Ceritasilat Novel Online

Kisah Tiga Naga Sakti 12

Eps 12 Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Tiga Naga Sakti - Kho Ping Hoo.

Sian Lun segera bangkit dan pergi ke kamar mandi tanpa banyak cakap Dia menerima pakaian bersih yang sudah dipersiapkan pula oleh Siang Bwee.

Untung bahwa gedungnya itu agaknya terlindung dari gerayangan tangan para pemberontak Tibet sehingga pakaiannya apa masih utuh.

Setelah mandi dan merasa tubuhnya segar, Sian Lun kembali duduk di atas kursi.

"Akan saya persiapkan makanan, taihiap."

"Tidak usah, Siang Kwee. Aku sudah makan tadi bersama sute dan sumoi. Jangan kau pergi, duduklah di sini, aku ingin bicara tentang hal penting denganmu,"

Kata pemuda itu ketika melihat Siang Bwee hendak meninggalkan kamarnya.

Wanita itu berhenti, memutar tubuh memandang kepada Sian Lun dengan sepasang matanya yang indah dan bersinar lembut, sepasang mata yang masih mengandung rasa ngeri dan takut akibat pengalamannya yang amat menyiksa perasaannya, dan kini mata itu memandangnya dengan harap-harap cemas.

"Tutupkan pintu kamar itu dan ke sinilah Siang Bwee,"

Kata pula Sian Lun.

Wanita itu nampak terkejut, sepasang matanya berkeredepan seperti bintang, sepasang mata yang agak basah dan kini sinar harap-harap cemas makin membayang di wajah cantik itu.

Betapa dia tidak akan terkejut dan heran.

Sebelum ini, tak pernah Sian Lun mau bicara dengannya di dalam kamar, apa lagi dengan pintu kamar tertutup!

Sekarang pemuda itu menyuruh dia menutupkan pintu kamar, bahkan memanggilnya untuk duduk bersama pemuda itu!

Akan tetapi, seperti patung bergerak dia menutupkan pintu kamar, kemudian dengan langkah langkah lembut dia menghampiri Sian Lun, berdiri sambil menunduk di depan pemuda itu.

"Duduklah di kursi itu, Siang Bwee. Aku mau bicara,"

Kata Sian Lun sambil menunjuk ke arah kursi ke dua di depannya, terhalang meja kecil.

Sian Bwee tidak menjawab, melainkan menggerakkan kakinya dan duduk di atas kursi itu, duduk di tepi kursi, pinggulnya menempel sedikit saja dengan ringannya di bibir kursi, seolah olah kursi itu ada durinya.

Dia merasa canggung, cemas, karena Sian Lun bersikap lain dari biasanya, menambah kesan betapa dia sekarang memang sudah menjadi wanita lain!

Dia telah menjadi seorang wanita yang rendah dan hina!

Melihat sikap Siang Bwee penuh keraguan itu, Sian Lun tersenyum menenangkan.

"Jangan gelisah, Siang Bwee, aku hendak bicara denganmu tentang diriku, tentang keadaanku."

Sinar kegelisahan itu lenyap dari pandang mata Siang Bwee, namun dara ini masih menduga duga dan dengan lirih dia bertanya sambil menatap wajah pria yang dipuja dan dikasihinya.

"Silakan, taihiap, saya sudah siap mendengarkan. Soal apakah yang hendak taihiap sampaikan kepada saya?"

"Siang Bwee, aku telah bertemu dengan keluarga paman Yap Yu Tek yang tinggal di An-kian. Paman Yap adalah putera bupati di An-kian dan hubunganku dengan dia sesungguhnya lewat isterinya.Isterinya adalah bibi Gan Beng Lian, yaitu adik kandung dari pamanku atau juga guruku mendiang Gan Beng Han"

Kemudian dengan singkat Sian Lun bercerita kepada Siang Bwee tentang keluarga itu dan hubungannya dengm mendiang ayahnya dan mendiang paman dan gurunya.

Semua itu didengarkan dengan penuh kesabaran dan perhatian, sungguhpun diam-diam dia merasa makin terheran-heran mengapa pemuda itu bercerita tentang keluarga Yap yang asing baginya itu.

Ketika cerita Sian Lun tiba pada penggambaran tentang diri Yap Wan Cu, puteri tunggal dari keluarga itu, diam-diam jantung Siang Bwee berdebar keras dan dia mulai dapat menduga dengan hati agak khawatir.

"Ketahuilah, Siang Bwee, paman Yap dan isterinya, kurang lebih setahun yang lalu telah mengusulkan untuk menjodohkan aku dengan adik Yip Wan Cu."

Sian Lun berhenti dan memandang tajam wajah yang agak menunduk itu. Akan tetapi dia tidak melihat sesuatu yang membayangkan perasaan hati wanita itu, maka dia lalu melanjutkan.

"Dan malam ini, ketika aku bersama sute dan sumoi menerima jamuan makan dari keluarga Yap, paman dan bibi mendesakku tentang perjodohan itu."

Sian Lun berhenti dan suasana menjadi sunyi sekali dalam kamar itu.

Diam-diam Sian Lun merasa heran mengapa dia mengajak wanita ini berbincang tentang perjodohannya itu?

Akan tetapi, ada siapa lagi di dunia ini selain Siang Bwee yang dapat diajaknya bicara tentang keadaan hidupnya?

Dan Siang Bwee yang merasa jantungnya berdebar dan agak nyeri, menunduk, dan diapun diam-diam merasa heran mengapa pendekar yang dipujanya ini menyampaikan semua itu kepadanya!

Karena sampai lama mereka berdiam saja, Sian Lun lalu bertanya.

"Siang Bwee, mengertikah engkau akan semua yang telah kuceritakan kepadamu tadi?"

Siang Bwee mengangkat muka. Dua pasang mata itu bertemu pandang sampai agak lama dan akhirnya Siang Bwee mengangguk. Dengan suara agak gemetar dia bertanya.

"Apa maksud taihiap menceritakan semua itu kepada saya?"

"Aku""

Aku ingin mendengar pendapatmu. Siang Bwee. Aku masih bingung dan ragu akan usul dari paman Yap berdua tentang ikatan jodoh itu"

Siang Bwee tersenyum untuk menutupi keperihan hatinya.

Dia sungguh mencinta pemuda ini, dia hanya ingin melihat pemuda ini selamat dan bahagia.

Dia harus melupakan diri sendiri dan mencurahkan seluruh pikiran dan perhatiannya demi kepentingan pemuda ini.

"Taihiap, apakah"". apakah taihiap mencinta Yap-siocia itu?"

Sian Lun mengerutkan alisnya.

Mengapa pertanyaan ini yang diajukan oleh ibu Wan Cu kini diulang lagi oleh Siang Bwee?

"Aku tidak tahu tentang cinta, Siang Bwee.

Akan tetapi aku kagum dan suka kepadanya."

"Dan taihiap suka kalau dia menjadi isteri taihiap?"

Sian Lun mengangguk, tanpa menjawab.

"Kalau begitu, tidak ada halangannya lagi, taihiap. Seorang wanita yang disuka oleh taihiap tentulah seorang yang amat baik. Apa lagi dia adalah cucu seorang pembesar, dan menurut taihiap, keluarga Yap adalah keluarga gagah perkasa, jadi sudah sesuai dengan keadaan diri taihiap sendiri. Akan tetapi"""

Mengapa taihiap menanyakan pendapat saya dalam urusan yang amat penting ini?"

"Siang Bwee, aku sudah berjanji kepadamu bahwa engkau selamanya boleh hidup di sampingku, oleh karena itu, dalam urusan perjodohan dengan Yap Wan Cu ini, tentu saja aku harus bertanya kepadamu."

Siang Bwee terkejut bukan main, girang dan juga amat terharu.

Penuda ini gagah perkasa, bahkan memiliki kesaktian bebat, namun jiwanya demikian sederhana, polos dan bersih Keharuan membuat dia cepat turun dari kursinya, menghampiri pemuda itu dan berlutut di depan kakinya.

"Taihiap".. engkau adalah pujaanku, junjunganku""

Dan saya""".. ya hanya seorang wanita hina yang akan merasa bangga dan bahagia kalau dapat menjadi pelayan taihiap untuk selamanya""."

Tak terasa lagi beberapa butir air mata seperti mutiara berderai turun ke atas sepasang pipinya.

"Siang Bwee"". bukan begitu maksudku"".."

Sian Lun memegang kedua bahu wanita itu dan menariknya sehingga bangkit berdiri.

"sampai mati aku takkan dapat melupakan cintamu yang penuh kesetiaan dan pengorbanan itu, aku bahkan secara terus terang telah menceritakan keadaanmu kepada keluarga Yap. dan aku katakan bahwa aku hanya mau menjadi mantu mereka kalau mereka juga mau menerimamu sebagai""

Selirku"""

Yaitu kalau..."..kalau""". kau mau"".."

Sepasang mata itu terbelalak memandang, dengan air mata masih memenuhi pelupuk mata, mulut itu tersenyum karena bahagia "Apa katamu taihiap"..? Kalau..... kalau aku mau"..? Ahh"

Tentu saja"".. tidak ada kebahagiaan melebihi itu, aku mau! Aku mau"".! Ah, aku mau sekali, taihiap"".!"

Entah siapa yang bergerak lebih dulu, akan-tetapi tahu-tahu Siang Bwee telah berada di atas pangkuan Sian Lun yang merangkulnya, mereka saling berpelukan dan saling berciuman seperti dengan sendirinya tanpa disengaja lagi, lengan hati penuh kemesraan dan cinta yang membara.

Malam itu Siang Bwee tidak kembali lagi ke kamarnya, melainkan tidur bersima Sian Lun dalam kamar pemuda itu.

Malam itu merupakan malam pengantin bagi mereka.

Sian Lun adalah seorang pemuda yang belum pernah berdekatan dengan wanita, sedangkan Siang Bwee biarpun pernah melayani seorang pria, namun pelayanan itu dilakukan dengan terpaksa, hampir tiada bedanya dengan perkosaan.

Oleh karena itu, dalam hal cinta asmara, mereka berdua masih hijau dan bodoh.

Akan tetapi, rasa cinta mereka membuat mereka tahu apa yang harus diperbuat, membuat mereka tahu segala-galanya, karena cinta membuat orang ingin melakukan segala yang dapat membahagiakan dan menyenangkan orang yang dicinta.

Dalam hubungan wanita dan pria sebagai suami isteri, kalau sudah ada keinginan saling menyenangkan dan membahagiakan, tentu terdapat kemesraan yang mendalam.

Sian Lun memang sengaja hendak memilih Siang Bwee sebagai wanita pertama yang digaulinya, bukan hanya untuk membalas budi yang amat besar, melainkan juga karena dia sudah yakin akan cinta kasih wanita ini kepadanya, dan juga karena ada dorongan hasrat yang dia sendiri tidak tahu berada dalam dirinya, tidak tahu bahwa sebenarnya dia juga mencinta Siang Bwee!

Dan pada jaman itu, di dalam kamus kebudayaan jaman itu, tidak terdapat pantangan atau sebutan aib atau buruk bagi seorang pria untuk mempunyai selir!

Bahkan kalau pria itu berkedudukan atau berharta, mempunyai selir sampai berapapun banyaknya merupakan hal wajar dan tidak ada seorangpun yang akan menganggapnya buruk atau melanggar sesuatu.

Dan sesungguhnyalah pandangan umum terhadap hal-hal yang dianggap pantas atau tidak adil, bersusila atau asusila, semua itu hanya tergantung dari.

pada kebiasaan dan tradisi belaka!

Apa yang dianggap baik oleh suatu golongan atau suatu bangsa atau suatu agama, belum tentu dianggap baik, bahkan mungkin taja dianggap buruk oleh golongan atau bangsa atau agama lain!

Semua tergantung dari tradisi atau kebiasaan atau kepercayaan masing-masing.

Maka jelaslah bahwa apa yang dinamakan baik atau buruk hanyalah pandangan sepihak atau pendapat belaka yang berdasar kepada tradisi atau agama masing-masing, juga berdasar kepada keinginan untuk menyenangkan diri masing-masing.

Karena itu seringkali timbul kenyataan bahwa pendapat baik buruk adalah yang menguntungkan atau menyenangkan aku adalah baik, dan yang merugikan atau menyusahkan aku adalah buruk!

Dengan dasar ini, tentu saja timbul kenyataan bahwa yang baik untukmu mungkin buruk untukku, dan yang burukmu belum tentu buruk untukku!

Si kenyataan sendiri, si kejadian atau si keadaan apa adanya itu sendiri tidaklah baik atau buruk.

Tiga hari kemudian, berangkatlah Sian Lun, Ling Ling, dan Gin San meninggalkan kota raja untuk mulai dengan perjalanan mereka mencari Ouw Sek dan Bu Siauw Kim ke selatan, ketika menceritakan maksud kepergiannya kepada Siang Bwee, wanita ini tidak membantah dan menyimpan rasa kecewanya dalam hati saja.

Tidak mengherankan kalau dia kecewa.

Dia seperti pengantin baru, selama tiga hari hidup dalam lautan madu asmara yang penuh kemesraan, yang baginya merupakan obat yang amat manjur untuk menghapus semua sisa penderitaan yang telah dialaminya ketika dia terpaksa harus melayani An Hun Kiong.

Akan tetapi, Siang Bwee adalah seorang wanita bijaksana dan cintanya terhadap Sian Lun sama sekali bukan cinta yang hanya mengejar kesenangan diri pribadi belaka.

Dia maklum akan pentingnya kepergian Sian Lun bersama sute dan sumoinya maka dia menghormati keberangkatan itu Bahkan selama tiga hari ini, biarpun dia dalam kemesraan yang membara dengan Sian Lun namun di luar kamar dia selalu bersikap seperti seorang pelayan, bukan hanya terutama di depan Ling Ling dan Gin San, bahkan juga di depan para pelayan lainnya sehingga diam diam Sian Lun makin sayang dan kagum kepada wanita ini.

Sungguh seorang wanita yang rendah hati dan pandai membawa diri.

sama sekali tidak dikotori oleh kesombongan.

Makin giranglah pendekar ini karena dia merasa bahwa pilihannya tidaklah keliru, yaitu bahwa dia sengaja menyerahkan diri untuk pertama kali dilam hidupnya kepada Siang Bwee, wanita yang amat mencintanya.

Sebagai seorang panglima, apa lagi yang baru saja mendapat anugerah dari kaisar, tentu saja Sian Lun juga berpamit kepada kaisar.

Kaisar memberi persetujuan dengan girang karena memang penting sekali untuk membasmi orang orang macam Ouw Sek dan Bu Siauw Kim yang jelas telah merupakan pengkhianat-pengkhianat yang membantu Bangsa Tibet untuk menyerbu kota raja dan mendudukinya.

Bahkan kaisar mengusulkan agar Sian Lun membawa pasukan yang kuat Akan tetapi pemuda ini dengan hati hati menyatakan bahwa untuk menghadapi penjahat-penjahat itu cukup dengan dia dan dua orang adik seperguruannya.

Mereka berangkat dan diantar oleh Siang Bwee yang kelihatan tersenyum cerah sampai di pintu halaman Akan tetapi ketika tiga ekor kuda yang ditunggangi oleh tiga orang pendekar itu menjauh, biatpun mulutnya masih tersenyum, namun kedua mata Siang Bwee berlinang linang air mata dan batinnya merasa gelisah sekali.

Betapapun juga, pujaan hatinya atau kekasihnya, juga majikannya itu sedang pergi menempuh bahaya, mencari penjahat-penjahat yang menurut Sian Lun memiliki kepandaian yang amat tinggi!

Setelah memasuki rumah kembali, Siang Bwee cepat mengatur meja sembahyang dan bersembahyanglah wanita ini dengan penuh kesungguhan hati untuk minta.

kepada Thian agar kekasihnya itu dilindungi dan dijauhkan dari pada segala mara bahaya.

Gin San tahu ke mana dia harus mencari Siauw Sek.

Maka dia lalu mengajak suheng dan sumoinya itu pergi ke selatan, di mana terdapat pusat Agama Beng kauw selatan yang tadinya berpusat di Yun-an akan tetapi kemudian dipindahkan oleh mendiang Bu Heng Locu ke Kiang-si, di tepi Telaga Po-yang.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, ketika Pek-ciang Cin-jin Ouw Sek mengacau di Beng kauw pusat sehingga mengakibatkan kematian Bu Heng Locu ketua Beng-kauw.

Ouw Sek ini dipukul mundur oleh Gin San yang kemudian mengangkat Kwan Liok menjadi ketua Beng-kauw.

Tiga orang pendekar itu membalapkan kuda mereka dan hanya berhenti untuk memberi kesempatan kepada kuda mereka untuk beristirahat.

Gin San menyatakan kekhawatirannya tentang Beng kauw di selatan.

"Aku khawatir kalau kalau Ouw Sek itu mengacau lagi di Beng kauw. Betapapun jug dia masih memegang sebuah bendera keramat tanda kekuasaan Beng-kauw."

Ling Ling dan Sian Lun yang telah mendengar cerita Gin San tentang Ouw Sek justru merata khawatir.

"Akan tetapi, andaikata benar demikian, kalau kita datang ke sana, kita dapat menggempurnya. Menurut ceritamu, semua anak buah tidak suka kepadanya dan kalau engkau muncul, tentu semua anak buah Beng Kauw akan membelamu, ji suheng."

"Kuharap begitu, hanya aku khawatir kalau kalau dia telah menimbulkan malapetaka dan merampas kedudukan ketua dengan kekerasan. Dia lihai sekali dan di Beng kauw sana tidak ada yang mampu menandinginya."

Sian Lun yang juga sudah banyak mendengar dari sutenya itu tentang Beng kauw, dan Ouw Sek berkata.

"Kurasa dia tidak akan sebodoh itu, sute. Kalau dia menggunakan kekerasan merebut kedudukan, tentu dia akan di benci oleh para anggauta Beng-kauw, dan apa artinya bagi dia menjadi ketua Beng-kauw kalau para anak buahnya membencinya? Pendapat ini masuk akal dan menenangkan hati Gin San. Maka bertiga harus berganti kuda sampai tiga kali dan biarpun Sian Lun memiliki tanda pangkat yang dibawanya, sedangkan Gin San dan Ling Ling memiliki masing-masing sebatang pedang dari kaisar sebagai tanda kekuasaan seorang kepercayaan kaisar, namun mereka bertiga tidak mau minta bantuan pembesar setempat, bahkan tidak pernah memperkenalkan diri dan membeli kontan kuda yang mereka butuhkan untuk mengganti kuda yang sudah lelah dan untuk keperluan ini .mereka telah membawa bekal uang yang cukup. Pada suatu hari, ketika mereka bertiga menjalankan kuda memasuki wilayah Telaga Po-yang, mereka melihat banyak orang menuju ke arah yang sama Mereka bertiga merasa heran karena mengenal bahwa orang orang itu tentulah orang orang dunia kangouw, hal ini selain nampak pada gerak-gerik mereka, juga dari pakaian mereka yang campur aduk. Ada orang-orang yang berpakaian seperti ahli-ahli silat, ada pula yang berpakaian jubah dengan kepala gundul, yaitu hwesio hwesio yang bersikap alim dan tenang, ada pula tosu-tosu tua yang sederhana dan bersikap aneh. Mereka semua itu, agaknya sedang menuju ke Telaga Po-yang pula. Karena merasa curiga dan tertarik, dan menduga tentu telah terjadi sesuatu yang luar biasa, Gin San melompat turun dari atas punggung kudanya, menuntun kuda itu mendekati seorang tosu yang berjalan sendirian, kemudian dengan sikap hormat ia bertanya.

"Maaf totiang. Apakah totiang juga hendak pergi mengunjungi Beng kauw?"

Todongannya itu ternyata tepat sekali. Selelah menoleh dan memandang kepada pemuda itu dan agaknya dapat melihat kegagahan yang tersembunyi pada diri Gin San, kakek itu menjawab.

"Tentu saja, sicu! Siapa oranguya yang tidak akan tertarik mendengar bahwa Beng-kauw mengadakan pesta dan mengundang semua orang kang ouw yang suka hadir? Tentu akan ramai di sana!"

"Ada keramaian apakah maka diadakan pesta di Beng-kauw, totiang?"

Tanya Gin San dan melihat tosu itu memandang heran, dia cepat menyambung.

"Maaf, saya baru saja tiba dari utara sehingga tidik tahu apa yang terjadi di sini. Sudikah totiang memberi tahu mengapa Beng-kauw mengadakan pesta?"

"Siancai, sicu datang dan utara? Tentu melihat keributan di kota raja ketika diduduki orang-orang Tibet, bukan? Kalau begitu tentu sicu tidak tahu keadaan di Beng-kauw. Beng kauw merayakan pesta untuk menghormati ketua mereka yang baru, dan juga untuk merayakan persahabatan antara Beng kauw dan Lam ong!"

Tentu saja Gin San terkejut sekali akan tetapi dia menahan perasaannya sehingga wajahnya seperti orang tidak perduli.

"Ah, kalau begitu tentu ramai sekali. Tidak tahu siapakah ketuanya yang baru, totiang? Kalau tidak salah, saya mendengar bahwa ketuanya adalah seorang she Kwan."

"Ketuanya yang baru amat lihai, masih terhitung suheng yang paling pandai dari bekas ketua Kwan Liok. Dia bernama Pek-ciang Cin-jin Ouw Sek, seorang tokoh yang baru saja. muncul namun telah menggetarkan dunia kang ouw. Apa lagi Lam-ong yang menjadi datuk dunia kang-ouw di selatan berkenan mau menjadi sahabatnya, ini saja sudah merupakan bukti bahwa ketua baru Beng-kauw itu benar-benar amat lihai."

Gin San menghaturkan terima kasih, lalu. kembali kepada sumoi dan suhengnya. Mereka mendengarkan penuturannya dengan tertarik, kemudian Gin San berkata.

"Setelah terjadi seperti yang kukhawatirkan, yaitu kedudukan ketua direbut oleh Ouw Sek, sebaiknya kita ke sana secara diam diam, menyelinap di antara para tamu atau penonton di luar, melihat gelagat dulu sebelum turun tangan "

Mereka lalu menitipkan kuda mereka kepada seorang petani di sebuah dusun dengan memberi biaya secukupnya untuk memelihara tiga ekor kuda itu, kemudian melanjutkan perjalanan mereka dengan kaki menuju ke Telaga Po-yang.

Karena mereka bertiga merupakan tiga orang muda yang tampak gagah perkasa, maka para orang kang ouw yang melihat mereka di tengah perjalanan itu mengira bahwa mereka bertiga tentulah juga tamu-tamu yang hendak berkunjung ke Beng kauw,.

Sian Lun, Ling Ling, dan Gin San menyelinap di antara para tamu dan penonton yang nyata telah memenuhi markas Beng-kauw itu.

Perayaan itu diadakan di tempat terbuka di tepi telaga, di mana dibangun sebuah panggung besar dan luas sekali.

Di atas panggung inilah fihak tuan rumah mempersilakan para tamu kehormatan untuk duduk, sedangkan tamu-tamu lain yang tidak dianggap sebagai tamu-tamu kehormatan cukup untuk duduk di bagian bawah panggung Bangku bangku di bawah panggung telah penuh sehingga banyak di antara tamu yang ingin menonton itu duduk saja di batu-batu atau di atas rumput, dan banyak pula yang berdiri mengelilingi tempat itu.

Keadaan ini menguntungkan tiga orang pendekar muda itu yang dapat menyelinap di antara para penonton tanpa menarik perhatian dan tidak dapat dilihat oleh fihak tuan rumah.

Pada saat tiga orang pendekar muda itu tiba di situ, dengan hati panas dan marah Gin San.

melihat betapa musuh besarnya, Pek-ciang Cin-jin Ouw Sek memang duduk di atas panggung sambil tersenyum-senyum cerah.

Juga Ling Ling marah melihat musuh besarnya.

Bu Siauw Kim, duduk dengan tersenyum manis di sebelah kiri Ouw Sek.

Akan tetapi Sian Lun terkejut bukan main mengenal seorang kakek tua renta yang bertubuh tinggi kurus agak bongkok, bermata sipit sekali dengan alis tebal, jenggotnya panjang, pakaiannya mewah seperti pakaian hartawan besar, dan tangan kirinya memegang sebatang huncwe (pipa tembakau} yang mengepulkan asap putih.

Kakek itu bukan lain adalah Lam-ong Oh Ging Siu, itu Raja Selatan yang menjadi seorang di antara datuk-datuk dunia hitam yang amat lihai Teringatlah pemuda ini akan kematian gurunya, Siangkoan Lojin, yang tewas karena luka selelah bertanding melawan kakek sakti ini!

Juga dia mengenal Lam-thian Seng-jin.

pembantunya atau barangkali muridnya, kakek berusia limapuluh enam tahun itu yang dia tahu juga amat lihai duduk di belakang Lam ong.

Tiba-Tiba Ouw Sek bangkit berdiri dan berjalan ke tepi panggung, lalu menjura ke empat penjuru sambil tersenyum lebar.

Ketika dia membuka mulut, terdengarlah suaranya yang menggetarkan empat penjuru karena memang orang ini sengaja mengerahkan khi-kangnya untuk memamerkan kekuatannya.

Dan memang hebat sekali suara itu, menggetar dan seolah olah dapat menembus dada menggetarkan jantung sehingga banyak sekali kaum kang-ouw yang hadir terkejut bukan main dan memandang serta mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Selamat datang dan terima kasih kepada cu-wi (anda sekalian) dalam pesta ini. Pesta ini dirayakan oleh Beng kauw untuk memperkenalkan diri kami sebagai ketua baru dari Beng-kauw Karena kami adalah muka baru di sini, maka kami mohon kepada lociaopwe Lam-ong Oh Ging Siu yang sudah dikenal oleh cu-wi untuk memperkenalkan diri kami. Oh-locianpwe, silakan!"

Kata Ouw Sek sambil menjura ke arah Lam-ong.

Kakek tinggi kurus ini tersenyum dan bangkit dari kuisinya, terus melangkah menghampiri Ouw Sek.

Dia hanya mengangguk ke empat penjuru dengan sikap angkuh, sikap seorang datuk yang ditakuti.

"Cu-wi tentu mengenal siapa aku!"

Katanya dengan suaranya yang parau namun terdengar mengguntur.

"Hendaknya cu-wi ketahui bahwa ketua Beng kauw baru ini adalah Pek-ciang Cin-jin Ouw Sek! Biarpun dia ini baru muncul, namun sungguh dia patut sekali menjadi ketua Beng kauw, karena aku dapat memastikan bahwa ilmu kepandaiannya amat tinggi sehingga mengagumkan aku orang tua ini! Sekian agar cuwi maklum!"

Kakek itu mengangguk dan kembali ke kursinya.

"Penasaran""".!!"

Suara ini terdengar melengking nyaring disusul berkelebatnya bayangan orang yang meloncat naik ke atas panggung dari bawah.

Sian Lun, Ling Ling, dan Gin San memandang dengan kaget.

Mereka tahu bahwa dari cara orang itu meloncat, jelas bahwa orang ini memiliki ginkang yang hebat dan mereka makin terheran heran ketika mendapat kenyataan bahwa yang kini berada di atas panggung itu adalah seorang pemuda yang usianya kurang lebih duapuluh lima tahun, bertubuh tinggi tegap berpakaian putih sederhana, namun wajahnya tampan dan gagah sekali, sikapnya juga gagah, dan sinar matanya amat tajam.

Pakaiannya yang putih sederhana itu ringkas, di pinggangnya tergantung sebatang pedang dengan gagang dan, sarungnya yang butut, tanda bahwa pedang itu sudah amat tua.

Ouw Sek juga memandang dengan mata terbelalak, akan tetapi sebagai seorang ketua tentu saja dia tidak bersikap lancang, melainkan tersenyum dan berkata.

"Agaknya sicu mempunyai suatu urusan untuk dibicarakan. Silakan!"

Dan diapun lalu duduk kembali dengan sikap angkuh, yang dianggapnya patut menjadi sikap seorang ketua besar dan membiarkan orang muda yang tampan dan gagah itu untuk bicara tanpa menentangnya.

Pemuda itu sejenak memandang ke pada Ouw Sek, lalu memandang ke arah Lam-ong, kemudian berkata dengan suara lantang sehingga terdengar oleh semua orang yang berkumpul di sekitar panggung itu.

Suara ini bukanlah seperti suara Ouw Sek tadi yang memamerkan kekuatan khikangnya, akan tetapi suara biasa saja yang amat nyaring karena kekuatan batin yang bersih terkandung dalam suara itu, suara seorang yang berjiwa gagah sebagai seorang pendekar sejati.

"Aku bernama Louw Cin Han, datang dari Nan-ping, Aku adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang datang ke sini mengikuti jejak seorang penjahat yang melarikan gadis orang dengan paksa. Jejak itu membawaku ke sini dan kebetulan sekali karena aku adalah sangat baik dari ketua Beng-kauw, yaitu Kwan Liok lo-enghiong. Aku tahu bahwa Beng-kauw adalah perkumpulan yang bersih dari orang-orang gagah, semenjak dipimpin oleh mendiang Bu Heng Locu locianpwe. Akan tetapi setelah aku tiba di sini menyaksikan pertemuan atau pesta ini, aku melihat dua hal yang; amat membikin hatiku menjadi penasaran dan yang memaksaku untuk turun tangan!"

Suasana menjadi hening dan tegang setelah pemuda yang mengaku murid Siauw-lim-pai ini bicara seperti itu.

Semua orang tahu bahwa Siauw-lim-pai adalah sebuah perkurnpulan besar yang memiliki banyak ahli-ahli silat yang amat pandai.

Bahkan boleh dibilang bahwa ilmu-ilmu silat sebagian besar bersumber kepada ilmu silat aseli dari Siauw-lim-pai.

Maka munculnya pemuda yang mengaku murid Siauw-lim-pai ini sudah mengejutkan, karena tiap orang murid Siauw-lim-pai tentu seorang yang gagah perkasa, seorang pendekar sejati.

Apa lagi kini pemuda itu agaknya menentang ketua baru, maka semua orang merasa tegang hatinya.

Juga Sian Lun, Ling Ling, dan Gin San memandang dengan kaget dan juga kagum.

Apa lagi Ling Ling.

Gadis ini merasa betapa jantungnya berdebar tegang secara luar biasa begitu dia melihat pemuda tampan gagah dengan pakaian sederhana itu berdiri di atas panggung itu dengan sikap sedemikian berani dan gagahnya.

Dia merasa seolah olah melihat bayangan orang gagah perkasa yang hanya muncul dalam dunia impiannya.

Betapa gagahnya, betapa beraninya pemuda itu muncul dan menentang orang-orang seperti Ouw Sek dan Bu Siauw Kim, belum lagi orang orang yang tentu amat pandai seperti Lam-ong dan lain-lain itu.

Padahal pemuda itu hanya sendirian saja!

Seketika timbul rasa kagum dan sukanya dan dara ini sudah mengambil keputusan uniuk membantu pemuda itu!

Padahal dia belum tahu apa yang menyebabkan pemuda itu bersikap menentang Ouw Sek seperti itu.

Ouw Sek bersikap tenang saja, bahkan masih tersenyum.

Jelas bahwa dia memandang rendah kepada pemuda itu.

Tentu saja dia pun tahu bahwa Siauw-lim-pai adalah sebuah perkumpulan yung tidak boleh dipandang rendah, memiliki tokoh tokoh yang amat sakti.

akan tetapi pemuda yanp usianya paling banyak separuhnya itu, memiliki kepandaian apakah?

Pula, dia berada di pusat Beng-kauw di mana dia menjadi ketuanya, dan di situ hadir pula sahabatnya, Lam-ong Oh Ging Siu yang memiliki kepandaian tinggi pula, sejajar dengan kepandaiannya.

Takut apakah?

"Orang muda she Louw, kami sedang mengadakan pesta perayaan, engkau adalah seorang tamu, baik diundang maupun tidak, mengapa sikap dan ucapanmu seperti hendak mengacau dan memusuhi kami?"

Biarpun kata katanya itu bernada teguran, namun masih terdengar manis karena memang Ouw Sek yang cerdik itu hendak memancing rasa suka para tamu dan menimpakan kesan buruk kepada pemuda itu.

Dan dia memang berhasil.

Para tokoh kang-ouw diam diam memuji kesabaran dan kebijaksanaan ketua haru Beng kauw itu,.

sebaliknya memandang kepada pemuda Siauw-lim-pai itu dengan alis berkerut, menganggap pemuda itu seperti hendak mengagulkan Siauw-lim-pai dan berani mengacau pesta orang dengan sikap bermusuh Akan tetapi pertanyaan yang menyudutkan itu tidak membuat Louw Cin Han menjadi bingung.

Dia memandang kepada Ouw Sek dengan sinar mata tenang, kemudian terdengar dia berkata lantang.

"Aku tidak ingin bermusuhan dengan siapapun, tidak pula ingin mengacau. Beng kauw adalah sahabatku, mana mungkin aku hendak mengacau Beng kauw? Akan tetapi, ada dua hal yang mendatangkan penasaran. Pertama adalah kenyataan bahwa penjahat yang jejaknya kuikuti, yang melarikan gadis orang, ternyata kini menjadi tamu terhormat dari Beng kauw, dan ke dua, pengangkatan kauwcu (ketua agama) baru dari Beng-kauw sungguh aneh. Mengapa ketua lama, yaitu saudara Kwan Liok tidak hadir, demikian pula dua orang sutenya yang kesemuanya merupakan murid murid terkasih dari mendiang Bu Heng Locu? Pula, aku mendengar bahwa ketua yang diangkat sekarang ini telah menyebabkan tewasnya Bu Heng Locu locianpwe, bahkan membunuh pula Lima Penasihat terhormat dari Beng-kauw!"

"Louw Cin Han. engkau benar sombong dan lancang!"

Ouw Sek membentak, kini tidak dapat menahan kemarahannya karena pemuda ini begitu berani memburukkan namanya di depan orang orang kang-ouw dan menceritakan tentang perbuatannya yang lalu itu.

Dia sudah bangkit berdiri dan mukanya berobah merah.

"Coba katakan, siapa penjahat yang kaubilang menjadi tamu kehormatan itu?"

Ouw Sek memang cerdik sekali.

Karena mengingat bahwa pemuda itu adalah murid Siauw-lim-pai sehingga amat tidak baik kalau sampai dia sendiri saja yang menentangnya, yang berarti tentu menimbulkan ketidakenakan dengan Siauw-lim pai.

Oieh karena itu, dia sengaja memancing agar pemuda itu menyebutkan namu penjahat yang dikatakannya menjadi tamunya itu.

karena dia sendiripun tidak tahu siapa orang yang dimaksudkan oleh Louw Cin Han agar orang itu dapat dibikin malu dan tentu akan memusuhi pula pemuda ini sehingga dia dapat cuci tangan dan biarkan orang lain yang menghukum pemuda lancang ini!

Ditanya begini, pemuda itu lalu menudingkan telunjuknya ke arah kakek tua tinggi kurus yang duduk di samping Ouw Sek.

"Dialah orangnya! Ya, agar semua orang kang-ouw mengetahui bahwa penjahat yang melarikan gadis orang itu bukan lain adalah Lam-ong Oh Ging Siu yang terkenal sebagai datuk di selatan!"

Sejenak sunyi sekali di situ karena semua orang menahan napas, kemudian disusul oleh suara bisik-bisik yang menimbulkan suasana gaduh.

Semua orang tcrkejut dan khawatir sekali akan kelancangan pemuda ini.

Bukan saja herani menentang ketua Beng kauw yang baru, akan tetapi bahkan pemuda ini secara terang-terangan memaki Lam-ong sebagai penjahat yang melarikan gadis orang!

Benar benar seorang pemuda yang mencari mati sendiri!

Tentu saja semua orang yang hadir tidak menjadi heran dan tidak merasa aneh mendengar bahwa Lam-ong telah melarikan gadis orang.

Datuk kaum sesat di selatan ini selain terkenal sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi, juga memiliki kekayaan besar, dia terkenal pula sebagai seorang kakek tua bangka yang amat lemah terhadap wanita sehingga selain dia mempunyai puluhan orang selir, dia masih saja haus dan rakus kalau melihat wanita cantik di luaran.

Dengan kepandaiannya dan dengan hartanya, apabila dia melihat wanita cantik, tidak perduli isteri orang atau anak siapapun, tentu akan didapatkannya wanita itu!

Ada orang tua yang mendadak menjadi kaya raya setelah gadisnya dibeli oleh Lam ong karena kakek ini berani membayar dengan harta yang banyak untuk mendapatkan wanita yang digilainya.

Akan tetapi ada pula orang tua, biarpun dia ini juga merupakan ahli silat kenamaan, yang tewas dan gadis atau isterinya dirampas oleh Lam-ong karena dia tidak mau menyerahkannya atau menjualnya, Oleh karena inilah, semua orang kang ouw yang hadir di situ tidak merasa heran akan cerita tentang kerakusan Lam-ong terhadap wanita, melainkan terheran-heran bagaimana seorang pemuda seperti Louw Cin Han itu berani mati membuka rahasia kejahatan Lam-ong di depan umum seperti itu!

Yang merasa girang sekali adalah Ouw Sek!

Tak disangkanya bahwa yang dimaksudkan pemuda itu adalah Lam-ong!

Dengan demikian, tentu saja ia mendapatkan seorang rekan yang amat kuat untuk menghadapi Siauw-lim-pai, kalau kalau pertentangan melawan pemuda ini mengakibatkan permusuhan dengan perkumpulan itu.

Sementara itu, Gin San dan Ling Ling yang sudah mendengar penuturan Sian Lun tentang Lam-ong, memandang dengan penuh perhatian.

Gin San berbisik.

"Jadi siluman tua itukah yang mengakibatkan tewasnya suhumu, suheng?"

Sian Lun mengangguk dan diam-diam dia mengkhawatirkan pemuda itu.

"Sungguh lancang dan berani sekali orang she Louw itu."

Bisiknya.

"Kita harus membantunya...".!"

Tiba-tiba terdengar Ling Ling berbisik dan di dalam suaranya terkandung suatu kepastian yang membuat kedua orang subengnya menengok dan memandang sumoi itu.

Mereka berdua melihat Ling Ling tengah memandang kepada orang she Louw itu dengan penuh kagum!

Pada saat itu terdengar gerengan yang seperti suara harimau mengaum, mengejutkan semua orang dan ternyata Lam-thian Seng jin pembantu atau murid utama dari Lam ong telah meloncat dan berdiri menghadapi Lauw Cin Han Sepasang mata kakek berusia lima-puluh enam tahun ini mencorong seperti mata harimau dan mukanya yang biasanya pucat menjadi lebih pucat kehijauan.

Lauw Cin Han yang rnerupakan seorang pemuda yang sudah banyak merantau di dunia kang-ouw dapat menduga siapa adanya kakek ini.

Dia sudah mendengar bahwa Lam-ong selalu ditemani oleh muridnya atau pembantunya, yang setia, yang terkenal dengan nama Lam-thian Seng-jin.

Dan sebagai seorang pemuda yang pernah digembleng dalam ilmu-ilmu silat yang tinggi, melihat wajah yang pucat kehijauan dengan sepasang mata yang mencorong dan gerengan seperti harimau itu tadi tahulah dia bahwa kakek ini adalah seorang ahli lweekang atau orang yang memiliki tenaga dalam amat kuatnya.

Maka diapun tidak berani memandang rendah dan bersikap tenang namun waspada.

Louw Cin Han adalah adalah seorang murid tingkat tinggi dari Siauw lim pai, dan biarpun usianya baru duapuluh lima tahun akan tetapi dia telah lulus sebagai murid kelas tiga, tingkat yang cukup tinggi dan mengagumkan yang dapat dicapai oleh seorang muda seperti dia dalam perguruan Siauw-lim pai.

Dia seorang pemuda yang sudah yatim piatu dan semenjak kecil dia dirawat oleh para hwesio Siauw-lim-si di kota Nan-ping.

Akan tetapi karena para hwesio melihat bahwa dia tidak berbakat rnenjadi hwesio, melainkan lebih berbakat menjadi pendekar, maka Cin Han menerima gemblengan ilmu silat, lebih banyak dari pada grmblrngan ilmu agama dan ilmu sastera.

Akhirnya, dia menjadi seorang tokoh Siauw-lim pai, yang patut dibanggakan oleh Siauw-lim-pai, karena sepak terjangnya sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa dan budiman.

Ketika pemuda perkasa ini sedang melakukan perjalanan tak jauh dari Telaga Po-yang, dia mendengar akan malapetaka yang menimpa keluarga Phang piauwsu, seorang sahabatnya, piauwsu (pengawal barang) terkenal yang tinggal di kota Kan kouw.

Sahabatnya itu terluka dan puteri sahabatnya itu, seorang gadis berusia tujuhbelas tahun, telah dilarikan orang.

Phang piauwsu tidak mengenai siapa penculik gadisnya, hanya menceritakan bahwa malam itu ada bayangan berkelebat dan disusul jeritan gadisnya, akan tetapi bayangan penjahat itu lihai bukan main karena dalam beberapa jurus saja dia telah roboh dan penjahat itu melarikan gadisnya menghilang di tempat gelap.

Dia hanya tahu bahwa penjahat itu membawa sebatang huncwe yang diselipkan di pinggang.

Mendengar malapetaka ini.

Cin Han segera melakukan pengejaran.

Dia mencari jejak penjahat itu dan akhirnya, jauh dari kota Kan kouw, setelah melalui perjalanan tiga hari tiga malam dan sudah mendekati telaga Po-yang.

Dia menemukan gadis she Phang itu dalam keadaan menggantung diri di sebuah dusun sunyi!

Dari pemilik rumah dusun itu dia mendengar bahwa gadis ini datang bersama dua orang kakek dan gadis itu selalu menangis, kemudian pagi hari itu, tiba tiba saja tanpa pamit dua orang kakek menghilang dan gadis itu telah membunuh diri dengan jalan menggantung lehernya menggunakan ikat pinggangnya!

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Cin Han mendengar ini dan dia mendapat gambaran yang jelas akan wajah dua orang kakek itu dari petani dusun itu, dan setelah tiba di tempat Beng-kauw mengadakan pesta perayaan tahulah dia bahwa hal yang memang sudah disangka sangkanya semenjak dia mendengar dari Phang piauwsu bahwa penjahat itu mempunyai sebatang huncwe adalah benar, yaitu bahwa penjahatnya adalah Lam-ong, datuk kaum sesat yang terkenal mata keranjang itu!

Maka dengan berani dia lalu tampil ke depan dan membongkar rahasia kakek cabul itu.

Selain ini, dia juga merasa curiga akan tampilnya ketua baru Beng-kauw.

Dia bersahabat baik dengan Kwan Liok, ketua Beng kauw dan sudah mendengar dari Kwan Liok akan kematian empat or"ng saudara saudara seperguruannya, bahkan akan kematian Bu Heng Locu sebagai akibat pengacauan murid murtad yang bernama Ouw Sek.

Dan kini, melihat Ouw Sek tahu-tahu menjadi ketua, dan kawannya itu tidak nampak hadir, demikian pula dua orang sute dari Kwan Liok, tentu saja dia menjadi penasaran dan dia kemukakan pula hal itu.

Kini, Lam-thian Seng-jin sudah berdiri menghadapi Cin Han yang bersikap tenang.

Kakek ini merupakan murid dan pembantu Lam-ong yang amat setia.

Dia sendiri tidak mempunyai kesukaan mengganggu wanita, bahkan biarpun usianya sudah limapuluh enam tahun, dia tidak menikah Akan tetapi karena setianya dan amat memuja gurunya, dia tidak pernah menentang kebiasaan gurunya membujuk atau memaksa wanita itu, bahkan siap untuk membantu gurunya andaikata Lam ong menyuruhnya menculik wanita sekalipun!

Maka begitu mendengar gurunya dimaki oleh orang muda itu, dia tidak dapat menahan kemarahannya dan.

sudah menggereng dan menghampiri Cin Han.

"Bocah she Louw, engkau sudah bosan hidup? Mari kuantar engkau ke neraka!"

Bentaknya. Cin Han tersenyum mengejek.

"Hemm, bukankah engkau ini Lam-thian Seng-jin? Gurumu telah melakukan perbuatan hina dan sesat, dan aku sebagai orang muda memperingatkan dia, engkau sebagai muridnya hendak membela gurumu yang sesat?"

"Besar mulut kau!"

Kakek itu membentak dan dia sudah menggerakkan tubuhnya dan tangan kirinya menyambar ke depan, menampar ke arah kepala pemuda Siauw lim pai itu.

Cin Han merasa betapa ada hawa panas sekali menyambar ke arah mukanya.

Dia tahu bahwa kakek ini memiliki sinkang yang amat kuat, dan bahwa pukulan itu mengandung tenaga sinkang panas, maka cepat dia melangkah mundur mengelak dan menggerakkan iengan dari samping untuk menangkis.

(Lanjut ke

Jilid 45) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 45

"Dukk!"

Lengannya dapat menangkis lengan lawan dan Lam-thian Seng-jin merasa betapa lengannya itu tergetar hebat.

Terkejutlah dia dan baru dia tahu bahwa pemuda ini bukanlah semacam gentong kosong yang hanya nyaring suaranya namun tidak ada isinya.

Pemuda ini bersikap amat beraninya karena memang telah menguasai kepandaian Siauw-lim-pai yang terkenal.

Dari pertemuan tenaga tadi saja Lam-thian Seng-jin sudah dapat mengetahui bahwa pemuda Siauw lim pai ini ternyata memiliki tenaga yang kuat.

Padahal dia tadi melakukan pukulan dengan Ilmu Lui kong ciang (Tangan Geledek) yang amat kuat, namun pemuda itu mampu menangkisnya.

Marah dan penasaranlah kakek ini dan dia lalu menerjang dan menyerang seperti angin badai mengamuk!

Cin Han bergerak dengan tenang dan mantap, mainkan Ilmu Silat Lo han kun yang amat tenang dan tangguh dari Siauw-lim-pai sehingga ke manapun fihak lawan menyerang, dia selalu dapat mengelak dan menangkisnya, juga membalas dengan pukulan-pukulan yang mengeluarkan angin yang bersiutan saking kerasnya.

Sian Lun pernah menandingi Lam-thian Seng-jin dan tahu bahwa kakek ini amat lihai.

Akan tetapi menyaksikan pemuda gagah itu yang demikian tenang dan mantap, diam-diam dia kagum juga.

Pemuda itu benar-benar memiliki dasar ilmu silat yang aseli dan bersih, setiap gerakannya tidak menyia-nyiakan tenaga, karena setiap gerakan ada artinya, kalau tidak menjaga diri tentu menyerang, bukan seperti ilmu-ilmu silat lain yang terlalu banyak kembangannya sehingga banyak membuang tenaga hanya untuk pamer belaka.

Ling Ling diam-diam khawatir dan terkejut melihat bahwa kakek itu ternyata lihai sekali, gerakannya demikian cepat dan serangan-serangannya mengandung kekuatan sinkang yang besar Sedangkan pemuda itu baginya terasa terlalu tenang dan lamban, maka dara ini sudah menegang seluruh syarafnya, siap untuk melindungi pemuda gagah itu apabila dia melihat ada bahaya mengancam.

Gin San juga menonton dengan tenang-tenang saja dan sejak tadi dia memandang ke arah Ouw Sek, diam-diam menduga-duga bagaimana akan jadinya kalau dia dan Ouw Sek sudah bertanding.

Dia tahu bawah kepandaian Ouw Sek tinggi sekali, dan bahwa segala ilmu yang didapatnya dari Maghi Sing akan sia-sia saja kalau dipergunakan untuk menyerang Ouw Sek karena semua telah dikenal oleh orang itu, kecuali Cap sha Tong-thian.

Maka diam-diam dia mengingat ingat ilmu ini dan mengatur siasat jurus jurus mana yang akan dipergunakan untuk menghadapi lawan tangguh itu nanti.

Tiba-tiba Sian Lun berbisik kepada sute dan sumoinya.

"Kalau terjadi pertempuran, biarkan aku menghadapi Lam ong"".."

"Dan aku menghadapi Ouw Sek"""

Sambung Gin San cepat. Barulah Ling Ling sadar bahwa dia sudah mempunyai lawan. Tadi dia terlalu memperhatikan pemuda itu sehingga dia hampir lupa bahwa musuh besarnya berada di situ pula.

"Aku akan menghadapi Bu Siauw Kim."

Katanya singkat dan kini dia memandang ke arah wanita cantik itu.

Akan tetapi hanya sebentar karena kembali dia mengalihkan pandang matanya ke atss panggung di mana pemuda Siauw-lim pai itu masih bertanding seru melawan Lam-thian Seng-jin.

Pertempuran antara Cin Han dan Lam-thian Seng-jin memang amat seru dan menegangkan, keduanya mempunyai tenaga yang seimbang dan kalau ilmu silat dan gerakan Lam-thian Seng-jin kasar dan cepat, adalah sebaliknya dengan gerakan Cin Han yang halus dan tenang, mantap dan kelihatan lambat namun semua lubang telah tertutup sehingga sukar bagi lawan untuk menembus benteng pertahanannya.

Cin Han maklum bahwa lawannya amat pandai dan hal ini tidak mengejutkan hatinya.

Dia sudah mendengar akan kelihaian Lam-thian Seng-jin, apalagi kesaktian Lam-ong.

Kalau dia tadi berani tampil ke depan menentang mereka bukan karena terdorong kelancangan atau kesombongannya, bukan memandang rendah law"n, melainkan terdorong oleh jiwa kependekarannya yang pantang mundur menghadapi siapapun juga untuk menentang kejahatan.

Diapun maklum bahwa keselamatannya terancam., namun mati bukan apa-apa bagi seorang pendekar, kalau kematian itu terjadi dalam membela keadilan dan kebenaran, menentang kejahatan.

Semua tamu yang terdiri dari orang-orang kang-ouw itu tentu saja merasa tegang dan juga girang bahwa mereka disuguhi tontonan yang amat menarik bagi mereka yang rata-rata memiliki kepandaian amat tinggi itu.

Tidak ada seorangpun di antara para tamu, berani mencampuri perselisihan yang diteruskan dengan perkelahian itu.

Mereka semua mengenal siapa adanya Lam-thian Seng-jin murid Lam-ong dan tidak seorangpun berani mencampuri urusan Lam-ong yang selain kaya raya dan sakti, juga terkenal mempunyai banyak sekali anak buah dan terkenal pula bertangan besi atau kejam terhadap musuh yang berani menentangnya Akan tetapi mereka itu juga segan untuk bermusuhan dengan pemuda perkasa murid tangguh dari Siauw-lim-pai itu, karena nama Siauw-lim-pai sudah membuat mereka lebih suka menjauhkan diri, terutama sekali mereka yang tergolong kaum sesat.

Bagi Sian Lun bertiga, kini mereka tidak merasa khawatir.

Mereka tentu saja berpihak kepada pemuda Siauw-lim-pai itu dan dengan pengetahuan mereka yang mendalam tentang ilmu silat, mereka dapat melihat jelas bahwa pemuda perkasa itu tidak akan kalah.

Biarpun kelihatan Lam-thian Seng-jin bergerak sangat cepat sebaliknya pemuda itu kelihatan tenang saja, namun sesungguhnya kakek itu tak mampu berbuat banyak dan kini setiap serangan balasan dari Cin Han membuat dia terdesak hebat.

Kakek itu mulai memburu napasnya, sedangkan pemuda itu masih segar, bahkan gerakan-gerakannya kini makin mantap dan kuat.

Hal ini tentu saja dapat dilihat pula oleh Lam-ong, juga oleh Ouw Sek dan Bu Siauw Kim.

Lam-ong mengerutkan alisnya yang amat tebal itu dan matanya yang sipit menjadi makin sipit lagi, hampir terpejam, alisnya bergerak-gerak dan makin sering dia menghembuskan asap dari huncwenya.

Sian Lun tak pernah melepaskan perhatiannya terhadap Si Huncwe Maut yang kini berjuluk Lam-ong ini.

Dan apa yang dikhawatirkannyapun terjadilah.

Lam-ong tiba-tiba bangkit berdiri dan sekali kakinya bergerak, dia sudah melayang ke depan, huncwe di mulutnya ditiup dan sinar api meluncur dari huncwe itu, bunga api beterbangan menyembur ke arah Cin Han!

Sian Lun berseru keras, akan tetapi dia kalah dulu oleh Ling Ling yang sudah melayang seperti seekor naga terbang, dan dari atas dia langsung menerjang dengan kedua kakinya menendang ke arah mata dan leher Lam-ong!

Mulutnya membentak nyaring sekali.

"Tua bangka curang pengecut tak tahu malu!"

Lam-ong terkejut bukan main menyaksikan gerakan ginkang yang demikian ringan dan cepatnya, maka dia tidak melanjutkan serangannya kepada Cin Han, melainkan menggerakkan huncwenya menotok ke arah betis dara cantik yang menendangnya dari atas itu!

Ling Ling juga kaget bukan main.

Serangan tendangannya dari atas tadi dilakukannya dengan cepat sekali dan jarang ada orang mampu mengelak dan menyelamatkan diri.

Akan tetapi kakek ini bukan hanya dapat menghindar, bahkan memapaki serangannya itu dengan serangan lain, yaitu totokan ke arah betis kakinya!

Maka diapun berseru keras, kedua kakinya mengelak dan tahu-tahu ujung kakinya memapaki kepala huncwe dan dengan meminjam tenaga lawan dia mengenjot dan tubuhnya sudah berjungkir balik membuat salto tiga kali di udara.

"Sumoi, mundurlah!"

Terdengar bentakan Sian Lun dan pemuda ini sudah meloncat dan tahu-tahu sudah berada di depan Lam-ong sehingga kakek ini tidak dapat mendesak Ling Ling yang melajang turun ke atas panggung dengan indahnya!.

Sementara itu, Cin Han tadi terkejut setengah mati melihat bunga api beterbangan seperti kunang-kunang menyambarnya dan terasa amat panas.

Dia segera melempar tubuhnya ke belakang dan terus menjatuhkan diri bergulingan sehingga terbebas dari serangan bunga api yang amat lihai itu.

Ketika dia melihat bayangan seorang dara yang "terbang"

Dan menyerang Lam-ong, Cin Han terkejut dan kagum bukan main karena dia mengenal ginkang yang luar biasa sekali.

Di Siauw-lim-si hanya para locianpwe yang sedikitnya bertingkat dua saja yang akan mampu membuat gerakan ginkang seperti yang dilakukan dara itu.

Ketika dara itu membuat salto di udara, hampir dia berseru karena kagumnya, dan ketika akhirnya Ling Ling melayang turun dan hinggap di atas panggung, tak jauh dari tempat dia berdiri, dia makin kagum dan bahkan terpesona karena tidak pernah disangkanya bahwa bayangan yang luar biasa itu ternyata adalah seorang dara remaja yang demikian cantik jelitanya!

Dia memandang, tepat pada saat Ling Ling juga memandangnya.

Dua pasang mata yang bersinar tajam bertemu, bertaut dan melekat, kemudian Ling Ling menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan Cin Han cepat rnenjura dan berkata halus.

"Nona, terima kasih atas pertolonganmu."

Ling Ling mengangkat muka dan tersenyum, kemudian melihat Sian Lun telah berhadapan dengan Lam-ong, dia lalu meloncat turun lagi di tempatnya yang tadi.

Sementara itu, Lam-thian Seng-jin yang melihat betapa bantuan gurunya digagalkan orang, sudah menerjang lagi kepada Cin Han yang menyambutnya dengan gagah.

Mereka sudah bertempur lagi dan kini Cin Han menghunus pedangnya karena maklum bahwa dia harus mempertahankan diri mati-matian.

Pedang tua di pinggangnya itu ternyata hanya buruk gagang dan sarungnya saja, karena begitu dicabut nampaklah cahaya berkilauan, tanda bahwa mata pedang itu tajam sekali.

Lam-thian Seng-jin adalah seorang ahli lweekeh dan juga ahli tiam-hoat, maka diapun cepat menghunus sepasang senjatanya, yang berbentuk alat tulis.

Itulah semata sepasang poan-koat pit-yang amat ampuh untuk dipergunakan menotok jalan darah lawan.

Mereka segera terlibat dalam pertempuran yang lebih seru dan mati-matian lagi.

Lam-ong yang tadinya terkejut melihat munculnya Ling Ling, kini makin kaget melihat pemuda tampan yang berdiri di depannya.

Dia memandang tajam penuh perhatian, merasai seperti pernah berjumpa dengan pemuda itu akan tetapi dia sudah lupa lagi di mana karena memang banyak sekali orang-orang yang pernah menjadi musuhnya.

"Hemm, siapakah engkau?"

Bentaknya marah karena pemuda ini tadi menghalanginya untuk mendesak gadis yang berani menyerangnya.

"Lam-ong. sudah lupakah engkau akan pertemuan antara kita di tepi telaga itu?"

Sian Lun berkata dengan tenang dan memandang tajam.

Tiba-tiba wajah kakek itu berobah, alisnya berkerut dan sejenak dia memandang ke kanan kiri seperti orang ketakutan!

Dia teringat sekarang.

Pemuda ini adalah murid Siangkoan Lojin!

Dan timbul perasaan jerihnya karena dia maklum bahwa kepandaian Siangkoan Lojin sungguh tak dapat diukur berapa tingginya!

Akan tetapi dia memberanikan hatinya, apa lagi karena di situ ada Ouw Sek dan seluruh anggauta Beng-kauw.

Betapapun lihainya kakek Siangkoan Lojin, tak mungkin dapat menandingi dia yang dibantu oleh Ouw Sek, Bu Siauw Kim dan para anggauta Beng-kauw!

Maka dia lalu tertawa, perutnya bergerak gerak dan wajahnya memandang ke angkasa.

"Ha ha ha, kiranya engkau bocah tukang pancing di telaga itu? Mana suhumu? Kalau memang dia datang, suruh dia lekas keluar!"

Tantangnya, sebenarnya bukan tantangan melainkan pancingan untuk meyakinkan hatinya apakah benar kakek yang amat lihai itu ikut datang bersama muridnya ini.

Sian Lun adalah seorang pemuda yang gagah perkasa dan jujur, maka mendengar ucapan itu dia berkata.

"Aku datang sendiri untuk membuat perhitungan denganmu, Lam ong!"

Kakek itu tertawa makin keras, hatinya girang bukan main.

Sementara itu, Ouw Sek dan Bu Siauw Kim tentu saja mengenal pemuda itu dan juga Ling Ling yang tadi menyerang Lam-ong, maka keduanya cepat bangkit dan maju menghampiri, siap untuk membantu Lam-ong.

Akan tetapi baru saja Ouw Sek muncul dari bawah panggung berkelebat bayangan orang dan tahu tahu di situ sudah berdiri Co Gin San menghadapi Ouw Sek sambil memandang tajam dengan sikap marah.

Melihat pemuda ini.

Ouw Sek terbelalak, lalu tertawa bergelak.

"Aha, kiranya ada tikus kecil ini yang datang mengirim nyawa! bagus sekali!"

Dan kembali bayangan Ling Ling melayang naik, lalu menyambar turun ke bawah dan di depan Bu Siauw Kim.

"Siluman betina, sekarang jangan harap engkau akan dapat lolos dari tanganku!"

Bentak Ling Ling kepada Bu Siaw Kim.

Musuh sudah berhadapan dengan musuh!

Maka mereka itu tidak mau banyak cakap lagi dan segera masing-masing bergerak dengan cepat Nampak senjata-senjata tajam berkilauan ketika Gin San dan Ling Ling sudah mencabut pedang mereka, pedang kekuasaan pemberian kaisar!

"Lihat pedang kami ini!"

Gin San yang cerdik membentak kepada semua orang kang-ouw yang berada di situ.

"Ini adalah dua pedang hadiah kaisar, pedang kekuasaan dan siapa menentang kami berarti menentang kaisar! Kami datang untuk menangkap atau membunuh Pek-ciang Cin-jin Ouw Sek dan Bu Siauw Kim, dua orang yang baru saja melarikan diri dari kota raja setelah mereka membantu pemberontakan orang-orang Tibet! Ouw Sek ini adalah pemberontak, pelarian, dan juga murid murtad dari Beng-kauw!"

Di antara para orang kang-ouw itu ada yang-mengenal pedang kekuasaan seperti itu, maka tentu saja mereka merasa gentar dan semua orang makin tidak berani mencampuri urusan antara Lam-ong, Beng-kauw, Siauw-lim-pai dan orang-orang yang mempunyai pedang kekuasaan dari kaisar itu!

"Coa Gin San bocah ingusan yang sombong.

Kepalamu akan kuhancurkan di sini!"

Bentak Pek-ciang Cin-jin Ouw Sek sambil menerjang dengan senjatanya yang istimewa, yaitu tongkat emasnya yang berat dan berkilauan. Gin San cepat menggerakkan pedangnya menangkis.

"Cringgg!!"

Nampak bunga api berpijar.

Pedang pemberian kaisar itu tentu saja bukan pedang sembarangan, melainkan senjata tanda kekuasaan yang terbuat dari baja aseli yang terpilih.

Maka kedua orang seperguruan ini sudah mulai bertanding dengan amat bebatnya!

Di samping pedangnya di tangan kanan, Gin San juga mencabut suling bambunya dan menggunakan sulingnya itu untuk kadang-kadang menyelingi serangan pedangnya dengan totokan-totokan maut Biarpun senjata itu hanya suling bambu, akan tetapi karena digerakkan dengan pengerahan sinkang, maka bahayanya tidak lebih kecil dan pada senjata pedang di tangan.

Ouw Sek memaklumi hal ini, maka diapun tidak berani berlaku lengah, mengimbangi serangan pemuda itu dengan sepenuh tenaganya sehingga lenyaplah bayangan kedua orang tokoh tinggi Beng kauw ini, terbungkus sinar-sinar berkilauan dari tongkat emas, suling bambu, dan pedang.

Sian Lun juga sudah bergebrak melawan Lam-ong yang lihai itu.

Lam-ong tadinya memandang rendah dan dengan sikap sombong sekali dia menyemburkan asap huncwenya ke arah pemuda itu.

Sian Lun sudah tahu akan kelihaian semburan asap yang didorong oleh tenaga khikang yang kuat itu, akan tetapi diapun sudah tahu bagaimana caranya menghindarkan diri.

Dia meniru perbuatan mendiang gurunya ketika diserang asap yaitu mengerahkan khikang dan meniup ke arah asap itu.

Ketika asap membuyar, dia sudah meloncat ke samping dan mengirim totokan dengan tangan kiri ke arah pelipis lawan sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke arah pusar.

Serangan ini bukan main hebatnya sehingga mengejutkan hati Lam-ong yang tadinya masih memandang rendah.

Dia berseru keras dan melangkah mundur sambil memutar huncwenya.

Kini dia tidak berani main-main lagi.lalu memutar huncwenya cepat-cepat untuk menyerang Sian Lun.

dan kadang-kadang tangan kirinya melakukan pukulan-pukulan dan tamparan-tamparan yang luar biasa dahsyatnya.

Sian Lun sudah mengenal pukulan tangan kiri yang mengandung Ilmu Pek see ciang yang luar biasa ampuhnya itu.

Pengalamannya ketika dia menghadapi kakek ini, kemudian penuturan mendiang gurunya, telah membuat dia waspada dan dia kini meniru siasat gurunya ketika menghadapi dan pernah mengalahkan kakek ini, yaitu mengandalkan ginkangnya.

Dia tahu bahwa pukulan Pek see ciang lawan itu sama sekali tidak boleh dilawan dengan kekerasan, dan bahwa satu-satunya keunggulan yang dimiliki terhadap kakek Raja Selatan ini hanyalah ginkang atau kecepatan gerakan.

Maka diapun segera mengerahkan ginkangnya dan berkelebatan menandingi musuh besar yang amat tangguh ini.

Pertandingan antara Bu Siauw Kim dan Ling Ling juga amat seru dan mati-matian.

Harus diakui oleh Bu Siauw Kim bahwa menghadapi dara perkasa ini, dia benar-benar kalah tingkat dan segera dia telah didesaknya dengan hebat.

Ling Ling juga mempergunakan pedang hadiah kaisar itu seperti Gin San dan dengan pedang di tangan, Ling Ling terus menekan dan mendesak karena dalam hal ginkang dia jauh menang.

Bu Siauw Kim mempertahankan diri sedapat mungkin dengan mengandalkan sabuk hitamnya dan kadang kadang tangan kirinya melancarkan pukulan Thian-lui Sin ciang.

Namun, semua itu sia-sia saja karena Ling Ling bergerak sedemikian cepatnya sehingga, kadang kadang seperti lenyap dari pandang mata Bu Siauw Kim dan tahu-tahu dara itu menyerangnya dari belakang.

Hal ini membuat Bu Siauw Kim berputar-putar dan menjadi pening.

Di dekat tempat di mana dua orang wanita ini bertempur mati-matian.

Cin Han juga terus mendesak lawannya, yaitu Lam thian Seng jin yang kini menjadi makin gentar karena gurunya sudah menemui lawan, demikian pula fihak tuan rumah, dan ternyata bahwa semua lawan yang masih muda itu amat lihai.

Dengan nekat dia menggerakkan sepasang poan-koan pit, berusaha untuk menghalau pedang lawan.

Akan tetapi, ilmu pedang yang dimainkan Cin Han adalah Ilmu Pedang Siauw-lim Kiam-sut yang amat kokoh kuat bagaikan gelombang samudera di waktu menyerang, dan bagaikan bukit karang di waktu bertahan, maka makin lama Lam-thian Seng-jin makin terengah engah kehabisan napas dan tenaga.

Anehnya, Cin Han dan Ling Ling selalu saling memperhatikan dan mereka berdua merasa lega bahwa masing-masing dapat mendesak lawan!

Dan pada saat Lam-thian Seng-jin terhuyung karena desakan Cin Han, tiba-tiba sekali Ling Ling meloncat ke samping dan secara tak terduga-duga mengirim tendangan.

"Dess!"

Tendangan itu cepat dan tepat sekali mengenai paha Lam-thian Seng-jin.

Kakek itu mengeluh dan terhuyung, hampir roboh, didesak terus oleh Cin Han, sementara itu Ling Ling sudah memutar pedang mendepak Bu Siauw Kim dengan hebat pula!

"Terima kasih, nona""..!"

Cin Han masih sempat berseru kurena merasa dibantu oleh dara yang telah menjatuhkan hatinya itu.

Ling Ling hanya tersenyum girang saja melanjutkan desakannya terhadap Bu Siauw Kim.

Tiba-tiba Lam-thian Seng-jin mengeluarkan teriakan melengking tiga kali.

Ini merupakan tanda bagi anak buahnya!

Memang, ke manapun Lam-ong pergi, tentu dia dikawal oleh serombongan anak buahnya yang merupakan tukang-tukang pukulnya.

Ketika dia menjadi tamu di Beng kauw, dia tidak ingin anak buahnya menimbulkan keributan, maka anak buahnya itu disuruh menanti di bagian lain di tepi telaga, menerima hidangan-hidangan tersendiri dan boleh berpesta sendiri.

Kini, begitu mendengar suara tanda rahasia dari Lam-thian Seng-jin, mereka terkejut, cepat berkumpul dan berlarian menuju ke tempat pesta yang kini menjadi tempat pertempuran itu.

Dan tak lama kemudian setelah Lam-thian Seng-jin mengeluarkan teriakan melengking tadi, semua orang mendengar suara nyanyian yang terdengar parau nyaring, datang dari dalam hutan di sebelah.

Makin lama suara ini makin terdengar nyata dan tak lama kemudian muncullah sedikitnya tiga puluh orang dengan senjata lengkap di tangan, berbaris rapi dan sikap mereka mengancam.

Inilah rombongan anak buah Lam-ong yang berupa tukang-tukang pukul, orang-orang kasar yang biasa melakukan apa saja yang diperintahkan Lam-ong, dan sudah biaaa mempergunakan kekerasan untuk menindas fihak yang lemah!

Suara itu sebenarnya bukan nyanyian, melainkan suara orang berirama seperti membaca sajak.

"Siapakah yang menguasai dunia selatan? Siapakah yang merajai laut selatan? Semua telaga, sungai dan lautan berikut semua isinya, milik siapa?"

Begitu pertanyaan-pertanyaan itu berhenti tigapuluh orang lebih itu menjawab dengan serentak, suara mereka bergemuruh.

"Lam-ong"".....!"

Melihat munculnya serombongan orang tinggi besar yang bersenjata lengkap ini, para tamu menjadi khawatir dan mereka menduga bahwa pertempuran tentu akan menjadi hebat dan besar, maka kebanyakan dari mereka lalu mulai mengundurkan diri dan hanya menonton dari tempat aman di kejauhan.

Tigapuluh orang itu membuat gerakan mengurung panggung.

"Maju".., maju""..! Hancurkan musuh-musuh kita!"

Terdengar Lam-ong berkata sambil tertawa.

Biarpun dia belum sampat terdesak oleh lawannya yang muda, akan tetapi dia mendapat kenyataan bahwa murid dari Siangkoan Lojin ini benar benar amat lihai, dan juga teman teman lawannya, dara dan pemuda itu memiliki gerakan gerakan yang amat tangkas.

Maka timbul pula kekhawatirannya dan hatinya girang bahwa pembantunya atau muridnya telah memanggil anak buahnya untuk membantu.

Akan tetapi pada saat itu, dari arah bangunan-bangunan pusat Beng-kauw, bermunculan serombongan orang yang dipimpin oleh tiga orang dan mereka ini berjumlah hampir seratus orang yang langsung mengurung tempat itu dengan sikap mengancam.

Seorang di antara tiga orang pemimpin itu berseru dengan suara lantang.

"Orang-orang luar harap jangan mencampuri urusan Beng kauw!"

Ouw Sek terkejut bukan main ketika mengenal bahwa mereka itu adalah anak buah Beng-kauw, dan yang memimpin adalah Kwan Liok!

Padahal, ketika dia datang dan muncul di situ, dia telah mempergunakan kepandaian, dan bendera keramatnya untuk memaksa semua anggauta Beng-kauw tunduk kepadanya dan dia bahkan menjebloskan Kwan Liok dan dua orang sutenya ke dalam kamar tahanan, memerintahkan para anak buah Beng-kauw untuk menerima dia sebagai ketua dan untuk menjaga agar tiga orang bekas pimpinan Beng kauw itu tidak sampai lolos.

Bagaimana kini Kwan Liok dan dua orang sutenya berhasil keluar, bahkan memimpin semua anak buah Beng-kauw yang kelihatannya kini taat kepada mereka bertiga itu?

Ternyata di antara para anggauta Beng-kauw, tidak ada seorangpun yang suka kepada Ouw Sek.

Sama sekali tidak, sebaliknya malah mereka itu semua membenci murid murtad yang telah membunuh Lima Penasihat Tua itu dan mengakibatkan kematian Bu Heng Locu pula, di samping membunuh empat orang muridnya.

Akan tetapi karena mereka maklum akan kelihaian Ouw Sek, dan terutama sekali karena betapapun juga kenyataannya menunjukkan bahwa Ouw Sek menguasai bendera keramat maka terpaksa mereka tidak berani membantah ketika orang ini datang dan menguasai Bengkauw, memenjarakan Kwan Liok dan dua orang sutenya, lalu mengangkat diri sendiri menjadi ketua Beng-kauw yang baru.

Akan tetapi, ketika mereka melihat munculnya Coa Gin San tokoh Beng-kauw yang mereka suka dan hormati itu, dan setelah terjadi pertandingan antara Gin San dan Ouw Sek, para anak buah Beng-kauw itu lalu menjadi nekat karena merasa ada yang akan membela mereka dan menandingi Ouw Sek.

Mereka lalu membebaskan Kwan Liok dan dua orang sutenya, kemudian di bawah pimpinan tiga orang tokoh Beng-kauw ini mereka menyerbu keluar dan tepat pada saat anak buah Lam-ong mengurung panggung mereka muncul dengan sikap mengancam.

Tiba-tiba Ouw Sek berseru sambil mengerahkan khikangnya.

"Aku perintahkan kalian untuk mundur dan jangan mengganggu para sahabat pengikut dari Lam-ong itu!"

Sambil berkata demikian Ouw Sek sudah mencabut bendera keramat dan mengibarkannya.

"Kawan-kawan semua, dengar! Aku perintahkan kalian untuk maju dan melawan gerombolan penjahat itu! Jangan takut terhadap manusia rendah budi, murid palsu dan murtad ini!"

Tiba-tiba Gin San juga berseru dengan, nyaring dan diapun sudah mengeluarkan bendera keramatnya dan mengobat-abitkan di atas kepala.

Tentu saja tidak sukar bagi orang-orang Beng-kauw untuk memilih siapa yang harus mereka taati di antara kedua orang yang sama-sama mempunyai bendera keramat itu.

Mereka di bawah pimpinan Kwan Liok dan dua orang sutenya lalu menyerbu tigapuluh lebih pengikut Lam-ong sehingga terjadilah pertempuran yang amat gaduh.

Melihat ini, para tamu cepat mundur karena mereka tidak ingin mencampuri urusan antara Beng-kauw dan Lam-ong.

Bukan main hebatnya pertempuran yang terjadi di atas dan di bawah panggung.

Ouw Sek yang menjadi marah sekali telah menyerang lagi dengan dahsyat dan ganas, sehingga Gin San terpaksa harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkun semua kepandaiannya untuk menjaga diri karena serangan-serangan lawan benar-benar merupakan sambaran-sambaran maut yang amat berbahaya.

Karena terlalu mengkhawatirkan dan mencurahkan sebagian dari perhatiannya kepada Cin Han untuk melindungi pemuda yang amat nenarik hatinya itu, sampai sekian lamanya Ling Ling belum juga mampu merobohkan Bu Siauw Kim.

Dan memang dia menghendaki agar pemuda Siauw-lim-pai itu lebih dulu merobohkan lawannya sehingga tidak terancam bahaya.

Maka ketika dia melihat kesempatan terbuka kembali dia meloncat dan menyerang Lam-thian Seng-jin dengan pedangnya.

"Trakk!"

Senjata poan-koan-pit sebelah kiri dari Lam-thian Seng-jin yang menangkisnya menjadi patah dan saat itu dipergunakan oleh Cin Han untuk menubruk maju!

Poan-koan-pit yang kanan menangkis, menempel pada pedang dan saat itu Cin Han sudah menghantamkan kepalan tangan kirinya ke depan.

Pukulan yang amat kuat itu dengan tepat mengenai dada lawan.

"Desss!!"

Lam-thian Seng-jin berteriak dan terlempar kemudian terbanting ke bawah panggung!

Sial baginya, tubuhnya yang pingsan itu terjatuh di tengah-tengah para anggauta Beng-kuuw yang segera menghujankan senjata mereka, maka tewaslah pembantu dan murid setia dari Lam-ong itu!

Ling Ling sudah menerjang lagi kepada Bu Siauw Kim, dan kini Cin Han melompat ke depan dan membantunya.

"Mundurlah, aku tidak perlu dibantu,"

Kata Ling Ling sambil menangkis sambaran ujung sabuk hitam Bu Siauw Kim.

"Nona, kau telah membantuku merobohkan lawan, sekarang giliranku membantumu!"

Jawab Cin Han dan dia terus memutar pedangnya menyerang Bu Siauw Kim.

Wanita ini tentu saja menjadi semakin kewalahan.

Melawan Ling Ling seorang diri saja sudah repot baginya, apa lagi kini ditambah dengan pemuda Siauw-lim-pai yang cukup lihai itu.

Dia mulai mundur-mundur dan mencari jalan keluar untuk melarikan diri.

Ling Ling maklum akan sikap lawan ini, maka dia mendesak makin hebat sambil berseru keras.

"Iblis betina, ke mana engkau hendak pergi? Engkau harus menebus nyawa ayah bundaku". Pedangnya menyambar-nyambar ganas dan karena Ling Ling mengerahkan ginkangnya, maka kecepatannya luar biasa sekali dan pada saat itu Cin Han juga sudah menusukkan pedangnya.

"Ihhh""..!"

Bu Siauw Kim mengeluh karena repot sekali dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak dan nampak sinar merah menyambar ke depan. Itulah saputangan merah beracun yang telah dikenal oleh Ling Ling.

"Awas saputangan beracun!"

Teriak Ling Ling memperingatkan Cin Han.

Pemuda itu kaget dan sudah melangkah mundur , sedangkan Ling Ling memutar pedangnya.

Terdengar kain robek dan saputangan merah itu hancur berkeping-keping terkena sambaran sinar pedang Ling Ling.

"Orang muda tampan, lihatlah baik-baik, tegakah engkau menyerang seorang wanita yang lemah tak berdaya?"

Tiba-tiba terdengar suara Bu Siauw Kim halus setengah terisak.

Suara itu demikian halus mengharukan, menimbulkan rasa iba dan Cin Han sudah menarik kembali pedangnya dan melangkah mundur, berdiri bengong karena dia telah terpengaruh kekuatan sihir yang dipergunakan oleh Bu Siauw Kim.

Dan pada saat dia bengong itu, tiba-tiba Bu Siauw Kim menubruk dan memukulnya dengan Ilmu Thian-lui Sin-ciang ke arah kepalanya, tanpa memperdulikan tusukan pedang dari kiri yang dilakukan oleh Ling Ling!

Ini adalah siasat dari wanita cantik itu.

Dia sudah melihat dengan matanya yang penuh pengalaman bahwa di antara kedua orang muda itu terdapati daya tarik yang membuat mereka saling melindungi, daya tarik yang dapat menjadi permulaan cinta asmara.

Oleh karena itu, dia tidak memperdulikan tusukan Ling Ling dan lebih dulu menghantam kepala Cin Han karena dia yakin bahwa Ling Ling tidak akan mendiamkan saja pemuda itu terpukul mati.

Perhitungannya memang tepat.

Melihat betapa Cin Han bengong saja dan sama sekali tidak mengelak maupun menangkis ketika Bu Siauw Kim menghantam, Ling Ling terkejut bukan main.

Cepat dia menarik kembali pedangnya dan dengan ginkangnya yang luar biasa, dia mendahului Bu Siauw Kim, menubruk ke depan dan mendorong tubuh Cin Han ke samping.

"Plakk!"

Tamparan dengan Ilmu Thian-lui Sin-ciang dari Bu Siauw Kim itu tidak mengenai kepala Cin Han yang sudah terpelanting oleh dorongan Ling Ling, akan tetapi mengenai pundak Ling Ling sehingga dara ini terdorong dan terhuyung dengan muka pucat.

"Nona""!"

Cin Han berseru kaget, akan tetapi Ling Ling hanya merasa sedikit nyeri pada pundaknya yang telah dilindunginya dengan sinkang, dan hanya bajunya di bagian pundak saja yang terobek.

Dengan marah dia lalu menerjang lagi kepada Bu Siauw Kim, dan Cin Han juga membantunya dengan putaran pedangnya.

Sekali ini Bu Siauw Kim yang sudah pening dan lelah itu tidak mampu mengelak atau menghindarkan diri dari kedua pedang itu.

Biarpun dia sudah memutar sabuk hitamnya, namun tetap saja dari bawah nampak sinar berkelebat dan pedang di tangan Ling Ling menyambar dan memasuki perutnya.

Bu Siauw Kim menjerit mengerikan dan roboh terjengkang, kedua tangan mendekap perut karena ketika pedang dicabut kembali, darahnya mengucur dan muncrat dari luka di perut yang ditembusi pedang sampai ke punggung tadi.

"Kau pergilah menghadap ayah bundaku!"

Ling Ling berseru dengan suara terisak dan dia mengirim tusukan lagi yang menembus dada Bu Siauw Kim.

Kembali Bu Siauw Kim menjerit dan roboh terpelanting, tewas seketika.

Sejenak Ling Ling berdiri dengan air mata bercucuran karena girang dan juga berduka, teringat akan kedua orang tuanya yang tewas oleh wanita itu.

"Nona"

Cin Han mendekati dan memanggil halus.

Ling Ling sudah sadar dan menengok kemudian tersenyum dan menghapus air matanya.

Suara pertempuran menyadarkannya, dan begitu dia menengok dan melihat bahwa dua orang suhengnya belum juga mampu mengalahkan lawan, dia cepat meloncat dan membantu Gin San yang sedang bertanding melawan Ouw Sek tak jauh dari situ.

Dengan pedang terputar mengeluarkan cahaya berkilauan dia membantu dan karena memang serangannya itu selain kuat juga luar biasa cepatnya.

Ouw Sek terkejut dan cepat dia meloncat ke samping untuk menghindarkan tusukan yang datangnya amat cepat dan bertubi itu.

Gin San girang melihat sumoinya telah mampu merobohkan lawan dan membantunya, maka dengan penuh semangat diapun menggerakkan pedangnya pula mendesak Ouw Sek yang kini terpaksa memutar tongkat emasnya lebih cepat pula untuk melindungi dirinya.

Hati Cin Han lega melihat bahwa nona yang amat mengagumkannya dan yang telah berkali kali menolongnya itu tidak apa-apa, bahkan kini sudah membantu suhengnya dengan semangat bernyala dan seperti seekor naga betina sakti, maka diapun lalu meloncat dan memutar pedangnya membantu Sian Lun, karena memang kedatangannya adalah teiutama sekali untuk menentang Lam-ong yarg telah menculik gadis orang dan menyebabkan gadis itu membunuh diri.

Saat itu, Sian Lun sedang mati-matian menandingi Lam-ong yang memang lihai bukan main itu dan hanya dengan pengerahan gin-kangnya maka pemuda ini mampu mengimbangi Lam-ong yang memang memiliki tingkat kepandaian yang amat tinggi.

Melihat datangnya pemuda Siauw-lim-pai yang membantunya, memang Sian Lun merasa girang karena betapapun juga, pemuda Siauw-lim-pai ini lihai dan memiliki ilmu kepandaian yang dasarnya kokoh kuat, dan cukuplah untuk membuat lawannya menjadi sibuk.

Akan tetapi di samping kegirangannya, diapun menjadi khawatir.

Kalau dibuat perbandingan, tingkat kepandaian pemuda Siauw-lim-pai ini masih di bawah tingkat dia atau sute dan sumoinya, maka menghadapi lawan seperti Lam-ong benar-benar amat membahayakan keselamatannya.

"Saudara Louw, hati-hatilah!"

Teriaknya ketika dia melihat Lam-ong agaknya hendak mendesak pengeroyok yang lebih ringan ini.

Louw Cin Han dengan gagahnya memutar pedang melindungi tubuhnya sehingga untuk beberapa jurus lamanya Lam-ong tidak dapat mendesaknya, apa lagi karena Sian Lun juga melancarkan pukulan-pukulan yang mengandung sinkang amat kuatnya.

Melihat kakek itu terdesak oleh pengeroyokan mereka, hati Cin Han menjadi besar dan hal ini membuatnya agak lengah dan dia lupa akan peringatan Sin Lun tadi.

Dengan semangat seperti seekor harimau dia mendesak maju, menusukkan pedangnya ke arah tenggorokan kakek tinggi kurus itu.

Melihat gerakan ini.

Lam-ong cepat menggerakkan huncwenya menangkis.

"Tringgg!"

Huncwe bertemu dengan pedang dan Cin Han merasakan lengannya tergetar dan dia tidak mampu menarik kembali pedangnya yang sudah melekat pada huncwe.

Dan pada saut itu Lam ong menyemburkan asap dari mulutnya ke arah muka Cin Han.

"Cepat mundur!"

Sian Lun berseru, akan tetapi Cin Han tidak mau melepaskan pedangnya.

Terpaksa Sian Lun lalu mengerahkan khikang meniup asap dari samping.

Asap raembuyar dan tidak jadi menyerang muka Cin Han, akan tetapi pada saat itu, tangan kiri Lam-ong sudah bergerak menampar kepala Cin Han.

"Celaka""".."

Sian Lun menubruk dan menangkis, akan tetapi tangan kakek itu hanya menyeleweng dan masih dapat menampar pundak Cin Han.

"Plakk!"

Tubuh Cin Han terlempar seperti daun kering dan terbanting jatuh ke atas papan, pedangnya terlepas menancap pada papan panggung.

"Aihhh"".!"

Ling Ling berteriak kaget melihat ini dan dia sudah meloncat mendekati tubuh yang rebah terlentang itu, meninggalkan Gin San menghadapi Ouw Sek sendirian saja.

Melihat tubuh itu lemas lunglai dan wajah yang tampan gagah itu pucat seperti mayat, Ling Ling menjadi cemas sekali dan tanpa memperdulikan apa-apa karena dia sendiri lupa akan sikapnya yang tidak wajar ini, dia sudah menjatuhkan diri berlutut di dekat tubuh itu.

Cepat dia meraba dada dan nadi, membuka pelupuk mata yang terpejam itu dan hatinya merasa lega.

Pemuda ini tidak mati, hanya pingsan dan mengalami luka di sebelah dalam tubuhnya.

Marahlah Ling Ling.

Setelah mengangkat tubuh Cin Han dan menaruhnya di sudut panggung, di tempat aman, dia lalu mengeluarkan suara melengking nyaring dan tubuhnya sudah meloncat seperti seekor burung walet meluncur dan tahu-tahu dia sudah menyerang Lam-ong kalang kabut dengan amat dahsyatnya!

"Sumoi, tenanglah""".!"

Sian lun memperingatkan karena cara menyerang seganas itu biarpun amat berbahaya bagi lawan, namun juga membahayakan diri sendiri.

Kini Lam-ong benar benar kewalahan.

Dia menang kuat dalam sinkang, menang pengalaman dan menang matang gerakan silatnya, akan tetapi dalam hal kecepatan, dia kalah jauh dan memang inilah kelemahannya.

Menghadapi Sian Lun, dia sudah merasa sulit menang karena dia kalah cepat, apa lagi kini ditambah Ling Ling yang lebih cepat lagi gerakannya!

Betapapun juga, memang kakek ini merupakan datuk besar dunia selatan dan ilmu kepandaiannya sudah hebat sekali sehingga biarpun terus didepak, dia masih mampu mempertahankan diri dengan huncwenya, sungguhpun sekali ini dia harus mengeluarkan seluruh kepandaiannya dan mengerahkan seluruh tenaganya Sementara itu, para pengikut Lam-ong mulai kocar-kacir terdesak oleh orang-orang Beng kauw yang jauh lebih besar jumlahnya itu.

Hampir separuh jumlah mereka sudah roboh dan sisanya mulai merasa gentar, apalagi melihat betapa majikan mereka dikeroyok oleh dua orang muda yang amat lihai dan masih belum juga memperoleh kemenangan.

Hal ini amat mengherankan hati mereka dan juga mendatangkan perasaan gentar karena biasanya, kalau majikan mereka itu yang turun tangan sendiri, semua lawan dapat disikat habis dalam waktu singkat saja.

Akan tetapi sekali ini, malah majikan mereka yang terdesak lawan!

Pertandingan antara Gin San melawan Ouw Sek benar-benar amat seru, hebat dan mati-matian.

Dua orang lihai yang memiliki kepandaian dari satu sumber ini mengeluarkan seluruh kepandaian mereka, dan hanya dengan Ilmu Cap-sha Tong-thian sajalah Gin San mampu mempertahankan diri dan menandingi lawan tangguh ini.

Ilmu silat lainnya selain telah dikenal oleh lawan, juga dia malah masih kalah setingkat, kalah latihan sehingga gerakan gerakannya kalah matang.

Akan tetapi menghadapi Cap sha Tong-thian yang gerakan-gerakannya aneh luar biasa dan tidak dikenal oleh Ouw Sek, membuat dia ini merasa bingung dan kadang-kadang terdesak juga.

Betapapun juga, setelah mereka bertanding sampai lama, sudah tiga kali Gin San terkena pukulan lawan, dan biarpun tongkat emas itu telah ditangkisnya dengan pedang atau suling bambu, tetap saja dua kali pundak kirinya kena diserempet sehingga pinggir bahunya atau pangkat lengan yang berdaging itu mengeluarkan darah dan satu kali paha kanannya juga kena pukulan tongkat emas!

Akan tetapi, karena luka-luka yang dideritanya tidak hebat, hanya merupakan luka daging dan kulit saja, hal ini tidak membuat Gin San menjadi lemah, bahkan sebaliknya membuat dia merasa penasaran dan gerakannya makin menghebat.

Kenekatan dan kehebatan pemuda ini membuat Ouw Sek makin lama makin berkurang kepercayaannya terhadap diri sendiri dan diam-diam dia harus mengakui bahwa pemuda yang menurut kedudukan masih terhitung murid keponakannya sendiri ini benar-benar merupakan lawan yang amat tangguh dau hebat, sehingga kalau dia tidak berhati-hati, tentu dia sendiri tidak akan mampu mengalahkannya.

Maka hatinya mulai menjadi gentar, apalagi melihat betapa Lam-ong, sahabat yang amat diandalkannya itu kini terdesak hebat oleh Sian Lun dan Ling Ling, sedangkan Lam-thian Seng-jin dan Bu Siauw Kim sudah tewas, dan anak buah Lam-ong juga sudah terdesak hebat oleh anak buah Beng-kauw yang kini berbalik memusuhinya itu.

Hatinya keder dan nyalinya mengecil.

Kekhawatiran hebat inipun diderita oleh Lam-ong Oh Ging Siu.

Kakek yang sudah berpengalaman ini maklum bahwa kalau dilanjutkan, tentu dia akhirnya akan roboh juga.

Usianya yang sudah amat tua membuat tenaganya tidak sepenuh dahulu, juga napasnya tidak sekuat dahulu.

Kini dia mulai terengah dan tubuhnya sudah letih sekali.

Apa lagi melihat keadaan sahabatnya Ouw Sek, juga tidak lebih baik dari pada dirinya.

Dengan hati penuh penasaran, diam diam Lam-ong merasa berduka sekali.

Satu kali ini nama Lam-ong sebagai Raja Selatan akan hancur oleh orang-orang muda ini!

Akan tetapi, nama jatuh dapat dibangunkan lagi, kalau nyawa sudah melayang tentu tidak mungkin ditarik kembali ke dunia.

Pikiran ini membuat dia mengambil keputusan bulat dan tiba-tiba dia mengeluarkan bentakan nyaring yang menggetarkan seluruh tempat itu, tangan kanannya memutar huncwe sedangkan tangan kirinya melancarkan tamparan-tamparan Pek see-ciang yang amat ampuh itu ke depan, ke arah Sian Lun dan Ling Ling.

Dua orang muda ini sudah mengenal kelihaian lawan, maka tentu saja mereka cepat meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan-serangan dahsyat itu, dan pada saat itu, Lam-ong sudah melayang turun dari panggung, jauh sekali karena dia sudah mempergunakan ginkang melampaui kepala mereka yang sedang berkelahi di bawah panggung sambil mulutnya berseru sebagai tanda kepada para anak buahnya.

"Kita pergi dulu!"

Tepat pada saat itu, Ouw Sek memang juga sudah mengambil keputusan untuk melarikan diri saja sebelum terlambat, maka hampir berbareng dia juga mempergunakan ginkangnya meloncat ke lain jurusan, jauh dari panggung dan terus melarikan diri.

Melihat larinya Ouw Sek, Gin San yang merasa betapa sukarnya mengalahkan orang itu, tidak mengejar, melainkan membantu Sian Lun dan Ling Ling yang berusaha mengejar Lam ong.

Akan tetapi, kakek Itu sudah menghilang dan agaknya memang anak buahnya sudah menyediakan seekor kuda untuknya karena tak lama kemudian tiga orang muda itu mendengar derap kaki kuda.

Mereka masih berusaha mengejar, namun ternyata bahwa kuda yang ditunggangi oleh Lam-ong merupakan seekor kuda luar biasa yang dapat berlari amat kencangnya sehingga mereka maklum bahwa tubuh mereka yang sudah letih oleh pertempuran itu takkan mungkin dapat menyusul.

Apa lagi pada saat itu tiba-tiba Ling Ling sudah berlari kembali ke panggung, Gin San dan Sian Lun cepat menyusul dan mereka berdua saling pandang ketika melihat betapa sumoi mereka itu telah berlutut dan memeriksa tubuh Cin Han yang sudah siuman namun masih rebah terlentang di sudut panggung itu.

"Bagaimana lukanya, sumoi?"

Tanya Sian Lun sambil mendekat. Juga Gin San memandang sebentar.

"Saya"".. saya tidak apa apa"".. harap lihiap dan taihiap tidak khawatir...".."

Kata Cin Han yang kini menyebut Ling Ling "lihiap"

Karena dia mendapat kenyataan betapa lihainya nona yang mengagumkan hatinya itu.

Melihat bahwa teman baru itu memang tidak terancam bahaya, Gin San lalu melompat turun dan membantu teman-temannya, yaitu Kwan Liok yang memimpin anak buah Beng-kauw, untuk menggempur anak buah Lam-ong.

Makin repotlah anak buah Lam-ong yang kini melawan sambil mundur, dan akhirnya mereka itu roboh semua, hanya ada beberapa orang saja di antara mereka yang tadi tempat menyelamatkan diri.

Pertempuranpun selesai sudah dan kini para anggauta Beng-kauw merawat teman teman yang luka, dan membersihkan tempat itu dengan menyeret mayat-mayat lawan untuk dikuburkan sebagaimana mestinya.

Dengan dibantu oleh Sian Lun, Ling Ling mengobati luka yaug diderita oleh Cin Han dengan menggunakan sinkaog mereka, mengusir hawa beracun pukulan Pek-see-ciang yang mengeram di pundak dan di dada Cin Han.

Tadinya Cin Han menolaknya.

"Biarlah, lihiap. Luka ini dapat disembuhkan dengan obat luka dalam yang saya bawa"."

"Pukulan Lam-ong berbahaya sekali, kalau tidak cepat dibersihkan hawa pukulan beracun itu, bisa berbahaya. Bekerjanya obat luka dalam amat lambat, biar kudorong keluar dengan sinkang."

Ling Ling mendesak dan dia sudah menempelkan telapak tangannya ke pundak pemuda itu.

"Jangan sungkan, saudara Louw Cin Han, apa yang dikatakan sumoi memang benar."

Kata Sian Lun yang juga menempelkan telapak tangannya ke dada pemuda yang masih rebah itu.

Cin Han tidak membantah, hanya menatap wajah Ling Ling dengan penuh terima kasih dan penuh kemesraan karena dia merasa amat kagum kepada dara perkasa yang menurut pandangannya amat cantik itu seperti Kwan Im Pouwsat ini!

Ketika Ling Ling membalas pandang mata itu, sinar mata mereka saling bertemu dan dia menundukkan mukanya yang berobah merah dan jantungnya berdebar tidak karuan!

Karena Sian Lun dan Ling Ling memiliki tenaga sinkang yang amat kuat, maka dalam waktu singkat saja semua hawa beracun telah terusir keluar dan bersih dari tubuh Cin Han.

Pemuda ini berterima kasih sekali, bangkit berdiri dan menjura kepada mereka.

"Ah, di antara kita yang sudah sama sama menghadapi lawan bahu-membahu, perlukah ada sikap sungkan-sungkan lagi?"

Sian Lun menolak pernyataan terima kasih itu dan Ling Ling hanya tersenyum saja.

Akan tetapi ketika pemuda itu mengeluarkan bungkusan obat-obat buatan Siauw-lim-pai dari kantungnya, tanpa diminta Ling Ling cepat membantunya dan dengan sentuhan-sentuhan tangan yang halus mesra sehingga mengharukan hati Cin Han, Ling Ling memasangkan koyo, yaitu obat tempel, pada pundak yang matang biru itu, kemudian dara ini mencarikan air matang untuk dipakai minum obat oleh Cin Han yang merasa makin terharu dan berterima kasih.

Atas undangan Kwan Liok yang merasa berhutang budi kepada mereka, empat orang muda ini malam itu tinggal di Beng-kauw, dijamu sebagai tamu-tamu agung.

Dan dengan hati girang, Sian Lun dan Gin San melihat betapa terdapat hubungan yang makin mesra dan akrab antara pemuda Siauw-lim-pai itu dengan Ling Ling, dapat dilihat jelas dari gerak gerik, pandang mata, dan suara yang keluar ketika mereka saling bicara.

Diam-diam dua orang muda ini merasa bersyukur karena mereka melihat bahwa pemuda murid Siauw-lim-pai itu selain memiliki kepandaian yang cukup lihai, juga memiliki kegagahan yang mengagumkan.

Mereka berdua merasa senang dan setuju sekali kalau sumoi mereka berjodoh dengan seorang pemuda seperti itu!

Memang terdapat daya tarik yang amat kuat antara dua orang muda, yaitu Louw Cin Han dan Gan Ai Ling ini.

Mereka saling merasa tertarik, apalagi ketika mereka saling mendengar bahwa masing masing adalah seorang anak yatim piatu.

Persamaan nasib ini membuat mereka makin tertarik karena perasaan itu diperkuat lagi oleh perasaan iba kasih.

Dan agaknya mereka berduapun tidak hendak menyembunyiknn perasaan itu, dan senja hari itu, setelah mereka semua makan malam dijamu oleh Kwan Liok, Cin Han dan Ling Ling berdua duduk di dalam taman dan bercakap-cakap dengan asyiknya!

Sementara itu, Sian Lun diam-diam memanggil Gin San dan merekapun bicara berdua saja.

"Sute, engkau tentu melihat keadaan sumoi dan Cin Han, bukan?"

Gin San tersenyum dan mengangguk.

"Bagaimana pendapatmu dengan hubungan mereka itu, sute?"

Karena dia menangkap sesuatu dalam suara suhengnya, Gin San mengangkat muka memandang wajah tampan itu penuh selidik.

"Suheng apa maksudmu menanyakan hal ini kepadaku?"

Sian Lun menarik nafas panjang.

"Maaf, sute. Terus terang saja, hatiku bimbang dan ragu. Marilah kita berterus terang. Aku tadinya mengira bahwa engkau""

Engkau cinta kepada sumoi"".."

"Tentu saja aku mencintai sumoi!"

"Bukan begitu maksudku, mencinta sebagai seorang pemuda terhadap seorang dara""., bahkan diam diam aku mengharapkan kalian akan saling berjodoh..."""

Kini Gin San yang menundukkan mukanya dan berkali-kali dia menarik napas panjang karena terbayanglah saat saat di mana hampir saja dia memperkosa sumoinya itu!

Semua itu gara gara Bu Siauw Kim yang kini telah tewas, atau"".

gara-gara nafsu berahinya yang bangkit dan berkobar setelah dia berkenalan dengan Bu Siauw Kim.

Teringat pula dia kepada Liang Hwi Nio yang telah menyerahkan diri kepadanya dengan suka rela.

Dia lalu menggeleng kepalanya.

"Tidak, suheng. Di antara sumoi dan aku tidak ada perasaan cinta asmara seperti yang kaumaksudkan itu. Maka, akupun diam-diam merasa gembira sekali melihat hubungan antara Cin Han dengan sumoi."

Sian Lun merasa girang sekali, dadanya tersa lapang. Dia memegang lengan sutenya dan berkata.

"Bagus! Tadinya aku sudah khawatir sekali, sute. Aku teringat akan riwayat orang tuaku dan orang tua sumoi"".

"Riwayat bagaimana, suheng?"

Sian Lun menggeleng kepala.

Dia mendengar tentang cinta segi tiga antara ayah bunda Ling Ling dan mendiang ayahnya, cerita yang didengarnya dari Siang Bwee menurut penuturan mendiang ibu dari Siang Bwee.

Akan tetapi riwayat itu disimpannya dalam hati sendiri dan dia tidak mau menceritakannya kepada Gin San yang biarpun menjadi sutenya, tetap saja merupakan "orang luar".

"Jadi engkau juga setuju kalau sumoi berjodoh dengan pemuda Siauw-lim-pai itu, sute?"

"Tentu saja, kalau memang sumoi menghendakinya"

"Sute, kita sebagai kakak-kakaknya berkewajiban untuk mengurus sumoi, bukankah dia sudah yatim piatu dan adalah kewajiban kita untuk membuatnya bahagia? Dari sikapnya, aku merasa bahwa antara sumoi dan Cin Han terdapat hubungan kasih, dan aku akan membicarakan hal ini dengan sumoi. Sedangkan engkau kuberi tugas untuk bicara dengan terus terang kepada Cin Han. Kalau memang keduanya sudah setuju, biarlah aku yang akan memberi tahu kepada bibi Gan Beng Lian yang merupakan satu-satunya keluarga dari sumoi."

Gin San mengangguk-angguk dan menyatakan persetujuannya, Demikianlah, malam itu, dua orang pemuda ini menantikan Ling Ling dan Cin Han yang masih asyik bercakap-cakap di dalam taman.

Percakapan biasa saja, saling menceritakan riwayat dan pengalaman masing masing, seperti jamak percakapan dua orang yang baru saja berkenalan.

Namun, di balik percakapan itu, suara mereka, pandang mata mereka, senyum mereka, semua mengandung getaran yang aneh, yang menjadi wakil dari hati masing-masing yang menggetarkan lagu asmara.

Karena malam mulai larut dan keduanya merasa tidak enak kalau melanjutkan pertemuan di dalam taman, padahal kalau menurut perasaan hati mereka agaknya mereka tidak akan pernah merata jemu dan puas biarpun bercakap-cakap sampai semalam suntuk, Cin Han dan Ling Ling kembali ke kamar masing-masing.

Setelah tiba di dalam kamar yang disediakan oleh Beng-kauw untuknya, Cin Han melempar tubuh ke atas pembaringan tanpa membuka pakaian dan sepatu.

Rasa nyeri pundaknya ketika dia menjatuhkan diri di atas pembaringan itu tidak dihiraukannya dan dia segera terlentang dan melamun, berulang kali menarik napas panjang.

Wajah dan senyum Ling Ling disertai pandang mata yang amat mesra itu tak pernah lenyap dari pandang matanya.

Baru sekali ini Cin Han merasakan keanehan ini.

Dia begitu tertarik kepada Ling Ling sehingga dia sendiri merasa khawatir.

Gadis itu demikian tinggi ilmunya, biarpun usianya baru delapanbelas tahun, tujuh tahun lebih muda dari padanya, namun dia seolah-olah harus mengangkat muka kalau memandang kepada dara itu!

Mana mungkin seorang dara sehebat itu mau rnemperhatikan dia?

Akan tetapi""

Sikap dara itu demikian manis budi, demikian mesra dan baik! "Tok-tok tok!"

Cin Han meloncat turun memandang ke arah pintu kamar itu dengan hati berdebar, harap harap cemas. Ling Ling kah yang mengetuk pintu kamarnya? Ah, rasanya tidak mungkin! Tapi"".. tapi"".

"Siapakah itu?"

Tanyanya halus sambil menghampiri pintu.

"Louw-twako, ini aku Gin San, harap buka pintu, aku ingin bicara sebentar!"

Ada rasa kecewa akan tetapi juga lega di dalam hati Cin Han.

Kecewa karena ternyata pengetuk pintu itu bukan Ling Ling, akan tetapi juga lega bahwa orang itu bukan Ling Ling!

Karena kalau Ling Ling yang mengetuk pintu kamarnya, hal itu sungguh amat tidak patut!

Cepat dibukanya pintu kamarnya dan dia melihat Coa Gin San berdiri di depan pintu sambil tersenyum ramah.

"Maaf kalau aku mengganggumu, Louw-twako."

"Ah. tidak, mari masuk, Coa taihiap. Ada urusan penting apakah yang membuat taihiap malam-malam datang mengunjungiku?"

Tanya Cin Han yang merasa agak khawatir karena tentu terjadi urusan penting sekali maka pendekar ini mencarinya malam-malam. Cin San memasuki kamar pemuda Itu sambil tersenyum.

"Ah, tidak apa-apa, twako, hanya aku ingin bicara denganmu, bicara mengenai diri sumoi"

Tentu saja Cin Han merasa terkejut bukan main, akan tetapi sebagal seorang gagah, dia dapat menekan perasaannya itu sungguhpun wajahnya berubah sedikit, dan dia lalu mempersilakan tamunya duduk, Gin San lalu duduk dan mereka duduk berhadapan, sejenak mereka saling pandang seolah olah hendak menyelidiki keadaan masing-masing.

Melihat ketenangan pemuda Siauw-lim-pai itu setelah dia tadi secara terus terang menyebut nama sumoi-nya, diam diam Gin San merasa kagum.

"Begini, twako. Kita berdua adalah orang-orang yang menghargai kegagahan, oleh karena itu kuharap engkau suka bersikap gagah dan terbuka, tidak perlu menyimpan hal-hal rahasia di dalam hati demi kebaikan kita semua. Setujukah engkau twako?"

"Tentu saja. taihiap!"

"Ah, mengapa engkau begitu sungkan dan menyebutku taihiap? Engkau sendiripun seorang pendekar yang gagah perkasa, twako. Karena usiamu lebih tua beberapa tahun dariku, sebaiknya kalau engkau menyebut namaku saja, jangan memakai taihiap segala, membuatku menjadi kikuk saja,"

"Terima kasih, Coa-te. Sekarang katakanlah apa yang terkandung dalam hatimu."

"Begini, Louw ko"".."

Agak berat juga rasanya untuk membicarakan persoaan cinta orang lain, maka kegugupan itu nampak dalam pembukuan kata-kata Gin San, yang selalu memakai "begini".

"Engkau tentu sudah tahu bahwa sumoi adalah seorang anak yatim piatu, maka sudah sewajarnyalah kalau suheng dan aku sebagai saudara-saudara tuanya mewakilinya sebagal wali dan kami harus memperhatikan (Lanjut ke

Jilid 46 -Tamat) Kisah Tiga Naga Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 46 (Tamat) keadaannya.

Kami berdua melihat betapa dalam pertemuan pertama, terdapat suatu hubungan akrab dan mesra antara engkau dan sumoi.

Kalau aku boleh berlancang mulut, agaknya di antara kalian berdua ada perasaan cinta kasih.

Benarkah itu, Louw-twako?"

Tentu saja ditanya demikian.

Cin Han merasa seolah-olah dia diserang dengan pedang!

tajam secara langsung, membuat dia gelagapan!

dan mukanya berobah marah sekali, matanya terbelalak ketika dia memandang kepada Gin San.

Akan tetapi melihat wajah pemuda di depannya yang memiliki ilmu kepandaian amat hebat itu, wajah yang ramah dan tersenyum, dengan pandang mata lembut, Cin Han mengerti bahwa pemuda itu tidak main-main dan pertanyaan itu keluar dari hati yang sejujurnya.

"Wah, ini"".. ini"""

Katanya gagap, akan tetapi dia lalu mengangkat dadanya dan mengambil keputusan untuk bersikap terbuka dan jujur pula, sesuai dengan sikap seorang pendekar yang menjunjung tinggi kegagahan.

"Terus terang saja, Coa-te, aku""

Aku memang kagum sekali kepada Gan-lihiap, aku kagum dan tertarik"".."

"Dan cinta....?"

Gin San menyambung.

"Hal itu.... ah, bagaimana aku berani...", akan tetapi....."

Cin Han merasa bingung dan tersudut.

"Akan tetapi engkau tentu akan menerima dengan girang kalau dapat terikat perjodohanmu dengan sumoi, bukan?"

"Tentu saja! Demi Thian, aku akan berbohong kalau menyangkal itu! Akan tetapi"". sungguh aku tidak berani selancang itu".. karena tidak mungkin kiranya dia""

Dia".. mau kepada seorang bodoh seperti aku""."

Cin San mengangguk-angguk.

Benar ucapan suhengnya.

Memang pemuda ini baik sekali dan agaknya tidak akan keliru pilihan sumoinya, tentu saja kalau benar dugaan dia dan suhengnya bahwa sumoi mereka itu mencinta pemuda Siauw-lim-pai ini.

"Louw twako, terus terang saja, aku dan suheng melihat keakraban hubungan antara kalian, oleh karena itu aku ditugaskan untuk menemuimu dan melakukan pendekatan dan bicara secara terbuka denganmu. Pada saat ini juga, suheng sedang bertanya kepada sumoi, dan kalau memang benar seperti yang kami duga, dan sumoi juga jatuh cinta kepadamu, kami berdualah yang akan berusaha untuk mengikatkan jodoh itu, tentu saja lewat saluran kekeluargaan yang wajar."

Bermacam perasaan teraduk dalam hati Cin Han, dia terheran, terkejut,, terharu dan juga berterima kasih sekali.

Maka dia cepat bangkit dari duduknya dan menjura dengan penuh rasa hormat dan terima kasih.

Ah, kiranya ji-wi (kalian) adalah orang-orang budiman di samping pendekar-pendekar sakti!.

Aku berterima kasih sekali dan semoga Thian yang akan membalas segala budi kebaikan ji-wi."

Gin San teraenyum.

"Ahh, kami berbuat ini demi kebahagiaan sumoi, twako. Sama sekali bukan kebaikan namanya! Nah, sekarang aku pamit, akan kutunggu keputusan suheng setelah bicara dengan sumoi, dan besok pagi kami memberi kabar kepadamu."

Gin San lalu bangkit, mengangguk dan keluar dari kamar itu meninggalkan Cin Han yang setelah menutupkan kembali pintu kamar, lalu duduk lerlongong di atas pembaringannya.

Tentu saja peristiwa ini akan membuat dia tak mungkin dapat tidur semalam suntuk!

Sementara itu, di dalam kamar Ling Ling, Sian Lun juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada sumoimya, Ling Ling duduk dengan kepala ditundukkan, kedua pipinya kemerahan dan sampai beberapa lamanya dia tidak mampu menjawab.

Tiba tiba dia mengangkat mukanya, memandang wajah suhengnya dan berkata.

"Twa-suheng, kenapa suheng mengajukan pertanyaan semacam ini kepadaku? Pantaskah itu? Dan patut pulakah kalau aku menjawabnya? Engkau benar benar mendesakku dan membuat aku menjadi kikuk dan bingung, tidak tahu bagaimana harus menjawab, suheng!"

Sian Lun menarik napas panjang.

"Maafkanlah aku sumoi, dan aku tidak menyalahkanmu kalau engkau merasa penasaran dan marah atas kelancanganku. Akan tetapi, ketahuilah, sumoi, bahwa engkau telah dewasa dan kami berdua. Gin San sute dan aku, merasa bertanggung jawab dan berkewajiban untuk memperhatikan keadaanmu. Kami akan merasa berdosa dan malu terhadap mendiang ayah bundamu kalau kami tidak mengurus dirimu. Kami berdua telah melihat sikap kalian berdua dan kalau kami tidak salah sangka, di antara engkau dan saudara Louw Cin Han pasti terdapat perasaan cinta kasih. Nah, itulah sebabnya aku bertanya kepadamu, sumoi. Jawablah terua terang agar kami berdua dapat mengambil tindakan yang tepat demi kebahagiaanmu. Akulah yang akan menyampaikan kepada bibi Gan Beng Lian, dan sekarangpun sute sedang bicara dengan hati terbuka dengan saudara Louw Cin Han,"

Mendengar ucapan yang begitu panjang lebar dan terus terang dari Sian Lun, tiba-tiba Ling Ling menangis, menutupi muka dengan kedua tangannya dan sesenggukan.

Teringatlah dia akan ayah bundanya dan keharuan mendengar betapa dua orang suhengnya demikian memperhatikan dirinya membuat dia tidak dapat menahan runtuhnya air matanya.

Sian Lun membiarkan saja sumoinya menangis karena diapun mengerti bahwa sumoinya dilanda keharuan dan tentu teringat kepada orang tuanya.

Setelah tangis sumoinya mereda, dia berkata halus.

"Sumoi, kalau memang sudah ada kecocokan antara kalian berdua, percayalah aku dan sute yang akan berusaha agar kalian dapat berjodoh"", oleh karena itu, jawablah sumoi, apakah engkau setuju?"

Sambil menahan isaknya, Ling Ling mengangkat mukanya, sejenak memandang kepada suhengnya yang sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri itu, kemudian dia menunduk lagi dan menganggukkan kepalanya.

Anggukan yang tidak bersuara, namun cukup jelas, lebih jelas dari pada kalau dia membuka suara, karena tentu dia akan tergagap dan malu-malu.

"Bagus! Aku girang sekali, sumoi, karena akupun yakin bahwa pilihan hatimu itu sama sekali tidak keliru."

Sian l.un lalu keluar dari kamar sumoinya.

Tak lama kemudian munculkah Gin San dan sutenya ini menceritakan tentang jawaban Cin Han.

Keduanya tertawa dengan gembira, kemudian mengaso setelah mengambil keputusan untuk merayakan ikatan jodoh sumoi mereka itu pada keesokan harinya!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali.

Ling Ling keluar dari dalam kamarnya.

Semalam suntuk dia tidak dapat tidur barang sekejap karena hatinya penuh dengan urusan yang di bicarakan oleh Sian Lun kepadanya semalam.

Biarpun dia tidak tidur semalam, namun air sejuk membuat tubuhnya terasa segar, atau mungkin perasaan gembira yang aneh yang membuat tubuhnya senyaman itu rasanya.

Dia langsung pergi ke taman ketika dia mendengar bunyi kokok ayam jantan dan kicau banyak burung dari taman itu, yang menambah ke riangan hatinya.

Akan tetapi ketika dia hendak pergi ke bangku di dekat kolam ikan di tengah taman itu, tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya!

Jantungnya berdebar dan mukanya berobah merah sekali.

Dia sudah membalikkan kaki dan badan hendak pergi, akan tetapi suara Cin Han memanggilnya.

"Ling-moi""."

Kiranya pemuda yang dilihatnya duduk di atas bangku itu telah mendengar dan melihatnya! Ling Ling makin merasa malu, akan tetapi dia memaksa diri membalik dan memandang pemuda itu, lalu bertanya.

"Kau". sepagi ini sudah di sini? Bagaimana dengan lukamu!"

Dia merasa malu, bingung dan juga gembira sekali mendengar pemuda itu menyebutnya Ling-moi (dinda Ling), tidak seperti kemarin menyebut nona kemudian menyebut lihiap.

Cin Han bangkit dan menghampiri dara itu sambil tersenyum.

"Aku sudah sembuh, berkat pertolonganmu, Lin-moi. Aku semalam tidak tidur sekejap matapun, maka sepagi ini sudah berada di sini, akan tetapi engkau sendiri""

Pagi benar engkau sudah bangun"".

"Akupun tidak dapat tidur sama sekali". Ling Ling menjawab, tersenyum dan menunduk, tidak berani lama-lama menentang pandang mata pemuda itu. Hening sejenak. Keduanya berdiri saling berhadapan. Ling Ling menunduk dan Cin Han memandang wajah yang menunduk itu, jantungnya berdebar tegang. Yang terdengar hanya kicau burung pagi memenuhi taman menyambut cahaya kemerahan sang matahari yang belum menampakkan diri. Taman itu sunyi, tidak ada orang lain kecuali mereka berdua.

"Ling-moi""..!"

Akhirnya suara lembut Cin Han memecah kesunyian. Ling Ling hanya menjawab panggilan itu dengan mengangkat muka dan memandang wajah pemuda itu. Dua pasang sinar mata bertemu "dan melekat.

"Ling-moi". semalam"

Semalam Coa-te"

Bicara denganku dan katanya Tan-te juga membicarakan urusan itu denganmu"".

Berat bagi Cin Han untuk menyebutkan urusan perjodohan itu dengan terang terangan.

Namun Ling Ling tentu saja sudah dapat menangkap artinya dan dia mengangguk, masih tanpa jawaban dengan suaranya, hanya pandang matanya nampak mesra sekali.

"Lalu"". lalu bagaimana jawabanmu, Ling-moi? Bagaimana pendapatmu tentang..."

"Tentang ikatan jodoh itu?"

Cin Han mulai semakin berani melihat sikap Ling Ling yang diam itu. Dengan sinar mata tajam penuh selidik Ling Ling balas bertanya.

"Bagaimana denganmu?"

"Aku? Ah, tentu saja aku setuju sekali, Ling-moi. Aku merasa seperti kejatuhan bintang dan bulan kalau sampai hal itu dapat terlaksana, aku masih hampir tidak percaya kalau hal itu dapat terlaksana, kalau""..kalau kau sudi dan mau menjadi calon jodohku".."

Kedua pipi yang halus itu menjadi merah kembali, sepasang mata yang indah itu berseri dan menjadi agak basah, bibir yang manis itu tersenyum, lalu muka itu menunduk.

"Aku..Akupun...".. telah setuju, Han koko""."

"Ling-moi""..!"

Cin Han menahan seruannya dan kedua tangannya memegang tangan Ling Ling.

Mereka saling berpegang tangan, dari jari-jari tangan mereka yang semua berjumlah duapuluh itu keluar getaran-getaran kasih sayang yang amat mendalam dan jelas terasa oleh mereka berdua.

Jantung dalam dada mereka berdebar keras, jari-jari tangan itu agak gemetar dan keduanya tidak mampu lagi berkata-kata, hanya berdiri saling berpegang tangan, Ling Ling menundukkan mukanya dan Cin Han memandang mesra.

Entah berapa lamanya mereka saling berpegang tangan seperti itu dan tiba-tiba terdengar suara ketawa disusul munculnya Sian Lun dan Gin San!

Ling Ling terkejut dan merasa malu sekali, akan tetapi karena Cin Han menggenggam kedua tangannya, dia tidak tega untuk meronta dan melepaskan diri.

"Ah, kiranya kalian berdua sudah berada di sini dan agaknya sudah saling bicara!"

Kata Sian Lun dengan sikap gembira.

"Aihhh""..ini namanya meninggalkan kami yang menjadi comblang! Harus dihukum dengan tiga cawan arak!"

Gin San tertawa dan Ling Ling menjadi semakin malu.

Cin Han tersenyum dan melepaskan kedua tangan kekasihnya, lalu ia menjura ke arah kedua orang muda itu tanpa kata-kata.

Sian Lun yang merasa kasihan kepada sumoinya, tidak mau menggoda terus dan berkata.

"Kita harus merayakan peristiwa ini dan marilah kita bicara di di dalam"

Mereka berempat lalu memasuki rumah dan Gin San memerintahkan kepada Kwan Liok untuk mempersiapkan hidangan dan arak untuk pesta kecil di antara mereka berempat itu.

Tak lama kemudian mereka berempat sudah menghadapi hidangan panas dan arak di atas meja.

Mereka menyuruh pergi semua anggauta Beng-kauw yang hendak melayani mereka, kemudian setelah mengisi cawan masing-masing dengan arak, Sian Lun berkata.

"Dalam urusan antara Louw-twako dan sumoi, yang terpenting adalah persetujuan kalian berdua. fihak keluarga atau wali hanya tinggal mengesahkannya saja, Maka, terimalah ucapan selamat kami atas persetujuan kalian berdua untuk saling terikat dalam perjodohan ini!"

"Kiong-hi, sumoi dan Louw-twako!"

Gin San juga mengangkat cawan araknya.

Biarpun keduanya merasa malu-malu, akan tetapi Ling Ling dan Cin Han terpaksa mengangkat cawan arak mereka dan mereka berempat minum arak dari cawan masing-masing.

"Sekarang aku hendak bertanya kepadamu Louw-twako. Apakah yang hendak kaulakukan untuk mengesahkan ikatan jodoh ini, mengingat bahwa kedua orang tuamu sudah tidak ada lagi?"

Sian Lun bertanya dengan suara sungguh sungguh. Cin Han menarik napas panjang.

"Keadaanku sama dengan Ling-moi, bahkan kalau Ling moi masih mempunyai kalian berdua sebagai suheng-suheng yang amat baik, aku hidup sebatangkara di dunia ini. Akan tetapi, ada guruku, seorang hwesio di Kuil Siauw-lim-si, dan aku dapat mohon pertolongan beliau untuk menjadi waliku dan mengajukan pinangan dengan sah. Akan tetapi, kepada siapakah suhu harus mengajukan pinangan atas diri Ling-moi?"

Sian Lun memandang kepada sumoinya.

"Sumoi, bagaimana pendapatmu? Kita harus menjawab pertanyaan Louw-twako dan menentukan siapa walimu."

Ling Ling adalah seorang dara yang gagah perkasa dan tidak pernah mengenal takut Akan tetapi, betapapun juga dia adalah seorang wanita yang pada masa itu terikat ketat oleh peraturan tata susila, maka ditanya tentang perjodohan, dia merasa malu sekali, menunduk dan suaranya hanya terdengar lirih.

"Aku..."..menyerahkan kepada suheng saja""."

Sian Lun mengangguk, lalu berkata.

"Kalau menurut pendapatku, satu-satunya keluargamu sekarang adalah bibi Gan Beng Lian, oleh karena itu biarlah aku yang akan membicarakan dengan keluarga bibi Gan Beng Lian dan sebaiknya suhu dari Louw twako mengajukan pinangan ke sana saja, yaitu keluarga paman Yap Yu Tek di An-kian."

"Ha-ha ha, suheng. Katakan saja keluargamu juga, karena bukankah paman Yap Yu Tek adalah calon ayah mertuamu?"

Gin San menggoda.

"Dan sebaiknya nanti kalau suheng melaksanakan pernikahan, mengundang Louw twako dan suhunya dan saat itu dipergunakan bagi suhu Louw twako untuk mengajukan pinangan. Bukankah itu baik sekali?"

Biarpun pemuda ini bicara sambil berkelakar, akan tetapi usulnya itu baik sekali dan diterima oleh mereka bertiga dengan girang.

Setelah menentukan rencana ini, mereka lalu makan minum dan bercakap-cakap dengan gembira, diseling sendau-gurau.

Gin San yang merasa bahagia sekali bahwa sumoinya telah mendapatkan jodoh, demikian pula suhengnya.

Dia sendiri diam-diam membayangkan wajah tiga orang wanita, yaitu Liang Hwi Nio yang telah menyerahkan diri kepadanya dengan sukarela, kemudian Yo Giok Hong si janda cantik jelita dan puterinya, Tio Bi Cin dara remaja yang manis itu!

Pada hari itu juga mereka saling berpisah.

Sian Lun bersama Ling Ling menuju ke kota raja, karena Sian Lun hendak pulang dulu melapor sebagai seorang panglima, dan kemudian baru dia akan mengantar sumoinya ke An-kian, ke rumah bibi sumoinya atau rumah keluarga calon isterinya.

Gin San tidak ikut ke kota raja, dia hendak melakukan pembangunan kembali Beng-kauw yang menjadi rusak oleh gangguan Ouw Sek, dan juga untuk sementara dia akan berada di Beng-kauw pusat di tepi Telaga Po-yang ini, untuk melindungi Beng-kauw kalau kalau Ouw Sek masih akan melanjutkan gangguannya.

Sedangkan Louw Cin Han setelah dengan berat hati berpamit, lalu kembali ke Sin-yang di Ho-peh, untuk menghadap suhunya, yaitu Bi Lam Hwesio, seorang tokoh besar tingkat dua di perguruan Siauw-lim pai di Kuil Siauw-lim-si.

Beberapa bulan kemudian, di rumah gedung milik Panglima Muda Tan Sian Lun diadakan pesta yang meriah, yang dikunjungi oleh banyak tamu dari bermacam tingkat, ada para panglima kota raja yang berpakaian gemerlapan, banyak pula tokoh-tokoh kang-ouw yang berkedudukan tinggi, dan suasana amatlah gembira karena pada hari itu Panglima Muda Tan Sian Lun telah melangsungkan pernikahannya dengan Yap Wan Cu, puteri tunggal dari suami isteri pendekar Yap Yu Tek dan Gan Beng Lian di An-kian.

Sepasang mempelai melakukan upacara sembahyang dan semua tamu menonton dengan wajah berseri gembira.

Yang menarik perhatian, kecuali sepasang mempelai, adalah seorang wanita muda cantik jelita yang melayani kedua orang mempelai itu dengan penuh keramahan dan perhatian, juga dari sepasang mata yang indah itu tersinar kasih sayang yang amat mesra.

Wanita cantik ini bukan lain adalah Ci Siang Bwee, selir terkasih dari Sian Lun!

Wajahnya berseri-seri, dan hatinya luar biasa girang dan bangganya melihat wajah kekasihnya yang demikian tampan berseri, bersanding dengan mempelai wanita yang demikian cantik!

Dia merasa bangga, bersyukur dan bergembira mejihat waiah kekasihnya nampak demikian bahagia.

Dengan penuh perhatian dia melayani mereka, bahkan kadang-kadang membantu sendiri para dayang untuk mengipaskan kipasnya yang harum kepada kedua mempelai agar mereka tidak terlalu gerah.

Siang Bwee melayani sepasang mempelai sampai semua tamu bubaran, kemudian dia sendiri yang mengantar mempelai menuju ke kamar pengantin.

Setibanya di pintu kamar itu, sebelum menutupkan kamar pengantin, Sian Lun menoleh dan beberapa detik lamanya dua pasang mata, yaitu mata Sian Lun dan Siang Bwee bertemu dan melekat.

Siang Bwee tersenyum dan menjura dengan hormat, kemudian membantu menutupkan daun pintu itu sehingga bayangan kekasihnya dan pengantin wanita lenyap dari pandang matanya.

Dia menarik napas panjang, kemudian membalikkan tubuh untuk pergi ke kamarnya sendiri, di jalan dia menggunakan saputangan menghapus dua tetes air mata yang turun ke atas kedua pipinya.

Bukan air mata kesedihan, bukan air mata cemburu.

Tidak!

Cintanya terhadap Sian Lun sama sekali tidak mengundung cemburu.

Dia hanya ingin melihat kekasihnya itu berbahagia!

Dan dia terharu dan juga gembira menyaksikan kekasihnya menjadi pengantin.

Itulah yang mendorong keluar dua tetes air mata tadi!

Dia tidak cemburu karena dia tahu bahwa Sian Lun mencintanya!

Dan sudah sepatutnya kalau kekasihnya itu menjadi suami seorang dara yang demikian cantik dan gagah seperti Yap Wan Cu, seorang gadis keturunan baik-baik puteri tunggal suami isteri pendekar dan cucu seorang bupati yang terkenal sebagai pembesar yang budiman dan adil.

Sedangkan dia, dia hanya keturunan biasa, dan dia hanyalah seorang bekas dayang pembesar pengkhianat Thio-taikam, kemudian dijadikan dayang istana, dan akhirnya diserahkan kepada Tan Sian Lun sebagai selirnya.

Dia hanya seorang selir, akan tetapi dia mempunyai cinta kasih yang amat mendalam terhadap Tan Sian Lun!

Dan dia tahu, pria itupun amat mencintanya!

Siang Bwee memasuki kamarnya, tanpa melepaskan pakaian indah yang dipakai dalam pesta itu, dia menjatuhkan diri di atas pembaringannya, memejamkan mata dan membayangkan semua kemesraan yang telah dialaminya bersama kekasihnya itu.

Diam-diam dia tersenyum dan merasa berbahagia sekali.

Dialah wanita pertama dalam hidup Sian Lun, seperti juga Sian Lun adalah pria pertama dalam hatinya, sungguhpun tubuhnya telah diberikanja secara terpaksa kepada An Hun Kiong.

Dengan jari tangan gemetar Siang Bwee meraba-raba dan mengelus perutnya, bibirnya bergerak-gerak seolah-olah dia berdoa, dan memang sesungguhnyalah dia berdoa kepada Kwan Im Pouwsat, dewi yang selalu dipujanya.

Sementara itu, di antara para tamu, terdapat Louw Cin Han bersama suhunya, yaitu Bi Lam Hwesio, tokoh Siauw-lim-pai dari Sin-yang itu.

Setelah selesai menghadiri perayaan pernikahan Sian Lun dan Wan Cu, Cin Han bersama suhunya lalu pergi mengunjungi keluarga Yap Yu Tek di An-kian.

Kedatangan mereka disambut dengan gembira oleh keluarga ini, yang sebelumnya telah mendengar berita tentang ikatan jodoh itu dari Sian Lun.

Ling Ling yang tinggal di rumah bibinya, juga menyambut dengan muka merah akan tetapi dia lalu lari ke dalam karena tidak dapat menahan rasa malu di hatinya, perasaan malu yang bercampur bahagia.

Karena memang sudah diketahui dan disetujui sebelumnya, maka pinangan yang diajukan oleh Bi Lam Hwesio untuk muridnya, meminang Ling Ling, diterima dengan baik oleh Yap Yu Tek dan isterinya.

Bulan dan hari baikpun dipilihlah oleh kedua fihak, dan resmilah pertunangan mereka.

Tak lama kemudian, kembali di rumah keluarga Yap ini diadakan perayaan pernikahan, yaitu pernikahan dari Ling Ling dengan Cin Han.

Dan tentu saja dalam kesempatan ini, Sian Lun bersama isterinya, dan Gin San hadir dan menjadi orang-orang pertama yang menerima penghormatan sepasang mempelai sebagai suheng-suheng dari mempelai puteri, juga menjadi orang-orang pertama yang memberi selamat kepada mempelai.

Bahkan sepasang mempelai mengajak Sian Lun, Wan Cu, dan Gin San untuk makan semeja, di mana mereka ber senda-gurau dengan bebas.

"Ha-ha, tinggal sute sekarang yang masih membujang.! Hayo, sute, kapan nih kami akan menerima undanganmu?"

Sian Lun yang mukanya merah karena agak banyak minum arak itu menegur.

"Benar, kapan ji-suheng memilih jodohnya? Sebetulnya aku harus minta maaf sebanyaknya telah melanggar ji-suheng,!"

Kata pula Ling Ling yang telah timbul kembali kejenakaannya setelah hawa arak membuat rasa jengah dan malunya berkurang.

"Ha-ha, memang sumoi harus minta ampun dan menurut patut paikwi (berlutut) kepadaku!"

Gin San berkata sambil tertawa.

"Kau kira aku takut paikwi untuk minta maaf? Aku takut kualat"

Dan Ling Ling benar-benar hendak paikwi sehingga Gin San menjadi repot mencegahnya. Cin Han yang tersenyum melihat semua ini lalu berkata.

"Biarlah aku mewakili isteriku untuk dihukum!"

"Ha-ha, inilah suami yang setia dan mencintai"

Gin San tertawa.

"Memang aku ingin mendenda sumoi yang melanggarku, mendahuluiku dalam pernikahan dengan minum tiga cawan arak!"

"Biarlah aku.yang mewakilinya!"

Cin Han berkata dan dia lalu minum tiga cawan arak, diikuti oleh suara ketawa mereka. Suasana menjadi makin meriah, akan tetapi Sian Lun mendesak lagi.

"Hayo katakan, sute, kapan kiranya kau memperkenalkan calonmu? Apakah engkau ingin membujang selama hidup?"

"Jaga saja tanggal mainnya, suheng!"

Gin San tertawa.

"Terlalu banyak calonku sehingga aku sendiri bingung memilih, yang mana yang paling baik!"

Kembali mereka tertawa, dan malam itu dilewati dalam suasana gembira dan berbahagia, terutama sekali oleh sepasang mempelai setelah mereka akhirnya dapat memasuki kamar pengantin berdua saja.

Kebahagiaan yang tak dapat diceritakan di sini, yang tak dapat dituturkan dengan kata-kata dan hanya mungkin dapat dirasakan oleh mereka yang pernah mengalami menjadi sepasang pengantin di malam pertama itu saja.

Sementara itu, kelakar yang terjadi di meja makan ketika Ling Ling menjadi pengantin itu mendatangkan kesan mendalam di hati Gin San.

Dia mulai berpikir-pikir tentang dirinya sendiri.

Betapa kehidupan ini berobah-robah, sama sekali tidak seperti yang dikehendakinya semula!

Dahulu, di waktu dia masih kecil, ketika dia menggembala kerbau bersama Sian Lun, dia sering kali mimpi indah berenang dalam lautan kemewahan, memiliki kedudukan tinggi di kota raja.

Akan tetapi ternyata sekarang yang menjadi panglima adalah Sian Lun, yang dulu sama sekali tidak pernah mimpi seperti itu, bahkan sebaliknya bercita cita menjadi seorang pendekar.

Memang, mereka bertiga, dia, Sian Lun, dan Ling Ling telah bertindak sebagai pendekar-pendekar yang menentang kejahatan dan pemberontakan.

Akan tetapi kini dia malah menjadi seorang tokoh perkumpulan Agama Beng kauw.

Sedangkan sumoinya dan suhengnya telah berumah tangga, Sian Lun tinggal di kota raja bersama isterinya, sedangkan Ling Ling ikut bersama suaminya ke selatan, tinggal di kota Sin-yang di Hu peh.

Dan dia sendiri?

Apakah dia akan terus menjadi tokoh Beng-kauw, dan setelah menjadi tokoh perkumpulan agama ini lalu hidupnya membujang terus seperti seorang pendeta atau pertapa?

Ah, tidak mungkin dia sanggup hidup seperti itu.

Dia mendambakan kasih sayang wanita, bahkan kadang-kadang dia merasa hampir tidak kuat lagi mengekang nafsu berahinya kalau dia teringat akan pengalaman pengalamannya bersama Bu Siauw Kim, kemudian bersama Liang Hwi Nio!

Hwi Nio telah menyerahkan diri kepadanya, menyerahkan kehormatanya sebagai seorang perawan.

Apakah dia harus mengawini Hwi Nio?

Ah, gadis Im-yang-kauw itu menganggap pernikahan sebagai hal yang sia-sia belaka, meremehkan pernikahan sehingga kalau menjadi isterinya, siapa tahu kelak tidak menghormati ikatan perjodohan mereka.

Juga Hwi Nio tidak menuntut kepadanya agar mereka menjadi suami isteri.

Lalu dia teringat kepada Tio Bi Cin.

Dara yang manis itu, dengan sepasang matanya yang seperti sepasang bintang kejora!

Teringat akan Bi Cin, Gin San mengeluarkan robekan pita rambut dara yang pernah diambilnya sebagai tanda mata itu, dan diciumnya pita rambut itu sambil tersenyum.

Benar!

Dara itulah pilihannya!

Akan tetapi ibunya?

Bukankah Yo Giok Hong, ibu Bi Cin, janda muda yang masih cantik jelita itu juga jatuh cinta kepadanya?

Dia mengeluarkan cincin emas pemberian Giok Hong, dan dia tersenyum.

"Perduli apa dengan ibunya! Kalau dia mencintaku, dan mencinta puterinya, dia harus menyetujui pernikahanku dengan Bi Cin!"

Setelah mengambil keputusan ini, berangkatlah Gin San menuju ke tempat tinggal ibu dan anak itu, yaitu di lereng pegunungan kecil di dekat Cin an.

Ketika tiba di tempat itu, Gin San melihat ibu dan anak yang cantik dan manis itu sedang menjemur akar-akar obat.

Mereka memang mengumpulkan obat obat untuk dijemur dan dijual ke kota, dan dengan pengetahuan mereka tentang obat obatan, perusahaan ini cukup mendatangkan hasil yang baik.

Melihat kedua orang itu, Gin San kagum karena mereka masih sama saja seperti ketika dia tinggalkan dahulu, bahkan janda itu tidak nampak makin tua, dan puterinya malah kini makin manis, bagaikan bunga sedang mekarnya, tubuhnya makin padat dan hilang sifat kekanak kanakannya.

Ibu dan anak itu agaknya mendengar kedatangan Gin San, mereka menoleh dan Bi Cin melemparkan keranjang yang dipegangnya sehingga akar-akar obat itu berhamburan.

"San-ko""! Ah, San ko"""

Akhirnya kau datang juga"".!"

Bi Cin berteriak, berlari-larian dan langsung menubruk dan merangkul Gin San, menangis mengguguk di atas dada pemuda itu yang juga merangkulnya.

"Gin San"".!"

Yo Giok Hong juga berseru akan tetapi mukanya menjadi pucat dan matanya terbelalak melihat betapa puterinya merangkul Gin San sambil menangis.

"Apa"".! apa artinya ini"".? Bi Cin, sungguh tak tahu malu engkau! Lepaskan dia, engkau bukan anak-anak lagi "

Akan tetapi Bi Cin yang teringat betapa pria yang dicintanya ini pernah juga bermain gila dengan ibunya, mendekap makin ketat dan juga Gin San tidak melepaskan rangkulannya karena kini dia merasa yakin akan pilihannya, bahwa dara ini memang mencintanya.

Dengan kedua tangan masih merangkul Gin San, Bi Cin menoleh dan berkata kepada ibunya.

"Ibu, aku cinta kepada San-ko, kami berdua saling mencinta!"

Mendengar pengakuan puterinya ini.

Giok Hong menjadi kaget bukan main.

Sepasang matanya terbelalak dan sejenak hidungnya yang berbentuk mancung indah itu berkembang-kempis, tanda bahwa hatinya dilanda kemarahan.

Lalu dia memandang kepada Gin San, dan bertanya dengan suara lantang.

"Gin San, apa artinya ini??"

"Ucapan Cin-moi benar, bibi, kami saling mencinta dan kedatanganku ini adalah untuk meminangnya"

"San-ko""!!"

Bi Cin setengah menjerit saking girangnya dan pelukannya menjadi semakin ketat.

Seketika wajah janda itu menjadi pucat, sepasang matanya terbelalak menatap wajah Gin San dan terdapat sinar mata kemarahan yang hebat dari kedua matanya.

"Akan tetapi"".

"Bibi,"

Gin San memotong cepat.

"Dahulu bibi mengatakan bahwa bibi sayang, kepadaku karena aku adalah murid mendiang suhu Gan Beng Han, dan kalau bibi sayang kepada puteri tunggal bibi, seperti yang kupercaya. tentu bibi tidak akan menghalangi kami berdua yang saling mencinta untuk berjodoh menjadi suami isteri."

Bi Cin melepaskan rangkulannya dari leher Gin San, lalu dia berlari menghampiri ibunya, menjatuhkan diri berlutut di depan kaki ibunya sambil sesenggukan berkata.

"Ibu"". ibu...". luluskanlah permintaan ini"".."

Sejenak Yo Giok Hong bingung, terjadi perang dalam batinnya antara cinta berahinya terhadap pemuda yang diharapkan menjadi pengganti kekasihnya itu, dan sayangnya terhadap puterinya.

Akhirnya dia mengangguk, mengusap dua butir air matanya dan mengelus kepala puterinya, kemudian mengangkat muka memandang Gin San dan berkata.

"Baiklah, mari kita masuk dan membicarakan soal itu."

Dengan girang Bi Cin dan Gin San mengikuti janda itu memasuki rumah, dan Bi Cin dengan sikap manja menggandeng tangan Gin San yang merangkul pinggangnya yang kecil ramping itu.

Setibanya di dalam, Giok Hong lalu duduk dan minta kepada Gin San untuk duduk di atas kursi di depannya, terhalang meja.

"Bi Cin, kau masaklah air dan buatkan minuman untuk Gin San, biarkan aku bicara dengan dia,"

Perintah Giok Hong. Bi Cin memandang wajah kekasihnya dengan mesra.

"San-ko, aku pergi ke dapur dulu ya?"

Gin San tersenyum dan mengangguk sambil mengedipkan mata.

Dara itu lari ke dapur sambil tersenyum gembira.

Sudah berbulan-bulan lamanya dia merindukan kekasihnya itu, dan sekarang Gin San datang lalu langsung mengajukan pinangan.

Hati siapa takkan merasa gembira?

Sambil bersenandung kecil dia mempersiapkan air teh untuk disuguhkan kepada kekasihnya itu sementara kekasihnya bicara dengan ibunya tentang pelaksanaan perjodohannya dengan pendekar itu!

Sementara itu, setelah puterinya pergi, Giok Hong memandang Gin San dengan sinar mata tajam, lalu dia bertanya.

"Coa Gin San! Benarkah engkau datang untuk meminang puteriku?"

Gin San mengangguk.

"Kami saling mencinta, semenjak dahulu aku berada di sini."

"Tapi"""

Tapi"""

Bagaimana dengan aku""..? Gin San, apakah engkau akan melupakan aku begitu saja?"

Pertanyaan ini keluar dengan suara lirih dan pilu, sepasang matanya ditujukan kepada wajah pemuda itu dengan memelas, penuh permohonan.

Gin San menarik napas panjang, mengerling ke arah pintu yang menembus ke dalam kemudian berkata lirih.

"Bibi Giok Hong. aku tidak akan melupakanmu, tidak akan melupakan segala kebaikanmu. Apa lagi, sekarang engkau telah menjadi calon ibu mertuaku, bibi""

Giok Hong memejamkan mata, seolah-olah sebutan ibu mertua itu menusuk perasaannya.

"Benarkah engkau tidak akan melupakan aku? Engkau mau menerima cintaku?"

Dengan berani janda ini yang haus akan kasih sayang pria bertanya. Tentu saja Gin San terkejut bukan main.

"Ini"". ini""."

Katanya gagap karena dia tidak mengerti bagaimana harus menjawab.

Mana pantas dia harus menerima cinta ibu mertuanya?

"Dengar baik-baik Gin San.

engkau mengajukan pinangan terhadap puteri tunggalku dan aku akan menerimamu dengan satu syarat yaitu bahwa engkau akan mau menerima cintaku.

Ingat, sebelum engkau jatuh cinta kepada puteriku, lebih dulu kita telah saling tertarik, engkau tidak akan mampu menyangkal hal ini.

Aku masih menyimpan potongan rantai perak darimu""

Dan".. dan cincinku itu".! Wanita itu menunjuk ke arah jari-jari tangan Gin San.

"Kenapa engkau membuangnya?"

"Tidak kubuang, ada kusimpan di sini""."

Cepat Gin San menjawab dan mengeluarkan cincin yang diberi tali dan digantungkan di lehernya itu. Wajah Giok Hong yang masih cantik itu berseri dan bibirnya tersenyum.

"Bagaimana, kau menerima syaratku itu?"

Terpaksa Gin San mengangguk. Syarat itu baginya tidaklah berat, sama sekali tidak, bahkan terlalu ringan, terlalu mudah dan enak baginya! "Baiklah, bibi. Aku menerima syarat itu."

Giranglah hati Giok Hong dan dia lalu menentukan bulan dan tanggal hari pernikahan antara Bi Cin dan Gin San.

Ketika Bi Cin keluar membawa air teh dan hidangan, dia melihat betapa wajah ibunya berseri-seri, dan bahkan dengan gembira ibunya menyambutnya dengan rangkulan.

"Anakku, dia telah meminangmu dan ibumu telah menerimanya. Mulai saat ini engkau adalah tunangan Coa Gin San dan kami telah menentukan bulan dan tanggal hari pernikahanmu!"

Bi Cin merasa girang sekali, memandang kepada Gin San dengan mata bersinar-sinar akan tetapi diapun tidak dapat menahan rasa malunya dan menundukkan muka sambil tersenyum simpul!

Karena Gin San merupakan tokoh besar Beng-kauw, maka pernikahannya dirayakan secara meriah oleh Beng-kauw, dan sejumlah besar tokoh-tokoh dari kalangan bu-lim (rimba persilatan) hadir dalam pesta itu.

Tentu saja tidak ketinggalan Sian Lun berdua isterinya, juga Louw Cin Han dan Ling Ling datang menghadiri perayaan pernikahan itu!.

Sian Lun dan Ling Ling memberi selamat dan memuji kecantikan pengantin wanita pilihan Gin San, menggoda sute dan suheng ini sehingga suasana menjadi gembira sekali.

Berkat sepak terjang tiga orang muda ini ketika mereka membantu pemerintah mengusir penjajah dan pemberontak, maka nama tiga orang muda ini menjadi terkenal sekali di dunia persilatan dan mereka dijuluki Tiga Naga Sakti, julukan yang pernah dimiliki pula oleh orang tua dan guru mereka, yaitu mendiang Gan Beng Han, Kui Eng, dan Tan Bun Hong.

Akan tetapi dibandingkan dengan tingkat kepandaian orang-orang tua itu tentu saja tiga orang muda ini menang jauh!

Maka seluruh dunia kang-ouw menghormati mereka, apa lagi setelah seorang di antara mereka, yaitu Gan Ai Ling.

menjadi mantu dari tokoh Siauw-lim-pai, atau lebih tepat lagi, menjadi isteri murid tokoh Siauw-lim-pai.

Tidak perlu diceritakan secara terperinci kegembiraan yang terdapat dalam pesta pernikahan tokoh Beng-kauw yang amat terkenal itu, dan setelah semua tamu berpamit dan di antar ucapan terima kasih oleh sepasang mempelai, akhirnya Gin San tinggal berdua saja dengan pengantin wanita.

Mereka diantar memasuki kamar pengantin yang dirias indah dan berbau harum dupa pengantin, dan akhirnya mereka hanya berdua saja di kamar itu.

Sempurnalah kebahagiaan sepasang mempelai itu di malam yang dingin dan sunyi itu, di mana, mereka berdua saling menumpahkan rasa cinta mereka tanpa ada yang mengganggu.

Sampai jauh lewat tengah malam kamar itu benar-benar sunyi karena Bi Cin telah tidur nyenyak dalam pelukan suaminya.

Akan tetapi, pendengaran telinga Gin San yang amat peka dan tajam berkat ilmunya yang tinggi, dapat menangkap ketukan perlahan pada daun jendela kamar itu.

Dia merasa curiga sekali.

Terbayanglah ancaman bahaya.

Bukankah di dunia ini masih ada Ouw Sek, musuh besarnya, dan orang-orang jahat berilmu tinggi seperti Lam-ong?

Dengan hati-hati karena tidak ingin mengagetkan isterinya yang tidur pulas dengan senyum kelegaan di bibirnya, Gin San menarik lengannya yang tertindih leher isterinya, kemudian cepat dia mengenakan pakaiannya lalu mengenakan sepatu dan meloncat turun dari pembaringan tanpa menimbulkan suara sedikitpun.

Bagaikan seekor kucing dia berindap-indap menghampiri jendela.

Kembali jendela itu diketuk perlahan dari luar, tiga kali.

Karena curiga, Gin San melangkah mundur.

kemudian dari jarak jauh dia menggunakan tenaga sinkangnya mendorong ke arah daun jendela.

Daun jendela itu terbuka seketika dan Gin San memandang terbelalak ke luar jendela, di mana nampak wajah Giok Hong!

Janda ini memandang kepadanya penuh kemesraan dan melambaikan tangannya menyuruh dia keluar!

Ya ampun!

Demikian hati Gin San mengeluh, akan tetapi dia tidak berani membantah.

Dia menoleh kepada isterinya.

Bi Cin, yang masih tidur pulas, dan perlahan lahan dia menghampiri jendela dan meloncat keluar, diterima oleh Giok Hong yang segera merangkul dan menciumnya dengan mesra!

Wanita itu lalu menutupkan daun jendela kamar puterinya, kemudian tanpa berkata apa-apa menarik lengan Gin San, dibawanya masuk ke dalam kamarnya lewat belakang!

Gin San tak mampu menolak, terpaksa dia melayani hasrat cinta berahi janda itu, dan memang semenjak nafsu berahinya dibangkitkan oleh mendiang Bu Siauw Kim, pemuda ini bergairah sekali, maka "gangguan"

Ini disambutnya dengan gembira pula!

Dalam malam pertamanya menjadi pengantin.

Gin San harus melayani dua orang wanita!

Baru menjelang pagi Giok Hong melepaskan dia dan membolehkan dia kembali ke kamarnya.

Dengan berjingkat-jingkat seperti maling pengantin pria ini memasuki kamarnya melalui jendela, lalu diam-diam merebahkan tubuhnya yang lemas dan lelah itu di samping isterinya yang masih pulas, diam-diam dia mengeluh dan mencela diri sendiri juga yang pada malam pertama itu telah membohongi atau mengkhianati isterinya dengan wanita lain, bahkan wanita lain itu adalah ibu mempelai wanita sendiri!

Akan tetapi di balik keluhan ini.

Gin San tersenyum puas membayangkan apa yang telah dialaminya tadi.

membayangkan betapa ibu mertuanya, Janda yang masih cantik itu, jauh lebih ganas dan memuaskan dari pada Bi Cin yang tentu saja sama sekali belum berpengalaman seperti ibunya!

Dan diam-diam dia memuji "nasib baiknya"

Itu sendiri. Mungkin pria lain juga akan merasa iri hati melibat "nasib"

Gin San ini.

Akan tetapi, orang-orang lain tentu saja hanya mengingat dan memperhitungkan segi untung dan enaknya belaka, sama sekali tidak melihat adanya kenyataan bahwa di samping kesenangan sudah pasti terdapat segi-segi buruknya.

Memang tidak dapat disangkal bahwa pengalaman itu menyenangkan hati Gin San, akan tetapi di samping itu juga menimbulkan kegelisahan Kalau-kalau isterinya akan mengetahui hubungannya dengan ibu mertuanya, dan dia selalu merasa was-was, apa lagi kalau Giok Hong terlalu berani memperlihatkan cintanya, dengan ucapan-ucapan atau perbuatan yang membayangkan "kegemasan"

Terhadap dirinya di depan Bi Cin.

Dia tahu bahwa sekali waktu tentu akan diketahuinya juga oleh Bi Cin, apa lagi isterinva itu dahulu sudah tahu bahwa ada apa apa di antara suaminya dan ibunya!

Dan agaknya sekali waktu tentu akan meledak pertentangan antara ibu dan anak itu, yang keduanya berlumba memperebutkan cintanya!

Memang kita manusia di dunia ini selalu mengejar kesenangan.

Kita hanya memandang ke depan, meraih kesenangan sebanyak mungkin.

Dan pengejaran kesenangan ini sering kali.

dan sudah pasti, menimbulkan perbuatan-perbuatan yang keras dan kejam, tidak memperdulikan orang lain, bahkan kadang-kadang tidak segan mencelakakan orang lain demi tercapainya kesenangan yang dikejar-kejarnya.

Semua tanaman tentu berkembang dan berbuah dan semua perbuatan kita sudah pasti mendatangkan akibat.

Tanaman yang baik pasti mengeluarkan kembang dan buah yang baik pula, sebaliknya perbuatan buruk sudah tentu akan menghasilkan atau mengakibatkan hal bal yang buruk pula.

Ini adalah suatu kenyataan yang wajar.

Namun, kita tidak pernah mengihgat atau memikirkan hal itu, karena mata kita telah dibutakan oleh sinar kesenangan yang menyilaukan, sehingga kita tidak dapat melihat kesengsaraan yang bersembunyi di balik sinar kesenangan yang kita kejar-kejar itu.

Biasanya, setelah kesengsaraan yang bersembunyi di balik sinar kesenangan dan menanti saat baik itu menerjang dan mencengkeram kita, barulah kita sadar, namun apakah artinya kesadaran yang sudah terlambat!

Adalah jauh lebih baik kalau kita selalu waspada setiap saat, sehingga mata kita tidak dibutakan oleh sinar kesenangan dan kita dapat melihat segala yang tersembunyi di balik semua itu.

Ini bukan beiarti bahwa kita harus menolak atau memantang semua kesenangan, sama sekali bukan.

Bukan suatu anjuran untuk kita hidup sebagai pertapa di puncak gunung, karena bertapa itupun suaru pengejaran kesenangan, sungguhpun kesenangannya telah bersalin rupa menjadi agung dan disebut ketenangan, kedamaian, kesucian dan sebagainya.

Tidak, bukan memantang apapun, melainkan waspada dan memandang dengan penuh perhatian sehingga kita memasuki segala sesuatu dengan mata terbuka, bukan degan membuta!

Biasanya, kita makan atau minum sesuatu tanpa melihat apakah makanan atau minuman itu tidak merusak kesehatan kita, karena mata kita hanya mengejar keenakan atau kesenangan yang didapat dari makanan atau minuman itu.

Seperti seorang pemabok, dia hanya ingat akan kesenangan yang didapat dari minuman kerasnya, sama sekali tidak ingat lagi akan bahayanya bagi kesehatan.

Dengan membuka mata penuh kewaspadaan, maka bahaya itu akan nampak jelas, dan kalau sudah nampak jelas, apakah kita mau lagi makan atau minum benda yang merusak kesehatan itu.

Demikian pula dengan kesenangan-kesenangan lainnya.

Kita silau oleh sinar kesenangan yang kita nikmati, sehingga kita tidak lagi melihat bahaya yang tersembunyi di balik kesenangan itu.

Tidak demikiankah kenyataan dalam kehidupan kita sehari-hari, di mana kita selalu membuta karena mengejar kesenangan dan kenikmatan sehingga timbullah bermacam-macam penderitaan dan kesengsaraan?

Ada orang bilang itulah romantika kehidupan!

Sesungguhnya romantika yang kita buat sendiri!

Dan di dalam romantika itu, celakanya, lebih banyak susahnya dari pada senangnya!

Ada bermacam-macam pengertian.

Ada orang yang mengerti bahwa mabok-mabokan itu tidak baik, namun tetap saja dia minum-minum sampai mabok.

Hal ini terjadi karena dia telah terbiasa, tubuhnya telah ketagihan dan mencandu, dan pengertian yang dimilikinya hanyalah pengertian arti kata.kata belaka.

Pengertian teori belaka.

Pengertian semacam ini hanya menjadi pengetahuan mati yang biasanya dipergunakan untuk berdebat, akan tetapi tanpa ada penghayatan dalam kehidupan sehari-hari.

Ada pula pengertian yang hanya ditumpuk, membuat dia menjadi orang yang pintar dan serba tahu, namun ini juga hanya merupakan pengetahuan belaka yang kadang-kadang dijadikan kebanggaan diri, tanpa ada penghayatan dalam hidup.

Pengertian yang sesungguhnya bukan hanya teidapat dalam sel-sel otak belaka, melainkan bersatu dalam tindakan karena sudah menjadi kecerdasan Pengertian dapat dibangkitkan melalui pengamatan dengan penuh kewaspadaan, penuh perhatian, terhadap diri sendiri dan keadaan sekeliling, tanpa penilaian baik buruk, benar salah.

Biasanya, jarang sekali kita sadar akan diri sendiri, biasanya kita bergerak dalam hidup seperti robot.

Selagi makan, pikiran melayang entah ke mana, demikian pula selagi kita mandi, menggosok gigi, dan sebagainya.

Dapatkah kita hidup saat demi saat, menghayati apa yang sedang kita, lakukan, sedang kita ucapkan, sedang kita pikirkan, mengamatinya dengan penuh perhatian dan kewaspadaan?

Gin San menjadi korban dari nafsunya Pengalamannya pertama kali mendiang Bu Siauw Kim dijadikan pedoman hidupnya untuk mengejar kesenangan!

Maka kesenangan yang timbul dari nafsu berahi itu amat dipentingkan, menjadi yang terutama dalam kehidupannya.

Maka dia menerima dengan membuta saja syarat dari ibu mertuanya, tanpa melihat lagi apakah perbuatannya itu tidak akan menyusahkan diri sendiri dan orang lain!

Yang penting baginya hanyalah kesenangan dan kenikmatan dari kesenangan itu.

Mulailah dia hidup penuh kepalsuan, membohongi isterinya, menjaga agar jangan sampai isterinya tahu akan sendiri.

yang dengan hubungannya dengan Giok Hong, ibu mertuanya.

Dan tentu saja, asap tak dapat dibungkus, bau busuk tak dapat disembunyikan.

Sebelum isterinya sendiri tahu, banyak orang Beng-kauw sudah tahu akan hubungan yang menggelikan, memalukan dan juga mengherankan itu.

Pada suatu pagi, ketika Gin San berjalan-jalan di belakang rumahnya, di tepi Telaga Po-yang, ketika hari masih pagi sekali dan suasana masih amat sunyi, tiba-tiba dia melihat sesosok bayangan manusia berlari menghampirinya.

Karena kabut yang naik dari telaga masih agak tebal, maka pemandangan menjadi suram dan dia tidak segera mengenal orang yang berlari-lari itu.

Namun dia cukup waspada dan siap siaga, karena siapa tahu bahwa yang datang itu adalah seorang musuh.

Ouw Sek umpamanya.

Akan tetapi setelah agak dekat, dia melihat bahwa bayangan ini berbentuk tubuh seorang wanita yang ramping, dan wanita itu datang kepadanya sambil memondong sesuatu dengan kedua tangannya.

Kini wanita itu tiba di depannya dan mereka dapat saling pandang dengan jelas.

"Hwi Nio"".!"

Gin Sin berseru dan matanya terbelalak memandang wanita muda yang memondong seorang bayi itu.

Liang Hwi Nio, wanita yang cantik itu, tersenyum sehingga nampak deretan giginya, dan muncul lesung pipit di tepi bibirnya yang berbentuk indah "Aihh, Gin San koko""

Betapa aku menantikan saat ini sejak kemarin. Aku menanti-nantimu, akan tetapi engkau tidak pernah nampak sendirian"".!"

"Hwi Nio"". kau"".. kau ke sini mau apa"".?"

Gin San bertanya gagap karena pertemuan ini sungguh sama sekali tak pernah disangkanya.

"Mau apa? Ah, koko, perlukah engkau bertanya lagi? Pertama-tama, tentu saja karena aku rindu padamu, dan kedua kalinya, aku ingin mintakan nama untuk puteramu ini."

"Pu".. te..... ra""

Ku"""

Wajah Gin San berobah pucat dan dia menoleh ke kanan kiri, lalu ke arah rumah yang masih sunyi itu.

"Dapatkah"". kita"". bicara di tempat lain""..?"

Sambungnya khawatir. Hwi Nio tersenyum manis.

"Tentu saja, mari ikut aku!"

Gin San mengikuti wanita itu yang menuju ke sebuah perahu yang dilabuhkan tak jauh dari situ.

Tanpa bicara mereka memasuki perahu itu dan Gin San lalu mendayung perahu itu ke tengah telaga, lenyap di dalam selimutan kabut.

Setelah mereka tak melihat lagi daratan.

Gin San lalu bertanya.

"Hwi Nio, apa artinya ini? Anak siapa itu?"

"Anak kita, koko, Setelah pertemuan kita dahulu itu, aku mengandung dan"".. tiga bulan yang lalu terlahirlah anak ini. Aku masih belum memberi nama, karena aku ingin minta nama darimu,"

"Anakku""..?"

Gin San memandang anak itu dengan jantung berdebar.

"Tentu saja anakmu, anak siapa lagi? Lihat mulutnya, hidungnya, persis mulut dan hidungmu, koko, hi-hik!"

Hwi Nio tertawa dan memberikan anak itu kepada Gin San.

Gin San menerimanya dan memondong, memangku anak ttu sedangkan Hwi Nio lalu melepas jangkar agar perahu itu tidak bergerak.

Seorang anak laki-laki yang baru berusia tiga bulan, bertubuh montok sehat dan berwajah tampan.

Akan tetapi tiba tiba anak itu menangis dan Gin San cepat-cepat menyerahkannya kepada Hwi Nio.

Ibu muda ini menerima puteranya, lalu tanpa malu-malu lagi dia membuka baju mengeluarkan buah dada sebelah kiri dan meneteki anaknya yang minum air susu dengan lahapnya.

Melihat buah dada sebelah kiri dan meneteki anaknya yang minum air susu dengan lahapnya.

Melihat buah dada yang padat penuh dan berkulit putih bersih itu, dan melihat anak itu menetek dengan lahapnya, tak terasa lagi Gin San menelan ludah.

Kebetulan Hwi Nio sedang memandang kepadanya dan ibu muda ini tertawa kecil.

"Tunggulah sampai dia tidur, koko, aku"..aku rindu padamu"". Gin San tidak menjawab, pikirannya bingung sekali, teringat dia akan isterinya, dan ibu mertuanya. Apakah sekarang harus ditambah seorang lagi? Dia benar-benar bingung karena tanpa disangkanya, tahu-tahu dia sudah mempunyai seorang anak! Tak lama kemudian anak itu tidur pulas, lalu ditidurkan di sudut oleh ibunya. Kemudian Hwi Nio menghampiri Gin San dan merangkulnya dengan mesra.

"Koko, engkau sungguh kejam, sampai setahun lamanya engkau tak pernah datang mengunjungiku!"

Katanya sambil memeluk dan mencium.

Gin San yang sudah timbul gairah nya melihat Hwi Nio menyusui anaknya tadi, membalas rangkulannya dan mereka berdua melepaskan rindu masing-masing di atas perahu itu.

Gin San terpaksa harus memenuhi tuntutan Hwi Nio yang telah merasa amat rindu itu, sungguhpun dia sudah merasa lelah karena semalam dia harus melayani isterinya dan ibu mertuanya!

Ketika anak itu terbangun dan menangis, baru mereka mengakhiri permainan cinta mereka.

"Koko, kauberikanlah nama untuk anak kita ini."

Gin San memang sudah berpikir tentang itu tadi.

"Namakan dia Bu Siang,"

Jawabnya pendek "Bu Siang? Coa Bu Siang"".. nama yang gagah,"

Kata Hwi Nio dengan girang.

"Mengapa she Coa""".?"

"Bukankah engkau juga she Coa, koko?"

"Tapi"".. kita tidak kawin"".."

"Hemm, upacara pernikahan apa sih artinya? Yang penting, kita berdua tahu anak siapa dia ini "

"Hwi Nio, ketahuilah bahwa aku telah menikah"".."

"Ya, dengan Tio Bi Cin, dan engkau melahap sekalian ibunya, bukan? Kaukira aku tidak tahu? Huh, dasar laki-laki mata keranjang kau!"

Gin San terkejut bukan main, mukanya menjadi merah sekali. Akan tetapi dia segera memutar otak, membela diri dengan menggunakan kepercayaan agama yang dianut oleh wanita ini.

"Siapa bilang mata keranjang? Kami suka sama suka, kalau wanita dan pria sudah suka sama suka, apa salahnya, seperti juga kita berdua?"

Hwi Nio menjebikan bibirnya yang mungil dan merah.

"Huh, bisa saja kau!"

Dan telunjuknya menuding dahi Gin San yang tertawa dan Hwi Nio juga tertawa.

"Terserah kalau ada seribu orang wanita mencintamu, akan tetapi engkau tidak boleh melupakan aku dan anak kita!"

"Mana bisa aku lupa kepadamu yang cantik manis ini?"

Gin San mendekat, merangkul dan mencium bibir Hwi Nio dengan mesra. Anak kecil yang dipondong oleh ibunya itu terjepit dan menangis.

"Ihh, dasar engkau perayu!"

Hwi Nio mendorong Gin San yang jatuh terjengkang di lantai perahu.

Keduanya kembali tertawa tawa.

Mereka berdiam di atas telaga, dalam perahu itu sampai sehari penuh.

Mereka makan bekal makanan yang dibawa Hwi Nio dan beberapa kali Gin San hendak pulang akan tetapi dilarang dan ditahan oleh Hwi Nio sehingga terpaksa Gin San harus melayani wanita itu sampai sore.

Setelah merasa puas dan terobati rindunya, barulah Hwi Nio mengantar Gin San ke darat, kemudian setelah mereka kembali saling berciuman dengan mesra, Hwi Nio menjalankan perahu meninggalkan Gin San yang terdiri bengong memandang sampai perahu itu lenyap.

Terngiang kata-kata Hwi Nio sebagal pesanan terakhir tadi.

"Kalau sampai terlalu lama engkau tidak mencariku, aku akan datang mencarimu!"

Gin San menarik napas panjang. Semua "main-main"

Yang dulu itu kini menjadi sungguhan!

Hwi Nio melahirkan anak keturunannya.

Hwi Nio biarpun tidak minta dinikahinya, menuntut dilanjutkan hubungan di antara mereka.

Dan di rumah masih ada Bi Cin, dan Giok Hong!

Dia mulai menjadi bingung dan khawatir.

Bagaimana kalau ibu dan anak itu tahu akan hubungannya dengan Hwi Nio?

Padahal, di antara mereka berdua itu sendiri sudah ada semacam persaingan yang dilakukan secara diam-diam.

"San-ko, ke mana saja engkau sehari ini?"

Tiba-tiba terdengar bentakan halus. Dia terkejut, menoleh, dan melihat Bi Cin berdiri dengan alis berkerut tanda kesal hatinya.

"Aku? Ah".., aku""

Aku sedang berjalan-jalan, berjumpa teman lama dan kami bercakap-cakap sambil berperahu, sampai lupa waktui"

"Teman lama? Hemm, mana dia?"

"Dia sudah pergi"".."

Bi Cin menggandeng tangannya dan mengajaknya pulang.

Gin San merasa lega, akan tetapi kekhawatiran tetap menyelubungi hatinya.

Sampai berapa lama dia dapat bertahan dalam keadaan yang selalu menegangkan dan mengkhawatirkan hati ini?

Namun, dasar dia seorang pria muda yang sedang besar semangatnya dan besar gairahnya terhadap wanita, dia merangkul Bi Cin dan menciumi pipi isterinya itu.

"Ihh, ceriwis engkau! Masa di jalan mencium orang! Kalau kelihatan orang bagaimana?"

Bi Cin membentak akan tetapi sambil tersenyum.

Melihat senyum ini, Gin San lalu menambahi ciumannya bukan di pipi, melainkan di mulutnya.

Dia tidak tahu betapa di balik sebatang pohon besar, ada sepasang mata memandang dengan sinar berapi penuh cemburu.

Baru setelah dia melepaskan ciumannya dan sambil bergandeng tangan dia mengajak Bi Cin pulang, dia melihat berkelebatnya bayangan Giok Hong dari balik pohon.

Jantungnya kembali berdebar dan ada perasaan tidak enak.

menusuk hatinya.

Sialan, pikirnya.

Apakah dia selalu harus bersembunyi kalau bermain cinta dengan Bi Cin, dengan Giok Hok, atau dengan Hwi Nio?

Namun, dasar mata keranjang, kegelisahan itupun segera diusirnya dan sambil bersenandung kecil dia menarik tangan isterinya, diajak memasuki kamarnya!

Kita hidup dikelilingi seribu satu macam kesenangan, Hanya batin yang cerdas dan sehat sajalah yang mampu untuk melihat kesenangan apa yang tidak merusak, baik merusak diri sendiri atau orang lain, lahir dan batin.

Menuruti hati mengejar kesenangan dengan membuta berarti momasuki lembah yang akan menuntun ke arah kekecewaan, kebosanan dan akhirnya penderitaan.

Tidak ada kesenangan yang abadi di dunia ini, semua kesenangan berakhir dengan kebosanan, kekecewaan, dan rasa takut akan kehilangan kesenangan itu.

Memang, dipandang sepintas 1alu, hidup berkecimpung dalam buaian nafsu berahi dilayani oleh tiga orang wanita cantik seperti Gin San itu amatlah menyenangkan.

Akan tetapi itu hanyalah pandangan orang lain belaka, atau pandangan mereka yang belum memiliki kesenangan itu!

Kalau kita sudah memilikinya, seperti Gin San, maka di samping kesenangan itu, terdapat pula kegelisahan, kebingungan, dan ketakutan!

Demikianlah, sampai di sini berakhirlah cerita Kisah Tiga Naga Sakti ini, dan seperti biasa, harapan pengarang adalah mudah-mudahan di samping merupakan bacaan hiburan yang mengasyikkan, cerita ini juga mengandung manfaat sebagai pembuka mata dan kesadaran akan keadaan kehidupan kita.

Sampai jumpa di lain karangan!

Solo, medio Mei 1976 TAMAT.

Sumber DJVU .

Syaugy_ar Editor .

Jisokam & Budi S Ebook oleh .

Dewi KZ

http.//kangzusi.com/

http.//dewi-kz.info

Baca Juga: Pendekar Tanpa Bayangan 5

Baca Juga: Pendekar Penyebar Maut 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert