Ceritasilat Novel Online

Kisah Tiga Naga Sakti 5

Eps 5 Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo.

"Omitohud, sicu akan menghadapi bahaya..."., apa lagi hanya seorang diri saja. Gan-sicu, apakah tidak sebaiknya kalau kita menanti sampai besok, menanti kembalinya suheng Thian Ki Hwesio? Pinceng kira bahwa urusan penyerbuan dan pengacauan yang dilakukan oleh orang-orang itu ada hubungannya dengan upacara penyambutan benda suci sehingga dapat dianggap sebagai usaha pemberontakan terhadap perintah kaisar. Ini merupakan urusan gawat dan pemerintah tentu akan turun tangan mencari dan membasmi mereka. Sebaiknya sicu bersabar"""

Gan Beng Han adalah seorang pendekar yang tidak mau terlibat dalam urusan pemerintahan.

Dia bukan pemberontak, bukan pula membela kaisar.

Dia seorang pendekar yang hanya membela kebenaran dan selalu menentang kejahatan.

Siapapun yang merusak kebenaran dan melakukan kejahatan, baik dia itu seorang pembesar atau siapapun, tentu akan ditentangnya.

Pernah kurang lebih sepuluh tahun yang lalu ketika dia belum menikah dengan Kui Eng, sumoinya yang kini menjadi isterinya itu, dia bersama Kui Eng dan bersama mendiang Tan Bun Hong, sutenya, yaitu ayah kandung Sian Lun, menyerbu dan memusuhi Thio-thaikam, yang paling berkuasa dan berpengaruh di kota raja!

Mereka bertiga membikin geger kota raja dan tentu saja mereka dianggap pemberontak-pemberontak.

Padahal, mereka sama sekali bukan bermaksud memberontak untuk menumbangkan kekuasaan di atas atau untuk merampasnya, melainkan semata-mata karena terdorong oleh jiwa pendekar mereka, yaitu menentang yang jahat dan lalim dan membela yang lemah tertindas.

Kaisar amat lemah seperti boneka, dan kekuasaan berada di tangan Thio-thaikam yang bertindak sewenang-wenang, melakukan penindasan dan pemerasan hanya untuk mengumpulkan harta benda dan memperlihatkan kekuasaannya saja.

Demikianlah, menghadapi panyerbuan orang-orang yang diduga adalah orang-orang Im-yang-pai itu, Beng Han juga tidak mau mempertimbangkan kata-kata yang diucapkan oleh hwesio tua itu.

Dia tidak perduli akan urusan penyambutan benda suci yang diperintahkan oleh kaisar.

Dia tidak mau mencampurinya, juga tidak akan memperdulikan urusan permusuhan antara kaisar atau golongan hwesio-hwesio Buddha dengan golongan lain seperti Im-yang-pai yang beragama Im-yang-kauw.

Akan tetapi, dia akan menentang siapa saja yang telah melakukan kerusuhan di kuil itu, dan terutama sekali yang telah menculik muridnya.

"Losuhu, saya tidak bisa bersabar lagi karena hal ini menyangkut keselamatan murid saya. Saya harus cepat menyusul ke sana sekarang juga. Kalau losuhu suka membantu dan meminjamkan benda ini agar saya mempunyai bukti untuk menegur mereka, itu baik sekali. Akan tetapi kalau losuhu tidak mau membantu, tanpa bukti inipun saya akan tetap menyusul ke sana seorang diri."

Hwesio tua itu menarik napas panjang, mengulurkan tangan menerima dan mengantongi kembali benda itu.

"Gan-sicu, sicu tentu maklum bahwa pinceng akan suka sekali membantumu. Akan tetapi sicu juga tentu maklum betapa pentingnya benda ini untuk bukti bagi kami sendiri dan bagi pemerintah. Pinceng harus menyerahkan benda ini kepada suheng Thian Ki Hwesio besok, dan sebaiknya sicu menunggu sampai suheng datang, barulah sicu meminjam benda bukti ini dari suheng."

Gan Beng Han menarik napas panjang.

Dia tidak menyalahkan hwesio tua ini yang tentu membela kepentingan sendiri, yaitu kepentingan kuil itu.

Dia sendiri amat mementingkan urusan muridnya sendiri, jadi tiada bedanya dengan hwesio itu yang juga mementingkan urusan kuilnya sendiri.

Maka dia lalu mengangguk, menjura dan mengundurkan diri, pulang ke rumahnya karena dia tidak mau pergi jauh menyusul ke Im-yang-pai tanpa memberi tahu kepada isterinya.

Kui Eng yang memangku puterinya duduk di atas kursi, mendengarkan penuturan suaminya dengan penuh perhatian.

Juga Sian Lun yang duduk di atas bangku dan Ling Ling mendengarkan penuturan itu dengan mata terbelalak.

Setelah mendengar bahwa menurut bukti yang ada, penyerbuan itu dilakukan oleh kaum Im-yang-pai, Kui Eng mengerutkan alisnya dan mengepal tinju.

"Im-yang-pai? Ah, sungguh sukar untuk dipercaya! Im-yang pai adalah partai yang bersih dan memiliki banyak sekali orang pandai. Bahkan nama suhu amat dihormat di sana. Bagaimana mereka dapat melakukan kejahatan itu?"

Beng Han menarik napas panjang.

"Isteriku, harap kauingat bahwa urusan ini sesungguhnya tidak menyangkut soal kejahatan. Memang, para penyerbu itu mempergunakan kekerasan, akan tetapi pendorong perbuatan itu bukanlah untuk merampok atau untuk melakukan penganiayaan. melainkan terdapat unsur permusuhan dengan fihak yang diserbu. Betapapun juga, perbuatan mereka itu merupakan perbuatan yang curang, menggunakan kesempatan selagi lawan tidak menduga-duga melakukan penyerbuan dan pengrusakan, dan terutama sekali, menculik murid kita. Karena itu, sekarang juga aku akan mengejar ke Im-yang-pai."

"Aku ikut pergi!"

Kui Eng berkata dengan tegas.

Melihat suaminya hendak membantah, dia lalu menurunkan puterinya, bangkit berdiri, memegang lengan tangan suaminya dan memandang tajam dengan matanya yang indah, lalu berkata.

"Im-yang-pai tidak boleh dibuat main-main. Di sana sarang orang-orang yang lihai. Dan memang benar kata-katamu bahwa kita harus menolong murid kita, siapapun dan betapa lihaipun penculik penculiknya. Akan tetapi aku tidak akan membiarkan engkau pergi ke tempat berbahaya itu seorang diri saja, suamiku. Aku adalah isterimu, juga sumoimu, dan kita sudah biasa menghadapi lawan-lawan berbahaya bersama-sama, bukan?"

Gan Beng Han membalas sentuhan jari-jari tangan isterinya itu dengan penuh rasa cinta.

Dia memandang isterinya dan sejenak dua pasang mata itu saling berpandangan, melekat dan seperti saling mencumbu dengan pernyataan kasih.

Kemudian Beng Han berkata halus "Memang sebaiknya kalau kita maju bersama isteriku.

Akan tetapi, mereka ini"".

Dia memandang kepada Ling Ling dan Sian Lun.

"Ayah, ibu, aku ikut! Aku ikut mencari ji suheng!"

Ling Ling berkata.

"Ah, kaukira kami akan pergi bertamasya,"

Kata ayahnya menegur.

"Bahkan aku masih meragu untuk meninggalkan engkau dan Sian Lun berdua saja di rumah dalam keadaan sekacau sekarang ini."

"Supek dan supek-bo mempunyai keperluan penting sekali dan sute memang harus diselamatkan, oleh karena itu harap supek dan supek-bo tidak ragu-ragu untuk menolongnya. Teecu akan menjaga dan melindungi sumoi dengan mempertaruhkan nyawa teecu!"

Suami isteri itu memandang kepada Sian Lun dan sesaat mereka tertegun, karena mereka teringat kepada ayah kandang anak ini yaitu saudara seperguruan mereka, Tan Bun Hong.

Seperti Sian Lun inilah sikap dan kegagahan Bun Hong dahulu, ketika pendekar itu masihbahu-membahu dengan mereka menghadapi pembesar-pembesar jahat dan sekarang, anaknya yang menjadi murid mereka itu memperlihatkan sikap kegagahan yang sama sekali tidak memalukan untuk menjadi kebanggaan pendekar muda itu!

Timbul perasaan puas dan lega di hati mereka.

Kui Eng mengejap-ngejapkan matanya terharu karena teringat akan suhengnya, BunHong.

Dia merasa terharu dan dua titik air mata membasahi matanya, lalu dia memandang suaminya.

"Nah, ada dia di sini, dan Ling Ling juga bukan seorang anak kecil lagi. Pula, siapa sih yang akan mengganggu rumah kita? Suamiku, betapapun juga hatiku tidak akan tenang kalau melihat engkau pergi sendirian saja mendatangi Im-yang-pai di kaki Pegunungan Tai-hang-san. Aku harus menemanimu!"

Melihat sikap Sian Lun dan juga Ling Ling yang kini tidak rewel lagi dan menyatakan bahwa dia akan tinggal di rumah bersama suhengnya, akhirnya Beng Han menyetujui pendapat isterinya dan malam hari itu juga mereka berangkat meninggalkan rumah mereka, meninggalkan anak-anak mereka, meninggalkan kota Cin-an dan melakukan perjalanan menuju ke PegununganTai-hang-san untuk mengunjungi Im-yang-pai.

-------------------------------------------------------Maaf halaman 48-50 rusak tidak terbaca, -------------------------------------------------------yang menceritakan suasana Kota Cin-An dan penduduknya yang menyambut kedatangan pawai mengiringkan Joli pembawa benda suci berupa tulang jari Sang Budha yang diarak menuju Kuil Ban-hok-tong, yang sudah dibersihkan dari sisa-sisa pertempuran semalam.

Akhirnya, menjelang tengah hari, saat yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang itupun tibalah.

Mula-mula terdengar suara tambur dan canang riuh rendah dipukul orang di pintu gerbang selatan dan nampaklah pawai itu muncul di pintu gerbang.

Pawai yang megah dan panjang dan juga indah karena suasana meriah yang mengelilinginya.

Mula-mula Nampak pasukan yang berpakaian indah dan berseragam megah, berjalan dengan tombak di tangan dengan gerakan kaki yang berirama, diikuti dua pasukan, pasukan tombak dan pasukan golok besar.

Dua pasukan ini diikuti oleh rombongan hwesio dan nikouw yang berdoa sambil memegang tasbeh, kepala menunduk dan bersikap khidmat dan bibir berkemak kemik.

Di belakang rombongan hwesio dan nikouw yang jumlahnya belasan orang ini nampak rombongan yang menjadi pusat perhatian ialah sebuah joli yang dipikul oleh empat orang hwesio tua yang berjubah kuning.

Joli itu kecil saja dan tertutup tirai kuning, dari luar tidak kelihatan apa yang berada di dalamnya.

Akan tetapi semua orang telah tahu, tentu benda suci yang berupa tulang dari jari tangan Sang Buddha itulah yang ada di dalam joli.

Di belakang rombongan hwesio dan joli ini berjalan pengiring terdiri dari para pembesar dan pejabat pemerintahan yang menghormati dan menyambut benda suci itu dan mengantar di belakangnya memasuki kota.

Kemudian di belakang mereka berjalan pasukan pengawal lagi yang jumlahnya sama dengan pengawal yang tadi berjalan di depan, yaitu sekitar limapuluh orang dibagi menjadi dua pasukan yaitu pasukan tombak dan pasukan golok besar.

Para penonton menyambut dengan takjub dan penuh kegembiraan.

Mereka yang beragama Buddha sudah cepat menjatuhkan diri berlutut ketika pawai itu lewat, merangkap kedua tangan di depan dada dan menyembah, memberi hormat kepada benda suci itu.

Mereka yang tidak beragama Buddha dan yang hanya datang menonton, juga bersikap hormat, sikap yang timbul karena melihat betapa para pembesar mengiring benda suci itu dan betapa pasukan pengawal menjaganya dengan demikian ketat sehingga tentu saja benda di dalam joli itu mendatangkan kesan yang membuat orang merasa bahwa mereka berhadapan dengan benda yang harus dihormati.

Di belakang ekor pawai, yaitu pasukan pengawal, kini berbondong-bondong rakyat berjalan sehingga pawai itu menjadi makin panjang.

Mereka semua menuju ke Kuil Ban-hok-tong di mana Thian Ki Hwesio, ketua Kuil Ban-hok-tong, telah siap mengadakan penyambutan.

Hwesio tua ini tadi pagi telah mendahului rombongan datang kembali ke kuilnya, bukan hanya untuk mengatur penyambutan akan tetapi juga karena dia mendengar akan adanya penyerbuan orang-orang jahat malam hari tadi yang merusak meja sembahyang di kuilnya.

Ketua Ban-hok-tong, Thian Ki Hwesio ini, bukanlah orang sembarangan.

Selain menjadi seorang pendeta Agama Buddha yang tekun dan saleh, dan sebagai ketua kuil yang rajin bekerja demi kemajuan perkembangan agamanya juga Thian Ki Hwesio terkenal sebagai seorang ahli silat yang (Lanjut ke

Jilid 17) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 17 pandai.

Dia bersama Thian Lee Hwesio yang menjadi sutenya dan menjadi wakil kepala di kuil itu, yaitu hwesio tua yang terluka dalam pertempuran semalam, adalah murid-murid Thai-san pai tingkat tiga.

Hanya karena dua orang hwesio ini bekerja sebaga pendeta dalam kuil dan selalu menjauhkan diri dari kekerasan, tentu saja kepanda"an mereka jarang ada yang mengenalnya.

Sejak kemarin sampai malam tadi, Thian Ki Hwesio meninggalkan kuilnya untuk melakukan penyambutan kepada rombongan pembawa benda suci.

Dalam rombongan itu dia bertemu dengan seorang sucinya, yaitu Pek I Nikouw yang mempunyai tingkat lebih tinggi dari pada dia di Thai-san-pai.

Pek I Nikouw adalah tokoh tingkat dua di Thai san-pai dan terhitung sucinya yang memiliki kepandaian lebih tinggi.

Karena seperti dia, Pek I Nikouw juga menjadi seorang pendeta Buddha yang mengepalai Kuil Kwan-im-bio di luar kota An kian, maka mereka dapat bertemu dalam rombongan itu.

Ketika mendengar bahwa semalam kuilnya diserbu orang, Thian Ki Hwesio cepat men-dihului rombongan, kembali ke Kuil Ban hok-tong.

Hwesio tua ini merasa marah ketika melihat betapa sutenya dan beberapa orang hwe-sio kuilnya luka-luka, dan alisnya yang bercampur uban itu.

berkerut ketika dia mendengar penuturan Thian Lee Hwesio tentang penyerbuan itu, melihat medali baja yang menjadi tanda dari Im-yang-pai.

"Omitohud".., tidak salahkah ini?"

Thian Ki Hwesio berkata seorang diri sambil membolak-balik benda itu di atas telapak tangannya.

"Boleh jadi mereka tidak senang dengan agama kita, akan tetapi menyerbu dan mengacau? Sukar dipercaya Im-yang-pai melakukan hal securang ini"".!"

"Suheng, mereka adalah segerombalan tosu dan biarpun tidak secara terang-terangan mengaku dari Im-yang-pai, akan tetapi setelah lencana ini menunjukkan kenyataan sebagai bukti, kiranya kita tidak perlu ragu-ragu lagi. Kita harus tidak mendiamkan saja kecurangan mereka dan kita harus mendatangi Im-yang pai dan menuntut!"

Kata Thian Lee Hwesio yang masih marah mengingat akan peristiwa semalam. Thian Ki Hwesio mengangguk-angguk.

"Tentu saja. Penghinaan terhadap kuil merupakan hal yang harus kita bela dengan nyawa, sute. Akan tetapi kita menghadapi urusan besar, yaitu menyambut benda suci. Setelah itu selesai, barulah kita bicarakan hal ini dengan pembesar setempat, karena pinceng yakin bahwa penyerbuan itu ada hubungannya dengan upacara penyambutan benda suci itu."

"Benar, suheng. Memang mereka itu pantas disebut pemberontak-pemberontak yang harus dibasmi."

"Ingat, sute. Kita tidak boleh melibatkan diri dengan urusan pemberontakan. Kita hanya bergerak membela diri karena kuil kita dihina orang."

"Akan tetapi, kaisar telah memperlihatkan sikap amat baik terhadap agama kita, suheng maka hal itu amat baik bagi perkembangan agama kita. Kaisar yang beragama Buddha dan memperhatikan perkembangan agama kita haruslah kita bela dan pemberontakan terhadap pemerintah yang mendukung agama kita harus tetap dipertahankan."

Thian Ki Hwesio menarik napas panjang.

"Harap kau tidak lupa, sute, bahwa apapun keadaan dan kedudukan kita, kita tetap merupakan anak murid Thai-san-pai. Tentu sute tidak lupa akan sumpah dan janji kita sebagai murid Thai-san-pai dahulu bahwa kita tidak boleh mencampuri urusan pemerintahan, hanya berfihak kepada rakyat dan mereka yang tertindas. Sudahlah, urusan ini kita rundingkan besok setelah selesai penyambutan benda suci di kuil kita ini."

Pawai telah tiba di depan kuil.

Para pengawal berbaris rapi mengelilingi kuil dan yang memasuki pekarangan kuil hanyalah rombongan hwesio dan nikouw.

mengiringkan empat orang hwesio tua pemikul joli kuning itu.

Di depan kuil, Thian Ki Hwesio dan sutenya, juga para hwesio lain, telah menyambut sambil berlutut.

Joli itu ditujukan di atas meja yang telah dipersiapkan di depan kuil, kemudian Thian Ki Hwesio yang mengepalai penyambutan lalu memasang dupa dan memberi hormat sambil mengucapkan mantera-mantera diikuti oleh para hwesio dan nikouw lainnya.

Para pembesar yang mengiringkan tadipun diperbolehkan masuk dan kini berdiri di satu pinggiran menyaksikan upacara itu, sedangkan para penonton tetap berada di luar pagar, berjejalan untuk menyaksikan upacara.

Di antara para penonton itu terdapat dua orang bocah yang menyelinap ke depan.

Mereka ini bukan lain adalah Tan Sian Lun dan Gan Ai Ling.

Tadinya, Sian Lun hendak mencegah niat Ling Ling untuk menonton, akan tetapi anak itu terus merengek.

Apa lagi karena melihat banyak orang berbondong lewat di depan rumah mereka dan semua orang bicara tentang penyambutan benda suci, akhirnya Sian Lun tidak dapat mencegah lagi karena khawatir kalau kalau sumoinya itu akan pergi sendiri!

Dia meninggalkan pesan kepada para pelayan bahwa dia akan mengantar sumoinya nonton dan akhirnya, setelah mendengar bahwa pawai telah memasuki pintu gerbang kota, Sian Lun dan Ling Ling berangkat dan bersama banyak orang mereka menanti di depan kui.

"He, suheng, bukankah dia itu locianpwe yang menjadi guru bibi Beng Lian?"

Tiba-tiba Ling Ling berkata sambil memegang lengan suhengnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya menuding ke arah rombongan pendeta yang sedang berlutut melakukan upacara penghormatan.

Yang dituding oleh jari tangan Ling Ling adalah Pek I Nikouw!

Memang anak perempuan ini tidak salah mengenal orang.

Di dalam rombongan itu terdapat seorang nikouw tua yang berwajah ramah dan bersikap halus dan pendeta ini adalah Pek I Nikouw, enci dari Thian Ki Hwesio, Pek I Nikouw, adalah ketua dari Kuil Kwan-im-bio yang terletak di luar kota An-kian.

Dan nikouw yang menjadi tokoh Thai-san-pai tingkat dua ini menjadi guru dari Gan Beng Lian, adik perempuan Gan Beng Han yang telah menikah dengan putera Bupati Yap di kota An kian, yaitu Yap Yu Tek.

Tentu saja kini Gan Beng Lian yang telah menjadi nyonya Yap Yu Tek tinggal di rumah ayah mertuanya, sedangkan ibunya masih tinggal di dalam Kuil-Kwan-im-bio karena ibunya telah masuk menjadi nikouw, menjadi murid agama dari Pek I Nikouw, Sudah tiga kali Ling Ling diajak oleh ayah dan ibunya mengunjungi bibinya di gedung Bupati Yap, dan selain mengunjungi keluarga bibinya, juga dia diajak mengunjungi neneknya, yaitu Siok Thian Nikouw di dalam Kuil Kwan-im-bio.

Oleh karena itu, pernah dia bertemu dengan Pek I Nikouw dan kini dia mengenal nikouw tua itu di antara para pendeta yang berlutut di depan Kuil Ban-hok-tong memberi penghormatan kepada benda suci.

"Benarkah?"

Tanya Sian Lun.

"Aku belum pernah melihat guru bibi Beng Lian."

Sian Lun memang belum pernah bertemu dengan Pek I Nikouw sungguhpun dia pernah melihat adik kandung supeknya itu, yaitu Gan Beng Lian bersama suaminya ketika mereka datang berkunjung ke Cin-an.

Kini upacara sembahyang penyambutan di luar kuil telah selesai.

Thian Ki Hwesio membuka tirai joli dan mengambil keluar sebuah kotak berwarna hitam dan berukir bunga teratai, lalu mengangkat kotak itu tinggi di atas kepala.

Semua orang memandang dengan mata terbelalak dan di sana-sini terdengar bisikan bahwa itulah kotak yang berisikan benda suci!

Akan tetapi pada saat itu, terdengar bentakan nyaring sekali dan dari luar, di antara para penonton, berlompatan dua orang, tangan mereka bergerak dan beberapa sinar terang menyambar ke arah Thian Ki Hwesio!

"Omitohud""..!!"

Terdengar teriakan halus dan Pek I Nikouw sudah meloncat ke depan, kedua tangannya bergerak dan nikouw tua yang lihai ini telah dapat menangkap empat buah hui-to (pisau terbang) yang meluncur seperti kilat itu.

"Tangkap penjahat!"

"Tangkap tosu siluman!"

Thian Ki Hwesio cepat menyerahkan kotak pusaka kepada sutenya, Thian Lee Hwesio yang cepat membawa kotak itu ke dalam, sedangkan Thian Ki Hwesio sendiri sudah melompat ke depan membantu sucinya, Pek I Nikouw yang sudah bertanding melawan dua orang kakek bermuka singa yang berambut panjang.

Dua orang saikong (kakek muka singa) yang tadi melemparkan hui-to itu berjubah panjang dan mereka itu mengamuk dengan senjata mereka yang menyeramkan.

Kakek yang mukanya berwarna kuning mainkan sepasang senjata kongce (tombak pendek dengan kaitan) sedangkan kakek kedua yang bermuka brewok menggunakan senjata siang-kiam (sepasang pedang).

Keduanya memiliki gerakan yang amat cepat dan kuat sekali.

Ketika tadi ada empat orang perwira pengawal menubruk maju dengan golok mereka, dalam segebrakan saja empat orang perwira ini roboh dan tubuh mereka terlempar sehingga Pek l Nikouw berseru menyuruh mundur semua pengawal dan dia sendiri yang maju menyambut dua orang itu.

Karena dia bertugas menyambut dan mengawal benda suci, maka sekali ini, tidak seperti biasanya, Pek I Nikouw membawa pedang dan kini dia mainkan pedangnya melawan dua orang kakek sai-kong yang amat kosen itu.

Thian Ki Hwesio yang telah bersiap siaga karena semalam kuilnya dikacau orang itu, kini telah melompat dan membantu sucinya sambil berseru keras dan mainkan pedangnya.

Hwesio ini mainkan Ilmu Pedang Thai-san Kiam-hoat yang indah dan juga amat cepat gerakannya, sedangkan sucinya yang sudah memiliki tingkat lebih tinggi, mainkan Ilmu Pedang Thai-san Kiam-hoat yang sudah digubah dan ditambahnya sendiri, ilmu pedang ciptaannya yang diberi nama Ngo-lian Kiam-hoat (Ilmu Pedang Lima Teratai).

Hebat dan seru sekali pertempuran itu.

Dua orang saikong itu menjadi terkejut bukan main ketika mereka mendapat kenyataan betapa hwesio dan nikouw tua yang menyambutmereka itu amat lihai.

Sebetulnya, tingkat kepandaian mereka sendiri sudah amat tinggi dan mereka berdua tidak takut menghadapi dua orang lawan mereka, akan tetapi tempat itu penuh dengan musuh dan mereka tentu akan menghadapi pengeroyokan banyak sekali orang.

Maka mulailah mereka menjadi gentar dan mereka menggerakkan senjata-senjata mereka untuk merobohkan dua orang lawan sehingga Pek I Nikouw yang menghadapi lawan yang bersenjata sepasang kongce itu mulai terdesak.

Apa lagi Thian Ki Hwesio yang tingkat kepandaiannya lebih rendah dibandingkan denga Pek I Nikouw.

Dia mulai sibuk menghadap desakan sepasang pedang di tangan saikong brewok.

Melihat ini, para perwira pengawal dan para pendeta sudah mulai mencabut senjata masing-masing.

Akan tetapi pada saat itu terdengar seruan.

"Hei, sumoi"".. jangan"".!!"

Dan semua orang terkejut sekali ketika melihat seorang anak perempuan kecil, usianya kurang lebih delapan tahun, dengan sebatang pedang pendek di tangan kanan, telah menyerbu ke dalam gelanggang pertempuran dan langsung saja menggunakan pedang kecil itu untuk menyerang saikong bermuka kuning yang menjadi lawan dan sedang mendesak Pek I Nikouw!

Anak itu adalah Ling Ling yang tak dapat menahan hatinya melihat betapa guru bibinya terdesak.

Tadi ketika hendak berangkat, dia memang membawa pedang kecil yang biasa dipergunakannya untuk berlatih itu.

Untuk menjaga kalau-kalau terjadi keributan sehingga dia dapat menjaga diri, katanya kepada Sian Lun dan anak laki-laki ini hanya tersenyum saja tidak melarang.

Siapa kira, kini sumoinya itu menggunakan pedangnya untuk benar-benar melakukan pertempuran, padahal yang sedang bertempur adalah orang orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.

Sian Lun hendak mencegah sumoinya, namun terlambat karena Ling Ling sudah meloncat dan menyerang saikong itu.

Saikong bermuka kuning itu sedang mendesak Pek I Nikouw dengan sepasang tombak kaitannya.

Tiba-tiba dia melihat sinar menyambar ke arah paha kirinya.

Dia melirik dan terbelalak heran ketika melihat bahwa yang menyerangnya adalah seorang anak perempuan kecil yang menggunakan pedang kecil pula untuk menusuk pahanya!

Hampir dia tertawa bergelak dan kongce di tangan kirinya menangkis pedang kecil itu.

Sesungguhnya, seorang yang memiliki tingkat kepandaian seperti saikong ini tentu saja tidak perlu takut menghadapi tusukan pedang kecil yang dilakukan oleh anak sekecil itu.

Akan tetapi karena saikong itu tertarik juga menyaksikan keberanian anak ini, dia hendak mempermainkannya, hendak menangkis dengan keras agar pedang itu terlempar.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia melihat anak itu merubah gerakan pedangnya sehingga luput dari tangkisannya dan kini pedang kecil itu meluncur ke arah pusarnya!

"Ehhh""..

cringgg"".!"

Dia menangkis tusukan pedang Pek I Nikouw dengan keras sekali sehingga Pek I Nikouw merasa tangan kanannya tergetar dan meloncat mundur.

Sedangkan ketika pedang kecil itu mengenai pusarnya, saikong itu mengerahkan tenaga sinkangnya.

"Krekkk!"

Pedang kecil di tangan Ling Ling patah dan anak itu sendiri terjengkang! "Anak setan kau!"

Saikong itu yang hampir saja celaka oleh pedang Pek I Nikouw karena anak perempuan itu tadi mengalihkan perhatiannya, menjadi marah dan kaki kirinya menendang ke arah Ling Ling.

"Jangan ganggu dia!"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan Sian Lun telah menerjang maju dan menggunakan kedua lengannya untuk menangkis tendangan itu, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan sumoinya.

"Desss""!"

Tubuh Sian Lun terlempar dan terbanting jatuh bergulingan.

Akan tetapi anak ini sudah meloncat bangun lagi dan cepat meloncat, menyerang saikong itu karena melihat saikong itu kembali telah menggunakan kedua batang kongce di tangan untuk menangkis pedang Pek I Nikouw dan membalas dengan tusukan dahsyat, membuat nikouw itu mundur lagi dan saikong itu kini hendak menyerang Ling Ling dengan kemarahan meluap.

Dari belakang, Sian Lun menyerang dengan pukulan kedua tangan, ditujukan ke arah tengkuk dan punggung sambil mengerahkan seluruh tenaganya.

"Keparat!"

Saikong itu membalik dan kong-cenya menyambar ke arah kepala Sian Lun!

Akan tetapi pada saat itu, nampak sinar hitam menyambar dari atas dan tahu-tahu tubuh Sian Lun lenyap dan sambaran kongce itu luput.

"Ihhh"".!"

Saikong itu terkejut bukan main dan mengira bahwa anak itu dapat mengelak dari serangan kongcenya.

Hal ini benar-benar amat luar biasa karena tidak mungkin anak itu mengelak secara itu selagi tubuhnya melayang.

Akan tetapi ketika dia melihat ke atas, kiranya anak laki-laki itu telah berada di atas genteng, di dekat seorang Kakek tua yang tersenyum lebar dan yang menggulung sabuk hitam yang tadi dipergunakan untuk menolong anak itu!

Sementara itu, Pek I Nikouw yang melihat anak perempuan dan anak laki-laki itu membantunya, menjadi khawatir akan keselamatan anak perempuan itu, maka dia cepat meloncat, menyambar lengan anak perempuan itu, menariknya ke atas, memondongnya dan pedang di tangan kanannya siap melindunginya, sedangkan para pendeta lain dan para perwira kini sudah mulai maju untuk mengeroyok dua orang saikong lihai itu.

Hal ini menolong dan menyelamatkan Thian Ki Hwesio karena hwesio ini juga sudah terdesak hebat dan terancam bahaya maut.

Melihat ini, dua orang saikong itu lalu mengeluarkan suara melengking panjang dan agaknya itu merupakan isyarat bagi mereka karena tiba-tiba mereka lalu meloncat keluar, lenyap di antara para penonton yang sudah menjadi panik dan sudah mulai lari ke sana-sini itu.

Para pendeta mengejar, demikian pula pasukan penjaga keamanan, namun dua orang saikong itu berlari cepat sekali dan sudah lenyap di antara orang banyak.

Pada saat itu, terjadi kegaduhan di belakang kuil dan terdengar suara orang.

"Tangkap penjahat!"

"Kepung pencuri!"

"Jangan biarkan lolos! Mereka tentu teman-teman para saikong itu!"

Mendengar ini, Pek I Nikouw terkejut sekali dan cepat mengejar ke belakang, akan tetapi lebih dulu dia memandang ke atas genteng dan melihat betapa kakek aneh tadi masih duduk nongkrong di atas genteng memegangi lengan anak laki-laki tadi.

Orang itu juga tentu seorang diantara teman-teman para penyerbu, pikirnya dan tangan kiri Pek I Nikouw bergerak.

Sinar jarum-jarumnya menyambar ke arah kakek itu.

Akan tetapi kakek itu tertawa dan berkata.

"Pendeta-pendeta dan bukanpun sama saja!"

Dia hanya menggerakkan tangan melambai dan..."

Jarum-jarum itu runtuh ke atas genteng sebelum mencapai tempat dia duduk!

Kemudian, ketika Pek I Nikouw memandang, kakek itu menggerakkan tubuhnya dan lenyaplah dia di balik wuwungan bersama anak laki-laki tadi!

Pek I Nikouw terkejut dan bingung, akan tetapi karena di belakang kuil makin gaduh, dia khawatir kalau-kalau ada musuh menyerbu dari belakang, Thian Ki Hwesto sudah lari ke belakang, maka diapun cepat lari ke belakang sambil menggandeng tangan Ling Ling.

Setelah tiba di bagian belakang kuil, Pek I Nikouw disambut oleh Thian Ki Hwesio dan sepasang orang muda yang gagah, namun mereka itu terluka dan pakaian mereka berdarah.

Melihat wanita muda itu, Ling Ling melepaskan pegangan tangan Pek I Nikouw dan berseru sambil berlari menghampiri.

"Bibi""..!!"

Wanita itu adalah Beng Lian, Gan Beng Lian, pendekar wanita murid Pek I Nikouw, dan laki-laki muda di sebelahnya adalah Yap Yu Tek, suaminya yang juga merupakan seorang pendekar yang perkasa.

"Eh, kau di sini, Ling Ling""

Gan Beng Lian merangkul keponakannya, akan tetapi dia menyeringai karena pundaknya yang terluka itu terasa nyeri.

"Bibi, apa yang terjadi? Mengapa bibi terluka pundak bibi?"

Ling Ling bertanya.

"Beng Lian, bagaimana engkau dan Yu Tek dapat berada di sini dan terluka? Apa yang terjadi?"

Pek I Nikouw juga bertanya.

"Sayang, ketika pinceng datang, mereka telah kabur"".."

Kata Thian Ki Hwesio.

"Siapakah mereka? Apa yang terjadi"

Pek I Nikouw bertanya khawatir.

"Begini, subo. Teecu dan suami teecu mendengar berita bahwa malam tadi terjadi penyerbuan di Kuil Ban-hok-tong itu. Teecu berdua berpendapat bahwa tentu orang-orang jahat itu akan mengulangi lagi penyerangan mereka, maka teecu berdua cepat-cepat menyusul rombongan pengawal benda suci untuk membantu subo menghadapi orang-orang jahat. Ketika teecu berdua dapat menyusul di kota ini, rombongan telah tiba di kuil dan benar saja, teecu melihat pertempuran di depan kuil. Teecu hendak membantu, akan tetapi teecu lalu melihat gerakan dua orang nenek yang. mencurigakan di belakang kuil. Teecu berdua lalu mengejar mereka dan ternyata mereka itu hendak memasuki kuil dari belakang dan mereka telah merobohkan beberapa orang perajurit penjaga. Kami berdua lalu menyerang dan terjadilah pertempuran. Akan tetapi, dua orang nenek itu benar-benar amat lihai, subo."

"Hemm, kalian kalah dan terluka oleh mereka?"

Tanya Pek I Nikouw dengan hati khawatir.

Dia tahu bahwa muridnya ini telah mencapai tingkat tinggi dan hampir semua ilmunya telah diturunkan kepada Beng Lian, dan suami muridnya ini, Yap Yu Tek juga bukan seorang lemah dan bahkan sedikit lebih lihai dari muridnya karena pemuda ini adalah murid terkasih dari Tiong-san Lo-kai, kakek pengemis sakti yang dikenalnya dengan baik.

Akan tetapi mereka telah dikalahkan dan terluka oleh dua orang nenek itu.

"Mereka hebat sekali, locianpwe,"

Kata Yap Yu Tek.

"Kami menggunakan pedang dan mereka menghadapi kami dengan tangan kosong saja! Namun, dalam belasan jurus saja kami telah terluka oleh tamparan tangan mereka yang mengandung hawa tajam, seperti serangan senjata tajam saja. Kalau tidak cepat datang lo-suhu ini, mungkin kami berdua akan celaka."

Thian Ki Hwesio berkata.

"Omitohud""..Thian masih melindungi ji-wi enghiong yang membela kebenaran. Agaknya pinceng sendiri bukan lawan mereka, akan tetapi mereka merasa gentar ketika datang banyak orang dan mereka melarikan diri. Suci, mereka sungguh hebat dan melihat gerakan mereka, agaknya mereka tidak kalah lihai dibandingkan dengan dua orang saikong tadi."

Pek I Nikouw mengangguk-angguk lalu menghampiri Beng Lian, merobek sedikit baju di pundak muridnya dan memeriksa luka itu.

Luka itu memang hebat, seperti luka bacokan golok saja, untung tidak melukai tulang dan juga agaknya tidak beracun.

Demikian pula luka di pangkal lengan kanan yang diderita Yu Tek tidak berbahaya.

"Bibi, engkau harus menolong suheng"

Tiba-tiba Ling Ling yang memandang ke kanan kiri dan ke atas mencari-cari, berkata sambil menarik tangan bibinya.

"Suhengmu? Siapa? Mengapa dia?"

"Suheng Tan Sian Lun, tadi dia datang bersamaku, akan tetapi dia""..dia ditangkap oleh seorang kakek iblis yang berada di atas genteng. Tolonglah dia, bibi!"

"Dia telah pergi,"

Kata Pek I Nikouw.

"Kakek itu lihai bukan main, jarum-jarumku tidak mampu mendekatinya dan dia pergi bersama anak itu. Akan tetapi, pinni masih sangsi apakah dia itu kawan dari gerombolan penjahat. Betapapun, harus kita cari dia, siapa tahu masih berada di atas wuwungan"

Setelah berkata demikian, Pek I Nikouw lalu meloncat naik ke atas genteng diikuti oleh Thian Ki Hwesio.

"Kau jaga Ling Ling. Aku akan ikut mencari!"

Kata Yu Tek kepada isterinya dan diapun meloncat ke atas genteng.

Beng Lian tinggal di bawah dan mendengarkan penuturan Ling Ling tentang hilangnya murid ayah ibunya yang bernama Coa Gin San di waktu terjadi keributan di kelenteng malam tadi, dan betapa ayah bundanya pergi menyusul ke sarang Im-yang-pai yang berada di Pegunungan Thai-hang-san.

Kemudian bercerita tentang dia dan Sian Lun yang tadi melibat Pek I Nikouw terdesak sehingga mereka berdua mencoba untuk membantu nenek itu yang mengakibatkan terculiknya Sian Lun.

Mendengar penuturan itu, Beng Lian mengerutkan alisnya.

Keparat, pikirnya.

Orang-orang Im-yang-pai itu benar-benar jahat dan harus dibasmi, bukan saja memusuhi pemerintah dan Agama Buddha, akan tetapi juga menyusahkan keluarga kakaknya dan telah melukai dia dan suaminya!

Sementara itu, Pek I Nikouw yang dibantu oleh Thian Ki Hwesio, Yap Yu Tek, juga beberapa orang perwira pengawal yang berloncatan naik ke atas genteng, tidak berhasil menemukan kakek aneh yang tadi melarikan Sian Lun.

Bahkan bayangan atau jejaknya saja tidak nampak.

Setelah mencari-cari di atas genteng rumah-rumah dan tidak melihat apa-apa terpaksa mereka turun dengan hati khawatir.

"Peristiwa keributan yang terjadi berbareng dengan usaha pengacauan terhadap penyambutan benda suci ini jelas merugikan keluarga kakakku. Jangan-jangan mereka itu adalah musuh-musuh kakak Beng Han,"

Kara Beng Lian "Pinni kira tidak demikian,"

Kata Pek I Nikouw menjawab kata-kata muridnya.

"Yang jelas, mereka itu memang menentang pawai untuk menghormati benda suci, dengan kata lain, mereka itu menentang dan memusuhi Agama Buddha. Adapun kedua orang anak murid dan keponakan, Gan sicu terjadi karena kebetulan saja, karena anak-anak itu berani melawan mereka dan mencoba menggagalkan usaha mereka."

Luka-luka di pundak Beng Lian dan pangkal lengan Yu Tek tidak berbahaya.

Setelah diobati, Beng Lian lalu mengantarkan Ling Ling pulang.

Anak itu tidak menangis, akan tetapi-wajahnya pucat dan dia selalu merasa gelisah kalau mengingat akan dua orang suhengnya yang lenyap.

Karena Ling Ling tidak ada temannya, maka Beng Lian dan suaminya bermalam di rumah kakaknya yang ditinggal pergi oleh penghuninya itu.

Juga Pek I Nikouw setelah menyelesaikan urusannya di Kuil Ban-hok-tong, lalu menyusul ke rumah Gan Beng Han di mana mereka bertiga mengadakan perundingan sendiri.

"Fihak musuh itu amat lihai,"

Antara lain Pek I Nikouw berkata.

"Dua orang saikong tadi saja sudah memiliki kepandaian amat tinggi dan pinni sendiri bersama sute Thian Ki Hhwesio hanya mampu mengimbangi mereka. Dua orang wanita tua yang menghadapi kalian itu, melihat betapa dengan tangan kosong saja mereka menghadapi pedang kalian dan membuat kalian terluka, kiranya memiliki kepandaian yang tidak kalah lihainya dari dua orang saikong itu. Menurut sute Thian Ki Hwesio pembesar setempat yang telah melaporkan hal itu ke kota raja, bermaksud mengirim pasukan untuk menyerbu Im-yang pai. Pinni dan sute akan memperkuat pasukan itu, juga mewakili agama untuk minta pertanggungan jawab fihak Im-yang-pai, kalau memang benar mereka yang melakukan penyerangan itu. Akan tetapi pinni masih sangsi apakah kami akan berhasil, apakah cukup kuat"".."

"Locianpwe, bagaimana kalau teecu mohon bantuan suhu?"

"Si tua Tiong-san Lo-kai?"

Nikouw itu berseru dengan wajah terang.

"Ah, benar! Sebaiknya begitu, dan kalau dia mau membantu pinni, tentu kedudukan kami akan jauh lebih kuat. Akan tetapi suhumu itu adalah seorang yang wataknya aneh, pinni meragukan apakah dia akan suka membantu. Biasanya, dia itu hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri belaka, biar melihat muridnya terluka dan isteri muridnya juga terluka, kalau dia sendiri tidak tersangkut langsung, mana dia mau""

"Ha-ha-ha, nikouw tua! Engkau sudah tahu aku berada di sini dan sengaja membakar hatiku! Benar-benar sudah menjadi nikouw masih saja cerdik!"

"Suhu"".!"

Yu Tek berseru kaget dan girang ketika melihat seorang kakek berpakaian tambal-tambalan tiba tiba muncul di ruangan rumah itu.

"Locianpwe""..!"

Beng Lian juga cepat maju berlutut di samping suaminya. Pek I Nikouw tersenyum memandang kakek Itu.

"Pinni tidak membakar hati siapapnn, akan tetapi tidak benarkah demikian pendapat pinni? Kalau tidak benar, biarlah pinni minta maaf kepadamu, Lo-kai, dan sebelumnya pinni mengucapkan terima kasih atas bantuanmu menjernihkan persoalan dengan Im-yang-pai ini."

Tiong-san Lo-kai dipersilakan duduk.

Kakek ini menarik napas panjang.

Tiong-san Lo-kai adalah seorang kakek sakti yang suka berkelana, dan akhirnya dia bertapa di Pegunungan Tiong-san sehingga dia memperoleh julukan Tiong-san Lo-kai (Pengemis Tua dari Tiong-san).

Dia adalah guru dari Yap Yu Tek dan ketika dia mendengar tentang pawai yang mengawal benda suci, seperti orang-orang kang-ouw lainnya yang tertarik akan peristiwa ini, dia lalu turun gunung dan menonton.

Ketika mendengar bahwa arak-arakan itu telah tiba di kota Cin-an, dia cepat menyusul dan pada hari itu dia mendengar akan keributan yang baru saja terjadi di Kuil Ban-hok-tong.

Dia cepat pula mengunjungi kuil itu dan melihat muridnya, isteri muridnya, dan Pek I Nikouw memasuki sebuah rumah.

Dia cepat membayangi mereka dan mendengarkan percakapan mereka, lalu muncul setelah muridnya dan Pek I Nikouw menyinggung-nyinggung dan menyebut namanya.

Tentu saja Pek I Nikouw yang bermata tajam dan berpendengaran peka itu lebih dulu telah dapat melihat tempat persembunyiannya maka nikouw itu sengaja mengeluarkan kata-kata menyindir.

"Pek I Nikouw, yang kauhadapi adalah urusan yang amat besar dan berbahaya. Siapa yang tidak mengenal Im-yang-pai di Tai-hang-san? Siapa yang tidak mengenal Kok Beng Thiancu, tokoh kawakan dari Im-yang-pai? Siapa pula tidak mendengar nama Kim-sim Nio-cu, puterinya yang kini menjadi kauwcu (ketua agama) dari Im-yang-kauw? Harap kau jangan main-main, Pek I Nikouw."

"Lo-kai, siapa yang main-main? Adalah Im-yang-pai yang telah berani main gila! Menghina dan mencoba untuk mengacau upacara suci dari Agama Buddha! Apakah agama kami kalah besar dibandingkan dengan Im-yang-pai? Engkau tahu bahwa lm-yang-pai dibandingkan dengan Hud-kauw hanya sekuku hitamnya saja. Namun mereka berani main-main mengganggu kami! Pinni tahu bahwa Im-yang-kauw mempunyai banyak tokoh pandai akan tetapi demi agama, pinni siap untuk mempertaruhkan nyawa pinni!"

"Ha-ha-ha, sungguh mengherankan mendengar suara keras dari seorang seperti engkau yang selalu menjadi abdi dari Dewi Welas Asih Kwan Im Pouwsat! Bukankah biasanya, untuk menolong sesama manusia, engkau bersedia mempertaruhkan nyawa pula? Kenapa sekarang berubah menjadi keras?"

"Lo-kai, kalau ada urusan menyangkut diri pinni sendiri, pinni akan mengalah dan tidak akan menggunakan kekerasan. Akan tetapi kalau agama yang diganggu, siapapun adanya mereka yang mengganggu, akan pinni lawan!"

Tiong-san Lo-kai menghela napas panjang.

"Hemm, kalian orang-orang yang mengabdi agama memang selalu begitu"".."

"Dan jangan lupa bahwa perbuatan Im-yang-pai itu bukan hanya menghina agama kami, akan tetapi juga merupakan pemberontakan terhadap pemerintah! Upacara pawai ini adalah kehendak kaisar, kehendak pemerintah, bukan urusan agama kami semata, akan. tetapi mereka itu berani datang mengacau, berarti mereka telah melakukan pemberontakan! Ini adalah urusan besar, Lo-kai, akan tetapi karena pinni tahu betapa kuatnya Im-yang-pai dan sebelum pemerintah turun tangan, sebelum golongan atas dari agama kami turun tangan, kami sendiri merupakan tenaga yang amat terbatas, maka pinni mengharapkan bantuanmu, mengingat akan persahahatan kita dan mengingat pula bahwa engkau selalu siap untuk menentang kejahatan."

Kakek itu tersenyum lebar.

"Menghadapi uraianmu itu, siapa yang dapat menolak, Pek I Nikouw. Baiklah, aku akan membantu, akan tetapi jangan mengira bahwa aku membantu demi pemerintah atau demi agamamu, melainkan karena aku melihat bahwa Im-yang-pai memang keterlaluan, mengandalkan kekuatan sendiri mengacaukan fihak lain."

Mereka lalu mengadakan perundingan dan karena Beng Lian dan Yu Tek terluka, biarpun ringan, sedangkan Ling Ling juga perlu dilindungi dalam keadaan yang sedang gawat itu, maka suami isteri muda ini tidak ikut, bahkan lalu mengajak Ling Ling ke An-kian setelah meninggalkan pesan kepada para pelayan di rumah kakaknya itu.

Dan pada keesokan harinya, datanglah pasukan besar yang terdiri dari tigaratus orang langsung datang dari markas di perbatasan propinsi atas perintah dari kota raja, dipimpin oleh beberapa orang panglima perang yang kuat dan disertai pula perintah yang diperkuat dengan tanda kekuasaan dari kaisar untuk menangkap para pimpinan Im-yang-pai di Tai-hang-san!

Tentu saja hati Pek 1 Nikouw menjadi besar dan lega.

Dengan pasukan besar yang kuat ini dia akan dapat menekan Im-yang-pai.

Maka setelah membereskan urusan pengawalan benda suci ke kota raja, berangkatlah pasukan itu menuju ke Tai-hang-san, dipimpin oleh panglima dari kota raja dan diperkuat oleh Pek I Nikouw, Thian Ki Hwesio, dan kakek jembel sakti Tiong-san Lo Ke manakah perginya Sian Lun?

Siapakah kakek aneh yang tahu-tahu berada di atas genteng itu?

Dia seorang kakek yang usianya tentu sudah tujuhpuluh tahun lebih, tubuhnya kurus pakaiannya sederhana dan tingginya sedang saja Kalau dilihat sepintas lalu, pasti tidak ada orang yang akan menyangka bahwa dia seorang manusia luar biasa.

Wajahnya seperti kakek-kakek tua renta biasa saja, rambutnya yang jarang itu sudah banyak putihnya, demikianpun alisnya, kumisnya dan jenggotnya sudah banyak ubannya.

Wajahnya agak kehitaman terlalu banyak dibakar panas matahari, seperti wajah kakek-kakek petani yang banyak bekerja di ladang dan membiarkan dirinya mandi cahaya matahari sepanjang hari.

Hanya bedanya, kalau wajah kakek kakek biasa selalu penuh dengan keriput-keriput tanda banyak mengalami ketegangan batin di waktu hidupnya, wajah kakek ini masih halus dan berseri seperti wajah orang muda, terutama sekali sinar matanya demikian tajam, hidup dan bersinar-sinar mengandung kegembiraan dan gairah hidup, seperti juga mulutnya yang selalu tersenyum penuh pengertian dan kesabaran di samping ketenangan wajah itu.

Orang akan menyangka bahwa dia adalah seorang kakek petani atau kakek nelayan yang hidup sederhana.

Pakaiannya biasa saja dan terbuat dari bahan yang kasar dan murah, hany"

Bajunya mempunyai kantong-kantong yang besat dan lebar, seperti juga lengan bajunya yang lebar seperti baju hwesio.

Rambutnya digelung sembarangan ke atas dan diikat dengan kain kuning, sedangkan warna pakaiannya juga ke kuning kuningan, entah memang berwarna kuning ataukah warna putih yang sudah menguning.

Sepatunya juga sepatu tua yang masih kuat.

Ketika Sian Lun terancam bahaya dan diserang oleh seorang di antara dua saikong itu dan agaknya tidak ada jalan keluar bagi anak itu yang terancam maut, tiba-tiba saja dia disambar oleh sinar hitam dan terangkat naik ke atas genteng.

Sinar hitam itu adalah sabuk panjang berwarna biru, sabuk yang dipakai oleh kakek tua renta itu dan dipergunakan untuk menyelamatkan Sian Lun.

Biarpun Sian Lun masih kecil dan dia terkejut setengah mati ketika tahu-tahu pinggangnya disambar oleh sinar hitam dan tubuhnya tahu-tahu meluncur ke atas genteng, namun dia adalah keponakan dan murid suami isteri pendekar dan dia tahu bahwa kakek aneh ini telah menyelamatkannya.

Dia menengok dan melihat kakek yang sederhana itu tersenyum kepadanya, Karena dia duduk di atas genteng yang miring, maka dia tidak berani banyak bergerak, hanys membungkuk dan berkata.

"Locianpwe, teecu menghaturkan terima kasih atas pertolongan locianpwe yang telah menyelamatkan teecu. dari bahaya."

Kakek itu tertawa, matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri dan dia memandang wajah anak itu dengan penuh selidik, penuh perhatian dan penuh kagum.

"Kau anak baik, hemm, siapakah namamu?"

"Nama teecu Tan Sian Lun""

Dan harap Locianpwe suka menurunkan teecu lagi karena teecu harus menolong sumoi dan"".."

"Anak perempuan itu sumoimu? Ah, jangan khawatir, dia telah ditolong oleh nikouw lihai itu."

Sian Lun menengok dan melihat bahwa Ling Ling memang sudah dipondong oleh Pek I Nikouw dan kini para hwesio dan para perwira telah mulai maju hendak mengepung dan mengeroyok dua orang saikong yang mengamuk.

"Teecu harus turun tangan untuk membantu!"

Kembali Sian Lun berkata, akan tetapi ketika dia hendak bergerak, dia merasa betapa tubuhnya tidak mampu bergerak, padahal kakek itu hanya menaruh tangan di pundaknya secara halus.

"Anak yang baik, mengandalkan keberanian tanpa memakai perhitungan bukanlah perbuatan gagah namanya, melainkan suatu ketololan belaka! Tenagamu sama sekali tidak dibutuhkan di bawah itu. Pula, mereka itu adalah manusia-manusia boneka yang bukan menjadi manusia lagi melainkan menjadi boneka dan alat dari agama dan kepercayaan masing-masing. Apakah engkau hendak ikut-ikut, engkau yang masih bersih dan wajar ini?"

Sian Lun terkejut ketika mendapat kenyataan bahwa tubuhnya sama sekali tidak mampu bergerak, dan kini dia heran mendengar kata-kata itu.

Dia tidak mengerti, maka dia lalu memandang wajah itu.

Kagetlah dia melihat dua mata yang mencorong seperti mata naga dalam dongeng, yang membuatnya silau sehingga dia cepat mengalihkan pandang matanya ke bawah, lalu dia bertanya.

"Apa maksud locianpwe?"

"Ha-ha-ha, engkau ingin tahu? Anak yang baik, melihat sepak terjangmu tadi, aku tahu bahwa engkaulah anak yang pantas untuk menjadi pewaris semua ilmu yang pernah kupelajari, maka aku merasa sayang melihat engkau hampir tewas oleh ancaman saikong itu. Engkau ingin tahu apa yang kumaksudkan dengan kata-kataku tadi? Marilah kau ikut bersamaku dan engkau akan tahu lebih banyak lagi."

Sian Lun mengerutkan alisnya.

"Akan terapi"".."

Dia teringat bahwa dia adalah murid dari paman guru dan bibi gurunya.

Akan tetapi peristiwa yang dilihatnya tadi membuat dia sadar bahwa tingkat kepandaian paman guru dan bibi gurunya itu sebenarnya belum berapa tinggi.

Padahal tadinya dia menganggap bahwa kepandaian mereka yang juga menjadi guru-gurunya itu sudah tak dapat diukur lagi tingginya.

Kini, dia melihat sendiri betapa Pek I Nikouw, yang kabarnya adalah guru dari adik kandung supeknya, yang menurut supeknya memiliki kepandaian yang tinggi sekali, ternyata terdesak oleh saikong itu!

Dan juga para tosu yang menyerbu kuil malam tadipun berkepandaian tinggi sehingga supeknya menyatakan kekhawatirannya dan berkata betapa lihainya orang-orang Im-yang-pai.

Dan kini, dia telah diselamatkan oleh seorang kakek yang luar biasa pula.

Betapa banyaknya orang pandai di dunia ini dan ternyata jelas olehnya bahwa tingkat kepandaian suami isteri yang menjadi guru-gurunya itu belum tergolong tingkat yang tinggi.

Tentu saja dia tidak bisa begitu saja meninggalkan guru-gurunya dan ikut bersama kakek yang belum dia kenal ini, akan tetapi ada pula keinginan menyelinap di dalam hatinya untuk menjadi orang yang pandai, yang kelak akan dapat menghadapi orang-orang jahat seperti para pengacau itu.

Pada saat itu, Pek I Nikouw yang telah gagal merobohkan atau menangkap dua orang saikong yang melarikan diri, menyerang kakek di atas genteng itu dengan jarum-jarumnya yang biasanya amat lihai dan sukar untuk dihindarkan oleh lawan yang lihai sekalipun.

Akan tetapi, kakek ini dengan amat mudah menggerakkan tangan dan Sian Lun merasa ada hawa pukulan dahsyat menyambar ke depan dan meruntuhkan jarum-jarum itu.

Kemudian, sebelum dia tahu apa yang terjadi, tiba-tiba saja tubuhnya sudah meluncur cepat dari atas genteng itu seolah-olah dia telah diterbangkan oleh angin yang dahsyat!

"Locianpwe, harap berhenti"".."

Sian Lun berkata terengah-engah karena angin membuat dia sukar bernapas.

Dia berseru demikian ketika melihat betapa dia sudah meluncur sampai keluar dari kota Cin-an, melalui dinding tembok kota yang sunyi karena semua orang agaknya pergi menonton penyambutan benda suci di Kuil Ban-hok-tong itu.

Kakek itu berhenti dan melepaskan Sian Lun setelah dia meloncat turun ke atas tanah di luar tembok kota.

Sian Lun lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu yang berdiri sambil tersenyum, sedikitpun tidak kelihatan lelah padahal kakek itu tadi telah berloncatan seperti terbang saja cepatnya.

"Locianpwe, harap locianpwe maafkan teecu, akan tetapi tidak mungkin teecu dapat ikut pergi bersama locianpwe."

"Hemm, mengapa tidak dapat? Engkau berbakat dan engkau penuh semangat, engkau berwatak pemberani dan tidak suka melihat kejahatan. Apa engkau tidak suka mempelajar ilmu-ilmu tinggi untuk memperlengkapi dirimu menjadi seorang pendekar?"

"Bukan demikian, locianpwe. Teecu akan berterima kasih apabila locianpwe sudi membimbing teecu. Akan tetapi, teecu tidak mungkin berani meninggalkan rumah supek dan su-pek-bo begitu saja. Mereka adalah guru-guru teecu, juga pengganti orang tua teecu, dan mereka kini sedang pergi, teecu diharuskan melindungi sumoi dan""."

"Sumoimu sudah aman di tangan nikow itu Dan siapakah guru-gurumu itu? Apakah mereka lebih hebat dari pada nikouw itu?"

"Tidak""

Tidak selihai Pek I Nikouw, akan tetapi""..

mana berani teecu pergi begitu saja tanpa pamit?

Hendaknya locianpwe ketahui bahwa sejak bayi teecu telah dirawat oleh mereka sehingga boleh dibilang teecu adalah anak mereka pula."

Kakek itu mengangguk-angguk.

"Bagus! Engkau mengenal budi dan engkau berbakti. Akan tetapi lepas dari semua itu, jawablah apakah engkau suka menjadi muridku?"

Sian Lun memang amat kagum kepada kakek ini.

Ketika menolong dia, ketika meruntuhkan jarum-jarum Pek I Nikouw, ketika membawanya lari keluar kota, semua itu membuktikan bahwa kakek ini benar-benar memiliki kesaktian hebat, tidak kalah oleh Pek I Nikouw dan tentu saja jauh lebih lihai dari paman dan bibi gurunya!

Tentu saja dia akan suka sekali menjadi murid kakek ini, maka dia menjawab sejujurnya.

"Teecu suka sekali, akan tetapi teecu harus bertanya dulu dan minta perkenan dari supek dan supek-bo."

"Hemm, katakan siapa nama mereka dan di mana mereka tinggal?"

"Mereka tinggal di kota Cin-an itu, locianpwe. Nama supek adalah Can Beng Han Supek-bo adalah sumoinya dan mereka adalah nurid-murid dari sukong Lui Sian Lojin""."

"Ahhh""..?? Ha ha ha, kiranya engkau cucu murid dari Lui Sian Lojin yang bertapa di puncak Kwi-hoa-san. Ha ha-ha, sungguh aneh, sungguh kebetulan sekali. Kiranya masih segolongan sendiri. Kau tahu siapa Lui Sian Lojin? Dia adalah murid keponakanku."

Sian Lun terkejut setengah mati mendengar ini, Dia sendiri belum pernah melihat Lui Sian Lojin kakek gurunya itu yang oleh supek dan supek-bonya dikabarkan sebagai seorang manusia setengah dewa yang tinggi sekali ilmunya.

Akan tetapi, ternyata sukongnya itu malah murid keponakan dari kakek ini.

Dengan demikian, kakek ini adalah kakek buyut gurunya!

Maka dia cepat memberi hormat dan menyentuh tanah di depan kakek itu dengan dahinya.

"Sucouw""..!"

Katanya.

"Ha-ha-ha, mulai sekarang engkau adalah muridku dan engkau menyebut suhu kepadaku. Ketahuilah, Sian Lun, bahwa selama hidupku baru sekarang ini aku menerima murid. Suhengkupun hanya mempunyai seorang murid yaitu Lui Sian Lojin itulah. Jangan khawatir, aku akan memberi tahu kepada Gan Beng Han dan isterinya bahwa engkau kuajak pergi untuk belajar ilmu."

"Bagaimana caranya? Supek dan supek-bo sedang pergi""."

Kata Sian Lun sangsi. Kakek itu menoleh ke kanan kiri dan melihat sebatang pohon besar di tepi jalan.

"Kau-nantilah aku di bawah pohon itu sebentar, jangan pergi kemanapun sebelum aku kembali. Aku akan meninggalkan pesan di rumah supekmu."

"Baik, suhu"".."

Kata Sian Lun dengan agak kikuk karena ia harus menyebut guru kepada kakek buyut itu.

Setelah melihat anak itu duduk di bawah pohon, kakek itu lalu berjalan pergi kembali ke arah kota Cin-an.

Dia kelihatan berjalan, akan tetapi tubuhnya berkelebat dan dalam sekejap mata saja lenyaplah bayangan kakek itu dari depan Sian Lun, membuat anak ini menjadi bengong saking heran dan kagumnya.

Makin terkejut dan heranlah hati Sian Lun ketika tak lama kemudian, bayangan kakek itu sudah berkelebat datang dan tahu-tahu telah berdiri di depannya sambil tersenyum.

"Ha-ha mereka tidak akan terkejut dan marah kepadamu kalau pulang dan melihat suratku di atas meja dalam kamar mereka."

Hampir Sian Lun tidak dapat percaya bahwa waktu yang amat singkat itu dapat dipergunakan oleh kakek ini untuk pergi pulang pergi ke rumah supeknya dan meninggalkan surat dalam kamar supeknya itu.

Agaknya kakek itu dapat melihat keraguan di hati Sian Lun.

Dia tersenyum dan berkata.

"Sian Lun, kelak engkau akan tahu bahwa apa yang telah kulakukan ini bukan apa-apa dan tidak perlu dibuat heran. Ketahuilah bahwa ada berita baik mengenai sumoimu. Sumoimu itu telah dibawa pergi oleh bibinya ke kota An-kian dalam keadaan selamat.""

"Bibinya""..? Locianpwe"".. eh, suhu maksudkan bibi Gan Beng Lian?"

"Benar, aku melihat mereka semua di sana, Sumoimu itu, Pek I Nikouw, bibi sumoimu yang katanya adalah murid Pek I Nikouw, suaminya, dan aku melihat wajah yang kukenal baik, searang pendekar jembel yang amat baik, yang berjuluk Tiong-san Lo-kai. Sumoimu akan dibawa pergi ke An-kian dalam perlindungan bibi dan pamannya, sedangkan Pek I Nikouw bersama Tiong-san Lo-kai akan membantu pasukan yang akan menyerbu Im-yang-pai. Ha-ha-orang-orang gila itu sungguh hanya akan membikin kacau dunia saja dengan segala dendam dan permusuhan mereka."

Sian Lun makin terkejut.

"Jadi suhu"..bertemu dan bicara dengan mereka tentang teecu?"

Kakek itu menggeleng kepalanya.

"Tidak aku tidak mengganggu mereka. Melihat mereka sedang asyik berunding, aku diam-diam memasuki kamar paman gurumu dan meninggalkan sedikit catatan bahwa engkau ikut pergi bersamaku."

Sian Lun makin kagum.

Bukan hanya kecepatan suhunya ini luar biasa, akan tetapi juga suhunya telah dapat memasuki kamar supeknya tanpa diketahui orang, padahal di rumah itu terdapat demikian banyaknya orang lihai.

Hal ini saja sudah membuktikan betapa kakek ini benar-benar amat luar biasa.

Memang kakek itu bukanlah orang sembarangan.

Dia adalah seorang sakti yang tidak mau menonjolkan namanya di dunia kang-ouw.

Berbeda dengan suhengnya yang berjuluk Bu eng Lo-jin (Orang Tua Tanpa Bayangan), yang membuat nama besar di dunia kang-ouw dan baru setelah tua sekali Bu-eng Lo-jin mengundurkan diri bertapa di Kwi-hoa-san dimana dia mengambil seorang murid yang kemudian mewarisi kepandaiannya dan rnenjadi pendekar terkenal pula, yang setelah berusia enampuluh tahun juga menjadi pertapa di puncak Kwi-hoa-san, yaitu Lui Sian Lojin.

Kakek ini selalu menyembunyikan diri hidup di kalangan rakyat jelata yang miskin, kadang-kadang dia hidup sebagai seorang petani di pegunungan, hidup tenteram dan tenang penuh kedamaian, bergulat dengan tanah dan air, bergembira dengan tanam-tanaman.

Ada kalanya dia hidup sebagai seorang nelayan, bergurau dengan alunan ombak lautan, mengadu nasib dengan ikan-ikan dan hidup serba sederhana lahir batin.

Kakek ini adalah sute dari Bu-eng Lo-jin dan tetap memakai namanya sendiri, nama kecil yang diberikan oleh ayah bundanya kepadanya, yaitu Siangkoan Lee.

Hanya setelah tua, dia dikenal orang sebagai Siangkoan Lojin (Orang tua she Siangkoan) saja, dan selama hidupnya dia tidak pernah mau menikah.

Ilmu kepandaian Bu-eng Lo-jin amat hebat sehingga muridnya, Lui Sian Lojin juga kemudian menjadi tokoh kang-ouw yang disegani.

Akan tetapi, kepandaian sutenya ini sebenarnya lebih hebat dari pada suhengnya, terutama sekali ilmu ginkangnya yang setingkat lebih tinggi dari kepandaian suhengnya itu.

Akan tetapi, karena melihat betapa ilmu silat hanya menambah kekerasan, permusuhan dan perkelahian, kakek ini sebegitu jauh belum pernah mengambil murid, sungguhpun dia tidak pernah lalai melatih dirinya, bahkan dia telah menciptakan beberapa macam ilmu silat yang hebat.

Dia memperdalam ilmu silatnya sama sekali bukan dengan pikiran akan mencari permusuhan.

Sampai dia menjadi tua, belum pernah dia bermusuhan dengan siapapun juga, bahkan tidak ada orang kang-ouw yang mengenal namanya.

Dia selalu menjauhkan diri apabila menghadapi kekerasan, dan selalu mengalah dan menjauhi fihak yang menggunakan kekerasan.

Dia memperdalam ilmunya karena memang dia suka sekali akan ilmu ini.

Akan tetapi, setelah pada suatu hari dia tertimpa penyakit dan nyaris mati oleh penyakitnya itu, mulai dia teringat bahwa semua ilmu yang dipelajarinya dengan segala ketekunan dan jerih payah selama puluhan tahun itu akan hilang begitu saja terbawa mati olehnya!

Mulailah dia melihat bahwa ilmu silat, seperti juga ilmu-ilmu apapun di dunia ini, tidaklah buruk dan tidak pula baik.

Ilmu adalah ilmu, dan seperti juga segala apa di dunia ini, ilmu merupakan pelengkap kehidupan manusia, diadakan untuk keperluan manusia.

Baik atau buruknya ilmu apapun bukan ditentukan oleh ilmu itu sendiri yang merupakan barang mati, melainkan ditentukan oleh orangnya yang menguasainya.

Demikian pula dengan ilmu silat.

Sebagai alat menyehatkan tubuh, sebagai olah raga, sebagai kesenian, sebagai pelindung dari ancaman bahaya terhadap tubuh, ilmu silat merupakan ilmu yang amat baik untuk dipelajari.

Tubuh yang sehat kuat setidaknya membawa kebaikan dan keuntungan pula bagi batin, dan demikian pula sebaliknya.

Tentu saja ilmu silat akan kehilangan kebaikannya dan akan menjadi ilmu yang amat kotor dan jahat kalau dipergunakan untuk melakukan kekerasan, penindasan, dan penganiayaan terhadap sesama, dipergunakan sebagai alat untuk mencapai kekuasaan dan keuntungan bagi diri pribadi.

Seperti juga dengan segala macam benda pelengkap kehidupan manusia di dunia ini.

Setelah sadar akan hal ini, mulailah Siangkoan Lojin membuka mata dan mencari-cari calon murid.

Tidaklah mudah memilih calon murid ini karena selain anak atau orang itu harus berbakat, diapun harus mempunyai rasa suka akan ilmu silat di samping batin yang bersih dan jiwa yang penuh semangat, nyali yang besar dan tulang yang baik.

Secara kebetulan, dia menemukan Sian Lun di Kuil Ban-hok-tong yang sedang dilanda keributan itu.

Dia menyelamatkan anak itu dan setelah dia rnemegang tubuh anak itu, melihat sikap dan watak Sian Lun, seketika dia merasa bahwa anak inilah yang patut mewarisi kepandaiannya!

Dan hatinya bertambah gembira ketika dia mendengar bahwa supek dari anak ini adalah murid dari Lui Sian Lojin, murid keponakannya sendiri!

Dengan demikian, anak yang telah mulai terdidik ilmu silat itu adalah "sealiran"

Dengan dia sendiri! "Kalau boleh teecu mengetahui"".. siapakah suhu, siapakah nama suhu selain sebagai susiok (paman guru) dari sukong Lui Sian Lojin?"

Kakek itu tersenyum lebar dan Sian Lun yang memandang wajah suhunya itu melihat betapa semua gigi dalam mulut itu telah lenyap.

Mulut itu tanpa gigi, seperti mulut bayi!

"Ha-ha, apakah artinya nama?

Nama hanya memisah-misahkan manusia belaka, dan nama julukan hanya membuat kepala kemasukan angin dan menjadi menggembung seperti karet, mudah meledak!

Akan tetapi, engkau perlu juga mengenal siapa gurumu ini, Sian Lun.

Namaku Siangkoan Lee, nama yang sudah terlupa orang bahkan hampir kulupakan sendiri karena tak pernah disebut-sebut lagi.

Nama usang lapuk yang sudah tidak ada gunanya lagi.

Kalau orang tidak memiliki hak milik apapun, tidak memiliki keluarga, apa pula arti dan gunanya sebuah nama?

Ada orang-orang dusun, para petani dan nelayan yang menyebutku Siangkoan Lojin.

Heh-heh, kau kecewa bukan bahwa gurumu tidak berjuluk Seng-jin atau Sian-jin, atau Sian-su?"

"Teecu bodoh dan ucapan suhu belum dapat teecu mengerti, maka teecu mohon petunjuk, suhu. Orang bilang bahwa harimau mati meninggalkan belulang, manusia mati meninggalkan nama. Bukankah hal itu menjadi bukti bahwa nama amatlah penting sehingga kita perlu menjaganya dengan baik sehingga kalau kita mati kelak, nama kita masih akan dipuji-puji sebagai nama yang terhormat dan berharga?"

"Ha-ha-ha-ha!"

Kakek itu tertawa bergelak sambil memegangi perutnya. Kemudian setelah ketawanya mereda, dia berkata.

"Betapa jelasnya nampak keserakahan manusia. Ucapanmu itu merupakan penyakit umum yang diderita oleh manusia di seluruh dunia, muridku. Manusia melihat betapa dirinya itu kosong, betapa hidup ini hampa, sehingga manusia meraba-raba mencari pegangan, mencari-cari sesuatu yang dianggapnya kekal abadi karena melihat bahwa sebagai manusia hidup mereka tidak abadi. Dan satu di antara obat yang mereka pergunakan adalah nama itulah, dalam usaha mereka agar hidup terus, biar hanya nama! Orangnya boleh mati, akan tetapi namanya harus hidup terus, hidup dengan terhormat. Manusia tidak lagi berusaha untuk mengerti hidup, untuk mengisi hidup, melainkan selalu berusaha untuk mementingkan diri sendiri, sejak hidup sampai mati. Bahkan setelah mati pun ingin menjadi yang terhormat! Gila hormat, mabok kesenangan, serakah, penuh dendam dan benci, penuh iri hati dan persaingan, itulah manusia! Sampai matipun telah diaturnya, tanah yang baik, kuburan yang baik untuk mayatnya, lalu tempat yang baik untuk yang dinamakan arwahnya, dan tempat terhormat untuk namanya. Wah-wah, berabe!"

Sian Lun menjadi bingung.

Tentu saja anak berusia sepuluh tahun ini masih belum dapat menangkap apa yang dimaksudkan oleh kakek itu.

Semenjak kecil Sian Lun mempelajari kebudayaan dan peradaban dari kitab-kitab yang mengajarkan tata susila, sopan santun, kegagahan dan jiwa pahlawan, contoh contoh yang dianggap sebagai terhormat dan mulia dalam pergaulan masyarakat.

Kini dia mendengar hal-hal yang dikemukakan oleh suhunya itu sebagai hal-hal yang amat berlawanan dengan apa yang selama ini dibacanya, maka tentu saja dia terkejut dan bingung.

Namun, ada sesuatu di dalam hatinya yang terbuka, yang membuat dia dapat melihat kenyataan dan tidak dapat membantah kebenaran apa yang dikemukakan oleh suhunya itu dan dia terheran-heran!

Demikianlah, semenjak saat itu, Sian Lun ikut gurunya merantau, ke gunung-gunung, ke hutan-hutan, ke tepi-tepi laut, hidup sebagai petani, sebagai nelayan bahkan kadang-kadang sebagai pengemis, bebas merdeka seperti burung di udara, dan setiap waktu terluang dipergunakan untuk berlatih ilmu silat.

Dia diharuskan mulai lagi dari permulaan, diajarkan dasar-dasar ilmu silat, pasangan kuda-kuda, langkah-langkah kaki, melatih otot-tot dan pernapasan, mengumpulkan hawa murni dan melatih sinkang Semua petunjuk suhunya ditaatinya dan memang anak ini amat rajin sehingga suhunya merasa puas sekali sungguhpun hal itu tidak pernah diutarakannya, baik melalui ucapan atau melalui sikapnya yang acuh tak acuh.

Im-yang-pai merupakan sebuah perkumpulan yang besar dan pusat mereka yang berada di lereng Pegunungan Tai-hang-san juga amat luas.

Sebenarnya, perkumpulan itu didirikan oleh para pemeluk Agama Im-yang-kauw, suatu agama tua yang tidak berapa banyak pengikutnya.

Akan tetapi karena agama itu erat sekali hubungannya dengan ilmu kebatinan dan ilmu silat, maka perkumpulan itu menjadi sebuah perkumpulan yang amat kuat dan di dalamnya terdapat tokoh-tokoh berilmu tinggi yang sekaligus juga menjadi tokoh-tokoh Agama Im-yang-kauw.

(Lanjut ke

Jilid 18) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 18 Bangunan-bangunan besar yang dikelilingi dinding yang berwarna putih dan tinggi sudah nampak dari kaki Gunung Tai-hang-san, merupakan kompleks kuil yang amat luas, memiliki perkebunan sayur sendiri, bangunan-bangunan untuk para anggautanya, pendeknya merupakan semacam perkampungan besar di mana tinggal tidak kurang dari seratus orang anggauta Im-yang-pai.

Memang banyak pula para penganut Im-yang-kauw yang tidak masuk menjadi anggauta Im-yang-pai, yaitu mereka yang tidak suka akan ilmu silat, karena Im-yang-pai adalah perkumpulan dari ahli-ahli silat di mana diajarkan Ilmu-ilmu silat yang khas dari Im-yang-pai.

Im-yang-kauw adalah satu di antara aliran-aliran kebatinan yang banyak terdapat di Tiongkok, sebadai peninggalan jaman dahulu, di jaman Kerajaan Han (abad ke dua dan pertama sebelum Masehi).

Sesungguhnya, aliran-aliran itu merupakan perpecahan-perpecahan dari agama-agama besar seperti Agama Hud-kauw (Buddhisme), Kong-hu-cu (Confucianisme), Taoisme dan agama-agama yang datang dari See-thian (negara barat, yaitu India).

Perpecahan-perpecahan ini menjadi banyak, sampai belasan macam yang membentuk aliran-aliran sendiri sesuai dengan selera kepentingan mereka.

Akan tetapi yang terbesar adalah enam macam aliran, yang merupakan perpecahan dari agama-agama besar Buddhisme, Confucianisme, dan Taoisme, yaitu; Aliran kebatinan atau Agama Ju yang sesungguhnya adalah penerus pelajaran-pelajaran dari Nabi Khong Cu.

Aliran ini mendukung adanya kekuasaan feodal, menganggap kaisar sebagai Cinbeng Thian-cu (Putera Tuhan) dan segi-segi kehidupan diatur dengan lee (aturan) yang dijiwai dengan jin (perikemanusiaan) dan gi (keadilan).

Inilah aliran pertama.

Aliran ke dua menamakan dirinya aliran Mo yang menganggap Mo Ti sebagai nabinya.

Aliran ini menganjurkan cinta kasih antar manusia dan menggantungkan segala kepada nasib karena mereka percaya bahwa segala sesuatu telah ditentukan oleh Langit atau Tuhan.

Mereka menentang segala macam pesta dan upacara yang memboroskan, menentang perang kecuali kalau untuk mempertahankan diri.

Mereka adalah penganjur-penganjur apa yang mereka namakan cinta semesta.

Aliran ke tiga adalah aliran kebatinan Tao yang menganggap Lo-cu sebagai nabinya.

Aliran ini menganjurkan penyatuan diri manusia dengan Tao (Jalan) yang sukar diartikan secara jelas karena memang "tidak dapat diuraikan"

Menurut faham mereka.

Tao yang menggerakkan segala-galanya, maka faham Tao ini menentang segala usaha manusia yang dianggap merusak dan menyelewengkan pengaruh dan daya kerja Tao!

Aliran Tao inilah yang banyak dimasuki segala macam ilmu kebatinan dari yang klenik sampai yang dianggap setinggi-tingginya, banyak mempunyai pertapa-pertapa dan banyak pula menciptakan bermacam-macam latihan samadhi, yoga dan pernapasan Banyak ilmu silat bercampur dengan ilmu kebatinan dari aliran Tao ini sehingga melahirkan jagoan-jagoan ilmu silat yang memiliki kepandaian amat hebat dan mentakjubkan.

Aliran ke empat adalah aliran Beng (Ming).

Aliran ini pandai memainkan kata-kata, dan kadang-kadang memiliki pelajaran yang aneh-aneh, yang menjurus ke arah klenik dan sihir.

Sudah terkenal sejak dahulu betapa dalam aliran Beng ini terdapit ucapun "kuda hitam bukanlah kuda".

"anjing putih adalah hiram".

"kura-kura lebih panjang dari pada ular", dan sebagainya lagi yang membingungkan pendengarnya. Akan tetapi, akhir-akhir ini para pengikutnya banyak yang menyeleweng dan memenuhi golongan sesat di dunia kang-ouw, sungguhpun harus diakui bahwa mereka itu banyak yang lihai sekali. Aliran ke lima adalah aliran Hoat, aliran yang mendasarkan kebudayaan dengan mencontoh raja-raja bijaksana di jaman dahulu. Aliran ini mementingkan Hoat (hukum) yang harus diterapkan kepada semua manusia tanpa pengecualian. Aliran ini sangat keras terhadap semua anggautanya yang harus tunduk kepada hukum-hukum yang telah ditentukan. Lebih baik kehilangan kaki tangan, atau bahkan nyawa sekalipun dari pada harus melanggar hukum yang telah ditentukan dan telah disetujui sendiri! Aliran ini banyak yang menjadi panglima-panglima perang dan mereka benar-benar amat menjunjung disiplin, taat, dan keras. Kemudian aliran ke enam adalah aliran Im Yang! Aliran inilah yang kemudian menjadi Im yang-kauw. Aliran Im Yang ini mulai muncul antara abad ke empat dan awal abad ke tiga sebelum Masehi, dipeluk dan diikuti oleh orang-orang vang memiliki kecerdasan tinggi karena mengandung filsafat yang pelik dan rumit. Garis besar pelajaran dari aliran Im-yang-kauw ini adalah bahwa segala isi semesta, baik yang nampak maupun yang tidak adalah hasil perpaduan dari dua unsur berlawanan yang disebut Im dan Yang. Tanpa adanya unsur Im Yang tidak akan ada bentuk apapun di dunia ini. Untuk memudahkan para pelajarnya, maka Im Yang digambarkan sebagai lingkaran bundar yang dibagi dua, yang hitam adalah Im dan yang putih adalah Yang. Seperti inilah gambar itu. Seluruh semesta ini terjadi karena pengaruh Im Yang. Luasnya pengaruh Im Yang sampai memenuhi angkasa dengan semua bintangnya, juga menyusup sampai ke dalam kehidupan seekor semut atau kutu yang tak nampak oleh mata. Kekuasaan Im Yang dapat pula dikenal dalam diri manusia, bahkan menurut kepercayaan mereka, tubuh manusia adalah jagad kecil yang terkenal dengan sebutan Jim Sin It Siauw Thian Te (Manusia adalah Gambar dari Bumi Langit ). Oleh karena yang rnengatur keseimbangan kehidupan adalah unsur Im Yang, maka apabila Im Yang di dalam tubuh kita tidak selaras, kita jatuh sakit. Apabila Im Yang yang menguasai alam tidak selaras, timbullah berbagai malapetaka dan bencana alam. Segala sesuatu akan binasa tanpa perputaran Im Yang. Demikian besar kekuasan Im Yang ini sehingga di dalam kitab Ya Keng yang diciptakan oleh Nabi Khong Cu terdapat pernyataan, It Im It Yang Wi Ci To (Satu Im dan satu Yang itulah yang boleh disebut To). Kaum penganut Im-yang-kauw mempelajari tentang ilmu alam dan mereka mendapatkan kenyataan tentang Ngo-heng (Lima Anasir-Elemen) yang mereka bagi-bagi menjadi ke lompok Swi (air), Ho (Api), Bhok (Kayu), Kim (Logam) dan Thio (Tanah). Dari penyelidikan mereka tentang Im Yang dan Ngo-heng miaka terciptalah ilmu-ilmu yang mujijat, ilmu yang hendak membuka tabir rahasia alam. Jalannya kekuasaan dan ketertiban alam, peredaran bintang-bintang, bahkan dari pengetahuan itu mereka dapat pula menciptakan ilmu pengobatan yang amat luar biasa karena berdasarkan keyakinan bahwa kesehatan manusia merupakan ketertiban yang diantar oleh perimbangan Im Yang dan dihidupkan oleh Ngo-heng, karena unsur unsur Ngo-heng itu saling membinasakan (untuk pengobatan) dan saling menghidupkan (untuk menjaga kesehatan). Akan terlalu panjanglah kalau mau diuraikan tentang Im Yang dan Ngo-heng, sama panjangnya kalau kita bicara tentang kekuasaan dan rahasia yang meliputi seluruh alam dan isinya. Demikianlah sekedar penjelasan tentang aliran-aliran yang ada pada waktu dahulu. Im-yang-kauw makin lama makin berkembang dan karena Im-yang-kauw merupakan aliran yang suka mempelajari ilmu alam dan ilmu pengobatan, maka di situ terdapat banyak orang pandai dan akhirnya dibentuklah suatu perkumpulan yang dinamakan Im-yang-pai dan yang berpusat di Pegunungan Tai-hang-san itu. Pada waktu itu, Im-yang-pai di Tai-hang-san dipimpin oleh Kok Beng Thiancu, seorang tokoh yang terkenal sekali karena kabarnya memiliki ilmu kepandaian yang amal lihai. Akan tetapi tokoh besar ini tidak pernah memperlihatkan diri, tidak pernah muncul di dunia kang-ouw sehingga biarpun namanya besar, namun jarang ada orang yang pernah melihatnya. Orang ke dua di Im-yang-pai yang amat terkenal, bahkan lebih terkenal dari pada ketua Im-yang-pai itu sendiri adalah Kim-sim Niocu, puteri atau anak tunggal dari Kok Beng Thiancu. Kim-sim Niocu ini, yang kabarnya amat cantik seperti bidadari, baru-baru ini telah diangkat menjadi kauwcu (ketua agama) dari Im-yang-kauw! Bahkan ada kabar angin yang mengatakan bahwa Kim-sim Niocu memiliki kelihaian melebihi ayahnya, karena selain ilmu-ilmu silat yang amat lihai dari Im yang-kauw, juga Kim-sim Niocu ini pandai sekali dengan ilmu pengobatan dan juga ilmu sihir! Juga kabarnya dia ahli ilmu perbintangan, ilmu meramal dan segala macam ilmu mujijat lagi yang memang banyak dianut dan dipelajari oleh orang-orang Im-yang-kauw. Pada waktu itu, pelajaran Im-yang-kauw sudah jauh sekali menyeleweng dari pada garis asalnya. Kini agama itu, seperti juga hampir semua agama di dunia ini, lebih mengutamakan duniawi, sepentingan diri pribadi dan kepentingan golongan, dari pada kepentingan pelajaran tentang hidup dan menghayati pelajaran itu di dalam kehidupan. Betapa menyedihkan kenyataan tentang agama ini di dalam dunia kita, di antara manusia seperti yang dapat kita saksikan sekarang ini! Betapa manusia saling bertengkar, saling membenci, saling bermusuhan karena agama! Bahkan betapa manusia sampai tega untuk saling membunuh demi agama! Sungguh merupakan suatu kenyataan yang amat pahit. Agama apapun juga melarang kita untuk membenci, melarang kita bermusuhan, namun demi agama kita saling benci, saling bermusuhan dan saling bunuh! Sesungguhnya, semua agama di dunia ini adalah untuk manusia, akan tetapi kenyataannya sekarang ini, manusia sudah merosot sedemikian rendahnya sehingga tidak ada harganya lagi sehingga sekarang keadaannya menjadi terbalik, bukan agama untuk manusia melainkan manusia untuk agama! Demi agama, manusia saling bunuh! Mengapa demikian? Karena manusia tidak mau mengenal diri sendiri, karena manusia hanya memandang agama, bukan memandang manusia, karena faktor manusia dilupakan, karena bukan manusia lagi yang penting melainkan agama! Demikian pula dengan harta benda, kedudukan, politik dan sebagainya. Manusianya menjadi tidak penting. Politiklah yang penting, partailah yang penting kedudukanlah atau hartalah yang penting. Kalau sudah begitu, manusia saling bermusuhan saling bunuh untuk memperebutkan kemenangan politik, partai, kelompok, ras, bangsa, kedudukan dan harta, atau juga memperebutkan kemenangan dan "kebenaran"

Agama masing masing Kok Beng Thiancu memaklumi bahwa perkumpulannya kini merupakan perkumpulan yang cukup besar dan berpengaruh, bukan untuk faham dan kepercayaan mereka, melainkan untuk tingkat ilmu kepandaian silat mereka dan juga sikap para anggautanya yang selalu menjaga diri agar berdiri di golongan putih kaum pendekar.

Oleh karena itu, Kok Beng Thiancu yang menyadari akan kelemahan manusia, maklum bahwa kepandaian dapat menyeret manusia ke jurang kesesatan, apalagi mengingat bahwa Im-yang-pai lebih merupakan perkumpulan silat dari pada perkumpulan agama, lalu mengadakan peraturan yang amat keras terhadap para anggautanya.

Setiap orang anggautanya, dari tingkat empat ke atas harus selalu membawa sebuah lencana Im-yang-pai sebagai tanda pengenal diri sehingga di manapun anggauta itu berada, kalau dia melakukan perbuatan yang melanggar hukum Im-yang-pai, tentu akan dikenal orang dan akan dapat dihukum oleh perkumpulan.

Hari itu sunyi saja di lereng Tai-hang-san.

Perkumpulan Im-yang-pai nampak sunyi biarpun matahari telah naik tinggi.

Dan memang para anggauta Im-yang-pai yang berpakaian seperti tosu itu suka akan keadaan sunyi dan hening sehingga di tempat itu jarang terdengar kegaduhan, kecuali kalau mereka sedang berlatih ilmu silat.

Bahkan para anak buah tingkat rendah yang bertugas jaga di sekitar tembok perkampungan mereka itu, bukan berdiri memegang tombak atau senjata lain seperti umumnya penjaga, melainkan mereka duduk bersila dan bersamadhi untuk melatih pernapasan atau melatih sinkang!

Namun, mereka yang duduk bersamadhi dalam penjagaan ini sesungguhnya memusatkan perhatian kepada sekeliling tempat itu sehingga jangan mengira bahwa mereka itu tidur nyenyak dan jangan coba-coba untuk berani menyelinap masuk karena pasti akan diketahui oleh mereka.

Memang banyak di antara anak buah dan tokoh-tokoh Im-yang-pai yang tidak berada di situ, pergi keluar daerah untuk berbagai urusan, baik urusan perkumpulan maupun urusan pribadi.

Kesunyian lereng Gunung Tai-hang-san itu terasa sekali oleh suami isteri pendekar yang mempergunakan ilmu berlari cepat mereka mendaki lereng.

Mereka adalah Gan Beng Han dan Kui Eng, suami isteri pendekar dari Cin an yang mendatangi Im-yang-pai untuk mencari murid mereka yang hilang terculik, yaitu Coa Gin San.

Dilihat dari jauh, suami isteri ini gagah perkasa dan amat mengagumkan.

Gan Beng Han yang sudah berusia tigapuluh tahun itu masih nampak muda perkasa dan gagah, tahi lalat kecil di tengah dahinya menambah kegagahan, pakaiannya sederhana ringkas.

Pedangnya tergantung di punggung sebagaimana biasa pendekar melakukan perjalanan jauh, sepasang matanya yang bersinar tajam itu kini penuh pengertian dan jelas mengandung kesabaran dan ketenangan, juga dalam langkahnya yang panjang-panjang dan cepat itu membayangkan ketenangan seorang pendekar yang matang.

Kui Eng, isterinya yang dua tahun lebih muda dari suaminya itu, masih nampak cantik jelila seperti seorang gadis saja, dengan pakaian yang rapi.

Gelang di lengan kiri dan hiasan rambut merupakan satu-satunya perhiasan yang menempel di tubuh.

Pedangnya juga tergantung di punggung dan pandang matanya tajam bersinar-sinar membayangkan kelincahan, langkahnya pendek-pendek namun cepat sekali sehingga kedua kakinya sukar diikuti pandangan mata saking cepatnya.

"Isteriku, harap kau berhati-hati dan jangan memperlihatkan permusuhan sebelum kita tahu betul apakah benar Gin San mereka culik,"

Kata Beng Han.

"Baiklah, biar engkau saja yang membuka percakapan dengan mereka,"

Isterinya menjawab.

Gerakan mereka cepat sekali dan akhirnya mereka tiba di pintu gerbang tembok perkampungan Im-yang-pai.

Di atas pintu itu tergantung sebuah papan putih yang ditulisi dengan huruf-huruf berwarna hitam dan di tengah-tengahnya terdapat gambaran lingkaran bundar simbul Im Yang, dan tiga huruf besar hitam itu berbunyi; IM YANG PAI.

Biarpun sederhana saja gambar dan tulisan itu, persis seperti gambar yang terlukis dan tertulis pada lencana yang pernah dilihat oleh Beng Han di Kuil Ban-hok-tong, namun papan nama itu menimbulkan wibawa yang menyeramkan.

Ketika Beng Han dan Kui Eng melihat seorang laki-laki berusia limapuluh tahun lebih, duduk bersila di tengah-tengah pintu gerbang, di atas batu datar, bersila sambil meletakkan kedua tangan di depan dada, yang kanan di atas dan yang kiri di bawah, dengan sikap seperti kedua tangan itu sedang membawa sesuatu, yang di atas menelungkup dan yang di bawah terlentang, suami isteri itu berhenti dan memandang.

Kakek itu sedang Samadhi dan kedudukankedua tangan itu melambangkan kedudukan Im Yang.

Kedua matanya terpejam dan napasnya teratur rapi, Beng Han memberi isyarat kepada isterinya lalu dia melangkah maju, menjura dan berkata dengan sikap hormat.

"Saya Gan Beng Han bersama isteri, datang dari kota Cin-an mohon bertemu dengan pangcu dari Im-yang-pai!"

Karena penjaga itu bersamadhi hanya untuk melewatkan waktu sedangkan perhatiannya tidak pernah terlepas dari penjagaan, dia segera membuka mata.

Sebelum tamu itu tadi membuka suarapun dia sudah tahu akan kedatangan pria dan wanita gagah ini.

Cepat dia merobah kedudukan kedua tangan.

Dengan tubuh masih duduk bersila, kini kedua tangannya dirangkap di depan dada sebagai tanda menghormat, lalu dia berkata.

"Siancai, harap ji-wi tidak terlalu sungkan karena saya hanyalah seorang penjaga biasa, seorang anggauta tingkat enam yang rendah."

"Lo-enghiong adalah seorang tua, sudah sepatutnya menerima penghormatan kami yang muda. Tentang tingkat, kami kira itu tidak menjadi ukuran untuk penghormatan seseorang. Tiba-tiba penjaga itu tertawa bergelak dan suami isteri itu terkejut. Dari suara ketawa ini saja mereka tahu bahwa yang bersila di situ bukanlah orang sembarangan, suara ketawanya nyaring dan mengandung getaran yang amat kuat, tanda bahwa orang ini telah memiliki, khikang yang kuat. Dan orang ini mengaku, tingkat enam? Kalau yang tingkat enam selihai ini, apa lagi yang tingkat tiga, dua atau satu! "Ha-ha-ha, manusia haruslah bersikap sesuai dengan tingkat masing-masing, kalau tidak demikian, mana mungkin ada ketertiban? Taihiap dan lihiap, ji-wi adalah orang-orang gagah sejati, silakan masuk saja, jangan sungkan-sungkan. Nanti akan ada saudara yang mengantar ji-wi sampai ke tempat pangcu. Silakan!"

Dengan kedua tangan, orang itu mempersilakan dengan hormat dan sambil membungkuk.

Beng Han dan isterinya lalu memasuki pintu gerbang, agak membungkuk ketika melewati kakek itu.

Ketika mereka memasuki pintu gerbang, ternyata di sebelah dalam pintu gerbang itu terdapat sebuah perkampungan yang luas, dengan jalan-jalan yang lebar dan bangunan bangunan besar kecil di sana-sini.

Banyak terdapat orang-orang yang hilir mudik, berpakaian sederhana seperti tosu, akan tetapi mereka semua berjalan dengan tenang dan agaknya tidak ada seorangpun yang memperhatikan suami isteri ini.

Gan Beng Han dan Kui Eng merasa terasing.

Baik sikap dan pakaian mereka jelas berbeda dengan semua orang yang hilir mudik dan lalu-lalang di dalam perkampungan itu.

Mereka itu terdiri dari laki-laki dan perempuan, ada yang tua dan ada yang muda, akan tetapi pakaian mereka rata-rata sederhana seperti pakaian tosu, ada yang putih-putih, ada yang kuning-kuning akan tetapi kesemuanya amat sederhnna.

Benar-benar perkampungan yang merupakan biara besar di mana orang-orang hidup sebagai pertapa-pertapa.

Akan tetapi jelas bahwa mereka itu juga bekerja, karena ada yang memikul alat pertanian, alat tukang kayu, bahkan ada yang memikul rabuk dan hasil-hasil sawah ladang, ada pula yang menggembala kerbau, agaknya hendak digiring keluar dari perkampungan.

Wajah mereka serius dan pendiam, dan kalaupun ada yang bercakap-cakap, maka percakapan itu dilakukan dengan lirih.

Sebuah perkampungan yang benar-benar penuh rahasia dan juga menyeramkan bagi suami isteri itu.

Beng Han dan Kui Eng merasa bingung karena tidak melihat adanya penyambut.

Untuk bertanya kepada orang, mereka juga merasa segan karena mereka itu demikian pendiam nampaknya, dan tidak perdulian.

Tiba-tiba mereka mendengar suara ketawa merdu seorang wanita dari sebelah kiri.

Mereka cepat menengok dan di sebelah kiri itu terdapat sebuah rumah besar dan nampak searang gadis sedang berada di pekarangan rumah itu.

Entah apa yang sedang dikerjakan, oleh gadis itu, akan tetapi gadis itu berlutut dan memandang ke depannya, di mana terdapat sebuah kotak.

Kelihatannya riang sekali dan kadang-kadang dia bertepuk tangan dan tertawa.

Melihat sikap wajar seorang manusia biasa, bukan manusia-manusia dengan wajah seperti arca yang lalu-lalang itu, seketika hati Beng Han dan Kui Eng tertarik.

Gadis itu jelas merupakan orang lumrah, orang awam biasa saja seperti mereka, dapat tertawa dan dapat bergembira.

Maka tanpa ragu-ragu lagi mereka lalu melangkah menghampiri dan memasuki pekarangan rumah itu.

Namun, diam-diam hati Ku Eng merasa tidak enak ketika melihat betapa gadis itu ternyata sudah dewasa, tentu sedikitnya sudah duapuluh tahun usianya, dengan tubuh yang padat dan penuh lekuk lengkung menggairahkan, wajah yang cantik sekali dengan kulit yang halus putih, hanya anehnya, gadis yang sudah dewasa itu seperti anak kecil saja, bermain-main seorang diri sambil terkekeh dan kadang-kadang bergembira, sendirian saja seperti orang yang miring otaknya!

Melihat gadis itu bergembira seperti itu, dengan mata ditujukan ke dalam kotak hitam, kedua tangan saling remas seperi orang tegang, mulutnya juga berkata penuh semangat.

"Hayo. gigit kakinya, gigit kepalanya"".. ah, tolol""., awas serangan ekornya, bodoh benar!"

Saking tertarik oleh sikap penuh semangat ini, Beng Han dan Kui Eng tidak berani mengganggu, malah mereka lalu menjenguk ke dalam kotak hitam.

Kiranya gadis cantik, itu sedang mengadu dua binatang yang sedang berkelahi dengan amat seru dan mati-matian.

Dua ekor binatang itu adalah seekor kalajengking besar dan seekor kadal besar.

Mereka dikurung di dalam kotak hitam, tidak mampu keluar dan dipaksa untuk saling berhadapan di dalam tempat sempit itu.

Dan di sudut kotak hitam itu terdapat setumpuk tahi kerbau yang masih basah dan lunak.

Perkelahian itu memang menarik sekali.

Kalajengking yang kehitaman itu berdiri dengan gagah, dengan kaki terpentang di kanan kiri, capit yang dua buah itu siap untuk mencapit lawan dari depan, akan tetapi yang lebih gagah lagi, ekornya diangkat ke atas, melengkung ke depan dengan ujung siap untuk menyengat.

Kelihatan ujung sengatnya yang coklat kemerahan, melengkung ke atas terhias bulu bulu halus yang menyeramkan.

Beng Han mengenal kala jengking seperti ini, semacam binatang yang amat berbisa dan sengatannya dapat mematikan seorang manusia!

Akan tetapi kadal itupun agaknya sudah nekat.

Kadal adalah sebangsa binatang yang biasanya penakut dan lebih condong melarikan diri kalau bertemu lawan dari pada melawan.

Akan tetapi, di tempat sempit itu dia dipaksa antuk berhadapan dengan lawan, maka dia pun mulai marah dan nekat.

Karena tubuhnya lebih besar dan mulutnya terbuka lebar penuh gigi kecil-kecil meruncing, kadal ini seperti memandang rendah lawannya.

Dengan gerakannya yang amat cekatan, seperti seekor ular karena memang dia sebangsa ular berkaki empat, kadal itu menubruk ke depan dan membuka mulut menggigit untuk kesekian kalinya, tidak memperdulikan capitan kalajengking itu yang mengenai pinggir mulutnya.

Akan tetapi, sebelum gigi-giginya menghancurkan kepala kalajengking itu, seperti yang telah berkali-kali dilakukan dan diusahakannya, ekor kalajengking yang melengkung dari atas itu telah menyengat kepalanya.

"Cruttt"".!"

Kadal itu melepaskan gigitannya, mundur-mundur dan menggoyang-goyang kepalanya, seperti setan arak yang sedang mabok, terus mundur dan tiba-tiba dia memasukkan kepalanya ke dalam tumpukan tahi kerbau yang lunak basah dan dingin sejuk itu.

"Nyessss"".!"

Sejenak dia membenamkan kepalanya ke dalam tahi kerbau itu, agaknya nerasakan kenikmatannya, kemudian dicabutnya kepalanya itu dan dia sudah menjadi segar kembali!

Entah sudah beberapa kali dia tadi menggigit, disengat dan membenamkan kepala di dalam tahi kerbau sampai kepalanya menjadi kehijauan berlepotan tahi kerbau, akan tetapi juga kepala dan perut kalajengking itu sudah mulai luka-luka.

Pertandingan dilanjutkan dan kadal yang tidak melihat jalan lari itu memberanikan diri maju lagi.

"Capp!"

Kadal menggigit.

"Cusss!"

Kalajengking menyengat.

"Nyesss!"

Kadal membenamkan kepala di dalam tahi kerbau lagi.

"Wah, kau tolol! Kenapa membiarkan kepalamu menjadi bulan-bulanan sengatan kala-jengking?"

Gadis itu mengomel.

"Lama-lama kepalamu akan meledak karena keracunan!"

"Dan kau, sungguh menjijikkan, kau curang, menyengat dengan cara bersembunyi, menyembunyikan ekor di belakang dan menyengat dari atas. Curang menjijikkan, sungguhpun jurusmu itu hebat dan boleh ditiru! Tidak adil ini, kau harus menggunakan capitmu dan tidak boleh menyerang dari belakang!"

Gadis itu lalu mengambil kalajengking itu dengan tangan kiri.

Hampir saja Beng Han berteriak mencegah.

Dia sudah mengenal kalajengking jenis itu yang amat berbahaya.

Sekali menyengat, nyawa gadis ini dapat direnggut Akan tetapi Kui Eng memberi isyarat agar dia jangan mencampuri.

Suami isteri itu hanya memandang saja.

Akan tetapi, ketika kalajengking itu menggerakkan ekornya untuk menyengat jari tangan yang memegangnya, dengan tenang gadis iti lalu menggunakan kuku jarinya, jari telunjuk dan ibu jari, untuk mematahkan ujung ekor yang mengandung sengat itu.

"Krekk!"

Ekor itu patah ujungnya dan gadis itu lalu melemparkan kalajengking kembali ke dalam kotak hitam! Melihat ini, Kui Eng menjadi marah. Gadis itu kejam bukan main! "Curang! Kejam!"

Tak terasa lagi nyonya muda ini berseru.

Kui Eng adalah seorang pendekar wanita yang semenjak muda menjadi pembela keadilan.

Melihat pertarungan antara kalajengking dan kadal, dia sebetulnya sudah berfihak kepada kalajengking yang termasuk binatang yang lebih kecil dan dia tahu, kalau tidak diserang, tidak mungkin kalajengking itu menyerang kadal.

Binatang kalajengking bukanlah binatang buas.

Sengatnya yang berbahaya itu hanya dipergunakan kalau keselamatan dirinya terancam.

Manusiapun tidak mungkin disengat kalajengking kalau dia tidak menganggunya, baik disengaja maupun tidak.

Kalau terinjak atau tertimpa, barulah kalajengking menggunakan sengatnya Tidak ada kalajengking yang tanpa sebab menyerang manusia atau binatang lain.

Maka, fihak yang tidak besalah dan lebih kecil itu kini dipatahkan sengatnya, satu-satunya senjatanya pelindung diri, tentu saja Kui Eng menjadi marah.

Akan tetapi gadis itu tidak memperdulikan, bahkan mengangkat mukapun tidak dan dia sudah melihat lagi ke dalam kotak hitam.

Kini kadal itu menyerang lagi dan si kalajengking juga memapaki dengan capitannya, kemudian ekornya melengkung dan menyengat.

Akan tetapi karena ujung ekornya sudah patah, sengatnya telah lenyap, maka ekornya itu hanya menyentuh-nyentuh kepala kadal seperti membelai saja.

Gigitan kadal makin hebat dan akhirnya badan kalajengking menjadi terkoyak-koyak dan dimakan oleh si kadal!

"Ihh, keji!"

Kembali Kui Eng berseru sebelum suaminya dapat mencegah.

Wanita muda itu kini mengangkat muka memandang, Kui Eng terkejut.

Gadis itu memang cantik bukan main, cantik manis, akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan sinar aneh dan tajam seperti kilat menyambar, seperti ada sinar berapi yang panas dan yang langsung menembus dada menjenguk isi hati!

Dan wanita itu kini berdiri, tubuhnya tinggi semampai, pinggangnya ramping sekali dan tubuhnya mempunyai lekuk lengkung yang sempurna danmenggairahkan, padat menonjol penuh sifat kewanitaan yang menantang dan merangsang.

Namun, semua itu ditutup pakaian yang aneh, seperti pakaian pertapa atau pendeta.

Baru sekarang nampak oleh suami isteri pendekar ini bahwa gadis itu memakai pakaian serba putih dengan ikat pinggang hitam, potongannya kebesaran seperti jubah pendeta namun karena terbuat dari pada sutera halus maka begitu menempel tubuh lalu mencetak bentuk tubuh itu dengan ketatnya.

Di bagian dada dan punggung dari baju putih itu terdapat lukisan Im Yang terbuat dari benang emas dan rambutnya yang digelung ke atas itu terhias oleh ratna mutu manikam yang dibentuk seperti bulatan Im Yang pula.

Hidungnya kecil mancung, agak menjungat ke atas sehingga mendatangkan kemanisan yang khas dan lucu mulutnya agak lebar dengan bibir yang penuh dan merah, kedua pipinya juga kemerahan ketika sepasang mata yang tajam indah itu menyambar ke arah Gan Beng Han.

Lalu wanita itu tersenyum dan sepasang bibir yang merah basah itu merekah, nampaklah deretan gigi putih berkilau, akan tetapi hanya sebentar saja dan mutiara-mutiara putih itu telah lenyap lagi di balik daging berkulit tipis merah yang menggairahkan itu.

Begitu gadis itu bangkit berdiri, memandang dan tersenyum, seketika wajah suami isteri itu kelihatan terkejut bukan main.

"Ah, kiranya engkau"".!"

Kui Eng berseru dan wajahnya berobah agak pucat, lalu menjadi merah sekali "Engkau Im-yang-kauwcu".?"

Gan Beng Han berdiri dengan mata terbelalak, lalu mukanya menjadi merah sekali, merah sampai ke lehernya.

Teringat dia akan pengalamannya yang menyeramkan kurang lebih sembilan tahun yang lalu, ketika isterinya akan melahirkan Ai Ling.

Malam yang menyeramkan itu kini terbayang di depan matanya.

Ketika itu sudah tiba waktunya isterinya melahirkan kandungannya dan seorang bidan sedang menunggunya.

Untuk melenyapkan kegelisahan hatinya karena dia tidak diperbolehkan mendekati isterinya oleh sang bidan, dia berlatih silat di lian-bu-thia sambil terus mendengarkan suara dari dalam kamar itu.

Dia mendengar keluhan dan rintihan Kui Eng dan makin hebat isterinya merintih, makin hebat pula dia menggerakkan kaki tangan memukul dan menendang untuk menekan kegelisahan hatinya.

Dan pada saat itulah muncul seorang dara cantik jelita yang mengagumi latihannya akan tetapi gadis itu lalumenyatakan cinta kepadanya, dan mengajaknya pergi dari situ.

Tentu saja Beng Han, biarpun amat kagum menyaksikan kecantikan dara itu, menjadi marah dan mengusirnya.

Mereka bertanding dan ternyata amat sukar baginya untuk mengalahkan wanita itu!

Kemudian, dengan uap merah yang mengebul dari saputangannya, wanita itu berhasil merobohkannya.

Wanita itu merayunya namun tetap dia tidak sudi melayani dan akhirnya wanita itu mengancam untuk menculik anaknya yang baru terlahir!

Dalam keadaan amat gelisah mengkhawatirkan keselamatan isterinya yang baru melahirkan yang kini didengarnya suara tangis bayi terlahir, Beng Han tidak dapat menolak lagi dan dia dibawa pergi ke dalam taman di mana dia terpaksa melayani hasrat wanita itu demi keselamatan anak isterinya!

Kemudian, wanita itu menghilang setelah lebih dulu menjenguk ke dalam kamar melihat Kui Eng dan anaknya seperti bayangan setan atau juga bayangan bidadari sehingga Kui Eng merasa seolah-olah mimpi dijenguk oleh bidadari!

Setelah keadaan Kui Eng normal kembali, barulah Beng Han yang berwatak jujur itu menceritakan peristiwa yang membuatnya merasa amat malu itu.

Kui Eng yang berwatak keras memang mula-mula marah dan penuh cemburu, akan tetapi dia lalu sadar bahwa suaminya melakukan hal itu tentu karena terpaksa, karena tidak ingin melihat dia dan anaknya diganggu oleh iblis betina itu.

Dia bergidik kalau mengenangkan betapa suaminya yang demikian lihai masih kalah oleh wanita itu yang menurut suaminya mengaku sebagai Im-yang-kauw-cu (ketua Agama Im Yang)!

Peristiwa itu sudah lampau, sudah bertahun tahun lamanya dan mereka berdua sudah melupakannya kembali.

Kini, dalam usaha mencari murid mereka yang mereka duga dilarikan oleh tokoh Im-yang-pai, mereka berdua mendatangi pusat Im-yang-pai dan dengan sendirinyamereka teringat akan wanita yang mengaku sebagai ketua Im-yang-kauw itu.

Dan karena ingat akan itulah maka Kui Eng berkeras hendak menemani suaminya, karena betapapun juga kecurigaannya dan rasa cemburunya timbul kembali!

Siapa yang tidak akan cemburu kalau mendengar bahwa suaminya pernah bermain cinta dengan seorang wanita yang tadinya di anggap sebagai bidadari itu?

Dan biarpun hanya satu kali, dalam keadaan setengah sadar, dia melihat wajah wanita itu, kini begitu dia melihat wanita yang berpakaian putih itu berdiri dan tersenyum, seketika Kui Eng teringat akan wanita sembilan tahun yang lalu, yang menjenguk kamarnya seperti seorang bidadari itu.

Dan tentu saja Beng Han juga segera mengenalnya, maka jantungnya berdebar tegang dan mukanya menjadi merah sekali.

"Aihh, kiranya Gan-taihiap (pendekar besar Gan) yang datang? Apakah engkau juga rindu kepadaku seperti aku merindukanmu selama ini taihiap? Betapa sering aku berjumpa denganmu dalam mimpi!"

Halus merayu suara itu sehingga Beng Han menjadi makin merah mukanya.

Dia tidak berani mengangkat muka memandang wanita itu, sedangkan di sebelahnya, Kui Eng sudah mengepal tinju dan matanya bernyala-nyala penuh kemarahan!

Wanita itu memang Kim-sim Niocu atau Im-yang-kauwcu, ketua dari Im-yang-kauw yang amat terkenal di seluruh dunia kang-ouw itu.

Dia ini lebih terkenal dari pada ayahnya, Ko Beng Thian-cu yang menjadi ketua Im-yang pai dan yang jarang sekali muncul sungguhpun tentu saja namanya sebagai ketua perkumpulan besar itu dikenal semua orang.

Kim-sim Niocu agaknya tahu akan kemarahan Kui Eng, maka dia tersenyum makin manis.

Ketika Beng Han melirik, diam-diam dia amat terheran-heran, demikian pula Kui Eng.

Dahulu, ketika suami isteri ini bertemu dengan Kim-sim Niocu sembilan tahun yang lalu, wanita ini masih muda, paling banyak berusia duapuluh tahun, dan kini, sembilan tahun kemudian, wajah dan tubuh wanita itu sama sekali tidak kelihatan lebih tua setahunpun!

Masih kelihatan seperti berusia duapuluh tahun, atau lebih muda lagi.

"Ha-ha-ha, Gan-hujin (nyonya Gan), engkau kelihatan masih cantik, sungguhpun sudah tidak segar lagi, seperti bunga mulai melayu. Tidak heran karena engkau telah melahirkan anak. Engkau tadi mencela aku dan mengatakan curang dan keji melihat aku membantu kadal? Aihh, engkau tidak tahu betapa kejinya kalajengking itu. Dan aku sedang mempelajari gerakannya, sungguh hebat dan keji curang lagi, suka menyerang dari belakang. Berbeda dengan kadal yang suka menyerang berhadapan. Kupikir-pikir, sifat kadal mirip sifat suamimu"".. eh, Gan-taihiap amat jujur jantan dan"".. hemm, menggetarkan hati wanita. Dia hebat dan"".."

"Perempuan cabul tutup mulutmu!"

Kui Eng sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi.

Dia tidak ingat bahwa dia berada di tempat orang, bahwa wanita itu adalah seorang ketua yang amat berpengaruh, dan juga memiliki kepandaian yang melebihi suaminya.

Dia lupa bahwa kedatangannya adalah untuk menyelidiki tentang muridnya yang terculik, dengan mata mendelik dan sinarnya berapi dia telah menyerang dengan tangan, yang kiri mencakar muka cantik itu karena ingin sekali dia merobek-robek wajah yang berkulit halus putih itu, sedangkan tangan kanan menusuk ke arah dada seolah-olah dia ingin mcncokel keluar jantung wanita itu!

"Hayaaa""..sudah agak layu ditambah galak lagi, tentu engkau tersiksa di rumah Gan-taihiap.

Nah, kau wanita galak boleh lihat kelihaian kalajengking yang kaubela tadi!"

Wanita baju putih itu kelihatannya diam saja diserang, akan tetapi tiba-tiba dari belakangnya meluncur sinar hitam yang melengkung dari atas kepalanya, datang dari belakang persis seekor kalajengking dan tahu-tahu ujung sinar hitam itu telah menotok Kui Eng pada saat kedua tangan Kui Eng sudah berada hanya beberapa senti saja dari sasarannya.

Tanpa dapat dicegah lagi nyonya muda ini mengeluh dan roboh dengan lemas!

"Kauwcu (ketua), mengapa engkau mengganggu isteriku?"

Gan Beng Han menegur dengan suara penuh teguran.

Wanita ini sebelum berhasil memaksanya untuk melayani hasrat hatinya dahulu telah lebih dulu berjanji tidak akan mengganggu anak isterinya.

Karena percaya akan janji wanita ini pulalah yang membuat Beng Han berbesar hati untuk menyusul muridnya yang disangkanya diculik oleh fihak Im-yang-pai.

Dia pikir bahwa kalau dia dapat bertemu dengan Im-yang-kauwcu ini maka dia dapat mengingatkan wanita ini akan janjinya untuk tidak mengganggu dia dan keluarganya, sedangkan muridnya dapat pula dianggap sebagai keluarganya sendiri.

Beng Han menegur wanita itu sambil cepat menghampiri isterinya dan berusaha untuk membebaskan totokannya.

Akan tetapi terkejutlah dia ketika mendapatkan kenyataan bahwa usahanya itu gagal!

Kiranya wanita itu mempergunakan ilmu totokan yang berbeda sekali dengan Ilmu Tiam-hiat-hoat yang biasa.

Melihat ini, Kim-sim Niocu tertawa genit.

"Hi-hik, Gan-taihiap, kau tidak akan berhasil. Ketahuilah, setiap kali seekor kalajengking menyengat, yang disengat tentu akan keracunan dan mati. Kalau aku tidak ingat kepadamu, idak ingat bahwa dia ini isterimu, apakah kau kira dia masih bernyawa? Tidak, taihiap, aku tidak mengganggu isterimu. Dialah yang menyerangku dan aku hanya ingin memperlihatkan kepadanya bahwa kalajengking bukan binatang yang patut dibela karena curang dan keji. Jurus tadi baru saja kuciptakan dengan meniru gerakan kalajengking kalau bertanding melawan kadal. Hebat, bukan?"

Gan Beng Han menarik napas panjang lalu bangkit berdiri.

"Kauwcu, harap kau suka menyembuhkan isteriku."

"Baik, baik, itu mudah saja. Kalajengking dapat menyengat dan meracuni, akan tetapi juga mampu menyembuhkan. Lihat saja!"

Tiba-tiba sinar hitam menyambar dan ternyata sabuk hitamnya seperti tadi telah menyambar dengan bentuk melengkung, dua kali menotok pundak dan leher Kui Eng dan nyonya muda itu sudah dapat bergerak kembali!

Akan tetapi, Kui Eng bukan Kui Eng dan bukan murid Lui Sian Lojin kalau dia menerima kekalahan begitu saja.

Sama sekali tidak!

Apalagi melihat suaminya tidak mampu memulihkannya, dan suaminya tidak menyerang wanita itu sebaliknya minta tolong menyembuhkannya, dia menjadi marah luar biasa.

"Singgg""..!"

Pedangnya telah dicabut dan dengan bentakan nyaring dia telah menyerang ketua Im-yang-kauw itu! "Isteriku"""

Jangan""."

Beng Han mencegah, namun Kui Eng tidak perduli, bahkan pencegahan suaminya ini membuat api di dalam dadanya makin berkobar.

Dia langsungmenggunakan jurus-jurus terhebat dari Kwi-hoa Kiam-hoat ciptaan gurunya dan pedangnya lenyap berobah menjadi sinar bergulung-gulung yang tiba-tiba mencuat dan menusuk ke arah dada lawan, terus digoreskan ke bawah sehingga kalau serangan ini mengenai sasaran, dada dan perut lawan tentu akan terobek dan terbuka!

"Ihhh, hebat!"

Kim-sim Niocu berseru dan tubuhnya berkelebat menjadi bayangan putih yang mencelat ke belakang, kemudian sinar hitam sabuknya menyambar-nyambar.

Terjadilah pertandingan antara pedang bersinar putih dan sabuk bersinar hitam.

"Hi-hik, terima kasih, nyonya Gan. Aku memang sedang ingin menyempurnakan ilmu sabuk berdasarkan gerakan kalajengking dan engkau datang sehingga aku dapat melatih dan menguji ilmu baruku!"

Wanita itu tertawa dan hal ini membuat Kui Eng makin marah.

Pedangnya mendesing-desing merupakan sinar maut namun gerakan sabuk di tangan Kim-sim Niocu hebat bukan main sehingga ke manapun sinar pedang menyambar, selalu bertemu dengan sinar hitam dan tertahan.

Bahkan sering sekali sinar hitam itu melengkung seperti ekor kalajengking menyengat dan beberapa kali Kui Eng berseru kaget karena hampir saja dia kena ditotok lagi.

Melihat ini, Beng Han merasa khawatir dan serba salah.

Untuk membantu isterinya menyerang, dia hanya akan mempersulit keadaan saja karena andaikata mereka berdua akan dapat menangkan ketua Im-yang kauw ini, hal yang masih dia sangsikan karena kini dia melihat betapa gerakan wanita itu jauh lebih lihai dari pada sembilan tahun yang lalu, mereka berdua masih harus menghadapi semua tokoh Im-yang-pai!

Dia tahu bahwa dengan kekerasan, mereka tidak mungkin akan dapat menolong murid mereka, bahkan membahayakan keselamatan diri sendiri.

Akan tetapi, kini dia melihat betapa pedang isterinya telah didesak hebat dan gerakannya telah menjadi lemah.

"Siauw Kim"".., jangan celakai isteriku""!"

Akhirnya saking gelisahnya dia berseru dan meloncat ke depan untuk melindungi isterinya. Im-yang-kanwcu itu tertawa dan meloncat mundur, menarik sabuk hitamnya sehingga Kui Eng terbebas dari desakan.

"Gan-koko, engkau masih ingat nama kecilku? Aihh"".. terima kasih, kiranya engkaupun tidak dapat melupakan aku""

Tiba-tiba Kui Eng yang sudah menghentikan serangannya, menoleh kepada suaminya dan memandang dengan mata terbelalak.

Sinar matanya penuh dengan api cemburu yang berkobar.

Melihat ini, Beng Han menjadi kaget dan gugup.

Saking gelisahnya, tadi dia sampai lupa diri dan menyebut nama wanita yang pernah menggetarkan perasaan cinta dan berahinya untuk beberapa lamanya itu, atau tepatnya, selama setengah malam di dalam taman.

"Kauwcu"".aku""..!"

Dia tergagap lalu menghadapi isterinya.

"Isteriku, harap kauhentikan penggunaan kekerasan""."

"Cihh, tak tahu malu!"

Tiba-tiba Kui Eng membentak, lalu membalikkan tubuhnya dan lari meninggalkan mereka.

"Eng-moi"".!!"

Beng Han berlari mengejar, akan tetapi tiba-tiba lengannya dipegang orang dari belakang, yang memegang adalah tangan halus namun mengandung kekuatan hebat sehingga larinya tertahan.

"Gan-koko, biarkan saja dia pergi. Aku yang menanggung bahwa dia tidak akan terganggu. Tanpa bantuanku, apa kaukira kalian berdua akan mampu keluar dari tempat ini dengan selamat?"

Beng Han menjadi kaget dan ragu-ragu Dia tahu bahwa omongan ini bukan kosong belaka, sedangkan dia melihat isterinya bukan lari keluar, melainkan masuk lebih dalam dan kini sudah lenyap di balik bangunan besar di depan.

Dia tahu bahwa mereka telah memasuki sarang harimau dan kiranya memang hanya wanita cantik ini saja yang akan dapat menolong mereka dan menolong muridnya.

Maka dia menarik napas panjang lalu berkata.

"Kauwcu, aku sangat mengharapkan pertolonganmu agar isteriku dan juga muridku dapat dibebaskan dan dapat pulang bersamaku dalam keadaan selamat."

Wanita itu tersenyum dan Beng Han harus mengakui bahwa kecantikan wanita ini memang masih membekas di dalam hatinya dan kini kernbali jantungnya merasakan getaran hangat yang kuat, yang dicobanya untuk ditekan sehingga terjadi perang di dalam hatinya sendiri.

Di satu fihak, dia tidak ingin melibatkan diri dengan wanita ini karena hal itu akan memarahkan hati isterinya, dan di lain pihak dia tidak dapat menyangkal bahwa hatinya tertarik sekali dan ada kerinduan dalam hatinya terhadap wanita ini.

Jari-jari tangan yang halus itu meremas tagannya dan wanita itu menariknya.

"Aih, Gan-koko yang baik. Perlukah engkau minta tolong kepadaku? Tanpa kaumintapun, sudah tentu aku akan menolongmu. Mari kita bicara. Duduklah dan apa yang kaumaksudkan dengan muridmu tadi? Tentang isterimu, jangan khawatir, kalau dia mengacau, paling hebat dia hanya akan ditangkap dan selanjutnya akulah yang berhak memutuskan segalanya. Duduklah."

Seperti seekor kerbau dituntun, dengan enak saja Beng Han menurut dan mereka duduk berhadapan di atas kursi yang terukir indah, yang berada di beranda rumah itu.

Wanita itu bertepuk tangan tiga kali dan muncullah tiga orang pelayan wanita yang masih muda-muda dan cantik-cantik dari sebelah dalam.

Mereka lalu berlutut memberi hormat kepada Im-yang-kauwcu.

"Buang kotak itu bersihkan lantainya, dan cepat sediakan makan minum untuk Gan-taihiap!"

Dengan cekatan sekali tiga orang pelayan itu bekerja, ada yang menyingkirkan kotak terisi kadal dan bangkai kalajengking, ada yang bersihkan lantai dan yang seorang lagi berlari ke dalam.

Tak lama kemudian, hidangan-hidangan mewah dan arak wangi sudah dihidangkan di atas meja, masih mengepulkan uap panas dan baunya sedap.

Tentu saja hati Beng Han merasa tidak enak sekali.

Isterinya entah berada di mana dan bagaimana keadaannya, akan tetapi dia menghadapi meja penuh hidangan lezat bersama seorang wanita cantik!

"Kauwcu"".., aku""..

aku amat mengkhawatirkan keadaan isteriku, harap kau biarkan aku pergi menyusul dan mencarinya."

"Aihh, jangan khawatir. Kalau engkau pergi menyusulnya, kalian malah akan celaka. Sekarang, marilah kita makan minum untuk merayakan pertemuan kita yang tak terduga-duga ini. Biar kuanggap saja engkau merasa rindu kepadaku dan sengaja datang untuk menjengukku. Koko, mari minum!"

Wanita itu mengangkat cawan araknya dan terpaksa Beng Han juga melayaninya minum arak.

Mereka lalu makan minum dan betapapun berat rasa hati Beng Han, namun karena dia mengharapkan bantuan wanita ini menyelamatkan isterinya dan muridnya, maka dia makan minum sambil menceritakan peristiwa yang terjadi di Kuil Ban-hok-tong di Cin-an.

Dan ternyata penuturannya itu amat menarik perhatian Kim sim Niocu yang mendengarkan penuh perhatian, matanya terbelalak penuh keheranan dan dia mendengarkan tanpa memutuskan penuturan pendekar itu.

Setelah menceritakan semua tentang penyerbuan orang-orang Im-yang-pai di kuil itu dan bagaimana muridnya terculik oleh mereka, Beng Han lalu berkata dengan suara penuh penyesalan.

"Perbuatan anak buahmu terhadap Kuil Ban-hok-tong itu sudah keterlaluan kauwcu, dan merupakan pengacauan yang menggegerkan rakyat Cin-an. Akan tetapi, sampai muridku yang masih kecil dan tidak tahu apa-apa itu diculik, benar benar membuat hatiku penasaran sekali. Maka kami suami isteri datang ke sini untuk minta dikembalikan muridku. Tidak kami sangka akan berjumpa denganmu di sini hingga terjadi hal tadi. Maka, kuharap engkau suka memegang janji tidak akan menganggu aku sekeluarga, maka harap kau suka cepat membebaskan muridku itu dan juga membiarkan isteriku pulang bersamaku."

Kim-sim Niocu menghela napas panjang, lalu menggeleng kepala.

"Ceritamu seperti dongeng saja, Gan-koko. Aku tidak tahu sama sekali tentang orang-orang Im-yang-pai yang dikatakan mengacau di Cin-an! Padahal, kalau hal itu benar-benar terjadi, sudah pasti aku mengetahuinya. Apakah buktinya bahwa para pengacau itu adalah orang-orang kami?"

"Buktinya? Aku sendiri tidak melihat peristiwa itu, akan tetapi para hwesio di Ban-hok-tong mengenal gerakan silat mereka, dan lebih dari itu, Thian Lee Hwesio dari Ban-hok-tong ketika bertanding dengan seorang di antara para pengacau, telah berhasil merampas sebuah lambang yang tergantung di dada orang itu. Lambang itu adalah lambang dari baja dan terdapat gambarnya yang persis dengan gambar di bajumu itu."

Beng Han menudingkan telunjuknya ke arah dada Kim-sim Niocu. Wanita itu mengerutkan alisnya, dan menggeleng-geleng kepalanya.

"Mana mungkin terjadi hal seperti itu? Ayah sedang menutup diri di dalam kamar pengasingan, sudah tiga bulan lamanya, dan para pimpinan Im-yang-pai tidak akan melakukan suatu urusan, apa lagi sebesar yang terjadi di Cin-an itu, tanpa setahu dan seijinku. Mereka itu tentu orang-orang palsu yang sengaja menggunakan nama Im-yang-pai"".."

Wanita itu menghentikan kata-katanya dan menoleh ke pintu.

"Harap kauwcu sudi memaafkan kalau saya mengganggu,"

Kata kakek berusia limapuluh tahun itu yang menjura dengan penuh hormat kepada Kim-sim Niocu.

"Paman Ciang, kau datang hendak melapor apakah?"

Suara wanita itu halus namun sikapnya amat berwibawa dan dingin, membuat Beng Han bergidik.

Kalau bicara dengan dia, wanita ini seperti wanita biasa, penuh keluwesan kehalusan dan ramah.

Akan tetapi kini sikapnya berubah sama sekali, kalau tadi mengandung kehangatan api, kini dingin seperti es membeku.

"Lapor kepada kauwcu atas perintah ji-pangcu bahwa telah tertangkap seorang wanita muda yang datang mengacau."

"Di mana dia sekarang?"

"Dia telah terjebak ke dalam kamar bawah tanah di belakang gudang perpustakaan."

"Bagus, biarkan dia di sana. Katakan kepada ji-susiok bahwa wanita itu adalah seorang tamuku, maka jangan diganggu, perlakukan baik-baik dan beri hidangan, akan tetapi jangan sampai keluar dari kamar itu untuk sementara ini."

"Baik, kauwcu,"

Kakek itu sudah membalikkan tubuh untuk pergi, akan tetapi Kim-sim Niocu memanggilnya kembali dan berkata.

"Sampaikan kepada ji-susiok agar dia datang ke sini, aku mempunyai hal penting untuk dibicarakan dengan dia, sekarang juga."

"Baik, kauwcu!"

Orang itu menjura lalu mengundurkan diri, keluar dari ruangan beranda rumah itu.

Diam-diam Beng Han kagum juga akan kekuasaan wanita ini, dan kekhawatirannya berkurang ketika dia mendengar bahwa isterinya tertawan dan akan diperlakukan dengan baik.

"Kauwcu, aku telah menyampaikan semua persoalannya. Kalau memang muridku tidak berada di sini, dan kalau bukan orang-orang Im-yang-pai yang melakukan pengacauan di Cin-an itu, maka hal itu adalah tanggung jawab Im-yang-pai untuk menyelidiki. Maka biarkanlah aku dan isteriku pulang saja."

"Nanti dulu, koko, rasa rinduku terhadapmu masih belum mereda,"

Tiba-tiba sikap wanita itu kembali menjadi hangat dan ramah "Dan engkau harus menceritakan semua itu kembali kepada ji-susiok yang menjadi wakil dari ayahku.

Jangan kau khawatir, aku tanggung bahwa isterimu tidak akan terganggu dan seteiah rasa rinduku mereda dan urusan di Cin-an ini telah ditangani oleh ji-susiok, aku berjanji untuk melepaskan engkau dan isterimu.

Apakah engkau tidak percaya lagi kepadaku?"

Tentu saja Beng Han tidak berani membantah lagi dan dia mengangguk, lalu menemani wanita itu melanjutkan makan minum tanpa banyak cakap.

Hatinya tetap diliputi kegelisahan, apa lagi kalau dia ingat bahwa isterinya tadi meninggalkan dia dengan hati marah dan penuh rasa cemburu.

Tiba-tiba terdengar angin menyambar.

Beng Han cepat menengok keluar dan terkejutlah dia ketika melihat berkelebatnya bayangan orang yang luar biasa cepatnya, seperti terbang saja dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang kakek berpakaian serba putih, hampir sama dengan pakaian Kim-sim Niocu dan juga di dada dan punggung baju kakek ini terdapat lukisan lingkaran Im Yang.

Pakaiannya seperti pakaian tosu dan rambutnya juga digelung ke atas.

Kakek ini tinggi besar, bermuka hitam dan bengis, matanya lebar dan usianya tentu sedikitnya sudah enampuluh tahun.

Anehnya, Kim-sim Niocu agaknya tidak tahu akan kedatangan ini, padahal Beng Han tahu benar bahwa tentu wanita itu mengetahuinya.

Dia sendiri mendengar suara angin itu, apa lagi Kim-sim Niocu yang lebih lihai dari pada dia.

"Kauwcu"".!"

Terdengar kakek itu berkata dengan suaranya yang parau dan besar akan tetapi di balik suara itu terkandung khi kang yang amat kuat sehingga kembali Beng Han terkejut.

Dia sudah pernah bertemu dengan Kim-sim Niocu, bahkan atas paksaan wanita cantik itu, dia pernah bermain cinta dengan wanita ini.

Akan tetapi, nama besar ketua Im-yang pai hanya baru didengarnya saja dan belum pernah dia bertemu dengan orangnya.

Dia pernah mendengar bahwa ketua Im-yang-pai adalah ayah Kim-sim Niocu dan berjuluk Kok Beng Thiancu, dan bahwa ketua ini mempunyai empat orang sute yang juga merupakan tokoh tokoh pimpinan Im-yang-pai.

Maka ketika dia tadi mendengar Kim-sim Niocu menyebut ji-susiok (paman guru ke dua), dia dapat menduga bahwa tentu kakek bermuka hitam ini adalah ketua ke dua di Im-yang-pai dan pernah dia mendengar nama si muka hitam ini, yaitu Cin Beng Thiancu.

Kini baru Kim-sim Niocu menoleh dan ketika melihat kakek itu membungkuk ke arahnya, wanita ini cepat bangkit berdiri.

"Ah, kiranya ji-susiok telah datang. Ji-susiok, silakan makan minum bersama kami!"

"Terima kasih, kauwcu, saya sudah makan."

"Kalau begitu, mari kita duduk di dalam, Ji-susiok, ada sesuatu yang amat penting untuk kita bicarakan. Gan-taihiap, mari kita masuk saja."

Beng Han bangkit dan mengangguk, lalu ia engikuti wanita itu masuk ke ruang dalam dan kini mereka bertiga duduk di ruangan yang nyata amat indah itu.

Setelah mereka duduk, Kim-sim Niocu memperkenalkan Beng Han kepada susioknya.

"Ji-susiok, tamu kita ini adalah Gan Beng Han taihiap dari Cin-an."

Kakek itu mengangguk ke arah Beng Han, memandang sejenak dan berkata.

"Gan-taihiap dalah seorang gagah, ini kami sudah lama mendengar, sayang membiarkan isterinya menimbulkan keributan di Im-yang-pai.Entah apa maksudnya!"

Ucapan itu halus, akan tetapi penuh teguran sehingga Beng Han merasa tidak enak sekali.

Kalau ternyata bahwa perusuh-perusuh itu adalah orang-orang Im-yang-pai, maka kedatangannya bersama isterinya masih beralasan.

Kini, setelah ternyata bukan orang-orang Im-yang-pai yang mengacau di Cin-an, maka sebaliknya dia dan isterinyalah yang seakan-akan datang melakukan keributan di Im-yang-pai!

"Harap ji-pangcu sudi memaafkan isteri saya yang hanya ingin menolong murid kami yang tadinya kami sangka berada di sini,"

Kayanya sambil bangkit berdiri dan rnenjura.

"Ji-susiok, kedatangan Gan-taihiap dan isterinya ini ada hubungannya dengan peristiwa aneh yang terjadi di Cin-an. Ternyata ada orang-orang yang menggunakan nama Im-yang-pai, bahkan dengan meninggalkan lambang! Im-yang-pai, melakukan pengacauan di kuli Ban hok-tong di Cin-an, bahkan murid Gan taihiap mereka culik."

"Hemm""

Apakah yang terjadi, Gan taihiap?"

Kakek bermuka hitam itu lalu memandang Beng Han dengan sinar mata penuh selidik mencorong dari sepasang matanya yang lebar .

Sekali lagi Gan Beng Han menceritakan tentang peristiwa yang terjadi di Cin-an itu seperti yang telah diceritakannya kepada Kim-sim Niocu tadi.

Cin Beng Thiancu mendengarkan penuh perhatian, alisnya berkerut dan mukanya makin lama makin bengis, tanda bahwa dia marah mendengar penuturan itu.

Setelah pendekar itu selesai dengan ceritanya, Cin Benjj Thiancu mengadukan kedua telapak tangannya dengan keras.

"Tarrr""..!!"

Gan Beng Han terkejut bukan main.

Kakek ini benar-benar hebat luar biasa.

Dua telapak tangan yang diadukan itu mengeluarkan suara ledakan dan dia melihat uap mengepul di antara dua telapak tangan itu!

Dia pernah mendengar akan adanya ilmu sakti yang disebut Tian-lui Sin-ciang (Tangan Sakti Geledek dan Kilat) yang belum pernah dilihatnya.

Apakah kakek ini mahir ilmu sakti itu?

Bulu tengkuknya meremang ketika dia melihat kedua telapak tangan itu berobah menghitam dan mengeluarkan asap seperti terbakar!

"Tidak salah lagi, ini tentu ada hubungannya dengan menghilangnya Liang Bin Cu!"

Akhirnya kakek itu berkata.

"Gan-taihiap, bukankah lambang yang kau lihat itu lingkaran gambar Im Yang berwarna hitam dan putih sedangkan huruf hurufnya berwarna biru?"

Beng Han mengangguk.

"Benar, locianpwe."

"Hemm, tidak salah lagi kalau begitu, ji-susiok. Itulah lambang dari murid tingkat tiga,"

Kata Kim-sim Niocu.

"Akan tetapi saya mengenal Liang Bin Cu itu orang macam apa. Tidak mungkin dia melakukan penyerbuan itu, dan siapa pula yang dia ajak sebagai rombongannya? Juga tidak mungkin dia mencemarkan nama Im-yang-pai secara demikian!"

Kakek itu mengangguk-angguk.

"Memang benar, kauwcu. Sayapun tidak mempunyai maksud untuk mencurigai orang sendiri yang sudah kita percaya. Akan tetapi, mungkin saja lambang itu adalah milik Liang Bin Cu yang dirampas orang dan dipergunakan untuk maksud keji merusak nama kita, sedangkan Liang Bin Cu sendiri"".hemm, saya kira dia tentu sudah tewas."

"Ahh".! Dia dibunuh orang dan lambangnya dipakai untuk melakukan kekacauan menggunakan nama Im-yang-pai?"

Kim-sim Niocu terbelalak dan mukanya menjadi merah karena marahnya.

"Ji-susiok, ini bukan urusan kecil Harap susiok suka cepat melakukan penyelidikan! dan menangkap serta menghukum biang keladinya! Seret dia atau mereka di depan kakiku karena saya sendiri yang akan menjatuhkan hukuman kepada mereka!"

Cin Beng Thiancu mengangguk, bangkit berdiri.

"Baik, kauwcu. Memang kita harus bertindak sebelum terlambat."

"Terlambat? Apa maksud ji-susiok?" (Lanjut ke

Jilid 19) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 19

"Ji-pangcu berkata benar, memang amat berbahaya keadaan Im-yang-pai. Pemerintah tentu tidak akan mendiamkan saja. Penyerbuan itu merupakan pemberontakan karena mengganggu upacara penyambutan benda suci yang dilaksanakan atas perintah kaisar sendiri. Maka secepatnya bertindak membersihkan nama, lebih baik,"

Kata Gan Beng Han.

"Aihh, kalau begitu harap susiok menanganinya sendiri, saya akan memberitahukan ayah jika terbuka kesempatan untuk itu,"

"Saya sendiri akan memimpin anak murid melakukan penyelidikan, kauwcu, dibantu oleh para sute. Sayang bahwa ngo-sute (adik ke lima) sedang merantau, kalau ada dia, tentu, ia dapat banyak membantu dengan kecerdikannya. Gan-taihiap, terima kasih atas. beritamu, saya mohon diri."

Wanita itu bangkit, mengangguk, dan berkata.

"Harap ji-susiok memerintahkan para penjaga agar tidak mengganggu Gan-hujin dan menahannya dalam kamar itu sampai besok pagi"

Kakek itu mengerutkan alisnya, melirik ke arah Beng Han, lalu mengangguk dan membalikkan badan, kemudian sekali berkelebat lenyaplah tubuhnya dari situ.

Beng Han termangu-mangu, penuh kagum.

Sebuah lengan yang halus melingkar pinggangnya dari belakang dan terdengar suara halus wanita itu.

"Kepandaian Ji-susiok hebat, bukan? Dia memperoleh banyak kemajuan setelah kuberi petunjuk dalam hal ginkang dan rahasia penyempurnaan Ilmu Tian-lui Sin-ciang""""

Beng Han terkejut dan menoleh.

Karena wanita itu berdiri dekat sekali, muka mereka berhadapan sedemikuan dekatnya sehingga mereka saling dapat merasakan hembusan napas masing-masing.

Beng Han hendak mundur, akan tetapi lengan yang merangkul pinggangnya itu dibantu dengan lengan ke dua yang merangkul pundaknya, bahkan kini tubuhnya ditarik mendekat.

"Gan-koko aku rindu sekali kepadamu, marilah"""."

Beng Han mengerahkan tenaga, mempertahankan dirinya agar tidak ditarik, dan dengan suara kaku dia berkata.

"Kauwcu""."

Beng Han menarik napas panjang.

"Siauw Kim, ingatlah akan janjimu dahulu. Aku hanya melayanimu satu kali dan engkau berjanji tidak akan mengganggu aku sekeluarga selamanya. Engkau sedang menghadapi urusan besar yang menimpa Im-yang-pai, sedangkan aku sendiri sedang menghadapi kegelisahan karena muridku diculik orang dan isteriku menjadi tawanan di sini. Bagaimana kita dapat"".."

"Aihhhh, kekasihku yang jantan! Siapa yang melanggar janji? Apakah aku pernah mengganggumu selama ini? Engkau dan isterimu malah yang datang menggangguku, bukan? Marilah, kau temani aku semalam ini dan berlaku manis kepadaku, besok engkau dan isterimu akan kuantar sendiri keluar dari sini dengan segala kehormatan."

"Kalau aku menolak?"

Beng Han berkata keras.

"Hemm, Gan Beng Han, ingat bahwa isterimu telah melakukan pelanggaran di Im-yang pai! Kau anggap Im-yang-pai perkumpulan apakah yang boleh sembarangan saja dikacau oleh orang seperti isterimu? Seharusnya dia diberi hukuman, potong sebelah kaki, atau sebelah lengan, atau potong hidung dan kedua telinganya!"

"Kau"".. kau perempuan kejam!"

Kim-sim Niocu melangkah maju dan kembali kedua lengannya merangkul leher dengan sikap manja sekali, penuh daya tarik.

"Koko yang baik, betapa tega engkau mengatakan aku kejam? Aku akan mengampuni isterimu, kini memperlakukan dia dengan baik sebagai tamu agung, dan aku menyerahkan diriku kepadamu, kemudian akupun akan menolong muridmu, dan engkau masih mengatakan aku kejam? Apa kukira Im-yang-pai akan mengampuni orang-orang yang merusak nama Im-yang-pai itu? Mereka akan dibasmi dan mungkin saja muridmu yang berada bersama mereka akan ikut terbunuh, kecuali kalau aku memesan kepada anak buahku agar menyelamatkan dia. Koko, aku begini baik kepadamu, karena"". karena aku cinta kepadamu, engkau seorang laki-laki yang jantan. Kalau engkau menolak kerinduanku kepadamu, bukankah engkau yang menjadi laki-laki kejam, bukan aku?"

Beng Han terdesak sampai ke sudut, tidak mampu menjawab.

Dahulu, sembilan tahun yang lalu, demi keselamatan isterinya yang sedang melahirkan, dia secara terpaksa memenuhi permintaan wanita ini.

Sekarang, dia melihat kebenaran dalam ucapan ucapan itu, maka dia menjadi bingung dan tidak tahu bagaimana harus membantahnya.

"Apakah aku kejam kalau bersikap seperti ini kepadamu, Gan-koko?"

Suara halus itu berbisik penuh rayuan dan kedua lengan itu merangkul ketat, kemudian sebelum Beng Han dapat menguasai dirinya, mulut wanita itu telah menciumnya dengan penuh kemesraan, kehangatan dan penyerahan.

Beng Han adalah seorang pendekar yang hatinya bersih dari kecabulan.

Dia tidak pernah menyeleweng, tidak pernah memikirkan wanita lain, dan cintanya terhadap isterinya adalah bulat.

Akan tetapi, menghadapi rayuan Kim-sim Niocu yang dikenalnya dengan nama Bu Siauw Kim, wanita yang pernah digaulinya selain isterinya, apa lagi karena melihat betapa keadaannya terdesak, keselamatan isterinya dan muridnya terancam, ditambah lagi dengan dorongan darah muda dari tubuhnya yang sehat, maka untuk kedua kalinya, dia tidak kuasa lagi mempertahankan diri.

Tak lama kemudian, sambil berdekapan mereka terhuyung memasuki kamar yang indah dari kauwcu itu di mana tidak lagi Beng Han melayani hasrat wanita itu, melainkan keduanya saling melayani dan saling menumpahkan gelora nafsu berahi yang menyesak dada.

Kim-sim Niocu atau Im-yang-kauwcu yang bernama Bu Siauw Kim itu sesungguhnya bukan pula seorang wanita cabul yang menjadi hamba nafsu berahi.

Sama sekali bukan!

Dia tidak pernah menikah, tidak pula menyimpan pria-pria untuk memuaskan nafsunya.

Akan tetapi, dia tidak pantang berhubungan badan dengan pria yang disukainya, di manapun dan bilamanapun.

Dia tidak perduli apakah pria itu sudah menikah, atau masih jejaka, sudah tua ataukah masih muda.

Kalau pria itu menggerakkan rasa cintanya, dia akan mendekatinya dan menyerahkan dirinya!

Agama yang dianutnya tidak melarang bubungan badan antara pria danwanita, bahkan menganggap hubungan itu merupakan penyelarasan dari Im dan Yang, menganggapnya sebagai sesuatu yang suci.

Karena itu, semua anggauta Im-yang-kauw boleh melakukan hubungan badan dengan siapapun juga, asalkan berdasarkan suka sama suka, tidak boleh melakukan perkosaan.

Tentu saja dalam hal ini timbul akal-akal mereka untuk menundukkan lawan tanpa perkosaan, yaitu dengan cara merayu, merangsang atau menggunakan obat dan sebagainya lagi.

Kalau dia menghendaki, tentu saja Bu Siauw Kim dapat mencari suami yang hebat segala galanya.

Banyak pria yang tergila-gila kepadanya Namun dia tidak mau terikat, dia ingin bebas dalam pergaulannya dengan pria.

Biasanya, sehabis bertemu dengan pria yang disukainya, pada keesokan harinya pria itu telah dilupakannya lagi, karena baginya, bermain cinta dengan seorang pria tiada bedanya dengan makan nasi di waktu perutnya lapar.

Akan tetapi ada beberapa orang pria yang meninggalkan kesan di dalam hatinya, dan di antara mereka itu adalah Gan Beng Han.

Oleh karena itu, begitu bertemu dengan pendekar ini, timbullah perasaan rindunya dan kebetulan sekali dia mendapatkan akal untuk setengah memaksa pria itu memasuki kamarnya.

Mungkin sifat yang aneh dari Bu Siauw Kim ini diwarisinya dari ayahnya.

Kok Beng Thiancu juga tidak pernah menikah, akan tetapi banyak melakukan hubungan dengan wanita-wanita yang disukainya.

Dan Siauw Kim terlahir dari seorang di antara wanita-wanita itulah.

Melihat keadaan ayahnya apa lagi setelah mendalami tentang pelajaran Agama Im-yang-kauw.

Siauw Kim juga memandang rendah pernikahan dan hidup bebas seperti ayahnya, mendekati pria manapun juga yang menggerakkan gairah hatinya.

Maka tidaklah mengherankan kalau wanita ini pernah bermain cinta dengan anggauta anggauta Im-yang-pai sendiri, di antaranya bahkan ada seorang susioknya yang pernah menjadi kekasihnya!

Kok Beng Thiancu yang berwatak aneh, sama sekali tidak menaruh keberatan, bahkan membenarkan sikap puterinya ini!

Bu Siauw Kim memang seorang wanita yang cantik.

Ilmu kepandaiannya yang tinggi membuat ia mampu menjaga tubuhnya menjadi selalu padat berisi dan lunak seperti tubuh seorang dara belasan tahun, padahal usianya adalah tigapuluh lima tahun!

Dan Beng Han sebagai seorang laki-laki yang memang jujur dan kurang pengalaman, tentu saja mudah dipermainkan sehingga selama semalam suntuk itu, pendekar ini seolah-olah lupa segala, lupa kepada isterinya dan lupa kepada muridnya.

Demikian hebat rayuan Kim-sim Niocu yang menyeretnya ke dalam ayunan gelombang nafsu.

Betapa banyaknya pria-pria gagah perkasa mudah runtuh oleh rayuan wanita cantik telah dibuktikan dalam sejarah semenjak jaman kuno sampai sekarang!

Hari masih pagi sekali, akan tetapi dari cahaya di jendela kamar itu, Beng Han tahu bahwa malam telah lewat.

Maka dia lalu berkata lirih, menekan hatinya yang merasa menyesal sekali setelah malam yang menggairahkan itu lewat.

"Siauw Kim"". malam telah lewat, kau harus memenuhi janjimu untuk membiarkan aku dan isteriku pergi"""

Penyesalan memang selalu mengikuti kesenangan.

Keduanya itu merupakan saudara kembar yang tak terpisahkan.

Kesadaran selalu muncul setelah lupa diri dalam gelombang nafsu, seperti sinar matahari baru muncul setelah badai mereda.

Gelombang nafsu selain menggulung mereka yang lemah, yang tidak waspada terhadap diri sendiri sehingga kewaspadaan dan perhatian tidak ada pada saat itu, membuat mereka lupa dan lemah, menjadi hamba nafsu.

Penyesalan terlambat muncul akan tetapi setelah lewat waktu yang lama, penyesalan inipun lenyap dan biasanya muncul kerinduan akan pengalaman yang telah dinikmatinya sebagai pemuasan nafsu.

Dengan demikian manusia dipermainkan oleh batinnya sendiri dan menjadi hamba nafsu secara berulang-ulang, terus-menerus selama tidak terdapat kewaspadaan terhadap diri sendiri setiap saat, selama tidak mengenal diri sendiri setiap saat.

Wanita cantik itu mengeluarkan keluhan panjang sambil menggeliat, seperti seekor kucing malas, wajahnya penuh senyum kepuasan rambutnya kusut dan kacau, lalu lengannya melingkar di leher Beng Han, agaknya masih enggan untuk melepaskan pendekar yang dianggapnya lain dari pada sekian banyaknya pria yang pernah ditemuinya.

"Hemmmm"".. masih pagi"". sebentar lagi""."

Gumamnya dengan mata masih tertutup dan dia memeluk lebih erat.

Akan tetapi tak lama kemudian, dua orang yang masih tenggelam dalam gelombang permainan cinta asmara ini, dikejutkan oleh suara hiruk-pikuk di luar kamar itu.

Suara teriakan-teriakan gugup di tengah-tengah sorak-sorai menggegap-gempita dari seluruh penjuru seolah-olah banyak sekali orang sedang mengepung tempat itu!

"Kita dikepung tentara kerajaan!"

"Cepat pukul tanda bahaya!"

Dan terdengarlah kentungan tanda bahaya dipukul gencar.

Kim-sim Niocu meloncat turun dari pembaringan, diikuti oleh Beng Han.

Keduanya cepat mengenakan pakaian dan Kim-sim Niocu sudah mengenakan pakaiannya sebagai ketua Im-yang-kauw, menyambar pedangnya yang dipasang di atas punggungnya, kemudian berkata kepada Beng Han.

"Koko, mari kita bebaskan isterimu!"

Beng Han hanya mengangguk dan keduanya cepat pergi ke tempat tahanan di mana Kui Eng semalam itu tidak tidur, berada di dalam sebuah kamar yang amat kuat, berpintu besi dan di luar kamar terjaga oleh belasan orang nggauta Im-yang-pai.

Wanita ini merasa marah sekali dan hatinya penuh cemburu kepada suaminya dan ketua lm-yang-kauw, bahkan dia sudah menangis semalam suntuk membayangkan jaminya dan wanita cabul itu.

Tiba-tiba pintu terbuka dari luar dan Kui Eng meloncat berdiri, wajahnya menjadi pucat sekali ketika dia melihat suaminya berdiri di luar pintu bersama Kim-sim Niocu, dan wajah yang pucat itu berubah merah seperti dibakar ketika dia melihat betapa rambut wanita itu masih kusut dan kacau, wajahnya yang agak pucat itu masih membayangkan kemesraan, sedangkan suaminya menundukkan mukanya yang agak pucat dengan kening berkerut, nampak tanda-tanda bahwa suaminya merasa menyesal dan malu!

Dalam hal seperti ini, mata wanita memang amat tajam dan mudah saja menangkap arti dari semua itu.

Maka tentu saja hatinya seperti disayat-sayat oleh rasa cemburu yang hebat!

"Koko, harap kau dan isterimu suka meyakinkan para pemimpin tentara kerajaan bahwa Im-yang-kauw sama sekali tidak bersalah dalam urusan penyerbuan kuil di Cin-an itu.

Aku mengharapkan bantuanmu, Gan-koko."

Setelah berkata demikian, Kim-sim Niocu ngajak semua penjaga pergi dari situ untuk mengatur semua anak buah menghadapi pengepungan bala tentara kerajaan.

Sejenak Beng Han dan isterinya hanya berdiri berhadapan tanpa mengeluarkan suara setelah wanita itu pergi.

Beng Han masih menundukkan mukanya, tidak berani mengeluarkan suara, bahkan tidak berani mengangkat muka untuk memandang wajah isterinya.

Makin hebat penyesalan menyesak dadanya mengingat akan semua yang dilakukannya bersama Kim-sim Niocu semalam, selagi isterinya meringkuk di dalam kamar tahanan ini!

Betapa dia mencinta isterinya!

Betapa dia telah terpaksa melakukan permainan cinta asmara bersama wanita itu dan betapa rasa sukanya terhadap wanita itu hanyalah merupakan dorongan nafsu berahi belaka!

Dan dia menyesal bukan main.

Akhirnya, setelah keadaan sunyi yang amat mencekam hati itu lewat seolah-olah takkan ada akhirnya, terdengar suara Kui Eng, suaranya lirih saja, halus, akan tetapi mengandung kedukaan yang mengiris jantung Beng Han "Engkau"..

telah mengulangi perbuatanmu delapan tahun yang lalu"""

Beng Han mengangkat mukanya, akan tetapi begitu bertemu dengan pandang mata isterinya yang membayangkan kedukaan dan kemarahan hebat itu, dia cepat menundukkan mukanya lagi.

Dengan suara lirih dia berkata.

"Aku aku tidak berdaya"". demi menyelamatkan engkau yang tertawan". dan murid kita"."

"Alasan kotor! Sejak kapan engkau rnemandang nyawa lebih berharga dari pada kehormatan? Aku lebih suka seratus kali mati dari pada tertolong oleh"". oleh pengorbananmu. yang memang kau inginkan itu!"

"Eng-moi"".!!"

Akan tetapi Kui Eng sudah meloncat pergi sambil berkata.

"Aku harus mengadu nyawa dengan perempuan hina itu!"

"Eng-moi"".!"

Beng Han mengejar akan tetapi isterinya sudah berlari cepat.

Terpaksa dengan hati penuh kegelisahan suami ini mengikuti isterinya.

Dia tahu akan kekerasan hati isterinya maka dia khawatir sekali kalau-kalau terjadi hal yang hebat dan penyesalan nkan perbuatannya semalam tadi makin menyesak didadanya.

Cemburu adalah suatu bentuk nafsu yang amat menyiksa hati, menggelapkan pikiran dan meracuni batin.

Orang bilang bahwa cemburu datang karena adanya cinta!

Bahkan yang berpendapat bahwa bukanlah cinta kalau tiada cemburu!

Benarkah ini?

Ataukah pandangan seperti itu justeru amat menyesalkan?

Mungkinkah cinta itu disamakan dengan cemburu yang mengakibatkan kemarahan dan kebencian?

Kalau begitu tidak ada bedanya antara cinta kasih dan kebencian!

Tidak mungkin sama sekali ini!

Cinta kasih bukanlah kebencian, cinta kasih bukanlah kemarahan dan cinta kasih sama sekali bukanlah cemburu!

Dari mana datangnya cemburu?

Kita dapat menyelidikinya dengan mudah kalau kita mau membuka mata dan mengenal diri sendiri.

Cemburu adalah iri hati Cemburu timbul dari kesenangan kita yang diganggu orang.

Kita menginginkan sesuatu, atau seseorang yang amat menyenangkan kita, untuk diri kita sendiri saja, untuk menjadi milik kita menjadi hak kita, dan berada di bawah kekuasaan kita seorang saja.

Maka kalau orang yang kita senangi itu, atau yang mendatangkan kesenangan pada diri kita, menoleh kepada orang lain, timbullah rasa kecewa dan marah yang dinamakan cemburu, dan sebagai akibatnya timbul pula kebencian, baik terhadap orang yang merampas dia yang menyenangkan kita maupun terhadap si dia sendiri yang mengecewakanhati kita karena menoleh kepada orang lain.

Kita ingin menguasai orang itu sepenuhnya, menjadi milik kita sendiri, memonopolinya, mengurungnya.

Dan itukah yang dinamakan cinta kasih?

Cemburu jelas ditimbulkan karena kesenangan kita terganggu!

Dan cinta kasih sama sekali bebas dari pada keinginan menyenangkan diri sendir!

Cemburu mendatangkan permusuhan dan konflik.

Cinta kasih sama sekali bebas dari permusuhan dan konflik dalam bentuk apapun juga!

Cemburu menimbulkan duka dan sengsara.

Cinta adalah kebahagiaan!

Bukan berarti bahwa cinta adalah kebalikan dari cemburu atau benci.

Cinta adalah cinta!

Akan tetapi jelas bahwa cemburu dan benci bukanlah cinta!

Pagi hari itu memang terjadi penyerbuan dari pasukan-pasukan kerajaan yang besar lumlahnya, dipimpin oleh panglima-panglima yang langsung datang dari kerajaan.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, pasukan-pasukan dari kerajaan ini diperkuat pula oleh Pek I Nikouw, Thian Ki Hwesio, Tiong-san Lo-kai, dan beberapa orang hwesio yang lihai dari Kuil Ban-hok-tong di Cin-an.

Pasukan itu telah mengurung sekeliling perkampungan Im-yang-pai di lereng Tai-hang-san itu, hanya tinggal menanti perintah untuk menyerbu.

Tentu saja para anggauta Im-yang-pai menjadi panik dan gempar.

Im-yang-pai memang merupakan perkumpulan yang kuat, akan tetapi jumlah anggauta mereka yang berkumpul di pusat itu tidak ada seratus orang sedangkan bala tentara pemerintah itu berjumlah seribu orang, tentu saja untuk melawan pasukan pemerintah mereka jauh kalah banyak dan kalah kuat!

Akan tetapi, Kok Beng Thiancu dan puterinya, Kim-sim Niocu yang menjadi kauwcu dari Im-yang-kauw, telah memimpin anak buah mereka dan kini ayah dan anak ini berhadapan dengan para komandan pasukan dengan sikap yang tenang.

Di pagi itu, Kim-sim Nio-cu yang mengenakan pakaian sebagai ketua Im-yang-kauw, nampak cantik sekali.

Rambutnya masih kusut belum disisir, wajahnya yang halus belum terkena air, matanya masih memperlihatkan kantuk karena memang semalam suntuk dia tidak tidur, wajahnya agak pucat akan tetapi ada tanda merah di kedua pipinya.

Dia berdiri dengan sikap tenang di samping ayahnya Kok Beng Thiancu, ketua Im-yang-pai yang jarang dilihat orang, jarang ada orang kang-ouw dapat menjumpainya karena kakek ini selalu bersembunyi dan mengasingkan diri memperdalam ilmunya dan selalu dalam Samadhi, saat itu terpaksa keluar karena menghadapi urusan besar dan tadi telah dilapori puterinya sendiri bahwa tempat itu telah dikurung oleh pasukan pemerintah, kini berdiri tegak dengan tenang sekali.

Kakek ini bertubuh sedang saja, pakaiannya malah sederhana sekali!

tidak ada tanda gambar Im Yang di bajunya akan tetapi sinar matanya amat berwibawa dan wajahnya yang dapat dikatakan tampan itu keren sekali.

Usianya kurang lebih enampuluh tahun.

Akan tetapi pada saat itu, kakek ini diam saja dan membiarkan puterinya yang bicara kepada pimpinan pasukan pemerintah.

Komandan pasukan dengan suara lantang menyatakan bahwa dia datang memimpin pasukan atas perintah kaisar untuk menangkap semua anggauta Im-yang-pai yang telah mengacau upacara penyambutan benda suci di Kuil Ban-hok-tong di Cin-an.

"Im-yang-pai telah melakukan perbuatan yang sifatnya memberontak, oleh karena itu, minta agar suka menyerah, menjadi tawanan kami dan diadili di kota raja!"

Komandan itu mengakhiri kata-katanya.

"Ciangkun, kami Im-yang-pai selamanya tidak pernah memberontak terhadap pemerintah. Semua peristiwa yang terjadi di Cin-an itu sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kami,"

Kata Kim-sim Niocu dengan suara halus namun sikapnya gagah sekali.

"Semua itu hanya fitnah belaka yang dilakukan oleh orang-orang yang secara pengecut memusuhi kami. Kami sudah mendengar pula hal itu dari Gan-taihiap dan Gan-hujin. Tidak ada seorangpun di antara anggauta perkumpulan kami yang malam itu mengacau di Cin-an. Maka sudah menjadi kewajiban dari pemerintah untuk menyelidiki hal ini dengan seksama dan dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah."

"Akan tetapi, semua saksi dan bukti menunjukkan bahwa para pengacau itu adalan para anggauta Im-yang-pai. Hendaknya para pimpinan Im-yang-pai tidak usah menyangkal atau kalau hendak membela diri agar dilakukan nanti di depan pengadilan saja. Tugas kami hanya menangkap kalian semua!"

Kata pula komandan itu dengan suara lantang.

Akan tetapi suaranya yang lantang itu sama sekali tidak ada artinya karena segera terdengar suara yang lembut namun mempunyai getaran yang mengguncangkan jantung semua orang yang mendengarnya sehingga orang-orang lihai seperti Pek I Nikouw, Thian Ki Hwesio dan Tiong-san Lo-kai sendiripun sampai terkejut bukan main, maklum bahwa kakek itu telah menggunakan Ilmu Sai-cu Ho-kang yang mengandung khikang yang amat kuat sekali "Kalau ciangkun datang membawa tawanan anggauta kami yang melakukan kekacauan, itu barulah ada buktinya dan kami takkan segan segan menghukum para anggauta kami yang melakukan pelanggaran.

Akan tetapi ciangkun datang tanpa bukti melakukan tuduhan, bukankah itu fitnah belaka?"

Kata ketua Im-yang pai itu.

Mendengar suara yang mengandung getaran .hebat itu, si komandan menjadi pucat dan gugup, dan tidak dapat menjawab.

Akan tetapi Thian Ki Hwesio sudah melangkah maju ke depan dan terdengar suaranya yang tenang.

"Omitohud""..! Ucapan ciangbujin dari Im-yang-pai memang tepat sekali dan kiranya kamipun tidak akan begitu sembrono untuk menuduh Im-yang-pai melakukan pengacauan yang sifatnya pengecut itu. Akan tetapi, pinceng mempunyai sebuah benda yang berhasil dirampas oleh sute pinceng dari tangan seorang pimpinan pengacau dan pinceng ingin sicu memeriksa apakah benda ini ada hubungannya dengan Im-yang-pai ataukah tidak!"

Setelah berkata demikian, Thian Ki Hwesio mengeluarkan lencana Im-yang-pai itu dari jubahnya dan menyerahkannya kepada Kok Beng Thiancu.

Kok Beng Thiancu menerima benda itu dan mengamatinya, juga puterinya ikut memeriksa.

Mereka tidak perlu memeriksa terlalu lama.

Sekelebatan saja mereka sudah tahu bahwa memang benda itu adalah lencana yang biasa dipakai oleh anggauta Im-yang-pai tingkat tiga!

Makin besar dugaan hati mereka bahwa benda ini tentulah lencana yang biasa dipakai oleh Liang Bin Cu.

anggauta Im-yang-pai yang telah lama menghilang itu!

"Kami mengenal benda ini,"

Kata Kim-sim Niocu dengan suara lantang namun sikapnya masih tenang sungguhpun alisnya yang hitam kecil itu berkerut.

"Ini memang lencana seorang di antara anggauta kami tingkat tiga. Akan tetapi justeru saat ini kami sedang rnenyelidiki ke mana perginya seorang anggauta kami bernama Liang Bin Cu yang telah lama hilang tanpa meninggalkan jejaknya. Kami khawatir kalau-kalau lencana ini dirampas orang dari tangannya dan dipergunakan untul merusak nama kami."

"Kauwcu, kiranya tidak akan ada gunanya kalau kita berdebat tentang hal-hal yang tidak ada buktinya. Kami juga tidak semata-mata menuduh Im-yang-pai melakukan perbuatan yang curang dan pengecut itu di Kuil Ban-hok tong. Akan tetapi karena bukti-bukti menunjukkan bahwa ada orang Im-yang-pai yang memimpin pengacauan itu, maka Im-yang-pai harus mampu menyerahkan pemilik lencana ini kepada kami untuk membersihkan nama Im-yang-pai. Kalau hanya dengan alasan alasan yang tidak ada buktinya belaka, mana mungkin kami mau menerimanya begitu saja. Pinni tidak mempunyai permusuhan dengan Im yang-pai, juga perguruan pinni dari Thai-san pai lidak ada sangkut-pautnya dengan urusan ini. Akan tetapi sebagai seorang nikouw melihat betapa kuil yang dipimpin oleh sute Thian Ki Hwesio dihina orang, maka demi untuk membela agama pinni tidak akan berhenti sebelum para pergacau itu dibekuk!"

Kok Beng Thiancu menarik napas panjang, tak mampu menjawab, dan Kim-sim Niocu juga bingung sekali.

Mereka ini merasa terdesak hebat dan tidak mampu mempertahankan diri, menjadi serba salah.

Untuk menyerah begitu saja, menjadi tawanan pasukan dan digiring ke kota raja sebagai pemberontak-pemberontak, hal itu tentu akan menghancurkan nama besar Im-yang-pai!

Akan tetapi untuk melawan pasukan pemerintah, benar-benar merupakanbahaya besar dan melawan sama dengan mengaku bahwa Im-yang-pai memang bersalah dalam peristiwa pengacauan itu.

"Imyang-pai selamanya menjunjung kegagahan, mana mungkin ada orang kami yang melakukan perbuatan rendah? Maka, kami mohon waktu untuk menyelidiki hal ini dan kami berjanji akan menyeret pelaku-pelaku pengacauan itu ke kota raja""."

Akan tetapi ucapan Kim-sim Niocu ini terhenti karena di saat itu muncul Kui Eng yang dengan muka merah saking marahnya, mata berapi telah meloncat ke situ dan berseru dengan suara lantang.

"Jangan percaya bujukan mulut perempuan hina itu!"

"Eng-moi"!"

Suaminya berseru dari belakang.

Pek I Nikouw, Thian Ki Hwesio, dan Tiong san Lo-kai juga terkejut sekali sehingga mereka hanya memandang dengan bengong.

Akan tetapi Kui Eng tidak memperdulikan semua itu dan dia cepat melanjutkan kata-katanya sambil menudingkan pedangnya ke arah muka Kim-sim Niocu.

"Siapa bisa percaya kata-kata busuk yang keluar dari mulut perempuan hina dan cabul macam dia itu? Terang bahwa dia hendak mencari waktu untuk melarikan diri! Dia telah menawan aku semalam, dan menggunakan aku sebagai sandera untuk memaksa suamiku melayani nafsu bejatnya semalam suntuk! Apakah ada yang bisa mempercayai mulut perempuan hina seperti itu?"

Setelah berkata demikian Kui Eng sudah menerjang ke depan dengan pedangnya, menyerang Kim-sim Niocu denga hebatnya.

"Eng-moi, jangan""!"

Beng Han berseru akan tetapi percuma saja karena seruannya itu bahkan seperti minyak menyiram kobaran api kemarahan di hati Kui Eng.

Nyonya muda ini telah menyerang dengan dahsyat sekali dengan jurus terampuh dari Kwi-hoa Kiam-hoat Melihat serangan yang amat dahsyat ini, Kim-sim Niocu juga terkejut.

Dia tidak mengira bahwa isteri Beng Han menjadi demikian marah dan nekatnya.

Tingkat kepandaiannya sudah jauh lebih tinggi dari pada kepandah Kui Eng, akan tetapi pada saat itu, Kim-sim Niocu sedang bingung menghadapi tuduhan yang amat hebat dan pengurungan bala tentara pemerintah, maka dia tentu saja tidak ingin mengeruhkan suasana dengan pertempuran dan tidak ingin melayani Kui Eng.

Ketika melihat sinar pedang yang amat cepat itu meluncur dan menyerangnya, dia hanya mengelak ke kiri sambil berseru.

"Aku tidak mau berkelahi!"

Akan tetapi, di luar dugaannya, nyonya muda itu menjadi makin penasaran, pedangnya digerakkan membalik dan sinar pedang itu meluncur kembali dengan serangan ke arah lambung!

Cepat sekali gerakan Kui Eng itu sehingga Kim-sim Niocu yang hanya menghadapi Kui Eng dengan setengah hati dan hanya mengelak lagi, mengeluarkan teriakan kaget karena biarpun lambungnya terhindar dari sasaran pedang, namun pedang itu masih menyerempet pangkal pahanya sehingga terdengar suara kain robek dan celananya yang berwar-putih itu terbuka sedikit memperlihatkan kulit pahanya yang putih dan yang segera berlumuran darah merah!

"Eng-moi, hentikan itu""..!"

Beng Han berteriak lagi, akan tetapi Kui Eng yang melihat betapa pedangnya berhasil merobek celana dan membuat lawan yang amat dibencinya itu terluka, mendengar dalam seruan suaminya itu seolah-olah suaminya membela dan melindungi wanita itu, maka dls menjadi makin ganas dan kini menubruk maju dengan pedangnya meluncur ke arah tenggorokan Kim-sim Niocu sedangkan tangan kirinya mendorong dan melakukan pukulan maut dengan tenaga sinkang sepenuhnya ke arah dada lawan!

Dus serangan itu merupakan cengkeraman tangan maut bagi Kim-sim Niocu.

"Kau tak tahu diri!"

Kim-sim Niocu berseru marah sekali karena selain pahanya terluka, biarpun hanya luka kulit terobek pedang, namun dia telah dibikin malu dengan robeknya celananya di depan orang banyak.

Maka begitu melihat serangan yang amat ganas ini dia berseru keras sekali, tubuhnya berkelebat ke depan, didahului oleh sinar hitam dari sabuknya yang melibat ujung pedang yang menyambar tenggorokannya, sedangkan tangan kanannya cepat menangkap tangan kiri yang menghantam dadanya.

Seketika Kui Eng tak dapat bergerak, pedangnya tertangkap sabuk hitam dan tangannya tertangkap tangan kanan lawan!Akan tetapi dia meludah dan ludah dari mulutnya tepat mengenai pipi kiri Kim-sim Niocu dan pada saat itu kaki kiri Kui Eng menendang ke arah pusar!

"Kau cari mampus!"

Kim-sim Niocu berteriak, miringkan tubuhnya dan membiarkan tendangan itu mengenai pangkal paha luar akan tetapi dengan pengerahan tenaga dahsyat sabuk hitamnya telah merampas pedang dan sekali dia membalikkan sabuknya, pedang itu berbalik dan meluncur ke depan, ke arah dada Kui Eng.

"Cappp""..!"

"Eng-moi"""!!"

Akan tetapi pedang itu telah menembus dada Kui Eng yang roboh terpelanting. Beng Han membelalakkan matanya, seolah-olah-tidak percaya bahwa isterinya telah tertembus pedang.

"Kau""". kau membunuh dia""".!"

Teriaknya kepada Kim-sim Niocu. Kim-sim Niocu menarik napas panjang.

"Semua orang melihat bahwa dia yang mendesak, terpaksa aku membela diri"""

"Kalau begitu, engkau atau aku yang harus mati!"

Beng Han menjerit dan dia sudah mencabut pedang lalu menyerang dengan penuh kedukaan.

Air matanya bercucuran dan pedangnya bergerak-gerak ganas, berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang mengurung tubuh Kim-sim Niocu.

Melihat ini, wanita cantik itu meloncat ke sana-sini, dan mulailah nampak gulungan sinar hitam dari sabuknya karena menghadapi serangan pedang dari Beng Han itu yang amat lihai, betapapun tinggi ilmu ketua Agama Im-yang-kauw ini dia tidak bisa bersikap sembarangan saja.

"Gan-taihiap, jangan mendesak aku. Isterimu tewas karena kesalahannya sendiri,"

Berkali-kali Kim-sim Niocu berkata, akan tetapi Beng Han menyerang makin hebat.

"Engkau atau aku yang mati!"

Teriaknya dan serangan-serangannya menjadi nekat dan tentu saja amat berbahaya.

Namun, selisih tingkat kepandaiannya jauh di bawah tingkat ketua Im-yang-kauw yang amat lihai itu, maka setelah Kim-sim Niocu mengeluarkan kepandaiannya, menggerakkan sabuk hitamnya Beng Han mulai terdesak dan sinar pedangnya selalu tertahan oleh sinar hitam dari sabuknya itu.

Sementara itu, Pek I Nikouw, Thian Ki Hwesio, Tiong-san Lo-kai dan para tokoh yang hadir memandang dengan muka pucat.

Kematian Kui Eng sama sekali tidak mereka sangka sangka.

Mereka melihat betapa ketua Im-yang-kauw itu memang tinggi sekali kepandaiannya dan mereka melihat pula betapa kematian Kui Eng terjadi dalam perkelahian satu lawan satu yang jujur.

Kini, melihat Gan Beng Han terdesak pula, mereka merasa tidak enak.

Sebagai orang-orang gagah, mereka tentu saja menjunjung tinggi kegagahan kejujuran, akan tetapi Pek I Nikouw yang mengenal Beng Han sebagai kakak kandung muridnya, sudah menjadi berduka dan marah sekali melihat kematian Kui Eng tadi.

"Ketua Im-yang-pai, apakah engkau tidak mau menyerah dan menghentikan perlawanan?"

Bentak Pek I Nikouw sambil menghunus pedangnya, memandang kepada Kok Beng Thiancu dengan sikap menantang.

"Kami tidak merasa bersalah, tidak melakukan pelanggaran sesuatu, bagaimana kami harus menyerah?"

Kok Beng Thiancu menjawab dengan sikapnya yang masih saja tenang.

"Jadi engkau hendak melawan?"

Pek I Nikouw kembali membentak.

"Kami tidak bersalah, kalau akan dipaksa menyerah, tentu saja kami akan melawan!"

"Omitohud!"

Pek I Nikouw lalu menoleh kepada teman-temannya.

"Terpaksa kita menggunakan kekerasan! Ouw-ciangkun, silakan menggerakkan pasukanmu!"

Setelah berkata demikian, Pek I Nikouw meloncat ke depan diikuti oleh sutenya, Thian Ki Hwesio dan Tiong-san Lo-kai.

Pek I Nikouw menggerakkan teman-temannya itu adalah selain hendak menangkap orang-orang Im-yang-pai, juga untuk menolong Beng Han, maka begitu dia menerjang maju, ia sudah meloncat ke dalam medan pertempuran antara Beng Han dan wanita itu dan pedangnya berkelebat menyerang Kim-sim Niocu.

"Tranggg"".!!"

Pek I Nikouw kaget bukan main sampai memandang dengan mata terbelalak kepada ketua Im-yang-pai karena kakek ini tadi telah menubruk ke depan dan menangkis pedangnya dengan tangan kiri.

Tangkisan tangan kiri kepada pedangnya itu membuat pedangnya terpental dan pertemuan antara pedang dan tangan kakek itu menimbulkani bunga api!

Dia tidak percaya bahwa ada tangan manusia yang mampu menangkis pedangnya seperti itu, akan tetapi ketika memandang dengan penuh perhatian, dia kini melihat bahwa kedua tangan kakek itu, sampai ke siku, dilindungi oleh sarung tangan yang warnanya seperti kulit sehingga tidak begitu kentara dan karena agaknya tipis sekali maka seolah-olah tangan telanjang saja.

Mengertilah nenek yang berpengalaman ini bahwa ketua lm-yang-pai walaupun tidak memegang senjata, namun kedua-tangannya menggunakan sarung tangan yang terbuat dari pada bahan luar biasa kuatnya, yang dapat menahan senjata tajam.

"Hemm, kalian main keroyokan? Jangan kira Kok Beng Thiancu takut akan pengeroyokan untuk mempertahankan kebenaran!"

Bentak kakek itu dan kini dia menubruk ke depan, gerakannya kelihatannya lambat saja akan tetapi dalam satu gerakan itu, terasa ada angin pukulan dahsyat menyambar ke arah Pek I Nikouw, Thian Ki Hwesio, dan Tiong-san Lo-kai sekaligus!

Tentu saja tiga orang tua sakti ini terkejut dan cepat mengelak, akan tetapi karena ini mereka menjadi tidak berdaya untuk membantu Beng Han yang makin terdesak hebat.

"Gan-taihiap, memang sebaiknya engkau menemani isterimu!"

Terdengar wanita itu bereru keras.

Kim-sim Niocu yang diam-diam merasa sayang dan suka kepada pria ini, tadinya tidak berniat membunuhya.

Akan tetapi ketika melihat betapa tiga orang sakti itu telah turun tangan mengeroyok ayahnya, sedangkan pasukan sudah bergerak mengurung dan pertempuran mulai terjadi, pertempuran yang berat sebelah, hatinya menjadi gelisah sekali dan serangan-serangan gencar yang dilakukan oleh Beng Han itu.

amat mengganggunya.

Dia arus lebih dulu merobohkan Beng Han agar dapat membantu dan menyelamatkan ayahnya.

dan melihat kedukaan Beng Han, memang dia pikir lebih baik kalau pria ini dibunuhnya sekalian agar kelak tidak menimbulkan dendam yang hanya akan membuat dia selalu terganggu.

Sinar hitam sabuknya bergulung dan membelit pedang di tangan Beng Han.

Pendekar ini menarik sekuat tenaga, dan pada saat itu, Kim-sim Niocu melepaskan sabuknya, lalu kedua tangannya bertemu, mengeluarkan suara meledak keras dan dua buah tangannya menyambar dari kanan kiri menyerang Beng Han.

Beng Han terkejut sekali, cepat dia melepaskan gagang pedangnya yang masih terbelit untuk menangkis.

Akan tetapi, hanya sambaran tangan kanan dari wanita itu yang dapat ditangkisnya.

sambaran tangan kiri dari wanita itu masih mengenai pelipis kepalanya.

Robohlah Beng Han tanpa sempat mengeluh lagi, roboh dengan nyawa melayang karena pelipis kepalanya pecah terkena jari tangan halus yang penuh mengandung getaran hawa pukulan Tian-lui Sin-ciang yang amat mengerikan itu!

Sejenak wanita itu berdiri termangu memandang mayat laki-laki yang semalam menjadi kekasihnya itu, menarik napas panjang lalu membuang muka, menoleh kepada ayahnya.

Kok Beng Thiancu memang hebat sekali.

Biarpun dia tidak memegang senjata apapun, hanya bertangan kosong yang dilindungi sarung tangan ajaib itu, namun dia tidak menjadi gentar menghadapi pengeroyokan tiga orang sakti itu Pedang di tangan Pek I Nikouw berkelebatan dan membentuk sinar bergulung-gulung yang menyilaukan mata, juga pedang di tangan Thian Ki Hwesio membentuk sinar bergulung-gulung, bekerja sama dengan baik sekali bersama sucinya.

Akan tetapi harus diakui bahwa gerakan dua orang ini tidak mengandung keganasan bahkan mengandung keraguan.

Hal ini adalah karena baik Pek I Nikouw maupun Thian Ki hwesio adalah orang-orang yang telah menghambakan diri kepada agama, selalu menjauhi kekerasan dan menghayati kehidupan yang bersih, maka tentu saja penggunaan kekerasan lagi membunuh orang, merupakan hal yang sebenarnya menjadi pantangan mereka.

Maka gerakan pedang mereka itu sebenarnya berlawanan dengan sifat dan watak mereka sehari-hari, sehingga gerakan pedang mereka kehilangan keganasan dan kedahsyatannya.

Sedangkan Tiong-san Lo-kai yangbersenjata sebatang tongkat telah mainkan Tiong-san Tung-hoat dan berusaha mendesak lawan yang amat tangguh itu.

Kalau bertanding satu lawan satu, agaknya antara tiga orang tua sakti itu tidak ada yang akan mampu menandingi Kok Beng Thiancu.

Rata-rata tenaga sinkang mereka kalah setingkat, dan ketua dari Im-yang-pai ini memang memiliki ilmu silat yang aneh-aneh, yang merupakan perkembangan yang luas sekali dari ilmu silat yang menjadi dasar atau sumbernya, yaitu Ilmu Silat Im-yang-sin-kun.

Dalam hal tenaga sakti, kakek ini telah pandai mempergunakan penggabungan tenaga yang berlawanan, yaitu Im kang dan Yang kang maka tentu saja dia dapat membuat lawan menjadi bingung karena dari kedua tangannya yang bersarung tangan itu kadang-kadang menyambar hawa yang amat panas dan kadang kadang menyambar hawa yang dingin sekali.

Dan juga kedua tangan itu bisa keras melebihi baja, akan tetapi tiba-tiba.

berobah lemas seperti karet!

Akan tetapi, betapapun lihainya Kok Beng Thiancu, yang dihadapinya adalah orang-orang yang telah memiliki kepandaian tinggi dan merupakan orang orang yang telah berpengalaman di dunia kang-ouw.

Maka setelah tiga orang itu maju bersama, perlahan-lahan Kok Beng Thiancu mulai terdesak dan terkurung sehingga dia lebih banyak melindungi tubuhnya dari pada balas menyerang karena tiga lawannya tidak memberi dia banyak kesempatan untuk mcnbalas.

Melihat betapa ayahnya mulai terdesak, Kim-sim Niocu mengeluarkan lengking nyaring dan tiba-tiba tubuhnya bergerak.

Kedua tangannya menyerangke arah Pek I Ni.koaw, dari kedua tangan itu menyambar tenaga pukulan yang bahkan lebih dahsyat dari pada tenaga sinkang ayahnya!

Pek I Nikouw tetkejut dan terpaksa dia meninggalkan Kok Beng Thiancu, membalikkan tubuhnya dan tidak berani ceroboh menghadapi serangan yang amat dahsyat ini.

Dia cepat mengelak dengan loncatan ke kiri sambi1 mengelebatkan pedangnya untuii; balas menyerang.

"Syuuuuttt"".!"

Tiba-tiba saja dari atas menyambar sinar hitam.

"Aihhh""!!"

Pek I Nikouw terkejut bukan main.

Saat itu, dia sedang menyerang dengan pedangnya.

sama sekali tidak mengira bahwa dari atas menyambar sinar hitam yang demikian dahsyatnya menuju ke kepalanya!

Itulah ujung sabuk hitam dari Kim-sim Niocu yang telah mempergunakan jurus ilmunya yang baru, yaitu sengatan kalajengking yang dilakukan oleh sabuknya yang melakukan gerakan lengkung dari samping atau belakang tubuhnya, meluncur ke atas dan tahu-tahu dari atas menyambar ke arah lawan dengan totokan maut!

Pek I Nikouw cepat menarik pedangnya menangkis, akan tetapi pada saat pedangnya bergerak menangkis sambaran ujung sabuk dari atas itu, tangan kiri Kim-sim Niocu sudah menampar ke depan mengarah dada Pek I Nikouw!

Hebat bukan main gerakan ini, cepat tak tetduga dan kembali Pek I Nikouw terkejut dan maklum bahwa ternyata kepandaian wanita cantik ini bahkan lebih mengerikan dari pada kepandaian Kok Beng Thiancu!

Karena maklum bahwa nyawanya terancam bahaya maut, terpaksa dia melempar tubuh ke belakang.

Tubuhnya terjengkang dan dia merobohkan diri bergulingan.

Ketika dia melompat bangun lagi, tubuhnya agak gemetar, kaiannya kotor dan wajahnya pucat.

Sebagian dari baju di dadanya telah berlubang, padahal jari-jari tangan wanita cantik itu tadi belum menyentuhnya.

Dia bergidik, maklum bahwa kalau tadi tersentuh, tentu nyawanya akan melayang.

Maka dengan marah Pek I Nikouw lalu menerjang maju, kini dibantu oleh sutenya Thian Ki Hwesio yang juga menyaksikan betapa lihainya ketua dari Im-yang-kauw itu!

Sementara itu, para anggauta lm-yang-pai yang jumlahnya kurang lebih delapanpuluh orang, repot sekali menghadapi serbuan pasukan pemerintah.

Mereka melawan sekuat tenaga, akan tetapi tentu saja mereka itu bukanlah lawan seimbang dari pasukan yang seribu orang banyaknya itu!

Sebentar saja, rumah-rumah dalam perkampungan Im-yang-pai itu telah menjadi lautan api dan banyak anggauta Im-yang-pai roboh menjadi korban pengeroyokan.

Melihat ini, Kok Beng Thiancu merasa berduka sekali.

Kalau saja para sutenya berada di situ, yaitu Cin Beng Thiancu dan lima orang sute lain, agaknya mereka bersama akan mampu mempertahankan Im-yang-pai.

Akan tetapi para pembantunya yang terpandai sedang tidak berada di situ, dan melihat bahwa untuk melawan terus sama dengan membunuh diri, maka Kok Beng Thiancu lalu mengeluarkan suara pekikan yang menggetarkan seluruh tempat itu.

Pekik ini merupakan tanda bagi para anggautanya untuk mengundurkan atau melarikan diri, sedangkan dia sendiri menggunakan kesempatan selagi tiga orang tua sakti itu terkesiap oleh pekik dahsyatnya, cepat menyambar tangan puterinya sambil berkata.

"Kita pergi!"

Sebenarnya Kim-sim Niocu merasa penasaran sekali, apalagi ketika melihat betapa semua rumah perkumpulannya terbakar dan banyak anggautanya tewas.

Dia merasa berduka sekali dan kalau tidak karena tarikan ayahnya, agaknya dia akan mengamuk sampai mati di tempat itu!

Akan tetapi, biarpun wanita ini telah memiliki kepandaian yang melebihi ayahnya dan di dalam perkumpulan dia bahkan dipandang lebih tinggi dari pada kedudukan ayahnya karena dia adalah ketua agama, namun dalam beberapa hal dia masih tunduk kepada orang tua yang telah mendidiknya sejak dia masih kecil itu.

Maka, ketika tangannya disambar dan ditarik oleh ayahnya, dia tidak membantah, hanya menjawab dengan suara mengandung isak.

"Mari!"

Dua orang itu berkelebat cepat sekali ke belakang Tiga orang tua itu mengejar, dan sambil melarikan diri Kim-sim Niocu dan ayahnya merobohkan beberapa orang pasukan pemerintah untuk menolong anak buah mereka.

Amukan kedua orang ini yang sebentar lari ke sana sebentar lari ke sini benar-benar dapat mengacaukan pengurungan pasukan itu sehingga di sana sini terjadi kebobolan dan banyak juga anak buah Im-yang-pai yang berhasil meloloskan diri, lari berserabutan ke dalam hutan-hutan.

Adapun ayah dan anak itu sendiri sambil melawan desakan tiga orang tua sakti terus membuka jalan darah keluar dari kepungan dan akhirnya dapat pula lolos dari tempat itu.

Pek I Nikouw dan teman-temannya tidak berani sembarangan mengejar karena mereka maklum betapa lihainya ayah dan anak itu.

Belasan orang Im-yang-pai telah ditangkap dan puluhan orang pula telah roboh dan tewas.

Juga di fihak pasukan banyak pula yang tewas dalam penyerbuan ini.

Perkampungan Im-yang-pai habis dimakan api.

Dengan hati penuh duka, Pek I Nikouw, Thian Ki Hwesio, dan Tiong-san Lo-kai lalu kembali ke Cin-an membawa mayat Beng Han dan Kui Eng untuk diurus sebagaimana mestinya.

Tentu saja para pelayan suami isteri ini menyambut dengan tangis sedih dan Pek I Nikouw cepat mengutus orang untuk memberi kabar kepada Siok Thian Nikouw, ibu Gan Beng Han, dan juga kepada muridnya, Gan Beng Lian dan suaminya yang telah kembali ke An-kian sambil membawa keponakan mereka, yaitu Gan Ai Ling.

"Ayaaahhh""! Ibuuuu""!"

Dan Ling Ling, anak perempuan berusia delapan tahun itu yang berlutut di depan makam baru, dua buah gundukan tanah baru, terguling roboh, dan untuk ketiga kalinya anak ini roboh pingsan!

Mereka semua yang berada di situ cepat nenolongnya.

Mereka semua yang menyaksikan keadaan anak ini, tidak ada yang tidak mencucurkan air mata saking terharu dan kasihan, Ling-Ling berkali-kali pingsan ketika anak ini berlutut di depan makam ayah ibunya.

Kini dia dipangku oleh bibinya Gan Beng Lian yang rnengurut tengkuk dan punggungnya sambil bercucuran air mata.

Sedangkan anaknya, juga seorang anak perempuan yang berusia tujuh tahun yang bernama Yap Wan Cu, ikut pula menangis sambil memeluk tubuh Ling Ling yang lemas.

"Enci Ling""., enci Ling Ling"".!"

Keluhnya sambil menangis, mengguncang tubuh Ling Ling yang diam seperti orang mati itu.

Yap Yu Tek yang duduk di atas rumput memandang dengan wajah pucat dan pandang mata sayu, penuh duka.

Hatinya terharu bukan main dan beberapa kali dia harus mengusap air mata yang menuruni pipinya.

Siok Thian Nikouw, pendeta wanita tua ibu Gan Beng Han, juga menangis sesenggukan di depan makam anaknya.

Bahkan Pek I Nikouw yang mengantar mereka ke makam itupun bersila di atas rumput sambil merangkap kedua tangan di depan dada.

Nikouw tua ini tidak menangis akan tetapi wajahnya diliputi kedukaan besar.

"Ling Ling"".. Ling Ling""

Sudahlah nak""..!"

Sukar bagi Beng Lian untuk menghibur karena dia sendiri seperti dicekik oleti kesedihan.

Membayangkan kakak kandungnya dan kakak iparnya terbunuh orang secara tak terduga sama sekali, benar-benar mengejutkam dan mendatangkan kedukaan yang hebat.

Apalagi kini menyaksikan sikap Ling Ling yang begitu mengenaskan.

Hati siapa takkan tergerak oleh rasa keharuan yang hebat?

Ling Ling mengejapkan matanya, mukanya pucat sekali, matanya agak membendul dan merah.

Dia bangkit duduk, dipangku oleh bibinya, lalu menoleh ke arah sepasang makam itu, dan tak dapat ditahannya, air matanya kembali bercucuran menuruni kedua pipinya yang pucat.

"Enci Ling.... jangan menangis..."

Wan Cu anak tunggal Gan Beng Lian dan Yap Tek, merangkul kakak misannya itu, akan tetapi dia sendiripun menangis! Ling Ling memandang adik misannya, lalu bibirnya bergerak lirih.

"Wan Cu"""

Dan dia menoleh, memandang kepada Beng Lian, berseru lirih seperti bisikan.

"bibi Lian...."

Kemudian dia menoleh kepada Yap Yu Tek dan kembali berbisik.

"paman""."

Semua ini dilakukan seperti orang kehilangan semangat seperti seorang anak yang rninta perlindungan ke sana sini, mencari cari pegangan, pandang matanya kosong dan sayu.

"Ling Ling"".,"

Beng Lian memeluknya dan mendekap muka anak itu ke dadanya, tidak dapat menahan tangis, dan kesedihannya, tidak tahan lagi memandang wajah anak keponakan itu yang seperti mayat hidup.

Yu Tek rnengusap air matanya dengan ujung lengan baju.

Yang terdengar hanya keluh dan ratap tangis di kuburan yang sunyi itu.

Tiba-tiba terdengar ucapan yang parau tetapi berpengaruh sekali, terasa sampai ke dalamjantung semua yang berada di situ "Siancai""!

Apa artinya semua tangis ini?

Apa yang kalian tangisi?

Huh, menyebalkan sekali!"

Semua orang menengok dan ternyata di situ tak jauh di belakang mereka, telah berdiri seorang kakek yang sudah tua sekali, berpakaian sederhana seperti seorang petani akan tetapi bajunya longgar seperti baju pertapa, rambutnya sudah hampir putih semua, bahkan jenggot kumis dan alisnya juga sudah bercampur uban.

Akan tetapi, sepasang mata kakek itu seperti mata orang muda saja, dengan sinar yang tajam berwibawa.

Pek I Nikouw juga membuka mata dan menoleh, dan nikouw tua ini segera mengenal kakek itu"

"Omitohud...., kiranya Lui Sian Lojin yang telah datang"".."

Katanya halus.

"Pek I Nikouw, engkau adalah seorang yang beribadat, mengapa tidak melarang mereka yang menangisi kuburan dua orang muridku?"

Kakek menegur kepada Pek I Nikouw.

Pek I Nikouw menarik napas panjang "Ornitohud"".

Lojin, apakah engkau tidak dapat membedakan antara orang-orang yang telah dapat membebaskan diri dari pengaruh ikatan dunia dengan mereka ini yang tentu masih terikat kuat?

Bagaimana mereka tidak akan menderita sengsara dan duka karena ditinggal mati oleh orang-orang yang mereka cinta?"

"Cinta? Huh! Siapa yang mereka cinta? Yang mati ataukah diri mereka sendiri?"

Kakek itu mencela sambil menghampiri dua makam baru itu.

Tiba-tiba Ling Ling yang tadinya menangis sambil berlutut, meloncat dan berdiri dengan sikap beringas, menghadapi kakek itu dan sepasang matanya yang merah itu mengeluarkan sinar seperti berapi-api.

Kedua tangannya yang kecil dikepal dan dia berkata.

"Engkau tentu kakek jahat, engkau tentu teman dari musuh musuh yang membunuh ayah dan ibuku!"

"Ling Ling, jangan kurang ajar"".!"

Beng Lian maju dan memegang pundak keponakannya.

Melihat kakek aneh itu, Yap Yu Tek juga sudah bangkit berdiri mendekati isteri dan keponakannya, memandang tajam dengan alis berkerut.

Kakek itu sejenak memandang kepada mereka berdua, lalu berkata mencela.

"Kenapa kalian yang sudah dewasa, bukan anak-anak lagi, memberi contoh buruk dan menangis palsu di depan makam ini?"

Beng Lian menjadi marah.

"Locianpwe! Tadi saya mendengar bahwa locianpwe adalah guru dari mendiang kakakku Beng Han dan kakak iparku Kui Eng. Akan tetapi mengapa sikap locianpwe seperti ini? Kakakku mati di bunuh orang, demikian pula kakak iparku. Sudah tentu saja kami berduka dan menangisi. Apakah locianpwe sebagai guru mereka datang untuk bergirang hati atas kematian mereka?"

"Beng Lian""..!"

Tiba-tiba Pek I Nikouw membentak muridnya. Dengan alis berkerut Beng Lian menoleh kepada subonya dan berkata.

"Biarlah, subo. teecu merasa penasaran sekali mengapa kami dicela karena kami menangisi kematian koko dan soso...".."

"Omitohud"..Lojin, sekarang engkau harus memberi perjelasan kepada mereka"".. masa bodoh terserah kepadamu"

Kata Pek I Nikouw. Nikouw ini sudah merangkapkan kedua tangan di depan dada dan memejamkan matanya lagi. Lui Siang Lojin tertawa sambil mengelus jenggotnya.

"Ha-ha-ha, orang muda! Orang seperti aku sudah tidak lagi dipengaruhi oleh suka dan duka. Aku datang bukan untuk berduka maupun untuk bergembira atas kematian kedua orang muridku, Beng Han dan Kui Eng. Mereka itu sudah mati, dan apakah kita tahu bagaimana keadaan mereka sesudah mati? Apakah mereka lebih sengsara dari pada ketika masih hidup? Kita tidak tahu. Oleh karena itu, kalau benar kita mencinta mereka, mengapa pula kita harus menangisi mereka? Bagaimana kalau keadaan mereka kini lebih baik? Siapakah yang kalian tangisi itu, kalian menangisi mereka yang tidak kalian ketahui bagaimana keadaan mereka kini, ataukah kalian menangisi diri kalian sendiri yang merasa kehilangan dan sedih karena ditinggal pergi selamanya?"

Beng Lian dan suaminya terkejut dan saling pandang, lalu sinar kemarahan mulai lenyap dari pandang mata mereka.

Bahkan mereka merasa terkejut sekali karena selamanya baru sekali ini mereka mendengar pandangan macam itu, pandangan yang terlalu aneh dan jujur, yang sekaligus menelanjangi perasaan mereka.

Memang harus mereka akui tanpa kata bahwa mereka menangis karena merasa kehilangan dan karena mereka merasa penasaran.

"Menangis bukanlah perbuatan orang gagah!"

Kata pula Lui Sian Lojin.

"Menangis sebagai pelepasan atau luapan kesedihan hanya akan membuang tenaga murni secara sia-sia belaka. Dan apakah manfaatnya menangisi kematian kedua orang muridku itu? Apakah dengan menangis air mata darah sekalipun mereka dapat kalian hidupkan kembali? Apakah dengan menangis saja urusan dapat menjadi beres? Kedua orang muridku itu adalah melebihi anak-anakku sendiri, kini mereka tewas di tangan ketua Im-yang-kauw yang memiliki tingkat kepandaian amat tinggi. Lalu apakah yang akan kalian lakukan?"

Yap Yu Tek dan isterinya mendengarkan dengan mata terbelalak dan bingung. Akhirnya keduanya menjatuhkan diri berlutut dan Beng Lian berkata.

"Teecu berdua adalah orang orang bodoh, mohon petunjuk locianpwe."

Kakek itu menarik napas panjang.

"Semua adalah kesalahanku, ya, kesalahanku sampai tiga orang muridku yang tersayang tewas""! Ahh, mula-mula Bun Hong yang tewas secara menyedihkan karena dia meninggal di waktu usianya masih muda sekali, dan sekarang Beng Han, dan Kui Eng tewas pula. Semua karena kesalahanku, karena kebodohanku"

"Omitohud! Lojin mengapa berkata demikian? Pinni tidak melihat sesuatu yang bisa di salahkan kepadamu,!"

Tiba-tiba Pek I Nikouw berkata.

"Salahku, Nikouw, karena aku tidak becus mendidik mereka! Kepandaianku terlalu rendah sehingga mereka menjadi orang orang yang kepandaiannya setengah matang dan mudah dikalahkan musuh. Setelah tahu bahwa mereka hidup dalam dunia persilatan yang mengandung kekerasan, maka seharusnya mereka memiliki kepandaian yang cukup tinggi sehingga tidak akan mudah dibunuh orang! Maka aku harus mengajak pergi anak mereka ini. Aku harus mendidik anak ini, akan kuminta bantuan suhu sendiri untuk mendidiknya menjadi orang yang lebih tinggi tingkat kepandaiannya dari pada aku sendiri, agar tidak mudah dikalahkan orang seperti orang tuanya."

Kini Pek I Nikouw bangkit berdiri dan merangkap kedua tangannya.

"Omitohud""..! Lui Sian Lojin, apakah engkau hendak menanamkan racun dendam ke dalam hati anak ini? Betapa kejamnya itu""..!"

Pek I Nikouw memandang kepada Ling Ling yang sejak tadi mendengarkan dengan mata terbelalak. (Lanjut ke

Jilid 20) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 20 Lui Sian Lojin tertawa.

"Ha-ha-ha, jangan menduga yang bukan-bukan, Pek I Nikouw. Akan tetapi hendaknya engkau ketahui bahwa urusan yang timbul di dunia sekarang ini bukan sekedar urusan dendam-mendendam pribadi belaka! Melainkan lebih besar lagi, mengenai keselamatan bangsa dan negara. Im-yang-pai sampai menjadi korban bukan karena mereka itu menentang agama dan pemerintah, melainkan karena fitnah belaka. Ada usaha-usaha kotor yang belum kita ketahui, yang agaknya hendak mengadu domba beberapa fihak. Telah muncul orang-orang pandai yang akan mengeruhkan kehidupan rakyat dan rnengacaukan pemerintah. Maka, sudah sepatutnya kalau keturunan diri murid-muridku ini biarpun hanya seorang perempuan, untuk kelak turun tangan membantu manusia menghalau segala bencana itu. Ling Ling, aku tahu bahwa namamu Gin Ai Ling dan panggilanmu sehari-hari Ling Ling. Engkau agaknya tidak ingat lagi kepadaku karena ketika aku menjenguk orang tuamu, engkau masih terlalu kecil. Aku adalah guru dari ayah ibumu. Sekarang, aku akan mengajakmu untuk belajar ilmu agar kelak engkau melebihi orang tuamu, melebihi aku, dan tidak akan mudah dibunuh orang, dan cukup kuat untuk menentang segala macam kejahatan di dunia ini!"

Ling Ling menoleh kepada Pek I Nikouw, Yu Tek, dan Beng Lian.

Biarpun usianya baru delapan tahun, namun anak ini memang cerdik dan dia sudah mendengarkan segala percakapan orang-orang tua itu tadi.

Maka dia mengangguk dan cepat menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu sambil berkata.

"Teecu ingin mempelajari ilmu agar kelak dapat membunuh ketua Im-yang-kauw!"

Ternyata dia yang selalu memperhatikan percakapan orang orang tua, tanpa diberi tahu secara langsungpun telah mengerti bahwa pembunuh ayah bundanya adalah ketua Im-yang-kauw! "Omitohud"".!"

Pek 1 Nikouw berseru. Lui Sian Lojin tertawa.

"Tak usah kau khawatir, Pek I Nikouw. Kalau dia sudah dewasa pikiran bodoh itu tentu akan berubah. Nah aku pergi mengajak anak ini!"

Kakek itu lalu memegang tangan Ling Ling, ditariknya bangun sambil berkata.

"Ling Ling, hayo kau ikut bersamaku sekarang juga."

"Akan tetapi pakaiannya masih di rumah..."."

Beng Lian berkata, hatinya masih belum rela berpisah dari keponakannya yang baru saja kehilangan kedua orang tuanya itu.

"Pakaian adalah urusan kecil. Ling Ling, apakah engkau masih hendak meributkan urusan pakaian dan segala tetek-bengek?"

Kakek itu berkata.

"Tidak, teecu mau berangkat sekarang juga bersama sukong,"

Ling Ling lalu berkata kepada mereka.

"Bibi, paman, aku pergi""..!"

Beng Lian hanya dapat mengangguk dengan air mata menetes di atas kedua pipinya. Sedangkan Yu Tek yang merasa terharu dan juga kagum hanya berkata.

"Baik-baiklah engkau belajar, Ling Ling."

Ketika kakek dan anak perempuan itu sudah melangkah pergi, tiba-tiba terdengar suara anak menjerit.

"Enci Ling"".I"

Dan Wan Cu berlari mengejar, lalu merangkul Ling Ling sambil menangis.

"Enci Ling, aku ikut""..!"

Ling Ling balas merangkul dan mencium pipi adik misannya itu.

"Kau tidak boleh meninggalkan ayah ibumu, adik Wan Cu. Kelak ita akan bertemu kembali."

Ling Ling lalu melepaskan rangkulan anak itu, menghampiri Lui Sian Lojin dan menggandeng tangan kakek itu.

Pergilah mereka berdua dan Ling Ling tidak pernah menoleh lagi.

Hatinya sudah bulat untuk mencari ilmu agar kelak dapat membalaskan kematian ayah bundanya!

Kwi-hoa san adalah sebuah gunung yang sunyi.

Gunung itu, apa lagi mendekat puncak dari lereng mula sudah terdiri dari batu-batu kapur sehingga tanahnya tidak subur untuk pertanian, maka tempat itu sunyi dan tidak ditinggali manusia.

Hanya di bagian kaki gunung itu saja masih ada dusun-dusun yang sedikil penghuninya.

Dari lereng sampai ke puncak, gunung itu penuh dengan tebing-tebing tinggi dari kapur yang bentuknya aneh-aneh dan sukar didaki.

Akan tetapi di sana-sini terdapat bagian-bagian yang penuh degnan pohon-pohon liar, pohon pohon yang dapat hidup di tanah padas dan kapur.

Di puncaknya yang merupakan bagian yang aneh aneh bentuknya, sebagian besar meruncing ke atas menjulang ke dalam awan, jarang sekali didatangi manusia karena selain tidak ada sesuatu yang dapat dihasilkan, juga perjalanan menuju ke puncaknya amat sukar dan berbahaya Akan tetapi, sekali orang berhasil tiba di puncak gunung ini, dia akan terpesona oleh keindahan pemandangan alam yang jarang didapat di tempat lain.

Dan di dekat puncak, secara aneh terdapat sebidang tanah yang penuh dengan tanaman sayur-sayuran dan pohon pohon berbuah!

Dinding puncak yang merupakan dinding karang itu berlubang-lubang, membentuk guha-guha besar dan di salah sebuah guha yang terbesar dan amat gelap, terdapat seorang kakek tua renta yang sudah bertahun-tahun bertapa.

Kakek ini pada puluhan tahun yang lalu pernah menggemparkan dunia persilatan karena dia ini bukan lain adalah Bu eng Lojin (Kakek Tanpa Bayangan), seorang sakti yang selama puluhan tahun malang melintang di dunia kang-ouw dan menentang para penjahat sehingga namanya pernah menggemparkan dunia kang-ouw dan liok-lim.

Akan tetapi setelah mulai tua, kakek ini menyadari bahwa jalan kekerasan yang ditempuhnya membuat dia makin jauh dari kebenaran dan kebahagiaan, maka dia lalu mengundurkan diri dan bertapa di puncak Kwi-hoa-san, sama sekali tidak lagi mau mencampuri urusan dunia.

Jejaknya ini kemudian diikuti oleh muridnya yang bukan lain adalah Lui Sian Lojin, kakek yang usianya berselisih duapuluh tahun dari gurunya.

Pada sore hari itu, ketika matahari condong ke barat dan kebetulan memuntahkan cahayanya yang kemerahan ke dalam guha itu karena guha itu memang menghadap ke barat sehingga untuk beberapa jam lamanya setiap senja guha itu menjadi agak terang, di depan mulut guha itu nampak seorang kakek dan seorang anak perempuan berlutut menghadap ke dalam guha yang dipenuhi cahaya merah seperti kebakaran!

Kakek itu adalah Lui Sian Lojin sedangkan anak perempuan yang berlutut di sebelah kirinya adalah Gan Ai Ling.

Setelah melakukan perjalanan cepat sekali dengan menggendong anak itu, akhirnya Lui Sian Lojin pada hari itu tiba di puncak Kwi-hoa-san dan dia langsung mengajak cucu muridnya itu untuk menghadap di depan guha pertapaan suhunya yang selama bertahun-tahun tidak pernah menampakkan dirinya itu.

Baru sekarang Lui Sian Lojin berani untuk mengadakan hubungan dengan gurunya, sedangkan biasanya, hanya beberapa hari sekali dia menyuguhkan hidangan di depan guha.

Kadang-kadang hidangan itu lenyap diambil oleh gurunya di waktu malam akan tetapi kadang-kadang sampai beberapa hari hidangan itu tidak disentuh orang!

Demikianlah dia sendiri tidak pernah bertemu muka dengan gurunya sejak bertahun-tahun yang lalu, akan tetapi pada senja hari ini dia nekat, mengajak Ling Ling menghadap di depan mulut guha.

"Suhu, harap suhu sudi mengampuni teecu yang lancang mengganggu ketenangan suhu, Akan tetapi, teecu melakukan hal ini bukan demi diri sendiri, melainkan demi negara, demi bangsa yang terancam kekalutan."

Selanjutnya dengan suara tenang, satu satu dan jelas Lui San Lojin bercerita tentang keadaan negara yang kacau, di mana kaisar menjadi boneka dari para pembesar lalim, bahkan betapa kini terjadi kekacauan yang mengadu domba antara perkumpulan besar sehingga batu-baru saja telah mengakibatkan hancurnya Im-yang-pai yang diserbu oleh pasukan pemerintah, padahal menurut pandangannya, tidak mungkin Im-yang-pai yang melakukan pengacauan terhadap upacara Agama Buddha itu.

"Demikianlah keadaannya, suhu, maka teecu memberanikan diri mengganggu suhu dari ketenangan dan mengetuk hati nurani suhu untuk kali lagi mencurahkan tenaga demi rakyat."

Sunyi menyambut ucapan yang panjang lebar dan lama itu, Ling Ling merasa bulu tengkuknya meremang.

Dan mendengar sukongnya bicara sendiri menghadapi guha yang kelihatan kosong menyeramkan dan kemerahan itu.

Dan tidak nampak seorangpun di dalamnya, juga tidak ada yang menjawab agaknya.

Akan tetapi, selagi dia hendak menegur sukongnya yang dianggapnya bicara sendiri tanpa ada gunanya tiba-tiba terdengar suara lirih yang meraung keluar dari dalam gua, membuat Ling Ling terkejut setengah mati dan mukanya menjadi pucat.

"Cin Lok"""..!"

Suara itu berdengung seperti suara angin lalu saja, begitu lembut akan tetapi mendatangkan gema yang menyeramkan Lui Sian Lojin mengangguk anggukkan kepala sampai dahinya menyentuh tanah.

Kakek ini merasa girang sekali dapat mendengar suara gurunya.

Tak salah lagi, itulah suara gurunya karena siapakah yang mengenal nama kecilnya kecuali gurunya?

Nama kecilnya adalah Bu Cin Lok dan selama dia merantau di dunia kang-ouw, dia tadinja dikenal sebagai Lui Sian Enghiong karena setelah tamat belajar dia berdiam di puncak Pegunungan Lui sian, dan kemudian setelah tua dia dikenal sebagai Lui Sian Lojin.

Tidak ada orang lain kecuali gurunya yang mengenal nama kecilnya maka kini mendengar suara menyebut nama kecilnya, hatinya tergetar penuh kegirangan.

"Suhu! Terima kasih bahwa suhu sudi mendengarkan teecu."

"Cin Lok, bukankah dahulu engkau pernah mengambil tiga orang murid yang kauanggap sebagai tiga ekor naga sakti yang turun ke dunia untuk membersihkan kejahatan?"

"Ahh, suhu, teecu telah berlaku bodoh sekali! Teecu tidak dapat menurunkan ilmu cukup tinggi kepada mereka sehingga tiga orang murid teecu itu terpaksa mengalami nasib yang menyedihkan, tewas di tangan musuh yang lihai sewaktu mereka menjalankan tugas. Karena itulah maka teecu sekarang menghadap kepadamu. Anak ini adalah puteri dari kedua orang murid teecu yang telah menjadi suami isteri dan yang telah tewas pula dalam Keributan Im-yang-pai yang telah teecu ceritakan tadi."

"Anak itu cukup baik dan berbakat, aku setuju engkau mengangkatnya sebagai murid,"

Terdengar suara itu.

"Akan tetapi". teecu khawatir akan mengulangi kesalahan lama, suhu. Anak ini menghadapi tugas yang jauh lebih berat dan berbahaya dari pada orang tuanya, maka teecu mohon kerelaan hati suhu, sudilah suhu turun tangan sendiri mendidik anak ini agar tidak akan sia-sia lagi usaha teecu."

"Hemm, Cin Lok, apa kaukira bahwa Kwi-hoa san ini merupakan puncak tertinggi? Di sana masih banyak puncak lain yang lebih tinggi dan masih ada Gunung Thai-san yang jauh lebih tinggi, sedangkan di atas puncak Thai-san masih ada awan dan di atas awan masih ada langit!"

Ucapan yang halus ini tentu saja dimengerti baik oleh Lui Sian Lojin.

Gurunya tidak mau dianggap sebagai orang terpandai dan mengingatkan murid itu bahwa di dunia ini masih terdapat banyak sekali orang yang lebih pandai lagi dan di atas sekali masih ada langit (Thian) yaitu Yang Maha Pandai!

"Teecu mengerti, suhu.

Akan tetapi setidaknya, bimbingan suhu masih jauh lebih tinggi hasilnya dari pada pendidikan teecu yang ternyata telah gagal mendidik tiga orang murid itu"

"Hemm""

Akhirnya semua ini akan kubawa pergi, untuk apa bagiku dan apa gunanya kalau tidak ditinggalkan kepada seorang manusia lain? Cin Lok, suruh anak itu masuk ke dalam."

Lui Sian Lojin girang bukan main, cepat dia mendorong punggung Ling Ling dan berbisik.

"Ling Ling, anak yang baik, cepat kau merangkak ke dalam dan memberi hormat kepada sucouw!"

Ling Ling adalah seorang anak yang cerdik.

Tadinya dia memang takut dan ngeri mendengarkan suara tanpa rupa itu, akan tetapi dari percakapan itu dia dapat mengerti bahwa suara itu adalah suara dari kakek buyut gurunya.

Sedangkan kakek gurunya saja telah memiliki kepandaian yang amat luar biasa, apa lagi kakek buyut gurunya!

Tentu sakti seperti dewa.

Maka, sambil memberanikan hatinya yang berdebar, dia merangkak memasuki guha itu.

Ketika dia tiba di dalam, dia melihat bahwa pada dinding belakang guha itu terdapat lorong yang membelok ke kiri.

Pantas saja orangnya tidak nampak.

Kiranya guha itu masih ada terowongannya ke kiri.

Dia terus merangkak memasuki terowongan yang gelap itu dan tiba-tiba terdengar suara halus.

"Berhentilah!". Ling Ling berhenti, mengangkat muka dan di dalam keremangan cahaya matahari senja dia melihat bentuk seorang tua yang sedang duduk bersila. Karena hanya remang-remang, dia hanya melihat bahwa kakek itu rambutnya panjang sampai ke pinggang, mukanya tertutup rambut pula, dan kakek itu mengulur tangan, tahu-tahu dia merasa bahwa kepalanya telah disentuh oleh tangan yang berkulit lembut dan halus. Tangan itu menggerayangi kepalanya, menurun ke muka dan lehernya, kemudian tangan itu memegang pergelangan tangannya, menekan sebentar dan menggerayangi punggungnya, Ling Ling merasa geli, akan tetapi dia menahan diri untuk tidak tertawa.

"Baiklah, Cin Lok. Dia cukup berharga dan cukup kuat menerima ilmu-ilmu yang selama ini kusimpan kelak. Kaudidiklah dia lebih dulu, beri dia dasar-dasar ilmu silat tinggi dan latih dia dengan tekun agar dia mengumpulkan hawa murni di tubuhnya. Kelak kalau sudah tiba saatnya, aku akan mendidiknya."

"Terima kasih, suhu, terima kasih""."

Terdengar suara Lui Sian Lojin dari luar, dan karena suara itu memasuki guha dan membalik, maka terdengar aneh dari sebelah dalam oleh Ling Ling.

Ternyata bahwa tidak ada keanehan apa-apa mengenai suara kakek yang duduk di dalam guha itu, melainkan suara yang tertutup dan bergema di dalam guha itu maka terdengar seperti aneh.

"Keluarlah, anak yang baik, dan berlatihlah dengan tekun!"

Kakek jang hanya nampak bayangannya itu berkata halus.

Ling Ling yang berlutut itu memberi hormat dengan mengangguk dan membungkuk sehingga dahinya menyentuh lantai guha, kemudian dia merangkak mundur sampai di depan guha, di mana Lui Sian Lojin lalu menggandeng tangannya, diajak bangkit dan meninggalkan guha itu sambil berkata dengan girang.

"Sumoi, kita berhasil."

Ling Ling terkejut bukan main.

"Sumoi? Apa maksud sukong?"

"Hush! Siapa sukong? Engkaulah sumoiku, dan aku suhengmu!"

Kata kakek itu dengan wajah berseri "Eh, tapi""., sucouw adalah guru sukong, dan sukong adalah guru ayah ibu.... ahh"..!"

Begitu menyebut nama ayah ibunya, Gan Ai Ling menangis sesenggukan.

"Hushh, jangan menangis!"

Kakek itu membentak dan Ling Ling terkejut sekali, karena selain suara itu mengandung getaran hebat juga tangan kakek itu menempel di punggungnya dan dia merasa ada hawa yang panas memasuki tubuhnya dan membangkitkan semangatnya sehingga seketika tangisnyapun terhenti.

"Ingat, sumoi. Engkau adalah calon seorang. gagah yang akan mewarisi ilmu kepandaian dari suhu.! Engkau adalah seorang yang dicalonkan untuk menanggulangi semua kekeruhan yang timbul di dalam dunia ini. Maka, pertama-tama yang harus kau ingat adalah bahwa menangis-merupakan suatu kelemahan yang sama sekali tidak ada gunanya! Berduka tidak ada manfaatnya sama sekali, berduka dalam bentuk iba diri dan kecewa hanya akan melemahkan diri dan merupakan pantangan besar bagi seorang gagah. Mengertikah engkau?"

Anak kecil berusia delapan tahun itu mengangguk-angguk dan sikapnya sudah seperti seorang dewasa saja!

Lui Sian Lojin tersenyum girang dan dia mengelus kepala sumoinya yang sama sekali tidak patut menjadi sumoinya patutnya menjadi cucunya itu.

Dan mulailah Ling Ling mengalami kehidupan yang baru sama sekali Mulailah dia hidup di tempat sunyi itu, setiap hari digembleng ilmu oleh suhengnya yang pernah menggembleng ayah dan ibunya, juga di tempat yang sama.

Dongeng tentang ayah ibunya ketika masih kecil dan juga belajar ilmu di tempat ini membuat Ling Ling menjadi bergembira dan semangat.

Baiknya Lui Sian Lojin adalah seorang kakek yang bijaksana dan dia dapat melayani watak seorang anak-anak mengajak Ling Ling di samping belajar ilmu juga bermain-main, mengajaknya turun gunung sewaktu-waktu untuk mengunjungi dusun-dusun dan bertemu dengan manusia-manusia lain, dan di samping menggemblengnya dengan ilmu silat atau dasar ilmu silat tinggi, juga tidak lupa dia mengajar ilmu membaca dan menulis kepada anak ini.

Kita tinggalkan dulu Ling Ling yang memulai kehidupan baru di puncak Kwi-hoa-san, dan sebaiknya kita mengikuti pengalaman Coa Gin San, murid dari pendekar Gan Beng Han dan isterinya yang tewas ketika berusaha mencari murid ini.

Kemanakah perginya Coa Gin San?

Seperti telah diceritakan di bagian depan ketika terjadi keributan di dalam Kelenteng Ban-hok-tong di kota Cin-an, Gin San terbawa oleh para saikong yang mengadakan pengacauan itu dan tidak ada seorangpun tahu ke mana anak itu dibawa pergi karena tidak meninggalkan jejak sama sekali.

Menurut dugaan Thian Khi Hwesio, Gan Beng Han dan yang lain-lain.

para penyerbu itu adalah orang-orang dari Im-yang-pai sehingga akibatnya Im-yang-pai mengalami penyerbuan dan dihancurkan oleh pasukan pemerintah.

Akan tetapi benarkah demikian?

Tepat seperti dugaan Lui Sian Lojin, memang sesungguhnya Im-yang-pai hanya terkena fitnah belaka.

Im-yang-pai tidak tahu-menahu tentang penyerbuan itu.

Akan tetapi siapakah para saikong yang amat lihai itu, yang telah menyerbu kuil dan mengacaukan upacara penyambutan benda suci dari Agama Buddha?

Mereka itu sesungguhnya adalah orang-orang yang menjadi anggauta perkumpulan Agama Beng-kauw!

Pada waktu itu, aliran agama atau kebatinan Beng-kauw merupakan aliran kebatinan yang menyeleweng dan dimasuki oleh golongan sesat di dunia kang-ouw, dan pelajaran-pelajarannya menjurus ke ilmu klenik dan sihir.

Bagaimanakah asal-usul dari aliran kebatinan Beng kauw ini?

Tidak banyak orang tahu, akan tetap menurut catatan lama, aliran kebatinan ini datang dari dunia barat, yaitu tepatnya dari Negara Persia (Iran).

Beng-kauw berarti Agama Terang dan asalnya dari Agama Mani Iran, atau yang terkenal dengan sebutan Manichaeism.

Mani adalah nama seorang pemuda bangsawan, terlahir dalam tahun 200 kurang lebih, dan terdidik dalam lingkungan sekte Mandaeans.

Pada waktu itu terdapat dua agama besar yang saling bersaing dan bermusuhan, yaitu Agama Kristen dan Agama Mithraism, sedangkan agama asli dari Persia sendiri adalah Agama Magism.

Pemuda Mani mempelajari semua agama ini, memperkembangkannya, bahkan mengambil bagian-bagian yang dirasa cocok dan dicampur adukkan sehingga dia berhasil membangun suatu agama baru yang kemudian berkembang dan dinamakan menurut namanya, yaitu Agama Manichaeism.

Tentu saja karena berasal dari penggabungan tiga agama Kristen, Mithraism dan Magism, maka Agama Manichaeism ini mempunyai bagian-bagian dari tiga agama itu.

Dengan penuh semangat, Mani secara resmi mendirikan agamanya itu pada hari penobatan Raja Persia, yaitu Raja Shapur ke I yang menaruh simpati kepada ajaran agama baru ini.

Karena memperoleh dukungan raja yang berkuasa, maka Mani dapat bergerak bebas, dan dia berkelana ke seluruh negeri untuk menyebarkan agamanya.

Bahkan dia mengunjungi luar negeri, sampai ke India dan ke Tiongkok sebelah barat.

Karena di Tiongkok dia sukar memperoleh penyambut, dia kembali ke Persia dan mulailah ia memperoleh banyak pengikut, bahkan banyak kaum bangsawan dan keluarga raja yang menjadi pengikutnya.

Akan tetapi, diam-diam kaum Agama Magism merasa iri dan memusuhinya sebagai penyebar agama palsu.

Hanya karena Raja Shapur I mendukungnya, maka Mani masih dapat bergerak dengan leluasa.

Bahkan raja penggantinya, yaitu Raja Hormizd, juga terpengaruh oleh Manichaeism sehingga agama ini dapat berkembang biak dengan suburnya.

Akan tetapi ketika Mani mulai menjadi tua, Raja Hormizd diganti oleh Raja Barham I yang beragama Magism dan condong kepada kasta Magians.

Mani kehilangan tempat berpijak yang kokoh, dia ditangkap dan diserahkan kepada kasta Magians yang menjadi musuhnya dan Mani dihukum mati sebagai seorang penyebar agama palsu, sebagai utusan iblis!

Setelah itu, pemerintah Persia di bawah Raja Barham I berusaha untuk membasmi Agama Manichaeism, akan tetapi tidak begitu berhasil karena memang sudah banyak pengikutnya dan ketika terjadi pembasmian itu, banyak pengikut yang pergi melarikan diri ke timur, ke India dan ada pula yang pergi ke Tiongkok.

Aliran kebatinan Manichaeism berkembang menjadi aliran kebatinan yang mendambakan mistik dan klenik.

Pada mulanya, Mani sendiri menganut paham dualisme, seperti paham kaum kebatinan Im Yang.

Menurut Mani, terang adalah baik dan gelap adalah jahat.

Pengetahuan tentang agama Mani atau Beng-kauw adalah pengetahuan tentang alam dan unsur-unsurnya, antara kebalikan-kebalikan, dan penyelamatan adalah proses membebaskan unsur terang dari gelap.

Menurut Mani, di dalam alam semesta terdapat dua kekuasaan yang saling bertentangan, yaitu Terang dan Gelap.

Setan lahir di Kerajaan Gelap.

Selanjutnya, menurut pelajaran Mani, manusia pertama adalah ciptaan Setan, akan tetapi di dalam manusia itu juga terdapat unsur Terang dari Tuhan.

Setan beruasaha untuk mengikat manusia dengan kegelapan atau kejahatan, namun roh-roh Terang berusaha untuk membebaskannya, Mani sendiri menamakan dirinya sebagai Duta Terang.

Inilah asal mulanya nama Beng-kauw (Agama Terang), hanya dengan bantuannya dan murid-muridnya yang terpilih maka Terang dapat dipisahkan dari Gelap.

Seperti dalam segala macam agama yang ada di dunia ini, dasar dari pada agama itu adalah untuk menuntun manusia ke dalam kebaikan.

Demikian pula dengan Beng-kauw atau yang asalnya bernama Manichaeism itu.

Di antara para penganutnya, terdapat penganut atau umat biasa dan ada pula yang pilihan.

Penganut pilihan ini harus mentaati bermacam-lacam larangan, diantaranya adalah larangan membunuh mahluk berjiwa.

Akan tetapi dari prakteknya, agama menjadi semacam pegangan untuk kesenangan diri pribadi, untuk penghiburan dan tempat menggantungkan harapan-harapan, untuk melarikan diri dari kenyataan hidup, dan akhirnya Manichaeism juga penuh dengan penyelewengan-penyelewengan dari dasar semula.

Banyak dipelajari ilmu-ilmu sihir dan mistik.

Akan tetapi harus diakui bahw agama ini pernah menjadi agama besar yang menguasai hampir seluruh Persia, bahkan meluas sampai ke India dan ke Tiongkok.

Demikanlah catatan ringkas tentang Agama Mani atau Agama Terang yang hanya hidup sampai pada abad ke tigabelas itu.

Biarpun di Tiongkok agama ini belum pernah menjadi agama terbesar, namun setidaknya pada waktu cerita ini terjadi Agama Beng-kauw merupakan agama yang menjadi saingan aliran-aliran lain, sungguhpun Agama Beng-kauw ini dikenal sebagai agama yang banyak dipeluk oleh golongan sesat dari dunia persilatan.

Pada waktu cerita ini terjadi, aliran Beng-kauw belum begitu kuat, belum terpusat dan di mana-mana ada tokoh yang menyusun perkumpulan-perkumpulan sendiri, menggunakan nama Beng-kauw, dan biarpun ada unsur unsur Agama Beng-kauw di dalamnya, namun sudah bercampur dengan segala macam aliran yang mengutamakan mistik dan sihir, ketahyulan yang memuja kekuasan-kekuasan mujijat sehingga agama yang pada mulanya dimaksudkan untuk menjadi penerang ini malah menjadi sumber orang-orang yang memuja kegelapan!

Di daerah utara, Beng-kauw dikuasai oleh tiga orang saikong yang amat lihai.

Mereka itu dikenal dengan nama Kwan Cin Cu, Hok Kim Cu, dan Thian Bhok Cu.

Mereka bertiga ini memimpin Agama Beng-kauw yang dibawa dari India oleh seorang pertapa dari Himalaya, seorang kakek aneh yang sakti, ahli ilmu silat tinggi dan ahli sihir.

Kakek ini sebetulnya adalah peranakan India, bernama Maghi Sing, akan tetapi karena selama puluhan tahun dia berkelana di Tiongkok, maka dia mahir berbahasa Han, bahkan memiliki julukan See-thian Siansu ( Kakek Sakti dari India ).

Akan tetapi, karena maklum bahwa aliran kebatinan mereka dicurigai dan dimusuhi fihak-fihak lain, bahkan pernah digempur oleh para pendekar dari partai-partai persilatan besar yang menganggap praktek-praktek mereka itu menyesatkan rakyat dan menjurus ke arah kecabulan dan penggunaan obat bius, maka akhirnya aliran kebatinan ini menyembunyikan diri.

Ketika aliran kebatinan Beng-kauw itu dipimpin oleh Kwan Cin Cu dan dua orang sutenya.

di bawah perlindungan gurunya maka mereka itu mengambil tempat yang tersembunyi dan rahasia, yaitu di dalam guha-guha di sepanjang pantai Po-hai, di dekat muara Sungai Huangho.

Di dalam sebuah di antara guha-guha besar itulah See-thian Siansu atau Maghi Sing bertapa, dan tiga orang muridnya memimpin para anggauta Beng-kauw di tempat terpencil ini.

Karena pernah dimusuhi oleh para pendekar dan aliran kebatinan yang lain, maka timbul dendam dan sakit hati pada batin para anggauta Beng-kauw.

Oleh karena itu, selalu mereka menanti kesempatan untuk membalas dendam.

Akhirnya, atas petunjuk dari Maghi Sing, Beng-kauw mulai bergerak untuk menjalankan siasat mereka untuk mengadu domba agar sakit hati mereka dapat terbalas.

Biarkan aliran aliran lain itu bermusuhan sendiri dan yang menjadi sasaran pertama mereka adalah Im-yang-kauw.

Maka terjadilah penyerbuan di Kuil Ban-hok tong di Cin-an itu, pada waktu Agama Buddha yang merupakan agama terbesar di waktu itu dan didukung oleh pemerintah, melakukan upacara penyambutan benda suci.

Dengan menyamar sebagai orang-orang Im-yang-kauw, mereka telah mengadu domba antara orang-orang Im yang-kauw dengan orang-orang Agama Buddha dan dengan pemerintah!

Saikong yang memimpin penyerbuan itu adalah seorang tokoh tingkat dua dari Beng kauw, yang menjadi murid utama dari tiga orang pemimpin Beng-kauw itu.

Dialah yang menangkap Gin San ketika anak ini terbawa di atas kepala liong.

Karena anak itu telah mengetahui segalanya, maka para anggauta Beng-kauw ini menangkapnya dan membawanya pulang ke pantai Po-hai.

Murid utama atau saikong yang memimpin penyerbuan itu adalah si muka kuning yang bersenjata sepasang kongce dan dalam penyerbuan itu, selain dibantu oleh para anak buah Beng-kauw dia juga dibantu oleh tiga orang adik seperguruannya, semuanya tokoh-tokoh kelas dua dari Beng-kauw.

Yang pertama adalah saikong muka brewok bersenjata siang-kiam, sedangkan ke tiga dan ke empat adalah dua orang nenek yang juga merupakan murid-murid terpandai dari tiga orang pimpinan Beng-kauw itu.

Saikong muka kuning bersama sutenya dan dua orang sumoinya kini telah menghadap tiga orang pemimpin Beng-kauw sambil membawa Gin San yang ditotok dan selain tidak mampu bergerak, juga tidak dapat mengeluarkan suara.

Mereka berempat berlutut di depan tiga orang kakek yang duduk di atas kursi berukir, dan Gin San dibiarkan rebah di atas lantai batu.

Kakek muka kuning menceritakan hasil dari pengacauan yang mereka lakukan di kuil Ban-hok-tong itu, didengarkan dengan penuh perhatian oleh tiga orang gurunya.

"Bagus!"

Kata Kwan Gin Cu yang bertubuh tinggi besar.

"Dan apakah engkau telah meninggalkan lencana itu?"

"Teecu telah sengaja membiarkan hwesio itu merampas lencana yang tergantung di leher teecu,"

Jawab si muka kuning. Tiga orang kakek pimpinan Beng-kauw itu tertawa girang.

"Bagus, bagus! Kalau begitu tidak percuma aku bersusah payah membunuh orang Im-yang-pai itu l"

Kata Thian Bhok Cu, ketua ke tiga yang bertubuh kate dan bersikap lemah lembut itu.

Kiranya ketua ketiga Beng-kauw ini sendiri yang telah membunuh Liang Bin Cu, tokoh Im-yang-pai, dan merampas lencananya untuk dipergunakan menjatuhkan fitnah kepada Im-yang-pai.

Hok Kim Cu sejak tadi memandang kepada Gin San yang rebah di atas lantai.

Anak ini tidak pingsan, hanya tidak mampu bergerak dan tidak mampu bersuara, akan tetapi kebetulan sekali dia rebah dengan muka menghadap kepada tiga orang ketua Beng-kauw itu.

Matanya dapat melotot dan bergerak-gerak, dengan sinar matanya yang tajam penuh keberanian dia menentang tiga orang kakek yang duduk di atas kursi itu.

Hok Kim Cu tertarik sekali.

Sekali pandang saja dia tahu bahwa anak laki-laki itu bukanlah anak laki-laki biasa.

Dalam keadaan seperti itu, anak laki-laki lain tentu akan pucat ketakutan atau setidaknya akan menangis, akan tetapi anak ini sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan matanya bersinar-sinar penuh keberanian dan kemarahan, memandang tiga orang kakek ketua Beng-kauw dengan penuh tantangan!

Hok Kim Cu ini teringat akan anaknya sendiri, anak laki-laki tunggal yang telah mati ketika baru berusia lima tahun.

Karena anaknya itu sakit dan mati ketika dia sedang bepergian, maka ketika dia pulang dan mendengar anaknya telah mati dan telah dikubur, dia menjadi marah sekali, dan seketika dia membunuh isterinya sendiri yang dipersalahkan tidak dapat menjaga anak tunggal itu!

Semenjak saat itu, Hok Kim Cu tidak pernah kelihatan gembira dan kini setelah dia melihat Gin San, timbul rasa tertarik dalam hatinya.

Kalau anaknya tidak mati, tentu seperti ini besarnya dan akan banggalah dia mempunyai anak yang demikian tabah dan bersemangat seperti anak ini!

"Hei, siapakah anak ini dan kenapa kalian membawanya ke sini?

Kalian tahu bahwa tempat ini tidak boleh diketahui orang lain!"

Tiba-tiba Hok Kim Cu menegur empat orang murid itu.

Mendengar teguran suhu mereka yang ke dua itu, empat orang tokoh Beng-kauw ini.

menjadi terkejut dan ketakutan.

Mereka tahu akan bengisnya peraturan di Beng-kauw, maka cepat mereka berlutut dan minta ampun.

"Harap sam-wi suhu sudi mengampuni teecu berempat. Anak ini adalah anak yang berani mengganggu usaha teecu pada malam hari ketika mengacau perayaan di kuil sehingga hampir menggagalkan usaha itu."

Si muka kuning lalu menceritakan peristiwa itu, didengarkan oleh tiga orang kakek itu yang kini memandang kepada Gin San penuh perhatian.

"Nah, karena anak ini telah mengetahui kesemuanya dan mengenal teecu, maka teecu, merasa bahwa tidak baik kalau melepaskan dia, maka teecu membawanya ke sini, mohon keputusan dari suhu sekalian hukuman apa yang akan dijatuhkan kepadanya."

Thian Bhok Cu, ketua ke tiga yang katai dan lemah lembut itu, kini bangkit dari kursinya dan menghampiri Gin San.

Ketika dia berjalan itu, nampak keanehan pada diri kakek berusia kurang lebih empatpuluh lima tahun ini, Jalannya berlenggang halus, berlenggak-lenggok langkahnya, seperti langkah seorang perempuan!

Dan matanya .bersinar genit, mulutnya tersenyum aneh ketika dia mengamat-amati wajah dan tubuh Gin San.

Orang ke tiga dari pimpinan Beng-kauw ini memang mempunyai pembawaan yang aneh.

Dia amat suka kepada laki-laki, terutama yang masih muda remaja, dan selamanya dia tidak pernah mendekati wanita, apa lagi menikahi.

Dia adalah seorang bertubuh pria akan tetapi berselera wanita, maka dia suka sekali kepada laki-laki muda belia.

Kini, melihat Gin San, dia tertarik sekali!

"Hemm, karena dia orang luar, mestinya dia dibunuh.

Akan tetapi""..

eh, serahkan saja dia kepadaku dan dia akan menjadi orang dalam, menjadi muridku""..

hi-hik!"

Dan Thian Bhok Cu terkekeh genit seperti orang yang malu-malu karena ketahuan rahasianya atau kelemahannya.

Ketika terkekeh ini, otomatis dia mengangkat tangan kiri dan menggigit telunjuknya dengan sikap genit sekali sehingga menjadi menyeramkan!

Wajah Hok Kim Cu yang sejak tadi sudah tertarik itu berubah merah.

"Tidak, sute! Dia mengingatkan aku kepada puteraku, serahkan saja dia kepadaku!"

Melihat kedua orang sutenya itu bersitegang Kwan Cin Cu lalu mengangkat tangan dan berkata kepada empat orang muridnya.

"Kalian berempat boleh mengundurkan diri dan mengaso, biarkan anak ini di sini!"

Empat orang murid itu bernapas lega karena mereka tidak menerima hukuman karena membawa anak itu, maka setelah memberi hormat, dua orang saikong dan dua orang nenek itu lalu mengundurkan diri.

Setelah mereka pergi, Kwan Cin Cu berkata kepada dua orang kakek itu.

"Sute berdua jangan memperebutkan dia. Ketahuilah bahwa sejak dia dibawa masuk, aku sudah memutuskan untuk menghukum mati dia. Dia adalah orang dari fihak musuh, tentu akan mendendam kepada kita dan kelak akan membahayakan kalau dibiarkan hidup. Aku sendiri yang akan membunuhnya, sute."

"Aihhhh"".. twa-suheng licik, ah! Apakah kaukira kami tidak tahu bahwa twa-suheng tentu hendak menggunakan darah dan otak anak ini untuk menyempurnakan Ilmu Toat-beng-tok-ciang yang sedang kaupelajari itu,"

Kata Thian Bhok Cu.

Kiranya pada waktu itu, orang pertama dari tiga ketua Beng-kauw ini sedang menerima ilmu baru dari suhu mereka, ilmu pukulan yang disebut Toat-beng-tok-ciang (Tangan Beracun Pencabut Nyawa)!

Ilmu pukulan ini adalah ilmu pukulan keji, melatih tangan menjadi beracun dan caranya adalah merendamnya dengan segala macam racun rahasia dan minum darah dan makan otak anak-anak yang memiliki darah bersih dan tulang yang baik!

Untuk menyempurnakan ilmu mujijat ini.

Kwan Cin Cu telah minun darah dan makan otak enam orang anak pilihan, dan ketika tadi dia melihat Gin San, dia tertarik sekali dan ingin minum darah dan makan otak anak ini untuk memperlengkapi latihannya!

Memang, di antara tiga orang murid Maghi Sing, Kwan Cin Cu ini termasuk yang paling lihai, sungguhpun dua orang sutenya juga luar biasa sekali kepandaian mereka dan tidak banyak selisihnya dengan kepandaiannya sendiri.

Wajah Kwan Cin Cu berobah merah mendengar teguran Thian Bhok Cu.

"Sam-sute, kalau benar demikian, kau mau apa? Dia ini orang luar, bahkan dari fihak musuh dan semestinya dihukum mati. Dan kalau aku mengambil darah dan otaknya, apa salahnya?"

"Nanti dulu, suheng l"

Hok Kim Cu yang tinggi kurus akan tetapi suaranya parau besar itu berseru dan juga dia sudah berdiri dari kursinya.

"Seperti kukatakan tadi, sewaktu tadi suheng bicara dengan para murid, aku telah memperhatikan anak ini yang mempunyai kemiripan dengan mendiang puteraku. Maka aku ingin mengambil dia sebagai pengganti anakku."

"Tidak! Dia adalah calon muridku"

Thian Bhok Cu menjerit dengan suara wanitanya.

"Murid apa! Paling-paling menjadi kekasihmu dan kaupaksa dia menemanimu tidur!"

Hok Kim Cu mengejek.

"Kalau begitu kau mau apa? Ji-suherg, jangan kira aku takut padamu!"

Teriak Thian hok Cu galak.

"Akupun tidak takut kepadamu, dan juga aku akan menentang kalau twa suheng akan membunuh anak ini!"

Kata Hok Kim Cu.

"Hemm, sungguh tidak baik kalau kita bertiga berebutan seperti ini! Masa kita harus berkelahi sendiri memperebutkan seorang bocah yang datang dari fihak musuh "

Kwan Cin Cu mengerutkan alisnya, lalu memandang kepada anak itu yang sama sekali tidak kelihatan takut mendengar dirinya diperebutkan itu.

Sebenarnya, jantung Gin San berdebar penuh ketegangan dan dia mengikuti seluruh perbantahan itu dengan penuh perhatian.

Akan tetapi, memang pada dasarnya anak ini pemberani dan tidak pernah mengenal takut, maka dia tidak memperlihatkan ketegangan hatinya itu pada wajahnya.

"Biarlah kita serahkan kepada anak ini sendiri untuk menentukan."

Akhirnya Thian Bhok Cu mendapatkan akal.

Sekali tangannya bergerak, dia telah menepuk leher dan punggung Gin San dan seketika anak itu mampu bergerak dan bersuara lagi.

Gin San bangkit duduk menggosok-gosok kedua kakinya yang terasa lemas, kemudian diapun bangkit berdiri, menghadapi tiga orang kakek yang menyeramkan itu.

"Hei, anak manis! Lekas kaupilih sendiri di antara kami bertiga, siapa yang kaupilih? Kaupilih aku, ya? Tanggung pasti senang!"

Thian Bhok Cu berkata sambil tersenyum meringis dalam usahanya menarik muka manis, akan tetapi karena memang mukanya buruk, maka aksinya sebagai seorang wanita itu malah membuat wajahnya kelihatan mengerikan dan menakutkan.

"Hemm, kaupilih aku saja, matimu tidak sampai tersiksa!"

Kata Kwan Cin Cu yang tinggi besar.

"Anak baik, akulah calon ayahmu, engkau kujadikan pengganti anakku!"

Kata Hok Kim Cu tidak mau kalah.

Gin San adalah seorang anak yang luar biasa sekali.

Dia tidak pernah mengenal takut, dan disamping ini diapun cerdik luar biasa.

Akan tetapi, menghadapi tiga orang kakek yang menyeramkan itu, dia merasa ngeri juga.

Sambil menggosok-gosok kedua lengannya yang masih kesemutan itu dia memutar otak mencari akal.

Dia tahu bahwa dirinya berada dalam ancaman bahaya.

Terjatuh ke tangan seorang di antara tiga kakek iblis ini, yang manapun, dia sama sekali tidik suka, karena dia tahu bahwa kalau dia tidak mati, tentu akan hidup tersiksa.

Akan tetapi, menolak begitu sajapun berarti dia akan mati.

Maka sebaiknya menggunakan akal agar kematiannya itu dapat tertunda, waktu hidupnya dapat diperpanjang sehingga dia dapat mencari akal dan kesempatan untuk dapat meloloskan dan melarikan diri.

"Biarkan aku memeriksa kalian dan memilih-milih,"

Akhirnya dia berkata sambil pura-pura memandang mereka itu dengan sepasang matanya yang jeli dan tajam itu, padahal sejak tadi sebelum dibebaskan dari totokanpun dia sudah memperhatikan mereka bertiga.

Dia menghampiri Kwan Cin Cu yang tersenyum-senyum.

Dia memandang wajah kakek ini, lalui bentuk tubuhnya yang tinggi besar seperti raksasa, lalu mengangguk-angguk.

"Locianpwe ini gagah perkasa seperti Kwan Kong, maka mati di tangan locianpwe merupakan kematian yang terhormat sekali!"

"Ha-ha-ha, bagus sekali! Nah, kedua sute, dengarkah kalian? Anak ini bicara tepat!"

Kata Kwan Cin Cu, hatinya bangga bukan main sehingga kepalanya terasa melembung besar.

Dia disamakan dengan Kwan Kong atau Kwan In Tiang, panglima atau pahlawan yang amat terkenal di jaman Sam-kok.

Akan tetapi Gin San sudah melangkah menghampiri Hok Kim Cu.

Sebenarnya, kepada kakek inilah hatinya lebih condong karena kakek ini tadi menyatakan hendak mengambilnya sebagai anak, pengganti anaknya yang mati.

"Locianpwe ini juga amat gagah perkasa seperti Thio Hwi, maka menjadi puteranya tentu amat terhormat dan mulia,"

Katanya.

"Ha-ha, kaudengar tadi? Dia lebih suka menjadi anakku, dan dia benar, kalau dia menjadi anakku, dia akan menjadi seorang anak yang terhormat dan mulia, juga terlindung karena aku akan melindunginya dengan taruhan nyawaku!"

Orang ke dua dari pimpinan Beng-kauw ini juga merasa bangga sekali.

Thio Hwi adalah seorang tokoh pula di antara pahlawan-pahlawan jaman Sam-kok, yang kedudukannya boleh dikatakan sejajar dengan Kwan Kong.

Akan tetapi Gin San sudah menghampiri kakek ke tiga yang tertawa tawa dan tersenyum-senyum dengan sikap genit!

Diam diam Gin San merasa serem berdekatan dengan kakek bertubuh kate dan lemah lembut ini, sikapnya dan gerak-geriknya seperti wanita yang genit akan tetapi wajahnya kasar dan buruk sehingga menimbulkan perasaan serem di dalam hatinya membuat bulu tengkuknya meremang.

Akan tetapi anak ini menguatkan hatinya dan sambil menatap wajah kakek ke tiga ini dia berkata.

"Locianpwe ini amat ramah dan manis budi, kalau menjadi muridnya tentu amat menyenangkan sekali!"

"Hi-hik, ha ha ha! Ji-suheng dan twa-suheng dengarlah baik-baik. Bukankah dia lebih senang kepadaku?"

Katanya sambil tertawa-tawa dan menutupi mulutnya dengan tangan seperti lagak seorang dara remaja!

Kegembiraan Kwan Cin Cu yang dianggap sebagai Kwan Kong tadi makin berkurang ketika dia mendengar betapa anak itupun memuji-muji kedua orang sutenya, maka kini dengan suara lantang dan galak dia membentak.

"Jadi siapakah yang kaupilih antara kami bertiga?"

"Pilih aku saja, calon ayahmu!"

Hok Kim Cu berkata.

"Tidak, pilih aku saja, ya sayang?"

Baca Juga: Dara Baju Merah 8

Baca Juga: Pendekar Sadis 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert