Ceritasilat Novel Online

Kisah Tiga Naga Sakti 4

Eps 4 Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo.

Oleh karena itu, beberapa kali hampir saja dia menjadi korban pedang suhengnya, baiknya Beng Han masih merasa tidak tega dan kasihan kepada sutenya itu sehingga setiap kali ujung pedangnya sudah mendekati sasaran, dia segera menarik kembali serangannya itu.

Beng Han amat mencintai adik seperguruannya ini, maka tentu saja tidak tega hatinya untuk melukainya, apa lagi membunuhnya.

Tiba-tiba Beng Han mengeluarkan bentakan nyaring, pedangnya menyerang dengan jurus Angin Taufan Menyambar Pohon.

Gerakannya hebat dan kuat sekali sehingga ketika Bun Hong menangkis, ujung pedang Beng Han masih mendesak dan berhasil melukai lengan tangan Bun Hong, Kulit dan daging lengan itu terobek dan darah bercucuran keluar.

Beng Han terkejut dan melompat mundur, sedangkan Bun Hong dengan tersenyum pahit lalu menggunakan ujung lengan bajunya untuk menghapus darah di lengannya itu.

"Suheng, kau hebat sekali,"

Katanya. Beng Han berkata dengan suara sedih.

"Su-te, janganlah kita bertempur lagi. Insaflah, tidak baik ilmu pedang yang kita pelajari dengan susah payah itu kita pergunakan untuk saling serang sendiri."

Akan tetapi Bun Hong tertawa menyeramkan dan berkata.

"Suheng, ketahuilah. Selama berbulan-bulan hatiku gelisah dan menderita karena memikirkan sumoi. Aku telah banyak menderita, bahkan nasibku yang sial membawaku terbelenggu dan untuk menolong keluarga Pangeran Song aku terpaksa menikah dengan puterinya, sementara hatiku masih tetap merindukan sumoi. Aku menghibur kesedihanku dengan pikiran bahwa sumoi sudah sesuai menjadi jodohmu dan karena kalian adalah orang-orang yang kukasihi, maka aku merasa rela dan ikhlas. Tidak tahunya, kalian tidak bertunangan dan bahkan sumoi mendekati seorang pemuda pelajar yang lemah. Bagaimana hatiku bisa senang? Luka sedikit ini tidak ada artinya, ayo kita lanjutkan, suheng, dan jangan kepalang tanggung kau mengerjakan pedangmu!"

"Sute""..!"

Akan tetapi Bun Hong sudah melompat maju dan menyerang pula sehingga Beng Han merasa bingung dan berduka sekali.

Terpaksa dia mengangkat pedangnya menangkis.

Pada saat itu terdengar suara tertawa keras bergelakdan tiga bayangan orang berkelebat mendatangi.

Mereka itu adalah Tek Po Tosu, Bong Kak Im, dan Bong Kak Liong, tiga orang jagoan kelas utama dari Thio-thaikam!

Mereka ini semenjak dahulu telah menaruh curiga terhadap Bun Hong, akan tetapi oleh karena Bun Hong dapat mengendalikan diri dan tidak pernah memperlihatkan kepandaiannya, maka merekapun tidak mempunyai bukti dan tidak berdaya untuk mencelakainya.

Akan tetapi, mereka tidak pernah berhenti menyebar penyelidik dan mereka mendengar dari para penyelidik bahwa mantu Pangeran Song itu sering kali berkuda ke luar kota, entah melakukan pekerjaan apa Timbullah kembali kecurigaan tiga orang jagoan itu dan setelah mereka memberi laporan kepada Thio-thaikam, mereka lalu diutus untuk menyelidiki.

Demikianlah, mereka lalu mengadakan penyelidikan, selalu membayang Bun Hong dengan diam-diam sehingga mereka dapat mengetahui ketika Bun Hong bertempur dengan Kui Eng dan kemudian setelah melihat munculnya Beng Han dan mendengar percakapan mereka, tahulah tiga orang jagoan kota raja ini bahwa Bun Hong benar benar adalah pemuda berkedok yang dulu pernah menyerang Thio-thaikam.

Segera mereka muncul dan terdengar suara Tek Po Tosu.

"Aha, tidak tahunya mantu Pangeran Song benar-benar adalah pemberontak yang kami cari cari!"

Bun Hong dan Beng Han terkejut sekali nendengar ini dan mereka segera menghentikan perkelahian mereka dan berdiri berdampingan, menghadapi tiga orang jagoan dari Thio-thaikam itu.

Melihat Beng Han, Tek Po Tosu tertawa lagi mengejek.

"Eh, eh, tidak tahunya mantu Pangeran Song adalah sute dari pemberontak yang telah kujatuhkan! Masih belum mampuskah engkau? Baik, baik! Kalau begitu sekarang akan kubinasakan kalian pemberontak-pemberontak rendah!"

Sambil berkata demikian, tosu itu mencabut siang-kiamnya sedangkan Bong Kak Im juga sudah mengeluarkan sepasang kapaknya yang dahsyat, diikuti oleh Bong Kak Liong yang menarik keluar sebatang goloknya yang lihai.

"Sute, mari kita basmi anjing-anjing penjilat ini!"

Kata Beng Han dengan penuh geram. Bun Hong tersenyum.

"Baik, suheng. Memang telah lama sekali aku ingin membunuh anjing-anjing rendah ini!"

"Pemberontak hina, bersedialah menerima kematian!"

Bong Kak Im berseru dan mulai menyerang dengan sepasang kapaknya. Serangannya ini disambut oleh Bun Hong.

"Penebang kayu, jangan kau menjual lagak di sini!"

Teriaknya dan dia sudah menggerakkan pedangnya untuk menangkis dan balas menyerang.

Bong Kak Liong lalu menggerakkan goloknya membantu kakaknya sehingga Buh Hong segera dikeroyok dua, akan tetapi orang muda itu dengan gagahnya memutar peding dan memainkan ilmu pedangnya yang lihai.

Beng Han menghadapi Tek Po Tosu.

Dia menudingkan pedangnya ke arah muka tosu itu sambil berkata.

"Pendeta keparat! Sekarang tiba saatnya bagi kita untuk mengadu kepandaian tanpa mengandalkan pengeroyokan. Majulah dan kau boleh mempergunakan semua jarum-jarum jahatmu yang hanya menunjukkan sifatmu yang pengecut itu!"

"Pemberontak sombong!"

Tek Po Tosu berteriak dan segera melompat dan menerjang Beng Han dengan sepasang pedangnya yang digerakkan dari kanan kiri secara menyilang!

Akan tetapi, dengan sikap tenang Beng Han memutar pedangnya dan sekaligus dia berhasil menangkis sepasang pedang lawan itu.

"Cring! Tranggg"".?!"

Bunga api berpijar dan keduanya meloncat mundur untuk memeriksa senjata masing-masing karena pertemuan pertama yang dilakukan dengan pengerahan tenaga tadi membuat mereka merasa tangan mereka kesemutan dan khawatir kalau-kalau senjata mereka menjadi rusak.

Akan tetapi setelah melihat bahwa pedang mereka tidak rusak, mereka sudah menerjang lagi ke depan dan saling serang dengan mati-matian karena mereka maklum bahwa mereka menghadapi lawan yang tangguh.

Terjadilah pertempuran yang amat hebat dan seru di tempat sunyi itu, disaksikan oleh pohon pohon yang bermandikan cahaya matahari yang terik.

Tidak ada orang lain di tempat itu kecuali lima orang yang sedang bertanding mati-matian itu.

Kesunyian di tempat itu dipecahkan oleh suara senjata yang beradu dan seruan-seruan mereka yang berkelahi, terutama sekali suara sepasang kapak di tangan Bong Kak Im yang setiap kali bertemu dengan pedang lawan terdengar berdenting nyaring.

Dua orang murid Lui Sian Lojin itu harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaian mereka karena sekali ini mereka benar-benar menghadapi lawan-lawan yang tangguh Bun Hong pernah menghadapi Bong Kak Liong, akan tetapi pada waktu itu dia dikeroyok oleh banyak sekali perwira sehingga dia tidak dapat mengukur kepandaian lawannya itu yang memang lihai.

Bong Kak Liong dan lebih-lebih lagi Bong Kak Im adalah jago-jago yang amat diandaikan oleh Thio-thaikam, dan jika dibandingkan dengan panglima-panglima pengawal di istana kaisar, mereka ini sedikitnya menduduki tingkat tiga, maka kelihaian mereka tentu saja amat hebat.

Apa lagi kini kakak beradik ini maju berdua mengeroyok Bun Hong, senjata mereka berkelebatan menyilaukan mata dan setiap gerakan mereka merupakan serangan maut yang berbahaya sekali.

Akan tetapi, dengan bersemangat dan penuh kegembiraan karena sudah lama Bun Hong memang menahan-nahan gelora hatinya untuk menentang mereka ini, Bun Hong menyambut semua serangan dan membalasnya dengan serangan yang tidak kalah hebatnya.

Setelah kini menghadapi musuh-musuh yang dibencinya ini sebagai lawan berkelahi, permainan pedang Bin Hong menjadi makin lincah, karena dia tidak merasa bimbang lagi dan seluruh kebencian dan kemarahan yang timbul dari kekecewaan dan kedukaan hatinya tadi kini ditimpakannya ke atas kepala dua orang lawan yang tangguh ini!

Juga Beng Han menghadapi Tek Po Tosu dengan hati-hati sekali karena dia tahu akan kelihaian lawan.

Menghadapi desakan tosu ini tanpa dikeroyok, Beng Han dapat melayaninya dengan baik, bahkan dia dapat melancarkan serangan-serangan balasan yang cukup mengejutkan hati Tek Po Tosu.

Tosu ini memiliki kepandaian yang lebih tinggi setingkat dari pada kepandaian dua orang perwira she Bong itu, maka biarpun hanya seorang diri, dia dapat mengimbangi kepandaian Beng Han.

Sepasang pedangnya bergerak secara luar biasa sekali dan gerakan pedang di tangan kanan ganas dan cepat, akan tetapi sebagian besar hanya merupakan gertakan saja untuk membingungkan lawan.

Sebenarnya yang berbahaya adalah pedang di tangan kirinya, karena walaupun pedang di tangan kiri ini hanya bergerak lambat dan dipergunakan untuk menangkis belaka, akan tetapi pada saat yang tepat pedang itu melakukan tusukan atau bacokan yang amat berbahaya dan tidak terduga-duga datangnya.

Beng Han maklum akan hal ini, maka dia bersilat dengan tenang dan waspada, sama sekali tidak mau dikacau oleh gerakan pedang di tangan kanan lawan itu.

Demikianlah, kedua orang muda seperguruan yang tadi saling bertempur dengan hebat, kini dengan sendirinya telah bersatu menghadapi tiga orang lawannya yang tangguh.

Diam-diam perasaan haru dan gembira menyelinap di dalam hati kedua orang muda itu, karena dengan adanya pertempuran dan bahu-membahu menghadapi musuh ini, agaknya segala kesalah pahaman di antara mereka telah tersapu bersih tanpa kata-kata, dan perasaan mereka kembali seperti dulu ketika mereka masih bersama-sama belajar silat di pondok Kwi-hoa-san.

(Lanjut ke

Jilid 13) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13 Sambil bersilat membendung serangan-serangan Tek Po Tosu, kadang-kadang Beng Han melirik ke arah Bun Hong untuk melihat keadaan sutenya itu.

Dia merasa gelisah juga menyaksikan betapa tangguh adanya dua orang perwira itu.

Dia sendiri maklum bahwa tidak akan mudah baginya untuk menjatuhkan Tek Po Tosu yang amat lihai, dan apa bila pertempuran itu diteruskan, fihaknyalah yang akan menderita rugi.

Dia melihat betapa wajah Bun Hong agak pucat, tanda bahwa sutenya itu kurang tidur dan banyak menderita tekanan batin.

Dia belum tahu jelas bagaimana keadaan hidup sutenya itu karena belum mendapatkan kesempatan untuk bicara dengan leluasa.

Akan tetapi agaknya keadaan sutenya agak lemah sedangkan kedua orang lawan sutenya itu benar benar amat tangguh.

Diam-diam Beng Han mencari akal untuk dapat menyelamatkan sutenya.

Dia tahu bahwa tanpa lebih dulu menyingkirkan tosu ini, tak mungkin dia dapat membantu sutenya.

Tiba-tiba dia berseru dengan nyaring dan pedangnya bergerak cepat sekali.

Tanpa diduga-duga oleh lawan, Beng Han meloncat ke atas, seperti seekor naga terbang di angkasa lalu menukik ke bawah, pedangnya meluncur dan diputar-putar menyambar ke arah tubuh Tek Po Tosu.

Pendeta ini terkejut bukan main karena serangan lawan itu sungguh amat berbahaya, maka dia cepat meloncat jauh ke beIakang.

Memang inilah yang dikehendaki oleh Beng Han.

Melihat kesempatan ini, Beng Han segera melakukan gerakan kilat.

Dia melompat ke arah Bun Hong dan dari samping dia mengirim serangan kilat kepada Bong Kak Liong yang bersenjata golok.

"Hyaaattt""!!"

Beng Han menusukkan pedangnya ke arah dada perwira yang bertubuh tinggi kurus dan bersenjata golok itu.

Bong Kak Liong terkejut sekali karena pada saat itu dia sedang mengangkat goloknya untuk membacok kepala Bun Hong dengan pengerahan tenaga sepenuhnya.

Melihat berkelebatnya pedang yang menyerangnya secara tiba-tiba itu, dia cepat menarik kembali goloknya dan membabat ke arah pedang yang menusuk dadanya.

Akan tetapi Bun Hong yang melihat kesempatan baik lalu menggerakkan kakinya.

"Bukkk"..!"

Tendangan itu hebat bukan main, dilakukan oleh Bun Hong dengan pengerahan seluruh tenaganya dan tendangannya tepat mengenai bawah iga sehingga menggetarkan isi dada dan jantung perwira itu.

Bong Kak Liong mengeluarkan pekik mengerikan dan roboh dengan muntah darah, tidak dapat bangkit kembali karena dia menderita luka yang amat parah di dalam dadanya yang mengguncang jantungnya.

Tendangan yang amat keras dan tepat jatuhnya itu jelas akan merenggut nyawa perwira itu.

Melihat ini bukan main marahnya Tek Po Tosu.

Dia mengeluarkan saputangannya dan mengebut beberapa kali sehingga belasan jarum menyambar ke arah Beng Han dan Bun Hong.

Beng Han yang pernah menjadi korban kelihaian jarum-jarum itu, segera berseru "Awas, sute, jarum-jarum beracun!"

Bun Hong yang merasa girang karena berhasil merobohkan Bong Kak Liong, segera menjatuhkan diri dan bergulingan sehingga dia terhindar dari sambaran jarum, sedangkan Beng Han yang sudah siap sedia, lalu memutar pedangnya sehingga semua jarum dapat diruntuhkannya.

Bun Hong menjadi marah dengan berseru keras dia lalu menerjang Tek Po Tosu sehingga pendeta itu tidak sempat mempergunakan saputangannya lagi, dan terpaksa menyambut serangan Bun Hong dengai siang-kiamnya.

Kini Beng Han yang menghadapi Bong Kak Im, musuh lamanya.

Perwira she Bong ini menjadi marah ketika meiihat adiknya roboh dan tewas, akan tetapi hatinya juga merasa gentar.

Selama ini dia dan adiknya, bersama tosu itu menjagoi di mana-mana, jarang ada orang berani melawan nereka bertiga dan kalaupun ada yang melawan, tentu musuh-musuh itu dapat mereka basmi dengan mudah.

Karena terlalu mengandalkan dirinya sendiri, maka mereka bertiga tadi datang tanpa dikawal pasukan.

Mereka sudah memastikan bahwa mereka bertiga pasti akan dengan mudah menangkap atau membunuh dua orang pemuda pemberontak itu.

Siapa kira, dua orang pemuda itu lihai sekali sehingga adiknya, Bong Kak Liong, menjadi korban dan tewas.

Maka tentu saja dia merasa agak gentar.

Karena merasa gentar itulah maka permainan sepasang kapak dari Bong Kak Im menjadi agak kacau dan lambat.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Beng Han dan karena dia maklum bahwa kepandaian perwira itu tidaklah selihai si tosu, maka dia lalu mengeluarkan serangan-serangan yang paling hebat dari Kwi-hoa Kiam-hoat.

Sebentar saja Bong Kak Im terdesak tebat oleh jurus-jurus terampuh dari ilmu pedang itu.

Ketika Beng Han menyerang dengan jurus Hui-pauw-liu-coan (Air Terjun bertebaran).

Bong Kak Im tidak dapat mempertahankan diri lebih lama lagi.

"Hyaaaahhhh""..!!"

Bong Kak Im terkejut melihat berkelebatnya sinar pedang.

Dia berusaha menangkis dengan kapak kirinya sambil mengerahkan tenaga, akan tetapi ternyata lawan merobah gerakannya, memapaki tangkisannya agak ke bawah.

"Crokkk"".! Aihhhh""..!"

Bong Kak lm menjerit ngeri karena tangan kirinya itu telah terbabat putus dan kapaknya melayang di atas kepalanya.

Kesempatan baik ini dipergunakan oleh Beng Han, pedangnya meluncur dan menembus dada Bong Kak Im.

Ketika dia mencabut kembali pedangnya sambil meloncat, tubuh lawan itu roboh dan tewas di samping mayat adiknya.

Melihat ini Tek Po Tosu terkejut buka main.

Sungguh merupakan peristiwa hebat sekali melihat kematian kedua orang perwira she Bong itu, yang selama ini menjadi sekutunya dan bersama dia telah menjatuhkan entah berapa puluh orang lawan!

Kini dia harus melihat kematian mereka didepan matanya tanpa dia mampu mencegahnya.

Karena tekejut, tentu saja gerakan siang-kiamnya menjadi kacau, akan tetapi oleh karena ilmu kepandaiannya memang tinggi, ketika Bun Hong mendesak, dia masih sempat menyelamatkan diri dan melompat ke belakang dengan gerak Lo-wan-teig-ki (Monyet Tua Melompat Cabang).

Bun Hong hendak mengejar, akan tetapi Beng Han segera memberi peringatan.

"Jangan, sute"".. hati-hati terhadap jarum-jarumnya!"

Bun Hong sudah terlanjur mengejar dan tiba-tiba saja, tepat seperti peringatan Beng Han, tosu itu menggerakkan tangan ke belakang, saputangannya berkibar dan belasan batang jarum sudah menyambar ke arah Bun Hong.

Baiknya Beng Han telah memberi peringatan sehingga saat itu menurutkan teriakan suhengnya.

Bun Hong sudah memutar pedangnya di depan tubuhnya, membentuk benteng dari gulungan sinar pedang.

Biarpun dia telah berhasil memukul runtuh semua jarum yang menyambar, namun hampir saja sebatang jarum menghantam kakinya kalau saja Beng Han yang melihat sinar menuju ke kaki sute-nya itu tidak cepat melempar pedangnya yang meluncur ke depan dan pedang itu setelah menangkis jarum lalu menancap di atas tanah di depan kaki Bun Hong!

Bun Hong mengeluarkan keringat dingin, mukanya berobah pucat dan dia tidak melanjutkan pengejarannya.

"Lihai sekali jarum-jarum tosu itu!"

Katanya dan dia mencabut pedang suhengnya yang masih menancap di atas tanah, mengembalikannya kepada suhengnya. Beng Han menyimpan pedangnya lalu maju memeluk tubuh sutenya.

"Sute, kau hebat sekali!"

Katanya dengari suara menggetar karena haru.

Ketika merasa betapa tubuhnya dipeluk oleh suhengnya yang telah lama dirindukannya itu kedua mata Bun Hong menjadi basah dan perlahan-lahan meneteslah air mata di sepanjang kedua pipinya.

Dia balas merangkul dan ke dua orang muda itu berangkul-rangkulan sambil mencucurkan air mata..

"Suheng, kau maafkan aku"".."

"Sute, tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku tahu akan kepahitan yang menggerogoti hatimu. Akan tetapi, sute, bicara tentang patah hati, akulah yang sebenarnya lebih menderita dari padamu. Aku telah ditolaknya, akan tetapi, aku tetap mencintainya dan ingin melihat dia hidup bahagia, biarpun aku sendiri menderita"".."

"Suheng, engkau memang berhati mulia, tidak seperti aku""."

Tiba-tiba Bun Hong menghentikan kata-katanya, wajahnya menjadi pucat sekali dan matanya terbelalak.

"Celaka""..!"

Serunya.

"Eh, ada apakah, sute?"

Beng Han bertanya heran dan kaget melihat perobahan wajah sutenya.

"Celaka sekali! Tosu itu tentu membuka rahasiaku dan celakalah keluargaku"""..!"

"Keluargamu? Apa maksudmu""?"

Beng Han bertanya, masih heran. Tiba-tiba Bun Hong memegang tangan suhengnya, memegangnya erat-erat dan ditariknya tangan itu sambil berkata.

"Suheng, mari cepat kita mengejar tosu itu dan kita kembali ke kota raja! Urusan ini hebat sekali, suheng, biarlah kuceritakan sambil berlari pulang"".."

Beng Han tidak banyak membantah lagi dan mereka berdua lalu berlari cepat menuju ke kota raja.

Di sepanjang jalan, Bun Hong menceritakan pengalamannya, betapa dia melukai Thio-thaikam dalam usahanya membalas sakit hati para petani dan betapa dia gagal lalu bersembunyi di dalam gedung Pangeran Song sehingga untuk menjaga keluarga pangeran itu dari kehancuran, terpaksa dia menikah dengan Kim Bwee, puteri sulung pangeran itu sehingga kini mereka telah mempunyai seorang anak laki-laki.

Semua ini diceritakannya dengan singkat namun jelas sambil berlari sehingga Beng Han merasa sedih sekali mendengar riwayat adik seperguruannya yang amat dikasihinya itu.

"Betapapun juga, sute. Sebagai seorang laki-laki yang menjunjung tinggi kegagahan dan keadilan, engkau harus berlaku sebagai seorang suami yang baik. Engkau sudah mempunyai putera, maka sudah selayaknya kalau kau membuang pikiran-pikiran sesat dan memikirkan jalan untuk membahagiakan isteri dan puteramu itu. Bun Hong merasa terharu sekali dan insyaflah dia akan kesesatannya. Dia telah menikah, telah mempunyai seorang anak laki-laki, sedangkan isterinya begitu baik, begitu mencintanya, juga mertuanya adalah seorang yang bijaksana. Ah, dia telah berdosa besar terhadap isterinya, terhadap mertuanya, juga terhadap Kui Eng! "Aku harus membela mereka, suheng. Membela mereka dengan nyawaku. Celakalah kalau sampai Thio-thaikam melaporkan diriku kepada kaisar. Bagiku tidak ada artinya menjadi orang buruan kaisar, akan tetapi keluarga mertuaku"".."

"Hayo kita percepat lari kita, sute. Kita harus bela mereka ! Jangan kau khawatir, ada suhengmu di sini yang akan mempertaruhkan nyawa untuk membela engkau dan anak isterimu!"

Bun Hong menahan isaknya karena terharu mendengar ucapan itu dan mereka berdua lalu mengerahkan seluruh kepandaian mereka, berlari cepat sekali seperti terbang sehingga sebentar saja mereka telah tiba di kota raja dan mereka langsung menuju ke gedung Pangeran Song.

Pangeran Song Hai Ling menyambut kedatangan putera mantunya dengan heran sekali dan juga cemas melihat betapa putera mantunya itu pucat sekali wajahnya dan Nampak khawatir sekali.

Bun Hong segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki pangeran itu dan berkata dengan suara gemetar.

"Gakhu"". celaka sekali""! Kita harus cepat-cepat lari dari sini"".!"

"Eh, kau kenapakah, Bun Hong?"

Tanya Pangeran Song sambil membangunkan mantunya dan memandang kepada Beng Han dengan bingung.

"Celaka"".. saya telah bertempur dan bahkan telah membinasakan kedua orang perwira she Bong! Sedangkan Tek Po Tosu dapat melarikan diri. Mereka telah mengetahui rahasia saya. Celaka, kita sekeluarga terancam bahaya, kita harus segera pergi, sekarang juga!"

Seketika pucat wajah Pangeran Song mendengar ini, akan tetapi dengan sikap dan suara tenang yang membuat Beng Han merasa kagum bukan main, dia berkata.

"Tenanglah, anakku. Ceritakan semua dengan jelas. Dan siapakah dia ini ?"

Pangeran itu memandang kepada Beng Han yang segera menjura dengan sikap hormat.

Bun Hong segera memperkenalkan Beng Han sebagai suhengnya, kemudian dia menceritakan betapa ketika dia dan Beng Han sedang bercakap-cakap, tiga orang jagoan dari Thio thaikam itu telah mengintai dan mendengarkan percakapan mereka sehingga mengetahui rahasianya.

Ketiga orang itu lalu menyerang dan betapa dalam pertempuran itu, dia dan suhengnya telah berhasil membunuh mati kedua orang perwira Bong akan tetapi Tek Po Tosu sempat melarikan diri.

"Tosu keparat itu tentu akan melaporkan hal ini kepada Thio-thaikam dan celakalah kita kalau sampai terlambat. Saya tidak takut terhadap mereka, akan tetapi, gakhu sekeluarga, isteri saya, anak saya"".."

Pangeran Song yang menjadi pucat sekali wajahnya karena dia dapat melihat kehebatan bahaya yang mengancam keluarganya ketika mendengar peristiwa yang diceritakan oleh mantunya itu, kini menggeleng kepala sambil tersenyum.

"Bun Hong, betapapun juga, aku merasa bangga bahwa engkau dan suhengmu telah dapat membunuh dua orang perwira keparat yang telah banyak menghinaku itu. Akan tetapi, menyuruh aku melarikan diri akan sama halnya dengan nenyuruh matahari bergerak dari barat ke timur! Kaubawalah anak isterimu lari dari sini, akan tetapi aku tidak dapat meninggalkan gedungku."

Bukan main terkejutnya hati Bun Hong mendengar bahwa mertuanya tidak mau lari.

"Akan tetapi, gakhu, kalau mereka datang, gakhu sekeluarga, pasti akan ditangkap dan dijatuhi hukuman beserta seluruh keluarga! Marilah ita lari sebelum terlambat!"

Katanya dengan cemas. Pangeran itu menggeleng-geleng kcpala sambil tersenyum.

"Bun Hong, tidak ingatkah engkau siapa adanya ayah mertuamu ini? Aku adalah seorang pangeran keluarga kaisar, bahkan Kaisar Hian Tiong dahulu adalah saudara misanku! Tidak mungkin aku melarikan diri dan memberontak terhadap kaisar! Biar aku dijatuhi hukuman yang bagaimana beratpun aku tidak sudi memberontak."

Sementara itu, ketika mendengar suara ribut-ribut di ruangan depan, keluarga Pangerar Song memburu ke luar, termasuk Kim Bwee yang menggendong puteranya, dan Kim Hwa.

Setelah mereka mendengar akan peristiwa yang terjadi, mereka menjadi terkejut sekali dan terdengarlah suara tangisan yang memilukan seolah-olah baru saja terjadi kematian di tempat itu.

Kim Hwa menubruk kaki ayahnyj sambil menangis, sedangkan Kim Bwee memandang kepada suaminya dengan wajah penuh air mata yang mengalir di sepanjang kedua pipinya.

Bahkan anaknya yang baru berusia satu bulan itupun menangis keras.

Melihat ini semua, Beng Han merasa terharu sekali dan Bun Hong lalu merangkul isterinya dan berkata.

"Kim Bwee, aku adalah seorang suami yang buruk dan jahat. Akulah yang mendatangkan malapetaka yang menimpa keluargamu ini Kim Bwee, sekarang terserah kepadamu kalau kau suka, marilah kita lari bersama putera kita."

Sambil menahan isaknya, Kim Bwe berkata.

"Kita lari dan meninggalkan ayah dan semua keluarga menjalani hukuman? Tidak""., tidak"".! Kalau memang sudah seharusnya semua keluarga binasa, biarlah aku ikut pula.!"

Nyonya yang cantik ini lalu menangis sambil nemeluki tubuh puteranya.

"Akan tetapi anak kita..."."

Kata Bun Hong dengan suara hampir tidak terdengar karena dadanya terasa sesak. Kim Bwee lalu memberikan puteranya kepada Bun Hong dan berkata sambil menangis.

"Suamiku, kau larilah dan bawalah anak kita ini"", biarkan aku membuktikan baktiku kepada ayah sekeluarga""."

Bun Hong menerima puteranya dan berdiri bagaikan patung. Dia memandang wajah anaknya yang mirip isterinya itu, dan pada saat itu tiba-tiba dari luar terdengar suara hiruk-pikuk.

"Celaka, mereka telah datang menyerbu ke sini!"

Kata Beng Han yang melihat berkelebatnya golok dan tombak serta gemerlapnya pakaian para perwira kerajaan.

"Kalau begitu, aku akan mendahului mereka dan membunuh anjing Thio-thaikam itu!"

Teriak Bun Hong dan cepat dia menyerahkan puteranya kepada Beng Han yang sebelum tahu harus berbuat apa, putera sutenya itu telah berada dalam pondongannya.

Bun Hong mencabut pedang dan berlari ke luar.

Beberapa orang perwira yang melihatnya lalu menahannya, akan tetapi beberapa kali Bun Hong menggerakkan pedang dan beberapa orang perajurit dan perwira telah roboh terguling dan mandi darah.

Bun Hong cepat melompat dan berlari menuju ke istana Thio-thaikam!

Sementara itu, isteri Bun Hong yang tahu bahwa Beng Han adalah suheng dari suaminya karena dulu suaminya sering kali menyebut nyebut nama pemuda ini, lalu berlutut di depan Beng Han sambil berkata.

"Twako, tolonglah nyawa anakku, selamatkanlah dia"". tolonglah"".dari alam baka saya akan menghaturkan terima kasih atas budi pertolonganmu ini""

Beng Han tertegun dan memandang wajah yang cantik dan pucat itu dan sebelum dia dapat menjawab, tiba-tiba rombongan perwira dan perajurit telah menyerbu masuk dan seorang perwira membentak nyaring.

"Pangeran Son Hai Ling! Atas nama kaisar, kami datang menangkap engkau sekeluarga!"

Pangeran Song melangkah maju dengan wajah angkuh dan langkah tegak.

"Mana lengki?"

Tanyanya. Lengki adalah semacam bendera yang dibawa oleh orang yang menjadi utusan kaisar, semacam tanda kuasa. Seorang perwira tua dengan senyum mengejek lalu memperlihatkan surat perintahnya.

"Pangeran pemberontak? Kau masih hendak berlagak memperlihatkan kekuasaanmu? Jangan kau melawan kalau kau menyayang dirimu sendiri dan keluargamu!"

Sementara itu, melihat datangnya para perwira yang hendak menangkap keluarga Song, Beng Han lalu melompat sambil memondong putera Bun Hong yang masih kecil.

"Heii, kau hendak lari ke mana? Semua penghuni rumah ini tidak boleh pergi meninggalkan tempat ini!"

Seorang perwira lain yang segera mengejar membentak.

"Aku adalah seorang tamu dan bukan penghuni rumah ini!"

Jawab Beng Han yang berlari terus.

"Tahan! Tunggu dulu!"

Teriak perwira itu dan ketika melihat Beng Han tidak mentaati perintahnya, dia berseru.

"Tangkap orang itu!"

Beng Han maklum bahwa dia harus membuka jalan dengan pertempuran, maka sambil memondong anak kecil itu dengan lengan kiri dia mencabut pedangnya dan memutar pedang dengan cepat ke arah para perajurit yang mengejarnya.

Melihat gerakan pedang itu, para perajurit mundur kembali dan Beng Han mempergunakan kesempatan itu untuk melompat naik ke atas genteng.

"Kejar! Tangkap""..!"

Teriak perwira yang memimpin penyerbuan itu dan dia sendiri diikuti oleh beberapa orang peiwira lain lalu melompat pula ke atas genteng dan melakukan pengejaran.

Beng Han yang tahu bahwa untuk bertempur sambil memondong anak itu adalah kurang leluasa dan berbahaya baginya dan bagi anak itu, tidak mau melayani mereka dan berlari makin cepat.

Tidak jauh dari situ, di melihat betapa Bun Hong juga sedang dikepung oleh beberapa orang perwira kerajaan dan sutenya itu sedang mengamuk hebat.

Di lalu melompat mendekati dan berseru nyaring.

"Sute, mari kita lari, jangan layani mereka!"

Melihat Beng Han muncul sambil memondong anaknya, Bun Hong lalu menjawab sambil merobohkan seorang lagi pengeroyoknya dengan pedang.

"Suheng, larilah kau, biarkan aku membasmi anjing-anjing rendah ini!"

"Sute, kita selamatkan dulu puteramu, nant kita berdua membasmi mereka. Jangan khawatir, aku akan membantumu. Hayolah!"

Mendengar ucapan suhengnya itu, Bun Hong yang sedang marah dan bingung, kini mentaatinya dan dia memutar pedangnya secara hebat sekali sehingga para pengeroyoknya menjadi gentar dan mundur.

Maka dia lalu melompat kebelakang, dan berlari cepat bersama suhengnya, dikejar oleh beberapa orang perwira yang berkepandaian tinggi.

Akan tetapi, kedua orang muda yaug gagah perkasa itu berlari cepat sekali sehingga sebentar saja mereka berdua telah meninggalkan para pengejar itu dan lari keluar dari kota raja, menerobos penjagaan di pintu gerbang dan memasuki hutan.

Setelah tiba di tengah hutan, anak di dalam pondongan Beng Han itu menangis keras, agaknya merasa kaget dan ingin minum.

Beng Han dengan canggung mengayun-ayun anak itu dalam pelukannya dan Bun Hong lalu memintanya, lalu dia memondong puteranya dengan hati penuh kedukaan.

Anak itu diayun-ayun oleh ayahnya lalu berhenti menangis, memejamkan mata, lalu tertidur.

Bun Hong tak dapat menahan keharuan hatinya lagi, dipeluknya anaknya itu dan dia menangis mengguguk, sehingga Beng Han lau minta anak yang tidur itu karena khawatir kalau anak itu akan menjadi kaget.

Bun Hong menyerahkan anaknya kepada suhengnya, lalu dia menjatuhkan diri di atas rumput, menutupi muka dengan kedua tangannya.

"Suheng"""."

Dia meratap.

""". aku adalah seorang yang berdosa besar""

Aku telah menyia-nyiakan cinta kasih isteriku, aku bahkan mencelakakan seluruh keluarganya..... suheng, memang benar ucapanmu dahulu itu"". aku telah"".. telah menjadi gila!"

Kemudian dia mengepal tinju dan mukanya berobah beringas sekali.

"Semua ini gara-gara anjing kebiri Thio itu! Aku harus membunuhnya!"

"Tenanglah, sute,"

Jawab Beng Han menahan keharuan hatinya.

"kita sedang menghadapi peristiwa yang hebat dan besar, maka kita harus mempergunakan ketenangan. Jangan bertindak ceroboh menurutkan nafsu amarah. Sekarang keluarga Pangeran Song telah ditawan semua. dan tindakan pertama-tama yang kita harus lakukan ialah menolong dan membebaskan isterimu dari tawanan."

"Akan tetapi"". dia"""

Dia tidak mau suheng"".."

Kata Bun Hong dengan suara sedih.

"Kita harus memaksa dia keluar dari penjara dan membebaskannya demi kepentingan anak ini, sute! Pangeran Song boleh mempunyai pendirian lain karena dia memang seorang bangsawan keluarga kaisar yang memegang teguh keharuman namanya. Akan tetapi Song Kim Bwee adalah isterimu, keluargamu. Dia isterimu dan ibu anakmu, maka dia harus tunduk dan menurut kepada keputusanmu!"

Bun Hong menundukkan kepalanya.

"Terserah kepadamu, suheng. Aku bingung sekali".."

"Sebelum pergi membebaskan isterimu ada hal yang lebih penting lagi yaitu anakmu ini. Kita harus mencari seorang wanita yang boleh dipercaya untuk memeliharanya sewaktu kita pergi."

Bun Hong memandang kepada puteranya laJam pondongan suhengnya itu dan dia teringat akan sesuatu.

"Di dusun sebelah timur kota tinggal seorang janda dengan anak perempuannya yang masih gadis. Aku pernah menolong mereka ketika anak perempuannya itu dilarikan oleh seorang penjahat. Kita titipkan Sian Lun kepada mereka, tentu mereka suka menolongku."

Beng Han girang mendengar ini dan keduanya lalu langsung menuju ke dusun itu.

Janda tua dan anak gadisnya yang berhutang budi kepada Bun Hong menerima permintaan tolong mereka dengan segala senang hati dan Bun Hong memesan kepada mereka dengan keras agar supaya mereka tidak menceritakan kepada orang lain siapa sebenarnya anak itu.

"Kalau ada yang bertanya, katakan saja bahwa ini adalah anak seorang keluargamu dari dusun lain yang dititipkan di sini,"

Kata Beng Han. Kedua orang muda itu mendapat penyambutan baik sekali dan mereka bermalam di dalam rumah janda itu.

"Kita harus berlaku hati-hati, sute. Karena mereka tahu bahwa kita tentu akan kembali, maka tentu kota raja terjaga keras sekali. Kita tidak boleh ceroboh dan sebelum bertindak harus kita selidiki lebih dulu dengan baik di mana keluargamu ditahan agar usaha kita tidak akan sia-sia."

Bun Hong yang berduka dan bingung serta gelisah sekali itu tidak kuasa menggunakan pikirannya, maka dia menyerahkan segala keputusan dan pimpinan kepada suhengnya.

Janda tua itu membantu mereka dan disuruh masuk ke kota raja untuk menyelidiki di mana adanya keluarga Pangeran Song yang ditangkap itu.

Tidak mudah bagi janda tua itu untuk melakukan penyelidikan, akan tetapi karena tidak ada orang mencurigai janda dusun yang tua ini, dua hari kemudian, barulah janda itu memperoleh berita dan cepat kembali ke dusun.

Dia mengabarkan dengan muka khawatir bahwa keluarga Song itu ditahan di tempat tahanan besar yang khusus dibangun untuk menahan penjahat-penjahat besar dan pemberontak-pemberontak sebelum mereka dijatuhi hukuman mati!

Dan menurut kabar, tempat itu terjaga dengan ketat sekali Mendengar ini, sambil mengerutkan kening dan mengepal tinju, Bun Hong berkata.

"Mari kita serbu mereka di tempat itu, suheng!"

"Tentu, sute. Akan tetapi, tidak pada siang hari. Biarlah malam nanti kita bekerja. Mudah-mudahan saja Thian memberi berkah dan kita akan berhasilmenyelamatkan isterimu."

Bun Hong memegang tangan Beng Han."Suheng, dengan adanya engkau di sampingku, tenaga dan keberanianku menjadi berlipat ganda.

Dengan engkau, aku akan sanggup melakukan apa saja.

Kita pasti akan berhasil!"

"Mudah-mudahan saja, sute. Dan aku berjanji akan mengorbankan segala yang ada padaku untuk menolongmu dan demi kepentingan dan kebahagiaanmu"

Bun Hong memeluk suhengnya dengan hati terharu.

"Kau mulia sekali, suheng"".. kau ampunkan kesalahanku yang sudah-sudah"""

Beng Han menepuk-nepuk pundak sutenya lan setelah berkemas, mereka lalu berangkat menuju ke kota raja.

Untuk keperluan ini, keduanya mengenakan pakaian hitam dan membawa pedang mereka.

Bahkan mereka mencari seberapa potong batu karang kecil yang tajam dan keras yang mereka masukkan ke dalam sebuah kantong dan digantung di pinggang, untuk dipergunakansebagai senjata rahasia.

Demikianlah, pada malam hari yang gelap gulita itu, pada waktu angin malam berhembus keras membangunkan bulu roma karena dingin yang menyeramkan, dua bayangan hitam berkelebat cepat bagaikan hantu-hantu malam, menuju ke kota raja.

Dengan hati penuh dengan perasaan marah, malu dan penasaran, Kui Eng membalapkan kudanya, diikuti oleh Min Tek yang sebaliknya merasa amat menyesal karena dia merasa bahwa dia telah menjadi gara-gara dan biang keladi terjadinya percekcokan antara tiga orang bersaudara itu.

"Kui-siocia"".!"

Serunya memanggil dan menendang-nendang perut kudanya agar dapat menyusul kuda Kui Eng.

"Kui-siocia, alangkah menyesal dan kecewa hatiku bahwa aku telah mendatangkan perkara yang amat tidak enak itu!"

"Sudahlah, Ang-kongcu. Kau tidak bersalah apa-apa dan jangan kau ulangi dan membicarakan lagi peristiwa yang hanya membuat aku merasa malu itu."

"Kui-siocia, aku telah berdosa besar sehingga karena aku maka kau telah bermusuhan dengan suhengmu sendiri. Aku""aku"". ah sudahlah, lebih baik kautinggalkan saja aku nona. Biar aku pulang seorang diri, dari pada terjadi keributan itu."

Tiba-tiba Kui Eng menahan kudanya.

"Apa? Apakah kau tidak suka melakukan perjalanan bersamaku?"

Ang Min Tek terkejut.

"Bukan, bukan demikian, nona. Aku merasa suka dan berterima kasih sekali bahwa kau sudi melakukan perjalanan bersama aku yang bodoh ini, sudi melindungi aku dari segala ancaman bahaya di dalam perjalanan. Akan tetapi, kalau hal ini hanya menimbulkan pertikaian antara kau dan suhengmu, ahh"". aku merasa tidak enak sekali, nona."

"Ang-kongcu, harap kau jangan sebut-sebutt lagi hal itu. Seorang gagah tidak pernah rnerobah keputusan yang telah diambilnya. Aku telah mengambil keputusan untuk mengantarmu sampai di tempat tinggalmu dan apapun juga takkan dapat merobah kepatusanku, kecuali"

Kecuali kalau kau menyatakan tidak suka melakukan perjalanan denganku, tentu saja aku tidak akan memaksamu."

Melihat kekerasan hati gadis itu, Min Tek menarik napas parjang.

Dia lidak nengerti akan sikap orang-orang kang-ouw, dan tentu saja dia tidak berani mengatakan bahwa dia tidak suka melakukan perjalanan bersama pendekar wanita yang selain gagah peikosa, juga cantik jelita itu.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat dan tidak banyak berkata-kata.

Dan oleh karena kini mereka melakukan perjalanan dengan naik kuda yang dibalapkan cepat, maka pada malam harinya sampailah mereka di Ki-ciu, tempat tinggal Ang Mm Tek.

Kedatangan mereka disambut dengan gembira sekali oleh ibu Min Tek,.seorang janda yang kaya.

Ketika mendengar bahwa puteranya telah lulus ujian, ibu yang girang ini memeluk putera tunggalnya.!

"Anakku, alangkah besar dan girang rasa hatiku mendengar bahwa engkau telah menjadi seorang siucai.

Hanya dua hal yang menjadi mimpi setiap malam bagiku, anakku.

Pertama, melihat engkau lulus ujian, dan ke dua melihat engkau melangsungkan pernikahanmu dengan Bu-siocia Mereka tentu akan girang sekali mendengar bahwa kau telah lulus.

Min Tek, besok pagi kita pergi ke rumah keluarga Bu dan menentukan hari pernikahanmu dengan tunanganmu."

"Sssstt, ibu, hal itu mudah kita bicarakan nanti. Sekarang perkenalkanlah dulu dengan seorang pendekar wanita yang telah menolong nyawaku dan yang telah melindungiku selama dalam perjalanan. Kalau tidak ada dia, mungkin kita takkan dapat saling bertemu lagi, ibu."

Terkejutlah tyonya itu mendengar ucapa ini.

"Siapa, nak?"

"Inilah dia"".. Kui-siocia""""

Kata Min Tek sambil menengok ke belakang, akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika dia melihat bahwa di belakangnya tidak ada siapa-siapa dan Kui Eng yang tadi ikut masuk di belakangnya telah pergi tanpa meninggalkan bekas!

"Eh, ke mana dia"".?"

Min Tek berseru dan cepat dia keluar lagi, menengok ke sana-sini dan mencari-cari dengan pandang matanya; namun tetap saja Kui Eng tidak kelihatan lagi. Ibunya menjadi bingung melihat sikapnya itu.

"Min Tek, kau mencari siapakah?"

Min Tek sadar, menarik napas panjang dan nenggeleng-geleng kepala.

"Aihh"

Sungguh aneh sekali wataknya""..!"

Lalu dia menuturkan kepada ibunya tentang diri Kui Eng yang tadi mengantarnya sampai ke rumah, akan tetapi yang kini telah pergi tanpa pamit.

"Memang dia aneh sekali ibu, seorang wanita perkasa yang amat gagah berani dan keras hati. Akan tetapi, sampai matipun aku tidak akan dapat melupakannya, karena tanpa adanya pendekar itu, aku tentu sudah mati."

Ibu dan anak itu membicarakan keadaan Kui Eng dengan terheran-heran, akan tetapi Min Tek mengerti bahwa akan percuma saja mencari Kui Eng karena apa yang telah dilakukan oleh dara perkasa itu tentu takkan dapat dirubah oleh orang lain.

Sebetulnya Kui Eng tadi juga ikut masuk ke rumah itu dan merasa terharu menyaksikan pertemuan antara ibu dan anak itu.

Akan tetapi ketika dia mendengar ucapan nyonya Ang terhadap puteranya, tiba-tiba dia menjadi pucat sekali dan tanpa pamit lagi dia melompat keluar dan berlari pergi dari tempat itu.

Dia tidak memperdulikan kudanya lagi dan terus berlari di malam gelap.

Setelah tiba di tempat sunyi, dia berhenti dan terdengarlah isak tangisnya.

Dia menjatuhkan diri di bawah sebatang pohon dan menangis dengan sedihnya.

Min Tek hendak menikah?

Sudah bertunangan dengan Bu siocia?

Ah"..

sedangkan dia"".

dia""..

mengharapkan""ahh!

Mengapa pemuda itu tidak pernah membicarakan hal ini dan mengapa pula dia tidak pernah memikirkan bahwa seorang pemuda seperti Min Tek itu belum tentu kalau masih "bebas"?

Celaka, dan dia sudah membela pemuda ini sehingga dia bermusuhan dengan Bun Hong!

Dan pemuda ini sudah mendengar tuduhan Bun Hong bahwa dia mencintanya, dan alangkah rendahnya dia dalam pandangan Min Tek.

Dia telah mencinta seorang pemuda yang telah ditunangkan dengan gadis lain dan yang pada besok hari akan ditentukan hari pernikahannya!

Tiba-tiba timbul kekerasan hatinya.

Ah, dia seorang dara gagah perkasa yang memiliki ilmu kepandaian tinggi!

Kalahkah dia oleh tunangan Min Tek?

Dia harus melihat dulu siapakah sebetulnya tunangan pemuda itu.

Sampai di mana kecantikannya dan sampai di mana kepandaiannya.

Dia merasa penasaran dan ingin, menyaksikan dengan mata sendiri.

Dan apakah Min Tek mencinta gadis itu?

Dia harus yakin akan hal ini.

Dengan hati terasa hancur, seluruh harapannya pecah berantakan, Kui Eng duduk di bawah pohon itu semalam suntuk memikirkan keadaan dirinya.

Ketika dia teringat akan ibunya, teringat akan pinangan Beng Han yang nencintanya, dan teringat akan kata-kata Bun Hong yang juga menjadi rusak hidupnya dan menderita karena cinta ji-suhengnya itu kepadanya, dia menangis lagi dengan hati nelangsa.

Cinta yang didasari keinginan untuk kesenangan diri sendiri, tak dapat dihindarkan lagi pasti mendatangkan duka, mendatangkan kecewa, mendatangkan cemburu dan mendatangkan sengsara.

Karena pada hakekatnva cinta seperti itu hanyalah KEINGINAN UNTUK SENANG atau pengejaran kesenangan untuk diri sendiri belakaKita selalu ingin dicinta, ingin orang yang menyenangkan hati kita itu menjadi milik kita pribadi ingin agar orang itu selalu menyenangkan hati kita.Oleh karena inilah maka cinta seperti itu sering kali berakhir dengan kegagalan dan derita bagi diri sendiri.

Cinta seperti itu selalu disertai harapan harapan dan kalau harapannya ini tidak tercapai, sudah tentu saja mendatangkan kekecewaan dan kedukaan!

Dan jangan dikira bahwa kalau yang diinginkan atau diharapkan itu tercapai akan mendatangkan kebahagiaan yang sesungguhnya!

Mungkin mendatangkan kelegaan dan kepuasan sementara saja, seketika saja, selama sehari dua hari, sebulan dua bulan, atau setahun dua tahun Namun kepuasan seperti itu mudah sekali goyah dan di sebelah sana, dekat sekali, sudah menanti kekecewaan-kekecewaan dan kedukaan yang sekali waktu akan menggantikan kedudukan kesenangan itu!

Maka, timbul pertanyaan yang amat bcsar dan yang amat menarik untuk kita selidiki.

Apakah benar-benar Kui Eng mencinta Min Tek?

Kalau benar gadis ini mencinta Min Tek, apakah dia akan merasa sengsara melihat bahwa Min Tek telah mempunyai seorang tunangan, bahwa Min Tek akan hidup bahagia dengan tunangannya itu?

Kita selalu INGIN agar orang mencinta kita, agar orang baik kepada kita.

Akan tetapi, mengapa kita tidak pernah membuka mata dan menyelidiki diri sendiri.

Apakah kita mencinta.

orang lain?

Apakah kita sudah baik kepadi orang lain?

Inilah yang penting!

Bukan agar orang-orang mencinta dan baik kepada kita!

Harapan agar semua orang atau seseorang tertentu mencinta dan baik kepada kita hanyalah menimbulkan kekecewaan dan penderitaan belaka.

Akan tetapi mempelajari diri sendiri MENGAPA kita tidak mencinta dan tidak baik kepada orang lain, itulah yang penting.

Kalau kita mempunyai cinta kasih dan belas kasih kepada semua orang, maka cukuplah itu!

Cinta dan kebaikan bukanlah cinta dan kebaikan namanya kalau mengharapkan ganjaran, mengha-spkan imbalan.

Bukan cinta dan bukan keba-kan namanya yang mengharapkan ganjaran, baik dari orang lain maupun dari Tuhan!

Itu hanya merupakan penjilatan atau penyogokan belaka, merupakan akal untuk memperoleh sesuatu ang menyenangkan kita, bukan?

Kalau kita sudah mencinta dan baik kepada semua orang, maka tidak menjadi persoalan lagi apakah orang-orang itu baik kepada kita ataukah tidak, cinta kepada kita ataukah tidak.

Itu adalah persoalan mereka, bukan persoalan kita.

Cinta kasih tidak menimbulkan duka!

Kalau ada duka, kalau ada kecewa, kalau ada cemburu, kalau ada benci, jelas itu bukanlah cinta kasih namanya, melainkan cinta yang didasarkan atas nafsu ingin senang untuk diri pribadi.

Ini jelas dan mudah sekali nampak oleh siapa saja yang mau membuka mata melihat kenyataan!

Selama masih ada "aku yang ingin senang"

Maka tidaklah mungkin ada cinta kasih!

Karena sesungguhnya si aku inilah yang menjadi penghalang timbulnya cinta kasih.

Karena kalau yang mencinta itu adalah si aku, jelaslah bahwa si aku hanya dapat mencinta segala sesuatu yang menyenangkan dan menguntungkan si aku, sebaliknya si aku pasti akan membenci segala sesuatu yang menyusahkan dan merugikan si aku.

Jadi, selama menyenangkan dan menguntungkan, dicinta, akan tetapi sekali waktu menyusahkan dan merugikan, lalu dibenci!

Cinta seperti itu hanyalah permainan nafsu yang amat dangkal, hari ini bisa cinta, besok bisa saja menjadi benci karena hari ini menyenangkan dan menguntungkan, akan tetapi besok menyusahkan dan merugikan.

Tidak demikiankah adanya "cinta kasih"

Yang kita dengung-dengungkan selama ini? Tidak demikiankah "cinta kasih"

Yang ada pada batin kita, terhadap isteri atau suami kita, terhadap anak-anak kita, terhadap keluarga dan sahabat kita?

Dan kewaspadaan atau kesadaran akan hal ini, kesadaran yang sedalam-dalamnya, membawa pengertian dan pengertian inilah yang akan mendatangkan perobahan, karena selama kita belum berubah, sudah pasti hidup kita akan selalu dikelilingi oleh kecewa, cemburu, duka, sengsara, benci dansebagainva Demikianlah, denpan hati sengsara Kui Eng menangisi nasibnya!

Ah, betapa kita selalu melontarkan segala sesuatu kepada "nasib"!

Mengapa kita tidak membuka mata memandang diri sendiri, bercermin dan menjenguk diri sendiri sampai sedalam-dalamnya, mengamati diri sendiri setiap saat?

Segala sesuatu yang terjadi kepada kita berpokok pangkal kepada diri kita sendiri, sumbernya berada di dalam diri kita sendiri!

Susah senang adalah permainan pikiran kita sendiri, ditimbulkan oleh pikiran sendiri.

Kita menjadi permainan pikiran sendiri Segala sesuatu yang kita lakukan timbul dari pikiran, si aku, dan kemudian pikiran pula yang menyesal, kecewa, berduka.

Lalu pikiran pula yang melemparkan kesemuanya itu, pertanggungan jawab itu, kepada sang nasib!

Nasib buruk!

Dan kita masih saja melanjutkan kesesatan dan penyelewengan kita, dan kalau terjadi akibat buruk, mudah saja, melemparkan kepada nasib!

Betapa kita selalu buta, atau membutakan mata?

Pada keesokan harinya, ketika Min Tek yang merasa heran akan kepergian Kui Eng tanpa pamit itu, pergi bersama ibunya mengunjungi rumah tunangannya, dengan sembunyi-sembunyi Kui Eng membayanginya dari jauh.

Dengan menggunakan ilmu kepandaiannya, mudah saja Kui Eng membayangi anak dan ibu itu tanpa diketahui oleh mereka.

Dia melihat betapa Min Tek dan ibunya disambut oleh sepasang suami isteri dan mereka lalu masuk ke dalam rumah.

Kui Eng lalu mengambil jalan memutar dari belakang rumah dan segera melompat ke atas genteng.

Dia membuka genteng dan mengintai ke dalam.

Dia melihat Min Tek dan ibunya diantar ke ruangan dalam dan dari dalam sebuah kamar keluarlah seorang dara yang masih amat muda dan wajahnya cantik jelita.

Min Tek segera bangkit berdiri, wajahnya berubah kemerahan berseri-seri, dan dia menjura kepada dara itu.

Pandang mata pemuda itu membuat hati Kui Eng seperti tertusuk dan perih, karena tidak salah lagi pandang mata itu adalah pandang mata penuh dengan cinta kasih dan amat mesra ketika sejenak pemuda dan dara yang saling memberi hormat itu saling pandang.

Bahkan pemuda itu lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dan berkata kepada gadis itu dengan suara halus.

"Lan moi, aku mernbawa sutera halus warna merah kesukaanmu."

Dara itu memandang dengan girang dan menyambut bungkusan itu sambil menjawab, mulutnya tersenyum manis dan matanya mengerling tajam.

"Terima kasih, koko""."

Kui Eng memperhatikan wajah dara itu dan tertegunlah dia sehingga dia terduduk di atas genteng dengan bengong.

Memandang wajah gadis itu, dia seolah-olah melihat wajahnya sendiri dalam cermin!

Dia menjadi penasaran dan mengintai lagi melalui lubang itu.

Dara itu duduk di dekat ibunya dan ketika memperhatikan wajah nyonya itu, ibu dari dara itu.

kembali jantung Kui Eng berdebar tegang.

Di manakah dia pernah melihat nyonya ini?

Ayah gadis itu bertubuh gemuk pendek dan wajahnya riang, akan tetapi dia merasa asing dan tidak pernah dia melihat wajah laki-laki ini.

Akan tetapi nyonya itu mempunyai wajah yang telah dikenalnya dengan baik, hanya dia telah lupa lagi di mana dan kapan dia pernah bertemu dengan wanita itu.

Dara muda itu, yang menjadi tunangan Min Tek, mengapa demikian mirip dengan dia?

Dia teringat betapa pernah Min Tek berkata kepadanya bahwa dia mengingatkan pemuda itu kepada seorang yang menjadi kenangannya.

Tahulah dia sekarang siapa orang yang dimaksudkan oleh pemuda itu!

Hatinya makinmenjadi panas mengingat itu semua, sungguhpun pada saat itu juga Kui Eng merasa malu kepada diri sendiri mengapa dia mesti merasa panas dan cemburu!

Setelah Min Tek dan ibunya pulang, Kui Eng masih saja duduk di atas genteng, bersembunyi di belakang wuwungan yang tinggi, tidak memperdulikan matahari yang membakar kepala dan punggungnya.

Tiba-tiba dia melihat gadis itu menuju ke taman bunga di belakang rumah itu sambil membawa bungkusan pemberian Min Tek.

Kui Eng cepat melayang turun dan mengintai dari balik sebatang pohon.

Dara remaja itu berlarian kecil dengan wajah gembira, memasuki taman.

Kemudian dia duduk di atas bangku taman, lalu dengan tangan gemetar dara itu membuka bungkusan pemberian tunangannya tadi.

Setelah bungkusan terbuka, di dalamnya terdapat segulung sutera merah yang halus.

Dengan girang dara itu lalu mendekap gulungan sutera di dadanya sambil tersenyum dan matanya memandang keatas dengan mesra, lalu dibukanya gulungan sutera itu dan ditempelkan pada tubuhnya dipandanginya sambil mematut-matut.

Dengan hati panas Kui Eng lalu mengambil sepotong batu dan mengayun tangannya "Brettt!!"

Batu kecil itu menembus sutera yang masih dipegang oleh gadis itu menjadi robek dan berlubang!

Gadis itu terkejut sekali dan melihat kearah kain suteranya dengan heran, menyesal dan kecewa.

Hampir dia menangis dan memandang ke kanan kiri karena tidak tahu mengapa kain itu tiba-tiba bisa robek dan berlubang.

Ketika dia menoleh ke belakang, dia melihat seorang gadis berdiri dengan bertolak pinggang memandang kepadanya dengan mata berapi-api.

Kui Eng yang berdiri tegak itu tersenyum pahit, lalu berkata.

"Demikianlah, tanpa kau sadari engkaupun telah merobek hatiku seperti kain suteramu itu!"

Tentu saja dara itu menjadi heran dan bingung, terutama sekali ketika dia melihat bahwa gadis baju hijau yang berdiri dan kelihatan marah itu memiliki wajah yang mirip sekali dengan wajahnya sendiri.

Kalau hal ini terjadi di waktu malam, tentu dara itu akan menjerit ketakutan dan menyangka melihat setan.

Akan tetapi oleh karena hari itu masih siang dan terang sekali, maka dia lalu melangkah maju memandang dengan mata terbelalak, kemudian mukanya berubah dan napasnya terengah-engah "Kau"".?

Siapakah engkau, cici?

Bagaimana kau bisa masuk ke sini dan""..

dan apakah artinya kata-katamu tadi"".?"

Dara itu memandang kepada kain suteranya yang robek.

"Dengarlah, namaku adalah Kui Eng dan kau boleh mengatakan kepada tunanganmu itu bahwa aku tidak akan dapat mengampuni diriku sendiri karena ketololanku!"

Setelah berkata demikian, Kui Eng membalikkan tubuhnya dan dia hendak pergi dari tempat itu. Akan tetapi tiba-tiba dara itu menjerit dan berseru.

"Enci Kui Eng".. benarkah"..? Engkaukah ini".?"

Kui Eng membalikkan tubuhnya dan memandang dengan heran. Dara itu kini memandang kepadanya dengan mata terbelalak dan muka pucat, kemudian dara itu menjerit dengan nyaring sekali.

"Ibu"".! Ibu""..! Lekas ke sini". enci Kui Eng telah datang"..!!"

Karena teriakan itu nyaring sekali, maka terdengarlah sampai ke dalam rumah dan tak lama kemudian, keluarlah nyonya yang menjadi ibu gadis itu bersama suaminya yang gemuk.

Kui Eng yang terkejut dan heran melihat sikap dara itu, masih berdiri terheran-heran dan kembali jantungnya berdebar keras ketika melihat nyonya yang wajahnya amat dikenalnya itu.

Sementara itu, ketika nyonya itu melihat Kui Eng, dia berhenti berlari dan berdiri seperti patung, menatap wajah Kui Eng dengan mata dipentang lebar.

"Betul"".tak mungkin salah lagi"""

Kui Eng"".. Eng-ji, kau betul-betul Eng ji, anakku"".."

Bibir nyonya tua itu bergerak-gerak mengeluarkan bisikan, akan tetapi cukup keras terdengar oleh Kui Eng yang menjadi pucat seketika.

Dia merasa betapa kepalanya seakan-akan disiram air dingin yang menyadarkan ingatannya bahwa nyonya ini bukan lain adalah ibunya sendiri yang telah lama dicari-carinya!

"Ibu""..???"

Bisiknya ragu-ragu, seakan-akan dia tidak percaya kepada ingatannya sendiri. Nyonya itu berlari maju sambil membuka dua tangannya.

"Eng-ji""., Eng-ji anakku"".."

"Ibu"".!"

Kini Kui Eng tidak ragu-ragu lagi dan dia menjerit sambil menubruk ibunya, memeluk kedua kaki ibunya sambil menangis.

Ibunya yang kini telah menjadi nyonya Bu Pok Seng itu lalu berlutut pula dan ibu ini merangkul dan menciumi anaknya antara tawa dan tangis.

"Eng-ji"". Eng-ji""., tak kusangka kita akan dapat bertemu lagi"".."

Kui Eng menangis dan sukar untuk dapat mengeluarkan kata-kata.

Akan tetapi dia teringat akan gadis tadi dan dia menoleh.

Dia melihat gadis itu berdiri di dekat ayahnya dan mendekap kain sutera merah.

Keinginan tahu Kui Eng meredakan keharuannya dan dia lalu bertanya kepada ibunya.

"Ibu, siapakah adik ini"""?"

Tanyanya sambil menunjuk ke arah gadis yang mirip dengan dia itu. Ibunya bangun berdiri sambil menarik tangan Kui Eng dan diajaknya dia menghampiri gadis tadi yang berdiri di samping ayahnya.

"Eng-ji.. dia ini adalah ayah tirimu Bu Pok Seng. dan anak ini adalah Swi Lan, adik tirimu sendiri..."

Kui Eng terkejut bukan main, memandang kepada Swi Lan dengan melongo, kemudian sambil terisak dia merangkul dan memeluk ibunya.

"Ibu"". aku berdosa kepadamu, aku"..aku adalah anakmu yang jahat""."

Swi Lan yang kini tidak merasa ragu-ragu lagi bahwa gadis ini adalah cicinya yang sering disebut-sebut dan diceritakan oleh ibunya, lalu lari menghampiri dan memeluk Kui Eng.

"Enci Eng"". aku girang sekali dapat bertemu denganmu. Ketahuilah, sudah sering sekali aku bertemu denganmu, enci yang manis."

Kui Eng memandang heran, mengusap air matanya dan melihat bahwa wajah adik tirinya yang manis itu tersenyum, akan tetapi dari kedua mata yang jeli itu mengalir air mata pula."Apa"".apa maksudmu"".?"

Dia bertanya gagap, teringat akan perbuatannya yang tidak patut tadi.

"Ibu sering menceritakan tentang dirimu dan aku sering bertemu dengan enci Eng di dalam mimpi."

Kui Eng merasa hatinya tertusuk dan dia segera merangkul Swi Lan dengan terharu.

"Adikku...". kaumaafkanlah aku kalau tadi aku berlaku kurang patut kepadamu...."

Ibu kedua orang gadis itu bertanya heran.

"Eh, apakah tadi kalian sudah bertemu dan berkenalan?"

Swi Lan memandang kepada ibunya dan Kui Eng merasa khawatir kalau-kalau adik tirinya itu akan memberitahukan kepada ibunya tentang perbuatannya merusak kain sutera adiknya itu.

Akan tetapi Swi Lan hanya berkata.

"Tadi enci Eng tiba-tiba muncul sehingga aku menjadi terkejut sekali. Akan tetapi, melihat wajahnya, aku sudah dapat menduga bahwa dia tentulah enciku yang baik."

Bukan main malunya rasa hati Kui Eng mengenangkan semua peristiwa yang terjadi tadi.

Dia telah jatuh hati kepada tunangan adiknya sendiri.

Ini masih tidak mengapa karena dia tidak tahu bahwa Min Tek adalah pemuda yang sudah bertunangan dan bahwa tunangannya itu adalah adiknya sendiri.

Yang paling hebat adalah perbuatannya yang menyakiti hati adiknya tadi, yang melukai perasaan adiknya dengan merusak kain sutera pemberian Min Tek.

Bahkan tadinya dia mempunyai niat pula untuk melukai atau membunuh gadis yang merebut pemuda pujaan hatinya itu!

Ketika diperkenalkan kepada ayah tirinya, Kui Eng memberi hormat dengan perasaan kecewa.

Entah bagaimana, dia merasa tidak suka kepada ayah tirinya ini, sungguhpun dia merasa suka sekali kepada Swi Lan yang manis dan peramah.

Dia merasa kecewa sekali melihat bahwa ibunya telah memkah lagi, bahkan melihat kenyataan ini, dia merasa hatinya sakit.

Tadinya dia mengharapkan untuk bertemu dengan ibunya dan hidup berdua bersama ibunya, akan tetapi kini, setelah ibunya mempunyai rumah tangga dan keluarga baru, dia merasa betapa dirinya sendiri menjadi seorang asing, seorang pendatang yang hanya akan mengganggu dan mengacaukan kebahagiaan rumah tangga ibunya saja.

Dia merasa dirinya sebagai orang yang tidak berhak tinggal di situ, yang merusak dan menghalangi ketenteraman kebahagiaan rumah tangga ibunya.

Perasaan inilah yang membuat dia pada keesokan harinya segera pergi lagi meninggalkan rumah ibunya.

Ketika dia berpamit, ibunya mencegah sambil menangis, akan tetapi Kui Eng yang keras hati itu memaksa dan berkata.

"Ibu, malam tadi telah kuceritakan semua pengalamanku kepada ibu. Maka sekarang, kedua orang suhengku itu tentu sedang mencari cariku dan aku harus menemui mereka. Pula, aku sudah berjanji kepada suhu untuk kembali ke Kwi-hoa-san tiga tahun setelah pergi merantau."

"Kalau begitu akupun tidak dapat mencegahmu, anakku. Akan tetapi mengapa begitu tergesa-gesa? Baru kemarin kau datang""."

"Tentu saja kalau sudah tidak ada urusan sesuatu yang menghalangiku, kita akan dapat saling bertemu kembali, ibu."

"Kui Eng, jangan kaulupakan ibumu dan segera datanglah kembali ke sini. Anggaplah ini sebagai rumahmu sendiri, anakku"""

"Benar, anakku, kautinggallah di sini dan anggap aku sebagai ayahmu sendiri,"

Kata Bui Pok Seng pula dengan sikap ramah. Kui Eng menghaturkan terima kasih.

""Enci Eng, aku akan merasa berbahagia sekali kalau engkau suka tinggal menjadi satu di sini,"

Kata Swi Lan pula dan Kui Eng lalu memeluk dan mencium dahi adiknya itu.

"Swi Lan, semoga kau hidup berbahagia. Orang seperti engkau sudah pantas mendapatkan kebahagiaan hidup."

Sebenarnya, hati Kui Eng berkata bahwa orang seperti adiknya itu sudah pantas menjadi isteri Min Tek!

Kui Eng berjanji untuk datang kembali, padahal dalam hatinya dia merasa ragu-ragu apakah dia akan mempunyai muka untuk kembali ke tempat itu, untuk bertemu dengan adiknya yang hampir saja dibunuhnya, untuk bertemu muka dengan Ang Min Tek.

Ah, dia merasa malu".

malu sekali!

Dengan mengeraskan hatinya, Kui Eng meninggalkan ibunya yang menangis dan pergilah dia dari kota Ki-cu yang tadinya merupakan kota harapan baginya, akan tetapi ternyata merupakan kota yang menghancurkan pengharapannya akan tetapi sekaligus juga mempertemukannya dengan ibunya dan memisahkan dia dari Min Tek untuk selamanya!

Dia melakukanperjalanan dengan cepat menuju ke kota raja kembali dan apabila dia ingat kepada Bun Hong, dia merasa berduka sekali.

Betapapun juga, suhengnya itu benar.

Kalau dia tidak melakukan perjalanan bersama dengan Min Tek, tidak mungkin dia akan mendapatkanmalu, akan menderita tekanan batin sehebat itu.

Akan tetapi sebaliknya, belum tentu pula dia akan dapat bertemu dengan ibunya.Ah, dasar nasib, nasibnya yang amat buruk, kembali dara itu menyalahkan nasibnya!

Seperti juga di waktu pergi ke Ki-ciu, kembalinya ke kota raja dia berjalan cepat sekali hingga dalam waktu sehari semalam saja dia telah tiba di kota raja kembali.

Beng Han dan Bun Hong berhasil memasuki kota raja.

Dengan pertolongan seorang petani yang mengangkut segerobak padi ke kota raja, dua orang muda perkasa ini dapat bersembunyi di bawah tumpukan padi dan dapat menyelundup ke dalam kota raja tanpa mempergunakan kerasan.

Ketika gerobak itu tiba di pintu gerbang, tukang gerobak dihentikan oleh para pennjaga yang memeriksanya, akan tetapi penjaga itu tidak memeriksa ke dalam tumpukan padi.

Siapakah orangnya yang dapat bersenbunyi di dalam tumpukan padi?

Selain berat, juga tentu orang yang bersembunyi di dalamnya tidak akan dapat bernapas.

Para penjaga tidak menyangka bahwa dua orang muda yang bertubuh kuat dan dapat menahan napas karena mereka telah memiliki sinkang yang amat kuat bersembunyi di dalam tumpukan padi itu dengan pedang siap di tangan!

Bersamaan dengan gerobak itu, beberapa orang masuk pula ke dalam pintu gerbang yang hampir tertutup karena hari telah larut senja itu, dan di antara mereka terdapat seorang gadis baju hijau yang dapat masuk dengan mudah karena dia tidak dicurigai.

Perintah dari atas hanya mengharuskan para penjaga berhati-hati terhadap dua orang laki-laki muda yang menjadi pemberontak yang dicari-cari.

Maka gadis itupun tidak mereka curigai, sungguhpun gadis secantik Kui Eng tentu saja tidak terlepas dari perhatian para penjaga, perhatian lain lagi yang tidak terdorong oleh kecurigaan, melainkan terdorong oleh rasa kagum akan kecantikan dara itu.

Kui Eng sudah tiba di situ, akan tetapi pendekar wanita ini sama sekali tidak tahu bahwa di dalam tumpukan padi dalam gerobak itu tersembunyi dua orang suhengnya yang sedang dicari-carinya.

Juga Beng Han dan Bun Hong sama sekali tidak tahu bahwa pada saat itu sumoi mereka berada di dekat gerobak!

Mereka semua dapat memasuki kota raja dengan selamat dan Kui Eng lalu mengambil jalan lain.

(Lanjut ke

Jilid 14) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 14 Sementara itu.

ketika gerobak itu tiba di jalan yang agak sunyi, Beng Han dan Bun Hong lalu melompat turun dari gerobak dan mempergunakan ilmu kepandaian mereka untuk berlari cepat dan menuju ketempat tahanan yang telah mereka ketahui letaknya dari hasil penyelidikan nyonya janda itu.

Benar saja seperti yang diceritakan oleh janda tua itu, tempat tahanan di mana keluarga pangeran itu ditahan, terjaga dengan ketat sekali dan boleh dibilang hampir sekeliling tempat atau bangunan itu terdapat perajurit-perajurit yang menjaga dengan senjata tombak di tangan.

Beng Han dan Bun Hong tidak mau bertindak ceroboh.

Tentu saja mereka tidak takut menghadapi para penjaga itu dan kiranya tidaklah sukar bagi mereka untuk menyerbu masuk secara langsung dengan merobohkan penjaga.

Akan tetapi kalau hal ini mereka lakukan, mereka tentu akan dikeroyokm dan tentu penjagaan di sebelah dalam terhadap para tawanan lebih ketat lagi sehingga sukar bagi mereka untuk dapat menolong Kim Bwee.

Mereka berunding sejenak dan akhirnya mereka memperoleh siasat yang mereka anggap tepat.

Setelah mengatur siasat, dua orang pendekar muda itu lalu berpencar, seorang ke timur dan seorang lagi ke barat.

Senja telah lewat dan cuaca mulai menjadi gelap.

Tiba-tiba para penjaga di sebelah timur mendengar suara orang merintih kesakitan di tempat gelap yang agak jauh dari tembok rumah tahanan, di dalam semak-semak yang gelap.

Dua orang penjaga membawa senjata masing-masing menghampiri tempat itu, akan tetapi ketika tiba di tempat gelap, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam yang menggerakkan kedua tangannya dan penjaga-penjaga itu telah tertotok dan roboh tanpa dapat mengeluarkan suara lagi, Tubuh mereka menjadi lemas dan lumpuh sedangkan mulut mereka tidak dapat mengeluarkan suara.

Para penjaga lain yang menanti kembalinya dua orang rekan mereka itu, merasa heran karena tidak melihat mereka kembali dan juga tidak mendengar suara mereka, sedangkan suara orang merintih itu masih terdengar saja Dua orang penjaga lain segera menyusul, akan tetapi mereka inipun tertotok roboh dan diseret di balik semak-semak.

Di bagian barat juga terjadi hal yang serupa dengan apa yang terjadi dengan para penjaga di sebelah timur.

Kini para penjaga mulai menjadi curiga dan sekelompok penjaga di timur dan di barat menghampiri ke tempat gelap untuk melakukan pemeriksaan.

Mereka merasa terkejut dan heran ketika melihat betapa di antara empat orang penjaga yang tadi memeriksa tempat itu, hanya ada tiga orang saja sedangkan yang seorang lagi entah pergi ke mana.

Tentu saja mereka beramai-ramai lalu menolong tiga orang kawan ini, akan tetapi mereka itu telah lumpuh dan tidak dapat bicara, hanya mata mereka saja yang bergerak-gerak ketakutan.

Ributlah keadaan di situ dan banyak sekali penjaga-penjaga yang berpakaian seragam menjadi kacau dan berlari ke sana-sini, membuat penjagaan-penjagaan, mencari-cari dan ada yang melapor ke dalam.

Dan di antara simpang-siur para penjaga ini, terdapat dua orang "penjaga"

Yang mengenakan pakaian yang sama, akan tetapi yang selalu berusaha untuk menyembunyikan muka mereka. Dua orang "penjaga"

Ini bukan lain adalah Beng Han dan Bun Hong.

Mereka telah berhasil memancing para penjaga dan menotok mereka di dua tempat, lalu mereka menyeret seorang di antara tawanan mereka yang memiliki bentuk tubuh mirip denganmereka menanggalkan atau melucuti pakaian penjaga ini dan menyamar sebagai penjaga.

Setelah akal ini berhasil, mereka lalu mempergunakan kepanikan itu untuk menyelinap masuk ke dalam benteng, menyamar sebagai penjaga.

Di dalam keributan itu, mereka berhasil menyelundup masuk tanpa mendapat banyak perhatian.

Tanpa banyak mengalami kesukaran, Beng Han dan Bun Hong terus masuk ke bagian dalam.

Mereka bertemu dengan dua orang penjaga lain yang memandang mereka dengan agak heran dan khawatir.

"Kawan-kawan, ada apakah ribut-ribut di luar?"

Tanya seorang penjaga bagian dalam.

"Ada musuh menyerbu, hayo lekas kita memperkuat penjagaan para tawanan!"

Kata Beng Han dengan suara gagap.

Kedua orang penjaga bagian dalam itu menjadi terkejut dan segera berlari masuk, diikuti oleh Beng Han dan Bun Hong menuju ke ruang tempat tawanan, sambil memberi tahu kepada setiap orang penjaga yang mereka jumpai sehingga para penjaga itu berserabutan keluar dengan senjata di tangan.

Setelah tiba di ruangan tempat tahanan, kedua orang muda itu melihat betapa seluruh keluarga Pangeran Song berkumpul di suatu ruangan dan sedang menangis sedih, merubung sesuatu dengan penuh duka.

Beng Han dan Bun Hong segera menotok roboh dua orang penjaga yang mengantar mereka tadi dan Bun Hong menanggalkan jubah pengantar yang dipakainya tadi lalu dia membuka pintu kerangkeng ruangan itu dengan paksa dan melompat ke dalam.

Ketika dia tiba di tempat itu, dia melihat pemandangan yang membuatnya menjadi pucat sekali, kedua kakinya menggigil dan jantungnya terguncang hebat.

Di tengah-tengah ruangan itu, di mana para keluarga menangis dan merubung, nampak tubuh isterinya dengan muka dan kepala mandi darah, menggeletak ditangisi semua orang.

"Kim Bwee"".!"

Bun Hong melompat dan menubruk tubuh isterinya.

Ternyata bahwa karena putus asa dan tidak tahan menderita malu dan penghinaan, isteri Bun Hong telah membenturkan kepalanya pada dinding, akan tetapi karena tenaganya kurang kuat, maka dia tidak tewas seketika sungguhpun dahinya pecah pecah dan darah membasahi seluruh mukanya.

Mendengar suara suaminya, Kim Bwee membuka matanya dan memandang dengan sinar mata sayu yang makin menghancurkan hati Bun Hong.

Dia berlutut, mengangkat dan memangku tubuh isterinya sambil menangis dan mengeluh.

"Kim Bwee, isteriku"". aku datang hendak membawamu pergi"".. Kim Bwee, isteriku yang tercinta""."

"Suamiku, mengapa kau datang"".? Larilah, selamatkan Sian Lun, anak kita"".."

"Kim Bwee, apa artinya hidupku tanpa kau? Mengapa kau mengambil keputusan nekat begini? Ah, Kim Bwee".. Kim Bwee".!"

"Koko""."

Suara nyonya muda itu menjadi lemah sekali.

"biarlah"". aku sengaja melakukan ini""., biar kau bebas".. kau boleh kawin lagi".. asal kau jangan melupakan anak kita".."

Bun Hong mendekap kepala yang berlumuran darah itu ke dadanya, sambil menangis dengan air mata bercucuran.

"Tidak...., tidak".! Kim Bwee, aku mencintamu, aku"

Aku".."

Akan tetapi tiba-tiba dia menghentikan kata-katanya karena merasa betapa tubuh isterinya meronta dalam pelukannya!

Dia memandang dengan mata terbelalak dan melihat betapa isterinya telah menggunakan seluruh tenaga untuk melawan maut yang hendak merenggut nyawanya.

Nyonya muda itu dengan muka berlumuran darah sehingga mengerikan sekali nampaknya kini memandangnya dengan mesra.

"Betulkah"".. betulkah bahwa engkau". kau mencinta""?"

"Kim Bwee, aku bersumpah, demi kehormatanku sebagai seorang pendekar, aku cinta padamu, Kim Bwee"".."

Kim Bwee menatap wajah suaminya, mengangkat kedua tangannya yang menggigil dan lemas, membelai wajah Bun Hong, dan bibirnya tersenyum lalu bergerak.

""".. terima kasih""terima kasih"", aku.... aku puas...""

Dan lemaslah tubuhnya, tak berdaya lagi karena nyawanya telah melayang.

"Kim Bwee. ..! Kim Bwee" .!!"

Bun Hong berteriak-teriak seperti orang gila, memeluk tubuh isterinya dan menjambak-jambak rambutnya sendiri.

Pangeran Song dan semua keluarga juga menangisi kematian Kim Bwee ini sehingga ruangan tempat tahanan itu menjadi riuh oleh suara tangis yang memilukan.

"Sute, mereka datang!"

Tiba-tiba Beng Han berseru dengan keras memperingatkan sulenya. Bun Hong melompat berdiri dengan wajah beringas.

"Mana mereka? Biarkan mereka datang! Hendak kubunuh seorang demi seorang! Hendak kucabut isi perut mereka di depan isteriku!"

Dengan wajah mengerikan sehingga Beng Han sendiri menjadi terkejut melihatnya, Bun Hong melompat dengan pedang di tangan, menyambut datangnya tiga orang perwira yang diikuti oleh para penjaga.

"Pemberontak!"

Seru perwira-perwira itu ketika mereka melihat Beng Han dan Bun Hong.

"Anjing-anjing hina! Kalian harus menjadi pengawal isteriku!"

Teriak Bun Hong sambil nenerjang maju.

Pedangnya bergerak secara buas sekali dan seorang perwira roboh dengan leher hampir putus, berikut goloknya yang tadi menangkis!

Bun Hong yang telah menjadi marah bagaikan gila itu mengamuk hebat dan tak seorangpun dapat menahan amukannya, sedangkan Beng Han juga membuka jalan keluar dengan mainkan pedangnya dengan cepat sekali.

Melihat sepak terjang sutenya, hati Beng Han menjadi ngeri karena dia maklum bahwa sutenya telah dikuasai oleh nafsu membunuh yang amat buas.

Sebagai ahli-ahli silat tinggi, mereka berdua dapat mengatur gerakan dan serangan mereka untuk merobohkan lawan tanpa membunuh, dan apabila tidak perlu, keduanya sebetulnya menjauhi pembunuh-pembunuhan.

Akan tetapi sekali ini Bun Hong menyerang untuk membunuh!

Setiap kali pedangnya berkelebat, maka senjata itu merupakan cengkeraman maut yang mencari korban.

Beberapa orang penjaga telah bergelimpangan dan tewas di ujung pedang Bun Hong, sedangkan Beng Han hanya melukai dan membuat tidak berdaya beberapa orang penjaga.

Pemuda yang masih sadar ini berpantang membunuh secara sembarangan, sesuai dengan pesan gurunya.

"Sute, hayo kita pergi!"

Ajaknya.

"Tidak, akan kubunuh semua anjing ini!"

Teriak Bun Hong sambi mengamuk terus dengan hebatnya.

Sementara itu para penjaga kini telah mengurung tempat itu sehingga penuh sesak.

Beng Han menjadi khawatir sekail oleh karena dia maklum bahwa kerajaan memiliki banyak perwira yang lihai.

"Kita harus cari dulu Thio-thaikam!"

Katanya memperingatkan sutenya.

Mendengar ucapan suhengnya itu Bun Hong tersadar.

Benar pikirnya, dia tidak boleh tewas dikeroyok di tempat ini sebelum dia dapat membunuh orang kebiri yang dianggap musuh besarnya itu.

"Kau benar, suheng, kita bunuh dulu anjing kebiri itu!"

Jawabnya dan dengan hebat kedua orang muda itu membuka jalan dengan memutar pedang mereka.

Akhirnya, berkat kerja sama kedua pedang mereka yang lihai, para pengepung menjadi buyar, mundur dengan gentar dan kepungan menjadi pecah.

Beng Han dan Bun Hong melompat keluar dari kepungan terus melarikan diri dikejar oleh para perwira dan para penjaga.

Akan tetapi, sambil berlari kedua orang muda itu mengayun tangan kiri mempergunakan batu-batu kecil yang mereka sengaja bawa sehingga beberapa orang pengejar menjerit dan roboh.

Tempat itu penuh dengan orang-orang terluka atau tewas, dan suara rintihan mereka yang terluka bercampur dengan suara tangisan keluarga Song yang meratapi kematian Song Kim Bwee.

Akan tetapi, para perwira dari luar benteng yang telah menerima laporan dan datang membantu, segera menghadang jalan keluar kedua orang muda itu sehingga di pintu gerbang terjadilah pertempuran hebat antara kedua orang pendekar itu melawan pengeroyokan belasan orang perwira yang memiliki ilmu silat tinggi.

Betapapun gagahnya Beng Han dan Bun Hong, namun menghadapi pengeroyokan hebat ini, lambat-laun mereka berdua terdesak juga.

Tiba-tiba seorang perwira menjerit dan roboh, disusul bentakan nyaring seorang wanita yang merobohkan perwira itu dari luar kepungan.

"Anjing-anjing penjilat, jangan kalian berani mengganggu kedua orang suhengku!"

"Sumoi""..!"

Beng Han dan Bun Hong berseru hampir berbareng dengan suara girang sekali dan semangat mereka bernyala hebat sehingga kembali dua orang perwira pengeroyok dapat dirobohkan.

Benar saja, yang datang itu adalah Kui Eng, dara pendekar yang tadi memasuki kota raja dan segera dia mendengar tentang huru hara yang terjadi di gedung Pangeran Song.

Ketika dia mendengar hahwa Bun Hong adalah anak mantu pangeran itu, Kui Eng lalu mengambil keputusan untuk mencari dan menolong isteri Bun Hong yang juga ikut tertangkap.

Dan ketika dia tiba di benteng tempat tahanan itu, dia melihat betapa kedua orang suhengnya dikeroyok oleh para perwira di dekat pintu benteng, maka dia segera membantu.

Kini tiga orang saudara seperguruan itu mengamuk hebat bagaikan tiga ekor naga sakti turun dari angkasa dan mengamuk.

Banyak perwira tewas di ujung senjata mereka.

"Sute, sumoi, mari kita menyerbu ke istana Thio-thaikam!"

Seru Beng Han tiba-tiba.

"Baik, mari aku yang menjadi penunjuk jalan!"

Kata Bun Hong dan mendahului ke dua orang saudara seperguruannya, dia telah melompat meninggalkan tempat itu.

Kui Eng yang tidak tahu akan duduknya perkara, hanya menurut saja dan mereka bertiga lalu melompat dan menghilang dalam gelap, dikejar oleh para perwira dan pasukannya yang menjadi bingung dan ribut karena tiga orang lihai itu lenyap di dalam kegelapan malam.

Tak lama kemudian, keributan beralih tempat dan kini di atas genteng istana Thio-thaikam mengalami penyerbuan tiga orang muda, itu.

Akan tetapi, semenjak siang tadi, Tek Po Tosu yang sudah mengkhawatirkan datangnya serbuan ini, telah berjaga-jaga, mengumpulkan perwira-perwira yang lihai untuk melakukan penjagaan yang ketat dan kuat sehingga ketika tiga orang pendekar dari Kwi-hoa san itu datang menyerbu, mereka bertiga menerima sambutan yang hangat!

Kembali tiga orang muda itu mengamuk.

Bun Hong memainkan pedangnya bagaikan gila sehingga mengerikan sekali, setiap pedangnya berkelebat tentu jatuh korban!

Dia memang lincah dan cepat, dan kali ini rasa dendam dan duka karena kemalian isterinya membuat dia makin ganas sehingga jangankan para perwira pengeroyoknya, bahkan Beng Han dan Kui Eng sendiri merasa ngeri melihatnya.

Pakaian Bun Hong yang tadinya telah bernoda darah isterinya di bagian dada, kini bertambah dengan darah para lawannya yang memercik dan menodai seluruh pakaiannya.

Wajahnya beringas dan sepasang matanya merah, seolah-olah mengeluarkan api.

Kui Eng juga terpengaruh oleh keadaan suhengnya ini dan gadis inipun mengamuk dengan hebat.

Gerakannya yang disertai ginkang yang luar biasa itu membuat tubuhnya lenyap berubah menjadi segulung sinar pedang yang menyambar-nyambar ganas.

Tiap kali terdengar seruannya yang melengking nyaring, pasti senjata lawan terpental jauh atau tubuh seorang pengeroyok roboh di atas genteng dan terus menggelundung ke bawah.

Hanya Beng Han yang masih tetap tenang.

Akan tetapi gerakan pedangnya ymg kuat dan rnantep itu tidak kurang berbahaya dari padi gerakan kedua adik seperguruannya.

Tek Po Tosu yang maklum akan kelihaian pemuda ini segera membawa beberapa orang perwira mengurungnya, akan tetapi Beng Han tidak menjadi gentar.

Dia maklum bahwa kali ini pertempuran dilakukan dengan mati matian dan tidak mengenal ampun, maka diapun tidak mau berlaku sungkan lagi.

Dia mengeluarkan ilmu pedangnya yang hebat, dengan jurus-jurus yang paling ampuh sehingga sudah banyak fihak lawan yang roboh karena ujung pedangnya atau tendangan kakinya.

Bukan main seru dan hebatnya pertempuran yang terjadi di atas genteng istana Thio thai kam pada malam itu.

lebih seru dan ramai dari pada pertempuran di benteng tempat tahanan tadi oleh karena kini para perwira yang mengeroyok mereka adalah jago-jago pilihan yang sengaja didatangkan oleh Thio-thaikam dan Tek Po Tosu untuk menjaga keselamatan pembesar berpengaruh itu.

"Suheng, aku akan menyerbu ke dalam!"

Tiba-tiba Bun Hong berkata dan dengan nekat orang muda ini melayang turun dan membabat setiap orang penghalang dengan pedangnva.

Berapa orang penjaga menyerbunya dengan golok di tangan, akan tetapi apakah daya para penjaga yang hanya memiliki kepandaian biasa itu terhadap pendekar yang diamuk dendam ini?

Dengan mudah saja Bun Hong menggerakkan pedangnya dan bergelimpanganlah tubuh para penjaga itu memenuhi lantai.

Bun Hong harus berlari ke dalam, menuju ke ruangan tengah di mana dulu dia pernah melihat Thio-thaikam mengadakan perundingan dengan para perwira.

Ketika dia tiba di tempat itu, ternyata bahwa Thio-thaikam, seperti dulu pula, sedang duduk menghadapi dua orang Turki dan beberapa orang perwira lain, sama sekali tidak memperdulikan adanya keributan di luar.

Memang Thio-thaikam memandang rendah sekali kepada dua orang pemuda itu agaknya!

Pembesar ini terlalu meremehkan dua orang muda yang dicap pemberontak itu!

Agaknya Thio-ihaikam terlalu percaya bahwa penjagaan yang kuat di luar istananya itu akan mencegah masuknya setiap pengacau, maka dia tidak mau memusingkan diri mengurus hal yang dianggapnya remeh itu, karena ada hal yang lebih penting untuk dibicarakan.

Agaknya pembesar ini mengumpulkan orang-orangnya dan merundingkan tentang sikapnya terhadap Pangeran Song sekeluarga.

Dia mengambil keputusan untuk mempergunakan pengaruhnya kepada kaisar agar supaya seluruh keluarga itu dapat dihukum mati.

Bukan main girangnya hati Bun Hong melihat musuh besarnya itu dan dia mengeluarkan bentakan nyaring, keadaannya amat menyeramkan karena seluruh pakaian dan pedang di tangannja berlepotan darah.

"Anjing kebiri Thio! Sampailah kini ajalmu!"

Bun Hong segera menyerbu dengan pedangnya.

Akan tetapi, empat orang perwira dan dua orang Turki itu mencabut pedang dan melawannya.

Ternyata bahwa kepandaian para perwira itu cukup tinggi, bahkan dua orang perwira Turki yang berada di situ memiliki ilmu pedang yang aneh dan berbahaya.

Terpaksa Bun Hong menghadapi pengeroyokan enam orang itu dengan nekat dan mengeluarkan seluruh tenaga dan kepandaiannya.

Biarpun dikeroyok oleh enam orang lihai dan sibuk melayani mereka, namun mata Bun Hong tidak pernah melepaskan bayangan Thio-thaikam, maka ketika dia melihat pembesar itu mencoba untuk melarikan diri melalui sebuah pintu, Bun Hong meninggalkan lawannya dengan lompatan cepat ke arah pintu.

Karena amat bernafsu untuk mengejar Thio-thaikam maka dia kurang waspada, ketika melompat tadi, tusukan pedang dari seorang perwira menyerempet pundaknya, menembus baju dan melukai kulit pundaknya.

Akan tetapi, Bun Hong seolah-olah tidak merasa sedikitpun juga dan sambil mengayun tangan kirinya dia membentak.

"Pembesar jahat hendak lari ke mana?"

Batu karang yang menyambar dari tangannya itu tepat memukul belakang kepala Thio-thaikam sehingga pembesar kebiri itu berteriak kesakitan dan terhuyung ke depan.

Bun Hong menyusul dengan serangan dari belakang, dan menusukkan pedangnya dari belakang sehingga pedang itu memasuki punggung pembesar itu.

"Crepp""..!"

Dengan puas sekali Bun Hong mencabut kembali pedangnya. Tubuh Thio-Thaikam roboh terlentang di depannya.

"Ha-ha-ha-ha!"

Bun Hong tertawa bergelak dan memandang ke arah muka pembesar yang telah sekarat itu dengan hati puas, akan tetapi tiba-tiba suara ketawanya berhenti dan kedua matanya terbelalak memandang ke arah wajah pembesar itu.

Ternyata bahwa orang yang dibunuhnya itu, biarpun perawakannya sama dan pakaiannya juga pakaian yang biasa dipakai Thio-thaikam, akan tetapi ternyata dia bukanlah pembesar kebiri itu!

Orang itu bukan Thio-thaikam!!

Dan ketika dia memandang ke sekelilingnya, makin terkejutlah dia karena tempat itu telah penuh dengan perwira-perwira yang mengurungnya dari setiap penjuru.

Dia telah terjebak!

Dia memandang Thio-thaikam terlampau rendah.

Ternyata bahwa pembesar yang licin dan cerdik itu telah membuat persiapan terlebih dulu dan menyuruh seorang pembesar palsu menggantikan tempatnya.

Bun Hong berteriak dengan nyaring.

Hatinya makin kecewa, gemas dan marah, dan dia telah mengamuk lagi, dikeroyok oleh belasan orang perwira yang berkepandaian tinggi!

Berkat kecepatan gerakannya dan juga karena kenekatannya, dia masih dapat mempertahankan diri, sungguhpun dia sudah terdesak hebat sekali.

Diputarnya pedangnya sedemikian rupa sehingga seluruh tubuhnya terlindung oleh sinar pedang yang merupakan dinding dari sinar yang teguh.

Akan tetapi, para pengeroyoknya terdiri dari jagoan-jagoan kota raja yang berkepandaian tinggi, maka beberapa buah senjata telah berhasil menembus pertahanannya dan dia telah menderita beberapa luka ringan.

Akan tetapi, biarpun luka-luka itu membuat darahnya banyak mengucur keluar Bun Hong masih mengamuk terus seperti seekor naga bermain-main di antara awanl awan gelap.

Bun Hong mempertahankan diri sedapat mungkin, namun beberapa kali ada saja senjata lawan yang menerobos masuk dan melukainya.

Keadaannya makin terdesak dan berbahaya sekali, tubuhnya mulai lemas dan gerakannya lambat.

Gerakan pedangnya sudah mulai kurang kuat dan makin sering ada senjata lawan menyentuh tubuhnya.

Tiba-tiba nampak dari luar dua sosok bayangan yang menerjang ke dalam dengan hebat.

Mereka ini adalah Beng Han dan Kui Eng yang berhasil membuka jalan meninggalkan para pengeroyok di luar untuk membantu Bun Hong.

Beng Han dengan ilmu pedangnya yang luar biasa berhasil memecahkan kepungan yang mengancam keselamatan sutenya, kemudian dia menarik tangan sutenya itu sambil berseru kepada Kui Eng.

"Sumoi, ikutlah padaku! Aku membuka jalan dan kau bersama sute menahan serangan dari belakang!"

Beng Han lalu maju mendesak ke arah pintu depan sambil memainkan pedangnya melawan orang-orang yang menghadang di depan, sedangkan Kui Eng dan Bun Hongsambil mundur menahan desakan para pengejar dari belakang.

Beng Han bertempur sambil mengayun tangan kiri membagi-bagi "hadiah"

Berupa batu batu karang yang dibawanya sehingga terdengar pekik-pekik kesakitan berkali-kali pada saat sebutir batu mengenai kepala atau bagian lain dari tubuh seorang pengeroyok.

Fihak lawan tidak berani menggunakan senjata rahasia dalam keroyokan ini, karena khawatir kalau senjata itu mengenai kawan sendiri,dan hal ini merupakan suatu keuntungan bagi fihak tiga orang pendekar itu.

Juga Bun Hong menyerang para pengejar dengan pedang ditangan kanan dan batu yang disambitkan dengan tangan kiri.

Perlahan akan tetapi tentu, ketiga orang pendekar muda yang mengamuk bagaikan tiga ekor naga sakti itu dapat keluai dari istana Thio-thaikam dan menyerbu ke luar pintu gerbang.

Dalam pengeroyokan hebat itu, Beng Han telah menderita luka pada dada kanannya akan tetapi karena luka itu hanya merobek baju dan kulit saja, walaupun terasa perih dan panas, akan tetapi tidak mengurangi tenaganya.

Kui Eng yang memiliki ginkang istimewa tidak terluka, hanya lelah sekali karena harus bertempur sekian lamanya.

Yang paling parah adalah keadaan Bun Hong.

Orang muda ini telah menerima beberapa tusukan senjata para pengeroyok dan dari luka lukanya keluar terlalu banyak darah sehingga gerakannya menjadi lambat, tubuhnya makin lemah dan kepalanya terasa pening Biarpun orang muda perkasa, ini sama sekali tidak pernah mengeluh dan mengamuk seperti seekor naga terluka, namun Beng Han dalam kesibukannya itu tahu akan keadaannya, keadaan sutenya yang berbahaya itu.

Maka ketika mereka telah berhasil mendesak keluar dari pintu gerbang dan bertempur menghadapi para perwira itu di luar pintu, Beng Han lalu memberi aba-aba kepada dua orang adik seperguruannya.

"Mari kita pergi!"

Dia mendahului sute dan sumoinya melompat ke atas genteng sebuah rumah yang berada di dekat dinding istana, diikuti oleh Kui Eng.

Akan tetapi ketika Bun Hong hendak ikut melompat pula, gerakannya terlalu lambat dan hampir saja dia tidak dapat mencapai genteng.

Untung dia masih dapat meraih dan memegang ujung tiang di bawah genteng sehingga tubuhnya bergantung di situ.

Beng Han dan Kui Eng terkejut sekali dan cepat mereka membalik dan memburu, akan tetapi pada saat itu Bun Hong yang sudah tidak dapat menahan lagi mengeluarkan seruan keras dan pegangannya terlepas sehingga tubuhnya jatuh ke bawah!

Beng Han dan Kui Eng berteriak cemas dan cepat mereka melompat turun lagi dari atas genteng.

Mereka masih dapat menyelamatkan Bun Hong yang sudah hampir dihujani senjata oleh para pengeroyoknya.

Mereka berdua mengamuk hebat seperti dua ekor naga yang marah, melindungi tubuh Bun Hong yang menggeletak di atas tanah tanpa bergerak itu.

Setelah memperoleh kesempatan baik, Beng Han cepat menyambar tubuh sutenya ini dan memondongnya.

Alangkah kagetnya ketika dia melihat betapa dua batang senjata rahasia piauw telah menancap di tubuh sutenya, sebuah di dada dan sebuah lagi di lehernya!

Ternyata bahwa ketika tubuh Bun Hong tadi menggantung pada tiang, seorang perwira telah menyerangnya dengan piauw yang berhasil mengenai sasarannya.

"Sumoi, lari!"

Beng Han berseru sambil melempar-lemparkan batu dari kantongnya kepada para pengeroyok.

Dia tidak sanggup melawan lagi karena kini dia harus mempergunakan tangan kanannya untuk memanggul tubuh sute-nya yang telah pingsan dan lemas itu.

Kui Eng mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk menahan para pengejar dan dia sengaja melindungi Beng Han yang memanggul Bun Hong itu dari belakang.

Tentu saja para perwira tidak mau melepaskan mereka dan mengejar sambil berteriak-teriak.

Jumlah pengejar makin berkurang karena yang dapat menyusul ilmu berlari cepat dari Kui Eng dan Beng Han hanya ada tujuh orang perwira saja.

Beng Han mengerahkan sisa tenaganya yang mulai berkurang, sedangkan Kui Eng juga sudah merasa lelah sekali sehingga mereka maklum bahwa apa bila sekali ini mereka tersusul dan terpaksa bertempur lagi, mereka pasti tidak akan dapat kuat bertahan.

Mereka mempercepat lari mereka menuju ke pintu gerbang kota dan alangkah terkejut hati mereka melihat bahwa pintu gerbang itu tertutup rapat-rapat dan di bawah dinding telah berbaris seregu penjaga yang siap menanti kedatangan mereka!

"Sumoi, terpaksa kita harus mengadu nyawa di sini.

Selamat tinggal, sumoi."

Beng Han berkata sambil memindahkan tubuh Bun Hong di atas pundak kirinya, merangkulnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya memegang pedang, siap untuk bertempur sampai saat terakhir.

Sedikitpun dia tidak nampak gentar, atau menyesal, bahkan dia sama sekali tidak mau melepaskan tubuh sutenya, padahal jelas bahwa tubuh itu membuat dia tidak leluasa bergerak.

Agaknya pemuda gagah perkasa ini hendak melindungi tubuh sutenya dengan taruhan nyawa, sampai titik darah terakhir!

Mendengar ucapan dan melihat sikap suhengnya itu, tak terasa pula mata Kui Eng menjadi basah.

Alangkah mulia dan gagahnya suhengnya ini.

Membela Bun Hong sampai tenaga terakhir!

Padahal kalau hendak menyelamatkan diri tanpa memperdulikan keadaan Bun Hong, suhengnya itu tentu masih mampu dan dapat lolos!

"Suheng, jangan khawatir.

Sampai matipun aku tidak akan berpisah darimu!"

Kata Kui Eng sambil mengepal tinju tangan kiri dan melintangkan pedangnya di depan dada.

Rombongan penjaga itu sambil berteriak-teriak maju mengurung mereka dan segera terjadi pertempuran kembali dengan hebatnja.

Walaupun para penjaga itu merupakan lawan lawan yang lunak bagi Kui Eng dan Beng Han namun jumlah mereka lebih dari seratus orang sedangkan dari belakang telah datang tujuh orang perwira yang mengejar tadi, dan di antara mereka ini terdapat Tek Po Tosu yang amat lihai!

Karena sudah hampir kehabisan tenaga dia amat lelah, kembali Beng Han dan Kui Eng terdesak hebat dan sekali ini Kui Eng tidaklah selincah tadi.

Tusukan tombak yang amat cepat dan dilakukan ketika dia sedang sibuk menghindarkan dan menangkis serangan-serangan lain, telah melukai pahanya.

Beng Han juga telah menerima bacokan pedang pada pinggir bahu kanannya.

Hanya karena keteguhan hati dan besarnya semangat, kenekatan yang amat luar biasa sajalah Beng Han masih kuat untuk memainkan pedangnya dan merobohkan beberapa orang penjaga lagi.

Kui Eng sudah terpincang pincang, akan tetapi pedangnya masih lihai dan banyak penjaga masih belum mampu mendekatinya, bahkan ada beberapa orang lagi yang roboh sebagai akibat pembalasan Kui Eng yang marah karena terluka pahanya itu.

Betapapun gagahnya kedua orang pendekar itu, nasib mereka agaknya sudah dapat ditentukan.

Tidak lama lagi kiranya mereka pasti akan roboh dan tewas di bawah hujan senjata para pengeroyok mereka.

Akan tetapi, pada saat itu, dari atas dinding kota yang tinggi, tampak sehelai tali yang panjang diturunkan orang dan seperti monyet-monyet yang gesit, beberapa orang meluncur turun melalui tali itu, bahkan sesosok bayangan putih yang amat gesit telah melayang turun dari atas tembok tanpa bantuan tali itu, padahal tembok kota itu amatlah tingginya.

Mereka yang datang ini bukan lain adalah Gan Beng Lian, Yap Yu Tek, dan dua orang guru mereka, yaitu Pek I Nikouw dan Tiong-san Lo-kai!

Mereka berempat ini datang pada saat yang amat tepat karena terlambat sebentar saja, agaknya Beng Han dan Kui Eng takkan dapat tertolong lagi Dengan marah Beng Lian dan Yu Tek menyerbu, dan para pengeroyok yang telah merubung Kui Eng dan Beng Han seperti segerombolan semut mengeroyok dua ekor jangkerik yang sudah lelah dan terluka itu kini menjadi terpecah belah dan kacau-balau.

Tujuh orang perwira pengejar yang tangguh itu datang pula, akan tetapi mereka segera menghadapi Pek l Nikouw dan Tiong-san Lo-kai yang sakti!

Sebentar saja, seorang di antara mereka telah terkena jarum yang dilepas oleh Pek I Nikouw, sedangkan dua orang perwira lain telah roboh terkena pukulan tongkat di tangan Tiong-san Lo-kai.

Tek Po Tosu marah sekali dan dia mengeluarkan saputangannya yang dikebutkannya ke arah Pek I Nikouw.

Belasan batang jarum hitam menyambar ke arah nenek itu.

Namun sambil tersenyum Pek I Nikouw mengebut dengan ujung lengan bajunya dan runtuhlah semua jarum hitam itu.

Tek Po Tosu terkejut bukan main melihat kepandaian ini dan hatinya menjadi gentar.

Dia tidak tahu bahwa dia berhadapan dengan Pek I Nikouw yang terkenal sebagai ahli pelepas senjata rahasia segala macam jarum.

Selagi Tek Po Tosu masih tertegun, Pek I Nikouw menggerakkan lengan bajunya yang kiri dan tujuh batang jarum putih yang mengeluarkan cahaya menyerbu ke arah Tek Po Tosu!

Pendeta ini terkejut dan cepat menggunakan siang-kiamnya untuk menangkis.

"Tring-Tring-Tringgg"".!"

Jarum-jarum putih dilepas dengan tenaga luar biasa sehingga biarpun dapat ditangkis, jarum-jarum itu bukannya runtuh ke bawah, melainkan melesat ke samping dan melukai beberapa orang perwira.

Terdengar seruan-seruan kesakitan dan tiba-tiba sekali sebatang jarum yang luar biasa cepatnya menyambar ke rah leher Tek Po Tosu.

Tosu ini masih mencoba untuk miringkan tubuh mengelak, akan tetapi jarum itu tetap saja mengenai pundaknya, Tek Po Tosu berteriak dan roboh tak sadarkan diri karena jarum itu menancap pada jalan darah di pundaknya.

Menyaksikan kehebatan nikouw itu dan kehebatan Tiong-san Lo-kai yang menggerakkan tongkat bambunya secara berbarengan akan tetapi setiap kali tongkat bergerak, tentu sebatang senjata lawan terpental, semua pengeroyok menjadi gentar.

Juga sepak terjang Beng Lian dan Yu Tek dahsyat sekali dan cukup membuat para penjaga kacau balau dan simpang siur.

Tiong-san Lo kai menangkap dua orang penjaga dan menyeret mereka ke arah pintu gerbang, memaksa mereka untuk membukanya.

Setelah pintu gerbang terbuka, dia berseru keras "Lari keluar!"

"Twako, serahkan dia kepadaku!"

Kata Yu Tek dan dia menggantikan Beng Han untuk memanggul tubuh Bun Hong, sedangkan Beng Lin tanpa banyak cakap lagi lalu memondong tubuh Kui Eng yang telah terluka pahanya dan tidak dapat berlari cepat itu.

Demikianlah, di bawah perlindungan Pek l Nikouw yang menyebar jarum-jarumnya, mereka keluar dari pintu gerbang itu dan berlari ke dalam hutan yang gelap.

Para perwira dan penjaga tidak berani mengejar dan mereka terpaksa kembali untuk merawat kawan-kawan mereka yang terluka.

Hati mereka mendongkol sekali, akan tetapi apa yang dipat mereka lakukan?

Kakek dan nenek itu terlampau sakti bagi mereka dan Tek Po Tosu yang mereka andalkan itu telah pingsan.

Sementara itu, Tiong-san Lo-kai membawa orang-orang muda yang terluka itu ke sebuah kelenteng tua di dalam hutan dan Pek I Nikou lalu merawat luka yang diderita oleh Kui Eng dan Beng Han.

Adapun keadaan Bun Hong payah sekali dan ketika orang muda itu siuman dari pingsannya, dia hanya dapat merintih rintih dan menangis!

Bun Hong merintih dan menangis bukan karena sakit, sama sekali bukan karena pantang bagi pendekar seperti dia merintih dan menangis karena nyeri!

Akan tetapi dia menangis karena teringat kepada isterinya.

Dalam keadaan demam dia mengigau, memanggil-manggil nama isterinya.

meminta-minta ampun kepada Kim Bwee, bahkan minta ampun kepada Kui Eng dan Beng Han!

Pek I Nikouw yang mengerti tentang ilmu pengobatan, hanya menggeleng kepala saja melihat keadaan Bun Hong karena dia tahu bahwa luka luka di tubuh orang muda itu terlalu berat untuk dapat disembuhkan.

Beng Han memegang tangan sutenya dan tak dapat ditahankannya lagi air matanya menetes turun karena diapun maklum akan keadaan sutenya itu.

Juga Kui Eng menangis sambil menggunakan saputangannya yang telah dibasahi untuk mengusap dahi Bun Hong yang panas sekali.

Beng Lian dan Yu Tek memandang dengan penuh keharuan sambil menjaga agar api unggun di dalam kelenteng yang mereka nyalakan itu tidak menjadi padam, dan juga mereka berdua dengan waspada menjaga kalau-kalau datang musuh di tempat sunyi itu.

"Suheng".. , suheng""."

Bun Hong menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan kiri dengan gelisah, mencari-cari. Beng Han menekan pergelangan tangan sutenya.

"Aku berada di sini, sute"".."

Katanya dengan suara parau.

Agaknya saputangan basah yang dingin dan yang digosok gosokkan pada dahinya oleh Kui Eng itu agak menyadarkan pikirannya yang kacau karena demam, dan kini Bun Hong memandang kepada Beng Han dengan mata sayu lalu tangannya meraba-raba dan mencengkeram tangan suhengnya.

"Suheng"".. suheng""..kau...". kau maafkan aku"".?"

"Sute, tidak ada sesuatu yang harus dimaafkan antara kita. Engkau adalah suteku yang baik,"

Jawab Beng Han.

"Suheng"". sampaikan permohonan ampunku kepada suhu"".."

Beng Han hanya mengangguk dan menahan jatuhnya air matanya yang sudah mulai memenuhi kelopak matanya lagi.

Bun Hong menoleh dan memandang kepada sumoinya yang masih mengelus-elus dahinya dengan saputangan.

"Sumoi""..kauampunkan aku, ya"".?"

Mendengar bisikan seperti seorang anak kecil minta dikasihani itu, Kui Eng mengguguk dan air matanya bercucuran membasahi mukanya.

"Ji-suheng..... kau tidak bersalah"".. kau kuatkanlah badanmu, ji-suheng"".. tenangkanlah pikiranmu"""

Bun Hong mencoba tersenyum, senyum pucat yang mengharukan.

"Kau selalu menasihatiku, sumoi""

Kau""

Kau terlalu mulia"". hanya suheng saja yang pantas"". kalian berdua harus berjanji kalian rawatlah baik-baik anakku Sian Lun"". suheng, sumoi"""

Tiba-tiba Kui Eng menjerit nyaring karena dia melihat betapa tiba-tiba leher Bun Hong menjadi lemas dan napasnya terhenti.

Kui Eng menangis dengan hati hancur, memeluki tubuh ji-suhengnya.

Semenjak kecil, dia menganggap Bun Hong dan Beng Han berdua sajalah orang-orang yang paling dekat dengannya, yang selalu membela dan menolongnya.

Mereka menjadi besar di satu tempat, senasib sependeritaan, dan dia menganggap mereka sebagai orang-orang yang paling terkasih.

Beng Han juga mencucurkan air mata sambil memeluk tubuh sutenya sehingga semua orang merasa terharu.

Beng Lian memeluk kakaknya dan menghibur sambil menangis pula.

Pemandangan yang nampak di bawah sinar api unggun yang suram muram itu sungguh amat menyedihkan dan mengharukan.

Seorang di antara tiga pendekar muda yang gagah perkasa, seekor di antara tiga naga sakti yang mengamuk di kota raja dan menggemparkan seluruh penduduk bahkan membuat kaisar menggigil karena khawatir itu, akhirnya menemui ajalnya dalam keadaan yang amat menyedihkan.

Lui Sian Lojin menarik napas panjang.

Sejak tadi dia diam saja mendengarkan penuturan dua orang muridnya, Beng Han dan Kui Eng tentang keadaan dan kematian Bun Hong.

Setelah menarik napas panjang dia berkata.

"Hidup dalam kekerasan dan mati dalam kekerasan pula. Itulah agaknya nasib orang-orang yang menamakan dirinya pendekar. Ah, sudahlah Bun Hong tewas dalam keadaan seperti yang dikehendakinya, dalam keadaan gagah dan pada akhir hayatnya dia telah insyaf akan kesesatannya, maka kematiannya tidaklah terlalu mengecewakan. Kalian telah cukup menderita sejak kalian masih kecil dan sekarang kalian telah dapat bertemu kembali dengan orang tua kalian sudah sepatutnya kalian hidup bersama mereka dan membalas budi mereka dengan perawatan yang layak sebagaimana mestinya dilakukan oleh anak-anak yang berbakti. Kalian berdua telah dewasa dan sudah sepatutnya pula mendirikan rumah tangga. Tentang perjodohan aku sebagai guru hanya ikut mendoakan saja, segala keputusannya terserah kepada ibu kalian dan kepada kalian sendiri."

Demikianlah, setelah menerima banyak petuah dan nasihat dari suhu mereka yang sudah tua, Beng Han dan Kui Eng lalu kembali ke rumah ibu masing-masing.

Beng Han tinggal di dekat Kuil Kwan-im-bio sedangkan Kui Eng ikut bersama ibunya di Ki-ciu.

Beng Han terpaksa harus mengalah dan membiarkan Kui Eng yang merawat Sian Lun, putera Bun Hong yang sudah yatim piatu.

Akan tetapi, sering sekali Beng Han datang mengunjungi sumoinya itu dan kasih sayangnya terhadap Sian Lun membuat anak itu suka sekali kepadanya dan tiap kali dia datang, anak itu tentu segera dipondongnya dan diajaknya bermain-main.

Atas nasihat dari Pek I Nikouw, semenjak peristiwa di kota raja, Beng Han, Kui Eng, Yu Tek dan Beng Lian dilarang untuk mencari perkara.

dilarang untuk menonjolkan kepandaian mereka karena tentu hal ini akan menarik perhatian dan wajah mereka telah dikenal oleh para perwira di kota raja.

Mereka diharuskan menyembunyikan nama dan kepandaian mereka dan biarpun di dalam hati mereka, empat orang muda itu merasa penasaran, namun mereka juga maklum bahwa hanya dengan tenaga mereka saja, tidak akan mungkin mereka menentang para pejabat tinggi di kota raja itu dengan kekerasan.

Para pejabat tinggi itu mengandalkan kekuatan pasukan besar, maka apa artinya penentangan beberapa gelintir orang saja, sungguhpun para penentang memiliki kepandaian hebat?

Sang waktu berjalan dengan amat pesatnya dan dua tahun kemudian, pada suatu hari, serombongan orang menuju ke Ki-ciu dan mereka ini adalah Pek I Nikouw, Siok Thian Nikouw ibu Beng Han, Beng Han sendiri, Beng Lin dan Yu Tek.

Mereka pergi ke Ki-ciu untuk berkunjung kepada Kui Eng dan Sian Lun.

Ketika rombongan ini tiba di depan rumah Bu Pok Seng, yaitu ayah tiri Kui Eng, kebetulan sekali Kui Eng dan ibunya sedang duduk di ruangan depan bersama Sian Lun yang bermain-main di atas lantai.

Ketika anak ini melihat Beng Han datang, dia segera berdiri dan berlari-lari menyambut dengan kedua lengan dibuka sambil berseru girang.

"Ayah""! Ayah datang""..!"

Semua orang tersenyum melihat betapa "ayah"

Ini memeluk dan memondong anak itu.

Memang, semenjak dapat berkata-kata, Sian Lun menyebut ayah kepada Beng Han dan ibu kepada Kui Eng!

Hal ini terjadi dengan sewajarnya, bukan karena disuruh orang, karena anak ini menganggap mereka berdua sebagai orang-orang yang paling baik dan bersikap paling manis terhadap dirinya.

Sedangkan Kui Eng dan Beng Han juga tidak mau membiarkan anak itu mengerti bahwa dia telah yatim piatu dan bahwa mereka itu bukan ayah bundanya.

Nyonya Bu dan Kui Eng menyambut para tamu dengan girang.

Swi Lan, adik tiri Kui Eng, dan ayahnya juga segera muncul dan menyambut dengan penuh keramahan.

Bu Pok Seng, bekas kepala perampok yang kini menjadi suami ibu Kui Eng, ternyata telah dapat merobah jalan hidupnya dan kini menjadi seorang pedagang yang hidup terhormat dan baik, apa lagi karena dia merasa jerih kepada anak tirinya, Kui Eng yang menjadi seorang pendekar wanita penentang kejahatan itu!

Siok Thian Nikouw bercakap-cakap dengan Pek I Nikouw dan Bu Pok Seng bersama isterinya.

Orang-orang muda yang memiliki selera lain telah memisahkan diri, dan bersama Sian Lun mereka telah pergi ke dalam taman.

Memperoleh kesempatan ini, Siok Thian Nikouw lalu berkata dengan nada suara duka.

"Sungguh sukar sekali mengurus Beng Han. Telah pinni bujuk-bujuk agar supaya dia suka mencari jodoh, akan tetapi dia selalu menolaknya. Padahal, adiknya, Beng Lian tidak mau melangsungkan pernikahannya sebelum melihat kakaknya menikah lebih dulu. Coba saja pikir, Beng Lian sudah bertunangan lebih dari tiga tahun, dan masih saja dia harus menunggu km kaknya yang masih tidak ketentuan itu. Aih pinni benar-benar menjadi bingung""."

Nikouw itu menarik napas panjang.

"Ah, hal itu sama benar dengan pengalaman kami di sini. Sayapun merasa bingung karena Kui Eng tidak mau menerima pinangan yang banyak datang. Dia selalu menolak dengan keras, bahkan marah-marah kalau kami menyinggung soal perjodohannya,"

Kata nyonya Bu sambil mengerutkan alisnya "Seperti juga halnya dengan Beng Lian, anakku Swi Lan yang sudah bertunangan selama hampir tiga tahun itupun tidak mau melangsungkan pernikahannya sebelum encinya menikah!"

Mendengar ucapan dua orang ibu yang bingung menghadapi kekerasan hati anak mereka Pek I Nikouw tersenyum, kemudian dia berkata dengan suaranya yang halus dan tenang.

"Kalau begitu, mengapa tidak dijodohkan saja kedua orang muda yang keras kepala itu?"

Mendengar ucapan ini, Siok Thian Nikouw dan nyonya Bu Pok Seng saling pandang dengan mata terbelalak, lalu berseri dan mulut mereka tersenyum, penuh arti.

"Mengapa tidak"".?"

Kata mereka hampir berbareng sehingga Pek I Nikouw bertepuk tangan dengan girang.

"Omitohud""! Kwan Im Pouwsat sungguh mulia dan maha pengasih! Sudah setua ini pinni masih mendapat kehormatan untuk menjadi comblang! Serahkan saja hal ini kepada pinni dan kalau usaha pinni menjadi comblang ini berhasil, biarlah pinni kelak melanggar pantangan dan melakukan dosa besar untuk menunjukkan kegirangan pinni dengan membasahi bibirku ini dengan arak pengantin!"

Semua orang tersenyum gembira melihat kejenakaan nikouw tua itu, dan semua orang, termasuk juga Bu Pok Seng, mengharapkan agar niat mereka yang baik itu akan berhasil, yaitu menjodohkan anak tirinya Kui Eng, dengan Gan Beng Han.

Sementara itu, di dalam taman.

Beng Han dan Kui Eng bermain-main dengan Sian Lun.

Swi Lan telah meninggalkan mereka, sedangkan Beng Lian dan Yu Tek yang tadinya juga duduk di situ bercakap-cakap dengan mereka, kini telah meninggalkan taman itu untuk pergi berjalan-jalan berdua saja melihat-lihat pemandangan kota Ki-cu, bergembira seperti layaknya sepasang orang muda yang sedang bertunangan.

"Suheng, Sian Lun suka sekali padamu,"

Kata Kui Eng dengan wajah berseri melihat Beng Han yang memondong Sian Lun berusaha menangkap kupu-kupu yang terbang di atas kembang-kembang.

Beng Han hanya balas memandang sambil tersenyum.

Dia berkata kepada Sian Lun.

"Kupu kupunya tidak bisa ditangkap, terlalu gesit."

Padahal dia tidak mau menangkap kupu-kupu itu karena kasihan. Sian Lun merengek dan merosot turun dari pondongan Beng Han.

"Tangkaplah, ayah, tangkaplah kupu-kupu itu untukku!"

"Jangan, Sian Lun, nanti dia mati, kasihan"".."

Kata Beng Han. Sian Lun bersungut-sungut dan berlari menghampiri Kui Eng.

"Ibu, ayah nakal"", ibu harus pukul padanya!"

Katanya dengan sikap manja dan menudingkan telunjuknya ke arah Beng Han.

"Hushhh, jangan nakal, Sian Lun!"

Kata Kui Eng. Akan tetapi anak itu menangis dan mendesak agar "ibunya"

Memukul "ayahnya"

Yang nakal itu. Kui Eng dan Beng Han saling memandang, teringat akan mendiang Tan Bun Hong yang keras kepala dan nakal. Anak ini wataknya seperti Bun Hong.

"Baiklah, kupukul dia, akan tetapi kalau kau yang nakal, kaupun akan kupukul!"

Akhirnya Kui Eng mengalah dan menghampiri Beng Han, mengangkat tangan dan pura-pura memukul bahu pemuda itu.

Beng Han yang hendak menggoda Sian Lun, pura-pura mengaduh dan menutupi muka dengan kedua tangannya dan membuat suara seperti orang sedang menangis.

Terbelalak mata Sian Lun memandang ayahnya dan dia lalu menghampiri Beng Han yang duduk di atas rumput sambil berlari, memeluk ayahnya dan bertanya.

"Ayah"., kau sakit dipukul ibu".?"

Kemudian, anak itu memandang kepada ibunya dan berkata.

"Ibu, kau nakal, kenapa kau pukul ayah sampai kesakitan?"

"Eh, bukankah kau yang menyuruhku tadi?"

Kata Kui Eng sambil tersenyum.

"Ya, akan tetapi jangan keras-keras memukulnya!"

Beng Han tak dapat menahan gelak tawanya dan juga Kui Eng tertawa geli sehingga Sian Lun memandang heran sekali kepada mereka.

Bukan main senang dan bahagianya rasa hati Kui Eng dan Beng Han pada saat itu dan ketika mereka saling memandang, tiba-tiba suara ketawa mereka berhenti dan dua pasang mata itu bertemu, saling pandang, dan bertaut melekat seperti terkena pesona.

Hati mereka masing-masing berbisik dalam lagu yang sama dan suara yang sama pula.

"Alangkah akan bahagianya kalau kita bertiga dapat berkumpul, merupakan satu rumah tangga yang tidak terpisah-pisah lagi""."

Hati kedua orang muda ini telah terbuka dan keduanya telah siap sedia mengangguk dan menyatakan setuju, hanya menanti datangnya sebuah tangan yang akan diulurkan dan akan mempertemukan kedua hati itu.

Dan tangan inipun telah mendekat tanpa mereka ketahui yaitu tangan Pek I Nikouw yang hendak rnengangkat diri sendiri menjadi comblang.

Kebahagiaan telah berada di ambang pintu bagi mereka tanpa mereka ketahui.

Ketika terdengar suara tertawa dan tepuk tangan Pek I Nikouw yang bergirang hati itu dari dalam rumah, barulah mereka berdua sadar bahwa semenjak tadi mereka telah saling pandang bagaikan terkena pesona sihir sehingga kini keduanya cepat menundukkan muka dengan malu-malu sehingga seluruh muka mereka rnenjadi merah dan jantung mereka berdebar aneh.

"Sumoi"""

Suara Beng Han menggetar dan tanpa mengangkat mukanya pemuda itu membelai kepala Sian Lun.

"anak ini seperti anakku sendiri"".."

"Demikianpun perasaan hatiku, suheng"."

Keduanya tidak dapat mengeluarkan kata kata lagi sampai munculnya Pek I Nikouw dengan wajah berseri-seri.

Nikouw itu dengan suara halus dan wajah berseri mengulurkan tali pengikat hati mereka berdua.

Mendengar perkataan Pek I Nikouw yang menyampaikan pinangan dan usul perjodohan dari ibu masing masing.

Kui Eng lalu berlari masuk kedalam kamarnya, menbanting tubuhnya di atas pembaringannya sambil menangis karena"""

Girang!

Beberapa pekan kemudian, secara berturut turut terjadilah peristiwa yang amat menggembirakan.

Tiga Pasang dipertemukan berturut-turut penuh kebahagiaan, mereka itu adalah pasangan antara Gan Beng Han dengari Kui Eng, Yap Yu Tek dengan Gan Beng Lian, dan Ang Min Tek dengan Bu Swi Lan.

Ketika mereka bertemu sebagai sepasang pengantin, sebagai suami isteri, Kui Eng dan Beng Han teringat kepada Bun Hong dan mereka menitikkan air mata.

Kalau ada Bun Hong yang menyaksikan mereka menjadi pengantin tentu mereka akan lebih berbahagia lagi.

Ketiga pengantin secara dengan ekor naga sakti hanya tinggal dua ekor saja, dan yang dua ekor inipun tidak berdaya menghadapi kekacauan yang terjadi di mana mana.

Akan tetapi, kedua orang pendekar yang tadinya adalah suheng dan sumoi, dan kini telah menjadi suami isteri itu, segera tenggeIam ke dalam ayunan gelombang asmara dan bulan madu yang membuat mereka lupa bahwa keadaan di dunia masih jauh dari pada baik, bahwa kehidupan rakyat masih terus dalam keadaan terhimpit dan tercekik.

Pejabat-pejabat tinggi dan pembesar-pembesar yang hanya berusaha membesarkan perut dan kekayaan pribadinya masih bersimaharaja-lela dan kaisar makin lemah seperti boneka saja.

Kelaliman terjadi di mana-mana dan bahkan kini orang-orang dari dunia sesat melihat kesempatan yang amat baik sekali yaitu selagi pemerintah berada dalam keadaan lemah mereka bangkit dan bermuncullah tokoh-tokoh sesat yang tadinya bersembunyi karena selama pemerintah kuat tentu saja takut untuk beroperasi.

Akan tetapi kini, melihat pemerintah amat lemah bahkan orang-orang yang berkedudukan tinggi menentang para pendekar yang membela rakyat, maka kesempatan baik ini dipergunakan oleh kaum sesat atau golongan hitam untuk mendekati para pembesar korup dan untuk bersekutu dengan mereka dalam usaha mereka mengejar kesenangan sepuas-puasnya selagi masih ada kesempatan!

Melihat keadaan seperti itu, para pendekar seperti Gan Beng Han, Kui Eng dan yang lain-lain makin berduka dan tidak berdaya.

Di dalam hati mereka, para pendekar ini tentu saja merasa penasaran melihat kesengsaraan rakyat.

namun mereka tidak berdaya.

Baru saja terjadi pemberontakan An Lu Shan yang disambung serangkaian pemberontakan lagi.

Baru saja pemberontakan tertindas, padahal pemberontakan mendatangkan perang saudara yang amat mengerikan Mereka, kaum pendekar, tidak sudi memberontak seperti yang dilakukan oleh An Lu Shan.

Mereka hanya menentang kejahatan secara perorangan, akan tetapi setelah kini yang paling jahat atau yang menjadi sumber kejahatan adalah pembesar-pembesar yang berkedudukan tinggi, tentu saja para pendekar ini menjadi tidak berdaya.

Menentang kejahatan adalah kewajiban pendekar, akan tetapi kalau yang jahat itu para pembesar, maka kalau mereka menentang, berarti rnereka itu menentang para pembesar dan hal ini tentu amat berbahaya karena para pembesar itu bersembunyi di belakang kedudukan dan kekuasaan mereka sehingga setiap penentang akan dicap pemberontak!

Siapa saja yang menentang tindakan sewenang-wenang seorang pembesar menentang kejahatan pribadi pembesar tentu akan dicap sebagai pemberontak yang menentang pemerintah!

Hal seperti ini telah sedang dan akan selalu terjadi di bagian manapun di dunia ini dan memang sungguh amat menyedihkan!

Hukum rimba selalu berkuasa semenjak jaman batu sampai jaman sekarang!

Siapa kuat dia menang dan siapa menang dia berkuasa dan siapa berkuasa dia pasti benar, atau dibenarkan!

Dan selama terdapat hukum rimba seperti ini, sudah pasti akan muncul golongan-golongan yang saling bertentangan.

Golongan putih yang menentang kelaliman dan golongan hitam yang membonceng kelaliman untuk menyenangkan dirinya.

Dan pertentangan di mana-mana.

Dan permusuhan di mana-mana.

Din perang tak mungkin terelakkan lagi.

Setahun telah lewat semenjak Gan Beng Han merayakan pernikahannya dengan Kui Eng.

Bulan-bulan rnadu mereka nikmati semenjak mereka menikah dan mereka tinggal di Cin-an sebagai suami isteri yang rukun dan kelihatannya berbahagia Akan tetapi, Beng Han dapat menyelami jiwa isterinya dan di lubuk hatinya dia maklum bahwa cinta kasih isterinya kepadanya adalah cinta kasih pulasan belaka, sungguhpun isterinya selalu bersikap baik kepadanya.

Sering kali isterinya termenung dan memaksa datangnya senyum kalau dia muncul.

Dia tahu bahwa dahulu, isterinya ini sudah agak condong kepada Bun Hong, kemudian dia telah mengetahui pula bahwa isterinya pernah tergila-gila dan jatuh cinta kepada Ang Min Tek yang kini menjadi moi-hu (adik ipar) mereka.

Akan tetapi, Gan Beng Han adalah seorang pendekar yang bijaksana dan dia tidak menderita karenanya.

Tidak, cinta kasihnya terhadap isterinya adalah murni dan dia hanya mementingkan kebahagiaan orang yang dicintainya, bukan kesenangan dirinya sendiri.

Betapapun juga, Beng Han merasa berbahagia sekali karena dari pernikahan itu, isterinya telah mengandung dan sekarang, setahun kemudian, isterinya telah mengandung sembilan bulan Akan tetapi, di samping kebahagiaannya, dia juga merasa gelisah sekali.

Kegelisahan seorang calon ayah yang menantikan lahirnya anak yang pertama!

Semenjak siang tadi, dia telah seperti tersiksa hatinya mendengarkan keluhan dan rintihan isterinya dari dalam kamar.

Dia tidak di perkenankan masuk, harus menanti di luar dan isterinya hanya ditemani oleh seorang bidan dan dua orang pembantunya.

Keluhan dan rintihan yang terdengar dari jendela kamar itu seperti menyayat hatinya, membuat dia merasa amat iba kepada wanita vang dicintanya itu.

Setelah senja lewat dia tidak dapat menahan kegelisahannya lagi dan pergilah dia ke lian-bu-thia di sebelah belakang rumah.

Akan tetapi ke manapun dia pergi, rintihan isterinya selalu mengikutinya dan betapapun dia menutupi kedua telinganya, masih saja dia mendengar keluh-kesah itu.

Maka dia lalu berlatih silat di lian-bu thia (ruangan berlatih silat) itu.

Makin hebat isterinya merintih, makin hebat pula dia menggerakkan kaki tangannya memukul dan menendang untuk menekan kegelisahan hatinya.

Beng Han bersilat seorang diri seperti orang gila.

Dia telah berkeringat, akan tetapi dia tidak mau berhenti.

Dia hendak mengimbangi penderitaan isterinya dengan bersilat dan dia tidak akan berhenti sebelum isterinya melahirkan!

"Aih, pendekar perkasa Gan Beng Han, ilmu silatmu sungguh hebat, akan tetapi mengapa, engkau menyiksa diri dengan berlatih mati-matian seperti ini?"

Beng Han terkejut mendengar suara halus itu (Lanjut ke

Jilid 15) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 15 dan cepat dia menghentikan gerakan silatnya dan menoleh.

Makin heran dan kaget hatinya ketika dia melihat bahwa yang menegurnya itu adalah seorang wanita yang amat cantik jelita.

Seorang dara yang usianya tidak akan lebih dari duapuluh tahun, wajahnya cantik manis dengan kulit yang halus putih, sepasang matanya lincah jenaka dan bibirnya tersenyum manis penuh daya pikat, tubuhnya padat dan pinggangnya ramping.

Pakaiannya yang terbuat dari sutera halus berwarna putih itu membayangkan bentuk tubuhnya yang indah.

Beng Han tidak melihat wanita ini sebagai seorang ahli silat, tidak melihat dia membawa senjata, akan tetapi kehadirannya yang amat luar biasa, tanpa didengarnya sama sekali itu, menimbulkan kecurigaannya.

Dia tidak mengenal dara ini.

Ataukah dia ini seorang di antara pembantu bidan?

"Ba"".

bagaimana dengan isteriku"".."

Dia bertanya gagap karena menyangka bahwa pembantu bidan yang cantik ini tentu datang untuk mengabari tentang isterinya, sungguhpun ucapannya tadi memang aneh sekali.

Dara itu tersenyum lebar dan nampaklah deretan gigiyangputih bersihmengkilap "Hi-hi-hik, Can-taihiap, tenang dan sabarlah isterimu kudengar sedang berjuang melahirkan, engkau seorang pendekar gagah mengapa begini gugup dan gelisah?"

Kini yakinlah Beng Han bahwa wanita iri bukan pembantu bidan, maka dia memandang tajam dan sikapnya serius.

"Siapakah nona?"

"Namaku? Namaku Siauw Kim, Bu Siauw Kim,"

Jawab wanita itu sambil tersenyum dani mengerling tajam.

Beng Han mengerutkan alisnya.

Dia tidak pernah mengenal nama itu, akan tetapi bagaimana wanita ini dapat memasuki lian-bu-thia begitu saja dan bagaimana dapat mengenal namanya?

"Aku"""

Aku tidak mengenal nona"".."

Kembali wanita cantik itu tersenyum dan wajahnya kelihatan masih muda remaja sekali kalau dia tersenyum, akan tetapi pandang matanya yang memiliki kegenitan khas itu membayangkan bahwa dia telah matang.

"Akan tetapi aku mengenalmu, Gan-taihiap. Siapakah yang tidak mengenal Gan Beng Han, Kui Eng yang sekarang menjadi isterimu, yang bersama mendiang Tan Bun Hong merupakan tiga naga sakti yang pernah menggemparkan kota raja?"

Bukan main kagetnya rasa hati Beng Han.

Celaka, wanita ini tentu seorang mata-mata pemerintah!

Akan celakalah sekeluarganya setelah rahasia itu diketahui orang!

"Apa""..

apa maksudmu"".

apa kehendakmu datang ke sini"".?"

Dia bertanya dan mukanya menjadi pucat.

"Gan-taihiap, jangan terkejut. Aku bukanlah seorang musuh, sebaliknya malah aku datang sebagai seorang sahabat baik sekali. Kebetulan tadi aku lewat di atas rumah ini dan aku mendengar suara angin pukulan-pukulanmu yang dahsyat, maka aku mengintai. Melihat engkau berlatih silat selagi isterimu hendak melahirkan, aku kagum dan aku turun. Kemudian teringatlah aku akan berita yang disampaikan anak buahku bahwa di kota ini tinggal pendekar Gan Beng Han dan isterinya pendekar wanita Kui Eng, maka mudahlah bagiku untuk mengenalmu. Aku amat kagum kepadamu dan aku ingin mempererat perkenalan ini, taihiap."

Beng Han makin terkejut. Wanita cantik ini sungguh aneh, dapat mengetahui segala galanya, mengetahui sepak terjangnya beberapa tahun yang lalu di kota raja.

"Siapakah nona? Siapa pula anak buah nona itu?"

"Hi-hik,"

Bibir yang merah itu merekah dan kembali nampak gigi putih mengkilat "Sudah kukatakan bahwa namaku Bu Siauw Kim, dan aku adalah kauwcu (guru agama) dari Im-yang-kauw."

Sepasang mata pendekar itu terbelalak!

Tentu saja dia sudah mendengar nama Im yang-kauw yang amat terkenal, tidak kalah terkenalnya dibandingkan dengan Pek-lian kauw dan perkumpulan lain.

Dan yang berdiri di depannya ini adalah kauwcunya!

Cepat dia menjura kepada wanita itu.

"Ah, kiranya Im-yang-kauwcu. Harap maafkan kalau aku bersikap kurang hormat karena tidak mengenal kauwcu. Setelah kauwcu sudi mengunjungi kami, silakan duduk di ruangan tamu"".."

"Hushhhh"".. mengapa begini sungkan taihiap? Aku datang karena tertarik oleh ilmu silatmu, dan ketika melihat engkau bersilat melihat tubuhmu yang berkeringat, aku makin tertarik dan aku datang sebagai sahabat baik, baik sekali, akrab sekali, bukan sebagai tamu yang ingin disambut dengan segala penghormatan kaku dan palsu. Marilah kita bicara di dalam taman, kulihat taman bungamu di belakang indah sekali."

Wanita itu mengulurkan lengan hendak menggandeng tangan BengHan.

Tentu saja Beng Han terkejut bukan main dan cepat dia menarik tangannya, mengelak seperti melihat ular mematuknya.

Dia mengangkat muka memandang dengan alis berkerut dan mukanya berobah merah, matanya memandang tajam.

"Im-yang-kauwcu!"

Dia berkata, suaranya keren penuh teguran.

"Apakah artinya sikapmu yang tidak semestinya ini?"

Wanita itu mengangkat kedua alisnya, menggerakkan biji matanya dan mulutnya masih tersenyum.

"Aihhh, engkau yang sudah hampir menjadi seorang ayah ini, masih begitu hijau dan bodohkah sehingga tidak mengerti maksud hatiku, taihap.? Begitu melihatmu, melihat engkau bersilat, melihat tubuh dan wajahmu, engkau seperti seekor naga sakti, engkau seorang laki-laki jantan, seperti seekor singa muda? Begitu kokoh kuat, begitu hebat! Begitu melihatmu, aku telah jatuh hati, taihiap. Aku suka sekali padamu dan aku ingin menjadi kekasihmu semalam ini"".."

Kalau dia mendengar ada kilat menyambar kepalanya, belum tentu Beng Han akan menjadi kaget seperti ketika mendengar ucapan ini.

Matanya terbelalak, mukanya menjadi merah sekali dan dia menjadi marah bukan main.

"Im-yang-kauwcu! Kalau benar engkau kauwcu dari Im-yang-kauw, tak kusangka engkau, si orang wanita yang begini muda, apa lagi kalau benar engkau menjadi ketua Im-yang-kauw dapat mengeluarkan ucapan yang tidak senonoh dan cabul itu!"

"Hi-hik! Tidak senonoh? Cabul? Gan-taihiap, Gan-koko, aku seorang wanita dan melihat engkau seorang pria, aku tertarik dan suka, aku ingin menjadi kekasihmu malam ini apakah itu tidak senonoh dan cabul?"

"Cukup! Harap kau pergi dan tinggalkan rumah ini, jangan membuat kacau di sini!"

Beng Han membentak.

"Aku tidak akan pergi sebelum engkau memenuhi permintaanku, Gan-koko. Aku benar benar telah jatuh hati kepadamu dan engkau harus menjadi kekasihku malam ini!"

"Perempuan tak tahu malu! Kaukira aku Gan Beng Han orang macam apa? Lekas pergi, aku masih sungkan untuk menggunakan kekerasan dan bersikap kasar terhadap seorang wanita!"

"Kau? Bersikap kasar kepadaku? Menggunakan kekerasan? Hi-hik, Gan-koko, aku memang paling suka kepada laki-laki yang kasar dan keras, aku muak dengan yang halus dan yang lemah. Cobalah engkau bersikap kasar, sampai di mana kekerasanmu!"

Ucapan yang mengandung maksud-maksud cabul itu makin memarahkan hati Beng Han.

"Pergilah, ataukah aku harus menyerangmu dan menyeretmu keluar?"

Bentaknya.

"Hi-hik, tidak akan begitu mudah, Gan Beng Han!!"

Sudah habis kesabaran Beng Han dan cepat dia menerjang dengan pukulan tangan kanan ke arah muka wanita itu.

"Wuuuutttt"".!!"

Pukulan tangan yang dikepal itu keras bukan main.

Batupun akan hancur terkena pukulan itu.

Akan tetapi wanita cantik itu bahkan menjulurkan mukanya yang cantik, sama sekali tidak menangkis atau mengelak, bibirnya tersenyum manis.

Gan Beng Han adalah seorang pendekar besar dan budiman.

Mana mungkin dia tega mempergunakan pukulannya yang amat kuat itu untuk menghantam wajah yang demikian cantik manis, yang berkulit demikian putih halus?

Tentu akan remuk muka itu terkena pukulannya dan bukan main terkejutnya melihat wanita itu sama sekali tidak mengelak atau menangkis!

Maka ketika pukulannya sudah hampir mengenai wajah itu, kurang beberapa senti lagi, dia cepat menahan dan menarik kembali pukulannya.

Wanita cantik itu tertawa.

"Hi-hik, sudah kuduga. Mana kau tega memukul aku, taihiap? Dari pada kita bermusuhan, bukanlah lebih baik kita bercintaan?"

"Perempuan cabul tak tahu malu!"

Beng Han membentak dan kini dia benar-benar menyerang.

Isterinya sedang mati-matian berjuang untuk melahirkan dan dia digoda oleh wanita jalang ini!

Akan tetapi, pukulannya yang ditujukan ke arah leher wanita itu, dengan mudah saja dapat dielakkan oleh Bu Siauw Kim atau Im-yang-kauwcu itu.

Dengan hanya miringkan tubuhnya sambil terkekeh genit, pukulan itu luput!

Beng Han maklum bahwa wanita ini sesungguhnya memiliki kepandaian, maka dia lalu menerjang terus dengan hebatnya.

Betapa terkejut hatinya ketika dia melihat bahwa semua serangannya itu dapat dihindarkan dengan amat mudahnya oleh wanita itu Dia mulai merasa penasaran dan cepat dia mainkan ilmu silatnya yang diandalkan, yaitu Kwi hoa-kun.

Ilmu ini adalah ciptaan dari gurunya Lui Sian Lojin, merupakan ilmu silat yang dapat dimainkan dengan tangan kosong maupun dengan pedang.

Bukan main hebatnya gerakan Beng Han, dan setiap pukulan kini dilakukannya dengan pengerahan tenaga sinkang karena dia sudah marah sekali.

Akan tetapi sungguh mengejutkan, semua pukulan itu tetap saja tidak pernah dapat menyentuh tubuh ketua Im-yang-kauw!

Tubuh wanita itu berkelebatan seolah-olah dapat terbang saja, demikian ringannya sehingga semua pukulan dan tendangan Beng Han dapat dihalaunya dengan mudah sambil terkekeh-kekeh!

"Hi-hik, Gan-taihiap, dalam ilmu silat engkau masih harus belajar seratus tahun lagi untuk dapat mengalahkan aku.

Akan tetapi, tanpa ilmu silat, dengan sikap kasih sayang, aku akan menyerah kepadamu!"

Makin marahlah Beng Han.

Dia tidak membawa pedangnya, kalau dia membawa senjata itu, tentu dia akan mempergunakannya untuk menghadapi lawan yang tangguh ini.

Agaknya pikiran ini dapat diketahui oleh Im-yang-kauwcu karena tiba-tiba wanita ini meloncat ke belakang dan menuding ke arah rak senjata di mana teidapat berbagai senjata yang dipergunakan untuk latihan oleh suami isteri pendekar itu.

"Kau masih penasaran? Nah, kaupilihlah senjatamu, Gan Beng Han!"

Beng Han yang sudah marah itu lalu meloncat ke sudut, menyambar sebatang pedang dan dia lalu menerjang lagi, tidak memperdulikan lagi bahwa lawannya adalah seorang dara yang muda dan cantik jelita, tidak bersenjata pula!

Akan tetapi, Beng Han belum mengenal betul siapa wanita ini!

Im-yang-kauwcu Bu Siauw Kim ini berjuluk Kim-sim Niocu.

Dia adalah puteri tunggal dari Kok Beng Thiancu, tokoh besar yang menjadi ketua Im-yang-pai di Tai-hang-san.

Kalau Kok Beng Thiancu ini sudah merupakan tokoh besar di dunia persilatan, ditakuti baik oleh golongan putih maupun hitam, maka puterinya ini sebagai ketua agama, bahkan memiliki kepandaian yang lebih hebat lagi!

Dan sesuai dengan kebiasaan dari agama yang dianutnya, ayah dan anak ini tidak pantang melakukan perjinaan asalkan tidak melakukan pemaksaan atau perkosaan.

Sudah lama sekali Im-yang-pai dan agamanya yaitu Im-yang-kauw, tidak pernah keluar dari sarang, akan tetapi semenjak dalam negeri terjadi kekacauan, kini seperti juga golongan-golongan lain, Im-yang-kauw mulai memperlihatkan giginya dan ketua dari lm-yang-kauw inipun mulai berani memperlihatkan pengaruh dan kepandaiannya.

Memang pada hari itu dia kebetulan berada di Cin-an dan sebagai seorang tokoh kang-ouw terkemuka, Im-yang-kauwcu mendengar pula tentang pendekar Gan Beng Han yang tinggal di kota ini.

Sudah lama dia kagum mendengar sepak terjang dari pendekar itu, maka sore hari itu dia sengaja singgah secara diam-diam.

Ketika dia mengintai dan melihat pendekar itu tengah berlatih silat, seketika dia jatuh hati!

Kini, dengan pedang di tangan, Beng Han mengamuk seperti seekor naga.

Akan tetapi, kalau dia boleh diumpamakan seekor naga, Im-yang-kauwcu adalah seperti segumpal awan yang bergerak ke sana-sini, sama sekali tidak dapat diterkam oleh naga itu!

Kini nampak sinar hitam bergulung-gulung dengan cepat dan ke manapun sinar pedang Beng Han menyambar, selalu bertemu dengan gulungan sinar hitam ini dan membalik!

Beng Han terkejut bukan main.

Sinar hitam itu hanya sehelai sabuk hitam yang tadi membelit ikat pinggang yang ramping itu, dan bagaimana sehelai sabuk sutera hitam dapat menahan pedangnya?

Hal ini membuktikan bahwa sinkang dari dara cantik ini benar-benar amat kuatnya!

"Gan-koko, dari pada kita berkelahi, bukankah lebih baik kita bercinta?"

"Keparat, lebih baik aku mampus!"

Bentak Beng Han dengan kemarahan meluap dan kini dia menggerakkan pedangnya makin hebat lagi.

Dia sudah lupa akan keadaan isterinya dan karena maklum bahwa yang dihadapinya adalah seorang wanita yang benar-benar lihai, bahkan jauh lebih lihai dari semua lawan yang pernah dihadapinya, termasuk Tek Po Tosu, maka dia bersilat dengan hati-hati sekali..

"Hi-hik, biar gurumu sendiri belum tentu akan dapat mengalahkan aku, Gan-koko. Nah, kalau begitu rebahlah kau!"

Tiba-tiba Nampak sinar merah ketika wanita itu mengebutkan sehelai saputangan merah yang entah kapan diambilnya.

Uap merah mengebul dari sapu tangan itu.

Beng Han mencium bau yang harum dan kepalanya seketika menjadi pening.

Gerakannya menjadi kacau dan dia terhuyung.

Sebelum dia dapat memulihkan kesadarannya ujung sabuk sutera hitam itu telah menotok beberapa jalan darahnya dan robohlah pendekar ini, terguling dan tentu akan terbanting kalau saja wanita itu tidak cepat merangkulnya!

Beng Han rebah dalam keadaan lumpuh kaki tangannya!

Im-yang-kauwcu melibatkan lagi sabuk hitamnya di pinggang dan menyimpan kembali saputangan merahnya.

Lalu dia berlutut di dekat tubuh Beng Han, menggunakan jari-jari tangannya membelai dagu dan pipi pria itu.

"Bagaimana, Gan-koko, tidak benarkah kata kata Bu Siauw Kim bahwa kau bukan lawanku dalam ilmu silat?"

"Perempuan siluman, kaubunuhlah aku!", bentak Beng Han dalam keadaan lemas karena kaki tangannya tak dapat digerakkannya lagi "Membunuhmu? Aihh, aku cinta padamu, bagaimana harus membunuhmu? Tidak, koko, aku tidak akan membunuhmu, juga tidak akan menggunakan paksaan. Aku hanya minta belas kasihanmu agar engkau suka menjadi kekasihku malam ini".. aku sama sekali tidak mengandung niat buruk di hatiku."

"Perempuan hina! Siluman jahat! Aku tidak sudi. Kaukira aku ini laki-laki macam apa? Dari pada menyerah kepadamu, lebih baik kaubunuh aku!"

"Hebat""! Sungguh sikap jantan ini yang makin menarik hatiku, Gan-koko! Kalau kau merengek, minta ampun, mungkin aku akan muak kepadamu"

Wanita ini lalu menunduk dan menyentuh pipi Beng Han yang berkeringat itu dengan hidungnya yang kecil mancung, berdiri bulu tengkuk pendekar itu ketika menerima ciuman ini.

Isterinya sendiri, Kui Eng yang dicintanya belum pernah memperlihatkan perasaan kasihnya secara demikian terang-terangan!

"Gan-koko, ingat.

Aku telahmengetahui bahwa engkau dan isterimu dan mendiang sutemu adalah tiga naga sakti yang pernah mengacau di kota raja.

Bagaimana kalau sampai hal ini di ketahui oleh Tek Po Tosu?

Aku bisa saja memberi tahu dia dan mereka yang bertugas di kota raja, kalau aku mau."

"Silakan! Aku tidak takut mati!"

Jawab Beng Han makin marah.

"Akan tetapi untuk memaksa aku melayani hasratmu yang kotor, jangan harap! Lebih baik kau lekas bunuh aku saja!"

Kembali jari-jari tangan itu membeIai-belai muka, leher dan dada yang bidang itu, sepasang mata indah itu setengah terkatup, bibirnya agak terbuka, hidungnya kembang-kempis, tanda bahwa Im-yang-kauwcu benar-benar telah timbul gairahnya terhadap Beng Han.

Sikap jantan dan gagah dari pendekar ini seperti membakar isi dadanya dan membuat api berahinya berkobar.

"Kau laki-laki jantan, kau singa muda".!"

Dan kini wanita itu menundukkan mukanya, mendekati muka Beng Han dan bibirnya sudah menyentuh mulut Beng Han yang tidak mampu mengelak lagi.

Tiba-tiba terdengar lengking yang mengejutkan, tangis seorang bayi!

Im-yang-kauwcu terkejut dan mengangkat mukanya menoleh ke arah kamar di sebelah dalam di mana tangis itu terdengar.

Wajah Beng Han berseri dan matanya bersinar-sinar penuh ketegangan.

"Anakku"".! Anakku lahir""..!"

Bisiknya dan dia berusaha meronta, namun sia-sia.

"Aih, kionghi (selamat), Gan-koko! Sekarang, untuk peristiwa menggirangkan itu, marilah kita berpesta berdua."

Dia merangkul dan hendak mencium mulut Beng Han.

"Siluman keji, aku tidak sudi! Tidak sudi! Tak tahu malukah engkau hendak memaksaku?"

Im-yang-kauwcu mengangkat mukanya dan mengerutkan alisnya.

"Benarkah? Kau tidak mau? Hemm, hendak kulihat nanti. Sekarang lebih baik aku pergi saja menjenguk anakmu yang baru lahir."

Dia bangkit berdiri dan tiba-tiba wajah Beng Han menjadi pucat.

"Tunggu! Apa"". apa yang hendak kaulakukan? Jangan kauganggu anakku! Isteriku!"

Mulut yang manis itu berjebi penuh ejekan.

"Kalau aku melakukan sesuatu terhadap mereka kau mau apa? Aku hanya ingin melihat, kalau anak itu menyenangkan, aku akan membawanya pergi sebagai pengganti ayahnya yang tidak mengenal cinta kasih orang!"

Melihat wanita itu sudah melangkah pergi, jantung Beng Han berdebar tidak karuan.

Celaka, pikirnya.

Wanita seperti itu tentu akan memenuhi ancamannya.

Dan isterinya yang baru melahirkan tentu tidak akan mampu melindungi anaknya.

Jangankan sekarang dalam keadaan baru saja melahirkan, biarpun dalam ke adaan sehat juga isterinya pasti tidak akan nampu menandingi wanita ini.

"Kauwcu"""!"

Dia berseru. Wanita itu berhenti dan menoleh, tersenyum.

"Apa lagi?"

"Jangan"".. jangan kau mengganggu anakku, kumohon kepadamu, janganlah""..kau boleh bunuh saja aku, tapi jangan mengganggu mereka""."

Im-yang-kauwcu melangkah kembali, mendekati Beng Han.

"Kini engkau yang mohon-mohon kepadaku, tadi aku mohon kemurahan hatimu, engkau malah memakiku. Bagaimana sekarang kau boleh mengharapkan aku untuk memenuhi permohonanmu?"

"Kauwcu, aku mohon kepadamu, kasihanilah anakku, isteriku. Mereka tidak tahu apa-apa"

"Hi-hik, dan kau tidak kasihan kepadaku, koko yang baik? Padahal aku hanya minta balas kasihanmu, minta kasih sayangmu hanya untuk semalam ini saja. Dan isterimu tidak tahu apa-apa, mengapa kau menolak? Kalau kau suka memenuhi permintaanku, akupun tentu akan dengan senang hati memenuhi permintaanmu""."

Beng Han menjadi bingung sekali.

Dia tahu bahwa dia berada dalam cengkeraman wanita lihai ini, bahwa jiwa anaknya berada dalam telapak tangan wanita ini.

Dia tidak takut mati, dia lebih baik mati dari pada harus memenuhi kehendak dan hasrat kotor wanita ini.

Akan tetapi, demi menolong isterinya, terutama anaknya yang baru saja terlahir, dia mau melakukan apapun juga!

Apapun juga, termasuk perbuatan hina seperti yang dikehendaki wanita ini!

"Kalau""

Kalau aku memenuhi permintaanmu, maukah kau bersumpah untuk membebaskan anak isteriku?"

"Tentu saja!"

Im-yang-kauwcu merangkul dan mencium bibir pria itu dengan penuh kemesraan.

"Kau"". kau berjanji dulu, kau bersumpah dulul"

Dengan muka berseri dan kedua pipi kemerahan, Im-yang-kauwcu lalu duduk bersila dan berkata dengan suara serius.

"Aku, Kim-sim Niocu, Im-yang-kauwcu Bu Siauw Kim, bersumpah demi kedudukanku sebagai ketua Im-yang-kauw, bahwa aku tidak akan mengganggu seujung rambut dari isteri dan anak Gan Beng Han setelah Gan Beng Han sudi menerimaku sebagai kekasihnya malam ini"."

"Dan kau juga tidak akan mengganggu aku lagi selamanya, tidak akan mengikat aku sebagai kekasihmu setelah malam ini,"

Kata Beng Han.

"Dan aku tidak akan mengganggunya lagi selamanya, hanya malam ini saja dia menjadi kekasihku. Aku bersumpah!"

Gan Beng Han merasa lega. Isteri dan anaknya selamat. Akan tetapi dia? Jantungnya berdebar penuh ketegangan dan mukanya menjadi merah sekali.

"Kau"". Kau bebaskan totokan ini"".."

"Ett, nanti dulu, Gan-koko. Aku sudah bersumpah, maka engkaupun harus bersumpah pula."

"Bersumpah apa?"

Tanya Beng Han terkejut.

"Bersumpah bahwa setelah kau kubebaskan engkau tidak akan memberontak dan engkau bersumpah akan memenuhi permintaanku, akan menjadi kekasihku malam ini, akan mencintaku."

Beng Han tidak berdaya lagi.

"Aku bersumpah,"

Katanya.

"Hi-hik, terima kasih, koko. Aku percaya bahwa seorang pendekar seperti engkau tidak akan melanggar sumpahnya dan menjilat kata kata janjinya sendiri."

Bu Siauw Kim lalu membebaskan totokannya dan dia menggandeng tangan Beng Han keluar dari lian-bu-thia itu menuju ke dalam taman bunga di belakang rumah.

Malam itu sunyi, bulan muncul sepotong.

Malam yang romantis sekali, malam yang sejuk dan hening.

Dan di dalam taman itu, terpaksa Beng Han melayani hasrat hati Im-yang-kauwcu yang sudah diamuk berahi.

Mula-mula Beng Han hanya menerima saja, membiarkan dirinya dibelai, dipeluk dan diciumi oleh Bu Siam Kim.

Mula-mula dia hendak mempertahankan diri secara diam-diam agar dia tidak terseret oleh gelombang nafsu itu.

Yang penting, dia tidak menolak!

Dengan demikian dia tidak melanggar sumpah dan janjinya.

Akan tetapi, dia salah hitung!

Beng Han adalah seorang laki-laki yang masih hijau dalam hal asmara.

Satu-satunya wanita yang di kenal dan pernah didekatinya hanyalah isterinya sendiri.

Dan semenjak isterinya mengandung tentu saja dia menjauhkan diri.

Dan dia adalah seorang laki laki muda yang sehat, yang kuat dan di dalam tubuhnya masih mengalir darah panas.

Sedangkan Bu Siauw Kim adalah seorang wanita muda yang amat cantik jelita dan biarpun masih muda, namun pengalamannya dalam hal permainan asmara sudah amat banyak karena wanita ini memang menghambakan diri kepada asmara dan nafsu berahi.

Oleh karena itu, menghadapi rayuan dan belaian Bu Siauw Kim, akhirnya pertahanan Beng Han runtuh.

Dia diamuk oleh gelombang yang amat dahsyat karena tadinya dia menahan-nahan diri, seolah-olah membuat bendungan terhadap air bah mengamuk dan kini bendungan itu jebol dan air bah membanjir dengan dahsyatnya.

Tentu saja hal ini amat menggirangkan hati Im-yang-kauwcu karena pendekar iiu telah berubah menjadi seorang kekasih yang amat ganas, amat kuat dan penuh kejantanan!

Lewat tengah malam, barulah nampak Im-yang-kauwcu bangkit dari atas rumput tebal di mana kedua orang muda ini berenang dalam lautan nafsu berahi.

Wajah wanita itu agak pucat, namun matanya berseri dan mulutnya ternyum.

Dia membungkuk, mencium bibir pria itu dengan sepenuh perasaannya, kemudian dia bangkit berdiri dan berpakaian lagi, kadang-kadang mengerling kepada Beng Han dengan senyum simpul.

Beng Han bangkit duduk dan menutupkan kedua tangannya ke depan muka.

Ingin dia menangis, ingin dia berteriak marah, ingin dia menyerang wanita ini.

Setelah air bah membanjir keluar, setelah kedahsyatan reda, setelah keadaan tenang kembali, barulah dia sadar dan dia merasa menyesal bukan main.

Akan tetapi, semua itu telah berlalu!

"Gan-koko, kau memang laki-laki jantan, kau memang hebat"".."

Im-yang-kauwcu berbisik dan hendak memeluk lagi.

"Sudahlah, Bu Siauw Kim, sudahlah jangan kausiksa hatiku, engkau sudah memperoleh apa yang kauinginkan. Dan harap kau tidak melanggar sumpahmu."

"Hi-hik, engkau menyenangkan sekali, ko-ko. Bagaimana mungkin aku melanggar sumpahku? Engkau terlalu jujur sehingga engkau tidak melihat bahwa bagaimanapun juga, tidak mungkin aku mau mengganggu anak isterimu tanpa sebab. Nah, selamat tinggal, Gan-koko, Gan-taihiap, aku tidak akan melupakan kemesraanmu malam ini."

Sekali berkelebat, wanita itu pun menghilang dari taman itu.

Sampai lama Gan Beng Han tidak bergerak masih menutupi muka dengan kedua tangan nya.

Akhirnya dia bangkit juga, berpakaian akan tetapi dia menggigil ketika melangkah ke dalam rumah.

Dia merasa takut untuk memasuki kamar isterinya, untuk bertemu denga isterinya.

Dia merasa malu untuk bertemu dengan anaknya!

Akan tetapi, dia memaksa diri dan akhirnya dia mendorong daun pintu kamar isterinya itu.

Isterinya rebah terlentang di atas pembaringan, wajahnya agak pucat akan tetapi matanya bersinar-sinar.

Seorang anak bayi rebah di dekat Kui Eng, dan bidan yang membantu kelahiran itu masih sibuk membereskan tempat itu.

"Kau dari mana? Mengapa sejak tadi kutunggu tunggu belum juga masuk, suamiku? Lihat, ini anak kita"". anak perempuan"..!"

Kata Kui Eng dengan wajah cerah.

Beng Han berdiri dengan pucat, kedua kakinya menggigil.

Dia memandang kepada Kui Eng, lalu kepada wajah orok itu, kemudian dia mengeluh dan lari menghampiri, menjatuhkan diri berlutut di dekat pembaringan dan membenamkan mukanya di dalam selimut di atas tubuh isterinya.

"Aku takut"". aku cemas mendengar rintihanmu tadi"". ah, betapa khawatir hatiku, Eng-moi""."

Kui Eng tersenyum.

Inikah suaminya, suhengnya, yang gagah perkasa dan selalu tenang dan tak pernah mengenal takut itu?

Dia bangga!

Suaminya ketakutan karena dia!

Dia menggerakkan tangan, mengelus rambut kepala suaminya.

Suami yang amat baik!

Beng Han mengangkat muka dan ternyata kedua matanya basah.

Dia menangkap tangan isterinya dan membawa tangan itu ke depan hidungnya, mulutnya, untuk diciumnya dan di dalam hatinya dia menjerit-jerit minta ampun bahwa baru saja beberapa menit yang lalu dia telah menciumi mata, hidung, pipi dan mulut wanita lain dengan penuh kemesraan, dia telah""..!

"Han-ko, aku tadi bermimpi aneh sekali."

"Bermimpi?"

"Ya, aku melihat bidadari,"

"Bidadari"".?"

Jantungnya Beng Han berdebar tegang.

"Ya, dia tadi menjenguk ke sini, dari jendela itu. Wajahnya cantik jelita sekali, pakaiannya serba putih. Dia tersenyum, manis sekali, Han-ko, dan sekali berkelebat dia lenyap lagi."

"Ahh"".."

"Kau kenapa, Han-ko?"

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa""."

Tahulah Beng Han bahwa Bu Siauw Kim, atau Im-yang-kauwcu, benar-benar telah memegang janji, dan sebelum pergi, wanita itu tadi telah menjenguk isterinya.

Wanita yang hebat luar biasa, dan wanita yang telah menjadi kekasihnya untuk malam itu!

Semenjak peristiwa itu, Beng Han makin tidak mau menonjolkan diri.

Dia tahu bahwa kini banyak muncul orang orang pandai di dunia kang-ouw.

Dia hidup rukun bersama isterinya, merawat dan mendidik anak mereka, yaitu anak orok yang terlahir di malam yang mengesankan itu, yang mereka beri nama Gan Ai Ling.

Seperti telah diceritakan di bagian depan ketika Beng Han menikah dengan Kui Eng, maka secara berturut-turut menikah pula Yap Yu Tek dengan Gan Beng Lian.

Biarpun Yap Yu Tek adalah putera seorang bupati di An-kian, akan tetapi pemuda perkasa ini yang melihat betapa bejatnya keadaan pemerintahan, betapa hampir semua pembesar adalah orang-orang jahat yang berkedok kedudukan dan mempergunakan kedudukan bukan untuk melindungi dan membimbing rakyat melainkan untuk memeras rakyat, dia tidak mau menceburkan diri ke dalam lapangan itu.

Dia bahkan membuka sebuah toko kain dan bekerja sebagai pedagang kecil kecilan bersama isterinya dan hidup cukup tenteram di kota An-kian.

Baru dua tahun setelah mereka menikah, Gan Beng Lian melahirkan seorang anak perempuan yang mereka beri nama Yap Wan Cu.

Suami isteri Gan Beng Han dan Kui Eng agak sering berhubungan dengan keluarga di An-kian ini, karena ibu dari Beng Han masih menjadi nikouw di Kuil Kwan im-bio di luar kota An-kian, maka sering pula suami isteri dari Cin-an ini mengunjungi An-kian.

Akan tetapi, Kui Eng jarang bertemu dengan ibu dan adiknya yang tinggal di kota Ki-ciu.

Hal ini adalah karena Kui Eng masih merasa tidak enak kalau bertemu dengan Ang Min Tek, pria yang pernah dicintanya dan yang kini menjadi suami dari adik tirinya, Bu Swi Lan itu.

Akibat perang masih terasa oleh seluruh penduduk dari daerah yang dilanda dan dilewati pasukan yang berperang Entah berapa ratus ribu orang yang menjadi korban keganasan perang, janda-janda muda, anak-anak yatim piatu.

Akibat perang terasa sekali di Kabupaten Cin an, tempat tinggal pendekar Gan Beng Han dan Kui Eng.

Banyak sekali anak-anak berkeliaran sebagai pengemis-pengemis dalam keadaan yang amat menyedihkan.

Pada suatu hari, Beng Han melihat seorang anak kecil menggeletak pingsan di emper rumahnya.

Anak laki-laki itu masih kecil, usianya paling banyak lima tahun, sebaya dengan Sian Lun yang menjadi seperti anak sulung mereka.

Dengan perasaan kasihan karena dia sendiri pernah mengalami hidup seperti anak itu, menjadi anak gelandangan, akhirnya dengan persetujuan Kui Eng yang juga pernah menjadi korban perang, akhirnya anak itu yang bernama Coa Gin San mereka pungut sebagai murid.

Anak itu diberi pekerjaan membantu para pelayan, juga menggembala kerbau, membersihkan pekarangan dan sebagainya.

Dan ternyata Gin San amat rajin dan pandai mengambil hati orang, maka dia amat disayang oleh Beng Han, Kui Eng, Sian Lun dan juga Ai Ling yang masih kecil.

Demikianlah, keluarga pendekar Gan Beng Han ini hidup tenteram.

Gan Beng Han sebagal seorang pendekar yang jujur tidak merahasiakan peristiwa malam kelahiran Ai Ling itu.

Dengan hati-hati akhirnya dia menceritakan juga kepada isterinya tentang ancaman Im-yang-kauwcu yang amat lihai itu, dan betapa dia terpaksa untuk menyelamatkan anak isterinya telah melayani kehendak wanita yang haus dan gila laki-laki itu.

Mendengar penuturan ini, temu saja Kui Eng menjadi marah dan cemburu menggerogoti hatinya.

Akan tetapi dia lalu sadar bahwa suaminya melakukan hal itu tentu karena terpaksa sekali, karena tidak ingin melihat dia dan anak mereka diganggu oleh iblis betina itu.

Selama bertahun-tahun suami isteri ini tidak mau mencampuri urusan dunia kang-ouw, karena selain mereka maklum betapa nama mereka telah dicatat oleh fihak atasan di kota raja, juga mereka tahu pula betapa berbahayanya untuk ikut-ikut dalam urusan pemberontakan, karena memang mereka bukanlah pemberontak-pemberontak, melainkan pendekar-pendekar.

Mereka maklum betapa orang-orang kang-ouw kini banyak yang muncul, bahkan tokoh-tokoh kaum sesat yang amat sakti banyak yang merajalela di dunia kang-ouw.

Betapapun juga, jiwa kependekaran mereka tak pernah dapat mereka kekang dan setiap terjadi hal-hal yang mendatangkan rasa penasaran, sudah tentu suami isteri ini turun tangan membereskan, membela yang lemah dan menggunakan kepandaian mereka untuk menundukkan mereka yang sewenang-wenang, sehingga biarpun mereka berdua sedapat mungkin menyembunyikan diri dan tidak mau menonjolkan diri, namun hampir semua orang kang-ouw di, sekitar daerah itu mengenal belaka siapa adanya pendekar muda sakti Gan Beng Han dan isterinya.

Di antara tiga ekor naga sakti yang pernah mengamuk di kota raja, seekor telah gugur dan yang dua ekor lagi agaknya kini sedang "bertapa".

Apakah dengan demikian akan berakhir kisah tiga ekor naga sakti ini?

Tidak sama sekali tidak!

Biarpun mereka berdua tidak pernah lagi menonjolkan diri, namun diam-diam Gan Beng Han dan Kui Eng masih terus melatih diri, bahkan mereka mulai menggembleng tiga orang anak itu.

Pertama adalah Tan Sian Lun, keponakan mereka yang semenjak lahirnya Ai Ling tidak lagi menyebut ayah dan ibu kepada mereka, melainkan paman dan bibi.

Anak ini sudah mulai mengerti, maka rahasia tentang dirinya tidak disembunyikan lagi.

Ke dua adalah Ai Ling yang sehari-hari dipanggi Ling Ling.

Dan ke tiga adalah Coa Gin San yang ternyata memiliki bakat baik sekali untuk ilmu silat.

Tiga ekor naga sakti yang pertama mungkin sudah hampir menghilang di antara awan, akan tetapi tiga ekor naga muda yang masih kecil mulai dipupuk oleh suami isteri pendekar itu!

Perang memang merupakan peristiwa terkutuk yang menimbulkan akibat-akibat buruk sekali bagi kehidupan manusia, menghancurkan ketertiban, melenyapkan perikemanusiaan, dan api peperangan membuat makin berkobar api nafsu yang membakar manusia sehingga mereka tidak segan untuk melakukan segala macam tindakan maksiat.

Apa lagi perang saudara seperti yang ditimbulkan oleh pemberontakan An Lu Shan yang disusul oleh pemberontakan-pemberontakan lain sehingga terjadilah perang saudara yang tiada habis-habisnya sampai bertahun-tahun.

Biarpun kemudian pemberontakan yang terakhir, yaitu di bawah pimpinan Sin Su Ming, dapat dihancurkan dan pasukan-pasukan Kerajaan Tang dapat merampas Kota Raja Tiang-an kembali, namun keadaan sudah terlanjur rusak!

Apa lagi karena Kaisar Hian Tiong berhasil menumpas pemberontakan dengan menggunakan bantuan suku-suku bangsa di luar tembok besar, yaitu Suku Bangsa Uighur dan lain-lain.

Hal ini sama artinya dengan mengusir srigala dengan menggunakan bantuan harimau.

Srigalanya memang dapat dibunuh akan tetapi sang harimau kini bercokol di dalam rumah dan merupakan bahaya yang tidak kalah besarnya dari pada ketika sang srigala masih mengganas!

Selain Suku Bangsa Uighur dan lain-lain yang sekali memasuki daerah selatan tidak ingin kembali ke utara lagi, juga perang saudara itu mengakibatkan kelemahan Kerajaan Tang.

Beberapa orang gubernur di Propinsi Shan-si dan Ho-nan mulai hendak memisahkan diri dari kedaulatan kerajaan, mulai memperlihatkan sikap memberontak!

Lebih hebat lagi, dalam keadaan kacau ini rakyat jelata yang tadinya sudah menderita hebat oleh perang yang menimbulkan berbagai macam kekerasan, perampokan, pembunuhan, perkosaan, kini makin menderita oleh munculnya banyak orang-orang jahat yang sengaja memancing di air keruh.

Dan para pembesar juga merupakan lintah-lintah darat yang mempergunakan kesempatan itu untuk menumpuk kekayaan sebanyak mungkin, tentu saja dengan jalan menekan dan memeras rakyat.

Pembesar-pembesar durna macam Thio-thaikam makin besar saja pengaruh dan kekuasaannya.

Kaisar makin menjadi lemah dan tidak bersemangat, menjadi seperti boneka saja dan melewatkan hari-hari tuanya dencan hiburan-hiburan yang sengaja diadakan oleh pembesar-pembesar durna untuk membuat kaisar tetap tidur nyenyak dan berenang dalam kenikmatan dan kesenangan sehingga seolah-olah keadaan semua sudah "beres dan baik"

Saja.

Kaisar tidak pernah dapat mengetahui keadaan rakyat jelata yang amat menderita sebagai akibat perang.

Semua pelaporan para pembesar yang sampai ke telinga kaisar adalah "baik dan memuaskan".

Keadaan ini tentu saja menggerakkan hati banyak pahlawan yang benar-benar mencinta negara dan rakyat.

Mereka ini adalah kaum pendekar yang dengan cara masing-masing berusaha memulihkan ketenteraman dengan menentang kejahatan-kejahatan di mana saja mereka menemukannya Selain kaum pendekar, juga kaum sasterawan menggunakan cara-cara mereka dalam bentuk tulisan-tulisan, sajak-sajak dan penerangan-penerangan untuk menyadarkan para pembesar dan secara tidak langsung menyadarkan kaisar dari kelaliman dan agar para pembesar yang menyebut diri pemimpin itu benar-benar memimpin rakyat ke arah kesejahteraan dan ketenangan hidup.

Satu di antara para pahlawan yang mempergunakan tulisan untuk berjuang menentang kelaliman itu adalah sasterawan Han Gi (768-824).

Han Gi terkenal sebagai seorang sasterawan yang amat tajam tulisannya, berani dan juga cerdik pandai.

Dia berani membela yang benar siapapun mereka, berani pula menentang yang jahat, siapapun juga mereka.

Bahkan dia berani menentang kaisar secara terang-terangan.

Ketika gubernur dari daerah Ho-pei secara terang-terangan memberontak dan tidak mau tunduk terhadap istana, bahkan mulai menyerang daerah tetangganya untuk memperluas daerahnya sebagai permulaan dari pemberontakannya, para thaikam membujuk kaisar untuk mengirim pasukan menghukum gubernur ini.

Akan tetapi, pasukan-pasukan kerajaan tidak berhasil menundukkan pemberontak bahkan banyak jatuh korban, dan tentu saja, rakyat di sepanjang jalan yang dilalui pasukan itu menderita pula, seperti biasa.

Para thaikam pula yang membujuk kaisar untuk mempergunakan pengaruh sasterawan Han Gi yang amat terkenal di daerah Ho-pei.

Han Gi dipanggil dan sasterawan ini menghadap kaisar.

Menerima perintah kaisar agar dia suka mempergunakan kebijaksanaannya untuk membujuk gubernur yang memberontak, Han Gi melihat kepentingan dari tugas ini dan diapun menerima tugas itu.

Tanpa membawa pasukan, hanya diiringkan oleh pasukan kecil pengawal dan membawa tanda utusan kaisar, sasterawan ini pergi menemui pimpinan pemberontak dan mulailah dia mengajak mereka untuk bercakap-cakap dan berdebat tentang pemberontakan itu.

"Saudara sekalian sudah melihat sendiri betapa hebatnya kesengsaraan yang ditimbulkan oleh perang saudara yang lalu ketika An Lu Shan mulai dengan pemberontakannya. Apakah kalian ingin menambah beban rakyat dengan mengorbankan perang saudara lagi? Kalau kalian melakukan hal itu, tentu rakyat tidak akan mendukung, bahkan membenci kalian,"

Demikian antara lain Han Gi berkata.

"Akan tetapi, kaisar sekarang menjadi boneka yang lemah, seluruh pemerintahan berada di tangan para thaikam yang lalim dan tidak adil!"

Seorang perwira tinggi membantah.

"Di dalam rumah ada tikusnya, hal itu sudah wajar. Marilah kita berusaha untuk menangkap, membunuh atau menyingkirkan tikus itu. Akan tetapi tidak perlu kita membakar rumah kita. Kalau ada pembesar yang tidak benar, marilah kita melakukan pembersihan dari dalam, mari kita memperingatkan kaisar agar sadar. Perlukah kita mengobarkan api peperangan yang akan membakar negara dan menyengsarakan rakyat sendiri?"

Dengan bujukan-bujukan yang penuh kebijaksanaan, akhirnya Han Gi berhasil melunakkan hati mereka dan perdamaian dapat diadakan!

Han Gi telah berhasil mencapai perdamaian yang tidak dapat dicapai oleh pasukan-pasukan yang kuat dari kerajaan!

Bukan peristiwa ini saja yang membuat Han Gi amat terkenal, bahkan namanya tercatat dengan tinta emas dalam sejarah.

Diapun berani menudingkan telunjuknya ke hidung pembesar yang paling rendah sampai paling tinggi, termasuk kaisar, untuk menunjukkan kesesatan para pembesar secara terang terangan.

Juga dia terkenal sebagai seorang yang ahli dalam pelajaran-pelajaran Nabi Khong Hu Cu dan dengan gigihnya dia menekankan pelajaian-pelajaran itu agar diterapkan dalam kehidupan dari rakyat yang paling kecil sampai pembesar yang paling tinggi kedudukannya.

Karena ini pula maka sering kali dia bentrok dengan para pembesar yang memeluk Agama Buddha bahkan sikapnya terhadap perbuatan kaisar yang juga beragama Buddha itulah yang mengakibatkan sasterawan ini dihukum buang sampai jauh ke Kwang-tung.

Dalam tahun 819, Kaisar Hian Tiong"

Untuk membangkitkan semangat para pengikut Agam Buddha, dan untuk memperkembangkan agama itu, mengirim pasukan besar yang penuh kemegahan untuk mengawal para pendeta Buddha dalam upacara mengarak benda suci dari Kuil Fa Men Su di Hong Siang Hok ke Tiang an.

Benda suci itu kabarnya adalah sepotong tulang jari dari Sang Buddha sendiri.

Dengan upacara pawai besar benda suci itu dari Kuil Fa Men Su dibawa ke istana dan disimpan di situ selama tiga hari, kemudian dengan upacara kebesaran diarak dari kuil ke kuil yang berada di kota raja.

Sasterawan Han Gi tidak pernah menentang penyebaran Agama Buddha yang dilakukan oleh para pendeta hwesio karena dia maklum akan pentingnya kebebasan bagi rakyat untuk memilih agama apa yang disukai mereka masing-masing.

Akan tetapi, melihat tindakan kaisar yang terang-terangan menyokong suatu agama tertentu, dalam hal ini Agama Buddha untuk memperkembangkan agama itu, membuat dia merasa penasaran.

Dengan berani sekali dia mempergunakan ketajaman penanya untuk menyerang dan memprotes peristiwa ini dalam surat yang ditujukannya langsung kepada kaisar!

Di dalam surat protes yang panjang lebar itu, antara lain terdapat kata-kata seperti ini;

"Buddha adalah nabi dari Negara-negara barat dan kalau sri baginda menghormati dan memujanya, hal itu hanyalah karena paduka mengharapkan usia panjang dan pemerintahan yang damai dan bahagia. Betapapun juga, para kaisar besar di dalam dinasti-dinasti yang lalu, termasuk Kaisar Ui Te, Yu, Tang, Raja-raja Bun dan Bu semua menikmati usia panjang dan pemerintahan yang makmur, walaupun pada waktu-waktu itu belum ada Buddha Buddha adalah seorang asing,dan andaikata beliau masih hidup dan sekarang beliau datang berkunjung ke istana, tentu saja sri baginda boleh menyambutnya dengan segala kehormatan sebagai tamu agung dan menjamunya di Ruang Tamu, seperti yang selayaknya diperlakukan terhadap semua tamu agung yang terhormat. Akan tetapi sekarang sri baginda hendak menerima sepotong tulang jari kering yang katanya adalah jari beliau hal ini sungguh merupakan sesuatu yang berlebihan. Hamba mengusulkan agar tulang itu sebaiknya dibakar saja."

Demikian antara lain surat protes dari Han Gi.

Dan bukan semata mata karena bencl maka sasterawan ini memprotes, melainkan karena dia melihat perbedaan faham dan ajaran amat besar antara pelajaran Nabi Khong Hu Cu dan keadaan Sang Buddha sendiri.

Menurut pelajaran dari Nabi Khong Hu Cu, kebijaksanaan terutama bagi manusia adalah berbakti kepada orang tua dan negara.

Akan tetapi ketika dia mendengar akan riwayat Sang Buddha yang telah meninggalkan istana dan orang tua, tentu saja dia merasa tidak setuju sama sekali, karena dia menganggap hal ini bertentangan sekali dengan faham pelajaran Nabi Khong Hu Cu!

Memang demikianlah kenyataannya sampai kini, faham selalu mendatangkan perpecahan ketidak cocokan, menimbulkan bentrokan dan pertentangan.

Masing-masing kukuh dengan pendapat dan pendirian, kukuh dengan faham dan kepercayaan sendiri-sendiri, dan terdapat sedikit saja perbedaan dalam faham dan kepercayaan itu, tak dapat dielakkan lagi pasti timbul perselisihan.

Karena protes inilah, maka para pembesar, termasuk para thaikam yang telah memeluk agama Buddha, melihat bahaya dalam diri Han Gi.

Jasa-jasanya dilupakan dan para pembesar ini membujuk kaisar sehingga akhirnya Han Gi dijatuhi hukuman buang jauh ke Kuang-tung di mana dia hidup menyepi dan terasing.

Di dalam keadaan kacau inilah cerita ini terjadi, yaitu kurang lebih sepuluh tahun setelah kota raja geger oleh sepak terjang Tiga Naga Sakti yang mengamuk dan hampir saja rnenewaskan Thio-thaikam yang terkenal sebagai thaikam yang berkuasa dan besar pengaruhnya di istana.

Karena kegagalan tiga orang pendekar muda yang terkenal dengan julukan Tiga Naga Sakti itu dalam usaha mereka membunuhnya, maka Thio-thaikam menjadi makin congkak, dan adalah atas usul thaikam ini maka kaisar mengambil keputusan untuk mengarak benda suci yang berupa tulang jari itu!

Hari telah senja dan matahari mulai tenggelam di langit barat, membentuk kebakaran di langit, warna merah api di antara warna langit yang biru menimbulkan pemandangan yang sukar digambarkan keindahannya.

Pendeknya, indah dan megah penuh rahasia!

Dua orang anak laki-laki berusia kurang lebih sepuluh tahun menunggang dua ekor kerbau gemuk dan besar berjalan perlahan menuju ke kampung di depan.

Di belakang mereka berjalan belasan ekor kerbau lain yang malas-malasan, dengan mulut yang tiada hentinya bergerak-gerak mengulangi lagi makanan untuk dilembutkan dengan geraham mereka, kadang-kadang ada yang berhenti sebentar untuk merenggut rumput-rumput hijau muda yang merangsang selera.

Ekor binatang-binatang ini yang kecil pendek, tiada hentinya bergerak ke kanan kiri tanpa sebab, agaknya menjadi tanda bahwa mereka merasa senang.

Dua orang anak itu berpakaian sederhana bertelanjang kaki.

Yang seorang berkulit putih bersih, mukanya bundar seperti bulan, sinar matanya tajam, tubuhnya tegap dengan bahu bidang dan terdapat kegagahan tersembunyi di wajah dan gerak-geriknya.

Dia pendiam dan duduk di atas punggung kerbau sambil menatap langit barat seperti orang tersihir Anak yang ke dua, tubuhnya lebih kecil sungguhpun dia tidak kurus, wajahnya tampan dengan bentuk bulat telur, rambutnya hitam dan panjang sampai ke bawah pundak, berbeda dengan rambut anak pertama yang dipotong pendek.

Hidungnya mancung dan matanya bersinar-sinar hidup sekali, selalu bergerak menandakan bahwa dia lincah gembira dan cerdik.

Kedua orang anak laki-laki itu berpakaian sederhana dan terkena lumpur di sana-sini ketika mereka memandikan kerbau-kerbau itu.

Kalau anak pertama duduk termenung memandang ke arah langit barat yang dibakar matahari tenggelam, anak ke dua itu asyik dengan sebatang suling bambu yang ditiupnya dengan mahir.

Suara tiupan sulingnya mengalun turun naik, menambah kesunyian senja menjadi hening dan anak pertama yang terpesona oleh keindahan langit itu seperti makin tenggelam oleh alunan suara suling.

Akhirnya suara suling itu berhenti dan anak ke dua itu menegur sambil menyentuh lengan temannya dengan sulingnya.

"Eh, suheng! Sejak tadi melamun saja, memikirkan apa sih?"

Anak ini terkekeh ketika melihat suhengnya terkejut oleh sentuhan sulingnya.

Memang anak ini sifatnya nakal, suka menggoda orang dan lincah jenaka, selalu gembira dan penuh senyum dan tawa.

Anak yang pendiam itu menengok kepadanya sejenak, lalu kembali memandang ke barat dan berkata seperti kepada diri sendiri.

"Sute, kaulihat awan hitam di ujung kiri itu! Bukankah bentuknya seperti seekor naga? Seekor naga sakti yang sedang terbang di atas api yang membara. Sute, lihat pula awan-awan yang membentuk rumah-rumah beratap runcing di bawah itu. Agaknya itu adalah istana yang sedang kebakaran dan naga sakti itu terbang di atas kekalutan istana untuk menyelamatkan mereka yang terancam bahaya. Betapa ingin aku menjadi naga sakti itu!"

Memang aneh mendengar seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun mengeluarkan keinginan hatinya seperti itu.

Akan tetapi, anak ini memang bukan anak sembarangan.

Dia adalah murid pertama, juga merupakan keponakan dari sepasang suami isteri pendekar yang amat terkenal di daerah utara Sungai Huang-ho.

Suami isteri pendekar itu adalah Gan Beng Han dan Kui Eng, kakak beradik seperguruan yang kemudian berjodoh dan menjadi suami isteri yang hidup berbahagia dengan seorang anak perempuan yang kini telah berusia delapan tahun.

Anak itu bernama Tan Sian Lun.

Ayah dan ibunya telah meninggal dunia semenjak dia masih kecil sekali.

Ayahnya bernama Tan Bun Hong, sute dari pendekar Gan Beng Han dan ibunya adalah puieri pangeran yang bernama Song Kim Bwee.

Ayah dan ibunya telah tewas karena diserbu pasukan kerajaan atas hasutan Thaikam Thio yang amat berkuasa di istana.

Semenjak ayah bundanya tewas, Tan Sian Lun lalu dipelihara oleh Kui Eng, yaitu sumoi dari Tan Bun Hong, dan kemudian setelah pendekar Gan Beng Han dan sumoinya itu menikah, Tan Sian Lun tetap dipelihara seperti anak sendiri dan diakui sebagai keponakan.

Ketika dia masih kecil, Sian Lun yang tidak tahu apa-apa itu menyebut ayah dan ibu kepada Beng Han dan Kui Eng.

Akan tetapi setelah suami isteri itu mempunyai seorang anak perempuan, dan Sian Lun telah mengerti, isteri itu tidak menyimpan rahasia dan memberitahukan dengan terus terang bahwa Sian Lun sesungguhnya adalah keponakan mereka yang telah dianggap sebagai anak sendiri karena anak ini sudah tidak mempunyai ayah bunda lagil Suami isteri pendekar itu memang menaruh iba kepada Sian Lun dan amat menyayangnya seperti anak sendiri.

Memang bagi mereka tiada bedanya, karena mereka telah memelihara Sian Lun sejak kecil.

Bahkan merekapun menurunkan ilmu-ilmu mereka kepada Sian Lun, menggembleng anak ini bersama-sama anak mereka sendiri, anak perempuan yang bernama Gan Ai Ling itu.

Setelah keponakan dan anak sendiri ini, Beng Han dan isierinya masih mengambil seorang murid lagi yang bernama Coa Gin San.

Anak ini juga seorang anak yatim piatu karena ayah bundanya telah tewas pula ketika dusun tempat tinggalnya dilanda perang saudara.

Karena kasihan dan melihat bakat yang baik dalam diri Gin San, maka Beng Hari dan isterinya lalu mengambilnya sebagai murid dan memberinya pekerjaan menggembala kerbau dan membantu pekerjaan di sawah milik suami isteri itu yang cukup luas di luar kota Cin-an.

Gin San adalah seorang anak yang lincah jenaka, pandai mengambil hati orang dan pandai bergaul, juga tahu diri.

Dia bekerja amat rajin di situ, membantu gurunya sehingga gurunya juga amat menyayangnya dan dalam hal memberi pelajaran ilmu silat, pendekar itu dan isterinya tidak membeda-bedakan, melainkan menggembleng Sian Lun, Ai Ling, dan Gin San sama rata dan tentu saja disesuaikan dengan bakat mereka masing-masing.

Hari itu, Sian Lun ikut bersama Gin San menggembala kerbau.

Memang kadang-kadang dia suka ikut dengan sutenya ini menggembala kerbau atau bekerja di sawah, sungguhpun lebih sering dia berada di rumah karena pemuda cilik ini suka sekali akan pelajaran kesusasteraan, suka membaca kitab-kitab dan cerita-cerita tentang para pendekar dan pahlawan di jaman dahulu, membaca sajak dan filsafat-filsafat.

Mendengar ucapan suhengnya itu.

Gin San yang memang biasa bergaul dengan suhengnya secara akrab, sama sekali tidak terdapat perasaan berbeda kedudukan sungguhpun Sian Lun adalah keponakan dari majikan dan juga gurunya, terkekeh geli.

"Heh-heh-heh, engkau sungguh aneh, suheng! Bagiku, di langit itu tidak kelihatan naga atau istana terbakar, akan tetapi penuh dengan emas permata!"

"Eh, emas permata? Yang mana, sute?"

"Lihat saja itu, warna kuning emas itu, bukankah itu lautan emas membentang luas di sana? Dan warna-warna merah dan biru itu adalah warna-warna permata yang amat mahal harganya. Dari pada menjadi naga yang terancam bahaya terbakar pula dan menjadi belut panggang, lebih baik kalau dapat meraih dan memiliki emas permata itu, menjadi orang kaya raya, berkedudukan tinggi dan mulia!"

Sian Lun memandang lagi ke atas akan tetapi angin telah merobah bentuk-bentuk awan itu dan dia tidak tertarik lagi.

"Pakaian kita kotor terkena lumpur, sebaiknya kalau kita mencuci kotoran ini di telaga kecil itu agar jangan sampai dimarahi nanti."

"Ah. suhu dan subo tidak akan memarahimu, suheng, akan tetapi aku tentu akan ditegur!"

Mendengar ucapan ini, Sian Lun memandang sutenya dengan alis berkerut dan mata penuh teguran.

"Sute, sejak kapankah paman dan bibi membeda-bedakan antara engkau dan aku? Apakah karena aku keponakan mereka dan engkau bukan maka ada perbedaan? Dengan ucapan itu engkau seakan-akan merasa iri, sute."

Gin San cepat mengangkat tangannya ke atas.

"Ah, tidak"".. tidak, suheng. Jangan salah mengerti. Aku hanya hendak mengatakan bahwa suhu dan subo amat sayang kepadamu karena suheng selalu baik dan bersih sedangkan aku"".. heh-heh, aku nakal dan sering sekali membikin mereka marah."

Hal ini memang benar dan Sian Lun tidak mau memperpanjang persoalan itu.

Dia tahu bahwa sutenya ini memang nakal dan suka menganggu orang sehingga sering kali menerima teguran dari paman dan bibinya.

Biarpun dia terhitung murid dari mereka bahkan seperti anak mereka sendiri, akan tetapi karena mendiang ayahnya adalah saudara seperguruan mereka, maka dia menyebut mereka paman dan bibi.

Dua orang anak itu lalu membelokkan kerbau-kerbau itu ke sebuah telaga kecil dan setelah melepas kerbau-kerbau itu makan rumput di tepi telaga, mereka lalu mandi dan mencuci bagian pakaian mereka yang terkena lumpur.

(Lanjut ke

Jilid 16) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 16 Akan tetapi, Gin San yang sudah selesai mencuci bagian yang berlumpur dan menggantung pakaiannya itu di dahan pohon agar cepat kering, sudah terjun dan berenang ke tengah, lalu menepi di tepi seberang.

Setelah selesai mencuci noda lumpur pada bajunya, Sian Lun menengok dan mencari-cari sutenya, akan tetapi tidak kelihatan sutenya di air telaga.

Maka mulailah dia berteriak memanggil manggil karena senja makin larut dan tak lama lagi tentu cuaca menjadi gelap.

"Suteeee"".!! Gin San"".!!"

Teriaknya berkali-kali.

Tiba-tiba terdengar jawaban dan anak itu datang berlari-lari sambil membawa beberapa buah benda putih yang dipondongnya.

Dia tidak kembali melalui air melainkan berlarian di.

sepanjang tepi telaga, menghampiri suhengnya.

"Suheng, lihat apa yang kutemukan di tepi telaga sana tadi!"

Anak itu memperlihatkan benda-benda itu dan Sian Lun meloncat ke belakang dengan jijik.

"Ihhh"".! Untuk apa kaubawa-bawa tengkorak dan tulang-tulang ini?"

Teriaknya dan dia bergidik ngeri. Gin San tertawa.

"Hi-hik, mengapa suheng takut? Ini adalah tulang-tulang manusia. Lihat tengkorak ini bersih dan halus. Aku mendapatkannya berserakan di tepi telaga yang longsor! Agaknya tempat itu dahulu menjadi kuburan dan karena longsor maka tulang-tulang dan tengkorak ini berserakan."

"Sute, untuk apa kauambil benda-benda ini? Menjijikkan dan menyeramkan saja."

"Untuk menakut-nakuti orang, suheng. Anak-anak perempuan itu tentu akan lari cerai-berai, heh-heh."

Sian Lun tidak memperdulikan lagi.

"Hayo kita cepat pulang, sebentar lagi gelap,"

Katanya dan dia menggunakan ranting menggiring kerbau-kerbau itu meninggalkan tepi telaga menuju pulang.

Gin San juga cepat menggiring Kerbau-kerbau itu sambil membawa tulang-tulang dan tengkorak manusia yang ditemukan di tepi telaga tadi.

Melihat ini, Sian Lun berkata lagi.

"Sute, kenapa tidak kau buang saja tengkorak dan tulang-tulang itu? Sungguh aneh kau ini, benda macam itu bukan barang mainan!"

Biarpun berkata demikian, namun diam-diam Sian Lun kagum sekali akan keberanian sutenya. Dia sendiri tidak berani bermain-main dengan tulang tulang manusia itu.

"Suheng, bukankah malam nanti ada pesta di kota untuk menyambut lewatnya rombongan pembawa benda suci itu?"

"Benar, kitapun sudah di janji oleh paman untuk diperbolehkan nonton keramaian bersama sumoi."

"Nah, kabarnya yang disebut benda suci itu adalah sepotong tulang jari tangan. Nah, apa bedanya dengan ini?"

Dia memegang sepotong jari tangan yang masih melekat di antara tulang lain yang dibawanya.

"Aku akan muncul dengan ini dan lihat apakah mereka itu, terutama wanita-wanitanya, mau menyembah-nyembah tulang-tulang ini ataukah mereka akan menjerit-jerit dan lari berserabutan. Heh-heh, alangkah akan lucunya!"

"Hemm, sute, jangan main-main. Engkau tentu akan dimarahi banyak orang""."

"Aku tidak takut, suheng."

"Akan tetapi aku tidak mau ikut mempertanggung jawabkan perbuatanmu yang usil itu."

"Jangan khawatir, aku akan menanggungnya sendiri, suheng. Asal engkau mau merahasiakan ini dan jangan memberitahukan kepada suhu dan subo "

"Kau tahu aku tidak sudi mengadukan orang,"

Jawab Sian Lun singkat dan mereka tidak bicara lagi.

Setelah tiba di rumah guru mereka yang luas.

Gin San menggiring kerbau kerbau itu ke kandang dan cepat menyembunyikan tengkorak dan tulang-tulang itu di sudut kandang, menutupinya dengan rumput rumput kering.

Gan Ai Ling, anak perempuan berusia delapan tahun, puteri tunggal dari Gan Beng Han dan Kui Eng, menyambut mereka sambil berlari-larian.

"Twa-suheng, ji-suheng""..kenapa kalian terlambat sekali? Lihat, aku sudah siap untuk pergi menonton keramaian! Dan kalian belum makan, belum mandi""!"

Melihat Gin San cepat-cepat memasuki kandang, Sian Lun lalu menghadapi Ai Ling dan menahan anak perempuan ini agar jangan melihat tengkorak yang dibawa Gin San.

"Kami berdua sudah mandi, sumoi. Mandi di telaga, tinggal berganti pakaian dan makan saja. Tidak akan lama."

Ketika tadi menggiring kerbau memasuki kota, dua orang anak laki-laki itu sudah melihat suasana pesta di kota.

Di sepanjang jalan yang akan dilalui oleh rombongan pembawa benda suci telah dihias dengan kertas-kertas berwarna, bunga-bunga dan lentera-lentera.

Rombongan akan lewat besok pagi akan tetapi malam itu orang-orang akan mengadakan keramaian dan pertunjukan yang semarak untuk menghormati peristiwa itu.

Tentu saja semua ini digerakkan oleh kepala daerah yang ingin menjilat dan menyenangkan hati kaisar yang sedang berusaha mempropagandakan Agama Buddha dengan upacara perarakan dan penyambutan benda suci itu.

Ada beberapa ekor mainan liong diperagakan, ada pula barongsai dan kilin.

Anak anak itu kini bergegas, berganti pakaian dan tak lama kemudian ketiganya sudah berpamit kepada Gan Beng Han dan isterinya, Kui Eng.

Suami isteri pendekar ini mengangguk dan tersenyum sambil berpesan agar mereka tidak pulang terlalu malam.

"Sian Lun, kau jaga baik-baik adikmu,"

Kata Kui Eng kepada anak itu dan Sian Lun mengangguk.

Tentu saja dia akan menjaga Ling Lin dengan baik, kalau perlu dia bersedia untuk melindungi dan membela dengan taruhan nyawanya.

Dia amat sayang kepada Ling Ling biarpun anak ini kadang-kadang bengal dan suka menggoda orang.

Di sepanjang jalan, banyak orang yang kagum dan memuji Ling Ling atau Gan Ai Ling yang baru berusia delapan tahun, yang mengenakan pakaian biru muda dengan pita rambut merah itu karena Ling Ling memang amat manis dan mungil.

Sepasang matanya bersinar-sinar penuh kegembiraan ketika mereka mulai mendengar suara canang dan tambur yang saling sahutan bergemuruh, tanda bahwa barongsai-barongsai, kilin-kilin, dan liong-liong itu sudah mulai berlagak.

Orang-orang hilir-mudik memenuhi jalan raya dan setiap rumah di tepi jalan terbuka lebar-lebar dan diterangi lampu, dan di depan setiap rumah dihias kertas berwarna untuk menyambut pesta itu.

Ketika mereka bertiga berjejalan dengan orang-orang, tiba-tiba Ling Ling menengok ke kanan kiri dan bertanya sambil memegang lengan Sian Lun.

"Twa-suheng, ke mana perginya ji-suheng?"

Sian Lun juga memandang ke kanan kiri yang penuh orang.

Karena mereka itu kalah tinggi dengan orang-orang dewasa tentu saja sukar bagi mereka untuk mencari Gin San yang tidak kelihatan itu.

Pula, Sian Lun sudah menduga bahwa tentu si bengal itu sudah menyelinap pergi untuk mengambil tulang-tulang dan tengkoraknya, maka dia menjawab.

"Biarlah dia tidak akan hilang. Biar dia nonton sendiri dan kau nonton bersamaku. Akan tetapi, engkau tidak boleh berpisah dariku, sumoi. Aku tentu akan mendapat marah dari paman dan bibi kalau sampai kita saling terpisah."

Ling Ling memegang tangan suhengnya.

"Tidak, akupun takut kalau sendirian, suheng."

"Kau? Takut?"

Sian Lun tersenyum. Sepanjang ingatannya, gadis cilik ini tidak pernah mengenal takut! Baik terhadap manusia maupun terhadap setan! "Aku ngeri melihat liong itu, seperti hidup dan begitu menyeramkan!"

Kata Ling Ling.

Mereka maju terus, hanyut oleh gelombang nanusia yang menuju ke tempat di mana liong itu sedang dimainkan, di lapangan terbuka dan di situ ada beberapa orang hartawan yang melempar-lemparkan mercon sehingga liong itu "menari"

Makin indah di antara asap yang membentuk awan, nampak seperti seekor naga tulen beterbangan di antara awan-awan dan suara mercon yang gemuruh itu bersaing dengan suara canang dan tambur.

Sian Lun yang menggandeng tangan sumoi-nya, menyelinap di antara para penonton untuk mencari tempat di depan.

Beberapa orang mengomel, akan tetapi ketika mengenal mereka sebagai anak dan murid sepasang pendekar Gan Beng Han, mereka malah cepat memberi jalan sehingga akhirnya dua orang anak itu dapat berdiri terdepan.

Ling Ling kadang-kadang merapatkan tubuhnya kepada suhengnya karena ngeri kalau ada mercon yang meledak di dekatnya.

Para hartawan dan para hwesio melempar-lemparkan mercon itu dari depan kelenteng karena liong itu bermain di halaman kuil itu yang luas.

Di kuil inilah besok benda suci itu disambut, berhenti sebentar karena para pembawa benda suci yang merupakan rombongan yang dihormati, akan beristirahat dan makan siang di kuil itu.

Gin San memang tidak nampak di situ.

Tepat seperti dugaan hati Sian Lun, setelah tadi berjalan dengan orang banyak, diam-diam Gin San menyelinap meninggalkan sumoinya dan suhengnya, lalu berlari kembali ke kandang kerbau gurunya dan diam-diam dia mengambil tulang dan tengkorak manusia itu dari simpanannya di bawah tumpukan rumput kering.

Sambil tertawa-tawa geli seorang diri, anak ini lalu memasang-masangkan kaki dan tangan rangka itu, disambungnya dengan tali dan dengan bantuan kayu dia dapat membuat rangka itu lengkap dengan kepalanya, lengan dan kakinya.

Lalu dimasukkannya rangka itu dalam karung dan dibawanya lari keluar, terus dia kembali ke tempat ramai tadi.

Dia tidak menuju ke tempat permainan liong di depan kuil karena dia maklum bahwa suheng dan sumoinya berada di situ.

Dia tidak ingin terlihat oleh suhengnya, apa lagi sumoinya, karena takut sumoinya mengadu kepada suhu dan subonya.

Kini dia memanggul karung itu menuju ke pendopo gedung kepala daerah di mana juga terdapat keramaian karena selain singgah di kuil itu, juga rombongan pembawa benda suci akan mampir di pendopo ini Menerima penghormatan pembesar setempat, sebagai utusan kaisar yang terhormat.

Di pendopo inilah diadakan tarian barongsai dan kilin yang tidak kalah ramainya, juga dilempari mercon-mercon.

Gin San memilih tempat yang gelap.

Di depan pendopo itu terdapat sebuah pohon besar dan sinar penerangan terhalang oleh daun-daun pohon sehingga bawah pohon itu agak gelap.

Akan tetapi ada beberapa orang wanita yang nonton permainan barongsai dan kilin dari bawah pohon ini karena tanah di bawah pohon itu lebih tinggi sehingga dari situ dapat nampak permainan di pendopo itu dengan jelas.

Seperti biasa, di mana ada wanita-wanita muda di situ tentu ada pria-pria yang merubungnya, seperti juga di mana ada kembang-kembang tentu di situ datang kumbang-kumbang mengitarinya.

Dan seperti juga kumbang-kumbang yang mencumbu kembang-kembang untuk mencari sari madu, kaum pria itu sambil tersenyum-senyum mulai pula mencumbu rayu untuk memikat hati wanita itu, janda-janda muda atau pelayan pelayan yang dalam kesempatan itu mempersolek diri dan keluar dari dalam rumah, untuk nonton keramaianyang hanya menjadi dalih karena sesungguhnya adalah untuk mempertontonkan diri mereka!

Maka terdengarlah gelak tawa di bawah pohon ini, kekeh genit dan ucapan-ucapan yang penuh arti dan sindiran.

Tiba-tiba, dari bagian yang paling gelap di bawah pohon, terdengar suara aneh.

"Hooohhhh, trak-trak trakk"".!"

Seorang wanita muda menoleh, terbelalak dan menjerit, lalu roboh pingsan! Beberapa orang wanita terkejut dan menoleh dan""

Terdengar jerit-jerit ketakutan dan para wanita itu lari berserabutan, ada yang sampai terkencing-kencing, ada yang jatuh bangun dan saking takutnya ada yang merangkak-rangkak karena tidak mampu bangkit berdiri.

"Ssseeeetaaaannn"".."

"Ssii"".sssiii"".. sssilumannnn"".!"

Kini bukan hanya para wanita muda yang tadi tertawa-tawa genit itu yang ketakutan dan lari tunggang-langgang, juga para pria yang tadi membujuk rayu menjadi panik, apa lagi ketika mereka melihat di tempat gelap itu jelas ada rangka manusia yang menari-nari, mengeluarkan suara "trak-trak-trrrakk""."

Ketika tulang-tulang itu saling beradu dan didahului atau dilanjutkan dengan suara gerengan "hoohh...."

Amat menyeramkan!

Ketika para pria itu dan orang-orang lain mampu menguasai rasa takut mereka karena pengaruh orang banyak dan mereka berindap-indap kembali ke bawah pohon dengan kedua tangan terkepal akan tetapi kaki mereka gemetar dan siap untuk meloncat dan lari, ternyata di tempat itu sudah kosong tidak ada apa-apanya.

Mereka mencari-cari di sekitar pohon itu, namun setan atau siluman tengkorak itu tidak nampak lagi!

Tentu saja semua orang menjadi terheran-heran dan makin yakinlah mereka bahwa tadi mereka benar-benar melihat setan.

Para wanita yang masih ketakutan segera cepat pulang dan kesempatan ini dipergunakan oleh para pria untuk mengantar mereka pulang, atau mungkin membawa mereka ke kamar sendiri atau ke tempat-tempat tertentu untuk "menghibur"

Mereka dari rasa takut.

Dalam keadaan apapun juga, selalu terbuka saja kesempatan bagi mereka yang hendak melakukan kemaksiatan.

Napsu timbul dari pikiran, dan pikiran amatlah licin cerdik.

Ada saja akal yang diciptakan pikiran untuk melampiaskan dorongan napsu dan menyenangkan tubuh.

Sementara itu, seorang anak laki-laki menahan tawanya menyaksikan kekacauan yang ditimbulkan olehnya sendiri.

Anak ini adalah Gin San, tentu saja.

Dan setan atau siluman tadi juga dia yang melakukan penyamaran untuk menggoda orang.

Setelah menyembunyikan tengkorak dan tulang-tulang rangka, dia pura-pura ikut mencari setan sambil menahan geli hatinya.

Akan tetapi setelah para wanita itu pergi dan tempat itu tidak lagi menjadi gelanggang pertemuan, Gin San tertarik untuk menonton liong yang bermain di depan kuil.

Dia membawa tengkorak yang disembunyikan di bawah bajunya, sedangkan tulang-tulang itu ditinggalkannya begitu saja di bawah pohon, tersembunyi di antara semak-semak.

Dia suka bermain-main dengan tengkorak manusia itu, maka tengkorak itu dibawanya karena dia merasa sayang kalau dibuang.

Tidak mudah mencari tengkorak seperti ini, pikirnya, dan dia termaksud untuk menakut-nakuti anak-anak dengan tengkorak itu.

Anak yang cerdik ini menyelinap di antara para penonton dan kalau ada penonton yang kurang senang karena didesaknya, dia cepat berkata.

"Aku mau melihat ayah, ayahku ikut main liong."

Mendengar ucapan ini, orang itu tidak jadi marah dan memberi jalan kepadanya.

Dengan cara ini, Gin San dapat mendesak sampai ke depan.

Akan tetapi karena liong sedang berlagak dan beterbangan di antara awan-awan yang tercipta dari asap mercon, maka dia tidak dapat melihat Sian Lun dan Ai Ling yang juga berdiri di depan, akan tetapi di seberang yang lain.

Gin San memandang dengan sepasang mata bersinar-sinar saking kagumnya.

Kagum kepada para pemain liong yang demikian mahir mempermainkan naga itu sehingga seolah-olah benar-benar seekor naga sakti yang hidup, apa lagi dengan adanya hujan mercon itu menambah hidupnya suasana.

Demikian cekatan mereka main, dengan langkah-langkah kaki teratur dan kedua tangan memegang gagang tubuh naga yang terbagi menjadi belasan dan masing-masing dipegang gagang penyangganya oleh seorang pemain.

Yang paling mengagumkan adalah si pemain cu (mustika) yang.bulat dapat berputar dan mengeluaikan suara berkerincingan.

Dengan gerakan-gerakan kaki tangan bersilat dia mainkan mustika naga itu ke kanan kiri atas bawah dan pemain atau pemegang gagang yang menyangga kepala naga terus mengikuti gerakan mustika itu.

Pemegang kepala naga ini haruslah seorang yang memiliki tenaga yang kuat karena kepala itu merupakan bagian terberat, apa lagi harus diayun-ayun mengikuti gerakan mustika agar kelihatan "hidup".

Selain pemegang mustika yang harus memiliki gerakan silat indah dan pemegang kepala yang harus memiliki tenaga besar, dalam permainan liong ini yang terhitung berat adalah pemegang bagian leher dan bagian ekor.

Bagian ekor ini juga berat, sungguhpun tidak seberat kepala, akan tetapi sering kali bagian ekor harus pandai cepat-cepat memutar ekor itu kalau kepala naga menyusup di bawah bagian tubuhnya agar tidak sampai membelit.

Dan bagian leher harus waspada karena dia merupakan penunjang bagian kepala.

Dia harus selalu mendekatkan bagian leher itu dengan kepala, maka dia haruslah seorang yang cekatan.

Sekali saja dia kurang waspada dan menahan leher itu, kepala itu akan tertarik ke belakang dan ini berbahaya sekali, dapat merobohkan pemegang kepala sehingga tentu saja permainan itu akan menjadi rusak dan kacau.

Selagi naga yang berwarna merah ini main, naga-naga lain yang berwarna hijau dan biru nenanti di pinggiran, menanti giliran mereka dan para pemegangnya menaruh gagang yang panjang di atas tanah, diberdirikan dan digoyang-goyang sehingga biarpun naga itu tidak sedang main, namun kelihatan hidup tanpa para pemainnya mengeluarkan tenaga karena yang menyangga adalah tanah.

Gin San adalah seorang anak yang awas.

Dia tidak terpesona oleh permainan itu seperti anak-anak lain dan dia masih waspada terhadap hal-hal lain yang terjadi di sekelilingnya.

Oleh karena sifatnya inilah maka dia dapat nelihat apa yang orang orang lain tidak melihatnya.

Di dekat tempat dia berdiri, dia melihat ada dua orang laki laki setengah tua yang nendengarkan bisikan-bisikan seorang laki-laki tua berjenggot panjang.

Pakaian tiga orang ini seperti pakaian pendeta tosu (Agama To) dan di punggung dua orang yang setengah tua itu terselip pedang.

Dalam kegaduhan suara canang dan tambur itu, tentu saja dia tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, akan tetapi dia melihat mereka bertiga kadang-kadang menoleh ke kanan kiri dan pandang mata Gin San yang tajam dapat menangkap betapa mereka seperti saling pandang dan salinn memberi isyarat kepada beberapa orang laki-laki setengah tua yang berdiri di bagian lain dan mereka semua juga berpakaian seperti pendeta-pendeta tosu!

Dari sikap mereka, Gin San dapat menduga bahwa para pendeta tosu setengah tua itu agaknya dipimpin oleh kakek berjenggot panjang itu.

Kemudian, dia melihat kakek itu mengangguk dan melangkah pergi, menyelinap di antara banyak orang dan mendekati tempat naga biru sedang beristirahat menanti giliran main, dan Gin San melihat betapa belasan orang tosu yang lainnya juga bergerak ke tempat itu, yaitu di pinggir sebelah kiri dari kuil.

Dia merasa tertarik sekali karena gerak-gerik mereka itu aneh.

Di manapun mereka itu menyelinap, para penonton terdorong ke kanan kiri, tanda bahwa mereka adalah orang orang yang kuat sekali!

Setelah tiba di dekat naga biru itu, Gin San melihat hal yang amat aneh.

Belasan orang tosu itu, dipimpin oleh si kakek, menghampiri para pemain naga biru yang kini berdiri di samping naga mereka yang digoyang-goyang dalam istirahat dan tiba-tiba saja para tosu itu mengambil alih gagang-gagang penyangga naga dari tangan para pemain yang berpakaian biru dan bersabuk kuning itu.

Yang amat mengherankan, belasan orang pemain naga biru itu seperti tidak tahu atau seperti telah berobah menjadi patung, membiarkan saja gagang-gagang penyangga naga itu diambil orang lain dan mereka tetap berdiri dengan bengong!

Akan tetapi Gin San adalah murid suami isteri pendekar yang berilmu tinggi.

Biarpun dia masih kecil dan tentu saja belum menerima pelajaran tentang Tiam-hiat-hoa (Ilmu Menotok Jalan Darah), namun dia dapat menduga bahwa para pemain naga biru itu telah tertotok secara hebat sekali sehingga mereka tidak mampu bergerak sama sekali dan menjadi seperti patung di tempat mereka!

Tentu akan terjadi hal yang hebat, pikirnya.

Dia melihat kakek tua berjenggot panjang itu juga telah merampas gagang cu, yaitu mustika naga tanpa si pemegang cu melawan sedikitpun!

Juga para penabuh canang dan tambur yang terdiri dari lima orang, telah dirampas alat-alat tetabuhan mereka oleh lima orang tosu.

Semua ini terjadi dengan amat cepatnya tanpa diketahui orang lain karena mereka semua sedang asyik menonton permainan liong merah, seperti terpesona oleh gerakan liong ini sehingga tidak dapat melihat hal-hal lain yang terjadi di situ.

Dan kalau ada yang kebetulan melihatnya, mereka tentu akan menyangka bahwa para tosu itu adalah teman enam para pemain naga biru yang sengaja menggantikan tugas mereka!

Gin San amat tertarik dan tanpa disadarinya dia mendekati naga biru itu.

Para tosu itu agaknya tidak memperhatikan seorang anak kecil yang longak-longok di dekat mereka.

Akan tetapi, Gin San menghampiri seorang di antara pemain naga biru yang berpakaian biru dan bersabuk kuning, diam-diam dia mendorong tubuh orang ini dari belakang.

Orang itu seperti telah berubah menjadi arca, ketika didorong dia bergoyang-goyang dan roboh!

Melihat ini, kakek pemegang cu segera berderu.

"Mulai!"

Dan terdengarlah suara gaduh dan para penabuh canang dan tambur dari naga biru mulai beraksi!

Mereka memukul canang dan tambur dengan keras sekali sehingga suara tetabuhan mereka jauh lebih nyaring dari pada tabuhan naga merah!

Tentu saja suara-suara itu menjadi kacau balau dan barulah hal ini menarik perhatian para penonton.

Juga para penabuh iringan musik naga merah terkejut.

Lebih kacau lagi adalah para pemain naga merah karena irama yang mengikuti mereka kini kacau balau dengan tetabuhan lain sehingga langkah-langkah mereka menjadi usak!

Sebelum para penonton hilang rasa kaget dan heran mereka, tiba-tiba naga biru itu bergerak dengan tangkasnya memasuki medan permainan di depan kuil itu!

Begitu tangkas gerakan mereka, begitu cepatnya dan naga itu kadang kadang diangkat tinggi-tinggi, bahkan para pemainnya meloncat dalam saat yang berlamaan sehingga naga biru itu seoiah-olah hidup dan benar-benar hendak terbang ke angkasa!

Para penonton yang terheran-heran kini bersorak gembira.

Tentu saja mereka merasa gembira sekali disuguhi tontonan istimewa ini, di mana ada dua naga sedang berlagak.

Dan para hwesio serta hartawan yang melempar-lemparkan mercon, kini agaknya menganggap munculnya naga biru merupakan suatu selingan yang disengaja untuk menambah meriah suasana, maka merekapun menjadi makin gembira dan menghujankan mercon lebih gencar lagi!

Terjadilah pemandangan yang aneh dan amat indah.

Di antara asap yang bergulung-gulung dan kadang-kadang diseling sinar api mercon meledak, nampak dua ekor naga, merah dan biru seperti saling bertempur!

Agaknya para pemain naga merah juga terbawa gembira dan mengira bahwa rekan-rekan mereka para pemain naga biru itu memang sengaja hendak mengajak mereka berlumba kepandaian memainkan liong!

Hanya ada beberapa orang saja diantara mereka yang terheran-heran mengapa para pemain naga biru tidak berpakaian biru.

Dalam kegaduhan suara dua perangkat musik itu, teriakan-teriakan para penonton di dekat tempat naga biru tadi istirahat tidak terdengar orang.

Para penonton di bagian ini memang menjadi panik dan terkejut melihat para pemain naga biru yang berpakaian serba biru itu, yang tadi berdiri seperti patung, kini semua roboh dan tidak bergerak lagi seperti telah mati!

Akan tetapi, kegaduhan luar biasa dari musik yang tidak teratur dan saling bersaing bising itu, pemandangan yang tertutup asap tebal dan perhatian yang dicurahkan kepada naga merah dan naga biru yang seolah-olah saling bertanding dan saling menyerang, membuat para penonton lain tidak tahu akan peristiwa aneh itu.

Barulah para penonton menjadi terheran-heran, akan tetapi tetap saja makin gembira, ketika mereka melihat pemain mustika naga merah dan pemain mustika naga biru yang ternyata seorang kakek berjenggot panjang, kini sedang bertanding menggunakan gagang cu (mustika) mereka sebagai toya!

Demikian pula pemegang kepala naga merah dan naga biru, kini saling serang dan karena kedua tangan mereka memegang kepala naga, mereka hanya saling serang dengan kaki mereka yang menendang-nendang!

Para penonton bersorak-sorak gembira.

Sungguh merupakan tontonan yang selama hidup belum pernah mereka saksikan.

Bayangkan saja!

Dua ekor naga bertempur seperti sungguh-sungguh di bawah iringan dua perangkat musik yang riuh rendah suaranya, di antara hujan mercon dan bergulungnya asap!

Dan mereka itu bertempur begitu sungguh-sungguh, begitu hidup sehingga para penonton tentu akan sukar melupakan kesan yang amat hebat ini!

Akan tetapi, tiba-tiba muncul seorang anak kecil yang melompat ke tengah medan bertempuran!

Anak itu berteriak-teriak akan tetapi tidak ada orang yang dapat mendengar suaranya.

Semua orang terbelalak karena anak itu membawa sebuah tenckorak manusia yang diangkat ke atas dan anak itu membuat gerakan yang ringan dan cekatan, meloncat dan menghantamkan tengkorak itu ke arah kepala kakek berjenggot panjang yang memainkan cu naga biru!

Kakek itu terkejut, apa lagi melihat anak itu menggunakan sebuah tengkorak tulen untuk menghantamnya.

"Uhh""!!"

Dia berteriak sambil menangkis toya pemegang cu naga merah, kemudian kakinya menyambar dan menendang.

"Dess"..!"

Gin San, anak itu, tidak mungkin dapat menghindarkan tendangan hebat itu.

Anak ini tadi melihat betapa para pemain naga biru semua kena totokan, maka setelah dia mendorong-dorong mereka roboh semua, dia lalu berteriak-teriak untuk memberi tahu orang bahwa para pemain naga biru itu adalah palsu semua.

Akan tetapi suaranya tenggelam dalam kegaduhan canang dan tambur yang dipukul berbareng tanpa aturan itu.

Akhirnya, melihat pertempuran, anak yang merasa penasaran ini lalu melompat dan menyerang kakek berjenggot panjang yang dia tahu merupakan pimpinan para pemain palsu itu.

Akan tetapi betapapun lincahnya, apa daya seorang anak kecil berusia sepuluh tahun terhadap seorang yang berkepandaian tinggi seperti kakek itu?

Sekali tendang saja.

tubuh Gin San mencelat ke atas dan""..

kebetulan sekali dia terlempar ke atas kepala naga biru!

"Bukk!"

Gin San yang terbanting duduk di atas kepala naga biru, cepat menggunakan tangan kirinya untuk memegangi tanduk naga biru dan mengempitkan kedua kakinya, sedangkan tangan kanannya masih memegangi tengkorak manusia.

Para penonton bersorak gegap-gempita!

Mereka makin gembira karena mereka masih nengira bahwa semua itu adalah permainan yang amat mengasyikkan.

Mereka mengira bahwa bocah itu memang termasuk rombongan pemain, apa lagi karena bocah itu memegang sebuah tengkorak.

Mereka menuding-nuding ke arah Gin San, tertawa-tawa dan memuji-muji ketabahan anak itu yang kini terbawa oleh gerakan kepala naga biru.

Karena kepala naga itu bergerak-gerak naik turun dan ke kanan kiri, maka Gin San harus mempergunakan semua tenaganya untuk mempertahankan dirinya agar jangan sampai terlempar atau jatuh.

Tentu saja dia kelihatan seperti seorang yang menunggang kuda liar dan pemandangan ini lucu sekali, memancing gelak tawa para penonton Akan tetapi, tiba-tiba suara ketawa para penonton terhenti, semua mata memandang terbelalak dan terdengarlah pekik di sana-sini, wajah-wajah menjadi pucat ketika mereka melihat betapa pemain mustika naga merah kini roboh oleh tusukan toya kakek pemain mustika naga biru!

Dan robohnya pemain mustika naga merah ini seolah-olah menjadi isyarat bagi para pemain naga biru karena kini mereka menerjang dengan kaki mereka kepada para pemain naga merah dan dalam waktu singkat saja para pemain itu roboh dan naga merah itupun terbanting ke atas tanah bersama para pemainnya.

Lebih hebat lagi, kini para penabuh canang dan tambur pengiring naga biru sudah melemparkan alat-alat musik mereka dan langsung mereka menyerang para penabuh musik pengiring naga merah.

Terjadilah perkelahian hebat.

Penonton bubar!

Gegerlah para penonton, panik dan mereka lari saling terjang, ada yang jatuh terinjak-injak, teriakan-teriakan dan jerit-jerit terdengar seolah-olah tempat itu dilanda perang!

Sebentar saja, para pemain music pengiring naga merah sudah dirobohkan oleh lima orang tosu penabuh music pengiring naga biru, dan kini para pemain naga biru itu membawa naga mereka menerjang ke dalam kuil!

Para hartawan melarikan diri sedangkan para hwesio mencoba untuk menahan, akan tetapi mereka itu dirobohkan oleh amukan naga biru!

Tempat pesta yang tadinya meriah itu kini menjadi kacau-balau dan geger.

Jerit tangis mulai terdengar dari para wanita yang ketakutan, anak-anak yang terpisah dari orang tua mereka, dan orang-orang yang terjatuh dan terinjak-injak.

Dan di dalam kuil terdengar suara gaduh ketika naga biru itu mengamuk merobohkan meja-meja sembahyang dan merobohkan siapa saja yang berani menghalangi perbuatan mereka.

Akan tetapi naga biru yang seperti kemasukan setan itu tidak lama mengamuk ke dalam kuil.

Setelah merobohkan meja sembahyang mereka keluar lagi dan ternyata Gin San masih mendekam di atas kepala naga biru dan, tengkorak itu masih didekapnya!

Akan tetapi tentu saja dia merasa tersiksa dan ngeri matanya terbelalak dan mukanya pucat.

"Sute""..!"

"Suheng"".!"

Teriakan ini keluar dari mulut Sian Lun dan Ling Ling.

Dua orang anak ini tadi terkejut setengah mati dan terheran-heran melihat munculnya Gin San, apa lagi ketika melihat Gin San menyerang pemain cu naga biru sampai tertendang dan terlempar ke atas kepala naga biru.

Mereka sudah memanggil-manggil, akan tetapi tentu saja suara mereka tadi lenyap tertelan kegaduhan luar biasa itu.

Ketika terjadi pertempuran dan para penonton geger melarikan diri, mereka tidak ikut lagi karena mereka tidak mau meninggalkan Gin San.

Ketika naga biru menyerbu ke dalam kuil, mereka mengikuti sampai di depan pintu kuil, akan tetapi tidak dapat masuk karena di dalam kuil juga terjadi pertempuran dan amukan si naga biru.

Baru setelah naga biru keluar dan mereka melihat bahwa Gin San masih mendekam di atas kepala naga, mereka berteriak memanggil dan dengan keberanian luar biasa mereka meloncat dan menyerang kakek berjenggot panjang yang kini berjalan di depan naga sedangkan tongkat penyangga mustika tadi sudah tidak berada di tangannya lagi.

Tongkat itu dibuangnya karena patah ketika dia pergunakan untuk mengamuk di dalam kuil!

"Lepaskan sute!"

Bentak Sian Lun "Kakek jahat!"

Ling Ling juga membentak. Dua orang anak itu maju berbareng dan menyerang kakek berjenggot panjang itu.

"Ehhh""!"

Kakek itu terkejut dan terheran.

Dia masih terheran-heran melihat Gin San yang masih mendekam di atas kepala naga biru, dan kini muncul lagi dua orang bocah, yang menyerangnya.

Hampir dia tertawa bergelak.

Kiranya yang menghalangi perbuatannya dan kawan-kawannya adalah anak-anak kecil!

"Pergilah setan-setan cilik!"

Bentaknya dan karena dia marah oleh gangguan anak anak itu, kini dia mengerahkan sedikit tenaga dalam tamparannya ke arah kepala Sian Lun dan Ling Ling.

"Wut-wut""..! Ehhh??"

Kakek berjenggot panjang itu terbelalak memandang ketika dia melihat dua orang anak itu hanya terhuyung saja dan tamparan-tamparannya itu ternyata luput!

Padahal, jarang ada orang dapat mengelak dari tamparannya tadi, sungguhpun dia hanya mengerahkan sedikit tenaga.

Dia sudah memperhitungkan masak-masak bahwa tamparan itu sudah cukup untuk membikin pecah, kepala dua orang anak pengganggu itu dan menewaskan mereka.

Akan tetapi, siapa kira, dua orang anak itu dapat mengelak dengan kecepatan luar biasa dan hanya terhuyung karena terdorong oleh hawa pukulannya saja.

Hal ini membuat dia merasa malu dan peasaran!

"Kalian harus mampus"

Bentaknya pula dan dia menerjang maju mengirim pukulan.

Akan tetapi pada saat itu.

sebuah benda melayang ke arah kepalanya dari belakang.

Kakek itu terkejut, mengira bahwa ada lawan gelap menyerangnya.

Dia menggerakkan tangan memukul ke belakang tanpa menoleh.

"Prakkk!"

Pecahlah kepala itu!

Kepala tengkorak yang dilemparkan oleh Gin San.

Bocah ini yang masih nongkrong di atas kepala naga biru telah menyambitnya dengan tengkorak ketika melihat suheng dan sumoinya diserang.

Kakek itu makin terkejut ketika melihat bahwa yang dipukulnya hancur adalah sebuah tengkorak.

Teringatlah dia akan anak yang membawa tengkorak tadi, maka kemarahannya memuncak.

Dia menubruk ke depan, ke arah Sian Lun dan Ling Ling, lalu tangannya terayun, menghantam ke arah Sian Lun.

Sekali ini hantamannya hebat sekali dan tidak mungkin Sian Lun akan dapat mengelak lagi.

"Omitohud, manusia kejam!"

Terdengar bentakan dan dua orang hwesio meloncat keluar dari kuil itu dan mereka langsung menangkis dan menerima hantaman itu.

"Bresss""!!"

Dua orang hwesio itu terpental dan terguling-guling ketika mereka menangkap pukulan kakek berjenggot panjang dan terkena hantaman dahsyat itu.

Kakek berjenggot panjang terkejut, akan tetapi pada saat itu datang petugas-petugas keamanan yang datang berlari-lari ke tempat itu, dipimpin oleh beberapa orang perwira.

Melihat ini, kakek berjenggot panjang lalu meloncat dan menyusul teman-temannya yang sudah melarikan naga biru itu, menghilang ke dalam gelap.

"Sute""!"

"Suheng"".!" . Sian Lun dan Ling Ling berlari-lari mengejar karena melihat Gin San terbawa lari oleh naga biru. Juga para petugas keamanan melakukan pengejaran. Akan tetapi, di luar kota itu, mereka menemukan liong biru itu menggeletak di tepi jalan dan tidak nampak seorang pun dari para tosu yang tadi melakukan kekacauan. Sian Lun dan Ling Ling mencari-cari dengan jantung berdebar tegang, namun mereka juga tidak dapat menemukan Gin San yang lenyap bersama para tosu itu. Dengan bingung mereka lalu pulang dan di sepanjang jalan Ling Ling menangisi nasib suhengnya yang terbawa pergi oleh para tosu itu. Sian Lun menghiburnya mengatakan bahwa Gin San mempunyai banyak akal maka belum tentu akan celaka di tangan orang-orang jahat itu. Gan Beng Han dan Kui Eng menyambut kedatangan mereka dengan hati lega. Suami isteri pendekar ini sudah cemas sekali karena mereka telah mendengar berita tentang kerusuhan yang terjadi di depan kuil. Mereka tadi juga keluar dan mencari-cari anak mereka, Ling Ling, dan keponakan mereka, Sian Lun juga murid mereka, Gin San. Namun mereka tidak melihat seorang pun di antara mereka. Lebih cemas lagi hati mereka ketika mereka mendengar dari beberapa orang yang melihatnya bahwa murid mereka, Gin San ikut dalam keributan, bahkan anak itu secara aneh naik ke atas kepala naga biru yang menimbulkan kekacauan sambil membawa sebuah tengkorak manusia! Dan ada pula yang melihat betapa keponakan dan anak mereka tadi dipukul oleh kakek berjenggot panjang.

"Ah, syukur kalian datang!"

Seru Kui Eng dan Beng Han ketika melihat munculnya anak mereka dan Sian Lun.

"Ibu""!"

Ling Ling berseru dan lari memeluk ibunya sambil menangis.

"Ibu, ji-suheng dilarikan orang-orang jahat!"

"Mari kita masuk dan bicara di dalam,"

Kata Gan Beng Han dan mereka semua lalu masuk ke dalam rumah. Setelah memberi minum kepada Sian Lun dan Ling Ling yang masih pucat pucat wajahnya, Beng Han lalu bertanya kepada keponakannya.

"Sekarang ceritakan yang jelas, apakah yang telah terjadi?"

Dengan sikap tenang karena pemuda cilik yang berhati tabah ini sudah dapat menguasai hatinya, Sian Lun lalu bercerita betapa dia dan Ling Ling menonton pertunjukan tari liong di depan kuil, kemudian betapa naga biru mengamuk dan tiba-tiba mereka melihat Gin San menyerang rombongan naga biru dan ditendang terlempar ke atas kepala naga biru.

Betapa naga biru merobohkan para pemain naga merah dan menyerbu kuil, mengobrak-abrik kuil dan keluar pula dengan Gin San masih berada di atas kepala naga biru dengan muka pucat.

"Kami berdua berusaha menolong sute, supek,"

Kata Sian Lun.

Dia memang menyebut supek (uwa guru) kepada Beng Han karena mendiang ayahnya adalah sute dari pendekar ini, dan kepada Kui Eng dia menyebut supek bo biarpun pendekar wanita ini adalah adik seperguruan mendiang ayahnya.

"Akan tetapi teecu dan sumoi tidak dapat melawan kakek berjenggot yang amat lihai itu. Mereka melarikan diri ketika pasukan datang dan kami ikut mengejar, akan tetapi teecu tidak melihat bayangan sute."

Beng Han mengerutkan alisnya, lalu bangkit berdiri.

"Biar aku akan mencarinya,"

Katanya kepada isterinya.

"Jaga anak anak dan jangan biarkan mereka keluar rumah."

Isterinya mengangguk, dalam keadaan seperti itu, di mana bahaya mengancam dan keadaan kalut, mereka menjadi seperti dulu lagi, seperti ketika mereka masih menjadi suheng dan sumoi dan biasa bekerja sama menghadapi bahaya.

Beng Han lalu cepat meninggalkan rumahnya dan menghilang di dalam kegelapan malam.

Pendekar ini lalu melakukan penyelidikan, mencari jejak muridnya, Gin San.

Dia mendengarkan lagi penuturan dari mereka yang tadi melihat Gin San.

Akan tetapi betapapun dia mencari, hasilnya sia-sia belaka.

Gin San lenyap seperti ditelan bumi, lenyap bersama para perusuh itu, para tosu-tosu itu.

Maka pendekar ini lalu kembali ke kuil di mana dia lalu melakukan penyelidikan.

Dia mengenal ketua kuil itu, yaitu Thian Ki Hwesio yang ketika terjadi keributan tidak ada di tempat karena hwesio ini sibuk menjemput rombongan yang berada di kota lain.

Karena Beng Han sudah kenal baik dengan hwesio-hwesio lain pengurus kuil, maka dia diperkenankan masuk.

Beberapa orang hwesio terluka parah dan pendekar ini membantu para hwesio untuk mengobati mereka yang terluka.

Kemudian dia memeriksa keadaan yang rusak itu, meja sembahyang hancur, arca yang pecah dan roboh.

"Gan-sicu, sungguh pinceng (aku) tidak mengira bahwa para tosu Im-yang-pai tega dan berani melakukan perbuatan terkutuk seperti ini,"

Kata seorang hwesio tua yang menjadi wakil Thian Ki Hwesio dan yang menderita patah tulang lengannya. Gan Beng Han terkejut.

"Ah, bagaimana losuhu tahu bahwa mereka adalah para tosu Im-yang-pai?"

Pendekar ini mengerutkan alisnya.

Memang dia mendengar bahwa para tosu Im-yang-pai amat kuat, banyak di antara mereka yang memiliki kepandaian mujijat dan kesaktian yang tinggi.

Akan tetapi belum pernah dia mendengar mereka itu melakukan kejahatan, apa lagi memusuhi Agama Buddha.

Kakek yang berkepala gundul itu menarik napas panjang.

"Omitohud...".pinceng sendiri mengharap tidak demikian dan semoga Sang Buddha mengampuni mereka. Akan tetapi, ada dua bukti yang memperkuat dugaan bahwa mereka adalah tosu-tosu Im-yang-pai, Gan sicu. Pertama, mereka terdiri dari belasan orang yang berpakaian tosu, dan ilmu silat mereka-pinceng lihat berdasarkan Ilmu Silat Im-yang kun, juga pukulan-pukulan mereka mengandung dua hawa sinkang yang berlawanan."

Gan Beng Han tetap mengerutkan alisnya "Losuhu, saya kira dua hal itu belum dapat dipakai sebagai bukti.

Banyak orang berpakaian tosu di dunia ini, dan tentang ilmu silat, bagaimana kita yang bukan anggauta Im-yang-pai dapat menentukan bahwa yang mereka pergunakan itu betul-betul Im-yang-kun?"

"Pendapat sicu memang tepat dan beralasan. Pinceng hanya menduga saja tentang ilmu silat mereka karena pinceng pernah melihat gaya permainan Im-yang-kun. Akan tetapi bukan itu yang merupakan bukti kuat, melainkan ini."

Hwesio tua itu merogoh kantungnya dan mengeluarkan sebuah benda, menyerahkan benda itu kepada Beng Han.

Benda itu adalah sebuah medali dari baja yang diukir lukisan bulat dengan garis lengkung Im Yang membagi bulatan itu menjadi dua, diwarnai hitam dan putih dan di bawah gambaran itu tertulis tiga huruf IM-YANG-PAI.

Itulah tanda medali yang biasa dipakai oleh para anggauta Im-yang-pai yang sudah mempunyai tingkat, karena para anggauta biasa hanya ditandai dengan gambar yang sama pada dada baju mereka.

"Bagaimana losuhu bisa mendapatkan benda itu?"

Tanyanya sambil memandang wajah hwesio tua itu.

"Biarpun lengan pinceng patah tulangnya ketika menangkis toya itu, akan tetapi toya itu juga patah dan tentu pinceng sudah berhasil melukai lawan tangguh itu kalau saja cengkeraman pinceng tidak tertahan oleh benda ini yang tergantung di dadanya Pinceng gagal melukai dadanya akan tetapi berhasil merampas medali ini, Gan-sicu. Bukankah ini merupakan bukti bahwa mereka itu, setidaknya orang yang melawan pinceng, adalah anggota Im-yang-pai?"

"Hemm, agaknya pendapat losuhu benar. Lalu, apa yang akan losuhu lakukan tentang hal ini?"

"Omitohud, pinceng tidak mau mencari permusuhan, dan pinceng tidak dapat mengambil keputusan. Tentu saja pinceng akan menanti kembalinya Thian Ki Hwesio besok siang di kuil ini."

"Akan tetapi, apakah kejahatan ini harus dibiarkan saja? Tanpa dihukum dan dibalas sekarang juga? Losuhu, murid sayapun agaknya telah diculik oleh kawanan Im-yang-pai itu."

"Omitohud""..""

Hwesio tua berkemak-kemik membaca mantera, kemudian seperti men terjemahkan mantera yang ternyata adalah ayat suci dari kitab Buddha Dhammapada, seperti memberi wejangan kepada Gan Beng Han.

"Sicu, siapapun yang berbuat jahat terhadap orang yang tidak berdosa, akan tertimpa oleh kejahatan itu sendiri, seperti orang menebarkan debu melawan arus angin yang akan berbalik menimpa muka sendiri. Omitohud""..!""

Gan Beng Han mengerutkan alisnya Dia sudah tahu akan sifat yang lemah dan sabar dari para hwesio ini, yang membuatnya kadang-kadang merasa heran sendiri.

Para hwesio banyak yang memiliki kepandaian tinggi, banyak yang pernah menjadi murid-murid Siauw-lim-pai yang tangguh, akan tetapi pelajaran tentang kesabaran membuat mereka kadang-kadang bersikap amat lemah Hal ini sungguh berlawanan dengan sikapnya sebagai seorang pendekar yang selalu siap menghadapi dan menentang kejahatan, biarpun kejahatan itu tidak menimpa muridnya sendiri misalnya.

"Losuhu, bolehkah saya meminjam medali ini?"

"Untuk apa, Gan-sicu?"

"Sekarang juga saya akan pergi mendatangi Im-yang-pai dan selain mencari murid saya juga menegur dan menuntut perbuatan anak murid mereka pada malam hari ini."

Baca Juga: Naga Beracun 7

Baca Juga: Dendam Sembilan Iblis Tua 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert