Ceritasilat Novel Online

Kisah Tiga Naga Sakti 11

Eps 11 Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo.

Di antara limapuluh orang ini terdapat tujuh orang wanitanya yang juga kelihatan bengis Mereka itu jelas membayangkan kekerasan seperti biasa orang-orang golongan hitam di dunia kangouw.

Dan memang demikianlah adanya.

Mereka adalah sisa-sisa orang Beng-kauw yang lari kocar-kacir karena diserbu dan dihancurkan oleh lm yang pai yang dibantu oleh Ling Ling.

Dalam penyerbuan itu, tiga orang ketua mereka tewas semua, bahkan murid-murid utama Beng-kauw juga tewas sehingga yang tinggal hanyalah murid-murid kelas menengah saja dan para anggauta rendahan.

Mereka ini berhasil melarikan diri setelah lebih dari setengah jumlah mereka roboh dan tewas dalam pertempuran itu.

Dan kini, limapuluh orang ini bersembunyi di dalam hutan lebat, tidak berani keluar karena mereka maklum bahwa kalau bertemu dengan orang orang Im yang pai tentu mereka akan dibunuh.

Mereka hidup liar di dalam hutan-hutan itu, makan seadanya, tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang hutan yang dapat mereka tangkap, dan ada kalanya mereka juga berhasil merampok orang-orang yang kebetulan lewat di dekat hutan atau merampok penduduk dusun-dusun kecil terpencil yang miskin sehingga tidak begitu menghasilkan.

Untung bagi mereka bahwa mereka itu dibantu oleh Hek-houw Ma Siok, yaitu hartawan yang tinggal di dusun dekat An-kian, hartawan yang menjadi murid mendiang Hek-bin Sai-kong sehingga mereka tidak sampai kelaparan.

Pagi hari itu, selagi mereka bercakap-cakap dan mencari jalan untuk memperbaiki nasib mereka, tiba-tiba datang dua orang di antara mereka berlari lari dan membawa berita yang amat mengherankan, yaitu bahwa ada seorang wanita cantik sekali lewat di dekat hutan itu seorang diri!

"Huh, buat apa wanita cantik?

Paling-paling dia orang dusun yang mencari kayu, dan kalau kalian hendak berbuat tidak patut, aku akan menentang kalian karena hal itu akan membuat keadaan kita akan terancam lagi,"

Kata seorang di antara tujuh orang wanita itu yang merupakan tokoh-tokoh kelas menengah dari Beng-kauw.

"Akan tetapi, dia tidak kelihatan seperti orang dusun, pakaiannya indah dan dia memakai perhiasan gelang emas, dan dia sedang berjalan sambil menangis!"

Kata pelapor tadi. Mendengar ini, bangkitlah semangat mereka, bahkan mendengar "gelang emas"

Tujuh orang wanita Beng-kauw itupun menjadi penuh perhatian.

"Mari kita lihat!"

Kata seorang di antara mereka, seorang laki-laki berusia lima puluh tahun dengan muka penuh brewok dan bermuka bopeng.

Dia ini sekarang menjadi pimpinan karena dia merupakan murid Beng-kauw yang terhitung paling pandai di antara mereka, dan biarpun tidak secara sah dia diangkat menjadi kepala, namun gerombolan liar yang kehilangan pimpinan itu takut dan tunduk kepada orang yang terkuat ini.

Maka berangkatlah limapuluh orang ini beramai-ramai ke arah yang ditunjukkan oleh dua orang pelapor tadi dan tak lama kemudian mereka sudah mengepung seorang wanita cantik yang berjalan perlahan sambil menangis.

Wanita itu bukan lain adalah Bu Siauw Kim atau bekas ketua Im-yang kauw!

Setelah menemukan kesenangan yang amat pendek umurnya dengan Gin San, kembali wanita ini merana, sekali ini malah lebih hebat lagi karena selain ditinggalkan kekasih, juga dia kehilangan segala-galanya!

Kehilangan kedudukan, kehilangan perkumpulan, kehilangan segala-galanya.

Dia tidak tahu apa jadinya dengan Im-yang-pai dan bagaimana pula dengan nasib ayahnya, akan tetapi mengingat akan kelihaian tiga orang muda yang benar benar memiliki kesaktian bebat itu, sedikit harapan ayahnya akan masih hidup.

Maka, karena merasa berduka akan nasibnya, dia menangis seorang diri, tidak tahu harus pergi ke mana!

"Hei, nona, berhenti dulu!"

Bentakan ini membuat Bu Siauw Kim mengangkat muka memandang dan ternyata dia telah dikepung oleh kurang lebih limapuluh orang yang kelihatan liar-liar.

Diapun sudah tahu tadi bahwa ada banyak orang menghampirinya akan tetapi karena sedang tenggelam dalam kesedihannya, dia tidak perduli.

Kini, melihat begitu banyaknya orang yang liar, dia menduga bahwa mereka tentulah perampok-perampok.

Akan tetapi, dia mengenal cara berpakaian beberapa orang yang kelihatan seperti saikong atau.

tosu itu, maka timbul pertanyaan di hatinya dari golongan mana gerangan orang-orang ini.

Kemudian timbul keinginan untuk menundukkan orang-orang ini agar dia bisa mendirikan sebuah perkumpulan lagi, duduk sebagai ketuanya dan dilayani oleh banyak orang yang berada di bawah kekuasaannya!

Pikiran inilah yang menyelamatkan semua orang itu, karena kalau tidak ada keinginan ini, kiranya dalam keadaan marah dan sedih itu mudah saja bagi Bu Siauw Kim untuk membunuh mereka semua!

"Berlututlah kalian semua dan angkat aku sebagai kepala, aku akan memberi kehidupan yang lebih baik kepada kalian!"

Katanya sambil mengusap kering bekas air matanya.

Tidak ada seorangpun di antara mereka yang menduga bahwa wanita ini adalah bekas ketua im-yang-kauw, dan melihat wanita yang menangis seorang diri dan kelihatan lemah ini, tentu saja ucapan wanita itu memancing ketawa mereka.

"Ha-ha-ha, engkaulah yang harus berlutut di depan kakiku, nona. Dan melihat engkau cukup cantik, kalau engkau menjadi isteriku, tentu kawan-kawanku tidak keberatan menerimamu sebagai seorang di antara kita, ha-ha!"

Si muka bopeng yang sebagian tertutup brewok itu berkata sambil tertawa karena memang dia amat tertarik akan kecantikan yang menonjol ini.

Bu Siauw Kim memandang kepada si brewok, lalu tersenyum.

Bukan main manisnya senyum ini, membuat mereka yang memandang menjadi makin tertarik.

"Engkaukah kepala gerombolan ini? Siapa namamu?"

"Aku bernama Tiat-thouw houw (Macan Kepala Besi) Ma Li Thong!"

Jawab laki-laki itu dengan dada dibusungkan. Memang dadanya tebal dan lebar, tubuhnya seperti raksasa dan nampaknya kuat sekali.

"Akulah yang memimpin kawan-kawanku ini"

"Aku mau menjadi isterimu kalau dalam sepuluh jurus engkau mampu merobohkan aku!"

Jawab Bu Siauw Kim.

"Sebaliknya kalau tidak, engkau dan kawan-kawanmu ini harus berlutut dan mengangkat aku menjadi kepala kalian."

Ma Li Thong tertawa bergelak diikuti oleh teman-temannya, Ma Li Thong adalah seorang laki-laki yang amat kuat, dikeroyok oleh sepuluh orang laki.laki biasa saja masih akan menang, apa lagi harus melawan wanita ini dalam sepuluh jurus!

"Ha-ha-ha, sayang dong kalau harus merobohkanmu, tentu kulitmu yang putih halus itu akan lecet-lecet dan aku nanti yang rugi!

Begini saja, dalam satu jurus aku akan dapat menangkap dan memelukmu.

Akur?"

Kembali semua orang tertawa dan Bu Siauw Kim juga tersenyum.

"Kalau dalam satu jurus engkau roboh dan tak dapat bangkit lagi bagaimana?"

"Ha ha, kita lihat saja. Nah, sudah siapkah engkau?"

Ma Li Thong berseru. Bu Siauw Kim berdiri biasa saja karena dia sudah tahu bahwa calon lawan ini hanya lagaknya saja hebat akan tetapi sebetulnya tidak berisi.

"Mulailah!"

Tantangnya. Dia melihat si bopeng itu berdiri dengan kedua kaki terpentang, kedua lengan dikembangkan lebar seperti seekor biruang hendak menerkam. Dia pura-pura tidak tahu akan bahaya dan diam saja.

"Lari ke mana kau?"

Tiba-tiba Ma Li Thong berseru sambil menerkam ke depan, kedua lengannya menyambar dari kanan kiri, dipandang oleh kawan-kawannya dengan mata penuh kegembiraan, karena mereka sudah bernafsu ingin melihat wanita cantik itu dipeluk oleh si bopeng yang tinggi besar itu!

Akan tetapi, sebelum si bopeng itu dapat menyentuh wanita itu, tiba-tiba saja dia terpental ke belakang dan roboh terbanting, menggereng dan mengaduh-aduh karena dalam sekejap mata tadi, ujung kaki yang kecil dari Siauw Kim telah menendangnya, sekali pada perutnya dan sekali lagi, perlahan saja, pada bawah pusarnya yang mendatangkan rasa sakit bukan main, sampai kiut-miut rasanya menyusup ke tulang sumsum, membuat dia mendekap anggauta tubuh yang seperti akan pecah rasanya itu sambil meringis.

Seorang anggauta wanita Beng-kauw yang.

sudah berusia limapuluh tahun lebih, tiba-tiba saja mengeluarkan seruan nyaring.

"Dia itu adalah Im-yang-kauwcu! Serang""..!!"

Kiranya anggauta Beng-kauw wanita ini sudah pernah melihat Bu Siauw Kim.

Kalau tadi dia tidak mengenalnya adalah karena biasanya sebagai ketua Im-yang-kauw, Bu Siauw Kim mengenakan baju sutera serba putih dengan sabuk hitam.

Akan tetapi kini wanita cantik itu mengenakan pakaian serba hijau maka dia tidak mengenalnya.

Baru setelah Bu Siauw Kim bergerak dan memperlihatkan kelihaiannya yang luar biasa, yaitu dalam segebrakan saja mampu merobohkan Ma Li Thong, wanita ini segera mengenalnya!

Dan memang Bu Siauw Kim telah berganti pakaian hijau, tidak mau dia mengenakan pakaian ketua Im-yang kauw lagi yang mudah dikenal orang dalam perjalanannya yang tanpa tujuan itu.

Mendengar seruan itu, semua orang terkejut dan Ma Li Thong melupakan rasa nyeri yang hebat itu lalu berteriak teriak menyuruh kawan-kawannya untuk maju mengeroyok, sedangkan dia sendiri bangkit berdiri, bukan untuk bantu mengeroyok karena dia masih terus mendekap bawah pusarnya yang masih sakit itu.

Limapuluh lebih orang itu lalu mencabut senjata masing-masing dan maju mengeroyok Bu Siauw Kim.

"Apakah kalian sudah bosan hidup dan tidak mau menyerah kepadaku?"

Bentak Bu Siauw Kim.

Akan tetapi orang-orang Beng kauw yang merasa amat sakit hati itu mana mau tunduk?

Apa lagi karena mereka yakin bahwa tidak mungkin ketua Im-yang kauw mau mengampuni mereka, maka dari pada mati konyol lebih baik mati melawan mengandaikan banyak orang!

Bu Siauw Kim merasa gemas juga dan dia membagi-bagi tamparan yang cukup membuat mereka itu roboh malang melintang tanpa membunuhnya Tiba tiba nampak bayangan orang berkelebat dan seorang laki laki menerjangnya, Bu Siauw Kim yang mengira bahwa orang ini tentu seorang di antara para pengeroyoknya, membalik dan menampar ke arah pundak orang itu.

"Plakk!"

Orang itu menangkis dan akibatnya, keduanya terdorong ke belakang dan keduanya sama-sama kaget.

Bu Siauw Kini cepat melompat ke belakang dan memandang, Kiranya yang baru datang dan menangkisnya ini adalah seorang laki-laki yang usianya kurang lebih limapuluh tahun, pakaiannya jubah pendeta namun mewah dan dari kain sutera halus, di pinggangnya terselip sebatang tongkat emas dan wajah pria ini tampan dan gagah!

Terkejutlah Bu Siauw Kim, sebaliknya, pria itupun kelihatan terkejut dan kagum memandang Bu Siauw Kim yang cantik.

Akan tetapi, pria itu lalu menoleh kepada orang-orang yang tadi mengeroyok wanita cantik itu, lalu dia bertanya dengan suara halus penuh wibawa.

"Aku mencari orang-orang Beng-kauw kabarnya berkumpul di hutan ini. Apakah kalian ini sisa anggauta Beng-kauw?"

Ma Li Thong yang kini sudah tidak menderita lagi, anggauta tubuh yang tertendang tadi tidak begitu nyeri lagi, melangkah maju. Dia mengandalkan kawan-kawannya yang banyak, dan dia lalu menjawab gagah.

"Kalau benar demikian, mengapa? Siapakah engkau?"

"Aku adalah ketuamu yang baru!"

Jawab pria itu dan dia sudah mengeluarkan sebuah bendera berwarna putih yang berkilauan seperti perak!

Melihat bendera ini, serta-merta semua orang anggauta Beng-kauw itu menjatuhkan diri berlutut dan mulut mereka menyebut.

"Kauwcu yang mulia"".!"

"Ketahuilah bahwa aku sengaja datang dari Beng-kauw pusat di selatan untuk memimpin kalian setelah Beng-kauw di utara berantakan dan ketua kalian telah tewas semua. Mulai saat ini, aku Pek-ciang Cin-jin Ouw Sek menjadi ketua kalian."

"Hidup kauwcu"".!"

Ma Li Tong berseru dan kawan-kawannya semua lalu berteriak.

"Hidup""..!"

Mereka kelihatan gembira sekali karena kini memperoleh seorang ketua baru.

"Kauwcu, jangan lepaskan wanita itu, dia adalah Im yang kauwcu! Perkumpulan kami dibinasakan oleh Im-yang-kauw, maka harap kauwcu suka membalaskan dendam sakit hati kami terhadap perempuan yang menjadi ketua Im-yang-kauw ini!"

Pria itu memang Ouw Sek.

Seperti kita ketahui Ouw Sek yang hendak merebut kedudukan kauwcu di Beng kauw pusat, yaitu di selatan, telah gagal oleh munculnya Coa Gin San yang tidik diduga-duganya.

Karena tidak ingin dikeroyok, apa lagi di sana ada Gin San yang amat lihai, bahkan seimbang dengan dia, terpaksa dia melarikan diri ke utara membawa bendera keramat sebagai senjata untuk merebut kedudukan ketua di Beng-kauw utara.

Akan tetapi, begitu tiba di utara, dia mendengar bahwa Beng-kauw telah berantakan dan hancur oleh serbuan Im yang-kauw, dan bahwa sisa anggauta Beng-kauw telah lari cerai-berai.

Tentu saja dia menjadi kecewa sekali.

Apa artinya ketua tanpa anggauta?

Apa artinya memegang bendera keramat kalau tidak akan ada yang memuja dan mentaatinya?

Dia harus mencari para anggauta itu, sisa orang-orang Beng-kauw.

Maka dia lalu melakukan penyelidikan dan berkat kepandaiannya yang tinggi, akhirnya dia dapat menemukan sisa orang-orang Beng-kauw itu, tepat pada saat orang-orang itu mengeroyok Bu Siauw Kim.

Mendengar ucapan Ma Li Thong itu, Ouw Sek terkejut bukan kepalang.

Cepat dia memutar tubuh dan kini dia berdiri berhadapan dengan Bu Siauw Kim, sepasang matanya yang berminyak atau mata keranjang itu menjelajahi wanita itu dari ujung rambut sampai ke kaki dan diam-diam dia memuji karena kagum mendapatkan seorang wanita yang benar benar amat cantik dan sudah "matang"

Akan tetapi kalau wanita ini benar-benar ketua Im-yang-kauw, berarti dia berhadapan dengan musuh besar.

Dan tadi, dalam pertemuan tenaga, dia tahu bahwa wanita ini bukan orang sembarangan.

Di lain fihak, Bu Siauw Kim juga memandang kepada Ouw Sek dengan pandang mata menilai dan mengukur.

Pria ini tentu memiliki ilmu yang tinggi, pikirnya, dan buyarlah harapannya untuk dapat memaksa orang-orang ini menjadi anak buahnya.

Tapi, kalau dia dapat bekerja sama dengan pria ini, bukankah baik sekali itu?

Pria ini cukup tampan dan gagah, dan sudah "matang", tidak hijau seperti Gin San atau bahkan Gan Beng Han sekalipun.

Dari sinar matanya saja tahulah dia bahwa pria ini akan lebih senang bersahabat dengan dia daripada bermusuh.

Kerling mata dan senyumnya itu begitu penuh janji mesra!

"Toanio, benarkah laporan anak buahku bahwa engkau adalah Im-yang-kauwcu?"

Ouw Sek bertanya tanpa menghentikan kerling memikat dan senyum kagum itu.

Bu Siauw Kim juga tersenyum dan memang wanita ini manis sekali kalau tersenyum, seperti seorang gadis remaja saja, padahal usianya, belum tentu lebih muda dari usia Ouw Sek!

"Kiranya aku berhadapan dengan Beng-kauwcu yang baru!"

Katanya dengan suara halus.

"Memarg benar, tadinya aku adalah ketua Im-yang kauw, akan tetapi sekarang tidak lagi! Sekarang aku hanyalah seorang wanita yang kehilangan kedudukan dan yang mendendam kepada pemerintah! Im-yang-kauw telah dihancurkan oleh pasukan pemerintah!"

"Ah, begitukah? Memang Beng-kauw dan Im-yang-kauw di utara ini telah bersikap tolol saling bermusuhan, padahal alangkah baiknya kalau bekerja sama dan menghadapi pemerintah bersama-sama, tentu lebih kuat. Bukankah kaupikir demikian, toanio?"

"Ya begitulah, akan tetapi apa gunanya semua itu? Im-yang-kauw telah hancur, dan Beng kauw pun sudah berantakan! Lihatlah sisa anak buahmu itu, tidak ada harganya sama sekali!"

Ouw Sek menengok dan tertawa.

"Apa sukarnya kalau kita bangun kembali? Bagaimana kalau kita bekerja sama untuk membangun kembali perkumpulan yang kuat?"

"Apa maksudmu dengan bekerja sama itu?"

Bu Siauw Kim bertanya dan dua orang itu bicara sambil tersenyum, seolah-olah dua orang sahabat lama yang merundingkan sesuatu, padahal di balik senyum itu terdapat penilaian masing-masing untuk dapat saling mengalahkan!

"Ah, mudah sekali, toanio.

Aku adalah Beng-kauwcu dan kalau engkau mau bekerja sama engkau dapat kuangkat menjadi wakilku atau pembantuku."

"Hemm, agama kita seperti bumi langit jauh bedanya."

"Eh, engkau masih mengukuhi agamamu toanio? Aku sendiri tidak mengukuhi Agama Beng-kauw, yang penting bagiku adalah membangun kembali perkumpulan kita. Engkau boleh mempelajari Beng-kauw dan aku belajar tentang Im-yang-kauw darimu, kemudian kita ambil yang bermanfaat dan menggabungkan keduanya itu, bukankah itu baik sekali? "Bu Siauw Kim tertawa. Dia sendiri sejak dulu juga tidak begitu tegas soal agama, tidak seperti susioknya, Cin Beng Thiancu maka ucapan ketua Beng kauw yang baru ini amat menyenangkan hatinya.

"Baiklah, mari kita bertaruh."

"Bertaruh bagaimana maksudmu?"

Kita berdua bisa menjadi ketua dan pembantunya, hanya soalnya siapa yang akan menjadi ketua dan siapa pembantunya. Hal ini baru jelas kalau kita sudah bertanding, bukan?"

"Ha-ha ha, bagus sekali! Pandangan toanio amat tepat dan cocok sekali dengan aku. Baik, mari kita tentukan siapa yang patut menjadi ketua dan siapa pembantunya."

Bu Siauw Kim lalu melolos sabuk hitam yang disembunyikan di balik bajunya dan sekali dia mengebut, sabuk itu meluncur ke udara dan membuat gerakan seperti seekor naga melayang-layang amat indahnya sehingga para anggauta Beng-kauw yang merasa gembira karena kini memperoleh seorang ketua baru itu bersorak memuji.

"Bagus, senjata toanio amat hebat"

Ouw Sek yang memang pandai merayu wanita itu memuji dan diapun sudah mencabut tongkat emasnya yang berkilauan.

Ketika semua anggauta Beng-kauw melihat tongkat itu, agaknya baru sekarang mereka menduga bahwa tongkat itu terbuat dari pada emas, maka di sana-sini terdengar seruan kagum bukan main.

Tongkat seberat itu terbuat dari pada emas, tentu luar biasa mahal harganya!

"Mulailah, toanio!"

Ouw Sek mempersilakan sambil melintangkan tongkat emas yang panjangnya hanya selengan itu ke depan dada.

"Lihat serangan!"

Bu Siauw Kim berseru dan cambuknya berputar putar di udara, kemudian mengeluarkan ledakan dua kali dan ujung cambuk itu sudah melecut ke arah jalan darah di leher lawan "Bagus!"

Ouw Sek cepat mengelak dengan gerakan kaki mendekat, lalu tongkatnya meluncur ke depan, menusuk ke arah lambung lawan.

Namun Bu Siauw Kim dapat mengelak pula sambil menggerakkan kaki mundur menjauh dan ujung cambuk dari sabuk itu kembali telah melecut-lecut, kini sekaligus mengirim serangan totokan tujuh kali berturut-turut yang amat hebat dan berbahaya sekali!"

"Hmmm"""..!"

Diam-diam Ouw Sek kagum juga.

Memang wanita ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, cukup tinggi dan dapat diandalkan untuk menjadi pembantunya, pikirnya.

Diapun mengeluarkan kepandaiannya, tidak mau mengelak melainkan menangkis dengan tongkatnya, membuat ujung sabuk itu terpental dan ada tiga kali totokan yang diterimanya begitu saja oleh tubuhnya.

Bu Siauw Kim terkejut bukan main.

Totokan totokan yang diterima oleh tubuh lawan itu adalah totokan sabuknya yang amat kuat, apa lagi yang kena totok adalah jalan darah yang mematikan, akan tetapi ketika ujung sabuknya mengenai tubuh lawan, sabuknya tergetar hebat dan terpental kembali.

Tahulah dia bahwa lawannya ini memiliki sinkang yang amat kuat sehingga dia berani melindungi jalan darah itu dengan sinkangnya dan ternyata totokan sabuknya memang terpental.

Bukan main!

Akan tetapi wanita ini biarpun sudah tahu bahwa lawannya amat lihai, tidak menjadi jerih dan tidak mau mengalah begitu saja.

Sabuknya masih terus berputaran dan meledak-ledak mengirim serangan, dan kini dia membantu sabuknya itu dengan pukulan tangan kiri yang menggunakan Ilmu Thian lui-sin-ciang, pukulan kilat yang berhawa panas sekali!

Namun kembali dia kecele, karena pukulan pertama ditangkis oleh Ouw Sek yang hendak mengukur sampai di mana kehebatan pukulan itu dan tangkisan ini membuat Bu Siauw Kim terhuyung, kemudian ketika pukulan Thian-lui-sin-ciang yang ke dua datang, pria itu menerima pukulan itu dengan dadanya begitu saja.

"Dukkkl"

Dan akibatnya, kembali Bu Siauw Kim""..

terpental sedangkan yang dipukul tidak apa-apa!

Benar-benar kagumlah Bu Siauw Kim.

Ternyata pria ini memiliki tingkat ilmu kepandaian yang luar biasa hebatnya, lebih hebat dari pada Coa Gin San agaknya!

Kini maklumlah Bu Siauw Kim bahwa dia tidak akan menang melawan pria ini, maka dia mengeluarkan pekik nyaring dan tiba tiba nampak sinar merah, dan saputangannya yang merah telah dikebutkannya.

Saputangan merah ini mengandung racun dan kalau hawanya yang harum itu tercium lawan, tentu lawan akan roboh pingsan.

Entah sudah berapa banyaknya lawan .yang roboh oleh saputangan ini.

"Aduh. harumnya"".!"

Ouw Sek malah menyedot-nyedot hidungnya sambil tersenyum, dan sama sekali tidak roboh!

Melihat ini, Bu Siauw Kim lalu menggerakkan sabuk hitamnya yang meluncur seperti seekor ular dan membelit leher pria itu seperti buntut ular, membelit dengan kuatnya dan berusaha untuk mencekik leher itu.

Akan tetapi, tiba tiba Ouw Sek tertawa dan dia menggerakkan tubuhnya berpusing sehingga sabuk itu melibat-libat lehernya dan dengan sendirinya tubuhnya kini mendekati Siauw Kim.

Melihat ini, Siauw Kim terkejut sekali dan cepat dia mengangkat tangan kirinya untuk memapaki tubuh yang mendekat dan berpusingan itu dengan pukulan Thian lui-sin-ciang ke arah kepala, karena dia tidak mau memukul bagian badan lain yang dapat dilindungi kekebalan.

Akan tetapi tubuh yang kini sudah berada dekat sekali di depan Siauw Kim itu, tiba-tiba berhenti dan tangan kiri Ouw Sek digerakkan menangkap pergelangan tangan kiri wanita itu sehingga Siauw Kim tidak mampu bergerak lagi.

Tangan kanan wanita itu memegang ujung sabuk dan tangan kirinya tertangkap sehingga dia tidak berdaya.

Sementara itu, dengan tangan kanannya Ouw Sek sudah menotokkan tongkat emasnya dua kali, tepat mengenai ujung buah dada kiri dari wanita itu.

Hampir Siauw Kim menjerit karena tahu bahwa dia tentu akan tewas seketika.

Akan tetapi totokan itu hanya mendatangkan rasa geli pada kedua buah dadanya, maka tahulah dia bahwa lawan itu tidak menotoknya, melainkan hanya menyentuh saja dengan halus Dan dia makin kagum karena yakin akan kepandaian pria itu.

"Aku..."

Aku mengaku kalah""."

Katanya dengan muka merah karena selain dia merasa jengah akan kekalahannya yang membuat di sama sekali tidak berdaya itu, juga dua kali sentuhan ke buah dadanya tadi jelas memperlihatkan keinginan hati pria itu!

"Ha-ha-ha, engkau hebat, toanio.

Engkau patut menjadi pembantuku!

Heii, kalian semua lihat baik-baik.

Dia ini adalah pembantu utamaku, dan jangan ada yang menganggapnya sebagai ketua Im-yang-kauw.

Siapa berani mengungkat-ungkat soal Im-yang-kauw, akan kuhukum mati!"

Semua anggauta Beng-kauw mengangguk-angguk dan merekapun merasa girang bahwa wanita yang demikian lihainya itu kini menjadi pembantu ketua mereka yang ternyata lebih lihai lagi itu.

"Toanio, siapakah namamu? Aku tadi sudah nemperkenalkan nama kepada para anggauta kita, yaitu Pek-ciang Cin jin Ouw Sek."

"Namaku adalah Bu Siauw Kim."

"Baiklah, Siauw Kim, sebagi pembantuku kusebut namamu saja, lebih akrab, bukan? Dan engkau boleh menyebutku kauwcu, dan semua anggauta harus menyebutmu Bu-toanio."

Ketua baru ini bersama Siauw Kim lalu berunding dan mendengarkan penuturan para anggauta Beng-kauw itu tentang sepak terjang Beng-kauw sebelum dihancurkan.

Betapa Beng-kauw yang berada di utara di bawah bimbingan mendiang tiga orang ketuanya itu telah mengadakan hubungan yang.

erat sekali dengan orang-orang Tibet dan orang-orang Khitan yang memiliki bala tentara amat kuat dan sudah siap di perbatasan utara.

Juga para anggauta itu menyebut nama Hek houw Ma Siok di luar kota An-kian yang merupakan murid Beng-kauw yang setia dan cukup kaya raya.

Maka dipanggillah Ma Siok ke dalam hutan itu dan kemudian dengan bantuan hartawan muda ini, dan juga uang emas simpanan Ouw Sek dan Siauw Kim, dibangunlah sebuah perkampungan di dalam hutan itu dan jadilah sarang Beng-kauw yang baru.

Dan Ouw Sek membuka pintu Beng-kauw selebarnya bagi para anggauta baru sehingga berbondong-bondong masuklah orang-orang dari golongan kang-ouw dan liok-lim yang tertarik untuk menjadi anak buah dari dua orang yang sakti itu.

Sebentar saja jumlah anggauta mereka dari limapuluh orang telah meningkat menjadi hampir tigaratus orang!

Ouw Sek mulai mengadakan kontak hubungan dengan golongan Tibet dan Khitan.

Mereka ini menjadi girang mendengar bahwa Beng-kauw yang sudah hancur berantakan itu kini bangkit lagi, bahkan memiliki ketua baru yang kabarnya malah lebih lihai dari pada mendiang tiga orang ketua Beng-kauw itu, dan ketua baru ini adalah seorang tokoh Beng-kauw dari selatan, yaitu pusat dari Beng kauw.

Maka, dengan girang Ba Mou Lama lalu mengirim surat undangan kepada ketua Beng-kauw ini untuk datang mengadakan pertemuan dengan para tokoh persekutuan mereka karena ada hal penting yang perlu dibicarakan.

Tempat pertemuan yang ditunjuk ini adalah di sebuah gedung di puncak bukit di Pegunungan Tai-hang san, dan gedung ini adalah satu di antara tempat-tempat peristirahatan dari Thio.thaikam di istana!

Karena itu, maka pertemuan ini tentu saja tidak menimbulkan kecurigaan orang, apa lagi tempat itu memang amat sunyi.

Menerima undangan ini, Pek-ciang Cin-jin Ouw Sek menjadi bangga dan girang sekali, dan tentu saja dia mengajak pembantunya, yaitu Bu Siauw Kim yang pada waktu itu bukan hanya menjadi pembantunya yang setia, akan tetapi juga menjadi "kekasihnya".

Ternyata dua orang ini cocok sekali dan dalam diri masing-masing mereka menemukan seorang kawan dan lawan yang amat seimbang dan cocok, sehingga hubungan mereka menjadi makin mesra dan akrab saja!

Baru sekarang Siauw Kim merasa terbuka matanya bahwa pria-pria yang ditemukannya sebelum ini, sungguhpun banyak di antara mereka yang amat dicintanya, namun tidak ada yang cocok dengan dia.

Baru Ouw Sek inilah merupakan pria yang benar-benar cocok segala-galanya, sama pula seleranya, sehingga dia merasa memperoleh tempat berteduh atau perlindungan yang boleh dipercaya.

Hal ini tidaklah aneh karena baru sekarang Siauw Kim menemukan seorang kekasih yang sebaya usianya, maka tentu saja selera mereka juga tidak banyak berbeda, apa lagi karena keduanya memang menjadi hamba nafsu berahi, dan juga mempunyai ambisi besar dan keduanya selalu mengejar kesenangan duniawi.

Maka cocoklah rnereka sebagai pasangan, baik pasangan untuk menghadapi lawan di luar maupun sebagai pasangan di dalam kamar .

Ouw Sek dan Siauw Kim jalan berdampingan mendaki jalan naik ke arah puncak bukit itu.

Keadaan di situ sunyi sekali, nampaknya tidak ada seorangpun manusia di situ.

Akan tetapi kedua orang ini dengan kepandaiannya yang tinggi dapat mengerti bahwa di balik pohon-pohon, batu-batu besar dan semak-semak, banyak terdapat orang-orang yang siap dengan anak panah dan senjata-senjata lain, merupakan penjaga peniaga tersembunyi sehingga tempat itu menjadi menyeramkan.

Ketika mereka tiba di sebuah tikungan jalan yang kanan kirinya terhalang batu besar, tiba-tiba, muncul empat orang tinggi besar yang menggotong sebuah batu besar sekali.

Mereka itu bertubuh seperti raksasa, berkepala gundul tidak berbaju dan kumis mereka panjang melambai ke kanan kiri dagu.

Batu besar yang digotong empat orang itu tentu berat sekal dan kiranya takkan dapat terangkat oleh belasan orang laki-laki biasa.

Tanpa banyak cakap empat orang itu lalu melemparkan batu besar itu ke tengah jalan tikungan itu sehingga terdengar suara keras dan bumi di sekitar tempat itu tergetar dan kini jalan itu terhalang oleh batu besar tadi.

Empat orang itu tanpa memandang kepada dua orang itu lalu pergi dari situ, Di antara debu yang mengepul ke atas, Ouw Sek dan Siauw Kim saling pandang, mula-mula terkejut dan tidak mengerti apa artinya ini.

Akan tetapi sebagai seorang kang-ouw yang sudah lama berkecimpung di dunia persilatan, mereka segera dapat menduga karena melihat betapa empat orang tadi tidak mengganggunya, hanya meninggalkan batu besar itu di situ, menghalang jalan tepat di depan mereka seolah-olah merupakan tantangan apakah mereka berdua sanggup menyingkirkan batu itu.

Ouw Sek tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, mereka sungguh memandang rendah kepada kita, Siauw Kim. Apakah cuma sebegini saja mereka menilai ketua Beng-kauw?"

Dia lalu menghampiri batu besar yang menutup jalan itu, menggunakan kedua tangannya dan dia mengerahkan tenaga lalu mendorong.

Batu besar itu bergerak dan terus didorongnya sampai batu itu menggelinding ke dalam jurang di sebelah kiri jalan dan menimbulkan suara hiruk-pikuk, menumbangkan banyak pohon ketika menggelinding turun dan ketika menimpa dasar jurang menimbulkan suara menggelegar!

Mereka lalu berjalan terus melalui jalan kecil yang naik itu dan kini sudah nampak gedung mungil itu di puncak sana.

Akan tetapi ketika tiba di pintu gerbang di luar pekarangan depan, di situ telah menjaga lima orang laki-laki yang usianya rata-rata sudah limapuluh tahun.

Bangsa Khitan yang tubuhnya tinggi kurus dan mereka semua memegang sebuah tombak gagang panjang yang dilintangkan di jalan, saling menyilang dari kanan kiri dan dari sikap mereka jelaslah bahwa mereka tidak hendak memberi jalan kepada siapapun.

"Hemmm, agaknya mereka masih hendak menguji lagi, Siauw Kim. Agaknya kita harus menyingkirkan pula tombak-tombak ini!"

"Biar aku yang melakukan itu, kauwcu!"

Kata Bu Siauw Kim yang sudah melolos sabuk hitamnya.

Dia meloncat ke depan, menerjang hendak menerobos masuk, akan tetapi lima mata tombak menyambutnya dengan tusukan!

Siauw Kim mengeluarkan suara lengkingan tinggi, tubuhnya mencelat ke atas dan kedua kakinya menginjak mata tombak-tombak itu dengan ringannya, kemudian dia menggenjot dan berjungkir balik ke atas, kemudian dari atas sabuk hitamnya melayang turun menyambar ke arah kepala orang-orang itu dengan totokan totokan seperti ular mematuk matuk!

Lima orang itu terkejut dan menggerakkan tombak mereka untuk menangkis.

Setelah Siauw Kim turun lagi mereka lalu menubruk kedepan dan mengurung wanita itu dari lima jurusan, membentuk Ngoseng-tin (Barisan Lima Bintang), tombak mereka saling melintang dan menutup semua jalan keluar, kemudian sambil menggereng, seorang di antara mereka nenyerang dengan tusukan, dan serangan ini lalu diikuti oleh serangan ke dua, ke tiga dan selanjutnya sehingga wanita di dalam kepungan itu telah dihujani serangan mata tombak secara bertubi tubi!

Bu Siauw Kim bergerak mengelak ke sana-sini dan kadang-kadang dia menangkis tombak dengan lengan tangannya, akan tetapi karena jaraknya dekat maka dia tidak dapat mempergunakan senjata sabuk itu.

Dia tidak mau menggunakan saputangan merah dan hanya mengandalkan tenaga Thian-lui sin-ciang untuk menangkis kalau sudah tidak keburu mengelak lagi.

Tiba-tiba tubuhnya mencelat lagi ke atas dengan loncatan tinggi sekali, dan sebelum lima batang tombak menyambutnya, dia sudah berjungkir balik dan tangannya yang berada di bawah berhasil menangkap leher tombak dan mendorongnya sehingga tubuhnya meluncur ke belakang sejauh lima meter.

Begitu dia turun, dia sudah menggerakkan sabuknya sebelum lima orang itu sempat mengurungnya lagi.

Sabuk itu seperti seekor naga melayang dan menyambar-nyambar dan tahu-tahu sabuk itu telah melibat-libat lima batang tombak yang menangkisnya.

Lima orang itu terkejut dan berusaha untuk menarik kembali tombak mereka, namun sia-sia saja karena lima batang tombak itu telah terbelit sabuk.

Adu tenaga terjadi dan Siauw Kim menanti saat yang baik, dan pada saat lima orang itu mengerahkan tenaga membetot, dia lalu membuat gerakan menyendal ke atas.

Terdengar bunyi keras dan lima batang tombak itu patah semua, pemegangnya terjengkang lalu bangkit, menjura dan minggir ke kanan kiri memberi jalan kepada dua orang tamu lihai itu!

Setibanya di ruangan depan.

Ouw Sek dari Bu Siauw Kim berhenti memandang kepada sekumpulan orang yang menyambut mereka.

Siauw Kim mengenal Ba Mou Lama, pendeta Lama berjubah merah dari Tibet yang lihai itu, akan tetapi dia diam saja.

Kemudian yang maju menyambut mereka justeru adalah Ba Mou Lama sendiri.

Kakek ini memandang kepada Ouw Sek dan Bu Siauw Kim penuh perhatian, lalu tersenyum dan menjura, dibalas oleh dua orang tamu itu.

"Selamat datang, Beng-kauwcu dan toanio yang lihai! Kami senang sekali bahwa jiwi telah memenuhi undangan kami. Silakan masuk dan berkenalan dengan rekan rekan kita,"

Kata Ba Mou Lama yang mempersilakan mereka masuk.

Ouw Sek dan Bu Siauw Kim dengan sikap gagah memasuki ruangan dalam yang luas dan di mana sudah diatur meja yang disambung sambung, dikelilingi kursi-kursi dan ada belasan orang berdiri mengelilingi meja itu dan memandang kepada mereka berdua dengan penuh perhatian.

Ouw Sek dan Bu Siauw Kim tidak menjadi jerih atau canggung dipandang banyak orang itu, malah Siauw Kim tersenyum manis sekali dan Ouw Sek membusungkan dada dan menegakkan kepalanya dengan angkuh.

Melihat betapa fihak tuan rumah diam saja hanya memandang kepadanya seolah-olah menanti dia bicara, Ouw Sek lalu memperkenalkan diri dan berkata lantang.

"Saya adalah Pek-ciang Cin-jin Ouw Sek, Beng-kauwcu yang baru, dan dia ini adalah Bu Siauw Kim, pembantuku yang setia. Kami memenuhi undangan cu-wi untuk berkumpul di sini dan kami girang dapat bertemu dengan cu-wi (anda sekalian). Seperti telah kami nyatakan dalam surat-surat kami terdahulu, kami ingin melanjutkan hubungan antara Beng-kauw dengan para orang gagah dari Khitan dan Tibet."

"Omitohud"".. sungguh menyenangkan sekali sikap Beng-kauwcu!"

Tiba tiba Ba Mou Lama berseru dengan gembira.

"Perkenalkanlah, kauwcu, pinceng adalah Ba Mou Lama yang memimpin pasukan Tibet dan yang kini menjadi tuan rumah. Ini adalah pembantu dan murid pinceng bernama Sin Beng Lama. Orang gagah di kanan itu adalah Tai-lek Hoat ong atau nama aselinya Tayatonga, seorang tokoh dari Khitan yang lihai." (Lanjut ke

Jilid 41) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 41 Ouw Sek sudah mendengar nama-nama ini dari para anggauta Beng-kauw.

maka dia memerhatikan Tai lek Hoat ong yang bertabuh inggi besar seperti raksasa berkepala botak ini, yang dikabarkan merupakan seorang ahli silat tinggi dan juga ahli perang.

Dia dan Siauw Kim telah menjura kepada Sin Beng Lama yang tinggi kurus dan Tai-lek Hoat-ong yang pendiam.

"Dan sicu yang gagah perkasa itu adalah An Hun Kiong, seorang tokoh Khitan yang terlenal sekali, murid dari Tai-Iek Hoat-ong dan dia masih keponakan dari mendiang An Lu Shan yang pernah menggemparkan Tiongkok."

Ouw Sek kembali menjura dan memperhatikan pria tampan gagah yang tinggi besar ini, yang usianya tentu belum ada empatpuluh tahun, bermata tajam dan bersikap tenang gagah.

Mereka berdua lalu diperkenalkan dengan yang lain-lain, yang merupakan pembantu-pembantu utama Bangsa Tibet dan Khitan, akan tetapi yang diperhatikan oleh Ouw Sek dan Siauw Kim hanya empat orang itulah, yaitu An Hun Kiong, Tai-lek Hoat-ong, Sin Beng Lama dan Ba Mou Lama sendiri karena empat orang inilah yang agaknya merupakan orang-orang terpenting di antara mereka.

Dugaan ini memang benar karena empat orang itu yang merupakan tokoh-tokoh besar dan pemimpin-pemimpin dari orang-orang Tibet dan Khitan.

Setelah mereka dipersilakan duduk, semua orang yang berada di situ lalu duduk mengelilingi meja besar itu.

Pelayanpun datang membawa guci dan cawan arak.!

"Eh, hehheh, Ouw-kauwcu dan Bu-toanio perkenankanlah kami menghaturkan selamat datang dengan secawan arak!"

Kata Ba Mou Lama sambil tertawa dan dia bangkit berdiri dari bangkunya, lalu menghampiri tempat duduk Ouw Sek dan Bu Siauw Kim yang berdampingan.

Dua orang tamu itu tentu saja segera bangkit berdiri sambil tersenyum karena keduanya maklum bahwa tentu fihak tuan rumah ini belum akan puas kalau belum menguji kepandaian mereka sebelum mau menerima mereka sebagai sekutu-sekutu baru!

Dengan sikap ramah dan tersenyum, kakek Tibet itu lalu minta guci arak dari pelayan kemudian mengambil cawan arak di depan meja Ouw Sek dan menuangkan arak itu ke dalan cawan itu.

Terlalu penuh dia menuangkan arak akan tetapi tiba-tiba arak itu mendidih dan menguap dari dalam cawan, seolah-olah cawan itu ditaruh di atas api panas!

Ba Mou Lama menyerahkan cawan yang araknya masih mendidih itu kepada Ouw Sek sambil berkata.

"Harap Ouwkauwcu sudi menerima suguhan arak selamat datang ini!"

Ouw Sek membungkuk dan tersenyum, menerima cawan itu sambil berkata, terlebih dahulu dia mengerahkan sinkangnya.

"Terima kasih, locianpwe!"

Dan ketika dia menuangkan arak dari cawan itu, ternyata arak itu masuk ke dalam mulutnya dalam keadaan membeku seperti telah berobah menjadi sekepal salju!

Padahal tadi arak itu seperti mendidih karena panas, dan kini berobah menjadi dingin seperti es!

Melihat ini, semua orang tertegun kagum, dan Ba Mou Lama juga mengangguk-angguk memandang dengan kagum.

Kemudian kakek ini menuangkan arak ke dalam cawan Bu Siauw Kim sambil berkata.

"Kalau pinceng tidak salah lihat, toanio pernah menjadi Im-yang-kauwcu, bukan?"

"Benar, itu dahulu, locianpwe, sekarang aku lelah menjadi pembantu Ouw-kauwcu, bersama-sama membangun kembali Beng-kauw yang berantakan dan kami berhasil!"

Jawab Bu Siauw Kim dengan senyum tenang.

"Bagus, kami girang mendengar itu toanio. Silakan menerima ucapan selamat datang dengan secawan arak ini!"

Dia menyerahkan arak dalam cawan itu, akan tetapi kakek ini menuangkan arak terlalu penuh sampai lebih tinggi dari bibir cawan, akan tetapi anehnya, arak itu tidak sampai luber, tidak tumpah, melainkan melengkung di atas bibir cawan, bergoyang-goyang seperti tertahan sesuatu!

Inilah akibat pengerahan sinkang yang amat kuat!

Semua orang memandang dengan tegang, karena kalau cawan itu diterima oleh tangan yang kurang kuat, tentu araknya akan tumpah dan menyiram lengan pemegang cawan!

Orang yang menghadapi penawaran arak macam ini harus memiliki tenaga sinkang kuat, kalau tidak dia dihadapkan dengan hal yang amat menyulitkan dirinya.

Menolak jelas tidak mungkin karena menolak pemberian selamat datang berarti tidak bersahabat, dan menerimapun tentu akan menderita rasa malu kalau arak itu menyiram lengan dan baju.

Akan tetapi wanita cantik itu sambil tersenyum tenang mengulurkan tangan menerima cawan itu sambil mengerahkan sinkangnya.

Dengan tenaga Thian lui-sin-ciang tentu saja mudah bagi Bu Siauw Kim untuk "menahan"

Arak itu dalam cawan agar tidak sampai tumpah, kemudian dia membawa cawan itu ke mulutnya, menuangkan cawan dan""

Arak itu tetap tidak mau tumpah biarpun cawan sudah dimiringkannya! kagum!"

Mereka duduk kembali dan tiba tiba An Hun Kiong bangkit berdiri, memberi hormat kepada Ouw Sek dan berkata.

"Harap Ouw-kauwcu suka memaafkan kami semua. Bukan sekali-kali kami tidak percaya akan kelihaian kauwcu, akan tetapi harus Wanita ini lalu Menggunakan menyentuh arak yang seperti membeku itu, dan mencucupnya seperti orang mencium sehingga semua orang melihat bibir yang menggairahkan itu bergerak dan mencucup-cucup dan akhirnya arak itupun habis diminumnya! Melihat ini, semua orang berbisik-bisik memuji dan Ba Mou Lama menjura kepada mereka berdua.

"Ji-wi ternyata memiliki sinkang yang boleh juga, membuat pinceng merasa bibirnya, dimengerti bahwa persekutuan kita adalan suatu usaha yang amat penting dan membutuhkan bantuan orang-orang yang berilmu tinggi. Oleh karena itu, mengingat bahwa mendiang ketua-ketua dari Beng-kauw adalah orang-orang berilmu, maka kami tentu tidak akan merasa tenang sebelum kauwcu memperlihatkan bahwa kauwcu sedikitnya tidak kalah pandai kalau dibandingkan dengan mereka."

Ouw Sek mengerutkan alisnya, diam-diam merasa mendongkol juga.

Setelah tiga kali diuji, masih saja mereka ini tidak percaya kepada dia dan Siauw Kim!

Akan tetapi dia mengangguk dan tersenyum, lalu berkata.

"Kami siap untuk menghadapi ujian, silakan siapa yang hendak menguji kami."

An Hun Kiong memandang kepada gurunya.

Biarpun dia itu murid, namun dia dianggap sebagai seorang pemimpin Bangsa Khitan, maka gurunya sendiri menghormati murid ini dan melihat pandang mata muridnya, Tai-lek Hoat-ong lalu bangkit berdiri dan berjalan ke tengah ruangan kosong yang memang telah disediakan untuk menguji kepandaian para tamu itu.

"Yang terpenting adalah kepandaian kauwcu, maka saya mempersilakan kauwcu untuk bermain-main sebentar denganku,"

Kata Tai-lek Hoat-ong sambil menjura ke arah Ouw Sek. Ouw Sek tersenyum, bangkit berdiri dan menjura kepada semua orang.

"Maafkan saya."

Kemudian dia meninggalkan kursinya dan menghampiri Tai-lek Hoat-ong.

"Saya merasa mendapat kehormatan besar kali boleh berkenalan dengan ilmu yang tinggi dari Hoat-ong!"

Katanya sambil menjura.

"Mari kita main-main sebentar dan jangan sungkan-sungkan, kauwcu!"

Kata Tai-lek Hoat-ong sambil memasang kuda-kuda.

"Silakan, Hoat-ong!"

Jawab Ouw Sek yang masih berdiri biasa saja seolah-olah dia tidak memandang sebelah mata kepada pengujinya, Dia tahu bahwa menurut julukannya, tentu kakek raksasa botak ini memiliki tenaga yang besar sekali, namun dia tidak merasa jerih karena tenaga besar bukan merupakan hal yang amat menentukan bagi pertandingan ilmu silat.

Mulailah Tai-lek Hoat-ong menyerang dan benar seperti dugaan Ouw Sek, pukulan kakek ini mengandung tenaga besar sehingga terdengar anginnya bersiutan.

Namun, dengan lincah dan mudahnya Ouw Sek mengelak dari bebeiapa pukulan yang datang berantai itu.

Dari gerakan kakek ini saja Ouw Sek sudah dapat mengukur ketinggian tingkat lawan dan kalau dia menghendaki, dalam waktu belasan jurus saja dia pasti akan dapat merobohkannya.

Akan tetapi Ouw Sek adalah seorang yang amat cerdik dani dia tidak mau tergesa-gesa mencapai kemenangan.

Pertama, hal itu tentu akan membuat hati kakek Khitan ini tidak senang dan merasa terhina sehingga amatlah merugikan dalam hubungan persekutuan mereka.

Ke dua, kalau dia terlalui memamerkan kepandaian tentu tokoh-tokoh lain itu akan curiga dan jerih kepadanya, menganggapnya berbahaya!

Maka dia tidak boleh memperlihatkan kepandaiannya melebihi tingkat Ba Mou Lama yang merupakan orang terpandai di situ sehingga dia tidak akan ditakuti dan dicurigai.

Mulailah Ouw Sek balas menyerang, akan tetapi dia hanya mengeluarkan sebagian saja tenaganya sehingga setiap kali mereka saling mengadu lengan, keduanya terdorong ke belakang seolah-olah tenaga mereka berimbang.

Juga Ouw Sek tidak mengeluarkan jurus-jurus yang ampub, hanya membalas sekedarnya untuk mengimbangi kepandaian kakek Khitan itu.

Namun, hal ini saja sudah membuat semua orang di situ tertegun dan kagum sekali.

Ternyata kauwcu Beng-kauw yang baru itu mampu menandingi Tai-lek Hoat-ong sampai hampir seratus jurus!

"Cukup""..

kauwcu benar-benar lihai sekali"".!"

Akhirnya Tai-lek Hoat-ong meloncat mundur, mukanya penuh keringat dan napasnya agak terengah sedangkan Ouw Sek sama sekali tidak kelihatan lelah.

Di sinilah Ouw Sek mencari kemenangan, kemenangan tipis dengan bukti bahwa kalau lawan yang tak dapat dirobohkannya itu kecapaian, dia sama sekali tidak!

Ba Mou Lama berdiri dan bertepuk tangan memuji.

Girang hatinya bahwa dia memperoleh sekutu yang begini pandai, bahkan lebih tangguh dari pada Tai-lek Hoat-ong!

Hidangan dikeluarkan dan mereka lalu makan minum dengan gembira setelah dengan resmi Ouw Sek dan Bu Siauw Kim diterima menjadi sekutu mereka.

Setelah selesai makan, sisa hidangan disingkirkan, meja dibersihkan, dan kini tokoh-tokoh lain mengundurkan diri, meninggalkan dua orang tamu itu bersama empat orang tokoh dari Go-bi dan Khitan.

Kini mereka hanya berenam saja, dari tiga golongan dan masing masing diwakili dua orang.

Maka perundingan yang amat pentingpun dimulailah dan mendengar apa yang dibicarakan di situ, diam-diam Ouw Sek dan Bu Siauw Kim terkejut bukan main, akan tetapi juga girang bahwa mereka memperoleh kesempatan dalam suatu gerakan yang amat besar dan hebat!

"Pertama-tama kami ingin mengetahui sampai di mana pengertian Beng-kauwcu tentang persekutuan ini.

Kita bersama, Bangsa Tibet, Khitan dan perkumpulan Beng-kauw, telah bersekutu sejak lama.

Tahukah kauwcu, sebagai kauwcu yang baru, untuk keperluan apakah persekutuan ini?"

Tanya An Hun Kiong sambil memandang tajam kepada dua orang tamu itu. Sebelumnya Ouw Sek sudah mencari keterangan dari para anak buah Beng-kauw, maka menghadapi pertanyaan ini dia tidak menjadi gugup.

"Perlukah An-sicu bertanya lagi tentang itu? Kita bersama mempunyai satu tujuan, yaitu menentang pemerintah Kaisar Tong tiauw!"

Jawabnya tenang.

"Syukurlah kalau kauwcu sudah yakin akan hal itu. Nah, sekarang hendaknya kauwcu dan toanio ketahui bahwa usaha kita sudah mencapai kemajuan hebat sehingga saat-saat penyerbuan ke kota raja telah kita persiapkan!"

Berita ini amat mengejutkan hati Ouw Sek dan Bu Siauw Kim karena memang sama sekali dak pernah mereka sangka, akan tetapi keduanya dapat menekan perasaan dan hanya memandang kepada orang Khitan she An itu dengan heran.

"Tapi"".. untuk itu kita membutuhkan bala tentara yang amat kuat dan bantuan dari dalam, karena penjagaan tentu kuat sekali!"

Kata Ouw Sek. An Hun Kiong mengangguk-angguk.

"Kami sudah memikirkan hal itu dan kami sudah mempunyai sekutu yang amat baik di dalam istana sendiri. Tahukah kauwcu siapa pemilik gedung di mana kita sekarang mengadakan pertemuan?"

Dengan sejujurnya Ouw Sek menggeleng kepala.

"Gedung ini adalah milik sekutu kita, yaitu Thio-thaikam yang amat berkuasa di dalam istana dan merupakan orang kepercayaan kaisar!"

"Ah, sungguh bagus sekali kalau begitu!"

Seru Ouw Sek dengan girang sekali.

An Hun Kiong lalu menceritakan panjang lebar tentang semua siasat yang telah direncanakan kepada Ouw Sek dan Siauw Kim.

Ternyata secara diam-diam fihak Tibet dan Khitan ini telah mengadakan hubungan dengan Thio-thaikam yang diam-diam tak pernah menghentikan ambisinya yang melangit!

Pasukan-pasukan yang kuat dari Tibet, dibantu oleh anak buah An Hun Kiong, yaitu orang-orang Khitan dan bekas anak buah pemberontak An Lu Shan, telah siap di luar tapal batas utara dan barat, menanti saat baik untuk melakukan penyerbuan.

Saat baik ini ditentukan oleh Thio-thaikam yang lebih mengetahui dan menguasai keadaan di dalam kota raja.

Thio thaikam dengan cerdiknya telah menasihati kaisar agar kekuatan tentara dipusatkan pada sepanjang pantai timur di mana sering mengalami gangguan bajak-bajak Jepang dan orang-orang asingi lain, bahkan kekuatan penjagaan di utara dan-barat yang oleh Thio-thaikam dikatakan membuang tenaga sia-sia karena dari sana tidak ada ancaman bahaya itu, kini ditarik ke timur dan selatan sehingga penjagaan di utara dan barat amat lemahnya.

Para panglima perang yang dipercaya juga diharuskan memimpin opeiasi di pantai itu.

Kemudian, Thio-thaikam masih menganjurkan agar pasukan-pasukan pengawal dan penjaga keamanan di kota raja sebagian besar dikerahkan untuk membikin "pembersihan"

Terhadap pemberontak-pemberontak seperti Im-yang-kauw, Beng-kauw, Pek-lian-kauuw dan yang lain-lain, menyusup ke dusun-dusun dan ke gunung-gunung di selatan.

"Nah, sekarang kita tinggal menanti saat baik itu, menanti tanda dari Thio-thaikam yang kita tunggu malam hari ini. Kalau sudah tiba saatnya, maka pasukan pasukan kita akan menyerbu dan langsung menyerang dan menduduki kota raja!"

"Dan kaisar? Tentu ada penjagaan amat kuat untuk melindungi kaisar."

"Akan diusahakan oleh Thio-thaikam agar pada saat itu kaisar juga keluar dari istana, entah bagaimana caranya terserah Thio thaikam yang lebih mengetahui keadaan di sana"

"Bagus sekali! Kami akan mengerahkan anak buah kami untuk membantu penyerbuan itu!"

Kata Ouw Sek sambil menggosok gosok kedua tangannya karena dia membayangkan keuntungan besar yang hebat kalau usaha besar itu berhasil.

Dia tentu akan berjasa dan memperoleh kedudukan, setidaknya dia akan dapat menguasai Beng-kauw seluruhnya, dan tentu dia akan dapat memperoleh banyak hadiah, belum dari hasil penyitaan-penyitaan dan perampokan-perampokan dalam penyerbuan itu.

Di kota raja merupakan gudang kekayaan yang berlimpahan!

"Kekuatan pasukan kami sudah cukup."

Tiba tiba Ba Mou Lama berkata.

"yang dipentingkan adalah bala bantuan yang membobolkan pintu gerbang dari dalam! Dan itulah tugasmu, kauwcu. Kalau saatnya tiba, engkau dan anak buahmu harus sudah menyelundup ke dalam kota raja, dan pada saat penyerbuan, engkau harus memimpin anak buahmu untuk menyerang para penjaga pintu gerbang dan membuka pintu gerbang agar memudahkan penyerbuan kami. Jasamu akan besar sekali kalau berhasil, kauwcu."

Ouw Sek mengangguk-angguk girang dan mereka lalu bercakap-cakap sampai malam tiba tentang usaha besar yang direncanakan itu.

Setelah hari gelap, muncullah dua orang yang berpakaian sebagai perwira dan mereka ini adalah utusan pribadi dari Thio-thaikam!

Mereka membawa surat dari Thio-thaikam dan setelah membaca surat itu, Ba Mou Lama lalu cepat berunding dengan An Hun Kiong dan orang she An ini yang secara pribadi mengadakan hubungan dengan Thio-thaikam, lalu menulis surat balasan dan diberikannya kepada dua orang yang dijamu oleh para pelayan itu.

Dua orang itu lalu meninggalkan tempat itu membawa surat balasan.

"Saudara semua,"

Kata An Hun Kiong dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar.

"Yang telah lama kita tunggu-tunggu kiui dataglah. Saat untuk menyerbu kota raja sudah tiba dan mari kita hancurkan kota raja!"

Memang orang she An ini bersemangat sekali untuk melanjutkan perjuangan pamannya, An Lu Shan, yang hanya berhasil untuk waktu singkat itu, dan kini dengan penuh kegembiraan dia sudah membayangkan betapa usahanya akan lebih berhasil dari pada pamannya!

Dia lalu menceritakan semua yang hadir tentang isi surat Thio-thaikam.

"Thio-thaikam telah berhasil membujuk kaisar untuk berangkat, melakukan pesiar perburuannya di hutan-hutan sebelah selatan, ditemani oleh para panglima pilihan dan pengawal-pengawal yang kuat. Dengan demikian, istana menjadi kosong dan dalam keadaan seperti itu, Thio-taijinlah yang berkuasa dan dia yang akan mengatur penjagaan dan sebagainya! Hari telah ditetapkan, dan seminggu lagi penyerbuan dilakukan! Ouw-kauwcu harap kau siap dan dalam waktu itu, agar sernua anak buahmu sudah dapat menyelundup ke dalam kota raja! Apakah engkau perlu biaya? Atau senjata?"

Ouw Sek tidak mau merendahkan nama perkumpulannya dan dia menggeleng.

"Kami sudah mempunyai cukup senjata dan biaya, An-sicu, harap jangan khawatir. Kami akan sudah siap di kota raja jika saatnya tiba. Akan tetapi apa isyaratnya untuk kami turun tangan menyerbu penjagaan pintu gerbang? Dan pintu gerbang yang mana?"

"Pintu gerbang yang di utara dan barat, dan saatnya adalah apabila sudah terjadi pertempuran di luar tembok kota raja! Akan ada mata-mata kami yang menghubungi kauwcu di kota raja!"

Mereka lalu berunding semalam suntuk dan baru pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka semua pergi, berpencar untuk melaksanakan tugas masing-masing, Ba Mou Lama sudah mengirim utusan yang malam tadi dengan berkuda cepat sekali sudah menyampaika berita kepada para komandan pasukannya di tapal batas sebelah barat.

Langit penuh mendung, seolah-olah ikut prihatin menyaksikan ancaman yang berada di atas kota raja, dan terutama malapetaka yang mengancam rakyat yang akan dilanda oleh peperangan itu!

Perang pergi dan datang, di gerakkan oleh sekelompok manusia yang berambisi untuk mencapai kemuliaan dan kedudukan melalui kemenangan, melalui banjir darah lawan, tentu saja dengan dalih perjuangan demi rakyat dan sebagainya lagi.

Perang tetap perang, bunuh membunuh, perbuatan paling terkutuk dari manusia, baik perang itu ditujukan dengan nama apapun juga.

Sepekan kemudian gegerlah para penduduk di sebelah barat dan utara kota raja yang dilanda perang!

Pasukan-pasukan liar Bangsa Tibet, dibantu oleh orang-orang Khitan, menyerbu dan para penjaga tapal batas yang hanya tinggal sedikit dan lemah itu, dengan sia-sia berusaha melawan musuh yang terlalu banyak, Bala tentara Tibet bagaikan air bah yang datang menyerang, tak dapat dibendung lagi.

Dusun-dusun dan kota-kota diduduki, diserbu, dibakar, dirampok!

Seperti biasa dalam setiap perang, terjadilah hal-hal yang amat keji, seperti manusia-manusia telah berobah menjadi iblis sendiri, liar dan buas melebihi binatang papun juga, terjadi pembunuhan semena-mena, anak-anak dan wanita dan orang-orang tua dibunuh hanya untuk melampiaskan nafsu membunuh yang keji.

Rumah-rumah dibakar setelah isinya yang berharga dirampok habis habisan, wanita-wanita muda diperkosa dulu sebelum akhirnya dibunuh pula.

Gelak tawa seperti iblis di antara jerit-jerit tangis dan jalan yang dilalui bala tentara Tibet ini bergelimangan darah, tapak-tapak kaki mereka meninggalkan jejak berdarah!

Kota raja geger gegap gempita!

Sama sekali tidak pernah ada yang menyangka bahwa kota raja akan dapat digempur oleh pasukan-pasukan liar dari Tibet!

Tadinya tidak pernah ada tanda tanda akan datangnya penyerbuan ini dan tahu tahu pasukan telah berada di luar kota raja!

Penduduk menjadi geger, para penjaga menjadi panik karena memang penjagaan kota raja sudah banyak berkurang kekuatannya.

Sebagian besar para pasukan ditarik ke selatan untuk membantu operasi pembersihan pemberontak, sebagian mengawal kaisar yang sedang berpesta memburu binatang di hutan, dan komandan-komandan banyak yang diganti selama kaisar pergi, sehingga keadaan menjad kacau, banyak perwira yang bersembunyi ketika musuh sudah mengancam kota raja!

Sementara itu, dengan berpakaian menyamar sebagai pedagang, sebagai pengemis, dan sebagainya, Ouw Sek dan Bu Siauw Kim memimpin anak buah mereka yang jumlahnya lebih dari tigaratus orang itu memasuki kota raja.

Sejak kemarin mereka memasuki kota raja dan menanti saat baik setelah mereka di dihubungi oleh mata-mata Tibet yang mengabarkan bahwa pasukan Tibet sudah berada di tengah perjalanan, dan betapa istana kini telah dikuasai oleh orang orangnya Thio-thaikam sendiri!

Mendengar ini, Ouw Sek dan Siauw Kim menjadi girang sekali.

Ketika sudah terjadi pertempuran di luar kota raja, Ouw Sek dan anak buahnya bersiap-siap.

Seperti yang sudah diperhitungkan semula, pasukan kota raja yang lemah dan kalah banyak itu dipaksa mundur dan kocar-kacir.

Akhirnya pasukan Tibet mulai bertempur melawan penjaga-penjaga tembok kota raja dan mereka berusaha membobolkan pintu gerbang utara dan barat.

Saat inilah yang dinanti-nanti oleh orang-orang Beng-kauw yang sudah dibagi dua, yang di barat dipimpin oleh Siauw Kim dan yang di utara dipimpin oleh Ouw Sek sendiri.

Dengan teriakan-teriakan dahsyat, kurang lebih seratus limapuluh orang di masing-masing pintu gerbang itu menyerang dengan hebat.

Para perajurit yang sedang sibuk menghadapi penyerbuan dari luar dan yang berusaha mencegah orang-orang Tibet itu mendekati tembok, menjadi terkejut dan mereka itu tidak sempat membela diri ketika diserang dari belakang sehingga banyaklah di antara mereka yang roboh!

Dalam waktu tidak terlalu lama, Bu Siauw Kim dan Ouw Sek berhasil membuka pintu gerbang itu dan bagaikan air bah membanjir, perajurit Tibet memasuki kota raja dan mulailah terjadi hal-hal yang amat mengerikan.

Para perajurit kota raja dan orang-orang gagah yang membela keselamatan keluarga masing-masing melakukan perlawanan dan banyak pula orang-orang Tibet yang robob binasa, akan tetapi karena jumlah mereka lebih banyak, apa lagi karena Thio-thaikam dan anak buahnya telah menguasai istana, maka mudah saja bagi para perajurit Tibet itu untuk masuk ke dalam istana dan menguasai istana!

Orang-orang gagah yang mencoba untuk mencegah berhadapan dengan orang-orang lihai seperti Ba Mou Lama, An Hun Kiong, Tai-lek Hoat-ong, Bu Siauw Kim, Ouw Sek dan tokoh-tokoh lainnya yang berkepandaian tinggi sehingga banyaklah orang kang-ouw yang ikut tewas dalam peristiwa penyerbuan bala tentara Tibet di kota raja itu.

Gegerlah seluruh negeri ketika tersiar kabar bahwa kota raja diduduki oleh pasukan Tibet!

Kaisar yang sedang berburu mendengar berita ini sampai jatuh pingsan.

Cepat kaisar diselamatkan ke kora Cin-san dan di sini di jaga oleh pasukan yang kuat.

Kaisar lalu memerintahkan untuk memanggil semua panglimanya berkumpul.

Para panglima itu menerima perintah kaisar untuk mengerahkan dan memanggil semua pasukan yang oleh Thio-thaikam dikirim ke pantai timur dan ke selatan untuk melakukan operasi pembersihan dengan maksud mengosongkan kota raja itu, dan memerintahkan pasukan-pasukan itu merebut kembali kota raja dari tangan pasukan-pasukan Tibet dan sekutunya!

Gegerlah keadaan seluruh negeri dengan terjadinya peristiwa pendudukan kora raja oleh pasukan Tibet yang tidak disangka sangka ini, peristiwa yang terjadi pada tahun 763!

Panglima Ong Gi sendiri sedang tidak berada di kota raja, dia merupakan seorang di antara para panglima yang menerima tugas melakukan "pembersihan"

Di selatan!

Dan ke mana perginya tiga orang pendekar muda yaitu Tan Sian Lun, Coa Gin San, dan Gan Ai Ling?

Setelah tiga orang muda ini saling jumpa dan mengambil keputusan untuk bekerja sama melanjutkan perjuangan orang-orang tua mereka, yaitu menentang pembesar-pembesar penindas rakyat dan menghadapi para pemberontak, mereka pertama tama pergi ke An kian untuk menemui Yap Yu Tek dan keluarganya.

Gan Beng Lian, isteri Yap Yu Tek, data Yap Wan Cu, puterinya, merasa terharu bukan main dan keduanya bertangis-tangisan ketika bertemu kembali dengan Ling Ling.

Dan Wan Cu juga girang sekali berjumpa dengan Sian Lun, sungguhpun dia merasa malu-malu, apa lagi ketika digoda oleh Ling Ling yang mendengar dari bibinya akan keinginan keluarga itu untuk menarik Sian Lun menjadi suami Wan Cu.

Baru sehari mereka berada di rumah keluarga Yap itu ketika mereka mendengar akan peristiwa hebat yang terjadi di kota raja.

Ketika mereka mendengar berita itu, kota raja belum jatuh, akan tetapi pasukan pasukan Tibet sudah menyerbu mendekati kota raja dan keadaan kota raja amat terancam bahaya.

Bukan main kagetnya tiga orang muda ini dan mereka bergegas pamit dari keluarga Yap untuk pergi ke kota raja.

"Kami harus membantu pemerintah menghalau para penjahat Tibet itu!"

Kata Sian Lun, ketika mereka semua berkumpul di gedung Yip-taijin, yang masih menjabat bupati tua di kota An-kian, karena di sinilah mereka bisa memperoleh berita yang lebih lengkap.

"Akan tetapi, apa yang dapat dilakukan oleh tiga orang muda seperti kalian?"

Kata bupati tua she Yap yang bijaksana itu.

"Bukan kami memandang rendah kepada kepandaian kalian, kami sudah tahu bahwa kalian bertiga adalah pendekar pendekar muda yang berilmu tinggi. Akan tetapi, kalian bukanlah menghadapi kejahatan beberapa orang penjahat saja melainkan menghadapi ribuan, bahkan laksaan orang perajurit Tibet! Mereka itu hanya dapat dilawan oleh pasukan pula, dan kalau kalian bertindak ceroboh, tentu akan celaka "

"Terima kasih atas peringatan taijin,"

Kata Sian Lun.

"kami tentu akan melihat keadaan dan tidak bertindak ceroboh"

Tiga orang muda perkasa itu lalu berpamit dan tak dapat ditahan lagi oleh keluarga Yap. Melihat mereka pergi dengan tergesa-gesa dan dengan penuh semangat itu, Gan Beng Lian menarik napas kagum.

"Ah, mereka bertiga itu mengingatkan aku akan kakakku dan dua orang adik seperguruannya. Tiga ekor naga sakti yang dulu itu kini agaknya telah muncul pula dengan kepandaian yang lebih hebat. Mudah mudahan mereka tidak bernasib seburuk tiga ekor naga sakti yang pertama."

Suaminya, Yap Yu Tek, hanya mengangguk-angguk, dan Yap Wan Cu yang merasa amat khawatir akan keselamatan Sian Lun, dan juga kecewa karena dia .ingin membantu mereka bertiga namun dilarang oleh ayah bundanya mengingat bahwa tingkat kepandaiannya masih jauh untuk dapat diandalkan menghadapi urusan penting dan besar itu, menunduk dengan prihatin.

"Akan tetapi, ibu, apakah kita hanya akan tinggal diam saja melihat negara diserbu Bangsa Tibet yang biadab itu? Apakah kita tinggal berpeluk tangan saja menyaksikan tanah air dijajah?"

Dara itu bertanya penuh semangat dan perasaan marah.

"Tentu saja tidak, Wan Cu,"

Kata ayahnya.

"Kita akan membantu pasukan pemerintah dan menjadi sukarelawan. Akan tetapi mengingat akan bahayanya melakukan penyelidikan sendiri ke kota raja yang sudah diduduki musuh tentu saja kita hanya dapat membantu serangan balasan dari pasukan kita, tidak seperti mereka bertiga itu yang dapat dan berani saja menyelundup ke kota raja mengingat akan tingkat kepandaian mereka yang tinggi."

Wan Cu merasa girang sekali dan seperti para orang kang-ouw yang merasa marah mendengar betapa kota raja diduduki pasukan Tibet, ayah, ibu dan anak inipun masuk menjadi sukarelawan dan membantu pasukan yang melakukan persiapan untuk melakukan serangan balasan menyerbu kota raja.

Tentu saja penawaran tenaga para orang kang-ouw yang memiliki kepandaian itu diterima dengan girang oleh panglima panglima perang yang ditugaskan oleh kaisar dalam pengungsiannya untuk merebut kembali kota raja dan membasmi pasukan musuh yang berhasil menduduki kota raja.

Di kota raja sendiri, terjadilah hal-hal mengerikan.

Berbondong-bondong penduduk pergi meninggalkan kota raja, pergi mengungsi membawa harta benda dan juga anak-anak mereka terutama anak-anak perempuan yang sudah remaja puteri.

Akan tetapi hanya sedikit yang dapat lolos karena sebelum sempat meninggalkan kota raja yang sudah dicengkeram pasukan musuh, mereka ini dihadang, barang-barang mereka dirampas dan setiap wanita muda tak perduli perawan atau sudah mempunyai suami tentu ditangkap dengan tuduhan "mata-mata".

Perampokan, perkosaan, dan pembunuhan terjadi setiap hari.

Seperti biasa dalam keadaan kacau karena perang seperti itu, semua penjahat keluar dari sarangnya dan mempergunakan kesempatan itu untuk mencari keuntungan sebanyaknya, dan untuk melampiaskan nafsu-nafsu mereka dengan lebih leluasa.

Dalam keadaan perang, selalu muncul penjilat penjilat, penjual bangsa, pengkhianat-pengkhianat, di samping munculnya pula banyak pahlawan yang berjuang tanpa pamrih untuk keuntungan diri sendiri.

Maka para penghuni kota raja mengalami penderitaan lahir batin yang hebat sekali, bukan hanya yang datang dari para pasukan Tibet dan Khitan dan sekutunya, melainkan juga dari para penjahat yang menunggangi keadaan kacau itu.

Ba Mou Lama dan para pemimpin pasukan Tibet dan Khitan bukan tidak tahu akan perbuatan para anggauta pasukan mereka, akan tetapi atas perintah Ba Mou Lama, memang para komandan pasukan membiarkan saja semua perbuatan itu, karena Ba Mou Lama tahu bahwa hal ini merupakan sekedar "hiburan"

Yang memperbesar semangat dan kegembiraan anak buahnya!

Selain itu, dia sendiripun sibuk berbincang bincang tentang kedudukan di kota raja, tentang rencana tindakan selanjutnya karena dia tahu bahwa fihak Kerajaan Tong-tiauw tidak mungkin akan tinggal diam saja.

Mereka mengadakan perundingan dengan sekutu sekutu mereka dan pesta perang diadakan di istana untuk merayakan kemenangan itu.

Semua ini diatur oleh Thio-thaikam!

Pembesar inilah, yang sejak muda tidak pernah kehilangan ambisinya untuk mencari kesenangan yang lebih besar dari pada yang telah dimilikinya, yang telah memungkinkan pasukan Tibet dan Khitan menyerbu dan berhasil menduduki kota raja.

Memang demikianlah keadaan orang yang telah diperhamba oleh nafsu-nafsunya sendiri, nafsu keinginan untuk mengejar kesenangan duniawi!

Pengejaran inilah yang menyesatkan kita, pengejaran ini merupakan bayang bayang indah, jauh lebih indah dari pada segala yang telah ada pada kita.

Bayang-bayang ini tidak pernah lenyap, bahkan makin membesar terus sehingga setiap kali sesuatu yang dikejar itu telah terpegang, maka bayang-bayang ini masih terus menggoda dengan janji-janji yang lebih indah dan lebih menyenangkan lagi dan dengan demikian, segala sesuatu yang telah tercapai akan kehilangan artinya, kehilangan keindahannya, karena mata selalu disilaukan oleh bayang bayang yang lebih kemilau itu.

Sekali kita diperhamba oleh bayang bayang yang kita kejar yang kita namakan cita cita, ambisi, dan sebagainya, maka untuk selamanya kita akan diperbudak olehnya, kita terseret ke dalam arus keinginan yang tak kunjung habis.

Segala sesuatu yang ada tidak nampak lagi, tidak indah lagi, tidak menyenangkan lagi karena yang dianggap paling menyenangkan adalah yang belum dicapai atau didapatkan itulah, si bayang-bayang itulah!

Jelas bahwa pengejaran terhadap bayang-bayang yang dianggap paling menyenangkan, dianggap akan mendatangkan bahagia ini, merupakan awal dari serangkaian penderitaan hidup yang tiada habisnya.

Karena itu, pertanyaan yang amat penting untuk kita renungkan adalah.

Mungkinkah kita hidup bebas dari bayang-bayang ini, bebas dari segala keinginan untuk mencapai atau mendapatkan sesuatu yang tidak atau belum ada?

Mungkinkah kita hidup tanpa mengejar sesuatu yang belum ada?

Melainkan hidup sepenuhnya dengan apa yang ada?

Baru saja terlaksana apa yang dicitakan oleh Thio-thaikam untuk dapat menguasai istana, mulailah dia melihat keadaan-keadaan yang amat menggelisahkan dan amat membingungkan hatinya, yang sama sekali tidak indah seperti yang dibayang-bayangkan semula.

Mulailah dia bingung melihat betapa pasukan pasukan asing itu tidak saja merampok, membunuh, dan memperkosa penduduk kota raja, bahkan para pimpinan Tibet, Khitan dan anak buah mereka itu agaknya mendesak agar puteri-puteri istana diserahkan kepada mereka!

Biarpun dia telah mengkhianati kaisar, namun semua itu dilakukan demi untuk memenuhi ambisinya, untuk mencari dan memperebutkan kedudukan yang tertinugi baginya, akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa dia merasa benci bangsanya.

Sama sekali tidak, dan tetutama sekali dia tidak ingin melihat puteri-puteri istana menjadi korban para orang asing yang telah menduduki kota raja ini.

Semenjak kanak-kanak dia tinggal di dalam istana, maka dia merasa seperti telah menjadi keluarga istana, mana mungkin dia menyerahkan para putri itu kepada para pimpinan bangsa liar.

Dia tidak menghendaki puteri-puteri istana dihina maka dia telah mengumpulkan para puteri, termasuk keluarga kaisar, ke dalam harem dan dijaga oleh pasukan pengawal orang-orang thaikam yang memiliki kepandaian, dia tidak memperkenankan siapapun juga memasuki daerah ini.

Kalau Thio thaikam sudah bersekutu dengan orang-orang Tibet dan Khitan, hal ini dilakukan bukan karena dia suka kepada bangsa-bangsa yang dianggapnya liar ini, melainkan karena dia membutuhkan tenaga bantuan mereka untuk mencapai cita-citanya, yaitu merebut kekuasaan tertinggi di istana.

Dia sama sekali tidak bermaksud tunduk kepada mereka.

Menghadapi desakan para pimpinan orang liar itu yang menghendaki agar para puteri diserahkan kepada mereka, Thio-thaikam lalu menggunakan akal, yaitu dia memaksa para dayang yang rata rata masih muda dan cantik cantik di istana, untuk mewakili para puteri itu melayani para pimpinan orang Tibet dan Khitan!

Sungguh patut dikasihani para dayang ini.

Mereka itu sebagian besar adalah perawan-perawan yang masih muda, cantik dan pandai.

Kini mereka seperti sekumpulan domba-domba yang lemah digiring memasuki kandang dimana menanti segerombolan serigala yang haus darah!

Mereka tidak berani menolak atau membantah karena maklum bahwa hal itu percuma saja, bahkan nasib mereka akan menjadi makin buruk.

Ada beberapa orang dayang yang berani menolak, dan mereka ini malah dipaksa dan diserahkan kepada para anak buah rendahan dan mereka menderita nasib yang amat mengerikan, diperkosa oleh banyak sekali orang yang buas sampai mereka tewas dalam waktu beberapa hari saja!

Jauh lebih baik diberikan kepada para pimpinan pasukan musuh, karena dengan demikian mereka dikuasai oleh satu orang saja!

Karena inilah maka para dayang itu terpaksa menyerahkan diri kepada siapa mereka diserahkan oleh Thio-thaikam, dan memaksa senyum di balik air mata mereka.

Kalau menghadapi para pimpinan orang Tibet bagi Thio-thaikam masih mudah dan dia dapat memuaskan hati mereka dengan penyuguhan dayang-dayang muda cantik sebagai pengganti para puteri istana, tidak demikian ketika dia menghadapi tuntutan Ah Hun Kiong!

Orang ini yang merasa sebagai keponakan mendiang pemberontak An Lu Shan yang juga sudah pernah berhasil merampas tahta kerajaan, dan merasa bahwa dia berdarah "bangsawan", maka An Hun Kiong menjadi penasaran dan marah ketika dia hendak disuguhi seorang dayang pilihan.

Dia merasa direndahkan dan dia menuntut agar seorang puteri istana diserahkan kepadanya!

bingunglah Thio-thaikam!

Akan tetapi, pembesar yang cerdik ini segera teringat akan seorang wanita, Ci Siang Bwee!

Ya, siapa lagi yang dapat menolongnya kecuali gadis itu.

Gadis itu biarpun tidak sepenuhnya berdarah bangsawan, namun tidak ada bedanya dengan puteri istana, baik mengenai kecantikannja maupun kepandaian dan tata susila istana.

Maka dia cepat menyuruh panggil wanita ini dari gedung panglima baru yang kini belum juga kembali ke kota raja semenjak diberi tugas membasmi perkumpulan Pek-lian kauw itu.

Dengan wajah agak pucat karena khawatir Ci Siang Bwee datang memenuhi panggilan thaikam ini.

Dia merasa tidak enak dan gelisah sekali.

Semenjak terjadi keributan, dia selalu bersembunyi di dalam kamar dan merasa khawatir sekali karena majikannya atau pria yang dikasihinya, Tan Sian Lun, belum juga pulang.

Untung baginya bahwa rumah itu tidak diganggu oleh.

para penyerbu, karena Tan Sian Lun dianggap sebagai seorang di antara anak buah Thio thaikam dan gedung ini dijaga oleh anak buah Thio thaikam.

Ketika melihat gadis cantik itu berlutut didepannya dengan wajah pucat dan tubuh agak gemetar, Thio thaikam cepat berkata.

"Ah, baik sekali engkau datang, Siang Bwee. Sekaranglah saatnya engkau membalas segala budi yang selama ini kulimpahkan kepadamu. Aku berada dalam kesulitan besar dan hanya engkaulah ang akan dapat menolongku!"

Siang Bwee mengerutkan alisnya.

Orang macam pembesar ini bagaimana bisa berada dalam kesulitan, pikirnya.

Begitu mendengar bahwa Thio-thaikam berkhianat dan bersekutu dengan orang-orang Tibet yang menyerbu dan menduduki kota raja, kebencian dalam hati Siang Bwee terhadap pembesar kebiri ini makin mendalam.

"Taijin, bagaimana mungkin seorang seperti saya ini dapat menolong taijin?"

Tanyanya dengan suara gemetar dan jantungnya berdebar penuh kekhawatiran dan ketegangan.

"Siang Bwee yang manis, yang baik budi,, sekali ini tanpa pertolonganmu, aku akan celaka, bahkan seluruh keluarga kaisar akan celaka!"

Hemm, seolah-olah engkau memperdulikan nasib keluarga kaisar, pikir Siang Bwee. Justeru pengkhianatanmulah yang mencelakakan kaisar dan sekeluarganya! "Taijin, apakah yang dapat saya lakukan?"

Tanyanya karena dia ingin segera mendengar apa yang dikehendaki oleh manusia yang berhati palsu ini.

"Siang Bwee, An sicu, yaitu An Hun Kiong pemimpin orang-orang Khitan itu, dia menghendaki seorang puteri istana. Aku tidak dapat menolaknya, dan satu-satunya jalan bagiku hanya mengharapkan pertolonganmu. Engkau seoranglah yang pantas untuk mewakili dan menyamar sebagai puteri istana, dan melayaninya.!"

Seketika pucatlah wajah cantik dari Siang Bwee ketika dia mendengar ucapan pembesar yang berperut gendut dan bersikap kewanita-wanitaan itu.

Matanya terbelalak memandang wajah thaikam itu dan sejenak dia tidak mampu mengeluarkan suara karena rasa takut dan ngeri seperti mencekik lehernya dari dalam.

"Tapi"".. tapi""."

"Tidak ada tapi, Siang Bwee. Ingat, kita harus membela negara, harus menyelamatkan keluarga istana! Kalau enekau menolak, berarti keluarga istana terancam bahaya dan engkau sendiripun akhirnya tidak akan dapat menyelamatkan diri. Sebaliknya, kalau engkau menerima dengan suka rela, bukan hanya engkau berjasa terhadap istana, terhadap negara, terhadap aku, akan tetapi juga engkau akan hidup terhormat dan mulia karena An sicu adalah seorang yang berpengaruh dan berkedudukan tinggi "

Ingin Siang Bwee memaki dan mengingatkan bahwa orang macam Thio-thaikam tidak patut bicara tentang membela negara!

Seorang pengkhianat seperti pembesar ini dapat membujuk orang lain untuk berkorban demi keselamatan keluarga kaisar!

Sungguh tidak tahu malu sekali dan bermuka tebal.

Akan tetapi dia tahu bahwa di balik kemanisan sikap dan kata-kata ini, Thio-thaikam mengancam dan pembesar ini mempunyai kekuasaan mutlak atas dirinya, apa lagi karena sampai sekarang Tan-ciangkun yang merupakan satu-satunya orang yang dapat dipercaya dan diharapkan untuk menolongnya, belum juga pulang.

"Tapi""..taijin, saya"".saya tidak mungkin melakukan itu"".harap taijin ingat bahwa saya".. saya bukan gadis lagi, saya adalah isteri Tan-ciangkun".."

Siang Bwee berkata dengan suara terputus-putus, mengharapkan Thio-taijin akan membatalkan niatnya itu mengingat bahwa dia bukan gadis lagi, dan juga mengharapkan agar pembesar ini akan jerih mengingat kepada Tan-ciangkun yang lihai.

Akan tetapi, hatinya menjadi semakin kecut dan gelisah ketika dia melihat pembesar gendut itu tertawa bergelak mendengar ucapannya.

"Ha-ha ha, Siang Bwee, apakah engkau kira aku begitu bodoh sehingga tidak tahu bahwa sampai saat ini engkau masih seorang gadis tiada bedanya seperti dahulu sebelum engkau diserahkan kepada Tan-ciangkun oleh kaisar? Engkau belum pernah disentuh oleh Tan-ciangkun! Engkau tidur terpisah dari Tan-ciangkun, semenjak engkau memasuki gedungnya sampai sekarang. Tidak perlu engkau membohongi aku!"

Siang Bwee terkejut bukan main.

Tahulah dia kini bahwa di dalam rumah Tan-ciangkun tentu terdapat mata-mata, dan bukan tidak boleh jadi bahwa seorang di antara para pelayan itu adalah mata-mata pembesar ini.

Dia tidak mampu membantah dan hatinya terasa makin gelisah.

Akan tetapi karena dia didesak dan tidak melihat jalan keluar untuk melarikan diri lagi, dia lalu menangis dan dengan nekat dia lalu berkata.

"Tidak taijin! Saya tidak mau"". dan kalau saya dipaksa, saya akan membunuh diri""..! Saya adalah milik Tan-ciangkun"". dan sampai mati saya akan setia kepadanya!"

Marahlah Thio-thaikam.

"Hemm, Siang Bwee, lupakah engkau kepada siapa engkau bicara? Kalau tidak ada aku, apa kaukira engkau akan bisa menjadi seorang seperti sekarang ini? Aku telah mengangkat derajatmu, mendidikmu dan memeliharamu, kemudian mengangkatmu sampai engkau menjadi dayang kaisar dan bahkan terpilih dan hampir menjadi selir kaisar, kemudian atas bujukanku pula engkau diserahkan kepada Tan-ciangkun oleh kaisar, dan sekarang engkau berani bicara seperti ini kepadaku?"

Siang Bwee menangis dan menyentuh lantai dengan dahinya.

"Ampun, taijin"". akan tetapi""". saya mencinta Tan-ciangkun, dan ya"".. saya akan bersetia kepadanya sampai mati"".."

"Perempuan bodoh! Engkau ditampik olehnya dan engkau masih ingin bersetia sampai mati? Engkau mencintanya padahal dia tidak cinta kepadamu? Apakah engkau akan menyia-nyiakan dirimu, kecantikanmu dan kemudaanmu? Siang Bwee, kini kesempatan baik terbuka bagimu, Kerajaan Tong-tiauw telah jatuh dan An-sicu adalah seorang yang tinggi kedudukannya. Siapa tahu engkau akan menjadi seorang yang paling tinggi kedudukanmu kelak. Buanglah segala sikap kekanak-kanakanmu itu dan pergunakan kesempatan ini!"

Akan tetapi Siang Bwee yang masih berlutut itu menangis sampai mengguguk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tidak"..! uhu-huh"".. tidak"".."

Melihat bahwa bujukan-bujukannya tidak berhasil dan bahwa mempergunakan paksaan amat tidak baik karena tentu An Hun Kiong tidak akan merasa senang menerima seorang wanita yang dipaksa, apa lagi mungkin saja Siang Bwee akan benar-benar membunuh diri, maka pembesar yang cerdik itu lalu merobah siasat.

Dia tahu bahwa gadis ini jatuh cinta kepada Tan Sian Lun, biarpun pemuda itu tidak pernah menjamahnya, maka dia hendak menggunakan kelemahan ini untuk memaksanya.

"Baiklah! Engkau hendak bersetia sampai mati? Engkau hendak membunuh diri kalau dipaksa melayani An-sicu? Hemm, tidak semudah dan seenak itu, Siang Bwee. Sebelum engkau mati, engkau akan lebih dulu melihat Tan-ciangkun kusuruh tangkap dan kusuruh siksa di hadapanmu sampai mati!"

Tiba-tiba suara sesenggukan itu terhenti seketika dan wajah yang pucat dan basah air mata itu diangkat, memandang kepada wajah Thio-thaikam dengan mata terbelalak, kepalanya digoyang-goyang dan bibirnya yang gemetar itu berkata lirih.

"Tidak"", jangan"". jangan taijin""

Ahhh, jangan bunuh dia""."

"Hal itu sepenuhnya berada dalam telapak tanganmu sendiri. Siang Bwee. Jangan engkau minta kepadaku karena engkaulah yang menentukan apakah Tan-ciangkun akan mati atau hidup. Kalau engkau mau menyerahkan diri secara sukarela kepada An-sicu, berarti Tan-ciangkun selamat, bahkan aku sendiri yang akan melindunginya kalau dia kembali ke kota raja Akan tetapi kalau engkau menolak"".!"

"Saya terima"". ah, apapun akan saya lakukan demi keselamatannya"".."

Dan gadis itu menangis tersedu-sedu, menutupi mukanya dan hatinya menjeritkan nama Sian Lun.

"Nah, itu baru benar dan baik. Siang Bwee. engkau mengorbankan diri demi negara dan erajaan. Pula, engkau akan dihormati, dimuliakan dan dicinta, maka hal itu sama sekali bukan pengorbanan diri, engkau malah akan hidup beruntung dan mulia!"

Persetan dengan negara dan kerajaan dan Thio-thaikam!

Demikian hati gadis itu memaki.

Dia meogorbankan diri demi kcselamatan Tan Sian Lun, itu saja!

Andaikata tidak untuk pemuda itu, biar dia diangkat menjadi permaisuri sekalipun, dia tidak akan sudi!

"Nah, engkau berkemaslah dan rias dirimu baik-baik dan secantik-cantiknya.

Ingat, engkau akan kuserahkan kepada An sicu bukan sebagai seorang dayang istana, bukan pula sebagai dayang dari Tan-ciangkun, melainkan sebagai seorang puteri istana Maka engkau harus mengenakan pakaian puteri istana dani bersikap sebagai puteri istana."

Sambil menangis, Siang Bwee lalu mengundurkan diri dan terpaksa dia merias dirinya kemudian dia dibawa dalam sebuah joli, diantar ke istana, ke kamar An Hun Kiong, dituntun ke kamar itu seperti seekor domba dituntun memasuki kandang harimau untuk menjadi mangsa harimau buas!

Dan Siang Bwee hanya bisa menangis ketika dia terpaksa menyerahkan dirinya kepada An Hun Kiong.

Biarpun pria ini cukup gagah dan tampan, namun dia memejamkan mata dan membayangkan bahwa dia menyerahkan diri bukan kepada orang lain, melainkan kepada Sian Lun!

Hanya secara demikianlah maka dia mampu menyerahkan dirinya dalam pelukan dan rayuan pria itu.

Malam yang sunyi dan gelap, Kota raja seperti kota mati semenjak pasukan Tibet dan Khitan mendudukinya sepekan yang lalu.

Selain banyak penduduk kota raja yang melarikan diri mengungsi ke selatan, yang masih tinggal di dalam kota raja tidak berani keluar rumah, apalagi di malam hari.

Bahkan rumah-rumah yang biasanya kalau malam diberi lampu gantung di depannya, kini gelap sama sekali.

Hal ini tentu saja menambah gelap jalan-jalan raya dan menambah sunyi menyeramkan malam itu.

Di sana-sini terdengar ratap tangis dari keluarga yang kehilangan anak gadisnya, kehilangan suami, kehilangan harta.

Namun ratap tangis itu ditahan-tahan, karena di samping kedukaan yang besar itu terdapat pula rasa takut kalau-kalau mereka akan tertimpa malapetaka lebih hebat lagi dari pada sekedar kehilangan itu, yaitu malapetaka yang berupa maut.

Yang nampak di jalan-jalan hanyalah para perajurit Tibet yang mabok-mabokan, ada pula beberapa orang penduduk kota raja yang sudah berbaik dengan mereka ini, bahkan mempergunakan kesempatan itu untuk mengeruk keuntungan dari persahabatan ini, dengan jalan menjilat-jilat.

Dalam keadaan kacau, makin banyak bermunculan orang-orang seperti ini.

Mereka ini sudah kehilangan rasa malunya, bahkan mereka itu berjalan di samping perajurit-perajurit Tibet dengan dada dibusungkan, seolah-olah pengkhianatan dan penjilatan mereka itu merupakan suatu keberanian yang patut dibanggakan!

Mereka ini bahkan lebih ganas dari pada para perajurit musuh itu sendiri!

Mereka menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan keuntungan lahir dan batin, menjadi petunjuk bagi para perajurit yang berpesta-pora itu untuk menunjukkan di mana para perajurit itu bisa mendapatkan gadis-gadis muda dan cantik.

Tentu saja mereka sendiripun mendapatkan bagian Orang orang seperti ini tinggal mendatangi sebuah keluarga yang sudah setengah mati ketakutan itu, mengancam akan melaporkan mereka sebagai mata mata kalau tidak mau menyerahkan anak gadisnya, atau sejumlah uang atau perhiasan, kepada orang orang yang mempergunakan kesempatan untuk melampiaskan nafsu-nafsu jahat mereka itu.

Peristiwa-peristiwa seperti itu bukanlah dongeng kosong belaka.

Dapat dilihat terjadi di manapun di bagian dunia ini, dari jaman dahulu sampai sekarang di jaman modern.

Manusia telah begitu diperhamba oleh nafsu nafsu keinginan mengejar kesenangan, dan di dalam pengejaran ini timbullah kekerasan kekerasan dan kekejian-kekejian, tidak memperdulikan kesengsaraan orang lain, perasaan cinta kasih antar manusia lenyap sama sekali.

Nafsu-nafsu keinginan menyesak di dalam dada dan menanti kesempatan.

Maka begitu terdapat kesempatan, pecahlah semua bendungan dan nafsu-nafsu ini merajalela, menyeret manusia ke dalam segala perbuatan biadab yang amat keji!

Hukum rimba selalu masih mencengkeram batin manusia, baik di jaman dahulu maupun di jaman sekarang ini.

Siapa kuat dia menang dan siapa menang dia berkuasa, kemudian siapa berkuasa dia MESTI BENAR!

Demikianlah maka terjadi penindasan penindasan, menggunakan hak kekuasaan untuk bersikap dan bertindak sewenang-wenang, menindas yang lemah dan tidak berdaya.

Kenyataan seperti ini terjadi di mana-mana di seluruh dunia ini dan siapakah yang dapat menyangkal kebenarannya?

Segala cara yang ditempuh manusia telah mengalami kegagalan sama sekali!

Tidak akan ada cara apapun, tidak akan ada orang lain yang dapat merobah keadaan ini yang disebabkan oleh KITA SENDIRI.

Kita semua bertanggung jawab akan terciptanya "peradaban"

Dan "kebudayaan"

Yang bejat seperti ini.

Kita semua yang harus menanggulangi, bukan dengan jalan merobah keadaan yang disebabkan oleh kita sendiri, bukan dengan cara merobah orang lain, melainkan dengan satu-satunya cara, yaitu.

ADANYA PEROBAHAN PADA DIRI SENDIRI!

Kita ini penyebab semua itu, penyebab kebencian, persaingan, permusuhan, iri hati, perbedaan suku dan bangsa, perang.

Oleh karena itu, selama kita tidak berobah, maka keadaan yang menjadi akibat dari pada sikap batin dan perbuatan kita itu tak mungkin dapat berobah pula!

Perebahan diri sendiri hanya mungkin terjadi kalau kita mengenal diri sendiri, dan pengenalan diri sendiri, kepalsuan sendiri, kemunafikan sendiri, kekotoran sendiri, ini baru terlaksana kalau kita membuka mata, mengamati diri sendiri lahir batin setiap saat!

Berbagai macam agama memenuhi dunia ini, dipeluk oleh manusia.

Semenjak ribuan lahun yang lalu manusia sudah mengenal agama, dan di jaman ini kiranya tidak ada orang yang tidak memeluk sesuatu agama, kepercayaan, atau aliran tertentu.

Akan tetapi mengapa dunia masih begini kalut, mengapa perang masih selalu merajalela dan berkobar, mengapa cinta kasih antar manusia masih jauh dari kenyataan hidup sehari-hari, mengapa kebencian, pertentangan, permusuhan masih selalu memenuhi kehidupan kita ini?

Kalau kita mau membuka mata melihat keadaan seperti apa adanya, kalau kita mau mengenal diri sendiri, maka akan nampaklah nyata bahwa semua itu adalah karena semua agama, kepercayaan dan aliran atau isme apapun juga hanya menjadi semacam tempat pelarian saja bagi kita.

Kita ini mau enaknya saja, hanya mau memperoleh hiburan, jaminan, kepuasan kesenangan, dari agama-agama, kepercayaan, aliran yang kita anut.

Kita mau enaknya saja, tanpa menghayati isinya atau intinya.

Kita tidak memperoleh apinya, hanya mengejar abu dan asapnya saja.

Orang yang betul-betul beragama, bukan hanya mengaku beragama, tidak akan mengenal kebencian, tidak akan mengenal permusuhan Sayang, kita ini hanya pandai mengaku saja bahwa kita beragama, padahal, agama tidak mungkin terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Agama dalam arti yang sebenarnya adalah hidup benar, hidup bajik, hidup bersih!

Dan ini baru menjadi kenyataan kalau batin kita penuh dengan sinar cinta kasih!

Tanpa adanya sinar cinta kasih dalam batin, maka semua yang kita lakukan adalah pura pura dan palsu belaka.

Tidakkah kita dapat melihat kenyataan semua ini kalau kita membuka mata?

Suasana di kota raja amat menyeramkan.

Kesunyian hanya kadang-kadang dipecahkan oleh suara ketawa perajurit-perajurit Tibet atau Khitan atau antek-anteknya yang mabok dan berjalan sempoyongan di tengah jalan bergandeng tangan, bernyanyi dengan suara parau.

Ada pula lapat-lapat terdengar jerit jerit tertahan suara wanita ketakutan.

Perkosaan masih terjadi di mana saja, baik di tepi.

tepi jalan, di dalam rumah-rumah penduduk sampai ke dalam istana!

Di antara wanita yang menangis terisak-isak di waktu malam itu termasuk pula Siang Bwee!

Akan tetapi tangisnya itu telah terjadi dua hari yang lalu, dan kini dia hanya tinggal rebah terlentang dengan sepasang mata sayu, seperti tak bersemangat lagi, rebah di samping tubuh seorang pria yang tergolek di sampingnya, yang lengan kirinya masih memeluk pinggangnya, tubuh An Hun Kiong yang telah menjadi suaminya tanpa pernikahan!

Dia menerima nasib, air matanya telah kering, namun bayangan wajah Sian Lun tak pernah lenyap dari depan matanya, baik di waktu dia terpaksa harus melayani An Hun Kiong maupun selagi dia rebah tak dapat pulas itu, walaupun dia mengalami keletihan lahir batin.

Tiga sosok bayangan hitam berkelebat di atas wuwungan rumah-rumah di kota raja.

Mereka itu berloncatan yang luar biasa, cepat namun tetap waspada dan hati-hati.

Kaki tiga orang ini sama sekali tidak pernah menimbulkan suara, mengerahkan ginkarg mereka dan berloncatan dari atap ke atap.

Mereka adalah Tan Sian Lun, Gan Ai Ling, dan Coa Gin San, Tan Sian Lun berjalan di depan sebagai penunjuk jalan karena pemuda yang telah menjadi seorang perwira di kota raja ini mengenal jalan.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, tiga orang muda ini saling berjumpa dan bersama-sama mereka pergi mengunjungi keluarga Yap Yu Tek yang tinggal di An-kian.

Di An-kian inilah mereka mendengar tentang penyerbuan pasukan Tibet yang menduduki kota raja.

Mendengar ini tiga orang muda yang sakti itu lalu pergi ke kota raja dan sebelum memasuki kota raja, dengan kaget Sian Lun mendengar bahwa berhasilnya pasukan Tibet itu menduduki kota raja adalah atas pengkhianatan Thio-thaikam dan para pembantunya yang kabarnya adalah orang-orang yang berilmu tinggi.

Tentu saja Sian Lun menjadi marah sekali kepada musuh besar yang telah mengakibatkan tewasnya ayah bundanya bahkan, seluruh keluarga ibunya itu, dan makin bencilah dia kepada pembesar itu.

Tentu saja tiga orang muda yang gagah perkasa ini tidak hanya menuruti hati panas saja tidak secara ceroboh memasuki kota raja.

Mereka lebih dulu menemui Panglima Ong Gi dan para panglima lain yang sudah meropersiapkan pasukan besar untuk menyerbu dan merebut kembali kota raja, bahkan mereka bertiga juga mengumpulkan semua anggauta Im-yang-pai, Ling Ling minta kepada Kok Beng Thiancu dan Cin Beng Thiancu untuk membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang yang masih setia kepada negara, dan juga untuk membersihkan nama mereka agar mereka membawa anak buah Im-yang-pai menyelundup ke kota raja dan bersiap-siap membantu penyerbuan pasukan pemerintah itu.

Setelah semua persiapan dilakukan dan pasukan-pasukan pemerintah bergerak dari empat penjuru menuju ke kota raja, barulah tiga orang pendekar muda itu mendahului mereka dan malam hari itu mereka menyelinap ke dalam kota raja mempergunakan ginkang mereka yang tinggi sehingga mereka dapat memasuki kota raja dengan mudah tanpa diketahui para penjaga Tibet dan Khitan.

Nampaklah mereka kini berkelebatan di atas wuwungan rumah-rumah di kota raja, menuju ke gedung tempat tinggal Sian Lun.

Pendekar muda ini nenuju ke rumahnya, diikuti oleh dua orang temannya atau adik-adik seperguruannya di waktu kecil, dengan hati berdebar tegang.

Hati pemuda perkasa ini diliputi (Lanjut ke

Jilid 42) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 42 penuh kekhawatiran kan keselamatan Siang Bwee.

Akan tetapi dia menaruh harapan bahwa Siang Bwee akan berada dalam keadaan aman.

Bukankah dia dianggap sebagai pembantu Thio-thaikam dan setelah ini Thio-thaikam menguasai istana, tentu gedungnya tidak diganggu dan Siang Bwee yang oleh semua orang dianggap sebagai selirnya itu akan aman pula.

Lega hati Sian Lun ketika dia dan dua orang muda lainnya itu tiba di atas gedungnya karena dari wuwungan itu dia dapat melibat bahwa gedungnya masih terpelihara baik dan tidak nampak bekas bekas kerusakan, tanda bahwa gedungnya memang tidak pernah mengalami gangguan.

Bahkan di sekitar gedungnya itu dia melihat beberapa orang perajunt pengawal Thio-thaikam sendiri melakukan penjagaan, betapapun juga, pemuda ini tidak berani sembarangan mengajak Ling Ling dan Gin San masuk.

Dia memberi isyarat kepada dua orang itu untuk tetap bersembunyi di atas wuwungan karena dia hendak turun sendiri lebih dulu untuk memeriksa keadaan.

Kemudian dia melayang turun melalui belakang gedung dan menyelinap masuk ke dalam gedung melalui pintu belakang yang kelihatan sunyi.

Seorang pelayan wanita hampir menjerit kaget ketika melihat munculnya seorang laki-laki secara tiba-tiba seperti setan di depannya Akan tetapi begitu dia mengenal wajah Sian Lun, dia cepat menjatuhkan diri berlutut dan menangis.

Pelayan wanita itu adalah pelayan pribadi dari Siang Bwee dan amat mencintai gadis itu, juga wanita inilah satu-satunya pelayan yang tahu akan rahasia mereka.

"Ciangkun"". celaka"". celaka.....non Siang Bwe"".."

Dia sesenggukan. Sian Lun menangkap lengan pelayan itu dengan lembut "Ssstt, jangan keras-keras, mari kita bicara di dalam saja!"

Bisiknya dan dia menarik pelayan itu memasuki kamar pelayan itu di bagian belakang.

Sian Lun khawatir, kalau-kalau percakapan mereka terdengar oleh para penjaga, yaitu para pengawal Thio-thaikam karena bagaimanapun juga dia masih merasa curiga kepada para pengawal ini, mengingat pengkhianatan Thio-thaikam.

Setelah berada di dalam kamar, pelayan itu berkata dengan suara bisik-bisik, sambil menahan banjirnya air mata.

"Siocia".,telah dipaksa oleh Thio taijin...". dibawa ke istana dan diberikan kepada...".. seorang pembesar Khitan".."

Terkejutlah hati Sian Lun mendengar ini, dan jantungnya berdebar, mukanya terasa panas tanda bahwa dia marah sekali.

"Apa? Diberikan kepada orang Khitan? Kenapa dia mau""..?!"

Pelayan kepercayaan Siang Bwee itu, seorang wanita yang usianya sudah empatpuluh tihun, telah mendengar penuturan Siang Bwee sebelum nona itu pergi, maka kini tanpa ragu-ragu lagi dia berkata.

"Ciangkun, siocia pergi karena terpaksa, karena Thio-taijin mengancam bahwa kalau dia tidak mau, maka Thio-taijin akan menangkap ciangkun dan akan menyiksa ciangkun sampai mati di depan siocia! Itulah yang membuat siocia tidak berdaya dan terpaksa menurut, demi keselamatan ciangkun! Tadinya siocia sudah mau membunuh diri saja, akan tetapi mengingat akan ancaman Thio-taijin, dia terpaksa menurut"".."

Wanita ini menangis lagi.

Wajah Sian Lun berobah-robah, sebentar pucat sebentar merah, hatinya seperti ditusuk rasanya.

Dia tahu betapa Siang Bwee amat mencintanya, dan kini dia merasa amat terharu.

Wanita itu telah membuktikan cintanya yang amat mendalam, dengan cara yang paling mengerikan, yaitu rela berkorban diri dan kehormatan demi keselamatannya "Kapan dia"".

dibawa ke istana?"

Tanyanya, menahan marah.

"Sudah dua hari, ciangkun. Aduh, kasihan sekali dia..."". harap ciangkun suka menolongnya, dengan jalan apapun"""

Pelayan itu berkata lirih sambil terisak.

"Siapa nama orang Khitan itu?"

"Disebutnya An-sicu, entah siapa namanya yang lengkap"""

Akan tetapi kabarnya dia merupakan orang paling penting di istana sekarang, pemuka orang-orang Khitan di sana..."

"Hemm"", aku akan segera ke sana, tenangkan hatimu dan jangan menceritakan kepada siapapun juga tentang kedatanganku ini". Setelah berkata demikian, Sian Lun meloncat keluar dan terus melayang naik ke atas genteng. Dia melihat Gin San dan Ling Ling masih mendekam di atas wuwungan, maka dia lalu memberi isyarat kepada dua orang itu untuk mengikutinya. Melihat betapa Sian Lun meloncat pergi tanpa mengeluarkan kata-kata dan dari sinar bulan dapat dilihat sepasang matanya bersinar tajam, Gin San dan Ling Ling merasa heran dan mereka itu hanya dapat cepat mengejar. Tiga bayangan orang ini kembali tampak berkelebatan di atas wuwungan rumah-rumah di kota raja, dan Sian Lun membawa dua orang temannya itu menuju ke istana! Terkejutlah hati Gin San dan Ling Ling menuju bangunan istana yang dikelilingi tembok benteng yang kuat dan terjaga ketat oleh pasukan Tibet dan Khitan itu. Mereka mendekam di tempat gelap, tak jauh dari pintu gerbang, mengintai. Kesempatan ini pergunakan oleh Ling Ling untuk berbisik.

"suheng, mengapa engkau mengajak kami kesini? Bukankah di depan itu istana?"

Sian Lun mengangguk, sukar menjawab, dadanya bergelombang tanda bahwa pemuda tu amat marah.

"Suheng, apakah kita akan menyerbu istana?"

Gin San juga berbisik dan memandang kepada Sian Lun dengan alis berkerut karena kalau memang itu yang dikehendaki suhengnya, maka amatlah berbahaya.

Mana mungkin mereka bertiga saja menghadapi pasukan pengawal istana yang tentu amat banyak jumlahnya, di samping adanya banyak orang pandai di situ?

Dia tidak percaya bahwa suhengnya akan demikian ceroboh!

Akan tetapi Sian Lun mengangguk!

"Aku"".

aku harus menyelamatkan seorang dari sana..."!"

Jawabannya demikian pasti dengan suara demikian kering sehingga Ling Ling dan Gin San saling pandang dan tidak berani bertanya lagi.

"Mari kalian ikut bersamaku"

Akhirnya Sian Lun berbisik dan tanpa menanti jawaban pemuda ini sudah menyelinap di antara bayangan-bayangan gelap mencari-cari bagian tembok yang kiranya dapat dilewatinya untul memasuki daerah istana.

Untuk ini, mereka kembah berlompatan ke atas wuwungan rumah rumah yang berada di sekitar tembok kokoli kuat yang mengelilingi daerah istana itu.

Tiba tiba Ling Ling menyentuh lengan Sian Lun yang berlari di depannya.

Pemuda ini berhenti, juga Gin San berhenti.

Ling Ling berbisik.

"Dengar""..!"

Dua orang pemuda itu mencurahkan perhatian dan terdengar oleh mereka jerit tertahan seorang wanita, agak jauh di sebelah kanan.

Sian Lun mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala, lalu menuding ke arah istana.

Jelas maksudnya untuk mencegah sumoinya itu mencampuri urusan itu karena mereka ada pekerjaan di dalam istana.

Akan tetapi Ling Ling berkata.

"Kalau kalian tidak mau menolong, biarlah aku sendiri yang pergi menolong!"

Setelah berkata demikian, tanpa banyak cakap lagi dia lalu meloncat ke kanan, terus berloncatan ke arah wuwungan rumah dari mana dia mendengar suara jerit tertahan seorang wanita tadi.

Setelah dia berada di atas wuwungan, jelas terdengar tangis seorang wanita yang diseling suara wanita itu mengeluh dan merintih, minta-minta ampun.

Ling Ling cepat membuka genteng rumah dan apa yang nampak olehnya membuat dara ini mengatupkan gigi keras-keras dan mengepal kedua tinju tangannya.

Di dalam ruangan di bawah genteng itu dia melihat pemandangan yang amat mengerikan.

Mayat seorang laki-laki rebah miring di atas lantai dengan leher hampir putus dan melihat betapa darah masih mengalir dari leher itu, dapat diketahui bahwa pria itu belum lama dibunuh.

Dan dekat mayat itu, di atas lantai, nampak seorang wanita muda, berusia kurang lebih tiga puluh tahun, dengan wajah manis namun pucat dan matanya liar ketakutan, rambutnya yang hitam panjang itu terurai.

Pakaiannya robek-robek sehingga nampaklah sebagian besar dadanya dan pahanya, berlutut mendekap seorang anak berusia baru beberapa bulan dan melihat keadaan anak itu jelas bahwa anak itupun telah menjadi mayat dan agaknya mati dipukul atau dibanting karena tidak ada lukanya.

Lima orang laki-laki bangsa Iibet yang tinggi besar mengerumuni wanita itu, agaknya mereka ini gembira sekali melihat wanita itu meratap sambil mendekap anaknya yang telah mati, di dekat mayat suaminya.

Wanita itu menangis terengah-engah.

Tiba-tiba seorang Tibet yang berkumis panjang melingkar ke bawah, yang agaknya merupakan pemimpin dari teman-temannya, melangkah maju dan sekali renggut dia telah merampas mayat anak kecil itu dari dekapan ibunya dan melemparkannya ke sudut.

Wanita itu menjerit, bangkit berdiri dan hendak mengejar anaknya, akan tetapi orang Tibet berkumis panjang dan bertubuh tinggi besar itu kembali menggerakkan tangannya dan menangkap pundak wanita itu.

Terdengar suara berbrebet dan semua pakaian yang masih bersisa di tubuh itu terobek dan wanita itu menjadi telanjang sama sekali.

Mereka berlima tertawa dan si kumis itu sudah memondong tubuh wanita ini dan melemparkannya ke atas dipan yang berdiri di sudut.

Akan tetapi pada saat itu nampak bayangan hijau berkelebat dan Ling Ling sudah melayang turun ke dalam ruangan itu.

Dara ini sekarang telah berganti pakaian dengan warna kesukaannya yaitu warna hijau muda, tidak lagi berpakaian serba putih seperti ketika dia masih membantu lm-yang-pai.

Saking marahnya, begitu dia melayang turun, dengan ginkangnya yang memang luar biasa, Ling Ling sudah menyambar ke arah orang Tibet yang hendak memperkosa wanita itu dan sekali tangannya bergerak, terdengar suara "prakkk!"

Dan tubuh pria itu terjengkang dan tewas di saat itu juga dengan kepala retak!

Empat orang temannya terkejut dan majulah mereka ketika melihat munculnya seorang dara cantik berpakaian hijau yang kini berdiri dengan mata bersinar-sinar penuh kemarahan memandang kepada mereka.

Empat orang Tibet ini sudah mencabut senjata Mereka masing-masing, yaitu sebatang golok yang besar dan tajam berkilauan.

Namun Ling Ling yang sudah-marah sekali itu tidak memperdulikan hal ini, bahkan dia sudah melengking nyaring dan tubuhnya menyambar ke depan.

Empat orang itu menyambutnya dengan bacokan golok masing-masing, akan tetapi tahu tahu bayangan dara itu lenyap dan sebelum mereka dapat melihat ke mana perginya dara itu, seorang di antara mereka memekik,dan roboh tewas pula dengan kepala retak, dipukul dari samping oleh jari-jari tangan halus yang mengandung kekuatan dahsyat itu!

Pada saat-itu, berkelebat dua bayangan lain dan Sian Lun bersama Gin San sudah berada di situ pula.

Mereka tadi melihat dari atas dan ikut merasa marah sekali menyaksikan kekejian yang dilakukan oleh lima orang Tibet itu, maka mereka kini melayang turun setelah Ling Ling merobohkan dua orang.

Hampir berbareng tiga orang pendekar muda ini bergerak dan tiga orang Tibet itu sama sekali tidak memperoleh kesempatan untuk mengelak atau melawan karena gerakan tiga orang pendekar itu terlalu cepat bagi mereka sehingga mereka itu dalam segebrakan saja sudah roboh dan tewas semua.

"Aihhh"""!"

Ling Ling menjerit.

Dua orang suhengnya menengok dan mereka itu menarik napas panjang melihat betapa wanita yang telanjang bulat dan hampir diperkosa oleh lima orang Tibet itu kinipun sudah menggeletak di samping suaminya sambil mendekap anaknya, dan sebatang golok menancap di dadanya.

Kiranya wanita ini sudah putus asa dan nekat melihat suami dan anaknya tewas, maka dia mengambil sebatang golok milik seorang Tibet yang tewas, lalu dia membunuh diri selagi tiga orang pendekar itu menghadapi tiga orang Tibet tadi.

Kini wanita itu rebah dengan darah bercucuran dan tewas seketika karena goloknya menembus jantung.

Ling Ling yang meloncat dekat dan memeriksanya, melepaskan lagi wanita itu dan bangkit berdiri sambil mengepal tinju.

"Manusia-manusia biadab keparat!"

Dia menendang kepala seorang di antara lima mayat orang Tibet itu.

Gin San memeriksa seluruh rumah akan tetapi tidak ada orang lain di tempat itu kecuali mayat ayah ibu dan anak itu ditambah mayat lima orang Tibet.

"Kita bakar saja rumah ini"

Katanya.

"Jangan!"

Kata Sian Lun.

"Hal itu akan menarik perhatian dan menghalangi kita masuk istana!"

"Akan tetapi, suheng, memasuki istana amat berbahaya, dan kita sudah berjanji untuk membantu pasukan kerajaan menyerbu kota raja...".."

Gin San membantah.

"Mari""."

Sian Lun tidak banyak cakap lagi dan sudah meloncat keluar rumah itu.

Terpaksa Ling Ling dan Gin San, setelah saling pandang dan pemuda ini mengangkat kedua pundaknya, cepat pula mengejar.

Dengan menggunakan kepandaian mereka tiga orang muda perkasa itu akhirnya berhasil meloncati pagar tembok yang mengelilingi daerah Istana dan mereka menyelinap melalui bayangan-bayangan gelap.

Sian Lun selalu menjadi penunjuk jalan, biarpun pemuda ini sendiri belum begitu hafal akan keadaan daerah istana sedikitnya dia pernah memasuki istana dan dapat mengira-ngira di mana letaknya tempat tinggal Thio-thaikam.

Karena pembesar inilah yang akan didatanginya.

Dia sudah mengatur siasat ketika melakukan perjalanan tadi.

Dia harus lebih dulu menangkap pembesar ini, menjadikannya sebadai sandera untuk memaksa pembesar ini membebaskan Siang Bwee!

Pada saat itu, Sian Lun sudah tidak memikirkan hal-hal lain lagi, bahkan sudah melupakan rencana penyerbuan pasukan kerajaan.

Yang teringat olehnya hanyalah satu hal, yaitu menyelamatkan Siang Bwee!

Kita tidak bisa menyalahkan Sian Lun dalam hal ini.

Memang demikianlah kita manusia pada umumnya, selalu hanya memikirkan kepentingan diri sendiri belaka.

Semua perbuatan kita dikendalikan oleh pikiran, dan pikiran ini mencinta si aku yang paling penting!

Semua perbuatan seperti itu bersumber kepada aku atau kepada orang-orang atau benda benda yang terikat dengan si aku.

Maka yang terpenting adalah keluargaku, suku bangsa negaraku, agamaku, sahabatku dan selanjutnya lagi, pendeknya milikKu.

Jangan ganggu uangku, keluargaku, agamaku, akan tetapi kalau mengganggu uang orang lain, keluarga atau agama orang lain, terserah!

Hal ini sudah begitu mendalam mempengaruhi kehidupan kita sehingga dianggap sudah layak dan benar, sudah menjadi kebudayaan kita!

Cinta kita bukan lagi cinta murni antar manusia, melainkan cinta kepada diri sendiri karena yang kita cinta itu adalah sumber kesenangan untuk diri kita sendiri.

Maka begitu sumber kesenangan itu diganggu, berarti mengganggu diri kita sendiri lan marahlah kita!

Kesenangan ini menimbulkan ikatan-ikatan, dan ikatan membuat kita memihak Tentu saja hal ini mendatangkan permusuhan karena masing-masing mempertahankan sumber kesenangan sendiri-sendiri.

Ikatan terhadap sumber kesenangan inilah yang kita hias dengan kata "cinta"!

Demikian pula dengan Sian Lun.

Karena ia menganggap Siang Bwee sebagai seorang wanita yang amat baik kepadanya, yang telah ia berkorban untuknya, maka timbullah ikatan dalam batinnya terhadap dara itu.

Marahlah ia ketika mendengar bahwa Siang Bwee direbut orang.

Dan dalam keadaan seperti itu, yang diingat hanyalah menolong Siang Bwee seorang, dan andaikata tidak ada Ling Ling yang memaksa, kiranya diapun tidak akan perduli mendengar jerit tangis seorang wanita lain.

Seperti juga kita tidak pernah memperdulikan penderitaan orang lain karena kita menjadi buta oleh perasaan iba diri terhadap penderitaan sendiri, oleh rasa ke-aku-an yang selalu mengembang dan meluas itu.

Maka timbul pertanyaan kepada diri sendiri.

Mungkinkah kita hidup bebas, dalam arti kata tanpa adannya ikatan dalam batin kita terhadap apa dan siapapun juga?

Kembali, pertanyaan ini tidak membutuhkan jawaban lisan, karena jawaban kata-kata hanya akan merupakan pendapat-pendapat dan teori-teori usang yang hanya berguna untuk dipergunakan dalam perbantahan dan perdebatan yang menyesatkan saja.

Jawabannya hanya dapat kita cari dalam penghayatan, dalam kehidupan kita sehari hari.

Dari para pengawal yang menjaga gedung itu tahulah Sian Lun bahwa Thio-thaikam kini telah tinggal di dalam istana bagian barat, di mana dahulu menjadi tempat tinggal keluarga kaisar sendiri!

Maka ke tempat inilah Sian Lun mengajak sute dan sumoinya pergi, berindap indap dengan hati-hati sekali.

Dia tidak tahu di mana Siang Bwee ditahan, tidak tahu di mana adanya orang she An, orang Khitan yang kini memiliki dara itu.

Maka dia sudah mengambil keputusan untuk menangkap Thio-thaikam!

Dapat dibayangkan betapa gembira hatinya ketika tiba tiba dia mendengar suara thaikam itu tertawa-tawa dan bercakap-cakap.

Cepat dia memberi isyarat kepada Ling Ling dan Gin San untuk mengikutinya, berindap-indap menuju ke sebuah ruangan di dalam, menyelinap melalui pagar rendah dengan lompatan-lompatan kilat.

Akhirnya tibalah mereka di sebuah ruangan di mana nampak Thio thaikam duduk minum arak, ditemani oleh dua orang sambil tertawa-tawa dan bercakap-cakap.

Seorang di antara mereka dikenal oleh Sian Lun karena orang ini bukan lain adalah Tiat-liong Liem Kiat, pengawal pribadi Thio-thaikam yang lihai itu.

Dan di sebelahnya duduk seorang kakek tua yang berpakaian seperti seorang tosu, sikapnya masih gagah dan tosu ini agaknya tidak memantang makanan berdarah.

Dia makan daging dan minum arak dengan sikap biasa saja, biarpun dia tidak ikut tertawa-tawa seperti yang dilakukan oleh Thio thaikam dan Liem Kiat.

Melihat bahwa Thio-thaikam hanya ditemani oleh Liem Kiat dan tosu yang tidak dikenalnya itu, Sian Lun kehilangan kewaspadaannya.

Dia merasa yakin akan dapat menangkap pembesar kebiri gendut itu maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu meloncat ke dalam ruangan itu!

Melihat ini, tentu saja Ling Ling dan Gin San juga cepat mengikutinya, berloncatan ke dalam ruangan.

"Aha, kiranya baru muncul sekarang!"

Liem Kiat mengejek dan perwira ini sudah bangkit berdiri melindungi Thio-thaikam, sedangkan tosu tua itupun bangkit berdiri dan dengan tenang memandang Sian Lun.

"Thio-thaikam, engkau manusia keparat, pengkhianat keji!"

Sian Lun sudah membentak dan menerjang ke depan dengan maksud menangkap pembesar itu, akan tetapi Liem Kiat menyambutnya dengan pukulan Ang-se-ciang yang sudah dipersiapkannya semenjak tadi.

Melihat pukulan ini, Sian Lun mengelak dan kakinya menyambar sedemikian cepatnya sehingga hampir saja lambung Liem Kiat terkena tendangan kalau dia tidak cepat melempar tubuhnya ke belakang sambil berteriak.

"Suhu"".!"

Tosu itu sudah melompat ke depan dan dialah yang menangkis pukulan lanjutan yang dilakukan Sian Lun terhadap Liem Kiat.

"Dukkk"".!"

Keduanya terkejut dan Sian Lun memandang tajam kepada tosu itu, jantungnya berdebar mendengar Liem Kiat menyebut suhu kepada tosu itu.

Teringat dia akan penuturan Siang Bwee tentang kaki tangan Thio thaikam yang dahulu memusuhi ayahnya.

"Engkaukah Tek Po Tosu?"

Bentaknya.

Tek Po Tosu, tosu tua itu, memang sudah mendengar dari Thio-thaikam bahwa putera keturunan Tan Bun Hong kini telah menjadi perwira, bahkan menjadi kaki tangan atau bawahan Thio-thaikam.

Ketika Sian Lun tadi muncul, melihat wajahnya saja dia sudah menduga karena memang wajah pemuda ini mirip mendiang ayahnya.

"Menyerahlah kepada pinto, orang muda,"

Katanya lembut, akan tetapi dengan kemarahan meluap Sian Lun sudah menerjang maju lagi, dengan maksud menangkap Thio thaikam.

Akan tetapi tosu itu menghalangi dan dia lalu menyerangnya.

Sementara itu, secara tiba-tiba, tempat itu telah penuh dengan pengawai dan nampak pula beberapa orang yang membuat Ling Ling dan Gin San terkejut bukan main.

Di antara tokoh-tokoh yang dikenalnya, seperti An Hun Kiong, Tayatonga atau Tai-lek Hoat-ong, Ba Mou Lama, Sin Beng Lama dan lain-lain, nampak pula di situ Kim sim Niocu Bu Siauw Kim dan juga Pek-ciang Cin-jin Oaw Sek!

Tentu saja melihat dua orang ini, Ling Ling dan Gin San menjadi terkejut dan juga marah bukan main.

"Perempuan iblis, engkau hendak lari ke mana sekarang?"

Bentak Ling Ling dan dia segera menerjang Bu Siauw Kim dengan kemarahan meluap-luap.

Bu Siauw Kim tersenyum dan meloncat mundur.

Tempatnya segera digantikan oleh enam orang pengawal yang serentak maju mengepung Ling Ling.

Dara ini marah dan mengamuk seperti seekor naga sakti.

Demikian pula, ketika melihat Ouw Sek, Gin San memandangnya dengan muka merah.

Dia memang sudah mendengar berita kejatuhan kota raja ke tangan Tibet itu memperoleh bantuan dari orang-orang Beng-kauw, bekas anak buah Beng-kauw utara yang sudah hancur.

Tahulah dia kini setelah dia melihat ke hadiran Ouw Sek di kota raja bahkan di istana, bahwa tentu orang-orang Beng-kauw itu dihasut dan diperalat oleh murid Beng-kauw yang murtad ini.

Beng-kauw telah diseret ke dalam lumpur pemberontakan dan pengkhianatan oleh Ouw Sek.

"Ouw Sek, manusia busuk! Kiranya engkau yang menggerakkan sisa anggauta Beng-kauw utara!"

Bentaknya. Ouw Sek tertawa.

"Ha-ha, murid keponakanku yang baik. Kenapa engkau tidak lekas berlutut kepada paman gurumu? Aku telah berhasil mengangkat Beng-kauw, kalau engkau mau membantu, aku akan memberi kedudukan lumayan kepadamu"".."

"Jahanam!"

Gin San sudah menerjang dan Ouw Sek yang amat lihai itu sambil tertawa lalu meloncat ke belakang dan kembali enam orang pengawal yang menggantikan tempatnya mengeroyok Gin San.

Tek Po Tosu yang segera dapat melihat bahwa ilmu kepandaian putera mendiang Tan Bun Hong itu amat tinggi, jauh lebih tinggi dari pads tingkat kepandaian mendiang ayah pemuda itu, dan jauh lebih tinggi dari pada tingkatnya sendiri, bersama muridnya, Liem Kiat, dia sudah meloncat mundur dan enam orang pengawalpun sudah menggantikannya.

Kini, tiga orang muda itu dikeroyok oleh belasan orang pengawal yang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi dan memang ternyata bahwa mereka bertiga itu sudah dinanti oleh Thio-thaikam!

Kini, Sian Lun melihat betapa pembesar itu lenyap dari situ, yang ada hanya jagoan-jagoannya yang berilmu tinggi, yang kini mengurung tempat itu sambil menonton belasan orang pengawal mengeroyok mereka bertiga!

Tiga orang itu mengamuk dengan hebat sekali.

Sepak-terjang mereka laksana tiga naga sakti bermain-main di angkasa, beterbangan dan berkelebatan ke sana ke mari dan dalam waktu beberapa menit saja mereka masing-masing telah merobohkan enam orang pengeroyok itu!

Akan tetapi, begitu ada yang roboh, muncul lagi pengawal-pengawal lainnya sehingga mereka bertiga tetap terkurung terus dengan ketat.

Para pengawal itu sama sekali bukanlah lawan tiga orang pendekar sakti ini, mereka seperti mentimun melawan durian saja dan dalam beberapa jurus kemudian, kembali masing masing pendekar merobohkan enam orang pengeroyoknya.

Akan tetapi tiba-tiba mereka kehilangan semua lawan dan ruangan itu ternyata telah tertutup dari luar.

Selagi mereka bersiap untuk menerjang keluar dan mendobrak pintu, tiba-tiba dari empat penjuru terdengar suara mendesis dan nampaklah asap kekuningan memasuki ruangan itu, ditiupkan atau disemprotkan dari luar.

"Sute, sumoi"".awas"". asap beracun ..!"

Sian Lun berseru kaget sekali.

"Tahan napas"".!"

Gin San juga berseru kaget.

Ketiganya lalu cepat berusaha mendobrak pintu, akan tetapi pintu itu terbuat dari baja yang tebal dan kokoh kuat sehingga mereka tidak sanggup mematahkannya.

Sian Lun meloncat ke arah jendela dan sekali kakinya menendang, jendela itu pecah terbuka, akan tetapi dari jendela ini menyambar belasan batang anak panah sehingga dia terpaksa mengelak, kemudian dari jendela itu disemprotkan pula asap beracun sehingga tentu saja mereka tidak berani mendekati jendela.

Kamar itu makin penuh dengan asap dan betapapun mereka bertahan, akhirnya mereka tidak dapat menghindarkan asap memasuki hidung dan mulut karena dari luar berhamburan senjata-senjata rahasia yang membuat mereka berloncatan ke sana-sini dan karena pengerahan tenaga ini terpaksa mereka harus menyedot hawa.

Dan robohlah tiga orang pendekar sakti yang mengamuk seperti tiga ekor naga sakti itu, terbius oleh asap beracun.

Para pengawal yang menutupi muka dengan saputangan yang sudah diberi obat penawar segera berlompatan ke dalam, dipimpin oleh An Hun Kiong yang sudah membawa pedang untuk membunuh mereka.

"Jangan bunuh mereka! Tangkap dan belenggu agar besok dapat kita hukum untuk menakut-nakuti teman-teman mereka yang masih berkeliaran!"

Tiba-tiba terdengar Ba Mou Lama berseru.

Karena yang menduduki kota raja dan istana adalah pasukan besar Tibet, maka tentu saja yang paling berkuasa pada saat itu adalah Ba Mou Lama.

Mendengar seruan ini, An Hun Kiong tidak jadi menggunakan pedangnya dan dia lalu memerintahkan orang-orangnya untuk membelenggu ketiga orang itu dan menyeret mereka ke dalam ruang tahanan di belakang istana di mana terdapat puluhan orang tahanan lain.

Tiga orang ini dimasukkan ke dalam sebuah kamar tahanan yang kokoh kuat, dan mereka masing-masing dibelenggu pengan rantai baja pada kaki tangan mereka pada dinding tembok sehingga tubuh mereka yang pingsan itu bersandar pada tembok dau tergantung kepada kedua tangan mereka yang terbelenggu pergelangannya.

Selain terbelenggu kaki tangan mereka dengan gelangan yang ditanam di tembok, juga belasan orang penjaga dengan anak panah siap di busur menjaga di luar kamar itu, siap melepaskan anak panah membunuh mereka andaikata mereka itu berusaha hendak meloloskan diri.

Setelah melihat betapa tiga orang ini tak berdaya dan terjaga ketat, barulah An Hun Kiong yang bertugas mengepalai para penjaga ruang tahanan ini, meninggalkan pesan kepada para penjaga untuk waspada menjaga tiga orang itu, kemudian pergilah dia pulang ke tempatnya di bagian kiri istana, kembali ke kamarnya untuk mengaso.

Sementara itu, Ci Siang Bwee yang tadinya duduk di atas pembaringan dalam kamar mewah itu sambil menangis mengenangkan nasibnya, mendengar pula akan keributan di dalam istana.

Dari para dayang dan pengawal, dia mendengar bahwa kekasihnya, Tan-ciangkun bersama dua orang lain telah menyerbu dan menimbulkan kekacauan dan bahwa mereka bertiga itu akhirnya dapat ditangkap dan dimasukkan dalam kamar tahanan untuk menanti hukuman yang akan dijatuhkan besok pagi.

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Siang Bwee mendengar berita ini, lemas dan lemah lunglai rasa seluruh tubuhnya!

Dia merasa ditipu oleh Thio thaikam!

Dia telah dengan hati hancur lebur menyerahkan dirinya kepada An Hun Kiong memenuhi permintaan Thio-thaikam, semata mata untuk menyelamatkan nyawa Tan Sian Lun yang dicintanya.

Selama dua malam berturut-turut dia menangisi nasibnya, dengan amat berduka dia membiarkan dirinya dikuasai oleh orang Khitan itu, memejamkan mata dan memperkuat batinnya dengan bayangan bahwa apa yang dilakukannya itu adalah demi cintanya terhadap Tan Sian Lun.

Dan sekarang, setelah dua hari dua malam dia menyerahkan dirinya untuk dipermainkan oleh An Hun Kiong, dia mendengar bahwa Sian Lun telah ditangkap dan akan dihukum mati!

Air matanya sudah diperasnya habis selama dua hari dua malam ini.

Tidak, dia tidak hanya akan menangis saja, dia harus mencari akal untuk menyelamatkan kekasihnya!

Siang Bwee timbul semangatnya ketika mengingat bahwa kekasihnya itu membutuhkan pertolongannya, kalau tidak akan matilah pria yang dipuja dan dicintanya itu.

Dan waktunya hanya tinggal malam ini!

Siang Bwee mondar-mandir di dalam kamar itu, dengan kedua tangan terkepal, alisnya berkerut, keadaannya seperti seekor harimau betina dalam kurungan yang merasa tidak betah di situ dan hendak mencari jalan keluar.

Akhirnya, dia lalu cepat pergi ke kamar mandi, membersihkan badan dan memakai minyak harum, berganti pakaian dan merias diri secantik cantiknya!

Dengan tubuh lelah An Hun Kiong memasuki gedungnya.

Begitu menginjakkan kaki di lantai gedungnya, teringatlah dia kepada Siang Bwee dan alisnya berkerut.

Hatinya amat kecewa.

Dia telah mendapatkan seorang wanita yang cantik dan amat menyenangkan hatinya, seorang gadis yang masih perawan, yang amat pandai membawa diri, akan tetapi juga seorang gadis yang patah hati!

Gadis itu hanya menangis saja, dan biarpun tidak pernah menolak segala tuntutan dan permintaannya, dan telah menyerahkan diri dengan sukarela tanpa paksaan, namun dia tahu bahwa dara itu tidak menyerahkan hatinya dan menyerahkan dirinya secara terpaksa sekali.

Dara itu selalu bermuram durja dan menangis saja.

Kesal juga hatinya.

Dia suka kepada wanita itu, dia ingin wanita itu bahagia dan dapat tersenyum dalam pelukannya, dapat membalas kasih sayang dan kemesraan yang dilimpahkannya.

Namun gadis itu selalu muram wajahnya dan tidak pernah mau mengaku mengapa gadis itu berduka.

Sebetulnya, ingin sekali dia memasuki kamar itu, hatinya sudah penuh kerinduan, akan tetapi bayangan wajah muram itu membuat hatinya kesal, apa lagi tubuhnya sedang lelah, maka diapun melewati kamar itu dan hendak pergi ke kamarnya sendiri untuk mengaso.

"Engkau sudah pulang, taijin""".?"

An Hun Kiong terkejut dan cepat menengok.

Pintu kamar wanita yang diambilnya sebagai selir, karena belum dinikahinya, itu telah terbuka sedikit dan nampak Siang Bwee mengintai dari dalam, tersenyum kepadanya dan memandang dengan wajah berseri namun nampak malu-malu Hampir saja An Hun Kiong tidak dapat percaya akan pandangan matanya sendiri dan dia segera menghampiri.

Pintu dibuka lebar dan kembali dia terpesona.

Betapa cantiknya Siang Bwee!

Pakaiannya serba baru, rambutnya yang dia tahu amat halus dan hitam panjang itu digelung indah, wajah yang amat dikenalnya dengan kulit halus kemerahan itu kini dibedaki halus dan dalam jarak satu meter lebih saja dia sudah mencium keharuman semerbak dari tubuh dan rambut itu.

Dan wajah itu, sama sekali tidak muram, melainkan berseri-senl Dan mulut yang biasanya cemberut itu dan yang amat menggairahkan karena bentuknya yang indah, kini tersenyum dikulum, amat manisnya.

Dan mata yang biasanya sayu dan basah air mata itu kini berkilauan penuh api gairah dan penuh tantangan!

"Siang Bwee""..!"

An Hun Kiong berbisik dan masuk ke dalam kamar.

"Taijin, kenapa sampai begini malam"

Siang Bwee berbisik dan setelah An Hun Kiong duduk, dia cepat berlutut di depannya untuk membuka sepatunya.

"Apakah taijin ingin mandi? Apakah perlu dipersiapkan makanan?"

Semua ini ditanyakannya dengan sikap amat manis, dengan kerling mata tajam memikat dan senyum yang manisnya melebihi madu An Hun Kiong sampai tak mampu menjawab, dan akhirnya setelah Siang Bwee selesai membuka kedua sepatunya, dia meraih, memegang lengan wanita itu dan menariknya duduk di atas pangkuannya.

Siang Bwee tersenyum dan memandang malu-malu, membuang muka dengan sikap yang malu-malu kucing namun makin menarik hati dan membangkitkan gairah.

"Siang Bwee"". sayangku"". mimpikah aku"""? Benarkah engkau ini yang bersikap begini manis kepadaku...""?"

"Taijin aneh"". siapa lagi kalau bukan Siang Bwee"".? Apakah taijin mengira aku siluman rase?"

Siang Bwee tersenyum dan tertawa kecil.

An Hun Kiong memeluknya dan dengan lembut memalingkan wajah cantik itu menghadapinya.

Sejenak mereka bertemu pandang dan An Hun Kiong makin kagum melihat mata itu sama sekali tidak seperi kemarin, bahkan tidak seperti siang tadi kini berseri penuh gairah.

"Tapi"". tapi mengapa engkau...". selama dua hari hanya menangis dan nampak muram?"

"Ahhh"". taijin""., pantaskah bagi seorang perawan untuk bersikap gembira pada saat menyerahkan diri untuk pertama kali kepada, seorang pria?"

An Hun Kiong mengangguk-angguk.

"Dan sekarang?"

"Sekarang aku adalah milikmu, dan karena taijin amat mencintaku, maka hidupku penuh kebahagiaan"

"Siang Bwee""..!"

An Hun Kiong girang bukan main dan dia lalu mendekap, menciumi wajah itu, mata dan mulut itu, dengan penuh kemesraan.

Makin giranglah dia ketika merasakan betapa wanita itupun membalas cumbu rayunya, membalas ciumannya.

Sunyi kamar itu, dan keduanya tenggelam dalam lautan kemesraan yang belum pernah dialami oleh An Hun Kiong selama ini.

Menjelang tengah malam, An Hun Kiong rebah dengan wajah berseri dan tubuh lelah, sambil merangkul leher kekasihnya.

Dia mengelus rambut yang halus itu, mengusap sedikit keringat di dahi kekasihnya, lalu mencium pipinya dengan lembut.

"Aku sayang padamu, Siang Bwee. Ah. betapa aku cinta padamu..."

Bisiknya.

"Kenapa engkau begitu lama tadi meninggalkan aku, taijin? Sampai capai aku menantimu. Ada urusan apakah yang menahanmu dan ada apakah terjadi ribut-ribut tadi? Aku hanya mendengar dan para pengawal akan terjadinya keributan di istana. Ada apakah?"

Siang Bwee memancing sambil merangkul pinggang pembesar atau perwira yang gagah itu.

"Ah, ada tiga orang pemberontak mengacau. Mereka itu amat lihai akan tetapi akhirnya tertawan juga."

"Siapakah mereka, taijin?"

"Yang seorang adalah orang yang amat kaukenal. Dia adalah bekas majikanmu, Tan-ciangkun!"

"Ahh""!"

Tiba-tiba Siang Bwee bangkit duduk, tidak mcmperdulikan rambutnya yang terurai dan selimut yang menutupi dadanya terbuka sehingga An Hun Kiong melihat pemandangao yang amat menggairahkan hatinya.

Akan tetapi perwira ini terkejut juga melihat kekasihnya itu bangkit duduk dan kelihatan marah, mengepal tinju dan matanya bersinar .sinar .

"Ada apakah, Siang Bwee?"

Tanyanya dengan khawatir.

"Bagus sekali dia tertangkap! Aku.... aku benci kepada orang itu, taijin!"

Kata Siang Bwee. An Hun Kiong sudah duduk dan merangkul tubuh itu, memangkunya dan menciumnya.

"Heran, bukankah dia bekas majikanmu?"

Tanyanya sambil memancang penuh selidik.

"Bukan hanya majikan, akan tetapi aku dihadiahkan oleh sri baginda kaisar kepada Tan ciangkun, untuk menjadi isterinya! Akan tetapi, ia manusia kejam itu sama sekali tidak memperdulikan aku, dia menghinaku, tidak pernah mendekatiku sehingga aku hanya dianggap sebagai pelayan saja!"

"Ah, mana mungkin? Wanita secantik engkau....."

"Taijin, perlukah engkau ragu-ragu lagi? Bukankah aku masih perawan ketika untuk pertama kali menyerahkan diri kepadamu?"

An Hun Kiong merangkul dan menciumnya.

"Aku percaya dan memang benar demikian, akan tetapi, mengapa orang she Tan itu tidak menjamahmu? Apakah dia banci?"

"Entahlah, dan hal itu amat menyakitkan hatiku, taijin."

Hemm, tenangkan hatimu. Besokpun dia akan dihukum gantung di depan pintu gerbang!"

Siang Bwee menahan perasaan ngeri yang mengiris jantungnya. Lalu dia turun dari pembaringan dan berkata dengan suara marah.

"Penasaran! Kalau aku belum membalas penghinaannya, dan dia sudah keburu mati, sungguh penasaran! Taijin, kalau memang tatjin mencintaku, tolonglah agar aku dapat membalas dendam ini, kalau tidak"".. ah, kelak kalau aku melahirkan anak, tentu akan terpengaruh buruk oleh dendam yang tak terbalas ini!"

An Hun Kiong tersenyum. Disebutnya anak mendatangkan rasa mesra dan baru dalam hatinya. Dia lalu merangkul pinggang Siang Bwee dan menariknya sehingga wanita itu terjatuh ke atas pangkuannya.

"Engkau makin cantik saja kalau marah-marah, Siang Bwee, engkau begitu membencinya, lantas, apa yang hendak kaulakukan? Aku dapat menyiksanya dulu sebelum dia dihukum mati, kalau itu yang kau hendaki!"

"Tidak, hatiku takkan pernah puas kalau bukan aku sendiri yang menghinanya, yang menyiksanyai Taijin, kalau besok dia dihukum mati, akan terlambatlah dan selama hidup aku akan menyesal sekali. Maka, bawalah aku sekarang kepadanya, taijin, berilah kesempatan kepadaku untuk membalas penghinaannya, untuk mentertawakannya, sampai puas hatiku!"

An Hun Kiong mengangguk-angguk.

Wanita ini baru saja memperlihatkan bahwa cintanya telah mendapatkan sambutan, dan wanita ini tadi baru saja membuktikan bahwa telah bertunas cinta penuh kemesraan baginya.

Tentu saja dia tidak ingin kehilangan kelembutan dan kemesraan yang nikmat itu, dan betapapun dia harus dapat memenuhi permintaannya.

Permintaan yang pantas, pikirnya, karena tentu Siang Bwee merasa dihina dan malu telah ditampik oleh seorang pria!

Dan pula, apa salahnya kalau dia membiarkan wanita ini melampiaskan dendamnya?

Para tawanan itu tidak berdaya, masih pingsan mungkin dan dalam keadaan terbelenggu rantai baja, apa lagi di luar banyak terdapat pengawal dau penjaga.

Hanya, kalau sampai terlihat para tokoh lain bahwa dia memenuhi permintaan yang bukan-bukan dari hati wanita yang mendendam itu, tentu dia merasa tidak enak dan malu.

Maka, permintaan ini harus dilakukan sekarang menjelang tengah malam sehingga tidak akan ada yang melihatnya.

Kalau besok tentu terlambat, pula, kalau waktu siang akan nampak oleh banyak orang.

"Baiklah, Siang Bwee Memang aku menjadi kepala bagian tawanan, maka mudahlah untuk membawamu ke sana."

Dia tidak tabu betapa jantung di dalam dada Siang Bwee berdebar tegang, dan dia tidak mengira bahwa memang Siang Bwee telah lebih dulu menyelidiki pangkat dan kekuasaannya di situ sehingga tentu saja wanita itu telah tahu bahwa dialah yang menjadi kepala bagian tawanan.

Oleh karena itulah maka wanita ini tadi menggunakan akal untuk merayu dan melayaninya semanis mungkin, sungguhpun hal itu dilakukan dengan hati hancur penuh pengorbanan diri demi pelaksanaan usahanya menyelamatkan kekasihnya.

"Terima kasih, taijin"".terima kasih".."

"Hushh, jangan sebut tajin lagi, lupa lagi engkau"".. bisikan tadi""..?"

Kedua pipi wanita cantik itu menjadi merah sekali.

Bagi An Hun Kiong tentu dianggap sebagai tanda malu, padahal merahnya wajah Siang Bwee itu adalah karena marah!

Seujung rambutpun tidak ada perasaan cinta terhadap pria ini, bahkan yang ada hanya rasa muak dan benci, benci sekali karena terpaksa dia harus menyerahkan diri kepada orang ini.

Akan tetapi demi keselamatan Sian Lun, ah, segalanya demi Sian Lun, dia akan mau melakukan, apapun, bahkan mengorbankan nyawa sekalipun.

Maka dia lalu berkata dengan muka merah dan tersenyum malu-malu.

"Baiklah"". ko-ko"". terima kasih atas kebaikanmu"".."

An Hun Kiong tersenyum girang dan meraih leher kekasihnya, menciumnya dengan mesra dan lama sekali dan baru melepaskannya ketika Siang Bwee meronta perlahan dan mendorongnya dengan halus.

"Ah, koko, bukankah engkau hendak mengajak aku ke sana sekarang? Nanti kalau aku sudah puas membalas dendam. Kita masih mempunyai banyak waktu untuk itu"".."

An Hun Kiong tertawa girang dan mereka lalu berpakaian.

Tentu saja An Hun Kiong mengenakan pakaian panglima karena dia hendak mengunjungi tempat para tawanan dan tak lama kemudian keluarlah mereka berdua.

Biarpun, hatinya merasa agak tidak enak terhadap para anak buahnya karena dia mengunjungi tawanan bersama kekasihnya, akan tetapi dia menahan perasaan ini demi cintanya kepada wanita ini yang telah memberi kesenangan dan kepuasan kepadanya oleh sikap yang tiba-tiba berobah amat mesra dan manis itu.

Tentu saja para pengawal dan penjaga memandang dengan mata terbelalak, akan tetapi tidak ada seorangpun yang berani bertanya apa lagi membantah ketika mereka melihat An Hun Kiong bersama wanita cantik itu memasuki rumah tahanan.

"Nah, itulah dia"".!"

An Hun Kiong berkata ketika mereka tiba di depan kamar tahanan yang kokoh dan terjaga ketat itu.

di mana Sian Lun, Gin San, dan Ling Ling ditahan.

Dapat dibayangkan betapa hancur dan penuh rasa iba hati Siang Bwee ketika dari luar dia melihat kekasih pujaan hatinya itu terbelenggu kaki tangannya dan berdiri menggelantung pada belenggu kedua tangannya dalam keadaan pingsan.

Akan tetapi dia menahan perasaan hatinya itu, kemudian berkata lirih kepada An Hun Kiong.

"Koko, harap buka pintunya, biarkan aku mendekat."

An Hun Kiong memberi tanda kepada para penjaga untuk tetap berjaga di luar dan siap dengan anak panah mereka, kemudian dia menggunakan kuncinya membuka pintu kamar tahanan itu dan menggandeng tangan Siang Bwee memasukinya.

Tiga orang tawanan itu memang masih dalam keadaan pingsan.

Biarpun An Hun Kiong maklum betapa lihainya tiga orang muda itu, namun mereka itu masih pingsan, juga terbelenggu dengan amat kuatnya, dan dia yakin benar bahwa tidak mungkin ada manusia dapat mematahkan belenggu pada kaki tangan mereka itu yang terbuat dari baja tebal.

Selain itu, di situ masih ada belasan orang penjaga dengan anak panah siap di tangan.

Tiga orang tawanan itu takkan mampu memberontak sama sekali, pikirnya dengan tenang.

"Ah"".dia""..dia sudah mati""!"

Siang Bwee berkata, menahan kehancuran hatinya dan suaranya yang gemetar lemah disangka oleh An Hun Kiong sebagai suara orang kecewa.

"Tidak, Siang Bwee, dia belum mampus."

"Akan tetapi"".. apa artinya kalau dia tidak mampu melihatku, mendengarku atau merasakan sesuatu? Aku ingin dia dapat mendengar dan melihat, agar dia dapat merasakan pembalasanku, koko."

An Hun Kiong tersenyum, makin besar wanita ini memperlihatkan kebenciannya terhadap pemuda itu makin baik, karena betapapun juga ada rasa cemburu di dalam hatinya mendengar bahwa wanita yang dicintanya itu dahulu oleh kaisar dihadiahkan kepada pemuda ini.

"Mudah saja, sayang. Kautunggu sebentar!"

An Hun Kiong lalu minta kepada seorang penjaga di luar kamar tahanan itu untuk mengambil air dalam ember.

Tak lama kemudian datanglah penjaga itu membawa seember air.

Sambil tertawa An Hun Kiong lalu mengambil ember itu dan menyiramkan sebagian air ember ke muka Sian Lun!

Dia tahu bahwa satu-satunya alat untuk menyadarkan orang yang pingsan karena asap bius adalah air.

"Koko, biarkan teman temannya itu sadar juga agar merekapun melihat siksaan yang kulakukan! Aku ingin benar benar puas membalas dendam!"

Siang Bwee berkata Dalam kegembiraannya, An Hun Kiong tertawa dan diapun menyiramkan sisa air ke wajah Ling Ling dan Gin San.

Dengan hati berdebar penuh ketegangan.

Siang Bwee memandang kepada Sian Lun.

Hatinya terasa nyeri dan ngeri melihat betapa kaki tangan kekasihnya itu dibelenggu dengan rantai yang amat kuat sehingga seekor gajah-pun belum tenru akan dapat mematahkan ranta baja sepeiti itu.

Dilihatnya perlahan-lahan kedua lengan yang tergantung itu menggigil, jari jari tangannya bergerak gerak tanda bahwa pemuda itu sudah hampir sadar dari pingsannya.

Muka dan lehernya basah kuyup, rambut kepalanya juga basah dan air menetes-netes turun dari hidung dan dagunya.

Ingin Siang Bwee menubruk kekasihnya, menangisi dan mengeringkan muka yang basah itu.

Air yang menetes netes itu nampak olehnya seperti air mata pemuda itu!

Siang Bwee lalu mendekati An Hun Kiong dan berkata.

"Koko, pinjamkan pedangmu kepadaku!"

An Hun Kiong terbelalak dan mulutnyi tersenyum lebar.

"Eh, mau apa engkau? Dia dan teman temannya itu belum boleh dibunuh Bwee rnoi! Kalau engkau membunuhnya tentu aku akan kesalahan. Mereka harus dibunuh di depan umum besok, sebagai peringatan agar tidak ada lagi yang berani memberontak!"

"Jangan khawatir, koko, akupun mengerti dan aku tidak akan membunuhnya, hanya akan menakut nakutinya dan menyiksanya,"

Jawab Siang Bwee.

Au Hun Kiong melolos pedangnya dan sambil tersenyum dia menyerahkan pedang yang mengkilap tajam itu kepada kekasihnya.

Betapapun juga, dia berada di situ dan dia dapat mencegah kalau kekasihnya meluap kemarahannya sehingga lupa dan akan membunuh tawanan itu.

Kini Siang Bwee berdiri menghadapi Sian Lun yang sudah mulai menggerak-gerakkan pelupuk matanya.

An Hun Kiong berdiri di belakang Siang Bwee simbil bertolak pinggang dan tersenyum lebar, ingin sekali tahu apa yang akan dilakukan oleh kekasihnya itu untuk membalas dendam dan menghina tawanan mu.

Siang Bwee melangkah maju menghampiri Sian Lun dan pedang telanjang itu ditodongkan ke dada pemuda itu.

Sian Lun mengejap-ngejapkan kedua matanya, mengeluh lirih lalu membuka matanya.

Dia terbelalak, lalu mengejap-ngejapkan matanya lagi seolah-olah tidak percaya akan apa yang dilihatnya ketika pertama kali membuka mata dia melihat wajah yang amat dikenalnya, wajah cantik dari Siang Bwee!

Akan tetapi melihat wanita itu berdiri di depannya sambil menodongkan sebarang pedang ke dadanya, dia hampir tidak percaya akan apa yang disaksikannya dan mengira bahwa dia sedang dalam mimpi!

"Mimpikah aku"".?"

Dia bertanya dengan suara lirih, karena sungguh dia merasa seperti dalam mimpi saja, semenjak bertemu dengan sute dan sumoinya sampai mereka bertiga menyerbu istana dan tertawan.

Dia menarik-narik kedua tangannya akan tetapi baru dia sadar bahwa kedua tangan dan kakinya terbelenggu rantai kuat!

Kembali dia memandang Siang Bwee.

"Hi-hik!"

Siang Bwee tertawa aneh! "Tidak. Tan Sian Lun, engkau tidak sedang mimpi, dan kaudengarkan kata kataku baik-baik. jangan banyak bergerak kalau tidak ingin pedang ini menembusi jantungmu!"

Sian Lun terbelalak, bukan mendengar ucapan itu, melainkan melihat betapa mata kiri Siang Bwee berkedip kedip, jelas memberi isyarat kepadanya!

Dia melihat An Hun Kiong di belakang wanita itu dan Sian Lun bukanlah seorang bodoh!

Sebaliknya, dia cerdas sekali dan kini, melihat orang Khitan yang kabarnya merupakan orang yang diberi hadiah oleh Thio-thaikam berupa diri Siang Bwee yang dipaksa oleh orang kebiri itu, melihat pula sikap Siang Bwee, dia tahu bahwa wanita yang mencintanya ini tentu sedang bermain sandiwara.

Maka diapun lalu berkata dengan suara dingin.

"Nona, setelah aku tertawan, apa kaukira aku takut mati! Mau bunuh, lakukanlah!"

Dengan sedikit kata-kata ini dia sudah memberi tahu kepada Siang Bwee bahwa diapun ikut bersandiwara dan Siang Bwee mengertilah.

Biasanya, Sian Lun tidak pernah menyebutnya nona, melainkan menyebut namanya saja, dan pemuda itu sama sekali tidak memperlihatkan kekagetan dan tidak bertanya apa-apa, hal ini menandakan bahwa Sian Lun tentu sudah mengerti atau mendengar akan keadaannya dan tahu bahwa dia bersandiwara.

Jantungnya berdebar tegang dan dia mengerling ke arah Gin San dan Ling Ling, dengan kerling yang diulang dan penuh arti, kemudian berkata, suaranya terdengar ketus dan galak.

"Tan Sian Lun, engkau laki-laki sombong, engkau laki-laki yang besar kepala! Sekarang, setelah engkau menjadi tawanan, engkau bisa apakah? Huh, besok engkau akan digantung! Hayo, perlihatkan lagakmu sekarang! Huh, kalau boleh, aku sendiri ingin sekali membunuhmu!"

Sian Lun sama sekali tidak memperhatikan ucapan-ucapan Siang Bwee karena tabu bahwa semua ucapan itu hanya kosong belaka dan di balik sikapnya ini.

Siang Bwee tentu menghendaki sesuatu dan diapun mengertilah.

Siang Bwee mengerling ke arah Gin San dan Ling Ling, agaknya hendak memberi waktu kepada dua orang itu untuk sadar, dan ketika dia menoleh kepada mereka, hatinya girang sekali melihat bahwa sutenya dan sumoinya itupun mulai sadar dan melihat betapa merekapun basah kuyup, dia tahu bahwa merekapun disiram air.

Hal ini mungkin juga merupakan hasil siasat Siang Bwee.

Tentu Siang Bwee mengharapkan mereka bertiga dapat meloloskan diri maka berani bersikap seperti itu.

Diam dia dia lalu mengumpulkan hawa sakti di dalam pusarnya dan mencoba-coba rantai di kaki dan tangannya.

Kuat bukan main rantai itu, pikirnya dan mematahkannya dengan tenaga agaknya tidak mungkin.

Akan tetapi, rantai rantai itu tertanam ke dalam tembok!

Biarpun mematahkan rantai baja merupakan hal yang agaknya tidak mungkin, akan tetapi menjebol rantai itu dari tembok tentu akan dapat dilakukannya"

"Dahulu engkau berlagak, memandang rendah kepadaku. Sekarang? Hemm, engkau menjadi tawanan, engkau hampir mampus, dan aku berdiri di sini menghinamu, sebagai isteri seorang yang berkua. Hi-hik, betapa akan celaka nasibku kalau dahulu engkau bersikap ramah dan aku menjadi isterimu, Sian Lun! Rasakan engkau sekarang!"

Sian Lun memperhitungkannya dan dia melihat bayangan para penjaga yang siap dengan anak panah di luar kamar itu.

Jalan satu-satunya hanyalah menangkap An Hun Kiong sebagai sandera sebagai perisai!

Dan dia mengerling lagi kepada sute dan sumoinya, melihat bahwa merekapun saling pandang dan kaki tangan mereka tergetar, tanda bahwa merekapun sedang memperhitungkan keadaan!

Suasana amat menegangkan baginya, dan hal ini agaknya terasa pula oleh An Hun Kiong, Melihat sikap tiga orang itu yang diam saja akan tetapi mata mereka begitu lincah dan tajamnya memandang ke kanan kiri dengan kerlingan kerlingan penuh perhatian dan perhitungan, dia merasa ngeri dan tidak enak juga.

"Siang Bwee-moi, sudah cukuplah. Mari kita pergi dari kandang ini. Kau boleh melukainya asal jangan membunuh, lalu mari kita pergi saja dari sini!"

Kata An Hun Kiong sambil melangkah mendekati kekasihnya.

Akan tetapi, Siang Bwee sudah merasa gelisah bukan main dan hampir putus harapan melihat betapa Sian Lun masih saja mengerling ke sana ke mari dan belum juga dapat meloloskan diri dari belenggu!

Tadinya dia harapkan pemuda itu yang dia tahu amat lihai, akan dapat memperoleh akal untuk membebaskan dirinya.

Akan tetapi ternyata bahwa agaknya pemuda itu benar-benar tidak berdaya sehingga percuma sajalah semua siasat yang dijalankannya.

Kegelisahan karena putus harapan ini membuat wanita ini menjadi nekat dah tiba tiba dia meloncat ke depan, merangkul pinggang Sian Lun dengan lengan kirinya sedangkan tangan kanannya masih memegar pedang, matanya memandang kepada An Hun Kiong dengan sinar berapi penuh kebencian mukanya pucat sekali dan dia berkata denga suara nyaring.

"Manusia busuk An Hun Kiong! Aku tidak berhasil membebaskan dia, akan tetapi aku akan mati bersamanya!"

Lalu dia menoleh dan berbisik kepada Tan Sian Lun.

"Tan taihiap"

Besok engkau akan dihukum mati"".. biarlah aku mendahuluimu, dan aku akan menantimu...".."

Berkata demikian, Siang Bwee membalikkan pedang dan hendak menggorok lehernya sendiri.

"Bwee-moi"".!"

An Hun Kiong berseru kaget.

Pada saat itu, Sian Lun menggerakkan pinggulnya dan sisi pinggul ini menumbuk tangan kanan Siang Bwee.

Wanita itu berseru kaget, tangannya terasa nyeri dan pedang itu terlepas dari pegangannya, mengeluarkan bunyi nyaring di atas lantai batu.

Dan pada saat itu, Sian Lun telah menggerakkan seluruh tenaganya menarik belenggu rantai baja pada kaki dan tangannya.

Terdengar suara keras, batu-batu berantakan dan debu mengebul tebal ketika rantai-rantai itu jebol dari tanamannya di tembok!

Pemuda itu telah berhasil membebaskan diri, sungguhpun rantai-rantai itu masih bergantungan pada kaki dan tangannya.

"Taihiap"".!"

Siang Bwee berteriak girang dan kaget bukan main, akan tetapi Sian Lun telah merangkulnya dan melindunginya dari runtuhan batu-batu dari tembok yang berhamburan.

"Minggirlah engkau, Siang Bwee"".!"

Kata Sian Lun dan mendorong tubuh wanita itu dengan halus ke belakangnya.

Pada saat itu, berturut-turut terdengar suara hiruk-pikuk dan batu batu dari tembok berhamburan, debu mengebul makin tebal ketika Ling Ling dan Gin San juga sudih berhasil menarik belenggu-belenggu kaki tangan mereka sampai jebol dan terlepas dari tembok.

Melihat ini, Ang Hun Kiong hendak melarikan diri.

Akan tetapi Ling Ling yang memiliki ginkang luar biasa itu sudah meloncat seperti seekor naga sakti menyambar dan tahu-tahu dia telah menampar ke arah kepala An Hun Kiong.

Orang she An ini bukan seorang lemah, melainkan murid terkasih dari Tai-lek Hoat-ong, maka tentu saja dia melihat tamparan ini dan cepat mengelak.

Akan tetapi, gerakan Ling Ling terlampau cepat baginya dan sebelum dia mampu menyelamatkan diri, sebuah tendangan kilat dari dara sakti itu mengenai lututnya dan diapun roboh terpelanting.

Gin San sudah meloncat dekat dan mengayun belenggu di tangan kanannya untuk menghancurkan kepala orang Khitan itu.

"Tringggg!"

Belenggu itu tertangkis oleh belenggu lain, yaitu rantai belenggu yang digerakkan oleh Sian Lun.

"Sute jangan bunuh dia! Kita butuh dia untuk sandera!"

Teriak Sian Lun dan barulah Gin San sadar bahwa dia tadi melakukan hal yang sangat ceroboh dan terburu nafsu karena terdorong kemarahan. (Lanjut ke

Jilid 43) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 43

"Engkau benar, suhengl"

Katanya dan sekali jari tangannya rnenotok, tubuh An Hung Kiong telah menjadi lemas.

Sian Lun cepat menarik berdiri tubuh orang she An itu, kemudian membentak kepada para penjaga yang menjadi bingung dan yang sudah mempersiapkan anak panah di busur masing-masing.

"jangan bergerak, atau kami bunuh An Hun Kiong ini!"

Melihat betapa orang penting dari Khitan yang menjadi kepala mereka itu telah tertawan musuh, para penjaga menjadi bingung sekali, tak tahu apa yang harus mereka lakukan, dan beberapa orang di antara mereka yang berada di belakang, cepat lalu berlari untuk memberi laporan ke dalam istana.

"Taihiap"".. cepat"".. kunci-kunci ada di saku bajunya!"

Kata Siang Bwee dengan wajah pucat akan tetapi sepasang matanya yang indah itu kini berseri dan berkilat penuh kegembiraan, harapan dan semangat setelah melihat betapa keadaannya berobah sama sekali.

Kalau tadinya dia sudah putus harapan dan nekat hendak membunuh diri, kini ternyata semua berjalan seperti yang direncanakan dan diharapkannya!

Sian Lun telah bebas, bahkan dua orang kawannya yang gagah itupun telah bebas dan lebih dari itu malah, mereka telah dapat menawan An Hun Kiong sebagai sandera!

"Ah, Siang Bwee"""

Terima kasih""."

Kata Sian Lun ketika dia memeriksa dan menemukan kunci-kunci di dalam saku baju tawanan itu, termasuk kunci-kunci untuk membuka belenggu kaki dan tangan mereka bertiga.

Kini mereka benar-benar telah bebas dan mereka bertiga sudah siap menghadapi musuh.

Sian Lun yang melindungi tubuh Siang Bwee dan memegang tubuh An Hun Kiong sebagai perisai di depannya, segera berkata kepada sute dan sumoinya.

"Mari kita keluar, jangan berada dalam ruangan"""!"

Mereka bertiga sudah tahu akan bahayanya kalau mereka berada dalam ruangan seperti ketika mereka tertangkap, maka kini ketiganya cepat keluar dari pintu itu.

Para penjaga mundur mundur dengan ketakutan dan bingung karena mereka tentu saja tidak berani melepaskan anak panah, bahkan tidak berani bergerak menyerang karena khawatir kalau kalau An Hun Kiong dibunuh.

Kini mereka berada di luar kamar kurungan.

"Sute, cepat bebaskan para tawanan lain!"

Kata Sian Lun sambil melemparkan seikat kunci kepada sutenya.

Dia tahu bahwa para tawanan itu adalah panglima-panglima dan pembesar-pembesar, juga orang-orang gagah yang telah mempertahankan dan melawan para penyerbu Tibet itu, orang-orang penting yang tertangkap kemudian dijebloskan ke dalam penjara.

Jumlah mereka ada tigapuluh orang lebih dan kini Gin San membuka semua kamar tahanan membebaskan mereka tanpa perlawanan dari para penjaga yang kehabisan akal melihat kepala mereka tertangkap.

Setelah mereka semua bebas, para tawanan itu cepat merampasi senjata tombak, golok dan dang dari para penjaga, dan mereka siap untuk melakukan perlawanan mati-matian.

Tiba-tiba datang serombongan pasukan dikepalai oleh Ba Mou Lama, Tai-lek Hoat-ong, Sin Beng Lama, Pek-ciang Cin-jin Ouw Sek, dan Kim-sim Niocu Bu Siauw Kim!

Tiba-tiba Pek ciang Cin-jin Ouw Sek meloncat ke depan, kedua tangannya diangkat ke atas dan terdengar dia mengeluarkan suara teriakan melengking nyaring yang membuat beberapa orang perajurit terguling roboh, disusul suaranya yang penuh wibawa dan terdengar aneh mengeluarkan getaran hebat.

"Siapa berani menawan An Hun Kiong sicu! Hayo lepaskan dia, lepaskan dia, lepaskan dia"". aku memerintahkanmu untuk melepaskan dia!"

Kedua tangannya digerak-gerakkan dan tiba-tiba Sian Lun merasa kedua kakinya gemetar, matanya terbelalak seperti orang ketakutan dan dia melepaskan cekalan pada kedua lengan An Hun Kiong!

Akan tetapi tiba tiba terdengar suara melengking lain dan sebelum An Hun Kiong sempat bergerak karena tubuhnya lemas tertotok, Coa Gin San telah menyambar lengannya dan menarik tawanan ini.

"Suheng, jangan perdulikan dia! Gertak sambalnya itu tidak ada artinya!"

Mendengar suara Gin San yang juga mengandung getaran kuat dan berpengaruh ini, Sian Lun sadar kembali dan dia segera mengumpulkan kekuatan sinkangnya untuk menjaga diri dari kekuatan ilmu sihir lawan.

Dia merasa ada tangan halus menyentuh lengannya dart belakang.

Dia menoleh dan melihat Siang Bwee berdiri ketakutan.

Dia tersenyum kepada wanita itu dan berbisik.

"Jangan takut""."

Siang Bwee juga tersenyum biarpun wajahnya pucat.

Kini dia tidak takut lagi.

Setelah berada di samping pria yang dicintanya, menghadapi apapun dia tidak takut.

Paling hebat dia akan mati akan tetapi mati di samping kekasihnya merupakan kebahagiaan baginya, jauh lebih bahagia dari pada hidup namun terpisah!

"Mati hidup aku bersamamu, taihiap"

Bisiknya.

Melihat kini para jagoan fihak lawan telah siap untuk mengepung dan mengeroyok, hanya mereka itu masih ragu karena melihat An Hun Kiong menjadi tawanan, Sian Lun lalu berkata tanpa ragu ragu lagi kepada Siang Bwee.

"Cepat, kau naiklah ke punggungku, biar kugendong dan kulindungi."

Tentu saja Siang Bwee merasa sungkan sekali, sungguhpun diam-diam dia merasa amat berbahagia akan kesudian orang yang dicintanya itu untuk menggendong dan melindunginya.

"Akan tetapi, taihiap"".."

Katanya dan tiba-tiba mukanya berubah merah sekali.

"Ssttt""cepatlah sebelum terlambat!"

Kata pula Sian Lun yang maklum bahwa satu-satunya jalan bagi mereka bertiga untuk lolos agaknya harus mengadu nyawa dan dia tidak mungkin dapat melindungi Siang Bwee dengan baik kecuali kalau menggendongnya.

Meninggalkan Siang Bwee di situ berarti wanita itu tentu akan mati tersiksa karena sudah mengkhianati An Hun Kiong dan kalau terjadi pertempuran melawan orang orang pandai itu, sukar baginya untuk melindungi Siang Bwee jika terpisah darinya.

Mendengar suara mendesak itu, Siang Bwee lalu merangkul leher Sian Lun dari belakang dan merasa betapa pinggulnya didorong oleh telapak tangan Sian lun sehingga dia terangkat ke atas dan duduklah dia di punggung pria yang dicintanya itu.

"Rangkul leherku kuat kuat"".."

Bisik lagi Sian Lun.

Tidak perlu disuruh Siang Bwee sudah merangkul leher orang yang dicinta itu dengan pasrah dan dia sudah mengambil keputusan untuk mati hidup bersama orang yang di kaaihinya ini.

Ba Mou Lama dan para orang Tibet, juga termasuk Ouw Sek dan Bu Siauw Kim, sudah siap menerjang akan tetapi tiba-tiba Tai-lek Hoat-ong, tokoh Khitan yang sakti itu, berseru dengan suara penuh kekhawatiran.

"Harap jangan menggunakan kekerasan!"

Tentu saja dia merasa khawatir sekali melihat keadaan muridnya yang sudah dibekuk oleh Gin San itu dan maklumlah dia bahwa kalau tiga orang muda yang sakti itu hendak membunuh murid nya, dia tidak akan mungkin dapat menolongnya.

Dan tadi ilmu sihir yang dipergunakan oleh Ouw Sekpun sudah gagal.

Menggunakar kekerasan menyerang mereka berarti membunuh muridnya!

"Jangan serang mereka".

ah, jangan dulu""

Kembali Tai-lek Hoat-ong atau Tayatonga itu berseru ketika melihat sikap para sekutunya dan dia cepat meloncat ke depan, menghadapi Sian Lun dan memandang pemuda ini dengan sinar mata tajam.

"Kenapa kalian bertiga begini pengecut, mempergunakan An-sicu sebagai sandera dan tidak berani menghadapi kami secara gagah?"

Bentaknya.

"Omong kosong!"

Bentak Gin San mewakili suhengnya.

"Bicara tentang kecurangan dan sifat pengecut, siapakah yang lebih pengecut? Kalian menggunakan kekuatan pasukan dan pengeroyokan untuk mengepung kami! Hayo mundur, atau.... kuhancurkan kepala dia ini!"

Sambil berkata demikian, Gin San sudah mengangkat tangannya didekatkan kepada kepala An Hun Kiong yang berwajah pucat dan sinar matanya membayangkan ketakutan hebat itu.

Melihat ini, Tai-lek Hoat-ong mundur dan dia mengeluarkan ucapan dalam bahasa asing kepada Ba Mou Lama dan kawan-kawannya.

Dan para tokoh itu lalu mundur, dan terdengar aba-aba Ba Mou Lama kepada para penjaga untuk memberi jalan kepada tiga orang tawanan yang terlepas itu.

"Kami melepaskan kalian, akan tetapi kalianpun harus membebaskan An-sicu"

Teriak Tai lek Hoa-ong dari balik pasukan yang berdiri di kanan kiri jalan memberi jalan kepada tiga orang muda itu.

"Kita lihat saja nanti!"

Gin San berseru pula.

Melihat betapa fihak musuh sudah memberi jalan, Sian Lun lalu menurunkan Siang Bwee dan wanita ini berjalan sendiri, dengan pedang pinjaman dari An Hun Kiong tadi masih di tangannya.

Ketika mereka berempat keluar dari kamar tahanan, Siang Bwee tidak lupa untuk memungut pedang itu, karena dianggapnya pedang itu berguna bagi kekasihnya.

Dia tidak tahu bahwa orang yang sudah memiliki tingkat kepandaian seperti mereka bertiga itu, tidak memerlukan lagi bantuan senjata tajam.

Tiga orang pendekar perkasa itu kini berjalan perlahan dengan hati-hati penuh kewaspadaan.

Mula-mula Gin San berjalan di depan sambil menelikung An Hun Kiong yang ditekuk lengannya kebelakang dan diancam kepalanya dengan tangan kiri.

Kemudian di belakangnya berjalan Siang Bwee dengan pedang di tangan, dilindungi dari belakang oleh Sian Lun.

Dan di belakang sendiri berjalan Ling Ling untuk menjaga dari belakang sehingga dara ini melangkah setindak demi setindak sambil mundur, sikapnya waspada dan gagah sekali, siap menghadapi serangan dari manapun juga datangnya!

Ketika mereka bertiga tiba di tempat terbuka yang lebar, yaitu di tepi taman bunga, dari istana, tempat itu ternyata amat terang, dipasangi banyak lampu penerangan dan di situ telah menanti para tokoh sakti fihak musuh bersama pasukan besar pengawal yang segera mengurung tempat itu!

Kiranya fihak musuh menggiring mereka ke tempat terbuka yang luas sehingga mudah untuk mengepung tiga orang buronan itu!

Melihat keadaan ini, Sian Lun cepat berbisik kepada sutenya.

"Sute, lemparkan dia di tengah-tengah biar dijaga oleh Siang Bwee dan kita melindungi di sekelilingnya!"

Gin San maklum akan maksud suhengnya, maka dia lalu menotok lagi tubuh An Hun Kiong yang menjadi lumpuh sama sekali tanpa mampu menggerakkan tubuhnya dan melemparkan tubuh orang Khitan ini ke tengah-tengah .

"Siang Bwee, jaga dia dengan pedangmu dan jangan kau pergi menjauhinya."

Kata pula Sian Lun.

Siang Bwee maklum bahwa kekasihnya dan dua orang temannya itu akan melawan musuh, maka diapun mengangguk dan dia lalu mendekati An Hun Kiong yang rebah miring, berdiri menodongkan pedang di tangannya itu ke dada orang yang amat dibencinya ini.

Tiga orang pendekar muda itu lalu menjaga di sekelilingnya, membentuk segitiga, membelakangi Siang Bwee menghadap ke luar dengan sikap gagah.

Mereka bertiga maklum bahwa mereka akan menghadapi pengeroyokan hebat, namun sedikit juga mereka tidak nerasa gentar.

Dengan adanya dua orang saudara seperguruan yang semenjak kecil saling berpisah namun yang kini dapat bersatu kembali, mereka masing masing merasakan adanya suatu semangat yang bernyala nyala, bahkan ada juga sedikit perasaan untuk berlumba dan saling memperlihatkan kelihaian dan kegagahan masing-masing.

Biarpun mengepung ketat, jelas nampak pada wajah para perajurit pengawal itu bahwa mereka merasa gentar sekali menghadapi tiga orang pendekar ini.

Mereka maklum bahwa tiga orang itu amat berbahaya dan betapa nyawa mereka sendiri amat terancam, karena mereka sudah melihat sendiri betapa sebelum tertawan, banyak di antara kawan mereka yang roboh daa tewas oleh tiga orang yang lihai ini.

Maka, mereka menjadi ragu-ragu bahkan nampak jerih sekali.

Hanya para perajurit dan perwira Tibet yang tadi tidak ikut mengeroyok, yang nampak berani dan merekalah yang sudah siap untuk turun tangan begitu aba aba.

diberikan.

Tai-lek Hoat-ong memandang dengan alis berkerut.

Dia maklum bahwa dia tidak mungkin lagi mencegah Ba Mou Lama mengerahkan orang-orangnya untuk mengeroyok, tanpa memperdulikan keselamatan An Hun Kiong yang berada di tangan tiga orang itu.

Tahulah kini tokoh Khitan itu bahwa dalam persekutuan ini fihaknya kena diakali oleh para tokoh Tibet, karena setelah mereka semua berhasil menduduki kota raja, orang-orang Tibet inilah yang memperlihatkan kekuasaannya, dan fihak Khitan hanya dianggap sebagai sekutu dan pembantu saja yang harus mentaati kehendak para pimpinan Tibet.

Kini bahkan nyawa An Hun Kiong tidak diperdulikan lagi oleh Ba Mou Lama, maka diam-diam dia merasa khawatir dan marah sekali, memandang dengan wajah pucat ke arah An Hun Kiong yang rebah miring ditodong pedang oleh Siang Bwee.

Dari para penjaga dia sudah tahu akan duduknya peristiwa, tahu bahwa An Hun Kiong dapati tertipu oleh wanita itu yang ternyata telah berkhianat dan bersekutu dengan tiga orang buronan itu.

Orang-orang Beng-kauw, yaitu bekas anak buah Beng-kauw utara yang kini menjadi anak buah Ouw Sek dan diperbantukan di istana, juga nampak jerih karena di situ terdapat Coa Gin San yang mereka kenal sebagai tokoh Beng-kauw yang amat lihai itu!

Maka ketika Ba Mou Lama akhirnya memberi aba-aba.

"Serbu!"

Yang bergerak maju hanyalah beberapa belas orang perwira dan perajurit Tibet yang agaknya ingin berlomba untuk merobohkan atau menangkap tiga orang muda itu.

Dan ternyata bahwa di antara mereka ini lebih banyak yang menerjang kepada Ling Lmg, mungkin karena mereka mengira bahwa tentu di antara mereka bertiga, dara yang cantik manis ini yang paling lemah, atau mungkin terdorong oleh sifat mata keranjang merekat.

Tidak kurang dari sepuluh orang menerjang Ling Ling, dan hanya lima enam orang saja menerjang Gin San dan Sian Lun.

Akan tetapi, hasilnya sama saja.

Ketika orang-orang itu menyerbu dengan senjata-senjata tajam mereka, dan dengan tangan-tangan terulur rakus ke arah tubuh Ling Ling, segera nampak senjata beterbangan disusul pekik dan teriakan hiruk-pikuk, kemudian tubuh orang-orang yang menyerbu ini terpelanting ke kanan kiri dan belakang dan dalam beberapa gebrakan saja, semua penyerbu telah roboh dan kalau tidak tewas tentu terluka parah!

Mereka itu benar-benar seperti sekelompok nyamuk menyerbu api lilin!

Makin jerihlah para perajurit menyaksikar kehebatan tiga orang pendekar itu, dan Siang Bwee yang tadinya ketakutan sekali kini memandang dengan wajah berseri dan pandang mata penuh kagum kepada pria yang dicintanya dan dua orang temannya itu!

Sebaliknya.

Ba Mou Lama menjadi marah bukan main.

lelah banyak dia kehilangan anak buah dan semua korban itu hanya untuk menghadapi tiga orang muda yang datang membikin kacau istana!

"Semua pasukan siap!

Kepung mereka jangan sampai ada yang lolos, Kami sendiri yang akau menghadapi mereka!"

Dia lalu minta kepada para tokoh lihai yang membantunya untuk maju.

"Biar Aku yang menghadapi bocah ini!"

Kata Ouw Sek sambil menghampiri Gin San dan pendeta berusia setengah abad yang berpakaian mewah, tampan dan gagah ini sudah menerjang dengan senjatanya yang istimewa, yaitu tongkat emas yang mengeluarkan sinar berkilauan.

Karena tokoh Beng kauw ini pernah menghadapi Gin San, maka diapun tidak berani memandang ringan karena dia tahu bahwa pemuda ini sungguh memiliki ilmu silat yang tinggi sekali dan biarpun dia pernah mengalahkan Gin San.

namun kekalahan itu tipis sekali maka dia harus berhati hati dan tidak memandang rendah, sungguhpun pendeta pesolek ini menyerang sambil tertawa tawa.

Di lain fihak Gin San juga sudah mengenal orang ini, tahu akan kesaktiannya, maka diapun sudah siap dan menyambut serangan itu dengan pengerahan tenaga dan dengan hati hati sekali.

Ba Mou Lama dibantu oleh Sin Beng Lama dan beberapa orang Panglima Tibet yang cukup lihai, segera maju menerjang Sian Lun.

Pemuda ini sudah siap dan diapun tahu akan kelihaian pendeta Tibet itu, maka dia tidak berani memandang rendah, apa lagi pendeta ini dibantu oleh Sin Beng Lama dan tiga orang Panglima Tibet yang cukup tangguh.

Tai-lek Hoat-ong sendiri, dibantu oleh beberapa orang Khitan lalu maju menerjang Ling Ling yang menyambutnya dengan marah.

Ketika itu.

Bu Siauw Kim juga meloncat dan membantu kekasihnya, Ouw Sek.

Akan tetapi Ouw Sek mengerutkan alisnya dan berkata.

"Siauw Kim, jangan kau bantu aku. Dia ini musuh besarku. Lebih baik kau bantu Tai-lek Hoat-ong yang kewalahan menghadapi naga betina di sana itu!"

Bu Siauw Kim menoleh dan memang benarlah.

Ling Ling terlampau hebat bagi Tai-lek Hoat-ong dan empat orang Khitan itu.

Maka sambil berseru nyaring dia sudah meloncat dan menerjang Ling Ling yang mendesak Tai-lek Hoat-ong dengan pukulan-pukulan dahsyat.

"Dukkkl"

Ling Ling menangkis sehingga tubuh Bu Siauw Kim terpental.

Kedua orang wanita yang sama cantiknya ini saling pandang, Siauw Kim tersenyum mengejek sedangkan Ling Ling memandang penuh kemarahan dan kebencian.

Musuh besar ayah bundanya ini masih hidup dan sekarang dia memperoleh kesempatan untuk menghadapinya dan membunuhnya.

"Bagus, engkau datang mengantar nyawa!"

Bentaknya dan dia segera menerjang musuh besarnya itu dengan lompatannya yang amat cekatan seperti seekor burung walet menyambar.

Memang Ling Ling telah mewarisi ginkang dari Bu Eng Lojin sehingga dia dapat bergerak luar biasa cepatnya.

Bu Siauw Kim sendiri yang termasuk seorang wanita sakti dan memiliki ginkang istimewa, Sampai terkejut bukan main dan cepat diapun mengelak sambil menggerakkan tangan menangkis karena hanya mengelak saja amat berbahaya menghadapi kecepatan kilat itu.

Kembali lengan mereka bertemu dan tahu-tahu Ling Ling sudah menyerangnya lagi.

Bu Siauw Kim terdesak dan untung baginya karena saat itu, Tai-lek Hoat-ong sudah menerjang Ling Ling sehingga dara ini terpaksa membagi perhatiannya.

Dia lalu dikeroyok dua dan terjadilah perkelahian yang amat seru, tidak kalah serunya dengan perkelahian yang terjadi antara Gin San melawan Ouw Sek.

Kalau Ouw Sek yang menandingi Gin San dan Tai-lek Hoat-ong dibantu Bu Siauw Kim yang menandingi Ling Ling itu membuat dua orang pendekar ini memperoleh tandingan yang amat kuat, di lain fihak Sian Lun sebenarnya terlampau kuat bagi Ba Mou Lama dibantu Sin Beng Lama.

Akan tetapi, di samping guru dan murid ini terdapat tiga orang Panglima Tibet yang tangguh, dan setiap kali Sian Lun merobohkan tiga orang panglima ini, muncul tiga orang lain sehingga dia selalu tetap dikeroyok oleh lima orang lawan!.

Karena itu, maka keadaannya tidak lebih baik dari pada keadaan dua orang sute dan sumoinya dan dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian untuk menghadapi lawan, dan di samping itu juga selalu waspada agar tidak ada musuh yang dapat menyelinap ke dalam lingkaran dan menyerang Siang Bwee atau menolong dan membebaskan An Hun Kiong.

Siang Bwee memandang dengan alis berkerut dan penuh kekhawatiran.

Musuh terlampau banyak dan biarpun tiga orang pendekar itu amat sakti, namun dikurung oleh demikian banyaknya musuh, keadaannya menjadi berbahaya juga.

Dia tahu akan hal ini akan tetapi sikapnya tetap tenang.

Betapapun juga, Sian Lun berada di situ dan kalau dia melihat pemuda pujaan hatinya itu roboh dan tewas, diapun tidak mungkin dapat hidup lagi dan dia tentu akan membunuh diri dengan pedangnya, akan tetapi tentu saja lebih dulu dia akan membunuh An Hun Kiong yang amat dibencinya.

Kalau sejak tadi dia belum membunuh An Hun Kong padahal kesempatan berada di lengannya, adalah karena dia menganggap bahwa orang Khitan ini masih penting bagi tiga orang pendekar itu, sebagai sandera.

Padahal, tangannya sudah gatal-gatal untuk segera menusukkan pedang di tangannya itu ke dalam dada Panglima Khitan itu, sampai menembus jantungnya!

An Hun Kiong juga maklum bahwa nyawanya berada di ujung rambut.

Semenjak tadi dia memandang Siang Bwee dan ketika kebetulan wanita itu memandang kepadanya, An Hun Kiong berkata, suaranya penuh dengan kelembutan dan kasih sayang.

"Bwee moi mengapa..."

Mengapa kau lakukan ini"".?"

Siang Bwee tidak menjawab, hanya memandang dengan sinar mata penuh kebencian dan ujung pedangnya menempel di dada orang Khitan itu, sampai menembus baju dan terasa nyeri pada kulit dada.

"Bwee-mol, aku"".. aku cinta kepadamu...". kau tahu ini, dan kau"".. bukankah engkau telah menjadi isteriku, bukankah engkaupun suka kepadaku? Kenapa kau berbalik sikap dan memusuhiku? Sayangku, aku cinta padamu, aku adalah suamimu, ingatlah ini"

"Crott!"

Ujung pedang itu menikam sehingga masuk satu senti ke dalam daging di dada An Hun Kiong, membuat orang Khitan itu menyeringai menahan nyeri.

"Keparat jahanam!"

Siang Bwee mendesis penuh kepedihan hati.

"Siapa sudi padamu? Aku menyerahkan diri hanya karena ingin menyelamatkan Tan-taihiap! Engkau anjing hina! Aku bersumpah untuk membunuhmu, karena engkau telah memaksa aku mengorbankan kehormatanku!"

Sampai di sini. Siang Bwee tidak dapat menahan dua titik air mata penyesalan jatuh.

"Tapi"".. tapi aku tidak pernah memaksamu...""

Dan malam tadi, engkau demikian manis"".. demikian penuh penyerahan, kemesraan"".. aughhh!"

Kembali pedang itu ditekan dan dari dada An Hun Kiong mengucur darah karena ujung pedang telah melukai dadanya.

"Bangsat! Aku berbuat demikian untuk membujukmu membawaku kepadn Tan-taihiap! Tunggu saja""aku pasti akan membunuhmu, keparat!"

Siang Bwee berkata lagi penuh penyesalan dan kedukaan.

Dia merasa betapa dirinya menjadi kotor dan hina, tidak berharga lagi bagi Sian Lun.

Akan tetapi dia harus bertahan sampai pendekar itu benar benar terbebas dari bahaya.

Akan tetapi, agaknya, harapan Siang Bwee jauh dari pada kenyataan.

Tiga orang pendekar itu menghadapi lawan-lawan yang amat tangguh karena pengeroyokan yang tiada hentinya sehingga mereka mulai merasa lelah setelah malam mulai larut dan pagi menjelang tiba.

Gin San sendiri tadinya masih dapat mengimbangi Ouw Sek.

Kedua orang ini yang mempunyai sumber kepandaian yang sama, tentu saja saling mengenai ilmu-ilmu masing-masing.

Hanya Ilmu Cap sha Tong thian ciptaan mendiang Maghi Sing tidak dikenal oleh Ouw Sek, akan tetapi Ouw Sek juga memiliki pukulan-pukulan simpanan yang tidak dikenal Gin San, dan betapapun juga dasar dari pada pukulan mujijat ini masih satu sumber, maka keduanya masih mampu menghindarkan diri.

Untungnya bagi Gin San, biarpun dia kalah matang dalam latihan, pemuda ini telah mewarisi tenaga mujijat dari mendiang gurunya itu sehingga dalam hal tenaga sinkang, bukan saja dia dapat mengimbangi Ouw Sek, bahkan dia lebih kuat sedikit dibandingkan dengan Ouw Sek yang banyak menghamburkan tenaganya dalam pengejaran kesenangan dunia dan untuk melampiaskan nafsu nafsu berahinya.

Karena kekalahan latihan namun kemenangan tenaga sin-kang inilah maka perkelahian antara kedua orang tokoh Beng-kauw ini benar-benar hebat dan sampai sekian lamanya tidak ada yang menang atau kalah.

Akhirnya, beberapa orang tokoh Tibet yang merasa tidak sabar terjun ke dalam gelanggang perkelahian, mengeroyok Gin San karena di antara tiga orang pendekar muda itu, hanya Gin San yang sejak tadi tidak dikeroyok.

Majunya beberapa orang ini tentu saja membuat Gin San terdesak, dan seperti halnya Sian Lun dan Ling Ling, begitu dia merobohkan dua tiga orang pengeroyok, tubuh atau mayat mereka itu dihalau pergi dan sebagai gantinya telah ada pengeroyok-pengeroyok lain yang bertenaga segar maju menggantikan.

Tiga orang pendekar inipun maklum bahwa keadaan amat gawat dan berbahaya.

Mereka telah merobohkan entah berapa banyak orang pengeroyok yang selalu diganti oleh yang baru, dan mereka sudah kehilangan banyak tenaga.

Mereka maklum bahwa kalau keadaan seperti ini dilanjutkan, akhirnya mereka akan roboh, juga karena lelah.

Akan tetapi untuk melarikan diripun tidak mungkin.

Tempat itu dikepung ketat, tidak ada jalan keluar sama sekali!

Maka ketiganya, tanpa mengeluarkan sepatahpun kata, sudah mengambil keputusan untuk melawan sampai hembusan napas terakhir!

Sinar matahari pagi telah mulai menyorot dan perkelahian di taman itu masih berlangsung dengan hebatnya.

"Desak terus, serbu terus!"

Ba Mou Lama berteriak ketika melihat betapa tiga orang muda perkasa itu sudah mulai lamban gerakannya saking lelahnya.

Akan tetapi, seolah-olah sebagai jawaban atas teriakannya itu, tiba-tiba terdengar suara gegap-gempita di luar istana yang disusul oleh suara gemuruh dan teriakan-teriakan yang amat gaduh.

Semua orang terkejut dan tak lama kemudian, suara itu kian gemuruh, dan muncullah beberapa orang perajurit berlarian ke tempat pertandingan itu.

Kemudian terdengar teriakan-teriakan gugup.

"Musuh datang menyerbu!"

"Pintu gerbang kota raja sudah bobol!"

"Musuh sudah berada di depan istana!"

"Bantu memperkuat pintu gerbang istana!"

"Celaka, musuh membobolkan pintu gerbang!"

Teriakan-teriakan itu menggegerkan mereka yang sedang mengeroyok tiga orang pendekar itu.

Sebaliknya, Sian Lun, Gin San dan Ling Ling girang bukan main.

Saat yang mereka tunggu-tunggu sudah tiba.

Pasukan-pasukan kaisar telah berhasil menyerbu dan memasuki kota raja, bahkan telah mengepung istana dan sudah membobolkan benteng dan pintu gerbang istana!

Tentu saja kenyataan ini menambah semangat bagi mereka, memulihkan tenaga mereka sehingga dengan gerakan tangkas sekali Ling Ling mampu menendang lutut Tai-lek Hoat-ong, membuat tokoh Khitan itu terguling dan sebelum Bu Siauw Kim sempat mencegah, Ling Ling telah meloncat ke depan dan sekali kakinya bergerak, dia telah menginjak kepala Tai-lek Hoat-ong.

Terdengar lengking mengerikan dan kepala itupun pecah!

Bu Siauw Kim terkejut bukan main, akan tetapi karena saat itu Ling Ling sudah menerjangnya dengan pukulan pukulan maut yang dilakukan bertubi tubi, Bu Siauw Kim mengelak dan terus mundur.

Tiga orang Khitan yang menyerang Ling Ling membuat dara ini tidak dapat mendesak terus akan tetapi kemarahannya meluap-luap dan tubuhnya bergerak cepat sehingga tiga orang itupun terpelanting dan roboh tewas terkena tamparan tamparan maut dari dara ini!

Sementara itu, Sian Lun juga mendejak Ba Mou Lama yang nampak gugup.

Pendeta ini lalu melompat ke belakang, mengucapkan kata kata dalam Bahasa Tibet kepada murid dan para pembantunya, kemudian pendeta Lama berjubah merah ini sudah berlari meninggalkan gelanggang perkelahian karena dia harus memimpin pasukan untuk menghadapi penyerbuan musuh.

Sian Lun mengamuk seperti seekor naga sakti dan dalam beberapa jurus saja, biarpun dia dikeroyok banyak orang Tibet, dia berhasil menendang roboh Sin Beng Lama.

Pendeta ini masih sempat menusukkan tongkatnya ke dada Sian Lun, akan tetapi Sian Lun mengibaskan tangannya dan tongkat itu membalik, langsung menancap dada pemiliknya.

Sin Beng Lama berteriak dan roboh, tewas seketika!

"Hendak lari ke mana kau?"

Gin San membentak ketika melihat Ouw Sek meloncat ke belakang dan melarikan diri.

Ouw Sek ini orangnya cerdik sekali.

Mendengar akan datangnya serbuan musuh, tentu saja dia merasa gentar dan paling perlu adalah menyelamatkan dirinya sendiri, maka tanpa berkata apa apa dia sudah meloncat dan melarikan diri.

"Sute, jangan kejar!"

Teriak Sian Lun karena merasa khawatir kalau-kalau Gin San akan terjebak.

Mendengar seruan ini, terpaksa Gin San menahan diri dan hanya mengamuk dan merobohkan orang orang Tibet dan Khitan yang kini menjadi makin panik karena selain para pemimpinnya roboh dan mundur, juga suara-suara serbuan pasukan musuh makin dekat dan membuat mereka makin gentar.

"Siluman betina jangan lari kau!"

Ling Ling juga berteriak ketika melihat tiba-tiba Bu Siauw Kim lari meninggalkan gelanggang menyelinap di antara kekacauan para perajurit Tibet.

"Sumoi, jangan kejar!"

Kembali Sian Lun berseru dan Ling Ling terpaksa menghentikan niatnya, apa lagi karena memang tidak mudah mengejar musuh yang lenyap di antara para perajurit pengawal Tibet dan Khitan yang mulai berlarian ke sana sini seperti serombongan semut yang dikacau itu.

Akhirnya tidak ada lagi musuh yang mengeroyok mereka dan ketiga orang muda sakti itu baru merasa betapa letihnya kedua tangan dan kaki mereka.

Mereka lalu menghampiri Siang Bwee dan melihat wanita ini menangis.

"Jangan""..!!"

Tiba-tiba Sian Lun meloncat, namun terlambat.

Pedang di tangan Siang Bwee itu sudah amblas ke dalam dada An Hun Kiong.

Orang Khitan itu terbelalak, mengeluarkan jerit tertahan dan tubuhnya berkelojotan, darah menyembur keluar ketika dengan sekuat tenaga Siang Bwee mencabut kembali pedang itu.

Kemudian, sambil menangis, wanita yang sudah nekat ini menggerakkan pedang menggorok leher sendiri!

Akan tetapi, semenjak menggagalkan percobaan membunuh diri dari Siang Bwee di dalam kamar tahanan, Sian Lun telah waspada, maka begitu melihat wanita itu menggerakkan pedang, dia sudah meloncat ke depan, menubruk dan merampas pedang itu, melemparnya!

jauh-jauh.

"Siang Bwee, apa yang kau lakukan ini?"

Bentaknya, dengan nada penuh teguran. Siang Bwee menoleh, memandang kepada pria itu, kemudian dia menjatuhkan diri berlutut dan menangis tersedu-sedu.

"Taihiap untuk apa aku hidup lagi".? Hidup sebagai seorang yang hina, kotor dan tercemar"".? Ahh, mengapa taihiap mencegah aku mati? Apakah taihiap begitu tidak menaruh kasihan kepadaku.... ingin melihat aku hidup tersiksa"".?"

Ling Ling mengerutkan alisnya, dan juga Gin San maklum apa yang telah terjadi dan menimpa gadis yang lemah namun berwatak gagah dan berani ini.

Seperti juga Ling Ling, dia dengan mudah dapat menduga bahwa gadis ini amat mencinta Sian Lun, mengorbankan diri untuk Sian Lun!

Dan harus mereka akui bahwa tanpa bantuan gadis ini, mereka bertiga mungkin takkan mampu menyelamatkan diri.

Sian Lun juga mengerti dan hatinya terharu bukan main.

"Siang Bwee, jangan kau membunuh diri, jangan kau mati! Aku akan berduka dan merana sekali kalau engkau melakukan hal itu."

Sepasang mata yang basah air mata itu terbelalak, muka yang pucat itu berdongak memandang.

"Be"".. benarkah ucapanmu itu, taihiap? Engkau.... engkau menhendaki aku hidup"".?"

Sian Lun mengangguk "Aku ingin melihat engkau hidup, sehat dan bahagia!"

"Tapi"".. aku hanya dapat berbahagia kalau hidup di dekatmu, taihiap! Bolehkah aku terus di sampingmu?"

Kembali Sian Lun mengangguk dengan hati terharu, dan dia mengangkat bangun gadis itu yang kembali menangis, akan tetapi kini menangis karena berbahagia.

Kalau dia boleh hidup di dekat Sian Lun, tentu saja dia mau hidup seribu tahun lagi!

"Terima kasih, taihiap.

Aku tidak akan membunuh diri, sama sekali tidak!"

"Tapi kau harus benar benar memegang janjimu itu,"

Kata Sian Lun.

"Katakan, siapakah yang memaksamu"". menyerahkan diri kepada An Hun Kiong?"

"Thio-taijin si keparat itu!"

Kata Siang Bwee sambil mengepal tinju tungannya yang kecil.

"Hayo kauantar aku mencarinya!"

Katanya, kemudian menoleh kepada sute dan sumoinya.

"Sute, dan kau sumoi, tentara kerajaan sudah menyerbu, lekas kalian membantu dan jangan biarkan penghianat keji itu meloloskan diri. Aku akan menyerbu masuk ke istana mencari Thio-thaikam!"

Setelah berkata demikian, Sian Lun menggandeng tangan Siang Bwee diajak memasuki istana untuk menjadi petunjuk jalan.

Sementara itu, Ling Ling sejenak tertegun menyaksikan sikap Sian Lun dan Siang Bwee.

Dia dapat melihat betapa Siang Bwee amat mencinta Sian Lun, dan melihat pula betapa suhengnya itu amat terharu dan agaknya suhengnya takkan mampu membiarkan gadis itu melepas budi yang sedemikian besarnya tanpa membalasnya.

Hal ini mendatangkan rasa tidak enak di dalam hatinya.

Dia tidak tahu betapa Gin San memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kagum dan mesra.

Barulah dia terkejut ketika Gin San menyentuh tangannya.

"Sumoi, kita baru saja lolos dari lubang maut!"

Kata pemuda ini gembira. Ling Ling membiarkan tangannya dipegang sebentar , kemudian menarik tangannya dengan halus.

"Berkat pertolongan Siang Bwee, ji-suheng. Mari kita mengamuk keluar, aku ingin sekali dapat membekuk batang leher siluman betina Bu Siauw Kim! Aku ingin dapat membalas kematian ayah bundaku,"

"Mari kubantu engkau, sumoi. Akupun belum puas kalau belum dapat merobohkan penjahat Ouw Sek!"

Biarpun tadi mereka amat lelah, namun istirahat sejenak itu telah memulihkan tenaga mereka dan ketika teringat akan musuh-musuh mereka, Ling Ling dan Gin San menjadi bersemangat lagi dan larilah keduanya keluar dari istana di mana telah terjadi pertempuran karena fihak pasukan sudah mulai menyerbu.

Di antara para penyerbu terdapat beberapa orang anggauta Im yang-pai yang memberi hormat ketika mereka melihat dua orang muda perkasa itu.

Sementara itu, Sian Lun bersama Siang Bwee telah memasuki istana dan dengan wanita itu menjadi petunjuk jalan, Sian Lun memasuki gedung di mana Thio-thaikam tinggal semenjak istana diduduki oleh pasukan Tibet.

Akan tetapi kedatangannya terlambat karena pembesar itu telah melarikan diri dari tempat itu.

Dari seorang dayang yang menggigil ketakutan Sian Lun mendapat keterangan bahwa Thio thaikam baru saja ikut melarikan diri bersama para pembesar lain melalui pintu belakang, dikawal oleh para pengawal pribadinya.

Melihat bahwa pasukan pasukan pemerintah telah menyerbu, Sian Lun yang juga melihat adanya beberapa orang Im-yang-pai lalu menyuruh lima orang Im-yang-pai untuk menjaga dan melindungi Siang Bwee.

Tentu saja lima orang itu merasa bangga dan girang dipercaya oleh pendekar ini.

"Siang Bwee, kautunggu di sini dulu, aku harus mengejar keparat itu!"

Kata Sian Lun dan tanpa menanti jawaban, tubuhnya sudah melesat cepat, lenyap di antara keributan dan banyak orang dan dia sudah melakukan pengejaran terhadap Thio-thaikam.

Setelah keluai dari istana, ternyata olehnya bahwa kota raja telah penuh dengan pasukan kerajaan dan hatinya menjadi lega.

Orang-orang Tibet dan Khitan banyak yang telah roboh, sebagian besar berusaha untuk melarikau diri dan terjadi pertempuran di mana-mana, akan tetapi selalu fihak pasukan kerajaan yang mendesak dan menghimpit karena selain jumlah mereka lebih banyak, juga semangat mereka lebih besar dibandingkan dengan fihak musuh ang sudah gentar menerima pembalasan hebat itu.

Sian Lun mencari jalan sambil merobohkan beberapa orang musuh.

terdekat, dan setelah bertanya sana-sini akhirnya dia memperoleh jejak Thio-thaikam dan rombongannya yang melarikan diri lewat pintu gerbang barat.

Cepat dia melakukan pengejaran dan akhirnya dia melihat rombongan Thio-thaikam ini sedang bertempur melawan pasukan kerajaan tepat di luar pintu gerbang sebelah barat itu.

Girang hatinya melihat ini, apalagi ketika dia mengenal bahwa pasukan itu dipimpin oleh sahabatnya.

Panglima Ong Gi!

Biarpun pasukan Ong-ciangkun ini jauh lebih banyak jumlahnya, namun karena Thio thiikam yang berkuda itu dikawal oleh orang-orang pandai, maka agaknya Ong-ciangkun menghadapi kesukaran dan banyak perajuritnya sudah roboh sungguhpun bagi rombongan Thio-thaikam sukar pula untuk dapat menyelamatkan diri karena sudah terkepung rapat.

Ong-ciangkun sendiri yang dibantu oleh beberapa orang perwira sedang mencoba untuk mengepung dan merobohkan dua orang yang kelihatan amat lihai, dan segera Sian Lun mengenal mereka ini sebagal Tiat-liong Liem Kiat dan gurunya, yaitu Tek Po Tosu.

Mengenal Tek Po Tosu, bangkit kemarahan Sian Lun.

Itulah orangnya yang menurut Siang Bwee adalah tangan kanan Thio-thaikam yang memusuhi ayahnya dahulu.

Maka dia segera menyerbu sambil berseru.

"Ong ciangkun, serahkan tosu siluman ini kepadaku!"

Elihat munculnya pemuda ini, Ong Gi girang bukan main.

"Tan-ciangkun"".!"

Serunya dan dengan kagum dia menyaksikan betapa dengan sekali terjang saja.

Sian Lun telah berhasil merobohkan empat orang perajurit pengawal musuh dan kini pemuda perkasa itu sudah mendesak Tek Po Tosu dan muridnya.

Melihat ini, Ong Gi lalu memerintahkan para perwira bawahannya untuk memperkuat pengepungan terhadap Thio-thaikam yang masih dilindungi oleh banyak pengawal itu.

Tek Po Tosu terkejut dan merasa jerih menyaksikan sepak terjang Sian Lun yang sekali terjang telah merobohkan empat orang itu.

Dia sudah cepat menggerakkan sepasang pedang di tangannya, menyilangkan sepasang pedang itu di depan dada, sikapnya melindungi diri saja karena dari gerakan pemuda itu maklumlah dia bahwa pemuda ini amat lihai, jauh lebih lihai dari pada mendiang pendekar Tan Bun Hong, ayah kandung pemuda ini.

Liem Kiat yang sudah pernah merasakan kelihaian pemuda itupun sudah melintangkan pedangnya, dan membiarkan para pengawal mengepung pemuda itu.

Dengan mata bersinar penuh kemarahan Sian Lun memanding kepada tosu tua itu dan membentak.

"Tek Po Tosu, ingatkah engkau akan dosa-dosamu kepada mendiang ayahku, pendekar Tan Bun Hong?"

Tek Po Tosu tidak menjawab, hanya memandang dengan mata terbelalak dan wajahnya agak pucat, jantungnya berdebar ngeri karena dalam pandangannya, wajah Sian Lun pada saat itu serupa benar dengan pendekar Tan Bun Hong ketika pendekar itu mengamuk di gedungnya belasan atau duapuluh tahun yang lalu.

Liem Kiat juga gentar terhadap pemuda ini, maka dia cepat mengeluarkan aba-aba untuk menggerakkan pasukan pengawalnya yang segera mengeroyok Sian Lun.

Pemuda ini mengamuk seperti seekor naga dan banyaklah perajurit pengawal yang terpelanting ke kanan kiri.

"Lun-koko""".!"

Seruan ini membuat Sian Lun menengok dan dia melihat bahwa ada pasukan baru yang datang dan di antara mereka terdapat Yap Wan Cu yang baru saja berteriak memanggilnya itu, di samping ayah bunda gadis itu yang menyerbu musuh dengan gagah perkasa!

Tentu saja Sian Lun menjadi gembira sekali.

"Wan Cu moi-moi"

Teriaknya dan cepat dia menyambung.

"Kau hadapi tikus-tikus ini agar aku dapat menghadapi tosu keparat itu"

"Baik. Koko!"

Wan Cu mengamuk dan memutar pedangnya membuat para pengawal itu kocar-kacir.

Hati dara ini gembira dan penuh semangat begitu dia melihat pemuda perkasa yang dicintanya itu dalam keadaan selamat.

Tadinya dia sudah khawatir bukan main ketika ada berita bahwa Sian Lun bersama dua orang temannya tertawan musuh.

Setelah Wan Cu datang membantu, Sian Lun lalu melompat dan menerjang Tek Po Tosu yang menyambut serangannya dengan bacokan pedang kiri disusul tusukan pedang kanan.

Serangan ini cukup dahsyat, akan tetapi bagi Sian Lun hanya merupakan serangan lemah seorang tua yang ketakutan.

Dengan merendahkan tubuh dia membiarkan bacokan pedang lewat dan ketika pedang ke dua menusuk, dia miringkan tubuh dan tangannya bergerak ke depan.

Tek Po Tosu berseru keras karena tiba-tiba saja tangan kanannya terasa lumpuh dan pedang di tangan kanan yang menusuk tadi telah pindah ke tangan lawan!

Saat itu Liem Kiat yang membantu gurunya menerjang dari belakang.

Tanpa menoleh Sian Lun melontarkan pedang rampasannya ke belakang.

Pedang meluncur bagaikan anak panah cepatnya menyambut tubuh Liem Kiat.

"Creppp!"

Pedang itu menusuk perut dan menembus punggung Liem Kiat.

Pengawal kurus ini terjengkang roboh dan tewas seketika.

Tek Po Tosu marah dan juga ketakutan.

Dia menjadi nekat, menggunakan pedang di tangan kiri untuk menubruk, sedangkan tangan kanannya melakukan pukulan yang mengandung tenaga lweekang "Plakk!

Krekk!"

Tosu itu mengeluh, pedangnya terlempar dan lengan kanannya patah tulangnya ketika bertemu dengan lengan Sian Lun!

Ternyata menghadapi musuh besar ini, Sian Lun telah mengerahkan seluruh tenaganya sehingga tentu saja Tek Po Tosu tidak dapat menahannya.

Tahu bahwa nyawanya terancam, kakek ini lalu melompat dan hendak melarikan diri.

Akan tetapi Sian Lun telah menyambar pedang musuh itu dan sekali melontarkan pedang itu, pedang telah meluncur cepat mengejar.

Tek Po Tosu mengeluarkan teriakan nyaring dan roboh menelungkup, punggungnya tertembus pedangnya sendiri dan tewaslah dia.

Setelah berhasil membunuh musuh lama ayahnya, Sian Lun lalu menyerbu ke arah pasukan pasukan pengawal yang mempertahankan Thio-thaikam.

Thaikam gendut itu kelihatan pucat dan menggigil di atas kudanya melibat betapa pasukan pengawalnya mulai terhimpit.

Dia sendiri memegang sebatang pedang, namun pedang itu hanya dipegang dengan tangan gemetar, karena dia tidak berani ikut bertempur.

Sian Lun maklum bahwa pembesar ini mempunyai dosa besar, telah berkhianat terhadap pemerintah, maka dia lalu melompat, melampaui kepala para pengawal dan meluncur turun di tengah-tengah, tak jauh dari pembesar itu.

Melihat pemuda ini tiba-tiba berada di depan kudanya, Thio-thaikam terkejut bukan main.

Akan tetapi dasar orang yang terlalu mementingkan diri sendiri dan yang diingat hanya keselamatan dirinya sendiri, dia masih ada muka untuk berkata.

"Tan-ciangkun, selamatkan saya""

Dan selaksa tail emas akan kuberikan kepadamu""!"

Tentu saja ucapan itu merupakan minyak yang disiramkan dalam api kebencian Sian Lun.

Dia mengeluarkan bentakan nyaring dan melompat ke depan.

Pembesar gendut itu mencoba untuk membacokkan pedangnya, akan tetapi sekali sampok saja pedang itu terpental dan di lain saat tubuhnya sudah diseret turun dari atas kuda oleh Sian Lun yang menarik lengan tangan pembesar itu.

"Aduhhh"""

Aduhh"""

Mati aku""!"

Thio-thaikam berteriak-teriak seperti seekor babi disembelih. Akan tetapi Sian Lun yang maklum akan pentingnya orang ini, tidak mau membunuhnya, hanya menariknya bangun dan berteriak nyaring.

"Thio-thaikam telah kutangkap! Hayo kalian semua menyerah!"

Semua pasukan pengawal itu hanya melindungi Thio-thaikam karena menerima upah besar.

Kesetiaan mereka hanyalah kesetiaan belian saja.

maka kini melibat betapa pembesar itu telah tertawan, nyali dan semangat mereka lenyap.

Mereka membuang senjata dan menjatuhkan diri berlutut, menyerah saja ketika mereka digiring oleh para pasukan di bawah pimpinan Panglima Ong Gi.

Sementara itu, Gin San dan Ling Ling yang tadi mengejar keluar istana, tidak lagi dapat menemukan bayangan Ouw Sek dan Bu Siauw Kim.

Ketika mereka tiba di luar pintu gerbang utara, mereka melibat rombongan Ba Mou Lama sedang mengamuk, dikeroyok oleh pasukan kerajaan yang merasa kewalahan juga menghadapi pendeta yang sakti ini, sungguhpun jumlah mereka jauh lebih banyak dari pada jumlah para pengikut Ba Mou Lama.

Melihat ini, dua orang muda perkasa itu sudah menerjang masuk.

Gin San langsung menghadapi Ba Mou Lama sedangkan Ling Ling mengamuk dan menerjang para pengikut Ba Mou Lama, yaitu para pendeta dan Panglima Tibet yang melarikan diri bersama pemimpin besar mereka itu.

Ba Mou Lama adalah seorang pendeta Lama Jubah Merah yang sakti.

Kelompok Lama Jubah Merah memang terkenal sebagai kelompok pendeta di Tibet yang selain berpengaruh juga memiliki banyak tokoh yang pandai dan Ba Mou Lama merupakan seorang di antara mereka yang telah berhasil menjadi seorang di antara pimpinan Kerajaan Tibet.

Kini, karena petualangannya telah gagal, dan ternyata pasukannya hanya mampu bertahan beberapa hari saja di kota raja, dia merasa kecewa dan juga menyesal karena Kerajaan Tibet tidak segera mengirim pasukan besar untuk memperkokoh kedudukannya di kota raja.

Maka dia menjadi nekat dan begitu melihat Gin San terjun ke dalam medan pertempuran dan dia tahu benar akan kelihaian pemuda ini, dia sudah menyambut dengan serangan-serangan maut!

Namun, Gin San dapat menghindarkan diri dengan amat mudah, lalu dia langsung mengeluarkan ilmunya yang hebat, yaitu jurus-jurus dari Cap-sha long-thian.

Dia tidak mau menghamburkan waktu karena diapun maklum bahwa lawannya adalah seorang pandai yang perlu dihadapi dengan jurus-jurus ilmu simpanan ini.

Melihat gerakan aneh yang mendatangkan angin dahsyat berputaran itu, Ba Mou Lama terkejut bukan main.

Pukulan menyamping dari Gin San yang dilakukan dengan tubuh agak direndahkan itu disambutnya dengan dorongan kedua telapak tangannya pula, dan pendeta Lama ini berteriak kaget karena angin berpusing yang keluar dari pukulan pemuda itu sedemikian kuatnya sehingga dorongan kedua tangannya yang menyambut itu tidak kuat bertahan dan tubuhnya sudah terpelanting ke belakang dan terbanting ke atas tanah tanpa dapat dicegahnya lagi Melihat betapa pendeta Tibet yang telah merobohkan banyak sekali perwira dan perajurit ini akhirnya telah terpelanting roboh, terdengar para perajurit kerajaan bersorak gembira dan belasan orang perajurit menubruk maju seperti berebutan untuk membunuh musuh yang ditakuti akan tetapi juga dibenci ini.

"Jangan""..!"

Gin San berseru kaget, namun seruannya terlambat.

Pendeta yang sudah terpelanting itu tiba tiba mengeluarkan teriakan nyaring melengking dan empat orang di antara belasan orang perajurit yang menerjang itu terlempar ke belakang menabrak kawan-kawan sendiri dan mereka itu tewas seketika dengan dada atau kepala pecah terkena pukulan-pukulan maut Ba Mou Lama!

Ternyata pertemuan tenaga dengan Gin San tadi hanya membuat dia terpelanting dan tenaganya masih amat kuat sehingga dalam segebrakan saja dia kembali telah membunuh empat orang pengeroyok.

Terkejutlah para perajurit itu dan mereka mundur kembali dengan gentar dan marah.

Beberapa orang di antara mereka melontarkan tombak untuk membalas kematian empat orang kawan mereka tadi.

Akan tetapi setiap kali Ba Mou Lama ynng kini telah bangkit kembali itu bergerak, tombak-tombak itu tertangkis dan terpental ke samping.

Akan tetapi kini Gin San sudah berada di depannya kembali.

"Ba Mou Lama lihat, para pengikutmu telah kocar-kacir, riwayatmu telah habis, apakah engkau tidak juga mau menyerah?"

Bentak Gin San yang ingin menawan kakek ini karena dia tahu bahwa kakek ini adalah biang keladi atau pimpinan tertinggi dari fihak musuh yang telah menduduki kota raja dan merupakan orang penting.

Ba Mou Lama maklum bahwa dengan adanya pemuda tangguh ini, jalan untuk lari membebaskan diri baginya sudah terputus, dan diam-diam dia merasa menyesai sekali terhadap para pembantunya yang ternyata dalam keadaan seperti itu telah pergi mencari keselamatan masing-masing.

Kalau di situ misih ada Pek-ciang Cin-jin Ouw Sek, tentu masih ada harapan baginya untuk membebaskan diri.

Maka dia menjadi nekat dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Gin San.

"Orang muda keparatl Dari pada menyerah lebih baik mati!"

"Hemm, engkau sendiri yang cari mati!"

Kata Gin San dan diapun cepat menangkis karena kakek yang nekat itu sudah menyerangnya dengan ganas.

Terjadilah perkelahian yang amat seru dan hebat.

Para perajurit membuat lingkaran dan menonton, karena tidak ada di antara mereka yang berani memasuki gelanggang perkelahian ini.

Baru angin pukulan kedua orang sakti ini saja yang menyambar-nyambar terasa seperti angin badai dan membuat mereka gentar bukan main.

Maka mereka membentuk lingkaran lebar dan berdiri agak jauh.

Memang hebat luar biasa perkelahian itu.

Ba Mou Lama merupakan tokoh paling lihai di antara semua pimpinan musuh, kecuali Pek-ciang Cin-jin Ouw Sek tentu saja.

Apa lagi kini dalam keadaan tersudut seperti seekor harimau yang terkurung dan tidak lagi melihat jalan keluar untuk menyelamatkan diri, Ba Mou Lama menjadi nekat.

Dia amat membenci pemuda yang melawannya karena pemuda inilah yang tidak memungkinkan dia melarikan diri Kalau tidak ada pemuda ini, agaknya masih ada harapan baginya untuk lari.

Pemuda ini yang menjadi rintangan terbesar, maka dia menyerang dengan ganas, serangan nekat untuk mengadu nyawa.

Pemuda ini harus mati, baru ada harapan baginya untuk menyelamatkan diri, atau kalau tidak, biar dia mati dari pada tertawan dan mengalami hinaan-hinaan.

Kenekatan Ba Mou Lama memperlipat-gandakan kekuatannya dan membuat Gin San menjadi agak kewalahan.

Pendeta itu tidak lagi memperdulikan pertahanan atau perlindungan dirinya, melainkan mencurahkan seluruh perhatian dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyerang.

Oleh karena itu, serangan-serangannyapun nekat dan hebat sekali, memaksa Gin San untuk bersikap waspada karena setiap serangan kakek itu sama sekali tidak boleh dipandang ringan.

Tentu saja dengan kenekatan lawan seperti itu dia melihat lowongan-lowongan terbuka, akan tetapi karena serangan-serangan Ba Mou Lama datang bertubi-tubi, dia belum sempat mengirim serangan balasan dan hanya sibuk menghindarkan semua serangan lawan dengan cara mengelak atau kadang kadang menangkis.

Sementara itu, tak jauh dari situ, Ling Ling mengamuk dengan ganasnya.

Dia berloncatan ke sana-sini, berkelebatan seperti seekor naga sakti beterbangan dan kemanapun tubuhnya berkelebat, tentu ada seorang dua orang lawan yang roboh!

Sepak terjangnya ini mengagumkan para perajurit kerajaan dan beberapa kali mereka bersorak penuh kagum dan girang memperoleh bantuan dua orang seperti Gin San dan Ling Ling itu.

Semangat para pengikut Ba Mou Lama menjadi makin kecil dan akhirnya mereka mencoba untuk melarikan diri, dikejar-kejar oleh para perajurit yang tidak mengenal ampun.

Hampir seratus jurus lamanya Gin San selalu bertahan.

Kemudian dia melihat betapa gerakan lawan makin mengendur.

Tahulah dia bahwa Ba Mou Lama telah terlalu banyak mengerahkan tenaganya dan mungkin karena dihimpit penyesalan, kekecewaan dan juga kegelisahan maka kakek itu mulai menjadi lemah.

Ketika melihat kesempatan baik ini, begitu melihat kedua tangan kakek itu kembali menyerangnya dengan dorongan yang mengandung tenaga dahsyat, dia tidak mengelak atau menangkis melainkan menyambutnya dengan kedua telapak tangannya pula.

"Plakk!!"

Dua pasang tangan yang mengandung tenaga sinkang amat kuat itu saling temu dan melekat!

Ba Mou Lama cepat menggerakkan kakinya untuk menendang, akan tetapi Gin San sudah waspada akan hal ini maka begitu lawan menggerakkan kaki, diapun menggerakkan kaki menangkis.

"Krekkk!"

Ba Mou Lama mengeluh dan kaki kirinya menjadi lumpuh karena tulang betisnya patah!

Akan tetapi dia masih nekat dan mengerahkan seluruh tenaga pada kedua tangannya.

Gin San merasa betapa ada hawa yang kuat dan panas menyerangnya melalui telapak tangan, maka diapun mengerahkan tenaga sekuatnya.

Hebat adu tenaga ini.

Tidak nampak, namun terasa oleh para penonton betapa hebatnya dua orang itu mengadu tenaga.

Akhirnya, setelah mukanya penuh dengan peluh yang menetes-netes turun dan kepalanya mengeluarkan uap putih.

Ba Mou Lama mengeluh lagi dan kakinya yang tinggal sebelah yang dapat bertahan itu melangkah mundur, hampir dia roboh dan pada saat itu, Gin San mengeluarkan bentakan keras sambil mendorong.

Tak dapat di tahan lagi tubuh Ba Mou Lama terjengkang kemudian terbanting roboh, kedua tangannya masih kaku dilonjorkan ke depan.

Gin San yang maklum akan kekuatan lawan, sudah menyusulkan serangan dengan jurus dari Cap-sha Tong-thian.

Tangan kanannya menyambar dari atas ke bawah.

Ba Mou Lama menggerakkan kedua lengan yang masih kaku itu untuk menangkis.

"Dess!!"

Debu mengebul tinggi dan tubuh kakek itu terguling-guling lalu berhenti dan tak bergerak lagi karena dia sudah tewas!

Terdengar sorak-sorai gegap-gempita dan hal ini membuat sisa para pengikut Ba Mou Lama makin cemas sehingga mudah saja mereka itu dirobohkan oleh Ling Ling dan para perajurit kerajaan.

Habislah semua pengikut Tibet itu dan tempat itu menjadi tempat pembantaian yang amat mengerikan!

Dalam waktu setengah hari saja, habislah sudah semua riwayat Ba Mau Lama dengan petualangannya.

Dia telah mengguncangkan sejarah dengan keberhasilannya menduduki kota raja dan bahkan menduduki istana, dengan bantuan orang orang Khitan di bawah pimpinan An Hun Kiong dan dengan bantuan dari dalam istana oleh Thio-thaikam!

Petualangannya ini sama sekali tidak direstui oleh Kerajaan Tibet, oleh karena itu Kerajaan Tibet tidak mengirim pasukan bala bantuan sehingga petualangannya itupun hanya dapat bertahan selama beberapa hari saja.

Memang Kerajaan Tibet tidak merestui petualangan ini, tidak menyetujui kelancangan Ba Mou Lama yang tidak memperhitungkan kekuatan sendiri.

Kalau Ba Mou Lama sampai dapat berhasil, semua itu adalah berkat bantuan Thio thaikam y"ng tidak saja telah dapat mempermainkan kaisar, akan tetapi pembesar kebiri yang lihai sekali ini bahkan dapat mengelabui pembesar tinggi yang bijaksana seperti Penasehat Militer Han Gi dan yang lain-lain!

Boleh dibilang hampir semua pengikut Ba Mou Lama dan An Hun Kiong tewas dalam serbuan balasan dari pasukan kerajaan, dan sebagian dari mereka yang berhasil melarikan diri dan bersembunyi di antara rakyat selalu menjadi orang-orang buruan.

Dengan segala kegembiraan dan kebesaran akhirnya kaisar kembali ke istana di mana diadakan pesta kemenangan yang meriah.

Dalam pesta itu, nama tiga orang pendekar Tan Sian Lun, Gan Ai Ling, dan Coa Gin San disebut-rebut, bahkan mereka bertiga dipanggil untuk menghadap kaisar dan menerima pahala dari kaisar bahkan menaikkan pangkat Sian Lun menjadi seorang panglima muda.

Akan tetapi karena Ai Ling atau Ling Ling dan Gin San tidak mau menerima pangkat, mereka ini hanya menerima benda-benda berharga, dan di antaranya mereka masing-masing menerima tanda kesetiaan dan orang kepercayaan kaisar, yaitu sebatang pedang yang sarungnya terbuat dari pada emas ukir ukiran.

Dengan pedang ini, mereka mempunyai kekuasaan untuk setiap waktu datang dan minta menghadap kaisar, dan pedang inipun membuat mereka menjadi tamu tamu agung bagi para pembesar di seluruh negeri!

(Lanjut ke

Jilid 44) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 44 Thio thaikam dijatuhi hukuman mati, demikian pula ratusan orang pengikutnya yang tertangkap hidup-hidup.

Selebihnya telah tewas dalam penyerbuan itu.

Yang kalah menjalani hukuman mati sedangkan yang menang mengadakan pesta pora sampai tiga hari tiga malam!

Tiga orang muda perkasa itu begitu keluar dari istana disambut oleh keluarganya Yap Yu Tek yang sudah menanti sejak tadi.

Yap Yu Tek, Gan Beng Lian dan puteri mereka, Yap Wan Cu, semenjak membantu pasukan kerajaan untuk menyerbu kota raja dan merampasnya dari tangan pasukan Tibet, tidak pernah meninggalkan kota raja karena mereka menanti sampai kaisar kembali ke istana dan kemudian dengan girang mereka mendengar tentang unugerah yang dilimpahkan kaisar kepada para pendekar muda yang telah berjasa besar itu.

"Kiong hi (selamat), Lun koko!"

Wan Cu menyambut keluarnya tiga orang muda itu dengan ucapan selamat kepada Sian Lun dengan wajah berseri dan sinar mata bercahaya gembira.

"Anugerah hebat apakah yang kauterima dari sri baginda?"

Dengan tersipu-sipu Sian Lun menceritakan kenaikan pangkatnya dan suami isteri Yap juga memberi selamat, demikian pula kepada Ling Ling dan Gin San mereka memberi selamat.

"Sian Lun, kiranya sekarang sudah tiba waktunya bagi keluarga kami untuk membicarakan urusan antara kita."

Tiba tiba Yap Yu Tek berkata ketika mereka berenam memasuk sebuah restoran besar di mana keluarga Yap hendak menjamu tiga orang muda ini.

Mendengar itu, tiba-tiba wajah Wan Cu menjadi merah sekali dan dia membuang muka sambil menahan senyum.

Melihat ini, Sian Lun juga menjadi tersipu-sipu dan dia cepat memberi hormat kepada Yap Yu Tek sambil berkata.

"Harap paman dan bibi sudi memaafkan saya. Tapi"".. tapi"".. ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada paman dan bibi berdua saja"

Ling Ling dan Gin San saling bertukar pandang.

Dua orang muda ini sudah tahu akan persoalan Siang Bwee dan biarpun Sian Lun tidak pernah mengatakan sesuatu, namun mereka berdua tahu bahwa tidak mungkin Sian Lun dapat melupakan Siang Bwee, wanita yang amat mencintanya dan sudah mengorbankan segala-galanya untuk Sian Lun.

Dua orang muda itu bangkit berdiri.

"Biarlah kami pergi dulu""""

"Eh, eh"", jangan, Ling Ling! Kalian duduk saja di sini, temani Wan Cu. Mari, Sian Lun, kita bicara di dalam!"

Kata Yap Yu Tek yang lalu bangkit bernama isterinya dan mengajak Sian Lin untuk bicara di ruangan dalam restoran besar itu.

Karena baru saja ada perang, maka restoran itu belum didatangi tamu dan pemiliknya hanya melayani permintaan keluarga Yap yang hendak menjamu tiga orang pendekar muda yang mendapat anugerah dari kaisar itu.

Oleh karena itu, maka Yap Yu Tek dan isterinya dapat bicara dengan leluasa bersama Sian Lun di sebelah dalam.

Setelah paman dan bibinya itu duduk berhadapan dengan dia di ruangan dalam, Sian Lun berkata dengan suara tenang.

"Harap bibi dan paman sudi memaafkan saya. Sebetulnya berat bagi saya untuk membicarakannya dengan paman berdua, akan tetapi apa boleh buat, karena menyimpannya sebagai rahasia lebih tidak baik lagi."

Suami isteri itu saling pandang dengan sinar mata khawatir, akan tetapi Yap Yu Tek segera berkata dengan lembut kepada pemuda yang menundukkan kepala itu.

"Sian Lun, antara kita terdapat ikatan kekeluargaan, kita bukanlah orang-orang lain, maka memang tidak semestinya kalau ada hal-hal yang disembunyikan. Di samping ikatan perjodohan antara engkau dan Wan Cu, engkau adalah keponakan kami. Nah, katakanlah apa yang hendak kausampaikan kepada kami?"

Dengan hati-hati dan singkat Sian Lun lalu menceritakan pengalamannya ketika dia menyelamatkan kaisar dan oleh kaisar dia diberi hadiah seorang gadis bernama Ci Siang Bwee yang oleh kaisar dimaksudkan agar menjadi isterinya atau selirnya.

"Saya tidak mungkin berani menolak pemberian itu,"

Sian Lun melanjutkan kepada Yap Yu Tek dan Gan Beng Lian yang mendengarkan penuh perhatian.

"Akan tetapi sayapun tidak mempunyai keinginan untuk beristeri atau berselir, oleh karena itu, berkat bantuan Siang Bwee, biarpun gadis itu tinggal sebagai pembantu rumah tangga saja, namun di luar dia saya perkenalkan sebagai selir. Hal ini untuk menjaga agar jangan sampai sri baginda tersinggung dan merasa saya tolak anugerah beliau""".."

Sampai di sini, wajah Sian Lun menjadi merah sekali dan Yap Yu Tek mengangguk-angguk sambil tersenyum.

Pemuda ini benar-benar seorang muda yang hebat, pikirnya.

Mengambil selir, apa lagi setelah memperoleh kedudukan panglima, apa sih salahnya?.

Pada jaman itu, bagi seorang pria berkedudukan, memiliki selir bukanlah hal yang patut dibuat malu, bahkan pada sebagian besar orang merupakan kebanggaan.

Sungguhpun dia sendiri tidak pernah mempunyai selir!

"Lanjutkanlah ceritamu, Sian Lun.

Aku dapat mengerti keadaanmu,"

Katanya, Sian Lun lalu melanjutkan ceritanya.

Betapa dia, Ling Ling, dan Om San menyerbu ke istana dan akhirnya tertawan.

Betapa mereka bertiga sudah berada di ambang maut, dan agaknya tidak mungkin dapat tertolong lagi kalau saja tidak muncul Siang Bwee!

Dia menceritakan betapa oleh Thio-thaikam Siang Bwee dihadiahkan secara paksa kepada An Hun Kiong, dengan ancaman bahwa kalau wanita itu menolak, maka Sian Lun akan dibunuh.

"Dia"""..dia terpaksa mentaati karena hendak menolong saya, kemudian...". ketika kami bertiga tertawan dan sudah tidak ada harapan lagi. Siang Bwee muncul bersama An Hun Kiong dan dengan membiarkan diri terancam maut, dia telah berhasil menolong kami sehingga dapat bebas"".."

Sian Lun menceritakan bagian ini dengan sejelasnya, dan dengan suara tergetar karena merasa terharu.

"Setelah kami semua lolos dari bahaya, Siang Bwee membunuh An Hun Kiong dan akan membunuh diri kalau saja tidak keburu saya cegah. Dia merasa terhina dan merasa kotor dan rendah, dia ingin mati saja. Akan tetapi saya telah berhutang budi kepadanya, maka saya berjanji bahwa dia boleh hidup selamanya di samping saya. Nah, inilah yang perlu saya ceritakan kepada paman dan bibi dalam hubungan ikatan jodoh yang paman berdua usulkan."

Hening sejenak setelah Sian Lun selesai menceritakan semua itu.

Sebagai orang-orang yang menjunjung kegagahan, suami isteri itu diam-diam merasa kagum akan kejujuran pemuda ini.

Oleh karena iiu, tanpa merasa sungkan lagi, Gan Beng Lian juga mengajukan pertanyaan yang terbuka dan jujur, sambil memandang tajam kepad wajah pemuda yang tampan gagah dan tenang itu.

"Sian Lun, jawablah sejujurnya. Apakah engkau cinta kepada Wan Cu dan apakah engkau suka menjadi suaminya?"

Yap Yu Tek sendiri sampai terkejut mendengar pertanyaan isterinya yang demikian terbuka dan seolah-olah merupakan serangan yang amat hebat itu.

Dia melihat betapa wajah Sian Lun tiba-tiba berobah merah dan tahulah dia bahwa pemuda ini benar-benar tersudut oleh serangan yang demikian tiba-tiba.

Akan tetapi diapun melihat pentingnya pertanyaan itu diajukan, karena ikatan jodoh itu menyangkut masa depan puteri tunggal mereka, maka haruslah dilakukan penjajagan secara mendalam dan jelas.

Setelah menelan ludah menenteramkan jantungnya yang agak terguncang menghadapi pertanyaan itu, Sian Lun lalu memandang kepada bibinya itu sambil berkata.

"Bibi, kalau boleh saya berkata terus terang, saya amat kagum dan suka kepada Wan Cu moi moi, dan saya tentu saja suka untuk menjadi suaminya."

Lapang rasa dada Yap Yu Tek mendengar ini dan dia menghela napas panjang, akan tetapi Gan Beng Lian masih terus "menyerang"

Dengan pertanyaan yang lebih mengguncangkan lagi.

"Sian Lun, apakah engkau mencinta wanita yang bernama Ci Siang Bwee itu?"

"Lian moi""..!"

Yap Yu Tek berseru tertahan karena betapapun dia merasa bahwa isterinya tidak berhak mengajukan pertanyaan itu.

Akan tetapi Sian Lun mengangkat tangan kirinya ke atas dan suaranya terdengar sungguh-sungguh dan halus.

"Biarlah, paman. Memang sebaiknya kalau-berterus terang dalam hal ini agar kelak tidak menimbulkan penyesalan apa-apa. Begini, bibi, dan paman, Sesungguhnya saja saya sendiri tidak atau belum tahu apakah yang dinamakan cinta itu, dan saya sendiri tidak tahu apakah saya pernah jatuh cinta. Akan tetapi, kalau paman berdua ingin mengetahui perasaanku saat ini, aku kagum dan suka kepada Wan Cu moi-moi. dan terhadap Siang Bwee, saya merasa kasihan dan hutang budi yang harus saya bavar dengan membahagiakan dia sebagai balas budi. Nah, kiranya sudah jelas bagi paman berdua, dan selanjutnya, tentang ikatan jodoh itu terserah kepada paman dan bibi."

Kembali hening sampai agak lama setelah Sian Lun membuka isi hatinya secara amat jujur itu.

Kini Beng Lian memandang suaminya seolah-olah isteri ini minta pertimbangan dan pendapat suaminya setelah calon mantu itu menyatakan isi hatinya secara demikian terbuka.

Yap Yu Tek menarik napas panjang.

"Kalau begitu, tidak ada halangannya. Kurasa Wan Cu juga tidak akan keberatan kalau suaminya mempunyai seorang selir seperti wanita yang amat setia itu."

Gan Beng Lian mengerutkan alis, lalu menarik napas panjang pula.

"Sebenarnya aku sendiri paling tidak suka melihat pria mempunyai lebih dari seorang isteri, akan tetapi dalam keadaan seperti Sian Lun, kurasa juga tidak ada halangannya kalau dia mengambil Siang Bwee sebagai selir untuk membalas budi setelah wanita itu melakukan segalanya itu untuknya. Wan Cu tentu akan dapat mengerti."

Wajah Sian Lun berobah merah, akan tetapi diam-diam dia merasa lega juga.

"Nah, Sian Lun, dengan pernyataan kami ini maka ikatan jodoh dapat dilanjurkan dan diresmikan,"

Kata Yap Yu Tek lagi sambil memandang wajah pemuda itu.

"Nanti dulu, paman dan bibi. Ada suatu hal lagi. Saya telah berjanji kepada sute Coa Gin San dan sumoi Gan Ai Ling bahwa saya akan membantu mereka mengejar dan membalas kepada Pek-ciang Cin-jin Ouw Sek dan Kim-sim Niocu Bu Siauw Kim. Ouw Sek adalah musuh sute karena Oaw Sek membawa Beng-kauw ke dalam kesesatan maka perlu dibasmi, sedangkan Bu Siauw Kim adalah pembunuh dari mendiang paman Gan Beng Han dan isterinya, jadi musuh besar sumoi. Setelah kami bertiga selesai dengan urusan mengejar mereka berdua itu, barulah saya akan mentaati kemauan paman dan bibi."

Yap Yu Tek dan Gan Beng Lian saling pandang, lalu keduanya mengangguk.

"Baiklah,, kami setuju, Sian Lun. Betapapun juga, mulai sekarang engkau sudah resmi menjadi tunangan Wan Cu, dan mari kita kembali kepada mereka."

Wan Cu, Gin San dan Ling Ling memandang kepada tiga orang yang datang itu dengan wajah berseri, dan Wan Cu cepat menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.

"Wan Cu, tunanganmu ini hendak membantu sute dan sumoinya mengejar musuh-musuh besar, setelah itu baru kita akan meresmikan...".."

Kata Gan Beng Lian.

"Ibu, aku sudah mendengar dari enci Ling Ling!"

Wan Cu memotong dengan muka merah dan dia mengerling ke arah Sian Lun sambil tersenyum.

Yap Yu Tek dan isterinya tidak mau bicara tentang Siang Bwee di depan banyak orang, dan mereka semua lalu melanjutkan makan minum sampai malam.

Kemudian mereka berpisah Yap Yu Tek dan isterinya mengajak puteri mereka untuk kembali ke An-kian, sedangkan Sian Lun lalu kembali ke gedungnya.

Gin San dan Ling Ling ikut bersama suheng mereka itu karena mereka akan bermalam di gedungnya dan akan menentukan keberangkatan mereka melakukan pengejaran terhadap Ouw Sek dan Bu Siauw Kim, Baru sekarang Sian Lun mempunyai kesempatan kembali ke gedungnya.

Ternyata gedungnya itu tidak rusak, bahkan kini para pelayannya telah kembali bekerja dan menyambut kedatangan majikan mereka dengan penuh kegembiraan, apa lagi mereka semua telah mendengar akan kenaikan pangkat majikan mereka.

Sian Lun terkejut, girang dan juga merasa heran bagaimana para pelayannya itu masih lengkap dan dapat berada di situ menantinya, padahal bukankah baru saja mereka ini mengalami keributan dengan munculnya orang-orang Tibet yang menguasai segalanya di istana dan kota.

"Bagaimana kalian dapat berkumpul di sini?"

Tanyanya.

"Hamba""..semua menerima panggilan dari siauw-thui thai (nyonya muda), ciangkun."

Jawab pelayan tertua di antara mereka.

"Hanya ada dua orang pelayan yang ternyata adalah mata-mata yang dipasang oleh mendiang Thio-thaikam yang kini entah berada di mana dan tidak datang."

Sian Lun mengangguk angguk dengan girang. Katanya Siang Bwee yang mengatur semuanya! Bagi para pelayan. Siang Bwee adalah "nyonya muda"

Yang berarti selirnya!

Jantungnya berdebar dan pandang matanya mencari-cari, namun tidak nampak Siang Bwee menyambut di situ.

Diam-diam hatinya merasa gelisah.

Dia lalu mengantar sute dan sumoinya ke kamar masing-masing dan mempersilakan mereka mandi dan tidur karena dia tahu betapa lelahnya mereka itu.

Di depan sute dan sumoinya, dia merasa sungkan untuk menanyakan Siang Bwee kepada para pelayannya, akan tetapi setelah sute dan sumoinya itu memasuki kamar masing-masing, dia bergegas ke sebelah dalam dan langsung ke kamarnya.

Perlahan-lahan dia membuka pintu kamar dan".

Siang Bwee telah berdiri menyambutnya dengan muka menunduk, muka yang pucat akan tetapi kedua pipinya kemerahan dan sepasang mata yang lembut itu menunjukkan kekhawatiran amat besar.

"Siang Bwee"..!"

Suara Sian Lun berbisik dan bersama panggilan ini lenyaplah semua kegelisahan hatinya, terganti perasaan lega dan girang melihat wanita itu ternyata berada di situ. Siang Bwee menjura.

"Maafkan saya, taihiap...". saya""..saya tidak keluar menyambut ketika mendengar taihiap datang bersama Coa-taihiap dan Gan-lihiap karena saya.....saya khawatir akan menangis di depan mereka....."

Wanita itu lalu menggunakan ujung lengan baju mengusap dua butir air matanya.

"Tidak apa, Siang Bwee, hanya aku tadi khawatir karena tidak melihatmu "

Sian Lun lalu duduk di atas kursi dengan hati lega. Siang Bwee sudah cepat menjatuhkan diri berlutut di dekat kakinya dan jari-jari tangan yang halus kecil itu sudah sibuk membukakan sepatunya.

"Begitu mendengar taihiap datang, saya sudah suruh pelayan mempersiapkan air hangat sebaiknya taihiap mandi dulu baru nanti saya suruh persiapkan makanan."

Sian Lun menunduk dan melihat wanita itu melepas kedua sepatu dan kaus kakinya.

Kedua kaki itu terasa nyaman sekali setelah terbebas dari bungkusan sepatu yang ketat.

Pada saat itu pelayan datang memberi tahu bahwa air hangat sudah tersedia.

Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 3

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert