Ceritasilat Novel Online

Dendam Sembilan Iblis Tua 3

Eps 3 Dendam Sembilan Iblis Tua - Kho Ping Hoo

Baca online Dendam Sembilan Iblis Tua - Kho Ping Hoo

Cersil Dendam Sembilan Iblis Tua - Kho Ping Hoo.

"Dia berpesan agar sekarang juga ji-wi datang kepadanya. Dia berada dalam bahaya maut dan hanya ji-wi yang akan dapat menyelamatkannya. Saya diutus menjemput ji-wi dan sudah disediakan kereta untuk ji-wi di luar pintu gerbang selatan kota raja. Karena tidak ingin menarik perhatian orang, sengaja kereta itu saya tinggalkan di sana, siap untuk mengantar ji-wi ke tempat Pek-liong-eng berada."

Tentu saja suami isteri itu terkejut bukan main mendengar bahwa Pek-liong berada dalam bahaya maut! "Di mana dia sekarang?"

Sui In tak dapat menahan kecemasan hatinya dan bertanya. Bagaimanapun juga, Pek-liong merupakan orang yang pernah menjadi kekasihnya dan ia tidak pernah dapat melupakan pendekar itu.

"Di suatu tempat di lembah Huang-ho. Marilah kita segera berangkat, saya khawatir kita akan terlambat,"

Kakek itu mendesak. Cian Hui teringat akan sesuatu.

"Locianpwe, kalau Pek-liong berada dalam bahaya maut, kenapa lo-cianpwe mencari kami, bukan mencari Liong-li?"

"Liong-li? Ah, kau maksudkan Hek-liong-li Ciang-kun? Ia tidak berada di tempat tinggalnya dan menurut Pek-liong-eng, Hek-liong-li juga terancam maut. Karena itu, marilah cepat-cepat kita pergi agar jangan terlambat, Ciang-kun. Sebaiknya Ciang-kun pergi berdua seperti pesan Pek-liong-eng, jangan bawa pasukan pengawal karena hal ini tentu akan diketahui oleh pihak musuh dan celakalah Pek-liong-eng!"

Suami isteri itu saling pandang, wajah Sui In membayangkan kecemasan.

"Mari kita cepat pergi dan menolongnya!"

Kata nyonya muda itu.

"Mari, kita berkemas dulu. Harap locianpwe menunggu sebentar di sini, kami hendak membuat persiapan dan berkemas,"

Kata Cian Hui. Kakek itu mengangguk sambil tersenyum dan suami isteri itu masuk ke dalam. Setelah tiba di dalam, Cian Hui menarik tangan isterinya diajak ke belakang.

"Aku curiga kepadanya, kita harus membuat persiapan,"

Bisiknya dan diapun menulis surat dengan cepat, memanggil kepala penjaga lalu menyerahkan surat itu dengan pesan agar cepat-cepat surat itu diserahkan kepada Teng Gun atau Teng Ciang-kun.

Setelah kepala penjaga itu pergi dengan cepat, dia dan isterinya lalu membawa bekal dan tidak lupa mereka mempersiapkan pedang dan senjata rahasia, juga obat-obatan.

Sui In memesan kepada pelayan agar menjaga Cian Hong baik-baik dan agar para pengawal menjaga keselamatan anak itu, barulah mereka pergi ke ruangan tamu kembali dan disambut dengan senyum gembira oleh kakek rambut putih itu.

"Bagus, ji-wi tidak membuang-buang waktu. Mari kita cepat berangkat!"

Katanya dan suaranya terdengar gembira.

"Akan tetapi agar tidak menarik perhatian, kita jangan terlalu cepat berjalan selama berada dalam kota,"

Kata Cian Hui.

"Ketahuilah, locianpwe, saya mempunyai tugas pekerjaan, akan tetapi terpaksa saya tinggalkan demi menolong Pek-liong-eng, sahabat baik kami."

Kakek itu mengangguk-angguk.

"Saya tahu, kalau bukan sahabat baik, tentu Pek-liong-eng tidak menyuruh saya mencari ji-wi."

Mereka bertiga lalu keluar dari rumah Cian Hui dan berjalan dengan santai menuju ke selatan, ke arah pintu gerbang selatan.

Tidak nampak ketegangan di wajah Cian Hui, apa lagi ketika dia melihat beberapa orang dalam penyamaran mengamati mereka, yaitu para jagoan istana yang menjadi sahabat-sahabatnya.

Kiranya Teng Ciang-kun, pembantunya yang setia, dapat bekerja dengan cepat sekali sesuai dengan isi suratnya yang dikirimkannya tadi.

Tidak terjadi sesuatu selama mereka melakukan perjalanan santai menuju ke pintu gerbang selatan.

Setelah keluar dari pintu gerbang, kakek itu berkata.

"Kami telah mempersiapkan sebuah kereta untuk melanjutkan perjalanan. Di sana keretanya, Ciang-kun,"

Dia menunjuk ke kiri, ke lorong yang menyimpang dari jalan raya.

Cian Hui dan Sui In mengikutinya memasuki lorong yang sepi itu, dan dari jauh nampak sebuah kereta sudah menanti.

Tempat itu memang sepi, apa lagi cuaca mulai gelap remang-remang.

Ketika sudah tiba di dekat kereta, suami isteri itu melihat dua orang berada di atas kereta, di bangku kusir dan mereka terkejut bukan main mengenal bahwa mereka itu bukan lain adalah si tinggi besar muka hitam dan si gendut yang tadi menyerang mereka di dalam taman!

(Lanjut ke

Jilid 05) Dendam Sembilan Iblis Tua (Seri ke 03 -Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05

"Heil! Apa artinya ini?"

Seru Cian Hui dan bersama isterinya diapun memutar tubuh untuk menghadapi kakek yang mengaku bernama Gan Ki.

Kakek itu berdiri menyeringai dan kini wajahnya yang nampak tua dan ringkih itu kelihatan licik dan kejam.

"Artinya, kalian berdua menjadi tawanan kami."

"Siapakah engkau sebenarnya dan mengapa pula hendak menawan kami?"

Cian Hui bertanya dengan suara lantang karena marah. Kini kakek yang sudah merasa yakin akan keberhasilannya, tertawa mengejek.

"Ha-ha-ha, namaku memang Gan Ki walaupun tak pernah aku mempergunakan nama kecil itu. Dunia kang-ouw mengenalku sebagai Pek-bwe Coa-ong (Raja Ular ekor Putih)."

Cian Hui terkejut.

"Seorang di antara Kiu Lo-mo?"

"Heh-heh, engkau memang cerdik, Cian Ciang-kun. Memang benar sekali dugaanmu itu."

"Lalu mengapa engkau menawan kami?"

"Agar Pek-liong-eng dan Hek-liong-li datang untuk menolong kalian. Bukankah kalian sahabat sahabat baik mereka? Kalian kami tawan untuk menjadi umpan. Setelah dapat ikannya, kalian akan kami bebaskan."

"Tidak sudi kami dijadikan umpan!"

Bentak Cu Sui In marah dan ia sudah mencabut pedangnya, diikuti suaminya yang juga mencabut pedang.

"Kalian hendak melawan? Ha-ha, menghadapi Thai-kwi dan Ji-kwi saja kalian tidak mampu menang, dan kalian hendak melawan aku?"

Cian Hui dan Cu Sui In yang sudah marah sekali tidak perduli dan menerjang kakek itu dengan pedang mereka.

Pek-bwe Coa-ong tersenyum dan tubuhnya membuat gerakan seperti ular, lalu kedua lengannya didorongkan ke depan menyambut serangan itu.

"Wuuuuuttt...!"

Angin dahsyat menyambut suami isteri itu dan betapapun mereka sudah mengerahkan sin-kang mempertahankan diri, tetap saja Cian Hui terjengkang dan Cu Sui In yang lebih tangguh, terdorong ke belakang dan terhuyung!

Cian Hui cepat mengeluarkan peluit kecil dan meniupnya.

Terdengar suara nyaring dan belasan bayangan berkelebat.

Mereka adalah jagoan-jagoan istana yang sudah berloncatan keluar dengan senjata di tangan dan di belakang mereka masih nampak puluhan orang perajurit.

Melihat ini, Pek-bwe Coa-ong terkejut, dan dua orang dari Thai-san Ngo-kwi juga terbelalak.

Sama sekali tidak mereka sangka bahwa suami isteri yang sudah mereka jebak itu berbalik memasang perangkap bagi mereka!

Melihat bahwa keadaannya menjadi berbahaya karena diapun maklum bahwa jagoan-jagoan dari kota raja amat lihai dan jumlah mereka amat banyak, kakek itu mengeluarkan teriakan nyaring memberi isyarat kepada dua orang pembantunya dan merekapun berlompatan melarikan diri dengan cepat sekali, meninggalkan kereta dan kuda mereka.

Mereka hanya bermaksud menawan suami isteri itu untuk dijadikan umpan.

Usaha mereka telah gagal maka mereka tidak ingin terlibat dalam perkelahian dan permusuhan melawan pasukan keamanan pemerintah.

Cian Hui dan isterinya segera pulang dengan hati lega, akan tetapi setelah tiba di rumah, Sui In bertanya.

"Bagaimana engkau bisa tahu bahwa dia berniat jahat dan telah mengerahkan bala bantuan?"

Cian Hui menghela napas.

"Berkat pengalamanku selama bertahun-tahun, aku selalu waspada dan teliti. Ada banyak hal yang ganjil ketika kakek itu bercerita tentang Pek-liong-eng. Pertama kalau dia memang mencariku, bagaimana kita dapat bertemu dengan dia di taman, tepat pada saat kita diserang kedua orang itu? Kebetulan yang agaknya disengaja atau diatur. Kalau benar dia mencariku untuk menyampaikan pesan dari Pek-liong-eng tentu dia akan langsung saja datang ke rumah, bukan berkeliaran di taman.

"Kedua, kalau benar Pek-liong-eng membutuhkan bantuan kita, tentu dia akan mengirim surat, bukan secara lisan. Ketiga, kakek itu memiliki kepandaian tinggi, kalau dia benar sahabat baik dari Pek-liong-eng, mengapa dia jauh-jauh mencari kita dan bukan dia sendiri saja yang menolong Pek-liong? Kepandaiannya jauh di atas kita, lalu mencari kita apa gunanya? Keempat, dia bilang menyiapkan kereta untuk kita, dan tidak ingin menarik perhatian maka keretanya ditinggalkan di luar pintu gerbang. Hal ini tidak masuk diakal. Kalau kedatangannya bermaksud baik, kenapa dia menjauhkan perhatian orang? Pendeknya, banyak sekali pada dirinya yang menimbulkan kecurigaan, maka ketika kita masuk untuk berkemas, aku mengirim surat kepada Teng Ciang-kun agar dia mengirim bala bantuan yang kuat dan memasang barisan pendam di luar pintu gerbang, melihat perkembangan."

Isterinya mengangguk-angguk dan memandang kagum kepada suaminya.

"Engkau memang cerdik sekali. Kalau begitu, jelas bahwa Pek-liong dan Liong-li sebenarnya tidak berada dalam ancaman bahaya maut."

"Engkau keliru. Kakek itu adalan Pek-bwe Coa-ong, seorang di antara Sembilan Iblis Tua. Setahuku, Pek-liong dan Liong-li telah membunuh empat orang di antara mereka, dan dua orang lagi, yaitu Lam-san Siang-kwi (Sepasang Iblis Gunung Selatan) telah lebih dahulu tewas. Jadi sisanya tinggal tiga orang lagi, yaitu Pek-bwe Coa-ong, Kim Pit Siu-cai dan Ang I Sian-li.

"Mereka adalah orang-orang yang amat lihai dan berbahaya sekali. Siapa tahu mereka bertiga itu kini bersatu untuk membalas dendam atas kematian rekan-rekan mereka. Kalau mereka gagal menawan kita untuk dijadikan umpan, tentu mereka akan mempergunakan cara lain untuk membalas dendam kepada Pek-liong dan Liong-li. Dan aku harus cepat memberi kabar untuk memperingatkan mereka akan ancaman ini."

"Engkau hendak pergi berkunjung kepada Pek-liong dan Liong-li? Akan tetapi, hal itu berbahaya sekali karena Pek-bwe Coa-ong dan kawan-kawannya tentu akan berusaha menangkapmu."

Cian Hui menggeleng kepala.

"Aku sudah mereka kenal, aku akan menyuruh seorang pembantu yang cerdik untuk membawa suratku kepada Pek-liong, dan seorang pembantu lagi kusuruh mengantar surat kepada Liong-li."

Demikianlah, malam hari itu juga Cian Hui membuat dua buah surat dan menyuruh anak buah yang pandai, Seorang pergi ke dusun Pat-kwa-bun mencari Pek-liong-eng, dan seorang lagi pergi ke kota Lok-yang mencari Hek-liong-li.

Hek-liong-li Lie Kim Cu duduk seorang diri di ruangan dalam rumahnya.

Ia duduk seenaknya, mengangkat kedua kaki yang ditekuk lututnya ke atas kursi, nongkrong seorang diri di pagi hari itu.

Rambutnya masih kusut, pakaiannya juga kacau dan tidak rapi karena ia baru saja bangun tidur dan belum sempat mandi dan bertukar pakaian karena pagi-pagi sudah disibukkan dengan termenung seorang diri.

Kadang-kadang ia menggosok-gosok hidungnya yang tidak gatal dan kesibukan menggosok hidung ini bagi yang sudah mengenalnya menjadi tanda bahwa wanita cantik jelita yang gagah perkasa ini sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, Sedang mengerjakan kecerdasan otaknya untuk memecahkan persoalan yang rumit.

Dan memang Liong-li sedang termenung memikirkan semua peristiwa yang menimpa dirinya.

Ia sudah mengerahkan semua pembantunya, beberapa hari yang lalu ia membawa sembilan orang pembantunya, semua bersenjata lengkap, mendaki puncak Thai-san hendak menyerbu sarang Thai-san Ngo-kwi.

Akan tetapi, ternyata yang disergapnya hanyalah sarang yang kosong belaka.

Semua burung sudah meninggalkan sarang, atau lebih tepat lagi, semua srigala telah meninggalkan sarang mereka.

Tak seorangpun dari Thai-san Ngo-kwi maupun anak buah mereka dapat ia temukan.

Saking kecewa dan marahnya, Liong-li dan anak buahnya membakar sarang itu sampai habis rata dengan tanah.

Akan tetapi perbuatan itu masih belum menenangkan hatinya.

Jelas bahwa Thai-san Ngo-kwi memusuhinya karena hendak membalas dendam kematian guru mereka, yaitu Siauw-bin Ciu-kwi.

Akan tetapi, agaknya mereka tidak berdiri sendiri.

Nenek pesolek yang lihai itu tentu yang menjadi dalangnya dan ia tidak.mengenal nenek itu.

Tidak tahu pula di mana sekarang mereka berada.

Dan selama ia belum dapat membasmi mereka, tentu ia akan selalu terancam.

Sekarangpun ia melarang anak buahnya keluar seorang diri.

Tidak aman bagi mereka.

Diancam musuh yang bergerak secara bersembunyi sungguh tidak mengenakkan hati, selalu tegang dan harus waspada setiap saat.

Ia harus dapat menghancurkan mereka.

Akan tetapi di mana mereka?

Ia teringat kepada Pek-liong.

Kenapa belum juga ada balasan dari Pek-liong?

Tiba-tiba daun pintu ruangan itu diketuk seorang pembantunya.

Ang-hwa yang berpakaian serba merah itu muncul.

"Lihiap ada seorang tamu hendak bertemu dengan Lihiap, katanya dia membawa surat dari Song Tek Hin dan Kam Sun Ting."

Liong-li mengerutkan alisnya.

Terlalu banyak nama yang dikenalnya, maka untuk mengingat dua nama itu ia harus menggali ingatannya.

Kemudian ia teringat.

Song Tek Hin adalah pemuda tegap tampan yang dikenalnya lima tahun yang lalu, dan Kam Sun Ting adalah seorang pemuda ramping tegap kokoh kuat, perenang dan penyelam tangguh di Telaga Po-yang itu yang dikenalnya tiga tahun yang lalu.

Kedua pemuda itu adalah sahabat-sahabat baiknya, bukan sekadar sahabat malah, mereka pernah menjadi kekasihnya dan teringat kepada mereka mendatangkan kehangatan di hatinya.

"Suruh dia menunggu di ruangan tamu dan ingat, jaga dia baik-baik, awasi gerak-geriknya dan cegah sesuatu terjadi kepadanya. Aku mau mandi sebentar."

Ang-hwa mengangguk dan pergi.

Liong-li cepat mandi air dingin dan tak lama kemudian ia telah memasuki ruangan tamu dengan wajah segar dan pakaian yang rapi, pakaian serba hitam yang selalu menutupi tubuhnya.

Seorang laki-laki berusia lima puluh tahun, melihat pakaiannya tentu seorang desa, bangkit dari tempat duduknya dan memandang kepada Liong-li dengan kagum.

Biarpun ia berhadapan dengan seorang dusun yang sederhana, namun karena orang itu menjadi tamunya, Liong-li cepat mengangkat kedua tangan, depan dada, lalu berkata.

"Apakah paman hendak bertemu dengan saya?"

Pria itu nampak bingung.

"Saya ingin berjumpa dengan... yang namanya Hek-liong-li..."

Liong-li tersenyum.

Jelas bahwa orang ini belum pernah melihatnya, juga agaknya tidak tahu bahwa Hek-liong-li adalah sebuah julukan.

Orang ini jelas seorang petani sederhana biasa, sehingga semakin menarik mengapa orang seperti ini hendak bertemu dengannya.

"Akulah Hek-liong-li, paman. Ada keperluan apakah paman hendak bertemu dengan aku?"

Dengan gugup orang itu mengeluarkan dua sampul surat dari dalam saku bajunya.

"Aku hendak menyampaikan surat dari Song Tek Hin dan Kam Sun Ting."

Demikian cepat dia mengucapkan dua nama itu seolah-olah dua nama itu telah dihafalkan berulang kali.

Dia menyerahkan dua sampul surat itu kepada Liong-li yang menerimanya.

Dua macam tulisan tangan di luar sampul yang menyebutkan namanya dengan jelas, nama berikut julukannya, yaitu Hek-liong-li Lie Kim Cu.

Tentu saja ia tidak mengenal bagaimana bentuk tulisan dua orang pria itu, dan tidak tahu apakah dua sampul surat ini benar dari mereka ataukah hanya tulisan palsu.

Ia mengangkat mengamati wajah yang sederhana itu.

"Siapakah namamu, paman?"

"Namaku? Namaku Theng Kiu, nona."

"Tempat tinggal paman?"

"Di luar kota ini, sebelah barat, dekat sungai. Aku seorang petani, juga nelayan..."

"Paman mengenal Song Tek Hin dan Kam Sun Ting?"

Petani itu menggeleng kepala.

"Sama sekali tidak mengenal mereka, melihatpun belum."

"Lalu bagaimana surat-surat ini...?"

"Aku menerimanya dari seorang laki-laki. Malam tadi ketika aku sedang menjala ikan di pantai sungai, muncul seorang laki-laki dan dia menyerahkan dua buah surat ini kepadaku dengan pesan agar aku menyampaikannya kepada Hek-liong-li yang tinggal di rumah ini."

"Paman begitu taat kepadanya. Siapakah dia yang menyerahkan surat itu?"

"Aku tidak tahu, nona. Dia menyerahkan dua buah surat ini dan aku diberi upah sepotong perak, dengan pesan agar aku menyampaikan surat-surat ini dan jangan melupakan nama-nama pengirimnya. Karena hari telah malam, maka aku menunda sampai pagi ini."

Liong-li mengangguk-angguk, memuji kecerdikan si pengirim surat.

"Apakah paman dapat menceritakan bagaimana rupanya orang itu?"

"Malam itu gelap sekali di tepi sungai, nona. Aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, hanya dia seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar. Itu saja yang kuketahui."

Kembali Liong-li mengangguk-angguk karena ia sudah menduga demikian.

Kiranya tidak ada yang dapat ia harapkan memperoleh keterangan dari orang ini, maka iapun mengeluarkan sepotong perak dan menyerahkan kepadanya.

"Ini hadiah untukmu, paman. Kalau orang itu muncul lagi dan paman mengenalnya, harap paman suka cepat memberitahu kepadaku, dan aku akan memberi hadiah yang lebih banyak."

Wajah itu berseri dan tangan itu gemetar ketika menerima sepotong perak itu.

Selama hidupnya, baru dua kali ini dia melihat sepotong perak yang amat berharga, yaitu malam tadi dan pagi ini.

Dia mengangguk-angguk mengucapkan terima kasih dan berjanji akan memenuhi permintaan Liong-li.

Kemudian dia pamit dan meninggalkan runah itu dengan hati yang gembira bukan main.

Dalam waktu singkat dia telah memperoleh hasil melebihi hasil dia bekerja selama dua bulan!

Dengan tenang Liong-li membuka sampul surat dan membacanya sambil tetap duduk di ruangan tamu itu, tenggelam ke dalam sebuah kursi yang besar.

Alisnya berkerut ketika membaca dua buah surat itu.

Tulisan tangannya berbeda, akan tetapi isinya senada, yaitu keduanya mengatakan bahwa mereka telah menjadi tawanan musuh di lembah Huang-ho dan kalau ia tidak segera datang menolong mereka, tentu mereka akan dibunuh!

Liong-li menggosok-gosok hidungnya, kedua matanya terpejam.

Ia membayangkan dua orang pemuda itu, terutama watak mereka.

Song Tek Hin adalah seorang pemuda yang memiliki ilmu silat yang cukup lihai, berjiwa pendekar.

Sama sekali bukan seorang yang berwatak pengecut dan takut mati.

Apa lagi Kam Sun Ting.

Penyelam yang gagah ini seorang yang jantan, biarpun ilmu silatnya tidak"lah sehebat ilmunya menyelam, namun dia berhati baja dan pemberani.

Juga sama sekali bukan seorang pengecut.

Kesimpulannya adalah bahwa ada dua kemungkinan.

Surat ini bukan tulisan mereka, atau kalau benar tulisan mereka, tentu ada sesuatu yang memaksa mereka menulis surat seperti ini.

Dan jelas ini merupakah suatu jebakan baginya.

Tentu pihak penulis surat palsu, atau pihak penawan kedua orang pemuda itu sengaja memancingnya datang ke lembah Huang-ho dan sudah bersiap-siap untuk mencelakakannya.

Ada dua hal yang mempertebal dugaannya bahwa ini bukan surat palsu.

Pertama, siapakah orangnya yang tahu bahwa kedua orang pemuda ini merupakan orang-orang yang dekat dengan hatinya sehingga kalau mereka ditawan, tentu ia akan mencoba untuk menolong mereka?

Kedua, mengapa kedua orang pemuda ini yang dipilih untuk dijadikan umpan baginya?

Jelas, ada musuh-musuhnya yang menggunakan siasat ini untuk memancingnya masuk ke dalam perangkap.

Ini tentu ada hubungannya dengan gangguan yang dilakukan orang kepadanya beberapa hari yang lalu.

Thai-san Ngo-kwi?

Dan nenek itu?

Liong-li menggosok-gosok hidungnya lagi.

Ia mengingat kembali peristiwa apa yang mempertemukan ia dengan kedua orang pemuda itu.

Ia bertemu dengan Song Tek Hin ketika ia bersama Pek-liong membasmi gerombolan yang dipimpin Hek-sim Lo-mo, seorang di antara Kiu Lo-mo (Sembilan Ib1is Tua).

Dan ia bertemu dengan Kam Sun Ting ketika ia bersama Pek-liong membasmi gerombolan yang dipimpin oleh Siauw-bin Ciu-kwi, juga seorang di antara Kiu Lo-mo dalam peristiwa perebutan Patung Emas!

Ah, dua peristiwa yang didalangi oleh tokoh-tokoh Kiu Lo-mo!

Berarti Kiu Lo-mo berdiri di belakang ini.

Apa lagi Thai-san Ngo-kwi yang mencoba untuk mengganggu rumahnya juga merupakan murid-murid mendiang Siauw-bin Ciu-kwi!

Liong-li menggosok-gosok hidungnya yang kecil mancung sampai menjadi kemerahan.

Kini seluruh perhatian dan ingatannya ia kerahkan untuk mengingat tentang keadaan Kiu Lo-mo.

Ia pernah bersama Pek-liong melakukan penyelidikan, mencari keterangan di dunia kang-ouw tentang Kiu Lo-mo.

Mereka itu terdiri dari sembilan orang tokoh sesat yang amat terkenal, lihai dan jahat sekali.

Dan biarpun mereka berdiri sendiri-sendiri, namun ada semacam ikatan di antara mereka, semacam setia kawan yang membuat mereka dijuluki Sembilan Iblis Tua.

Dua orang di antara mereka yaitu Lam-san Siang-kwi (Sepasang Iblis Gunung Selatan) telah tewas ketika bentrok dengan pasukan yang dipimpin para jagoan istana, belasan tahun yang lalu.

Kemudian ia bersama Pek-liong telah menewaskan empat orang di antara mereka, yaitu Hek-sim Lo-mo (Iblis Tua Berhati Hitam), Siauw-bin Ciu-kwi (Setan Arak Muka Tertawa), Lam-hai Mo-ong (Raja Iblis Lautan Selatan) dan Tiat-thouw Kui-bo (Siang Iblis Kepala Besi).

Jadi sekarang, yang masih hidup tinggal tiga orang lagi di antara Sembilan Iblis Tua, yaitu Kim Pit Siu-cai (Sastrawan Pena Emas), Ang I Sian-li (Dewi Pakaian Merah), dan Pek-bwe Coa-ong (Raja Ular Ekor Putih).

Ang I Sian-li!

Ah, kenapa ia begitu bodoh?

Liong-li menepuk kepalanya sendiri.

Tentu saja!

Nenek berpakaian merah yang pesolek itu, siapa lagi kalau bukan Ang I Sian-li, seorang di antara Kiu Lo-mo?

Pantas begitu kuat!

Jelaslah sekarang, tentu sisa dari Kiu Lo-mo yang berada di balik semua peristiwa ini.

Kalau ketiga iblis tua itu masih hidup dan kini berusaha membalas dendam atas kematian empat orang iblis tua, Tidak mengherankan kalau mereka itu menawan Song Tek Hin dan Kam Sun Ting!

Agaknya mereka telah mengetahui akan semua peristiwa kematian saudara-saudara atau rekan-rekan mereka, melakukan penyelidikan dan tahu bahwa kedua pemuda itu terlibat dalam urusan pembasmian tokoh-tokoh Kiu Lo-mo itu.

Liong-li kembali mengingat-ingat.

Belum lama ini, ketika ia dan Pek-liong membasmi Lam-hai Mo-ong dan Tiat-thouw Kui-bo, ada pula seorang pria yang terlibat, yaitu Cian Hui atau Cian Ciang-kun, panglima muda di kota raja.

Apakah dia juga menjadi sasaran tiga orang dari Kiu Lo-mo?

Liong-li mengepal tinju.

Bagaimanapun juga, merupakan jebakan atau tantangan, betapapun besar bahaya yang ia hadapi, ia harus menolong dua orang pemuda itu!

Tidak mungkin ia membiarkan mereka berkorban karena perbuatan ia dan Pek-liong.

Ah, Pek-liong tentu akan melakukan hal yang sama.

Ia mengenal benar isi hati Pek-liong.

Tiba-tiba ia teringat kembali.

Kalau ia mengalami serangan, dan kini menerima surat-surat yang agaknya merupakan umpan perangkap baginya, tentu Pek-liong juga tidak akan dilupakan oleh sisa Kiu Lo-mo!

Apakah Pek-liong juga mengalami serangan seperti yang ia alami?

Dan menerima surat-surat seperti ini?

Tidak, ia tidak akan menanti surat balasan dari Pek-liong.

Akan terlalu lama dan ia khawatir terlambat.

Ia harus segera pergi menolong dua orang pemuda itu, dan sembilan anak buahnya sudah lebih dari cukup untuk membantunya.

Liong-li lalu memanggil sembilan orang pembantunya.

Dengan cepat mereka berdatangan dan sepuluh orang gadis-gadis cantik itu mengadakan perundingan di dalam kamar rahasia di rumah besar itu.

Liong-li mengatur rencana siasatnya untuk melakukan penyelidikan di lembah Huang-ho dan membagi-bagi tugas.

Sembilan orang anak buahnya memperhatikan dan mencatat dalam hati semua tugas yang diserahkan kepada mereka.

Kemudian mereka membuat persiapan dan berkemas.

Liong-li sendiri membuat sehelai surat untuk Pek-liong dan ia meletakkan surat itu di tempat rahasia depan rumahnya, tempat rahasia yang hanya diketahui oleh ia dan Pek-liong berdua.

Lalu sehelai surat lagi ia buat untuk Cian Hui dan surat ini ia titipkan kepada seorang anak tetangga yang biasa ia suruh-suruh, seorang anak yang cerdik dengan pesan kalau ada seseorang yang gambarannya seperti Cian Hui, agar surat itu diserahkan setelah orang itu mengaku siapa namanya.

Pada hari itu juga, berangkatlah Liong-li dan sembilan orang pembantunya.

Akan tetapi, kalau ada orang mengintai di sekitar tempat itu, tidak nampak sepuluh orang wanita yang pergi bersama, karena masing-masing mengambil jalan sendiri melalui pintu-pintu dan lorong-lorong rahasia.

Hanya nampak Liong-li seorang yang meninggalkan pekarangan rumahnya dengan langkah santai.

Tepat seperti dugaan Liong-li, Pek-liong juga menerima surat yang senada.

Hanya saja, pendekar ini menerima jauh lebih lama dari pada Liong-li menerimanya karena tempat tinggal Pek-liong jauh di selatan.

Ketika Pek-liong menyuruh pembantunya menyelidiki daerah Sungai Yang-ce di mana mendiang Thian-te Siang-houw merajalela, dia tidak mendapatkan keterangan yang meyakinkan.

Dia tetap tidak percaya kalau Thian-te Siang-houw memusuhinya tanpa ada yang mendalangi mereka, karena dua orang sesat setingkat mereka itu tidak, mungkin akan berani mengusiknya tanpa ada pendorong yang lebih kuat.

Akan tetapi mereka telah tewas dan pembantunya tidak berhasil mendapat keterangan siapa kiranya yang merupakan pendukung mereka.

Kemudian datanglah surat dari Liong-li.

Ketika dibacanya surat itu yang menceritakan tentang peristiwa yang dialami orang yang paling dipuja, paling dicinta, paling dihormati dan dihargainya di seluruh dunia itu, Pek-liong tersenyum.

Tak salah dugaannya.

Serangan dan gangguan itu bukan hanya menimpa dirinya sendiri.

Bahkan Liong-li tertimpa lebih hebat lagi.

Diapun mengangguk-angguk ketika membaca bahwa yang mengganggu Liong-li adalah Thai-san Ngo-kwi, murid-murid dari mendiang Siauw-bin Ciu-kwi.

Pek-liong meraba-raba dagunya sambil melamun.

Inilah ciri khasnya kalau dia sedang menggunakan daya pikirannya untuk memecahkan sesuatu.

Murid-murid Siauw-bin Ciu-kwi, berarti ada hubungannya dengan Kiu Lo-mo.

Sudah tiga kali dia dan Liong-li bentrok dengan Kiu Lo-mo.

Bentrokan pertama membuat mereka berhasil menewaskan Hek-sim Lo-mo, bentrokan kedua mereka menewaskan Siauw-bin Ciu-kwi, dan dalam bentrokan terakhir, yang ketiga kalinya mereka menewaskan Lam-hai Mo-ong dan Tiat-thouw Kui-bo.

Dia lalu berpikir apakah Thian-te Siang-houw juga mempunyai hubungan dengan Kiu Lo-mo?

Jelas bahwa bukan Liong-li saja yang diincar musuh.

Dia sendiripun menjadi sasaran musuh, yang belum diketahuinya siapa penggerak dari Siang-houw itulah.

Entah siapa Pouw Bouw Ki, kakak dari nona Pouw Bouw Tan, dibunuh orang karena bentuk tubuh dan wajahnya mirip dia.

Mungkin pembunuhnya adalah Thian-te Siang-houw.

Dan dia sendiri didatangi orang yang tewas dalam rumahnya, terjebak alat rahasia sehingga terjepit kepalanya dan hancur wajahnya sehingga tidak dapat dikenali siapa.

Jelas bahwa Liong-li dan dia sedang diincar oleh orang-orang yang menghendaki kematian mereka.

Akan tetapi siapa?

Beberapa hari kemudian, seorang kanak-kanak berusia sepuluh tahun datang mengantar dua buah surat kepadanya.

Anak itu menceritakan pengalamannya.

Dia putera seorang nelayan di tepi Telaga Barat (See Ouw).

Pagi tadi, seorang laki-laki setengah tua yang mukanya hitam dan tubuhnya tinggi besar menghampirinya ketika dia sedang mengail ikan di tepi telaga.

"Hei, anak baik, apakah engkau tahu di mana rumahnya Pek-liong-eng?"

Anak yang disebut A-sam itu tentu saja tahu.

Nama besar Pek-liong-eng dikenal oleh seluruh orang di sekitar telaga itu, dari kanak-kanak sampai orang tua.

Siapa tidak mengenal pendekar yang dermawan itu?

"Saya tahu, rumahnya di dusun Pat-kwa-bun!"

Kata anak itu dengan suara bangga.

"Bagus! Anak baik, maukah engkau mendapatkan upah sebanyak ini?"

Orang itu mengeluarkan uang tembaga yang cukup banyak, bahkan terlalu banyak bagi A-sam yang anak keluarga nelayan miskin.

"Tentu saja saya mau!"

Kata anak itu, heran dan tidak percaya bahwa orang itu akan memberi uang sedemikian banyaknya.

"Bagus, kalau begitu, berikan surat-surat ini kepada Pek-liong-eng, dan semua uang ini menjadi milikmu. Maukah engkau?"

"Mau, tentu saja saya mau!"

Kata anak itu, melepaskan pancingnya saking girang hatinya.

"Nah, simpanlah surat ini baik-baik dan terimalah uang ini. Akan tetapi hati-hati kau, kalau engkau berbohong dan tidak menyampaikan surat ini kepada Pek-liong-eng, aku akan datang lagi dan akan kuhancurkan kepalamu seperti ini!"

Orang itu meninju sebongkah batu sebesar kepala anak itu dan batu itupun hancur! Tentu saja A-sam menjadi pucat dan dengan suara gemetar dia berkata.

"Akan saya sampaikan, saya tidak berani berbohong."

Demikianlah keterangan A-sam ketika dia menyerahkan surat kepada Pek-liong dan menjawab pertanyaan pendekar itu.

Ketika ditanya tentang gambaran orang itu, A-sam hanya ingat bahwa orang itu tinggi besar bermuka hitam.

Itu saja.

Pek-liong memberi upah, menyuruh A-sam pergi dan dia lalu membaca dua buah surat itu.

Tulisannya berbeda, namun nadanya sama.

Sebuah surat ditulis oleh Su Hong Ing, dan yang kedua oleh Kam Cian Li, dan keduanya memberitahukan bahwa mereka ditawan musuh di lembah Huang-ho dan mereka mengharapkan pertolongan Pek-liong.

Hanya itu saja.

Seperti yang dilakukan Liong-li, Pek-liong tenggelam dalam lamunan ketika membaca kedua buah surat itu.

Dua orang gadis yang pernah menjadi kekasihnya, yang mencintanya.

Dia mendengar bahwa Su Hong Ing telah menjadi isteri Song Tek Hin, dan Su Hong Ing adalah murid Bu-tong-pai yang pandai dan lihai.

Juga Kam Cian Li telah menjadi gadis hartawan di samping kakaknya, Kam Sun Ting.

Bagaimana kedua orang wanita itu kini menjadi tawanan musuh?

Siapakah musuh itu?

Tidak mereka sebutkan dalam surat.

Dan dia tahu benar bahwa dua orang wanita itu amat mengagumi dan mencintanya, sehingga tidak mungkin mereka mau mencelakakan dia.

Akan tetapi kenapa mereka membuat surat seperti itu?

Pada hal, jelas surat itu merupakan pancingan agar dia datang menolong mereka dan musuh itu tentu akan menyambutnya dengan perangkap.

Pek-liong masih terbenam dalam lamunan setelah menerima surat itu dan kembali dia meraba-raba dagunya.

Otaknya yang cerdik bekerja keras.

Merupakan hal yang amat mencurigakan betapa dua orang wanita itu, Su Hong Ing dan Kam Cian Li dapat menjadi tawanan dalam waktu yang bersamaan, dan keduanya juga bersama-sama menyurati dia.

Yang seorang tinggal di dekat kota Cin-an, yang kedua tinggal di Nan-cang dekat telaga Po-yang, terpisah jauh.

Bagaimana kini mereka dapat berkumpul sebagai tawanan?

Apa yang membuat musuh-musuh itu menawan kedua orang wanita ini?

Jelas, surat itu untuk memancingnya agar dia mau datang ke lembah Huang-ho untuk menolong mereka.

Akan tetapi mengapa kedua orang itu?

Pada hal, teman-temannya banyak.

Mengapa justeru mereka?

Dia mengingat kembali pertemuannya dengan mereka.

Su Hong Ing dijumpainya ketika dia bersama Liong-li membasmi Hek-sim Lo-mo, dan Kam Cian Li dijumpainya ketika dia bersama Liong-li membasmi Siauw-bin Ciu-kwi!

Dan Liong-li diserang oleh Thai-san Ngo-kwi, murid-murid mendiang Siauw-bin Ciu-kwi.

Dalam suratnya, secara singkat Liong-li juga menyebut adanya nenek berpakaian merah yang amat lihai, yang membantu Thai-san Ngo-kwi.

"Ah, tidak salah lagi. Tentu mereka yang mendalangi semua ini. Sisa Kiu Lo-mo tinggal tiga, Ang I Sian-li, Kim Pit Siu-cai, dan Pek-bwe Coa-ong! Siapa lagi kalau bukan mereka yang hendak membalas dendam atas kematian empat orang rekan mereka yang kubasmi bersama Liong-li? Ini berbahaya, mereka adalah orang-orang lihai yang amat jahat!"

Tiba-tiba dia teringat.

Ketika dia bersama Liong-li membasmi Lam-hai Mo-ong dan Tiat-thouw Kui-bo, juga ada dua orang yang terlibat, yaitu Cian Hui dan Cu Sui In.

Kalau memang sisa Kui Lo-mo hendak menangkap orang-orang yang terlibat tentu Cian Hui dan Sui In yang menjadi isterinya itu akan terancam pula.

Akan tetapi dia teringat betapa cerdiknya Cian Hui dan sebagai seorang panglima muda yang berkedudukan di kota raja, kedudukannya kuat karena dia memiliki pasukan.

Selain itu, Cian Hui jauh lebih lihai dibandingkan dua orang wanita yang ditawan musuh, bahkan isterinya, Cu Sui In yang murid Kun-lun-pai, lebih lihai lagi.

Agaknya kawanan penjahat tidak dapat menawan Cian Hui dan isterinya, maka tidak ada surat dari mereka kepadanya!

Pek-liong berpendapat bahwa bukan hanya dua orang wanita itu saja yang terancam bahaya seperti tertulis dalam surat mereka, walaupun dia belum yakin apakah surat-surat itu tidak palsu, melainkan juga Liong-li terancam bahaya.

Dia harus bertindak, dan karena sekali ini, kalau perhitungannya tepat, dia akan berhadapan dengan sisa Kiu Lo-mo, yaitu tiga orang datuk sesat yang lihai, Dia membutuhkan bantuan enam orang pelayan yang juga menjadi pembantunya, juga boleh dibilang murid-muridnya karena dia telah menggembleng mereka menjadi pembantu-pembantu yang dapat diandalkan dan pandai ilmu silat, juga cerdik dan setia.

Cepat dia mengumpulkan enam orang pembantunya dan menceritakan kepada mereka semua yang terjadi, lalu mengatur siasat dan membagi tugas.

Enam orang pembantunya itu secara berpencar dia beri tugas untuk melakukan penyelidikan ke lembah Huang-ho yang patut dicurigai menjadi sarang musuh-musuh itu, kemudian menanti dia di sana, siap untuk membantunya.

Dia sendiri akan lebih dahulu singgah ke Lok-yang di selatan Sungai Kuning (Huang-ho) untuk mencari Liong-li sebelum berangkat pula ke lembah Huang-ho.

Di dalam surat kedua orang wanita itu, hanya minta agar dia datang menolong mereka yang ditawan di lembah Huang-ho di perbukitan Hek-san (Bukit Hitam).

Pada hal perbukitan itu panjang dan luas, maka harus diselidiki di mana kiranya sarang mereka yang menawan dua orang wanita itu.

Bagaimana dua pasang suami isteri dan kakak beradik yang ditawan itu sampai mau mengirim surat kepada Liong-li dan Pek-liong?

Pada hal, mereka berempat adalah orang-orang gagah yang tidak akan sudi membantu penjahat untuk menjadi umpan dan memancing datangnya dua orang yang mereka sayangi dan hormati itu masuk dalam perangkap penjahat.

Perkembangan yang tidak menguntungkan mereka telah terjadi di tempat tawanan itu.

Baru sehari setelah menjadi tawanan di situ, Song Tek Hin dan Su Hong Ing yang mendapat kebebasan walaupun selalu diawasi, tak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk meloloskan diri atau memberontak kalau perlu.

Mereka melihat ketika kakak beradik Kam datang sebagai tawanan pula dan ditempatkan di kamar nomor dua, tak jauh dari kamar mereka.

Mereka memang tidak saling mengenal, akan tetapi dari sikap masing-masing, mereka dapat saling menduga bahwa mereka berempat mempunyai nasib yang sama.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Su Hong Ing yang melakukan pendekatan kepada Kam Cian Li.

Para penjaga tidak melarang ketika dua orang wanita ini bercakap-cakap dan dalam percakapan itu, dengan hati-hati mereka saling bertanya dan betapa kaget hati mereka bahwa mereka benar-benar mengalami nasib yang sama.

Keduanya ditangkap untuk dijadikan umpan bagi Pek-liong dan Liong-li!

"Kita harus menggunakan kesempatan ini untuk meloloskan diri!

Kita tidak boleh menjadi umpan untuk mencelakai Pek-liong dan Liong-li,"

Bisik Su Hong Ing.

"Engkau benar, enci. Akan tetapi bagaimana caranya? Mereka amat lihai, kita tidak mungkin dapat menang, tidak mungkin dapat lolos dari tempat ini,"

Jawab Kam Cian Li sambil berbisik pula.

"Kita harus berani mencoba. Memang kami berdua juga tertawan karena kalah oleh iblis betina itu, dan tentu kakek yang menawan kalian itu lihai pula karena mereka adalah para tokoh Kiu Lo-mo. Akan tetapi kalau kita berempat bersatu, tentu kita akan menjadi lebih kuat. Bagaimana mungkin kita berdiam diri saja dan membiarkan kita dijadikan umpan yang akan mencelakakan dua orang yang kita sayang dan hormati, lebih dari pada lain orang?"

Cian Li mengangguk-angguk, bangkit semangatnya. Tentu saja gadis yang masih selalu terkenang dengan penuh kerinduan kepada Pek-liong, kekasih pertamanya itu, tidak rela melihat Pek-liong celaka.

"Aku siap, enci, dan akan kuberitahu kakakku. Tapi kapan dan bagaimana?"

"Malam nanti. Yang bertugas adalah penjaga-penjaga biasa. Kita menyelinap keluar dan kita bunuh kalau ada penjaga yang mencoba menghalangi. Memang berbahaya. Akan tetapi siapa berani menjamin bahwa kita akan dibebaskan kalau Pek-liong dan Liong-li sudah terpancing ke sini, kemudian kedua orang pendekar itu dapat mereka tangkap? Mungkin kita semua juga akan dibunuh. Dari pada dibunuh seperti babi, bukankah lebih baik mati seperti harimau yang melawan dengan gagah?"

Ucapan Su Hong Ing yang membakar semangat itu membuat Kam Cian Li berkobar dan gadis ini lalu membisikkan rencana untuk kabur itu kepada kakaknya, dan Hong Ing juga membujuk suaminya.

Dua orang pria itupun akhirnya setuju karena mereka yakin apakah kalau Pek-liong dan Liong-li dapat tertawan atau terbunuh oleh para penjahat, mereka akan dibiarkan pergi.

Demikianlah, malam itu kebetulan gelap gulita Dua pasang pria wanita itu saling memberi isyarat, lalu bersama-sama menyelinap keluar dari kamar mereka.

Yang bertugas jaga di dekat kamar mereka masing-masing hanya dua orang.

Dengan sigap dan tidak banyak kesukaran, dua pasang tawanan itu dapat merobohkan empat orang penjaga itu dan merampas pedang mereka.

Kemudian mereka menyusup-nyusup mencari jalan keluar melalui tempat-tempat yang gelap dalam kompleks bangunan itu.

Keadaan nampak sunyi sehingga melegakan hati empat orang buronan itu.

Mereka menyelinap dengan hati-hati dan akhirnya dapat tiba di dekat pintu gerbang di depan.

Hanya dari pintu itulah mereka dapat melarikan diri karena pagar tembok yang mengitari perumahan itu amat tinggi dan di atas pagar tembok itu dipasangi besi-besi runcing.

Tak mungkin melompati pagar tembok itu.

Juga tidak ada tali yang panjang untuk memanjat.

Satu-satunya jalan hanyalah menyerbu keluar melalui pintu gerbang.

Song Tek Hin dan Su Hong Ing mengintai dari sebelah kiri pintu gerbang, sedangkan kakak beradik Kam mengintai dari sebelah kanan.

Jantung mereka berdebar tegang.

Hanya ada dua kemungkinan.

Sekarang berhasil atau selamanya gagal.

Hidup atau mati.

Mereka sudah nekat.

Di pintu gerbang itu terdapat selosin orang penjaga.

Kalau kepandaian mereka hanya biasa saja, tentu mereka berempat akan mampu mengalahkan selosin orang itu dan ini berarti lolos!

Song Tek Hin yang kini menjadi pimpinan, memberi isyarat, lalu bersama isterinya dia melompat keluar, menyerbu ke arah para penjaga yang sedang mengobrol.

Kakak beradik Kam juga berloncatan keluar dan menyerbu.

Tentu saja para penjaga menjadi kaget dan kacau balau.

Namun seorang di antara mereka meniup peluit berkali-kali sedangkan teman-temannya melakukan perlawanan dengan golok mereka.

Empat orang buronan itu mengamuk, akan tetapi diam-diam mereka mengeluh karena ternyata selosin orang itu bukan lawan yang lunak dan dapat mereka robohkan dalam waktu singkat.

Setelah bertempur beberapa lamanya, mereka baru berhasil merobohkan empat orang.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Mundur kalian semua!"

Para penjaga mundur dan cepat mereka menyalakan lebih banyak obor untuk menerangi tempat itu.

Ketika empat orang buronan itu mengangkat muka memandang, mereka melihat lima orang yang bersikap bengis berdiri menghadang di depan mereka.

Empat orang buronan itu merasa lega karena tidak nampak si nenek pakaian merah dan kakek sastrawan pakaian putih yang amat lihai itu.

Tidak ada dua orang dari Kiu Lo-mo.

Maka, dengan nekat dan semangat berkobar empat orang buronan itu menggerakkan pedang rampasan dan menyerang ke arah lima orang yang berdiri menghadang itu.

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa mereka berhadapan dengan Thai-san Ngo-kwi yang lihai bukan main.

Biarpun tingkat kepandaian Thai-san Ngo-kwi belum setinggi tingkat Kiu Lo-mo, akan tetapi jelas mereka ini jauh lebih kuat dari pada empat orang buronan itu.

Thai-san Ngo-kwi tertawa mengejek, mereka sudah mencabut golok dan menyambut serangan dua pasang tawanan itu.

Dalam waktu belasan jurus saja, empat batang pedang rampasan itu patah-patah dan dua pasang tawanan itupun roboh dan diringkus kembali.

Dalam keadaan terbelenggu mereka digiring kembali ke dalam kamar mereka, didorong masuk ke dalam kamar dalam keadaan terbelenggu dan kamar mereka dikunci dari luar!

Gagallah usaha pelarian itu dan pada keesokan harinya, mereka berempat di seret satu demi satu dihadapkan kepada Kim Pit Siu-cai, Ang I Sian-li, dan Pek-bwe Coa-ong, sedangkan Thai-san Ngo-kwi juga hadir di ruangan itu.

Biarpun dihadapkan seorang diri saja di depan pimpinan gerombolan penjahat itu, empat orang gagah ini tidak bersikap takut.

Dengan gagah mereka itu memiliki sikap yang sama, yaitu menentang dan tidak sudi dijadikan umpan untuk memancing datangnya Pek-liong dan Liong-li!

Ang I Sian-li tidak menjadi marah-marah seperti dua orang rekannya menghadapi kekerasan kepala empat orang itu.

Ia memerintahkan kepada Thai-san Ngo-kwi untuk menghadapkan para tawanan itu sepasang, pertama dimulai dengan pasangan suami isteri Song Tek Hin dan Su Hong Ing.

Setelah dua orang yang terbelenggu ini dihadapkan mereka, suami isteri itu berdiri tegak dan memandang dengan mata penuh kemarahan dan kebencian, sedikitpun tidak mau tunduk.

Ang I Sian-li lalu berkata kepada mereka.

"Kalian berdua suami isteri memang mengagumkan sekali dan pantaslah menjadi sahabat-sahabat baik Pek-liong dan Liong-li. Akan tetapi, sikap kalian ini hanya merugikan kalian sendiri. Kami hanya menghendaki agar kalian menulis surat dan minta pertolongan kepada Pek-liong dan Liong-li. Itu saja. Kenapa kalian berkeras kepala menolak? Apakah kalian lebih suka mati dari pada menuruti permintaan kami dan mendapat kebebasan setelah itu?"

"Kami tidak takut mati!"

Bentak Su Hong Ing "Lebih baik kami mati dari pada harus mengkhianati Pek-liong dan Liong-li!"

Kata pula Song Tek Hin dengan sikap gagah. Ang I Sian-li terkekeh genit.

"Bagus, bagus, kalian memang gagah perkasa. Akan tetapi dengarlah baik-baik, buka telinga dan perhatikan kata-kataku. Kalau kalian mau menulis surat yang kami butuhkan itu, setelah Pek-liong dan Liong-li dapat kami bunuh, kalian akan kami bebaskan, dan ini janji seorang datuk persilatan yang tidak akan kami langgar! Akan tetapi, sebaliknya kalau kalian berkeras tidak mau bekerja sama dengan kami, terpaksa kami akan melakukan hukuman yang akan membuat kalian menyesal telah dilahirkan di dunia ini."

"Kami tidak takut!"

Seru suami isteri itu hampir berbareng.

"Benarkah? Dengar, pertama aku akan menyiksa si suami di depan si isteri, dengan membuntungi seluruh jari tangan dan kakinya satu demi satu! Kami akan menyiksanya akan tetapi membiarkan dia hidup agar dia dapat menyaksikan ketika kami menyuruh anak buah kami memperkosa si isteri di depan si suami sampai si isteri mati."

Song Tek Hin dan Su Hong Ing menjadi pucat mendengar ini, akan tetapi mereka masih berusaha mengeraskan hati.

"Gertak kosong!"

Teriak mereka.

Ang I Sian-li dengan cerdiknya menggiring suami isteri itu ke tepi jurang kengerian dengan ancaman-ancaman yang lebih mengerikan dari pada maut, sampai akhirnya mereka tidak tahan dan tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali menyerah dan membuatkan surat itu.

Song Tek Hin menulis surat kepada Hek-liong-li dan Su Hong Ing menulis surat kepada Pek-liong-eng, isinya minta bantuan mereka karena suami isteri itu ditawan musuh di pegunungan Hitam lembah Sungai Kuning.

Demikian pula dengan kakak beradik Kam.

Mereka kalah jauh dalam hal siasat oleh Kiu Lo-mo, dan akhirnya semangat merekapun dapat dipatahkan dan untuk saling menjaga, kakak beradik ini terpaksa membuat pula surat seperti yang telah dilakukan suami isteri itu.

Empat orang ini tidak dapat terlalu disalahkan.

Mereka bukan orang-orang yang suka berkhianat demi keuntungan sendiri.

Akan tetapi di bawah ancaman mengerikan itu, tentu saja mereka tidak berdaya.

Apa lagi mereka berpikir bahwa orang-orang sakti seperti Pek-liong dan Liong-li tidak mungkin dapat dijebak begitu saja.

Bahkan diam-diam mereka mengharapkan agar sepasang pendekar sakti itu benar-benar akan dapat menolong dan membebaskan mereka.

Bagaimanapun juga, Ang I Sian-li memegang janji.

Setelah dua pasang tawanan itu menulis surat, merekapun dibebaskan berkeliaran di perumahan yang terkurung tembok tinggi dan terjaga kuat itu, tidak lagi dibelenggu.

Memang, bagi tiga orang tokoh Kiu Lo-mo, empat orang ini tidak ada artinya.

Yang penting bagi mereka adalah Pek-liong dan Liong-li.

Dua pasang tawanan itu hanya umpan, dan kalau sudah tidak dibutuhkan lagi, di lepas juga tidak mengapa bagi mereka.

Walaupun kini mereka bebas dalam perumahan itu, tetap saja dua pasang tawanan itu selalu merasa gelisah dan tidak berani lagi mencoba untuk melarikan diri.

Mereka gelisah dan perasaan hati mereka tegang menanti munculnya Pek-liong dan Liong-li, gelisah membayangkan betapa kedua orang yang mereka sayang itu akan tertangkap pula dan disiksa dibunuh di depan mata mereka!

Sesosok bayangan putih berkelebat dan lenyap di balik pagar tembok yang mengelilingi pekarangan rumah mungil milik Hek-liong-li.

Kalau pun kebetulan ada yang melihatnya pada senja hari itu, tentu orang ini akan mengira bahwa bayangan putih yang berkelebat itu bukan manusia, saking cepatnya gerakan orang itu.

Pada hal, bayangan putih itu adalah Pek-liong-eng Tan Cin Hay.

Sebelum dia pergi melakukan penyelidikan ke pegunungan Hitam di Lembah Huang-ho (Sungai Kuning), dia ingin berkunjung lebih dulu ke tempat kediaman Liong-li.

Akan tetapi, seperti sudah diduganya, tentu terjadi sesuatu pula dengan Liong-li, dia melihat tempat itu sunyi dan kosong ketika beberapa kali dia melewati jalan di depan rumah itu.

Dan pintu gerbang depan tertutup.

Maka, pada senja hari itu diapun menyelinap dan melompati pagar tembok yang tinggi dengan gerakan ringan dan cepat sehingga tidak ketahuan orang lain.

Begitu menghampiri halaman depan, dia terbelalak memandang ke arah kolam ikan di halaman depan.

Biasanya, dia amat menyukai kolam itu, terutama arca putri menunggang angsa, arca yang buatannya halus dan indah sekali.

Kini, hanya tinggal batu berserakan.

Arca itu telah pecah berantakan!

Dan agaknya Liong-li tidak sempat membangun kembali arca itu, bahkan membiarkan batu-batu bekas arca itu berserakan.

Tentu telah terjadi sesuatu yang hebat, pikirnya dan hatinya mulai khawatir.

Tidak mungkin Liong-li tertimpa bencana.

Tempat ini sunyi, jelas ditinggalkan dan tidak ada manusianya.

Sembilan orang pelayan Liong-li juga tidak berada di situ.

Ini hanya berarti bahwa Liong-li menghadapi peristiwa besar seperti diceritakan dalam suratnya kepadanya, peristiwa besar yang membutuhkan seluruh tenaga Liong-li untuk menghadapinya, dibantu oleh sembilan orang pelayannya.

Tak salah lagi, tentu Liong-li menerima pula surat-surat seperti yang diterimanya dari Hong Ing dan Cian Li.

Tanpa ragu lagi Pek-liong menghampiri sebuah arca singa yang berada di sebelah kiri pintu beranda.

Dikerahkannya tenaganya dan didorongnya singa batu itu dengan tangan kanan.

Ketika arca itu miring, dia mengambil sehelai surat di bawahnya.

Itulah tempat rahasia kalau Liong-li meninggalkan pesan kepadanya, yang hanya mereka ketahui berdua.

Dia segera membacanya.

Tepat seperti yang diduganya.

Liong-li menerima surat dari Song Tek Hin dan Kam Sun Ting yang isinya sama dengan surat dari Hong Ing dan Cian Li kepadanya.

Kedua orang pria itu ditawan di pegunungan Hitam Lembah Sungai Kuning dan mereka mohon pertolongan dari Liong-li.

Pek-liong meraba dagunya.

Ini berarti bahwa suami isteri Song Tek Hin dan Su Hong Ing, juga kakak beradik Kam tertawan semua.

Makin jelaslah kini bahwa yang berada di belakang semua peristiwa ini, yang menjadi dalangnya, tentu seorang di antara sisa Kiu Lo-mo, atau mungkin bahkan ketiga-tiganya.

Yang ditawan adalah teman-teman yang pernah terlibat ketika dia dan Liong-li membasmi orang-orang Kiu Lo-mo dan tiba-tiba dia teringat bahwa ketika dia dan Liong-li membasmi Lam-hai Mo-ong dan Tiat-thouw Kui-bo dalam peristiwa Bayangan Iblis, terlibat pula Cian Hui dan Cu Sui In!

Kenapa kedua orang yang kini menjadi suami isteri itu tidak tertawan?

Dia harus cepat menghubungi Cian Hui di kota raja!

Karena khawatir akan keadaan panglima muda dan isterinya itu, Pek-liong melakukan perjalanan cepat ke kota raja.

Dia tidak khawatir akan keadaan Liong-li karena dia percaya sepenuhnya akan kelihaian dan kecerdikan Liong-li, apa lagi ia dibantu oleh sembilan orang pembantunya, para gadis yang amat lihai itu.

Dia lebih mengkhawatirkan keadaan Cian Hui.

Setelah tiba di kota raja, dia langsung ke rumah panglima muda itu dan betapa lega hatinya melihat Cian Hui dan Cu Sui In menyambutnya dengan gembira.

Suami isteri itu tidak kalah lega dan gembiranya melihat pendekar pujaan mereka dalam keadaan selamat dan sehat.

"Aih, Taihiap! Engkau sudah menerima suratku?"

Tanya Cian Hui dengan heran karena menurut perhitungannya, utusannya yang mengirim surat itu tentu belum tiba di tempat kediaman pendekar ini.

Pek-liong menggeleng kepala dan pandang matanya yang serius membuat suami isteri itu dapat menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang penting, maka mereka segera mempersilakan pendekar itu untuk masuk dan diajak bicara di ruangan sebelah dalam.

Setelah mereka semua duduk dalam ruangan tertutup itu, Pek-liong segera bertanya.

"Ciang-kun, apakah tidak terjadi sesuatu kepada kalian berdua?"

Dia memandang kepada Cu Sui In.

Wanita yang pernah jatuh cinta kepadanya ini, dan yang kini menjadi isteri Cian Hui dan kabarnya telah mempunyai seorang putera, masih nampak cantik jelita, akan tetapi wajah yang cantik itu kini dibayangi kegelisahan.

"Benar dugaanmu, Taihiap. Pek-bwe Coa-ong, seorang di antara Kiu Lo-mo telah datang untuk melawanku, akan tetapi masih untung kami dapat menghindarkan diri,"

Kata Cian Hui dan diapun menceritakan peristiwa yang menimpa dia dan isterinya.

Diam-diam Pek-liong bersyukur dan kagum akan kecerdikan panglima ini sehingga usaha seorang di antara Kiu Lo-mo itu gagal.

"Setelah terjadi peristiwa itu, aku menduga bahwa tentu Taihiap dan Lihiap terancam bahaya pula, maka cepat-cepat aku menulis dua pucuk surat untuk kalian dan mengirimkannya melalui seorang pembantu yang kupercaya. Agaknya Taihiap bersimpang jalan dengannya. Syukur bahwa Taihiap dalam keadaan selamat, dan entah bagaimana dengan Hek-liong-li. Mudah-mudahan iapun dalam selamat."

Dengan singkat Pek-liong menceritakan tentang penyerangan yang dilakukan musuh kepadanya dan kepada Liong-li, juga tentang surat-surat yang menyatakan bahwa dua pasangan yang menjadi sahabat-sahabat baik dia dan Liong-li telah menjadi tawanan dan mereka itu minta pertolongan dia dan Liong-li.

Diceritakannya pula bahwa ketika dia singgah di rumah Liong-li, pendekar wanita itu telah pergi bersama sembilan orang pelayannya yang lihai.

Mendengar ini, Cian Hui menjadi khawatir sekali.

"Aih, jelas bahwa surat-surat itu tentu dimaksudkan untuk memancing Taihiap dan Lihiap untuk datang ke tempat mereka ditawan. Di mana tempat itu?"

"Di pegunungan Hitam lembah Sungai Kuning."

"Hemm, tempat itu berbahaya sekali, dan sejak dahulu memang terkenal menjadi tempat pelarian para penjahat yang menjadi buronan!"

Kata Cian Hui.

"Akan kurundingkan dengan para panglima dan kalau perlu kami akan memimpin pasukan besar untuk membasmi gerombolan mereka!"

Katanya penuh semangat.

"Jangan dulu, Ciang-kun!"

Kata Pek-liong.

"Akan tetapi, kenapa engkau melarangnya, Taihiap? Keadaan dapat berbahaya sekali karena menurut dugaanku, bukan hanya Pek-bwe Coa-ong seorang yang menjadi dalangnya. Mungkin sekali semua sisa Kiu Lo-mo, yaitu dia, Kim Pit Siu-cai dan Ang I Sian-li telah mengambil keputusan untuk membalas dendam kepada Taihiap dan Lihiap. Dan ini bisa berbahaya sekali, mereka pantas dibasmi dengan kekuatan pasukan!"

Pek-liong tersenyum, diam-diam merasa iba kepada tiga orang dari Kiu Lo-mo itu.

Agaknya mereka itu tidak memperhitungkan adanya Cian Ciang-kun ini yang dapat merupakan lawan yang amat tangguh dengan adanya kekuasaannya atas pasukan keamanan kerajaan!

Juga panglima ini amat cerdik sehingga bukan hanya dia dan Liong-li yang dapat menduga siapa yang mendalangi semua peristiwa itu.

"Ada dua hal yang membuat aku terpaksa tidak menyetujui rencanamu untuk menyerbu dengan pasukanmu, Ciang-kun. Pertama, urusan ini adalah urusan pribadi, permusuhan antara Kiu Lo-mo dengan kami berdua. Mereka hendak membalas dendam maka demi kehormatan, harus kami hadapi tanpa campur tangan pasukan pemerintah. Kedua, kalau pasukan menyerbu, sukar untuk dapat menyelamatkan empat orang tawanan, para sahabat kami itu."

Cian Hui termenung. Dia maklum akan harga diri dan kehormatan seorang pendekar yang sekali-kali tidak mau berbuat curang mengandalkan pengeroyokan untuk mencari kemenangan.

"Akan tetapi, itu berbahaya sekali, Taihiap! Kalau benar mereka itu bertiga, dibantu pula oleh orang-orang pandai seperti dua orang yang menyerang kami, dan tentu mereka telah siap pula dengan banyak anak buah, maka Taihiap dan Lihiap akan masuk perangkap,"

Kata Cian Hui.

"Apa yang dikatakan suamiku benar, Taihiap,"

Kata pula Cu Sui In.

"Saya tahu bahwa Taihiap dan Lihiap memang harus bersikap jantan dan demi kehormatan seorang pendekar, namun kiranya sikap seperti itu hanya dapat dipakai kalau kita menghadapi orang-orang yang juga menghargai kegagahan. Akan tetapi, menghadapi iblis-iblis berbentuk manusia yang tidak segan mempergunakan segala macam kecurangan, seperti dilakukan mereka, dengan menawan empat orang itu, untuk memancing Taihiap dan Lihiap, masih perlukah Taihiap mempergunakan kehormatan pendekar itu? Biarkan suamiku memimpin pasukan besar untuk menyerbu mereka dan membasmi mereka demi keselamatan Taihiap dan Lihiap!"

Pek-liong menggeleng kepala dan tersenyum.

"Cian Ciang-kun, kalau kau melakukan penyerbuan itu, tidak memenuhi permintaanku, tentu Liong-li akan merasa tidak senang sekali, dan aku sendiri akan merasa kecewa. Ketahuilah bahwa tadi aku menceritakan semua yang terjadi kepada kalian berdua bukan dengan maksud minta bantuan, melainkan karena aku percaya kepada kalian sebagai sahabat-sahabat kami yang baik. Nah, sekali lagi, kuharap engkau tidak mengerahkan pasukan. Setidaknya, sebelum kami berusaha menghadapi mereka secara jantan. Setelah itu, terserah kepadamu, akan tetapi dengan alasan bahwa pasukanmu itu bukan untuk membantu kami, melainkan sebagai tugas dari hamba pemerintah untuk menumpas kejahatan."

Tentu saja Cian Hui dan Cu Sui In sama sekali tidak ingin membikin kecewa dan tidak senang hati Pek-liong dan Liong-li, maka Cian Hui lalu berjanji bahwa dia akan menahan diri.

"Baiklah, Taihiap. Akan tetapi, aku akan melakukan penyelidikan dan siap dengan pasukanku, bukan untuk mengeroyok, melainkan untuk membasmi kejahatan yang mengancam keamanan negara dan rakyat"

Setelah bercakap-cakap dan beramah-tamah, Pek-liong lalu meninggalkan rumah Cian Hui. Setelah pendekar itu pergi, Cian Hui termenung. Isterinya segera menghiburnya.

"Kurasa tidak perlu engkau terlalu mengkhawatirkan mereka. Pek-liong dan Liong-li bukanlah orang-orang yang akan mudah dicelakakan begitu saja, biar oleh tiga orang datuk sesat itu sekalipun! Mereka berdua sakti dan amat cerdik, dan tentu telah membuat persiapan sebelum berusaha untuk menolong empat orang tawanan itu."

"Tapi, untuk menyelamatkan empat orang, mereka mempertaruhkan keselamatan nyawa mereka!"

"Tentu saja! Ingat, andaikata kita berdua sampai tertawan pula oleh para penjahat, tentu mereka berdua pun akan rela mempertaruhkan nyawa untuk menolong kita, bukan?"

Cian Hui menghela napas panjang dan mengangguk-angguk.

"Engkau benar, dan inilah yang menggelisahkan hatiku. Aku akan membawa pembantu-pembantu yang pandai dan menyelidiki pegunungan Hitam itu untuk mencari letak sarang mereka dan siap untuk menyerbu andaikata kedua orang pendekar itu gagal atau bahkan kalau mereka terancam."

Cu Sui In mengangguk.

"Aku akan menyertaimu."

"Sebaiknya engkau tinggal di rumah menjaga Hong-ji (anak Hong),"

Cegah suaminya.

"walaupun aku dapat memaklumi bahwa engkau mengkhawatirkan keselamatan Pek-liong."

Dia teringat betapa isterinya ini, sebelum menjadi isterinya, adalah seorang pendekar wanita tokoh Kun-lun-pai yang pernah jatuh cinta kepada Pek-liong.

Sui In mengerling kepada suaminya penuh arti dan tersenyum.

"Engkau salah sangka! Sekali ini, seperti engkau mengkhawatirkan aku dan menyuruh aku tinggal di rumah, akupun mengkhawatirkan keselamatanmu di atas keselamatan seluruh manusia di dunia ini. Aku tidak ingin kehilangan suami yang tercinta."

Cian Hui terbelalak, tertawa dan merangkul isterinya.

"Maafkan aku, bukan maksudku untuk... cemburu..."

"Akupun tidak cemburu kepada Liong-li. Kita sudah suami isteri dan ayah ibu anak kita bukan?"

Suami isteri itu membuat persiapan untuk melakukan penyelidikan bersama para pembantu yang dipilih oleh Cian Hui, dan pada keesokan harinya, setelah melapor kepada rekan dan atasannya, Cian Hui dan rombongannya berangkat ke lembah Huang-ho untuk melakukan penyelidikan.

Tiga orang tokoh Kiu Lo-mo itu memang telah membuat persiapan yang amat baik.

Kim Pit Siu-cai, Ang I Sian-li dan Pek-bwe Coa-ong sekali ini ingin membuat pembalasan yang berhasil terhadap Pek-liong-eng dan Hek-liong-li.

Mereka bukan saja dibantu oleh Thai-san Ngo-kwi, lima orang murid mendiang Siauw-bin Ciu-kwi, akan tetapi juga lima orang ini mengerahkan para tokoh sesat yang pernah takluk kepada mereka, dibawa ke lembah Huang-ho itu.

Juga tiga orang datuk besar golongan sesat itu mengajak anak buah mereka sehingga di lembah itu sekarang berkumpul tidak kurang dari seratus orang anak buah, yang rata-rata merupakan orang-orang kang-ouw yang lihai!

Pendeknya, mereka telah membuat persiapan sehingga sekali Pek-liong dan Liong-li berani memasuki daerah itu, Sepasang pendekar ini akan disambut secara dahsyat dan mereka berdua pasti akan dapat ditangkap atau dibunuh!

Bukan hanya kekuatan orang yang mereka miliki, juga keadaan alam di lembah Huang-ho itu, di pegunungan Hitam amat membantu.

Daerah itu amat berbahaya dan sukar dilalui manusia.

Penuh dengan jurang-jurang yang curam, rawa-rawa yang berbahaya, bahkan di situ terdapat beberapa buah hutan di mana terdapat binatang buas.

Terutama sekali binatang sejenis harimau besar yang amat ditakuti mereka yang lewat dekat daerah itu, karena harimau-harimau ini besar, kuat dan buas.

Daerah yang berbahaya ini oleh tiga orang sisa Sembilan Iblis Tua itu dimanfaatkan dan menjadi semakin berbahaya karena mereka pasangi banyak perangkap dan jebakan yang berbahaya.

Lubang-lubang besar yang ditutupi ranting dan daun kering.

Lumpur-lumpur berpusing yang di tutupi daun-daun pohon rumput hidup.

Anak-anak panah beracun yang dipasang di antara daun-daun pohon yang siap meluncur dari busurnya yang terpentang dan dihubungkan dengan tali yang direntang di antara semak belukar, dan masih banyak alat rahasia lainnya.

Pendeknya, sekali ini tiga orang Iblis Tua itu siap untuk perang!

Di sekeliling daerah sarang mereka di bukit yang berada di tengah-tengah antara semua perbukitan Hitam, telah dijaga oleh anak buah mereka sambil bersembunyi, akan tetapi siang malam selalu ada penjaga yang mengawasi daerah itu sehingga tidak mungkin ada yang lewat tanpa diketahui.

Pendeknya, Pek-liong dan Liong-li tidak akan dapat memasuki daerah itu dari arah manapun tanpa diketahui para penjaga.

Liong-li dan sembilan orang pembantunya sudah sampai di sebuah tempat tersembunyi, tidak jauh dari perbatasan sarang musuh!

Dengan kepandaiannya yang tinggi dan kecerdikannya yang luar biasa, Liong-li berhasil memimpin sembilan orang pembantunya melewati jurang dan melalui hutan-hutan yang berbahaya itu tanpa cedera.

Memang beberapa kali, di antara pembantunya ada yang hampir terperosok ke dalam perangkap musuh, namun selalu dapat ia tolong dan selamatkan, sampai akhirnya mereka tiba di dekat daerah sarang musuh.

Berhari-hari mereka sepuluh orang wanita yang lihai itu telah mempelajari daerah itu, dan mereka maklum bahwa sarang musuh merupakan benteng alam yang amat kuat dan terjaga ketat.

Bahkan bagian yang tidak terjagapun tak mungkin dijadikan jalan masuk, karena terhalang jurang yang lebarnya tidak mungkin dapat dilompati manusia, betapapun lihainya.

Kini mereka, atas isyarat Liong-li, berkumpul di balik semak belukar yang lebat, dan sembilan orang wanita itu, masing-masing dengan perbekalan dalam buntalan tergantung di punggung dan pedang di bawah buntalan, berjongkok mengeliling Liong-li yang duduk di atas rumput.

Satu demi satu, sembilan orang itu memberi laporan tentang hasil penyelidikan mereka masing-masing sehingga yakinlah Liong-li bahwa memang tidak ada jalan masuk kecuali menyerbu melalui tempat-tempat yang terjaga.

Setelah meraba dan menggosok hidungnya untuk mencurahkan pikirannya, ia lalu berkata dengan suara lirih.

"Sekarang tiba saatnya yang paling gawat dan berbahaya. Sekali salah langkah dan kurang berhati-hati, nyawa taruhannya. Dari pengumpul hasil penyelidikan kita semua, jelas bahwa pihak musuh mempunyai anak buah yang puluhan orang banyaknya, mungkin ada seratus orang. Sarang mereka terjaga ketat, dan bagian yang tidak terjaga dihalangi jurang yang lebar dan curam. Aku tidak ingin mengorbankan kalian. Kalau ada yang ragu-ragu dan jerih, masih belum terlambat untuk mundur dan pulang ke Lok-yang."

Liong-li memendang kepada sembilan orang pembantu yang berjongkok dan mengelilinginya dalam setengah lingkaran di depannya itu dengan sinar mata penuh selidik.

Sembilan orang gadis yang usianya antara dua puluh lima sampai tiga puluh tahun dan rata-rata cantik dan lihai itu terkejut dan saling pandang, lalu mereka memperlihatkan wajah penasaran.

Ang-hwa (Bunga Merah), yaitu nama sebutan gadis yang berpakaian merah dan yang merupakan pembantu utama karena ia merupakan pembantu yang paling lihai di antara sembilan orang gadis itu, mewakili semua rekannya.

"Lihiap, bagaimana Lihiap dapat berkata seperti itu? Apakah Lihiap masih belum yakin akan kesetiaan kami sembilan orang yang menjadi pelayan, pembantu, sahabat, juga murid dari Lihiap? Lihiap sudah mendidik kami, melatih kami, melimpahkan segala kebaikan kepada kami. Lihiap selalu menolak kalau kami mohon untuk membantu Lihiap menghadapi lawan. Sekarang, pada saat Lihiap menghadapi ancaman dari lawan-lawan yang jauh lebih banyak dan berat, Lihiap menganjurkan kami untuk pulang! Lihiap, berilah kesempatan kepada kami untuk membalas semua kebaikan Lihiap kepada kami dan kami rela berkurban nyawa kalau perlu, demi untuk Lihiap!"

Liong-li tersenyum.

Ia memang sudah dapat menjenguk isi hati mereka, akan tetapi ia tahu benar betapa bahayanya tugas sekali ini, maka ia merasa tidak tega kalau sampai para pembantunya itu terancam bahaya maut karena dirinya.

Kini mendengar jawaban itu, iapun berkata.

"Terima kasih! Kalian memang para sahabatku yang baik. Memang dalam perjuangan melawan kejahatan, yang ada hanyalah menang atau kalah, hidup atau mati. Matipun tidak akan penasaran kalau kita tewas dalam membela kebenaran dan menentang kejahatan. Nah, kalau begitu, dengarkan baik-baik rencana siasatku. Kita harus dapat mengacaukan pertahanan mereka dengan gangguan dari beberapa tempat. Aku hanya ingin agar mendapat kesempatan menyusup ke dalam dan kalau aku sudah berada di depan sarang mereka, aku akan menantang ketiga datuk sesat itu untuk mengadu ilmu secara gagah." (Lanjut ke

Jilid 06) Dendam Sembilan Iblis Tua (Seri ke 03 -Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06 Mereka lalu berbisik-bisik dan Liong-li membagi-bagi tugas.

Kemudian, sesuai dengan siasat yang telah diatur oleh Liong-li, di balik semak belukar itu, sembilan orang pelayan menanggalkan pakaian luar mereka dan berganti pakaian.

Ketika akhirnya mereka itu satu demi satu menyelinap keluar dari semak-semak, maka yang nampak hanyalah berkelebatnya sembilan sosok bayangan hitam!

Liong-li sendiri juga menyelinap keluar.

Mula-mula para penjaga yang bersembunyi dan mengamati bagian barat daerah tapal batas penjagaan mereka, yang terkejut melihat berkelebatnya bayangan hitam, tak jauh dari tempat mereka bersembunyi.

Tak lama kemudian, bayangan hitam yang memiliki gerakan cepat itu nampak berdiri di atas sebongkah batu besar dan memandang ke arah belakang mereka, ke arah sarang mereka yang tertutup pohon-pohon dan tidak nampak dari situ.

"Hek-liong-li...!"

Mereka berbisik dan jantung mereka berdebar tegang.

Mereka sudah mendapat peringatan dari para pimpinan agar berhati-hati kalau melihat seorang wanita cantik berpakaian hitam dan memakai tusuk sanggul perak berbentuk naga kecil di atas bunga teratai.

Dan kini mereka melihat wanita itu tak jauh dari tempat mereka bersembunyi.

Hanya sebentar wanita itu nampak karena sekali berkelebat iapun menghilang kembali.

Tentu saja tiga orang penjaga itu menjadi panik dan seorang di antara mereka cepat melapor bahwa di bagian sebelah barat itu telah muncul Hek-liong-li, seorang di antara dua musuh yang ditunggu-tunggu, yaitu Hek-liong-li dan Pek liong-eng.

Kim Pit Siu-cai, Ang I Sian-li dan Pek-bwe Coa-ong tentu saja menjadi girang akan tetapi juga merasa tegang hati mereka ketika mendengar laporan dari para penjaga bahwa Hek-liong-li telah muncul di bagian barat.

Cepat mereka menyuruh Thai-san Ngo-kwi untuk membagi anak buah mereka dan sekelompok besar terdiri dari dua puluh orang dipimpin oleh Ngo-kwi (Setan kelima) segera menuju ke daerah itu untuk melakukan penjagaan.

Akan tetapi baru saja kelompok itu berangkat, dari timur datang penjaga melapor bahwa Hek-liong-li nampak di daerah timur!

Tiga orang datuk itu merasa heran.

Bagaimana mungkin Hek-liong-li dapat bergerak secepat itu?

Thai-san Ngo-kwi kembali mengirim Su-kwi memimpin dua puluh orang anak buah lari ke timur untuk memperkuat penjagaan.

Dan berdatanganlah para penjaga melaporkan bahwa mereka melihat Hek-liong-li di tempat-tempat penjagaan yang terpisah-pisah.

"Aih, tidak mungkin ini!"'seru Ang I Sian-li penasaran.

"Ia bukan manusia tetapi setan!"

Kata Kim Pit Siu-cai dan wajahnya agak berubah.

"Bagaimana mungkin seseorang dapat bermunculan di berbagai tempat dalam waktu hampir bersamaan? Kecuali setan yang pandai menghilang!"

"Jangan panik,"

Kata Pek-bwe Coa-ong.

"Biarpun kita belum pernah jumpa dan bertanding melawan Hek-liong-li, kecuali Sian-li yang hanya bentrokan sejenak, kita tahu bahwa ia seorang yang amat lihai. Entah siasat apa yang ia pergunakan, karena kabarnya selain lihai ilmu silatnya, juga ia amat cerdik. Kita harus waspada dan mari kita selidiki sendiri keanehan ini!"

Kata-kata ini menyadarkan dua orang rekannya dan merekapun berpencar melakukan penyelidikan.

Liong-li menggunakan kepandaiannya untuk menyusup ke depan.

Ia telah melihat hasil dari pengacauan yang dilakukan para pembantunya.

Nampak banyak anak buah penjahat berbondong-bondong berlari-larian ke berbagai jurusan, dan ia melihat dari atas puncak pohon yang tinggi betapa di puncak bukit itu terdapat sebuah perkampungan atau perumahan yang terdiri dari sebuah rumah besar dengan banyak rumah kecil di sekitarnya.

Tak lama kemudian, ia telah tiba di pintu gerbang pagar tembok yang mengelilingi tempat itu dan melihat bahwa di situ hanya terdapat lima orang penjaga yang bersenjata tombak dan golok.

Seorang penjaga yang tinggi besar dan ada codet di pipi kirinya berjaga paling depan dan dia kelihatan sombong, bahkan dengan dada dibusungkan dia mengeluarkan ucapan yang cukup nyaring untuk membual kepada empat orang kawannya.

"Kenapa sih ribut-ribut hanya karena munculnya Hek-liong-li? Kabarnya ia hanya seorang wanita muda yang cantik jelita! Hem, kalau ia muncul ke sini, tentu akan kutangkap dan kubawa ke pondokku untuk menemaniku malam ini, ha-ha!"

"Tukk!!"

Laki-laki itu roboh dan matanya mendelik karena tepat di antara kedua matanya nampak tanda merah dan ketika empat orang kawannya menghampiri, si pembual itu telah tewas dengan dahi tertembus sebuah batu kerikil yang masuk ke dalam kepalanya.

Gegerlah empat orang itu, apa lagi ketika muncul seorang wanita cantik berpakaian hitam di depan mereka.

"Hek-liong-li!"

Seru seorang di antara mereka dan mereka pun cepat menggerakkan senjata di tangan untuk mengeroyok. Liong-li melompat ke belakang dan berkata dengan suara lantang.

"Benar, aku Hek-liong-li. Panggil para tua bangka sisa Kiu Lo-mo itu keluar untuk bicara denganku!"

Akan tetapi, empat orang itu tidak menjawab melainkan terus mengeroyok karena bagaimanapun juga, mereka memandang rendah kepada musuh yang hanya seorang wanita muda yang cantik dan nampak lemah.

Melihat keganasan empat orang itu, Liong-li yang tadinya hendak menantang pimpinan gerombolan, terpaksa menyambut dengan tamparan dan tendangan.

Dengan gerakan yang lincah sekali, tubuhnya berkelebatan dan dalam waktu beberapa jurus saja, empat orang itupun sudah terpelanting ke kanan kiri, tak dapat bangkit kembali.

Akan tetapi, terdengar teriakan orang dan muncullah seorang laki-laki tinggi kurus bersama sepuluh orang anak buahnya yang segera mengepung Hek-liong-li dengan senjata di tangan.

Sepuluh orang itu bersenjata golok, dan si tinggi kurus itupun memegang sebatang golok besar yang tipis dan tajam berkilauan.

Dari gerakan si kurus tinggi ini, tahulah Liong-li bahwa ia berhadapan dengan seorang lawan yang cukup tangguh.

"Hek-liong-li, engkau datang mengantar nyawa!"

Kata laki-laki tinggi kurus berusia empat puluh tahun itu.

Dia bukan lain adalah Sam-wi, orang ketiga dari Thai-san Ngo-kwi.

Liong-li memandang tajam dan segera mengenal seorang di antara Thai-san Ngo-kwi itu.

Ia tidak ingin bentrok hanya dengan anak buah para datuk itu, karena kalau hanya Sam-kwi bersama belasan orang anak buahnya itu saja, tidak perlu ia bersusah payah datang ke tempat itu.

"Pergilah kalian kalau tidak ingin mati. Panggil saja tiga orang dari Kiu Lo-mo ke sini untuk menemuiku,"

Katanya tenang.

Akan tetapi, karena dia membawa banyak anak buah, pula mengingat bahwa di tempat itu terdapat banyak sekali kawannya, juga terdapat tiga orang datuk yang lihai, Sam-kwi timbul semangat dan keberaniannya.

Dia mengeluarkan aba-aba kepada sepuluh orang anak buahnya dan dia sendiri menerjang dengan goloknya.

"Singg...!"Golok itu berdesing, menjadi sinar yang menyilaukan mata, diikuti hujan senjata dari anak buahnya yang sudah mengeroyok Liong-li. Wanita perkasa ini tidak menjadi gugup. Dengan langkah ajaib Liu-seng-pouw (Langkah Bintang Cemara) ia dapat menghindarkan diri dengan mudah dari sambaran sebelas batang golok itu. Melihat bahwa ilmu golok Sam-kwi cukup berbahaya untuk dihadapi dengan tangan kosong apa lagi dia dibantu oleh sepuluh orang anak buahnya yang rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan, Liong-li meraba punggungnya dan nampaklah sinar hitam yang menyilaukan mata, ketika Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam) telah tercabut di tangannya! Kini ia melompat ke belakang. Si tinggi kurus itu masih mengejar bersama sepuluh orang anak buahnya, golok mereka sudah menyambar-nyambar lagi dengan ganasnya karena mereka mengira bahwa Liong-li merasa jerih menghadapi pengeroyokan sebelas orang itu. Juga mereka memandang rendah kepada sebatang pedang hitam di tangan wanita itu. Liong-li menjadi gemas dan begitu pedangnya diputar, sinar hitam bergulung-gulung dan terdengar suara berkerontangan ketika golok sepuluh orang itu buntung dan empat orang roboh terkena sabetan pedang, terkena tamparan dan tendangan Liong-li! Enam orang anak buah yang lain menjadi terkejut dan otomatis mereka mundur, akan tetapi Sam-kwi bahkan menjadi semakin penasaran dan marah melihat ini. Dia berseru keras dan goloknya menyambar dahsyat.

"Trangggg..."

Golok itu tertangkis Hek-liong-kiam dan terpental, sedangkan pedang hitam itu sendiri seperti terpental pula, Akan tetapi bukan terpental membalik, melainkan terpental ke bawah dan secepat kilat memasuki dada Sam-kwi, lalu tercabut lagi.

Saking cepatnya gerakan Liong-li, pedang itu tidak bernoda darah akan tetapi dada Sam-kwi telah ditembusi pedang.

Dia masih memegang goloknya, mencoba untuk membacok, matanya terbelalak dan diapun terhuyung, tidak jadi membacok melainkan roboh menelungkup tak bergerak lagi.

Enam orang anak buahnya cepat memukul tanda bahaya yang tergantung di gardu penjagaan!

Liong-li maklum bahwa kalau semua orang berdatangan, tentu ia tidak akan mampu melawan, maka iapun berkelebat lenyap di balik semak dan pohon-pohon karena ia harus melihat keadaan para pembantunya yang melakukan pengacauan tadi.

Di lain bagian dari tempat itu, dua sosok bayangan hitam berindap-indap di balik semak-semak menghampiri empat orang penjaga yang celingukan dengan golok di tangan, seperti mencari-cari.

Tadi mereka melihat Hek-liong-li di bawah pohon, akan tetapi tiba-tiba saja bayangan wanita berpakaian hitam itu lenyap.

Seorang kawan sudah melapor dan mereka tetap berjaga di situ untuk mengawasi gerak gerik Hek-liong-li dengan hati tegang dan agak jerih karena mereka sudah mendengar kabar betapa lihainya pendekar wanita itu.

Dua bayangan hitam yang menyamar dengan pakaian Hek-liong-li itu adalah Bunga Hijau dan Bunga Kuning yang bertugas mengadakan pengacauan di bagian itu.

"Cepat, kita robohkan dua orang di antara mereka,"

Bisik Bunga Hijau. Mereka lalu mengeluarkan busur kecil yang mereka bawa, memasang anak panah, membidik lalu menarik busur dan melepaskan talinya.

"Wirrr... wirrr...!"

Dua batang anak panah melesat dengan cepatnya ke arah empat orang itu dan dua orang di antara penjaga itu berteriak dan roboh dengan leher tertancap anak panah kecil.

Dua orang lainnya terkejut dan ketika mereka memandang ke arah dari mana datangnya anak panah, mereka melihat Hek-liong-li berdiri sambil memegangi busur dan tersenyum.

"Hek-liong-li...!"

Teriak mereka dengan kaget dan Bunga Hijau yang tadi sengaja memperlihatkan diri, menyelinap kembali ke balik semak belukar sedangkan Bunga Kuning sudah menyusup ke kanan, menjauhi kawannya.

Kini bala bantuan anak buah gerombolan yang menerima perintah dan dipimpin oleh Ngo-kwi tiba.

Mereka bertanya-tanya di mana adanya Hek-liong-li.

Dua orang penjaga itu menunjuk ke arah Bunga Hijau tadi berdiri.

Ngo-kwi yang melihat dua orang anak buahnya roboh dengan leher tertusuk anak panah, menjadi marah dan diikuti pasukan kecilnya, dia meloncat ke tempat itu untuk mencari Hek-liong-li.

Namun, di balik semak belukar itu mereka tidak menemukan apa-apa karena Bunga Hijau sudah lari ke sebelah kiri, berpencar dari Bunga Kuning.

Kini Bunga Kuning yang berada jauh di sebelah kanan, melepas sebuah anak panah lagi yang merobohkan seorang anggauta gerombolan.

Ngo-kwi melihat ia sebagai Hek-liong-li maka diapun melakukan pengejaran akan tetapi Hek-liong-li itu telah lenyap.

Seperti telah mereka rencanakan, Bunga Kuning menyusup-nyusup ke tempat di mana ia berjanji untuk bertemu lagi dengan Bunga Hijau.

Akan tetapi, tiba-tiba ia berhenti bergerak dan cepat ia masuk ke dalam semak-semak yang penuh duri, tidak perduli tubuhnya tertusuk duri.

Kini ia aman dan tidak nampak dari luar, dan diapun mengintai dari celah-celah daun semak belukar, matanya terbelalak dan mukanya pucat melihat betapa Bunga Hijau telah berhadapan dengan seorang kakek berpakaian sastrawan sutera putih.

Kakek itu memegang sebuah kipas lebar di tangan kirinya dan dia berwajah tampan dan gerak geriknya halus, namun senyumnya mengejek dan dingin.

"Ha-ha-ha, kiranya Hek-liong-li hanyalah seorang penakut yang beraninya hanya menyerang anak buah kami secara menggelap. Hek-liong-li, engkau berhadapan dengan Kim Pit Siu-cai, menyerahlah agar aku tidak terpaksa menggunakan kekerasan."

Biarpun sikapnya memandang rendah dan ucapannya mengejek, namun sebenarnya dia merasa tegang dan agak jerih maka tangan kanannya meraba gagang mouw-pitnya yang terbuat dari emas, senjata ampuh yang menjadi andalannya.

Bagaimana pun juga, empat orang rekannya tewas di tangan Hek-liong-li dan Pek-liong-eng, maka dalam hatinya dia sama sekali tidak berani memandang rendah.

Wanita-cantik berpakaian hitam itu membentak.

"Hek-liong-li tidak sudi menyerah terhadap siapa pun juga!"

Setelah berkata demikian, Bunga Hijau yang seperti semua rekannya menyamar sebagai Hek liong-li itu telah mencabut pedangnya, Sebatang pedang hitam yang bentuknya persis Hek-liong-kiam, akan tetapi tentu saja hanya pedang tiruan, dan dengan dahsyatnya iapun menyerang dengan tusukan pedangnya.

Melihat pedang hitam itu, Kim Pit Siu-cai menjadi semakin jerih dan sama sekali tidak berani memandang ringan.

Dia cepat melompat ke samping untuk menghindarkan diri sambil mencabut senjata kim-pit (pena emas) dari pinggangnya.

Akan tetapi wanita itu sudah menyerang lagi dengan bacokan pedangnya.

Sungguhpun pandang mata yang jeli dari Kim Pit Siu-cai melihat bahwa serangan Hek-liong-li itu tidak terlalu berbahaya, kurang sekali dalam hal kecepatan maupun tenaga, namun dia tetap tidak berani menggunakan senjatanya untuk menangkis pedang hitam yang dikenalnya sebagai Hek-liong-kiam yang amat ampuh itu.

Dia kembali mengelak dan kini menggerakkan kipasnya ke arah muka Hek-liong-li untuk mengebut dan disusul gerakan kim-pit yang melakukan gerakan totokan bertubi-tubi.

Ini merupakan serangan andalan dari Kim Pit Siu-cai.

Penggunaan senjata istimewa ini telah mengangkat namanya tinggi-tinggi karena memang hebat sekali.

Begitu senjata itu membalas, maka dia telah mengirim totokan ke arah tigabelas jalan darah di bagian tubuh depan lawan, susul menyusul dan dengan kecepatan luar biasa.

Bunga Hijau terkejut dan berusaha untuk mengelak, akan tetapi pada totokan keempat, ia tidak mampu mengimbangi kecepatan lawan dan iapun terkena totokan pada pundaknya dan roboh terguling!

Kim Pit Siu-cai terkejut dan juga girang bukan main.

Dia mengira bahwa tentu Hek-liong-li memandang rendah kepadanya maka dapat dia robohkan sedemikian mudahnya, atau mungkin itu hanya siasat saja bagi wanita sakti itu.

Maka untuk meyakinkan hatinya bahwa dia benar-benar memperoleh kemenangan, secepat kilat senjata pena emas itu meluncur ke arah leher Hek-liong-li dan senjatanya itu menembus leher itu dengan mudah!

Hek-liong-li mengeluh lirih dan terkulai!

Hampir Kim Pit Siu-cai tidak percaya.

Akan tetapi melihat darah mengalir keluar dari luka di leher wanita yang kini tidak bergerak lagi itu, dia hampir bersorak.

Disambarnya tubuh yang sudah lemas itu, dipanggulnya dan diapun lari secepatnya ke arah sarang gerombolannya sambil berteriak-teriak seperti orang kesetanan.

"Aku telah berhasil membunuh Hek-liong-li...!"

Berkali-kali.

Anak buah gerombolan itu bersorak gembira ketika melihat betapa musuh yang amat ditakuti itu telah tewas dan mayatnya dipanggul dan dibawa lari oleh Kim Pit Siu-cai.

Sementara itu, di dalam semak-semak, Bunga Kuning menahan diri untuk tidak menjerit ketika menyaksikan betapa rekannya roboh dan terbunuh oleh kakek itu, Bahkan tubuh rekannya yang entah mati ataukah hidup itupun dilarikan oleh pihak musuh.

Ia tidak berani keluar karena maklum bahwa hal itu berarti hanya mati konyol, pada hal ia harus mengabarkan tentang kematian rekannya itu kepada Hek-liong-li.

Air matanya bercucuran dan ia menangis tanpa mengeluarkan suara, lalu setelah gerombolan itu meninggalkan tempat itu, ia menyusup keluar dari semak-semak, tidak merasakan betapa bajunya robek-robek dan kulitnya juga babak belur berdarah, lalu ia berlari secepatnya untuk mencari Hek-liong-li di tempat pertemuan antara mereka semua yang telah ditentukan oleh pemimpin mereka.

Di bagian lain, Bunga Biru yang menyamar sebagai Hek-liong-li, seorang diri membuat kekacauan di bagian itu dengan muncul sebagai Hek-liong-li.

Ketika para penjaga menjadi panik dan melapor, Bunga Biru seperti yang telah ditugaskan kepadanya, menggunakan anak panah menyerang para penjaga dan berhasil merobohkan seorang di antara mereka.

Ketika datang banyak anggauta gerombolan yang dipimpin oleh seorang yang bertubuh pendek gendut, Bunga Biru cepat melarikan diri dengan menyelinap di antara pohon-pohon.

Akan tetapi betapa kagetnya ketika tiba-tiba ada bayangan berkelebat, bayangan merah dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang nenek yang dikenalnya sebagai Ang I Sian-li.

Lan-hwa (Bunga Biru) pernah melihat nenek itu ketika membantu Thai-san Ngo-kwi, maka tentu saja ia terkejut bukan main.

Di lain pihak, Ang I Sian-li juga merasa jerih dan hanya karena di situ terdapat banyak anak buahnya maka ia berani membentak nyaring.

"Hek-liong-li, engkau tidak akan dapat lolos lagi dari tangan kami!"

Nenek itu sudah menerjang dengan tamparan tangannya.

Tangan nenek itu berubah kehijauan karena ia menggunakan pukulan beracun untuk melawan Hek-liong-li yang ia tahu amat lihai itu.

Dan pukulan Tangan Racun Hijau ini merupakan ilmunya yang baru, yang dikuasainya dengan cara yang amat keji, yaitu menghisap darah banyak anak bayi.

Karena sudah pernah merasakan kehebatan tenaga sakti dari Hek-liong-li, maka begitu menampar Ang I Sian-li mengerahkan tenaga beracun yang amat keji ini.

Bunga Biru yang menyamar Hek-liong-li, tentu saja tidak mengenal tamparan maut ini dan ia menyambutnya dengan pedang tiruan Hek-liong-kiam, membabat ke arah lengan si nenek yang menampar.

Melihat Hek-liong-kiam, pedang hitam yang pernah didengarnya, nenek itu merasa ngeri dan otomatis iapun menarik kembali tamparannya.

Pada saat itu, belasan orang anak buah gerombolan penjahat berdatangan dan Ang I Sian-li yang jerih terhadap pedang di tangan Hek-liong-li, cepat memerintahkan anak buahnya untuk mengeroyok.

Belasan batang golok menyerang dari segala jurusan.

Melihat dirinya dikeroyok, Lan-hwa cepat memutar pedangnya.

Bagaimanapun juga, ia telah digembleng oleh Hek-liong-li dan ia sudah mahir memainkan pedang tiruannya.

Terdengar suara berdencing ketika pedangnya menangkisi semua golok yang menyambarnya.

Ang I Sian-li terbelalak dan mengeluarkan suara tawa mengejek.

Kiranya pedang Hek-liong-kiam yang terkenal itu hanya semacam itu saja, hanya sebanding dengan golok para anak buahnya.

Golok-golok itu hanya tertangkis dan tidak menjadi rusak!

Padahal, kedua lengannya lebih kuat dibandingkan golok para anak buah itu.

Timbul keberaniannya dan sambil memekik nyaring, kembali ia menyerang, tubuhnya melompat seperti seekor burung terbang menyambar arah Lan-hwa dan mengirim tamparan mautnya yang mengandung racun jahat.

Saat itu, Lan-hwa sedang sibuk menangkisi banyak golok, bagaimana mungkin ia mampu menghindarkan diri dari tamparan itu.

Andai kata ia tidak sedang menghadapi pengeroyokan sekalipun, andai kata ia siap dengan pedang di tanganpun belum tentu ia akan dapat menahan dahsyatnya tamparan Ang I Sian-li.

Ia masih mencoba untuk mengelebatkan pedangnya menyambut tamparan itu.

Akan tetapi, angin tamparan yang hebat membuat pedangnya menyeleweng dan tahu-tahu dadanya telah terkena tamparan tangan Ang I Sian-li.

"Plakk!"

Lan-hwa mengeluh dan roboh terjengkang, tewas seketika dengan tubuh menjadi kehijauan!

Ang I Sian-li berdiri bengong, merasa seperti mimpi ketika anak buahnya bersorak gembira melihat Hek-liong-li tewas!

Akan tetapi, kemudian meledaklah kegembiraan dan kebanggaannya.

Ia menyambar rambut Lan-hwa, menyeret mayat itu dan membawanya lari untuk dipamerkan kepada dua orang rekannya!

"Aku telah membunuh Hek-liong-li...!"

Sambil menyeret mayat wanita berpakaian serba hitam itu pada rambutnya, Ang I Sian-li bersorak dan berteriak-teriak penuh kebanggaan.

Ketika ia tiba di sarang mereka, Ang I Sian-li yang tadinya gembira dan bangga itu memandang bingung.

Ia melihat bahwa semua rekannya telah berkumpul di situ dan di atas tanah, di depan mereka, berserakan mayat-mayat para anggauta anak buah mereka, termasuk Sam-kwi, yaitu orang ketiga di antara Thai-san Ngo-kwi.

Dan di dekat mayat San-kwi menggeletak pula mayat...

Hek-liong-li!

Kalau tadinya ia berteriak-teriak telah berhasil membunuh Hek-liong-li, kini ia memandang bingung dan melemparkan mayat yang tadi diseretnya ke dekat mayat berpakaian serba hitam yang sudah lebih dahulu menggeletak di situ.

"Siapakah mayat itu?"

Tanyanya kepada dua orang rekannya sambil menuding ke arah mayat Hek-liong-li pertama.

"Hek-liong-li-palsu, mungkin seperti yang kau bawa ke sini, aku yang telah membunuhnya dengan mudah,"

Kata Kim Pit Siu-cai.

"Aihh...!"

Sepasang mata nenek cantik pesolek itu terbelalak.

"Kalau begitu yang kubunuh inipun palsu? Akan tetapi... kenapa banyak yang menyamar Hek-liong-li? Pantas kepandaiannya rendah saja, akan tetapi ia membawa Hek-liong-kiam!"

Katanya dengan nada suara penuh kekecewaan.

"Coba lihat, samakah Hek-liong-kiam itu dengan yang ini?"

Kim Pit Siu-cai mengeluarkan sebatang pedang hitam yang tadi dirampasnya dari wanita yang disangkanya Hek-liong-li.

Ang I Sian-li mengeluarkan pedang itu.

Memang serupa.

Mereka berdua memegang pedang dengan kedua tangan dan sekali mengerahkan tenaga, pedang itu patah menjadi dua potong.

Dengan hati sebal kedua orang datuk itu melemparkan pedang rampasan mereka yang palsu itu ke atas tanah.

"Sialan! Kita dipermainkan Hek-liong-li!"

Kata Ang I Sian-li bersungut-sungut dan marah sekali.

"Tenanglah, Sian-li,"

Kata Pek-bwe Coa-ong yang merupakan orang tertua di antara tiga datuk sisa Sembilan Iblis itu.

"Bagaimanapun juga, dua orang gadis yang menyamar Hek-liong-li ini pasti anak buahnya atau pembantunya, maka dapat membunuh dua orang inipun sudah merupakan pukulan bagi Hek-liong-li. Cepat atau lambat, Hek-liong-li pasti akan terjatuh ke tangan kita, mati atau hidup!"

"Memang lumayan dapat membunuh dua orang pembantunya, akan tetapi kitapun menderita kerugian yang tidak sedikit! Delapan orang anak buah kita tewas, belum dihitung yang terluka, dan terutama sekali Sam-kwi telah terbunuh oleh Hek-liong-li!"

Empat orang sisa Thai-san Ngo-kwi yang berada di situ dan memandang kepada jenazah rekan mereka dengan wajah duka, kini mengepal tinju.

"Aku bersumpah,"

Kata Thai-kwi, orang pertama yang tinggi besar hitam dan berusia empat puluh lima tahun, dengan suara geram.

"Kalau Hek-liong-li terjatuh ke tangan kami, akan kami permainkan dan kami perhina dan siksa sampai puas, baru akan kami bunuh, tubuhnya kami cincang dan dagingnya kami berikan kepada anjing!!"

"Aku akan minum darahnya!"

Kata pula Ji-kwi yang pendek gendut.

"Akan kumakan mentah-mentah sebagian jantungnya!"

Kata Su-kwi yang tinggi besar agak bongkok.

"Aku... aku akan memperkosanya sepuas hati,"

Kata Ngo-kwi yang sedang tubuhnya, galak dan mata keranjang, orang termuda dari mereka berusia tiga puluh lima tahun.

"Harap kalian tenang dan kalau sampai Hek-liong-li terjatuh ke tangan kita, aku tidak akan melupakan kalian untuk berpesta. Akan tetapi, bukan Hek-liong-li saja yang kita hadapi. Masih ada Pek-liong-eng dan para pembantunya. Kita harus berhati-hati dan memperkuat penjagaan. Sian-li, Siu-cai, mari kita berunding di dalam,"

Kata Pek-bwe Coa-ong dan dia memerintahkan empat dari Ngo-kwi untuk mengurus jenazah-jenazah itu, dan menambahkan.

"Gantung mayat dua orang Hek-liong-li palsu itu di pohon di luar pagar agar terlihat oleh Hek-liong-li!"

Tiga orang datuk itu lalu masuk dan mengadakan perundingan.

"Jelas bahwa kini Liong-li sudah menerima tantangan kita. Ia pasti akan berdaya upaya untuk menyerbu masuk dan mencoba untuk membebaskan dua pasang tawanan kita. Mereka kini harus ditahan dalam kamar dan jangan sampai mereka itu mudah dibebaskan dari luar,"

Kata Pek-bwe Coa-ong.

"Jangan khawatir, Coa-ong. Mereka sudah kusuruh keram dalam kamar, bahkan aku telah menotok mereka dan kaki tangan mereka terbelenggu,"

Kata Ang I Sian-li.

"Bagus! Sekarang mari kita bicara tentang dua orang Hek-liong-li palsu itu. Kita ketahui bahwa Hek-liong-li mempunyai sembilan orang pembantu yang juga merupakan anak buah mereka. Jelaslah bahwa dua orang Liong-li palsu itu pasti dua orang di antara sembilan orang pembantunya. Berarti kini ia berada di luar bersama tujuh orang pembantunya.

"Kalau melihat betapa di seluruh penjuru bermunculan Hek-liong-li, jelas bahwa mereka semua itu mengenakan pakaian hitam dan menyamar sebagai Liong-li. Akan tetapi, di antara mereka, hanya Liong-li yang aseli saja yang harus kita hadapi dengan hati-hati. Kita harus mengerahkan tenaga, memasang barisan pendam dan sedapat mungkin membunuh semua pembantu Liong-li."

"Coa-ong, kita jangan terlalu memusatkan perhatian kepada Liong-li seorang. Kita harus ingat bahwa di sana terdapat Pek-liong-eng pula. Dan diapun mempunyai enam orang pembantu pria yang lihai. Mungkin diapun seperti Liong-li, akan datang dibantu enam orang pelayannya itu,"

Kata Ang I Sian-li.

Mereka berunding dan mengatur siasat karena mereka bertiga mengambil keputusan nekat bahwa sekali ini mereka harus mampu membalas dendam kematian semua rekan mereka yang terbunuh oleh Pek-liong dan Liong-li.

Sekarang atau tidak ada harapan lagi, pikir mereka.

Dan saat itu, kedudukan mereka memang kuat.

Bukan saja mereka bertiga merupakan lawan-lawan yang amat tangguh bagi Pek-liong dan Liong-li, juga mereka dibantu oleh Thai-san Ngo-kwi yang kini tinggal empat orang dan ratusan orang anak buah mereka!

Delapan sosok bayangan orang itu menyelinap di balik semak-semak dan pohon-pohon.

Hek-liong-li dan para pembantunya yang tinggal tujuh orang itu, dengan pakaian hitam-hitam, merangkak dan menyusup di antara semak-semak mendekati pohon besar di mana tergantung dua buah mayat berpakaian hitam itu.

Terdengar isak tertahan di sana-sini ketika mereka melihat bahwa yang tergantung itu adalah mayat Bunga Biru dan Bunga Hijau!

Liong-li cepat membuat suara mendesis lirih untuk mengingatkan anak buahnya agar menahan isak mereka dan jangan membuat gaduh.

Ia sendiri, menggigit bibir ketika melihat keadaan dua orang anak buahnya itu.

Baju kedua mayat itu di bagian dada terobek dan nampak payudara mereka juga robek-ro bek tergores pedang.

Dan pedang mereka, Hek-liong-kiam palsu yang sudah patah, ditusukkan di bawah perut sehingga tinggal nampak gagangnya saja.

"Jahanam busuk,"

Ia memaki dalam hati.

Sungguh mereka itu bukan manusia, melainkan iblis yang teramat kejam, menyiksa jenazah seperti itu.

Penghinaan yang luar biasa besarnya.

Biarpun ia marah sekali, namun ia tetap tenang dan kemarahannya segera padam.

Ia tidak boleh marah karena tentu tiga orang datuk itu sengaja memperlakukan dua buah mayat itu sedemikian rupa untuk memancing kemarahannya.

Dan orang marah tentu akan kehilangan keseimbangan dan akan mengambil tindakan yang nekat dan ceroboh.

Tidak, ia tidak boleh marah.

Pihak musuh terlalu berbahaya.

"Kalian kurung tempat ini dan tunggu saja, biar aku yang memeriksa keadaan lapangan. Begitu muncul pihak musuh, lima orang membantuku, dan engkau, Ang-hwa (Bunga Merah) dan Pek-hwa (Bunga Putih), kalian yang kutugaskan menurunkan dan mengambil dua jenazah Bunga Hijau dan Bunga Biru. Akan tetapi tunggu, sampai aku memberi tanda aman, baru kalian berdua boleh bergerak. Yang lain-lain juga harus menunggu isyaratku, baru boleh membantuku."

Liong-li berbisik-bisik mengatur siasat dan membagi tugas.

Setelah semua mengerti betul, Liong-li membawa sebatang tongkat dari cabang pohon yang panjangnya tidak kurang dari dua setengah meter, lalu meloncat keluar dari tempat pengintaiannya.

Malam itu tidak gelap sekali karena ada bulan tiga perempat menerangi bumi.

Kebetulan langit bersih sehingga cahaya bulan tiga perempat itu tidak terhalang awan.

Dengan tongkatnya, Liong-li mencari jalan dengan hati-hati, mencoba dan meneliti di sebelah depan dengan tongkatnya agar tidak sampai terperangkap.

Ternyata tempat itu tidak dipasangi jebakan.

Liong-li maju terus menghampiri pohon di mana dua orang anak buahnya mati tergantung, tetap waspada ketika melangkah maju dengan perlahan dan hati-hati.

Biarpun ia tidak mengeluarkan suara menangis, namun kedua matanya menjadi basah ketika ia tiba di bawah pohon, melihat dua orang anak buahnya tergantung seperti itu.

Mereka tewas karena membantunya!

Tadinya ia sudah khawatir dan tidak ingin mengorbankan anak buahnya, akan tetapi mereka memaksa.

Mereka rela mati demi membantunya!

Mulutnya bergerak membaca doa dan mengucapkan selamat jalan kepada Bunga Hijau dan Bunga Biru.

Tiga orang datuk membuat perhitungan bahwa Liong-li yang amat cerdik itu pasti akan mudah terpancing dengan dua buah mayat itu.

Mereka memperhitungkan bahwa yang mencoba untuk mengambil mayat tentu hanya anak buah Liong-li.

Maka merekapun hanya menyuruh empat orang Thai-san Ngo-kwi untuk mewakili mereka membawa anak buah menjaga tempat itu.

Mereka tidak tahu bahwa justeru perhitungan mereka ini sudah diperhitungkan pula oleh Liong-li.

Gadis perkasa ini memperhitungkan bahwa tiga orang datuk itu tentu tidak mengira ia berani nekat membahayakan diri menghampiri mayat.

Justru karena ini, maka ia malah datang!

Bagaikan bermain catur, kalau para datuk sesat membuat perhitungan sampai tiga langkah, Liong-li membuat perhitungan sampai empat-lima langkah!

Ketika Thai-kwi yang memimpin pengepungan itu melihat munculnya seorang wanita berpakaian hitam, dia tersenyum.

Hemm, tidak mungkin aku dapat dikelabuhi lagi, pikirnya.

Liong-li, aku tahu bahwa yang muncul itu tentu seorang di antara anak buahmu yang menyamar!

Bersama semua anak buahnya yang berjumlah dua puluh orang, dia dan adik-adiknya mengikuti gerak-gerik bayangan hitam itu.

Liong-li dapat menduga bahwa semua gerakannya tentu diikuti banyak pasang mata dari pihak lawan.

Ia tetap berhati-hati, sudah memperhitungkan pula bahwa tentu ia dianggap seorang di antara Liong-li palsu.

Ia merasa lega bahwa tempat itu tidak dipasangi jebakan sehingga memudahkan anak buahnya untuk merampas mayat.

Dengan tongkatnya, ia memeriksa tali gantungan.

Tidak dipasangi perangkap pula.

Ia masih menanti munculnya serangan musuh, dan diam-diam, tangan kirinya sudah mempersiapkan segenggam jarum hitamnya di tangan kiri.

Jarang Liong-li mempergunakan senjata rahasia, jarum-jarum hitamnya selalu tersimpan saja dalam kantung kecil yang tergantung di pinggang.

Akan tetapi sekali ini, ia menghadapi musuh yang mempunyai banyak anak buah dan ia sudah mengambil keputusan untuk tidak bersikap lunak terhadap mereka, apa lagi setelah dua orang pembantunya tewas dan disiksa seperti itu.

Melihat belum juga ada gerakan dari pihak musuh, tiba-tiba Liong-li meloncat ke atas, sinar hitam berkelebat dan dua sosok tubuh mayat yang tadinya tergantung itu terjatuh ke atas tanah.

Pada saat itulah, dari arah belakang dan sebelah kirinya, meluncur puluhan batang anak panah ke arah dirinya!

Ia memutar pedangnya dan semua anak panah runtuh, dan sambil memutar pedang, ia menggerakkan tangan kirinya dan sinar lembut hitam meluncur ke berbagai arah, yaitu ke arah dari mana datangnya anak panah tadi.

Terdengar pekik kesakitan di sana sini dan Liong-li tersenyum karena ia tahu bahwa seperti telah diaturnya tadi, tujuh orang anak buahnya sudah pula melepas senjata mereka, yaitu anakpanah-anakpanah kecil yang bisa dilepas dari busur sekali tarik lima batang!

Tujuh orang anak buahnya sudah menyerang, membarengi serangan musuh, menjatuhkan beberapa korban yang tadi terdengar menjerit tanpa tempat sembunyi anak buahnya diketahui musuh.

Thai-kwi menjadi marah dan dia memberi aba-aba.

Dua puluh orang anak buahnya tinggal limabelas orang karena yang lima orang terjungkal, terkena senjata rahasia lawan.

Limabelas orang itu, ditambah dia dan adik-adiknya yang semua berjumlah empat orang, menyerbu dengan teriakan marah ke arah Liong-li.

Liong-li kembali tersenyum dan pada saat itu, lebih banyak lagi anak panah menyambar, menyongsong belasan orang yang menyerbu itu dan kembali terdengar teriakan-teriakan kesakitan dan empat orang roboh!

Kini tinggal empatbelas orang lagi dan iapun memberi isyarat dengan mengangkat pedangnya ke atas.

Melihat isyarat ini, muncullah lima orang wanita berpakaian hitam, menyambut serbuan belasan orang itu, sedangkan Liong-li sendiri menghadapi pengeroyokan Thai-kwi, Ji-kwi, Su-kwi dan Ngo-kwi.

Sementara itu, Ang-hwa dan Pek-hwa sudah meloncat dan cepat mereka menyambar dua buah mayat rekan mereka dan membawanya pergi.

"Tangkap hidup-hidup! Yang inilah Liong-li yang aseli!"

Teriak Thai-kwi dan bersama tiga orang adiknya dia menyerang dengan membabi-buta kepada Liong-li.

Lima orang anak buah menyambut lima orang anak buah Liong-li, sedangkan lima orang lain sudah ikut mengeroyok Liong-li!

Thai-kwi meniup tanda bahaya yang melengking-lengking.

Liong-li maklum bahwa keadaannya bisa berbahaya kalau tiga orang datuk itu muncul.

Sekarangpun, tanda bahaya itu sudah mengundang datangnya belasan orang anak buah lain yang kebetulan berada di sekitar tempat itu sehingga ia dan lima orang anak buahnya harus menghadapi pengeroyokan banyak sekali lawan.

Selagi Liong-li dan para pembantunya mengamuk, merobohkan banyak pengeroyok yang rata-rata memiliki kepandaian yang cukup tangguh, tiba-tiba nampak sinar api berkobar di sana sini dan teriakan kebakaran.

Ternyata sarang ketiga Kiu Lo-mo itu terbakar di sana sini!

Tentu saja para pengeroyok menjadi panik dan Thai-kwi sendiri memberi aba-aba agar anak buahnya mundur karena dia ingin membawa anak buahnya membantu memadamkan kebakaran yang terjadi di sedikitnya enam tempat itu!

"Jangan kejar!"

Liong-li berseru dan mengajak lima orang pembantunya menyusup dan menghilang di antara pohon-pohon, menyusul Ang-hwa dan Pek-hwa yang sudah membawa dua buah mayat rekan mereka itu ke seberang sungai, mempergunakan perahu yang mereka sembunyikan di tepi sungai, dalam semak belukar.

Liong-li tersenyum puas, bukan hanya karena mereka telah berhasil merobohkan lagi beberapa orang anak buah musuh, juga bukan hanya karena ia berhasil mengambil jenazah dua orang pembantunya agar dapat dikubur dengan baik, akan tetapi terutama sekali melihat adanya kebakaran di enam tempat tadi.

Hatinya tidak syak lagi, itu pasti hasil perbuatan Pek-liong-eng!

Siapa lagi kalau Pek-liong yang datang di saat sedemikian tepatnya, dan menggunakan siasat demikian cerdiknya untuk mengacaukan musuh dan menolong ia dan para pembantunya yang sedang terkepung dan terancam?

Malam itu juga, Liong-li dan tujuh orang pembantunya mengubur dua jenazah dengan sederhana namun penuh khidmat.

Setelah melakukan sembahyang secara sederhana di depan kedua makam itu, Liong-li dan anak buahnya berunding di depan makam, duduk di atas rumput.

"Kematian Bunga Biru dan Bunga Hijau membuktikan betapa lihai dan berbahayanya pihak musuh,"

Liong-li berkata.

"Tiga orang datuk itu, sisa dari Sembilan Iblis, agaknya menyusun kekuatan dan bertekad untuk membalas dendam dan membunuh aku dan Pek-liong. Melihat betapa dua orang rekan kalian telah tewas, dan mengingat akan besarnya bahaya, sekali lagi aku peringatkan kepada kalian. Aku tidak ingin melihat jatuhnya lebih banyak korban lagi di antara kita, maka kalian boleh meninggalkan aku. Aku akan berjuang sendiri menentang mereka, bersama Pek-liong."

Ang-hwa (Bunga Merah) segera mendahului teman-temannya menjawab.

"Lihiap, kenapa lagi-lagi Lihiap berkata demikian? Lihiap, sudah bertahun-tahun Lihiap membimbing kami, mengajarkan kami bagaimana sikap seorang gagah sehingga kami merasa menjadi manusia yang berarti. Dalam suatu pertentangan, di mana kita berdiri sebagai penentang perbuatan jahat, tentu saja terjadi korban. Dua orang rekan kami tewas, namun mereka tewas sebagai naga, sebagai harimau, dan di pihak musuh juga banyak yang tewas, lebih banyak dari pada kerugian yang kita derita.

"Lihiap, kalau kami tewas, seperti Bunga Hijau dan Bunga Biru, kami akan merasa bangga. Bukan karena kami tewas membantu Lihiap, melainkan tewas karena menentang kejahatan. Bukankah Lihiap selalu mengatakan lebih baik mati sebagai harimau melawan musuh yang jahat, dari pada mati sebagai babi disembelih atau lari seperti anjing yang ketakutan? Saya sendiri, saya akan tetap bersama Lihiap menghadapi tiga orang datuk dari Kiu Lo-mo itu?"

Enam orang temannya serentak menyatakan setuju dan tak seorangpun yang mau meninggalkan Liong-li. Liong-li merasa terharu.

"Baiklah, kalau begitu, kita lanjutkan usaha kita membasmi mereka, bersama Pek-liong. Akan tetapi karena pihak lawan sudah mengetahui keadaan kita, maka kita akan menanti dulu sampai ada berita dari Pek-liong sehingga kita dapat bekerja sama dengan dia. Pihak musuh terlalu tangguh untuk kita hadapi sendiri."

Dugaan Liong-l.i memang benar.

Yang melakukan pembakaran-pembakaran di sarang gerombolan pada malam hari itu adalah Pek-liong-eng dan enam orang pembantunya.

Setelah Pek-liong menemukan surat yang ditinggalkan Liong-li untuknya dan dia mengadakan pembicaraan dengan Cian Hui dan isterinya, Cu Sui In, dia lalu pergi ke lembah Sungai Kuning dan di suatu tempat yang memang telah dia janjikan kepada enam orang pembantunya, dia mengadakan pertemuan dengan mereka.

Tempat pertemuan itu di sebuah kuil tua yang tidak dipergunakan lagi, yang letaknya di lereng bukit kecil di pantai Sungai Kuning.

Dalam petualangannya dahulu, Pek-liong pernah mempergunakan kuil tua ini sebagai tempat bersembunyi, maka kini diapun hendak memanfaatkan tempat itu untuk menjadi tempat pertemuannya dengan enam orang pelayan atau pembantunya.

Bukit itu tak pernah dikunjungi orang, dan kuil itu terlalu tua untuk dijadikan kuil baru, dan terlalu seram untuk dijadikan tempat tinggal, tempatnya sunyi dan jauh tetangga.

Setelah enam orang pembantunya lengkap berada di situ, Pek-liong menyuruh seorang pembantu berjaga di luar dan seorang lagi di belakang kuil, kemudian dia mengajak empat pembantu lain untuk bicara di dalam.

Dia mendengar laporan hasil penyelidikan mereka bahwa di lembah Sungai Kuning terdapat sebuah tempat yang agaknya dijadikan sarang penjahat.

Mereka berenam belum melihat adanya tiga datuk besar sisa Kiu Lo-mo, akan tetapi mereka melihat adanya Thai-san Ngo-kwi dan ratusan orang anak buahnya, yaitu orang-orang kang-ouw yang termasuk golongan sesat.

Juga bahwa tempat itu amat berbahaya, agaknya dipasangi banyak perangkap dan dijaga ketat.

"Apakah kalian sudah melihat tanda-tanda hadirnya Hek-liong-li di sana? Atau para pembantunya?"

Tanya Pek-liong.

"Kami hanya beberapa kali melihat sosok bayangan hitam-hitam berkelebat dan menyusup-nyusup di antara pohon dan semak, akan tetapi kami belum jelas apakah mereka itu Liong-lihiap dengan para pembantunya. Seperti pesan Taihiap, kami tidak mengadakan kontak dengan siapapun, hanya melakukan penyelidikan di sekitar Hek-san (Bukit Hitam) di lembah Huang-ho (Sungai Kuning)."

Pek-liong mengangguk-angguk.

"Baiklah, mulai sekarang, untuk sementara kita jadikan kuil ini sebagai markas. Bukit Hitam berada di depan, tak jauh dari sini dan malam ini kita melakukan penyelidikan ke bukit itu, menyelidiki sarang gerombolan yang kalian temukan. Persiapkan segalanya, juga minyak bakar, siapa tahu kita dapat mempergunakannya, setidaknya untuk menggunakan siasat membakar semak memaksa ular keluar dari sarangnya. Aku ingin memperoleh kepastian apakah gerombolan yang kalian temukan itu benar merupakan anak buah tiga orang datuk Kiu Lo-mo ataukah bukan."

Demikianlah, setelah hari mulai gelap, Pek-liong dan enam orang pembantunya mendaki bukit Hitam, melakukan penyelidikan.

Mereka berpencar, bergerak naik walaupun mereka menjaga jarak agar dapat saling berhubungan melalui isyarat yang biasa mereka lakukan dalam gelap, yaitu suara burung malam.

Untuk keperluan penyelidikan kali ini, Pek-liong mempergunakan jubah luar yang berwarna biru yang panjang dan lebar menutupi pakaiannya yang serba putih.

Ketika dia menggunakan ilmunya bergerak ringan dan cepat menyusup di antara semak dan pohon itulah Pek-liong melihat adanya dua buah mayat wanita yang digantung di pohon besar, di luar perkampungan gerombolan.

Dia terkejut juga melihat betapa dua orang wanita yang telah tewas itu mengenakan pakaian hitam-hitam seperti pakaian Liong-li, juga gagang pedang yang menancap di bawah perut mereka adalah gagang pedang mirip Hek-liong-kiam.

Dan diam-diam dia mengeluarkan makian marah melihat keadaan dua buah mayat yang tersiksa secara mengerikan itu.

Tak syak lagi, inilah bekas tangan keji seorang datuk!

Hanya manusia yang berhati kejam seperti iblis sajalah yang mampu melakukan perbuatan keji terhadap manusia lain seperti itu.

Kemudian pandang matanya yang tajam melihat pergerakan di balik semak dan dia melihat sesosok bayangan yang mendekati pohon di mana dua mayat itu tergantung.

Jantungnya berdebar.

Dia yakin bahwa sosok itu adalah Liong-li.

Memang wajahnya tidak nampak jelas dan demikian pula bentuk tubuhnya karena dia berpakaian serba hitam.

Akan tetapi gerakan tubuh itu ketika melangkah, menyelinap dan memegang tongkat panjangnya.

Itulah Liong-li, tak salah lagi!

Dia memberi isyarat kepada enam orang pembantunya dengan suara burung malam yang memanjang satu kali.

Panjang satu kali berarti agar mereka berhenti di tempat dan waspada, menanti perintah berikutnya!

Pek-liong melihat betapa Liong-li membabat putus tali gantungan kedua mayat itu dan pada saat itu, datanglah serangan anak panah dari barisan pendam pihak musuh.

Pek-liong tersenyum ketika melihat Liong-li beraksi menyebar jarum dan diikuti anak-anak panah kecil dari para pembantu pendekar wanita itu.

Akan tetapi, walaupun pertempuran itu tidak membutuhkan bantuannya karena Liong-li tidak akan kalah, namun ketika para gerombolan datang semakin banyak, Pek-liong cepat memberi isyarat kepada para pembantunya untuk mengikutinya merayap naik ke bukit Hitam.

Dan selanjutnya, dari luar perkampungan itu, mereka menyerang perkampungan dengan anak panah yang membawa kain yang dicelup minyak dan dibakar sehingga perkampungan gerombolan itu dihujani api dari atas dan terjadilah kebakaran-kebakaran yang membuat para gerombolan panik dan membuat empat orang sisa Thai-san Ngo-kwi terpaksa menarik mundur anak buahnya yang sedang mengeroyok Liong-li dan lima orang pembantunya.

Setelah berhasil mengacaukan perkampungan itu dan melihat betapa Liong-li dan para pembantunya dapat melarikan diri terlepas dari kepungan banyak lawan, Pek-liong dan kawan-kawannya juga turun dari Hek-san dan menuju ke kuil tempat persembunyian mereka.

Pada keesokan harinya, Pek-liong dan enam orang pembantunya keluar dari kuil untuk melakukan penyelidikan lagi karena dia belum merasa yakin apakah benar gerombolan di Hek-san itu dipimpin oleh tiga datuk dan di situ pula ditahannya Song Tek Hin dan Su Hong Ing, dan kakak beradik Kam Sun Ting dan Kam Cian Li.

Mereka bertujuh kini menyamar dan karena Pek-liong memang ahli dalam ilmu penyamaran, Enam orang pembantunya juga menyamar dengan baik sekali sehingga sukar dikenali keadaan aselinya.

Pek-liong sendiri menyamar sebagai seorang laki-laki berusia enam puluhan tahun, rambutnya sudah putih semua dan demikian pula kumis dan jenggotnya, putih tidak teratur seperti seorang petani tua yang punggungnya agak bongkok dan berjalan memegang sebatang tongkat bambu butut.

Tak seorangpun tahu bahwa di dalam bambu itu tersembunyi Pek-liong-kiam!

Dia memesan kepada enam orang pembantunya agar berhati-hati menyelidiki sekitar perkampungan gerombolan di bukit Hitam, sedangkan dia sendiri ingin mencari di mana Liong-li dan para pembantunya berada.

Dari puncak bukit dimana kuil tua itu berdiri, Pek-liong lebih dahulu meneliti keadaan.

Nampak bukit Hitam menjulang di depan, penuh dengan hutan lebat.

Bukit itu berada di pantai sungai Kuning, yang airnya tenang dan keruh.

Liong-li selalu berhati-hati, pikirnya.

Tentu ia tidak mau tinggal terlalu dekat di kaki Hek-san, akan tetapi juga tidak terlalu jauh sehingga dapat selalu mengawasi sarang gerombolan itu.

Dan semalam, mereka berhasil mengambil dua jenazah yang digantung di pohon, ini berarti bahwa mereka dapat dengan leluasa mendaki Hek-san.

Tentu mereka tidak jauh dari Bukit Hitam itu, pikirnya.

Akan tetapi di mana?

Kalau di seberang sana, tentu terlalu jauh.

Tiba-tiba pandang matanya bersinar gembira Ah, tentu saja!

Perahu-perahu itu!

Banyak perahu nelayan di sana, dan perahu para pedagang yang lalu lalang.

Kalau Liong-li tinggal di dalam perahu, tentu tidak akan dicurigai siapapun dan ia dapat selalu dekat dengan pantai di mana Hek-san berdiri, dapat selalu mengamati bukit itu.

Tak lama kemudian, kakek yang agak bungkuk itu berhasil menyewa sebuah perahu kecil yang di dayungnya sendiri.

Perahu kecil itu didayungnya mendekati perahu-perahu lain sampai akhirnya dia melihat sebuah perahu kecil yang didayung dua orang gadis yang segera dikenalnya sebagai dua di antara para pembantu Liong-li.

Di perahu itu nampak pula panci-panci yang agaknya penuh masakan.

Tentu kedua orang wanita itu baru saja pulang membeli makanan ke pedusunan di tepi sungai, pikir Pek-liong dan tanpa menimbulkan kecurigaan, diapun mendayung perahu mengikuti perahu kecil itu.

Hek-liong-li sungguh berhati-hati sekali, pikir Pek-liong.

Untuk membeli makanan saja, yang disuruhnya adalah Ang-hwa dan Pek-hwa, dua orang yang paling lihai dan paling dipercaya di antara semua pembantunya.

Ini tentu untuk menjamin agar tidak terjadi sesuatu ketika mereka mencari makanan.

Perahu kecil yang didayung Ang-hwa dan Pek-hwa itu mendekati sebuah perahu besar cat hitam.

Ang-hwa melemparkan tali yang ujungnya ada kaitannya dan kaitan itu membuat perahu kecil terikat dengan perahu besar.

Seorang wanita pembantu Liong-li lainnya menurunkan sebuah tangga kayu dan kedua orang wanita itu lalu naik ke perahu besar melalui tangga kayu, membawa panci-panci yang kelihatannya terisi makanan yang masih panas.

Tentu saja kedua orang wanita itu tidak mau melompat begitu saja ke perahu besar karena hal itu tentu akan menarik perhatian orang-orang, yang berada di perahu-perahu lain.

Ang-hwa dan Pek-hwa disambut para pelayan lain dengan gembira.

"Wah, sungguh beruntung sekali kita hari ini dapat makan masak daging sapi dan ayam panggang. Juga ada anggur merah yang sedap,"

Kata Ang-hwa. Tentu saja rekan-rekannya merasa heran dan bertanya dari mana Ang-hwa dan Pek-hwa bisa mendapatkan masakan-masakan mewah itu.

"Enci Ang-hwa, apakah ada restoran besar di tepi sungai?"

Tanya seorang pembantu. Ang-hwa tertawa.

"Ihh, mana ada restoran besar di tepi pantai yang hanya ada dusun? Restoran besar hanya terdapat di kota besar. Kami berdua memang sedang mujur. Ketika kami bertanya-tanya kepada penghuni dusun itu, kebetulan sekali yang kami tanyai adalah sepasang suami isteri tua, yang dahulu di waktu mudanya pernah bekerja sebagai juru masak di rumah makan besar di kota.

"Nah, mereka suka sekali menolong dan kami memberi bahan dan bumbu, membeli daging sapi dan menyembelih ayam dan merekapun memasakkan untuk kami dengan sedikit imbalan. Dan setelah kami mencicipi sedikit, ternyata masakan mereka memang lezat bukan main."

"Wah, kalau begitu kalian telah mendahului makan?"

Para pelayan itu menggoda.

"Hussh, mana kami berani?"

Kata Pek-hwa.

"Sebelum Lihiap makan, kami tidak berani mendahuluinya. Kami hanya mencicipi sedikit ketika mereka masak di dapur, lalu kami menunggu di ruangan depan rumah mereka."

Tiba-tiba muncul Liong-li dari dalam bilik perahu besar itu. Alisnya berkerut ketika ia memandang kepada dua orang pembantunya itu dan menegur mereka.

"Ang-hwa, Pek-hwa, kalian terlalu senang sehingga menjadi lengah."

Dua orang pembantu itu saling pandang, lalu memandang kepada Liong-li. Ang-hwa bertanya.

"Lihiap, apa yang Lihiap maksudkan dengan kelengahan kami?"

"Dari atas perahu, aku melihat bahwa kalian berdua dibayangi orang, dan kalian tetap tidak tahu. Bukankah itu lengah namanya?"

"Ehh...!!"

Mereka berdua segera menengok dan memandang ke sekeliling.

Akan tetapi tidak melihat hal yang mencurigakan.

Perahu-perahu nelayan tetap seperti tadi, juga perahu-perahu para pedagang yang hilir mudik.

Seorang kakek dengan caping lebar sedang duduk di perahu kecilnya, tak jauh dari situ, dan dia mengail ikan.

"Maaf, Lihiap. Kami tidak melihat hal-hal yang mencurigakan."

"Lihat baik-baik pengail tua itu. Di bagian air di mana dia mengail, arusnya begitu kuat, bagaimana mungkin mendapatkan ikan mengail di air yang deras itu? Itu menunjukkan bahwa dia bukan pengail atau memang sedang memancing perhatian kita,"

Kata Liong-li.

"Ah, Lihiap benar!"

Seru Pek-hwa.

"Maafkan kelengahan kami, Lihiap. Mungkin dia mata-mata musuh, maka biarlah saya membocorkan perahunya dengan anak panah,"

Kata Ang-hwa, marah kepada kakek pengail itu.

Liong-li hanya tersenyum dan mengangguk, matanya bersinar-sinar.

Dari balik bangunan bilik perahu, agar tidak kelihatan orang lain, Ang-hwa memasang dua batang anak panah kecil yang busurnya dan sekali jepret, dua batang anak panah itu meluncur ke arah perahu kecil, mengarah badan perahu bagian bawah karena Ang-hwa ingin kedua batang anak panahnya menembus bagian itu sehingga perahu itu akan menjadi bocor.

Akan tetapi, semua orang di atas perahu besar itu melihat betapa pengail tua itu menggerakkan batang kailnya dan tali kail itu menyambar ke arah anak-anak panah sehingga kedua batang anak panah itu tertangkap di ujung tali kail.

Dia mengangkat kailnya dan memandang dua batang anak panah yang terkait atau terlibat itu, tertawa dan berkata dengan suara lirih, namun karena digerakkan dengan khi-kang maka terdengar jelas oleh mereka yang berada di perahu besar.

"Ha-ha-ha, di perahu besar diadakan pesta makan enak, di perahu kecil aku hanya mendapatkan dua batang anak panah. Mengail ikan mendapatkan anak panah, sungguh sungai yang aneh!"

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 3

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 14

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert