Ceritasilat Novel Online

Kisah Tiga Naga Sakti 2

Eps 2 Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo.

Akan tetapi orang-orang muda yang sudah "naik darah"

Itu mana mau mendengar seruannya, terutarma sekali Kui Eng dan Bun Hong yang merasa penasaran sekali karena mereka berdua tidak dapat segera meroboh kan Beng Lian dan Yu Tek.

Sementara itu, rombongan pengawal yang terdiri dari belasan orang itu tadinya tidak berani turun tangan karena mereka merasa gentar menghadapi kelihaian tiga orang muda yang tadi dengan mudah mrrobohkan beberapa orang penjaga, akan tetapi setelah melihat bahwa YapYu Tek dan Gan Beng Lian turun tangan mereka menjadi berani dan bersemangat lalu maju untuk mengeroyok!

Pertempuran hebat terjadi di ruangan depan gedung kabupaten itu dan tiga orang pemuda itu terkurung di tengah-tengah.

Akan tetapi, pedang mereka bergerak dan menyambar-nyambar bagaikan tiga ekor naga sakti mengamuk sehingga para pengeroyoknya yang terdiri dari para pengawal itu tidak berani mcngepung terlalu dekat.

Kalau hanya menghadapi para pengawal itu saja, Kui Eng, Bun Hong dan Beng Han sama sekali tidak merasa gentar, akan tetapi dua orang muda yang menahan serbuan mereka itu benar-benar hebat, sedangkan di antara para penjaga ada pula yang memiliki kepandaian lumayan dan kini makin banyak pengawal datang berlarian dari luar.

Kui Eng maklum bahwa untuk mencapai kemenangan, dia dan dua orang suhengnya harus menurunkan tangan kejam, maka dia merasa serba salah.

Gadis remaja baju putih yang menghadapinya amat tangguh dan agaknya takkan mudah baginya untuk mengalahkan dara ini, karena selain ilmu pedang dara itu cukup lihai, juga dia harus memperhatikan pengeroyokan para penjaga yang menyerangnya dari belakang, kanan dan kiri.

"Perempuan sombong menyerahlah saja sebelum engkau terluka!"

Kata Beng Lian dengan suara mengandung ejekan. Kui Eng menjadi marah.

"Pengecut. Kalau benar kalian gagah, marilah kita bertempur seorang Iawan seorang, jangan main keroyokan."

Akan tetapi Beng Lian yang menganggap tiga orang itu pengacau-pengacau yang menghina calon ayah mertuanya, hanya tersenyum mengejek dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak, tiga batang jarum yang mengeluarkan sinar putih menyambar ke arah dua lengan Kui Eng dan serangan senjata rahasia ini disusul pula dengan tusukan pedangnya ke arah dada lawan dengan gerak tipu Dewi Memetik Kembang Teratai.

Kui Eng terkejut sekali melihat sambaran jarum-jarum itu yang amat cepat.

Dia tidak mungkin lagi dapat menangkis dengan pedangnya karena jarumjarum itu menyambar cepat ke arah kedua lengannya.

Maka dengan mengeluarkan suara melengking nyaring, tubuh gadis ini mencelat ke atas dan seperti gerakan seekor burung walet, dia berjungkir balik dan membuat poksai (salto) beberapa kali di udara sebelum tubuhnya melayang turun kembali dan langsung dia mengirim serangan hebat kepada Beng Lian.

Bukan main kagum hati Beng Lian menyaksikan gerakan ini.

Maklumlah dia bahwa dalam hal ilmu ginkang, dia kalah terhadap gadis cantik itu.

Akan tetapi, dia tidak menjadi gentar dan tetap tabah mengnadapi Kui Eng sehingga mereka segera bertempur lagi dengan seru.

Sementara itu, Bun Hong juga bertempur dengan ramai sekali melawan Yu Tek, agak sibuk juga karena Yu Tek dibantu oleh beberapa orang pengawal yang cukup pandai.

Melihat ini, Beng Han meninggalkan para pengeroyoknya dan membantu sutenya sehingga mereka berdua dikepung rapat seperti halnya Kui Eng pula.

Adanya dua orang muda yang muncul dengan tiba-tiba itu menggagalkan rencana Beng Han dan.

dua orang adik seperguruannya.

Mereka sama sekali tidak pernah menyangka bahwa di rumah pembesar itu terdapat dua orang muda yang demikian tinggi kepandaiannya.

Beng Han maklum bahwa kalau perempuran dilanjutkan, tentu mereka terpaksa harus membunuh banyak korban, maka dia lalu berseru keras kepada Bun Hong .dan Kui Eng.

"Sute! Sumoi! Mari kita pergi dulu, jangan sembarangan membunuh orang!"

Biarpun hati mereka belum merasa puas dan masih marah, namun Bun Hong dan Kui Eng tidak berani menyangkal perintah suheng mereka yang harus mereka taati itu.

Mereka maklum pula akan berbahayanya keadaan mereka.

Maka mereka lalu memutar senjata mereka dengan cepat sehingga beberapa batang golok para pengawal terpental, kemudian mereka mempergunakan kesempatan itu untuk meloncat keluar dari ruangan itu.

"Orangorang sombong hendak lari kemana?"

Teriak Beng Lian sambil melompat mengejar, diikuti oleh Yu Tek. Malam telah tiba dan di luar sudah mulai gelap. Kui Eng menjadi marah dan menoleh.

"Pengecut yang hanya berani main keroyok!"

Dia memaki.

"Siapa takut melawan engkau?"

Beng Lian balas membentak.

"Kalau kau belum puas dengan kekalahan ini, datanglah ke Kuil Kwan imbio, aku akan menantimu di sana dan kita boleh bertempur sampai seribu jurus!"

"Bagus!"

Bentak Kui Eng.

"Besok pagi-pagi aku akan datang kesana untuk memaksamu berlutut minta ampun kepadaku!"

Kemudian dia melompat keatas genteng menyusul dua orang suhengnya.

"Aih, sumoi, mengapa kau mencari perkara dengan menjanjikan untuk datang ke kuil memenuhi tantangan gadis baju putih itu?"

Beng Han menegur sumoinya. Mereka bertiga duduk di dalam (Lanjut ke

Jilid 05) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05 ruangan sebuah kuil tua yang kosong.

Setelah mereka melakukan penyerbuan ke gedung tihu, tentu saja mereka tidak berani bermalam didalam rumah penginapan umum dan mereka menggunakan kuil tua itu sebagai tempat persembunyian.

Mereka tentu saja tidak tahu bahwa Yap-tihu diam-diam melarang orang-orangnya untuk melakukan pengejaran terhadap tiga orang muda yang datang mengacau itu.

Yap-tihu maklum bahwa tiga orang muda itu bukanlah penjahat-penjahat, melainkan pendekar-pendekar muda yang kurang pengalaman dan hendak bertindak sebagai patriot-patriot pembela rakyat tanpa penyelidikan terlebih dahulu.

"Hemm, dia sombong sekali!"

Kui Eng berkata, bersungut-sungut.

"Kalau tidak kusambut tantangannya, tentu dia akan menjadi besar kepala!"

"Sebetulnya bukan gadis baju putih itu yang sombong, melainkan kita sendiri yang terlalu memandang rendah lawan. Tidak kusangka bahwa gadis itu demikian tinggi ilmu silatnya, juga pemuda yang bersenjata bambu itu amat lihai,"

Kata Bun Hong sejujurnya.

"Dan kau sudah menerima tantangannya, sumoi, tak dapat dihindarkan lagi kita akan menghadapi lawan-lawan tangguh karena tentu fihak mereka telah siap siaga. Baru saja turun gunung kita sudah menanaui bibit permusuhan dengan orang-orang gagah,"

Kata pula Beng Han yang amat mengkhawatirkan keselamatan sumoinya itu.

Ditegur oleh dua orang suhengnya, hati Kui Eng menjadi panas dan dia bangkit berdiri, memandang kepada dua orang suhengnya itu di bawah sinar empat batang lilin yang mereka nyalakan di ruangan kuil tua itu, lalu dia berkata dengan nada suara marah dan bibir cemberut.

"Twa-suheng dan ji-suheng, kalau sekiranya merasa takut menghadapi gadis baju putih itu, biarlah besok pagi aku sendiri yang akan datang kesana memenuhi tantangannya dan kalian berdua tinggallah saja bersembunyi disini!"

Mendengar ucupan ini dan me'ihat kemarahan sumoi mereka, Beng Han dan Bun Hong yang duduk di atas lantai itu saling pandang lalu tertawa.

"Ah, sumoi, mengapa kau berkata demikian?"

Beng Han berseru sambil tcrsenyum.

"Kau tentu mengerti bahwa aku bersedia membelamu dengan taruhan nyawaku!"

"Memang kau tidak adil, sumoi, menyangka kami takut dan tidak suka membelamu. Aku tidak akan membiarkan kau menghadapi lawan seorang diri saja!"

Bun Hong menyambung sambil memandang tajam.

Kui Eng menatap wajah kedua orang suhengnya itu berganti-ganti, kemudian tiba-tiba kedua pipinya menjadi merah dan sambil menundukkan muka dan duduk kembali ke atas lantai, dia bertanya dengan lirih.

"Kalian baik sekali kepadaku dan bahkan bersedia membelaku dengan taruhan nyawa, mengapakah?"

Melihat sikap Kui Eng dan mendengar pertanyaan ini, dua orang pemuda itu tertegun, saling pandang dan seolah olah mereka dapat membaca isi hati masing-masing, mereka lalu menundukkan muka pula dan tidak dapat menjawab.

Jantung mereka berdebar tercengang dan tanpa mereka sadari, muka merekapun menjadi merah.

Tiga orang saudara seperguruan itu duduk di lantai ruangan kuil tua, dibawah penerangan empat batang lilin yang berkelap-kelip tertiup angin yang masuk dari luar melalui dinding-dinding yang retak, menunduk dan tidak mengeluarkan kata-kata, masing-masing tenggelam dalam lamunannya sendiri.

Baru saat itulah terasa dan terpikir oleh mereka apa yang sebenarnya terkandung di dalam hati sanubari mereka masing-masing.

Tanpa disadarinya sebelum ini, baik Bun Hong maupun Beng Han mengandung perasaan cinta yang besar dalam hati mereka terhadap sumoi mereka ini, bukan hanya cinta kasih scbagai seorang suheng terhadap seorang sumoinya, melainkan cinta kasih dari seoiang pria terhadap seorang wanita!

Kesadaran akan kenyataan yang timbul sebagai jawaban atas pertanyaan Kui Eng ini membuat Bun Hong membungkam dan hanya mengangkat muka memandang kepada Kui Eng dengan sinar mata tajam, bibirnya bergerak-gerak tanpa suara karena ditahan-tahannya agar jangan menyalurkan teriakan suara hatinya yang menyatakan cinta!

Adapun Beng Han yang lebih tenang dan lebih kuat batinnya, sudah dapat menenangkan hatinya kembali dan dia segera berkata dengan suara tenang dan mantap untuk membuyarkan suasana yang menekan, menegangkan dan mencekam hati itu.

"Aih, sumoi! Kita adalah saudara-saudara seperguruan, kalau kita tidak saling membela, habis siapakah yang akan membela kita? Kalau misalnya engkau melihat aku atau sute berkelahi dengan orang lain, apakah engkau juga tidak akan segera membantu tanpa diminta lagi?"

Lega rasa hati Kui Eng dan Bun Hong ketika mendengar ucapan ini yang seketika melenyapkan canggung, sungkan dan malu yang tadi menekan hati mereka.

Kini barulah mereka dapat mengangkat muka dan saling memandang tanpa perasaan ragu-ragu atau malu-malu.

"Ucapan suheng benar sekali!"

Kata Bun Hong, betapapun juga, kita tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan gadis baju putih itu.

Maka kalau besok kita pergi ke Kuil Kwan-im-bio, kita harus mendasarkan kedatangan kita itu untuk berpibu (mengadu ilmu silat) saja, tidak ada hubungannya dengan penyerbuan kita kegedung tihu."

"Memang sebaiknya begitu,"

Kata Beng Han.

"Yang membuat aku heran adalah mengapa dua orang itu secara mati matian membela Yap-tihu? Mereka itu nampaknya bukan seperti pengawal-pengawal atau tukang-tukang pukul bayaran, lebih patut kalau mereka itu segolongan dengan kita yang mencontoh sepak terjang para pendekar. Akan tetapi kalau Yap tihu seorang pembesar jahat yang suka menindas rakyat demi keuntungan diri sendiri, bagaimana dia dapat dibela oleh dua orang muda yang demikian lihainya itu?"

"Siapa tahu kalau pemuda itu adalah putera tihu sendiri. Kulihat wajahnya mirip sekali dengan wajah Yap-tihu,"

Kata Kui Eng.

"Hal ini harus kita selidiki lebih mendalam,"

Beng Han berkata sambil mengerutkan alisnya.

"Kita tidak boleh bertindak sembarangan. Besok setelah kita mengunjungi Kwan-im-bio, sebaiknya kita menjumpai tihu lagi dan mencari penjelasan secara bilk baik. Kalau memang dia seorang jahat yang tidak mau menginsyafi kekeliruannya dan hendak menggunakan kekerasan, baru kita turun tangan dan jangan memberi ampun kepadanya lagi."

"Memang sebaiknya begitu, suheng, Kita mendengar bahwa dia menjadi biang keladi kesengsaraan rakyat dengan peraturan pajak yang mencekik leher, hanya dari mulut Gu-taijiu. Siapa tahu kalau-kalau dia melakukan fitnah atas diri Yap-tihu! Maka besok kita selidiki dulu dengan bertanya-tanya kepada para penduduk kota ini. Mereka tentu tahu orang macam apa adanya tihu itu!"

Tiga orang pendekar muda itu saling menyetujui dan mereka lalu mengaso dan tidur secara bergiliran.

Dua orang tidur dan seorang menjaga agar jangan sampai mereka diserbu musuh sewaktu ketiganya pulas.

Sementara itu, setelah tiga orang penyerang muda itu melarikan diri, Yap-tihu memanggil para kepala pengawal dan melarang mereka melakukan pengejaran.

"Mereka bukan penjahat, maka tidak perlu dikejar. Mereka itu pendekar-pendekar gagah, tentu akan dapat membedakan orang setelah mereka melakukan penyelidikan."

Demikian katanya kepada para kepala pengawal. Kemudian Yap-tihu mengajak Yu Tek dan Beng Lian ke dalam dan mengadakan perundingan.

"Aku merasa heran sekali terhadap mereka. Siapakah mereka bertiga itu? Aku merasa yakin bahwa mereka itu bukan datang dengan niat merampok atau niat buruk lainnya. Akan tetapi kalau mereka itu pendekar-pendekar gagah seperti yang kuduga, mengapa mereka memusuhi aku dan memaki aku sebagai pembesar lalim yang memeras rakyat? Sungguh aneh dan mengherankan."

Yap-tihu menggeleng-geleng kepalanya.

"Ayah, mungkin mereka itu adalah anak-anak atau kawan-kawan dari orang-orang jahat yang merasa sakit hati kepada ayah yang telah menyuruh tangkap dan menghukum mereka, dan mereka bertiga itu datang untuk membalas dendam dengan dalih memburukkan nama ayah,"

Kata Yu Tek.

"Entahlah, akan tetapi sikap mereka tidak seperti orang-orang jahat, bahkan menurut pendapatku, mereka itu adalah pendekar pendekar muda yang membela rakyat, karena ketika gadis itu mengeluarkan kata kata, dia menegurku yang dia tuduh memeras rakyat dengan pajak yang berat."

"Betapapun juga, mereka itu telah menjatuhkan fitnah dan bertindak terlalu sembarangan tanpa menyelidik terlebih dahulu, seolah olah mereka hendik menyombongkan ilmu kepandaian mereka! Mereka telah menghina kita tanpa menyelidiki lebih dulu Ayah adalah seorang pejabat yang jujur dan memegang teguh peraturan serta menjalankan tugas dengan baik, sedikitpun tidak pernah memeras rakyat untuk keuntungan pribadi. Mengapa mereka berani berlancang mulut dan menuduh yang bukan-bukan?"

Yu Tek berkata dengan marah.

"Juga mereka itu amat sombong, seolah-olah hanya mereka saja yang memiliki kepandaian,"

Kata Beng Lian dengan penasaran.

"Sungguh merendahkan orang-orang An-kian. Karena itu saya telah menantang mereka untuk datang mengadu pandaian besok pagi di kuil. Kalau benar-benar kita sampai kalah, biarlah subo yang turun tangan memberi hajaran kepada mereka."

"Kita harus hati-hati, moi-moi. Hal ini sebaiknya kita beritahukan kepada gurumu agar kita jangan sampai salah tangan dan bermusuhan dengan pendekar-pendekar kang-ouw."

"Benarsekali pendapat Yu Tek"

Kata Yap-tihu.

"Urusan ini menyangkut orang-orang kang-ouw, maka sebaiknya kalau kita minta nasihat dari Pek I Nikouw. Sebaiknya sekarang juga kalian pergi menghadap orang tua itu mohon nasihatnya agar kita dapat bersiap-siap untuk menghadapi mereka besok pagi."

Yu Tek dan Beng Lian lalu pergi ke Kuil Kwan-im-bio dan menceritakan segala peristiwa yang terjadi itu kepada Pek I Nikouw. Nenek ini menarik napas panjang dan berkata kepada mereka.

"Semenjak lama hati pinni telah mengkhawatirkan bahwa sewaktu-waktu akan terjadi hal seperti ini. Hanya kita yang mempunyai hubungan dekat dengan Yap-tihu sajalah yang mengetahui bahwa dia adalah seorang pembesar yang jujur dan baik, akan tetapi orang luar belum tentu akan menganggapnya demikian. Yu Tek, ayahmu menguasai seluruh dusun di wilayah ini dan ayahmulah yang memberi perintah langsung kepada para kepala kampung dalam hal menjalankan peraturan, termasuk pemungutan pajak dan penentuan besarnya dan lain-lain. Padahal, kita semua tahu bahwa perintah yang disampaikan oleh ayahmu tentang pemungutan pajak tani itu, yang datangnya dari kotaraja, adalah peraturan yang tidak adil dan mencekik leher para petani. Tentu saja orang-orang gagah akan menyangka bahwa ayahmulah yang bersalah dalam hal ini."

"Akan tetapi, suthai, semua uang pajak itu tidak ada yang dimakan oleh ayah, melainkan seluruhnya disetorkan kepada pemerintah!"

"Benar, akan tetapi siapa tahu akan hal itu?"

Nikouw tua ini menarik napas panjang.

"Jamannya sudah berubah, para pejabat pemerintah hampir semua melakukan korupsi dari yang tingkat paling rendah sampai yang paling tinggi, maka segelintir dua gelintir pembesar yang jujur dan baik di antara mereka itu tentu akan nampak buruk pula. Siapa bisa percaya bahwa di jaman seperti ini ada pembesar seperti ayahmu yang tidak melakukan korupsi demi keuntungan diri pribadi?"

"Betapapun juga, suthai, orang yang disebut pendekar seharusnya melakukan sesuatu dengan teliti dan menyelidiki dengan seksama terlebih dahulu sebelum bertindak. Tidak seperti mereka itu yang bertindak secara sembarangan sajal"

Kata Yu Tek dengan nada suara jengkel. Nikouw itu menarik napas panjang.

"Kalian tadi menceritakan bahwa mereka adalah orang-orang yang masih muda sekali, sebaya dengan kalian, karena itu mereka masih berdarah panas. Bagaimana mereka akan dapat bersikap sabar dan teliti? Orang-oiang muda selalu terdorong oleh darah panas. Biarlah, kalau besok mereka dntang ke sini, pinni yang akan menyambut mereka dan mcmbereskan kesalahfahaman ini."

"Akan tetapi, subo, sebelum itu biarkanlah teecu mencoba dulu kepandaian mereka itu!"

Kata Beng Lian, bibirnya masih cemberut karena masih panas dan marah hatinya teringat akan gadis yang menjadi lawannya itu. Pek I Nikouw tersenyum mendengar ini.

"Nah, apa kata pinni? Orang muda selalu terpengaruh oleh darah panas!"

Dia lalu berkata kepada Yu Tek.

"Sebaiknya engkau pulang dulu dan menjaga ayahmu. Besok pagi-pagi ke sini untuk menyambut mereka. Dan kau sebaiknya mengaso dan tidur agar besok pagi badanmu sehat untuk menghadapi pibu yang kauinginkan itu, Beng Lian."

Yu Tek lalu memberi hormat, berpamit dan pergi.

Sedangkan Beng Lian lalu memasuki kamarnya di mana ibunya masih duduk membaca doa.

Ketika Siok Thian Nikouw mendengar penuturan anaknya tentang peristiwa itu, hatinya menjadi gelisah dan dia berkata.

"Beng Lian, jangan kau bersikap angkuh dan terlalu mengandalkan kepandaianmu untuk berkelahi. Kau harus mentaati kata-kata gurumu dan menyerahkan hal itu kepada gurumu yang akan bertindak bijaksana."

Semua nikouw dalam Kuil Kuan-im-bio telah mendengar tentang peristiwa itu dan ramailah mereka membicarakan hal itu.

Mereka merasa tertarik sekali ketika mendengar bahwa besok pagi akan datang tiga orang gagah untuk mengadu ilmu silat melawan Beng Lian dan Yu Tek di ruangan kuil.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Yu Tek telah datang ke Kuil Kwan-im-bio bersama ayahnya!

Mula-mula Pek I Nikouw merasa heran melihat kedatangan tihu ini, apa lagi karena kedatangannya hanya berdua dengan Yu Tek, sama sekali tanpa pengawal.

Akan tetapi hati nikouw tua ini menjadi kagum dan senang ketika dia mendengar penjelasan Yap-tihu bahwa pembesar itu ingin sekali bertemu dengan para penyerbu itu untuk mengadakan pembicaraan secara mendalam dan kalau perlu mengadakan perundingan untuk menghindarkan salah faham.

"Sikap Yap-taijin dalam hal ini amat bijaksana. Kalau semua pembesar bersikap seperti taijin, tidak mengandalkan kedudukan untuk bersikap congkak dan bertindak sewenangwenang, maka keadaan negara tentu tidak akan sekacau ini, rakyat akan hidup tenang dan tenteram, di mana-mana tidak akan timbul ketidakpuasan dan penasaran."

Yap-tihu menghela napas panjang.

"Saya tidak berpamrih sesuatu, suthai, tidak bermaksud agar dianggap sebagai pembesar baik. Saya hanya bertindak sebagaimana mestinya dan menjalankan tugas saya sebaiknya. Hanya itulah."

"Omitohud, semoga Kwan Ini Pouwsat memberkahi niat hati taijin yang bijaksana."

Mereka semua sudah berkumpul di situ.

Yap-tihu dan Pek 1 Nikouw duduk di atas bangku dan dua orang muda itupun duduk, dekat mereka.

Siok Thian Nikow dan beberapa orang nikouw pimpinan duduk di belakang dan nikouw-nikouw lain berdiri.

Hati mereka tegang dan waktu dirasakan merayap lambat sekali.

Setelah matahari naik cukup tinggi dan keadaan menjadi terang, datanglah tiga orang muda yang telah ditunggu-tunggu itu.

Mereka datang dari pintu depan, disambut oleh seorang nikouw penjaga.

Dengan suara tenang Kui Eng menyatakan kepada penjaga ini bahwa dia bersama dua orang suhengnya datang untuk memenuhi undangan nona baju putih di Kuil itu.

Nikouw penjaga yang memang sudah tahu, segera mempersilakan mereka langsung menuju ke lian-bu-thia yang letaknya di belakang kuil, sebuah pekarangan terbuka yang luas.

"Silakan, sam-wi telah ditunggu di lian-bu-thia,"

Katanya.

Seorang nikouw lain mengantar mereka memasuki pekarangan itu.

Kui Eng berjalan di depan dengan langkah lebar dan sikap yang gagah.

Dengan pakaiannya yang berwarna hijau, gadis ini nampak cantik jelita dan gagah perkasa sehingga menimbulkan rasa kagum dalam hati para nikouw yang berdiri di kanan kiri jalan masuk kuil itu.

Ketika mereka bertiga memasuki pekarangan dan melihat banyak nikouw bcrdin dan memandang kepada mereka Kui Eng, Bun Hong, dan Beng Han merasa agak sungkan dan malu juga karena para pendeta wanita itu mengingatkan mereka bahwa mereka berada di tempat suci.

Mereka datang ke sebuah kuil dari para pendeta yang memuja Kwan Im Pouwsat, dewi kebajikan dan betas kasih bukan untuk bersembahyang atau memuja, melainkan untuk pibu dan mengadu kepandian silat!

Beng Han sendiri mulai berdebar jantungnya.

Hatinya terasa.

tidak enak sekali karena sungguh tidak masuk akal kalau orang yang hendak mereka lawan itu adalah seorang jahat.

Mungkinkah seorang jahat dapat tinggal di tempat suci itu?

Maka dia lalu mendekati sumoinya dan berbisik.

"Sumoi, harap kau suka menahan kesabaranmu, tidak baik bersikap kurang pantas kepada orang lain di tempat suci ini."

Kui Eng mengerti akan maksud hati su-hengnya, maka dia mengangguk.

Dia sendiripun sudah mulai meragu.

Namun tiga orang pendekar muda yang merasa tidak enak hati ini tidak merasa jerih dan mereka memasuki lian-bu-tlua dengan langkah tetap.

Di pintu pekarang.m ini, mereka disambut oleh Beng Lian yang berpakaian serba putih, amat sederhana.

Gadis ini berdiri menyambut bersama Yu Tek.

Kedua orang muda ini menjura ketika menyambut kedatangan Kui Eng bertiga kemudian terdengar Beng Lian berkata dengan suara lantang.

"Sahabat yang gagah ternyata telah menepati janji! Mari, silakan masuk ke lian-bu-tia di mana kita boleh bermain-main tanpa khawatir untuk dikeroyok!"

Ucapan Beng Lian yang bersikap normal ini mengandung tantangan, maka tanpa banyak cakap lagi Kui Eng mengangguk dan mengikuti Beng Lian dan Yu Tek memasuki lian-bu-thia itu bersama dua orang suhengnya.

Ruangan yang merupakan pekarangan terbuka dengan lantai batu ini amat luas dan ke-tika tiga orang pendekar muda itu masuk ke tempat itu, mereka melihat bahwa disitu telah duduk Yap-tihu, Pek I Nikouw dan Siok Thian Nikouw bersama nikouw-nikouw pimpinan lainnya.

Orang-orang tua ini hanya duduk dengan diam saja karena memang mereka telah memberi kesempatan kepada Beng Lian dan Yu Tek untuk mengadakan penyambutan lebih dulu dan menguji ilmu kepandaian para tamunya.

Tiga orang pcndekar itu terkejut sekali melihat hadirnya Yap-tihu di tempat itu Akan tetapi karena tidak nampak para pengawal yang ada hanya beberapa orang nikou tua yang tidak mereka kenal, dan karena tuan rumah itupun hanya duduk diam, maka mereka juga diam saja tidak menegurnya.

"Nah, di tempat ini kita bisa main-main seorang lawan seorang dalam mencoba ilmu kepandaian masing-masing untuk menghilaugkan rasa penasaran,"

Kata Beng Lian sambil tersenyum kepada para tamunya.

"Silahkan seorang di antara samwi enghiong maju untuk main-main sebentar!"

Melihat sikap pihak tuan rumah yang sederhana dan gagah, sama sekali tidak membayangkan kesombongan itu, Kui Eng segera melangkah maju dan menjawab.

"Biarlah aku yang bodoh memperlihatkan kcbodohanku."

Bun Hong dan Beng Lian segera mengundurkan diri dan berdiri dengan kedua kaki terpentang di sudut lian-bu-thia itu.

"Ah, kalau kau yang maju, biarlah aku yang melayanimu,"

Kata Beng Lian dengan masita iersenyum.

Seperti mendapat komando maju,..

kedua orang gadis itu telah mencabut pedang mereka secara berbareng.

Sementara itu, Siok Thian Nikouw memandang ke arah wajah Beng Han dengan jantung berdebar keras.

Kedua kakinya menggigil dan tubuhnya agak gemetar ketika dia menatap wajah itu, dan tahi lalat ditengah dahinya mengingatkan dia kepada puteranya yang dulu tewas dalam kekacauan ketika terjadi perang pemberontakan.

Alangkah sama wajah pemuda itu dengan wajah mendiang puteranya.

Hampir saja nikouw ini membuka mulut untuk.

bertanya, akan tetapi oleh karena pada saat itu puterinya telah mencabut pedang dan berhadapan dengan gadis gagah berbaju hijau yang memegang pedang pula, terpaksa dia mengalihkan pandangan mata dan perhatiannya kini tertuju kepada Beng Lian dengan hati cemas.

"Anakku, jangan berkelahi sungguh-sungguh!"

Dia tidak dapat menahan hatinya dart mengeluarkan kata-kata ini kepada Beng Lian. Beng Lian menoleh kepada ibunya dan tersenyum.

"Jangan kuatir, ibu, ini hanya pibu ntuk mengukur kepandaian masing-masing."

Kemudian Beng Lian menghadapi Kui Eng dan berkata dengan sikap tenang.

"Nah, silahkan, sobat yang manis!"

Setelah kini bertemu dengan gadis baju putih itu di siang hari dan dapat melihat wajahnya dengan jelas, melihat suasana di tempat itu dan mendengar ucapan nikouw yang disebut ibu oleh gadis lawannya itu, kemarahan hati Kui Eng semalam kini menjadi buyar.

Dia melihat betapa wajah gadis baju putih itu manis dan sikapnya lemah lembut sehingga menimbulkan rasa suka di dalam hatinya.

Kini dia mengerti bahwa sikap keras gadis baju putih ini malam tadi adulah karena keadaan, karena dia dan dua orang suhengnya adalah penyerbu-penyerbu yang diunggap jahat tentu saja!

Di lain pihak, melihat kecantikan Kui Eng sikapnya yang gagah dan tidak mengenal takut ketika memasuki kuil bersama dua orang suhengnya untuk memenuhi tantangannya, membuat Beng Lian merasa kagum dan suka.

Ketika mereka berhadapan dengan pedang di tangan masing-masing, mereka bcicjua mendapat perasaan seolah-olah mereka sedang menghadapi seorang kawan yang mengajak berlatih silat, bukan menghadapi seorang lawan pibu yang harus dijatubkan.

Kui Eng tidak berlaku sungkan lagi dan dia segera berseru.

"Lihat pedang!"

Dan mulailah dia menyerang dengan gerakan indah dan kuat.

Beng Lian menangkis dengan baik dan balas menyerang.

Serangan pertama ini menyisihkan keraguan dan kebimbangan mereka karena mereka maklum bahwa lawan yang dihadapi dapat menjaga diri dengan baik dan memiliki kepandaian tinggi, maka mereka segera mempercepat gerakan dan terjadilah pertandingan adu pedang yang amat seru dan menarik.

Dua orang dara ini memiliki ginkang yang seimbang, mereka keduanya memiliki kelincahan, maka gerakan mereka yang cepat itu membuat tubuh mereka sebentar saja lenyap terbungkus gulungan sinar pedang mereka yang menjadi satu.

Sinar terang bergulung-gulung, saling tekan dan saling dessk.

Langkah-langkah kaki mereka hampir tidak terdengar, tertutup oleh bersiutnya dan berdesingnya suara pedang memecah hawa dan disusul berdencingnya pedang beradu yang menimbulkan bunga api berpijar-pijar menyilaukan mata.

Para nikouw, terutama sekali Siok Thian Nikouw, menjadi cemas juga menyaksikan pertempuran yang seru dan hebat itu.

Akan tetapi Pek I Nikouw, Yap Yu Tek, dan kedua orang suheng dari Kui Eng yang memiliki kepandaian tinggi menonton dengan sikap tenang saja.

Bahkan Pek I Nikouw nampak tersenyum karena dia dapat melihat betapa kedua orang dara yang sedang bertanding dengan hebat dan seru kelihatannya itu ternyata secara mengherankan sekali, telah saling mengalah dan tidak menyerang dengan sungguh-sungguh!

Mereka tidak mau saling mengeluarkan jurus-jurus yang berbahaya, melainkan bertanding seperti orang mendemonstrasikan keindahan dan kelincahan mereka saja!

Mereka bahkan seperti dua orang yang sedang berlatih saja!

Kui Eng maklum bahwa kalau pertempuraan itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, dia tidak perlu merasa khawatir karena dia masih menang dalam hal ginkang, dan gerakan pedangnya lebih ganas.

Akan tetapi, oleh karena malam tadi dia melihat betupa gesit dan lihainya gadis baju putih mempergunakan jarum-jarum halus sebagai senjara rahasia, kalau lawannya mempergunakan jarum-jarumnya, dia harus berlaku hati-hati sekali.

Kini melihat lawannya sama sekali tidak mau mempergunakan jarum-jarumnya, diapun tahu bahwa gadis itu tidak bermaksud buruk, maka dia sendiripun tidak terlalu mendesak.

Kalau dia mau tentu dia dapat mendesak lawannya dengan pedangnya yang memang setingkat lebih tinggi dari pada lawan.

Beng Lian juga maklum akan hal ini, maka setelah, bertempur hampir seratus jurus, dia terus melompat kebelakang sambil berseru.

"Sobat yaug cantik, kepandaianmu benar amat hebat aku Gan Beng Lian mengaku kalah!"

Tiba-tiba Beng Han mengeluarkan seruan "eh"

Dan memandang kepada Beng Lian dengan wajah pucat.

Tak terasa lagi dia melompat ke depan, gerakannya demikian gesitnya sehtngga mengejutkan Beng Lian bahkan Yu Tek juga sudah melompat kedepan untuk melindungi kekasihnya Akan tetapi pemuda vang bertahi lalat di dahinya itu tidak menyerang, melainkan menatap waiah Beng Lian seperti orang melihat setetan ditengah hari, dan berkata seperti orang mabok.

"Coba kausebutkan namamu lagi!"' Beng Lian terbelalak, memandang wajah pemuda itu dengan tajam seperti orang mengingat-ingat, lalu berkata gagap.

"Aku adalah Gan Beng Lian dan... dan.... kau mengingatkan aku akan wajah seorang yang pernah kukenal""

"Beng Lian, ya Tuhan! Kalau tidak keliru dia itu adalah kakakmu sendiri!"

Suara ini gemetar bercampur isak dan mendengar ini Beng Han cepat menengok.

Ketika dia bertemu pandang dengan Siok Thian Nikouw, tiba-tiba seluruh tubuhnya menggigil.

Sekarang dia mengcnal wajah nikouw yang kepalanya gundul ini!

Selagi dia memandang dengan bimbang, nikouw itu sudah bangkit dan terhuyung menghampirinya.

"Bukankah engkau anakku Beng Han?"

Bukan main terkejut hati Beng Han mendengar suara ini.

Lenyap segala keraguan hatinya.

Beng Lian melangkah mundur dua tindak sambil memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.

Ketika mereka berpisah dahulu, Beng Lian baru berusia empat tahun, akan tetapi oleh karena ibunya sering kali membicarakan tentang kakaknya, kini dia masih dapat mengingatnya dengan baik.

Melihat pemuda itu memandang kepada ibunya dengan air mata meleleh dan menitik turun laksana permata terlepas dari untaiannya, Beng Lian lalu menjerit.

"Kau benar-benar Beng Han kakakku!"

Lalu ditubruknya pemuda itu dan dipeluknya sambil menangis.

Beng Han balas memeluk adiknya dan keduanya lalu berlutut dan merangkul kedua kaki Siok Thian Nikouw yang air matanya bercucuran, mukanya pucat, bibirnya bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara dan kedua tangannya diangkat dan dikembangkan ke atas seolah-olah menghaturkan terima kasih kepada Thian.

"Beng Han anakku kau benar-benar masih hidup?"

"Ibu!"

Beng Han mendekap dan menciumi kaki ibunya.

"Terima kasih kepada Kwan Im Hud couw! Terima kasih kepada Thian."

Siok Thian Nikouw lalu berlutut dan mendekap kepala puteranya.

Ibu dan kedua orang anaknya itu berpeluk-pelukan sambil menangis karena terharu dan girang.

Pertemuan yang sama sekali tidak disangka-sangka!

"Omitohud betapa maha murah dan maha adilnya Thian yang selalu memberkahi me-reka yang benar""

Pek I Nikouw berkemak-kemik membaca doa karena betapapun juga, perasaan hatinva tersentuh keharuan yang membuat dia segera berdoa dan memejamkan kedua matanya.

Melihat peristiwa itu tak terasa pula Kut Eng ikut mengucurkan air matanya.

Dia teringat akan kcluarganya sendiri, teringat akan ibunya yang dilarikan penjahat, dan ayahnya yang terbunuh mati.

Juga Bun Hong berdiri bagaikan patung, memandang kearah tiga orang yang sedang saling rangkul itu dengan bingung karena iapun teringat akan kedua orang tuanya yang telah tcwas oleh kaum pemberontak.

Setelah keharuan hati mereka agak reda, Siok Thian Nikouw lalu bertanya kepada pu-teranya.

"Beng Han, mengapa pula kedua orang kawanmu ini?"

"Ibu, mereka adalah adik seperguruanku, sute Bun Hong dan sumoi Kui Eng."

Beng Han memperkenalkan dan kedua orang muda itu lain menjura sebagai pemberian hormat kepada nikow itu. Beng Lian lalu memegang tangan Kui Eng dan berkata dengan wajah berseri girang.

"Aihh, cici! Kiranya engkau adalah sumoi dari kakakku! Aku sungguh merasa girang dapat berkenalan dengan engkau yang cantik jelita dan gagah ini!"

Kui Eng tersenyum manis dan berkata "Engkau pandai sekali dan mam adik Beng Lian.

Kalau saja kuketahui bahwa engkau adik perempuan suhengku, tentu aku tidak akan berani berlaku kurang ajar.

Maafkan saja kekasaranku tadi terhadapmu."

Beng Lian lalu memperkenalkan subonya kepada ketiga orang pendekar muda itu.

"Ini adalah guruku, Pek I Nikouw, ketua dari Kwan im-bio ini."

Terkejutlah tiga orang muda itu Kui Eng memandang kepada Pek I Nikouw yang duduk tenang sambil tersenyum ramah Baru Beng Lian saja sudah memiliki ilmu pedang sehebat itu, apa lagi gurunya!

Untunglah bahwa perempuran itu tidak menjadi permusuhan hebat karena kalau demikian halnya, tentu dia dan kedua orang suhengnya akan menghadapi lawan yang luar biasa tangguhnya.

Kui Eng, Bun Hong dan Beng Han lalu menjura kepada Pek t Nikouw.

Beng Han mewakili dua orang adik seperguruannya, berkata.

"Suthai yang mulia, maafkanlah teeeu bertiga yang tidak tahu diri dan telah bersikap kurangajar di tempat suthai yang suci ini."

Pek I Nikouw tersenyum.

"Omitohud orang-orang muda yang gagah perkasa! Sungguh terbukti betapa Thian adalah adil dan murah hati. Pinni memang telah menyangka bahwa kalian tentulah orang-orang, gagah pembela rakyat. Tidak tahunya seorang di antara kalian bahkan masih kakak dari muridku sendiri."

Siok Thian Nikouw lalu berkata kepada Beng Han.

"Anakku, biarpun aku merasa girang sekali dan mengucap syukur kepada Thian Yang Maha Kuasa, akan tetapi terus terang saja aku merasa tidak puas melihat sepak terjangmu ini. Kau dan kedua adik seperguruanmu ternyata terlampau menurutkan hati yang terburu nafsu dengan memusuhi Yap-tihu. Tahukah kau sisa adanya pemuda ini? Dia ini adalah Yap Yu Tek, putera Yap-tihu dan dia adalah calon adik iparmu karena dia adalah tunangan dari adikmu Beng Lian. Dan Yap-tihu adalah seorang pembesar budiman yang bijaksana dan adil. Apa sebabnya kalian bertiga memusuhinya?"

Beng Han dan dua orang adik seperguruannya itu tercengang.

Beng Han merasa girang sekali mendengar bahwa adiknya telah bertunangan dengan seorang pemuda tampan yang telah dia kenal kelihaiannya itu, maka ketika Yu Tek menjura dan memberi hormat kepadanya, dia lalu membalas penghormatan itu dan berkata girang.

"Ah, saudaraku yang baik, harap kau memaafkan aku yang ceroboh!"

"Sebaliknya twako,"

Kata Yu Tek sambil tersenyum.

"aku merasa kagum sekali melihat twako dan kedua orang gagah ini."

Kui Eng yang keras hati masih merasa penasaran mendengar teguran ibu Beng Han itu, dan mendengar pernyataan bahwa pembesar itu adalah bijaksana dan adil, dia tidak dapat menahan rasa penasaran di batinya dan tanpa menujukan kata katanya kepada orang tertentu seperti hieara kepada diri sendiri, dia berkata.

"Kalau memang benar bahwa Yap-tihu adalah seorang pembesar yang adil dan bijaksana, mengapa dia mengadakan peraturan pemungutan pajak yang mencekik leher rakyat kecil yang miskin?"

Sambil berkata demikian dia memandang kc arah tihu yang telah berdiri dan orang tua ini tersenyum sedih.

"Sam-wi enghiong."

Katanya dengan suara halus "Memang, dipandang sepintas lalu, aku tidak lain adalah seorang pembesar yang berlaku sewenang-wenang.

Ini sudah menjadi nasib burukku yang bekerja kepada pemerintah yang kurang memperhatikan keadaan rakyatnya.

Silahkan duduk dan harap suka dengarkan penuturanku yang sebenamya dan apa adanya, bukan untuk membela diriku."

Pembesar itu lalu duduk dan tiga orang muda itupun duduk di atas bangku yang sudah disediakan oleh para nikouw.

"Orang-orang muda, dengarlah penjelasan pinni,"

Liba-tiba Pek I Nikouw berkata.

"Kalau Yap-taijin yang memberi penjelasan, tentu kalian akan menganggap bahwa dia berbohong atau setidaknya mencari-cari alasan untuk membersihkan diri. Pinni adalah orang luar yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan pemerintahan, maka keterangan pinni kiranya dapat kalian cerna dan percaya."

"Teecu bertiga bersedia mendengarkan dan akan percaya keterangan suthai,"

Kata Beng Han.

"Yap-tihu adalah seorang pejabat yang setia dan memegang peraturan dengan keras. Hal ini tidak boleh disalahkan, bahkan patut dipuji oleh karena memang seharusnya demikian sikap seorang pembesar yang bijaksana. Peraturan-peraturan yang dia perintahkan kepada semua kepala kampung adalah peraturan yang datanguya dari kotaraja dan sebagai seorang pejabat, tentu saja Yap-tihu tidak berani menentangnya. Menentang perintah atasan berarti membangkang atau bahkan dianggap memberontak. Adapun mengenai dirinya sendiri, pinni yang cukup tahu dan mengenal bahwa dia, adalah seorang pembesar yang adil dan bijaksana, yang sama sekali tidak pernah bertindak sewenang-wenang mengandalkan kekuasaannya, yang sama sekali pantang untuk bertindak korupsi demi untuk kesenangan diri dan keluarga sendiri. Peraturan yang dirasakan amat menekan. rakyat petani itu bukanlah peraturan yang dibuat oleh Yap-tihu sendiri, dan dia hanyalah seorang pelaksana yang setia kepada tugasnya. Hal ini harus kalian mengerti baik baik."

Mendengar penuturan ini, insaflah tiga orang muda itu.

Mereka merasa tidak enak sekali dan maklumlah kini bahwa selama ini mereka hanya menegur petugas-petugas yang menjadi pelaksana belaka.

Para petugas itu hanyalah ranting-ranting dan daun-daun saja.

Kalau pohon itu menghasilkan buah yang buruk, maka membabati ranting-ranting dan daun-daunnya, mengobati ranting-ranting dan daun daunnya akan sia-sia belaka.

Penyakit itu letaknya adalah pada si pohon, yaitu pada pusatnya, pada pemerintahannya atau pejabat tinggi yang berwewenang menentukan pajak itu.

Kalau mau mengobati, haruslah pohonnya, dan kalau mereka hendak membela rakyat, mereka harus mendatangi yang menjadi pusat penyakit itu Di kota raja!

Mereka bangkit menjura kepada Yap-tihu dan Beng Han mewakili mereka berkata.

"Ah, kalau demikian halnya, taijin, harap sudi memaafkan kami bertiga orang-orang muda yang bodoh dan ceroboh sehingga kami telah mendatangkan kekacauan dan berkalu kurang ajar kepada taijin dan mengganggu ketenteraman keluarga taijin."

Pembesar itu menarik napas panjang dan wajahnya kelihatan sedih, wajah itu nampak lebih tua dari pada usianya.

"Tidak apa, tidak apa!"

Jawabnya.

"Bahkan aku merasa malu sekali bahwa kalian orang-orang muda mempunyai semangat dan pribadi yang jauh lebih tinggi dari pada aku. Biarlah besok pagi aku akan mengajukan permohonan berhenti dari jabatanku."

"Ayah!"

Yap Yu Tek berkata lirih dan memandang ayahnya dengan kaget. Pek I Nikouw juga terkejut sekali mendengar ini dan cepat berkata.

"Yap-taijin janganlah taijin berkata demikian! Ingatlah kalau orang lain yang menjadi pembesar di kota ini, tentu keadaan rakyat bahkan menjadi makin tertindas! Pembesar lain biasanya selain menjalankan peraturan yang datang dari kota raja, mereka tentu akan melakukan penindasan-penindasan lain yang timbul dari nafsu ingin menimbun harta untuk kepentingan diri sendiri. Kasihanilah rakyat di An-kian dan daerahnya dari penghisapan seperti itu, taijin. Kalau terjadi taijin mengundurkan diri dan An-kian dipimpin oleh pembesar lain yang korup dan sewenang-wenang, agaknya pinni sendiri akan mengikuti jejak tiga orang muda ini dan menentang mereka dengan kekerasan!"

Yap-tihu menghela napas panjang dan berkata.

"Suthai yang baik, memang itulah yang membuat saya hingga sekarang masih menguatkan hati untuk memegang jabatan ini. Ah, ijinkanlah saya pulang dulu karena hal ini benar-benar mendukakan hati saya dan membingungkan pikiran saya."

Yap-tihu lalu menjura kepada semua orang dan berjalan pulang, diikuti oleh Yap Yu Tek yang juga merasa berduka melihat keadaan ayahnya itu.

Dia dapat menyelami perasaan ayahnyadan merasa kasihan sekali karena ayahnya menghadapi hal yang amat sulit untuk dipilih.

Terus merjabat kedudukan itu berlawahan dengan hati nurani karena peraturan dari atasan amat menghimpit rakyat.

Keluarpun tidak tepat karena kedudukannya akan diganti oleh pembesar lain yang lebih menyengsarakan rakyat pula!

Kini terbukalah mata Kui Eng.

Bun Hong dan Beng Han.

Diam-diam mereka merasa menyesal bahwa mereka telah salah tangan menuduh seorang yang bijaksana sebagai seorang jahat.

Kemarahan mereka kini beralih ke kota raja, dan diam-diam mereka mengambil keputusan untuk sewaktu-waktu pergi ke kotaraja melihat keadaan dan menyelidiki para pembesar tinggi yang menjadi biang keladi kesengsaraan rakyat jelata.

"Sam wi enghiong, sebenarnya siapakah guru kalian? Permainan pedang nona ini mengingatkan pinni kepada seorang kenalanku. yaitu Lui Sian Lojin,"

Kata Pek I Nikouw.

"Memang teecu adalah murid Lui Sian Lojin!"

Kata Kui Eng dengan girang.

"Omitohud! Syukurlah! Kiranya masih orang segolongan sendiri. Ah, suhunya amat lihai, tentu saja murid muridnya gagah perkasa pula!"

Demikianlah, pertemuan yang semula dikhawatirkan akan berekor menjadi permusuhan ini ternyata berubah menjadi pertemuan mesra dan menghasilkan persahabatan yang akrab diantara mereka.

Siok Thian Nikouw memaksa puteranya untuk bermalam di kuil itu agar mereka dapat melepas rindu dan bercakap-cakap, menceritakan pengalaman masing-masing semenjak mereka berpisah.

Pek I Nikouw yang dimintai perkenan, mengijinkan dengan senang hati karena dia percaya penuh kepada murid-murid Lui Sian Lojin ini.

Kalau bukan putera Siok Thian Nikouw dan murid-murid Lui Sian Lojin, tidak mungkin dua orang pria itu diperkenankan bermalam di situ; karena merupakan pantanganlah bagi seorang pria untuk bermalam di kuil nikouw itu.

Pek I Nikouw lalu menyuruh seorang nikouw mempersiapkan sebuah kamar untuk Beng Han dan Bun Hong, sedangkan Kui Eng mendapat kamar bersama Beng Lian yang telah menjadi kawan baiknya.

Malam hari itu, Beng Han berada di ruang belakang, bercakap cakap dengan ibunya, menuturkan semua pengalamannya sehingga ibunya merasa girang sekali.

"Anakku, tadinya aku telah menganggap bahwa engkau juga menjadi korban keganasan para pemberontak liar itu, syukurlah bahwa Thian masih melindungimu dan dapat mempertemukan kita kembali. Bagiku, kau seakan-akan seorang anak yang baru bangkit kembali dari kuburan""

Ia menyusut air matanya.

"Beng Han, karena tadinya menyangka bahwa kau telah tewas, maka aku tanpa sengaja mendahului, kutunangkan adikmu dengan putera Yap-tihu."

Beng Han tersenyum girang.

"Aku girang sekali melihat hal itu. Menurut pandanganku, Yu Tek adalah seorang pemuda yang amat baik dan pantas sekali menjadi suami adikku. Dan ayahnya juga seorang pembesar yang bijaksana, hal ini baru kuketahui sekarang."

"Akan tetapi, Beng Han, menurut kebiasaan dan adat-istiadat kita, seorang saudara muda tidak boleh dikawinkan sebelum kakaknya menikah. Kau sekarang telah berusia hampir duapuluh tahun, dan semenjak aku masuk menjadi nikouw, tidak ada kebahagiaan lain yang kuharapkan selain melihat engkau dan adikmu hidup bahagia dan mendapatkan jodoh yang cocok. Kau senangkanlah hati ibumu, anakku, dan janganlah adikmu itu harus menanti terlalu lama kau harus menikah dulu sebelum dia dapat menjadi isteri Yu Tek, anakku."

Wajah pemuda itu menjadi merah sekali ketika dia mendengar kata-kata ibunya itu.

Jantungnya berdebar tidak karuan dan selama hidupnya baru sekali inilah dia memikirkan bahwa dia adalah seorang pria yang sudah dewasa, dan sudah tiba saat baginya untuk memikirkan tentang perjodohan!

"Ibu, aku masih belum mempunyai pikiran tentang hal itu sama sekali""

Jawabnya dambil menundukkan mukanya. Hening sejenak. Nikouw itu menatap wajah puteranya yang menunduk, kemudian dia berkata.

"Beng Han, kulihat sumoimu, nona Kui Eng itu adalah seorang gadis yang cantik dan berilmu tinggi, juga baik sekali. Menurut pandanganku, dia memiliki wajah yang menunjukkan keluhuran budi dan kemurnian hati. Kalau saja engkau suka dan kalau saja ada harapan, aku akan merasa girang sekali mempunyai mantu seperti dia."

Jantung di dalam dada Beng Han berdebar keras mendengar ini, mukanya makin merah karena dia malu sekali.

Memang dia amat mencinta gadis yang menjadi sumoinya itu dan dia akan merasa berbahagia kalau dia dapat memperisteri gadis yang selalu menjadi kenangannya itu, kalau dia dapat untuk selamanya berdampingan dengan Kui Eng sebagai suami isteri, melindunginya selama hidupnya dengan taruhan nyawanya!

Dia telah bergaul dengan Kui Eng semenjak mereka berdua masih kanak-kanak, dia telah tahu dan mengenal betul isi hati dan perangai gadis itu.

Akan tetapi dia merasa ragu-ragu apakah gadis itu akan suka menjadi isterinya!

Hal ini sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya.

"Dan kau cinta padanya, bukan?"

Kembali Beng Han menundukkan mukanya, sama sekali tidak dapat menjawab, jantungnya berdebar tegang dan mukanya terasa panas.

Kalau dia tidak merasa begitu tegang dan berdebar-debar sehingga telinganya penuh dengan bunyi degup jantungnya sendiri, agaknya dia akan dapat mendengar suara yang tidak wajar di luar ruangan itu karena biasanya pemuda ini amat waspada dan memiliki pendengaran yang amat tajam.

Akan tetapi, percakapan dengan ibunya tentang Kui Eng membuat dia kehilangan kewaspadaannya.

"Jawablah anakku. Engkau mencinta gadis yang menjadi sumoimu itu, bukan?"

Pertanyaan itu mengandung desakan karena hati ibu ini ingin sekali melihat puteranya lekas-lekas mendapatkan jodoh yang tepat.

"Ibu, bagaimana aku berani menyatakan cinta kasihku kepadanya kalau aku belum mengetahoi perasaan hatinya?"

Akhirnya Beng Han menjawab sejujurnya, karena dia tidak sangsi lagi bahwa dia mencinta sumoinya, hanya apakah sumoinya juga mencinta dia, itulah yang membuatnya ragu-ragu.

"Ah, kalau begitu engkau mencintai dia! Bagus, anakku, aku akau menyuruh adikmu untuk bertanya tentang hal itu kepndanya."

"Jangan, ibu!"

Beng Han berkata dengan ragu-ragu karena dia khawatir sekali kalau-kalau Kui Eng akan menolaknya.

Dia merasa ngeri membayangkan penolakan sumoinya itu dan betapa akan malu dan sedihnya kalau sumoinya sampai menolak cinta.

Dari pada mengalami hal yang mengerikan itu, lebih baik tidak menyampaikan sama sekali dan masih terus berhubungan dengan sumoinya seperti biasa dan sewajarnya saja.

"Beng Han, dengarlah. Dari pada menyimpan rahasia hati dan menanggung rindu seorang diri yang berarti menyiksa batin sendiri, lebih baik berterus terang. Berlakulah sebagai laki-laki yang gagah! Bukankah sejak kecil engkau dilatih untuk menjadi orang gagah? Mengapa kini engkau merasa ngeri menghadapi segala kemungkinan ini? Bersiaplah untuk menerima pukulan yang bagaimana hebatpun dengan gagah, anakku. Aku tahu bahwa engkau khawatir kalau-kalau pinangunuiu ditolaknya, bukan?"

Beng Han mengangguk tanpa menjawab, alisnya berkerut dan dia termenung.

"Beng Han, kurasa sumoimu tidak akan menolaknya. Pula, andaikata dia menolakmu hal itu malah lebih baik bagimu untuk mengetahui bahwa harapan dan kandungan hatimu ini tak mendapat balasan dan dengan pengetahuan ini engkau tidak akan menderita karena mengharap-harapkan hal yang takkan mungkin terjadi! Lebih baik kau mendengar penolakannya sehingga engkau dapat melenyapkan kerinduan dan harapan hatimu dari pada engkau menyimpannya saja menjadi semacam penyakit yang akan meracuni hatimu."

Setelah hening sejenak, akhirnya Beng Han berkata dengan suara halus penuh perasaan.

"Memang sesungguhnyalah, ibu. Aku menyayang dan mencinta sumoi semenjak kami masih kecil. Ketika aku pertama kali bertemu dengan suhu dan kami dibawa kepuncak gunung, kuanggap sumoi sebagai pengganti adikku. Akan tetapi, setelah kami menjadi dewasa, aku mempunyai perasaan lain terhadap dirinya, aku cinta padanya, ibu."

"Baiklah, anakku. Besok akan kubicarakan hal ini dengan dia agar hatiku menjadi puas dan tenteram."

Ucapan Siok Thian Nikouw ini membuat muka Beng Han menjadi kemerahan dan hatinya merasa girang sekali.

Dia tidak tahu bahwa ucapan itu membuat muka orang lain yang berdiri mendengarkan percakapan itu di luar ruangan menjadi pucat sekali.

Orang itu adalah Bun Hong!

Pemuda ini keluar dari kamar hendak mencuri Beng Hun dan tidak sengaja dia ikut mendengarkan pengakuan Beng Han akan cintanya kepada Kui Eng dan janji ibu suhengnya itu untuk meminang Kui Eng.

Bun Hong merasa seperti disambar petir dan cepat dia memejamkan matariya mengatasi kepeningannya agar dia jangan sampai terhuyung.

Rasa duka menyelinap di dalam hatinya, rasa duka bercampur penasaran dan juga marah dan kecewa.

Dia menaruh hati cinta kepada sumoinya itu yang timbul semenjak mereka berdua menjadi dewasa.

Dan kini mendengar pengakuan suhengnya bahwa suhengnya juga mencinta Kui Eng dan mendengar bahwa suhengnya itu hendak dijodohkan dengan Kui Eng, dia merasa hatinya tertikam dan seperti diremas hancur.

Setelah rasa peningnya hilang, dengan hati-hati sekali Bun Hong meninggalkan tempat itu, cepat kembali ke kamarnya dengan kedua kaki lemas.

Dia segera berkemas dan setelah menggunakan pena bulu dan kertas yang dicoret-coret membuat sepucuk surat yang ditinggalkan di atas meja, dia lalu diam-diam meninggalkan kamar itu sambil membawa semua bungkusan pakaiannya, kemudian melompat ke atas genteng dan menghilang di malam gelap!

Setelah dia berhasil keluar dari Kuil Kwan-im-bio itu tanpa ada yang tahu, barulah Bun Hong melepaskan kedukaannya dan terdengar dia berlari sambil terisak-isak menangis!

Semenjak kehilangan seluruh keluarganya kemudian menjadi murid suhunya, baru sekali inilah Bun Hong mengalami kedukaan yang amat hebat, yang membuat dia menangis seperti anak kecil!

Perasaan cinta yang terkandung dalam hati seorang pria terhadap seorang wanita atau sebaliknya, memang merupakan suatu "permainan"

Yang amat hebat, aneh, dan berkuasa sekali dalam kebidupan manusia! Semenjak sejarah berkembang, persoalan "cinta"

Ini telah menjadi bahan inspirasi dari para sasterawan dan seniman.

Betapa banyaknya cerita-cerita dan sajak-sajak indah tentang cinta ditulis, dipanggungkan, dan dinyanyikan para seniman.

Kisah-kisah cinta selalu mengandung segi segi kehidupan manusia yang penuh dengan romantika, kebahagian dan kedukaan, suka duka dan manis pahit yang membumbui kehidupan manusia.

Kisah cinta bisa terjadi sedemikian bahagianya sampai mengharukan hati dan memancing keluarnya air mata, akan tetapi sebaliknya juga dapat terjadi sedemikian menyedihkannya sampai menghancurknu perasaan dan memancing air mata pula.

Dapat mengangkat seseorang ke sorga yang paling tinggi namun dapat pula menjerumuskan seorang ke neraka yang paling rendah!

Hampir sebagian banyak dari usia manusia dikuasai oleh apa yang dinamakan cinta ini, cinta antara pria dan wanita!

Akan tetapi, sungguh menyedihkan betapa jarang ada manusia yang sungguh-sungguh mengenal cinta!

Walaupun setiap mulut pernah menyebut cinta, namun benarkah cinta yang kita dengung-denguugkan dalam cerita-cerita, dalam sajak-sajak, dalam nyanyian-nyanyian itu?

Ataukah itu hanyalah namanya saja cinta akau tetapi di dalamnya mengandung pengejaran akan kesenangan?

Baik kesenangan itu berupa ingin menguasai, ingin memiliki, ingin melampiaskan nafsu berahi, yang pada hakekatnya hanyalah pengejaran kesenangan untuk diri pribadi?

Betapa indahnya cinta!

Indah dan suci!

Tanpa cinta, tanaman takkan berbunga, pohon takakan berbuah, kembang kehilangan harumnya, kicau burung kehilangan merdunya, matahari kehilangan sinarnya!

Namun, betapa bahayanya nafsu pengejaran kesenangan, nafsu pementingan diri yang kita namakan cinta itu!

Berbahaya dan kalau sudah mencengkeram kita, dia mempermainkan kita dan mampu menyeret kita menjadi permainan antara kesenangan dan penderitaan!

Mampu membangkitkan cemburu dan benci.

Bahkan tidak jarang seorang korban menjadi gila, atau membunuh diri sebagai korban "cinta"

Seperti itu.

Atau membunuh saingannya, atau menyeretnya menjadi orang yang kehilangan kesusilaan, kehilangan pedoman hidup, kehilangan segala-galanya!

Dengan hati penuh keriangan dan harapan, Beng Han kembali ke dalam kamarnya setelah mengadakan pembicaraan dengan ibunya.

Dia merasa heran ketika melihat kamar itu kosong Ke mana perginya Bun Hong?

Dia mencari-cari dengan matanya, akan tetapi di sekitar tempat itu tidak nampak bayangan sutenya itu maka dia lalu memasuki kamar dan tampaklah olehnya sehelai surat yang ditinggalkan oleh Bun Hong di atas meja tadi.

Didekatinya surat itu, diambil lalu dibacanya.

Suheng Gan Beng Han, Maaf, tanpa kusengaja aku telah mendengar tentang pertunanganmu dengan sumoi.

Kionghi (selamat), suheng.

Kudoakan semoga engkau hidup berbahagia dengan sumoi.

Tidak ada pemuda lain yang lebih berharga untuk menjadi suami sumoi selain dari pada engkau!

Aku hendak pergi ke kota raja, membasmi para pembesar jahat kalau perlu kaisarnya sekalian, demi keselamatan rakyat kecil yang tertindas!

Sutemu yang sebatang kara Tan Bun Hong Beng Han duduk termenung sambil memegangi surat itu dan membacanya sampai beberapa kali.

Seolah-olah dia mendengar kata-kata yang dituliskan itu dari mulut sutenya sendiri, diucapkan dengan suara sedih dan mengharukan.

Terbayanglah didepan matanya semua sikap Bun Hong terhadap Kui Eng dan kepedihan hebat mengganggu hatinya.

Tiba-tiba sadarlah dia bahwa sangat boleh jadi bahwa sutenya itu juga mencinta Kui Eng!

Dia merasa terharu sekali, karena kalau memang benar demikian halnya, maka ternyata bahwa sutenya itu telah bersikap mengalah terhadap dia dan telah pergi dengan membawa hati yang patah.

Peristiwa ini sekaligus melenyapkan perasaan gembira yang tadi memenuhi hatinya.

Dimasukkannya surat itu ke dalam saku bajunya dan semalam suntuk dia tidak dapat memejamkan kedua matanya.

Dia membayangkan keadaan sutenya dan berulang kali dia menarik napas panjang.

Tidurnya gelisah sekali.

Terjadi perang dalam batinnya.

Sama sekali tidak disangkanya bahwa mereka bertiga, yang semenjak kecil tak pernah berpisah kini terpaksa berpisah dalam keadaan yang amat tidak menyenangkan itu, berpisah karena sama-sama mencinta Kui Eng!

Sampai pada keesokan harinya, karena semalam tidak dapat pulas, Beng Han turun dari tempat tidurnya.

Setelah mencuci muka, dia tidak berani lagi keluar dari kamarnya.

Dia maklum bahwa pagi hari itu ibunya dan adiknya akan bicara dengan Kui Eng untuk mengajukan pinangan terhadap gadis itu.

Dia merasa malu untuk bertemu muka dengan Kui Eng, maka dia berdiam saja di dalam kamarnya dengan jantung berdebar penuh ketegangan, penuh kekhawatiran kalau-kalau pinangannya ditolak.

Kalau sampai ditolak, alangkah akan sedih dan malunya.

Akan tetapi seandainya diterima dan Kui Eng mendengar tentang kepergian Bun Hong, bagaimana nanti?

Apakah sumoinya itu tidak akan mengerti juga akan duduknya persoalan, tidak akan menduga bahwa Bun Hong pergi karena ikatan jodoh antara mereka?

Susah senang, puas kecewa, itulah isinya kehidupan manusia!

Baik susah maupun senang, puas maupun kecewa, adalah akibat dari adanya keinginan!

Makin banyak keinginan seseorang, makin banyak pula dia diombang-ambingkan antara susah, senang, puas kecewa.

Kalau tercapai apa yang diinginkannya tentu puas dan senang.

Kalau tidak tercapai apa yang diinginkan, tentu kecewa dan susah akan tetapi baik senang maupun susah, hanyalah sementara saja, selewat saja!

Yang tercapai keinginannya dan senang, hanya sebentar saja senang karena kembali dia akan dicengkeram oleh keinginan lain yang lebih besar atau dianggap lebih menarik dan begitu dia dicengkeram oleh keinginan baru ini berarti dia membuka kemungkinan untuk mengalami susah atau senang yang baru lagi, puas atau kecewa yang berikutnya lagi!

Sebaliknya, yang tidak tercapai keinginannya dan menjadi susah kecewa, itupun hanya sebentar saja karena diapun dapat menghibur hatinya dengan harapan baru untuk memperoleh senang dari keinginan yang baru lagi.

Tidak ada kesenangan maupun kesusahan yang abadi, semua itu hanya lewat sekelebatan saja, berselang-seling, ganti berganti seperti siang dan malam.

Akan tetapi yang penting, dapatkah kita hidup terbebas dari cengkeraman nafsu keinginan yang menyeret kita dalam permainan gelombang susah senang, puas kecewa ini?

Kita dapat melibat perubahan setiap saat dari susah senang sebagai akibat keinginan itu dalam diri kita sendiri setiap hari, setiap saat!

Tepat seperti dugaan Beng Han yang sedang duduk gelisah seorang diri di dalam kamarnya, pagi hari itu Siok Thian Nikouw bersama puterinya, Gan Beng Lian, berhadapan dengan Kui Eng di kamar dalam itu.

Dengan suara yang halus nikouw itu membuka percakapan setelah secara manis Kui Eag menghaturkan selamat pagi.

(Lanjut ke

Jilid 06) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06

"Nona Kui Eng, sebelum pinni melanjutkan pembicaraan ini harap suka memaafkan kami""

Kui Eng tersenyum dan memandang wajah nikouw itu dengan lucu.

"Aih, kenapa suthai berkata demikian? Kalau ada yang sepatutnya minta maaf, adalah saya yang telah mengganggu ketenteraman suthai."

"Nona, pinni telah mengadakan pembicaraan yang sungguh-sungguh dengan puteraku Beng Han dan karenanya pinni sudah mengetahui sampai jelas hubunganmu yang amat baik dengan dia sebagai saudara-saudara seperguruan. Setelah pinni mendengar semua penuturannya itu dan pinni melihat engkau, nona timbullah keinginan dalam hati pinni untuk mempererat hubungan itu menjadi hubungan keluarga. Terus terang saja, nona Kui Eng, pinni ingin sekali menjodohkan Beng Han dengan kau, dan apabila kau tidak merasa keberatan, pinni akan merasa sangat berbahagia dan bersyukur kepada Thian Yang Maha Agung untuk mempunyai calon mantu seperti engkau, nona Kui Eng."

Kui Eng membelalakkan matanya, mulutnya berkali-kali mengeluaikan suara "ahh"

Dan "ohh", mukanyu kadang-kadang menjadi pucat dan kadang-kadang merah, lalu dia menundukkan mukanya dan tak terasa lagi air matanya mengulir turun membasahi kedua pipinya.

Melihat ini, Beng Lian yang duduk di dekatnya lalu memeluknya dengan mesra.

Sampai lama Kui Eng tidak mampu mengeluarkan kata-kata, dan dia berusaha keras untuk menekan gelora hatinya yang membuat dadanya na-ik turun dan napasnya terengah-engah.

"Ah, suthai ohhh""

"Tenanglah, enci Kui Eng, tenanglah."

Beng Lian berbisik di dekat telinganya. Siok Thian Nikouw tersenyum menyaksikan sikap dara itu dan berkata.

"Omitohud harap kau tenang, nona. Bukan maksud pinni untuk membuat kau begitu gugup."

Ucapan yang halus dari nikouw itu dan sikap yang manis dari Beng Lian akhirnya dapat menenangkan hati Kui Eng.

Dia menghapus air matanya dengan saputangannya, kemudian menatap wajah nikouw yang tersenyum penuh kesabaran itu.

"Suthai, mohon di maafkan sebanyaknya. Saya merasa terharu sekali dan menghaturkan banyak terima kasih atas budi kecintaan hati suthai yang telah memberi penghormatan besar sekali kepada saya yang bodoh dan tidak berharga ini. Akan tetapi, suthai, pada waktu sekarang ini, selain saya belum mempunyai pikiran sama sekali tentang persoalan perjodohan, juga saya harus terlebih dahulu mencari ibu saya dan kemudian tentang soal perjodohan itu, terserah kepada orang tua saya itulah."

Biarpun jawaban itu tidak tersangka-sangka olehnya dan hatinya merasa kecewa, namun Siok Thian Nikouw mengangguk-angguk sambil tersenyum ramah dan berkata.

"Memang seharusnya demikian, nona. Pinni juga telah mendengar dari Beng Han tentang peristiwa dan malapetaka yang menimpa keluargamu, seperti juga yang telah menimpa keluarga kami. Biarlah kau mencari ibumu lebih dulu, kemudian pinni hendak mengulangi pinangan ini kepada ibumu. Pinni menyampaikannya sekarang hanya dengan maksud agar kau mengetahui isi hati kami ibu.dan anak."

Dengan kata-kata ini nikouw itu hendak "mengikat"

Kui Eng sehingga nona ini telah bertunangan dengin Beng Han, biarpun secara tidak resmi. Dan agaknya Kui Eng mengerti pula akan hal itu maka dia segera berkata dengan muka menunduk.

"Maafkan saya, suthai bukan sekali-kali saya menolak kehendak hati suthai yang mengandung maksud baik itu, akan tetapi harap saja hal ini ditunda dan dilupakan dulu. Saya tidak berani menerima atau mengadakan janji sesuatu oleh karena sesungguhnya saya belum ingin mengikatkan diri dengan tali perjodohan. Maaf, suthai"

Siok Thian Nikouw menarik napas panjang.

Kasihan Beng Han pikirnya.

Dan kasihan hatinya sendiri!

Karena dari jawaban ini walaupun tidak secara langsung merupakan penolakan, namun sedikitnya membayangkan perasaah hati gadis ini yang masih ragu-ragu dan tidak meyakinkan, yang berarti bahwa pada saat sekarang ini Kui Eng belum mempunyai perasaan cinta terhadap Beng Han!

"Kalau begitu nona, harap kaulupakan saja semua ucapan pinni tadi.

Kalau kelak kau telah bertemu kembali dengan ibumu, barulah kita bicarakan hal ini lebih lanjut."

Kui Eng lalu mengundurkan diri dari hadapan Siok Thian Nikouw dan dia duduk termenung di dalam kamunya.

Pikirannya kacau tidak karuan oleh peristiwa tadi.

Terasa pening dan bingung.

Dia teringat akan orang tuanya, dan mulailah dia sadar bahwa dia kini telah menjadi seorang gadis dewasa dan sudah se-wajarnya kalau dia dipinang orang!

Membayangkan ini, tak terasa air matanya bertitik turun membasahi pipinya.

Dipinang orang tanpa ada ibunyal Dan yang meminangnya adalah twa-suhengnya.

Gan Beng Hani Sungguh tak disangka-sangkanya hal itu akan terjadi.

Menjadi isteri twa-suheng!

Lucu kedengarannya, lucu mengharukan.

Memang dia dapat menduga bahwa twa-suhengnya, juga ji-suhengnya, menaruh hati kepadanya.

Hal ini sungguhpun tak pernah diucapkan mulut mereka, namun dari pandang mata mereka, ucapan dan gerak-gerik mereka, terkandung kemesraan yang menyentuh hati wanitanya dan yang membuat dara ini merasa dan mengerti bahwa dua orang suhengnya itu mencintanya.

Dan ini seorang di antara mereka telah mengajukan pinangan!

Selagi dara itu duduk termenung dan mengusap air matanya, masuklah Beng Lian ke dalam kamar yang mereka pakai berdua itu.

Begitu masuk, Beng Lian segera duduk di sampingnya, memeluk pinggang dan memegang lengannya.

"Cici, harap jangan kau menyesal. Maafkan ibuku kalau kalau dia terlalu lancang."

"Ah, sama sekah tidak, adik Lian. Sama sekali tidak! Bahkan akulah yang merasa menyesal sekali bahwa terpaksa aku belum dapat memberi keputusan sehingga setidaknya aku telah membuat ibumu kecewa. Kalianlah yang sepatutnya memaafkan aku, adik Lian."

Betapapun jugu, sebagai adik kandung Beng Han yang baru saja berkumpul dengan kakaknya dan yang tentu saja mengharapkan kebahagiaan bagi kakaknya itu, hati Beng Lian sedikit banyak merasa tidak puas dan kecewa yang mengandung penasaran pula atas penolakan Kui Eng.

Biarpun Kui Eng tidak menjawab secara pasti, menerima atau menolak, namun kenyataan bahwa dara ini tidak menerima pinangan ibunya, dapat dianggap sebagai suatu penolakan halus.

Maka, tanpa sengaja untuk menyerang, hanya terdorong oleh rasa kecewanya, Beng Lian berkata.

"Cici Eng, cinta kasih seseorang memang tidak dapat dipaksakan. Aku tahu bahwa engkau tidak mencinta kakakku. Memang kalau dibandingkan, Han-koko kalah tampan."

Kui Eng terkejut sekali dan merenggutkan lengannya yang dipegang oleh Beng Lian, lalu bangkit berdiri dan memandang dengan mata terbelalak.

"Apa, apa maksudmu?"

Beng Lian merasa bahwa dia telah kesalahan bicara, dan berusaha hendak memperbaiki kesalahannya, akan tetapi karena gugupnya, dia bahkan menambahkan.

"Maksudku eh, dibandingkan dengan saudara Bun Hong, kakakku itu memang kalah tampan."

Pucatlah wajah Kui Eng mendengar ini, kemudian muka itu berubah merah sekali, merah karena marah! "Beng Lian!"

Katanya dengan ketus.

"Kau anggap aku ini orang apakah? Dengarlah baik-baik, aku tidak mencinta kakakmu dan juga tidak mencinta ji-suheng! Aku telah menolak pinangan ibumu, dan habis perkara! Jangan kau hubung-hubungkan dengan lain hal dan jangan kau menyangka yang bukan-bukan!"

Melihat kemarahan Kui Eng, Beng Lian merasa terkejut dan menyesal mengapa dia telah berlancang mulut.

Padahal dia hanya bermaksud untuk membenarkan sikap gadis itu karena perjodohan haruslah didasari dengan cinta kasih antara kedua orang yang dijodohkan, seperti dia dengan Yu Tek.

Selagi dia hendak minta maaf, Kui.

Eng telah menyambar buntalan pakaiannya dan berlari keluar dari kamar itu dengan mata merah menahan tangis!

Ketika tiba di ruangan depan, dia bertemu dengan Beng Han yang sedang menanti berita dari ibunya dengan hati berdebar.

Pertemuan yang tak disangka-sangkanya ini membuat Beng Han merasa malu sekali dan sungkan, akan tetapi dia dapat menenangkan hatinya dan bertanya.

"Sumoi, apakah malam tadi kau dapat enak tidur?"

Akan tetapi, terkejutlah wajah Beng Han ketika melihat wajah Kui Eng nampaknya marah itu. Apa lagi melihat Kui Eng membawa buntalan dan matanya jelas basah! "Eh, sumoi, kenapakah kau?"

Hatinya menjadi kecut dan perasaannya tidak enak sekali.

"Twa-suheng,"

Kata Kui Eng, sambil cepat-cepat menghapus dua butir air mata yang memaksa turun dari kedua matanya.

"Aku.. aku pergi dulu, hendak mencari ibuku. Maafkan bahwa terpaksa aku harus memisahkan diri dari kau dan ji-suheng."

Bukan main terkejut hati Beng Han mendengar ucapan ini. Kedua matanya terbelalak dan mukanya berubah pucat. Dengan gagap dia berkata.

"Akan tetapi sumoi kemana kau hendak pergi dan apa yang terjadi?"

"Entahlah, ke mana saja kedua kakiku membawaku. Pokoknya, aku hendak mencari ibu."

Beng Han adalah seorang pemuda yang berpemandangan luas.

Dia telah dapat menduga bahwa tentu sikap gadis ini ada hubungannya dengan pinangan ibunya.

Pinangan itu telah gagal!

Bukan hanya gagal, bahkan mengakibatkan sumoinya merasa tidak enak dan hendak pergi meninggalkannya.

Dia menarik napas panjang.

"Sumoi"

Ah, kalau keputusanmu memisahkan dirimu ini karena...

karena pinangan ibuku kepadamu, ah kaumaafkanlah aku, sumoi.

Kelancanganku mengajukan pinangan ini telah kutebus mahal sekali.

Sute telah meninggalkan aku, apakah sekarang kaupun hendak meninggalkan aku pula?"

Kui Eng yang tadinya menunduk dan tidak berani memandang wajah suhengnya, kini mengangkat mukanya.

"Ji-suheng meninggalkan kau? Kemanakah perginya?"

Dia bertanya heran.

Beng Han hanya menarik napas panjang dan menyerahkan surat Bun Hong kepada sumoinya.

Merahlah wajah Kui Eng membaca pemberian selamat Bun Hong kepada Beng Han atas pertunangarmya dengan dia!

Timbul rasa kasihan di dalam hatinya terhadap twa suhengnya ini, maka katanya perlahan sambil menunduk.

"Twa-suheng, percayalah bahwa aku tetap menghormati dan menganggap suheng sebagai kakakku sendiri. Biarlah kita bertemu lagi di lain waktu!"

Setelah berkata demikian, Kui Eng lalu mengembalikan surat itu, menjura kepada suhengnya kemudian berlari cepat meninggalkan Kuil Kwan-im-bio itu.

Beng Han menggerakkan tangan dan bibirnya, namun tidak ada suara yang keluar dan dia hanya mengikuti kepergian sumoinya itu dengan pandang mata sayu dan bingung.

Setelah bayangan sumoinya lenyap, Beng Han segera berlari masuk menjumpai ibunya dengan hati yang tidak enak rasanya.

Karena ibunya menceritakan kepadanya tentang jawa-an sumoinya, pemuda ini hanya menundukkan mukanya dengan kedukaan yang disembunyikan.

Dari jawaban ini dan juga dari ucapan sumoinya ketika hendak pergi, maklumlah dia bahwa perasaan cinta kasihnya terhadap sumoinya itu hanya bertepuk tangan sebelah saja, tidak terbalas!

Beng Han adalah seorang pemuda yang berbatin kuat.

Biarpun dia mengalami pukulan batin yang hebat secara berturut-turut, pertama karena kepergian Bun Hong yang patah hati, ke dua karena kepergian Kui Eng dan ketiga ketika mendengar cerita ibunya tentang penolakan halus gadis yang dipinangnya itu, namun dia segera dapat mengubur dan menyembunyikan luka hatinya itu di bawah kemauannya yang kuat.

"Ibu, harap ibu sudi memaafkan sute dan sumoi yang kini telah pergi meninggalkan kuil tanpa pamit kepada ibu dan kepada Pek I Suthai guru Beng Lian."

"Eh? Mereka pergi? Sejak kapan?"

"Sumoi baru saja pergi, katanya hendak mencari ibunya. Karena.. karena urusan pinangan itu, maka aku tidak dapat banyak bertanya, juga tidak mampu mencegahnya karena aku tahu bahwa dia mempunyai kemauan yang amat keras. Dan mengingat akan jawabannya, agaknya hem.. sebaiknyalah kalau untuk sementara ini kami saling berpisah."

"Dan sutemu?"

Tanya ibu yang masih bingung dan terkejut mendengar berita kepergian saudara-saudara seperguruan puteranya secara tiba-tiba itu.

"Kapan dia pergi dan mengapa pula?"

Beng Han tidak berani memperlihatkan surat sutenya.

Dia tidak ingin ibunya tahu akan persoalan cinta kasih antara mereka, yaitu cinta kasih yang terkandung dalam hati sutenya terhadap sumoinya.

Dia hanya berkata setelah menarik napas panjang.

"Sute Bun Hong memang mempunyai watak yang aneh, ibu. Aku amat menghawatirkarj keadaannya, karena dia memiliki watak yang amat aneh dan keras, lagi terlalu berani sehingga kadang-kadang tanpa menggunakan perhitungan yang masak. Kalau dia dibiarkan seorang diri saja di kota raja, dia tentu akan menghadapi bahaya. Oleh karena itu, ibu sekarang juga aku harus menyusulnya, untuk membantu dan membelanya kalau kalau ada bahaya mengancam dirinya."

Siok Thian Nikouw mengerutkan alisnya."Tapi"

Tapi kau baru saja datang dan kau baru saja bertemu kembali dengan ibumu dan adikmu bagaimana engkau akan pergi lagi begini tiba-tiba, anakku""

Beng Han berlutut di depan ibunya.

"Ibu setelah aku bertemu dengan ibu dan adik Lian, dan mengetahui bahwa ibu berdua tinggal dikuil ini dalam keadaan selamat, hatiku merasa amat bahagia dan lega. Setiap waktu anak dapat saja datang ke sini untuk menjenguk ibu. Akan tetapi saat ini, anak sedang dalam perjalanan bersama sute dan sumoi. Aku sendiri telah berhasil menemukan keluargaku, akan tetapi tidak demikian dengan sute dan sumoi. Maka, sudah sepatutnya kajau aku mewakili suhu membantu dan melindungi mereka, ibu. Sumoi harus kubantu mencari orang tuanya, dan sute"

Ah, dia sudah kehilangan semua keluarganya, maka harus kubantu dan kulindungi dari bahaya. Ijinkan anak pergi, ibu, dan tidak lama lagi aku pasti akan datang lagi menjenguk ibu dan adik Lian."

Siok Thian Nikouw meraba-raba kepala puteranya.

"Omitohud, kehendak Thian tidak dapat dilawan siapapun. Kalau memang demikian kehendak hati dan tekadmu, anakku, baik-lah. Pergilah engkau memenuhi tugasmu, kau lindungi sutemu dan kau bantu sumoimu mencari keluarganya. Akan tetapi pesanku, tentang urusanmu dengan Kui Eng janganlah kiranya hal ini mematahkan hatimu nak. Bersabarlah sampai gadis itu bertemu dengan ibunya, baru aku akan mengajukan pinangan pula."

Demikian pesan Siok Thian Nikouw kepada puteranya.

Beng Han hanya mengangguk angguk.

Kemudian dia berkemas, berpamit dari Pek I Nikouw yang berpesan agar pendekar muda ini dan kedua orang saudara seperguruannya berlaku hati-hati di kota raja karena di sana terdapat banyak sekali orang pandai yang menjadi kaki tangan para pembesar, lalu pergilah Beng Han meninggalkan Kwan-im-bio.

Ketika dia tiba di luar kota An-kian, tiba-tiba terdengar suara orang memanggil dari belakang.

Pria cepat berpaling dan ternyata adiknya, Beng Lian, yang menyusulnya dengan berlari cepat.

Setelah tiba disitu, berhadapan dengan kakaknya, Beng Lian menangis dengan sedih, membuat Beng Han menjadi terheran-heran.

Tadi ketika dia berpamit didepan ibunya, adiknya ini diam saja biarpun memandang dengan wajah sayu, akan tetapi mengapa sekarang menyusul dan tiba-tiba saja menangis sedih?

Hatinya menjadi tidak enak.

"Eh, Lian-moi, apakah yang terjadi? Apakah terjadi sesuatu di Kwan-im-bio?"

Tanyanya. teringat akan ibunya. Adiknya itu menggeleng kepala dan terus menangis terisak-isak.

"Hemm, kalau begitu apakah kau menangis karena kepergianku ini? Lian-Moi yang baik, jangan kau seperti anak kecil. Engkau juga seorang dara yang gagah perkasa, maka tidak patutlah kalau menangis, karena urusan kecil ini. Hapus air matamu, adikku!' Kembali Beng Lian menggeleng-geleng kepalanya sebagai sangkalan terhadap dugaan kakaknya itu, dan tangisnya makin menjadi-jadi. Beng Han memegang pundak adiknya.

"Lian-moi, tenanglah, adikku. Sebenarnya, apakah yang terjadi dengan dirimu? Apakah ada hubungannya dengan Yu Tek? Katakanlah, dan aku akan membantumu, adikku!"

Kini Beng Lian menggeleng kepala makin keras, lalu menutupi mukanya dengan kedua tangan.

"Han-ko, aku"

Aku telah berdosa kepadamu""

"Eh? Apa kau mengingau? Dosa apa yang kaulakukan?"

Beng Han tersenyum dan memandang heran.

"Aku"

Akulah yang membuat enci Eng marah-marah dan pergi meninggalkanmu, koko""

"Hemm, apakah yang telah kaulakukan?"

"Aku aku merasa kecewa dan menyesal karena dia telah menolak pinangan ibu, lalu"

Lalu kukatakan kepadanya bahwa dia tidak mencintaimu dan"

Dan kubayangkan kepadanya bahwa dia mencinta ji-suhengnya.."

Kemudian dengan suara terputus-putus Beng Lian menceritakan semua percakapan yang terjadi antara dia dan Kui Eng, yang mengakibatkan kemarahan Kui Eng sehingga dara itu pergi meninggalkan kuil.

Mendengar penuturan itu, Beng Han menggeleng-geleng kepalanya dan menarik napas panjang.

Kemudian dia berkata, suaranya halus tanpa mengandung kemarahan.

"Adikku, engkau memang telah berlaku keterlaluan dan lancang. Akan tetapi, semua itu kaulakukan karena terdorong oleh rasa kecewa dan penasaran, dan aku dapat memakluminya. Betapapun juga, dugaanmu bahwa dia tidak mencintaku memang tepat. Akulah yang bodoh dan tidak tahu diri, sehingga membolehkan ibu melamarnya. Dugaanmu bahwa dia mencinta Bun Hong sute juga beralasan, karena aku sendiripun kini menyangka demikian. Akan tetapi, tentu saja hal itu tidak semestinya dikatakan kepadanya, karena tentu akan membuat hatinya tersinggung. Dia memang berwatak keras. Akan tetapi sudahlah, yang sudah terjadi biarlan berlalu, kalau aku dapat bertemu dengannya, aku yang akan memintakan maaf untukmu. Hatinya baik sekali, aku yakin, dia akan suka memaafkanmu. Dan harap pengalaman ini menjadi pelajaran bagimu, agar lain kali engkau lebih berhati-hati kalau bicara tentang hal yang menyangkut diri orang lain, Lian-moi."

Dengan masih terisak, dara itu mengangguk.

"Han-ko, kau mau memaafkan aku, bukan?"

Beng Han menggunakan tangan kanannya untuk memegang dagu adiknya dan mengangkat muka yang manis itu sehingga mereka saling berpandangan.

"Adikku, tentu saja aku memaafkan engkau! Senyumlah, kalau tunanganmu melihat engkau bermuram durja, dia tentu akan ikut bersedih! Jagalah dia baik baik."

Beng Han mencium dahi adiknya, kemudian membalikan dirinya dan meneruskan perjalanan dengan cepat.

Beng Lian berdiri memandang dengan air mata berlinang sampai kakaknya itu lenyap dari pandangan matanya.

Kebajikan atau kebaikan tabiat atau kelakuan adalah suatu sifat, suatu kewajaran yang terjadi atau dilakukan tanpa unsur kesengajaan oleh si pelaku.

Kalau kebajikan dilakukan dengan sengaja disertai kesadaran dari pelaku bahwa dia melakukan kebajikan, maka tak dapat disangkal lagi, perbuatan baik atau kebajikannya itu dilakukan dengan adanya pamrih tersembunyi di balik perbuatan itu.

Bermacam-macam dan bertingkat-tingkat adanya pamrih yang tersembunyi ini, ada pamrih untuk keuntungan lahiriah, ada pula pamrih keuntungan batiniah.

Akan tetapi tetap saja sama, karena pamrih yang tersembunyi dalam setiap perbuatan itu pada hakekatnya hanyalah keinginan untuk memperoleh kesenangan lahir maupun kesenangan batin.

Bahkan ada pamrih tersembunyi dalam perbuatan baik yang tidak disadari lagi oleh yang berbuat, pamrih yang mengendap di bawah sadar.

Dan setiap perbuatan betapapun baiknya setiap kebajikan, yang dilakukan dengan kesadaran bahwa hal itu adalah kebajikan dan dengan demikian mengandung pamrih, adalah suatu kepalsuan.

Bukan baik karena memang pada dasarnya dan sewajarnya memang baik, melainkan kebaikan yang dibuat-buat, seperti pemulas untuk menutupi ying buruk.

Kebajikan tidak mungkin dapat dipelajari, dalam arti kata dilatih, atau ditiru-tiru dari anjuran kitab-kitab atau guru-guru.

Karena kebajikan yang hanya dilakukan untuk meniru-niru atau menyesuaikan diri dengan suatu pelajaran, adalah kebajikan pura-pura atau palsu, munapafik adanya.

Kalau di dalam hati masih ada rasa benci, lalu dalam perbuatan, kata-kata siikap dan lain-lain memperlihatkan keramahan dan kebaikan budi, bukankah itu palsu namanya?

Kalau begitu, bagaimanakah yang dinamakan kebajikan atau kebaikan itu.

Kalau kelakuan itu adalah suatu sifat, suatu kewajaran, tidak disadari lagi sebagai suatu kebajikan oleh yang melakukannya, kalau tidak terdapat kebencian lagi di dalam hati, maka terdapatlah cinta kasih di dalam perbuatan.

Dan dengan cinta kasih, maka setiap perbuatan adalah bajik!.

Kebaikan yang timbul karena latihan, hanyalah tiru-tiru dan palsu.Kebaikan seperti ini mudah sekali luntur, mudah goyah dan mudah berubah, bagaikan pakaian saja kalau tertimpa panas dan hujan, akan luntur dan lapuk, memperlihatkan apa yang tersembunyi di baliknya.

Terutama sekali dalam keadaan dikecewaan, maka timbullah dendam, penasaran, yang meengundang kebencian.

Dan kalau sudah di cengkeram oleh kebencian, maka semua latihan kebaikan itu pun akan terlupakan.

Bun Hong sejak kecil digembleng oleh gurunya.

bukan hanya digembleng ilmu silat, akan tetapi juga digembleng pelajaran-pelajaran untuk menjadi seorang pendekar yang baik budi dan gagah perkasa.

Akan tetapi, begitu dia mengalami kegagalan dalam cintanya, begitu dia mengalami kekecewaan yang amat hebat yang menekan perasaannya dan menghancurkan hatinya , dia diserang perasaan iba diri yang amat besar sehingga dia menjadi tidak perduli lagi akan pelajaran-pelajaran yang pernah diterima dari gurunya tentang kebajikan!

Apa lagi setelah dia memasuki kota raja, mulailah terjadi perubahan dalam kehidupan Tan Bun Hong, pendekar muda ang memiliki kepandaian tinggi itu.

Ketika memasuki kota raja.

Bun Hong terpesona.

Betapa jauh bedanya keadaan kota raja dengan keadaan di dusun-dusun.

Kalau di dusun dia melihat segala macam penderitaan dan kemiskinan, di kota raja penuh dengan kemewahan dan kesenangan.

Rumah-rumah gedung yang besar dan megah mendatangkan pemandangan vang amat jauh bedanya dengan pondok-pondok bobrok di dusun-dusun.

Pakaian orang-orang di kota raja indah-indah beraneka warna, berbeda sekali dengan pakaian para petani yang compang-camping, tambal-tambalan dan lapuk dan kotor terkena lumpur dan debu .

Di dusun, dia telah merupakan seorang pemuda yang gagah dan berpakaian indah, hingga banyak mata memandangnya dengan kagum dan iri.

Akan tetapi setelah berada di kota raja , Bun Hong merasa betapa pakaiannya termasuk buruk dan tidak ada seorang pun yang memperhatikannya.

Bun Hong melihat banyak pemuda yang berpakaian indah hilir-mudik di sepanjang jalan raya kota raja yang lebar.

Sebagai seorang putera hartawan di waktu kecilnya, Bun Hong memang suka sekali akan kemewahan dan keindahan pakaian.

Model pakaian yang dipakai oleh para pemuda di kota raja, terutama pakaian para pelajar yang indah dan mewah membuat dia mengilar dan timbul keinginannya untuk mempunyai pakaian seperti itu.

Segalanya dimulai dengan keinginan!

Dalam pengejaran keinginan, manusia sering kali men jadi buta.

Demikian pula dengan Bun Hong .Semenjak kecil dia digembleng gurunya, dan gurunya telah berpesan kepada semua muridnya bahwa seorang pendekar harus selalu menentang kejahatan dan membela mereka yang lemah tertindas, harus selalu menjadi pembela kebenaran dan keadilan.

Harus hidup sederhana dan tidak menginginkan barang-barang yang bukan menjadi miliknya.

Semua ini adalah pelajaran-pelajaran, contoh-contoh, dan si murid diharuskan menauladan pelajaran dan contoh ini!.

Karenanya, maka kebaikan yang nampak pada diri si murid bukanlah wajar lagi !

Bukan kebaikan aseli dari si murid, melainkan kebaikan tiruan belaka dari si contoh.

Kebaikan itu bukan menjadi sifat dan watak lagi, melainkan hanya merupakan kebiasaan, merupakan pakaian belaka.

Maka mudah luntur dan hilang.

Gurunya pernah menasihati murid-muridnya bahwa dalam keadaan terpaksa, jika memang membutuhkan, muridnya boleh saja minta dari orang lain atau kalau perlu boleh mengambil dari orang-orang yang kelebihan.

Memang terdapat "kebiasaan"

Para petualang di dunia kang-ouw untuk mengambil milik para hartawan, yaitu mengambil uang sekedar mencukupi kebutuhannya untuk biaya perjalanan Orang-orang kang-ouw yang memegang teguh pelajaran mereka, tidak akan mau mengambil yang lebih dari pada yang mereka butuhkan, itupun mereka ambil dari hartawan yang benar-benar mampu dan tidak akan terasa berat kalau kehilangan sedikit uang yang mereka butuhkan.

Kalau melanggar ketentuan ini.

maka hal ini dianggap suatu penyelewengan dan dianggap menyimpang atau merendahkan nama para pendekar kang-ouw!.

Akan tetapi pada malam hari pertama kedatangannya di kota raja itu, ketika seluruh penghuni kota telah tidur, di atas genteng rumah gedung seorang hartawan besar berkelebat bayangan hitam yang amat gesit gerakannya.

Bayangan itu memasuki gedung tanpa terlihat oleh seorangpun dan tak lama kemudian dia keluar lagi sambil membawa sebuah kantung yang penuh berisi dengan uang emas!

Orang ini bukan lain adalah Bun Hong yang melakukan pencurian dalam gedung hartawan itu.

Akan tetapi yang diambilnya bukan sekedar sejumlah uang untuk keperluan biaya perjalanannya, melainkan jauh lebih banyak lagi.

Dia mengambil sekantung uang emas yang tentu saja jauh melampaui kebutuhannya, Bun Hong maklum bahwa dia telah melakukan pelanggaran terhadap ketentuan kehidupan seorang pendekar kang-ouw.

Akan tetapi sekali ini dia tidak ambil perduli, Kedukaan dan rasa penasaran membuat hatinya menjadi nekat, kepahitan membuat dia menjadi tidak perdulian.

Semua ini didorong oleh hati mudanya yang suka sifat pesolek, membuat dia melakukan pelanggaran.

Dia telah melakukan pencurian atas keinginannya untuk membeli pakaian-pakaian indah, seindah pakaian para muda di kota raja.

Dengan mudah saja dia berhasil mengambil uang emas sekantung dari tumpukan harta orang kaya itu.

Agaknya si kaya itu tidak akan merasa bahwa uangnya berkurang demikian banyaknya uang emas berpeti-peti dalam gudang uang di rumah gedung itu.

Pada keesokan harinya, Bun Hong telah berganti rupa.

Dia telah berubah menjadi seorang pemuda sasterawan yang berpakaian indah, terbuat dari kain sutera berwarna biru yang bersulamkan benang emas dan renda-renda berwarna kuning dan merah di lehernya.

Wajahnya yang memang tampan itu bertambah ganteng Dia menyembunyikan pedangnya di bawah jubah yang lebar dan sebagai pelengkap, tangan kirinya memegang sebuah kipas bulu yang indah dan mahal.!

Biarpun hatinya terpikat oleh kemewahan dan kekayaan yang berlimpahan di kota raja yang besar dan ramai itu, namun Bun Hong masih belum melupakan maksudnya semula datang ke kota raja.

Dia meninggalkan Beng Han dan Kui Eng dengan hati hancur dan sedih, karena cinta kasihnya terpaksa direnggut dari hatinya.

Dia mencoba untuk melupakan Kui Eng karena dia harus mengalah terhadap suhengnya, dan dia tidak mau menghalangi perjodohan antara Kui Eng dan Beng Han, dua orang yang paling disayang dan dicintanya di permukaan bumi ini.

Maka, untuk melupakan kesedihannya, dan agar jangan menghalangi mereka, dia mengambil keputusan untuk melanjutkan usaha mereka bertiga semula, yaitu hendak membasmi kekejaman peraturan pemungutan pajak bagi para rakyat kecil.

Dia tidak melupakan tugas ini, biarpun hatinya tertarik oleh kemewahan kota raja.

Setelah berdandan sebagai seorang kongcu hartawan atau seorang sasterawan putera seorang bangsawan, pakaian baru sepatu baru dan kipas baru, mulailah Bun Hong melakukan penyelidikan.

Dia berjalan-jalan dan mencari keterangan tentang pembesar-pembesar yang berwewenang mengatur urusan pajak bagi daerah-daerah itu.

Akan tetapi, jawaban yang didapatkan dalam penyelidikannya ini bersimpang-siur.

Ada yang mengatakan bahwa peraturan itu datang dari kaisar sendiri, ada pula yang mengatakan bahwa yang mengeluarkan peraturan itu adalah Thio-thai-kham, yaitu pembesar kebiri yang berkuasa besar di istana.

Ada pula yang berkata bahwa peraturan itu berada dalam wewenang Pangeran Song, bendahara kerajaan yang berhak menerima semua penyetoran hasil pajak.

Dengan menyamar sebagai seorang sasterawan yang datang dari luar kota raja dan ingin memasuki ujian bagi sasterawan untuk mencapai gelar siucai, dengan mudah Bun Hong dapat mengajak orang-orang bicara tentang itu tanpa menarik kecurigaan.

Sudah sepatutnya kalau seorang calon siucai yang mengejar kedudukan mencari tahu untuk mengenal keadaan pemerintahan.

Setelah mendengar keterangan keterangan itu, Bun Hong tidak berani bertindak ceroboh.

Dia telah melihat betapa penjagaan yang dilakukan di setiap gedung pembesar tinggi di kota raja amatlah kuatnya.

Juga, banyak dia melihat perwira-perwira dan pengawal-pengawal kerajaan yang ditemuinya di jalan-jalan dan di rumah-rumah makan, dan dari gerak-gerik mereka tahulah dia bahwa di antara mereka terdapat banyak yang memiliki kepandaian tinggi.

Dia harus sabar, dia harus mempelajari keadaan dengan baik dan berlaku hati-hati, agar jangan sampai usahanya gagal sebelum dimulai.

Dia merasa suka dan betah tinggal di kota raja yang ramai dan banyak pemandangannya itu.

Setiap hari pemuda ini keluar dari kamar rumah penginapan yang disewanya dan pergi berjalan-jalan.

Pada suatu hari dia mendengar berita bahwa Pangeran Song Hai Ling, pembesar yang menjadi bendahara istana, hendak mengadakan kunjungan ke Kuil Bhok-thian-si yang besar dan megah.

Kunjungan ini adalah dalam rangka pembayaran kaul dari pangeran itu yang hendak memenuhi janji.

Beberapa bulan yang lalu Pangeran Song pernah jatuh sakit yang cukup berat.

Dalam penderitaannya itu, sang pangeran berjanji bahwa kalau dia sembuh dari penyakitnya, dia akan melakukan sembahyangan besar di kuil itu bersama seluruh keluarganya, dan mengadakan pesta keramaian di kuil itu.

Dan kebetulan sekali penyakitnya sembuh, maka pangeran ini lalu mengumumkan bahwa dia akan memenuhi janji itu.

Karena yang hendak melakukan sembahyang adalah seorang pembesar yang berkedudukan tinggi, kaya raya dan berpengaruh karena pangeran ini adalah keluarga dari kaisar, maka tentu saja semenjak dua hari sebelumnya, para hwesio Kuil Bhok-thian-si telah mengadakan persiapan besar-besaran.

Lantai kuil dicuci dan digosok sampai mengkilat, semua tiang digosok dan yang sudah luntur catnya dicat kembali, dan semua alat sembahyang diganti dengan yang baru!

Semenjak dua hari sebelum kunjungan itu, kuil ditutup untuk umum yang hendak datang bersembahyang.

Untuk meramaikan perayaan dan sembahyangan ini, Pangeran Song Hai Ling mendatangkan serombongan pemain sandiwara klasik yang memainkan cerita tentang kehidupan Bu Ong, raja besar yang amat dipuja di seluruh Tiong-kok oleh karena kebijaksanaannya.

Bahkan di alam kuil besar itupun terdapat arca raja besar ini.

Memang Pangeran Song sengaja mengadakan pertunjukan itu yang maksudnya selain untuk meramaikan pesta, juga untuk memberi penghormatan kepada Bu Ong.

Karena adanya pertunjukan ini, sandiwara yang dimainkan oleh perkumpulan sandiwara terbaik di kota raja, maka semenjak pagi sebelum sembahyang besar dimulai, orang-orang telah memenuhi halaman kuil yang luas itu untuk nonton sandiwara.

Dan tentu saja banyak pula di antara mereka yang datang untuk menonton keluarga pembesar itu, karena mereka telah mendengar bahwa selain mempunyai bayak selir yang cantik-cantik, Pangeran Song Hai Ling juga mempunyai dua orang anak perempuan yang telah remaja puteri dan kabarnya memiliki kecantikan yang tidak kalah oleh kecantikan bidadari dari kahyangan!.

Mendengar tentang kunjungan Pangeran Song yang merupakan seorang di antara mereka yang akan diselidikinya, Bun Hong segera ikut datang ke kuil itu dan mencampurkan dirinya dengan para penonton yang berjubelan di luar kuil.

Dia menyelinap di antara para penontor dan dengan sepasang lengannya yang kuat, dengan mudah saja Bun Hong mencari jalan dan sebentar saja dia telah berhasil menerobos ke depan dan berdiri di baris terdepan.

Kalau ada yang merasa penasaran, setelah melihat pakaian dan lagak pemuda ini, orang itu tidak berani sembarangan menegornya karena menyangka bahwa dia adalah seorang putera bangsawan atau mungkin keluarga Pangeran Song.

Kini Bun Hong berdiri dekat pagar yang mengelilingi ruangan depan kuil itu, di mana telah dipasang meja sembahyang yang besar dan yang bertilam sutera bersulamkan benang emas!

Di pinggir kanan, rombongan sandiwara yang sehabis sembahyang nanti akan mulai dengan pertunjukan mereka, yaitu di atas panggung yang telah disediakan, kini hanya duduk dengan rapi dan musik mereka telah berbunyi perlahan-lahan semenjak pagi tadi sehingga suasana pesta sudah mulai terasa.

Tak lama kemudian terdengarlah bentakan-bentakan dan beberapa orang penjaga yang memegang cambuk telah mencari jalan dan mencambuki para penonton yang menghalangi jalan.

"Tar-tarrr! Minggir, minggir! Buka jalan antuk rombongan Song-taijin! Tar-taarr!"

Cambuk itu meledak-ledak di atas kepala para penonton, tidak sampai mengenai orang karena hanya dimaksudkan untuk memaksa mereka membuka jalan saja.

Para penonton terkuak ke kanan kiri dan dengan cepat jalan yang menuju ke pintu masuk kuil itu telah terbuka.

Barisan pengawal dengan golok telanjang di tangan, terdiri dari belasan orang yang bertubuh tinggi besar dan kelihatan kuat sekali, dengan langkah kaki tegap dan gagah mendahului rombongan dan masuk ke dalam halaman depan, lalu terpecah menjadi dua kelompok dan mereka berdiri berjajar di kiri kanan jalan masuk itu.

Bunyi roda kereta terdengar dan masuklah sebuah kereta yang indah, tertutup jendelanya oleh tirai-tirai sutera hijau, dan kereta itu berhenti di depan kuil.

Tirai-rirai tersingkap dan turunlah rombongan keluarga pembesar itu.

Semua orang segera membungkuk untuk menghormati seorang laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh lima tahun yang turun dari kereta dan berjalan dengan tenang sambil mengebut-ngebutkan kipas di tangannya.

Laki-laki ini memandang ke kanan kiri sambil mengangguk-anggukkan kepala sebagai pembalasan hormat yang diberikan orang kepadanya.

Bun Hong membuka mata lebar-lebar dan dengan penuh perhatian dia memandang wajah pembesar itu.

Wajah pembesar ini menunjukkan seorang yang peramah dan tidak kejam, bahkan matanya selalu memandang dengan berseri gembira dan mulutnya tersenyum, membayangkan kesabaran.

Sinar matanya yang memandang penuh pengertian itu membayangkan bahwa orang ini telah mempunyai pengalaman hidup yang mendalam dan dari sinar matanya yang tajam penuh selidik, orang mendapat perasaan bahwa pangeran ini memiliki kewibawaan dan pengertian yang lebih tinggi dari orang lain.

Tubuhnya, sedang saja, agak pendek dan langkah kakinya tenang dan pendek.

Timbul keraguan di dalam hati Bun Hong karena dia tidak melihat sinar kekejaman di wajah pembesar ini.

Agaknya tidak pantas kalau orang dengan wajah seperti ini dapat menurunkan peraturan kejam yang| mencekik leher dan kehidupan rakyat jelata, pikirnya meragu.

Suara berisik dari para penonton membuat dia menengok dan perhatiannya segera berpindah dari wajah pembesar itu.

Serombongan wanita yang cantik-cantik, mengikuti seorang wanita setengah tua yang juga menerima penghormatan dari semua orang.

Akan tetapi pandang mata para penonton, terutama sekali para prianya, sebagian besar ditujukan kepada wanita-wanita muda cantik yang mengikuti nyonya itu.

Nyonya itu adalah Song-hujin, dan para wanita cantik itu adalah selir-selir dari sang pangeran.

Nyonya Song bersikap lemah lembut dan jelas memperlihatkan keagungan seorang bangsawan tinggi, sedangkan para selir yang masih muda-muda dan berpakaian indah gemerlapan itu bersikap gembira, namun jelas kegenitan mata mereka ketika sambil lewat mereka melempar kerling mata yang liar dan tajam ke kanan kiri, di mana banyak terdapat pemuda-pemuda tampan dan gagah.

Mereka ini seperti sekelompok burung yang sudah terlalu lama dikurung dalam sangkar dan kini memperoleh sedikit kebebasan di luar!.

Kemudian sekali, muncullah dari sebuah kereta, dua orang yang dinanti-nanti oleh hampir semua orang muda yang memerlukan datang hanya untuk dapat memandang kepada dua orang ini.

Mereka ini adalah dua orang gadis remaja yang berusia paling banyak tujuhbelas tahun.

Keduanya sama cantik jelita, sama manis menarik, melangkah dengan lemah lembut dan dengan lenggang lemah gemulai.

Berbeda dengan para selir ayah mereka, kedua orang dara remaja ini berjalan dengan sikap malu-malu ketika mereka merasa betapa banyak mata kaum pria ditujukan ke arah mereka.

Mereka saling berbisik dan berjalan dengan muka ditundukkan.

Dara yang lebih tua bertubuh tinggi semampai dengan muka berdagu runcing dan sepasang mata lebar dan tajam sinarnya bagaikan mata burung Hong.

Kulit mukanya halus putih kemerahan, bedak dan gincu tipis-tipis dan sepasang alisnya yang melengkung dengan ujung yang runcing dan berwarna hitam sekali, menambah kemanisan wajahnya.

Yang lebih muda juga cantik jelita, akan tetapi mukanya bundar, dan sepasang matanya kocak sedangkan bibirnya yang indah bentuknya itu selalu tersenyum, menandakan bahwa dia adalah seorang dara yang berwatak riang jenaka.

Setelah semua rombongan memasuki ruangan dalam dari kuil itu, meja sembahyang lalu di atur oleh para hwesio yang kelihatan sibuk sekali.

Ayam dan bebek yang masih utuh dan sudih matang, ditaruh di atas piring perak dan diatur di atas meja sembahyang.

Melihat ayam dan bebek yang tak berbulu lagi dan yang kulitnya nampak kekuningan dan gemuk itu, membuat para penonton mengilar.

Juga ada kepala babi yang gemuk, yang menyeringai seperti mengejek kepada para penonton, dan masakan-masakan yang banyak sekali macamnya, memenuhi meja yang besar itu.

Kemudian lilin-lilinpun dinyalakan oleh para hwesio dengan sikap yang khidmat.

Para hwesio mulai membaca liamkeng, berdoa dan mengatur upacara sembahyang itu.

Mula-mula, pangeran itu yang maju ke depan untuk bersembahyang.

Akan tetapi baru saja pangeran itu menerima hio-hio yang sudah mengepulkan asap dan hendak mulai bersembahyang, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Pembesar laknat! Kau hidup mewah dari perasan keringat kami!"

Dari rombongan penonton, tahu-tahu meloncat keluar seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan berpakaian seperti seorang petani, tangannya memegang sebatang cangkul dan dengan gerakan cepat dia telah lari ke depan meja sembahyang itu.

Petani itu berusia kurang lebih tigapuluh tahun dan dengan nekat dia lalu menyerang Pangeran Song Hai Ling dengan cangkulnya.

Pangeran Song yang sedang memegang hio dan hendak mulai bersembahyang itu tentu saja menjadi terkejut sekali, sampai tidak mampu bergerak dan hanya memandang kepada penyerangnya dengan mata terbelalak.

Sungguh berbahaya sekali keadaan pangeran itu pada saat itu karena si petani yang mengamuk itu telah mengayun cangkulnya ke arah kepala si pangeran.

"Heiiiitt!"

Tiba-tiba seorang perwira yang memimpin barisan penjaga, seorang yang tentu saja selalu waspada dan memiliki kepandaian, cepat menubruk ke depan.

Dia tidak sempat lagi menyerang si petani itu, maka jalan satu-satunya bagi perwira ini hanyalah mendorong pundak si pangeran ke kiri sehingga ketika cangkul itu menyambar, tubuh pangeran itu terhindar dari senjata itu.

"Brakk........!! "

Cangkul menghantam meja dan kepala babi itu terloncat sambil menyeringai, juga ayam dan bebek beterbangan seolah-olah hidup kembali.

Meja itu ambruk dan semua masakannya tumpah.

Gegerlah keadaan di situ, terdengar jerit para selir yang ketakutan, dan beberapa orang penjaga lalu maju mengeroyok si petani yang mengamuk seperti seekor kerbau gila.Paculnya menyambar-nyambar dengan ganas dan dua orang penjaga berteriak kesakitan karena lengan mereka kena dihantam cangkul.

Akan tetapi pada kesempatan yang baik si perwira tadi berhasil menendang lutut penyerang yang mengamuk itu sehingga cangkulnya terlepas dan tubuhnya terguling roboh!

Beberapa batang golok yang berkilauan saking tajamnya terayun hendak merobek-robek tubuh pengacau itu, akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan biru dan tahu-tahu Bun Hong sudah berada di tengah-tengah para pengawal dan ketika kaki tangannya bergerak, beberapa batang golok terlempar!

"Tahan semua, jangan bunuh dia!"

Bun Hong membentak dan segera dia membangunkan petani tadi.

Perwira pengawal yang tadi menjatuhkan si petani yang mengamuk, menjadi marah dan dia mengira bahwa Bun Hong tentulah kawan dari pengacau ini, maka dengan gerakan kilat dia menusukkan pedangnya ke arah dada Bun Hong dari samping sehingga terdengar lagi pekik ketakutan dari beberapa orang wanita yang merasa ngeri.

Akan tetapi, dengan gerakan tenang sekali, Bun Hong miringkan tubuhnya sehingga pedang itu meluncur lewat di dekat tubuhnya.

Tangannya meluncur dan jari-jari tangannya menyentil ke arah pergelangan tangan perwira itu.

Perwira itu berteriak kaget dan pedangnya terlepas dan tahu-tahu pedang itu telah berpindah ke tangan Bun Hong!

Tentu saja perwira yang terkejut itu menjadi marah sekali.

"Pemberontak hina! Kau mencari mampus!"

Bun Hong tersenyum.

"Sabar, sobat. Siapa yang memberontak? Aku hanya mencegah terjadinya pembunuhan di sini."

"Tidak kaulihatkah tadi betapa petani yang pemberontak ini menyerang taijin? Apakah kau hendak membela pemberontak?"

"Orang ini tidak gila, dan tentu ada alasan-alasannya mengapa dia sampai berani menyerang seorang pembesar. Penyerangannya gagal, maka tidak perlu dia dibunuh. Kaulah yang tidak tahu aturan, karena kalau kau membunuh dia di tempat ini, bukankah itu berarti bahwa engkau mengotori tempat yang suci ini dan membuat sembahyangan itu tidak ada gunanya lagi!. Ataukah di tempat ini terdapat kebiasaan lain sehingga untuk bersembahyang orang harus menggunakan seorang manusia sebagai korban?"

Perwira itu masih penasaran dan marah.

"Kurung, serbu dan tangkap dia!"

Semua anak ahnya sudah bergerak maju. Akan tetapi tiba-tiba pangeran itu berseru nyaring.

"Semua penjaga mundur! Biarkan petani itu bebas dan pulang, jangan di ganggu dia!". Para pengawai dan perwira komandannya terbelalak memandang kepada sang pangeran, seolah-olah tidak mengerti apa yang diartikan oleh pangeran itu, akan tetapi tidak ada seorangpun di antara mereka yang berani bergerak. Petani itu juga memandang kepada Pameran Song dengan muka penuh keheranan, tak pernah disangkanya bahwa pangeran itu begini murah hati, mengampuni seorang yang tadi hendak membunuhnya. Bahkan Bun Hong sendiri tertegun mendengar perintah itu. Dia lalu menganggukkan kepalanya kepada petani itu yang seperti baru sadar cepat keluar dari kuil sambil membawa cangkulnya dan segera lari menghilang di antara orang banyak yang men jadi panik itu. Pangeran Song lalu menjura kepada Bun Hong sambil berkata.

"Enghiong yang gagah ucapanmu tadi amat berkesan di dalam hati kami. Silahkan kau duduk di dalam dan setelah upacara sembahyang ini selesai, saya ingin sekali mengajakmu bercakap-cakap"

Bun Hong balas menjura.

Dia sudah merasa kagum terhadap pembesar ini yang telah meng ampuni petani tadi, kagum dan juga timbul rasa herannya.

Ingin dia mengenal pangeran ini dan mengajaknya bercakap-cakap tentang segala hal mengenai penindasan yang diderita oleh kaum petani khususnya dan rakyat kecil pada umumnya itu.

Orang seperti pangeran yang bijaksana ini tentu akan dapat mengerti.

Dan dia maklum bahwa setelah terjadi peristiwa tadi, apabila dia berada di luar, tentu dia hanya akan menjadi perhatian semua orang maka dia lalu menjura dan melangkah masuk diantar oleh seorang hwesio yang bersikap hormat kepadanya.

Ketika dia melewati keluarga pangeran itu.

dan mereka memandangnya, tanpa disengaja Bun Hong mengangkat muka dan bertemu pandang dengan puteri pangeran yang terbesar.

Seperti ada getaran aneh terasa oleh jantungnya yang berdebar aneh dan sesaat pandang mata kedua orang muda ini saling melekat.

Darahnya terkesiap dan dia merasa betapa mukanya menjadi panas karena darahnya naik nemenuhi urat di seluruh mukanya.

Pandangan dari mata yang indah seperti mata burung Hong yang ditujukan kepadanya penuh kekaguman itu membuat Bun Hong merasa bingung.

Dia lalu menundukkan mukanya dan melanjutkan langkahnya memasuki ruangan belakang di mana dia dipersilakan, duduk menunggu.

Meja sembahyang sudah diatur lagi dengan cepat oleh para hwesio dan upacara sembahyang segera dilanjutkan dengan cepat.

Setelah terjadi peristiwa itu, Pangeran Song melakukan sembahyang hanya untuk memenuhi janjinya dan segalanya dipersingkat sehingga tak lama kemudian, selesailah sudah upacara sembahyangdari seluruh keluarganya untuk menghaturkan terima kasih kepada malaikat penjaga kelenteng yang sudah membantu kesembuhan pembesar itu.

Pangeran Song lalu cepat menuju keruangan belakang di mana Bun Hong masih duduk menunggu.

Melihat pangeran ini, Bun Hong cepat bangkit berdiri.

Dia melihat betapa pangeran ini datang sendirian saja tanpa pengawal.

Hal ini kembali membuat hatinya tunduk karena bukankah jelas perbuatan pangeran ini menaruh kepercayaan sepenuhnya kepadanya?

"Enghiong yang gagah perkasa, aku merasa suka sekali melihat sikapmu yang amat gagah perkasa dan bijaksana.

Kalau kau sudi mengikat persahabatan dengan aku, marilah kuundang enghiong untuk ikut bersama kami ke gedungku agar kita dapat bicara dengan lebih leluasa."

Bun Hong memang ingin sekali mengadakan hubungan dengan pembesar ini untuk menyelidiki tentang pemerasan yang dilakukan oleh pembesar-pembesar terhadap rakyat, maka sambil membungkuk dia memberi hormat dan berkata.

"Banyak terima kasih atas perhatian dan keramahan taijin. Sungguh telah memberi penghormatan besat sekali terhadap saya yang bodoh."

Pangeran Song menjadi makin kagum dan girang.

Pemuda ini tidak hanya amat lihai ilmu silatnya sehingga perwira yang memimpin para pengawalnya juga sama sekali tidak berdaya menghadapi pemuda ini, akan tetapi di samping kepandaian yang tinggi itu, pemuda inipun tahu akan sopan santun dan bersikap-baik sekali.

Dengan terjadinya peristiwa penyerangan itu, dan karena pertemuannya dengan Bun Hong maka Pangeran Song membatalkan niatnya untuk mengajak keluarganya berpesta di kuil, dan dia lalu memerintahkan para pengawal untuk mempersiapkan kereta dan keluarga itu berangkat kembali ke gedungnya, diikuti oleh Bun Hong yang duduk bersama Pangeran Song di dalam sebuah kereta.

Pertunjukan sandiwara memang dilanjutkan, akan tetapi pertunjukan ini sekarang merupakan tontonan dan hiburan bagi para penonton.

Para penonton ramai membicarakan peristiwa tadi.

Mereka memuji-muji kebijaksanaan Pangeran Song yang mengampuni petani yang menyerangnya tadi.

Juga mereka memuji-muji pemuda tampan yang turun tangan mencegah pembunuhan atas diri si petani oleh para pengawal.

"Dia lihai sekali! Orangnya begitu tampan dan halus, akan tetapi lihat betapa tadi dengan mudahnya dia merampas pedang perwira itu!"

"Dan kita tidak tahu bagaimana dia dapat merobohkan para pengawal yang tadi akan mengeroyok mati si petani!"

"Dia memang gagah sekali, pantas mendapat penghormatan dari Pangeran Song."

"Akan tetapi dia tadi membela petani yang hendak membunuh Pangeran Song."

"Memang aneh. Siapa tahu, dia akan beruntung sekali. Mungkin dia akan diambil mantu!"

Bermacam-macam pendapat para penonton yang membicarakan peristiwa itu.

Kalimat terakhir tentang si pemuda yang mungkin akan diambil mantu oleh Pangeran Song membuat banyak pemuda yang mendengarnya menjadi termenung dengan hati penuh iri.

Alangkah bahagianya orang yang menjadi suami puteri Song yang cantik jelita, baik yang sulung maupun yang bungsu.

Tidaklah aneh apabila manusia selalu menganggap bahwa hal yang tidak dimilikinya itu sebagai hal yang paling indah dan akan mendatangkan kebahagiaan kalau dapat diraihnya.

Perbandingan mendatangkan iri hati, mendatangkan keinginan untuk memperoleh segala sesuatu yang tidak dimilikinya.

Karena itulah semua manusia di dunia ini hanya saling pandang dan saling mengiri, menganggap bahwa!

keadaan orang lain lebih senang dari pada keadaan dirinya sendiri, sedangkan kesenangan itu tentu selalu dianggap dapat dicapai melalui keadaan yang belum dimilikinya.

Karena itu bermacam-macam anggapan timbul sebagai jalan menuju ke arah kebahagiaan, ada yang menganggap bahwa jalan itu melalui harta kejayaan, ada yang menganggap melalui kedudukan, kekuasaan, nama besar, kepintaran, kehormatan, kesehatan, isteri cantik, suami ganteng, banyak anak, atau tidak punya anak, dan masih banyak lagi.

Inilah sebabnya maka yang memiliki satu lebih di antara semua syarat itu, namun masih merasa tidak bahagia karena syarat lain yang dianggap paling tepat tidak dimilikinya.

Kesenangan, segala macam bentuk kesenangan, hanya akan nampak sebagai kebahagiaan selama kesenangan itu belum dimiliki.

Akan tetapi sekali kesenangan yang diidamkan itu telah dimilikinya,maka akan ternyatalah bahwa kesenangan itu sama sekali tidak seindah yang didambakan semula, dan sama sekali tidak dapat mendatangkan kebahagiaan.

Inilah sebabnya mengapa manusia selalu saling pandang dan saling mengiri.

Dapatkah kita hidup tanpa membanding-bandingkan, tanpa menginginkan sesuatu yang tidak ada pada kita?

Dapatkah kita membuka mata dan memandang apa adanya tanpa dihalangi oleh bayangan-bayangan harapan dan keinginan, sehingga kita dapat menemukan keindahan dan kebahagiaan yang sudah ada dalam segala sesuatu, dalam apa adanya?

Pertanyaan, ini takkan dapat dijawab kecuali kalau kita menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari membuka mata dan telinga, hidup dalam saat ini secara wajar, tanpa memandang ke depan tanpa menengok ke belakang.

Bukan hidup di alam kenangan hari-hari kemarin dan bukan pula hidup di alam khayal dari hari-hari esok.

melainkan hidup sungguh-sungguh dalam hari ini, saat ini, detik demi detik!.

Ketika Bun Hong mengikuti Pangeran Song.

memasuki istana pangeran itu, dia memandang penuh kekaguman.

Dia seperti terpesona karena selama hidupnya belum pernah dia menyaksikan sebelah dalam istana seindah itu.

Istana itu mewah dan penuh dengan perabot rumah yang belum pernah dilihat sebelumnya Lukisan-lukisan yang menempel di dinding adalah lukisan-lukisan yang indah yang jarang terlihat di luar gedung dan yang sudah pasti amat mahal harganya, hasil-hasil karya dari seniman-seniman kuno.

Meja kursi dan semua perabot rumah yang terdapat di situ terukir indah sekali, dan banyak terdapat barang-barang porselen yang aneh-aneh warnanya.

Namun, Bun Hong pandai menekan perasaan kagumnya sehingga dia berjalan dengan langkah, biasa dan tetap, seakan-akan pemandangan di dalam gedung indah itu bukan apa-apa baginya .

Sebetulnya, andaikata dia tidak melihat Bun Hong yang selain tampan dan gagah, akan tetapi juga dalam segebrakan saja dapat merampas pedang perwira yang melindungi keselamatannya, mungkin saja Pangeran Song akan membiarkan saja petani yang berani mencoba untuk membunuhnya tadi dibunuh oleh para pengawalnya, karena memang hal itu sudah sewajarnya dan sepatutnya.

Akan tetapi, ketika melihat Bun Hong, dia merasa amat kagum dan tertarik serta timbul di dalam hatinya suatu maksud yang amat baik.

Dia maklum bahwa pada dewasa itu, terdapat gejala-gejala akan timbulnya pemberontakan, di mana-mana terdapat rakyat yang menyatakan ketidak puasan hati mereka, bahkan sudah ada kelompok-kelompok yang terpaksa dibasmi karena memperlihatkan sikap memberontak.

Semenjak pemberontakan besar yang dipimpin oleh An Lu Shan, belum pernah negara menjadi aman dan tenteram kembali secara sempurna.

Dengan adanya gejala-gejala yang amat tidak menyenangkan hati itu, yang bahkan nampak pula dalam peristiwa percobaan pembunuhan atas dirinya, sebagai seorang pembesar tinggi, keselamatannya selalu terancam.

Sebagai pembesar tinggi tentu saja dia dianggap sewenang-wenang, kejam dan sebagainya, maka centu banyak ancaman dari fihak mereka yang tidak puas, atau dari mereka yang merasa kalah pengaruh.

Maka, melihat seorang pemuda yang demikian gagahnya, dia lalu mendapat pikiran yang menguntungkan.

Kalau saja dia dapat menarik tangan Bun Hong untuk berdiri di fihaknya, setidaknya keselamatannya akan terjamin!

Pangeran Song Hai Ling ini memang amat cerdik.

Tentu saja dia tidak tahu sama sekali bahwa justeru tadinya pemuda ini mempunyai maksud untuk membasmi para penindas rakyat dan bahkan hendak menyelidikinya!.

Setelah mempersilakan pemuda itu duduk di atas sebuah kursi berukir indah dan memerintahkan para pelayan untuk menghidangkan makanan lezat dan arak wangi, Pangeran Song lalu bertanya, ''Sicu, kau datang dan manakah, dan siapakah namamu yang terhormat?"

"Saya ternama Tan Bun Hong, berasal dari dusun Hong-yang."

Kemudian dengan ringkas Bun Hong menceritakan tentang riwayatnya, betapa seluruh keluarganya habis binasa oleh gerombolan pengacau dan pemberontak yang mengadakan keributan ketika dia masih kecil.

Pangeran Song Hai Ling menarik napas panjang dan memandang wajah pemuda yang duduk di depannya dengar, sinar mata penuh iba "Ah, memang tahun-tahun yang lalu adalah tahun tahun celaka yang merupakan bencana besar, tidak saja bagi keluarga kerajaan, bahkan juga bagi rakyat jelata.

Mudah-mudahan saja jangan sampai terulang kembali peristiwa pemberontakan yang hanya mendatangkan malapetaka." (Lanjut ke

Jilid 07) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07

"Taijin, keamanan hidup yang penuh damai tidak hanya diidamkan oleh kaisar dan keluarga kerajaan, akan tetapi bahkan menjadi idam -idaman tiap orang manusia di negara kita,"

Kata Bun Hong sambil menatap wajah pangeran itu dengan tajam.

"Akan tetapi ternyata nasib rakyat jelata memang amat buruk. Setelah mengalami penderitaan dari gangguan para pemberontak, lalu tiba musim kering yang panjang dan membuat bencana kelaparan melanda di mana mana, kini rakyat jelata ditambah lagi dengan peraturan pemerintah sendiri yang mencekik leher rakyat kecil. Hampir seluruh hasil sawah para petani diharuskan untuk membayar pajak yang luar biasa beratnya sehingga bagi para petani sendiri tidak ketinggalan sisa untuk mengisi perut! Tai-jin adalah seorang pembesar tinggi di kota raja, sudah tentu lebih mengetahui akan hal ini dari pada saya yang bodoh dan tidak tahu apa-apa ini."

Pangeran Song Hai Ling menarik napas panjang dan untuk beberapa lamanya tidak dapat menjawab, hanya menatap wajah pemuda itu.

Hal ini membuat Bun Hong makin bernafsu untuk melanjutkan kata-katanya dan mengeluarkan isi hatinya.

"Setiap pemberontakan yang dicetuskan oleh golongan yang hanya ingin memperebutkan kekuasaan tentu akan hancur karena rakyat selalu menentang peperangan dan rakyat selalu akan membela pemerintah. Akan tetapi kalau rakyat terlampau ditindas sehingga rakyat sendiri yang memberontak terhadap pemerintah, maka akan rusaklah kehormatan dan keharuman nama pemerintah. Peristiwa tadi, ketika petani itu menyerang taijin, merupakan tanda yang buruk sekali bagi pemerintah sekarang. Mengapa seorang petani yang biasanya hidup sederhana dan jujur, juga setia dan tidak mempunyai banyak kehendak, sampai berani melakukan penyerangan terhadap seorang pembesar tinggi? Hal ini sama sekali bukan hanya mengenai dan menyangkut diri taijin pribadi, melainkan merupakan gejala timbulnya rasa tidak puas dari rakyat kecil terhadap para pembesar tinggi atau pemerintah pada umumnya."

Pangeran itu mengangguk-angguk, mendengarkan dengan penuh perhatian karena memang hatinya tertarik sekali.

Dia maklum bahwa pemuda ini mengemukakan hal-hal yang patut direnungkan, bukan semata-mata pencetusan hati karena dendam seperti yang dilakukan oleh petani tadi.

"Maafkan kalau saya bicara lancang, taijin. Menurut pendapat saya, hubungan antara rakyat jelata dengan para pemimpin adalah seperti hubungan antara anak-anak terhadap orang tuanya. Kalau anak sampai berani melawan orang tuanya, sudah tentu ada apa-apa yang tidak beres dengan anak atau orang tua itu. Kalau si anak, dalam hal ini rakyat jelata yang tidak di pengaruhi keinginan memperebutkan kedudukan, jadi tidak mempunyai kesalahan, maka ketidak beresan itu terletak kepada fihak si orang tua. Terus terang saja, taijin, saya sendiri tidak dapat terlalu menyalahkan petani tadi yang melakukan perbuatan itu karena tidak tahan lagi melihat betapa anak isterinya kelaparan karena semua gandum telah habis dibayarkan untuk pajak! Melihat anak isteri di rumah kelaparan, atau melihat taijin mengadakan sembahyang secara mewah, tentu timbul rasa penasaran yang membuatnya seperti gila, lupa segala dan terjadilah penyerangan tadi. Saya sendiripun tidak kan ragu-ragu untuk membasmi para pembesar yang memeras dan mencekik batang leher rakyat yang sudah miskin dan sengsara itu!"

Bun Hong telah membuka kartunya dan mulai memperkenalkan diri yang sebenarnya. Sejenak lamanya Pangeran Song memandang tajam kepada pemuda itu, kemudian dia berkata.

"Tan-sicu, kata-katamu memang benar, biarpun kalau ucapanmu tadi terdengar oleh pembesar lain, tak salah lagi kau akan ditangkap dan dituduh memberontak! Ketahuilah bahwa aku memang bertugas menerima dan mengumpulkan hasil-hasil pajak dari para pembesar daerah yang menerimanya dari rakyat, akan tetapi peraturan-peraturan yang dilaksanakan itu adalah keputusan dari kaisar sendiri. Aku adalah seorang anggota keluarga kerajaan dan seorang penjabat pula, sudah lama aku merasa sedih melihat betapa kaisar sekarang berada dalam kekuasaan para pembesar thaikam yang mempengaruhinya, sehingga boleh dibilang yang berkuasa di istana adalah para thaikam, orang seperti aku ini mempunyai kekuasaan apakah? Tidak lain aku hanya menjalankan tugas yang telah diberikan kepadaku. Ketahuilah Tan-sicu!, bahkan kaisar sendiri agaknya sungkan untuk menentang para thaikam, apa lagi aku, seorang pangeran yang hanya berpangkat bendahara!"

Kemudian secara panjang lebar Pangeran Song menceritakan tentang kekuasaan para thaikam, terutama sekali Thio-thaikam yang mempunyai pengaruh besar sekali.

Pangeran Song seperti juga para pembesar lain, merasa takut dan benci kepada Thio-thaikam walaupun mereka tidak berani memperlihatkan kebencian itu secara berterang, oleh karena Thio-thaikam yang berpangkat koksu (guru negara) itu memandang rendah kepada semua pembesar.

Kedudukannya amat tinggi, semua nasehatnya diurut belaka oleh kaisar dan pengaruhnya amat luas.

Selain mempunyai pengaruh besar terhadap kaisar, juga Thio-thaikam mempunyai banyak kaki tangan yang berilmu tinggi.

Sebenarnya, di luar tahunya orang lain, adanya kaisar amat segan dan tunduk kepada thio-thaikam ialah karena pembesar kebiri ini mempunyai hubungan erat dengan pemerintah Turki barat yang disebut Bangsa Shalo.

Thio thaikam merupakan sekutu dari pemerintah ini yang mengadakan hubungan baik dengan kaisar.

Maka, mengingat akan kelemahan sendiri, terpaksa kaisar selalu menuruti kehendak Thio-thaikam sehingga boleh dibilang kaisar telah menjadi boneka yang digerakkan oleh thio-thaikam!.

Pangeran Song sendiri tidak tahu akan persoalan dengan Kerajaan Shato itu.

Dia hanya menceritakan betapa koksu itulah yang sesungguhnya mengatur segala ketetapan pajak dan lain-lain.

Mendengar akan keadaan di istana itu, betapa kaisar seperti boneka yang digerakkan oleh seorang pembesar kebiri, Bun Hong merasa marah sekali.

Kini tahulah dia siapa orangnya yang harus ditentangnya, siapa yang menjadi biang keladi kesengsaraan rakyat itu.

Dia harus dapat menentang dan kalau mungkin membunuh Thio-thaikam!.

Dengan mata berapi dia mengepal tinju dan berkata.

"Kalau begitu, biarlah saya pergi memenggal leher keparat itu!"

Pucatlah wajah Pangeran Song mendengar ucapan ini. Setelah memandang ke kanan kiri dan mendapat kenyataan bahwa ucapan pemuda itu tadi tidak terdengar oleh orang lain, baru legalah hatinya.

"Tan-sicu, harap kau jangan terlalu ceroboh mengucapkan kata-kata seperti itu. Ketahuilah bahwa pengaruh Thio-thaikam besar sekali sehingga boleh dibilang di setiap tempat terdapat kaki tangannya. Berlaku hati-hati, sicu, dan kalau bisa, buanglah jauh-jauh niatmu itu. Maksud hatimu itu kalau dilaksanakan sukarnya melebihi kalau engkau hendak mencari buah sian-tho di taman sorga! Selain penjagaan yang mengawal diri Thio-thaikam amat kuat sekali, juga rumah gedung Thio-thaikam penuh dengan perwira yang berilmu tinggi. Sebelum kau melewati pintu pertama, kau tentu sudah akan tertangkap atau terbunuh."

Pangeran Song sengaja mengeluarkan kata-kata ini untuk memanaskan hati pendekar muda itu, karena sesungguhnya, tidak ada kegembiraan yang lebih besar baginya selain mendengar bahwa pada suatu hari pembesar kebiri yang dibencinya itu akan mati dibunuh orang!.

"Terima kasih, taijin. Tentu saja saya akan berlaku hati-hati sekali. Sebenarnya saya hanya menjalankan tugas sebagai seorang yang menjunjung tinggi keadilan, karena mengandalkan bantuan pembesar-pembesar lain, agaknya tidak akan ada gunanya karena semua pembesar agaknya lebih mementingkan kesenangan mereka sendiri dari pada memperhatikan penderitaan rakyat jelata."

Merah wajah Pangeran Song mendengar ini.

"Orang muda, hendaknya jangan engkau terlalu memandang rendah kepada kami. Terus terang saja, pernah aku mengajukan protes dan minta pengurangan tentang pemungutan pajak ini, akan tetapi apa hasilnya? Hampir saja aku mendapat bencana dari Thio-thaikam kalau aku tidak mempergunakan banyak sekali uang emas untuk menyenangkan hatinya. Kalau tidak ada dia dan para thaikam lain yang semua menjadi kaki tangannya, orang-orang seperti aku ini tidak akan membiarkan rakyat tercekik, dan kami pasti akan mengajukan surat permohonan kepada kaisar agar peraturan itu dirubah."

Berseri wajah Bun Hong mendengar ini.

"Kalau begitu, ijinkanlah saya mengundurkan diri, taijin, dan dengarkanlah saja, tidak lama lagi thaikam keparat itu tentu takkan berada di samping kaisar lagi!"

Pangeran Song berdiri dan mengantar tamunya keluar.

"Terserah kepadamu saja, Tan-sicu, akan tetapi ingat bahwa aku tidak ikut-ikut dalam urusan ini, dan ingatlah bahwa aku telah memperingatkanmu akan bahayanya niatmu itu. Betapapun juga, setiap saat engkau memerlukan bantuan, asalkan tidak berada di luar kemampuanku, pasti aku akan membantui mu."

"Terima kasih, taijin, akan saya ingat janji itu dan ternyata taijin adalah seorang pembesar yang amat bijaksana dan hanya melaksanakan tugasnya sebaik mungkin. Sudah dua orang pembesar yang kujumpai, pertama adalah Yap tihu dari An-kian dan ke dua adalah taijin sendiri. Selamat tinggal."

Setelah pertemuannya dengan Pangeran Song, bangkit lagi jiwa kependekaran di dalam diri Bun Hong.

Dia merasa girang sekali bahwa akhirnya dia bisa mendapat tahu siapa biang keladi yang menelurkan peraturan pajak yang demikian mencekik leher rakyat itu Akhirnya dia akan dapat melakukan perbuatan menggemparkan yang gagah perkasa sebagaimana yang diidamkan oleh suhunya.

Dia tidak akan merasa kalah terhadap suhengnya kalau ita berhasil.

Kalau dia berhasil membunuh thaikam itu, kemudian dengan bantuan Pangeran Song dan para pembesar lain dapat memperingan peraturan pajak itu, berarti bahwa dia telah dapat menolong jiwa puluhan ribu atau ratusan ribu rakyat kecil yang miskin.

Dan untuk usaha seperti itu, biarpun harus mengorbankan nyawa, ia akan rela!

Istana Thio thaikam menyambung dengan istana kaisar dan letaknya di sebelah belakang istana kaisar itu Istana thaikam ini tinggi dan besar, megah sekali, dikelilingi tembok yang tebal dan tinggi pula.

Di setiap pintu gerbangnya terdapat penjaga-penjaga yang siang malam menjaga dengan tertib dan keras.

Bun Hong menyelidiki tempat itu di waktu siangnya, berjalan-jalan dan seakan-akan mengagumi keindahan gedung itu dari luar.

Karena di jalan di luar istana itu banyak pula orang yang datang dari luar kota raja dan mengagumi istana itu, maka penyelidikannya itu dak menimbulkan kecurigaan.

Setelah berjalan nengelilingi istana itu, maklumlah Bun Hong bahwa untuk dapat masuk ke dalam istana melalui pintu gerbang adalah hal yang tidak mungkin.

Dengan jalan melompati pagar tembok juga amat sukar sekali karena tembok itu tinggi bukan main dan di atasnya dipasangi tombak-tombak runcing yang menghalangi setiap orang yang hendak meloncat dari bawah.

Selain itu, di atas tembok-tembok yang tinggi itu dipasangi lampu-lampu penerangan kalau malam sehingga tempat itu dapat dilihat oleh para penjaga di pintu gerbang.

Akan tetapi, Bun Hong tidak menjadi putus asa dan beberapa kali dia mengelilingi pagar tembok itu, mencari-cari bagian yang lemah dan yang sekiranya dapat membantunya memasuki istana thaikam itu.

Malam itu gelap gulita.

Tidak ada sedikitpun bulan di malam itu.

Bahkan bintang-bintang yang memenuhi angkasa kinipun tidak kelihatan karena tertutup mendung yang tipis namun rata dan luas itu.

Di dalam lindungan kegelapan malam ini, Bun Hong menyelinap dengan amat gesitnya mendekati pagar tembok yang mengelilingi istana Thio-thaikam.

Tadi siang dia telah menyelidiki dengan seksama dan telah menemukan jalan yang dianggapnya akan dapat menolongnya masuk ke lingkungan istana tanpa diketahui penjaga.

Di ujung barat terdapat sebagian tembok yang gelap oleh karena di dekat tempat itu terdapat sebatang pohon yang besar.

Daun-daun pohon inilah yang menghalangi sinar penerangan dan bayangannya menggelapkan sebagian dari tembok itu.

Sudah direncanakan semenjak siang hari tadi bagaimana dia harus memasuki istana.

Dengan amat hati-hati Bun Hong melompat dan bersembunyi di belakang batang pohon yang besar itu sambil mengintai ke arah pintu gerbang yang berada tidak jauh dari situ Dilihatnya bayangan beberapa orang penjaga berdiri dan berjalan hilir-mudik dengan tombak di tangan.

Setelah dilihatnya penjaga penjaga itu berjalan menuju ke timur sehingga agak menjauhi pohon, secepat monyet bergerak, dia memanjat pohon itu dan sebentar saja dia sudahi berada di atas cabang pohon, bersembunyi di balik daun-daun pohon yang lebat dan mengintai pula.

Dia tadi tidak meloncat karena kalau dia meloncat, setidaknya dia tentu akan menimbulkan goyangan pada cabang pohon.

Dengan memanjat dia dapat bergerak lebih hati-hati dan tidak menimbulkan guncangan-guncangan.

Bun Hong menanti beberapa saat lamanya karena para penjaga itu kini sudah membalikkan tubuh lagi dan berjalan kembali ke arah barat sampai di dekat pohon.

Dia mendengar mereka bercakap-cakap perlahan kemudian membalikkan tubuh dan berjalan kembali ke timur.

Kesempatan ini dipergunakan nya untuk melontarkan sehelai tali ke atas, dan tali itu mengait ujung tombak yang berada di atas pagar tembok.

Kemudian dengan cekatan sekali dia mengayun tubuhnya ke atas sambil berpegang kepada tali itu dan dapat hinggap di atas tombak-tombak itu seperti seekor burung saja.

Orang yang tidak memiliki ginkang yang hebat jangan mencoba-coba untuk meloncat ke atas ujung tombak-tombak yang runcing itu!.

Bun Hong segera menyelinap dan berjongkok di belakang barisan tombak sambil mengintai ke bawah.

Para penjaga itu masih jauh dan tidak ada yang melihat lompatannya tadi.

Sebetulnya, ia sama sekali tidak takut menghadapi beberapa orang penjaga itu.

Akan tetapi kalau sampai dia ketahuan, biarpun dia akan sanggup merobohkan mereka dengan mudah, akan tetapi kalau mereka berteriak membual gaduh, tentu para pengawal dan para perwira yang berada di dalam gedung itu akan mende ngar dan mereka akan keluar semua sehingga sebelum dia berhasil memasuki istana, dia akan mengalami pengeroyokan hebat yang berarti menggagalkan usahanya.

Dengan hati-hati Bun Hong mengikatkan ujung tali kuat-kuat pada sebatang tombak besi dan melemparkan tali itu bergantungan ke bawah, di sebelah dalam tembok.

Setelah melihat bahwa keadaan di sebelah dalam tembok itupun gelap dan sunyi, dia lalu merayap turun melalui tali yang panjang itu ke sebelah dalam.

Begitu kakinya menyentuh tanah, dia berjongkok di dalam bayangan tembok yang gelap, lalu bergerak maju dengan cepat setelah dia memeriksa untuk mengenal tempat di mana talinya bergantung itu.

Dengan sepasang mata terbuka lebar penuh kewaspadaan, juga telinganya mendengar kan setiap suara, seluruh urat syarafnya menegang dalam keadaan siap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi.

Dia berada di daerah musuh, tempat yang amat berbahaya.

Akan tetapi tugasnya amat penting dan mulia, tugas seorang pendekar, seorang pembela kebenaran dan keadilan demi untuk menolong rakyat jelata!

Pikiran ni menenangkan hatinya, mendatangkan ketabahan luar biasa.

Benar sebagaimana yang dikatakan oleh pangeran Song, penjagaan di istana itu kuat sekali dan di mana-mana dipasangi teng atau lampu penerangan yang menerangi seluruh tempat.

Di mana-mana terdapat penjaga yang suaranya dapat didengarnya ketika mereka itu bercakap-cakap.

Bun Hong merasa gemas juga.

Jalan yang menghubungkan pekarangan belakang di mana dia berada dengan kompleks istana itu melalui sebuah pintu saja, sebuah pintu tembusan tanpa daun pintu yang nampak sunyi.

Akan tetapi di atas pintu tembusan terdapat sebuah lentera besar yang bernyala terang sehingga kalau dia berlari di bawahnya tentu dia akan terlihat oleh para penjaga yang terdapat di sekitar tempat itu.

Untuk melompat naik ke atas genteng, terlalu banyak resikonya karena dia masih berada di luar halaman gedung pertama sehingga dia akan mudah terlihat dari luar.

Bun Hong bersembunyi di balik semak-semak sambil memutar otak mencari akal, kemudian wajahnya berseri dan dia lalu memilih sebuah batu kerikil yang bundar dan ditimang-timangnya batu kecil itu di dalam tangan kanannya.

Kemudian dia menahan napas, memusatkan panca inderanya dan dilontarkannya batu kecil itu ke arah lentera.

Bidikannya tepat.

Batu kecil itu dilontarkan melalui atas lentera dan tepat sekali masuk ke dalam lentera melalui lubang di atasnya dan batu itu tepat jatuh menimpa sumbu lampu sehingga sumbu yang bernyala itu seketika menjadi padam ketika tertutup batu.

Cepat sekali Bun Hong mempergunakan kesempatan selagi keadaan menjadi gelap pekat itu untuk berlari, mempergunakan ginkangnya dan dengan ilmu berlari cepat dia berkelebat memasuki pintu.

Baiknya dia berlaku cepat sekali karena segera dia mendengar suara orang berkata.

"Leng ko, lentera di atas pintu kiri itu padam."

"Ah, mungkin kehabisan minyak!"

"Baru kemarin diisi lagi! "

"Kalau begitu tentu sumbunya minta diganti atau tertiup angin. Biarlah, tempat itu sudah cukup mendapat penerangan dari lentera lain."

Jawab orang ke dua yang dari suaranya terdengar bahwa dia sedang merasa malas.

Bun Hong tidak memperdulikan semua itu dan dia cepat menuju dekat gedung, kemudian dia mengenjot tubuhnya ke atas genteng.

Tubuhnya melayang dengan ringannya dan kedua kakinya tidak mengeluarkan suara ketika dia menginjak genteng karena dia tadi telah mempergunakan ilmunya meringankan tubuh ketika meloncat.

Untuk beberapa lama dia mendekam di belakang wuwungan yang gelap, memandang ke kanan kiri.

Ternyata keadaan di atas istana itu sunyi sekali, maka dia lalu bergerak maju dengan perlahan dan hati-hati, menyusuri bagian atas genteng yang gelap.

Dia mulai menjadi bingung karena bangunan itu besar sekali sehingga dia tidak tahu harus menyelidiki bagian mana.

Akhirnya dia melompat saja ke atas genteng dari bangunan yang paling tinggi karena di bawah genteng itu kelihatan yang paling terang!

Dengan amat hati-hati dia membuka genteng di bagian ini dan mengintai ke bawah.

Ruangan di bawah itu luas dan diterangi oleh beberapa buah lampu besar sehingga keadaannya terang sekali.

Ruangan yang selain luas juga amat mewah, dengan perabot-perabot rumah yang bahkan lebih mewah daripada yang dia lihat di dalam istana Pangeran Song.

Bun Hong memandang dengan teliti dan melihat bahwa ada beberapa orang laki-laki duduk mengelilingi sebuah meja besar sambil bercakap-cakap dan makan minum.

Empat orang laki-laki yang berpakaian seperti pembesar-pembesar duduk bercakap-cakap dengan dua orang yang mukanya agak kehitaman dan hidungnya mancung sekali, pakaiannyapun aneh menandakan bahwa mereka adalah orang-orang asing.

Ketika melihat kepala mereka mengenakan sorban, Bun Hong dapat menduga bahwa mereka tentulah orang-orang dari barat.

Dia pernah melihat beberapa orang dari Nepal, India dan Turki di kota raja.

Di sudut duduk tiga orang yang berpakaian seperti panglima atau perwira pengawal.

Bun Hong menjadi bingung lagi.

Dia tidak tahu yang mana di antara mereka adalah Thio-thaikam orang yang dicarinya itu, bahkan dia tidak tahu apakah di antara mereka terdapat orang itu.

Maka dia menjadi ragu ragu dan hanya mengintai sambil mendengarkan percakapan mereka.

Memang dia sudah memperoleh keterangan dan gambaran dari Pangerar Song tentang thraikam itu, akan tetapi karena empat orang itu semua berpakaian pembesar, maka dilihat dari atas, muka mereka itu hampir sama.

Hanya ada seorang di antara merek berempat yang tubuhnya agak gemuk dan mukanya merah dan yang inilah menurut persangkaannya tentu Thio-thaikan.

Hanya dia harus berlaku hati-hati dan yakin dulu sebelum turun tangan dan menyerang orang yang lain dari pada yang dicarinya.

Hatinya girang bukan main ketika dia melhat seorang di antara dua orang asing itu berkata dalam Bahasa Han yang kaku sambil mengangguk kepada pembesar gemuk bermuka merah itu.

"Pendapat Thio-taijin benar sekali dan kami merasa setuju sepenuhnya!" . Kini yakinlah hati Bun Hong bahwa pembesar gemuk bermuka merah itu adalah orang yang dicari-carinya. Dengan dada berdebar tegang dia lalu mencabut keluar pisau belati yang sudah dipersiapkan sebelumnya, lalu dia nengeluarkan pula sehelai kertas putih yang sudah ditulisnya dengan huruf-huruf besar". PEMBESAR LALIM PEMERAS RAKYAT HARUS MATI DI UJUNG PEDANG. Kertas itu ditusuknya dengan pisau tadi dan dipegangnya dengan tangan kiri. Kemudian tangan kanannya mencabut pedangnya dan dengan cepat dia menyabetkan pedang itu ke arah genteng beberapa kali sehingga terdengar suara hiruk pikuk dan terbukalah lubang yang cukup besar.

"Pembesar laknat rasakanlah pembalasan rakyat tertindas!"

Teriaknya sambil melompat turun melalui lubang itu dengan gerakan liong-jip-hai (Naga Hitam Masuk ke Laut).

Ketika Bun Hong menggunakan pedangnya membuat lubang di atap itu, orang-orang yang berada di sebelah bawah sudah merasa terkejut dan heran.

Kini melihat seorang pemuda berpakaian hitam yang memakai saputangan menutupi muka dari bawah mata ke bawah, melompat atau melayang turun dari atas dengan kecepatan seperti burung terbang dan membawa pedang di tangan, mereka menjadi makin kaget.

Bun Hong memang lebih dulu menutupi mukanya dengan saputangan sebelum dia melompat turun tadi untuk menjaga agar dia jangan di kenal orang andaikata usahanya gagal.

Tiga orang perwira yang tadi duduk di sudut segera mencabut senjata masing-masing, bahkan dua orang asing yang duduk di situ juga mencabut golok mereka yang bentuknya lengkung dan lebar.

Ketika tubuh Bun Hong sudah tiba dibawah tiga orang perwira dan dua orang asing itu menerjangnya sambil memutar senjata mereka, Seorang perwira berseru keras, ''Bangsat kecil engkau mengantar kematianmu sendiri."

Bun Hong tidak gentar menghadapi mereka dan dia segera menggerakkan pedangnya dengan hebat.

Akan tetapi, kagetlah dia ketika para lawannya itu menangkis dan dia mendapatkan nyataan bahwa tenaga para lawannya itu besar sekali dan gerakan mereka juga cepat dan dahsyat.

tanda bahwa mereka itu memiliki kepandaian tinggi.

Dia tidak tahu bahwa perwira-perwira itu memang jagoan-jagoan di situ dan dua orang asing itu adalah panglima-panglima Turki yang menjadi utusan dan tentu saja memiliki kepandaian yang hebat pula.

Namun Bun Hong tidak menjadi takut.

Dia mengamuk dan memutar pedangnya sehingga pedangnya berubah menjadi segulung sinar yang menyilaukan mata tertimpa sinar lampu, dan dia sudah menghadapi lima orang lawan itu dengan nekat.

Yang paling lihai di antara mereka adalah perwira yang tinggi kurus.

Ilmu golok perwira ini luar biasa lihainya sehingga setelah bertenpur beberapa belas jurus saja Bun Hong maklum bahwa amat sukarlah bagi dia untuk dapat menangkan lima orang ini yang mengeroyoknya.

Maka dia lalu mengeluarkan bentakan nyaring, pedangnya berkelebatan mendesak lima orang pengeroyoknya dan tangan kirinya bergerak, mengayun pisau itu ke arah pembesar gemuk bermuka merah tadi.

"Syuuuuttt....... cappp!"

Pembesar gemuk itu menjerit dan mendekap pundak kanan yang tertancap pisau itu dengan tangan kirinya.

Ketika tadi ada sinar menyambar ke dadanya, ia berusaha mengelak, namun kurang cepat sehingga pisau itu masih menancap di pundak kanannya.

Pembesar itu terhuyung ke belakang, merobek kertas yang berada di pisau itu, membaca tulisannya dan mukanya menjadi makin merah.

"Pemberontak hina! Tangkap penjahat kurang ajar ini! Tangkap dia hidup-hidup, jangan lepaskan dia!"

Dia berteriak-teriak dan bersama tjga orang pembesar lain dia lalu lari melalui sebuah pintu.

Menghilangnya pembesar-pembesar itu di susul dengan munculnya banyak pengawal yang mengurung tempat itu!

Pembesar yang bertubuh gemuk bermuka merah itu memang benar Thio-thaikam adanya, dan tiga pembesar lainnya adalah juga thaikam-thaikam yang menduduki tempat penting dan menjadi kaki tangannya.

mereka sedang menerima utusan-utusan dari Turki itu menjamunya sambil bercakap-cakap ketika Bun Hong datang menyerbu.

Bun Hong segera dikurung rapat-rapat.

Ketika melihat betapa beberapa perwira datang lagi mengurungnya, dia menjadi gelisah dan putus asa.

Usahanya gagal sama sekali bahkan sambitannya tadi hanya melukai pundak pembesar itu.

Untuk menghadapi lima orang lawan pertama ini saja dia sudah merasa kewalahan, apa lagi kalau ditambah lebih banyak lagi.

Kini dia mendapat kenyataan bahwa keterangan Pangeran Song bahwa di situ banyak terdapat perwira lihai memang benar adanya.

Dia menjadi marah dan sambil mengeluarkan teriaka n dahsyat dia memutar pedangnya dan mainkan jurus jurus ilmu Pedang Kwi-hoa Kiam hoat yang amat lihai itu.

Bun Hong memang memiliki ginkang yang baik sekali dan kegesitannya berkat ginkangnya ini banyak menolongnya dalam pertempuran yang berat sebelah itu.

Dia dapat mengelak lincah dan selalu berlompatan ke sana-sini sehingga sukarlah bagi para lawannya untuk dapat mengurungnya.Untung baginya ruangan itu luas sekali.

Dia menggunakan tiang-tiang batu yang banyak terdapat di ruangan itu untuk berlindung, lari ke tiang sana melompat ke belakang tiang sini, dan selalu mencari kesempatan untuk melarikan diri.

Kalau ada seorang lawan yang berani mendekatinya, ia cepat mendesaknya dengan gerakan-gerakan kilat sehingga dengan cara demikian, dia dapat terlepas dari kepungan dan berhasil merobohkan lima orang pengeroyok yang kurang tinggi kepandaiannya.

Dengan siasat seperti ini.

karena kelincahannya dan ilmu pedangnya yang tinggi tingkatnya sehingga kalau hanya menghadapi mereka seorang lawan seorang atau paling banyak tiga orang saja dia takkan kalah, maka semua lawan yang mengeroyoknya!

menjadi gemas dan kewalahan juga.

"Panggil bala bantuan, kepung tempat ini! Jangan biarkan anjing itu melepaskan diri! "

Terdengar bentakan Thio-thaikam yang sidah dibalut luka di pundaknya dan kini menonton dari jauh dengan kawalan ketat.

Bun Hong maklum bahwa keadaannya yang dia sadari berbahaya itu akan bertambah celaka kalau bala bantuan didatangkan pula.

Apa lagi tempat itu dikepung ketat, maka akari lenyaplah harapan untuk meloloskan diri.

Maka saatnya untuk meloloskan diri adalah sekarang ini.

"Awas pisau!!"

Teriaknya.

Lima orang yang mengeroyoknya dibantu oleh pendatang pendatang baru yang sudah banyak yang roboh itu tadi telah melihat betapa lihainya pemuda ini menyambit dengan pisau sehingga melukai Thio-taijin.

maka gertakan itu membuat mereka berlaku hati-hati dan melompat mundur menjauhi agar jangan menjadi sasaran pisau yang disambilkan dari jarak terlalu dekat.

Akan tetapi, Bun Hong hanya menggertak belaka dan dia mempergunakan kesempatan selagi mereka meloncat ke belakang itu untuk cepat berlari keluar dari ruangan itu, merobohkan empat orang pengawal yang mencoba untuk menghadangnya di pintu, kemudian setelah tiba di luar dia cepat mengayun tubuhnya meloncat naik ke atas genteng.

Para pengeroyoknya dan beberapa orang perwira lain yang sudah datang mengejar, juga berloncatan naik ke atas genteng, terus mengejarnya.

Bun Hong mengerahkan tenaganya untuk berlari secepat mungkin, akan tetapi ke nanakah dia harus lari?

Tempat di sekitar istana itu dikelilingi tembok tinggi dan apabila dia lari ke tembok di mana tergantung talinya tadi, sebelum dia dapat memanjat naik, tentu dia akan lebih dulu dapat disusul.

Maka dia lalu berlari ke jurusan lain agar para pengejarnya tidak melihat tali yang masih tergantung di sebelah dalam tembok tadi.

Sambil berlari dia mencari akal.

Dia teringat bahwa para penjaga di sebelah dalam dan luar tembok memakai semacam mantel berwarna biru panjang dan memakai sebuah topi yang khas.

Ia mendapat akal baik dan ketika mendengar teriakan-teriakan para pengejarnya dari belakang, dia lalu melompat ke kanan dan segera turun dari atas genteng.

Akan tetapi, di bawahpun sudah banyak terdapat penjaga-penjaga yang ketika melihat dia melompat turun segera mengeroyoknya sambil berteriak-teriak.

Dengan mudah Bun Hong merobohkan beberapa orang pengeroyok yang terdiri dari penjaga-penjaga biasa itu Akan tetapi para perwira yang tadi mengejarnya telah sampai pula ke tempat itu dan mereka menyerbu sambil berseru.

"Kurung dan tangkap dia hidup hidup ini perintah Thio-taijin!". Perintah ini menguntungkan Bun Hong. Nafsu Thio-thaikam yang ingin melihat dirinya tertangkap hidup-hidup, memeriksanya dan menyiksanya agar mengaku siapa yang menyuruhnya, telah menyelamatkan nyawa Bun Hong!. Kalau semua pengeroyok itu mengarah nyawanya dan mengeroyoknya mati matian, agaknya dia tidak mungkin akan dapat mempertahankan dirinya lagi. Akan tetapi oleh karena mereka hanya berusaha merampas pedangnya, berusaha menangkapnya, maka sampai sekian lamanya Bun Hong masih dapat melawan dengan baik. bahkan telah banyak pengeroyok yang kepandaiannya tidak tinggi, roboh dan menjadi korban amukan pedangnya. Di antara para perwira pelindung Thio-thaikam. yang merupakan pengawal-pengawal pribadinya terdapat tiga orang yang amat terkenal sebagai orang-orang yang sakti dan memiliki ilmu silat amat tinggi. Orang pertama adalah seorang pendeta tosu yang telah berhasil di "beli"-nya. Tosu ini bernama Tek Po Tosu, seorang tokoh dari kun-lun-san yang lihai sekali ilmu silatnya, terutama sekali permainan siang-kiam (sepasang pedang) dan tenaga sinkangnya juga amat kuat. Tosu ini merupakan pelindung dan penasihatnya, menjadi pengawalnya yang nomor satu dan mendapatkan tempat dalam sebuah kamar besar di istana pembesar itu. Orang ke dua adalah seorang panglima pengawal bertubuh tinggi besar bernama Bong Kak Im, seorang ahli silai yang keahliannya bermain senjata kampak yang besar dan tajam mengerikan. Senjata ini adalah sepasang kampak, dimainkan dengan gerakan cepat, aneh, dan didorong oleh tenaga otot yang amat kuat sehingga sukarlah mengalahkan sepasang kampak di tangan Bong Kak Im ini. Adapun orang ke tiga adalah Bong Kak Liong, juga seorang perwira dan dia ini adalah adik kandung dari Bong Kak Im. Bong Kak Liong pandai sekali bermain golok tunggal. Pada saat terjadi penyerbuan yang dilakukan oleh Bun Hong itu, kebetulan sekali Tek Po Tosu dan Bong Kak Im tidak berada di dalam istana, sedang menjalankan tugas ke luar kota, menjadi utusan Thio thaikam. Hal ini tentu saja amat menguntungkan Bun Hong oleh karena apabila seorang di antara dua orang tokoh itu berada di istana, tentu dia akan dapat dirobohkan dan ditangkap dengan mudah. Kini yang menyerangnya dengan hebat hanyalah Bong kak Liong, perwira tinggi kurus yang memainkan golok secara luar biasa sekali itu. Di antara semua pengeroyoknya, hanya perwira tinggi kurus ini saja yang merepotkan Bun Hong, karena gerakan goloknya memang dahsyat sekali dan pemuda itu terpaksa mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untak menjaga diri. Kalau dia bertanding melawan Bong Kak Liong seorang saja, belum tentu dia akan kalah, akan tetapi oleh karena perwira yang tangguh ini dibantu oleh banyak perwira yang rata-rata memiliki kepandaian yang cukup tinggi, maka keadaan Bun Hong benar-benar terjepit. Namun dia masih berhasil mempertahanlan dirinya dan dia tidak pernah mau melepaskan saputangan yang menyembunyikan mukanya. Melihat betapa amat sukarnya menangkap pemuda ini, Bong Kak Liong menjadi marah bukan main. Marah, penasaran dan juga malu! Dia disohorkan orang sebagai jagoan nomor tiga di istana Thio-thaikam. seorang jagoan yang disegani, akan tetapi sekarang, dibantu oleh puluhan orang anak buahnya, dia masih belum juga dapat merobohkan seorang pengacau muda! Kalau tidak ada pesan keras dari Thio-thaikam agar jangan membunuh pemuda ini melainkan menangkapnya hidup-hidup, tentu sudah dibunuhnya pemuda ini!. Bun Hong sudah merasa lelah, maka diapun berlaku nekat. Dia harus merobohkan dulu perwira kurus yang memegang golok ini. Kalau tidak demikian, agaknya tak mungkin dia akan dapat lolos! Maka sambil mengerahkan tenaganya, tiba-tiba Bun Hong menubruk ke arah perwira itu, menyerangnya dengan cepat . Perwira kurus itu mengeluarkan bentakan nyaring dan mengerahkan sinkangnya, menggerakkan goloknya untuk menangkis dengan sekeras-kerasnya, dibarengi dengan sambaran kakinya yang melakukan tendangan Soan-hong-twi, yaitu tendangan angin berputaran yang amat berbahaya bagi lawan. Bun Hong terkejut bukan main karena selain tangkisan golok dan tendangan itu, pada saat yang sama dua batang pedang perwira lain sudah menyambar ke arah kedua kakinya! Ternyata bahwa fihak lawan kini menggunakan siasat lain, biarpun tidak membunuhnya namun bertekad mati-matian untuk menangkapnya kalau perlu merobohkan dan melukainya asal tdak membunuhnya. Dengan lompatan kilat Bun Hong dapat menghindarkan diri dari tendangan Soan-hong-wi dan bacokan pedang pada kakinya, akan tetapi tangkisan golok yang amat keras itu membuat pedangnya terlempar dari pegangannya!. Ternyata bahwa karena bertempur terlalu lama dan dia sudah lelah sekali menghadapi sekian banyaknya pengeroyok, telapak tangan Bun Hong mengeluarkan keringat sehingga gagang pedangnya menjadi basah dan licin. Ketika pedang itu terlempar, Bun Hong masih menghadapi tendangan Soan-hong-twi yang masih dilanjutkan. Tendangan ini memang merupakan tendangan berantai, yang dilakukan dengan kedua kaki yang susul-menyusul, makin lama makin cepat! Bun Hong tahu apa yang harus dilakukannya. Cepat dia menggerakkan tubuhnya dalam gerakan atau langkah yang dinamakan Jiauw pouw poan-soan, yaitu bertindak berputar-putar dengan gesitnya menghindarkan diri dari tendangan-tendangan lawan yang bertubi tubi itu. Gerakannya cepat dan indah sehingga perwira tinggi kurus itu mengeluarkan seruan kagum. Bun Hong makin lelah. Tahulah dia bahwa kalau dia terus mengadakan perlawanan, akhirnya dia akan roboh tertawan, kehabisan tenaga. Maka kini dia mengeluarkan suara melengking nyaring dan ketika seorang pengawal menyerangnya dengan tusukan tombak, dia menangkap tombak ini. menariknya kuat-kuat dan berhasil menangkap pengawal itu. Diangkatnya tubuh pengawal itu dan diputar-putarnya sebagai perisai! Tentu saja para pengeroyoknya cepat menarik kembali senjata mereka agar tidak melukai kawan sendiri. Kesempatan ini dipergunakan oleh Bun Hong untuk mundur dan dia lalu melemparkan tubuh pengawal itu ke arah para pengeroyoknya. Setelah itu, dia lalu melompat naik ke atas genteng pula, yang segera dikejar oleh para perwira, dipimpin oleh Bong Kak Liong. Kembali terjadi kejar-kejaran diatas genteng dan Bun Hong merasa makin lelah. Dengan cepat Bun Hong menuju ke sebelah istana sambil memutar otak dengan cepat ia mencari akal. Ketika melihat penjaga yang bermantel biru dan bertopi lebar berkumpul dan berjaga-jaga di situ, di bawah genteng kemudian berteriak-teriak memandang kepadanya, dia melompat turun di tengah-tengah mereka! Tentu saja para penjaga itu menjadi terkejut dan gempar. Bun Hong menggunakan kaki tangannya dan beberapa orang penjaga roboh terjungkal. Tadinya dia berniat merampas sebatang pedang, akan tetapi tiba-tiba dia teringat akan akal yang hendak dipergunakannya, maka dia lalu menangkap seorang penjaga, menotok jalan darah sehingga tubuh penjaga itu menjadi lemas!. Dia memutar-mutar tubuh penjaga itu membuka jalan, kemudian segera berlari menuju ke bagian barat dari istana itu. Sambil berlari tangan kirinya mengambil beberapa buah batu dan ketika lewat di bawah lentera-lentera, dia menyambiti sehingga kaca lentera-lentera itu pecah dan apinya padam. Keadaan menjadi agak gelap dan cepat dia menyeret tubuh penjaga itu ketempat gelap, melepaskan mantel birunya dan topi-penjaga, dan segera memakai mantel dan topi itu. Dengan penyamaran ini, dia lalu berlari lagi menuju ke tembok di mana tadi dia meninggalkan talinya yang masih bergantung. Dia bernapas lega ketika melihat bahwa talinya masih berada di tempat tadi. Maka cepat di melompat dan memanjat tali itu naik ke atas . Pada saat itu, para perwira yang mengejar dan mencari-carinya tiba di tempat itu. dm ketika mereka melihat seorang penjaga memanjat tali, mereka berteriak-teriak.

"Haii Ke mana larinya bangsat itu?"

Bun Hong tidak menjawab, bahkan memanjat makin cepat ke atas. Seorang perwira memegang tali itu dan menggoyang-goyangnya sehingga tubuh Bun Hong ikut pula tergoyang-goyang.

"Heiii! Kau tahu ke mana larinya penjahat tadi?"

Teriak perwira itu. Pada saat itu tubuh Bun Hong sudah sampai di atas tembok tinggal beberapa kaki saja dari tombak yang terpasang di atas tembok, maka dia memberanikan hatinya dan menjawab.

"Dia lari melalui tali ini! Aku akan mengejarnya!"

Untung sekali bahwa tempat itu agak gelap, tertutup oleh bayangan pohon yang menjulang tinggi di luar tembok, maka orang-orang di bawah tidak melihat bahwa pakaian orang di atas itu berbeda dengan pakaian penjaga, perbedaan yang tidak begitu kentara karena selain gelap juga tertutup oleh mantel berwarna biru dan topi yang lebar itu.

Para perwira lalu menyerbu ke arah pintu gerbang, hendak mencari penjahat itu di luar tembok.

Sementara itu, Bun Hong sudah sampai di atas tembok dan cepat dia melompat ke cabang pohon, karena untuk menggunakan tali, hanya membuang-buang waktu saja.

Gerak cepatnya mendatangkan kecurigaan kepada para perwira.

Bong Kak Liong yang melihat gerakan itu, tahu bahwa mereka telah tertipu oleh karena tidak mungkin ada seorang penjaga biasa yang memiliki ginkang sehebat itu!.

"Kejar!"

Serunya sambil lari ke arah pintu gerbang.

"Dialah penjahatnya!"

Ketika rombongan perwira itu keluar dari pintu gerbang, Bun Hong telah berhasil melompat turun dari pohon dan setelah membuang mantel dan topi pinjaman itu, dia lalu melarikan diri secepatnya.

Para perwira tetap mengejarnya, dan ketika Bun Hong melompot naik ke atas genteng rumah-rumah di kota raja itu, para perwira yang dikepalai oleh Bong Kak Liong juga melompat naik dan terus mengejarnya.

Pada waktu itu, mendung telah tertiup angin dan membuka langit di atas kota raja.

Bintang-bintang memenuhi angkasa sehingga mendatangkan cahaya yang remang-renang.

Dengan adanya cahaya bintang-bintang ini, bayangan Bun Hong dapat terlihat menghitam di atas genteng-genteng rumah, memudahkan para perwira untuk mencari dan mengikuti jejaknya, Bun Hong menjadi gelisah sekali.

Biarpun dia telah dapat meninggalkan para pengejarnya agak jauh di belakang, namun dia telah merasa lelah sekali.

Kedua kakinya telah menjadi lemas dan kini dia tidak bersenjata lagi.

Kalau dia kembali ke hotelnya, tentu mereka akan mengejar ke sana, dan semua hotel tentu akan diperiksa.

Berlari keluar kota raja tidak mungkin karena semua penjaga pintu gerbang tentu telah mendapat perintah untuk memperketat penjagaan!

Tidak ada tempat persembunyian yang baik baginya di kota raja dan kemanapun dia bersembunyi, akhirnya pasti akan tertangkap juga sebelum dia sempat keluar dari kota raja.

Memang benar bahwa para perwira itu tidak ada yang pernah melihat wajahnya yang sejak tadi tertutup saputangan, akan tetapi dia adalah seorang asing di kota raja, kalau bertemu dengan mereka tentu akan di curigai dan akhirnya ketahuan juga.

Betapapun juga, dia harus dapat bersembunyi dan beristirahat.

Kalau tenaganya sudah pulih, kalau dia sudah dalam keadaan siap lagi dia tak takut menghadapi apapun juga.Dia akan melawan mati-matian.

Akan tetapi sekarang, dia telah kehabisan tenaga.

Dalam berlari-lari dengan tenaga terakhir ini, tak terasa lagi dia tiba di atas genteng rumah gedung atau istana Pangeran Song Hai Ling!

Tiba-tiba timbul sebuah pikiran di otak nya.

Pangeran itu adalah seorang yang baik hati dan juga mempunyai pengaruh besar.

Mengapa dia tidak menggunakan kesempatan ini untuk minta perlindungan kepadanya?

Bukankah pangeran itu pernah menyatakan bahwa dia bersedia membantunya?

Tanpa berpikir panjang lagi karena dia sudah hampir tidak kuat melanjutkan pelariannya, Bun Hong melayang turun ke dalam gedung itu dan menggunakan tenaganya untuk membuka jendela kamar, lalu melompat naik ke dalam!

Beberapa orang penjaga yang melihatnya sudah maju menubruk, akan tetapi ketika mereka melihat Bun Hong yang dikenal oleh mereka sebagai sahabat majikan mereka maka mereka menjadi ragu ragu.

Pada saat itu muncullah Pangeran Song Hai Ling sendiri dari dalam.

"Kau, kau........? "

Tanyanya dengan kaget sekali.

"Taijin, sekaranglah waktunya bagi taijin untuk menolong saya!"

Kata Bun Hong dengan napas terengah-engah karena lelahnya.

Dengan isyarat tangannya, pangeran itu menyuruh para pengawalnya untuk menutupkan jendela yang dibuka secara paksa dari luar oleh Bun Hong tadi, lalu berkata.

"Jangan memberi tahu tentang kedatangan sicu ini kepada siapapun juga."

Lalu dia menggandeng tangan Bun Hong dan diajaknya pemuda itu memasuki ruangan dalam.

"Sicu, apakah yang terjadi?"

Tanya pangeran itu dengan alis berkerut dan mata penuh selidik setelah dia mengajak Bun Hong duduk di ruangan itu.

''Celaka, saya telah gagal membunuh keparat she Thio itu, taijin.

Saya hanya berhasil melukai pundiknya, sekarang perwira-perwiranya mengejar-ngejar saya, sedangkan pedang saya telah lenyap dan tubuh saya amat lelah........

tolonglah saya, taijin."

Wajah pangeran itu menjadi pucat sekali dan dia nampak gugup.

"Celaka.......! Kalau mereka tahu bahwa engkau bersembunyi di sini, akan celakalah kami sekeluarga, sicu! Harap kau suka menaruh kasihan kepada kami sicu. Bersembunyilah di tempat lain. Tidak mungkin aku dapat menolongmu tanpa membahayakan keluargaku sendiri,"

Katanya denga suara mengandung ketakutan hebat. Bun Hong tercengang dan menjadi bingung juga.

"Jadi taijin tidak mau menolong saya....?! " '"Bukan tidak mau, akan tetapi.........?"

Pada saat itu, terdengar teriakan-teriakan di luar istana itu, dibarengi dengan ketukan ketukan pada pintu yang dilakukan dengan keras sekali.

"Celaka........!"

Tubuh pangeran itu menjadi gemetar saking takut dan khawatirnya, Tiba-tiba dia memegang tangan Bun Hong dan ditariknya pemuda itu ke dalam.

"Hayo cepat kau ikut aku ke dalam!"

Bun Hong menurut saja karena sudah merasa tidak berdaya dan keduanya lalu berlari keruangan sebelah dalam, bahkan pangeran itu terus membawanya ke bagian ruangan wanita.

Dia mengetuk pintu sebuah kamar dan ketika pintu dibuka dari dalam, ternyata bahwa kamar itu adalah kamar tidur dari Song Kim Bwee dan Song Kim Hwa, dua orang putri remaja dari pangeran itu!.

Bukan main terkejut dan herannya kedua orang dara remaja itu ketika mereka melihat ayah mereka datang bersama seorang pemuda yang berpeluh pada dahinya dan yang berpakaian ringkas berwarna hitam.

Lebih heran lagi mereka ketika mereka berdua mengenal pemuda itu sebagai pemuda yang kemarin mendatangkan rasa kagum di hati mereka ketika terjadi keributan di Kuil Bhok-thian-si.

"Ada....... ada apakah, ayah.......?"

Song kim Bwee bertanya dengan mata terbelalak.

"Lekas, kau sembunyikan Tan-sicu ini lekas, kalau mereka tahu dia berada di rumah kita, binasalah kita semua!"

Kata Pangeran Song dengan cepat dan tubuhnya menggigil, mukanya pucat sekali.

"Kim Bwee, kau berpura-pura sakit dan suruh adikmu menjagamu. Sembunyikan Tan sicu dalam kamar ini. Di mana saja! Cepat!!"

Pangeran Song lalu keluar dari kamar, menutupkan pintunya dan berlari ke arah pintu depan yang masih digedor orang dari luar dan di mana para pengawal telah berkerumun akan tetapi tidak berani membukanya tanpa perkenan dari Pangeran Song itu.

Ketika atas perintah Pangeran Song pintu itu dibuka, yang muncul adalah Panglima Bong Kak Liong dan di belakangnya terdapat banyak perwira yang memegang senjata di tangan.

Sebenarnya, tidak akan ada orang berani menggedor pintu gedung Pangeran Song di tengah malam buta seperti itu!

Pangeran itu adalah seorang anggota keluarga kaisar, dan seorang pembesar yang berkedudukan tinggi, akan tetapi, Bong Kak Liong adalah seorang panglima yang menjadi kepercayaan dan tangan kanan Thio-thaikam, apa lagi malam ini dia melaksanakan perintah Thio-thaikam, maka dengan berani dia menggedor-gedor pintu gedung pangeran itu karena dia merasa yakin bahwa penjahat yang mengacau di istana majikannya dan dikejar-kejarnya itu tadi masuk dan bersembunyi di dalam gedung pangeran ini.

Dia tidak takut menghadapi kemarahan Pangeran Song Hai Ling, karena bukankah dia melaksanakan perintah Thio thaikam?

Biar istana kaisar akan dimasuki tanpa takut-takut kalau Thio-thaikam yang memerintahkannya!

Betapapun juga, dia bersikap hormat di depan pangeran itu dan cepat dia menjura untuk memberi hormat dan berkata dengan sikap hormat dan sungguh-sungguh.

"Maafkan hamba, taijin......."

Dengan sikap tenang dan mengerutkan alisnya tanda bahwa perbuatan perwira itu amat mengganggunya, Pangeran Song Hai Ling berKata, nada suaranya penuh tegoran.

"Ah, kiranya Bong-ciang-kun yang datang di tengah malam begini dan menggedor pintu. Tidak tahu ada urusan apa gerangan yang membuat kami sekeluarga menjadi terkejut sekali?"

Betapapun juga, Bong Kak Liong merasa tidak enak juga.

Kalau sampai pencariannya gagal dan dia dituduh menghina pangeran ini dan kemudian Pangeran Song melapor ke istana, tentu sedikitnya dia?

akan mendapat tegoran keras dan Thio-thaikam akan memarahinya.

Maka cepat-cepat dia mengangkat kedua tangan memberi hormat.

"Mohon maaf sebanyaknya apa bila hamba berani mengganggu taijin, karena menggedor pintu ini semata-mata untuk menjaga keselamatan taijin sekeluarga,"

Bong Kak Liong berkata dengan sikap hormat dan amat hati-hati.

"Maaf, taijin. Di dalam rumah taijin bersembunyi seorang penjahat berbahaya yang tadi sudah menyerang dan mengacau di dalam istana Thio-taijin."

Pangeran Song Hai Ling kini tidak perlu lagi bermain sandiwara berpura-pura kaget karena berita itu memang sudah membuat dia merasa amat cemas dan terkejut sekali sehingga mukanya berubah pucat dan tubuhnya agak menggigil.

''Apa........?

Pen......

penjahat?

Bagaimana dia bisa masuk ke gedungku?

Tidak mungkin, ciangkun, engkau tentu keliru dan salah lihat!?"

"Harap paduka jangan khawatir, taijin, kami akan mencarinya sampai dapat dan menyeretnya keluar dari dalam gedung ini,"

Jawab Bong-ciangkun.

"Kalau begitu silakan, memang sebaiknya begitu. Akan tetapi harap ciangkun dan para perajurit jangan bersikap kasar agar tidak mengagetkan keluarga kami. Carilah sampai dapat!"

Kata sang pangeran dengan wajah pucat.

Bong Kak Liong menghaturkan terima kasih, kemudian dengan golok di tangan dia memimpin anak buahnya untuk menggeledah dan mencari penjahat di dalam gedung itu.

Biarpun tadi dia mengatakan bahwa dia hendak menolong pangeran itu dari ancaman penjahat yang diduga bersembunyi di situ, akan tetapi sebenarnya dia melakukan penggeledahan, seolah-olah dia sudah menduga bahwa sang pangeran itu sengaja menyembunyikan penjahat yang dikejar-kejarnya tadi.

Dia mencari di seluruh kamar, bahkan kamar Pangeran Song dan isterinya, juga kamar-kamar para selirpun tidak dilewatinya.

Dan biarpun mulut dan tangan para penggeledah itu tidak berani mengatakan dan menyentuh apa-apa, namun pandang mata mereka mengusap usap tubuh dan wajah para selir muda yang cantik-cantik, merayu dan membelai mereka itu dengan pandang mata mereka dan senyum mereka yang penuh arti.

Bukan main marah dan mendongkolnya rasa hati pangeran itu melihat kekurang ajaran ini, akan tetapi dia tidak dapat berbuat apa-apa karena mereka itu tidak melakukan atau mengatakan sesuatu, dia tidak berani menegur karena khawatir kalau-kalau pemuda yang bersembunyi itu akhirnya akan ditemukan dan dia tidak akan dapat menyangkal pula.

Akhirnya, saat yang amat ditakuti dan dinanti-nanti penuh debaran jantung yang gelisah itupun tibalah.

Bong Kak Liong tiba di depan kamar puterinya yang daun pintunya tertutup dari dalam.

Kamar di mana pemuda itu tadi disuruhnya bersembunyi!

"Taijin, kamar siapakah ini?"

Tanya Bong Kak Liong sambil menuding daun pintu dengan goloknya, seolah-olah dia hendak membuka pintu itu dengan sekali bacok.

"Ciangkun, jangan buka kamar ini. Kamar ini adalah kamar puteriku, harap kau tidak mengganggu dia!"

Bong Kak Liong cepat menjura dengan hormat.

"Taijin, hamba tidak begitu berani mati ntuk mengganggu siocia. Akan tetapi maafkanlah hamba, taijin. Hamba hanya melakukan tugas yang diperintahkan oleh Thio-taijin. Penjahat itu harus dapat ditangkap dan sudah hamba ceritakan bahwa penjahat itu lihai bukan main dan amat berbahaya. Tadi hamba melihat dia menyelinap dan lenyap di halaman rumah ciangkun, maka hamba harus mencarinya sampai dapat, selain untuk menangkapnya juga untuk membebaskan keluarga ciangkun dari ancaman bahaya maut. Bagaimana kalau dia memasuki kamar ini dan bersembunyi di didalam?"

Pangeran Song memperlihatkan muka marah "Bong-ciangkun!

Berani benar kau mengeluarkan kata-kata yang bukan-bukan!

Kamar ini!

adalah kamar kedua orang puteriku, bahkan!!

puteriku yang sulung sedang kurang enak badan,!

apakah kau begitu tidak percaya kepada kami?"

Ucapan itu dikeluarkan dengan suara keras dan memang menjadi maksud hati sang pangeran agar ucapannya terdengar oleh kedua orang puterinya yang berada di dalam kamar itu.

Bong Kak Liong merasa ragu ragu, karena dia merasa khawatir kalau-kalau pangeran ini akan marah, akan tetapi dia harus melakukan tugasnya dan harus berhasil menangkap penjahat tadi.

Rasa takutnya terhadap pangeran ini tidak ada artinya apa bila dibandingkan dengan rasa takutnya terhadap Thio-taijin.

Pula, dia dan anak buahnya sudah lama mendengar dan melihat bahwa dua orang puteri pangeran ini cantik-cantik seperti bidadari, maka setelah sekarang terbuka kesempatan, mengapa tidak sekalian menjenguk kamar mereka sekedar nengobati jerih payah mereka?

"Harap taijin suka memaafkan kami dan suka memaklumi tugas hamba yang amat berat ini.

Betapapun juga hamba harus mendapatkan kepastian dan menyaksikan dengan kedua mata sendiri bahwa penjahat itu tidak bersembunyi didalam kamar ini.

Bukan hamba menuduh yang tidak-tidak, akan tetapi bagaimana kalau penjahat itu mengancam ji-wi siocia di sebelah dalam kamar?

Bagaimana pula hamba akan melapor kepada Thio-taijin kalau ditanya nanti dan beliau mendengar bahwa ada sebuah kamar yang hamba lewati dan tidak hamba periksa?"

Perwira yang cerdik ini sengaja membawa-bawa nama Thio-taijin untuk menggertak atau untuk perisai.

Pada saat keadaan menjadi tegang itu karena betapapun juga tentu saja Pangeran Song Hai Ling tidak ingin melihat rahasianya terbuka, apa lagi membiarkan orang-orang ini menemukan penjahat bersembunyi di dalam kamar puteri-puterinya, tiba-tiba saja daun pintu kamar itu terbuka dari dalam dan muncullah Song Kim Hwa di ambang pintu.

Dara remaja ini cantik bukan main, dengan rambut sedikit awut-wutan dan pakaian longgar karena dia mengenakan pakaian tidur, dengan muka tanpa bedak akan tetapi kelihatan halus dan kemerahan.

segar seperti setangkai bunga bermandi embun di pagi hari.

Sepasang matanya yang lebar dan indah itu terbuka dengan penuh kekagetan melihat demikian banyaknya orang asing di depun kamarnya, dan bibirnya yang mungil dan merah basah itu bergerak manis ketika dia bertanya.

"Ayah, ada apakah ramai ramai ini? Mengapa terdapat begini banyak orang berada di sini? Cici sedang sikit, mengapa ayah membiarkan saja orang orang kasar ini membuat gaduh?"

Bong Kak Liong menjadi merah mukanya sedangkan semua anak buahnya bengong dengan mata terbelalak dan mulut ternganga terpesona menghadapi dara remaja yang demikian cantiknya itu.

Cepat perwira itu menjura dengan hormat kepada Song Kim Hwa sambil berkata dengan sikap sopan.

"Harap sioci sudi memaafkan hamba. Hamba khawatir kalau-kalau penjahat berbahaya yang sedang kami kejar-kejar itu bersembunyi di dalam kamar ini dan mencelakai ji-wi siocia."

Pucatlah muka Kim Hwa mendengar ucapan ini saking gelisahnya, dan hal ini baik sekali karena memang Bong Kak Liong mempunya persangkaan bahwa dara remaja yang cantik ini merasa terkejut dan takut mendengar ada penjahat sehingga menimbulkan kesan bahwa dara ini tidak tahu apa-apa tentang penjahat itu.

Dan Kim Hwa tergolong seorang dara remaja yang cerdik sekali, maka diapun cepat menahan jerit di belakang punggung tangannya.

"Penjahat........? Aihhh, lekas kau tangkap dia, ciangkun! Benar-benarkah ada penjahat di dalam gedung kami?"

"Kami sedang mencari-carinya,"

Kata Pangeran Song yang merasa lega karena dia melihat bahwa kamar itu kosong, tidak nampak bayangan Bun Hong, sedangkan Kim Bwee nampak berbaring di atas pembaringan sambil berkerudung selimut.

"Apakah betul-betul tidak ada siapa-siapa di dalam kamarmu, anakku? "

Kim Hwa memandang kepada ayahnya.

"Yang ada hanyalah cici yang mulai panas lagi tubuhnya, ayah."

Sambil berkata demikian, dia membuka daun pintu itu agak lebar sehingga Bong Kak Liong dapat melihat dengan jelas betapa kamar itu benar-benar kosong, hanya terdapat seorang gadis cantik lainnya yang sedang rebah di atas pembaringan sambil menutupi tubuhnya dengan selimut, (Lanjut ke

Jilid 08) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08 mukanya nampak pucat sekali karena sedang menderita sakit.

Bong Kak Liong meneliti kamar itu dengan pandang matanya yang tajam.

Tidak ada apa-apa yang mencurigakan, maka dia cepat menjura kembali.

"Maaf........ maaf......., siocia! harap suka menutupkan kembali pintu kamar itu, tidak baik bagi saudaramu kalau terkena angin malam. Maafkanlah kami."

Kim Hwa menutupkan daun pintunya kembali dan Bong Kak Liong lalu memimpin anak buahnya untuk mencari di lain bagian.

Akan tetapi, di dalam gedung itu sama sekali tidak mereka temukan bayangan Bun Hong.

Bong ciangkun merasa penasaran sekali, akan tetapi karena terbukti bahwa penjahat muda itu tida bersembunyi di situ, terpaksa dengan hati kecewa dan penuh penasaran dia minta maaf lagi dan berpamit dari pangeran itu.

Setelah melihat bahwa pemuda itu tidak dapat ditemukan di dalam gedungnya, barulah Pangeran Song Hai Ling berani memperlihatkan kemarahannya.

"Bong-ciangkun, kelakuanmu tadi sungguh sungguh tidak patut! Apa kaukira kami menyembunyikan seorang penjahat? Bagus, bagus Di manakah adanya aturan-aturan lama? Sampai-sampai seorang perwira biasapun berani saja menghina keluarga kami!"

Bong Kak Liong cepat berlutut dengan sebelah kaki dengan penuh perasaan menyesal dan khawatir.

"Harap taijin sudi mengampunkan hamba. Hamba hanyalah petugas yang menjalankan perintah Thio-taijin belaka......."

"Apakah Thio-taijin juga memberi perintah kepadamu untuk memeriksa semua kamar-kamarku dan juga kamar puteriku, seakan-akan kami sekeluarga bersekongkol dengan penjahat dan menyembunyikan seorang penjahat didalam kamar kami!"

"Tidak........ tidak....... akan tetapi....... ampun....."

Baru saja Bong Kak Liong berkata dengar gagap tidak karuan sampai di situ, Pangeran Song Hai Ling sudah membanting daun pintu didepan hidung perwira itu.

Bong-ciangkun segera pergi dengan hati mendongkol bukan main.

Dia segera memaki-maki para anak buahnya yang disebutnya tolol dan bodoh sehingga mengejar seorang penjahat saja sampai tidak dapat tertangkap.

Memang demikianlah selalu keadaan hidup dalam kebudayaan dan masyarakat kita.

Yang di atas selalu memarahi dan menekan, menginjak yang di bawah.

Bong-ciangkun yang dimaki oleh orang yang lebih tinggi kedudukanya, tidak berani membalas ke atas lalu meluapkan kemendongkolannya ke bawah, kepada anak buahnya.

Nanti, tentu saja, si anak buah yang mendapat kemarahan dari atasannya ini dan tidak berani membalas, akan melampiaskan kemarahannya kepada yang lebih bawah lagi, mungkin pembantunya, mungkin kepada isterinya atau kepada anaknya!

Kebudayaan kita memberi contoh betapa yang di atas menginjak yang di bawah, sehingga hukum yang didengungkan sebadai alat antuk menjadi cermin keadilan bagi semua orang tanpa pandang tingkat, ternyata hanya menjadi alat bagi mereka yang berada diatas untuk menginjak yang di bawah ''berdasarkan hukum".

Oleh adanya kenyataan seperti ini.

anehkah itu kalau semenjak kecil, manusia dididik oleh keadaan untuk berlumba memperebutkan kedudukan setinggi mungkin?

Lebih baik menginjak daripada diinjak, lebih baik menekan daripada ditekan, demikianlan agaknya yang menjadi pedoman hidup semua orang.

Betapa menyedihkan jadinya kehidupan di dunia kita ini .

Bong-ciangkun selain merasa mendongkol karena ditegur dan dimarahi pangeran itu, juga dia merasa penasaran dan heran sekali.

Dia telah melakukan penggeledahan dengan cermat sekali dan selagi dia memimpin penggeledahan gedung itu telah dikurung, juga di atas genteng dilakukan penjagaan sehingga penjahat itu tidak mungkin untuk keluar dan melarikan diri dari dalam gedung itu.

Padahal tadi mereka melihat sungguh-sungguh betapa penjahat itu lenyap di sekitar halaman gedung Pangeran Song.

Maka dia lalu memerintahkan beberapa orang anak buahnya untuk mengadakan pengintaian di sekeliling gedung itu sambil bersembunyi, sedangkan dia sendiri lalu kembali dengan cepat memberi laporan kepada Thio-thaikam.

Lama setelah para penggeledah itu meninggalkan gedung Pangeran Song, dan daun pintu kamar kedua orang puteri pangeran itu telah dikancing dari dalam, selimut yang tadi menutupi tubuh Kim Bwee terbuka dan di dekat tubuh dara itu nampak Bun Hong sedang meringkuk dan tadi tertutup selimut!

Pemuda ini segera melompat turun dan menjura di depan Kim Bwee yang juga sudah bangkit dan duduk di tepi pembaringan dengan muka merah dan air mata mengalir turun di sepanjang kedua pipinya.

Ketika tadi Pangeran Song minta kepada dua orang puterinya untuk menyembunyikan Bun Hong, Kim Bwee dan Kim Hwa menjadi bingung sekali dan setelah ayah mereka pergi, kedua orang dara itu hanya saling pandang dengan muka merah sekali tidak berani memandang wajah Bun Hong.

Juga pemuda itu merasa malu sekali dan akhirnya dapat juga dia berkata dengan suara halus.

"Ji-wi siocia (nona berdua), harap ji-wi suka memberi maaf kepada saya. Sesungguhnya bukan kehendak saya untuk mengganggu ji-wi dan untuk bersembunyi di kamar ji-wi, akan tetapi....... ayah ji-wi yang mengajak saya kesini karena terpaksa......."

"Mengapa kau dikejar-kejar, taihiap?"

Kim Hwa memberanikan diri bertanya tanpa memandang wajah pemuda itu.

"Kami mendengar dari ayah bahwa engkau adalah seorang pendekar besar, mengapa sekarang dikejar-kejar dan harus bersembunyi?"

Bun Hong menarik napas panjang, lau dia menceritakan pengalamannya sampai sekarang dia dikejat kejar oleh para kaki tangan Thio-thaikam.

"Kalau begitu, apabila mereka itu menemukan engkau berada di sini, tentu kami sekeluarga akan tertimpa bencana hebat!"

Kim Hwa berkata pula dengan cemas.

"Itulah sebabnya maka ayah jiwi menyuruh saya masuk ke dalam kamar ini agar para pengejar tidak akan menyangkanya dan tidak akan menemukan saya di dalam gedung ini."

Oleh karena merasa kikuk dan canggung menghadapi dua orang dara yang cantik jelita dalam kamar mereka yang dihias perabotan kamar serba indah dan yang mengeluarkan bau harum sedap itu, Bun Hong menjadi seakan-akan gagu dan tidak dapat mengeluarkan banyak kata-kata, bahkan dia hanya duduk diatas kursi yang dipersilakan oleh Kim Hwa, tidak berani banyak bergerak!.

Berhadapan dengan dua orang dara jelita di dalam kamar mereka ini, Bun Hong yang terkenal sebagai seorang pendekar gagah perkasa kini seperti berubah menjadi seorang penakut yang kehilangan nyalinya!

Dia hanya duduk seperti arca dan hanya kadang kadang saja dia mengerling kearah Song Kim Bwee dengan jantung berdebar-debar.

Dara ini nampak jauh lebih cantik jelita dari pada ketika dia melihatnya di kuil dahulu itu.

Tiba-tiba terdengar suara para penggeledah itu di luar pintu kamar dan suara Pangeran Song yang mencegah mereka membuka pintu, mereka mendengar ucapan yang nyaring dari pangeran itu yang mengatakan bahwa anaknya yang seorang sedang tidak enak badan.

Kedua orang dara itu menjadi pucat sekali dan tubuh mereka menggigil, sedangkan Bun Hong telah bersiap-siap untuk menerjang keluar.

Akan tetapi tiba-tiba Song Kim Bwee yang sejak tadi hanya diam saja, hanya duduk di pembaringan mempermainkan lengan bajunya yang panjang dengan muka ditundukkan, kini tiba-tiba melompat berdiri dan mendekati Bun Hong sambil berbisik.

"Taihiap, lekas""..! Lekas kau naik ke pembaringanku..."

Cepat"

Dalam keadaan seperti itu.

Bun Hong tidak lagi merasa kikuk atau malu-malu.

Dia adalah seorang pemuda yang cerdik, maka ucapan dara ini segera dapat dia tangkap maksudnya.

maka diapun segera naik ke pembaringan dan menurut saja ketika Kim Bwee menutupi tubuhnya dengan selimut yang harum baunya.

Bun Hong meringkuk di bawah selimut dan memasang telinga, siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Akan tetapi tiba-tiba dia merasai ada sesuatu yang halus dan lunak menyentuh tubuhnya dan keharuman yang luar biasa sedapnya memabukkannya.

Karena tadinya dia tepi sambil ujung memejamkan mata.

kini dia segera membuka matanya dan dadanya berdebar keras ketika dia mendapatkan bahwa tubuh Kim Bwee juga berada di bawah selimut pula dan hanya kepala gadis itu saja yang tersembul keluar dari selimut.

Kiranya yang lembut halus, lunak dan hangat tadi adalah tubuh gadis itu yang menempel di tubuhnya!.

Ternyata tanpa ragu-ragu lagi dara itu telah berpura-pura sakit, sesuai dengan kata-kata ayahnya, dan kini dengan rebah berkerudung selimut, dara itu menyembunyikan tubuh Bun Hong yang meringkuk di dekatnya, di bawah selimut.

Tentu saja Bun Hong merasa malu dan sungkan sekali.

Dia tidak berani berkutik, bahkan bernapaspun dia tidak berani!

Bun Hong mendengarkan percakapan yang terjadi ketika Kim Hwa membuka pintu.

Dara remaja itu ternyata cerdik sekali dan setelah melihat encinya rebah berselimut dan pemuda itu telah disembunyikannya dengan baik di bawah selimut encinya, lalu membuka pintu dan menjalankan aksinya dengan sempurna sehingga tidak saja para pengejar itu dapat ditipunya bahkan ayahnya sendiripun merasa heran sekali.

Sesungguhnya Pangeran Song sendiri tidak pernah mengira bahwa Bun Hong disembunyikan di dalam selimut, dan disangkanya bahwa pemuda itu sudah pergi dari kamar atau bersembunyi di lain tempat.

Ketika Bun Hong meloncat turun dan menjura di depan nona Song Kim Bwee dia melihat dara ini duduk dengan air mata mengalir disepanjang kedua pipinya.

Bun Hong merasa terharu sekali dan cepat dia menjura lagi.

"Siocia."

Suaranya gemetar penuh perasaan "banyak terima kasih saya haturkan atas budi pertolongan nona, dan saya mohon beribu maaf atas gangguan saya ini"".."

Kim Bwee kini terisak dan air matanya bercucuran makin deras. Dengan tersendat-sendat dia berkata.

"Taihiap"".. kau tentu memandang aku sebagai seorang gadis yang tak tahu malu...". dan rendah sekali...". ah, apakah kata orang kalau mendengar tentang peristiwa ini"..? Taihiap, kau harus tahu bahwa aku melakukan hal yang melanggar kesopanan itu semata-mata untuk menolong leher kami sekeluarga dari ancaman pedang hukuman...". bukan karena hendak menolongmu"".."

Bun Hong sadar bahwa dia telah keliru bicara, maka cepat sekali dia berkata.

"Tentu aja, siocia. Siocia telah berlaku amat cerdik dan bijaksana sekali."

Song-taijin mengetuk pintu. Kim Hwa terkejut dan cepat menegur dari dalam.

"Siapa di luar?"

"Aku datang sendiri, Kim Hwa. Bukakan pintu,"

Terdengar suara ayahnya.

Daun pintu dibuka dan Song-taijin masuk ke dalam kamar itu dengan muka masih pucat.

Ketika dia melihat Bun Hong berdiri di dalam kamar itu, dia merasa heran bukan main.

Akan etapi sebelum dia sempat menegurnya, Kim Bwee telah lari menghampiri dan menjatuhkan diri di depan kakinya sambil menangis tersedu-sedu.

"Ahh".., ehh"".., kau kenapakah""..?"

Bangsawan itu bertanya dengan heran.

Pada saat itu.

Song-hujin juga berlari masuk ke dalam kamar.

Setelah para perajurit pergi, barulah keluarga bangsawan itu seperti hidup kembali.

Ketika terjadi penggeledahan tadi, nyonya ini berdiam di dalam kamarna dengan ketakutan, bergerakpun rasanya berat karena kedua kakinya menggigil.

Nyonya ini sama sekali tidak tahu apakah yang sedang terjadi, kini, melihat betapa puterinya menangis dan berlutut di depan kaki Suaminya dan melihat seorang pemuda berdiri di kamar puterinya, dia menjadi khawatir dan heran sekali.

"Apa yang telah terjadi".?"

Tanyanya dengan gugup.

Dengan singkat Kim Hwa lalu menuturkan segala peristiwa itu kepada ayah dan ibunya.

Betapa untuk menolong keluarga mereka dari bencana, sama sekali tidak menyebut-nyebut tentang menolong pemuda itu, terpaksa Kim Bwee telah menyembunyikan Bun Hong kedalam""..

selimutnya sendiri.

"Enci terpaksa melakukan hal itu, ibu. hanya merupakan satu satunya jalan. Kalau sampai...".. taihiap ini ditemukan di dalam kamar kami, tentu kita sekeluarga akan celaka dituduh bersekongkol dan selain itu, juga nama kami akan tercemar. Harap ayah dan ibu suka mengampuni kami berdua"

Mendengar cerita ini.

nyonya Song segera menangis dan dengan marah dia menegur suaminya, menudingkan telunjuknya ke depan muka suaminya sampai hampir menyentuh hidungnya sehingga bangsawan itu mundur mudur .

"Dasar kau yang tidak dapat menjaga nama! Bergaul dengan segala penjahat dan pembunuh! Kalau sudah terjadi begini, bukankah engkau telah mencemarkan nama dan kehormatan anakmu sendiri?"

Tadinya Bun Hong merasa heran sekali mengapa Kim Bwee menangis sedemikian sedihnya.

Akan tetapi setelah mendengar ucapan nyonya ini, maklumlah dia bahwa sesungguhnya merupakan suatu hal yang amat memalukan dan menodai nama kehormatan gadis itu yang telah menyembunyikan seorang pemuda asing di dalam selimutnya dan rebah bersama di atas pembaringan.

Maka dia menjadi makin malu dan dia menundukkan mukanya yang berubah merah sekali, bingung karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya atau diucapkannya menghadapi keluarga yang sedang merana itu.

Pangeran Song Hai Ling membanting-banting kakinya dan memegang lengan Bun Hong yang segera ditariknya keluar dari dalam kamar itu.

"Hiburlah hatinya dan jaga jangan sampai dia melakukan hal yang bukan-bukan!"

Katanya kepada isterinya, dan makin terkejutlah hati Bun Hong ketika dia dapat menduga apa maksud kata-kata pengeran itu.

Mungkinkah dara itu yang telah menolong dan menyelamatkan nyawanya, saking merasa ternoda dan malu akan meirbunuh diri?

Ah.

celakalah kalau sampai terjadi hal seperti itu!.

Pangeran Song Hai Ling mengajak Bun Hong ke ruangan tengah dan mempersilakannya duduk menghadapi meja.

Pelayan dipanggil untuk membawa arak, selain untuk menghangatkan tubuh juga untuk menenangkan hati yang berdebar-debar.

Pangeran itu lalu mengumpulkan semua pelayannya, juga kepala perwira pengawalnya.

Setelah mereka semua berkumpul di dalam ruangan itu, dia lalu berkata "Kalian lihat baik baik Pemuda ini adalah sanak keluarga kami sendiri yang dituduh penjahat oleh Thio-thaikam.

Kalian tahu orang macam apa Thio-thaikam itu.

Oleh karena itu, jangan ada seorangpun di antara kalian yang membocorkan hal ini keluar.

kalau ada yang bertanya tentang pemuda ini katakan saja bahwa kalian tidak melihat siapa siapa di sini.

Mengerti?

Aku percaya akan kesetiaan kalian dan andai kata ada yang berkhianat, akupun mempunyai jalan untuk membasminya sekeluarga."

Para pelayan dan pengawal Song-taijin adalah pegawai-pegawai yang setia dan mereka semua memang membenci Thio thaikam.

maka tentu saja mereka menyanggupi untuk bersetia dan tidak membocorkan rahasia itu.

Setelah mereka semua meninggalkan ruangan itu, barulah Pangeran Song bertanya kepada Bun Hong tentang apa yang telah terjadi dan mengapa pemuda itu sampai dikejar-kejar.

Bun Hong lalu menceritakan semua pengalamannya dengan jujur.

Betapa dia berusaha untuk membunuh Thio-thaikam dan betapa percobaannya itu gagal karena penjagaannya memang sangat kuat, bahkan dia lalu dikejar kejar dan hampir saja binasa di tangan para penjaga.

Mendengar penuturan itu.

Pangeran Song menarik napas panjang.

"Hemm, kau masih beruntung, taihiap. Kalau malam ini Tek Po Tosu dan Bong Kak Im berada disana, sukar bagimu untuk dapat melepaskan diri dari kepungan mereka. Ketahuilah bahwa Bong Kak Im adalah kakak dari Bong Kak Liong tadi, dan kepandaiannya masih lebih lihai dari dari adiknya. Sedangkan Tek Po Tosu adalah tokoh nomor satu yang membantu Thio-thai-kam, dan tentu saja kepandaiannya jauh lebih lihai lagi. Akan tetapi syukurlah bahwa bahaya telah lewat sehingga tidak saja engkau masih selamat, bahkan kami sekeluarga yang nyaris celakapun dapat terhindar dari bencana hebat,"

Sambungnya sambil menarik napas lega.

Tan Bun Hong juga menarik napas panjang, hatinya terasa tidak enak sekali.

Dia maklum bahwa bukan saja dia telah menerima budi pertolongan, bahkan berhutang nyawa kepada keluarga bangsawan ini, akan tetapi juga di samping itu telah mendatangkan aib dan keadaan bahaya kepada keluarga ini.

Maka dia cepat bangkit, menjura dan berkata.

"Hanya Thian yang mengetahui betapa besar rasa terima kasih saya kepada paduka sekeluarga dan saya merasa tidak layak untuk berdiam lebih lama di sini, hanya memancing bahaya bagi keluarga paduka. Oleh karena itu, pangeran, perkenankan saya untuk pergi sekarang juga meninggalkan istana ini."

"Eh, eh...".. jangan pergi sekarang, taihiap. Jangan! Setelah adanya peristiwa tadi, tentu terdapat banyak penjaga yang berkeliaran di dalam kota, dan kalau mereka melihat engkau keluar dari gedung ini sekarang, tentu kau akan dicurigai dan kembali keluarga kami akan dicurigai pula. Tadi kau katakan bahwa ketika kau menyerbu istana Thio-thaikam, Engkau telah menutupi mukamu dengan saputangan. Hal ini baik dan cerdik sekali, karena dengan demikian, tidak ada orang yang mengenal mukamu. Besok saja, dengan terang-terangan kau boleh keluar dari rumah kami dan keluar kota tanpa menimbulkan kecurigaan, sebagai seorang tamu atau keluarga kami."

Demikianlah, Bun Hong terpaksa membenarkan ucapan itu dan dia tinggal di dalam gedung itu untuk malam itu dan semalam itu dia dan Pangeran Song tidak tidur, bergadang dan bercakap-cakap di dalam ruangan itu.

Mereka telah merasa lega dan menyangka bahwa bahaya benar-benar telah lewat, sama sekali tidak pernah menduga bahwa Thio-thaikam yang amat cerdik itu masih mempunyai rencana yang hendak dilakukan untuk menyelidiki keadaan Pangeran Song.

Malam itu, selain meninggalkan penjaga-penjaga di sekitar istana pangeran Song.

Bong Kak Liong juga cepat melapor kepada Thio-thaikam dan pembesar kebiri yang amat cerdik ini merasa curiga sekali lalu mengatur rencana untuk menyelidiki.

Kebetulan sekali malam itu kedua orang pengawalnya yang amar dipercaya, yaitu Tek Po Tosu dan Bong Kak Im telah pulang, maka mereka semua lalu mengadakan perundingan, bagaimana untuk membongkar rahasia dan mencari pemuda yang mereka kira tentu disembunyikan oleh Pangeran Song itu.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali.

Pangeran Song Hai Ling yang sedang duduk bercakap-cakap dengan Bun Hong di ruang tengah, dikejutkan oleh pelaporan penjaga bahwa telah berkunjung di pagi buta itu tiga orang tamu agung yang bukan lain adalah"

Thio-thaikam sendiri yang diiringi oleh Bong Kak Liong dan Tek Po Tosu!.

Bukan main kaget dan takutnya hati Pangeran Song mendengar ini sehingga untuk beberapa lamanya dia berdiri dari kursinya, memandang Bun Hong dengan muka pucat dan dia seperti patung.

"Apakah saya harus pergi bersembunyi lagi taijin?"

Bun Hong bertanya dengan sikap tenang karena pemuda ini sedikitpun tidak takut. Dia bukan seorang penakut, tidak takut mati dan kalau perlu dia akan melawan sampai hembusan napas yang terakhir.

"Jangan"".., tidak ada gunanya"".!"

Jawab Pangeran Song dengan alis berkerut dan otak berjalan mencari akal.

"Hemm, kau duduklah saja dengan tenang dan jangan kau merasa heran apa bila kau kuperkenalkan sebagai calon mantuku!"

Lalu tergesa-gesa Pangeran Song meninggalkan pemuda itu untuk menuju ke pintu depan menyambut kedatangan tamu agung itu.

Sementara itu, Bun Hong merasa terkejut dan duduk dengan bengong.

Mendengar ucapan Pangeran Song tadi, dia menjadi bingung Dia akan diperkenalkan sebagai calon mantu sang pangeran?

Sebagai tunangan Kim Bwe yang cantik jelita?

Ah, tidak boleh jadi!

Mana mungkin nona itu sudi menjadi calon isterinya?

Dan pula"".tiba-tiba saja dia teringat kepada Kui Eng, sumoinya yang amat dicintanya itu.

Lalu terbayang pula bahwa Kui Eng tentu sudah menjadi tunangan suhengnya sehingga tidak perlu lagi dia mengenangkan gadis itu.

Dia menjadi tunangan Kim Bwee dara yang cantik seperti bidadari itu!

Calon mantu pangeran!

Ah.

betapapun juga.

dia harus menolak pertunargan yang hanya dilakukan dengan pura-pura dan hanya untuk menipu Thio thaikam belaka itu!.

Dia tidak sudi bersikap pengecut di depan Thio thaikam.

Lebih baik dia melakukan perlawanar bertempur mati-matian.

Dia tidak takut, biarpun harus menghadapi Tek Po Tosu yang kabarnya memiliki ilmu sangat tinggi itu.

Lebih baik mati sebagai seekor harimau dari pada hidup seperti seekor babi!

Akan tetapi, tiba-tiba dia teringat bahwa kalau dia memberontak, tentu seluruh keluarga Song akan tertimpa bencana hebat.

Tentu keluarga itu akan dianggap keluarga pemberontak, bersekongkol dengan seorang penjahat dan pemberontak.

Mereka sekeluarga tentu akan ditangkap dan dihukum, mungkin dihukum mati karena dituduh pemberontak dan menjadi pengkhianat.

Bukan itu saja, juga nama keturunan keluarga Song akan menjadi cemar untuk selamanya!

Dan mereka itu telah bersikap demikian baik kepadanya, bahkan dia telah berhutang nyawa kepada mereka.

Apakah dia kini harus menjadi sebab kebinasaan mereka?

Tidak!

Dia harus mencegah keluarga ini celaka, apa lagi celaka disebabkan oleh dia.

Dia bahkan harus berusaha menyelamatkan mereka!

Kalau dia mengingat betapa nona Kim Bwee telah menyelamatkannya, dengan cara yang sukar dapat dilakukan oleh gadis lain, dengan taruhan kehormatan dan nama baiknya, maka tidak mungkin dia membalas semua kebaikan itu dengan sikap tidak perduli melihat mereka terancam bahaya.

Bun Hong tidak sempat berpikir lebih jauh lagi oleh karena pada saat itu, para tamu telah masuk dengan langkah lebar, diikuti oleh Pangeran Song.

Bun Hong mengenal Thio thai kam yang nyaris dibunuhnya semalam.

Pembesar gendut bermuka merah ini berjalan tenang dengan pundak dibalut karena lukanya.

Pembesar gendut ini diiringkan oleh seorang tosu yang bertubuh tinggi kurus berusia sedikitnya lomapuluh tahun yang bersikap tenang pendiam bersama seorang perwira yang malam tadi telah menyerangnya dengan golok secara hebat yaitu Bong Kak Liong!.

Baiknya Pangeran Song yang amat cerdik itu semalam telah menyuruh Bun Hong berganti pakaian dengan meminjamkan pakaian sasterawan kepada pemuda itu sehingga ketika para tamu itu masuk di dalam ruangan itu mereka melihat seorang pemuda sasterawan yang berwajah tampan dan bersikap halus duduk di atas sebuah bangku di ruangan itu.

Ingin sekali Bun Hong melompat dan menerkam thaikam itu untuk dibunuhnya dengan satu kali pukul, akan tetapi dia dapat menekan perasaannya, bahkan ketika diperkenalkan.

dia lalu menjatuhkan diri berlutut sebagaimana layaknya seorang sasterawan muda memberi hormat kepada seorang yang sedemikian tingginya seperti Thio-thaikam.

"Pangeran, siapakah pemuda tampan ini? Belum pernah saya melihatnya,"

Kata Thio thaikam. sedangkan Bong Kak Liong memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik. Hanya tosu itu yang memandang dengan sikap tak acuh.

"Dia? Ah, taijin. Dia ini adalah calon mantu saya, tunangan puteri saya yang sulung, yaitu Song Kim Bwee. Dia bernama Tan Bun Hong. berasal dari Hong yang."

"Sungguh mengherankan, mengapa malam tadi hamba tidak melihat kongcu ini?"

Tiba-tiba Bong Kak Liong berkata sehingga Thio-thaikam memandang kepada Bun Hong dengan sinar mata tajam seperti mata burung hantu mengintai tikus.

Untung bahwa Pangeran Song masih dapat menekan hatinya dan wajahnya tidak berubah sungguhpun dia bingung sekali dia tidak tahu harus menjawab bagaimana atas pertanyaan yang datangnya tiba tiba dan sama sekali tidak tersangka-sangka itu.

Akan tetapi Bun Hong yang memang bersikap tenang sejak tadi, sama sekali tidak takut dan tidak gugup, dapat menjawab dengan cepat sambil tersenyum.

"Bong-ciangkun,"

Katanya dengan suara tenang.

"dalam keadaan seperti itu, penuh ketegangan, mana ciangkun dapat memperhatikan saya yang tak berguna ini? Terus terang saja saya melihat kejadian itu karena malam tadi saya juga ikut melakukan penjagaan bersama para pengawal di gedung ini dan karena siauwte mengenakan pakaian penjaga, tentu saja ciangkun tidak melihat siauwte."

Pangeran Song adalah seorang yang amat hati-hati dan semua penjaga dan pengawalnya adalah orang-orang yang setia dan dipercaya penuh.

Ketika mendengar ucapan Bun Hong itu seorang pengawal yang tadi ikut mengantar tamu masuk, kini diam-diam pergi keluar dan dengan bisik-bisik cepat menyebar perintah kepada semua kawannya agar mereka mengaku bahwa Bun Hong benar-benai ikut melakukan penjagaan dengan mereka pada malam hari itu.

Biarpun hati mereka masih curiga, akan tetapi mendengar jawaban ini, Thio-thaikam dan Bong-ciangkun mengangguk-angguk.

Sementara itu.

tiba tiba Tek Po Tosu lalu melangkah ke depan menghadapi Bun Hong dan berkata.

"Tan-kongcu, mendengar bahwa kongcu adalah calon menantu pangeran, sudah sepantasnya kalau pinto ikut menghaturkan kionghi (selamat) kepada kongcu!"

Sambil berkata demikian, pendeta To itu lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada, membungkuk dan memberi hormat.

Angin pukulan yang hebat menyambar kearah dada Bun Hong yang juga sudah membalas penghormatan itu dengan menjura, sambil berkata.

"Terima kasih banyak atas kebaikan hati totiang"

Akan tetapi Ban Hong terkejut bukan main ketika melihat bahwa penghormatan tosu itu di barengi dengan serangan gelap, yaitu menggunakan kekuatan sinkang untuk menyerangnya dengan pukulan jarak jauh!

Tentu saja dia hendak menolak angin pukulan itu, menangkis atau mengelak.

Akan tetapi Bun Hong adalah orang yang cerdik, cepat dia maklum bahwa tosu ini sedang mengujinya!

Kalau dia dapat menghadapi serangan pukulan dengan tenaga lweekang ini.

berarti bahwa "calon mantu"

Pangeran Song itu adalah seorang yang memiliki pandaian tinggi dan tentu saja hal ini dapat dihubungkan dengan penjahat semalam!

Kalau dia menangkis atau mengelak, berarti rahasianya akan terbongkar.

Karena itu.

maka Bu Hong menyimpan kembali tenaga sinkangnya tetap menjura dan membiarkan serangan itu memukul ke arah pundaknya karena setelah dia menjura, maka serangan ke arah dada itu menuju ke pundaknya.

Tek Po Tosu memang seorang yang amat lihai.

Dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Selain lihai sekali ilmunya siang-kiam (sepasang pedang) yang kabarnya jarang ada tandingannya, juga dia adalah seorang ahli lwekeh yang memiliki sinkang kuat sekali.

Hal itu tidaklah mengherankan karena tosu ini sesungguhnya adalah seorang tokoh dari partai persilatan besar Khong-thong-pai di lereng Pegunungan Kun-lun.

Maka ilmu kepandaiannya amat tinggi dan dia dapat menjadi tangan kanan atau pembantu utama dari Thio-thaikam.

Ketika melihat betapa pemuda sasterawan itu sama sekali tidak tahu akan serangannya, diapun cepat menarik kembali tenaga pukulannya dengan mengibaskan kedua tangannya yang tadi diangkat ke depan dada, Bun Hong hanya merasa tiupan angin halus yang berubah arah.

Diam-diam dia kagum dan kaget bukan main!.

Orang yang telah dapat menguasai tenaga pukulan yang dipergunakan untuk menyerang orang dari jarak jauh, dapat menariknya kembali atau menyelewengkannya hanya dengan kibasan tangan saja.

menandakan bahwa tingkat kepandaian orang itu sudah tinggi sekali dan tenaga sinkang yang dikuasainya sudah amat kuat.

Dia sendiri tidak akan mampu melakukan hal seperti itu!

Jelaslah bahwa tosu ini adalah seorang lawan yang amat berat.

Tek Po Tosu tersenyum dan menoleh kepada Bong Kak Liong.

"Ciangkun, jangan kau terlalu mencurigai orang. Tan-kongcu adalah seorang terpelajar, mana dia dapat disamakan dengan seorang penjahat yang lihai?"

Baik Bong Kak Liong maupun Thio-thaikam maklum bahwa tosu ini telah menguji, karena mereka memang tahu akan kecerdikan dan kelihaian tosu ini.

Maka hati Thio-thaikam menjadi lega.

Sementara itu Pangeran Song Hai ling mempersilakan para tamunya mengambil tempat duduk.

"Agak mengherankan hati saya mengapa Thio-taijin pagi sekali datang mengunjungi rumah kami. Apakah artinya penghormatan besar ini?"

Tanya Pangeran Song yang tidak terlalu banyak mempergunakan kehormatan dan kesungkanan terhadap thaikam yang amat besar pengaruhnya ini oleh karena selain dia masih merupakan keluarga kaisar, juga memang Pangeran Song terkenal memiliki watak yang tinggi dan tidak mau merendahkan diri terhadap thaikam yang amat besar pengaruhnya ini.

Thio-thaikim menarik napas panjang dan setelah membanting tubuhnya yang gemuk itu di atas kursi dia lalu berkata.

"Saya datang untuk minta maaf atas kelancangan Bong-ciang kun malam tadi. vang dilakukannya atas perintah saya. Seorang penjahat kejam telah datang menyerbu istana saya dan melukai pundak saya. Ketika dikejar, penjahat itu menurut keterangan para pengejar, lari melompat keatas genteng istana pangeran lalu lenyap. Maka tentu saja Bong-ciangkun menduga bihwa penjahat itu masuk dan bersembunyi ke dalam gedung ini."

"Ah, tidak apa, Thio taijin Saya sudah mendengar hal itu dari Bong-ciangkun, hanya saja saya harap agar lain kali Bong ciangkun lebih percaya terhadap orang segolongan sendiri!"

Jawab Pangeran Song Hai Ling sambil memandang tajam kepada perwira itu yang menundukkan mukanya yang menjadi merah. Kembali Thio-thaikam menarik napas panjang.

"Yang amat mengherankan hati saya pangeran adalah persamaan pendapat antara penjahat itu dengan pangeran."

"Apa maksud kata kata itu taijin?"

Pangeran Song bangkit dari tempat duduknya dan memandang dengan penasaran. Thio-thaikam mengeluarkan sehelai kertas berurat yang dilemparkan dengan pisau oleh penyerang malam tadi.

"Lihatlah ini, pangeran!. Penyerangannya itu didasarkan oleh rasa penasaran karena pajak, sama benar dengan permohonan dan protes pangeran kepada kaisar dahulu itu mengenai penurunan pajak!"

Pangeran Song membaca tulisan di atas surat itu yang berbunyi . MELALUI PAJAK. MEMERAS RAKYAT, PEMBESAR KEPARAT HARUS MATI DI UJUNG PEDANG.

"Thio-taijin, saya tidak melihai persamaan yang taijin katakan tadi. Saya mengajukan permohonan dengan maksud baik, bukan mempergunakan pedang untuk membunuh siapapun!"

"Harap paduka tenang, pangeran. Karena paduka tidak bercampur tanngan dalam urusan ini, maka sayapun tidak akan berpanjang lebar, Akan tetapi, kita sama-sama adalah orang-orang yang menghadapi urusan pajak ini secara langsung, dan pangeran bahkan bertugas menerima dan mengumpulkan hasil pemungutan pajak. Sekarang timbul gejala-gejala pemberontakan tentang pajak ini. sudah sepatutnya kalau kita merundingkan dan mengatur langkah-langkah bagaimana baiknya. Kalau menurut pendapat paduka, bagaimanakah baiknya, Pangeran?"

"Saya hanyalah seorang bendahara kerajaan yang tugasnya hanya menghitung uang masuk dan keluar dan sama sekali tidak berwenang untuk mengatur pajak."

Jawab Pangeran Song Hai Ling dengan hati-hati.

"Bagaimana saya berani menyatakan pendapat? Pendapat seorang seperti saya hanya akan menimbulkan kecurigaan orang belaka!"

Kata-kata yang mengandung sindiran ini diterima oleh Thio-thaikam dengan senyum .

"Harap lupakan hal yang sudah lalu. Pangeran Song. Baiklah, kalau paduka tidak mau mengeluarkan pendapat, maka harap dengarkan pendapat saya. Orang-orang yang tidak setuju dengan peraturan pajak itu, hanya orang-orang yang jahat dan malas, yang memang sengaja ingin menyelundupkan pajak ke kantong sendiri. Memang sifat mereka itu selalu tidak puas dengan peraturan pemerintah, diberi sedikit ingin banyak, diberi banyak masih juga belum puas. Mereka adalah orang-orang yang memang pada dasarnya sudah mempunyai benih-benih memberontak. Oleh karena itu, jalan satu-satunya harus menggunakan tangan besi. Mulai sekarang setiap kali para pembesar di daerah-daerah menyetor uang pajak, harus diberi peringatan bahwa siapa saja yang tidak mau menyetorkan pajak dengan lengkap dan cukup, pelanggaran itu tidak dihukum cambuk lagi seperti biasa, melainkan dihukum mati!"

"Thio taijin!"

Pangeran Song berseru kaget "Akan tetapi.....rakyat sudah cukup menderita!"

"Paduka maksudkan bahwa kami yang mendatangkan penderitaan itu?"

Tukas Thio thai-kam dengan nada suara penuh ancaman dan tantangan.

"Bukan"". bukan"""!""

Jawab Pangeran dengan dengan cepat.

"Maksud saya, mereka cukup menderita karena datangnya musim kering yang panjang. Hasil sawah mereka tidak mencukupi."

"Aahh, alasan kosong belaka! Itu hanya untuk menutupi kemalasan mereka!"

Pangeran Song tidak lagi berani membuka suara karena dia tahu dari pengalaman lalu bahwa banyak membantah hanya akan menambah kemarahan pembesar ini dan bukan tidak mungkin kemarahan itu akan mengeluarkan peraturan-peraturan yang lebih keji lagi.

Thioa-thaikam lalu menegaskan sekali lagi bahwa peraturan baru itu harus selekasnya dilaksanakan, kemudian dia berpamit dan pergi meninggalkan gedung bersama dua orang pegawainya, diantar oleh Pangeran Song dan juga oleh Bun Hong yang hanya bertindak demi melindungi Pangeran Song.

Setelah tiba di pintu istana itu.

Thioa-thaikam menoleh dan berkata kepada Bun Hong Sambil tersenyum.

"Tidak kusangka bahwa engkau yang kejatuhan bintang dan memperoleh kebahagiaan besar menjadi calon suami Song siocia! Haha-ha. kionghi-kionghi! Harap saja acara pernikahan itu tidak akan ditunda-tunda lebih lama lama sehingga aku dapat menikmati arak pengantin!"

Lalu dia tertawa bergelak dan meninggalkan tempat itu diiringkan oleh dua orang pengawalnya dan para anak buah pasukan pengawal yang tadi menanti dan menjaga diluar istana pangeran.

Setelah pembesar itu pergi dan mereka kembali ke dalam gedung.

Bun Hong mengerutkan alisnya dan mengertak gigi sambil berkata gemas.

"Ingin sekali saya mencekik batang leher keparat busuk itu!"

Kemudian dia teringat akan akal yang dipergunakan oleh Pangeran Song tadi. maka dengan muka merah dia lalu menegur.

"Pangeran, mengapa paduka tadi mempergunakan alasan yang demikian menyulitkan?"

Pangeran Song menarik napas panjang "Tan-taihiap, aku memang tidak main-main dan setelah apa yang telah terjadi, engkau harus menolong kami dan suka menerima Kim Bwee sebagai calon isterimu.

Ketahuilah bahwa Kim Bwee adalah anak yang keras hati dan memegang kehormatan dan nama.

Setelah apa yang terjadi di dalam kamarnya itu, kalau engkau tidak mau menerimanya sebagai isteri, khawatir sekali kalau-kalau dia akan membunuh diri untuk menebus rasa malu dan aib yang menimpa dirinya.

Itu adalah hal pertama, dan ke dua, kalau kita tidak menggunakan alasan seperti tadi.

tentu akan terbuka rahasiamu dan kita semua akan celaka.

Ke tiga, terus terang saja, aku suka kepadamu, taihiap, dan aku akan rasa puas dan beruntung kalau bisa menpatkan seorang mantu seperti engkau."

"Akan tetapi"".."

Bun-Hong meragu.

"Akan tetapi apakah? Apakah engkau sudah beristeri?"

Pembesar itu bertanya dengan alis kerut penuh kekhawatiran. Bun Hong menggelengkan kepalanya.

"Atau sudah bertunangan dengan gadis lain?"

Kembali Bun Hong menggeleng kepala. Pangeran Song merasa lega sekali sehingga dia dapat tersenyum lebar, lalu memegang kedua pundak pemuda itu.

"Kalau begitu, apakah lagi halangannya? Atau barangkali""

Engkau menganggap puteriku itu kurang pandai atau kurang cantik?"

"Ah. bukan begitu, taijin""., Song-siocia adalah seorang puteri yang teramat cantik dan bijaksana. akan tetapi"". Dia teringat kepada Kui Eng dan segera diusirnya dengan ingatan bahwa gadis itu telah bertunangan dengan suhengnya.

"Apakah kau tidak mencinta pateriku?"

Bun Hong, menjadi gugup.

"Hamba"". mana berani mencinta seorang gadis yang begitu mulia seperti Song-siocia".!"

Pangeran Song tertawa dengan hati girang Jawaban ini cukup membayangkan bahwa pemuda ini pada hakekatnya tidak menolak.

"Sudahlah, Bun Hong, engkau memang berjodoh dengan anakku, berjodoh dan cocok benar untuk menjadi di suami Kim Bwee. Aku menyerahkan anakku itu dengan tulus ikhlas kepadamu dan biarlah sekarang juga aku mengumumkan hal ini dan memberitahukan kepada ibu mertuamu dan kepada Kim Bwee sendiri."

Betapapun juga, Bun Hong harus mengatakan di dalam hatinya bahwa Kim Bwee adalah seorang dara yang cantik jelita dan dalam hal kecantikan bahkan tidak kalah oleh Kui Eng hatinya memang sudah amat tertarik oleh kecanlikan gadis itu, juga oleh kebijaksanaannya maka kini demi menolong keluarga Song yang sudah memberitahukan pertunangan itu kepa Thio-thaikam hingga hal ini tidak dapat dan tidak nungkin dibatalkan lagi, dia tidak lihat jalan lain.

Dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Pangeran Song yang dan berkata perlahan.

"Apakah yang dapat saya katakan selain terima kasih? Taijin telah melimpahkan budi sebesar gunung, bahkan telah menyelamatkan jiwa saya, budi yang tidak mungkin dapat saya balas, taijin."

"Ha-ha-ha, Bun Hong, engkau adalah mantuku, mengapa masih juga menyebut taijin? bersikaplah yang pantas, mantuku!"

Dengan muka merah sekali Bun Hong lalu menyebut perlahan.

"Gak-hu (ayah mertua)"."

Pangeran Song Hai Ling tertawa bergelak dengan hati girang.

Kemudian orang tua ini berjalan memasuki ruangan dalam untuk menyampaikan berita girang itu kepada isterinya dan anaknya.

Biarpun hatinya merasa agak kecewa melihat jodoh puterinya seperti dipaksakan, namun nyonya Song yang maklum bahwa hal itu demi menyelamatkan keluarga, tidak banyak cerewet lagi.

Sedangkan Kim Bwee yang diberi tahu hanya menunduk dengan muka merah sekali dan tanpa disadarinya, jari-jari tangannya yang halus meruncing itu mempermainkan ujung bajunya.

"Hi-hik. kionghi, enci!"

Kim Hwa menggoda dan menowel dagu encinya.

Kim Bwee menjerit dan mengejar adiknya untuk mencubitnya.

Dua orang dara itu tertawa lirih dan berkejaran memasuki kamar mereka sendiri!

Telah lama kita meninggalkan Kui Eng.Sebaiknya kita tinggalkan lebih dulu pendekar Tan Bun Hong yang tanpa disangka sangka telah diambil mantu oleh seorang pangeran di kota raja itu dan mari kita mengikuti perjalanan Kui Eng, pendekar wanita yang gagah perkasa itu.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kui Eng meninggalkan Kuil Kwan-im-bio di An-kian dengan hati marah.

Selain merasa marah, dia juga merasa kasihan kepada Gan Beng Han, karena tak pernah disangkanya bahwa twa-suhengnya itu ternyata menaruh hati kepadanya, mencintanya seperti cinta seorang pria kepada seorang wanita, bukan hanya cinta seorang suheng kepada sumoinya.

Dia memang suka sekali kepada Beng Han yang dapat dipercaya dan dapat pula diandalkan, akan tetapi rasa sukanya adalah rasa suka seorang adik terhadap seorang kakaknya, atau rasa suka antara sahabat, dan sekali-kali tidak pernah terlintas di dalam pikirannya untuk mendengar pinangan yang datangnya dari Beng Han.

Demikian pula terhadap Tan Bun Hong, ji-suhengnya, dia mempunyai perasaan yang sama, dan menganggap Bun Hong sebagai kakaknya yang ke dua.

Dia tidak pernah mengira bahwa Beng Han jatuh cihta kepadanya karena pemuda yang alim itu selalu kelihatan pendiam.

Kalau ada persangkaan di dalam hatinya maka persangkaan itu ditujukan kepada Bun Hong yang sering kali akhir-akhir ini memandangnya dengan sinar mata ganjil da penuh kekaguman seperti yang dia lihat pada mata pemuda-pemuda lainnya kalau sedang memandang kepadanya.

Kui Eng merasa dunia seakan-akan sunyi sepi.

Semenjak kecil dia hidup bersama gurunya dan ditemani oleh dua orang suhengnya.

Kini dia berada seorang diri saja di dunia yan luas ini, tanpa sanak kadang, tanpa teman, tanpa tempat tinggal, tanpa apa-apa!

Akan tetap biarpun dia merasa sunyi sekali melakukan perjalanan seorang diri itu, hatinya merasa lega oleh karena kini dia tidak usah memusingkan urusan cinta mencinta yang tak dikehendaki itu.

Kalau dia harus mengadakan perjalanan bersama Beng Han yang telah diketahuinya jatuh cinta kepadanya sebagai seorang pemuda mencintai seorang dara, tentu dia akan merasa malu-malu dan sungkan sehingga perjalanan itu menjadi tidak leluasa dan tidak enak.

Di sepanjang perjalanan seorang diri itu sebagai seorang pendekar wanita, setiap kali terjadi sesuatu hal yang memerlukan pertolongan, Kui Eng tidak pernah meragu untuk mengulurkan tangan dan melakukan pertolongan!

kepada mereka yang lemah tertindas sehingga tidak sedikit pendekar wanita remaja ini telah menolong orang-orang yang sengsara dan membasmi orang-orang jahat yang mengandalkan kekuasaan dan kepandaian untuk menghina dan menekan orang lain.

Seperti yang telah dikatakannya kepada Beng Han dahulu ketika dia hendak pergi merantau Meninggalkan twa-suhengnya, dia hanya mengandalkan kedua kakinya dan pergi ke mana saja kedua kakinya membawa dirinyai Dia pergi lanpa mempunyai tujuan tertentu karena dia-pun tidak tahu ke mana ibunya telah pergi waktu kekacauan terjadi.

Beberapa bulan lamanya telah lewat tak terasa semenjak dia berpisah dari para suheng-nya.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Kui Eng memasuki sebuah dusun yang dilalui oleh jalan raya yang menuju ke kota raja, hatinya tertarik maka otomatis kakinya melangkah melalui jalan raya yang menuju ke kota raja ini dan pada pagi hari itu dia memasuki dusun dengan niat untuk mencari warung karena perutnya terasa lapar dan dia ingin sarapan.

Tiba-tiba dia mendengar suara ribut-ribut di depan, di dalam dusun itu.

Kui Eng mempercepat langkahnya dan sebentar saja dia melihat tiga orang pemuda berpakaian sebagai orang-oraug terpelajar sedang dikurung oleh banyak orang dan diejek dengan kata-kata menghina.

Sebagian besar dari orang-orang yang mengurung itu adalah petani-petani biasa yang merupakan penonton-penontan biasa, akan ta tapi yang betul-betul sedang mengejek dan menghina tiga orang muda itu adalah seorang laki-laki bermuka hitam yang dibantu oleh kawan-kawannya yang berjumlah delapan orang.

"Ha-ha, tiga ekor cacing buku yang bisanya hanya mencoret-coret di atas kertas! Apa sih kepandaian kalian sebenarnya? Kalian paling paling hanya mengikuti ujian dan setelah memperoleh pangkat lalu menjadi kepala besar dan menggunakan kedudukan kalian untuk menindas kami! Apakah kalian bisa menggunakan cangkul dan menanam gandum? Ha-ha ha! Kalau tidak ada orang-orang kasar seperi kami, apa kalian kira kalian akan dapat makan dan dapat hidup? Kukira kalian ini mengangkat cangkulpun tidak akan kuat, ha-ha-ha!"

Kata seorang di antara para pcngejek itu.

"Orang-orang macam inilah yang menjadi calon-calon pemeras dan penindas kita!"

Si muka hitam berkata sambil menunjuk ke arah hidung tiga orang pemuda itu.

"Orang-orang macam ini harus kita bikin mampus saja agar kita tidak ditambahi penindas penindas dari tiga orang calon pembesar ini!"

Mendengar ucapan dan anjuran si muka ini, kawan-kawannya lalu maju mengurung dengan sikap yang amat mengancam.

Sementara itu, para petani yang sudah terlalu kenyang mengalami penindasan dan pemerasan para petugas pemerintah, hanya menonton saja dengan senyum seakan-akan tiga orang pelajar itu alah orang-orang yang benar-benar kelak akan menambah beban hidup mereka, seolah-olah mereka sedang menonton pertunjukan yang menarik hati.

Kui Eng memperhatikan tiga orang muda.

Mereka itu berpakaian pantas, seperti biasanya orang-orang muda yang suka mempelajari sastera, dan usia mereka itu kurang lebih delapan belas tahun.

Wajah mereka tampan, rapi dan sikap mereka lemah lembut dan halus, seorang di antara mereka yang berwajah tampan sekali dengan mata tajam bagaikan bintang dilindungi alis yang tebal dan panjang menghitam berbentuk golok, nampak tenang dan tabah menghadapi ejekan-ejekan itu, berkata dengan dua orang kawannya yang telah menjadi pucat mendengar ancaman banyak orang lu.

"Cu-wi sekalian,"

Kata pemuda tabah itu dan suaranya nyaring halus sehingga menarik perhatian Kui Eng.

"Kami bertiga adalah pelajar-pelajar yang menuju ke kota raja, hendak menempuh ujian dan sama sekali kami tidak mengerti tentang pemerasan dan penindasan. Melihat sikap cu-wi, barangkali telah terjadi penindasan di sini, akan tetapi, kami tidak mempunyai sangkut-paut dengan hal itu. Harap cu-wi suka berpikir dengan matang jangan memandang orang dengan sama saja."

Si muka hitam meludah ke atas tanah "Cuhh!!

Begitulah lagak kutu-kutu buku yang busuk dan jahat!

Pandainya hanya memutar pena bulu dan menggoyang lidah.

Coba kau jawab, untuk apa kau mempelajari semua kepintaran bicara dan menulis itu?

Apakah gunanya itu bagi kami?

Akan tetapi sebaliknya kami mengayun cangkul menghasilkan gandum dan padi bukan untuk mengenyangkan perut kami sendiri, bahkan perut kalian bertiga semenjak kecil kalau tidak diisi oleh hasil tanaman dan cangkul kami mau diisi dengan apakah?"

"Cu-wi,"

Kata pelajar tampan itu pula dengan sikap yang tetap tenang dan senyum ramah.

"kami dapat mengerti dan menghargai jasa kalian sebagai petani. Akan tetapi hendaknya diingat bahwa masing-masing orang memiliki bakat-bakat dan lapangan kerja sediri-sendiri, melayani bidang masing-masing untuk memajukan negara dan bangsa. Kalau semua orang harus menjadi petani, siapakah yang akan mengerjakan dan membuat barang-barang kebutuhan lain? Kita harus hidup bersama saling menolong dan saling mengisi kebutuhan masing-masing, baru kita bisa hidup dengan tenteram dan damai, penuh kemakmuran dan kebahagiaan."

"Cih, pandainya memutar lidah! Pendeknya orang-orang macam kalian ini tidak ada gunanya. Bisanya hanya memeras rakyat petani. Kalian ini harus ditumpas, harus dibunuh semua,"

Kata si muka hitam sambil melangkah maju.

"Lihat, muka kalian sudah pucat karena takut. Cih, pengecut, penakut, laki-laki lemah!"

Pemuda itu menjadi marah.

"Laki-laki kasar yang tidak tahu akan sopan-santun. Apakah kesalahan kami maka kau berlaku sekasar ini dan tanpa alasan memaki-maki orang?"

"Eh, eh, kau hendak melawan? Beranikah kau melawan aku Si Macan Hitam? Lihatlah, saudara-saudara, lihatlah baik-baik. Kutu buku ini hendak bertanding melawan aku!"

Kata muka hitam sambil tertawa bergelak dan semua orang itu mentertawakan pemuda pelajar itu.

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 6

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert