahuluseorang kaisar bersama dua orang selirnya yang tercinta berpesiar ke selatan, dan ketika tiba di Cang-wu (di Propinsi Hui-nan) kaisar menderita sakit sampai meninggal dunia di tempat itu. Kedua orang selir itu berduka sekali dan mereka ingin mengikuti kaisar, lalu membunuh diri dengan terjun ke dalam Sungai Siang. Kemudian mereka menjelma menjadi dewi sungai dan setiap hari mereka menangisi kematian kaisar. Air mata mereka yang jatuh ke atas batang bambu di tepi sungai itu menimbulkan bintik-bintik pada batang itu. Nah, itulah sebabnya maka bambu jenis ini dinamakan Bambu Selir Siang."
Ling Ling termenung, terharu mengikuti dongeng tentang kesetiaan selir kaisar itu.
"Ah, yang itu luar biasa sekali, seperii ular!"
Tiba tiba Ling Ling berseru gembira sambil lari menghampiri kelompok bambu yang memang aneh.
Batang bambu ini berlekuk lekuk seperti ular, dan setiap lekukan merupakan sisik!
"Itu namanya Bambu Sisik Naga, kuat sekali dan indah untuk dipakai sebagai tongkat, dan akar serta daunnya dapat dipergunakan sebagai bahan obat yang manjur."
Lui Sian Lojin lalu memperkenalkan bambu bambu itu satu demi satu didengarkan penuhi perhatian oleh sumoinya.
Memang aneh aneh bambu di situ, karena pada umumnya batang bambu berbentuk bundar dengan lubang di tengah-tengahnya.
Akan tetapi kumpulan bambu di tempat itu, ada yang bentuk ruasnya aneh sekali, juga namanya luar biasa.
Ada bambu yang dinamakan Bambu Muka Manusia (Phyllostachys bambusoides var, aurea Makino).
Ada bambu yang bentuknya persegi.
Malah ada lagi Bambu Tak Berlubang (Phyllos tachys bambusoides forma).
Bambu yang bentuknya persegi itu mempunyai rebung yang istimewa, rasanya gurih dan lezat sekali, terkenal sebagai hidangan yang istimewa.
Bambu tak berlubang itu batangnya hanya sebesar jari tangan, dalamnya tidak berlubang sama sekali.
Ada pula Bambu Hitam Berduri yang mempunyai duri pada sekitar buku bukunya seolah olah dipasangi sebuah roda gigi.
Bambu Bermiang (Phyllostachys edulis) ketika baru tumbuh penuh dengan miang (bulu halus).
Ada lagi Bambu Daun Manis (Sinocalamus latiflorus) yang daunnya lebar sekali.
"Di sana itu adalah bambu jenis aneh. Biasanya, orang akan sukar sekali melihat pohon bambu berkembang. Biasanya, kalau ada pohon bambu berkembang, hal itu berarti bahwa pohon itu sudah tua dan mulai layu. Akan tetapi Bambu Hitam Berduri ini dan Bambu Pahit di sana itu kalau musim bertunas mengeluarkan bau semerbak harum seperti bunga mawar."
Tak terasa lagi sampai hampir dua jam mereka berada di tempat itu.
mengagumi pelbagai jenis batang bambu dan Ling Ling amat tertarik oleh keterangan suhengnya yang hafal akan segala macam bambu.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju ke lembah yang bernama Kiam-kok (Lembah Pedang).
Karena kedatangan mereka berdua tepat pada hari diadakannya pertemuan besar antara tokoh-tokoh kang-ouw itu, maka ketika mereka tiba di lembah itu, di situ telah penuh dengan orang.
Sebetulnya, yang mengadakan pertemuan itu adalah dua fihak yang pada saat itu sedang saling memperebutkan pengaruh di Tiongkok, yaitu fihak Pek-lian-kauw dan Uighur di satu hak, dengan fihak Khitan dan Tibet di lain fihak.
Kedua golongan itu mengadakan pertemuan untuk membicarakan permusuhan yang timbul antara sekutu mereka masing-masing, yaitu Im-yang-kauw yang menjadi sekutu Pek-lian kauw dan Uighur, dan Beng kauw yang menjadi sekutu Khitan dan Tibet.
Agaknya sudah mereka sepakati untuk tidak mempertemukan fihak Im yang-kauw dan Beng-kauw agar tidak terjadi keributan dan hanya sekutu-sekutu mereka saja yang hadir untuk memperbincangkan hal itu.
Seperti yang diceritakan oleh Ong-ciangkun pada Tan Sian Lun, pada waktu itu memang terdapat tiga persekutuan yang seolah-olah sedang saling bertentangan secara diam-diam berlumba untuk memperkembangkan pengaruh dan memperebutkan kekuasaan.
Yang pertama tentu saja fihak pemerintah yang didukung oleh para pendekar.
"terutama oleh Thai-san pai dan Siauw-lim-pai Fihak ke dua adalah persekutuan antara Im-yang kauw, Pek-lian-kauw dan Bangsa Uighur, Pihak ketiga adalah Beng kauw, Bangsa Khitan dan Bangsa Tibet, Biarpun fihak ke dua dan ke tiga ini adalah fihak-fihak yang menentang pemerintah, akan tetapi di antara mereka telah timbul persaingan sehingga kini para pemimpin di antara mereka yang khawatir kalau kalau permusuhan terbuka akan melemahkan kedudukan masing-masing, lalu mengadakan pertemuan itu untuk membicarakan urusan itu Yang hadir hanyalah tokoh-tokoh dan jagoan-jagoan semua fihak, karena merekapun tidak begitu bodoh untuk mengumpulkan banyak orang di suatu tempat sehingga akan menimbulkan kecurigaan fihak pemerintah. Akan tetapi kedua fihak diwakili oleh tokoh-tokoh utama mereka sehingga pertemuan itu merupakan pertemuan yang cukup penting. Fihak Khitan di wakili sendiri oleh tokoh besarnya, yaitu An Hun Kiong, keponakan dari mendiang pemberontak An Lu Shan yang pernah menggemparkan seluruh Tiongkok. An Hun Kiong adalah seorang laki-laki tampan gagah berusia kurang lebih empatpuluh tahun, berwatak keras tegas dan bersemangat besar seperti mendiang pamannya dan memang An Hun Kiong ini memiliki cita-cita besar untuk meneruskan perjuangan pamannya yang gagal di tengah jalan setelah hampir saja berhasil itu. An Hun Kiong ini ditemani oleh gurunya, yaitu kakek sakti Thai-lek Hoat-ong atau yang di negerinya disebut Tayatonga, kakek raksasa bongkok yang lihai itu. Selain kakek ini, juga terdapat helasan orang Khitan yang tinggi besar dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi. Sekutu dari bangsa Khitan ini, yaitu orang-orang Tibet, diwakili oleh tokoh besarnya sendiri, yaitu Ba Mou Lama, seorang pendeta Lama Jubah Merah yang usianya sudah tujuhpuluhan tahun, tinggi kurus muka kuning dengan mata sipit. Kakek ini lihai bukan main, kabarnya malah lebih lihai dari Thai lek Hoat-ong, karena kakek ini adalah guru dari Sin Beng Lama, tokoh Tibet yang lihai itu dan yang juga hadir dalam pertemuan itu. Selain mereka berdua, ada pula belasan orang pendeta Lama yang kesemuanya berwajah angker dan membayangkan kepandaian yang lihai. Akan tetapi fihak kedua yang. hadir di situ tidak kalah angker dan menyeramkan dibandingkan dengan fihak Khitan dan Tibet itu. Fihak ke dua ini terdiri dari wakil Bangsa Uighur yang bernama Ou Lam Sing, seorang raksasa hitam yang tubuhnya kelihatan amat kuat. berusia empatpuluh tahun. Dia ini memang seorang tokoh Uighur yang terkenal sekali, dan kabarnya memiliki kepandaian silat dan gulat yang sukar dicari bandingannya. Selain Ou Lam Sing, juga terdapat belasan orang anak buahnya atau pengawalnya, yang merupakan jagoan-jagoan Uighur. Adapun sekutunya, dari fihak Pek-lian-kauw diwakili sendiri oleh Thai-kek Seng-jin, ketua Pek-lian-kauw wilayah timur, seorang kakek berusia enampuluh tahun yang kepalanya botak dan kakek ini memegang sebatang tongkat seperti ular, tongkat yang terbuat dari Bambu Sisik Naga. Kakek ini kelihtannya saja lemah, akan tetapi sesungguhnya selain memiliki ilmu silat yang tinggi, dia juga ahli dalam hal ilmu sihir! Di belakang kakek ini berdiri pula belasan orang Pek-lian-kauw dengan tanda-tanda bunga teratai putih di baju mereka. Selain kedua fihak yang memang hendak membicarakan urusan sekutu masing-masing yaitu Beng-kauw dan Im-yang-kauw yang tidak hadir, di situ hadir pula tokoh-tokoh dari kalangan kang-ouw dan liok-lim, yang datang sebagai saksi saja, juga karena biasanya para petualang di dunia persilatan paling suka menghadiri pertemuan-pertemuan besar semacam ini untuk meluaskan pengalaman dan perkenalan dengan tokoh-tokoh besar. Dengan adanya tokoh-tokoh kang-ouw dan liok-lim ini, maka hadirnya Lui Sian Lojin dan Ling Ling tidak begitu menarik perhatian orang sungguhpun setiap laki-laki di situ yang melihat Ling Ling tentu tidak hanya memandang sepintas lalu belaka. Pada saat itu, sebagian dari para pimpinan kedua fihak sedang menjamu para tamu yang hadir, membagi-bagikan berguci-guci arak kepada tamu-tamu yang duduk seenaknya di lembah itu, di bawah-bawah pohon, di atas-atas batu.dan ada yang duduk seenaknya di atas rumput. Sementara itu, ditempat yang agak terpisah, nampak tokoh-tokoh besar kedua fihak sedang bercakap-cakap. Lui Sian Lojin mengajak sumoinya untuk mendekati para pimpinan itu, karena dia ingin mengajak sumoinya untuk menyelidiki keadaan Im-yang-kauw, yaitu para ketuanya yang dicari-cari oleh sumoinya untuk memperhitungkan perbuatan mereka yang menyebabkan kematian ayah bunda dara itu. Mereka berdua mendekati lalu duduk mendengarkan percakap-mereka.
"Omitohud"".!"
Terdengar Ba Mou Lama, tokoh Tibet itu berseru.
"Im-yang-pai diserbu oleh pemerintah, bagaimana yang dipersalahkan Beng-kauw? Andaikata benar penuturan Thai-kek Seng-jin bahwa nama lm-yang-kauw dipergunakan oleh anak buah Beng-kauw, akan tetapi hal itu hanyalah merupakan pelanggaran dari anak buah saja. Penyerbuan pemerintah itu adalah tanggungjawab pemerintah sepenuhnya, tidak adil kalau dipersalahkan kepada Beng-kauw."
"Hemm. ucapan itu memang benar,"
Kata Gu Lam Sing, tokoh Uighur yang membela sekutunya, yaitu Im-yang-pai.
"Akan tetapi gara-gara Beng-kauw yang mempergunakan nama Im-yang-kauw maka sahabat sahabat kami itu diserbu oleh pemerintah sehingga mengalami banyak kerugian.
"Benar, akan tetapi harus diingat bahwa Beng-kauw hanya melakukan itu demi untuk menentang pemerintah, bukan semata-mata untuk mencelakai Im-yang-pai!"
Terdengar An Hun Kong berkata, suaranya penuh wibawa.
"Maka, sebaiknya kesalahan faham ini dihabiskan sampai di sini saja dan kita bersama menghadapi pemerintah yang menjadi musuh utama kita! Dengan bertengkar dan saling bermusuhan, maka hal itu akan melemahkan kedudukan kita masing-masing dan akan memudahkan pemerintah untuk menekan kita. Hanya anak-anak kecil saja yang mengutamakan urusan urusan pribadi yang tidak penting. Akan tetapi kita adalah orang-orang dewasa yang dapat mengesampingkan urusan pribadi yang sepele untuk menghadapi urusan besar!"
Ucapan itu berwibawa dan semua orang mendengarkan sambil menundukkan muka karena memang ucapan itu mengandung kebenaran.
"Fihak Im-yang pai juga tidak mengajak lain fihak bermusuhan"
Kata Thai-kek Seng-jin, ketua Pek lian-kauw yang membela sekutunya, yaitu Im-yang-kauw "Kalau mereka mengajak bermusuhan, tentu tidak akan minta kepada kami untuk bicara dengan cu-wi (anda sekalian).
Akan tetapi, mengingat bahwa fihak Beng-kauw yang lebih dulu melakukan suatu kekeliruan sehingga mengakibatkan fihak Im-yang-kauw mengalami kerugian, maka sudah layaknyalah kalau fihak Beng-kauw yang lebih dulu mengulurkan tangan menyatakan maaf"
Pada Saat itu, An Hun Kiong bangkit berdiri dan mengangkat tangan memberi isyarat kepada semua orang untuk tidak melanjutkan percakapan.
Sepasang matanya yang tajam ditujukan kepada Ling Ling yang dengan terang-terangan menghadapi mereka itu dan ikut mendengarkan percakapan tadi.
"Saudara-saudara, nanti dulu! Agaknya ada orang luar yang ikut mendengarkan!"
Katanya dan diapun menggerakkan kedua kakinya, sekali meloncat telah berada di depan Ling Ling dan suhengnya yang cepat bangkit berdiri pula.
Peristiwa ini menarik perhatian para tamu lainnya yang menghentikan percakapan mereks masing-masing dan semua mata ditujukan kepada laki-laki perkasa tokoh Khitan itu dan Ling Ling, dara remaja cantik manis yang sejak tadi menarik perhatian semua orang karena cantiknya.
Sepasang mata An Hun Kiong mengamati kakek dan dara itu dengan penuh perhatian penuh kecurigaan dan penuh selidik.
Sudah menjadi kelemahan dari orang gagah ini, di samping cita-citanya yang besar untuk menegakkan kembali kekuasaan yang pernah diraih oleh pamannya, yaitu dia mudah tergila-gila kepada wanita cantik!
Hanya wanita cantik sajalah yang mampu mengganggu kesungguhannya dalam perkara memperjuangkan kekuasaan ini.
Memang demikianlah.
Sejarah telah mencatat betapa banyak sekali "orang besar"
Yang jatuh karena wanita!
Sesungguhnyakah bahwa wanita yang menjatuhkan mereka?
Amat tidak adil kalau kita menuduh dan menyalahkan waanita saja!
Persoalannya terletak lebih mendalam lagi.
Menurut catatan sejarah, jatuhnya "orang-orang besar"
Itu disebabkan karena tergila-gila kepada wanita, ada pula yang tergila-gila akan kekuasaan, akan harta benda, dan sebagainya.
Jadi bukan semata-mata wanita saja yang menyebabkannya.
Tergantung sepenuhnya dari kelemahan si "orang besar"
Itu sendiri.
Ada yang lemah terhadap kekayaan, ada yang lemah terhadap kekuasaan, ada pula yang lemah menghadapi wanita cantik.
Dan sesungguhnya kesemuanya itu bersumber kepada kelemahan diri sendiri.
Batin yang selalu mengenangkan hal hal yang dianggap paling menyenangkan, akan mengejar ngejarnya dan akhirnya menjadi hamba dari pada hal yang dianggap paling menyenangkan itu.
Jadi, kalau ada orang besar atau apapun mudah tergoda atau tergila-gila kepada wanita sehingga lenyap kewaspadaannya, bukan wanitalah yang bersalah, melainkan dirinya sendiri yang memuja-muja kesenangan bergaul dengan wanita itu.
Pemujaan ini yang memelihara dan memperbesar nafsu keinginan yang membuatnya haus dan mengejar-ngejar pemuasan.
Dan setelah kita menjadi hamba dari satu di antara nafsu-nafsu yang mengejar-ngejar apa yang di inginkan itu, maka kita kehilangan kewaspadaan, kita menjadi seperti buta dan tindakan kita didorong oleh nafsu yang memperbudak kita itu.
Demikianlah persoalan yang sebenarnya.
Biar kita dikurung oleh ribuan orang wanita cantik, kalau batin kita jernih dan kita tidak membayangkan hal-hal yang menimbulkan nafsu berahi, tentu tidak akan timbul apa pun juga.
Sebaliknya, biarpun kita dijauhkan dari wanita, berada di puncak gunung, dalam hutan dan tidak pernah bertemu wanita, namun kalau batin kita penuh dengan bayangan tentang hubungan dengan wanita yang mendatangkan sesuatu yang kita anggap nikmat dan menyenangkan, maka kita tetap akan dikejar kejar nafsu berahi!
Di dalam diri kitalah terletak sumber segala hal, yang baik maupun yang buruk!
"Siapakah engkau, nona?"
An Hun Kiong bertanya, di dalam suaranya terkandung kekaguman akan kecantikan dara remaja itu dan juga terkandung kecurigaan karena nona itu bersikap biasa dan terbuka, seolah-olah pertemuan puncak itu merupakan tontonan lumrah saja, padahal semua tamu yang lain tidak ada yang berani mendekati mereka yang sedang berunding.
Lui Sian Lojin yang kawatir kalau-kalau sumoinya mengeluarkan kata-kata yang dapat menimbulkan keributan, cepat mengangguk dengan hormat dan berkata,.
"Harap maafkan kami yang tanpa disengaja mengganggu pembicaraan cu-wi yang penting."
Dia terus memberi hormat kepada An Hun Kiong dan tokoh-tokoh lain yang sudah datang mendekat pula karena tertarik dan juga curiga.
Siapa tahu, dua orang ini adalah mata-mata pemerintah yang diutus untuk menyelidiki pertemuan itu.
Kini An Hun Kiong memandang kepada kakek berjenggot panjang putih itu.
Dia memandang penuh selidik dan menoleh kepada kawan-kawannya, akan tetapi semua tokoh yang menjadi sekutunya itu agaknya juga tidak mengenal kakek ini, pada hal hampir semua tokoh kang-ouw dan liok-lim dikenal oleh mereka, terutama Thai-kek Sengjin yang mengenal semua tokoh.
"Siapakah totiang?"
Akhirnya An Hun Kiong bertanya. Lui Sian Lojin tersenyum dan menggeleng kepala.
"Aku bukan seorang pendeta, melainkan seorang tua biasa yang kebetulan lewat di sini dan melihat keramaian di sini lalu ingin menonton. Namaku Lui Sian Lojin."
Mendengar nama ini, terdengar seruan di sana-sini, karena nama Lui Sian Lojin bukanlah nama asing bagi banyak tokoh kang-ouw.
Hanya karena kakek ini selama puluhan tahun tidak pernah lagi muncul di dunia kang-ouw, maka tidak ada yang mengenal wajahnya lagi.
Tokoh-tokoh tua seperti Thai kek Seng-jin tentu saja mengenal nama itu, maka dia cepat berkata dengan sikap hormat.
"Ah, kiranya pertapa dari Kwi-hoa-san yang hadir!"
Dia cepat menjura ke arah Lui Sian Lojin dan menyambung.
"Maafkan bahwa penyambutan kami kurang hormat karena tidak mengenal Lojin."
Lui Sian Lojin tersenyum dan membalas penghormatan itu.
"Sudah lama mendengar nama besar Thai-kek Seng-jin, maka pertemuan ini sungguh menyenangkan hati."
Akan tetapi, nama Lui Sian Lojin ini tentu saja tidak dikenal oleh orang-orang Uighur.
Tibet, dan Khitan.
Melihat betapa ketua Pek-lian-kauw itu begitu menghormat kepada kakek sederhana ini, hati An Hun Kiong merasa tidak senang.
Kakek ini boleh jadi seorang mata-mata, akan tetapi gadis ini sungguh manis.
Maka dengan lantang dia berkata.
"Sayang bahwa kami belum mengenal ji-wi (kalian berdua) sebagai sahabat, maka kami tidak mengirim undangan. Akan tetapi belum terlambat kiranya untuk kita menjadi sahabat. Aku adalah An Hun Kiong dan siapakah namamu, nona?"
Melihat pandang mata laki-laki gagah dan tampan itu, melihat senyum dan kerling matanya yang mengandung kekurangajaran, Lmg Ling sudah merasa tak senang, maka dia merasa enggan untuk menjawab.
Melihat sikap sumoinya, Lui Sian Lojin cepat mewakilinya menjawab.
"Dia ini adalah sumoiku yang (Lanjut ke
Jilid 31) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 31 bernama Gan Ai Ling."
Mendengar ini, semua orang memandang degan penuh keheranan, juga merasa geli dalam hati.
Seorang kakek yang sudah demikian tuanya mempunyai seorang sumoi yang masih dara remaja, yang patut menjadi cucu muridnya!
Dan pengakuan ini membuat An Hun Kiong makin memandang rendah kepada kakek itu.
Biarpun sudah tua sekali, akan tetapi kalau hanya suheng dari dara remaja ini, mana mungkin memiliki ilmu yang tinggi?
Maka timbullah keberaniannya, karena memang dia sejak tadi sudah tergila-gila kepada dara yang cantik manis itu.
"Ah, semuda ini sudah menjadi sumoi seorang tokoh besar, sungguh mengagumkan! Aku merasa gembira sekali dapat menjadi seorang sahabatmu, nona Gan Ai Ling! Dan sebagai seorang sahabat aku mempersilakan padamu dan kepada suhengmu untuk duduk bersama kami dan bercakap-cakap."
Sejak tadi Ling Ling sudah merasa muak dengan sikap orang she An itu.
Memang harus diakui bahwa An Hun Kiong adalah seorang laki-laki yang gagah dan tampan memiliki daya tarik besar bagi kaum wanita.
Akan tetapi, sikapnya yang mata keranjang dan sinar matanya yang kurang ajar itu melenyapkan rasa suka, bahkan mendatangkan perasaan muak dan marah dalam hati Ling Ling.
Dia maklum bahwa suhengnya tidak menghendaki dia memperlihatkan sikap keras, maka suhengnya selalu mewakili dia bicara.
Setelah kini orang she An itu menujukan kata-katanya langsung kepadanya, dia tidak dapat menahan kesabarannya lagi.
"Kami datang ke sini bukan untuk bersahabat dengan siapapun juga, juga tidak ingin mencampuri urusan siapapun juga, melainkau untuk mencari dua orang yang tadinya kami kira akan muncul di tempat ini!"
Suara dara ini memang nyaring dan mengandung kelincahan, dan biarpun dia tidak bersikap manis, namun karena wajahnya memang cerah dan manis, maka ucapan itu terdengar wajar dan tidak menyinggung hati.
"Apakah bukan aku orang she An yang kaucari, nona?"
Tanya An Hun Kiong yang terseret oleh kelincahan dara itu dan ingin berkelakar. Ling Ling tersenyum mengejek. Dia belum marah, hanya merasa tidak suka kepada orang ini.
"Mau apa mencari orang seperti engkau?"
Dia balas bertanya.
Andaikata orang lain yang bersikap seperti itu kepadanya, tentu An Hun Kiong akan marah sekali karena ucapan itu mengandung penghinaan, dan sama sekali tidak menghargainya, padahal dia adalah pemimpin orang Khitan yang gagah perkasa!
Akan tetapi karena kata-kata itu keluar dari mulut manis seorang dara jelita yang telah membuat hatinya tertarik sekali, An Hun Kiong tidak menjadi marah, sebaliknya dia tertawa.
"Ah, kita sudah menjadi sahabat, memang tidak usah saling mencari lagi. Akan tetapi siapakah dua orang yang kaucari itu, nona? Mungkin aku dapat membantumu untuk menemukan mereka."
Kini Ling Ling bersikap sungguh-sungguh Siapa tahu, dan besar sekali kemungkinannya orang ini akan dapat membantunya menemuan musuh-musuh besarnya yang tidak muncul di tempat itu, apa lagi mengingat betapa percakapan orang-orang ini tadi menyangkut Im yang-kauw.
"Agaknya engkau memang dapat menolongku menemukan dua orang yang kucari itu. Mereka adalah ketua Im-yang-kauw dan ketua Im yang-pai. Di mana mereka, mengapa mereka tidak muncul dan di mana aku dapat menemukan mereka?"
Semua orang terkejut mendengar ini. Bahkan An Hun Kiong yang tadinya bersikap main-main dan mengagumi wajah jelita itu, kini kelihatan terkejut dan sikapnya berubah sungguh-sungguh.
"Nona, mau apa engkau mencari ketua Im-yang-kauw dan ketua Im-yang-pai?"
Tiba-tiba Thai-kek Seng-jin bertanya dan sepasang matanya memandang tajam penuh penyelidikan.
Juga semua orang yang berada di situ memperlihatkan sikap penuh kecurigaan sehingga Lui Sian Lojin mengerutkan alisnya, khawatir kalau sumoinya akan menimbulkan keributan.
Akan tetapi sebelum dia sempat mewakili sumoinya, dara itu sudah lebih dulu menjawab dengan jujur sambil menentang pandang mata kakek botak itu dengan sikap menantang.
"Mau apa? Aku hendak membunuh mereka!"
Tentu saja semua orang menjadi makin terkejut, bahkan An Hun Kiong sendiri sampai mundur dua langkah.
Tak disangkanya bahwa nona muda yang menarik hatinya ini ternyata adalah seorang musuh yang berbahaya dan tidak ragu lagi hatinya bahwa tentu dua orang ini adalah mata-mata pemerintah!
"Kiranya kalian adalah mata-mata busuk dari kerajaan!"
Bentaknya marah. Kini Lui Sian Lojin maju dan mengangkat kedua tangannya.
"Harap cu-wi tidak salah sangka. Kami mencari ketua Im yang kauw untuk urusan pribadi, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan pemerintah,"
"Siapa percaya omonganmu?"
An Hun Kiong membentak, kini karena dia merasa curiga bahwa kedua orang itu adalah mata-mata pemerintah, dia menjadi marah sekali.
"Kalau memang urusan pribadi, mengapa engkau hendak membunuh mereka, nona?"
"Karena mereka telah membunuh ayah bundaku! Ketua Im yang kauw telah membunuh ayah bundaku, dan ketua Im-yang-pai telah menyebabkan kerusuhan di Cin-an sehingga mengakibatkan peristiwa kematian orang tuaku itu!"
"Hemm, siapakah ayahmu, nona?"
"Ayahku adalah mendiang pendekar gagah perkasa Gan Beng Han!"
"Ohhh""!"
Terdengar seruan di sana sini karena nama ini banyak dikenal mereka.
Sebetulnya, diam-diam fihak Khitan dan Tibet merasa girang mendengar bahwa seorang di antara saingan mereka, yaitu Im-yang pai, dimusuhi orang.
Akan tetapi karena An Hun Kiong tetap menaruh curiga bahwa dua orang itu adalah mata-mata kerajaan, di samping keinginannya untuk menangkap hidup-hidup dara yang amat jelita itu untuk dijadikan korban pemuasan nafsunya, maka orang she An ini lalu berteriak.
"Mereka ini tentu mata-mata pemerintah!"
Lalu dia menoleh kepada belasan orang Khitan yang bertubuh tinggi besar, yaitu para pengawalnya.
"Tangkap hidup-hidup nona ini dan bunuh kakek itu!"
Duabelas orang Khitan yang tinggi besar itu serentak berloncatan ke depan, dan kini semua tamu sudah mengurung tempat itu dan menonton dengan penuh perhatian.
Mereka tertarik sekali dan sambil berbisik-bisik semua tamu mengira bahwa kakek dan gadis remaja itu adalah mata-mata pemerintah, dan mereka membicarakannya dengan hati tegang karena tentu dua orang itu akan celaka.
Akan tetapi Ling Ling sama sekali tidak memperlihatkan sikap takut ataupun gugup sama sekali, bahkan dia berdiri tegak dengan senyum mengejek, menghadapi duabelas orang Khitan tinggi besar itu, sedangkan kakek itupun dengan tenang-tenang saja berdiri di situ, bahkan memangku kedua lengannya seolah-olah dia tidak melihat bahaya apapun juga.
Lui Sian Lojin memang sama sekali tidak ingin bermusuhan dengan siapapun juga, apa lagi dengan orang-orang yang dia tahu memiliki kepandaian tinggi dan memiliki kedudukan yang kuat pula ini.
Oleh karena itu, dia berbisik, bisikan lirih akan tetapi cukup terdengar oleh semua orang.
"Sumoi, jangan bunuh orang!"
Biarpun dia marah sekali, namun Ling Ling mentaati pesan suhengnya dan ketika belasan orang itu sudah bergerak hendak menyerang suhengnya dan menangkap dia, Ling Ling mendahului mereka dengan teriakan nyaring dan tubuhnya seperti lenyap, berobah menjadi bayangan yang berkelebatan ke sana-sini.
Terdengar teriakan berturut-turut dan dalam waktu singkat sekali duabelas orang itu telah roboh atau terlempar ke sana-sini!
Semua orang terkejut bukan main melihat betapa dalam waktu singkat sekali, dara itu telah merobohkan duabelas orang jagoan Khi-tan, dan Tai-lek Hoat-ong, guru dari An Hun Kiong yang melihat keadaan tidak baik bagi anak buahnya, cepat meloncat ke depan dan langsung dia menyerang Lui Sian Lojin, karena dia menganggap bahwa tentu kakek ini yang merupakan orang terpandai dan yang harus dirobohkan terlebih dulu.
Raksasa Khitan yang agak bongkok ini menyerang dengan hebatnya.
Dia tidak mempergunakan senjatanya yang ampuh, yaitu sabuk rantai emas, melainkan menyerang dengan dorongan kedua telapak tangannya sambil mengerahkan tenaga saktinya yang kuat bukan main.
Melihat penyerangan yang amat hebat ini Lui Sian Lojin berseru kaget.
"Siancai"..!"
Dan terpaksa diapun mengulur kedua lengannya dengan telapak tangannya dia menyambut dan menolak serangan itu karena dia maklum bahwa untuk mengelak sudah tidak sempat lagi.
"Desss""!"
Hebat bukan main pertemuan dua tenaga sakti itu, akan tetapi ternyata Tai lek Hoat-ong memiliki sinkang yang lebih kuat, karena terbukti tubuh Lui Sian Lojin terpental ke belakang sampai tiga meter sedangkan tubuh Tai-lek Hoat-ong hanya terhuyung saja!
Wajah Lu Sian Lojin berobah pucat.
"Ha ha-ha, kiranya hanya sedemikian saja kepandaian Lui Sian Lojin yang terkenal!"
Tai-lek Hoat-ong tertawa mengejek.
"Mari. mari, majulah lagi, Lui Sian Lojin, jangan hanya berani menghadapi anak buah kami saja"
"Kiranya kalian adalah mata-mata busuk dari kerajaan!"
Bentaknya marah. Kini Lui Sian Lojin maju dan mengangkat kedua tangannya.
"Harap cu-wi tidak salah sangka. Kami mencari ketua Im yang kauw untuk urusan pribadi, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan pemerintah,"
"Siapa percaya omonganmu?"
An Hun Kiong membentak, kini karena dia merasa curiga bahwa kedua orang itu adalah mata-mata pemerintah, dia menjadi marah sekali.
"Kalau memang urusan pribadi, mengapa engkau hendak membunuh mereka, nona?"
"Karena mereka telah membunuh ayah bundaku! Ketua Im yang kauw telah membunuh ayah bundaku, dan ketua Im-yang-pai telah menyebabkan kerusuhan di Cin-an sehingga mengakibatkan peristiwa kematian orang tuaku itu!"
"Hemm, siapakah ayahmu, nona?"
"Ayahku adalah mendiang pendekar gagah perkasa Gan Beng Han!"
"Ohhh""!"
Terdengar seruan di sana sini karena nama ini banyak dikenal mereka.
Sebetulnya, diam-diam fihak Khitan dan Tibet merasa girang mendengar bahwa seorang di antara saingan mereka, yaitu Im-yang pai, dimusuhi orang.
Akan tetapi karena An Hun Kiong tetap menaruh curiga bahwa dua orang itu adalah mata-mata kerajaan, di samping keinginannya untuk menangkap hidup-hidup dara yang amat jelita itu untuk dijadikan korban pemuasan nafsunya, maka orang she An ini lalu berteriak.
"Mereka ini tentu mata-mata pemerintah!"
Lalu dia menoleh kepada belasan orang Khitan yang bertubuh tinggi besar, yaitu para pengawalnya "Tangkap hidup-hidup nona ini dan bunuh kakek itu!"
Duabelas orang Khitan yang tinggi besar itu serentak berloncatan ke depan, dan kini semua tamu sudah mengurung tempat itu dan menonton dengan penuh perhatian.
Mereka tertarik sekali dan sambil berbisik-bisik semua tamu mengira bahwa kakek dan gadis remaja itu adalah mata-mata pemerintah, dan mereka membicarakannya dengan hati tegang karena tentu dua orang itu akan celaka.
Akan tetapi Ling Ling sama sekali tidak memperlihatkan sikap takut ataupun gugup sama sekali, bahkan dia berdiri tegak dengan senyum mengejek, menghadapi duabelas orang Khitan tinggi besar itu, sedangkan kakek itupun dengan tenang-tenang saja berdiri di situ, bahkan memangku kedua lengannya seolah-olah dia tidak melihat bahaya apapun juga.
Lui Sian Lojin memang sama sekali tidak ingin bermusuhan dengan siapapun juga, apa lagi dengan orang-orang yang dia tahu memiliki kepandaian tinggi dan memiliki kedudukan yang kuat pula ini.
Oleh karena itu, dia berbisik, bisikan lirih akan tetapi cukup terdengar oleh semua orang.
"Sumoi, jangan bunuh orang!"
Biarpun dia marah sekali, namun Ling Ling mentaati pesan suhengnya dan ketika belasan orang itu sudah bergerak hendak menyerang suhengnya dan menangkap dia, Ling Ling mendahului mereka dengan teriakan nyaring dan tubuhnya seperti lenyap, berobah menjadi bayangan yang berkelebatan ke sana-sini.
Terdengar teriakan berturut-turut dan dalam waktu singkat sekali duabelas orang itu telah roboh atau terlempar ke sana-sini!
Semua orang terkejut bukan main melihat betapa dalam waktu singkat sekali, dara itu telah merobohkan duabelas orang jagoan Khi-tan, dan Tai-lek Hoat-ong, guru dari An Hun Kiong yang melihat keadaan tidak baik bagi anak buahnya, cepat meloncat ke depan dan langsung dia menyerang Lui Sian Lojin, karena dia menganggap bahwa tentu kakek ini yang merupakan orang terpandai dan yang harus dirobohkan terlebih dulu.
Raksasa Khitan yang agak bongkok ini menyerang dengan hebatnya.
Dia tidak mempergunakan senjatanya yang ampuh, yaitu sabuk rantai emas, melainkan menyerang dengan dorongan kedua telapak tangannya sambil mengerahkan tenaga saktinya yang kuat bukan main.
Melihat penyerangan yang amat hebat ini Lui Sian Lojin berseru kaget.
"Siancai"..!"
Dan terpaksa diapun mengulur kedua lengannya dengan telapak tangannya dia menyambut dan menolak serangan itu karena dia maklum bahwa untuk mengelak sudah tidak sempat lagi.
"Desss""!"
Hebat bukan main pertemuan dua tenaga sakti itu, akan tetapi ternyata Tai lek Hoat-ong memiliki sinkang yang lebih kuat, karena terbukti tubuh Lui Sian Lojin terpental ke belakang sampai tiga meter sedangkan tubuh Tai-lek Hoat-ong hanya terhuyung saja!
Wajah Lu Sian Lojin berobah pucat.
"Ha ha-ha, kiranya hanya sedemikian saja kepandaian Lui Sian Lojin yang terkenal!"
Tai-lek Hoat-ong tertawa mengejek.
"Mari. mari, majulah lagi, Lui Sian Lojin, jangan hanya berani menghadapi anak buah kami saja"
"Hemm, kami tidak bermaksud memusuhi siapapun,"
Kata Lui Sian Lojin dengan sikap masih tenang, sungguhpun mukanya menjadi pucat dan napasnya agak terengah, tanda bahwa dia telah mengalami guncangan hebat akibat pertemuan tenaga sakti tadi.
"Suheng, biarlah aku menghadapi tua bangka bongkok yang sombong ini!"
Tiba-tiba Ling Ling berteriak dan sekali menggerakkan kaki, dia telah melayang ke depan Tai-lek Hoat-ong, lalu berdiri tegak dan bertolak pinggang sambil memandang dengan sinar mata bercahaya penuh kemarahan.
"Sumoi, jangan mencari keributan!"
Suhengnya membentak.
"Jangan khawatir, suheng, aku hanya ingin menunjukkan bahwa kita tidak takut menghadapi mereka yang hendak membela musuh musuhku! Heh, tua bangka sombong, kami tadi telah memperkenalkan diri, bahkan telah menceritakan maksud kedatangan kami. Engkau ini siapakah dan mengapa engkau menyambut kami dengan pengeroyokan dan pengerahan anak buahmu?"
Tai-lek Hoat-ong tersenyum lebar.
Dia sendiri dahulu di waktu mudanya adalah seorang mata keranjang, maka biarpun sudah tua, dia masih suka memasang aksi di depan wanita cantik, apa lagi karena tadi dia sudah mengukur tenaga Lui Sian Lojin dan mendapat kenyataan bahwa dia lebih kuat dari pada kakek pertapa dari Gunung Kwi-hoa-san itu.
Apa lagi kini menghadapi sumoi dari kakek itu, tentu saja dia memandang rendah sekali.
"Ha ha-ha, nona Gan Ai Ling yang manis. Kami sudah mendengar akan kegagahan ayah bundamu, maka pantaslah engkau menjadi puteri mereka, engkau masih muda sudah memiliki kepandaian tinggi dan keberanian besar. Ketahuilah bahwa aku adalah Tai-lek Hoat-ong. Karena kedatangan kalian berdua amat mencurigakan, kami semua menduga keras bahwa kalian tentulah mata-mata pemerintah, maka sudah sepatutnya kalau kami hendak menangkap kalian Kalau engkau suka menyerah untuk menjadi tawanan kami, tentu kami tidak perlu lagi menggunakan kekerasan."
Ling Ling tersenyum manis sehingga An Hun Kiong tidak tahan untuk diam saja, maka dia berbisik.
"Suhu, harap jangan lukai dia!"
Ling Ling tidak meroperdulikan kata-kata An Hun Kiong itu, melainkan kini berkata kepada Tai-lek Hoat-ong.
"Ah, kiranya engkau adalah guru dari pemimpin pemberontak itu, Tentu engkau seorang tokoh Khitan yang terkenal. Kami tidak ada urusan apapun dengan orang-orang Khitan, akan tetapi jangan mengira bahwa kami takut kepadamu!"
"Ha ha, mundurlah saja, nona dan biarkan suhengmu yang maju. Aku merasa malu untuk menghadapi seorang nona muda seperti engkau, dan kalau aku sudah selesai mengurus suheng mu, biar engkau nanti melayani muridku saja ha-ha!"
Semua orang yang mendengar kata "melayani"
Itu tertawa karena mereka maklum apa yang dimaksudkan oleh kakek bongkok itu.
Akan tetapi Ling Ling belum menangkap arti kata yang menghina dan kotor itu, dan karena dia memang berwatak lincah jenaka, maka diapun tersenyum ketika menjawab.
"Kakek tua, engkau sudah tua dan bongkok, mana patut menjadi lawan suheng? Lebih baik engkau dan kaki tanganmu mundur saja dan keluar dari Tiongkok, dan membiarkan kami berdua pergi, katena kalau engkau lanjutkan gangguanmu, engkau akan menyesal nanti. Mundurlah!"
Tai-lek Hoat-ong tertawa bergelak.
"Lucu lucu""
Engkau benar-benar nekat."
"Suhu, harap suhu tangkap dia dan jangan sampai terluka,"
Kembali An Hun Kiong berkata.
"Jangan khawatir, dalam sepuluh jurus aku akan menotok dia roboh!"
Kata kakek bongkok itu.
"Tua bangka sombong, omong kosongmu tak ada harganya!"
Kata Ling Ling yang sudah melangkahkan kakinya ke depan.
"Coba robohkan aku dalam sepuluh jurus!"
Setelah berkata demikian, dara itu sudah menerjang ke depan, gerakannya lincah dan ringan, cepatnya seperti kilat dan yang amat mengejutkan hati kakek bongkok itu adalah suara yang timbul dari gerakan tangan dara itu, suara bercuitan seperti ada senjata tajam yang digerakkan.
Akan tetapi, karena memang watak tokoh Khitan ini sombong dan terlalu mengandalkan kepandaian sendiri, dia tetap memandang rendah dan menyambut kedua serangan yang dilakukan dengan tangan kiri menyambar dari atas dan tangan kanan menusuk dari depan itu, sambil tersenyum dan dia berusaha menggunakan kedua tangannya untuk menangkap pergelangan kedua tangan lawan.
"Ha-ha, kau boleh juga, nona"".!"
Dia mengejek sambil menyambar dengan kedua tangannya.
"Wuuuut, plak plak plak-plak!"
Kakek itu terkejut setengah mati karena ketika tadi kedua tangannya sudah berhasil mencengkeram pergelangan tangan nona itu, dia merasa seperti mencengkeram tubuh ular yang halus dan licin sekali, juga amat keras dan mengeluarkan hawa dingin menusuk tulang sehingga otomatis dia melepaskan cengkeraman kedua tangannya, kemudian tiba-tiba saja kedua tangan nona itu sudah melakukan tamparan bertubi-tubi yang membuat dia gelagapan dan harus cepat menangkis dengan kedua tangannya sambil meloncat mundur karena tamparan tamparan itu mengandung hawa dingin yang amat kuat dan yang dijadikan sasaran adalah bagian-bagian tubuh yang berbahaya dan dapat menimbulkan maut.
"Dia hebat""."
Bisik Gu Lam Sing, tokoh Uighur yang raksasa hitam itu kepada Thai-kek Seng-jin.
Ketua Pek lian kauw ini mengangguk dan tersenyum, lalu memandang penuh kagum kepada Ling Ling.
Kini dara itu sudah menerjang lagi dengan kecepatan yang luar biasa, membuat Tai-lek Hoat-ong makin terdesak dan terus main mundur sambil mengelak dan menangkis, sama sekali tidak memperoleh kesempatan untuk membalas serangan lawan karena gerakan lawannya yang luar biasa cepatnya itu.
Dia berusaha untuk mengerahkan tenaga lweekangnya, mengerahkan sinkang dari pusar untuk mengatasi kecepatan lawan dengan kekuatannya, namun makin terkejutlah dia ketika mendapat kenyataan bahwa nona itupun memiliki sinkang yang amat kuat, bahkan tidak kalah kuat kalau dibandingkan dengan kekuatannya dan jelas malah lebih kuat dari pada tenaga dari Lui Sian Lojin yang tadi telah mengadu tenaga dengan dia.
Benar-benar dia merasa penasaran sekali.
Apakah dia kehilangan tenaganya?
Ataukah ada suatu keanehan dimana kepandaian sumoi melebihi tingkat kepandaian suhengnya?
Jangankan dapat merobohkannya dalam sepuluh jurus!
Kini sudah lewat tigapuluh jurus lebih dan selama itu keadaan kakek yang menjudi tokoh Khitan itulah yang terus-menerus terdesak hebat.
An Hun Kiong sendiri sampai memandang bengong dan mukanya menjadi agak pucat melihat betapa gurunya didesak sedemikian rupa oleh dara remaja yang cantik manis itu.
"Hai, tua bangka bongkok, sudah berapa juruskah kita berkelahi? Mana janjimu yang hendak merobohkan aku dalam sepuluh jurus? Menotokku sampai roboh? Huh. tak tahu malu engkau, ya?"
Ling Ling mengejek dan lawannya mempergunakan kesempatan selagi lawannya bicara ini untuk mengirim penyerangan kilat dengan tonjokan ke arah perut lawan sambil mengerahkan tenaga sinkang sekuatnya, batu karangpun akan remuk terkena hantaman ini, apa lagi perut seorang dara remaja seperti perut Ling Ling.
Sukar dibayangkan akan menjadi apa perut dara itu kalau sampai terkena tonjokan maut itu.
"Ah, seranganmu kaku dan tak ada artinya!"
Ling Ling kembali mengejek dan biarpun kelihatan pukulan itu hampir mengenai perut, namun dalam saat terakhir dara itu mampu mengelak dengan lincahnya, tubuhnya kelihatannya begitu ringan seperti kapas sehingga se olah-olah terdorong ke samping oleh hawa pukulan sehingga pukulan itu tentu saja tidak mengenai sasaran.
Pada saat mengelak itu, Ling Ling menggerakkan kakinya dan ujung sepatunya sempat mencium lutut lawan.
Biarpun tiduk keras, akan tetapi karena yang dicium ujung sepatu adalah sambungan lutut yang amat lemah maka kakek itu berjingkrak dan memegangi lututnya sambil meloncat ke belakang dan meringis, beberapa kali berloncatan dengan sebelah kaki karena kaki yang tercium lutufnya itu terasa nyeri kalau diturunkan.
"Hi-hik. kau yang memukul, kenapa kau sendiri yang kesakitan? Apakah kau mau mempertunjukkan tarian monyet?"
Ling Ling mengejek terus untuk memanaskan perut lawan atau untuk membalas sikap sombong lawan yang hendak merobohkannya dalam sepuluh jurus tadi.
Diam-diam ketua Pek lian kauw itu menjadi girang bukan main dan dia yang kini berbisik kepada tokoh Uighur yang menjadi nekutunya.
"Hebat"". hebat dia"".!"
Bukan main marahnya hati Tai lek Hoat-ong menghadapi ejekan dara itu, dan diam-diam diapun makin terkejut karena kini tahulah dia bahwa dara itu memang lihai bukan main dan sama sekali tidak boleh dipandang rendah.
"Srat"". singgg""
Nampak sinar keemasan dan tahu tahu di tangan kanan kakek itu telah Nampak sebatang rantai emas yang ujungnya dipasangi kaitan-kaitan, itulah senjatanya yang ampuh dan. amat sukar dihadapi lawan.
"Bocah setan, bersiaplah untuk mampus!"
Bentak kakek itu yang kini sudah menjadi marah dan sabuk rantainya menyerang untuk membunuh! "Suhu"".!"
An Hun Kiong berseru karena dia masih merasa sayang kalau nona itu dibunuh.
Akan tetapi gurunya tidak memperdulikannya lagi, bahkan kini dengan bentakan nyaring telah menubruk ke depan, didahului oleh ujung rantai emas itu yang menyambar ganas, kaitannya yang pertama menyambar mata dan yang ke dua menyambar ke arah dada Ling Ling!
"Aihhh, ganas"".!"
Dara itu masih sempat berteriak mengejek, kakinya digerakkan secara indah sekali, kaki kanan ditekuk dan berada di sebelah kaki kiri yang ditekuk juga sehingga kedudukan tubuhnya setengah berjongkok dengan lutut kanan menahan lantai, kedua tangan dirangkap ke depan dada dan siku-sikunya terbuka, lalu tangan itu diangkat ke atas, dengan cepat sekali jari telunjuknya menyentil ke depan.
"Tinggg!"
Kaitan emas itu terkena sentilan dan menyeleweng dari pada sasaran!
Tiba tiba dara itu dengan gerakan indah memutar tubuhnya ke kanan dan menggantikan kedudukan kaki kanan yang tadinya menahun lantai dengan lutut, berbalik lutut kanan itu diangkat dan digantikan dengan lutut kiri yang menahan lantai, kedua tangan tetap bertemu di depan dada dan siku kanannya digerakkan menerima sebuah tendangan lawan yang disusulkan serangan rantai tadi.
"Dukk!"
Dan untuk kedua kalinya kakek itu meringis dan tubuhnya agak terputar karena yang bertemu dengan siku adalah bagian mata kakinya yang lemah.
Nyeri rasanya dan dia meringis kesakitan!
Gerakan dara itu memang indah karena dia telah memainkan jurus Sin liong-paik-kwan-im (Naga Sakti Menghormat Dewi Kwan im)!
Tai-lek Hoat-ong makin marah dan penasaran, kembali dia memutar rantainya dan menyerang dengan sapuan ke arah kedua kaki lawan.
Namun Ling Ling yang tadinya masih setengah berjongkok itu, dengan lincahnya telah meloncat naik ke atas sehingga kedua kakinya terbebas dari sambaran rantai yang menyabet di bawah kakinya, kemudian dia menurunkan kaki dan memainkan jurus Naga Sakti Menghantam Bumi.
Gerakan mi dilakukan cepat, ketika tubuhnya turun, kaki kanan meloncat ke depan, disusul kaki kiri, langsung dia memasang kuda-kuda bersudut, yaitu kuda-kuda dengan kaki depan ditekuk bagian depan, dan kaki kiri lurus di belakang, kedua tangannya bergerak menangkap dari kiri ke kanan, disusul dengan pukulan tangan kiri ke arah pusar lawan, pukulan menyerong ke bawah yang amat ampuh, sedangkan siku lengan kanan menunjuk ke atas, tangan kanan siap pula untuk menyusulkan serangan lain.
Indah dan kuat serta gagah sekali jurus Naga Sakti Menghantam Bumi ini dan kembali kakek bongkok itu menjadi gugup karena ketika rantainya tadi luput mengenai sasaran, kini dia malah terancam bahaya oleh pukulan yang menuju ke pusarnya.
Karena rantainya masih berputar, maka dia tidak sempat menangkis atau balas menyerang, maka jalan satu satunya untuk menyelamatkan diri baginya hanya melempar tubuh ke belakang, lalu bergulingan ke atas tanah sambil menyabetkan rantainya dari bawah bertubi-tubi ke arah tubuh lawan.
"Hi hiik, kau memang seperti trenggiling bongkok!"
Ling Ling mengejek dengan mudai dia meloncat-loncat, untuk menghindarkan sambaran rantai, bahkan kadang-kadang secara memandang rendah sekali dia menggerakkan kakinya dan dengan ujung sepatunya dia menangkis atau menendang ke arah ujung rantai emas yang ada kaitannya itu!
Memang dara ini telah mewarisi ilmu kepandaian yang luar biasa dari Bu Eng Lojin, kakek buyut gurunya yang telah menjadi gurunya itu!
Kemudian terdengar suara dara itu melengking nyaring sekali, mengejutkan semua orang dan tiba tiba saja nampak tubuh dara itu sudah melayang ke atas dan dari atas dia sudah meluncur dengan serangan dahsyat sekali ke arah kepala lawannya, tangan kiri mencengkeram ke arah ubun ubun kepala sedangkan tangan kanan menghantam ke arah pundak kiri lawan dibarengi pula kaki yang menendang ke bawah.
Inilah jurus maut yang disebut Naga Sakti Membuat Gempa, hebatnya bukan kepalang karena dari gerakan kedua tangan dan kaki itu sudah lebih dulu menyambar hawa pukulan yang dahsyat dan amat kuatnya.
"Ahhh".!"
Tai-lek Hoat ong terkejut dan cepat menarik tubuh ke belakang, mengebutkan rantai emasnya ke arah tangan lawan yang hendak mencengkeram ubun-ubun kepalanya.
"Cappp!"
Tangan dara itu bertemu dengan ujung rantai yang berkait, akan tetapi seperti tanpa memperdulikan kaitan yang runcing mengerikan itu, Ling Ling menangkap ujung rantai.
Girang hati Tai-lek Hoat-ong karena dia mengira bahwa tangan dara itu tentu akan dapat dilukainya, maka dia menarik keras rantainya.
Akan tetapi pada saat itu, kaki Ling Ling yang menendang sudah tepat mengenai pergelangan tangan kanannya yang memegang gagang rantai, berbareng pula tangan kanan Ling Ling yang tadi luput menghantam pundak, kini sudah menampar ke arah siku tangan kanan dari lawan itu.
Seketika terasa lumpuh tangan kanan kakek itu setelah terkena tamparan dan sentuhan ujung kaki Ling Ling dan tanpa dapat dicegah lagi, rantainya dapat dirampas oleh dara itu yang kini sudah turun ke atas tanah.
"Mampuslah""..!"
Tai-lek Hoat-ong yang menjadi marah itu menubruk.
Akan tetapi begitu kedua kakinya menginjak tanah, Ling Ling memutar kaki kiri ke kiri, kaki kanannya diangkat tinggi dengan gerakan melingkar sehingga telapak kaki kanan bersentuhan dengan tangan kanan yang menghadang datangnya telapak kaki itu, dan pada saat kakinya melayang itu, kaki ini menendang ke arah kepala lawan, dibarengi pula dengan gerakan tangan kiri yang mengelebatkan rantai rampasan itu menotok ke arah leher!
Inilah yang dinamakan jurus Naga Sakti Menghancurkan Gunung!
Memang ilmu silat dari para petapa di Kwi hoa san itu berdasar kepada Ilmu Silat Naga Sakti (Sin liong-kun) yang telah diolah sedemikian rupa oleh Bu Eng Lojin.
Bahkan mendiang Siangkoan Lojin sendiripun mendasarkan ilmu silatnya pada Sin-liong-kun itu sehingga dia menclptakan Ilmu Silat Sin-liong-jiauw kang (Cakar Naga Sakti) yang hebat itu.
"Wuuut. plak""
Bukkkk!"
Tai-lek Hoat-ong masih dapat menyelamatkan kepalanya namun kaki dara itu masih mengenai pundaknya dan tubuh tinggi besar agak bongkok itu terpelanting sampai beberapa meter jauhnya!
"Omitohud, perempuan iblis ini sungguh berbahaya!"
Terdengar Ba Mou Lam berseru dan tahu-tahu pendeta Lama berjubah merah itu telah meloncat ke depan, mencegah Ling Ling mengejar lawan yang sedang bergulingan itu dan tiba-tiba terdengar ledakan dua kali seperti cambuk dibunyikan ketika jubahnya yang lebar itu digerakkan dan kedua ujung jubah itu sudah menyambar ke arah leher dan dada Ling Ling dengan kekuatan dahsyat sekali.
Kepandaian Ba Mou Lama ini kalau dibandingkan dengan tingkat Tai-lek Hoat-ong masih menang dua tingkat maka dapat dibayangkan betapa dahsyat dan berbahaya serangannya itu.
Ketika pendeta Lama ini menyaksikan kekalahan sekutunya, tanpa ragu-ragu lagi dia maju sendiri karena dia maklum bahwa dara itu amat lihai dan di antara teman-temannya, agaknya hanya dia atau ketua Pek-lian kauw yang dapat mengatasinya.
Akan tetapi karena yang dikalahkan oleh dara itu adalah tokoh Khitan, yaitu sekutunya, maka tidak mungkin dia mengharapkan fihak Pek-lian kauw akan mau maju,dan dia sendiri sudah maju dan langsung menyerang dara yang amat lihai itu.
Serangan tiba-tiba yang sama sekali tidak disangkanya itu membuat Ling Ling terkejut sekali karena dara ini mengenal kekuatan dahsyat yang amat berbahaya..
Dia cepat mengelak, akan tetapi hawa pukulan itu masih mendorong pundaknya sehingga dia terpaksa menjatuhkan diri dan bergulingan agar tidak sampai terluka, dan ketika dia bergulingan itu dan melihat tubuh berjubah merah itu mengejar, cepat dia menggerakkan tangan dan rantai emas rampasan tadi meluncur ke depan memapaki tubuh berjubah merah itu bagaikan sebatang anak panah!
"Omitohud""!"
Ba Mou Lama berseru kaget ketika melihat sinar emas meluncur dari bawah. Cepat dia menggerakkan lengan kanannya menyampok.
"Tringgg!"
Rantai emas itu tertangkis dan terbanting ke atas tanah, akan tetapi ujung jubah di lengan pendeta itu terobek pula, tanda bahwa lontaran rantai emas itu tadi mengandung tenaga yang amat kuat.
Wajah berkulit kuning dari pendeta Tibet itu berobah agak kemerahan.
Biarpun serangannya tadi membayangkan kemenangan tipis, namun robeknya ujung lengan baju menghapus kemenangannya dan keadaannya dengan dara itu boleh dikata sekali kalah sekali menang!
Ling Ling sudah meloncat berdiri dan memasang kuda-kuda dengan kedua kaki terpentang lebar, kedua lutut ditekuk, kedua lengan ditekuk pula, yang satu ke atas yang lain ke bawah, kepalanya miring menghadap lawan dan sepasang matanya mengeluarkan sinar kilat, sikapnya demikian gagah sehingga mengagumkan semua orang yang menonton, Lui Sian Lojin sendiri diam-diam merasa kagum dan yakinlah hatinya bahwa gurunya benar-benar telah menggembleng dara itu menjadi seorang yang memiliki ilmu silat tinggi sekali.
Namun hatinya khawatir juga melihat sumoinya menghadapi pendeta Lama yang jelas merupakan seorang lawan tangguh yang sakti.
Oleh karena itu, melihat sumoinya dan pendeta itu sudah saling pandang dan siap untuk bertanding, dia lalu melangkah maju.
"Harap totiang suka bersabar,"
Katanya menjura dengan hormat.
"Di antara kita tidak terdapat permusuhan apa-apa, dan sudah kami katakan bahwa kami datang hanya khusus untuk mencari pimpinan Im-yang-kauw, maka apakah perlunya perkelahian ini dilanjutkan? Totiang adalah seorang tokoh besar yang sudah berusia lanjut, tentu sudi mengalah terhadap seorang gadis remaja seperti sumoiku ini!"
Ucapan itu bernada mengalah, akan tetapi juga merupakan peringatan bahwa nama besar seorang tokoh seperti Ba Mou Lama akan terjatuh dan ternoda kalau sampai dia melawan seorang dara remaja, apalagi kalau sampai kalah!.
Oleh karena itu, pandang mata Ba Mou Lama menjadi agak bingung dan ragu-ragu.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Thai-kek Seng-jin, ketua Pek-lian-kauw yang sejak tadi sudah memandang kepada Ling Ling penuh kagum dan dengan mata bersinar-sinar penuh kecerdikan, untuk maju pula dan berkata dengan suara lantang.
"Siancai"".! Memang tidak perlu perkelahian dilanjutkan! Ba Mou Lama, kami percaya akan keterangan kedua orang gagah ini. Seorang gagah perkasa yang memiliki kepandaian seperti nona Gan ini, apa lagi mengingat akan kegagahan mendiang ayahnya, tidak mungkin membohong ketika mengatakan bahwa dia bukan mata-mata pemerintah. Gan-lihiap, aku Thai-kek Seng-jin percaya kepadamu! Dan Ba Mou Lama, harap suka mengalah sedikit dan biarkan aku bicara dengan nona ini."
Ba Mou Lama mengangguk dan terpaksa mundur karena kalau dia berkeras, bukan saja dia bisa ditertawai orang, akan tetapi juga amat berbahaya mempertaruhkan nama besarnya melawan dara yang amat lihai ini, hanya untuk urusan tetek bengek!
Ling Ling yang melihat lawannya mundur, lalu tersenyum dan menoleh kepada kakek berkepala botak yang memegang tongkat bambu itu.
Tongkat itu menarik hatinya karena baru saja dia mengagumi banyak macam bambu bersama suhengnya, maka pertama tama yang menarik hatinya adalah tongkat di tangan kakek itu.
Tongkat itu kalau dilihat dari jauh persis seekor ular.
""Bukankah itu Bambu Sisik Naga?"
Tanyanya, ulahnya seperti anak anak saja. Thai-kek Seng-jin tercengang, memandang kepada tongkat di tangannya, lalu tertawa.
"Ha-ha-ha, nona Gan selain ahli dalam ilmu silat, juga ternyata ahli dalam soal bambu. Benar, lihiap, tongkatku ini terbuat dari bambu Sisik Naga."
Setelah dugaannya tepat, maka perhatian Ling Ling terhadap tongkat itupun hilang sudah dan dia kini menatap wajah kakek berkepala botak yang memiliki sinar mata aneh itu.
"Thai-kek Seng-jin, aku dan suheng tidak membutuhkan orang percaya kepada kami atau tidak, akan tetapi kami bukanlah pengecut pengecut yang menyembunyikan maksud kedatangan kami. Kuulangi bahwa aku datang mencari ketua Im yang kauw yang bernama Kim sim Niocu karena iblis betina itu telah membunuh ayah bundaku. Nah apa lagi yang akan kaubicarakan dengan aku?"
"Siancai".., sungguh mengagumkan. Kepandaiannya setinggi langit, hatinya sekeras batu dan semangatnya berkobar seperti api! Karena melihat bahwa perselisihan ini tidak ada manfaatnya bagi kedua fihak, mengingat bahwa lihiap sudah pasti tidak berwatak serendah itu untuk menjadi mata-mata gelap, dan mengingat pula bahwa urusan antara lihiap dan Im yang kauwcu (ketua Im yang-kauw) adalah urusan pribadi, maka kami ingin bicara dengan lihiap. Ketahuilah bahwa kalau lihiap suka ikut bersama kami, kami akan menunjukkan di mana adanya Im-yang-kauwcu dan kami sanggup untuk mempertemukan lihiap dengan Im yang kauwcu agar urusan pribadi dapat diselesaikan secara gagah dan adil."
"Bagus!"
Ling Ling berseru girang dan mengerling ke arah Tai-lek Hoat-ong dan Ba Mou Lama yang memandang dengan sinar mata masih mengandung kemarahan.
"Itu baru suara orang gagah! Memang aku tidak ingin mencampuri urusan orang lain, semata-mata hendak mencari musuh besarku. Nah, Thai-kek Seng-jin, mari antar aku menemui Im-yang-kauwcu!"
Kakek berkepala botak itu tertawa dan mengerling kepada Lui Sian Lojin.
"Maaf, bukan maksudku untuk tidak menghormat kepada Lui Sian Lojin, akan tetapi karena urusan lihiap adalah urusan pribadi, dan karena tidak boleh sembarangan orang luar untuk bertemu dengan Im-yang-kauwcu, maka jika lihiap hendak berjumpa dengan Im-yang kauwcu, haruslah sendirian saja, baru mungkin dapat bertemu dengan perantaraanku."
Ling Ling menoleh kepada Lui Sian Lojin.
"Suheng, maafkan, terpaksa aku akan pergi sendiri, harap suheng menanti saja di Kwi-hoa-san."
Kakek itu menarik napas panjang.
Tadipun sudah terbukti olehnya bahwa sumoinya ini memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada tingkatnya sendiri, maka Tentu saja sumoinya mampu menjaga diri dan tidak membutuhkan lagi perlindungannya.
"Baiklah, sumoi, akan tetapi hati hatilah terhadap tipu muslihat."
"Tidak percuma selama ini suheng membimbingku, suheng tahu bahwa aku tidak akan mudah ditipu orang."
Akan tetapi Lui Sian Lojin berkata kepada Thai-kek Seng-jin.
"Aku hanya tahu bahwa sumoiku pergi bersama ketua Pek-lian kauw dan Pek-lian-kauw yang bertangungjawab kalau sampai terjadi apa apa dengan sumoi.!"
Setelah berkata demikian Lui Sian Lojin meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi.
"Thai kek Seng-jin mari kita berangkat!"
Ling Ling mendesak ketua Pek lian-kauw itu. Thai-kek Seng-jin menoleh ke arah kelompok Khitan dan Tibet, tersenyum sambil memandang dan berkata halus.
"Maafkan, sahabat sahabat, agaknya terpaksa pertemuan ini diakhiri sampai di sini saja karena muncul urusan pribadi yang menyangkut Im-yang-kauwcu"
Kemudian tanpa banyak cakap 1agi ketua Pek-lian-kauw ini pergi bersama Ling Ling, diikuti oleh semua pengikutnya, juga oleh orang-orang Uighur yang dipimpin oleh Gu Lam Sing.
Biarpun pertemuan puncak itu gagal di tengah jalan, namun pertandingan pertandingan yang baru saja berlangsung di luar perhitungan semula itu sudah cukup memuaskan para tamu yang hadir, yang kesemuanya menyatakan kagum bukan main terhadap dara yang berhasil mengalahkan Tai-1ek Hoat-ong, seorang tokoh besar yang terkenal sakti itu.
Maka seketika terkenallah nama pendekar wanita remaja Gan Ai Ling, puteri dari mendiang pendekar Gan Beng Han.
Perjalanan Ling Ling yang mengikuti orang-orang Pek-lian-kauw dilakukan dengan cepat dan ternyata tempat yang didatangi oleh rombongan ini tidak begitu jauh seperti yang dikawatirkannya semula.
Hanya makan waktu perjalanan tiga hari saja dan mereka telah tiba di tempat yang dituju.
Tempat itu berada di kaki Pegunungan Tai-hang-san, di lembah sungai Huang-ho, di sebelah selatan Pegunungan Tai-hang-san yang luas itu.
Tempat ini sunyi sekali, merupakan lembah sungai yang tertutup hutan dan tebing-tebing tinggi.
Sungai Huang-ho dengan kedua tebingnya yang amat tinggi mengalir di dalam hutan itu, antara dua belah yang amat terjal, dan di lembah sungai itulah mereka menuju karena tempat itu merupakan tempat atau sarang sementara dari sekutu mereka, yaitu Im-yang-kauw, Pek-lian-kauw, dan bangsa Uighur .
Biarpun maklum bahwa dia memasuki sarang naga dan harimau yang amat berbahaya, namun Ling Ling melangkah dengan tenang memasuki hutan yang angker itu , dan hatinya tidak merasa gentar sedikitpun juga ketika dia melihat banyaknya orang-orang yang memakai pakaian seragam, ada yang di bagian dada baju mereka digambari lambang Im-yang, yaitu bulatan dengan tanda belahan hitam dan putih ada pula yang pada baju di dada digambari teratai putih, tanda bahwa mereka adalah anggauta-anggauta Pek-lian-kauw.
Dia maklum bahwa di situ terdapat ratusan orang anak buah Im-yang pai dan Pek-lian-kauw, belum dihitung puluhan orang Uighur yang juga berkumpul di dalam hutan yang luas itu.
Dari samping, Thai-kek Seng-jin memandang kagum Bukan main, pikirnya, dara ini benar benar gagah perkasa dan kita amat membutuhkan seorang pendekar seperti ini!
Maka ketua Pek-lian-kauw ini melanjutkan siasatnya yang amat lihai, yaitu untuk memikat hati Ling Ling agar mau bekerja sama dengan Pek-lian-kauw.
"Thai-kek Seng-jin, mana dia ketua Im yang kauw? Aku ingin segera bertemu dengan dia"
Kata Ling Ling yang sudah tidak sabar lagi "Ah, mengapa lihiap tergesa-gesa?
Im-yang kauwcu tidak mudah dihubungi, apa lagi hanya secara mendadak.
Aku harus memberi tahu lebih dulu dan kiranya besok pagi baru akan mau datang menemuimu.
Sementara itu harap lihiap suka menjadi tamu kehormatan dari Pek-lian kauw!"
"Totiang, engkau tabu bahwa aku tidak suka orang main main denganku. Harap saja engkau tidak mengurangi kepercayaanku padamu."
"Aih, mengapa lihiap begitu curiga? Kami merasa kagum sekali kepada kegagahan lihiap dan kami girang bahwa lihiap telah berhasil memukul dan memberi malu kepada orang-orang asing Khitan yang sombong itu, juga orang asing Tibet! Kami berterima kasih kepada lihiap karena mereka itu adalah saingan saingan dan musuh-musuh kami, maka bagaimana mungkin kami hendak mempermainkan lihiap? Percayalah, aku, Thai-kek Seng-jin adalah ketua Pek-lian-kauw di sini, dan aku berjanji akan mempertemukan lihiap dengan Im-yang-kauwcu agar dapat dilakukan perhitungan yang gagah dan jujur. Kami adalah orang-orang gagah, kami adalah patriot-patriot bangsa. Silakan, lihiap, silakan lihiap istirahat di dalam sementara aku sendiri akan pergi menghubungi Im-yang-kauwcu!"
Kata Thai kek Seng-jin dengan ramah setelah mereka memasuki sebuah bangunan besar di tengah hutan itu.
Beberapa orang pelayan wanita menyambut Ling Ling dengan hormat, dan terpaksa Ling Ling mengangguk dan membiarkan kakek itu pergi untuk menyampaikan berita kunjungannya kepada musuh besarnya.
Yang menjadi musuhnya hanyalah ketua Im-yang kauw, yaitu yang membunuh ayah bundanya.
Dia tidak akan mengusik yang lain kecuali kalau ketua lm yang-pai juga hendak mencampuri urusan ini.
Dan dia sudah mendengar dahulu dari Pek I Nikouw dan Thian Ki Hwesio betapa lihainya ketua Im-yang-kau itu sehingga ayah dan ibunya sampai tewas di tangannya.
Melihat penyambutan yang ramah dan hormat, Ling Ling tidak merasa sungkan lagi.
Setelah membersihkan tubuhnya dengan air yang disediakan oleh para pelayan, dia lalu makan hidangan yang disajikan dengan hati hati agar jangan sampai makan hidangan yang dicampuri racun, kemudian dia beristirahat sambil menunggu di dalam sebuah kamar yang disediakan untuknya.
Dia menyuruh semua pelayan keluar dan duduk bersamadhi di dalam kamar itu, mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi musuh besarnya.
Kamar itu cukup besar dan terhias lukisan lukisan dan slogan-slogan yang mengandung semangat anti pemerintah.
Ling Ling yang tadinya duduk bersamadhi kini masih duduk, akan tetapi pandang matanya meneliti keadaan di kamar itu kalau-kalau ada dipasang jebakan.
Sudah banyak dia menerima peringatan dari suhengnya tentang keadaan di dunia kang-ouw tentang tipu muslihat licik para tokoh golongan sesat.
Akan tetapi, melihat sikap ketua Pek lian kauw, juga sikap para pelayan wanita itu, dan keadaan dalam kamar ini, slogan-slogan itu, dia tidak melihat tanda-tanda yang menunjukkan bahwa orang-orang di situ adalah termasuk golongan sesat atau penjahat-penjahat.
Bahkan slogan-slogan itu penuh semangat menentang penindas-penindas rakyat, menentang pembesar-pembesar yang korup dan menentang kekuasaan kaisar yang dianggap menyengsarakan rakyat!
Ketukan pada pintu kamar membuat Ling Ling meloncat turun dari atas pembaringan dan berdiri tegak di tengah-tengah kamar, seluruh syaraf syarafnya tegang dan siap menghadapi apapun.
"Siapa di luar?"
Dia bertanya tenang pandang matanya seperti hendak menembus daun pintu.
"Gan lihiap, aku di sini."
Jawab orang di luar pintu.
Suara Thai-Kek Seng-jin!
Ling Ling cepat membuka pintu dan keluar dari dalam kamar itu.
Ketua Pek-lian-kauw itu mengajaknya untuk duduk di dalam ruangan dalam dan setelah memberi isyarat kepada para pelayan dan pengawal untuk pergi mcninggalkan ruangan, kakek itu berkata kepada Ling Ling yang duduk di depannya.
"Lihiap, aku telah bertemu dengan Im-yang-kauwcu dan biarpun dengan perasaan amat menyesal, namun dia telah menentukan pertemuan antara dia dan lihiap di dalam lian-bu-thia (ruangan silat) pada besok pagi. Harap lihiap suka siap"
Ling Ling mengerutkan alisnya.
"Hemm, mengapa menyesal?"
Kakek itu menarik napas panjang.
"Dia mengatakan merasa menyesal sekali bahwa lihiap mendesaknya, karena sesungguhnya dia tidak ingin bermusuhan denganmu."
"Ahh, boleh jadi dia tidak ingin memusuhiku, akan tetapi aku tetap akan memusuhinya! Mengapa harus menanti sampai besok? Biar aku mendatanginya sekarang juga. Di mana dia!"
Kakek berkepala botak itu mengangkat kedua tangan ke atas, akan tetapi mukanya masih ramah.
"Aihh, harap lihiap suka bersabar. Hendaknya ingat bahwa aku yang menjadi perantara pertemuan antara lihiap dan im-yang kauwcu, maka sudah selayaknya kalau kita mentaati peraturan sehingga tidak membuat aku sebagai ketua Pek-lian-kauw kehilangan nama. Mengapa tergesa-gesa kalau Im-yang kauwcu telah menentukan tempat dan waktunya. Sebagai ketua agama tentu saja dia menghendaki agar segala sesuatu dilakukan secara resmi Yaaah, memang Im-yang-kauwcu seorang yang mentaati peraturan, seorang ketua yang amat baik, sayang sekali terpaksa bermusuhan denganmu Gan-lihiap."
Kakek itu menarik napas panjang dan kelihatan seperti orang yang meyesal sekali.
Ling Ling tidak mau memperpanjang percakapan tentang urusannya dengan musuh besarnya itu, yang agaknya amat disegani dan dikagumi oleh ketua Pek-lian-kauw ini.
Dia tidak menjawab, melainkan melihat keadaan ruangan di mana dia duduk berhadapan dengan kakek itu.
Juga ruangan ini, seperti kamar di mana dia beristirahat tadi, rapi dan terhias tulisan tulisan bersemangat dan lukisan lukisan indah.
Ingin dia mengetahui lebih banyak tentang perkumpulan yang dipimpin oleh kakek ini.
Semenjak kecil dia berada di tempat tersembunyi di Kwi-hoa-san, maka dia tidak mengenal Pek lian kauw, biarpun suhengnya pernah mengatakan bahwa Pek-lian kauw semenjak dulu adalah perkumpulan orang-orang yang suka memberontak terhadap pemerintah.
"Totiang, apakah sebenarnya perkumpulan lian kauw yang kaupimpin ini? Agama apakah Pek lian kauw (Agama Teratai Putih) itu?"
Mendengar pertanyaan ini, kakek itu memandang dengan tajam, lalu menarik napas dan berkata.
"Nama sebutan agama itu hanya sebagai penutup maksud sebenarnya dari perkumpulan kami, lihiap. Perkumpulan kami mempelajari inti Agama Buddha dan Agama To, akan tetapi bukan keagamaanlah yang terpenting bagi kami, melainkan perjuangan membela rakyat. Kami adalah orang-orang yang membela rakyat yang tertindas, menentang kelaliman dan pemerintah yang lalim dan sewenang-wenang. Kami adalah orang-orang gagah yang tidak sudi melihat rakyat tertekan dan selama belum terdapat pemerintahan yang benar-benar bijaksana dan melindungi rakyat, perkumpulan kami akan selalu ada dan bergerak."
Ling Ling memandang kakek itu dan diam diam merasa kagum juga melihat kakek ini bicara penuh semangat dan mengepal tinju, sepasang mata kakek itu bersinar-sinar!
"Akan tetapi, kenapa perkumpulanmu memakai nama Pek-lian-kauw?
Apa yang dimaksudkan dengan Teratai Putih?"
Kakek ini tersenyum, kelihatan bangga menerima pertanyaan itu dan memperoleh kesempatan untuk menerangkannya.
"Lihiap tentu tahu bahwa bunga teratai merupakan bunga yang dianggap keramat dalam Agama Budda bahkan Kwan im Pouwsat digambarkan duduk di atas teratai putih. Teratai adalah lambang kesucian, karena biarpun bunga itu hidup di atas air berlumpur yang kotor, namun bunganya tetap putih bersih! Bunga itu kami pakai sebagai nama perkumpulan kami untuk menggambarkan bahwa biarpun keadaan dunia ini sudah kotor dengan banyaknya orang-orang yang berhati busuk, apa lagi kaum pembesar yang kotor dan menindas rakyat, namun kami bersih seperti bunga teratai putih!"
"Memang demikian keadaan kita pada umumnya. Kita suka sekali untuk menggambarkan diri sendiri sebagai yang terbaik, yang terbersih, yang paling suci! Kita tidak pernah memandang diri sendiri seperti apa adanya diri kita ini, berikut kemarahan kita, kedengkian kita, kebencian kita. ambisi-ambisi kita, keinginan keinginan kita yang tak kunjung habis, pamrih-pamrih kita, rasa iri dan takut, akan tetapi kita hanya membayangkan suatu gambaran yang muluk tentang diri kita. Kita ingin menonjolkan kebaikan kita, kita ingin dikebut orang baik! Sungguh merupakan suatu kebutaan yang menyedihkan. Tindakan yang kita lakukan dengan pamrih agar kita disebut baik, bukanlah tindakan baik lagi namanya, melainkan suatu kepalsuan, suatu tindakan yang merupakan sarana untuk mencapai "gelar"
Kebaikan.
Apa lagi kebaikan yang ditonjol-tonjolkan, perbuatan yang ditonjol-tonjolkan sebagai perbuatan baik agar kita dicap sebagai manusia baik, jelas merupakan tindakan yang kotor dan munafik, dan di balik semua kepalsuan itu tersembunyi keinginan untuk memperoleh kesenangan!
Dalam hal ini yang dianggap kesenangan adalah "menjadi orang baik"
Itulah! Maka berebutlah kita untuk "menjadi orang baik"
Karena hal itu mendatangkan perasaan senang dan bangga!"
Kenyataan ini mungkin sekali akan menimbulkan pertanyaan bagi sebagian orang, yaitu.
Setelah melihat kenyataan menyedihkan dalam kehidupan manusia di dunia ini yang penuh dengan kebencian, permusuhan dan kesengsaraan, lalu apakah yang harus kita lakukan kalau kita tidak boleh melakukan kebaikan dengan disadari bahwa yang kita lakukan itu adulah kebaikan?
Kita sudah melihat jelas kepalsuan akan tindakan yang disadari sebagai tindakan baik, karena di situ terkandung unsur kesengajaan untuk berbuat baik dan menjadi orang baik.
Segala macam tindakan dalam bentuk apapun juga, tindakan yang dinilai baik atau tidak baik, adalah tindakan yang mengandung kepalsuan apabila tindakan itu keluar dari pikiran yang menilai, memilih dan yang selalu menujukan semua hal demi keuntungan diri sendiri, keuntungan lahir maupun keuntungan batin.
Pikiran merupakan dasar dari semua perbuatan palsu, yang bersumber kepada kepentingan diri pribadi.
Tindakan seperti itu jelas akan menimbulkan konflik, baik konflik dalam batin sendiri maupun konflik keluar, antara manusia, kemudian antara kelompok, antara suku, antara bangsa.
Karena anggapan baik yang berdasarkan penilaian sendiri itu sudah pasti bukan kebaikan lagi, melainkan "menguntungkan diri sendiri"
Dan kebaikan macam itu sudah pasti akan bertemu dengan kebalikannya, yaitu penilaian orang lain, Yang kita anggap baik itu belum tentu dianggap baik oleh orang lain, mungkin saja dianggap jahat dan buruk!
Demikian pula, yang dianggap baik oleh orang lain belum tentu kita terima sebagai suatu kebaikan.
Ini sudah jelas dan merupakan kenyataan yang dapat kita lihat sehari hari dalam kehidupan kita!
Lalu apa yang harus kita lakukan untuk merobah keadaan kehidupan yang kacau dan penuh pertentangan di dalam dunia ini?
APAPUN yang kita lakukan dengan pamrih, tidak akan dapat merobah keadaan, bahkan malah menambah kekacauan karena tindakan kita itupun berpamrih dan mengakibatkan kekalutan dan pertentangan pula.
Inilah yang menyebabkan timbulnya pemberontakan-pemberontakan, revolusi revolusi yang tak kunjung padam selama dunia berkembang.
Keadaan seperti apa adanya tidak mungkin dapat berobah selama diri sendiri belum berobah!
Keadaan seperti apa adanya tidak mungkin DI-robah, akan tetapi keadaan itu akan mempunyai arti yang lain sama sekali apabila diri sendiri sudah berubah!
Jadi pertanyaan.
Apa yang harus kita lakukan itu hanya dapat dijawab dengan .
Kita tidak harus melakukan apa-apa!
Kita tidak dapat merobah keadaan apa adanya, juga perobahan dalam diri sendiri tidak dapat kita robah!
Perobahan batin tidak dapat DIROBAH melainkan akan berobah sewajarnya apa bila kita sadar, mengerti dan waspada!.
Bukan kita, atau sesuatu di atas batin, yang waspada terhadap batin, melainkan batin itu sendiri waspada terhadap gerak-geriknya sendiri, terhadap tindakan-tindakannya sendiri lahir batin, terhadap kesibukannya sendiri setiap saat, memandang, mengamati, waspada, penuh perhatian, tanpa ingin apa-apa, tanpa ingin merobah, tanpa ingin menjadi baik, tanpa menyalahkan atau membenarkan.
Ling Ling adalah seorang dara yang jujur dan belum dapat membedakan kepalsuan, maka mendengar keterangan ketua Pek lian kai itu dia memandang kagum dan hatinya mulai tertarik.
Kiranya Pek-lian-kauw adalah perkumpulan orang orang gagah, pikirnya.
Hatinya mulai terasa tidak enak karena dia memusuhi ketua Im-yang kauw yang agaknya menjadi sahabat dari Pek-lian-kauw.
"Bagaimana dengan Im-yang-kauw?"
Tanyanya, hatinya mulai terasa kecut dan dia berharap akan mendengar bahwa Im-yang kauw tidaklah sebaik Pek-lian-kauw.
Akan tetapi harapannya itu kosong karena dia mendengar keterangan yang jelas tentang Im-yang-kauw dari kakek itu.
(Lanjut ke
Jilid 32) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 32
"Im-yang-kauw adalah sekutu kami, karena Im-yang-kauw juga memperjuangkan kepentingan rakyat dan menentang pemerintah yang menindas rakyat jelata. Im-yang-kauw adalah perkumpulan orang-orang gagah yang bersedia mengorbankan nyawa demi membela kepentingan rakyat jelata!"
Ucapan dari kakek ini terdengar gagah dan agung sekali, dan seorang dara seperti Ling Ling tentu saja tidak dapat melihat lebih mendalam.
Si aku dari kita masing masing adalah pikiran yang amat licik dan pandai.
Setelah melihat bahwa si aku ini hanya dangkal, maka si aku lalu melekat kepada yang dianggap lebih besar, seperti rakyat, bangsa, negara, agama, dan sebagainya lagi.
Dalih yang didengungkan tidak lagi "demi aku"
Melainkan "demi rakyat".
"demi agama".
"demi negara", dan selanjutnya. Jelas bahwa "demi apapun juga"
Masih bersumber kepada aku, rakyatKu, bangsa Ku, dan selanjutnya dan tak dapat disangkal pula bahwa sikap ini akan menciptakan kebalikan atau lawannya sehingga akan lahirlah permusuhan dan pertentangan, yaitu antara "agamaku"
Dan "agamamu", antara bangsaku dan bangsamu, dan selanjutnya.
"Akan tetapi mengapa Im-yang kauw menimbulkan kekacauan di Kuil Ban hok-tong di Cin-an sehingga kemudian menyeret ayah ibuku sehingga kemudian ayah ibuku bermusuhan dengan Im-yang-kauw dan terbunuh oleh ketuanya?"
Ling Ling bertanya, penasaran.
Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya!
"Aku tidak berhak bicara tentang hal itu.
lihiap, karena sebaiknya engkau mengetahuinya dari Im yang kauw sendiri.
Akan tetapi yang jelas, Im yang kauw tidak memusuhi orang orang gagah."
"Dan mendiang ayah bundaku? Apakah mereka bukan orang gagah?"
"Bukan begitu maksudku, lihiap. Siapa tidak mengenal nama besar Gan-taihiap yang menjadi ayahmu, dan ibumu yang juga seorang pendekar wanita? Maksudku, Im-yang-kauw sama sekali tidak pernah memusuhi orang-orang gagah, termasuk orang tuamu."
"Akan tetapi ayah bundaku tewas di tangan ketua lm-yang-kauw!"
"Kesalahfahaman bisa saja terjadi di manapun juga, akan tetapi mengenai urusan orang tuamu dengan fihak Im-yang-kauwcu, biarlah engkau bicarakan sendiri dengan dia kalau besok engkau berjumpa dengannya."
Malam itu Ling Ling tidak dapat tidur.
Semua yang dibicarakannya dengan Thai-kek Seng-jin teidengar kembali di telinganya.
Kalau Im-yang kauw tidak memusuhi ayah bundanya, mengapa ketua Im-yang-kauw membunuh ayah bundanya?
Dan mengapa pula Im-yang-kauw diserbu oleh pasukan pemerintah dan dihancurkan kalau memang Im-yang-kauw bukan perkumpulan pemberontak yang jahat?
Apa artinya semua keterangan ketua Pek-lian kauw itu?
Mulailah dia ragu-ragu dan bingung, akan tetapi kemudian dia mengambil keputusan bahwa apapun yang terjadi, kenyataannya adalah bahwa ayah bundanya terbunuh.
Kalau ketua Im-yang-kauw mengakui hal ini.
dia tidak akan memperdulikan urusan lain kecuali membalas dendam atas kematian ayah bundanya dan membunuh orang yang menewaskan orang tuanya itu.
Setelah mengambil keputusan ini dalam hatinya, dia dapat tidur pulas.
Ketegangan meliputi hati Ling Ling ketika pada keesokan harinya, pagi-pagi dia sudah berjalan bersama Thai-kek Seng-jin menuju ke ruangan lian-bu-thia dari bangunan yang luas itu.
Wajah dan tubuh Ling Ling segar karena dia pagi-pagi sekali sudah bangun dan mandi, dan wajahnya segar kemerahan dan berseri.
Biarpun hatinya merasa tegang, namun dia sama.sekali tidak kelihatan tegang atau khawatir.
Bahkan dia mengambil sikap tidak perduli ketika melihat betapa kini dia memasuki lorong yang terjaga oleh orang orang Im-yang-kauw atau Im-yang-pai yang berbaris rapi Ketika mereka tiba di lian bun-thia, sebuah ruangun tembok yang luas dan biasa dipergunakan sebagai tempat berlatih silat dari para anggauta Pek-lian kauw, di situ nampak duduk para pimpinan Pek-lian kauw dan juga nampak para pengawal dengan pakaian gagah dan lencana Im-yang-kauw dan Pek-lian-kauw menjaga sekitar ruangan.
Dan di tengah ruangan itu yang sudah dikosongkan, kelihatan berdiri seorang wanita cantik!
Jantung Ling Ling berdebar penuh ketegangan.
Sedikitpun dia tidak merasa gentar, akun tetapi membayangkan bahwa dia akan berhadapan dengan pembunuh ayah bundanya, sungguh membuat jantungnya berdebar tegang.
Dan dia dahulu mendengar bahwa pembunuh ayah bundanya adalah seorang wanita cantik yang amat lihai, yaitu wanita yang bernama Kim-sim Niocu, ketua dari Im yang kauw!
Maka, melihat seorang wanita cantik yang berdiri tegak di tengah ruangan itu seperti ditarik besi sembrani, kedua knki Ling Ling melangkah cepat menghampiri wanita itu.
Dua orang wanita itu berdiri saling berhadapan, saling memandang, sama cantiknya akan tetapi kecantikan mereka itu sungguh berbeda, bahkan berlawanan.
Ling Ling adalah seorang dara remaja yang cantik manis, kejelitaan yang wajar seperti setangkai bunga yang segar dan baru mulai merekah.
Sebaliknya, wanita itu amat cantik, kecantikan yang megah dan meriah membayangkan kematangan seorang wanita penuh pengalaman.
Ling Ling tak berkejap memandang penuh perhatian.
Sukar menaksir usia wanita itu, karena melihat bentuk tubuhnya yang masih ramping padat, wajahnya yang ayu, dia seperti serang wanita yang tidak akan lebih dari tigapuluh tahun usianya.
Pakaiannya dari sutera serba putih bersih dan mengkilap, sehingga sabuknya yang berwarna hitam melingkari pinggangnya itu nampak jelas sekali.
Melihat kecantikan wanita ini, dan juga pakaiannya yang serba putih, Ling Ling teiingat akan penuturan yang pernah didengarnya dahulu dan dia menduga-duga bahwa tentu inilah wanita yang menjadi ketua Im-yang-kauw itu.
Apa lagi melihat betapa semua anggauta Im-yang-kauw di tempat itu kelihatan diam tak berani berani bergerak, kelihatan sangat menghormati wanita ini.
"Ahhhh, tak salah lagi, mata dan mulutmu mengingatkan aku kepada ayahmu, Gan Beng Han taihiap, anak manis!"
Tiba-tiba wanita cantik itu berkata, suaranya halus merdu dan ketika dia bicara sambil tersenyum, bibirnya terbuka memperlihatkan deretan gigi yang putih dan rapi.
"Dan engkau siapa?"
Tanya Ling Ling, suara dingin dan kaku karena dia makin jakin bahwa inilah musuh besarnya.
"Apakah engkau ketua Im-yang-kauw?"
Wanita cantik itu mengangguk! "Namaku Bu Siauw Kim, dan memang akulah ketua Im yang-kauw. Engkau Gan Ai Ling?"
Ling Ling mengerutkan alisnya dan mengangguk, dalam hati dia menduga bahwa tentu wanita ini sudah bersiap sedia karena sudah tahu akan kedatangannya, maka dia harus waspada jangan sampai terjebak oleh tipu muslihat musuh.
"Ai Ling, ada keperluan apakah engkau mencariku, anak manis?"
Makin panas rasa hati Ling Ling melihat sikap manis ini dan mendengar ucapan yang ramah itu, karena dia menganggap sikap itu palsu!
"Iblis betina, tidak perlu kau bersikap manis kepadaku!
Engkau tahu bahwa aku adalah puteri Gan Beng Han dan Kui Eng dan aku tahu bahwa ayah ibuku itu telah tewas di tanganmu!
Maka perlukah engkau bertanya lagi mengapa aku mencarimu?
Aku datang untuk membunuhmu!
Bersiaplah engkau!"
Setelah berkata demikian, Ling Ling sudah memasang kuda-kuda dengan gagahnya.
Akan tetapi wanita cantik itu.
Bu Siauw Kim atau Kim-sim Niocu atau Im-yang-kauwcu menarik napas panjang dan kelihatannya berduka.
"Orang tuamu dan Im-yang-kauw menjadi korban fitnah"".! Kematian ayah bundamu adalah akibat cemburu"".! Ah, betapapun juga, tidak kusangkal bahwa memang mereka tewas di tanganku, dalam suatu perkelahian yang adil dan jujur, satu lawan satu."
"Aku tahu dan tak perlu kautekankan hal itu! Maka akupun datang sendiri untuk menantangmu mengadakan perhitungan dan bertanding satu lawan satu, sampai seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa! Dan kalau engkau tidak berani dan hendak melakukan pengeroyokan, akupun tidak akan mundur dan tidak takut!"
Im-yang-kauwcu itu tidak marah melihat sikap penuh tantangan dari dara itu, bahkan dia memandang kagum, lalu berkata.
"Bukan main! Masih begini muda sudah memiliki ketabahan besar, sungguh hebat dan tidak mengecewakan menjadi puteri Gan taihiap"".!"
"Im-yang-kauwcu, engkau takkan dapat melarikan diri di balik kata-kata manis! Hutang nyawa harus membayar nyawa!"
"Anak yang baik, sampai sekarang aku masih merasa menyesal oleh terjadinya peristiwa itu, dan aku tidak akan lari. Aku bersedia membayarnya dengan nyawa, tentu saja kalau engkau dapat mengalahkan aku. Akan tetapi sedangkan ayah bundamu sendiri tidak mampu mengalahkan aku, bagaimana engkau akan melawanku? Lebih baik engkau melihat kenyataan dan marilah kita hidup bersama, engkau kujadikan anakku, Ai Ling. engkau akan kusayang, sebagai pengganti ayahmu...".."
"Tutup mulut, iblis betina! Bersiaplah engkau!"
Ling Ling membentak marah dan dia sudah menyerang dengan hebatnya.
Sikap wanita itu demikian baik, demikian ramah dan kata-katanya mengandung kasih sayang, maka Ling Ling mulai tergerak hatinya, dan hal ini membuat dia makin marah, kini sebagian marah kepada diri sendiri mengapa ada rasa suka di hatinya terhadap wanita yang menjadi musuh besarnya ini.
Maka dia tidak mau mendengar lebih lanjut dan mulai menyerang.
Melihat serangan yang amat ganas dan hebat ini, barulah Kim-sim Niocu atau Im-yang-kauwcu terkejut bukan main.
Dia sudah mendengar dari Thai-kek Seng-jin bahwa gadis puteri bekas kekasihnya ini memiliki kepandaian hebat, bahkan telah mengalahkan seorang tokoh seperti Tai-lek Hoat-ong dan berani melawan Ba Mou Lama, akan tetapi dia masih belum percaya kalau tidak menandinginya sendiri.
Maka diaturlah pertemuan itu, pertemuan yang memang telah direncanakan terlebih dahulu oleh ketua Pek-lian-kauw yang cerdik itu.
Maka, ketika ketua Im-yang-kauw itu mulai bergerak mengelak dan balas menyerang, tidak ada seorangpun di antara para anggauta Im-yang-kauw atau Pek-lian kauw yang bergerak mengeroyok, dan hal ini saja sudah menambah kagum hati Ling Ling yang tadinya mengira bahwa dia tentu akan dikeroyok.
Kiranya wanita yang menjadi musuh besarnya ini selain cantik sekali dan bersikap baik dan ramah, juga bensr benar gagah perkasa dan tidak mau menggunakan pengeroyokan terhadap musuh yang datang hendak membunuhnya.
Karena dalam gebrakan-gebrakan pertama.
Ling Ling sudah melihat kenyataan yang mengejutkan hatinya bahwa wanita ini benar-benar luar biasa lihainya, bahkan lebih lihai dari pada Tai-lek Hoat-ong karena gerakan wanita ini halus dan di dalam kelembutannya menyembunyikan kedahsyatan yang berbahaya, maka dia tidak berani memandang rendah dan begitu bertanding dia sudah mengeluarkan ilmu silat aselinya, yaitu Kwi-hoa Sin-liong dan sambil mengerahkan tenaga sinkang yang dia kuasai di bawah bimbingan Bu Eng Lojin.
Maka setiap gerakan dara ini mengandung hal pukulan yang hebat, bukan hanya terasa oleh lawannya bahkan mengeluarkan suara bersuitan nyaring!
"Bukan main"".!", berulang-ulang ketua Im-yang-kauw itu memuji, dan dia terpaksa harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menghadapi serangan serangan maut itu.
Akan tetapi, betapapun lihainya Im yang kauwcu, betapapun halus dan ringan gerakannya dan kuat sinkangnya, menghadapi desakan murid Bu Eng Lojin ini, setelah lewat tigapuluh jurus dia merasa tidak kuat juga!
Gerakan dara itu sedemikian cepat dan dahsyatnya sehingga pada jurus-jurus terakhir Im-yang-kauwcu tidak lagi dapat membalas serangan, melainkan hanya dapat menangkis dan mengelak sambil mundur saja!
"Iblis betina, engkau harus menghadap ayah dan ibu di alam baka!
Haiiitttt!"
Dara itu mengeluarkan suara melengking nyaring dan dia sudah menerjang cepat dengan jurus amat ampuh, yaitu tubuhnya berputar seperti gasing dan tiba-tiba dari putaran tubuhnya itu mencuat serangan kaki atau jari tangannya untuk menotok jalan darah di tubuh lawan secara tiba-tiba dan tidak terduga-duga.
Inilah jurus maut yang amat hebat, bahkan Lui Sian Lojin sendiri belum pernah mempelajarinya karena merupakan satu di antara jurus-jurus rahasia yang diajarkan oleh Bu Eng Lojin kepada muridnya tercinta ini.
Jurus ini disebut Naga Mengamuk Dari Balik Awan, Putaran tubuh seperti gasing itu membentuk bayangan, se-olah-olah menjadi awannya dan dari dalam "awan"
Itu secara tak disangka-sangka keluar serangan-serangan kaki dan tangan, seperti naga sakti mengamuk dari balik awan yang menyembunyikan dirinya Maka tentu saja semua serangan itu datangnya berbahaya karena tidak dapat disangka terlebih dulu.
"Aihhh"..!"
Im yang kauwcu menjerit lirih ketika melihat serangan ini, karena sama sekali dia tidak tahu dari mana lawannya akan menyerangnya dan tahu-tahu dara itu sudah menyerang secara bertubi-tubi dengan tendangan dan totokan, dan kemanapun dia mengelak, lawan atau bayangan yang berputaran itu terus mengejarnya.
Betapapun lincah gerakannya akhirnya pangkal paha Kim-sim Niocu terkena tendangan kaki Ling Ling.
"Auhhh"!"
Wanita itu menggulingkan tubuhnya dan meloncat lagi dengan muka berobah merah.
Biarpun tendangan itu merobek celananya dan memperlihatkan kulit pahanya yang putih mulus, namun dia tidak sampai terluka parah karena tadi masih keburu menjatuhkan diri sehingga tendangan itu hanya menyerempet saja.
Betapapun juga tentu saja hal ini membuktikan bahwa lawannya benar-benar amat lihai, maka diapun lalu melolos sabuk hitamnya.
Sabuk ini teibuat dari pada sutera hitam, akan tetapi dijadikan pengikat pinggang ramping itu hanya untuk menyimpan saja, karena sabuk ini sebenarnya adalah senjatanya yang ampuh sekali!
"Ai Ling, engkau memang hebat dan aku tidak akan penasaran kalau sampai roboh olehmu!
Akan tetapi aku belum menyerah Nah, kaukeluarkanlah senjatamu untuk melawan sabukku ini!"
Ling Ling berdiri tegak, bertolak pinggang, tersenyum mengejek, hatinya senang dan besar karena dia merasa bahwa dia akan dapat mengatasi musuh besarnya ini, dan memang dia tidak biasa menggunakan senjata.
"Iblis betina pembunuh ayah ibuku, kaulihatlah baik-baik. Aku tidak pernah menggunakan senjata dan aku tidak mempunyai senjata lain kecuali, kaki tanganku. Nah, majulah!"
Diam-diam Im-yang-kauwcu terkejut bukan main.
Di dalam dunia persilatan, sudah bia"a orang mengandalkan bantuan senjata-senjata, dan karena merasa bahwa dirinya kurang kuat maka orang membawa senjata dan mempelajari bermacam senjata untuk melindungi diri, untuk menyerang dan bertahan.
Bahkan seorang yang tingkatnya sudah tinggi dalam ilmu silat sekalipun.
masih mengandalkan bantuan senjata, sungguhpun senjata itu tidak lagi menyolok, seperti tongkat, sabuk dan sebagainya.
Makin tinggi tingkat seorang ahli silat, makin ringan dan sederhanalah senjata yang dibawanya.
Akan tetapi dara remaja ini tidak membawa senjata dan hanya mengandalkan kaki tangan!
Hal ini menunjukkan bahwa dara ini sudah mewarisi ilmu yang amat tinggi sehingga dia tidak lagi membutuhkan bantuan senjata.
Diam-diam dia kagum sekali, dan ikut merasa bangga bahwa puteri bekas kekasihnya, anak yang dia saksikan kelahirannya, kini telah menjadi seorang dara yang demikian saktinya!
Dia teringat ketika untuk pertama kalinya dia bertemu dengan Gan Beng Han melihat pendekar itu berlatih silat di dalam taman rumahnya.
Teringat dia betapa dia melihat isteri pendekar itu sedang melahirkan, melahirkan anak yang kini menjadi dara ini!
Teringat betapa dia membujuk dan memaksa Gan Beng Han uniuk melayaninya bermain cinta, dan teringat semua itu, timbul kembali rasa rindu dan cintanya kepada Beng Han dan kini dia memandang anak kekasihnya itu dengan sepasang mata agak basah oleh air mata karena timbul penyesalan besar bahwa kekasihnya itu mati di tangannya!
"Gan Ai Ling, kuulangi lagi, ayahmu mati bukan karena aku sengaja membunuhnya, dan aku menyesal bukan main.
Aku siap untuk menebus dengan nyawaku, kalau engkau mampu mengalahkan aku.
Kalau tidak, dan engkau sampai roboh dan mati pula di tanganku, maka hidupku selanjutnya hanya akan penuh dengan penyesalan belaka.
Akan tetapi bagaimanapun juga, kita adalah orang-orang gagah yang hidup di ujung pedang, maka kita harus berani menghadapi kenyataan.
Nah, anak manis, mari kita lanjutkan perhitungan ini!"
Kembali perasaan hati Ling Ling tersentuh oleh sikap dan kata-kata wanita itu.
Kalau saja wanita ini bukan pembunuh ayah bundanya kalau hanya perselisihan biasa saja, mau rasanya dia membuang dendam itu dan bersahabat dengan wanita ini.
Akan tetapi yang dihadapinya adalah seorang pembunuh ayah bundanya maka bagaimanapun juga dia harus membunuh wanita ini!
Tanpa mengeluarkan kata kata lagi, Ling Ling lalu menerjang dengan ganas disambut oleh Im-yang kauwcu dengan gerakan tangan dan nampaklah gulungan sinar hitam sabuknya itu berkelebatan dengan mengeluarkan suara bersuitan.
Terjadilah perkelahian yang dahsyat, lebih hebat dari pada tadi dan kini gerakan kedua orang wanita itu sedemikian cepatnya sehingga yang nampak hanyalah bayangan berkelebat-kelebat di antara gulungan sinar hitam sabuk di tangan ketua Im-yang-kauw itu.
Mereka yang menyaksikan pertandingan itu merasa kagum bukan main.
Kepandaian ketua Im yang kauwcu ini masih lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian ayah wanita itu, yaitu Kok Beng Thiancu, kakek ketua Im yang pai!
Juga Thai kek Seng-jin sendiri, ketua Pek-han-kauw, tidak berani memandang rendah wanita ini dan tokoh Pek-lian-kauw ini sendiri meragukan apakah dia akan mampu menandingi Im-yang-kauwcu.
Kini, ketua Im-yang-kauw itu bertemu tanding dan biarpun ketua itu telah menggunakan senjata sabuknya yang amat terkenal itu, ternyata dara remaja itu dapat mengimbanginya!
Thai-kek Seng-jin memandang dengan wajah berseri.
Dara remaja itu merupakan tenaga yang amat hebat!
Bagaimanapun juga, dia harus dapat menarik dara itu menjadi sekutunya!
Akan tetapi, mengingat bahwa dara itu adalah puteri mendiang pendekar Gan Beng Han, tentu dara itu tidak mau sudah sebelum dapat membalas dendam atas kematian ayah bundanya, sebelum ketua Im-yang-kauw tewas di tangannya!
Kalau perintang ini sudah disingkirkan, kiranya tidak akan sukar membujuknya untuk menentang pemerintah, karena bukankah mendiang Gan Beng Han dan dua orang saudara seperguruannya, yaitu mendiang Tan Bun Hong dan mendiang Kui Eng yang menjadi isterinya, dahulu juga terkenal sebagal Tiga Naga Sakti yang pernah menentang pembesar di kota raja?
Ketika Thai kek Seng-jin memandang lagi dan mengikuti jalannya pertandingan, dia makin terkejut karena ternyata bahwa kini gerakan sabuk hitam itu mengendur, gulungan sinar hitam mulai mengecil dan ketua Im-yang-kauw itu kembali mulai terdesak hebat oleh pukulan-pukulan dara yang amat lihai itu.!
"Bukan main, engkau hebat sekali!"
Terdengar ketua Im-yang-kauw itu berseru dan dorongan Ling Ling membuat dia terguling, akan tetapi cepat sabuknya mencuat ke depan, menotok ke arah dada Ling Ling yang sedang menubruknya.
Melihat sinar hitam meluncur ke arah dadanya.
Ling Ling memekik keras dan menyampok dengan tangan kirinya.
"Brettt!"
Ujung sabuk hitam itu pecah dan robek-robek!
Dan dara itu sudah melangkah maju, siap mengirim pukulan maut kepada Im-yang-kauwcu yang mulai bangkit.
Keadaan amat berbahaya bagi ketua Im yang-kauw itu!
Akan tetapi tiba tiba Thai-kek Seng-jin menggerakkan tangannya tanpa ada yang melihatnya.
"Dukkk"".!"
Im-yang-kauwcu masih dapat menangkis pukulan maut yang dilancarkan oleh Ling Ling, yaitu pukulan yang bernama Sin-liong-tong-te (Naga Sakti Menghantam Bumi) Pukulan ini hebat bukan main, dilakukan dengan tangan kiri menyerong ke bawah mengarah pusar lawan dan pukulan itu mengandung tenaga sinkang yang amat kuat.
Im-yang-kauwcu yang sedang terhuyung; karena sabuknya terobek tadi, menghadapi pukulan ini dengan gugup dan biarpun dia masih mampu memapaki pukulan dengan tangkisan lengan kanannya, namun dia terdorong dan terguling ke atas tanah!
Pada saat Ling Ling sudah siap untuk terus mendesak, tiba-tiba terdengar suara mendesis dan nampak asap hitam mengepul tebal menggelapkan pandang mata Ling Ling.
Di antara gumpalan asap Ling Ling melihat lawannya meloncat maka diapun menerjang ke depan antara gumpalan asap sambil membentak.
"Hendak lari ke mana kau?"
Akan tetapi asap itu menggelapkan pandangan matanya dan dia sudah kehilangan lawannya.
Ketika dia menjadi penasaran dan marah memukul ke kanan kiri dalam gumpalan asap hitam itu, terdengar suara lawannya dari belakangnya.
"Nona manis, aku di sini"
Ling Ling cepat membalikkan tubuhnya dan benar saja, dia melihat Kim-sim Niocu berdiri di belakangnya, memegang sehelai sapu tangan merah, Melihat saputangan merah ini, teringatlah Ling Ling akan cerita orang bahwa ayahnya dikalahkan wanita ini dengan saputangan merah yang beracun itu, maka timbullah kemarahannya.
Kalau tadi dia melihat wajah cantik itu amat menyenangkan dan menimbulkan rasa suka, kini dia melihat wajah itu ketakutan dan sinar matanya seperti palsu dan tidak jujur, maka lenyaplah semua perasaan sayang di hatinya terhadap ketua Im-yang-kauw itu dan dia sudah menubruk dengan menggerakkan kedua tangannya secara cepat.
Wanita berpakaian putih itu menggerakkan saputangan merahnya, akan tetapi Ling Ling yang sudah marah dan juga waspada itu mendorongkan tangan kirinya ke arah saputangan sehingga hawa pukulannya menahan saputangan dan racun yang disebarkannya, sedangkan tangan kanannya sudah menyambar seperti kilat ke arah kepala lawannya.
Wanita itu berusaha mengelak, namun kurang cepat.
"Prakkk!"
Kepala itu kena disambar tangan kanan Ling Ling dan terdengar jerit mengerikan ketika ketua Im yang-kauw itu terjungkal roboh dengan kepala retak berdarah dan tewas eketika!
Terdengar teriakan-teriakan dan jerit tangis.
Melihat semua orang menangis dan berlarian menghampiri, Ling Ling sudah siap untuk mengamuk menghadapi pengeroyokan.
Akan tetapi, dia tercengang ketika melibat semua orang menjatuhkan diri berlutut dan menangisi jenazah dari Im-yang-kauwcu itu!
Bahkan para tokoh yang hadir di situ kelihatan berduka sekali.
Lebih-lebih Kok Beng Thiancu, kakek gagah perkasa yang berpakaian sederhana itu, yang tadi hanya duduk menonton tanpa bergerak sedikitpun.
Dengan suara lirih namun menggetar dan terdengar jelas oleh Ling Ling, kakek ini berlutut dan mengelus rambut kepala yang berdarah itu.
"Ahhh, anakku, sungguh buruk sekali nasibmu"".. menjadi korban cinta sehingga di waktu hidup engkau menderita, kini engkau tewas pula gara gara cinta kasihmu dengan Gan Beng Han"".."
Ling Ling terkejut bukan main mendengar ini, akan tetapi dia hanya memandang heran dan tidak berani bertanya.
Dia sendiri merasa, menyesal bahwa dia terpaksa harus membunuh wanita cantik yang ramah itu, dan dia makin menyesal melihat betapa wanita itu amat dicintai orang sehingga semua orang di situ kini berduka cita oleh kematiannya.
Akan tetapi, dia terpaksa harus melakukan pembunuhan itu, demi membalas kematian ayah bundanya.
Maka terheranlah dia mendengar ucapan yang keluar dari mulut kakek itu.
Ling Ling menoleh kepada Thian-kek Seng jin yang memang sudah berdiri di sebelahnya dengan kepala menunduk dan wajahnya kelihatan berduka pula.
Pada saat Ling Ling menoleh, dia melihat kakek ini menarik napas panjang.
"Siapakah dia" .?"
Ling Ling berbisik sambil menggerakkan muka ke arah kakek gagah perkasa yang berlutut dan mengelus elus kepala jenazah itu.
"Dia adalah Kok Beng Thiancu, ketua Im-yang-pai"".."
"Ah, dia ayah Im-yang-kauwcu?"
Tanyanya terkejut.
"Benar, Gan-lihiap, beliau adalah ayah dari""
Mendiang kauwcu"".. ahh, sungguh kasihan Bu Siauw Kim""."
Suara kakek ini mengandung isak tertahan sehingga Ling Ling merasa makin menyesal.
"Apakah maksudnya ketika mengatakan bahwa puterinya menjadi korban cinta dengan..."
Ayahku"..?"
Tanya Ling Ling dengan suara lirih. Kembali kakek ketua Pek-lian kauw itu menarik napas panjang.
"Marilah kita bicara di dalam, lihiap. Sesungguhnya kami semua sama sekali tidak pernah memusuhi ayahmu. Hanya keadaan yang timbul karena cinta kasih maka terjadi peristiwa sampai menyebabkan kematian ayah bundamu. Mendiang ayahmu dan ibumu adalah pendekar-pendekar besar yang kami hormati dan seperti juga menjadi perjuangan kami untuk melindungi rakyat dari kelaliman para pembesar, ayah bundamu di waktu mudanya juga terkenal sebagai pendekar pendekar pelindung rakyat dan pernah menggegerkan kota raja dan istana sehingga mereka bersama seorang saudara mereka terkenal dengan sebutan Tiga Naga Sakti. Marilah kita bicara di dalam, setelah kematian Im-yang-kauwcu maka tidak ada alasan lagi bagimu untuk memusuhi kami."
Ling Ling yang merasa bahwa tentu terkandung rahasia besar dalam riwayat ketua Im yang-kauw dengan ayahnya, tidak membantah dan bersama dengan ketua Pek lian-kauw juga diikuti pula oleh Kok Beng Thiancu, dan pergi ke ruangan sebelah dalam.
Sebelum ikut masuk pula, Kok Beng Thiancu dengan suara parau namun sikapnya tenang sekali memerintahkan anak buahnya untuk mengurus jenazah puterinya.
Ling Ling merasa tidak enak dan seperti bersalah ketika dia duduk di dalam ruangan yang amat luas itu, hanya bertiga dengan Thian kek Seng-jin dan Kok Beng Thiancu.
Beberapa kali dia menatap wajah kakek di depannya yang menjadi ayah kandung wanita yang baru saja dibunuhnya, namun wajah yang agak pucat itu hanya nampak sedih, sama sekali tidak membayangkan kemarahan atau kebencian kepadanya!
Hal ini membuat dia makin merasa tidak enak, dia merasa seperti seorang berdosa berhadapan dengan orang-orang yang baik dan sabar.
Ling Ling adalah seorang dara remaja yang lincah, jujur dan keras hati.
Keadaan yang tidak enak itu amat menyiksanya dan akhirnya dia bangkit berdiri dan mengepal tinjunya.
"Aku telah membunuh orang, telah membunuh Im-yang-kauwcu, dan aku siap sedia menanggung segala akibatnya! Tidak perlu orang bersikap pura-pura dan kalau ada yang tidak senang, silakan maju!"
Dua orang kakek itu mengangkat muka dan mereka tersenyum sedih. Kok Beng Thiancu merangkap kedua tangan di depan dada, berkata halus.
"Gan lihiap, sudah dikehendaki oleh Siauw Kim sendiri bahwa dia harus mati ditangan puteri orang yang dicintanya, maka tidak ada lagi urusan dendam di antara kita. Sewaktu hidupnya dia sudah menyiksa diri dengan penyesalan, maka kematiannya di tanganmu malah menebus semua penyesalannya itu."
Ling Ling duduk kembali dan memandang kepada kakek ini. Seorang kakek yang berwajah dan bersikap gagah, pikirnya.
"Beberapa kali engkau menyebut adanya cinta antara mendiang ayahku dan"".. mendiang kauwcu. Apakah artinya itu?"
Kok Beng Thiancu menarik napas panjang.
"Memang perlu kauketahui semuanya, lihiap, agar terhapus benar-benar permusuhan diantara kita yang tidak ada gunanya itu. Sesungguhnya, di antara anakku dan ayahmu terdapat pertalian kasih sayang yang amat mendalam, pertama kali mereka saling jumpa ketika ibumu sedang melahirkanmu, lihiap. Dan terjadilah jalinan cinta kasih antara mereka. Akan tetapi Siauw Kim terpaksa menjauhkan diri dengan hati hancur oleh kenyataan bahwa ayahmu telah beristeri. Siauw Kim rela berkorban dengan kesengsaraan batin, tidak mau mendekati ayahmu agar tidak mengganggu ketenteraman rumah tangga ayahmu"".."
Kakek itu berhenti sebentar dan menundukkan mukanya dengan sedih, Ling Ling memandang tanpa pernah berkedip dia sangat tertarik dan diam diam merasa terharu.
Benarkah ada jalinan cinta antara mendiang ayahnya dan mendiang Jm-yang-kauwcu?
Dia mengingat kembali wajah kauwcu yang cantik dan sikapnya yang manis.
Tidak mengherankan kalau ada pria jatuh cinta kepada kauwcu itu, dan mungkin sekali ayahnya juga jatuh cinta.
"Akan tetapi, dasar nasibnya yang sial...""!"
Kakek itu melanjutkan.
"Tanpa kami sangka sangka, terjadilah malapetaka itu. Im-yang-pai diserbu oleh pasukan pemerintah, didahului oleh ayah dan ibumu yang menuduh kami menculik murid mereka. Pertemuan antara Siauw Kim dan ayahmu terjadi lagi tanpa disangka sangka dan cinta kasih yang sudah bertahun-tahun dipendam saja itu bersemi kembali, bahkan lebih hebat sehingga ketahuan oleh ibumu. Ibumu menjadi cemburu dan marah lalu diserangnya anakku. Anakku mengalah, akan tetapi karena ibumu sudah murka saking marahnya yang dibakar oleh cemburu, terjadi perkelahian itu dan akhirnya ibumu roboh dan tewas ketika berkelahi melawan anakku. Melihat isterinya tewas, ayahmu berduka dan menyerang anakku, terjadi perkelahian dan tewas pula ayahmu di tangan anakku"".."
Hening sejenak dan Ling Ling memejamkan kedua matanya, membayangkan semua peristiwa yang menyedihkan itu.
Dia percaya akan apa yang di ceritakan oleh kakek ini, karena melihat sikap mendiang Im-yang-kauw-cu yang mencinta ayahnya, diapun sudah menduga akan terjadinya permusuhan karena cemburu ini.
"Ayah bundamu tewas, anakku merana karena menyesal dan bersedih, dan Im-yang-pai dibasmi oleh pasukan pemerintah. Kami ayah dan anak bersama sisa anggauta-anggauta Im-yang pai menyelamatkan diri, terlunta-lunta. Akan tetapi hal itu tidak mengapa, yang membuat aku amat berduka adalah melihat keadaan Siauw Kim. Semenjak peristiwa itu, dia seperti bosan hidup. Kalau tidak mengingat akan kegagahan, tentu dia sudah membunuh menyusul pria yang dicintanya. Akhirnya engkau muncul, maka terbukalah jalan bagi Siauw Kim untuk menyusul ayahmu, sungguhpun harus diakui bahwa dia tewas karena kalah pandai dalam pertandingan tadi olehmu, lihiap."
Kembali hening sekali setelah kakek itu selesai bercerita. Ling Ling menarik napas panjang, kemudian berkata lirih.
"Betapapun! juga, salahnya puterimu sendiri mengapa mencinta seorang pria yang sudah beristeri""..!"
"Memang benar, lihiap. Akan tetapi betapa, mungkin menyalahkan orang yang jatuh cinta. Akan tetapi aku girang bahwa sekarang dia telah bersatu dengan orang yang dicintanya"!"
"Hemm, kau harus ingat bahwa di sana ada pula ibuku, Kok Beng Thiancu,"
Bantah Ling Ling.
"Siancai..."
Di sana tidak ada lagi perasaan cemburu, lihiap dan kami yakin mereka bertiga itu akan dapat hidup rukun dan damai.
Hal ini akan dapat kami buktikan kelak, lihiap dapat melihat sendiri kerukunan mereka bertiga"
Sepasang mata yang tajam itu terbelalak memandang ketua Pek-lian-kauw ini.
"Apa maksudmu?"
Kok Beng Thiancu yang menjawab.
"Lihiap sahabat Thai-kek Seng-jin ini memang memiliki ilmu gaib dan dia dapat mendatangkan roh-roh orang yang telah mati sehingga kini dapat bertemu atau melihat ujud mereka."
"Ah, benarkah?"
Thai-kek Seng jin mengangguk perlahan sambil tersenyum.
"Roh roh orang gagah seperti ayah bunda lihiap dan Im-yang-kauw paling rnudah dihubungi dan tentu akan sudi jika kuundang untuk memperlihatkan ujud mereka di hadapan lihiap. Dari sikap mereka kita akan dapat melihat bagaimana keadaan mereka bertiga di alam baka"."
"Aihh".. benarkah itu? Thai-kek Seng-jin, harap kau suka lakukan itu untukku! Aku ingin sekali melihat ayah bundaku!"
Teriak Ling Ling dengan gembira karena tentu saja dia ingin sekali melihat arwah ayah bundanya! Akan tetapi ketua Pek-lian-kauw itu menggeleng kepalanya.
"Tidak dapat dilakukan sekarang, lihiap. Arwah baru dapat diundang datang kalau jenazahnya sudah lenyap, baik sudah hancur lebur jika dikubur atau sudah menjadi abu jika dibakar. Oleh karena itu, kami harap lihiap bersabar menanti sampai jenazah kauwcu diperabukan, barulah lihiap dapat melihat keadaan mereka bertiga."
"Pula, setelah lihiap mendengar riwayat anakku dan ayahmu, apakah lihiap tidak mau menganggap Im-yang-pai sebagai sahabat? Kok Beng Thiancu bertanya dengan suara halus. Ling Ling menarik napis panjang.
"Sesungguhnya, akupun menyesal terpaksa harus membunuh Im-yang-kauwcu. Aku tidak mempunyai permusuhan apapun dengan Im-yang pai. Akan tetapi, peristiwa di kuil ketika aku masih kecil, kekacauan yang dilakukan oleh Im-yang-pai menjadi sebab timbulnya malapetaka yang menewaskan orang tuaku."
Baca Juga: Jodoh Rajawali 3
Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 2