Kisah Pedang Bersatu Padu 9

Eps 9 Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt

Baca online Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt

Cersil Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt.

"Masih ada beberapa racun lainnya yang terlebih lihai daripada Keebeng Ngokouw Toanhun hio ini. Mengapa dia justeru menggunakan racun ini, yang kekuatannya merampas jiwa sesudah lewat dua belas jam? Apakah mungkin dia sudah menduga yang anak ini bakal mendapat pertolongan dan dia menggunakan caranya ini untuk penyelidikannya mencari aku? Atau mungkinkah dia mempunyai maksud lain lagi?"

"Ma, sudahlah, tak usah kau pikirkan pula,"

Kata Siu Lan. membujuk.

"Biarnya benar dia mengandung maksud itu, meski juga dia datang kemari, tidak nanti aku suka turut padanya!"

Sepasang alisnya Cit Im Kauwcu bergerak, dia bersenyum.

"Kalau begitu, anak, hati ibumu lega"

Katanya Kembali Cit Im Kauwcu meniup obat bubuk ke dalam hidungnya si anak muda, ia mencabut tusuk kondenya, untuk menusuk jalan darahnya, taytwi hiat dan lengtay hiat.

Mendadak anak muda itu berbangkis, lalu kedua matanya dibuka dengan perlahan-lahan.

Cit Im Kauwcu memegangi, untuk mengasi bangun tubuh orang.

"Bagus, anak, kau telah mendusin,"

Katanya perlahan, halus.

"Aku ialah sahabatnya ayahmu, maka jangan kau takut Dengan adanya aku didampingmu, tidak nanti ada orang yang berani mencelakai pula padamu!"

Kiam Hong lagi bersembunyi, ia tidak bisa melihat, tetapi ia dapat menduga Cit Im Kauwcu bersikap terhadap pemuda itu sebagai juga pemuda itu anaknya sendiri. Pemuda baju kuning itu duduk.

"Terima kasih,"

Katanya perlahan.

"Ayah tidak keliru menduga. Benar-benar kau baik sekali terhadap aku."

"Bagaimana dengan ayahmu?"

Cit Im Kauwcu tanya.

"Ayahku?"

Balik tanya anak muda itu, lalu dia nampak sangat berduka.

"Ayah... ayah sudah menutup mata... Pesannya ialah supaya aku pergi mencari kau..."

Wanita tua itu terkejut, lantas air mukanya menunjuki kedukaan.

"Sudah mati?... Sudah mati?..."

Katanya berulangulang.

"Bagaimana dia... dia... matinya?..."

Meskipun dia telah berkeputusan tidak akan menemui lagi Ban Kee Su, kauwcu ini toh senantiasa ingat kekasihnya itu, maka ia tidak menyangka bahwa sekarang mereka telah berpisahan untuk selama-lamanya Sejenak itu, Cit Im Kauwcu merasakan segala apa gelap dihadapannya.

Dia seperti ditinggal pergi arwahnya.

Dalam keadaannya samar-samar itu, telinganya mendengar suara lemah dari si anak muda.

"Ayahku bersama ibuku, semua mereka telah dibikin celaka orang..."

Kaget kauwcu itu, dengan cepat ia membuka matanya "Siapakah si pembunuhnya?"

Ia tanya keras.

"Si penjahat dua orang,"

Menyahut si anak muda.

"Ayah mengenali satu di antaranya ialah Tokpie Kengthian Koan Sin Liong dari gunung Aylauw San."

Alisnya Cit Im Kauwcu bangun.

"Oh, Koan Sin Liong si tuabangka bercacat yang tidak mau mampus itu!"

Dia berseru.

"Kembali dia muncul untuk melakukan kejahatan?-Siapakah itu yang satu lagi?"

"Dialah seorang Biauw, yang tidak ketahuan namanya."

Tubuhnya kauwcu itu menggigil.

"Oh, orang Biauw!"

Katanya.

"Bagaimana macamnya dia?"

"Dialah seorang bermuka biru yang perok, sepasang matanya panjang dan dalam, romannya sangat jelek. Dialah seorang tua."

Cit Im Kauwcu menghela napas lega "Aku menyangka dia, kiranya bukan,"

Katanya perlahan. Tapi ia lantas berpikir.

"Di antara orang Biauw yang lihai. kecuali Cio Keng Ham, ada siapa lagi?"

Siu Lan pun lega hatinya mendengar si pembunuh kejam bukan ayahnya "Tokpie Kengthian Koan Sin Liong itu,"

Berkata ini anak kemudian.

"apakah dia bukannya itu orang yang dulu hari mama pernah menyebutnya, ialah si hantu yang sebelah tangannya telah dibabat kutung oleh Huithian Liongli Yap Eng Eng?"

"Tidak salah!"

Menjawab sang ibu.

"Setelah sebelah tangannya dibabat kutung, dia lantas pergi menyembunyikan diri di gunung Aylauw San itu dan di sana dia menyebut dirinya Tokpie Kengthian, si Tangan Tunggal Penunjang Langit."

Koan Sin Liong itu ialah keponakannya Ci Hee Tojin, gurunya sudah meninggal dunia dan oleh Ci Hee dia pernah diberi petunjuk ilmu silat.

Dalam hal umur, dia lebih tua sepuluh tahun lebih daripada Cit Im Kauwcu, maka itu, selagi Cit Im masih belajar, dia sudah keluar dari rumah perguruan dan namanya sudah tersohor.

Cit Im Kauwcu masih ingat, ketika ia berumur tiga belas tahun, Koan Sin Liong sudah merampas uang kumpulan amal di Shoasay, dia kepergok Yap Eng Eng, sebelah tangannya kena dibikin kutung.

Karena kejadian itu, dia telah datang ke Ouwbong San, untuk minta bantuan paman gurunya, ialah Ci Hee Tojin.

Ci Hee jeri untuk ilmu pedang Siangkiam happek, ilmu pedang bersatu padu, dari Yap Eng Eng suami isteri, dia tidak berani membelai keponakannya itu.

Setelah itu, Koan Sin Liong mengeram diri di Aylauw San, untuk meyakinkan lebih jauh ilmu silat pedangnya.

Sampai Cit Im Kauwcu meninggalkan gurunya berdua mereka tidak pernah bertemu pula, sampai terjadilah peristiwa anak muda berbaju kuning ini hingga Cit Im Kauwcu mengetahui si Tangan Tunggal Penunjang Langit itu membinasakan orang tua pemuda itu.

Cit Im Kauwcu heran mengetahui si pembunuh ialah Koan Sin Liong.

Ia berpikir.

"Ci Hee Tojin jelus terhadap Ban Kee Su, dia hendak menyingkirkan saingannya itu. Tapi kejadian itu sudah lewat banyak tahun. Untuk kehormatannya, pula tidak nanti Ci Hee membeber perbuatannya yang buruk itu terhadap orang yang kedua Sekarang terjadi pembunuhan ini. Bukankah di antara Koan Sin Liong dan Ban Kee Su tidak ada sesuatu perhubungannya? Kenapa sekarang dia membunuh Kee Su?"

Maka ia lantas tanya si anak muda.

"Ketika peristiwa terjadi, apakah kau ada di rumah?"

"Ada,"

Menyahut pemuda itu.

"Bahkan aku masih ingat, hari itu ialah hari kedua sepulangnya ibuku dari propinsi Kuiciu."

"Oh, ibumu pergi ke Kuiciu?"

Cit Im menegaskan.

"Kau ingatkah ketika itu waktu apa?"

"Itulah kejadian pada tiga tahun yang lampau,"

Menyahut si anak muda "Waktu itu tinggal beberapa hari lagi hari raya Tiong Ciu. Kabarnya itu waktu kau baru mulai membangun Cit Im Kauw. Benarkah itu?"

Cit Im Kauwcu heran.

"Cara bagaimana kau dapat mengingat demikian baik?"

Ia tanya.

"Karena ketika itu ibuku justeru pergi mencari kau. Sayang dia terlambat beberapa hari. Katanya kau baru saja meninggalkan wilayah Biauwkiang."

Kauwcu itu menjadi bertambah heran.

"Ah, ibumu pergi ke Biauwkiang mencari aku?"

Dia kata.

"Sekembalinya dia itu, apa katanya?"

"Malam itu aku justeru mendengar ayah dan ibu berbicara di dalam kamarnya, boleh dibilang semalaman suntuk. Oleh karena mereka bicara di dalam kamar, aku tidak tahu soal apa yang dibicarakan."

Hati Cit Im Kauwcu goncang.

"Apakah kau tidak mendengar nyata pembicaraan mereka itu ataukah kau kurang mengerti?"

Ia menanya pula "Kamarku sebelah menyebelah dengan kamar ayah dan ibuku.

Mereka bicara dengan suara keras dan perlahan bergantian.

Aku tidak memperhatikan.

Oh, jikalau aku tahu bahwa selanjutnya aku bakal tidak mendengar pula suara mereka, tentulah aku memasang kuping sampai pagi..."

Cit Im Kauwcu merasa kurang enak sendirinya Katanya di dalam hati.

"Kee Su murid partai lurus dan anaknya ini dengar kata, pasti ini anak tidak dapat mencuri dengar pembicaraan orangtuanya"

Ia merasa ia telah keliru menanya, tetapi sebenarnya ia ingin sekali mengetahui hal ichwalnya Kee Su suami isteri itu. Si anak muda baju kuning berkata pula.

"Tengah malam aku mendusin, aku masih mendengar ayah dan ibu bicara terus. Lalu aku tidur pula. Aku bangun di waktu mulai terang tanah, itu waktu aku mendengar pembicaraan ayah dan ibu masih belum berhenti. Aku tidak mendengar nyata, cuma beberapa kali aku mendapat dengar disebutnya nama-namanya Pektok Sinkun dan nona Im Oen Giok..."

"Im Oen Giok itu ialah aku,"

Cit Im Kauwcu memotong.

"Pastilah kau telah menderita banyak,"

Berkata si anak muda "Aku ingat ibuku membilang bahwa ia merasa berkasihan terhadapmu.

Kata ibu, sama sekali ia tidak jelus atau cemburu terhadap kau, ia sangat ingin dapat mencari padamu, bahkan ibu ingin sekali yang kau dan ianya tinggal bersama-sama.

Ibu mengatakan juga bahwa ia percaya kau tentu ketahui, dunia bukan selamanya dingin, dunia masih ada yang hangat.

Yang aku tidak mengerti ialah kenapa ibuku, di waktu menyebut-nyebut kau, membilang juga hal jelus dan cemburu.

Ibu toh belum pernah bertemu sama kau?

Apakah yang dibuat jelus dan cemburu?

Aku tahu, kau lihai melebihkan ayah dan ibuku, akan tetapi ibuku bukanlah orang yang cupat pandangannya, tidak nanti dia jelus untuk kepandaian orang lain yang lebih tinggi daripada kepandaiannya."

Di waktu bicara anak muda ini memperlihatkan romannya kekanak-kanakan dan polos.

Rupanya pun dia belum tahu soal hubungan yang ruwet dan memusingkan di antara pria dan wanita.

Parasnya Cit Im Kauwcu menjadi merah sendirinya.

Di dalam hatinya dia berkata.

"Ketika pertama kali aku mendengar pernikahannya Kee Su itu, di satu pihak aku mendoakan kebahagaiannya, di lain pihak aku jelus terhadap isterinya. siapa sangka isterinya itu justeru berpandangan lebih luas daripadaku yang cupat..."

Si anak muda bersedih, air matanya mengalir turun. Ia menepas itu.

"Begitu lekas langit sudah terang, sebelum aku turun dari pembaringan, maka datanglah Koan Sin Liong bersama si orang Biauw itu,"

Ia meneruskan kemudian.

"Mendengar suara kedatangan mereka itu, ayah dan ibu pergi keluar, untuk menemui, guna menanyakan maksud kedatangan mereka. Mereka itu tidak menjawab, sebaliknya, dengan mendadak mereka menyerang. Ibu tidak bersiap sedia, ibu yang paling dulu kena dibunuh mereka. Ayah melakukan perlawanan, ayah dapat melukai mereka itu. akan tetapi ayah pun terkena senjata rahasia yang berupa tokkilee beracun dari Koan Sin Liong, hingga ayah cuma bisa mengawasi saja mereka itu mengangkat kaki. Di waktu mabur. sembari tertawa dingin, Koan Sin Liong kata. 'Jikalau aku tidak memberi keterangan, kasihan kamu mati tidak keruan, gelap akan duduknya hal. Aku pun tidak memikir membiarkan kamu menjadi setan-setan, dogol! Baiklah aku memberitahukannya! Bukankah kamu hendak mencari Cit Im Kauwcu? Nah, Cit Im Kauwcu mengundang kamu ke istana Giam Lo Ong untuk kamu membuat pertemuan di muka Raja Acherat itu! Kami ini ialah si pesuruh tukang membetot arwah manusia yang diutus olehnya!"

Mendengar itu, Cit Im Kauwcu berduka berbareng gusar sekali, hingga tubuhnya menggigil saking gusarnya itu.

"Koan Sin Liong sangat jahat!"

Katanya nyaring.

"Sudah dia membinasakan ayah dan ibumu, dia juga secara keji memakai namaku! Asal napasku masih ada maka aku bakal menuntut balas terhadapnya!"

"Jangan gusar, Kauwcu,"

Berkata si anak muda.

"Perkataannya Koan Sin Liong itu, sedikit pun ayah tidak percaya. Ayah memesan aku, katanya. 'Aku tidak tahu kenapa Koan Sin Liong berbuat demikian jahat mencelakai aku dan ibumu. Kau masih kecil, bukan saja kau tidak dapat menuntut balas, bahkan kau perlu menjaga diri supaya kau juga tidak terbinasakan musuh. Aku hendak menyerahkan kau pada seorang yang aku paling percaya dapat dibuat andalan, dialah orang satusatunya yang aku kenal, dia pasti dapat merawat padamu!'"

Dengan "dia,"

Pemuda itu menyebut dia "wanita."

Air matanya Cit Im Kauwcu turun dengan deras.

"Oh, Kee Su, Kee Su..."

Katanya terputus-putus.

"Dia... dia membilang begini kepadamu?"

Si anak muda mengangguk.

"Benar,"

Sahutnya.

"Ayah membilangi aku, orang yang dipercaya itu ialah kau. Kata ayah pula. 'Pergi kau cari Cit Im Kauwcu. Jangan kau mendesak ia untuk membalaskan sakit hatiku, cukup asal ia suka memperlakukan kau sebagai anak kandungnya sendiri.'"

Cit Im Kauwcu merangkul anak muda itu. Ia berduka berbareng bangga Demikian besar kepercayaan kekasihnya terhadapnya! Ia bersyukur sekali kepada Kee Su.

"Benarlah apa yang dikatakan ayahmu itu!"

Katanya.

"Dia memang sahabatku satu-satunya! Anak yang baik, apakah namamu?"

"Namaku Thian Peng,"

Menyahut anak itu.

"Ban Thian Peng. Ayah meninggalkan sepucuk surat untuk kau."

"Oh, setelah terluka dia masih dapat menulis kepadaku?"

Kata Cit Im Kauwcu, air matanya mengalir terus.

"Surat itu ditulis satu malam di muka,"

Menerangkan si anak muda "setelah ayah terluka, dia menulis sehelai pula Habis menulis, surat itu ditutup rapat, diserahkan padaku secara hati-hati sekali.

Ayah pun memberikan aku sebatang hio cendana serta sebutir mutiara yabengcu.

Ayah memesan untuk mencari kau, supaya di tempat dekat kau berada, aku memasang hio itu.

Mutiara itu pun untuk kau."

"Sungguh sempurna dia memikirnya"

Kata Cit lm Kauwcu.

Ia menyambuti mutiara yabengcu itu, ialah mutiara yang di waktu malam dapat mengeluarkan sinar terang.

Air matanya bercucuran deras.

Itulah mutiara saksi pengikat janji mereka di itu malam, dan ialah yang memberikan kepada Kee Su.

Setelah mengawasi sekian lama mutiara itu, yang ia pegang erat-erat, Cit Im Kauwcu lantas membuka surat kekasihnya itu, sebuah surat terdiri atas tujuh halaman.

Halaman yang terakhir, suratnya tidak rata dan tidak keruan, bahkan beberapa baris yang terakhir, hampir tidak dapat dibaca lagi.

Sambil menangis, nyonya yang menjadi pemimpin Cit Im Kauw itu membaca surat kekasihnya itu.

Pertama-tama Ban Kee Su menulis bahwa ia tidak berniat mengganggu ketenangan dari Cit Im Kauwcu tetapi ada sebab penting yang membikin ia mesti menulis suratnya ini.

Ia telah mendapat tahu bahwa Pektok Sinkun yang sedang malang melintang di dalam dunia Kangouw sebenarnya ialah itu laki-laki yang dulu hari ia telah menemukannya di rumah Im Oen Giok di Biauwkiang, wilayah suku bangsa Biauw.

Katanya meski Pektok Sinkun muncul di dalam dunia Kangouw, belum pernah ada yang melihatnya dia berada bersama-sama Oen Giok, maka itu, meski ia tidak tahu duduknya hal yang benar, ia percaya Oen Giok tidak rela menikah dengan dia itu.

Pula, beberapa orang yang mengenal Pektok Sinkun, belum pernah mereka mendengar Pektok Sinkun sendiri mengatakan dia telah mempunyai isteri.

Justeru sekarang Pektok Sinkun dibenci kaum Kangouw, karena ia kuatir Oen Giok nanti kerembet-rembet, ia mau mengasi ingat agar kekasih ini berlaku waspada.

Yang kedua, Ban Kee Su menulis tentang dirinya sendiri.

Ia kata ketika ia telah mengetahui Oen Giok sudah menikah dan mempunyai anak, ia ingin tidak menikah untuk selamanya.

Tapi ialah putera satusatunya dan ayahnya menghendaki turunan, maka itu, untuk tidak membikin ayahnya berduka, ia terpaksa menikah, dengan seorang nona gagah dari partai Cengshia Pay, namanya Liu Siang In.

Sebelumnya pernikahan dirayakan, ia bilang, ia sudah berbicara dengan Liu Siang In tentang perhubungannya dengan Cit Im Kauwcu.

Itulah untuk mencegah terjadinya salah paham di belakang hari.

Nyata Siang In dapat dikasi mengerti, bahkan dia bersimpati.

Ia menulis, ia menikah untuk memenuhi keinginan dan pengharapan ayahnya, tetapi setelah hidup sebagai suami isteri, ia mendapat kenyataan isterinya itu sempurna di dalam segala hal.

hingga sendirinya ia menjadi menyintainya.

Karena ini ia menginsafi, ia menyesal, Cit Im Kauwcu sebaliknya telah menikah dengan seorang suami yang tidak tepat.

Karena itu katanya, ia sering mengingat dan memikirkan kekasih itu.

Dalam halaman ketiga, Kee Su menerangkan bahwa, setelah ia dapat membaca beberapa buah kitab, ia menginsafi bahwa hubungan di antara pria dan wanita tidak cuma berbatas pada soal menjadi suami dan isteri saja Masih ada hubungan lainnya.

Ia menulis, karena Ci Hee Tojin sudah menutup mata, Cit Im Kauwcu boleh tak usah menguatirkan siapa juga, sedang Pektok Sinkun, jangg seumur hidupnya merantau saja, sama juga telah mensia-siakan isterinya.

Maka ia tanya, kalau Cit Im Kauwcu setuju, ia dan isterinya senang sekali menyambut dan menerima dia untuk tinggal bersamasama di rumahnya Isterinya.

katanya, suka memandang dan memperlakukan dia sebagai kakak.

Ia kata, oleh karena sama-sama sudah berusia lanjut, asa) mereka tinggal bersama dengan memakai aturan sopan santun dan berlaku jujur satu pada lain.

maka tak usahlah mereka memperdulikannya umpama kata ada omongan kurang bagus dari pihak orang luar.

Ia memberi nasihat supaya dia jangan berpandangan cupat, hingga dia bisa menjadi terus hidup sepi dan menderita.

Dalam halaman ke empat.

Kee Su menuturkan hal isterinya, Liu Siang In.

sudah berangkat untuk mencari dia.

Ia kata, isterinya telah mendapat tahu bahwa ia senantiasa memikirkan dia maka isterinya itu menyarankan untuk si isteri sendiri pergi mencari dia, untuk mengajak dia dan anaknya tinggal bersama-sama di gunung Ngobie San.

Setelah memikir masak-masak, ia menerima baik saran isterinya itu, yang lahargakan.

Maka sayang sekali, isterinya telah datang terlambat beberapa hari, ialah Cit Im Kauwcu keburu pergi meninggalkan Biauwkiang.

Terpaksa isteri itu pulang dengan tangan kosong, sebab tak ketahuan ke mana perginya Kauwcu dan anaknya itu.

Membaca sampai di situ.

bukan main terharunya Cit Im Kauwcu.

Ia sangat bersyukur kepada Kee Su dan Liu Siang In.

Terutama ia menghargakan dan mengagumi Siang In.

yang demikian polos dan baik hati.

Sukardicari isteri yang tidak jelus dan tidak cemburu seperti Siang In itu.

Halaman ke lima dari suratnya Kee Su itu menulis hal isterinya, sehabisnya si isteri pulang dengan tangan kosong itu.

Katanya, Siang In itu, meski tidak berhasil menemui dia, telah mendengar banyak kabaran mengenai dirinya, terutama mengenai dia telah dipersakiti Pektok Sinkun, bahwa dia lagi membangun Cit Im Kauw.

Ia kata ia bersusah hati mendengar warta itu.

Ia menyatakan kekuatiran, karena kedukaannya, Cit Im Kauwcu nanti menuruti panas hatinya dan nanti tersesat karenanya.

Ia percaya Cit Im Kauwcu bermaksud baik membangun Cit Im Kauw tetapi ia kuatir maksud itu nanti salah diterima oleh kaum Rimba Persilatan.

Maka itu, lagi sekali ia minta Oen Giok berlaku hati-hati.

Di dalam halaman ke enam, Kee Su menulis sesudah ia sendiri kena dibikin celaka.

Huruf-huruf suratnya itu besar-besar, ditulisnya seperti cara sembarangan saja.

Kertasnya itu bertanda bekas kena darah.

Dengan menahan kesedihannya, Cit Im Kauwcu membaca surat itu.

Ia telah mesti mengucurkan air matanya.

Di situ Kee Su menuturkan jelas bagaimana ia mengalami kecelakaannya itu.

Lantas di halaman yang terakhir, Kee Su meminta maaf kepada kekasihnya.

Ia menulis, selama beberapa puluh tahun, ia senantiasa memikirkan kekasihnya itu.

Ia menyesal, selagi ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk si kekasih, sekarang ialah yang ingin minta pertolongan.

Ia kata ia percaya Oen Giok suku menilik puteranya, maka tak usahlah ia menulis banyak-banyak.

It mengutarakan kekuatiran bahwa anaknya, yaitu Thian Peng, nanti terburu napsu hendak menuntut balas.

Itulah berbahaya dan mungkin berarti mengantarkan jiwa secara sia-sia.

Karena itu, ia telah kasih mengerti pada anaknya, sebelum anak ini menuntut balas, untuk si anak mencari dulu ini kekasih.

Maka ia minta Oen Giok suka mengendalikan anaknya itu.

Ia menulis, soal pembalasan ada soal kedua, yang utama ialah agar Thian Peng dapat dididik menjadi seorang anak yang berharga.

Air matanya Cit Im Kauwcu membasahkan lembaranlembaran surat kekasihnya itu.

Ia berduka, ia pun bersyukur kepada Kee Su, yang tidak saja menyintai ia tapi pun sangat mempercayainya.

Di lain pihak, ia bersyukur kepada Liu Siang In, isteri Kee Su dengan siapa ia belum pernah bertemu.

Sungguh baik Siang In itu.

Karena ia menangis dan air matanya terus mengalir, tiba-tiba Cit Im Kauwcu seperti melihat Ban Kee Su berada dihadapannya, atau di lain saat ia melihat si anak muda, ialah Thian Peng puteranya Kee Su itu.

Ia menyusut air matanya, ia rangkul anak muda itu.

"Anak yang baik!"

Katanya, suaranya parau.

"Sudah tiga tahun kau mencari aku, akhirnya kau menemukannya juga. Aku berterima kasih kepada Thian, yang telah mempertemukan kita ini. Kau telah kehilangan ayah dan ibumu, maka itu, jikalau kau tidak merasa terhina kau panggillah mama padaku!"

Thian Peng juga bermandikan air mata. Ia berlutut di depan nyonya itu, untuk paykui tiga kali, untuk memanggil.

"Mama!"

Kemudian dengan menghadapi Im Siu Lan, ia memanggil.

"Enci!"

Dengan masing-masing sebelah tangannya, Cit Im Kauwcu mencekal kedua anak itu, dengan air mata masih belum kering, ia tertawa, tertawa berduka.

Untuk sedetik itu, terbukalah hatinya Tengah nyonya ini bersedih berbareng girang itu, tibatiba ia mendengar suara tertawa yang nyaring dan tak enak nadanya, yang membikin telinganya sakit.

Ia pun kaget, sebab ia mengenali suara tertawa itu.

Tanpa merasa, tubuhnya menggigil.

Dengan sebal ia berlompat bangun.

"Kau masih mempunyai muka untuk bertemu dengan aku?"

Ia menegur, tajam.

Tidak heran kalau Cit Im Kauwcu menjadi kaget, hatinya tegang dan bergusar itu.

Orang yang tertawa itu, yang datang secara sekonyong-konyong kepada mereka ialah Pektok Sinkun.

Im Siu Lan lantas saja mengerti apabila ia melihat sikap ibunya itu.

Ketika ia masih kecil, ibunya memuji kepadanya tentang ayahnya seorang baik sekali, bahwa katanya ayahnya itu sudah lama meninggal dunia.

Ia sangat berduka untuk ayahnya itu.

Nyata sekarang, ayahnya itu hanya chayalan ibunya, sebab itu sebenarnya ayah si anak muda di sisinya ini.

Sedang ayahnya yang sejati adalah ini orang yang baru datang, yang datang-datang mengejek ibunya itu.

Maka ia pun, sendirinya tubuhnya menggigil.

Ia sampai tidak berani memandang ayah itu, sedang hatinya ingin sekali ibunya terus dapat mendustai padanya..

Pula nona ini, tanpa merasa sudah mencekal keras tangan si anak muda, tangan siapa dingin bagaikan es, sedang matanya Thian Peng dengan berapi diarahkan kepada Pektok Sinkun.

Mulut pemuda itu bergerak tetapi tidak ada kata-kata yang keluar.

Thian Peng pun segera mengenali si orang Biauw, yang kemarin ini sudah melukai ia dengan asap obat "Keebeng Ngokouw Toanhun hio,"

Hingga ia terluka parah.

Ia gusar bukan kepalang.

Tapi, kapan ia melihat sikapnya Cit Im Kauwcu dan puteri, ia lantas dapat membade duduknya hal.

Benar ia tidak dapat mendengar pembicaraan ibu dan anak tadi-sebab ia tengah tak sadarkan diri ---akan tetapi ia dapat menerka Pektok Sinkun ini ialah "suami" ---nya Cit Im Kauwcu atau "ayah"-nya Im Siu Lan.

Pektok Sinkun berdiri menghadang di ambang pintu.

Di situ ia mengasi dengar suaranya yang tak enak didengar itu, yang menyeramkan.

Dengan matanya yang tajam, ia mengawasi ketiga orang dihadapannya, akan paling belakang memandang tajam kepada Cit Im Kauwcu.

"Beberapa hari yang lain aku telah mengutus Couw Thian Yauw menemui kau,"

Ia berkata.

"kesudahannya kau usir padanya! Sekarang aku datang sendiri padamu, untuk menjengukmu! Tentang maksud kedatanganku ini, kau tentunya telah mengerti, bukan?"

Cit Im Kauwcu membungkam, tetapi dengan matanya, ia mengawasi Pektok.

Ketika sinar mata mereka bentrok, diam-diam, sendirinya, tubuh Pek To menggigil.

Dalam murkanya, sinar mata nyonya itu bengis sekali.

Ia menetapkan hati, lantas ia mengalihkan pandangan matanya ke arah Siu Lan.

"Dia mirip sekali dengan kau semasa kau masih muda!"

Katanya sesaat kemudian.

"Ah kalau diingat urusan dulu-dulu itu, aku menyesal... Sekarang aku mau minta supaya kau suka memberi maaf padaku." ---Eh, aku ini ialah ayahmu, kau tahu tidak?"

Kata-katanya yang paling belakang ini ia tujukan kepada Siu Lan kepada siapa ia berpaling. Siu Lan mundur satu tindak, ia menyingkir dari sinar mata ayahnya itu.

"Aku tidak kenal kau!"

Katanya tajam.

"Aku tidak mempunyai ayah! Ayahku sudah lama mati!"

Berbareng dengan itu, Cit Im Kauwcu juga membentak bengis.

"Jikalau kau ingin aku mengampunimu, lekas kau pergi dari sini!"

Muka Pektok Sinkun menjadi pucat tapi hanya sejenak, lalu ia tertawa menyeringai. Kali ini sinar matanya jatuh kepada Ban Thian Peng, yang dipandangnya sekian lama.

"Bocah ini sangat mirip dengan Ban Kee Su!"

Katanya dingin, tertawa mengejek.

"Haha! Kamu. ibu dan anak, agaknya akrab sekali hubungan kamu! Hanya sayang, kau, kau tidak dapat menjadi ibunya!"

"Kau ngaco!"

Bentak Cit Tm Kauwcu.

"Lekas pergi!"

"Hm, kau takut aku menyebut-nyebut kekasihmu!"

Kata Pektok Sinkun.

"Anak Ban Kee Su sudah sebesar ini, kau takuti apa lagi? Apakah cintamu masih belum padam? Baiklah! Sekarang hendak aku mengulangi pertanyaanku dari dua puluh tahun yang lalu itu! Kau sebenarnya ingin mengikuti aku atau mengikuti Ban Kee Su?"

Amarah Cit Im Kauwcu sampai dipuncaknya. Ia maju setindak, matanya mendelik seakan-akan hendak meloncat keluar.

"Bukankah Ban Kee Su mati dibunuh orang atas perintahmu?"

Tanyanya. Pektok Sinkun agaknya terkejut.

"Apa? Apakah Ban Kee Su sudah mati?"

Dia balik bertanya.

"Oh, kiranya bocah ini datang padamu untuk menyampaikan berita!"

"Apakah benar-benar kau belum tahu?"

Cit Im Kauwcu menegas.

"Kau menuduh aku, tidak, tidak bisa aku mengatakan apa-apa,"

Kata Pektok Sinkun. Kauwcu itu ragu-ragu. Ia maju pula selangkah.

"Taruh kata benar bukan kau yang membunuh Ban Kee Su,"

Katanya dingin.

"tetapi terhadap anak Kee Su itu kau menurunkan tangan begini jahat, apakah kau masih dapat dihitung sebagai manusia?"

"Jikalau aku tidak memandang mukamu, siang-siang sudah kumampuskan bocah ini!"

Kata Pektok Sinkun sambil tertawa dingin.

"Apakah kau tidak mau menerima kebaikan hatiku ini? Coba kau pikir! Jikalau aku hendak membinasakan dia, dapat aku menggunakan pukulan Kiuyang Tokciang! Kenapa aku mesti menggunakan pukulan ini yang meminta waktu dua belas jam barulah racunnya bekerja?"

Pektok Sinkun mengetahui, bahwa Cit Im Kauwcu berada di tempat yang berdekatan tetapi ia belum mengetahui tempat kediamannya yang pasti, maka ia menggunakan pukulannya itu yang dapat diperlambat kehebatannya Ia yakin, bahwa selekas Ban Thian Peng terluka, bocah itu pasti akan membakar hionya guna memohon pertolongan Cit Im Kauwcu, supaya dengan begitu dapat ia menguntit si bocah, untuk menemui isterinya itu.

Ternyata bahwa siasatnya telah memberikan hasil.

Cit Im Kauwcu berpikir.

Ia pun lantas mengerti.

"Kalau begitu kau jadinya bersungguh-sungguh hati hendak menemui aku!"

Katanya. Ia pun tertawa dingin.

"Benar! Apakah kau masih tidak percaya?"

Pektok Sinkun menegaskan. Cit Im Kauwcu tiba-tiba menudingnya.

"Bagus betul!"

Katanya, gusar.

"Dengan menggunakan cara busuk ini kau mencari aku dan kau masih mengharap aku menggubris padamu! Kau mau pergi atau tidak? Jikalau kau tidak pergi, jangan kau sesalkan aku keterlaluan!"

Pektok Sinkun juga menjadi gusar.

"Bagus ya!"

Katanya diiringi tertawa dingin.

"Ban Kee Su sudah mampus, sekarang kau masih kesudian merawat anaknya yang piatu! Sungguh kau harus dikagumi! Kau harus dipuji! Hanya aku tidak tahu, kau menggunakan hak apa, maka kau hendak menjadi janda Ban Kee Su? Baiklah, sekalian saja aku mampuskan bocah ini! Aku hendak lihat kau dapat bikin apa!"

Menyusul perkataanya itu, Pektok Sinkun melompat, tangannya menyamber ke batok kepala Ban Thian Peng.

Cit Im Kauwcu tengah gusar bukan kepalang, seluruh tubuhnya sampai bergemetar, maka betapa kagetnya ketika itu, melihat kejadian itu.

Ia pun tidak bersedia sama sekali.

Ia benar gesit, hendak ia menolong bocah itu, tetapi ia sudah agak terlambat, maka ia hanya berpikir.

"Jikalau Ban Thian Peng mati di tangannya, aku akan membunuhnya supaya dia mengganti jiwa!..."

Pada detik yang sangat berbahaya itu, selagi tangan Pektok Sinkun hampir mengenai batok kepala Thian Peng, mendadak dia menjerit hebat, tangannya itu menyamber ke samping, hanya beda tiga dim atau sasarannya tentu sudah hancur berantakan!

Tepat berbareng dengan itu, tubuh Cit Im Kauwcu mencelat ke depan, tangannya turut melayang.

Pektok Sinkun melompat mundur.

"Sungguh lihai!"

Serunya.

"Hanya kau lupa, meski benar ilmu silatmu lebih lihai daripada ilmu silatku tetapi aku masih mempunyai daya lain untuk membikin kau mampus!"

Ketika Pektok Sinkun menyerang Ban Thian Peng, tiba-tiba ia merasakan tangannya sakit seperti disengat tawon, karenanya, serangannya itu menjadi gagal mengenai sasarannya.

Ia menduga bahwa ia dibokong Cit Im Kauwcu.

Ketika ternyata ia bukannya terkena racun, hatinya menjadi lega.

Meski demikian amarahnya tidak jadi berkurang, maka ia telah mengeluarkan katakatanya itu.

Juga Cit Im Kauwcu tidak kurang herannya Sebab bukannya ia yang membokong suaminya itu.

Sesungguhnya ialah Liong Kiam Hong yang sudah menyerang dengan sebatang jarumnya, jarum Bweehoa ciam, untuk menolong jiwa si pemuda she Ban, Sebenarnya, dengan kelihaiannya, Cit Im Kauwcu harus mengetahui itu, tetapi pada saat itu ia tengah memusatkan perhatiannya kepada Pektok Sinkun dan Ban Thian Peng, dan menjadi lengah juga.

Ia tidak menyangka bahwa di antara mereka ada Nona Liong itu, yang bersembunyi.

Dalam gusarnya itu, Cit Im Kauwcu berkata dengan bengis.

"Jikalau kau berani mengganggu sehelai saja rambutnya, jikalau bukannya aku yang mati, tentulah kau yang mampus! --Sebenarnya tiada niatku membunuhmu dengan tanganku sendiri, tetapi jikalau kau lagi sekali melakukan perbuatan yang menentang pri kemanusiaan, terpaksa aku mesti menjalankan pesan terakhir dari suhu!"

Wajah nyonya ini telah dirusak Pektok Sinkun.

dari cantik dia menjadi jelek sekali, sekarang dia tengah marah hebat, romannya yang jelek itu menjadi jelek luar biasa.

Pektok Sinkun sudah biasa akan benda atau mahlukmahluk yang beracun, hatinya telengas.

akan tetapi sekarang, memandang Cit Im Kauwcu, hatinya gentar juga.

Diawasi demikian bengis oleh Cit Im Kauwcu, ia mundur beberapa tindak.

Ia menetapkan hati, mencoba menyabarkan diri.

"Dua puluh tahun telah lewat, apakah masih saja kau membenci aku secara begini?"

Tanyanya.

"Baiklah, anggap saja bahwa dahulu aku telah berbuat tidak selayaknya terhadapmu, maka sekarang, hendak aku menebus dosa. Kau mau atau tidak mendengar dahulu kata-kataku?"

"Kau mau bicara apa lagi?"

Tanya Cit Im Kauwcu. Marahnya menjadi reda sedikit, mendengar orang hendak menebus dosa.

"Kimto Cecu telah merampas bingkisan pelbagai propinsi, perbuatannya itu menggemparkan dunia."

Kata Pektok Sinkun.

"Bukankah kaupun telah mengetahui peristiwa itu?"

"Ada hubungannya apakah peristiwa itu dengan aku?"

Cit Im Kauwcu tanya.

"Kimto Cecu telah merampas bingkisan itu tetapi dia tidak mempunyai rejeki untuk mengicip kebahagiaannya!"

Berkata Pektok Sinkun tertawa "Lewat lagi sepuluh hari, semua bingkisan itu bakal berbalik dipersembahkan kepadaku! Dengan begitu, bagaimana dapal dikatakan tidak ada hubungannya sama kau?"

Cit Im Kauwcu tertawa -== tertawa dingin.

"Aku memberi selamat kepadamu yang memperoleh untung besar!"

Katanya.

"Kau telah memperoleh harta, kenapa kau bukan pergi kepada segala sahabat babi dan taulan anjingmu untuk mengicipinya bersama-sama? Mengapa kau menyebut-nyebut aku?"

Pektok Sinkun tidak menunjuki kemurkaannya walaupun dia diejek dan dicaci itu. Sebaliknya, dia menunjuki kebanggaannya. Begitulah dia tertawa besar.

"Aku bukan cuma berharta luar biasa!"

Ia kata.

"Aku demikian kaya hingga kekayaanku dapat melawan kekayaan negara! Asal kau suka baik kembali denganku, maka kepunyaanku kepunyaan kau juga? Mana ada pemisahan di antara kita berdua? Kau tahu, aku berniat menghaturkan beberapa rupa permata mustika kepada Kiauw Pak Beng si siluman tua itu, untuk berserikat dengannya. Haha! Jikalau aku telah bersekutu dengannya, maka dapatlah aku malang melintang di kolong langit ini! Aku hendak memerintah dunia Kangouw! Tidakkah itu bagus?"

Cit Im Kauwcu menggeleng kepala. Di dalam hati kecilnya, ia berpikir.

"Ketika bermula kali aku menjadi murid Ki Suhu, aku melihat dia ini, meskipun dia sangat gemar sama penghidupan mewah, dia masih dapat dibilang seorang Biauw yang sederhana, maka di luar dugaan sekali, setelah dia bergaul dengan Bang Thong dan seterunya yang buruk, dia turut menjadi busuk, hari lewat hari, bathinnya menjadi bertambah rusak, dan sekarang, karena bujukannya harta dunia, dia menjadi berani melakukan segala macam kejahatan, hingga dia tidak dapat ditolong lagi... Sungguh sayang!"

Habis berpikir begitu, Cit lm hendak mengejek, tetapi Pektok Sinkun mendahului ia. Sembari tertawa Pektok berkata.

"Aku dengar kau hendak membangun agama Cit Im Kauw, dengan begitu, hartaku ini dapat membantu usahamu itu! Pendek, kau mau uang, uang ada! Kau mau orang, orang tersedia! Kita suami isteri, kita bekerja sama, sedang di luar kita, ada Kiauw Laokoay si Siluman Tua sebagai tulang punggung kita! Apakah dengan begitu kau menguatirkan lagi yang usahamu tidak bakal maju? Kau lihat, aku bersungguh hati hendak hidup berbahagia denganmu. Apakah kau masih tidak puas?"

"Terima kasih untuk kebaikan hati kau ini,"

Berkata Cit Im Kauwcu dingin.

"Mengenai bingkisan itu. baiklah aku omong terus terang bahwa aku pun pernah memikir untuk memilikinya. Hanya, kalau dengan bingkisan itu kau mengharap keampunan dari aku, biarnya semua itu kau tumpuk di depanku, hatiku tidak akan tergerak sedikit juga, mataku tidak akan meliriknya!"

Pektok Sinkun pernah mendengar dari Yang Cong Hay bahwa Cit Im Kauwcu telah menerima ajakannya Cong Hay untuk membantu Kiauw Pak Beng merampas bingkisan, meski benar usaha itu gagal, itu telah menunjuki keinginannya Cit Tin memiliki bingkisan itu, karena ini sekarang, sengaja dia menyebut-nyebut soal bingkisan, guna memancing hati si nyonya, maka adalah di luar sangkaannya, tawarannya itu telah ditolak, bahkan Cit Im Kauwcu bicara demikian pasti, bagaikan pantek paku!

Ia menjadi melengak, ia mengasi lihat roman lesu.

"Kau tidak mau baik kembali denganku, aku tidak memaksa,"

Katanya, perlahan.

"Sekarang kau ijinkanlah aku membawa anakku..."

Cit Im Kauwcu tertawa dingin.

"Kau tanya sendiri padanya, dia suka turut kau atau tidak!"

Jawabnya. Im Siu Lan menangis mendadak, ia lari menyelindung di belakang ibunya itu.

"Tidak, ibu, aku tidak mau berpisah dari kau!"

Katanya.

"Kau dengar, bukan?"

Kata Cit Im pada laki-laki di depannya.

"Anakku ini telah bersatu padu denganku, dia tidak sudi ikut kau! Maka pergilah kau sendiri!"

Pektok Sinkun menghela napas.

"Kamu masih belum mendapat tahu hatiku,"

Katanya menyesal.

"Aku hendak mengajak anak kita untuk kebaikannya kita sendiri! Aku telah mencarikan dia seorang mentua yang jempolan!"

Mendadak Cit Tin Kauwcu menjadi gusar.

"Dialah anakku!"

Dia membentak.

"Kau berani lancang mengatur jodohnya? Tidak, aku tidak man memberi ijinku!"

"Kau dengar dulu aku menyebutkan keluarga itu keluarga siapa, baru kau mengambil keputusanmu, masih belum lambat,"

Kata Pektok Sinkun.

"Kenapa kau lantas main berkeras saja?"

"Baiklah, kau sebut keluarga siapa itu!"

Kata Cit Im.

"Aku memilihkan dia puteranya Kiauw Pak Beng,"

Sahul Pektok Sinkun.

"Kiauw Pak Beng ialah orang nomor satu, paling gagah di kolong langit ini dan puteranya muda dan gagah juga! Syukur pula yang dia pun tidak mencela kita! Kau bilang, keluarga seperti keluarga itu. di mana kau hendak mencarinya lagi?"

Mendengar jawaban itu, Cit Im Kauwcu mengasi dengar "Hm!"

Berulang-ulang. Di dalam hatinya, ia pikir.

"Oh, kiranya dia mau gunai anaknya untuk membaiki si siluman tua she Kiauw itu! Aku tadinya menyangka dia benar-benar menyayangi si Lan. bahwa dia masih mempunyai kecintaan di antara ayah pada anaknya..."

Ia tertawa dingin.

"Kau tertawakan apa?"

Pektok Sinkun tanya mengawasi. Dia heran.

"Mustahilkah kau tidak puas terhadap keluarga semacam itu?"

"Si Lan jauh lebih bersemangat daripada kau!"

Kata Cit Im Kauwcu, tertawa dingin.

"Kau hendak membaiki si siluman tua she Kiauw itu, kau menganggap anaknya itu sebagai mustika! Sebaliknya, si Lan tidak memandangnya sebelah mata! Kau tahu. Le Kong Thian pernah datang sebagai wakil majikannya untuk melamar si Lan, jikalau aku suka menerima baik, perlu apa aku menunggu sampai sekarang kau yang membicarakannya?"

Pektok Sinkun heran dan mendongkol.

"Ha, jadinya kau telah menolak dia!"

Katanya keras.

"Biarnya aku mati, tidak aku nikah anaknya Kiauw Pak Beng!"

Berseru Siu Lan, suaranya tajam.

"Sampaipun namanya, tak sudi aku mendengarnya!"

"Kau telah dengar, bukan? kata Cit Im Kauwcu, menyambungi puterinya.

"Apa lagi kau hendak bilang? Lekas kau pergi!"

Pektok Sinkun menjadi sangat lesu, dia berdiam sekian lama. Sesaat kemudian, mendadak dia tertawa.

"Baiklah,"

Katanya.

"anak ialah kau yang merawat sampai besar, biar kau yang berkuasa atas dirinya. Tapi dalam satu hal lainnya, kau tidak dapat berkuasa terus. Mari, mari, kau dengar! Di antara kau dan aku sudah tidak tidak ada soal suami dan isteri lagi, sudah tidak ada ayah dan anaknya pula, maka itu, mari kita jual beli dalam lain urusan. Kau setuju, bukan? Urusan ini besar faedahnya untukmu!"

Cit Im Kauwcu muak akan tetapi ia menyabarkan diri.

"Coba kulihat apakah maunya dia?"

Pikirnya. Kemudian ia tanya.

"Urusan apakah itu? Kau bilang!"

Pektok Sinkun maju satu tindak.

"Aku mau bicara dari hal warisan kitab Pektok Cinkeng dari guru kita almarhum!"

Kata ia.

"Bukankah kitab itu berada di dalam tanganmu?"

Mendengar orang menyebut gurunya, Cit Im Kauwcu sudah gusar bukan main. Tapi ia masih menguasai dirinya.

"Benar, kitab itu ada di tanganku,"

Sahutnya tenang.

"Kenapa?"

"Menurut pantas, akulah si murid kepala, sedang kau, kaulah murid yang masuk setengahjalan,"

Berkata Pektok Sinkun.

"maka itu, kitab warisan suhu itu, seharusnya mesti berada di tanganku. Akan tetapi aku mengingat hubungan kita sebagai suami isteri, selama dua puluh tahun, tidak pernah aku minta itu dari kau Sekarang lain! Sekarang kau sudah memutuskan hubungan suami isteri, maka kitab warisan itu mesti dikembalikan padaku! Tentu sekali, aku tidak suka kau mengembalikannya dengan tangan kosong! Aku bersedia menyerahkan padamu separuh dari semua bingkisan yang didapat olehku!"

Sekarang mengertilah Cit Im akan maksud sejati dari Pektok Sinkun.

Jadi orang sebenarnya mengarah kitab warisan itu!

Tadinya, meski ia sangat membenci, sebab Pektok bicara sabar dan menyatakan suka menebus dosa, ia mendapat kesan lain, ia menyangka orang benar-benar menyesal.

Nyatanya semua itu palsu belaka!

Dalam murkanya, nyonya itu tertawa lebar.

"Haha, kau sungguh baik hati!"

Katanya.

"Kau membilang kitab itu harus dimiliki kau, habis sekarang kau hendak menukar itu dengan harta besar! Benarkah itu?"

Hebat tertawanya si nyonya, Pektok Sinkun merasai telinganya mendengung, dia merasai bulu romanya pada bangun. Selagi tertawa itu, Cit Im Kauwcu maju dua tindak.

"Kau mau apa?"

Membentak Pektok Sinkun, kaget. Dia heran. Lama Cit Im Kauwcu tertawa, lantas ia berhenti.

"Aku tidak sangka kau masih mempunyai muka untuk menagih kitab warisannya suhu padaku?"

Ia berkata dingin.

"Bagaimana meninggalnya suhu? Apakah kau mengira aku telah melupakannya?"

"Sumoay. perlu apa kau menyebut-nyebut perkara yang lama itu?"

Kata Pektok. Dia sekarang memanggil sumoay -adik seperguruan.

"Bukankah suhu telah menutup mata selama dua puluh tahun? Aku akan memberikan kau pelbagai batu permata, untuk seumurmu, kau akan memakainya tidak habisnya! Suhu sendiri, kebaikan apa dia dapat memberikan kau?"

"Benar! "

Berkata si nyonya.

"Benar suhu telah menutup mata selama dua puluh tahun dulu! Ya, dua puluh tahun! Tapi pesan suhu itu, sampai sebegitu jauh, belum aku melakukannya! Sampai sekarang ini, aku masih ayal-ayalan untuk mewujudkannya. Jikalau aku ingat itu, hatiku tidak enak..."

"Apakah dia pesan padamu?"

Tanya Pektok.

mengawasi.

Sinar matanya Cit Im Kauwcu menembus sinar mata suami itu.

Ia menyapu wajah orang.

Kemudian ia terus memandang puterinya.

Melihat wajah puteri itu, yang nampak ketakutan, hatinya menjadi berubah pula.

"Tentang pesan itu, lebih baik kau tak usah menanyakannya,"

Ia bilang, tawar. Pektok mengawasi, ia tetap heran.

"Baik, tak usah menanyakan ya tak usah menanyakan,"

Ia kata.

"Tapi tentang kitab warisan suhu itu, perlu aku menanyakannya jelas. Sebenarnya, kau hendak menyerahkan itu padaku atau tidak?"

Cit Im Kauwcu menjawab cepat.

"Biarnya kau tumpuk permata dari kolong langit ini, kitab itu tidak dapat aku serahkan pada kau!"

Katanya. Pektok menjadi gusar pula.

"Benarkah kau tidak sudi minum arak pemberian selamat hanya lebih suka menenggak arak hukuman?"

Dia tanya tegas-tegas.

"Kau mengikuti suhu belum ada satu tahun, maka itu hak apa kau mempunyai maka kau hendak mengangkangi kitab warisan suhu? Jangan kau mengira lantaran kau mendapatkan kitab warisan Pektok Cinkeng itu, aku jadi tidak berdaya untuk menguasai dirimu!"

Sepasang alisnya Cit Im Kauwcu bangkit berdiri. Ia menatap dengan sinar mata tajam dan dingin.

"Biarnya aku berguru belum satu tahun tetapi akulah murid satu-satunya dari suhu!"

Ia kata nyaring.

"Apa katamu?"

Pektok balas membentak.

"Aku masih belum mati!"

Cit Im Kauwcu tidak menggubris, ia berkata terus.

"Ketika suhu hendak menutup mata dia meninggalkan pesan untuk membersihkan perguruannya! Sampai sebegitu jauh belum dapat aku menjalankan pesan itu, maka kalau sekarang kau tidak mari lekas pergi, aku terpaksa nanti menjalankannya!"

Mukanya Pektok Sinkun menjadi merah padam, dia mendelik kepada Cit Im Kauwcu, lantas dia tertawa terbahak.

"Oh, begitu!"

Katanya.

"Aku menghaturkan terima kasih untuk kebaikan hatimu! Baiklah, lain kali aku tidak akan datang pula padamu..."

"Begitu paling baik,"

Berkata Cit Im seraya menghela napas lega.

Belum lagi nyonya ini menutup mulutnya, atau mendadak tubuh Pektok Sinkun berlompat maju, tangannya melayang, maka dua buah peluru mengenai tepat mukanya.

Peluru itu mengeluarkan suara, lantas pecah meledak, mengeluarkan pula sinar dadu yang berkeredepan.

Berbareng dengan itu, sebelah tangannya Pektok menyamber terus melakukan penyerangan.

Nyatalah, kelakuannya Pektok barusan akal muslihat belaka, untuk membikin Cit Im Kauwcu tidak bercuriga apa-apa, hingga leluasa ia melakukan pembokongannya itu.

Menyusuli itu juga terdengar suara "Buk!"

Dan tubuhnya Pektok mental. Hanya, di depan ia, tubuh Cit Im Kauwcu pun lantas roboh perlahan-perlahan seperti ambruknya pohon tua. Dengan tertawanya yang menyeramkan, Pektok berkata.

"Biarkah kau pergi ke dalam tanah untuk mengadu kepada setan she Ki si tua bangka!"

Di saat itu, belum sempat Pektok berdiri tegak, Im Siu Lan dan Ban Thian Peng sudah berlompat menerjang padanya.

Hanyalah, karena pukulan hebat atas diri ibunya itu, gerakan si nona menjadi kurang gesit, dia kalah sebat dari Thian Peng.

"Lekas mundur!"

Membentak Pektok Sinkun kepada si nona, berbareng dengan mana dua buah antingantingnya melesat menyamber. Berbareng dengan itu, tubuhnya Cit Im Kauwcu berlompat bangun sambil dia berteriak.

"Kau lepaskan ini dua anak!"

Entah dari mana datangnya tenaganya, Cit Im Kauwcu dapat berlompat bangun, lalu ia berlompat pula, tetapi ia toh terlambat.

Di depan ia.

asap buyar, kedua buah anting-anting sudah menyamber ke arah mukanya Thian Peng.

Itulah serangan yang membikin Cit lm Kauwcu kaget dan melakukan tindakannya yang nekat itu.

Ia tahu, anting-anting itu ada racunnya, bahkan adukan dari tiga belas macam racun yang lihai, hingga siapa terkena itu, jangan harap jiwanya dapat ditolong.

Ia sendiri, karena lukanya itu, tidak dapat segera memberikan pertolongan.

Ia lantas roboh pula, roboh sambil mengeluarkan jeritan yang menyayatkan hati.

Di saat sangat tegang itu.

selagi Ban thian Peng menghadapi bahaya maut, di situ terdengar suara tingtong dua kali, disusul sama jeritan dahsyat dari Pektok Sinkun!

Cit Im Kauwcu sudah seperti pingsan ketika ia mendapat dengar jeritan orang, mendadak ia seperti memperoleh semangat pula, maka ia dapat membuka matanya.

Karena ini juga ia mendapatkan di depannya berdiri seorang nona yang masih sangat muda dan cantik, sedang Pektok Sinkun rebah di dekatnya.

Mendadak ia berseru.

"Ai, Nona Liong! Kau?"

"Benar!"

Sahut si nona, ialah Kiam Hong, yang muncul sebagai penolong.

"Sebenarnya aku datang untuk minta sesuatu..." -la lantas mengibas dengan tangannya, hingga dua kali, untuk membuyarkan asap yang belum sirap seluruhnya. lantas tubuhnya terhuyung, terus ia roboh. Cit Im Kauwcu kaget, ia menguatkan diri. Ia bangun untuk duduk. Di atas meja abu, pelita berkelak-kelik, menyorotkan sinarnya pada pemandangan yang menggiriskan itu. Tubuh Pektok Sinkun rebah meringkuk, dari matanya, dari kupingnya, juga dari hidung dan mulutnya, keluar darah mengalir. Dia masih dapat berkutik dua kali. lalu terdengar suaranya yang keras dan seram.

"Kau baik! Kau baik! Kalau aku mati, kau juga tidak bakal hidup!..."

Suaranya keras tapi makin lama makin kendor, akan akhirnya ia memuntahkan pula darah-darah yang kental bergumpal dan hitam warnanya.

Kali ini dia bergerak untuk tidak bergeming lagi.

Cuma suaranya yang seram itu bagaikan berkumandang...

Dua-dua Ban Thian Peng dan Im Siu Lan juga rebah bergelimpangan, Siu Lan mengeluarkan napas tandanya ia sangat letih.

Tubuh Thian Peng tidak berkutik.

Di sisi mereka menggeletak empat potong anting-anting.

Adalah Liong Kiam Hong, yang membabat kutung sepasang anting-anting itu.

Dia melompat keluar dan tempatnya sembunyi di belakang patung, dia menyerang kedua perhiasan kuping yang lihai dari Pektok Sinkun, membuatnya terkutung dua.

Dengan pertolongannya ini.

ia mencegah anting-anting itu menyerang kepada Thian Peng.

Dari empat potong anting-anting itu, yang sepotong mental balik, tepat mengenakan jidatnya Pektok Sinkun tanpa Pektok sempat menghindarkan diri.

Pektok telah menyerang Cit Im Kauwcu dengan bokongannya itu.

Cit Im masih sempat membalasnya satu kali.

Ketika Cit Im menyerang, Pektok mencoba menangkis.

Di antara mereka berdua, suheng dan sumoay, kakak seperguruan laki-laki dan wanita, sang kakak kalah tenaga dalamnya, maka itu, dia kena terhajar pukulan beracun Cit Im Tokciang dari sumoaynya itu.

Dia mempunyai obat pemunah racun tetapi, dalam keadaannya seperti itu, dia tidak sempat mengeluarkan obatnya, guna menolong dirinya.

Antingantingnya sangat beracun, dia pun kena terhajar Cit Im, karenanya dia mati dalam sekejap.

Cit Im Kauwcu adalah orang yang sadar seorang diri.

Ia melihat ke sekitarnya.

Ia lantas mengerti, Ban Thian Peng ada orang yang terserang racun paling hebat, dan Kiam Hong bersama Siu Lan cuma terkena asap, mereka ini tidak dalam bahaya besar.

Kiam Hong rebah paling dekat dengannya, dengan mengerahkan tenaga, ia merayap pada nona itu.

Yang pertama ia lakukan ialah menggigicari tengah si nona.

Kiam Hong merasakan sakit, ia kaget dan mendusin dengan segera.

Ia lantas mengerti duduknya hal, lekaslekas ia mengempos semangat, untuk memperlurus napasnya.

Ia pun lantas mendengar Cit Im Kauwcu berkata di telinganya.

"Lekas kau keluarkan pot kemala hijau dari sakuku!"

Karena ia mengerti bahaya, ia lantas berbuat seperti diperintahkan.

"Benar!"

Berbisik pula Cit Im Kauwcu.

"Lekas kau buka pot itu! Paling dulu. kau telan dua butir!"

Kiam Hong menurut.

Ketika obat masuk ke dalam perutnya, ia merasakan bau yang harum yang disusuli rasa lega di dadanya, sedang tadi ia merasakan sesak sekali.

Dengan lekas, kesegarannya pun mulai pulih.

"Apakah kau mengerti ilmu menusuk dengan jarum?"

Cit Im tanya kemudian.

"Tidak,"

Menyahut si nona seraya menggeleng kepala.

"Tidak apa, nanti aku mengajari kau. Kau toh kenal pelbagai jalan darah?"

Si nona mengangguk.

"Kenal,"

Sahutnya.

"Kalau begitu, kau ambil jarum emas dari tubuhku,"

Berkata si nyonya.

"Benar, itulah dia! Sekarang lekas kau tusuk jalan darah kwichonghiatdi punggungku. Tusuk dalamnya tiga hun. Begitu kau menusuk, begitu kau mencabut pula."

Kiam Hong menurut, ia mencari jalan darah itu, ia menusuk. Tapi ia belum biasa, ia menusuk kurang dalam.

"Tusukkan lagi!"

Cit Im memerintah. Kali ini si nona menggunakan tenaga lebih, ia kena menusuk lewat. Tubuh Cit Im menggigil, peluhnya keluar. Tentu sekali ia menjadi kaget. Ia takut.

"Tidak apa,"

Cit Im bilang.

"Lain kali kau tusuk sedikit lebih perlahan. Sekarang jarum yang kedua. Kau tusuk jalan darah koanki hiat, dalamnya lima hun. Kau tunggu sampai aku menyuruh, baru kau cabut jarumnya."

Kiam Hong menurut.

Sekarang ia menjadi lebih paham.

Menurut petunjuknya si nyonya, ia terus menusuk pelbagai jalan darah seperti koanki hiat itu, bengbun hiat, yangkwan hiat dan jikhie hiat.

Semua jalan darah itu yang berhubungan sama nadi.

Paling akhir ia menusuk pekhwee hiat di embun-embunan.

Cit Im Kauwcu meluruskan napasnya, baru ia bangun untuk berduduk, untuk beristirahat.

"Coba kau pepayang aku, aku hendak melihat mereka,"

Ia kata pada Kiam Hong.

"Mari lihat dulu bocah she Ban itu."

Kiam Hong memegang tubuh orang, untuk membantu dia. Habis memeriksa Thian Peng, Cit Im Kauwcu kata seraya mengertak gigi.

"Tangannya sangat telengas!"

Kemudian ia memeriksa anaknya dan lalu kata.

"Terhadap anaknya, dia masih mempunyai Hangsim sedikit..."

Memang tadi ketika Siu Lan dan Thian Peng menerjang, menghadapi mereka itu, Pektok Sinkun tidak berlaku sama telengasnya.

Siu Lan cuma terkena asap beracun.

Thian Peng, kecuali asap beracun itu, terkena juga bubuk racun Ngotok San, bubuk mana terbuat dari ramuan seruni kimyap kiok, teratai heksim lian, bunga tho yang telah direndam di air racun dan rotan merah dari wilayah Biauw berikut lima macam kutu berbisa.

Jadi racun itu cuma kalah sedikit dari racun dianting antingnya, yang dinamakan anting-anting Sengheng Tokhoan.

"Syukur kau telah tabas kutung anting-antingnya itu,"

Kata Cit Im Kauwcu pada Kiam Hong.

"kalau tidak, bocah ini jadi seperti terkena delapan belas macam racun hingga aku pun tidak berdaya untuk menolongi dia..."

Sekarang nyonya ini dapat merogoh sakunya, untuk mengasi keluar lima batang jarum emas.

Ia mengeluarkan semacam obat bubuk, semuajarum itu dibelesaki masuk ke dalam bubuk itu, baru setiap jarum itu ia pakai menusuk lima jalan darah ditubuhnya Thian Peng, ialah lengtay hiat, ciyang hiat, wito hiat, liongtauw hiat dan hongbwee hiat.

Ia sebenarnya masih sangat letih, tenaganya belum putih, maka itu, di waktu menusuk, ia mesti mengerahkan tenaga istimewa, sebab setiap tusukan memerlukan aksi sendiri-sendiri.

Lincah tertampak setiap gerakannya itu.

Hanya setelah itu, embun-embunannya lantas menghembuskan uap putih seperti asap dan peluhnya pun mengucur keluar.

Inilah sebenarnya suatu gerakan yang terpantang sebab ia terluka parah.

Kiam Hong menyaksikan aksi si nyonya, ia tidak mengerti ilmu pengobatan, tetapi ia bisa menduga kesukaran nyonya itu, hanya lantaran tak mengertinya, terpaksa ia berdiam saja, memandang dengan hatinya gelisah.

Habis menusuk, Cit Im Kauwcu duduk numprah dengan napasnya mengorong, mukanya pucat sekali, kedua matanya guram.

Tapi ia masih dapat berbicara.

Ia berikan Kiam Hong dua butir pel seraya berkata.

"Tolong kau tolongi anakku si Lan itu. Kau berikan ia dua butir pel ini, setelah itu kau tusuk jalan darahnya kwichong. Dia cuma terkena asap beracun, dia tidak dalam bahaya besar."

Habis berkata, si nyonya berdiam saja, dia tidak dapat bergerak lagi.

Kiam Hong berlaku sebat untuk menolongi Siu Lan.

Memang Siu Lan yang paling enteng penderitaannya.

Begitu ia menelan dua butir obat ibunya, ia lantas mendusin, maka Kiam Hong terus memberikan tusukan jarumnya.

Begitu darahnyajalan lurus, ia kembali kesegarannya.

Ketika ia membuka mata dan melihat orang yang menolong padanya, ia heran hingga ia tercengang, la kenali si Nona Liong.

"Syukur ada Nona Liong, jikalau tidak maka kita bertiga, ibu dan anak, pasti akan berkumpul di dunia baka,"

Berkata Cit Im Kauwcu kepada puterinya itu.

Siu Lan jelus terhadap Kiam Hong, ia bahkan membenci, tapi sekarang, mendengar perkataan ibunya itu, ia menjadi likat sendiri.

Ia malu dan berbareng bersyukur.

"Terima kasih,"

Katanya perlahan seraya ia cekal tangan Kiam Hong, untuk ditarik.

"Anak Lan, mari!"

Berkata si ibu.

Siu Lan menurut, ia menghampirkan, hanya belum lagi datang dekat, ia sudah merasakan hawa panas mengkedus, hingga ia mengawasi ibunya, yang mukanya merah sekali, sedang di alisnya ada warna hitam, la kaget.

"Mama!"

Katanya.

"kau kenapa? Kau terkena racun apa yang demikian jahat!"

"Tidak apa, mungkin aku tidak bakalan mati,"

Menyahut sang ibu.

"Sekarang coba kau geledah ia, keluarkan segala barang yang ada di tubuhnya..."

Dengan "dia"

Teranglah si nyonya maksudkan Pektok Sinkun. Siu Lan berkata di dalam hatinya.

"Ibu belajar bersama-sama dia dan ibu pula mendapatkan kitab Pektok Cinkeng dari gurunya, sekarang ibu tidak dapat menolong dirinya sendiri, ia rupanya masih mau mengandal kepada dia... Oh, Thian, semoga di tubuh dia ada obat pemunahnya!..."

Anak ini benar.

Memang ibunya tidak dapat menolong dirinya sendiri.

Kecuali terkena hajaran Kiuyang Tokciang, ia pun terkena bubuk Siauwhun Sitku San, juga racun yang terbuat dari bunga toh beracun dicampur racun-racun lainnya.

Sifat racun itu dingin, sedang sifatnya Kiuyang Tokc iang panas, makaj uga Pektok Sinkun telah menggunakan itu, supaya Cit Im dapat dibikin mati.

Kiuyang Tokciang dan Cit Im Tokciang berlainan sifatnya, yang satu panas, yang lain dingin, tetapi keduanya bisa sama-sama saling mempengaruhi.

Umpama kata Cit Im Kauwcu cuma terserang Kiuyang Tokciang, ia dapat melawan dengan tenaga dinginnya sendiri, lantas hawa panas bisa dibuyarkan, tapi karena ia ditambah racun Siauwhun Sitku San, ia menjadi tidak berdaya.

Siu Lan mendekati tubuh Pektok Sinkun, terus ia membaliknya.

Tubuh itu sudah kaku dan dingin hawanya.

Tubuh itu pun melengkung seperti udang, darah keluar dari matanya dan lainnya.

Diamati disebabkan pukulan Cit Im Tokciang serta anting-antingnya sendiri.

Sebenarnya si nona sangat membenci, tetapi melihat keadaan orang demikian hebat, ia menjadi tidak tega untuk mengawasi lama-lama.

Lekas-lekas ia memakai sarung tangan dan menutup matanya, ia mengasi keluar segala barang yang menjadi isi saku Pektok, seperti pelbagai macam obat beracun serta beberapa peles kecil.

"Apa sudah tidak ada lagi?"

Cit Im tanya. Ia mengawasi semua obat itu.

"Tidak,"

Sahut anaknya.

"Tidak bisa jadi! Mesti ada serupa lagi."

Siu Lan memberanikan hati, ia menggeledah pula. Lantas tangannya membentur sesuatu di pinggang Pektok.

"Jangan pegang itu dengan tangan!"

Cit Im berseru, mencegah.

"Kutungkan ikat pinggang itu dengan golok terbang!"

Siu Lan mengeluarkan tiga batang pisau belatinya, lantas ia bersiap sedia, mengincar untuk menimpuk. Tiba-tiba ia bersangsi, tangannya pun menggetar.

"Mari kasihkan pisau itu padaku,"

Kata Kiam Hong, perlahan.

Ia bisa membade hati si nona, yang kuatir nanti melukai pinggang Pektok.

Tanpa berkata-kata, Nona Im menyerahkan pisaunya, lantas ia melengos.

Memang ia kuatir penyerangannya tidak tepat dan nanti mengenai perutnya Pektok.

Kalau itu terjadi, perut orang bisa pecah dan ususnya akan keluar.

Biar bagaimana, Pektok ialah ayahnya sendiri.

Kiam Hong sudah lantas bekerja.

Dengan menggeraki tangannya, maka ketiga pisau-belati menyamber saling susul.

Hebat penyerangannya itu, ikat pinggang lantas terkutung menjadi tiga potong hingga terlepas sendirinya.

Tidak ada pisau yang mengenai perut atau kulit.

"Sungguh lihai!"

Cit Im Kauwcu memuji di dalam hati.

"Syukur malam ini ada dia, umpama yang datang kalah pandai, entah apa jadinya!..."

Selagi ikat pinggang terkutung, ada benda yang berkilauan yang melesat bagaikan bintangjatuh.

Kiam Hong telah berjaga-jaga, dengan menarik tangannya Siu Lan, ia berkelit.

Nyata diikat pinggang Pektok ada pesawat rahasianya.

Dengan putusnya ikat pinggang, pesawat rahasia itu bekerja sendirinya.

Maka menyamberlah sejumlah jarum beracun.

Coba ikat pinggang itu ditarik dengan tangan, tentu celakalah orang yang menariknya.

Dari ikat pinggang itu lantas terjatuh sebuah kotak kemala, yang mungil dan indah.

Melihat itu, hatinya Cit Im Kauwcu lega.

"Anak Lan, mari kotak itu kasihkan aku!"

Ia kata pada puterinya. Siu Lan menurut.

"Apakah kotak ini berisi obat pemunah racun itu?"

Ia tanya.

Cit Im Kauwcu menyambuti.

Dengan telunjuknya ia menekan perlahan pada samping kotak, setelah beberapa kali, terbukalah tutup kotak itu.

Di dalamnya terlihat tiga butir obat pulung yang warnanya hijau.

Begitu melihat itu obat, Kauwcu bernapas lega.

Ia dapat bersenyum getir.

Itulah senyuman campur kedukaan.

"Bagaimana?"

Siu Lan tanya.

"Tidak apa-apa. Mungkin ibumu dapat menemani kau lagi beberapa tahun..."

Hati si nona pun lega. Ia masih hendak menanya ketika ibunya kata.

"Kau ambil itu peles kemala yang lehernya ceking."

Sang anak menurut perintah.

"Benar!"

Ibunya mengangguk.

"Obat bubuk di dalam peles itu kau keluarkan, kau tiupkan ke dalam hidungnya adik Peng-mu. Itulah obat untuk memunahkan asap beracun. Tusukan jarum tadi cuma dapat mencegah mengalirnya racun ke seluruh tubuhnya bagian dalam, supaya jantungnya tidak terserang..."

"Racun dia itu, kenapa semuanya demikian lihai?"

Tanya Siu Lan. Ia pun menggunakan kata-kata "dia."

"Jikalau tidak demikian, mana dia dapat memperoleh gelarannya itu, Pektok Sinkun?"

Kata sang ibu.

"Benar aku berhasil mendapatkan kitab warisan guruku tetapi aku belum dapat ketika mempelajari racun seperti dia. Syukurnya ialah di dalam kitab ada tercatat pelbagai obat untuk memunahkan macam-macam racun. Dia tidak tahu ketika tadi kita beradu tangan, dia telah terkena racunku yang diberi nama Soku san. Jikalau bukannya begitu, ketika dia menyerang dengan Sengheng Tokhoan, tenaganya bakal bertambah lebih besar lagi."

Mendengar ini barulah Kiam Hong mengerti bahwa berhasilnya ia membabat anting-anting Pektok itu disebabkan bantuan bekerjanya racun Soku san itu hingga tenaganya Pektok telah jadi berkurang.

Ketika itu Siu Lan sudah bekerja, obat bubuk ia tiup masuk ke dalam hidungnya Ban Thian Peng.

Thian Peng rupanya merasa geli, tubuhnya bergerak, meski demikian, ia tidak lantas sadar.

Cit Im Kauwcu menghela napas.

"Hebat dia terkena racun,"

Katanya, berduka.

"Kelihatannya dia mesti menanti dulu satu jam baru dia dapat mendusin. Karena ini, dengan dapat rawatan sempurna, berselang satu bulan barulah kesehatannya dapat pulih seseluruhnya..."

Ia berhenti sebentar, ia merapatkan kedua matanya. Sekian lama, baru ia melek pula. Sekarang ia memandang Kiam Hong.

"Nona Liong, tadi kau mengatakan hendak meminta sesuatu dari aku,"

Tanyanya.

"urusan apakah itu? Sekarang kau dapat berbicara."

"Sebenarnya aku tidak memikir untuk di waktu begini mengganggu Kauwcu."

Menyahut si nona.

"akan tetapi tugasku penting sekali, pada ini ada tersangkut jiwanya beberapa orang. Kecuali kau, Kauwcu, lain orang tidak dapat menolong, mereka itu."

"Apakah itu?"

Tanya Cit Im, hatinya terkesiap.

"Siapakah itu yang kau hendak minta aku menolongi jiwanya?"

Kiam Hong mengawasi. Ia lantas menyebutkan namanya Giok Houw.

"Pula mereka itu terkena pukulan Kiuyang Tokciang dari Pektok Sinkun,"

Ia menambahkan.

Sebenarnya Cit Im Kauwcu lagi memasuki sebuah obat pulung ke dalam mulutnya, entah bagaimana, mendadak ia menggigit, membikin obat itu kutung dua, yang separuh ia terus telan, yang lainnya ia muntahkan, terus ia bungkus dengan rapi seperti tadinya dan dimasuki pula ke dalam kotaknya.

Siu Lan heran melihat kelakuan ibunya itu.

"Mama, apakah obat ini tidak cocok?"

Ia tanya. Ibu itu batuk-batuk.

"Bukan begitu,"

Katanya.

"Obat ini memang mesti begini cara makannya, ialah satu hari separuh, lantas tiga hari berselang, sakitnya sembuh."

Siu Lan percaya itu, ia tidak kata apa-apa lagi, ia lantas menumbuki punggung ibunya.

Kiam Hong pun mengawasi.

Ia melihat si nyonya berduka tetapi toh dapat bersenyum, hanya ketika dia berbicara, suaranya sedikit menggetar.

Ia heran, ia jadi berpikir.

"Kenapa dia bersenyum sedih? Apakah dia terluka parah dan tidak mau memberitahukan anaknya?"

Cit Im Kauwcu bernapas dalam-dalam lalu ia merasa lega sedikit.

"Oh, Thio Giok Houw terlukakan Kiuyang Tokciang?"

Ia tanya kemudian.

"Siapa lagi yang lainnya?"

"Merekalah saudaraku, enci Leng In Hong. serta Kimto Cecu,"

Sahut Nona Liong.

"Mereka mendapat pukulan yang serupa."

Mendengar begitu, Cit Im Kauwcu kata di dalam hatinya.

"Pantas di dalam kotak ini cuma ada tiga butir obat, kiranya itu hendak dipakai menolongi mereka itu bertiga. Teranglah dia mau memaksa Kimto Cecu menyerahkan bingkisan itu."

Kiam Hong mengawasi, ia tidak tahu apa yang orang pikir.

"Kauwcu,"

Katanya, berhati-hati.

"Kiuyang Tokciang itu ada ilmu ajarannya guru Kauwcu, tentulah Kauwcu ketahui juga obat pemunahnya..."

"Memang, aku tahu obat pemunahnya,"

Menyahut Cit Im. Ia henti sejenak, baru ia menambahkan.

"Hanyalah Thio Giok Houw ialah bocah yang terhadapku sangat kurang ajar dan Leng In Hong serta Ciu San Bin tidak aku kenal..."

Belum habis perkataan ibu ini, Siu Lan sudah memotong, agaknya si nona sangat gelisah.

"Mama! Mama! Kau..."

Suaranya pun parau. Nyonya itu bersenyum.

"Anak Lan, buat apa kau bergelisah?"

Katanya.

"Ibumu belum bicara habis..."

Tapi anak itu tetap bergelisah.

"Mama!"

Katanya pula, mendesak.

"kau... kau sebenarnya mau menolongi mereka itu atau tidak?"

"Sebenarnya ibumu tidak berniat menolongi mereka,"

Menyahut ibu itu.

"akan tetapi dengan memandang kepada Nona Liong, biar orang musuh kita, hendak aku menolongnya. Ah, sudahlah, segala apa yang sudah lewat, harus jangan disebut-sebut pula..."

Nyonya ini bicara demikian rupa akan tetapi Kiam Hong dapat membade hatinya. Itulah soal Giok Houw yang diberatkan si nyonya. Tapi ia sudah siap sedia, maka ia lantas berkata.

"Dulu hari itu Giok Houw belum mengenal sifat Kauwcu,"

Demikian katanya.

"maka itu beberapa kali ia sudah berlaku sembrono, akan tetapi belakangan ini ia telah mendengar omongannya Lihiap Ie Sin Cu, yang menjadi kakak seperguruannya, baru setelah itu ia ketahui siapa kauwcu ibu dan anak, terutama ia mengagumi penolakan Kauwcu atas lamarannya Kiauw Pak Beng. Sebelumnya terluka, Giok Houw pernah menyatakan padaku, kalau nanti urusan bingkisan sudah selesai, ia berniat mencari Kauwcu dan Nona Im untuk menghaturkan maaf."

Siu Lan membuka lebar matanya.

"Dia membilangnya demikian?"

Ia tanya.

"Mana berani aku mendustai kau?"

Kiam Hong membaliki.

"Memang dia mengatakan demikian dan aku tidak salah ingat, sekalipun sepatah kata."

Nona itu menghela napas.

"Aku juga tidak mengharap dia menghaturkan maaf padaku."

Katanya, berduka.

"sudah cukup asal dia mengetahui bahwa aku bukannya orang jahat. Ie Lihiap baik sekali, ketika dulu hari itu ia menolongi aku, belum sempat aku menghaturkan terima kasih padanya, maka itu enci, tolong kau saja yang mewakilkan menghaturkannya. Tolong bilangjuga buat banyak tahun aku tersesat, setelah mendapatkan petunjuknya, aku sangat bersyukur. Sekarang ini aku suka mendengar perkataannya."

"Aku kuatir aku tidak bakal bertemu pula Ie Lihiap."

Kata Kiam Hong. Siu Lan heran.

"Kenapakah?"

Tanyanya.

"Enci Leng In Hong dengan aku terhitung guru dan murid,"

Menyahut Nona Liong.

"kita pun ada bagaikan saudara kandung. Enci Leng bersama suaminya telah bercita-citakan membangun ilmu silat pedang Thiansan Pay, mengenai itu aku telah mengangkat sumpah untuk mengikuti mereka selama hidupku. Dengan begitu di satu pihak hendak aku membalas budinya, di lain pihak aku memang tidak dapat meninggalkan dia. Kali ini enci Leng terkena pukulan beracun KiuyangTokciang, begitu lekas ia telah sembuh, aku akan turut dia pulang ke Thiansan, untuk selanjutnya aku tidak mencampur tahu lagi urusan dalam dunia..."

Siu Lan tercengang.

"Kau bercita-citakan demikian?"

Tanyanya, heran.

"Ah, kau yang masih begini muda, kau dapat tinggal sendirian selama beberapa puluh tahun di gunung yang sepi sunyi?"

"Aku telah memikir,"

Menyahut Kiam Hong, menjelaskan.

"asal aku dapat membantu enci Leng membangun satu partai maka tidaklah sia-sia hidupku ini. Apakah yang aku kehendaki lagi?"

Ia berhenti sejenak, untuk lantas menambahkan.

"Maka itu aku bakal lekas meninggalkan gunungnya Ciu Cecu, karena mana aku kuatir aku tidak bakal bertemu pula dengan Ie Lihiap. Tentang Giok Houw, aku bilang memang dia sangat ingin menemui kau, guna menghaturkan maaf. Andaikata kau tidak menemui dia, di belakang hari, pasti dia bakal mencari kau. Oleh karena itu sekarang baiklah kau pergi menemui dia. Dialah adik seperguruan dari Ie Lihiap, jikalau ada apa-apa yang kau hendak perkatakan, kau dapat minta pertolongannya untuk disampaikan kepada Ie Lihiap itu."

Sempurna sekali Kiam Hong mengatur kata-katanya hingga Siu Lan mempercayai dia, hingga hati Nona Im menjadi kacau.

"Dia mau meninggalkan Thio Giok Houw?"

Puterinya Cit Im Kauwcu berkata dalam hatinya.

"Dia berbicara begini sungguh-sungguh, adakah itu benar9 Bagaimana sekarang, aku pergi menemui dia atau jangan?"

Dengan "dia,"

Siu Lan maksudkan Giok Houw. Cit Im Kauwcu sendiri mengawasi tajam kepada Kiam Hong, akhirnya ia mengangguk, kemudian ia berkata kepada anaknya.

"Siu Lan, benar katanya Nona Liong. Sebentar lagi, kau pergilah bersama ia. Aku hendak berdiam di kuil tua ini guna merawat diri Aku akan beritahukan kau tentang obat pemunah itu serta cara untuk menggunakannya, lantas kau pergi mewakilkan aku."

"Tetapi, mama,"

Kata anak itu.

"kau berdiam seorang diri di sini, hatiku tidak tenteram..."

Cit Im Kauwcu bersenyum.

"Siapa bilang aku bersendirian di sini?"

Katanya.

"Bukankah di sini ada Ban Thian Peng? Tidak lama lagi, dia bakal sadar sendirinya. Diaterlukakan Ngotok San, setelah ada obatnya, dia bakal mendusin dan akan lekas kembali kesehatannya. Beda kalau orang terkena Kiuyang Tokciang, meski telah diberikan obat. untuk kesembuhannya dia membutuhkan waktu beristirahat sepuluh hari sampai setengah bulan lagi. Dia berkepandaian cukup, dengan adanya aku di sini, kau jangan kuatirkan apa-apa lagi."

Lantas nyonya ini menoleh kepada Kiam Hong. untuk menanya.

"Sudah berapa lama mereka itu terluka?"

Kiam Hong menekuk-nekuk jari tangannya.

"Hari ini ialah hari ke enam,"

Ia menyahut.

"Pektok Sinkun pernah menggertak Kimto Cecu bahwa mereka mesti mendapat pertolongan di dalam waktu sepuluh hari..."

"Itulah bukan gertakan belaka,"

Berkata Cit Im Kauwcu.

"Kiuyang Tokciang sangat berbahaya, racunnya luar biasa, selewatnya sepuluh hari. racun akan bekerja memasuki tulang-tulang dan sungsum, maka sampai itu waktu, meski ada obat yang tepat, si kurban toh bakal bercacad seumur hidupnya. Oh, masih ada tempo empat hari... Aku pikir, untuk pergi ke gunungnya Kimto Cecu, cukup dengan perjalanan dua atau tiga hari, maka kamu berdua, pergi kamu lekas berangkat! Anak Lan, mari!"

"Mama hendak memesan apa?"

Siu Lan tanya. Ia mengira bakal diajarkan caramengobati luka hajaran KiuyangTokciang. Maka heranlah ia ketika ibu itu mengeluarkan se

Jilid buku seraya terus berkata dengan sungguh-sungguh kepadanya.

"Inilah kitab Pektok Cinkeng warisan Ki Sucouw. Kau simpanlah baik-baik."

Sang anak menjadi terlebih heran pula.

"Mama, mengapa kau berikan ini padaku?"

Tanyanya.

"Kaulah anakku, cepat atau lambat, aku toh mesti memberikan padamu."

"Toh tak usah sekarang,"

Pikir sang anak.

"Apakah karena mama terluka, ia menjadi tidak tenang hatinya untuk ia yang menyimpannya?"

Karena ibunya membilang demikian, ia terpaksa menerimanya. Ia kata.

"Mama, jangan kuatir. Aku ada bersama enci Liong, kita juga cuma berjalan beberapa hari, kitab ini tidak nanti lenyap."

Ia masih menyangka ibunya menyerahkan kepadanya untuk ia yang simpan untuk sementara waktu.

Air mukanya Cit Im Kauwcu bersungguh-sungguh, ia menanti sampai anaknya sudah menyimpan kitabnya itu, ia berkata pula per lahan-perlahan.

"Aku telah membangun Cit Im Kau w, untuk itu aku telah menggunakan banyak pikiran dan tenaga dan waktu, kesudahannya orang menamakannya agama sesat. Akan tetapi aku tidak menghiraukan itu. Aku tahu bahwa belum pernah aku melakukan sesuatu yang jahat, aku melainkan bekerja untuk kaum wanita yang terhina. Mungkin sekali, di waktu aku melakukan pembalasan untuk mereka, ada perbuatanku yang kurang tepat hingga aku mencelakai banyak orang kaum pria, karena mana orang telah mencaci aku dan mengatakan agamaku agama sesat. Pendek, biar bagaimana maksudku baik."

"Mama, aku ketahui itu,"

Kata Siu Lan. Kiam Hong sebaliknya berpikir.

"Cit Im Kauwcu bergantian telah diganggu oleh Ci Hee Tojin dan Pektok Sinkun, nasibnya buruk, tidak heran jikalau dia jadi membenci semua orang lelaki yang jahat. Oleh karena pembalasannya hebat, tidaklah heran jikalau oleh kaum lurus dia dipandang sesat, dia tidak dimengerti."

Siu Lan juga berpikir.

"Kenapakah di saat seperti ini, mama menyebut-nyebut segala hal yang tidak ada kepentingannya?"

Cit Im Kauwcu menghela napas, lalu ia menambahkan.

"Aku telah membangun Cit Im Kauw, dengan begitu selama beberapa tahun ini aku telah menolong dan merawat beberapa puluh anak perempuan yang tidak punya rumah ke mana mereka dapat pulang. Aku pun telah mengajari kepandaian kepada mereka. Oleh karena itu, anak, umpama di belakang hari kau suka menggantikan aku sebagai kauwcu dari Cit Im Kauw, kau boleh tetap memimpin mereka, sebaliknya, apabila kau tidak sudi, dapat kau membubarkan mereka itu. Aku memiliki harta, yang sekarang ini disimpan oleh Han Toaya, hal itu kau ketahui, maka uang itu, dapat kau pakai untuk membubarkan mereka."

Yang dipanggil Han Toaya itu ialah si pria yang pernah menyamar menjadi guru sekolah yang bersama Im Siu Lan mengatur rencana merampas bingkisan dari tangannya Ciu Ci Hiap.

Dia itu, dua anak daranya telah dibikin celaka oleh seorang okpa, ketika Cit Im Kauwcu membalaskan sakit hatinya, bersama-sama anak-anaknya itu dia masuk dalam Cit Im Kauw.

Mendengar perkataan ibunya ini, Siu Lan kaget.

Katakata itu terlalu mirip dengan pesan terakhir, pesan dari seorang yang hendak meninggalkan dunia yang fana.

"Mama, aku tidak mau pergi!"

Katanya mendadak, keras.

"Aku akan temani kau!"

Cit Im Kauwcu bersenyum.

"Menolong jiwa orang itulah urusan sangat perlu,"

Berkata ibu ini.

"Perlu apakah aku ditemani kau? Cukup yang aku ditemani dia! Anak yang baik, jangan kau berkuatir untukku. Aku masih hendak memesan kau..."

Habis berkata begitu, ia mengangkat tangannya perlahan-perlahan, untuk menunjuk kepada si pemuda baju kuning. Ia berkata pula.

"Tentang penghidupanku, barusan aku telah membilangi kau. Dia ini ialah anak dari orang yang menjadi sahabat karibku, maka itu aku ingin kau memandang dia sebagai saudara sendiri. Tahukah kau?"

Siu Lan mengangguk. Kedua matanya mengembeng air.

"Mama, aku tahu,"

Katanya. Mendadak ia merasakan hatinya senap. Ada suatu perasaan aneh atau firasat yang menghinggapinya. Ia bertanya dalam hatinya.

"Kenapa mama menyerahkan dia kepadaku? Juga katakatanya ibu ini tak usah diucapkan sekarang... Ia menjadi berkuatir, hatinya berdenyutan. Dengan tajam ia mengawasi ibunya itu. Ia menjublak. Justeru itu, tubuhnya Thian Peng berkutik. Dia mulai mendusin. Cit Im Kauwcu tertawa. Ia kata.

"Anak tolol! Kau telah jadi dewasa begini, apakah kau tidak tega meninggalkan ibumu? Lihat, adikmu itu sudah sadar, kau angkatlah dia bangun!"

Ban Thian Peng mementang kedua matanya.

Ia mengawasi ke sekitarnya, hingga ia melihat suasana di dalam ruang kuil itu.

Ia percaya bahwa ia mengerti duduknya hal.

Rupanya, untuknya, Cit Im Kauwcu sudah membinasakan Pektok Sinkun.

Hanya, kapan ia ingat pula peristiwa barusan, tubuhnya menggigil sendirinya, jantungnya goncang.

Tanpa merasa, ia lantas mengucurkan air mata.

Terus ia menekuk lutut di depan Cit Im Kauwcu.

"Mama!"

Ia memanggil. Cit Im Kauwcu mengangkat bangun anak muda itu.

"Orang yang mau mencelakai kau sudah mati,"

Katanya perlahan.

"Sekarang ini sudah aman, tidak ada bahaya apa-apa lagi."

Ban Thian Peng mengangkat kepalanya, ia menangis terisak.

"Mama, kau baik sekali, tak tahu aku bagaimana harus aku membalas budimu."

Katanya.

"Adalah ini Nona Liong yang menolongi kau, pergi kau menghaturkan terima kasih terhadapnya,"

Berkata Cit Tm Kauwcu seraya menunjuk Kiam Hong. Thian Peng berpaling, ia mengawasi Nona Liong, nampaknya ia heran sekali. Kiam Hong lantas berkata kepada anak muda itu.

"Kauwcu telah menerima baik permintaanku untuk menolongi sahabat-sahabatku, maka itu, aku pun harus mengucap terima kasih padamu."

"Nah, sekarang sudah!"

Berkata Cit Im Kauwcu.

"Thian Peng sudah mendusin, anak Lan, pergilah kau lekas, menolongi orang tidak boleh ayal-ayalan!"

"Mama, aku... aku takut..."

Sahut sang anak.

"Takut apa. anak?"

"Aku... aku takut meninggalkan kau, mama... Lebih baik aku terus menemani kau."

"Anak Lan, kau mengertilah,"

Berkata ibu itu perlahan.

"Kau pergilah! Adikmu tidak mengerti urusan mengobati luka keracunan, sedang pemuda she Thio itu ingin bertemu denganmu. Kau boleh mewakilkan aku dengan perjalananmu ini..."

"Enci, kau jangan kuatir,"

Thian Peng berkata.

"Nanti aku yang merawati mama."

Mendengar suaranya ibu dan adik itu. Siu Lan berpikir, la menginsafi bahaya yang mengancam Giok Houw semua, karena temponya tinggal empat hari lagi.

"Baiklah,"

Katanya akhirnya.

"Mama, mari kasih aku obatnya. Aku akan pergi untuk lekas kembali. Adik Peng, aku serahkan ibu kepada kau."

Cit Im Kauwcu mengawasi Liong Kiam Hong.

Nona Liong menyangka ibu itu hendak berbicara sama anaknya, entah urusan apa, maka ia memutar tubuhnya, untuk memandang keluar kuil.

Ia membawa sikap seperti ia tidak mengetahui apa-apa.

"Mama, kau hendak memesan apa lagi?"

Siu Lan tanya. Mendadak air mukanya nyonya itu berubah, hingga anaknya kaget.

"Mama, kau kenapa?"

Tanya sang anak, hatinya cemas. Cit Im Kauwcu tidak menjawab puterinya itu, sebaliknya, ia memanggil.

"Nona Liong, mari!"

Kim Hong heran, ia menoleh dengan cepat.

"Bukankah kau menjanjikan sahabat yang lihai datang kemari?"

Tanya kauwcu itu. Dia mengawasi tajam, sedang Kiam Hong mengawasi dengan heran.

"Tidak!"

Sahut si nona. melengak.

"Jikalau dia bukannya sehabatmu, dia tentunya musuh!"

Berkata kauwcu itu.

"Nah lekas kamu bertiga menyembunyikan diri!"

Ketika itu Kiam Hong segera mendengar suara tindakan kaki mendatangi, cepat sekali, makin lama, suaranya makin tegas.

Karena ini, ia mengagumi lihainya nyonya itu.

Tapi, ia tidak mau lantas pergi, ia berkuatir untuk nyonya itu.

Cit Im Kauwcu seperti dapat rmembade hati orang.

"Lekas kamu turut perkataanku, lekas sembunyi!"

Berkata dia.

"Orang yang datang ini gagah luar biasa, akan tetapi aku masih mempunyai daya untuk menghadapi dia. Umpamanya aku tidak berhasil, Nona Liong, kau boleh bertindak seperti tadi. kau bokong dia!"

Kiam Hong dapat dikasih mengerti, maka lantas ia ajak Thian Peng dan Siu Lan pergi ke belakang patung, untuk bersembunyi sambil mengintai, guna bersiap sedia.

Selagi anaknya bertiga bersembunyi itu, Cit Im Kauwcu bekerja.

Ia menghampirkan mayatnya Pektok Sinkun, untuk diangkat, guna dikasih duduk di lantai, setelah mana, ia bersembunyi di belakang mayat sambil menggunakan tangannya menunjang punggung mayat itu.

Baru ia selesai, atau tindakan kaki orang diluar ituyang katanya orang lihai-sudah sampai di depan pintu, berbareng dengan mana terdengar suara memanggil nyaring.

"Lao Cio! Lao Cio! Apakah kamu suami isterinya sudah selesai bicara?"

Itulah pertanyaan yang berarti, apa suami isteri sudah akur pula.

Cit Im Kauwcu batuk satu kali.

Itulah kebiasaan Pektok Sinkun jikalau dia mau bicara.

Dan kauwcu ini dapat menirunya dengan baik.

Setelah itu, ia kata dengan perlahan.

"Keng Ham. sahabat kekalmu datang."

Cit Im Kauwcu membawa lagak seperti ia dan suaminya tengah kasak-kusuk tetapi mereka diganggu dengan datangnya sahabat sang suami.

Di depan pintu itu, orang yang baru datang itu tertawa terbahak-bahak.

"Selamat! Selamat!"

Ia berkata berulang-ulang.

"Kamu sudah akur pula satu dengan lain maka ingin aku minum memberi selamat kepada kamu!"

Kata-kata itu dibarengi dengan tindakan kaki, yang membawa tubuh orang memasuki pintu.

Lebar tindakannya orang itu.

Kiam Hong dari tempatnya bersembunyi dapat mengintai.

Ia lantas mengenali Cou w Thian Yauw, yang datang bersama-sama Pektok Sinkun, yang sudah mengancam kepada Kimto Cecu.

Couw Thian Yauw sudah bertindak masuk, ia tidak mendapat dengar jawabannya Pektok Sinkun, ia heran sekali, justeru itu, matanya dapat melihat sahabatnya lagi duduk bercokol, matanya dirapatkan.

Dari heran, ia menjadi kaget.

"Lao Cio, kau bikin apa?"

Dia tanya dalam kaget dan herannya itu.

"Eh, mana Cit Im Kauwcu?"

Belum suara itu berhenti seseluruhnya satu suarajawaban yang menyeramkan sudah terdengar.

"Aku berada di sini, apakah matamu buta?"

Lantas menyusul itu, tubuhnya Pektok Sinkun bergerak, berlompat menubruk!

Couw Thian Yauw kaget tidak terkira, belum sempat ia berbuat apa-apa peluru Tokyam tan yang beracun dari Cit Im Kauwcu sudah menyerang tepat kepada dadanya.

Begitu mengenai, peluru itu pecah, apinya lantas membakar sasarannya.

Dalam kagetnya.

Couw Thian Yauw menggeraki kedua tangannya.

Tepat dia kaget dan tangannya itu bergerak, tepat dari belakang patung, Liong Kiam Hong berlompat menyerang, menebas.

Thian Yauw tidak berdaya lagi, sampai berkelit pun ia tidak sanggup, maka lengan kirinya terpapas kutung dan tubuhnya roboh.

Tapi ia gagah, dengan menguatkan diri, dengan gerakan "Ikan gabus meletik."

Ia berlompat bangun untuk berdiri. Berbareng dengan itu terdengar tertawa, tertawa seram dari Cit Im Kauwcu, yang berkata tajam.

"Jikalau kau bergerak pula. kau bakal tidak bisa hidup lagi satu jam!"

Couw Thian Yauw insaf akan bahaya yang mengancam dirinya, ia tidak berani melakukan perlawanan, hanya dengan memutar tubuh sangat sebat, ia meloloskan bajunya yang terbakar, baju itu terus dilemparkan ke arah Liong Kiam Hong.

Nona itu berkelit, atas mana, dia membareng untuk berlompat nerobos, guna lari keluar kuil.

Atau di lain saat terdengar jeritannya yang menyayatkan hati, jeritan yang di keluarkan di tempat jauh, kira satu li.

Itulah tanda dari mahirnya ilmu ringan tubuh dari orang she Couw itu, yang dapat lari dengan cepat.

Kiam Hong kaget dan tergetar hatinya menyaksikan kegagahan Thian Yauw itu.

Dia sudah terbakar dan tangannya telah kena dikutungkan, tetapi dia masih dapat lari demikian pesat.

Cit Im Kauwcu tertawa dingin ketika ia berkata.

"Biarpun ilmu dalammu sangat mahir, jikalau tidak mampus, kau bakal bercacad!"

Itulah kata-kata yang ditujukan kepada Thian Yauw. Habis itu, perlahanperlahan ia menggeraki tubuhnya.

"Kauwcu, kau beristirahatlah!"

Kata Kiam Hong. Cit Im Kauwcu menggeleng kepala. Ia merayap ke depannya mayat Pektok Sinkun, untuk membenarkannya, kemudian sambil menghela napas dalam, ia kata.

"Dua sahabatmu yang buruk yang telah membujuki dan memancingmu berbuat jahat telah aku bereskan, maka itu, bolehlah kau mati dengan mata meram..."

Suaranya itu makin lama menjadi makin lemah. Akhirnya, ia kata pula.

"Inilah yang dibilang budi dan penasaran, yang benar dan tidak benar! Semua itu telah menjadi beres, maka sekarang aku pun sudah saatnya untuk pergi berlalu..."

Ketika itu Siu Lan dan Thian Peng sudah keluar dari tempat mereka bersembunyi, mereka merubungi ibu itu.

Mereka melihat di bibir ibu itu ada tetesan darah, sebaliknya, mukanya pucat sekali.

Dengan sinar matanya, Cit Im Kauwcu mengisyaratkan untuk gadisnya memasang kuping.

Siu Lan memegangi tubuh ibunya itu, telinganya dipasang.

"Yang di dalam kotak kemala itu ialah obat pemunah racun,"

Berkata Cit Im Kauwcu, suaranya sangat perlahan, sangat lemah, sedang napasnya memburu.

Meskipun ia memasang telinga, sukar Siu Lan mendengarnya.

Ia menyodorkan kotak kemala, yang tadi ia dapatkan dari tubuhnya Pektok Sinkun.

"Ini, mama?"

Ia tanya. Ibu itu mengangguk. Siu Lan hendak membuka tutup kotak itu, atau ia melihat ibunya, dengan susah payah mencoba menggeleng kepala. Kata ibu itu, napasniamendesak.

"Bukan... bukan untuk aku yang makan... Aku sudah tidak berguna lagi... Kau berikan mereka seorang satu butir, orang yang ketiga, terserah kepada nasibnya..."

Siu Lan tidak lantas dapat menangkap arti kata kata ibunya itu, kecuali itu kata-kata.

"Aku sudah tidak berguna lagi..."

Ia merasa bagaikan kepalanya ditimpa guntur, hingga ia berdiam menjublak.

Ban Thian Peng pun berdiri melengak.

Ia tidak dapat dengar perkataannya kauwcu itu.

akan tetapi matanya dapat melihat, dan ia mendapatkan romannya Cit Im Kauwcu sama seperti roman ayahnya di saat ayahnya itu hendak menghembuskan napasnya yang terakhir.

Maka ia lantas memegang keras tangannya nyonya itu.

"Mama, kau kenapa?"

Tanyanya, hatinya mencelos.

"Ayah menginginkan aku hidup mengandal pada mama..."

Matanya Cit Im Kauwcu sudah dirapatkan ketika ia mendengar suara orang, ia lantas membukanya pula. Ia menghela napas.

"Anak, ibumu tidak dapat membalaskan sakit hatimu... Untuk kau, kau... kau... Yang Cong Hay..."

Cuma sebegitu nyonya ini dapat berbicara pula, lantas napasnya berhenti berjalan.

Ia meninggalkan puterinya sebelum si puteri pergi...

Kauwcu ini sebenarnya telah mendapatkan dua serangan yang berbahaya.

Yang pertama tangan Kiuyang Tokciang, yang kedua, bubuk Ngotok San.

Sedang obat di dalam kotak kemala itu hanyalah tiga butir obat pemunah Kiuyang Tokciang.

Itulah tiga butir pel, yang Pektok Sinkun sediakan untuk menolongi Ciu San Bin, Leng In Hong dan Thio Giok Houw andaikata mereka itu bersedia menyerahkan separuh dari semua bingkisan raja.

Cit Im Kauwcu terluka parah, umpamanya ia menelan semua tiga butir pel itu, cumajiwanya yang bakal ketolongan, kepandaian silatnya tidak dapat dipertahankan lagi.

Maka itu, begitu mendengar halnya Thio Giok Houw terluka parah, ia batal memakan obat pemunah racun itu.

Ia telah lantas berpikir.

"Daripada aku hidup terus sebagai manusia bercacad, yang tidak mempunyai guna apa-apa lagi. lebih baik aku tolongi mereka itu, supaya dengan begitu pun perjodohan dari si Lan jadi terangkap..."

Satu dari ketiga butir obat, ia telah makan sepanahnya, sisanya tinggal dua butir setengah, maka itu ia telah mengatakan.

"...orang yang ketiga, terserah kepada nasibnya..."

Siu Lan memeluki tubuh ibunya itu, ia merasakan tubuh sang ibu makin dingin dan makin dingin, lalu perlahan-perlahan menjadi kaku.

Sedang Ban Thian Peng lantas menangis menggerung-gerung.

Nona itu, atau si anak yatim piatu sekarang, berdiam saja.

matanya melongo.

Semenjak dilahirkan, ia cuma hidup berdua ibunya.

Sekarang ia ditinggal pergi ibunya itu, orang satu-satunya yang ia buat andalan, bagaimana hatinya tidak menjadi mencelos.

Hampir ia tidak percaya bahwa ibunya sudah menutup mata.

Tapi tubuh ibu itu sudah dingin dan kaku.

"Ibu telah menutup mata sudah menutup mata... Ya benar, ibu telah menutup mata..."

Katanya berulangulang, perasaannya bagaikan hilang. Kiam Hong pun mengucurkan air matanya. Pemandangan itu sangat memilukan hatinya. Ia menolak tubuh Siu Lan.

"Adik Lan..."

Katanya.

"kau nangis, kau nangislah!"

Siu Lan melepaskan tangannya, maka robohlah tubuh ibunya.

Thian Peng lantas menyambar, untuk memegangi tubuh itu.

Hanya sejenak lagi.

lantas Siu Lan menjerit menangis, dan ia menangis lama hingga suaranya menjadi serak, hingga matanya mengeluarkan darah.

Selewatnya itu bara ia menjadi sedikit lebih tenang.

Kiam Hong menahan keluarnya air matanya, ia mengusap-usap pundaknya Nona Im.

"Adik,"

Katanya perlahan.

"orang yang telah meninggal dunia tidak bakal hidup pula, maka itu haruslah kau jaga dirimu baik-baik, supaya kau bisa merawat jenazah ibumu ini."

Dengan sepasang matanya suram, Siu Lan mengangkat kepalanya, mengawasi nona dihadapannya itu.

la seperti tidak mengerti perkataan orang, ia agaknya masih kurang percaya bahwa ibunya sudah menutup mata.

Kiam Hong menguati hati, untuk tidak menangis terlebih jauh.

"Saudara Ban,"

Katanya pada Thian Peng.

"kau bantulah adik Siu Lan mengurus jenazah ibumu ini. Maafkan aku, aku tidak dapat membantu dan mengantar ibumu dikubur."

Siu Lan agaknya kaget.

"Enci Liong, kau hendak pergi sekarang?"

Tanyanya, agaknya ia berpikir keras.

Tapi cepat sekali ia mendusin bahwa Nona Liong perlu lekas pulang untuk menolongi orang, bahwa ibunya telah memberikan obat guna menolongi Giok Houw semua.

Ia lantas mengeluarkan kotak kemala, untuk dipegangi.

Mendadak saja ia ingat suatu apa, lalu ia pikir.

"Cuma untuk membawa obat pemunah untuk menolongi mereka, lantas racun Kiuyang Tokc iang bisa disingkirkan, karenanya, kenapa barusan mama mengharuskan aku turut pergi?"

Nona ini cerdas, hanya karena pukulan yang hebat ini, pikirannya menjadi kacau. Ia mesti mengingat-ingat keras untuk dapat memulihkan kesadarannya. Pikirnya pula.

"Sebelumnya Couw Thian Yauw datang, ibu tidak mengijinkan adik Peng pergi bersama Nona Liong, katanya adik Peng tidak mengerti tentang cara pengobatan. Mungkinkah, selainnya ini obat pemunah, dibutuhkan lain macam obat lagi? Atau adalah lainlainnya soal yang mesti diperhatikan? Kalau bukan cuma diperlukan obat pemunah, mengapa tadinya ibu tidak menyebutkannya?"

Masih Siu Lan berpikir, hingga ia mendapat pikiran lebih sadar lagi.

Sekarang ia dapat mengerti maksud ibunya.

Tentulah ibu itu bekerja untuk dirinya sendiri, ialah supaya ia sendiri yang membawa obat itu.

untuk ia sendiri juga yang mengobati Giok Houw, supaya dengan demikian dapatlah jodoh mereka ---jodoh ia dengan jodoh Giok Houw ---terangkap sempurna.

Rupa-rupanya ibu itu, setelah terlukakan Kiuyang Tokciang, sudah mendapat firasat yang lukanya tidak bakal sembuh, bahwa ia telah didustakan ibunya, yang membilang dirinya ---ibu itu ---tidak terancam bahaya.

Teranglah, dengan mendustakan ia, ibunya ingin ia pergi dengan pikiran tenteram.

Setelah memikir demikian, mendadak ia merasakan hatinya seperti copot.

"Seumurnya mama memperhatikan diriku, sampai saat terakhir, ia masih memikirkan kepentinganku,"

Pikirnya pula. Ia menjadi sangat bersedih, akan tetapi air matanya sudah habis, air mata itu tidak mau keluar pula.

"Enci,"

Bertanya Thian Peng.

"Nona Liong mau pergi menolongi orang, enci mau turut atau tidak? Tentang mama, enci serahkan padaku saja."

Siu Lan tidak menjawab Thian Peng, hanya sambil menyodorkan kotak kepada Kiam Hong, ia berkata.

"Nona Liong, maafkan aku, aku tidak dapat menemani kau!"

Wajahnya Kiam Hong guram.

Memang, di dalam keadaan seperti itu, tidak dapat ia mengajak nona itu pergi bersama.

Tentu sekali ia sangat berduka.

Tapi ia terpaksa mesti lekas pergi.

Maka tiga kali ia paykui kepada jenazah Cit Im Kauwcu.

Ketika ia berbangkit, ia menarik tangannya Nona Im.

"Seharusnya aku membantu mengurus dan mengantar pehbo dikubur,"

Katanya.

"akan tetapi di sana ada jiwanya tiga orang, terpaksa aku mesti pergi. Nanti saja, setelah aku selesai dengan tugasku, aku datang pula untuk mohon maaf..."

"Aku mengerti,"

Kata Siu Lan. suaranya parau.

"Untuk menolong orang, kau tidak dapat ayal-ayalan, maka kau pergilah!"

Kiam Hong lantas bertindak pergi. Tiba di ambang pintu, ia berpaling, ia menghampirkan Siu Lan, guna menarik tangannya.

"Adikku, aku tidak tahu bagaimana harus menghiburimu,"

Katanya.

"akan tetapi ada beberapa kata-kata yang aku ingin bicarakan dengan kau..."

Sampai itu waktu, buyar sudah sikap bermusuh dari Siu Lan terhadap Kiam Hong.

"Kau mau bicara apa, enci? Silakan!"

Katanya.

"Tidak beruntung ibumu telah meninggal dunia sedang saudara ini belum terbalas sakit hatinya,"

Kata Kiam Hong, yang menunjuk Thian Peng.

"Di samping itu adalah suatu kenyataan di saat hidupnya, ibumu juga mempunyai banyak musuh. Maka kau, seorang nona muda, untukmu menghadapi demikian banyak urusan, sungguh kau membuatnya aku berkuatir. Dari itu, kupikir, selekasnya kau beres mengurusjenazah ibumu ini, baik kau menyusul aku ke gunungnya Kimto Cecu. Di sana di mana ada banyak sahabat, dapat kita mendamaikan sesuatu. Tidakkah kau berkesan aku telah berbicara terlalu berterus terang?"

Siu Lan mengerti, kata-kata itu untuk kebaikannya, tetapi pikirannya lagi ruwet, ia bingung sekali. Ia pun berpikir.

"Dia dengan Giok Houw bersahabat erat sekali, dia sekarang menganjurkan pergi ke gunungnya, sebaliknya, dia sendiri katanya mau pulang ke Thiansan. Bukankah itu berarti dia berniat merangkap jodohku dengan jodoh Giok Houw? Jikalau aku menghalang di antara mereka, apa artinya itu?"

Maka ia berpikir keras, akhirnya ia kata.

"Enci, aku mengerti maksud baik dari kau. Sekarang kau lekas lekaslah pergi, untuk menolongi mereka yang terluka itu. Tentang lainnya urusan, perlahan-perlahan saja aku nanti pikirkan pula."

Kiam Hong tidak dapat memaksa, maka dengan mengucurkan air mata, mereka berpisahan.

Di tengah jalan.

Nona Liong pun kacau pikirannya.

Ia mesti berpikir banyak.

Bukankah Cit Im Kauwcu telah berkurban disebabkan dia hendak menolong Giok Houw bertiga?

Bukankah Siu Lan harus dikasihani karena nasibnya yang buruk itu, sedang terhadap Giok Houw dia sangat menyinta?

Sekarang Siok Lan telah menjadi yatim piatu.

Pikirnya.

"Untungku masih lebih baik. Aku mempunyai enci Leng sebagai orang yang aku andalkan. Maka baiklah aku jangan bersangsi lagi. Baik aku tetap menjalankan rencanaku, dan sehabis mengobati engko Houw, aku lantas pergi menyembunyikan diri di gunung Thiansan, lalu untuk selama-lamanya aku jangan menemukan pula mereka itu..."

Walaupun ia telah berpikir demikian dan telah mengambil keputusannya, dalam perjalanan lebih jauh ini, Kiam Hong tetap tak tenteram hatinya.

Ia merasa berat untuk meninggalkan Giok Houw bila nanti ia sudah mengobati sembuh pemuda itu.

Ia menjadi berduka.

Ia tentu masih berpikir terus, kalau tidak kupingnya mendengar suara tindakan kaki kuda di sebelah depannya.

Ketika ia memandang ke depan, ia melihat tiga penunggang kuda lagi mendatangi dengan cepat, bahkan segera ia mendengar tertawa lebar dari penunggang kuda terdepan, yang terus berkata nyaring.

"Nona Liong, sungguh tidak disangka-sangka bahwa di sini kita dapat bertemu pula! Kau berlari-lari begini cepat, apakah perlunya? Baiklah kau beristirahat, untuk sekalian kita memasang omong!"

Orang itu bukan cuma tertawa dan mengatakan demikian dengan lagaknya yang kurang ajar, dia pun sudah lantas lompat turun dari kudanya, guna menghadang di depan si nona.

Untuk terkejutnya Kiam Hong, ia mengenali Yang Cong Hay.

Orang she Yang ini mempunyai hubungan atau kepentingannya dengan halnya Pektok Sinkun pergi ke gunungnya Ciu San Bin untuk meminta bagian separuh dari bingkisan rampasan serta dengan peristiwa Cit Im Kauwcu itu.

Dialah yang pertama kali menganjurkan Cit Im Kauwcu merampas bingkisan, ketika ternyata Cit Im Kauwcu gagal, ia lantas mengojok-ojok Pektok Sinkun kepada siapa juga ia memberitahukan segala sesuatu mengenai Cit Im Kauwcu.

Memangnya Pektok Sinkun ingin baik pula dengan kauwcu itu.

Dalam ini hal, Yang Cong Hay mencoba memberikan bantuannya.

Itulah untuk kepentingannya.

Kalau Pektok Sinkun dan Cit Im Kauwcu rukun kembali, sangat besar faedahnya untuknya.

Ia hendak membaiki mereka, untuk ia gunai tenaganya.

Berbareng dengan itu, ia juga membaiki Kiauw Pak Beng.

Demikian, sesuai dengan perjanjian, mereka mau berkumpul di rumahnya Bang Thong.

Di luar dugaan Yang Cong Hay, malam itu Bang Thong terbinasakan C it Im Kauwcu.

Ketika Cong Hay tiba di rumah Bang Thong, orang justeru lagi sibuk mengurus jenazah orang she Bang itu.

Lalu setelah itu, datanglah Kiam Hong, yang mengacau.

Sebagai seorang sangat cerdik, Yang Cong Hay lantas membade-bade apa perlunya Nona Liong datang mencari Cit Tm Kauwcu.

Ia sekarang percaya, Cil Im Kauwcu dan Pektok Sinkun tentu tidak bakal akur kembali.

Oleh karena itu, ia lantas mengajak dua orang cintengnya keluarga Bang, guna mencari Kiam Hong.

Kebetulan untuknya, di tengah jalan ia berpapasan dengan Couw Thian Yauw, yang tengah terluka parah, hingga ia mendengar peristiwa atau kecelakaannya Thian Yauw itu, yang telah dilukai Cit Im Kauwcu.

Ia menyesal sekali, ia mengeluh.

Pikirnya.

"Pektok Sinkun telah roboh di tangannya Cit Im Kauwcu, itu berarti gagallah rencanaku, maka kalau Cit Im Kauwcu sampai kena dibaiki Liong Kiam Hong, untukku menjadi bertambah buruk..."

Maka disatu pihak ia menitahkan orang mengantarkan Couw Thian Yauw pulang ke rumah Bang Thong, di lain pihak ia lantas mengasah otak, untuk menelurkan akal baru.

Paling dulu ia mau pergi ke kuil, guna melihat keadaan, untuk mengambil tindakan perlawanan.

Menurut ia, Cit Im Kauwcu membinasakan Pektok Sinkun tentu disebabkan urusan pribadi.

Ia pikir.

Cit Im Kauwcu pernah melukakan Ciu Ci Hiap, belum tentu kauwcu itu nanti berbalik menjadi membantui Ciu San Bin.

Sebaliknya ia dengan Cit Im Kauwcu pernah saudara seperguruan, ia sangsi kauwcu itu nanti bentrok dengannya.

Maka ia ingin mencoba membujuk kauwcu itu berpihak kepadanya, supaya Liong Kiam Hong dibekuk, la hanya tidak pernah menyangka.

Cit Im Kauwcu telah meninggal dunia.

Pula, tidaklah dalam dugaannya, di tengah jalan ini ia bersomplokan sama Nona Liong.

Ia menjadi girang sekali, dari itu ia telah membawa aksinya itu menghadang si nona!

Sebelumnya memegat itu, melihat Kiam Hong bersendirian dan tengah berlari-lari keras sekali, Yang Cong Hay si cerdik sudah menggunakan juga otaknya.

Ia bercuriga.

Ia lantas menduga-duga.

Pikirnya itu waktu.

"Jalan ini memang jalan pegunungan yang sunyi, tetapi dia wanita dan bersendirian, tanpa ada urusan yang penting, tidak nanti dia berjalan begini keras. Dia telah menggunakan ilmunya ringan tubuh. Bukankah dia dan Cit Im Kauwcu ada sangkut pautnya? Kenapa kemarin ini di Bang keepo, dia menyatakan bahwa dia mencari Cit Im Kauwcu untuk memohon bantuan kauwcu itu? Kenapa dia tidak malu untuk minta bantuannya Cit Im Kauwcu? Bukankah di gunungnya Kimto Cecu ada banyak orang yang lihai? Kenapa dia masih membutuhkan Cit Im Kauwcu? ---Ah, tidak bisa lain, tentulah ini ada berhubung sama obat pemunah racun! Dia berjalan begini cepat, mungkin dia telah berhasil mendapatkan obat itu..."

Maka ia lantas memegat.

Kiam Hong kaget bukan main menemui Cong Hay di tempat sepi itu, hingga ia mengeluh dalam hatinya.

Dan belum lagi ia sempat berpikir, Cong Hay sudah lompat turun dari kudanya, guna menghalang di .depannya itu.

Ia lantas mengerutkan alis, otaknya berputar.

"Kiraku siapa, tak tahunya Yang Toacongkoan!"

Ia berkata.

"Aku telah mendapat keakuran dengan suci kau, kenapa kau memegat aku?"

"Apa?"

Cong Hay tanya.

"Kau maksudkan Cit Im Kauwcu?"

Nona itu tertawa.

"Aku menyebut suci-mu!"

Katanya.

"kalau bukannya Cit Im Kauwcu, habis siapa lagi?"

Cong Hay sudah lantas berpikir.

"Di dalam dunia Kangouw ini, yang mengetahui Cit Im Kauwcu itu kakak seperguruanku sangat sedikit,"

Pikirnya.

"maka budak ini tentu bukannya tengah mendusta. Ia mestinya diberitahukan sendiri oleh Cit Im Kauwcu..."

Maka ia lantas menanya.

"Mana suci-ku itu?"

"Dia bersama puterinya mengambil jalan arah sana."

Sahut Kiam Hong sambil menunjuk.

"Itu toh jalan untuk kota raja?"

Cong Hay tanya.

"Tidak salah!"

Menjawab si nona.

"Kauwcu justru mau pergi mencari kau, katanya untuk menasehati kau agar kau jangan memangku pangkat, supaya kau susul mereka, mungkin kau masih dapat menyandak!"

Sengaja Nona Liong menunjuk arah yang bertentangan, supaya Cong Hay tidak pergi ke arah kuil di mana dia mungkin menemui mayat kakak seperguruannya itu, hingga bisa kejadian dia nanti mengganggu Im Siu Lan.

Cong Hay tercengang, tapi hanya sejenak, lantas dia tertawa lebar.

"Dengan suci-ku itu, boleh perlahan perlahan saja aku membuat pertemuan!"

Katanya.

"Kau telah bertemu sama suci-ku itu, kau dapat apakah dari ia? Mari serahkan barang itu padaku!"

"Aku tidak dapatkan apa-apa,"

Sahut Kiam Hong, sedang hatinya berdebaran. Ia bergelisah.

"Kau membilang tidak! Apakah kau berani membiarkan aku menggeledahmu?"

Tanya Cong Hay. Sambil berkata begitu, ia mengulur tangannya yang panjang ke arah si nona, niatnya untuk menjambak dan menarik nona itu. Kiam Hong mundur, tangannya menghunus pedangnya.

"Yang Cong Hay!"

Ia membentak.

"Kau berani kurang ajar? Taruh kata benar suci-mu itu memberikan aku sesuatu barang, kau tidak berhak untuk menanyakannya!"

Dengan berkata begitu. Kiam Hong menggertak. Di luar dugaannya, Cong Hay tertawa besar.

"Dengan kata-katamu yang bergula kau mempedayai suci-ku!"

Katanya.

"Apakah aku yang menjadi adik seperguruannya tidak dapat mengurus halnya? Kau telah menipu untuk mendapatkan obat, guna menolong musuh kami. maka jikalau aku membunuh kau, suci-ku tidak nanti menyesalkan aku!"

Sembari berkata begitu, Yang Cong Hay menghunus pedangnya, untuk segera menerjang. Tiga kali beruntun ia menikam dan menabas. Kiam Hong main mundur, sekonyong-konyong ia tertawa.

"Suci-mu itu bukan saja memberikan aku obat pemunah, dia bahkan memberikan juga barang yang sangat berharga! Tahukah kau itu?"

Ia menanya. Kelihatannya ia tenang sekali. Hatinya Cong Hay tergerak. Ia lantas memikir.

"Mungkinkah itu kitab Pektok Cinkeng?"

Maka ia lantas menanya.

"Apakah itu?"

"Aku tidak mau mengatakan!"

Menyahut si nona. Cong Hay tertawa dingin, dia menyeringai.

"Jikalau kau tidak suka bicara, aku nanti bunuh padamu!"

Dia mengancam "Dapat aku menggeledah kau!"

"Jikalau begitu maka salahlah perbuatanmu!"

Berkata si nona, tertawa pula.

"Barang demikian berharga, apakah kau kira aku bawa itu pada tubuhku? Aku telah menyembunyikannya! Nanti, di belakang hari, aku minta bantuannya orang-orang yang lihai untuk mengambilnya! Hendak aku melihat, kau mempunyai daya apa untuk merintangi orang-orang lihai itu!"

Cong Hay bersangsi melihat sikap orang demikian tenang dan suaranya demikian pasti.

"Sebenarnya barang apakah itu?"

Dia tanya, suaranya keras.

"Kau bersikap begini galak terhadap aku, coba kau pikir, dapatkah aku bicara denganmu?"

Si nonamembaliki. Selama itu Cong Hay masih merangsak, sekarang ia memperlahankannya.

"Baiklah!"

Katanya, lagu suaranya menjadi lunak.

"Sekarang kau serahkanlah barangnya suci-ku itu. Nanti aku memberi ampun padamu."

"Benarkah perkataan kau ini?"

Kim Hong menegaskan.

"Benar!"

Cong Hay memberikan kepastian.

"Baiklah, ini aku memberikannya!"

Sembari berkata begitu, dengan sebat luar biasa Kiam Hong menikam ke arah tenggorokan jago itu.

Teranglah nona ini sudah mengoceh saja.

Ia menggunakan siasat.

Ia menduga, dengan dipedayakan secara demikian, Cong Hay bakal menjadi lengah, lantas ketika baik itu ia tidak sia-siakannya lagi.

Ternyatalah ia berhasil dengan tipunya itu.

Cong Hay itu lihai luar biasa dan jumawa dan dia tidak memandang sebelah mata kepada si nona.

Di dalam hal ilmu dalam, Kiam Hong kalah jauh dari orang she Yang itu, congkoan besar yang pernah menjadi salah satu dari ke empat kiamkek, ahli pedang atau jago utama, tetapi mengenai ilmu pedang, ia menang setingkat, dan sekarang, ia menyerang hebat setelah ia mencari-cari ketika sekian lama.

Cong Hay kaget bukan main, hingga dia berseru.

"Celaka!"

Dasar dia lihai, dalam saat kematian itu, ia menghindarkan diri dengan gerakannya "Tiatpoan kio"

Atau Jembatan Besi.

Diamelengak dengan kedua kakinya memasang kuda-kuda yang kokoh kuat, hingga dengan tubuhnya rata bagaikan tidur terlentang, pedang si nona lewat di atasan dadanya.

Menyusul itu, dia segera berlompat, guna menyingkir lebih jauh, karena dia percaya si nona bakal mengulangi serangannya.

Dia pun menangkis dengan pedangnya.

Dugaan itu tepat.

Kiam Hong menyerang pula.

Kali ini, serangannya itu kena ditangkis.

Meski demikian, ujung pedangnya mampir juga di dada lawan hingga dada itu tergores luka sedikit, kira-kira tiga dim panjangnya.

"Sayang!"

Si nona mengeluh di dalam hatinya.

Sebaliknya, Cong Hay jadi sangat malu dan panas hatinya.

Dialah jago dan dia kena diakali.

Dia tidak terlukakan parah tetapi bagian yang tergores itu justeru bagian yang berbahaya-di atasan perut ---hingga sakitnya bukan main.

"Hari ini aku mesti ambil jiwamu, tidak dapat tidak!"

Dia berteriak.

Dan dia lantas menerjang dengan bengis, bagaikan badai dan hujan lebat.

Kiam Hong lantas kena terdesak, sampai ia menjadi repot sekali.

Menggunakan ketika desakannya itu, dengan tangan kirinya, Cong Hay mengeluarkan obatnya, guna segera diborehkan pada lukanya, supaya luka itu tidak membahayakan jiwanya.

Hati Kiam Hong menjadi kecil.

Ia tidak menyangka sama sekali, setelah terluka itu, Cong Hay masih demikian kosen.

Bagaikan binatang liar mogok, dengan berseru keras, Cong Hay melanjuti desakannya.

Tapi Kiam Hong juga nekat, ia mempunyai tugas sangat penting.

Ialah membawa obat pemunah, guna menolongi tigajiwa.

Maka ia membesarkan hatinya, ia mencoba melawan keras tetapi waspada.

Dalam tempo yang singkat, tiga puluh jurus sudah lewat.

Nona Liong mengeluarkan kepandaiannya guna melayani musuh yang kalap itu.

Benar Cong Hay merangsak hebat, akan tetapi dia tidak berhasil merobohkan lawannya, sebaliknya, satu kali, tangan bajunya kena ditobloskan ujung pedang si nona.

Syukur ujung pedang itu tidak meluncur terus ke perutnya.

Dengan menyedot napas, dia membikin dada dan perutnya ciut.

Maka dia menjadi semakin gusar.

Hanyalah kali ini, dia dapat berpikir.

"Baru selang dua hari, kenapa ilmu pedangnya ia ini menjadi maju begini?"

Demikian pikirnya.

Karena dapat memikir, ia menjadi kurangan mendongkolnya.

Ia lantas ingat, inilah bukan disebabkan si nona maju hanya ia sendiri, saking murka, menjadi kurang waspada.

Kedua orangnya Bang Thong heran melihat si nona dapat mendesak jago itu.

Mereka jadi berpikir.

"Kiranya ini Yang Toacongkoan cuma besar namanya saja, sekalipun seorang nona. dia tidak dapat lawan."

Karena itu, mereka lantas menghunus senjata, berniat memberikan bantuan mereka. Tapi, belum lagi mereka maju, mereka telah mendengar tertawa nyaring dari congkoan besar itu.

"Untuk melawan satu budak kecil perlu apa mesti main banyakan orang!"

Berkata congkoan itu. Dia rupanya melihat orang hendak meluruk membantui padanya.

"Kamu kucak mata kamu dan lihat, jikalau dalam tiga puluh jurus aku tidak dapat membekuk budak ini, kamu boleh tulis terbalik tiga namanya Yang Cong Hay!"

Belum berhenti kata-katajumawa itu, gerakan pedang congkoan ini sudah berubah.

Kiam Hong menjadi heran.

Ia merasakan pedang musuh itu menjadi berat luar biasa, benar gerakannya tidak menjadi sebat lagi, bahkan ayal, tetapi ujung pedang itu menjadi berat umpama kata seribu kati.

Dengan lantas ia menjadi terdesak pula.

Cong Hay sudah menukar siasat.

Ia tahu si nona lihai dan gesit, ia lantas menggunakan tenaga dalamnya, tenaga mana disalurkan kepada pedangnya, membikin pedang itu menjadi berat.

Untuk dapat melayani, guna membela diri.

Kiam Hong menjadi tidak dapat berlaku sebat lagi seperti semula.

"Celaka!"

Akhirnya Kiam Hong berseru di dalam hatinya. Lama-lama ia merasakan, kecuali pedang musuh menjadi berat, pedangnya sendiri bagaikan tertempel, hingga sulit untuk ia menariknya.

"Haha-haha!"

Yang Cong Hay tertawa.

Dan ini memperbesar tenaga dalamnya itu.

Ia menindih makin berat pedang Cengkong kiam si nona, setelah mana, tangan kirinya pun bekerja, dalam ilmu silat "Tangan kosong memasuki senjata putih."

Itulah ilmu untuk dengan tangan kosong merampas senjata musuh.

Biarnya ia lebih lihai ilmu pedangnya, Kiam Hong akhirnya kewalahan.

Ia kalah tenaga dalam, sangat berat untuk ia melayani, guna bertahan terus menerus.

Percuma ia mengerahkan semangat, guna melawan terus.

Ia pun lantas saban-saban kena dibikin kaget.

Tangan kiri musuh itu beberapa kali hampir berhasil menjambret pedangnya untuk dirampas.

Maka selang belasan jurus lagi, ia lantas kena terkurung...

Tengah pertempuran itu berjalan di saat yang akan memutuskan, di sana terdengar suara nyaring dari kelenengan kuda disusul suara pertanyaan yang keras.

"He! Apakah itu bukannya Nona Liong?"

Mendengar suara itu, Kiam Hong menjadi girang mendadak.

"Lauw Cecu?"

Ia berseru menanya.

Pertanyaan itu tidak mendapat jawaban, sebaliknya, di sana terdengar bentrokan senjata.

Itulah disebabkan orang yang baru datang itu, yang dipanggil Lauw Cecu, sudah dirintangi kedua orangnya Bang Thong.

Orang itu Lauw Wan Tat hucecu atau ketua muda dari benteng Kimto Ce dari gunungnya Kimto Cecu Cio San Bin.

Dia bersenjatakan sebatang golok besar dan tebal, karena dialah seorang yang bertenaga besar.

Keduajago dari Bang keepo lihai tetapi berat mereka melayani Lauw Cecu.

Di dalam tempo yang pendek, keduanya lantas terdesak.

Setiap kali senjata mereka bertiga bentrok, setiap kali juga tangan mereka berdua kesemutan dan gemetaran, sakit rasanya, sebab telapakan tangan mereka berdarah, bahkan yang satu, tombaknya kena dibacok kutung!

Habis itu, Lauw Cecu maju kepada Yang Cong Hay, dan ia lantas membacok.

Cong Hay lagi mencoba pula merampas pedang Kiam Hong ketika ia melihat sampainya serangan, terpaksa ia melepaskan si nona, guna membela dirinya.

Ia menangkis senjata musuh.

Akibatnya itu ialah suara berkontrang keras serta muncratnya lelatu api.

Keduanya pun menjadi terkejut.

Ternyata, goloknya cecu itu kena terpapas sedikit, dan pedangnya Cong Hay mental dan tangannya terasakan sakit, syukur pedang itu tidak terlepas dari cekalan.

"Hebat tenaganya orang ini,"

Pikir Cong Hay.

Ia kaget tetapi tidak takut.

Lauw Wan Tat juga kaget, lalu tanpa menghiraukan sempoaknya goloknya, ia mengulangi bacokannya yang kedua kali, di-susul sama yang ketiga.

Kiam Hong sendiri, dengan datangnya bala bantuan, menjadi mendapat ketika untuk memperbaiki diri.

Ia sebenarnya mau maju terus, guna membantui Wan Tat, tatkala kedua cinteng Bang keepo datang padanya, menyerang dari kiri dan kanan.

Ia dibokong dan digencet pula.

Musuh yang satu bersenjatakan golok, dia menyerang dari bawah, ialah membacok kaki sambil dia menjatuhkan diri di tanah, untuk maju sambil bergulingan.

Yang satunya pula menyerang dengan tombak kutungnya, ujung tombaknya mengarah jalan darah soanki hiat.

Dia ini tidak memandang sebelah mata kepada si nona, yang dia anggap sudah letih sekali.

"Kau pun lihat totokanku!"

Kata Kiam Hong, yang melihat datangnya dua serangan itu.

Dengan sebat ia telah melirik ke kedua arah, lalu ia maju kepada si musuh yang menggunakan tombak itu.

belum lagi ia kena ditusuk, totokannya sudah mendahului mengenai musuh hingga dia itu lantas saja berdiri diam, kedua tangannya dikasih turun, mulutnya terbuka menganga.

Yang menyerang di bawah itu membacok tempat kosong.

Sambil maju tadi, Kiam Hong berkelit dari bacokan kepada kakinya.

Dia terkejut karena gagalnya serangannya itu.

dia menjadi kaget pula melihat kawannya kena tertotok hingga menjadi tidak berdaya.

Dia pun heran sebab tadi dia dan kawannya memandang enteng kepada Cong Hay, yang kena didesak nona ini.

Sekarang dia menginsafi nona itu benar lihai, hanyalah dia terlambat.

Ketika dia mau mengguling tubuh, buat mundur, Kiam Hong mendahului menendangnya hingga dia terpental dengan tulang iganya patah!

Pertempuran di antara Yang Cong Hay dan ,Lauw Wan Tat berjalan terus.

Cong Hay menang lihai, Wan Tat menang tenaga dan goloknya pun lihay.

Maka bekas congkoan itu lantas berpikir.

"Sulit untuk dalam tempo pendek merobohkan cecu itu."

Pula, di samping ia terkejut menyaksikan kedua cinteng Bang keepo telah kena dirobohkan, di sebelah depan nampak mendatanginya lagi dua penunggang kuda.

Atas datangnya kedua orang itu, Lauw Wan Tat sudah lantas mengasi dengar suaranya yang nyaring, dalam bahasa rahasia kaumnya.

"Kakinya kambing dapat menendang! Pundak rata maju mengutungi kaki itu!"

Itulah berarti.

Musuh tangguh, mari kita kepung dia!

Yang Cong Hay licik sekali.

Melayani satu Lauw Wan Tat masih satu soal, di sana masih ada Kiam Hong.

Lalu sekarang datang dua orang lagi, yang belum ketahuan lihai atau tidak.

Maka ia pikir, mengangkat kaki ialah paling selamat.

Karenanya ia mendesak Wan Tat.

Setelah dua tikaman saling susul, ia memutar tubuhnya, untuk berlompat, guna membuka langkah seribu.

"Bangsat, kau hendak lari?"

Wan Tat mencaci dengan gusar seraya dia berlompat, guna membacok.

"Kau hendak merintangi aku?"

Kata Cong Hay sambil tertawa menyeringai, tubuhnya mencelat ke samping, membikin serangan lewat, setelah mana, dia berbalik, untuk membalas menyerang dengan tikamannya.

Lauw Wan Tat tidak menduga lawan menggunakan tipu dan gerakannya pun demikian gesit.

Ia sendiri, benar ia kuat, tetapi kurang sebat, senjatanya berat dari senjata berat sukar melawan pedang yang kecil dan enteng, la masih mencoba membela dirinya dengan melintangi goloknya.

"Traang!"

Pedang Cong Hay itu kena ditangkis Kiam Hong, yang maju untuk melindungi kawannya, akan tetapi pedang telah meluncur demikian rupa.

lengan Wan Tat kena juga tergores.

Sambil tertawa dingin, Cong Hay kata.

"Masihkah kau berani mengatakan aku si kambing?"

Ia rupanya mengerti bahasa rahasianya cecu muda itu.

Belum berhenti perkataan bekas congkoan ini goloknya Wan Tat sudah menyambar ke arahnya.

Wan Tat mendongkol ia diejek, maka tanpa membilang suatu apa.

goloknya yang melintang itu dipakai menyampok.

Cong Hay kaget tetapi sesudah pedangnya kena tersampok, demikian keras, hingga lepas dari tangannya dan mental.

Kiam Hong melihat itu, ia menggunakan saatnya untuk menyerang saling susul, hingga Cong Hay terdesak, tak sempat dia berlompat guna menyambar pulang pedangnya itu.

Bahkan saking terpaksa, dia lari terus kepada sekor kuda, untuk lompat naik ke pinggangnya, guna terus menyingkirkan diri.

Kiam Hong tidak mengejar, ia menoleh kepada Wan Tat yang terluka itu.

Ia berlega hati kapan ia mendapat kenyataan hucecu itu melainkan terluka kulitnya.

Tapi dia beradat keras, dia mendongkol sekali, maka itu dia mencaci musuhnya yang sudah kabur jauh itu.

"Lauw Cecu,"

Kata si nona tertawa.

"Yang Cong Hay bekas congkoan besar dari istana kaisar, kau telah bikin dia meninggalkan senjatanya dan kabur, itu saja sudah cukup untukmu membanggakannya!"

Wan Tat dapat juga dihiburkan.

Ketika itu kedua penunggang kuda telah tiba kepada mereka.

Mereka berdua ialah liauwlo dari gunung, yang di kirim untuk menyusul.

Sebenarnya mereka berdua di kirim berbareng bersama Wan Tat tetapi mereka berjalan belakangan.

Ilmu silat mereka tidak berarti, mereka hanyalah cerdik, maka itu.

setiap kali ia turun gunung, hucecu mengajak mereka.

Syukur Cong Hay tidak ketahui halnya kedua liauwlo ini, kalau tidak, kalau dia tidak menyingkir, entah bagaimana kesudahannya pertempuran selanjutnya.

Dari dua orang Bang keepo, yang tulang rusuknya patah masih dapat melarikan diri, tinggal yang kena tertotok Kiam Hong, dia tetap berdiri menjublak, tangannya turun, mulutnya terbuka.

Kiam Hong lantas membebaskan dia, untuk ditanya keterangannya.

Dia suka menerangkan bahwa Yang Cong Hay datang ke Bang keepo bersama dua opsir Gilimkun, tibanya baru beberapa hari yang lalu, bahwa sekarang Couw Thian Yauw lagi berobat di rumahnya Bang Thong itu.

Karena dia suka bicara, dia lantas dimerdekakan.

"Kalau begitu Yang Cong Hay dan Pektok Sinkun ada dari satu golongan,"

Berkata Lauw Wan Tat.

"rupanya mereka bersama hendak mendapatkan bingkisan kita."

Kiam Hong mengangguk.

"Sekarang tak usah kita kuatirkan Cong Hay,"

Kata nona ini.

"Pektok Sinkun sudah mati dan Couw Thian Yauw tengah terluka. Seorang diri tentulah dia tidak bisa berbuat banyak."

Lebih jauh Kiam Hong tuturkan peristiwa matinya Pektok Sinkun itu.

hingga matinyaCit Im Kauwcu juga.

Lauw Wan Tat berlega hati mendengar musuh telah terbinasa dan terluka dan obat pemunah racun pun sudah didapatkan.

Karena ia berlega hati itu.

kewaspadaannya menjadi berkurang.

Sampai di situ.

mereka melakukan perjalanan pulang.

Kiam Hong menggunakan kuda rampasan, maka itu, mereka bersama-sama menunggang kuda.

Dengan lekas mereka melalui perjalanan seratus li.

Ketika hari sudah jadi magrib, mereka tiba di sebuah dusun, Hulicip namanya.

Dusun itu masih terpisah kira-kira dua ratus li dari gunung mereka.

"Kalau kita berjalan terus, besok tengah hari kita bisa kembali ke gunung,"

Kata Lauw Wan Tat.

Kiam Hong menekuk-nekuk jari tangannya, untuk menghitung hari.

Nusa ialah hari ke sembilan dari terlukanya Giok Houw bertiga.

Luka disebabkan tangan Kiuyang Tokciang, seperti diterangkan Couw Thian Yauw.

cuma dapat bertahan sepuluh hari, selewatnya.

celakalah si kurban.

Karena masih ada tempo satu hari, hati si nona lega.

suka ia singgah didusun itu.

Ia merasa lega juga hatinya, hanya kapan ia mengingat kematiannya Cit Im Kauwcu, ia berduka.

Tapi ia menanyakan dulu tentang keadaannya Giok Houw bertiga.

"Keadaannya Ciu Cecu yang paling berat,"

Wan Tat menerangkan.

"Leng Lihiap dan Thio Tocu mendingan, mereka dapat minum susu dan bisa juga memasang omong."

Tiba di dalam dusun, sudah waktunya api dinyalakan, dan di jalanan, sedikit orang yang berlalu lintas.

"Apakah perlu kita memeriksa dulu, kalau-kalau di sini ada orang-orang yang mencurigakan?"

Tanya kedua liauwlo yang cerdik itu. Lauw Wan Tat tertawa ketika ia menjawab.

"Di tempat ini cuma ada sebuah rumah penginapan, yang dibuka oleh orang sendiri, baiklah kita langsung pergi ke sana. Segala apa dapat kita minta keterangan dari pengurusnya. Yang Cong Hay sudah kabur, apa lagi yang kita buat kuatir? Kamu sendiri tentu sudah letih, di sana kamu dapat beristirahat."

Keterangannya hucecu ini benar.

Rumah penginapan yang disebutkan itu mempunyai perhubungan sama Ciu San Bin.

Pemiliknya, seorang she Ciu, sudah mengusahakan itu sepuluh tahun lebih, benar dia bukan asal liauwlo tapi dia kenal baik sejumlah tauwbak gunung.

Juga di dalam pondokan itu ada dua liauwlo, yang tinggal menetap sebagai pegawai, dengan tugas menjadi mata-mata.

Karena ini, atas perkataan cecu itu, kedua orangnya tidak membilang apa-apa lagi.

Belum lagi mereka tiba di pintu depan.

Ciu Ciangkui.

si pengurus pondokan, sudah keluar dan menyambut.

Ia lantas bicara rahasia dengan Wan Tat, yang menanya kalau-kalau ia mendapatkan orang-orang yang dicurigai di dusun itu.

Ia menerangkan bahwa ia tidak menyangsikan siapajuga.

Maka Wan Tat lantas mengajak kawan-kawannya masuk ke dalam.

Letih Wan Tat semua.

Cio Ciangkui lantas menjamu mereka, ia duduk menemani.

Sembari bersantap, mereka berbicara.

Ia menanyakan hal keadaan di gunung.

Biar bagaimana, dia bukannya anggauta gunung, maka Wan Tat tidak mau memberitahukan hal sakitnya San Bin karena terlukakan musuh.

Kemudian Wan Tat menanyakan kedua mata-mata.

Ia diberitahu bahwa-mereka itu kebetulan keluar.

Ciu Ciangkui menyuguhkan arak Cenglay ciu rendamannya sendiri.

Arak itu berbau wangi menyedak hidung.

Wan Tat girang sekali.

Ia memangnya gemar minum air kata-kata.

"Ha, kau masih ingat aku suka arak ini!' katanya. Ia jujur, dengan Ciu Ciangkui ia kenal baik. tanpa dianjurkan lagi, ia lantas mengeringkan tiga cawan.

"Arak ini harum tetapi tidak keras, inilah arak tepat sekali untuk orang habis melakukan perjalanan jauh,"

Berkata Ciu Ciangkui.

"Nona Liong, mari minum! Benar dengan nona aku baru kenal satu kali ini tetapi dengan Lauw Cecu aku telah mengenal lama, maka itu, ijinkanlah aku memberi selamat kepada kau barang satu cawan!"

"Terima kasih!"

Menyahut Kiam Hong.

"Ijinkan aku yang memberi selamat lebih dulu kepada tuan rumah!"

Ia lantas menolak balik araknya ciangkui itu.

"Nona sungkan sekali!"

Kata si orang she Ciu, tertawa.

"Baiklah, aku akan minum lebih dulu!"

Ia lantas menenggak arak itu. Melihat orang minum araknya, Kiam Hong turut minum. Ia tidak menaruh curiga lagi. Kemudian Ciu Ciangkui pun menganjurkan kedua tau wbak kecil itu turut minum bersama.

"Ah, perutku mulas!"

Kata seorang tauwbak, berseru.

"Nanti aku ke belakang dulu!"

Dan ia berbangkit, untuk lari ke belakang, rupanya dia mau pergi ke kakus.

"Di tengah jalan tadi dia minum air dingin terlalu banyak!"

Kata Wan Tat tertawa. Tauwbak yang kedua tiba-tiba melengak.

"Eh, perutku pun mulas!"

Kata dia, dan terus dia berbangkit, untuk lari ke belakang.

"Eh, eh!"

Kata Wan Tat heran, alisnya mengkerut.

"Kau toh tidak minum air dingin tadi?"

Ia baru berkata, tiba-tiba ia pun merasakan perutnya sakit, lantas kepalanya pusing dan matanya seperti kabur. Ia merasa seperti ia telah minum terlalu banyak arak.

"Aneh, perutku pun sakit!"

Kemudian ia berseru. Tepat di saat itu, tauwbak yang pertama tadi lari ke belakang, muncul dengan tersengal-sengal, dan berteriak tajam.

"Celaka! Cecu, lekas lari! Di sini ada orang-orang yang bersembunyi!"

"Ngaco belo!"

Membentak Ciu Ciangkui.

"Apakah kau sudah sinting?"

Mendadak saja Kiam Hong berlompat bangun, menyambar tangannya Ciu Ciangkui, untuk dicekuk, akan tetapi ciangkui itu berkelit, ketika si nona maju pula, untuk mengulangi sambarannya, dengan tubuhnya limbung, dia lolos pula.

Nona Liong merasakan kakinya enteng.

"Ha,orang she Ciu!"

Lauw Wan Tat membentak. Sedetik itu. dia sadar.

"Kau main gila ya!"

Dan antara meja, ia lantas meninju ciangkui itu.

Ialah seorang Gwakee.

ahli ilmu luar, gwakang, maka tenaganya besar luar biasa, di hari-hari biasa, mesti bercelaka Ciu Ciangkui.

sebab dia diserang dengan satu pukulan dari ilmu silat "Pekpou Sinkun,"

Atau "Tinju Seratus Tindak."

Tapi ia telah menjadi kurbannya bonghan yoh, obat pulas, tenaganya telah berkurang, tubuhnya pun terhuyung, maka tinjunya cuma sampai di tengah jalan, terus mengenakan meja, hingga meja itu ringsak.

Si ciangkui sendiri telah lompat berkelit, tetapi tidak urung, dia terjungkal juga.

Tepat di saat itu, Yang Cong Hay muncul dari dalam.

Paling dulu terdengar suara tertawanya bergelak-gelak, disusul sama kata-katanya yang tajam.

"Bagus ya! Ke sorga ada jalannya, kamu tidak pergi ke sana! Noraka tidak ada pintunya, kamu justeru menyerbunya! Haha! Aku mau lihat, apakah kali ini pun kamu dapat lolos dari tanganku?"

Lauw Wan Tat gusar bukan kepalang.

"Oh, toacongkoan yang gagah perkasa!"

Ia mengejek.

"Tidak malukah kau melakukan ini perbuatan rendah?"

Dalam murkanya itu.

ia lompat menyerang.

Tapi kepalanya pusing, matanya tidak dapat melihat nyata, pukulannya tidak mengenakan sasarannya.

Sebaliknya, ketika Cong Hay habis berkelit terus menggaet kakinya, ia roboh seketika!

Tauwbak kecil tadi tidak minum arak bonghan yoh, maka ia menghunus goloknya, menyerang ke kakinya Cong Hay.

Tentu sekali ia bukannya lawan dari itu bekas congkoan besar, maka dengan satu tendangan kaki yang lain, ia tertendang mental dan roboh terbanting.

"Mahluk tolol, bukannya kabur!"

Wan Tat masih dapat berseru.

"Kau mau mampus?"

Cuma sebegitu ia dapat membuka mulutnya, lantas ia rebah pingsan.

Kiam Hong tidak lantas roboh.

Dengan mengandai pada tenaga dalamnya, ia masih bertahan.

Tetapi ia juga merasai kepalanya pusing dan matanya kabur.

Mendengar perkataannya Wan Tat itu, ia mendusin.

Segera ia berpikir.

"Tidak salah! Pertama-tama obat mesti dilindungi! Dan kedua, mesti ada orang yang lolos untuk menyampaikan kabar!"

Maka ia lantas menghunus pedangnya, menyerang Yang Cong Hay.

Inilah siasat guna menolong si tauwbak, agar dia dapat menyingkir.

Ciu Ciangkui tidak berdiam saja.

Ia mengerti juga beberapa jurus ilmu silat.

Dengan menyambar bangku panjang, ia lari ke arah pintu, guna merintangi si tauwbak.

"Pengchianat, lihat!"

Berseru si tauwbak gusar, tangannya melayang, melontarkan sebuah bungkusan.

Ciu Ciangkui menyangka kepada senjata rahasia, ia mengangkat bangkunya, untuk menangkis, maka bentroklah bungkusan itu dengan bangku.

Benarlah itu senjata rahasia, hanya senjata rahasia bungkusan terisi abu.

Ciangkui itu lantas menutup kedua matanya.

Justeru itu si tauwbak kabur, disusul temannya yang pun muncul di situ.

Tauwbak itu benar-benar cerdik.

Pertama kali masuk ke hotel dan tidak melihat dua kawannya, yang menjadi mata-mata, ia sudah bercuriga.

Untuk membuktikan kecurigaannya, ia berpura-pura sakit perut dan lari ke dalam.

Di pekarangan belakang, ia melihat kuda tunggangan Yang Cong Hay, yang ia kenali.

Maka ia lantas lari balik.

Tapi ia masih terlambat, Ciu Ciangkui sudah berhasil dengan obat mabuknya.

Ia telah mengambil abu.

maka abu itu dapat dipakai menyerang si ciangkui yang menjadi pengchianat itu.

Kiam Hong mengempos semangat, ia mengerahkan tenaganya, untuk mendesak.

Mau atau tidak.

Cong Hay mesti melayani dengan sungguh-sungguh.

Inilah ketika baik untuk kaburnya kedua tauwbak kecil itu.

Di saat Nona Liong merasa kedua tauwbak itu sudah menyingkir jauh, ia merasa hatinya lega.

tetapi ini justeru membuat bonghan yoh itu di dalam perutnya bekerja, hingga ia menjadi semakin lemah.

Cong Hay berbalik mendesak, untuk merampas pedangnya, setelah mana, ia kena ditotok roboh.

Selagi waswas, ia mendengar tertawa seram dari bekas congkoan itu, lantas ia tidak sadarkan diri.

Tidaklah aneh jikalau Ciu Ciangkui itu berchianat.

Ia memang bersanak dengan Bang Thong, pemilik dari Bang keepo.

Isterinya Bang Thong ialah adiknya satu she.

Bang Thong itu sangat pintar dan licik.

Setelah berhasil mengumpul harta besar di wilayah Biauwkiang.

ia pulang ke kampung halamannya itu, untuk mencuci tangan, untuk hidup sebagai hartawan yang budiman, di antaranya ia mengeluarkan uang untuk membikin jembatan dan memperbaiki jalan umum, hingga ia menjadi mendapatkan nama baik.

Ciu San Bin tidak ketahui asal-usul orang, ia bergaul dengannya.

Bang keepo terletak di perbatasan antara negara Watzu dan Tiongkok, itulah daerah tak bertuan, dan yang berpengaruh di situ ialah Ciu San Bin.

Bang Thongjeri pada raja gunung penyinta negara ini, ia berlaku merendah dan menurut saja.

Ia pun pandai mengambil hati, sering ia melakukan sesuatu untuk San Bin.

Sebaliknya, diam-diam ia berkongkol sama pembesar kerajaan.

Beberapa kali, di waktu menempur tentera negeri, San Bin kena dikalahkan.

Itulah hasil kecurangannya sahabat Bang Thong ini.

Tentang itu, San Bin tetap tidak mendapat tahu apa-apa.

Demikian juga pemilik pondokan she Ciu itu.

dia berhubungan dengan San Bin, dia menjadi mata-mata.

di lain pihak, dia berhubungan erat dengan Bang keepo dan selalu memberikan kabar rahasia kepada Bang Thong.

Benar San Bin ada mengutus dua liauwlo buat menjadi mata-mata di pondokan, tetapi dengan kecerdikannya Ciu Ciangkui, kedua mata-mata itu dapat dilagukan dan dijual, mereka tidak mendapat tahu bahwa diri mereka diakali.

Pantas Wan Tat mendamprat Ciu Ciangkui sebagai pengchianat, sebab dia bekerja lebih banyak untuk Bang Thong, dari siapa dia memperoleh lebih banyak kebaikan.

Yang Cong Hay seorang sangat cerdik.

Ketika ia kabur meninggalkan Kiam Hong dan Wan Tat, ia tidak puas.

Ia tetap ingin mencegah obat pemunah dapat dibawa ke gunungnya Ciu San Bin.

Maka ia tidak lantas terus mencari Cit Im Kauwcu hanya ia pergi ke Hulicip.

Ia merasa pasti, Wan Tat bakal singgah di pondokannya Ciu Ciangkui, dari itu ia pergi kepondokan itu, untuk bekerja sama dengan si ciangkui.

Demikian mereka menggunakan obat mabuk bonghan yoh itu.

Bukan main girangnya Cong Hay dapat membekuk Wan Tat dan Kiam Hong.

Dengan tertawa besar, ia kata pada Ciu Ciangkui.

"Inilah harta besar yang di kirim oleh Thian! Dengan aku mendapatkan obat pemunah, tak usah dikuatirkan lagi yang Ciu San Bin tidak akan menyerahkan bingkisan itu! Jikalau aku sudah pulang ke Pakkhia di mana aku menjabat pula pangkatku sebagai Toacongkoan. kau boleh percaya, kau akan memperoleh keuntungan bukan kecil!"

Ciangkui itu girang sekali mendapatkan janjinya Cong Hay itu.

Ia justeru lagi menguatirkan tidak lagi mempunyai tulang punggung berhubung dengan matinya Bang Thong.

Ia menghaturkan terima kasih berulangulang.

Yang Cong Hay lantas bekerja.

Sendirinya ia menggeledah Lauw Wan Tat.

Untuk memeriksa tubuh Kiam Hong, ia menugaskan isterinya Ciu Ciangkui.

Sebagai toacongkoan, ia mau memegang derajat, ia malu menjamah-jamah tubuh seorang wanita apapula seorang gadis remaja.

Karena ini, Kiam Hong pun jadi lolos dari penghinaan.

Kiam Hong masih tak ingat akan dirinya ketika ia merasa dingin pada mukanya.

Lantas ia mendusin.

Ketika ia membuka matanya, ia melihat seorang nyonya bertubuh jangkung dan kurus, ialah orang yang membasahkan mukanya dengan air, untuk membikin ia sadar.

"He, rase kecil yang licin, di mana kau simpan obat pemunah racun?"

Tanya nyonya itu bengis.

Dialah isterinya si ciangkui.

Kiam Hong pun segera melihat Yang Cong Hay duduk di depannya.

Di sana tertampak Lauw Wan Tat terbelenggu seperti ia sendiri.

Ciu Ciangkui berdiri di samping, melakukan penjagaan.

Mereka itu sudah melakukan penggeledahan tanpa hasil, maka itu.

setelah kedua musuh itu diringkus, mereka dibikin mendusin, untuk didengar keterangannya.

Cong Hay sendiri yang mau memeriksa si nona.

"Apa kau bilang?"

Nona Liong berpura-pura.

"Obat pemunah apa?"

"Jangan berlagak gila!"

Kata Cong Hay, tertawa dingin. Suaranya tidak sedap untuk telinga.

"Sampai ini waktu, percuma kau main gila!"

"Sebenarnya kau menghendaki obat pemunah apa?"

Kiam Hong menegaskan.

"Obat pemunah racun Kiuyang Tokciang yang Cit Im Kauwcu serahkan nada kau!"

Cong Hay menjelaskan.

"Heran!"

Kata si nona.

"Cit Im Kauwcu bermusuh dengan gunung kami, puterinya pernah membikin celaka puteranya Ciu Cecu! Apakah kau tidak tahu urusan itu? Bagaimana dia dapat memberikan obat pada kami?"

Alisnya Cong Hay berkerut, hatinya berpikir.

"Benarkah suci tidak memberikan obat pemunah itu kepada dia ini?"

Keterangannya Kiam Hong itu beralasan, di dalam keadaan biasa, Cong Hay tentulah percaya itu.

Tapi ia telah mendengar dari mulutnya Couw Thian Yauw sendiri bahwa selama di dalam kuil, Kiam Hong sudah membantui Cit Im Kauwcu menyerang kepadanya ---pada Thian Yauw.

Pula ia menyaksikan sendiri Kiam Hong berlari-lari pulang ke gunungnya secara tergesagesa.

Ia mengeprakmeja.

"Aku tahu kau memang paling pandai bicara!"

Bentaknya.

"Dapat kau mendustai suci-ku tetapi tidak aku! Obat pemunah racun itu mesti ada di tubuhmu!"

Kiam Hong tertawa mengejek.

"Kau mengukuhi obat itu ada di tubuhku, nah, kau suruhlah nyonya ini geledah aku!"

Ia menantang. Ia tahu yang ia telah digeledah tetapi sengaja ia mengejek Cong Hay, untuk membikin panas hati orang, guna mempuaskan hatinya sendiri.

"Aku telah menggeledah terteliti sekali,"

Berkata si nyonya.

"aku telah periksa kaos kaki dan rambutnya juga, obat itu tidak ada padanya. Mungkin benar dia tidak menyimpannya..."

Kedua matanya Cong Hay terbuka lebar, lain mendelik.

"Aku tidak percaya!"

Dia berseru.

"Buka semua pakaiannya! Nanti aku memeriksanya sendiri!"

Nyonya itu kaget.

"Itu... itu..."

Katanya tertahan. Ciu Ciangkui cerdik, dapat ia membade hatinya Cong Hay, yang rupanya mau menggertak saja. Maka ia lantas menimbrung, katanya.

"Isteriku, kau sudah tua, apakah kau masih merasa likat? Toh bukannya pakaianmu yang diloloskan?"

Ia terus berpaling kepada Kiam Hong, untuk meneruskan berkata.

"Nona, jikalau kau tidak mau mendapat malu, lekas kau keluarkan obat itu atau kau menyebutkan tempat di mana kau menyembunyikannya."

"Jangan kamu paksa aku."

Katanya kemudian.

"Nanti aku bicara..."

Cong Hay tertawa berkakak.

"Akur!"

Katanya.

"Seharusnya kau bicara dari tadi, urusan tentu sudah beres."

"Apakah kau kira aku demikian tolol hingga obat aku simpan di tubuhku?"

Kata Kiam Hong, mengejek.

"Obat itu aku telah berikan kepada si tauwbak kecil yang barusan melarikan diri! Siapa suruh tadi kamu tidak merintangi dia?"

Wan Tat heran mendengar perkataan si nona. Ia kata dalam hati kecilnya.

"Kapannya dia menyerahkan obat kepada tauwbak kecil itu? Kita berjalan bersama-sama, kenapa aku tidak mendapat lihat?"

Sebagai orang jujur, cecu ini tidak dapat membade yang Nona Liong lagi mendusta.

"Lekas kamu kejar tauwbak itu!"

Kata pula Kiam Hong.

"Mungkin kamu dapat menyandak!"

Ciu Ciangkui heran, ia mengawasi nona itu.

"Kau berikan obat itu kepada tauwbak yang mana?"

Ia tanya.

"Kepada yang mukanya persegi atau yang mukanya panjang itu?"

"Aku memberikan pada mereka berdua,"

Sahut Kiam Hong.

"Aku menitahkan mereka bergantian membawanya, maka itu sekarang aku tidak tahu ada pada siapa di antara mereka itu berdua!"

Ciu Ciangkui cerdik juga, ia berpikir.

"Budak ini masih sangat muda tetapi dia cerdik sekali! Terang kedua tauwbak itu tidak dapat berlari berama-sama. Kalau aku dan Cong Hay mengejar dengan berpisahan, itulah berbahaya. Cong Hay lihai, dia tentu dapat mengalahkan tauwbak itu, tetapi aku, aku belum tentu..."

Maka itu ia mau menanya pikirannya bekas congkoan itu, atau mendadak ia mendengar Cong Hay membentak.

"Siapa yang kau hendak akali, setan cilik? Jikalau kau tetap tidak suka memberitahukan, hm, kau lihat, aku berani membuka semua pakaianmu atau tidak!"

Kata-kata itu dibarengi tepukan meja dan kedua mata melotot.

Kiam Hong berbicara untuk menjalankan siasatnya menyerang hati.

Ia tahu Cong Hay sangat cerdik, maka ia sengaja memberikan pengakuannya itu.

Memang kepercayaannya Cong Hay kena dibikin goncang, hingga dia menjadi bersangsi.

Dia pikir.

"Bocah ini sangat cerdik, kenapa aku tidak dapat memikir kepada siasatnya itu?"

Dia mengangkat kepalanya, ketika dia memandang muka Wan Tat, dia merasa heran. Nampaknya Wan Tat itu tercengang. Kiam Hong melihat orang menyangsikan ia, ia kata pula.

"Aku omong terus terang, kau tidak percaya! Tidak dapat aku mengarang kedustaan lain lagi!"

Cong Hay tertawa dingin.

"Jikalau aku tidak membongkarnya, kau tentu tidak puas!"

Dia bilang.

"Kedustaan kau ini kau karang sempurna sekali! Hanya sayang pada itu ada kelemahannya! Jikalau kau ketahui lebih dulu bahwa cuma aku sendiri yang mau merampas obat itu, dapat kau menyerahkan itu kepada tauwbak yang kau sebutkan itu, aku pun tidak bakal mencurigakannya, dapat mereka lolos. Akan tetapi kau tidak tahu berapa jumlah rombonganku, taruh kata kau dapat menduga kami bakal merampasnya, hingga kau tidak berani menyimpan itu dalam tubuhmu, seharusnya kau menyerahkannya kepada ini Lauw Cecu! Bukankah dalam ilmu silat, cecu ini jauh lebih lihai daripada kedua tauwbak itu? Kalau cecu ini bertemu orang-orang yang mau merampok dia, dia mempunyai lebih banyak ketika untuk meloloskan diri! Maka, kenapa kau tidak serahkan obat kepadanya hanya kepada dua tauwbak itu? Nah, apa lagi kau hendak bilang? Enso Ciu, kau bukai semua pakaiannya, aku mau lihat, dia hendak membilang apa lagi!"

Kiam Hong terperanjat tetapi ia tertawa dingin.

"Kami berjumlah empat tetapi kau berkukuh menuduh obat ada padaku."

Ia kata.

"apa buktinya sekarang? Bukankah kau telah menggeledah dengan sia-sia? Dan sekarang kau hendak menggunakan cara hina dina. untuk membikin aku malu! Hm! Hm! Apakah di belakang hari kau masih mempunyai muka untuk menaruh kaki dalam dunia Kangouw?"

Mukanya Cong Hay menjadi merah padam. Hinaan itu tepat mengenai hatinya.

"Dia sudah digeledah, obatnya tidak kedapatan, memang tidak perlunya untuk membukai pakaiannya,"

Pikirnya.

"Tapi aku penasaran sekali! Bagaimana harus melampiaskannya? Aku mesti mendapatkan akal!"

Ia tidak berpikir lagi, terus ia mengibaskan tangannya dan berkata.

"Siapkan kuda! Enso Ciu. kau bantui aku membawa dia ke Bang keepo! Aku tidak dapat obat, gunungnya Ciu San Binjuga tidak! Aku mau lihat, dia ini dapat bertahan berapa hari!..."

Puas rasanya Cong Hay habis berkata demikian. Kembali di a tertawa dingin.

"Aku kasih nasihat padamu baiklah kau bicara!"

Ia kata pada si nona.

"Jikalau kau suka memberitahukan, aku nanti temani kau pergi ke gunung kamu membawa obat itu. Tentu sekali, aku tidak dapat mengantarkan kau dengan cuma-cuma. Aku cuma menghendaki separuh saja dari jumlah semua bingkisan. Mustahilkah tiga jiwanya Ciu San Bin, Thio Giok Houw dan Leng In Hong tidak cukup berharga untuk sedikit bingkisan itu?"

Kiam Hong terkejut pula. Hebat kata-katanya bekas congkoan ini. Selagi ia ragu-ragu, ia mendengar suara nyaring dari Lauw Wan Tat.

"Di dalam gudangnya kaisar bertumpuk segala emas dan kemala! Sebaliknya kami, kami bersengsara, makan tidak kenyang, berpakaian tidak hangat bagi tubuh, tetapi kamu memutar otak, kamu hendak menolongi kaisar mendapatkan pulang barangnya itu! Kau hendak mendapatkan bingkisan cuma untuk kepentingan dirimu sendiri, supaya kau mendapat pangkat dan hadiah! Apakah benar-benar kau tidak ingat jiwa kami semua?"

Yang Cong Hay tertawa.

"Jiwa kamu sekawanan berandal?"

Dia berkata, mengejek.

"Tentang jiwa kamu, benar-benar aku tidak perlu mencampur tahu!"

"Kau sendiri tidak tetapi orang-orang gagah di seluruh negara akan memperhatikannya!"

Wan Tat berteriak pula.

"Kau kira, dapat secara begini sajakau merampas harta? Hm! Tidak, tidak sedemikian mudah!"

"Memang juga. harta yang didapati orang banyak demikian susah payah, mana dapat itu di haturkan kepada mereka secara begini saja?"

Kiam Hong pun memikir.

"Jikalau Ciu Cecu menyayangi jiwanya, siangsiang tentulah ia sudah berdamai dengan Pektok Sinkun. Jikalau untuk diriku sendiri aku membiarkan Yang Cong Hay mendapatkan obat, untuk dia memaksa memeras bingkisan itu, pastilah engko Giok Houw tidak bakal memberi maaf kepadaku!"

Maka ia berdiam terus.

Melihat orang berkepala batu, Cong Hay tertawa.

Tidak tempo lagi, tubuh Wan Tat dan si nona diangkat ke punggung kuda dan diikat.

Ia sendiri membawa Wan Tat dan Nyonya Ciu membawa Kiam Hong.

Kuda mereka itu dikasih kabur ke arah Bang keepo.

Ciu Ciangkui tidak diajak, dia mesti menjaga hotelnya.

Cong Hay sangat cerdik.

Ia kuatir Kiam Hong nanti dapat membebaskan diri dari totokan, maka selang enam jam, ia menotok pula.

Totokan itu direncanakan akan diulangi setiap enam jam kemudian.

Perjalanan dari Hulicip ke Bang keepo membutuhkan waktu satu setengah hari, maka dengan melakukan perjalanan terus menerus, besoknya tengah hari tibalah sudah mereka di rumahnya Bang Thong.

Kiam Hong heran kenapa orang melakukan perjalanan demikian tergesa-gesa.

Sudah terang ia tidak mau menyerahkan obatnya.

Karena itu ia mau menduga mungkin bekas congkoan itu hendak menggunakan akal muslihat lain.

Ketika itu keluarga Bang sudah selesai mengurus jenazah.

Di muka pintu digantung tengloleng biru.

Ketika Cong Hay tiba.

lantas ada yang mewartakan ke dalam gedung, maka Iantaslah ada orang yang menyambut sambil lebih dulu terdengar tertawanya yang nyaring, lalu kata-katanya yang keras.

"Yang Congkoan, kau sudah pulang? Bagaimana kesudahannya pembicaraan di antara Pektok Sinkun dan Cit Im Kauwcu?"

Kiam Hong sudah putus harapan tetapi ketika ia mendengar suara orang itu, ia terkejut.

Ia mengenali suara orang dengan baik sekali.

Itulah suaranya Le Kong Thian si pengurus rumah, atau koankee, dari Kiauw Pak Beng.

"Telah terjadi perubahan tidak disangka-sangka,"

Cong Hay menyahut.

"Mari kita bicara di dalam."

Kong Thian melirik Kiam Hong, lantas ia tertawa pula.

"Kau tidak dapat mengundang Cit Im Kauwcu, sebaliknya kau membekuk ini bocah wanita!"

Katanya.

"Haha! Apakah kau hendak mengambil dia sebagai gantinya Siu Lan? Tidak dapat!"

Di dalam urusan ini.

Yang Cong Hay adalah orang yang memegang peranan.

Dialah yang menyuruh Pektok Sinkun akur pula dengan Cit Im Kauwcu.

Maksudnya yang utama yaitu untuk mendapatkan Pektok Cinkeng untuk nanti diserahkan kepada Kiauw Pak Peng.

Justeru untuk mendapatkan kitab tersebut, Kiauw Pak Beng sudah mengutus pengurus rumah tangganya pergi mengajukan lamaran kepada Cit Im Kauwcu, untuk mempersatukan jodoh putera dan puteri mereka.

Kiauw Pak Beng tidak terlalu menghiraukan janjinya Pektok Sinkun mengenai sebagian dari bingkisan, yang katanya diperuntukkan pesalin puterinya.

Karena harta datang sendiri, ia tentu menerima saja.

Kali ini Le Kong Thian muncul untuk mendengar kesudahannya ichtiarnya Yang Cong Hay itu.

Kong Thian bangsa sembrono dan tidak sabaran, setibanya di ruang tetamu, tanpa menanti sampai orang berduduk, ia sudah lantas menanya pula.

"Ada terjadi perubahan apakah? Apakah nenek itu tidak suka akur pula dengan Pektok Sinkun?"

"Bukan cuma dia tidak mau akur pula,"

Menyahut Cong Hay.

"bahkan dia menggunakan obat pulas membuatnya Pektok Sinkun roboh tak berdaya, lalu hampir dia membunuh mati pada Couw Thian Yauw!"

Kong Thian heran.

"Couw Thian Yauw itu orang macam apa?"

Dia tanya.

"Dialah yang dulu hari dikenal sebagai Tiatsi Siseng Couw Tay Ce yang menjadi begal tunggal di dalam kedua propinsi Titlee dan Shoatang,"

Cong Hay menerangkan.

"Dialah konconya Pektok Sinkun. Sekarang dia ada di rumah ini lagi berobat. Apakah kau belum tahu?"

"Aku baru saja tiba,"

Menyahut Kong Thian.

"Aku melihat orang di sini sedang repot bekerja dan berbicara, aku lantas minta keterangan halnya tuan rumah mati diracuni. Mereka itu belum beres menjelaskan ketika dikabarkan sampainya kau. Apakah Cit Im Kauwcu yang meracuni Bang Pocu?"

"Memang! Dia meracuni Bang Pocu sampai binasa, lantas dia membikin Pektok Sinkun roboh tidak berdaya, dan akhirnya, dia melukakan Couw Thian Yauw. Dia pula telah menyerahkan obat pemunah racun kepada musuh! Inilah perubahan yang aku tidak sangka sama sekali!"

Yang Cong Hay mengatakan demikian karena ia belum tahu Pektok Sinkun dan Cit Im Kauwcu telah mati bersama, tidak demikian, pasti dia bakal menjadi terlebih kaget dan heran pula.

Kong Thian terkejut hingga ia lompat berjingkrak.

"Dia kasihkan obat itu kepada siapa?"

Ia tanya keras.

Inilah soal yang paling diperhatikannya.

Ketika itu Liong Kiam Hong tidak dapat berkutik, tetapi ia sadar, maka itu, ia bisa mendengar nyata pembicaraannya duajago itu.

Ketika itu tepat baru lewat enam jam dari totokan yang terbelakang, maka diamdiam ia mengerahkan tenaga dalamnya, guna membebaskan diri.

Kalau tadinya ia meram saja, mendadak ia membuka matanya dan terus mengeluh keras.

"Cit Im Kauwcu, kasihan kau mati bersengsara! Yang Cong Hay, oh, bangsat! Kaulah manusia dengan peparu anjing dan hati srigala! Bagaimana kau berani membinasakan suci-mu sendiri?"

Kong Thian kaget.

"Eh, apa katamu?"

Dia tanya bengis. Kiam Hong mengawasi manusia raksasa itu.

"Ah, kau... kau..."

Katanya, suaranya dibikin parau.

"Hm, kiranya Yang Cong Hay mempunyai kau sebagai tulang punggungnya! Pantaslah dia berani membinasakan suci-nya!..."

Pandai sekali Nona Liong berpura-pura bagaikan orang baru mendusin. Air mukanya Kong Thian berubah. Dia kaget dan heran.

"Eh, Lao Yang, bagaimana ini?"

Dia tanya Cong Hay.

"Jangan percaya obrolannya!"

Menjawab Cong Hay cepat.

"Kaulah yang ngebrahol!"

Kata Kiam Hong nyaring.

"Kau sudah merampas obat pemunahnya Pektok Sinkun, kau juga sudah mengambil kitab Pektok Cinkeng kepunyaan Cit Im Kauwcu! Biasanya seorang penjahat cuma membutuhkan uang tetapi tidak menghendaki jiwa orang, kaulah lain! Kau sudah menghendaki banda orang, kau pun merampas jiwanya, untuk menutup mulutnya! Kau jahat sekali, kau tidak akan diterima Thian!"

"Tutup bacotmu!"

Cong Hay berteriak.

"Sudah kau mengakali obat pemunah dari Cit Im Kauwcu, sekarang kau hendak mempermainkan juga Le Toaya! Kau mesti dimampusi terlebih dulu!"

Habis berkata, Cong Hay maju menghampirkan. guna menotok mati pada si nona.

"Tahan!"

Berseru Le Kong Thian, yang mencegah secara tiba-tiba. Lalu dia mengawasi nona itu dan tanya.

"Bagaimana kau ketahui semua itu?"

"Aku melihatnya dengan mataku sendiri!"

Menjawab si nona.

"Aku mendapat perintah untuk mencuri obat pemunah itu. maka terlebih dulu aku menyembunyikan diri di dalam kuil itu. Pertama-tama aku melihat Pektok Sinkun datang kepada Cit Im Kauwcu meminta obat. Pembicaraan mereka menyatakan mereka seperti suami isteri. Pektok Sinkun ingin akur kembali dengan isterinya. Cit Im Kauwcu menolak. Mereka menjadi bertengkar, akhirnya mereka berkelahi. Keduanya sama-sama terluka. Sesaat kemudian datanglah Yang Cong Hay bersama Couw Thian Yauw. Di luar dugaan, mereka itu sangat rendah dan busuk, selagi orang terluka. mereka membokong. Baru Cit Im Kauwcu bertanya. 'Oh. kau. sute!' lantas punggungnya ditikam. Sial Couw Thian Yauw, yang bersama Yang Cong Hay itu mengepung dari depan dan belakang, dia terlukakan senjata rahasia Cit Im Kauwcu. Aku mel ihat Yang T j ong Hay menggeledah tubuhnya Cit Im Kauwcu dari mana ia mendapatkan kitab itu."

"Bagaimana kau bisa ketahui kitab itu ialah Pektok Cinkeng?"

Kong Thian tanya.

"Sebab aku mendengar Cit Im Kauwcu, yang mendamprat, mengatakan. 'Kitab Pektok Cinkeng ini aku hendak menyerahkannya kepada Kiauw Pak Beng, kau berani mencelakakan aku, apakah kau tidak takut Kiauw Pak Beng nanti mendapat tahu dan akan membunuhmu?' Cit Im baru berkata begitu atau ia lantas ditikam mati oleh Yang Cong Hay."

Bukan kepalang mendongkolnya Cong Hay.

"Menyesal aku tidak lantas membunuh padamu!"

Katanya dalam hatinya.

Ia cuma bisa mengawasi dengan bengis pada nona itu.

Di saat demikian, ia bukan cuma tidak dapat membunuh si nona, bahkan memutuskan perkataannya pun tidak.

Jikalau ia berbuat begitu, pasti Kong Thian akan mempercayai nona itu, ia dapat dituduh membunuh untuk menutup mulut orang.

Terpaksa ia berlagak pilon.

ia cuma tertawa dingin.

Mendengar perkataannya Kiam Hong, suram romannya Kong Thian.

"Yang Toako, apa katamu?"

Dia menanya.

"Budak ini mengoceh saja!"

Cong Hay jawab.

"Dia telah menipu obatnya Cit Im Kauwcu tetapi dia menuduh aku!"

"Habis, mana itu obat pemunah?"

Kong Thian tanya.

"Entah budak ini menyembunyikannya di mana! Aku belum mendapatkannya."

"Benar,"

Berkata Nyonya Ciu, yang sedari tadi diam saja. Ia mau membantui kawan itu.

"Begitu Yang Tayjin membekuk budak ini, aku lantas menggeledah tubuhnya, sampai ke rambut kepalanya, tetapi obat itu tidak kedapatan."

Kiam Hong tertawa dingin.

"Setahu siapa yang ngoceh tidak keruan!"

Katanya.

"Dapatkah Cit Im Kauwcu menyerahkan obat kepadaku?"

Kong Thian melirik pada Cong Hay.

"Yang Tayjin,"

Ia berkata.

"jikalau kau hendak menelan bingkisan, kau ambillah itu obat pemunah! Akan tetapi kitab Pektok Cinkeng itu, ialah kitab yang dimaui majikanku, maka aku minta sukalah kau keluarkan itu!"

Cong Hay menjadi gusar sekali.

"Jadinya kau percaya obrolannya budak ini?"

Dia tanya.

"Benar, aku percaya dia!"

Sahut manusia raksasa itu.

"Jikalau begitu, aku tidak berdaya lagi,"

Kata Cong Hay, menyesal, tapi hatinya tetap mendongkol.

"Budak ini mengatakan yang tidak-tidak, apakah yang aku mesti serahkan padamu?"

"Yang Tayjin, kau main-main dengan aku!"

Kata pula Kong Thian keras.

"Aku Le Kong Thian, aku kenal kau, tetapi senjataku ini, tokkak tongjin, tidak kenal padamu! Mana obat itu, kau mau serahkan atau tidak?"

Yang Cong Hay berniat keras sekali membaiki Kiauw Pak Beng, supaya mereka berdua bisa bekerja sama dan ia memperoleh hasil, untuk itu ia sudah berlaku sabar luar biasa, bahkan ia merendah, tetapi ia tetap bekas seorang toacongkoan.

orang kepercayaannya raja, ia berkepala besar dan jumawa, angkuh adatnya, maka itu tidak dapat ia terima sikapnya Le Kong Thian ini, sedang Le Kong Thian ---biarpun dia gagah ---dia cuma pengurus rumah tangganya Kiauw Pak Beng.

Maka berkatalah ia dengan dingin.

"Le Koankee, jangan kau main gila terhadap aku! Aku dapat pergi sendiri kepada majikanmu untuk berbicara!"

Le Kong Thian telah panas hatinya, mendengar perkataan Cong Hay itu, ia bagaikan api ditambahkan minyak.

"Yang Cong Hay. kau berani tidak melihat sebelah mata padaku?"

Katanya keras.

"Aku bicara baik-baik dengan kau karena aku masih memandang padamu, jikalau kau tidak sungkan-sungkan lagi, baiklah, aku juga tidak sudi berlaku sungkan pula terhadapmu! Jikalau kau tidak menyerahkan kitab Pektok Cinkeng maka tokkak tongjin-ku ini yang akan minta kepadamu!"

"Le Kong Thian, kau sangat menghina aku!"

Cong Hay berteriak saking gusarnya.

"Kau mempunyai tokkak tongjin. di tanganku pun ada pedangku!"

Belum berhenti suaranya bekas congkoan itu.

maka tokkak tongjin, ialah senjata yang berupa boneka kuningan, dari si manusia raksasa, sudah menyambar kepadanya.

Ia tidak berayal untuk menangkis, hingga kedua senjata beradu keras, hingga terdengar suara "traang"

Sangat nyaring dan lelatu api pun berpeletikan. Justeru itu. Cong Hay merasakan telapakan tangannya sakit.

"Baiklah!"

Serunya.

"Kau jangan katakan aku tidak memandang persahabatan lagi!"

Kata-kata ini disusuli dengan serangan pembalasan yang cepat sekali.

Le Kong Thian tidak sempat menarik pulang bonekanya guna menangkis, dari itu ia cuma berkelit; sebenarnya ia berkelit dengan sangat sebat akan tetapi, untuk kagetnya, ia merasa rambutnya kena terbabat pedang lawan.

Ia menjadi mencelos hati, kaget dan gusar, maka sambil berseru, ia menyerang pula.

Cong Hay melihat orang kalap, ia berlompat mundur.

Di dalam gusarnya, ia kata dalam hati kecilnya.

"Kau yang mulai berlaku kurang ajar, maka itu Kiauw Pak Beng tidaklah nanti menyesal aku sudah mengemplang anjing tanpa memandang lagi tuannya!"

Maka ia lantas melayani, untuk mana ia mesti mengeluarkan kepandaian ilmu pedangnya.

Pada sepuluh tahun yang lalu Yang Cong Hay ini menjadi satu di antara ke empat ki.amkek, meski benar ialah yang terlemah, ia sudah lihai sekali, dan setelah berselang sepuluh tahun itu, latihannya bertambah, hingga ia kini jauh terlebih lihai daripada dulu hari itu.

Le Kong Thian boleh tangguh sekali tetapi ia mesti menghadapi seorang yang lincah, untuk sementara, ia tidak bisa berbuat apa-apa.

"Ah, benar-benar dia lihai sekali,"

Kata Yang Cong Hay dalam hatinya.

Ia telah membuktikan ketangguhannya si manusia raksasa.

Ia cuma dapat membela diri.

Mulanya ia hanya ingin mengasi rasa sedikit, lalu perselisihan disudahi dengan damai.

Tidak tahunya, Kong Thian menjadi seperti kalap.

Tadi dia kena dipapas rambutnya, itu rupanya terjadi karena dia alpa.

Juga Kong Thian kagum.

Sia-sia belaka ia mendesak.

Baru sekarang ia menginsyafi, orang she Yang ini tidak dapat dipandang enteng.

Tadinya ia tidak takut siapa juga, orang satu-satunya yang ia hormati ialah Kiauw Pak Beng yang menjadi gurunya berbareng majikannya.

Tapi mereka tidak mau berhenti berkelahi.

Kong Thian ingin mendapatkan Pektok Cinkeng dan Yang Cong Hay hendak memegang derajat sebagai bekas toacongkoan atau taykiamkek.

Dengan begitu, mereka berkelahi seru sekali.

Si manusia raksasa menang tenaga dan ulat, dan si kiamkek, ahli pedang, menang lincah dan latihan.

Hebatnya pertempuran mereka merusak hebat juga kursi meja dan lainnya dalam ruang itu.

Ciu Ciangkui dan isterinya ketakutan, mereka menyembunyikan diri, sedang kedua orangnya Bang Thong menyingkir jauhjauh, tidak berani mereka datang untuk memisahkan.

Kiam Hong sebaliknya girang sekali melihat kesudahannya akal muslihatnya mengadu domba itu.

Diam-diam ia mengerahkan tenaga dalamnya, untuk berontak.

Tambang yang dipakai mengikatnya tidak dapat bertahan.

Mulanya ia loloskan sebelah tangannya, lalu ia memutuskan tambang itu.

Perbuatannya itu tidak ada yang lihat.

Ia menunggu sampai Cong Hay dan Kong Thian pindah ke pojok, mendadak ia berlompat bangun, untuk menolongi memutuskan belengguan atas dirinya Lauw Wan Tat, setelah mana, ia ajak kawan itu kabur.

Yang Cong Hay kaget, ia lompat meninggalkan Kong Thian, untuk mengejar.

Ia berlompat sambil berseru.

Atas itu, si manusia raksasa turut memburu.

"Le Kong Thian, perlu apa kau mengejar aku?"

Berkata Kiam Hong sambil berlari.

"Obat tidak ada padaku!"

Kong Thian melengak, lalu dia berteriak.

"Yang Tayjin, jangan kau menggunakan alasan untuk merat! Kau serahkan dulu obat dan kitab!"

"Celaka betul!"

Cong Hay membanting kaki, mendongkolnya bukan kepalang.

"Sampai ini waktu masih kau melibat aku!"

Kiam Hong dan Wan Tat tidak perduli orang bertengkar, mereka lari terus, keluar dari pintu.

Di depan rumah ada dua ekor kuda, mereka lompat menaiki seorang satu, terus mereka mengaburkannya.

Yang Cong Hay mendesak dengan dua tabasan pergi pulang, hingga ia berhasil mendesak Kong Thian, lantas ia berteriak.

"Mari kita bekuk dulu itu budak! Sebentar kita bertempur pula, masih belum kasip! Berapa hari juga kau ingin bertarung. Le Toaya. aku si orang she Yang akan melayanimu!"

Kong Thian beradat keras tetapi ia masih dapat berpikir.

"Ya, untuk mendapat kesudahan, kita harus bertempur sedikitnya seribu jurus,"

Pikirnya. Maka ia memberikan jawabannya.

"Baiklah! Mari bekuk dulu itu rase kecil, sebentar sepulangnya, baru aku berhitungan sama kau, rase tua!"

Kudanya Cong Hay dan kuda si nyonya telah dibawa kabur, maka itu terpaksa mereka mengejar sambil berlari-lari.

Keduanya menggunakan kepandaian mereka meringankan tubuh.

Dalam beberapa li yang pertama, mereka dapat mendekati kedua penunggang kuda yang lagi kabur itu.

Sembari kabur, Lauw Wan Tat memutar tubuhnya ke belakang, sembari mutar ia menimpuk dengan dua butir batu huihong sek.

Ia bertenaga besar, ia dapat menimpuk jauh belasan tombak.

Tapi Cong Hay lihai, meski datangnya batu hebat, dia dapat menanggapi dengan mengulur tangannya, sembari tertawa mengejek, dia membalas menimpuk.

Hanyalah dia kalah pandai dan kalah tenaga, batu itu jatuh di belakang Wan Tat tanpa mengenai sasarannya.

"Lihat aku!"

Berseru Kong Thian sambil tertawa.

Ia lantas mengayun tangannya.

Ia bukan menimpuk dengan batu hanya dua batang anak panah pendek.

Anak panah jauh terlebih enteng daripada batu tetapi Kong Thian bertenaga besar dari bakatnya, dia menang berlipat kali daripada Lauw Wan Tat, meskipun dia menyerang dengan senjata yang enteng itu, meluncurnya anak panah toh sangat pesat, hingga mengeluarkan suara angin menderu.

Kedua anak panah itu bahkan lewat di atasan kepalanya hucecu itu, terus menjurus ke arah Nona Liong.

Kiam Hong mendengar suara dan melihat datangnya anak-anak panah itu.

"Bagus!"

Katanya sambil tertawa, sembari ia menunjuki kepandaiannya Ialah dengan lincah ia berkelit, selagi anak panah lewat, ia menyambar dengan kedua tangannya, menangkap itu.

Begitu lekas ia sudah duduk tegak pula di punggung kuda, ujung anak panah ditusukkan ke kempungan kudanya, hingga binatang itu menjadi kaget dan, kesakitan, terus berjingkrak, untuk berlompat lari larat!

Lauw Wan Tat dapat melihat si nona, ia segera mencontoh, hanya ia bukan mcnggunai panah tetapi menusuk kudanya dengan golok, hingga kuda itu kabur keras sekali.

Biar bagaimana, tenaga manusia tidak dapat melawan tenaga kuda "Dasar kau!"

Berkata Cong Hay, mendongkol, kepada si manusia raksasa. Dia kewalahan menguber terus.

Baca Juga: Bentrok Rimba Persilatan 12

Baca Juga: Bara Maharani 8

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger