Ceritasilat Novel Online

Kisah Tiga Naga Sakti 6

Eps 6 Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo.

Thian Bhok Cu membujuk. Gin San memandang kepada mereka bertiga secara bergantian, kemudian terdengar lantang jawabannya yang ditunggu-tunggu oleh tiga orang itu.

"Aku tidak pilih siapa-siapa!"

"Ehh"".?"

Tiga orang kakek itu terkejut dan air muka mereka mulai berubah, bengis dan marah. Melihat ini, Gin San cepat menyambung kata-katanya tadi.

""Aku tidak memilih siapa-siapa atau aku juga memilih semuanya! Locianpwe bertiga sama hebat, sama gagah, maka bagaimana aku dapat memilih seorang di antara kalian? Juga aku tidak mungkin bisa memilih semuanya! Sekarang begini saja, dari pada berebut, dan karena akupun tidak bisa berat sebelah memilih seorang di antara locianpwe bertiga, bagaimana kalau diadakan sayembara saja?"

"Sayembara"".?"

Tiga orang kakek itu bertanya dengan penuh perhatian.

Memang amat mengherankan betapa seorang anak laki-laki kecil yang usianya baru sepuluh tahun itu telah dapat mempermainkan tiga orang kakek iblis yang amat terkenal sebagai pimpinan atau ketua dari Beng-kauw itu!

Padahal tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw pun akan gemetar dan ketakutan kalau berhadapan dengan mereka bertiga ini!

"Ya, sayembara.

Aku mempunyai suatu teka-teki, suatu rahasia alam yang sampai kini belum ada ahli yang mampu memecahkannya.

Nah, siapa di antara locianpwe bertiga mampu menjawab teka teki atau pertanyaan abadi ini, menjawab dengan tepat, jujur, dan tidak dapat dibantah kebenarannya, dialah yang menang dan aku tentu memilih dia!"

Kaum penganut Beng kauw adalah orang-orang yang suka akan segala macam ilmu klenik, suka akan segala kemujijatan dan akan "kebatinan"

Yang muluk-muluk, penuh rahasia dan yang mengandung mistik, juga mereka terkenal suka akan permainan kata-kata yang tinggi-tinggi dan sukar diartikan.

Maka kini mendengar usul anak kecil ini, tentu saja mereka tertarik bukan main, wajah mereka berseri dan mereka ingin sekali segera mendengar apa gerangan teka-teki yang mengandung rahasia alam itu!

Mereka yang gila akan hal-hal aneh ini, yang gemar berbantahan dengan hal-hal yang mereka namakan "soal-soal batiniah", yang abstrak-abstrak, yang gaib gaib, tentu saja sama sekali tidak tahu bahwa mereka sedang dipermainkan oleh anak nakal ini.!

Seorang anak kecil berusia sepuluh tahun seperti Gin San ini mana tahu tentang segala klenik dan kebatinan?

Kalau dia membual dan menantang itu adalah karena dia hendak menggunakan akal mengulur waktu sambil mencari siasat dan kesempatan untuk menyelamatkan diri.

Tentu saja anak ini hanya mengenal teka teki kanak-kanak, segala macam cangkriman permainan kanak-kanak yang kadang-kadang memang mengandung pertanyaan pertanyaan yang tak masuk di akal dan bahkan orang tuapun tidak mampu menjawabnya!

"Lekas katakan apa teka-teki itu!"

Kata Kwan Cin Cu sambil mendekat.

"Hayo keluarkan semua pertanyaanmu tentang ilmu gaib, pasti dapat kujawab!"

Hok Kim Cu menyombongkan diri.

"Hi-hik, memang engkau menyenangkan sekali!"

Kata Thian Bhok Cu sambil mengelus dagu Gin San.

"Pandai berteka teki, hi-hik!"

Gin San mengkirik. Balu tengkuknya meremang ketika merasakan usapan jari-jari yang dilakukan demikian mesra dan halus. Dagunya terasa geli dan bulu tengkuknya meremang.

"Teka-tekiku ini hanya sebuah dan agar tidak sampai berebut dan tidak ikut-ikutan, maka sebaiknya kalau locianpwe bertiga memberi jawaban dengan tulisan di atas kertas. Dengan demikian kalian tidak dapat saling menjiplak!"

"Bagus, bagus"

Kwan Cin Cu berseru.

"Itu benar sekali!"

Sambung Hok Kim Cu.

"Anak yang baik, anak yang tampan, anak yang pandai, hi-hik!"

Thian Bhok Cu memuji-muji.

Mereka lalu sibuk mengambil kertas dan alat tulis, persis seperti tiga orang anak kecil yang hendak diuji kepandaian mereka oleh seorang guru sekolah mereka!

Diam-diam Gin San merasa geli juga sungguhpun dia masih bingung karena dia belum bisa menemukan kesempatan untuk melarikan diri.

"Nah, sebelum aku memberitahukan teka-tekiku, hendaknya locianpwe bertiga ingat betul bahwa yang menang adalah dia yang dapat memberi jawaban yang tepat, jujur, dan yang tidak dapat dibantah lagi kebenarannya. Kalau jawaban itu masih dapat dibantah, maka jawaban itu berarti tidak benar!"

Tiga orang kakek itu memandang kepada Gin San dengan mata tak pernah berkedip, dan dengan penuh perhatian dan ketegangan, dan mereka mengangguk menyetujui.

Memang tentu saja jawaban yang benar adalah yang tepat dan yang tidak dapat dibantah lagi kebenarannya.

Ini sudah sewajarnya!

"Nah, dengarkan sekarang teka-tekiku yang menjadi rahasia alam, sam-wi locianpwe!"

Kata Gin San dengan suara lantang dan denga lagak menggurui! "Pertanyaan teka-teki itu adalah. Siapakah di antara telur dan ayam yang lebih dulu berada di dalam dunia ini?"

Tiga orang kakek yang sudah memasang telinga penuh perhatian dan ketegangan itu, sejenak melongo, kemudian muka mereka menjadi merah karena mereka merasa dipermainkan!

Ada rasa geli juga dan dalam hati mereka di samping kemarahan.

Pertanyaan itu merupakan teka teki senda gurau yang dilakukan oleh anak anak!

"Jangan main main kau!"

Bentak Kwa Cin Cu marah.."Siapa main main, locianpwe?

Bukankah merupakan pertanyaan yang amat baik?

Kita sudah sama mengenal apa itu telur dan apa ayam, akan tetapi dapatkah locianpwe bertiga menjawab mana di antara keduanya itu yang lebih dulu berada di dalam dunia?

Nah, jawablah, akan tetapi harus tepat dan jawaban harus tidak dapat dibantah pula kebenarannya."

Tiga orang kakek.

itu mengerutkan alisnya dan mulailah mereka berpikir-pikir.

Mereka sudah biasa membicarakan dan mempelajari tentang rahasia alam, rahasia perbintangan, rahasia nasib manusia dan sebagainya lagi.

Dan kini mereka dihadapkan dengan pertanyaan remeh yang biasanya untuk permainan kanak-kanak!

Akan tetapi, begitu mereka memikirkan dengan mendalam, nampaklah oleh mereka kesukaran dalam menjawab pertanyaan itu.

Makin direnungkan, makin sulitlah jawabannya, karena jawaban apapun yang diberikan adalah serba salah.

Padahal bagi Gin San sesungguhnya dia tidak ingin benar benar bermain teka-teki melawan tiga orang kakek itu.

Dia tidak perduli apakah ayamnya yang ada lebih dulu, ataukah telurnya.

Yang penting bagi dia adalah penguluran waktu untuk menyelamatkan diri.

Maka dia membiarkan tiga orang kakek itu mengerutkan alis, Kadang-kadang memejamkan mata, menggosok-gosok dahi, pelipis, menjambak-jambak rambut, mengeluh dan menggereng.

Akan tetapi celakanya, setiap kali dia menggerakkan kaki hendak menjauhkan diri, tentu ada seorang di antara mereka yang memandangnya sehingga dia selalu harus membatalkan niatnya untuk lari.

Kini tiga orang kakek itu mulai mencorat-coret di atas kertas masing masing.

Mereka itu demikian tekun, persis tiga orang anak sekolah menghadapi ujian!

Ketika melihat tiga orang kakek itu sudah mulai menulis dan mencurahkan seluruh perhatian kepada kertas di depan mereka, diam diam dan perlahan-lahan Gin San keluar dari dalam ruangan itu dengan hati hati sekali.

Jantungnya berdegup tegang dan dia berjalan keluar dengan kaki belakang diangkat.

Akan tetapi baru saja dia keluar dari ruangan, tiba tiba tubuhnya tertarik ke belakang.

Dia terkejut bukan main dan menengok.

Betapa heran dia melihat bahwa tidak ada siapapun yang menariknya, yang ada hanyalah Thian Bhok Cu yang masih duduk dan kini meluruskan tangan kiri ke depan.

Dari telapak tangan si kakek genit inilah terdapat hawa yang menyedotnya sedemikian kuat sehingga dia tertarik kembali ke dalam ruangan itu!

Seolah olah dari telapak tangan itu mengandung daya tarik besi semberani yang mujijat.

Dan sesungguhnyalah, kakek ketiga dari Beng-kauw ini telah mempergunakan sinkang yang amat kuatnya untuk menarik kembali Gin San yang hendak melarikan diri.

"Hi hik, kau hendak berkeliaran ke mana anak manis? Lihat, jawabanku sudah selesai!"

Katanya sambil menyerahkan kertas yang dilipatnya itu kepada Gin San.

Anak ini terpaksa duduk kembali dan menerima kertas lipatan itu.

Ketika dia membukanya dan membacanya, hampir saja dia tertawa bergelak.

Jawaban kakek genit ini sungguh lucu bukan main, jawaban yang belum pernah didengarnya dari siapapun juga ketika dia bermain teka-teki dengan Sian Lun, Ai Ling dan anak-anak lain.

Jawaban itu hanya merupakan beberapa huruf singkat yang berbunyi.

Yang lebih dulu ada ialah TAHI AYAM!

Seperti ketika dia bermain teka-teki dengan anak-anak, sekarangpun dia sudah menyusun bantahan-bantahan untuk jawaban itu karena syarat untuk menang adalah jawaban yang tidak dapat dibantah kebenarannya!

Dua orang kakek lainnya juga menyerahkan kertas mereka dan dengan girang Gin San melihat bahwa untuk jawaban kedua orang kakek inipun dia sudah siap dengan bantahannya seperti biasa dia lakukan bersama anak-anak.

Jawaban Kwan Cin Cu adalah .

Ayam yang lebih dulu ada.

Sedangkan jawaban Hok Kim Cu adalah.

Telur lebih dulu!

Gin San tersenyum dan menggenggam tiga gulungan kertas jawaban itu, dan memandang kepada mereka yang menanti penuh harapan untuk menang.

"Aku telah membaca jawaban locianpwe bertiga. Pertama akan kubacakan jawaban locianpwe ini."

Dia menuding kepada Kwan Cin Cu karena dia belum mengenal nama mereka.

"Heh, anak baik. Aku adalah Kwan Cin Cu, dia ini suteku Hok Kim Cu dan yang itu adalah sute Thian Bhok Cu. Hayo kaukatakan, bukankah jawabanku yang benar?"

Kata Kwan Cin Cu.

"Baiklah kubacakan jawaban locianpwe Kwan Cin Cu,"

Kata pula Gin San sambil membuka kertas jawaban itu.

"Locianpwe menjawab bahwa AYAM yang lebih dulu ada. Bagaimana, alasannya maka locianpwe menjawab demikian?"

"Tentu saja demikian"

Kata Kwan Cin Cu dan dia mengerutkan alisnya seperti biasanya para "ahli kebatinan"

Kalau sedang berdebat tentang apa yang mereka namakan soal-soal kebatinan!

"Teka-teki itu berbeda dengan pertanyaan tentang dua hal berlawanan yang mengandung unsur Im dan Yang.

Kalau dua hal pertentangan yang mengandung unsur Im dan Yang, misalnya gelap dan terang, kiri dan kanan atas dan bawah, dingin dan panas dan sebagainya, tentu keduanya kait-mengait dan saling melahirkan, saling membunuh pula.

Misalnya gelap dan terang.

Keduanya tentu tercipta secara berbareng, karena kalau tidak ada ge"ap.

mana bisa muncul terang, sebaliknya kalau tidak ada terang, mana bisa kita mengenal gelap, Kita mengatakan sesuatu itu kiri karena ada .kanan dan sebaliknya.

Itulah adanya dua unsur berlawanan sifatnya namun satu juga, unsur yang mengandung Im dan Yang.

Akan tetapi pertanyaanmu itu sama sekali tidak mengandung unsur Im dan Yang, dua unsur yang berlawanan itu, melainkan mengandung dua unsur yang kunamakan, unsur biang dan anak!

Kalau ada dua unsur biang dan anak, sudah tentu yang ada lebih dulu adalah biangnya, bukan anaknya.

Seperti juga bumi adalah unsur biang, dan segala pertumbuhan adalah unsur anak, maka tentu bumi yang ada lebih dulu.

Maka atas dasar perhitungan itulah maka AYAM yang lebih dulu ada dari pada TELUR.

Nah, betul tidak?"

Seorang anak kecil seperti Gin San dijejali teori-teori yang muluk-muluk macam itu, tentu saja menjadi pening seketika!

Dia hanya mengajukan dalil kanak-kanak seperti biasa kalau dia bermain teka-teki dengan anak anak lain.

"Jawabanmu itu baik sekali, locianpve, akan tetapi tetap saja masih dapat dibantah. Kaubilang bahwa ayam yang lebih dulu ada, akan tetapi ingatlah bahwa ayam itu menetas dari telur, maka kalau belum ada telurnya, mana mungkin ada ayamnya?"

"Ha ha-ha! Bagus sekali! Engkau memang patut menjadi anakku! Ha-ha, bantahanmu itu sekaligus menghancurkan teori suheng, dan juga berarti membenarkan jawabanku!"

Kata Hok Kim Cu sedangkan Kwan Cin Cu yang mendapatkan bantahan itu sudah mengerutkan alis lagi, memijat-mijat pelipisnya memutar mutar otak memikirkan persoalan pelik itu!

"Nanti dulu, locianpwe Hok Kim Cu!"

Kata Gin San sambil membuka kertas jawaban kakek ini.

"Locianpwe menjawab bahwa TELUR yang ada lebih dulu."

"Tentu saja dan pasti benar!"

Kata Hok Kim Cu penuh semangat.

"Seperti kau katakan dalam bantahanmu terhadap suheng tadi, tidak akan ada ayam kalau tidak ada telur karena ayam menetas dari telur. Selain itu, juga sesuatu berasal dari kekosongan! Alam semesta adalah kosong pada mulanya! Lihatlah pohon besar itu. Asalnya tumbuh dari biji dan kau boleh buka biji itu, pasti semua biji buah tepat pada tengah-tengahnya adalah kosong! Dan telur merupakan lambang kekosongan! karena kekosongan itu digambarkan sebagai suatu bulatan. Telur mengandung unsur Thai kek! Dari Thai kek terciptalah Im Yang dan barulah segaia sesuatu dapat tercipta melalui In Yang. Akan tetapi yang ada lebih dulu adalah Thai-kek, karena tanpa Thai-kek tidak ada sesuatu yang dapat tercipta di alam semesta ini! Maka, jelaslah bahwa yang ada lebih dulu adalah TELUR, setelah telur menetas barulah tercipta AYAM. Nah, bukankah tepat sekali dan tidak bisa dibantah lagi jawabanku?"

Hok Kim Cu girang sekali dan kembali sepasang mata Gin San seperti menjadi juling karena dia bingung mendengarkan uraian tentang segala macam Thai-kek dan Im Yang itu. Dan seperti yang (Lanjut ke

Jilid 21) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 21 biasa dia lakukan kalau dia membantah anak-anak yang mencoba untuk menjawab teka-teki itu kini dia cepat menghadapi Hok Kim Cu yang kegirangan itu.

"Nanti dulu, locianpwe Hok Kim Cu. Seperti juga jawaban locianpwe Kwan Cin Cu tadi, jawabmu memang baik sekali. Akan tetapi tetap saja masih dapat dibantah. Kau bilang bahwa telur yang lebih dulu ada akan tetapi ingatlah bahwa telur itu baru ada kalau sudah keluar dari perut ayam, maka sebelum ada ayam, mana mungkin ada telurnya?"

"Hi-hi hik! Lucunya! Hi-hik, barangkali ji-suheng yang bertelur! Ji-suheng bertelur dulu, baru telurnya itu menetas menjadi ayam, hi-hik "

"Sute, tutup mulutmu!"

Hok Kim Cu membentak dan diapun segera tenggelam dalam pemikiran yang mendalam menghadapi masalah yang "berat"

Ini.

"Hi-hi-hik jelaslah bahwa jawaban twa-suheng dan ji-suheng tidak memenuhi syarat karena masih bisa dibantah. Akan tetapi, anak yang baik, engkau tentu tidak bisa membantah kebenaran jawabanku!"

Gin San membuka kertas terakhir dan sambil menahan geli hatinya dia membacanya dan berkata.

"Jawaban locianpwe Thian Bhok Cu amat lucu. Locianpwe menjawab bahwa yang lebih dulu ada ialah TAHI AYAM! Mengapa demikian, locianpwe?"

"Heh-heh-hi-hi-hik!"

Kakek genit itu terkekeh-kekeh dan dua orang suhengnya memandang heran mendengar jawaban yang luar biasa itu.

"Urusan antara ayam dan telur adalah melalui pantat ayam. Aku sudah berpikir bahwa kalau menjawab telur lebih dulu, tentu salah karena sebelum ada telurnya harus ada ayamnya, dan kalau menjawab ayam lebih dulu, tentu salah pula karena sebelum ada ayamnya harus ada telurnya lebih dulu. Dan mengingat bahwa yang keluar dari pantat ayam itu selain telur adalah tahinya, maka pasti bahwa tahi ayam itulah yang lebih dulu ada! Heh heh, benar, atau benar anak manis?"

Mau tak mau Gin San tertawa juga, apa lagi mendengar dua orang kakek yang lain mendengus-dengus marah memaki-maki karena jawaban itu mereka anggap ngawur.

"Jawaban locianpwe itu baik sekali, akan tetapi tetap saja juga masih dapat dibantah "

"Eh, kau bisa membantah? Aihh, anak baik, mengapa mesti dibantah? Bukankah lebih baik membiarkan aku menang dan engkau menjadi muridku yang tersayang?"

Gin San menggelengkan kepalanya.

"Jawaban locianpwe itu tidak benar karena menyeleweng dari pada pertanyaannya. Pertanyaannya adalah mana yang lebih dulu ada antara ayam dan telur, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan tahi ayam segala macam! Jadi jawaban itupun tidak benar dan tidak tepat. Sayang, aku harus menyatakan bahwa locianpwe bertiga kalah dalam sayembara ini dan tidak ada yang menang di antara kalian."

Tiga orang kakek itu mengerutkan alis mereka dengan marah.

"Hemm, habis bagaimana baiknya? Sute berdua, anak ini seperti setan, mempermainkan kita, lebih baik dibunuh saja!"

Kata Kwan Cin Cu.

"Ah, jangan, suheng!"

Kata Hok Kim Cu.

"Benar, jangan dibunuh, suheng!"

Kata pula Thian Bhok Cu yang mempertahankan.

Tentu saja kedua orang kakek ini mempertahankan karena mereka itu mempunyai pamrih untuk memiliki anak itu.

Dengan demikian, kedudukan Kwan Cin Cu biarpun dia yang tertua di antara mereka, menjadi tidak begitu kuat karena dia harus berhadapan dengan dua orang sutenya!

"Begini saja,"

Tiba-tiba Gin San yang sudah memperoleh akal itu berkata.

"baiknya diadakan sayembara lagi, aku akan melarikan diri dan"".."

"Nanti dulu!"

Bentak Kwan Cin Cu.

"Anak setan, engkau jangan harap dapat mempermainkan dan membohongi tiga orang ketua Beng-kauw secara demikian saja tanpa tanggung jawab!"

Dia sengaja menyebut nama tiga orang ketua Beng-kauw untuk membikin marah dua orang sutenya.

"Teka-tekimu tadi hanyalah akal busukmu untuk menipu kami!"

Melihat sinar mata tiga orang kakek itu kini ditujukan kepadanya dengan penuh kemarahan, Gin San menjadi gentar juga dan cepat dia bertanya.

"Apa maksudmu, locianpwe? Aku sama sekali tidak menipu dan jelaslah bahwa kalian bertiga memang tidak mampu menjawab teka-tekiku tadi dengan tepat, jujur, dan tidak dapat dibantah kebenarannya "

"Tentu saja, karena memang teka-teki itu tidak ada jawabannya yang tepat dan benar. Hayo kau sekarang memberi jawabannya, baru kami akan mengaku bahwa jawaban kami keliru. Sebelum kau dapat menjawab teka-teki akal busuk itu jangan harap kau dapat bicara lagi!"

Hok Kim Cu dan Thian Bhok Cu kinipun mulai merasa bahwa mereka dipermainkan dan ditipu.

Memang kalau mereka pikirkan, amat memalukan sekali kalau sampai terdengar orang luar betapa mereka, tiga orang ketua Beng-kauw yang bukan hanya terkenal memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali akan tetapi juga terkenal sebagai jago-jago debat, kini dipermainkan oleh seorang bocah yang masih ingusan!

Mereka mengangguk-angguk mendengar kata-kata suheng mereka itu.

"Benar, kau harus memberi tahu kami jawabannya,"

Kata Hok Kim Cu.

"Wah, kalau kau tidak bisa menjawab, aku tidak bisa melindungimu lagi, anak manis."

Kata pula Thian Bhok Cu dengan nada suara menyesal karena sesungguhnya dia merasa sayang sekali kalau anak laki laki ini sampai dibunuh."

Dalam permainannya dengan anak-anak sudah biasa bagi Gin San menghadapi tuntutan ini, maka dia tetap bersikap tenang.

"Tentu saja aku dapat menjawab teka-teki itu, sam-wi locianpwe! Aku dapat menjawab secara tepat, jujur dan tidak dapat disangkal lagi kebenarannya."

Anak ini tersenyum, wajahnya berseri, mulut dan matanya membayangkan kenakalan dan kecerdikan seolah-olah dia sedang mempermainkan tiga orang sakti yang ditakuti banyak orang kang ouw itu.

"Hayo cepat jawab!"

Kwan Cin Cu membentak marah.

"Aku tidak tahu""

Kata Gin San. Tiga orang kakek itu terbelalak dan Kwan Cin Cu mengeluarkan suara gerengan.

"Apa? Apa maksud itu?"

""Itulah jawabannya, sam-wi locianpwe. Jawaban teka teki itu adalah. Aku tidak tahu!"

"Anak setan, kau harus mampus!"

Kwan Cin Cu sudah menegerakkan tangan dan baru bergerak saja sudah ada angin dahsyat menyambar ke arah tubuh Gin San.

Akan tetapi pada saat itu, dua orang sutenya juga menggerakkan tangan dan ada angin lain yang menyambar dan mengangkat tubuh Gin San ke atas sehingga anak itu terhindar dari sambaran angin pukulan maut yang dilakukan oleh Kwan Cin Cu tadi, akan tetapi tubuhnya terbanting dan Gin San menyeringai karena pantatnya terasa nyeri oleh bantingan keras.

"Anak manis, kau jangan main main dengan twa-suheng! Hayo jawab yang benar, kalau tidak, aku tidak tanggung lagi akan keselamatan nyawamu,"

Thian Bhok Cu membujuk. Gin San menggosok gosok pantatnya yang nyeri, kemudian dia berkata.

"Siapa yang main main? Aku menjawab sebenarnya. Mengapa sam-wi locianpwe tidak mau berpikir dengan tenang dan belum apa-apa sudah marah? Memang jawaban yang paling tepat, paling jujur dan yang tidak dapat dibantah lagi kebenarannya untuk teka-teki itu adalah.

"Aku tidak tahu."

Kembali tiga orang itu tertegun dan terbelalak, dan Hok Kim Cu berkata.

"Hayo jelaskan"

"Jawaban yang berbunyi.

"aku tidak tahu"

Adalah jawaban yang paling tepat karena jawaban itu adalah jujur sekali dan tidak dipat dibantah lagi kebenarannya,"

Gin San berkata menggunakan akal bocah untuk mempertahkan kebenaran jawabannya. Kembali Kwan Cin Cu marah, akan tetapi Hok Kim Cu cepat berkata.

"Nanti dulu, suheng! Aku melihat kebenaran dalam kata katanya itu. Kalau dia menjawab.

"aku tidak tahu", memang ia jujur sekali dan siapakah yang dapat membantah orang yang tidak tahu? Kita hanya dapat membantah jawaban-jawaban yang tegas dan yang didasari oleh pengetahuan. Akan tetapi bagaimana kita bisa membantah orang yang tidak tahu? Tidak tahu berarti tidak mempunyai pendapat apa-apa, maka tentu saja tidak bisa dibantah. Dan jawabannya itu memang tepat, jujur dan benar. Memang dia tidak tahu bagaimana menjawab teka-teki maka dia mengatakan tidak tahu. Itulah, jawaban yang benar, suheng,"

Tiga orang kakek itu termenung dan kecewa.

Mereka adalah jagoan-jagoan dalam pengetahuan kebatinan dan segala macam mistik, akan tetapi kini mereka ditundukkan oleh seorang anak yang mengatakan bahwa dia tidak tahu.

Tanpa disengajanya, bahkan tanpa disadarinya Gin San memang telah mengatakan kata yang merupakan kunci rahasia dari segala kebijaksanaan, kunci dari segala pintu menuju ke arah kebijaksanaan.

"Aku tidak tahu"

Betapa indahnya keadaan orang yang tidak tahu, kosong dan bersih, dan keadaan tidak tahu ini mendorong orang untuk menyelidiki segala sesuatu dengan penuh perhatian.

Keadaan tidak tahu inilah pangkal segala-galanya!

Akan tetapi, betapa sukarnya bagi kita untuk mengaku terus terang bahwa kita tidak tahu.

Tidak tahu apa-apa!

Betapa sukar mulut ini berkata.

Aku tidak tahu!

Kita selalu merasa bahwa kita ini tahu segala-galanya, makin banyak yang kita ketahui, makin banyak pengetahuan bertumpuk di dalam otak, kita merasa betapa kita ini makin pandai.

Padahal, hanya batin yang tumpul dan picik dan sombong sajalah yang membuat mulut berkata.

"Aku tahu"

Apakah gerangan yang kita ketahui?

Yang kita ketahui hanyalah hal-hal yang mati!

Hal-hal yang sudah tertentu, hal-hal mati yang tidak akan berubah sajalah yang dapat kita ketahui.

Dan perasaan "aku tahu"

Ini membuat kita selain menjadi kepala besar dan sombong, juga membuat kita berhenti menyelidik, dan perasaan "aku tahu"

Ini mendatangkan macam pertentangan.

Dua orang berkelahi karena mereka itu keduanya merasa tabu, merasa benar.

Dua kelompok bangsa bertempur, perang, karena mereka itu masing-masing merasa tahu, merasa benar.

Coba andaikata kedua fihak merasa tidak ahu, tentu tidak merasa benar sendiri.

Coba kedua fihak itu mengesampingkan pengetahuan nereka masing-masing akan kebenaran, dengan batin kosong keduanya membuka mata memandang kenyataan, sama-sama mempelajari fakta yang mereka hadapi, yaitu permusuhan yang timbul di antara mereka, maka sudah pasti kedua fihak itu akan waspada dan sadar akan kekeliruan dan kepicikan mereka masing-masing yang berdasarkan pendapat "aku tahu"

Tadi.

Demikian pula tiga orang kakek tadi, karena mereka masing-masing berpendapat bahwa mereka itu tahu, dan jawaban atau pendapat mereka akan masalah yang mereka hadapi atau teka-teki itu, yang menurut mereka adalah benar, maka mereka itu mempertahankan kebenaran mereka sendiri-sendiri, padahal tiga macam jawaban yang mereka anggap benar itu saling bertentangan!

Coba andaikata mereka bertiga itu berbatin kosong seperti yang terkandung dalam jawaban Gin San, yaitu masing-masing benar-benar TIDAK TAHU, maka kiranya ketiganya akan dapat sama-sama melakukan penyelidikan dan membuka mata penuh kewaspadaan!

Dalam kehidupan kita sehari-hari dapat kita lihat betapa bentrokan-bentrokan, pertentangan-pertentangan, semua ditimbulkan oleh pikiran bahwa "akulah yang tahu,"

"akulah yang benar."

Pengetahuan adalah catatan dari ingatan akan hal-hal yang lalu, yang mati.

Tentu saja penting bagi kita untuk memiliki pengetahuan tentang hal-hal lahiriah, ilmu pengetahuan yang ada hubungannya dengan jasmaniah.

Akan tetapi, dapatkah kita menyelidiki hal-hal yang baru, hal hal yang tidak dapat diraba dengan pikiran, memakai alat pengetahuan mati itu?

Hal ini jelas tidak mungkin.

Hanya dalam keadaan "tidak tahu"

Itu sajalah kita dapat memulai dengan penyelidikan kita akan tahu hal-hal yang baru.

Buku tulis yang kosong bersih barulah berguna untuk ditulisi sesuatu yang baru, akan tetapi buku tulis yang kotor dan penuh dengan tulisan-tulisan malang-melintang tidak ada gunanya lagi.

Tiga orang kakek itu termenung dan berkali-kali mereka memandang kepada anak yang diam-diam juga merasa gelisah sendiri.

Tiba tiba terdengar Kwan Cin Cu tertawa bergelak, diikuti oleh dua orang sutenya.

"Ha-ha ha, tiga orang ketua Beng kauw, hari ini mempelajari sesuatu dari seorang bocah nakal!"

Kakek itu berkata. Dia juga melihat kebenaran dalam jawaban Gin San tadi, dan sebagai orang pertama dari pimpinan Beng-kauw tentu saja Kwan Cin Cu cukup bijaksana untuk mengakui hal ini.

"Sekarang, setelah kami bertiga tidak ada yang menang, lalu bagaimana? Engkau tadi hendak mengajukan usul lagi, apakah kau hendak mengajukan sebuah teka teki lain lagi untuk kami jawab?"

Bukan main lega rasa hati Gin San.

Akalnya mengajukan teka-teki kanak kanak itu ternyata berhasil memperpanjang waktu, akan tepi apa gunanya kalau dia tetap saja masih belum lolos dari tempat berbahaya itu?

"Begini, locianpwe bertiga adalah orang-orang yang memiliki kepandaian seperti dewa.

Oleh karena itu, kiranya hanya dengan sayembara mengadu kepandaian saja maka akan dapat diputuskan siapakah yang berhak memiliki diriku yang tak berharga ini,"

"Keparat! Engkau ingin mengadu domba antara kami?"

Kwan Cin Cu membentak marah. Memang or"ng pertama dari Beng-kauw ini selalu curiga kepada orang lain dan mudah sekali marah.

"Mana aku berani? Aku hanya ingin mengusulkan agar sam-wi locianpwe berlumba mencari dan mengejar aku sampai dapat. Biarkan aku pergi melarikan diri dan setelah sehari semalam baru sam-wi locianpwe mengejar!"

Kata Gin San.

Tadinya memang dia ingin melihat tiga orang ini saling serang dalam perkelahian memperebutkannya agar dia dapat melarikan diri, akan tetapi mendengar bentakan Kwan Cin Cu tadi dia lalu kembali kepada rencananya semula.

"Hi-hik, kau anak nakal, kau mau menipu kami?"

Thian Bhok Cu berkata.

"Sama sekali tidak locianpwe. Kalian bertiga adalah orang-orang sakti, biar aku mempunyai sayap dan dapat terbang ke langit sekalipun, tentu locianpwe bertiga akan dapat menangkapku kembali."

"Anak setan, jangan kau mencoba untuk mengelabui kami. Engkau larilah sekarang juga dan kami akan memperebutkanmu tanpa bergerak dari tempat kami duduk. Ji-sute dan sam-sute, bersiaplah. Kita memperebutkan tanpa menyentuh tubuhnya, kita memperebutkan dia sambil sekalian berlatih sinkang!"

Kata Kwan Cin Cu dan kata-katanya itu merupakan keputusan terakhir yang tidak dapat dibantah lagi oleh dua orang sutenya.

Gin San memandang bingung, akan tetapi ketika mendengar bahwa dia boleh pergi, dia lalu membalikkan tubuhnya dan lari keluar dari ruangan itu secepatnya.

Hatinya sudah merasa girang karena kakek itu berjanji tidak akan.

bergerak dari tempat duduk mereka, dan dia percaya bahwa orang-orang tua itu tidak akan melanggar janji.

Maka dia berlari secepatnya dengan hati girang dan juga berdebar tegang.

Tiba-tiba, ketika dia sudah tiba di pintu Gin San menjerit kaget karena tiba-tiba saja tubuhnya terbetot ke belakang oleh tenaga yang amat kuat.

Dia roboh dan terus bergulingan seperti bola ditiup angin keras, kembali ke tengah ruangan itu.

Dia meloncat dengan kaget dan melihat tiga orang kakek itu masih duduk, membentuk segi tiga di ruangan itu dan mereka itu hanya melonjorkan tangan kanan mereka ke depan.

Dari tangan tiga orang kakek itu keluar hawa yang amat kuat dan kini dia merasa tertarik ke sana-sini seolah-olah diperebutkan oleh tiga tangan tidak nampak yang amat kuat.

Mulailah dia tersiksa hebat karena dia terdorong ke sana-sini, terbetot ke sana-sini.

Dia terjatuh, terseret, bangun lagi, tertahan terdorong dan terguling-guling lagi.

Sebentar ke kanan, sebentar ke kiri dan dia merasa tubuhnya sakit semua!

Tiga orang kakek itu mulai mengadu tenaga sinkang mereka memperebuikan anak yang sial itu.

Mendadak terdengar Kwan Cin Cu mengeluarkan seruan keras dan tubuh Gin San tertarik dengan cepatnya ke arah kakek itu.

Lengan kanan kakek ini yang dilonjorkan ke arahnya menggetar, tanda bahwa kakek ini menggunakan tenaga sinkang untuk "menyedot"

Dengan amat kuatnya, dan dengan hati cemas Gin San melihat betapa perlahan-lahan kini tubuhnya terus terseret ke arah kakek yang hendak membunuhnya, minum darahnya dan menghisap otaknya itu.

Dia merasa ngeri.

Akan tetapi, terdengar dua orang kakek yang lain juga mengeluarkan seruan keras dan Gin San merasa betapa perlahan-lahan dia terbetot kembali menjauhi Kwan Cin Cu.

Kiranya dua orang kakek yang lainnya itu mengerahkan tenaga dan bersatu untuk melawan tenaga tarikan dari tangan Kwan Cin Cu.

Kini terjadilah perebutan yang hebat dan Gin San makin tersiksa, jatuh bangun dan tertarik ke sana-sini.

Aku harus dapat memilih, pikirnya, karena kalau sampai dia terjatuh ke tangan kakek tertua yang pasti akan membunuhnya, dia tidak akan tertolong lagi.

Juga dia tidak sudi terjatuh ke tangan Thian Bhok Cu, kakek genit yang menjijikkan dan mengerikan hatinya itu.

Pilihannya jatuh kepada Hok Kim Cu.

Biarpun kakek ini juga seorang yang aneh dan dia tahu bukan orang baik baik, akan tetapi lebih mending terjatuh ke tangan kakek ini dan dijadikan anaknya dari pada terjatuh ke tangan dua orang kakek yang lain.

Dengan pikiran ini, Gin San lalu merangkak dan menuju ke arah tempat duduk Hok Kim Cu.

Ketika itu, tiga orang kakek itu sedang saling mempertahankan.

Kwan Cin Cu mengerahkan tenaga untuk merampas Gin San, sedangkan dua orang sute yang masing-masing tidak akan mampu menandingi kekuatan suheng mereka itu menyatukan tenaga untuk mencegah anak itu terjatuh ke tangan sang suheng.

Kini, setelah ada usaha dari Gin San sendiri untuk merangkak mendekati Hok Kim Cu, tentu saja Kwan Cin Cu menjadi kalah kuat.

Akan tetapi, ketika Than Bhok Cu melihat betapa anak itu makin dekat dengan ji-suhengnya.

diapun merasa khawatir.

Kalau anak itu telah menjadi anak angkat ji-suhengnya, dia tidak bisa mengharapkan dapat mendekati anak itu, karena tentu dijaga keras dan dilarang oleh ji suhengnya.

Baginya sama saja, kalau anak itu terjauh ke tangan twa suhengnya atau ji-suhengnya, berarti dia tidak kebagian.

Maka kini secara tiba-tiba dia membalik, membantu twa-suhengnya dan mencegah anak itu mendekati Hok Kim Cu dengan tarikan tenaga sinkangnya dari jauh!

Dan tiba-tiba Gin San yang sudah mulai mendekati Hok Kim Cu itu tiba-tiba tertarik dari belakang dan terjengkang, terseret ke belakang lagi sampai di tengah-tengah ruangan!

Kembali dia ditarik ke sana-sini oleh tenaga-tenaga sakti.

Pada saat Gin San sudah merasa pening dan tubuhnya sakit-sakit oleh tenaga tarikan dari tiga jurusan itu, tiba-tiba terdengar suara tertawa aneh, disambung suara yang menggetarkan seluruh ruangan.

"Huah-ha-ha! Kalian seperti kanak-kanak saja, berlatih sinkang mempermainkan seorang bocah!"

Tiga orang itu terkejut dan seketika tenaga sinkang mereka lenyap, Gin San merasa bebas dan anak ini cepat menggerakkan tubuh, bangkit berdiri.

Diapun terkejut sekali ketika tiba tiba di depannya, dalam ruangan itu, seperti setan yang pandai menghilang saja, entah dari mana datangnya, telah berdiri seorang kakek yang amat aneh.

Kalau mahluk ini tidak memakai pakaian manusia, tentu dia akan mengiri bahwa yang berdiri di situ adalah seekor binatang macam monyet dan setengah manusia Kakek ini sukar ditaksir usianya, sudah tua sekali, rambutnya sudah putih semua dan panjang, digelung ke atas kepala dan diikat dengan tali merah.

Wajahnya penuh kerut merut seperti pecah-pecah, berwarna hitam dan muka itu lebih menyerupai monyet daripada manusia, dengan hidungnya yang pesek dan mulutnya yang lebar agak menonjol ke depan.

Telinganya lebar sekali, dua kali lebar telinga manusia biasa, sepasang matanya yang bundar kecil itu liar memandang ke kanan kiri, tidak pernah diam.

Tubuhnya pendek akan tetapi kedua lengannya tergantung lepas di kanan kiri tubuhnya panjang sekali sampai melewati lutut!

Melihat munculnya kakek aneh ini, dan merasa betapa tenaga mujijat tiga orang kakek yang tadi menyiksanya dan memperebutkannya itu kini melepaskannya, timbul harapan Gin San dan dia cepat menjatuhkan diri berlutut Menghadap kakek mirip kera itu dan berkata "Locianpwe, harap suka menolong saya"".."

Akan tetapi kakek yang bermuka hitam itu kembali tertawa, suara ketawanya lirih saja akan tetapi melengking nyaring dan tiba-tiba saja Gin San terpelanting roboh dan dia mengeluh karena kepalanya seperti dipukul palu godam rasanya.

Dia menutupi kedua telinganya dengan tangan, akan tetapi tetap saja suara ketawa itu menembus dan dia merasa betapa kedua telinganya seperti ditusuk benda runcing dan jantungnya seperti ditikam!

Untung suara ketawa itu segera berhenti dan sebelum Gin San duduk kembali, dia mendengar tiga orang kakek itu berkata dengan suara hampir berbareng.

"Suhu"".!"

"Suhu, teecu bertiga bukan sedang berlatih melainkan sedang memperebutkan anak ini, anak yang datang dari fihak musuh,"

Kata Kwan Cin Cu.

"Teecu ingin mengambilnya sebagai anak teecu, pengganti anak teecu yang mati,"

Kata Hok Kim Cu.

"Dan teecu ingin mengambilnya sebagai murid,"

Sambung Thian Bhok Cu.

Bukan main kagetnya hati Gin San ketika mendapat kenyataan bahwa kakek seperti monyet itu adalah guru dari tiga orang kakek yang menawannya!

Dan dia minta tolong kepada guru mereka!

Celaka, pikirnya, kalau tadi saja dia masih merasa sukar sekali untuk meloloskan diri, apalagi sekarang dengan adanya kakek iblis yang suara ketawanya saja sudah hampir membunuhnya!

Tidak ada harapan lagi baginya!

Pikiran ini membuat Gin San menjadi marah dan nekat.

Dia lalu bangkit berdiri, memandang kepada kakek tua renta itu dengan sinar mata berapi, lalu dia berteriak nyaring dan lari ke arah kakek pendek seperti monyet itu dengan kepala di depan, nyeruduk seperti seekor kerbau gila!

Pendeknya dia akan menggempur apa saja yang menghalang di depannya dan akan melarikan diri sampai mati!

Kakek yang seperti monyet itu bukan lain adalah Maghi Sing, atau yang berjuluk See-thian Sian-su, kakek dari India yang menyebarkan Agama Manichaeism yang di Tiongkok disebut Agama Beng-kauw (Agama Terang).

Kakek ini usianya sudah delapanpuluh tahun lebih, seorang pertapa di lereng Pegunungan Himalaya yang memilki ilmu kepandaian amat tinggi, bukan hanya kesaktian mujijat dan ilmu ilmu sihir dan klenik, akan tetapi juga pandai ilmu-ilmu silat yang aneh-aneh.

Tiga orang ketua Beng-kauw itu adalah murid muridnya.

Ketika Maghi Sing melihat anak itu rnenyerangnya dengan serudukan kepala, dia terbelalak dan tersenyum lebar, matanya bersinar sinar penuh keheranan dan juga kegembiraan.

Dia membiarkan kepala anak iiu menyeruduk perutnya yang agak gendut.

"Cepp""..!"

Kepala Gin San memasuki rongga perut kakek itu dan Gin San merasa seolah-olah kepalanya terbenam ke dalam agar-agar yang amat lunak!

Akan tetapi ketika dia hendak menarik kepalanya, dia tidak berhasil karena kepala itu telah menancap melekat ke dalam perut, bahkan seperti disedot.

"Heh heh heh, anak ini pemberani juga,"

Katanya.

"Suhu, jangan bunuh dia!"

Kata Thian Bhok Cu dan Hok Kim Cu berbareng.

"Suhu, lebih dulu berikan darah dan otaknya kepada teecu untuk menyempurnakan Toat-beng tok-ciang yang teecu sedang latih!"

Kata Kwan Cin Cu.

Tiga orang kakek ini maklum akan kesaktian guru mereka dan kepala anak itu bisa terbakar setelah terjepit dalam perut kakek sakti dari Himalaya itu!

Mendengar ucapan tiga orang muridnya, Maghi Sing yang tadinya hendak menghancurkan kepala itu atau membakarnya, membatalkan niatnya dan mulai tertarik.

"Eh, hendak kulihat anak macam apakah sih dia ini yang kalian perebutkan?"

Setelah berkata demikian, Maghi Sing melepaskan jepitan perutnya dan Gin San merasa kepalanya terlepas, akan tetapi karena peningnya dia hampir pingsan dan kini merasa betapa tubuhnya diangkat ke atas dan kepalanya dipijat-pijat dan diraba-raba.

Seperti dalam mimpi dia mendengar kakek aneh itu berkata girang.

"Wah, persis sekali! Sama benar dengan aku! Wah, mencari di seluruh duniapun belum tentu bisa mendapatkan yang kebetulan seperti ini! Bukan main!"

Kakek itu terus nyerocos bicara dalam Bahasa Tibet campur India dan sampai tidak karuan bunyinya sehingga tiga orang muridnya sendiripun tidak mengerti.

"Apa yang suhu maksudkan?"

Mereka bertanya ketika melihat suhu mereka itu yang mengangkat tubuh anak itu dan meraba-raba kepalanya kini berjingkrak seperti monyet menari-nari dengan penuh kegirangan.

"Kalian tidak tahu?"

Kakek itu berhenti menari.

"Lihat baik-baik anak ajaib ini. Sama benar dengan aku, bukan? Seperti pinang, dibelah dua! Lihat ini, telinganya!"

Dia menjewer-jewer telinga Gin San.

Tiga orang muridnya memandang dan mereka mengerutkan alis.

Telinga Gin Sin biarpun agak besar akan tetapi biasa saja seperti telinga manusia umumnya, akan tetapi sebaliknya telinga kakek itu luar biasa lebarnya, dua kali lebar telinga Gin San, dan kakek itu mengatakan bahwa telinga mereka sama!

"Hi hik, suhu!

Teecu lihat telinga suhu jauh lebih besar!"

Kata Thian Bhok Cu genit.

"Tolol kau! Bakan ukurannya, melainkan bentuknya, eh, tulang mudanya. Sama benar! Dan mukanya ini. Ah, persis sekali dengan mukaku, mirip, malah sama benar tiada bedanya seujung rambutpun!"

Tiga orang kakek ketua Beng-kauw itu menahan perasaan heran dan geli hati karena biarpun mereka sudah tua, akan tetapi mereka belum lamur dan masih dapat melihat betapa bedanya muka antara anak dan kakek itu.

Muka Gin San adalah tampan sekali, sebaliknya muka kakek itu buruk seperti monyet.

Akan tetapi karena maklum akan kesaktian guru mereka dan bahwa pernyataan guru mereka itu tentu ada dasarnya, mereka tidak berani membantah.

"Tulang pipinya, dahinya, dagunya, wah, semuanya sama. Nih, lihat! Terutama sekali bentuk kepalanya yang belakang, besar menonjol penuh otak tidak seperti kepala kalian yang kosong! Ini tandanya anak ini dapat menjadi seperti aku kelak! Heh, anak yang baik, siapakah namamu?"

Gin San sudah ketakutan akan tetapi dia menyembunyikan rasa takutnya. Dia sama sekali tidak berdaya dalam pegangan kakek itu, tubuhnya menjadi lemas kehilangan tenaga.

"Namaku Coa Gin San."

Kakek itu berjingkrak dan kembali menari-nari, membawa tubuh Gin San berputar putar sambil tertawa-tawa.

"Gin San? Gin San berarti Gunung Perak! Aha ha-ha! Benar-benar para dewata yang telah mengirim engkau kepadaku! Eh, kalian bertiga dengar baik baik. Ketika aku dahulu bertapa di puncak Gunung Perak, yaitu satu di antara puncak Himalaya yang selalu tertutup salju seperti perak, disana aku memperoleh ilham mendapatkan mustika. Sampai puluhan tahun aku menanti terbuktinya ilham itu dan kiranya sekarang benar-benar aku memperoleh mustika itu! Anak inilah, mustika itu! Gin San si Gunung Perak! Ha-ha-ha, mustika inilah yang kelak akan mengangkat dan menjunjung tinggi-tinggi nama Beng-kauw!"

Tiga orang kakek ketua Beng kauw itu hanya saling pandang, terheran dan terkejut akan tetapi mereka tidak dapat berbuat sesuatu, tidak berani membantah dan mereka hanya memandang dengan mata terbelalak ketika guru mereka itu membawa pergi Gin San dari tempat itu sambil tertawa-tawa dan menari-nari kegirangan seperti seorang anak kecil memperoleh mainan baru!

Demikianlah, mulai saat itu, Gin San menjadi murid Maghi Sing atau See-thian Sian-su.

Gin San adalah seorang anak yang memang suka sekali mempelajari ilmu silat.

Dia sudah tahu akan kelihaian tiga orang ketua Beng-kauw, maka kini menjadi murid guru dari tiga orang kakek itu, dia merasa girang sekali karena dia mendapat kenyataan betapa saktinya kakek aneh seperti monyet yang kadang-kadang seperti gila itu.

Dia mulailah dia menerima latihan yang aneh-aneh.

Kadang-kadang dia di suruh bertapa menggantung diri dengan kaki di atas, sampai berhari-hari dan setelah napasnya, empas-empis saja maka dia diturunkan oleh gurunya, seolah-olah dihidupkan kembali dengan ramuan obat-obatan dan totokan-totokan di seluruh tubuhnya.

Kadang kadang dia diharuskan bertapa dengan seluruh tubuh dikubur kecuali kepalanya saja, ditanam di dalam tanah sampai ke lehernya dan dibiarkan berhari-hari sampai dia jatuh pingsan baru dikeluarkan!

Dan ada kalanya dia diharuskan bertapa dengan duduk bersila di dalan air, sampai ke lehernya.

Gin San menyaksikan kesaktian gurunya itu ketika dia disuruh bersamadhi di dalam air sekolam.

Gurunya itu memasukkan tangan kirinya dan mengerahkan tenaga dan""..

air itu makin lama menjadi makin dingin.

Dia mempertahankan diri dan karena dinginnya air itu perlahan-lahan, maka dia dapat bertahan juga walaupun akhirnya pingsan karena air itu akhirnya menjadi beku dan luar biasa dinginnya!

Atau kakek aneh itu memasukkan tangan kanannya ke dalam air mengerahkan tenaga dan air itu makin lama menjadi makin panas, sampai dia tidak tahan karena air itu hampir mendidih!

Akan tetapi latihan ini dilanjutkan terus dan belum sampai setengah tahun saja, Gin San sudah dapat menahan sampai air itu membeku atau mendidih!

Mulailah dia melatih diri di bawah bimbingan Maghi Sing yang sakti, mempelajari dasar-dasar ilmu silat tinggi dan segala macam ilmu sihir berdasarkan Agama Beng-kauw.

Anak yang cerdik ini pada hakekatnya tidak suka akan pelajaran Agama Beng-kauw, akan tetapi karena dia tahu benar betapa sakti gurunya itu dan karena dia suka untuk memperoleh pelajaran segala macam ilmu itu, maka dia tidak menyatakan ketidaksenangannya itu dalam kata-kata maupun perbuatan.

Dia tahu bahwa pada hakekatnya, segala macam agama Beng-kauw, bertujuan baik untuk menuntun nanusia menuju ke jalan yang baik, menjauhi dan menentang kejahatan.

Akan tetapi, seperti juga telah terjadi dengan semua agama di dunia ini, manusia bahkan mempergunakan sebagai kedok, sebagai penghias muka belaka, hanya memperoleh abu dan asapnya akan tetapi tidak menghayati apinya, hanya terpesona oleh kulit dan warnanya tidak mendalami isinya.

Gin San juga tidak membantah ketika Maghi Sing mempersiapkan anak ini agar kelak menjadi tokoh besar yang akan membawa kemajuan bagi Beng-kauw, dan untuk persiapan ini, selalu dia mengajarkan ilmu-ilmu silat dan ilmu-ilmu sihir kepada Coa Gin San, juga dia mengundang guru-guru kesusasteraan untuk mengajar kesusasteraan kepada Gin San agar Gin San kelak benar-benar menjadi seorang yang bun bu coan-jai (ahli silat dan surat).

Pemberontakan An Lu San yang berlaru larut, dan dilanjutkan oleh pemberontakan-pemberontakan para pengikutnya, biarpun akhirnya dapat ditindas, namun telah mendatangkan kekacauan di seluruh Tiongkok.

Di kota raja sendiri dan daerahnya, para pembesar Bangsa Uighur yang merasa telah berjasa dan sudah keenakan tinggal di daerah yang kaya ini, tidak ingin kembali ke tempat asal mereka yang penuh dengan padang tandus.

Beberapa puluh orang tokoh Uighur yang tadinya ikuti membantu Kerajaan Tang (Tong-tiauw) dalami usahanya mengusir para pemberontak, kini seolah-olah menjadi tamu terhormat dan bersikap sombong dan sewenang-wenang, apa lagi mereka ini mempunyai sahabat-sahabat baik di kalangan orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi dan berkuasa di istana kaisar.

Dan semenjak terjadi peristiwa pembasmian Im-yang-kauw oleh pemerintah, maka para tokoh Uighur ini lalu mendekati Im-yang-kauw yang menaruh dendam kepada pemerintah dan kepada orang orang Buddhis yang didukung oleh partai-partai persilatan Siauw-lim-pai dan Thai san-pai.

Diam-diam terjalinlah persekutuan antara para tokoh Uighur dengan Im-yang-kauw yang dalam keadaan terjepit itu telah memperoleli bantuan pula dari Pek-lian-kauw, perkumpulan agama lain yang cukup besar dan berpengaruh juga perkumpulan yang selalu dimusuhi oleh pemerintah.

Secara diam-diam persekutuan antara Uighur, Im-yang-kauw, dan Pek-lian kauw ini berusaha untuk merebut pengaruh dan kekuasaan di antara para pembesar dan terjadiah persaingan dengan kelompok lain.

Kelompok ke dua adalah kelompok persekutuan antara Bangsa Khitan, Bangsa Tibet, yang memasuki Tiongkok melalui perkumpulan yang mereka jadikan sekutu, yaitu perkumpulan Agama Beng kauw!

Bangsa Khitan ini dipimpin oleh An Hun Kiong, yaitu keponakan dari mendiang pemberontak An Lu San yang masih berdarah Khitan, dengan bantuan kepala pasukan Suku Khitan yang terkenal, yaitu Taya-tonga, guru dari An Hun Kiong.

Dan Taya-tonga yang amat pandai ilmu silat dan pandai pula ilmu perang ini bersahabat dengan pemimpin orang-orang Tibet, yaitu Ba Mou Lama, seorang Lama berjubah merah dari aliran Lama Merah di Tibet, sedang yang lihai sekali dan ahli dalam ilmu sihir.

Para tokoh Khitan yang merasa sakit hati atas tewasnya An Lu San, bergabung dengan tokoh tokoh Tibet dan dibantu pula oleh perkumpulan Beng-kauw inipun mulai dengan gerakan mereka, menghubungi para gubernur yang berpengaruh untuk menentang kerajaan dan menentang pula kelompok Uighur.

Dengan demikian, terdapatlah dua kelompok yang amat kuat itu, yaitu kelompok Uighur, Im-yang kauw, Pek-lian-kauw, dan kelompok Khitan, Tibet, Beng-kauw, yang secara rahasia memperkuat kedudukan mereka masing-masing untuk memperebutkan kekuasaan di kota raja.

Adapun kerajaan sendiri semenjak pemberontakan An Lu San menjadi amat lemah.

Kaisar Hian Tiong menjadi amat lemah.

Kaisar Hian Tiong menjadi boneka yang dipengaruhi oleh para menter dorna dan para pembesar kebiri yang berkuasa di dalam istana.

Bahkan setelah Kaisar Hian Tiong diganti oleh puteranya, yaitu Kaisar Su Tiong (Mu Cung), keadaan kaisar baru inipun tidak lebih baik dari pada keadaan ayahnya, sungguhpun Kaisar Su Tiong sudah berusaha untuk mengadakan berbagai macam perobahan.

Di antaranya, dia telah membebaskan sasterawan Han Gie, bahkan mengangkat sasterawan ini menjadi penasihat dari kementerian peperangan.

Namun, Kaisar Su Tiong ini masih belum dapat melenyapkan bahaya bagi kerajaannya, yaitu bahaya ancaman persekutuan-persekutuan yang kuat itu dan terutama sekali bahaya yang datang dari keadaan dalam istana sendiri yang berupa pengaruh dari kekuasaan para pembesar dorna, terutama para thaikam yang dipimpin oleh Thio-thaikam!

Dengan adanya bentrokan bentrokan untuk memperebutkan pengaruh dan kekuasaan itu, maka terjadilah kekacauan di dalam negeri dan kekacauan ini mengundang para penjahat di seluruh pelosok untuk bangkit.

Setiap ketidak tertiban pasti menimbulkan kekacauan-kekacauan baru, dan dalam keadaan tidak tertib ini kaum sesat berpesta-pora karena pemerintah terlampau lemah untuk mengawasi dan mengekang mereka.

Dunia kang-ouw dan liok-lim menjadi ramai, para tokoh sesat bermunculan dan para pertapa yang tadinya hendak menyucikan diri sampai mati dalam keadaan damai dan tenteram, terpaksa meninggalkan guha-guha pertapaannya untuk menentang kejahatan-kejahatan yang mengancam ketenteraman hidup manusia itu.

Waktu berlalu dengan amat cepatnya seperti nenyambarnya halilintar, akan tetapi memang ada kalanya waktu merayap amat perlahan seperti siput merayap.

Kalau tidak diperhatikan, waktu berlalu amat cepatnya dan tahu-tahu, sepuluh rahun telah lewat semenjak peristiwa yang terjadi di Kuil Ban-hok-tong ketika diadakan perayaan penyambutan benda suci yang diarak itu.

Sudah sepuluh tahun lamanya Coa Gin San, anak yatim piatu yang dipungut oleh mendiang suami isteri Gan Beng Han dan Kui Eng itu, digembleng secara hebat luar biasa oleh Maghi Sing, kakek sakti itu, seolah-olah kakek yang tua renta itu hendak memasukkan seluruh kepandaian yang telah dipelajannya selama puluhan tahun itu kepada muridnya ini dalam waktu sesingkat itu!

Dan agaknya bukan tidak beralasan mengapa kakek sakti itu tergesa-gesa hendak menurunkan seluruh kepandaiannya kepada Gin San yang dianggapnya sebagai calon guru besar atau calon pemimpin besar Beng-kauw, karena begitu selesai dia menurunkan ilmunya terakhir, sesudah sepuluh tahun itu dia lalu duduk bersila untuk tidak bangkit kembali, karena dia telah menghembuskan napas terakhir!

Kematian Maghi Sing ini merupakan peristiwa besar sekali.

Sebuah peti mati dari kayu cendana hitam diletakkan di ruangan besar yang merupakan guha terbesar di pantai Po-hai yang menghadap ke laut dan dilakukan upacara sembahyangan yang dihadiri oleh banyak tokoh, terutama dari tokoh-tokoh Khitan dan Tibet yang menjadi sekutu Beng-kauw selama ini.

Markas Beng-kauw itu hanya terdiri dari guha-guha di sepanjang pantai Po hai, akan tetapi pada hari perkabungan dan upacara sembahyangan itu, di pantai Po hai dipasang banyak tenda dan kursi untuk para tamu sedangkan peti jenazah itu berada di guha terbesar yang sudah dipasangi panggung sehingga nampak dari jauh.

Peti hitam itu berkilau tertimpa matahari pagi ketika semua tamu sudah berkumpul, dan di atas panggung dekat peti itu duduk bersila tiga orang kakek dan seorang pemuda.

Tiga orang kakek itu adalah tiga orang pimpinan Beng-kauw,yaitu Kwan Cin Cu, Hok Kim Cu, dan Thian Bhok Cu.

Sedangkan pemuda itu adalah seorang pemuda tampan, berpakaian serba putih, wajahnya serius namun bibirnya nampak seperti orang tersenyum, dan sepasang matanya juga bersinar-sinar penuh semangat.

Pemuda ini bukan lain adalah Coa Gin San yang ketika itu telah berusia duapuluh tahun dan telah menjadi seorang pemuda dewasa yang tampan dan kelihatannya lemah-lembut, namun sesungguhnya dia telah merupakan seorang manusia sakti yang telah mewarisi hampir seluruh kepandaian dari Maghi Sing atau See-thian Sian-su!

Biarpun waktu itu sinar matahari telah menyinari seluruh permukaan guha, namun di dalam guha itu masih dipasangi banyak obor dan lampu sehingga keadaannya menjadi terang sekali Obor-obor dan lampu-lampu ini dipasang semenjak Maghi Sing meninggal dunia dan tidak pernah padam, dan ini merupakan suatu kepercayaan dari orang-orang Beng-kauw yang memuja sinar terang.

Semua anggauta Beng-kauw di utara datang untuk memberi penghormatan terakhir kepada Maghi Sing yang dianggap sebagai pendiri Beng-kauw di utara itu.

Jumlah mereka tidak kurang dari tigaratus orang!Dan para tamu yang memenuhi seluruh pantai itu terdiri dari banyak golongan, akan tetapi yang menjadi tamu-tamu kehormatan adalah beberapa orang tokoh Khitan yang dipimpin oleh seorang pria tampan dan gagah berusia tigapuluh tahun, bertubuh tinggi besar.

Dia ini adalah An Hun Kiong, keponakan dari mendiang pemberontak An Lun San.

Juga gurunya, Tayatonga, juga peranakan Khitan seperti orang she An itu, ikut pula hadir Tayatonga ini mempunyai julukan Tai-lek Hoat-ong dan namanya yang membayangkan tenaga besar itu memang pantas dengan tubuhnya yang seperti raksasa, akan tetapi punggungnya bongkok.

Usianya sudah enampuluh tahun lebih dan dia duduk dengan tenang dan tidak pernah kelihatan bicara.

Selain guru dan murid peranakan Khitan ini, nampak juga seorang pendeta Lama yang berkepala gundul dan berjubah merah.

Inilah Ba Mou Lama, seorang kakek tinggi kurus yang usianya sekitar enampuluh lima tahun, bermuka kuning seperti orang berpenyakitan dan matanya sipit sekali, seperti terpejam selalu, akan tetapi mulutnya selalu tersenyum mengejek membayangkan kesombongan besar dan memandang rendah kepada segala yang berada di depannya.

Selain para anggauta Beng-kauw sendiri dan tokoh-tokoh yang menjadi sekutu Beng-kauw, juga terdapat banyak tamu, terdiri dari utusan-utusan para gubernur dan pembesar yang menaruh simpati kepada Beng kauw sebagai sekutu mereka dalam menentang fihak Uighur dan kerajaan.

Dan selain mereka ini, terdapat pula tokoh-tokoh berbagai aliran persilatan di dunia kang-ouw yang merupakan orang-orang aneh dengan bermacam pakaian, ada yang seperti tosu, ada yang seperti hwesio, petani, ahli silat, bahkan ada pula yang berpakaian pengemis.

Semua tamu yang datang secara bergilir memberi penghormatan terakhir di depan peti mati dengan bersembahyang mempergunakan hio (dupa biting) sebagaimana lajimnya.

Hio-louw (tempat abu dupa) yang amat besar berdiri di depan peti mati, di atas meja dan hiolouw itu sudah penuh dengan hio yang mengepulkan asap harum memenuhi pantai terbuka itu.

Kini semua tamu telah selesai bersembahyang dan semua orang menanti upacara selanutnya.

Peti mati berisi jenazah itu akan dibakar seperti kebiasaan orang-orang Beng kauw yang memuji api sebagai unsur terang.

Hidup adalah terang, mati adalah gelap, maka kematian harus diterangkan dengan sinar api, yaitu dibakar, demikianlah keyakinan mereka, pembakaran yang dilakukan dengan api akan menerangi roh si mati sehingga terbebas dari kegelapan.

Tiba-tiba datang dua orang yang menarik perhatian.

Dua orang tamu baru ini langsung menuju ke depan peti mati dan mereka berdua menarik perhatian karena mereka adalah seorang pemuda dan seorang dara yang tampan gagah dan cantik jelita.

Pemuda itu berpakaian ringkas berwarna kuning dengan sabuk hitam, wajahnya tampan dan sikapnya gagah, usianya kurang lebih duapuluh tahun, di punggungnya nampak sebatang golok tipis dengan sarung golok sederhana.

Gadis yang berdiri di sebelahnya itu cantik dan manis sekali, terutama mulutnya karena sepasang bibirnya berbentuk indah dan nampak ada lesung pipit di kedua tepi mulutnya setiap kali dara itu menggerakkan bibir.

Di punggung gadis ini nampak sebatang pedang dengan ronce merah, dan seperti si pemuda, dara inipun berpakaian serba kuning berkembang dan sabuknya merah.

Akan tetapi, bukan hanya ketampanan dan kecantikan wajah pemuda dan dara itu saja yang menarik perhatian semua orang, melainkan terutama sekali karena sebuah lambang medali yang tergantung di dada mereka dari leher, lambang medali dari baja yang terukir lukisan bulat dengan garis lengkung Im-yang membagi bulatan itu menjadi dua, diwarnai hitam dan putih dan di bawah gambaran Im-yang itu tertulis tiga huruf IM YANG PAI.

Itulah tanda medali yang biasa dipakai oleh para anggota Im-yang-pai yang sudah mempunyai tingkat!

Dan biasanya, tokoh Im-yang-pai yang berhak memakai tanda medali ini, menyembunyikannya di dalam baju, dan memang tergantung di leher.

Akan tetapi, pemuda dan dara ini agaknya sengaja mengeluarkan medali itu sehingga tergantung di depan dada, seolah-olah mereka berdua secara demonstratip hendak memperkenalkan diri bahwa berdua adalah tokoh-tokoh Im-yang-pai.

Para anggota Im-yang-pai biasa tidak boleh menggunakan lambang ini, dan mereka hanya ditandai dengan gambar yang sama, gambar Im-yang pada dada baju mereka.

Tentu saja suasana menjadi tegang karena semua maklum bahwa Im-yang-pai bukan termasuk sahabat dari Beng-kauw, bahkan menurut desas-desus terjadi senucam persaingan dan permusuhan yang tidak terbuka antara Im-yang kauw dan Beng kauw.

Maka kehadiran dua orang muda-mudi ini untuk menyampaikan belasungkawa sungguh merupakan hal yang menegangkan dan mengherankan orang.

Akan tetapi, karena melihat betapa tiga orang pimpinan Beng-kauw yang duduk bersila di belakang peti jenazah itu hanya memandang tak acuh dan tidak memberi isyarat sesuatu, maka dua orang saikong yang bertugas melayani tamu dengan menyalakan dupa segera menyambut mereka berdua dengan dupa-dupa yang bernyala.

Dua orang saikong ini bukanlah orang-orang sembarangan karena mereka ini adalah murid-murid utama dari para pimpinan Beng-kauw.

Yang pertama adalah saikong bermuka kuning yang sepuluh tahun yang lalu memimpin penyerbuan ke Kuil Ban-hok-tong, sedangkan orang ke dua adalah saikong bermuka hitam brewok yang membantunya.

Saikong muka kuning ini bernama Ui-bin Saikong dan sutenya bernama atau berjuluk Hek-bin Saikong.

Dalam urutan tingkat di Beng-kauw, mereka adalah tingkat dua, yaitu setingkat lebih rendah dari tiga oran guru mereka yang menduduki jabatan ketua.

Karena melihat betapa tiga orang pimpinan mereka tidak memberi isyarat sesuatu, maka dua orang saikong inipun menyambut pemuda dan dara itu dan menjura sambil menyerahkan dupa membara.

Diam-diam mereka berdua yang pernah menyamar sebagai orang-orang Im-yang-pai mengacau di Kuil Ban-hok-tom.

itu merasa tegang karena maklum bahwa pemuda dan dara ini adalah tokoh-tokoh Im-yang-pai yang tentu datang bukan dengan niat baik.

Akan tetapi karena memandang rendah dua orartg yang masih muda remaja ini, Ui-bin Saikong dan Hek-bin Saikong bersikap tenang saja, Akan tetapi pemuda dan dara itu hanya menerima masing-masing seratang hio saja dan mereka lalu mengacungkan hio itu ke atas kepala di depan peti jenazah itu.

Kemudian terdengarlah suara pemuda itu dengan lantang.

"See-thian Sian-su adalah pendiri Beng-kauw yang termashur, akan tetapi sayang sekali ketika hidupnya membiarkan rnurid-muridnya bertindak sewenang-wenang. Sekarang setelah mati, tentu akan bertemu dengan arwah ayah kami Liang Bin Cu yang telah dibunuh oleh orang-orang Beng-kauw dan mudah-mudahan arwah ayah kami dapat mengampuninya!"

Setelah berkata demikian, dua orang muda itu lalu melemparkan hio mereka dan hio biting itu meluncur ke depan dan menancap di atas peti jenazah yang terbuat dari kayu cendana yang harum dan keras itu!

Semua orang sudah terkejut sekali mendengar ucapan tadi, kini menjadi makin terkejut karena orang yang mampu melempar hio biting sampai menancap diatas peti jenazah yang demikian keras, tentu memiliki tenaga sinkang yang amat kuat!

Ui-bin Saikong dan Hek-bin Saikong terkejut dan marah bukan main.

Sebelum tiga orang guru mereka turun tangan, mereka berdua sudah menerjang ke depan, menyerang dua orang yang telah berani menghina peti jenazah sukong mereka itu.

Pemuda dan dara itu meloncat ke belakang dan si pemuda dengan gagahnya berseru.

"Apakah sudah menjadi kebiasaan Beng-kauw menyambut tamu-tamunya dengan keroyokan?"

Mendengar teguran ini, Kwan Cin Cu yang masih duduk bersila berseru.

"Kami tidak pernah menghina tamu, akan tetapi juga tidak pernah membiarkan tamu menghina kami!"

Kepada dua orang saikong itu dia berseru.

"Kalian mundurlah dulu!"

Dengan penasaran dan mata melotot dua orang saikong itu terpaksa mundur ke tempat semula, yaitu di kanan dan kiri peti jenazah.

Kwan Cin Cu masih duduk bersila, sedangkan dua orang sutenya ikut memandang.

Han; Gin San seorang yang masih menundukkan mukanya, agaknya tidak memperdulikan apa yang terjadi.

"Ji-wi adalah tokoh tokoh Im-yang-pai dan kedatangan ji-wi merupakan penghormatan bagi kami, dan kami berterima kasih bahwa ji-wi sudi menyatakan belasungkawa dengan kunjungan ini. Akan tetapi ji-wi bertindak keterlaluan. Siapakah ji-wi dan apa sebenarnya yang ji-wi inginkan?"

Kwan Cin Cu masih menahan kesabarannya karena merasa tidak enak kepada para tamu lain kalau dalam keadaan berkabung itu Beng-kauw mengadakan keributan dengan tamu yang datang untuk menghormati peti jenazah guru mereka.

Pemuda itu kini memandang kepada Kwan Cin Cu, kemudian dengan suara lantang dia berkata.

"Kami berdua adalah kakak beradik, namaku Liang Kok Sin dan adikku ini bernama Liang Hwi Nio. Kami berdua adalah putera dan puteri dari mendiang ayah kami yang bernama Liang Bin Cu, seorang tokoh Im-yang pai yang tentu namanya sudah dikenal baik oleh Beng-kauw. Kami datang untuk minta pertanggungan jawab Beng-kauw yang telah membunuh ayah kami dan kemudian menggunakan tanda anggauta Im-yang-pai dari ayah kami untuk mengacau dan mencemarkan nama baik Im-yang-pai!"

Para tokoh Beng-kauw itu terkejut sekali.

Ui-bin Saikong dan Hek-bin Saikong yang menegang peranan penting dalam penyerbuan mempergunakan nama Im-yang-pai itu, memandang dengan muka berubah.

Peristiwa yang terjadi lebih dari sepuluh tahun yang lalu itu merupakan rahasia pergerakan Beng-kauw, dan ternyata sekarang telah diketahui oleh dua orang muda dari Im-yang-pai ini!

Thian Bhok Cu yang bersikap lemah lembut itu, yang merupakan orang yang dahulu membunuh Liang Bin Cu tokoh Im-yang-pai itu, tiba-tiba berkata dengan suaranya yang melengking tinggi seperti suara seorang wanita.

"Bohong! Apa buktinya bahwa kami membunuh Liang Bin Cu dari Im-yang-pai itu? Ingat, tuduhan tanpa bukti adalah fitnah keji!"

Suasana menjadi tegang karena para tamu kini mencurahkan perhatian mereka kepada dua orang kakak beradik yang bernyali besar berani menuduh kepada Beng-kauw itu.

"Benar! Apa buktinya?"

Ui-bin Saikong berteriak.

"Tanpa bukti adalah fitnah keji!"

Hek-bin Saikong juga berteriak.

Teriakan dua orang ini disambut oleh para anggauta Beng-kauw yang menuntut agar dua orang muda dari Im-yang-pai itu dapat menunjukkan buktinya.

Menghadapi suara begitu banyak orang, tentu saja pemuda dan dara itu menjadi terdesak dan kalah pengaruh.

Akan tetapi Liang Kok Sin, pemuda berusia duapuluh tahun itu, kelihatan tenang saja ketika dia mengangkat kedua tangan ke atas minta perhatian dan agar semua orang diam.

Setelah suasana menjadi tenang kembali dia lalu menghadapi Kwan Cin Cu.

"Beng-kauw telah bertindak demikian cerdik dan curang sehingga tidak ada saksi melihat betapa ayah kami dibunuh. Akan tetapi kami dari Im-yang-kauw berhasil mengadakan kontak dengan arwah ayah kami dan dengan jelas arwah, ayah kami memberi tahu bahwa yang membunuhnya adalah murid ketiga dari Maghi Sing atau See-thian Sian-su, sedangkan yang memimpin penyerbuan di Kuil Ban-hok-tong adalah si muka kuning dan si muka hitam! Bagi kami, keterangan dari arwah ayah kami merupakan bukti mutlak, oleh karena itu hari ini kami sengaja datang untuk minta pertanggungan jawab dari Beng-kauw atas perbuatan mereka yang jahat itu!"

Suasana menjadi sunyi dan makin tegang setelah pemuda itu mengakhiri kata-katanya dan semua anggauta Beng-kauw memandang ke arah ketua-ketua mereka dengan muka berobah.

Karena apa yang dikatakan oleh pemuda itu.

memang tepat sekali!

Akan tetapi Kwan Cin Cu masih tenang-tenang saja, kemudian dia nemandang tajam kepada pemuda dan gadis itu, dan berkata dengan suara lantang karena memang dia sengaja bicara keras agar terdengar leh semua tamu yang hadir dan diam-diam mencurahkan perhatian terhadap peristiwa ini.

"Orang-orang muda pengacau!"

Teriaknya.

"Bukti dan alasan yang kalian ajukan itu adalah permainan kanak-kanak dan sama sekali tidak boleh dipercaya. Mana bisa ocehan orang mati dapat dijadikan bukti? Pendeknya, kami dari Beng-kauw tidak dapat menerima bukti itu dan kalian mau apa? Lebih baik kalian berdua lekas pergi dari sini dan jangan mengacau kami yang sedang berkabung ini."

Akan tetapi, tiba-tiba pemuda dan gadis itu menggerakkan tangan dan mereka telah mencabut senjata masing-masing.

Pemuda itu mencabut sebatang golok tipis sedangkan adiknya telah mencabut sebatang pedang.

Dengan melintangkan senjata di depan dada, kedua orang muda ini bersikap menantang dan wajah mereka membayangkan kesungguhan.

"Sudah sepuluh tahun kami berdua bersumpah akan membalas kematian ayah kami. Setelah kini kami mengetahui benar bahwa Beng kauw yang telah membunuh ayah kami tanpa dosa, maka kami minta pertanggungan jawab Beng-kauw dan kami tidak akan pergi dari sini sebelum Beng-kauw mempertanggungjawabkan perbuatan mereka yang rendah itu. Kami sial mempertahankan sumpah kami dengan nyawa kami!"

"Bocah sombong! Berani kau bersikap kurang ajar di Beng-kauw?"

Teriak Kwan Cin Cu yang hampir tidak dapat mempertahankan kemarahannya lagi.

"Kami bukan bermaksud kurang ajar, kami menuntut keadilan dan kalau Beng kauw begitu tidak tahu malu untuk mengeroyok kami, silakan!"

Kini Liang Hwi Nio, gadis manis dengan lesung pipit di ujung bibirnya itu berkata lantang.

""Sombong""!"

Tiba-tiba dua orang nenek melompat ke depan.

Mereka ini adalah dua orang sumoi dari Ui-bin Saikong dan Hek-bin Saikong yang dulu ikut membantu dua orang suheng mereka dalam penyerbuan ke Kuil Ban-hok-tong.

Karena rahasia itu sudah terbongkar, maka diam-diam nenek ini menjadi khawatir dan melihat sikap kakak beradik yang mereka anggap sombong ini, mereka lalu melompat maju.

"Suhu, perkenankan kami berdua menghadapi dan menghajar dua orang muda bermulut lancang yang berani menghina Beng-kauw kita ini!"

Berkata seorang di antara mereka kepada Kwan Cin Cu.

Kakek tinggi besar ini berpikir sejenak.

Dua orang nenek itu adalah murid-muridnya yang memiliki kepandaian tinggi, setingkat dengan kepandaian Ui-bin Saikong dan Hek-bin Saikong, maka tentu saja boleh diandalkan.

Kalau dia sendiri atau kedua orang sutenyayang maju menghadapi dua orang muda yang masih bocah itu, tentu akan merendahkan nama besar Beng-kauw.

Juga kalau yang maju adalah Ui-bin Saikong dan Hek-bin Saikong, hal ini akan ditertawakan orang karena dua orang saikong itu merupakan tokoh-tokoh penting dari Beng-kauw, merupakan murid-murid utama dari para ketua Bang-kauw.

Sebaliknya, dua orang nenek itu tidak terkenal, sungguhpun kepandaian mereka sudah setingkat dengan kepandaian dua orang saikong itu, maka majunya dua orang nenek ini mewakili Beng-kauw pasti tidak begitu mengherankan dan tidak merendahkan nama Beng-kauw.

Maka dia lalu mengangguk dan berkata kepada Liang Kok Sin dan adiknya.

"Eh, dua orang muda dari Im-yang-pai yang sombong dan nekat! Para tamu menjadi saksi bahwa kalian datang mencari perkara, sama sekali bukanlah Beng-kauw yang hendak memusuhi Im-yang-pai. Kalian menantang, maka baiklah fihak kami mengajukan dua orang wanita ini untuk menghadapi kalian, Disaksikan oleh para tamu bihwa kalian yang datang mengacau, maka kalau sampai kalian tewas dalam pertandingan ini, bukan berarti Beng kauw hendak menantang Im-yang-kauw atau lm-yang-pai!"

Kakek ini sengaja bicara keras agar terdengar semua orang.

"Kami mengerti!"

Bentak Liang Kok Sin "Kami berdua datang bukan sebagai utusan Im-yang-pai, melainkan sebagai anak-anak dari mendiang ayah kami hendak menuntut balas atas kematian ayah kami dan minta pertanggungan jawab dari Beng-kauw yang telah membunuhnya tanpa dosa.

Kami akan menandingi dua orang jago yang mewakili Beng-kauw dan biarlah hal ini menjadi bukti nanti.

Kalau Beng-kauw memang tidak bersalah dan tidak pernah membunuh ayah kami.

biarlah jago kalian yang menang dan kami akan menyerahkan nyawa untuk menyusul ayah kami sebagai anak-anak yang tidak berbakti dan tidak mampu membalas kematian ayah.

Sebaliknya, kalau Beng-kauw bersalah, maka arwah dari ayah kami pasti akan melindungi kami dan kami akan keluar sebagai pemenang dalam pertandingan ini!"

Setelah berkata demikian, kakak beradik itu melintangkan senjata masing-masing di depan dada, (Lanjut ke

Jilid 22) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 22 menghadapi dua orang nenek itu.

Dua orang nenek itu sudah melangkah ke depan dan tanpa banyak cakap keduanya telah mengeluarkan senjata masing-masing, yaitu sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya.

Dua orang nenek ini bukanlah orang-orang sembarangan.

Mereka adalah murid-murid dari tiga orang ketua Beng-kauw itu dan dalam hal kepandaian silat, baik tenaga sinkang maupun ginkang, kiranya mereka tidak berada di bawah-tingkat Ui bin Saikong maupun Hek-bin Sai-kong.

Yang seorang bermuka penuh keriput, matanya sipit hampir terpejam dan mulutnya selalu tertutup rapat seperti orang merengut.

Nenek ini berjuluk Mo-kiam (Pedang Iblis) karena memang hebat sekali permainan pedangnya, sedangkan nenek ke dua berjuluk Leng-kiam (Pedang Dingin) dan biarpun permainan pedangnya tidak sehebat Mo-kiam Kui-bo (Biang Pedang Iblis) namun pedangnya yang menyambar-nyambar itu mengeluarkan hawa dingin karena memang nenek ini adalah seorang ahli tenaga Im-kang.

Berbeda dengan Mo-kiam Kui-bo, nenek ini mukanya penuhi bopeng dan mulutnya menyeringai selalu sehingga nampak giginya karena memang bibirnya terlalu pendek untuk dapat merapat.

Setelah memperoleh perkenan dari guru mereka yang pertama, Mo-kiam Kui-bo cepat menerjang Kok Sin, sedangkan Leng-kiam Kui-bo menggerakkan pedangnya menyerang Hwi Nio.

Kedua orang nenek ini memandang rendah kepada dua orang murid Im-yang pai itu, karena melihat usia mereka, tentu ilmu silat mereka masih mentah dan mana mungkin dapat menandingi dua orang nenek yang menjadi tokoh Beng-kauw ini?

Demikianlah pula jalan pikiran Kwan Cin Cu maka ketua pertama dari Beng-kauw ini tadi menyetujui dua orang muridnya itu untuk maju mewakili Beng-kauw.

Liang Kok Sin dan Liang Hwi Nio adalah putera dan puteri dari Liang Bin Cu, seorang tokoh tingkat tiga dari Im-yang pai.

Kalau saja mereka berdua itu hanya memperoleh kepandaian mereka dari mendiang ayah mereka, sudah tentu saja mereka tidak mungkin akan dapat menandingi dua orang nenek itu.

Akan tetapi, semenjak ayah mereka lenyap dan dikabarkan tewas, dua orang anak ini memperoleh pendidikan langsung dari Cin Beng Thiancu, yaitu ji-pangcu (ketua yang ke dua) dari Im-yang-pai.

Cin Beng Thiancu dengan tekun mendidik dua orang anak ini sehingga sepuluh tahun kemudian, dua orang anak itu telah memiliki tingkat kepandaian yang kiranya masih lebih tinggi tingkatnya dari pada tingkat mendiang ayah mereka sendiri yang menjadi tokoh tingkat tiga dari Im-yang-pai!

Ketika Kok Sin melihat berkelebatnya sinar yang amat cepat dari Mo-kiam, pemuda ini dengan tenang lalu menggeser kakinya mundur dan golok tipisnya berkelebat ke depan, membentuk lingkaran sinar yang berkilauan dari dalam gulungan sinar yang menahan serangan nenek keriputan itu, tiba-tiba nampak sinar mencuat dan itu adalah serangan balasan dari Kok Sin yang mengarah leher si nenek.

"Ehhh""..!"

Mo-kiam Kui-bo berseru kaget dan cepat memutar pergelangan tangan yang memegang pedang sehingga pedangnya membuat gerakan menyontek dari bawah ke atas.

"Cringgg""".!"

Keduanya terkejut karena pertemuan antara golok dan pedang itu membuat mereka merasakan getaran hebat pada lengan mereka, tanda bahwa lawan memiliki tenaga yang amat kuat dan seimbang dengan tenaga sendiri.

Melihat kenyataan ini, Mo-kiam Kui-bo tidak berani lagi memandang rendah dan dia lalu berseru keras, pedangnya bergerak dengan amat cepatnya menyerang lawan.

Akan tetapi Kok Sin juga menggerakkan goloknya dengan cepat sehingga terjadilah pertempuran yang amat seru dan yang dilakukan dengan mengandalkan kecepatan gerakan senjata mereka.

Di lain fihak, pertandingan antara Leng-kiam Kui-bo melawan Liang Hwi Nio juga sudah terjadi dengan amat hebatnya.

Mula-mula, seperti juga kawannya, Si Pedang Dingin ini memandang rendah kepada gadis berusia delapanbelas tahun yang manis itu, maka sambil menyeringai lebar nenek ini menggerakkan pedangnya yang mengeluarkan hawa dingin dan suara bercicit itu ke arah leher gadis itu, lebih condong untuk memamerkan kepandaian dan menggertak dari pada menyerang dengan sungguh-sungguh.

Akan tetapi, dara itu menyambutnya dengan tenang saja, pedangnya digetarkan dan menangkis pedang lawan.

"Trangg""

Singgg"".!"

Pedang itu saling bentur dan tiba-tiba pedang dara yang menangkis itu terus melesat dan menyeleweng ke arah dada si nenek dengan kecepatan yang sama sekali tidak tersangka-sangka oleh lawan.

"Aihh""..!"

Nenek itu masih menyeringai karena memang bibirnya cupet, akan tetapi mukanya berubah dan matanya terbelalak.

Hanya dengan jalan melempar tubuh ke belakang sajalah dia terhindar dari ancaman ujung pedang gadis itu.

Keringat dingin membasahi tubuh nenek itu dan dia menjadi marah bukan main.

Karena memandang rendah hampir saja dia roboh dalam segebrakan saja!

Kini dia sama sekali tidak memandang rendah lagi, bahkan penasaran dan marah.

Mulutnya mengeluarkan lengking panjang dan dia sudah menyerang sambil mengerahkan tenaganya sehingga menyambar-nyambarlah hawa dingin yang menggiriskan Akan tetapi Hwi Nio yang maklum akan kelihaian lawan itu bersikap tenang, memutar pedangnya dan mainkan pedangnya dengan cermat dan mengerahkan sin-kangnya untuk menandingi tenaga Im kang yang dingin dari nenek itu.

Terjadilah pertandingan silat yang amat seru dan mati-matian di halaman itu, di depan peti jenazah yang menjadi saksi mati di samping saksi hidup yang ratusan orang jumlahnya di tempat itu.

Semua orang menahan napas karena ternyata bahwa kepandaian empat orang yang bertanding mati-matian itu memang seimbang!

Berkali-kali terdengar suara senjata tajam bertemu, berdencing diikuti bunga api yang berpijar dan muncrat-muncrat ke mana-mana, diselingi oleh teriakan dan lengkingan suara mereka yang menggetarkan jantung.

Mereka bertanding dengan mati-matian, di fihak dua orang kakak beradik itumerupakan pertandingan suci untuk membalas kematian ayah mereka sedangkan di fihak dua orang nenek itu juga merupakan suatu pertandingan yang mulia karena mereka mewakili nama Beng-kauw!Kini mereka bertanding dengan ganas dan cepat, kadang-kadang bertukar lawan, kadang-kadang bukan satu lawan satu lagi melainkan dua lawan dua, saling membantu kawan dan mengeroyok lawan.

Bukan main hebatnya pertandingan itu dan lewat limapuluh jurus, belum ada yang kelihatan menang, sungguhpun kini kakak beradik itu mulai mendesak lawai karena dalam kerja sama, ternyata kakak beradik ini lebih kompak dibandingkan denga dua orang nenek itu.

Hal ini adalah karena memang Cin Beng Thiancu, guru mereka, tokoh ke dua dari Im-yang pai itu, telah menurunkan Kiam-to siang tin atau Barisan Pedang dan Golok Berpasangan kepada kakak beradik itu agar di dalam pertempuran keroyokan, kakak beradik itu dapat saling membantu.

Dan ternyata kini menghadapi dua orang nenek itu, setelah mereka bertempur secara bahu-membahu, kakak beradik ini dapat mengacaukan permainan pedang dari kedua orang nenek itu dengan kerja sama mereka yang amat baik itu.

Para anggauta Beng-kauw, terutama para tokohnya, memandang dengan alis berkerut, karena dua orang nenek itu makin terdesak bahkan kini Leng-kiam Kui-bo telah terluka, pangkal lengannya tercium ujung pedang Hwi Nio sehingga berdarah.

Melihat keadaan dua orang muridnya itu, Kwan Cin Cu menjadi khawatir sekali.

Tak disangkanya sama sekali bahwa kedua orang muda lm-yang-pai itu ternyata amat lihai sehingga dua orang muridnya yang utama seperti dua orang nenek itu sampai terdesak dan hampir kalah.

Kalau sampai dua orang muridnya kalah, hal ini bukan saja merendahkan nama Beug-kauw.

akan tetapi juga akan dijadikan bukti oleh dua orang Im-yang-pai itu bahwa memang benar ayah mereka terbunuh oleh Beng-kauw.

Maka kekhawatiran hati ini menimbulkan niat curang di dalam hati Kwan Cin Cu.

Diam-diam dia lalu mengerahkan khikangnya, mengirim suara tanpa terdengar orang lain kepada sutenya, yaitu Hok Kim Cu dan mengajak sutenya itu membantu dua orang muridnya itu.

Hok Kim Cu mengangguk dan dua orang kakek tokoh Beng-kauw ini lalu mengerahkan kekuatan batin mereka dan mulailah mereka mempergunakan Ilmu Sin-gan Hoat-lek, semacam ilmu sihir yang mempergunakan kekuatan yang disalurkan melalui pandang mata mereka.

Terjadilah hal yang aneh dalam pertempuran itu.

Tiba tiba Kok Sin dan Hwi Nio mengeluarkan seruan aneh.

Mereka berdua merasakan adanya getaran yang amat hebat dan kuat sekali, yang mendorong dan memaksa mereka untuk mengangkat muka dan menoleh ke arah dua orang tokoh Beng-kauw itu, dan begitu mereka menoleh, mereka melihat betapa dua pasang mata tokoh pertama dan ke dua dari Beng-kauw itu mencorong seperi mata harimau!

Mereka terkejut dan betapapun mereka telah mengerahkan tenaga batin untuk mengalihkan pandang mata dan memperhatikan lawan, tetap saja mata mereka seperti ditarik dan dipaksa untuk harus memandang kepada dua orang kakek itu.

Tentu saja karena mereka sering sekali menoleh dan memandang ke arah dua orang kakek itu, gerakan mereka menjadi kacau dan kembali mereka berseru keras dan terhuyung karena ujung pedang dua orang nenek itu telah melukai pundak mereka, bahkan nyaris menewaskan mereka kalau saja mereka tadi tidak cepat membuang diri sehingga hanya pundak mereka saja yang terluka!.

Melihat keadaan dua orang muda itu, Mo-kiam Kui-bo dan Leng-kiatn Kui-bo girang sekali.

Mereka maklum bahwa guru-guru mereka membantu, maka melihat dua orang muda itu terhuyung, di bawah sorak-sorai gembira dari para anggauta Beng-kauw yang girang melihat jagoan fihak mereka menang, kedua orang nenek ini dengan ganas lalu menubruk ke depan untuk mengirim serangan maut.

Kok Sin dan Hwi Nio masih saja menoleh-noleh kepada dua orang kakek itu dan nyawa mereka berada dalam cengkeraman maut.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar Kwan Cin Cu dan Hok Kim Cu berseru aneh sekali dan dua orang muda itu merasa betapa getaran itu lenyap seketika.

Pada saat itu, dua orang nenek yang sudah yakin akan kemenangan mereka, menubruk maju dan gerakan mereka hanya terdorong rasa gembira karena menang sehingga kurang hati-hati.

Saat itu dipergunakan oleh Kok Sin dan Hwi Nio yang sudah terbebas dari pengaruh getaran luar biasa tadi untuk meloncat ke samping dan ketika golok dan pedang mereka berkelebat menyambar, dua orang nenek itu menjerit dan roboh, tewas seketika karena serangan dua orang muda itu mengenai sasaran yang tepat.

