Eps 1 Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo.
Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 01
"Ghukk"..! Gerrrr"".. hukk-hukkk"
Anjing kurus kering penuh kudis itu menyalak-nyalak, matanya yang merah dan jalang melotor, lidahnya terjulur dan meneteskan air liur, kelihatan marah sekali dan siap menerkam dua orang anak laki-laki yang berdiri menghadang di depannya.
Dua orang anak laki-laki yang juga kurus kering, entah siapa yang lebih kurus antara anjing itu dan mereka.
Karena tubuh bagian atas kedua orang anak itu tidak berbaju, maka nam-pak pula tulang-tulang iga menonjol dibungkus kulit, sekurus anjing itu pula.
Hanya bedanya, kalau anjing itu kelihatan liar dan jalang, adalah dua orang bocah itu kelihatan marah namun juga membayangkan perasaan takut.
Di belakang dua orang anak laki-laki itu nampak seorang anak perempuan yang berusia paling banyak lima tahun, hanya lebih muda satu dua tahun dibandingkan dengan dua orang bocah laki-laki itu.
Anak perempuan inipun kurus kering dan pucat, pakaiannya kotor dan cabik-cabik, dia menangis ketakutan sambil duduk di atas tanah memegang seekor ayam yang telah mati.
Bangkai ayam ini dipegangnya erat-erat bagaikan seorang yang kikir memegang kantong uangnya, bahkan lebih lagi, seperti seorang ibu melindungi anaknya dari ancaman bahaya!
Anjing itu menyalak-nyalak lagi dengan ganasnya.
Suara gerengannya menambah seram keadaan dan suasana di sekeliling tempat itu.
Mereka berada di sebuah jalan raya yang sunyi, dan di kanan kiri jalan nampak puing rumah-rumah yang telah hancur tidak nampak seorangpun manusia kecuali tiga orang anak kecil dan seekor anjing yang agaknya saling memperebutkan bangkai ayam yang dipegang oleh anak perempuan itu.
"Hsssttf! Pergi kau, anjing gila!"
Bentak seorang di antara dua bocah yang berdiri dengan tangan terkepal itu.
"Hieeeehhhh! Pergi kau, binatang jahat!"
Bentak anak ke dua.
Anjing itu terkejut mendengar bentakan mereka, nampak ragu-ragu, akan tetapi ketika matanya menatap ke arah bangkai ayam di dalam pelukan anak perempuan itu, dia menggereng lagi dan tiba-tiba dia menyerbu, hendak menerobos di antara dua orang anak kecil yang seolah-olah merupakan "pengawal"
Atau "penjaga"
Itu dan merampas bangkai ayam dari tangan anak perempuan tadi.
Anak perempuan itu menjerit ketakutan melihat anjing yang menyalak-nyalak dan menggereng itu kini menyerbu.
Dia bangkit berdiri dan kedua kakinya menggigil.
Akan tetapi, dua orang anak laki-laki yang usianya paling banyak tujuh tahun itu, menjadi marah dan mereka berdua menyambut serbuan anjing dengan kaki tangan mereka yang kurus dan kecil itu digerakkan, memukul, menyepak dan membetot ekor binatang itu.
Anjing itu meraung marah dan membuka mulut hendak menggigit.
Dengan gerakan ganas, dia membuka moncongnya dan mengigit ke arah tangan yang membetot ekornya.
Pegangan pada ekor itu terlepas, anak yang bertahi lalat di dahinya cepat menarik tangannya agar jangan tergigit.
Bocah ke dua menyepak perut binatang itu.
"Bukk! Kainggg!!"
Anjing itu marah karena kesakitan, dia menggigit ke arah kaki yang menendangnya tadi dan berhasil mengigit celana yang sudah compang-camping itu.
"Breeettt!"
Anak itu tertolong oleh keadaan celananya sendiri yang sudah robek sebelumnya.
Gigitan anjing itu hanya mengenai celananya yang robek sehingga celana itu makin lebar robeknya.
Ketika anjing itu hendak menyerbu lagi, sebelum giginya yang runcing kuat itu dapat dibenamkanya ke dalam kulit pembungkus tulang kaki anak-anak itu, tiba-tiba nampak sinar hitam berkelebat menyambar.
Sinar kecil yang ternyata adalah sebutir batu kerikil dan yang menyambar tepat mengenai kepala anjing kurus itu.
"Trakkk nguuukkk!"
Anjing itu terguling, mengeluarkan raung terakhir dan roboh dengan kepala pecah, tewas seketika.
Dua orang anak laki-laki itu bersikap acuh tak acuh terhadap seorang kakek tua yang tadi menyambit anjing itu.
Mereka kini menghampiri anak perempuan yang masih memegang bangkai ayam dan yang didekapnya dengan ketat di dadanya yang tipis.
Sepasang matanya yang sayu mcmandang terbelalak kepada mereka berdua dan tiba-tiba terdengar suaranya yang nyaring.
"Jangan ambil ayamku jangan ambil, aku lapar..."
Suara ini setengah bermohon dan setengah menegur.
"Siapa yang hendak mengambil ayammu? Kau makanlah, aku tidak sudi merampas makanan milik anak perempuan!"
Kata seorang di antara mereka yang mempunyai tahi lalat kecil di dahinya, di tengah-tengah.
"Kami telah menolongmu, sebaliknya kamu menuduh kami hendak merampas ayammu. Memang anak perempuan tidak tahu terima kasih!"
Kata anak laki-laki ke dua yang berwajah tampan sambil bersungut-sungut.
Anak perempuan itu memandang dengan sepasang matanya yang bening dan lebar, kelihatan amat lebar besar karena Wajahnya yang kurus sekali dan pucat itu sehingga mukanya seolah-olah dipenuhi oleh kedua matanya itu.
Kemudian tiba-tiba dia tersenyum dan mengulurkan kedua tangannya yang memegang bangkai ayam itu kepada mereka.
"Marilah, kita bagi bertiga!"
Katanya.
Dua orang anak laki-laki itu saling pandang dan merekapun tersenyum.
Anak yang bertahi lalat di dahinya itu lain mcnerima bangkai ayam dan mencabuti semua bulu bulunya, dibantu oleh temannya yang tampan wajahnya dan oleh anak perempuan itu pula.
Mereka bertiga bekerja sambil tertawa ha-ha-hi-hi penuh kegembiraan, dan terkekeh geli melihat betapa kepala ayam itu bergerak-gerak mengangguk-angguk seperti membenarkan semua perbuatan mereka.
Setelah semua bulu ayam dibersihkan, mereka lalu menggabung tenaga mereka untuk menarik kedua kaki ayam, merobek kulit daging bangkai ayam itu, membaginya tanpa berebutan lalu mereka makan daging ayam itu mentah-mentah!
Kakek yang tadi menyambit anjing, kini berdiri seperti patung menyaksikan ini semua, mula-mula terbelalak, wajahnya berobah pucat, kemudian dia memejamkan matanya untuk beberapa saat lamanya.
Jantungnya terasa seperti ditusuk-tusuk ketika dia menyaksikan betapa lahapnya tiga mulut manusia kecil itu mengunyah daging ayam mentah.
Sudah terlampau banyak yang disaksikannya selama beberapa bulan ini.
Peristiwa demi peristiwa yang makin menekan perasaan hatinya.
Korban-korban perang yang amat mengerikan dan menyedihkan.
Ketika dia memejamkan mata dengan alis berkerut, dia melihat cahaya kemerahan membayang di depan kedua matanya yang terpejam.
Warna merah, warna api, warna perang!
Perang!
Kata ini, diucapkan dalam bahasa apapun, merupakan kutukan hebat bagi setiap bangsa, merupakan bencana yang paling mengerikan dan menyedihkan bagi setiap orang manusia!
Siapakah orangnya yang tidak ngeri melihat perang, kengerian yang menimbulkan kebencian dan kemuakan terhadap perang?
Siapakah yang suka akan perang, kecuali mereka yang memang mempergunakan perang sebagai jembatan untuk mencapai idam-idaman hati mereka yang penuh kekotoran?
Biarpun mungkin ada orang yang tidak mengkhawatirkan keselamatan diri sendiri dalam perang, setidak-tidaknya dia akan merasa ngeri apabila dia mengingat bahwa perang dapat membinasakan seluruh harta bendanya, seluruh keluarganya, isteri, anak, handai taulan dan orang-orang yang paling dia cinta di dalam dunia ini.
Perang menimbulkan bunuh membunuh antara manusia, kekacauan, pengkhianatan, kekejaman, perbuatan-perbuatan yang tidak patut dilakukan oleh manusia yang berakal budi dan yang merganggap dirinya sebagai mahluk semulia-mulianya di permukaan bumi ini.
Perang diliputi oleh nafsu merusak semata, nafsu membunuh dan membinasakan yang hidup dan yang indah.
Semua perbuatan keji tidak ada yang diharamkan, semata-mata karena terdorong oleh nafsu ingin menang!
Tidak ada seorang pun yang ingat bahwa kemenangan adalah sesuatu yang hampa, bahwa kemenangan menimbulkan dendam permusuhan, dan bahwa kesenangan karena menang perang menimbulkan penyesalan, penderitaan, dan kebosanan!
Memang, perang adalah kutukan dan bencana bagi setiap orang manusia, dan pada umumnya perang dibenci oleh rakyat, semenjak jaman dahulu sehingga sekarang.
Seperti juga semua negara di dunia ini, semenjak dahulu Tiongkok selalu dilanda perang yang tiada lain menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan kepada rakyat.
Pada sekitar tahun 755 M, selama kurang lebih delapan tahun, di waktu Kaisar Hian Tiong menjadi raja, rakyat telah menderita karena timbulnya perang yang tiada hentinya.
Kaisar mengangkat seorang Suku Bangsa Tartar bernama An Lu San menjadi seorang panglima besar yang diberi kekuasaan penuh di Propinsi Ho-pei.
Akan tetapi, panglima ini setelah memiliki kekuasaan besar dan mengepalai banyak tentara, lalu memberontak, memimpin limabelas laksa tentara memukul dan menyerbu ke arah selatan.
Kaisar Hian Tiong terpaksa lari mengungsi ke Propinsi Se-cuan karena bala tentaranya tidak dapat menahan serbuan yang dilakukan serentak dan tak disangka-sangka ini.
Semenjak peristiwa itu, perang terus berkobar.
Akhirnya, berkat perlawanan rakyat jugalah maka pemberontak-pemberontak itu dapat dipukul mundur, padahal ketika terjadi perang, rakyat pula yang harus menderita paling hebat.
Kaisar sendiri dan para pembesar di waktu perang dan biarpun mereka harus mengungsi, tetap saja dalam keadaan aman terjaga, dan tidak kekurangan!
Bahkan di dalam pengungsian, para pembesar itu masih menikmati hiburan-hiburan yang disajikan oleh pembesar-pembesar setempat!
Kesenangan-kesenangan yang mereka nikmati di waktu darah rakyat masih belum kering membasahi bumi!
Sampai pada saat Kaisar Hian Tong diganti oleh Kaisar Su Tiong, perang masih merajalela.
Kini perang itu ditimbulkan oleh pemberontak-pemberontak yang pimpinannya telah diganti pula oleh pemberontak Sie Se Ming.
Di dalam peperangan yang ditimbulkan oleh pemberontakan-pemberontakan ini, siapapun yang bersalah dalam hal ini, baik fihak kaisar maupun fihak pemberontak, yang sudah pasti adalah bahwa rakyatlah yang menderita karenanya.
Para tentara yang memberontak itu melakukan segala macam kejahatan, seperti biasa dilakukan oleh bala tentara fihak yang menang perang di bagian dunia manapun juga.
Perkampungan dibakar, dirampok, penduduk dibunuhi karena setiap orang mereka curigai dan mereka tuduh sebagai anggauta-anggauta barisan gerilya yang dilakukan oleh para pemuda kampung setempat yang mereka anggap membantu musuh.
Laki-laki dibunuhi secara kejam, wanita-wanita diganggu dan diperkosa, anak-anak kecil dibunuh pula dengan cara yang amat kejam dan di luar, batas perikemanusiaan.
Di dalam perang, iblis dan setan berpesta-pora dan hasil keindahan seni alam diinjak-injak hancur, sedikitpun tidak ada harganya lagi.
Begitu perang berkuasa, nafsu dendam dan kebencian menguasai manusia sehingga manusia yang tadinya merupakan mahluk yang setinggi-tingginya, berubah menjadi mahluk yang serendah-rendahnya, tidak ada harganya lagi!
Dalam perang, nyawa seekor ayam jauh lebih berharga dari pada nyawa seorang manusia.
Ayam dibunuh untuk dimanfaatkan dagingnya, namun manusia yang dianggap musuh dibunuh begitu sajal Ratusan, ribuan, laksaan, jutaan!
Terutama sekali di dusun-dusun yang dilalui oleh rombongan kaum pemberontak di bawah pimpinan An Lu San ketika mereka menyerbu ke selatan, segala macam kekejaman yang sukar dibayangkan manusia normal, terjadilah.
Dusun-dusun yang dilalui itu dibakar habis dan entah berapa puluh atau ratus ribu jiwa orang-orang kampung dibinasakan oleh bala tentara pemberontak itu.
Dan oleh karena yang dirampok bukan hanya harta benda yang berada di dalam rumab, melainkan juga hasil sawah ladang disikat habis untuk dijadikan persediaan ransum bagi barisan pemberontak yang berjumlah besar itu, maka keadaan dusun-dusun itu ludes sama sekali.
Bahkan sawah ladang yang tidak sempat mereka rampok, mereka bakar habis dengan dalih agar merugikan fihak musuh.
Hal ini membuat rakyat selain menderita karena kekejaman mereka, juga menderita ancaman bahaya kelaparan karena kehabisan makanan sebelum sawah ladang mereka yang dibakar itu sempat menghasilkan panen baru.
Belum lagi wabah yang mengerikan timbul sebagai akibat dari mayat-mayat manusia yang membusuk karena tidak sempat dikubur sebagaimana mestinya itu.
Sisa orang-orang yang berhasil menyelamatkan diri dari tangan maut yang menjangkau nyawa mereka melalui pedang tombak dan golok para pemberontak, kini diancam oleh tangan maut yang mencengkeram perut mereka sendiri yang kosong, orang-orang yang mati kelaparan menggeletak di mana-mana.
Sementara itu, kaisar dan para pembesar masih sempat berpesta pora merayakan "kemenangan"
Mereka atas fihak pemberontak yang mengundurkan diri!
Kakek tua yang usianya tentu sudah mendekati tujuh puluh tahun, yang berjenggot panjang dan bertubuh tinggi kurus namun masih nampak kuat itu, kini membuka mata mengelus jenggotnya.
Sambil memandang ke arah tiga orang anak kecil yang sedang melahap daging bangkai ayam mentah itu.
Tanpa disadarinya, kedua mata kakek ini menjadi basah.
Melihat mayat mayat manusia berserakan tidaklah begitu menusuk perasaannya karena betapapun juga, mereka itu telah mati dan telah terbebas dari pada penderitaan jasmani.
Akan tetapi, melihat.
anak-anak kecil yang masih hidup demikian menderita, sungguh membuat hati terasa perih.
Anak-anak yang masih bersih dan murni, yang dalam usia sekecil itu layaknya masih bermain-main dan membenan kan diri dalam kebahagiaan dan keriangan, kini harus menderita kelaparan, memperebutkan bangkai ayam dengan seekor anjing kelaparan!
Kakek tua itu membayangkan apa yang dilihatnya beberapa hari yang lalu dan dia bergidik, kembali dia memejamkan matanya.
Namun, apa yang dilihatnya beberapa hari yang lalu itu makin jelas membayang ketika dia memejamkan matanya.
Ada seorang dusun yang menjadi gila kalena penderitaannya dan karena rasa lapar yang mematahkan jiwanya.
Keluarga petani tua ini telah habis binasa menjadi korban para memberontak, dan kini dia sendiri hampir binasa karena kelaparan.
Dia berlari ke sana ke mari menangis di antara suara ketawanya yang mengerikan.
Tubuhnya kurus kering, kelihatan begitu ringan, akan tetapi kedua kakinya seperti tidak bertenaga lagi sehingga tubuhnya terhuyung ke sana-sini.
Pakaiannya compang-camping setengah telanjang, dan mulutnya menjerit-jerit diantara keluhan yang terdengar setengah tertawa setengah menangis.
"Lapar-lapar!"
Akan tetapi, siapakah yang dapat menolongnya?
Semua orang berkeadaan sama, bahkan banyak pula yang lebih buruk keadaanya dari pada kakek gila itu, karena mereka sudah rebah di atas tanah atau di lantai gubuk bobroknya, rebah tidak berdaya untuk bangkit kembali, tinggal menanti datangnya maut menjemputnya dan membebaskan mereka dari penderitaan itu.
Orang gila itu lari ke sawah yang masih kosong.
Dia menjatuhkan diri di atas tanah, menangis meraung-raung, makin lama makin lemah, dan tiba-tiba matanya menjadi liar, dicengkeramnya tanah lembek itu lalu dimakannya!
"Tanah tanah....
dari engkaulah segala makanan lezat terjadi ibu tanah kalau anak-anakmu enak dimakan dan mengenyangkan perut, mengapa engkau tidak....?"
Biarpun dia merasa betapa kasar dan tidak enak rasa tanah itu di dalam mulutnya, namun dia memaksanya dan menelannya mema-suki perutnya.
Akhirnya dia terkulai lemas dan ketika kakek berjengeot panjang itu lari menghampiri, dia mendapatkan kenyataan bahwa orang gila itu telah manti!
Kejadian seperti itu masih belum hebat.
Bahkan ada orang-orang tua yang membunuh anak-anak mereka sendiri dengan melemparkannya ke dalam sungai oleh karena sudah tidak kuasa lagi memeliharanya.
Hal seperti ini bukan dongeng kosong belaka!
Sayang, betapa baiknya kalau hanya dongeng.
Celakanya, hal seperti itu sungguh-sungguh terjadi!
Dalam kelaparan dan penderitaan itu, orang menjadi mata gelap dan pertimbangan akal budinya sudah rusak.
Tekanan penderitaan menimbulkan kejahatan-kejahatan yang tidak segan-segan dilakukan oleh seorang yang tadinya hidup secara baik-baik dan terhormat.
Rampok dan curi terjadi di mana-mana.
Gadis-gadis dijual oleh ayah ibunya sendiri, ditukarkan dengan beras yang dapat menghidupkan adik-adik para gadis itu.
Kejam, ganas, mengerikan!
Demikianlah perang.
Di manapun dia merajalela, selalu menda-tangkan kebinasaan dan menimbulkan pelbagai kengerian yang tidak layak pula terjadi di atas dunia yang telah dikuasai oleh manusia.
Akan tetapi mengapa kita masih saja mau dipermainkan oleh sekelompok orang-orang di dunia ini, sekelompok orang-orang yang demi mencapai ambisi mereka, tidak segan-segan membujuk rakyat dengan pelbagai dalih agar rakyat suka berperang?
Dalih kebangsaan, dalih kehormatan,dan segala macam dalih muluk-muluk lain yang pada hakekatnya hanya menjadi selubung dari ambisi.
Mereka, hanya menjadi slogan kosong untuk membujuk rakyat agar mereka suka mempertaruhkan nyawa dan ke-selamatan keluarga demi mencapai ambisi se-kelompok orang itu?
Mengapa?
Mengapa kita tidak mau menyatakan dengan bulat-bulat!
Terkutuklah perang!
Dan terkutuk pula orang-orang yang dengan sengaja menyalakan api peperangan!
Mampuslah orang-orang yang gila perang, pergilah ke neraka jahanam!
Kami, manusia di seluruh dunia, tidak membutuhkan kalian dan tidak membutuhkan perang.
di permukaan bumi yang kami kasihi ini!
"Terkutuklah perang!"
Kakek yang berjenggot panjang itu berseru keras sambil mengepal tinjunya.
Tiga orang anak itu terkejut mendengar seruan kakek itu.
Mereka serentak menengok dan melihat kakek itu kini melangkah maju meng hampiri mereka.
Anak laki laki berwajah tampan itu cepat meloncat bangun dan mengepalkan kedua tinjunya yang kecil sambil memandang kakek itu dan membentak.
"Jangan kau mencoba untuk merampok makanan kami!"
Dia berdiri dengan sikap gagah dan agaknya siap hendak sungguh-sungguh melwan kakek itu apabila dia berani merampas daging ayam yang sedang mereka makan!
Anak-laki-laki yang bertaru lalat ditengah dahinya segera mencela kawannya.
"Ah, jangan! Dia tidak akan mengganggu kita. Dialah yang tadi membunuh anjing itu. Kakek yang baik, kalau engkau juga merasa lapar, marilah kuberi sedikit dari bagian daging ayamku."
Dia lalu mengulurkan tangan yang memegang daging mentah.
"Aihhh anak-anak aihhh, kasihan sekali kalian!"
Kakek itu menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya yang merasa amat terharu.
"Aku tidak lapar dan tidak akan mengganggu kalian. Akan tetapi, anak-anak yang baik, jangan kalian makan daging mentah itu. Ayam ini telah mati karena sakit, maka kalau dimakan mentah-mentah akan membahayakan kesehatan. Kalian akan jatuh sakit."
Ketiga orang anak kecil itu memanding kepadanya dan mulut mereka tersenyum, mata mereka memandang terbelalak dan seolah-olah sinar mata mereka berkata.
"Apa artinya jatuh sakit? Tidak akan lebih menyakitkan dari pada perut yang perih karena lapar!"
Kakek itu mengerti akan perasaan hati dan pikiran mereka, maka dia lalu membuat api dan menyuruh mereka itu memanggang daging ayam di atas api.
Anak-anak itu segera menurut dan memanggang daging ayam itu, karena memang daging itu alot sekali dan lebih enak kalau dipanggang dan dimakan matang.
Sementara itu, kakek tadi lalu menggali lubang, kemudian menyeret bangkai anjing yang pecah kepalanya untuk dikubur.
"Kalau tidak dikubur, dia akan membusuk dan akan menimbulkan penyakit,"
Katanya. Akan tetapi sebelum dia menimbun kembali lubang itu dengan tanah, tiba-tika datang dua orang wanita tua yang berteriak-teriak.
"jangan dikubur dia, jangan!!"
Mereka berlari menghampiri dan ketika kakek itu, memandang dengan heran, dua orang wanita tua itu dengan girang sekali lalu menubruk bangkai anjing itu dan membawanya lari sambil berseru kegirangan, seolah-olah anak-anak kecil kclaparan yang diberi makanan enak.
Kakek itu menggelengkan kepalanya dengan sedih.
"Ya Tuhan, semoga jangan terjadi lagi perang."
Doanya dengan lirih. Setelah semua daging ayam yang terpanggang tanpa bumbu itu habis dimakan oleh ketiga orang anak itu, kakek berjenggot panjang itu lalu duduk mendekati mereka dan bertanya.
"Apakah kalian bertiga bersaudara?"
Mereka bertiga memandang kepada kakek itu dengan mata yang bcsar-besar karena wajab mereka kurus-kurus, lalu mereka menggeleng kepala.
"Kami hanya sekampung "
Kata anak laki-laki yang bertahi lalat di tengah dahinya.
Melihat tiga orang anak itu membungkam selanjutnya dan kelihatan bercuriga kepadanya, kakek itu menarik napas panjang.
Dia maklum bahwa dalam keadaan seperti itu, tiga orang anak ini menjadi orang-orang yang penuh curiga.
Penderitaan yang bertubi-tubi membuat mereka harus menjaga diri dan tidak percaya lagi kepada orang lain, seperti seekor anjing yang selalu curiga kepada orang asing.
"Anak-anak yang baik, ketahuilah bahwa aku bukanlah seorang di antara mereka yang suka berperang. Aku seorang pertapa dan aku merasa kasihan melihat kalian, aku berniat untuk menolong kalian. Siapakah kalian ini dan di mana keluarga kalian?"
Pertanyaah yang dikeluarkan dengan halus ini melenyapkan kecurigaan mereka dan anak perempuan itu setelah menatap wajah kakek itu beberapa saat lamanya, lalu menukar pandang mata dengan dua orang anak laki-laki tadi, kemudian tersenyum.
"Kakek yang aneh""
"'Kenapa kaukatakan aku aneh?"
Kakek itu mengelus jenggotnya.
"Engkau membantu kami membunuh anjing, engkau tidak mau ikut makan, dan engkau hendak menguburkan anjing itu. Bukankah itu aneh namanya?"
Kata anak perempuan itu dari si kakek menghela napas.
Betapa keadaan telah merobah pendapat seseorang.
Dalam keadaan akibat perang seperti itu.
Sikapnya yang wajar dianggap aneh, dan mungkin dua orang wanita tua yang melarikan bangkai anjing tadi tidak aneh lagi bagi mereka bertiga ini!
"Hemm, mungkin kau benar.
Nah, ceritakanlah siapa kalian."
"Nimaku Eng, she Kui. Aku aku tidak tahu siapa mereka ini, hanya mereka berdua ini kutemui di tempat ini."
"Di manakah rumahmu dan siapa orang tuamu, Kui Eng? Ditanya demikian, Kui Eng tiba-tiba menangis. Dari kedua matanya yang lebar itu mengalir beberapa butir air mata, akan tetapi tidak banyak karena air matanya sudah dikuras habis dalam waktu beberapa bulan ini.
"Ayah dan semua orang dalam rumah telah dibunuh, rumah kami dibakar dan ibuku dibawa lari penjahat""
Kui Eng menjawab sambil megap-megap dan menangis makin sedih.
Kakek itu merangkulnya dengan hati terharu, mengelus rambutnya karena dia tidak tahu bagaimana harus menghibur anak yang kehilangan segala-galanya itu.
"Ayahnya dahulu adalah kepala kampung kami,"
Tiba-tiba anak yang tampan itu berkata. Kakek itu memandang kepadanya. Wajah anak laki-laki itu tampan sekali dan matanya bersinar penuh kecerdasan.
"Dan engkau sendiri siapakah, anak?"
"Aku bernama Bun Hong, ayahku adalah Tan-wangwe (hartawan Tan) di dusun ini, keluargakupun telah habis binasa oleh setan-setan itu!"
Sambil berkata demikian, kedua tangan anak ini dikepalkan dan matanya memancar-kan cahaya penuh dendam! "Dan dia ini, saudaramukah dia?"
Kakek itu bertanya sambil menuding ke arah anak laki-laki yang bertahi lalat di dahinya.
"Bukan,"
Jawab Bun Hong.
"kami bertiga tidak saling mengenal, akan tetapi dahulu aku pernah melihat anak perempuan ini di gedung kepala kampung kami."
"Siapakah engkau, nak? Apakah engkau juga anak dari dusun ini dan di mana pula keluargamu?"
Tanya kakek itu kepada anak ketiga. Anak itu menggeleng-geleng kepalanya dan kedua matanya menjadi basah ketika dia mendengar pertanyaan itu.
"Ayahku adalah seorang petani di dusun sebelah selatan sana dan namaku adalah Gan Beng Han. Ayahku tewas dalam pertempuran melawan barisan pemberontak, karena ayahku ikut dalam gerakan gerilya membantu pasukan pemerintah. Sedangkan lbuku dan adik perempuanku, entah pergi ke mana. Mungkin saja mengungsi dengan orang-orang lain ketika setan-setan itu datang menyerbu. Rumah kami sudah dibakar habis, aku hidup sebatangkara."
Anak yang bernama Beng Han itu menundukkan mukanya.
"Setan-setan itu kurang ajarsekali! Bahkan semua padi dan gandum kami dirampok habis. Yang tidak dapat mereka bawa, mereka bakar!"
Kata Bun Hong dengan suara gemas.
"Aku ingin membunuh mereka itu, iblis-iblis keparat itu, seorang demi seorang...! Kui Eng berkata dan sepasang matanya yang lebar bersinar-sinar, kedua tangannya yang kecil kurus dikepal dan mukanya diarahkan keangkasa.
"Aihh, anak-anak yang baik, kalian bertiga hanyalah sebagian di antara ribuan orang anak-anak yang menjadi korban perang. Secara kebetulan sekali kalian berjumpa dengan aku dan membuat hatiku tertarik, maka kalau kalian suka, marilah kalian ikut bersamaku ke gunung."
"Ke gunung? Mau apa?"
Kui Eng bertanya, kini sepasang mata yang jernih itu ditujukan ke arah wajah kakek itu dengan pandang mata heran dan penuh selidik.
"Mau apa? Ha-ha-ha, pertanyaanmu memang tepat, mau apa, ya? Apa sih artinya hidup ini? Mengapa hidup selalu dipenuhi dengan penderitaan dan kesengsaraan, dogan suka duka, senang snsah, puas kecewa? Ha-ha, anak baik, kalau kalian suka, aku akan mengajarkan ilmu silat kepada kalian karena aku yang tua bangka ini tidak mempunyai apa-apa lagi untuk diberikan kepada kalian selain ilmu silat."
Tan Bun Hong memandang dengan wajah gembira sekali. Dia melonjak kegirangan.
"Belajar silat? Ah, aku suka sekali! Kalau aku bisa silat, tentu akan kuhajar semua setan yang dulu pernah menyerbu ke sini!"
Akan tetapi Gan Beng Han memandang kepada kakek itu dan dia lalu menggeleng kepalanya perlahan tanpa menjawab.
"Eh, mengapa, nak? Apakah kau tidak suka belajar ilmu silat?"
"Bukan tidak suka, kakek yang baik. Tentu saja aku suka belajar silat dan menjadi seorang yang berguna kelak. Akan tetapi, kalau kami bertiga ikut dengan engkau orang tua, kami harus makan."
"Tentu saja kalian harus makanl"
Kikek itu berseru heran.
"Itulah sukarnya, kakek yang baik! Kami bertiga tidak punya apa-apa, hanya mempunyai tiga buah mulut dan tiga buah perut yang setiap hari harus diisi. Melihat pakaianmu, engkau adalah seorang kakek yang tidak kaya sedangkan kalau kami ikut bersamamu, selain pelajaran silat, engkau pun harus memberi sedikitnya tiga mangkok nasi setiap hari kepada kami. Bagaimana engkau akan kuat memelihara kami?"
"Ha-ha-ha-ha!"
Kakek itu memegang jenggotnya dan tertawa bergelak, wajahnya yang sudah keriputan itu nampak be sen ketika dia memandang ke atas dan pundaknya serta perutnya yang kempis itu terguncang-guncang dalam tawanya.
Diam-diam dia memuji anak laki laki yang mempunyai tahi lalat kecil di tengah dahinya itu.
Bocah ini kelak akan menjadi seorang pemuda yang berpemandangan luas, pikirnya.
"Beng Han, hal itu tidak perlu kaukhawatirkan, karena aku percaya bahwa kalian bertiga tentulah bukan anak-anak pemalas yang hanya pandai makan, akan tetapi tidak mau bekerja seperti watak babi, kalian tidak mau dipersamakan dengan babi-babi, bukan?"
Tiba-tiba Kui Eng bangkit berdiri dan memandang marah. Tinjunya dikepal dan kaki kanannya dibanting.
"Siapa berani menyebutku babi?"
"Aku bukan babi!"
Bun Hong juga berseru dan memandang marah.
"Kami tentu saja mau bekerja, kakek, akan tetapi engkau yang juga miskin ini dapat memberi pekerjaan apakah kepada kami?"
Beng Han bertanya sambil menatap tajam wajah keriputan itu.
Kembali kakek itu tertawa.
Baru saat ini semenjak berbulan-bulan dia merasa gembira, karena dari sikap dan kata-kata tiga orang anak ini, dia sudah dapat membayangkan watak masing-masing.
Selama berbulan ini, dia menyaksikan akibat-akibat perang yang menyayat hati dan menyedihkan dan kini, berhadapan dengan tiga orang calon manusia yang masih murni ini, dia menyaksikan keindahan yang amat menggembirakan hatinya.
Dia melihat betapa Kui Eng memiliki kekerasan hati dan keangkuhan, sifat yang baik untuk melindungi dirinya sebagai seorang wanita.
Bun Hong memiliki kegembiraan dan kejenakaan, juga agak angkuh dan manja, mungkin karena tadinya dia putera seorang hartawan Sebaliknya, yang amat mengagumkan hati kakek itu adalah sikap dan ucapan Beng Han karena dia dapat melihat banwa anak petani miskin ini kelak tentu akan menjadi seorang yang bijaksana, rendah hati, dan berpemandangan luas.
"Anak-anak, Tuhan adalah Maha Murah dan Maha Adil. Tanah subur terbentang luas, menanti digarap. Kita telah dikurniai tangan kaki dan akal budi. Maka kalau kita menggarap tanah itu, apakah tidak akan menghasilkan makanan yang kita butuhkan? Betapapun besarnya kurnia Tuhan, namun tanpa kita kerjakan dan kita usahakan, bagaimana ada makanan dapat berloncatan sendiri memasuki perut kita?"
Bun Hong tertawa.
"Heh-heh, betapa lucunya!"
Dia terkekeh-kekeh membayangkan ada makanan dapat bcrloncatan memasuki mulut mereka.
"Hanya katak hidup saja yang dapat meloncat masuk ke mulut yang selalu ternganga, heh-heh!"
"Ihh!"
Kui Eng bergidik jijik dan ngeri.
"Segala macam pekerjaan kalau kita lakukan dengan tekun dan rajin, pasti akan berhasil baik, anak-anak. Maka, hayolah ikut bersamaku. Mari kita bekerja!"
Ajakan ini mengandung suara penuh harapan dan kegembiraan yang mendorong hati tiga orang anak itu, maka tanpa diperintah untuk kedua kalinya, mereka lalu bangkit dan mengikuti kakek itu keluar dari dusun yang telah hancur itu, berjalan menuju ke arah barat di mana nampak menjulang tinggi puncak Pe-gunungan Kwi-hoa-san.
Perjalanan yang lambat dan berat, apa lagi karena setiap kali melihat ada mayat manusia bekas korban perang, biarpun mayat itu sudar nembusuk dan hampir tak tertahankan baunya oloh tiga orang anak itu, tetap saja kakek itu berhenti dan menguburnya lebih dulu, dibantu tiga orang anak yang kini telah menjadi muridnya.
Perang memang merupakan malapetaka yang mengerikan dan menyedihkan.
Malapetaka yang telah terjadi semenjak sejarah berkembang sampai pada jaman ini dan pasti akan selalu terulang kembali di seluruh dunia selama manusia belum menyadari bahwa perang adalah akibat dari keadaan diri kita pribadi.
Perang yang terjadi di sudut dunia yang lain, biarpun amat jauh dari tempat kita tinggal, tidak terlepas dari keadaan kita sebagai manusia karena sesungguhnya keadaan kitalah yang menimbulkan perang, di manapun malapetaka itu terjadi.
Apakah yang menimbulkan perang?
Perang adalah konflik, perang adalah pertentangan antara dua kelompok atau lebih, yaitu kelom pok yang dapat saja merupakan bangsa, kelompok suku, kelompok agama, kelompok aliran kepercayaan, kelompok aliran politik, atau kelompok-kelompok yang mengekor dan dipengaruhi oleh para pemimpin yang mempergunakan kelompok itu untuk mencapai cita-cita atau tujuannya.
Konflik terjadi karena masing-masing kelompok mempertahankan kebenarannya.
Dan kebenaran yang dipertahankan sesungguhnya hanyalah pengejaran terhadap sesuatu yang menyenangkan diri pribadi belaka.
Konflik antara kelompok ini mencerminkan konflik antar manusia dan konflik antar manusia terjadi karena adanya konflik dalam batin setiap manusia.
Dan seperti telah kita ketahui tadi, konflik terjadi apabila kita mengejar sesuatu yang kita anggap menyenangkan, yang kita selimuti dengan kata indah dan megah.
Kebenaran!
Apakah sesungguhnya sesuatu yang kita kejar-kejar itu?
Sesuatu yang kita kejar tentu saja adalah sesuatu yang belum ada, yang belum terjadi, yang belum berada di dalam tangan kita.
Kita selalu mengejar sesuatu yang lain dari pada yang telah ada.
Kita selalu ingin yang BEGITU, karena kita tidak menghargai lagi yang BEGINI.
Yang begitu adalah ambisi, adalah tujuan.
Sebaliknya yang begini adalah fakta hidup, keadaan kita yang nyata.
Pengejaran akan yang begitu tentu saja membuat yang begini menjadi hilang artinya, hilang keindahannya.
Dan PENGEJARAN itulah yang menimbulkan konflik antara yang begini dan yang begitu.
Pengejaran itulah, yang menimbulkan konflik, tidak hanya konflik dalam batin sendiri, melainkan mencuat ke luar menjadi konflik antar manusia dan membesar lagi menjadi konflik antar kelompok, antar.
Pengejaran akan sesuatu yang dianggap lebih menyenangkan dari pada yang sudah ada yang kita anggap kebenaran, mengakibatkan bentrokan terjadi, masing-masing pibak mempertahankan "kebenaran"
Sendiri-sendiri dan terjadilah perang!
Jadi, sumber dari segala bencana, termasuk perang, berada di dalam diri sendiri!
Kita dapat melihat ini dengan jelas, seperti juga melihat bahwa sumber dari segala keindahan dan kebahagiaan juga sudah berada di dalam diri sendiri!
Apapun yang dikejarnya, baik berupa harta benda, kedudukan, kemuliaan, nama besar, kehormatan, dan sebagainya, sesungguhnya berdasarkan pada keinginan untuk menyenangkan diri pribadi.
Harta benda, kedudukan, kemuliaan, nama besar dan sebagainya itu tidaklah buruk dan keadaannya merupakan suatu kewajaran, akan tetapi PENGEJARANNYA terhadap semua itulah yang berbahaya, yang menimbulkan perang!
Kui Eng adalah puteri tunggal dari kepala kampung Hong yang yaitu dusun di mana kakek itu menemukan tiga orang anak itu.
Kepala kampung itu bernama Kui Lok.
Seperti ratusan dusun dan kampung yang lain, yang dilalui oleh barisan pemberontak yang menyerbu, kampung Hong-yang tidak terlepas dari malapetaka.
Barisan pemberontak menyerbu seperti air bah mengamuk, dan selama semalam suntuk terjadilah segala kengerian yang mungkin dilakukan oleh manusia-manusia yang berubah menjadi iblis karena terdorong oleh hawa perang yang isinya hanya membunuh atau dibunuh itu.
Pembunuhan keji, perampokan dan perkosaan.
Jerit-jerit menyayat hati membubung ke angkasa tanpa ada yang memperddlikan agaknya.
Hanya pohon-pohoa di dalam kampung dan yang tidak ikut terbakar itu yang menjadi saksi mati akan terjadinya semua kemaksiatan dan kekejian itu.
Kui Lok tidak diampuni oleh para pemberontak.
Dia diseret dan digantung di luar rumahnya, sedangkan harianya dirampok habis, rumahnya dibakar dan isterinyu nyonya Kui Lok yang masih muda, belum tigapuluh tahuh usianya, berwajah cantik dan bertubuh ramping, dilarikan oleh seorang laki-laki bernama Bu Pok Seng yang menjadi seorang perwira dalam barisan pemberontak itu.
Memang sukar dimengerti bagaimana puteri kepala kampung itu, Kui Eng yang baru berusia lima tahun, dapat lolos dari maut.
Memang belum tiba saatnya anak itu tewas agaknya, karena di dalam keributan yang mengerikan itu, Kui Eng yang ketakutan melarikan diri dan agaknya para penjahat yang sedang "pesta pora"
Itu kurang memperhatikan dan tidak tertarik kepada seorang anak kecil yang, berlarian seorang diri.
Bu Pok Seng adalah seorang penjahat dan tadinya dia menjadi kepala perampok.
Dia masih muda, usianya baru tigapuluh tahun lebih dan ilmu silatnya cukup tinggi.
Ketika terjadi pemberontakan, Bu Pok Seng melihat kesempatan baik untuk mengumpulkan harta dan mengejar kedudukan, maka dia lalu membawa anak buahnya untuk menggabungkan diri sebagai barisan pemberontak di utara.
Tentu saja penggabungannya ini sama sekali bukan karena dia mendukung gerakan pemberontakan itu, melainkan hanya untuk "membonceng"
Pemberontakan itu demi mencapai pengejarannya sendiri dan betapa banyaknya orang-orang seperti Bu Pok Seng ini bermunculan pada setiap kali terjadi pergolakan, orang-orang yang pandai mempergunakan kesempatan.
Baik mengejar harta, kedudukan atau yang lain-lain.
Selama beberapa bulan saja semenjak mengikuti gerakan pemberontak, Bu Pok Seng telah berhasil mengumpulkan barang-parang berharga terdiri dari emas permata yang dirampoknya dari tempat-tempat yang diserup oleh pemberontak.
Ketika dusun Hong-yang diserbu pada malam hari itu.
Bu Pok Seng juga ikut bersorak-sorak seperti kawan-kawannya dan sebagai seorang yang cerdik, dia cepat memasuki rumah kepala kampung bersama kawan-kawannya, karena dia tahu bahwa kepala kampung merupakan orang terkaya di dalam kampungnya dan memang pada jaman itu adalah benar.
Mula-mula Bu Pok Seng juga tidak mau kalah oleh kawan-kawannya, mengumpulkan harta yang paling ringan namun paling berharga sebanyak-banyaknya, akan tetapi ketika dia dan kawan-kawannya menyerbu kamar kepala kampung dan kawan-kawannya menyeret kepala kampung itu ke luar unluk digantung hidup-hidup di depan rumahnyu, dan melihat nyonya rumah menjerit-jerit dan pingsan, dia cepat menyambar pinggang nyonya rumah yang muda dan cantik itu.
Jantung Bu Pok Seng ber-debar keras ketika dia melihat nyonya rumah ini.
Sudah banyak dia melihat wanita, dan sudah banyak pula dia seperti juga kawan-kawannya memperkosa wanita-wanita cantik di sepanjang jalan yang mereka lalui, akan tetapi baru sekarang dia terpesona melihat wanita seperti isteri kepala kampung itu.
Dia menendang roboh dua orang kawannya yang hendak ikut mempermainkan wanita yang dipondongnya.
"Yang ini milikku!"
Hardiknya sehingga kawan-kawannya terkejut lalu tertawa-tawa Bu Pok Seng tidak lagi memperdulikan barang-barang berharga yang tadi dikumpulkannya.
Dia memandang lagi wajah wanita yang pingsan itu dan jantungnya makin berdebar.
Melihat kecantikan wanita ini, dia tidak menghendaki yang lain lagi.
Satu-satunya keinginannya adalah berdua bersama wanita ini!
Maka Bu Pok Seng lalu membawa lari tubuh wanita muda itu, keluar dari dusun yang mulai terbakar.
Tidak ada seorangpun yang memperhatikan perbuatannya itu oleh karena memang sudah menjadi pemandangan yang tidak aneh lagi apa bila ada anggauta-anggauta pemberontak yang melarikan wanita ke sudut yang sunyi!
Akan tetapi, ketika Bu Pok Seng merebahkan tubuh itu di atas tanah di belakang sebuah rumah.
dan melihat wajah itu ditimpa sinar lampu di belakang rumah itu, terjadi hal aneh di dalam hatinya.
Semula niatnya untuk memperkosa wanita ini seperti yang pernah dia lakukan pada waktu-waktu yang lalu, lenyap seperti awan tipis ditiup angin.
Timbul rasa kasihan kepada wanita ini.
Dia sudah meraba-raba pakaian nyonya muda itu dan biasanya, dalam ketidaksabarannya, dia akan merenggut dan merobek pakaian itu.
Akan tetapi kini dia menarik kembali tangannya dan ditatapnya wajah yang cantik itu, lalu dengan hati hati dia mendekatkan mukanya dan diciumnya dahi wanita cantik itu.
Ciuman mesra yang dilakukan sepenuh hati, bukan ciuman penuh rangsangan birahi seperti yang biasa dia lakukan terhadap wanita-wanita tawanannya.
Akan tetapi ciuman itu cukup untuk membuat nyonya Kui Lok sadar dari pingsannya.
Dia terkejut dan bangkit duduk, lalu teringat akan semuanya dan melihat Bu Pok Seng berlutut di depannya, dia menjerit.
"Jangan takut. Aku aku tidak akan mengganggumu, aku cinta padamu, sayang. Sungguh, aku sayang sekali padamu. Mari kau ikut bersamaku."
"Tidak tidak!"
Nyonya itu menggeleng kepala, matanya terbelalak lebar seperti mata seekor kelinci melihat harimau. Mata itu memang indah sekali, merupakan bagian tercantik dari nyonya itu.
"Hemm, apakah kau lebih senang terjatuh ke tangan mereka dan diperkosa beramai-ramai sampai mati?"
Kata Bu Pok Seng dan pada saat itu, tidak jauh dari situ terdengar ierit ketakutan seorang wanita, disusul suara ketawa menyeramkan dari beberapa orang laki-laki, dan tak lama kemudian terdengar jerit wanita di lain tempat.
Wajah nyonya itu menjadi pucat sekali, tubuhnya menggigil.
"Nah, kau lebih senang terjatuh ke tangati mereka?"
"Tidak.... tidak.... ohhh.... ampunkan aku..."
Nyonya itu berkata dengan suara gemetar.
"Kalau begitu, percayalah kepadaku. Aku Bu Pok Seng akan melindungimu, sayang,"
Kata bekas kepala perampok itu.
"Mari cepat kita pergi dari sini dan agar bisa cepat melarikan diri, sebaiknya kau kupondong."
Tanpa menanti jawaban, Bu Pok Seng memondong tubuh itu dan lari secepatnya menyelinap di dalam kegelapan malam, makin lama makin jauh meninggalkan dusun Hong yang sehingga api yang membakar dusun itu tidak nampak lagi dan jerit tangis di antara gelak tawa itu pun tidak terdengar lagi.
Nyonya Kui Lok adalah seorang wanita yang lemah dan melihat kenyataan betapa suami dan seluruh keluarganya telah tewas, rumahnya telah habis dimakan api, hatinya hancur dan semangatnya seakan-akan telah meninggalkan tubuhnya.
Dia merasa berat sekali untuk menerima bijukan Bu Pok Seng dan sebetulnya dia ingin ikut mati saja bersama suami dan anaknya.
Akan tetapi dia tidak mempunyai cukup keberanian untuk membunuh diri dan terutama sekali melihat Bu Pok Seng amat sayang kepadanya, melindunginya dan bersikap amat ramah dan baik, tidak pernah mengganggu dan mencoba untuk memperkosanya pula karena laki-laki inipun masih muda dan tidak buruk rupanya, akhirnya dia tidak dapat menolak lagi dan menyerahkan dirinya bukan karena ancaman atau paksaan.
Bu Pok Seng merasa girang sekali.
Selama hidupnya, biasanya dia hanya memperoleh wanita secara paksa saja.
Wanita-wanita yang pernah berada dalam pelukannya adalah wanita-wanita yang terpaksa melayaninya karena diancam.
Dan baru sekarang ini Bu Pok Seng dilayani oleh seorang wanita bukan karena dipaksa, padahal biasanya dia hanya mungkin memperoleh pelayanan seperti itu dari seorang wanita pelacur saja.
Akan tetapi, nyonya Kui Lok bukan pelacur, melainkan seorang wanita baik-baik, seorang wanita terhormat, bekas isteri kepala kampung, yang cantik, lemah lembut, halus dan terpelajar!
Dan wanita itu kini menyerahkan hati dan tubuh kepadanya dengan suka rela!
Bu Pok Seng lalu menjual semua barang-barang berharga hasil perampokan, mempergunakan uang itu sebagai modal.
Dia membuka sebuah rumah penginapan di kota Kauw-ciu dan hidup sebagai "orang baik"
Bersama isterinya yang cantik dan tang amat dicintanya. Nyonya muda ini akhirnya terhibur juga hatinya karena ternyata bahwa "suami"
Barunya ini amat mencintanya, bahkan sama sekali tidak tampak lagi tanda-tanda kekejaman dan kejahatan Bu Pok Seng yang kini telah berubah sama sekali itu!
Bu Pok Seng kini, berkat cintanya terhadap isterinya, berubah menjadi seorang suami yang bersikap halus dan apapun yang dikatakan oleh isterinya diturutinya belaka sehingga lambat laun wanita itu dapat menuntun suaminya untuk hidup sebagai seorang terhormat dan sopan.
Berkat bantuan isterinya, rumah penginapan itu memperoleh kemajuan dan bekas kepala rampok itu merasa beiapa hidupnya amat berbahagia!
Bagi nyonya Kui Lok sendiri, pada bulan-bulan pertama memang dia seringkali termenung dan berduka, teringat kepada puterinya yang dianggapnya tentu telah tewas pula bersama suaminya, seperti yang dikatakan penuh keyakinan oleh suami barunya.
Akan tetapi, dua tahun kemudian, ketika dia melahirkan seorang anak perempuan, keturunan suaminya yang baru, hatinya terhibur dan terobatlah luka karena kehilangan puterinya itu.
Apa lagi ketika ternyata bahwa wajah anaknya ini mirip benar dengan wajah Kui Eng, hatinya makin terhibur dan mulailah nyonya muda ini menikmati hidupnya, keadaan hidup yang sama sekali baru dan berbeda dari pada ketika dia masih menjadi nyonya Kui Lok, nyonya seorang kepala kampung Akan tetapi dia tidak lagi merasa kurang berbahagia, apalagi karena ternyata bahwa suami barunya ini sungguh-sungguh amat mencintanya, jauh lebih besar cinta kasih suaminya ini dari pada suaminya yang dahulu.
Suaminya yang dahulu masih mengambil beberapa selir, sedangkan Bu Pok Seng sama sekali tidak mau menengok kepada wanita lain.
Di samping tu, dibandingkan dengan Kui Lok, Bu Pok Seng ini lebih muda dan lebih kuat tubuhnya, lebih jantan karena Bu Pok Seng adalah seorang pria yang sejak kecilnya menghadapi kekerasan sehingga dia merupakan seorang pria yang memiliki kegagahan, tidak seperti Kui Lok yang agak lemah.
Demikian keadaan keluarga Kui Eng yang menjadi korban keganasan perang.
Tentu saja seperti juga ibunya yang roenganggap dia tentu telah tewas, Kui Eng sendiri juga menganggap bahwa ibunya yang dilarikan penjahat itu tentu telah tewas pula seperti ayahnya.
Bagaimanakah keadaan keluarga dua orang anak yang ditemukan oleh kakek itu?
Keluarga Tan Bun Hong memang sudak habis sama sekali.
Ayah bundanya dibunuh pemberontak, bahkan tidak ada pelayan yang lolos.
Satu-satunya orang yang lolos adalah Bun Hong sendiri dan hal itupun terjadi secara kebetulan karena ketika para pemberontak menyerbu rumahnya, anak ini kebetulan sedang berada di luar rumah.
Baru saja oleh ayahnya Bun Hong dibelikan beberapa belas ekor ikan emas dari utara, ikan emas yang matanya melotot besar dan amat disukanya sehingga malam-malampun anak ini diam-diam melihat ikan-ikannya yang dilepas di dalam kolam ikan di taman bunga.
Ketika terjadi penyerbuan anak ini menjadi ketakutan dan melarikan diri dari taman itu ke dalam kegelapan malam sehingga dia terbebas dari raaut Akan tetapi seluruh keluarganya, sampai semua pelayan, terbunuh dan seluruh rumah dan isinya habis dan sisanya terbakar.
Lalu apa yang terjadi dengan keluarga anak yang bernama Gan Beng Han?
Seperti yang diceritakan oleh anak itu kepada kakek yang menjadi gurunya, ayah Gan Beng Han mati terbunuh oleh pemberontak sebagai seorang anggauta pasukan gerilya.
Ketika hal tu terjadi dan dusun mereka kacau-balau dan geger oleh serbuan para pemberontak, Beng Han dan ibunya berpencar dan anak itu melarikan diri memasuki hutan di luar dusun, sedangkan ibunya menggendong Beng Lian, adik perempuan Beng Han, melarikan diri ke selatan.
Dapat dibayangkan betapa hancur, duka dan bingungnya hati wanita ini ketika dia melarikan diri, keluar masuk hutan sambil menggendong Beng Lian.
Dia sudah mendengar akan kematian suaminya, dan kini dia kehilnngan puteranya yang lari entah ke mana.
Tidak mungkin dia mencari puteranya, karena kem-bali ke dusunnya berarti mencari kematian dan dia harus menyelamatkan puterinya yang masih kecil.
Sambil menangis Ong Siok Nio, demikanlah nama ibu Beng Han menggendong puterinya dan terisak-isak dia ke selatan.
Di selatan, di sebuah dusun, tinggal seorang pamannya dan ke sanalah dia bermaksud pergi mengungsi.
Perjalanan itu amat jauh, sedikitnya akan makan waktu tiga empat hari, sedangkan dia tidak membawa bekal apa-apa maka dapat di bayangkan betapa sengsaranya keadaan nyonya muda ini.
Biarpun dia melakukan perjalanan jauh seperti ini, perjalanan yang tidak pernah berhenti sehingga kedua kakinya menjadi amat nyeri dan bengkak-bengkak.
Dia tidak berani berhenti seolah-olah ada setan mengejar di belakang tubuhnya, setan kengerian yang selalu membayang didepan matanya peristiwa yang terjadi itu, malapetaka mengerikan yang menimpa dusunnya.
Kadang-kadang dia berjalan sambil menangis, akan tetapi kalau teringat bahwa suara tangisnya mungkin terdengar orang jahat atau pemberontak, dibungkamnya mulutnya sendiri dan biarpun air matanya bercucuran, namun tidak ada suara dari mulutnya.
Tubuhnya sudah lemas sekali ketika pada keesokan harinya dia berjalan di tengah hutan setelah semalam suntuk dia berjalan tersaruk-saruk di tempat gelap tak pernah berhenti sebentarpun.
Beng Lian yang tadinya tertidur dalam gendongannya, kini terbangun.
"Sssttt tidurlah, nak""
Bisik ibu itu ketika Beng Lian mulai rewel karena tentu saja anak itu merasa lelah dan juga lapar.
Tiba-tiba Siok Nio mengeluarkan jerit tertahan karena dari belakang batang-batang pohon, dari atas pohon pula, berloncatan keluar serombongan orang laki-laki berwajah menyeramkan, bertubuh kokoh kuat dan bersikap kasar menakutkan.
Belasan orang itu mengepungnya sambil menyeringai dan mata mereka melahap tubuh Siok Nio yang memang masih muda, ramping dan padat.
"Ha-ha-ha, sungguh baik sekali nasib kita!"
Seorang diantara mereka tertawa.
"Sepagi ini ada yang mengantar hidangan! Hemm sungguh merupakan sarapan pagi yang sedap! Heh-heh!"
"Hushh! Jangan bicira sembarangan, serahkan kepada twako (kakak besar) untuk memutuskannya!"
Cela orang ke dua.
Di antara belasan orang itu muncullah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, bertubuh tinggi besar seperti raksasa dan bercambang bauk, matanya lebar dan kemerahan.
Dia terkekeh dan menyeringai lebar, memperlihatkan gigi yang besar-besar dan agak kotor dan rusak, lalu dia melangkah maju memandang Siok Nio seperti seorang pedagang sapi sedang menaksir seekor sapi yang hendak dibelinya!
"Hemm, mulus biarpun wanita dusun.
Heh-heh!
Manis, kalau kau dapat menyenangkan hatiku dan mencocoki, kau boleh kujadikan isteriku!"
Melihat wajah-wajah yang menyeramkan itu, Siok Nio menjadi ketakutan.
Seluruh tubuhnya menggigil, mukanya menjadi pucat sekali dan dia hampir pingsan.
Din tidak dapat mengeluarkan suara lagi dia hanya bisa menangis.
Akan tetapi Beng Lian, biarpun baru berusia empat tahun, agaknya dapat membedakan orang baik dan jahat, karena tiba tiba saja anak ini menjerit-jerit dalam gendongan ibunya.
Menyaksikan anak yanp menjerit-jerit dan meronta-ronta itu, para anggauta perampok kasar itu menjadi marah.
Seorang di antara mereka menghardik.
"Bocah setan ini sebaiknya dihancurkan kepalanya agar jangan banyak membikin bising!"
Tanganya yang besar dan berbulu diulur untuk menangkap leher Beng Lian.
Siok Nio mendekap anaknya dan melangkah mundur, akan tetapi anggauta perampok itu terkekeh dan mengejar maju.
Tangannya dengan cepat menyambar, akan tetapi sebelum tangan itu menyentuh leher Beng Lian, tiba-tiba tubuhnya terpelanting, kedua tangannya mencekik lehernya sendiri dan matanya terbelalak, lalu ia roboh berdebuk.
Kiranya sebatang jarum telah menancap di lehernya, membuat perampok itu pingsan dengan kedua tangan masih mencekik lehernya sendiri.
"Perampok-perampok jahat jangan mengganggu orang!"
Terdengar bentakan hahis dan tahu-tahu di situ telah muncul seorang nikouw (pendeta wanita) yang berkepala gundul halus dan berjubah putih bersih.
Mengherankan sekali bagaimana di dalam hutan belukar itu nikouw ini dapat menjaga pakaiannya dalam keadaan demikian putih bersih.
Biarpun sikap nikouw itu lemah lembut, namun dan pandang matanya memancarkan sinar penuh wibawa.
Para perampok itu berjumlah belasan orang, rata-rata bertubuh kuat dan bersikap ganas.
Tentu saja mereka tidak takut menghadapi seorang nikouw tua yang usianya tentu sudah enampuluh tahunan, bertubuh kurus lemah itu.
Maka dengan marah sekali melihat seorang kawannya roboh, mereka mencabut senjata mereka, yaitu golok dan pedang, lalu mereka maju menerjang nikouw tua ini seolah-olah hendak berlomba membacok mati nikouw yang berani merobohkan seorang kawan mereka itu.
Siok Nio merasa ngeri melihat kilatan senjata tajam dan dia memejamkan maianya, tidak mau melihat nikouw tua itu koyak-koyak badannya oleh belasan golok dan pedang itu.
Akan tetapi, dengan tenang saja nikouw tua itu menggerakkan kedua tangannya dan dan setiap tangannya menyambar keluar tiga sinar putih yang kecil.
Enam orang perampok menjerit kesakitan dan roboh pingsan karena jalan darah mereka tertusuk jarum-jarum halus yang beterbangan tadi.
Sisa para perampok yang menyaksikan kelihaian nikouw itu, maklum bahwa mereka berhadapan dengan orang sakti.
Sekali gerakan saja nikouw itu mampu merobohkan enam orang kawan mereka!
Tentu saja mereka itu tahu diri dan dengan muka pucat mereka lalu menyeret kawan-kawan mereka yang terluka dan melankan diri tunggang-langgang dari tempat itu!
Penggunaan jarum halus sebagai senjata rahasia itu memang amat hebat.
Nikouw itu telah mewansi ilmu melempar jarum yang disebut Cai-li-toat-beng-ciam (Jarum Pencabut Nyawa dari Winita Pandai).
Menurut dongeug, ilmu ini asal mulanya dimiliki oleh seorang siu-li (dayang pelayan kaisar) yang cantik ratusan tahun yang lalu.
Pada suatu malam, siu-li ini masih belum tidur dan sambil duduk menyulam dia menjaga didepan kamar kaisar yang telah tidur.
Pada malam hari itu, muncullah belasan orang yang berilmu tinggi, belasan orang yang diutus oleh musuh kaisar untuk membunuh kaisar di dalam kamarnya.
Belasan orang yang berilmu tinggi itu berhasil melampaui penjagaan para pengawal, bahkan telah berhasil membunuh beberapa orang pengawal.
Siu-li yang sedang menyulam itu tahu akan kedatangan mereka dan tanpa bergerak pindah dari tempat dia duduk, dia telah mempergunakan Ilmu Cai-li-toat-beng-ciam itu, menyambit-nyambitkan jarum jarum halusnya dan merobohkan belasan Orang itu Ketika para pengawal mengumpulkan mayat-mayat para penjahat itu, siu-li cantik ini masih tenang-tenang saja melanjutkan pekerjaannya menyulam!
Maka, melihat betapa nikouw tua itu dalam sekejap mata saja merobohkan tujuh orang teman mereka, para perampok itu menjadi ketakutan dan melarikan diri.
Nikouw itu tidak mengejar, hanya tersenyum dan dia lalu meng hampiri Siok Nio yang masih duduk di atas tanah sambil menangis dan mendekap anaknya.
"Toanio, siapakah engkau dan mengapa engkau berada di dalam hutan liar ini berdua dengan (Lanjut ke
Jilid 02) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02 anakmu?"
Sambil menangis, Siok Nio lalu menceritakan pengalamannya, tentang malapetaka yang menimpa kampungnya dan yang mengakibatkan tewasnya suami dan puteranya dan yang menghancurkan seluruh rumah tangganya.
Dia tentu saja menganggap bahwa puteranya juga tewas seperti suaminya, karena apakah daya seorang anak laki laki berusia enam tujuh tahun seperti Beng Han?
Nikouw itu menarik napas panjanu, lalu berkata.
"Omitohud! Telah banyak pinni (saya) mendengar tentang kerusakan ini. Semoga Tuhan segera membebaskan kita dari keadaan yang amat buruk ini."
Dia lalu menatap wajah wanita muda yang masih menangis terisak-isak itu, dan ketika dia bertcmu pandang dengan sepasang mata kecil yang bening dari Beng Lian, wajah nikouw itu bersinar.
"Toanio, tidak baik bagi seorang wanita muda engkau melakukan perjalanan seorang diri dalam waktu sekacau ini. Kalau engkau suka, lebih baik untuk sementara waktu engkau tinggal bersama pinni di Kuil Kwan-im-bio. Orang yang baik tentu akan mendapatkan perlindungan Tuhan dan mendapatkan berkah dari Pouwsat (Dewi Kwan lm)."
Siok Nio berlutut dan menghaturkan teri-ma kasihnya dengan bercucuran air mata.
Memang dia sudah meragukan apakah pelariannya ke tempat tinggal pamannya itu akan berhasil baik, karena dia sendiri belum tahu bagaimana nasib pamannya karena bukan tidak boleh jadi kalau dusun di mana pamannya tinggal itu juga mengalami nasib yang sama dengan dusunnya.
Maka dia tidak merasa ragu-ragu lagi.
Untuk menyelamatkan puterinya sendiri, tidak ada tempat yang lebih aman dari pada di sam-ping nikouw tua yang sakti ini.
Siok Nio lalu pergi mengikuti nikouw itu menuju ke sebuah kuil yang berada di Juar tembok kota An-kian.
Pandai sekali nikouw tua itu menghibur hati Siok Nio dan sering menceritakan tentang kebahagiaan hidup seorang beribadat, maka akhirnya Siok Nio mengambil keputusan untuk menggunduli kepalanya dan masuk menjadi seorang nikouw di Kuil Kwan-im-bio!
Nikouw tua itu bernama Pek I Nikouw (Pendeta Wanita Berjubah Putih) dan dia mengepalai sejumlah besar nikouw yang berdiam di Kuil Kwan-im-bio yang besar itu.
Pek I Nikouw adalah murid Thai-san pai yang telab mencapai tingkat ke dua, maka dia amat lihai.
Tentu saja hampir tidak pernah nikouw ini memperlihatkan kepandaian silatnya, karena orang mengenalnya sebagai seorang pendeta wanita yang beribadat, saleh dan halus gerak-geriknya, lemah lembut tutur sapanya dan sabar dalam mengajarkan Agama Buddha.
Setelah menjadi nikouw, Ong Siok Nio memperoleh nama baru, yaitu Siok Thian Nikouw.
Janda muda ini menjalani penghidupan suci sambil merawat puterinya yang segera menjadi kesayangan semua nikouw di dalam kuil itu.
Pek I Nikouw sendiri merasa amat suka kepada Beng Lian dan mulailah dia memberi latihan-latihan ilmu silat kepada anak perempuan itu, sedangkan para nikouw lain yang pandai dalam ilmu sastera, memberikan pelajaran membaca dan menulis kepadanya.
Sungguh beruntung sekali Beng Lian.
Dahulu dia hanya puteri seorang petani dan andaikata tidak terjadi malapetaka itu, tentu dia akan tumbuh dewasa sebagai seorang gadis petani.
Akan tetapi kini, semenjak berusia empat tahun dia hidup di dalam Kwan-im-bio, bergaul dengan orang-orang yang menuntut penghidupan suci Tentu saja keadaan sekeliling dan suasana dalam bio itu membentuk wataknya sehinggi Beng Lian menjadi besar dengan perangai yang halus dan sopan, lemah lembut sikapnya, pandai bergaul dan pandai merendahkan diri, sehingga siapa saja yang melihatnya akan merasa suka.
Sedikitpun tidak akan ada orang menyangka bahwa anak ini "berisi", karena dia telah mewarisi ilmu silat tinggi yang diajarkan oleh Pek I Nikouw kepadanya.
Demikianlah perjalanan ibu dari Gan Beng Han.
Seperti juga bagi Kui Eng, Beng Han tentu saja sudah merasa putus harapan untuk dapat bertemu dengan ibunya, karena anak inipun menganggap bahwa tentu ibunya telah tewas dalam keributan itu.
Kakek tua yang menemukan tiga orang anak yang hampir mati kelaparan di dusun yang telah menjadi puing itu bukanlah orang sembarangan saja, melainkan seorang tokoh yang amat terkenal di dunia kang-ouw sebagai Lui Sian Lojin, seorang pertapa yang mengasingkan diri di puncak Pegunungan Kwi-hoa-san.
Di masa mudanya, Lui Sian Lojin adalah seorang hiap-kek (pendekar) yang hidup bertualang di dunia kang-ouw dengan berkawan sebatang pedang.
Tak terhitung jasa kakek ini dalam menolong sesama manusia dan menentang kejahatan-kejahatan, sehingga selain ribuan orang mengenangkan namanya sebagai seorang penolong yang budiman, juga banyak pula orang-orang jahat yang mengingat namanya dengan gigi gemetar karena dendam dan sakit hati.
Di waktu mudanya, Lui Sian Lojin pernah jatuh cinta kepada seorang gadis.
Akan tetapi, gadis pujaan hatinya itu tidak membalas cinta kasihnya, bahkan menikah dengan orang Iain.
Hal ini membuat dia patah semangat dan bersumpah tidak mau menikah, hanya hidup ber-dua dengan pedangnya yang dalam banyak pcrtempuran telah menjadi kawan baik dan pembelanya.
Akan tetapi, akhirnya dia merasa bosan merantau dan menetap di satu di antara puncak-puncak Pegunungan Kwi-hoa-san.
Puncak ini amat indah pemandangannya, amat sejuk dan nyaman hawanya, memiliki tanah subur.
Maka dipilihlah puncak ini sebagai tempat pertapaannya.
Selama belasan tahun dia bertapa sambil dengan tekun memperdalam ilmu batin dan ilmu silatnya.
Bahkan dalam kesempatan ini dia menciptakan serangkaian ilmu pedang yang dia namakan Kwi-hoa Kiam hoat (Ilmu Pedang dari Kwi-hoa-san).
Di waktu dia masih bertualang dan merantau, tentu saja dia tidak mau memberatkan dirinya dengan seorang murid.
Sekarang, setelah dia bertapa, mulailah dia teringat bahwa dia telah makin tua dan akhirnya dia tidak akan mampu melawan usia dan kematian.
Apa artinya semua kepandaian silatnya, apa artinya ilmu pedang yang diciptakannya kalau hanya akan dibawa mati?
Selama ini dia belum pernah mempunyai murid, karena tidak ada anak yang dianggapnya cocok dan cukup berbakat untuk menerima warisan ilmu-ilmunya.
Hatinya mulai merasa gundah dan mulailah dia berpikir untuk mencari murid yang berbakat.
Ketika didengarnya tentang pemberontakan yang dipimpin oleh An Lu San, dia lalu turun gunung untuk melihat-lihat keadaan.
Bukan main sedih dan marah hatinya melihat bekas kekejaman anak buah pemberontak itu.
Hampir semua dusun di kaki Pegunungan Kwi-hoa san yang kebetulan dilewati pemberontak itu, rusak binasa.
Dan di dalam perantauannya inilah akhirnya secara kebetulan dia bertcmu dengan Kui Eng, Tan Bun Hong, dan Gan Beng Han Keadaan yang amat menyedihkan dari tiga orang anak inilah yang menarik hatinya untuk membawa mereka keatas puncak gunung dan mengangkat mereka menjadi murid-muridnya.
Lui Sian Lojin sengaja tidak mcmperguna-kan ilmu kepandaiannya yang tinggi untuk mcnggendong tiga orang anak itu.
Dia meng-ajak mereka berlari-larian menuju ke puncak gunung karena dia hendak menguji keuletan tiga orang calon muridnya ini.
Tiga orang anak itu telah menjadi lelah sekali.
Tubuh mereka terasa lemah karena mereka telah berbulan-bulan menderita kurang makan.
Perjalanan yang jauh dan sukar itu amat melelahkan tubuh mereka, terutama sekali setelah jalan itu mulai menanjak bukit.
Namun, tiada seorangpun di antara mereka pernah mengeluarkan suara keluhan.
Lui Sian Lojin berjalan di depan sebagai pcnunjuk jalan dan kakek ini tidak pernah menengok ke belakang seakan-akan dia tidak memperdulikan keadaan tiga orang anak ituT akan tetapi sesungguhnya diam-diam dia mem-buka telinga dan pendengarannya yang amat tajam dan dapat menangkap setiap gerak-gerik tiga orang anak-anak itu tanpa dia melihat mereka.
Tiga orang anak itu mcrasa sangat lelah, terutama sekali Kui Eng dan Bun Hong.
Kui Eng sebagai seorang anak perempuin pmeri kepala kampung pula, dan Bun Hong sebigai putera hartawan yang jarang melakukan pe-kerjaan berat, tentu saja merasa tersiksa dan perjalanan itu amat melelahkan kedua kaki mereka.
Apa lagi karena perut mereka telah menjadi kosong lain dan mulai lagi terasa perih.
Tidak demikian halnya dengan Gan Beng Han.
Sebagai seorang putera petani, Beng Han sudah biasa dengan pekerjaan berat, memban-tu ayahnya bekerja di sawah ladang, ntencangkui, membajak dan mencari kavu di hutan-hu-tan sehingga seringkali dia berjalan jauh dan makan terlambat.
Maka, biarpun sekarang dia juga merasa lelah, namun keadaannya tidak sedemikian tersiksa seperti dua orang kawannya.
Biarpun tubuhnya merasa lelah sekali sehingga jalannya terhuyung-huyung, namun Kui Eng yang memiliki kekerasan hati itu tidak mau menunjukkan kelemahannya.
Dia tidak mau kalah oleh dua orang kawannya dan te-rus maju dengan langkah lunglai.
Dia merasa betapa kedua kakinya telah pegal dan sakit-sakit, sedangkan rasa perih di dalam perutnya membuat matanya berlinang-linang.
Akan tetapi, sungguh kuat dan keras hatinya karena tidak pernah mendengar keluh-kesah atau isak tangis keluar dari mulutnya.
Sebenarnya keadaan Bun Hong tidaklah lebih baik dari pada Kui Eng, kalau tidak hendak dikatakan lebih payah.
Kedua kakinya telanjang dan selain tubuhnya terasa amat lelah, juga telapak kedua kakinya menjadi pecah-pecah karena menginjak batu tajam.
Nyeri dan perih rasanya, juga perutnya menggeliat-geliat saking laparnya.
Namun pemuda cilik ini tetap melangkah lebar dan tegap, dengan kedua tangan terkepal, kepala ditegakkan, sepasang bibir dirapatkan seperti sikap seorang jenderal perang!
Dia telah mengambil keputusan untuk bertahan dan berjalan sampai mati.
Beng Han lebih mending keadaannya.
Biar-pun dia juga merasa lelah, namun masih dapat bertahan dengan baik.
Telapak kakinya berkulit tebal dan dia sudah biasa berjalan sehingga langkahnya masih tetap, hanya peluhnya saja membasahi bajunya yang compang-camping itu.
Ketika dia melihat keadaan Kui Eng yang terhuyung-huyung, dia lalu mendekati dan mengulur tangan hendak menggandeng tangan anak perempuan itu.
Akan tetapi dengan sikap angkuh Kui Eng mengibaskan tangannya.
Beng Han merasa kagum sekali melihat kekerasan hati Kui Eng, maka ketika tawarannya untuk menggandengnya ditolak, dia berjalan di belakang anak perempuan itu untuk men-jaganya kalau kalau Kui Eng ter jatuh.
Ternyata dugaannya itu tepat karena tak lama kemudian, tiba-tiba kaki Kui Eng yang lemas itu tersandung batu dan tubuhnya terhuyung ke dcpan hendak jatuh.
Beng Han cepat memburu dan menangkap lengannya sehingga Kui Eng tidak sampai terjatuh.
Ketika Beng Han melihat betapa tubuh anak perempuan itu menjadi lemas dan matanya dipejamkan, tanpa ragu-ragu lagi dia lalu menggendongnya di belakang punggungnya.
Kini Kui Eng tidak menolak lagi dan dia menarik napas lega ketika merasa betapa tubuhnya dapat beristirahat di atas punggung Beng.
Han tanpa menunda perjalanan itu.
Melihat ini, Bun Hong berkata.
"Han, biarlah nanti kalau kau sudah lelah, aku menggantikanmu menggendongnya. Akan tetapi kalau sudah berkurang lelahmu, kau jangan minta digendong terus, Eng. Dalam waktu seperti ini, kau tidak boleh menjadi anak manja!"
Beng Han hanya tersenyum saja sedangkan Kui Eng membuka matanya lalu mencibirkan bibirnya kepada Bun Hong.
"Engkau tidak mau. menggendong sudahlah, jangan mengatakan orang lain manja segala. Kalau aku kuat berjalan, untuk apa aku minta digendong?"
Sementara itu, biarpun dengan pendengaran-nya Lui Sian Lojin dapat mengetahui semua hal itu, dia pura-pura tidak tahu dan terus berjalan sambil diam-diam tersenyum.
Hatinya merasa puas sekali karena segala peristiwa itu, yang kelihatannya menyiksa murid-muridnya, merupakan ujian di mana dia dapat menyaksikan kekerasan hati tiga orang bocah yang dibawa, ke pertapaannya.
Mereka ini ternyata bukanlah bocah-bocah yang cengeng melainkan calon-calon pendekar yang tabah dan tahan uji.
Mereka bergerak maju lagi, mendaki bukit yang makin terjal dan telah terdengar oleh kakek itu bunyi napas dua orang anak laki-Jaki yang terengah engah.
Akhirnya, dua orang anak laki-laki itu merasa kehabisan tenaga dan tidak kuat maju melangkah lagi.
Langkah mereka makin berat dan berkatalah Beng Han.
"Kakek yang baik, harap engkau orang tua sudi menaruh kasihan kepada kami dan membiarkun kami beristirahat sebentar!"
Lui Sian Lojin berhenti dan membalikkan tubuhnya dengan pandang mata kagum.
Dia melihat betapa kedua kaki Beng Han meng-gigil, namun anak itu tetap masih nuenggendong tubuh Kui Eng sedangkan Bun Hong menggandeng tangan kawannya yang menggendong itu.
"Bagus, bagus! Kau bertiga tidak mengecewakan hatiku. Jangan khawatir, hatiku tidak sekejam dugaanmu, Beng Han,"
Katanya sambil tertawa dan Beng Han merasa terkejut karena memang tadi dia memandang dengan hati mengandung rasa penasaran dan kemarahan kepada kakek yang dianggapnya terlampau kejam membiarkan mereka bertiga menjadi kelelahan dan tersiksa seperti itu.
"Maaf, maaf, aku tidak sengaja""
Katanya dan kakek itu tersenyum lagi.
Dia ti-dak berkata-kata lagi dan membiarkan tiga orang muridnya melepaskan lelah.
Mereka bertiga menjatuhkan diri di atas rumput tebal dan barulah sekarang terasa oleh Kui Eng betapa kedua kakinya berdenyut-denyut sakit sekali sehingga dia mengurut-urut kedua kakinya Akan tetapi tetap saja dia tidak mengeluarkan keluhan.
Bun Hong sudah merebahkan dirinya terlentang di atas permadani rumput, matanya dipejamkan karena dia hendak mengusir ingatan yang membayang di depan matanya ketika dia masih menjadi putera seorang hartawan dan rebah di dalam kamarnya, di atas kasur yang lunak dan segala macam masakan lezat telah siap menantinya.
Tak lama kemudian, kakek itu mematahkan sebatang cabang kayu yang cukup besar dan pan jang.
"Beng Han, dapatkah engkau membuat keranjang?"
Tiba-tiba dia bertanya kepada anak itu.
"Tentu saja dapat, aku sering membuat keranjang untuk memikul kayu atau rumput."
"Bagus! Nah, hayo kaubantu aku membuat keranjang dari ranting-ranting kayu. Kita membuat dua buah keranjang dan aku akan memikul kalian dalam keranjang."
Bun Hong dan Kui Eng tidak tahu caranya membuat keranjang, maka mereka lalu membantu dengan mengumpulkan ranting-ranting kayu yang cukup kuat.
Beng Han membantu Lui Sian Lojin menganyam ranting-ranting itu menjadi dua buah keranjang yang cukup kuat.
Kedua keranjang itu lalu diikatkan di kedua ujung cabang yang panjang itu, maka jadilah pikiilan yang sederhana bentuknya namun kuat.
Tiga orang anak itu menurut, sungguhpun hati mereka merasa heran dan tidak percaya.
Benarkah kakek yang tua dan kelihatan lemah ini akan memikul dan menggendong mereka sekaligus?
Dan jalan itu kelihatan demikian menanjak, penuh dengan batu-batu tajam yang amat sukar dilewati secara mudah.
Betapapun juga, mereka tidak membantah.
Kui Eng dan Bun Hong memasuki dua buah keranjang itu, duduk di dalamnya dan berpegang pada tali keranjang baik-baik.
Kemudian Beng Han naik ke punggung kakek itu dan memeluk lehernya dengan kuat.
"Hati-hati, kalian berpeganglah erat-erat jangan sampai terlepas dan jatuh,"
Kata Lui Sian Lojin dan dia lalu memikul cabang kayu itu di atas pundaknya Setelah melihat betapa tiga orang bocah itu berpegang kuat-kuat, kakek ini lalu mengerahkan ilmu kepandaiannya ber-lari cepat dan larilah dia menanjak bukit de-ngan kecepatan yang membuat tiga orang bocah itu hampir menjerit saking kagetnyai!
Makin lama makin cepat juga tubuh mereka melayang ke depan, angin menyambar-nyambar muka mereka dari depan dan membuat tubuh mereka terasa dingin.
Kui Eng dan Bun Hong yang merasa tubuh mereka terayun-ayun seperti terbang itu merasa ngeri sekali dan muka mereka menjadi pucat.
Akan tetapi, dasar mereka adalah dua orang anak yang keras hati dan bandel, mereka tetap saja tidak membiarkan diri hanyut oleh kengerian dan membuka mata lebar-lebar.
Tanpa mereka sadari dan ketahui sebelum-nya, dua orang anak ini telah menemukan rahasianya menghadapi rasa takut!
Biasanya, apa bila kita menghadapi rasa takut dalam bentuk apapun juga, kita tidak berani menghadapinya secara langsung.
Kita selalu mencari jalan keluar, kita selalu ingin melarikan diri dari perasaan takut ini, ingin mencari hiburan untuk menyelimuti rasa takut itu, untuk menjauhinya.
Kita lupa bahwa rasa takut itu berada dalam batin kita, tidak mungkin kita jauhi, dan tidak mungkin kita lari dari depannya.
Memang bisa kita lari menjauhi, namun hal itu hanya nam-paknya saja, dan hanya untuk sementara saja kita terhibur dan seolah-olah kehilangan rasa takut.
Padahal, rasa takut itu masih menyelinap di lubuk hati dan setiap saat akan muncul kembali apa bila hiburannya lenyap.
Misalnya orang yang takut sendirian di malam hari, takut bayangan setan dan sebagainya.
Kita selalu hendak lari dari rasa takut ini, dengan jalan mendengarkan bunyi-bunyian, mencari teman, atau bernyanyi-nyanyi sendiri, dengan maksud untuk "mengusir"
Rasa takut.
Namun, semua itu percuma saja karena biarpun kelihatannya dapat menolong, sesungguhnya rasa takut itu seperti api hanya disekap atau ditutup saja, seperti api dalam sekam.
Kalau penutupnya sudah tidak ada, api itu, yalah rasa takut, akan berkobar lagi, karena rasa takut itu MASIH ADA.
Rasa takut adalah fakta, dan mana mungkin kita menghilangkan fakta itu dengan hiburan-hiburan hampa itu?
Faktanya itu yang harus lenyap dulu, karena rasa takut sebagai fakta (kenyataan) keadaan kita itu sebenarnya timbul karena angan-angan kosong belaka, karena pi-kiran kita sendiri yang menbayangkan hal-hal yang belum terjadi.
Orang yang takut bersen-dirian dalam gelap di malam hari, tentu mem bayangkan setan-setan dan iblis iblis dan lain kengcrian lagi, membayangkan ha I-hal yang sebenarnya tidak ada pada saat itu!
Orang yang takut sakit tcntulah orang yang belum sakit, yang membayangkan penyakit itu.
Bagaimana kalau dia sudah sakit?
Sudah pasti dia tidak takut akan sakit lagi yang sudah menjadi fakta, melainkan takut akan mati yang dibayangkan oleh si sakit.
Demikian selanjutnya.
Dua orang anak di dalam keranjang itu tanpa belajar, tanpa disadarinya sendiri, telab menemukan kunci dan rahasia menghadapi rasa takut.
Mereka tidak lari!
Kalau mereka memejamkan mata, itulah pelarian dari rasa takut!
Dan kalau sudah begitu, rasa takut itu terus ada, menghantui mereka.
Sebaliknya me reka itu membuka mata lebar-lebar!
Dengan membuka mata, maka akan 'tampaklah segala-galanya oleh kita, akan tampaklah bahwa rasa takut itu timbul karena angan-angan, karena pikiran membayangkan atau mengingat-ingat hal-hal yang belum terjadi.
Melihat kenyataan inilah yang menghilangkan rasa takut.
Bukan DIHILANGKAN, bukan DITUTUPI, melainkan hilang sendiri karena kita melihat kenyataan tentang rasa takut itu sendiri.
Karena itu, setiap saat kita dihinggapi rasa takut dalam bentuk apapun juga, apa bila kita membuka mata mengamati rasa takut itu sendiri dengan penuh perhatian, maka kita akan dapat melihat kenyataan dari sebab-sebab timbul-nya rasa takut, melihat kenyataan bahwa rasa takut adalah hampa dan abstrak, dan penglihatan ini yang akan dengan sendirinya meniada-kan rasa takut.
"Kalau kalian merasa ngeri, pejamkan ma tamu!"
Kata Lui Sian Lojin sambil mempercepat larinya.
Kakek ini, seperti kita pada umumnya, juga telah hanyut dalam kebiasaan bahwa apa bila kita takut, kita harus melarikan diri dari kenyataan itu!
Tentu saja maksudnya adalah agar anak itu tidak lagi dicekam rasa takut dan kengerian.
Betapa kita semua telah hanyut dalam cara-cara pendidikan yang salah, yang telah menjadi kebiasaan semenjak dahulu.
Kakek yang amat lihai itu kini berlari cepat seperti terbang, kadang-kadang melompat jurang-jurang yang curam dan lebar dengan gerakan ringan sekali seperti seekor burung sedang terbang saja!
Beberapa kali dia memandang ke arah murid-muridnya karena khawatir kalau-kalau mereka merasa ngeri dan takut, akan tetapi alangkah heran dan kagumnya ketika dia melihat bahwa baik Kui Eng maupun Bun Hong, keduanya sama sekali tidak pernah memejamkan mata, bahkan kini mereka membuka mata selebarlebarnya dengan penuh rasa kagum dan gembira!
Kiranya, dengan membuka mata dan melihat segalanya dengan penuh perhatian, dua orang anak ini telah berubah menjadi gembira dan rasa takut tidak membayang lagi pada wajah mereka.
Mereka seolah-olah naik seekor burung besar yang terbang melayang di angkasa.
Mereka memandang ke kanan kiri dengan gembira dan kadang-kadang kalau kakek sakti itu melompati jurang, mereka berseru dengan gembira sekali.
"Lihat, jurang ini curam sekali!"
Seru Bun Hong sambil menjenguk keluar dari keranjang di mana dia duduk.
"Dasarnya sampai tidak kelihatan!"
"Heii, lihat! Pohon-pohon berlari-larian didepan kita! Alangkah cepatnya kita meluncur ke depan. Sungguh enak dan senang!"
Kata Kui Eng dan sepasang matanya yang jeli dan lebar itu mulai ditinggalkan awan kemuraman dan kesayuan yang selama ini mengganggu keindahannya.
"Hushh! Kalian jangan banyak bergerak!"
Tiba-tiba Beng Han yang digendong di punggung kakek itu menegur mereka.
Dari tempatnya di atas, anak ini melihat betapa dua orang kawannya itu menunjuk sana-sini sambil memutar-mutar tubuh sehingga pikulan itupun bergerak-gerak maka dia khawatir kalau-kalau mereka mengganggu kakek itu.
Kini Kui Enu mengangkat mukanya memandang kepada Beng Han dari tempat duduknya di dalam keranjang sambil mencibirkan bibirnya.
"Kui Eng, jangah nakal kau! Kalau kalian banyak bergerak sehingga terpelanting keluar dari dalam keranjang, akah celakalah!"
Ucapan Beng Han ini tentu saja menimbulkan bayangan bayangan dalam pikiran dua orang anak itu maka otomatis mereka merasa ngeri!
Mereka membayangkan betapa akan hebat dan ngerinya kalau tubuh mereka terpelanting keluar dan melayang ke dalam jurang itu!
Mereka kini duduk diam dalam keranjang masing-masing sambil berpegang erat-erat pada tali keranjang.
Setelah melalui bukit-bukit berhutan lebat dan jurang-jurang yang curam, akhirnya tibalah mereka di sebuah puncak.
Lui Sian Lojin menghentikan larinya dan tiga orang anak itu turun dari tempat duduk masing-masing.
Ternyata mereka berada di sebidang tanah datar yang penuh dengan rumput hijau dan di bawah beberapa batang pohon besar terdapat sebuah pondok kayu sederhana.
"Nah, kita sudah sampai di rumah kita!"
Kata Lui Sian Lojin sambil tersenyum dengan perasaan seorang ayah yang baru saja pulang melancong bersama tiga orang anaknya.
Kehadiran tiga orang anak itu mendatangkan kebahagiaan baru di dalam hati Lui Sian Lojin, kakek yang selama hidupnya tidak pernah kawin dan belum pernah merasakan menjadi ayah itu!
Tiga orang anak itu memandang ke kanan kiri dengan girang karena pemandangan di situ memang amatlah indahnya.
Dari banyaknya tumbuh-tumbuhan yang hidup subur di atas bukit, dapat diduga bahwa di tempat itu tentu subur dan baik.
Tiba-tiba Beng Han menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu sambil berkata.
"Setelah menjadi murid, seharusnya teecu (murid) bertiga lebih dulu mengangkat engkau orang tua sebagai suhu (guru)."
Melihat perbuatan Beng Han ini, Bun Hong dan Kui Eng juga segera menjatuhkan diri berlutut di depan Lui Sian Lojin.
Kakek ini tertawa bergelak, mengangkat muka ke angkasa dan mengelus jenggotnya.
Kemudian dia memandang kepada tiga orang anak itu, diam diam menggunakan ujung lengan bajunya untuk mengeringkan kedua matanya yang tiba-tiba menjadi basah.
"Karena kalian sendiri telah mendahuluiku, maka biarlah sekarang dilakukan upacara pengangkatan guru. Ketahuilah, murid-muridku, aku adalah seorang pertapa di tempat ini dan namaku Lui Sian Lojin. Kalian bertiga tidak akan menyesal menjadi murid-muridku, dan untuk menjaga segala kemungkinan buruk yang kuharapkan tidak akan terjadi selamanya, kalian harus bersumpah."
Kemudian Lui Sian Lojin menyuruh tiga orang muridnya itu bersumpah untuk mentaati perintah perintah dan pantangan-pantangan seperti berikut..Mereka harus mempergunakan ilmu kepandaian yang mereka pelajari untuk menolong sesama hidup, membela kebenaran, menjujung tinggi keadilan dan membasmi kejahatan berdasarkan perikemanusiaan..Mereka harus bersikap sabar, berani mengalah dan menghindarkan permusuhan dan perkelahian yang timbul karena hal-hal yang remeh..Mereka tidak boleh sembarangan membunuh seorarg lawan apabila hal itu tidak sangat perlu dan lawan itu bukan seorang yang memang benar-benar jahat dan berbahaya bagi umum sehingga perlu dibinasakan..Mereka tidak boleh menyombongkan kepandaian sendiri dan sekali-kali tidak boleh mempergunakan kepandaian untuk menindas orang lain yang lemah.
Tiga orang anak kecil itu berlutut sambil mengucapkan sumpah untuk mentaati semua perintah itu dan mengucapkan janji-janji menurut apa yang dikatakan oleh guru mereka, Lui Sian Lojin.
Biarpun mereka masih kecil dan belum dapat mengerti dengan baik apa yang mereka ucapkan, namun mereka telah bersikap sungguh-sungguh, bahkan Kui Eng dan Bun Hong yang berwatak gembira jenaka itu pada waktu berlutut dan bersumpah, nampak sungguh-sungguh dan mengucapkan sumpah dengan penuh semangat sehingga guru mereka menjadi puas.
"Nah, sekarang kita makan dulu. Aku mempunyai persediaan ubi di dapur. Setelah makan barulah kita beristirahat dan mulai besok pagi-pagi kalian harus bekerja di ladang, membantu aku mencangkul ladang di timur itu untuk ditanami padi. Kui Eng, kau memasak air! Bun Hong dan Beng Han, kalian pilih ubi-ubi di dapur itu dan bersihkan lumpurnya, juga isi gentong dengan air dari sumber di selatan itu!"
Lui Sian Lojin membagi-bagi tugas sambil tertawa dan wajah kakek ini berseri penuh kegembiraan.
Demikianlah, semenjak hari itu, tiga orang anak itu hidup di atas puncak Pegunungan Kwi-hoa-san, mempelajari ilmu silat sambil melakukan pekerjaan bertani, di bawah pimpinan Lui Sian Lojin yang amat menyayangi mereka seperti kepada anakanaknya sendiri Selain mendidik mereka dengan ilmu silat tinggi.
Juga kakek itu memberi pelajaran ilmu sastera kepada mereka.
Kakek ini maklum bahwa ilmu pengetahuan bu (silat) harus dibarengi dengan bun (sastera), karena hanya ahli dalam bu saja tanpa mengenal bun, akan membentuk orang menjadi tukang pukul yang kasar dan kejam, sebaliknya hanya ahli dalam bun saja tanpa mengenal bu, akan membuat orang menjadi seorang kutu buku yang lemah dan tidak dapat menjaga diri sendiri dan orang lain.
Biarpun Lui Sian Lojin bukan seorang ahli sastera yang pandai, namun berkat kerajinan dan ketekunannya mendidik tiga orang anak itu, mereka tidak menjadi buta huruf dan dapat membaca dan menulis dengan baik.
Di samping pelajaran bu dan bun ini, juga Lui Sian Lojin memberi dasar-dasar pengertian ilmu kebatinan dan pelajaran budi pekerti sehingga tiga orang anak-anak itu mengerti dan terbuka mata batin mereka bahwa di antara segala ilmu pengetahuan, yang terpenting adalah perilaku yang baik agar jalan hidup mereka tidak sampai menyeleweng ke lembah kejahatan dan kescngsaraan.
Betapa anehnya sang waktu!
Betapa hidup ini dicengkeram sepenuhnya oleh sang waktu!
Akan tetapi, benarkah sang waktu yang menguasai kita?
Bukankah waktu diadakan oleh pikiran kita sendiri?
Waktu adalah ukuran, dan yang mengukur adalah pikiran kita.
Dapatkah kita hidup di luar pengaruh sang waktu, di luar pengaruh sang pikiran karena waktu adalah pikiran pula?
Kalau sudah begitu, yang lalu, dari detik yang lalu sampai ribuan tahun yang lalu, sudah mati dan tidak menyangkut dalam ingatan lagi, sedangkan yang akan datang.
dari detik berikutnya sampai kelak, tidak terbayang dalam pikiran lagi.
Kalau sudah begitu, hidup adalah saat ini, detik demi detik.
Pencurahan perhatian pada setiap detik yang dilalui tanpa mengenangkan yang lalu dan membayangkan yang mendatang, akan membebaskan kita dari cengkeraman waktu.
Memang waktu amatlah aneh.
Apa bila kita mengikuti dan memperhatikan majunya waktu detik demi detik, apa bila kita menanti sesuatu, mengharapkan sesuaiu, maka akan terasa amat lamalah jalannya sang waktu.
Akan tetapi sebaliknya sebentar saja perhatian kita beralih, maka sang waktu akan meluncur cepar laksana anak panah terlepas dari busurnya.
Demikianlah, duabelas tahun telah lewat tak terasa semenjak tiga orang anak kecil yang menjadi korban bencana perang itu ikut ke puncak Kwihoasan dan menjadi muridmurid Lui Sian Lojin.
Kui Eng.
Tan Bun Hong, dan Gan Beng Han telah dua belas tahun tinggal di puncak gunung itu dan kini telah menjadi orang-orang muda menjelang dewasa.
Lui Sian Lojin telah menurunkan seluruh ilmu, kepandaian silatnya kepada mereka secara adil dan tidak berat sebelah.
Bahkan ilmu pedang ciptaannya, yaitu Kwi hoa Kiam Hoat, telah dia ajarkan kepada mereka bertiga sampai mereka dapat menguasainya dengan sempurna.
Mereka telah menerima pula gemblengan-gemblengan untuk menghimpun tenaga sakti dan ilmu meringankan tubuh sehingga kini mereka telah menjadi ahli ahli sinkang dan ginkang yang lihai.
Biarpun menerima gemblengan secara berbareng dan mempelajari ilmu silat yang sama dari guru yang sama pula, namun terdapat perbedaan besar dalam gerakan mereka.
Ilmu silat adalah suatu ilmu yang dapat bercabang ranting dan berkembang secara tanpa batas, oleh karena ilmu silat termasuk suatu kesenian.
Seperti juga kesenian yang lain, ilmu silat mempunyai variasi dan kelincahan serta kegunaan yang kesemuanya tergantung sepenuhnya kepada yang menguasainya.
Guru hanya memberi pelajaran dasar-dasar gerakan kaki tangan belaka serta memberi contoh-contoh tentang gerakan atau gaya permainan menurut garis-garis dasar cabang persilatan yang dianutnya.
Akan tetapi selanjutnya, untuk mematangkannya, tergantung kepada si murid sendirilah yang memberi tambahan variasi-variasi atau kembangan-kembangan dan gaya menurut bakat dan pribadinya masing-masing.
Demikian pula dengan tiga orang murid Lui Sian Lojin.
Biarpun mereka mempelajari ilmu silat yang sama, namun persamaan ini hanya terletak pada dasar gerakan kaki dan tangan mereka, sedangkan kelihaian masing-masing amat berbeda sifatnya.
Kui Eng memiliki gaya ilmu silat yang indah dipandang, bagaikan seorang bidadari sedang menari, lemah lembut gayanya.
Akan tetapi di dalam kelemahannya itu tersembunyi tenaga sinkang yang cukup hebat dan dia memiliki atau menguasai ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang lebih tinggi tingkatnya kalau dibandingkan dengan tingkat kedua orang suhengnya (kakak seperguruannya).
Hal ini disebabkan oleh bakat dan pembawaannya yang memang cekatan dan gesit sekali, seperti pembawaan seekor burung walet yang lebih gesit dari pada burungburung lainnya.
Tan Bun Hong memiliki gerakan yang cepat dan dia pandai sekali membuat gerak-gerak tipu yang ditambahkannya sendiri pada gerak-gerak yang sesungguhnya seperti yang diajarkan oleh gurunya.
Gerakan-gerakan palsu ini, baik yang dilakukan dalam ilmu silat tangan kosong maupun ilmu silat pedang, amat berbahaya karena dapat membingungkan fihak lawan yang belum mengenal betul inti ilmu pedangnya.
Kecepatannya menggerakkan kaki-tangan amat luar biasa sehingga kalau dia sering berlatih pedang, pedang di tangannya berubah menjadi segulung sinar yang ganas bagaikan seekor naga menyerbu dari angkasa.
Sebaliknya, Gan Beng Han memiliki tenaga sinkang yang paling kuat oleh karena dia amat tekun dan kuat sekali berlatih dan bersamadhi dengan latihan pernapasan sehingga sinkangnya menjadi amat kuat.
Gerakan kaki tangannya lambat dan tidak mengandung banyak variasi, namun gerakan itu tetap, teguh dan mantap, membuat pedang di tangannya kalau dia mainkan menjadi seperti dinding baja yang tidak mungkin ditembus.
Gaya dan variasi dalam ilmu silat memang amat dipengaruhi oleh sifat dan perangai pemainnya karena semua gerakan itu dikendalikan oleh rasa, sedangkan perasaan seseorang mempunyai hubungan erat dengan sifat-sifat pribadinya.
Lui Sian Lojin maklum sepenuhnya akan hal ini, maka dia membantu perkembangan ilmu silat tiga orang muridnya itu dengan menyesuaikan gerakan-gerakan silat itu dengan sifat masing-masing.
Dia memberikan petunjuk dan nasihat yang amat berharga dan yang ditaati sepenuhnya oleh tiga orang muridnya.
Tiga orang itu menganggap guru mereka sebagai pengganti orang tua sendiri.
Di dalam hati mereka tumbuh kasih sayang dan bakti seperti perasaan seorang anak terhadap ayahnya sendiri.
Semua ini didorong oleh rasa terima kasih dan oleh rasa kasih sayang yang teramat besar dari kakek itu terhadap diri mereka.
Selain mempelajari ilmu silat, ilmu sastera dan kebatinan, di samping waktu-waktu yang mereka penuhi dengan latihan latihan yang tekun, mereka juga membantu kakek itu dalam pekerjaan di sawah ladang.
Dalam pekerjaan ini merekapun rajin sekali sehingga hasil tanaman mereka amat berkelebihan dan kelebihannya dapat mereka.
Bawa turun gunung, ke dusun-dusun dan mereka tukarkan dengan kebutuhan lain seperti bumbu-bumbu, perabot-perabot dan pakaian.
Oleh karena itu, biarpun mereka hidup di puncak gunung, biarpun pakaian mereka selalu sederhana seperti juga pakaian guru mereka, namun mereka tidak kekurangan pakaian.
Bentuk pakaian merekapun sudah membuktikan keadaan batin mereka yang sungguh berbeda.
Kui Eng, seperti biasanya seorang dara remaja, tentu saja agak pesolek dan bahan pakaiannya lebih indah dari pada kedua orang suhengnya, biarpun amat sederhana dibandingkan dengan gadis-gadis kota misalnya.
Bun Hong membuat pakaiannya bercorak seperti pakaian sasterawan dusun yang sederhana, sedangkan Beng Han agaknya tidak mau meninggalkan asalnya, pakaiannya seperti pakaian seorang petani.
Pada suatu hari, Lui Sian Lojin memanggil tiga orang muridnya berkumpul dan setelah mereka datang menghadap dan berlutut di depannya, kakek ini berkata.
"Eng Eng, kau mendekatlah."
Kakek itu biasa menyebut Kui Eng dengan nama Eng Eng, dan memang tak dapat disembunyikan bahwa kakek ini amat sayang kepadanya dan agak memanjakan, dibandingkan dengan sikapnya terhadap dua orang muridnya yang lain.
Kui Eng atau Eng Eng mendekati suhunya dan kakek itu mengelus kepala Kui Eng yang diperlakukan seperti masih anak anak saja.
"Murid muridku, duabelas tahun lamanya kalian bertiga telah belajar ilmu di tcmpat ini dan kini kalian telah memiliki ilmu kepandaian yang lumayan. Masih ingatkah kalian kepada sumpah kalian dahulu itu?"
Tentu saja mereka masih ingat karena sering kali suhu mereka memberi peringatan agar isi sumpah itu beiakar di dalam hati sanubari mereka, maka mereka bertiga mengangguk dan saling pandang karena mereka heran akan sikap suhu mereka dan menduga bahwa tentu ada apa-apa yang penting dan yang hendak disampaikan oleh guru itu kepada mereka.
"Syukurlah kalau kalian masih ingat,"
Kata kakek itu melihat tiga orang muridnya mengangguk.
"Sekarang tibalah saatnya bagi kalian untuk memberi isi kepada sumpahmu itu, mempergunakan ilmu kepandaian pada saat dan di tempat yang benar agar kalian menjadi manusiamanusia yang berguna, bagi orang lain. Kalian harus turun gunung dan mulai melakukan tugas kewajiban sebagai pendekar-pendekar muda yang gagah perkasa dan mencari pengalaman hidup."
Tiga orang muda itu merasa terkejut sekali karena belum pernah terpikir oleh mereka untuk pergi meninggalkan tempat yang mereka anggap sebagai satu-satunya tempat tinggal mereka itu dan untuk terjun ke dalam dunia ramai yang kini terasa asing bagi mereka.
Terutama sekali Kui Eng merasa kaget dan dia cepat menjatuhkan diri berlutut di dekat kaki suhunya dan berkata dengan suara mengandung keharuan.
"Turun gunung, suhu? Turun gunung dan pergi meninggalkan suhu? Suhu sudah tua dan kalau kami pergi, siapakah yang akan merawat suhu? Teecu tidak sampai hati meninggalkan suhu dan biarlah dua orang suheng ini turun gunung memperluas pengalaman mereka. Akan tetapi biarkan teecu tinggal di sini bersama suhu. Teecu tidak ingin meninggalkan suhu."
Bun Hong tidak mengeluarkan kata sepatahpun, pandangan matanya merenung jauh dan diam-diam dia merasa amat gembira.
Biarpun dia tidak pernah menyatakan dengan mulutnya, akan tetapi setiap kali dia berdiri di atas batu besar yang berada di puncak bukit dan memandang ke tempat jauh, hatinya berdebar tegang dan timbul keinginan hatinya untuk melihat bagaimana pemandangan dan keadaan di dunia ramai yang jauh itu.
Akan tetapi setelah kini dengan tiba-tiba suhunya bicara tentang turun gunung, diapun menjadi raguragu, tiada ubahnya seekor burung yang dilepas dari kurungan dan tidak tahu kemana harus terbang pergi.
Sementara itu, Beng Han berkata kepada suhunya dengan suaranya yang dalam dan tenang.
"Suhu, sungguhpun teecu ingin sekali mentaati perintah suhu untuk turun gunung, akan tetapi menurut pendapat teecu, ucapan sumoi tadi benar juga. Kalau teecu bertiga pergi dari sini, suhu tentu akan merasa kesepian dan siapakah yang akan mengerjakan sawah ladang, siapakah yang akan merawat suhu yang sudah tua? Lebih baik teecu bertiga turun gunung secara bergiliran, apabila seorang sudah kembali, barulah orang ke dua pergi sehingga dengan demikian, suhu tidak akan pernah ditinggalkan seorang diri di sini."
Lui Sian Lojin tersenyum menutupi keharuan hatinya.
"Anak-anakku, kalian anggap orang macam apakah aku ini? Aku adalah seorang yang sudah biasa hidup menyendiri, dan untuk merawat tubuhku yang sudah tua ini kiranya tidak lah sukar, karena badan dan batinku sudah tidak mempunyai banyak keinginan lagi. Aku akan dapat menjaga diriku sendiri dan bagiku, tidak ada kesenangan lain kecuali membayangkan kalian sedang berjuang demi membela kebenaran dan orang-orang tertindas yang banyak terjadi di dunia ramai. Ketahuilah, murid-muridku, bahwa pohon buah yang bagaimana lezat sekalipun tidak ada gunanya apa bila tumbuh di dalam tempat yang terasing sehingga buah-buahnya tidak dapat dinikmati orang. Ibarat pohon-pohon buah, kalian bertiga adalah tiga batang pohon kecil yang baru tumbuh ketika bertemu dengan aku Kemudian aku membawa kalian ke puncak ini, merawat dan menyirami tiga batang pohon kecil itu sehingga sekarang telah tumbuh menjadi besar dan berkembang. Apa bila kalian tidak turun gunung sekarang untuk membiarkan kembang-kembang itu berbuah dan dinikmati orang yang membutuhkannya, bukankah kembang-kembang itu akan sia-sia belaka dan buah-buahnyapun akan jatuh satu demi satu dan membusuk di atas tanah? Dan kalau terjadi seperti itu, bukankah berarti bahwa susah payahku selama merawat dan menyirami pohon-pohon kecil itu menjadi sia-sia belaka?"
Tiga orang muda itu tertunduk mendengar ucapan suhu mereka yang amat berkesan di hati masing-masing, dan mereka mengerti dengan baik akan maksud suhu mereka.
"Oleh karena itu, anak-anakku Kalian turunlah dari tempat ini dan merantau di dunia ramai. Aku akan menunggu kalian di tempat ini dan kuberi waktu tiga tahun kepada kalian untuk meluaskan pengalaman. Tiga tahun kemudian, pulanglah kalian ke sini untuk membuat laporan kepadaku. Kurasa tubuhku yang sudah tua ini masih akan kuat menanti sampai tiga tahun lagi."
Mendengar kalimat terakhir itu, Kui Eng mengangkat mukanya dan memandang wajah Lui Sian Lojin.
Kakek itu sekarang telah nampak tua benar, rambut dan jenggotnya telah putih bagaikan benang-benang perak dan kulit mukanya telah penuh keriput.
Bahkan alisnya telah berwarna putih pula, menandakan bahwa usianya sudah sangat lanjut.
Tiba-tiba timbul rasa kasihan di dalam hati Kui Eng dan gadis itu berlutut sambil berkata.
"Akan tetapi, suhu. Suhu sudah sangat tua dan hati teecu tidak akan membenarkan kalau teecu meninggalkan suhu, Di perantauan, hati teecu akan selalu teringat kepada suhu dan selalu akan merasa khawatir."
Sepasang mata gadis itu menjadi basah.
Melihat dara remaja itu hampir menangis karena berat meninggalkannya, diamdiam Lui Sian Lojin merasa amat terharu dan juga girang.
Dia merasa amat bangga dan berbahagia oleh karena tiga orang muridnya yang telah dianggapnya sebagai anak sendiri itu ternyata amat mengasihinya.
Tidak sia sialah dia merawat mereka semenjak mereka masih kecil.
Akan tetapi, kakek ini bukanlah seorang manusia lemah yang suka mementingkan diri sendiri.
Maka dikuatkannya batinnya dan dengan suara tetap dan nyaring dia berkata.
"Eng Eng! Tidak selayaknya seorang dara perkasa seperti engkau ini mengobral air mata! Dan tidak seharusnya seorang muridku yang gagah seperti engkau menjadi lemah hati. Angkat mukamu dan keringkan air matamu, lalu tersenyumlah!"
Perlahanlahan Kui Eng mcngangkat mukanya.
Kalau dia melihat wajah suhunya muram dan berduka, tentu dia tidak akan dapat menahan kesedihannya.
Akan tetapi dia melihat wajah suhunya yang kerut-merut oleh keriput itu tersenyum kepadanya dan sepasang mata orang tua itu bersinar-sinar penuh kegembiraan, maka seketika lenyaplah kelemahan hatinya dan diapun lalu tersenyum!
Memang pada dasarnya Kui Eng bukanlah seorang dara yang mudah hanyut oleh keharuan dan kedukaan, sebaliknya malah, dia seorang dara yang lincah jenaka dan selalu riang gembira seperti seekor burung murai di pagi hari.
"Nah, begitulah seharusnya, anakku yang baik. Eng Eng, dahulu kau bercerita kepadaku bahwa ibumu dilarikan penjahat, masih ingatkah engkau kepada ibumu?"
Kui Eng terkejut sekali mendengar ini.
Telah lama dia mencoba untuk melupakan bayangan peristiwa di masa dia masih kecil, bayangan peristiwa yang amat mengerikan, namun usahanya untuk melupakan semua itu sia-sia belaka.
Bayangan itu kadang-kadang, dan sering kali di waktu dia tidur, membayanginya sebagai mimpi buruk.
Dan sekarang, suhunya bahkan mengingatkannya akan hal itu!
Sebetulnya Lui Sian Lojin tidak ingin membangkit-bangkitkan hal itu dalam hati ketiga orang muridnya.
Dia mengerti akan kesia-siaan dan bahaya dari racun dendam sakit hati yang akan mencengkeram dan menguasai kehidupan seseorang.
Akan tetapi melihat keraguan hati Kui Eng untuk turun gunung, terpaksa dia mengemukakan dan mengingatkan hal itu untuk mendorong hati Kui Eng agar dara ini lebih bersemangat turun gunung dan mencari ibunya.
Kui Eng yang terkejut kini memandang gurunya dan tiba-tiba saja terbayanglah semua malapetaka yang menimpa keluarganya, teringatlah dia betapa dia hidup sebatangkara tanpa keluarga dan menangislah Kui Eng terisak-isak di depan kaki gurunya.
Kakek itu terkejut dan menyesal mengapa dia mengingatkan hal itu, akan tetapi sudah terlanjur dan dia menarik napas panjang.
"Suhu, sekarang juga teecu hendak mencari orang yang menculik ibu dan teecu akan menghancurkan kepalanya, merobek dadanya!"
Katanya dengan nada gemas dan penuh kemarahan.
"Aihhhh , tenang dan sabarlah, Eng Eng. Jangan demikian mudah hanyut oleh gelombang nafsu, anakku. Mudah saja engkau mengeluarkan kata-kata ancaman seperti itu, seolah-olah yang hendak kau robek dadanya hanya seekor ayam saja! Anakku, engkau harus tenang, pikirlah baik-baik, bagaimana kalau kemudian ternyata bahwa orang yang melarikan ibumu itu bahkan menjadi penolong yang menyelamatkan nyawanya?"
Kui Eng menjadi terkejut sekali, mukanya berubah pucat dan dia menjadi bingung.
"Kalau begitu eh, tentu saja eh, teecu minta petunjuk, suhu, karena teecu tidak mengerti harus berbuat apa""
Katanya gagap. Lui Sian Lojin tersenyum dan menahan kecelisah hatinya.
"Dengarkanlah baik-baik, Eng Eng, dan kalian juga, Beng Han dan Bun Hong. Kalian bertiga telah bersumpah di hadapanku dan di antara sumpah itu terdapat pernyataan bahwa kalian tidak akan membunuh orang secara serampangan saja. Harus diingat bahwa pembunuhan adalah suatu perbuatan yang amat jahat dan kejam, yang akan menimbulkan penderitaan kepada diri sendiri. Kita tidak berkuasa mencipta manusia, mengapa pula kita harus mengakhiri hidup seorang manusia yang diciptakan Tuhan? Hanya Tuhan yang berkuasa mencabut nyawa manusia. Ingatlah baik-baik, kalau tidak sangat terpaksa, dan dengan alas an-alasan yang kuat, jika masih ada jalan lain, jangan sekali-kali kalian menurunkan tangan kejam dan membunuh orang Lihatlah ini!"
Sambil berkata demikian kakek itu mencabut pedangnya, sebatang pedang pusaka yang bercahaya kekuningan dan yang tajamnya luar biasa sekali karena tiga orang murid itu pernah melihat suhu mereka mendemonstrasikan kehebatan pedang itu dengan membacok batu-batu besar seperti orang membacok tahu saja.
"Selama aku masih hidup dan pedang ini| masih berada di tanganku, kalau kalian melanggar sumpah dan melakukan kejahatan dengan mengandalkan kepandaianmu yang kalian pelajari di sini, biarpun hatiku amat mencintai kalian, maka siapa yang berbuat dosa dan jahat akan kuserang dengan pedang ini!"
Ketika kakek itu mengucapkan kata kata ini, waahnya nampak gagah dan suaranya kedengaran sungguh-sungguh sehingga tiga orang muridnya menjadi gentar.
"Dan sekarang, berkemaslah untuk turun gunung pada hari ini juga. Terserah kepada kalian untuk merantau bersama atau hendak berpisah, akan tetapi aku menghendaki agar supaya kalian saling membantu dan agar kalian bertiga datang ke tempat ini pada tiga tahun kemudian."
Setelah menerima banyak petunjukpetunjuk tentang dunia kang ouw dan tentang nama beberapa tokoh kang ouw yang terkenal duabelas tahun yang lalu seperti yang diketahui oleh Lui Sian Lojin, dan memberi nasihat-nasihat berharga yang amat penting diketahui oleh tiga orang muda yang masih hijau ini, mereka bertiga dengan hati berat lalu berkemas.
Selama berada di situ, suhu mereka amat mencinta mereka dan biarpun mereka tinggal di atas puncak gunung, namun berkat kelebihan hasil tanaman mereka, tiga orang muda itu mempunyai persediaan pakaian yang cukup banyak, dan masing-masing telah memiliki sebatang pedang yang biarpun bukan merupakan pedang pusaka namun cukup baik.
Kemudian, lewat tengah hari, mereka berlutut lagi di depan suhu mereka, memberi hormat dan mohon diri, lalu berangkatlah mereka turun gunung meninggalkan tempat itu.
Lui Sian Lojin berdiri di atas batu besar yang berada di puncak dan memandang ke arah tiga orang muridnya, mengikuti bayangan mereka itu lenyap di antara pohon-pohon.
Kemudian turunlah dia dari batu besar itu dan berjalan perlahan memasuki pondoknya.
Pondok yang kosong itu betapapun juga mempengaruhi hatinya yang tiba-tiba saja terasa kosong.
Hidupnya seakan-akan mati dan semangatnya seperti terbawa pergi oleh tiga orang muda itu.
Dadanya terasa sesak dan kerongkongannya hagaikan disumbat sesuatu dari dalam, akan tetapi kakek yang gagah perkasa ini lalu menggunakan kekuatan batinnya untuk menekan rasa duka dan kesepian itu, dan dia duduk bersila di atas pembaringannya sambil bersamadhi dan mengatur pernapasan.
Pengikatan diri terhadap apapun juga di dunia ini tentu akan menimbulkan duka.
Cinta kita terhadap manusia lain atau terhadap benda sebenarnya hanyalah kesenangan yang kita nikmati dari manusia atau benda yang kita cinta itu.
Cinta macam ini bersifat memiliki dan mengandung pengikatan.
Oleh karena itu, apa bila kita mengikatkan diri kepada sesuatu baik manusia atau benda, yang kita sukai, seolah-olah ikatan itu menumbuhkan akar di dalam batin, maka setiap kali kita dipisahkan dari apa yang kita cintai itu, terjebollah akarnya dan hal ini tentu saja menyakitkan batin dan menimbulkan duka.
Pengikatan diri menimbulkan rasa iba diri apa bila perpisahan datang, sedangkan perpisahan tidak mungkin dapat dielakkan lagi di dunia ini karena segala sesuatu adalah tidak kekal adanya.
Dan betapa banyaknya kita "mengikatkan diri"
Dengan keduniawian, dengan keluarga, sahabat, harta benda, kedudukan, nama besar, dan seribu satu macam hal-hal yang mendatangkan kenangan bagi kita sehingga hidup kita penuh dengan halhal yang menimbulkan duka karena sewaktuwaktu kita tentu akan berpisah dengan semua itu.
Pengikatan diri inipun menimbulkan rasa takut akan kematian, perpisahan yang mutlak karena saat kita mati kita akan berpisah dari semua yang kita sayang itu.
Karena itu yang terutama dan terpenting adalah.
Dapatkah kita hidup tanpa pengikatan dengan apapun juga, tanpa bersandar kepada apapun juga, secara batiniah?
Bukan sembarangan orang-orang muda yang turun dari puncak Kwi~hoasan pada hari itu.
Kui Eng telah menjadi seorang dara remaja berusia tujuhbelas tahun yang cantik jelita dan manis.
Rambutnya yang hitam panjang dan halus itu dikepang menjadi dua dan diikat dengan pita sutera merah, dan di atas kepalanya sebelah kiri dihias dengan hiasan rambut berupa setangkai bunga bwee terbuat dari pada batubatu merah pemberian suhunya.
Wajahnya yang berbentuk bulat telur itu bertambah manis karena senyumnya selalu menghias bibir yang merah dan tipis.
Sepasang matanya yang agak lebar selalu bersinar-sinar laksana bintang pagi, membuat wajahnya nampak cerah dan selalu berseri.
Tubuhnya ramping padat, membayangkan bahwa dia sehat dan memiliki tenaga halus yang amat kuat, sedangkan kulitnya yang halus putih kekuningan itu menyembunyikan keadaannya sebagai seorang pendekar wanita yang lihai.
Sukar untuk pereaya bahwa kedua tangan yang berkulit halus itu mampu me mecahkan batu dengan satu kali pukul!
Warna hijau menjadi kesukaannya dan pakaian yang menutupi tubuhnya terbuat dari sutera berwarna hijau, dengan potongan yang sederhana, namun warna itu membuat kulitnya nampak lebih putih dan gemilang.
Pinggangnya yang ramping terikat dengai sabuk sutera merah, kedua ujung sabuk melambai-lambai tertiup angin gunung ketika dia berjalan menuruni gunung bersama kedua orang suhengnya.
Kedua sepatunya yang kecil dan masih baru itu berwarna hitam.
Gagang pedang yang tersembul di pinggangnya membuat dia nampak gagah.
Cantik jelita dan gagah perkasa, demikianlah kesan yang didatangkan oleh pribadi Kui Eng, bagaikan setangkai bunga yang semerbak mengharum dan indah, akan tetapi dia bukanlah bunga sembarang bunga.
Bukanlah bunga harum indah yang mudah dijangkau tangan dan mudah pula dipetik.
Ibarat bunga, dia berada di tempat tinggi dan kegagahannya yang melindungi kecantikannya bagaikan duri-duri tajam yang melindungi bunga harum itu.
Mudah dipandang akan tetapi sukar untuk dicapai tangan!
Tan Bun Hong yang berjalan di sebelah kiri Kui Eng juga merupakan seorang pemuda yang patut dikagumi.
Semenjak kecilnya memang sudah dapat diduga bahwa dia akan menjadi seorang pemuda yang tampan.
Rambutnya hitam dan digelung ke atas, diikat dengan sutera biru dengan erat sehingga dahinya yang tinggi dan lebar itu menanbah ketampanannya.
Kulit mukanya halus dan putih sehingga bibirnya nampak merah bagaikan bibir wanita, akan tetapi bentuk mulutnya gagah dan tidak sekecil mulut wanita.
Sepasang matanya kocak dan jenaka, selalu bergerak ke sana-sini, kerlingnya menyambar-nyambar, menunjukkan bahwa dia memiliki otak yang cerdik, sedangkan senyum manis yang tak pernah meninggalkan bibirnya membuat orang merasa suka kepadanya Tubuhnya agak kurus akan tetapi bahunya lebar dan tegak.
Langkah kakinya tegap membayangkan adanya kekuatan besar di daiam tubuhnya.
Pakaiannya berwarna kuning gading dengan ikat pinggang berwarna biru seperti ikat rambutnya.
Pakaiannya rapi dan bersih sampai ke sepatunya, rambutnya tersisir halus dan terawat, menandakan bahwa dia seorang yang pesolek dan suka akan kebersihan.
Juga pedangnya tergantung di pinggang kiri membuat dia nampak tampan dan gagah.
Di sepanjang jaian dia bercakap-cakap tiada hentinya dan pandai sekali menghibur hati kedua orang saudara seperguruan itu dengan kelakar dan kejenakaan, sehingga lerhiburlah hati Kui Eng dan Beng Han.
Di sebelah kanan Kui Eng berjalanlah Gan Beng Han.
Tubuhnya tinggi, lebih tinggi dari Bun Hong, dan juga lebih tegap.
Rambutnya yang subur dan hitam juga diikat ke atas dengan sehelai pita berwarna hitam sehingga dari jauh tidak kelihatan karena warnanya sama dengan rambutnya.
Mukanya lebar dan berbentuk bagus.
Wajah seperti inilah yang biasa disebut wajah "toapan"
Dan menurut pendapat umum, wajah yang toapan itu adalah wajah seorang yang berwatak baik dan dapat dipercaya.
Alisnya tebal dan berbentuk seperti golok, membayangkan kegagahan Kedua matanya tenang dan bersinar lembut, membayangkan kejujuran.
Dagunya berlekuk pada tengahtengahnya menambah sifat kejantanannya, akan tetapi bibirnya membayang kesabaran yang besar.
Pakaiannya terbuat dari pada kain tebal berwarna abuabu, sederhana sekali seperti pakaian petani, jauh bedanya dengan pakaian Bun Hong, sungguhpun guru mereka tidak pernah membeda bedakan antara mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa memang Beng Han memiliki watak sederhana.
Kulit mukanya tidak seputih Bun Hong, akan tetapi wajah Beng Han tidak dapat dikatakan buruk.
Sungguhpun tidak setampan wajah Bun Hong, namun tanpa dapat diragukan dia memiliki sifat gagah yang amat menonjol.
Langkah kakinya tidak seringan kaki Kui Eng yang berjalan di sebelah kirinya, juga tidak secepat langkah kaki Bun Hong, akan tetapi lebih tegap dan kuat, dengan langkah yang lebar dan lenggang yang jelas membayangkan kehebatan tenaganya, seperti lenggang seenaknya seekor harimau muda.
Tiga orang muda yang pada waktu itu menuruni Gunung Kwi-hoa-san, dapat disebut sebagai lambang dari kecantikan, ketampanan, dan kegagahan.
Dan apa bila orang mengetahui akan kehebatan ilmu kepandaian silat mereka, maka orang itu tentu akan menyatakan bahwa yang menuruni puncak gunung itu bukanlah tiga orang muda sembarangan, melainkan tiga naga sakti yang melayang turun dari angkasa ke dunia ramai untuk melaksanakan tugas suci!
Pada masa itu, Kerajaan Tang baru saja terlepas dari gangguan pemberontakan.
Bekas-bekas perang memang sudah tidak nampak jelas, akan tetapi akibat-akibat perang maasih terasa oleh rakyat karena kini yang menjadi kaisar adalah seorang yang lemah dan tidak pandai menguasai keadaan, tidak pandai mengatur pemerintahan.
Para pembesar kerajaaan, terutama sekali para thaikam (orang kebiri) yang selalu menjadi sekelompok orang-orang yang paling dekat dengan kaisar, memegang peranan penting dalam tampuk kerajaan.
Para pembesar ini bukanlah pemimpin sejati.
Yang dinamakan pemimpin adalah orang-orang yang memegang kedudukan tinggi dan yang mmemimpin rakyat kearah kemakmuran bersama.
Akan tetapi pembesar adalah orang-orang yang memperebutkan kedudukan tinggi hanya untuk memperbesar perut sendiri, memperbesar kkekuasaan dan memperbesar kekayaan pribadi saja.
Mereka ini selalu mementingkan diri sendiri, mengejar kesenangan sebanyak-banyaknya.
Kesenangan dalam bentuk apapun, baik itu kedudukan, harta benda dan sebagainya, bukan merupakan hal buruk dan jahat.
Akan tetapi, kalau sudah dikejar-kejar, maka dalam PENGEJARANNYA inilah timbul kejahatan-kejahatan, karena demi untuk mencapai yang dikejar-kejarnya, manusia tidak segan-segan untuk melakukan perbuatan busuk macam apapun juga.
Pengejaran akan kedudukan menimbulkan kejahatan dan kecurangan terhadap lawan yang memperebutkan kedudukan, pengejaran terhadap kekayaan antara lain menimbulkan korupsi yang kian merajalela.
Dan keadaan seperti ini tiada bedanya dengan keadaan di waktu berkecamuk perang, kembali rakyat jelatalah yang celaka dan menderita akibat tekanan para pembesar itu.
Pajak penghasilan sawah ladang dan segala macam pekerjaan diperhebat dan diperberat.
Celakanya, bukan hanya satu fihak saja yang merupakan lintah yang mehghisap darah rakyat, melainkan berantai, dari yang paling tinggi sampai paling rendah.
Dari kaisar sampai para pemungut pajak, maka jumlah yang dikenakan pada rakyat juga menjadi berlipat ganda.
Tentu saja pendapatan pajak itu hanya sebagiah kecil saja yang disetorkan kepada kerajaan dan yang terbesar kandas atau menyangkut di saku-saku para pembesar besar kecil.
Rakyat nembanting tulang memeras keringat semata-mata hanya untuk menambah gemuk para pembesar dan juga.
mereka yang memiliki tanah yang disewakan kepada para petani.
Oleh karena adanya tekanan yang amat berat sehingga membuat kehidupan rakyat penuh derita dan kekurangan ini, tidaklah mengherankan apabila banyak orang yang memiliki ilmu kepandaian dan kekuatan lalu melarikan diri ke dalam hutan dan menjadi perampok!
Tentu saja hal ini bukan merupakan jalan keluar yang baik, akan tetapi penderitaan hidup yang serba kekurangan, menimbulkan kekacauan dan mata gelap.
Tiga orang muda mund Lui Sian Lojin yang mempergunakan ilmu berlari cepat ketika menuruni gunung itu tiba di sebuah hutan di kaki Gunung Kwi-hoa-san.
Hari telah menjelang senja dan mereka berniat mencapai dusun Sionghwa chung di luar hutan sebelum malam tiba dan melewatkan malam di dusun itu untuk melanjutkan perjalanan esok harinya.
Akan tetapi ketika mereka tiba di tengah hutan itu, tiba-tiba terdengar suara suitan-suitan dari kanan kiri dan depan.
Mereka bertiga merasa heran sekali, otomatis menghentikan langkah mereka dan memandang dengan penuh kewaspadaan (Lanjut ke
Jilid 03) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 03 ke depan.
Tak lama kemudian bermunculan orang-orang diri balik pohon pohon dan semak semak, orang orang kasar dan bersikap bengis, dengan pakaian tambal-tambalan.
Memang tubuh mereka kurus-kurus akan tetapi sikap mereka ganas.
Kecewalah hati tiga orang muda itu.
Manusia-manusia pertama yang mereka temui dalam perjalanan turun gunung ini ternyata adalah segerombolan perampok!
Seorang laki-laki setengah tua yang bertubuh tinggi besar dan kelihatan kokoh kaat, berdiri menghadang mereka dengan golok di tangan kanan.
Tangan kirinya bertolak pingcang dm kedua kakinya dipentang lebar, sikapnya ganas dan gagah jelas bahwa tentu dia kepala perampok itu "Hai, tiga orang muda yang sedang lewat?
Berhenti dulu dan tinggalkan bungkusan dan pedang kalian, baru boleh lewat terus!"
Katanya dengan sikap menakutkan.
Tiga orang muda itu saling pandang sambil tersenyum.
Biarpun mereka belum berpengalaman dan selamanya belum pernah bertemu dengan orang-orang kasar seperti itu, akan tetapi berkat penuturan suhu mereka, tiga orang muda ini sudah dapat menduga orang-orang macam apa adanya mereka yang kini menghadang perjalanan itu.
"Suheng, mereka adalah orang orang jahat yang perlu dibasmi!"
Kata Bun Hong dengan tenang sambil meraba gagang pedangnya.
Juga Kui Eng sudah meraba gagang pedangnya, hatihya tegang dan jantungnya berdebar karena agaknya baru sekali ini dia akan mengalami pertempuran dan mempraktekkan semua ilmu silat yang selama ini dipelajarinya.
Akan tetapi Beng Han tetap bersikap tenang.
Sebagai saudara seperguruan yang lebih tua.
Dialah yang berhak memimpin seperti yang juga dipesan oleh suhu mereka.
Lui Sian Lojin yang mengenal baik watak tiga orang muridnya, maklum bahwa di antara mereka bertiga, hanya Beng Han yang boleh diandalkan untuk menjadi pemimpin karena pemuda ini tenang dan bijaksana, tidak sembrono seperti dua orang adik seperguruannya.
"Sahabat,"
Kata Beng Han sambil melangkah maju, suaranya tenang dan halus ramah.
"Kita tidak saling mengenal, tidak pernah saling bermusuhan, mengapa engkau minta yang bukan-bukan? Aku pernah mendengar bahwa orang yang minta barang-barang orang lain secara paksa, disebut perampok. Apakah kalian ini hendak merampok kami?"
Mendengar pertanyaan yang jujur ini, tiba-tiba kepala perampok itu tertawa bergelak dan semua anak buahnya ikut pula tertawa geli, seolah-olah suara ketawa kepala perampok tadi merupakan komando kepada mereka supaya tertawa.
"Orang muda, engkau boleh menamakan kami perampok atau apa saja. Pendeknya, kami yang berkuasa di rimba ini dan setiap orang yang berjumpa dengan kami, harus meninggalkan barang-barangnya. Kalau kalian bertiga membangkang, jangan katakan kami berlaku keterlaluan apabila golok-golok kami yang mewakili kami bicara!"
"Perampok kurang ajar! Kalian kira kami ini orang apakah?"
Bun Hong membentak marah dan melangkah maju sambil mengangkat dada dan mengepal tinju.
"Sergap mereka!"
Teriak kepala perampok dan belasan batang golok berkilauan ketika para perampok itu mulai bergerak dan mengurung mereka bertiga.
"Jangan gunakan pedang!"
Beng Han memperingatkan dua orang adik seperguruannya.
Teriakan ini mengingatkan Bun Hong dan Kui Eng akan pesan guru mereka bahwa mereka tidak boleh sembarangan membunuh, maka tangan mereka yang meraba gagang pedang dilepas dan dengan tangan kosong mereka menghadapi serbuan belasan batang golok itu.
Jumlah perampok itu ada duapuluh dua orang termasuk kepala perampoknya.
Kini, mereka yang sudah mengurung itu lalu mulai menerjang dengan golok mereka, sinar golok berkilauan menyambar nyambar ganas.
"Haaaiiiiittt!!"
Kui Eng membentak.
"Hiaanaahhh!"
Bun Hong berseru.
"Heeeeehhh!"
Beng Han juga membentak dan mereka bertiga sudah menggerakkan tubuh mereka.
Dalam keadaan dikeroyok oleh banyak senjata tajam itu.
Tanpa diberi tahu lagi ketiga orang muda perkasa ini telah tahu dengan ilmu apa mereka harus menandingi para pengeroyok dan gerakan mereka memiliki dasar yang sama, yaitu ilmu silat tangan kosong yang disebut Kong-jiu-jip-pek-to (Tangan Kosong Serbu Ratusan Golok) dan Sin-liong-haon-sin (Naga Sakti Berjungkir Balik) untuk menangkis, merampas golok dan mengelak bayangan mereka bergerak cepat, berkelebatan seperti tiga ekor naga sakti mengamuk.
Terdengar pekik kesakuan susul menyusul dan golok beterbangan keempat penjuru termasuk si kepala perampok sendiri telah rebah semua perampok itu ditanah dalam keadaan tertotok, terpukul dan tertendang yang membuat mereka tidak dapat bangkit kembali!
Para perampok itu merasa amat terkejut dan terheran.
Lebih heran hati mereka dari pada rasa sakit yang mereka tahan.
Sehingga keheranan itu seperti melupakan rasa takut dan sakit.
Mereka hanya rebah dan memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
Belum pernah selama menjadi perampok mereka mengalami hal seperti ini, dirobohkan dalam beberapa gebrakan saja oleh tiga orang muda yang bertangan kosong secara demikian mudahnya!
Karena terkejut, heran dan juga kagum sekali, kepala perampok yang roboh oleh sentilan jari tangan Bun Hong pada iganya itu lalu merangkak bangun dan berlutut di depan tiga orang pendekar muda itu.
"Ampunkan kami, sam wi enghiong (tiga orang gagah), mata kami telah buta dan tidak mengenal tiga orang pendekar besar yang sedang melakukan perjalanan. Kami memang pantas dihajar!"
Bun Hong dan Kui Eng memandang dengan mulut tersenyum mengejek, akan tetapi Beng Han segera membangunkan kepala perampok itu dan berkata.
"Sahabat, kulihat kalian masih muda dan gagah, mengapa kalian tidak mau bekerja yang benar, malah melakukan pekerjaan rendah menjadi perampok?"
Kepala perampok itu memang sejak masih muda telah menjadi perampok, maka dia tidak daput menjawab dan tidak berani menjawab, hanya menundukkan kepala saja.
Akan tetapi beberapa orang anak buahnya yang berasal diri penduduk dusun, para petani yang tidak dapat mengandalkan kaki tangan untuk bekerja dan mencukupi kebutuhan rumah tangganya, dengan sedih lalu berkata.
"Ho-han (orang budiman), kami menjadi perampok oleh karena terpaksa. Anak bini di rumah harus diberi makan dan pekerjaan halal apakah yang dapat kami kerjakan pada waktu yang begini sukarnya? Kemampuan kami hanyalah bertani dan pekerjaan itu sama sekali tidak mencukupi kebutuhan perut anak-bini kami. Harap hohan sudi mengampuni kami yang sengsara ini."
"Alasan kosong belaka!"
Bun Hong membentak dan memandang tajam "Kalian harus sadar dan tidak melanjutkan pekerjaan jahat ini.
Awas, kalau lain kali aku lewat di sini dan melihat kalian masih menjadi perampok, aku tidak akan mempergunakan tangan dan kaki saja, akan tetapi aku tentu akan menggunakan pedangku untuk menamatkan riwayat kalian!"
Para perampok itu hanya menganggukangguk dengan muka pucat.
"Kebutuhan perut saja tidak mungkin memaksa kalian menjadi perampok,"
Kata Beng Han dengan suara tenang.
"Berapa sih banyaknya kebutuhan perut? Yang banyak adalah kebutuhan mulut. Bukalah mata kalian bahwa yang mendorong kalian melakukan perbuatan sesat ini adalah angkara murka, bukan kebutuhan perut. Sekali ini kami melepaskan kalian, akan tetapi harap jangan ulangi lagi perbuatan sesat ini."
Para perampok kembali mengangguk-angguk.
Diam-diam di antara mereka ada yang mau membaka mata melihat kenyataan dan menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh pendekar yang bertubuh tinggi tegap itu memang benar adanya.
Kebutuhan perut memang sesungguhnya tidak seberapa, karena sesungguhnya bumi penuh dengan tetumbuhan yang dapat dimakan untuk memenuhi kebutuhan perut.
Akan tetapi, yang sesungguhnya selalu membuat mereka merasa kekurangan adalah tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan lain yang pada hakekatnya adalah pengejaran kesenangan belaka.
Kebutuhan mulut adalah pengejaran kesenangan, bukan kebutuhan mutlak dari tubuh.
Segala bentuk penyelewengan yang dilakukan manusia di dunia ini sesungguhnya terdorong oleh keinginan memperoleh apa yang dikejar-kejarnya dan yang dikejarnya itu tiada lain hanyalah kesenangan belaka.
Namun, pikiran memang amat cerdik untuk membela diri sehingga apa yang sesungguhnya hanya pengejaran kesenangan lalu dinamakan sebagai kebutuhan hidup!
Pikiran inilah yang menutupi kesadaran, yang mencegah terbukanya mata untuk menyadari kenyataan yang ada, padahal tanpa adanya ke sadaran akan penyelewengan sendiri tidak akan mungkin terdapat perubahan dalam kehidupan.
Tiga orang pendekar muda itu melanjutkan perjalanan mereka dengan cepat karena mereka tidak ingin kemalaman di dalam hutan.
Setelah bermalam di dusun Siong hwacung, di rumah seorang petni tua yang ramah, dimana mereka kembali menyaksikan keadaan para penghuni dusun, para petani yang memang amat sengsara, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka bertiga meninggalkan dusun dan melanjutkan perjalanan menuju ke tempat di mana untuk pertama kalinya mereka berjumpa dengan guru mereka, yaitu di dusun Hong yang.
Menjelang tengah hari mereka tiba di dusun ini.
Melihat dusun tempat kelahiran mereka.
Bun Hong dan Kui Eng merasa terharu sekali dan terbayanglah semua peristiwa yang lalu dikepala mereka, sehingga diam diam Ku Eng menggunakan saputanganya untuk menghapus air mata yang menitik turun ke atas pipinya.
Memang harus diakui bahwa tanah tumpah darah, yaitu tempat dirinya dilahirkan, dimana darah ibu tertumpah waktu melahirkan, merupakan tempat yang takkan terlupakan, apa lagi kalau sejak kecil sudah tinggal di tempat kelahiran itu, maka banyak sekali hal-hal baik maupun yang buruk, sukar untuk dilupakan dan membuat orang merasa seperti ada pertalian gaib antara dia dan tempat itu.
Dusun Hong-yang telah mengalami banya perubahan semenjak mereka pergi.
Rumah-rumah baru telah di bangun, akan tetapi orang-orang yang tinggal di dusun itu sebagian besar adalah pendatang baru dari lain tempat.
Biarpun masih adapula penduduk lama yang kembali ke tempat itu dan mendirikan rumah lagi karena rumah mereka yang dulu telah dibakar pemberontak, akan tetapi oleh karena Bun Hong dan Kui Eng pergi meninggalkan Hongyang di waktu mereka masih kecil, maka tidak ada orang yang mengenal mereka.
Mereka berduapun tidak melihat ada orang yang mereka kenal.
Sungguh aneh rasanya memasuki kampung halaman sendiri, memasuki tempat kelahiran sendiri seperti orang-orang asing!
Biarpun banyak rumah barn dibangun, namun pohon-pohon, selokan-selokan air, batu-batu jalan, pemandangan gunung yang menjulang dikejauhan semua itu tidak pernah berubah dan tempnt itu sama sekali tidak asing bagi mereka.
Ketika kedua orang muda itu mencoba untuk bertanya kepada orang orang disitu tentang keadaan keluarga Tan dan keluarga Kui, yaitu hartawan Tan dan kepala kampong Kui yang tadinya amat terkenal di dusun itu, jawaban yang mereka dapat dari para penduduk hanyalah tarikan napas panjang dan gelengan kepala sambil dibarengi kata kata sedih.
"Semua habis, semua binasa!"
Sehari itu mereka bertiga melakukan penyedikan, bertanya sana-sini, sambil melihat lihat keadaan di dusun Hongyang.
Namun usaha mereka menyelidiki keadaan keluarga Tan dan Kui sia-sia belaka dan akhirnya mereka pergi ke dusun tempat kelahiran Beng Han.
Dusun ini amat kecil dan biarpun kini sudah penuh pula dengan penduduk, namun keadaan dusun ini amat miskin dan penghidupan rakyat dusun ini amat sengsara dan serba kekurangan, membuat tiga orang pendekar itu merasa terharu dan kasihan sekali.
Pada masa itu para pembesar yang berkuasa di kota raja, mengadakan peraturan pajak yang amat menekan dan mengisap darah para petani dan menentukan pajak sebanyak limapuluh sampai seratus kati gandum bagi setiap petak sawah.
Pajak ini luar biasa beratnya, karena meliputi bagian terbesar dari hasil tanah, bahkan di waktu musim kering, sawah tidak dapat menghasilkan gandum sebanyak itu.
Oleh karena mendapat contoh dari para pembesar tinggi dengan peraturan-peraturan itu, maka para pemilik tanah di kampong-kampung dan para petugas yang mendapatkan kekuatan seperti kepala kampung dan lain-lain, tidak mau kalah dan mengekor contoh ini dengan setia.
Merekapun menetapkan pajak-pajak yang berat bagi para petani sehingga keluh kesah rakyat kecil membumbung tinggi sampai ke langit tanpa ada yang mendengar agaknya.
Kepala kampung di Hongyang adalah seorang pendatang baru yang kaya raya, seorang she Gu.
Dusun kecil tempat kelahiran Beng Han juga termasuk wilayah kampong Hongyang itu, yang merupakan sebuah kecamatan, maka kepala kampung Gu ini boleh dinamakan camat.
Untuk dapat melaksanakan pekerjaannya dengan lancar, camat Gu ini memelihara belasan orang tukang pukul.
Karena banyak terjadi pertentangan, keributan dan ketegangan dengan para petani yang merasa penasaran dikenakan pajak yang terlampau berat itu.
Tiap orang petani yang tidak dapat memenuhi dan membayar pajaknya, akan ditangkap dan dihukum dengan beberapa puluh kali cambukan pada punggungnya.
Apabila terdapat petani yang membangkang dan hendak melawan, tukang tukang pukul itulah yang akan beraksi dan menghentikan segala sikap membangkang itu dengan pukulan-pukulan dan kadang-kadang dengan pembunuhan.
Biarpun camat Gu ini boleh disebut kejam dan jahat, namun dia hanyalah merupakan sebuah mata rantai kecil saja dari kekuasaan jahat yang berkuasa pada waktu itu.
Camat inipun berada di bawah kekuasaan pembesarnya yang berada di kota An-kian, yang kekuasaannya meliputi wilayah kecamatan Hong-yang dan dusun-dusun di sekitarnya.
Pembesar itu berpangkat bupati, seorang she Yap dan dialah yang menetapkan besarnya pajak bagi para petani di dusun-dusun, sehingga terpaksa camat Gu harus memerintahkan kepada para kepala dusun untuk mentaati perintahnya.
Namun, seperti yang selalu terjadi, dimana terdapat makanan enak dan mudah, selalu anjing-anjing berebutan.
Camat inipun tidak mau kalah dalam perlombaan menumpuk kekayaan untuk diri sendiri, demikian pula para kepala dusun sehingga akibatnya, mereka itu mengkorup hasil pajak, bahkan ada yang memberi tambahan ekstra untuk diri sendiri pada jumlah pajak yang sudah amat berat menekan itu.
Ketika tiga orana pcudekai muda itu mendengar akan keadaan ini dari para petani, bukan main marah dan penasarnn rasa hati, mereka.
Terutama sekali Kui Eng yang dahulu menjadi puteri seorang kepala kecamatan yang jujur.
Terbangun semangatnya ketika seorang petani tua yang mendengar cerita kawannya itu menarik napas panjang dan berkata, tanpa di ketahuinya bahwa puteri orang yang dibicara kannya itu berada di depannya.
"Aih, alangkah baiknya kalau Kui-taijin (pembesar Kui) masih hidup dan menjadi camat kami."
Kui Eng maklum bahwa petani tua itu memuji ayahnya, akan tetapi dia tidak mau memperkenalkan diri sebagai puteri camat Kui itu.
Dia lalu mengajak dua orang suhengnya untuk pergi ke rumah camat she Gu itu.
"Kita harus memberi pelajaran kepada camat permeras itu!"
Katanya dengan sengit.
Kedua orang suhengnya mempunyai pendapat yang sama, maka mereka bertiga lalu pergi menuju ke rumah camat Gu yang merupakan sebuah gedung besar dan mewah.
Keadaan gedung ini sungguh berlawanan sekali dengan kemiskinan yang nampak di sekitarnya.
Para tukang pukul atau pengawal yang menjaga di depan gedung itu, merasa curiga ketika melihai tiga orang muda itu memasuki pekarangan gedung dengan langkah tegap dan pandang mata tajam bersinar, maka mereka cepat berkerumun menghadang.
Melihat bahwa tiga orang itu membawa pedang, maka seorang di antara mereka yang bertubuh pendek dan gemuk dan menjadi pimpinan di antara kelompok penjaga itu, cepat bertanya dengan sikap hormat namun dengan pandang mata penuh selidik.
"Sam-wi (anda bertiga) hendak mencari siapa?"
Milihat sikap orang ini cukup menghormat, Beng Han lalu melangkah maju dan mengangkat kedua tangan ke depan dada untuk memberi hormat sambil menjawab.
"Kami bertiga ingin bertemu dengan Gu-taijin."
Kecurigaan para pengawal itu makin bertambah dan kini berubahlah sikap si pendek gemuk Dia memandang mereka bertiga penuh selidik, dan ketika pandang matanya ditujukan kepada Kui Eng, pandang mata itu seolah-olah menggerayangi seluruh tubuh dan wajah dara ini sehingga muka Kui Eng menjadi merah sekali saking malu dan juga marahnya.
"Siapa nama dan ada keperluan apa?"
Tanya si gendut dengan lagak angkuh. Melihat perubahan sikap ini, Bun Hong tak dapat menahan kesabarannya dan dengan suara kaku dia berkata.
"Laporkan saja kepada camat Gu agar dia kelur menjumpai kami, soal nama dan keperluan kami, engkau si gendut sombong tidak perlu tahu!"
Marahlah pengawal gemuk itu.
Dia adalah seorang kepala tukang pukul yang amat terkenal ditakuti oleh semua penduduk di seluruh wilayah Hong-yang.
Belum pernah ada orang berani bersikap kasar kepadanya, apa lagi menghinanya seperti yang dilakukan oleh pemuda tampan ini.
Dengan mata melotot besar, biji matanya separuh keluar dari kelopaknya, dia membentak.
"Kalian ini orang-orang kurang ajar! Pergilah dari sini! Gu-taijin sedang sibuk dan tidak ada waktu unluk melayani orang-orang macam kalian!"
Melihat ini, Beng Han segera berkata dengan suara halus sambil mencegah sutenya mendahuluinya dengan katakata atau perbuatan yang hanya akan menimbulkan keributan.
"Twako, harap jangan mencari perkara dengan kami. Kami tidak mempunyai urusan denganmu, kami hanya ingin bicara dengan Gu-taijin."
Akan tetapi, kepala pengawal yang gendut itu sudah marah sekali dan dia berkata dengan kata-kata yang bernada kaku.
"Setiap orang yang hendak menghadap Gutaijin harus bersikap sopan dan tidak boleh membawa senjata. Kalau kalian mau menanggalkan pedang menyerahkan kepada kami kemudian menanti di sini sambil berlutut, barulah kami mau melaporkan tentang kunjungan kalian kepada beliau."
"Apa?"
Kui Eng melangkah maju dengan mata bersinar marah "Menanggalkan pedangku?
Haih, babi gemuk, dengarlah!
Kami sengaja membawa pedang untuk kami pergunakan mengetuk kepala orang she Gu itu beserta kaki tangannya, termasuk engkau!"
Kui Eng berdiri didepan kepala pengawal gendut itu sambil bcrtolak pinggang, sikapnya menantang sekali.
Beng Han mengerutkan alisnya, akan tetapi karena sudah terlanjur, dia tidak dapat lagi mencegah sumoinya.
"Perempuan kurang ajar!"
Pengawal gemuk itu lalu mengulurkan tangan hendak mencengkeram dada Kui Eng yang mulai tumbuh menonjol, dengan maksud untuk memberi hajaran dan membikin malu wanita muda yang begitu berani menghina dan memakinya itu.
Akan tetapi, dengan gerakan ringan sekali Kui Eng memutar tubuhnya sehingga cengkeraman si gendut itu hanya menangkap angin dan sebelum pengawal itu tahu apa yang terjadl dengan dirinya, tahu-tahu tubuhnya terpelanting dan dadanya terasa nyeri sekali terkena tamparan tangan kanan Kui Eng yang dilakukan amat cepatnya sehingga tidak terlihat oleh orang yang dipukulnya.
"Plakkk! Aduh!"
Tubuh si gendut terguling dan karena tubuh gemuk itu terlalu berat baginya, maka dia terbanting seperti balok runtuh.
Dengan marah para pengawal maju mengeroyok.
Tiga orang pendekar muda dari Kwi-hoa-san itu mengamuk, menggunakan kaki tangan untuk merobohkan mereka.
Bun Hong dan Beng Han menangkap-nangkapi mereka dan melemparkan tubuh mereka ke kanan kiri sedangkan Kui Eng menggunakan kedua kakinya untuk merobohkan setiap orang yang berani menyerang.
Mendengar keributan ini,semua pengawal yang berada di sekitar gedung itu datang berlarian dan sebentar saja tiga orang muda itu telah dikepung dan dikeroyok oleh duapuluh orang pengawal yang semua mempergunakan senjata.
Melihat keadaan yang cukup gawat ini, Beng Han berseru kepada sute dan sumoinya.
"Kita boleh menggunakan pedang, akan tetapi hanya untuk melindungi diri, jangan membunuh orang!"
Nampak tiga sinar berkilat ketika tiga orang muda itu mencabut pedang masing-masing dan di antara bunyi teriakan-teriakan para pengeroyok, terdengar suara mendesing mengikuti tiga gulung sinar yang menyambar-nyambar dahsyat.
Segera terdengar suara nyaring berkerontangan ketika senjata-senjnta para pengeroyok disambar tiga gulung sinar itu, disusul pekik kaget dan kesakitan dan mereka yang terluka tangan dan lengannya sehingga mereka yang senjatanya belum terpental jatuh terpaksa harus melepaskan senjata itu karena tangan mereka terluka oleh sambaran pedang yang amat hebat itu.
Camat Gu yang mendengar suara rebut-ribut di luar, cepat keluar untuk melihat dan menegur.
Ketika dia berlari dan keluar melihat tiga orang muda yang amat lihai sedang dikeroyok oleh para tukang pukulnya, dan meljihat banyak di antara tukang pukulnya sudah roboh dan terluka, dia terkejut sekali dan cepat memutar tubuhnya hendak berlari masuk lagi.
Akan tetapi, tiba tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu seorang gadis cantik jelita din gagah perkasa telah berdiri di depannya dan menodongkan pedang yang runcing tajam di dadanya!
Camat Gu bukanlah seorang lemah.
Sedikit banyak dia pernah mempelajari ilmu silat, maka melihat ada orang menodngnya, apalagi yang menodongnya hanya seorang dara remaja, dia herseru keras, tubuhnya bergerak ke samping dan dari simping dia melayangkan kakinya menendang ke arah tangan yang memegang pedang, disusul oleh cengkeraman tangannya ke arah pundak dara itu!
Cepat juga gerakan Camat Gu ini, akan tetapi gerakan kilatnya yang hanya biasa saja itu mana dapat dipakai untuk menandingi seorang dara yang selama duabelas tahun digembleng seorang sakti seperti Lui Sian Lojin!
Kui Eng menarik pedangnya, menggunakan tangan kiri untuk menyabet kaki yang menendang sambil miringkan tubuh mengelak dari cengkeraman tangan.
"Dukkk! aihhh!!"
Gu taijin yang kena dihantam kakinya oleh tangan kiri kecil yang dimiringkan itu, mengaduh-aduh dan memegangi kaki yang dipakai untuk menendang sambil berloncatan lucu.
Wajahnya meringis akan tetapi ketika kembali ujung pedang itu menyentuh dadanya, menembus bajunya dan menggigit kulitnya dia lalu menjatuhkan diri berlutut, tubuhnya menggigil ketakutan dan dengan suara gemetar dia berkata.
"Lihiap ampunkan saya"."
Sementara itu, para, tukang pukul telah dapat dihajar babak belur dan jatuh bangun oleh Beng Han dan Bun Hong.
Senjata mereka berserakan di mana-mana, dan dengan tubuh bengkak-bengkak, ada juga yang patah tulangnya mereka merangkak-rangkak dan mencoba bangun sambil memaudang ke arah camat Gu yang agaknya telah dibuat tidak berdaya oleh dara perkasa itu, dengan mata terbelalak.
Melihat betapa sumoi mereka telah menodong seorang yang berpakaian mewah Beng Han dan Bun Hong cepat meloncat dan mendekati.
Pedang mereka kini juga ditodongkan ke tubuh camat itu dari kanan kiri, membuat Gu-taijin makin ketakutan.
"Apakah engkau camat Gu?"
Beng Han membentak dan ujung pedangnya menggigit kulit punggung pembesar itu.
"Be.. benar harap ampunkan saya""
"Orang she Gu!"
Kui Eng membentak dan kini pedangnva menempel di batang leher kepala daerah itu.
"Apakah kau benar-benar ingin hidup?"
Dengan tubuh menggigil seperti orang terserang demam; Gu taijin mengangguk-angguk kepalanya.
"Ampunkan saya"
Saya akan memenuhi permintaan sam-wi berapa tahilkah yang samwi inginkan?"
"Desss!"' Kui Eng menendang sehingga tubuh itu terjengkang, Gu taijin mengeluh dan memandang pucat. Kui Eng menudingkan pedangnya dekat hidung pembesar itu.
"Keparat! Kaukira kami sebangsa perampok macam engkau?"
Pedangnya bergerak, akan tetapi lengannya disentuh oleh Beng Han sehingga dara itu mengurungkan niatnya.
"Gu-taijin!"
Kata Beng Han, suaranya tegas dan nyaring.
"Kalau kau ingin hidup, mulai sekarang engkau harus merobah peraturan pajak pada para petani yang miskin. Engkau adalah pembesar di daerah ini dan seorang pembesar sepatutnya menjadi ayah dan pembimbing yang baik dari seluruh penduduk, mengatur, membela, dan menjaga agar semua orang hidup dalam kebahagiaan. Akan tetapi, sebaliknya engkau malah memeras mereka yang sudah hidup miskin itu, dan engkau hidup mewah dari hasil cucuran peluh dan darah mereka!"
"Anjing macam ini sebaiknya dibunuh saja, suheng!"
Kata Bun Hong dengan suara sengaja dibikin nyaring untuk menakut-nakuti kepala daerah itu.
"Benar, bunuh saja suheng!"
Kata pula Kui Eng vang maklum akan maksud ji-suhengnya (kakak seperguruan ke dua).
Makin ngerilah hati pembesar itu.
Maklumlah dia sekarang bahwa yang datang mengamuk ini bukan sebangsa perampok yang hendak merampok harta kekayaan melainkan tiga orang pemuda pendekar.
"Baik"
Baik"
Akan saya atur sebaiknya, akan tetapi bagaimanakah kami dapat mengurangi pajak yang sudah ditetapkan? Kami hanya menjalankan perintah atasan..."
Dia membela diri.
"Siapa yang menentukan besarnya pajak-pajak itu?"
Tanya pula Beng Han "Kami menerima perintah dari atasan kami yaitu Yap-taijin."
"Hemm"
Di mana tinggalnya Yap-taijin itu?"
"Beliau beliau adalah Bupati An-kian dan tinggal di kota itu, daerah kecamatan ini Hongyang dan seluruh dusun di sekitarnya, termasuk wilayahnya dan berada di bawah kekuasaan beliau""
Beng Han mengangguk-angguk.
"Hemm, kami akan mendatangi bupati keparat itu. Akan tetapi mulai sekarang, engkau harus membubarkan semua tukang pukulmu dan jangan berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat. Kalau engkau tidak merobah kelakuanmu, pasti kami akan datang kembali dan mengambil kepalamu!"
Bun Hong berkata dengan suara mengancam.
"Dan jangan mengira bahwa kami hanya mengeluarkan ancaman kosong belaka!"
Kata Kui Eng.
"Lihat, apakah lehermu lebih keras dari pada balok itu?"
Gadis itu memandang ke atas di mana terdapat sebatang balok sebesar pinggang orang melintang dan penyangganya adalah sebatang balok yang lebih besar lagi.
Kui Eng sudah meloncat ke atas dan pedang di tangan kanannya berkelebat ke arah balok penyangga yang merupakan tiang itu Melihat perbuatan ini, Beng Han dan Bun Hong juga meloncat ke atas dan pedang mereka berkelebat menyambar balok.
Kemudian mereka meloncat pergi tanpa pamit lagi dan dengan beberapa loncatan saja tubuh tiga orang pendekar muda itu lenyap dari situ.
Gu-taijin dan para tukang pukulnya memandang dengan bimbang.
Setelah mereka yakin bahwa tiga orang itu sudah pergi jauh, mereka lalu cepat memeriksa dan gegerlah keadaan di situ ketika mereka memperoleh kenyataan betapa tiang penyangga itu, tepat di bagian paling atas telah terbabat putus seperti digergaji saja, di tiga tempat!
Tiang itu demikian besar, terbuat dari kayu yang amat kuat, dan tempat yang dibacok itu demikian tinggi, namun dengan sekali loncatan saja tiga orang muda itu sudah dapat membabatnya putus seperti digergaji.
Tentu saja Gu-taijin bergidik menyuksikan kehebatan ini.
Hari itu juga, Gu-taijin memanggil tukang kayu untuk menggantikan tiang itu agar rumahnya di bagian depan tidak sampai ambruk, kemudian dia membubarkan semua tukang pukulnya.
Semenjak hari itu, benar saja Gutaijin mengadakan perobahan terhadap semua sepak terjangnya dan dia melakukan tugasnya sebagai seorang pembesar yang baik sehingga penduduk Kecamatan Hongyang dan sekitirnya merasa beruntung sekali.
Mereka mendengar cerita tentang perbuatan tiga orang pendekar muda yang telah menundukkan Camat Gu, maka mereka amat berterima kasih kepada tiga orang muda itu dan karena sepak terjang mereka seperti amukan tiga ekor naga sakti dari langit, maka mereka itu menamakan mereka Tiga Naga Sakti.
Telah diceritakan di bagian depan bahwa nyonya Gan atau Ong Siok Nio, ibu dan Gan Beng Han, yang melarikan diri sambil menggendong anak perempuannya yang bernama Gan Beng Lian, ketika diganggu oleh para perampok telah diselumatkan oleh seorang nikouw yang berpakaian putih dan herjuluk Pek I Nikouw, ketua dari Kwanimbio di luar tembok kota Ankian.
Setelah tinggal di dalam bio(kuil) itu, akhirnya Ong Siok Nio atau nyonya Gan ini lalu mencukur rambutnya dan menjadi nikouw dengan julukan Siok Thian Nikouw.
Beng Lian hidup didalam lingkungan para nikouw, bahkan diangkat murid oleh Pek I Nikouw.
Semenjak kecil dia telah digembleng oleh Pek I Nikow dalam ilmu silat tinggi, dan juga dia belajar ilmu membaca dan menulis dari para nikouw yang lain.
Sebelas tahun kemudian, yaitu setahun yang lalu sebelum tiga orang pendekar Kwihoasan turun gunung, terjadi peristiwa yang amat menarik di kota Ankian.
Dan peristiwa ini juga membuka rahasia dara remaja Kuil Kwanimbio yang kelihatan lemah lembut itu sebagai seorang wanita muda yang berkepandaian tinggi, gadis manis berusia limabelas tahun yang dengan kegagahannya telah menggemparkan kota Ankian.
Ketika itu, kota Ankian geger karena gangguan seorang penjahat yang melakukan pencurian-pencurian dan juga melakukan gangguan terhadap wanita-wanita anak isteri orang.
Seorang jai-hoa-cat (penjahat pemetik bunga, pemerkosa wanita) yang selain memperkosa wanita kemudian ada yang dibunuhnya, juga mencuri benda benda berharga, seorang penjahat yang kabarnya amat lihai sekali.
Telah ada beberapa rumah orang hartawan di Ankian didatanginya dan sejumlah besar emas permata telah dicurinya.
Bahkan sudah ada lima orang wanita yang diperkosanya, seorang diantara mereka itu dibunuhnya ketika melawan.
Dan dua orang gadis lagi menggantung diri sampai mati karena mereka telah ternoda dan hilang kehormatannya, suatu aib yang mereka anggap lebih hebat dari pada maut dan yang akan membuat hidup mereka selanjutnya akan penuh dengan aib dan kehinaan.
Tentu saja peristiwa-peristiwa itu menimbulkan kegemparan di dalam kota Ankian.
Para hartawan memperkuat penjagaan rumah mereka, dan para orang tua yang merasa mempunyai anak-anak perempuan yang cantik, juga mereka yang merasa mempunyai isteri-isteri cantik, setiap malam merasa gelisah karena sewaktu-waktu penjahat pemetik bunga itu boleh jadi akan datang mengganggu mereka!
Pembesar di kota Ankian adalah Bupati Yap Kam Kun.
Yap-taijin ini adalah seorang pembesar yang berbeda dengan para pembesar lainnya di waktu itu.
Jarang pada jaman itu menemui seorang pembesar seperti Yap-taijin.
Dia melakukan tugasnya dengan taat dan keras menurut perintah dari atasannya, menurut hukum yang sudah ditentukan.
Sedikitpun dia tidak melakukan perbuatan yang bersifat buruk dan tidak mau melakukan korupsi sehingga keadaannya tidaklah kaya raya seperti halnya lain-lain pembesar pada umumnya.
Ketika Yap-taijin mendengar pelaporan tentang gangguan penjahat yang berani mengacaukan kotanya, dia menjadi marah dan mengerahkan pasukan untuk menangkap jai-hoa-cat itu.
Akan tetapi, ternyata penjahat itu memiliki kepandaian silat yang tinggi dan ketika beberapa kali dia kepergok dan dikepung, dia tidak dapat ditangkap.
Sebaliknya malah, banyak anggota petugas penjaga keamanan yang roboh terluka, dan ada beberapa orang yang tewas oleh luka-lukanya itu.
Tentu saja hal ini sangat menggemparkan, terutama sekali ketika kepala penjaga, seorang perwira yang terkenal gagah dan memiliki kepandaian tinggi, juga telah terluka dadanya oleh golok penjahat itu.
Yap-taijin menjadi penasaran juga khawatir kalau dia tidak cepat-cepat memperoleh jalan untuk membasmi atau menangkap penjahat itu, tentu Ankian dan sekitarnya menjadi tidak aman, penduduk akan merasa gelisah dan pengacauan penjahat itu sama saja dengan menantang dia sebagai kepala daerah Kabupaten Ankian!
Sudah lama dia mendengar bahwa ketua Kuil Kwan imbio yang berjuluk Pek I Nikouw adalah seorang pendeta wanita yang berilmu tinggi, maka ke sanalah pembesar ini menuju pada suatu pagi, untuk menjumpai nikouw itu dan minta bantuan pendeta wanita itu agar suka turun tangan menangkap si penjahat yang mengganggu kota An-kian.
Pek I Nikouw menerima pembesar ini dengan ramah.
Akan tetapi alisnya berkerut ketika dia mendengar permintaan dan Yap taijin.
Dengan suara halus dia berkata.
"Taijin, pinni (saya) adalah seorang wanita tua yang lemah dan tidak memiliki kemampuan apa-apa. Urusan ini adalah menjadi tanggung jawab taijin sebagai pembesar di tempat ini. Mengapa taijin tidak mendatangkan perwira-perwira yang gagah untuk membasmi penjahat ini? Tidak sepatutnya kalau seorang nikouw harus mengurus segala macam kejahatan."
Pek I Nikouw, seperti hampir semua orang gagah, memang merasa kurang puas terhadap para petugas pemerintah yang sebagian besar hanya pandai memeras rakyat dan mengumpulkan harta benda untuk diri sendiri belaka.
"Maafkan saya, suthai."
Kata Yap Kam Kun dengan sikap hormat.
"Memang seharusnya saya tidak boleh mengganggu ketenteraman hidup suthai, dan memang sudah menjadi kewajiban saya untuk mengurus sendiri hal ini. Akan tetapi, siapa lagi yang dapat saya harapkan untuk menghadapi penjahat yang amat lihai ini? Para penjaga keamanan telah berusaha menangkapnya namun selalu gagal, bahkan kepala penjaga telah menderita luka parah. Kalau suthai tidak sudi mengulurkan tangan membantu, apakah akan jadinya dengan kota kita ini?"
Pek 1 Nikouw menarik napas panjang.
"Taijin pandai mengumpulan hasil pajak untuk disetorkan kepada pemerintah, mengapa tidak pandai menolak bahaya yang sedemikian kecilnya saja? Apakah akan kata rakyat yang telah memeras keringat untuk membayar pajak apabila gangguan sekecil ini saja pihak pemerintah tidak mampu mengatasinya?"
Yap Kam Kun adalah seorang yang bijaksana maka karena dia maklum akan kenyataan yang buruk dari para petugas pemerintah, maka mendengar sindiran ini dia hanya menundukkan kepalanya.
Dia maklum akan keburukan pemerintah pada waktu itu akan tetapi sebagai seorang pembesar yang hanya berpangkat bupati, dia dapat berbuat apakah?
Yang dapat dia lakukan hanya mentaati peraturan pemerintah melalui atasannya dan menjalankan tugasnya sebaik mungkin tanpa penyelewengan untuk keuntungan diri pribadi.
Melihat pembesar itu tidak dapat menjawab dan diam saja, Pek I Nikouw berkata lagi.
"Mengapa kaisar tidak teringat akan ajaran Nabi Khong Cu tentang Sembilan Jalan Kebenaran sebagai syarat memimpin negara dan rakyat? Tahukah taijin akan maksud pinni? Apakah taijin masih ingat syarat keenam dari pada sembilan jalan kebenaran itu? YAP-TAIJIN menganggukkan kepalanya.
"Saya masih ingat dengan baik. Syarat ke enam itu kalau tidak salah berbunyi. Mencintai rakyat seperti anak sendiri."
"Nah, itulah! Mengapa sekarang rakyat bukan diberi kecintaan dan kasih sayang, diperhatikan nasib mereka dan diperlakukan seadiladilnya sehingga mereka itu dapat bekerja dengan gembira dan memperbanyak hasil pertanian? Sebaliknya, rakyat diperas habis-habisan, diperlakukan dengan tidak adil, dibiarkan menderita dan sengsara. Kalau timbul kejahatan-kejahatan yang datang dari kegelapan pikiran disebabkan oleh semua penderitaan ini, salah siapakah itu?"
Yap-taijin mendengar semua ucapan pendeta wanita itu dengan kepala tunduk dan tidak dapat membantah.
Memang, dia sendiripun maklum bahwa kaisar yang sekarang memegang kendali pemerintah, amat lemah sehingga lupa akan segala petunjuk dan nasihat yang diajarkan oleh para cerdik pandai, para arif bijaksana di jaman dahulu.
Ujar Nabi KongCu yang disinggung oleh Pek I Nikouw tadi adalah ujar ujar yang terdapat dalam kitab Tiong Yong yang berbunyi demikian.
Untuk mengatur negara dam memimpn rakyat terdapat sembilan jalan kebenaran.
Memperbaiki diri pribadi menghargai para cerdik pandai mencintai seluruh anggauta keluarga menghormati pembesar-pembesar tinggi membimbing pembesar-pembesar rendahan mencintai rakyat seperti antfk sendiri mengundang ahli-ahli pembangunan menyambut tamu dengan ramah tamah memupuk persahabatan dengan negara lain.
Setelah mendengarkan segala macam ucapan yang dikeluarkan oleh Pek I Nikouw sebagai penyesalan dan teguran kepada keadaan pemerintah pada waktu itu yang timbul dari penyesalan dan kemarahan yang lama ditahantahan dalam hati nikouw itu Yap-taijin lalu berkata, suaranya tenang dan halus.
"Semua ucapan suthai memang benar belaka, akan tetapi apakah daya kita? Suthai hanya seorang pendeta, akan tetapi saya pun hanya seorang petugas yang tidak mempunyai wewenang untuk mencampuri urusan ketatanegaraan yang berada dalam tangan para pembesar tinggi di kota raja. Mungkin baru sepatah kata saja keluar dan mulut saya, saya akan ditangkap dan dihukum bersama seluruh keluarga saya. Dituduh memberontak. Oleh karena itu, suthai, kalau memang suthai sudi menolong dan bermurah hati, hendiknya jangan suthai mengingat akan keadaan pemerintah. Hendaknya suthai menganggap bahwa suthai tidak menolong seorang bupati petugas pemerintah, melainkan menolong rakyat atau penduduk Ankian yang sedang berada dalam kegelisahan dan ketakutan dengan adanya gangguan penjahat itu."
Pek I Nikouw mengangguk-angguk.
"Yaptaijin, Pinni sudah tahu akan keadaanmu dan sering kali pinni hanya dapat menarik napas panjang. Seorang pembesar bijaksana seperti taijin sesungguhnya tidak layak menghambakan diri kepada pemerintah seburuk yang berkuasa sekarang ini. Alangkah baiknya kalau taijin menjadi pembesar pemerintahan yang baik. Tentu penduduk di daerah ini akan menikmati hidup sebagaimana mestinya. Akan tetapi segala peristiwa yang terjadi pada seseorang timbul dari perbuatannya sendiri, sebagai buah dari pada pohon yang ditanamnya sendiri. Lain seorang yang jujur dan bersih, akan tetapi sayang sekali taijin kurang memperhatikan keadaan keluarga sendiri sehingga tidak tahu bahwa didalam rumah telah ada seorang penjaga yang cukup tangguh."
Yaptaijin terkejut dan memandang kepada nikouw itu dengan bingung dan heran.
"Apakah maksud suthai?"
Pek I Nikouw tersenyum.
"Sudahlah, nanti taijin tentu akan mengerti sendiri. Sekarang pulanglah dengan hati tenteram karena malam hari ini pinni akan mengutus murid pinni pergi mencari dan menangkap penjahat itu."
Bukan main girangnya hati pembsar itu.
Walaupun dia belum tahu siapa adauya murid nikouw itu, akan tetapi dia telah merasa lega oleh karena kalau murid itu tidak pandai, tidak nanti nikouw tua ini akan mengutusnya menangkap penjahat yang ganas.
Dia lalu menjura dan menghaturkan terima kasihnya, lalu pulang ke gedungnya.
Setelah pembesar itu pergi, Pek I Nikouw lalu memanggil Beng Lian.
Gadis yang telah berusia limabelas tahun ini menghadap gurunya dan mendengarkan katakata gurunya dengan penuh perhatian.
"Muridku, Beng Lian, engkau belum pernah bertempur menghadapi lawan yang sungguh-sungguh, maka berhati-hatilah engkau melakukan tugas yang hendak pinni berikan kepadamu ini."
"Tugas apakah, subo?"
Pek 1 Nikouw lalu menceritakan tentang penjahat cabul yagg mengacau kota Ankian, dan tentang permintaan bantuan dari Yap taijin sendiri yang baru saja meninggalkan kuil.
"Agaknya penjahat itu bukan penjahat biasa dan memiliki kepandaian tinggi. Oleh karena itu, malam ini kau pergilah menyelidik di atas genteng rumah-rumah kota An kian. Kalau engkau tidak berhasil menemukan sesuatu, sebaiknya engkau bersembunyi di wuwungan yang paling tinggi dan mengintai. Siapa tahu penjahat itu muncul. Akan tetapi, jangan sembarangan engkau mempergunakan jarummu kalau penjahat itu ternyata tidak terlalu kuat untuk kaulawan."
Pek 1 Nikouw memberi banyak nasihat kepada Beng Lian yang segera mempersiapkan diri untuk melakukan tugas pertama semenjak dia belajar ilmu silat.
Biarpun usianya pada waktu itu baru limabelas tahun, namun dia memiliki ketabahan hati yang besar dan keberaniannya ini dipertebal oleh pengertiannya bahwa dia sedang menghadapi semacam tugas yang baik, yaitu menolong orang-orang terhindar dari pengaruh dan kekuasaan jahat yang merajalela di Ankian.
Sementara itu, setelah hari menjadi gelap, di atas genteng gedung Yap taijin nampak sesosok bayangan putih berkelebatan cepat sekali dan kalau kebetulan ada orang yang melihatnya, tentu dia akan ketakutan dan menyangka bahwa yang bergerakgerak itu adalah bayangan iblis.
Akan tetapi bagi yang berpandangan tajam dan dapat mengikuti gerakan cepat itu tentu akan terheran-heran mengenal bahwa bayangan itu bukan lain adalah Pek I Nikouw, pendeta wanita tua yang menjadi kepala dari Kuil Kwanimbio di luar tembok kota Ankian.
Dengan gerakan amat cepat, amat jauh bedanya dengan sikap sehari-hari nikouw itu yang lemah lembut, Pek I Nikouw meloncat ke bagian belakang gedung, melayang turun dan tak lama kemudian dia sudah mengintai diri jendela kamar yang berada di sudut kiri ruangan belakang.
Di dalam kamar itu nampak seorang pemuda tampan yang sedang membaca sebuah kitab tebal dengan asyiknya.
Karena gerakan Pek 1 Nikouw dilandasi ginkang yang sudah sempurna sehingga amat ringan dan sama sekali tidak menimbulkan suara apaapa, seperti gerakan seekor kucing saja, maka pemuda itu yang sedang tenggelam dalam dunia khayal dari isi kitab yang dibacanya, sama sekali tidak mendengar sesuatu.
Tiba-tiba nikouw itu mengayunkan tangan kirinya dan sebuah benda putih melayang dan menancap didepan pemuda itu, di atas meja dekat tangannya!
Dan kini terjadi hal yang luar biasa.
Pemuda yang tampan berpakaian seperti seorang sasterawan itu, yang kelihatannya lemah dan seorang kutu buku tulen, tiba-tiba dengan cepat sekali telah meniup padam lampu di atas meja, kemudian sekali dia mengayun tubuhnya, dari atas kursi itu dia telah meloncat ke jendela, membuka daun jendela dan di lain saat tubuhnya telah meloncat ke atas genteng.
Gerakannya amat ringan dan indah ketika dia melayang naik ke atas genteng karena dia telah mempergunakan gerak loncat Yan cucoan in (Burung Walet Menerjang Awan).
Akan tetapi, betapapun ringan dan cepatnya gerakan pemuda itu, ketika dia telah berada di atas genteng dan menengok ke sanasini mencaricari, dengan matanya yang bersinarsinar tajam, di situ kosong dan sunyi saja, tidak nampak bayangan seorangpun manusia!
Pemuda itu menarik napas panjang, dapat menduga bahwa orang yang menyambitkan sesuatu tadi memiliki ginkang yang amat tinggi dan orang itu agaknya memang sengaja tidak hendak menjumpainya, maka diapun meloncat turun lagi, memasuki kamarnya dan menyalakan kembali lampu yang dipadamkannya tadi.
Diatas meja nampak sehelai kertas yang dilipat-lipat dan kertas ini tadi telah dibawa melayang sebatang jarum yang disambitkan dan yang kini menancap di atas meja.
Pemuda itu mengerutkan alisnya, memeriksa jarum itu di bawah sinar lampu tanpa menyentuhnya.
Setelah dia merasa yakin bahwa jarum itu tidak beracun barulah dia mencabutnya, dan membuka lipatan kertas yang ternyata merupakan sepucuk surat yang ditulis dengan tulisan tangan halus.
Dibacanya dengan cepat, lalu dia menggelenggeleng kepala dan berbisik.
"Aihh, benar lihai sekali Pek I Nikouw! Tepat seperti yang pernah dikatakan oleh suhu "
Dia membaca lagi surat itu penuh perhatian.
Yap Kongcu, Kentang akan menjadi busuk kalau disimpan saja.
Ilmu kepandaian akan menjadi sia-sia tanpa dipergunakan.
Suhumu melarang engkau menonjolkan dan menyombongkan kepandaian, akan tetapi tentu akan marah pula melihat kongcu enakenak saja membiarkan penjahat mengganggu rakyat di kota kongcu sendiri.
Jangan khawatir gurumu tidak senang melihat engkau turun tangan membabmi penjahat, pinni yang akan bertanggung jawab kalau dia marah kepadamu.
Dari pinni, Pek I Nikouw.
Pemuda tampan itu tcrmenung agak bingung.
Tentu saja dia sudah mendengar akan jaihoacat yang mengganggu kota An-kian.
Akan tetapi karena teringat akan pesan suhunya yang dengan keras melarang dia untuk memperlihatkan kepandaian silatnya, maka dia diam saja dan hanya mengharapkan penjahat itu pada suatu malam berani datang rnengganggu gedung ayahnya schingga dia dapat turun tangan membunuhnya dengan diam-diam.
Kini, menerima surat Pek 1 Nikouw, hatinya bingung.
Siapakah pemuda ini?
Dia adalah putera tunggal dari Yaptaijin, namanya Yu Tek.
Semenjak kecil, Yap Yu Tek tekun mempelajari ilmu sastera, sesuai dengan kehendak ayahnya.
Akan tetapi, sesungguhnya semenjak dia masih kecil, pemuda itu ingin sekali mempelajari ilmu silat.
Dia tertarik akan ilmu silat setelah dia membaca sejarah dan, cerita-cerita tentang kepahlawanan dan kegagahan para pendekar budiman.
Berkalikali dia minta kepada ayahnya agar supaya dia diperbolehkan belajar ilmu silat.
Akan tetapi ayahnya berpendirian lain.
Menurut pendapat orang tua ini, ilmu silat hanya akan mendatangkan malapetaka saja!
"Lihatlah, betapa orangorang kasar, tukang-tukang pukul, dan orang-orang hukuman sebagian besar terdiri dari orang-orang yang tadinya belajar ilmu silat.
Mereka mempergunakan kepandaian mereka untuk melakukan kejahatan!"
Kata pembesar itu kepada anak tunggalnya. Yu Tek amat berbakti kepada ayahnya dan dia tidak berani banyak membantah, pernah dia mengemukakan pendapatnya.
"Ayah, bukankah segala macam kejahatan yang timbul itu tergantung dari batin seseorang?"
"Memang demikian kalau dipikirkan secara sepintas lalu saja. Akan tetapi, orang-orang yang tadinya lemah dan tidak berkesempatan melakukan kejahatan, keculi dia memiliki kepandaian dan kekuatan, dia lalu menjadi lupa dan berubah menjadi jahat! Keadaan di luar seringkali lebih berkuasa dari pada tenaga batin dan keadaan di luar sering kali menguasai batin seseorang. Jangan, anakku, tidak perlu engkau mempelajari segala macam ilmu menukul atau membunuh orang, lebih baik engau pergunakan waktumu untuk mempelajari kesusasteran dan filsafat hidup yang akan lebih berguna untukmu."
Dengan adanya pernyataan ayahnya ini, Yu Tek tidak lagi berani bicara tentang ilmu silat.
Pada suatu malam dia membaca cerita tentang pahlawan-pahlawan di jaman dahulu.
Demikian tertarik hatinya sehingga dia berkata seorang diri yang diucapkan dengan katakata cukup keras.
"Aihh, alangkah akan senangnya hatiku kalau aku bisa melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh para pendekar gagah ini"
Tibatiba dari jendela terdengar suara orang menjawab katakatanya itu.
"Apa sukarnya? Kemauan besar disertai ketekunan memungkinkan segala hal terjadi!"
Yu Tek terkejut sekali dan anak yang baru berusia sepuluh tahun itu menghampiri jendela dan dia menjenguk keluar.
Dilihatnya seorang tua yang berpakaian penuh tambalan sedang duduk di luar kamarnya.
Entah bagaimana kakek pengerhis itu dapat memasuki pekarangan yang dikelilingi tembok yang tinggi itu.
Kakek ini membawa sebatang tongkat bambu di tangan kirinya dan tangan kanannya memegang sebuah cawan arak yang usang.
Melihat kakek pengemis ini, Yu Tek mengerutkan alisnya, terheranheran, kemudian dia bertanya.
"Kakek tua, engkaukah yang mengucapkan kata kata tadi?"
"Di sini tidak ada orang lain, kalau bukan aku yang mengucapkan kata-kata tadi, tentulah bayang-bayanganku!"
Jawab kakek itu sambil memandang dengan matanya yang bersinar aneh dan tajam. Yu Tek mengamatamati pengemis itu dan hatinya meragu.
"Kakek,"
Katanya dengan suara mengandung celaan.
"Engkau sendiri kulihat kurang memiliki kemauan keras dan ketekunan!"
Kakek itu bangkit berdiri dan memandang kepada Yu Tek dengan sinar mata penuh keheranan. Setelah berdiri, ternyata bahwa kakek itu amat tinggi dan kurus.
"Eh, kongcu, apakah artinya ucapanmu tadi?"
"Kakek tua, engkau tadi mengatakan bahwa dengan ketekunan dan kemauan besar, segala hal mungkin dicapai. Akan tetapi, kalau engkau memiliki ketekunan dan kemauan besar, tidak mungkin engkau berada dalam keadaan begini miskin dan sengsara."
"Hahaha ha! Hahahaaa!"
Kakek itu tertawa bergelak sehingga suaranya bergema di seluruh gedung.
Ayah Yu Tek yang kebetulan lewat tidak jauh dari tempat itu segera menghampiri kamar anaknya dan mendengar langkah kaki orang mendatangi dari dalam, tiba-tiba saja tubuh kakek pengemis itu mencelat ke atas, berpusing-pusing dan lenyap ditelan kegelapan malam!
Yap Kam Kun muncul dan memandang kepada anaknya yang berdiri di dekat jendela.
Dia bertanya heran.
"Yu Tek, suara apakah tadi yang kudengar? Seperti orang tertawa keras? Apakah engkau tidak mendengarnya?"
Yu Tek yang sedang berdiri termenung itu terkejut melihat betapa tubuh pengemis itu menghilang seperti itu. dan dia masih bingung ketika ayahnya muncul, maka dia hanya dapat menjawab gagap.
"Suara apakah? Ah, mungkin suara burung malam, ayah."
Bupati Yap masuk ke dalam kamar puteranya, menjenguk keluar jendela, lalu menutupkan daun jendela itu sambil berkata.
"Sudah jauh malam, Yu Tek, tidurlah. Tidak baik membuka jendela. di waktu malam, kau bisa terserang angin."
Setelah merasa yakin bahwa tidak ada sesuatu yang mencurigakan, pembesar ini meninggalkan kamar puteranya.
Yu Tek menanti sampai langkah kaki ayahnya tidak terdengar lagi.
Kemudian dia bergegas menghampir jendela dan membukanya.
Ternyata kakek pengemis yang tadi menghilang, kini telah berdiri lagi di tempat semula, di luar jendela kamarnya!
"Kongcu, engkau mempunyai pertimbangan yang wajar dan kecerdasan yang mengagumkan.
Tadi kau mengagumi para pendekar.
Maukah engkau memiliki kegagahan seperti para pendekar itu?"
"Hemm, bicara tentang keinginan memang mudah, kakek tua. Akan tetapi bagaimana mungkin?"
"Kalau kongcu suka belajar ilmu silat tinggi, pasti ada jalan keluar!"
"Tentu saja aku suka sekali, akan tetapi ayah selalu melarangku. Pula, siapakah yang akan sanggup mengajar ilmu silat tinggi kepadaku sehingga aku dapat memiliki kegagahan seperti para pendekar itu?"
"Kongcu, biarpun tua dan buruk, kiranya aku, Tiongsan Lokai (Pengemis Tua dari Tiongsan), masih sanggup menggemblengmu menjadi seorang pendekar yang gagah perkasa."
"Akan tetapi, kakek tua, keadaanmu sendiri"
O ya, engkau belum menjawab pertanyaanku tadi."
"Tentang kemiskinanku? Haha, kongcu, kalau aku ingin kaya raya, apakah sukarnya? Akan tetapi aku lebih suka menjadi pengemis tua, hidup mengembara seperti seekor burung, bebas lepas di udara dan aku mengemis bukan untuk mencari sesuap nasi, melainkan aku mengemis untuk membebaskan diriku dari segala keinginan yang tiada habisnya."
Ucapan kakek tua ini terlalu sulit untuk dimengerti oleh Yu Tek, akan tetapi sikap kakek ini menarik hatinya.
Kakek ini memang benar bukan seperti pengemis-pengemis lainnya.
Biasanya, seorang pengemis selalu akan bersikap menjilat-jilat dan selalu mengeluh dan merasa iba kepada din sendiri.
Akan tetapi kakek ini kelihatan begitu bebas, begitu jelas kelihatan tidak terikatoleh apapun juga, biarpun sikap dan wataknya aneh namun wajar dan tidak dibuatbuat, tidak menyembunyikan suatu pamrih tertentu untuk keuntungannya sendiri.
Yu Tek makin tcrtarik dan akhirnya dia mempLrsilakan kakek itu memasuki kamarnya lewat jendela dan mereka berdua lalu bercakapcakap sampai jauh malam!
Pengemis tua itu bukanlah orang sembarangan.
Dia seorang tokoh luar biasa yang berilmu tinggi dan dunia kangouw hanya mengenal nama julukannya, yaitu Tiong san Lokai.
Ketika kakek ini tanpa disengaja mendengar ucapan anak bupati itu, kemudian melihat ketajaman otak dan melihat bakat (Lanjut ke
Jilid 04) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04 yang amat baik pada diri anak itu, pula mendengar akan keinginan Yu Tek untuk belajar silat dan menjadi seperti para pendekar gagah perkasa di jaman dahulu, kakek ini merasa tertarik sekali.
Apa lagi setelah mereka berdua bicara di dalam kamar itu sampai jauh malam, kakek itu makin menjadi kagum karena bocah itu benarbenar luar biasa sekali, semuda itu telah mempunyai pengetahuan yang amat luas tentang sastera, sejarah dan filsafat hidup yang didapatnya dari kitabkitab lama.
Pada malam hari itu juga, Tiongsan Lo kai mengangkat Yu Tek sebagai muridnya.
Yu Tek telah menyaksikan kelihaian kakek itu, maka dia pun menerimanya Apa lagi karena setelah mereka bercakapcakap, Yu Tek mendapatkan kenyataan bahwa biarpun pakaiannya seperti pengemis, namun sesungguhnya kakek itu mem punyai kepandaian tinggi, ilmu pengetahuan yang amat luas.
Menjelang fajar dia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Tiongsan Lokai dan member hormat seperti seorang murid terhadap gurunya.
"Yu Tek,"
Kakek itu berkata kepada muridnya.
"Aku mengangkatmu sebagai murid hanya dengan harapan agar kelak engkau menjadi seorang gagah dan seorang pendekar pembela keadilan. Kaulah yang kelak akan mewaisi kepandaianku dan aku akan mati dengan ikhlas apa bila engkau kelak menjadi seorang yang patut disebut seorang pendekar budiman. Aku tidak menghendaki sesuatu darimu, kecuali satu syarat yang harus kautaati benarbenar. Syarat itu adalah bahwa sebelum engkau tamat belajar silat dan mendapat perkenanku. engkau tidak boleh sekalikali membocorkan kepandaianmu kepada orang lain. Bahkan kepada ayahmu sendiri engkau tidak boleh memberi tahu tentang pelajaran silat dariku ini, Kalau engkau membocorkan hal ini, jangan menyesal kalau aku akan pergi dan tidak mau datang lagi, dan selamanya aku tidak akan mau mengakumu sebagai muridku."
Yu Tek berjanji akan mentaati pesan suhunya ini dan semenjak saat itulah dia menjadi murid Tiongsan Lokai.
Beberapa malam sekali, kakek itu diamdiam datang ke kamar Yu Tek dan mereka lalu berlatih silat di pekarangan belakang, di waktu malam hari.
Yu Tek ternyata berotak terang dan cepat sekali dia dapat menguasai dasardasar ilmu silat yang diajarkan oleh Suhunya sehingga Tiongsan Lokai menjadi girang sekali.
Dia menggembleng pemuda itu sampai kurang lebih delapan tahun lamanya.
Sering kali kakek itu meninggalkan muridnya sampai beberapa bulan lamanya dan meninggalkan pesan agar muridnya berlatih seorang diri dan mematangkan semua pelajaran ilmu silat yang tela diajarkannya.
Kalau dia datang kembali, dia akan menguji kemajuan muridnya dan memberikan pelajaranpelajaran selanjutnya.
Selama waktu itu, benar saja Yu Tek menyimpan rahasia ini rapatrapat sehingga tidak ada seorangpun yang dapat menduga bahwa pemuda yang halus tutur sapanya dan sopan santun tingkah lakunya ini adalah seorang pemuda yang memiliki kepandaian ilmu silat tinggi.
Akan tetapi pada suatu malam, ketika guru dan murid ini sedang berlatih silat, dari jauh nampak sepasang mata yang tajam mengintai mereka.
Ketika menjelang fajar, ketika kakek itu berkelebat pergi meninggalkan gedung bupati, tibatiba di depannya berkelebat sesosok bayangan putih dan Pek I Nikouw telah berdiri di depannya.
"Lokai, kau diam diam telah mempunyai seorang murid yang berbakat. Kionghi, kionghi (selamat)."
Kakek jembel tertawa riang ketika melihat siapa orangnya yang menegurnya di waktu fajar ini.
Dia telah mengenal nikouw yang berpakaian serba putih, gerakannya lemah lembut namun cepat sekali, dan matanya tajam luar biasa itu.
"Pek I Nikouw, matamu memang awas benar, akan tetapi kuharap engkau tidak akan membocorkan rahasia ini."
"Untuk apa pinni harus membocorkan rahasiamu? Pinni hanya mendengar dari murid pinni bahwa dia melihat bayangan hitam berkelebat masuk di gedung bupati dan keluar pula di waktu fajar. Menurut muridku itu, bayangan itu cepat sekali gerakannya sehingga dia tidak dapat melihat siapa orangnya. Karena ingin tahu, pinni sendiri melakukan penyelidikan di pagi hari ini. Kiranya engkau orang tua yang keluar masuk gedung ini. Sungguh tidak pernah kuduga!"
"Hemm, aku sudah melihat muridmu itu. Gadis cilik itu memang pantas menjadi muridmu. Dia berbakat baik sekali."
Kakek itu memuji.
Demikianlah, di seluruh kota Ankian, hanya Pek I Nikouw saja yang tahu bahwa putera Yaptaijin memiliki ilmu kepandaian tinggi karena menjadi murid Tiongsan Lokai sehingga ketika Yaptaijin mengunjunginya untuk minta pertolongannya menghalau penjahat yang mengacau An kian, dia mengeluarkan ucapan yang mengandung sindiran itu.
Kemudian, pada malam hari itu, Pek I Nikouw menggunakan kepandaiannya untuk membangkitkan semangat Yu Tek agar pemuda ini tidak bersembunyi saja dan suka turun tangan membasmi penjahat yang menggnnggu penduduk kota Ankian.
Setelah membaca surat Pek I Nikouw itu, Yu Tek termenung.
Apakah suhunya benarbenar tidak akan marah?
Suhunya dulu berpesan agar dia tidak membuka rahasia, maka kalau sekarang dia keluar untuk menyelidiki penjahat itu dengan diamdiam, tanpa pengetahuan siapapun juga, hal ini bukan berarti dia membuka rahasia!
Dia akan bertindak dengan diamdiam.
Apa lagi Pek I Nikouw sudah menanggung bahwa apa bila suhunya marah, nikouw itu yang akan bertanggung jawab; dan suhunya pernah bercerita tentang Pek I Nikouw ketua Kwanimbio di luar kota Ankian itu yang amat mengindahkan.
Setelah termenung dan berpikirpikir, akhirnya Yu Tek lalu berganti pakaian yang ringkas, kemudian dia melompat keluar dari jendela kamarnya, terus melayang naik ke atas ten bok pekarangan dan mening-galkan gedung ayahnya secara diamdiam.
Dengan gerakan yang ringan dan gesit, pemuda ini berlari lanan di atas genteng rumahrumah sambil memasang mata.
Menjelang tengah malam, dia melihat bayangan orang di atas rumah seorang hartawan di sebelah baiat.
Jantungnya berdebar tegang dan dia lalu berindap menghampiri dan bersembunyi, melakukan pengintaian.
Bayangan itu adalah bayangan seorang lakilaki bertubuh tinggi besar yang memiliki gerakan cerat dan ringan sekali, menandakan bahwa dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.
Melihat betapa orang tinggi besar itu membawa sepasang golok yang terselip pada pinggangnya, Yu Tek tidak merasa raguragu lagi bahwa tentu inilah penjahat yang suka mencuri dan memperkosa wanita itu.
Dia sudah mendengar bahwa penjahat itu bersenjata sepasang golok, bertubuh tinggi besar dan lihai sekali.
Ketika dia melihat penjahat itu membuka genteng dan mengintai ke dalam, dia lalu melompat keatas genteng gedung hartawan itu sambil membentak.
"Penjahat rendah, menyerahlah engkau!"
Penjahat itu terkejut bukan main karena .dia tidak mendengar langkah orang dan tahu tahu pemuda ini telah berada di belakangnya dan membentaknya.
Maklumlah dia bahwa pemuda ini merupakan lawan tangguh, akan tetapi melihat pemuda itu bertangan kosong, dia tidak merasa jerih.
Tanpa banyak cakap lagi, dia meloncat dan mencabut sepasang goloknya, langsung menerjang Yu Tek dengan gerakan sepasang golok yang dahsyat dan berbahaya.
Yu Tek memang tidak pernah membawa senjata.
Bahkan oleh gurunya, dia hanya dilatih ilmu silat tangan kosong dan ilmu tongkat yang dapat dimainkan dengan menggunakan segala macam bentuk tongkat yang menjadi keahlian seorang ahli silat di kalangan dunia pengemis.
Kini, menghadapi terjangan lawan dengan sepasang goloknya yang dahsyat itu, Yu Tek cepat mengerakkan tubuhnya.
Maklum bahwa sepasang golok Iawan ini amat berbahaya, dia lalu menggerakkan tubuh dan kaki tangannya sesuai dengan Ilmu Silat Tangan Kosong Pek-houw-jiau-kang, semacam ilmu silat yang mempergunakan kedua tangan dibuka untuk menangkap dan mencengkeram lawan, ilmu silat yang khusus dipergunakan untuk menghadapi lawan yang bersenjata dengan tangan kosong.
Yu Tek mempergunakan kelincahan dan keringanan tubuhnya untuk mengelak dari setiap samburan golok dan balas menyerang dengan cengkeraman, pukulan atau totokan, dilakukan bcrselangseling sukar diduga dan karena semua sasaran kedua tangan dan kakinya adalah bagian bagian tubuh berbahaya, maka serangan balasannya itu tidak kalah berbahayanya dibandingkan dengan sepasang golok lawan Akan tetapi, ternyata permainan siangto (sepasang golok) dari lawannya itu hebat sekali.
Sepasang golok itu lenyap bentuknya, berubah menjadi dua gulungan sinar yang saling menggunimg, kadangkadang yang sebatang bergerak untuk menyambut semua serangan Yu Tek sedangkan pada saat itu juga, golok ke dua membarengi dengan bacokan atau tusukan.
Yu Tek merasa menyesal mengapa dia tadi tidak mempersiapkan senjata.
Gurunya adalah seorang tokoh dari Tiongsan yang telah menciptakan semacam ilmu tongkat luar biasa sehingga dengan sebatang tongkat bambunya, Tiongsan Lokai telah merantau keempat penjuru dan telah menjatuhkan entah berapa banyak lawan yang lihai dan yang menggunakan senjata pusaka.
Yu Tek juga diberi pelajaran Tiongsan Tunghwat (Ilmu Tongkat dari Tiongsan) ini, maka kini dia merasa kecewa mengapa tadi dia tidak mencari sebatang kayu atau bambu untuk dipergunakan menghadapi sepasang golok lawa yang tangguh ini.
Ilmu tongkatnya itu dapat dimainkan dengan segala macam bentuk kayu bahkan sebatang ranting kecilpun sudah memadai!
Dengan hanya bertangan kosong, biarpun dia dapat mempergunakan ginkang untuk menjaga diri dengan elakan cepat sana-sini, namun dia tidak diberi banyak kesempatan untuk balas menyerang sehingga mulailah dia terdesak!
Yu Tek yang masih menggunakan kegesitannya selalu menghindarkan diri dari desakan lawan itu mencari akal.
Jika pertempuran digenteng ini dilanjutkan, tidak mungkin baginya untuk mencari sebatang kayu yang dapat dipergunakan sebagai senjata tongkat, maka dia lalu mencari kesempatan.
Ketika golok lawannya menyambar ke arah kedua kakinya, pemuda ini meloncat tinggi dan jauh, lalu melayang turun ke bawah genteng sambil berseru.
"Penjahat rendah! Kalau engkau memang jantan, mari kita lanjutkan pertempuran di atas tanah!"
Penjahat itu tertawa mengejek oleh karena dia makium bahwa pemuda itu hebat sekali ilmu ginkangnya sehingga kalau menghadapinya di atas genteng memang tidak menguntungkan baginya.
Tidak demikian kalau dia mendesak pemuda itu di atas tanah, tentu dia akan dapat membunuhnya crengan mudah.
Maka dia cepat mengejar, melompat turun dan menyerang dengan goloknya makin dahsyat pula.
Pertempuran di atas tanah, diterangi oleh bulan sabit dibantu bintang bintang yang cukup terang.
Sayang sekali bahwa tempat di mana mereka melompat turun adalah semacam pelataran yang amat bersih dan tidak kelihatan ada ranting atau kayu sepotongpun!
Sedangkan penjahat itu setelah berada di atas tanah, makin hebat serangannya sehingga Yu Tek menjadi makin terdesak.
"Hahaha, bocah sombong, mampuslah kau!"
Penjahat itu tertawa dan membentak, kini sepasang goloknya dimainkan secara luar biasa.
Dia telah merobah permainan goloknya dengan ilmu golok yang disebut Tee-tong-to, yaitu ilmu golok yang dimainkan dengan bergulungan cepat dan ketika kedua goloknya menyambarnyambar, maka yang menjadi sasaran utama adalah kedua kaki Yu Tek!
Pemuda ini terkejut sekali dan ke manapun dia melompat, selalu tubuh lawannya yang bergulingan itu datang pula dengan cepat dan goloknya menyambarnyambar ganas.
Menghadapi serangan serangan dari bawah itu, Yu Tek sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk melakukan serangan balasan, maka dia menjadi gugup sekali.
Sebetulnya, dalam hal ilmu silat dan kegesitan, dia tidak kalah oleh penjahat itu, akan tetapi oleh karena selama hidupnya dia belum pernah menghadapi lawan dan belum pernah bertempur, maka dia kalah pengalaman.
Apa lagi kini dia harus menghadapi lawan tangguh dengan tangan kosong, maka tentu saja keadaannya amat berbahaya sekali.
"Hyaaaatt!"
Kembali penjahat itu bergulingan dan kini kedua goloknya menyambar dari kiri kanan, melakukan gerakan menggunting ke arah kedua kaki Yu Tek.
Pemuda itu terkejut, tidak dapat melompat kekanan atau kiri maka dia meloncat tinggi ke atas.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tubuhnya melayang turun, kembali dua batang golok itu sudah memapakinya.
Cepat dia berjungkir balik dan menendangkan kedua kakinya ke arah dua batang golok.
Tendangannya yang dilakukan untuk menangkis itu memang tepat, mengenai pinggir golok golok itu sehintrga kedua senjata itu terpental, akan tetapi pada saat itu kaki kanan penjahat tinggi besar itu menyambar dan mengenai paha Yu Tek.
"Dess! Brukkk!!"
Tubuh Yu Tek terbanting keras dan penjahat itu tertawa, lalu menubruk dengan goloknya.
"Penjahat keji, jangan sombong!"
Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan nyaring, dibarengi dengan berkelebatnya sinar pedang yang menyambir ke arah leher si penjahat yang sedang menubruk Yu Tek.
Tentu saja penjahat itu terkejut bukan main dan lebih mementingkan keselamatan dirinya dari pada membunuh pemuda yang roboh itu Cepat dia menggerakkan goloknya menangkis, sejangkan golok ke dua membabat ke arah pinggang penyerangnya.
Namun dengan mudah wanita itu menangkis sambil meloncat kekiri karena memang serangannya tadi ditunjukan untuk menolong pemuda yang teiantam bahaya.
Penjahat itu kini membuka matanya dengan lebar dan penuh kemarahan.
Ketika melihat bahwa yang menyerangnya secara hebat tadi hanya dara remaja yang usianya paling banyak enambelas tahun, dia terheranheran, lalu tertawa.
"Hahaha, kiranya seekor kuda betina! Masih begini muda sudah pandai mainkan pedang, sungguh merufpakan seekor kuda betina liar yang amat menanrik! Selama ini belum pernah aku memperoleh seekor kuda betina seperti engkau, nona. Mari kau ikut bersamaku menikmati hidup""
"Jahanam busuk!"
Beng Lian, dara itu, menyerbu dengan pedangnya yang bergerak cepat sekali, meluncur seperti kilat menyambar.
Dara ini marah bukan main mendengar ucapan yang kotor itu.
Seperti telah kita ketahui, dara remaja ini melaksanakan perintah suhunya untuk melakukan penyelidikan dan mencari penjahat yang mengganggu ketenteraman kota Ankian.
Pedangnya bergerak-gerak dengan lembut namun di dalam kelembutan itu mengandung kekuatan dahsyat sehingga begitu bertemu dengan golok si penjahat, penjahat itu berseru kaget dan kehilangan senyumnya karena dia maklum bahwa biarpun masih amat muda, dara ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan.
Terjadilah pertempuran yang amat seru di antara mereka, dan berkali kali terdengar suara berdenting nyaring dan bunga api berhamburan ketika pedang bertemu dengan golok.
Sementara itu, Yu Tek telah meloncat bangun dan melihat bahwa dara yang menolongnya itu cukup tangguh untuk menjaga diri, dia lalu meninggalkan untuk mencari sebatang ranting kayu.
Setelah mendapatkan sebatang, dia maju lagi dan menggerakkan ranting kayu sebesar lengan itu dan kini keadaannya bagaikan seekor harimau yang tumbuh sayap.
Ranting itu bergerak gerak laksana seekor ular hidup dan menyerang si penjahat dengan totokantotokan luar biasa yang mengarah jalan darah di seluruh tubuhnya.
Si penjahat terkejut setengah mati.
Tak disangkanya bahwa pemuda itu begini lihainya setelah mempergunakan tongkat.
Sibuklah dia dikeroyok oleh dua orang muda yang gesit dan tangkas ini, sehingga dia mengambil keputusan untuk melarikan diri karena maklum bahwa dia bukanlah lawan mereka.
Akan tetapi, pedang di tangan Beng Lian dan terutama sekali ranting di tangan Yu Tek tidak memungkinkannya untuk melarikan diri sehingga akhirnya dia melawan dengan nekat.
Suara pertempuran ini amat berisik dan membangunkan penghuni gedung iiu.
Tuan rumah dan para pelayannya terbangun dan dengan obor di tangan mereka memburu ketempat itu.
Mereka terkejut sekali melihat bahwa di dekat rumah itu terjadi pertempuran hebat antara seorang laki-laki tinggi besar yang dikeroyok oleh sepasang orang muda yang lihai.
Bukan main kagum dan heran hati mereka ketika mengenal bahwa pemuda itu adalah putera Bupati Yap, sedangkan dara cantik itu adalah murid ketua Kwanimbio!
Tak seorangpun di antara mereka pernah menyangka bahwa dua orang muda itu pandai ilmu silat.
Terdengar seruan-seruan kaget dan kagum.
Hartawan itu lalu cepat menyuruh seorang pelayan memberi laporan kepada Yaptaijin.
Yaptaiiin terkejut ketika mendengar bahwa puteranya bertempur melawan penjahat.
Dia tidak percaya dan cepat lari ke kamar anaknya.
Ternyata Yu Pek tidak berada di dalam kamarnya.
Maka dengan diikuti oleh para pengawal, Yaptaijin lalu lari menuju ke rumah hartawan itu di mana masih berlangsung pertempuran yang hebat itu.
Ketika Yaptaijin tiba di tempat itu, dia hampir tidak percaya kepada kedua matanya sendiri melihat betapa puteranya dengan gagah sedang mendesak penjahat itu dengan sebaung ranting kayu, bersama seorang gadis yang dikenalnya sebagai gadis kelenteng yang nampak lemah lembut itu.
Pada saat itu, Yu Tek dan Beng Lian sedang mengurung penjahat itu dengan senjata mereka dan tibatiba dengan gerakan menempel dan mengait, ranting kayu di tangan Yu Tek berhasil membetot dan merampas sebatang golok di tangan kiri penjahat itu, sehingga tak dapat dicegah lagi golok itu terlepas dari pegangannya, penjahat itu terkejut dan sebelum dia dapat mengelak, pedang Beng Lian telah menusuk lengan kanannya sehingga golok di tangan kanan inipun terlepas pula.
Yu Tek melepaskan tendangan kilat ke arah lututnya dan robohlah penjahat itu.
Para pengawal, atas perintah Yap taijin cepat menubruk dan mengikat kaki tangan penjahat itu, lalu menyeretnya ke tempat tahanan.
Yu Tek merasa terkejut dan takuttakut melihat ayahnya telah berada di situ.
Akan tetapi ayahnya tidak marah, bahkan lalu memeluknya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Pembesar ini merasa menyesal.
Dia seperti seorang buta saja, tidak tahu bahwa putera tunggalnya memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.
Pantas saja Pek I Nikouw mencelanya sebagai seorang yang kurang memperhatikan keluarganya.
Semua orang memujimuji kepada Yu Tek, akan tetapi pemuda itu segera berkata kepada ayahnya karena dia teringat akan dara remaja yang tadi membantunya menangkap penjahat.
"Ayah, yang berjasa menangkap penjahat itu adalah nona ini"
Dia menengok ke arah gadis itu dan betapa kagetnya melihat tempat itu telah kosong dan gadis itu telah pergi ke mana. Yap taijin tersenyum dan berkata.
"Aku sudah tahu, Tekji (anak Tek). Nona tadi adalah murid dari Pek I Nikouw dan memang ketua Kuil Kwanimbio itu yang mengutus muridnya untuk turun tangan setelah aku minta bantuannya."
Pulanglah ayah dan anak ini dengan hati girang.
Yu Tek merasa girang karena selain usahanya yang pertama kali menentang kejahatan itu berhasil baik, juga melihat betapa ayahnya tidak marah melihat dia menjadi seorang ahli silat secara diamdiam, bahkan ayahnya merasa bangga.
Di lain fihak, bupati itu merasa girang karena memperoleh kenyataan yang mengejutkan bahwa diam diam puteranya menjadi seorang pendekar yang menentang kejahatan dan yang berhusil menangkap penjahat yang telah memusingkannya dan telah menakutkan hati semua penduduk kota Ankian.
Dia percaya akan penuturan puteranya, percaya bahwa guru puteranya tentulah seorang sakti yang selain mendidik ilmu silat kepada puteranya, juga telah menurunkan jiwa pendekar kepada pemuda itu.
Berita tentang penangkapan penjahat yang ditakuti dan dibenci itu oleh putera Yaptaijin segera tersiar luas sampai jauh di luar kota An kian.
Juga bahwa Kuil Kwanimbio di luar ternbok kota Ankian itu ternyata mempunyai seorang dara perkasa yang berilmu tinggi.
Semenjak terjadinya peristiwa itu, Yu Tek kini sering kali mengunjungi Kuil Kwanimbio, bukan saja untuk menjumpai Pek I Nikouw dan minta petunjuk petunjuk dalam hal ilmu silat, akan tetapi sesungguhnya yang terutama sekali adalah untuk dapat bertemu dengan Beng Lian!
Semenjak dia bertemu dengan dara remaja ini dan mendapatkan pertolongannya, ada sesuatu tumbuh di dalam hati sanubari pemuda itu, sesuatu yang amat aneh, yang selama hidup belum pernah dirasakannya, sesuatu yang membuat dia selalu ingin mengunjungi Kwanimbio dan yang membuat dia sering kali berjumpa dengan Beng Lian di dalam mimpi!
Pek I Nikouw adalah seorang nikouw yang selain sakti, juga memiliki kewaspadaan dan kebijaksanaan.
Sikap Yu Tek yang sering kali datang mengunjunginya itu dapat dia selami dan diamdiam diapun menemui Siok Thian Nikouw, ibu dari Beng Lian untuk membicarakan hubungan antara dua orang muda itu.
Memang di waktu meraka saling berjumpa setiap kali pemuda itu datang berkunjung kelihatan biasa saja.
Namun pandang mata mereka, sinar mata yang memancar keluar dari tatapan mata Yu Tek, senyum dikulum yang menghias mulut Beng Lian, semua ini menjadi tandatanda baginya bahwa "ada apa-apa"
Terjadi dalam hati kedua orang muda itu.
"Pemuda itu amat baik, biarpun dia putera seorang yang berpangkat tinggi di kota ini, namun dia tidak tinggi hati. Juga ayahnya terkenal sebagai seorang pembesar yang jujur dan bijaksana. Selain itu, Yu Tek juga memiliki kepandaian yang cukup tinggi, apa lagi murid dari Tiong san Lo kai, seorang tokoh besar di dunia kangonw yang selalu menentang kejahatan. Kita akan beruntung sekali kalau mempunyai seorang mantu seperti Yap Yu Tek,"
Demikian antara lain Pek I Nikouw berkata kepada Siok Thian Nkouw.
"Omitohud.."
Siok Thian Nikouw merangkap kedua tanpnn seperti orang berdoa.
"Kami telah menerima budi suthai, telah menerima petunjuk petunjuk yang amat berguna, telah menerima kasih sayang yang berlimpah. Oleh karena itu, saya hanya menyerahkan saja kepada kebijiksanaan suthai dalam hal ini, dan tentu saja saya menyerahkan kepada keputusan Beng Lian sendiri untuk menentukan jodohnya "
"Siancai pernyataanmu yang diserahkan kepada keputusan Beng Lian sendiri untuk memilih dan menentukan jodohnya memang seharusnya dilakukan oleh setiap orang ibu yang benar benar mencinta anaknya Akan tetapi, membiarkan anak mengambil keputusan sendiri tanpa mengambil perduli sama sekali dan dengan sikap masa bodoh, sama sekali tidaklah bijaksana. Biarpun pemilihan terakhir memang sepenuhnya berada di tangan anak yang akan mengalaminya sendiri, namun orang tua tidaklah benar kalau melepas tangan sama sekali karena mungkin saja anak yang masih hijau itu akan memilih keliru. Sudah selayaknyalah kalau orang tua mengamat-amati agar pemilihan anaknya tidak sampai keliru yang kelak akan menjerumuskannya ke dalam lembah kesengsaraan."
Siok Thian Nikouw mengangguk-angguk dan dua orang wanita pendeta ini lalu membicarakan tentang pemuda yang agaknya tertarik kepada Beng Lian itu.
"Tenta saja sebagai pihak wanita, amatlah tidak baik kalau kita yang membicarakan hal perjodohan ini dengan orang tua pemuda itu karena penolakan dari pihak pria merupakan penghinaan yang sukar dapat dihapus dari sanubari kita. Akan tetapi tunggu sampai Tiongsan Lokai muncul di Ankian, pinni tidak ragu ragu untuk bicara dengan dia sebagai guru dari Yu Tek,"
Kata pula Pek I Nikouw dan Siok Thian Nikouw hanya menyetujui saja.
Diamdiam Siok Thian Nikouw bterdoa di dalam hatinya demi kebahagiaan putrinya, anak yang tinggal satu satunya itu karena dia menganggap bahwa puteranya, Beng Han, tentu menjadi korban keganasan pasukan pemberontak pula.
Yu Tek menyambut kedatangan gurunva dengan berlutut.
Melihat sikap muridnya yang tidak seperti biasanya ini, Tiongsan Lokai memandang dengan alis berkerut.
Memang putera pembesar ini selalu hormat kepadanya, akan tetapi malam hari ini berbeda dari biasanya, wajah muridnya nampak serius dan tentu ada sesuatu yang telah terjadi.
"Suhu, teecu mohon suhu sudi mengampuni kesalahan teccu."
Kakek itu mcngelus jenggotnya.
"Hemmm, kesalahan apakah yang kau lakukan, muridku?"
"Teccu telah melanggar pantangan suhu, yaitu terpaksa teecu telah memperlihatkan kepandaian ketika teccu turun tangan menangkap penjahat sehingga bukan hanya ayah yang mengetahui keadaan teecu, melainkan hampir semua penghuni kota ini sekarang mengetahuinya belaka."
Dengan singkat Yu Tek lalu menceritakan peristiwa yang terjadi ketika dia menangkap penjahat jaihoacat yang mengacau kota Ankian beberapa pekan yang lalu. Gurunya mendengarkan dengan perhatian.
"Scbetulnya teecu yang sudah mendengar akan pengacauan penjahat itu, karena teringat akan pesan dan larangan suhu, tidak berani turun tangan. Akan tetapi, pada malam hari itu teecu menerima surat ini dari Pek I Nikouw."
Yu Tek menyerahkan sehelai kertas tulisan Pek I Nikouw itu kepada gurunya.
Tiongsan Lokai menerima surat itu dan membacanya, lalu kakek ini tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Melihat betapa gurunya tidak memperlihatkan sikap marah, Yu Tek menjadi lega dan dia melanjutkan.
"Betapapnn juga, suhu, teecu tidak pernah menyebut nama suhu di hadapan siapapun juga, bahkan ketika ayah bertanya tentang nama suhu, teecu berkata terus terang bahwa teecu tidak berani menyebut nama suhu sebelum mendapat perkenan dari suhu sendiri "
Kakek itu mengelus jenggotnya dan menarik napas panjang.
"Syukurlah, kalau begitu, Yu Tek. Kukatakan terus terang kepadamu bahwa apabila orang luar mendengar bahwa engkau adalah murid Tiongsan Lokai, berarti engkau telah menarik datangnya bahaya yang mengancam dirimu. Sekarang lebih baik engkau mengetahuinya bahwa gurumu ini dimusuhi oleh banyak sekali orang jahat yang dahulu pernah roboh di tanganku. Mereka itu senantiasa berusaha untuk membalas dendam sehingga boleh dibilang bahwa aku selalu diintai bencana. Hal ini sama sekali tidak kutakuti karena sebagai orang gagah, sudah seharusnya orang yang telah berani berbuat harus berani pula bertanggung jawab atas segala akibat perbuatannyd itu. Akan tetapi, kalau sampai mereka tahu bahwa engkau adalah muridku, aku khawatir kalau mereka itu datang dan mengganggu serta memusuhi engkau dan keluargamu. Inilah sebabnya maka aku minta kepadamu agar engkau merahasiakan hubungan antara kita."
Mendengar ucapan gurunya ini, Yu Tek teringat akan katakata dan larangan ayahnya dahulu untuk mempelajari ilmu silat, bahwa mempelajari ilmu silat itu hanya mendatangkan musuhmusuh dun memupuk dendam dan sakit hati dalam dada orang orang yang dikalahkannya.
Kini ucapan itu terbukti pada diri gurunya.
Akan tetapi, dia merasa penasaran dan tidak setuju dengan pendirian suhunya.
"Maafkan teecu, suhu, kalau teecu berani mengemukakan pendapat teecu yang bodoh. Teecu yakin bahwa orang-orang yang dulu suhu robohkan tentulah orang-orang jahat yang me-mang patut untuk dibasmi, dan perbuatan suhu itu memang adil dan benar. Mengapa kita harus takut akan segala usaha pembalasan dendam mereka? Teecu sebagai murid suhu malah berkewajiban untuk menjunjung tinggi nama suhu, dan sudah selayaknya pula apa bila teecu membantu suhu sekuat tenaga untuk menghadapi mereka yang datang hendak menuntut balas. Kalau suhu minta kepada teecu merahasiakan kenyataan bahwa teecu adalah murid suhu, bukankah hal ini berarti bahwa suhu hendak membikin teecu menjadi seorang pengecut? Maaf, teecu raohon petunjuk suhu, karena, teecu masih belum mengerti benar."
Kakek itu kembali menarik napas panjang.
"Katakatamu itu memang tidak keliru, muridku. Akan tetapi ketahuilah bahwa sukar sekali bagi seorang manusia untuk menginsyafi kesalahan diri sendiri, demikian pula halnya dengan orang-orang yang pernah kukalahkan itu. Kita boleh menyebut mereka jahat, akan tetapi belum tentu mereka sadar bahwa mereka itu jahat. Bahkan sebaliknya, mereka itulah yang menganggap bahwa aku seorang jahat yang suka mencampuri urusan mereka dan membikin rugi mereka. Dan mereka itu mempunyai kawan-kawan, murid, dan saudara-saudara yang tentu saja membela mereka, memusuhi aku tanpa mengetahui duduknya persoalan dan dengan sendirinya menganggap aku jahat, seperti halmu sendiri yang biarpun tidak menyaksikan sendiri kejahatan musuh-musuhku, telah percaya penuh bahwa tentu mereka berada di fihak yang salah. Inilah sebabnya, muridku, maka aku tidak mau menarik engkau terjerumus ke dalam jurang balas membalas ini. Harus kuakui bahwa biarpun aku yakin akan kejahatan mereka yang pernah kukalahkan itu, akan tetapi kawan-kawan mereka yang sekarang ikut memusuhi aku belum tentu terdiri dari orangorang jahat pula."
"Ah, kiranya demikian ruwet persoalannya. Kalau begitu benar juga katakata ayah.."
Tanpa disengaja terlompat katakata ini dari mulut Yu Tek.
"Heiii, apa maksudmu?"
Karena sudah terlanjur mengeluarkan kata kata itu, terpaksa Yu Tek lalu menceritakan betapa dulu ayahnya melarang dia belajar ilmu silat oleh karena ayahnya berkata bahwa orang yang memiliki ilmu kepandaian ini, hanya akan melibatkan dirinya ke dalam balas membalas yang tiada habisnya.
"Memang tak dapat disangkal akan kebenaran katakata ayahmu itu, Yu Tek. Akan tetapi kalau semua orang berpegang kepada kebenaran pendapat itu, lalu siapakah yang menghadapi orangorang jahat yang menggunakan kepandaian mereka untuk berlaku sewenangwenang? Siapakah yang akan membela orangorang lemah yang tertindas? Memang harus kita sadari bahwa segala sesuatu di permukaan dunia ini selalu bermuka dua, ada baiknya tentu ada buruknya, ada untung tentu ada pula ruginya. Akan tetapi kurasa, asal kita dapat mengatur langkah, memilih jalan yang benar, kita tidak akan tersesat."
Setelah berbicara dengan muridnya dan mengenal sikap dan pendirian pembesar Yap ayah dari muridnya itu, hati Tiongsan Lokai tergerak dan tertarik, maka diamdiam pada suatu malam dia menemui Yaptaijin dan memperkenalkan dirinya.
Bukan main terkejut dan herannya hati pembesar ini ketika melihat bahwa orang yang memberi pelajaran ilmu silat kepada puteranya adalah seorang kakek pengemis!
Kedua orang tua ini lalu bercakap cakap dan timbullah rasa kagum dan suka didalam hati Yaptaijin ketika memperoleh kenyataan bahwa biarpun tubuhnya mengenakan pakaian jembel, namun di didalam tubuh itu terdapat batin yang bersih dan semangat yang gagah perkasa serta pengetahuan yang luas dan tinggi.
Banyak hal yang mereka bicarakan dan Yaptiijin mendapat kenyataan bahwa kakek yang menjadi guru puteranya itu ternyata tidak asing dengan segala hal, dari urusan ketatanegaraan, tentang keadaan di kota raja, tentang pemerintahan, tentang perang dengan pemberontak, sampai ke soal-soal kcsusasteraan dan kebudayaan.
Kemudian mereka bicara teniang Yu tek dan Tiongsan Lo kai berkata.
"Taijin, kemarin malam Pek I Nikouw menemui saya dan dia mengajukan usul untuk menjodohkan muridnya yan bernama Gan Beng Lian dengan putera taijin."
"Ah, nona yang gagah perkasa itu?"
Yap taijin bertanya.
"Benar, nona yang membantu Yu Tek menangkap penjahat itu."
Sampai beberapa lamanya pembesar itu termenung.
Dia adalah seorang pembesar, dan anaknya hanya satu.
Yu Tek seorang pemuda yang baik dan berbakti, memiliki pengertian mendalam tentang kesusasteraan dan juga kini menjadi seorang pemuda perkasa dengan ilmu silat yang tinggi.
Menurut pcndapat umum tentu tidak sepadan kalau puteranya itu berjodoh dengan seorang gadis kuil Akan tetap Yaptaijin bukanlah seorang yang terikat oleh perbedaan kedudukan dan keadaan duniawi.
"Lo sicu,"
Katanya tenang.
"Dalam soal perjodohan, saya tidak berpendirian terlalu kukuh. Perjodohan merupakan ikatan selam hidup bagi seseorang yang bertalian erat dengan kebahagiaan orang itu. Maka, demi kebahagiaan putera saya, pemilihan jodoh saya serahkan bulatbulat kepada putera saya, dan saya sebagai ayahnya hanya akan mengamati agar jangan sampai putera saya salah pihh. Saya pribadi amat kagum dan suka kepada nona yang gagah perkasa murid Pek I Nikouw itu. Akan tetapi, keputusannya saya serahkan kepada Yu Tek sendiri."
Semenjak dara remaja yang berpakaian putih dan amat gagah perkasa itu membantu Yu Tek menangkap penjahat, beberapa kali pembesar ini sudah mengunjungi Kwan im bio, selain untuk bercakap-cakap dengan Pek I Nikow yang luas pengetahuannya, juga pembesar ini melihat bahwa gadis yang gagah itu ternyata adalah seorang dara yang cantik jelita, lemah lembut, halus dan sopan santun, juga selain ilmu silat, cukup terdidik pula dalam hal ilmu membaca menulis.
Maka kini, mendengar usul perjodohan itu, sebagian besar dari perasaan hatinya sudah menyetujuinya.
"Hahaha, jawaban taijin ini saja sudah menunjukkan bahwa taijin adalah seorang ayah yang cukup bijaksana dan tidak memikirkan diri sendiri. Kalau begitu, sebaiknya kita memanggil Yu Tek dan menanyakan pendiriannya sekarang juga!"
Terseret oleh kegembiraan kakek itu, Yaptaijin lalu memanggil puteranya.
Yap Yu Tek merasa terkejut dan heran melihat betapa gurunya telah duduk di dalam ruangan tamu.
Melihat muridnya itu berdiri dan memandang dengan mata terbelalak, kakek itu tertawa.
"Haha, jangan heran, Yu Tek. Aku telah berkenalan dengan ayahmu dan merasa menyesal mengapa tidak dulu dulu aku mengenalnya."
Yaptaijin juga berkata.
"Kami telah bicara banyak dan aku kagum sekali kepada gurumu, Yu Tek. Sekarang kami berdua memanggilmu untuk mengetahui pendirianmu tentang jodoh."
"Jodoh?"
Yu Tek bertanya, matanya terbuka lebar dan dia memandang ayah dan gurunya bergantian, tidak mengerti apa yang mereka maksudkan.
"Benar, jodoh untukmu, Yu Tek. Kami bicara tentang seorang gadis yang pantas menjadi calon isterimu"
Tiba-tabi wajah pemuda tampan itu menjadi merah sekali. Dia merasa jantungnya berdebar kencang dan mukanya terasa panas.
"Akan tetapi teecu sama sekali tidak pernah memikirkan pernikahan..."
"Hahaha, bukan untuk tergesagesa menikah, Yu Tek. Untuk tergesagesa menikah tentu akan dipilih hari, bulan dan tahun yang baik dan tepat. Akan tetapi kami membicarakan tentang ikatan jodoh, jadi agar ada calon isterimu yang sudah ditentukan dari sekarang, seorang gadis yang amat baik."
"Tapi.. hal ini belum pernah saya pikirkan, ayah, dan begini tibatiba saya menjadi bingung"
"Yu Tek, bagaimana pendapatmu tentang nona Gan Beng Lian?"
Tibatiba Tiongsan Lokai bertanya.
Ketika gurunya tibatiba menyebutkan nama ini, jantung Yu Tek berdebar makin keras dan dia hanya memandang wajah gurunya dengan melongo.
Melihat wajah muridnya yang biasanya kelihatan cerdik itu kini melongo seperti wajah seorang bodoh, kakek itu tertawa geli;
"Yu Tek,"
Terdengar ayahnya berkata.
"Aku dan gurumu telah membicarakan tentang gadis murid Pek I Nikouw itu dan kami berdua merasa suka kepada gadis itu. Kami berdua merasa setuju sekali kalau gadis itu menjadi calon isterimu. Akan tetapi, kami ingin mendengar dulu pendapatmu sebelum mengajukan pinangan untuk mengikat tali perjodohan di antara kalian."
Mendengar ucapan ayahnya itu, Yu Tek menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.
Dia merasa malu dan girang, akan tetapi bagaimana dia dapat menyatakan perasaannya ini?
Untuk menjawabpun terasa amat sukar baginya, seolaholah kerongkongannya tercekik.
"Eh, Yu Tek, apakah kau tibatiba menjadi gagu? Ayahmu bertanya kepadamu. Hayo jawablah sejujurnya!"
Gurunya berkata mendesak. Akhirnya Yu Tek mengangkat muka memandang kepada ayahnya dan gurunya. ''Tentang hal itu ah, tentang ikatan jodoh itu""
Dia menggagap, lalu menarik napas panjang menenteramkan hatinya yang terguncang, lalu menyambung dengan sikap lebih tenang.
"Sebagai seorang anak, tentu saja saya hanya dapat menyerahkan hal itu kepada keputusan ayah saja."
Setelah berkata demikian, dia kembali menundukkan mukanya.
Yaptaijin dan Tiongsan Lokai saling pandang dan tersenyum.
Sebagai orang orang tua yang berpengalaman, jawaban ini saja sudah cukup bagi mereka.
Akan tetapi Tiongsari Lokai yang selalu berwatak terbuka, masih belum puas.
"Yu Tek, andikata ayahmu memilihkan seorang gadis yang kauanggap buruk baik rupanya maupun kelakuannya, andaikata pilihan ayahmu itu adalah seorang gadis yang sama sekali tidak kaucinta atau suka apakah engkaupun akan menerimanya begitu saja?"
"Tentu saja tidak!"
Jawab Yu Tek menggeleng kepala.
"Jadi kalau tidak cocok, engkau akan menolaknya?"
Desak gurunya.
"Kiranya begitulah, suhu,"
"Dan sekarang, kalau ayahmu menjodohkan engkau dengan nona Beng Liar, apakah engkau tidak menolaknya?"
Sejenak guru dan murid ini berpandangan, lalu Yu Tek menundukkan mukanya dan menggeleng kepala.
"Tidak, suhu."
"Jadi kau setuju dan suka kepadanya, bukan?"
Yu Tek tak dapat menjawab, lalu akhirnya dapat juga dia mcngeluarkan katakata sambil menunduk.
"Hal itu terserah kepada ayah dan teecu memang kagum kepadanya."
Yaptaijin dan Tiongsan Lokai tertawa.
"Bagus!"
Kata Yap taijin.
"Yu Tek, semenjak nona itu membantu kita, memang aku telah tertarik dan aku sudah menyelidiki tentang dia. Nona itu bernama Gan Beng Lian, ibunya seorang janda yang kini telah masuk menjadi nikouw dengan nama Siok Thian Nikouw. Nan, aku akan memilih hari baik dan akan mengajukan pinangan kepada ibunya dan gurunya di Kuil Kwanimbio. Bahkan ibumu sendiri su-dah pula menyatakan kagum dan sukanya kepada gadis ini. Maka, setelah ayah bundamu suka, gurumupun setuju, dan engkau sendiri tidak menolak, bereslah sudah, hahaha!"
Demikianlah, pada suatu hari yang dianggapnya hari baik, Yaptaijin mengajukan pinangan kepada Siok Thian Nikduw dan Pek I Nikouw.
Tentu saja pinangan itu diterima dengan hati dan tangan terbuka.
Diam-diam Siok Thian Nikouw merasa girang dan bangga sekali.
Hati ibu yang mana yang tidak akan merasa bahagia kalau puterinya dipinang oleh seorang bupati untuk dijodohkan dengan putera tunggalnya yang selain tampan, juga ahli dalam ilmu bun dan bu yang tinggi?
Ketika Beng Lian ditanyai pendapatnya, dara ini menundukkan mukanya yang merah, matanya berlinang air mata akan tetapi mulutnya tersenyum, sama sekali tidak menjawab hanya jari-jari tangannya meremas ujung bajunya sampai hancur tanpa disadarinya, kemudian sambil mengeluarkan suara seperti rintihan, seperti isak tangis akan tetapi juga seperti kekeh tawa, dia lari meninggalkan ibu dan gurunya, memasuki kamarnya!
Sikap ini sudah lebih dari cukup bagi dua orang wanita itu maka tanpa raguragu lagi mereka menerima pinangan itu.
Secara resmi diikatlah pertunangan antara Yu Tek dan Beng Lian.
Dan semenjak itu, mereka berdua makin giat berlatih dan menerima ilmu-ilmu terakhir dari guru-guru mereka.
Yu Tek menyempurnakan Ilmu Tiongsan Tunghwat yang amat aneh gerakannya, sedangkan Beng Lian pun memperdalam Ilmu pedang Ngo lian Kiam-hwat (Ilmu Pedang Lima Teratai) dari gurunya.
Setahun kemudian semenjak pe.istiwa penangkapan penjahat yang mengacau kota Ankian itu, kepandaian dua orang muda itu telah maju pesat sekali.
Pada suatu hari, Tiongsai Lokai yang selama setahun itu tinggal di rumah Yaptaijin, berpamit dan pergi merantau seperti biasa dengan berjanji bahwa kelak di waktu Yu Tek melangsungkan pernikahannya, dia akan menghadiri.
Semenjak pertunangan di antara mereka, atas nasihat Pek i Nikouw, tidak jarang Yu Tek dan Beng Lian berlatih silat bersama untuk memperdalam ilmu silat masing-masing.
Tentu saja maksud Pek I Nikouw bukan hanya agar mereka dapat memperdalam ilmu silat mereka, melainkan juga terutama sekali untuk memberi kesempatan kepada calon suami isteri itu untuk saling menyelami dan mengenal watak masing-masing lebih baik dan menumbuhkan keakraban dan cinta kasih di antara mereka agar makin mendalam pula.
Akan tetapi sebagai seorang wanita cerdik, pendeta ini hanya menekankan perlunya latihan silat bersama untuk memperdalam kepandaian mereka itu.
"Ilmu silat tidak saja membutuhkan pemikiran yang mendalam, akan tetapi terutama sekali latihan-latihan kaki, tangan, mata dan telinga sebingga ilmu itu mendarah daging, seolah-olah menjadi satu dan meresap ke dalam seluruh urat-urat di tubuh sehingga dalam segala keadaan, kepandaian itu telah tersedia dan siap untuk dipergunakan sebagai penjaga keselamatan diri dari serangan-serangan lawan. Maka apabila ilmu ini lama tidak dipergunakan atau dilatih, akan berkuranglah daya kegunaannya. Berlatih seorang diri dan berlatih menghadapi seorang lawan mempunyai perbedaan yang besar sekali, maka ada baiknya apabila kalian rajin berlatih bersama, karena dengan demikian, kalian membuat gerakan kaki tangan kalian menjadi lincah. Juga dari serangan masing-masing kalian dapat menambah pengalaman dalam menghadapi serangan lawan."
Sebagai sepasang orang muda yang saling bertunangan dan saling mencinta, tentu saja latihan bersama ini mendatangkan kegembiraan dan kebahagiaan.
Sering kali Yu Tek datang berkunjung ke Kwanimbio di mana mereka berdua berlatih di bawah pengawasan dan petunjuk Pek I Nikouw.
Ada kalanya Beng Lian datang ke gedung kabupaten dan berlatih ilmu silat bersama tunangannya di lian bu thia (ruangan belajar silat) yang sengaja dibangun oleh Yaptaijin untuk puteranya.
Pada suatu senja, Beng Lian dan Yu Tek berlatih silat di lianbuthia yang letaknya di belakang gedung dekat taman bunga.
Seperti biasa Yu Tek memainkan sebatang tongkat bambu sedangkan Beng Lian menggunakan sebatang pedang.
Mereka bertanding dengan seru, seolah-olah bukan sedang berlatih melainkan sedang bertempur sungguh-sungguh.
Sukar untuk dikatakan siapa yang lebih tinggi kepandaiannya di antaia mereka.
Pedang Beng Lian yang dimainkan dalam Ilmu Pedang Ngo-lian Kiam-hwat itu bergerak cepat sehingga bentuk pedangnya lenyap, yang nampak hanya gulungan sinar pedang berwarna putih yang mengeluarkan bunyi berdesingdesing.
Tongkat bambu di tangan Yu Tek juga bergerak secara luar biasa sekali, menyambarnyambar sebagai sinar hijau yang panjang dan tidak terduga gerakangerakannya, seperti seekor ular sakti yang hidup saja.
Dulu, ketika untuk pertama kali mereka berlatih bersama, keduanya amat terkejut dan merasa bingung menghadapi senjata masing masing sehingga mereka bersilat dengan hatihati dan tidak berani menggerakkan senjata secara sembarangan karena khawatir kalau-kalau senjata mereka akan saling melukai.
Akan tetapi, setelah sering kali melakukan latihan bersama, mereka telah saling mengenal ilmu silat masing-masing dan berani menggerakkan senjata lebih cepat sehingga kalau kini mereka berlatih, tubuh mereka lenyap tergulung sinar senjata mereka yang seakanakan saling membelit dan menjadi satu.
Bahkan anehnya, dalam latihan ini, mereka merasa sa-ling berdekatan dan saling belai, seolaholah mereka dapat menumpahkan rasa cinta kasih mereka melalui gerakan senjata mereka!
Terasa kemesraan yang amat mendalam di waktu mereka saling serang itu!
Pada saat itu, ketika mereka sedang terlibat dalam latihan sungguhsangguh, tibatiba mereka mendengar suara wanita yang lantang dan nyaring, seakan-akan wanita itu sedang marah dan membentak-bentak orang lain.
Tentu saja dua orang muda ini merasa heran dan menghentikan gerakan mereka.
Kini terdengarlah suara itu dari dalam runngan lianbuthia, suara yang terdengar di sebelah luar ruangan itu.
"Sebagai seorang pembesar seharusnya engkau melindungi rakyat dan mencegah tindakan para camat dan kepala dusun yang memeras rakyat!"
Suara wanita itu berkata lantang.
"Tidak lahukah engkau betapa rakyat amat miskin dan sengsara? Apakah Kau hendak mempertahankan kedudukanmu dan kemulianmu dengan menginjak dan mencekik rakyat? Rakyat yang tidak berdaya hanya dapat menerima semua kekejaman itu dengan keluh kesah, akan tetapi kami tidak akan membiarkan saja para pembesar berlaku sewenang-wenang!"
Bukan main kagetnya hati Yu Tek dan Beng Lian mendengar ucapan yang keluar dari mulut seorang yang tidak mereka kenal suaranya itu.
Cepat mereka melompat keluar dari lianbu thia dan berlari menuju ke ruangan depan.
Mereka melihat beberapa orang pengawal telah roboh dalam keadaan tertotok tidak berdaya sedangkan Yaptaijin berdiri tertegun sambil memandang kepada tiga orang muda yang berada di situ dengan mata terbelalak penuh keheranan.
Yu Tek dan Beng Lian memandang tajam dan melihat bahwa tiga orang itu terdiri dari dua orang pemuda tampan dan seorang gadis cantik.
Mereka bertiga kelihatan begitu gagah.
Gadis cantik ltulah yang sedang menudingkan telunjuknya ke muka Yaptaijin sambil membentak-bentak marah.
"Kalau engkau tidak mencabut kembali peraturan pemungutan pajak yang mencekik leher para petani miskin itu, jangan menyesal kalau kami akan turun tangan memberi hajaran kepadamu!"
Seorang di antara pemuda pemuda itu, yang berwajah tampan dan bermuka putih, berkata sambil meraba gagang pedangnya.
Yu Tek dan Beng Lian menjadi marah bukan main melihat sikap mereka terhadap Yaptaijin.
"Manusia-manusia kurang ajar, jangan menjual lagak di sini!"
Bentak Yu Tek dengan kedua mata memandang berapiapi, sedangkan Beng Lian dengan pedang di tangan sudah siap siaga pula.
Tiga orang muda itu bukan lain adalah Kui Eng, Bun Hong, dan Beng Han Seperti telah dituturkan di bagian depan, mereka bertiga telah menundukkan camat she Gu di Hongyang, dari camat ini mereka mendengar bahwa peraturan pajak itu ditentukan oleh atasannya, yaitu pembesar she Yap atau Bupati Yap di Ankian.
Mereka lalu menuju ke Ankian untuk memberi hajaran pula kepada Bupati Yap, maka pada hari ini, di waktu senja, mereka sudah menyerbu gedung Bupati Yap, merobohkan beberapa orang pengawal sampai mereka berhadapan sendiri dengan Yaptaijin.
Kini, mendengar bentakan Yu Tek mereka bertiga cepat memutar tubuh memandang.
Mereka menyangka bahwa tentu tukang tukang pukul pembesar ini yang muncul.
Akan tetapi alangkah heran hati mereka ketika melihat bahwa yang datang adalah seorang pemuda berpakaian seperti seorang sasterawan yang memegang sebatang tongkat bambu bersama seorang gadis cantik berpakaian putih sederhana yang memegang sebatang pedang!
"Eh, dua orang bocah lancang, jangan kalian ikut mencampuri urusan orang-orang dewasa!"
Kui Eng membentak dengan suara mengejek.
Merahlah wajah Beng Lian mendengar ini.
Usia gadis cantik itu tidak banyak selisihnya dengan dia, paling banyak satu dua tahun akan tetapi gadis itu bersikap seolah-olah dia dianggap masih ingusanl "Kau wanita sombong, apakah kaukira.
hanya engkau seorang yang memiliki kepandaian dan keberanian?"
Teriaknya dan dia sudah maju menyerang dengan pedangnya.
Kui Eng tertawa mengejek sambil mencabut pedangnya dan menangkis, balas menyerang, dan segera dua orang jura ini sudah saling serang dengan sengit dan seru.
Bun Hong dan Beng Han tercengang menyaksikan ilmu pedang gadis berpakaian putih itu yang luar biasa dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan, maka mereka berduapun segera mencabut pedang masing-masing karena dari luar telah datang rombongan pengawal dengan senjata di tangan.
"Kalian mencari penyakit!"
Bentak Yu Tek dan segera dia maju menyerang dengan tongkat bambunya kepada Bun Hong dan Beng Han.
Kembali dua orang pemuda ini terkejut sekali karena tidak mereka sangka bahwa pemuda yang berpakaian seperti sasterawan lemah ini ternyata memiliki ilmu tongkat yang demikian hebatnya.
Hampir saja pundak Bun Hong terkena totokan karena ketika Yu Tek menyerang tadi, tongkatnya menyambar dan menyabet ke arah pinggang mereka berdua.
Beng Han melompat dan mengelak, akan tetapi Bun Hong mengangkat pedangnya untuk membacok tongkat bambu yang menyambar itu.
Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika sebelum tongkat itu bertemu pedang, tibatiba tongkat itu membuat gerakan membalik dan langsung menotok jalan darah di pundaknya!
Nyaris dia dirobohkun dalam gebrakan pertama ini kalau saja Bun Hong tidak memiliki kegesitan yang luar biasa, untunglah dia dapat mengelak dengan jalan memutar tubuh ke belakang.
Dengan marah Bun Hong lalu membalas dengan serangkaian serangan dapsyat, akan tetapi semua serangannya dapat dielakkan dan ditangkis oleh pemuda sasterawan itu!
Bun Hong merasa penasaran sekali.
Dia merasa seolah-olah dipandang rendah karena pemuda sasterawan itu menghadapi dan melawannya hanya menggunakan senjata sebatang bambu kuning saja!
Dia tidak tahu bahwa senjata ini memang seniata istimewa dari lawannya.
Mereka segera bertempur dengan seru di ruangan itu.
Melihat ini, Yaptaijin bcberapakali mengangkat tangan ke atas untuk mencegah sambil berseru.
"Tahan! Tahan! Jangan bertempur!"
Baca Juga: Dewi Maut 7
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 14