Eps 8 Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt
Baca online Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt
Cersil Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt.
Tanyanya.
"Gurumu menolongi aku, dia hebat sekali, hingga sekarang ini kesehatanku telah pulih dan tenagaku rasanya bertambah banyak."
"Itulah bagus,"
Berkata Sin Cu.
"Di dalam peristiwa ini, kami semua berterima kasih kepadamu."
"Itulah tidak berarti apa-apa,"
Kata Keng Sim merendah.
"Aku tidak mau dipaksa Chian Tiang Cun, aku juga tidak sudi ditawan dia. Bukankah kau masih ingat perkataan dulu hari, untuk kau. tak perduli urusan apa, meskipun menerjang api. suka aku melakukannya. Di dalam kejadian ini aku melainkan mau menunjuki bahwa aku ialah seorang sahabat yang dapat diandalkan."
"Aku bersyukur terhadapmu, tetapi aku mengharap kau tidak hanya menunjuki itu kepadaku satu orang,"
Sin Cu bilang.
"Di dalam dunia ini banyak sahabat yang nyalinya besar, mata kita harus dipentang lebar. Asal kau berbuat baik pada orang, orang tidak nanti melupakan budimu."
Keng Sim berdiam.
Ia lantas ingat halnya ia mengantar bingkisan dengan tidak kurang suatu apa semua itu karena bantuannya Sin Cu beramai, sedang sekarang, ia baru sajaditolongi Tan Hong, bahkan kesehatannya, dan tangannya sembuh dan bertambah tenaga melebihkan peryakinan silat lima tahun.
Benar ia menderita tetapi kesudahannya ia memperoleh kebaikan, sekarang ia pun mendapatkan persahabatannya Sin Cu.
"Karenaku kau kehilangan pangkatmu, apakah kau tidak menyesal?"
Sin Cu tanya. Ia tertawa dan mengawasi orang, sedang orang tengah mengangkat kepala memandang kepadanya.
"Sebenarnya aku tidak menemahai pangkat,"
Berkata Keng Sim menjelaskan.
"Aku cuma ingin memangku pangkat untuk memenuhkan angan-anganku. Sekarang aku mengerti bahwa tujuanku itu keliru. Belum lama aku hidup dalam kalangan kepangkatan tetapi buahnya aku merasai banyak sekali hingga di luar dugaanku. Kalau dunia kepangkatan, atau dalam pemerintahan, keadaannya demikian macam, mana bisa aku mewujudkan cita-citaku. Ah, memang, hidup kamu di tempat yang luas dan bebas memang lebih menyenangkan!"
Senang Sin Cu mendengar pengutaraan itu.
"Berubah sudah pandangannya Keng Sim,"
Katanya di dalam hati. Lantas ia kata.
"Penghidupan kita memang merdeka, tetapi kau juga, sepulangnya kau ke Inlam, dengan Bhok Kokkong sebagai pelindung, kau pasti nanti akan mencapai cita-citamu itu. Ya, jangan lupa kau tolong menyampaikan salamku kepada enci Yan."
Ia tertawa, ia hening sejenak, lantas ia menambahkan.
"Dengan kau tidak memangku pangkat di kota raja ini, tentulah enci Yan girang sekali!"
"Kau pun menolongi aku menanyakan kesehatannya Yap Toako,"
Berkata Keng Sim.
"Ah, sungguh beruntung kamu sepasang .suami isteri, yang hidup bercita-cita sama dan rukun!"
Sin Cu tertawa.
"Juga enci Yan dan kau sama-sama muda-mudi yang cerdas,"
Ia kata.
"kamulah pasangan yang sukar dicari keduanya! Sebenarnya, di antara suami isteri itu, asal orang saling mengerti dan menghormati, itulah yang dinamakan jodoh yang mempuaskan."
Keng Sim lantas mengingat Bhok Yan.
Isterinya itu memang menyintai ia, cuma ia yang tak dapat melupakan Sin Cu.
Maka itu, ia merasa jengah sendirinya.
Pertemuan ini memuaskan Keng Sim.
Setelah berpisah pada sepuluh tahun yang lalu dalam pasukan suka rela benar mereka pernah bertemu pula beberapa kali tetapi tidak demikian lama dan merdeka seperti kali ini, keduanya dapat berbicara secara terbuka.
Dengan pertemuan ini, Keng Sim girang bisa mengetahui jelas hati Sin Cu, sedang Sin Cu puas bisa mendapatkan pulang ini sahabat yang seperti sudah hilang...
Demikian mereka memasang omong hingga tanpa merasa sang fajar tiba, lalu di luar terdengar suaranya kelenengan kereta, berikut suaranya roda dan tindakan kuda.
Itulah Tan Hong yang kembali bersama Giok Houw, untuk mengangkut "layonnya"
TiatKeng Sim...
"Kamu bangun pagi-pagi!"
Kata Giok Houw gembira melihat dua orang itu.
"Aku mati dan hidup pula, hari ini aku bakal menyelundup keluar dari kota raja, hatiku tidak tenteram,"
Berkata Keng Sim.
"Karena itu semalaman aku tidak dapat tidur. Apakah sekarang aku mesti tidur pula di dalam peti mati?"
"Jikalau kau tidak mau, tidak apa, aku telah mengaturnya!"
Kata Tan Hong tertawa. Ketika itu ada datang lagi lain orang, ialah Hek Pek Moko bersama Tie Goan, ketua muda Kaypang.
"Hek Pek Moko mau pergi ke Inlam, kamu boleh berjalan bersama-sama,"
Tan Hong bilang.
"Tie Pangcu yang bakal mengantar kamu hingga di luar kota. Tie Pangcu kenal baik semua penjaga pintu kota. Setelah keluar, kamu menantikan Bhok Lin di Louwkauw kio."
Senang Sin Cu mendengar kata-kata gurunya, yang nyata telah mengatur segala apa dengan baik untuk Keng Sim.
Dengan adanya Hek Pek Moko sebagai pengantar, tidak ada kekuatiran apanya lagi, tidak perduli umpama kata raja mengirim wisu-wisu-nya yang terlihai.
Untuk Hek Pek Moko, perjalanan ini juga ada perjalanan sambil lalu.
Mereka mau membawa pulang semua bingkisan ke India, untuk dijual di negerinya.
Mereka mau mengambil jalan dari Inlam menembus ke Birma.
Bhok Lin dan Kiam Hong muncul dari dalam, maka Tan Hong kata pada pangeian muda itu.
"Sekarang angkatlah peti mati ke atas kereta kuda. Cihu menantikan kamu di Louwkauw kio."
"Cihu, kenapa kau tidak bersamaku naik kereta?"
Bhok Lin tanya.
"Dia tidak kerasan tidur lagi di dalam peti mati,"
Tan Hong mewakilkan Keng Sim menjawab.
"Pula, walaupun raja sudah menjadi jeri hatinya, ia toh mesti mengirim wakilnya mengantar layon hingga di luar kota, maka itu siapa bisa ketahui jikalau antara pengiring-pengiringnya ada wisu pilihan yang menyamar yang dapat mendengari suara napas di dalam peti mati? Benar peti kosong dan Keng Sim tidak ada di dalamnya, tetapi dengan kau mempunyai firman raja, siapa berani membuka tutup peti?"
Bhok Lin berdiam, sedang Keng Sim kagum.
Nyata Tan Hong telah mengatur segala sesuatu dengan teliti.
Di luar gedung berada dua buah kereta.
Kereta yang satu lantas dipakai Keng Sim bersama Hek Pek Moko serta Tie Goan.
Kereta yang lain akan dipakai Bhok Lin diiringi busu yang ia bawa dari Inlam.
Keng Sim sudah lantas naik atas keretanya, ia memberi selamat tinggal pada semua orang.
Ia terharu hingga air matanya berlinang.
"Sampai kamu keluar pintu kota, Yang Cong Hay masih belum mendusin dari tidurnya,"
Kata Giok Houw, yang ingat kepada bekas congkoan dari Taylwee itu. Lantas dia tertawa. Sebab kejadian kemarin itu dia menganggapnya lucu.
"Nah, mari kita pun berangkat!"
Kata Tan Hong kemudian.
"Suhu mau menuju ke mana?"
Giok Houw tanya gurunya.
"Sudah delapan tahun aku belum pernah pergi ke Kanglam, aku ingin pesiar kesana,"
Menyahut sang guru.
"Entah bagaimana keadaannya Tayouw Sanchung,"
Berkata Sin Cu.
"Suhu. baik aku turut kau pesiar ke Souwcioc dan Hangciu, habis itu aku minta sukalah kau pergi ke pulau kecil kita untuk berdiam di sana beberapa hari."
"Aku sendiri mau pergi kepada Kimto Cecu""
Berkata Giok Houw.
"Aku mesti memberi laporan. Kau. enci Leng, bagaimana dengan kau?"
In Hong mengawasi Sin Cu. mau ia menjawab tetapi bersangsi.
"Enci Leng, pergilah kau pulang ke Thiansan,"
Kata Sin Cu tertawa.
"Urusan merampas bingkisan sudah selesai, jikalau kau tidak pulang, pasti Hok Toako bakal mengatakan dan menyesali kami sudah menahan kau!"
"Kamu tidak menghendaki aku, baiklah, aku pulang ke Thiansan."
Kata In Hong.
"Aku akan berangkat bersama kau!"
Kata Kiam Hong. In Hong tertawa.
"Enci Sin Cu tidak menghendaki aku, aku juga tidak menginginkan kau!"
Katanya. Kata-kata itu mengandung dua maksud, maka itu Kiam Hong mendongkol dan mengangkat tangannya mengancam untuk memukul, tetapi Sin Cu sembari tertawa menarik tangan orang seraya berkata.
"Siauw Houw Cu mau pergi kepada Kimto Cecu kamu berdua turutlah dia. nanti sampai di luar kota Ganbunkwan baru kamu berpisahan. Di sana kau. Nona Liong, kau boleh mengambil keputusan kau ingin mengikut siapa."
Demikian pembicaraan mereka selesai, mereka berangkat dengan berpisahan.
dalam rombongan masing-masing.
Cuma Sin Cu dan In Hong, yang merasa sangat berat, dari itu banyak mereka saling memesan.
Perjalanan Leng In Hong bertiga Thio Giok Houw dan Liong Kiam Hong menyenangi mereka.
Mereka tidak menemukan sesuatu.
Hanya selang belasan hari, tiba sudah mereka di luar kota Ganbunkwan, tiba di Cengliong Kiap, selat di mana baru ini mereka menempur tentera negeri.
Tentaranya Ciu San Bin pun berada di atas gunung Cengliong San.
Selama perjalanan ini.
In Hong telah mengambil ketetapannya untuk menciptakan sendiri sebuah partai persilatan.
Dengan meyakinkan bersama suaminya, Hok Thian Touw, ia telah memperoleh kemajuan, lalu dengan dapat petunjuknya Thio Tan Hong, selain kemajuan, pikirannya pun makin terbuka.
Maka itu.
selama di tengah perjalanan ini, banyak ia omong sama Giok Houw tentang ilmu pedang, dan di mana yang ia kurang jelas, ia tanya pemuda she Thio itu.
Ketika mereka mulai memasuki lembah Cengliong Kiap, In Hong lantas ingat peristiwa ia bersama suaminya mengepung Kiauw Pak Beng.
Di sana mereka bentrok pendapat tetapi di akhirnya Thian Touw mengalah dan suka membantu sungguh-sungguh padanya melawan Pak Beng, hanyalah di luar sangkaannya, habis itu.
mereka suami isteri jadi semakin renggang.
"Thian Touw terlalu kegilaan ilmu pedang,"
In Hong berpikir.
"Sekarang aku memperoleh sedikit kemajuan, aku harap ini dapat dipakai untuk menambal keretakan kami. Meski begitu, kalau aku mesti terlalu merendah, tidak, tidak dapat."
Karena ini. ia terus bersangsi. In Hong ingin lantas berpisahan tetapi Giok Houw mengundang ia mendaki gunung, untuk mampir beberapa hari. Kata Siauw Houw Cu.
"Bibi Ciu sangat kangen terhadapmu. Ketika itu hari kau pergi tanpa pamitan, dia menyesalkan aku!"
In Hong kena dibujuk.
Ia memang menghargai Nyonya Ciu San Bin.
Kiam Hong tidak ingin berpisahan dari Giok Houw, ia juga tidak tidak mau berpisah dari In Hong.
In Hong bisa menduga hati orang, maka waktu ia diajak mendaki gunung bersama, ia menerima baik ajakan itu.
Tauwbak yang bertugas menjaga hari itu melihat datangnya rombongan Giok Houw.
dia lantas lari ke dalam, untuk memberi laporan kepada cecu.
ialah ketuanya.
Giok Houw merasa aneh kapan ia telah melihat romannya tauwbak itu dan yang lain.
Biasanya, kalau ia datang, ia lantas dirumung.
untuk ditanyakan ini dan itu, mereka biasanya tertawa menyambutnya.
tetapi kali ini mereka berdiam, meskipun ada yang bersenyum tetapi nampaknya seperti dipaksakan.
Teranglah orang berduka, seperti juga ada terjadi sesuatu yang hebat.
Tengah anak muda ini heran dan bercuriga, hingga ia menduga-duga, San Bin muncul menyambut mereka.
Juga cecu itu kelihatannya berduka seperti sekalian tauwbak.
Giok Houw beramai diundang berduduk di Cigi thia.
ruang berkumpul.
Ia lantas menutur perihal perjalanannya ke kota raja dan bertemu sama kaisar.
Ia bicara dengan gembira sekali.
Beberapa kali San Bin memuji dan bertepuk tangan, tetapi roman kedukaannya tetap tidak lenyap.
"Setelah kami berangkat dari sini, apakah ada terjadi sesuatu?"
Akhirnya Giok Houw menanya.
Tidak dapat ia menahan sabar lebih lama pula.
San Bin memerintahkan seorang tauwbak membawa datang sebuah kotak dalam mana ada termuat sehelai kartu nama, sembari menunjuk kartu itu, ia berkata.
"Thio Hiantit, gurumu luas pengetahuannya, apakah kau pernah mendengar ia membicarakan tentang ini dua orang?"
Giok Houw tidak lantas menyahuti, ia hanya membaca dua nama di atas kartu itu. suaranya seperti mendumal.
"Couw Thian Yauw-Cio Keng Ham. Belum pernah aku mendengar suhu menyebut-nyebut dua orang ini. Apakah artinya ini?"
Ia terus menanya.
"Pada enam hari yang baru lalu,"
Menyahut Ciu San Bin.
"pagi-pagi bibimu bangun dan pergi ke ruang ini, lantas di atas meja bundar ia mendapatkan ini kotak berikut kartu namanya. Di samping itu pun ada sepucuk surat yang singkatnya berbunyi bahwa mereka telah mendapat tahu aku bersama Yap Seng Lim telah mengirim Lioklim Cian mengundang orang-orang gagah untuk bersama merampas bingkisan pelbagai propinsi, maka itu mereka minta supaya dibagi separuh dari semua bingkisan yang telah kita rampas itu. Katanya pula apabila semua barang itu sudah dijual, mereka minta separuhnya dalam emas..."
Giok Houw heran sekali.
"Begitu?"
Katanya.
"Kita yang bersusah payah merampasnya, mereka yang duduk enak-enakan hendak mendapat bagiannya!"
"Inilah rada aneh."
In Hong turut bicara.
"Mereka tahu perampasan dilakukan umum, pada itu ada ambil bagian sekalian orang gagah, tetapi toh mereka masih bernyali demikian besar berani meminta bagian, apakah yang mereka buat andalan? Mungkinkah mereka itu terlebih lihai daripada si siluman tua she Kiauw itu?"
"Memang rada aneh."
San Bin bilang.
"Maka juga begitu mendapatkan kartu dan suratnya, bibimu menjadi heran dan segera dia memanggil aku dan Ci Hiap."
"Apakah sekarang bibi dan koko Ci Hiap ada di sini?"
Giok Houw memotong.
Dengan Ci Hiap, ia ada seperti tangan dan kaki, sangat erat persahabatannya, maka kalau Ci Hiap ada di rumah, tidak harusnya dia tidak lekas keluar menemui.
San Bin pun tidak menyebutkan tentang isteri dan anaknya itu, hanya dia menyebut isterinya dalam hubungan dengan itu kartu nama dan surat yang datangnya di luar tahu siapa juga.
Atas pertanyaan itu, Ciu Cecu menyeringai.
"Bibi dan saudaramu itu?"
Katanya.
"Mereka ada di dalam, lagi sakit, besok baru mereka sembuh... Umpama kata kau datang kemarin, aku juga tentu masih rebah di pembaringan..."
Giok Houw semua heran.
Suami isteri itu serta anaknya sakit berbareng!
Tidakkah itu heran?
Pula, tidakkah lebih heran, kesembuhan mereka dapat diketahui harinya?
Tapi sekarang ia mengerti kenapa romannya San Bin kucai, kiranya dia baru sembuh dari sakitnya dan berduka karena sakitnya isteri dan puteranya.
"Siokhu dapat sakit apa?"
Anak muda ini tanya itu ketua, yang ia panggil siokhu, atau paman. San Bin menggeleng kepala.
"Aku tidak tahu,"
Sahutnya.
"Di sini pun ada beberapa sahabat Rimba Persilatan, yang mengerti ilmu ketabiban, mereka juga tidak tahu. Apa yang diketahui ialah sakit kita disebabkan perbuatannya dua orang yang namanya tertera di sini."
Benar-benar Giok Houw tidak mengerti.
"Mungkinkah mereka nelusup ke dalam sini dan menaruh racun secara diam-diam?"
Ia tanya.
"Ah, itulah tidak pantasnya terjadi!"
"Itulahjusteru anehnya!"
San Bin bilang.
"Kami semua tidak dapat menerka bagaimana mereka itu bekerjanya. Surat itu, selain berbunyi meminta separuh dari semua bingkisan, juga ada ditambahkan ini kata-kata. 'Jikalau permintaan kami ini tidak diterima baik, kami akan membikin kamu seluruh gunung menjadi terlukadan musnah. Sekarang ini kami mencoba dulu golok kami peranti menyembelih kerbau, yaitu Ciu Cecu suami dan isteri serta anak akan mendapat sakit serintasan ---Ciu Cecu bakal jatuh sakit lima hari, dan isteri dan anaknya selama tujuh hari. Nanti, setelah kamu sudah sembuh, baru kami datang pula mengunjungi kamu'. Coba pikir, apakah itu tidak aneh? Benar-benar kami jatuh sakit! Obat apa juga kami makan, tidak ada hasilnya. Sampai pada kemarin, tepat lima hari yang disebutkan, sakitku sembuh dengan tiba-tiba tanpa kami mengetahui bagaimana terjadinya. Aneh atau tidak, orang terpaksa mesti mempercayainya!"
"Mungkinkah keanehan terjadi pada kertasnya surat itu?"
Kemudian ia tanya.
"Aku pun pernah mencurigai itu. Surat aku kasihkan diperiksa beberapa sahabat yang mengerti ilmu obatobatan dan racun, tetapi mereka itu tidak mendapatkan apa-apa."
"Apakah mereka itu sendiri tidak mendapat sakit?"
"Tidak."
Giok Houw menjadi bertambah heran.
Ia menduga surat ada racunnya, nyata dugaan itu meleset.
Taruh kata benar surat beracun, kenapa yang sakit cuma San Bin bertiga?
Juga.
kenapa sakitnya mereka bertiga ditentukan hari kesembuhannya dan ketentuan itu tepat?
Ia menjadi bingung.
"Biar bagaimana, mereka itu berdua mestinya ahli racun,"
Kata In Hong kemudian.
"Maka tak dapat tidak, kita mesti berjaga-jaga. Aku masih mempunyai beberapa butir Pekleng Tan. baiklah kita makan itu di waktu kita bertemu dengan mereka. Bersiaga tidak ada ruginya."
Pikiran itu mendapat kesetujuan.
Meski begitu, tetap orang tidak mengerti, maka itu.
mereka tidak bergembira.
Syukur sang besok datangnya lekas.
Itulah hari yang ditetapkan.
Benar saja, Cio Ciu Hong dan Ciu C ie Hiap sembuh dari sakitnya masing-masing, sembuh tanpa terasa, bahkan tepat setengah jam sebelumnya tengah hari.
Semua orang menjadi berlega hati berbareng berkuatir juga.
Sebab ketua mereka bertiga sembuh, tetapi segera mereka mesti menantikan "kunjungan"
Dari dua orang yang meminta bagian bingkisan itu!
Terpaksa mereka berjaga-jaga.
malah penjagaan diperkeras, pos-pos penjaga dibikin lebih rapat, menjadi setiap lima dan sepuluh tindak.
Inilah supaya, kalau kedua tetamu datang, laporan bisa di kirim cepat.
Kira tengah hari, San Bin bersama anaknya, In Hong, Giok Houw dan Kiam Hong, duduk berkumpul di Cigi thia, untuk menantikan tetamu mereka yang tidak diundang itu.
Sampai sekian lama.
mereka menanti dengan sia-sia, tidak laporan datang dari luar.
"Mungkinkah mereka berdua menggertak saja?"
Tanya Giok Houw kemudian.
"Mungkinkah mereka tidak berani datang?"
"Jikalau hanya gertakan, sebenarnya tidak perlu mereka bersusah payah mengancam kita dengan penyakit!"
Kata San Bin.
"Pula tidak mungkin mereka cuma bergurau. Tempo yang dijanjikan ini juga tempo yang mereka tetapkan sendiri..."
Benar baru San Bin mengucap begitu, dari luar terdengar letusan pertanda.
Sedang Hucecu Lauw Wan Tat, si ketua muda.
baru saja tertawa dan hendak mengatakan sesuatu.
Menyusul letusan itu.
dari luar ruang segera terdengar suaranya dua orang.
"Dua orang muda dari Rimba Persilatan. Couw Thian Yauw dan Cio Keng Ham, menepati janji datang menghadap kepada Kimto Cecu!"
Semua orang terkejut hingga mereka saling memandang.
Tidakkah penjagaan telah diperkuat?
Kenapa orang masih dapat masuk, bahkan lantas berada di luar Cigi thia?
Biar bagaimana, San Bin menenangkan hatinya.
Ia lantas berbangkit untuk menyambut.
Dengan suara nyaring, ia berkata.
"Tuan-tuan benar-benar dapat dipercaya! Silakan masuk, di sini aku si orang she Ciu yang tengah menantikan!"
Menyusul suaranya ketua ini, dua orang terlihat bertindak masuk.
Nyata dandanan dan roman mereka lain dari yang lain.
Orang yang memperkenalkan diri sebagai Couw Thian Yauw, tubuhnya besar dan kekar, romannya kasar dan keren, akan tetapi kepala dan tubuhnya ditutup sama kopia dan pakaian kaum pelajar, hingga dia menjadi beroman luar biasa.
Sedang orang yang menyebut diri Cio Keng Ham, yang paling nyata padanya ialah kedua kupingnya memakai anting-anting kuningan, sementara kepalanya lanang.
tidak ada rambutnya sehelai jua.
Nyata sekali dia nampak sebagai orang Biauw, tetapi dia toh memakai nama orang Han, bahkan pakaiannya juga pakaian bangsa Han.
Orang semua heran.
Tidak ada yang bisa membade.
mereka berdua orang dari golongan apa.
Keberanian merekajuga harus dikagumkan.
Couw Thian Yauw merangkap kedua tangannya memberi hormat.
"Ciu Cecu, kesehatanmu tentulah telah pulih!"
Berkata dia.
"Kami berdua saudara telah berlaku lancang, kami minta sukalah dimaafkan."
San Bin tahu orang pandai menggunakan racun, ia tidak mau mendekati mereka itu.
"Tuan-tuan pandai sekali, aku sangat kagum."
Ia berkata membalas hormat.
"Silakan duduk!"
"Maksud kedatangan kami berdua telah ditulis jelas sekali di dalam surat kami, dari itu tidak usah kami menjelaskannya pula,"
Berkata Thian Yauw.
"Sekarang kami minta sukalah cecu memisahkan separuh dari semua bingkisan, supaya dengan begitu kami dapat lantas berangkat pergi. Kami tidak ingin cecu bercape hati melayani kepada kami."
"Syukur tuan-tuan telah datang kemari, aku si orang she Ciu justeru hendak memohon pengajaran,"
San Bin berkata. Ia tidak menyebut tentang bingkisan.
"Kalau tuan-tuan lantas pergi pula, itu tandanya kami tidak mengenal persahabatan."
"Dengan memandang kepada bingkisan, baiklah, kami bersedia berduduk dan memasang omong sebentar,"
Sahut kata Thian Yauw.
"Entahlah, cecu hendak bicara dari hal apa? Kami biasa mendengar cecu berhati sangat mulia dan gemar mengamal, mustahillah cecu berkeberatan untuk itu sedikit bingkisan? Bukankah kita sama-sama orang Rimba Hijau?"
San Bin mengasi lihat roman sungguh-sungguh.
"Tuan-tuan datang dari tempat jauh, silakan duduk dulu,"
Ia berkata.
"Dengan begitu leluasalah kita berbicara. Silakan minum tehnya!"
Menyusuli kata-katanya tuan rumah ini, Thio Giok Houw datang dengan sebuah penampan kuningan.
Ia menghampirkan kedua tetamunya.
Ia menelad contoh gurunya baru-baru ini, menyamar menjadi kacung pengikut, hanya di sini dia menjadi seorang tauwbak kecil.
Dengan begini ia hendak menguji kedua tetamunya itu.
Penampannya itu bagaikan diputar diangsurkan ke muka orang.
Celakalah siapa tidak dapat menyambuti itu, jikalau dia tidak terbinasa, sedikitnya dia akan terluka parah.
Couw Thian Yauw bangun sepasang alisnya.
Ia mengajukan kedua tangannya, untuk menyambuti.
Segera juga penampan itu berhenti berputar.
"Terima kasihi"
Ia kata.
Ia menjemput cangkir teh, untuk segera meminum kering airnya.
Thio Giok Houw telah meyakinkan ilniu Hiankong Yauwkoat di bawah pimpinan Thio Tan Hong, dengan menggunakan tenaga dalam, ia membuatnya penampan berputar.
Ia telah mahir menggunakannya, maka kalau bukan orang kelas satu, sulit untuk dia menghindarkan diri dari penampan itu.
Ia tidak menyangka, Thian Yauw lihai sekali.
Dengan gampang dia ini menekan, lantas punahlah serangan diam-diam dari Giok Houw itu.
Maka kagetlah anak muda ini, tidak perduli dia lihai dan nyalinya besar.
Tiba gilirannya Cio Keng Ham, dia ini lain lagi penyambutannya.
Dia tidak menekan nenampan, dia tidak menyambuti, hanya dia mengibas tangan bajunya, atas mana ujung tangan baju dan penampan beradu, terdengar suara "bret!"
Perlahan, lalu ujung baju itu robek sedikit.
Meski demikian, penampan toh berhenti berputar.
Dengan begini Giok Houw jadi mendapat tahu.
dalam tenaga dalam, Couw Thian Yauw menang banyak daripada Cio Keng Ham, bahwa ilmu silat mereka itu berdua berbeda.
Pula sekarang terlihat semakin tegas romannya Keng Ham melibat cangkir teh, tulen dan Thian Yauw seperti orang Shoatang.
Maka adalah luar biasa, dua orang masing-masing dari suku yang berlainan, satu dari Utara, yang lain dari Selatan, dapat berada dan bekerja sama.
Dengan tangan bajunya itu, Keng Ham melibat cangkir teh, untuk diangkat, untuk dia menghirup kering air tehnya Pada mukanya sama sekali tidak kentara sesuatu perasaan.
Ketika ia mengembalikan cangkir, ia mengibas pula.
Sementara itu Giok Houw telah melirik kepada dua orang dari pihaknya, dua orang ahli obat-obatan yang termasuk locianpwee.
tingkat tertua, ialah Kok Tiok Kin asal propinsi Hoolam, dan Louw To In asal propinsi Siamsay.
Yang belakangan ini pun pandai dalam ilmu racun.
Ia mendapatkan air muka mereka itu berubah, tandanya mereka terkejut dan berkuatir, mereka itu pada melirik Keng Ham.
Ia menjadi heran.
Pikirnya.
"Apakah yang luar biasa dalam kepandaiannya Keng Ham mengibas nenampan dan melibat cangkir teh hingga mereka begini memperhatikannya?"
Ia memandang dari sudut ilmu silat.
Menurut ia, ilmu mengibas Keng Ham itu masih kalah kalau dibandingkan dengan Tiatsiu Sinkang, ilmu Tangan Baju Besi, dari Liong Kiam Hong.
Habis menyambuti cawan.
Giok Houw mau mengundurkan diri, justeru itu Couw Thian Yauw tertawa terbahak-bahak seraya terus berkata.
"Ciu Cecu, sungguh kau terlalu memandang rendah kepada Thio Siauwhiap, yang kau telah memberi pekerjaan sebagai tukang menyuguhkan teh! Sikapmu ini membikin malu saja pada aku si orang she Couw."
Sembari berkata begitu, ia memberi hormat kepada Giok Houw dengan setengah kehormatan, tandanya ia membalas hormat.
Giok Houw telah bersiap sedia, segera ia merasakan dorongan angin ke arah mukanya, lantas ia mempertahankan diri, tetapi tidak urung, ia mundur dua tindak.
Ia menjadi kaget di dalam hati, bukan melulu lihainya tetamu ini, juga buat halnya dia mengenali padanya.
Katanya di dalam hatinya.
"Kenapa dia kenal aku?"
"Apakah gurumu baik-baik saja?"
Couw Thian Yauw meneruskan menanya si pemuda. Dalam keadaan begitu, tidak dapat Giok Houw menyangkal, maka ia berdiri dengan hormat, dengan menurunkan kedua tangannya.
"Terima kasih, guruku baik!"
Ia menjawab.
"Bolehtah aku mendapat ketahui ada hubungan apa di antara tuan dengan guruku? Harap dimaafkan atas perbuatanku barusan."
Couw Thian Yauw tertawa.
"Hubunganku dengan Thio Tan Hong?"
Katanya, balik bertanya.
"Haha! Kalau nanti kau pulang, kau tanyakan saja gurumu, nanti kau mendapat ketahui sendiri! Hebat Thio Tan Hong, dia telah mendidik seorang murid yang jempolan! ---Thio Siauwhiap, terima kasih banyak untuk tehmu ini!"
Kembali Thian Yauw memanggil orang siauwhiap, atau jago muda. Itulah imbangan panggilan atas Thio Tan Hong, yang disebut tayhiap, jago tua atau "pendekar besar."
Mukanya Giok Houw menjadi merah. Kata-kata itu bernada mengejek. Tapi segera ia berpikir pula, katanya di dalam hatinya.
"Jikalau dia benar sahabatnya guruku, tidak nanti dia bersikap begini..."
Sejenak itu, Giok Houw ingat suatu apa ---ingat halnya satu orang, yang gurunya pernah menyebutnya.
Di propinsi Shoatang ada hidup seorang tabib yang aneh, namanya Couw Thay Ce, tetapi dia batal menjadi tabib, dia mengubah pelajarannya itu dengan pelajaran silat.
Dia pun aneh tabiatnya, meski dia bertubuh kekar dan romannya kasar, cara dandannya ialah cara kaum terpelajar.
Sebagai senjatanya ialah sebuah kipas yang panjang, yang diperantikan menotok jalan darah.
Ketika dulu hari itu Tan Hong bersama puteri Iran datang ke kota raja, ia pernah bertemu Couw Tay Ce di dalam istana, bersama isterinya, dengan menggunakan ilmu pedangnya bersatu padu, Tan Hong telah mengalahkan Tay Ce dalam tiga jurus dan telah melukakan orang sampai tujuh lubang.
"Bukankah Couw Thian Yauw ini ialah Couw Tay Ce dulu hari itu?"
Pikir si anak muda cepat.
"Dulu hari itu dia dapat melayani suhu dan subo tiga jurus, dia sudah luar biasa, maka sekarang ini dia tentulah telah peroleh kemajuan... Siapakah orang di pihakku yang dapat melayani dia?"
Maka itu, sendirinya ia menjadi berkuatir. Ciu San Bin lantas datang sama tengah.
"Oh. kiranya Tuan Couw kenal Thio Tayhiap!"
Demikian katanya.
"Dengan begitu maka sekarang kita jadi dapat berbicara dengan terlebih leluasa lagi. Tuan Couw, apakah tuan ketahui bahwa dalam usaha kami merampas pelbagai bingkisan itu kami telah memperoleh bantuannya Thio Tayhiap itu?"
"Justeru karena kami memandang kepada mukanya Thio Tayhiap maka juga kami cuma meminta bagian separuh saja!"
Berkata Thian Yauw, menyahuti.
"Aku menumpang bertanya,"
Berkata pula San Bin.
"kedua tuan ini di gunung apa tuan-tuan mengambil kedudukan dan atas alasan apakah maka tuan-tuan meminta separuh bagian?"
Tetamu itu tertawa pula.
"Telah lama aku mendengar bahwa Ciu Cecu ialah orang gagah dari jaman ini,"
Ia berkata.
"maka itu kenapa sekarang agaknya cecu membawa-bawa mata yang memandang pengaruh? Apakah mungkin, lantaran kami tidak mempunyai gunung atau benteng, karena kami bukannya suatu pangcu atau ketua partai, lantas cecu hendak memandang kecil terhadap kami?"
Kata-kata ini mempunyai artinya sendiri.
Dengan itu mau dimaksudkan, Thian Yauw dan Keng Ham ini ialah bangsa begal tunggal, yang bekerja tanpa modal sendiri, tanpa tempat kediaman yang tertentu juga.
Bahwa mereka berani sekali sudah mengajukan permintaan kepada suatu perbentengan besar menandakan mereka menggunakan aturan Jalan Hitam yang tak biasanya.
"Maaf, maaf,"
Kata San Bin dengan suara merendah.
"aku si orang she Ciu cuma mau minta keterangan tuantuan mempunyai keperluan yang sangat bagaimana maka tuan-tuan sampai perlu meminta separuh bagian?"
Kembali Thian Yauw tertawa.
"Inilah aneh!"
Katanya.
"Semenjak dulu hingga sekarang belum pernah aku mendengar bahwa penjahat memerlukan uang dulu baru dia melakukan perampasannya. Bagi kami ialah. Kamu merampas dari tangannya pelbagai busu yang melindungi bingkisan, karena kamu dapat berbuat demikian, maka itu dapat juga kami pun merampasnya pula dari tangan kamu, hanya kami meminta cuma separuh dan kami memintanya juga lebih dulu menggunakan aturan, baru kemudian dengan kekerasan. Tidakkah perbuatan kami ini sangat tepat dan telah memberikan muka kepada kamu? Apakah cecu masih hendak menggunakan aturan lainnya lagi?"
Begitu rupa Thian Yauw mendesak, ia membuatnya orang mendongkol dan gusar. San Bin masih dapat menguasai dirinya.
"Tuan Couw, masih ada apa-apa yang kau belum ketahui,"
Ia berkata, sabar.
"Kami merampas bingkisan itu bukan untuk diri kami sendiri. Di samping kami masih ada Tocu Yap Seng Lim di Selatan. Seperti kami, Yap Tocu juga mempunyai banyak saudara-saudaranya. Kami di sini bertugas menjaga penyerbuannya bangsa Tatar dan Yap Toc oe di Selatan itu bertugas menangkis gangguan kawanan perampok kate. Kami kedua pihak berjumlah besar, untuk hidup kami, tidak membegal atau merampok, kami hidup atas ichtiar kami yang sah. Sekarang ada itu pelbagai bingkisan. Itulah lain sifatnya. Maka kami bertindak, kami mengambilnya, untuk kepentingan rangsum kami. Di dalam usaha kami ini, kami memperoleh bantuan semua orang gagah dari pelbagai kalangan dan pihak. Mereka itu telah membantu kami tetapi tidak ada satu saja di antaranya yang menagih bagian."
Couw Thian Yauw juga berlaku tenang. Katanya dengan adem.
"Kami tidak mengambil mumat segala urusan besar dari negara itu. kami cuma tahu bahwa kami menjadi begal dan sebagai begal kami mesti membegal. Kami ketahui kamu telah memperoleh harta karun yang besar sekali, dari itu kami menghendakinya! Jikalau kamu tidak membagi separuhnya kepada kami, maka janganlah kamu mengharap bahwa kami mau sudah saja!"
Dia bersikap adem akan tetapi kata-katanya itu keras.
"Tuan-tuan, ingin aku memberitahu kepada kamu!"
Berkata San Bin, sekarang suaranya pun keras.
"Di dalam urusan ini, aku tidak dapat berkuasa seorang diri! Semua bingkisan telah dirampas bukan olehku seorang hanya dengan bantuannya semua orang gagah, inilah kau harus mengerti. Aku pula hendak memohon tuan-tuan memandang kepada rakyat yang bersengsara itu, jadi janganlah tuan-tuan cuma ingat kepentingan diri sendiri!"
Couw Thian Yauw melirik tuan rumahnya, ia tertawa dingin. Ia tidak menjawab tuan rumah, hanya lantas berkata kepada kawannya.
"Cio Toako, pembicaraanku dengan Ciu Cecu ini tidak mendapatkan kecocokan! Kau dengar sendiri, dia menyebut-nyebut entah Thio Tayhiap apa, dia membawa-bawa segala orang gagah di kolong langit ini! Di sini tidak ada soal muka lagi! Bagaimana kau pikir, toako. apakah kita dapat menerima baik?"
Selagi orang berbicara, sikapnya Keng Ham tenang seperti biasanya. Dengan tidak mengasi kentara sesuatu pada romannya, dia menjawab singkat.
"Tidak!"
Thian Yauw lantas tertawa.
"Ciu Cecu. kau tidak dapat berkuasa sendiri, begitu juga aku!"
Dia berkata.
"Kau dengar, Cio Toako aku ini tidak dapat menerima baik pertimbanganmu itu!"
Sampai di situ. habis sudah kesabarannya San Bin.
"Sahabat-sahabat, oleh karena kamu tidak dapat menimbang, kami pun tidak mau meminta apa-apa lagi dari kamu!"
Ia berkata, keras.
"Bingkisan ini bukan bingkisanku sendiri, jikalau kamu mau minta aku sendiri yang mengangsurkan dengan kedua tanganku, sungguh tak dapat! Jikalau tuan-tuan mempunyai kepandaian, nah, pergilah ambil sendiri!"
Couw Thian Yauw tidak gusar, sebaliknya, dia tertawa lebar.
"Bagus ini baru omong terus terang!"
Dia kata.
"Jikalau tahu bakal jadi begini, omong banyak-banyak itu hanya obrolan belaka! Baiklah, sekarang aku si orang she Couw yang bodoh, aku mohon pengajaran dari kau, Ciu Cecu!"
Belum lagi San Bin memberikan jawabannya. Leng In Hong sudah berbangkit untuk terus berkata.
"Mengenai bingkisan ini, aku telah memberikan banyak tenagaku, maka itu jikalau kau menghendakinya. Tuan Couw, silakan kau memintanya kepada pedangku ini!"
Dan ia menunjuki pedangnya.
Giok Houw telah melihat gelagat, tahulah ia.
untuk menghadapi Couw Thian Yauw.
di pihaknya cuma ada In Hong satu orang, oleh karena itu diam-diam ia memberikan isyarat kepada Nyonya Hok Thian Touw.
dengan cerdik ia telah memberitahukan nyonya itu tentang siapa adanya tetamu she Couw ini.
dari itu, In Hong lantas bertanggung jawab.
Couw Thian Yauw berpaling kepada Nona Leng, ia mengawasi dengan tertawanya yang aneh, lantas dia berkata.
"Oh, kiranya Leng Lihiap dari Thiansan! Kau berdua dengan suamimu, ialah kamu berdua biasanya sangat saling menyinta, maka itu kenapa sekarang kau berada sendirian di sini?"
Mendengar itu, Giok Houw terkejut.
Ia tidak menyangka sekali, orang pun mengenali In Hong seperti orang mengenali ianya.
Di lain pihak --ia menyesal --ia tidak ketahui jelas tentang kedua tetamu itu.
lebih-lebih tidak tentang Cio Keng Ham si orang Biauw yang aneh kelakuannya itu.
In Hong menjadi tidak senang, sepasang alisnya bangun berdiri.
"Tidak perlu kau omong yang tidak keruan!"
Ia menegur. Thian Yauw tidak gusar, kembali dia tertawa.
"Kau benar!"
Katanya.
"benar! Memang sebegitu jauh aku ketahui. Hok Thian Touw ialah orang yang biasa tak suka mengambil tahu segala urusan sampingan! Cuma aku tidak mengerti kau, kenapa di sini kau menjadi usilan mau campur urusan lain orang?"
"Ngaco!"
Bentak In Hong gusar, dengan pedangnya dia menuding.
"Tidak sempat aku mendengari ocehanmu! Lekas hunus senjatamu!"
Masih saja Thian Yauw tertawa -tertawa dingin.
"Apakah kau kira aku cuma ngoceh saja?"
Katanya.
"Di belakang hari kau nanti mendapat tahu bahwa sekarang ini aku bermaksud baik terhadapmu! Jikalau kau tetap usilan, kau bakal tidak dapat mengurus lagi suamimu! Memang kata-kata jujur tidak sedap untuk telinga, dari itu, jikalau kau tetap tidak mempercayainya, terserah padamu!"
In Hong gusar hingga mukanya menjadi merah padam, tanpa mengucap sepatah kata lagi, ia menggeraki pedangnya menikam orang di depannya itu. Ia menggunakan jurus "Pengcoan kaytong"
Atau "Sungai es lumer,"
Maka itu, sebelum pedang meluncur lempang, lebih dulu sedikit diputar, menanti sampai lawan mengeluarkan senjatanya, ialah kipas besinya.
"Bagus!"
Para hadirin berseru karena kagumnya melihat lincahnya gerakan pedang itu.
"Bagus!"
Thian Yauw pun memuji.
"Benar-benar ilmu pedang Thiansan tidak sembarang!"
Sambil berkata itu, dengan kipasnya ia menangkis.
Tidak perdu1i serangan itu sangat berbahaya, dia dapat membebaskan diri.
Dia tidak nampak gugup, hingga orang pun mengaguminya.
Serangan dan tangkisannya itu mengakibatkan sesuatu yang membuat orang heran, kagum dan kaget.
Dengan tangkisannya itu, Couw Thian Yauw memperlihatkan kelihaiannya.
Bukan melainkan orang luar, In Hong sendiri pun heran.
Ketika kedua senjata bentrok, pedang lantas seperti tertempel kipas, tempo In Hong menarik, tubuhnya seperti terbawa terputar, ia bagaikan tidak dapat menancap kakinya.
"Kena!"
Thian Yauw berseru.
Dia merangkap kipasnya, dia menusuk ke arah jalan darah hunbun hiat dari si nyonya muda.
Kembali orang kaget.
Itulah gerakan sangat bagus dan cepat.
In Hong pun terkejut, tetapi dengan pedangnya lolos dari tempelan, ia pun dapat bergerak dengan cepat dan lincah.
Menyingkir dari totokan itu, ia menjejak lantai, berlompat mengapungi diri, ketika tubuhnya turun, ia membarengi menyerang, dari atas kebawah!
Thian Yauw bermata tajam dan sebat gerakannya, ia telah bisa menduga gerak-gerik si nyonya muda.
maka itu, tanpa ayal, ia berkelit sambil ia menangkis, hingga serangan nyonya itu gagal dan ia selamat.
Ketika si nyonya menaruh kaki di lantai, dia telah memisahkan dirinya cukup jauh.
Selelah gebrakan ini, kedua pihak sama-sama mengetahui lihainya lawan masing-masing, dari itu, keduanya lantas tidak berani memandang enteng satu pada lain.
Habis itu, mereka hendak mulai bergebrak pula.
Lebih dulu Thian Yauw mengipas dua kali, sembari tertawa, dia berkata.
"Kiranya cuma sebegini saja ilmu pedang Thiansan Kiamhoat yang diciptakan Keluarga Hok selama dua turunan! Benarkah cuma sebegini?"
Itulah ejekan untuk Hok Thian Touw dan ayahnya. Dengan itu maka telah dihinakan, suami dan pamannya In Hong itu. Tentu sekali, panas hatinya nyonya muda ini.
"Baiklah, kau sambut lagi ini ilmu pedang dari Thiansan!"
Ia membentak seraya menyerang dengan pedangnya, pedang Cengkong kiam. Sebab itu ada tipu pedang "Bidadari melempar torak,"
Maka ujung pedang meluncur ke dada di mana ada jalan darah soanki hiat.
Serangan In Hong ini berbahaya akan tetapi Thian Yauw menyambutnya dengan tenang tetapi sebat.
Dia seperti juga telah menduga si nona bakal menyerang secara demikian terhadapnya.
Inilah tidak heran, karena ejekannya itu pun untuk mengundang kemarahan lawannya.
Dia tidak menangkis, hanya sambil mundur sedikit, dia membikin dada dan perutnya kempes.
Dia telah menggunakan tipu silat "Menelan dada.
menyedot perut."
Dengan begitu, ujung pedang hanya mendekati dadanya kira-kira dua dim.
Adalah setelah itu, atau hampir berbareng, dia melakukan serangan membalas.
Dia mengipas, niatnya menempel pula pedang lawan seperti bermula tadi.
In Hong juga seperti telah menduga bahwa orang hendak menempel pula pedangnya, ia telah berjaga-jaga, ketika pedangnya itu dikipas, ia segera menarik pulang.
Hanya ia tidak menyangka akan kelicikan orang.
Thian Yauw masih memain dengan siasatnya.
Mendadak Thian Yauw tertawa dingin dan berkata.
"Biarlah kau pun belajar kenal dengan ilmu totokku!"
Kata-kata ini disusul sama serangannya, dengan totokannyayang saling susul!
Hebat serangan ini.
karena kipasnya orang she Couw ini luar biasa.
Yaitu tulang-tulang kipas tajam, di waktu dipakai menyerang dengan kipas dibeber, ujung tulang itu bekerja seperti pusut atau tempuling, mencari setiap jalan darah.
Jadinya kipas itu, rapat dapat dipakai menotok, dibeber pun dapat dipakai menotok juga, rapat hanya satu, dibeber, banyak.
Pula tipu menotok itu diberi nama istimewa, yaitu "Cuisian kongcauw"
Atau "Dewa mabok mengacau rumput."
Sebenarnya, jalan darah yang di arah ialah tujuh buah.