Golok Kok Sin hampir membabat putus leher Mo-kiam Kui-bo sedangkan pedang di tangan Hwi Nio menembus dada Leng kiam Kui-bo!

Sorak-sorai tadi seketika berhenti dan semua mata terbelalak memandang ke arah dua orang nenek yang sudah roboh dan tak dapat diragukan lagi pasti tewas itu.

Suasana menjadi hening sekali.

Kwan Cin Cu dan Hok Kim Cu kini masih menoleh dan memandang kepadi Coa Gin San, pemuda yang sejak tadi duduk bersila di depan peti dengan tenang itu.

Mereka memandang kepada Gin San dengan mata bersinar-sinar penuh kemarahan karena dua orang tokoh utama dari Beng-kauw ini ketika tadi membantu murid mereka, secara tiba-tiba merasa betapa getaran sinar pandang mata mereka yang mengandung Ilmu Sin-gan Hoat lek, tiba-tiba saja membuyar dan bahkan tubuh mereka tergetar oleh pengaruh hawa yang amat kuat, yang datangnya dari sebelah kiri mereka di mana sute mereka itu duduk bersila.

Ketika mereka menengok, mereka melilat betapa dari sepasang mata sute mereka itu keluar sinar dan getaran yang amat kuat dan yang telah membuyarkan tenaga mereka tadi, bahkan kini mereka berdua merasa betapa mereka sendiri tergetar dan terpengaruh hebat sekali.

Kiranya sute mereka itu telah menentang mereka, mencegah mereka membantu dua orang murid mereka dengan mempergunakan Ilmu Sin gan Hoat-lek yang luar biasa kuatnya, jauh lebih kuat dari pada tenaga batin mereka berdua digabung menjadi satu!

Setelah Gin San mengalihkan pandang matanya dan menunduk kembali, barulah dua orang kakek itu dapat bergerak dan pada saat itu mereka mendengar jerit dua orang nenek dan melihat betapa murid murid mereka itu roboh dan tewas di tangan dua orang muda dari Im-yang-pai itu.

Marahlah tiga orang ketua Beng-kauw itu.

Dua orang tokoh Beng-kauw tewas di depan peti mati jenazah guru mereka, dan lebih celaka lagi, di depan kesaksian para tamu yang terdiri dari tokoh-tokoh kang ouw!

Hal ini sungguh merupakan pukulan hebat bagi nama Beng-kauw.

Karena merasa terhina dan marah, tiga orang ketua itu mengeluarkan seruau keras dan tubuh mereka bertiga telah mencelat ke depan, ke tengah lapangan menghadapi dua orang nuda Im-yang-pai yang berdiri dengan tegak itu, pundak mereka masih berdarah karena terluka dalam pertandingan tadi.

Kwan Cim Cu mendekati mayat dua orang nenek itu dan setelah memeriksa dan mendapat kenyataan bahwa mereka berdua telah tewas, dia memberi isyarat dan beberapa orang anggauta Beng-kauw maju dan mengusung keluar dua mayat itu.

Kemudian Kwan Cin Cu menghadapi dua orang muda itu dengan mata beringas.

"Kalian dua orang penjahat hina dari Im-yang-pai! Kalian berani mengacau dalam upacara perkabungan guru besar Beng-kauw, bahkan berani turun tangan menewaskan dua orang murid kami! Tak mungkin kami dapat membiarkan saja penghinaan terhadap Beng-kauw ini Majulah dan perlihatkan kepandaian kalian! Sebelum Kok Sin dan Hwi Nio bergerak terdengar suara tertawa nyaring dan suara ini mengandung kekuatan khikang yang besar sehingga mengejutkan semua orang yang hadir Dari rombongan para tamu yang amat banyak itu muncullah seorang kakek yang bertubuh tinggi besar, bermuka hitam dan pandang matanya bengis, pakaiannya serba putih dan dia melangkah lebar ke depan sambil membuka jubahnya sehingga nampaklah lambang Im Yang di dadanya, pertanda bahwa dia adalah seorang tokoh Im-yang-pai yang berkedudukan tinggi! Melihat kakek ini, semua orang terkejut, juga para tokoh Beng-kauw karena mereka mengenal kakek ini sebagai seorang jagoan Im-yang-pai, bahkan merupakan ketua nomor dua dari Im-yang-pai, sute dari ketua Im-yang-pai sendiri. Kakek ini bukan lain adalah Cin Beng Thiancu, ji-pangcu dari Im-yang-pai atau guru dari kakak beradik yang baru saja membunuh dua orang nenek jagoan Beng-kauw itu.

"Ha-ha-ha, hutang nyawa bayar nyawa, itu sudah wajar di kalangan persilatan. Dua orang murid Beng-kauw tewas dalam suatu pertempuran yang adil, apa lagi yang harus dibuat penasaran? Tidak seperti mendiang Liang Bin Cu yang tewas tanpa diketahui sebabnya, tewas oleh kecurangan yang menjijikkan! Apakah sekarang tiga orang ciangbunjin dari Beng-kauw yang terhormat dan terkenal sekali itu hendak maju mengeroyok dua orang murid muda dari Im-yang-pai?"

Kwan Cin Cu memandang marah.

Kakek Im-yang-pai ini jelas datang untuk mencari perkara atau setidaknya diam-diam melindungi dua orang muda itu, karena Cin Beng Thiancu tadi tidak kelihatan bersembahyang di depan peti jenazah.

Maka dengan mata melotot, ketua pertama dari Beng-kauw itu membentak.

"Gurunya boleh maju, ketua dan semua nenek moyang Im-yang-pai dan datuk datuk lm-yang-kauw boleh maju semua!"

Kwan Cin Cu yang sudah marah sekali itu hampir tercekik oleh suaranya sendiri, terbatuk-batuk, menarik napas panjang lalu berkata lagi.

"Kami bertiga, kalian orang-orang Im yang pai juga bertiga, tidak ada penasaran lagi. Sambutlah!"

Sambil berkata demikian Kwan Cin Cu sudah mencabut goloknya yang lebar dan berkilauan karena terbuat dari perak, kemudian dia sudah menerjang maju dan menyerang Cin Beng Thiancu dengan dahsyat.

Pada saat yang hampir berbareng, Hok Kim Cu sudah menggerakkan pedang emasnya menyerang Liang Kok Sin sedangkan Thian Bok Cu menggerakkan tongkat kayunya menyerang Liang Hwi Nio sambil tersenyum mengejek dengan sikapnya yang genit.

Cin Beng Thiancu cepat mencabut pedangnya dan menangkis serangan Kwan Cin Cu lalu balas menyerang, sedangkan dua orang kakak beradik itu biarpun sudah terluka pundaknya, dan lelah, namun sedikitpun mereka tidak merasa gentar dan sudah menyambut serangan Hok Kim Cu dan Thian Bhok Cu dengan gagah berani.

Terjadilah kini pertempuran yang lebih hebat dari pada tadi, akan tetapi dengan mudah sekali dapat dilihat bahwa sekali ini fihak Im yang-pai jauh kalah kuat, apa lagi dua orang muda itu yang segera didesak hebat oleh Hok Kim Cu dan Thian Bhok Cu.

Hanya perkelahian antara Cin Beng Thiancu dan Kwan Cin Cu sajalah yang seimbang dan amat ramai karena kedua orang tokoh ini ternyata memiliki tingkat kepandaian yang seimbang.

Diam-diam Coa Gin San mengerutkan alisnya.

Hatinya merasa tidak senang sekali dengan tindakan tiga orang suhengnya itu.

Tadi, ketika dia melihat twa-suheng dan ji-suhengnya diam-diam membantu dua orang nenek dengan ilmu sihir, dia merasa terkejut dan tidak senang sekali.

Tentu saja bukan niatnya untuk berfihak kepada dua orang muda Im-yang-pai itu, akan tetapi dia sebagai murid dari mendiang See-thian Sian-su atau Maghi Sing, harus membela nama Beng-kauw sebagai perkumpulan besar.

Kalau dia membiarkan saja dua orang suhengnya itu melakukan kecurangan, sudah tentu hal ini akan mencemarkan nama besar Beng kauw karena di tempat itu hadir banyak orang pandai, maka tentu kecurangan kedua orang suhengnya itu akan diketahui orang lain.

Maka diam-diam dia lalu menghalangi dua orang suhengnya itu bertindak curang sehingga akibatnya, dua orang nenek itu tewas oleh fihak musuh.

Akan tetapi, bagi Gin San, lebih baik dua orang murid Beng-kauw itu tewas dalam pertandingan yang jujur dan mati sebagai orang-orang gagah dari pada memperoleh kemenangan secara curang!

Tak disangkanya bahwa para suhengnya menjadi marah oleh kematian dua orang nenek itu dan kini tiga orang suhengnya sudah memaksa fihak lawan untuk bertanding.

Padahal dia tahu benar bahwa tingkat kepandaian dua orang muda Im-yang-pai yang sudah terluka itu jauh kalau dibandingkan dengan tingkat kepandaian para ketua Beng-kauw itu.

Maka, diam-diam Gin San mengerutkan alisnya dan dia mengambil keputusan untuk mencegah terjadinya pembunuhan terhadap kedua orang muda itu yang dianggapnya sudah sepatutnya kalau menuntut balas atas kematian ayah mereka.

Pula dia sendiri menjadi saksi akan kecurangan fihak Beng kauw yang mempergunakan nama Im-yang-pai untuk melakukan pengacauan sehingga Im-yang-pai yang terkena fitnah, maka biarpun dia sebagai murid Maghi Sing mempunyai kecondongan untuk bersetia kepada Beng-kauw dan menjunjung tinggi nama Beng-kauw, akan tetapi diam-diam dia tidak senang kepada para suhengnya yang kini berusaha membunuh orang-orang Im-yang-pai.

Dia memang harus membela Beng-kauw, akan tetapi membela Beng-kauw dengan perbuatan curang sama saja dengan mengotori nama Beng kauw Dia harus mencegah siapapun yang akan mencemarkan nama Beng-kauw dengan perbuatan yang curang!

Ketika dia memandang ke depan, dia melihat betapa pertempuran antara Kwan Cin Cu dan kakek Im-yang-pai itu masih seimbang, bahkan Kwan Cin Cu kelihatan masih kalah sedikit dalam hal tenaga sinkang karena buktinya setiap kali senjata mereka bertemu, lengan tangan Kwan Cin Cu tergetar dan golok peraknya terpental!

Akan tetapi, pertandingan antara dua orang muda dan dua orang kakek Beng-kauw itu sama sekali tidak seimbang.

Dan biarpun kini dua orang muda itu kembali membentuk Kiam-to-siang-tin, sehingga dapat saling melindungi, namun tetap saja mereka terdesak hebat dan kini Hok Kim Cu berganti lawan, mendesak Liang Hwi Nio sedangkan Thiang Bhok Cu yang tersenyum-senyum genit itu mempermainkan Liang Kok Sin.

Pandang mata yang tajam dari Gin San lalu melihat hal yang tidak wajar.

Ternyata bahwa ji-suheng dan sam-suhengnya itu tidak bertanding dengan sungguh-sungguh!

Dari pandang matanya.

Gin San dapat menduga dan timbullah rasa jengkelnya.

Pandang mata Hok Kim Cu yang ditujukan kepada Hwi Nio yang cantik, tiada bedanya dengan pandang mata Thian Bhok Cu yang ditujukan kepada Kok Sin yang tampan!

Pandang mata yang mengandung penuh nafsu berahi!

Teringatlah Gin San akan watak-watak dan sifat-sifai kedua orang itu dan diam-diam dia menjadi marah.

Para suhengnya itu memang bukan orang orang yang baik!

Untuk menjaga agar tidak sampai terjadi perbuatan yang amat memalukan Beng kauw, maka dia lalu mengerahkan khikangnya dan mengirim suara dari jauh dengan Ilmu Coan-im-jip bit yang amat kuatnya sehingga tiba tiba Hok Kim Cu dan Thian Bhok Cu mendengar bisikan-bisikan suara sute mereka itu dengan jelas, seolah-olah sutenya itu bicara di dekat telinga mereka.

"Ji suheng! Sam suheng! Jangan main main, cepat robohkan mereka, akan tetapi jangan sekali-kali membunuh mereka!"

Dua orang kakek itu terkejut.

Mereka maklum bahwa sute mereka adalah murid terkasih, dari mendiang guru mereka, akan tetapi mereka masih belum sadar bahwa sute yang muda itu kini memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dari tingkat mereka!

Tadi, Kwan Cin Cu dan Kok Kim Cu terkejut karena ilmu sihir mereka ditolak oleh kekuatan pandang mata Gin San, dan kini ketua ke dua dan ke tiga itu terkejut karena mereka mendengar suara melalui Ilmu Coan-im-jip-bit yang sedemikian kuatnya sehingga seolah-olah guru mereka sendiri yang berbisik dari jauh kepada mereka.

Akan tetapi, karena ucapan bisikan dari sute mereka itu memang cocok dengan isi hati mereka yang memang tidak ingin membunuh pemuda tampan dan dara cantik itu, keduanya tersenyum dan terdengar bentakan-bentakan nyaring disusul dengan robohnya tubuh Kok Sin dan Hwi Nio yang telah tertotok oleh kedua orang lawan mereka yang jauh lebih lihai itu.

Melihat hal ini, Gin San cepat berkata, suaranya halus namun terdengar oleh semua orang.

"Dua orang ini adalah pengacau-pengacau, akan tetapi karena mereka terdorong oleh urusan pribadi, maka mereka bukanlah musuh Beng kauw dan mereka sebaiknya ditahan dulu dalam kamar tahanan untuk diputuskan kelak hukuman bagi mereka kalau sudah selesai penyempurnaan jenazah suhu."

Mendengar ucapan itu, semua tamu merasa setuju karena memang keputusan ini adil dan beberapa orang anggauta Beng-kauw lalu diperintah untuk membawa pergi dua orang Im-yang-pai yang sadah tertawan itu.

Ketika Cin Beng Thiancu melihat betapa dua orang muridnya itu tertawan, hatinya menjadi gelisah sekali dan dia juga merasa marah.

"Keparat, bebaskan murid-muridku!"

Bentaknya dan dia menerjang dengan dahsyat sehingga Kwan Cin Cu terpaksa mengelak mundur, kemudian orang pertama dari tiga ketua Beng-kauw ini memutar goloknya dan balas menyerang.

Akan tetapi, kini Cin Beng Thiancu yang sudah marah sekali itu mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya untuk mendesak Kwan Cin Cu.

Sebetulnya, dalam tingkat kepandaian Kwan Cin Cu sebagai orang pertama dari Beng kauw, tidaklah kalah dibandingkan dengan tingkat ilmu silat yang dimiliki orang ke dua dari Im-yang-pai itu, bahkan masih lebih tinggi sedikit.

Akan tetapi, yang membuat Kwan Cin Cu sampai terdesak adalah pukulan-pukulan tangan kiri dari Cin Beng Thiancu yang bernama Thian-lui-sin-ciang itulah.

Pukulan tangan kiri inipun didorong oleh tenaga yang luar biasa kuatnya, sehingga setiap kali terjadi pertemuan senjata atau tangan, Kwan Cin Cu yang sudah mengerahkan seluruh tenaganya itu selalu terdorong ke belakang."

Gin San sejak tadi mempelajari keadaan dua orang itu, kemudian dia mempergunakan khikangnya, dengan Ilmu Coan-im-jip-bit dia membisikkan petunjuk kepada twa-suhengnya.

"Suheng, Beng-kauw mengutamakan terang dan halus, yang terang mengalahkan yang gelap, yang halus menandingi yang kasar. Sudah terang fihak lawan mengandalkan kekasaran mengapa tidak menggunakan kehalusan?"

Mendengar bisikan ini, terkejutlah Kim Cin Cu.

Terkejut dan girang.

Memang tadi dia selalu merasa penasaran dan dia telah mengerahkan seluruh kekuatan sinkangnya.

Dia terlalu mengandalkan kekuatannya sendiri sehingga memandang rendah semua orang, bahkan dia tidak percaya kalau orang ke dua dan Im-yang-pai ini akan mampu menandingi sinkangnya!

Itulah sebabnya maka dia tadi melawan keras dengan keras, karena dia tidak sudi kalau disangka takut menghadapi kekuatan lawan, merasa malu kalau tidak mampu menghadapi keras lawan keras.

Kini, setelah mendengar bisikan itu, barulah dia sadar dan tahu akan kebodohannya sendiri.

Pada saat itu, Cin Beng Thiancu yang sudah marah melihat dua orang muridnya tertawan, menerjang dengan amat dahsyatnya seperti seekor gajah mengamuk.

Kwan Cin Cu yang sudah sadar itu lalu mengerahkan sinkangnya, meloncat ke belakang dengan cepatnya, kemudian ketika lawan mendesak, dia menyambut dengan gerakan yang sama sekali berlainan dengan tadi!

Kini dia tidak pernah menangkis, melainkan mengelak dan mulailah dia menggunakan serangan balasan dengan golok peraknya dibantu dengan pukulan tangan kirinya yang amat ampuh, yaitu Toat-beng-tok-ciang, ilmu pukulan beracun yang amat keji, yang melatihnya saja harus mengorbankan darah dan otak banyak anak-anak yang masih bersih!

Perhitungan Gin San memang tepat.

Setelah kini Kwan Cin Cu tidak melayani adu tenaga keras lawan keras, maka orang pertama Beng-kauw itu tidak lagi terdesak, sebaliknya malah mendesak hebat karena Cin Beng Thian-cu yang hanya mengandalkan kelebihan tenaganya kini terpaksa harus mengakui keunggulan ilmu silat lawan yang tidak lagi melayani adu tenaga.

Biarpun dia masih berusaha membela diri sampai limapuluh jurus lebih, akan tetapi pengerahan tenaga yang berlebihan membuat dia lelah, juga gerakannya menjadi kacau dan tiba-tiba dia mengeluh ketika pukulan Toat-beng-tok-ciang yang tidak dapat dielakkan lagi itu mengenai lambungnya.

Dia merasa betapa lambungnya nyeri bukan main, seperti ditusuk tusuk jarum dan dia terhuyung dengan lemah.

Ketika Kwan Cin Cu hendak melanjutkan serangannya untuk mengirim pukulan maut kepada lawan yang sudah tidak berdaya itu, tiba tiba nampak bayangan putih berkelebat dan tahu-tahu Gin San telah berdiri di depannya membelakanginya, dan pemuda ini dengan penuh wibawa berkata kepada Cin Beng Thiancu.

"Twa-suheng telah menangkan pertandingan ini, kami orang-orang Beng-kauw adalah orang-orang gagah yang tidak menyerang lawan yang sudah kalah. Apakah engkau masih tidak mau terima kalah dan hendak melanjutkan pertandingan? Hayo lekas pergi dan jangan lagi mengganggu upacara penyempurnaan jenazah guru kami!"

Mendengar ini, Cin Beng Thiancu lalu memandang kepada Gin San dengan sinar mata penuh kagum dan juga penuh pengertian.

Dia melihat munculnya seorang tokoh yang masih muda namun hebat sekali di Beng-kauw.

Dia melihat betapa cepat gerakan pemuda ini dan melihat sikapnya yang halus namun penuh wibawa, seolah-olah pemuda ini bahkan lebih berpengaruh dari pada orang pertama dari Beng-kauw yang telah mengalahkannya itu.

Dia telah terluka hebat, mungkin luka yang akan menghilangkan nyawanya.

Melawan lagi tidak ada gunanya lagi, maka dia lalu menjura kepada pemuda ini yang betapapun juga telah menyelamatkan nyawanya di saat itu, karena tanpa munculnya pemuda ini tentu Kwan Cin Cu akan melanjutkan serangannya dan dia tidak akan mungkin dapat melindungi nyawanya lagi.

"Saya yang bodoh mengaku kalah"""

Katanya sambil menekan lambungnya dan menarik napas dalam-dalam karena lambungnya terasa nyeri bukan main.

"Akan tetapi"

Bagaimana dengan dua orang muridku"".?"

"Mereka menyatakan sendiri bahwa mereka datang bukan sebagai orang-orang Im-yang-pai, melainkan karena urusan pribadi. Karena mereka mengacau tempat kami, maka terpaksa kami tahan dan akan kami adili kelak. Pergilah, dan obati lukamu dengan ini, kalau terlambat, dalam waktu tiga hari kau tentu akan tewas."

Gin San mengeluarkan sebungkus obat bubuk dari saku bajunya.

Obat ini adalah obat yang istimewa, yang dibuatnya sendiri menurut petunjuk mendiang gurunya, bukan hanya untuk mengobati luka akibat pukulan Toat-beng-tok-ciang dari suhengnya, melainkan mengobati luka dalam macam apapun juga.

Menerima obat dari musuh merupakan hal yang amat merendahkan, maka Cin Beng Thiancu menjura dan menolak.

"Terima kasih, kalau aku tidak mampu mengobati sendiri, sudah selayaknya aku mati."

Setelah beikata demikian, kakek bermuka hitam ini lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi dengan langkah lebar, dan dengan tubuh agak membungkuk karena dia menekan lambungnya.

Kwan Cin Cu dan dua orang sutenya memandang kepada Gin San dengan penasaran, akan tetapi sebelum mereka sempat menegur sute mereka itu, Gin San sudah beikata lantang.

"Saat penyempurnaan jenazah suhu telah tiba!."

Dan memang telah diatur sebelumnya untuk upacara ini maka begitu Gin San berseru demikian, empat orang kakek tua renta, yaitu mereka yang bertugas untuk melakukan upacara sembahyang dan pembakaran jenazah, sudah melangkah maju, kemudian mengitari peti jenazah sambil membaca mantera.

Terpaksa Kwan Cin Cu dan dua orang sutenya tidak berani banyak bicara lagi karena suasana itu haruslah khidmat.

Mereka hanya melempar pandang mata yang heran dan marah kepada Gin San, kemudian merekapun berlutut dan merangkak mendekati peti mati, kemudian bersama Gin San, mereka berempat mengangkat peti jenazah itu dan memanggulnya menuju ke tempat yang sudah disediakan untuk pembakaran jenazah, yaitu di pantai laut tak jauh dari guha itu.

Setelah upacara sembahyang oleh kakek-kakek Beng-kauw selesai, maka tiga orang murid dari Maghi Sing lalu menyalakan tumpukan kayu di atas mana peti jenazah diletakkan dan terbakarlah tumpukan kayu itu, membakar peti jenazah yang sudah disiram minyak.

Api bernyala dan menjilat-jilat seperti lidah-lidah iblis yang menikmati santapan yang dihidangkan, dan asap mengepul tinggi.

Lepas dari pada pandangan dan pendapat-pendapat yang terikat oleh kepercayaan-kepercayaan, tradisi-tradisi, dan peraturan-peraturan agama yang kaku dan sempit, tak dapat disangkal lagi bahwa menyempurnakan jenazah manusia dengan jalan membakarnya merupakan cara yang paling baik.

Pertama, jelas bahwa yang mati tidak lagi mengganggu yang hidup dengan penggunaan tanah yang menimbulkan tempat-tempat yang dianggap angker sehingga tanah itu dapat dimanfaatkan oleh yang hidup.

Ke dua, keluarga yang masih hidup tidak lagi terikat oleh kewajiban merawat kuburan dan mengunjunginya setiap waktu yang telah ditentukan oleh tradisi.

Ke tiga, dengan cara pembakaran ini maka semua penyakit yang mungkin masih melekat pada jenazah dan yang mungkin menimbulkan bahaya penularan, dapat dibasmi habis oleh api.

Api yang membakar kayu dan peti jenazah itu menyala makin tinggi dan kini peti jenazah itu terbuka dan nampaklah jenazah Maghi Sing yang mulai terbakar.

Semua orang memandang ngeri.

Kakek yang di waktu hidupnya merupakan seorang tokoh yang amat tinggi ilmunya itu kini nampak seperti hidup!

Kaki dan tangannya bergerak-gerak di dalam api!

Semua orang mengerti bahwa gerakan itu disebabkan oleh api yang menyedot dan mengeringkan air di tubuh yang mati itu.

Akan tetapi, Gin San memandang dengan mata terbelalak dan penuh perhatian.

Bibirnya bergerak-gerak dan hanya dia sendiri yang mendengar bisikan hatinya.

"Terima kasih, suhu."

Memang amat luar biasa gurunya itu.

Sebelum gurunya meninggal dunia, Gin San diberi suatu ilmu silat yang luar biasa, yang diciptakan oleh Maghi Sing menjelang kematiannya.

Ilmu silat itu amat sukar dilatih, bahkan untuk gerakan jurus terakhir dari ilmu silat yang hanya terdiri dari tigabelas jurus itu, Gin San belum juga dapat menguasainya karena gurunya sudah keburu meninggal dunia.

Dan tadi, melihat gerakan kaki tangan jenazah gurunya yang terbakar api, Gin San melihat gerakan jurus terakhir itu dengan amat jelas!

Seolah-olah jenazah itu sebelum musnah menjadi abu, telah memberi contoh dan mengajarkan kepadanya bagaimana harus mainkan jurus ke tigabelas dari ilmu silat yang dinamakan oleh gurunya Cap-sha Tong-thian (Tigabelas Yang Menggemparkan Langit)!

Terdengar bunyi ledakan cukup keras ketika api memecahkan tengkorak, dan para tamu mulai berpamitan meninggalkan tempat itu.

Menjelang senja, barulah api padam dan para murid Maghi Sing lalu dengan hati-hati mengumpulkan abu dari Maghi Sing dan memasukkannya ke dalam tempat abu yang memang sudah disediakan di situ.

Dengan khidmat mereka lalu membawa tempat abu itu ke dalam guha besar.

Masih harus dilakukan upacara sembahyangan dan perkabungan sampai beberapa hari lamanya sebelum abu itu dihanyutkan ke laut.

Liang Hwi Nio mulai dapat menggerakkan tubuhnya setelah perlahan-lahan jalan darahnya terbebas dari totokan.

Seluruh tubuhnya terasa sakit-sakit dan dia mengeluh lirih, lalu bangkit duduk di atas pembaringan di mana dia tadi direbahkan oleh para anggauta Beng-kauw yang menawannya.

Dia menoleh ke kanan kiri.

Dia terkurung dalam sebuah kamar batu yang kokoh kuat.

Pintu yang tertutup itu terbuat dari besi tebal.

Kamar batu itu kosong, hanya terdapat pembaringan itu dan sebuah meja kecil di mana terdapat dua batang lilin bernyala di tempat lilin.

Api dua batang lilin yang bernyala terang dan tenang, sedikitpun tidak bergoyang itu menandakan bahwa kamarnya itu rapat, dan lubang hawa di atas pintu itu tidak dapat menciptakan angin di dalam kamar.

Ketika Hwi Nio membungkuk untuk memeriksa betis kanannya yang terluka pula, rambutnya yang terlepas itu terurai menutup mukanya.

Dia lalu duduk pula, menggunakan kedua tangan untuk menggelung rambutnya.

Gerakan ini menggambarkan seorang wanita muda remaja yang cantik dan manis sekali dengan bentuk tubuh yang indah.

Hwi Nio memang seorang dara berusia delapan belas tahun yang cantik manis, terutama sekali bentuk tubuhnya yang membuat dia nampak manis sekali.

Sepasang bibirnya yang penuh, tipis dan lunak kemerahan, nampak lembut dan memikat sekali dihias lesung pipit di sudut bibir.

Ketika Hwi Nio merasa betapa pundaknya yang terluka amat nyeri, dia lalu meraba pundaknya.

Dia menyeringai.

Darahnya sudah mengering, akan tetapi justeru hal itu membuat luka itu mengeras dan kaku, nyerinya bukan main.

Disingkapnya bajunya untuk memeriksa lukanya.

Ketika dia menyingkap baju di pundak, nampaklah kulit dada dan pundaknya yang putih kekuningan dan halus bersih.

"Hemmm, mulus sekali""..!"

Suara parau dan besar ini mengejutkan hati Hwi Nio dan cepat-cepat dia menutupkan lagi bajunya sambil menoleh ke arah pintu dari mana tadi dia mendengar suara laki-laki yang parau besar itu.

Daun pintu terbuka dan muncullah seorang laki-laki tinggi kurus yang bukan lain adalah Hok Kim Cu, ketua nomor dua dari Beng-kauw!

Wajahnya kemerahan dan mulutnya tersenyum-senyum lebar, gerak-geriknya menunjukkan bahwa Hok Kim Cu agaknya terlalu banyak minum arak.

Dan memang demikianlah.

Ketika dia melangkah mendekati, dalam jarak dua meter saja Hwi Nio sudah mencium bau arak keras berhamburan.

Dengan sinar mata penuh kemarahan dan kebencian Hwi Nio memandang kakek itu, kedua tangannya dikepal dan dia siap untuk menerjangnya, sungguhpun dia sudah luka-luka dan maklum bahwa dia sama sekali bukanlah tandingan tokoh ke dua dari Beng-kauw ini.

"Nona, engkau memang cantik manis, dan engkau patut menjadi calon ibu dari anakku."

Bukan main kagetnya hati Hwi Nio mendengar ini. Matanya terbelalak dan bibirnya gemetar ketika dia membentak.

"Tutup mulutmu yang kotor! Aku telah menjadi tawanan, mau apa kau datang ke sini? Keluar, atau aku akan mempertaruhkan nyawaku!"

"Hemm, nona manis, jangan bersikap galak seperti itu. Ketahuilah bahwa aku, Hok Kim Cu, berniat baik terhadap dirimu. Aku adalah seorang yang menaruh hati sayang kepadamu. Isteriku tidak akan dapat mempunyai anak lagi dan anakku yang tersayang telah meninggal dunia. Begitu melihatmu, aku tahu bahwa engkaulah yang akan dapat memberi keturunan kepadaku, engkaulah yang pantas menjadi calon ibu anakku. Aku akan mengangkatmu menjadi isteriku nona, menjadi isteri ketua nomor dua dari Beng-kauw"".."

"Iblis tua yang busuk!"

Hwi Nio memaki dan saking marahnya dia sudah menerjang maju dengan pukulan kedua tangannya.

"Plak! Plak!"

Kedua pergelangan tangan dara itu sudah ditangkap oleh kedua tangan Hok Kim Cu dan sekali tarik, tubuh dara yang padat dan hangat itu sudah dirangkulnya, dan mulut yang menghamburkan bau arak itu mencoba untuk menciumnya.

Akan tetapi Hwi Nio meronta-ronta, dengan penuh rasa jijik dia mengelak dengan miringkan muka ke sana-sini untuk menghindari dari serbuan hidung dan mulut yang berbau arak itu.

"Lepaskan aku! Tua bangka hina, lepaskan aku!"

Dia meronta dan menjerit-jerit, akan tetapi di dalam rangkulan kakek itu, dia sama sekali tidak mampu melepaskan diri.

"Dengar, nona manis. Kalau kau menurut dengan baik-baik, aku akan mengangkatmu menjadi nyonya ketua dan kelak anakmu akan menjadi seorang yang terhormat dan berilmu tinggi. Akan tetapi kalau kau tidak mau tunduk..."."

"Tidak sudi! Lebih baik aku mati! Lepaskan! Lepaskan"".. atau kaubunuh saja aku!"

Hwi Nio meronta-ronta, menjerit dan meludah ke arah muka yang beberapa kali telah berhasil menciumi mukanya itu.

"Kalau kau menolak, aku tidak akan membunuhmu, akan tetapi engkau akan menjadi permainanku. Apa sukarnya bagiku untuk memperkosamu?"

"Aku akan bunuh diri""..!"

"Ha-ha, kaukira aku begitu bodoh? Engkau akan kurantai, kau tidak akan dapat membunuh diri dan setelah kelak engkau melahirkan seorang putera untukku, kau akan kuserahkan kepada anak buahku agar dikeroyok dan dipermainkan sampai mati. Nah, kaupilih saja, menurut dan menjadi isteriku atau memilih yang ke dua itu?"

"Tidak sudi! Lepaskan"""kau keparat, kau jahanam busuk""..!"

"Bagus, kalau begitu engkau memang lebih suka diperkosa!"

Kakek itu menggerakkan tangannya dan seketika Hwi Nio tidak mampu meronta lagi karena tubuhnya sudah menjadi lemas ditotok.

"Brett.....!"

Beberapa kali tangan kakek itu bergerak merenggut, pakaian yang membungkus tubuh Hwi Nio robek dan sambil tersenyum Kim Cu lalu memondong tubuh yang sudah lemas dan telanjang itu ke pembaringan.

Hwi Nio hanya dapat bercucuran air mata tanpa dapat menjerit atau meronta.

"Ji-suheng""".!"

Hok Kim Cu yang sudah merebahkan tubuh calon korbannya ke atas pembaringan dan pandang matanya sudah merah, mulutnya sudah menyeringai karena desakan nafsu berahi itu, terkejut dan menoleh.

Kiranya Coa Gin San telah berdiri di dalam kamar itu memandang kepadanya dengan sinar mata yang membuat kakek ini merasa serem dan gemetar.

Sinar mata sutenya itu serupa benar dengan sinat mata mendiang gurunya, demikian tajam menusuk seperti menembus jantung dan menjenguk isi hatinya, dengan wibawa yang luar biasa kuatnya!

Dia tersenyum menutupi rasa canggungnya.

"Eh, kau, sute? Terima kasih bahwa engkau telah mencegah kami tadi untuk membunuh dua orang Im-yang-pai itu, dan memang kau benar, tidak baik membunuh mereka, apa lagi wanita ini karena aku telah mengambil keputusan untuk mengangkatnya sebagai isteriku, sute."

"Ji-suheng! Sungguh tidak patut perbuatan ini dilakukan oleh seorang ketua Beng kauw! Aku mencegah kalian membunuhnya bukan untuk membiarkan kau menghina dan hendak memperkosanya! Ayah mereka dibunuh oleh seorang di antara suheng, dan mereka kini datang membalas dendam dan membunuh dua orang murid, hal itu sudah selayaknya dan aku akan membebaskan mereka agar permusuhan dapat dipadamkan dan agar Beng-kauw kembali ke jalan benar!"

"Sute"".!"

Hok Kim Cu memandang terbelalak dengan penuh keheranan akan tetapi juga penasaran "Apakah kau telah menjadi gila bicara seperti itu kepadaku?

Siauw-sute, tadipun kami sudah merasa heran melihat sikapmu, ketika kau membantu dua orang Im-yang-pai ini sehingga mengakibatkan tewasnya dua orang murid kami!"

"Hemm, mana mungkin aku membiarkan suheng bertiga mencemarkan nama Beng-kauw dengan perbuatan curang, secara diam-diam menggunakan Hoat-lek untuk membantu kedua orang Kui-bo itu! Aku tidak membantu dua orang Im-yang-pai, melainkan mencegah kalian mengotorkan nama Beng-kauw dengan kecurangan kalian. Sudahlah suheng, harap jangan kaulanjutkan niatmu yang keji dan kotor terhadap nona itu."

"Bocah lancang mulut! Kau ini siapakah berani sekali menentangku? Sute, pergilah dan jangan mencampuri urusan pribadiku. Ketahuilah bahwa aku ingin sekali mempunyai anak, dari nona ini yang akan menjadi calon ibu anakku. Kau Keluarlah!"

"Aku tidak akan mencampuri pribadimu dan tentu aku tidak akan mencampuri kalau memang nona ini suka menjadi calon ibu dari anakmu. Akan tetapi kalau kau memaksa orang, berarti engkau hendak memperkosa dan aku tidak mungkin dapat tinggal diam melihat Beng-kauw dinodai oleh perbuatan kotor seorang pemimpinnya. Nona, apakah engkau suka menjadi isteri Ji-suhengku ini?"

Tiba-tiba Gin San bertanya ke arah dara yang masih rebah terlentang diatas pembaringan itu.

"Tidak sudi! Lebih baik mati""..!"

Biarpun kaki tangannya tidak mampu bergerak, Hwi Nio masih mampu mengeluarkan suara penuh kemarahan itu.

"Nah, kau dengar sendiri, Ji-suheng, harap kau keluar dari sini!"

"Bocah sombong!"

Tiba-tiba Hok Kim Cu menggereng dan tangannya menyambar ke arah kepala sutenya, menyerang dengan dahsyat sekali.

"Ji-suheng, mengingat budi suhu, aku tidak akan menurunkan tangan kejam kepadamu"

Kata Gin San dan tangan kirinya menangkis.

"Dukk"".!"

Akibat tangkisan itu, tubuh Hok Kim Cu terlempar dan terbanting ke dinding batu dengan kerasnya!

Bukan main kagetnya Hok Kim Cu, kepalanya menjadi pening dan matanya terbelalak.

Semenjak sutenya keluar diri dalam guha pertapaan suhunya, belum pernah dia mengukur kepandaian sutenya itu, akan tetapi satu kali tangkisan itu saja sudah membuka matanya bahwa sutenya yang masih amat muda ini ternyata telah mewarisi kehebatan suhunya dan memiliki sinkang yang luar biasa sekali.

Dia merasa jerih, lalu dia melompat dan berlari keluar dari dalam kamar batu itu dengan muka merah.

Gin San dengan tenang menoleh, lalu mengambil pakaian dara itu, melemparkan pakaian dengan ditimpukkan ke arah tubuh Hwi Nio.

Timpukan itu sekaligus mengenai jalan darah dan membebaskan Hwi Nio dari totokan!

Gadis itu cepat mengenakan kembali pakaiannya, akan tetapi karena tadi direnggut robek, maka bagian dadanya tetap terbuka sehingga repotlah dia memegangi baju bagian dada itu.

Gin San menoleh karena pendengarannya dapat menangkap gerakan gadis itu yang sudah selesai berpakaian.

Melihat betapa dara itu memandang kepadanya dengan mata terbelalak, mukanya sebentar pucat sebentar merah dan kedua tangannya memegangi baju yang robek, Gin San lalu menanggalkan jubahnya dan menyerahkan jubahnya kepada gadis itu.

"Kau pakailah ini untuk menutupi bajumu, nona,"

Katanya halus.

Gadis itu memandang tajam, kelihatan heran dan bingung, kemudian tanpa berkata apa-apa dia menerima jubah itu dan memakainya, menutupi bajunya yang robek, lalu tiba-tiba dia memandang dengan muka pucat kepada Gin San sambil berkata.

"Sin-ko.....!"

Gin San mengangguk.

"Kakakmu? Marilah kita mencari dia."

Setelah berkata demikian, pemuda ini melangkah keluar dari kamar itu, diikuti oleh Hwi Nio yang merasa girang dan berterima kasih sekali.

Akan tetapi dia ini masih merasa terheran-heran.

Jelas bahwa pemuda tampan sederhana ini adalah seorang tokoh Beng-kauw, bahkan sute dari tiga orang ketua Beng-kauw, akan tetapi mengapa pemuda ini menolongnya?

Dan anehnya pula, mengapa pemuda ini agaknya lebih berkuasa dan lebih kuat dari pada suheng-suhengnya?

Bahkan dia baru sekarang mengerti, dari percakapan antara pemuda ini dan kakek tinggi kurus yang hampir memperkosanya tadi, bahwa pemuda ini telah membantu dia dan kakaknya ketika menghadapi dua orang nenek sehingga mencapai kemenangan, Kemudian pemuda ini pula yang diam-diam menyelamatkan nyawanya yang hampir terbunuh oleh para tokoh Beng-kauw, dan yang terakhir, pemuda yang menjadi tokoh Beng-kauw dan sute dari para ketua Beng-kauw ini malah menyelamatkannya dari bahaya yang amat mengerikan ketika dia hampir diperkosa oleh Hok Kim Cu tadi.

Apakah artinya itu semua?

Dia mengerling ke arah pemuda itu yang melangkah dengan tenang, wajahnya yang tampan itu kelihatan serius akan tetapi bibirnya tersenyum ramah.

Pemuda yang hebat, pikirnya dan seketika dara itu merasakan jantungnya berdebar dan mukanya menjadi merah sekali sampai ke leher dan telinganya ketika dia teringat betapa pemuda ini tadi telah melihat dia dalam keadaan telanjang!

Pemuda itu berhenti di depan sebuah kamar yang pintunya tertutup.

Hwi Nio juga berhenti dan memandangnya.

Gin San memejamkan mata, mengerahkan pendengarannya mendengar suara dari dalam kamar itu.

Hwi Nio juga mendengarkan akan tetapi dara ini tidak mendengar sesuatu.

Maka heranlah dia ketika melihat pemuda itu mengetuk pintu kamar itu sambil berseru memanggil.

"Sam-suheng, harap buka pintu "

Terdengar suara bersungut-sungut di sebelah dalam kamar itu, lalu disusul suara tak senang.

"Kaukah itu, sute? Aku sedang sibuk, kalau ada urusan nanti sajalah!"

Hwi Nio memandang wajah pemuda itu yang masih tersenyum akan tetapi dari sepasang mata pemuda itu berkilat sinar kemarahan.

"Sam-suheng, harap buka pintu ini, kalau tidak terpaksa aku membukanya dari luar!"

"Sute, kau kurang ajar sekali! Kau tidak akan berani!"

Baru saja suara Thian Bhok Cu yang melengking nyaring itu berhenti, Gin San mendorong daun pintu dan kunci daun pintu menjadi patah, daun pintunya terbuka dan Gin San melangkah masuk diikuti oleh Hwi Nio.

"Sin-ko""!"

Hwi Nio berseru dengan suara tertahan Dia melihat kakaknya itu duduk di atas kursi dengan kaki tangan terikat pada kursi itu, baju kakaknya terbuka sehingga nampak dada yang bidang itu, wajah kakaknya merah sekali matanya melotot karena marahnya, sedangkan di dekat kakaknya duduk kakek genit yang merangkul lehernya dan agaknya sedang membelai tawanan itu dan membujuk bujuknya ketika daun pintu terbuka secara paksa dari luar!

Tentu saja Hwi Nio tidak mengerti apa yang terjadi.

Sama sekali tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa kakaknya itu sedang dirayu oleh kakek Thian-Bhok Cu yang memiliki kelainan itu, yang bertubuh pria namun berhati wanita!

Dia hanya mengira bahwa kakaknya itu terancam bahaya, maka Hwi Nio segera meloncat ke depan untuk menolong kakaknya.

"Perempuan jahat, kau mau apa? Minggirlah!"

Bentak Thian Bhok Cu dengan galak sambil mendorongkan tangannya ke arah Hwi Nio yang datang menghampiri kakaknya.

Memang Thian Bhok Cu adalah seorang kakek yang aneh sekali.

Di waktu dia masih muda, dia adalah seorang pria tulen dan normal, bahkan termasuk seorang pria yang mata keranjang dan suka mempermainkan wanita.

Akan tetapi semenjak beberapa tahun yang lalu, dia menjadi berobah sama sekali.

Dia menjadi pembenci wanita, tidak sudi berdekatan dengan wanita dan mulailah dia mendekati kaum pria, terutama yang tampan dan muda.

Dia mulai bermain cinta dengan kaum pria!

"Plakk!"

Tubuh Thian Bhok Cu terdorong ke belakang ketika serangannya terhadap Hwi Nio tadi ditangkis oleh Gin San.

"Sauw-sute, apa yang kaulakukan ini?"

Kakek itu membentak dan matanya terbelalak lebar memandang sutenya dengan penuh rasa penasaran dan juga keheranan.

"Sim suheng, kau tidak boleh mencemarkan nama besar Beng-kauw dengan perbuatan yang hina!"

Kata Gin San dan matanya mencorong.

"Sute, sikapmu inilah yang hina! Aku telah bersepakat dengan ji suheng, bahwa gadis ini akan menjadi milik ji-suheng, sedangkan dia ini menjadi milikku. Bahkan twa-suheng telah menyetujuinya. Kenapa engkau sekarang hendak melarang? Dan gadis itu, kenapa ikut pula bersamamu?"

"Sam-suheng, mereka berdua ini harus dibebaskan. Beng-kauw bukanlah perkumpulan penculik manusia, apa lagi untuk tujuan hina seperti itu,"

Kata Gin San dengan suara tenang penuh wibawa.

Sepasang mata itu terbelalak penuh kemarahan.

Thian Bhok Cu lalu menyambar tongkatnya yang tadi disandarkan di sudut kamar, kemudian dengan marah dia membentak.

"Mereka berdua ini adalah musuh-musuh Beng-kauw, kalau tidak boleh dipermainkan, sebaiknya dibunuh saja!"

Tiba-tiba dia menggerakkan tongkatnya dan menyerang ke arah Kok Sin yang masih terikat di atas kursi. Serangannya ganas sekali, tongkatnya menyambar dahsyat ke arah kepala pemuda itu.

"Wiuuuttt"". dukkk!"

Sebelum tongkat itu mengenai kepala Kok Sin yang sudah tidak berdaya sama sekali, tiba-tiba tongkat itu bertemu dengan sebatang lengan yang amat kuat dan yang telah menangkis tongkat itu.

Lengan Gin San!

Tongkat itu membalik dan tangan yang memegangnya tergetar hebat.

"Sute, kau""..kau melindungi musuh"

Thian Bhok Cu berteriak penuh kemarahan, penasaran dan keheranan.

Gin San menggeleng kepalanya dengan tenang "Aku tidak melindungi siapapun, hanya melindungi nama baik Beng-kauw.

Mulai sekarang, akulah yang mewakili dan menggantikan suhu untuk mengawasi Beng kauw agar tidak diselewengkan, sam-suheng."

Thian Bhok Cu terkejut mendengar ini.

"Ah"".. ah, kau"".. kau berkhianat? Biar kulaporkan kepada ji-suheng dan twa-suheng!"

Setelah berkata demikian, laki-laki yang tidak normal itu lalu meloncat keluar dari dalam kamarnya.

Hwi Nio sedang berusaha untuk melepaskan ikatan tangan dan kaki Kok Sin akan tetapi belum juga berhasil.

Gin San melangkah maju dan kelihatannya dia hanya meraba saja tali-tali itu, akan tetapi hasilnya, tali-tali yang mengikat kaki dan tangan pemuda itu putus putus semua dan Kok Sin menjadi bebas.

"Cepat pakai bajumu, mari kuantar kalian keluar sebelum ada yang mencoba untuk menghalangi kalian pergi dari sini,"

Kata Gin San dan melihat gawatnya keadaan, kakak beradik itu tidak banyak cakap lagi dan cepat mengikuti Gin San keluar dari dalam guha besar itu.

Biarpun terdapat banyak anggauta Beng-kauw di luar guha-guha itu dan di sepanjang pantai Teluk Po-hai, namun melihat kakak beradik itu berjalan diantar oleh Gin San, tidak ada seorangpun yang berani bertanya, apa lagi menghalang.

Tiga orang ketua Beng-kauw tidak nampak batang hidungnya dan dengan hati lega Gin San lalu mengajak mereka pergi ke barat, meninggalkan pantai itu.

Malam itu bulan muncul sepotong, namun dibantu oleh bintang bintang yang bertaburan di langit cerah, cuaca menjadi remang remang agak biru kekuningan dan udara amat sejuknya.

Tiba-tiba Gin San berhenti.

Mereka telah tiba di tapal batas daerah yang dikuasai Beng-kauw.

"Nah, kalian boleh melanjutkan perjalanan dan harap kalian jangan lagi berani menempuh bahaya datang ke sini. Ayah kalian tewas oleh Beng-kauw, akan tetapi kalian juga telah berhasil menewaskan dua orang anggauta Beng-kauw, maka anggap saja bahwa perhitungan itu sudah lunas."

Kok Sin ingin menyatakan terima kasihnya, akan tetapi karena dia ingat bahwa pemuda berpakaian putih ini adalah seorang tokoh Beng-kauw pula maka dia menahan diri, lalu menggandeng tangan adiknya sambil berkata.

"Hwi moi, mari kita pergi!"

Gin San berdiri tegak memandang dua bayangan yang berlari pergi itu, kemudian dia menarik napas panjang, membalikkan tubuhnya dan hendak kembali ke guha-guha di pantai Teluk Po-hai yang menjadi sarang dari Beng-kauw itu.

Akan tetapi, baru beberapa langkah dia berjalan, tiba tiba dia berhenti karena dia mendengar suara langkah kaki halus berlari mendatangi dari belakangnya.

Sebelum, dia menoleh, terdengar suara halus.

"Taihiap!...""

Tunggu dulu""..!"

Gin San sudah maklum siapa yang datang itu, karena dari suara langkah kakinya tadi dia sudah tahu bahwa yang datang adalah dara manis itu.

Dengan heran dia membalikkan tubuhnya dan mereka berdiri berhadapan dalam jarak hanya satu meter.

Dua pasang mata bertemu dan sejenak mereka saling pandang dan gadis itu lalu menunduk.

"Taihiap, harap maafkan kami berdua...."

"Maafkan kalian? Apa maksudmu nona?"

"Kami pergi meninggalkan taihiap seperti dua orang yang tidak ingat akan budi"

"Ah, tidak ada yang melepas budi dan memang tidak perlu kalian ingat, nona."

"Tidak, taihiap, walaupun taihiap adalah seorang tokoh Beng-kauw, namun ternyata taihiap berbeda dengan mereka semua. Taihiap telah melimpahkan budi yang tak ternilai besarnya, bukan hanya menyelamatkan nyawa kami berdua ketika kami bertanding, juga membantu kami menangkan dua orang nenek itu, kemudian taihiap malah"".menyelamatkan aku dari ancaman bahaya yang lebih hebat dari pada maut. Dan kami"". kami pergi begitu saja tanpa menghaturkan terima kasih, bahkan tanpa mengetahui nama taihiap"".."

Hwi Nio berhenti sebentar dan menarik napas panjang.

"Karena itulah maka aku datang kembali, taihiap, dan aku minta maaf, juga aku menghaturkan banyak terima kasih kepadamu. Budimu yang amat besar itu selama hidup takkan kulupakan"

"Cukuplah, nona."

Gin San memotong cepat sambil tersenyum.

"Kalau kaulanjutkan pujian-pujianmu itu, salah salah aku bisa terbang ke langit ke tujuh dan kepalaku bisa berubah menjadi sebesar gantang! Betapapun juga, kalau diusut, kesalahannya terletak kepada Beng-kauw dan semua perbuatanku tadi hanyalah untuk mencegah Beng-kauw melanjutkan kesalahan kesalahannya. Nah, selamat jalan, nona, mudah-mudahan kelak kita dapat saling bertemu kembali dalam keadaan yang lebih menyenangkan."

Gadis itu menengadah dan menatap wajah yang tampan dan tersenyum itu.

Dia sendiripun tersenyum mendengar kelakar itu.

Pemuda yang.

luar biasa, pikirnya.

Tampan, sederhana, ilmunya tinggi sekali dan cara bicaranya demikian ramah dan suka berkelakar.

"Bolehkah aku mengenal namamu, taihiap?"

"Ah, jangan sebut aku taihiap, namaku adalah Coa Gin San, nama biasa saja, nona."

"Coa taihiap, aku Liang Hwi Nio selama hidupku tidak akan melupakan budimu, terutama sekali pertolonganmu di dalam kamar tadi, menyelamatkan aku dari bahaya yang lebih mengerikan dari pada kematian"".."

Tiba-tiba wajah itu menjadi merah sekali. Lalu Hwi Nio mengeluarkan sebuah (Lanjut ke

Jilid 23) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 23 hiasan rambut dari gelung rambutnya, hiasan terbuat dari emas dan batu permata merah, berbentuk bunga teratai.

"Coa-taihiap, harap taihiap suka menerima persembahanku ini sebagai tanda terima kasih dan persahabatanku "

Gin San menerima bunga teratai emas itu memandanginya sebentar lalu memasukkannya ke dalam saku bajunya, kemudian sambil tersenyum dia berkata.

"Tanpa benda inipun aku. tidak akan pernah dapat melupakanmu, nona. Terutama sekali peristiwa dalam karnar tadi. .selama hidupku aku tidak akan dapat melupakan!"

Mendengar ucapan itu dan bertemu pandang dengan sinar mata yang penuh arti itu, melihat bibir yang tersenyum itu, Liang Hwi Nio merasa betapa jantungnya berdebar keras.

Teringat dia betapa pemuda penolongnya ini tadi telah melihatnya dalam keadaan telanjang!

Wajahnya menjadi merah sekali dan dia lalu menundukkan mukanya dengan bibir tersenyum malu-malu.

Senyumnya memang hebat!

Hwi Nio adalah seorang dara yang cantik dan manis, akan tetapi kecantikannya itu akan merupakan kecantikan biasa saja kalau dia tidak tersenyum.

Akan tetapi begitu dia tersenyum, wajahnya menjadi manis bukan main, penuh daya pikat dan Gin San sendiri memandang dengan mata terbelalak.

"Engkau"".. engkau memang cantik jelita dan manis sekali, Hwi-moi!"

Tiba-tiba dia berkala.

Mendengar pemuda itu menyebutnya "adik Hwi", dara itu mengerling dan senyumnya makin menonjolkan lesung pipit di ujung bibirnya.

Tiba-tiba, tanpa disadari oleh keduanya.

Kedua tangan Gin San sudah memegang tangan dara itu.

Seperti, dalam mimpi, Hwi Nio juga balas memegang dan dia mengeluarkan rintihan halus ketika tiba-tiba saja dia sudah berada dalam dekapan Gin San dan seperti mengandung daya tarik yang mujizat, kedua mulut itu sudah saling menghampiri dan bertemu dalam ciuman yang amat mesra!

Sampai lama mereka berdua seperti tidak sadar.

Baru setelah kehabisan napas, Hwi Nio melepaskan dirinya dan terengah-engah, memandang kepada wajah pemuda itu dengan mata terbelalak dan muka agak pucat karena hatinya merasa ngeri mengingat apa yang baru saja terjadi itu!

Gin San tersenyum, matanya mengeluarkan sinar lembut dan tangannya melolos rantai perak yang dipakainya sebagai ikat pinggang.

Mata dara itu terus mengikuti kedua tangan Gin Sun yang melolos rantainya seperti seorang yang berada dalam mimpi Hwi Nio masih terlampau kaget ketika sadar dari keadaan yang membuat dia seperti terpesona tadi, dan kini otomatis tangan kirinya menutup bibir dan tangan kanannya menekan dada.

Hampir dia tidak percaya akan apa yang telah dilakukannya, atau lebih tepat apa yang telah terjadi tadi.

Dia telah membiarkan saja dirinya dipeluk dan dicium seperti itu, bahkan ada kecondongan di hatinya untuk menyambut pencurahan cinta asmara dari pemuda itu!

"Hwi-moi, engkau memang manis sekali.

Aku tidak akan melupakanmu, Hwi moi, dan sebagai tanda mata aku tidak memiliki apa-apa kecuali sebuah mata rantai dari ikat pinggangku ini."

Hwi Nio melihat betapa jari-jari tangan yang mengandung kekuatan luar biasa itu mematahkan sebuah mata rantai dari perak itu seperti orang mematahkan lidi saja, kemudian dia menerima mata rantai yang seperti sebuah cincin perak itu, menerimanya dengan tangan gemetar.

""Hwi-moi"""1? Tiba-tiba suara kakaknya itu menyadarkan Hwi Nio dan dia lalu menatap wajah pemuda itu dengan semesra-mesranya, kemudian dia lalu berbisik.

"Koko"". aku""

Aku akan selalu menanti kedatanganmu di I-kiang, di tepi Sungai Yang-cekiang"".."

Setelah berbisik demikian, Hwi Nio membalikkan tubuhnya dan lari meninggalkan Gin San yang masih berdiri dengan senyum lebar .

Setelah tidak terdengar lagi jejak langkah dara itu, Gin San menggerakkan tangannya menyentuh bibirnya dan membayangkan ciuman tadi, lalu menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya.

"Dara yang manis, terutama sekali lesung pipit di ujung bibirnya".!"

Akan tetapi telinganya dipasangnya baik baik dan dia menggunakan kepandaiannya untuk mendengar apa yang dipercakapkan oleh kakak beradik di tempat yang sudah cukup jauh itu.

"Hwi-moi, apa yang kaulakukan tadi?. Mengapa kau membiarkan dirimu dipeluk dan dicium?"

Sang kakak menegur. Lalu terdengar suara lirih dari dara itu "Sin-ko, aku"". aku cinta padanya"."

"Sialan!"

Gerutu kakaknya dan kemudian Gin San tidak dapat mendengarkan lagi percakapan itu karena kakak beradik itu bicara sambil berlari pergi.

Sambil tersenyum-senyum dan bibirnya masih merasakan kehangatan bibir Hwi Nio.

pengalaman pertama yang benar-benar membuat jantungnya berdebar kencang dan membuat matanya berseri, Gin San membalikkan tubuh dan melangkah tenang, kembali ke tepi pantai Po-hai.

Akan tetapi, tidak disangka-sangkanya bahwa dia akan menghadapi penyambutan yang luar biasa.

Dari jauh dia sudah melihat betapa di pantai Po-hai itu amat terang-benderang danmempercepat langkahnya menghampiri tempat itu, dia melihat bahwa semua anggauta Beng-kauw telah berkumpul di pantai dan puluhan obor telah dipasang dan tiga orang ketua Beng kauw duduk di tengah-tengah lapangan yang dibuat oleh para anggauta Beng-kauw yang duduk membentuk lingkaran lebar.

Semua orang telah menanti kedatangannya!

Suasana sunyi sekali,tidak ada seorangpun anggauta Beng-kauw yang bergerak dan ketika Gin San muncul, semua kepala bergerak ke arahnya dan semua mata memandangnya dengan sinar mata penuh tuntutan!

Mengertilah Gin San bahwa tiga orang suhengnya telah mengatur semua itu untuk mengadili dan menghukumnya!

Akan tetapi, dia tetap tenang saja karena memang dia telah siap sedia untuk menghadapi semua itu sebagai akibat dari pada tindakannya tadi.

Dengan langkah tenang dia memasuki lingkaran itu menghampiri tiga orang suhengnya yang duduk bersila di atas pasir dengan sikap angker itu.

Gin San langsung menghadapi tiga orang suhengnya dan diapun duduk bersila di depan mereka bertiga, kemudian bertanya.

"Sam-wi suheng. apakah maksudnya mengumpulkan para anggauta dan membuka persidangan ini?"

"Coa Gin San!"

Terdengar suara Kwan Cin Cu mengguntur, terdengar oleh semua anggauta Beng-kauw yang hadir.

"Sebagai seorang anggauta yang murtad, engkau berlututlah untuk mendengarkan keputusan pengadilan Beng-kauw!"

Ucapan itu penuh wibawa dan terdengar menegangkan hati semua anggauta, dan suasana menjadi hening sekali setelah ketua nomor satu dari Beng-kauw itu menghentikan kata-katanya yang bergema.

Kini tiga orang ketua itu menatap wajah Gin San dengan penuh kemarahan.

Di bawah sinar api obor yang amat terang, wajah pemuda itu tetap tenang dan sejak tadi senyumnya tidak pernah meninggalkan bibirnya yang masih berdenyut merasakan kehangatan bibir Hwi Nio.

Gin San memandang wajah twa-suhengnya dengan tajam penuh selidik, kemudian di bawah pandang mata semua orang yang hadir, pemuda ini berkata, suaranya tenang dan halus namun sedikitpun tidak mengandung rasa jerih terhadap para suhengnya itu.

"Kwan Cin Cu twa-suheng, kalau benar aku merupakan seorang anggauta murtad, tentu tanpa diperintah dua kali aku akan suka berlutut dan menyerahkan jiwa ragaku untuk dihukum oleh Beng-kauw. Akan tetapi aku tidak merasa mendurhakai Beng-kauw, maka tuduhan itu hanya merupakan fitnah belaka tanpa bukti-bukti. Oleh karena itu, sebelum aku mentaati perintahmu, lebih dulu aku ingin mendengar fitnah apa yang dijatuhkan kepadaku sehingga twa-suheng dapat menyebut aku sebagai seorang murid yang murtad!"

Tentu saja bantahan yang berani dari pemuda ini amat mengejutkan dan tidak-terduga oleh para anggauta, maka hati mereka menjadi makin tegang dan mereka menanti apa yang akan terjadi selanjutnya dengan bingung juga.

Sebagai anggauta, tentu saja mereka harus taat kepada Kwan Cin Cu yang menjadi ketua pertama, akan tetapi semua anggauta sudah mendengar bahwa pemuda ini adalah murid terkasih dari mendiang Maghi Sing yang jenazahnya baru saja diperabukan tadi.

"Coa Gin San, engkau masih pura-pura bertanya tentang kesalahanmu? Dengarlah dan agar semua anggauta menjadi saksi! Baru saja suhu meninggal dunia, sute Coa Gin San ini telah melakukan dosa-dosa besar , pengkhianatan-pengkhianatan yang jelas membuktikan bahwa dia adalah seorang murid dan anggauta yang murtad dan patut dihukum! Dalam waktu semalam saja dia telah melakukan tiga macam pelanggaran atau dosa yang tidak dapat diampuni lagi!"

Mendengar ini, semua anggauta menjadi berisik, saling bicara untuk menduga-duga apa gerangan yang dilakukan oleh pemuda yang tampan dan kelihatan tenang dan selalu tersenyum itu.

Gin San masih tersenyum dan terdengarlah dia bicara lantang sehingga semua orang diam mendengarkan.

"Kwan Cin Cu suheng, jelaskanlah apa adanya tiga dosa itu!"

"Pertama, Coa Gin San telah berdosa karena dalam pertempuran siang tadi dia telah membantu fihak lawan dan juga malam ini dia telah berani melawan dan menentang kedua orang suhengnya. Ke dua, dia telah berkhianat, membebaskan dua orang tawanan Beng-kauw tanpa ijin dari kami, tiga orang ketua yang berhak memutuskan tentang tawanan. Dan ke tiga, dia telah memeluk dan mencium seorang adis Im-yang-pai, berarti dia bermain cinta lengan fihak musuh."

Hebat sekali tuduhan-tuduhan itu dan semua anggauta Beng-kauw kini memandang kepada Gin San dengan alis berkerut.

Mereka semua tidak pernah bergaul dengan Gin San yang semenjak datang ke situ terus ditarik oleh Maghi Sing ke dalam guha untuk digembleng, maka pemuda ini boleh dibilang agak asing bagi para anggauta Beng-kauw yang tentu saja lebih dekat dengan tiga orang ketua mereka.

Hal ini membuat hati mereka condong mementang Gin San.

Akan tetapi pemuda yang menerima tuduhan berat itu masih tersenyum dan masih duduk bersila dengan tenangnya, sepasang matanya bergantian menentang wajah tiga orang suhengnya.

Kemudian terdengarlah suaranya menjawab lantang.

"Sam-wi suheng sebagai ketua dari Beng-kauw ternyata lancang menjatuhkan fitnah kepada orang yang tidak bersalah. Tiga macam tuduhan itu hanya fiinah dan saya dapat menangkisnya satu satu berdasarkan kenyataan. Pertama, dalam pertempuran siang tadi saya sama sekali tidak membantu fihak lawan. Saya melihat betapa twa-suheng dan ji-suheng mempergunakan Sin-gan Hoat-lek untuk mempengaruhi lawan dan diam-diam membantu dua orang Kui-bo. Saya tidak ingin melihat Beng-kauw menggunakan kecurangan, apa lagi di sini hadir banyak orang pandai yang tentu akan melihat kecurangan itu dan karenanya tentu nama Beng-kauw akan tercemar. Saya hanya mencegah kedua suheng melakukan kecurangan, jadi sama sekali tidak membantui musuh! Dan memang benar malam ini saya melawan dan menentang ji-suheng dan sam-suheng, akan tetapi hal itu saya lakukan karena saya tidak ingin melihat mereka melakukan penyelewengan penyelewengan yang tidak perlu saya jelaskan di sini. Ke dua, saya sama sekali tidak berkhianat dengan membebaskan dua orang tawanan itu. Mereka itu datang bukan sebagai orang-orang Im-yang-pai, melainkan karena urusan pribadi, karena ayah mereka terbunuh oleh Beng-kauw, hal yang memang sesungguhnya demikian. Saya tahu sendiri bahwa ayah mereka terbunuh oleh Beng-kauw dan sudah sepatutnya kalau mereka datang untuk membalas dendam. Maka, perlu apa mereka ditawan? Apa lagi, saya melihat gejala-gejala tidak sehat dalam penawanan itu, maka saya lalu membebaskan mereka. Dan soal ke tiga, agaknya memang saya telah diintai dan saya tidak menyangkal bahwa saya berpeluk cium dengar gadis itu, akan tetapi hal itu terjadi bukan karena paksaan, melainkan karena kehendak kami berdua. Apa salahnya dengan itu? Beng-kauw mengajarkan agar segala sesuatu kita lakukan dengan berterang. Kalau saya melakukan paksaan, barulah saya berdosa. Nah, saya yakin bahwa semua saudara anggauta Beng-kauw dapat mengerti akan pembelaan saya."

Tiga orang ketua Beng-kauw itu menjadi marah bukan main mendengar omongan yang nadanya menantang dan menyalahkan mereka itu.

"Coa Gin San!"

Kwan Cin Cu membentak dengan mata mendelik.

"Kaukira siapakah engkau ini berani bicara seperti itu? Engkau hanyalah orang baru di Beng-kauw, dan kami bertiga adaiah ketua-ketua Beng-kauw, mengerti? Kami yang berhak menentukan siapa berdosa siapa tidak! Kau"".."

"Nanti dulu, twa-suheng!"

Gin San memotong, masih tersenyum akan tetapi dari sepasang matanya menyambar sinar yang tajam.

"Aku tahu bahwa kalian bertiga adalah ketua-ketua Beng-Kauw di wilayah utara. Akan tetapi lupakah kalian bahwa di atas ketua masih ada lagi pengawas? Lupakah kalian bahwa di atas kalian masih ada suhu yang mengawasi dan yang memiliki kekuasaan atas diri semua ketua? Suhu See-thian Sian-su berhak mengawasi dan menuntut jika ketua Beng-kauw menyeleweng!"

"Tapi suhu telah meninggal dunia dan kini kami bertigalah yang memegang kekuasaan sepenuhnya, baik atas perkumpulan Beng-kauw maupun atas seluruh anggautanya. Karena engkau termasuk anggauta Beng-kauw, sute, maka kami berhak untuk mengadilimu!"

"Twa-suheng, apakah kau sudah lupa bahwa suhu yang mengangkat kalian menjadi ketua dan bahwa kalian telah bersumpah di depan Bendera Keramat untuk selalu tunduk dan taat kepada pemegang bendera? Biarpun suhu telah meninggal dunia, akan tetapi Bendera Keramat itu masih ada dan suhu telah mewariskan Bendera Keramat kepadaku!"

Berkata demikian.

Gin San lalu menggerakkan tangannya dan dia telah mencabut sehelai bendera berwarna pulih dan semua orarg menjadi silau.

Bendera itu hanya berupa sehelai kain berwarna putih, akan tetapi begitu dibuka, kain putih itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata.

Kiranya kain ini telah direndam dalam cairan yang mengandung bahan yang mengeluarkan cahaya seperti yang terdapat pada ikan laut, cumi cumi dan udang.

Di dalam terang, cairan itu tidak nampak sinarnya, akan tetapi di tempat gelap, cairan ini seperti bernyala dan berkilauan menyilaukan mata.

Terkejutlah tiga orang ketua itu melihat bendera ini.

Mereka memang telah mencari-cari Bendera Keramat itu, akan tetapi sia-sia belaka dan kiranya bendera itu telah terjatuh ke tangan Gin San.

Adapun para anggauta yang tentu saja mengenal Bendera Keramat itu, segera menjatuhkan diri berlutut dan menghadap ke arah bendera itu dengan khidmat.

"Murid murid Kwan Cin Cu, Hok Kim Cu dan Thian Bhok Cu, apakah kalian tidak mau cepat berlutut?"

Bentak Coa Gin San yang melihat tiga orang ketua itu memandang terbelalak kepada bendera yang dipegangnya.

Akan tetapi tiga orang kakek itu malah meloncat dengan marah, berdiri dengan mata terbelalak memandang Coa Gin San.

Kwan Cin Cu lalu menudingkan telunjuknya.

"Sute, dari mana kau mencuri bendera itu?"

"Twa-suheng, jangan menuduh sembarangan. Sebelum meninggal dunia, suhu telah menyerahkan bendera ini kepadaku dan mengangkat aku sebagai penggantinya. Akulah pemegang Bendera Keramat dan akulah yang berhak menjadi pengawas Beng-kauw di sini!"

"Coa Gin San, engkau pembohong dan pencuri! Apakah kau tahu apakah syaratnya bagi seorang pemegang Bendera Keramat Beng-kauw?"

Kwan Cin Cu membentak.

Kini semua, anggauta Beng-kauw tertarik dan sudah mengangkat muka memandang untuk menyaksikan, perkembangan keadaan.

Mereka bingung karena, tidak tahu harus berfihak siapa.

Gin San tersenyum.

"Tentu saja aku tahu, twa-suheng. Pemegang bendera ini haruslah seorang yang memiliki kepandaian paling tinggi di antara semua murid Beng kauw."

"Bagus! Dan kau merasa sudah memiliki kepandaian tertinggi? Lebih tinggi dari pada kami bertiga?"

"Tentu saja!"

"Hemm, hal ini harus dibuktikan dulu!"

Terdengar Thian Bhok Cu melengking marah.

Gin San menarik napas panjang dan melipat bendera itu lalu menyimpannya kembali ke dalam saku bajunya.

Lenyaplah cahaya berkilauan tadi setelah bendera itu disimpannya dan dia menghadapi Thian Bhok Cu "Suhu memang sudah memesan bahwa tentu kalian tidak percaya dan hendak mengujiku.

Nah, majulah, sam-suheng, kalau kau masih penasaran setelah kita berdua saling mengukur kepandaian di dalam kamar tadi."

"Bocah sombong, berikan Bendera Keramat kepadaku!"

Thian Bhok Cu berseru dengan suara tinggi.

"Yang kepandaiannya terkuat, dialah yang berhak memegang Bendera Keramat. Kalau aku kalah, tanpa dimintapun akan kuserahkan bendera ini,"

Jawab Gin San.

"Kalau begitu, mampuslah kau!"

Thian Bhok Cu sudah menerjang dengan marahnya.Kini orang ke tiga dari ketua Beng-kauw menyerang dengan sungguh-sungguh, menggunakan tongkat kayunya yang lihai.

Bukan sekedar menyerang untuk melampiaskan kemarahannya seperti di dalam kamar tadi.

Sekali ini dia menyerang untuk memperebutkan bendera atau memegang bendera itu sebagai tokoh nomor satu dari Beng-kauw!

"Wuuuttt"".

prakk!"

Batu yang diduduki oleh Gin San tadi pecah berhamburan terkena sambaran tongkat itu.

Sungguh hebat bukan main tenaga kakek yang kelihatan lemah lembut ini, Tongkatnya hanyalah tongkat kayu, akan tetapi dapat menghancurkan batu yang jauh lebih keras.

Hal ini hanya membuktikan bahwa kakek ini memiliki tingkat tenaga sin-kang yang sudah amat kuat.

Namun dengan enaknya Gin San mengelak beberapa kali dari sambaran tongkat yang secara bertubi-tubi melakukan gerakan menusuk, menghantam dan menotok.

Dia telah hafal akan gerakan-gerakan itu sehingga baru saja pundak Thian Bhok Cu bergerak, dia sudah tahu arah mana tongkat lawan akan menyerang, maka tentu saja dia dapat mengelak dengan mudah, hanya menggerakkan sedikit saja anggauta tubuh yang menjadi sasaran tongkat.

"Sam-suheng, aku akan merampas tongkatmu dalam waktu sepuluh jurus!"

Tiba-tiba Gin San berseru nyaring dan semua orang menjadi kaget.

Benar-benar sombong sekali bocah ini pikir mereka.

Tadi saja nampak betapa memuda itu hanya mampu mengelak ke sana-ini dan diserang serta didesak sedemikian rupa sampai hampir limapuluh jurus oleh Thian Bhok Cu, dan sekarang tiba-tiba pemuda itu berkata hendak merampas tongkat dalam waktu sepuluh jurus!

Seorang yang sudah mengeluarkan kata-kata seperti itu dalam pertandingan, kalau sampai selama sepuluh jurus dia tidak mampu membuktikan omongannya, maka boleh dikata bahwa dia telah kalah!

"Satu""..!"

Gin San berseru dan tiba-tiba tubuhnya menerjang ke depan, jari-jari tangan kirinya mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala Thian-Bhok Cu secepat kilat, Thian Bhok Cu terkejut dan cepat memutar tongkatnya untuk memukul tangan kiri pemuda itu, akan tetapi tangan kanan Gin San sudah lebih cepat lagi menyambar dan hendak merampas tongkat, Thian Bhok Cu terkejut dan berseru keras, menarik tongkatnya dan tidak jadi menangkis, melainkan melempar tubuh ke belakang untuk menghindarkan diri dari cengkeraman ke arah ubun-ubun dan sambaran tangan yang hendak merampas tongkat.

"Dua""..!"

Gin San sudah melanjutkan serangannya, kini kakinya melakukan tendangan kilat, dibarengi dengan tangan kanan yang terbuka menusuk ke arah lambung, dan tangan kiri membuat gerakan memutar mengikuti jalannya tongkat lawan untuk merampas.

Kembali Thian Bhok Cu berseru keras dan cepat memutar tongkatnya dan melompat ke belakang karena serangan yang amat dahsyat itu membahayakan kalau dia mengandalkan tangkisan saja.

"Tiga""..!"

Gin San sudah mendesak tanpa menghentikan serangan-serangannya, gerakannya cepat sekali dan setiap serangannya mendatangkan angin yang kuat sehingga dia telah mendesak Thian Bhok Cu yang terus mundur dan pada saat Gin San berseru.

"Tujuh""..!"

Pemuda itu telah berhasil merampas tongkat lawan yang terpaksa melepaskan senjata itu karena pundaknya telah kena ditotok yang membuat tubuhnya untuk beberapa detik lamanya menjadi lumpuh kehilangan tenaga!

Ketika Thian Bhok Cu sudah dapat bergerak lagi.

Gin San sudah mengembalikan tongkatnya sambil berkata.

"Maaf, sam-suheng!"

Thian Bhok Cu menerima tongkatnya dan dengan muka merah dia lalu duduk kembali karena maklumlah kakek ini bahwa dia tidak akan menang melawan sutenya yang amat lihai itu.

Hal ini membuat Hok Kim Cu dan Kwan Cin Cu marah bukan main.

Keduanya sudah melangkah maju dan biarpun mereka amat marah, namun mengingat akan kedudukan mereka sebagai ketua, apa lagi pada saat itu semua anggauta menjadi saksi, Kwan Cin Cu lalu berkata.

"Coa Gin San, beranikah engkau kalau kami berdua maju bersama mengujimu untuk melihat apakah engkau memang patut menjadi pewaris Bendera Keramat?"

"Aku memang tidak patut menjadi pewaris suhu kalau tidak berani menghadapi kalian maju bersama. Twa-suheng dan ji-suheng, majulah dan kenalilah kelihaian sutemu!"

Tentu saja dua orang kakek itu sama sekali tidak bermaksud untuk hanya menguji kepandaian saja.

Mereka sudah terlampau marah dan mereka tidak ingin melihat pemuda itu menjadi pengawas mereka, menjadi seorang yang menggantikan kedudukan suhu mereka dan memiliki kekuasaan lebih tinggi dari pada mereka!

Selelah suhu mereka meninggal dunia, mereka bertigalah yang merupakan orang-orang paling berkuasa di Beng-kauw.

Siapa tahu, kini muncul sute mereka, bocah yang sepuluh tahun lalu menjadi tawanan mereka, dan bocah ini sekarang ingin menjadi "atasan"

Mereka.

Tentu saja mereka tidak rela dan biarpun mulut mereka mengatakan hendak menguji kepandaian, namun di dalam hati, mereka ingin membunuh pemuda yang mereka anggap pengacau ini.

Oleh karena itulah, maka begitu menyerang, Hok Kim Cu sudah menggerakkan pedang emasnya dengan pengerahan tenaga sepenuhnya dan menggunakan jurus terlihai.

Segulungan sinar emas menyambar ke arah leher Gin San dan baru sambaran anginnya saja sudah mendatangkan hawa dingin mengerikan.

Kwan Cin Cu, orang pertama Beng-kauw, juga tidak kepalang tanggung dalam penyerangannya pertama.

Golok perak di tangannya menyambar, merupakan gulungan sinar jang lebih lebar dari pada gulungan sinar emas, dan begitu goloknya menyambar dengan hawa panas sekali, tangan kirinyapun telah mengirim Pukulan Toat-beng Tok-ciang dan segumpal uap hitam menyambar kearah muka Gin San!

Melihat serangan dua orang suhengnya itu, diam-diam Gin San terkejut dan marah.

Dia memang sudah tahu orang-orang macam apa adanya tiga orang suhengnya itu.

Sepuluh tahun lebih yang lalu, ketika untuk pertama kalinya dia tiba di situ sebagai orang tangkapan atau tawanan, dibawa ke situ oleh Ui-bin Saikong, Hek-bin Saikong, dan dua orang nenek Kui bo yang telah tewas itu, dia sudah tahu bahwa tiga orang ketua Beng kauw adalah orang-orang yang amat jahat dan kejam.

Akan tetapi, setelah dia sendiri digembleng oleh Maghi Sing, bukan hanya diberi pelajaran ilmu-ilmu silat tinggi dan sihir, akan tetapi juga dia mendalami pelajaran tentang Agama Terang, dia mengerti mengapa tiga orang ketua itu berwatak seperti itu.

Tiga orang kakek itu hanya menjadi hamba dari pada nafsu mereka sendiri, dan dia melihat betapa tanpa disadari, mereka itu telah menyeleweng dari pada pelajaran Beng-kauw.

Bahkan gurunya sendiri, Maghi Sing, juga melakukan penyelewengan dan hal ini baru disadari oleh guru besar itu menjelang kematiannya.

Itulah sebabnya mengapa Maghi Sing mengangkat Gin San sebagai pewaris untuk menegakkan kembali Beng kauw yang melakukan penyelewengan dan untuk memenuhi pesan-pesannya yang terakhir.

Kini bagi Gin Sin, tiga orang kakek ketua Beng-kauw itu tidak dilihatnya sebagai orang-orang jahat atau kejam, melainkan sebagat orang-orang lemah yang menjadi hamba nafsu nafsu mereka sendiri.

"Trang-trangpg"". plakk!"

Dua orang kakek itu terhuyung ke belakang dan memandang dengan mata terbelalak.

Terutama sekali Kwan Cin Cu yang merasa betapa lengan kirinya tergetar hebat ketika Toat beng Tok-ciang yang dipergunakan tadi membalik oleh tangkisan tangan Gin San.

Kiranya pemuda itu kini telah memegang sabuk rantai peraknya, yaitu sabuk rantai yang berkurang satu mata rantainya karena ujung rantai itu telah dipatahkan dan mata rantainya berbentuk cincin perak telah diberikannya kepada Liang Hwi Nio sebagai tanda mata!

Sabuk rantai peraknya ini adalah pemberian dari Maghi Sing, panjangnya ada dua meter lebih dan selain dapat dipergunakan sebagai sabuk, juga ternyata dapat menjadi sebuah senjata istimewa yang ampuh dan yang buktinya dapat menangkis golok dan pedang dari dua orang ketua Beng-kauw itu sehingga senjata-senjata itu terpental!

Akan tetapi, Kwan Cin Cu dan Hok Kim Cu tidak menjadi gentar.

Sebaliknya, mereka malah menjadi penasaran dan rrarah sekali dan dengan gerengan-gerengan dahsyat kedua orang kakek ini lalu menerjang maju sambil menggerakkan senjata mereka dengan cepat Gin San maklum akan kelihaian dua orang suhengnya ini, maka diapun memutar rantainya dan lenyaplah tiga orang ini terkurung oleh sinar-sinar senjata mereka.

Di bawah penerangan obor-obor itu, nampak gulungan sinar yang indah dari sinar golok perak, pedang emas, dan rantai perak, seolah-olah ada tiga ekor naga sakti sedang bermain-main di angkasa.

Thian Bhok Cu menonton sambil melongo penuh kekaguman.

Dia tidak ikut menyerang lagi, pertama karena dia merasa bahwa memang dia bukan tandingan sutenya itu, ke dua karena dia, sebagai seorang kakek yang amat suka kepada orang-orang muda, diam-diam menaruh harapannya agar sutenya yang muda dan tampan itu suka kepadanya dan kelak dia dapat menarik sutenya itu menjadi "sahabat"

Yang amat baik!

Tingkat kepandaian kedua orang kakek itu sudah tinggi sekali.

Bahkan Cin Beng Thiancu, ji-pangcu diri Im-yang-pai sendiri tidak mampu menandingi Kwan Cin Cu.

Tingkat kepandaian masing-masing dari tiga orang ketua Beng-kauw itu di dalam dunia kang-ouw sudah amat sukar dicari bandingnya, apa lagi kini mereka berdua maju mengeroyok, tentu saja kelihaian mereka menjadi berlipat ganda.

Akan tetapi aneh sekali, pemuda yang dikeroyok itu sama sekali tidak kelihatan repot, apalagi terdesak.

Bahkan dengan seenaknya dia berloncatan ke sana-sini sambil memutar rantai peraknya, menangkis dan mengelak, membiarkan dua orang suhengnya itu menyerangnya cara bertubi-tubi dan sampai dua puluh jurus lebih dia sama sekali tidak ingin membalasnya.

Seolah-olah dia memang ingin melihat dengan jelas gerak serangan dari dua orang suhengnya itu, apakah sudah benar ataukah ada kesalahan-kesalahannya, seperti sikap seorang guru yang sedang melatih murid-muridnya!

Dan memang setiap jurus serangan dari dua orang suhengnya itu telah dikenalnya baik-baik sehingga tidak terlalu sukarlah baginya untuk mengelak atau menangkis dengan tepat.

Bahkan di antara tangkisan-tangkisan itu, dia masih sempat menasihati dua orang suhengnya itu!

"Ji-suheng, seranganmu dalam jurus Kim ke to sok (Ayam Emas Mematuk Gabah) kurang sempurna, pedangmu kurang menukik kebawah sehingga kau membiarkan bagian bawah tubuhmu terbuka ketika menyerang!"

"Twa-suheng, dalam jurus Kim so-tui to ( Kunci Emas Jatuh di Tanah), tenaga bacokan golok seharusnya hanya merupakan pancingan akan tetapi kau terlalu terdorong oleh nafsu amarah sehingga tenagamu kaukerahkan semua. Itu salah besar!"

Mendengar teguran teguran ini, Kwan Ci Cu dan Hok Kim Cu menjadi makin marah penasaran dan juga malu.

Sutenya itu benar benar dapat mengikuti semua gerakan mereka dengan baik!

"Coa Gin San, kalau engkau memang berkepandaian, hayo kaukalahkan kami dengan kepandaian, bukan dengan kata-kata!"

Bentak Kwan Cin Cu.

"Baiklah, ji-wi suheng, kalian jagalah seranganku ini!"

Kata Gin San.

Pemuda ini maklum bahwa sebelum dia dapat mengalahkan dua orang ini, amat sukarlah baginya untuk dapat menguasai Beng-kauw dan diapun tahu bahwa segala ilmu yang dipelajarinya dari mendiang Maghi Sing tentu dikenal pula oleh kedua orang suhengnya ini.

Dia hanya memiliki sinkang yang lebih kuat dan dalam hal ilmu-ilmu silat, tentu saja dia masih kalah mahir dan kalah matang dalam latihan.

Hanya baiknya, suhunya telah menciptakan ilmu silat mujijat yang hanya diturunkan kepadanya seorang, dan menurut suhunya, ilmu silat yang hanya mempunyai tigabelas jurus ini, yang diberi nama Cap-sha Tong-thian (Tigabelas Jurus Yang Mengacau Langit), merupakan inti sari dari semua ilmu gurunya, dan karenanya tentu akan dapat mengatasi tiga orang suhengnya?

Maka, begitu dia ditantang untuk mengeluarkan kepandaian, Gin San tidak bersikap sungkan lagi, segera dia mainkan jurus pertama dari Ilmu silat Cap-sha Tong-thian itu.

Tiba-tiba dua orang kakek itu mengeluarkan seruan kaget.

Mereka melihat rantai itu berobah menjadi sinar berkeredepan dan sinar itu menyambar-nyambar secara aneh, malang-melintang di depan mereka.

Mereka tidak mengenal gerakan ini, tidak tahu bagaimana awalnya dan bagaimana nanti akhirnya, maka mereka hanya cepat memutar senjata melindungi tubuh dengan kaget.

Akan tetapi, hawa yang mendesis-desis dan memutar-mutar seperti angin lesus menyerang mereka, membuat mereka terkejut dan untuk beberapa detik mereka menahan senjata.

Beberapa detik ini sudah cukup bagi Gin San dan dua kali tangannya bergerak setelah kedua tangannya melepaskan rantainya yang masih berputar sendiri di udara terdengar dua orang kakek itu mengeluh dan mereka roboh terguling!

Untung bagi mereka bahwa Gin San tadi hanya mendorong saja dengan telapak tangan sambil mengerahkan sinkang, dan sekaligus kedua tangan pemuda itu merampas golok dan pedang!

Kalau pemuda itu menggunakan kedua tangannya untuk mengirim pukulan maut, tentu keduanya telah tewas!

Kiranya ketika golok dan pedang bertemu dengan rantai, kedua senjata itu seperti terbetot dan ketika Gin San melepaskan rantainya dan menggunakan kedua tangan untuk mendorong, keduanya sama sekali tidak pernah menduganya dan telah kena didorong sampai terguling roboh dan senjata mereka dapat dirampas oleh Gin San.

Sungguh merupakan hal yang terlalu hebat dan luar biasa sekali bagi kedua orang kakek itu.

Mereka telah dikalahkan oleh sute mereka itu dalam satu jurus saja!

Rasa malu dan penasaran membuat dua orang itu menjadi makin marah.

Mereka bangkit berdiri di samping Thian Bhok Cu dan ketiga orang kakek itu kini meluruskan kedua lengan ke depan, ke arah Gin San dan mulut mereka mengeluarkan lengking nyaring sekali, disusul suara Kwan Cin Cu yang penuh wibawa.

"Coa Gin San, sebagai murid Beng-kauw, berlututlah kau!"

Suara lengking dan suara Kwan Cin Cu itu mengandung pengaruh yang amat besar, sehingga semua anggauta Beng-kauw tidak dapat menahan diri dan mereka semua sudah menjatuhkan diri berlutut!

Akan tetapi Gin San yang merasa betapa tiba tiba kedua lututnya gemetar dan seperti hendak memaksanya menjatuhkan diri berlutut.

cepat melepaskan rantai, pedang dan golok di tangannya itu ke atas tanah, kemudian diapun meluruskan kedua lengan ke depan, kedua tangannya dengan telapakan tangan di depan seperti mendorong ke arah tiga orang suhengnya, sepasang matanya mencorong seperti harimau, lalu diapun mengeluarkan suara melengking nyaring sekali, disambung oleh kata-katanya, lebih nyaring dari pada suara Kwan Cin Cu tadi.

"Kwan Cin Cu, Hok Kim Cu, dan Thian Bhok Cu, kalian berhadapan dengan pengawas Beng-kauw di utara, kalian berlututlah!"

Terjadilah pertandingan yang amat luar biasa, Tubuh mereka tidak bergerak, kedua lengan diluruskan ke depan, akan tetapi dari sepasang mata mereka menyambar pengaruh yang luar biasa dahsyatnya.

Kiranya empat orang murid Maghi Sing ini sedang mengadu kekuatan sihir dari pandang mata, lengking suara, dan dari gerakan kedua tangan mereka untuk saling mengalahkan dan kembali Gin San dikeroyok, sekali ini dikeroyok tiga malah!

Ketika mereka mendapatkan kenyataan bahwa mereka tidak mampu merobohkan Gin San yang ternyata amat kuat itu, tiga orang kakek menggerak gerakkan tangannya dan aneh sekali, tubuh Gin San mulai terangkat ke atas!

Kedua kaki pemuda itu mulai meninggalkan tanah sampai belasan sentimeter tingginya!

Gin San terkejut akan tetapi dia dapat menenangkan hatinya, lalu dia mengerahkan kekuatan batinnya, kedua lengan yang diulur ke depan itu tergetar hebat, dari matanya menyambar sinar yang mencorong mengerikan, dan uap putih mengepul dari kepalanya.

Perlahan-lahan tubuhnya turun kembali dan kini tubuh tiga orang kakek itulah yang perlahan-lahan naik ke atas!

Tiga orang kakek itu terbelalak, mengeluarkan keringat dingin dan napas mereka agak terengah.

Mereka mengerahkan tenaga dan setelah mereka terengah-engah barulah perlahan-lahan merekapun turun kembali, akan tetapi seluruh tubuh mereka menggigil dan muka mereka pucat penuh keringat.

Gin San menggunakan tangan kanan mengambil bendera putih, diangkatnya bendera itu ke atas dan kembali dia berkata, suaranya dalam dan menggetar hebat.

"Berlututlah kalian menghormati Bendera Keramat!"

Tiga orang kakek itu kehilangan daya tahan mereka.

Mereka maklum bahwa baik dalam hal ilmu silat maupun kekuatan sihir, mereka tidak dapat menandingi Gin San, maka mereka cepat menjatuhkan diri berlutut dan Kwan Cin Cu berkata.

"Kami siap mentaati perintah!"

"Bagus! Dengan demikian sam-wi suheng masih menjunjung tinggi kepada Bendera Keramat dan nama suhu biarpun suhu telah meninggal dunia. Harap suheng bertiga suka bangkit dan duduk, marilah kita bicara dengan baik."

Tiba-tiba dua orang kakek itu mengeluarkan seruan kaget.

Mereka melihat rantai itu berobah menjadi sinar berkeredepan dan sinar itu menyambar-nyambar secara aneh, malang-melintang di depan mereka.

Mereka tidak mengenal gerakan ini, tidak tahu bagaimana awalnya dan bagaimana nanti akhirnya, maka mereka hanya cepat memutar senjata melindungi tubuh dengan kaget.

Akan tetapi, hawa yang mendesis-desis dan memutar-mutar seperti angin lesus menyerang mereka, membuat mereka terkejut dan untuk beberapa detik mereka menahan senjata.

Beberapa detik ini sudah cukup bagi Gin San dan dua kali tangannya bergerak setelah kedua tangannya melepaskan rantainya yang masih berputar sendiri di udara terdengar dua orang kakek itu mengeluh dan mereka roboh terguling!

Untung bagi mereka bahwa Gin San tadi hanya mendorong saja dengan telapak tangan sambil mengerahkan sinkang, dan sekaligus kedua tangan pemuda itu merampas golok dan pedang!

Kalau pemuda itu menggunakan kedua tangannya untuk mengirim pukulan maut, tentu keduanya telah tewas!

Kiranya ketika golok dan pedang bertemu dengan rantai, kedua senjata itu seperti terbetot dan ketika Gin San melepaskan rantainya dan menggunakan kedua tangan untuk mendorong, keduanya sama sekali tidak pernah menduganya dan telah kena didorong sampai terguling roboh dan senjata mereka dapat dirampas oleh Gin San.

Sungguh merupakan hal yang terlalu hebat dan luar biasa sekali bagi kedua orang kakek itu.

Mereka telah dikalahkan oleh sute mereka itu dalam satu jurus saja!

Rasa malu dan penasaran membuat dua orang itu menjadi makin marah.

Mereka bangkit berdiri di samping Thian Bhok Cu dan ketiga orang kakek itu kini meluruskan kedua lengan ke depan, ke arah Gin San dan mulut mereka mengeluarkan lengking nyaring sekali, disusul suara Kwan Cin Cu yang penuh wibawa.

"Coa Gin San, sebagai murid Beng-kauw, berlututlah kau!"

Suara lengking dan suara Kwan Cin Cu itu mengandung pengaruh yang amat besar, sehingga semua anggauta Beng-kauw tidak dapat menahan diri dan mereka semua sudah menjatuhkan diri berlutut!

Akan tetapi Gin San yang merasa betapa tiba tiba kedua lututnya gemetar dan seperti hendak memaksanya menjatuhkan diri berlutut.

cepat melepaskan rantai, pedang dan golok di tangannya itu ke atas tanah, kemudian diapun meluruskan kedua lengan ke depan, kedua tangannya dengan telapakan tangan di depan seperti mendorong ke arah tiga orang suhengnya, sepasang matanya mencorong seperti harimau, lalu diapun mengeluarkan suara melengking nyaring sekali, disambung oleh kata-katanya, lebih nyaring dari pada suara Kwan Cin Cu tadi.

"Kwan Cin Cu, Hok Kim Cu, dan Thian Bhok Cu, kalian berhadapan dengan pengawas Beng-kauw di utara, kalian berlututlah!"

Terjadilah pertandingan yang amat luar biasa, Tubuh mereka tidak bergerak, kedua lengan diluruskan ke depan, akan tetapi dari sepasang mata mereka menyambar pengaruh yang luar biasa dahsyatnya.

Kiranya empat orang murid Maghi Sing ini sedang mengadu kekuatan sihir dari pandang mata, lengking suara, dan dari gerakan kedua tangan mereka untuk saling mengalahkan dan kembali Gin San dikeroyok, sekali ini dikeroyok tiga malah!

Ketika mereka mendapatkan kenyataan bahwa mereka tidak mampu merobohkan Gin San yang ternyata amat kuat itu, tiga orang kakek menggerak gerakkan tangannya dan aneh sekali, tubuh Gin San mulai terangkat ke atas!

Kedua kaki pemuda itu mulai meninggalkan tanah sampai belasan sentimeter tingginya!

Gin San terkejut akan tetapi dia dapat menenangkan hatinya, lalu dia mengerahkan kekuatan batinnya, kedua lengan yang diulur ke depan itu tergetar hebat, dari matanya menyambar sinar yang mencorong mengerikan, dan uap putih mengepul dari kepalanya.

Perlahan-lahan tubuhnya turun kembali dan kini tubuh tiga orang kakek itulah yang perlahan-lahan naik ke atas!

Tiga orang kakek itu terbelalak, mengeluarkan keringat dingin dan napas mereka agak terengah.

Mereka mengerahkan tenaga dan setelah mereka terengah-engah barulah perlahan-lahan merekapun turun kembali, akan tetapi seluruh tubuh mereka menggigil dan muka mereka pucat penuh keringat.

Gin San menggunakan tangan kanan mengambil bendera putih, diangkatnya bendera itu ke atas dan kembali dia berkata, suaranya dalam dan menggetar hebat.

"Berlututlah kalian menghormati Bendera Keramat!"

Tiga orang kakek itu kehilangan daya tahan mereka.

Mereka maklum bahwa baik dalam hal ilmu silat maupun kekuatan sihir, mereka tidak dapat menandingi Gin San, maka mereka cepat menjatuhkan diri berlutut dan Kwan Cin Cu berkata.

"Kami siap mentaati perintah!"

"Bagus! Dengan demikian sam-wi suheng masih menjunjung tinggi kepada Bendera Keramat dan nama suhu biarpun suhu telah meninggal dunia. Harap suheng bertiga suka bangkit dan duduk, marilah kita bicara dengan baik."

Teringat akan semua itu, Gin San menarik napas panjang dan pada matanya yang biasanya berseri gembira itu kini terbayang kemuraman.

Akan tetapi hanya sebentar dan sepasang mata itu sudah bersinar-sinar kembali ketika dia menepuk-nepuk kantung kuning.

Terdengar bunyi berdenting nyaring, menunjukkan bahwa kantung itu penuh dengan emas!

Memang, semalam dia telah mengambil dan mengumpulkan uang emas dari rumah tiga orang hartawan di kota Cin-lok bun.

Matahari makin dalam terbenam di kaki langit barat dan pemandangan di angkasa tidaklah seindah tadi.

Namun Gin San masih berdiri termangu-mangu di tempat yang amat dikenalnya itu.

Seolah-olah dia baru kemarin ia meninggalkan tempat ini.

Masih dikenalnya setiap batang pohon, setiap rumpun semak-semak, dan bau tanah dan daun-daun membusuk dan rumput-rumput segar bercampur dengan bau kotoran kerbau yang berserakan di sepanjang jalan.

Masih seperti dulu!

Agaknya setiap orang manusia tentu dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Gin San di saat itu.

Memang terdapat pertautan batin yang kuat sekali antara kampung halaman, tanah tumpah darah, dengan seseorang.

Tanah tumpah darah, di mana darah ibu tertumpah ketika dia terlahir, memiliki daya tarik yang mengikat.

Betapapun buruk dan miskinnya dusun itu, namun bagi Gin San yang terlahir di situ dan masa kecilnya berada di dusun itu, agaknya tidak ada tempat yang lebih indah mengesankan dari pada dusun tempat kelahirannya itu.

Ada semacam daya tarik yang kuat, yang membuat seseorang selalu terkenang dan ingin sekali-kali berkunjung ke tempat di mana dia terlahir dan bermain-main di waktu dia masih kecil.

Hal seperti ini timbul karena di dalam kehidupan kita.

lebih banyak dukanya dari pada senangnya.

Makin tua usia kita, makin banyaklah masalah-masalah yang meruwetkan dan mengeruhkan batin, dan makin terkenanglah kita dengan penuh kerinduan hati akan masa kanak-kanak kita, karena memang masa kanak-kanak merupakan masa terindah dalam kehidupan manusia.

Kanak-kanak hidup dengan polos, jujur, dan wajar.

Kanak-kanak tidak pernah menyimpan dendam, tidak pernah menyimpan suka duka di dalam pikirannya, tidak pernah menginginkan yang tidak ada, tidak pernah bercita-cita dan kanak-kanak selalu menikmati hidupnya, dalam keadaan bagaimanapun juga!

Itulah sebabnya mengapa kanak-kanak adalah mahluk yang suci murni, bersih, dan hidupnya penuh bahagia, bahkan dalam tangispun, seperti dalam tawanya, terkandung kewajaran yang murni.

Namun, sungguh sayang sekali, makin tua kita, makin kotorlah kita, penuh dengan ambisi, penuh dengan keinginan memperoleh hal-hal yang tidak kita miliki, penuh dengan cita-cita yang abstrak dan belum ada, sehingga APA YANG ADA tidak pernah dapat kita nikmati.

Kita gandrung dan mengejar-ngejar kebahagiaan, sama sekali buta akan kenyataan bahwa sesungguhnya PENGEJARAN itu sendirilah yang tidak memungkinkan adanya kebahagiaan!

Lihatlah sekelompok anak-anak yang bermain-main, begitu riang gembira, begitu wajar.

Kita akan terpesona, akan kagum, dan akan terheran-heran mengapa sekelompok anak-anak yang bermain-main di dalam lumpur dapat segembira itu!

Dan kita selalu tenggelam di dalam kemuraman!

Ini salah, itu salah, ini tidak enak, itu tidak menyenangkan.

Mengapa?

Karena hati dan pikiran kita PENUH DENGAN KEINGINAN, itulah!

Hari hujan, ingin terang, mengeluh.

Hari terang, ingin hujan, mengeluh juga.

Tidak dapatkah kita mengakhiri kegilaan yang terdorong oleh keinginan yang tiada habisnya ini dan hidup dalam arti kata yang sedalam-dalamnya, hidup menikmati saat ini detik demi detik yang kesemuanya itu sudah mengandung keindahan yang luar biasa?

Malampun tibalah.

Dan malam itu, sebaliknya dari malam tadi seperti apa yang terjadi di kota Cin-lok-bun, di dalam dusun yang miskin itu terjadi hal yang luar biasa pula, akan tetapi kejadian yang sama sekali tidak menirrbulkan kemarahan dan kedukaan, sungguhpun juga menimbulkan kegemparan.

Malam itu, dalam setiap rumah di dusun itu, terjatuh beberapa keping uang emas!

Dan pada keesokan harinya, gegerlah penduduk dusun yang menemukan uang emas di dalam rumah mereka masing-masing.

Mereka terkejut dan girang, tentu saja tidak banyak cakap, dan diam-diam mereka melakukan sembahyang untuk menghaturkan terima kasih kepada Yang Maha Murah.

Tentu saja yang melakukan perbuatan itu adalah Gin San.

Memang dia telah mencuri uang emas dari kota Cin-lok bun dengan maksud untuk membagi-baginya kepada para penduduk dusun di mana dia terlahir, kepada para tetangga ayah bundanya yang telah tewas, para tetangga yang tentu saja sudah tidak mengenalnya lagi.

Sekantung besar uang emas itu habislah dibagi-bagikan secara diam-diam itu dan pada keesokan harinya, dia telah memasuki pula kota Cin-lok-bun dengan wajah berseri dan tanpa kantung di pundaknya.

Dipandang secara sepintas lalu, apa yang dilakukan oleh Gin San itu memang baik, yaitu membagi-bagi uang kepada penduduk dusun miskin, sungguhpun uang itu didapatnya dengan cara yang tidak patut pula.

Akan tetapi, betapa bodohnya anggapan kita pada umumnya bahwa HARTA dapat membuat manusia hidup BAHAGIA.

Sungguh melantur sekali nggapan seperti itu.

Bahkan, tidak selamanya harta mendatangkan kebaikan, kalau tidak dapat dikatakan bahwa lebih banyak mendatangkan kejahatan!

Uang emas yang disebar oleh Gin San di antara penduduk dusun miskin itu, memang mendatangkan kegirangan besar, akan tetapi tidak dapat secara tergesa dikatakan bahwa hal itu mendatangkan kebaikan.

Yang sudah jelas saja, begitu masing-masing menemukan uang emas di dalam rumah, timbullah kecurigaan, timbullah kekhawatiran kalau kalau penemuan yang menguntungkan itu sampai ditahui orang lain!

Masing-masing merahasiakannya, dan dengan kenyataan ini saja sudah terbukti betapa harta yang ditemukan itu seketika melenyapkan kejujuran dan kegotongroyongan di antara mereka yang semula selalu nampak.

Selain itu, juga masing-masing diliputi rasa takut, khawatir kalau-kalau harta yang mereka temukan itu sampai hilang dicuri orang, sehingga mereka harus menjaganya, bahkan ada yang tidak dapat tidur karena khawatir kalau-kalau uang emas itu akan diambil orang.

Harta benda, kedudukan, nama besar, bukanlah hal yang buruk.

Akan tetapi kalau kita sudah melekatkan diri, menyamakan diri dengan mereka, kalau kita sudah mengejar-ngejar mereka, timbullah kesengsaraan dalam kehidupan.

Pengejarannya itulah yang jahat.

Orang yang mengejar harta benda mungkin saja menjadi mata gelap, melakukan korupsi penipuan,kecurangan dan sebagainya lagi.

Orang yang mengejar kedudukan dan nama besar, mungkin saja menjadi kejam, mendorong ke samping atau kalau perlu menjegal dan merobohkan saingannya, cara busuk apapun akan ditempuhnya demi untuk memperoleh kedudukan dan nama besar yang dikejar-kejarnya itu.

Dan setelah semua itu terdapat kita melekat kepadanya dan timbullah kekhawatiran, rasa takut kalau-kalau yang sudah terdapat itu akan hilang dari kita!

Semua itu begini jelas, dapat kita lihat setiap hari dalam kehidupan kita, di sekeliling kita, dalam badan kita sendiri!

Gin San juga tidak sadar sama sekali bahwa perbuatannya itu kelak akan mendatangkan kemaksiatan yang cukup banyak di dusun itu di antara orang-orang dusun yang lemah batinnya.

Biasanya, orang yang sudah pernah memegang uang dan mengejar kesenangan dengan uang itu, dia akan kecanduan dan akan terus mencari-cari untuk melanjutkan kesenangan itu.

Gin San lalu melanjutkan perjalanam menuju ke kota Cin-an.

Begitu memasuki pintu gerbang kota ini, wajah pemuda ini berseri gembira.

Banyak sekali kenangan yang mengesankan dia alami di kota ini beberapa tahun yang lalu.

Teringat dia betapa dia memasuki kota ini sebagai seorang bocah jembel, pengemis yang hidup tergantung dari belas kasihan orang.

Kemudian betapa dia menjadi pelayan dan murid pendekar Gan Beng Han.

Dia masih ingat semua tempat tempat di kota itu, ingat akan setiap lorong yang sering kali dilaluinya, bahkan toko-toko dan rumah-rumah disepanjang jalan raya itu masih diingatnya benar.

Tiba-tiba hidungnya mencium bau sedap masakan yang datang dari sebuah restoran.

Gin San memandang ke kiri dan melihat seorang pelayan gendut sedang membersihkan meja di dalam restoran.

Gin San tersenyum.

Dia masih mengenal pelayan itu.

Betapa tidak?

Pelayan itu adalah seorang pelayan yang amat baik dan ramah, suka melucu dan pelayan itu yang dahulu seringkali memberi makanan-makanan sisa para tamu kepadanya!

Rasa haru menyelinap di dalam hati Gin San ketika dia ingat betapa sekaleng makanan bekas yang diberikan oleh pelayan gendut itu dahulu merupakan sesuatu yang amat berharga, bukan hanya amat lezat baginya, akan tetapi juga dapat dianggap sebagai penyelamat dan penyambung nyawanya!

Dengan mukanya yang gemuk itu berseri seri, pelayan gendut cepat menghampiri ketika Gin San melangkah masuk ke dalam restoran "Ah, selamat pagi, kongcu, selamat pagi.

Kongcu hendak memesan makanan dan minuman apakah?

Bubur ayam?

Mi bakso?

Nasi tim?

Dan minum arak hangat?

Teh panas?"

Pelayan itu ramah sekali.

Sejenak Gin San hanya berdiri memandang pelayan itu dengan sinar mata penuh selidik.

Pelayan itu masih gendut, masih ramah, akan tetapi jelas kelihatan masih miskin, pakaiannja sederhana bahkan ada tambalan di pundaknya biarpun pakaian itu cukup bersih.

Melihat pemuda tampan yang berpakaian putih sederhana itu hanya berdiri bengong memandangnya, pelayan gendut itu tertawa ramah.

"Eh, kongcu, silakan duduk""".!"

Gin San sadar dan dengan suara agak gemetar dia berkata.

"Terima kasih."

Dia lalu mengikuti pelayan itu ke meja di sudut dan duduk di atas kursi menghadap keluar sehingga dia dapat melihat seluruh ruangan restoran itu.

Beberapa orang tamu mulai memasuki restoran itu untuk sarapan, dan Gin San yang memesan bubur ayam dan air teh sudah dilayani oleh pelayan gendut yang kini sibuk melayani para tamu lainnya yang mulai berdatangan.

Gin San terus mengikuti gerak-gerik pelayan gendut itu dan pelayan ini agaknya juga merasa betapa pemuda tampan sederhana itu terus memperhatikan dia.

Beberapa kali dia menengok dan memandang kepada Gin San, lalu tersenyum ramah karena diapun merasa seperti pernah mengenal pemuda tampan itu, akan tetapi dia lupa lagi di mana dan bilamana.

Dia mengira bahwa Gin San tentu seorang langganan restoran yang jarang datang maka dia lupa lagi.

Gin San masih duduk di depan mejanya biarpun dia sudah selesai makan.

Ada beberapa orang tamu sudah selesai makan dan membayar harga makanan kepada pelayan gendut itu.

Gin San mengerahkan tenaga batinnya memandang kepada tamu yang membayar itu.

Dengan kekuatan sihirnya, dia membuat si tamu itu menjadi bingung dan membayar jauh lebih banyak dari pada semestinya, dan memberikan uang itu kepada si pelayan gendut, kemudian tamu itu pergi.

Si pelayan gendut terbelalak nemandang uang di tangannya, karena uang itu terlalu banyak.

Tiba-tiba dia berteriak dan lari keluar, memanggil tamu tadi.

"Tuan, pembayaran tuan kelebihan banyak sekali, tuan salah hitung!"

Tamu itu terkejut dan terheran, lalu menerima kembali yang kelebihan dari tangan pelayan gendut, tersenyum dan mengangguk-angguk dengan rasa syukur karena hampir saja dia dirugikan banyak sekali.

Gin San juga mengangguk-angguk dalam hatinya Akan tetapi dia masih penasaran dan dicobanya lagi sampai empat lima kali.

Setiap kali seorang tamu membayar harga makanan dia tentu menguasai orang itu dengan sihirnya dan memaksa orang itu membayar jauh lebih banyak dari pada semestinya.

Akan tetapi, setiap kali si pelayan gendut mengembalikan uang itu.

Si pelayan gendut makin lama menjadi makin heran.

Dia menghampiri meja Gin San yang sudah selesai makan sambil bertanya.

"Apakah kongcu sudah selesai? Ataukah mau memesan makanan lain?"

"Tidak, aku sudah cukup kenyang."

Pelayan itu membereskan meja itu.

"Ada apakah ribut-ribut dengan para tamu tadi, lopek?"

Tanya Gin San.

"Ahh, orang-orang itu agaknya hendak mencobaku. Hemm, biarpun saya hanya seorang pelayan miskin, apakah mereka mengira bahwa saya suka berlaku curang? Heran, hampir semua tamu membayar lebih. Apakah sengaja ataukah kebetulan saja?"

Gin San kagum bukan main.

Kagum dan terharu.

Dia tahu bahwa pelayan itu adalah seorang miskin, tiada bedanya dengan keadannya ketika dia sendiri masih mergemis dahulu itu.

Akan tetapi, biarpun tetap miskin, ternyata pelayan ini tetap jujur, ramah, baik hati dan gembira.

Hal ini amat mengharukan hatinya.

Inilah yang benar-benar patut dinamakan orang kaya!

Teringatlah Gin San akan keadaannya di waktu kecil, ketika dia menerima sisa-sisa makanan dari pelayan ini.

Dia membayar harga makanan, kemudian tiba-tiba Gin San menjatuhkan dirinya berlutut di depan pelayan gendut itu!

"Lopek seorang yang budiman dan bijaksana terimalah hormatku!"

Katanya, kemudian Gin San bangkit berdiri dan meninggalkan restoran itu, meninggalkan si pelayan gendut yang berdiri bengong dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, tangan kiri memegang mangkok kosong, tangan kanan memegang uang pembayaran Gin San.

"Hei, A-kiu, mengapa engkau berdiri saja di situ?"

Tiba-tiba terdengar majikannya yang duduk di meja kasir menegurnya.

Pelayan gendut yang dipanggil dengan nama A-kiu itu terkejut, seperti baru sadar dari mimpi dan tergesa-gesa dia menghampiri majikannya dan menyerahkan uang pembayaran tadi ke atas meja.

"Loya, tamu tadi". kongcu tadi""

Kiranya dia itu orang gila...". ah, sayang, begitu muda dan tampan, kiranya dia gila""!"

A kiu menggeleng-geleng kepalanya dan menarik napas panjang berulang-ulang.

"Biar gila, asal dia membayar makanannya!"

Komentar majikannya.

A-kiu hanya menggeleng kepala dan berkali-kali menyatakan kasihan dan sayang kepada pemuda yang dianggapnya gila itu.

Gin San kembali merasa terharu ketika dia berdiri di depan rumah besar itu.

Betapa dia masih mengenal baik rumah ini!

Dan lebih-lebih bangunan kandang di sebelah kiri rumah agak ke belakang, amat dikenalnya karena hampir setiap hari dia bekerja di situ, memelihara kerbau milik majikan atau gurunya.

Tidak ada perobahan pada rumah itu, kecuali perabot-perabot rumahnya.

Jantungnya berdebar kalau ia teringat betapa dia akan bertemu dengan seisi rumah.

Dengan suhunya, dan subonya dua orang yang amat baik dan ramah kepadanya itu!

Dan lebih-lebih lagi bertemu dengan Tan Sian Lun, suhengnya, juga sahabatnya teman bermain-main dan menggembala kerbau, keponakan dari suhunya.

Dan yang terutama sekali, bertemu dengan Ling Ling!

Ah, tentu Ling Ling kini telah menjadi seorang dara yang cantik, pikirnya.

Sepuluh tahun lebih tidak saling jumpa dan kini dia sudah berusia duapuluh tahun.

Tentu Ling Ling, sudah berusia delapanbelas tahun, seorang dara yang suda dewasa!

Jantungnya berdebar tegang penuh kegembiraan ketika akhirnya dia melangkah ke halaman rumah yang kelihatan sunyi itu.

Seorang wanita tua sedang membersihkan meja di ruangan depan dan wanita ini mendengar kedatangannya, menengok lalu bangkit berdiri dan menyambutnya.

Gin San memandang tajam, akan tetapi tidak mengenal wanita ini.

Tentu seorang pelayan baru, pikirnya.

"Kongcu mencari siapa?"

Wanita pelayan itu bertanya.

"Apakah"".apakah tuan rumah berada di rumah?"

"Ada"".. ada"".. ah, loya, ini ada seorang tamu"".."

Kata pelayan itu ketika melihat seorang laki laki setengah tua keluar dari ruangan dalam.

Gin San mengerutkan alisnya.

Tuan rumah itu bukanlah gurunya.

Akan tetapi melihat laki-laki itu memandangnya dengan penuh perhatian, dia lalu menjura untuk memberi hormat.

"Kongcu siapakah dan hendak mencari siapa?"

Tuan rumah bertanya.

"Saya hendak mencari suhu Gan Beng Han sepuluh tahun yang lalu beliau tinggal di si ni"

Laki-laki tua itu terbelalak memandangnya lalu berkata gagap.

"Tapi"".. tapi"". Gan-taihiap telah meninggal dunia""."

Kini Gin San yang memandang terbelalak dan muka pemuda ini menjadi agak pucat.

"Meninggal"..?? (Lanjut ke

Jilid 24) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 24 Dan"". dan subo...".."

"Gan-taihiap dan isterinya telah meninggal dunia""""

"Ahh"".!"

Gin San makin pucat mendengar ini.

"Bagaimanakah ini? Mengapa mereka meninggal dunia? Dan"".. dan ke mana perginya puterinya, dan keponakannya??"

Laki-laki setengah tua itu menggeleng .kepala.

"Maafkan saya, orang muda. Saya adalah, pendatang baru dari lain kota yang membeli rumah ini dan dari para tetangga saya hanya mendengar penuturan bahwa rumah ini dahulu dihuni oleh keluarga pendekar Gan dan bahwa pendekar Gan dan istrinya telah meninggal dunia. Bagaimana meninggalnya, saya tidak tahu, dan ke mana perginya keluarganyapun saya tidak tahu."

Pikiran Gin San berputar dan bekerja keras.

Ah, kiranya hal ini ada hubungannya dengan keributan yang terjadi di kota ini sepuluh tahun yang lalu.

Orang yang paling tepat untuk ditanya adalah hwesio di Kuil Ban-hok-tong, tempat terjadinya keributan itu.

"Terima kasih...".!"

Katanya lesu dan dia lalu membalikkan tubuh dan berjalan cepat-cepat keluar dari tempat itu menuju ke Kuil Ban hok-tong.

Semua kegembiraannya lenyap Tadinya dia merasa gembira sekali karena akan bertemu dengan suhu dan subonya, juga berjumpa dengan suheng dan sumoinya.

Kini hatinya diliputi rasa penasaran dan kekhawatiran Suhu dan subonya belum tua benar, tak mungkin mati karena usia tua.

Mereka belum tua dan sehat, maka kematian mereka itu tentu disebabkan oleh orang lain!

Dan bagaimana dengan nasib Sian Lun dan Ling Ling?

Dengan wajah masih pucat dia tiba di Kuil Ban hok tong di mana sepuluh tahun yang laiu terjadi pertempuran antara dua rombongan pemain liong yang menyerbu ke dalam kuil sehingga dia terseret dan kemudian terbawa pergi oleh rombongan pengacau yang terdiri dari orang-orang Beng-kauw itu.

Begitu memasuki kuil itu, terbayanglah semua peristiwa sepuluh tahun yang lalu, seolah-olah baru terjadi kemarin hari saja.

"Apakah kongcu hendak sembahyang? Dan belum membawa sembahyang?"

Terdengar suara halus seorang hwesio yang bertanya, menyambut kedatangannya di pagi hari yang masih sunyi itu. Gin San sadar dari lamunannya dan dia menggeleng kepala.

"Saya mohon bertemu dengan suhu yang menjadi ketua dari Ban hok-tong."

Hwesio itu memandang dengan penuh perhatian.

Dia adalah murid dari Thian Lee Hwesio, wakil ketua Ban-hok-tong dan karena para hwesio di Ban-hok-tong juga merupakan ahli-hli silat yang tidak asing dengan kehidupan di dunia kang ouw, maka melihat ada orang muda datang bukan untuk sembahyang melainkan untuk mencari ketua Ban-hok-tong, tentu saja dia menjadi curiga.

"Ketua kuil sedang tidak berada di sini, yang ada di sini adalah wakil ketua kuil, yaitu suhu Thian Lee Hwesio, akan tetapi beliau sedang bersamadhi pagi di dalam kamarnya, kalau tidak ada keperluan penting saya tidak berani mengganggunya. Siapakah sicu, dan ada keperluan apakah sicu mencari ketua kuil kami?"

Gin San maklum bahwa hwesio ini menaruh curiga kepadanya, maka dia lalu berkata cepat.

"Saya adalah murid dari suhu Gan Beng Han"."

"Omitohud".., tapi Gan-taihiap telah".."

"Saya tahu dan justeru karena kematian suhu dan subo itulah saya ingin bertemu dengan ketua Ban-hok-tong untuk bicara. Harap losuhu sudi menyampaikan kepada ketua Ban-hok-tong atau wakilnya."

"Baik, silakan menanti di ruang tamu, sicu,"

Kata hwesio itu dan setelah mempersilakan pemuda itu menunggu di ruangan yang lebar itu, dia cepat masuk ke dalam.

Ketika Thian Lee Hwesio muncul, segera Gin San mengenal hwesio tua ini sebagai hwesio lihai yang dulu melawan penyerbuan di kuil.

Akan tetapi hwesio tua ini tentu saja tidak lagi mengenal Gin San, bocah aneh yang dulu duduk "menunggang"

Liong ketika para pemain liong yang palsu itu menyerang kuilnya. Dia memandang tajam ketika Gin San cepat bangkit memberi hormat kepadanya.

"Menurut laporan hwesio penyambut tamu, sicu adalah murid mendiang Gan-taihiap?"

Hwesio tua itu bertanya. Gin San mengangguk.

"Benar, losuhu. Ketika saya masih kecil, saya adalah murid suhu Gan Beng Han. Akan tetapi telah sepuluh tahun saya pergi, dan baru sekarang kembali ke sini, saya mendengar bahwa suhu dan subo telah meninggal dunia. Karena itu, saya mohon kepada losuhu sudilah menceritakan kepada saya bagaimana tewasnya suhu dan subo."

Thian Lee Hwesio memandang tajam penuh selidik.

"Kenapa sicu datang kepada kami untuk bertanya?"

"Karena saya menduga bahwa kematian mereka tentu ada hubungannya dengan keributan yang terjadi di sini sepuluh tahun yang lalu, dan karena saya tahu bahwa suhu bersahabat dengan pimpinan Kuil Ban-hok-torig maka saya datang untuk bertanya "

"Sepuluh tahun yang lalu? Dan sicu muridnya? Ahh"".., jadi sicu ini kiranya yang dicari-cari oleh mendiang Gan taihiap? Dan sicu adalah bocah yang dulu menunggang liong yang kemudian terbawa pergi oleh kaum pengacau?"

Gin San mengangguk.

"Omitohud""..! Sicu, ke mana sajakah sicu pergi? Karena kehilangan sicu maka mendiang taihiap mencari dan mengejar sehingga jadi malapetaka itu"".."

"Losuhu, tidak penting apa yang saya alami, akan tetapi apakah yang terjadi dengan suhu dan subo? Harap losuhu sudi menceritakan kepada saya,"

Gin San bertanya cepat, hatinya tidak sabar karena dia merasa berduka sekali mendengar akan kematian mereka, apalagi hwesio ini mengatakan bahwa matinya suhu dan subonya adalah menjadi akibat dari kepergian atau kehilangannya itu.

"Duduklah, sicu duduklah. Panjang ceritanya."

Kakek itu mempersilakan Gin San duduk dan kini mereka duduk saling berhadapan dan bercakap-cakap.

Dengan panjang lebar Thian Lee Hwesio lalu menceritakan semua yang telah terjadi sepuluh tahun yang telah lalu, betapa dia sendiri yang berhasil merampas lambang Im-yang pai dari seorang pimpinan pengacau dan betapa Gan taihiap lalu mengejar ke Im yang pai untuk menolong muridnya yang disangkanya terculik oleh orang-orang Im-yang pai.Betapa kemudian para tokoh kang-ouw membantu pasukan kerajaan menyerbu ke Im yang pai dan betapa di situ terjadi pertempuran hebat yang mengakibatkan terbasminya Im-yang-pai.

"Para pimpinan Im-yang pai menyangka bahwa merekalah yang mengacau di kuil ini, sicu,"

Kakek pendeta itu mengakhiri cerita Akan tetapi isteri Gan-taihiap marah marah dan menyerang Im-yang-kauwcu yang lihai.

Isteri Gan-taihiap roboh dan tewas.

Gan taihiap membela isterinya, akan tetapi diapun tewas di tangan Im-yang-kauwcu.

Harus pinceng akui bahwa pertempuran antara mereka itu dimulai oleh fihak Gan-taihiap dan suami isteri itu tewas dalam pertempuran yang adil, satu lawan satu.

Kauwcu itu memang lihai sekali."

Gin San tertegun.

Dialah yang tahu benar bahwa fihak Im-yang-pai tidak bersalah.

Bawa Beng-kauw yang sengaja menggunakan nama Im-yang-pai untuk mengadu domba.

Dan akibatnya, suhu dan subonya sampai bertanding dengan Im-yang-kauwcu dan tewas.

Dia tidak mungkin dapat menyalahkan Im-yang-kauwcu dalam hal itu, akan tetapi suhu dan subonya tewas, tentu dia tidak akan dapat tinggal diam saja.

"Di mana dikuburnya suhu dan subo?"

Akhirnya dia bertanya dengan suara parau.

"Di kuburan sebelah barat kota, akan tetapi setelah sicu muncul, tentu sekarang dapat terbuka semua rahasia itu. Sicu, tentu sicu dapat menerangkan siapakah yang melakukan penyerbuan dahulu itu? Tentu fihak Im-yang-kauw atau Im-yang-pai, bukan?"

Gin San bangkit berdiri, menggelengkan kepalanya.

""Bukan! Im-yang-pai tidak bersalah sama sekali dalam penyerbuan itu"

"Tapi"". tapi"".. pinceng sendiri yang merampas lambang Im-yang-pai dari orang""."

"Itu lambang curian. Bukan orang-orang Im-yang-pai yang mengganas di sini, akan tetapi golongan lain yang hendak mengadu domba antara Im-yang-pai dengan pemerinah dan para pendeta Buddha."

"Akan tetapi, lalu siapa""". heee? Sicu tunggu""..!"

Thian Lee Hwesio cepat meloncat dan mengejar, akan tetapi bayangan pemuda itu berkelebat cepat sekali sehingga ketika dia mengejar sampai di depan kuil, bayangan itu telah lenyap!

Thian Lee Hwesio adalah seorang ahli silat yang berilmu tinggi, maka dia merasa penasaran sekali dan cepat dia meloncat ke atas genteng.

Akan tetapi, dari tempat tinggi itupun sudah tidak lagi nampak bayangan pemuda aneh itu Dia melayang turun kembali dan menggeleng kepalanya.

"Hemm, anak itu jelas memiliki kepandaian yang melebihi gurunya. Heran, mengapa dia tidak mau berterus terang?"

Tentu saja Gin San tidak mungkin untuk berterus terang kepada Thian Lee Hwesio atau kepada siapapun juga tentang rahasia itu.

Para penyerbu yang memalsukan nama Im-yang-pai itu adalah orang-orang Beng-kauw dan dia sendiri sekarang menjadi tokoh Beng-kauw yang paling tinggi tingkatnya, bahkan dialah pemegang Bendera Keramat putih sebagai lambang dari kekuasaan di perkumpulan itu!

Mana mungkin dia mengkhianati anak buahnya sendiri?

Dengan hati penuh duka Gin San mengunjungi kuburan itu dan akhirnya dia berdiri dengan muka pucat di depan dua buah makam itu makam suhu dan subonya, dua orang yang dicintanya dan dua orang yang telah memungutnya dari jalan ketika dia menjadi seorang jembel yatim piatu!

Dia mengepal-ngepal tinjunya.

Suhu dan subonya terbunuh dalam pertempuran yang jujur melawan Im-yang-kauwcu!

Akan tetapi sesungguhnya kematian mereka adalah akibat dari penyerbuan yang dilakukan oleh orang-orang Beng-kauw.

Tentu saja tidaklah adil kalau dia harus menyalahkan Im yang-kauw apalagi setelah mendengar betapa Im-yang-pai malah dibasmi oleh pasukan pemerintah, gara-gara perbuatan Beng-kauw yang curang.

Betapapun juga, dia akan selalu merasa penasaran kalau dia belum berhadapan dengan ketua Im yang-kauw itu untuk ditantang beradu kepandaian satu lawan satu pula!

Bukan untuk membalas dendam karena suhu dan subonya tewas dalam pertandingan yang adil dan tidak ada penasaran apa-apa, melainkan untuk memuaskan hatinya yang merasa penasaran hendak mengukur sampai di mana kehebatan kepandaian dari Im-yang-kauwcu itu!

Teringat akan suhu dan subonya yang kini telah menjadi gundukan tanah kuburan, Gin San merasa kecewa bukan main.

Tadinya dia sudah membayangkan betapa gembiranya dapat bertemu mereka, betapa gembiranya hati suhu dan subonya dapat melihat dia yang ternyata masih hidup, bahkan telah mewarisi kepandaian yang amat tinggi dari seorang sakti.

Kini, dia tidak akan dapat menyaksikan kegembiraan suhu dan subonya, tidak dapat menyaksikan pandang mata mereka yang berseri dan penuh kekaguman, tidak dapat dia memamerkan kepandaiannya kepada mereka yang disayangnya untuk membikin mereka gembira!

Dia mengepal tinjunya saking kecewanya, kemudian mengeluh, suaranya terdengar agak keras.

"Ah, kenapa kalian telah mati dulu? Kenapa kalian mengecewakan hatiku?"

Tiba-tiba terdengar suara wanita melengking nyaring.

"Biarlah kau menyusul mereka di alam baka!"

"Singggg"".!!"

Gin Sin cepat mengelak dengan terkejut sekali ketika ada sinar berkilauan menyambar ke arah dadanya dari kiri.

Itulah serangan pedang yang dilakukan orang dengan kecepatan cukup berbahaya, namun bagi Gin San tentu saja bukan apa-apa dan dia sudah berhasil mengelak dengan amat mudahnya Ketika dia mengelak dan membalikkan tubuh; dia melihat bahwa yang menyerangnya adalah seorang wanita yang berwajah cantik dan bertubuh ramping padat, biarpun wanita itu tidak boleh dibilang muda, bahkan tentu sudah tigapuluh tahun lebih usianya, seorang wanita yang masak dan memperlihatkan bekas kecantikan yang menarik.

Gerakan pedang wanita itu cukup cepat, dan dia telah mengamuk dan menyerang bertubi-tubi, akan tetapi Gin San hanya mengelak ke sana-sini "Eit, eit"".

tahan dulu.

Mengapa kau menyerangku membabi buta?

Apa salahku?"

Gin San berkata sambil berloncatan dengan ringan sehingga ke manapun sinar pedang berkelebat, selalu pedang itu hanya mengenai tempat kosong belaka.

"Mampuslah kau, manusia jahat! Engkau memusuhi keluarga Gan, maka akulah musuhmu, aku akan membalas kematian Han-koko?"

Wanita itu berseru lagi dan menyerang makin ganas.

"Eh, eh, salah! Engkau salah sangka, twa-nio. Aku bukan musuh keluarga Gan, malah murid dari suhu Gan Beng Han!"

"Ahh""..?"

Wanita itu terkejut dan menahan pedangnya.

Mereka berdiri saling pandang dan Gin San mendapat kenyataan bahwa wanita itu benar-benar cantik dan biarpun tidak muda lagi namun masih menarik.

Terutama sepasang mata wanita itu indah jernih, seperti mata seorang anak-anak.

Dan wanita itupun memandang kepada Gin San, mengagumi pemuda yang selain amat tampan dan muda, juga luar biasa lihainya itu sehingga semua penyerangannya tadi sama sekali tidak ada basilnya.

Wanita itu tersenyum, dan memang dia manis sekali.

"Kau"".. kau murid Han-koko"".?"

"Awas""..!"

Tiba-tiba Gin San menubruk ke depan dan menyambar tubuh wanita itu sehingga mereka bergulingan ke atas tanah sambil berangkulan satu sama lain.

Hanya itulah jalan satu-satunya bagi Gin San untuk menyelamatkan wanita itu ketika asap hitam tadi menyambar.

Dia tahu bahwa asap itu adalah asap beracun, maka satu-satunya jalan hanya membawa wanita itu bertiarap ke atas tanah.

Setelah asap hitam itu lewat terbawa angin, barulah Gin San melepaskan pelukannya.

Wanita itu bangkit duduk dan memandang kepada Gin San dengan kedua pipi merah dan mata bengong, kemudian dia tersenyum.

Mereka berdua tadi telah saling berangkulan dan bergulingan dan hal ini membuat wanita itu merasa berdebar jantungnya.

Akan tetapi, Gin San dan wanita itu tidak sempat banyak cakap karena pada saat itu muncul lima orang kakek yang melihat dandanan mereka adalah pendeta-pendeta.

Mereka berpakaian putih dan jenggot panjang-panjang, rambut mereka dibiarkan riap riapan.

Kelimanya memegang tongkat dan yang berdiri di depan adalah seorang yang matanya satu, karena mata kirinya tertutup dan buta tidak berbiji lagi.

Gin San mengerutkan alisnya memandang lima orang kakek itu.

Kakek bermata satu itu tentu sudah enampuluh tahun usianya sedangkan empat orang kakek yang lain juga tidak muda lagi, sudah lebih dari limapuluh tahun.

Melihat sikap mereka, dia dapat menduga bahwa mereka itu rata-rata memiliki kepandaian tinggi, bahkan melihat sinar mata dari kakek bermata tunggal itu dia dapat mengerti bahwa kakek ini adalah seorang ahli sihir karena kekuatan batinnya terpancar keluar sinar matanya.

Sebetulnya hati Gin San sudah merasa mendongkol karena dia tahu bahwa pelepas asap beracun tadi tentulah lima orang kakek ini, akan tetapi karena dia menghadapi lima orang yang sudah tua dan berkepandaian, maka dia lalu mengangkat tangan menjura dan bertanya.

"Siapakah adanya ngo-wi totiang dan apa maksudnya melepas asap beracun?"

Ditegur secara langsung, biarpun dengan suara halus, lima orang kakek itu memandang dengan heran dan juga terkejut. Bahkan kakek bermata tunggal itu berseru.

"Siancai, masih begini muda sudah lihai sekali dan dapat dengan cepat mengenal asap hitam. Sicu, kami berlima tidak berniat buruk, dan asap tadi kalau berhasil hanya akan membuat kalian berdua tidur sebentar. Kami tidak ingin diganggu dan kami ada keperluan dengan dua makam ini."

Kini wanita cantik itu yang berkata dengan suara penuh curiga.

"Han-koko dan isterinya telah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Kalian lima orang pendeta mau apakah dan siapa yang menyuruh kalian datang ke makam ini?"

Kakek bermata tunggal itu tertawa.

Suara ketawanya halus dan seketika wanita itu merasa hormat dan suka kepada kakek ini.

Akan tetapi diam-diam Gin San mengerahkan kekuatan batinnya menolak pengaruh itu dan maklumlah dia bahwa kakek bermata tunggal im telah mulai mempergunakan kekuatan sihir melalui suara ketawanya sehingga dia tadi merasa jantungnya tergetar dan terusap halus sehingga kalau dia tidak cepat mengerahkan tenaga, tentu dia sudah akan dapat ditundukkan seperti keadaan wanita itu yang kini memandang penuh kagum!

"Kalian anak-anak baik minggirlah.

Kami berima sengaja datang hendak melakukan sembahyangan terhadap makam Gan-taihiap dan isterinya, dan harap kalian tidak mengganggu kami."

Mendengar ucapan itu, wanita cantik itu yang telah terpengaruh oleh suara ketawa tadi, mengangguk-angguk ramah dan segera melangkah minggir untuk memberi tempat kepada lima orang pendeta itu di depan makam.

Gin San mengerutkan alisnya karena dia melihat ketidak wajaran dalam Suara ketawa kakek mata satu itu.

Akan tetapi dia tidak mengenal mereka dan setelah mereka menyatakan hendak bersembahyang di depan makam suhu dan subonya, tentu saja tidak berani lancang menghalangi mereka.

Dia tahu bahwa suhu dan subonya adalah pendekar-pendekar, yang dihormati orang dan bukan hal aneh kalau lima orang pendeta ini hendak memberi penghormatan dan sembahyangan, biarpun kematian suhu dan subonya sudah lewat sepuluh tahun.

Oleh karena itu, diapun lalu melangkah kepinggir dan seperti juga wanita itu, dia kini mengikuti saja semua gerak-gerik lima orang pendeta itu dengan pandang matanya.

Dengan sikap tenang, lima orang pendeta itu dipimpin oleh pendeta mata tunggal, lalu duduk di depan makam, mengeluarkan beberapa buah benda-benda aneh, seperti tali, guci kosong, benda-benda kecil terukir berbentuk naga, burung hong, kilin, dan sebagainya.

Kesemuanya itu mereka atur di atas tanah depan makam, kemudian pendeta mata satu membakar ujung puluhan batang hio (dupa biting).

Mulailah mereka berlima membaca mantera atau berdoa, dan dengan dipimpin oleh pendeta mata tunggal yang memegang segenggam hio membara, mereka berjalan mengelilingi dua buah makam itu sambil terus membaca mantera atau berdoa.

Mereka terus berdoa dan berjalan mengelilingi makam, membuat gerakan-gerakan aneh dengan tangan mereka sampai hio itu hampir terbakar habis.

Lalu mereka kembali ke depan makam, duduk membentuk lingkaran.

Pendeta mata tunggal menancapkan hio yang masih mengepulkan asap itu di atas tanah, di tengah tengah lingkaran mereka, kemudian dia membuat corat-coret aneh di sekitar benda-benda tadi dengan mulut berkemak kemik.

Tiba tiba mereka berlima menggerakkan kedua tangan ke atas, dengan jari-jari terbuka dan terdengar wanita tadi mengeluarkan jerit tertahan, karena dia merasa tubuhnya menggigil dan merasa serem sekali.

Gin San sudah duduk bersila.

Begitu melihat lima orang pendeta itu duduk membentuk lingkaran dan si pendeta mata tunggal mencorat-coret tanah, dia terkejut bukan main.

Dia sudah banyak mendengar dari mendiang gurunya tentang ilmu sihir, dan dia kini mengerti bahwa lima orang pendeta itu sedang melakukan upacara memanggil roh!

Tahulah dia apa artinya guci arak kosong ilu.

Mereka itu hendak memanggil roh dari suhu dan subonya untuk dipancing masuk ke dalam guci arak yang sudah ditempeli hu (tulisan jimat) sehingga roh itu tidak akan dapat keluar lagi, seperti keadaan orang dalam tahanan!

Maka marahlah Gin San dan dia cepat duduk bersila dan mengerahkan kekuatan batinnya.

Wanita itu hanya berdiri bengong dengan mata terbelalak.

Dia merasa ngeri tanpa nengerti apa sebabnya, tanpa mengerti apa yang sedang dilakukan mereka itu.

Dia hanya merasa betapa ada pengaruh dan hawa aneh yang membuat dia merasa serem dan menggigil.

Lima orang pendeta itu masih berdoa dengan tekun dan kedua lengan mereka yang diangkat itu tergetar keras.

Tiba-tiba terjadi keanehan.

Guci arak kosong di depan mereka, di tengah-tengah antara mereka itu tiba-tiba bergoyang-goyang!

Wanita itu membelalakkan matanya dan wajahnya menjadi agak pucat.

Guci itu bergoyang makin keras dan si pendeta mata tunggal itu sudah memegang sepotong kayu hitam sebagai penyumbat mulut guci dan sehelai kain kuning untuk membungkus guci itu.

Akan tetapi, sebelum dia sempat menutup mulut guci yang bergoyang-goyang seperti kemasukan sesuatu yang hidup itu, tiba-tiba guci itu bergerak dengan keras dan cepat, melayang dan menghantam ke arah muka pendeta mata satu!

"Ahhh""..!!"

Pendeta itu terkejut bukan main akan tetapi dia masih dapat mengelak dengan gerakan yang ringan.

Guci arak kosong itu melayang-layang dan kini guci itu mengamuk, menyerang ke arah lima orang pendeta itu!

Tentu saja para pendeta itu menjadi terkejut sekali, akan tetapi dengan mudah mereka meloncat dan mengelak, dan dari gerakan mereka itu dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi dan gerakan yang gesit sekali.

Pendeta mata tunggal itu cepat menggerak-gerakkan tangan dan mulutnya mengeluarkan suara doa yang aneh.

Agaknya dia ingin mempengaruhi guci yang tiba-tiba hidup dan mengamuk itu, akan tetapi akibat dari doanya ini, guci itu, malah menyerangnya dengan hebat sehingga dia harus berloncatan ke sana-sini dengan cepat.

"Ahhh, sudah menjadi rohpun Gan Beng Han dan Kui Eng masih ganas!"

Tiba-tiba pendeta mata tunggal itu berseru marah.

"Kita hancurkan saja mereka di sini! Hayo kalian bongkar makamnya, biar aku yang menghancurkan guci itu!"

Kakek mata tunggal ini sudah menyambar tongkatnya, akan tetapi tiba-tiba guci itu melayang ke arah Gin San!

Para pendeta itu memandang heran ketika pemuda itu mengangkat tangan kanannya menerima guci itu.

Kiranya dari kepala pemuda ini mengepul uap putih dan begitu guci itu berada di tangannya, pemuda itu mengerahkan tenaga.

"Pyarrr""..!"

Guci arak kosong itu pecah berantakan dan Gin San melemparkannya ke atas tanah!

Kini pemuda itu sudah membuka kedua matanya dan dari sepasang matanya keluar sinar berapi yang menyambar ke arah lima orang pendeta itu.

"Ah, kiranya engkau bocah lancang yang telah berani mengganggu dan mengacau pekerjaan kami?"

Kakek bermata tunggal itu berteriak marah dan bersama dengan empat orang temannya dia kini menghadapi Gin San yang juga sudah bangkit berdiri sambil tersenyum, akan tetapi matanya tetap berkilat penuh kemarahan.

"Dan kalian adalah lima orang pendeta busuk yang akan melakukan perbuatan busuk, mencoba untuk menangkap dan menyiksa roh dari suhu dan suboku? Aha, kalau tidak keliru kalian tentulah pendeta-pendeta Pek-lian-kauw, bukan? Dan kalau benar demikian, mengapa kalian hendak mengganggu ketenteraman suhu dan subo yang sudah meninggal dunia?"

Mendengar ini, wanita itu yang kini sudah tidak lagi terpengaruh hawa mujijat, melangkah mendekati Gin San dan berdiri di sebelah pemuda itu dengan perasaan sepenuhnya memihak pemuda ini.

Dan para pendeta itu kini memandang heran karena mereka tidak mengira bahwa pemuda itu adalah murid dari mendiang Gan Beng Han dan isterinya.

"Gan Beng Han dan isterinya adalah musuh-musuh kami, dan biarpun mereka telah tewas, kami hendak menghukum mereka""."

"Keparat jahanam!"

Gin San berteriak marah "Suhu dan subo adalah pendekar-pendekar budiman, tak mungkin kalian akan mampu mempermainkan roh mereka.

Di samping itu, ada aku Coa Gin San, murid mereka yang akan membela mereka!"

Tiba-tiba kakek bermata tunggal itu berteriak melengking nyaring, tongkatnya diangkat tinggi-tinggi dan mulutnya mengeluarkan suara mendesis-desis.

Kembali wanita cantik itu menjerit karena dia melihat betapa tongkat itu telah berobah menjadi seekor ular besar panjang yang meluncur dan melayang ke arah Gin San!

Akan tetapi pemuda itu memandang dengan tenang, bahkan lalu mengejek dengan ucapan nyaring.

"Pendeta siluman, permainanmu ini hanya dapat dipakai untuk menakut-nakuti anak kecil saja "

Dia lalu bertepuk tangan satu kali, akan tetapi suara tepukan tangannya itu nyaring seperti ledakan.

"Tarrrr"""!"

Wanita yang terbelalak itu melihat betapa ular yang ganas tadi seperti disambar ledakan membalik dan lenyap, berubah menjadi tongkat biasa lagi di tangan pendeta mata satu yang kelihatan terkejut.

"Panggil ular!"

Teriak pendeta mata satu itu dan tiba-tiba dia dan empat orang temannya lalu mengeluarkan masing-masing sebatang suling ular yang bulat, lalu mereka meniup lima buah suling itu.

Terdengar suara melengking panjang yang aneh.

Kembali wanita itu menjerit ketika nampak ular-ular berdatangan dari empat penjuru.

Akan tetapi segera terdengar suara lengking yang lebih tinggi dan lebih tajam, yang seolah-olah menggulung lengking lima batang suling pertama itu dan ketika wanita itu menengok, dia melihat betapa pemuda tampan tadi sudah meniup sebatang suling pula sambil duduk bersila.

Sulingnya adalah suling bambu biasa, tidak berbentuk bulat seperti suling para pendeta, namun dari suling bambo ini keluar suara yang luar biasa nyaringnya.

Dengan mata terbelalak wanita itu melihat betapa ular-ular itu bergegas pergi seperti diusir, seolah-olah tidak kuat mendengar suara lengking aneh yang menggulung suara suling yang memanggil mereka tadi.

Betapapun lima orang pendeta mengerahkan tenaga meniup suling mereka, tetap saja mereka tidak mampu lagi mengatasi suara suling yang ditiup oleh Gin San.

Dan kini terjadilah keanehan.

Suling itu suaranya makin tinggi mengalun, makin merdu dan tak lama kemudian, lima orang pendeta itu mulai menari!

Mereka menari secara aneh, seperti seekor ular berlenggang-lenggok, menggoyang-goyang pinggul seperti lima orang penari perut yang lucu.

Wanita itu memandang dengan mata terbelalak dan diapun tertawa, akan tetapi dia juga merasakan daya kuat yang mendorongnya untuk menggoyang-royang tubuh pula.

Perlahan-lahan bangkitlah dia dan tanpa dapat dicegah lagi, diapun mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya yang besar dan tentu saja gerakan tubuhnya itu mendatangkan pemandangan yang jauh lebih sedap dari pada gerakan tubuh lima orang kakek itu.

Pinggang wanita itu kecil ramping, bentuk tubuhnya indah menggairahkan maka ketika dia mulai menggoyang-goyang pinggul dan pundak, tentu saja kelihatan lembut menarik.

Melihat betapa wanita itu terpengaruh oleh suara sulingnya yang mengandung kekuatan sihir, Gin San menghentikan tiupannya dan lima orang kakek itu menjatuhkan diri terengah-engah di atas tanah.

Mereka lelah sekali karena tadi mereka telah berusaha sekuat tenaga untuk mengerahkan kekuatan melawan pengaruh itu, berbeda dengan si wanita yang tidak melawan sehingga ketika kini pengaruh itu lenyap bersama lenyapnya suara suling, wanita itu hanya terduduk dan menjadi bengong karena herannya.

Setelah pernapasan mereka pulih kembali lima orang kakek itu menjadi marah bukan main.

Tahulah si kakek mata satu bahwa pemuda itu adalah seorang ahli ilmu sihir dan jelas bahwa mereka berlima akan kalah kalau mengadu kekuatan sihir, maka kini mereka berloncatan dan sudah mengeluarkan senjata masing-masing.

Melihat ini, Gin San tersenyum dan bertanya,.

"Kalau kalian berlima benar anggauta-anggauta Pek-lian-kauw, mengapa kalian hendak mengganggu makam suhu dan subo? Setahuku, mereka tidak pernah bermusuhan dengan Pek-lian-kauw!"

Pemimpin dari rombongan pendeta itu, yang bermata satu, adalah It-gan Thian-cu, seorang tokoh Pek-lian-kauw yang terkenal sekali.

Dalam pertandingan sihir tadi saja tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang pemuda yang lihai bukan main, oleh karena itu dia tidak berani memandang rendah dan menganggapnya sebagai lawan tangguh yang patut mengenal dia dan teman temannya.

Dengan matanya yang hanya tinggal yang kanan saja, dia memandang tajam penuh perhatian sambil melintangkan tongkatnya di depan dada.

"Orang muda, ketahuilah bahwa biarpun mendiang Gan Beng Han tidak memusuhi Pek-lian kauw secara langsung, namun dia telah melakukan perbuatan jahat dengan mengerahkan pasukan pemeiintah membasmi Im yang pai. Dan karena Im-yang-pai adalah sahabat dan sekutu Pek-lian pai, maka kami datang untuk menghukum arwah Gan Beng Han bersama isterinya! Ternyata masih ada engkau yang menjadi murid mereka, maka biarlah kami menghukum engkau pula yang dapat mewakili guru-gurumu."

Mendengar ini, Gin San menarik napas panjang.

Mengertilah dia kini duduknya perkara.

Dan terbayanglah olehnya betapa sakit rasa hati para tokoh Im-yang-kauw karena perkumpulan agama itu telah terbasmi oleh pasukan pemerintah, banyak anggauta mereka tewas dan sisanya cerai-berai.

Semua itu karena salah duga belaka.

Mendiang, gurunya tentu menyerbu Im-yang-pai bersama pasukan pemerintah karena menyangka bahwa Im-yang-pai yang telah mengacau di Kuil Ban-hok-tong.

Padahal, yang melakukan hal itu dengan menyamar sebagai orang orang Im-yang-pai adalah Beng kauw perkumpulannya sendiri di mana dia kini menjadi tokoh utamanya!

Dan dalam penyerbuan itu, suhu dan subonya tewas, namun Im-yang pai juga terbasmi berantakan.

Dan kini masih saja ada rentetan peristiwa itu sehingga kuburan suhu dan subonyapun akan diganggu orang.

Biang keladinya adalah Beng-kauw!

Jadi, dialah yang harus bertanggung jawab.

Kedua fihak yang bermusuhan itu, fihak gurunya dan fihak Im-yang-pai yang kini dibantu oleh Pek-lian pai, tidak bersalah sama sekali.

Gin San menjura kepada kakek bermata satu itu.

"Peristiwa yang terjadi di lm-yang-pai itu adalah kesalah fahaman besar yang merugikan Im-yang-pai akan tetapi juga yang telah ditebus dengan nyawa oleh suhu dan subo. Oleh karena itu, sekarang saya, Coa Gin San mewakili suhu dan subo untuk menyatakan maaf dan penyesalan, harap totiang berlima suka menyampaikan kepada Im-yang-pai."

Kakek itu mendengus marah.

"Huh, aku It-gan Thian cu hanya memenuhi tugas untuk menghukum arwah musuh-musuh besar Im-yang-kauw. Kalau engkau hendak memintakan maaf, datang saja kepada ketua Im-yang pai atau ketua Im-yang-kauw dan bukan kepadaku."

Gin San mengerutkan alisnya.

"It-gan Thian-cu, aku bicara baik-baik akan tetapi kenapa engkau masih bersikap seperti musuh? Engkau boleh melakukan tugasmu, akan tetapi juga merupakan tugasku untuk melindungi makam suhu dan suboku, maka kalau engkau berani mengganggunya, engkau berlima akan berhadapan dengan aku!"

"Bocah sombong!"

It-gan Thian-cu berteriak, lalu memberi isyarat kepada empat orang temannya.

"Maju, tangkap hidup atau mati bocah ini!"

Dia sendiri sudah menyerang dengan tongkatnya, menghantamkan tongkat itu dengan pengerahan tenaganya ke arah kepala Gin San.

Di dalam perkumpulan Pek-lian-kauw, kakek bermata satu ini merupakan tokoh yang pandai dalam ilmu sihir, maka dia dan empat orang temannyalah yang bertugas untuk menghukum arwah suami isteri yang dianggap musuh besar oleh Irn-yang-kauw itu.

Akan tetapi dalam ilmu silat, It-gan Thian-cu dan teman-temannya hanya merupakan tokoh pertengahan saja walaupun kalau dibandingkan dengan orang-orang biasa mereka itu sudah merupakan orang-orang yang lihai sekali.

Melihat datangnya tongkat, Gin San hanya miringkan kepala dan menerima tongkat itu dengan pundaknya, karena dia lebih rnemperhatikan empat batang pedang dari empat orang kakek lainnya yang juga menyerangnya.

Pedang-pedang itu dapat merobek pakaiannya!

maka dia menggerakkan kaki tangan menyambut empat batang pedang itu tanpa menghiraukan tongkat yang memukul ke arah pundaknya.

"Cring-cring tranggg"".. krekkk!"

Empat batang pedang itu beterbangan ke kanan kiri dan tongkat itu patah menjadi dua ketika menghantam pundak, dan lima orang pendeta itu tahu-tahu sudah roboh terjengkang dan terpelanting ke kanan kiri!

Mereka terkejut bukan main dan wajah mereka menjadi pucat ketika mereka merangkak bangun, memandang kepada Gin San dengan mata terbelalak dan membayangkan perasaan jerih.

Kemudian mereka itu membalikkan tubuh dan pergi dari situ tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, diikuti pandang mata Gin San yang membiarkan mereka pergi, karena diapun maklum batwa para pendeta itu hanya melaksanakan tugas dan bahwa sebab-sebab dari semua permusuhan ini berada di dalam tangan Beng-kauw yang bersalah.

Akan tetapi, setelah bayangan lima orang pendeta itu lenyap, dia merasa pundaknya gatal gatal dan otomatis tangannya meraba dan menggaruk pundak.

Makin digaruk makin gatal dan dengan heran Gin San lalu menyingkap leher bajunya untuk memeriksa pundak kiri itu.

"Jangan digaruk!"

Tiba-tiba terdengar suara wanita dan baru Gin San teringat bahwa wanita cantik itu masih berada di situ.

"Jangan diraba, engkau telah terluka racun jahat! Bukankah rasanya gatal-gatal dan seperti digigiti semut dari dalam dan lehermu terasa kaku?"

Gin San terkejut.

Tentu saja dia tidak takut akan serangan racun, dan dengan sinkangnya, ia akan mampu mengusir racun itu, membakarnya dengan hawa panas.

Akan tetapi dia kagum akan ketajaman mata wanita itu yang tanpa memeriksa telah tahu benar apa yang dirasakannya, maka sambil menoleh dan memandang kepada wanita itu, dia mengangguk dan bertanya.

"Bagaimana engkau bisa tahu?"

Wanita itu tersenyum dan kembali Gin San harus mengakui babwa biarpun usia wanita ini tak muda lagi, tentu lebih dari tigapuluh tahun, akan tetapi dia masih memiliki kecantikan yang menggiurkan.

Wajah wanita itu bulat dengan dagu runcing, matanya jeli dan terutama sekali tahi lalat kecil di ujung mulut kiri membuatnya nampak manis sekali.

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 13

Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert