Eps 4 Dendam Sembilan Iblis Tua - Kho Ping Hoo
Baca online Dendam Sembilan Iblis Tua - Kho Ping Hoo
Cersil Dendam Sembilan Iblis Tua - Kho Ping Hoo.
Mendengar ejekan ini, tujuh orang pembantu Liong-li memandang marah, akan tetapi Liong-li tersenyum.
"Ang-hwa dan Pek-hwa, aku memaafkan kelengahan kalian berdua. Tentu saja kalian tidak tahu kalau Pek-liong yang membayangi kalian!"
"Dia... dia... Pek-liong-eng...?"
Para pembantu itu berseru lirih. Liong-li berdiri di tepi perahu dan menjenguk ke bawah, lalu berkata sambil tersenyum.
"Pengail tua, kami mengundangmu untuk ikut makan enak, naiklah ke sini!"
Pengail tua yang bukan lain adalah Pek-li-ong itu, menoleh, tersenyum dan berkata.
"Terima kasih!"
Dia mendayung perahunya mendekat, tangga diturunkan dan diapun naik ke atas perahu besar, disambut oleh Liong-li dengan senyum gembira dan mereka segera memasuki bilik perahu.
Setelah duduk berhadapan dan Pek-liong menanggalkan capingnya, mereka saling pandang sampai beberapa menit lamanya, tanpa mengeluarkan suara, akan tetapi dua pasang mata itu saling tatap dan dari sinar mata mereka seolah mereka dapat menjenguk isi hati masing-masing.
"Liong-li, aku merasa ikut prihatin melihat engkau kehilangan dua orang pembantumu."
Pek-liong akhirnya berkata dengan suara serius. Liong-li menghela napas panjang.
"Sekali ini, kita tidak menghadapi ancaman yang main-main dan boleh dipandang ringan. Agaknya Kim Pit Siu-cai, Ang I Sian-li dan Pek-bwe Coa-ong. bekerja sama dan mati-matian mereka menyusun kekuatan untuk menghancurkan kita."
Mereka lalu saling menceritakan pengalaman mereka semenjak mereka diganggu anak buah musuh di rumah masing-masing sampai mereka menerima surat dari sahabat-sahabat mereka yang telah ditawan oleh pihak musuh.
Liong-li menceritakan pula tentang tewasnya Bunga Biru dan Bunga Hijau dan tentang tekad sisa pembantunya yang masih tujuh orang itu untuk membantunya menghadapi gerombolan musuh dengan taruhan nyawa.
Ketika tiba giliran Pek-liong menceritakan pengalamannya, pendekar ini menceritakan pula tentang Cian Hui dan Cu Sui In.
"Mereka, gerombolan musuh itu, telah mencoba pula untuk menawan Cian Ciang-kun dan isterinya. Bahkan Pek-bwe Coa-ong sendiri yang turun tangan memimpin anak buahnya untuk menculik Cian Hui dan Cu Sui In, akan tetapi untung sekali bahwa Cian Ciang-kun amat cerdik dan telah mencurigai pihak musuh. Dia telah mempersiapkan pasukan sehingga ketika dia dan isterinya akan diculik, pasukannya menerjang dan gerombolan itupun melarikan diri."
Liong-li merasa kagum.
"Cian Ciang-kun memang seorang yang cerdik sekali."
"Ya, dan diapun menawarkan diri untuk membantu kita menghadapi gerombolan dengan mengerahkan pasukan. Akan tetapi tawaran itu kutolak. Aku tidak ingin melihat dia terlibat, apa lagi sampai terancam bahaya kalau dia membantu kita. Tiga orang datuk sisa Kiu Lo-mo itu mempunyai dendam dan perhitungan dengan kita berdua, maka tidak pantaslah kalau kita sampai melibatkan Cian Ciang-kun dan membuat dia dan isterinya terancam bahaya. Liong-li menjulurkan tangannya ke seberang meja dan menangkap tangan kanan pendekar itu. Liong-li memandang kagum. Rekannya ini selalu memikirkan kepentingan orang lain! Betapa bijaksananya. Pek-liong dapat merasakan isi hati Liong-li dan diapun membalas dengan memegang tangan pendekar itu.
"Liong-li, sekali ini kita harus berhati-hati. Pihak musuh amat lihai, juga amat cerdik di samping mereka mempunyai banyak anak buah. Kita harus mencari akal untuk lebih dahulu membebaskan kakak beradik Kam dan Song Tek Hin bersama isterinya."
"Engkau benar, Pek-liong. Mereka ditawan karena kita, maka kita harus dapat menolong mereka sebelum kita hadapi tiga orang datuk itu untuk membuat perhitungan sampai tuntas."
Pada saat itu terdengar ketukan perlahan di pintu ruangan. Mereka menoleh dan melihat Ang-hwa berdiri di ambang pintu.
"Maafkan saya, Lihiap, Taihiap, kalau saya mengganggu. Akan tetapi masakan itu akan menjadi dingin kalau tidak segera dihidangkan."
Pek-liong dan Liong-li saling pandang lalu tertawa.
"Baik, bawa masuk hidangan itu dan karena sekarang kita semua sedang berjuang, maka untuk sementara ini kalian adalah kawan-kawan seperjuangan. Kalian semua boleh menemani kami berdua makan minum,"
Kata Liong-li dan ajakan itu disambut dengan gembira oleh tujuh orang pembantunya.
Mereka adalah pembantu-pembantu dan pelayan yang setia, akan tetapi juga amat mengagumi, menghormati dan menyayang Liong-li, maka diajak makan semeja ini merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan besar bagi mereka.
Apa lagi di situ terdapat pula Pek-liong-eng yang mereka kagumi.
Sayang enam orang pembantu Pek-liong tidak ikut makan minum pula, pikir mereka.
Kalau ada enam orang pembantu Pek-liong, lengkaplah sudah pasukan mereka!
Sehabis makan, Pek-liong dan Liong-li melanjutkan perundingan mereka untuk mengatur siasat.
"Keadaan sarang mereka kuat sekali, akan sukar ditembus kalau kita menggunakan kekerasan saja, Pek-liong,"
Kata Liong-li.
"Engkau benar, akupun sudah melakukan penyelidikan. Selain mereka melakukan penjagaan kuat, agaknya empat orang sahabat kita itupun dikeram dalam rumah tahanan dan tentu dijaga kuat. Berusaha menyusup ke sana sama saja dengan membiarkan diri terperosok ke dalam jebakan."
"Pek-liong, bagaimanapun juga, kita harus membebaskan mereka. Mari kita mencari siasat yang paling baik. Bagaimana menurut pendapatmu? Akal apa yang harus kita pergunakan?"
"Liong-li, biasanya engkau yang mendapatkan akal, bukan aku. Karena itu, pertanyaanmu itu ku kembalikan kepadamu dan aku siap mendengar pendapatmu."
Mereka saling pandang, penuh pengertian dan keduanya tertawa.
Mereka berdua itu sudah sehati dan sejalan saling pandang saja cukup untuk membuat mereka dapat menjenguk isi hati masing-masing.
Mereka saling menghargai, saling mengagumi dan saling menyayang, maka selalu saling merendahkan diri untuk membiarkan yang lain menonjol.
"Kita tuliskan saja akal kita masing-masing lalu kita membuat perbandingan. Dengan demikian, tidak ada yang menjadi orang pertama dan orang kedua. Bagaimana?"
"Setuju, akan kutuliskan akal dan pendapatku itu di atas meja ini,"
Kata Pek-liong yang segera membuat guratan dengan kuku jari telunjuk kanannya ke atas meja sambil menutupinya dengan tangan kiri.
Liong-li yang tersenyum juga melakukan hal yang sama.
Mereka selesai dalam saat yang bersamaan pula dan sambil saling pandang, keduanya membuka tangan kiri yang menutupi guratan pada papan meja di depan masing-masing.
Keduanya memandang tulisan itu dan keduanya tertawa gembira.
Dalam keadaan seperti itu, lupalah mereka akan ancaman mereka.
Ternyata guratan di depan masing-masing itu hanya sebuah huruf yang sama, yaitu huruf "API."
Betapa sama jalan pikiran mereka. Dalam saat yang genting dan gawat itupun mereka mempunyai akal yang sama.
"Tepat sekali, Liong-li. Hanya ini satu-satunya jalan bagi kita untuk dapat menyelundup masuk dan berusaha membebaskan empat orang sahabat kita itu,"
Kata Pek-liong sambil menekan dengan jarinya menghapus guratan di depannya. Hal yang sama dilakukan oleh Liong-li.
"Begitu melihat caramu menolong kami dari kepungan musuh semalam, akupun tahu bahwa api merupakan satu-satunya cara untuk menyerang musuh yang sarangnya demikian kuat, Pek-liong. Akan tetapi, itu hanya kita lakukan untuk mengacaukan mereka. Mungkin dalam kekacauan itu kita dapat menyelundup masuk, akan tetapi mengajak empat orang sahabat kita lolos dari sana, itu merupakan hal lain yang jauh lebih sukar."
"Liong-li, tentu engkau pernah melakukan penelitian terhadap sarang itu dari puncak bukit, bukan? Dan engkau tentu melihat bahwa ada sebuah anak sungai mengalir melalui sebelah dalam perkampungan gerombolan itu!"
Liong-li mengerutkan alisnya, menunduk dan menggosok-gosok hidungnya dengan jari tangan, tanda bahwa ia sedang mengasah otaknya.
Kemudian ia mengangkat muka memandang kepada Pek-liong dengan wajah berseri.
"Anak Sungai...? Anak sungai, air dan... ada kakak beradik Kam di sana! Ah, aku mengerti, Pek-liong, dan memang tepat sekali!"
Pek-liong mengangguk dan tersenyum kagum.
"Ada air, ada kakak beradik Kam, dan pelarian mereka berempat itu akan dapat dilakukan dengan mudah tanpa terlalu membahayakan mereka."
Mereka lalu mengatur siasat.
Dua buah otak yang amat cerdas itu dikerjakan dengan cermat sehingga mereka dapat menyusun rencana siasat yang akan mereka laksanakan malam nanti.
Mereka lalu bercakap-cakap melepas rindu dan pertemuan antara mereka sekali ini terasa lain dari pada pertemuan yang sudah-sudah.
Sekali ini mereka sama-sama menyadari bahwa keadaan mereka yang saling berpisah dan berjauhan itu membuat mereka tidak lengkap, mudah diserang musuh dan hidup terasa timpang.
(Lanjut ke
Jilid 07) Dendam Sembilan Iblis Tua (Seri ke 03 -Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07
"Pek-liong, lama-lama aku menjadi bosan juga. Rasanya semenjak aku menguasai ilmu silat, tiada hentinya aku terlibat permusuhan dengan orang-orang kang-ouw dan terutama dengan golongan sesat. Hemm, entah kapan hidup ini dapat kunikmati dengan tenteram dan penuh damai. Mendengar ucapan itu dan melihat betapa wanita yang cantik jelita itu duduk termenung dengan pandang mata yang biasanya mencorong itu kini agak sayu, mulut yang biasanya penuh senyum cerah itu agak cemberut, tangan kiri bertopang dagu. Pek-liong tersenyum lebar dan hatinya merasa geli, walaupun ucapan itu membuat dia terkejut karena akhir-akhir ini dia juga mempunyai perasaan yang serupa! "Liong-li, kiranya tidak perlu kita mengeluh. Pada saat kita mempelajari ilmu silat, kita sudah terlibat dan tergelincir masuk ke dalam dunia kekerasan. Masih untung bagi kita bahwa kita berdiri di pihak yang membela kebenaran dan keadilan, membela yang lemah tertindas, menentang yang jahat sewenang-wenang sehingga tidak percuma kita mempelajari ilmu silat, dapat dipergunakan untuk hidup yang benar sebagai seorang ahli silat."
"Akan tetapi, Pek-liong, apakah kalau tidak pandai ilmu silat lalu tidak ada persoalan? Aih, sebelum pandai silat dahulu, aku malah menderita hebat sebagai korban kejahatan. Di mana-mana terdapat orang jahat, di mana-mana terdapat kesengsaraan, di samping kebaikan yang hanya sedikit, di dunia.ini agaknya kejahatan yang memegang peran penting dalam segala lapangan. Di antara sepuluh orang, mungkin hanya dua yang baik dan delapan yang jahat, hanya dua yang kaya dan delapan yang miskin, dua yang pandai dan delapan yang bodoh."
"Itu sudah merupakan keadaan kehidupan manusia di dunia, Liong-li. Kenapa mesti dipersoalkan? Baik dan buruk sudah menjadi pasangannya, seperti ada siang tentu ada malam, ada atas ada bawah, ada kanan ada kiri. Kalau tidak ada susah di dunia ini, mana mungkin kita mengenal senang? Kalau tidak ada yang dinamakan jahat di dunia ini, mana mungkin kita tahu apa itu yang dinamakan baik? "Sebaiknya kita tidak membiarkan diri terseret ke dalam pergolakan antara baik dan buruk ini, Liong-li, karena sekali terseret, kita akan menjadi mangsanya. Kalau kita tetap sadar dan tidak terseret, akan nampaklah bahwa memang demikian keadaan hidup di dunia. Hidup berarti perjuangan, Liong-li, perjuangan menghadapi segala macam tantangan yang kita namakan persoalan. Seni kehidupan ini justeru menghadapi dan menanggulangi semua tantangan itu! Barulah hidup itu berarti."
"Hemm, apakah kita tidak boleh mengharapkan untuk dapat hidup tenang?"
Pek-liong tertawa.
"Tentu saja boleh, siapa yang dapat melarang seseorang untuk mengharapkan sesuatu yang baik? Akan tetapi harus menyadari bahwa justeru menginginkan sesuatu itulah pangkal tolak terjadinya hal yang bertentangan dengan yang diinginkan. Kalau kita menginginkan senang, sudah pasti kita bertemu pula dengan susah, kalau kita menginginkan ketenangan, sudah pasti kita bertemu dengan ketidak-tenangan. Keduanya itu tak terpisahkan. Keinginan adalah nafsu, dan nafsu pula penggerak semua hal yang saling bertentangan itu."
"Aihh, kalau sudah bicara tentang kehidupan aku merasa seperti seorang anak kecil mendengarmu, Pek-liong. Aku mengaku bodoh dalam hal ini. Sukar bagiku untuk mengerti, kenapa di dunia ini demikian banyaknya orang jahat. Pada hal, mereka yang jahat itu bukanlah orang bodoh, melainkan orang yang pintar dan mengerti. Kenapa mereka melakukan kejahatan? "Sepatutnya, mereka yang pintar itu tahu bahwa kelakuan mereka itu tidak benar, mengakibatkan malapetaka bagi orang lain maupun bagi diri sendiri. Akan tetapi kenapa mereka melakukannya juga? Kalau mereka bodoh dan tidak mengerti, hal itu mudah dimaklumi. Akan tetapi mereka itu orang-orang yang pandai dan pintar..."
"Liong-li, kenyataan itu tidak mengherankan. Manusia adalah mahluk yang amat ringkih dan lemah karena kuatnya nafsu yang menguasai diri. Nafsu daya rendah sudah mencengkeram kita, membonceng pada kita, pada setiap anggauta tubuh, bahkan menyusup ke dalam akal pikiran kita sehingga apapun yang kita pikirkan, apapun yang kita ucapkan dan lakukan, semua itu dikendalikan oleh nafsu yang sifatnya hanya mengejar kesenangan bagi diri sendiri, diri yang sudah menjadi satu dengan nafsu.
"Kepintaran yang berada dalam otak tidak berdaya melawan nafsu. Tidak ada pencuri yang tidak tahu bahwa mencuri itu tidak baik, tidak ada perampok yang tidak tahu bahwa merampok itu jahat.
"Setiap orang manusia tahu dan mengerti belaka melalui akal pikiran mereka bahwa melakukan segala macam bentuk kejahatan itu tidaklah baik. Namun, pengertian ini tidak dapat menghentikan nafsu yang mendorong kita melakukan kejahatan. Akal pikiran dapat menimbulkan penyesalan setelah kita melakukan perbuatan jahat, akan tetapi di lain saat, dorongan nafsu menang lagi dan kita didorong untuk mengulang kejahatan yang tadi disesalkan akal pikiran.
"Demikian seterusnya, maka tidak aneh kalau engkau melihat seorang yang pintar dan pandai melakukan kejahatan. Dia menyadari perbuatan itu tidak baik, namun tidak kuasa menolak dorongan nafsu, bahkan akal pikiran yang sudah bergelimang nafsu membela perbuatan jahat itu dengan bermacam dalih dan alasan untuk membenarkan atau setidaknya mengurangi keburukannya."
Dalam hal ilmu silat dan kecerdikan akal, Liong-li memang termasuk seorang wanita yang jarang ditemui keduanya.
Namun, begitu Pek-liong bicara tentang kehidupan, ia merasa bingung dan menyadari kekurangannya.
Pek-liong-eng Tan Cin Hay memang sudah memiliki kesadaran akan kenyataan hidup seperti yang diterangkannya kepada Liong-li.
Namun, dia sendiri belum tahu bagaimana agar dia dapat terbebas dari cengkeraman nafsu-nafsunya sendiri.
Seperti telah dikatakannya, pikiran dan semua ilmu pengetahuan dan kepintarannya, tidak dapat mencegah manusia dari perbuatan jahat dan sesat, karena akal pikiran tidak kuasa melawan pengaruh nafsu.
Contohnya yang paling sederhana, semua orang yang kecanduan arak tahu belaka bahwa minum arak merupakan perbuatan yang amat tidak baik, Merugikan diri sendiri, merusak badan merusak batin, dapat mengakibatkan orang menjadi mabok dan melakukan hal-hal yang jahat.
Semua peminum arak tahu dan mengerti akan hal ini.
Akan tetapi apa daya!
Pengertian itu tidak dapat menundukkan keinginan untuk minum arak, yaitu dorongan nafsu yang mendatangkan kesenangan!
Kalaupun ada usaha akal pikiran yang sadar untuk menentang keinginan minum arak, maka pikiran itu sendiri yang dicengkeram nafsu menjadi pembela dengan bisikan bahwa minum sedikit tidak mengapa, bahwa minun arak adalah untuk keakraban pergaulan, bahkan minum arak amat baik untuk kesehatan dan sebagainya lagi!
Demikian selanjutnya, kalau dibesarkan seorang koruptor bukan tidak tahu bahwa korupsi itu tidak baik, Namun tidak kuasa menolak dorongan nafsu yang ingin mencari kesenangan melalui tindak korupsi.
Akal pikirannya akan membela perbuatan itu dengan bisikan bahwa dia bukan sendirian, semua orang juga melakukan bahkan lebih besar lagi, atau bisikan bahwa dia membutuhkan uang untuk keluarga, bahwa dia terpaksa melakukannya, bahwa dia berhak melakukannya untuk imbalan jasanya, dan sebagainya lagi.
Bahkan seorang pembunuh akan dibela oleh pikirannya bahwa dia membunuh karena terpaksa, karena dia tidak bersalah dan seribu satu macam alasan lagi untuk menghapus dosa atau setidaknya menguranginya.
Jelas bahwa nafsu menyeret kita ke dalam dosa.
Maka, mungkin jutaan orang yang setelah melihat kenyataan ini lalu berusaha untuk mengalahkan nafsu, untuk mengendalikan nafsu dengan bermacam cara.
Dengan samadhi, dengan bertapa, dengan penyiksaan diri, mengurangi makan tidur, memaksa diri tidak melakukan segala macam keinginan, bahkan tidak memenuhi kebutuhan badan, dan segala macam cara lagi hanya dengan maksud agar dapat menguasai, mengalahkan dan mengendalikan nafsu, bahkan ada yang berniat untuk mematikan nafsu.
Betapa kenyataan menunjukkan kegagalan semua usaha ini!
Nafsu yang dikekang dengan paksa, seperti api yang ditutup sekam, nampaknya saja padam akan tetapi sebetulnya membara di sebelah dalam dan kalau mendapat kesempatan, tertiup sedikit saja lalu berkobar!
Semua usaha itu hanya merupakan keinginan untuk mencapai sesuatu, dan keinginan ini justeru hasil kerja dari nafsu!
Nafsu melihat betapa menuruti nafsu mendatangkan akibat yang tidak menyenangkan, Maka nafsu lalu mendorong timbulnya keinginan untuk mengekang nafsu!
Tentu agar tidak lagi dilanda akibat yang tidak menyenangkan tadi.
Karena itu gagal.
Mana mungkin nafsu mengekang nafsu, api memadamkan api?
Nafsu merupakan anugerah bagi kita.
Nafsu merupakan bahan bakar yang menggerakkan kendaraan tubuh jasmani ini.
Tanpa nafsu, pergerakan ini akan macet dan mati.
Segala macam kenikmatan dalam hidup ini adalah berkat adanya nafsu.
Yang kita kenal sebagai yang enak, yang merdu, yang indah, yang nyaman dan segala macam keadaan yang menyenangkan, adalah berkat adanya nafsu.
Nafsu mutlak penting untuk hidup.
Tuhan Maha Bijaksana.
Menyertakan nafsu kepada kita pasti ada hikmahnya, ada manfaatnya, bukan untuk dijadikan penggoda.
Akan tetapi, nafsu dapat pula menjadi pembujuk yang menyeret kita ke dalam lumpur dosa.
Bukan salah nafsu, melainkan salah kita sendiri.
Nafsu ibarat api, tergantung kita yang mengaturnya, sesuai dengan kebutuhan hidup.
Kalau dibiarkan merajalela, api akan membakar segalanya, seperti nafsu akan melahap segalanya.
Lalu bagaimana?
Dibiarkan berkuasa, kita dijerumuskan dalam jurang kesengsaraan.
Dimatikan, tidak mungkin, dikendalikan juga amatlah sukarnya.
Lalu bagaimana?
Demikianlah pertanyaan abadi yang dicari jawabannya oleh semua manusia di dunia.
Kalau akal pikiran sudah tidak mampu bekerja lagi untuk menemukan jawabannya, maka seyogianya kita kembali kepada sumber, kepada asal.
Nafsu diikutsertakan kepada kita oleh Kekuasaan Tuhan Maha Pencipta!
Karena itu, untuk menghadapinya, kita kembalikan kepada Kekuasaan Tuhan.
Kita menyerahkan kepada Tuhan karena hanya kekuasaan Tuhan jualah yang akan mampu menjinakkan nafsu yang meliar.
Menyerah, pasrah dengan sabar, dengan ikhlas, dengan tawakal kepada Tuhan!
Ini merupakan suatu kewaspadaan yang pasip, kewaspadaan tanpa pamrih, dilandasi penyerahan.
Tanpa adanya keinginan, tanpa adanya pamrih, berarti tidak memberi umpan kepada api nafsu.
Segala macam keinginan, bahkan keinginan untuk menghentikan atau mengendalikan nafsu, justeru menjadi umpan atau bahan bakar bagi api nafsu, mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Malam itu hawanya dingin menyusup tulang.
Langit cerah oleh cahaya bulan dan awan berkumpul jauh di barat, membuat cahaya bulan dengan bebasnya memandikan permukaan bukit Hitam.
Suasana mencekam.
Kalau Pek-liong dan Liong-li, siang tadi mengatur siasat mereka, pihak lawan merekapun tidak tingggal diam.
Penyerbuan yang dilakukan Liong-li dan para pembantunya cukup menggegerkan, apa lagi setelah timbul kekacauan karena penyerangan anak panah berapi yang mengakibatkan kebakaran.
Biarpun mereka berhasil membunuh dua orang anak buah Liong-li, namun merekapun kehilangan banyak anak buah.
Dan bukan para pembantu Liong-li dan Pek-liong yang mereka kehendaki, melainkan sepasang naga itu sendiri.
Mereka kini dapat menduga siapa yang menghujankan anak panah berapi, karena di antara para penjaga ada yang sempat melihat berkelebatnya bayangan pria dari arah datangnya anak panah berapi, Siapa lagi kalau bukan Pek-liong-eng, pikir tiga orang datuk itu.
"Pek-liong-eng sudah datang, kini lengkaplah sudah. Hek-liong-li dan Pek-liong-eng sudah datang dan agaknya mereka membawa para pembantu mereka,"
Kata Ang I Sian-li. Suaranya membayangkan ketegangan karena selain gembira akan dapat melaksanakan dendamnya, juga diam-diam ia merasa gentar juga menghadapi Pek-liong-eng dan Hek-liong-li.
"Liong-li telah kehilangan dua orang pembantunya. Tinggal tujuh orang lagi pembantunya, dan Pek-liong mempunyai enam orang pembantu. Kita harus mengadakan persiapan. Mereka pasti akan berusaha untuk membebaskan tawanan kita,"
Kata Pek-bwe Coa-ong yang memimpin gerombolan pendendam itu.
"Mereka itu membikin repot saja. Setelah Pek-liong dan Liong-li datang, apakah tidak lebih baik kalau kita bunuh saja empat orang tawanan itu?' Kim Pit Siu-cai mengajukan usul.
"Ah, engkau keliru sekali, Siu-cai!"
Cela Pek-bwe Coa-ong.
"Apa gunanya membunuh mereka? Malah.merugikan sekali, merusak rencana siasat kita. Mereka adalah umpan untuk memancing datangnya Pek-liong dan Liong-li. Kalau umpannya kita hilangkan, tentu ikannya tidak akan tertarik lagi dan tidak dapat kita pancing. Justeru Pek-liong dan Liong-li bernapsu untuk datang adalah karena adanya empat orang tawanan itu. Kalau mereka dibunuh, tentu Pek-liong dan Liong-li tidak begitu bodoh untuk membahayakan diri memasuki tempat ini. Kita bahkan harus menambah daya tarik umpan kita. Lepaskan mereka dari belenggu dan biarkan mereka berada di luar karena malam ini mereka pasti akan muncul di sini!"
Tiga orang datuk itu mengatur siasat untuk menjaga segala kemungkinan.
Yang menjadi sasaran utama adalah hadirnya Pek-liong dan Liong-li di dalam sarang mereka.
Kalau dua orang musuh besar itu sudah berhadapan dengan mereka, maka mereka yakin akan mampu mengalahkan sepasang musuh besar itu.
Anak buah mereka hanya akan menghadapi para pembantu Pek-liong dan Liong-li.
Pek-bwe Coa-ong dan dua orang rekannya juga memperhitungkan kemungkinan berulangnya serangan anak panah berapi.
Akan tetapi mereka tidak khawatir.
Andaikata sarang mereka terbakar seluruhnya, bangunan itu hanya bangunan darurat.
Mereka rela kehilangan semua bangunan itu asalkan mereka dapat menangkap atau membunuh Liong-li dan Pek-Iiong.
Penjagaan diatur dan diam-diam Pek-bwe Coa-ong sudah memasang barisan pendam di luar sarang, untuk menyerang anak buah Pek-liong dan Liong-li kalau mereka menyerang dengan anak panah berapi atau kalau muncul di sekitar sarang itu.
Ini juga merupakan pancingan seolah-olah anak buah mereka meninggalkan sarang sehingga mendorong dua orang musuh itu untuk berani memasuki sarang, apa lagi kalau empat orang tawanan itu mereka biarkan berada di luar kamar tahanan.
Song Tek Hin dan isterinya, Su Hong Ing merasa lega ketika mereka dibebaskan dari ikatan kaki tangan mereka dan digiring oleh belasan orang pengawal keluar dari kamar tahanan.
Semalam suami isteri ini mendengar keributan yang timbul karena kebakaran di sana sini.
Mereka mendengar teriakan-teriakan kebakaran dan hati mereka merasa gembira bercampur tegang dan cemas.
Gembira karena mereka dapat menduga bahwa tentu Pek-liong dan Liong-li sudah datang untuk menolong mereka, akan tetapi juga tegang dan cemas karena mereka khawatir sekali sepasang pendekar yang mereka hormati dan sayangi itu akan terperangkap oleh pihak musuh yang licik, cerdik dan lihai.
Ketika suami isteri ini tiba di luar, di bawah sinar lampu gantung yang mendatangkan cahaya remang-remang, mereka melihat betapa kakak beradik Kam juga sudah berada di luar.
Kam Sun Ting dan adiknya, Kam Cian Li, tidak lagi dibelenggu dan mereka berdua duduk di atas bangku di ruangan depan bangunan yang tadinya menjadi tempat tahanan, Nampak jelas dari luar karena di ruangan itu dipasangi lampu-lampu gantung yang terang.
Di tempat itu nampak pula banyak penjaga yang mengepung.
Ketika suami isteri itu disuruh duduk pula di ruangan itu, merekapun duduk dan hanya saling pandang dengan kakak beradik itu.
Agaknya mereka berempat memang sengaja dikumpulkan di situ dan mereka dapat menduga bahwa hal ini dilakukan oleh para pemimpin gerombolan agar mereka dapat menarik perhatian Pek-liong dan Liong-li untuk masuk ke tempat itu dan berusaha menolong mereka.
Diam-diam mereka merasa tidak enak dan menyesal, merasa seperti menjadi umpan yang akan mencelakakan dua orang pendekar yang mereka sayang dan hormati.
"Kita dijadikan umpan di tempat terbuka ini,"
Bisik Song Tek Hin kepada isterinya dan kakak beradik Kam ketika mereka duduk di atas bangku mengelilingi sebuah meja.
Tidak ada penjaga yang mendekati mereka.
Para penjaga itu mengepung rumah tahanan dengan ketat.
"Song-toako, aku merasa tidak enak sekali kalau sampai Pek-liong-eng dan Hek-liong-li terjebak dan celaka karena hendak menolong kita,"
Kata Kam Sun Ting yang telah akrab dengan suami isteri itu selama mereka berempat menjadi tawanan di situ.
"Bagaimana kalau kita melarikan diri saja sebelum mereka berdua terjebak di sini?"
Kata Kam Cian Li.
"Bagaimana caranya?"
Su Hong Ing, isteri Song Tek Hin, bertanya, memandang ke sekeliling di mana terdapat sedikitnya tiga puluh orang yang nampak melakukan pengepungan.
"Tempat ini terkepung rapat!"
"Tidak perduli, kita terjang saja keluar dan melawan mati-matian"
Kata Kam Cian Li dengan nekat.
"Apa lagi enci Hong Ing dan Song-toako memiliki ilmu silat yang tangguh. Takut apa?"
Song Tek Hin tersenyum.
"Kita tentu saja tidak takut. Akan tetapi, berusaha melarikan diri seperti itu hanya membuang tenaga sia-sia belaka. Selain kita dikepung oleh puluhan orang anak buah gerombolan, juga kalau seorang saja di antara tiga datuk itu keluar, kita tidak akan mampu berkutik. Mereka itu bukan lawan kita."
"Aku tidak perduli,"
Kata Kam Cian Li nekat.
"Lebih baik aku mati dikeroyok dari pada harus melihat Pek-liong-eng dan Hek-liong-li terjebak dan celaka karena hendak menolongku di sini!"
"Li-moi, tidak bijaksana kalau kita mati konyol begitu saja. Kalau kita melakukan kenekatan berarti kita membunuh diri. Dan kalau sampai terjadi kita mati konyol begitu, bukankah Pek-liong-eng dan Hek-liong-li akan merasa kecewa dan menyesal sekali? Mereka bersusah-payah berusaha menolong kita, bahkan kemarin telah ada dua orang pembantu Hek-liong-li yang tewas dalam usaha mereka menolong kita, dan kita malah membunuh diri!"
Kata Kam Sun Ting menegur adiknya yang kini tak dapat menahan mengalirnya air mata dari kedua matanya.
"Akan tetapi, koko! Bagaimana mungkin aku berdiam saja di sini melihat mereka berdua terjebak dan mendapat bencana karena aku?"
Adiknya membantah.
"Tentu saja kita harus berusaha, akan tetapi usaha itu bukan bunuh diri. Kita harus berusaha melarikan diri, akan tetapi menggunakan cara yang tepat dan menanti kesempatan yang baik, bukan asal nekat saja. Aku yakin bahwa saat ini Pek-liong-eng dan Hek-liong-li juga sedang menanti kesempatan untuk menyerbu ke sini. Nah, kalau terjadi keributan, kalau mereka menyerbu ke sini kita harus menggunakan kesempatan itu untuk lari ke arah sungai yang mengalir di bagian barat sarang gerombolan ini."
"Ke arah sungai? Kenapa ke sungai dan bukan berusaha keluar dari kepungan dan dari sarang gerombolan ini?"
Tanya Song Tek Hin heran.
"Kalau kita berempat mengamuk, sedangkan tiga orang datuk sibuk menyambut Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, kiraku kita berempat akan mampu membobolkan pengepungan mereka. Tentu saja diharapkan keempat orang Thai-san Ngo-kwi juga tidak menghalangi kita."
"Begini, Song-toako,"
Kata Kam Sun Ting.
"Kurasa, akan percuma saja kalau kita nekat melawan mereka. Engkau dan isterimu saja yang memiliki ilmu silat tinggi masih tidak mampu menandingi mereka, apa lagi kami berdua yang hanya mengerti sedikit ilmu silat. Andaikata kita bisa lolos dari sarang mereka ini, mereka akan melakukan pengejaran dan kita yang belum mengenal daerah bukit ini tentu akan tersesat dan tentu akan tertawan kembali. Karena itu, aku mengajurkan agar kita lari ke sungai saja."
"Akan tetapi mau apa kita ke sungai? Apakah kita dapat lolos dari pengejaran mereka kalau kita lari ke sungai?"
Tanya Su Hong Ing penasaran.
"Begini, enci Hong Ing, setelah koko menyatakan pendapatnya, baru aku tahu bahwa memang sungai itulah satu-satunya jalan bagi kita untuk menyelamatkan diri dan tidak menyeret Pek-liong-eng dan Hek-liong-li ke dalam bahaya."
"Sebetulnya, apa yang kalian maksudkan?"
Tanya Su Hong Ing.
"Apakah kalian sudah menyediakan perahu di sungai itu untuk kita pakai melarikan diri?"
Tanya pula suaminya.
Kam Sun Ting menoleh ke kanan kiri dan setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang lain kecuali mereka berempat yang dapat mendengarkan percakapan mereka yang dilakukan dengan suara lirih, diapun memberi penjelasan.
"Melarikan diri dengan perahu akan percuma. Akan tetapi kami berdua memiliki keahlian di dalam air. Kami dahulu bekerja sebagai penyelam-penyelam dan begitu kami berdua dapat terjun ke dalam sungai, mereka pasti tidak akan menemukan kami lagi. Dengan cara menyelam kami dapat melarikan diri. Karena itu, kalau keadaan di sini kacau seperti kemarin malam misalnya, dan semua orang sibuk dan panik menghadapi serbuan Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, kita berempat dapat melarikan diri ke sungai dan selanjutnya kita terjun ke air dan menghilang."
"Akan tetapi aku tidak dapat renang!"
Kata Cu Hong Ing.
"Dan akupun hanya dapat berenang biasa saja!"
Sambung suaminya.
"Kami dapat membantu, enci Hong Ing,"
Kata Kam Cian Li.
"kalau aku menggunakan tali ikat pinggang dan engkau memegangi tali itu, lalu menahan napas, maka aku akan menarikmu dan membantumu melarikan diri sambil menyelam. Dan koko akan membantu Song-toako."
Suami isteri itu saling pandang dan mengangguk-angguk.
Agaknya memang jalan itu yang terbaik.
Kalau hanya bertahan napas, mereka tentu kuat karena mereka sudah mempelajari banyak latihan pernapasan untuk memperkuat diri.
Melihat empat orang tawanan itu bicara berbisik-bisik, Ngo-kwi, orang ke lima dari Thai-san Ngo-kwi, berjalan santai menghampiri mereka dan berjalan-jalan dekat mereka.
Matanya yang galak itu mengerling secara kurang ajar kepada Su Hong Ing dan Kam Cian Li, mulutnya tersenyum mengejek.
Dua orang wanita itu membuang muka, tidak mau memandang.
Mereka maklum bahwa kalau saja mereka tidak diperlukan oleh ketiga datuk sebagai umpan memancing munculnya Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, maka tidak ada harapan mereka akan selamat di tangan seorang tokoh sesat seperti Thai-san Ngo-kwi.
Pandang mata Ngo-kwi itu saja sudah jelas menunjukkan wataknya yang mesum.
Melihat empat orang tawanan itu kini menghentikan percakapan mereka, Ngo-kwi pergi menjauh lagi karena dia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan.
Malam semakin larut.
Bulan naik semakin tinggi, akan tetapi langit tidak sebersih tadi.
Awan berarak datang dari barat menghampiri bulan.
Walaupun hanya awan tipis dan putih, namun cukup mengganggu kecerahan sinar bulan.
Udara semakin dingin dan kerik jengkerik dan belalang semakin nyaring, namun tidak mengganggu keheningan malam itu.
Semua suara itu bahkan menjadi bagian dari keheningan.
Wajar.
Wajar itu hening.
Empat orang tawanan itu tidak bercakap-cakap lagi.
Mereka duduk di bangku dengan punggung tegak lurus dan santai, bernapas dalam-dalam menghimpun tenaga.
Sikap ini mengendurkan ketegangan yang menghamburkan tenaga karena mereka menanti datangnya detik-detik yang mereka harapkan.
Sesuai dengan rencana mereka, Pek-liong dan Liong-li mempergunakan kepandaian mereka untuk menyusup mendekati sarang gerombolan.
Mereka berpencar, mengambil jalan masing-masing dari arah kanan dan kiri.
Semua anak buah mereka sudah memasang posisi dengan perlengkapan anak panah, kain dan minyak.
Mereka hanya menanti tanda dari kedua orang pendekar itu.
Pek-liong merangkak di balik semak belukar, terus menghampiri sarang.
Akan tetapi, terpaksa dia berhenti ketika melihat bahwa di luar sarang terdapat banyak anak buah gerombolan yang melakukan penjagaan sambil bersembunyi.
Barisan pendam ini memang sudah dia perhitungkan dengan Liong-li, maka dia lalu meloncat dengan hati-hati ke atas pohon.
Dia maklum bahwa Liong-li tentu melakukan hal yang sama.
Dari atas pohon yang tinggi, terlindung daun-daun yang lebat, Pek-liong mengintai ke balik pagar tinggi.
Dia tidak melihat banyak penjaga di dalam sarang itu, hanya beberapa orang saja yang nampak berlalu-lalang di antara bangunan-bangunan.
Kemudian, dia melihat empat orang tawanan itu duduk mengelilingi meja.
Mereka duduk dengan tubuh tegak dan punggung lurus, nampak santai dan diam-diam dia merasa girang.
Mereka itu telah bersiap-siaga, pikirnya.
Agaknya mereka sudah menduga bahwa dia dan Liong-li pasti akan turun tangan malam ini!
Pek-liong tersenyum.
Muncul kenangan-kenangan manis ketika dia memandang ke arah empat orang itu.
Sahabat-sahabatnya yang baik!
Dan sekarang mereka menderita karena dia dan Liong-li.
Kalau mereka bukan sahabatnya, tidak mungkin tiga orang datuk mengganggu mereka.
Akan tetapi Pek-liong mengerutkan alisnya.
Mereka itu dibiarkan berada di luar, nampak tak terjaga.
Jelas ini merupakan umpan!
Nampaknya saja sarang itu kosong dan lemah penjagaannya, akan tetapi di luar sarang terdapat banyak sekali anak buah gerombolan yang memasang barisan pendam.
Agaknya pihak lawan menggunakan siasat mengosongkan sarang dan bersembunyi di luar, memancing harimau memasuki sarang!
Kalau dia dan Liong-li sudah masuk ke sarang itu, puluhan bahkan mungkin ratusan orang anak buah gerombolan itu agaknya tentu akan mengepung tempat itu dan tidak ada jalan keluar lagi!
Pek-liong tersenyum dan dia tahu bahwa saat itu Liong-li tentu juga tersenyum mentertawakan siasat pihak lawan.
Kalau hanya dikepung anak buah gerombolan, apa sukarnya bagi mereka untuk lolos?
Apa lagi di sana ada sungai, dan ada kakak beradik Kam!
Dia dan Liong-li akan mengelabui mereka.
Pek-liong sudah mengambil busur yang tergantung di punggungnya.
Pada saat itu nampak sinar meluncur dari arah kirinya, menuju ke dalam sarang gerombolan.
Pek-liong tahu bahwa itu adalah isyarat yang diberikan Liong-li kepada para pembantunya.
Benar saja, luncuran anak panah berapi itu segera disusul oleh banyak sekali anak panah berapi yang beterbangan menuju ke sarang gerombolan.
Pek-liong cepat meluncurkan isyaratnya dan kini dari arah kanan, beterbangan sinar-sinar dari anak panah berapi menyerang sarang itu.
Melihat ini, empat orang tawanan itu menjadi tegang.
Mereka mengharapkan para anggauta gerombolan menjadi panik dan beramai-ramai sibuk memadamkan ke bakaran seperti yang pernah terjadi.
Akan tetapi mereka menjadi heran dan bingung karena gerombolan itu kelihatan santai saja.
Bahkan tidak nampak Thai-san Ngo-kwi memimpin anak buah mereka untuk memadamkan api yang sudah mulai membakar di sana sini.
"Ini sebuah perangkap, kita jangan ceroboh dan tergesa-gesa,"
Kata Song Tek Hin yang menjadi curiga.
Sementara itu, para anak buah gerombolan yang memasang baris pendam di luar sarang, sesuai dengan rencana tiga orang datuk, begitu melihat hujan anak panah berapi, segera keluar dari tempat persembunyian mereka dan menyerang ka arah dari mana datangnya anak-anak panah itu.
Pek-liong dan Liong-li dapat memasuki sarang itu dengan mudah.
Mereka berdua merobohkan beberapa orang yang bertemu dengan mereka, dan keduanya kini bergabung, terus maju menghampiri empat orang tawanan yang tadi mereka lihat dari atas pohon.
Song Tek Hin, Su Hong Ing, Kam Sun Ting dan Kam Cian Li menjadi girang bukan main melihat munculnya Pek-liong dan Liong-li, akan tetapi mereka juga khawatir karena pada saat itu, belasan orang penjaga yang tadinya bersembunyi di sekitar rumah itu, serentak datang mengepung mereka.
"Serbu!"
Song Tek Hin memberi aba-aba kepada yang lain dan empat orang itupun mengangkat bangku masing-masing dan menerjang ke arah anggauta gerombolan yang mengepung dan agaknya menjaga mereka agar jangan melarikan diri.
Para penjaga itu menggerakkan senjata untuk melawan, akan tetapi sebentar saja, empat orang tawanan berhasil merobohkan empat orang anak buah gerombolan dan merampas empat batang pedang.
Dengan senjata rampasan ini di tangan, mereka siap untuk mengamuk.
Tiba-tiba terdengar suara tawa yang menyeramkan dan empat orang tawanan itu terkejut bukan main karena suara itu mengandung getaran yang membuat mereka menggigil!
Bahkan para, anak buah gerombolan juga menggigil dan untuk sementara pengeroyokan itu dihentikan.
"Ha-ha-ha, si keparat Pek-liong-eng dan Hek-liong-li!"
Kata Pek-bwe Coa-ong (Raja Ular Ekor Putih) Gan Ki yang tertawa tadi.
"Akhirnya kami dapat berhadapan dengan kalian berdua. Bersiaplah untuk menghadap para rekan kami yang kalian bunuh untuk membayar hutang kalian di akhirat!"
Melihat betapa tiga orang datuk besar musuh mereka itu telah berdiri di situ, Liong-li bertolak pinggang dan berkata dengan suara mengejek.
"Hemm, sejak orang pertama sampai yang terakhir, Kiu Lo-mo terkenal sebagai datuk sesat yang tak tahu malu, suka menggunakan kecurangan dan bersikap pengecut. Pek-bwe Coa-ong, Kim Pit Siu-cai dan Ang I Sian-li! Kalau memang kalian bertiga ingin mampus di tangan kami berdua, kenapa tidak langsung saja datang dan menantang sehingga kita dapat bertanding sebagai orang gagah? Kalian menculik para sahabat kami untuk memancing kami, apakah itu perbuatan orang gagah?"
Terdengar suara tawa terkekeh genit.
"Hi-hi-hik, bicaramu besar sekali, menunjukkan kesombonganmu, Hek-liong-li. Sekarang kami berhadapan dengan kalian, boleh kita bertanding dan kalian akan mati di tangan kami. Adapun empat orang ini, karena mereka adalah sahabat-sahabatmu, mereka akan mampus pula, hik-hik!"
Pek-bwe Coa-ong memberi isyarat kepada anak buahnya yang kini sudah berkumpul di situ, sebanyak dua puluh orang lebih.
"Tangkap mereka berempat!"
Dan dia sendiri bersama dua orang rekannya sudah mengepung Pek-liong dan Liong-li.
Kim Pit Siu-cai (Sastrawan Pena Emas) sudah mencabut senjatanya yang istimewa, yaitu sebuah kipas lebar dan sebatang pena bergagang emas.
Senjata inilah yang memberinya nama besar di dunia persilatan.
Ang I Sian-li juga mencabut sepasang pedangnya.
Tanpa siang-kiam (pedang pasangan) itupun iblis betina ini sudah lihai sekali dan tingkat kepandaiannya hanya kalah sedikit dibandingkan tingkat kedua orang rekannya.
Di samping ilmu silatnya tinggi dan tenaga sin-kangnya kuat, wanita ini juga mempelajari ilmu-ilmu sesat, ilmu hitam yang diperkuat oleh hasil kekejiannya yang mengerikan, yaitu suka menghisap habis darah bayi.
Orang tertua di antara mereka bertiga, yaitu Pek-bwe Coan-ong, memegang sebatang tongkat ular yang berekor putih.
Tongkat Pek-bwe-coa (ular berekor putih) ini yang membuat dia dijuluki Pek-bwe Coa-ong dan selain dia paling lihai dalam hal ilmu silat dan paling kuat tenaganya, juga dia memiliki ilmu memanggil dan menguasai ular, seorang pawang ular yang amat lihai dan berbahaya.
Karena mereka datang dengan tujuan terutama sekali untuk menolong empat orang tawanan itu, maka Pek-liong dan Liong-li segera berloncatan mendekati mereka berempat yang sedang mengamuk.
Begitu mereka menggerakkan-tangan, nampak sinar hitam Hek-liong-kiam dan sinar putih Pek-liong-kiam dan robohlan empat orang pengeroyok.
Empat orang tawanan itu bertambah semangat mereka, apalagi ketika Liong-li berkata lirih.
"Sun Ting, ajak mereka lari ke sungai!"
Diam-diam Kam Sun Ting kagum bukan main.
Kiranya, begitu datang ke tempat itu, Hek-liong-li telah melihat pula kemungkinan mereka meloloskan diri lewat air!
Akan tetapi kini tiga orang datuk itu menerjang maju dan karena mereka maklum bahwa empat orang tawanan itu bukanlah lawan tiga orang sakti itu, Pek-liong dan Liong-li cepat menggerakkan pedang menyambut mereka.
Mereka berdua juga maklum betapa lihainya tiga orang lawan itu.
Apa lagi di situ masih terdapat banyak sekali anak buah para datuk itu, maka begitu menggerakkan pedang, tanpa berunding lagi, mereka keduanya sudah memainkan Sin-liong-kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Sakti), yaitu ilmu pedang yang dirangkai oleh mereka berdua.
Nampaklah gulungan sinar hitam dan putih saling belit dan saling tunjang, saling melindungi dan dari gulungan kedua sinar ini mencuat sinar yang menyerang tiga orang lawannya.
Namun, sekali ini sepasang pendekar itu berhadapan dengan tiga orang lawan yang amat tangguh.
Tingkat kepandaian tiga orang ini masing-masing sudah seimbang dengan tingkat Pek-liong dan Liong-li, maka kini mereka berdua dikeroyok tiga, sungguh merupakan lawan yang amat berat.
Apalagi mereka bermaksud untuk menolong empat orang sahabat mereka, tentu saja mereka tidak dapat mencurahkan seluruh perhatian sepenuhnya untuk melawan tiga orang datuk.
Maka, mereka menggabungkan sinar pedang mereka, membentuk benteng pertahanan untuk melindungi diri dari desakan tiga orang lawan sambil kadang memperhatikan keadaan empat orang sahabat yang sedang berusaha melarikan diri itu.
Dipimpin oleh Song Tek Hin yang paling lihai di antara mereka, empat orang tawanan itu mengamuk dengan pedang rampasan.
Song Tek Hin adalah seorang jago pedang yang tingkat kepandaiannya sedikit lebih tinggi dari pada isterinya, Su Hong Ing, murid Bu-tong-pai yang lihai.
Adapun kakak beradik Kam hanya memiliki tubuh yang kuat dan gesit, tidak memiliki ilmu silat tinggi akan tetapi kedua orang kakak beradik yang pernah menjadi kekasih Pek-liong dan Liong-li ini pernah menerima petunjuk ilmu silat dari kedua orang pendekar itu.
Dengan hati yang penuh keberanian dan semangat karena hadirnya Pek-liong dan Liong-li, empat orang itu berhasil membobolkan kepungan dan mereka membela diri sambil menuju ke sungai.
Melihat ini, Pek-liong dan Liong-li juga bersilat membela diri saling melindungi sambil mundur mengikuti empat orang sahabat mereka.
Mengerti bahwa empat orang tawanan dan dua orang pendekar itu menuju ke sungai, tiga orang datuk itu diam-diam mentertawakan mereka.
Bagaimana mungkin mereka akan dapat melarikan diri kalau menuju ke sungai?
Mereka tidak mempunyai perahu dan andaikata mempunyai perahu sekalipun, tentu perahu itu akan terhadang perahu-perahu anak buah mereka, baik di anak sungai itu maupun di Sungai Kuning, di mana air sungai itu bergabung.
Maka, mereka tidak menghalangi, bahkan menggiring enam orang itu agar sampai di tepi sungai dan mendapatkan jalan buntu.
Mereka sudah merasa yakin bahwa enam orang itu tidak akan mampu lolos.
Pek-bwe Coa-ong yakin akan hal ini.
Bahkan andaikata terjadi suatu keajaiban sehingga mereka dapat lolos dia masih memegang suatu kekuasaan yang dapat dia pergunakan untuk memaksa Pek-liong dan Liong-li datang membayar hutang kepada Kiu Lo-mo!
Sementara itu, keempat orang Thai-san Ngo-kwi memimpin anak buah mereka yang banyak sekali jumlahnya, melakukan penyerbuan ke arah enam orang pembantu Pek-liong dan tujuh orang pembantu Liong-li yang melakukan serangan dengan anak panah berapi dari sisi kanan dan kiri ke arah sarang gerombolan.
Serangan yang dilakukan gerombolan penjahat itu begitu tiba-tiba datangnya sehingga mengejutkan para pembantu kedua pendekar itu.
Namun dengan gigih mereka melakukan perlawanan.
Bagaimanapun juga, baik enam orang pembantu Pek-liong maupun tujuh orang pembantu Liong-li, tak lama kemudian terdesak hebat.
Terutama sekali empat orang Thai-san Ngo-kwi merupakan lawan yang teramat berat bagi mereka sedangkan anak buah merekapun banyak.
Thai-kwi dan Ji-kwi memimpin tiga puluh orang anak buah mengeroyok enam orang pembantu Pek-liong, sedangkan Su-kwi dan Ngo-kwi memimpin tiga puluh orang lebih mengeroyok tujuh orang pembantu Liong-li!
Para pembantu sepasang pendekar itu mengamuk dan melawan mati-matian.
Banyak juga anak buah gerombolan yang tewas oleh amukan mereka, akan tetapi akhirnya mereka sendiri tak mampu menahan dan di antara enam orang pembantu Pek-liong, tinggal dua orang yang berhasil melarikan diri, yang empat orang roboh dan tewas di bawah hujan senjata pengeroyok.
Demikian pula para pembantu Liong-li, hanya dua orang yang dapat lolos dengan luka-luka ringan, yang lima orang lagi tewas.
Hanya Ang-hwa dan Pek-hwa yang dapat lolos.
Biarpun anak buah mereka sendiri banyak yang tewas, namun empat orang dari Thai-san Ngo-kwi membawa anak buah mereka pulang ke sarang dengan tawa kemenangan dan ketika mereka tiba di sarang, mereka melihat betapa Pek-liong dan Liong-li bersama empat orang tawanan itu mengamuk, dikeroyok dan didesak oleh tiga orang datuk.
Enam orang itu telah terdesak mundur sampai ke tepi sungai!
Melihat ini, tiga orang datuk tertawa-tawa.
Enam orang itu telah terkepung dan tidak dapat mundur lagi karena di belakang mereka terdapat sungai yang cukup lebar dan dalam.
Di situ tidak ada perahu, sedangkan anak buah mereka sudah siap dengan perahu-perahu yang disembunyikan di darat.
"Ha-ha-ha, Pek-liong dan Liong-li. Kalian tidak dapat lolos dari tangan kami sekarang!"
Kata Pek-bwe Coa-ong yang semakin gembira melihat empat orang dari Thai-san Ngo-kwi sudah kembali sehingga keadaan mereka semakin kuat. Kepada dua orang rekannya dia berkata.
"Kita tangkap mereka hidup-hidup!"
Tentu saja dia dan dua orang rekannya ingin menangkap dua orang musuh besar itu dalam keadaan hidup agar mereka dapat membalas dendam dan melampiaskan kebencian mereka dengan menyiksa dulu musuh mereka sepuas hati sebelum membunuh mereka!
Kebencian membuat manusia manapun juga menjadi buas.
Hati yang panas dan diracuni dendam kebencian baru akan merasa puas dan senang melihat orang yang dibencinya tersiksa!
Melihat munculnya Thai-san Ngo-kwi dan anak buah mereka, Pek-liong dan Liong-li tahu bahwa kalau dilanjutkan perkelahian itu, mereka berenam akan kalah atau setidaknya, empat orang sahabat mereka akan dapat tertawan kembali.
Liong-li segera berseru.
"Semua ke air!"
Kedua orang pendekar itu melihat betapa Kam Cian Li sudah menggandeng tangan Su Hong Ing dan menariknya loncat ke dalam sungai, demikian pula Kam Sun Ting menarik Song Tek Hin meloncat ke air.
Mereka berdua juga cepat meloncat dan kembali air di permukaan sungai itu memercik ketika tertimpa tubuh dua orang pendekar itu.
"Taihiap, ke sini dan pegang ujung tali ini!"
Kam Sun Ting berseru dan Pek-liong gembira dan kagum. Kiranya Kam Sun Ting sudah mempersiapkan diri! "Sini Lihiap, dan pegang ujung taliku!"
Kata pula Kam Cian Li yang berenang sambil membantu Su Hong Ing.
Setelah sepasang pendekar itu berenang menghampiri dan mereka menangkap ujung tali yang dililitkan di pinggang kakak beradik ahli selam itu, Kam Sun Ting dan adiknya berseru.
"Ambil napas sebanyaknya dan tahan napas!"
Seruan ini ditujukan kepada Song Tek Hin dan Su Hong Ing karena Pek-liong dan Liong-li sudah tahu apa yang harus mereka lakukan.
Setelah mereka semua menghirup udara sebanyaknya memenuhi paru-paru mereka dan menahan napas, kakak beradik itu menyelam dan lenyap dari permukaan air, dan bersama dengan mereka, lenyap pula tubuh suami isteri itu dan sepasang pendekar.
Tadinya tiga orang datuk itu tertawa-tawa melihat enam orang buronan itu terjun ke dalam sungai.
"Tangkap mereka hidup-hidup, gunakan perahu!"
Kata Pek-bwe Coa-ong yang merasa yakin bahwa mereka tidak akan mungkin.berenang jauh.
Akan tetapi, begitu dia melihat enam orang itu lenyap, dia menjadi terkejut.
Demikian pula dua orang rekannya, juga Thai-san Ngo-kwi dan para anak buah mereka menjadi panik.
"Kejar mereka!"
"Cari...!!"
Mereka yang merasa pandai renang segera melompat ke air.
Akan tetapi tidak banyak di antara mereka yang pandai menyelam.
Empat orang yang merasa memiliki keahlian menyelam, segera menukik dan menyelam, akan tetapi sebentar saja empat orang ini sudah tersembul lagi dalam keadaan tak bernyawa!
Tiga orang datuk menjadi terkejut dan mereka berloncatan ke perahu-perahu yang sudah ditarik keluar dari balik semak-semak dan mereka bertiga memimpin sendiri pengejaran itu, menggunakan perahu-perahu.
Akan tetapi, amat sukar menemukan enam orang buronan yang lenyap dari permukaan air itu.
Awan yang berarak semakin tebal sehingga cahaya bulan menjadi redup, dan gerakan banyak perahu itu membuat permukaan air berombak, sehingga biar pun kadang-kadang kepala para pelarian itu menonjol keluar sebentar untuk berganti udara dalam pernapasan mereka lalu menyelam lagi, tidak sempat diketahui mereka yang melakukan pencarian.
Tiga orang datuk itu menjadi penasaran sekali.
Tak mungkin enam orang itu lenyap begitu saja, kecuali kalau mereka itu mati tenggelam.
Akan tetapi, melihat betapa empat orang anak buah yang menyelam tadi tewas terbunuh, membuktikan bahwa enam orang pelarian itu masih hidup.
Mereka sama sekali tidak memperhitungkan bahwa mereka berenam mampu meloloskan diri dengan cara menyelam dalam air sungai.
Sampai pagi mereka mencari-cari, namun tidak berhasil karena saat itu, enam orang pelarian telah pergi jauh, bahkan telah mengurus jenazah para anak buah Pek-liong dan Liong-li dengan sedih.
Hek-liong-li, wanita berhati baja yang gagah perkasa dan hampir tak pernah bersedih, pagi hari itu nampak menangis terisak-isak di depan makam tujuh orang pembantunya.
Dua buah makam baru kemarin dulu ditimbun, kini ditambah lima buah makam para pembantunya yang tewas diserbu Su-kwi dan Ngo-kwi bersama anak buah mereka.
Pek-liong hanya termenung, juga penuh kedukaan di depan makam empat orang pembantunya yang setia.
Kini tinggal dua orang pembantu Liong-li dan dua orang pula pembantu Pek-liong.
Mereka juga berkabung.
Bahkan Song Tek Hin dan Su Hong Ing, Kam Sun Ting dan Kam Cian Li, ikut pula bersembahyang dan berkabung.
"Aihh, semua ini adalah kesalahan kami berempat,"
Kata Song Tek Hin dengan suara menyesal.
"Kalau kami berempat tidak menjadi tawanan dan tidak mau menulis surat kepada Taihiap dan Lihiap, tentu tidak akan terjatuh begini banyak korban. Mereka ini tewas karena kami berempat."
"Saudara Song Tek Hin jangan bicara begitu,"
Kata Pek-liong sambil mengerutkan alisnya.
"Mati hidup ditentukan oleh Tuhan, bukan oleh manusia! Kalau dicari sebab sebabnya, amatlah banyak dan berantai amat panjang. Kalau dianggap bahwa kematian mereka disebabkan kalian berempat ditawan, maka kalian berempat ditawan karena kalian menjadi sahabat-sahabat baik kami berdua! "Tidak ada yang bersalah dalam hal ini, yang bersalah adalah Kiu Lo-mo karena mereka adalah manusia-manusia sesat yang suka melakukan perbuatan jahat. Kita adalah orang-orang yang menentang kejahatan, maka terjadi bentrokan antara mereka dan kita. Kalau jatuh korban dalam bentrokan ini, hal itu sudah sewajarnya."
"Pek-liong berkata benar,"
Kata Liong-li yang telah dapat mendinginkan hatinya dan tenang kembali walaupun kedua pipinya masih basah.
"Tujuh orang pembantuku dan empat orang pembantunya tewas sebagai orang-orang gagah, hal itu tidak perlu terlalu disedihkan. Aku akan membalaskan kematian mereka! Kiu Lo-mo tinggal tiga orang lagi dan aku bersama Pek-liong pasti akan dapat membasmi mereka! Kalian berempat sebaiknya cepat pulang saja agar jangan terlibat, dan bersikaplah hati-hati menjaga diri."
Pek-liong mengangguk-angguk.
"Memang sebaiknya memenuhi permintaan Liong-li. Kalian berempat pulanglah, dan juga masing-masing pembantu kami sebaiknya mengundurkan diri agar jangan jatuh korban lebih banyak lagi. Aku dan Liong-li berdua yang akan menghancurkan mereka, tanpa membahayakan keselamatan orang-orang yang menjadi sahabat baik kami."
"Lihiap, kami berdua tidak mau meninggalkan Lihiap! Apa lagi tujuh orang rekan kami telah tewas dan kami disuruh mengundurkan diri? Tidak, Lihiap, kami akan membantu Lihiap dengan mempertaruhkan nyawa ini, untuk menuntut balas atas kematian tujuh orang rekan kami!"
Kata Ang-hwa dengan suara masih mengandung tangis.
"Kamipun tidak mau meninggalkan Taihiap, lebih baik kami mati pula di tangan para penjahat dari pada harus lari setelah empat orang rekan kami tewas,"
Kata dua orang pembantu Pek-liong.
"Kami juga tidak mau pulang, kami ingin membantu Taihiap dan Lihiap!"
Kata kakak beradik Kam dengan suara hampir berbareng.
"Demikian pula kami. Kami akan membantu sekuat tenaga,"
Kata Song Tek Hin dan isterinya mengangguk, membenarkan suaminya.
Pek-liong dan Liong-li saling pandang dan merasa terharu.
Tidak ada yang lebih indah dari pada persahabatan yang tulus ikhlas dan setia.
Akan tetapi mereka juga merasa khawatir sekali.
Pihak musuh terlampau kuat dan amat berbahaya bagi empat orang sahabat dan empat orang pembantu mereka itu kalau mereka membantu.
Mereka sudah kehilangan sebelas orang pembantu.
Mereka tidak ingin melihat ada korban lagi.
Pula, kalau mereka berdua dibantu, menghadapi lawan yang amat kuat dan berbahaya, berarti mereka berdua bahkan harus melindungi para pembantunya itu sehingga mereka tidak dapat bergerak dengan leluasa.
Untuk menghadapi para anak buah tiga orang datuk itu tentu saja para pembantu ini masih menguntungkan, akan tetapi kalau berhadapan dengan tiga orang datuk itu atau Thai-san Ngo-kwi, mereka terancam bahaya maut.
Selagi dua orang pendekar itu meragu, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan seorang penunggang kuda mendaki bukit itu.
Pek-liong dan Liong-li bangkit dan memandang dengan penuh kewaspadaan.
Seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun, bertubuh tinggi besar, meloncat turun dari atas punggung kudanya, membawa sebuah bungkusan dan menghampiri Pek-liong dan Liong-li dengan sikap gentar.
"Siapa engkau? Mau apa?"
Tanya Pek-liong singkat. Orang itu membungkuk.
"Saya adalah utusan pimpinan kami Pek-bwe Coa-ong untuk menyerahkan buntalan ini kepada Pek-liong-eng dan Hek-liong-li."
"Aku Pek-liong-eng, berikan kepadaku!"
Kata Pek-liong. Orang itu menyerahkan buntalan kain kuning kepada Pek-liong, kemudian dia membalikkan tubuh hendak pergi.
"Tunggu!"
Bentak Liong-li sehingga orang itu terkejut dan menahan langkahnya.
"Tunggu sampai Pek-liong membuka dan melihat isi buntalan!"
Dengan hati-hati dan sikap tenang Pek-liong membuka buntalan itu dan merasa heran mendapatkan bahwa isinya adalah sehelai baju anak-anak berwarna merah.
Ketika lipatan baju dibuka, di dalamnya terdapat sehelai kertas yang ditulis dengan huruf-huruf besar.
KAMI AKAN MENGGANTUNG CU KECIL KALAU KALIAN TIDAK CEPAT DATANG MEMBUAT PERHITUNGAN.
Pek-liong sengaja membaca surat itu sehingga terdengar oleh para sahabat dan pembantunya.
Terdengar jerit tertahan dan Su Hong Ing meloncat ke depan dan mengambil baju kanak-kanak berwarna merah itu dari tangan Pek-liong.
Diamatinya baju itu dan iapun berteriak.
"Ini baju Song Cu, anakku!"
Song Tek Hin juga maju dan merampas baju itu dari tangan isterinya, mengamatinya, kemudian dia membalik dan mencengkeram baju pembawa surat itu di bagian dadanya, menariknya dan membentak marah.
"Hayo katakan, bagaimana anak kami dapat berada di sarang kalian!"
Orang itu menggeleng kepalanya.
"Aku hanya utusan. Aku tidak tahu bagaimana anak itu dapat berada di tangan pemimpin kami."
"Bagaimana keadaannya?"
Su Hong Ing juga mendekati orang itu. Utusan itu tersenyum mengejek.
"Keadaannya baik-baik saja sampai sekarang ini. Akan tetapi, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadanya kalau kalian tidak memenuhi permintaan pimpinan kami."
"Jahanam busuk!"
Bentak Su Hong Ing dan ia sudah menggerakkan tangan hendak memukul orang itu.
Akan tetapi suaminya menangkap pergelangan tangannya dan menggeleng kepala.
Su Hong Ing menyadari bahwa ia tidak boleh menyerang seorang utusan.
Pek-liong dan Liong-li saling pandang dan mengerutkan alis mereka.
Tak mereka sangka sama sekali bahwa tiga orang datuk itu akan bertindak sedemikian jauh, sedemikian liciknya sehingga mereka sampai hati menculik seorang anak kecil untuk dijadikan sandera.
Song Tek Hin mendorong orang itu sehingga hampir terjengkang.
Orang itu memandang dengan senyum mengejek kepada Pek-liong dan Liong-li, kemudian bangkit dan sebelum meninggalkan tempat itu dia berkata kepada Liong-li dan Pek-liong.
"Pimpinan kami menyuruh kami meninggalkan pesan bahwa kalau sampai matahari tenggelam hari ini kalian tidak datang menemui mereka, anak itu akan dibunuh dan mayatnya digantung di pintu gerbang sarang kami."
Setelah berkata demikian, dia pun meninggalkan tempat itu cepat-cepat.
Su Hong Ing menahan jerit tangisnya dan dia terkulai dalam pelukan suaminya, menangis dengan muka pucat karena ia merasa khawatir dan bingung sekali.
Hek-liong-li mengepal kedua tinju tangannya "Keparat, betapa liciknya mereka!
Tak kusangka mereka akan mempergunakan kecurangan yang tak tahu malu itu!"
Pek-liong menarik napas panjang.
"Kalau tidak licik dan curang, bukan Kiu Lo-mo namanya. Kita harus menghadapi mereka dengan kepala dingin."
Liong-li mengangguk dan segera sikapnya tenang kembali, tidak terbakar emosi seperti tadi, lalu ia berkata kepada suami isteri yang sedang panik karena mengkhawatirkan anak mereka itu.
"Kalian jangan gelisah. Kami berdua pasti akan datang dan menemui mereka, minta agar anak kalian yang tidak tahu apa-apa itu segera dibebaskan."
"Benar, kalian tenang sajalah. Mereka menawan anak itu hanya untuk memaksa kami pergi kepada mereka. Anak kalian pasti akan dapat dibebaskan,"
Kata pula Pek-liong. Mendengar ini, Su Hong Ing terisak lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Pek-liong.
"Taihiap, maafkan kami... bukan maksud kami untuk membuat Taihiap dan Lihiap terancam bahaya maut... tapi... tapi kami... aku tidak dapat hidup tanpa anakku..."
"Sudahlah, kalian tidak bersalah, anak kalian juga tidak bersalah. Memang Kiu Lo-mo amat curang, akan tetapi kami pasti akan mampu menghajar mereka dan menyelamatkan anak kalian,"
Kata Liong-li.
"Sekarang juga kami akan berangkat ke sana untuk membebaskan anak kalian."
"Sebaiknya kalau kalian delapan orang menunggu saja di sini dan jangan berpencar. Tunggu sampai kami kembali ke sini,"
Kata Pek-liong kepada empat orang sahabat dan empat orang pembantu itu. Kemudian bersama Liong-li dia berkelebat dan lenyap dari situ. Setelah sepasang pendekar itu pergi. Su Hong Ing menangis.
"Tidak aku tidak dapat membiarkan mereka terancam bahaya demi menyelamatkan anakku, dan aku sendiri menunggu dan menganggur di sini. Aku harus mencoba untuk menyelamatkan anakku!"
Melihat isterinya menangis seperti itu, Song Tek Hin merangkulnya.
"Tenanglah, memang akupun berpendapat seperti itu, Sepantasnya yang mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan anak kita harus kita sendiri. Mari, mari kita ke sana dan kita minta kepada mereka agar anak kita dibebaskan."
"Kami akan membantu kalian, Song-toako!"
Kata Kam Sun Ting dan adiknyapun bangkit berdiri dan menggandeng tangan Su Hong Ing. Suami isteri itu terkejut.
"Aih, jangan! Kalian berdua sudah menyelamatkan kami ketika kita melarikan diri melalui air, jangan lagi kalian kini terjun ke dalam bahaya untuk membantu kami,"
Kata Song Tek Hin yang merasa tidak enak sekali.
"Sebetulnya kami takut melanggar perintah Lihiap, akan tetapi kalau kalian berempat pergi untuk menyelamatkan anak itu, kami berdua pun tidak mau ketinggalan dan menunggu saja di sini. Kami akan ikut pula membantu kalian merampas kembali anak itu!"
Kata Ang-hwa, dan Pek-hwa mengangguk menyetujui.
"Kamipun bukan orang-orang takut mati. Biar Taihiap akan memarahi kami, akan tetapi kami juga akan membantu, sekalian membalas dendam atas kematian empat orang rekan kami!"
Kata pula dua orang pembantu Pek-liong dengan sikap gagah.
Mendengar pernyataan mereka semua itu, Song Tek Hin dan Su Hong Ing merasa terharu sekali, akan tetapi juga girang karena dengan bantuan enam orang itu, selain kedudukan mereka lebih kuat, juga mereka berdelapan akan dapat membantu Pek-liong dan Liong-li.
Song Tek Hin segera memberi hormat kepada mereka dengan merangkap kedua tangan depan dada.
"Terima kasih, terima kasih, cu-wi (anda sekalian) sungguh merupakan sahabat-sahabat yang setia. Baiklah, mari kita bersama-sama membantu Pek-liong dan Hek-liong-li menghadapi para iblis kejam itu. Akan tetapi, kami percaya bahwa nona Ang-hwa dan nona Pek-hwa yang selama ini membantu Liong-li, tentu lebih berpengalaman dan dapat menjadi pimpinan kita."
Ang-hwa dan Pek-hwa mengerling ke arah dua orang pembantu Pek-liong dan berkata.
"Aih, mana kami berani. Di sini terdapat dua orang pembantu Taihiap yang jauh lebih pandai dari pada kami. Sepantasnya mereka itulah yang menjadi pimpinan kita."
Semua orang memandang kepada dua orang pria yang gagah itu. Mereka berusia kurang lebih tiga puluh tahun. Yang berkumis tipis memberi hormat kepada mereka dan dengan sikap yang serius dia berkata.
"Kami tidak berani mengatakan bahwa kami berdua yang paling pandai, akan tetapi mengingat akan pentingnya tugas yang kita hadapi, biarlah untuk sementara kami mewakili Taihiap untuk memimpin gerakan ini, dengan ketentuan bahwa kalian semua harus membantu kami. Sebaiknya kalau kami memperkenalkan diri. Aku bernama Gui Keng Hong dan ini adalah adikku sendiri bernama Gui Keng Siu."
Dia menunjuk kepada adiknya yang alisnya tebal sehingga nampak gagah perkasa.
"Bagus, sekarang bagaimana kita harus bergerak? Harap kedua saudara Gui suka mengatur siasat dan membagi tugas,"
Kata Song Tek Hin.
"Pihak musuh teramat kuat. Bukan saja tiga orang datuk itu sakti, akan tetapi empat orang pembantunya, yaitu sisa dari Thai-san Ngo-kwi itu lihai bukan main. Kita bukanlah lawan mereka, dan di sana masih diperkuat pula oleh anak buah yang puluhan, mungkin ratusan orang banyaknya. Kami yakin bahwa menghadapi lawan yang jaun lebih banyak dan lebih kuat, tentu Pek-liong Taihiap dan Hek-liong Lihiap akan menggunakan siasat, tidak menyerang begitu saja dengan kekerasan.
"Oleh Karena itu, mari kita menyelundup ke sana dengan hati-hati. Kita harus selalu bersatu, tidak berpencar agar lebih kuat. Kalau ada penjaga yang melihat kita, kita bunuh mereka. Kita mengintai ke sarang itu dan melihat keadaan dan perkembangan selanjutnya, menanti sampai Taihiap dan Lihiap turun tangan. Dengan demikian, kita dapat membantu mereka semampu kita."
Berangkatlah delapan orang itu dengan penuh semangat, meninggalkan bukit yang menjadi tanah kuburan para pembantu Pek-liong dan Liong-li, menuruni bukit lalu mendaki Bukit Hitam yang menjadi sarang gerombolan yang dikepalai Kiu Lo-mo.
Pek-liong dan Liong dapat menyusup ke sarang gerombolan itu.
Mereka melihat kenyataan betapa kini di luar sarang itu tidak terdapat penjagaan, dan ketika mereka menuju ke sarang itu, mendaki sejak dari kaki bukit, tidak menemui halangan, tidak nampak seorangpun anggauta gerombolan.
Hal ini agaknya sengaja dilakukan oleh pihak musuh yang tidak ingin kebobolan sehingga kini seluruh kekuatan dikerahkan untuk menjaga sebelah dalam sarang.
Matahari telah naik tinggi ketika Pek-liong dan Liong-li tiba di luar sarang itu.
Tadinya mereka hendak langsung saja menantang tiga orang datuk, menantang untuk membuat perhitungan antara mereka saja tanpa melibatkan orang lain dan agar mereka membebaskan anak kecil yang ditawan.
Akan tetapi, melihat betapa seluruh kekuatan gerombolan dicurahkan ke dalam sarang, mereka maklum bahwa kalau mereka melakukan tantangan secara berterang, mereka tentu akan dikepung oleh ratusan orang dan hal ini amat berbahaya.
Maka, mereka lalu memutuskan untuk menyelidiki terlebih dahulu sebelum turun tangan.
Ketika mereka mendapatkan tempat pengintaian dari balik pagar tembok dan mengintai ke dalam, mereka melihat betapa sarang itu sunyi seolah telah ditinggalkan penghuninya.
Tidak terdengar suara apapun.
Akan tetapi ketika mereka memandang ke bagian tengah, di sana terdapat sebatang pohon besar dan di bawah pohon itu nampak seorang anak laki-laki yang sedang bermain-main seorang diri!
Seorang anak laki-laki berusia kurang lebih tiga tahun, duduk di atas tanah dan bermain-main dengan daun-daun dan ranting-ranting kering, sedangkan pada kaki kirinya terdapat sehelai tali yang diikatkan pada batang pohon!
Dan di sekeliling pohon itu, seolah mengepung anak kecil itu, nampak puluhan ekor ular besar kecil, siap untuk menyerang!
Dan terdengar suara suling lirih yang agaknya mengendalikan ular-ular itu.
"Jahanam...!"
Liong-li memaki lirih.
Ia dan Pek-liong segera tahu apa artinya semua itu.
Anak itu tentulah anak dari Song Tek Hin dan Su Hong Ing yang entah bagimana telah diculik oleh Pek-bwe Coa-ong dan jelas bahwa anak itu sengaja dibiarkan bermain-main di bawah pohon itu, dikurung ular-ular, dijadikan umpan untuk menarik mereka berdua datang ke situ.
Akan tetapi merekapun tahu benar bahwa tempat yang nampaknya sunyi itu sebetulnya diawasi banyak orang dan sekali mereka hadir di sana, tentu akan muncul ratusan orang yang mengepung mereka.
Itu bukan cara terbaik untuk mencoba membebaskan anak itu, pikir mereka.
Sebelum mereka berhasil membebaskan anak itu, tentu mereka telah dikepung dan akan sulitlah melawan mereka sambil melindungi anak itu, apa lagi kalau tiga datuk itu muncul.
Menghadapi tiga orang datuk itu saja sudah merupakan hal yang amat berat bagi mereka, apa lagi kalau harus melindungi seorang anak kecil dan pihak musuh masih dibantu oleh ratusan orang anak buah!
Mereka sama sekali tidak takut mati, hanya takut tidak akan berhasil menyelamatkan anak itu.
Mereka telah kehilangan banyak pembantu, dan mereka tidak ingin melihat orang lain menjadi korban lagi karena sisa Kiu Lo-mo hendak membalas dendam kepada mereka.
"Kita tunggu saja, melihat perkembangannya,"
Bisik Liong-li dan Pek-liong menganggukkan kepala tanda setuju.
Biarpun mereka berdua mengintai ke dalam, namun pengintaian itu dilakukan secara bergiliran.
Seorang mengintai ke dalam akan tetapi yang lain menebarkan pandangan ke arah luar sarang sehingga mereka dapat mengamati seluruh jurusan dan tidak sampai dibokong pihak musuh.
Setelah beberapa lama mereka mengintai dan belum juga ada gerakan perubahan di dalam, dan anak kecil itu mulai bosan dengan mainannya dan mulai bangkit berdiri, melangkah pergi namun terjatuh karena kakinya diikat, menjadi bingung lalu memandang ke kanan kiri, mulai menangis memanggil-manggil ibu dan ayahnya, tiba-tiba terdengar teriakan dan nampak sesosok tubuh melayang masuk dari pagar tembok.
Bayangan kedua menyusul dan Liong-li menggenggam tinjunya.
"Ah, mereka itu sungguh ceroboh!"
Pek-liong mencela lirih ketika melihat bahwa yang berloncatan masuk itu adalah Su Hong Ing yang disusul pula oleh suaminya, Song Tek Hin.
Agaknya ibu dan ayah itu tidak dapat menahan diri ketika melihat keadaan anak mereka dan sudah (Lanjut ke
Jilid 08) Dendam Sembilan Iblis Tua (Seri ke 03 -Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 berloncatan masuk dengan nekat untuk menyelamatkan anak mereka yang diikat di pohon itu.
Mata sepasang pendekar itu semakin terbelalak ketika berturut-turut nampak enam bayangan orang berloncatan masuk pula dan mereka itu bukan lain adalah Kam Sun Ting dan Kam Cian Li, Ang-hwa dan Pek-hwa, juga Gui Keng Hok dan Gui Keh Siu, dua orang pembantu Pek-liong!
Tentu saja kedua orang pendekar itu terkejut, saling pandang akan tetapi mereka juga kagum karena ternyata empat orang sahabat dan empat orang pembantu mereka itu adalah orang-orang yang gagah perkasa dan setia kawan, siap dan rela mempertaruhkan nyawa untuk menolong sahabat!
Namun, di samping kekaguman mereka, juga mereka kini menjadi khawatir sekali.
Mereka berdua saja masih belum berani memasuki sarang itu, kini delapan orang itu dengan nekat masuk perangkap yang di pasang musuh!
Tidak dapat terlalu disalahkan kepada Song Tek Hin dan Su Hong Ing.
Ibu yang mana di dunia ini tidak akan nekat untuk menyelamatkan anaknya?
Melihat anaknya di bawah pohon, kakinya diikat, bermain seorang diri bahkan kini mulai menangis memanggili ayah dan ibunya, dikepung oleh banyak ular pula, bagaimana mungkin ia akan dapat bersabar dan berdiam diri?
Hong Ing sudah meloncat dan lari ke arah bawah pohon, meloncati ular-ular itu.
Melihat isterinya nekat, Tek Hin cepat menyusul dan kini keduanya sudah berada di bawah pohon.
"Ibuuu..., ayaaahhh...!"
Anak kecil itu girang bukan main melihat ayah dan ibunya, akan tetapi karena dia berlari, kakinya tertahan oleh tali dan diapun jatuh lagi.
Hong Ing cepat menyambar tubuh puteranya sedangkan Tek Hin cepat memutuskan tali yang mengikat kaki anaknya.
Ibu itu memeluk anaknya sambil menangis saking gembiranya melihat Song Cu dalam keadaan selamat.
Pada saat itu, kakak beradik Kam, dua orang pembantu Liong-li dan dua orang pembantu Pek-liong sudah berloncatan pula, meloncati ular-ular yang mengepung dan berkumpul dengan Tek Hin dan Hong Ing untuk melindungi mereka, Apa yang dikhawatirkan Pek-liong dan Liong-li segera terjadi.
Tempat yang tadinya sunyi itu tiba-tiba saja penuh dengan anak buah gerombolan yang muncul dari tempat persembunyian mereka.
Bahkan kini suara suling yang tadinya lirih itu terdengar nyaring dan semakin banyak ular berkumpul mengepung pohon itu dan mereka mulai mendesis-desis'.
Di luar lingkaran ular itu nampak anak buah gerombolan mengepung pohon di bawah mana delapan orang itu berkumpul, dalam jumlah yang puluhan orang banyaknya.
Turun tangan pada saat seperti itu akan membahayakan keselamatan delapan orang dan anak itu, maka Pek-liong dan Liong-li meloncat ke atas pagar tembok dan terdengar suara Liong-li berseru nyaring.
"Pek-bwe Coa-ong! Kalau kalian bertiga hendak membuat perhitungan dengan kami berdua, jangan bertindak curang. Bebaskan delapan orang dan anak itu yang tidak ada sangkutannya dengan urusan kita, dan mari kita mengadu kepandaian seperti orang gagah!"
Kini nampaklah Pek-bwe Coa-ong, Kim Pit Siu-cai dan Ang I Sian-li bersama empat orang dari Thai-san Ngo-kwi.
Pek-bwe Coa-ong masih meniup sulingnya untuk menguasai ular ularnya yang mengepung pohon itu, dan Ang I Sian-li yang mewakilinya menjawab sambil terkekeh genit.
"Hi-hik, Pek-liong dan Liong-li, kalau kalian mempunyai keberanian dan kepandaian, coba kalian bebaskan mereka ini dari tangan kami, heh-heh!"
Kim Pit Siu-cai sudah meloncat ke dalam kepungan ular itu dan tubuhnya bergerak cepat, kipas dan mouw-pit (pena bulu) di tangannya bergerak menyerang delapan orang itu.
Mereka mencoba untuk membela diri, namun tingkat kepandaian Kim Pit Siu-cai terlalu tinggi bagi mereka.
Apa lagi Ang I Sian-li juga kini meloncat masuk dan dua orang itu dalam waktu yang singkat saja telah berhasil menotok roboh delapan orang itu.
Mereka rebah malang melintang tak mampu bergerak lagi dan anak kecil itu yang kini menangis karena dia tadi terjatuh bersama ibunya yang memondongnya.
Melihat ini, sepasang pendekar itu maklum bahwa mereka tidak mungkin dapat mundur lagi.
Dengan gerakan seperti sepasang garuda menyambar, mereka melayang turun dari atas pagar tembok.
Para anak buah gerombolan itu tanpa dikomando telah menyambut maju dengan senjata mereka, agaknya mereka berlumba ingin membuat jasa.
Akan tetapi, terdengar teriakan-teriakan mengaduh ketika Pek-liong dan Liong-li menggerakkan kaki tangan mereka dan delapan orang anak buah gerombolan itu terpelanting dan tidak mampu bangun kembali!
Tentu saja yang lain menjadi gentar.
"Berhenti! Jangan serang, kepung saja!"
Teriak Pek-bwe Coa-ong dan kini empat orang Thai-san Ngo-kwi sudah memerintahkan orang-orangnya untuk menyeret tubuh delapan orang dan anak kecil itu, membawa mereka ke tempat tahanan dan menjaga dengan ketat.
Lalu mereka berempatpun ikut mengepung Pek-liong dan Liong-li.
Pek-liong tersenyum mengejek.
"Sejak dahulu kami tahu bahwa Kiu Lo-mo hanya namanya saja yang besar, akan tetapi mereka itu bukan lain hanyalah gentong-gentong kosong yang nyaring bunyinya. Mereka bukan orang-orang yang pantas menyebut diri mereka datuk persilatan. Hanya mengandalkan pengeroyokan banyak orang, curang dan pengecut-pengecut besar!"
"Hemm, dua orang bocah sombong yang bermulut besar!"
Teriak Ang I Sian-li.
"Kematian sudah di depan mata dan kalian masih berani bicara sombong? Lihat saja, sebentar lagi kalian akan kami tawan dan sebelum kami membunuh kalian, akan kami siksa dulu, jantung kalian akan kami pergunakan untuk obat kuat, kepala kalian kami jadikan korban sembahyangan terhadap rekan-rekan kami..."
"Sian-li, biarkan kami yang menangkap Hek-liong-li! Ia telah menewaskan Sam-kwi!"
Tiba-tiba Thai-kwi berseru dan tiga orang adiknya juga mengeluarkan seruan marah.
Mereka berempat sudah mencabut golok masing-masing dan sudah pula mengerahkan ilmu pukulan mereka yang ampuh, yang membuat tangan kiri mereka nampak kemerahan.
Di samping ilmu golok yang lihai, empat orang ini, murid-murid mendiang Siauw-bin Ciu-kwi ini memiliki ilmu pukulan Ang-hwe-ciang (Tangan api merah) yang amat lihai.
Mereka merasa yakin bahwa kalau mereka berempat maju mengeroyok seorang Liong-li, mereka pasti akan menang dan dapat membalaskan dendam kematian guru mereka dan juga kematian Sam-kwi yang baru beberapa hari ini tewas oleh Liong-li.
Tiga orang datuk itupun sebenarnya merasa gentar menghadapi Pek-liong dan Liong-li walaupun mengingat bahwa mereka bertiga, mereka tidak takut dan yakin akan dapat menundukkan dua orang musuh besar itu.
Maka, kini mendengar permintaan Thai-kwi, Pek-bwe Coa-ong mengangguk.
Dia ingin pula melihat sampai di mana kelihaian Liong-li agar dapat mengukur, pula diapun ingin memperlihatkan bahwa mereka bertiga bukan pengecut seperti dikatakan Pek-liong tadi dan memberi kesempatan kepada Pek-liong dan Liong-li untuk membela diri, tidak dikeroyok oleh anak buah mereka!
"Hemm, kami kira Liong-li tidak akan berani kalau maju seorang diri menghadapi kalian berempat!"
Pek-bwe Coa-ong mencoba.
Dia tidak tahu bahwa justeru inilah kesempatan baik bagi Liong-li dan Pek-liong.
Kalau mereka berdua dapat menyinggung rasa kehormatan tiga orang datuk itu dan dapat memancing mereka untuk bertanding secara jujur, besar kemungkinan sepasang pendekar ini akan mampu meloloskan diri dan menolong delapan orang tawanan itu.
Setidaknya, kalau dapat menewaskan sebagian dari mereka berarti sudah mengurangi kekuatan musuh.
Liong-li melangkah maju dan tertawa.
Manis bukan main kalau pendekar wanita ini tertawa, namun bagi yang sudah mengenalnya, tawa semanis itu merupakan tanda bahaya bagi musuhnya karena tawa itu hanya muncul kalau wanita perkasa itu berada dalam keadaan siap siaga, seluruh syaraf di tubuhnya sudah siap dan ia berada dalam kewaspadaan tertinggi.
"Memang kepalang tanggung kalau aku hanya membunuh Sam-kwi tanpa membunuh empat yang lain. Majulah kalian berempat, akan kukirim kalian menyusul arwah guru kalian Siauw-bin Ciu-kwi dan Sam-kwi!"
Dari penyelidikannya, Liong-li sudah tahu bahwa Thai-san Ngo-kwi adalah murid Siauw-bin Ciu-kwi, Seorang di antara Kiu Lo-mo yang telah tewas di tangannya, ketika bersama Pek-liong ia menentang iblis itu.
Dan sengaja ia menyebut nama guru mereka itu dan Sam-kwi untuk memanaskan hati mereka.
Usahanya berhasil.
Empat orang itu gemetar saking marahnya dan mereka sudah berlompatan maju mengepung Liong-li dari depan, belakang, kanan dan kiri!
Pek-bwe Coa-ong, Kim Pit Siu-cai, dan Ang I Sian-li berdiri menonton dan tempat pertandingan itu dikepung oleh anak buah yang tidak kurang dari seratus orang banyaknya sehingga tidak ada tempat untuk melarikan diri bagi kedua orang pendekar itu.
Pek-liong sendiri berdiri dengan sikap tenang, walaupun dalam hati dia masih mencari jalan keluar bagaimana agar dia dan Liong-li dapat menolong para tawanan kemudian lobos dari tempat itu.
Dia tahu bahwa kalau dia dan Liong-li dapat mengalahkan Thai-san Ngo-kwi dan tiga orang datuk itu, para tokoh sesat itu tentu tidak sungkan untuk mempergunakan anak buah mereka yang amat banyak untuk mengeroyok dia dan Liong-li.
Walaupun dia dan Liong-li tidak gentar menghadapi pengeroyokan demikian banyaknya orang, namun bagaimana mereka berdua akan mampu menolong delapan orang tawanan bersama anak kecil itu keluar dari tempat tahanan?
Kini empat orang itu telah mengepung Liong-li yang masih nampak tenang dan Pek-liong menyingkirkan dulu semua pikiran karena dia harus memperhatikan jalannya pertandingan antara Liong-li dan empat orang pengeroyoknya.
Dia harus waspada dan siap menolong Liong-li kalau sampai terancam bahaya.
Andaikata Liong-li sampai kalah dan terancam bahaya, dia tidak merasa malu untuk membantunya, karena bukankah kini Liong-li juga dikeroyok empat orang?
Pula, dia tidak dapat percaya begitu saja bahwa tiga orang datuk itu tidak akan turun tangan membantu empat orang murid-murid keponakan mereka itu.
Sikap empat orang Thai-san Ngo-kwi itu memang menyeramkan.
Mereka adalah orang-orang yang sudah terbiasa melakukan segala kekejaman mengandalkan kekuatan dan kepandaian, juga mereka dalam keadaan marah sekali sehingga sinar mata mereka sudah membayangkan kebuasan dan kekejaman.
Thai-kwi yang berusia empat puluh lima tahun itu memimpin penyerangan.
Pria yang bertubuh tinggi besar berkulit hitam ini seperti raksasa, goloknya juga besar dan berkilauan saking tajamnya.
Thai-kwi berdiri di depan Liong-li, menghadapi Liong-li sambil melintangkan goloknya di depan dada dan tangan kirinya yang kemerahan itu diangkat ke atas kepala.
Ji-kwi, orang kedua yang bertubuh gendut pendek berusia empat puluh tiga tahun, juga melintangkan goloknya dan mengangkat tangannya yang kemerahan ke atas kepala, berdiri di belakang Liong-li.
Su-kwi yang berusia empat puluh tahun, bertubuh tinggi besar dengan punggung agak bongkok, berdiri di sebelah kanan Liong-li, sedangkan Ngo-kwi orang kelima yang bertubuh sedang berusia tiga puluh lima tahun, berdiri di sebelah kirinya.
Empat orang Thai-san Ngokwi itu sudah siap dengan golok mereka dan tangan merah mereka, dan pandang mata mereka menyinarkan nafsu membunuh seperti empat ekor harimau kelaparan mengurung seekor domba.
Liong-li bersikap tenang saja.
Hek-liong-kiam masih berada di sarungnya dan ia berdiri dengan tegak dan nampak santai, namun setiap syaraf di tubuhnya bergetar, dari ujung rambut kepala sampai ke tumit kakinya dalam keadaan siap waspada, pandang matanya mengukur jarak, telinganya yang terlatih itu dapat menangkap setiap gerakan lawan yang berada di belakang dan tidak nampak, juga di kanan kiri sehingga sikapnya seolah ia hanya menghadapi lawan yang berada di depan saja.
"Liong-li, engkau mampus sekarang!"
Terdengar Thai-kwi membentak nyaring, akan tetapi dia tidak menggerakkan goloknya.
Sebaliknya, Ji-kwi yang gendut pendek dan berada di belakang Liong-li itulah yang bergerak, menyerang dengan membacokkan goloknya dari atas ke bawah seperti orang membelah kayu, hendak membelah tubuh wanita perkasa itu dari atas ke bawah.
"Singggg...!!!"
Golok itu berubah menjadi sinar menyambar dari atas ke bawah, namun yang disambarnya hanya udara kosong saja karena tubuh Liong-li sudah bergeser ke kiri.
Ji-kwi yang luput serangannya itu terus meloncat ke depan sedangkan Thai-kwi kini membabatkan goloknya ke arah leher Liong-li.
Wanita ini kembali mengelak dengan loncatan dan kini Thai-kwi dan Ji-kwi berganti kedudukan.
Ji-kwi yang berada di depan Liong-li sedangkan Thai-kwi di belakangnya.
Dari arah kirinya, Ngo-kwi menyerang dengan goloknya, dan berbareng pada saat itu, dari kanan Su-kwi juga menyerang sehingga dua batang golok mengguntingnya dari kanan kiri, yang sebatang menyambar leher, yang kedua menyambar paha.
Nampak sinar hitam bergulung-gulung dan terdengar suara nyaring dua kali ketika pedang Naga Hitam tercabut dan diputar sedemikian rupa sehingga sekaligus menangkis serangan dari kanan kiri itu.
Trangg...
cringggg...!!"
Tidak nampak bagaimana Liong-li mencabut pedangnya, karena pedang itu tiba-tiba saja sudah nampak menyambar, berubah menjadi sinar bergulung-gulung hitam mengerikan dan sudah menangkis dua serangan dari kanan kiri itu, sedangkan tubuhnya sudah bergerak mundur.
Golok di tangan Ngo-kwi dan Su-kwi adalah golok mustika yang tajam dan kuat, namun ketika tertangkis sinar hitam Hek-liong-kiam kedua batang golok itu terpental.
Dan kedua orang anggauta Thai-san Ngo-kwi terkejut karena merasa betapa telapak tangan mereka tergetar, panas dan hampir golok terlepas dari genggaman mereka.
Cepat mereka meloncat mundur.
Setelah menangkis, Liong-li yang melangkah mundur, sudah membalikkan tubuhnya dan bagaikan seekor naga, pedangnya sudah meluncur dan menyerang orang yang tadinya berada di belakangnya, yaitu Thai-kwi.
Serangan tusukan pedang itu amat cepatnya dan kalau bukan Thai-kwi yang diserang, kiranya akan sulit1ah bagi lawan untuk menyelamatkan diri.
Namun, Thai-kwi merupakan orang pertama dari Thai-san Ngo-kwi, ilmu kepandaiannya sudah tinggi dan diapun membuang tubuh ke belakang, lalu bergulingan menjauh sedangkan Ji-kwi sudah membantu suhengnya dengan serangan kilat dari belakang Liong-li.
Bahkan Su-kwi dan Ngo-kwi juga sudah menghadang dengan serangan dari kanan kiri.
Liong-li terpaksa memutar tubuh dan mengerakkan pedang melindungi diri sehingga tubuhnya tertutup gulungan sinar hitam yang sulit ditembus senjata lawan.
Pertandingan ini sungguh menegangkan.
Biarpun tingkat kepandaian Liong-li jelas lebih tinggi dari mereka, akan tetapi karena mereka itu empat orang maju bersama, dan mereka memiliki pengalaman perkelahian keroyokan sehingga mereka dapat bekerja sama seperti barisan golok, saling menunjang saling melindungi, maka tidak mudah bagi Liong-li untuk merobohkan seorang pun dari mereka.
Sebelum berhasil merobohkan seorang, yang tiga orang sudah cepat menekannya sehingga terpaksa ia melepaskan orang yang didesaknya itu.
Sebaliknya, empat orang itupun tidak dapat merobohkan Liong-li.
Senjata mereka terasa sukar sekali untuk dapat menembus sinar hitam dari Hek-liong-kiam, maka kini mereka berempat hanya bertahan saling melindungi saja, membentuk benteng dari empat golok yang amat sukar dibobolkan.
Telah lima puluh jurus lewat, akan tetapi belum juga Liong-li berhasil merobohkan seorangpun dari empat pengeroyoknya, walaupun empat orang itu sudah terdesak dan bahkan jarang sekali dapat membalas.
Melihat ini, Ang I Sian-li menjadi tidak sabar lagi.
Kalau sampai empat orang murid keponakan itu kalah dan tewas, hal itu berarti melemahkan pihaknya dan "memberi hati"
Kepada Pek-liong dan Liong-li. Maka, tanpa banyak cakap lagi Ang I Sian-li mencabut siang-kiam (sepasang pedang) dan melompat, langsung saja menyerang Liong-li dengan dahsyatnya.
"Cring-trangg..."
Liong-li menangkis dan kedua orang wanita tangguh itu terhuyung ke belakang.
"Iblis betina curang!"
Bentak Pek-liong sambil melompat ke depan.
Akan tetapi dia sudah disambut Kim Pit Siu-cai dan Pek-bwe Coa-ong yang sudah menyerang Pek-liong dengan senjata mereka yang ampuh.
Pek-liong cepat mencabut pedangnya dan begitu Pek-liong-kiam diputar, Nampak gulungan sinar putih yang menyambar-nyambar dan menangkis sepasang mouw-pit di tangan Kim Pit Siu-cai dan tongkat ekor ular putih di tangan Pek-bwe Coa-ong.
Tingkat kepandaian dua orang iblis tua itu sudah amat tinggi, bahkan kalau seorang di antara mereka maju melawan Pek-liong saja, tidak akan mudah bagi Pek-liong untuk menang.
Kini mereka maju berdua, tentu saja pendekar itu segera terdesak hebat.
Keadaannya tidak jauh bedanya dengan Liong-li.
Tingkat kepandaian Ang I Sian-li juga seimbang dengan Liong-li, kini ia maju membantu empat orang dari Thai-san Ngo-kwi, tentu saja Liong-li segera terdesak hebat.
Sepasang pendekar itu tentu saja maklum bahwa tidak ada gunanya mencaci maki atau mencela kecurangan lawan.
Mereka maklum pula bahwa pihak lawan tidak mungkin akan mau melepaskan mereka berdua.
Pihak lawan amat mendendam dan membenci mereka, akan melakukan apa saja untuk dapat menangkap dan membunuh mereka berdua.
Mereka tahu bahwa kalau mereka melawan terus, akhirnya mereka akan kalah dan roboh juga.
Tanpa kata ataupun isyarat, keduanya yang sudah memiliki kepekaan terhadap satu sama lain, segera mengatur langkah sehingga akhirnya mereka itu dapat bersatu, beradu punggung dan saling melindungi.
Namun, hal inipun tidak akan menolong mereka.
Pihak lawan terlampau kuat.
Baru tiga orang di antara Kiu Lo-mo itu saja sudah merupakan lawan yang amat berat hagi mereka, apa lagi ditambah empat orang dari Thai-san Ngo-kwi yang juga sudah lihai sekali.
Dan di situ masih terdapat kurang lebih seratus orang anak buah gerombolan yang mengepung tempat itu.
Sebetulnya, keadaan ini membuat hati sepasang pendekar itu menjadi gentar.
Yang membuat mereka ragu dan bingung adalah karena empat orang pembantu mereka, empat orang sahabat mereka, dan seorang anak kecil telah menjadi tawanan musuh!
Kalau mereka berdua sampai roboh dan tertawan, atau tewas, berarti tidak ada harapan bagi sembilan orang tawanan itu, dan mereka semua tidak mungkin dapat terlepas dari tangan para penjahat.
Tentu mereka akan tewas dalam keadaan yang lebih menyedihkan lagi.
Karena memikirkan keselamatan sembilan orang itulah maka Pek-liong dan Liong-li mengambil keputusan untuk meloloskan diri, melarikan diri dari kepungan agar mereka tetap hidup dan dapat menyusun siasat baru untuk menolong sembilan orang tawanan itu.
Akan tetapi, tentu saja bukan hal yang mudah untuk dapat meloloskan diri.
Karena selain tiga orang datuk itu bersama empat orang murid keponakan mereka mengepung ketat dan mendesak dengan hebat, juga di situ terdapat lebih dari seratus orang anak buah gerombolan itu mengepung dengan berbagai senjata di tangan.
Diam-diam Pek-liong dan Liong-li membuat perhitungan dengan otak mereka yang cerdas.
Kalau mereka melanjutkan perkelahian itu, akhirnya mereka akan roboh dan tewas, demikian pula sembilan orang tawanan itu tentu akan tewas.
Satu-satunya jalan adalah menerjang ke dalam barisan anak buah gerombolan yang rapat kepungannya itu.
Kalau mereka dapat menyerbu dan terjun ke tengah-tengah mereka, tentu tiga orang datuk dan empat orang murid keponakan mereka itu tidak akan dapat mengeroyok.
Ketika mendapat kesempatan dalam keadaan terdesak itu, Liong-li berbisik kepada rekannya.
"Kita terjun ke tengah?"
Pek-liong merasa girang karena memang dia mempunyai pendapat yang sama. Dia mengangguk.
"Engkau dulu, aku melindungi!"
Bisiknya.
Pada saat itu, senjata para pengeroyok sedang gencar menyerang.
Liong-li dan Pek-liong memutar pedangnya dan mereka mengatur sedemikian rupa sehingga pedang bersinar putih di tangan Pek-liong yang menjadi semakin lebar melindungi mereka berdua.
Liong-li menggunakan gerakan tiba-tiba menyerang ke kiri di mana berdiri Ngo-kwi, orang termuda dari Thai-san Ngo-kwi.
Serangannya dahsyat bukan main karena ia mengerahkan seluruh tenaganya, sehingga Ngo-kwi terkejut bukan main.
Goloknya hampir terlepas dari tangannya ketika dia menangkis dan dia terhuyung ke belakang.
Kesempatan inilah yang dipergunakan Liong-li untuk meloncat, melalui atas kepala Ngo-kwi, menuju ke arah kelompok anak buah yang mengepung dari luar.
Melihat ini, Pek-bwe Coa-ong marah.
"Kejar, kepung, jangan biarkan ia lolos!"
Akan tetapi, kekacauan timbul karena gerakan Liong-li itu dan kesempatan ini dipergunakan oleh Pek-liong untuk menjatuhkan diri ke lantai dan bergulingan sambil menggerakkan pedangnya.
Para pengepungnya terkejut dan terpaksa mundur.
Melihat kesempatan ini, Pek-liong juga cepat melompat sambil mengerahkan tenaganya dan bagaikan seekor naga menerjang awan, diapun terjun di tengah-tengah anak buah gerombolan yang mengepung ketat.
Gegerlah anak buah gerombolan itu ketika dua orang yang tadinya dikeroyok dan didesak para pimpinan mereka tiba-tiba saja meloncat dan terjun di tengah-tengah mereka.
Mereka menjadi panik seperti sekelompok domba yang tiba-tiba melihat dua ekor harimau mengamuk di tengah-tengah antara mereka!
Tentu saja mereka berusaha untuk menggunakan senjata dan menyerang kedua orang ini.
Akan tetapi, serangan para anak buah itu tidak ada artinya bagi Liong-li dan Pek-liong.
Dengan mudah mereka merobohkan setiap orang penyerang dan mereka menyusup-nyusup di antara anak buah gerombolan sehingga tiga orang Iblis Tua dan empat murid keponakan mereka sukar sekali untuk dapat mengeroyok kedua orang musuh itu seperti tadi.
Mereka bertujuh terhalang oleh padatnya anak buah mereka sendiri yang tadi mengepung tempat itu.
Bagaikan sepasang naga, Liong-li dan Pek-liong mengamuk.
Akan tetapi mereka bukan mengamuk untuk membunuh sebanyak mungkin anak buah gerombolan, melainkan untuk membuka jalan darah dan melarikan diri.
Mereka harus melarikan diri lebih dulu, kemudian baru mengatur siasat untuk menyelamatkan sembilan orang yang ditawan musuh.
Kalau mereka nekat, mereka akhirnya akan tewas dan sembilan orang itupun tidak akan tertolong lagi.
Mereka yakin bahwa selama mereka berdua belum tertawan atau tewas, sembilan orang tawanan itu masih ada harapan dan tidak akan dibunuh oleh tiga orang Iblis Tua.
Biarpun mereka sudah berhasil terjun ke tengah-tengah antara anak buah gerombolan, namun masih tidak mudah untuk membebaskan diri.
Tiga orang iblis tua dan empat orang murid mereka itu masih terus melakukan pengejaran, dibantu oleh anak buah mereka yang banyak jumlahnya.
Karena tidak dapat melarikan diri ke jalan yang pernah mereka lalui karena terhadang, terpaksa Liong-li dan Pek-liong lari ke arah barat, di mana terdapat sebuah hutan.
Mereka sekali ini tidak mau berpencar.
Dengan bersatu, mereka jauh lebih kuat untuk saling melindungi.
"Lepas anak panah! Serang mereka dengan senjata rahasia!"
Tiga orang datuk itu mengejar sambil berteriak-teriak.
Anak buah mereka segera melepaskan anak panah dan berbagai senjata rahasia.
Liong-li dan Pek-liong terpaksa memutar pedang melindungi tubuh mereka.
Mereka lari sambil mundur dan memutar pedang.
Sepasang pendekar itu sama sekali tidak tahu bahwa sisa dari Sembilan Iblis Tua itu sekali ini sudah bertekad untuk menawan atau membunuh mereka.
Sisa tiga orang dari Kiu Lo-mo itu sudah lama merencanakan balas dendam ini.
Mereka telah mengatur segalanya dan begitu melihat Liong-li dan Pek-liong berhasil melarikan diri, merekapun cepat mengatur siasat seperti yang sudah mereka perhitungkan kalau-kalau menghadapi keadaan seperti sekarang.
Kini mereka memilih tempat yang agak kering untuk duduk dan mereka berdua pertama-tama menyelidiki keadaan di sekitar mereka.
Mereka memandang ke sekeliling dengan sinar mata penuh selidik.
Tempat itu terang karena biarpun sudah condong ke barat, matahari masih tinggi dan terang.
Tengah hari telah lewat dua tiga jam, namun senja masih beberapa jam lagi akan tiba.
Dinding tebing itu curam dan tinggi sekali sehingga bagian atasnya tidak nampak jelas.
Diam-diam kedua pendekar itu memuji syukur kepada Tuhan bahwa mereka tidak tewas terjatuh dari tempat setinggi itu.
Untuk memanjat ke atas tebing merupakan hal yang tidak mungkin.
Tidak ada orang yang akan dapat mendaki atau menuruni dinding tebing yang, terjal dan setinggi itu.
Mereka lalu memandang dan mengamati bagian lain.
Tebing itu memanjang dengan ketinggian yang sama.
Tak mungkin naik kembali.
Di seberangnya, lereng itu menurun melalui banyak jurang dan hutan liar.
Hanya ke sanalah satu-satunya jalan keluar, yang akan membawa mereka ke kaki bukit sebelah sana.
Mereka berdiri memandang ke arah bawah, lalu keduanya saling pandang dan dua pasang mata itu bertaut, lalu Pek-liong dengan sikap canggung dan tersipu berkata, lirih.
"Liong-li..."
Dia tidak melanjutkan kata-katanya. Liong-li yang menatap wajah Pek-liong, melihat keraguan itu dan ia merasa heran. Biasanya, tidak pernah Pek-liong bersikap ragu dan kaku seperti itu.
"Ada apakah, Pek-liong?"
Kembali sepasang mata itu bertaut pandang dan kini Liong-li dapat menyelami perasaan pria itu dan sungguh ia merasa heran kepada diri sendiri karena mendadak ia merasa mukanya panas dan iapun menyadari bahwa tentu mukanya berubah kemerahan.
Akan tetapi ia tetap menanti jawaban.
"Liong-li..., rasanya seperti dalam mimpi..."
"Tidak, Pek-liong. Engkau tidak bermimpi, akupun tidak. Kita baru saja terlepas dari cengkeraman maut. Akan tetapi Tuhan belum ingin kita mati, Pek-liong. Ketika aku, membawamu lari karena engkau terluka dan pingsan, aku terjerumus ke dalam jurang, yaitu tebing di belakang ini. Mestinya kita berdua mati terbanting di dasar tebing, akan tetapi aku melemparkan tali sutera hitam dan kebetulan dapat menyangkut akar pohon sehingga kita berdua selamat."
"Bukan itu, Liong-li."
Tentu saja Liong-li tahu, akan tetapi entah mengapa, sekali ini ia sendiri menjadi tidak wajar, mempunyai rasa malu.
Rahasia yang terpendam amat dalam di hatinya, tadi terungkap dan ia merasa malu kalau-kalau rahasia itu akan diketahui Pek-liong.
"Apa maksudmu...?"
Ia tergagap.
"Engkau tadi... menangis. Itu bukan engkau, Liong-li. Liong-li tidak pernah seperti itu, menangis seperti anak kecil, seperti seorang wanita lemah. Mengapa, Liong-li?"
"Dan engkau katakan bahwa mungkin dunia kiamat!"
Liong-li mencoba untuk memecahkan ketegangan di antara mereka dengan kelakar. Akan tetapi Pek-liong menggeleng kepala perlahan, tetap memandang tajam seperti hendak menjenguk isi hati rekannya.
"Selama kita berkenalan, belum pernah aku melihat engkau menangis seperti itu, Liong-li, maka tanpa kusengaja aku mengatakan bahwa tentu dunia sudah kiamat kalau Liong-li menangis seperti itu. Sebenarnya, mengapa engkau menangis seperti itu, Liong-li? Kita bukan penakut, kita tidak takut menghadapi kematian, bahkan engkau lebih berani dari pada aku menghadapi maut. Akan tetapi tadi, kenapa engkau menangis seperti orang ketakutan?"
Mereka kembali saling pandang dan Pek-liong melihat betapa bibir rekannya itu gemetar!
Suatu tanda kelemahan perasaan yang belum pernah dia lihat sebelumnya!
Kemudian terdengar jawaban Liong-li, dan suaranya mengandung getaran yang belum pernah didengar Pek-liong sebelumnya.
"Aku melihat dan menyangka engkau sudah menjadi mayat. Melihat engkau tewas, aku kehilangan akal, dunia seperti kiamat rasanya..."
Pek-liong merasa jantungnya berdebar.
Sudah sering kali timbul debaran jantung aneh seperti ini setiap kali dia teringat kepada Liong-li, namun selalu dia berhasil menekan debaran aneh ini dengan meyakinkan hatinya bahwa dia dan Liong-li adalah rekan seperjuangan yang paling setia.
Itu saja.
Kini, debaran jantungnya lebih kuat dari pada biasanya, sukar untuk diredakan karena Liong-li berada di depannya dan pandang mata Liong-li demikian aneh!
Maka, diapun cepat mengalihkan perhatian untuk memecahkan suasana yang mencekam hatinya itu.
"Liong-li, sembilan orang itu masih berada dalam cengkeraman ke tiga Iblis tua! Kita harus cepat menolong mereka!"
Liong-li seperti dihentakkan dengan tiba-tiba, seperti diseret turun dari, dunia lamunan yang amat indah, dan iapun terbelalak, lalu mengerutkan alisnya dan pandang matanya kini berubah seperti biasanya, mengandung kecerdikan dan kewaspadaan.
"Benar sekali! Bagaimana kita dapat melupakan hal itu? Cepat, mari kita mencari jalan turun. Terpaksa kita harus mengitari bukit ini tiba di seberang sana, mendaki dari bagian yang berlawanan. Engkau sudah kuat berjalan cepat, Pek-liong?"
"Kurasa tenagaku sudah pulih kembali dan... eh, lihat itu!"
Teriaknya gembira bukan main.
Liong-li menengok dan iapun melihat kilauan sinar pedang yang menancap di atas tanah.
Pedang Pek-liong-kiam!
Agaknya, ketika roboh pingsan oleh serangan jarum dan pukulan tangan Ang I Sian-li, Pek-liong masih tetap memegang erat pedangnya, dan ketika Liong-li memondongnya dan membawanya lari sampai terjerumus ke dalam tebing jurang, pedang itu terlepas dari pegangannya dan meluncur jatuh lebih cepat dari pada badannya.
"Pek-liong-kiam!"
Seru Liong-li dan iapun ikut bergembira.
Pek-liong segera mengambil pedangnya dan memeriksanya.
Tentu saja dia merasa girang sekali mendapatkan kembali pedangnya dalam keadaan utuh dan tidak rusak.
Dengan pedang di tangan, semangat bertambah besar.
Mereka segera mencari jalan turun ke kaki bukit, untuk kemudian mengitari bukit itu dan mendaki lagi menuju ke sarang gerombolan yang di pimpin tiga orang dari Kiu Lo-mo itu.
Dan di sepanjang perjalanan ini, Pek-liong yang sudah mengalami perkelahian melawan tiga orang Iblis Tua membicarakannya dengan Liong-li, mencatat kelemahan-kelemahan dan kekuatan-kekuatan mereka agar kalau mereka berdua harus berhadapan lagi dengan tiga orang Iblis Tua itu, mereka dapat lebih mempersiapkan diri.
"Kita harus waspada terhadap kipas lebar di tangan kiri Kim Pit Siu-cai,"
Kata Pek-liong mengingat-ingat.
"Sepasang mouw-pit (pena bulu) darinya memang berbahaya, akan tetapi pedangku dapat menandinginya dan mengatasinya. Akan tetapi kalau dia mencabut kipasnya dengan tangan kiri, kita harus berhati-hati. Kipas itu dapat melepas jarum halus secara curang dan tidak terduga sama sekali."
"Kalau begitu, kita harus mendahuluinya, sebelum sempat mempergunakan senjata rahasianya, kita harus merusak kipas itu dengan pedang. Kurasa jurus ke lima dari Sin-liong Kiam-sut kita akan mampu melakukan itu,"
Kata Liong-li dan rekannya mengangguk.
"Ang I Sian-li merupakan lawan paling lemah di antara mereka bertiga, akan tetapi kita harus berhati-hati terhadap tangan merahnya. Pukulan beracun itu dapat membahayakan kita kalau kita tidak berhati-hati."
"Ang-tok-ciang (Tangan Beracun Merah) dari Iblis betina itu tentulah dilatih dengan menghisap darah bayi seperti yang pernah kita dengar dilakukan iblis betina itu. Ingin aku membuntungi kedua tangan merahnya!"
Kata pula Liong-li gemas, mengingat betapa tangan merah itu hampir menewaskan Pek-liong.
"Tentang Pek-bwe Coa-ong, dia memang lihai dengan tongkat ularnya. Akan tetapi dia kurang percaya kepada diri sendiri, lebih sering mengandalkan ular-ularnya. Kalau kita sudah dapat membasmi ular-ularnya, diapun menjadi gentar dan mudah dihadapi,"
Kata pula Pek-liong.
"Empat orang Thai-san Ngo-kwi juga selain golok mereka mengandalkan pukulan tangan merah yang panas, akan tetapi kiraku tidaklah seganas tangan merah Ang I Sian-li. Mungkin mereka itu menguasai Ang-hwe-ciang (Tangan Api Merah) akan tetapi bukan golok dan pukulan tangan merah itu yang membuat mereka kuat melainkan to-tin (baris an golok) mereka berempat. Kalau mereka maju berempat maka mereka dapat membentuk barisan dan bersatu dengan amat kuatnya, kiraku tidak kalah kuat dibandingkan seorang di antara Tiga Iblis Tua itu."
Pek-liong mengangguk-angguk.
"Sekali ini, kita menghadapi lawan yang berat dan berbahaya, apa lagi ditambah banyak anak buah mereka. Kita harus berhati-hati, akan tetapi kitapun tidak mungkin membiarkan sembilan orang itu menjadi tawanan mereka."
"Engkau benar, Pek-liong. Tidak boleh sembilan orang itu mati karena kita. Kita harus dapat menyelundup ke sana secepatnya dan menolong mereka."
Kini Pek-liong dan Liong-li sudah pulih kembali dari keadaan tidak wajar ketika perasaan mereka dicengkeram suatu getaran aneh yang membuat mereka hampir menjadi lemah.
Kini mereka kembali menjadi sepasang manusia yang seolah tidak lagi mempunyai perasaan, penuh kewaspadaan dan penuh semangat untuk mengalahkan musuh-musuh mereka!
Dan kalau mereka sudah seperti itu, sungguh tidak ada bahaya lebih besar dari pada menentang sepasang naga ini!
Kita tinggalkan dulu sepasang naga yang sedang mencari jalan menuruni bukit untuk kemudian mendaki lagi dari lain bagian ke sarang gerombolan dan kita tengok keadaan Cian Ciang-kun (Panglima Cian) atau Cian Hui yang karena kecerdikannya berhasil lolos dari perangkap yang dipasang tiga Iblis Tua sehingga dia dan isterinya tidak sampai menjadi tawanan mereka seperti halnya suami isteri Song Tek Hin dan Su Hong Ing berikut putera mereka, Song Cu.
Juga tidak seperti kakak beradik Kam Sun Ting dan Kam Cian Li.
Ketika Pek-liong menemuinya dan mendengarkan semua pengalamannya, kemudian Pek-liong meninggalkan rumahnya dan pendekar itu menolak ketika dia hendak membantu dengan pasukan, Cian Hui merasa tidak enak hati.
Tidak mungkin dia membiarkan saja para sahabatnya yang amat dikasihinya itu menghadapi bahaya besar.
Dia tahu bahwa sekali ini sisa Kiu Lo-mo pasti telah mempersiapkan diri.
Kalau mereka itu menghimpun banyak anak buah, bagaimana mungkin Pek-liong dan Liong-li berdua saja menghadapi dan melawan mereka?
Pula, para datuk sesat itu selain lihai juga curang dan tidak segan mempergunakan kelicikan, maka tentu saja dia amat mengkhawatirkan keselamatan kedua orang sahabatnya itu.
Setelah Pek-liong pergi, Cian Hui mengambil keputusan, bersama Cu Sui In isterinya, mengajak belasan orang jagoan istana yang menjadi sahabat-sahabat baiknya, pergi berangkat mencari sarang gerombolan di bukit Hek-san lembah Huang-ho.
Juga dia mengerahkan pasukan sebanyak tigaratus orang, pasukan pilihan, untuk berangkat ke sana karena dia menduga bahwa sekali ini, para musuh Pek-liong dan Liong-li tentu telah mempersiapkan anak buah yang cukup banyak maka mereka berani menantang kedua orang pendekar itu secara terang-terangan.
Karena membawa pasukan, tentu saja Cian Hui dan isterinya tidak dapat secepat Pek-liong tiba di tempat itu.
Dia lalu mengatur pasukannya, disebarnya penyelidik dan setelah menemukan sarang gerombolan, dia lalu mengepung tempat itu dengan pasukannya.
Dia sendiri bersama isterinya dan belasan orang jagoan kota raja mendaki ke sarang gerombolan dengan hati-hati.
Seregu pasukan ahli penyelidik alat-alat rahasia jebakan, telah lebih dahulu bergerak membersihkan dan membasmi jebakan-jebakan yang ada.
Semak-semak belukar yang mencurigakan dibabat habis dan dibakar, dan dibuat jalan setapak yang aman ke arah sarang untuk Cian Hui dan isterinya, sedangkan tigaratus orang pasukan itu mendaki dengan posisi mengepung.
Pagi hari itu, para anak buah gerombolan sibuk mempersiapkan sembahyangan di tepi tebing.
Panggung itu mereka selesaikan kemarin, dan segala persiapan untuk sembahyangan besar telah dibuat.
Semua anak buah gerombolan masih dalam suasana berpesta gembira untuk merayakan kemenangan mereka atas musuh besar mereka, yaitu Pek-liong-eng dan Hek-liong-li yang telah terjatuh ke dalam tebing jurang yang amat curam itu.
Sembilan orang tawanan dalam keadaan terbelenggu telah dikeluarkan dari dalam kamar tahanan dan diikat di batang pohon dekat panggung.
Song Tek Hin dan Su Hong Ing tidak takut menghadapi kematian, tidak gentar terhadap keselamatan diri sendiri, akan tetapi mereka gelisah sekali melihat Song Cu, anak mereka yang menangis karena anak itupun diikat kaki tangannya dan digeletakkan di dekat mereka.
Dapat dibayangkan betapa hancur rasa hati Su Hong Ing melihat keadaan puteranya, akan tetapi karena ia sendiri terikat kaki tangannya, ia tidak mampu berbuat apapun.
Suaminya, Song Tek Hin, mengepal tinju dengan marah sekali, akan tetapi juga tidak berdaya.
Kam Sun Ting dan adiknya, Kam Cian Li diikat pada batang pohon lain, demikian pula dua orang gadis pembantu Liong-li dan dua orang pembantu Pek-liong.
Delapan orang itu adalah orang-orang yang berjiwa pendekar.
Mereka tidak gentar menghadapi kematian dan yang membuat mereka gelisah hanyalah Song Cu anak berusia tiga tahun yang ikut menjadi tawanan, juga mereka gelisah memikirkan keadaan Pek-liong dan Liong-li.
Semalam muncul Kim Pit Siu-cai dan tempat tahanan dan laki-laki berusia enam puluh tahun yang masih tampan dan sikapnya halus namun kejam sekali ini berusaha membujuk Su Hong Ing dengan kata-kata yang kotor, tanpa memperdulikan tawanan lain yang ikut pula mendengarkan.
Kepada ibu muda itu, Kim Pit Siu-cai menghampiri dan tersenyum-senyum.
Bagi Kim Pit Siu-cai, Su Hong Ing merupakan wanita tercantik dan paling menggairahkan di antara empat orang wanita tawanan.
"Hemn, engkau cantik jelita, sungguh sayang kalau lehermu yang putih mulus itu dipenggal besok pagi,"
Katanya. Su Hong Ing memandang tajam.
"Aku tidak takut mati. Penggallah, siksalah, aku tidak takut. Hanya kuminta, demi prikemanusiaan, kalau kalian masih merasa menjadi manusia, bebaskan anakku! Dia tidak tahu apa-apa, dia baru berusia tiga tahun, bebaskan dia!"
Dan betapapun gagahnya, ibu muda ini tidak dapat menahan kegelisahannya dan iapun menangis!
Song Tek Hin yang ikut mendengarkan dan melihat, tidak menyalahkan isterinya yang menangis.
Dia sendiri ingin menangis kalau melihat bahaya maut mengancam puteranya yang masih kecil.
"Heh-heh-heh, nyonya manis. Mudah saja kalau engkau hendak menyelamatkan puteramu. Bersikaplah manis kepadaku, layani aku malam ini dan aku akan usahakan agar puteramu..."
"Jahanam busuk! Aku tidak sudi!"
Bentak Su Hong Ing dengan muka kemerahan dan mata melotot.
"Ha-ha-ha, engkau suka atau tidak, apa sukarnya bagiku untuk memondongmu ke kamarku, manis? Akan tetapi aku akan lebih suka kalau engkau melayaniku dengan suka rela..."
"Tidak!"
Keparat jahanam, iblis busuk! Kalau engkau jamah saja diriku, aku akan bunuh diri dan kalau engkau membunuh anakku, arwahku akan selalu mengejarmu dan mengganggumu!"
Mendengar ancaman ini, mau tidak mau Kim Pit Siu-cai bergidik juga.
Dia memandang kepada Kam Cian Li, juga kepada dua orang pembantu Liong-li.
Mereka bertiga ini juga cantik menarik, akan tetapi pandang mata mereka kepadanya tidak ada bedanya dengan pandang mata ibu muda itu, Tidak ada rasa takut atau menyerah sedikitpun dan dari pandang mata mereka saja tahulah dia bahwa kalau dia ingin menguasai mereka, dia harus menggunakan paksaan, harus memperkosa, dan kalau dia melakukan ini, mereka tentu akan membunuh diri.
Bagi orang-orang yang ahli silat seperti mereka, tidak sukar membunuh diri walau dalam keadaan terbelenggu sekalipun.
Dengan menggigit putus lidah sendiri, atau dengan menahan dan menelan napas.
Dan dia sendiri adalah seorang laki-laki yang angkuh, yakin akan ketampanan dan kepandaiannya merayu wanita.
Kalau sampai ada wanita menolaknya dan dia harus memperkosanya, hal itu akan merupakan pukulan bagi harga dirinya!
Sikap empat orang wanita itu sudah membuyarkan gairahnya dan malam itu lewat tanpa gangguan terhadap empat orang wanita itu.
Setelah Kim Pit Siu-cai pergi, Kam Cian Li berkata.
"Akupun akan membunuh diri kalau dia berani menjamahku."
Dua orang pembantu Liong-li juga menyetujui sikap itu.
Pada keesokan harinya, setelah matahari naik, sembilan orang tawanan itu sudah diikat di batang pohon dekat panggung tempat sembahyang.
Tiga orang Iblis Tua datang dan mereka menghampiri para tawanan.
Kim Pit Siu-cai memandang empat orang wanita yang semalam menolaknya dan dia pun tertawa.
"Ha-ha-ha, akan kulihat apakah kalian tidak meratap minta ampun kalau seorang demi seorang kami siksa dan kami bunuh untuk korban sembahyangan terhadap arwah para rekan kami."
"Hi-hik, biarpun anak itu bukan bayi lagi, darahnya masih cukup bersih. Berikan kepadaku, biar kuhisap darahnya sampai habis!"
Kata Ang I Sian-li dan Song Tek Hin bersama isterinya, meronta-ronta dalam ikatan mereka, namun sia-sia belaka. Ikatan itu terlampau kuat.
"Ang I Sian-li, dengarlah sumpah kami berdua, ayah ibu anak itu. Kalau engkau melakukan apa yang kaukatakan itu, kami bersumpah, setelah kami mati, arwah kami akan bersatu dan mengganggu siang malam, sampai engkau menjadi gila, menjadi tersiksa sedikit demi sedikit, sampai akhirnya engkau mampus dan arwah kami tetap akan mengejar arwahmu!"
Suara Song Tek Hin ini terdengar penuh perasaan dan amat menyeramkan bagi Ang I Sian-li sehingga wajah iblis betina ini menjadi agak pucat juga.
Pada jaman itu, orang-orang masih amat tahyul dan percaya benar bahwa apa yang disumpahkan itu tentu akan menjadi kenyataan.
Tentu saja hal ini membuat Ang I Sian-li merasa ngeri juga.
Pek-bwe Coa-ong kini berkata kepada para tahanan.
"Sebetulnya, secara pribadi kami tidak bermusuhan dengan kalian semua. Akan tetapi, kalian adalah sahabat-sahabat baik dari Pek-liong-eng dan Hek-liong-li. Kami tidak mendapatkan kenikmatan menyaksikan penderitaan mereka ketika tewas terjungkal ke dalam jurang. Maka, sebagai gantinya, kami ingin melihat kalian menderita dalam siksaan ketika kami bunuh, dan kami yakin bahwa arwah Pek-liong-eng dan Hek-liong-li juga akan melihat kalian tersiksa dan menderita karena kalian mati karena mereka!"
Pada saat itu , seolah-olah menjawab ucapan Pek-bwe Coa-ong, terdengar teriak-teriakan dan robohnya banyak anak buah gerombolan, disusul sorak sorai yang riuh rendah.
Tiga Iblis Tua itu menjadi terkejut, dan empat orang dari Thai-san Ngo-kwi yang lebih dahulu melihat datangnya penyerbuan itu, berteriak.
"Pasukan pemerintah...! Mereka mengepung kita...!!"
Gegerlah seketika keadaan di sarang gerombolan itu.
Anak buah gerombolan menjadi panik karena dari semua jurusan datang pasukan pemerintah yang besar jumlahnya.
Pek-bwe Coa-ong terkejut, akan tetapi bersikap tenang.
Bagaimanapun juga, kalau hanya menghadapi pasukan pemerintah, dia tidak gentar.
"Semua tenang, lawan dan bunuh mereka semua! Kita tidak akan kalah!"
Dia sendiri bersama dua orang rekannya, juga empat orang Thai-san Ngo-kwi, mengamuk dan begitu mereka bergerak, mereka merobohkan perajurit-perajurit yang menyerbu dengan mudah.
Hal ini membangkitkan semangat anak buah mereka.
Akan tetapi, kini muncul Cian Hui, Cu Sui In, dan belasan orang jagoan istana yang rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, sehingga tiga orang Iblis Tua itu dan empat orang murid keponakan mereka terkepung.
Sementara itu, pasukan sudah bertempur melawan anak buah gerombolan dan ternyata jumlah pasukan pemerintah hampir tiga kali lebih besar sehingga anak buah gerombolan segera terdesak hebat.
Mereka tidak dapat lari, karena tempat itu telah terkepung pasukan pemerintah.
Melihat keadaan ini, Tiga Iblis Tua menjadi panik juga.
Kim Pit Siu-cai yang cerdik segera berkata.
"Kita pergunakan tawanan menjadi sandera! Cepat!"
Mereka bertiga lalu memutar senjata sehingga para pengeroyok terpaksa mundur dan mereka segera berloncatan ke arah di mana tadi sembilan orang tawanan itu mereka ikat.
Akan tetapi ketika mereka tiba di sana, mereka memandang dengan mata terbelalak, seolah tidak percaya akan apa yang mereka lihat!
Pek-liong-eng Tan Cin Hay dan Hek-liong-li Lie Kim Cu telah berdiri di situ, semua tawanan telah terlepas dari ikatan, bahkan kini delapan orang tawanan dewasa telah memegang sebatang pedang dan anak kecil itu telah berada dalam gendongan ibunya dengan aman!
Dan di sekitar tempat itu.
belasan penjaga telah roboh dan tewas!
Memang ketika Pek-liong dan Liong-li tiba di tempat itu, setelah melakukan perjalanan semalam suntuk, mereka mendengar suara ribut-ribut orang bertempur.
Cepat mereka lari naik dan dengan girang mereka melihat bahwa Cian Hui telah menyerbu sarang gerombolan itu dengan banyak sekali pasukan pemerintah.
Tentu saja mereka lebih mementingkan menolong para tawanan lebih dahulu.
Mereka melihat para tawanan itu diikat di batang pohon dekat tebing jurang di mana telah dibangun sebuah panggung tempat upacara sembahyang.
Belasan orang anak buah gerombolan menjaga tempat itu.
Dengan mudah mereka merobohkan belasan orang itu dengan pedang mereka, membebaskan para tawanan, mengambil pedang dari anak buah gerombolan yang roboh dan kini mereka semua telah memegang senjata, siap untuk membasmi gerombolan!
Liong-li tersenyum manis ketika melihat Tiga Iblis Tua itu.
Juga Pek-liong tersenyum.
Di lain pihak, tiga orang itu terbelalak dan wajah mereka menjadi pucat.
Mereka seperti bertemu setan di tengah hari.
Dua orang musuh besar yang tadinya mereka yakin tentu mati terbanting remuk di dasar jurang, tiba-tiba kini muncul, membebaskan semua tawanan dan berdiri menghadapi mereka dengan pedang pusaka masing-masing di tangan!
Pada saat itu, terdengar suara Cian Ciang-kun membentak dengan lantang sekali, terdengar oleh semua orang yang sedang bertempur.
"Kami telah mengepung tempat ini dengan ratusan orang perajurit! Yang melawan akan ditumpas dan dibunuh habis! Menyerahlah, dan kami tidak akan membunuh kalian, hanya menangkap dan menghadapkan kalian ke pengadilan!"
Teriakan ini amat berpengaruh.
Para anak buah gerombolan memang sudah panik karena mereka melihat betapa pasukan itu berjumlah besar sekali sehingga tiap orang anak buah gerombolan dikeroyok tiga-empat orang perajurit.
Kalau mereka melawan terus, jelas mereka semua akan mati konyol.
Oleh karena itu, banyak di antara mereka yang melempar senjata dan menjatuhkan diri berlutut, menakluk!
Empat orang Thai-san Ngo-kwi membentak-bentak memberi aba-aba kepada anak buah mereka untuk melanjutkan perlawanan, namun perintah mereka tidak dihiraukan lagi karena para anak buah gerombolan itu tidak ingin mati konyol.
Mereka yang menakluk segera dilucuti senjatanya dan diborgol, dan kepungan para perajurit di tempat itu menjadi semakin ketat.
"Cian Ciang-kun, terima kasih, engkau telah menyelamatkan para tawanan!"
Kata Liong-li girang sekali. Cian Hui hanya mengangguk, lalu sekali lagi membentak, ditujukan kepada Tiga Iblis Tua dan empat Thai-san Ngo-kwi.
"Sekali lagi, menyerahlah kalian semua sebelum kami terpaksa menggunakan kekerasan!"
Tiba-tiba Kim Pit Siu-cai tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, kiranya Pek-liong-eng dan Hek-liong-li hanyalah dua orang pengecut yang mempergunakan kekuatan pasukan pemerintah untuk mengepung dan mengeroyok kami!"
"Liong-li, kalau memang engkau benar pendekar wanita yang memiliki keberanian, mari kita bertanding satu lawan satu, tidak menggunakan keroyokan!"
Kata pula Pek-bwe Coa-ong. Liong-li tertawa.
Baca Juga: Bu Kek Siansu 2
Baca Juga: Jodoh Rajawali 9