In Hong terkejut, terpaksa ia main mundur.
Ia berkelit dan menyabet, untuk melindungi dirinya.
Juga Thian Yauw terkejut.
Dia hanya disebabkan kegagalannya menotok si nyonya.
Dia tidak menyangka, lawan ini demikian waspada dan gesit, hingga serangannya yang Iiehay itu tidak memberi hasil.
Dengan main mundur itu, In Hong dapat membebaskan diri.
setelah berlompat ke samping, ia pun mencoba membalas menyerang.
Dengan demikian, mereka jadi bergebrak pula.
Tanpa merasa, mereka telah melewatkan tiga puluh jurus.
Biar bagaimana, Thian Yauw nampaknya lebih unggul sedikit, lebih sering dia merangsak, menutup pedang si nyonya muda.
hingga In Hong seperti juga, tidak dapat menggunakan pedangnya dengan merdeka.
In Hong dibikin repot dengan gerak-geriknya menyingkirkan diri dari tempelan kipas besi yang Iiehay itu.
Di waktu bertempur seru itu, Thian Yauw masih dapat kesempatan untuk kadang-kadang tertawa mengejek.
Demikian satu kali.
habis tertawa, dia merangsak seraya berseru.
"Kena!"
Kipasnya, yang tadinya dibuka dan dikipas-kipaskan, mendadak ditutup, dipakai menotok ke kepala di mana ada jalan darah pekhwe hiat.
Thio Giok Houw pun terperanjat menyaksikan gerakan bagaikan kilat dari orang she Couu yang Iiehay itu, ia berkuatir sekali In Hong nanti kalah hati dan gagal menjaga dirinya.
Selagi terancam bahaya itu, mendadak In Hong juga berseru.
"Kena!"
Luar biasa lincahnya ia berkelit, sangat sulit untuknya lolos dari bahaya, tetapi begitu ia bebas, begitu ia menyontek, guna satu penyerangan membalas.
Thian Yauw terkejut.
Dia menarik pulang tangannya!
Tidak perduli dia bergerak sangat cepat, ujung tangan bajunya kena juga dirobek ujung pedang!
Para hadirin terpesona, dari kaget mereka kagum dan heran.
Tentu sekali, hati mereka menjadi lega dan girang, sebab pahlawan mereka selamat dan menang sejurus.
Thian Yauw sendiri heran tak terhingga.
Ia tidak menyangka lawannya bisa lolos.
Sedang ia tahu betul, ia sudah menutup diri dan serangannya itu Iiehay luar biasa.
Ia tidak bisa mengerti, mengapa orang bebas dan akhirnya berhasil dengan pembalasannya itu.
Leng In Hong tidak mau mengasi ketika orang berpikir.
Ia menyerang pula.
Ia ingin dapat membalas mendesak.
Thian Yauw menangkis.
Nyonya Thian Touw mengasi lihat kelincahannya.
Baru ia menyerang di kiri, atau segera ia menikam pula dari sebelah kanan.
Luar biasa gesitnya, ia bergerak dari kiri ke kanan itu.
Ia menginsafi, tanpa kegesitan, sukar ia menandingi ini musuh lihai.
Di kanan itu, iamenikamjalan darah cengciok hiat.
"Bagus! Bagus!"
Demikian pujian dari beberapa hadirin, yang mengerti baik tentang ilmu pedang.
Mereka kagum bukan main untuk lihai si nyonya muda.
Hanya mereka juga tidak mengerti, bagaimana sebenarnya jalan pikiran nyonya itu maka ia dapat bergerak demikian indah.
Duduknya hal yang sebenarnya ialah sederhana untuk In Hong.
Ia baru menginsafi satu jurus, yang ia gabung menjadi satu-dari Thiansan Kiamhoat dan Hian Ki Kiamhoat, dan baru sekarang ia pergunakan itu.
Nyatanya, percobaannya ini memberi hasil yang memuaskan.
Sayangnya Thian Yauw terlalu gesit, hingga cuma ujung bajunya yang menjadi kurban.
Selagi In Hong girang atas hasil jerih payahnya itu, Thian Yauw terkejut untuk lihainya si nyonya muda, yang sekian lama ia pandang enteng, sebab ia percaya, meski nyonya itu tangguh, ia toh akan dapat mengalahkannya Sekarang ia memikir lain, sekarang maulah ia waspada.
Bertempur selanjutnya, mereka menjadi berada dalam kedudukan berimbang.
Sampai lagi tiga puluh jurus, kekuatan mereka tidak berbeda.
Thian Yauw lihai tenaga dalamnya, yang latihannya cukup, In Hong menang unggul ringan tubuhnya, yang sekarang dibantu luar biasanya ilmu pedangnya itu.
Pertempuran yang meminta tempo lama ini, yang berlarut-larut, hebat untuk In Hong.
Ia sudah lantas bermandikan peluh.
Tetapi Thian Yauw juga demikian.
Orang she Couw itu mengorong napasnya.
Nyonya Hok Thian Touw berpikir.
"Aku tadinya menyangka cuma kipasnya Kiauw Siauw Siauw yang lihai sekali, yang luar biasa untuk kalangan Rimba Persilatan, siapa sangkajahanam ini jauh terlebih lihai dari puteranya Kiauw Pak Beng itu. Syukur aku telah berhasil menginsafi ilmu pedang gabunganku, jikalau tidak, siang-siang aku mestinya telah roboh di tangan orang ini..."
Pertarungan berjalan terus.
Ujung pedang in Hong, bagaikan torak, tidak pernah berpisah jauh dari anggauta-anggauta tubuh yang berbahaya dari Thian Yauw.
Ujung kipasnya Thian Yauw, sebaliknya, terus mengintai pelbagai jalan darahnya si nyonya muda.
Maka itu, para penonton menjadi kagum, semua menonton dengan menjublak, tidak ada yang bersuara.
Sedangnya lain-lain orang merasa tegang sendirinya, adalah kawannya Thian Yauw, yaitu si orang Biauw she Ciu, duduk tenang-tenang saja, berulangkah dia menyedot pipanya.
Dia segera menarik perhatiannya San Bin.
Maka cecu ini lantas memberi kisikan kepada Louw To In dan Kok Tiok Kin untuk memasang mata.
Ia menjadi bercuriga.
Dua-dua To In dan Tiok Kin ahli obat-obatan, bahkan To In memperhatikan juga segala racun, maka itu, diamdiam ia mengendus-endus baunya pipa si orang Biauw itu, akan kemudian ia kata perlahan kepada Tiok Kin.
"Baunya asap pipa ini rada luar biasa akan tetapi aku merasainya seperti tidak ada campuran racun di dalamnya..."
Tiok Kin tidak membilang apa-apa, tetapi San Bin menjadi sedikit lega.
"Di saat seperti ini, aneh juga orang dapat menghisap pipanya cara dia ini."
Pikir ketua itu.
"tetapi dialah tetamu, tidak ada alasan untuk aku melarang dia..."
Meski To In berbicara demikian terhadap Tiok Kin, kecurigaannya tidak lenyap.
Maka diam-diam ia terus memasang mata kepada orang Biauw itu.
Pipa Keng Ham besar luar biasa, dengan begitu isinya pun luar biasa banyak.
Ialah tiga lipat dari pipa biasa.
Sudah begitu, To In memasang mata dengan keheranheranan.
Orang senantiasa menyedot, menghisap, akan tetapi asap sedotannya itu tidak dikeluarkan, tidak dikepulkan sebagaimana selayaknya.
Asap itu seperti lenyap di dalam perut.
"Dia benar-benar aneh,"
Pikir tabib asal Siamsay itu.
"Dia dapat makan asap pipanya, mungkin asapnya itu tidak ada racunnya, kalau toh ada, ialah asap yang hanya dapat membikin pulas..."
Biar bagaimana, tabib ini tetap memasang mata, cuma kadang-kadang ia memperhatikan jalannya pertempuran.
Semua hadirin berdiam tetapi ada yang hatinya berdebaran.
Pertempuran itu sangat hebat --pedang berkilauan, kipas berkelebatan.
Keduanya sudah letih tetapi mereka bertempur terus, sama-sama mencari ketika untuk merebut kemenangan.
Mereka tidak mau memberikan ketika senjata mereka bentrok, maka itu, suara mereka sunyi, kecuali berkesiurnya dari gerak-gerik tubuh mereka.
Dalam pada itu, lagi-lagi terdengar seruannya Thian Yauw, membarengi serangan kipasnya.
Ketika itu In Hong baru menyerang dengan jurusnya "Hengci thian"
Atau.
"Melintang menuding langit Selatan."
Ketika ini dipakai lawannya untuk menyerang, guna menempel pedangnya itu.
Dan lawan itu berhasil.
Maka repotlah ia berdaya ke kiri dan ke kanan, guna meloloskan pedangnya itu.
Juga Thian Yauw tidak berdiam saja, juga dia membuat senjatanya bergerak ke kiri dan kanan, guna menarik pedang si nyonya, akan tetapi dia pun tidak berhasil merampas pedang orang, sebab In Hong dapat mencekel terus dengan keras.
Dari berkutat itu, keduanya lantas berdiam, berdiam untuk menanti saatnya.
Thian Yauw hendak membetot, In Hong mau mempertahankan diri.
Lalu terlihat Thian Yauw menolak.
Atas itu, In Hong mundur satu tindak, kuda-kudanya dipasang.
Ketika ia didesak lagi, kembali ia mundur satu tindak pula.
Giok Houw menyaksikan itu.
"Inilah berbahaya,"
Pikirnya.
"Kalau enci In Hong kalah, siapa lagi yang dapat melayani dia?"
Thian Yauw tidak dapat menggunakan kekerasan, ia lalu mencoba tenaga dalamnya.
Ia menolak dengan kipasnya, untuk menggempur.
Tapi In Hong terus bertahan, nyonya itu masih sanggup membela diri.
Beberapa puluh tahun sudah Thian Yauw melatih diri, tenaga dalamnya mahir luar biasa, jauh lebih menang daripada nyonya yang menjadi lawannya itu, maka juga.
setelah mencoba terus menerus, ia dapat memaksa nyonya itu mundur sampai tujuh tindak.
Desakannya ini membikin bingung para hadirin, mereka sangat berkuatir In Hong akhirnya kena dirobohkan.
Sampai itu waktu, sia-sia belaka In Hong mencoba meloloskan pedangnya.
Tapi desakan itu tidak berlangsung terus.
Nyonya Hok Thian Touw tidak mau sembarang menyerah.
Sambil bertahan, ia memasang mata.
ia mengerjakan otaknya.
Ia cerdas sekali.
Tiba-tiba ia mendapat akal.
Mendadak ia mengendorkan tenaganya, lalu mendadak juga ia menusuk kaget, ujung pedangnya dikutik sedikit.
Dan kutunglah sebatang tulang kipasnya lawan!
Tipu silat Nyonya Hok Thian Touw ini ialah yang dinamakan "Pauwteng kaygoe"
Atau "Koki melepaskan kerbau."
Itulah tipu dari "Hiankong Yauwkoat."
Ia mencoba dan ia berhasil.
Walaupun demikian, In Hong belum berhasil meloloskan pedangnya.
Thian Yauw segera bertahan pula.
Untuk sejenak, orang she Couw itu terkejut.
Tahutahu sebuah tulang kipasnya putus.
Dengan begitu, sudah tiga buah tulang kipasnya itu yang terputuskan lawannya yang cerdik itu.
Karena ini, ia mulai mendesak pula, hingga lagi-lagi In Hong dipaksa mundur.
San Bin dan Giok Houw berkuatir sekali.
Terang In Hong menjadi makin letih.
Berbahaya kalau kipasnya musuh tidak dapat dikutungkan dan dikutungkan pula, supaya kipas itu tak dapat terus dipakai mendesak, supaya Thian Yauw tidak bisa menotok lagi.
Tapi, bagaimana?
Thian Yauw ada sangat tangguh.
Tengah Giok Houw berkuatir itu, hingga ia mengeluarkan peluh dingin, mendadak ia mendengar suara berketruk nyaring, lantas terlihat Cio Keng Ham berbangkit dan bertindak ke arah kalangan pertempuran.
Orang Biauw itu berjalan dengan kepalanya yang gundul digoyang-goyang.
"Kami datang kemari untuk uang, kami bukan menghendaki jiwa!"
Berkata dia dengan bahasa Han yang tidak lancar.
"Pertempuran ini hebat tetapi tidak ada keputusannya, maka itu baiklah cara bertempur ini ditukar saja dengan cara lain!"
Kata-kata itu dibarengi sama goyangan kepala.
Mendadak sebelah anting-antingnya melesat, tepat masuk ke ujung pedang In Hong, atas mana, pedang itu pun dengan tiba-tiba terlepas dari libatannya kipas Couw Thian Yauw.
Dengan lolosnya pedangnya itu, si nyonya merdeka untuk lompat mundur, hanya begitu lekas kakinya menginjak lantai, sekonyong-konyong tubuhnya terhuyung, terus ia jatuh.
Dengan hanya sejenak, ia merasai kepalanya sangat pusing dan matanya berkunang-kunang.
Semua orang kaget dan heran.
Kenapa In Hong roboh?
Kenapa ia tidak lantas bangun pula, untuk berlompat bangun?
Jikalau ia cuma terhuyung, ia pasti dapat mempertahankan diri.
Biasa saja orang terhuyung habis menarik keras lain mendadak yang ditarik itu terlepas.
Louw To In pun kaget tetapi dia lantas berbangkit, untuk mengambil secawan air teh.
untuk dibawa kepada Nyonya Hok Thian Touw.
Thio Giok Houw bergerak lebih sebat daripada tabib dari Siamsay itu, dengan menghunus goloknya, golok Bianto, ia lompat masuk ke dalam gelanggang.
"Bangsat Biauw tidak tahu malu!"
Ia berseru.
"Bagaimana kau berani main gila dan berlaku rendah di sini?"
Cio Keng Ham tertawa berkakak menyambut tibanya si anak muda, dengan mulutnya dibuka, itu, dari situ mengepul keluar asap huncwee-nya.
Giok Houw telah bersiap sedia untuk sambutan yang berupa penyerangan mendahului itu, ia hanya tidak menyangka bahwa ia bakal dipapaki asap.
Ia mengibas dengan tangannya yang kiri, ia menggunakan pukulan Pekkhong ciang.
Meski begitu, tidak Semua asap dapat disampok, ada juga yang mengepul ke hidungnya, hingga ia merasa pusing kepalanya dan matanya berkunang-kunang, tak tempo lagi, ia terhuyung mundur.
Syukur untuknya ia dapat mempertahankan diri dengan kuda-kudanya yang kokok kuat.
Itu waktu, Louw To In juga sudah tiba kepada In Hong, muka siapa ia sembur dengan air yang ia bawa itu, atas mana Nyonya Hok Thian Touw lantas berlompat bangun dalam gerakannya Ikan Gabus Meletik, bahkan untuk segera menikam Keng Ham.
Orang Biauw itu berkelit, sambil menghadapi To In, ia berkata dingin.
"Ha, kiranya kau pun seorang ahli! Baiklah, kau rebahlah lebih dulu!"
Lalu dia menyembur pula dengan asap pipanya!
To In menduga orang menggunakan asap pulas, ia tidak takut.
Untuk melawan itu, ia sudah makan obat pemunahnya.
Maka ia maju, untuk melawan.
Keng Ham benar-benar lihai.
Di samping asap kepulannya itu.
diam diam tangannya menyentil.
Di tangannya itu ia memegang serupa bubuk beracun lain, yang lihai sekali.
To In kaget sekali dan kesakitan sangat.
Ia merasakan bagaikan puluhan jarum menusuk biji matanya.
Begitu ia menjerit, begitu tubuhnya roboh, sebab Keng Ham telah menyusuli ia dengan satu serangan tangan kosong!
Atas kejadian itu, yang membikin orang kaget dan gusar, semua hadirin berlompat bangun, semua maju ke gelanggang.
Mereka sangat penasaran.
"Bagus!"
Berseru Keng Ham sambil tertawa.
"Kamu mau main keroyok ya? Baiklah, boleh sekalian saja kamu berkenalan sama aku, Pektok Sinkun!"
Satu-dua orang di antara hadirin itu kaget bukan main.
Mereka itu pernah tinggal di wilayah Biauwkiang dan mengetahui nama dari Pektok Sinkun, si Malaikat Seratus Racun.
Mereka tidak sangka, inilah jago racun itu.
Keng Ham bersuara seraya membuktikan ancamannya.
Ia mengepul-ngepulkan asapnya, hingga ruang Cigi thia penuh dengan asapnya yang berbahaya itu.
Sekarang ia mengudal asap yang tadi ia sedot terus menerus, yang ia bisa simpan di dalam perutnya.
Asap beracun itu luar biasa.
Siapa mahir ilmu menahan napas, ia ketolongan.
Obat pemunah yang umum saja tidak dapat bertahan terhadapnya.
Maka itu, dengan bergantian terdengar blak-bluk dari robohnya tubuh orang ke lantai.
Siapa kuat, dia dapat bangun pula, untuk roboh kembali, siapa tidak kuat, dia roboh terus.
Giok Houw kaget, gusar dan berkuatir.
Ia menutup rapat dirinya.
Ia maju kepada Keng Ham sambil sabansaban menyerang dengan Pekkhong ciang, Pukulan Udara Kosong, mengusir asap, lalu setelah datang dekat, ia membacok orang Biauw itu.
Keng Ham pun lihai, atas datangnya serangan, ia membuat perlawanan.
Ia mengangkat pipanya yang panjang, untuk menangkis.
Ia tidak tahu goloknya Giok Houw ialah golok Bianto, dan Giok Houw sendiri mengerti Tongcu kang, ilmu Jejaka Sejati, sedang tenaga dalamnya tidak dapat dipandang ringan.
Maka kagetlah ia ketika ia mendapat kenyataan, pemuda itu tidak dirobohkan dengan asap.
bahkan pipanya kena terbabat!
Giok Houw girang dengan hasilnya penyerangannya yang pertama itu.
tanpa mengasi ketika ia mengulangi bacokannya Tapi kali ini, goloknya kena ditangkis Couw Thian Yauw, yang berlompat kepadanya untuk membantui kawannya, hingga ia jadi menempur orang yang lihai itu.
Baru beberapajurus, Siauw Houw Cu sudah merasai dadanya sesak.
Rupanya asap toh dapat nelusup.
Ia menahan terus, tidak berani ia membuka mulut, untuk bernapas.
Karena menghadap musuh tangguh, ia berkelahi dengan keras sekali.
Tiba-tiba terdengar suara di kuping pemuda ini.
"Kau juga rebahlah!"
Itulah suaranya si orang Biauw.
Ia kaget.
Berbareng dengan itu, goloknya kena ditahan kipasnya Thian Yauw, sedang punggungnya, di mana ada jalan darah kwichong hiat.
kena ditinju Keng Ham.
Tidak ampun lagi, ia roboh tak sadarkan diri.
Ketika itu, asap mulai buyar.
In Hong bersama San Bin maju menyerang.
San Bin dengan Kimto, Golok Emas-nya, menyerang Thian Yauw dengan bacokan "Tokpek Hoasan" ---"Membelah gunung Hoasan."
Thian Yauw menangkis dengan kipasnya.
Inilah keras lawan lemas.
San Bin mempunyai latihan dari beberapa puluh tahun, hebat bacokannya itu, maka mau atau tidak, Than Yauw kena terpukul mundur.
In Hong sendiri maju kepada Keng Ham, segera ia menikam.
Orang Biauw itu terdesak, dia berkelit sambil mundur, atas mana si nyonya merangsak, habis membabat, tangan kirinya menyamber ke pundak, untuk menyengkeram tulang selangka Biar bagaimana, Keng Ham kalah gagah dari Thian Yauw, maka itu, menghadap In Hong tanpa perlindungannya orang she Couw itu, ia tidak berdaya.
Untung untuknya, nyonya muda itu tidak ingin lantas meminta jiwanya, jikalau tidak, disebelah hancur tulang selangkanya itu, jiwanya pasti akan sudah melayang!
Sebenarnya In Hong ingin menawan hidup-hidup ini musuh yang berkepandaian luar biasa, kesatu ia ingin mengorek asal-usul orang, dan kedua ia ingin memaksa minta obat pemunahnya guna menolongi semua kurban asap beracunnya itu.
Tapi justru karena keinginannya ini, ia telah menjadi kurbannya si orang Biauw.
Keng Ham itu, kecuali persediaan di tangannya, juga seluruh tubuhnya sudah dilabur racun.
Begitu ketika pundaknya kena diraba In Hong, dalam tempo yang cepat sekali, Nyonya Thian Touw menjadi kaget sekali.
Hampir mendadak, ia merasakan tangannya panas dan sakit, terus tangannya itu sesemutan dan kaku.
Itu waktu sia-sia belaka niatnya menghancurkan tulang selangka si musuh, ia sudah tidak dapat menggunakan tangannya lagi.
Keng Ham sebaliknya, sambil memperdengarkan seruan aneh, ia mengangkat pundaknya, untuk menyundul, maka di lain pihak, tubuh In Hong yang terpelanting jatuh!
Juga San Bin itu waktu, meski tangguh tenaga dalamnya, dadanya mulai terasa sesak, hingga ia menjadi merasa tubuhnya tidak leluasa lagi, kesehatannya seperti terganggu secara mendadak, tetapi ia terus menguatkan hati.
ia terus melawan Thian Yauw yang gagah itu.
Hanya, ketika ia melihat robohnya In Hong, kagetnya tidak terkira, tanpa merasa, ia berseru!
Tepat ia membuka mulutnya, tepat asap beracun menyerang masuk, maka sedetik itu juga, ia terhuyung!
Thian Yauw menggunakan saatnya yang baik, dengan kipasnya ia menyampok goloknya raja gunung itu, hingga Kimto terpental, membarengi mana, Keng Ham maju dengan serangannya tangan kosong.
Maka tidak ampun lagi, robohlah cecu itu!
Thian Yauw lantas tertawa bergelak-gelak, terus ia kata dengan nyaring.
"Bukankah barusan kamu telah mendengar terang jelas perkataannya Cio Toako kami ini? Kami menghendaki uang, bukannya jiwa! Tetapi, jikalau kamu tidak suka memberikan uang yang kami inginkan itu, kami tidak mempunyai daya lain, terpaksa kami menghendaki jiwajuga! Sekarang begini. Kami memberi waktu sepuluh hari kepada kamu, jikalau lewat waktu itu tetap kamu belum menyerahkan separuh bingkisan, maka jiwanya Ciu San Bin, Thio Giok Houw dan Leng In Hong ini, jangan kamu harap dapat hidup pula!"
Selagi Couw Thian Yauw mementang mulutnya ini, Cio Keng Ham mengambil kesempatan mengisi pula pipanya, untuk disulut, untuk terus disedot berulang-ulang, maka di lain detik, ia sudah mengepul-ngepulkan asap lagi, membikin asap yang sudah hampir buyar habis menjadi banyak dan tebal pula, bagaikan awan mendung!
Semua berkuatir, semua pada menutup mulut mereka.
Tidak ada yang berani membuka mulut, sebab itu artinya mereka bakal roboh seperti San Bin semua.
Meski begitu, mereka bukannya berdiri diam saja.
Dalam murkanya, mereka itu maju menyerang, hingga sinar pelbagai senjata tajam menjadi berkelebatan.
Dengan memutar kipasnya, Thian Yauw menyerbu di antara banyak orang itu.
Hebat serbuannya ini, sebab itu saban-saban disusul sama suara robohnya tubuh orang, dibikin tambah berisik dengan jeritan-jeritan dan berkontrang jatuhnya pelbagai senjata mereka itu.
Mereka itu roboh disebabkan tak tahan tak bernapas, lantaran mereka kena tertotok, atau karena senjata mereka tersampok terlepas dan jatuh.
Siapa yang kaget dialah yang menjerit.
Di antara pengeroyok itu, siapa yang ilmu silatnya lihai, dia tidak gampang-gampang kena dirobohkan, tetapi senjata mereka kena dibikin tidak berdaya, mata mereka mesti keluar air karena terserang asap yang membikin mata perih dan sakit, hingga akhirnya mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa.
Di dalam kekalutan itu.
Liong Kiam Hong berlompat menyerang kepada Couw Thian Yauw.
hingga orang she Couw itu menjadi terkejut, kata dia di dalam hatinya.
"Aku tidak sangka nona muda ini begini lihai tak di bawahnya Thio Giok Houw."
Ia lantas mengasi bergerak kipasnya, untuk membuat perlawanan.
Atau segera ia diserang pula dari kiri dan kanan, hingga ia menjadi kaget sekali.
Terpaksa ia berkelit seraya menangkis.
Gerakannya Thian Yauw ini menurut gerakan "Poanliong papou,"
Atau.
"Naga melingkar memindah tindakan,"
Akan tetapi ia toh masih kurang sebat, benar ia lolos dari serangan kiri kanan, tidak urung ujung pedangnya Nona Liong telah menembuskan ujung bajunya.
Syukur untuknya, ia tidak sampai terluka.
Cio Keng Ham bekerja sama, ia lantas menyembur ke arah si nona yang gagah itu.
Kiam Hong melihat datangnya asap, ia lantas berkelit, sambil berkelit, tangannya mengibas.
Dengan itu ia menggunakan kepandaiannya Tangan Baju Besi, atau Tiatsiu Sinkang.
Inilah tidak disangka Keng Ham, dia tidak dapat meloloskan diri, tahu-tahu dia merasakan sakit hingga dia berkaok "Aduh!"
Untung untuknya, pedang si nona, yang menyusuli kibasannya itu, telah kena ditangkis Thian Yauw, siapa pun menotok nona itu.
Kiam Hong kaget, lekas-lekas ia membebaskan diri, hingga ia tidak usah roboh karena kepalanya pusing.
Ia lantas lompat mundur, hatinya terus memikirkan Giok Houw, keselamatan siapa ia kuatirkan.
Thian Yauw dan Keng Ham melihat tidak ada lagi serangan untuk mereka, mereka lantas mengundurkan diri dari gumpalan asap, keluar dari Cigi thia, di sini dia tertawa lebar dan berkata nyaring.
"Hari ini kami tidak menghendaki jiwa kamu! Maka kamu ingatlah! Jikalau sampai pada batas waktu yang kami berikan kamu masih tidak menyerahkan bingkisan, bukan cuma cecu kamu bakal tidak tertolong lagi jiwanya, juga gunung kamu ini akan kami bikin habis!"
Lantas berdua mereka mengangkat kaki tanpa ada yang berani merintangi, kecuali beberapa orang, akan tetapi mereka ini lantas kena disembur roboh oleh Keng Ham, yang menggunakan jimat asapnya itu.
Di dalam Cigi thia, asap jahat itu sudah lantas buyar, maka tertampaklah segala apa dengan nyata.
Kok Tiok Kin yang telah lantas mementang lebar semua pintu dan jendela, hingga angin bertiup masuk, la lantas memeriksa orang-orang yang roboh.
Tiga belas orang masih rebah tak sadarkan diri.
Ketika ia memeriksa nadi mereka, ia terkejut.
Ia sekarang mendapat tahu, asap itu asap yang dibuat dari kimsi kiok, atau seruni emas.
dari wilayah Biauwkiang.
Bunga itu memang beracun, hidupnya di lembah-lembah, warnanya kuning emas mengkilap dan indah, maka sayang sekali ada racunnya.
Syukurnya, racun dari perantaraan asap, jadi kurangan hebatnya.
Dengan lantas Tiok Kin menggunakan obat bubuk Hoanhun San, tetapi ia tidak berani menanggung kesembuhan seluruhnya.
Iakuatir, setelah jiwanya tertolong, kurban-kurban itu bakal mendapat sakit peparu serta ilmu silatnya sukar terharap terpulihnya.
Sekalipun orang yang dapat menahan napas dan yang mahir tenaga dalamnya, ada kemungkinan dia jatuh sakit sebelumnya dia sembuh betul.
oo Masih ada enam atau tujuh orang kurban totokannya Couw Thian Yauw.
Mereka ini mempunyai dasar tenaga dalam yang baik, maka mulanya mereka masih dapat bertahan, untuk tidak menyedot asap beracun, hanya kemudian, sesudah tertotok, buyarlah tenaga melawan mereka, akhirnya mereka menyedot juga.
Syukur untuk mereka, pertolongan datang cepat, mereka luput dari penyakit peparu.
walaupun demikian, mereka mesti roboh sekian lama juga disebabkan penyakit yang berat akibat keracunan itu.
Yang membikin orang kaget dan berkuatir adalah Ciu San Bin bertiga Leng In Hong dan Thio Giok Houw.
Muka mereka itu menjadi hitam.
Ketika Kok Tiok Kin menekan jalan darah kwangoan hiat di tubuh mereka masing-masing, kerongkongan mereka mengasi dengar suaragerijukan, lantas mereka memuntahkan reak kental yang bercampur darah, sedang mata mereka tetap masih dirapatkan.
"Aneh, aneh!"
Berkata Tiok Kin sesudah ia meraba nadi mereka itu.
"Bagaimana?"
Menanya Kiam Hong, bergelisah.
"Dapatkah mereka ditolong?"
"Mereka keracunan hebat sekali,"
Menyahut Tiok Kin.
"Aku tidak mengetahui racun itu racun apa. Menurut biasanya, dalam keadaan seperti ini, nadi mereka mesti lemah sekali, akan tetapi sekarang ternyata nadi mereka berjalan seperti biasa. Aku percaya, andaikata mereka dapat dibebaskan dari racun ini, juga ilmu silat, atau tenaga dalam mereka, tidak bakal terganggu karenanya...
"Mungkin mereka dapat bertahan karena lebih dulu mereka sudah makan Pekleng Tan,"
Kiam Hong mengutarakan dugaannya.
"Adakah itu Pekleng Tan yang terbuat dari soatlian?"
Tiok Kin tanya.
"Benar! Ketika enci Leng turun gunung, ia membekal belasan butir, sekarang tinggal beberapa butir saja. Marilah kita mencobanya terhadap mereka itu yang keracunan juga."
"Pantas kalau begitu!"
Berkata Tiok Kin girang.
"Hanyalah, meskipun Pekleng Tan tidak dapat membebaskan mereka dari keracunan. Ini menandakan lihainya racun itu. Aku kuatir kecuali Cio Keng Ham. di kolong langit ini tidak ada lain orang lagi yang dapat menolongnya..."
Mendengar itu, Kiam Hong menjadi gusar.
"Mungkinkah kita benar-benar mesti dipengaruhkan dia?"
Ia berkata. Ia berdiam sejenak, atau mendadak ia nampaknya kaget, lantas ia berseru.
"Ah, luka ini mirip luka yang disebabkan keracunan Cit Im Tokciang!"
"Apakah itu Cit Im Tokciang?"
Kok Tiok Kin tanya. Kiam Hong memberikan keterangan lihainya tangan Cit Im Ciang, bagaimana dulu hari Ciu Ci Hiap pun pernah mendapatkan luka itu.
"Aku lihat luka mereka ini mirip lukanya Ciu Ci Hiap itu,"
Ia menambahkan kemudian.
"Orang Kaypang mengetahui pengobatan luka semacam ini, mari kita lekas mencari Pit Keng Thian!..."
Baru si nona berkata begitu atau ia lantas menunduki kepala dengan roman lesu.
Pit Kheng Thian berada jauh ---di propinsi Shoatang, di dalam tempo sepuluh hari, mana dapat dia didatangkan kemari?
"Bagaimana caranya orang Kaypang mengobatinya?"
Tiok Kin tanya.
Belum lagi Kiam Hong menjawab, di situ telah datang Ciu Ci Hiap bersama Cio Cui Hong.
Ibu dan anak ini baru sembuh.
San Bin melarang mereka turut dalam perlawanan terhadap musuh, tetapi ketika musuh sudah berlalu, dari seorang tauwbak yang datang memberi warta mereka ketahui kesudahannya pertempuran itu, maka mereka lantas datang.
Mereka kaget dan menjadi gusar sekali kapan mereka mendapat kenyataan suami dan ayah mereka terluka demikian parah.
"Legakan hatimu, saudara Ciu,"
Kiam Hong menghibur.
"Coba kau lihat, apa luka ini tidak sama dengan lukamu dulu?"
Ci Hiap mengawasi, untuk meneliti.
"Ya, hampir mirip!"
Katanya kemudian, heran.
"Darah yang dimuntahkan itu berwarna separuh merah dan separuh hitam, demikian juga darah yang aku muntahkan."
"Bagus!"
Berkata si Nona Liong.
"Sekarang bilang, apakah kau masih ingat bagaimana caranya Pit Keng Thian mengobati padamu?"
"Tentang itu belakangan Pit Pangcu telah memberikan keterangan padaku,"
Menyahut Ci Hiap.
"Dia telah merendam aku di air hangat, tujuh kali dia menukar air hangat itu, kemudian ketika penukaran tiga yang paling belakang, aku tersadar. Dia menggunakan beberapa macam obat, yang bukannya obat-obat yang sukar didapatkannya."
"Kalau begitu, lekas kau mencatat namanya obat itu,"
Kata Kiam Hong.
"Kita mesti menyuruh orang lekas menyiapkannya!"
"Jangan! Jangan!"
Sekonyong-konyong terdengar teriakan berulang-ulang, yang datangnya dari ujung rumah.
Itulah suaranya Louw To In.
Dia berbangkit dengan susah, kedua matanya merah dan bengkak.
Dia telah terkena Kiatcu hun, atau pupur kala, oleh Cio Keng Ham, hingga matanya itu terluka parah, syukur dia sendiri ahli racun, dengan cepat dia pergi ke tempat terbuka di mana dia mengobati matanya itu, baru dia kembali ke dalam hingga, sambil memeramkan mata, ia dapat mendengar pembicaraan orang.
Dia mengasi dengar cegahannya itu ketika dia mengetahui Liong Kiam Hong mau menggunakan cara pengobatannya Pit Keng Thian itu.
"Kenapa tidak boleh?"
Tanya Cio Cui Hong, yang mengetahui orang ada ahli obat-obatan dan juga luas pengalamannya serta banyak pengetahuannya.
"Coba salah seorang tolong membawa aku kepada Ciu Cecu,"
Berkata To In.
Ciu Ci Hiap menghampirkan, lalu ia memegangi, menuntun orang kepada ayahnya.
Louw To In meraba nadinya San Bin.
la memegang sekian lama ketika mendadak ia mengasi dengar jeritan kaget dan ketakutan dan tangannya itu disentak pulang.
Semua orang kaget.
"Kenapakah?"
Tanya Cui Hong.
Louw To In tidak menjawab.
Dia lantas mengeluarkan sebatang jarum, dengan itu dia menusuk jeriji tangannya yang tengah, yang darahnya dia keluarkan dengan dipenceti.
kemudian dia mengasi lihat jari tangannya itu.
Nyatalah tiga jerijinya pada melepuh seperti bekas tersulut api dan kulitnya hangus.
Menyaksikan itu, semua orang kaget dan heran dan giris hatinya.
"Cit Im Tokciang adalah keracunan yang sifatnya dingin pada seluruh tubuhnya, dingin bagaikan es, maka juga, meskipun orang dapat diobati dan sembuh, sampai lamanya setengah bulan, hawa dinginnya masih kadangkadang timbul pula."
"Benar, itulah benar."
Berkata Ci Hiap.
"Demikianlah penyakitku."
"Sekarang ini tubuhnya Ciu Cecu panas."
Kata To In pula.
"maka itu lukanya bukan disebabkan Cit Im Tokciang."
Ci Hiap percaya keterangan ini. Buktinya, dengan cuma meraba saja nadi ayahnya, To In turut terluka jerijinya.
"Habis, luka apakah ini?"
Tanya Cui Hong.
"Mulanya aku tidak ketahui tentang Cio Keng Ham,"
Sahut To In, sampai dia menyebutkan namanya sendiri serta gelarannya, Pektok Sinkun. Melihat luka ini, mungkin ini disebabkan racun Kiuyang Tokciang."
"Sebenarnya siapa itu Pektok Sinkun?"
"Apakah luka Kiuyang Tokciang dapat disembuhkan?"
Demikian orang bertanya-tanya.
"Ketika dulu hari aku keluar dari rumah perguruan,"
To In memberikan keterangan.
"aku telah dipesan wantiwanti oleh guruku, umpama kata aku bertemu sama orang atau muridnya Ki Hoan dari wilaiah suku bangsa Biauw, aku dianjurkan untuk menyingkir jauh-jauh. Untuk jaman kita ini, Ki Hoan ialah ahli racun nomor satu. Dia mempunyai dua orang murid, yang seorang pria, yang seorang lagi wanita ---yang pria bangsa Biauw, yang wanita bangsa Han. Yang pria itu telah semenjak lama sudah mendapatkan namanya. Dialah Cio Keng Ham, yang barusan datang kemari dan gelarannya ialah Pektok Sinkun, si Malaikat Seratus Racun. Yang wanita itu kabarnya berasal murid murtad dari Ci Hee Tojin. yang belakangan berguru pada Keluarga Ki itu. Selama hidupnya Ci Hee, dia tidak berani keluar dari wilayah Biauw itu, baru selama dua tahun ini, namanya mulai terdengar. Dia menyebut dirinya Cit Im Kauwcu. Di dalam ilmu silat, Pektok Sinkun kalah, tetapi mengenai racun, dia lebih menang, maka juga kepandaiannya itu, yaitu Kiuyang Tokciang, lebih lihai daripada Cit Im Tokciang. Siapa terkena Cit lm Tokciang, dia dapat diobati dengan direndam dalam air panas, guna menyingkirkan racun panasnya itu. tetapi Kiuyang ciang bersifat panas, kalau orang yang terluka karenanya direndam di air panas, itu artinya mempercepat kebinasaannya. Maka juga, meskipun sifatnya kedua luka mirip satu dengan lain tetapi cara pengobatannya beda."
"Kau mengerti perbedaan itu, Louw Sinshe, kau tentu dapat mengobatinya, bukan?"
Cui Hong tanya kemudian. To In menghela napas.
"Luka disebabkan Cit Im Tokciang masih dapat disembuhkan,"
Katanya.
"tidak demikian dengan luka Kiuyang Tokciang. Untuk itu, kecuali orang keluaran Keluarga Ki itu, tidak ada yang dapat menolong. Selama sepuluh tahun guruku telah memahamkan Kiuyang Tokciang, ia tetap tidak berhasil menemukan obatnya."
Mendengar keterangan itu, semua orang kaget, hatinya menjadi kecil.
Tapi orang bersyukur juga atas adanya keterangan itu, kalau tidak, mungkin mereka menggunakan cara pengobatan yang keliru, yang akibatnya akan membahayakan.
Tak dapat ditahan lagi, Cui Hong mengalirkan air mata.
Tapi ia ada sangat gusar.
"Jikalau begini, bukankah kita jadi mesti mengasikan diri kita dipengaruhi musuh?"
Katanya sengit.
"Kalau nanti telah sampai batas waktu sepuluh hari yang diberikan itu maka haruslah kita menyerahkan separuh bingkisan, untuk dihaturkan dengan kedua tangan kita sendiri!"
Semua orang berduka dan bingung, semua tunduk dan lesu.
Mereka pun berpikir sama seperti Nyonya Ciu itu, ialah mereka mesti menyerah kepada kehendak musuh.
Tapi mereka tidak puas.
Tidak sudi mereka menyerahkan bingkisan itu, yang didapatnya bukan tanpa pengurbanan.
"Syukur Ciu Cecu dan yang lainnya telah makan Pekleng Tan."
Kata To In kemudian, suaranya perlahan dan tenang.
"maka di dalam tempo sepuluh hari belum tentu mereka bakal kehilangan jiwa mereka. Tempo yang diberikan Pektok Sinkun masih belum habis, aku pikir, baiklah kita berlaku sabar, perlahan-perlahan saja kita mendayakannya."
Akan tetapi, daya apa mereka mempunyakan?
Bukankah To ln sendiri, begitupun Tiok Kin.
telah putus asa?
Kecuali pihak Pektok Sinkun sendiri, siapa dapat menolong?
Justeru pertolongannya musuh itu tidak dikehendaki!
Dengan lesu Cui Hong lantas menempatkan suaminya, In Hong dan Giok Houw, di sebuah kamar masingmasing.
Kiam Hong ada sangat berduka dan berkuatir.
Dengan In Hong ia ada bagaikan kakak dan adik.
Terhadap Giok Houw ia telah menaruh cinta.
Sekarang ia menyaksikan mereka itu terluka tanpa ia bisa berbuat apa-apa.
Bagaimana ia tidak menjadi bingung dan kecil hatinya?
Kecuali San Bin.
In Hong dan Giok Houw bertiga, masih ada belasan orang lainnya yang terluka, maka itu, maka juga, orang semua murung.
Leng In Hong masih mempunyai sisa tiga butir Pekleng Tan, Kiam Hong ambil itu, ia hancurkan di dalam air, lantas air obat itu ia bagi rata kepada mereka yang terluka itu.
Louw To In dan Kok Tiok Kin pun membantu sebisanya, guna mencegah mereka nanti mendapat gangguan pada peparu mereka.
Besoknya In Hong sadar paling dulu.
Ia memang mempunyai tenaga dalam paling mahir.
Ia ditolong oleh obat masak Yanyang Siokbeng thung buatannya Kok Tiok Kin.
Tapi ia tidak boleh banyak omong, maka itu, dengan suara perlahan dan terputus-putus, ia memberi pesan pada Kiam Hong.
Ialah ia minta Nona Liong pergi ke Thiansan untuk menemui Hok Thian Touw, guna memberitahukan perihal sakitnya itu, untuk mendapat tahu, Thian Touw suka datang menjenguknya atau tidak.
Ia belum tahu hal lukanya yang berbahaya itu, yang tidak dapat disembuhkan sekalipun dengan Pekleng Tan, bahkan ia tidak bakal sanggup bertahan sampai dua puluh hari...
Kiam Hong berduka bukan main.
Ia tidak mau membuka rahasia, ia melainkan menjanjikan.
Ia menahan kesedihan hatinya.
San Bin bersama Giok Houw masih belum sadar sekalipun di hari ketiga.
Selama tiga hari itu, telah di kirim banyak orang ke pelbagai penjuru, guna mencari tabib yang pandai di sekitar tempat seratus li, akan tetapi ichtiar itu tidak ada hasilnya, semua tabib yang datang pada tidak berdaya.
Hanyalah, karena di kirimnya banyak orang, di antaranya telah didapat keterangan bahwa didusun Bang keepo di luar pegunungan Patat Leng telah terlihat Cit Im Kauwcu bersama gadisnya.
Kabar ini justeru menambah kekuatiran orang...
"Cit Im Kauwcu itu ialah saudara seperguruan dari Pektok Sinkun,"
Demikian orang berpikir.
"sekarang dia berada di tempat berdekatan mestinya dia datang sebab diundang kakak seperguruannya itu. Pektok Sinkun sendiri sudah sukar dilawan. bagaimana lagi kalau dia dibantu adik seperguruannya itu yang tidak kurang lihainya?"
"Apakah kamu tahu di mana Cit Im Kauwcu itu mengambil tempat mondok?"
Kok Tiok Kin tanya beberapa liauwlo yang membawa kabar itu.
Mereka itu malu sendirinya, muka mereka menjadi merah.
Mereka menggeleng kepala, tandanya mereka tidak tahu.
Hal yang sebenarnya ialah.
Mereka melihat Cit Im Kauwcu itu dan anak tetapi mereka tidak berani menghampirkan dan tidak berani juga menyelidiki orang mondok di mana.
Sebabnya ialah mereka jeri terhadap kauwcu itu.
"Bang keepo ialah kepunyaannya Bang Thong,"
Berkata Cio Cui Hong.
"Bang Thong hartawan terbesar di sekitar sini, biasanya jikalau kami membutuhkan uang dan rangsum. belum pernah dia menampik, maka itu aku percaya dia tidak nanti berani ketempatan musuh kita."
Pendapat Cui Hong ini benar, hanyalah ia tidak pikir, kalau Cit Im Kauwcu toh singgah di rumah Bang Thong, mana dapat Bang Thong menampik.
Pula.
di waktu demikian, mana ada kesempatan akan menegur Bang Thong itu?
"Baiklah kita jangan putus asa."
Berkata Kok Tiok Kin kemudian.
"Kita diberi waktu sepuluh hari, kalau waktunya sudah habis, pasti Pektok Sinkun bakal datang sendiri. Bagi kita, tambahnya satu Cit Im Kauwcu tidak berarti apa-apa. Mustahil mereka bisa membunuh mati kita semua? Bukankah mereka cuma menghendaki bingkisan. Sekarang masih ada waktu tujuh hari. kita menanti saja... Semua orang bisa membade hatinya Tiok Kin. Kalau sang waktu tiba dan mereka tetap tidak berdaya, dia suka menyerahkan separuh bingkisan yang diminta musuh. Tentu sekali hal itu membikin semua orang panas hati dan berduka... Cuma Kiam Hong seorang yang lantas berpikir.
"Cit Im Kauwcu itu aneh, dia pandai menggunakan racun, orang menyebutnya dia kepala agama sesat, meski demikian belum pernah terdengar dia melakukan sesuatu kejahatan yang berlebihan. Sebenarnya belum lama dia muncul dalam dunia Kangouw, dia menjadi terkenal karena racunnya. Kenapa aku tidak mau mencoba berhubungan dengannya? Menurut enci Sin Cu, ia pernah menolongi Im Siu Lan, gadisnya Cit Im Kauwcu. Siu Lan itu katanya jauh terlebih baik daripada ibunya, dia pernah ditolong enci Sin Cu, mustahil dia tidak mengingat budi? Bagaimana kalau aku pergi padanya, untuk minta bantuannya?"
Belum lagi nona ini mengambil putusan, lantas ia ingat urusan Im Siu Lan menampik lamarannya Kiauw Siauw Siauw.
Kenapa penampikan itu?
Bukankah itu disebabkan Siu Lan telah jatuh hati kepada Giok Houw?
Bukankah Cit Im Kauwcu pernah melamar Giok Houw sendiri untuk puterinya itu?
Tapi Giok Houw telah menampik dengan getas.
Karenanya, bisakah ia pergi minta bantuannya Siu Lan?
Maka ia menjadi ragu-ragu.
"Coba enci Sin Cu ada di sini..."
Pikirnya pula sesaat kemudian.
"Tentulah enci Sin Cu yang pergi, mungkin ada harapan. Kalau aku yang pergi, mungkin aku bakal diusir! Bagaimana? Tidak dapat aku pergi kalau aku bakal dibikin malu..."
Karenanya, ia menjadi bingung lagi, hatinya pepat.
Malam itu, setelah minum dua bungkus obatnya Kok Tiok Kin, San Bin dan Giok Houw mulai mendusin.
akan tetapi mereka belum sadar seluruhnya, mereka cuma merasa lapar dan mengeluh atas nyeri lukanya, orang di sekitarnya tidak ada yang mereka kenali.
Hati Kiam Hong sakit sekali karena ia mendengar rintihannya Giok Houw.
Ia pula pusing mendengar kasakkusuk sejumlah tauwbak, yang mengatakan bahwa bila tiba batas waktu, terpaksa mereka mesti menyerahkan bingkisan mereka yang didapatnya dengan susah payah.
Tengah ia jalan mundar-mandir seorang diri dengan rasa tidak keruan, sekonyong-konyong Nona Liong ingat lagi Siu Lan, maka pikirnya.
"Im Siu Lan pernah menyintai engko Houw, apa mustahil dia dapat membiarkan orang yang pernah ia cintai itu mati kecewa? Memang dia membenci aku, tetapi kalau aku bisa menggabungjodohnya denganjodoh engko Houw, mustahil dia suka berdiam saja tanpa menolong? Baiklah, biar aku menebalkan muka, aku pergi minta bantuannya, asal engko Houw ketolongan..."
Cepat nona ini mengambil keputusannya, lantas ia pergi pada Cui Hong, untuk mengutarakan niatnya mencari Cit Im Kauwcu, guna meminta obat. Cui Hong terperanjat.
"Itulah berbahaya!"
Katanya.
"Aku kira tidak,"
Kiam Hong bilang.
"Cit Im Kauwcu ibu dan anak tidaklah sejahat pembilangan orang banyak. Pernah beberapa kali aku bertempur sama mereka, rasanya meskipun mereka bangsa sesat, hati mereka masih mengenal rasa kasihan..."
Kiam Hong tidak mau menjelaskan adanya urusan asmara di antara Siu Lan dan Giok Houw, asmara segi tiga karena pada itu dirinya pun tersangkut, ia hanya memberi keterangan halnya Sin Cu pernah membantu Siu Lan menentang lamarannya pihak Kiauw.
Heran Cui Hong mendengar urusan itu.
"Mereka ibu dan anak berani menentang Kiauw Pak Beng, itu benar luar biasa,"
Katanya.
"Hanya, biar bagaimana. Cit Im Kauwcu tetap manusia sesal dan dia pun adik seperguruannya Pektok Sinkun! Mustahil dia mau bertindak menentang kakak seperguruannya itu? Bukankah itu berarti berpihak dan menunjang orang luar? Aku kuatir, jikalau kau pergi kesana. kau mirip orang yang mengantarkan diri ke dalamjaring..."
"Aku dapat bertindak dengan melihat gelagat,"
Kata Kiam Hong.
"Jikalau keadaannya tidak baik, aku pun tidak akan memaksa memintanya. Aku juga tidak merasa pasti bahwa mereka, ibu dan anak, suka membantu, hanya aku pikir, untuk kita masih ada sedikit harapannya. Bukankah ini terlebih baik daripada kita berdiam saja di sini berpeluk dagu?"
Tetap Cui Hong tidak tenang hatinya, akan tetapi ia toh pikir Nona Liong ada benarnya juga. Di dalam keadaan seperti itu, mereka mesti berdaya, segala apa mesti dicoba.
"Baiklah,"
Katanya kemudian.
"Jikalau kau tiba di Bang keepo, kau jenguklah Bang Pocu, untuk mohon keterangan. Dia bukannya orang golongan kita tetapi aku percaya dia akan suka memberi muka kepada kita. Nona Liong, kau cerdas, segala apa aku serahkan kepada kau sendiri!"
Nyonya Ciu lantas menulis surat untuk Bang Thong, surat mana ia pesan kalau sampai terpaksa barulah diserahkan kepada alamatnya.
Kiam Hong lantas bersiap.
Malam itu juga ia berangkat.
Pikirannya kacau tetapi hatinya keras, tekadnya bulat.
Hebat ia memikirkan dan menduga-duga sikapnya Im Siu Lan nanti.
Hebat untuk ia menyerahkan Giok Houw pada Nona Im itu!
Apakah Siu Lan dapat mempercayai ia?
Bagaimana kalau Siu Lan percaya dan Giok Houw dapat disembuhkan?
Bagaimana sikapnya Giok Houw nanti?
Dapatkah Giok Houw menyintai nona yang menjadi puterinya Kauwcu sesat itu?
"Biarlah, segala apa terserah kepada sang waktu!"
Kata Kiam Hong akhirnya.
"Sekarang aku pergi pada Siu Lan, aku minta obat. Kemudian, kalau Giok Houw sudah sembuh, tentang jodoh terserah kepada mereka sendiri, umpama kata Giok Houw masih memilih aku, aku bukannya menipu Siu Lan..."
Meski ia berpikir demikian, mukanya toh merah sendirinya "Tidak, tidak dapat aku menipu Siu Lan. aku mesti menyerahkan Giok Houw padanya..."
Hati Nona Liong berpikir, kedua kakinya bekerja, la berjalan cepat.
Besoknya, lewat tengah hari, ia sudah sampai di Bang kecpo, yang terpisah kira dua ratus li dari gunung, la berjalan terus.
Lantas ia memasuki dusun.
Orang pertama yang ia ketemui' ialah seorang tua kepada siapa ia minta keterangan hal rumahnya Bang Thong Orang tua itu mengawasi, sikapnya tawar sekali.
"Mau apa kau cari dia?"
Dia tanya sebelumnya dia menjawab.
"Ada satu urusan kecil untuk apa aku ingin minta bantuannya,"
Si nona jawab.
"Hm! Kau pergi cari dia pada Raja Acherat!"
Kata orang tua itu, dingin. Kiam Hong melengak.
"Apakah artinya perkataanmu ini?"
Ia tanya. Benar-benar ia tidak mengerti.
"Orang sudah mampus mana dapat kau mencarinya di dalam dunia!"
Kata orang tua itu. tawar.
"Pasti orang mesti cari dia pada Raja Acherat! Inilah maksudnya perkataanku! Kau mengerti tidak?"
Kembali si nona melengak.
"Benarkah itu?"
Katanya.
"Kapan diamati?"
Kedua matanya orang tua itu mendelik.
"Raja Acherat ketahui BangToaya itu seorang baik hatinya, maka itu dia diundang siang-siang untuk membikin pertemuan!"
Katanya pula.
"Apakah kau menyayangi dia mati siang-siang? Dia mati kemarin! Nona, kau ketinggalan satu tindak hingga kau tidak keburu mengambil selamat berpisah daripadanya!"
Habis berkata begitu, lantas orang tua itu ngeloyor pergi. Mendongkol Kiam Hong diperlakukan demikian, tetapi kemudian ia pikir.
"Mestinya Bang Thong jahat dan suka mengganggu sesama penduduk maka orang tua ini sangat membencinya hingga aku turut dibenci pula! Di atas gunung orang membilang dia orang baik, mungkin itu disebabkan penyelidikan yang keliru."
Lantas nona ini berjalan lebih jauh.
Ia masih menyangsikan si orang tua, maka waktu ia bertemu orang, ia menanyakan pula.
Ia mendapat jawaban yang serupa ialah benar Bang Thong sudah mati dan matinya kemarin.
Hanya kali ini dia diberitahukan bahwa orang mati mendadak, matinya secara aneh.
Ia juga mendapat kenyataan, orang-orang yang ditanyakan itu pada menunjuki sikap membenci pocu dari Bang keepo itu.
Paling belakang Kiam Hong bertemu sama seorang bocah penggembala, yang suka memberi keterangan jelas padanya hingga ia dapat tiba di muka pintu pekarangan rumahnya Bang Thong.
Di situ, di pintu besar, ia lantas melihat tergantungnya sepasang teng tanda berkabung dan di muka pintu ada beberapa orang dengan pakaian putih lagi melayani tetamu-tetamu yang datang menyatakan duka cita mereka.
Ia lantas diawasi beberapa orang yang berkabung itu, sebab mereka itu heran melihat ia ---seorang nona ---datang tanpa membawa kertas, hio dan lilin, pula ia bersendirian dan bajunya dilibat dengan tali pinggang warna merah.
Dengan merasa likat sendirinya, Kiam Hong lantas berkata.
"Aku datang dari tempat yang jauh, aku tidak tahu bahwa Bang Pocu telah meninggal dunia..."
"Nona she apa dan nama apa?"
Tanya satu orang.
"Nona tersangkut apa dengan pocu kami? Maaf, nona, kami tidak mengenali kau..."
Dalam likatnya. Kiam Hong merasa sulit sekali. Pula ia malu hati untuk menggerecoki orang yang lagi dalam kesusahan itu. Sebaliknya ia berpikir.
"Jauh-jauh aku telah datang kemari, mustahil aku bisa tak memperoleh kabaran dan pulang dengan tangan kosong?"
Maka dengan terpaksa ia kata.
"Baiklah, sebentar kita bicara di dalam."
Lantas dengan cepat ia bertindak masuk.
"Ada seorang tetamu yang tidak sudi memperkenalkan diri datang menghunjuk duka citanya!"
Berkata tukang sambut tetamu, yang tidak dapat mencegah orang masuk.
Mendengar perkataan orang itu, Kiam Hong bercuriga.
Kata-kata itu mesti ada maksudnya.
Ia rupanya disangka sebagai musuh, maka orang di dalam rumah itu diberi tanda, diperingatkan untuk bersiap sedia.
Maka itu mau ia menyangka mungkin Bang Thong itu pernah melakukan sesuatu yang menyalahi lain orang.
Benarlah dugaan itu.
Dari dalam lantas terlihat munculnya beberapa orang.
antaranya ada anak tuan rumah, yang mengenakan pakaian berkabung, ada pula tetamu, dan di antaranya ialah seorang dengan alis gompiok dan mata gede, bahkan dia ini segera membentak.
"Kau siapa? Mau apa kau datang kemari?"
Dalam, keadaan seperti itu, Kiam Hong mesti omong terus terang.
"Aku datang kemari untuk bertemu sama pocu, untuk minta keterangan,"
Ia menjawab.
"Aku ingin menanyakan halnya satu orang. Aku tidak menyangka pocu telah meninggal dunia."
"Siapa itu yang kau hendak tanyakan?"
Orang itu menanya pula.
"Dialah Cit Im Kauwcu. Apakah dia pernah datang kemari?"
Begitu mendengar jawaban itu, semua orang itu kelihatan kaget.
"Kiranya kaulah anak siluman dari Cit Im Kauwcu!"
Orang tadi berteriak.
"Cit Im Kauwcu sudah meracuni pocu kami dan kau sekarang berani datang kemari untuk menyerep-nyerepi kabar!"
"Terang sekali dia datang untuk menantang!"
Berkata seorang lain.
"Sudah dia meracuni orang hingga mati, sekarang dia datang pula untuk menghina kami!"
"Dia tidak dapat dibiarkan saja!"
Berseru orang yang ketiga.
"Baiklah kita bekuk dulu dia ini untuk minta ganti jiwa!"
Kiam Hong kaget bukan main.
Jadi Bang Thong mati diracuni dan yang meracuni ialah Cit Im Kauwcu.
Mau ia menyangkal, untuk memberi keterangan, atau ia tidak diberi kesempatan.
Beberapa orang sudah lantas menyerang ia dengan golok!
Ia mau menyingkir pun sudah tidak ada saatnya.
Ia memikir untuk berlalu karena ia tahu setelah tuan rumah mati, ia tidak bakal memperoleh keterangan yang diinginkan.
Tapi ia telah diserang.
Segera ia berkelit.
Beberapa orang itu tidak mau mengerti.
Rupanya mereka sangat gusar, tidak berhasil membacok hanya satu kali, mereka mengulanginya, mereka lantas mendesak.
Masih Kiam Hong main mengelakkan diri.
Ia mendapat kenyataan sekalian penyerang itu bukan sembarangan orang dan mereka pun cerdik.
Demikian, sesudah gagal beberapa kali, satu orang merangsak terus dari depan, dua orang berlompat ke kiri dan kanan, untuk mengepung sambil memegat jalan mundur.
Juga caranya mereka menyerang itu rapi sekali, suatu tanda cara penyerangan itu pernah dilatih.
Demikianlah satu kali, kalau tidak Nona Liong sangat gesit, pasti kepalanya sudah kena terbacok.
Karena ini, akhirnya ia menjadi gusar.
Bukankah ia tidak dapat lolos lagi?
"Pantas semua penduduk desa ini sangat membenci Bang Thong,"
Pikirnya.
"Sampai dia sudah mampus, orang-orangnya ini masih galak tidak keruan. Maka bisalah dimengerti kejahatannya semasa hidupnya!"
Karena ini, ketika ia diserang pula, Kiam Hong lantas membalas menyerang.
"Plok!"
Demikian satu suara ketika ia berkelit sambil sebelah tangannya dikasi melayang. Ia telah menghajar mukanya si penyerang. Ia menggunakan "Tiatsiu Kanghu,"
Atau ilmu silat "Tangan Baju Besi."
Kurban itu menjerit kesakitan, mukanya bengap, mulutnya mengeluarkan darah, sebab dua buah giginya copot dan ikut darahnya lompat keluar.
Yang lain-lainnya menjadi bertambah gusar, sambil mencaci kalang-kabutan, mereka menyerang terus.
"Aku tidak bermaksud jahat, siapa suruh kamu menerbitkan onar!"
Teriak Kiam Hong.
Terus ia menggerak-geraki kedua tangannya, menyampok kesana kemari, menyingkirkan setiap golok.
Di saat ia mau lompat ke pintu, guna lari keluar, mendadak ia merasai samberan angin ke arah kepalanya.
Lekas-lekas ia menangkis ke belakang.
Ketika itu pun maju seorang lain, ialah orang dengan baju berkabung, dengan tangannya menyekal tangthung, dengan apa ia menyerang si nona.
"Bagus!"
Berseru Kiam Hong, yang segera berkelit sambil tangannya diulur, untuk menangkap tangannya si penyerang, untuk terus disempar.
Maka terjadilah bentrokan tangthung itu dengan golok si penyerang tadi, hingga kutunglah itu tongkat tanda berbakti.
Sekarang Kiam Hong dapat melihat tegas penyerangnya itu, ialah seorang yang tubuhnya besar, yang dandan sebagai wisu, atau pengawal, dalam istana raja, bahkan samar-samar ia mengenali orang sebagai salah satu wisu dengan siapa ia pernah bertempur di dalam kuil Hianbiauw Koan.
Ia menjadi sangat mendongkol, maka ia kata dengan nyaring.
"Baru-baru ini Tayhiap merdekakan kamu, sekarang kau berani datang kemari untuk mengacau!"
Pengawal itu gusar. Ia pun lantas mengenali si nona.
"Kiranya kau, bangsat perempuan!"
Dia mendamprat.
"Mau apa kau datang kemari? Bagaimana kau berani mengatakan aku mengacau sedang aku datang kemari diundang tuan rumah? Kau justeru yang datang mengacau dalam rumah orang mati ini! Kau mesti dibekuk untuk digusur kehadapan pembesar negeri!"
Sembari mementang mulut lebar itu, wisu itu menyerang pula.
Dia rupanya menjadi berani sebab di situ dia melihat banyak kawannya.
Kiam Hong lantas merasa bahwa pertempuran tidak dapat disudahi dengan begitu saja.
Maka terpaksa ia menghunus pedangnya.
Ia berteriak.
"Siapa tidak mau mengasi aku lewat, jangan dia menyesalkan yang pedangku tidak ada matanya!"
Wisu itu masih menyerang, maka itu, ketika ia dilayani, baru beberapa jurus, goloknya sudah kena dibabat kutung.
"Yang Tayjin, lekas keluar!"
Mendadak si wisu berteriak. Kiam Hong terkejut.
"Entah dia memanggil Yang Tayjin siapa?"
Pikirnya.
Ia sangsi yang dimaksudkan itu ialah Yang Cong Hay.
Tak usah nona ini menduga-duga, bahkan belum berhenti ia berpikir, telinganya sudah mendengar suara tertawa terbahak-bahak yang dikenalnya, tertawa mana disusul kata-kata ini yang dikenal juga.
"Han Laoji, jangan takut! Aku datang!"
Segera dari ruang di mana ada peti mati terlihat satu orang berlompat keluar, ketika Kiam Hong menoleh, ia mengenali orang itu siapa, ialah Yang Cong Hay si bekas congkoan dari istana.
"Kiranya Nona Liong!"
Cong Hay kata sambil tertawa pula.
"Pantas kamu tidak dapat membekuknya! Hahahaha! Nona Liong, hari ini kita bertemu pula! Dulu hari kita bertemu di depan peti matinya Tiat Keng Sim, sekarang di depan peti matinya Bang Pocu! Dulu hari itu akulah si orang yang datang menunjuk bela sungkawa, sekarang kaulah yang menggantikan aku! Sungguh kebetulan! Sungguh menarik hati! Dulu hari itu kau tidak dapat menahan aku, maka sekarang ingin aku memohon kau sukalah berdiam di sini!"
Hati Kiam Hong bercekat.
Cong Hay ada satu di antara empat jago pedang yang berkenamaan.
tidak perduli dialah jago yang terlemah.
Sekarang ini dia telah berimbang ketangguhannya dengan Ie Sin Cu dan Leng In Hong.
Tentu sekali, dibanding dengan dia, ia kalah unggul.
Karena ini, segera ia berlompat, niatnya untuk menyingkir.
Keluarga Bang itu banyak orangnya, mereka mengurung dan memegat, tetapi Kiam Hong mencoba menoblos dari antara mereka.
Ia menyerang ke depan, lalu ke kiri dan ke kanan.
Dengan cepat beberapa orang telah kena dilukakan ujung pedang, hingga mereka kesakitan, roboh di lantai sambil teraduh-aduh dan bergulingan, hingga mereka mengganggu kepada Yang Cong Hay, yang mencoba memburu si nona.
Sebab dia bagaikan terintang, orang yang disusul itu berhasil lolos dari pintu besar.
Tapi dia tidak mau mengerti, dia mengejar terus.
"Sekarang tidak ada Thio Tan Hong sebagai tulang punggungmu!"
Dia berkata nyaring, tertawa mengejek.
"Tidak nanti kau sanggup lolos dari telapakan tanganku! Maka baiklah kau berlaku manis, kau lemparkan pedangmu, kau manda aku tangkap, supaya tak usahlah kau sampai tersiksa!"
Yang Cong Hay ini lihai, dia telah mendapat keterangan halnya Thio Tan Hong bersama Ie Sin Cu sudah berangkat pulang ke Selatan, maka dia lantas muncul pula, untuk bekerja.
"Thio Tayhiap berkasihan terhadapmu, kau diberi ampun. Sekarang kau berani banyak tingkah!"
Kiam Hong membentak.
"Kau tahu malu atau tidak?"
Ditanya begitu, Cong Hay menjadi gusar sekali, ia justeru mendapat malu besar sebab Tan Hong telah menotoknya hingga ia mesti tidur sehari semalam dan kejadian itu diketahui oleh bekas orang-orang sebawahannya.
Tanpa berkata-kata lagi ia lompat ke arah si nona dengan gerakannya "Burung garuda menyamber kelinci,"
Pedangnya menikam nona itu.
Kiam Hong berlaku cerdik, ia tidak mau melawan keras dengan keras.
Ia tahu musuhnya terlalu lihai untuknya.
Ketika diserang itu.
ia berkelit, dan tempo ia didesak, diserang berulang-ulang, ia melawan selama beberapa jurus, setelah mana ia mengambil kesempatan untuk berkelit sambil lompat mundur, untuk lari.
Bekas congkoan istana itu boleh lihai tetapi dalam berapa gebrakan tidak nanti dia bisa membekuk nona lawannya itu.
Beruntung buat Kiam Hong.
di dalam halnya ilmu ringan tubuh, ia menang unggul dari jago pedang itu, maka juga, ia dapat berlari-lari, kalau sudah terdesak, baru ia melayani mengadu kepandaian.
Ia terus menggunakan siasatnya ini.
lari dan melawan dan lari.
Maka juga Cong Hay mesti terus mengejar sampai belasan li tanpa hasil.
Bukan main panasnya hati Cong Hay.
Dia saban-saban ditinggal lari sejarak beberapa tombak.
Kalau dia sudah paksakan berlari keras dan berlompatan, baru dia dapat menyandak, atau setelah itu.
kembali dia ditinggal lari.
Kiam Hong menang ringan tubuh, ia kalah tenaga dalam, inilah berbahaya untuknya.
Lama-lama, ialah yang menjadi letih terlebih dulu.
Yang Cong Hay bermata tajam, dia melihatnya, berbareng mendongkol, dia girang.
"Nona Liong, kau sudah letih berlari-lari!"
Katanya sambil tertawa nyaring.
"Aku lihat, baiklah kau beristirahat dulu! Marilah duduk, untuk kita memasang omong! Aku hendak menanya kau, apa perlunya kau mencari Cit Im Kauwcu! Kau omonglah terus terang! Jikalau tidak, apabila sebentar kau terjatuh ke dalam tanganku, kau nanti menderita!..."
Benar-benar Kiam Hong menghentikan larinya.
Tapi ia membungkam, dan ketika Cong Hay dapat menyandak dan berada dekat dengannya, sekonyong-konyong ia menikam!
Cong Hay terkejut.
Ia tidak menyangka si nona dapat berlaku demikian.
Ia berkelit, tidak urung ujung bajunya kena juga tersontek pedang.
Ia menjadi mendongkol.
"Bagus, ya!"
Teriaknya.
"Kau berani mengadu jiwa denganku!"
Kiam Hong terus membungkam, terus ia menyerang. Tiga kali saling susul ia menghajar denganjurus-jurus "Burung walet menggurat pasir,"
"Bianglala putih menutupi matahari,"
Dan "Burung garuda emas mementang sayap,"
Setiap kalinya bertambah hebat.
Ia tahu ia bakal kalah tenaga, maka itu daripada kena ditangkap musuh, baiklah ia berlaku nekat.
Juga di dalam ilmu pedang.
Nona Liong tidak kalah dari Cong Hay, ia melainkan kalah tenaga dalam, kalah waktu latihan, maka juga, berselang tiga puluh jurus, dari pihak yang diserang, Cong Hay berbalik melakukan penyerangan membalas.
Sebab tidak mau dia menjadi si pembela diri saja.
Dengan pedangnya yang panjang, dia lantas menyerang, dia mendesak.
Kiam Hong menjadi repot.
Ia pun sudah letih.
Maka napasnya lantas memburu keras.
Terpaksa ia menggunakan siasat tadi, ia berkelit dan lari, melawan pula, lari lagi.
Hanya kali ini, disebabkan keletihannya itu, larinya menjadi kurang pesat, hingga keadaan mereka menjadi berimbang...
Terus menerus mereka bertempur sambil berlari-lari, main kejar-kejaran.
Tidak lama tibalah mereka di lereng gunung.
Di situ ada sebuah kuil kecil.
Yang Cong Hay tidak mau membikin terkejut penghuni kuil itu, kuatir penghuni itu keluar, maka dengan mengempos semangatnya, dia lari keras sekali, lantas dia berlompat mendahulukan, guna memegat jalan lari si nona.
Dengan sikapnya ini juga dia hendak mencegah nona itu dapat lari ke dalam kuil.
Pertempuran berjalan lagi dari sepuluh jurus sampai dua puluh jurus.
Kiam Hong telah bermandikan keringat.
Sekarang ia lelah bukan main.
Sekarang ia cuma dapat menangkis, tidak dapat membalas menyerang.
Yang Cong Hay mengetahui itu, dia tertawa terbahakbahak.
"Bagaimana?"
Tanyanya, mengejek.
"Sekarang kau telah mengisafi lihaiku, bukan? Maka tidaklah gunanya kau berlaku nekat juga! Baiklah dengan manis kau letaki pedangmu! Mari kita berduduk, untuk berbicara? Apakah kau tidak ketahui Cit Im Kauwcu itu kakak seperguruanku? Mau apa kau mencari dia? Daripada kau menanyakan keterangannya BangThong, lebih baik kau menanyakan padaku..."
Kiam Hong bagaikan baru sadar.
"Benar!"
Katanya dalam hati.
"Kenapa aku lupa? Cit Im Kauwcu toh murid yang diusir dari Ci Hee Tojin, maka tetaplah dia menjadi saudara seperguruan dari Yang Cong Hay. Kenapa sekarang aku tidak hendak mencoba mengorek keterangan dari mulutnya bekas congkoan ini?"
Ia tidak bersangsi untuk mengambil putusan. Ia lantas berkata.
"Aku tidak percaya Cit Im Kauwcu suka berurusan denganmu! Dia telah meracuni Bang Thong hingga binasa, kau sebaliknya membantu Bang Thong! Bukankah kamu berdua telah putus perhubungan kamu sebagai saudara-saudara satu perguruan? Mana bisa kau ketahui tentang di mana adanya Cit Im Kauwcu sekarang!"
"Haha, kupingmu tajam!"
Kata Cong Hay tertawa.
"Nyata kau dapat mengetahui urusan di kalangan perguruan kami! Kau mendapat tahu demikian banyak, mengapa kau tidak ketahui juga bahwa kali ini dia datang ke Utara atas undanganku? Kau bilanglah, perlu apa kau mencari dia? Jikalau kau memberitahukan, nanti aku ajak kau kepadanya."
Benar licik Cong Hay.
Kiam Hong hendak memancing dia, sekarang dia yang memancing balik.
Tapi Kiam Hong juga telah berpengalaman, ia tidak sudi mengasi dirinya dipedayakan.
-Kedua orang itu menjadi tidak mendapat kecocokan, maka kesudahannya, mereka bertempur pula.
Kiam Hong tungkulan bicara, perhatiannya terpecah, lantas iajatuh di bawah angin, hingga beberapa kali ia menghadapi serangan-serangan yang membahayakan, terus ia kena didesak.
"Apakah kau masih tidak mau menyerah kalah?"
Tanya Cong Hay kemudian sambil tertawa lebar.
Katakata ini disusuli tabasan yang hebat sekali.
Kiam Hong berdiam, ia cuma menangkis.
Tapi ia terperanjat.
Pedangnya kalah dari senjata musuh dan kena terpapas bercacat.
"Ah, kiranya kaulah Yang Cong Hay! Bagus! Memang aku tengah mencari kau!"
Tiba-tiba saja terdengar suara orang berkata-kata itu, yang nadanya dingin.
Cong Hay terperanjat.
Dia lihai tetapi dia tidak tahu datangnya orang, yang dengan mendadak sudah berada dihadapannya.
Dia melihat seorang muda dengan baju kuning, usianya mungkin belum dua puluh tahun.
Dia heran, karena dia tidak kenal pemuda itu, dia rasa dia belum pernah melihatnya.
Maka dia lantas mendesak mundur pada si nona, lantas dia berdiri diam dengan melintangi pedangnya di depan dadanya.
"Kau siapa? Kau murid siapa?"
Dia tanya bengis.
"Perlu apa kau mencari aku?"
"Aku murid siapa, kau tidak perlu campur tahu!"
Menyahut anak muda itu, tetap dingin.
"Aku mau kau segera berlalu dari sini! Dan mulai hari ini, aku larang kau menggerecoki Cit Im Kauwcu!"
Cong Hay menjadi mendongkol, dia gusar sekali.
"Hai, bocah yang bau susunya belum hilang!"
Dia membentak.
"Bagaimana kau berani menguasai aku!"
"Siapa suruh kau biasa melakukan segala kebusukan!"
Anak muda itu membaliki.
"Paling baik lekas kau menggelinding pergi dari gunung Ouwbong San ini dan jangan kau selalu menerbitkan onar pula dalam dunia Kangouw!"
Agaknya pemuda ini, yang rupanya belum lama masuk dalam dunia Kangouw, mau beraksi sebagai orang Kangouw ulung, nada suaranya itu seperti nada suaranya seorang cianpwee, seorang tertua, yang hendak memberi nasihat kepada seorang houwpwee, seorang muda.
Dengan sekonyong-konyong Yang Cong Hay tertawa lebar.
"Anak edan, justeru akulah yang mau kau menggelinding pergi ke rumah ibumu!"
Dia berseru.
Itulah ancaman untuk merampas jiwa orang.
Selama itu Liong Kiam Hong sudah siap sedia, ia melihat sinar mata tajam bengis dari si orang she Yang, ia menduga orang mengandung maksud tidak baik, maka itu, ia lantas maju, dengan maksud menghalangi bekas congkoan itu.
Tapi Cong Hay sebat luar biasa, katakatanya itu dibarengi gerakan tubuh dan tangannya, maka juga pedangnya mendahulukan sampai ke dada si anak muda dengan pakaian kuning itu.
Celakalah si anak muda jikalau ujung pedang mengenai dadanya.
Bukankah ia tungkulan bicara dan nampaknya tidak bersedia-sedia sama sekali?
"Hati-hati!"
Berseru Kiam Hong kaget. Belum lagi Nona Liong menutup mulutnya, atau tubuh si anak muda sudah bergerak, menyusul mana terdengarlah suara "traang!"
Yang keras dan lelatu api muncrat berhamburan di antara mereka Sebab luar biasa, anak muda itu sudah mengeluarkan senjatanya, ialah poankoanpit, alat mirip alat tulis, dengan apa ia menangkis pedang.
Luar biasa gerakannya itu ---berlompat, mencabut poankoanpit dan menangkis!
Ia agaknya lebih gesit daripada bekas congkoan itu!
Yang Cong Hay terperanjat.
Ia lantas mengetahui bahwa di dalam hal tenaga dalam, ia kalah unggul.
Bentrokan itu membuatnya merasa telapakan tangannya sesemutan dan sakit.
Sebaliknya si anak muda pun mundur tiga tindak.
Karena dia seorang lihai, dia tidak menghiraukan sakitnya telapakan tangannya itu, belum lagi si anak muda dapat berdiri tegak, dia sudah lompat, untuk menyusuli menikam pula.
Kiam Hong melihat itu, ia tidak berdiam saja.
Ia memang sudah bersiap sedia.
Maka dengan menggeraki pedangnya, ia menangkis serangan itu hingga ia dapat menggagalkannya.
Si anak muda benar-benar berani.
Dialah mirip apa yang disebut eneng atau gudel, ialah anak kerbau yang tak takut harimau.
Dengan sebat luar biasa, dia maju pula, untuk menyerang.
dengan dua batang poankoanpit, dia menyerang dari kiri dan kanan, untuk menggencet lawannya!
Sebagaimana biasa, poankoanpit adalah alat peranti menotok jalan darah, demikian si anak muda, tangan kirinya mengarah ke empat jalan darah hongsi, hoantiauw, kiliauw dan wiyang di pinggang, dan tangan kanannya mencari ke empat jalan darah koanki, tiongleng, yauwji dan congbeng, yang semuanya berbahaya.
Yang Cong Hay terperanjat.
Dialah seorang jago tetapi dia tidak dapat mengenali pemuda itu murid dari partai mana, saking luar biasanya ilmu menotoknya itu.
Sudah begitu, Kiam Hong melanjuti serangannya, hingga dia menjadi dikepung berdua.
Maka itu, biarnya dia gagah, dikerubuti dua lawan yang tangguh, dia repot juga.
Sesudah lewat beberapa jurus, selama mana si anak muda terus membungkam, hanya ia main menyerang saja, bekas congkoan istana kaisar ini menjadi mendongkol dan gusar.
"Sebenarnya kau mau apa?"
Dia membentak.
"Apakah artinya sikapmu ini? Ada sangkut pautnya apa di antara kau dan Cit Im Kauwcu?"
Cong Hay mau menduga orang ada muridnya Ki Hoan dan ada hubungannya sama Cit Im Kauwcu, maka itu.
dia berkelahi dengan memasang mata, dia kuatir musuh nanti menggunakan senjata rahasia yang beracun, tetapi selewatnya beberapa jurus itu, dia menyangsikan dugaannya itu.
Ilmu menotok jalan darah bocah itu tidak mirip-miripnya dengan ilmu silatnya Ki Hoan.
Karena itu, dia kurangan kecurigaannya.
Sesudah sekian lama membungkam, barang sekarang si anak muda membuka mulutnya.
"Perduli apa kau akan sikapku ini!"
Demikian katanya, dingin.
"Aku cuma mau melarang kau melakukan perbuatan busuk! Lihatlah perbuatanmu sekarang! Sekarang ini tengah malam buta rata! Mengapa kau menghina ini nona? Maka aku mesti mencampur tahu, mesti aku urus padamu!"
Selama bicara itu.
tetap si anak muda melakukan penyerangan-penyerangannya yang mengancam itu, tidak pernah ia berlaku ayal.
Jikalau pertempuran dilakukan satu sama satu, baik Liong Kiam Hong maupun si anak muda.
mereka masingmasing bukanlah tandingan Yang Cong Hay, tetapi mereka mengepung, mereka nampaknya dapat bekerja sama, mereka menang unggul.
Lihai ilmu pedang si nona, ia Cuma kalah latihan tenaga dalam dengan Cong Hay, sekarang ia dibantu si anak muda, ia dapat merangsak.
Dengan berani ia mainkan pedangnya guna mendesak lawan.
Mau atau tidak.
Yang Cong Hay terpaksa main mundur, satu tindak demi satu tindak.
Cong Hay heran hingga ia berkata di dalam hatinya.
"Sepuluh tahun lamanya aku menutup diri, untuk meyakinkan lebih jauh ilmu silatku, siapa sangka di dalam dunia Kangouw telah muncul ini anak-anak muda yang lihai sekali! Aku kuatir, lewat lagi beberapa tahun, bukan saja sulit untukku melindungi nama baikku, mungkin aku bakal kena dikalahkan mereka..."
Sudah pedangnya Kiam Hong lihai, tenaga si anak mudajuga tenaga baru, maka dengan poankoanpit-nya itu, anak muda ini dapat mendesak. Ia belum merasai keletihan seperti si nona.
"Kena!"
Sekonyong-konyong si anak muda berseru di waktu pertempuran berjalan sedang hebatnya itu.
Dengan tangan kirinya, yang bergerak sebagai ilmu silat pedang Ngoheng Kiam ia menyontek pedangnya Cong Hay dengan jurusnya "Melintang menjaga penglari emas,"
Berbareng dengan mana, dengan tangan kanan, ia menotok ke arah dengkul. Poankoanpit-nya ini dengan saling susul menggunakan dua jurus "Menghadap ke langit"
Dan "Pian Chong menikam harimau."
Yang Cong Hay terkejut.
Karena pedangnya kena disontek, tak sempat dia menariknya pulang.
Maka untuk menolong kakinya, dia mengangkatnya, untuk dikelit.
Justeru itu, dia merasakan betisnya rada kaku.
Sebab jalan darah hoantiauw hiat di dengkulnya itu kena tertotok ujung poankoanpit.
Dalam kagetnya, dia juga berseru.
"Kena!"
Sebab dia dapat meneruskan menendang, hingga sebelah senjatanya si anak muda terdupak terlepas dari cekalan dan terpental.
Anak muda itu kaget sekali, lantaran ia tidak menyangka, meski sudah kenaditotok, orang masih dapat menggeraki kakinya secara demikian hebat.
Cong Hay pun tidak berhenti sampai pada dupakannya itu, dengan pedangnya, yang dia sudah dapat tarik pulang, dia menabas, guna menghajar poankoanpit yang lain dari lawannya itu.
Saking mendongkol, dia menjadi telengas, hingga dia tidak mau pikir lagi halnya dia belum tahu si anak muda murid siapa.
Di dalam hatinya dia kata.
"Aku mau lihat apa kau masih dapat usilan?"
Akan tetapi di samping si pemuda ada si pemudi.
Kiam Hong melihat ancaman bahaya untuk si pemuda, yang menjadi penolongnya itu, maka dengan sebat sekali ia menyerang, untuk menggagalkan serangan itu.
Hal ini membuatnya menjadi semakin mendongkol berbareng menyesal sekali.
Cong Hay lihai, begitulah meski dia telah kena ditotok, dia dapat menutup diri, membuatnya totokan tidak mengenainya secara berbahaya, hanya walaupun demikian, lantaran sesemutan, atau betisnya kaku, gerak-geriknya tidak lagi segesit semula.
Di sebelah itu, si anak muda tidak menjadi kecil hatinya, ia terus melakukan perlawanan sehebat tadi.
"Kena!"
Demikian si pemuda berseru pula selang beberapa jurus.
Kali ini ia menyerang ke arah pundak.
Benar-benar ia berhasil dengan serangannya itu.
Kembali Cong Hay kaget.
Sekarang ia merasakan separuh tubuhnya kaku, tak lincah lagi.
Baru sekarang dia merasa kuatir.
Tanpa ayal lagi, dia berlompat untuk berkelit, untuk terus membuka langkah panjang!
Si pemuda tidak mengejar, demikian juga si pemudi.
Yang belakangan ini ingin belajar kenal, untuk mengetahui penolongnya itu siapa adanya.
Ketika ia berpaling untuk memandang pemuda itu, di bawahnya sinar si Puteri Malam, ia menampak muka orang bersemu merah, hingga ia menjadi heran.
Pikirnya.
"Mungkinkah dia likat karena dia menghadapi aku seorang diri ?"
Tapi ia tidak berpikir lama.
"Saudara kecil,"
Katanya.
"aku menghaturkan banyakbanyak terima kasih padamu! Aku Liong Kiam Hong, aku datang dari Thiansan. Dan kau?"
Sebagai seorang polos, melihat orang lebih muda usianya, Nona Liong lantas memanggil "adik,"
Bahkan ia terus menanyakan asal-usul orang..."
Anak muda berjubah kuning itu mengerutkan alis.
"Nona Liong, dia lantas berkata cepat, tanpa menjawab.
"apakah kau kenal Cit Im Kauwcu?"
Dari nadanya, agaknya si pemuda menganggap pertanyaannya itu penting sekali. Kiam Hong heran tetapi ia menjawab.
"Aku cuma pernah bertemu beberapa kali dengannya,"
Sahutnya.
"Apakah panggilan di antara kamu?"
Tanya pula si anak muda.
"Kita cuma kenal, tidak ada hubungan di antara kita."
"Habis, perlu apa kau mencari dia?"
Si pemuda masih menanya.
"Itu... itulah panjang urusannya,"
Menyahut Kiam Hong.
"Kau sendiri? Ada hubungan apa di antara kau dan Cit Im Kauwcu?"
Sebagai seorang yang cukup berpengalaman, tidak mau Kiam Hong lantas membeber tentang dirinya sendiri sebelum ia mengetahui pihak sana. Ia jujur dan polos tetapi ia dapat melihat selatan.
"Aku?"
Menyahut si anak muda.
"Aku pun panjang untuk menutur. Kau... kau... Silakan kau masuk ke dalam kuilku ini. Aku... aku... ingin meminta sesuatu daripadamu..."
Suaranya pemuda itu lantas menjadi perlahan dan terputus-putus, kulit mukanya pun menjadi terlebih merah. Kiam Hong heran, ia terkejut.
"Apakah kau terluka di dalam?"
Ia tanya.
"Apakah kau sakit?"
Nona Liong menduga pemuda itu kena pukulan lihai dari Yang Cong Hay, sembari berkata begitu ia mengulur tangannya, berniat meraba jidat orang, untuk mengetahui kepala pemuda itu panas atau tidak.
"Jangan sentuh aku!"
Berkata si anak muda, suaranya kaget. Ia pun lompat mundur. Kiam Hong heran.
"Bukankah kau bocah baru besar?"
Pikirnya.
"Di waktu begini, kenapa kai masih main malu-malu?"
"Aku... aku..."
Berkata si anak muda, napasnya memburu tetapi suaranya terputus-putus.
"Aku terkena racun yang sangat berbahaya.. Sekarang racun itu tengah bekerja... Aku perlu lekas balik ke dalam kuil... Aku... aku... aku mau minta kau melakukan sesuatu..."
Mendengar itu, kagetnya Kiam Hong bukan kepalang.
Ia lantas menatap.
Jadi orang terkena racun dan racun itu lagi bekerja membuat tubuh orang panas, hingga mukanya menjadi merah sekali.
Jadi orang bukannya malu atau likat.
"Kenapa dia terkena racun? Yang Cong Hay bukan tukang main racun?"
Ia tanya dirinya sendiri.
"Ah, mungkin dia terkena racunnya lain orang. Dia tentu kena terbokong. Hanya, kenapa dia dibiarkan saja? Taruh kata tadi racun belum bekerja, orang itu mestinya menguntit. Ke mana perginya dia sekarang? Kenapa dia tidak munculkan diri?"
Heran nona ini tetapi tak sempat ia mengasah otak lagi.
Dengan tindakan yang limbung, anak muda itu sudah bertindak ke arah kuil dan masuk ke dalamnya.
Itulah sebuah kuil tua dan tanpa penghuninya, suasananya sangat sunyi.
Kiam Hong mengikuti.
Legajuga hatinya mengetahui di situ tidak ada lain orang.
Ia justeru menguatirkan bersembunyinya orang jahat.
"Kau terkena racun apa?"
Kemudian ia tanya.
"Nanti aku pergi mencarikan tabib untukmu..."
"Racunku bukan racun yang dapat disembuhkan tabib,"
Berkata si anak muda.
"Aku cuma mau minta kau tolong sesuatu..."
"Baik! Kau bilanglah!"
Menjawab Nona Liong cepat. Suaranya pemuda baju kuning itu sudah parau, suara itu pun menggetar, sedang air mukanya bertambah tak mengasih.
"Aku minta..."
Katanya, tubuhnya mendadak terhuyung. Kiam Hong maju. kedua tangannya diulur, untuk memegang.
"Jangan sentuh aku!"
Berseru si anak muda, yang menguatkan dirinya, untuk dapat mempertahankan tubuhnya.
Kiam Hongmelengak.
Belum lagi ia menarik pulang tangannya, atau anak muda itu roboh.
Tentu sekali, ia menjadi bertambah kaget dan herannya tidak terkira.
Si anak muda berkutat, dia dapat bangun, untuk berduduk.
Dengan lantas dia membuka mulutnya, dia masuki jeriji tengahnya ke dalam mulutnya itu, untuk digigit.
Makajari tangan itu lantas pecah dan mengeluarkan darah yang hitam.
Kiam Hong tahu itulah cara pertolongan darurat.
Pertolongan itu cuma untuk sementara waktu.
Maka ia menduga, anak muda itu tentu mau merebut waktu, untuk memberikan pesannya yang terakhir.
Ia menjadi bingung sekali, sebab ia tidak berdaya Habis menggigit jerijinya, si anak muda menghela napas.
Lalu tampaknya dia menjadi lebih ringan.
Dia merobek ujung bajunya, guna membalut luka bekas gigitan itu, habis itu dari dadanya dia mengeluarkan sebatang hio, yang mana dia lemparkan ke depan si nona, ketika dia berkata, suaranya menggetar.
"Kau tunggu sebentar, lantas kau menolong menyulut hio ini, terus kau tancap di depan pintu. Aku menyerahkan jiwaku kepadamu!..."
"Apakah hio ini dapat mempunahkan racun?"
Kiam Hong berpikir.
"Kenapa dia menyuruh aku menancapnya di depan pintu?"
Ia mau minta keterangan, atau si anak muda mendahului ia.
"Nona Liong, aku minta sukalah kau omong terus terang,"
Berkata dia.
"Sebenarnya kau dengan Cit Im Kauwcu ada hubungannya apa?"
"Di antara dia dan aku tidak dapat dikatakan adanya persahabatan."
Kiam Hong menjawab.
"Untuk seorang sahabat aku hendak mencari dia, guna meminta bantuannya."
"Bagus!"
Berkata si anak muda.
"Kau tidak usah mencari dia ke lain tempat. Setelah kau menyulut hio ini, tidak lama. dia bakal datang sendiri kemari!"
Heran Kiam Hong. Inilah di luar sangkaannya.
"Baik,"
Katanya.
"sekarang juga aku menyulut hio ini!"
"Tunggu sebentar!"
Mencegah si anak muda.
"Aku masih hendak bicara."
"Apa itu?"
Tanya Kiam Hong. Ia berpaling. Ia baru saja bertindak.
"Jikalau sebentar Cit Im Kauwcu datang, kau mesti sembunyi,"
Berkata si anak muda.
"Jangan kau kasih dirimu terlihat dia! Paling benar, begitu kau menyulut hio, begitu kau menyingkir! Sebenarnya aku tidak ingin mendatangkan bahaya untukmu..."
Kembali Kiam Hong heran.
"Jikalau Cit Im Kauwcu datang, dia bakal bikin apa?"
Ia tanya.
"Mungkin dia dapat menolong aku hingga aku sembuh,"
Menjawab si anak muda.
"Jikalau itu sampai terjadi, sesudah aku mendusin, pasti aku akan dapat menolongi kau. Tapi ada kemungkinan juga dia tidak suka menolong aku, dia bakal menontoni aku putus jiwa. Apabila itu terjadi, begitu lekas dia mendapat kenyataan di sini ada orang lain, pasti dia bakal membinasakan kau!..."
Habis berkata, pemuda itu agaknya kehabisan tenaganya.
Sekarang parasnya menjadi pucat abu-abu, pada itu ada tampak juga hawa hitam.
Segera setelah itu, dia rebah sendirinya, kedua matanya lantas tertutup rapat.
Dalam herannya itu, Kiam Hong kaget.
"Benar gila!"
Katanya di dalam hati.
"Serintasan gelombang belum reda, sudah datang gelombang yang lain! Ciu Cecu dan engko Houw lagi menantikan pertolongan, siapa tahu di sini aku menemukan lain orang yang keracunan juga Bagaimana hebat! Di jaman ini ahli racun hanya beberapa orang, maka orang yang menyerang dia ini-mendengar dari kata-katanya barusanmesti ada hubungannya sama Cit Im Kauwcu. Kalau ini keracunan dilakukan Cit Im Kauwcu atau Pektok Sinkun, cara bagaimana Cit Im Kauwcu dapat datang kemari?"
Karena menduga-duga demikian, si nona menjadi menyesal sekali yang ia tidak dapat ketika untuk menanyakan dulu keterangan si anak muda.
Tapi ia ingat pesan orang.
Ia anggap, tidaklah ada halangannya untuk bekerja menuruti pesan itu.
Maka itu, lantas ia sulut hio itu, terus ia bawa ke depan, untuk ditancap di depan pintu.
Ia dapat mencium bau yang harum yang keras.
Lantas ia menantikan.
Belum hio itu, yang pendek, habis separuhnya, segera juga terdengar tindakan kaki mendatangi.
Tanpa bersangsi lagi, Kiam Hong lompat ke atas meja abu, ketika suara tiba di depan pintu, ia bersembunyi di belakang patung.
"Eh, di sini ada orang!"
Begitu terdengar suara seorang nona "Eh, eh, mama, kau kenapa?"
Lalu terdengar suara dalam dari seorang wanita tua.
"Tidak apa-apa, kau jangan kuatir. Coba kau balik tubuhnya orang ini, untuk aku lihat.
"Ah, ini hio kayu cendana, sudah dua puluhan tahun aku tidak dapat mencium baunya..."
Kata-kata yang belakangan itu diucapkan untuk diri sendiri, suara itu menyatakan terharunya hati. Di dalam tempatnya bersembunyi, Kiam Hong kaget berbareng girang.
"Benar-benar Cit Im Kauwcu datang!"
Pikirnya.
Ia kenali suaranya ketua dari Cit Im Kauw itu.
Cuma ia tidak dapat melihat itu ibu dan gadisnya.
Dari suaranya Cit Im Kauwcu, ia mau menduga nyonya itu sedang sakit atau mungkin dia baru sembuh.
"Pastilah ini anak dia!"
Sekonyong-konyong terdengar lagi suaranya Cit Im Kauwcu. Ketika itu Kiam Hong lagi menduga-duga.
"Lihatlah romannya, sangat mirip!"
"Anak siapa, mama?"
Terdengar Siu Lan menanya.
"Apakah mama ketahui tentang dia ini? Jadi mama datang kemari untuk dia?"
"Anak Lan, kau makanlah dulu ini obat pemunah racun,"
Berkata si ibu.
"Nah, sekarang kau keluarkan jari tengahmu!"
Siu Lan heran tetapi ia mendengar kata ibunya.
"Cit Im Kauwcu mengeluarkan sebatang jarum perak, dengan itu ia menusuk jari tengah puterinya itu, terus ia memborehkan obat bubuk warna merah muda.
"Apakah dia bukan terkena racun Keebeng Ngokouw Toanhun hio?"
Siu Lan tanya. Hio, atau racun, yang disebutkan itu ialah racun yang dapat menewaskan jiwa orang di waktu pagi, di saatnya ayam berkokok jam lima.
"Benar!"
Sahut sang ibu.
"Hm! Hm! Bukankah dia anak baru besar? Mengapa kau menurunkan tangan begini jahat terhadapnya?"
Siu Lan terbenam pula dalam keheranan. Tak tahu ia, dengan "kau"
Itu ibunya maksudkan siapa. Ia menatap ibunya itu, parasnya menunjuki herannya itu, yang menghendaki keterangan. Cit I m Kauwcu menumplak perhatiannya kepada si anak muda yang rebah di depannya itu.
"Sampai detik ini, dia terkena racun belum ada enam jam lamanya."
katanya kemudian.
"Tidak sukar untuk menolongnya."
"Tetapi, itu,"
Berkata anak gadisnya.
"aku pernah dengar bahwa siapa terkena Toanhun hio, sebelum lewat dua belas jam, dia tidak nanti terbahayakan racun itu. Tegasnya, racun itu belum dapat bekerja. Atau asal racun sudah bekerja, si kurban bakal tidak dapat ditolong lagi. Kenapa dia ini, belum enam jam, dia sudah roboh?"
"Mungkin inilah disebabkan dia telah melakukan pertempuran hebat, hingga darahnya menjadi tegang, hingga bekerjanya racun menjadi cepat luar biasa."
Sahut si ibu. Lalu ia meneruskan berkata-kata pula seorang diri.
"Ah, mengapa dia menggunakan racun yang bekerjanya sangat lambat ini? Mungkinkah dia mendapat tahu yang aku bakal dapat datang dan menolongi anak ini?"
Siu Lan tidak dapat membade, ia bingung. Kejadian sungguh aneh untuknya. Ia mendapatkan bahwa ibunya menjadi luar biasa sekali. Maka maulah ia menerka.
"Apa mungkin ibu mempunyai sesuatu urusan, yang ia sembunyikan untukku?"
Mereka berdua, ibu dan anak.
sudah dua puluh tahun hidup bersama, di antara mereka tidak ada urusan yang tidak dibicarakan, tetapi sekarang si ibu seperti menyimpan sesuatu, dari itu, Siu Lan menjadi berduka sendirinya.
Cit Im Kauwcu seperti dapat nerka hati anaknya itu, tetapi ia terus bekerja.
Dengan jarum peraknya itu ia menusuk beberapa kali kepada si anak muda ---menusuk beberapa jalan darah, lalu ia membuka mulut orang, untuk kasih makan beberapa butir obat.
Baru sesudah itu, ia berkata.
"Anak Lan, mari! Ibumu hendak menanya sesuatu kepadamu!"
Ada sesuatu yang sang ibu rasakan berat, Siu Lan dapat melihatnya, maka itu. mendengar suara ibu itu. ia berkuatir sendirinya.
"Mama,"
Katanya.
"mama hendak menanyakan apa?"
"Apakah kau masih memikirkan itu anak she Thio?"
Tanya si ibu. Hati Siu Lan goncang. Inilah pertanyaan di luar dugaannya. Selang sesaat, ia menghela napas tetapi ia tidak memberikan jawabannya.
"Ah, kiranya kau masih selalu ingat padanya,"
Berkata ibu itu, yang pun menghela napas.
"Ibumu seorang berpengalaman, dia dapat mengerti hatimu. Anak tolol, baiklah kau jangan membikin pusing kepalamu. Dulu hari, orang yang ibumu menyayanginya, dia pun menyayangi aku. Kesudahannya? Aku bersusah hati secara kecewa... Laginya orang she Thio itu telah mempunyai buah hatinya, jikalau kau tidak dapat melegakan hatimu, akhirnya kau bisa menderita terlebih hebat daripada ibumu. Sebenarnya aku tidak suka kau sampai mendapatkan pengalaman seperti itu..."
Siu Lan memang tidak dapat melupakan Giok Houw.
Mendengar ibunya mengatakan Giok Houw mempunyai buah hati, ia menjadi sangat berduka, tanpa merasa ia mengucurkan air mata.
Tapi, setelah mendengar omongan lebih jauh dari ibunya itu, ia menjadi heran, dengan sendirinya, kedukaannya itu berkurang.
"Mama, apakah mama bicara dari hal ayah?"
Ia tanya.
"Ayah sudah menutup mata, maka itu, menyebut tentang ayah, mama menjadi bersusah hati. Memang lumrah, umur manusia itu ada yang panjang, ada yang pendek, tetapi tentang kecintaan suami isteri. biarnya suami isteri satu hari, itu sudah sangat membahagiakan!. Belum berhenti kata-kata anak ini, air matanya Cit Im Kauwcu sudah mengalir deras.
"Mama, kenapa?"
Tanya Siu Lan, heran.
"Apakah aku omong salah?"
"Tidak, kau tidak salah,"
Menyahut ibu itu. Hanya sejenak, dia menghela napas panjang. Lantas dia berkata pula.
"Anak Lan, kau pegang tangan ibumu, ibumu hendak bicara denganmu... Sebenarnya tidak seharusnya aku membicarakan ini kepadamu, tetapi aku pun tidak dapat tidak mengatakannya. Bukankah kau telah menanya ibumu, di waktu ibumu masih muda siapakah yang ibu sukai? Sekarang dapat aku mengatakan kepadamu. Dialah bukannya ayahmu!"
Siu Lan heran hingga ia mementang lebar kedua matanya. Ia menatap ibunya itu, hatinya bekerja.
"Bukankah mama pernah membilang bahwa ayah seorang yang baik sekali? Bukankah dulu hari itu mama dan ayah hidup saling menyintai?"
Ia tapinya tidak menanya.
"Ketika kau masih kecil aku membilangi kau bahwa ayahmu seorang baik, dengan itu aku mendustai padamu,"
Berkata pula ibu itu. Ia dapat mengerti keheranan dari anaknya itu.
"Itulah sebab aku tidak ingin kau mendapat tahu bahwa kau mempunyai ayahmu yang tulen. Aku membilangi kau bahwa orang yang aku sukai itu ialah ayahmu. Sebenarnya orang itu, sebelumnya kau terlahir, sudah pergi meninggalkan ibumu. Sebenarnya, aku sangat ingin dapat menjadi suami isteri dengannya, sebab seperti katamu barusan, dapat menjadi suami isteri satu hari pun bagus sekali!"
Siu Lan heran berbareng tidak senang, hatinya panas.
"Mama!"
Katanya.
"mengapa kau menyebutkan seorang lain sebagai ayahku? Habis, siapakah ayahku yang benar? Benarkah ayahku itu telah menutup mata?"
"Dua-duanya mereka itu masih hidup,"
Menjawab sang ibu.
"Baiklah kau ketahui, orang yang aku sukai itu ialah ayahnya ini anak muda berbaju kuning!..."
"Jikalau begitu, bukankah mama menjadi mempermainkan ayah?"
Si anak tanya pula.
"Bukan, sebaliknya, adalah ayahmu yang mempermainkan aku. Ah, kau tidak percaya ibumu?"
Siu Lan menatap pula ibunya itu.
Mereka berdua hidup bersama semenjak ia masih kecil.
Dulu-dulu, kalau dibilang ia tidak mempercayai ibunya, itulah hal yang tak akan terjadi, akan tetapi sekarang, benar-benar ia mau memikir demikian.
Inilah disebabkan ia heran untuk perbuatan ibunya ini.
Pikirnya.
"Ayah masih hidup, mengapa mama memikirkan lain orang? Kenapa mama mendustai aku bahwa ayah sudah meninggal dunia? Pasti sekali mama mempermainkan ayah! Cara bagaimana mama dapat membuatnya aku percaya mama?..."
Cit Im Kauwcu menangis, air matanya bercucuran.
"Anak Lan, mari dengar, aku mau menceritakan sebuah dongeng,"
Katanya.
"Sesudah kau mendengar ceriteraku ini, lantas kau boleh memikir dan mengambil keputusan, kau sebenarnya menghendaki ibumu atau ayah..."
Anak itu menahan napas, matanya menatap bengong.
Di matanya, pada saat itu, ibunya seperti juga berubah menjadi seorang asing baginya...
Cit Im Kauwcu menghela napas.
Habis itu, ia bicara dengan perlahan.
"Sedari masih kecil aku telah menjadi yatim-piatu."
Ia berkata, memulai ceritanya itu.
"Siapa itu ayah dan ibuku, aku tidak mendapat tahu. Aku cuma ketahui merekalah pengungsi, rakyat yang menyingkir terluntalunta dari tempat kediamannya. Aku dilahirkan di tengah jalan, maka juga ayah dan ibuku tidak dapat merawat aku... Tepat ketika aku baru berumur satu bulan, kami lewat di kakinya gunung Ouwbong San. Di atas gunung itu ada sebuah kelenting. Kebetulan imam dari kelenting itu pergi turun gunung, untuk memungut amal. Dia bertemu dengan kami. Dia merasa kasihan melihat kesengsaraan kami, maka dia menyatakan suka mengambil dan merawat aku. Maka itu, dialah imam yang menjadi guruku yang nomor satu. Dialah C ie Hee Tojin. Dan ceritaku ini, dialah yang menuturkan padaku. Dia cuma menanya she-ku, yaitu she Im, lainnya dia tidak sempat menanyakan lagi."
Siu Lan berdiam, tetapi ia memasang kuping. Terus ia mengawasi ibunya.
"Jikalau mulanya Ci Hee Tojin memperlakukan baik padaku, kemudian sikapnya menjadi buruk, maka juga sampai sekarang ini, aku masih membenci dia!"
Berkata Cit Im Kauwcu melanjuti.
"Toh aku mesti mengakui, dia telah merawat aku dengan baik. sampai aku dewasa. Dialah seorang imam. Seorang imam merawat seorang bayi sampai besar, itulah bukannya gampang, apapula bayi itu bayi wanita. Maka juga sedari kecil aku menganggap dia sebagai ayahku sendiri, terhadapnya aku sangat bersyukur. Selain dipiara, aku pun diajarkan ilmu silat. Sampai aku mulai besar, dia tetap memperlakukan aku sebagai juga aku seorang anak kecil. Sering dia memegangi aku dan mengawasinya lama. Ada kalanya, ketika aku mendusin dari tidurku, aku mendapatkan dia berdiri di depan pembaringan mengawasi aku. Aku mengira dia sangat menyayang aku. aku tidak perhatikan itu. Melainkan ada waktunya yang aku merasa jeri."
Siu Lan terus berdiam, terus ia memasang kuping.
"Makin lama aku menjadi makin besar. Dia menyayangi aku, aku pun menyayangi dia. Ci Hee Tojin seorang imam, maka itu dia tinggal dipuncak Kimkee Hong di atas gunung Ouwbong San. Di sana aku tinggal bersamanya. Itulah tempat yang tidak ditinggali lain orang kecuali seorang she Ban, yang tinggal di puncak Thianouw Hong, hingga kita jadi bertetangga. Orang she Ban itu bernama Thian Yu. Ia dari partai Tiamchong Pay. Ia mempunyai seorang anak laki-laki, yang diberi nama Kee Su. Anak itu berumur lebih tua dua tahun daripada aku. Sebagai tetangga, kita berdua suka bertemu dan bermain-main. Kekal persahabatan kami."
Cit Im Kauwcu berhenti sejenak, lantas ia meneruskan.
"Setelah kami masing-masing menjadi dewasa, nyata dia menyukai aku dan aku pun menyukai dia. Lalu pada suatu malam, di bawahnya sinar si Puteri Malam, di bawah pohon cendana, dia mengutarakan cintanya terhadap aku dan aku menyambutnya. Di situ kami lantas mengikat janji, kami menggunakan tanah sebagai gantinya hio, si Puteri Malam menjadi saksinya. Kami bersumpah untuk menjadi suami isteri. Setelah itu aku membilangi dia supaya besok pagi dia mengutus ayahnya datang kepada guruku untuk melamar aku. Aku sendiri girang bukan main. Aku tahu guruku sangat menyayangi aku. tidak ada alasan untuknya menolak lamaran itu. Besoknya, belum lagi aku bangun tidur, telah terbit suatu hal di luar dugaan. Apakah telah terjadi? Sebenarnya guruku telah mencuri dengar sumpah kami untuk mengikat jodoh. Pagi itu sebelum terang tanah dia sudah lantas pergi ke puncak Thianouw Hong, dia tuduh Ban Kee Su memincuk muridnya, ialah aku, lalu tanpa menanti pihak Ban memberi penjelasan, dia menyerang Thian Yu dan Kee Su hingga mereka terluka, terus dia mengusir mereka dari Thianouw Hong. Dia mengancam mereka tidak boleh injak lagi Ouwbong San sekalipun setengah tindak."
Lagi sekali kauwcu itu hening sejenak.
"Ketika aku mendusin, aku kaget sekali. Guruku berdiri di depan pembaringan, tangannya berlumuran darah. Dia lantas menegur aku, yang dikatakan tanpa persetujuannya sudah sembarang berjanji mengikat jodoh dengan lain orang. Dia juga mengancam, kalau dia mempergoki pula aku berada bersama Ban Kee Su, dia bakal membunuh kami berdua! Aku kaget dan menjadi sangat takut. Toh dialah guruku, yang merawat aku sedari kecil. Dengan terpaksa aku menurut saja. meski hatiku sakit. Aku berjanji tidak akan menemui pula Ban Kee Su. Tetapi, di luar sangkaku, kembali terjadi sesuatu yang membikin aku sangat kaget dan takut..."
Suaranya Cit I m Kauwcu menjadi bergemetar, dia bergidik. Sudah dua puluh tahun sejak kejadian itu tetapi sekarang dia masih merasakan takut seperti di masa kejadiannya.
"Ketika itu aku lagi mendekam di atas pembaringan, menungkuli diri dengan menangis."
Ia mulai pula penuturannya.
"Tiba-tiba aku merasakan tangan yang meraba pundakku, rasanya sangat dingin, kemudian lenganku dicekal, tubuhku ditarik, untuk dikasih bangun. Itulah guruku. Aku lantas mendengar dia berbicara, suaranya, menggetar. 'Buat apa kau menangis?' katanya. 'Apakah kau tidak dapat melupakan itu binatang?' Ah! Belum pernah aku mendengar guruku bicara dengan cara dan suaranya itu. Aku jadi menangis semakin sedih. Aku kata. Aku telah berjanji tidak akan menemui Ban Kee Su lagi. biarlah aku menangis!..."
"Mendengar kata-kataku itu. roman guruku menjadi sangat bengis. Aku takut sekali, aku berhenti menangis. Tapi guruku berkata, suaranya seram. 'Kau terawat olehku hingga menjadi besar! Aku larang kau menikah dengannya! Siapa pun aku larang menikah denganmu! Siapa berani bawa kau kabur dari tanganku, aku bakal merobek-robek tubuhnya menjadi berkeping-keping!' "Aku ketakutan sampai aku tidak bisa berkata-kata. Meski demikian, aku menyangka bahwa sikapnya itu disebabkan dia sangat menyayang aku. Cuma, kenapa dia melarang aku menikah? Umpama kata aku anaknya, itulah kesayangan yang tidak pada tempatnya. Sungguh di luar kebiasaan! Setelah aku berdiam itu, mendadak air mukanya berubah. Dia menjadi sabar. Dengan lemah lembut, dia kata. 'Oen Giok, aku telah merawat kau hingga dewasa, dengan cara bagaimana kau hendak membalas budiku itu?' "Mendengar itu, aku jadi berpikir. Dengan menahan keluarnya air mata, aku menjawab. 'Suhu menghendaki aku jangan meninggalkan suhu, baiklah, untuk selamalamanya aku nanti menemani suhu. seumurku, aku tidak akan menikah, aku akan merawat kau sebagai juga akulah anak suhu."
"Selagi aku mengatakan demikian, mendadak roman guruku itu berubah pula. Aku melihat kedua matanya jadi bersorot sangat tajam dan bengis, seperti juga mata itu hendak menyemburkan api. Sambil mengawasi tajam itu. dia kata. 'Tidak! Aku tidak menghendaki kau menjadi anakku! Kau dapat menjadi isteriku!' "Benarlah itu keluar dari mulut guruku? Aku hampir tidak dapat memikirnya. Itulah bagaikan guntur di siang hari terang benderang! Kepalaku menjadi pusing, mataku berkunang-kunang. Aku menatap wajahnya. Seperti barusan kau menatap aku. Sedetik itu aku melihat orang yang demikian baik terhadap aku seperti juga berubah menjadi binatang liar yang mementang mulutnya yang bercaling serta membuka kuku-kukunya yang tajam! "Lantas aku mendengar suaranya, perlahan-perlahan. 'Dulu-dulu aku cuma tahu meyakinkan ilmu silat, belum pernah aku memikirkan tentang pernikahan, sekarang, setelah menahan diri beberapa puluh tahun, aku tidak dapat menderita terlebih lama pula, aku dapat kembali menjadi manusia biasa, tak usah menjadi imam terusterusan, supaya aku dapat menikah dengan kau. Giok. kenapa kau mengawasi aku begini tajam? Apakah kau sudah tidak mengenali aku? Apakah kau tidak sudi? Jiwamu ialah aku yang memberikan, maka pada dasarnya, kaulah milikku, dari itu, begitu aku menghendaki kau menjadi isteriku, kau mesti menjadi isteriku!' Lantas dia mementang kedua tangannya, berniat memeluk aku.
"Mendadak itu waktu, aku bagaikan sadar. Aku lantas menggigit padanya, terus aku berteriak-teriak. 'Tidak bisa! Tidak bisa". Kau telah memberikan jiwa padaku, kau boleh ambil pulang jiwa itu! Biarnya mati aku tidak dapat menjadi isterimu!' Aku berontak sekuat tenagaku, lantas aku kabur turun gunung! "Entah disebabkan dia malu, setahu karena dia biasanya menyayangi aku, dia tidak mengejar aku, untuk mencegah aku lari. Dengan kepandaiannya, jikalau dia mau. dia dapat mengejar dan menyandak aku. Ketika aku berpaling, aku mendapatkan dia berdiri menjublak bagaikan patung, wajahnya terlihat tidak mengasih. Biar bagaimana, aku merasa terharu juga. Tapi aku tidak berani kembali kepadanya, tanpa menoleh lagi, aku lari terus, aku kabur meninggalkannya. Di luar sangkaku, ketika aku tiba di kaki gunung, dia mengejar aku..."
Siu Lan menghela napas lega.
Senang ia mendengar Ci Hee Tojin tidak mengejar ibunya.
Tapi kapan ia mendengar keterangan yang paling belakang itu.
napasnya menjadi sesak pula, hatinya sangat tegang dan bergelisah.
Dengan keras iamenyekal tangan ibunya.
"Bagaimana kemudian?"
Ia tanya.
"Apakah mama tak tertawan dia?"
Syukur dia masih mempunyai sedikit rasa pri kemanusiaan,"
Menyahut sang ibu.
"atau mungkin dia tadi lenyap kesadarannya untuk sesaat, belakangan dia mendusin juga, di akhirnya, dia membiarkan aku pergi. Hanyalah, dia memberikan tiga syarat. Pertama-tama aku dilarang menceritakan apa yang terjadi itu. Yang kedua ialah aku tetap dilarang menikah sama Ban Kee Su. Yang ketiga yaitu aku mesti menanti hingga matinya dia baru aku boleh keluar, untuk masuk dalam dunia Kangouw. Jikalau aku melanggar syarat yang kesatu dan ketiga itu, dia mengancam untuk membinasakan aku. Dan jikalau aku melanggar syarat yang kedua, bukan cuma aku, dia juga hendak membinasakan Ban Kee Su!"
Liong Kiam Hong di tempatnya bersembunyi bangkit bulu romanya. Dia menggigil tanpa merasa. Hatinya berpikir.
"Ci Hee Tojin bermartabat, kedudukannya seimbang dengan kedudukan Hian Ki Itsu, aku tidak sangka sekali dia mau melakukan perbuatan binatang semacam itu! Memang pantas kalau dia melarang Cit Im Kauwcu membeber rahasianya itu. Dan bahwa dia suka melepaskan muridnya, itu tandanya dia masih dapat berpikir. Dulu hari Hian Ki Itsu memberi ampun padanya, itulah mungkin disebabkan sifatnya ini yang belum rusak seseluruhnya."
Cit Im Kauwcu melanjuti penuturannya.
"Begitulah aku terlepas dari tangannya Ci Hee Tojin. Lantas aku merasakan kesulitan. Pertama-tama aku tidak berani mencari Ban Kee Su. Kedua, aku juga tidak berani merantau dalam dunia Kangouw. Aku mesti memenuhi janji. Maka itu setiap hari, setiap malam, aku selalu hidup dalam impian yang buruk. Lantas aku ingat kepada Tokciu Sinmo Ki Hoan di wilayah Biauwkiang. Dia dijuluki demikian sebab lihainya dalam kepandaian mempergunakan racun. Julukannya itu berarti Iblis Tangan Beracun. Dia tidak takut pada Ci Hee Tojin. Aku lantas pergi padanya. Aku ingin mempelajari ilmu racun, supaya aku tidak usah takuti lagi Ci Hee. Aku menerima syarat Ci Hee pun karena terpaksa. Biar bagaimana, tidak dapat aku melupakan Ban Kee Su. Di luar dugaanku, sesudah aku lolos dari tangan guru yangjahat itu, aku lantas mendapat bahaya yang terlebih hebat pula..."
"Apakah Ki Hoan pun manusia jahat?"
Siu Lan tanya. Ia kaget dan heran.
"Bukan,"
Menyahut sang ibu, cepat.
"Ki Hoan ialah ahli racun nomor satu di kolong langit ini tetapi dialah orang pihak lurus, cuma kelakuannya saja yang aneh. Yang mencelakai aku ialah kakak seperguruanku."
"Ah!"
Berseru si anak.
"Mama mempunyai kakak seperguruan? Mengapa aku belum pernah dengar?"
Kiam Hong tahu, sang kakak seperguruan itu, ialah Pektok Sinkun. Ia menjadi heran, ia berpikir.
"Namanya Pektok Sinkun cukup terkenal, mengapa keponakannya ini tidak mendapat tahu? Inilah aneh! Mengapa Cit Im Kauwcu menyembunyikannya dari puterinya?"
Cit Im Kauwcu melanjuti pula keterangannya.
"Kakak seperguruanku itu seorang suku bangsa Biauw, tetapi dia sangat mengagumi bangsa Han, maka dia memakai nama Han. ialah Cio Keng Ham. Dia sangat gemar bergaul sama bangsa Han. Dibanding denganku, dia lebih tua sedikit, akan tetapi karena dia selalu mengikuti suhu. dalam hal menggunakan racun, dia terlebih pandai daripada aku. Dia sangat menyukai aku. Begitu aku masuk dalam perguruan, dia ingin menikah denganku. Aku tidak menyukai dia, kesatu untukku sudah ada Ban Kee Su, kedua, aku tidak cocok sama tabiatnya. Dia terus menggerecok aku, sampai satu kali aku mengadu kepada guruku. Lantas dia ditegur dan didamprat. Aku pun lantas berjaga diri. Belakangan dia tidak berani lagi mengganggu aku, sampai hatiku mulai lega. Justeru penjagaanku kurang terliti, justeru aku mengalami peristiwa yang membuatnya aku celaka..."
Bicara sampai di situ, nyonya tua ini mengucurkan air mata. Pula daging yang berenjulan di mukanya lantas pada timbul.
"Sudah, mama, jangan menangis."
Siu Lan menghibur.
"Anakmu berada di sampingmu. Bukankah kau pernah membilangi aku, asal aku mendampingi kau, kau tidak bakal bersusah hati?"
Cit Im Kauwcu menepas air matanya. Ia memeluk erat-erat anaknya itu.
"Syukur dia meninggalkan kau didampingku, jikalau tidak, pasti aku jadi terlebih membenci dia,"
Katanya kemudian.
"Telah aku bilang, kakak seperguruan itu gemar bergaul sama orang Han. Di antara sahabatsahabatnya ada seorang yang bernama Bang Thong, yang asalnya seorang penjahat besar. Dia ini nelusup masuk ke wilayah orang Biauw, dia berniat mencuri emas simpanan bangsa Biauw itu, yang disimpan di dalam sebuah guha. Diajuga ingin mencuri obat-obatan bangsa Biauw. Di antaranya, semacam obat yang langka dan mujarab, ialah hosiuouw. Guruku menanam pohon obat itu. Bang Thong membujuk Cio Suheng mencuri pohon obat tersebut dan dia kena terbujuk. Pada suatu hari aku diperintah suhu pergi mencari bahan obat-obatan. Seperginya aku, dia lantas menyusul padaku. Dia memberitahukan aku bahwa dia salah mengambil putusan akan buron meninggalkan guru, katanya dia mau ikut Bang Thong untuk mengicipi kebahagiaan di luaran. Dia mengharap sangat aku suka ikut padanya. Tentu sekali aku tidak terima ajakannya itu, bahkan aku memberi nasihat supaya dia membatalkan niatnya. Sebaliknya, diamembujuki aku. Dia kata wilayah Biauwkiang ini sepi, tidak menarik hati. Dia bilang, di luar, dunia ramai dan menyenangkan. Dia tanya, mengapa aku tidak ingin mengicipinya? Percuma aku memberi nasihat. Bahkan sebaliknya, dia menjadi berubah sifatnya. Sembari tertawa bengis, dia kata. 'Apa yang aku katakan sudah masuk ke dalam kupingmu, maka itu, kau suka mengikut aku atau tidak, kau mesti mengikut juga!"
Aku kaget, aku mengerti bahaya mengancam.
Sayang aku terlambat, belum sempat aku lari, dia sudah meniup aku dengan asap, lantas aku roboh tak sadarkan diri.
Selagi aku semaput itu, dia mengganggu kesucian diriku.
Susah-susah aku menjaga diri, akhirnya aku menjadi kurbannya juga..."
Tubuh Siu Lan bergemetaran, kaki tangannya dingin, mukanya pun menjadi sangat pucat.
"Jadinya, dia... dialah ayahku?"
Katanya, perlahan.
"Ya, dialah ayahmu,"
Sahut sang ibu.
"Kau bilanglah sekarang, bagaimana aku tidak membenci dia?"
Siu Lan berdiam, hatinya pepat.
"Habis merusak kesucian diriku, dia juga mencelakai suhu,"
Berkata pula Cit Im Kauwcu.
"Suhu sangat menyayangi dia. dia dipercaya habis. Suhu lagi tidur ketika ia kena dibikin celaka. Kakak seperguruan itu membuat bubuk beracun dari adukan tiga macam obat tohoaciang, kimyapkiok dan pekcianlo yang sangat beracun, bubuk itu ditiup masuk ke dalam hidung suhu. Suhu dijuluki Tokciu Sinmo. hebat kepandaiannya, meski ia telah kena diracuni, begitu sadar ia sempat menyerang. Sayang karena telah terkena racun, pukulannya tidak sehebat biasanya, jikalau tidak, tentulah dia terhajar mati ketika juga.
"Selama semua itu terjadi, aku masih dalam pingsan. Sebenarnya dia hendak bawa aku lari, tetapi karena dihajar suhu, dia mengubah pikirannya. Dia takut suhu tidak mati, dia tidak berani berdiam lebih lama pula di wilayah Biauwkiang. Malam itu juga dia kabur. Bang Thong pun kabur dengan membawa pergi hosiuouw milik suhu. Ketika kemudian aku mendusin dan aku pergi kepada suhu untuk mengadukan pengalamanku, suhu lagi empas-empis napasnya. Dia meninggal pesan beberapa kata-kata, diapun menyerahkan kitab Pektok Cinkeng padaku. Pesannya yang terakhir ialah supaya aku menuntut balas untuknya. Habis memesan, dia menutup matanya untuk selama-lamanya Aku bersusah hati, sampai aku ingin tak hidup lebih lama lagi. Tapi aku ingat pesan suhu, maka tak dapat aku tak hidup lebih lama. Yang aku tidak menyangka kemudian ternyata aku berbadan dua, hingga aku mesti menanti sepuluh bulan untuk melahirkan. Dengan adanya kau, aku lebih-lebih tidak harus mati."
"Mama. kau sungguh-sungguh bersengsara,"
Kata Siu Lan sedih.
"Pantas kau tidak suka membuka rahasia kepadaku. Biarlah ayah apa she dan namanya, tetapi aku ingin memakai she Im dari mama."
"Penderitaanku masih belum habis,"
Berkata ibu itu lebih jauh.
"Baiklah, hari ini aku tuturkan segala apa padamu."
Siu Lan memasang telinga.
"Dengan lahirnya kau, anak, aku bagaikan mempunyai harapan,"
Berkata Cit Im Kauwcu, mulai lagi dengan penuturannya.
"Kapan aku melihat sepasang matamu yang celi. hatiku jadi terbuka. Aku membenci luar biasa terhadap ayahmu tetapi aku luar biasa menyintai kau. Pernah karena kau, aku kata di dalam hatiku . 'Biarlah untuk kau, anak Lan, aku memberi ampun kepadanya' Telah aku bi lang barusan, pesan terakhir dari suhu ialah agar aku membalaskan sakit hatinya itu. Aku tidak menyangka sama sekali, selagi aku berniat mengasi ampun kepadanya, dia sebaliknya! Tepat di hari ulangmu satu tahun, ada dua orang datang padaku..."
"Adakah dia, dia yang datang?"
Tanya Siu Lan, suaranya bergemetar. Ia mau menyebut "ayah"
Akan tetapi kata-kata itu tidak mau keluar dari mulutnya, jadinya ia menyebut "dia."
"Yang bermula datang bukannya dia!"
Menyahut sang ibu.
Ia pun menyebut 'dia.' "Ialah Ban Kee Su, orang yang aku pikirkan siang dan malam!
Bagaimana ingin aku menjadi isterinya.
Tapi sekarang, mengharap pun aku tidak berani.
Biarnya aku tidak takuti larangannya Ci Hee Tojin.
karena kehormatanku telah dinodai, tidak dapat aku menjadi isterinya.
Maka itu untuk memutuskan cintanya, supaya ia pun jangan jadi kurbannya Ci Hee Tojin, aku terpaksa mendustai ia bahwa aku sudah menikah dan telah mempunyai anak.
Aku minta dia mencari lain isteri, supaya diajangan pikirkan pula padaku.
Dia tidak mau percaya aku, sampai dia melihat kau mirip dengan aku.
Setelah mempercayainya, dia berdiri menjublak.
Sampai sekian lama, baru dia dapat membuka mulutnya.
Dia kata.
'Kau sudah bersuami dan mempunyai anak, kau pun hidup beruntung, aku girang sekali.
Tapi melihat roman kau, kau bukannya seperti orang yang hidup berbahagia!
Bukankah kau menyembunyikan kesukaran di dalam hatimu dan kau tidak suka menuturkan itu padaku?' Aku menahan turunnya air mataku, aku mengertak gigi ketika aku menyangkal.
Dia kata pula.
'Karena kau berbahagia, baiklah, aku tidak mau mengganggu padamu.
Tapi, hendak aku menjelaskan, terhadap kau, aku tetap seperti dulu, jikalau kau membutuhkan bantuanku, kau boleh pergi ke Ngobie San mencari aku.' Nyatalah dia, anak dan ayah, sesudah diusir Ci Hee Tojin, telah pindah ke gunung Ngobie San di mana ia menumpang pada paman gurunya.
Dia telah minta bantuan saudara seperguruannya mencari tahu tentang aku.
maka itu diamengetahui aku telah meninggalkan Ci Hee dan menukar guru kepada Ki Hoan.
Ketika dia mau berpisah, dia menitipkan sebatang hio cendana kepadaku, dia pesan.
'Jikalau kau tidak suka datang ke rumahku, bolehlah di tempat yang berdekatan denganku kau menyulut hio ini, aku akan mendapat tahu dan nanti datang padamu.' Kayu cendana ialah kayu wangi keluaran Ouwbong San.
ketika kita masih kecil dan suka memain, ia biasa membakar itu untuk memanggil aku.
Dia mengasihkan hio itu padaku, sebegitu lama aku simpan saja, belum pernah aku pakai sampai hari ini.
Habis dia memesan, baru dia mau pergi, lantas datang orang yang lain.
Dialah orang...
orangyangaku paling tidak sudi menemuinya.
Dialah kakak seperguruanku itu, atau ayah kau.
Cio Keng Ham!
Dia gusar melihat aku berada bersama Ban Kee Su, dengan kasar dia kata padaku.
'Kau menganggap aku tidak berani pulang maka kau berani diam-diam mencari laki-laki lain?' Hatiku panas sekali, tetapi aku tidak mau mengadu mulut dengannya, untuk itu pun sudah tidak ada kesempatannya.
Aku melihat matanya yang bersorot bengis ketika dia memandang Ban Kee Su, aku kuatir dia menurunkan tangan jahat, maka aku pikir baiklah aku mendahului.
Demikian aku hajar dia roboh.
Dalam halnya racun, dia lebih pandai daripada aku, tetapi mengenai ilmu silat, aku lebih menang.
Dia tidak berani menggunakan racun terhadap aku.
maka itu dia merasakan tanganku.
Kau baru berumur satu tahun, kau belum dapat bicara, melihat aku berkelahi, kau menangis.
Sebenarnya aku ingin hajar mampus padanya tetapi melihat kau menangis, hatiku menjadi lemah.
Selagi begitu, Ban Kee Su tidak berani berdiam lama-lama, maka dia kata.
'Lantaran aku, kamu suami isteri jadi berselisih, aku menyesal sekali, aku sangat menyesal.' Juga kepada Keng Ham ia memberi keterangan bahwa ia datang cuma sebagai sahabat, lain tidak, dan ia minta Keng Ham jangan curiga Keng Ham tidak mau percaya, sambil rebah di lantai, dia mencaci Kee Su.
Aku panas sekali, ingin aku membeber rahasia akan tetapi selagi dia mencaci, Kee Su sudah lari pergi.
Ah, kalau aku pikir kelemahanku itu waktu, sampai sekarang aku masih menyesal bukan main.
Tidak dapat aku menguber dia, untuk memberi penjelasan.
Kedudukanku itu waktu sangat sulit.
Aku tidak dapat menikah Kee Su, aku juga takut Ci Hee mencelakainya.
Tak dapat aku memberi penjelasan kepadanya.
Karena itu, aku jadi bersengsara sendiri seumur hidupku ini."
"Jikalau aku,"
Berkata Siu Lan selagi ibunyahening sejenak.
"jikalau ada seorang demikian menyintai aku, aku, akan tidak perdulikan apa juga, pasti aku turut padanya!"
Selagi mengucap begitu, air matanya si nona mengetes jatuh. Entah dia berkasihan terhadap ibunya, setahu dia menyesali nasibnya sendiri. Cit Im Kauwcu menolong menyusuti air mata gadisnya itu.
"Aku tahu kesusahan hati kau. tetapi kesusahan hatiku lebih besar pula,"
Berkata si ibu.
"Aku terpaksa menutur semua ini kepadamu supaya kau mengerti jelas sifatnya ayahmu itu. Seberlalunya Ban Kee Su, dia berbangkit, untuk membalut lukanya. Hebat hajaranku itu, sebelah tangannya salah laku. Dengan mata mendelik dia mengawasi aku. Selang sekian lama, dengan nyaring dia tanya aku. 'Kau sudah mengambil putusan atau belum? Kau mau turut aku atau tidak?' Dengan sama nyaringnya aku menjawab. 'Biarnya mati, aku tidak sudi turut kau!' Dengan bengis dia kata. 'Suhu sudah mati, sekarang ini di kolong langit tidak ada orang yang dapat menguasai diriku! Jikalau aku mau membikin kau mampus, itulah gampang sekali, seperti aku membaliki tangan saja! Aku justeru tidak ingin membikin kau mati! Tidak dapat tidak, kau mesti turut aku!' Aku melihat romannya, terang dia mau menggunakan racun atas diriku, maka aku kata. 'Kecuali kau meracuni aku, tidak nanti aku turut padamu!' Dia rupanya menginsafi, melawan keras padaku dia tak dapat, mungkin aku membunuh dia, maka itu dengan romannya yang bengis, tetap dia menatap aku, sambil bersenyum ewah, dia kata. 'Baiklah, kau tidak suka turut aku, suka aku membiarkan kau! Mengingat perhubungan suami isteri, aku tidak mau membunuhmu, tetapi jikalau kau memikirkan itu bocah muka klimis, itulah tak dapat!' Mendadak dia mengayun tangannya kepadaku, lantas aku ketutupan asap beracun..."
Siu Lan menjerit bahna kaget.
Selama mendengari penuturan ibunya itu, ia sudah tahu ayahnya seorang busuk, hanya tidaklah ia pernah menduga, kebusukan itu ada demikian hebat, sampai dia tak segan menurunkan tangan jahat terhadap orang yang dicintainya.
"Syukur aku telah menduga bahwa dia bakal menurunkan tangan jahat itu,"
Berkata Cit Im Kauwcu, meneruskan ceritanya.
"Aku telah lantas menutup mataku dan menahan juga napasku. Aku lantas merasakan mukaku panas sekali, seperti dibakar dengan besi panas, sakitnya bukan buatan. Di dalam keadaan layap-layap itu, aku dapat mendengar tertawa nyaring yang nadanya menyeramkan, disusul sama kata-kata keras. 'Sekarang aku telah membikin kau menjadi jelek tidak keruan, maka hendak aku melihat, si muka putih itu masih menyukai kau atau tidak!' Selama satu hari satu malam aku tak sadarkan diri, ketika akhirnya aku mendusin, beginilah roman mukaku! Dia telah menggunakan racun yang merusak muka, meski dia tidak mengambil jiwaku, dia toh sudah merusak kecantikanku."
Siu Lan memeluki ibunya, ia menangis.
"Oh, ayah kejam!"
Katanya sengit.
"Ibu, kau sungguh bersengsara!"
Ia pun mengeluh.
"Sesudah terjadi peristiwa itu, baru hatiku tenang,"
Cit Im Kauwcu berkata pula.
"Cio Keng Ham tidak datang pula mencari aku. Adalah Ban Kee Su, yang mengirim orang menanyakan hal ichwalku. Hanya, setiap kali aku mendengar kabaran dari ianya, lantas aku pergi menyingkir, sampai paling belakang aku mengajak kau menyingkir ke gunung hingga orang tidak dapat mencari pula padaku. Ban Kee Su tidak ketahui apa yang terjadi setelah kepergiannya itu. Mungkin ia tidak ingin mengganggu keakuran rumah tangga orang, rupanya ia lebih suka menderita seorang diri. tidak mau ia mencari pula aku. Tiga tahun kemudian aku mendengar kabar ia menikah dengan seorang nona gagah dari partai Cengshia Pay. Kemudian aku mendengar pula hanya dia mendapat seorang anak lelaki. Semenjak kami berpisah, belum pernah aku merasa senang, baru sesudah mendengar hal pernikahannya itu dan ia mendapat anak, dua kali aku tertawa. Senang hatiku yang ia telah membangun rumah tangga yang berbahagia. Di samping itu. kadang-kadang aku mendengar kabar kurang jelas mengenai Cio Keng Ham. Katanya dia semakin tersohor di dalam dunia Kangouw, sampai dia memperoleh julukan Pektok Sinkun. Pula Bang Thong. orang yang menganjurkan dia berbuat jahat, yang telah mencuri emas di Biauwkiang dan obat, telah menjadi hartawan besar, hingga dia menjadi pocu, tuan dari Bang keepo. Semenjak itu, dia mencuci tangan, dia tidak lagi melakukan pekerjaannya tanpa modal. Selama beberapa tahun yang paling belakang ini, kabarnya dia pun mendapat seorang sahabat baru ialah Tiatsi Siseng Couw Thian Yauw si Pelajar Kipas Besi."
Siu Lan bagaikan baru tersadar, dia memotong cerita ibunya itu dengan berkata.
"Oh, kiranya beberapa hari yang lalu mama meracuni Bang Thong untuk membalaskan sakit hati dulu hari itu! Dialah yang menganjurkan ayahku berbuat jahat, pantas dia menerima hukumannya itu!"
"Sebenarnya aku tidak bekerja untuk Bang Thong melulu,"
Berkata si ibu, menjelaskan.
"Pada setengah bulan yang lalu, ayahmu telah mengutus si orang she Couw itu untuk menemui aku secara diam-diam..."
"Mengapa aku tidak mendapat tahu?"
Siu Lan tanya.
"Orang she Couw itu berkepandaian sangat mahir dalam hal ilmu ringan tubuh,"
Cit Im Kauwcu memberi keterangan.
"Aku telah dibikin mendusin dengan mendadak pada tengah malam. Tahu-tahu dia sudah berdiri di depan pembaringanku. Dia menjelaskan tentang dirinya dan memberitahukan bahwa mereka sudah beruntung besar. DiakataCio Keng Ham ingat padaku dan dia tanya, aku suka atau tidak mengikut padanya. Dia tanya juga, jikalau aku tidak suka ikut dia, apa boleh anakku diserahkan padanya. Aku menjadi sangat gusar, hingga aku mau membunuh orang she Couw itu, tetapi dia lihai baru aku mau menurunkan tangan, dia sudah mendahulukan kabur. Sekianlah. Sekarang aku hendak menanya kau, kau lebih suka terus turut aku atau kau turut pada ayahmu itu?"
"Mania, pasti aku turut kau"
Menjawab Siu Lan tanpa berpikir lagi. Justeru ketika itu, tubuhnya si pemuda baju kuning berkutik. Cit Im Kauwcu mengawasi.
"Hawa hitam di alisnya sudah mulai berkurang, tidak lama lagi, dia bakal sadar."
Katanya.
"Hm, kau sungguh kejam, terhadap seorang bocah, yang bau susunya belum lenyap, kau berlaku begini ganas!"
Siu Lan dapat menduga, siapa yang dikatai ibunya itu, tetapi ia masih menanya.
"Mama, kau mengatai siapa?"
"Di dalam dunia ini. berapakah orang yang pandai menggunakan racun?"
Menyahut ibu itu.
"Dia ini telah dibikin celaka ayahmu, dia terkena asap beracun Keebeng Ngokouw Toanhun hio!"
Sembari berkata begitu, Cit Im Kauwcu mengeluarkan semacam obat bubuk lainnya, yang dikasih masuk ke dalam liang hidungnya anak muda itu, sambil berbuat begitu, ia menatap muka orang, ia menghela napas dan mengatakannya.
"Sungguh mirip, sungguh mirip... Dia mirip sekali dengan Kee Su!..."
Kiam Hong di tempatnya bersembunyi menghela napas. Katanya di dalam hati.
"Cit Im Kauwcu beroman begini jelek dan nampaknya dia sangat kejam, siapa sangka dia dapat menyintai orang demikian sangat!"
Kauwcu itu masih melanjuti keterangannya.
"Anak Lan. kau tentu mengerti sekarang kenapa ibumu mendustai kau, bukan? Sebabnya ialah ibumu tidak ingin kau mengetahui yang kau mempunyai ayah sangat busuk itu. Itu pula sebabnya mengapa aku membilangi kau bahwa ayahmu ialah Ban Kee Su, bahwa ayahmu itu telah menutup mata. Sebenarnya mereka dua-duanya belum mati! Kau tahu, sekarang ini ibumu membenci semua pria di kolong langit ini kecuali satu Ban Kee Su. Dan selama beberapa tahun ini aku berniat membangun satu perkumpulan agama, maksudku tidak lain ialah guna menolong semua anak perempuan yang menderita kesengsaraan!"
"Jikalau demikian, tidak heran Cit Im Kauwcu bersikap aneh,"
Pikir Kiam Hong pula.
"Kiranya dia mempunyai penderitaan yang begini hebat. Hanya sayang, walaupun maksudnya baik, semua itu mirip dengan chayal. Wanita yang bersengsaradi kolong langit ini besar jumlahnya, dia bersendirian, berapa banyak dia nanti berhasil menolonginya? Belum-belum sekarang dia sudah dinamakan orang kauwcu agama sesat!"
"Mama, kau memikirkan apa lagi?"
Tanya Siu Lan, yang melihat ibunya berdiam saja paras mukanya pun muram.
"Aku lagi memikirkan racun,"
Menjawab ibu itu.
Baca Juga: Imbauan Pendekar 8
Baca Juga: Kekaisaran Rajawali Emas Khu Lung