Ceritasilat Novel Online

Dendam Sembilan Iblis Tua 2

Eps 2 Dendam Sembilan Iblis Tua - Kho Ping Hoo

Baca online Dendam Sembilan Iblis Tua - Kho Ping Hoo

Cersil Dendam Sembilan Iblis Tua - Kho Ping Hoo.

Ang-hwa dan dua orang rekannya, yaitu Lan-hwa dan Ui-hwa yang mengintai dari celah-celah tirai, melihat bahwa mereka adalah lima orang yang bertampang dan bersikap menyeramkan.

Seorang bertubuh tinggi besar berkulit hitam legam, yang kedua pendek gendut dengan muka menyeringai jelek, yang ketiga tinggi kurus, keempat tinggi besar agak bongkok dan yang kelima sedang saja, akan tetapi senyumnya mengejek dan sombong.

Biarpun dikepung dan dihadapi sedikitnya dua puluh lima orang, Ang-hwa (Bunga Merah) nampak tenang-tenang saja.

Setelah saling pandang dengan lima orang itu, dengan suaranya yang lincah dan lantang Ang-hwa bertanya.

"Apakah kaliani ini yang disebut Thai-san Ngo-kwi (Lima Setan Thai-san)?"

Mereka memang Thai-san Ngo-kwi.

Seperti sudah kita ketahui, lima orang kepala gerombolan murid mendiang Siauw-bin Ciu-kwi yang juga merasa sakit hati kepada Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, bersekongkol dengan dua orang paman guru dan seorang bibi guru mereka, merencanakan balas dendam kepada dua orang pendekar itu.

Ngo-kwi (Setan Kelima) yang paling muda di antara mereka, usianya tiga puluh lima tahun pesolek dan tampan, bertubuh sedang dan pembawaannya seperti seorang kong-cu (tuan muda) dari kota, tertawa dibuat-buat sambil memandang ke arah Ang-hwa yang memegang kendali kuda.

"Ha-ha-ha, aku mendengar bahwa Hek-liong-li mempunyai sembilan orang pelayan yang manis-manis dan yang berpakaian merah merupakan pelayan yang paling cantik paling lihai. Agaknya engkaulah nona baju merah itu? Kami memang benar Thai-san Ngo-kwi. Nah, nona merah, apakah engkau datang untuk menemani kami bersuka-ria? Marilah engkau turun ke dalam pelukanku, manis!"

Jelas bahwa ucapan ini bukan sekedar menggoda, melainkan juga mengandung ejekan yang tidak memandang sebelah mata kepada para pembantu Hek-liong-li.

Memang benar pendapat Ngo-kwi ini.

Ang-hwa adalah seorang yang paling cerdik, juga paling tangguh dalam ilmu silat, di antara rekan-rekannya.

Karena melihat bakat yang ada pada diri Ang-hwa, maka Hek-liong-li tidak saja menurunkan ilmu silat yang lebih tinggi kepadanya, juga amat mempercayainya sehingga untuk urusan penting, Ang-hwa yang diserahi tugas pelaksanaannya.

Gadis berusia dua puluh lima tahun ini sudah tiga kali putus cinta, dikhianati pria, maka setelah (Lanjut ke

Jilid 03) Dendam Sembilan Iblis Tua (Seri ke 03 -Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 03 bertemu Hek-liong-li, iapun rela menghambakan diri dan kini merupakan pelayan, murid, dan sahabat terbaik Hek-liong-li.

Mendengar ucapan Ngo-kwi, Ang-hwa sama sekali tidak terpancing menjadi marah.

Bahkan sebaliknya, ia tersenyum manis sekali memandang kepada Ngo-kwi.

"Kiranya benar kalian Thai-san Ngo-kwi. Memang kunjunganku ini mempunyai tugas penting, yaitu aku diutus oleh Hek-liong Lihiap (Pendekar Wanita Naga Hitam) untuk menyerahkan hadiah yang amat berharga kepada kalian sebagai tanda penghormatan!"

Mendengar ini, lima orang kepala penjahat itu saling pandang, ada yang terheran, ada yang curiga, ada pula yang kagum dan ada yang tidak percaya.

Akan tetapi Thai-kwi, orang pertama dari mereka, berusia empat puluh lima tahun dan bertubuh tinggi besar muka hitam, maklum akan kecerdikan Hek-liong-li dan tidak ingin adik seperguruannya yang termuda dan mata keranjang itu menggagalkan rencana mereka, segera melangkah maju mendekati kereta.

"Nona, kalau benar engkau diutus Hek-liong-li datang ke sini untuk mengirim hadiah kepada kami, nah, serahkan hadiah itu kepadaku. Akulah Thai-kwi, orang pertama dari Thai-san Ngo-kwi."

Ang-hwa tersenyum.

"Nah, itu baru sambutan yang tepat. Thai-kwi, terimalah kiriman dari nona kami, akan tetapi hati-hati, barang kiriman yang dua buah ini cukup berat. Sambutlah!"

Tiba-tiba dua buah benda besar panjang terlempar keluar dari dalam kereta, seperti menerjang kepada Thai-kwi.

Orang pertama Thai-san Ngo-kwi ini memang lihai.

Dia terkejut dan mengira bahwa ada orang-orang keluar dari kereta menyerangnya, maka sambil berteriak dia bergerak, memukul dan menendang ke arah dua buah benda yang menubruknya itu.

"Bukk! Bukkk!"

Dua buah benda itu terbanting dan tidak bergerak-gerak lagi.

Ketika semua orang memandang, mereka terkejut setengah mati.

Bahkan Thai-kwi sendiri terbelalak dan mukanya berubah merah seperti dibakar.

Karena kulit mukanya memang sudah hitam, ketika darah naik ke kepala saking marahnya, warna mukanya menjadi semakin gelap.

Dua buah benda itu bukan lain adalah tubuh dua orang laki-laki yang terbungkus kain, hanya mukanya saja yang nampak, muka dua orang anak buahnya yang tadi disuruh mengawal Ui-hwa (Bunga Kuning) mempelajari rahasia tempat tinggal Hek-liong-li!

Mereka kini dikirim oleh Liong-li kepada mereka sudah menjadi mayat!

Tentu saja Thai-san Ngo-kwi menjadi marah bukan main, juga para anak buahnya berteriak-teriak karena marah.

Bukan saja dua orang rekan mereka terbunuh, akan tetapi juga Liong-li mengirim mayat mereka, hal ini sungguh merupakan penghinaan yang hebat.

Namun, di balik kemarahan ini terdapat kengerian karena cara yang dilakukan Liong-li ini menunjukkan betapa hebatnya wanita itu, betapa beraninya!

"Keparat!

Nona baju merah, engkau berani membawa mayat-mayat anak buah kami ke sini, apakah nyawamu rangkap?"

Bentak Thai-kwi dan pada saat itu muncullah Lan-hwa dan Ui-hwa dari balik tirai kereta.

Setelah tadi melempar keluar dua mayat anak buah penjahat, dua orang gadis itu bersiap-siap dan setelah tiba saatnya, mereka meloncat keluar dan berdiri di kanan kiri kereta bagian depan, mendampingi Ang-hwa yang masih duduk di atas kereta.

Tiga orang gadis cantik ini bersikap tenang dan siap siaga menghadapi pengeroyokan banyak lawan.

Melihat ini, kemarahan Thai-kwi memuncak.

"Bagus!"

Teriak Thai-kwi.

"Hek-liong-li mengirim tiga orang anak buahnya dan kami masih untung satu kalau membunuh mereka bertiga ini!"

"Twako, jangan bunuh. Serahkan dulu mereka bertiga kepadaku! Setelah kita mempermainkan mereka sepuasnya, barulah mereka itu dibunuh!"

Kata Ngo-kwi dan ucapannya ini disambut gembira oleh anak buah mereka. Thai-kwi mengangguk-angguk dan tersenyum.

"Begitu juga lebih baik. Nah, kerahkan semua tenaga dan tangkap tiga orang gadis ini hidup-hidup. Kita akan mempermainkan dan menyiksanya, baru mengirim mayat mereka ke rumah Hek-liong-li!"

Para pengepung itu menyeringai dan mereka semua menyimpan senjata mereka, mengepung kereta itu dan mata mereka berkilat, wajah berseri karena mereka seperti akan berlumba siapa yang dapat lebih dulu menangkap tiga orang wanita muda yang cantik manis itu.

Akan tetapi, melihat mayat dua orang rekan mereka, para anak buah penjahat itupun maklum bahwa biarpun merupakan wanita-wanita muda yang cantik, Namun pihak lawan adalah orang-orang yang lihai dan tidak boleh dipandang ringan, maka mereka tidak berani langsung menyerang, bahkan membiarkan pimpinan mereka, lima orang Thai-san Ngo-kwi untuk turun tangan.

Sebelum lima orang kepala gerombolan itu turun tangan, tiba-tiba terdengar suara tawa merdu dan entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja di atas kereta itu telah berdiri seorang wanita yang cantik luar biasa.

Nampak semakin luar biasa karena kemunculannya yang tiba-tiba, berpakaian sutera hitam dan wajahnya yang bulat telur itu disinari api obor yang banyak.

Tadi, lima orang Thai-san Ngo-kwi hanya melihat berkelebatnya bayangan hitam, dan tahu-tahu wanita itu telah berdiri di atas kereta, tanpa mengguncangkan kereta seolah-olah yang menimpa atas kereta itu bukan manusia, melainkan seekor burung.

"Hek-liong-li...!"

Terdengar teriakan-teriakan kaget dan mendengar sebutan ini, Liong-li tersenyum manis.

"Hemm, kalian masih mengenal Hek-liong-li, namun tetap berani mengganggunya, berarti kalian memang sudah bosan hidup. Kalian merusak arca di pekarangan rumahku, kemudian kalian mencoba untuk meracuniku, lalu menawan orangku. Thai-san Ngo-kwi, selama ini aku Hek-liong-li tidak pernah mengganggumu, kenapa sekarang kalian melakukan hal-hal tidak pantas kepadaku? Aku tidak mau membunuh orang tanpa mengetahui urusannya!"

Biarpun hatinya jerih menghadapi pendekar wanita pembunuh gurunya itu, namun karena dia berada bersama empat orang adik seperguruannya, bahkan masih ada lagi dua puluh orang lebih anak buah mereka, Thai-kwi yang marah itu membentak.

"Hek-liong-li, kami akui bahwa yang merusak arca di pekarangan, yang menyuruh meracuni dan kemudian menculik anak buahmu adalah kami, Thai-san Ngo-kwi! Mengapa kami memusuhimu? Hek-liong-li, mungkin engkau sudah lupa, namun kami tidak akan pernah dapat melupakan bahwa guru kami, Siauw-bin Ciu-kwi, tewas di tangan engkau dan Pek-liong-eng! Nah, sekarang tiba saatnya engkau membayar hutang nyawa kepada guru kami!"

Bibir yang merah basah dan manis itu tersenyum mengejek.

"Aha, kiranya kalian murid-murid Siauw-bin Ciu-kwi. Tidak mengherankan kalian pandai mempergunakan siasat licik dan curang busuk. Siauw-bin Ciu-kwi tewas karena ulahnya sendiri, karena kejahatannya. Dan kalian pun akan mampus karena kejahatan kalian sendiri kalau kalian melanjutkan perbuatan jahat kalian. Sebaiknya, selagi masih ada kesempatan, kalian bertaubat, membuang senjata dan berjanji tidak akan berbuat jahat lagi. Aku Hek-liong-li bukan orang kejam dan suka memaafkan kalian yang telah merusak arca dan mencoba meracuniku."

"Hek-liong-li, bersiaplah untuk mampus menebus hutangmu kepada guru kami!"

Thai-kwi membentak dan dia memberi isyarat kepada empat orang adik seperguruannya.

Mereka berlima serentak menyerang Hek-liong-li, sedangkan dua puluh orang lebih anak buah mereka sambil berteriak-teriak maju mengepung dan menyerang Ang-hwa, Lan-hwa dan Ui-hwa.

Terjadilah pertempuran seru di tempat itu, hanya diterangi obor-obor dan di atas tanah.

Juga matahari pagi mulai memperbesar cahayanya menjenguk dari balik puncak.

Thai-san Ngo-kwi bersenjatakan golok besar dan selain ilmu golok yang dahsyat, mereka juga telah mewarisi ilmu pukulan ampuh dari mendiang Siauw-bin Ciu-kwi, yaitu yang disebut Ang-hwe-ciang (Tangan Api Merah).

Sambil memainkan golok dengan tangan kanan, merekapun mengerahkan tenaga Ang-hwe-ciang pada tangan kiri sehingga tangan kiri mereka itu berubah menjadi merah warnanya dan mengepulkan asap atau uap kemerahan.

Lebih hebat lagi, ketika mereka berlima menyerang dari lima jurusan, mereka kadang bergulingan dan sambil bergulingan itu golok mereka menyambar atau tangan kiri mereka memukul.

Tangan kiri yang merah itu tidak kalah dahsyatnya dibandingkan golok di tangan kanan.

Namun Hek-liong-li adalah seorang ahli silat yang sudah berpengalaman menghadapi banyak macam penjahat lihai.

Ia masih ingat benar akan keampuhan Ang-hwe-ciang dari mendiang Siauw-bin Ciu-kwi, maka kini iapun amat berhati-hati.

Ia masih belum mempergunakan pedangnya, hanya mengandalkan kelincahan tubuhnya untuk menghindarkan diri dari serangan bertubi yang dilakukan lima orang kepala gerombolan itu.

Untuk menghadapi pengeroyokan lima orang lawan tangguh itu, Liong-li sengaja mempergunakan langkah ajaib yang disebut Liu-seng-pow (Langkah Pohon Liu).

Kedua kakinya bergeser dan melangkah secara aneh, tubuhnya meliuk-liuk seperti batang pohon liu tertiup angin, dan hebatnya, semua serangan lima orang lawan tak pernah mampu menyentuh dirinya.

Untuk mengimbangi langkah ajaib Liu-seng-pouw ini, Liong-li juga menyelingi dengan serangan kedua tangannya yang mempergunakan ilmu Bi-jin-kun (Silat Wanita Cantik) yang gerakannya halus namun setiap kali tangannya menampar, angin pukulan menyambar dengan amat kuatnya.

Thai-san Ngo-kwi menjadi kewalahan.

Setiap kali tangan Liong-li menampar dan mereka mengelak, tetap saja hawa pukulan itu membuat mereka terhuyung sehingga mereka maklum bahwa sekali saja terkena tamparan itu, berbahayalah bagi keselamatan nyawa mereka.

Selagi mereka kebingungan, terdengar suara tawa yang menyeramkan, seperti suara kuntilanak yang tertawa dan muncullah Ang I Sian-li yang biarpun usianya sudah lebih dari setengah abad, masih nampak ramping dan cantik, pesolek pula.

"Hek-liong-li, inilah saatnya engkau mati!"

Teriak nenek itu dan begitu ia menyerang.

Hek-liong-li terkejut.

Ia dapat mengindarkan diri dengan langkah ajaibnya, namun tetap saja sebagian gelung rambutnya terlepas ketika dilanda angin pukulan yang berdesir tajam.

Liong-li cepat memperhatikan wanita itu, akan tetapi ia merasa belum pernah bertemu atau mengenal orang ini.

Ia tidak diberi banyak kesempatan untuk berpikir, apa lagi bertanya karena begitu serangan pertama itu luput, nenek tadi sudah menyerang lagi, lebih dahsyat dari pada serangan pertama.

Karena ingin mengukur sampai di mana kekuatan pukulan lawan, Liong-li sengaja menyambut pukulan itu dengan tangannya sambil mengerahkan tenaga sin-kang.

"Desss...!!"

Dua tangan itu bertemu dan akibatnya, keduanya terdorong mundur sampai empat-lima langkah tanpa dapat mereka cegah lagi.

Nenek itu terbelalak kaget, dan diam-diam Liong-li juga terkejut karena ia tahu bahwa nenek ini benar-benar amat lihai, memiliki kekuatan yang mampu mengimbangi kekuatannya sendiri.

Maka, tanpa ragu lagi kini tangan kanannya bergerak dan nampaklah sinar hitam berkelebat ketika pedang Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam) telah tercabut dari sarungnya.

Thai-san Ngo-kwi tentu saja tidak tinggal diam.

Hati mereka besar setelah melihat munculnya nenek berpakaian serba merah itu.

Melihat Ang I Sian-li sudah bergebrak melawan Hek-liong-li, merekapun segera menyerang dengan senjata golok mereka.

Liong-li maklum bahwa ia menghadapi banyak lawan yang tangguh, maka iapun cepat memutar pedangnya dan pedang itu lenyap berubah menjadi gulungan sinar hitam yang menyambar-nyambar.

Terdengar suara nyaring berkerontangan dan lima orang penyerang itu berloncatan ke belakang dengan muka pucat karena ujung golok mereka patah-patah ketika bertemu gulungan sinar hitam.

Ang I Sian-li memang belum pernah bertemu dengan Liong-li dan hanya mendengar bahwa gadis pendekar itu lihai dan telah menewaskan empat orang rekannya dari Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua).

Kini, dalam gebrakan pertama saja ia maklum bahwa berita tentang Hek-liong-li tidaklah bohong.

Gadis itu memiliki tenaga sin-kang yang mampu menangkis pukulannya.

Kini sekali putar pedangnya saja ia mampu mematahkan ujung lima batang golok dari para murid Siauw-bin Ciu-kwi.

Ia menoleh kepada dua puluh lebih anak buah Thai-san Ngo-kwi, dan melihat betapa merekapun dibuat kocar-kacir oleh tiga orang nona pelayan Hek-liong-li.

Ang I Sian-li memberi isyarat dengan siulan melengking.

Ia memang tidak bermaksud membunuh Liong-li begitu saja.

Gerakan pertama ini hanya untuk mengacau dan merongrong Hek-liong-li.

Untuk membunuh gadis pendekar itu, ia harus bersatu dengan dua orang rekannya, yaitu Kim Pit Siu-cai dan Pek-bwe Coa-ong.

Mendengar isyarat itu, Thai-san Ngo-kwi juga memberi isyarat kepada anak buah mereka untuk mundur dan merekapun berlompatan meninggalkan tempat itu sambil menyeret dan menarik teman-teman yang sudah terluka dalam pertempuran itu.

"Jangan kejar!"

Liong-li berseru ketika melihat tiga orang pembantunya hendak melakukan pengejaran.

Terlalu berbahaya mengejar musuh di daerah mereka sendiri, apa lagi musuh itu terdiri dari banyak orang jahat yang dipimpin seorang yang amat lihai seperti nenek berpakaian merah tadi.

Yang membuat ia heran adalah nenek tadi.

Siapakah ia dan mengapa pula ia membantu Thai-san Ngo-kwi?

Kalau lima orang pemimpin gerombolan itu memusuhinya, ia tidak merasa heran karena mereka adalah para murid Siauw-bin Ciu-kwi yang tewas di tangan ia dan Pek-liong.

Akan tetapi nenek berpakaian merah itu, mengapa memusuhinya?

"Mari kita pulang dan mulai saat ini kita harus melakukan penjagaan ketat di rumah,"

Katanya kepada tiga orang pembantunya.

Merekapun naik kereta dan pulang kembali ke Lok-yang.

Setelah Liong-li tiba di rumah dengan selamat, ia lalu mengatur penjagaan ketat siang malam secara bergilir agar setiap saat ada musuh datang, mereka dapat mengetahuinya.

Mereka semua siap-siaga untuk melawan musuh kalau ada yang berani mengganggu.

Liong-li diam-diam mengutus seorang anggauta piauw-kiok (perusahaan pengiriman barang) untuk mengantarkan surat kepada Pek-liong yang tinggal di dusun Pat-kwa-bun dekat Telaga See-ouw di Hang-kouw.

Peristiwa yang baru saja ia alami perlu diketahui oleh Pek-liong, karena bukankah mereka berdua yang dahulu menantang Siauw-bin Ciu-kwi?

Kalau kematian datuk sesat itu hendak dibalaskan oleh para muridnya, maka bukan ia seorang yang terancam, juga Pek-liong tentu akan mereka cari.

Karena itulah, ia perlu memberitahu Pek-liong agar waspada.

Rumah itu tentu tidak akan menyolok dan menarik perhatian kalau berada di dalam kota besar.

Akan tetapi karena adanya di dusun Pat-kwa-bun, maka tentu saja nampak megah dan mewah di antara rumah-rumah dusun yang kecil sederhana.

Rumah itu cukup besar, dengan pekarangan yang luas.

Dari taman di depan, kebun di belakang, dari genteng sampai ke dinding, daun pintu dan jendelanya, dapat dilihat bahwa rumah itu terpelihara baik-baik dan selain nampak megah, juga bersih dan menyenangkan.

Di taman atau pekarangan depan rumah, selain terdapat berbagai macam bunga yang sedang berkembang, juga terdapat sebuah arca berbentuk seekor naga dengan warna putih.

Seekor Naga Putih!

Baru bentuk arca ini saja akan membuat orang-orang dunia persilatan dapat menduga bahwa rumah ini tentu tempat tinggal si pendekar Naga Putih.

Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih) Tan Cin Hay adalah seorang pendekar yang telah membuat nama besar dengan sepak terjangnya yang menggemparkan, baik seorang diri atau terutama sekali kalau dia berpasangan dengan Hek-liong-li (Pendekar Wanita Naga Hitam) Lie Kim Cu.

Tan Cin Hay atau yang di dunia kang-ouw disebut Pek-liong (Naga Putih) adalah seorang pria yang usianya sekitar tiga puluh tahun, wajahnya tampan bersih tidak dikotori kumis atau jenggot karena dicukur rapi, tentu hanya akan disangka seorang tuan muda atau seorang pelajar yang lembut kalau saja dagunya tidak berlekuk mununjukkan kejantanan dan sinar matanya tidak mencorong seperti mata naga.

Tubuhnya sedang saja dan pakaiannya yang serba putih itu di ringkas dan sederhana dan kalau orang berada di dekatnya baru akan melihat bahwa di lehernya sebelah kiri terdapat sebuah tahi lalat hitam.

Orangnya pendiam, sederhana dan sikapnya rendah hati sehingga bagi yang belum mengenalnya, tentu akan menganggap dia seorang terpelajar karena penampilannya sama sekali tidak membayangkan seorang jagoan.

Pada hal, Pek-liong memiliki ilmu kepandaian yang membuat geger dunia kang-ouw, membuat gentar hati para penjahat karena dia selalu menentang kejahatan.

Dalam usianya yang tiga puluh tahun itu, Pek-liong hidup membujang di rumahnya yang besar, ditemani oleh enam orang pelayan pria yang usianya antara tiga puluh tiga sampai empat puluh tiga tahun.

Para pelayan itu bukanlah pelayan biasa karena mereka telah digemblengnya dengan ilmu silat sehingga mereka juga dapat dianggap sebagai muridnya atau pembantunya.

Sebetulnya, Pek-liong bukanlah seorang perjaka yang tidak pernah menikah.

Dia adalah seorang duda!

Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu dia hidup bersama seorang isteri tercinta sebagai pengantin baru.

Ketika itu isterinya sedang mengandung anak pertama.

Akan tetapi malapetaka datang menimpa suami isteri ini.

Dalam keadaan mengandung tiga bulan, isterinya itu diculik dan diperkosa penjahat sampai mati.

Dia sendiri nyaris tewas.

Dendam sakit hati yang sedalam lautan sebesar gunung membuat Tan Cin Hay belajar ilmu silat secara mendalam, dan akhirnya dia berhasil membalas dendam kepada para penjahat yang telah menghancurkan kebahagiaan rumah tangganya.

Dan sejak itulah nama Pek-liong terkenal di mana-mana karena dia selalu menentang kejahatan dan bertindak tegas terhadap penjahat yang manapun.

Namanya bersama Liong-li semakin menjulang ketika mereka berdua berhasil membinasakan datuk-datuk besar golongan hitam, terutama sekali setelah mereka membinasakan empat orang di antara Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua).

Bersama Hek-liong-li, Pek-liong telah menewaskan Hek-sim Lo-mo (Iblis Tua Berhati Hitam), Siauw-bin Ciu-kwi (Setan Arak Muka Tertawa), Lam-hai Mo-ong (Raja Iblis Laut Selatan), dan Tiat-thouw Kui-bo (Biang Iblis Kepala Besi), empat di antara Kiu Lo-mo yang terkenal sebagai datuk golongan hitam.

Memang amat mengherankan semua orang melihat betapa Pek-liong yang menjadi duda sejak usia dua puluh satu tahun itu tidak pernah menikah lagi.

Pada hal dia tampan, gagah perkasa, dan kaya raya.

Banyak wanita yang akan merasa berbangga dan berbahagia apa bila dipersuntingnya.

Namun, Pek-liong tidak pernah mau mengikatkan diri dengan sebuah pernikahan.

Walaupun beberapa kali dia terlibat dalam ikatan asmara dengan beberapa wanita, namun hubungan mereka itu hanyalah hubungan yang terdorong gairah nafsu kedua pihak belaka, tidak pernah dilanjutkan dengan ikatan cinta dalam pernikahan.

Keadaannya yang seperti itu persis dengan keadaan Hek-liong-li.

Biarpun Pek-liong jarang mencari keributan di dunia persilatan, dan lebih banyak bersantai di rumah, menyibukkan diri dengan membaca kitab-kitab kuno dan mengurus taman dan kebun buahnya, namun dia tidak pernah lupa untuk berlatih silat.

Bahkan, dengan enam orang pembantunya sebagai lawan berlatih, hampir setiap hari dia memperdalam ilmu-ilmunya, menyempurnakan kekurangannya dan juga dia selalu berlatih menghimpun tenaga untuk memperkuat sin-kangnya.

Maka, keadaannya tetap sehat dan kuat, bahkan dengan bantuan kitab-kitab kuno, dia dapat memperoleh kemajuan dalam ilmu silatnya.

Seperti juga rumah Hek-liong-li, rumah pendekar ini penuh dengan alat-alat rahasia sehingga biarpun di waktu malam dia dan enam orang pembantunya tidur nyenyak, mereka tidak perlu merasa khawatir karena alat-alat rahasia itu merupakan penjaga keamanan yang amat setia dan boleh diandalkan.

Malam itu gelap dan dingin sekali.

Di angkasa tidak nampak bulan, namun sebagai gantinya, bintang yang tak terhitung banyaknya bertaburan.

Dusun Pat-kwa-bun sudah sunyi sekali, biarpun tengah malam masih jauh.

Orang-orang lebih senang berada di rumah masing-masing di malam sedingin itu.

Dusun ini memang aman.

Agaknya, dengan tinggalnya Pek-liong di dusun itu, tidak ada penjahat yang berani lancang mengganggu ketentraman dusun Pat-kwa-bun.

Siapa yang berani mempermainkan kumis harimau?

Jangankan baru penjahat kecil, biar para tokoh kang-ouw kenamaan yang lihai sekalipun akan merasa lebih aman kalau menjauhi Pat-kwa-bun agar tidak sampai bentrok dengan si Naga Putih.

Akan tetapi agaknya di malam gelap itu terjadi hal yang luar biasa.

Sesosok bayangan hitam yang gerakannya ringan dan lincah sekali, berkelebat di luar pagar tembok di belakang rumah itu bagaikan seekor kucing saja, bayangan hitam itu meloncat ke atas tembok yang tingginya ada dua meter dan sejenak dia mendekam di atas pagar tembok, mengintai ke sebelah dalam.

Di bawah pagar sebelah dalam merupakan kebun belakang rumah Pek-liong.

Bayangan itu menggerakkan tangan kanan, melemparkan sebuah batu ke bawah.

Kiranya dia hendak melihat apakah tempat itu dipasangi jebakan.

Setelah yakin bahwa tidak ada reaksi ketika dia melemparkan batu, tubuhnya melayang turun ke sebelah dalam dan kakinya tepat menginjak batu kecil yang tadi dia lemparkan.

Dia tidak berani sembarangan melangkah lagi.

Dia maklum bahwa tempat tinggal si Naga Putih itu penuh dengan rahasia dan jebakan, maka dia bersikap hati-hati sekali.

Setiap kali kakinya hendak melangkah, selalu dia dahului dengan lemparan batu ke arah tempat yang akan diinjaknya.

Dan sikapnya ini memang menolongnya.

Ketika dia tiba di dekat lorong kecil menuju ke pintu belakang rumah itu, begitu dia melemparkan sebuah batu ke atas tanah yang akan dijadikan tempat berpijak, tiba-tiba saja ada tiga batang anak panah meluncur ke arah tempat itu dan andaikata dia tidak mencobanya dulu dengan batu, tentu dirinya yang diserang anak panah.

Agaknya di tempat yang dia lempari batu tadi dipasang alat rahasia sehingga kalau terpijak orang, lalu senjata anak panah itu bekerja melalui alat rahasia yang dipasang.

Dia melemparkan batu ke tempat lain dan akhirnya dapat tiba di depan pintu belakang dengan selamat.

Daun pintu itu tidak berapa tinggi, hanya lebih tinggi sedikit dari orang itu dan lebarnya satu meter.

Ketika dia berdiri di depan pintu, di mana terdapat sebuah lampu gantung, nampak bahwa dia seorang laki-laki yang bertubuh sedang, matanya tajam seperti mata kucing, pakaiannya serba hitam dan muka bagian bawah tertutup kain hitam pula.

Dia memegang sebatang pedang telanjang dan gerak geriknya memang ringan sekali.

Sejenak dia meneliti pintu itu.

Jalan masuk hanya melalui pintu belakang ini.

Dia tidak berani mengambil jalan dari atap.

Terlalu berbahaya, pikirnya.

Dia mengambil sebatang kayu sebesar lengan yang banyak terdapat di kebun itu, lalu menggunakan benda itu untuk mendorong daun pintu sambil mengerahkan tenaganya.

Daun pintu dapat didorongnya terbuka, palangnya sebelah dalam patah.

Hal ini membuktikan betapa kuatnya tenaga orang ini.

Dengan hati lega dia menyimpan pedangnya di sarung yang menempel di punggung, kemudian dengan hati-hati dia melangkah memasuki pintu yang sudah terbuka.

Pada saat tubuhnya tiba diambang pintu, tiba-tiba terdengar suara berdesing dan dari sebelah kanannya meluncur sebatang tombak menyerang ke arah dadanya!

Cepat sekali gerakan tombak itu, namun si bayangan hitam itu ternyata lihai sekali.

Dia cepat menggerakkan lengan kanan menangkis sambil mengerahkan tenaga.

"Krekkk!"

Gagang tombak dari kayu itu patah-patah ketika bertemu dengan lengannya dan pada saat itu, dia sudah melompat ke depan.

Sebatang tombak dari kiri meluncur akan tetapi karena dia sudah melompat ke depan, tombak itu meluncur lewat di belakang tubuhnya dan tidak mengenai sasaran.

Kiranya di ambang pintu itu terdapat alat rahasia yang menggerakkan dua tombak dari kanan kiri begitu terinjak kakinya.

Bayangan hitam itu mengeluarkan suara tawa kecil mengejek, lalu dia bergerak maju lagi dengan hati-hati, menggunakan sebatang kayu untuk mencari jalan yang aman.

Akhirnya dia tiba di pintu besi yang menembus ke bangunan induk gedung itu.

Pintu besi itu tingginya dua meter dan lebarnya hampir dua meter, daun pintu terbagi dua dan tertutup rapat.

Agaknya tidak mungkin mendobrak daun pintu yang kokoh kuat ini, pikir si bayangan hitam itu.

Akan tetapi dia adalah seorang ahli dalam hal alat rahasia dan jebakan pada pintu.

Dia tahu bahwa di sebelah luar pintu pasti ada alat pembuka pintunya.

Sepasang mata di atas kain hitam penutup muka itu mengamati ke adaan sekitar pintu dengan sinar mata tajam.

Melihat sebuah arca singa kecil tak jauh dari pintu, diapun tertawa kecil dan menghampiri arca itu.

Diputar-putarnya arca itu ke kanan kiri dan akhirnya sepasang daun pintu besi itu bergerak terbuka ke kanan kiri tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

Dengan mata berkilat karena gembira, si bayangan hitam berindap-indap memasuki lubang pintu itu.

Karena tadi dia pernah terancam bahaya ketika melewati ambang pintu pertama, kini dengan hati-hati dia melemparkan batu sebelum kakinya menginjak ambang pintu.

Setelah tidak melihat adanya bahaya, dia berani melangkah masuk.

Kiranya di belakang pintu itu merupakan jalan terowongan yang tidak begitu lebar, selebar pintu itu dan kanan kirinya dari dinding tinggi.

Tidak ada pilihan lain kecuali maju melalui lorong itu ke depan.

Untung bahwa lorong itu mendapat penerangan dari atas sehingga terang dan si bayangan hitam berindap melangkah ke depan.

Akan tetapi baru belasan langkah dia maju, tiba-tiba dia menahan langkahnya dan matanya terbelalak memandang ke depan karena dari depan muncul dua buah patung manusia dari kayu yang keduanya membawa tombak dan menyerbu ke depan menyerangnya!

Karena lorong itu sempit, tidak leluasa untuk bergerak, maka si bayangan hitam terpaksa mundur dan bersiap-siap dengan pedang di tangan.

Maksudnya untuk mencari tempat yang luas di luar pintu agar mudah baginya untuk bergerak.

Dia mundur dan tidak tahu betapa dua buah daun pintu besi itu bergerak menutup perlahan-lahan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

Ketika dia tiba di ambang pintu, barulah dia menyadari datangnya bahaya, bukan dari dua buah patung kayu, melainkan dari dua buah daun pintu yang kini bergerak cepat menghimpitnya dari kanan kiri.

Dalam kagetnya, si bayangan hitam melepaskan pedangnya dan menggunakan kedua tangan untuk menahan daun pintu yang menghimpitnya.

Dia mengerahkan seluruh tenaganya dan berhasil menahan dua buah daun pintu, namun diapun tidak mampu membebaskan diri.

Dia telah terjebak, kedua tangan menahan daun pintu besi yang terus menghimpit.

Bagaimanapun kuatnya, tenaganya terbatas dan tidak mungkin dia bertahan terus.

Perlahan-lahan, dua buah daun pintu itu semakin menutup, kedua lengannya semakin terhimpit.

Setelah lewat puluhan menit, dari mulut dan hidungnya mengalir darah, kedua tangannya sudah tertekan sampai ke kepalanya, tubuhnya sudah mulai terhimpit.

Akhirnya, setelah mengeluarkan jerit mengerikan dia terkulai.

Dua buah daun pintu menutup terus, menghimpit tubuhnya sehingga ringsek dan ketika kepalanya terjepit, kepala itu mengeluarkan suara dan retak-retak.

Orang itupun tewas secara mengerikan.

Jeritan tadi membangunkan Pek-liong dan enam orang pembantunya.

Mereka terbangun dan berlarian menuju ke tempat itu.

Melihat ada orang terjepit daun pintu dan tewas, Pek-liong menghela napas panjang, merasa heran mengapa ada orang demikian tolol berani memasuki tempat tinggalnya yang dipasangi banyak alat rahasia itu.

"Coba lihat, siapa orang yang sudah bosan hidup itu,"

Katanya. Ketika para pembantunya melepaskan korban dari pintu dan membuka penutup muka, Pek-liong sendiri tidak mengenal muka yang sudah rusak karena kepalanya terjepit retak oleh daun pintu.

"Rawat dan kubur mayatnya baik-baik, dan bersihkan pintu ini,"

Katanya dan diapun kembali ke kamarnya.

Akan tetapi, peristiwa itu membuat Pek-liong-eng tidak dapat tidur.

Dia duduk termenung di dalam kamarnya, menduga-duga siapa kiranya yang mengirim pembunuh ke tempat tinggalnya.

Sudah lama tidak pernah ada orang memusuhinya.

Tentu saja amat sukar menduga siapa orang itu dan siapa yang menyuruhnya karena di dunia kang-ouw dia mempunyai banyak sekali musuh, atau para tokoh kang-ouw yang mendendam kepadanya.

Sudah terlalu banyak penjahat dia tentang dan dia basmi sehingga tentu saja banyak yang mendendam kepadanya.

Sayang, pikirnya, kalau saja dia tahu akan munculnya pembunuh itu, tentu akan dia tangkap hidup-hidup agar dia dapat mengorek keterang darinya siapa yang mengutusnya.

Dia merasa yakin bahwa orang itu hanyalah orang suruhan saja.

Orang yang tewas terjepit pintu besi itu berarti hanya memiliki kepandaian biasa saja, maka tentu ada orang lain yang lebih lihai yang berdiri di belakang layar.

Membayangkan semua pengalamannya ketika dia menentang para penjahat untuk menduga siapa kiranya yang patut dia curigai, diapun teringat akan Hek-liong-li.

Dan diam-diam diapun terkejut.

Kalau dia diancam pembunuh, besar kemungkinannya Liong-li mengalami hal yang sama.

Selama beberapa tahun ini, mereka selalu maju bersama menentang para penjahat.

Kalau ada penjahat mendendam kepadanya, maka penjahat itupun tentu mendendam kepada Liong-li.

Tentu Liong-li juga mengalami ancaman penjahat, pikirnya.

Dia tidak mengkhawatirkan Liong-li.

Dia tahu sepenuhnya betapa lihainya rekannya itu, bahkan tempat tinggal rekannya itu mengandung alat rahasia yang lebih rumit dibandingkan yang dipasang di rumahnya.

Juga Liong-li mempunyai sembilan orang gadis pembantu yang boleh diandalkan.

Tidak, dia tidak mengkhawatirkan keselamatan Liong-li hanya ingin sekali tahu apakah Liong-li juga mengalami hal yang sama dan bagaimana pendapat Liong-li mengenai penyerangan itu.

Dan timbullah perasaan rindu yang amat sangat kepada pendekar wanita itu.

Jelas ada orang yang berusaha untuk membunuhnya, pikir Pek-liong.

Sungguh tidak enak mengetahui ada orang yang mengarah nyawanya tanpa mengetahui siapa orangnya.

Kiranya tidak akan mungkin ada orang dapat menyusup ke dalam tempat tinggalnya, Dan satu-satunya cara untuk memancing harimau keluar dari tempat sembunyinya, hanyalah dengan memberinya umpan.

Kalau ada orang menghendaki kematiannya, maka orang itu harus di pancing keluar dan umpannya adalah dirinya sendiri.

Demikianlah, mulai hari berikutnya, setiap pagi Pek-liong berjalan-jalan keluar dari rumahnya, menuju ke tempat-tempat yang sepi di sekitar Telaga Barat (See-ouw) yang indah pemandangan alamnya.

Sengaja dia berperahu seorang diri, mendarat di tepi telaga yang paling sunyi dan jarang dikunjungi orang, Namun, sampai tiga hari tidak terjadi sesuatu.

Mereka yang kebetulan melihatnya, dan sudah mengenalnya memberi hormat dengan ramah, dan para pelancong dari tempat lain yang tidak mengenalnya, tidak ada yang memperdulikannya.

Pada hari keempat, pagi-pagi dia sudah berperahu, memancing ikan dan setelah mendapatkan tiga ekor ikan yang cukup besar, diapun mendarat di pantai sepi dekat hutan.

Tempat ini menjadi tempat kesayangannya karena selain sunyi, juga rumputnya tebal dan bersih dan di tempat itu sejuk, tenang dan sedap baunya, bau pohon cemara, damar dan rumput.

Setelah menarik perahunya ke darat, Pek-liong membawa perlengkapan dan roti yang dibawanya dari rumah, membentangkan kain di atas rumput, lalu dia asyik memanggang tiga ekor ikan yang ditangkapnya dengan pancing tadi.

Dia memang sengaja membawa bumbu dari rumah, dan memanggang ikan hasil pancingan di dekat telaga itu merupakan satu di antara kesenangan dan kebiasaannya.

Tak lama kemudian terciumlah bau sedap ikan panggang yang sudah dibumbui.

Baunya dapat tercium sampai jauh dan Pek-liong tersenyum seorang diri.

Memancing harimau keluar dari sarangnya tidak berhasil, yang berhasil dipancingnya hanya tiga ekor ikan gemuk, dan sekarang bau bakaran ikan itu siapa tahu akan memancing keluarnya orang yang selama ini dicarinya dan diharapkan kemunculannya.

Ah, angan-angan kosong, dia mencela diri sendiri.

Musuh yang menginginkan kematiannya tentulah seorang tokoh yang lihai, bagaimana mungkin dapat dipancing keluar dengan aroma ikan panggang seperti memancing keluar seorang yang kelaparan saja!

Dia sudah menurunkan tiga ekor ikan yang ditusuk dengan ranting itu dari atas api.

Aromanya membuat perutnya tiba-tiba terasa lapar bukan main.

Dibukanya bungkusan roti dan juga guci anggur yang dibawanya dari rumah.

Selagi dia hendak sarapan, tiba-tiba dia menghentikan gerakannya dan telinganya menangkap gerakan kaki orang tak jauh dari situ.

Akan munculkah harimau yang dipancingnya selama tiga hari ini?

Lalu dia teringat.

Kalau ada musuh menyerangnya di situ, tentu sarapan paginya akan terinjak-injak dan rusak.

Sayang kalau sampai terjadi demikian, maka cepat dia menutupi makanan itu dengan kain bersih dan diapun bangkit, lalu menjauhi tempat itu, sejauh sepuluh meter agar kalau terjadi perkelahian, sarapan pagi yang dibuatnya dengan susah payah itu tidak akan terinjak-injak dan rusak!

Dengan hati geli Pek-liong dapat mengikuti gerakan orang itu dari pendengarannya dan dia tahu bahwa orang itu, yang memiliki gerakan ringan kini mengintai dari balik sebatang pohon besar tidak jauh dari situ.

"Sobat yang bersembunyi dari balik pohon, kalau hendak bicara dengan aku, keluarlah engkau!"

Katanya sambil menahan tawa. Hening sejenak, lalu terdengar suara dari balik pohon, suara yang lirih dan lembut seperti suara kanak-kanak, atau suara wanita.

"Apakah engkau berjuluk Pek-liong-eng?"

Pek-liong tersenyum. Agaknya inilah "Harimau"

Yang dipancingnya selama tiga hari ini! "Benar sekali, akulah yang disebut Pek-liong-eng! Kalau engkau mencariku, keluarlah dan mari kita bicara!"

Seperti yang telah diduganya, dari batang pohon besar itu muncul seseorang, akan tetapi Pek-liong terbelalak kaget dan heran karena sama sekali di luar dugaannya, yang muncul adalah seorang gadis yang amat cantik manis!

Gadis itu berusia paling banyak delapanbelas tahun, cantik manis dengan muka yang putih kemerahan, rambutnya panjang dikuncir menjadi dua dan diikat pita merah, pakaiannya serba biru dan ringkas, di punggungnya nampak gagang sepasang pedang, matanya bersinar-sinar, mata orang yang lincah dan periang, akan tetapi saat itu mulut yang manis itu cemberut dan kelihatan marah sekali.

Setelah gadis itu melangkah maju, kini mereka berhadapan dalam jarak empat meter.

Sejenak mereka saling pandang dan Pek-liong tidak menyembunyikan pandang matanya yang kagum akan kecantikan gadis itu.

Cantik dan gagah, akan tetapi sedang marah, demikian kesannya terhadap gadis itu.

Sebaliknya, gadis itupun mengamati Pek-liong dan nampak tertegun sehingga sampai lama mereka hanya saling pandang tanpa mengeluarkan kata-kata.

"Nah, nona siapakah dan ada keperluan apakah mencariku?"

Akhirnya Pek-liong yang bertanya.

"Engkau benar yang berjuluk Pek-liong-eng, dan bernama Tan Cin Hay?"

Gadis itu bertanya, suaranya kini nyaring. Suara yang merdu, pikir Pek-liong, sayang dalam keadaan marah tanpa sebab.

"Benar, dan nona siapakah?"

"Aku bernama Pouw Bouw Tan..."

"Nama yang indah sekali, serasi dengan orangnya..."

"Simpan saja rayuanmu itu. Aku datang untuk menangkapmu!"

Kini Pek-liong terbelalak.

"Menangkap aku? Apa salahku, nona?"

"Engkau telah menyebabkan kematian kakakku!"

"Ehh? Aku tidak mengenal kakakmu dan tidak merasa telah membunuh kakakmu!"

"Akan tetapi kakakku tewas karena engkau, maka engkau harus kutangkap dan kuhadapkan kepada ayah. Di sana engkau boleh membela diri sesukamu."

"Kalau aku tidak mau ditangkap?"

"Pedangku yang akan memaksamu!"

Kata gadis itu, sikapnya gagah sekali sehingga mau tidak mau Pek-liong tertawa.

Gadis ini seperti seekor burung yang baru saja belajar terbang dan kini memamerkan kemampuannya terbang!

"Baiklah, nona.

Tentang tangkap menangkap ini, kita bicarakan nanti setelah kita sarapan pagi "

"Sarapan?"

Gadis itu terbelalak heran.

"Engkau tentu suka makan ikan panggang dan roti lunak, bukan? Enak sekali untuk sarapan pagi selagi perut lapar."

"Ikan panggang...?"

Gadis itu tadi memang sudah mengilar ketika mencium bau ikan panggang.

"Mari, nona. Mari kita sarapan dulu, baru bicara tentang urusan kita."

Tanpa banyak cakap lagi Pek-liong lalu melangkah ke arah hamparan kain di atas rumput.

"Tidak baik membicarakan urusan penting dengan perut kosong, bisa masuk angin."

Gadis itu masih termangu dan terheran, akan tetapi seperti di luar kehendaknya, kakinya melangkah mengikuti Pek-liong dan ketika pemuda itu dengan ramah memberi isyarat agar ia duduk di hamparan kain, iapun duduk berhadapan dengan pemuda itu.

Pek-liong membuka makanan yang tadi dia tutupi, lalu mempersilakan gadis itu makan.

"Mari, rotinya masih baru, ikan panggangnya masih hangat, dan anggur ini manis dan tidak terlalu keras, buatanku sendiri, nona Bouw Tan. Namamu mengingatkan aku akan bunga bouw-tan yang indah. Pouw Bouw Tan adalah seorang gadis kang-ouw yang tidak pemalu. Ia puteri seorang guru silat aliran Kun-lun-pai yang pandai dan sudah biasa merantau seorang diri mengandalkan sepasang pedangnya. Ia tabah, lincah dan gagah, maka kini melihat sikap Pek-liong yang tidak ceriwis, melainkan ramah dan nampak bersungguh-sungguh, iapun ikut duduk makan roti dan panggang ikan dan minum anggur merah yang disuguhkan Pek-liong. Pendekar ini sendiri merasa kagum dan senang. Seorang gadis yang cantik, berani dan tabah sekali. Sayang datang memusuhinya, hendak menangkapnya. Kalau saja datang sebagai seorang sahabat, alangkah akan menyenangkan suasananya, seperti sedang pesiar di telaga bersama seorang kekasih saja. Mereka makan minum tanpa bicara dan dari cara gadis itu makan, Pek-liong tahu bahwa gadis itupun lapar, seperti dia, dan jujur, makan secara bebas tanpa malu-malu seperti kebanyakan gadis lain. Setelah mereka selesai makan, barulah Pek-liong berkata.

"Engkaukah kiranya orang yang menghendaki kematianku, nona? Jadi engkaukah yang mengirim orang beberapa hari yang lalu untuk memasuki rumahku?"

Bouw Tan memandang dengan alis berkerut. Mata yang bening indah itu memandang penuh selidik dan penasaran.

"Aku tidak menghendaki kematianmu dan aku tidak pernah menyuruh siapapun memasuki rumahmu. Aku hanya ingin menangkapmu dan menghadapkan kepada ayah karena engkau penyebab kematian kakakku."

Jawaban ini membuat Pek-liong semakin tertarik.

Kalau bukan nona ini yang menyuruh orang memasuki rumahnya, maka berarti pancingannya telah gagal.

Umpannya ternyata disambar oleh ikan yang tidak dikehendakinya!

Ikan itu adalah gadis aneh ini, yang tidak ada sangkut pautnya dengan orang yang mencoba memasuki rumahnya, akan tetapi yang hendak menangkapnya karena dia dianggap menjadi penyebab kematian kakaknya!

Sungguh menarik.

"Nona Pouw Bouw Tan, sungguh aku menjadi bingung sekarang. Selama hidupku, sayang sekali aku belum pernah mengenalmu, baik orang maupun namanya. Baru sekarang ini aku bertemu dan mengenalmu. Akan tetapi engkau mengatakan bahwa aku menjadi penyebab kematian kakakmu, dan engkau hendak menangkap aku dan membawa aku menghadap ayahmu! Sungguh luar biasa. Mimpi apakah aku semalam maka hari ini hendak ditangkap orang tanpa salah? Siapakah ayahmu itu dan mengapa kaukatakan aku menyebabkan kematian kakakmu?"

"Tugasku hanya membawamu menghadap ayah, di sana engkau akan mendengar semua penjelasannya. Kita tidak mempunyai banyak waktu, mari kita berangkat, Pek-liong!"

Gadis itu bangkit dan sikapnya kembali kaku dan tegas. Pek-liong bangkit perlahan-lahan dan tersenyum.

"Nona, engkau sudah mengenal aku sebagai Pek-liong-eng dan engkau berani hendak menangkap aku begitu saja. Apa kaukira engkau akan mampu mengalahkan aku?"

Bouw Tan mengerutkan alisnya dan matanya berkilat, tangannya meraba gagang sepasang pedangnya.

"Aku tahu bahwa engkau seorang pendekar yang lihai. Akan tetapi aku tidak takut. Kalau perlu aku akan menggunakan pedangku. Demi membalas kematian kakakku, aku rela mempertaruhkan nyawaku!"

Pek-liong mengerutkan alisnya.

Ini gawat!

Jelas bahwa gadis ini bukan orang jahat, akan tetapi ia mengandung dendam yang amat hebat, dan agaknya bukan hanya gertakan kosong.

Kalau dia melawan, tentu gadis itu akan menyerangnya mati-matian.

Tentu saja dia tidak ingin mengalahkan gadis yang tidak berdosa ini.

"Ke mana engkau akan membawaku, nona?"

"Tidak jauh. Kami tinggal di kota Hang-kouw."

Kota itu berada di seberang Telaga Barat.

Tentu akan makan waktu perjalanan sehari penuh.

Agaknya urusannya dengan gadis ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan urusan penyusupan penjahat ke rumahnya tiga hari yang lalu.

Akan tetapi apa boleh buat.

Dia juga ingin sekali tahu apa sebenarnya yang telah terjadi maka gadis ini nekat hendak menangkapnya dan menghadapkan dia kepada ayahnya.

"Baiklah kalau begitu, nona. Mari kita berangkat,"

Katanya sambil tersenyum sabar.

"Nanti dulu. Engkau harus kubelenggu kedua tanganmu agar lebih mudah bagiku membawamu ke sana."

Pek-liong membelalakkan kedua matanya.

"Kedua tanganku dibelenggu?"

"Untuk meyakinkan hatiku bahwa engkau tidak akan menipuku dan tidak akan melarikan diri dalam perjalanan,"

Kata gadis itu galak.

Hampir Pek-liong tertawa bergelak mendengar ini,`dan melihat sikap galak itu.

Seolah-olah dia seorang maling kecil saja!

Akan tetapi, diapun melihat kelucuan dalam peristiwa ini, maka diapun menyodorkan kedua lengannya ke depan, dan berkata.

"Nah, belenggulah kalau itu yang kaukehendaki, nona Bouw Tan."

"Tarik kedua tanganmu ke belakang tubuh!"

Bentak Bouw Tan.

Ini sudah keterlaluan, pikir Pek-liong, akan tetapi dia masih tersenyum dan tanpa membantah dia menarik kedua tangan ke belakang tubuhnya.

Nona itu lalu mengikat kedua pergelangan tangannya dengan rantai besi yang sudah dipersiapkannya sebelumnya.

Setelah melihat bahwa ikatan itu kuat sekali barulah Bouw Tan berkata.

"Nah, mari kita berangkat. Jangan marah karena aku harus yakin bahwa engkau tidak akan melarikan diri,"

Tambahnya.

Pek-liong kembali tersenyum.

Bocah ini nakal, pikirnya.

Enak saja membelenggu orang lalu minta agar dia tidak marah!

"Baiklah, aku tidak akan marah.

Aku ingin sekali tahu apa yang akan kuhadapi di Hang-kouw."

Karena Pek-liong bersikap tenang, penurut dan sama sekali tidak melawan, sikap Bouw Tan juga lebih manis.

Bahkan ketika mereka melakukan perjalanan di sepanjang pantai telaga yang luas itu menuju ke kota Hang-kouw, gadis itu mau menceritakan tentang kematian kakaknya.

"Ayah bernama Pouw Kiat yang di kota Hang-kouw dikenal sebagai Pouw-kouwsu (guru silat Pouw) karena memang pekerjaan ayah adalah guru silat. Ayah murid Kun-lun-pai dan perguruan silat ayah cukup dikenal. Ayah hanya mempunyai dua orang anak, yaitu kakakku bernama Pouw Bouw Ki dan aku. Kakak Bouw Ki berusia dua puluh lima tahun. Kakakku sering mewakili ayah mengajar ilmu silat kepada para murid yang sudah pandai.

"Pada suatu hari, kurang lebih seminggu yang lalu, kakak Bouw Ki tewas terbunuh orang tanpa ada yang mengetahui siapa pembunuhnya. Akan tetapi, di baju kakakku yang putih ada tulisannya dan tulisan itulah yang membuat aku datang untuk menangkapmu dan membawamu menghadap ayah."

Tentu saja Pek-liong merasa tertarik sekali.

"Bagaimana bunyi tulisan itu?"

"Bunyinya begini. Pek-liong-eng telah menebus dosanya dan akan tiba giliran Hek-liong-li."

Pek-liong mengerutkan alisnya.

Kalau saja kedua tangannya tidak dibelenggu ke belakang, tentu saat itu dia sudah meraba-raba dagunya, kebiasaannya kalau dia sedang berpikir keras.

Kemudian dia bertanya.

"Kau tadi mengatakan bahwa tulisan itu ditulis di atas baju kakakmu yang putih. Apakah kakakmu biasa memakai pakaian serba putih?"

Gadis itu mengangguk.

"Semenjak ibu kami meninggal dunia lima tahun yang lalu, kakak Bouw Ki selalu mengenakan pakaian serba putih, seperti yang kaupakai, juga perawakannya serupa denganmu walaupun wajahnya tidak sama benar."

"Kalau begitu, dia menjadi korban salah bunuh! Tentu disangka aku maka dia dibunuh!"

Pek-liong berseru.

"Kamipun menyangka demikian. Karena engkau maka kakakku tewas, oleh karena itu, aku harus menangkapmu dan kubawa kepada ayah karena pembunuhan ini ada hubungannya dengan dirimu."

"Tapi yang salah membunuh adalah penjahat itu, bukan aku, nona!"

Pek-liong memprotes.

Tiba-tiba terdengar suara tawa nyaring dan dua orang muncul dari balik semak belukar.

Mereka adalah dua orang laki-laki yang berusia kurang lebih empat puluh tahun, keduanya bertubuh tinggi besar dan nampak kokoh kuat.

Seorang bermuka hitam dan sebatang golok besar terselip di pinggangnya, sedangkan orang kedua brewok dan memegang sebatang tombak.

Yang tertawa adalah si muka hitam dan diapun berkata dengan suara parau.

"Ha-ha-ha-ha, sekali ini kami tidak akan salah membunuh orang, Pek-liong-eng, dan kami bahkan mendapat upah seorang gadis yang cantik, heh-heh!"

Mendengar ini, Bouw Tan mencabut sepasang pedangnya dan dengan gagah ia menghadapi kedua orang laki-laki kasar itu. Matanya berapi-api dan ia membentak nyaring.

"Jadi kaliankah yang telah membunuh kakakku Pouw Bouw Ki, dan meninggalkan tulisan di bajunya itu?"

"Ha-ha-ha, kami Thian-te Siang-houw (Sepasang Harimau Langit Bumi) tidak pernah bekerja setengah-setengah. Sekali ini kami tidak akan salah bunuh lagi!"

Setelah berkata demikian, kedua orang itu menggunakan senjata mereka untuk menyerang ke arah Pek-liong.

"Trang-tranggg...!!"

Gadis itu dengan gagahnya telah menggerakkan sepasang pedangnya menangkis, dan berdiri di depan Pek-liong, bersikap melindunginya.

"Jahanam busuk, kalian telah membunuh kakakku, maka hari ini aku akan membalas kematian kakakku!"

Si brewok kini menyeringai.

"Aih, nona manis. Kami tidak sengaja membunuh kakakmu. Minggirlah, biar kami membunuh Pek-liong-eng lebih dulu, nanti kami akan minta maaf dan bersikap manis kepadamu!"

Akan tetapi ucapan ini bagaikan minyak disiramkan pada api, membuat kemarahan Bouw Tan semakin berkobar.

"Kalian iblis busuk!"

Bentaknya dan sepasang pedangnya sudah menjadi sinar bergulung-gulung menyambar ke arah dua orang laki-laki itu. Si muka hitam berseru setelah menangkis serangan Bouw Tan.

"Kita taklukkan kuda betina ini dulu, baru kita bunuh Pek-liong-eng!"

"Benar,"

Kata si brewok.

"tapi jangan lukai gadis ini, sayang kalau sampai ia terluka, heh-heh!"

Bouw Tan marah sekali dan iapun memutar kedua pedangnya.

Pek-liong segera mengenal ilmu pedang Kun-lun-kiam-sut yang indah.

Akan tetapi dia pun terkejut melihat gerakan dua orang tinggi besar itu.

Ternyata merekapun lihai sekali dan permainan golok dan tombak mereka cukup berbahaya.

Andaikata harus melawan satu di antara mereka saja, mungkin Bouw Tan masih mampu menandingi karena tingkat mereka seimbang.

Akan tetapi karena dua orang itu maju berdua, maka setelah lewat belasan jurus saja, gadis itu terdesak hebat.

Pek-liong hanya menonton saja karena dari gerakan mereka, tahulah dia bahwa dua orang itu tidak akan melukai Bouw Tan.

Hatinya terasa panas oleh amarah karena dia dapat menduga apa yang menjadi isi hati kedua orang busuk itu.

Tentu mereka ingin mengalahkan Bouw Tan tanpa melukainya, dan setelah mereka membunuh dia, tentu mereka akan mempermainkan Bouw Tan.

Sungguh dua orang manusia yang amat jahat dan keji, akan tetapi diapun ingin sekali mengetahui mengapa mereka memusuhinya.

Melihat tingkat kepandaian mereka, tidak pantas kalau mereka itu memusuhinya, tentu mereka hanyalah anak buah saja, dan ada tokoh lain yang menyuruh mereka.

Tempat kedua orang itu menghadang merupakan tepi telaga yang amat sepi, dan tidak ada orang lain kecuali dia yang menyaksikan perkelahian itu.

Seperti telah dikhawatirkannya, setelah lewat dua puluh jurus, akhirnya tangkisan yang amat kuat membuat kedua pedang gadis itu terlepas, dan gadis itupun roboh oleh sapuan gagang tombak pada kedua kakinya.

Sebelum ia dapat bangkit, si brewok sudah menubruk dan menotoknya sehingga gadis itu rebah telentang tanpa mampu bergerak lagi.

Kedua orang itu tertawa bergelak, dan si muka hitam berkata.

"Kau tunggulah sebentar, manis. Setelah kami membunuh Pek-liong-eng, kami akan mengajak engkau bersenang-senang sepuasnya, ha-ha-ha!"

Kini, si muka hitam yang memegang golok besar dan si brewok yang memegang tombak, menghampiri Pek-liong yang masih berdiri dengan kedua tangan terbelenggu ke belakang.

Pek-liong nampak tenang-tenang saja, sebaliknya Bouw Tan yang rebah tak mampu bergerak itu memandang dengan sinar mata ngeri dan penuh penyesalan.

Akan tetapi ia tidak berdaya, bahkan ia terancam bahaya yang lebih mengerikan dari pada maut.

"Pek-liong-eng, sekarang bersiaplah engkau untuk mampus!"

Bentak si muka hitam.

"Engkau tidak perlu penasaran karena engkau akan mati di tangan dua orang gagah. Kami adalah Thian-te Siang-houw yang namanya terkenal di kolong langit!"

Kata si brewok.

"Hemm, Thian-te Siang-houw, kalian telah membunuh Pouw Bouw Ki, mengapa?"

Tanya Pek-liong sikapnya masih tenang saja sehingga Bouw Tan merasa heran sekali.

Ia gelisah setengah mati, akan tetapi pendekar yang nyawanya seperti bergantung kepada sehelai rambut itu demikian tenangnya!

"Ha-ha, tadinya kami salah kira.

Dia berpakaian putih, perawakannya seperti engkau.

Setelah tahu kami keliru, kami merasa bahkan kebetulan karena kekeliruan itu akan dapat memancing engkau keluar.

Perhitungan kami tepat.

Engkau akan mampus sekarang juga!"

Dua orang itu kini menerjang dengan senjata mereka, menyerang Pek-liong dari kanan kiri.

Bouw Tan yang tidak dapat bergerak, merasa ngeri sekali dan ia memejamkan mata, tidak ingin melihat pendekar itu terkoyak-koyak tubuhnya.

Ia memejamkan matanya dan tak terasa matanya menjadi basah karena ia menyadari bahwa ialah yang membuat pendekar itu mati konyol.

Ia telah membelenggu kedua tangan pendekar itu sehingga tentu saja tidak akan mampu melawan dan akan mati tercincang.

Akan tetapi tidak terdengar apa-apa, tidak terdengar teriakan kesakitan atau robohnya badan, hanya terdengar suara senjata berdesing-desing.

Bouw Tan membuka matanya dengan hati tegang, dan ia segera terbelalak.

Pek-liong sama, sekali tidak roboh mandi darah dengan tubuh tercincang.

Sama sekali tidak.

Tubuh pendekar yang kedua tangannya masih terikat ke belakang tubuh itu bergerak dengan ringan dan lincah sekali, menyelinap di antara sambaran kedua senjata lawan.

Setiap bacokan golok, setiap tusukan tombak, semua tidak mampu menyentuhnya, bahkan menyentuh bajunyapun tidak.

Bouw Tan terbelalak dengan muka berubah merah sekali.

Ia seperti telah buta!

Dengan kedua tangan terikat ke belakang, pendekar itu mampu mempermainkan dua orang bersenjata pada hal ia sendiri dengan sepasang pedangnya telah kalah dalam waktu yang tidak terlalu lama!

Hampir ia tidak pernah berkedip mengikuti perkelahian itu dengan pandang matanya.

Akhirnya ketika Pek-liong mengeluarkan seruan-seruan nyaring, kakinya bergerak terputar dan kedua orang itu terpelanting, senjata mereka terlempar dan merekapun mengaduh-aduh, mencoba bangkit akan tetapi sukar sekali.

Pek-liong meloncat ke dekat tubuh Bouw Tan, dengan ujung sepatunya dia menendang dua kali ke arah pundak dan pinggang dan...

gadis itu dapat bergerak kembali.

Pendekar itu telah membebaskan totokannya hanya dengan ujung sepatunya.

Begitu dapat bergerak, Bouw Tan sudah meloncat dan mengambil sepasang pedangnya yang tadi terpukul jatuh, dan sebelum Pek-liong tahu apa yang akan dilakukannya, gadis itu sudah meloncat ke arah dua orang yang tadi dirobohkan Pek-liong, sepasang pedangnya bergerak seperti kilat menyambar ke arah dua orang yang sudah tidak berdaya melawan itu.

"Nona, jangan...!"

Teriak Pek-liong dengan kaget, akan tetapi terlambat, dua orang itu sudah roboh mandi darah dengan leher hampir putus dibabat sepasang pedang di tangan Bouw Tan.

Pek-liong meloncat dekat dan merasa menyesal sekali.

"Aihh, kenapa engkau membunuh mereka nona?"

Tegurnya dengan nada menyesal.

"Kenapa tidak? Merekalah pembunuh-pembunuh kakakku, dan aku harus membalas dendam. Sekarang, kematian kakakku telah terbalas, hatiku telah merasa puas."

"Akan tetapi, nona, mereka itu sesungguhnya hendak membunuhku. Kakakmu hanya menjadi korban salah duga saja, dan aku sebetulnya ingin sekali memaksa mereka mengaku siapa yang menyuruh mereka untuk membunuhku. Sekarang mereka telah kau bunuh sehingga aku tetap tidak mengetahui siapa orang yang menyuruh mereka."

Bouw Tan baru menyadari hal ini dan ia merasa menyesal juga.

"Ah, maafkan aku, Taihiap, aku telah terburu nafsu, dan... aku telah membelenggu kedua tanganmu, dan dengan kedua tangan terbelenggu engkau dapat merobohkan dua orang yang tak dapat kulawan dengan sepasang pedangku. Aku menyesal dan merasa malu sekali, kau maafkan aku, Taihiap. Mari kubukakan belenggu tanganmu...!"

Gadis itu menghampiri Pek-liong untuk membukakan tali pengikat kedua pergelangan tangan pendekar itu.

"Tidak perlu repot-repot, nona Bouw Tan,"

Kata Pek-liong dan sekali dia mengerahkan tenaga, ikatan itupun putus dan kedua tangannya bebas. Melihat ini, wajah Bouw Tan berubah merah sekali.

"Taihiap, kenapa tadi engkau mau saja kubelenggu kedua tanganmu? Kenapa engkau membiarkan dirimu menjadi tawananku?"

Tanyanya, heran dan juga malu. Pek-liong tersenyum.

"Aku tertarik akan urusan itu dan ingin pula melihat perkembangannya, nona. Karena itu aku sengaja membiarkan diriku menjadi tawanan untuk memancing keluarnya para pembunuh itu. Mereka itu hanyalah anak buah, nona dan pasti ada musuh besar yang berdiri di belakang layar."

"Dan aku telah terburu nafsu membunuh mereka sehingga menggagalkan penyelidikanmu, Taihiap. Maafkan aku..."

"Sudahlah, nona. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Tanpa merekapun, pasti aku akan dapat bertemu dengan musuh itu karena dia pasti akan melanjutkan usahanya untuk membunuhku."

"Tapi, bukan engkau saja yang diancamnya, Taihiap. Menurut surat yang ditulis di baju kakakku, selain engkau, juga Hek-liong-li diancam..."

Pek-liong tersenyum.

"Hal itu tidaklah aneh, nona. Memang kami berdua dimusuhi banyak orang dari golongan sesat. Akan tetapi, seperti juga aku, Liong-li dapat menjaga diri sendiri."

"Suhengku sudah pergi mencari Hek-liong-li. Bukankah ia tinggal di Lok-yang?"

"Hem, siapakah suhengmu itu?"

"Suheng bernama Lu Kong Bu, dan setelah kakakku terbunuh, kami membagi tugas. Aku pergi mencarimu karena lebih dekat, sedangkan suheng pergi mencari Hek-liong-li yang jauh tempat tinggalnya."

Pek-liong adalah seorang pendekar yang sudah banyak pengalamannya.

Mendengar suara gadis itu ketika menyebut nama suhengnya, ada sesuatu yang lain, ada suatu kemesraan dalam sebutan itu dan dia dapat menduga bahwa hubungan antara Bouw Tan dan Lu Kong Bu itu pasti lebih mendalam dari pada hanya seorang suheng dan sumoi.

"Lu Kong Bu itu pergi mencari Hek-liong-li untuk memberitahu bahwa ia terancam oleh pembunuh kakakmu?"

Tanyanya, menahan rasa geli hatinya. Orang seperti Liong-li tentu saja tidak membutuhkan peringatan lagi.

"Tentu saja. Kami sekeluarga telah mendengar nama besar kalian, dan kami merasa berkewajiban untuk memberitahu. Akan tetapi, karena mengingat bahwa kematian kakakku karena engkau, maka tadi aku bersikap keras dan menangkapmu. Harap maafkan aku Taihiap."

"Sudahlah, mari kita lanjutkan perjalanan. Aku perlu bertemu dengan ayahmu untuk menjelaskan persoalan, juga untuk menyelidiki tentang dua orang yang mengaku berjuluk Thian-te Siang-houw ini. Mungkin ayahmu mengenal nama mereka."

Berangkatlah mereka berdua meninggalkan dua mayat penjahat itu, menuju ke kota Hang-kouw.

Keluarga Pouw yang masih dalam suasana berkabung itu, menyambut kedatangan Pek-liong dengan hormat.

Untung saja Pek-liong tidak lagi terbelenggu, kalau dia datang dengan kedua tangan terikat tentu Pouw Kiat atau yang dikenal dengan sebutan Pouw-kauwsu (guru silat Pouw) akan marah kepada puterinya.

Setelah diperkenalkan oleh puterinya dan mendengar cerita Bouw Tan tentang dua orang penjahat yang menghadang mereka dan yang mengaku sebagai pembunuh Pouw Bouw Ki, Pouw-kauwsu merasa puas juga.

Pembunuh-pembunuh puteranya telah terbalas.

"Paman Pouw, apakah ada permusuhan antara keluargamu dengan mereka yang menamakan diri Thian-te Siang-houw?"

Pek-liong bertanya.

"Mereka itu lihai sekali, ayah. Yang bermuka hitam memainkan golok dan yang brewok memainkan tombak. Aku tentu sudah tewas pula di tangan mereka kalau tidak ada Tan-Taihiap yang menolongku,"

Kata Bouw Tan, tentu saja ia malu untuk bercerita kepada ayahnya betapa Pek-liong menolongnya dalam keadaan kedua tangan terbelenggu ke belakang dan ia yang melakukan itu! "Thian-te Siang-houw...?"

Pouw-kauwsu mengingat-ingat.

"Aku pernah mendengar nama itu, sepasang tokoh yang pernah mengacau di daerah Lembah Yang-ce. Akan tetapi seingatku, kami belum pernah bermusuhan dengan mereka. Aku lebih percaya bahwa mereka memang salah membunuh orang mengira bahwa anakku adalah engkau, Taihiap,"

Kata guru silat itu.

"Memang sungguh menyedihkan nasib puteraku, namun bagaimana juga, kini penasarannya telah terbalas dengan matinya dua orang penjahat itu."

"Aku akan menyelidiki siapa yang menyuruh Thian-te Siang-houw melakukan pembunuhan itu, paman. Aku merasa yakin bahwa yang menyuruhnya bukan musuh keluargamu, melainkan musuh kami, yaitu aku dan Hek-liong-li."

"Bagaimana dengan suheng, ayah? Apakah dia belum kembali dari Lok-yang?"

Tanya Bouw Tan. (Lanjut ke

Jilid 04) Dendam Sembilan Iblis Tua (Seri ke 03 -Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04

"Belum, karena Lok-yang cukup jauh. Dengan adanya Pek-liong-eng dan Hek-liong-li yang akan melakukan penyelidikan, aku yakin hahwa penjahat yang menyuruh bunuh anakku pasti akan terungkap dan tertangkap."

Pek-liong tidak tinggal lama di situ, lalu berpamit, pulang ke rumahnya dan dia segera menyuruh seorang pembantunya untuk melakukan penyelidikan ke sekitar Lembah Yang-ce, menyelidiki tentang Thian-te Siang-houw, tokoh mana yang baru-baru ini nampak berhubungan dengan dua penjahat yang telah tewas itu.

Suami isteri Song Tek Hin dan Su Hong Ing tinggal di susun Kian-co di luar kota Cin-an.

Mereka telah lima tahun menikah dan hidup rukun, mempunyai seorang anak laki-laki yang sudah berusia tiga tahun lebih bernama Song Cu.

Song Tek Hin yang pandai ilmu sastera dan silat membuka sebuah perguruan bun (sastera) dan Bu (silat) di mana banyak anak-anak muda belajar dengan pembayaran sekadarnya.

Mereka mempunyai sawah ladang dan kehidupan mereka lumayan walaupun tidak kaya.

Dan nama suami isteri ini dihormati orang, karena keduanya merupakan orang-orang yang berwatak lembut dan ramah, juga bukan hanya Song Tek Hin saja yang pandai ilmu silat, bahkan isterinya, Su Hong Ing, tidak kalah oleh suaminya.

Wanita ini adalah murid Bu-tong-pai dan memiliki ilmu silat yang cukup lihai.

Song Tek Hin yang berusia kurang lebih tiga puluh tahun itu bertubuh tegap dan wajahnya tampan, gerak geriknya halus dan biarpun dia pandai ilmu silat namun pakaiannya seperti seorang sasterawan.

Isterinya berusia dua puluh empat tahun, cantik manis dengan kulit putih mulus dan senyumnya menawan.

Seperti suaminya, iapun sederhana, tidak kelihatan bahwa ia seorang pendekar wanita yang lihai, dan sikapnya selalu ramah kepada siapapun.

Tidak mengherankan apabila suami isteri ini disuka oleh penduduk dusun itu, dan bahkan banyak orang dari kota Cin-an datang ke dusun itu untuk berguru kepada Song Tek Hin.

Pada suatu senja yang cerah dan tenang.

Rumah Song Tek Hin sudah sepi karena suami isteri itu mengajar para murid dalam ilmu silat dan baca tulis mulai pagi sampai lewat tengah hari.

Di waktu sore dan malamnya mereka berdua tidak mau sibuk mengajar, melainkan mengurus hasil sawah ladang dan beristirahat.

Senja hari itu mereka mengaso di ruangan belakang sambil bermain-main dengan Song Cu, anak tunggal mereka.

Dua orang pelayan mereka, seorang wanita setengah tua sedang membersihkan perabot rumah di ruangan depan sedangkan pelayan kedua, suami wanita itu, sedang menyapu kebun belakang.

"Semalam aku bermimpi..."

Su Hong Ing berkata akan tetapi segera menahan ucapannya. Suaminya yang sedang menimang Song Cu memandang isterinya dengan heran.

"Kenapa berhenti? Engkau mimpi apakah?"

Su Hong Ing tersenyum dan wanita muda ini memang memiliki daya tarik luar biasa kalau tersenyum. Manis sekali.

"Janji dulu engkau tidak akan cemburu."

"Ehh! Aneh sekali engkau ini. Masa orang mimpi dicemburui?"

Isterinya tersenyum lagi dan melanjutkan.

"Aku bermimpi naik perahu di Telaga See-ouw bersamamu, Song Cu tidak ikut. Kita berdua berperahu seperti... seperti..."

"Ha-ha, aku mengerti, seperti kita sedang berbulan madu dahulu, kan?"

Suaminya menggoda. Wajah isterinya kemerahan dan mengangguk.

"Akan tetapi bukan itu yang penting, koko. Ketika kita berperahu, aku melihat sebuah perahu lain dan ternyata di dalam perahu itu adalah... Pek-liong-eng dan Hek-liong-li..."

Kembali suami itu tertawa mendengar isterinya agak ragu menyebutkan nama pendekar itu.

"Ha-ha-ha, engkau sungguh lucu, Ing-moi. Kalau aku cemburu kepada Pek-liong-eng, apakah engkau juga cemburu kepada Hek-liong-li? Kita sama-sama tahu, Ing-moi. Mereka berdua itu bukan hanya bekas kekasih kita, orang-orang yang kita cinta, akan tetapi terutama merekalah yang menyebabkan kita dapat saling jatuh cinta dan menjadi suami isteri, di samping mereka berdua adalah penolong-penolong kita. Karena merekalah maka sampai hari ini kita masih bernapas. Tidak, Ing-moi, sampai matipun aku tidak akan mencemburui engkau dan Pek-liong-eng."

"Aku mengerti perasaanmu, Hin-ko. Betapapun kita berdua memuja dan mengagumi mereka, mereka itu laksana dua buah bintang yang terlampau tinggi untuk kita, dan akupun sama sekali sudah tidak pernah mengharapkan lagi kepada Pek-liong-eng. Kebahagiannku adalah denganmu, sebagai isterimu. Akan tetapi aku merasa tidak enak hati setelah bermimpi itu, karena dalam mimpi itu, aku melihat perahu mereka terguling, dan ketika kita mendayung perahu kita menghampiri untuk menolong, perahu kita sendiripun terguling."

"Aih, itu hanya mimpi, Ing-moi. Jangan dipikirkan lagi. Andaikata benar terjadi, kalau hanya perahu mereka terguling saja, dua orang pendekar sakti itu pasti akan mampu menyelamatkan diri."

"Mudah-mudahan begitu,"

Kata Su Hong Ing dan suami isteri inipun melamun, terkenang akan pengalaman mereka lima tahun yang lalu.

Hong Ing pernah tergila-gila kepada Pek-liong, bahkan ia rela menyerahkan diri kepada pendekar itu dan mereka berdua tenggelam dalam lautan asmara.

Akan tetapi, kemudian ternyata bahwa Pek-liong adalah seorang pemuda yang aneh, yang tidak mau terikat oleh pernikahan.

Pek-liong-eng meninggalkannya walau dengan lembut dan mesra, dan demikian pula dengan Song Tek Hin yang pernah terlena dan tergila-gila kepada Hek-liong-li dan mereka berkasih-kasihan.

Akan tetapi seperti juga Pek-liong-eng, Hek-liong-li tidak mau terikat pernikahan dan meninggalkannya.

Karena patah hati oleh sikap kedua pendekar itu, Song Tek dan Su Hong Ing saling menghibur dan saling jatuh cinta, akhirnya menikah.

Selagi mereka melamun, pelayan wanita setengah tua masuk dan melaporkan bahwa di luar datang seorang tamu.

"Siapakah tamu itu?"

Tanya Tek Hin yang merasa terganggu karena dia dan isterinya sedang santai dan beristirahat. Dia tidak ingin diganggu urusan atau kesibukan pada saat seperti itu.

"Ia seorang wanita tua yang cantik dan pakaiannya indah seperti wanita bangsawan, katanya ada keperluan penting sekali ingin bertemu dengan tuan dan nyonya,"

Kata pelayan itu.

"Ia datang berkereta, kereta indah ditarik dua ekor kuda. Tentu saja suami isteri itu merasa heran bukan main. Mereka tidak mempunyai keluarga bangsawan. Su Hong Ing lalu menyerahkan Song Cu kepada pelayannya.

"Bawa Song Cu bermain-main di belakang dengan suamimu, kemudian persiapkan air teh di dapur agar kalau kubutuhkan sudah ada."

Pelayan itu memondong Song Cu dan pergi ke belakang.

Suami isteri itu saling pandang, kemudian mereka melangkah keluar menyambut tamu.

Ketika tiba di luar, keduanya merasa heran bukan main.

Seperti diceritakan pelayan mereka, tamu itu seorang wanita yang cantik dan berpakaian mewah, sukar ditaksir berapa usianya.

Ia pesolek dan kelihatannya seperti berusia empat puluhan tahun, senyumnya ramah dan sikapnya lembut.

Tentu saja suami isteri itu tergopoh memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada, yang dibalas oleh wanita itu.

"Apakah kalian suami isteri yang bernama Song Tek Hin dan Su Hong Ing?"

Tamu itu mendahului bertanya, suaranya lembut dan halus seperti sikap seorang wanita bangsawan.

"Benar sekali,"

Kata Tek Hin.

"Siapakah toanio dan ada keperluan apakah mencari kami?"

Tek Hin dan Hong Ing masih terbelalak heran memandang wanita itu.

Pakaiannya yang mewah itu serba merah, pantasnya dipakai gadis remaja!

"Kalian tentu masih ingat kepada dua orang sahabat kalian, yaitu Pek-liong-eng Tan Cin Hay dan Hek-liong-li Lie Kim Cu, bukan?

Aku adalah sahabat baik mereka yang diutus datang berkunjung."

Tentu saja suami isteri itu terkejut dan girang bukan main. Mereka segera memberi hormat lagi.

"Ahh, maafkan kami yang tidak tahu sehingga menyambut kurang hormat, toanio. Silakan duduk... silakan duduk..."

Kata suami isteri tu dengan sikap hormat dan gembira.

Baru saja mereka membicarakan dua orang pendekar sakti itu dan kini muncul seorang utusannya, seorang sahabat baik mereka.

Akan tetapi wanita cantik berpakaian merah itu menggeleng kepala dan menggoyang tangannya.

"Tidak banyak waktu... aku datang diutus mereka untuk menjemput kalian. Mereka dalam ancaman bahaya dan mereka membutuhkan bantuan kalian sekarang juga."

Tentu saja suami isteri itu terkejut bukan main.

Selama lima tahun mereka tidak mendengar berita tentang dua orang pendekar yang mereka kagumi itu, dan sekarang tiba-tiba sepasang pendekar itu mengirim utusan menjemput mereka karena membutuhkan bantuan!

"Apakah yang terjadi dengan mereka?"

Tanya Song Tek Hin.

"Di mana mereka sekarang?"

Tanya pula Su Hong Ing. Wanita itu mengeleng kepala tidak sabar.

"Tidak banyak waktu bicara. Nanti saja di kereta kita bicara. Sekarang cepat kalian ikut denganku sebelum terlambat. Pek-liong dan Liong-li amat membutuhkan bantuan kalian!"

Wanita itu membalik kan tubuhnya.

"Kalau kalian tidak mau membantu, sudahlah aku pergi saja."

Tentu saja suami isteri itu cepat mencegahnya.

"Tunggu, kami mengambil senjata dulu!"

Kata mereka dan mereka lari ke dalam untuk mengambil sepasang pedang mereka dan memesan kepada pelayan agar menjaga Song Cu baik-baik.

Kemudian mereka lari keluar dan ternyata wanita itu sudah duduk di atas kereta sambil memegang kendali kuda.

"Toanio, tunggu...!"

Seru suami isteri itu dan mereka segera menghampiri kereta.

"Masuklah ke dalam dan tutup semua pintu dan tirai kereta!"

Kata wanita itu.

Song Tek Hin dan Su Hong Ing mentaati permintaan itu, mereka masuk ke dalam kereta dan menutup daun pintu dan tirai jendela.

Kereta itu dilarikan kencang oleh wanita baju merah tadi dan suami isteri itu saling pandang dengan hati tegang, khawatir menduga-duga apa yang terjadi dengan sepasang pendekar yang mereka kagumi.

Mereka tidak tahu ke mana kereta dilarikan, hanya tahu bahwa mereka dilarikan cepat keluar dari dusun.

Lebih dari sejam lamanya kereta berlari kencang sehingga mereka menjadi tidak sabar.

"Toanio, ke manakah kita pergi?"

Song Tek In berteriak mengatasi kegaduhan suara kaki kuda dan roda kereta.

Kereta itu berhenti dan suami isteri itu dengan hati tegang, mengira akan bertemu dengan sepasang suami isteri itu, membuka pintu kereta.

Akan tetapi, mereka melihat bahwa mereka berada di tengah hutan yang sunyi!

Dan wanita berpakaian merah itu telah turun pula dari atas kereta, dan berdiri sambil bertolak pinggang dan mulutnya senyum-senyum genit.

"Apa artinya ini? Di mana Pek-liong dan Liong-li?"

Tanya Su Hong Ing alisnya berkerut dan ia mulai curiga.

"Pek-liong dan Liong-li belum berada di sini. Justeru dengan adanya kalian berdua kami mengharapkan mereka akan muncul."

"Toanio, harap jangan main-main. Jelaskan apa maksudmu. Kami tidak banyak waktu untuk main-main!"

Song Tek Hin berkata dengan nada marah pula. Kini senyum genit itu lenyap dari bibir wanita baju merah.

"Siapa main-main dengan kalian? Kalau ingin tahu, sekarang kalian menjadi tawanan kami, mengerti?"

Tentu saja suami isteri itu terkejut bukan main.

"Apa pula ini?"

Bentak Su Hong Ing sambil meraba gagang pedangnya.

"Kaukira akan mudah saja menawan kami?"

"Siapakah engkau ini sebenarnya dan mengapa mengaku hendak menawan kami?"

Bentak pula Song Tek Hing. Kini wanita itu tertawa, terkekeh-kekeh.

"Heh-heh-heh, kalian ini anak-anak masih berbau bawang! Kalian masih hijau maka tidak mengenalku. Dunia persilatan menyebut aku Ang I Sian-li (Dewi Baju Merah), heh-heh-heh!"

Biarpun suami isteri itu belum pernah bertemu dengan datuk ini, namun mereka sudah mendengar namanya dan wajah mereka berubah pucat.

Mereka pernah mendengar bahwa Ang I Sian-li adalah seorang di antara Kiu Lo-mo (Sembilan Setan Tua) yang merupakan datuk-datuk kaum sesat yang amat kejam.

Bahkan mereka pernah mendengar bahwa wanita berpakaian merah itu demikian kejamnya seperti siluman atau iblis betina, kabarnya suka menghisap habis darah bayi untuk memperkuat tubuhnya dan memperdalam ilmu hitamnya!

Tanpa banyak cakap lagi, mereka lalu mencabut pedang, maklum bahwa mereka berhadapan dengan seorang datuk sesat yang kejam.

"Kiranya kami berhadapan dengan Ang I Sian-li,"

Kata Tek Hin, menenangkan hatinya.

"Engkau adalah seorang datuk kang-ouw tingkat atas, dan kami tidak pernah memotong jalan hidupmu, kenapa hari ini engkau mengganggu kami?"

"Aku tidak mengganggu, hanya menawan kalian untuk memancing munculnya Pek-liong dan Liong-li. Merekalah musuh kami yang sebenarnya, kalian ini hanya orang-orang yang tidak ada artinya."

Tentu saja suami isteri itu marah dan tidak sudi ditawan begitu saja.

"Iblis betina jahat!"

Bentak Hong Ing dan ia sudah menggerakkan pedangnya, disusul suaminya yang juga sudah menyerang dengan pedangnya.

Namun Ang I Sian-li hanya tersenyum mengejek dan ia menghadapi serangan suami isteri itu dengan tangan kosong saja!

Tubuhnya bergerak cepat, berubah menjadi bayangan merah yang berkelebatan di antara gulungan dua sinar pedang suami isteri itu.

Betapapun cepatnya suami isteri itu menggerakkan senjata, mereka tak pernah dapat mengenai tubuh lawan karena ke mana pun mereka menyerang, bayangan merah itu berkelebat lenyap dan berpindah tempat.

"Heh-heh-heh, kalian anak-anak kecil berani melawanku? Biar kalian belajar sepuluh tahun lagi, masih belum dapat menandingiku. Guru-guru besar kalianpun takkan mampu menang dariku. Nah, lepaskan senjata kalian!"

Suami isteri itu tidak perduli.

Tek Hin menusukkan pedangnya ke arah lambung lawan dari kiri, sedangkan pada saat yang hampir bersamaan Hong Ing menyabetkan pedangnya ke arah leher wanita baju merah itu.

Serangan suami isteri itu sungguh amat berbahaya dan keduanya merupakan serangan maut.

Namun sekali ini Ang I Sian-li tidak mengelak sama sekali, akan tetapi dua buah tangannya bergerak seperti ular, yang kiri menangkap ujung pedang yang menusuk lambung, yang kanan menangkap ujung pedang yang menyabet leher.

Dua tangan kosong itu begitu saja menangkap dua batang pedang yang amat tajam dan yang dipegang oleh ahli silat yang sudah cukup lihai dan memiliki sin-kang cukup kuat!

Kalau tidak kuat kedua tangan itu, tentu sekali tarik saja tangan itu akan putus berikut lima jarinya!

Suami isteri itu terkejut dan mengerahkan tenaga untuk menarik kembali senjata mereka dan membikin putus tangan lawan.

Akan tetapi, betapa pun mereka mengerahkan seluruh tenaga, pedang mereka seperti telah melekat di kedua tangan itu dan sedikitpun tidak dapat ditarik.

Bahkan kini Ang I Sian-li mengerahkan tenaganya dan pedang itu tergetar hebat.

Tangan suami isteri yang memegang pedang masing-masing ikut tergetar dan telapak tangan mereka terasa panas sekali.

Mereka terkejut dan cepat melepaskan gagang pedang karena merasa tangan mereka seperti terbakar!

"Heh-heh-heh, kalau aku bermaksud membunuhmu, sama mudahnya dengan membalikkan telapak tanganku!"

Katanya dan sekali jari-jari tangannya mencengkeram, terdengar suara "krek-krek"

Dan kedua pedang itupun patah-patah! Suami isteri itu terbelalak dan mereka maklum bahwa wanita ini sama sekali bukan tandingan mereka! "Kalian masih hendak melawan?"

Ang I Sian-li bertanya, tersenyum mengejek.

Suami isteri itu saling pandang.

Mereka bukan penakut, akan tetapi mereka juga bukan orang nekat yang ingin mati konyol.

Di rumah mereka masih ada Song Cu yang amat membutuhkan mereka.

Dengan lunglai Tek Hin lalu berkata, suaranya terdengar lantang.

"Ang I Sian-li, kami tidak pernah bermusuhan denganmu, akan tetapi hari ini engkau memaksakan kehendakmu kepada kami. Nah, apa yang harus kami lakukan?"

"Kalau engkau mengutus kami melakukan kejahatan, sampai matipun aku tidak sudi melakukannya!"

Kata Su Hong Ing dengan sikap gagah. Wanita itu tertawa.

"Sudah kukatakan, kami tidak akan mengganggumu asal kalian mentaati perintah kami. Nah, Song Tek Hin, engkau yang laki laki sepatutnya menjadi kusir. Biar aku dan isterimu duduk di dalam. Aku akan menunjukkan kemana engkau harus menjalankan kereta, dan jangan sekali-kali bermain gila."

Suami isteri itu saling pandang, maklum bahwa mereka telah kalah dan tidak ada jalan lain kecuali taat pada saat itu.

Tek Hin mengangguk dan diapun lalu naik ke atas kereta, memegang kendali kuda.

Hong Ing didorong halus oleh Ang I Sian-li memasuki kereta dan mereka duduk bersanding, menghadap ke depan.

"Engkau mengambil jalan lurus saja dan jangan membelok sebelum kuberitahu,"

Kata Ang I Sian-li.

"Memasuki kota Cin-an?"

Tanya Tek Hin dan dalam suaranya terkandung kegembiraan.

Dia mempunyai banyak kenalan di kota itu, banyak pula orang gagah di sana dan kalau kereta itu memasuki kota Cin-an yang ramai, dia dapat bersama isterinya meloncat keluar dan kalau wanita itu hendak menangkap mereka, tentu akan banyak kawan membantu.

Akan tetapi jawaban Ang I Sian-li melenyapkan harapannya.

"Tidak, sebelum masuk kota, mengambil jalan ke kiri sampai ke tepi Sungai Kuning."

Perjalanan itu cukup jauh dan Tek Hin sengaja menjalankan kereta itu tidak terlalu cepat karena dia masih mengharapkan dapat bertemu di jalan dengan rombongan orang yang dikenalnya dan yang sekiranya dapat membantunya.

Misalnya rombongan piauwsu (pengawal barang kiriman) yang lihai dan yang sudah dikenalnya.

Ang I Sian-li yang duduk bersanding Hong Ing kelihatan mengantuk dan tak lama kemudian, diguncang-guncang oleh kereta, ia tertidur.

Dari napasnya yang halus dapat diketahui bahwa wanita ini telah pulas.

Tentu saja hal ini tidak pernah lepas dari perhatian Hong Ing.

Sejak tadi, ia sering melirik dan memperhatikan wanita itu.

Mereka duduk bersanding, dan wanita itu nampaknya tidak memperhatikannya, akan tetapi karena ia tahu betapa lihainya wanita itu, ia tidak berani menyerang secara mendadak.

Kalau saja wanita itu tidak selihai itu, kalau hanya sedikit lebih lihai darinya, dalam keadaan duduk bersanding seperti itu, sekali menggerakkan tangan menotok saja mungkin ia akan dapat membuat wanita itu tidak berdaya.

Akan tetapi ia duduk bersanding dengan Ang I Sian-li, seorang di antara Kiu Lo-mo, datuk sesat yang beberapa tingkat lebih tinggi dari tingkatnya.

Akan tetapi sekarang wanita itu tertidur.

Dari pernapasannya, tahulah Hong Ing bahwa wanita itu sudah pulas.

Betapapun lihainya, kalau sedang pulas tentu tidak akan membela diri, tidak akan mengerahkan sin-kang dan bukankah sekali pukul saja ia akan dapat menewaskannya?

Akan tetapi, iapun tidak ingin membunuh orang tanpa alasan kuat, cukup menotoknya dan membuatnya tidak berdaya saja agar ia dan suaminya dapat terlepas dari bahaya.

Beberapa kali, ketika jalan yang tidak rata membuat kereta itu terguncang, ia sengaja melanggar pinggang wanita di sebelahnya dengan sikunya, seperti yang tidak disengaja karena guncangan kereta.

Dan wanita itu sama sekali tidak pernah terbangun, bahkan menggerakkan bulu matapun tidak.

Agaknya sudah pulas benar, pikir Hong Ing.

Hong Ing mengatupkan bibirnya dan bersiap-siap.

Diam-diam ia mengerahkan tenaganya yang akan dijadikan sasaran adalah pundak kiri, yaitu jalan darah kim-ceng-hiat.

Kalau jalan darah itu ditotoknya, tentu wanita itu dalam satu-dua detik tak mampu bergerak dan akan disusulnya dengan totokan pada jalan darah hong-hu-hiat di belakang pundak dan ia tentu akan menjadi lemas tak mampu menggerakkan kaki tangannya lagi.

Setelah mendapat kesempatan baik, selagi jalannya kereta tidak banyak guncangan agar totokannya mengenai tepat, Hong Ing menggerakkan tangan kirirya, diangkatnya ke atas dan dengan jari tangan diluruskan ia menotok ke arah pundak kiri Ang I Sian-li.

"Wuuuuttt... tuukk!"

Hong Ing menjerit saking nyerinya.

Jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya seperti menotok baja, bahkan ada tenaga yang membuat tenaga totokannya membalik.

Kedua jari itu nyeri sekali, kiut miut rasanya, sampai menusuk jantung, rasanya seperti patah-patah dan seketika menggembung bengkak.

Mendengar jeritan isterinya, Tek Hin menghentikan kereta dan cepat menengok.

"Ing-moi, apa yang terjadi?"

Dan melihat isterinya memegangi tangan kiri sambil meringis kesakitan, dia memandang kepada Ang I Sian-li dan berkata marah.

"Ang I Sian-li, kalau engkau mengganggu isteriku, aku akan mengadu nyawa denganmu!"

Ang I Sian-li tertawa.

"Heh-heh, Song Tek Hin. Kalau engkau banyak tingkah, isterimu kubunuh dulu baru engkau. Ketika aku tadi tertidur, ia menotok pundakku dan kini jari tangannya bengkak. Apakah engkau hendak menyalahkan aku?"

Mendengar jawaban ini, Tek Hin memandang isterinya.

"Ing-moi, bagaimana dengan tanganmu? Engkau duduk sajalah di sini, biar kuobati tanganmu."

Ang I Sian-li juga berkata.

"Nah, duduk saja engkau di depan dekat suamimu agar aku dapat tidur nyenyak tanpa gangguan."

Hong Ing pindah duduk di samping suaminya.

Tek Hin memeriksa tangan itu dan ternyata dua buah jari itu membengkak dan biru, akan tetapi masih untung tidak sampai patah sehingga tidak berbahaya, walaupun rasanya nyeri bukan main.

Setelah mengurut tangan isterinya, Tek Hin melanjutkan perjalanan.

Di dalam hati, suami isteri merasa khawatir bukan main.

Wanita itu sungguh sakti, dalam keadaan tidur pulas masih mampu melindungi diri seperti itu.

Pada sore harinya, barulah mereka tiba di tepi Huang-ho.

Dan Ang I Sian-li menyuruh Tek Hin memasukkan kereta ke dalam sebuah hutan di tepi sungai besar itu, mendaki sebuah bukit kecil penuh hutan belukar.

Dan ternyata di puncak bukit itu, terlindung hutan yang lebat, terdapat sebuah bangunan besar yang nampaknya masih baru.

Bangunan itu dikelilingi tembok yang tinggi dan kereta itu memasuki pintu gerbang yang dijaga oleh beberapa orang yang nampaknya bengis dan kuat.

Suami isteri itu oleh Ang I Sian-li diajak memasuki bangunan induk dan di ruangan tengah mereka melihat bahwa di situpun terdapat belasan orang laki-laki yang nampaknya kuat dan bengis.

Melihat munculnya Ang I Sian-li, semua orang cepat bangkit berdiri dan memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada.

Ang I Sian-li menyambut penghormatan mereka dengan sikap angkuh, lalu bertanya.

"Apakah yang lain belum tiba?"

"Belum toa-nio. Hanya ada pembawa berita yang mengatakan bahwa rombongan dari Nan-cang akan datang besok, sedangkan yang dari kota raja mungkin besok lusa baru tiba."

"Antar mereka ini ke kamar tamu nomor tiga yang sudah dipersiapkan,"

Kata Ang I Sian-li kepada anak buahnya, dan kepada suami isteri itu ia berkata.

"Kalian tentu tidak akan begitu bodoh untuk mencoba melarikan diri, karena selain di sini ada aku, juga terdapat banyak anak buahku yang lihai. Kalau kalian tidak melawan dan tidak mencoba melarikan diri, kalian tidak akan diganggu."

"Akan tetapi, mengapa kami ditahan di sini dan sampai berapa lama?"

Tanya Tek Hin memprotes.

"Sampai selesai urusan kami dengan Pek-liong dan Liong-li. Tunggu saja sampai besok lusa, sampai dua orang rekanku tiba. Kalau kalian tidak mencoba untuk lari, kalian akan diperlakukan sebagai tamu. Akan tetapi, kalau-kalian mencoba lari, aku terpaksa akan membelenggu kalian seperti dua orang tahanan!"

"Mari, silakan!"

Kata seorang tinggi kurus bermata juling kepada suami isteri itu.

Tek Hin dan Hong Ing saling pandang, maklum akan kebenaran ucapan Ang I Sian-li bahwa mencoba lari sama saja dengan mencari penyakit.

Dari pada tinggal sebagai tawanan yang dibelenggu dan mungkin diganggu, lebih baik sebagai tamu.

Soal melarikan diri, mereka akan bersabar dan mencari kesempatan sebaiknya.

Kalau mereka ditahan sebagai tamu, berarti mereka mempunyai harapan dan kemungkinan meloloskan diri, sebaliknya kalau dibelenggu dan dikeram dalam kamar tawanan, sulitlah untuk lolos.

Dengan taat mereka lalu mengikuti si kurus juling itu menuju ke lorong masuk ke belakang dan ternyata sudah ada sebuah kamar yang dipersiapkan untuk mereka.

Kamar itu cukup menyenangkan, berikut kamar mandi lengkap, ukurannyapun cukup besar, dan bersih.

Tempat tidur, meja kursi, semua lengkap.

Hanya dua buah jendelanya dipasangi ruji baja yang amat kuat, temboknya tebal, dan di depan pintu kamar itu selalu ada beberapa orang yang berjaga dengan senjata di tangan.

Andaikata mereka berdua dapat melumpuhkan beberapa orang penjaga di depan kamar itu, di sana masih terdapat banyak sekali anak buah, dan terutama terdapat Ang I Sian-li yang amat lihai.

Tidak banyak kesempatan untuk lolos dan mereka harus hati-hati.

Betapapun juga, suami isteri itu merasa lega bahwa mereka ditahan dalam satu kamar, tidak dipisahkan.

Maka, mereka saling menghibur dan bersabar hati, tetap waspada.

Di kota Han-cang dekat Telaga Po-yang, nama kakak beradik Kam amat terkenal dan dihormati orang.

Sang Kakak bernama Kam Sun Ting, berusia sekitar dua puluh lima tahun, seorang perjaka yang bertubuh tegap dan kokoh kuat, tubuhnya ramping namun berotot dan wajahnya tampan.

Adapun adiknya, seorang gadis bernama Kam Cian Li, berusia sekitar dua puluh dua tahun, juga bertubuh ramping padat dan wajahnya cantik manis.

Kakak beradik ini memiliki bentuk tubuh yang mengagumkan, dengan tangan dan kaki panjang dan sempurna lekuk lengkungnya.

Hal ini tidak mengherankan karena sejak kecil, kakak beradik ini terkenal sebagai ahli-ahli renang yang pandai, ahli-ahli penyelam yang jarang ditemukan tandingannya karena mereka pandai bermain di air seperti ikan-ikan saja.

Yang membuat mereka dikenal orang bukan hanya karena keahlian mereka menyelam, bukan pula ilmu silat mereka yang hanya lumayan saja, tidak dapat dibilang ahli, bukan pula hanya karena mereka itu tampan dan cantik dan keduanya gagah.

Akan tetapi karena mereka itu kaya raya dan dermawan!

Keduanya belum menikah, tinggal di sebuah rumah yang tidak sangat besar namun mungil dan indah, dikelilingi taman bunga yang terawat amat indahnya.

Rumah dan taman mereka menjadi kebanggaan penduduk kota Nan-cang!

Dan kalau kakak beradik ini rindu akan air, mereka memiliki sebuah perahu yang sedang besarnya, yang berada di Telaga Po-yang, dirawat seorang nelayan.

Kalau mereka berperahu, mengenakan pakaian penyelam yang ketat, lalu keduanya bermain-main di air telaga, banyak orang menonton dengan kagum.

Banyak pemuda tergila-gila kalau melihat Cian Li berpakaian penyelam yang mencetak bentuk tubuhnya yang membuat setiap pemuda terpesona, juga banyak gadis yang sampai mimpi merindukan Sun Ting yang gagah dan tampan.

Namun sungguh aneh, biarpun usia pemuda itu sudah dua puluh lima tahun dan adiknya sudah dua puluh dua tahun, mereka masih juga belum berumah tangga dan selalu menolak halus kalau ada orang memperlihatkan sikap tertarik dan mencinta.

Bahkan Cian Li sudah menolak banyak pinangan secara halus.

Kakak beradik ini hidup berdua karena sudah yatim piatu.

Tidak begitu mengherankan kalau Sun Ting dan Cian Li belum juga mau menikah karena keduanya masih belum sembuh dari luka karena cinta gagal.

Sun Ting mencinta Hek-liong-li, sedangkan Cian Li mencinta Pek-liong-eng.

Cinta mereka mati-matian, bahkan mereka telah menumpahkan rasa cinta dengan penyerahan diri, namun mereka hanya dapat memiliki tubuh kedua pendekar itu selama beberapa hari saja, namun tidak dapat memiliki hati mereka!

Pek-liong dan Liong-li tidak mau jatuh cinta dan diikat pernikahan.

Kakak beradik itu pernah membantu kedua pendekar itu memperebutkan harta karun dan setelah berhasil, sepasang pendekar itu menyerahkan sebagian dari harta karun kepada mereka, akan tetapi meninggalkan mereka yang menjadi patah hati.

Sun Ting dan Cian Li menjadi dua saudara yang kaya raya akan tetapi dengan hati merana karena cinta gagal!

Dan karena mereka berdua tidak atau belum dapat melupakan Pek-liong dan Liong-li, maka keduanya tak pernah memperhatikan gadis dan pemuda lain.

Keadaan itulah yang membuat kakak beradik ini dikenal oleh semua orang di Nan-cang, terutama mereka yang tinggal di sekitar Telaga Po-yang.

Pada suatu senja yang indah, kakak beradik ini masih berada di atas perahu mereka setelah berenang dan bermain-main.

Telaga itu sudah sunyi dan mereka berada di bagian selatan, jauh keramaian.

Senja itu angin berembus dengan kencangnya.

Mereka duduk di kepala perahu sambil menikmati langit di barat yang bagaikan terbakar oleh sinar matahari senja, membentuk istana-istana kelabu yang serba indah, ada pula bentuk binatang-binatang ajaib yang seolah berenang di laut api.

Tiba-tiba Cian Li yang kebetulan menoleh ke utara, terbelalak dan ia memegang lengan kakaknya dan berbisik.

"Lihat, apa itu?"

Sun Ting menengok dan diapun terbelalak, bahkan mereka menggosok kedua mata seolah tidak percaya akan apa yang mereka lihat.

Apakah ada satu di antara mahluk ajaib dari angkasa di timur itu turun ke atas permukaan air telaga?

Mereka melihat sesosok tubuh meluncur di atas air, seperti bersayap dan didorong angin yang datang dari utara!

Kini makin nampak jelas bahwa yang meluncur di atas permukaan air itu adalah seorang manusia!

Mungkinkah itu?

Bagaimana mungkin ada manusia berlari atau meluncur di atas air begitu saja, dengan jubah dikembangkan di kanan kiri tubuhnya, menggembung tertiup angin dari belakang?

Akan tetapi setelah kini dekat terpisah beberapa meter, mereka berdua yakin bahwa yang meluncur di atas air menghampiri mereka itu memang seorang manusia!

Seorang pria yang usianya sekitar enam puluh tahun.

Tubuhnya jangkung kurus dan kelihatan lemah, pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang sasterawan, akan tetapi dilengkapi jubah yang lebar dan tebal, yang dipergunakan sebagai layar.

Kedua kakinya yang bersepatu kain itu ternyata menginjak dua potong papan kayu tebal yang ujungnya runcing seperti bentuk perahu.

Itulah sebabnya mengapa dia dapat mengambang dan meluncur karena jubahnya menjadi layar yang tertiup angin.

Biarpun demikian, selama hidupnya kakak beradik yang ahli bermain di air ini belum pernah melihat ada orang yang mampu berbuat seperti itu!

Kalau orang ini tidak memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang amat hebat, tidak mungkin dia dapat bertahan meluncur seperti itu.

"Selamat sore, orang-orang muda! Apakah kalian yang bernama Kam Sun Ting dan Kam Cian Li dari Nan-cang?"

Suara pria itu lembut dan sopan, juga wajahnya yang masih nampak tampan halus itu tersenyum ramah.

Kedua orang kakak beradik itu mengangguk membenarkan, saking heran dan kagumnya, mereka sampai tidak mampu mengeluarkan suara, hanya nengangguk.

"Bagus sekali!"

Pria itu berseru gembira.

"Kalau begitu tidak sia-sia perjalananku. Bolehkah aku naik perahu kalian? Aku sengaja mencari kalian, diutus oleh sahabat-sahabatku, Pek-liong dan Hek-liong-li."

Mendengar disebutnya nama dua orang pendekar itu dan orang itu mengaku sebagai sahabat dan utusan, tentu saja kakak beradik itu merasa girang bukan main.

"Silakan, Locianpwe (orang tua gagah), silakan naik ke perahu kami!"

Kata Sun Ting.

Kini kakak beradik itu melihat bukti dugaan mereka bahwa mereka berhadapan dengan seorang locianpwe yang sakti.

Pria itu seperti seekor burung bangau saja, meloncat dan melayang naik ke atas perahu, kedua kakinya meninggalkan dua potong papan yang tadi dipergunakan untuk meluncur dan ketika kedua kakinya hinggap di atas perahu, perahu itu sedikitpun tidak terguncang!

Begitu tiba di atas perahu, orang itu berkata.

"Orang muda, cepat kaulayarkan perahumu ke barat. Pek-liong-eng dan Hek-liong-li mengutusku untuk menjemput kalian dan agar kalian secepatnya menemui mereka."

"Di manakah Taihiap dan Lihiap itu, locianpwe?"

Tanya Kam Cian Li, hatinya tegang karena akan bertemu dengan Pek-liong, pria yang selalu dipuja di dalam hatinya.

Pria itu menghela napas panjang, mengeluarkan sebuah kipas dari saku jubahnya dan mengipas tubuhnya dengan lagak seorang sastrawan, lalu berkata.

"Mereka berpesan agar aku tidak boleh memberitahukan di mana mereka berada. Yang penting, mereka terancam bahaya dan hanya kalian berdua dengan kepandaian kalian dalam air yang dapat menolong dan menyelamatkan mereka. Cepatlah layarkan perahu ke barat, aku lelah sekali dan ingin beristirahat dan tidur. Kecuali kalau kalian tidak ingin menolong mereka, terpaksa aku akan pergi lagi."

"Tentu saja kami suka sekali menolong mereka, locianpwe!"

Kata Sun Ting cepat-cepat dan diapun sudah mengatur layar dan kini perahu mulai meluncur ke arah barat.

Pria itu sudah merebahkan dirinya di tengah perahu dan sebentar saja dia sudah tidur mendengkur!

Agaknya dia memang lelah sekali sehingga kakak beradik itu tidak berani dan tidak tega mengganggunya.

Mereka mengatur layar dan kemudi perahu.

Angin kencang membuat perahu itu meluncur cepat ke arah barat.

Akan tetapi, walaupun kakak beradik itu, selalu memandang ke barat, kini mereka tidak melihat lagi keindahan langit senja di barat karena pikiran mereka penuh dengan bayangan Pek-liong-eng dan Hek-liong-li dan hati mereka dicekam kekhawatiran.

Ingin mereka cepat-cepat dapat bertemu dengan kedua orang pendekar itu.

Senja telah diselimuti kegelapan malam ketika perahu itu tiba di tepi pantai barat.

Melihat pria itu masih tidur, Sun Ting mendekatinya dan dengan lirih dia menggugahnya.

"Locianpwe, kita sudah tiba di tepi pantai barat. Di mana mereka?"

Pria itu bergerak menggeliat dan bangkit duduk, memandang ke sekeliling.

"Ehh? Sudah gelap? Sudah tiba di tepi pantai barat?"

"Benar, locianpwe,"

Kata Cian Li.

"Di mana Pek-liong-eng?"

"Nanti dulu, mereka bilang akan menjemput kita dengan kereta di sini. Nah, itu di sana kukira keretanya,"

Kata pria itu dan pada saat itu terdengar ringkik kuda.

"Mari, keretanya di sana. Kita harus melanjutkan perjalanan naik kereta yang sudah disediakan."

Dia meloncat ke darat.

Kakak beradik itu saling pandang di keremangan malam yang hanya diterangi bintang, akan tetapi keraguan mereka dikalahkan keinginan bertemu dengan sepasang pendekar itu.

Maka, merekapun mengikatkan tali perahu pada sebatang pohon, lalu merekapun mendarat dan mengikuti kakek itu.

Benar saja, tak jauh dari pantai terdapat sebuah kereta dengan dua ekor kudanya.

Di bangku kusir duduk seorang laki-laki tinggi besar.

Dia duduk seperti patung dan sama sekali tidak menengok, dan juga kakek sastrawan itu sama sekali tidak bertanya atau menegurnya.

"Marilah, kalian naik kereta ini bersamaku,"

Katanya mempersilakan kakak beradik itu naik ke kereta.

"Ke manakah kita akan pergi, locianpwe? Di mana mereka berdua itu?"

Tanya Sun Ting.

"Naik sajalah, nanti kalian akan mengetahuinya sendiri,"

Katanya.

Begitu mereka bertiga duduk di dalam kereta, kendaraan itu segera bergerak cepat.

Dua buah lentera di kanan kiri kereta bergoyang-goyang dan kereta itu bergerak cepat.

Sun Ting mulai merasa curiga.

"Locianpwe ini siapakah? Siapakah nama locianpwe dan apa yang yang terjadi dengan Pek-liong-eng dan Hek-liong-li?"

"Benar, ceritakan kepada kami, locianpwe, agar hati kami tidak merasa ragu dan bimbang. Apa yang terjadi dengan mereka dan di mana mereka sekarang?"

Kata pula Cian Li.

"Kalian ingin mengetahui siapa aku? Orang menyebut namaku Kim Pit Siu-cai (Sastrawan Pena Emas),"

Kata pria itu dan di dalam suaranya halus itu kini terkandung kebanggaan hati.

Akan tetapi, melihat wajah kedua prang kakak beradik itu tertimpa sinar lentera itu tidak kelihatan kaget, bahkan agaknya tidak mengenal nama julukan itu, alis Kim Pit Siu-cai berkerut.

Tentu saja kakak beradik itu tidak mengenal nama datuk besar ini.

Mereka berdua bukanlah orang-orang kang-ouw dan kalau mereka berdua menjadi sahabat Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, hal itu hanya kebetulan saja.

Mereka bukan ahli-ahli silat dan bukan pendekar, tidak mengenal dunia kang-ouw dan para tokohnya, maka nama itupun sama sekali tidak mereka kenal.

"Tapi di mana kedua pendekar itu dan bahaya apakah yang mengancam mereka?"

Tanya Cian Li.

Melihat kenyataan bahwa dua orang kakak beradik itu tidak terkejut mendengar namanya, hal ini saja sudah membuat Kim Pit Siu-cai penasaran dan marah sekali.

Kalau saja dia tidak membutuhkan dua orang kakak beradik ini, tentu akan dibunuhnya mereka seketika untuk memuaskan hatinya yang merasa penasaran.

Tidak dikenal nama besarnya sama saja dengan suatu penghinaan baginya!

"Kalian tidak mengenal nama besar Kim Pit Siu-cai?"

Tanyanya, kini suaranya terdengar ketus.

"Ketahuilah bahwa aku adalah seorang di antara Kiu Lo-mo!"

Akan tetapi, kembali dia tertegun, penasaran dan wajahnya berubah merah sekali.

"Kiu Lo-mo? Siapakah mereka itu?"

Tanya Cian Li, juga Sun Ting memandang tak mengerti.

Kalau saja dia bukan sastrawan, tentu Kim Pit Siu-cai sudah menyumpah-nyumpah dan memaki-maki saking jengkelnya.

Lalu dia teringat sesuatu dan membentak.

"Coba katakan, apakah kalian tidak mengenal nama Siauw-bin Ciu-kwi?"

Mendengar disebutnya nama ini, kakak beradik itu terkejut.

"Aih, iblis tua yang amat jahat itu?"

Tanya Cian Li. Kini Kim Pit Siu-cai tertawa bergelak dan ketika dia tertawa, lenyaplah semua sikap halus dan sopannya. Di dalam suara tawanya terkandung kekejaman yang mengerikan.

"Ha-ha-ha, kalian mengenal Siauw-bin Ciu-kwi, bukan? Ha-ha-ha-ha!"

"Tapi iblis tua yang jahat itu telah mati!"

Kata Sun Ting.

"Dia telah mati, akan tetapi aku belum! Dan aku adalah saudaranya, dan aku akan membalas dendam kematiannya!"

"Ahhh...!!"

Tentu saja kakak beradik itu terkejut bukan main, wajah mereka berubah pucat dan mata mereka terbelalak.

"Kalau begitu, engkau bukan sahabat Pek-liong-eng dan Hek-liong-li!"

"Ha-ha-ha-ha, sahabat? Mereka adalah musuh-musuh besar yang harus kubunuh! Dan kalian akan menjadi umpan agar mereka berdua datang!"

"Tidak, aku tidak sudi!"

Teriak Cian Li dan kakaknya juga menjadi marah sekali.

Keduanya bergerak hendak melompat keluar dari dalam kereta.

Akan tetapi, kipas di tangan Kim Pit Siu-cai bergerak lebih cepat lagi.

Dia duduk berhadapan dengan kedua orang kakak beradik itu dan begitu kipasnya bergerak dua kali, Sun Ting dan Cian Li sudah menjadi lemas tak mampu bergerak lagi karena sudah tertotok ujung gagang kipas!

Mereka hanya duduk lemas bersandar dan dengan mata terbelalak marah mereka hanya dapat memandang kepada Kim Pit Siu-cai yang tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, tanpa kalian pun kami akhirnya akan dapat membunuh Pek-liong dan Liong-li. Akan tetapi dengan kalian, akan lebih mudah memancing mereka. Kalau kalian tidak memberontak, kami akan menerima kalian sebagai tamu, akan tetapi kalau kalian memberontak, terpaksa kalian akan ku perlakukan sebagai tawanan. Nah, kalian tinggal pilih saja!"

Cepat sekali kipasnya bergerak dan kedua orang kakak beradik itu sudah dapat bergerak kembali. Cian Li mengepal tinju, akan tetapi kakaknya segera memegang lengannya dan menggeleng kepala.

"Adikku, kita bukan tandingannya, tidak perlu melawan,"

Katanya dan Cian Li mengerti.

Keadaan bagi mereka akan semakin buruk kalau mereka melawan.

Selain percuma saja melawan, mereka akan menjadi tawanan, tertotok, atau terbelenggu, dan siapa tahu, sebagai tawanan mereka akan diperlakukan lebih buruk lagi.

"Ha-ha-ha, itu baru bijaksana namanya. Nah, sekarang tidak perlu banyak bertanya lagi. Pendeknya, kalian akan menjadi tamu-tamu kami di suatu tempat, di lembah Huang-ho, dan jangan banyak membuat ulah."

Kakak beradik itu tidak membuat ulah, bahkan tidak bicara lagi kepada penawan mereka.

Mereka kini tidak mengkhawatirkan diri sendiri karena tahu bahwa mereka hanya ditawan sebagai umpan untuk memancing datangnya Hek-liong-li dan Pek-liong-eng.

Mereka gelisah memikirkan keselamatan dua orang pendekar yang mereka cinta itu.

Kakek yang menawan mereka itu demikian lihai, jahat dan kejam sekali nampaknya, walaupun sikapnya halus dan wajahnya masih tampan.

Tampak mengerikan.

Biarpun mereka diam saja, namun di dalam hati kedua orang kakak beradik ini, mereka mengambil keputusan untuk membantu Liong-li dan Pek-liong sedapat mungkin, dan mereka hanya dapat menunggu.

Di balik semua perasaan khawatir itu, juga terdapat keinginan tahu apakah sepasang pendekar itu akan dapat dipancing dengan umpan diri mereka, apakah sepasang pendekar itu masih memperdulikan mereka?

Ada harap-harap cemas tersembunyi di lubuk hati mereka.

Kakak beradik ini memang tidak membuat usaha melarikan diri atau melawan lagi sampai perjalanan itu berakhir di lembah Huang-ho, di rumah gedung yang menjadi tempat tahanan Song Tek Hin dan isterinya, Su Hong Ing yang ditawan oleh Ang I Sian-li, seorang di antara Sembilan Iblis.

Akan tetapi karena kamar mereka terpisah, mereka tidak saling mengetahui bahwa ada tawanan lain di samping mereka.

Seperti juga suami isteri itu, Kam Sun Ting dan Kam Cian Li mendapat kebebasan, namun mereka tidak melihat sedikitpun kesempatan untuk dapat melarikan diri dari tempat yang terjaga ketat dan di mana terdapat orang-orang yang memilliki ilmu kepandaian tinggi seperti Kim Pit Siu-cai dan Ang I Sian-li.

Kakak beradik itu, seperti juga halnya suami isteri itu, hanya dapat menanti dengan hati tegang dan khawatir.

Dibandingkan tugas dua orang rekannya, yaitu Kim Pit Siu-cai yang menangkap kakak beradik Kam, dan Ang I Sian-li yang menangkap Song Tek Hin dan isterinya, tugas yang dilaksanakan Pek-bwe Coa-ong jauh lebih sukar.

Sebagai orang tertua di antara tiga orang sisa Sembilan Iblis Tua itu, Pek-bwe Coa-ong si Raja Ular ini memang sengaja menangani tugas sukar ini sendiri.

Tugasnya ialah menangkap Cian Hui dan isterinya yang bernama Cu Sui In.

Tentu saja tugas.ini tidak mudah dilaksanakan oleh karena Cian Hui bukan orang sembarangan.

Dia adalah Cian Ciang-kun, seorang panglima muda yang gagah perkasa dan yang di kota raja sudah terkenal sebagai seorang penyelidik atau detektip yang sudah banyak berhasil membongkar berbagai kejahatan.

Sebagai seorang panglima, tentu saja Cian Ciang-kun mempunyai kekuasaan atas sepasukan perajurit keamanan yang tangguh, dan dia sendiri memiliki ilmu silat yang lihai di samping kecerdikannya sebagai seorang pemberantas kejahatan.

Cian Hui yang sudah berusia empat puluh tiga tahun itu masih nampak tegap dan gagah, wajahnya kejantanan, wajahnya berbentuk segi empat, dagunya berlekuk keras, alisnya hitam tebal sekali, hidungnya besar mancung dan mulutnya cerah, matanya lebar, suaranya juga tegas dan nyaring, tubuhnya tinggi tegap.

Ilmu silatnya adalah ilmu silat keturunan keluarga Cian, senjatanya sebatang suling baja yang ampuh.

Dengan jenggot kumis terpelihara rapi, panglima ini memang nampak gagah berwibawa, membuat gentar hati para penjahat yang bertemu dengan dia.

Selama tiga tahun sudah Cian Hui menikah dengan Cu Sui In, dan mereka mempunyai seorang anak perempuan berusia dua tahun yang diberi nama Cian Hong.

Kalau Cian Hui pandai ilmu silat keluarganya, isterinya yang murid Kun-lun-pai itu lebih lihai lagi!

Cu Sui In seorang wanita cantik berusia dua puluh sembilan tahun, keturunan bangsawan pula.

Ia seorang janda, empat tahun yang lalu suaminya tewas dibunuh penjahat yang dipimpin Kui-eng-cu, yang sesungguhnya adalah dua orang di antara Sembilan Iblis Tua, yaitu mendiang Lam-hai Mo-ong dan Tiat-thouw Kui-bo.

Dalam memerangi gerombolan Kui-eng-cu (Si Bayangan Iblis) inilah ia bertemu dengan Cian Hui, dan bertemu pula dengan Hek-liong-li dan Pek-liong-eng.

Kalau Cian Hui tergila-gila kepada Liong-li, Sui In tergila-gila kepada Pek-liong.

Akan tetapi karena sepasang pendekar itu tidak mau terlibat dalam pernikahan, hubungan cinta itu gagal, dan kalau tadinya mereka saling menghibur, akhirnya Cian Hui dan Cu Sui In saling tertarik dan menikah.

Dari pernikahan ini mereka mendapatkan seorang anak perempuan.

Suami isteri jagoan ini tinggal di sebuah gedung yang mungil di kota raja.

Biarpun dia seorang panglima, namun Cian Ciang-kun tidak suka hidup gemerlapan dengan kemewahan.

Rumahnya tidak terlalu besar seperti rumah para panglima lainnya, namun karena dia menyadari bahwa dia dimusuhi banyak penjahat dan tokoh sesat yang pernah diberantasnya, maka siang malam selalu ada saja pasukan khusus yang melakukan penjagaan di sekitar rumah Cian Ciang-kun untuk menjaga keselamatan, untuk mencegah agar tidak ada tokoh sesat yang datang membalas dendam kepada keluarga itu.

Sebetulnya, penjagaan ini dilakukan oleh Cian Hui semenjak isterinya melahirkan seorang anak.

Sebelum itu, dia tidak pernah menyuruh anak buahnya melakukan penjagaan, karena dia merasa bahwa dia sendiri bersama isterinya cukup tangguh untuk membela diri kalau terjadi penyerangan.

Akan tetapi setelah puterinya lahir, dia melakukan penjagaan itu demi keselamatan puterinya.

Itulah sebabnya mengapa Pek-bwe Coa-ong mengalami kesulitan untuk dapat menculik Cian Hui dan isterinya seperti yang telah direncanakannya bersama dua orang rekannya, yaitu Kim Pit Siu-cai dan Ang I Sian-li dalam usaha mereka membalas dendam kepada Pek-liong-eng dan Hek-liong-li.

Telah sepekan dia berada di kota raja, setiap hari melakukan pengintaian namun tak pernah mendapatkan kesempatan untuk melakukan usahanya itu.

Dia tidak berani melakukan kekerasan terhadap Cian Hui dan isterinya di kota raja karena dimaklum betapa besar bahayanya kalau sampai para jagoan istana dan pasukan keamanan mengepung dan mengeroyoknya.

Kalau dia hendak membunuh panglima itu dan isterinya, hal itu agaknya akan dapat dia lakukan lebih mudah, apalagi dia memang sengaja membawa Thai-san Ngo-kwi untuk membantunya.

Akan tetapi justeru kesukarannya terletak pada tidak harus melakukan pembunuhan.

Kalau panglima dan isterinya itu dibunuh, hal itu sama sekali tidak ada gunanya lagi.

Mereka harus dapat ditangkap hidup-hidup, dijadikan tawanan sebagai umpan agar Liong-li dan Pek-liong berdatangan,untuk menyelamatkan sahabat baik itu.

Pada suatu sore, Pek-bwe Coa-ong yang selalu melakukan pengintaian itu melihat Cian Hui dan isterinya keluar dari rumah mereka.

Suami isteri itu agaknya hendak berjalan-jalan mencari hawa sejuk karena udara sore hari itu agak panas dan mereka tidak membawa pengawal.

Diam-diam Pek-bwe Coa-ong membayangi mereka dan melakukan persiapan karena dianggapnya bahwa hal itu merupakan kesempatan yang baik sekali.

Atas isyaratnya Thai-kwi dan Ji-kwi ikut pula melakukan pengintaian dan kini dua orang di antara Thai-san Ngo-kwi itu ikut pula membayangi suami isteri yang sama sekali tidak mengira bahwa dalam suasana yang aman dan nyaman itu, mereka terancam bahaya.

Cian Hui dan Sui In memasuki sebuah taman di kota raja.

Taman umum itu indah terpelihara baik-baik dan luas, terdapat banyak pohon dan rumpun bunga-bunga beraneka warna.

Sore itu, banyak juga orang berjalan-jalan di taman umum itu karena hawa udara di situ lebih sejuk.

Akan tetapi, karena taman itu luas, maka banyak bagian yang nampak sepi.

Ketika Cian Hui dan Sui In sedang berjalan perlahan-lahan di bagian yang sunyi dekat sebuah kolam ikan sambil bercakap-cakap, tiba-tiba muncul dua orang laki-laki yang berjalan dari depan.

Tanpa curiga Cian Hui dan isterinya memandang kepada mereka.

Seorang tinggi besar berkulit hitam dan seorang lagi pendek gendut, usia mereka empat puluh tahun lebih.

Ketika dua orang itu telah datang dekat, tiba-tiba saja mereka menyerang suami isteri itu dengan pukulan yang dahsyat, tanpa memberitahu lebih dahulu.

Tentu saja suami isteri itu terkejut bukan main.

Namun, mereka adalah ahli-ahli silat kelas satu, maka cepat mereka dapat meloncat ke samping mengelak.

Si tinggi besar terus menyerang Cu Sui In, sedangkan yang pendek gendut menyerang Cian Hui.

Tentu saja kedua orang itu adalah Thai-kwi dan Ji-kwi yang telah mendapat perintah dari Pek-bwe Coa-ong untuk melakukan penyerangan kepada suami isteri yang sejak tadi mereka bayangi.

Karena mereka sebelumnya sudah melakukan penyelidikan dan tahu bahwa Sui In lebih lihai dari Cian Hui, maka Thai-kwi menyerang Sui In dan Ji-kwi yang menyerang Cian Hui.

"Heii, gilakah kalian tanpa sebab menyerang kami?"

Cian Hui membentak dan kembali dia mengelak dari serangan si pendek gendut yang amat lihai itu.

"Cian Hui, engkau dan isterimu harus mati untuk menebus dosamu terhadap banyak saudara kami yang kautawan dan kau bunuh!"

Teriak Thai-kwi yang juga mendesak Sui In.

Mengertilah Cian hui bahwa dia berhadapan dengan golongan sesat yang memusuhinya untuk membalaskan para penjahat yang pernah ditangkapnya atau dibasminya, maka tanpa banyak cakap lagi diapun membalas serangan si pendek gendut.

Akan tetapi, sekali ini dia terkejut karena si gendut ini benar-benar amat lihai.

Ketika si gendut itu menangkis pukulannya, dia merasa betapa lengan kanannya tergetar hebat dan terasa nyeri.

Ia menunjukkan bahwa si gendut ini memiliki tenaga yang amat kuat.

Juga ketika dia melirik ke arah isterinya, dia melihat isterinya terdesak oleh si tinggi besar.

"Singg...!"

Cian Hui mencabut pedangnya, akan tetapi pada saat itu, lawannya juga mengeluarkan sebatang golok yang berkilauan saking tajamnya.

Mereka kembali saling serang dan ternyata ilmu golok lawannya itupun hebat sehingga sebentar saja gulungan sinar pedangnya terhimpit.

Tentu saja Cian Hui merasa khawatir sekali, terutama terhadap keselamatan isterinya.

Cu Sui In adalah murid Kun-lun-pai yang tangguh, bahkan tingkat ilmu silatnya lebih tinggi dibandingkan suaminya.

Akan tetapi sekali ini ia bertemu tanding yang amat kuat.

Apalagi ketika lawannya menggerak-gerakkan kedua lengan secara aneh dan nampak kedua lengan itu kemerah-merahan, tahulah Sui In bahwa lawannya memiliki ilmu yang aneh dan tangannya mengandung hawa panas seperti api.

Tidak seperti suaminya yang tak pernah ketinggalan membawa pedang, nyonya muda ini tidak membekal senjata, karena niatnya meninggalkan rumah hanya untuk jalan-jalan mencari hawa sejuk.

Akan tetapi agaknya lawannya seorang yang tinggi hati karena melihat ia tidak bersenjata, lawannya juga tidak mencabut golok yang tergantung di punggungnya.

Biarpun demikian, tetap saja dia mulai terdesak.

Tiba-tiba, di antara beberapa orang yang mulai tertarik dan nonton perkelahian itu, muncul seorang kakek yang rambutnya sudah putih semua.

"Siapa berani mengganggu Cian Ciang-kun?"

Bentaknya halus dan diapun melompat ke dalam kalangan perkelahian, tangannya yang hampir tak nampak tertutup lengan baju yang lebar dan panjang itu digerakkan dua kali ke arah Thai-kwi dan Ji-kwi.

Angin yang kuat sekali menyambar dari lengan baju itu dan kedua orang yang menyerang suami isteri itu terdorong dan terhuyung ke belakang!

Mereka berdua maklum bahwa kakek yang membela suami isteri itu memiliki kesaktian, maka tanpa banyak sikap lagi keduanya lalu berlompatan melarikan diri dengan cepat sekali.

Tentu saja Cian Hui dan isterinya merasa lega dan berterima kasih sekali kepada kakek yang amat lihai itu.

Mereka memandang dengan penuh perhatian dan merasa kagum.

Kakek itu usianya sekitar enam puluh lima tahun, rambutnya sudah putih semua dan wajahnya nampak tua sedangkan tubuhnya kecil kurus dan kelihatan ringkih.

Siapa tahu, dia memiliki sin-kang sedemikian hebatnya sehingga sekali menggerakkan tangan, hawa pukulannya membuat penjahat yang tangguh tadi terdorong dan terhuyung!

Cian Hui dan isterinya cepat memberi hormat kepadanya dan Cian Hui berkata dengan suara yang mengandung rasa kagum dan hormat.

"Kami menghaturkan terima kasih kepada locianpwe yang telah menolong kami. Agaknya lo-cianpwe sudah mengetahui bahwa saya bernama Cian Hui dan ini isteri saya, Cu Sui In. Bolehkah kami mengenal nama besar locianpwe yang mulia?"

Kakek itu tersenyum dan mengeluarkan suara tawa aneh dan lirih.

"Heh-heh, namaku tidak ada artinya bagi Ciang-kun, yang lebih penting Ciang-kun ketahui bahwa saya memang mencari Ciang-kun berdua isteri karena saya membawa pesan dari sahabat baik saya Pek-liong-eng..."

Mendengar ini, Cian Hui dan isterinya terkejut akan tetapi juga girang.

Kiranya kakek lihai ini adalah sahabat Pek-liong-eng Tan Cin Hay.

Pantas demikian lihainya!

Akan tetapi karena di situ terdapat banyak orang yang berkumpul karena merasa tertarik oleh perkelahian tadi, Cian Hui berkata.

"Locianpwe, tidak leluasa untuk bicara di sini. Mari, kami persilakan locianpwe berkunjung ke rumah kami di mana kita dapat bicara dengan leluasa."

"Heh-heh, begitupun lebih baik..."

Kakek itu mengangguk-angguk lalu mereka bertiga meninggalkan taman dan pergi ke rumah panglima itu.

Setelah mereka duduk di dalam ruangan tamu, Cian Hui dan isterinya yang duduk berhadapan dengan kakek itu segera bertanya apakah pesan yang dibawa oleh kakek itu dari Pek-liong, dan siapa pula nama kakek yang lihai itu.

"Heh-heh, sudah saya katakan bahwa nama saya tidak ada artinya bagi ji-wi (kalian berdua). Nama saya Gan Ki dan saya adalah seorang sahabat baik dari Pek-liong-eng dan Hek-liong-li. Pek-liong-eng yang mengutus saya mencari Ciang-kun dan nyonya.

"Apakah pesan itu, Gan-locianpwe?"

Tanya Cian Hui.

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 2

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert