Eps 3 Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo.
"Hek-houw ko ( Macam Hitam ), aku bukanlah seorang yang pandai berkelahi dan tenagakupun tidak seperti tenagamu yang terlatih untuk berkelahi, akan tetapi aku juga seorang laki-laki yang cukup jantan dan aku tidak takut kepada siapapun juga apa bila aku tidak bersalah. Kuharap engkau tidak menghina kami, karena bukan maksud kami meninggalkan rumah melakukan perjalanan jauh hanya untuk mencari permusuhan dengan orang tanpa sebab sama sekali."
"Ha-ha-ha, pintarnya dia mencari alasan untuk menyembunyikan rasa takutnya. Ayo majulah kau, hendak kuhancurkan kepalamu. Lawanlah aku kalau kau benar-benar seoral laki-laki!"
Sambil berkata demikian, Hek-how ko melangkah maju dan sekali dia menggerakkan tangan, baju pemuda pelajar itu telah ditariknya sehingga robek di bagian dada dan nampaklah kulit dadanya yang putih.
"Ha ha, hayo kau lawanlah aku!"
Betapapun juga, pemuda itu sama sekali tidak kelihatan takut dan dengan senyum getir dia berkata.
"Baik busuknya hati orang akan dilihat dari pekerjaan, melainkan dari perbuatan dan sikapnya. Sikapmu ini menunjukkan bahwa kau tidak patut menjadi seorang petani yang baik, dan paling tepat orang seperti engkau ini menjadi orang yang disebut penjahat yang kasar dan suka mengandalkan kekerasan untuk menghina orang!"
"Ang-heng"", sudahlah, jangan kau menjawab, biarkan saja!"
Mencegah Seorang pelajar lain yang kelihatan ketakutan sekali.
"Mengapa kita harus takut, Lie-te? Kita tidak bersalah apa-apa, dan orang yang tidak bersalah, takkan takut mati, biarpun sampai dibunuh, kematian adalah kematian yang mulia!"
Jawab pemuda itu dengan suara gagah.
Sementara itu, si muka hitam yang disebut penjahat kasar, menjadi marah sekali dan berseru keras lalu mengayun tangan memukul ke arah muka pemuda itu yang sama sekali tidak mundur ketakutan, bahkan memandang dengan tajam.
Akan tetapi sebelum pukulan si muka hitam itu mengenai muka pemuda itu, tiba-tiba muka hitam berseru kaget karena tubuhnya ditarik orang dari belakang yang membuatnya terhuyung hampir roboh.
Dia cepat meloncat dan membalik, dan ternyata bahwa yang menariknya itu adalah seorang dara remaja yang berpakaian sederhana berwarna hijau, dara yang cantik dan juga gagah sekali sikapnya.
"Eh, muka hitam, engkau ini memang orang jahat yang kasar!"
Kui Eng berkata sambil bertolak pinggang menghadapi si muka hitam. Bukan main marahnya hati Hek-houw.
"Perempuan lancang! Siapakah engkau berani berlancang tangan membela kutu-kutu buku ini? apakah kau tunangan atau kekasih mereka?"
Merahlah wajah Kui Eng mendengar makian ini.
"Bangsat bermulut kotor, apa kau ingin mampus?"
Sambil berkata demikian, tangan kanannya melayang ke arah mata si muka hitam.
Ketika si muka hitam cepat mengelak, tangan kanan itu merubah menjadi tamparan keras sekali dari samping dan dengan tepat mengenai pipi si muka hitam.
"Plakkk!!"
Si muka hitam mengaduh aduh, memegang pipinya dan mulutnya berdarah karena dua buah giginya copot dan bibirnya pecah berdarah .
"Bangsat""., keparat kau"""
Bentaknya sambil mencabut goloknya. Melihat ini, tiga orang pemuda pelajar itu mundur ketakutan karena melihat Hek-houw telah mencabut golok berarti akan terjadi pembunuhan di situ.
"Mampus kau!"
Hek-houw menerjang dengan goloknya.
Sinar golok berkeredepan menyilaukan mata dan menyambar ke arah leher Kui Eng.
Pendekar wanita ini menjadi makin marah Laki-laki muka hitam ini benar benar terlalu kejam, pikirnya, dengan mudah saja menggerakkan senjata untuk membunuh orang, padahal menyerang seorang wanita sudah merupakan hal yang harus dibuat malu oleh seorang laki laki.
Cepat dia mengelak dan yang membui hati Kui Eng makin marah adalah ketika melihat tujuh orang kawan si muka hitam itupun kini sudah mencabut senjata semua dan mengepung lalu mengeroyok.
Mereka ini seperti sekawanan anjing srigala yang buas!.
Pada waktu itu, memang banyak sekali terjadi hal-hal seperti ini.
Kejahatan manusia memang selalu muncul, baik di waktu makmur maupun di waktu sengsara, karena manusia-manusia itu selalu menginginkan kesenangan untuk diri sendiri sehingga mereka selalu mencari kesempatan baik demi untuk tercapainya kemenangan yang mereka kejar-kejar.
Pada waktu itu, kehidupan kaum petani boleh dibilang memang sengsara karena penindasan banyak pembesar yang lalim dan sewenang-wenang.
Hal ini dipergunakanlah oleh orang-orang macam Hek-houw itu untuk mencapai keinginan hatinya.
Mereka melihat peluang baik, menggunakan penderitaan para petani untuk membangkitkan hati mereka yang penuh dengan dendam.
Mereka menghasut para petani dan para miskin, untuk menaruh dendam kepada orang-orang kaya, kepada para pembesar sehingga dengan mudah saja mereka itu dihasut untuk memberontak.
Kalau hasutan ini sudah berhasil, maka mereka akan memperoleh anak buah yang setia dan banyak, untuk bergerombol menjadi kawanan penjahat, perampok, atau pemberontak.
Apakah benar orang-orang seperti mereka ini berjuang untuk kepentingan rakyat miskin?
Jauh dari pada itu.
Memperalat rakyat miskin demi tercapainya cita-cita mereka sendiri dan sekali "perjuangan"
Yang didengung-dengungkan itu berhasil, tentu mereka itulah yang akan menikmati hasil dan mereka akan melupakan lagi tenaga rakyat jelata yang telah mereka peralat itu.
ini terjadi di seluruh dunia, semenjak sejarah berkembang!
Muncullah aliran ini atau itu yang diselubungi slogan-slogan teramat muluk-muluk dan tinggi-tinggi, yang kesemuanya merupakan propaganda untuk menundukkan hati rakaat agar suka berpihak kepada mereka.
Mungkin ada juga beberapa gelintir orang yang berjuang benar-benar demi kepentingl rakyat miskin, akan tetapi kemudian terbuktilah hal-hal yang menyedihkan, yaitu ada yang sebenarnya juga mengejar pamrih demi diri sendiri, sungguhpun bukan berupa pengejaran kemuliaan atau harta benda atau kedudukan namun pada hakekatnya dia mengejar nama besar, mengejar keuntungan batiniah!
Dan yang tidak,beberapa gelintir orang ini akhirnya akan tergulung oleh ombak dari mereka yang berpamrih besar-besaran untuk diri sendiri sehingga beberapa gelintir orang itu kehilangan kekuasaan dan menjadi tidak berarti lagi, hilang lenyap oleh sebagian besar dari para "pemimpin"
Gadungan itu. (Lanjut ke
Jilid 09) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 09 Kui Eng merasa marah bukan main.
Sembilan orang laki-laki ini jelas bukanlah orang-orang baik.
Dia sendiripun pernah menentang pembesar-pembesar lalim, dan dia sendiripun tahu betapa rakyat petani mengalami tekanan yamg amat berat,hidup dalam keadaan kekurangan dan sengsara, maka kalau ada usaha untuk membela kaum tani dan meningkatkan taraf kehidupan mereka, tentu saja dia akan mendukung sepenuhnya.
Akan tetapi ternyata sembilan orang ini adalah penghasut-penghasut yang ingin menyeret kaum petani yang hidup miskin itu menjadi orang-orang yang jahat dan kejam seperti mereka, yang haus darah karena dendam.
Hal ini berarti menyeret kaum petani ke jurang yang lebih hina dan sengsara lagi.
Melihat sembilan orang itu sudah menerjangnya dengan golok daan pedang dari segenap penjuru Kui Eng mengeluarkan pekik dahsyat dan tiba-tiba saja tubuhnyya lenyap!
Demikian cepatnya Kui Eng bergerak, tubuhnya berkelebatan menjadi bayangan hijau menyambar-nyambar seperti seekor burung walet dan ke manapun ubuhnya berkelebat., tentu seorang pengeroyok berteriak kesakitan dan roboh terpelanting, senjatanya terpental jauh!
Si muka hitam sendiri terkena tendangan paling keras dari Kui Eng, mengenai dadanya dan dia terlempar jauh, jatuh terbanting dan pingsan!
Sedangkan delapan orang temannya telah rebah malang melintang sambil merintih-rintih .
Sambil bertolak pinggang, Kui Eng lalu menggunakan ujung sepatunya menotok si muka hitam yang segera terguling dan merintih, Ia membuka mata terbelalak lebar memandang ke arah Kui Eng.
Mukanya yang hitam berubah abu-abu dan sinar matanya mengandung rasa heran dan juga gentar.
"Huh, orang macam engkau ini memang jahat dan kejam"
Kui Eng menuding.
"Kau berpura-pura mengaku sebagai petani, akan tetapi aku tidak percaya bahwa kau dan kawan-kawanmu adalah petani-petani tulen. Petani-petani biasa berwatak jujur dan wajar, merupakan manusia-manusia yang baik dan tidak palsu, dekat dengan alam dan tidak suka mengada-ada. sebaliknya watak kalian adalah watak penjahat-penjahat yang suka merampok dan sewenang-wenang saja. Tidak semua pembesar berwatak buruk, dan tidak semua pelajar menjadi calon pembesar jahat! Tiga orang kongcu ini hanya lewat di sini dan tidak mempunyai dosa apapun mengapa kalian mengganggu mereka? Sungguh tak tahu malu!"
Si muka hitam yang sudah merangkak bangun lalu bertindak pergi diikuti oleh kawan-kawannya. Setelah jauh, dia membalik mengepal tinju, diamang-amangkannya ke arah Kui Eng dan terdengar dia berkata.
"Awas!. akan kubunuh kalian kalau kita bertemu kembali!"
Mendengar ancaman itu, Kui Eng tertawa dan menjawab;
"Orang macam engkau mengancam aku? Huh, sungguh tak tahu diri!"
Para penduduk dusun yang menyaksikan kemarahan Kui Eng, lalu memuji dengan penuh kaguman.
Mereka memberi tahu bahwa sembilan orang itu adalah orang-orang gelandangan yang pekerjaannya hanya mengganggu penduduk, minta makan, minta uang dan lain-lain.
Mereka adalah penjudi-penjudi yang tidak tentu tempat tinggalnya, sehingga mereka itu sesunguhnya merupakan penambah beban bagi orang-orang dusun yang sudah menderita.
Mereka tidak pernah berani menentang mereka.
"Kalau begitu, mengapa saudara sekalian diam saja melihat mereka berbuat sewenang-wenang?"
Kui Eng menegur.
"Apakah yang dapat kami lakukan? Mereka itu kuat dan tangguh, dan pula"""
Petani itu memandang ke arah tiga orang pelajar tadi.
"memang ada betulnya ketika Hek-houw mengatakan bahwa para pembesar sekarang hanyalah memeras dan menindas kami kaum tani. Kami sudah bosan hidup menderita tanpa dapat melawan, kini ada orang-orang yang kelihatan membela kami, tentu saja kami berbesar hati, sungguhpun yang membela kami itu hanyalah orang-orang macam mereka itu. Kami kaum petani sudah haus akan pembelaan sehingga tidak akan memilih bulu lagi pendeknya siapa membela kami, tentu saja akan kami ikuti."
Kui Eng menarik napas panjang.
"Saudara-saudaraku sekalian. Memang sudah semestinya bahwa kita harus berjuang untuk memperbaiki nasib kita sendiri, agar dapat makan cukup dan berpakaian cukup, tercukupi semua kebutuhan rumah tangga yang pokok. Akan tetapi harap saudara sekalian berhati-hati dan jangan sampai terjerumus masuk perangkap yang di pasang oleh orang-orang jahat yang hanja pura-pura saja menjadi pembela dan pemimpin. Kalau begitu, kalian akan keluar dari suatu jurang dan terjeblos ke dalam jurang yang lebih dalam dan mengerikan lagi menjadi orang miskin namun bersih masih belum hebat, akan tetapi berubah menjadi orang jahat, sungguh percumalah hidup di dunia ini. PEMUDA pelajar yang tadi memperlihatkan sikap gagah itu menarik napas panjang dan berseru.
"Betapa tepatnya ucapan lihiap ini! Sungguh hebat sepak terjangnya, hebat pula pendapatnya. Telah lama kami mendengar penindasan sewenang-wenang dari para pembesar, dan mudah-mudahan saja kami kaum muda terpelajar kelak akan dapat mengubah suasana buruk ini kalau kami memperoleh kedudukan sebagai penguasa."
Kemudian pemuda ini menjura kepada Kui Eng dan diturut oleh dua orang kawannya.
"Nona sungguh gagah perkasa dan berbudi mulia. Terimalah hormat dan ucapan terima kasih dari kami. Saya bernama Ang Min Tek, dan kedua orang teman saya ini adalah Lie Kang Coan dan Lie Kang Po. Kalau tidak ada nona yang datang menolong, entah bagaimana jadinya dengan nasib kami bertiga.?"
Merahlah wajah Kui Eng mendengar ucapan yang halus dan sikap yang sopan santun ini.
Selama dalam perjalanan ini, entah sudah berapa banyak dia menolong orang dan menghajar orang-orang jahat, entah sudah berapa banyak dia menerima pujian dan ucapan terima kasih.
Akan tetapi aneh, baru satu kali ini dia merasa girang dipuji-puji orang!
Dia merasa girang sekali disebut "nona"
Karena dia sudah merasa bosan mendengar sebutan "lihiap" (pendek wanita), dan menganggap bahwa sebutan nona lebih halus dan lebih mengesankannya sebagai seorang wanita yang berperasaan halus.
Cepat dia membalas dengan pemberian hormat, mengangkat kedua tangannya dan membungkuk dengan gerakan yang lemah lembut, sama sekali bukan gerakan seorang pendekar wanita yang tangguh, melainkan gerakan seorang dara remaja yang lemah lembut.
Sedapat mungkin Kui Eng hendak menghilangkan sifat-sifat kegagahannya dan alangkah akan girang hatinya kalau pada saat itu dia mengenakan pakaian seorang wanita biasa saja seperti yang biasa dipakai oleh gadis-gadis lain, bukan pakaian wanita perantau yang serba ringkas seperti yang dipakainya di waktu itu.
"Sam-wi kongcu, harap jangan terlalu membesarkan hal yang tidak berarti. Sebagai seorang yang sopan, saya yang bodoh tidak dapat tinggal diam saja melihat kekasaran si muka hitam tadi"
"Ang-heng,"
Tiba-tiba Lie Kang Po, pemuda yang nampak gembira dan yang paling muda usianya di antara mereka, paling banyak berusia enambelas tahun, berkata.
"kalau perjalanan kita selanjutnya dapat bersama dengan nona yang gagah perkasa ini, kita tidak usah takut akan gangguan segala macam orang jahat dan kurang ajar!"
Min Tek memandang kepada kawannya itu dengan alis dikerutkan, lalu menegurnya.
"Kang Po! Jangan kau bicara sembarangan saja!"
Kemudian dia berbalik menghadapi Kui Eng dan berkata lagi.
"Harap siocia maafkan temanku yang muda ini, karena dia masih belum tahu benar akan kekurangajaran kata-katanya tadi. Mana bisa seorang siocia seperti nona ini melakukan perjalanan bersama tiga orang pemuda?"
Kui Eng tersenyum manis dan dia makin tertarik kepada pemuda she Ang yang tampan halus dan amat sopan santun itu.
"Tidak mengapa, Ang-kongcu, karena temanmu itu tidak sengaja. Pula, memang perjalanan ke kota raja melalui tempat-tempat berbahaya. Kebetulan sekali sayapun sedang menuju ke sana maka biarpun kita tidak melakukan perjalanan bersama, akan tetapi saya dapat mengamat-amati sehingga tidak ada orang yang akan berani mengganggu kalian bertiga."
Berserilah wajah Min Tek yang tampan itu. Dia segera menjura dan berkata dengan nada suara girang sekali.
"Bagaikan kejatuhan bulan rasa hati kami mendengar itu! Nona sungguh merupakan seorang yang amat berbudi mulia"".."
Kui Eng tersenyum lagi.
"Namaku adalah Kui Eng"".."
"Terima kasih sekali lagi kami ucapkan nona Kui Eng."
Kata Min Tek.
Demikianlah, tiga orang muda itu melanjutkan perjalanan mereka, sedangkan Kui Eng mengikuti mereka dari jauh.
Entah mengapa ada sesuatu yang amat menarik hatinya, yang membuat dia merasa bahwa dia tidak dapat meninggalkan tiga orang muda itu.
Ada apakah ini?
Apakah karena perpisahannya dengan dua orang suhengnya membuat dia merasa begitu kesepian sehingga begitu bertemu dengan tiga orang muda yang menyenangkan hatinya ini dia lalu tertarik dan ingin selalu berdekatan?
Betapapun juga, dia harus melindungi mereka sampai ke kota raja.
Biasanya, Kui Eng melakukan perjalanan dengan cepat.
Akan tetapi sekarang, oleh karena dia harus mengikuti tiga orang muda yang melakukan perjalanan seenaknya dan dengan lambat itu, dia harus berjalan lambat pula.
Akan tetapi aneh bukan main, dia sama sekali tidak merasa kesal, bahkan kini dia melakukan perjalanan dengan hati gembira.
Tanpa disadarinya sendiri, sikap lemah lembut dan sopan santun dari Ang Min Tek telah membetot hatinya, menggerakkan perasaan wanitanya yang halus, telah merampas perhatiannya dan membuatnya merasa tertarik sekali.
Hatinya yang biasanya amat keras itu mencair dan lunak dan dia sendiri menduga-duga apakah dia telah "jatuh hati"
Kepada pemuda tampan dan halus itu, pemuda pelajar yang biarpun lemah karena tidak memiliki kepandaian ilmu silat, namun telah membuktikan bahwa dia memiliki sifat gagah perkasa dan keberanian besar ketika menghadapi bahaya itu.
Ketabahan hati seorang pemuda yang memiliki kepandaian ilmu silat tinggi, seperti kedua orang suhengnya misalnya, tidak sangat membuatnya kagum, akan tetapi melihat betapa seorang pemuda pelajar yang lemah dan tidak memiliki kepandaian silat seperti Min Tek berani menghadapi bahaya maut dengan mata tak berkedip dan semangat tetap berkobar, benar-benar membuat dia tunduk dan kagum sekali.
Dalam pandangannya, Min Tek merupakan seorang laki-laki yang memenuhi syarat kejantanan dan hatinya runtuh oleh sikap yang lemah-lembut, terutama oleh kesopanan pemuda itu!
Sementara itu, tiga orang pemuda sasterawan itupun melanjutkan perjalananmereka dengan hati gembira.
Biarpun mereka tidak berani menengok ke belakang oleh karena hal itu dilarang oleh Min Tek, namun mereka maklum bahwa nona pendekar yang cantik jelita dan gagah perkasa itu juga melakukan perjalanan yang sama, di belakang mereka!
Hanya satu kali saja Min Tek menengok dan memandang ke arah Kui Eng sambil tersenyum dan hal ini sudah cukup mendebarkan hati Kui Eng.
Betapa anehnya cinta!
Tanpa kata-kata, cukup hanya dengan pandang mata, namun begitu mesra, menyentuh perasaan danmendebarkan jantung!
Cinta memang langsung terasa oleh perasaan, oleh batin, sama sekali tidak ada hubungannya dengan pikiran karena pikiran menonjolkan "aku yang ingin senang dan ingin untung".
Kekhawatiran hati Kui Eng bahwa pemuda pemuda itu akan mendapat gangguan di tengah perjalanan ternyata berbukti.
Hek-houw si muka hitam yang merasa telah dibikin malu dan menjadi sakit hati itu telah mengadakan hubungan dengan beberapa orang kawannya yang menjadi perampok dan mereka sengaja menghadang perjalanan Ang Min Tek dan dua orang kawannya.
Jalan yang mereka lewati itu sunyi dan diapit oleh batu-batu besar di kanan kiri jalan juga di sebelah kiri jalan terdapat hutan yang penuh dengan pohon-pohon besar.
Matahari telah agak condong ke barat, tengah hari telah lewat dan mendapatkan jalan yang dilindungi bayangan pohon-pohon itu tiga orang muda ini menjadi gembira.
Dari jauh saja sudah kelihatan betapa jalan itu tentu amat menyenangkan, teduh dan dapat melindungi mereka dari terik matahari siang, Akan tetapi, ketika mereka tiba di tempat tu, tiba-tiba dari belakang batu-batu besar itu muncul belasan orang tinggi besar yang rata-rata berwajah menyeramkan dan di tangan mereka nampak golok dan senjata lain yang tajam mengkilap.
Ketika Min Tek dan kawan-kawannya mengenal Hek-houw berada di antara mereka, tahulah tiga orang pelajar ini bahwa mereka menghadapi ancaman bahaya.
Min Tek membentangkan kedua lengannya di depan dua orang temannya, seolah-olah hendak melindungi mereka.
"Hek-houw-ko! Bukankah antara kita tidak ada urusan lagi? Mengapa kau masih hendak menghadang perjalanan kami?"
Min Tek berkata dengan sikap tenang sungguhpun dia tahu bahwa kini urusan menjadi besar.
Sementara itu, Kui Eng juga telah melihat gerombolan itu maka dengan beberapa lompatan saja pendekar wanita ini telah berada di situ dan tubuhnya berkelebat menjadi bayangan hijau, tahu-tahu dia telah berdiri di depan Min Tek, membelakangi tiga orang pemuda itu dan menghadapi para perampok dengan wajah dan sikap tenang namun alisnya berkerut karena hatinya sudah marah sekali.
"Kalian ini menghadang perjalanan orang mempunyai maksud apakah?"
Tanyanya dengan suara nyaring penuh wibawa, kedua tangannya yang kecil itu bertolak pinggang, jari-jari ke dua tangannya seolah-olah dapat melingkail pinggangnya yang kecil itu.
"Inilah dia perempuan setan itu!"
Tiba-tiba Hek-houw berkata kepada kepala perampok yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata sebatang golok besar pula.
Kepala perampok itu memandang kepada Kui Eng lalu tertawa bergelak, kemudian berkata kepada Hek-houw dengan lagak sombong.
"Saudaraku yang baik. Apakah benar-benar engkau dan kawan-kawanmu kalah oleh gadis yang cantik manis ini? Ha ha ha, sukar untuk dipercaya!"
Kemudian dia melangkah maju menghadapi Kui Eng dan bertanya dengail suaranya yang besar dan parau.
"Eh, nona manis. Benarkah engkau telah berani berlancang tangan mengganggu saudara-saudaraku ini?"
Kui Eng mundur selangkah.
Kepala perampok itu ketika bicara, dari mulutnya berhamburan percikan ludah.
Bibirnya tidak pernah rapat maka kalau bicara, ludahnya menyemprot-nyempot seperti hujan dan dari mulutnya keluar bau yang memuakkan.
Dengan sikap masih tenang Kui Eng menjawab.
"Mereka itu adalah orang-orang jahat yang bertindak sewenang-wenang. Tidak kubunuhpun mereka masih untung sekali, dan kau ini siapakah dan apa maksudmu menghadang kami? Apakah kau hendak membela penjahat-penjahat kecil itu?"
Kepala perampok itu tertawa lagi, seperti seorang dewasa yang geli menyaksikan lagak seorang anak-anak.
"Nona manis, jangan kau begitu galak! Ketahuilah bahwa daerah ini berada dalam kekuasaanku dan setiap orang yang lewat harus membayar uang jalan kepada kami! Bagi kau dan kawan-kawanmu ini, asalkan kalian berempat suka meninggalkan semua barang-barang bawaan kalian, juga ditambah lagi seluruh pakaian, luar dan dalam, yang menempel ditubuhmu itu kautinggalkan kepadaku, barulah kalian mendapatkan ampun dan boleh melanjutkan perjalanan! Ha-ha-ha "
Belasan orang perampok itu tertawa bergelakmendengar ucapan itu dan mereka sudah membayangkan dengan air liur memenuhi mulut betapa mereka akan melihat tubuh polos nona cantik itu di depan mereka, tanpa sehelaipun kain yang menyembunyikan tubuh yang ramping itu!
"Bangsat bermulut kotor!"
Kui Eng membentak marah.
"Kiranya kalian adalah perampok-perampok hina. Menjadi perampok belum termasuk dosa yang terlalu besar, akan tetapi engkau telah berani menghina aku, berarti engkau mencari mampus sendiri!"
Tadi ketika kepala rampok itu mengucapkan penghinaannya, yaitu minta pakaian yang dipakai oleh Kui Eng, para anak buah perampok tertawa menyeringai, akan tetapi sekarang mendengar ancaman yang keluar dari mulut Kui Eng, mereka tertawa makin keras lagi.
"Nona manis, agaknya engkau belum tahu siapa adanya orang gagah yang berdiri di depanmu! Dengarlah baik-baik. Aku adalah Tiat-thouw Koai-to (Golok Setan Kepala Besi) yang tidak biasa membunuh orang-orang lemah akan tetapi aku paling suka membikin jinak kuda-kuda betina liar seperti engkau ini. Ha-ha-ha! Kalau kau tanpa banyak membantah menanggalkan semua pakaian luar dalam yang kaupakai, meninggalkan semua bawaan, maka kalian boleh pergi dengan aman dan aku tidak akan mengganggumu. Akan tetapi, kalau kau berani melawan, tidak saja ketiga orang kekasihmu yang tampan-tampan ini harus mampus, bahkan engkaupun harus ikut denganku selama satu bulan penuh untuk melayaniku!"
"Jahanam keparat! Kau benar-benar bosan hidup! Kalau kau seorang jantan, mari kita bertempur secara jantan, jangan main keroyokan. Kalau aku sampai kalah olehmu, aku akan mengangkat guru kepadamu!"
Kui Eng sudah meloncat mundur dan mencabut pedangnya.
Dia merasa khawatir kalau kalau para perampok itu melakukan pengeroyokan.
Bukan khawatir kalau dia dikeroyok, sama sekali tidak.
Biar ditambah dua kali lipat, dia tidak akan gentar menghadapi pengeroyokan mereka.
Akan tetapi kalau pengeroyokan itu terjadi, bagaimana dia akan dapat melindungi tiga orang pemuda itu?
Tentu mereka itu akan celaka di tangan kawanan perampok kejam ini.
Oleh karena itulah, maka dia menahan kemarahannya dan sengaja mengeluarkan tantangan itu untuk bertempur seorang lawan seorang, untuk menghindarkan pengeroyokan terhadap tiga orang pemuda pelajar lemah itu.
"Nona, watak perampok selalu suka main keroyokan secara pengecut dan tak tahu malu!"
Tiba-tiba Min Tek berkata dengan suara mengandung sindiran.
"Orang ini hanya besar mulut belaka, mana dia berani menghadapi nona seorang diri!"
Pemuda ini memang cerdas sekali dan dia sudah dapat mengerti akan maksud hati Kui Eng yang menantang kepala perampok itu untuk bertanding satu lawan satu maka dia sengaja mengeluarkan kata-kata itu untuk membakar hati si kepala perampok.
Benar saja, Tiat-thouw Koai-to menjadi marah sekali sehingga dia memutar-mutar goloknya.
Golok itu besar dan berat, ketika diputar-putar mengeluarkan suara bercuitan dan berdesing-desing mengerikan.
Sambil memutar golok besarnya, kepala perampok itu menghampiri Min Tek yang berdiri dengan sikap tenang saja dan sama sekali tidak berkisar dari tempatnya berdiri.
Kui Eng memandang dengm penuh kewaspadaan, siap untuk melindungi pemuda itu.
"Cacing buku!"
Kepala perampok itu membentak.
"Kalau pelindungmu itu kalah olehku engkau harus merangkak di depanku dengan telanjang bulat dan menggonggong seperti seekor anjing!"
"Sudahlah jangan banyak mengobrol omongan yang tidak ada harganya,"
Jawab Min Tek dengan berani.
"Kalau kau memang berani menghadapi dia, lawanlah dengan golokmu! bukan dengan mulutmu yang besar, kotor dan berbau!"
Kepala perampok itu menjadi makin marah dan sekali dia menggerakkan tangan, goloknya menyambar dengan suara bercuitan ke arah leher Min Tek.
Akan tetapi, tiba-tiba sebatang pedang meluncur cepat dan menangkis golok itu.
"Tranggg""..!"
Dan bunga api berpijar ketika dua batang senjata itu beradu.
"Tiat-thouw Koai-to, akulah yang menantangmu, apakah kau berani? Lawanmu berada di sini!"
Kata Kui Eng sambil berdiri dan memandang tersenyum penuh ejekan.
"Baik, baik, agaknya engkau memiliki sedikit kepandaian. Biarlah kujatuhkan kau lebih dulu sebelum aku menyembelih domba-domba ini!"
Setelah berkata demikian, kepala perampok itu telah melompat dan mengeluarkan gerengan keras, menyerang Kui Eng dengan goloknya yang mempunyai gerakan cepat dan kuat itu, tanda bahwa kepala perampok memang bertenaga besar sekali sehingga mampu menggerakkan golok seberat itu dengan kecepatan yang tinggi.
Akan tetapi, Kui Eng mengelak dengan gerakan ringan, lalu membalas dengan tusukan ke arah lambung lawan yang segera dapat menangkisnya.
Mereka lalu berkelahi dengan seru, ditonton oleh para anak buah perampok dan oleh tiga orang pemuda yang diam-diam merasa cemas juga itu.
Tiga orang pemuda itu sama sekali tidak mengerti ilmu silat.
Maka melihat gerakan kepala perampok itu yang kelihatan menyeramkan, gerakannya cepat dan hebat, tenaganya amat kuat sehingga golok itu berdesing desing dan anginnya menyambar-nyambar, sebaliknya gerakan gadis itu indah dan halus, mereka merasa khawatir dan mengira bahwa kepandaian kepala perampok itu terlalu hebat dan kuat bagi Kui Eng.
Akan tetapi, setelah bertempur belasan jurus lamanya, tahulah Kui Eng bahwa kepandaian kepala perampok ini tidaklah berapa tingginya, hanya lagaknya saja yang sombong dan tenaganya saja yang besar, akan tetapi hanya merupakan tenaga kasar dari otot-otot terlatih.
Setelah bergebrak selama belasan jurus, tahulah Kui Eng bahwa dia akan dapat merobohkan lawan setiap saat yang dikehendakinya.
Akan tetapi Kui Eng adalah seorang gadis yang cerdik sekali.
Kalau dia mengeluarkan kepandaiannya dan mendesak kepala perampok itu tentu kaki tangan perampok itu akan mulai mengeroyok dan bukan tidak mungkin tiga orang pemuda pelajar itupun akan diserang oleh mereka.
Maka dia lalu berkelahi dengan lambat dan sengaja membiarkan dirinya diserang bertubi-tubi dan kelihatannya dia yang terdesak!
Kepala, perampok itu sudah tertawa terkekeh-kekeh sambil menghujani tubuh Kui Eng dengan serangan-serangannya, sedangkan semua anak buahnya sudah bersorak-sorak girang.
Sementara itu, Min Tek dan dua orang temannya menjadi gelisah sekali.
Apa lagi Min Tek yang memang berwatak gagah.
Dia tidak takut mati, akan tetapi dia tidak rela kalau melihat wanita itu celaka karena melindungi dia dan teman-temannya!
"Tai-ong (raja besar, sebutan kepala perampok), jangan bunuh si manis ini, sayang cantiknya!"
Teriak seorang perampok dengan suara mengejek dan tertawa-tawa.
"Benar, kalau tai-ong tidak suka, boleh diserahkan kepada kami, ha-ha!"
Teriak yang lain.
Kui Eng tak dapat menahan kemarahannya lagi, apa lagi ketika dia mengerling ke arah Min Tek dan kawan-kawannya dan melihat betapa pemuda itu nampak khawatir sekali, kemarahannya memuncak.
Tiba-tiba terdengar Min Tek berseru keras.
"Tai-ong! Kau boleh mengganggu kami, boleh merampas semua barang kami, boleh bunuh kami tiga orang laki-laki. akan tetapi janganlah kauganggu nona itu! Bukan perbuatan laki-laki gagah untuk mengganggudan menghina seorang wanita!"
Kui Eng merasa terharu sekali mendengar bentakan Min Tek ini.
Ternyata bahwa di dalam pemuda itu berusaha menolongnya, mengorbankan diri dengan gagah berani tanpa mengenal takut.
Tiba-tiba kepala perampok itu berseru dengan heran dan terkejut karena tiba-tiba saja tubuh lawannya lenyap dan pedang lawan berubah menjadi segulung sinar yang berkeredepan menyambar ke arah dada dan mukanya.
Dia menjadi bingung sekali dan tahu tahu pipinya terasa perih sekali dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, tangan kiri Kui Eng telah rnenotok pergelangan tangannya hingga goloknya terpental jatuh dan dia terhuyung ke belakang!
Ketika ia meraba pipinya, dia mengaduh aduh karena ternyata bahwa pinggir mulutnya keadaan yang berdaya kelemahannya, keadaan dia sendiri terancam keselamatannya, tidak karena dalam masih untuk dan telah terobek pedang sampai ke pipinya.
Dalam kecemasannya, Kui Eng telah merobek mulut kepala perampok itu dengan ujung pedangnya!
Kawanan perampok menjadi marah dan hendak maju mengeroyok, akan tetapi Kui Eng telah melompat di depan ketiga orang pemuda itu dan berdiri dengan gagah sambil melintangkan pedang di depan dada.
"Siapa sudah bosan hidup, boleh coba maju!"
Bentaknya.
Kawanan perampok menjadi ragu-ragu, empat orang yang agak tabah melompat maju berbareng, akan tetapi dengan gerak tipu Hui-pauw-liu-coan (Air Terjun Bertebaran), nampak sinar pedang berkelebatan dan terdengar mereka menjerit sambil melepaskan senjata masing masing karena Kui Eng telah melukai lengan mereka dengan gerakannya yang cepat sekali dan yang tidak dapat mereka lihat datangnya.
Perampok-perampok yang lain menjadi terkejut bukan main dan mereka segera mundur sambil memapah kawan-kawan mereka yang terluka.
Ang Min Tek dan dua orang temannya merasa kagum sekali.
Untuk kedua kalinya dara perkasn ini telah menolong nyawa mereka dengan gagah berani.
Saking girang dan terharunya, Min Tek lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Kui Eng!
"Telah dua kali siocia menolong kami sehingga kami berhutang nyawa kepadamu.
Entah dengan jalan apakah kami dapat membalas budi yang tak terkira besarnya ini?"
Sambil tersenyum manis Kui Eng yang sudah menyimpan kembali pedangnya, menggunakan kedua tangan untuk memegang kedua pundak Min Tek, dan mengangkatnya bangun sambil berkata.
"Ah, kongcu, sudah selayaknja bagi manusia untuk saling menolong. Untuk apakah aku belajar ilmu silat kalau aku tidak mempergunakan ilmu kepandaian itu untuk menolong sesama hidup dan menentang kejahatan? Sebaliknya engkau, Ang-kongcu, yang tidak memiliki ilmu kepaudaian silat, namun engkau memiliki ketabahan yang mengagumkan hatiku, bahwa engkau telah berani membelaku. Dalam hal kegagahan, kau tidak kalah oleh pendekar-pendekar yang berilmu silat tinggi!"
Sambil berkata demikian, sepasang mata yang indah dari dara itu memandang tajam justeru pada saat Min Tek juga menatap wajahnya sehingga dua pasang mata bertemu, melekat sebentar dan membuat wajah kedua orang muda Itu menjadi merah sekali.
Kui Eng cepat menundukkan mukanya dengan hati yang berdebar tidak karuan.
Harus diakuinya bahwa selama hidupnya belum pernah dia merasai kegembiraan yang demikian besar dan jantungnya juga belum pernah memberontak seperti pada saat itu.
Karena hari telah menjelang senja, merela lalu melanjutkan perjalanan dengan cepat karena di luar daerah hutan terdapat sebuah kota di mana mereka dapat bermalam.
Kini hubungan di antara mereka menjadi lebih akrab dan Kui Eng tidak merasa sungkan lagi untuk melakukan perjalanan bersama, sungguhpun sambil berjalan mereka itu berdiam diri.
Setibanya di dalam kota, mereka lalu mencari kamar di rumah penginapan.
Kang Coan dan adiknya menyewa sebuah kamar, Min Tek di kamar lain, sedangkan Kui Eng menyewa kamar yang agak jauh dari situ, di sebelah belakang.
Semenjak memasuki rumah penginapan itu, mereka tidak lagi saling jumpa karena Min Tek dan kawan-kawannya menjaga agar jangan sampai orang luar menyangka yang bukan bukan terhadap diri Kui Eng sebagai seorang gadis baik-baik.
Menurut anggapan tiga orang muda yang semenjak kecil digembleng dengan kesusasteraan, kebudayaan dan kesusilaan yang masih kuno menurut kitab-kitab itu, tidak selayaknyalah kalau mereka mendekati Kui Eng di depan umum.
Hal ini mereka anggap sebagal perbuatan yang merendahkan nama gadis itu.
Memang, pada waktu itu orang-orang yang memperoleh pendidikan kesopanan dari orang-orang tua atau guru-guru kesusasteraan yang amat kukuh, terutama sekali bagi mereka yang masih berdarah bangsawan, masih mempertahankan kesopanan kuno di mana hubungan antara wanita dan pria amat jauh, bahkan merupakan pantangan besar bagi pria dan wanita untuk saling bertemu dan berdekatan!
Kui Eng sejak kecil dibesarkan di kalangan orang dusun, bahkan dididik ilmu silat.
Sungguhpun dia juga belajar membaca dan menulis namun dia tidak dikekang oleh segala macam peraturan tradisi, maka hidupnya lebih bebas dan dia tidak tahu akan semua peraturan itu.
Maka sikap Min Tek dan teman-temannya itu menimbulkan rasa geli di dalam hatinya dan dia merasa betapa pemuda itu luar biasa "pemalu"
Dan canggungnya, dalam hubungannya dengan teman seorang wanita.
Akan tetapi, biarpun dia gagah dan jujur, sebagai seorang wanita, tentu saja diapun tidak berani dan malu untuk bersikap mendesak dan mendekati mereka.
Akan tetapi, justeru hal inilah yang mendatangkan bencana.
Kalau saja Min Tek tidak demikian kukuh mempergunakan sopan santun yang berlebihan, yang ditanamkan di dalam dirinya semenjak dia kecil, tentu Kui Eng akan berlaku lebih waspada karena berada lebih dekat dengan dia.
Kini, dara itu yang juga merasa lelah, berdiam di dalami kamarnya saja dan semalam suntuk itu dia tidur dengan nyenyaknya.
Akan tetapi, pada keesokan harinya pagi-pagi sekali dia menjadi terkejut sekali ketika pintu kamarnya digedor orang dengan keras.
Ketika dia membuka daun pintu, ternyata bahwa yang menggedor pintu kamarnya itu adalah Lie Kang Coan dan Lie Kang Po, dua orang sahabat Min Tek itu, dan kedua orang pemuda ini menangis!
"Eh, ji-wi kongcu, pagi-pagi begini mengetuk pintu sambil menangis, apakah yang telah terjadi?"
Sambil berkata demikian Kui Eng mencari-cari Min Tek dengan pandang matanya dan ketidak hadiran pemuda itu membuat dia merasa cemas sekali.
"Dia""..dia diculik orang"".!"
Akhirnya Kang Coan dapat berkata sambil mengusap air matanya yang mengalir turun di kedua pipinya.
Bagaikan disambar halilintar, Kui Eng meloncat keluar dari dalam kamarnya lalu berlari menuju ke kamar Min Tek di mana telah berkumpul pengurus hotel dan para tamu lain yang telah mendengar akan nasib pemuda yang diculik orang itu.
Melihat seorang gadis cantik jelita dan bersikap gagah datang memasuki kamar, mereka lalu memberi jalan dan Kui Eng segera masuk ke dalam kamar, di mana pengurus hotel sedang memeriksa keadaan dalam kamar.
Ketika melihat Kui Eng masuk, dia bertanya.
"Siocia, apakah siocia sahabat kongcu yang diculik orang ini?"
Kui Eng hanya mengangguk dan ketika pengurus hotel itu menuding ke arah dinding Kui Eng lalu menengok dan ternyata bahwa di atas dinding yang putih itu terdapat tulisan kasar dengan coretan-coretan buruk yang berbunyi .
Kalau hendak menyusul pemuda tampan datanglah di tempat kemarin kau menghina orang!
Kui Eng mengerti bahwa tulisan itu memang ditujukan kepadanya dan tentu telah dilakukan oleh kawan-kawan perampok yang dipimpin oleh Tiat-thouw Koai to kemarin maka dia lalu berkata kepada Kang Coan dan Kang Po yang sudah menyusul ke dalam kamar itu dengan suara tenang.
"Harap ji-wi jangan terlalu khawatir. Tunggulah saja di sini, aku yang akan menyusul dan menolong Ang-kongcu!"
Setelah berkata demikian, sambil membawa pedangnya, Kui Eng lalu berlari cepat sekali menuju ke hutan di mana kemarin dia memberi hajaran kepada Tiat-thouw Koai-to dan anak buahnya.
Semua orang di hotel itu ketika mendengar ucapan Kui Eng dan melihat dara itu berlari pergi dengan cepatnya, beramai-ramai lalu mengajukan pertanyaan kepada dua orang muda sasterawan itu siapa adanya dara yang cantik dan gagah itu.
Terpaksa Kang Coan dan adiknya lalu menceritakan pengalaman mereka, betapa dengan amat gagahnya nona itu menolong mereka dari gangguan para perampok.
Tentu saja hal ini membuat semua orang merasa kagum bukan main dan sebentar saja nama Kui Eng menjadi bahan percakapan semua orang di kota itu.
Kui Eng mempergunakan ilmu berlari cepat.
Sebentar saja dia sudah keluar kota dan tak lama kemudian dia telah tiba di hutan ing kemarin.
Hatinya penuh kekhawatiran dan kemarahan.
Dadanya terasa panas ketika dia melihat bahwa tepat seperti yang diduganya, dia melihat Tiat-thouw Koai-to dan kawan-kawannya telah menanti di tempat itu.
Akan tetapi dia tahu bahwa Tiat-thouw Koai-to tidak nanti berani bertindak selancang itu kalau tidak ada yang diandalkan, dan yang diandalkan itupun nampak berada di deretan paling depan.
Di depan rombongan itu Nampak seorang kakek tua yang bertubuh tinggi besar berdiri tegak.
Kakek ini sikapnya gagah bukan main, matanya lebar dan usianya tentu sudah lebih dari limapuluh tahun.
Biarpun mukanya belum memperlihatkan usia yang sangat tua, akan tetapi anehnya, sepasang alisnya telah berwarna putih seluruhnya, padahal rambutnya masih hitam, belum beruban, demikian pula jenggotnya yang tipis panjang itu masih berwarna hitam.
Keanehan warna alisnya inilah yang membuat kakek ini dijuluki orang Pek-bi Lojin (Kakek Alis Putih).
Pek-bi Lojin bukanlah sembarangan orang.
Dia merupakan seorang tokoh persilatan yang terkenal sekali, dan mempunyai murid-murid yang banyak jumlahnya.
Tiat-thouw Koai-to adalah seorang di antara murid-muridnya.
Kemarin, ketika dilukai pipinya oleh Kui Eng, dengan hati mengandung penasaran dan malu karena merasa terhina Tiat-thouw Koai-to lalu lari ke tempat tinggal suhunya yang letaknya tidak jauh dari situ.
Sambil menangis dan memperlihatkan luka pada mukanya, kepala perampok mi menceritakan kepada suhunya betapa dia telah diserang dan dikalahkan secara menghina sekali oleh seorang wanita yang berwatak sombong, ketika dia bersama kawan-kawannya sedang "minta uang jalan"
Kepada tiga orang sasterawan muda yang lewat di hutan.
Memang, bagi Pek-bi Lojin, tidak ada salahnya kalau muridnya menjadi orang-orang yang biasa disebut tokoh-tokoh liok-lim.
Pada masa itu, keadaan negara sedang kacau, para pembesar bersikap sewenang-wenang dan rakyat kecil amat tertekan hidupnya.
Banyak orang-orang yang merasa penasaran dan tidak suka kepada kaisar dan para pembesar, lalu menceburkan diri menjadi perampok.
Pek-bi Lojin adalah seorang tua yang gagah dan jujur, maka dia telah memberi peringatan keras kepada semua muridnya yang menjadi anggauta liok-lim agar supaya melakukan perampokan dengan memilih korban dan jangan serampangan saja, dan agar terutama yang dijadikan sasaran adalah para pembesar yang lewat dan para hartawan, dan sama sekali mereka tidak diperbolehkan mengganggu rakyat dusun yang memang sudah tertekan hidupnya.
Ketika Pek-bi Lojin mendengar bahwa yang hendak dirampok oleh muridnya ini adalah sasterawan-sasterawan yang hendak melakukan ujian di kota raja dan dianggap sebagai keluarga pembesar atau calon-calon pembesar, maka dia tidak menyalahkan muridnya.
Dan marahlah hati kakek yang jujur dan keras ini ketika mendengar betapa muridnya terluka hebat dan menderita penghinaan dari seorang wanita muda yang congkak, yang agaknya menjadi pengawal atau bahkan menjadi kekasih tiga orang pemuda sasterawan calon pembesar-pembesar itu.
Malam hari tadi, dia mempergunakan kepandaiannya mendatangi rumah penginapan dimana Min Tek dan teman-temannya bermalam.
Dia menculik pemuda she Ang itu dan sengaja meninggalkan tulisan di dinding untuk menantang Kui Eng Setelah berhadapan dengan gerombolan perampok itu, dengan marah Kui Eng lalu mencabut pedangnya yang digunakan untuk menuding ke arah muka Tiat-thouw Koai to sambil membentak.
"Tiat-thouw Koai-to! Percuma saja kau mau berpura-pura menjadi orang gagah karena perbuatanmu hanya menunjukkan bahwa engkau seorang pengecut besar yang tak tahu malu! Kau hanya berani mengganggu orang orang lemah yang tidak dapat melawan. Hayo kaubebaskan Ang-kongcu dengan baik, kalau tidak jangan kausesalkan apa bila pedangku akan membasmi sampai habis semua penjahat jang berada di sini!"
"Uwaahhh, gagah benar!"
Tiba-tiba kakek beralis putih itu berseru, suaranya nyaring dan keras, mengejutkan hati Kui Eng yang cepat membalikkan tubuhnya menghadapi kakek itu.
"Nona, ketahuilah, yang menculik Ang-kongcu bukan lain orang, akan tetapi adalah aku sendiri. Aku tidak akan mengganggu Ang-kongcu karena maksudku tidak lain hanya hendak mengundang engkau datang ke sini."
Kui Eng memandang kakek itu dengan sinar mata tajam menyelidiki.
Melihat sikap kakek itu, dia dapat menduga bahwa kakek itu tentu bukan orang sembarangan maka dia lalu mengangkat kedua tangan ke dada sambil bertanya.
"Dengan siapakah aku yang muda berhadapan?"
"Nona muda yang gagah, dengarlah, aku orang tua yang lemah tiada guna disebut orang Pek-bi Lojin dan Tiat-thouw Koai-to si dungu ini adalah seorang muridku. Nona yang begini gagah mengapa telah berlaku demikian kejamnya melukai muridku secara menghina sekali dan mengapa pula engkau memusuhi golongan liok-lim? Apakah nona begitu merendahkan diri menjadi kaki tangan para pembesar dan ikut pula untuk menindas rakyat jelata? Ataukah nona menganggap diri sendiri paling pandai di kolong langit ini dan hendak menyombongkan kepandaian?"
Kui Eng adalah seorang pendekar wanita yang baru saja menerjunkan diri di dunia kang-ouw.
Tentu saja dia belum pernah mendengar nama Pek-bi Lojin yang terkenal itu.
Maka mendengar ucapan itu dia lalu berkata dengan penuh kegemasan hati.
"Locianpwe! Kalau kepala perampok ini benar-benar adalah muridmu, maka engkaupun ikut pula bertanggung jawab. Kalau saja dia melakukan perampokan dan menggunakan aturan, minta sumbangan sekedar untuk biaya hidup anak buahnya, aku tentu tidak akan berani mengganggu dan bahkan dengan senang hati akan membantunya. Akan tetapi, dia membuka mulut besar, berlaku sewenang-wenang kepada tiga orang pelajar yang lemah, bahkan dia telah berani mengeluarkan ucapan kasar dan kotor untuk menghinaku, orang wanita! Memang aku sengaja merobek mulutnya karena mulutnya itulah yang jahat dan kotor!"
Pek-bi Lojin terkenal mempunyai watak yang keras akan tetapi jujur dan adil sekali.
Ketika dia menculik Min Tek dan membawa pemuda itu ke dalam hutan, Min Tek telah menjelaskan kepadanya tentang kejahatan Tiat-thouw Koai-to yang bertindak sewenang-wenang dan menghina orang.
Melihat sikap Min Tek yang biarpun lemah lembut akan tetapi gagah berani dan sedikitpun tidak memperlihatkan rasa takut itu, Pek-bi Lojin sudah merasa kagum bukan main dan amat tertarik, akan tetapi ia belum mempercayai penuh kata-kata pemuda itu.
Betapapun juga, dia melarang keras muridnya untuk mengganggu Min Tek dan pemuda itu ditahan di dalam sebuah pondok dalam hutan, tidak boleh diganggu.
Kini mendengar ucapan Kui Eng yang gagah, Pek-bi Lojin lalu menoleh kepada muridnya dan membentak.
"Apakah kau masih hendak menyangkal pula??"
"Teeeu masih belum tahu kesalahan apakah yang telah teecu lakukan. Mohon diberi penjelasan, suhu,"
Kepala perampok itu membela diri.
"Hem, hem, bagus sekali, Tiat-thouw Koai-to! Kulihat engkau masih menghormat dan menghargai suhumu!"
Kata Kui Eng sambil tersenyum penuh ejekan.
"Kau masih belum mau menerima kesalahanmu? Kau telah memerintahkan aku menanggalkan seluruh pakaian yang menempel di tubuhku baru boleh melanjutkan perjalanan, bukankah itu berarti bahwa engkau telah menghina seorang wanita secara keterlaluan sekali? Kemudian, bukankah mulutmu pula yang mengatakan bahwa kalau aku kalah bertanding, tiga orang pemuda itu akan kaubunuh dan aku harus ikut denganmu selama satu bulan? Dan mulutmu yang kotor pula yang telah memaki aku sebagai kekasih tiga orang pemuda sasterawan yang terhormat itu? Tiat-thouw Koai-to, kalau aku ingat lagi ucapan-ucapanmu yang kotor itu mau rasanya aku menambah sekali tusukan lagi pada mulutmu."
"Betulkah itu??"
Pek-bi Lojin membentak muridnya dengan sinar mata berapi-api.
Tiat-thouw Koai-to kini tidak berani menjawab lagi, hanya menundukkan mukanya dengan hati penuh rasa takut.
Dia menyesal mengapa dia mencari perkara dengan mendatangkan suhunya, siapa kira suhunya tidak segera turun tangan bahkan seperti sedang mengadilinya dengan wanita itu menjadi penuntut!
"Betul atau tidak!
Hayo kaujawab!"
Kakek itu kembali membentak dengan suara menggeledek sehingga tidak saja Tiat-thouw Koai-to menjadi pucat mukanya, bahkan kawan-kawannyapun menjadi pucat mukanya dan kaki mereka menggigil.
"Teecu mohon ampun, suhu. Ucapan-ucapan itu teecu keluarkan karena sedang marah"!"
"Plakk!!"
Tangan Pek-bi Lojin menyambar dan tubuh Tiat-thouw Koai-to terlempar jauh dan terbanting lalu bergulingan.
Kepala perampok itu merintih dan ternyata bahwa pipi kanannya yang tidak terluka pedang Kui Eng itu telah ditampar dan kini membengkak matang biru, sedangkan dari mulutnya mengucur darah.
"Sekali lagi kau melakukan perbuatan melalukan dan mencemarkan nama orang yang menjadi gurumu itu, pasti akan kucabut nyawamu!"
Kakek beralis putih itu berkata penuh geram.
"Muridmu terkena bujukan seorang penjahat rendah bernama Hek-houw, maka maafkanlah dia locianpwe,"
Kata Kui Ing yang merasa kasihan juga melihat nasib kepala perampok itu. Mendengar ini, kakek itu mengangguk-angguk dan berkata, suaranya penuh penyesalan.
"Nona, kalau begitu aku sudah melakukan kekeliruan dengan menculik pemuda itu, karena ternyata bahwa engkau bukanlah seorang sebagaimana yang kukira semula. Akan tetapi, betapapun juga, aku si tua bangka ini mempunyai semacam penyakit, yaitu apa bila bertemu dengan orang gagah, tua maupun muda, sebelum mencoba ilmu kepandaiannya, hatiku selalu akan merasa penasaran dan tidak bisa tidur. Oleh karena itu, harap jangan sia-siakan kedatanganmu ini, nona, dan berilah sedikit petunjuk kepada orang tua yang tak tahu diri ini agar puas!"
"Locianpwe, kalau hanya ingin mengajak pibu, mengapa tidak langsung saja mendatangi aku? Mengapa harus mengganggu seorang pemuda pelajar yang melakukan perjalanannya hendak menempuh ujian di kota raja?"
Kui Eng mencela dan menegur berani.
"Ang-kongcu telah menceritakan kepadaku bahwa kau dan tiga orang pemuda itu tidak mempunyai hubungan apa-apa, maka bukan main heran hatiku melihat betapa engkau demikian memperhatikan nasibnya,"
Kata Pek-bi Lojin sehingga wajah dara itu berubah menjadi merah.
"Hayo cepat jemput tamu agung kita itu dan persilakan dia datang ke sini i"
Kakek itu memerintah dan tergopoh-gopoh Tiat-thouw Koai-to sendiri yang terhuyung-huyung memasuki hutan untuk menjemput Ang Min Tek yang ditahan di dalam sebuah pondok.
Tak lama kemudian muncullah Min Tek diiringkan oleh kepala perampok itu.
Melihat betapa pemuda itu tidak menderita sesuatu dan berada dalam keadaan selamat, legalah rasa hati Kui Eng.
Min Tek memandang kepada Kui Eng dengan sinar mata mengandung keharuan dan kekaguman.
Kembali dara pendekar itu telah menolongnya, bahkan telah berani mendatangi sarang perampok dan mempertaruhkan keselamatan diri sendiri untuk keselamatannya.
Tentu saja di depan para perampok itu, Kui Eng tidak sudi memperlihatkan perasaannya terhadap pemuda itu, maka dia hanya memandang sebentar saja kemudian dia menoleh kepada Pek-bi Lojin sambil berkata dengan tenang.
"Locianpwe, setelah kau membebaskan kembali Ang-kongcu, perkenankanlah kami meninggalkan tempat ini "
"Eh, eh, nanti dulu, nona. Sudah kukatakan tadi bahwa sebelum mengukur kepandaian seorang gagah yang kebetulan bertemu dengan aku maka aku akan selalu merasa penasaran. Kalau hanya orang gagah biasa saja, akupun malas untuk bermain-main. Akan tetapi engkau adalah seorang wanita muda yang jarang tandingannya, maka amat menarik hatiku untuk mengukur kepandaianmu, nona. Marilah kita main-main sebentar untuk menambah pengalaman, kemudian baru kau boleh pulang bersama Ang-kongcu."
Kui Eng merasa ragu-ragu karena khawatir kalau kalau ini hanya merupakan tipu muslihat belaka. Akan tetapi tiba-tiba Min Tek sudah berkata dengan suaranya yang nyaring.
"Locianpwe adalah seorang tua yang gagah sejati, maka pasti akan memegang teguh janjinya."
Mendengar ini, Pek-bi Lojin tersenyum dan berkata kepada Kui Eng.
"Nona, mendengar bahwa ilmu pedangmu hebat bukan main. Aku orang tua yang bodoh pernah mempelajari sedikit ilmu golok yang canggung maka ingin sekali aku mencoba ilmu pedangmu yang lihai itu. Marilah, dan jangan kau bersikap seji (sungkan)!"
Setelah berkata demikian, tangan kanan kakek itu bergerak ke arah punggungnya dan tahu-tahu dia telah mencabut keluar sebatang golok tipis yang ringan dan tajam sekali.
Melihat gerakan ini, diam-diam Kui Eng merasa terkejut karena dia maklum bahwa kakek ini memang lihai sekali.
Maka dia bersikap hati-hati sekali dan tidak mau menyerang lebih dulu.
"Silakan, locianpwe,"
Katanya sambil melintangkan pedangnya di depan dada.
"Ha-ha-ha, kau terlalu sungkan, nona!"
Pek-bi Lojin berseru sambil tertawa, kemudian dia melangkah maju dan berteriak "Awas golok!"
Goloknya berubah menjadi sinar putih yang menyilaukan mata, sinar yang bergulung-gulung menyambar ke arah Kui Eng.
Ilmu golok dari kakek ini adalah semacam ilmu golok sakti yang berdasarkan Ilmu Lohan-to-hoat (Ilmu Golok Orang Tua Gagah) dari Siauw-lim-pai yang telah dirubah dan ditambah dengan gerakan dan lain-lain cabang persilatan.
Gerakan goloknya cepat dan kuat, bagaikan seekor naga sakti, menyambar-nyambar mengeluarkan angin bersiutan dan suara berdesing-desing mengerikan.
Memang benar kata ahli-ahli persilatan bahwa golok yang dimainkan oleh tangan seorang ahli, merupakan raja senjata yang berbahaya sekali.
Golok yang tipis dan lebar itu setelah dimainkan oleh Pek-bi Lojin, lenyap bentuk goloknya dan berubah menjadi sinar putih bergulung-gulung yang berkeredepan.
Tidak hanya para perampok, akan tetapi bahkan Min Tek yang tidak mengerti ilmu silat, menjadi kagum sekali menyaksikan permainan golok yang selain hebat, juga amat indah dipandang itu.
Di dalam hatinnya pemuda ini mulai merasa khawatir akan keselamatan Kui Eng Sanggupkah dara itu menandingi permainan golok sehebat ini?
Akan tetapi, Kui Eng adalah seorang dara yang berbakat dan yang telah memperoleh gemblengan hebat dari suhunya yang sakti.
Permainan pedangnya hebat, ginkangnya sudah mencapai tingkat tinggi.
Dia berhati tabah dan tenang, bagaikan seekor naga betina muda yang baru turun dari langit dan semangatnya besar.
Biarpun dia maklum bahwa kakek yang menjadi lawannya ini lihai sekali permainan goloknya, namun sedikitpuh dia tidak merasa ngeri atau gentar.
Dan menggerakkan pedangnya dengan sama cepatnya dan mengandalkan ginkangnya untuk berkelebat ke sana ke sini dengan loncatan-loncatan yang amat gesit menghindarkan diri dari sambaran sinar golok dan membalas dengan serangan yang sama cepat dan kuatnya.
Pertandingan itu benar-benar amat hebat dan menyeramkan.
Makin lama, perkelahian itu berjalan makin cepat sehingga semua mata yang menyaksikan pertandingan itu akhirnya menjadi berkunang dan kabur karena tubuh kedua orang itu telah lenyap terbungkus gulungan sinar golok dan pedang yang diputar secara luar biasa cepatnya.
Diam-diam Tiat-thouw Koai-to bengong terlongong dan mengucap untung karena melihat kehebatan ilmu pedang dara itu, kalau dikehendaki oleh dara itu, kemarin tentu dalam segebrakan saja kepalanya sudah akan berpisah dari tubuhnya.
Sinar pedang dan golok bergulung-gulung dan saling membelit.
Hanya bunyi golok bertemu dengan pedang saja yang kadang-kadang terdengar, amat nyaring disusul bunga api berhamburan, menandakan bahwa di dalam gulungan sinar pedang dan golok itu terdapat dua orang yang sedang mengadu kepandaian, sukarlah bagi para penonton, baik yang telah memiliki kepandaian seperti Tiat thouw Koai-to sekalipun, untuk menentukan siapa di antara kedua orang itu yang lebih unggul dalam perkelahian pibu (mengadu kepandaian silat) itu.
Hanya dua orang yang sedang bertanding itulah yang maklum bahwa dalam hal kepandaian ilmu silat, ternyata bahwa tingkat Pek-bi Lojin lebih tinggi setingkat dan lebih matang permainan goloknya, akan tetapi kakek itu harus mengakui bahwa dalam hal ilmu meringankan tubuh, gadis itu masih lebih menang!
Maka diam-diam hati kakek ini sudah merasa kagum bukan main karena belum pernah selamanya dia bertemu tanding seorang dara semuda ini dengan kepandaian sehebat itu.
Pek-bi Lojin memperhebat gerakan goloknya sehingga Kui Eng dapat didesaknya mundur dan dara ini melindungi dirinya dengan putaran pedangnya sambil mengandalkan gin-kang untuk menghindarkan diri dari ancaman golok lawan.
Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan seruan keras.
Dia sudah terlalu gembira memperoleh lawan tangguh ini maka dia sengaja hendak mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya.
Kini dia mengubah ilmu goloknya dan mainkan Ilmu Golok Tee-tong-to, yaitu permainan golok yang dilakukan sambil bergulingan di atas tanah!
Tubuhnya menggelinding ke sana-sini mengejar lawan seperti trenggiling, tubuh itu selalu di dalam lindungan sinar golok dan dari gulingan-gulingan itu kadang-kadang mencuat sinar golok yang panjang untuk menjerang ke arah kaki atau pusar lawan!
Menghadapi serangan yang cepat dan berbahaya ini, Kui Eng terkejut sekali Terpaksa dia berlompatan tinggi dengan niat membalas serangan dari atas.
dengan berjungkir balik seperti burung garuda menghadapi seekor ular.
Akan tetapi, Pek bi Lojin benar-benar hebat dan memiliki banyak pengalaman.
Dia sudah cepat melompat berdiri sebelum dara itu berjungkir balik dan kini menggunakan goloknya memukul ke arah kaki Kui Eng.
Pukulan ini dilakukan dengan golok membalik, jadi dia hanya menyerang dengan punggung golok yang tidak tajam.
Akan tetapi, dalam keadaan terdesak hebat ini, Kui Eng memperlihatkan ginkangnya yang benar-benar amat mengagumkan.
Ketika dulu dia mempelajari ginkang, suhunya menyuruh nya berlompatan di atas ujung bambu-bambu runcing yang dipasang di atas tanah, bahkan setelah kepandaian dara ini menjadi matang suhunya memegang dua batang bambu runcing dan menyuruh Kui Eng melompat ke atas dan berdiri di atas bambu-bambu yang dipegangnya itu sambil melompat lagi dan hinggap lagi, bermain-main di atas ujung kedua bambu runcing yang dipegangnya.
Kini, melihat serangan golok lawan ke arah kakinya sedangkan tubuhnya masih melompat di udara, Kui Eng lalu menggunakan ujung kakinya untuk menginjak gagang golok dan sekali dia mengenjot tubuhnya, maka tubuhnya mencelat lagi ke atas dan segera melayang ke tempat yang jauhnya tidak kurang dari lima tombak, turun ke atas tanah dalam keadaan tegak dan sama sekali tidak bergoyang!
Bukan main kagumnya hati Pek-bi Lojin melihat ginkang hebat ini.
Dia menoleh kepada muridnya yang memandang bengong, lalu membentak.
"Orang macam engkau berani melawan nona pendekar seperti dia?"
Lalu dia menghampiri Kui Eng setelah menyelipkan goloknya di punggung. Kui Eng yang tahu bahwa kakek itu tadi menyerangnya dengan golok dibalik, cepat menyimpan pedangnya dan menjura.
"Locianpwe sungguh lihai, aku menyerah kalah."
"Ha-ha-ha, sudah pandai ilmu silatnya, pandai merendahkan diri pula. Nona Kui Eng, ginkangmu sungguh membuat mataku yang tua ini terbuka lebar. Kau benar-benar patut dipuji. Tidak tahu, siapakah nama suhumu yang mulia?"
Melihat sikap polos dari kakek itu, Kui Eng tidak menyembunyikan nama gurunya.
"Suhu berjuluk Lui-Sian Lojin dari Kwi-hoa san."
Tak tersangka-sangka olehnya ketika mendengar jawaban ini, Pek-bi Lojin kelihatan terkejut bukan main dan tiba-tiba saja dia menjura dengan amat hormatnya, bahkan Tiat-thouw Koai-to kelihatan menjatuhkan diri berlutut di depannya!
"Ah, maaf""..
maaf"".., tidak tahunya lihiap adalah murid dari in-kong (tuan penolong) kami"".."
Kata Pek-bi Lojin sambil menarik napas panjang, kemudian menoleh kepada Tiat-thouw Koai-to sambil membenak "Hemm, kalau hal ini terdengar oleh in-kong ke mana kita harus menyembunyikan muka kita?"
"Lihiap, ampunkan saya yang bermata buta dan mohon jangan lihiap menceritakan kekurangajaran saya kepada Lui Sian locianpwe""
Kata Tiat-thouw Koai-to dengan suara memohon Kui Eng menjadi heran sekali melihat sikap mereka.
"Apakah locianpwe telah mengenal suhu?"tanyanya.
"Ah, lihiap, harap jangan menyebut saya dengan sebutan locianpwe. Lihiap membuat saya merasa malu saja. Ah, kalau tidak ada guru lihiap, kiranya saat ini sudah tidak ada lagi manusia seperti saya dan murid saya yang dungu itu!"
Pek-bi Lojin lalu menceritakan betapa dahulu, dia dan muridnya pernah mendapatkan pertolongan Lui Sian Lojin ketika mereka berdua dikeroyok oleh musuh-musuh mereka, yaitu orang-orang dari perkumpulan Hek-san-pang (Perkumpulan Kipas Hitam).
Kalau tidak ada Lui Sian Lojin yang datang menolong, tentu Pek-bi Lojin, Tiat-thouw Koai-to dan beberapa orang anak murid kakek itu telah binasa semua oleh para anggauta Hek-san-pang!
Setelah mendengar bahwa dara pendekar itu adalah murid Lui Sian Lojin, sikap Tiat-thouw Koai-to berubah sama sekali.
Dia sangat menghormat, bahkan setelah menjura dia minta maaf kepada Ang Min Tek, diapun lalu berkata.
"Ang-kongcu, perjalanan dari sini ke Kota raja masih cukup jauh dan melalui tempat-tempat berbahaya. Oleh karena itu perkenankanlah saya dengan beberapa orang kawan menemani kongcu dan teman-teman sampai di kota raja". Tentu saja Ang Min Tek merasa senang sekali dan menghaturkan terima kasihnya. Tiat-Thouw Koai-to lalu mempersiapkan tiga ekor kuda untuk tunggangan Ang Min Tek dan dua orang temannya itu. Sementara itu, Kui Eng yang mendengar disebutnya kawanan Hek-san-pang, tertarik sekali dan minta penjelasan lebih lanjut dari Pek-bi Lojin Kakek ini dengan sungguh-sungguh lalu berkata.
"Lihiap, sebetulnya, ketika menyaksikan kepandaian lihiap tadi sudah timbul niat saya untuk mohon bantuan lihiap, yaitu untuk menemani saya pergi menyerbu ke sarang mereka. Dengan tenaga kita berdua, saya rasa kita akan cukup kuat untuk menghadapi tiga orang ketua dari Hek-san-pang yang kuat itu. Akan tetapi, karena lihiap sedang melakukan perjalanan ke kota raja, tentu saja saya tidak berani menghalangi dan mengganggu maksud perjalanan lihiap."
Kui Eng memandang kepada Min Tek yang masih berada di situ.
Sebetulnya, dia tidak mempunyai kepentingan sesuatu di kota raja, karena kepergiannya ke kota raja sesungguhnya karena hanya ingin melindungi pemuda itu.
Kemudian ia lalu menjawab.
"Aku tidak mempunyai tujuan tertentu dalam perjalananku, dan aku dapat pergi ke mana saja kedua kakiku membawa, lo-enghiong."
Kini dia menyebut kakek itu lo-enghiong (pendekar tua), Pandangan mata gadis itu diarahkan kepadanya, Min Tek maklum bahwa gadis itu bermaksud minta persetujuannya, maka dia lalu berkata.
"Kami bertiga mana berani berbuat keterlaluan dan mengganggu Kui-siocia terus. Setelah ada saudara ini yang demikian baik mengawal, kami sama sekali tidak ingin membikin capai kepada Kui-siocia. Hanya harapan saya, apa bila siocia sekali waktu mengunjungi kota raja, dan ada waktu, hendaknya sudi mampir di pondok paman saya yang buruk, (Lanjut ke
Jilid 10) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 10 yaitu di toko obat Yok-goan-tong. Atas segala bantuan dan budi pertolongan Kui-siocia, kami bertiga sampai matipun tidak akan dapat melupakannya."
Ang Min Tek menjura dengan penuh hormat kepada Kui Eng yang memandangnya dengan hati terharu. Dia merasa kecewa juga harus berpisah dengan pemuda yang amat menarik hatinya ini, maka jawabnya.
"Ang-kongcu, tidak ada budi dan terima kasih antara kita. lupakanlah saja hal yang sudah lewat. Siapa tahu, lain kali akulah yang perlu mendapatkan bantuanmu. Apa bila aku pergi ke kota raja, pasti akan kucari toko obat pamanmu itu."
Kemudian, setelah sekali lagi memandang dengan penuh pernyataan terima kasih kepada dara itu, Min Tek lalu meninggalkan tempat itu sambil naik kuda, dikawal oleh Tiat-thouw Koai-to dan lima orang kawannya sambil menuntun dua ekor kuda untuk Lie Kang Coan dan Lie Kang Po.
Kui Eng memandang dan mengikuti bayangan pemuda yang menunggang kuda itu sampai lenyap di tikungan jalan.
Dia merasa seolah-olah semangatnya terbawa pergi dan merasa betapa sunyinya keadaan sekelilingnya.
Akhirnya dia menghela napas panjang dan menoleh kepada kakek itu.
"Lo-enghiong, apa dan siapakah sebenarnya perkumpulan Hek-san-pang itu?"
"Mari kita duduk di tempat teduh, di bawah pohon sana dan dengarlah penuturanku, lihiap,"
Kata kakek itu dan mereka lalu duduk di bawah pohon yang teduh di mana Kui Eng mendengarkan penuturan Pek-bi Lojin.
Perkumpulan Hek-san pang (Perkumpulan Kipas Hitam) adalah perkumpulan orang-orang golongan sesat yang bersarang di lereng Bukit Ma-kun-san.
Perkumpulan ini memang kuat sekali dan terkenal sesat dan jahat.
Mereka itu bukan hanya melakukan pekerjaan merampok akan tetapi juga ada bagian yang melakukan pemerasan di dusun dusun, mengancam kepala kepala kampung untuk memberi sumbangan dengan jumlah besar yang telah ditentukan juga mereka tidak segan segan untuk merampas hasil-hasil sawah untuk ransum anak buah mereka.
Jumlah pengikut mereka cukup banyak kurang lebih ada seratus orang.
Hek-san-pang dipimpin oleh tiga orang she Can yang berilmu tinggi, merupakan jagoan-jagoan yang lihai.
Yang pertama bernama Can Kok, ke dua Can An dan ke tiga Can Sam.
Belasan tahun nng lalu, Hek-san-pang dipimpin oleh seorang hwesio yang menyeleweng, atau lebih tepat dinamakan seorang penjahat yang menyamar sebagai hwesio, berjuluk Lauw Pit Hwesio.
Di bawahpimpinan hwesio yang menjadi susiok (paman guru) dari tiga orang saudara Can itu, Hek-san-pang merajalela dan terkenal sebagai pengganggu dusun-dusun di sekitar wilayah mereka.
Hal ini memuat Pek-bi Lojin menjadi marah dan dia membawa para anak muridnya untuk menyerang ke Bukit Ma-kun-san.
Akan tetapi, kekuatan Hek-san pang demikian besar sehingga Pek-bi Lojin dan semua muridnya nyaris terbunuh dalam pertempuran itu kalau saja tidak muncul Lui Sian Lojin yang kebetulan melakukan perjalanan merantau dan tiba di situ.
Berkat pertolongan Lui Sian Lojin, maka Lauw Pit Hwesio dapat dibinasakan dan perkumpulan itu diobrak-abrik sehingga menjadi bubar.
Akan tetapi, diam-diam tiga orang saudara Can yang menjadi murid-murid keponakan dari Lauw Pit Hwesio, telah memperdalam ilmu kepandaian mereka, lalu mengumpulkan semua bekas anak buah Hek-san-pang, kemudian mendirikan lagi perkumpulan yang telah hancur itu dan bersarang di lereng Bukit Ma kun-san.
Kedudukan mereka kini bahkan jauh lebih kuat dari pada dahulu.
Pek-bi Lojin yang menentang mereka karena penindasan mereka terhadap rakyat di dusun-dusun, beberapa kali mencoba untuk menyerbu.
Akan tetapi dia dan para muridnya selalu terpukul mundur, bahkan banyak anak muridnya yang tewas dalam penyerbuan itu.
Oleh karena ini, tumbuhlah permusuhan yang mendalam antara Pek-bi Lojin dan perkumpulan Hek-san-pang itu.
"Beberapa hari yang lalu,"
Demikian Pek-bi Lojin melanjutkan ceritanya.
"secara kurang ajar sekali mereka telah mengirim surat tantangan kepadaku, tantangan untuk mengadu kepandaian secara jujur untuk menentukan siapa di antara kami yang lebih kuat."
Dia lalu mengeluarkan sehelai kertas yang berisi surat tantangan itu kepada Kui Eng.
Dara ini membaca surat itu dan ternyata surat yang menantang kepada Pek-bi Lojin untuk diajak pibu itu ditandatangani oleh Can Kok, Can An dan Can Sam sebagai tiga orang ketua dari Perkumpulan Kipas Hitam.
"Saya masih merasa ragu-ragu, lihiap, oleh karena terus terang saja, apabila menghadapi mereka bertiga seorang diri saja, agaknya saya akan sukar memperoleh kemenangan. Kalau melawan mereka seorang demi seorang, saya tidak akan kalah, akan tetapi mereka itu curang sekali dan saya masih merasa bingung bagaimana saya harus menyambut tantangan mereka itu. Kebetulan sekali saya bertemu dengan lihiap, maka kalau lihiap sudi menolong dan kita maju berdua, saya kira kita tidak akan dapat mereka kalahkan. Tentu saja saya tidak berani memaksa, lihiap, dan terserah kepada lihiap untuk mengambil keputusan."
Selama melakukan perjalanan, pernah sekali Kui Eng mendengar nama Hek-san-pang disebut-sebut orang dengan penuh rasa takut dan benci.
Karena itulah maka tadi ketika mendengar nama ini, dia merasa tertarik.
Kini, mendengar penuturan Pek-bi Lojin, dia tidak berani secara lancang dan ceroboh untuk menyanggupi begitu saja, oleh karena dia belum yakin betul akan keadaan dan kejahatan perkumpulan itu seperti yang diceritakan oleh Pek-bi Lojin Orang yang membenci tentu saja akan menceritakan hal-hal yang amat buruk saja dari mereka yang dibencinya.
Biarpun Pek-bi Lojin mempunyai watak yang gagah dan jujur, namun orang tua ini berdekatan dengan perampok-perampok, bahkan muridnya juga menjadi kepala perampok.
Maka apabila permusuhan antara kakek ini dan Hek-san-pang merupakan permusuhan pribadi, permusuhan antara sama-sama golongan hitam, dia tidak akan campur tangan.
Sebaliknya kalau memang benar Perkumpulan Kipas Hitam adalah segerombolan orang-orang jahat yang suka mengganggu rakyat, tentu dia akan siap untuk menentang mereka.
"Lo-enghiong, aku bersedia untuk ikut bersamamu menyambut tantangan mereka. Akan tetapi aku tidak berani berjanji untuk melawan mereka sebelum aku yakin betul akan keadaan mereka,"
Katanya dengan jujur. Pek-bi Lojin maklum akan isi hati dara itu, maka dia mengangguk-angguk dan berkata.
"Memang seharusnya dalam segala hal kita berlaku hati-hati dan teliti, lihiap. Baiklah kau hanya ikut saja dan melihat keadaan mereka terlebih dulu."
Demikianlah, kakek itu lalu memerintahkan anak buah perampok untuk menyediakan dua ekor kuda yang baik.
Setelah dua ekor kuda itu tersedia, Pek-bi Lojin dan Kui Eng berangkat meninggalkan tempat itu, menunggang kuda menuju ke Bukit Ma-kun-san.
Biarpun mereka melarikan kuda dengan cepat, namun bukit itu tidak dapat dicapai dalam perjalanan satu hari.
Terpaksa mereka harus bermalam di tengah jalan.
Akan tetapi ternyata Pek-bi Lojin adalah seorang tokoh tua yang amat terkenal di daerah itu sehingga mudah saja bagi mereka berdua untuk mencari tempat bermalam di dalam hutan.
Semua kaum liok-lim di daerah itu menganggap Pek-bi Lojin sebagai tokoh tua yang disegani, maka ketika melihat Pek-bi Lojin datang bersama seorang gadis yang cantik dan gagah, mereka menyambutnya dengan penuh kehormatan dan dua orang yang dianggap sebagai tamu agung itu diberi tempat bermalam yang layak dan disuguhi hidangan yang istimewa pula.
Diam-diam Kui Eng kagum juga melihat pengaruh kakek itu di kalangan kaum liok-lim.
Pada keesokan harinya, Pek-bi Lojin dan Kui Eng melanjutkan perjalanan mereka dan menjelang tengah hari, sampailah mereka di kaki Bukit Ma-kun-san.
Selagi mereka menahan kuda dan memandang ke atas, mereka melihat dari atas bukit turun serombongan orang berkuda dan setelah dekat, Kui Eng melihat bahwa mereka adalah orang-orang yang memakai pakaian seragam dan ada gambar kipas hitam terbuka di baju bagian dada mereka.
Maka dia dapat menduga bahwa mereka itu tentulah para anggauta Kipas Hitam.
Dugaannya memang benar.Setelah rombongan itu tiba di depan mereka, seorang di antara mereka yang memimpin rombongan itu meloncat turun dari atas kuda, menjura kepada Pek-bi Lojin sambil berkata.
"Ketua kami telah tahu akan kunjungan ji-wi, maka mengutus kami untuk menyambut dan mengantar ji-wi ke atas bukit"
Kui Eng kagum juga melihat kelihaian gerombolan ini yang telah tahu sebelumnya bahwa mereka berdua telah datang dan hendak naik ke bukit itu.
Memang gerombolan Kipas Hitam mempunyai banyak anak buah yang disebar di mana-mana sebagai penyelidik maka sebelum mereka berdua tiba di tempat itu, para penyelidik telah lebih dulu memberi laporan ke sarang mereka sehingga ketua mereka dapat mempersiapkan penyambutan.
Dengan sikap tenang dan gagah Pek-bi Lojin dan Kui Eng mengikuti para penyambut itu mendaki Bukit Ma-kun-san yang tidak berapa tinggi itu.
Di atas lereng bawah puncak nampak beberapa bangunan dari kayu yang kokoh kuat dan di depan bangunan-bangunan itu kelihatan orang-orang berkelompok sambil melihat kedatangan kedua orang tamu.
Setelah tiba dekat, ternyata bahwa tiga orang ketua Hek-san-pang sendiri telah berdiri di situ menyambut kedatangan Pek-bi Lojin.
Kakek ini segera melompat turun dari atas kuda, diturut oleh Kui Eng, kemudian mereka berdua melangkah maju sementara kuda mereka diurus oleh beberapa orang anak buah Hek-san-pang.
"Pek-bi Lojin, ternyata betul-betul engkau seorang tua yang gagah, berani datang memenuhi undangan kami!"
Kata Can Kok, saudara tertua dari tiga orang ketua Hek-san-pang itu.
Orang ini tubuhnya kate dan mukanya hitam.
Melihat tubuh yang pendek kecil itu, dengan lagak seperti seorang sasterawan sedang mengebut-ngebutkan sebuah kipas berwarna hitam yang lebar seolah-olah tubuhnya kegerahan, benar-benar membuat orang memandang rendah.
Begini saja orang tertua dari Hek-san-pangcu?
Pek-bi Lojin sudah berbisik kepadanya bahwa si kate muka hitam itu adalah Can Kok, dan berbisik pula bahwa dua orang yang lain adalah Can An dan Can Sam.
Akan tetapi Kui Eng tidak mengeluarkan kata-kata, hanya matanya saja memandang penuh perhatian dan penuh selidik.
Can Kok bermuka hitam, bertubuh kate akan tetapi kepalanyabesar.
Sepasang lengannya yang pendek itu nampak kuat dan berisi, sedangkan sepasang matanya tajam mengerling ke arah Kui Eng, membayangkan kekurangajaran dan kecabulan.
Namun Kui Eng tidak perduli dan pura-pura tidak tahu.
Dia sudah memperhatikan orang ke dua, yaitu Can An.
Ji-pangcu (ketua ke dua) ini tubuhnya juga pendek kate seperti kakaknya, akan tetapi mukanya putih dan kedua matanya bersinar-sinar menunjukkan kecerdikannya.
Bibirnya selalu tersenyum dan sikapnya angkuh sekali.
Juga Can An memegang sebuah kipas hitam yang lebar dan terbuka.
Orang ke tiga sungguh berbeda dengan kedua orang kakaknya.
Can Sam ini tubuhnya tinggi kurus dan wajahnya membayangkan kesabaran, akan tetapi sepasang matanya berpengaruh sekali, sungguhpun terdapat tanda tanda kejujuran dan kebodohan pada wajahnya.
Cara tokoh ke tiga ini membawa kipasnya membuat hati Kui Eng tercekat karena kipas itu tertutup dan dijepit pada gagangnya oleh kedua jari tangannya, bagaikan orang menjepit.
Dari cara memegang kipas ini saja mudah diduga bahwa orang ke tiga ini tentulah seorang ahli totok jalan darah yang lihai.
Sesungguhnya orang ke tiga ini bukanlah adik kandung dari dua orang kate itu.
Dia hanyalah seorang anak angkat dari orang tua kedua orang saudara Can itu dan diberi nami Sam dan memakai nama keturunan Can pula.
Ilmu silat dari Can Sam memang lihai sekali dan bahkan tidak berada di bawah tingkat kepandaian dua orang kakaknya.
Wataknya pendiam dan agak bodoh dan dalam segala hal, dia hanya menurut saja kepada dua orang kakaknya.
Setelah mendengar kata-kata sambutan dari Can Kok, Pek-bi Lojin lalu menjura dan menjawab.
"Sam-wi pangcu (tiga orang saudara ketua), kalau aku yan.g tua tidak memenuhi undangan kalian, tentu aku akan disebut pengecut. Sam-wi dengan jujur dan secara jantan telah mengirim tantangan kepadaku untuk mengadakan pibu, tanpa mengikut sertakan kawan-kawan atau anak buah kita. Hal ini memang amat baik untuk menentukan siapa di antara kita yang lebih unggul sehingga pertentangan tidak sampai menjadi berlarut-larut. Siapa merasa lemah dia harus tunduk. Karena tantangan pibu ini sam-wi lakukan dengan jujur, maka tentu saja aku tidak dapat menolaknya."
Jawaban dari Pek-bi Loiin itu mengandung sindiran bahwa dia tidak membawa anak buah dan tidak menghendaki pengeroyokan atau lain perbuatan curang dalam pertandingan yang akan diadakan nanti.
Tiba-tiba Can Kok tertawa mengejek dan berkata sambil menunjuk ke bawah bukit.
"Pek-bi Lojin, kau pandai bicara dan pandai mengejek, akan tetapi kau sendiri bukanlah seorang manusia yang jujur! Mengapa engkau membawa anak buah sebanyak itu yang kini berada di kaki bukit?"
Pek-bi Lojin terkejut dan menengok, demikian pula Kui Eng memandang dan memang benar, di bawah bukit itu terdapat serombongan orang yang memegang senjata dan sedang mendaki bukit sambil berteriak-teriak.
"Jangan kalian menyangka yang bukan-bukan! Mereka itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan aku!"
Kata Pek-bi Lojin setelah memperhatikan orang-orang di bawah itu.
Dan pada saat itu seorang anggauta Kipas Hitam datang memberi laporan bahwa penduduk dusun San-lin-jung telah datang menyerbu Can Kok tertawa mengejek dan berkata "Biarkan mereka naik.
Hendak kulihat mereka itu ingin berbuat apa terhadap kita!"
Rombongan orang dusun itu dipimpin oleh seorang laki-laki tua yang memegang tombak, akan tetapi melihat keadaan napasnya yang terengah-engah ketika mendaki bukit itu, dapat diketahui bahwa dia adalah seorang biasa saja yang tidak memiliki kepandaian silat.
Maka diam-diam Kui Eng merasa heran sekali mengapa orang seperti itu berani mati naik dan menyerbu sarang Hek-san-pang yang terkenal ganas dan kejam.
"Gerombolan Kipas Hitam! Hayo kalian kembalikan puterikul"
Orang tua itu berteriak sambil mengacung-acungkan tombaknya ke atas, diikuti oleh teriakan orang-orang dusun yang menuntut dikembalikannya puteri jung-cu (kepala dusun) mereka itu.
Can Kok si cebol yang berkepala besar dan bermuka hitam itu mengeluarkan suara menghina.
"Gak-hu (ayah mertua) mengapa bersikap seperti ini? Puterimu telah menjadi isteriku yang sah dan kami berdua sudah saling mencinta, mengapa gak-hu mendadak menimbulkan keributan? Tidak malukah kalau terdengar orang luar? Kami sedang menerima tamu, maka harap gak-hu suka kembali saja ke dusun. Besuk aku akan mengirim emas kawin yang telah kujanjikan kepada gak-hu!"
"Perampok hina! Siapa sudi menjadi mertuamu? Hayo kaukembalikan puteriku. Apa kau-kira di dunia ini tidak ada lagi pengadilan maka kau berani menculik anak gadis orang di siang hari?"
Teriak kepala dusun itu dengan mata mendelik saking marahnya.
"Sekali lagi, kuminta supaya kau pulang dan membawa kembali orang-orangmu ini!"
Can Kok berkata dan suaranya mulai mengandung ancaman, sedangkan tangan yang memegang kipas hitam itu mulai bergerak-gerak.
"Anjing rendah! Manusia berhati iblis! Kembalikan anakku"".. kembalikan"". Kepala dusun itu tetap berteriak-teriak dan memaki-maki. Tiba-tiba tubuh Can Kok melayang dan kipasnya dikebutkan ke arah kepala orang tua itu. Kalau kipasnya mengenai kepala kakek itu, tentu kepala itu akan pecah! Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan halus.
"Kejam! Lepas tangan!"
"Tringgg""!!"
Kipas itu terpukul ke samping oleh. sebatang pedang yang menangkis dengari cepat sekali.
"Ehh"..!"
Can Kok meloncat mundur dengan kaget dan juga marah karena ada orang berani mencampuri urusannya dan menangkis kipasnya.
Lebih marah lagi hatinya ketika dia mendapatkan kenyataan bahwa yang menangkis kipasnya dengan pedang itu adalah dara cantik yang tadi datang bersama Pek-bi Lojin.
Kui Eng tadinya merasa ragu-ragu untuk membantu Pek-bi Lojin, oleh karena dia masih belum yakin betul akan kejahatan gerombolan Kipas Hitam.
Akan tetapi ketika rombongan orang dusun itu datang menyerbu dan mendengar percakapan yang terjadi antara Can Kok dan kepala dusun, mengertilah dia bahwa gerombolan Kipas Hitam benar benar merupakan gerombolan penjahat yang kejam dan ganas.
Mereka itu agaknya telah menculik dan memaksa puteri kepala dusun untuk menjadi isteri Can Kok.
Bukan main marahnya hati gadis itu dan ketika dia melihat gerakan tangan Can Kok, dia telah bersiap sedia sehingga dapat menangkis dan menolong nyawa kepala dusun ketiga diserang oleh Can Kok yang berhati kejam itu.
"Aha...! Kiranya Pek-bi Lojin membawa seorang pembantu yang boleh juga kepandaiannya. Bagus, bagus!"
Can Kok berkata mengejek.
""Orang she Can,"
Kata Kui Eng dengan sikap garang.
""Tadinya aku masih ragu-ragu mendengar dari Pek-bi Lojin bahwa kalian adalah orang-orang jahat yang berhati busuk. Tidak tahunya kalian benar-benar amat jahat sehingga tidak malu-malu untuk menculik anak gadis orang. Sekarang tidak saja aku datang untuk membantu Pek-bi Lojin, akan tetapi juga untuk mewakili jung-cu ini minta kembali anak gadisnya!"
Can Kok membelalakkan matanya dengan marah. sekali, kipas di tangan kanannya dikibaskan dengan cepat di depan dadanya.
"Gadis itu telah menjadi isteriku, orang lain tidak boleh mencampuri urusan ini!"
"Keparat mesum! Kalau begitu aku harus membunuhmu!"
Teriak Kui Eng yang tidak dapat lagi menahan kemarahannya.
Dara ini sudah bergerak maju dan menyerang dengan hebat, mengelebatkan pedangnya yang mengeluarkan sinar menyilaukan mata.
Can Kok cepat menutup kipasnya dan kini dia menggunakan kipas itu sebagai senjatanya Kipas di tangan Can Kok itu bukanlah kipas biasa.
Gagangnya teibuat dari pada baja aseli dan ujung gagang kipas itu runcing sehingga kalau kipas itu ditutup merupakan dua batang senjata runcing yang dimainkan secara luar biasa.
Memang inilah kelihaian tiga orang ketua Perkumpulan Kipas Hitam itu, dan permainan kipas mereka sebagai senjata ampuh memang amat terkenal.
Kepandaian tunggal ini mereka pelajari dari suhu mereka dan selama mereka menjagoi di kalangan liok-lim jarang mereka menemukan tandingan.
Akan tetapi sekali ini Can Kok bertemu dengan Kui Eng, murid Lui Sian Lojin yang belasan tahun yang lalu pernah mengobrak-abrik sarang mereka, bahkan yang pernah membunuh susiok mereka.
Setelah bertempur selama duapuluh jurus lebih, Kui Eng mulai dapat menekan permainan kipas lawannya dengan gerakan pedangnya, Melihat hal ini Can An dan Can Sam melangkah maju hendak mengeroyok.
"Apakah kalian hendak bertempur seeara keroyokan? Masih ada aku di sini!"
Pek-bi Lojin berseru.
Can Sam memandang dengan muka merah dan merasa ragu-ragu untuk maju.
Akan tetapi Can An lalu mengebutkan kipasnya dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menyerang Pek-bi Lojin dengan hebat.
Kakek itupun cepat menggerakkan goloknya menangkis dan sebentar saja mereka telah bertempur dengan seru dan mati-matian.
Melihat ini, Can Sam lalu melompat maju, membantu Can An dan mengeroyok Pek-bi Lojin.
Namun kakek yang gagah perkasa ini tidak menjadi gentar, melainkan memutar goloknya secara cepat dan hebat untuk melindungi tubuhnya dan juga untuk membalas serangan dua orang lawannya.
Sementara itu, kepala dusun dan para penduduk dusun yang menyerbu ke atas bukit, ketika melihat betapa secara tiba-tiba dan tak terduga terdapat seorang gadis muda cantik membantu mereka dan kini bahkan bertempur melawan Can Kok yang menculik puteri kepala dusun itu, semua berdiri menonton sambil tentu saja mengharapkan kemenangan di fihak dara itu.
Mereka sudah bersiap sedia untuk membantu dan berkelahi mati-matian apabila anggauta Kipas Hitam turun tangan mengeroyok.
Melihat pertempuran antara tiga orang ketua gerombolan melawan Pek-bi Lojin dan Kui Eng, orang-orang dusun itu merasa tidak berdaya untuk membantu oleh karena setelah lima orang itu bertanding, bayangan mereka lenyap dan menjadi suram tertutup oleh berkelebatnya senjata-senjata mereka yang sinarnya bergulung-gulung sehingga sukarlah untuk membedakan mana kawan dan mana lawan.
Oleh karena itu, mereka hanya menonton saja dengan mata kabur dan kagum.
Biarpun ilmu kepandaiannya tinggi, namun Can Kok tidak kuat juga menghadapi ilmu pedang dan kegesitan tubuh Kui Eng yang sengaja melompat ke sana-sini mempermainkan lawannya yang menjadi lelah dan pening karena harus berputaran mengejar bayangan dan yang gerakannya amat lincah dan cepat itu.
"Robohlah!"
Tiba-tiba Can Kok berseru keras sambil membuka kipasnya.
Ketika dia mengebut, dari ujung kipasnya itu menyambar keluar tiga sinar hitam ke arah dada Kui Eng.
Itulah tiga batang jarum hitam yang amat berbahaya.
Namun, Kui Eng telah mendengar dari Pek-bi Lojin akan kelihaian dan kecurangan ketua Kipas Hitam itu mempergunakan jarum jarum rahasia yang disembunyikan di dalam kipas.
Maka begitu dia melihat sinar hitam menyambar cepat dia mempergunakan pedangnya yang diputar dengan kecepatan kilat untuk menangkis.
Terdengar suara nyaring halus dan tiga batang jarum itu tersampok runtuh semua.
"Heeeiiikkk!!"
Can Kok berseru pula sambil menggerakkan kipas.
Kini terbang menyambar enam jarum, tiga meluncur ke arah leher dan yang tiga batang lagi menyambar ke arah paha Kui Eng.
Serangan ini demikian cepatnya dan tak terduga-duga, malah disusul dengan pukulan kipas ke arah dada itu sehingga Kui Eng tidak sempat pula untuk menangkis semua serangan yang datang dengan berbareng itu.
Dia maklum bahwa untuk menghindarkan ancaman maut itu dia harus mengandalkan ginkangnya.
"Haiiiitttt"".!"
Dara itu mengeluarkan suara melengking nyaring dan tiba-tiba tubuhnya sudah mencelat ke atas dengan cepat sekali bagaikan seekor burung walet menyambar ke atas.
Sambil melompat, digerakkannya kedua kakinya sehingga tubuhnya melayang ke depan dan melewati atas kepala Can Kok dan semua serangan itu dapat dielakkannya sekaligus!
Can Kok terkejut bukan main.
Cepat dia nemutar kakinya dan untung bahwa dia memutar tubuhnya cepat-cepat karena pada saat itu Kui Eng sudah membalasnya dengan menyerang secara bertubi-tubi.
Dengan gemas sekali karena lawannya mempergunakan senjata-senjata rahasia, kini Kui Eng mengeluarkan jurus-jurus ilmu pedangnya yang paling lebat, sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawan, apa lagi untukmengeluarkan senjata rahasia, bahkan untuk bernapaspun Can Kok merasa tidak sempat.
Demikian cepat dan gencarnya datangnya serangan dari dara itu sehingga ujung pedang itu seolah-olah telah berubah menjadi belasan batang!
Mata Can Kok menjuling karena bingung menghadapi kecepatan ini, dia berusaha untuk memutar kipas menangkis.
"Brettl!!"
Pedang Kui Eng membabat di tengah-tengah.
kipas sehingga kipas itu pecah dan ujung pedang yang membabat kipas itu masih terus meluncur ke bawah, mengancam tangan yang memegang gagang kipas!
"Crook..."!
Aughhh..."!!"
Can Kok menjerit kesakitan, kipasnya terlempar dan tangannya terbacok hampir putus!
Can Kok hendak melompat mundur , akan tetapi sebuah tendangan kaki kiri Kui Eng dengan cepat mengenai dadanya sehingga dia roboh terguling tak sadarkan diri.
Dalam gemasnya, Kui Eng melompat maju hendak membunuh orang jahat itu, akan tetapi tiba-tiba dari samping menyambar pukulan yang hebat hingga terpaksa dia membuang diri untuk menghindarkan diri sambil memutar pedangnya membacok ke arah penyerangnya.
"Trangggg....!"
Pedangnya bertemu dengan gagang kipas yang dipergunakan oleh Cin Sam untuk menyerangnya tadi ketika orang ini berusaha menolong kakaknya.
Biarpun Can Sam tidak berhasil melukai Kui Eng, akan tetapi dia telah berhasil menolong nyawa kakaknya dengan serangannya tadi.
Ternyata bahwa dengan pengeroyokan mereka berdua, Can An dan Can Sam berhasil mendesak Pek-bi Lojin sehingga kakek yang gagah perkasa ini merasa kewalahan juga.
Dia hanya memutar-mutar goloknya untuk melindungi dirinya tanpa kuasa membalas sedikitpun juga.
Namun berkat ilmu goloknya yang lihai, kedua saudara Can itu belum mendapat kesempatan untuk merobohkannya karena golok yang diputar itu seolah-olah membentuk suatu dinding baja yang luar biasa kokohnya.
Kemudian mereka mendengar pekik Can Kok sehingga Can Sam segera meloncat dan berhasil menghindarkan Can Kok dari bahaya maut.
Kini Kui Eng bertanding melawan Can Sam yang tidak kalah lihainya dibandingkan dengan orang pertama dari ketua Hek-san-pang itu, bahkan tenaga lwee-kang dari si tinggi kurus ini luar biasa kuatnya.
Setelah ditinggalkan oleh Can Sam dan hanya menghadapi seorang lawan saja, Pek-bi Lojin memperlihatkan keunggulannya.
Goloknya menyambar-nyambar bagaikan halilintar di atas kepala Can An sehingga si kate ini menjadi bingung dan terdesak hebat pertempuran seorang lawan seorang ini terjadi dengan lebih seru lagi karena mereka melakukan serangan mati-matian dan mengerahkan tenaga dan kepandaian seadanya untuk merobohkan lawan.
Setelah kini hanya menghadapi Can An seorang, Pek-bi Lojin memperlihatkan kehebatannya.
Goloknya menyambar dan tiba-tiba ketika kipas lawan menyambar ke arah kepalanya, dia melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan dan goloknya menyambar-nyambar dari bawah.
Itulah Tee-tong-to!
"Wuuuttt.......
crakkk!
Aduhhh......!"
Can An menjerit dan paha kirinya hampir putus terbabat golok Pek-bi Lojin.
Akan tetapi pada saat itu, Pek-bi Lojin juga memekik kesakitan, karena ketika roboh, Can An menyambitkan kipasnya yang mengenai pundak dan menancap di pundak kakek itu.
Inilah kepandaian istimewa dari Can An.
Sambitannya di lakukan pada saat dia terpelanting roboh sehingga sama sekali tidak diduga oleh lawan dan tenaga sambilannya ini kuat sekali.
Berbareng dengan robohnya Can An dan Pek-bi Lojin, kawanan Kipas Hitam menyerbu dan Can Sam yang sudah merasa bingung dan kewalahan menghadapi pedang Kui Eng yang amat lihai itu cepat melompat mundur.
Melihat kawanan perampok Kipas Hitam maju, orang-orang dusun menjadi nekat dan bersorak gemuruh lalu maju pula dan menyerang dengan senjata mereka secara membabi-buta!
Kui Eng maklum bahwa orang-orang dusun itu sama sekali bukanlah lawan kawanan penjahat Kipas Hitam yang pandai ilmu silat, maka dengan sekali lompatan saja dia telah tiba di dekat tubuh Can An, menyeret rubuh ketua ke dua ini dan dilemparkannya ke dekat tubuh Can Kok, kemudian sambil menodongkan pedangnya dia membentak nyaring.
"Tahan semua senjata! Can Sam, kalau kau tidak perintahkan anak buahmu mundur, kedua orang kakakmu ini akan kubunuh lebih dulu!"
Kui Eng menempelkan pedangnya secara bergantian di leher Can Kok dan Can An yang nasih merintih-rintih kesakitan. Melihat ini Can Sam terkejut sekali.
"Jangan bunuh mereka"".!"
Teriaknya dan dia lalu memberi tanda dengan suitan nyaring sehingga semua anak buahnya lalu mengundurkan diri dan memandang kepada ketua mereka dengan bingung dan khawatir.
"Can Sam, kita sudah berjanji untuk berkelahi dengan jujur tanpa ada pengeroyokan. Kalau kau memang laki-laki yang gagah, apabila engkau masih penasaran, marilah kau maju dan kaulawan aku sampai penentuan terakhir! Akan tetapi kalau kau hendak melakukan pengeroyokan dengan anak buahmu, aku akan membunuh kedua orang saudaramu ini, kemudian akan kubasmi habis seluruh anak buahmu!"
Ucapan ini dikeluarkan dengan suara keras dan nyaring, dengan sikap yang gagah sehingga kawanan Kipas Hitam menjadi ketakutan. Melihat ini, Kui Eng makin berani dan semangatnya bernyala-nyala.
"Dengarlah, hai kalian para anggauta Kipas Hitam. Aku adalah Kui Eng, murid terkasih dari suhu Lui Sian Lojin yang dulu pernah memberi hajaran kepada kalian! Setelah mendapat ampun dari suhu, ternyata sekarang kalian melakukan kejahatan lagi. Maka, sekali lagi sekarang aku memberi ampun kepada kalian asalkan kalian suka membebaskan puteri kepala dusun itu dan membubarkan perkumpulan Kipas Hitam yang jahat ini. Berjanjilah!"
Can Sam sebetulnya adalah seorang yang tidak suka melakukan kejahatan dan dia hanya terbawa-bawa saja oleh kedua orang kakak angkatnya.
Kini melihat betapa kedua orang kakaknya telah dirobohkan, maka habislah semangatnya untuk melawan dan dia tidak tahu harus berbuat apa.
Melihat kegagahan Kui Eng dan mendengar bahwa Kui Eng adalah murid Lui Sian Lojin, maka dia dan kawan-kawannya menjadi gentar, maka dia lalu menjawab.
"Baiklah, lihiap. Kami menurut dan harap lihiap mengampuni jiwa kedua orang kakakku."
"Bebaskan puteri kepala dusun itu!"
Perintah Kui Eng dan beberapa orang anak buah Kipas Hitam cepat memasuki pondok dan tak lama kemudian mereka mengiringkan seorang wanita muda yang cantik dan ketika wanita ini melihat ayahnya, dia lari menubruk dan mereka berdua bertangis-tangisan.
"Sekarang kalian semua harus bubar dan meninggalkan bukit ini. Kalau lain kali aku bertemu dengan seorang di antara kalian dan melihat kalian berani melakukan kejahatan lagi, jangan menyesal apa bila aku terpaksa-berlaku kejam!"
Can Sam lalu memberi perintah dan semua anak buah Kipas Hitam lalu bubar turun gunung, cerai-berai dan lari mencari tempat baru.
Sementara itu, beberapa orang dusun lalu menolong Pek-bi Lojin yang hanya terluka kulit dan dagingnya saja di bagian pundak dan tidak membahayakan keselamatan nyawanya.
Kemudian, barulah Kui Eng membebaskan Can Kok dan Can An, membiarkan Can Sam dan beberapa orang kawannya menolong mereka dan membawanya turun gunung.
Orang-orang dusun dengan dikepalai oleh lurah mereka lalu membakari semua pondok gerombolan yang telah ditinggalkan oleh para penghuninya itu.
Kemudian beramai-ramai turun gunung, mengiringkan Kui Eng dan memanggul tubuh Pek-bi Lojin yang terluka.
Kui Eng dipuji-puji dan dihormati sebagai seorang pahlawan dan namanya menjadi bahan sanjungan setiap orang.
Oleh karena sepak terjangnya yang gagah perkasa dan pakaiannya yang berwarna hijau itu, maka orang-orang kampung memberi julukan Ceng-liong Lihiap (Pendekar Wanita Naga Hijau) kepadanya.
Dia disebut naga karena sepak terjangnya tiada ubahnya seekor naga sakti yang mengamuk dan membasmi orang-orang jahat.
Pek-bi Lojin juga menerima penghormatan dan perawatan dari para penduduk dusun.
Kakek ini menghaturkan banyak terima kasih kepada Kui Eng yang dijawab oleh dara perkasa itu dengari merendahkan diri.
Setelah berpamit dari Pek-bi Lojin, Kui Eng lalu meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanannya.
Kui Eng merasa bimbang sekali karena dia tidak tahu harus pergi kemana.
Menurut keinginan hatinya, dia hendak menyusul Ang Min Tek ke kota raja karena bayangan pemuda pelajar itu selalu teringat olehnya.
Akan tetapi dia merasa berduka kalau teringat akan ibunya.
Setelah sedemikian lamanya dia merantau, belum juga dia dapat mencari jejak ibunya.
Maka dia lalu mengambil keputusan untuk menuju ke kota raja dengan jalan memutar dari barat, agar dia dapat melalui tempat-tempat yang belum pernah didatanginya untuk mencari-cari jejak ibunya, dan juga untuk meluaskan pengalamannya.
Kini tiba giliran Gan Beng Han yang perlu kita ikuti perjalanannya.
Seperti telah kita ketahui, murid pertama dari Lui Sian Lojin ini merasa berduka sekali setelah dia ditinggalkan oleh sute dan sumoinya.
Dia merasa bersedih karena sikap Kui Eng yang ternyata tidak mencintainya seperti yang dia dengar dari penuturan Beng Lian adiknya.
Dan dia merasa khawatir karena sutenya, Bun Hong pergi seorang diri ke kota raja.
Dia maklum akan keberanian Bun Hong, keberanian yang kadang-kadang terlalu sehingga meninggalkan kehati-hatian yang mungkin sutenya itu dapat terancam bahaya.
Oleh karena itu, dia lalu berangkat meninggalkan ibu dan adiknya untuk menyusul Bun Hong ke kota raja.
Di sepanjang perjalanan itu dia selalu teringat kepada Kui Eng dan dengan segala kekuatan batinnya dia menindas perasaan sedih dan kecewa di dalam hatinya.
Lagu cinta memang selalu mengandung nada-nada sedih dan kecewa, di samping nada-nada bahagia gembira, mengandung sorga dan juga neraka.
Mengapa?
Cinta..."""
Dari manakah anda datang tiba-tiba saja melalui mata memandang cinta memenuhi hati mencipta sorga teramat indah mengintai di balik senyum si dia menyelinap di dalam gairah membara..."
Cinta..."""
Ke manakah anda pergi membawa segala keindahan mimpi melempar hati ke dasar neraka penuh kecewa dan duka nestapa hilanglah semua harapan lenyaplah segala gairah yang ada hanya pedih merana...""
Beng Han teringat betapa bahagia hidupnya beberapa saat yang lalu, ketika dia masih dekat dengan sumoinya, dengan dara yang di cintainya.
Dan tiba-tiba saja, dalam waktu sedetik semenjak dia tahu bahwa Kui Eng tida mencintanya, seakan-akan hancurlah segala-galanya dan kehidupan berubah menjadi derita dan siksa hati.
Mengapa demikian?
Mengapa cinta hanya menjadi semacam permainan antara suka dan duka?
Antara sorga dan neraka?
Dan lebih banyak dukanya dari pada sukanya yang dibawa oleh cinta?
Mengapa cinta tidak dapat kekal?
Mengapa selalu timbul saja konflik bahkan sampai dengan perpecahan di antara orang-orang yang tadinya mengaku saling mencinta.
Mengapa pula cinta menghancurkan hati orang yang tidak menerima balasan cinta, mendatangkan derita batin bagi orang yang mencinta sefihak saja?
Mengapa?
Kita sudah terlalu mengotori kata "cinta"
Dengan berbagai penafsiran sehingga cinta yang sejati menjadi suram dan tidak nampak lagi.
Yang biasa menempel di bibir kita sebagai cinta kasih, sebagai cinta suci dan sebagainya, yang menjadi kembang bibir di antara pria dan wanita, di antara sahabat, di antara orang tua dan anak, di antara manusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan para dewanya, antara manusia dengan kebangsaannya, negaranya, dan sebagainya, kata "cinta"
Yang kita obral dau yang dengan mudah sekali kita ucapkan itu, sesmgguhnya patut kita selidiki lagi apakah semua itu benar-benar cinta!
Tidak mungkin menyelidiki pernyataan cinta orang lain, akan tetapi sudah jelas bahwa kita dapat menyelidiki pernyataan cinta kita sendiri dan mari kita sama menjenguk dan menyelami!
Si suami berkata kepada isterinya, atau isteri kepadi suaminya.
"Aku cinta padamu", akan tetapi di dalam pernyataan cinta ini biasanya terkandung sebab dan pamrih. Aku cinta padamu karena engkaupun cinta padaku, atau aku cinta padamu karena engkau memuaskan hatiku, melayaniku, menyenangkan hatiku. Jadi pada hakekatnya, cinta macam ini adalah suatu jual beli saja. Kita membeli dengan cinta untuk mendapatkan kesenangan! Marilah, kita bersikap jujur dan meneliti diri sendiri. Tidakkah demikian keadaannya?Dan kalam pada suatu waktu, si dia yang kita cinta karena pelayanannya itu, baik sex, sikap manis, uang, atau apa saja, menolak untuk memberi pelayanan itu, maka kitapun menjadi marah! Dan cintapun kabur entah ke mana! Cinta seperti itu sifatnya hanya merupakan jembatan untuk penyeberangan kita ke arah kesenangan! Cinta seperti itu membuat kita ingin menguasai, memiliki, dimiliki, memberi, diberi, dan terutama sekali mengikat dia yang kita cinta itu kepada kita, menjadi milik kita dengan hak penuh dan tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun juga! Dan kalau pada suatu waktu dia yang kita cinta itu bermanis-manis dengan pria atau wanita lain, marahlah kita, dan perceraianpun terjadilah, cinta kita seperti itu hanya merupakan api yang dihidupkan dengan bahan bakar berupa kesenangan untuk diri kita sendiri. Api itu masih bernyala selama bahan bakarnya masih ada. Kita masih mencinta selama dia yang kita cinta itu masih mendatangkan kesenangan, akan tetapi kalau bahan bakar itu habis, cintapun padamlah, bahkan kadang-kadang, sebagai akibat akibat cemburu dan sebagainya.
"cinta"
Kita itu malah bisa saja berubah menjadi "benci"!
Apakah yang demikian itu benar-benar cinta sejati?
Sama halnya dengan cinta kita terhadap sahabat.
Sahabat yang sudah seribu kali melakukan hal yang menyenangkan hati kita, kita cinta, akan tetapi satu kali saja dia melakukan hal tidak menyenangkan, maka cinta kita luntur, mungkin berubah menjadi benci.
Cinta antara sahabat macam inipun pada dasarnya hanyalah digerakkan oleh nafsu ingin menyenangkan diri kita sendiri saja.
Demikian pula pengakuan cinta kita terhadap orang tua atau anak, terhadap Tuhan, pada dewa, terhadap bangsa, negara dan sebagainya.
Pernahkah kita meneropong apa yang menjadi dasar dari pada perasaan cinta kita itu?
Apa bila dibaliknya bersembunyi pamrih atau sebab karena kita ingin senang, baik kesenangan lahir maupun kesenangan batin, maka itu hanyalah jual beli saja dan karenanya palsu adanya.
Dan sudahlah pasti bahwa cinta yang seperti itu hanya mendatangkan konflik, seperti kesenangan macam apapun, mendatangkan puas kecewa, suka duka, tawa dan tangis.
Karena cinta seperti itu pada hakekatnya hanyalah pengejaran kesenangan belaka, dan seperti setiap bentuk pengejaran kesenangan, kalau terdapat membosankan dan kalau tidak terdapat menimbulkan kecewa.
Cinta bukanlah sex semata, Cinta bukanlah kewajiban beiaka, Cinta bukanlah pengorbanan saja.
Cinta bukanlah ini atau itu.
Cinta tidak mungkin dapat digambarkan karena yang dapat digambarkan itu hanyalah benda mati, Cinta adalah hidup.
Yang mengatakan bahwa cinta itu begitu atau begini hanya merupakan orang-orang yang sombong, dan pernyataan itu hanya merupakan pendapat-pendapat belaka Cinta bukanlah pendapat, karena setiap muncul pendapat, sudah pasti ada pendapat lain yang akan menentangnya.
Cinta seperti kebenaran.
Tak dapat dimiliki, tidak dapat dipupuk, tidak dapat dipelajari, akan tetapi meliputi seluruh alam mayapada.
Kita dapit mengenal apa yang BUKAN cinta, dan kalau yang BUKAN cinta itu kita buang semua, tiada yang ketinggalan, maka barulah terbuka kemungkinan kita mengenal apa yang kita namakan CINTA KASIH.
Benci bukan cinta, cemburu bukan cinta, keinginan menyenangkan diri sendiri bukan cinta.
Jelas bahwa kemarahan, iri hati, dengki, tamak, permusuhan, semua ini merupakan awan-awan gelap yang menutupi dai menyembunyikan sinar dari cinta kasih.
Bukan berarti bahwa kita harus menolak kesenangan.
Sama sekali tidak!
Kesenangan adalah wajar.
Akan tetapi yang berbahaya adalah PENGEJARAN terhadap kesenangan itulah!
Kesenangan akan muncul sepenuhnya, dengan indahnya, tanpa pengejaran, di mana ada cinta kasih, dan mungkin sudah tidak tepat pula dinamakan kesenangan.
Tanpa cinta kasih, sex merupakan alat pemuas nafsu berahi belaka dan pengejarannya mendatangkan hal-hal yang kotor dan jahat.
Akan tetapi, segala sesuatu, juga sex berubah menjadi lain sama sekali dalam sinar cinta kasih.
Segala sesuatu yang kita lakukan akan bersih dan indah, karena sudah bebas dari pamrih menyenangkan diri yang bukan lain hanyalah pelampiasan nafsu-nafsu belaka, yang kasar dan yang halus, yang badaniah dan yang rohaniah.
Gan Beng Han adalah seorang pemuda yang gagah.
Namun diapun masih terlihat oleh arus yang mengguncangkan kehidupan seluruh manusia di dunia ini, yaitu arus pementingan diri sendiri, pengejaran kesenangan diri pribadi.
Oleh karena itu, kecewa dan berdukalah hatinya karena Kui Eng tidak membalas cinta kasihnya!
Dia bukan berduka UNTUK orang yang dicinta!
Melainkan berduka UNTUK diri sendiri yang tidak memperoleh apa yang diinginkannya.
Akan tetapi, diam-diam Beng Han juga merasa kasihan kepada Bun Hong karena menurut cerita Beng Lian, Kui Eng mengaku pula bahwa dia tidak mencinta kepada pemuda itu, padahal dia maklum bahwa sutenya itu juga jatuh cinta kepada Kui Eng seperti dia pula.
Dia merasa kasihan dan juga terharu mengingat akan pengorbanan sutenya yang sengaja menjauhkan diri dan mengalah kepadanya, dan dia dapat membayangkan betapa hancur dan kecewa pula hati sutenya itu.
Beng Han tersenyum sedih, mentertawakan diri sendiri.
Dia dan sutenya menjadi korban asmara, dan orang yang membuat mereka kecewa dan berduka itu bukan lain adalah sumoi mereka sendiri!
Betapa menyedihkan.
Padahal mereka bertiga adalah saudara-saudara seperguruan yang sejak kecil hidup bersama dengan penuh keakraban dan kesetiakawanan.
Dia merasa menyesal mengapa cinta begitu usil, menggoda hati dia dan sutenya sehingga tiga orang saudara seperguruan yang tadinya begitu akrab kini menjadi cerai-berai.
Beng Han teringat akan adiknya dan dia merasa girang bahwa Beng Lian telah mendapatkan seorang calon suami seperti Yap Yu Tek yang gagah perkasa.
Diam-diam dia berdoa semoga nasib adiknya itu lebih baik dari pada nasibnya!
Begitulah kita manusia selalu melemparkan sepala kegagalan yang kita hadapi kepada NASIB!
Semenjak kecil kita dilolohi kata "nasib"
Ini sehingga kita selalu mengatakan bahwa nasib kita sedang mujur, nasib kita sedang buruk dan sebagainya. Apakah "nasib"
Itu?
Ada yang menghubungkannya dengan "kehendak Tuhan".
Jadi kehendak Tuhankah bahwa kita harus celaka atau kita harus beruntung?
Jadi kita ini apa?
Benda-benda mati?
Kita selalu menggunakan kata "nasib"
Untuk menghibur, untuk menutupi penyesalan kita, kekecewaan kita, juga untuk menutupi iri hati kita.
Kita tidak berani membuka mata memandang kelemahan kita sendiri, hati yang penuh dengan kecewa dan iri ini.
Kecewa kalau kita rugi dan iri kalau melihat orang lain untung.
Lalu kita menutupinya dengan kata-kata "sudah nasibku"
Atau "sudah nasib dia".
Seperti keadaan Beng Han itu.
Nasibkah yang menentukan sampai dia kecewa?
Nasibkah yang membuat dia berduka?
Betapa menggelikan, namun sungguh, kalau kita mau membuka mata, kita sendiri setiap saat bermain-main dengan kata nasib ini, baik melalui mulut ataupun hanya dibisikkan di dalam hati saja.
Dan ketahyulan yang dungu dan picik ini kita pelihara semenjak kita kecil sampai akhirnya kita tunduk dan menghambakan diri kepada NASIB!
Seolah olah kita tidak kuasa atas diri kita sendiri, atas kelakuan kita sendiri, melainkan diatur oleh nasib.
Padahal, seperti dapat kita lihat dari keadaan Beng Han, Tidak ada permainan nasib di situ, yang ada hanyalah permainan dirinya sendiri.
Dia mengharapkan sesuatu, mengharapkan cinta Kui Eng harapannya tidak tercapai, dia kecewa dan berduka.
Eh, kenapa dia mengatakan nasibnya buruk?
Kalau dia tidak mengejar sesuatu, dia tidak akan kecewa, dan tidak akan ada pula yang dinamakan nasib buruk.
Jadi nasib berada di tangan kita sendiri!
Beng Han yang sedang dirundung kepedihan hati itu mengharap agar pertunangan adiknya tidak akan mengalami gangguan.
Akan tetapi, ketika dia mengenangkan pertunangan adiknya, teringatlah dia akan ucapan ibunya bahwa pernikahan adiknya itu tidak akan dapat dilangsungkan sebelum dia yang menjadi kakaknya itu menikah lebih dulu!
Beng Han menghela napas berat.
Selain Kui Eng, gadis manakah yang akan dapat menawan hatinya?
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali dia sudah memasuki sebuah dusun yang besar dan cukup ramai.
Dusun Kiong-nam-teng ini memang memiliki daerah yang subur dan para petani di dusun itu dapat hidup cukup lumayan karena hasil sawah ladang mereka selalu baik.
Karena baiknya hasil bumi ini, maka dusun itu makin lama makin ramai, dan perdagangan berjalan dengan lancar.
Ketika Beng Han masuk ke dalam dusun, dia merasa heran mengapa pada hari itu tidak nampak seorangpun di sawah yang subur itu.
Ketika dia memasuki dusun dan melewati rumah-rumah penduduknya, dia melihat para petani duduk berkelompok di depan rumah seperti sedang membicaiakan sesuatu yang amat penting dengan wajah penuh kekhawatiran dan kemarahan.
Beng Han merasa heran dan ingin sekali tahu apa yang terjadi, akan tetapi dia sebagai seorang asing merasa kurang sopan untuk bertanya-tanya karena tidak baik mencampuri urusan orang lain.
Akan tetapi karena dia dapat menduga bahwa tentu telah terjadi atau akan terjadi sesuatu yang hebat hingga orang-orang dusun itu tidak pergi ke sawah pada hari itu, maka dia mengambil keputusan untuk berdiam di dusun itu dan melihat apakah gerangan yang terjadi.
Setelah matahari naik tinggi, tiba-tiba para penghuni dusun itu keluar dari rumah dan mereka menuju kesebuah tempat terbuka di sudut dusun, berkumpul di situ.
Tak lama kemudian, dari jurusan timur datang serombongan orang yang kedua tangannya terbelenggu seperti orang-orang tawanan dan mereka diiringkan oleh dua orang.
Yang seorang berpakaian seperti seorang tosu dan yang seorang lagi berpakaian seperti seorang perwira tinggi.
Melihat ini Beng Han tidak dapat menahan keinginan tahunya lebih lama lagi, maka dia lalu mendekati seseorang petani tua dan berbisik kepadanya.
"Lopek, sebetulnya apakah yang sedang terjadi? Siapakah mereka yang ditawan itu dan siapa pula tosu dan perwira itu?"
Dia mengira bahwa tawanan-tawanan itu tentulah penjahat-penjahat yang tertangkap. Kakek petani itu menarik napas panjang, lalu menjawab dengan bisikan pula.
"Kongcu, agaknya kongcu adalah seorang pendatang dari jauh maka tidak tahu akan artinya semua ini. Perwira dan tosu itu adalah utusan-utusan dari kerajaan dan mereka datang untuk memberi hukuman kepada kepala dusun kami dan semua petugas yang memerintah dusun kami,"
Beng Han menduga bahwa kepala dusun beserta para pembantunya itu tentu telah melakukan semacam kejahatan maka akan dihukum oleh utusan dari kota raja.
Akan tetapi kalau demikian halnya, kiranya para penduduk itu tidak akan kelihatan berduka, bahkan sepatutnya bergirang.
"Kejahatan apakah yang telah mereka lakukan?"
Tanyanya penasaran.
"Kejahatan?"
Kakek itu mengulang perkataan itu dengan muka sedih.
"Bukan kejahatan yang mereka lakukan, bahkan karena mereka melakukan kebaikan, maka sekarang mereka akan menerima hukuman!"
Tentu saja Beng Han terkejut dan terheran sekali mendengar ini dan dia memandang kepada kakek itu dengan mata terbelalak.
"Aneh sekali!"
Katanya dengan agak keras sehingga banyak orang menoleh dan memandang kepadanya.
"Bagaimana orang yang melakukan kebaikan dijatuhi hukuman?"
"Ssttt.... jangan keras-keras, kongcu, kalau terdengar oleh mereka, kita akan dihukum pula, Kepala dusun kami adalah seorang berhati mulia yang membela kami dan dengan diam-diam dia mengurangi pemungutan pajak sawah dan di dalam pelaporannya dia memperkecil jumlah dan luas sawah ladang kami. Akan tetapi celaka, perbuatannya yang hendak menolong kami itu diketahui oleh pembesar-pembesar atasannya sehingga sekarang datang dua orang utusan dari kota raja untuk menjatuhkan hukuman kepada dia dan para pembantunya."
Beng Han merasa penasaran dan juga timbul rasa kasihan terhadap para petugas yang biarpun melakukan penyelewengan tehadap tugasnya akan tetapi bukan untuk dimakan sendiri melainkan untuk meringankan beban rakyat yang dipimpinnya itu.
"Hukuman apakah yang akan dijatuhkan kepada mereka?"
"Entahlah, akan tetapi kami mendengar bahwa kepala dusun akan dijatuhi hukuman limapuluh kali cambukan sedangkan para pembantunya tigapuluh kali."
Sementara itu, rombongan orang yang dibelenggu itu telah sampai di tengah lapangan.
Mereka terdiri dari tujuh orang laki-laki yang sudah berusia empatpuluh tahun lebih, dan mereka semua menundukkan muka, kemudian terdengar bentakan si perwira dan mereka bertujuh segera menjatuhkan diri berlutut di atas lapangan.
Perwira tinggi besar tadi menggiring mereka lalu memandang kepada semua orang dusun yang berkumpul dan berdiri di sekeliling tempat itu.
Kemudian dia berkata dengan suara lantang.
"Kalian lihatlah baik-baik! Tujuh orang ini telah melakukan kecurangan dan mencatut hasil negara, mereka adalah pengkhianat-pengkhianat yang merugikan Negara. Menurut patut,mereka harus dihukum mati! Akan tetapi, Thio taijin yang berwenang dalam urusan ini telah memperlihatkan kebesaran dan kemurahan hatinya dan hanya menjatuhi hukuman cambuk saja. Biarlah hukuman ini menjadi contoh bagi semua orang yang berani membangkang dan melakukan kecurangan dalam hal pembayaran pajak!"
Setelah berkata demikian perwira itu lalu memberi tanda kepada seorang tentara untuk melaksanakan tugasnya.
Baju kepala dusun dan para pembantunya ditanggalkan hingga tubuh atas mereka menjadi telanjang.
Tujuh orang anggauta tentara yang menjadi algojo sudah siap dengan cambuk masing-masing di tangan kanan, menanti tanda.
Perwira tinggi itu mengangkat tangan kanan ke atas dan terdengarlah bunyi cambuk berdetak-detak memekakkan telinga seperti serombongan penggembala sedang membunyikan cambuk mereka untuk menggiring kerbau-kerbau ke kandang.
Akan tetapi segera terdengar suara pekik dan rintihan kesakitan.
Mana orang-orang tua dapat menahan cambukan yang dilakukan dengan sekuat tenaga itu?
Baru sepuluh kali cambukan saja pada punggung yang telanjang sehingga kulit punggung terkelupas, dua orang di antara mereka telah menjadi lemas dan roboh pingsan!
Beng Han tidak dapat mengendalikan perasaan hatinya lebih lama lagi.
Hatinya lebih condong kepada kepala dusun dan para pembantunya yang oleh kakek dusun tadi diceritakan sebagai orang-orang yang berhati mulia dan membela para penghuni dusun, dan yang kini menerima hukuman berat.
Dia tahu bahwa orang-orang dusun yang bertubuh lemah ini, apa lagi di antara mereka banyak yang sudah tua, kalau menerima hukuman cambuk seperti itu lebih lama dan dibiarkan saja tentu tidak akan kuat dan akan tewas.
Dengan bentakan marah pemuda ini melompat, sekali bergerak dia telah berada di depan seorang algojo yang melaksanakan tugas menghukum itu dan sekali tangannya meraih, cambuk itu telah dirampasnya.
Algojo yang bertubuh tinggi besar itu terkejut, marah dan hendak memukul, akan tetapi Beng Han menampar dan tangannya menyambar kepala orang itu.
Si algojo terpelanting dan bergulingan di atas tanah sambil memegangi kepalanya dan meraung-raung karena kepalanya terasa nyeri sekali seperti terpukul besi saja!
Perwira tinggi besar dan tosu yang mengawal para hukuman itu bukanlah orang-orang sembarangan.
Mereka itu adalah jagoan-jagoan utama di antara kaki tangan Thio-thaikam yang sedang bertugas memeriksa dan menghukum kepala kampung di dusun Kiong-nam-teng itu karena kepala dusun ini terlalu membela rakyatnya.
Perwira tinggi besar itu bukan lain adalah Bong Kak Im, kakak dari Bong Kak Liong.
Perwira ini lihai bukan main dan dalam deretan para pembantu Thio-thaikam, dia adalah termasuk jago nomer dua.
Adapun Bong Kak Im dan Bong Kak Liong itu adalah tokoh-tokoh dari Hoa-san-pai yang telah memiliki tingkat ilmu kepandaian yarig tinggi sekali, akan tetapi sayang bahwa keduanya adalah murid-murid murtad yang telah melakukan penyelewengan sehingga mereka diusir dan tidak diakui lagi oleh partai persilatan Hoa-san-pai yang terkenal.
Kedua kakak beradik ini tentu saja tidak akan berani bersikap sewenang-wenang karena mereka selalu diawasi oleh bekas perguruan silat mereka.
Akan tetapi, semenjak mereka memperoleh kedudukan, terpakai oleh Thio thaikam dan menjadi perwira-perwira kepercayaan pembesar itu, tentu saja kedudukan mereka menjadi kuat, berkuasa dan terlindung sehingga selanjutnya Hoa-san-pai sama sekali tidak berani mencampuri urusan mereka!
Siapa yang berani menentang dua orang perwira Bong yang menjadi kepercayaan Thio-thaikam itu?
Salah-salah bisa dicap pemberontak dan dibasmi oleh pasukan pemerintah!
Adapun tosu yang ikut menjalankan tugas menghukum kepala dusun itu bukan lain adalah Tek Po Tosu, kakek yang amat lihai dan menjadi pelindung atau pembantu utama dari Thio-thaikam.
Tek Po Tosu ini adalah seorang murid yang telah tidak diakui lagi oleh partai persilatan Kong-thong-pai di lereng Pegunungan Kun-lun.
Seperti halnya kedua orang saudara Bong itu, setelah dia menjadi kepercayaan Thio-thaikam, tidak ada lagi orang yang berani menentangnya dan Kong-thong-pai terpaksa pura pura tidak mengenal tosu ini.
Perwira Bong Kak Im merasa marah sekali melihat munculnya seorang pemuda gagah dan tampan dan yang lancang sekali berani menyerang algojo yang sedang menjalankan pekerjaannya.
"Bangsat rendah, apakah engkau hendak memberontak?"
Bentaknya sambil melangkah maju menghampiri Beng Han.
"Perwira kejam, jangan kau menggunakan kedudukan untuk menyiksa orang baik-baik!"
Beng Han balas membentak dan menentang pandang mata mengancam dari perwira itu dengan berani.
Kedua bola mata Bong Kak Im yang besar itu berputaran mendengar ucapan pemuda itu "Bocah gila!
Tidak tahukah engkau bahwa kau sedang berhadapan dengan seorang perwira dari kota raja?
Kau tidak tahu siapa aku, hah?"
"Tentu saja aku tahu siapa adanya orang macam engkau ini,"
Jawab Beng Han marah.
"Engkau adalah seorang perwira bayaran yang kejam dan ganas, yang menganggap bahwa di dunia ini tidak ada orang lain yang akan berani menentangmu! Engkau mengandalkan kedudukan untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat jelata! Akan tetapi aku, Gan Beng Han, sama sekali tidak takut kepada seorang manusia iblis macam engkau!"
"Kurang ajar!"
Bong Kak Im yang selamanya dihormati orang itu tentu saja menjadi marah bukan main. Sambil membentak, dia sudah menerjang maju, memukul dengan tangan kanannya. (Lanjut ke
Jilid 11) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 11 Pukulannya kuat dan cepat sekali datangnya.
Akan tetapi Beng Han sudah bersiap sedia.
Cepat dia mengelak dan membalas dengan serangan yang cepat pula.
Diam-diam Bong Kak Im terkejut dan menangkis pukulan pemuda itu.
Tadinya Bong Kak Im memandang rendah pemuda ini yang dianggapnya seorang pemuda biasa saja yang tahu akan sedikit ilmu silat dan hendak kegagah-gagahan seperti pendekar.
Akan tetapi begitu melihat gerakan Beng Han ketika mengelak dari pukulannya dan balas menyerang, tahulah dia bahwa pemuda ini bukanlah orang yang boleh dipandang ringan begitu saja.
Kini timbul dugaannya bahwa agaknya pemuda inilah yang menjadi tulang punggung sehingga lurah dan para petugas di dusun itu berani membangkang perintah.
Agaknya pemuda inilah yang mendatangkan keberanian dalam hati mereka yang menganggap telah mempunyai seorang jagoan yang pandai.
"Bagus! Kiranya engkau ini agaknya yang berdiri di belakang mereka!"
Bentaknya dan kini Bong Kak lm mengeluarkan teriakan keras sekali dan tiba-tiba dia telah mencabut keluar sepasang senjatanya yang luar biasa dahsyatnya dan yang mengerikan hati orang-orang yang melihatnya.
Sepasang senjata itu adalah sepasang kapak besar dan tajam sekali sehingga ketika dia menggerakkan sepasang senjata itu, nampak sinar berkilauan menyilaukan mata.
Sepasang senjata itu diputar-putar, mengeluarkan suara mengaung bagaikan auman harimau yang marah dan Bong Kak Im sengaja mainkan kedua buah senjata itu selain untuk memamerkan ilmu kepandaiannya yang hebat, juga untuk menggetarkan hati lawannya.
Orang-orang dusun yang melihat perwira itu memutar-mutar sepasang senjata yang demikian mengerikan, tak terasa lagi mengeluarkan suara ketakutan dan mereka mundur menjauh.
Hal ini membuat hati Bong Kak Im bangga bukan main.
Akan tetapi, Beng Han hanya tersenyum tenang dan pemuda inipun lalu mencabut pedangnya dan menghadapi lawan dengan pedang melintang depan dada.
Sikap pemuda ini yang ternyata tidak gentar melihat sepasang kapaknya, bahkan men cabut pedang dan menantang tanpa kata, kemarahan Bong Kak Im menjadi makin berkobar.
Dia mengeluarkan seruan keras seperti biruang menggeram, lalu menerjang sambil mengobat-abitkan sepasang kapaknya, menyerang ke arah kepala dan pinggang Beng Han.
Agaknya, sekali bacok saja oleh kapak yang lebar dan tajam itu, kepala pasti akan terbelah dan pinggang akan putus!
Beng Han memiliki ketenangan dan kewaspadaan, dia tidak menjadi gentar menghadapi serangan sepasang senjata yang amat kuat dan ganas itu, seperti seekor naga sakti muncul dari tengah samudera, Beng Han menghadapi sepasang kapak lawan dengan elakan dan tangkisan yang teratur dan rapi sekali.
Langkah-langkah kakinya tegap dan tetap, gerakannya kokoh kuat dan tangkisannya disertai tenaga yang dahsyat.
Bong Kak Ini merasa heran sekali oleh karena setiap kali kapaknya kena tertangkis, dia merasa tangannya tergetar.
Bukan main hebatnya tenaga pemuda ini yang mampu menggetarkan tangannya.
Padahal, kapaknya telah dia gerakkan dengan pengerahan sinkang, dan jarang ada orang yang mampu menangkis kapaknya itu, apa lagi kalau tangkisan itu hanya dilakukan dengan sebatang pedang, senjata yang ringan.
Hal ini membuktikan bahwa pemuda yang dihadapinya ini benar-benar bukan orang sembarangan saja dan dia makin merasa heran, akan tetapi juga merasa penasaran sekali.
Malu sekali rasanya kalau sampai dia tidak mampu mengalahkan pemuda ini, apa lagi pertempuran itu ditonton oleh banyak penghuni dusun, apa lagi oleh lurah dan para pembantunya, yang tentu akan girang sekali kalau sampai dia kalah.
Maka dia lalu mengeluarkan geraman-geraman hebat bagaikan seekor harimau marah.
Bong Kak Im mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk merobohkan pemuda itu.
Di lain fihak, Beng Han juga terkejut bukan main menyaksikan kelihaian lawannya.
Dia tidak pernah menduga bahwa perwira yang menjadi utusan Thio-taijin ini sedemikian tangguhnya.
Diam-diam dia mengeluh karena kalau di kota raja terdapat banyak perwira yang setangguh ini, maka pasti Bun Hong akan mengalami bencana besar.
Baru saja dia membagi pikirannya teringat akan bahaya yang mengancam Bun Hong, hampir saja lambungnya terobek oleh ujung kapak yang menyambar.
"Trangggg""..!"
Untung dia masih dapat menangkis dan tangannya kesemutan ketika pedang itu bertemu dengan kapak secara keras sekali.
Beng Han lalu mencurahkan seluruh perhatiannya dan memainkan pedangnya sebaik mungkin.
Dia maklum bahwa lawannya ini tangguh bukan main.
Untuk dapat menjatuhkan lawan yang jelas memiliki ilmu kepandaian yang tidak berada di sebelah bawah tingkat kepandaiannya sendiri, dia harus menyerangnya dengan serangan-serangan maut dan kalau perlu menewaskannya, karena kalau tidak, tentu dia sendiri yang akan celaka.
Maka Beng Han lalu mengubah gerakan pedangnya yang kini lenyap bentuknya, berubah menjadi segulung sinar terang yang menyambar-nyambar ganas.
Sinar pedangnya berkelebat bagaikan kilat menyambar dan mencari lowongan di antara gulungan sinar dua batang kapak itu, sehingga Bong Kak Im terpaksa harus berlaku hati-hati dan melakukan perlawanan sambil mundur karena ujung pedang lawannya itu beberapa kali hampir saja menusuk lehernya!
Pertandingan menjadi makin seru dan hebat, semua mata para penonton yang terdiri dari orang-orang biasa itu menjadi kabur dan silau oleh sinar-sinar senjata dan mereka merasa ngeri mendengar bunyi berdesing-desing dan mengaung-ngaung, apa lagi ditambah dengan sambaran angin yang bersuitan.
Tek Po Tosu kehilangan sabarnya ketika melihat betapa Bong Kak Im belum juga dapat merobohkan pengacau itu, bahkan mendesakpun tidak mampu.
Tosu ini lalu melompat dan mengirim serangan dengan kebutan ujung lengan bajunya ke arah leher Beng Han.
Pemuda ini terkejut sekali karena kebutan lengan baju itu mengandung tenaga sinkang yang amat besar.
Dia cepat menangkis dengan sampokan tangan kirinya yang dikerahkan dengan tenaga sinkang sekuatnya dan kebutan ujung lengan baju itu terpental.
Terkejutlah Tek Po Tosu dan kini mengertilah dia mengapa Bong Kak Im tidak mampu mendesak pemuda ini karena memang pemuda ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.
Jelas pemuda ini bukan pemuda dusun itu.
Dia merasa terheran, karena dari mana datangnya seorang pemuda yang demikian lihainya?
"Tahan dulu!"
Seru Tek Po Tosu dengan nyaring sambil mencabut siang-kiamnya, yaitu sepasang pedang yang mengeluarkan sinar berkeredepan, meloncat ketengah medan pertempuran dan menahan kedua orang yang sedang bertanding itu dengan sepasang pedangnya.
Bong Kak Im melompat ke belakang dan juga Beng Han tidak mau mengejar.
Dia berdiri melintangkan pedang di depan dada dan memandang tajam kepada tosu yang lihai sekali itu.
"Orang muda, sebetulnya apakah kehendakmu membuat kekacauan ini?"
Tanya Tek Po Tosu dengan suara halus.
Melihat sikap orang yang halus dan melihat pula bahwa yang dihadapinya adalah seorang berpakaian pendeta atau pertapa, maka Beng Han juga menjawab dengan sikap sopan.
"Totiang, sebagai seorang pendeta tentu totiang tahu betul tentang perikemanusiaan. Saya datang mencampuri urusan ini tiada lain karena terdorong oleh rasa perikemanusiaan. Pembesar atasan telah melakukan pemerasan terhadap rakyat kecil, terutama para petani miskin dengan memasang tarip pajak yang mencekik leher. Itu namanya perbuatan yang melanggar perikemanusian. Kemudian, kepala dusun ini dan para pembantunya yang menurutkan dorongan perikemanusiaan pula, membantu para petani miskin dan meringankan beban pajak mereka, akan tetapi perbuatan yang baik ini bahkan mendapatkan hukuman kejam dari perwira ini. Apakah saya yang dididik untuk mengabdi prikemanusiaan dan membela keadilan harus mendiamkan saja hal seperti ini terjadi?"
Tek Po Tosu tersenyum mengejek.
"Orang muda, jangan engkau mencoba untuk memberi pelajaran kepada pinto tentang perikemanusiaan yang palsu. Ketahuilah bahwa setiap negara mempunyai peraturan masing-masing dan rakyat jelata harus mentaatinya. Kalau ada yang tidak mentaati undang-undang itu berarti memberontak. Engkau yang digerakkan oleh hatimu yang lemah, kalau engkau membela kepala dusun ini dan melawan kami, berarti pula bahwa engkaupun memberontak, karena pada saat ini kami mewakili pemerintah melaksanakan hukum, yang telah ditentukan oleh pemerintah. Orang muda. apakah engkau ingin dianggap pemberontak?"
Beng Han tersenyum mengejek dan pandangannya terhadap tosu itu seketika berubah.
Kiranya pendeta ini bukan mengurus soal-soal kebatinan dan perikemanusiaan, melainkan mengurus soal-soal keduniawian dan bahkan menjadi kaki tangan penindas rakyat!
"Totiang semua ucapan totiang itu merupakan lagu lama bagiku!
Memang alasan itulah merupakan perisai bagi para petugas dalam melakukan kekejaman mereka.
Memberontak!
Orang-orang lemah diinjak-injak, orang-orang miskin diperas, dicekik lehernya, orang baik baik dicambuki dan disiksa, kalau perlu dibunuh.
Dan kalau mereka itu melawan?
Mudah saja, lalu dicap pemberontak!
Hemm.
bagus, bagus!
Akan tetapi aku tidak takut dicap pemberontak dan selama aku masih hidup, kekejaman macam ini tidak boleh berlangsung di depan mataku!"
"Pemberontak hina bosan hidup!"
Bong Kak Im sudah membentak dan menyerang lagi dengan sepasang kapaknya.
Beng Han segera menangkis dan balas menyerang.
Segera terjadi pertempuran yane amat hebat di antara k dua orang yang lihai ini.
Tek Po Tosu maklum akan kelihaian pemuda ini, maka dia tidak mau tinggal diam dan cepat menggerakkan siang-kiamnya untuk mengeroyok, ilmu kepandaian tosu ini masih lebih tinggi dari pada kepandaian Bong Kak Im, maka tentu saja Beng Han merasa repot dan terdesak sekali ketika kedua orang lawannya itu maju bersama.
Menghadapi satu lawan satu saja tidak akan mudah baginya untuk memperoleh kemenangan, apalagi kini dikeroyok dua dan tosu itu ternyata memang amat lihai sekali.
Akan tetapi, tidak percuma Lui Sian Lojin menggembleng pemuda ini dengan ilmu silat tinggi.
Kakek sakti itu telah pula menciptakan semacam ilmu pedang khusus untuk menghadapi pengeroyokan lawan yang lebih kuat.
ilmu pedang ini disebut Dewa Berpayung Menolak Hujan.
Pedangnya diputar cepat sekali membentuk dinding baja bundar seperti payung yang melindungi reluruh tubuhnya dari serangan kedua orang lawannya yang amat tangguh itu.
Jurus ini mengandalkan kecekatan dan juga kekuatan pergelangan tangan karena pedang itu diputar seperti kitiran angin cepatnya.
Betapapun juga.
ilmu silat Tek Po Tosu dan Bong Kak Im sudah mencapai tingkat yang tinggi, maka dengan kerja sama mereka, empat buah senjata di kedua tangan mereka merupakan bahaya maut yang mengancam nyawa Beng Han.
Oleh karena itu, biarpun jurus yang dipergunakannya amat hebat dan untuk sementara dapat membendung serangan kedua orang lawannya, sampai berapa lamakah dia akan sanggup mempertahankan diri tanpa dapat membalas sedikitpun juga?
Sepasang kapak di tangan Bong Kak Im menyambar-nyambar dengan kekuatan besar sekali, sedangkan sepasang pedang tosu itu selalu mencoba untuk menerobos pertahanan pedangnya dengan gerakan gesit dan tenaga sinkang yang kadang-kadang menggetarkan pedangnya dan membuat gerakannya menjadi kacau.
Tek Po Tosu merasa penasaran dan malu karena dengan mengeroyok dua, belum juga dia dan perwira itu dapat merobohkan lawan, padahal mereka telah bertempur puluhan jurus lamanya!
Jarang dia menjumpai lawan yang dapat bertahan bertempur melawannya sampai sekian lamanya, apa lagi kalau dikeroyok dua bersama Bong Kak Im yang bukan orang sembarangan pula.
"Haiiihhh".!!"
Tek Po Tosu yang merasa penasaran sekali mengeluarkan lengking panjang dan dia mendesak makin hebat dengan pedang di tangan kirinya, sedangkan pedang di tangan kanannya lalu dia simpan dan sebagai gantinya tangan kanannya mengeluarkan senjata rahasianya yang amat terkenal karena kelihaiannya.
Senjata ini merupakan sehelai saputangan yang kedua ujungnya disatukan sehingga mirip bandringan, dan di dalamnya diisi dengan jarum-jarum.
Apa bila saputangan itu dikebutkan, maka jarum-jarum halus itu beterbangan menyambar ke arah lawan.
Kelihaian senjata rahasia ini adalah karena sambitan dengan saputangan yang merupakan bandringan ini sukar sekali diduga oleh lawan ke mana arah jarum-jarum itu menyerang.
Apa bila jarum-jarum itu disambitkan biasa dengan tangan, maka gerakan tangan akan dapat dilihat dan diduga ke mana jarum-jarum diarahkan, sedangkan sapu tangan ini digerakkan oleh pergelangan tangan sehingga sukar diikuti oleh mata lawan.
Beng Han belum tahu senjata apakah yang dikeluarkan oleh lawannya itu, dan tahu-tahu tosu itu telah membentak.
"Robohlah!"
Saputangannya dikebutkan dan pedang di tangan kiri tosu itu mendahului dengan serangan kilat sehingga Beng Han yang pada saat itu sedang mengelak cepat dari sambaran kapak Bong Kak Im, terpaksa harus menangkis pedang yang menyambar ke arah dadanya itu.
"Tranggg""..!"
Bunga api berpijar dan sinar bunga api yang berpijar dari pertemuan kedua pedang itu bercampur dengan sinar-sinar hijau yang tiba-tiba keluar dari saputangan yang dikebutkan oleh tosu itu.
Beng Han terkejut bukan main.
Dia sedang menangkis pedang dan pandang matanya silau oleh bunga api yang bercampur sinar-sinar hijau itu.
Akan tetapi tahulah dia bahwa itu adalah senjata rahasia musuh, maka cepat dia berseru keras sambil melempar tubuhnya ke belakang untuk menghindarkan diri dari sambaran senjata-senjata jarum kecil itu.
Akan tetapi, sebatang di antara jarum-jarum itu masih menancap di pundak kirinya dan karena tepat mengenai urat besar, Beng Han merasa betapa seluruh lengan kirinya menjadi lumpuh!
Kesempatan ini dipergunakan oleh Bong Kak Im yang menyerang dengan menggerakkan sepasang kapaknya, menyambar ke arah kepala dan dada Beng Han, dibarengi bentakan menyeramkan dari perwira itu.
Beng Han sedang terlentang dalam bergulingan tadi dan melihat datangnya sepasang kapak yang amat hebat dan cepat, agaknya pemuda itu takkan tertolong lagi kalau tidak kepalanya pecah tentu dadanya akan berantakan!
Akan tetapi Beng Han memiliki ketabahan dan ketenangan yang luar biasa sehingga biarpun nyawanya telah bergantung kepada sehelai rambut dan keadaannya berbahaya sekali, dia tidak pernah kehilangan akal.
Kalau dia merasa ngeri dan takut tentu dia akan menjadi bingung dan hal ini akan melenyapkan nyawanya.
Namun, murid pertama dari Liu Sian Lojin ini tidak menjadi bingung atau kehilangan akal.
Ketika dia melihat datangnya serangan maut, melihat betapa kapak itu datangnya tidak berbareng, yaitu yang di tangan kanan datangnya lebih dulu menghantam kepalanya dan kapak kiri yang kedua menyusul ke arah dada, cepat sekali pemuda itu menggerakkan kepalanya, miring sehingga dengan suara keras kapak itu lewat dekat sekali dengan telinganya dan menancap di atas tanah.
Dan pada saat itu juga Beng Han melakukan gerakan nekat, yaitu dengan pedangnya dia menusuk ke arah tangan kiri Bong Kak Im untuk mendahului lawan itu yang menggunakan kapaknya menghantam ke arah dadanya.
"Hehh"".!!"
Bong Kak In terkejut bukan main.
Kalau serangan kapak kirinya itu dia teruskan, sebelum kapak mengenai dada lawan, tentu lebih dulu pergelangan tangan akan tertusuk pedang, maka dia cepat menarik kembali tangan kirinya, akan tetapi dia melepaskan kapaknya sehingga senjata ini terus meluncur ke bawah, ke arah dada Beng Han!
Sekali ini pemuda itu terkejut bukan main karena serangan lawan ini sungguh tak pernah disangkanya.
Tadinya dia mempunyai perhitungan bahwa dengan serangan balasan itu, tentu lawannya akan menarik kembali tangan bersama kapaknya, tidak tahunya perwira ini melanjutkan serangannya dengan melepaskan kapak itu yang terus menghunjam ke arah dadanya sambil menarik tangan untuk menghindarkan tangan itu dari tusukan pedang.
Beng Han berseru keras sekali, melengking panjang dan nyaring sambil menggulingkan tubuhnya, akan tetapi tidak cukup cepat untuk dapat menghindarkan tubuhnya sama sekali dari serangan itu, karena ketika tubuhnya bergulingan, kapak itu masih berhasil menyerempet dan melukai bahu kanannya.
Bahu kanannya robek dan terluka, mengucurkan banyak darah!
Beng Han melompat berdiri dan biarpun dia merasa betapa bahu kanannya perih dan nyeri sekali, akan tetapi dia tidak pernah mau melepaskan pedangnya dan cepat dia menyerang Tek Po Tosu yang berada di dekatnya.
Tangan kiri Beng Han tidak dapat digerakkan dan masih lumpuh, sedangkan darah tidak hentinya mencucur dari bahu kanannya, sehingga para penduduk dusun yang menyaksikan pertempuran itu dan yang tadi sudah memejamkan mata ketika melihat Beng Han diserang dengan kapak oleh perwira itu, kini merasa terharu dan kasihan sekali.
"Ha ha, orang muda, bersiaplah untuk binasa!"
Tek Po Tosu tertawa bergelak lalu menyerang dengan ganas, sedangkan Bong Kak Im telah mengambil kembali kapaknya dari atas tanah.
Melihat hal ini, Beng Han maklum bahwa dia tidak akan mungkin dapat melawan terus, karena kalau dia terus melawan, berarti dia mencari mati.
Biarpun andaikata dia masih akan dapat mempertahankan diri terhadap serangan dua orang tangguh itu, tetap saja dia akan roboh karena kehabisan darah.
Tubuhnya sudah mulai terasa lemas dan kepalanya terasa pening.
"Maaf. saudara-saudara petani, sekali ini siauwte tidak dapat membela kalian!"
Serunya dengan hati kecewa dan melompat jauh.
Kedua orang itu tidak mengejar, hanya tertawa bergelak saja karena mereka merasa gentar untuk mengejar pemuda yang lihai itu, apa lagi karena mereka menyaksikan betapa ilmu ginkang pemuda itu ketika melompat jauh amat hebat dan sebentar saja Beng Han telah lenyap dari pandang mata mereka.
Kedua orang kepercayaan Thio-thaikam ini melanjutkan pelaksanaan hukuman yang tertunda itu dengan cepat dan segera meninggalkan dusun Kiong-nam-teng karena mereka khawatir kalau kalau pemuda kosen itu datang lagi membawa kawan-kawan yang pandai.
Dengan kepala terasa pening, tubuhnya lemas, dan bahu kanannya terasa nyeri dan panas sekali, Beng Han terus berlari memasuki hutan di luar dusun itu.
Larinya mulai terhuyung dan akhirnya dia roboh di atas tanah bertilamkan rumput hijau.
Yang terasa berat bukanlah luka di bahu kanan itu, karena biarpun luka itu mengeluarkan banyak darah, akan tetapi tidak berbahaya bagi tubuh Beng Han yang amat kuat.
Akan tetapi, ternyata bahwa jarum rahasia yang menancap di pundak kirinya dan yang membuat seluruh lengan kirinya menjadi lumpuh itu mengandung racun yang jahat.
Inilah yang membuat kepalanya menjadi pening dan tubuhnya lemas sehingga dia terguling dan roboh pingsan.
Ketika Gan Beng Han membuka kedua matanya, dia memandang ke kanan kiri dengan bingung.
Seperti dalam mimpi saja ketika dia melihat seorang gadis berpakaian serba putih berlutut di dekat tubuhnya yang rebah di atas rumput.
Beng Lian kah gadis ini?
Dia memandang penuh perhatian.
Kepusingannya masih menekan berat pada kepalanya, membuat pandang matanya kurang terang.
Bukan, bukan adiknya, akan tetapi seorang gadis yang amat cantik dan yang sama sekali asing baginya.
Cantik sekali seperti bidadari.
Ah, bidadarikah dia ini?
Sudah matikah dia maka bertemu dengan bidadari?
"Bidadari yang mulia, sudah matikah aku?"
Tanyanya dengan suara berbisik sehingga wanita itu harus mendekatkan kepalanya untuk dapat mendengar gerakan bibirnya.
Tercium oleh Beng Han keharuman rambut yang panjang hitam itu.
Wajah dara itu menjadi merah karena jengah mendengar bisikan Bong Han yang menyebutnya bidadari itu.
"Taihiap, kau terluka parah. Mari kuantar ke pondok suhu agar supaya engkau memperoleh perawatan yang baik."
Katanya.
Kini sadarlah Beng Han bahwa dia bukan sedang mimpi, juga bukan telah mati, dan bahwa dara itu bukan seorang bidadari melainkan seorang manusia, seorang dara yang cantik jelita dan yang hendak menolongnya.
Dia tersenyum dan mencoba bangun duduk.
Kepalanya berdenyut-denyut dan cepat dia memegangi kepala sambil mengeluh.
"Mari, taihiap, kalau terlambat aku khawatir mereka itu akan datang ke sini "
Beng Han maklum akan kekhawatiran dara ini, maka dia lalu bangun dan berdiri, akan tetapi hampir saja dia terguling lagi kalau dara itu tidak cepat-cepat menyambar dan memegang lengannya.
Kepalanya terasa berdenyut denyut dan tanah yang dipijaknya seakan-akan berubah menjadi gelombang lautan atau tiba-tiba ada gempa bumi besar sehingga seluruh tempat di sekelilingnya menjadi berputaran.
"Mari kubantu, taihiap. Tidak jauh pondok suhu dari sini,"
Kata gadis itu dengan suara halus.
"Terima kasih""..terima kasih"". Bisik Beng Han dan dengan tersaruk-saruk dia melangkah lagi beberapa tindak, akan tetapi kembai dia menahan langkahnya dan menjatuhkan diri duduk di atas tanah. Dara itu berlutut di sebelahnya.
"Bagaimana, taihiap, tidak kuatkah kau".?"
Tanyanya penuh kecemasan.
"Kepalaku"".. ah, kepalaku""."
Beng Han mengeluh sambil memejamkan matanya karena kalau mata itu dibukanya, dia merasa makin pening melihat segala sesuatu berputar-putar di depan matanya itu.
Bahkan wajah dara yang sedang berusaha menolongnya itupun tidak dapat dia lihat dengan jelas, dan hal ini mengesalkan hatinya benar.
Tiba-tiba dia merasa betapa jari-jari tangan yang halus dan lunak memijit-mijit kepalanya.
Sentuhan ini mengurangi denyutan di dalam kepalanya.
"Enak"". enak dan nyaman sekali""."
Bisiknya dan makin asyiklah kedua tangan gadis itu memijit-mijit kepalanya.
"Taihiap, kita harus lekas pergi dari sini. Kalau kedua orang keparat itu lewat di sini kau akan mendapat celaka,"
Bisik gadis itu. Teringatlah Beng Han kepada dua orang lawannya yang tangguh. Maka dia lalu berdiri lagi dan berkata perlahan.
"Marilah, bawalah aku ke mana saja, aku percaya kepadamu""
Dan dia lalu memaksa dirinya melangkah maju, berpegang pada tangan dan pundak orang yang menolongnya itu, tidak ingat sama sekai bahwa orang itu adalah seorang dara yang muda dan cantik sekali!
"Kasihan"".
lenganmu penuh darah"".."
Dia mendengar dara itu berkata perlahan dan suaranya seperti orang menahan isak.
Beng Han diam saja, hanya berjalan terhuyung-huyung dan dipapah oleh dara itu.
Dia memejamkan matanya, menurut saja ke manapun dia dibawa oleh penolongnya.
"Kasihan, pemuda gagah yang malang"""."
Kata gadis itu pula perlahan.
"Apa""..apa katamu"""..?"
Beng Han bertanya sambil membuka matanya dan mencoba untuk memandang wajah orang yang berjalan didekatnya itu, akan tetapi dia hanya melihat bayang-bayang saja.
"Wajahmu pucat sekali""."
Kata gadis itu, akan tetapi Beng Han tidak dapat mendengarnya lagi lanjutan kata-kata itu karena tiba-tiba dia mengeluh dan roboh pingsan dalam pelukan gadis itu yang cepat menyambut tubuhnya yang terguling.
Dia tidak tahu betapa gadis itu dengan sigapnya lalu memondong tubuhnya dan berlari menuju ke sebuah pondok kecil di tengah hutan.
Melihat tenaga dan kesigapan gadis itu dapat dimengerti bahwa sedikitnya dia tentu memiliki ilmu kepandaian silat yang lumayan juga.
Beng Han siuman kembali dari pingsannya.
Panca indranya bekerja kembali, kesadarannya yang tadi entah melayang ke mana sekarang telah berkumpul kembali.
Dia tidak membuka matanya, takut kalau-kalau dia akan merasa pening lagi, dan dia tetap rebah terlentang mengumpulkan kesadaran dan ingatannya.
Dia masih merasa bingung.
Tiba-tiba suara yang tadinya hanya merupakan bisikan-bisikan dari jauh itu makin terdengar nyata.
""".. jarum itu tepat mengenai urat besar dan racun dari jarum itu telah mengotorkan darahnya. Untung sekali tubuhnya kuat sehingga dalam tubuhnya terdapat daya penolak yang cukup kuat,"
Terdengar suara orang yang diucapkan dengan lemah-lembut, seperti suara orang yang telah lanjut usianya dan tenang batinnya.
"Dia memang gagah dan berbudi, patut kita rawat dan kita tolong sampai sembuh betul. Harap saja totiang sudi menolongnya sedapat mungkin,"
Kata suara orang lain.
"Pinto akan berusaha sedapat mungkin, dan pinto yakin bahwa dia akan sembuh kembali, walaupun akan makan waktu yang agak lama."
Kata suara lemah lembut tadi. Beng Han membuka matanya dengan perlahan.
"Dia siuman kembali""!"
Tiba-tiba terdengar suara yang merdu dan halus, suara yang membuat Beng Han teringat akan semua peristiwa yang dialaminya, karena suara inilah yang tadinya merupakan teka-teki baginya.
Ketika dia siuman tadi, suara ini seperti terngiang-ngiang di dalam rongga telinganya, membuat dia memutar-mutar otak untuk mengingatnya, akan tetapi tidak juga dia dapat mengingat siapa orang itu atau suara siapakah yang menggema di dalam telinganya itu.
Kini setelah suara itu terdengar oleh telinganya, teringatlah dia bahwa suara yang halus merdu itu adalah suara orang yang telah menolongnya!
Dia membuka matanya dan pertama-tama yang dilihatnya adalah wajah seorang tua yang berpakaian seperti seorang tosu.
Pendeta ini sudah tua sekali, rambut dan jenggotnya sudah putih semua dan wajahnya membayangkan ketenangan dan kebijaksanaan, Beng Han mengalihkan pandang matanya dan kini dia mulai mencari-cari dengan pandang matanya yang sudah terang kembali.
Dia melihat wajah kepala dusun yang mendapat hukuman dari dua orang utusan Thio-thaikam dan yang telah dibelanya itu, akan tetapi dia tidak memperdulikan pandang mata penuh kagum dan terima kasih dari orang tua ini, dan segera dia melayangkan pandang matanya ke arah lain, mencari-cari.
Beberapa buah wajah orang yang dikenalnya sebagai pembantu-pembantu kepala dusun itu dilewatinya saja dan akhirnya bertemulah dia dengan wajah yang dicari-carinya.
Wajah seorang dara yang memiliki sepasang mata yang indah sekali, membayangkan kemesraan dan kehalusan, wajah vang manis dan bersih, wajah seorang bidadari!
Pandang mata Beng Han menatap wajah itu dan perlahan-lahan bibirnya tersenyum.
Tiba-tiba wajah cantik itu menjadi merah sampai ke telinganya dan mata yang halus lembut sinarnya itu menunduk malu, mengerling dari bawah, akan tetapi mulut yang kecil itu tersenyum manis.
"Terima kasih"".."
Beng Han berbisik.
"Taihiap,"
Kata kepala dusun itu dengan suara hoimat.
"kami merasa bersyukur sekali melihat bahwa taihiap dapat disembuhkan kembali. Kegagahan taihiap yang telah berani mengorbankan diri untuk membela kami, sungguh mengagumkan hati, dan kami berterima kasih sekali kepadamu."
Beng Han menarik napas panjang.
"Sayalah yang harus menghaturkan terima kasih karena kenyataannya...".. ah, bukan saya yang menolong cuwi, akan tetapi bahkan sebaliknya cu-wi yang telah menolong saya."
Pemuda itu merasa kecewa sekali.
Tadinya dia hendak menolong penduduk dusun dari perbuatan sewenang-wenang, akan tetapi kenyataannya, dia malah terluka dan kini sebaliknya penduduk dusunlah yang menolongnya.
"Taihiap tidak perlu kecewa."
Kata tosu yang suaranya halus itu.
"agaknya taihiap tidak tahu siapa adanya dua orang yang taihiap lawan itu. Mereka adalah jago-jago nomor satu dari Thio-thaikam. Tosu itu adalah Tek Po Tosu yang menjadi penasihat dan pengawal pribadi Thio-thaikam, sedangkan perwira itu adalah jagonya yang bernama Bong Kak lm. Kepandaian mereka itu lihai bukan main. akan tetapi, dengan seorang diri saja taihiap dapat bertahan menghadapi mereka, sungguh kegagahan itu jarang terdapat!"
"Totiang terlalu memuji. Sebaliknya siapakah totiang yang telah menolong saya?"
Tosu itu tersenyum ramah.
"Tidak ada sebutan menolong dalam hal ini, taihiap. Pinto adalah seorang yang mengerti akan soal pengobatan, maka sudah sepatutnyalah kalau pinto merawat dan mengobati setiap orang yang menderita sakit. Pinto disebut Bin Ho Tojin, dan yang menemukan taihiap di dalam hutan lalu membawa taihiap ke sini adalah murid pinto yang bernama Giok Hong, atau juga puteri dari kepala dusun Yo ini "
Terkejutlah Beng Han mendengar penjelasan ini.
Tidak tahunya dara yang seperti bidadari itu, yang telah menolongnya dan membawanya ke sini, adalah murid seorang berilmu dan puteri dari kepala dusun itu sendiri "Ah, kalau begitu saya telah menerima budi cu-wi""."
Dia hendak bangkit duduk dan menghaturkan terima kasih, akan tetapi tubuhnya terasa lemas sekali sehingga terpaksa di rebah lagi.
"Harap jangan banyak bergerak, taihiap,"
Kata Bin Ho Tojin.
"Ketahuilah bahwa kau telah rebah dan pingsan selama lima hari. Taihiap harus banyak beristirahat dan minum obat yang pinto sediakan untuk membersihkan darahmu dari racun."
Beng Han hanya dapat mengangguk dan sambil mengerling ke arah Giok Hong yang masih berdiri di sudut, dia berbisik lagi.
"Terimakasih"".."
Setelah itu, dia memejamkan mata lagi karena merasa betapa pandang matanya berkunang.
Tanpa terasa dia jatuh pulas karena pengaruh obat yang didekatkan di bawah hidungnya oleh Bin Ho Tojin.
Ketika pada keesokan harinya dia terjaga dari tidurnya, dia merasa heran sekali melihat Giok Hong telah berada di kamar itu dan duduk di atas sebuah bangku dekat pembaringannya.
""". kau"".. nona"".?"
Beng Han berkata dengan hati heran dan tercengang. Giok Hong mengangguk sambil tersenyum manis.
"Engkau sudah berangsur sembuh, taihiap, akan tetapi belum boleh banyak bergerak."
Suara itu! Teringatlah Beng Han akan bidadari itu! Kesan ini sukar dihilangkan dari dalam ingatannya maka tanpa disadarinya dia lalu berkata.
"Ah, engkaulah orangnya yang menolongku itu"".."
Kulit muka yang putih halus itu berobah merah.
"Taihiap, harap jangan disebut-sebut lagi hal itu, hanya membuat aku merasa malu saja."
Beng Han diam saja dan memandang tajam kepada wajah yang manis itu.
Dia merasa heran sekali mengapa seorang dara muda yang demikian cantik jelita, puteri kepala dusun, mengawaninya seorang diri saja di dalam kamar.
Bukankah hal ini amat janggal dan tidak sopan?
"Nona, siapakah yang menyuruh engkau menjagaku di sini?"
Dara itu memandang dengan sepasang matanya yang bersinar lembut, lalu menjawab perlahan.
"Mengapa? Aku sendiri yang menghendakinya."
"Kau"""?"
"Ayah dan suhu sudah memperkenankannya."
Beng Han terdiam.
Aneh sekali, pikirnya.
Mengapa kepala dusun itu membiarkan anak daranya menjaga di situ seorang diri saja, sekamar dengan dia, seorang pemuda asing?
"Nona, engkau sungguh baik budi dan engkau membuat aku merasa sangat tidak, enak"".."
"Mengapa? Tidak sukakah kau kujaga, taihiap?"
"Bukan, sama sekali bukan demikian, nona. Akan tetapi, aku merasa berhutang budi kepadamu. Engkau sudah menolongku, menolong"
Nyawaku dan sekarang engkau menjagaku pula.
"Apakah artinya semua ini dibandingkan dengan apa yang telah kau lakukan untuk kami sedusun?"
"Ah, aku tidak melakukan apa-apa, nona. Bahkan usahaku untuk menghindarkan mereka dari hukuman saja telah gagal."
"Akan tetapi engkau telah memperlihatkan kegagahan, memperlihatkan pengorbanan besar, taihiap. Kami sedusun tidak akan dapat melupakan perbuatanmu yang gagah dan mulia itu."
"Ah, kalian telah terlalu melebih-lebihkan...".."
Kata Beng Han.
Kemudian tiba-tiba dia teringat betapa ketika dara ini menolongnya dia berjalan dengan bantuan nona ini yang dirangkulnya.
Tiba-tiba Beng Han merasa malu kepada diri sendiri.
Dia ingin sekali tahu apakah yang terjadi selanjutnya setelah dia pingsan, maka dia lalu menatap wajah yang cantik itu dan berkata dengan, gagap karena dia sendiri merasa malu.
""ketika engkau menolongku dan aku pingsan... selanjutnya bagaimanakah? Harap kau suka menceritakan nona."
Giok Hong adalah seorang dara yang terpelajar, berwatak halus, dan jujur.
Kini mendengar pertanyaan pemuda itu, wajahnya menjadi makin merah dan dia tidak berani menatap mata Beng Han.
Dengan terpaksa dia menjawab, suaranya agak gagap.
"Kau pingsan dan ketika itu.. aku khawatir kalau-kalau mereka datang, maka"".. terpaksa"". aku lalu memondongmu dan membawamu lari ke sini"".."
Terbelalak kedua mata Beng Han memandangnya, bukan terheran karena perbuatan itu yang agaknya kurang patut dilakukan oleh seorang gadis, akan tetapi terheran karena bagaimana seorang gadis lemah lembut seperti Giok Hong ini kuat memondong tubuhnya, bahkan membawanya lari?
Kemudian dia teringat akan kata-kata Bin Ho Tojin bahwa gadis ini adalah murid tosu itu, maka dia lalu berkata.
"Ah, nona, sebagai murid Bin Ho totiang, tentu lihai sekali ilmu silatmu!"
Giok Hong menarik napas panjang.
"Kalau ilmu silatku selihai kepandaianmu, mana akan kudiamkan saja dua orang keparat itu melakukan keganasan di dusunku?"
Gadis itu lalu menuturkan riwayatnya secara singkat Ternyata bahwa Yo Giok Hong adalah puteri tunggal dari Yo-chungcu, kepala dusun Kiong-nam-teng itu.
Yo-chungcu terkenal sebagai seorang kepala dusun yang budiman dan dia bersikap sebagai seorang ayah terhadap orang-orang dusun sehingga dia amat dihormat dan dikasihi oleh para penghuni dusun itu.
Beberapa tahun yang lalu, dusun itu di serang wabah penyakit yang mengerikan sehingga banyak jatuh korban.
Yo-chungcu amat bingung menghadapi keadaan ini, terutama sekali ketika isterinya sendiri menjadi korban dan meninggal karena terserang penyakit itu.
Bahkananak tunggalnya, Yo Giok Hong yang ketika itu berusia sebelas iahun, terserang pula oleh penyakit itu.
Kebetulan sekali, seorang ahli pengobatan yang menjalankan dharma bakti dalam perantauannya, menolong sesama manusia yang menderita penyakit, tiba di dusun itu.
Orang ini adalah Bin Ho Tojin yang setelah melihat keadaan di dalam dusun itu segera menggulung lengan baju dan memberikan pertolongan.
Bun Ho Tojin adalah murid ahli pengobatan yang bertapa di lereng Go-bi-san dan kepandaiannya dalam hal ilmu pengobatan memang amat tinggi.
Semenjak dia datang, orang-orang yang menderita sakit dapat disembuhkan dan setelah dia membagi-bagi obat kepada mereka yang belum terserang penyakit, semua orang menjadi sehat dan wabah itu lenyap dan pergi dari dusun itu.
Di antara mereka yang tertolong olehnya adalah Giok Hong yang menjadi sembuh.
Untuk menyatakan terima kasihnya, juga melihat betapa lihainya tosu penolong dusunnya itu, Yo-chungcu lalu menyerahkan puteri tunggalnya itu untuk menjadi murid Bun Ho Tojin.
Perbuatan kepala dusun ini sebetulnya bukan semata karena memikirkan ke pentingannya sendiri, akan tetapi terutama sekali karena bermaksud untuk mengikat tosu itu supaya tinggal di dusunnya sehingga keselamatan penduduk dusun Kiong-nam-teng akan terjamin.
Demikianlah, maka Giok Hong menjadi murid Bin Ho Tojin yang merasa suka kepada anak yang memiliki dasar kehalusan budi itu.
Dia melatih ilmu pengobatan dan ilmu silat kepada dara itu dan biarpun Giok Hong telah memiliki ilmu kepandaian silat yang tidak boleh dibilang lemah namun dia tetap bersikap lemah lembut dan gerak-geriknya tetap halus.
Akan tetapi, sesungguhnya Bin Ho Tojin lebih pandai dalam hal ilmu pengobatan dari pada ilmu silat, sungguhpun kepandaiannya sudah cukup tinggi kalau hanya untuk menjaga diri dan menghadapi penjahat-penjahat biasa saja!
Mendengar penuturan singkat ini.
Beng Han merasa makin kagum kepada Giok Hong.
Kiranya dara cantik jelita ini selain memiliki kepandaian ilmu silat yang lumayan sehingga kuat memondong dan membawanya lari, juga tentu amat hebat kepandaiannya dalam hal ilmu pengobatan.
Kini dia tidak merasa begitu heran lagi mengapa ayah dan guru gadis itu membiarkan Giok Hong berjaga di situ sendirian saja, karena mengingat ilmu silatnya, Giok Hong boleh dikata seorang pendekar wanita yang memang dalam hal hubungan dengan pria tidaklah terlalu terikat oleh peraturan sopan santun yang kaku dan sebagai seorang ahli pengobatan maka pantaslah kalau seorang perawat menjaga si sakit.
Racun yang terbawa oleh jarum Tek Po Tosu yang menancap tepat di urat pundak Beng Han amat berbahaya.
Kalau saja Beng Han tidak memiliki tubuh yang kuat dan sin-kang yang kuat pula, dan tidak keburu tertolong oleh Bin Ho Tojin yang pandai, tentu pemuda ini akan tewas atau setidaknya menjadi lumpuh seluruh lengan kirinya.
Betapapun juga, dia harus menjalani perawatan yang penuh ketelitian dari Bin Ho-Tojin dan Giok Hong sampai beberapa bulan lamanya, barulah racun itu lambat-laun dapat dibersihkan dari tubuhnya.
Sebetulnya, betapapun jahat racun jarum dari tosu itu, kalau tidak secara kebetulan mengenai urat besar dan kemudian setelah terluka Beng Han masih terus melakukan perlawanan dan menggunakan tenaga, kiranya akibatnya juga tidak sedemikian parahnya.
Ujung jarum yang diolesi racun kemudian mengenai urat pundak yang besar, membuat racun itu langsung memasuki darah dan inilah yang membutuhkan waktu lama untuk penyembuhannya karena racun itu harus dicuci bersih dari jalan darah di tubuhnya.
Karena Giok Hong setiap hari merawatnya, maka hubungannya dengan dara itu menjadi baik dan akrab sekali.
Dan para penduduk dusun yang berterima kasih dan kagum kepadanya, kadang kadang datang berkunjung ke pondok Bin Ho Tojinuntukmenengok Beng Han.
Akan tetapi, perawatan Beng Han di pondok tosu itu amat dirahasiakan dan sama sekali para penduduk tidak boleh membicarakan dengan orang luar, karena kalau sampai terdengar dan diketahui oleh Thio-thaikam, tentu pembesar itu tidak akan mendiamkannya saja.
Hal ini pula yang memaksa Beng Han harus tinggal bersembunyi dan tidak keluar dari pondok kecuali kalau malam.
Dia bukannya takut ketahuan akan tetapi dia tidak mau membuat dusun itu mengalami bencana karena dia seorang.
Pada suatu hari, Yo-chungcu mengunjunginya dan pada wajah kepala dusun ini terlihat tanda bahwa dia mempunyai suatu maksud tertentu yang hendak dibicarakannya.
Hal ini di ketahui oleh Beng Han dan pemuda ini menduga-duga ketika dia mempersilakan tamunya duduk.
""Gan-taihiap,"
Kata kepala dusun itu setelah mengambil tempat duduk.
"aku hendak menyampaikan maksud hatiku yang telah lama terpendam. Harap saja engkau suka memaafkan apabila merasa terhina dengan maksud hati yang keluar dengan tulus dan jujur ini."
Beng Han merasa tidak enak mendengar ini Kesehatannya telah pulih kembali dan dalam beberapa hari lagi dia sudah akan dapat melanjutkan perjalanannya oleh karena dia amat mengkhawatirkan keadaan sutenya yang telah lama mendahuluinya ke kota raja itu.
Dia tidak mau memusingkan diri dengan menduga-duga, maka jawabnya tenang.
"Yo-Iopek, janganlah lopek bersikap sungkan dan katakanlah saja apa gerangan maksud hati lopek itu."
"Gan-taihiap, engkau tentu .maklum sudah bahwa aku dan seluruh penduduk dusun Kiong-nam-teng amat berterima kasih kepadamu dan bahwa kami suka sekali kepada taihiap yang gagah perkasa. Oleh karena itu, sudah lama sekali terkandung niat di hatiku, apabila engkau tidak merasa terhina dan dapat menerima, aku akan merasa berbahagia sekali untuk menjodohkan puteri tunggalku dengan taihiap."
Beng Han tercengang bukan kepalang. Wajahnya berobah merah sekali, dan jantungnya berdebar.
"Nona"".. Giok Hong"""?"
"Ya, puteriku Giok Hong biarpun bodoh dan buruk, akan tetapi aku yakin dia akan menjadi seorang isteri yang baik oleh karena, dia amat kagum dan suka kepadamu, taihiap."
Untuk beberapa saat lamanya Beng Han tidak mampu mengeluarkan kata-kata untuk menjawab pernyataan Yo-chungcu tadi.
Dia menjadi bingung karena sesungguhnya dia tidak pernah menyangka akan hal itu.
Dia merasa suka sekali kepada Giok Hong yang lemah lembut dan halus budi pekertinya itu juga memiliki hati yang mulia, akan tetapi tentang perjodohan dengan gadis itu, dia sama sekali belum pernah memikirkannya apa lagi mengharapkannya.
Kini, menghadapi ""pinangan"
Dari ayah dara itu, terbayanglah wajah Kui Eng di pelupuk matanya dan hatinya menjadi berduka.
Dia mencinta Kui Eng.
dan terhadap Giok Hong, biarpun gadis ini manis, cantik jelita, dan berbudi luhur, namun dia hanya suka dan kagum saja.
Benar-benarkah gadis ini suka kepadanya, cinta kepadanya?
"Yo-lopek, mohon maaf sebanyaknya""..dalam hal ini saya""..sama sekali belum pernah memikirkannya""."
Jelas nampak perubahan pada muka Yo-chungcu yang menjadi kecewa.
"Taihiap, apakah barangkali taihiap telah mempunyai isteri atau tunangan?"
Tanyanya hati-hati dan khawatir. Beng Han menggelengkan kepala menyangkal tanpa dapat mengeluarkan suara karena hatinya masih terguncang.
"Kalau begitu, mungkin taihiap tidak suka kepada puteriku""".."
"Lopek, harap jangan terburu nafsu mengambil kesimpulan. Perjodohan bukanlah hal yang remeh dan sederhana, yang boleh diputuskan dengan tiba-tiba tanpa dipikir masak-masak. Terus terang saja, lopek, jarang saya menjumpai seorang gadis sebaik puterimu. Bahkan, saya merasa terlalu rendah dan tidak pantas untuk menjadi jodohnya"".."
"Jangan kau terlampau merendahkan diri, taihiap,"
Kata Yo-chungcu yang menjadi bersinar kembali wajahnya, seolah-olah timbul harapan baru dalam hatinya mendengar ucapan pemuda itu. Beng Han menarik napas panjang.
"Sebenarnya, Yo-lopek, dalam hal perjodohan saya tidak mempunyai kekuasaan, karena urusan perjodohan adalah urusan orang tua. Maka, harap lopek suka memaafkan. Sesungguhnya, saya tidak berani memutuskan dan saya hanya menyerahkan urusan perjodohan dalam tangan ibu saya."
Setelah berpikir beberapa lama sambil mengelus jenggotnya, orang tua itu juga menarik napas panjang berkali-kali, menekan kekecewaan hatinya, akan tetapi dia lalu memandang wajah pemuda itu dengan jujur dan berkata.
"Benar sekali pendapatmu itu, taihiap. Biarlah, kita tunda saja dulu urusan ini dan biarlah kelak setelah taihiap bertemu dengan ibumu, harap suka membicarakannya dan suka memberi kabar lebih lanjut."
"Baiklah, lopek. Dan saya menghaturkan banyak terima kasih atas budi kecintaan lopek dan atas penghormatan yang lopek berikan kepada saya sehingga lopek sudi mengusulkan perjodohan itu. Kelak akan saya sampaikan kepada ibu dan biarlah urusan ini kelak dibicarakan lagi,"
Kata Beng Han dengan hati lega karena sesungguhnya amat berat baginya untuk menolak kebaikan orang dan mengecewakan hati kepala dusun yang amat baik dan yang telah menolongnya ini.
"Sekarang ada urusan lain yang penting sekali hendak kusampaikan, taihiap. Urusan penting dan gawat sekali."
Melihat wajah kepala dusun itu demikian serius dan suaranya juga mengandung kesungguhan dan kecemasan, Beng Han terkejut dan memandang penuh perhatian.
"Apakah yang terjadi, lopek?"
"Menurut berita yang sampai kepadaku, dan yang boleh dipercaya, kini telah timbul gejala-gejala pemberontakan dari kaum tani terhadap peraturan pajak yang amat mencekik leher itu. Kami di dusun Kiong-nam-teng juga telah siap siaga, menanti saatnya tiba. Memang keadaan pemerintah yang dikuasai oleh Thio-thaikam dan orang-orang kebiri lainnya sungguh amat buruk dan menindas rakyat. Kami hanya mengharapkan bantuan orang-orang gagah seperti taihiap. Alangkah baiknya apabila taihiap dapat mencari bala bantuan dan sokongan dari semua orang gagah di dunia untuk menentang kelaliman itu, sebagaimana yang diharapkan pula oleh Bin Ho totiang."
Mendengar ini, Beng Han terkejut bukan main.
Hal yang dikhawatirkan kini telah mulai nampak kenyataannya.
Pemerasan dan penindasan yang dilakukan oleh para pembesar lalim membuat rakyat menjadi marah.
Hal ini sedapat mungkin harus dicegah.
Perang saudara harus diberantas, karena Beng Han sendiri sudah cukup menderita karena perang Menurut anggapannya, yang perlu dibasmi adalah biang keladi kekacauan ini, agar keadaan yang buruk tidak sampai meluas dan makin memburuk.
Dia teringat kepada Bun Hong dan timbul keinginan hatinya untuk melihat keadaan kota raja dan mencari tahu siapakah biang keladi pemerasan terhadap rakyat ini.
Siapa saja yang menjadi biang keladinya, baik kaisar sendiri, patut dibasmi!
Akan tetapi, tentu saja dia tidak mau membicarakan urusan itu dengan orang lain, maka untuk menyenangkan hati Yo-chungcu, dia lalu menjawab.
"Baiklah, Yo-lopek memang saya juga sudah ingin melanjutkan perantauan saya, dan tentu permintaan lopek itu akan menjadi perhatianku. Saya akan berusaha untuk mencari kawan-kawan sepaham."
Di dalam hatinya, dia menentang usaha pemberontakan karena setiap pemberontakan berarti perang saudara dan setiap perang berarti mendatangkan kesengsaraan yang lebih mengerikan kepada rakyat.
Beng Han lalu menghadap Bin Ho Tojin dan menghaturkan terima kasih atas pertolongan dan pengobatan yang diberikan kepadanya oleh pendeta itu sehingga dia terhindar dari bahaya maut.
Ketika dia berpamit kepada Giok Hong, dara itu memandangnya dengan mata basah, akan tetapi sambil memaksa keluarnya senyum manis, dara itu berkata perlahan.
"Gan-taihiap, semoga engkau tidak akan melupakan sama sekali kepada dusun Kiong-nam-teng yang pernah menerima budimu."
Setelah berpamit kepada para penghuni dusun yang sekali ini memandangnya sebagai pahlawan karena mereka mengharapkan bantuan pemuda ini dalam rencana pemberontakan mereka terhadap pemerintah, Beng Han lalu meninggalkan tempat itu dan melanjutkan perjalanannya menuju ke kota raja.
Apa bila dia teringat akan kebaikan orang-orang di dusun itu, terutama sekali kebaikan Giok Hong yang telah merawat dan menjaganya ketika dia menderita sakit dengan sangat teliti dan penuh perhatian, dia merasa terharu sekali.
Dia mencatat nama Giok Hong sebagai wanita ke dua dalam hatinya, gadis ke dua sesudah Kui Eng yang takkan pernah terlupa olehnya.
Akan tetapi, kenangan ini segera berganti rasa khawatir apabila dia teringat kepada Bun Hong dan Kui Eng.
Telah berbulan-bulan Bun Hong mendahuluinya pergi ke kota raja dengan maksud mencari dan membasmi pembesar jahat yang memerintahkan para kepala dusun memeras rakyat jelata dengan pajak berat.
Bagaimanakah nasib sutenya itu?
Kalau sampai terjadi sesuatu atas diri sutenya, bagaimana dia akan mempertanggungjawabkannya terhadap suhunya?
Sebagai saudara tertua, dia berkewajiban menjaga sute dan sumoinya, akan tetapi sekarang, sutenya itu bahkan pergi karena patah hati dan karena hendak mengalah terhadap dia dalam soal perjodohannya dengan Kui Eng!
Dan ke manakah perginya Kui Eng?
Beng Han menjadi khawatir sekali dan dia mengambil keputusan untuk mencari Bun Hong dan apabila sudah bertemu, sutenya itu akan diajaknya untuk mencari Kui Eng.
Betapapun juga, dia harus meyakinkan kedua orang itu bahwa biarpun pinangannya ditolak oleh Kui Eng.
namun dia tidak menaruh ganjalan di hatinya, tidak menyesal dan dia menganggap mereka berdua tetap sebagai adik sendiri.
Dengan pikiran ini, Beng Han menjadi bersemangat dan dia melakukan perjalanan dengan cepat menuju ke kota raja.
Setelah bersama-sama dengan Pek Bi Lo-jin menyerbu ke sarang gerombolan Kipas Hitam dan berhasil mengobrak-abrik sarang penjahat-penjahat itu, Kui Eng lalu pergi menuju ke kota raja.
Dia ingin menyusul Ang Min Tek, pemuda pelajar yang tampan dan halus itu yang telah menarik hatinya dan menjatuhkan keangkuhan dan kekerasan hatinya!
Seperti juga Bun Hong begitu memasuki kota raja, Kui Eng merasa kagum sekali melihat bangunan-bangunan raksasa yang serba indah dan megah memenuhi kota.
Belum pernah selama hidupnya dia menyaksikan gedung-gedung yang demikian indah dan toko-toko yang demikian banyak, penuh memperdagangkan bermacam-macam barang.
Dia berjalan-jalan mengagumi semua keindahan itu dan berpikir alangkah sukarnya mencari orang di dalam kota yang besar dan banyak penduduknya ini.
Diam-diam dia memikirkan keadaan Bun Hong.
Di manakah adanya suhengnya itu sekarang?
Akan tetapi hanya sebentar saja dia teringat akan Bun Hong, karena pikirannya segera penuh dengan bayangan lain, bayangan seorang pemuda yang halus budi, bayangan Ang Min Tek!
Cinta asmara memang luar biasa anehnya.
Mengapa kita tertarik kepada seseorang sedemikian rupa tanpa kita sendiri mengetahui kenapa demikian?
Kenapa justeru si dia itulah yang selalu terbayang oleh kita, yang selalu memenuhi hati kita, yang selalu ingin kita dekati dan mendatangkan rindu dendam yang menyiksa kalau kita berpisah dari dekatnya?
Mengapa?
Kui Eng sendiri tidak mengerti mengapa dia demikian tertarik kepada Min Tek.
Mungkin kesan pertama kali yang menggores hatinya adalah sikap Min Tek yang demikian gagah berani, padahal dia tahu bahwa pemuda itu adalah seorang sasterawan yang jasmaninya lemah.
Justeru di dalam kelemahan badan akan tetapi diimbangi kekuatan semangatnya itulah yang amat mengagumkan hatinya, dan tentu saja ditambah pula oleh wajah pemuda itu yang baginya nampak demikian tampan, mengagumkan dan setiap gerak-geriknya membawa daya tarik istimewa baginya!
Memang cinta asmara amat aneh dan mengandung penuh rahasia!
Dia harus mencari Min Tek!
Dia harus dapat segera bertemu dengan pemuda itu!
Akan tetapi ada pula rasa malu yang membuat jantungnya berdebar kalau dia membayangkan betapa nanti kalau dia sudah berhadapan dengan pemuda itu.
Apa yang akan dikatakannya?
Untuk mencari Min Tek tidaklah sukar karena pemuda itu telah memberitahukan bahwa selama tinggal di kota raja, Ang Min Tek akan tinggal di rumah seorang pamannya yang membuka sebuah toko obat.
Nama toko obat itu adalah Yok-goan-tong.
Pertama-tama Kui Eng mencari sebuah kamar di rumah penginapan, dan setelah membersihkan diri, berganti pakaian bersih, keluarlah dia dari rumah penginapan itu untuk mencari toko obat Yok-goan-tong.
Dengan mudah dia bisa memperoleh keterangan dari orang-orang di mana letak toko itu dan segera dia menuju ke tempat itu dengan jantung berdebar tegang.
Dan kebetulan sekali ketika dia tiba di toko obat Yok-goan-tong yang cukup besar, dia melihat Min Tek sendiri beserta kedua orang kawannya sedang bercakap-cakap di ruangan depan.
Min Tek segera melihatnya dan dengan girang pemuda itu bangkit berdiri dan berlari keluar.
"Kui-lihiap"".!"
Tegurnya dengan wajah berseri, sedangkan Lie Kang Coan dan Lie Kang Po juga memburu keluar ketika mengenal dara pendekar yang menjadi penolong mereka itu.
Tanpa disadarinya sendiri, wajah Kui Eng berubah merah, berseri-seri dan sinar matanya penuh kegembiraan.
Dia cepat menjura membalas pemberian hormat mereka sambil berkata.
"Sam-wi kongcu, apakah sam-wi baik-baik saja dan sudah berhasilkah ujian yang sam-wi tempuh?"
"Kui-lihiap, silakan masuk dan duduk di dalam, di sana kita dapit bercakap-cakap dengan leluasa,"
Kata Min Tek dengan suara yang tenang, halus dan sopan Kui Eng mengucapkan terima kasih dan mereka lalu masuk ke dalam toko obat itu di mana mereka disambut oleh paman Min Tek, seorang setengah tua yang peramah dan yang memandang kepada Kui Eng dengan heran dan kagum.
"Siokhu, inilah Kui Eng lihiap yang gagah perkasa, penolong kami yang sering kuceritakan kepada paman itu,"
Kata Min Tek kepada pamannya. Orang tua itu segera mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat sambil tersenyum ramah.
"Ah, kiranya Kui-lihiap yang datang. Sudah lama saya mendengar nama lihiap yang gagah dari keponakan saya. Silakan duduk, lihiap!"
Katanya dan Kui Eng cepat membalas penghormatan itu.
"Keponakanmu terlalu melebih-lebihkan saja""
Katanya merendah.
Setelah mengambil tempat duduk, Min Tek dengan gembira lalu menceritakan bahwa dia telah lulus dalam ujian dengan baik dan mendapat gelar siucai.
Mendengar ini, Kui Eng segera menyatakan kegembiraannya, bangkit berdiri dan berkata sambil merangkap kedua tangan.
"Kiong-hi (selamat), Ang-kongcu. Memang aku sudah menduga bahwa kau tentu akan lulus!""
Kemudian Kui Eng mendengar bahwa kedua orang saudara Lie itu tidak lulus, dan kedua orang muda itu mengambil keputusan untuk tinggal beberapa lama lagi di kota raja, di mana mereka mempunyai seorang bibi yang menikah dengan seorang pembesar sehingga mereka dapat melanjutkan pelajaran mereka dan akan mengulangi penempuhan ujian tahun depan.
Adapun Min Tek menyatakan bahwa pemuda ini besuk pagi akan kembali ke dusunnya.
Mendengar penuturan ini, tanpa ragu-ragu lagi Kui Eng berkata di luar kesadarannya, seolah-olah semua yang dikatakan itu bukan kehendaknya melainkan menurut dorongan hati yang muncul secara tiba-tiba.
"Ang-kongcu, kalau begitu kebetulan sekali! Aku sendiripun tidak mempunyai keperluan sesuatu di kota raja ini, dan hendak melanjutkan perjalananku. Kalau sekiranya kau tidak keberatan, kita boleh mengadakan perjalanan bersama."
Sebagai seorang dara yang gagah perkasa, sederhana dan berhati polos, Kui Eng tidak bisa berpura-pura lagi dan dia mengucapkan kata-kata itu yang keluar langsung dari hatinya.
Tidak demikian halnya dengan Min Tek, seorang pemuda pelajar yang semenjak kecil telah digembleng dengan peraturan dan diharuskan menjaga teguh kesopanan.
Wajahnya menjadi merah (Lanjut ke
Jilid 12) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 12 sekali ketika dia mendengar ajakan ini, dan biarpun hatinya merasa girang karena melakukan perjalanan bersama seorang dara pendekar seperti ini, dia tidak usah takut lagi akan segala rintangan di jalan, namun pada lahirnya dia hanya tersenyum dan menjura "Terima kasih banyak, lihiap.
Aku hanya akan mengganggumu saja."
"Kita sudah menjadi kawan baik, mengapa harus bersikap sungkan-sungkan lagi?"
Kata Kui Eng, dan kedua orang saudara Lie juga membenarkan ucapan ini.
"Terus terang saja, lihiap,"
Kata Kang Coan "Sebelum engkau muncul tadi, kami bertiga memang sedang membicarakan tentang lihiap.
Ang-heng menyatakan kekawatirannya tentang perjalanannya besok pagi, dan tadi dia berkata kalau saja mempunyai seorang kawan seperjalanan seperti Kui-lihiap, maka akan amanlah perasaan hatinya.
Nah, Ang-heng, sekarang Kui-lihiap telah muncul dan kebetulan sekali besok juga hendak melanjutkan perjalanan keluar dari kota raja, bukankah hal ini merupakan jodoh namanya?
Maksudku, jodoh untuk melakukan perjalanan bersama tentu saja!"
Kedua orang saudara Lie itu tertawa dan Min Tek bersama Kui Eng juga tersenyum untuk menghilangkan rasa malu-malu yang timbul dalam hati mereka oleh godaan itu.
Pada keesokan harinya, Min Tek dan Kui Eng berangkat meninggalkan kota raja untuk pergi ke Ki-ciu, tempat tinggal Ang Min Tek.
Mereka berdua naik kuda yang disediakan oleh paman Min Tek dan mereka menjalankan kuda mereka dengan perlahan keluar dari pintu gerbang kota di sebelah selatan.
Biarpun mulutnya tidak mengatakan sesuatu, namun jantung Kui Eng berdebar tegang dan penuh kegembiraan yang luar biasa.
Sama sekali dia tidak ingat lagi kepada suheng-suhengnya dan seluruh perhatiannya hanya ditujukan kepada pemuda yang halus budi dan yang kini menunggang kuda berendeng di sampingnya itu.
Baru saja mereka keluar dari pintu gerbang kota raja, tiba-tiba dari depan datang seorang penunggang kuda yang membalapkan kudanya cepat sekali.
Orang itu berbaju biru dan masih muda, akan tetapi oleh karena dia melarikan kudanya dengan cepat sehingga debu mengebul di kiri kanannya, maka wajahnya tidak nampak nyata ketika dia lewat berpapasan dengan Kui Eng dan Min Tek.
Akan tetapi Kui Eng yang memiliki pandang mata tajam itu dapat melihat betapa orang itu menoleh dan memandang ke arahnya dan dia merasa seperti mengenal wajah orang itu.
Hanya dia tidak begitu memperhatikan dan karena wajah orang itu tertutup debu mengebul maka diapun hanya melihat sekelebatan saja dan selanjutnya dia sama sekali tidak memikirkannya lagi melainkan melanjutkan perjalanannya bersama Min Tek.
Sungguh terasa betapa bedanya perjalanan sekali ini dibandingkan dengan perjalanan ketika dia memasuki kota raja seorang diri.
Kini segalanya nampak indah dalam pandang matanya.
Langit nampak cerah dan segala sesuatu kelihatan berarti dan menarik.
Bahkan batu-batu di atas jalan, tumbuh-tumbuhan di kanan kiri jalan, gunung yang membayang di kejauhan-semua kelihatan berseri dan indah!
Tentu saja Kui Eng sudah pasti tidak akan bersikap acuh tak acuh seperti itu kalau saja dia mengetahui bahwa penunggang kuda yang membalapkan kudanya tadi bukan lain adalah Bun Hong!
Sebetulnya, perpisahan antara Kui Eng dan suhengnya itu, biarpun sudah berjalan cukup lama, kurang lebih sebelas bulan lamanya, kiranya belum cukup lama bagi Kui Eng untuk melupakan wajah suhengnja.
Soalnya adalah karena perhatiannya sebagian besar dicurahkan kepada pemuda yang menunggang kuda di sampingnya, maka dia seolah-olah tidak begitu memperhatikan lagi manusia-manusia lain!
Laki-laki muda yang membalapkan kudanya tadi memang benar adalah Tan Bun Hong, kakak seperguruan pendekar wanita itu.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, untuk menyelamatkan keluarga Pangeran Song, pendekar muda ini telah dinikahkan dengan puteri sulung pangeran itu, yang bernama Song Kim Bwee, seorang dara bangsawan yang cantik jelita.
Bahkan sebulan yang lalu, Song Kim Bwee telah melahirkan seorang anak laki-laki!
Sebagai mantu seorang pangeran, suami seorang puteri bangsawan yang cantik jelita dan yang dalam waktu kurang dari setahun telah dianugerahi seorang putera, sudah sepatutnya kalau Bun Hong berbahagia.
Akan tetapi kenyataannya sama sekali tidak demikian!
Tidak, Bun Hong tidak merasa bahagia hidupnya nampak makmur, mulia dan terhormat, berenang di lautan kemewahan dan kehormatan, namun tetap saja Bun Hong tidak merasa bahagia Betapapun cantik isterinya yang amat mencintanya itu, namun dia tidak dapat melupakan Kui Eng dan di dalam hatinya tidak terdapat rasa cinta seperti yang dirasakan terhadap Kui Eng.
Dia tidak mempunyai rasa cinta seperti itu terhadap Kim Bwee, dan setelah menjadi mantu Pangeran Song, dia merasa seolah-olah terikat kaki tangannya.
Memang, seluruh manusia di dunia mendambakan kebahagiaan, mengejar kebahagiaan dan sudah tentu semua itu takkan ada hasilnya.
Kebahagiaan tidak dapat dikejar, tidak dapat ditangkap lalu disimpan sebagai milik kita.
Bahkan kebahagiaan tidak dapat dirasakan, dikunyah-kunyah dan dinikmati seperti kalau kita menikmati kesenangan.
Yang biasanya kita anggap kebahagiaan itu tak lain hanyalah kesenangan belaka, dan kesenangan itu hanya selewat saja dan segera tempatnya digantikan oleh kesusahan karena senang dan susah adalah saudara kembar yang tak terpisahkan.
Kebahagiaan tidak dapat dikenang, diingat-ingat, seperti kesenangan.
Kesenangan adalah buatan pikiran yang mengingat-ingat dan mengenang sesuatu, suatu pengalaman, baru pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.
Pengalaman yang menyenangkan ini dikenang, diingat-ingat, digambarkan, dibayangkan sebagai suatu kesenangan yang lalu dikejar dan dicari.
Memang tidak mustahil kita dapat mengejar dan menangkap kesenangan ini, lalu kita nikmati, akan tetapi setelah terdapat, tentu akan timbul kebosanan karena keinginan sudah mendesak lagi untuk mencari yang lebih nikmat dari pada itu.
Dan kesenangan juga menimbulkan rasa takut, takut akan kehilangan yang menyenangkan itu.
Kesenangan menimbulkan kedukaan, yaitu duka kalau sampai kehilangan yang menyenangkan itu.
Kesenangan yang dikejar-kejar juga menimbulkan kecewa, yaitu kalau tidak terdapat yang dikejar, atau kalau yang dikejar itu ternyata tidak begitu menyenangkan seperti ketika dibayangkan, dan selanjutnya.
Pendeknya, kesenangan hanyalah barang hampa yang hanya indah nampaknya sebelum terpegang, selagi dikejar-kejar, akan tetapi setelah dapat, tidak begitu indah lagi karena kita selalu membanding-banding, kita selalu dipermainkan oleh pikiran kita yang tidak puas akan yang begini akan tetapi selalu menghendaki yang begitu, yaitu yang tidak ada!
Kebahagiaan adalah keadaan di mana tidak terdapat rasa takut, tidak terdapat duka, tidak terdapat rasa kecewa, tidak terdapat keinginan mengejar.
Seperti cinta kasih, maka kebahagiaan hanya pada saat ini, terdapat apa adanya dan bukan merupakan suatu hasil dari pemikiran!
Kebahagiaan sudah memenuhi jagat raya bagi siapa yang tidak membutuhkan apa-apa, tidak mengejar apa-apa, tidak mencari apa-apa.
Kebahagiaan ada pada setiap saat, akan tetapi begitu hal itu dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan dan ingin dipertahankan, ingin dinikmati lagi, maka itu bukanlah kebahagiaan lagi namanya, melainkan kesenangan dan dengan munculnya kesenangan yang diciptakan oleh pikiran itu maka lahir pulalah kecewa, takut, dan duka!
Demikian pula halnya dengan Bun Hong.
Dia tidak merasa berbahagia karena hatinya ingin sesuatu yang lain dari pada apa adanya.
Dia tidak puas dengan keadaannya pada saat itu, dia menginginkan suatu yang tidak ada, yaitu diri Kui Eng dan sebagainya, maka sudah tentu saja timbul kekecewaan dan penyesalan.
Membanding-bandingkan hanya akan menimbulkan dua hal, yaitu kesombongan atau iri hati.
Kalau merasa diri sendiri lebih, timbullah kesombongan, sebaliknya kalau dalam perbandingan itu merasa diri sendiri kurang dan kalah, maka selain kekecewaan dan penyesalan, juga melahirkan iri hati.
Bun Hong merasa dirinya seperti terikat ketika dia menjadi mantu Pangeran Song.
Rasa bencinya terhadap Thio-thaikam terpaksa harus dia kubur dalam lubuk hatinya, bahkan dia dipaksa oleh kedudukannya untuk mengadakan pertemuan dan perkenalan, beramah-tamah dengan para pembesar yang tidak disukainya itu.
Bun Hong merasa kecewa sekali dan merasa betapa hidupnya sama sekali tidak ada gunanya.
Tadinya dia menuju ke kota raja dengan maksud membasmi pembesar yang kejam dan yang memeras rakyat dan bertindak sewenang-wenang, hendak menyelidiki siapa orangnya yang berdiri di belakang layar dan yang memegang gagang cambuk yang menyiksa rakyat, Setelah dia tahu bahwa orang itu adalah Thio-thaikam, kini dia tidak berdaya umuk menunaikan tugasnya, bahkan dia mengikat diri dengan pernikahan, menjadi mantu Pangeran Song yang harus berbaik dengan para pembesar, termasuk tentu saja Thio-Ihaikam itu!
Tidak berani bertindak oleh karena hal ini tentu akan membahayakan keselamatan sekeluarga ayah mertuanya.
Sering kali Bun Hong termenung dan hanya merasa rindu sekali untuk pergi merantau dan melakukan perjalanan sebagai seorang pendekar, menolong orang-orang yang menderita dan menentang orang-orang jahat yang mengganggu manusia lain, melakukan semua wejangan dari gurunya.
Juga dia merasa rindu sekali kepada Kui Eng dan Beng Han yang diduganya tentu telah menjadi suami isteri atau setidaknya tentu telah bertunangan.
Akan tetapi ketika dia menyatakan keinginannya untuk merantau ini, Pangeran Song berkata dengan suara halus dan yang tentu saja membuat Bun Hong tak mampu menjawab.
"Mantuku, pikirlah baik-baik. Engkau telah menjadi suami Kim Bwee bahkan telah mendapat kurnia seorang putera, mengapa engkau masih hendak melakukan perantauan seperti seorang yang masih belum berkeluarga saja? Hidup merantau banyak bahayanya, bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu di perantauan? Apakah hal itu tidak akan membuat isterimu. berduka? Juga, kalau sampai terlihat orang bahwa mantu bendahara kaisar hidup sebagai seorang perantau dan petualang, apakah akan kata orang? Bun Hong, demi kebaikan kita sekeluarga, harap kaubatalkan niatmu itu dan apabila engkau ingin sekali-kali melakukan perjalanan ke luar kota, boleh saja engkau menunggang kuda ke luar kota, asal jangan menimbulkan keributan dan tidak bermalam di tempat lain."
Demikianlah, untuk menghibur hatinya, sering kali Bun Hong menunggang kuda ke luar kota raja.
Isterinya tahu akan hal ini dan maklum pula bahwa suaminya tidak mencintanya.
Akan tetapi Song Kim Bwee tidak menyatakan apa-apa.
Dia maklum bahwa pernikahannya dengan Bun Hong terjadi karena terpaksa, dan untuk menolong keselamatan keluarga Song, untuk menghilangkan kecurigaan Thio-thaikam yang selalu mengincar kesalahan pembesar lain untuk dijerumuskan ke dalam jurang kehancuran.
Apa lagi Pangeran Song merupakan seorang pembesar yang paling berani menentang kekuasaan Thio-thaikam.
Untuk semua itulah Bun Hong menjadi suaminya, maka biarpun dia amat mencinta suaminya itu, diapun tidak menyalahkan Bun Hong kalau suami yang dicintaiya itu sebaliknya tidak mencintanya.
Betapapun juga, sikap Bun Hong terhadapnya amat baik dan cukup mesra, maka diapun tidak berani mengharapkan lebih dari itu, sungguhpun kadang-kadang kenyataan ini memancing air matanya di waktu dia duduk seorang diri.
Pada pagi hari itu, ketika Bun Hong baru saja pulang dari melancong dan membalapkan kudanya, tiba-tiba dia melihat Kui Eng bersama eorang pemuda tampan, naik kuda berdua dan bercakap-cakap.
Bun Hong merasa girang sekali akan tetapi juga merasa heran mengapa sumoinya itu melakukan perjalanan bersama seorang pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya.
Kalau dia melihat Kui Eng melakukan perjalanan bersama Beng Han, tentu dia akan segera melompat turun dan menghampiri mereka dengan hati girang.
Akan tetapi, ketika dia melihat Kui Eng bersama seorang pemuda lain, dia menjadi heran dan pura-pura tidak melihat mereka, bahkan mempercepat larinya kuda.
Setelah jauh, dia menghentikan kudanya dengan jantung berdebar.
Pertemuannya kembali dengan Kui Eng menimbulkan kegembiraan luar biasa dan juga ketegangan.
Perasaan hatinya terhadap sumoinya ini terasa makin rnengganggu hati dan pikirannya.
Sementara itu, Min Tek dan Kui Eng melanjutkan perjalanan mereka dengan gembira.
Min Tek merasa girang sekali dapat melakukan perjalanan bersama gadis yang gagah perkasa ini, yang selalu bersikap ramah-tamah kepadanya sehingga dia merasa seolah-olah gadis ini adalah seorang sahabat lamanya atau bahkan seperti seorang saudaranya sendiri.
Di lain fihak, Kui Eng tentu saja merasa gembira dapat melakukan perjalanan bersama pemuda yang dikaguminya dan yang diam-diam telah menundukkan hatinya itu.
Min Tek mempunyai pengetahuan yang luas sekali mengenai tempat-tempat yang dilalui mereka karena pemuda ini telah mempelajari ilmu bumi dan tahu akan sejarah yang ada hubungannya dengan gunung-gunung dan tempat-tempat yang menarik Tiada hentinya dia menceritakan tentang suatu tempat yang mereka lalui sehingga tentu saja Kui Eng merasa gembira sekali mendengar ceritanya itu.
Sore hari itu mereka bermalam di sebuah dusun, menyewa dua buah kamar dalam rumah penginapan yang hanya ada sebuah di dusun itu.
Malam itu terang bulan dan cuaca indah sekali.
Melihat keindahan suasana malam, Min Tek dan Kui Eng keluar berjalan-jalan dan melihat ke arah sebuah bukit di mana terdapat sebuah menara yang tinggi.
Min Tek dan Kui Eng duduk di tepi sawah, memandang ke arah bukit itu dan Min Tek lalu menceritakan suatu kisah kuno tentang menara itu di mana menurut dongeng, dulu pernah seorang puteri dikurung di sana oleh karena puteri itu menolak untuk dikawinkan dengan seorang pangeran, Kui Eng mendengarkan cerita itu dan merasa terharu sekali karena pandainya Min Tek merangkai kata-kata dalam ceritanya.
"Ada sebuah lagu tentang peristiwa sedih itu,"
Kata Min Tek.
"Kalau kau suka aku akan nenyanyikan dan mainkan lagu itu dengan suling, lihiap."
"Ah, setelah kita menjadi sahabat, mengapa kau sungkan sekali dan masih menyebutku lihiap segala, kongcu? Juga tidak enak diketahui orang bahwa aku adalah seorang wanita kang-ouw yang kasar."
"Ah, maaf. Baiklah, nona. Mulai sekarang aku akan menyebutmu nona saja,"
Kala Min Tek sambil tersenyum dan mengeluarkan sebatang suling yang tadi diselipkan di pinggang, di balik bajunya.
"Aih, kiranya engkau pandai pula meniup suling, Ang-kongcu!"
Kata Kui Eng sambil nemandang dengan mata berseri dan mulut tersenyum.
"Pandai sih tidak, akan tetapi sekedar memperlengkap dongeng tentang puteri itu, biarlah kumainkan lagunya untukmu, nona,"
Jawabnya merendah dan tak lama kemudian di bawah sinar bulan purnama yang cerah dan sejuk, suasana sunyi itu terisi oleh alunan nada tiupan suling yang merdu.
Lagu yang dimainkan oleh Min Tek itu terdengar sedih sekali.
Setelah lagu itu habis, pemuda itu lalu menyanyikan lagunya, dan ternyata bahwa pemuda itu memang pandai sekali bersuling dan bernyanyi, suaranyapun halus dan merdu.
Lagunya sedih dan menceritakan betapa puteri yang tidak mau dipaksa kawin itu dikeram di dalam menara sehingga akhirnya meninggal dunia karena duka nestapa.
Kui Eng memandang dengan bengong, seluruh perhatiannya terbetot dan pandang matanya seperti tergantung dan melekat kepada gerak bibir pemuda itu.
Setelah Min Tek selesai bernyanyi dan udara yang tadinya asyik dengan suara-suara merdu itu kini menjadi kosong dan hening lagi, Kui Eng memandang kepada pemuda itu dengan basah dan dia berkata.
"Ah, Ang-kongcu, tidak kusangka bahwa engkau sepandai itu""."
Dia mengusap matanya yang basah dan diam-diam Kui Eng merasa terkejut sendiri mengapa sebuah nyanyian saja mampu memancing keluar air mata!
"Engkau memuji saja.
Kui-siocia.
Kepandaian kampungan yang tidak ada harganya.
Hanya karena kegembiraanku saja maka aku sampai berani melupakan kebodohanku dan meniup suling serta bernyanyi.
Kalau ada orang lain di sini pasti aku tidak akan berani melakukannya, akan takut ditertawakan orang."
"Ang-kongcu, mengapa engkau menjadi gembira?"
Tiba-tiba Kui Eng bertanya, mukanya menunduk, akan tetapi sepasang matanya mengerling dari bawah dengan sinar tajam sekali. Ang Min Tek memandangnya dan menjawab.
"Nona, engkau adalah seorang yang amat baik budi dan aku merasa berbahagia sekali nendapatkan seorang kawan seperti engkau. Engkau mengingatkan aku kepada seorang".""
Kui Eng mengangkat muka memandang.
"Mengingatkan kepada siapa kongcu?"
"Kepada seorang yang amat dekat di hatiku"".."
"Siapakah dia?"
Akan tetapi Min Tek tidak menjawab, hanya menyimpangkan pembicaraan itu dengan ucapan perlahan.
"Kalau saja engkau seorang pria, tentu akan kuajak mengangkat saudara. Engkau baik sekali seperti seorang saudara sendiri bagiku."
Kui Eng diam saja dan jantungnya berdebar.
Apakah pemuda ini juga mencintanya?
Akan tetapi, kalau mencinta, mengapa pemuda ini ingin mengangkat saudara dengan dia?
Dara ini menjadi bingung.
Dalam hal ilmu silat, boleh jadi Kui Eng adalah seorang pendekar wanita yang lihai.
Akan tetapi mengenai lika-liku "cinta", dia masih hijau dan tidak mudah menangkap apa yang dikatakan oleh pemuda itu.
Dia, menduga-duga dan menjadi "birigung sendiri.
"Kui siocia, hari telah larut malam, mari kita kembali, besok kita melanjutkan perjalanan pagi-pagi agar dapat sampai ke Ki-ciu dalam waktu tiga hari."
Kui Eng yang sedang termenung menjawab.
"Ang-kongcu, kau kembalilah dulu. Aku ingin duduk seorang diri di sini untuk beberapa lama lagi."
"Baiklah, akan tetapi jangan terlalu lama, nona. Biarpun udara terang dan hawanya sejuk, akan tetapi lama berada di luar, kau akan dapat terkena angin dan kurang baik bagi kesehatanmu."
Pemuda itu lalu meninggalkan Kui Eng, berjalan seorang diri kembali ke rumah penginapan yang tidak berapa jauh letaknya dari tempat itu.
Kui Eng masih duduk termenung dan bermacam-macam pikiran timbul di dalam benaknya.
Tidak dapat diragukan lagi, dia merasa jatuh cinta kepada pemuda yang halus dan sopan itu.
Ingin sekali dia menanyakan riwayat pemuda itu, untuk mengetahui keadaannya akan tetapi dia merasa sangsi apakah pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak akan melanggar batas kesopanan.
Kepada seorang pemuda seperti kedua suhengnya yang belum dan tidak terlalu terikat dengan segala macam peradatan dan sopan santun dia tidak akan merasa ragu-ragu lagi.
Akan tetapi Ang Min Tek adalah seorang pemuda yang lain lagi sifatnya.
Dia seorang yang terpelajar tinggi dan mengutamakan sopan santun, sehingga dia tidak berani bersikap sembarangan dan selalu menjaga diri agar jangan sampai dianggap sebagai seorang gadis liar oleh Min Tek!
Tiba-tiba dia mendengar suara kaki di sebelah belakangnya dan terdengar suara memanggilnya dengan suara lirih.
"Sumoi"".."
Kui Eng cepat melompat berdiri dan membalikkan tubuhnya. Ternyata Bun Hong telah berdiri di depannya.
"Ji-suheng"".!"
Kui Eng berseru dengan girang sekali.
"Ah, kalau begitu, tentu engkau penunggang kuda yang membalap tadi, bukan?"
"Benar, sumoi. Dan di manakah adanya tunanganmu?"
Terbelalak mata Kui Eng mendengar pertanyaan ini, akan tetapi oleh karena semenjak dahulu sudah sering kali dan sudah biasa Bun Hong berkelakar dan menggodanya, maka dia menjawab sambil tertawa.
"Suheng, masa datang-datang kau hendak menggoda aku? Tunangan mana yang kau maksudkan?"
"Aku tidak menggoda dan juga tidak berkelakar, sumoi. Bukankah kau sudah bertunangan dengan suheng?"
"Maksudmu dengan twa-suheng? Ah, jangan kau bicara yang bukan-bukan, ji-suheng!"
Kata Kui Eng, akan tetapi wajahnya berobah merah.
"Apa!? Betul-betul engkau tidak bertunangan dengan suheng?"
Tanya Bun Hong sambil melangkah maju dan mendengar betapa suara Bun Hong mengandung getaran aneh, Kui Eng memandang dengan heran.
"Ji-suheng, siapakah yang bertunangan? Aku tidak pernah bertunangan dengan siapapun."
"Betulkah""..? Bukankah suheng dulu telah meminangmu""..?"
"Memang ibunya meminangku, akan tetapi....."
"Kau menolaknya"".? Sumoi, jawablah, kau...". kau menolak pinangannya?"
Kui Eng memandang makin terheran-heran."Eh, kenapakah kau, ji-suheng? Memang benar aku telah menolaknya!"
"Kau"..kau tidak mencinta suheng, sumoi?"
Kini merahlah wajah Kui Eng dan sinar matanya mulai memperlihatkan kemarahan.
"Ji-suheng, ingatlah, kau mengajukan pertanyaan yang bukan-bukan, sikapmu ini tidak semestinya setelah kita saling berpisah selama setahun dan baru bertemu sekarang!"
Akan tetapi, dengan wajah pucat dan bibir gemetar Bun Hong melangkah maju nada suaranya amat mendesak.
"Jawablah, sumoi..., jawablah apakah engkau tidak mencinta twa suheng"""?"
Kui Eng memandang dengan terbelalak.
Wajah suhengnya itu di bawah sinar bulan purnama nampak pucat mengerikan, seperti orang yang sakit keras.
Saking tegang dan heran batinya, dia tidak mampu menjawab hanya nenggelengkan kepala berkali-kali dan menarik napas panjang.
Tiba-tiba Bun Hong menjatuhkan dirinya berlutut di depan Kui Eng sehingga dara itu menjadi kaget dan heran sekali, lalu melangkah mundur.
"Sumoi"". sumoi". ah, kalau kuketahui hal itu"". kalau aku tahu bahwa engkau menolak pinangan suheng, bahwa engkau tidak cinta kepadanya"".. ahhh"".!"
Karena sejak kecil dia telah hidup di dekat Bun Hong, maka timbullah kekhawatiran di dalam hati Kui Eng.
Hubungannya dengan Bun Hong sudah seperti kakak dan adik kandung saja, maka melihat keadaan suhengnya ini, Kui Eng cepat melangkah maju lagi dan memegang pundak Bun Hong, ditariknya pemuda itu berdiri dan gadis itu menatap wajah Bun Hong dengan tajam penuh selidik.
"Ji-suheng. Kenapa engkau? Kurang lebih setahun kita tidak saling jumpa dan engkau telah bcrobah sekali..... mengapa kau begini pucat dan gelisah? Apa yang telah terjadi..."..?"
"Sumoi, kalau saja aku tahu"".. ah, biarlah sekarang saja kuakui semuanya. Sumoi. Dengarlah baik-baik. Sudah semenjak kita berada di puncak Kwi-hwa-san, sejak kita masih kecil aku".. aku telah mencintamu, sumoi. Aku mencintamu dan selalu merindukanmu, mengharapkan setiap saat untuk melihat api cinta terpancar dari matamu, mengharapkan engkau membalas perasaanku. Kemudian"""
Kemudian aku mendengar percakapan antara suheng dan ibunya, bahwa ibunya hendak menjodohkan dia dengan engkau.
Aku lalu mengalah, aku pergi, karena takkan kuat hatiku melihat kau bertunangan dengan suheng.
Akan tetapi, aku rela, aku rela mengundurkan diri dan mengalah.
Aku terlalu mencinta engkau dan suheng, tidak dapat aku menghalangi kebahagiaan kalian.
Akan tetapi sekarang""..
ternyata kau tidak membalas cintanya, kalian tidak bertunangan!
Ya Tuhan""
Kalau aku tahu"".
aku akan mencintamu dengan seluruh jiwaku!
Akan tetapi aku sekarang telah terikat erat-erat!
Akan tetapi, sumoi, aku akan melepaskan belenggu itu sekarang juga, aku cinta padamu, sumoi, marilah kita pergi berdua ke alam bebas, menikmati hidup bersama.
Sumoi, aku cinta padamu"".!"
Kembali Bun Hong menjatuhkan diri berlutut di depan Kui Eng seperti orang yang telah berobah ingatan!
Memang semua yang dihadapinya dalam hidup serba mengecewakan hati Bun Hong, membuat pemuda ini seperti gila karena menyesal.
Semua sudah terlanjur dan dia ingin menjangkau hal-hal di luar jangkauannya,mengira bahwa yang dijangkaunya itu akan merobah kehidupannya yang dianggap penuh dengan kekecewaan itu.
Kini Kui Eng tidak membangunkannya, bahkan sejak tadi, dara yang mendengarkan pengakuan Bun Hong itu telah menjadi pucat sekali mukanya dan tubuhnya menggigil.
Kini dia malah melangkah mundur dua tindak dengan kaki terasa lemas, menjauhi suhengnya.
"Ji-suheng"".."
Suaranya gemetar, kedua kakinya menggigil, wajahnya pucat.
"jangan..... jangan bersikap demikian.....!"
"Sumoi, aku cinta padamu"".!"
Bun Hong berbisik, menyembah-nyembah dan mengangkat mukanya yang tampan, yang ditimpa cahaya sinar lembut dari bulan purnama, wajah yang pucat dan sinar mata yang penuh permohonan, mengharapkan kasihan orang.
"Tidak, suheng. Kau tidak cinta padaku! Hubungan antara kita adalah sebagai kakak dan adik aku tidak bisa membalas cintamu dan tidak mungkin menjadi jodohmu!"
Jawaban ini diucapkan dengan suara tegas karena dara ini teringat kepada Min Tek, pemuda yang benar-benar dicintanya itu.
Bu Hong mengangkat mukanya yang pucat dan dari sepasang matanya menyambar keluar pandang mata yang tajam.
Tiba-tiba dia melompat berdiri dan sikapnya menakutkan dengan wajahnya yang pucat dan matanya yang kemerahan.
"Sumoi, kalau begitu kau""
Kau mencintai pemuda kutu buku itu"".??"
Marahlah hati Kui Eng mendengar Min Tek yang tidak bersalah apa-apa dimaki kutu buku "Andaikata benar, kau perduli apakah?"
Jawabnya sambil membalas pandang mata suhengnya dengan tajam dan sikapnya penuh tantangan.!
"Apa"".?
Ha-ha, tidak mungkin!
Kau, sumoiku yang gagah perkasa ini, mencintai seorang kutu buku yang mengangkat pena saja hampir tidak kuat?
Tidak mungkin itu dan .., tidak boleh!
Aku akan melarangnya, lebih baik kubunuh saja kutu buku itu!"
"Ji-suheng"".!""
Kui Eng membentak dengan suara penuh kemarahan. Hatinya sebal sekali mendengar ucapan itu.
"Sumoi, aku cinta padamu. Kalau kau menikah dengan suheng, aku akan mengalah dengan hati rela, aku akan menghibur hatiku yang berdarah dan terluka dengan kenangan dan bayangan betapa engkau hidup berbahagia dengan suheng. Akan tetapi, aku tidak tahan melihat seorang pria lain berdiri di sampingmu, menjadi suamimu. Apa lagi dia seorang cacing buku yang lemah. Huh, akan kubunuh dia!"
"Ji-suheng! Kau gila! Agaknya kau telah kemasukan iblis!"
Bun Hong tertawa masam.
"Memang, memang aku telah kemasukan iblis. Untuk menolong keluarga baik-baik, aku terpaksa harus menikah dengan seorang yang tidak kucinta. Aku terbelenggu seumur hidupku, dan tidak ada kekuatan yang dapat mematahkan belenggu ini, kecuali engkau, sumoi. Apabila engkau sudi membalas cintaku, sekarang juga kupatahkan belenggu itu, dan biarpun dihadapan kita terbentang lautan api yang menghadang, akan kuterjang bersamamu!"
"Ji-suheng cinta kasih tidak dapat dipaksakan. Kau telah tersesat!"
Bun Hong tertawa geli, kemudian dia melompat pergi dari tempat itu dan terdengar suaranya mengancam.
"Kau harus tinggalkan dia, cacing buku itul Kalau kau melanjutkan hubunganmu dengan dia, akan kubunuh jahanam itu, sumoi!"
Kui Eng hendak membantah akan tetapi bayangan suhengnya telah lenyap ditelan kegelapan bayangan bayangan pohon.
Kui Eng berdiri bagaikan patung di tempat itu.
Masih belum lenyap keheranan dan terkejutnya melihat betapa Bun Hong muncul dalam keadaan seperti itu.
Tiba tiba saja keluarlah air matanya.
Semenjak dulu dia suka kepada ji-suhengnya ini yang pandai berkelakar dan suka menggodanya, juga pandai menghiburnya.
Bahkan, semenjak kecil, seperti juga twa-suhengnya, Bun Hong sering kali menolongnya, mencarikan buah-buah yang lezat, mencarikan bunga-bunga yang indah.
Bun Hong melarang dia bergaul dengan Min Tek??
Tiba-tiba merahlah wajah Kui Eng, merah karena marah.
Siapa hendak melarangnya?
Tidak ada iblis manapun yang akan dapat melarangnya!
Dia tidak takut akan ancaman Bun Hong.
Kalau ji-suhengnya itu benar-benar telah gila dan hendak membunuh atau menyerang Min Tek, dialah yang akan membelanya!
Dia tidak takut sedikitpun juga sungguhpun dia maklum akan kelihaian ji-suhengnya itu.
Dengan perlahan Kui Eng lalu berjalan kembali ke rumah penginapan itu.
Pada keesokan harinya, ketika Min Tek menegurnya dengan senyum manis dan bertanya mengapa wajahnya agak pucat dan muram, Kui Eng hanya tertawa saja dan tidak menceritakan sesuatu tentang pertemuannya dengan Bun Hong.
Memang semalam dia tidak dapat tidur sama sekali, gelisah seorang diri di atas pembaringan di dalam kamar itu.
Mereka berdua lalu bersantap pagi, kemudian menunggang kuda melanjutkan perjalanan mereka.
Kui Eng selalu bersikap waspada dan hatinya bersiap siaga menjaga segala kemungkinan yang timbul sebagai akibat ancaman ji-suhengnya malam tadi.
Ketika mereka tiba di sebuah hutan yang sunyi, terbuktilah bahwa ancaman Bun Hong semalam tidak kosong belaka karena di depan sana, di tengah jalan itu, nampak berdiri seorang pemuda yang memegang sebatang pedang di tangan kanan dan pemuda ini bukan lain adalah Bun Hong!
Pakaian Bun Hong gagah sekali, seperti pakaian seorang pangeran muda, dan hal ini baru sekarang nampak oleh Kui Eng karena semalam dara ini kurang memperhatikan pakaian suhengnya.
Kui Eng dan Min Tek menghentikan kuda mereka di depan pemuda itu dan Min Tek memandang dengan penuh keheranan dan penuh perhatian, juga dia diam-diam merasa kagum kepada pemuda yang gagah dan tampan itu, menduga duga siapa pemuda ini dan mengapa berdiri menghadang di tengah jalan dengan pedang di tangan.
"Ji-suheng, mengapa kau menghadang perjalanan kami?"
Terdengar Kui Eng bertanya dengan suara tenang. Mendengar ucapan dara ini, Min Tek terkejut bukan main dan cepat dia turun dari atas kudanya dan menjura kepada Bun Hong.
"Maafkan, siauwte tidak tahu bahwa taihiap adalah suheng dari Kui-lihiap. Terimalah hormat dari Ang Min Tek."
Akan tetapi, Bun Hong sama sekali tidak memperdulikan pemuda itu, bahkan dia lalu berkata kepada Kui Eng.
"Sumoi sekali lagi kuminta, kautinggalkan dia ini dan pergi bersamaku, atau aku terpaksa akan memenggal dulu batang lehernya?"
Kui Eng menjadi marah sekali dan cepat dia melompat turun dari atas punggung kudanya sambil mencabut pedangnya pula.
"Suheng, suhu mengutus aku turun gunung untuk membasmi kejahatan! Biarpun engkau sendiri, kalau berlaku jahat dan sewenang-wenang, terpaksa akan kutentang!"
"Hemm, bagus! Kalau begitu, terpaksa aku akan membunuh cacing ini!"
Secepat kilat Bun Hong menggerakkan pedangnya menyerang.
Min Tek yang berdiri terlongong karena tidak tahu mengapa kedua orang saudara seperguruan ini begitu bertemu terus bertengkar, dan tidak tahu puia mengapa pemuda yang gagah itu datang-datang hendak membunuhnya!
"Tranggg""..!"
Pandang mata Min Tek silau oleh percikan bunga api yang memancar keluar ketika pedang Kui Eng menyambar dan menangkis pedang Bun Hong.
Akan tetapi, setelah pedangnya ditangkis oleh sumoinya, Bun Hong tidak memperdulikan sumoinya, terus saja dia mengulangi serangannya ke arah Min Tek.
"Cringgg"".I"
Kembali pedangnya terpental oleh tangkisan Kui Eng. Bun Hong mengulangi serangannya sampai tiga kali, akan tetapi tiga kali pula Kui Eng dapat menangkisnya.
"Ji suheng! Kalau kau tidak menarik kembali pedangmu, terpaksa aku akan menyerang-mu!"
Kui Eng membentak marah.
Akan tetapi, Bun Hong menjawabnya dengan suara ketawa yang menyeramkan dan kembali dia sudah menerjang maju, menyerang dengan tusukan kilat ke dada Min Tek.
Pemuda ini terkejut dan hanya melangkah mundur dengan kaget.
Sekali ini, Kui Eng tidak dapat menahan sabarnya lagi, dan segera satelah dia menangkis tusukan ke arah dada pemuda sasterawan itu diapun cepat membalas dengan serangan kilat kepada ji-suhengnya.
"Tranggg""..!"
Kini Bun Hong terpaksa menangkis dan pemuda ini harus mencurahkan seluruh perhatiannya karena sumoinya itu telah menyerangnya dengan cepat sekali dan secara bertubi-tubi karena Kui Eng telah menjadi marah bukan main.
Segera dua orang kakak beradik seperguruan itu telah bertempur seru dan bayangan mereka lenyap digulung sinar-sinar pedang yang berkeredepan.
Akan tetapi, Bun Hong tidak pernah balas menyerang, hanya mengelak dan menangkis saja.
"Sumoi, aku tak dapat mengganggumu, aku hanya ingin membunuh cacing itu saja!"
Bun Hong berkata sambil menangkis dua kali tusukan pedang beruntun dari sumoinya.
"Tan Bun Hong!"
Kui Eng membentak dengan sinar mata berapi.
"Kau bisa membunuhnya selelah melewati mayatku!"
"Aha, begitukah? Kalau kau sudah begitu nekat, terpaksa aku harus membunuh kalian berdua! Lebih baik melihat kau mati di ujung pedangku dari pada melihat kau digandeng laki-laki lain!"
Teriak Bun Hong dan kini diapun membalas dengan serangan-serangan hebat.
Terjadilah perkelahian mati-matian yang amat hebat antara kedua saudara seperguruan ini.
Kekuatan mereka memang seimbang.
Sungguhpun Bun Hong menang tenaga dan keuletan, namun Kui Eng telah mendapat pengalaman berkelahi lebih banyak dan memang sejak dulu di antara tiga orang murid Lui Sian Lojin itu, Kui Eng memiliki ginkang yang lebih tinggi sehingga gerakannya lebih gesit dan lebih cepat dari pada gerakan Bun Hong.
Melihat perkelahian itu, Min Tek menjadi bingung bukan main.
Mendengar percakapan antara kedua orang muda itu tadi, maklumlah dia bahwa gara-gara perkelahian itu adalah dirinya sendiri!
Agaknya Kui Eng jatuh cinta kepadanya dan suhengnya itu merasa cemburu!
Dia terkejut bukan main.
Celaka!
Dia harus mencegah pertempuran itu.
Maka, berulang-ulang Min Tek berseru lantang.
"Taihiap! Lihiap, berhentilah! Dengarlah keteranganku".!"
Akan tetapi, Kui Eng dan Bun Hong keduanya memiliki watak yang keras dan pantang mundur, maka seruan berkali-kali itu tidak mereka dengarkan dan mereka bahkan bertempur makin seru dan nekat!
Pada saat itu, dari jauh datang seorang laki-laki dengan jalan perlahan, akan tetapi ketika melihat pertempuran di depan itu, dia lalu berlari cepat sekali menghampiri.
Setelah dekat, orang itu berseru keras.
"Sute""..! Sumoi"! Apakah kalian sudah menjadi gila? Tahan!"
Orang ini bukan lain adalah Gan Beng Han!
Setelah sembuh dari racun jarum akibat serangan Tek Po Tosu, Beng Han meninggalkan dusun Kiong-nam-teng dan pergi ke kota raja untuk mencari sutenya.
Tak disangkanya sama sekali bahwa dia akan bertemu dengan sute dan sumoinya di tempat itu dalam keadaan saling serang secara mati-matian.
Melihat betapa kedua orang itu tidak mau berhenti oleh teriakannya, Beng Han lalu mencabut pedangnya dan melompat ke tengah medan pertempuran, menggerakkan senjatanya menangkis dan menahan sinar pedang kedua orang adik seperguruannya itu.
"Tranggg""..cring""..!Berhenti"".!Berhenti"..! Kalian orang-orang bodoh! Mengapa saling serang seperti orang orang gila?"
Kui Eng berdiri dengan napas terengah-engah dan pedang dipegangnya erat-erat, sedangkan Bun Hong berdiri dengan dahi penuh keringat, juga memegang pedang sambil memandang dengan muka pucat dan mata liar.
"Dia""
Dia hendak membunuh Ang kongcu".."
Kata Kui Eng kepada Beng Han, hidungnya kembang-kempis, matanya berapi-api penuh kemarahan. Beng Han memandang ke arah pemuda pelajar itu yang berdiri bengong dan bingung.
"Siapakah dia, sumoi?"
Tanya Beng Han.
"Dia adalah"". adalah sahabatku,"
Jawab Kui Eng. Beng Han memandang tajam ke arah Bun Hong.
"Sute, mengapa kau hendak membunuh dia?"
Bun Hong cemberut, kemarahannya masih bergolak.
Dia tidak membenci Min Tek, bahkan tidak memperdulikan pemuda itu.
Pemuda itu tidak ada artinya baginya, kalau dia hendak membunuhnya hanya karena pemuda itu dipilih oleh Kui Eng.
Pemuda itu karena dekat dengan Kui Eng, dan siapapun orangnya yang didekati Kui Eng, tentu akan dibunuhnya!
Maka, pertanyaan suhengnya itu seperti tidak didengarnya karena baginya, membunuh atau tidak membunuh siucai itu tidaklah penting.
"Suheng, mengapa kau tidak jadi bertunangan dengan sumoi?"
Pertanyaan itu diucapkannya keras-keras seperti orang mencela dan menegur sehingga Beng Han menjadi heran dan terkejut sekali dan wajahnya berobah merah.
Mendengar sutenya itu bicara seperti itu, di depan Kui Eng, bahkan di depan seorang pemuda asing, benar-benar amat mengejutkan sekali.
"Sute, omonganmu ini sungguh tidak patut!"
Bentaknya.
"Tidak patut katamu?"
Dada Bun Hong terengah-engah karena menahan gelora hatinya yang penuh kemarahan.
"Suheng, kau tahu betapa perasaan hatiku terhadap sumoi! Kita bertiga semenjak kecil bersama-sama, senasib sependeritaan. Kalau sumoi menjadi jodohmu, aku rela.... aku mengalah, akan tetapi kalau sumoi memilih laki-laki lain, aku tidak rela! Sumoi mencinta pemuda ini, maka dia harus kubunuh! Kalau sumoi menghalangi, biar kubunuh keduanya!"
"Sute, kau gila""!"
Kui Eng mengusap beberapa butir air mata yang menuruni kedua pipinya.
"Bun Hong, kau manusia kejam! Kau membikin malu kepadaku. Mari kita bertanding mengadu jiwa!"
Kui Eng melompat maju dan menyerang, akan tetapi Beng Han mencegahnya.
"Sumoi, sabarlah dan serahkan urusan ini kepadaku. Sebetulnya, apakah yang terjadi?"
Kui Eng memandang kepada Beng Han dengan air mata masih membasahi pipinya.
"Suheng, aku tidak bersalah apa-apa. Aku hanya mengantar Ang-kongcu yang hendak kembali ke dusunnya. Tahu-tahu ji-suheng menghadang di sini dan hendak membunuh kami."
Beng Han berpaling kepada Bun Hong dani membentak.
"Sute, jangan kau melanjutkan kesesatanmu itu. Hubungan kita dengan sumoi hanyalah sebagai saudara seperguruan dan urusan pribadinya tidak boleh kita mencampurinya."
"Ah, kau tidak tahu hatiku, kau tidak tahu penderitaanku. Pendeknya, sumoi hanya boleh memilih antara kau atau aku, tidak boleh memilih orang lain! Biar kubunuh pemuda pucat itu!"
Teriak Bun Hong marah.
"Kalau kau membelanya, suheng, terpaksa aku akan melawanmu pula!"
"Manusia sesat!"
Beng Han membentak marah,"Sumoi, kau lanjutkanlah perjalananmu bersama kongcu ini, biar aku yang akan menghadapi sute."
Sementara itu, Min Tek yang mendengarkan semua ini, menjadi pucat dan tubuhnya menggigil.
Sama sekali bukan karena takut, akan tetapi karena terharu.
Baru sekarang dia tahu bahwa tiga orang ini adalah saudara-saudara seperguruan yang tinggi ilmu kepandaiannya, dan karena kini mereka bertengkar karena dia, maka sudah tentu dia merasa bingung sekali.
Mendengar betapa Kui Eng mencintanya, dia merasa terharu bukan main.
Mula-mula, dara itu yang hendak membelanya dengan taruhan nyawa, sampai melawan suheng sendiri, kini orang pertama dari tiga orang bersaudara seperguruan itupun hendak membelanya "Kui-lihiap, biarlah kujelaskan kepada suhengmu"".."
Katanya. Akan tetapi Kui Eng telah melompat ke atas punggung kudanya dan berkata.
"Ang-kongcu, marilah kita pergi!"
Terpaksa Min Tek naik ke atas punggung kudanya pula dan ikut pergi dengan cepat menyusul Kui Eng yang telah mendahuluinya. Bun Hong marah sekali.
"Suheng, kau tidak tahu betapa besar cintaku terhadap sumoi. Lebih baik aku mati di tanganmu dari pada melihat sumoi menjadi isteri pemuda lemah dan pucat itu! Kalau kaususul dia dan mengambil sumoi sebagai isterimu, aku akan merasa bahagia dan rela, suheng. Akan tetapi, kalau kau membiarkan dia merendahkan diri dan menjadi jodoh pemuda itu, biar bagaimanapun juga, aku akan menghalanginya."
"Sute, tidak kusangka bahwa setelah berada di kota raja, engkau menjadi gila. Perasaan hatimu terhadap sumoi yang kaunamakan cinta itu sesungguhnya bukanlah cinta kasih yang sejati, melainkan cinta palsu yang diliputi nafsu semata, nafsu hendak menyenangkan dirimu sendiri! Kau hendak membunuh pemuda pelajar yang tidak berdosa itu? Baik, ada aku yang akan membelanya!"
"Kau""..??"
Kedua mata Bun Hong yang sudah merah karena marahnya itu tiba-tiba mengeluarkan dua titik air mata.
"Kau hendak melawan aku, suheng? Kau"".?"
"Apa boleh buat. Lebih baik melihat saudaraku yang kukasihi mati dari pada melihat dia hidup melakukan kejahatan!"
Bun Hong berteriak keras dan menerjang maju mengirim tusukan dengan pedangnya.
Beng Han menangkis dan keduanya lalu bertempur hebat, lebih seru dan lebih mati-matian dari pada ketika Bun Hong bertempur melawan Kui Eng tadi.
Bun Hong memiliki kecepatan gerakan luar biasa dan pedangnya berkelebat menyambar-nyambar dengan ganasnya.
Biarpun dia masih kalah cepat kalau dibandingkan dengan Kui Eng, akan tetapi dibandingkan dengan suhengnya ini dia masih menang tinggi tinggi ginkangnya.
Akan tetapi, Beng Han yang waspada dan tenang dapat menghadapinya dengan baik dan mengembalikan setiap serangan sutenya karena memang dasar ilmu silat Beng Han lebih matang dari pada sutenya.
Kalau tadi, ketika Bun Hong bertempur melawan Kui Eng, mereka bergerak cepat seperti sepasang naga memperebutkan mustika dan gerakan mereka itu amat mirip karena keduanya mengandalkan kecepatan, adalah kini pertempuran antara Bun Hong dan Beng Han memperlihatkan gerakan yang amat berbeda di antara mereka.
Bun Hong bergerak gesit dan pedangnya menyambar ganas dan cepat, sedangkan gerakan Beng Han tenang dan mantep, pedangnya membentuk gulungan sinar yang kokoh kuat.
Betapapun juga, ilmu pedang mereka bersumber dari satu dasar ilmu pedang, yaitu Kwi-hoa Kiam-hoat, maka tentu saja mereka dapat mengembalikan setiap serangan dengan baik.
Mereka hanya mengandalkan keuletan dan kegesitan kaki tangan belaka dan kedua orang kakak beradik seperguruan ini tidak jauh bedanya dengan kalau mereka sedang berlatih ilmu pedang mereka!
Pantangan bagi orang yang sedang bertanding silat adalah perasaan takut, bimbang dan terutama sekali nafsu amarah.
Biarpun Bun Hong tidak merasa takut, akan tetapi menghadapi Beng Han dia merasa bimbang dan kehilangan sebagian kepercayaan diri sendiri, dan hatinya masih diliputi kemarahan sehingga gerakan pedangnya tidaklah semantap dan setepat gerakan Beng Han.
Baca Juga: Pedang Sinar Emas 6
Baca Juga: Pedang Kayu Harum 8