Eps 7 Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo.
Tubuhnya masih padat dan ramping, dan pakaiannya walaupun bukan mewah, namun rapi sekali demikian pula rambutnya digelung rapi dan mengkilap, tanda bahwa rambut itu terpelihara baik baik "Aku adalah seorang ahli pengobatan, tentu saja tahu.
Biarkan aku memeriksamu.
Dahulu aku pernah menolong dan mengobati suhu yang terluka parah, sekarang aku hendak menolong dan mengobatimu."
Wanita itu membuka baju Gin San dan memeriksa pundak kirinya.
"Ahh""..!"
Dia berseru kaget.
"Keji sungguh kakek Pek-lian kauw itu. Dia menggunakan racun pembusuk tulang!"
"Apa itu?"
Gin San bertanya, kaget juga!
"Racun ini amat jahat.
Dengan kepandaianmu, tentu engkau akan mengira dapat mengusir hawa beracun, akan tetapi engkau tidak tahu bahwa racun ini meninggalkan hawa yang dapat merusak tulang pundakmu tanpa kaurasakan dan tahu-tahu tulang itu akan membusuk."
"Ahh"".!"
Gin San terkejut juga karena di antara banyak ilmu yang dipelajarinya dari gurunya, dia tidak pernah diberi pelajaran ilmu pengobatan.
"Akan tetapi jangan khawatir, aku mempunyai obatnya. Mari kau ikut bersamaku ke rumahku, di sana aku akan merawatmu sampai sembuh. Engkau adalah murid Gan-taihiap, jika bagiku bukan orang lain. Siapa namamu tadi? Coa Gin San?"
Gin San mengangguk.
"Dan siapakah bibi? Apakah sahabat mendiang subo?"
Wanita itu menggeleng kepala.
"Mari kita berjalan ke rumahku, nanti kuceritakan kepadamu tentang diriku."
Karena ingin terbebas dari racun pembusuk tulang itu, Gin San tidak membantah dan pergilah mereka meninggalkan kuburan itu setelah sekali lagi Gin San memberi hormat kepada makam suhu dan subonya.
Di tengah perjalanan, wanita itu bercerita, Namanya adalah Yo Giok Hong dan di waktu dia masih seorang dara remaja yang cantik jelita, dia pernah bertemu dengan Gan Beng Han.
Pendekar itu terluka dan ditolong oleh Yo Giok Hong.
dibawanva ke pondok suhunya yang bernama Bin Ho Tojin, seorang tokoh Go-bi-san yang ahli tentang pengobatan.
Berkat bantuan Yo Giok Hong dan suhunya, maka pendekar Gan Beng Han dapat disembuhkan dan dalam pertemuan ini Yo Giok Hong jatuh cinta kepada pendekar itu.
Akan tetapi cintanya hanya bertepuk tangan sebelah!
Semua ini telah diceritakan di bagian depan dari cerita ini.
Biarpun kemudian Yo Giok Hong menikah dengan pria lain, melahirkan seorang puteri dan suaminya itu meninggal dunia dalam usia muda sehingga dalam usia kurang dari tigapuluh tahun Yo Giok Hong telah menjadi janda hidup berdua dengan puterinya, namun di lubuk hatinya, Yo Giok Hong tidak pernah dapat melupakan Gan Beng Han yang dicintanya.
Setahun yang lalu, dia bersama puterinya pindah ke dusun tidak jauh dari Cin-an dan dapat dibayangkan betapa terkejut dan berduka rasa hatinya ketika dia mendengar bahwa pendekar pujaan hatinya itu telah tewas bersama isterinya.
Dia mengunjungi makam dan menangis dengan sedih, dan semenjak itu hampir setiap bulan sekali dia datang mengunjungi makam pria yang dianggapnya orang yang paling dicintanya.
Demikianlah, pada hari itu, kebetulan dia melihat seorang pemuda berdiri di depan makam itu, mengepal tinju dan menyatakan penyesalannya bahwa Gan-taihiap dan istrinya telah mengecewakan hati pemuda itu.
Yo Giok Hong menyangka bahwa pemuda ini tentulah musuh pria yang dipujanya maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu menyerang Gin San.
"Gan-taihiap adalah..... pria satu-satunya di dunia ini yang kupuja...., sampai sekarangpun...."
Dia mengakhiri ceritanya. Gin San melirik dan melihat betapa wajah yang cantik itu menjadi agak pucat.
"Akan tetapi""
Suhu"".. telah berkeluarga""."
Wajah itu kini berubah merah dan Giok Hong mengangguk.
"Aku tahu. Dia telah beristeri dengan sumoinya sendiri, dan akupun telah menikah dengan pria lain. Akan tetapi aku tidak pernah melupakannya, sampai suamiku meninggal tujuh tahun yang lalu". aku tak pernah melupakannya"."
Tiba-tiba dia menoleh kepada Gin San dan wajahnya berubah, agak berseri.
"Cukuplah semua dongeng masa lalu ini. Mari kita jalan cepat, pundakmu harus segera kurawat!"
Dia lalu memegang tangan Gin San dan mengajaknya berjalan cepat.
Merasakan telapak tangan yang lembut, hangat itu menggenggam tangannya, jantung di dalam dada pemuda itu berdenyut cepat.
Dia merasa seolah-olah dia menjadi pengganti suhunya dan memang wanita ini amat cantik, dan sungguh beruntung suhunya dicinta sampai sedemikian rupa oleh seorang wanita seperti ini, seorang wanita yang mencinta pria sampai pria itu tidak ada lagi di dunia, masih saja tetap dicintanya dengan setia!.
Tiba-tiba timbul perasaan mesra di dalam hati pemuda yang romantis ini.
"Bibi Yo, perlukah aku cepat-cepat mendapat perawatan?"
"Tentu saja."
"Dan rumahmu jauh dari sini?"
"Tidak, itu di lereng bukit itu, sudah nampak dari sini bukitnya."
"Kalau begitu, begini lebih cepat!"
Tiba tiba Gin San memondong tubuh itu dan lari cepat sekali menuju ke bukit itu.
"Eh, eh""
Kau""..!"
"Aku Gin San, anggap saja mewakili suhuku, bibi."
Kata Gin San.
"Ahh"".kau"".bocah nakal"".!"
Giok Hong terengah, akan tetapi karena pemuda itu berlari dengan cepat sekali, dia lalu merangkulkan kedua lengannya ke leher Gin San.
Rambut yang halus dan harum mengusik muka pemuda itu dan tak lama kemudian dia merasa betapa pelukan wanita itu makin erat kedua lengan merangkul leher dan mukanya didekapkan ke leher dan sebagian mukanya.
Diam-diam Gin San tersenyum senang.
Memang menyenangkan sekali memondong tubuh seorang wanita secantik itu!
Gin San adalah seorang pemuda yang berusia duapuluh tahun, seorang pria muda yang sedang menanjak dewasa dan mulai tersentuh oleh naluri alamiah berupa nafsu berahi.
Daya tarik seorang wanita mulai terasa olehnya, dan api berahi itu telah mulai dinyalakan ketika untuk pertama kalinya dia berdekatan dan nencium bibir seorang wanita, yaitu ketika dia mencium Liang Hwi Nio, dara tokoh Im-yang-pai itu.
Oleh karena itulah, maka begitu dia memondong tubuh Yo Giok Hong, janda yang belum tua itu, seketika darahnya mengalir cepat sekali, napasnya agak terengah dan panas.
Dan memang pada dasarnya Gin San adalah seorang yang sejak kecil memiliki watak gembira dan jenaka, maka tentu saja kenikmatan ini tidak dikesampingkannya begitu saja, bahkan hendak dinikmati sepuas hatinya!
Akan tapi, ketika dia mempelajari ilmu sihir dari Maghi Sing, dia telah mendapatkan peringatan keras dari gurunya itu bahwa dia tidak boleh melakukan hubungan jasmani (kelamin) dengan seorang wanita, karena hal ini akan melenyapkan kekuatan sihir yang ada padanya, bahkan mungkin akan mendatangkan malapetaka baginya.
"Engkau baru boleh menikah atau berhubungan dengan wanita setelah usiamu lewat tiga puluh tahun, muridku,"
Demikian antara lain pesan gurunya.
Gin San amat takut kepada gurunya, dan pesan inipun terukir di dalam ingatannya.
Pesan inilah yang membuat Gin San memiliki keyakinan bahwa dia tidak boleh terlalu menurutkan perasaan hatinya, membatasi dirinya dengan wanita dan hanya menikmati sentuhan-sentuhan luar belaka tidak boleh melanjutkan dengan hubungan yang lebih mendalam, tidak boleh tunduk terhadap desakan nafsu berahinya sendiri.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Yo Giok Hong adalah seorang wanita yang pernah jatuh cinta kepada mendiang Gan Beng Han, cinta pertama yang berkesan dalam sekali di lubuk hatinya sehingga biarpun dia pernah menikah dengan pria lain, namun hatinya selalu condong kepada kekasih pertamanya itu.
Apa lagi setelah suaminya meninggal tujuh tahun yang lalu, meninggalkan dia sebagai janda dalam usia muda, maka rindu dendamnya terhadap Gan Beng Han makin menjadi-jadi.
Ketika dia mendapatkan kenyataan bahwa pria yang dicintanya itu telah meninggal dibunuh orang, maka dia menjadi patah hati dan berduka sekali.
Pertemuannya dengan Gin San menggerakkan sesuatu di dalam hatinya.
Wanita yang masih muda dan haus akan cinta ini, haus akan belaian kasih sayang seorang pria yang dicintanya secara aneh telah merasa suka sekali kepada Gin San!
Hal ini bukan saja dikarenakan sikap Gin San, ketampanan dan kegagahannya, akan tetapi kiranya terdorong oleh kenyataan bahwa Gin San adalah murid dari mendiang Gan Beng Han.
Murid kekasihnya!
Dan murid itu demikian lihainya, demikian sakti mengagumkan sehingga janda ini seketika jatuh hati!
Maka herankah kalau jantungnya berdebar tegang penuh rasa nikmat, kedua lengannya merangkul leher pemuda itu dengan mesra, ketika dia dipondong dan dibawa lari oleh Gin San?
Bertahun tahun dia haus akan kasih sayang pria, apalagi semenjak suaminya meninggal tujuh tahun yang lalu, dan kini, tanpa disangka-sangkanya, dia berada dalam pondongan seorang pemuda yang demikian mengagumkan hatinya.
Gin San juga merasa betapa pelukan kedua lengan di lehernya itu makin lama makin ketat dan rambut halus itu membelai pipi dan lehernya, bahkan kadang-kadang dia merasa hetapa pipi yang halus dan hangat menyentuh dagu dan lehernya.
Ketika dia menunduk dan melihat wanita itu seperti terlena dalam pondongannya, dengan kedua mata dipejamkan dan muka merah sekali, dia tersenyum.
Hari telah mulai gelap ketika akhirnya mereka tiba di depan pondok yang berdiri di lereng bukit itu.
Di depan pondok itu sudah nampak lampu dinyatakan.
"Turunkan aku di sini".."
Bisik Giok Hong.
"Nanti saja kalau kita sudah masuk, itukah rumahmu, bibi?"
"Benar. Ah, kau sungguh hebat, Gin San, memondongku sejauh itu sama sekali tidak nampak lelah. Turunkan aku! Siapa sih sesungguhnya yang sakit dan perlu dirawat?"
"Eh. tentu saja aku""".."
"Melihat betapa aku yang kau pondong, sepatutnya aku yang sakit dan kau yang akan merawatku""".."
"Aku senang sekali memondongmu, bibi"
"Kau memang hebat, kau sungguh baik", ah, aku suka sekali kepadamu, Gin San."
Dan sebelum pemuda itu dapat menduga, tahu tahu kedua lengan itu menarik lehernya sehingga dia tertunduk dan janda muda itu sudah mencium bibirnya dengan penuh nafsu!
Gin San tentu saja menyambut ciuman ini dengan gembira dan balas mencium sampai keduanya terengah dan tiba tiba terdengar suara halus nyaring dari dalam rumah itu.
"Ibu, kau sudah pulang?"
Mendengar suara ini, Gin San cepat melepaskan ciumannya dan menurunkan tubuh yang dipondongnya.
Akan tetapi pandang matanya yang tajam masih dapat menangkap bahwa dara remaja yang keluar dalam pintu pondok itu telah melihat adegan ciuman tadi!
Maka dia memandang dengan hati tertarik dan agak tersenyum ketika melihat janda itu tersipu-sipu membereskan rambutnya yang agak kusut dan berkata dengan suara gagap.
"Bi Cin...". ini"".. dia ini"".. Coa Gin San murid dari mendiang Gan-taihiap..."
Gin San memandang penuh perhatian kepada dara yang berdiri di depan pintu.
Seorang dara remaja.
Usianya kurang lebih enambelas tahun, dengan wajah yang manis, sepasang mata yang indah bening seperti mata ibunya, tubuhnya sedang tumbuh bagaikan setangkai bunga sedang mekar.
Pakaiannya tidak menyembunyikan bentuk tubuh yang padat, dan dara itu memegang sebuah lampu yang menerangi wajahnya sehingga wajah itu nampak kemerahan dan manis sekali.
Sepasang mata yang bening itu dengan penuh selidik memandang kepada wajah Giok Hong dan wajah Gin San berganti-ganti.
Melihat puterinya berdiri tertegun itu, Giok Hong lalu melangkah maju dan memegang lengan puterinya.
"Minggirlah, Bi Cin, dan biarkan kami masuk. Gin San ini telah..."., menolongku dari serangan pendeta-pendeta siluman, akan tetapi dia terluka, perlu kita obati. Gin San, masuklah."
Pemuda itu melangkah masuk dan baru terasa olehnya betapa pundak kirinya pegal-pegal dan gatal-gatal.
"Masuklah ke kamar ini, Gin San. Kau pakai saja kamarku, biar aku tidur di kamar puteriku. Eh, ini puteriku, namanya Bi Cin, Tio Bi Cin. Kau harus cepat mengaso, biar kubuatkan obat untuk memunahkan racun itu. Marilah."
Dengan amat mesra dan juga penuh perhatian, janda itu menggandeng tangan Gin San dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.
Alis janda ini berkerut ketika dia melihat puterinya itu mengikutinya masuk ke dalam kamar itu.
Betapa dia ingin membelai dan memeluk, menciumi pemuda itu sebelum mengobatinya.
Akan tetapi sekarang tidak mungkin lagi karena puterinya mengikutinya seperti bayangan!
Setelah Gin San merebahkan diri dan Giok Hong membuka baju pemuda itu lalu memeriksa pundaknya, dia mengeluarkan seruan tertahan.
"Ah""..! Luka di dalam karena racun itu makin menghebat! Salahmu, karena kau telah memon"""
Eh, mengeluarkan tenaga yang agak banyak tadi."
Giok Hong menahan ucapan kata "memondong"
Karena di situ terdapat puterinya.
Gin San hanya tersenyum karena dia sama sekali tidak merasa khawatir.
Dia tahu bahwa racun itu makin menghebat, akan tetapi dia yakin bahwa dengan sinkangnya dia akan mampu mengusir bersih racun itu.
Melihat keadaan pundak itu, Giok Hong mengusir nafsu berahinya dan segera dia sibuk memasak obat sambil menyuruh puterinya untuk memasakkan bubur guna tamu mereka.
Tanpa berkata apapun, hanya dengan lirikan mata yang menyambar tajam ke arah wajah Gin San, dara remaja itu lalu membantu ibunya dan mereka sudah sibuk di dapur sedangkan Gin San rebah di atas pembaringan sambil tersenyum-senyum, geli dan gembira memikirkan betapa dengan enak dan senangnya dia terjatuh dalam tangan ibu dan anak yang cantik-cantik dan manis manis itu.
Tiga hari kemudian, setelah minum obat yang dimasak oleh ibu dan puterinya itu, sembuhlah pundak kiri Gin San.
Pemuda ini merasa kagum akan kepandaian ibu dan anak itu, juga akan keramahan mereka selama tiga hari dia tinggal di rumah mereka.
Dia merasa beruntung bahwa selama tiga hari tiga malam itu, dia tidak lagi didesak oleh janda muda yang haus cinta itu, karena Bi Cin, dara remaja itu, agaknya telah menaruh curiga dan selalu membayangi atau menemani ibunya di waktu janda ini merawat dan memasuki kamar Gin San.
Oleh karena itu, Giok Hong hanya sempat mengutarakan rasa cintanya melalui sentuhan-sentuhan mesra, kerling mata dan senyum manis belaka, tidak berani melakukan hal yang lebih dari pada itu karena puterinya selalu memasang mata dan telinga.
Ketika pada hari ke empat itu Giok Hong bersama puterinya memasuki kamar Gin San pemuda ini ternyata sudah duduk di atas kursi dan sudah berpakaian rapi, siap untuk berangkat pergi.
Melihat nyonya rumah itu datang menbawa obat dan hidangan pagi, Gin San cepat bangkit dan menjura.
"Bibi Hong dan adik Cin, hendaknya kalian tidak usah repot-repot lagi. Aku sudah sembuh sama sekali dan pagi ini aku hendak berpamit untuk meninggalkan kalian dan melanjutkan perjalananku"".."
"Ahh""..!"
Giok Hong berseru dan wajahnya berubah agak pucat. Gin San cepat memberi hormat kepada janda itu.
"Bibi dan adik selama tiga hari ini amat baik kepadaku, tidak hanya telah merawatku dengan teliti, akan tetapi juga bersikap ramah dan manis budi, sungguh membuat aku Coa Gin San berhutang budi kepada kalian. Mudah mudahan saja kelak aku akan berkesempatan untuk membalas budi kalian. Sekarang, harap kalian suka maafkan aku dan mengijinkan aku pergi dari sini."
Dengan sikap gugup dan muka masih pucat nyonya janda itu menoleh kepada puterinya.
"Bi Cin, kau keluarlah dulu dari kamar ini, aku mau bicara berdua dengan Gin San."
Sikapnya tegas dan suaranya mendesak.
Sejenak Bi Cin memandang ibunya, akan tetapi dia lalu menundukkan muka, memutar tubuhnya dan melangkah keluar dengan cepat.
Setelah dara itu keluar dan tidak terdengar suaranya di luar kamar, Giok Hong lalu membalikkan tubuhnya menaruh obat di atas meja dekat hidangan pagi yang tadi ditaruh di situ oleh puterinya, dan dia lalu mendekati Gin San.
Pemuda itu melihat betapa sepasang mata yang indah itu basah dengan air mata dan sebelum dia dapat berkata-kata, nyonya janda itu sudah menubruk dan merangkulnya sambil menangis!
"Gin San""..jangan kau tinggalkan aku...".!"
Giok Hong berseru lirih. Gin San tersenyum dan jari-jari tangannya segera mengelus dan mengusap rambut dan muka yang halus itu.
"Ada saatnya bertemu, ada saatnya berkumpul, dan ada pula saat untuk berpisah, bibi yang manis,"
Katanya halus.
"Gin San, tidak tahukah engkau betapa aku"".. amat suka kepadamu, betapa aku cinta padamu? Gin San, semenjak aku bertemu denganmu, terobatilah penderitaan hatiku, seolah olah engkau menjadi pengganti mendiang Gan taihiap bagiku""."
""Engkau memang baik dan manis, bibi,"
Gin San berkata terharu dan keduanya sudah saling rangkul dan saling berciuman mesra.
Pemuda itu sampai gelagapan dan terpaksa menjauhkan mukanya karena rangsangan Giok Hong sedemikian penuh nafsu yang dapat menyeretnya.
"Akan tetapi, aku harus pergi, bibi. Tidak mungkin aku harus tinggal selamanya bersamamu di sini."
"Mengapa tidak mungkin? Aku cinta padamu dan kau"". aku merasa bahwa engkaupun cinta padaku"""
"Aku suka kepadamu, bibi. Tentang cinta aku sendiri tidak tahu""."
"Kau cinta padaku, aku yakin akan hal itu. Dari sentuhanmu, dari pandang matamu, dari bibirmu""., ah, Gin San, jangan kau tinggakan aku lagi. Kalau engkau memang harus pergi merantau, biarlan aku (Lanjut ke
Jilid 25) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 25 ikut. Kau bawalah aku ke mana kau pergi, aku akan melayanimu, Gin San""."
Gin San menarik napas panjang dan dengan halus dia melepaskan diri dari rangkulan. Suaranya terdengar tegas dan juga halus membujuk ketika dia berkata.
"Bibi Giok Hong, engkau bicara dalam keadaan tidak sadar. Ingatlah baik-baik siapa adanya engkau, dan ingatlah bahwa engkau adalah seorang ibu yang harus menjaga adik Bi Cin baik-baik. Ingat bahwa kalau kita menurutkan nafsu hati belaka, kelak perbuatan kita akan merusak menghancurkan nama baik kita, terutama nama baikmu dan karena itu engkau akan merusak pula kehidupan adik Bi Cin."
"Ohhh""..!"
Giok Hong terpekik lirih dan menjatuhkan diri duduk di atas pembaringan sambil menangis. Ucapan itu membuka mata dan menyadarkannya bahwa dia masih mempunyai kewajiban terhadap puterinya.
"Mengertikah engkau, bibi? Hidup memang tidak hanya berarti mengurusi diri sendiri Maka, banyak sekali kaitan-kaitannya dengan orang-orang lain, dengan keluarga dan dengan persoalan-persoalan lain. Dan aku tidak mau merusak namamu, tidak mau membikin sengsara adik Bi Cin. Nah, selamat tinggal, bibi Hong, aku akan selalu ingat kepadamu."
"Gin San""..!"
Wanita itu bangkit dan kembali menubruk, merangkul dan menciumi pemuda itu sambil menangis.
"Aku cinta padamu, Gin San"". bagaimana engkau dapat meninggalkan aku begitu saja?"
Gin San mengecup bibir yang gemetar itu, tersenyum.
"Mana bisa aku meninggalkan kau begini saja? Aku meninggalkan engkau dengan membawa kenangan manis, bibi. Dan kelak, kalau memang berjodoh, kita tentu akan dapat saling berjumpa kembali. Nah, inilah tanda mata dariku harap bibi simpan sebagai kenang-kenangan."
Pemuda itu melolos sabuk rantai peraknya, mematahkan sebuah mata rantai ikat pinggang itu dan memberikannya pada Giok Hong yang menerimanya dengan tangan gemetar.
Lalu diciuminya mata rantai itu dan dipegangnya.
"Ah, Gin San"".."
Janda itu lalu melepas cincin emas yang menghias jari manis tangan kanannya.
"Kau terimalah ini, dan jangan, jangan kau lupakan aku, Gin San"".."
Gin San menerima dan menyimpan cincin itu, kemudian terpaksa dia melepaskan karena janda itu merangkulnya dan seolah-olah tidak rela melepaskannya.
Dia meninggalkan Giok Hong yang menangis tersedu-sedu dalam kamar, melangkah dengan cepat keluar dari dalam pondok di lereng bukit itu.
Memang patut dikasihani seorang wanita seperti Giok Hong itu.
Dilihat sepintas lalu dengan kaca mata kesusilaan yang oleh umum sudah ditentukan sebagai alat pengukur bagi seorang wanita, memang kelihatannya tidak patut dan tidak tahu malu apa yang di perbuat oleh janda itu.
Namun, apa bila kita memandang keadaannya tanpa prasangka dan tanpa ketentuan pendapat yang kaku, kita dapat menarik napas sedih dan merasa kasihan.
Giok Hong adalah seorang manusia biasa, seorang wanita yang sehat jasmaninya.
Dan sebagai seorang wanita sehat yang usianya baru tigapuluh lima tahun, belum tua benar, maka amatlah wajar kalau dia masih amat membutuhkan cinta kasih seorang pria.
Semenjak muda, ketika masih gadis, dia telah menderita patah hati karena cinta kasihnya terhadap Gan Beng Han bertepuk tangan sebelah.
Kemudian, setelah dia menikah dengan pria lain dan penderitaannya mulai terobati, suaminya meninggal dunia dan dia ditinggalkan sendirian bersama puterinya.
Umum boleh menganggap dia seorang janda yang kotor, yang gila pria, dan sebagainya.
Namun, kalau kita wawas secara adil dan jujur, kotor atau jahatkah kalau seorang wanita mendambakan kasih sayang dan belaian mesra seorang pria?
Bukanlah hal itu timbul dari naluri yang wajar, dari kebutuhan jasmani yang sehat?
Pilihannya jatuh kepada Gin San, yang sepintas lalu nampak lucu dan mentertawakan karena pemuda itu jauh lebih muda dari padanya.
Namun, dalam hal ini kesempatan dan kebetulan memainkan peranan penting sekali.
Kebetulan dia berjumpa dengan Gin San, kebetulan pemudi ini adalah murid dari pria yang dicintanya, dan terbuka kesempatan nya untuk berdekatan dan merawat pemuda itu.
Maka, anehkah kalau sampai janda itu jatuh cinta?
Cinta asmara antara pria dan wanita memang merupakan hal yang penuh rahasia dan aneh.
Daya tarik antara pria dan wanita bukan hanya terletak pada wajah yang cantik dan tampan, bukan hanya pada usia muda atau tua, bukan psda harta semata, namun daya tarik itu menyelinap di mana-mana.
Mungkin saja seorang pria dan seorang wanita saling tertarik dan saling mencinta karena daya tarik yang terletak dalam watak masing-masing yang cocok.
Mungkin juga karena kagum, karena iba, dan sebagainya.
Cinta asmara antara pria dan wanita tidak mengenal usia, tidak mengenal agama, tidak mengenal bangsa atau golongan, tidak mengenal harta, kepandaian, kedudukan dan sebagainya.
Cinta kasih antara manusia adalah perasaan kemanusiaan yang terindah dan paling agung.
Ada juga rasa haru di dalam hati Gin San ketika dia meninggalkan pondok di lereng bukit itu.
Bibi Giok Hong demikian baik kepadaku, pikirnya.
Dan dia belum mampu membalas, bahkan kini mengecewakan hatinya, mendukakan hatinya dengan meninggalkan tempat itu.
Akan tetapi, dia harus pergi, tak mungkin dia tinggal terus di situ, tenggelam dalam pelukan janda itu Akan menjadi laki-laki apa macamnya dia kalau dia terus tinggal di sana?
Cuaca cerah pagi itu dan Gin San melupakan semua renungannya, melanjutkan perjalanan dengan gembira dan ketika tangannya tanpa disadarinya memasuki saku bajunya, jari-jari tangannya bertemu dengan dua buah benda.
Ditariknya dua benda itu keluar dan dipandangnya hiasan rambut teratai emas yang dihadiahkan Liang Hwi Nio kepadanya, dan cincin emas hadiah dari Yo Giok Hong tadi.
Dia tersenyum, mengenangkan dua orang wanita itu dan membanding-bandingkan mereka.
Keduanya sama cantik manis, sama menarik, memiliki keistimewaan sendiri-sendiri.
Liang Hwi Nio masih muda dan bagaikan bunga sedang semerbak harum, delapanbelas tahun usianya, cantik dan terutama sekali lesung pipit itu membuat mulutnya amat manis menggairahkan.
Dan janda itu, seorang wanita yang sudah matang, ciumannya berani dan merangsang panas, kecantikannya terutama terletak pada hidungnya yang mancung dan cuping hidungnya dapat bergerak halus kembang-kempis membayangkan perasaan hatinya.
"Berhenti!"
Gin San tersentak dari lamunannya dan memandang heran kepada dara yang menghadang di depannya dengan pedang di tangan itu.
"Cin-moi (adik Cin)""..!"
Gin San berseru heran melihat dara itu bersikap mengancam dengan pedangnya, namun masih nampak olehnya betapa dara ini kelihatan gagah dan cantik, kedua pipinya kemerahan dan terutama sekali matanya.
Dara ini memiliki mata yang hebat!
Lebih indah dari mata ibunya.
Demikian jeli dan bening tajam, agak lebar denga kedua ujung kanan kiri meruncing ke atas seperti dilukis saja.
Pemuda ini sudah tenggelam kedalam keindahan mata itu sehingga dia lupa lagi akan sikap aneh dari gadis ini.
"Coa Gin San, aku sengaja menantimu di sini dan bersiaplah engkau untuk mati!"
Gin San memandang dengan mata terbelalak heran. Selama tiga hari tiga malam ini Bi Cin juga bersikap ramah dan manis kepadanya, sungguhpun tidak pernah mesra seperti ibunya.
"Kenapa?"
Tanyanya bingung.
"Kenapa aku harus mati?"
"Untuk menebus kekurang ajaranmu! Engkau telah menghina ibuku!"
Bi Cin sudah menerjang dengan pedangnya, menusuk dengan cepat dan gerakannya memang ringan sekali.
Sejak kecil, dara ini sudah dilatih oleh ibunya bukan hanya dalam ilmu pengobatan, melainkan juga dalam ilmu silat sehingga dia tidak asing memegang dan mempermainkan sebatan pedang.
Namun, tentu saja bagi Gin San, serangan itu sama sekali tidak ada artinya dan berturut-turut sampai lima kali dia selalu mengelak dari tusukan dan bacokan pedang.
"Eh-eh eh, nanti dulu, adik Bi Cin! Nanti dulu dan terangkanlah, dalam hal apa aku kurang ajar dan menghina? Engkau dan ibumu selalu baik kepadaku bagaimana mungkin aku menghina ibumu?"
Gin San berseru sambil berloncatan ke sana-sini, kemudian meloncat jauh ke belakang.
Dara itu berdiri dengan dada bergelombang saking marahnya dan juga saking lelahnya telah melakukan serangan bertubi yang selalu mengenai tempat kosong itu.
Matanya bersinar sinar seperti mengeluarkan titik api, indah sekali.
"Coa Gin San, engkau sungguh seorang manusia yang rendah budi. Ibuku dengan hati suci dan tulus telah menolongmu, mengobatimu, akan tetapi engkau telah berani menghinanya."
"Adik Bi Cin, harap jangan marah-marah dulu dan jelaskanlah, apa yang telah kulakukan sehingga engkau menuduh aku menghina ibumu?"
"Engkau".. engkau telah".. merangkul dan menciuminya! Itulah penghinaan hebat dan engkau harus mampus!"
Dara itu sudah menerjang lagi, kini lebih hebat dan nekat gerakannya.
"Ahhh""!"
Gin San berseru heran dan kaget, cepat dia mengelak lagi ke sana ke mari.
Kiranya dara ini tadi telah mengintai!
Dan menganggap bahwa dia menghina ibunya.
Padahal, saling peluk cium itu dilakukan lebih dulu oleh bibi Giok Hong!
Dan pula, mengapa peluk cium sukarela itu dianggap menghina?
Agaknya dara ini masih sedemikian murninya sehingga tidak tahu bahwa peluk cium yang dilakukan oleh kedua fihak dengan sukarela sama sekali bukan penghinaan namanya, melainkan kemesraan yang timbul oleh pencurahan rasa sayang di dalam hati.
"Dengarkan dulu penjelasanku"".!"
Dia berusaha untuk menerangkan, akan tetapi dara itu menyerangnya kalang-kabut dan agaknya sukar untuk diajak bicara baik-baik.
Maka Gin San lalu bergerak menyambut pedang itu dan sekali tangkap saja dia sudah merampas pedang itu, dibuangnya ke belakang dan sebelum Bi Cin tahu apa yang terjadi, dia telah dirangkul oleh Gin San.
"Yang begini kau katakan menghina, Cin moi?"
Bisiknya dan kedua tangannya mendekap tubuh dara itu.
Bi Cin meronta dan kedua tangannya yang berada di belakang tubuh Gi San itu berusaha memukul dan menghantam akan tetapi tentu saja tidak terasa oleh Gin San yang memeluknya makin ketat.
"Inikah yang kau katakan menghina?"
Bisiknya lagi dan ketika Bi Cin meronta sekuatnya dia lalu menunduk dan mencium mulut Bi Cin.
Dara itu meronta makin keras, kedua tangannya kini menjambak-jambak rambut Gin San.
Akan tetapi pemuda itu tidak perduli dan ciumannya makin kuat.
Naiklah sedu-sedan dari dada gadis itu dan tanpa disadarinya, kedua tangan yang tadinya menjambak rambut Gin San kini melepaskan rambut itu dan melingkari leher, merangkul pemuda itu.
Ketika Gin San akhirnya melepaskan ciumannya dan memandang, ternyata dara itu memejamkan mata dan napasnya terengah-engah.
Gin San mencium dua mata yang terpejam itu dengan lembut.
Sepasang mata itu terbuka, terbelalak memandangnya.
"Bukan main indahnya matamu, Cin-moi".!"
Dia berbisik. Bi Cin tidak menjawab, hanya bibirnya yang masih menggigil oleh ciuman tadi bergerak-gerak, matanya seperti mata seekor kelinci kebingungan.
"Apakah engkau menganggap ini penghinaan?"
Kembali Gin San bertanya lirih. Bi Cin lalu mendekapkan mukanya di dada pemuda itu. Dengan suara bercampur isak gadis itu berbisik.
"San-ko"". beginilah seharusnya"". beginilah yang kuinginkan semenjak kau datang"". akan tetapi mengapa engkau mencium ibuku? Hampir meledak rasa hatiku melihatnya tadi""."
Gin San tersenyum, menunduk dan mencium rambut yang harum itu, lalu dipegangnya dagu itu, diangkatnya wajah cantik dengan sepasang mata bintang itu, diciumnya mata itu sehingga terpejam dan diciumnya lagi bibir merekah itu sampai lama.
"Engkau anak nakal"""!"
Gin San berbisik.
"San-ko, kau bawalah aku pergi. Aku tak mau kembali ke rumah, aku ingin ikut bersamamu, koko""..!"
Gin San melepaskan pelukannya dan melangkah mundur. Diloloskannya ikat pinggang perak dan dipatahkannya sebuah mata rantai.
"Terimalah ini, Cin-moi. Sebagai tanda persahabatan kita. Kelak kita akan bertemu kembali, akan tetapi sekarang ini tidak mungkin aku mengajakmu pergi. Aku hanya minta tanda mata ini darimu untuk kenang-kenangan."
Tangan kirinya bergerak ke arah kepala Bi Cin dan jari-jari tangannya telah merobek ujung pita rambut merah dari sutera itu.
"Selamat tinggal, Cin-moi, engkau manis sekali!"
Sekali meloncat Gin San sudah lenyap dari situ meninggalkan Bi Cin yang masih pening dimabok oleh ciuman-ciuman tadi.
"San-koko""!"
Akhirnya dia berseru mencari-cari dengan matanya lalu menangis ketika melihat pemuda itu telah lenyap.
Dia memandang sebuah mata rantai perak di tangannya, menggenggamnya erat-erat lalu dengan langkah gontai dia kembali ke lereng bukit, setelah memungut kembali pedangnya.
Gin San berlari cepat dan kadang kadang tersenyum.
Sungguh aneh watak wanita, pikirnya.
Tadinya Bi Cin menyerangnya mati-matian, dan baru dia tahu bahwa dara itu sebenarnya cemburu!
Mengapa semua wanita yang selama ini dijumpainya menjadi luluh setelah dirayunya?
Apakah semua wanita selalu ingin dirayu, ingin dicinta.
ingin dimanja dan ingin diperhatikan oleh pria?
Kembali Gin San tersenyum dan jari jari tangannya bermain-main dengan tiga macam benda yang diterimanya dari tiga orang wanita itu.
Hiasan rambut teratai emas dari Hwi Nio, cincin dari Giok Hong, dan pita rambut yang diambilnya sendiri dari rambut Bi Cin.
Perahu kecil itu bergoyang ke kanan kiri oleh keriput air yang bergelombang kecil digerakkan angin.
Sunyi senyap di permukaan telaga itu, dan pagi masih berkabut, menghalangi pandang mata.
Agaknya segala sesuatu di sekitar telaga itu masih tidur, kecuali dua orang yang di dalam perahu kecil sambil mencurahkan seluruh perhatian ke ujung tangkai pancing yang mereka pegang.
Kakek itu sudah tua sekali, tentu sudah lebih delapanpuluh tahun usianya.
Biarpun tubuhnya kurus, namun wajahnya masih nampak berseri dan sehat, dengan sepasang mata yang tenang namun bersinar tajam.
Bajunya berwarna kuning dan potongannya longgar seperti jubah hwesio, rambutnya yang sudah tiga perempat bagian putih itu digelung ke atas dan diikat dengan pita kuning.
Dengan wajah berseri dan mulut tersenyum dia memandangi air, dimana tali pancingnya bersambung dengan bayang tali itu di permukaan air.
Di ujung yang berlawanan dari perahu duduk pula seorang pemuda yang tampan dan berpakaian sederhana pula seperti kakek itu.
Pemuda ini usianya kurang lebih duapuluh tahun, tubuhnya sedang, wajahnya tampan dan sikapnya gagah, pandang matanya tajam penuh kesungguhan.
Pemuda ini adalah Tan Sian Lun putera mendiang Tan Bun Hong dan mendiang Song Kim Bwee.
Adapun kakek itu adai Siangkoan Lojin atau yang bernama Siangkoan Lee, kakek sakti yang suka merantau, yang lalu hidup sebagai petani atau nelayan, biarpun memiliki kesaktian tinggi namun tidak pernah mau menonjolkan nama sehingga di dunia kang-ouw, nama Siangkoan Lee tidak dikenal orang.
Seperti telah kita ketahui dari bagian depan, Sian Lun ditolong dan dibawa pergi oleh kakek itu ketika terjadi keributan di Kuil Ban-hok-tong, kurang lebih sepuluh tahun yang lalu.
Selama sepuluh tahun itu, dia digembleng dan dilatih oleh gurunya, bahkan gurunya yang menyayangnya itu telah mewariskan seluruh kepandaiannya kepada Sian-Lun.
Melihat kakek dan pemuda itu di dalam perahu di atas telaga yang sunyi di pagi hari itu , tekun memancing ikan, orang akan menyangka bahwa mereka itu hanyalah dua orang nelayan biasa saja, atau dua orang yang mempunyai kegemaran memancing.
Sama sekali tidak akan ada yang mengira bahwa mereka adalah guru dan murid yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.
Tiba-tiba Sian Lun menarik tangkai pancingnya dan seekor ikan terangkat dan menggelepar di dalam perahu.
Seekor ikan yang cukup gemuk dan sebesar lengan tangan, dengan sisik berwarna putih seperti perak dan mata merah seperti permata.
Sian Lun membebaskan mulut ikan dari pancingnya, sejenak memegang ikan yang menggelepar-gelepar itu, kagum akan keindahan warna sisik putih bersih dan mata merah itu, kemudian tiba-tiba dia melemparkan ikan itu kembali ke dalam telaga.
"Cluppp"".."
Ikan itu menyelam dan permukaan telaga tenang kembali.
"Ha-ha-ha, kemarin engkau membebaskan kembali kelinci yang kau tangkap, sekarang kau membebaskan ikan yang terkena pancingmu, Sian Lun!"
Kakek itu yang sejak tadi mengikuti gerak-gerik muridnya dengan sudut matanya, tertawa dan menegur. Sian Lun menundukkan mukanya, alisnya berkerut.
"Suhu, aku kasihan sekali melihat ikan itu. Demikian indahnya, demikian hidup dan sehat, mengapa harus mati hanya untuk memenuhi selera mulut dan kebutuhan perutku?"
Kakek itu tertawa bergelak, menancapkan tongkat pancingnya di perahu dan duduk mem-balikkan tubuhnya, menghadapi muridnya.
"Itulah hidup! Hidup dan mati adalah dua hal yang saling isi mengisi, yang tidak pernah dapat dipisahkan. Tidak ada hidup kalau tidak ada mati. Bukan hidup namanya kalau tidak akan mati. Dan kematian itu datang dengan cara apa saja. Mengapa hal yang begitu saja merisaukan hatimu, Sian Lun?"
"Saya sudah kehilangan selera saya untuk makan ikan, suhu, kalau untuk itu saya harus merusak keindahan dan kehidupan."
Pemuda itu melemparkan tangkai pancingnya ke dalam perahu. Kembali kakek itu tertawa.
"Aha, mengapa muridku menjadi begini lemah? Mengapa mengisi kehidupan dengan keluh dan keprihatinan? Muridku, aku teringat akan ucapan sang bijaksana Yang Cu di jaman dahulu. Beliau mengatakan bahwa tidak ada manusia hidup lebih dari seratus tahun, dan yang mencapai usia seratus tahun, di antara seribu belum tentu ada satu. Kalaupun ada, dia itu akan hidup sebagai seorang pikun, seperti kanak-kanak dan sudah tidak berdaya apa-apa. Setengah kehidupan ini dihamburkan untuk tidur, atau dihamburkan untuk hal-hal tidak berguna di siang harinya. Setengahnya lagi, manusia dihimpit oleh penderitaan, sakit, duka, kekecewaan, kematian, kehilangan, kegelisahan dan ketakutan. Hampir tidak ada waktu bagi manusia untuk hidup dalam keadaan damai dan tenteram tanpa digerogoti oleh kekhawatiran,"
Sian Lun mendengarkan saja dengan penuh perhatian. Dia maklum betapa bijaksana gurunya ini dan betapa dalam semua kata-kata gurunya terkandung kebenaran mutlak.
"Apakah artinya hidup manusia?"
Kakek itu melanjutkan sambil memandang ke langit yang mulai disentuh cahaya kuning emas dan matahari pagi, seolah olah dia hendak bertanya kepada gumpalan-gumpalan awan yang berari lembut.
"Kesenangan apakah yang terkandung dalam kehidupan? Apakah untuk menikmati keindahan dan kekayaan? Apakah untuk menikmati kemerduan suara dan keindahan warna-warni? Akan tetapi akan tiba saatnya bagi semua manusia di mana kecantikan dan kekayaan tidak lagi memenuhi kebutuhan hati, dan di mana suara hanya meniadi kebisingan bagi telinga, dan warna menjadi kemuakan bagi mata."
Kembali kakek itu menarik napas panjang, akan tetapi mulutnya masih tersenyum seolah-olah dia mentertawakan kehidupannya sendiri.
"Apakah kita hidup ini hanya untuk berjaga-jaga dengan takut agar tidak melanggar hukum dan menderita hukumannya, dan kadang kadang bergerak terdorong oleh keinginan mendapatkan ganjaran atau nama besar? Kita hidup di dalam dunia gila, memperebutkan pujian hampa, mengkhayal bahwa nama besar akan abadi. Kita hidup terjepit dalam lorong sempit, dikuasai oleh hal-hal picik yang kita lihat dan dengar, tenggelam dalam prasangka-prasangka kita, melewati segala kebahagiaan hidup tanpa menyadari bahwa kita telah kehilangan segalanya. Tak pernah kita menikmati kesegaran anggur dari kebebasan. Kita hidup sebagai orang orang hukuman dalam penjara, tertimbun belenggu."
Sian Lun maklum bahwa apa yang diucapkan oleh gurunya itu memang menjadi pegangan hidup gurunya.
Gurunya tak pernah mengejar nama, tak pernah mengejar harta, tak perna mengejar kesenangan.
Namun gurunya selalu gembira!
Betapapun juga, dia sering kali termenung membayangkan betapa kosongnya kehidupan seperti yang dihayati oleh gurunya itu Betapa kosong tanpa arti.
"Akan tetapi, suhu. Betapa mungkin kita hidup bebas dari segalanya di dunia ini, melepaskan diri dari ikatan-ikatan kemanusiaan? Betapa mungkin kita berdiam diri saja kalau menyaksikan ketidakadilan, betapa mungkin kita berpeluk tangan saja kalau menyaksikan kejahatan? Lalu apa gunanya saya bersusah payah mempelajari ilmu dari suhu selama ini? Mohon petunjuk, suhu."
"Siang Lun, kebebasan berarti bebas dari segala cara, bebas dari segala aturan, bebas dari segala petunjuk. Apapun yang kaulakukan barulah bebas kalau beidasarkan naluri hatimu sendiri, tanpa tiru-tiru. tanpa pamrih memperoleh sesuatu, baik mengejar maupun menghindarkan hukuman."
"Tapi, nama baik""""
"Ha ha ha, persetan dengan nama baik Kalau engkau melakukan sesuatu dengan pamrih untuk memperoleh nama baik, maka apa yang kaulakukan itu adalah palsu dan kotor. Kebaikan kaunamakan kepada perbuatanmu itu, namun sesungguhnya itu hanyalah suatu cara untuk mendapatkan nama baik, jadi hanya pura pura dan palsu belaka. Apakah artinya nama baik? Selagi hidup, semua mahluk memang berbeda, akan tetapi dalam kematian mereka semua sama juga. Selagi hidup mereka itu bisa pintar atau bodoh, mulia atau hina, namun dalam kematian, mereka semua sama sama berbau, membusuk, hancur dan lenyap. Dalam kelahiran mereka sama, dalam kematianpun tiada bedanya, jadi kita semua ini sama sama pintar, sama-sama bodoh, sama-sama mulia dan sama sama hina. Ada yang usianya hanya sampai sepuluh tahun, ada yang mencapai seratus tahun, namun kesemuanya akhirnya mati juga. Orang suci yang agung mati seperti juga si dungu yang jahat. Di waktu hidup dinamakan raja-raja agung Yao dan Shun, namun setelah mati mereka itu hanyalah tulang-tulang membusuk. Di waktu hidup dinamakan raja-raja lalim Chieh dan Chou, namun setelah mati, mereka juga hanya tulang-tulang membusuk. Dan tulang-tulang membusuk dimanapun sama saja, siapa yang dapat mengenal dan membedakan mereka?"
Bagi pendengaran Sian Lun yang masih berdarah muda, ucapan suhunya itu dianggapnya lemah tanpa semangat, seperti suara orang yang putus asa.
"Lalu, apakah yang harus kita lakukan selagi hidup, suhu?"
"Apa? Nikmatilah hidup selagi kehidupan ini milik kita! Mau mengail! Mengaillah Mau makan ikan? Makanlah! Kita tidak mempunyai waktu untuk memusingkan hal-hal sesudah mati."
"Akan tetapi, kalau kita hanya menurutkan suara hati, biasanya kita hanya akan mengejar kesenangan belaka, dan dari situ timbullah penyelewengan dan perbuatan yang jahat, suhu"
Gurunya menyambar tangkai pancing dan seekor ikan menggelepar ke dalam perahu, ikan bersisik emas yang indah sekali.
"Aha, jahat atau tidak, baik atau tidak hanyalah anggapan sepihak saja, muridku. Sedangkan kebencian, iri hati, ingin menang sendiri, datang dari si aku, yaitu pikiran yang ingin mengulang apa yang dianggap menyenangkan dan menolak apa yang dianggap tidak menyenangkan dari pengalaman yang lalu. Sudahlah, Sian Lun engkau akan mengerti sendiri kelak kalau engkau mau membuka mata dan telinga melihat kenyataan-kenyataan dalam kehidupan ini. Sekarang, hayo cepat panggang ikan itu selagi masih segar untuk sarapan pagi!"
Sian Lun mentaati perintah suhunya. Melihat pemuda itu membersihkan ikan dengan wajah agak muram, Siangkoan Lojin berkata.
"Hidup kita tiada bedanya dengan ikan ini, muridku. Selagi kita masih hidup, kematian selalu mengancam kita dari segala penjuru, dan tanpa kita ketahui, ada pula Tukang Pancing yang selalu mengincar nyawa kita tanpa pilih bulu. Siapa makan umpan, dia terkena pancing. Senang dan susah memang tak dapat dipisahkan, merupakan rangkaian yang tak terputuskan. Oleh karena itu, mengapa kita membiarkan diri dikuasai oleh senang dan susah yang sesungguhnya hanya merupakan permainan dari pikiran kita sendiri? Bergembiralah selagi hidup, seperti ikan-ikan dalam air itu karena siapa tahu, sekarang atau besok tiba giliran kita menjadi korban pancing!"
Tak lama kemudian, guru dan murid itu sudah mulai dengan sarapan pagi mereka, nasi dengan daging ikan panggang yang sedap, dan terciumlah bau arak yang menambah selera.
Mereka makan tanpa bicara, mencurahkan seluruh perhatian kepada apa yang mereka lakukan pada saat itu.
Tiba-tiba perhatian mereka tertarik oleh suara orang yang nyaring menembus kesunyian pagi, walaupun bayangan orang yang bernyanyi itu belum dapat menembus kabut yang makin tebal oleh munculnya sinar matahari.
Guru dan murid itu mengambil sikap tidak perduli, akan tetapi sesungguhnya mereka tertarik sekali karena suara orang itu berirama seperti membaca sajak.
"Siapakah yang menguasai dunia laut selatan? Siapakah yang merajai laut selatan? Semua telaga, sungai dan lautan berikut semua isinya menjadi milik siapa.?"
Pertanyaan-pertanyaan yang aneh itu tiba-tiba disambut atau dijawab oleh suara beberapa orang yang berseru nyaring.
"Lam-ong (Raja Selatan)""..!!"
Pertanyaan yang diteriakkan seperti nyanyian itu dilakukan orang berulang kali, dan jawabannya selalu sama. Kini suara-suara itu makin mendekat dan tiba-tiba terdengar suara itu membentak.
"Hei, kalian para nelayan rendah! Ikan siapakah yang kalian jala itu?"
Terdengar jawaban yang lemah dan gemetar.
"Lam-ong"".!"
"Atas kurnia siapa kalian dapat memperoleh ikan dan dapat hidup setiap hari?"
"Lam-ong! Hormat dan terima kasih kami kepada Lam-ongya""..!"
"Ha-ha, tolol! Apa artinya hormat dan terima kasih dengan kata-kata belaka? Hayo kalian angkut ke perahu kami sekeranjang ikan yang besar. Cepat!"
"Akan tetapi"". ampun, tuan"".. malam ini amat sepi, semalam suntuk kami baru memperoleh sekeranjang saja""."
"Cerewet! Kalian berani membantah dan tadi mengatakan bahwa kalian menghormat dan berterima kasih kepada Lam-ong? Apakah kalian ingin menjadi makanan ikan di telaga ini?"
"Ampun"". ampun"""
Kami tidak berani membantah"".. silakan"".."
Siangkoan Lee dan Siang Lun mengerutkan alis, namun mereka masih terus makan, tidak mau memperdulikan urusan itu, sungguhpun diam-diam mereka itu bertanya-tanya siapa gerangan yang disebut Lam ong itu dan mereka dapat menduga bahwa orang-orang yang merampas ikan itu tentulah anak buah dari tokoh yang disebut Raja Selatan itu.
Mereka berdua masih makan juga ketika bayangan perahu besar itu nampak muncul dari dalam kabut dan tahu-tahu telah dekat dengan perahu kecil mereka yang bergoyang makin keras oleh gelombang air yang ditimbulkan oleh perahu besar itu.
Kini nampaklah anak buah perahu besar itu yang terdiri dai lima orang, dan di geladak berdiri dua orang laki laki yang usianya tentu sudah limapuluh tahun lebih, keduanya bertubuh tinggi besar yang seorang memegang sebatang tongkat dan yang kedua membawa sebatang golok tergantung di punggungnya.
Di dalam perahu itu sudah bertumpuk beberapa keranjang ikan, agaknya pemberian dari beberapa orang nelayan yang mencari ikan di telaga itu.
Ketika dua orang kakek itu melihat seorang tua renta dan seorang pemuda di dalam perahu kecil sedang makan nasi dan panggang ikan, mereka segera menegur dengan suara lantang.
"Hai, kalian dua orang nelayan miskin! Ikan siapakah yang kalian makan itu?"
"Ikan kami sendiri!"
Sian Lun menjawab cepat tanpa memperdulikan mereka dan terus makan, sedang gurunya hanya terkekeh saja.
"Nelayan tolol! Dari mana engkau memperoleh ikan itu?"
Kembali seorang di antara mereka, yang memegang tongkat, membentak.
"Dari dalam telaga ini!"
"Kiranya engkau mengerti juga! Nah, milik siapa gerangan telaga ini?"
"Milik siapa? Milik semua orang!"
Jawab lagi Sian Lun seenaknya.
"Keparat, kalian telah makan ikan milik Lam-ong tanpa ijin, bahkan tidak mau mengakui, sekarang biar kalian menjadi makanan ikan!"
Tiba-tiba terdengar sambaran angin dahsyat sekali ke arah perahu kecil.."Brakkkk!"
Perahu kecil itu pecah berantakan dihantam tongkat dan tubuh guru dan murid itu lenyap dan tahu tahu mereka telah ada di atas perahu besar.
Bahkan Siang-koan Lojin masih membawa daging ikan dan masih melanjutkan makan, kini dia berjongkok di atas geladak perahu besar, sedangkan Sian Lun sudah bangkit berdiri dengan sikap marah.
"Orang-orang jahat! Apa kesalahan kami maka kalian merusak perahu kami?"
Tanya pemuda itu dengan suara halus dan sikap tenang namun sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat.
Melihat betapa kakek dan pemuda itu tahu tahu telah berada di atas perahu besar tanpa mereka lihat, padahal perahu kecil mereka itu telah hancur, dua orang tinggi besar itu memandang dengan mata terbelalak dan mereka mengerti bahwa dua orang itu bukan orang sembarangan.
Kini mereka maju dan dengan sikap agak halus si pemegang tongkat bertanya.
"Siapakah adanya dua orang gagah yang tidak memandang mata kepada Lam-ong? kawan ataukah lawan?"
Sian Lun sudah marah sekali menyaksikan sikap mereka yang sewenang-wenang itu, namun dia masih bersikap tenang dan halus.
"Kami tidak mengenal Lam-ong, maka kami bukanlah lawan atau kawannya. Kami tidak mempunyai urusan apapun dengan kalian, mengapa kalian bertindak sewenang-wenang dan merusak perahu kami?"
Dua orang tinggi besar itu saling pandang dengan heran.
Tentu saja mereka merasa heran mendengar betapa ada orang, yang tidak nengenal nama Lam-ong!
Padahal, setiap orang nelayan pasti tahu siapa adanya Lam-ong, apa lagi kalau orang itu merupakan orang dari dunia liok-lim atau kang ouw.
Akan tetapi karena mereka tahu bahwa banyak orang dari daerah barat, timur atau utara, tokoh-tokoh, kang-ouw yang berkepandaian tinggi dan yang tentu saja tidak kenal dengan mereka dan mungkin juga tidak pernah mendengar nama Lam ong, maka dua orang itu bersikap hati hati.
"Hemm, agaknya kalian adalah orang orang lancang ysng tidak mau menyelidiki terlebih dulu daerah yang kalian datangi. Ketahuilah bahwa seluruh wilayah selatan ini, dari telaga sungai sampai ke laut selatan, berada di bawah kekuasaan Lam-ong dan setiap orang kang-ouw atau liok-lim yang mencari nafkah di daerah ini, harus terlebih dulu memperoleh persetujuan dari Lam-ong kami. Kalian berdua telah menikmati ikan telaga ini dan menikmati pemandangan indah di sini tanpa perkenan Lam-ong, hal itu saja sudah merupakan dosa yang tak boleh diampuni. Akan tetapi mengingat bahwa kalian tentulah datang dari tempat jauh dan tidak mengenal segala sesuatu di daerah ini, maka biarlah kami akan mengampuni kalian asal kalian cepat minta ampun dan menceritakan siapa kalian dan datang dari mana."
Sian Lun telah merasa betapa keterlaluan sikap dua orang itu, maka dengan tenang dia berkata, menekan kemarahannya.
"Kami tidak perlu memperkenalkan diri, dan tentang minta ampun, sebenarnya kalianlah yang patut minta ampun kepada kami. Akan tetapi kamipun tidak membutuhkan permintaan ampun, kami hanya membutuhkan uang pengganti perahu untuk kami bayarkan kepada pemilik perahu yang kami sewa itu. Hayo kaubayar harga perahu itu kepada kami dan antarkan kami ke darat.!"
Mendengar ucapan itu, dua orang tinggi besar itu menjadi makin marah. Si pemegang tongkat yang matanya sipit sekali seperti terpejam itu menoleh kepada lima orang anak buahnya, mengangguk dan berkata.
"Lempar mereka ke air!"
Lima orang anak buah perahu besar itu adalah orang-orang kasar yang bertubuh kuat dan bersikap kasar sekali, maka mendengar perintah ini mereka sudah tertawa tawa gembira dan kini dengan ganas mereka menubruk maju seperti hendak berebut untuk menangkap pemuda yang berani mati itu dan melemparkannya ke dalam telaga.
Namun, Sian Lun sudah siap siaga dan setiap ada orang datang menubruknya, orang itu tentu terlempar keluar dari perahu dan terbanting ke air di luar perahu!
Hanya terdengar lima orang itu berteriak dan beturut-turut tubuh mereka semua terlempar keluar dari perahu, ketika tubuh mereka menimpa air terdengarsuara keras dan air muncrat sampai tinggi, menunjukkan bahwa mereka terbanting cukup keras ke dalam air.
"Ehh""..?"
Dua orang tinggi besar itu berseru kaget dan makin marah, juga heran karena hampir mereka tidak dapat percaya melihat betapa lima orang pembantu mereka itu dapat dilempar-lemparkan keluar dari perahu semudah itu.
"Sute, orang ini tidak boleh diberi ampun!"
Bentak si pemegang tongkat kepada temannya akan tetapi sutenya itu ternyata sudah mencabut golok yang tergantung di punggungnya dan dengan kecepatan kilat dia sudah meloncat dan mengayun goloknya menyerang Sian Lun.
Cepat dan kuat juga gerakan orang inidan goloknya mengeluarkan suara berdesing dibarengi sinar berkilat ketika menyambar ke arah leher Sian Lun.
Namun, pemuda ini selama sepuluh tahun telah digembleng secara hebat oleh Siangkoan Lojin, dan terutama sekali pemuda ini sudah mewarisi kepandaian ginkang yang amat tinggi tingkatnya dari gurunya itu.
Maka, si penyerang itu terkejut dan terheran setengah mati ketika dia melihat betapa lawan yang diserangnya itu tiba-tiba saja lenyap dari depannya dan hanya ada angin bersilir di sebelah kanannya.
Cepat dia menengok dan benar saja, pemuda itu telah berada dibelakangnya!
Maka diapun memutar tubuh didahului oleh goloknya yang menyambar lebih ganas lagi ke arahpinggang Sian Lun.
Dengan ringan sekali pemuda itu meloncat dan sinar golok menyambar lewat di bawah kakinya.
Ketika pemuda itu yang masih meloncat ke atas menggerakkan kaki kirinya, hampir saja ujung sepatu itu menotok jalan darah di leher si pemegang golok kalau saja dia tidak membuang diri ke belakang secepatnya dan pada saat itu suhengnya yang memegang tongkat sudah membantunya dengan serangan tongkat yang menotok ke arah lambung Sian Lun dengan kepatan dan tenaga yang lebih hebat dari pada si pemegang golok!
Totokan itu mengarah jalan darah berbahaya dan kalau mengenai sasaran yang tepat dapat mendatangkan maut dan begitu Siang Lun miringkan tubuh mengelak, ujung tongkat itu sudah menyambar secara bertubi-tubi, melancarkan totokan-totokan sebanyak tujuh kali berturut-turut dan setiap totokan ditujukan ke jalan darah maut.
"Hemm, manusia ganas dan kejam!"
Sian Lun berseru ketika melihat totokan-totokan maut itu.
Dia hanya mengelak terus sampai tujuh kali dan pada saat itu, golok dari penyerang pertama telah menyambar lagi, menutup jalan keluar sedangkan ujung tongkat masih terus melanjutkan serangannya.
"Pergilah!"
Sian Lun berseru nyaring dan tubuhnya berkelebat sedemikian cepatnya sehingga dua orang pengeroyoknya tidak dapat nengikuti gerakannya itu, akan tetapi tahu-tahu mereka merasa betapa tubuh mereka terlempar berikut senjata mereka, keluar dari perahu.
"Byurrr! Byuurr!"
Kembali air telaga muncrat dan dua orang kakek itu gelagapan.
Namun, ternyata, seperti juga lima orang anak buah mereka tadi, dua orang kakek ini selain pandai ilmu silat juga ternyata merupakan ahli-ahli dalam air karena begitu mereka terbanting, mereka terus menyelam dan berenang dengan cepat sekali menjauhi perahu, menyusul anak buah mereka yang lebih dulu berenang ke darat.
Mereka maklum bahwa melanjutkan pertempuran menghadapi pemuda itu merupakan hal yang sia-sia belaka karena ternyata pemuda itu memiliki kepandaian yang terlampau tinggi bagi mereka.
Sementara itu, setelah melihat semua lawannya pergi, Sian Lun baru teringat kepada gurunya dan dia membalikkan tubuh.
Dengan heran dia melihat gurunya itu berdiri tegak memandang kepadanya dengan sinar mata penuh teguran dan penyesalan.
Selama sepuluh tahun hidup bersama Siangkoan Lojin, tentu saja Sian Lun telah mengenal watak gurunya, dan telah mengerti apa artinya setiap gerak-gerik suhunya, setiap pandang mata suhunya.
Maka melihat betapa suhunya kelihatan menyesal dan berduka, dia cepat menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu dan berkata.
"Harap suhu suka mengampunkan teccu yang telah lancang tangan menghajar mereka itu. Mereka itu keterlaluan sekali sehingga teecu tidak dapat menahan kesabaran lagi."
"Sian Lun, apakah engkau tidak dapat melihat bahwa kesabaran yang ditahan-tahan itu sama sekali tidak ada artinya? Belajar sabar adalah omong kosong belaka!"
"Akan tetapi, suhu. Kalau kita tidak belajar sabar, bukankah kita lalu menjadi pemarah besar?"
"Hemm, engkau membiarkan diri terperosok ke dalam perangkap dari kata-kata yang berkebalikan. Marah-sabar, benci-cinta, dan sebagainya. Baik sabar dan cinta, maupun marah dan benci, semua itu tidak mungkin dapat dipelajari. tidak mungkin dapat dilatih, muridku. Apakah engkau tidak dapat melihat kenyataan ini? Kalau engkau mempergunakan kemauan untuk bersabar, memaksa hati bersabar menahan kemarahan, hal itu hanya merupakan penipuan diri belaka, kesabaran macam itu hanyalah merupakan penutup sementara belaka terhadap api kemarahan, seperti api dalam sekam. Kesabaran macam itu hanya berlaku sementara saja dan api kemarahan akan berkobar lagi sewaktu-waktu, bahkan lebih hebat, karena dengan penutup kesabaran itu engkau mengumpulkan kekuatan api kemarahan."
"Habis bagaimana, suhu? Bagaimana kalau teecu diserang nafsu amarah? Tanpa kesabaran, marah itu tentu akan membuat teecu mata gelap dan melakukan hal-hal yang amat hebat akibatnya."
"Itulah biang keladinya! Mata gelap! Mengapa harus mata gelap? Mengapa kita tidak mau membuka mata batin kita setiap saat sehingga jika datang kemarahan, kita juga dalam keadaan sadar dan dapat memandang kemarahan itu, menyelaminya tanpa menerima atau menolaknya? Menghadapi kemarahan kita dengan penuh kewaspadaan, dengan penuh kesadaran, dengan demikian kita dapat menyelaminya, mempelajarinya, menyelidikinya dengaa teliti apa yang dinamakan kemarahan itu."
"Akan tetapi, suhu, kalau kita waspada dan sadar selalu dan setiap saat, mana ada kemarahan?"
"Itulah! Mengapa kita tidak mau waspada setiap saat terhadap diri sendiri lahir batin. Kemarahan, kekecewaan, penderitaan karena benci, penyelewengan-penyelewengan yang dinamakan kejahatan, semua itu merupakan akibat dari pada kelalaian, kelengahan, akibat dari keadaan kita yang tidak sadar, tidak waspada. Kalau kita selalu waspada dan sadar, apakah ada kemarahan? Dan kalau tidak ada kemarahan lagi di dalam diri kita, apakah perlu belajar sabar? Sebaliknya, kalau masih ada kemarahan di dalam hati, apa gunanya belajar sabar? Muridku, kenyataan ini harus kausadari dan kaulihat benar-benar. Coba kaulihat perbuatanmu tadi. Mengapa engkau marah kepada anak buah Lam-ong itu?"
"Karena mereka kejam, karena mereka melakukan kekerasan terhadap para nelayan mengandalkan kekuasaan mereka."
Setelah berpikir cepat, dia menambahkan.
"Karena mereka mengancam nyawa teecu dan para nelayan yang tidak taat kepada mereka, karena mereka sewenang-wenang."
"Bagus! Sekarang lihat tindakanmu tadi. Apakah bedanya dengan tindakan mereka setelah tindakanmu itu dituntun oleh kemarahan yang menimbulkan kebencian? Lihat baik-baik. Apakah engkau juga tidak sama kejamnya dengan mereka ketika engkau melakukan kekerasan kepada tujuh orang itu? Seperti juga mereka, engkau tadi dalam keadaan marah teIah melakukan kekerasan dengan mengandalkan kekuasaanmu, dalam hal ini, ilmu kepandaian yang lebih tinggi dari mereka. Seperti juga mereka yang mengancam nyawa orang lain, engkau tadi juga mengancam nyawa mereka. Karena marah dan mata gelap, engkau telah melemparkan mereka ke air, tanpa kau ingat bahwa andaikata mereka itu tidak pandai renang, hal itu mungkin akan membunuh mereka. Bukankah dalam kemarahan tadi engkau juga telah bertindak sewenang-wenang tanpa kausadari sendiri?"
Sian Lun melongo, wajahnya berobah agak pucat dan kembali dia memberi hormat sambil berlutut.
Matanya seperti dibuka dan dia melihat kenyataan yang mengerikan, bahwa dalam keadaan marah memang perbuatannya tadi tidak banyak selisihnya dengan perbuatan orang-orang yang dicelanya tadi!
"Ampunkan teecu yang bodoh, suhu, teecu mohon petunjuk."
"Petunjuk apa lagi, Sian Lun? Asal engkau waspada setiap saat, mengamati dirimu sendiri setiap saat dengan penuh perhatian, dengan kesadaran yang sempurna, maka tidak ada lagi yang perlu kauketahui dari orang lain. Di dalam kewaspadaan itu, dalam kesadaran itu sudah penuh dengan kenyataan, penuh dengan pelajaran."
"Suhu, kalau tadi teecu tidak menghadapi mereka dengan kemarahan, melihat kekejaman mereka, melihat serangan mereka, lalu apa yang akan teecu lakukan?"
"Sian Lun, kewaspadaan dan kesadaran akan melahirkan tindakan langsung dan seketika tindakan yang tepat, bukan tindakan yang di dorong oleh kemarahan dan kebencian. Tindakan itu akan berbeda sekali artinya. Mungkin untuk menjaga diri engkau akan merobohkan mereka, akan tetapi semua itu tidak kau lakukan dalam keadaan membenci mereka, dan tanpa adanya kebencian, tidak akan ada pula tindakan kejam. Walaupun boleh saja kelihatan keras, namun sesungguhnya bukan kekerasan karena tidak didorong oleh nafsu kemarahan dan kebencian. Mengertikah engkau Sian Lun?"
Sian Lun mengangguk.
"Mudah-mudahan semua ini dapat membuka mata teecu untuk selanjutnya selalu waspada terhadap diri teecu sendiri lahir batin dan bertindak seketika lahir dari kewaspadaan, bukan menurutkan perhitungan pikiran yang dikuasai oleh kemarahan dan kebencian."
"Ha ha ha, bagus, muridku. Sekarang, apa yang akan kaulakukan dengan perahu besar yang kau rampas ini?"
"Teecu akan membawanya ke darat, akan teecu kembalikan kepada pemiliknya asal mereka suka mengganti perahu nelayan yang kita sewa. Kalau tidak, perahu ini akan teecu berikan saja kepada nelayan itu untuk mengganti perahunya yang hancur."
"Kaukira akan begitu mudah? Mari kita lihat apa yang diakibatkan oleh peristiwa tadi,"
Siangkoan Lojin berkata dan Sian Lun lalu mendayung perahu itu ke tepi telaga.
Matahari telah naik dengan cerahnya ketika perahu besar yang didayung oleh Sian Lun itu tiba di tepi telaga, di mana malam tadi Sian Lun dan gurunya meninggalkan nelayan pemilik perahu kecil yang disewanya.
Akan tetapi, dia melihat bahwa bukan hanya nelayan itu yang menanti di situ, melainkan juga ada belasan orang yang segera berdiri dengan sikap menyambut ketika perahu besar itu menepi.
Mereka itu adalah orang-orang yang bersikap galak dan gagah, dan anehnya di antara mereka itu tampak dua orang kakek yang menanti dengan duduk di atas kursi-kursi indah!
Aneh sekali mengapa orang sengaja membawa kursi ke tepi telaga itu.
Belasan orang itu berdiri di belakang dua orang kakek itu dengan sikap menghormat, ketika Sian Lun dan gurunya meloncat turun ke darat, barulah nampak oleh Sian Lun bahwa tidak jauh dari tempat itu terdapat tujuh orang yang duduk di atas tanah dalam pakaian basah kuyup dan muka pucat ketakutan.
Dia segera mengenal tujuh orang itu sebagai orang orang yang tadi telah dilempar keluar perahu!
Sian Lun cepat memandang kepada dua orang kakek yang duduk di atas kursi itu penuh perhatian karena dia dapat menduga bahwa mereka itu tentulah pimpinan dari gerombolan orang-orang kasar itu.
Dan apa yang dilihatnya membuat dia diam-diam terkejut karena pandang matanya yang tajam dapat mengenal orang-orang pandai.
Kakek pertama bertubuh tinggi kurus, lebih tinggi dari orang-orang biasa dan seperti biasa terdapat pada orang-orang yang bertubuh tinggi, kedua pundaknya agak condong ke depan sehingga punggungnya kelihatan agak bongkok.
Kakek itu biarpun memandang ke arah Sian Lun dan Siangkoan Lojin dengan sepasang mata sipit yang bersinar tajam, namun sikapnya tenang saja dan dia duduk sambil mengisi huncwe (pipa tembakau), sebatang huncwe yang panjangnya ada dua kaki dan berwarna hitam mengkilap.
Bau asap tembakau yang harum dan aneh memenuhi sekitar tempat itu.
Di sebelah kirinya duduk kakek ke dua, yang nampak lebih muda dari pada kakek pertama.
Kalau kakek pertama berusia kurang lebih tujuhpuluh tahun, kakek ke dua ini paling banyak lima-puluh lima tahun usianya.
Tubuhnya tinggi tegap, nampak masih kuat dan wajahnya pucat bukan karena sakit, melainkan pucatnya seorang yang sudah tinggi tenaga sinkangnya yang dilatih secara luar biasa dan melampaui batas.
Sepasang matanya cekung dan dari dalamnya menyambar sepasang sinar mata yang tajam sekali.
Kakek kedua ini duduk sambil menyilangkan kedua lengan di depan dada, sikapnya agung penuh wibawa dan terbayang keangkuhan dan sikap memandang ringan ketika dia memandang kepada Siangkoan Lojin dan Sian Lun.
Tidak mengherankan kalau kakek ke dua itu memandang rendah.
Dia adalah seorang kawakan dalam dunia kang-ouw yang telah mengenal hampir semua tokoh di dunia kang-ouw, bukan hanya di dunia kang-ouw wilayah selatan, bahkan hampir semua tokoh kang-ouw di seluruh daratan!
Kini, melihat bahwa kakek dan pemuda yang turun dari perahu besar itu sama sekali tidak terkenal, tentu saja kakek itu memandang rendah.
Siapakah adanya dua orang kakek yang angkuh dan berwibawa itu?
Kakek berhuncwe itu bukan lain adalah Lam-ong sendiri!
Kebetulan sekali pada malam hari itu Lam-ong bersama pembantunya, kakek ke dua itu, sedang melancong ke telaga itu.
Lam-ong bernama Oh Ging Siu, seorang tokoh kang ouw kenamaan di selatan, terkenal sebagai seorang berilmu tinggi sekali, terutama huncwenya itu yang dinamakan huncwe maut, amat ditakuti orang.
Karena merasa bahwa di wilayah selatan dia merupakan datuk nomor satu, maka dia memakai julukan Lam-ong!
Tentu saja julukan ini banyak mengundang permusuhan, akan tetapi para tokoh liok lim dan kang ouw yang merasa tidak setuju dengan julukan yang amat sombong ini, seorang demi seorang telah dirobohkan oleh Lam-ong Oh Ging Siu sehingga akhirnya dia diakui sebagai Lam-ong!
Kedudukannya itu adalah semacam bengcu diselatan, dan tentu saja yang dikuasainya hanyalah kaum sesat saja, dan sudah tentu saja golongan partai-partai persilatan besar tidak mengakuinya sebagai pusat pimpinan.
Betapapun juga, karena Lam-ong memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat dan pengaruhnya amat besar, hampir seluruh dunia hitam tunduk kepadanya maka partai-partai besar tidak mau berurusan dengan dia, apa lagi karena Lam-ong pun tidak begitu bodoh untuk memusuhi partai-partai besar ini.
Adapun kakek ke dua yang berwajah pucat itu?
Kakek inipun bukan orang sembarangan, melainkan pembantu atau tangan kanan dari Lam-ong.
Dia berjuluk Lam-thian Seng-jin, seorang yang juga terkenal lihai bukan main.
Sebetulnya, dua orang kakek ini tidak pernah berurusan secara langsung dengan fihak lawan, apa lagi sampai harus menangani sendiri.
Mereka merasa terlampau tinggi, dan adalah merendahkan nama mereka yang besar dan tinggi itu untuk turun tangan sendiri menghadapi lawan.
Cukup dengan anak buah mereka.
Akan tetapi, karena kebetulan sekali malam ini mereka bermalam di tepi telaga dan mendengar betapa anak buah mereka yang katanya sedang mencarikan ikan untuk bahan hidangan pagi mereka lalu anak buah mereka itu diganggu orang yang kabarnya memiliki kepandaian tinggi, Lam-ong dan pembantunya marah sekali.
Demikianlah, pagi itu mereka dengan diantar oleh kaki tangan mereka sudah menanti di tepi telaga ketika perahu besar itu menepi.
Akan tetapi, Lam-ong dan Lam-thian Seng-jin sudah merasa kecewa melihat bahwa kakek dan pemuda itu sama sekali tidak terkenal, kelihatan seperti dua orang nelayan biasa saja yang sama sekali tidak patut untuk mereka hadapi sendiri!
Duabelas orang anak buah Lam-ong agaknya juga berpendapat demikian.
Melihat betapa alis tebal yang melindungi sepasang mata sipit dari Lam ong itu berkerut,kemudian kepala itu bergerak memberi isyarat dengan sikap membayangkan kekesalan hati, duabelas orang yang terdiri dari pimpinan-pimpinan bajak telaga, sungai dan laut di daerah selatan itu segera menyambut Sian Lun dan gurunya dan maju nengepung mereka berdua.
Seorang di antara mereka yang brewok dan mukanya hitam, dengan suara besar lantang segera menegur.
"Apakah kalian berdua yang telah berani mati mengganggu anak buah kami dan berani pula merampas perahu milik Lam-ong ya?"
Sian Lun tersenyum, penuh ketenangan. Kini dia lebih waspada dan lebih bijaksana semenjak bercakap dengan gurunya tadi, dan tidak akan mudah terseret oleh nafsu amarah.
"Sesungguhnya, apa yang kaukatakan itu adalah hal yang sebaliknya. Kami berdua yang diganggu oleh anak buah kalian dan perahu kami yang dipukul hancur oleh anak buah kalian."
Mendengar jawaban ini, duabelas orang itu meniadi marah.
Tanpa banyak cakap mereka bergerak dan menyerang kepada kakek dan pemuda yang kelihatan tenang saja itu.
Lam ong dan Lam-thian Seng-jin hanya memandang saja ketika anak buah mereka menubruk dua orang yang berada di tengah-tengah, dalam keadaan terkurung itu.
Akan tetapi mereka terbelalak kaget ketika melihat betaapa duabelas orang itu tiba-tiba terlempar kembali ke belakang seperti daun-daun kering tertiup angin keras.
Duabelas orang itu makin marah karena tiba-tiba mereka terdorong ke belakang begitu pemuda itu menggerakkan kedua lengannya, dan mereka sudah mencabut senjata masing-masing, siap untuk mengeroyok.
"Tahan! Mundur kalian semua"
Tiba-tiba terdengar seruan suara yang tinggi nyaring dan mendengar ini, duabelas orang itu cepat mundur, agaknya jerih bukan main mendengar perintah ini.
Kiranya yang berteriak itu adalah Lam-thian Seng-jin, wakil atau pembantu utama dari Lam-ong yang masih kelihatan tenang-tenang saja itu, Lam-thian Seng-jin megenal pukulan sakti yang hawanya saja sudah nembuat duabelas orang itu terpental, maka hatinya mulai tertarik dan penasaran.
Dia tadi tidak melihat siapa yang melakukan dorongan dengan hawa pukulan dahsyat itu, akan tetapi mengira bahwa tentu kakek tua renta itulah yang melakukannya.
Dua orang itu tadi dikurung rapat maka dia tidak dapat melihat mereka.
Akan tetapi, melihat dahsyatnya hawa pukulan, tidak salah lagi tentu kakek itulah yang melakukannya dan dia mengira bahwa tentu kakek itu seorang pandai yang menyembunyikan diri maka sama sekali tidak pernah dikenalnya.
Betapapun juga kalau dia mendengar nama kakek sederhana itu mungkin dia akan mengenalnya.
Lam-thian Seng-jin sudah mendapat isyarat dari Lam-ong dan dia sudah turun dari atas kursinya, melangkah dengan sikap tenang dan dengan gerakan kaki tegap seperti langkah harimau, menghampiri guru dan murid itu.
Adapun Lam-ong sendiri masih duduk dan mengisap huncwenya dengan mata meram melek dan sikap acuh tak acuh, namun sesungguhnya pandang matanya tak pernah melepaskan kakek dan pemuda itu.
Kini Lam-thian Seng-jin telah berhadapan dengan Sian Lun dan Siangkoan Lojin.
Sian Lun bersikap tenang, berdiri tegak sedangkan Siangkoan Lojin sambil tersenyum lalu duduk di atas batu di tepi telaga itu, mengambil sikap sebagai penonton karena memang dia ingin sekali melihat sikap dan sepak terjang muridnya menghadapi lawan yang dia tahu amat tangguh ini.
Inilah merupakan ujian yang amat baik bagi muridnya, pikir kakek ini dengan hati gembira.
Lam-thian Seng-jin adalah seorang tokoh besar di dunia persilatan wilayah selatan menjadi orang nomor dua sesudah Lam-ong, maka tentu saja dia menyesuaikan sikapnya dengan kedudukannya yang tinggi, tidak seperti para anak buah yang tadi bertindak sembrono dan sama sekali tidak mempunyai wibawa.
Dia kini menghampiri Siangkoan Lojin dan mengangguk sebagai tanda hormat atau salam, lalu terdengar dia berkata, suaranya lantang namun halus, sikapnya angkuh.
"Sobat, agaknya engkau belum pernah mendengar nama Lam-ong dan aku Lam-thian Seng-jin adalah wakil dan pembantu beliau. Akan tetapi kami juga belum pernah bertemu denganmu, oleh karena itu, sukalah kiranya engkau memperkenalkan diri dan apa sebabnya engkau mengganggu pekerjaan anak buah kami."
Siangkoan Lojin tersenyum lebar dan sepasang matanya memandang dengan jenaka. Sikapnya tak acuh dan dia mengangkat alisnya ketika menjawab.
"Engkau tanya kepadaku, sobat? Namaku Siangkoan, tukang cari ikan. Kalau kau mau tahu tentang urusan dengan anak buahmu, tanya saja kepadanya."
Dia menuding kepada Sian Lun.
"Benar, akulah yang bertanggung jawab atas semua kejadian tadi!"
Sian Lun berkata karena dia maklum bahwa gurunya paling tidak mau urusan.
Kini Lam-thian Seng-jin memutar tubuh menghadapinya, alisnya berkerut.
Jadi pemuda inikah yang memiliki hawa pukulan dahsyat tadi?
Dan siapakah kakek bernama Siangkoan itu?
Memang ada beberapa orang tokoh kang-ouw yang memiliki she (nama keturunan) Siangkoan, akan tetapi mereka semua itu dikenalnya dan kakek ini bukan seorang di antara mereka.
Benar-benar dia belum pernah mendengar nama kakek ini sebagai tokoh kang-ouw.
Barangkali pemuda itu pernah didengar namanya.
(Lanjut ke
Jilid 26) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 26
"Hemm, begitukah?"
Dia berkata sambil menatap wajah pemuda itu dengan tajam.
"Dan siapakah engkau, orang muda?"
"Nama saya Tan Sian Lun, locianpwe,"
Jawab Sian Lun dengan sikap hormat dan sikap serta jawaban ini membuat Lam-thian Seng-jin menjadi hati-hati karena dari sikap dan jawaban itu dia dapat menduga bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan, melainkan seorang pemuda yang tahu akan sopan santu dan seperti orang terpelajar, keadaan seorang pemuda seperti itu jauh lebih berbahaya dari pada seorang pemuda yang kasar dan sombong mengandalkan kepandaiannya.
"Hemm, Tan-sicu, engkau yang masih amat muda ini telah berani mengacau di selatan. Ceritakan apa sebabnya engkau bentrok dengan anak buah kami."
"Bukan kami sengaja hendak bermusuhan, locianpwe. Saya dan suhu sedang memancing ikan, tahu-tahu kami diserang oleh mereka yang berperahu besar."
Dia menoleh ke arah tujuh orang yang semalam atau menjelang pagi tadi menghancurkan perahu kecilnya.
Sementara itu, kembali Lam-thian Seng-jin terkejut dan mengerling ke arah Siangkoan Lojin ketika mendengar pemuda itu menyebut suhu kepada kakek itu.
"Mereka menghancurkan perahu kecil kami yang kami sewa dari paman nelayan di sana itu."
Dia menuding ke arah kakek nelayan yang jongkok tidak jauh dari tempat itu dengan muka ketakutan. Lam-thian Seng-jin mengangguk-angguk.
"Lalu, bagaimana?"
"Saya hanya minta agar mereka mengganti perahu yang mereka hancurkan, akan tetapi mereka menyerang kami sehingga terpaksa saya melawan. Mereka jatuh ke telaga dan saya lalu mendayung perahu ke tepi sini. Harap locianpwe pertimbangkan. Apakah kesalahan saya dan suhu yang hanya memancing beberapa ekor ikan untuk sarapan pagi? Sama sekali kami tidak berniat mencari musuh, apalagi menentang Lam-ong atau locianpwe."
Biarpun kata-kata itu merendah, namun sikap pemuda itu sama sekali tidak menunjukkan rasa jerih, maka diam-diam Lam-thian Seng-jin merasa tidak puas sekali.
Kalau pemuda itu kelihatan jerih atau minta maaf, tentu diapun tidak akan menarik panjang peristiwa itu, menunjukkan "kebesaran hati"
Seperti layaknya sikap seorang cabang atas!
Akan tetapi pemuda itu bersikap tenang saja, sama sekali tidak memandang tinggi kepadanya atau kepada Lam-ong, maka hatinya menjadi penasaran.
Apa lagi guru pemuda itu, kakek tak terkenal she Siangkoan itu, hanya duduk sambil tersenyum-senyum saja seperti orang yang sedang nonton wayang.
Akan tetapi dia adalah seorang yang berkedudukan tinggi dan hal ini harus diperlihatkannya terlebih dahulu kepada guru dan murid yang agaknya datang dari jauh dan belum mengenalnya itu.
Maka dia lalu memberi isyarat memanggil tujuh orang anak buah itu.
Mereka datang dengan sikap takut-takut "Hayo kalian cepat minta maaf kepada Tan-sicu dan cepat ganti kerugian kepada nelayan itu."
Tujuh orang itu cepat menjura kepada Sian Lun yang tentu saja merasa sungkan dan cepat membalas penghormatan mereka, kemudian mereka bertujuh lalu menghampiri nelayan yang berjongkok dengan muka pucat, menanyakan harga perahu kecil dan langsung menggantinya secara royal.
Nelayan itu merasa girang sekali, menghaturkan terima kasih dan cepat pergi dari situ membawa uang penggantian perahunya.
Tadinya dia sudah ketakutan setengah mati ketika mendengar bahwa Lam-ong bersama anak buahnya berada di situ, maka dia merasa beruntung sekali bahwa dia memperoleh ganti rugi atas kehilangan perahunya.
Kalau tadinya ada perasaan tidak senang di dalam hati Sian Lun terhadap Lam-ong, Lam-thian Seng-jin bersama anak buah mereka, kini dia merasa lega dan juga tidak enak.
Ternyata kakek itu bersikap baik dan pantas sekali, maka dia cepat-cepat menjura kepada Lam-thian Seng-jin sambil berkata.
"Sungguh baik sekali penyelesaian locianpwe yang budiman."
Lam-thian Seng-jin tersenyum angkuh.
"Engkau merasa puas, sicu?"
"Tentu saja, dan saya berterima kasih sekali, juga mohon maaf atas kelancangan saya terhadap anak buah locianpwe pagi tadi."
"Hemm, di dalam dunia kang-ouw, apakah yang tak dapat diselesaikan? Segala peristiwa harus diselesaikan dengan wajar dan adil, itulah sikap para orang gagah! Budi dan dendam harus dibalas! Fihak kami telah membayar kerugian sicu, maka sekarang kami menuntut agar sicu juga membayar kerugian kami."
Sian Lun memandang tajam.
"Maksud locianpwe?"
Lam thian Seng jin tersenyum mengejek.
"Sicu memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali hingga tidak memandang sebelah mata kepada para anak buah Lam ong, telah merobohkan mereka, bukan hanya di perahu, bahkan tadi di depan mata kami sendiri. Kerugian batin ini harus sicu bayar."
"Caranya?"
"Dengan menandingi kami, dan aku mempersilakan sicu melayaniku barang beberapa jurus agar kita saling mengenal tingkat kepandaian dan lain kali tidak lagi berani bertindak lancang tanpa memandang mata."
"Locianpwe menantang?"
"Aku hanya menagih hutang, menebus kekalahan, tapi kalau sicu menganggapnya menantang, terserah."
Sikap Lam-thian Seng-jin masih halus dan berwibawa, sikap seorang datuk tingkat tinggi! "Kalau saya menolak?"
Sian Lun bertanya penasaran.
"Sicu harus berlutut tiga kali minta ampun kepada Lam-ong, selanjutnya tidak boleh lagi menginjak wilayah selatan."
Sian Lun merasa hatinya panas dan dia teringat akan nasihat suhunya, maka otomatis menoleh kepada suhunya.
Akan tetapi kakek itu masih tersenyum-senyum saja, seperti tidak mengacuhkan urusan itu, dan maklumlah pemuda itu bahwa gurunya menyerahkan segala keputusan kepadanya.
Diapun ingin sekali mencoba kepandaian kakek yang kelihatan lemah lembut namun yang sesungguhnya berhati keras ini, kelihatan rendah hati namun sesungguhnya angkuh.
Atau lebih tepat lagi, dia ingin menguji kepandaiannya sendiri karena semenjak dia belajar ilmu kepada Siaugkoan Lojin, belum pernah dia bertanding melawan seorang yang memiliki kesaktian seperti kakek di depannya ini.
"Biarlah saya melayani tantangan locianpwe."
"Bagus! Kau mulailah!"
Kakek itu menantang dan kedua kakinya sudah terpentang lebar, sikapnya gagah dan mukanya menjadi makin pucat, tanda bahwa dia sedang mengerahkan tenaga sinkangnya.
"Locianpwe yang menantang, sepatutnya locianpwe yang maju lebih dulu dan""."
"Sambut serangan!"
Belum habis Sian Lun bicara, kakek itu sudah menyerangnya dengan kecepatan luar biasa.
Kiranya, di dalam sikapnya yang lemah lembut dan menjaga gengsi itu tersembunyi kecurangan yang cerdik dan hebat karena kakek itu mempergunakan kesempatan selagi lawannya bicara, hal yang tidak menguntungkan bagi orang yang membutuhkan pengerahan sinkang untuk menjaga dirinya, cepat melakukan serangan yang dahsyat.
Akan tetapi Sian Lun adalah murid tersayang dari Siangkoan Lojin, dan selama sepuluh tahun ini telah menerima gemblengan secara hebat, telah mewarisi ilmu-ilmu simpanan dari kakek sakti itu, maka biarpun dia diserang secara tiba tiba, dia tidak kehilangan ketenangan dan kesigapannya.
Bagi seorang yang sudah matang ilmu silatnya, semua urat syarafnya selalu berada dalam keadaan siap siaga, apa lagi di waktu jaga, bahkan dalam tidur sekalipun, dia telah memiliki kesigapan yang setiap saat dapat dipergunakan apabila diancam bahaya.
Gerak refleksnya amat tajam dan peka sehingga semua panca inderanya amat peka dan tahu akan datangnya setiap serangan yang mengancam dirinya.
Oleh karena itu, biarpun dia masih belum selesai bicara dan diserang secara tiba-tiba dan dengan kecepatan yang amat luar biasa itu, Sian Lun masih sempat untuk menggerakkan tangannya menangkis.
"Dukk!"
Karena tangkisan itu tiba-tiba dan tidak mengandung tenaga sinkang sepenuhnya, sebaliknya serangan lawan amat kuatnya, dengan tenaga sinkang penuh, maka begitu kedua lengannya bertemu, tubuh Sian Lun terjengkang dan terhuyung ke belakang.
Hal ini dianggap oleh Lam-thian Seng-jin sebagai tanda bahwa pemuda itu biarpun cukup kuat namun tidak dapat menandingi tenaga saktinya, maka sambil tersenyum dia meloncat ke depan dan menghujankan serangan dengan jari-jari tangannya.
Ternyata kakek ini adalah seorang ahli ilmu tiam-hiat-hoat (menotok jalan darah) dan sekali bergerak, dia telah melancarkan totokan totokan ke arah tujuh jalan darah maut secara bertubi-tubi.
Sian Lun maklum akan bahaya besar yang terkandung dalam serangan lawan itu, maka diapun cepat menggerakkan tubuhnya mengelak dengan kecepatan luar biasa dan setelah dia berhasil melewatkan totokan ke tujuh, dia membalas dengan tamparan dengan pinggir tangannya yang terbuka.
"Wuuuttt"".. dukkk!"
Keduanya terdorong ke belakang oleh benturan dua lengan yang bertemu ketika Lam-thian Seng-jin menangkis tamparan itu. Sian Lun menyusul dengan tamparan ke dua.
"Wuuuttt"".. plakk!"
Kembali keduanya terjengkang.
Kini dengan hati terkejut dan heran Lam-thian Seng-jin mendapatkan kenyataan bahwa lawannya yang masih muda ini benar benar memiliki sinkang yang amat kuat, tidak kalah olehnya karena dalam benturan tenaga kedua kalinya itu, dia telah mengerahkan seluruh kekuatan sinkangnya dan ternyata pemuda itu dapat mengimbangi tenaganya.
Juga di lain fihak, Sian Lun mengerti bahwa kakek ini benar-benar tangguh sekali.
"Jagalah, locianpwe!"
Bentaknya dan kini pemuda itu menerjang dengan pukulan pukulan aneh yang amat dahsyat Kedua lengan dan jari-jari tangannya membentuk gerakan cakar naga, gerakannya cepat bukan main, tubuhnya berkelebat seperti tubuh seekor naga bermain-main di angkasa.
Sian Lun telah mainkan Ilmu Pukulan Sin-liong-jiauw kang (Ilmu Silat Cakar Naga Sakti) Ilmu silat ini adalah ciptaan Siangkoan Lojin sendiri, berdasarkan dari Ilmu Silat Coa-kun (Ilmu Silat Ular) namun telah dicampur dan diolahnya kembali dengan bermacam ilmu silat yang telah dipelajarinya selama puluhan tahun merantau ke seluruh bagian dunia.
Menghadapi Ilmu Silat Sin-liong jiauw-kang ini, Lam-thian Seng-jin terkejut.
Bahkan hanya gerakan pemuda itu cepat sekali sehingga sukar baginya untuk mengikutinya dengan pandang mata, juga dari pukulan-pukulan itu meluncur hawa panas yang menandakan bahwa pemuda itu telah matang dalam permainannya, dapat mengisi pukulan dengan sinkang yang kuat sekali.
Di samping itu, biarpun dia telah memperhatikan dengan seksama dan tahu bahwa ilmu silat ini berdasarkan Coa-kun, namun dia tidak mengenalnya, belum pernah dia menghadapi ilmu silat seperti ini sehingga dia tidak dapat menduga perkembangannya dan harus mengandalkan pertahanannya sendiri yang diperkuat.
Oleh karena ini, dia tidak lagi sempat untuk balas menyerang karena pemuda itu telah mendesaknya dengan serangan serangan berantai yang agaknya tak kunjung putus, begitu dapat ditangkis atau dielakkan, serangan itu telah bersambung pula dengan serangan berikutnya yang lebih dahsyat.
Dalam keadaan terdesak itu, Lam-thian Seng-jin masih mampu mempertahankan dirinya dengan gerakan kedua tangannya yang menangkis sambil mengelak dan main mundur, akan tetapi diam-diam dia mencari kesempatan baik.
Ketika kesempatan itu terbuka, dia mengeluarkan suara melengking nyaring yang menggetarkan jantung, dan tiba-tiba kedua tangannya yang terbuka itu saling bertemu seperti orang bertepuk, akan tetapi tepukan itu mengeluarkan suara ledakan dan dari kedua telapak tangannya keluar uap tebal, kemudian secepat kilat kedua tangannya mendorong kedepan.
Itulah pukulan Lui-kongciang (Tangan geledek) yang amat lihai dan kalau mengenai tubuh lawan dapat membuat kulit tubuh terbakar dan terkupas!
"Haaiiiitt!"
Sian Lun membentak dan diapun mendorongkan kedua tangannya ke depan dengan gerakan Ilmu Leng-in ciang (Tangan Awan Dingin), semacam ilmu pukulan sakti yang mengandung Im-kang ciptaan Siangkoan-Lojin.
"Ceesssss"".!"
Nampak asap mengepul tebal ketika dua telapak tangan bertemu dan tubuh Lam-thian Seng-jin bergoyang-goyang, mukanya yang tadinya pucat sekali itu berubah kemerahan dan sepasang matanya memperlihatkan kegelisahan.
Kiranya Lui kong ciang itu bertemu dengan lawannya yang ampuh, yaitu Leng-in ciang dan seperti halnya api yang takut bertemu air dingin, tenaga Lui-kong ciang dari kakek itu seperti kena dihisap oleh tenaga yang keluar dari kedua telapak tangan Sian Lun.
Kakek itu terkejut dan khawatir sekali karena dua pasang tangan itu telah melekat dan kalau dilanjutkan, dia dapat celaka dan mengalami luka dalam yang hebat.
Untuk menarik kembali kedua tangannya sudah tidak sempat lagi.
Sebetulnya, adu tenaga sakti itu bukan ditentukan oleh sifat dari ilmunya, melainkan ditentukan oleh kekuatan dasar dari keduanya!
Dalam hal ini, Sian Lun masih menang kuat apalagi karena memang dasar dari ilmunya itu lebih bersih.
Akan tetapi Sian Lun memang tidak bermaksud sama sekali untuk mencelakai lawan, apa lagi membunuhnya, maka melihat keadaan kakek itu, dia telah merasa puas karena tahu bahwa dalam pertandingan itu dialah yang lebih unggul.
Dengan cepat dia lalu berseru keras, mendorong lawan dan meloncat ke belakang sambil menarik kembali kedua tangannya.Lam Thian Seng-jin terhuyung dan tentu ia terbanting roboh kalau saja Lam-ong tidak cepat menahan punggungnya dengan ujung huncwe-nya.
Merasa ada hawa panas dari ujung huncwe telah memasuki punggungnya, pulih kembali tenaga Lam-thian Seng-jin dan dia mampu melompat ke samping dan berdiri tegak dengan muka kemerahan.
Dia berdiri dan memandang bingung, tidak tahu harus berbuat dan berkata apa.
Untuk melawan lagi, dia maklum bahwa dia telah kalah dan kalau tadi lawan yang muda itu menghendaki, tentu dia sudah roboh tewas.
Akan tetapi untuk mengaku kalahpun dia malu karena sebagai orang kedua di selatan, mana mungkin dia mengaku kalah terhadap seorang pemuda yang usianya baru duapuluhan tahun.
Sementara itu, setelah menolong pembantunya, Lam-ong Oh Ging Siu, Si Raja Selatan itu kini berdiri dengan kedua kaki terpentang dan dia memandang Sian Lun sambil menghisap huncwenya dengan sedotan keras berkali-kali dan kemudian dia mencabut huncwe dari mulutnya, lalu meniupkan asap dari mulutnya ke arah Sian Lun.
Kelihatannya kakek itu hanya main-main saja meniupkan asap huncwenya, Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget hati Sian Lun ketika dia melihat bahwa asap itu menjadi segumpal asap panjang kecil yang meluncur seperti anak panah menuju ke arah mukanya dan mengeluarkan suara bercuitan!
Cepat Sian Lun meloncat ke samping kiri untuk menghindar, akan tetapi""
Dengan cepat pula asap yang berbentuk anak panah itu meliuk ke kiri dan mengejarnya! "Ahh"".!"
Sian Lun terpaksa melempar diri ke belakang dan ketika dalam keadaan setengah rebah dia melihat asap itu terus mengejarnya, dia cepat menghantamkan tangan kanannya ke arah asap itu dengan tenaga sinkangnya.
Untung baginya bahwa asap itu setelah meliuk dua kali, berkurang tenaganya dan.
terkena hawa pukulan tangannya membuyar dan tercium bau yang menyesakkan napas, bau tembakan yang aneh.
"Hemm, bagus, kau boleh juga, orang muda!"
Terdengar Lam-ong berkata dan orang yang baru mendengar suara ini tentu terkejut sekali.
Lam-ong Oh Ging Siu adalah seorang kakek yang usianya sudah tujuhpuluh tahun, tubuhnya tinggi sekali, satu kepala lebih tinggi dari orang biasa, dan amat kurus seperti biasa orang yang kecanduan madat atau rokok berat.
Matanya sipit dengan alis tebal, jenggotnya panjang, pendeknya dia adalah seorang kakek yang gagah.
Akan tetapi suaranya sepeni suara seorang wanita!
Kalau tidak melihat kakek ini bicara, hanya mendengar suaranya saja, orang tentu akan yakin bahwa itu adalah suara seorang wanita muda yang merdu dan nyaring!
Sian Lun meloncat bangun dan jantungnya berdebar tegang.
Dia maklum bahwa kakek ini benar-benar lihai bukan main.
Seorang yang telah dapat menguasai khikang seperti itu sehingga dapat mengendalikan asap untuk menyerang lawan secara demikian ganas, benar-benar membuktikan bahwa dia telah mencapai tingkat yang tinggi sekali dalam ilmu silat!
Akan tetapi tentu saja dia tidak takut dan dia sudah siap sedia menandingi Si Raja Selatan ini.
"Ha-ha-ha, kiranya hari ini aku masih dapat bertemu dengan Si Huncwe Maut, bajak laut tunggal yang pernah menghantui seluruh kepulauan selatan. Kabarnya sudah meninggal, tahu-tahu muncul sebagai Lam-ong!"
Sian Lun cepat melangkah mundur ketika dia mendengar suara gurunya ini dan Lam-ong sendiri kini memutar leher menoleh kepada Siangkoan Lojin, memandang dengan mata yang sipit itu menjadi makin sipit seperti terpejam, akan tetapi dari garis tipis itu menyambar sinar yang menyeramkan.
Perlahan-lahan dia memutar tubuhnya menghadapi Siangkoan Lojin dan sejenak memandang penuh penyelidikan untuk mengenal orang itu.
Akan tetapi dia tidak mengenalnya dan Lam-ong mengeluarkan suara mendengus.
Kiranya, ketika dia masih muda, kurang lebih empat limapuluh tahun yang lalu, pernah Siangkoan Lee mendengar tentang adanya seorang bajak laut tunggal yang terkenal sekali dan terutama sekali terkenal karena kejamnya, lihainya dan huncwe mautnya.
Bajak laut itu dikenal dengan julukan Si Huncwe Maut dan kabarnya dia adalah seorang laki-laki yang gagah akan tetapi yang tidak pantang melakukan segala macam kejahatan, membajak, merampok, memperkosa wanita, membunuh.
Sebetulnya, dia sendiri belum pernah jumpa dengan Si Huncwe Maut dan kalau dia mengeluarkan ucapan demikian adalah karena dia tadi melihat betapa hebatnya kepandaian Lam-ong mempergunakan huncwenya maka dia menyamakan Lam-ong dengan Si Huncwe Maut Siangkoan Lojin hanya ngawur saja, akan tetapi sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa kata-katanya yang ngawur itu justeru mengandung kenyataan!
Memang Lam-ong ini bukan lain adalah Si Huncwe Maut!
Akan tetapi mengapa matanya menjadi sipit sekali dani suaranya berobah seperti suara wanita?
Inilah keistimewaan dan kecerdikan orang ini.
Namanya sebagai Huncwe Maut amat dikenal dan karena satu di antara kejahatannya adalah sebagai jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga atau pemerkosa wanita) dan pada suatu malam dia berhasil memperkosa isteri seorang pendekar, maka dia dimusuhi oleh semua pendekar dan menjadi buronan.
Beberapa kali dia hampir tewas di tangan para pendekar yang mengejar-ngejarnya, maka akhirnya dia lalu bersembunyi di dalam sebuah pulau kecil kosong di selatan.
Di tempat ini dia bertapa selama belasan tahun, dan sambil memperdalam ilmunya, dia lalu merobah mukanya, dibantu oleh seorang ahli sehingga dia menjelma menjadi seorang manusia lain.
Tabib pandai yang merobah mukanya itu lalu dibunuhnya.
Demikianlah, Si Huncwe Maut muncul lagi di dunia kang-ouw sebagai seorang berusia lima puluh tahun yang amat lihai.
Ditaklukkannya semua jagoan sehingga akhirnya dia diangkat menjadi datuk nomor satu dan dia berjuluk Lam-ong, menjadi datuk dari semua bajak dan hidup sebagai raja sampai sekarang.
Kini usianya sudah tujuhpuluh tahun dan kepandaiannya meningkat makin tinggi dan baru beberapa tahun saja dia berani lagi terang-terangan menggunakan huncwe itu sebagai alat merokok dan juga sebagai senjata.
Tidak ada seorangpun di antara para pendekar yang dulu mengejar-neejarnya dan yang sekarang banyak yang sudah mati, atau kalau masih adapun sudah amat tua, yang mengira bahwa Lam-ong yang terkenal dan berpengaruh sekali itu adalah Si Huncwe Maut.
Oleh karena itu, dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Lam-ong ketika mendengar kata kata Siangkoan Lojin yang sebenarnya hanya ngawur saja itu.
Dia mengira bahwa Siangkoan Lojin tentu seorang di antara para pendekar yang di waktu mudanya dulu pernah beramai ramai mengeroyok dan mengejarnya.
Maki timbullah rasa dendamnya dan karena kini Siangkoan Lojin hanya sendirian saja, maka dia tidak merasa jerih lagi.
Apa lagi baru seorang diri, biarpun andaikata semua musuh-musuhnya dahulu kini datang lagi mengeroyoknya, dia tidak akan gentar!
"Sobat, siapakah engkau dan apakah engkau hendak mewakili muridmu untuk menguji ke pandaian dengan aku?"
Suaranya yang tinggi nyaring seperti suara wanita itu melengking dan mengandung getaran kuat.
Selain dapat merobah wajahnya, juga Si Huncwe Maut itu telah dapat merobah suaranya dengan latihan khikang yang amat kuat.
Siangkoan Lojin tersenyum dan matanya berkedip-kedip seperti mengajak bergurau "Lam-ong, tadi muridku telah melayani tantangan Lam thian Seng jin yang sombong dan berakhir dengan kemenangan muridku.
Mengapa engkau masih merasa penasaran dan hendak turun tangan sendiri?
Kalau hanya maaf yang kaubutuhkan, biarlah aku minta maaf kepadamu...".."
Siangkoan Lojin membuat gerakan hendak berlutut.
"Suhu..."!!"
Bentakan dari Sian Lun ini terdengar menggeledek karena murid ini benar-benar merasa penasaran kalau sampai suhunya yang dijunjung tinggi itu berlutut minta ampun.
Siangkoan Lojin terkejut dan menoleh, melihat wajah muridnya merah sekali dia menjadi tidak tega dan tidak jadi berlutut.
Sementara itu, Lam ong tertawa lirih.
"Ha-ha, sobat, semangatmu kalah besar dengan muridmu. Kau minggirlah saja kalau gentar, agaknya muridmu memiliki nyali yang lebih besar dan mungkin kepandaiannya juga sudah melampaui tingkatmu."
"Ah, mana bisa! Muridku sudah menang dan terus terang saja, dibandingkan dengan engkau orang tua yang lihai, muridku tentu kalah. Maka biarlah aku mewakilinya mengaku kalah kepadamu, dan biarlah kami pergi saja dan selanjutnya di antara kita tidak ada apa-apa lagi. Bagaimana?"
Siangkoan Lojin benar-benar bicara dengan sewajarnya dan dengan halus, sepenuhnya mengalah sehingga Sian Lun yang mendengarkan dan melihat hal ini mengerutkan alisnya karena merasa tidak puas.
Lam-ong adalah seorang kakek tua renta yang pada tahun tahun terakhir ini terlalu tinggi disanjung orang sehingga dia menjadi lengah dan tidak tahu betapa sikap Siangkoan Lojin yang sederhana dan mengalah itu sudah membayangkan watak seorang yang luar biasa sekali.
Kalau dia waspada, dia tentu akan mundur, karena sikap mengalah dari lawan itu saja sudah mengangkat derajatnya.
Akan tetapi dia masih belum puas dan menganggap bahwa sikap kakek sederhana di depannya itu sebagai sikap orang yang jerih setelah menyaksikan demonstrasi penggunaan asap untuk menyerang pemuda tadi.
Maka dia tersenyum dan menggerak-gerakkan huncwe di tangannya.
"Heh, mana mungkin mengaku kalah sebelum bertanding? Aku hanya akan menghabiskan urusan ini kalau muridmu atau engkau melayani aku sampai sepuluh jurus."
Benar-benar Lam-ong amat sombong dan terlalu memandang rendah orang lain.
Dia sudah melihat sendiri betapa pembantu utamanya kalah oleh Sian Lun namun, dengan mengandalkan kelihaian huncwe mautnya, dia menantang agar pemuda itu atau gurunya mau melayaninya sampai sepuluh jurus saja, berarti dia menilai guru dan murid itu hanya kuat paling lama sepuluh jurus kalau melawannya.
Dan dia yang sudah berani memberi waktu hanya sepuluh jurus itu tentu saja akan menggunakan sepuluh jurus terampuh yang mendatangkan maut kepada lawannya!
Siangkoan Lojin menarik napas panjang.
"Kalau engkau memang mempunyai kegemaran menggebuk orang, biarlah aku yang tua ini kauhajar,"
Katanya.
"Bagus! Sekarang perkenalkan namamu sebelum aku merobohkanmu kurang dari sepuluh jurus!"
Teriak Lam-ong sambil mengisap huncwenya.
"Namaku tidak ada artinya sama sekali. Aku keturunan orang she Siangkoan"""
Tiba-tiba Lam-ong sudah menyemburkan asap dari mulutnya.
Seperti ketika dia menyerang Sian Lun tadi, dari mulutnya meluncur asap memanjang yang mengeluarkan suara bercuitan, kini bahkan lebih dahsyat dari pada yang tadi menyerang Sian Lun karena kakek itu sudah mengerahkan seluruh tenaganya untuk meniup asap yang keluar dari dalam paru-parunya itu.
Biarpun Siangkoan Lojin belum selesai bicara dan tiba-tiba diserang secara hebat oleh senjata luar biasa berupa asap dari huncwe itu, namun kakek ini tidak menjadi gentar dan dia juga meniup dengan mulutnya ke arah asap yang bercuitan menyambar ke arahnya iu.
Tentu saja Siangkoan Lojin meniup sambil mengerahkan khikang dari paru-parunya yang didorong oleh tenaga tian-tan dari pusar karena dia maklum akan kekuatan lawan yang tak boleh dipandang ringan itu.
Asap yang panjang kecil seperti anak panah itu membuyar, namun masih berusaha mendesak.
Akan tetapi, kembali Siangkoan Lojin meniup dan akhirnya asap itu membuyar dan cerai-berai, kehilangan kekuatannya.
Melihat kenyataan ini, Lam-ong agak terkejut juga.
Dia memang sudah dapat menduga bahwa kakek sederhana ini tentu "berisi", akan tetapi tak pernah disangkanya kakek itu akan menguasai khikang sekuat itu pula.
Maka dia lalu berteriak nyaring sambil menyerang dengan dahsyatnya.
Sekali menyerang, dia telah mengeluarkan jurus maut yang dia namakan Mengambil Mustika Dari Kepala Naga.
Dengan huncwe di tangan kanan dia menyodok ke arah pusar lawan dan ketika lawan mengikuti gerakan serangan berbahaya ini, tangan kirinyi menyambar ke arah ubun-ubun kepala lawan dengan cengkeraman maut yang amat dahsyat!
Serangan tangan kiri inilah yang menjadi inti jurus itu, dan serangan tangan kanan yang memegang huncwe hanya merupakan pancingan belaka untuk menarik perhatian mata lawan ke bawah.
Akan tetapi tiba-tiba dia melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu lawannya itu sudah menyelinap di antara dua serangan itu dan sudah berhasil mengelak dengan kecepatan yang sungguh membuatnya terkejut bukan main.
Tentu saja Lam-ong tidak tahu bahwa Siangkoan Lojin adalah seorang sakti yang telah mencapai tingkat sempurna dalam ilmu gin-kang (meringankan tubuh) sehingga gerakannya luar biasa cepatnya seolah-olah dia pandai terbang saja.
Lam-ong merasa penasaran melihat serangan mautnya dihindarkan sedemikian mudahnya oleh lawan, akan tetapi dasar dia sangat sombong, maka pengelakan lawannya itu dianggapnya sebagai perasaan takut dari lawan menghadapi serangannya tadi.
Maka diapun mengeluarkan teriakan keras dan menyerang lagi dengan cara yang lebih dahsyat lagi.
Kini huncwenya yang merupakan senjata inti serangar Huncwe itu berubah menjadi sinar yang mengeluarkan suara berdesing menyambar ke arah kepala Siangkoan Lojin.
Ketika kakek ini miringkan tubuh mengelak, huncwe itu dibalik dan ujungnya yang meruncing menotok ke arah leher, kemudian dibalik pula dan kepala huncwe menotok ke ulu hati.
Serangan ini bertubi-tubi dan merupakan jurus yang amat banyak perkembangannya.
Namun kembali Siangkoan Lojin mengeluarkan kepandaian gin-kangnya sehingga dia dapat lolos dari jurus ini dengan mengelak ke sana ke mari lalu setelah terbuka kesempatan dia berkelebat mundur menjauhi.
"Lawanlah, jangan lari seperti pengecut!"
Lam ong berteriak dan menubruk lagi.
"Sudah tiga jurus, Lam-ong!"
Kata Siangkoan Lojin sambil cepat menghindarkanserangan itu dengan melesat ke kiri, Siangkoan Lojin menghitung serangan dengan asap tadi sebagai jurus pertama.
Akan tetapi Lam-ong agaknya sudah tidak sudi memperhatikan berapa banyaknya jurus yang dipergunakannya karena dia sudah menjadi marah dan penasaran sekali.
Jurus demi jurus dikeluarkannya.
Bukan hanya huncwe maut itu yang menyerang lawan, akan tetapi juga pukulan-pukulan maut tangan kirinya yang dilakukan dengan pengerahan sinkang yang amat kuat, dibantu pula oleh kedua kakinya yang melakukan tendangan-tendangan kilat.
Namun, sampai sepuluh jurus banyaknya, Siangkoan Lojin dapat menghindarkan dirinya dengan mengelak ke sana-sini.
Jurus terakhir itu dilakukan dengan totokan pula, totokan dengan huncwe maut itu yang dibalik.
Ujung yang biasa dimasukkan mulut itulah yang dipakai menotok dan sekali bergerak, ujung huncwe telah menotok ke arah tigabelas jalan darah yang berbahaya secara bertubi-tubi dan berantai!
Agak repot jugalah Siangkoan Lojin mengelak, akan tetapi mengandalkan ginkangnya yang hebat, akhirnya kakek ini berhasil menghindarkan diri lalu meloncat ke belakang, sampai empat meter jauhnya dan tiba-tiba dia menjatuhkan diri berlutut menghadap Lam-ong Oh Ging Siu!
"Lam-ong telah memberi petunjuk selama sepuluh jurus, aku tua bangka she Siangkoan merasa kagum dan berterima kasih.
Sekarang maafkan kami berdua dan biarkan kami berdua pergi"".."
"Suhu, awas""..! I"
Tiba-tiba Sian Lu berseru nyaring.
Namun terlambat sudah.
Serangan yang dilakukan oleh Lam-ong bukan main dahsyatnya, seperti kilat menyambar dia sudah menerjang dengan didahului oleh sinar huncwenya ke arah kepala Siangkoan Lojin yang sedang berlutut.
Dan di dalam keadaan berlutut itu tentu saja kedudukan Siangkoan Lojin amat lemah dan memang sesungguhnya kakek sakti ini sama sekali tidak pernah menyangka bahwa lawan akan securang itu.
"Singgg"".."
Sinar kilat dari huncwe itu menyambar, mengarah ubun-ubun kepala Siangkoan Lojin.
"Syuuuttt"".. prakkkk! Dukkkk!"
Huncwe itu pecah berantakan dan tubuh Lam ong terlempar ke belakang, lalu terbanting sampai bergulingan.
Dia dapat cepat meloncat berdiri, matanya terbelalak memandang tangan kanannya yang berdarah karena telapak tangan yang memegang huncwe itu robek ketika huncwenya bertemu dengan tangan lawan dan pecah berantakan.
Siangkoan Lojin masih berlutut dan hal itulah yang membuat Lam-ong terkejut setengah mati karena dia tadi berhasil menghantam punggung lawan pada saat huncwenya ditangkis.
Hantaman tangan kirinya itu hebat sekali, dilakukan dengan pengerahan sinkangnya, akan tetapi mengapa kakek sederhana yang dihantamnya itu seakan-akan tidak merasakan apa-apa?
Demikian saktikah lawannya itu?
Keringat dingin keluar dari leher dan muka Lam-ong ketika dia melihat kakek yang menjadi lawannya itu bangkit berdiri dengan amat gagahnya, mengepal kedua tinju dan memandang kepadanya dengan sepasang mata yang lembut dan senyum yang halus.
"Kau mau berkelahi? Majulah"".!"
Kata Siangkoan Lojin seperti kepada seorang bocah yang nakal.
Gentarlah hati Lam-ong.
Kakek yang sederhana itu, yang sama sekali tidak pernah dikenal namanya, bukan hanya telah menghancurkan senjatanya yang ampuh, akan tetapi juga dapat menahan pukulannya yang amat terkenal, yaitu pukulan dengan Ilmu Pek-see-ciang (Tangan Pasir Putih).
Tahulah dia bahwa melawan terus berarti bunuh diri karena tingkat kepandaian kakek itu benar-benar sukar diukur lagi sampai di mana tingginya.
Sebagai seorang tokoh atau datuk yang mengerti dan tahu diri, dia lalu menjura ke arah Siangkoan Lojin.
"Saudara terlampau merendah".. aku"..aku telah menerima pelajaran. Maafkan kami...".."
Lalu Lam-ong membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ, diikuti oleh semua anak buahnya yang menjadi gentar sehingga mereka ingin cepat-cepat pergi meninggalkan kakek sederhana yang ternyata luar biasa saktinya itu, Sian Lun berdiri memandang rombongan yang tergesa-gesa menjauhkan diri itu dengari hati panas dan kedua tangan dikepal, juga dengan rasa bangga karenasuhunya ternyata memperoleh kemenangan dengan amat mudah sungguhpun dia sendiri tadi juga melihat betapa suhunya menerima hantaman tangan kiri Lam-ong pada punggungnya.
Karena suhunya kelihatan tidak apa-apa, maka hatinya merasa bangga sekali.
Setelah rombongan itu lenyap di tikungan jalan, barulah dia menoleh kepada suhunya dan terkejutlah Sian Lun melihat kakek itu terhuyung dan menekan dadanya.
"Suhu""., suhu terluka"".?"
Sian Lun merangkul kakek itu yang kelihatan terengah engah dan wajahnya pucat sekali.
"Bawa aku"". pergi"". jauh dari sini..."""
Suhunya berkata lirih dan memejamkan matanya.
Dengan hati penuh kegelisahan Sian Lun lalu memondong tubuh kakek itu dan berlari cepat ke arah yang bertentangan dengan perginya rombongan Lam-ong tadi karena dia kini maklum bahwa tadi gurunya menahan luka dan kini suhunya khawatir kalau-kalau keadaannya diketahui oleh fihak lawan yang memang amat lihai.
Mereka tadi pergi menuju ke selatan, maka kini Sian Lun mengambil jalan ke arah utara.
"Bawa"".. aku ke""..bukit sana itu"""
Gurunya berbisik sambil menuding ke depan, ke arah sebuah bukit yang masih amat jauh, kelihatan teraling awan dari situ.
Sian Lun mengangguk dan mempergunakan kepandaiannya berlari cepat ke utara, ke arah bukit itu.
Karena kakek itu minta dengan suara terengah kepada muridnya agar jangan berhenti sebelum tiba di bukit itu, Sian Lun berlari terus sehari penuh dan baru pada senja hari itu dia tiba di puncak bukit.
Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya yang amat lelah akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak menghiraukan kelelahannya.
"Bagaimana keadaan suhu"".?"
Tanyanya dengan penuh khawatir ketika suhunya minta diturunkan di atas sebuah batu besar yang berada di puncak bukit.
Akan tetapi sampai lama suhunya tidak menjawab, melainkan duduk bersila dan memandang ke arah barat dengan sepasang mata terbelalak, bersinar sinar dan wajahnya yang pucat itu berseri sungguhpun napasnya masih terengah-engah seperti tadi, bahkan nampak lebih lemah lagi.
"Indahnya"".. bukan main indahnya"..ah, aku ingin tinggal selamanya di tempat indah ini"".."
Sian Lun cepat mengarahkan pandang matanya ke depan, ke barat dan diapun tahu apa yang dikagumi oleh gurunya itu.
Matahari terbenam!
Peristiwa biasa saja yang setiap hari, setiap senja dapat dilihat oleh setiap manusia di jagad ini.
Namun, betapa manusia pada umumnya sibuk dengan segala macam kesenangan dunia, dengan segala macam pengejaran nafsu sehingga manusia seakan-akan buta terhadap segala keindahan alam yang berada di depan mata itu!
Betapa sedikitnya manusia yang masih dapat menikmati keindahan mata.
hari terbenam di senja hari, matahari timbul di pagi hari, awan-awan putih berarak di langit biru, pohon-pohon, daun-daun dan bunga-bunga.
Semua keindahan itu lewat begitu saja, atau dilewati oleh mata begitu saja, bahkan tidak pernah nampak lagi karena sang mata mencari cari dan mengejar hal-hal yang tidak ada menurutkan dorongan nafsu yang timbul dari pikiran yang selalu mengejar hal-hal yang tidak atau belum ada.
Karena sejak pagi sampai malam manusia selalu mengejar hal-hal yang tidak atau belum ada inilah maka manusia tidak lagi dapat melihat, tidak lagi dapat menikmati keindahan dari pada hal-hal yang ADA di depan hidung sendiri!
Mengapa kita tidak pernah membuka semua panca indera, memandang segala yang ada tanpa mengejar hal-hal yang belum ada?
Mengapa kita tidak pernah memperhatikan yang INI, yang BEGINI, akan tetapi selalu menjangkau yang ITU, yang BEGITU?
Padahal segala keindahan, segala kebahagiaan berada dengan yang INI atau yang ADA, bukan terletak dalam yang ITU atau yang DIBAYANGKAN.
Bahagia adalah sekarang, saat ini.
Kalau kebahagiaan itu kita pindahkan kepada nanti dan kelak, maka hal itu hanya merupakan kesenangan yang dibayang-bayangkan, yang diharap-harapkan, dan bersama dengan kesenangan itu pasti muncul nafsu keinginan bersama rangkaiannya yang tak kunjung pisah, yaitu kekecewaan, konflik dan kedukaan atau kesengsaraan karena di dalam pengejaran untuk mendapatkan kesenangan yang dibayang-bayangkan itulah lahirnya penyelewengan dan kemaksiatan.
"Suhu""""
"Sian Lun..... aku terluka parah oleh pukulan Lam-ong".. ah, dengarlah baik-baik sebelum terlambat, Sian Lun, karena aku akan menikmati keindahan ini, aku akan menjadi satu dengan keindahan ini, dengarlah sebelum terlambat"."
"Suhu"".!"
"Buanglah was was dan duka itu! Tidak patut kausesalkan gurumu bersatu dengan keindahan! Nah, dengar baik-baik. Baru saja aku membuktikan sendiri betapa lihainya seorang di antara Su Ong (Empat Raja). Lam-ong itu ternyata memiliki pukulan Pek-see-ciang yang amat lihai, kelihatannya tidak berbahaya akan tetapi getaran pukulannya merusak jantung, lebih hebat dari pada huncwe mautnya. Engkau harus berhati hati menghadapi Pek see-ciang dari Lam-ong, tidak boleh sekali-kali kaulawan keras dengan keras karena sinkangmu akan tergempur oleh getaran yang mengguncangkan. Masih ada tiga orang lagi raja, yaitu Tung-ong (Raja Timur), berhati-hatilah engkau terhadap pukulan Kim-kong-ciang dari Tung-ong, kemudian Ilmu Tendangan Kaki Terbang dari See-ong, dan juga engkau harus berhati-hati terhadap Ilmu Tiat po-san (Ilm Kebal Baju Besi) dan Ban-seng-sin-po (Langkah Sakti Selaksa Bintang) dari Pak ong (Raja Utara)!"
"Suhu""yang terpenting adalah kesembuhan suhu, biarkan teecu (murid) membantu suhu memulihkan kesehatan"".."
Sian Lun meraba punggung suhunya, akan tetapi dengan halus kakek itu menyingkirkan tangan muridnya.
"Tidak ada gunanya"".. aku ingin bersatu dengan kendahan ini. Lihat, betapa indahnya matahari terbenam di barat itu, muridku"".. ah, sinarnya seperti langit sedang terbakar""
Dan dunia memang terbakar selama kejahatan dan pemberontakan merajalela, kau harus bantu menenteramkan negara, Sian Lun.
Kau harus membantu pemerintah menghalau semua pengacau""..kau berjanjilah, muridku....."
Sian Lun merasa betapa jantungnya seperti diremas. Dia merasakan sesuatu yang tidak wajar dan aneh, dia mengerti bahwa suhunya sedang bersiap meninggalkannya untuk selamanya.
"Perasaan pribadi harus dikesampingkan"., yang penting adalah menegakkan keadilan dan tenenteramkan kehidupan rakyat"".. kau ingatlah baik baik, Sian Lun"". nah, jangan ganggu aku lagi"".. aku hendak menyatukan diri dengan keindahan ini"".."
Kakek itu lalu bersedakap dan memejamkan mata sejenak, kemudian membuka mata memandang ke barat, tidak bergerak-gerak lagi.
"Suhu..."!"
Sian Lun menjatuhkan diri berlutut di depan kaki suhunya, di dekat batu di mana suhunya duduk bersila dan bersedakap, dengan sepasang mata memandang matahari tenggelam di barat, akan tetapi mata itu sudah tidak ada cahayanya lagi karena tubuh itu sudah ditinggalkan nyawanya.
"Suhu"".!"
Sian Lun menangis, akan tetapi terngiang di telinganya ucapan suhunya.
""".. jangan ganggu aku lagi"""
Maka diapun tidak jadi menubruk suhunya.
Dia menahan tangis lalu memeriksa denyut nadi dan detik jantung suhunya.
Setelah merasa yakin bahwa suhunya memang telah meninggal dunia dia lalu duduk berlutut di depan suhunya dia tenggelamdalam Samadhi untuk menjaga, berkabung dan "mengantar"
Arwah suhunya agar mendapat "tempat"
Yang baik.
Semalam suntuk dia duduk bersila, tenggelam dalam keheningan yang syahdu.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sian Lun sadar dari samadhinya.
Sadar dari samadhi hanyalah menjadi istilah kata belaka, karena sesungguhnya samadhi adalah keadaan sesadar-sadarnya, keadaan waspada dalam keheningan tanpa pamrih, tanpa si aku, melainkan kosong dan bebas.
Pagi itu cerah sekali, burung-burung berkicau amat indahnya di tengah-tengah semilir angin pagi yang bercanda dengan ujung-ujung daun pohon, mengusir embun pagi yang meninggalkan butir butiran air seperti mutiara di setiap ujung daun, berkilau-kilauan tertimpa sinar mau hari muda yang hangat dan keemasan.
Betapa indahnya!
Sian Lun terkejut bukan main di kala hatinya berbisik "betapa indahnya"
Itu!
Dia ingat dan menengok ke arah tubuh bersila di atas batu yang kaku, sekaku tubuh itu sendiri.
Mengapa dia tidak berduka?
Mengapa dia dapat mengecap keindahan?
Apakah duka ilu?
Apakah keindahan itu?
Adakah keindahan dalam duka?
Adakah duka dalam keindahan Tak mungkin!
Duka hanya berada dalam fikiran, dalam ingatan, dalam kenangan!
Duka pasti timbul kalau pikiran mengukur dan membandingkan, kalau pikiran beranggapan bahwa keadaan tidaklah seperti yang dikehendakinya sehingga mengecewakan dan timbullah duka.
Kalau pikiran tidak sibuk, tidak bekerja, seperti keadaan dirinya beberapa detik yang laku tadi, maka keindahan terasa sedemikian nyata meresap ke dalam diri lahir batin, ke jantung kalbu, terasa sampai ke ujung-ujung rambut.
Akan tetapi begitu pikiran bekerja, sibuk mengingat akan kematian gurunya, betapa ditinggal seorang diri oleh seorang yang dihormati dan dikasihinya, mengingat betapa kematian gurunya karena luka pukulan orang, lenyap pulalah segala keindahan agung tadi!
"Aku ingin bersatu dengan keindahan ini....."
Suara ini terngiang di telingannya dan Sian Lun mengangkat mukanya memandang ke atas.
Sudahkah gurunya bersatu dengan awan yang berarak di langit itu?
Bersatu dengan sinar matahari pagi yang kuning keemasan dan penuh suka cita itu?
Bersatu dalam suara burung-burung dan hembusan angin di antara daun-daun?
Bersatu dalam kemilau butiran-butiran mutiara embun di ujung daun-daun?
Hari telah siang dan sinar matahari yang terik seolah-olah ikut membakar kayu-kayu dan daun-daun yang menguruk tubuh tak bernyawa dan merupakan onggokan nyala api yang berkobar itu.
Sian Lun berlutut tak jauh dari situ dan memandang jenazah gurunya yang berkobar dalam tumpukan kayu yang dibakarnya, sesuai dengan pesan gurunya dahulu.
"Aku ingin badan tua rusak ini habis menjadi abu kalau aku sudah mati, Sian Lun. Aku ingin dilupakan bahwa Siangkoan Lee pernah hidup sebagai seorang manusia di dunia ini. Kalau keadaan mengijinkan, muridku, kelak kaubakarlah jenazahku dan taburkan abuku di atas bukit, biar menjadi pupuk bagimu."
Dan kini dia melihat jenazah gurunya terbakar, mendengarkan suara api makan kayu dan tubuh tanpa nyawa itu, mendengar ledakan ledakan kecil dan melihat kaki tangan jenazah itu mencuat ke sana-sini ketika dimakan api.
Ditambahnya kayu lagi setiap kali api mengecil dan api bernyala terus sampai setengah hari lamanya dan menjelang senja, barulah api itu padam karena tidak ditambah kayu lagi.
Sian Lun mengumpulkan abu jenazah gurunya dengan menggunakan sehelai baju luarnya, kemudian dengan hati-hati dia membawa abu jenazah itu berjalan perlahan ke puncak bakit.
Dia berdiri di tepi tebing yang curam, menghadap ke barat dan menanti pada saat matahari terbenam, saat gurunya menikmati matahari terbenam pada kemarin harinya.
Ketika Sian Lun berdiri menghadap ke barat sambil membawa buntalan abu jenazah itu, nampaklah oleh dia segala kebesaran alam di bawah kakinya dan matahari terbenam menciptakan pemandangan yang demikian menakjubkan.
Tidak ada seorangpun seniman sanggup melukis keindahan seperti itu, dan tidak ada seorangpun seniman sanggup menceritakan keindahan seperti itu.
Setiap batang pohon, setiap gumpal awan, setiap cercah sinar, setiap warna, setiap bentuk, merupakan serangkaian syair tersendiri, memiliki keindahan tersendiri yang tercakup dalam keindahan agung itu, dalam keheningan agung, dalam kesatuan ajaib itu.
Dirinya sendiri merupakan bagian kecil yang tak terpisahkan dari kesatuan itu.
Begitu indah, begitu mengharukan sehingga ketika Sian Lun mulai menaburkan abu jenazah yang bertebaran terbawa angin senja, tak terasa lagi air matanya jatuh berderai melalui pipinya.
Bukan air mata duka karena kematian gurunya, bukan air mata duka karena iba kepada diri sendiri, melainkan air mata keharuan yang timbul karena cinta kasih yang terasa benar dari ujung rambut sampai ke ujung jari kaki, cinta kasih teramat agung yang melenyapkaii batas batas antara dia dan abu jenazah, antara dia dan sinar lembayung matahari senja, antara dia dan pohon, antara dia dan rumput-rumput, antara dia dan Tuhan!
Abu jenazah telah habis ditebarkannya, Dunia telah berwarna kelabu dan langit di barat kehilangan tata warnanya, malam mulai tiba.
Sian Lun menggerakkan kakinya melangkah menuruni puncak bukit.
"Selamat tinggal suhu".."
Bisiknya.
Akan tetapi dia rnerasakan betapa janggalnya bisikannya itu.
Siapakah yang meninggalkan?
Siapa yang ditinggalkan!
Perlukah yang hidup berkabung untuk yang mati?
Perlukah yang hidup bersedih untuk yang mati?
Ataukah tidak sebaliknya, yang maju mungkin merasa sedih melihat yang hidup yang masih harus terombang-ambing gelombang kehidupan antara suka dan duka?
Yang masih harus tercepit dan terhimpit antara tawa dan tangis?
Sian Lun tak dapat menjawabnya.
Dengan muka ditundukkan pemuda ini menuruni bukit dan baru terasa olehnya betapa perutnya lapar sekali.
Dua hari dua malam dia tidak pernah makan, tidak pernah minum, tidak pernah tidur.
Jasmaninya menuntut, perutnya minta diisi, urat-uratnya minta diistirahatkan, matanya minta ditidurkan.
Suhunya tidak lagi dituntut kebutuhan jasmani seperti dia!
Sian Lun berjalan dengan kaki dan hati ringan.
Selama beberapa hari ini dia telah melakukan perjalanan seorang diri.
Dia tidak membiarkan dirinya terbenam kedukaan oleh kematian gurunya.
Gurunya telah tiada.
Habis, tidak ada manfaatnya untuk menyesalkan itu.
Dunia terbentang luas di depannya.
Dia masih muda.
Perjalanan hidup masih jauh.
Dia harus kembali ke Cin-an, ke rumah paman dan bibinya.
Dia tersenyum sendiri kalau membayangkan betapa paman dan bibinya akan girang luar biasa melihat dia datang kembali dalam kadaan sehat dan selamat.
Dan kedua orang tua itu tentu akan merasa bangga sekali kalau mendengar betapa dia telah mewarisi ilmu kepandaian silat yang tinggi dari Siangkoan Lojin yang terhitung masih paman kakek guru dari paman dan bibinya!
Jadi, kalau dihitung menurut tingkat perguruan, dia masih merupakan paman guru dari paman dan bibinya!
Sian Lun tersenyum mengingat akan lucunya susunan tingkat ini.
Guru dari paman dan bibinya, juga dari mendiang ayahnya, adalah Lui Sian Lojin, dan Lui Sian Lojin ini adalah murid dari Bu Eng Lojin, suheng dari gurunya.
Gurunya, mendiang Siangkoan Lojin itu sesungguhnya adalah kakek buyut gurunya!
Makin gembira hatinya kalau dia teringat kepada Ling Ling.
Sian Lun menahan langkahnya dan termenung, terheran-heran ketika mendapat kenyataan betapa jantungnya berdebar tegang dan mukanya terasa panas ketika dia mengingat Ling Ling!
Anak perempuan itu, adik misannya itu, kini tentu telah menjadi seorang gadis dewasa!
Hanya selisih dua tahun usia mereka, dan dia kini telah berusia duapuluh tahun.
Ling Ling kini tentu telah menjadi seorang dara berusia delapanbelas tahun.
Sukar dia membayangkan bagaimana akan sikap dara itu kalau bertemu dengan dia.
Dan Gin San!
Sian Lun mengerutkan alis ketika mengingat anak itu, ada rasa gembira dan juga rasa khawatir.
Teringat akan Gin San, maka teringat pula dia akan kenakalan dan kelucuan anak yang menjadi murid paman dan bibinya itu, akan tetapi dia teringat pula akan keadaan Gin San yang terancam bahaya ketika anak itu terlibat dalam kerusuhan yang terjadi di Kuil Ban hok-tong di Cin-an.
Apakah anak itu dapat tertolong?
Tentu sekarang juga sudah menjadi seorang pemuda dewasa, seperti dia karena usia mereka memang sebaya.
Kenangan di masa kecil memang selalu menimbulkan perasaan gembira dan menimbulkan gairah untuk melihat kembali tempat tempat bermain kita di waktu masih kecil.
Demikian pula dengan Sian Lun.
Wajahnya berseri dan kegembiraan menyelubungi hatinya yang penuh harapan untuk dapat bertemu kembali dengan paman dan bibinya, dengan Gin San, bahkan dengan para pelayan pamannya yang kini teringat olehnya seorang demi seorang.
Bukan mereka saja, bahkan dia teringat akan kerbau-kerbau milik pamannya yang dulu sering di-gembala oleh Gin San dan dia, terutama sekali Si Belang yang menjadi kerbau kesayangannya.
Sian Lun berjalan seenaknya di jalan raya yang kasar itu, jalan yang cukup lebar menuju ke kota Sin-yang.
Enak berjalan tak tergesa-gesa melalui hutan kecil yang teduh itu, yang melindungi orang dari sengatan terik matahari siang itu.
Tiba-tiba perhatiannya tertarik oleh suara orang orang dari belakang dan dia berhenti di tepi jalan, membiarkan serombongan orang lewat.
Mereka itu terdiri dari duapuluh lebih orang yang kesemuanya melakukan perjalanan cepat dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi karena mereka mempergunakan ilmu lari cepat tanpa menghiraukan Sian Lun yang berdiri dengan heran di tepi jalan.
Timbul perasaan heran dan curiga di dalam hati pemuda itu karena rombongan ini selain terdiri dari orang-orang yang tentu pandai ilmu silat, juga sebagian dari mereka mengenakan pakaian seperti tosu atau pendeta.
Dan terutama sekali, paling depan berjalan dengan langkah lebar seorang yang kelihatan asing, bertubuh besar dan sikapnya gagah, langkahnya seperti seekor harimau berjalan.
Orang ini melirik ke arah Sian Lun, akan tetapi seperti yang lain lain, dia juga tidak menaruh perhatian kepadu pemuda berpakaian sederhana seperti seorang nelayan atau petani itu.
Setelah rombongan itu lewat, Sian Lun menarik napas panjang.
Benar kata mendiang gurunya bahwa di dunia ini banyak sekali orang pandai, namun sayangnya, kepandaian silat yang dimiliki orang membuat si pemilik kepandaian itu menjadi pelaku-pelaku kekerasan yang mengandalkan kepandaiannya untuk menindas orang lain dan untuk mencari kemenangan bagi diri sendiri.
Apakah rombongan orang-orang yang agaknya dipimpin oleh para pendeta itupun hendak menggunakan kepandaian mereka untuk melakukan kekerasan terhadap golongan atau orang lain?
Ah, betapa ganjilnya mendengar ada pendeta melakukan kekerasan terhadap orang lain.
Akan tetapi, bukankah kerusuhan di Kuil Ban-hok-tong dahulu itupun merupakan kekerasan antara pendeta-pendeta?
Dan apa kata suhunya tentang kependetaan dan kekerasan?
"Kebanyakan para pendeta itu adalah orang-orang yang menyamakan diri dengan kependetaan mereka, seperti orang-orang yang mengikatkan diri dengan kekayaan, kedudukan, nama besar, dan sebagainya.
Kalau kependetaan mereka terusik, mereka tentu tidak segan-segan untuk mempergunakan kekerasan, melindungi kependetaannya seperti orang melindungi harta bendanya atau kedudukannya dengan taruhan nyawa, tidak segan-segan membunuh manusia lain untuk mempertahankan apa yang mengikat mereka, yang dianggap sebagai sumber kesenangan oleh mereka."
Dapatkah kita hidup tanpa ikatan?
Dapatkah kita bebas dan terlepas dari segala sesuatu yang kita samakan seperti diri kita sendiri?
Seorang yang merasa dirinya baik tentu merupakan orang yang ingin dianggap baik dan kalau sekali waktu kebaikannya itu terusik, kalau kebaikannya tidak diakui, tentu timbul kecewa dan marah di dalam hatinya.
Seseorang yang merasa dirinya benar tentu akan bersikap keras kalau kebenarannya itu disangkal orang lain.
Karena orang seperti itu telah mengikatkan diri dengan apa yang dianggapnya kebaikan dan kebenaran tu, maka kalau kebaikannya dan kebenarannya itu diganggu, dia akan marah.
Belum lama Sian Lun berjalan sambil termenung semenjak lewatnya rombongan orang orang tadi tiba-tiba dia berhenti lagi karena mendengar suara derap kaki kuda dari belakang.
Dia berdiri di tepi jalan dan memandang.
Kini dia melihat sepasukan tentara berkuda, dipimpin oleh seorang perwira muda yang amat gagah.
Perwira ini menunggang kuda besar, berjalan di depan dengan wajah berseri dan sinar mata penuh semangat.
Tubuhnya sedang namun tegap, usianya kurang lebih duapuluh lima tahun, wajahnya kemerahan karena sengatan terik matahari,alisnya tebal berbentuk golok, pakaiannya gemerlapan dan di pinggangnya tergantung pedang.
Gagah sekali perwira ini, wajah dan sikapnya membayangkan kejantanan yang menimbulkan rasa kagum dalam hati Sian Lun.
Rombongan pasukan ini terdiri dari tiga puluh orang perajurit dan di tengah-tengah rombongan ini terdapat duabelas orang tawanan yang dinaikkan dalam sebuah kereta tak beratap, ditarik oleh empat ekor kuda yang dikusiri seorang perajurit.
Kedua tangan para tawanan itu dibelenggu dan mereka semua duduk di dalam kereta, tubuh mereka bergoyang goyang ketika kereta itu berguncang di atas jalan yang kasar.
Melihat Sian Lun berdiri, seorang diri di tepi jalan, perwira itu mengangkat tangan kanan ke atas dan rombongan itupun berhenti.
Debu mengepul tinggi dan Sian Lun mendengar suara perwira itu yang terdengar nyaring dan penuh wibawa.
"Kita beristirahat di sini, semua boleh beristirahat di tempat teduh. Beri makan dan minum secukupnya kepada para tawanan, akan tetapi jaga yang ketat agar jangan sampai timbul kesempatan mereka membuat kacau!"
Para perajurit itu nampak gembira sekali memperoleh kesempatan istirahat itu dan Sian Lun melihat betapa para perajurit yang membagi makanan dan minuman kepada para tawanan itu bersikap baik dan cermat, para tawanan itu diberi makanan yang cukup banyak dan minuman yang secukupnya pula.
Bahkan kusir kereta menghentikan kereta itu di tempat teduh sehingga para tawanan itupun merasa enak.
Penglihatan ini merupakan hal yang cukup ganjil karena biasanya, para perajurit tentu bersikap keras kepada para tawanannya.
Agaknya hal itu adalah berkat sikap perwira yang menarik itu.
Kalau para perajurit mulai makan dan minum dari perbekalan mereka, perwira itu sendiri hanya mengeluarkan seguci arak dan minum dari bibir guci setelah turun dari atas kuda.
Kemudian dia menoleh ke arah Sian Lun yang masih berdiri dan dengan langkah ringan dan lebar perwira itu menghampiri Sian Lun!
Melihat wajah perwira itu berseri dan ada senyum di bibirnya, Sian Lun cepat menjura dengan hormat "Sobat, apakah engkau melakukan perjalanan seorang diri saja?"
Perwira itu bertanya sambil duduk di atas rumput di tempat teduh itu. Sian Lun mengangguk tanpa menjawab.
"Mari kita duduk bercakap-cakap, sobat. Maukah engkau minum arak? Arakku ini baik sekali, arak Kang lam yang sudah cukup tua usianya, segar dan manis tapi tidak terlalu keras "
"Terima kasih, engkau baik sekali, ciangkun,"
Jawab Sian Lun dan ketika dia duduk di atas rumput, perwira itu menyodorkan guci araknya kepada Sian Lun. Sian Lun menerimanya dan menjadi bingung karena dia tidak mempunyai cawan untuk minum.
"Mana"".. mana cawannya?"
Dia bertanya agak sungkan.
"Ha-ha, orang-orang dalam perjalanan seperti kita, mana perlu peralatan makan minum selengkapnya? Minum arak di dalam hutan, langsung dari guci, enak sekali. Minumlah!"
Sian Lun memandang kagum kepada orang di depannya itu. Seorang perwira muda yang gagah, akan tetapi sungguh memiliki kerendahan hati, sikap bersahabat dan kejujuran yang mengagumkan.
"Terima kasih!"
Katanya dan diapun tanpa ragu-ragu lagi lalu menenggak arak itu langsung dari bibir guci. Memang enak sekali arak itu dan Sian Lun yang sudah biasa minum arak bersama gurunya mengenal arak baik.
"Hemm, enak sekali arakmu, ciangkun,"
Katanya mengembalikan guci. Perwira itu tersenyum dan memandang wajah Sian Lun penuh perhatian. Tiba-tiba dia berkata.
"Mau makan bersama kami? Makanan sederhana tapi cukup menyenangkan perut."
Sian Lun tersenyum dan menggeleng kepalanya.
"Terima kasih, ciangkun, aku tidak merasa lapar."
"Ha-ha, hanya minum kalau haus, hanya makan kalau lapar, dan hanya tidur kalau mengantuk, itulah pendirian seorang gagah! Aku ini tidak lapar, hanya haus. Eh, sobat, engkau hendak pergi ke mana, kalau aku boleh bertanya? Bukan main perwira ini, pikir Sian Lun penuh kagum. Begitu polos dan jujur, juga sikap yang terbuka itu sama sekali tidak pura-pura, dan orang ini sangat berbeda dengan para perwira lain. Biasanya, seorang perajurit yang telah memiliki pangkat sedikit saja, sikapnya lalu angkuh dan tinggi hati, (Lanjut ke
Jilid 27) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 27 bertindak terhadap rakyat seolah-olah dia yang menjadi raja. Akan tetapi perwira ini dapat menghargai orang, sikap yang amat menyenangkan. Maka dengan jujur diapun menjawab.
"Aku hendak pergi ke utara"".."
Sebelum dia sempat menyebut nama koti Cin-an, perwira itu sudah mendahului dan memotong kata katanya.
"Bagus, kamipun hendak ke kota raja! Ah, perjalanan yang amat jauh, apa lagi membawa-bawa tawanan penting, sungguh sukar dan banyak rintangan."
Lega rasa hati Sian Lun karena dia tidak usah bercerita tentang dirinya, maka mendengar ucapan perwira itu, dia bertanya, tidak ragu-ragu lagi karena perwira itu yang lebih dulu bicara tentang tawanan.
"Siapakah mereka itu dan mengapa ditawan?"
Perwira itu menoleh ke arah kereta di mana para tawanan masih makan dengan sikap diam, lalu dia menghadapi Sian Lun kembali sambil menarik napas panjang.
"Aahh mereka itu sebenarnya bukanlah penjahat-penjahat biasa, akan tetapi perbuatan mereka malah lebih berbahaya dari pada penjahat-penjahat yang paling kejam. Penjahat-penjahat hanya membunuh orang-orang tertentu yang mereka musuhi, hanya membakar rumah-rumah tertentu atau mengacau dusun-dusun tertentu. Akan tetapi orang-orang itu biarpun mereka sendiri bukan perampok dan penjahat, mereka itu dapat membunuh ratusan ribu nyawa, membakar dan mengacau seluruh negara."
"Eh, apakah yang mereka lakukan?"
Sian Lun terkejut dan menoleh ke arah para tawanan itu dengan pandang mata penuh selidik. Baru sekarang dia melihat bahwa di antara mereka itu terdapat dua orang yang berpakaian seperti pendeta tosu.
"Mereka adalah pemberontak-pemberontak! Mereka membenci pemerintah dan mereka menghasut rakyat untuk memberontak. Mereka akan dapat membakar api perang saudara yang mengerikan kalau mereka tidak cepat-cepat dicegah. Dan betapa banyaknya terjadi aksi-aksi pemberontakan seperti itu semenjak sepuluh tahun yang lalu, semenjak peristiwa di Cin-an"""
"Peristiwa di Cin-an? Apakah itu, ciangkun?"
Perwira itu tersenyum pahit.
"Sepuluh tahun yang lalu, ketika itu aku masih dalam pendidikan perajurit, di Cin-an terjadi huru-hara ketika mendiang Kaisar Beng-ong memerintahkan perarakan benda suci lewat di kota itu. Dalam peristiwa itu, nama perkumpulan Im-yang-kauw dan Beng-kauw terlibat, dan semenjak peristiwa itulah, maka selama sepuluh tahun ini terjadi serangkaian peristiwa yang sifatnya menentang pemerintah. Syukur, setelah kaisar diganti oleh kaisar yang sekarang, yaitu Kaisar Su Tiong, putera kaisar yang telah meninggal dunia, sasterawan pahlawan Han Gi telah dipanggil dari tempat pembuangannya dan oleh kaisar beliau diangkat menjadi Penasihat Angkatan Perang, pengangkatan inimendatangkan banyak kemajuan karena beliau telah mulai dengan operasi ke dalam, yaitu membersihkan angkatan perang dari oknum-oknum yang kotor dan mengangkat orang-orang muda yang masih bersih dan jujur menjadi panglima panglima dan perwira perwira. Dengan angkatan perang yang pulih kekuatannya, maka negara menjadi kuat kembali dan kaum pemberontak mudah ditundukkan, bukan hanya dengan senjata seperti yang menjadi politik Menteri Han Gi, akan tetapi terutama dengan nasihat dan bujukan dan sikap baik."
Sian Lun mengangguk-angguk dan merasa kagum.
Mengertilah dia kini mengapa perwira muda ini dan anak buahnya bersikap lunak dan baik sekali terhadap para tawanan itu, padahal tawanan-tawanan itu adalah pemberontak-pemberontak yang biasanya amat dibenci.
Kalau saja perwira ini tahu bahwa apa yang diceritakannya tadi, peristiwa di Cin-an, adalah peristiwa di mana dia sendiri terlibat ketika dia masih berusia sepuluh tahun!
Akan tetapi Sian Lun tidak mau bercerita tentang dirinya Dia makin suka kepada perwira itu dan makin tertarik hatinya.
Bukankah suhunya dalam pesan terakhirnya juga menasehatkan dia untuk membantu pemerintah menenteramkan negara?
Bukankah suhunya juga mengatakan bahwa dunia sedang terbakar selama kejahatan dan pemberontakan merajalela?
"Aih, aku telah bicara banyak.
Entah mengapa, aku tertarik kepadamu, sobat, dan aku percaya kepadamu.
Tidakkah sepatutnya kalau kita berkenalan?
Aku she Ong, bernama Gi."
"Ong ciangkun sungguh baik dan ramah. Namaku adalah Tan Sian Lun, dan karena keramahanmu itu, selayaknya aku peringatkan kepadamu, Ong-ciangkun, bahwa mungkin sekali perjalananmu akan menemui halangan di depan situ."
"Eh, apa maksudmu, Tan-heng?"
"Belum lama ini lewat serombongan orang yang mencurigakan, mereka semua berlari cepat seperti terbang, jumlah mereka duapuluh orang lebih dan kulihat di antara mereka terdapat orang-orang yang berpakaian pendeta seperti dua orang di antara para tawananmu itu."
Mendengar ini, seketika wajah Ong-ciangkun berubah, alisnya yang berbentuk golok itu berkerut.
Dia meloncat berdiri dan meraba gagang pedangnya, mengangkat tangan kanan ke atas dan berseru kepada anak buahnya.
"Siaaapp! Kita berangkat sekarang melanjutkan perjalanan!"
Selagi para perajurit itu sibuk dan berkemas, perwira itu berkata kepada Sian Lun.
"Terima kasih, Tan-heng. Dan mengingat bahwa tujuan kita sama, yaitu ke utara, dan engkau melakukan perjalanan sendirian saja sehingga tidak aman bagimu, bagaimana kalau kita melakukan perjalanan bersama?"
Sian Lun tersenyum dan menggeleng kepala.
"Terima kasih, ciangkun. Aku sudah biasa melakukan perjalanan sendirian saja, aku tidak mau merepotkanmu yang sudah berat oleh tugasmu itu. Selamat jalan,"
Ong-ciangkun mengangkat pundaknya.
"Sayang, aku suka sekali bicara denganmu, saudara Tan. Nah, sampai jumpa!"
Dia lalu meloncat ke atas pelana kudanya yang sudah dituntun datang oleh seorang perajurit, kemudian berderaplah rombongan perajurit berkuda itu dipimpin oleh perwira muda she Ong yang gagah perkasa, dan kepala para tawanan tergoyang-goyang di atas kereta tawanan ketika kereta itu mulai bergerak di atas jalan yang kasar.
Setelah derap kaki kuda itu tak terdengar lagi lama setelah rombongan itu menghilang di dalam hutan, Sian Lun termenung.
Bagaimana kalau rombongan Ong-ciangkun itu dihadang dan diserang oleh rombongan terdahulu?
Dia membayangkan Ong-ciangkun yang ramah dan gagah, teringat kembali akan ceritanya dan teringat pula akan pesan mendiang suhunya akan akhirnya Sian Lun berdiri dan menyambar buntalan pakaiannya lalu berjalan cepat menyusul rombongan pasukan Ong-ciangkun.
Tadinya, dia masih merasa segan untuk membantu pasukan pemerintah.
Bukankah menurut cerita paman dan bibinya, ayah kandungnya, dan juga ibu kandungnya, semua tewas oleh pasukan pemerintah?
Bukankah menurut cerita mereka, ayahnya dahulu adalah seorang gagah perkasa yang menentang pembesar pemerintah yang lalim dan gugur dalam perjuangannya itu?
Akan tetapi, kini dia melihat bahwa tidak semua pembesar jahat dan lalim, buktinya Menteri Han Gi demikian dikagumi dan dipuja oleh Ong-ciangkun, dan perwira muda she Ong itu sendiri jelas merupakan seorang pejabat yang amat bijaksana dan gagah.
Suhunya berpesan pula agar dia membantu pemerintah untuk menenteramkan kehidupan rakyat, menentang kejahatan dan pemberontakan.
Apa kata suhunya dalam pesan terakhir itu?
"Perasaan pribadi harus dikesampingkan, yang penting adalah menegakkan keadilan dan menenteramkan kehidupan rakyat."
Sekarang apakah karena ayah bundanya tewas di tangan seorang pembesar, dia harus memusuhi semua pembesar di dunia ini?
Gila kalau begitu!
Ayah bundanya tewas di tangan manusia, apakah dia harus memusuhi semua manusia pula?
Makin gila lagi!
Tidak, dia akan menentang siapa saja yang jahat, siapa saja yang menindas manusia lain, tidak perduli dia itu pembesar atau orang biasa!
Dan dia akan membela yang benar, tidak perduli dia itu pembesar atau orang biasa pula.
Dan Ong-ciangkun adalah seorang perwira yang baik, dan berdiri di fihak yang benar karena Ong-ciang-kun menentang pemberontakan yang akan mengobarkan perang yang mengancam keselamatan rakyat jelata.
Dia harus membantu dan melindunginya!
Keputusan hati ini membuat Sian Lun berlari lebih cepat lagi.
Dan ketika dia tiba di tengah hutan, dari jauh dia sudah mendengar suara pertempuran itu!
Celaka, pikirnya, dia terlambat!
Dipercepatnya larinya dan setelah dia tiba di tempat terbuka di tengah hutan itu, benar saja bahwa apa yang dikhawatirkannya itu telah terjadi.
Pasukan itu diserbu oleh rombongan orang-orang yang dipimpin oleh orang asing tinggi besar itu dan ternyata bahwa rombongan penyerang itu telah berhasil pula membebaskan para tawanan yang kini ikut pula mengeroyok.
Fihak pasukan terdesak hebat karena musuh mereka itu rata-rata memiliki kepandaian yang ikup tinggi, sedangkan Ong-ciangkun sendiri sedang bertanding melawan si orang asing tinggi besar yang amat lihai memainkan senjata rantai panjang yang ujungnya dipasangi kaitan baja.
Dua buah kaitan mengerikan di kedua ujung rantai itu menyambar-nyambar dan rantai yang diputar-putar itu mengeluarkan bunyi bersiutan.
Ong-ciangkun berusaha melindungi tubuhnya dengan pedangnya, namun melihat betapa pundak dan pahanya berdarah dan pakaiannya robek-robek, mudah diduga bahwa dia sudah beberapa kali terluka oleh kaitan-kaitan itu dan sedang berada dalam ancaman bahaya maut.
Ong-ciangkun hanya main mundur sambil mengobat-abitkan pedangnya menangkis dua buah kaitan yang bertubi-tubi menyambar itu, sedangkan lawannya terdengar tertawa berkekeh-kekeh mengejeknya.
Juga anak buah Ong-ciangkun tidak jauh bedanya dengan pemimpin mereka, terdesak dan terancam, bahkan sudah ada tiga orang yang roboh terluka tanpa dapat bangkit kembali.
Melihat ini, seketika timbul rasa penasaran di dalam hati Sian Lun dan tanpa disadarinya lagi dia sudah melayang ke depan sambil membentak.
"Pemberontak jahat!"
Gerakannya seperti kilat menyambar dan tahu-tahu dia sudah berhadapan dengan jagoan Uighur, orang asing yang memimpin penyerbuan itu dan yang sedang mendesak Ong-ciangkun dengan rantainya.
Pada saat itu, dua buah kail menyambar dan Sian Lun mengangkat kedua lengannya ke atas, tangannya menangkap dua buah kail itu dan membiarkan pergelangan tangannya terlibat rantai.
Pada detik berikutnya, pemuda perkasa ini sudah mengerahkan tenaga membetot dan jagoan Uighur itu mengeluarkan teriakan kaget karena tanpa dapat dipertahankannya lagi, tubuhnya terbawa oleh betotan itu terdorong ke depan dan ketika kaki kiri Sia Lun menyambar, dadanya sudah kena ditendang dan sambil mengeluarkan teriakan keras jagoan Uighur itu terlempar ke belakang sampai beberapa tombak jauhnya.
Dia terbanting ke atas tanah, akan tetapi orang ini agaknya memiliki tubuh yang kebal dan kuat, karena dia sudah dapat merangkak bangun kembali.
Sian Lun tidak berhenti sampai di situ saja.
Baik fihak pasukan maupun fihak pemberontak sampai menjadi bengong dan terkejut karena tahu-tahu ada bayangan putih yang bergerak sedemikian cepatnya dan tahu-tahu beberapa orang dari fihak pemberontak sudah roboh.
Sian Lun menggerakkan kedua kaki dan kedua tangannya, menampar dan menendang.
Setiap gerakan kaki atau tangannya tentu menerbangkan senjata lawan dan merobohkan mereka seorang demi seorang!
Gegerlah keadaan.di medan pertempuran itu.
"Tangkap mereka!"
Terdengar Ong-ciangkun berseru nyaring.
Biarpun dia sendiri terkejut bukan main, namun perwira ini tidak kehilangan kesadarannya dan dia cepat merintahkan anak buahnya untuk menangkap para pemberontak.
Perintah ini juga sekaligus merupakan perintah agar anak buahnya jangan membunuh para pemberontak, melainkan menangkap mereka.
Jagoan Uighur yang marah sekali itu kini mengeluarkan teriakan keras dan menubruk ke arah Sian Lun dari belakang.
Tubrukan ini adalah tubrukan yang didasarkan ilmu gulat, dengan kedua lengan terpentang dan agaknya ke manapun lawan mengelak, takkan terlepas dari tangkapan kedua tangan yang sudah siap dengan jari-jari terbuka.
Sian Lun bersikap tenang membalikkan tubuh dan membiarkan kedua pundaknya dicengkeram, akan tetapi sambil mengerahkan sinkang melindungi kedua pundak dari cengkeraman jari jari tangan yang kuat itu, dia mengangkat lutut kirinya.
"Ngekkkk!"
Lutut itu menyodok perut dan jagoan Uighur itu untuk kedua kalinya terjengkang roboh.
Kini dia maklum bahwa pemuda yang baru datang ini bukanlah lawannya, maka setelah dia merangkak dan bangkit, dia lalu melarikan diri..
""Jangan kejar dia""!"
Ong-ciangkun sudah cepat mencegah dan dia sendiri membantu para anak buahnya untuk menawan para pemberontak.
Sebagian besar para pemberontak sudah kehilangan nyalinya melihat orang Uighur itu dapat dikalahkan dengan mudah maka merekapun melarikan diri secepatnya meninggalkan mereka yang terluka dan tertawan.
Setelah dikumpulkan dengan tangan diborgol, ternyata yang tertangkap ada limabelas orang, sebagian adalah tawanan yang tadinya sudah dapat dibebaskan kawan-kawan mereka sebagian lagi adalah muka-muka baru.
Di fihak pasukan itu terdapat lima orang perajurit terluka agak parah, dan beberapa orang lagi terluka ringan saja.
Mereka bergembira karena dalam pertempuran itu, fihak merekalah yang menang, apa lagi karena tawanan yang tadinya sudah terlepas itu kini malah bertambah dengan tiga orang lagi.
Kalau tadinya hanya ada duabelas orang, kini tertawan lima belas orang!
"Ah, sudah kuduga""
Kiranya engkau adalah seorang pendekar yang amat lihai, Tan taihiap!"
Ong-ciangkun menjura dan sebutan saudara atau sobat kini menjadi taihiap (pendekar besar).
"Kami menghaturkan terima kasih atas bantuan tauhiap sehingga fihak kami memperoleh kemenangan. Sian Lun balas menjura.
"Kita kebetulan jumpa di jalan, hal itu sudah menjadi keharusan untuk saling membantu dan berdiri di fihak yang benar, Ong-ciangkun. Akan tetapi tentang ciangkun sudah menduga itu..... apa maksud ciangkun?"
Ong-ciangkun tersenyum sambil mengobati luka-lukanya yang tidak berat itu dengan obat bubuk merah.
Sian Lun tahu bahwa obat bubuk merah itu amat baik untuk menyembuhkan luka-luka sungguhpun amat perih kalau dipakai.
Akan tetapi, perwira itu menaruh obat merah pada luka-lukanya sambil bercakap-cakap dan sedikitpun tidak memperlihatkan penderitaan, Hal ini saja sudah menujukkan bahwa Ong-ciangkun benar-benar seorang jantan.
"Tan-taihiap, pekerjaanku memberi kesempatan kepadaku untuk bergaul dengan banyak pendekar di dunia ini. Taihiap kelihatan lemah lembut namun berani melakukan perjalanan seorang diri saja, taihiap kelihatan seperti seorang pemuda dusun namun gerak-gerik dan tutur sapa taihiap lembut dan sopan, kemudian taihiap memiliki penglihatan tajam sehingga dapat memperingatkan aku terhadap rombongan pemberontak itu. Semua itu menunjukkan bahwa taihiap adalah seorang pendekar yang berilmu, seperti yang sudah kuduga, dan oleh karena itulah maka aku menawarkan taihiap untuk melakukan perjalanan bersama."
Sian Lun tersenyun. Orang ini selain gagah perkasa juga amat cerdik! "Ah, Ong-ciangkun terlalu memuji orang, padahal engkau sendiri adalah seorang yang gagah dan cerdik."
Ong-ciangkun lalu memerintahkan anak buahnya bersiap dan berangkat agar sebelum malam tiba mereka dapat memasuki kota Sin-yang.
Sekali ini Sian Lun tidak menolak ketika Ong-ciangkun mengajaknya melakukan perjalanan bersama dan memberinya seekor kuda yang baik.
Berangkatlah rombongan itu membawa tawanan mereka menuju ke Sin-yang dari ternyata di sepanjang perjalanan tidak terjadi gangguan sampai mereka memasuki Sin-yang.
Ong-ciangkun segera menghadap pembesar setempat dan para tawanan itu cepat dimasukkan ke dalam penjara agar dapat terjaga dengan baik sedangkan Ong-ciangkun segera mengirim kurir ke kota raja berikut pelaporannya tentang pencegatan yang dipimpin oleh orang Uighur itu.
Malam itu Sian Lun dijamu oleh Ong-ciangkun di rumah pembesar kota Sin-yang.
"Ong-ciangkun, mengapa engkau tadi melarang ketika anak buahmu hendak mengejar orang Uighur itu? Akupun baru tahu bahwa dia itu orang Uighur setelah mendengar anak buahmu bicara tentang dia."
"Ah, itulah akibatnya kalau negara lemah dan mengandalkan bantuan keamanan dari tenaga lain bangsa. Ketika terjadi pemberontakan-pemberontakan, semenjak pemberontakan An Lu Shan dan selanjutnya, pemerintah begitu lemah sehingga pemerintah minta bantuan Bangsa Uighur untuk mengusir dan menundukkan pemberontak. Setelah pemberontak dapat dihancurkan, maka Bangsa Uighur yang telah memasuki daratan kita menjadi keenakan dan tentu saja mereka yang dianggap sebagai bangsa yang telah berjasa membantu kita, harus kita perlakukan dengan hormat! Padahal mereka itu kadang kadang memperlihatkan sikap sewenang-wenang dan kini bahkan mereka agaknya telah bersekutu dengan fihak pemberontak seperti perkumpulan Im-yang-kauw dan Pek-lian-kauw. Keadaan menjadi gawat sekali, maka aku mengirim utusan memberi laporan ke kota raja sebelum melanjutkan membawa para tawanan ke kota raja. Ahhh, minta bantuan bangsa lain untuk membasmi pemberontakan dalam negeri sama saja dengan menggunakan harimau untuk mengusir srigala dalam rumah. Serigalanya dapat dibunuh, akan tetapi sang harimau tetap bercokol dalam rumah dan entah siapa yang lebih ganas dan berbahaya, Serigala itu ataukah harimau itu! Para pemberontak, bagaimanapun juga adalah bangsa sendiri dan betapapun menyelewengnya mereka itu tetap saja mendasarkan pemberontakannya kepada pembelaan terhadap rakyat, sedangkan orang asing bagaimana? Tentu dasar mereka adalah keuntungan bagi mereka, dan seburuk-buruknya kekuasaan pemerintah dipegang bangsa sendiri, masih jauh lebih baik dari pada kalau dipegang bangsa lain. Ahh, setelah terbukti orang Uighur benar benar bersekongkol dengan Im-yang-pai dan Pek lian-kauw maka keadaanpun menjadi gawat!"
Sian Lun adalah seorang pemuda yang buta akan keadaan pemerintah di waktu itu maka mendengar penuturan yang jelas itu dia menjadi tertarik sekali.
"Akan tetapi, pemerintah tidak seharusnya bersikap lemah terhadap Bangsa Uighur, karena biarpun mereka pernah membantu kita, akan tetapi untuk bantuan itu pemerintah sudah pasti telah memberi upah. Jadi, pada waktu ini. mereka yang menentang pemerintah atau yang dapat dianggap sebagai pemberontak berbahaya adalah Im-yang-kauw, Pek-lian-kauw dan dibantu oleh Bangsa Uighur yang menjadi tamu terhormat itu?"
Ong-ciangkun menggelengkan kepala.
"Bukan hanya itu. Memang, Im-yang-kauw, Pek-lian-kauw dan dibantu Bangsa Uighur merupakan satu kelompok, akan tetapi masih ada kelompok lain yang tidak kurang pula berbahayanya, bahkan mungkin lebih berbahaya lagi yang merupakan ancaman besar, bagi keselamatan negara dan bangsa."
"Siapakah golongan atau kelompok itu, ciangkun?"
"Golongan ini terdiri dari Bangsa Khitan yang merupakan pengikut-pengikut mendiang An Lu Shan, yang bersekutu dengan Bangsa Tibet dan dari dalam negeri yang bersekutu dengan dua bangsa asing ini adalah orang-orang dari perkumpulan Beng-kauw. Jadi, pada saat ini terjadi perang dingin antara tiga kelompok yaitu kelompok pertama tentu saja pemerintah yang didukung oleh orang-orang gagah, oleh para pendekar dan terutama sekali dari Siauw lim-pai dan Thai-san-pai, kelompok ke dua adalah Im-yang-kauw, Pek-lian-kauw dan Bangsa Uighur, sedangkan kelompok ke tiga adalah Beng-kauw dan Bangsa Khitan dan Tibet."
Sian Lun menggelengkan kepala.
"Heran....dan selalu rakyatlah yang menjadi korban."
"Begitulah! Satu-satunya jalan bagi setiap orang gagah hanyalah membantu pemerintah membasmi dua kelompok pemberontak itu untuk menghalau bahaya perang saudara yang akan menghancurkan kehidupan rakyat jelata. Tan-taihiap, engkau adalah seorang muda yang memiliki kepanduan tinggi, maka marilah kau ikut bersamaku ke kota raja untuk menghadap Menteri Han Gi karena bantuan seorang seperti engkau ini amatlah dibutuhkan."
Sian Lun menggeleng kepala.
"Pada saat ini aku mempunyai urusan penting sekali, ciangkun, urusan pribadi. Aku akan pergi ke Cin-an dan tidak mungkin aku pergi bersamamu ke kota raja. Akan tetapi, percayalah bahwa aku setuju dengan semua pendapatmu dan kalau sudah tidak ada lagi urusan pribadi, aku siap untuk membantu Menteri Han Gi yang bijaksana untuk mengamankan negara."
"Sayang, akan tetapi tentu saja aku tidak dapat memaksamu, taihiap. Hanya pesanku, kalau engkau benar-benar ingin membantu pemerintah yang berarti juga membantu rakyat, maka datanglah ke kota raja. carilah aku di benteng pengawal Menteri Han Gi dan aku akan membawamu menghadap Menteri Han Gi yang tentu akan girang sekali menerimamu"
"Baik, ciangkun. Dan sekarang aku mohon diri karena aku harus melanjutkan perjalananku ke Cin-an."
Malam hari itu juga Sian Lun meninggalkan kota Sin-yang untuk melanjutkan perjalanannya.
Dia menolak ketika Ong ciangkun memberinya seekor kuda, juga menolak pemberian sekantong uang dari pembesar kota Sin-yang yang mendengar bahwa pemuda itu telah membantu pasukan mengusir para pemberontak.
Setelah dia pergi, Ong-ciangkun yang mengantarnya sampai ke pintu halaman, berdiri sampai lama termenung, kemudian menarik napas panjang dan berkata kepada pembesar yang berdiri di sebelahnya.
"Manusia seperti dia itulah yang dicari-cari oleh Menteri Han Gi yang mengatakan bahwa kalau beliau diberi pembantu-pembantu yang muda, berjiwa bersih, gagah perkasa dan jujur, tidak mabok harta dan kedudukan, maka beliau sanggup untuk menenteramkan negara! Akan tetapi, ahhhh"". betapa sukarnya mencari orang seperti dia"".!"
Segala harapan, segala bayangan yang muluk dan indah, semua kegembiraan sirna seketika dari hati Sian Lun, terganti oleh rasa kaget, duka dan marah yang membuat wajahnya pucat sekali ketika dia tiba di Cin an dan mendengar berita bahwa pamannya, Gan Beng Han dan bibinya, Kui Eng, telah tewas terbunuh orang!
Hampir dia tidak dapat percaya akan pendengarannya ketika dia bertemu dengan seorang tetangga tua yang menyampaikan berita malapetaka ini kepadanya.
Paman dan bibinya adalah orang-orang yang berilmu tinggi, pendekar-pendekar budiman dan selalu membuka tangan untuk menolong siapa saja.
Mana mungkin terbunuh keduanya?
"Mengapa?
Mengapa dan apa yang telah terjadi"
Bisiknya dengan suara gemetar. Kakek tua itu memandang dengan khawatir melibat wajah pemuda yang pucat sekali itu.
"Sayang aku tidak tahu, orang muda. Sebaiknya engkau bertanya kepada para hwesio di Kuil Ban-hok-tong karena merekalah yang tahu dan"".."
Tiba tiba kakek itu terbelalak karena seperti setan saja, pemuda yang tadi berdiri di depannya itu sekali berkelebat telah lenyap dari situ!
Para hwesio di Kuil Ban-hok-tong juga terkejut sekali ketika pemuda berwajah pucat itu menerobos masuk kuil dan dengan suara gemetar menuntut minta bertemu dengan ketua kuil.
Tentu saja para hwesio menjadi marah, akan tetapi Thian Ki Hwesio, ketua Kuil Ban-hok-tong yang kebetulan berada di dalam kuil, segera keluar ketika mendengar bahwa pemuda itu adalah keponakan dari mendiang Gan Beng Han yang ingin bertemu untuk bertanya tentang kematian suami isteri pendekar itu.
Begitu bertemu dengan Thian Ki Hwesio, Sian Lun cepat memberi hormat dan berkata "Losuhu, harap sudi menjelaskan apa yang telah terjadi dan bagaimana paman dan bibi sampai tewas"
Thian Ki Hwesio memiliki pandangan yang tajam dan dia mengenal bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan.
"Silakan duduk, sicu dan tenangkanlah hatimu. Kematian mendadak memang terlalu sering menimpa orang-orang yang menjadi pendekar sehingga kematian Gan taihiap dan isterinya bukanlah hal yang terlalu mengejutkan. Duduklah dan katakan, siapakah sicu ini dan mengapa setelah sepuluh tahun baru sekarang bertanya tentang kematian suami isteri pendekar Gan itu?"
Mendengar ucapan itu, Sian Lun menarik napas panjang dan duduk, memejamkan mata sejenak.
Sadarlah dia bahwa dia terlalu menurutkan perasaan sehingga tindakan-tindakannya tadi terburu nafsu dan tidak sepatutnya.
Kemudian dia membuka mata dan melihat betapa hwesio tua itu sudah duduk di depannya dan menatapnya dengan tajam akan tetapi bibirnva tersenyum.
"Harap losuhu sudi memaafkan kelancangan dan kekasaran saya tadi. Saya bernama Tan Sian Lun, keponakan dari mendiang supek Gan Beng Han dan isterinya. Sepuluh tahun yang lalu, ketika terjadi keributan di kuil ini, saya pergi mempelajari ilmu dan baru hari ini kembali ke Cin-an. Oleh karena itu saya tidak tahu sama sekali apa yang telah terjadi dengan mereka dan tadi saya mendengar bahwa mereka telah tewas. Harap losuhu sudi menceritakan kepada saya apa yang telah terjadi."
Hwesio tua itu memandang penuh selidik, mengangguk-angguk.
"Ah, kiranya sicu adalah keponakan Gan-taihiap yang hilang itu? Pernah pinceng mendengar tentang sicu. Memang sesungguhnya, Gan-taihiap suami isteri tewas dalam pertandingan melawan ketua dari Im-yang-kauw dan semua itu adalah akibat dari peristiwa yang terjadi di kuil ini sepuluh tahun yang lalu."
Lalu hwesio tua ini menceritakan tentang peristiwa penyerbuan pasukan pemerintah ke sarang Im-yang-pai di mana diapun bersama sucinya, Pek l Nikouw, ikut pula menyerbu dan di mana dia melihat sendiri pertandingan satu lawan satu antara Gan Beng Han dan isterinya melawan Kim-sim Niocu, yaitu Im-yang-kauwcu dan suami isteri itu kalah sehingga roboh dan tewas.
"Betapapun juga harus pinceng akui bahwa paman dan bibimu tewas sebagai orang-orang gagah dan mereka tidak mati penasaran karena mereka tewas dalam pertandingan yang bersih satu lawan satu. Hanya sayang bahwa kepandaian ketua Im-yang-kauw itu terlampau tinggi sehingga mereka roboh dan tewas. Dan lebih sayang pula bahwa ketika kami bersama pasukan menyerang, kami hanya berhasil membasmi sarang Im-yang-kauw dan membunuh banyak anak buahnya, akan tetapi kami tidak berhasil menangkap atau membunuh ketua Im-yang-pai, Kok Beng Thiancu dan puterinya, yaitu ketua lm-yang-kauw, Kim-sim Niocu. Ilmu kepandaian ayah dan anak itu terlampau tinggi sehingga di antara kami tidak ada yang mampu melawan mereka."
Berkurang banyak kedukaan di hati Sian Lun setelah mendengar penuturan hwesio itu, terganti oleh rasa penasaran mendengar betapa paman dan bibi gurunya itu keduanya tewas karena dikalahkan dalam pertandingan melawan wanita lihai ketua Im-yang-kauw.
Biarpun tidak ada alasan untuk mendendam karena pertandingan itu adalah pertandingan yang bersih dan jujur, namun ingin dia bertemu dan mengukur kepandaian ketua Im-yang-kauw itu.
"Terima kasih atas semua keterangan losuhu. Lalu, ke manakah perginya Gan Ai Ling, puteri paman? Apakah losuhu mengetahuinya?"
"Kalau tidak salah, pernah suci Pek I Nikouw bercerita bahwa nona itu dibawa pergi oleh su-kongnya, yaitu Lui Sian Lojin, untuk belajar ilmu. Akan tetapi hal ini tentu saja dapat sicu tanyakan lebih jelas kepada suci atau kepada bibinya, yaitu nyonya Yap yang tinggal di An-kian."
Sian Lun mengangguk.
Diapun tahu bahwa adik pamannya yang bernama Gan Beng Lian tinggal di An-kian bersama suaminya, yaitu putera kepala daerah An-kian.
Dia pasti akan pergi ke sana untuk menyelidiki keadaan Ling Ling.
"Dan apakah losuhu mendengar pula tentang keadaan Coa Gin San, murid dari paman dan tubi? Anak yang dulu terlibat dalam kekacauan di sini, sepuluh tahun yang lalu"
"Ah, pemuda itu""..!"
Thian Ki Hwesio berseru lalu melanjutkan dengan kagum.
"Dia telah menjadi seorang yang berilmu tinggi sekali! Dia pernah datang ke sini belum lama ini akan tetapi pinceng sedang pergi dan yang menemuinya adalah sute Thian Lee Hwesio yang juga menceritakan kepadanya tentang kernatian Gan-taihiap dan isierinya. Menurut Thian Lee Hwesio, pemuda itu berkelebat dan lenyap, cepat sekali sehingga Thian Lee Hwesio sendiri tidak mampu mengejarnya."
Wajah Sian Lun berseri. Gembira hatinya mendengar bahwa temannya di waktu kecil itu kini telah menjadi seorang yang memiliki kepandaian tinggi.
"Ah, lalu ke mana perginya, losuhu?"
"Dia tidak meninggalkan pesan kepada sute, hanya memberitahukan hal yang amat penting dan aneh, yaitu bahwa Im-yang-pai tidak bersalah dalam peristiwa keributan di kuil ini sepuluh tahun yang lalu, dan bahwa lambang Im-yang-pai yang oleh sute dirampas dari seorang di antara para perusuh itu adalah lambang Im-yang-pai curian."
"Ahh"".!"
Sian Lun merasa heran dan kaget mendengar ini. Apa yang dimaksudkan oleh Gin San, dan bagaimana Gin San bisa mengetahui hal itu? "Apakah benar demikian, losuhu?"
Kakek itu mengangkat kedua pundak.
"Entahlah, pinceng sendiripun tidak tahu benar. Ketika kami menyerbu ke sarang Im-yang-pai, memang ketua Im yang-pai menyangkal bahwa Im-yang-pai yang melakukan penyerbuan itu, habis, kalau bukan Im-yang pai lalu siapa? Dan apa maksudnya menyamar sebagai orang orang Im-yang pai? Pinceng tidak mengerti."
"Biarlah, hal itu adalah kewajiban saya mtuk menyelidiki, losuhu."
Kemudian, setelah Memperoleh keterangan di mana letak makam paman dan bibinya.
Sian Lun berpamit dan meninggalkan Kuil Ban-hok-tong.
Sampai setengah hari lamanya Sian lun duduk terpekur di depan makam paman dan bibinya setelah bersembahyang.
Selama itu dia mengenangkan kembali semua kebaikan paman dan bibinya dan hatinya terasa berduka sekali karena dia merasa belum sempat membalas kebaikan mereka yang telah dilimpahkan kepadanya dan sekarang setelah dia berhasil memiliki ilmu kepandaian tinggi, mereka telah meninggal dunia!
Dia merasa seperti kehilangan ayah bundanya sendiri karena semenjak kecil hanya sebutannya saja yang berubah terhadap mereka, akan tetapi di dalam hatinya, dia tetap menganggap mereka sebagai ayah bundanya dan mencinta mereka seperti seorang anak terhadap orang tuanya.
"Aku harus mencari Ling Ling, aku harus membalas segala kebaikan ayah ibunya kepada sumoi,"
Demikian akhirnya dia mengambil keputusan dan setelah memberi hormat untuk terakhir kalinya kepada gundukan makam itu Sian Lun lalu meninggalkan tempat itu dia melanjutkanperjalanannya menujuke kota An-kian.
Kota Kabupaten An kian cukup besar dan ramai dan begitu memasuki kota itu, Sian Lun mrasakan adanya ketenteraman di dalam kota perdagangan yang ramai dan kota yang keadaannya bersih.
Kebetulan sekali pada waktu dia memasuki kota itu di dalam kota sedang diadakan pesta ulang tahun dari toa-pekong sebuah kelenteng di tengah-tengah kota.
Melihat keramaian ini dan banyak orang dengan pakaian-pakaian indah menuju ke tengah kota, Sian Lun tertarik, apa lagi ketika mendengar bahwa di kelenteng itu diadakan pertunjukan wayang yang didatangkan dari kota raja, para pemainnya adalah pemain-pemain yang sudah terkenal keindahan tarian dan permainan mereka.
Kuil itu memuja Hok Tek Cing Sien, yaitu Malaikat Bumi yang dianggap membawa berkah bagi manusia dan pada hari itu diadakan pesta besar-besaran dan boleh dibilang seluruh penghuni An kian ikut berpesta Hal ini tidak aneh karena memang sebagian besar penduduk adalah orang-orang yang memuja malaikat ini, apa lagi pada waktu itu orang menghadapi panen sehingga meieka mengharapkan berkah dari Malaikat Bumi agar hasil panen nereka berlimpahan.
Bakan pesta ini telah didengar oleh penduduk di kota-kota lain yang berada di wilayah itu sehingga banyak pula orang luar kota yang sengaja datang untuk menyaksikan keramaian di An-kian.
Sian Lun terbawa oleh aliran manusia yang berkumpul di depan kuil pada sore hari itu.
Dia memang mengambil keputusan untuk menunda sampai besok mencari Ling Ling, karena kurang baiklah untuk berkunjung di rumah bibi dari Ling Ling di waktu maiam hari.
Kuil Hok Tek Cing Sien dirias meriah dan di halaman depan dibangun sebuah panggung yang cukup tinggi, tempat para anak wayang bermain nanti sehingga semua orang dapat menonton, biar dari tempat jauh sekalipun.
Biarpun wayang belum dimulai, akan tetapi penonton sudah penuh dan musik sudah dimainkan.
Suara musik inilah yang seakan-akan menarik orang untuk berdatangan.
Suasana di situ memang meriah sekali.
Banyak wanita mengenakan pakaian-pakaian baru dan indah, dengan berbagai macam lagak memperagakan diri mereka untuk menarik perhatian sebanyak mungkin, terutama dari kaun pria tentunya.
Dan banyak pula pria-pria muda yang juga berlagak, mata mereka mengerling ke sana-sini dan mereka kadang kadang bergurau dan tertawa di antara teman mereka.
Sebaliknya, dengan sikap malu-malu para gadis juga mengerling tajam dan berbisik bisik di antara teman mereka sambil terkekeh menutupi mulut dengan saputangan.
Tiba-tiba semua mata memandang dan semua tubuh berbalik ke arah jalan raya di depan kuil ketika terdengar derap kaki kuda dan ternyata sebuah kereta berhenti di depan kuil.
Karena banyaknya orang, maka kereta tidak dapat memasuki pintu halaman dan hanya berhenti di jalan depan kuil itu.
Pintu kereta terbuka, tirai tersingkap dan terdengarlah suara kagum di sana-sini ketika dari kereta itu turun seorang dara yang cantik luar biasa.
Dara itu berusia kurang lebih tujuhbelas tahun, pakaiannya bersih dan cemerlang, pakaian dara bangsawan, berwarna hijau dengan hiasan kuning dan merah.
Ikat pinggang merah muda mengikat pinggang yang amat ramping itu dan wajahnya yang jelita itu rampak berseri ketika dia menuruni kereta, diiringkan oleh dua orang wanita pelayan yang juga terdiri dari dua orang gadis muda dan cantik pula.
Tentu saja kecantikan mereka itu tidak kentara karena kalah jauh oleh kecantikan nona majikan mereka, seperti dua buah bulan yang sinarnya menjadi suram karena munculnya sebuah matahari.
"Beri jalan untuk siocia..."..!"
Terdengar para petugas keamanan yang menjaga di sekeliling kuil itu berteriak dan semua penonton yang bergerombol di depan kuil itu segera terkuak dan terbukalah jalan untuk dara cantik jelita bersama dua orang pelayannja itu.
"Bukan main, seperti bidadari turun dari kahyangan"".."
"Seperti Kwan Im Pouwsat sendiri yang berkunjung kepada Sang Malaikat Bum""."
"Tapi kabarnya dia amat lihai"".."
Sian Lun mendengar semua bisikan para penonton ini dan sejak tadi diapun sudah terpesona oleh kecantikan dara itu, juga kagum melihat betapa dara itu sama sekali tidak kelihatan kikuk, bahkan tersenyum manis dan memandang kepada para penonton dengan sikap ramah, sedikitpun tidak kelihatan malu-malu, seolah-olah dia telah mengenal semua penonton itu, bahkan dia mengangguk ke sana-sini dengan sikap yang menarik dan wajar.
"Hidup Yap siocia"".!"
Terdengar seruan orang dan seruan ini banyak ditiru sehingga ramailah keadaan di tempat itu.
Karena wayangnya belum mulai, maka kini semua orang menonton dara cantik itu!
Mendengar seruan seruan ini, nona itu tersenyum dan mengangkat tangan ke atas sambil membungkuk ke sana-sini.
Tiba-tiba Sian Lun melihat ada tiga orang pemuda yang menggunakan tenaga mendesak sana-sini sampai mereka tiba di depan, kemudian seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi besar dan bermuka seperti singa meloncat ke depan menghadang nona bersama dua orang pelayannya itu!
Sambil cengar-cengir memperlihatkan sikap kurang ajar, pemuda tinggi besar ini berkata.
"Nona sungguh cantik jelita"".."
"Seperti bidadari kahyangan!"
Sambung dua orang temannya.
Para pononton yang mendengar ucapan itu kelihatan terkejut sekali dan memandang dengan mata terbelalak.
Akan tetapi pemuda tinggi besar dan teman-temannya itu tidak perduli dan si pemuda tinggi besar sudah menyambung lagi kata katanya ketika melihat nona baju hijau itu tidak kelihatan takut, melainkan memandangnya dengan sinar mata tajam dan jeli.
"Melihat wajah dan tubuh nona, sungguh membuat aku yang berjuluk Hek-houw (Macan Hitam) jadi mengilar"".."
"Dan ingin memeluk cium""."
Sambung kedua orang temannya lagi.
Mereka bertiga menyeringai dan para penonton menjadi makin kaget.
Beberapa orang penjaga keamanan sudah melangkah lebar dengan wajah marah, akan tetapi nona baju hijau itu menggerakkan tangan ke arah mereka dengan isyarat menahan mereka untuk bertindak, kemudian dia menghadapi tiga orang pemuda yang kini semua sudah berdiri menghadangnya itu sambil berkata halus.
"Harap kalian bertiga suka minggir dan jangan bersikap tidak sopan!"
"Beritahukan dulu siapa nona"".."
Kata si tinggi besar.
"Dan berapa usia nona tahun ini""."
Sambung orang ke dua yang matanya sipit sekali.
"Dan apakah nona sudah ada yang punya".."
Sambung pula orang ke tiga yang mempunyai tahi lalat di hidungnya.
Para petugas keamanan itu memandang dengan mata melotot dan para penonton juga kelihatan marah, akan tetapi nona itu kembali mengangkat tangan ke atas dan berseru.
"Biarkan aku menghadapi urusan ini sendiri!"
Kemudian sambil tersenyum manis dan tenang sekali dia menghadapi tiga orang itu, lalu bertanya.
"Agaknya kalian bukan penduduk An-kian dan kalian tentu orang orang gagah yang pandai ilmu silat, benarkah dugaanku?"
"Ha-ha-ha, tidak salah, nona. Aku datang dari Lok-bun, dusun di luar kota Lok-yang dan akulah jagoan nomor satu di sana, dengan julukan Hek-houw, sedangkan mereka berdua ini adalah kawan-kawanku."
"Bagus, aku minta kalian minggir akan tetapi kalian mengajukan syarat dengan pertanyaan-pertanyaan, sekarang akupun mengajukan syarat untuk menjawab pertanyaan kalian tadi."
Wajah mereka bertiga berseri karena merasa diberi hati, maka seperti berebat mereka bertanya.
"Apa syaratnya, nona manis?"
"Syaratnya, kalian bertiga harus dapat mengalahkan atau menangkap aku di atas panggung, barulah aku mau menjawab pertanyaan pertanyaan kalian tadi."
"Aha"".! Nona berani menantang begitu?"
Si tinggi besar berseru heran dan dua orang kawannya tertawa.
"Melihat bahwa kalian adalah orang-orang gagah, tentu kalian tidak takut menyambut tantanganku,"
Kata pula nona baju hijau sambil tersenyum. Bukan main manisnya dara itu kalau tersenyum seperti itu.
"Dan kalau kami berhasil, engkau suka menjadi sahabat baik kami?"
Tanya si tinggi besar.
"Dan mau pergi bermain-main bersama kami?"
Sambung si sipit lebih berani.
"Dan mau menjadi kekasih kami?"
Sambung si tahi lalat makin kurang ajar.
"Kita lihat saja nanti, kalian kalahkan aku lebih dulu!"
Kata nona baju hijau dan dia sudah menggerakkan kakinya yang kecil dan tubuhnya melayang naik ke atas panggung.
Tepuk.
tangan para penonton menyambit loncatan indah ini biarpun hati mereka masih marah dan panas sekali melihat kekurang ajaran tiga orang pemuda itu.
Diam-diam Sian Lun memperhatikan dan hatinya lega.
Dia sudah melihat gerakan si tinggi besar ketika meloncat tadi, dan gerakan mereka bertiga ketika menerobos di antara orang banyak dan dia dapat menduga bahwa mereka itu hanya memiliki tenaga kasar dan keberanian belaka karena orang-orang yang benar benar memiliki kepandaian tidak akan bersikap seperti mereka itu.
Dan kini, melihat sikap nona bangsawan itu yang tenang-tenang saja, kemudian melihat cara nona itu meloncat ke atas panggung, dia mengenal dasar gerakan silat tinggi, maka dia maklum bahwa nona ini tidak akan terancam bahaya kalau menghadapi tiga orang pemuda macam ini.
Akan tetapi pandangan tiga orang muda ini berbeda sekati dengan pandangan Sian Lun.
Karena merasa bahwa kekurangajaran mereka memperoleh tanggapan, mereka menjadi makin berani dan berlagak.
Orang yang rendah ilmunya akan menganggap diri sendiri setinggi mungkin untuk menutupi kerendahannya.
Binatang-binatang kecil yang lemah memiliki suara yang lebih nyaring dari pada binatang besar yang kuat.
Dengan lagak jumawa sekali tiga orang pemuda ilu lalu memperlihatkan kepandaiannya, meloncat ke atas panggung.
Loncatan mereka kasar dan ketika kaki ,mereka turun ke panggung, terdengar suara gedebrukan seperti benda-benda berat dilempar ke atas panggung, namun suara ini bahkan membuat makin bangga dan dengan dada terangkat mereka kini berdiri menghadapi si nona baju hijau yang sudah berdiri menanti dengan sikap tenang sekali.
"Aku tahu bahwa kalian adalah orang-orang yang datang dari luar kota, karena aku tidak percaya bahwa di An-kian terdapat manusia-manusia tolol dan sombong macam kalian,"
Tiba-tiba suara dara itu keren dan berwibawa.
"Nah, aku sudah siap dan kalau kalian masih ada keberanian untuk menyambut tantanganku, majulah kalian bertiga, coba robohkan atau tangkap aku!"
Sebetulnya, sikap keren dan berwibawa dari nona ini saja cukup untuk "memperingatkan tiga orang muda itu, apa lagi melihat betapa panggung itu dikurung oleh penjaga-penjaga keamanan yang agaknya taat sekali kepada si nona baju hijau dan pandangan para penonton yang marah.
Akan tetapi, dasar mereka itu adalah pemuda-pemuda kasar yang sudah biasa di kampung mereka suka mengganggu wanita dan bersimaharajalela mengandalkan kepandaian silat mereka, terutama Si Macan Hitam yang sudah terkenal sebagai putera tuan tanah yang disegani bukan hanya karena ilmu silatnya dan kerasnya kepalan tangannya, akan tetapi juga karena pengaruh harta dari ayahnya yang kaya.
Maka, kini mendengar tantangan dara ini, apa iagi tantangan yang dilakukan di depan banyak orang seperti itu, tentu saja mereka bertiga tidak mau mundur, bahkan kini mereka terdorong oleh dua macam keinginan.
Pertama, tentu saja untuk memenangkan pertandingan melawan dara ini agar dapat memiliki dara jelita ini sebagai sahabat dan kekasih, dan ke dua untuk membanggakan kepandaian mereka di depan banyak orang.
Nama mereka tentu akan disegani oleh semua penduduk kota An kian!
Akan tetapi bukan hanya karena kesombongan saja maka Hek-houw dan dua orang kawannya itu berani berlagak di An-kian, melainkan ada hal lain yang amat kuat yang menjadi dasar sikap mereka itu.
Yaitu bahwa Hek-houw adalah seorang anggauta Beng-kauw di wilayah Lok-yang dan hal inilah sebenarnya yang membuat dia bersikap seolah-olah dia itu ketua Beng-kauw sendiri!
Padahal dia hanyalah anggauta kelas terendah saja!
Hanya, karena dia kaya, maka tokoh Beng-kauw yang menjadi gurunya, yang tinggal di Lok-yang, kelihatan amat sayang kepadanya bahkan Si Macan Hitam ini maklum pula bahwa gurunya pada saat itu berada di antara para penonton.
Inilah yang membuat dia merasa aman dan terlindung!
"Ha-ha, nona manis, engkau sungguh bernyali besar.
Akan tetapi jangan khawatir, kami bertiga tidak akan menyakitimu, apa lagi merobohkanmu dengan pukulan kami yang keras.
Kami hanya ingin menangkapmu dan kalau engkau sudah tertangkap dalam pelukan kami, berarti kau kalah dan harus memenuhi janjimu."
"Hemmm, tikus kecil, jangan banyak cakap, kalian bergeraklah!"
Nona itu menantang dan kini tidak lagi menyembunyikan kemarahannya maka dia menyebut si tinggi besar itu tikus kecil.
Hal ini membuat beberapa orang penonton tertawa dan si tinggi besar itu memandang dengan mata terbelalak.
Dia adalah Macan Hitam, mengapa disebut tikus kecil?
"Hemm, untuk makianmu itu, engkau harus menebusnya dengan tiga kali ciuman di depan orang banyak!"
Bentak Hek-houw sambil bergerak dengan cepat dan kuat sekali, menubruk ke arah nona baju hijau itu.
Biarpun dia sedang marah, akan tetapi ternyata gerakannya dahsyat dan cukup berbahaya, karena betapapun bodohnya, dia mengerti bahwa nona yang berani menantang dia dan dua orang temannya ini sedikit banyak tentu pernah belajar silat.
"Heeehhhhh!"
Dia membentak sambil menubruk.
"Heiiiiitt""..!"
Nona itu berseru nyaring dan tubuhnya sudah mengelak dengan gerakan indah.
Tubrukan itu luput!
Dari kanan kiri, dua orang teman Macan Hitam yaitu si mata sipit dan si hidung tahi lalat, sudah menubruk pula.
Cara menubruk mereka seperti biruang menerkam, kedua lengan dibentangkan dan menyambar dari kanan kiri.
Nona itu sengaja menanti sampai tubrukan mereka dekat, barulah dengan kecepatan kilat dia mencelat ke kiri.
"Bresss"""
Auhh! Aduhh""".!"
Tak dapat dicegah lagi, si mata sipit dan si hidung tahi lalat itu saling tubruk dan kepala mereka saling bentur dengan keras.
"Gerrr!"
Suara ketawa para penonton memecahkan ketegangan yang tadi mencekam hati mereka.
Dua orang yang bertabrakan itu saling melotot, kemudian mengelus kepala yang benjol dan membalikkan tubuh, siap lagi untuk menangkap dara itu.
Pada saat itu, Hek-houw sudah menubruk lagi, dengan lebih cepat dan ganas, bahkan kini tangan kirinya membentuk cakar mencengkeram ke arah dada nona itu secara kurang ajar sekali!
Akan tetapi, kini nona itu agaknya sudah mengukur sampai di mana kecepatan gerakan tiga orang lawan itu, maka dengan seenaknya saja dia mengelak lagi dengan loncatan ke kanan, kemudian menghindar lagi dari terkaman dua orang lawan lain.
Maka terjadilah kejar-mengejar yang amat lucu, seperti seekor tikus yang cekatan mempermainkan tiga ekor kucing buta yang menubruk sana-sini akan tetapi selalu hanya menubruk angin belaka.
Bukan main cepatnya gerakan dara itu sehingga ke manapun tiga orang lawannya menerkam, selalu dia dapat menghindar dengan amat mudahnya Para penonton bersorak-sorak mengejek tiga orang itu karena jelas bahwa mereka itu sama sekali tidak mampu menangkap dara itu, apalagi menangkap orangnya, bahkan menangkap ujung bajunya saja agaknya tidak mungkin!
"Tikus-tikus busuk, katanya hendak menangkap aku, mengapa menari-menari seperti monyet begitu?
Hayo cepat kalian tangkap aku!"
Nona itu berteriak mengejek dan sekali ini para penonton hampir semua bersorak gembira dan terdengar suara ejekan kepada tiga orang itu.
Wajah Macan Hitam menjadi merah padam, dan dua orang temannya sudah mandi keringat dan napas mereka terengah-engah.
"Bocah sombong!"
Tiba-tiba Macan Hitam menerjang dan tangan kirinya mencengkeram ke arah dada, tangan kanannya menampar ke arah kepala.
Ini sih bukan menangkap lagi namanya, melainkan menyerang dengan jurus ilmu silat yang amat dahsyat dan mengancam nyawa!
Dan pada saat itu, dua orang temannya juga sudah menerjang dengan jurus-jurus ilmu silat, menyerang tanpa mengenal malu lagi.
"Bagus! Kalian memang pengecut-pengecut hina!"
Teriak dara itu sambil mengelak ke sana-ini, kemudian tiba-tiba tubuhnya bergerak cepat sekali.
Sian Lun yang memandang kagum melihat betapa gadis itu memiliki dasar ilmu silat Thai-san-pai dan serangan yang kini dilakukan oleh gadis itu jelas menunjukkan dasar ilmu silat Bu-tong-pai, karena dia telah mempergunakan ilmu tiam-hiat-hoat (ilmu menotok jalan darah) dari partai Bu-tong.
Terdengar pekik berturut-turut tiga kali dan robohlah tiga orang itu, roboh di atas papan panggung dengan lemas dan tak mampu bergerak lagi karena totokan nona itu membuat mereka menjadi lumpuh.
Sorak-sorai menyambut kemenangan ini "Bunuh saja tiga ekor cecunguk itu!"
Terdengar teriakan dari para penonton dan beberapa orang penjaga sudah melompat naik ke atas panggung, memberi hormat kepada nona itu.
"Biar kami menyeret mereka ke pengadilan siocia,"
Kata seorang yang berpakaian sebagai perwira penjaga keamanan.
"Jangan, tidak usah. Mereka hanyalah bocah-bocah nakal yang perlu diperingatkan saja,"
Kata nona itu dan dengan gerak tangannya dia menyuruh para penjaga itu turun kembali dari atas panggung.
Dengan senyum di bibir dan sedikitpun tidak kelihatan lelah, nona itu lalu menghampiri tiga orang bekas lawannya, lalu berkata lantang.
"Menurut patut, kalian harus dituntut dan diberi hukuman. Kalian mengaku orang orang gagah yang berkepandaian, akan tetapi apakah bisa dinamakan gagah kalau hanya kalian pakai kepandaian kalian untuk menghina wanita, mengganggu wanita dan berlagak sombong-sombongan?"
Pada saat itu terdengar seorang penjaga menghardik dari bawah panggung.
"Tiga manusia busuk, buka mata kalian baik-baik, apakah kalian tidak mengenal siapa siocia? Beliau adalah cucu dari Yap taijin, bupati dari An-kian dan ayah bunda beliau adalah pendekar-pendekar yang"".
"Cukup!"
Nona baju hijau itu membentak kepada penjaga yang segera menutup mulutnya.
Nona itu kini memandang kepada tiga orang bekas lawan yang menjadi pucat wajahnya mendengar ucapan penjaga tadi.
Ah, sungguh mereka terjeblos!
Kiranya dara itu adalah cucu dari pembesar kepala daerah An-kian!
Masih baik mereka bertiga tadi tidak dikeroyok perajurit-perajurit penjaga, diseret ke penjara atau dibunuh di tempat!
"Maafkan saya, siocia"".
saya""..
kami..."..tidak tahu""..!"
"Keparat, pengecut hina!"
Dara itu membentak marah, memotong kata-kata si tinggi besar itu.
"Engkau baru minta maaf karena aku adalah cucu pembesar? Bagaimana kalau aku seorang gadis dusun biasa? Tidak perduli cucu pembesar atau puteri kaisar atau dara kampung, sama saja! Pengganggu wanita macam kalian ini adalah laki-laki hina yang tak tahu malu dan selayaknya kalau dibunuh tanpa ampun lagi!"
"Ampun""."
Mereka bertiga yang tidak mampu bergerak hanya dapat minta ampun dengan muka pucat.
"Phuhh! Mana mungkin negara bisa aman selama ada manusia-manusia pengecut hina macam kalian? Pergilah!"
Dengan ujung sepatunya, dara itu menendang tiga kali dan tubuh tiga orang itu terlempar ke bawah panggung dan sekalian tendangan itu merupakan totokan yang membebaskan jalan darah mereka!
Dari gerombolan penonton yang berjubel itu tiba-tiba muncul seorang pria berpakaian seperti pendeta, usianya sekitar limapuIuhan dan dengan amat cekatan dia menyambar tubuh Si Macan Hitam lalu dibawanya lari cepat sekali pergi dari tempat itu.
Si mata sipit dan si hidung bertahi lalat lalu terhuyung-huyung menghilang di antara penonton.
Dari atas panggung, dara baju hijau itu melihat hal ini dan tahulah dia bahwa orang yang berpakaian pendeta tadi memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi dia tidak memperdulikan lagi dan cepat turun dari atas panggung, lalu memasuki kuil diiringkan oleh dua orang pelayan dan oleh para penjaga keamanan.
Pesta dilanjutkan karena wayang segera dimulai dengan pertunjukannya, musik dibunyikan dan keadaan menjadi meriah lagi sungguhpun di antara para penonton banyak yang membicarakan peristiwa yang amat menegangkan dan juga menarik hati itu.
Dengan kepandaiannya yang tinggi, Sian Lun dapat dengan mudahnya membayangi pendeta yang melarikan Hek-houw.
Dia berlari di belakang, jaraknya cukup jauh sehingga tidak diketahui oleh yang dibayangi, akan tetapi juga tidak terlalu jauh sehingga dia tidak akan kehilangan jejak orang itu.
Pendeta itu membawa Si Macan Hitam ke dalam hutan dan akhirnya memasuki sebuah kuil tua yang sudah tidak digunakan lagi.
Sian Lun menyelinap dengan cepat dan ringan, lalu mengintai dari jendela yang tinggal bingkainya saja ke dalam ruangan belakang kuil rusak itu di mana si pendeta membawa Si Macan Hitam.
Dia melihat bahwa di dalam ruangan itu duduk seorang kakek tua bertubuh raksasa yang usianya tentu sudah tujuhpuluhan tahun, dihadap oleh beberapa orang yang pakaiannya menunjukkan bahwa mereka adalah Bangsa Khitan, dan di situ hadir pula beberapa orang pendeta atau yang berpakaian seperti pendeta seperti yang menangkap Si Macan Hitam itu.
Mereka semua ada belasan orang dan agaknya di antara mereka, yang menjadi tokohnya adalah kakek tinggi besar itu, bersama dua orang kakek pendeta yang duduk di depannya.
Kedatangan pendeta bersama Si Macan Hitam ke dalam ruangan itu agaknya mengejutkan hati mereka, dan si kakek tinggi besar mengerutkan alisnya, kelihatan tidak senang dan terganggu.
Seorang di antara dua kakek pendeta yang duduk di dekat kakek tinggi besar itu cepat bangkit dan memandang kepada dua orang yang baru datang, lalu berkata kepada pendeta yang membawa Hek-houw dengan suara mengandung teguran.
"Eh, sute (adik seperguruan), mengapa engkau mengganggu pertemuan ini dengan kedatangan tiba-tiba bersama muridmu?"
"Maaf, suheng, sengaja aku mencari suheng untuk minta perkenan suheng sebelum aku pergi menghajar gadis yang telah melukai dan menghina muridku ini, di depan orang banyak! di depan Kuil Hok Tek Cing Sien."
"Hemm, Ma Siok, apa yang terjadi?"
Tanya pendeta beralis putih yang menjadi suheng guru Si Macam Hitam ini.
Hek-houw Ma Siok lalu menceritakan betapa dia bersama dua orang temannya yang ingin nonton keramaian, di depan kuil bertemu dengan seorang dara yang datang berkendaraan kereta indah.
Karena tertarik dia ingin berkenalan, akan tetapi gadis itu marah dan akhirnya dia bersama dua orang temannya bertanding melawan gadis itu yang berakhir dengan kekalahan dan penghinaan di fihaknya.
"Kalau suhu dan supek tidak membela teecu (murid), akan habislah nama kita dan tentu nama Beng-kauw akan terbanting pula,"
Hek-houw Ma Siok menambahkan.
Dua orang kakak beradik seperguruan dari Beng-kauw itu bukanlah orang sembarangan, melainkan tokoh-tokoh Beng-kauw yang sudah tinggi kedudukan mereka sehingga saat itu mereka menjadi wakil Beng-kauw untuk mengadakan pertemuan dengan tokoh Khitan dan para pengikutnya.
Pendeta yang sudah duduk di situ tadi bukan lain adalah Ui-bin Sai-kong yang berusia enampuluh tahun dan bermuka kuning, sedangkan sutenya yang menjadi guru Hek-houw adalah Hek-bin Sai-kong, yang bermuka hitam penuh brewok, dan usianya sudah limapuluh lima tahun.
Seperti telah kita ketahui, (Lanjut ke
Jilid 28) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 28 dua orang ini adalah murid-murid dari para ketua Beng-kauw, maka tentu saja ilmu kepandaian mereka sudah hebat.
Wajah Ui bin Sai-kong yang biasanya kuning itu menjadi agak merah ketika dia mendengar peuuturan murid keponakannya.
"Hemm, sungguh memalukan sekali engkau kalah oleh seorang dara!"
"Supek, menurut suara di antara penonton, dara itu katanya adalah cucu dari Yap-taijin"."
"Ahh"".!"
Ui-bin Sai-kong berseru kaget dan dia memandang kepada Hek-bin Sai-kong "Sute, apakah engkau tidak menyelidiki dulu siapakah dia? Dan siapa gurunya sehingga seorang dara bangsawan bisa begitu lihai?"
Sutenya menggeleng kepala dan tiba-tiba seorang pendeta lain yang tadi duduk di situ dekat Ui-bin Sai-kong berkata.
"Ji-wi (anda berdua) sungguh telah main-main dengan keluarga yang disegani. Gadis itu, kalau benar dia cucu Yap-taijin, adalah puteri dari Yap Yu Tek dan dia ini adalah seorang pendekar murid dari Tiong-san Lo-kai. Sedangkan ibunya adala murid dari Pek I Nikouw ketua Kwan-im-bio!"
Dua orang tokoh Beng-kauw itu menoleh dan memandang kepada pendeta kepala gundul yang bicaranya menunjukkan bahwa dia adalah orang Tibet ini, lalu Ui-bin Sai-kong berkata.
"Ah, kiranya begitu? Kiranya kita bertemu dengan musuh lama? Bagus, sekarang kami harap locianpwe Tai-lek Hoat-ong sudi membantu kami untuk membersihkan nama, juga mengingat bahwa keluarga Yap adalah pembesar setia dari pemerintah, sudah sepatutnya kita tentang. Sute, karena kau baru datang, agaknya engkau belum mengenal siapa adanya locianpwe dan saudara-saudara yang hadir di sini Ketahuilah, locianpwe ini adalah Tai-lek Hoat-ong, tokoh Khitan yang mewakili Bangsa Khitan yang gagah perkasa."
Hek-bin Sai-kong segera memberi hormat karena memang sudah lama sekali dia mendengar tentang nama Tai-lek Hoat-ong atau Tayatonga, bahkan pernah pula dia melihat tokoh ini ketika Tai-lek Hoat-ong datang berlayat atas kematian Maghi Sing atau See-thian Sian-su datuk Beng-kauw.
Akan tetapi ketika itu dia tidak sempat berkenalan, apa lagi karena tokoh Khitan ini merupakan tamu kehormatan dan dia sendiri hanyalah murid dari ketua-ketua Beng-kauw saja.
Tayatonga, atau Tai-lek Hoat-ong, bangkit dan balas menghormat.
Baru nampak bahwa biarpun dia bertubuh tinggi besar, akan tetapi ketika berdiri dia agak membongkok.
Tokoh ini adalah seorang lihai dari Khitan yang menjadi guru dari An Hun Kiong, yaitu keponakan mendiang pemberontak An Lu Shan yang ingin melanjutkan cita-cita pemberontakan pamannya itu.
"Dan saudara ini adalah Sin Beng Lama, mewakili Bangsa Tibet. Beliau ini adalah murid dari locianpwe Ba Mou Lama."
Hek-bin Sai-kong juga cepat memberi hormat kepada Sin Beng Lama, pendeta Tibet yang tinggi kurus itu dan juga cepat dibalas oleh pendeta itu.
Kemudian terdengar Tai-lek Hoat-ong berkata, suaranya nyaring sekali.
"Ji-wi hendak minta bantuan kami, hal itu sudah sepatutnya. Akan tetapi kalau menyuruh saya bertanding melawan seorang dara, hal itu sungguh tidak patut!"
Ui-bin Sai-kong cepat menjura.
"Ah, harap locianpwe tidak salah paham. Tentang dara itu, mudah saja. Biar kami sendiri yang menundukkannya. Akan tetapi, karena dara itu tentu dibela oleh orang-orang seperti Pek I Nikouw dan juga Tiong-san Lo-kai, maka kalau dua orang tokoh itu muncul, barulah kami mengharapkan bantuan locianpwe dan juga saudara Sin Beng Lama."
Tiba-tiba pendeta Lama dari Tibet itu berkata.
"Membunuh ular harus menghantam kepalanya, membasmi segerombolan harimau harus lebih dulu membunuh biangnya, baru anak-anaknya mudah ditundukkan. Karena yang mendukung keluarga pembesar Yap itu adalah Pek I Nikouw, maka sebaiknya kalau kita lebih dulu mendatangi nikouw itu dan menantangnya, juga minta datangnya Tiong-san Lo-kai. Nah, setelah dua orang tua itu dapat kita tundukkan, apa sukarnya menghajar pembesar penjilat seperti Yap-taijin dan anak cucunya?"
"Benar sekali!"
Kata Tai-lek Hoat-ong, tokoh Khitan itu.
"Dan baru ada harganya, kalau menghadapi orang-orang seperti Pek I Nikouw dan Tiong-san Lo-kai yang pernah kudengar namanya!"
Sian Lun terkejut bukan main ketika mendengar semua percakapan itu.
Pertama-tama dia sudah kaget sekali mendengar bahwa dara baju hijau yang lihai dan yang datang ke kuil dengan naik kereta indah itu ternyata adalah puteri dari Yap Yu Tek dan Gan Beng Lian, yaitu adik perempuan dari supeknya, Gan Beng Han.
Dia pernah mendengar dahulu bahwa mereka itu mempunyai seorang puteri yang bernama Yap Wan Cu.
Apakah dara itu Yap Wan Cu?
Kemudian dia makin terkejut mendengar rencana persekutuan ini.
Dia teringat akan cerita Ong Gi atau Ong ciangkun tentang tiga kelompok yang kini diam-diam bermusuhan di dalam negara.
Kelompok pertama tentu saja fihak pemerintah yang didukung oleh para pendekar dan dipelopori oleh Siauw-lim-pai dan Thai-san-pai, kelompok ke dua adalah golongan Im-yang-kauw, Pek-lian-kauw, dan Bangsa Uighur.
Adapun kelompok ke tiga adalah Bangsa Khitan, Tibet, dan Beng-kauw, yang kini wakil-wakilnya mangadakan pertemuan di dalam kuil tua ini!
Rencana persekutuan terakhir ini sekarang hendak menghancurkan keluarga Yap, bahkan dengan cara untuk mengalahkan Pek I Nikouw dan Tiong-san Lokai, guru dari suami isteri ayah bunda Yap Wan Cu!
Dia harus menghalangi perbuatan itu!
Akan tetapi kalau dia sekarang muncul dan menyerang kelompok yang berada di dalam kuil, berarti dia yang mencari perkara.
Padahal, selalu gurunya menekankan kepadanya bahwa dia sama sekali tidak boleh menonjolkan kepandaiannya, tidak boleh mencari perkara dengan orang lain dan hanya boleh mempergunakan kepandaian di waktu perlu saja, yaitu kalau dia terancam keselamatannya atau kalau dia melihat orang lain terancam keselamatan mereka.
Jadi tugasnya hanyamemperingatkan ayah bunda Wan Cu agar siap sedia dan berhati-hati karena ada fihak musuh yang mengintai keselamatan keluarga mereka!
Setelah berpikir masak-masak, Sian Lun meninggalkan tempat itu dengan hati-hati dan bergegas pergi ke dalam kota An-kian.
Keramaian masih berlangsung di Kuil Hok Tek Cing Sien dan Sian Lun melihat pula kereta indah tadi masih menanti di situ, berarti bahwa gadis baju hijau yang diduganya tentu Yap Wan Cu adanya itu masih berada di kuil dan mungkin sedang nonton wayang di antara banyak tamu yang memenuhi kuil.
Karena tidak ada kepentingan bagi dia untuk bertemu dengan Wan Cu, apa lagi karena mereka berdua tentu tidak saling mengenal lagi semenjak mereka bertemu ketika masih kecil, Sian Lun lalu cepat pergi mencari keterangan di mana tinggalnya Yap Yu Tek, putera Yap-taijin.
Betapapun juga, Yap Yu Tek adalah suami dari Gan Beng Lian, adik kandung supeknya, maka kepada suami isteri inilah dia berani bertemu, dan dia merasa tidak pantas kalau dia lancang menemui Yap-taijin atau Pek I Nikouw yang dia tahu menjadi ketua Kuil Kwan-im-bio di luar tembok kota An-kian.
Mudah saja bagi Sian Lun untuk memperoleh keterangan di mana tinggalnya Yap Yu Tek.
TernyataYap Yu Tek tinggal tidak jauh dari gedung kabupaten di mana ayahnya menjadi pembesar dan putera Yap-taijin ini ternyata tidak mau menjadi pejabat pemerintah seperti ayahnya, melainkan membukatoko obat dan rempah-rempah.
Ketika Sian Lun datang bertamu, dia diterima oleh Yap Yu Tek sendiri, seorang laki-laki tampan dan bersikap lemah lembut, berusia hampir empatpuluh tahun.
Dengan halus budi Yap Yu Tek mempersilakan Sian Lun duduk dan menanyakan maksud kedatangannya.
"Apakah saya berhadapan dengan paman Yap Yu Tek?"
Sian Lun bertanya dengan sikap hormat. Yap Yu Tek mengangguk dan memandang wajah pemuda tampan itu dengan penuh selidik. Sian Lun cepat menjura dengan hormat dan wajahnya berseri.
"Paman Yap, terimalah hormat saya. Saya Tan Sian Lun"".."
"Tan Sian Lun"".?"
Yap Yu Tek mengerutkan alis, mengingat-ingat.
"Siapakah tamumu"".?"
Tiba-tiba muncul seorang nyonya setengah tua yang masih cantik sekali dan Sian Lun segera dapat menduga siapa adanya nyonya berusia beberapa tahun lebih muda dari Yap Yu Tek itu.
"Bibi tentulah bibi Gan Beng Lian,"
Katanya sambil cepat memberi hormat dengan menjura dan mengangkat kedua tangan ke depan dada.
"Saya Tan Sian Lun"".."
"Ah""..! Sian Lun""..? Engkau lenyap bertahun tahun..... ah, selama ini kemana saja engkau?"
Gan Beng Lian berseru dan memegang lengan pemuda itu. Sian Lun mengangguk.
"Saya sudah mendengar ketika saya datang mengunjungi Cin-an dan saya sudah mengunjungi makam mereka"
"Kasihan kakanda Beng Han dan so-so (kakak ipar perempuan)"".."
Nyonya itu menghapus beberapa butir air matanya.
"Saya juga sudah bertemu dengan Thian Ki Hwesio dari Kuil Ban-hok-tong, dan telah mendengar semua keterangan dengan jelas tentang peristiwa yang terjadi. Akan tetapi, paman Yap berdua, pertama-tama maksud kunjungan saya adalah untuk bertanya kepada paman berdua tentang KINI"
Yap Yu Tek teringat.
"Ahhh! Jadi engkau keponakan kakanda Gan Beng Han yang kabarnya dibawa pergi oleh seorang sakti yang menolongmu ketika terjadi keributan di Kuil Ban-hok tong itu? Duduklah dan maafkan aku karena tadi aku lupa sama sekali"."
"Sian Lun, sudah tahukah engkau akan kakanda Beng Han dan isterinya...".?"
Suara nyonya itu tertahan isak ketika mengajukan pertanyaan ini. keadaan sumoi Gan Ai Ling dan keadaan sute Coa Gin San.
"Apakah paman berdua mengetahui keadaan mereka?"
"Adikmu Ai Ling diajak pergi oleh cukongnya, yaitu Lui Sian Lojin dan sampai sekarang tidak ada kabarnya, entah diajak ke mana, mungkin dilatih ilmu di Kwi-hoa-san. Sedangkan mengenai sutemu Coa Gin San, murid kakanda Beng Han itu, tidak ada yang tahu di mana dia berada. Semenjak peristiwa di Kuil Ban hok tong itu, dia tidak pernah terdengar beritanya."
Sian Lun mengangguk dan tahulah dia bahwa Gin San yang oleh Thian Ki Hwesio dikabarkan sebagai orang yang telah memiliki kepandaian tinggi sekali itu tidak datang ke An kian.
Sian Lun tidak ingin bicara tentang dirinya dan tentang ilmu-ilmu yang dia pelajari dari gurunya, yaitu mendiang Siangkoan Lojin.
Maka dia lalu cepat menceritakan tentang maksud kunjungannya yang ke dua, yaitu yang ada hubungannya dengan Yap Wan Cu.
"Harap paman dan bibi suka tenang, sebenarnya, maksud ke dua dari kunjungan saya ini cukup gawat. Mula-mula saya melihat pertandingan di depan Kuil Hok Tek Ceng Sien antara tiga orang pria melawan seorang dara yang kalau tidak salah dugaan saya adalah puteri paman dan bibi"".."
"Wan Cu"..!"
Gan Beng Lian berseru kaget.
"Ada apakah, ibu?"
Tiba tiba terdengar jawaban suara lembut dan dari pintu depan muncullah seorang gadis cantik yang berpakaian hijau, dan gadis ini bukan lain adalah dara yang bertanding dengan tiga orang laki-laki kurang ajar di depan kuil tadi.
Sian Lun segera bangkit berdiri dan dia memandang kepada gadis itu dengan muka berobah merah dan jantung berdebar.
Entah mengapa, akan tetapi berhadapan dengan dara yang dikaguminya ini dia merasa canggung sekali dan tanpa dapat dikuasainya lagi jantungnya berdebar aneh!
Tadinya wajah dara itu berseri gembira dan dengan lincahnya dia setengah berlari memasuki ruangan itu, akan tetapi ketika dia melihat bahwa ayah ibunya sedang bicara dengan seorang tamu dan kini pemuda yang menjadi tamu itu sudah berdiri, seorang pemuda tampan sekali dan berpakaian sederhana, tentu saja dara ini merobah sikapnya.
Dia mengalihkan pandang matanya ketika sinar matanya bertemu dengan pandang mata pemuda itu, lalu melanjutkan kata-katanya.
"Mengapa ibu memanggil namaku tadi?"
"Wan Cu, benarkah engkau telah membuat keributan di luar kuil tadi dan berkelahi dengan tiga orang pria?"
Yap Yu Tek menegur puterinya dengan alis berkerut dan pandang mata penuh teguran.
Berobah wajah dara itu dan kini terbayang kemarahan ketika dia mengerling ke arah pemuda yang menjadi tamu ayah bundanya ttu, lalu terdengar dia mengomel.
"Hemm, kiranya sudah ada saja orang bermulut ceriwis dan berlidah panjang yang mengadu kepada ayah ibu?"
"Wan Cu"".!"
Ibunya menghardik. Wajah Sian Lun menjadi merah sekali dan dia cepat memberi hormat kepada dara itu sambil berkata.
"Maaf, memang benar aku yang menyampaikan berita itu, akan tetapi aku bukan mengadu melainkan hendak menyampaikan berita penting sekali sebagai akibat dari pada pertandingan itu."
"Hemm, apapun akibatnya aku sendiri yang akan menanggung dan sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan orang luar!"
Dara itu berkata lagi dengan sikap ketus biarpun kata-katanya masih halus, sedangkan sepasang matanya memancarkan sinar penuh kemarahan karena dia menganggap pemuda ini amat lancang telah berani mengadu kepada ayah bundanya sehingga baru saja pulang dia kena tegur ayahnya.
"Wan Cu, jangan kurang ajar kau! Dia ini bukan orang luar, dia adalah Tan Sian Lun, keponakan dari mendiang uwakmu Gan Beng Han, anak yang hilang pada sepuluh tahun yang lalu itu "
"Ahh"".!"
Wajah yang cantik itu berobah, sinar kemarahan lenyap seketika dari matanya dan kini dia memandang kepada Sian Lun penuh perhatian, dari kepala sampai ke kaki, kemudian dia menjura untuk memberi hormat "Ah, maafkan aku, Tan"".
suheng.
Engkau adalah keponakan dan juga murid paman tuaku, maka aku harus menyebutmu suheng, bukan?
Maafkan aku karena tidak mengenalmu sehingga mengeluarkan kata kata keras.
Akan tetapi, hal apakah yang hendak kausampaikan, yang menjadi akibat keributan tadi?"
Sian Lun tersenyum, hatinya lega.
Tadi dia sudah merasa risau sekali melihat dara itu marah-marah kepadanya.
Kiranya dara ini manis budi dan lincah, dan memiliki watak yang keras dan berani, akan tetapi juga ramah dan...".
bukan main cantiknya!
"Akulah yang harus minta maaf"".
moi-moi, karena datang-datang aku menimbulkan kekagetan dan ketidaksenangan hatimu"".."
"Duduklah, Sian Lun, duduklah dan ceritakan apa yang terjadi,"
Kata Yap Yu Tek.
Mereka berempat duduk kembali dan dengan sikap hormat dan suara halus Sian Lun lalu menceritakan bahwa dia tadi melihat orang yang berjuluk Harimau Hitam atau Macan Hitam itu dibawa pergi oleh seorang pendeta.
Karena merasa heran, dia membayangi dan kemudian dia menceritakan tentang pertemuan antara orang Khitan, Tibet dan orang-orang Beng-kauw di kuil rusak.
"Macan Hitam itu ternyata adalah murid Beng-kauw dan yang membawanya pergi adalah gurunya. Dan mereka itu menencanakan maksud yang amat jahat terhadap keluarga paman Yap dan juga terhadap guru guru paman dan bibi."
Dia lalu bercerita tentang niat persekutuan itu untuk menentang Pek I Nikouw dan Tiong-san Lo-kai di Kuil Kwan Im Bio.
Mendengar penuturan itu, Yap Yu Tek dan Gan Beng Lian terkejut bukan main, akan tetapi Yap Wan Cu bangkit berdiri, mengepal tinjunya dan berkata.
"Ayah dan ibu, karena aku yang menimbulkan gara-gara, biarlah aku yang akan menghadapi Macan Hitam dan gerombolannya! Sekali ini akan kubasmi mereka!"
"Wan Cu, kaukira akan semudah itu?"
Ayahnya menegur.
"Kalau mereka itu sudah berani menantang suhu dan juga guru ibumu, berarti mereka itu tentu memiliki kepandaian tinggi sekali. Urusan ini gawat sekali, hanya menyangkut suhu dan guru ibumu, bahkan juga melibat keselamatan keluarga kong-kongmu (kakekmu). Sekarang juga aku dan ibumu-harus pergi ke gedung kong-kongmu, untuk memberi laporan agar di sana diadakan penjagaan, dan kami juga harus menjaga keselamatan keluarga di sana. Engkau pergilah ke kuil, temui guru ibumu dan ceritakan segala yang terjadi."
"Apakah tidak berbahaya kalau dia pergi sendiri saja?"
Gan Beng Lian menyatakan kekhawatirannya.
"Biarlah saya menemani adik Wan Cu, bibi. Mungkin Pek I Nikouw akan bertanya sesuatu kepada saya tentang apa yang saya saksikan dan dengar di kuil tua itu,"
Sian Lun berkata, menawarkan tenaganya.
Yap Yu Tek yang berpenglihatan tajam itu sudah dapat menduga bahwa pemuda ini bukan pemuda sembarangan dan sikapnya menunjukkan bahwa pemuda ini boleh dipercaya, sopan dan baginya mudah saja menduga bahwa pemuda ini telah memiliki kepandaian tinggi.
Kalau tidak, mana mungkin mengintai ke kuil rusak di mana berkumpul musuh-musuh yang pandai tanpa diketahui?
Maka dia cepat berkata.
"Baiklah, Sian Lun. Kau menemani adikmu Wan Cu ke Kuil Kwan im bio. Biar pembicaraan kita lanjutkan kelak kalau urusan ini sudah lewat, maafkan penyambutan kami yang singkat ini."
Yap Yu Tek lalu memerintahkan para pembantu untuk menutup toko, kemudian dia bersama isterinya bergegas pergi ke gedung ayah mereka, sedangkan Yap Wan Cu bersama Sian Lun pergi keluar kota An-kian menuju ke Kuil Kwan-im-bio yang berada di luar kota, di tempat yang sunyi.
Beberapa kali Wan Cu mengerling ke kiri, ke arah pemuda yang berjalan di sampingnya itu.
Pemuda yang amat pendiam, padahal sudah beberapa kali dia mengajaknya bercakap cakap di sepanjang perjalanan menuju ke Kuil Kwan-im-bio.
Pemuda itu hanya menjawab sekedarnya saja dan kelihatan canggung dan malu-malu.
Dia sudah banyak mendengar tentang pemuda ini dari ibunya.
Ibunya sering bercerita tentang paman tuanya, yaitu mendiang Gan Beng Han dan isteri pamannya itu, yaitu Kui Eng yang masih kakak beradik seperguruan, juga ibunya pernah bercerita tentang mendiang Tan Bun Hong, sute dari pamannya.
"Mereka bertiga, kakak Gan Beng Han, Tan Bun Hong dan Kui Eng merupakan tiga orang kakak beradik murid Lui Sian Lojin dan terkenal sebagai tiga orang pendekar yang gagah perkasa, bahkan dikenal sebagai Tiga Naga yang mengamuk seakan-akan baru turun dari angkasa, menggegerkan kota raja dalam usaha mereka menentang pembesar pembesar lalim,"
Demikian antara lain ibunya bercerita.
Dan diapun sudah mendengar bahwa sute dari pamannya itu, Tan Bun Hong, menikah dengan puteri pangeran, akan tetapi karena dia pernah mengamuk di kota raja bersama dua orang saudara seperguruannya itu, akhirnya dia ketahuan dan keluarga isterinya terbasmi semua, dia sendiri gugur dengan gagahnya.
Dan Tan Sian Lun, pemuda yang kini berjalan dengan kepala tunduk di sampingnya adalah putera dari pendekar Tan Bun Hong itu!
"Tan-suheng, engkau tentu pandai ilmu silat."
"Ah, sama sekali tidak, adik Wan Cu."
"Hemm, sejak tadi engkau menyebutku moi-moi (adik), mengapa tidak sumoi (adik seperguruan)?"
Wan Cu menoleh dan menatap wajah itu sambil memandang dengan sinar mata penasaran.
Sian Lun berhenti melangkah dan mereka berdiri saling berhadapan "Wan Cu moi-moi, maafkan aku kalau aku tidak berani menyebutmu sumoi, karena sesungguhnya perguruan kita bersumber lain.
Bukankah guru dari ayahmu adalah Tiong-san Lo-kai tokoh Bu-tong-pai sedangkan guru dari ibumu adalah Pek I Nikouw tokoh Thai-san-pai?
Sedangkan mendiang paman dan bibi guruku, juga mendiang ayahku adalah murid murid dari Lui Sian Lojin, bukan dari partai manapun.
Jadi antara perguruan kita tidak ada hubungan, moi-moi."
Yap Wan Cu tersenyum.
"Ah, mengapa kau membikinnya menjadi demikian ruwet? Engkau adalah murid keponakan dari paman tuaku, jadi untuk mudahnya aku menyebutmu suheng. Menyebut kakak seperguruan atau kakak biasa apa sih bedanya?"
Sian Lun juga tersenyum. Gadis ini keras hati dan pemberani, namun selain ramah dan lincah, juga wataknya sederhana.
"Sebetulnya sih tidak ada bedanya, hanya aku"". ah, mana aku berani kausebut suheng, padahal engkau memiliki kepandaian silat yang demikian lihai?"
"Kakak Sian Lun, jangan engkau merendahkan diri. Menurut penuturan ayah ibuku, di waktu engkau lenyap sepuluh tahun yang lalu, kabarnya engkau dibawa pergi seorang sakti. Engkau diajar apa sajakah selama sepuluh tahun ini?"
"Aku diajar hidup sebagai petani dan sebagai nelayan."
"Ehh?"
Dara itu memandang heran dan mengangkat kedua alisnya yang kecil hitam dan panjang sehingga Sian Lun melongo karena terpesona oleh kecantikan wajah dara itu.
"Untuk apakah pelajaran bertani dan menangkap ikan?"
Kini Sian Lun memandang dengan sinar muta tajam dan sikapnya sungguh-sungguh ketika dia menjawab.
"Cu-moi, menurut kenyataannya, belajar bertani dan belajar menangkap ikan jauh lebih bermanfaat bagi kehidupan manusia dari pada belajar ilmu silat! Lihatlah hasil karya dari para petani dan nelayan! Hasil karya mereka merupakan kebutuhan hidup dari banyak orang, bukan kebutuhan mereka sendiri. Betapa semenjak lahir kita telah berhutang budi kepada para petani dan nelayan. Akan tetapi, apakah hasil karya dari para ahli silat? Tak lain hanya kekerasan, permusuhan dan saling bunuh!"
Dara itu mengerutkan alisnya, berpikir keras karena dia merasa tidak setuju sepenuhnya dengan ucapan pemuda itu.
"Akan tetapi, Lun-ko, kalau semua orang yang jujur dan baik menjadi petani dm nelayan sedangkan semua orang yang jahat menjadi ahli silat, habis siapakah yang akan menentang penindasan dan kejahatan yang dilakukan oleh para penjahat itu terhadap para rakyat yang lemah? Kalau tidak ada para pendekar yang ahli silat untuk menghadapi mereka yang jahat, akan bagaimana jadinya dengan kehidupan ini?"
Sian Lun menarik napas panjang.
"Demikianlah kenyataanya, moi-moi. Betapa banyaknya orang yang mempergunakan ilmu silat atau kekuatan atau kekuasaan untuk menindas orang lain sehingga orang-orang yang tidak suka akan kekerasanpun terpaksa harus mempelajari silat untuk membela kaum lemah yang tertindas. Memang benar ucapanmu, ilmu silat, seperti juga ilmu bertani dan mencari ikan, hanyalah ilmu yang semuanya berguna, tidak baik maupun buruk sifatnya, karena baik atau buruknya itu tergantung kepada si manusia yang memiliki ilmu itu. Ilmu macam apapun di dunia ini, kalau dipergunakan untuk menyenangkan diri sendiri dan mencelakakan orang lain, menjadi ilmu jahat dan sebaliknya kalau dipergunakan untuk menolong orang lain, adalah ilmu yang baik."
Dara itu tertawa dan memandang kepada Sian Lun dengan girang.
"Nah, begitu baru aku setuju, koko! Jadi, engkau hanya belajar bertani dan menangkap ikan dari orang sakti yang membawamu itu? Apakah engkau tidak diberi pelajaran ilmu silat oleh gurumu? Apakah engkau tidak mempelajari silat, Lun ko?"
Sian Lun tersenyum. Dia mengangguk dan menjawab sederhana.
"Ada sedikit aku mempelajari ilmu silat, akan tetapi hanya sedikit, moi-moi."
"Ah, engkau tentu pandai!"
"Tidak bisa dibandingkan denganmu."
"Ah, aku tidak percaya. Lain kali aku akan minta petunjukmu, koko Sekarang mari kita cepat-cepat pergi ke Kwan im bio."
Setelah berkata demikian, tubuh dara itu melesat cepat sekali karena dia sudah mempergunakan ginkang untuk berlari cepat ke depan.
Sian Lun tersenyum.
Dara itu memang cerdik sekali, dia harus berhati-hati agar tidak sembarangan mengeluarkan kepandaian kalau tidak terpaksa sekali, sesuai dengan ajaran dan sikap mendiang gurunya.
Maka begitu melihat Wan Cu berlari cepat yang dia tahu adalah akal dara itu untuk menguji kepandaiannya, atau setidaknya menguji ginkangnya, diapun berlari cepat akan tetapi tanpa mempergunakan ilmunya, hanya lari cepat biasa saja mengandalkan kekuatan kedua kakinya.
Tentu saja dia tertinggal jauh sekali oleh dara yang larinya seperti kijang cepatnya itu!
Sebentar saja tubuh dara itu telah berkelebat dan lenyap di sebuah tikungan jalan.
Ketika Sian Lun tiba di tikungan itu, dia tidak melihat Wan Cu, akan tetapi dia menahan senyum ketika tiba tiba tubuh dara itu berkelebat dari atas pohon, menyambar turun ke depannya seperti seekor burung garuda!
Dara itu memang lincah dan memiliki ginkang yang lumayan dan agaknya kini sedang memamerkan kepandaiannya kepadanya.
"Ah, engkau membuat aku kaget saja, moi-moi! Larimu cepat sekali!"
Wajah cantik itu berseri gembira, matanya bersinar sinar, akan tetapi mulut yang manis itu tersenyum dan berkata merendah.
"Ah, larimu juga cepat, koko."
Kini mereka berjalan berdampingan dan Wan Cu tidak lagi mempergunakan ilmu lari cepat, juga tidak lagi bertanya tentang ilmu silat karena dia merasa sudah cukup menguji tadi.
Pemuda ini mungkin hanya mempelajari sedikit saja ilmu silat!
Akhirnya tibalah mereka di Kuil Kwan-im-bio yang sunyi letaknya di luar kota itu.
Akan tetapi dari jauh saja Sian Lun sudah memandang dengan hati tegang.
Jantungnya berdebar ketika dia mengenal beberapa orang berada di depan kuil itu.
"Ah, agaknya nenek guru sedang menghadapi tamu!"
Wan Cu berseru dan tiba-tiba dia merasa lengannya dipegang orang dan ketika dia menoleh, terheranlah dia melihat ketegangan membayang di wajah pemuda yang biasanya tenang itu.
"Ada apakah, Lun ko?"
"Mereka"".. mereka adalah orang-orang yang kuceritakan itu, dari kuil rusak itu""."
"Ah, jadi mereka telah tiba di sini? Bagus, mari kita cepat membantu nenek""."
Sian Lun hendak mencegah, akan tetapi dara itu sudah cepat meloncat ke depan dan berlari cepat sehingga terpaksa Sian Lun juga mengikutinya dari belakang.
Memang benar dugaan Sian Lun, Nampak Tai-lek Hoat-ong atau Tayatonga, tokoh Khitan raksasa bongkok itu telah berada di situ, bersama Sin Beng Lama dari Tibet, dan dua orang tokoh Beng-kauw, yaitu Ui bin Sai-kong dan Hek bin Sai-kong!
Dan di fihak Kuil Kwan-im-bio nampak seorang nikouw tua dan seorang kakek pengemis bersama beberapa orang nikouw Kwan-im-bio yang memandang dengan alis berkerut.
Sian Lun dapat menduga bahwa nikouw tua itu tentulah Pek I Nikouw, karena selain sudah tua juga pakaiannya serba putih, sesuai dengan julukannya, yailu Pek I Nikouw ( Peu-deta Wanita Baju Pulih) Sedangkan kakek berpakaian pengemis itu agaknya adalah Tiong-san Lo-kai!
Pada saat Wan Cu dan Sian Lun tiba di situ, terdengar Hek-bin Sai kong yang mukanya hitam penuh brewok berkata nyaring.
"Bagus sekali, Pek I Nikouw dan Tiong-san Lo-kai! Ayah bunda gadis itu adalah murid kalian! Kami adalah orang-orang yang tahu aturan, maka kami tidak mau berurusan dengan mereka, melainkan langsung mendatangi kalian untuk minta pertanggungan jawab kalian. Gadis cucu murid kalian itu telah menghina kami, menghina Beng-kauw, oleh karena itu Beng kauw minta pertanggungan jawab kalian!"
Sebelum Pek I Nikouw atau Tiong san Lo-kai menjawab, terdengar Wan Cu yang sempat mendengar ucapan tokoh Beng-kauw itu sudah berseru nyaring sekali.
"Memang aku yang berbuat dan aku yang bertanggung jawab! Aku yang menghajar tiga orang kurang ajar itu, dan kalau ada orang lain hendak membela penjahat-penjahat hina itu, majulah, aku Yap Wan Cu tidak takut menghadapinya!"
"Wan Cu, apa yang telah kaulakukan?"
Hampir berbareng kakek dan nenek itu menegur.
"Harap ji-wi tidak menanggapi omongan mereka ini, teecu telah menghajar tiga orang laki-laki hina yang telah berani bersikap kurang ajar kepada teecu di depan Kuil Hok Tek Ceng Sien di depan banyak orang. Teecu tidak tahu mereka itu murid-murid Beng-kauw atau murid dari neraka, yang teecu ketahui hanya bahwa mereka itu hendak kurang ajar kepada teecu, maka teecu menghajar mereka. Masih baik teecu tidak membunuh mereka. Kalau sekarang ada antek antek mereka, atau guru-guru mereka, datang hendak membela, teecu akan menghadapinya!"
"Bagus! Bocah sombong, kau majulah!"
Hek-bin Sai-kong sudah meloncat ke depan dan begitu kedua tangannya bergerak, terdengar suara berkerotokan! "Siapa takut padamu!"
Wan Cu juga meloncat ke depan.
"Wan Cu, mundur kau!"
Pek I Nikouw membentak, akan tetapi dasar dara itu luar biasa tabahnya, dia meloncat sambil menyerang dengan pukulan keras ke arah muka Hek-bin Sai-kong! "Plak-plak!"
Tubuh dara itu terlempar ke belakang dan dia tentu sudah roboh terjengkang kalau saja tidak secara kebetulan dia terlempar ke arah Sian Lun dan menabrak pemuda ini yang sudah cepat menangkap lengannya.
"Dia lihai sekali, Cu moi""""
Sian Lun berbisik, akan tetapi dara itu memang keras kepala.
Dengan marah sekali dia mencabut pedangnya dan tanpa memperdulikan bujukan Sian Lun dan teguran Pek I Nikouw dan Tiong-san Lo-kai, dia sudah menerjang ke depan, menyerang Hek-bin Sai-kong dengan pedangnya.
Kedua tangan pendeta muka hitam itu bergerak dan tahu-tahu nampak dua sinar berkelebat.
Kiranya dia sudah mencabut keluar sepasang pedangnya dan dua kali pedang itu berkelebat, terdengar suara berdencing nyaring dibarengi teriakan Wan Cu karena kalau dia tidak membuang tubuh ke belakang, hampir saja ujung pedang lawan menggores mukanya!.
Wajah dara itu menjadi pucat sekali dan pada saat itu Pek I Nikouw sudah meloncat ke depan dan menarik lengan Wan Cu, lalu mendorongnya ke belakang.
"Apakah engkau sudah bosan hidup? Mundurlah dan jangan ikut campur!"
Wan Cu tidak membantah lagi karena maklumlah dia bahwa fihak lawan terlalu lihai sehingga bukan lawannya, maka dia lalu mundur dan berdiri di dekat Sian Lun sambil menyimpan pedangnya.
"Benar, dia lihai sekali...""
Bisiknya kepada pemuda itu, tidak tahu betapa pemuda itu masih berdebar tegang dan betapa pemuda itu tadi sudah siap siap, menegang seluruh urat syarafnya karena siap untuk menyelamatkannya apa bila saikong itu menurunkan tangan kejam!
"Omitohud, agaknya anda benar-benar mendesak kami!"
Pek I Nikouw berkata sambil melangkah maju menghadapi Hek-bin Sai-kong.
"Sebenarnya, apakah yang kalian kehendaki?"
"Pek I Nikouw, cucu muridmu adalah cucu dari Yap taijin, dan sudah berani menghina murid kami yang bernama Ma Siok, bahkan tadi telah berani menyerangku pula. Kalau tidak ingat bahwa dia itu seorang anak-anak, apakah dia masih dapat bernapas sekarang?"
Hek-bin Sai-kong berkata.
"Bukan hanya urusan pribadi yang membuat kami ditang, melainkan karena penghinaan itu berarti penghinaan terhadap Beng-kauw oleh seorang cucu pembesar dan cucu muridmu. Oleh karena itu, maka aku dan teman-teman datang untuk menantang engkau dan Tiong-san Lo-kai sebagai kakek guru dan nenek guru dara itu!"
"Ha-ha ha, bagus sekali, sejak kapankah orang orang Beng-kauw menarik bantuan seorang pendeta Lama dari Tibet dan seorang tokoh Khitan? Apakah sejak tersiar desas desus bahwa Beng-kauw bersama orang-orang Tibet dan Khitan sedang bergerak hendak memperebutkan kedudukan?"
Tiba tiba Tiong-san Lo-kai yang sejak tadi diam saja berkata dengan tertawa dan menir|ck. Dengan alis berkerut Tai-lek Hoat-ong bertanya kepada Hek-bin Saikong.
"Hek-bin Sai-kong, siapakah jembel tua ini?"
"Hemm, Tai-lek Hoat-ong, namamu sudah kukenal karena selamu beberapa tahun ini engkau sudah banyak melakukan hal-hal yang menggemparkan. Engkau mau mengenal jembel tua bangka ini? Aku adalah Tiong-san Lo-kai."
"Aha, inikah orangnya?"
Hanya demikian Tai-lek Hoat-ong berkata, sikapnya menghina sekali.
"Terserah apa yang kalian katakan, Pek I Nikouw din Tiong-san Lo-kai! Kami datang berempat dan kalau kalian merasa takut, hayo cspat ajak cucu murid kalian itu berlutut dan minta ampun kepada kami, juga memenuhi syaratku seperti kalau kalian kalah dalam pertandingan melawan kami."
"Hemm, kalau kami takut atau kalah, apakah syaratmu?"
Pek I Nikouw bertanya, suaranya masih halus karena nikouw ini memang sabar sekali.
"Syaratnya, adalah pengikatan kekeluargaan. Nona ini harus menjadi isteri muridku yang jatuh cinta kepadanya."
"Jahanam busuk! Lebih baik aku mampus!"
Wan Cu sudah menjerit dan tangan kanannya bergerak.
Baca Juga: Pendekar Pedang Pelangi 9
Baca Juga: Sepasang Naga Lembah Iblis 5