Eps 7 Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt
Baca online Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt
Cersil Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt.
"Kita lihat saja nanti, Sri Baginda mempercayai siapa! Di sini semua orang sebawahanmu, atau ada mereka yang mengharap-harap sesuatu dari kau, tentu sekali mereka akan bicara baik untukmu! Eh, Thio Sam, kau dengar apa katanya cihuku tadi?"
"Hamba tidak dengar apa-apa,"
Menjawab si hamba tua.
Semua hadirin ketahui Bhok Lin mendusta, tetapi karena sudah terang Tiat Keng Sim mati karena didesak Chian Tiang Cun dan Hu Kun Cip, karena mereka berpangkat rendah, mereka memikir untuk tidak berbantahan dengan pangeran muda itu, maka itu, karena Hu Kun Cip tidak menanya tegas pada mereka, mereka berdiam saja Hu Kun Cip berpikir sejenak, lantas dia tertawa.
"Mungkin siauwkongtia tidak mendengarnya terangterang,"
Katanya. Ia bersikap ramah.
"Apakah benar siauwkongtia hendak menghadap Sri Baginda untuk meminta keadilan? Di sini ada banyak orang, jikalau Sri Baginda ingin mengetahui duduknya hal yang benar, aku kuatir... aku kuatir... Tiat Tayjin tetap mati dan perkaranya tak dapat diputuskan, bahkan Kokkongya sendiri bakal turut ke rembet-rembet... Mengingat samasama rekan, benar-benar aku tidak berniat memperpanjang urusan, maka turut aku, baiklah peristiwa ini tidak diumumkan. Aku rasa baiklah dibilang sajaTiat Tayjin mati mendadak, lalu siauwkongtia yang melapurkannya kepada Sri Baginda. Tidakkah itu bagus?"
Biar bagaimana, Taylwee Congkoan ini jeri.
Keng Sim adalah orang yang baru berjasa dan dihargai raja, dia pun menantu dari Bhok Kokkong dari Inlam.
jikalau perkara ditarik panjang, dia bakal kalah pengaruh.
Bhok Kokkong berkuasa besar di Inlam, tenteranya pun kuat, mestinya raja menghargakan padanya Kalau katakatanya Keng Sim sampai dikuping raja, mesti perkara berubah menjadi besar dan hebat.
Keng Sim sudah mati, dia tidak bisa didengar kesaksiannya.
Atau umpama kata dia yang menang, peristiwa toh tidak memberi keuntungan apa-apa untuknya.
Di lain pihak lagi, ia takut untuk memberikan ketika kepada Yang Cong Hay, yang lagi berdaya untuk memperoleh kembali pangkatnya itu.
Jadi untuknya, jangan menanam permusuhan adalah paling baik.
Maka itu, suka ia mengalah dan merendahkan diri...
"Jadi kau memikir untuk menyudahi urusan ini secara diam-diam saja?"
Tanya Bhok Lin.
Ia bagaikan mengejek.
Ia seperti menolak penyelesaian.
Chian Tiang Cun segera datang sama tengah.
Ia pun membujuki agar si pangeran muda suka berpikir pula, untuk menyudahi perkara secara diam-diam itu.
Katanya, kalau ditarik panjang, perkara bakal merembet kesana kemari.
Bhok Lin tetap tidak puas, tetapi ia kata.
"Sudahlah, sudahlah, orang mati tidak dapat hidup pula! Sebenarnya aku tidak niat membuat permusuhan dengan kamu!"
"Itulah yang kita harapkan!"
Kata Tiang Cun.
"Pula, dengan mengatakan Tiat Tayjin mati mendadak, namanya telah dapat dilindungi dan mukanya menjadi terang sekali!"
"Sebenarnya aku masih memikir untuk membuat muka c iehu menjadi terlebih terang lagi!"
Kata Bhok Lin, yang mendelik terhadap tongnia dari Gilimkun itu.
"Sebenarnya aku memikir meminta kamu mengenakan pakaian berkabung untuk cihu-ku!"
Hu Kun Cip menyeringai.
"Untuk menyatakan berduka cita kami bersedia,"
Katanya terpaksa Sampai di situ, Bhok Lin mengangkat pula tubuh Keng Sim, yang tadi ia telah meletakkannya "Pergi antar siauwkongtia,"
Kata Chian Tiang Cun pada beberapa orangnya.
"Tidak usah!"
Kata Bhok Lin, yang terus berjalan, diiringi dua hambanya Berapa orang Gilimkun mau mengantar tetapi mereka dicegah oleh si pengikut tua, hingga Chian Tiang Cun tidak dapat memaksa pula ia cuma bilang.
"Kalau siauwkongtia tidak menghendaki kami menggerecok, baiklah, terserah kepada kau sendiri. Umpama kata siauwkongtia memerlukan bantuan, kau perintah saja kami."
Bhok Lin tidak membilang apa-apa lagi, dia ngeloyor pergi. Tiang Cun dan Kun Cip saling memandang.
"Kematiannya Keng Sim ini sungguh di luar dugaan."
Kata Tiang Cun selang sesaat.
"Sebenarniaaku hendak memakai Keng Sim sebagai umpan guna memancing dan menangkap Ie Sin Cu. Sekarang kita mesti memikirkan lain daya lagi..."
Semua orang lantas berpikir. Lim Kim Goan, yang menjadi kepala dari busu pelbagai propinsi, berbicara.
"Kita berjumlah begini besar, apakah kita tidak dapat melawan dia?"
Ia tanya.
"Menurut berita yang aku terima, dia datang berjumlah berempat."
Hu Kun Cip memberi keterangan.
"Ialah Ie Sin Cu, Thio Giok Houw, Liong Kiam Hong serta Cit Seng Cu si iman tua dari Butong Pay. Mereka semua memang lihai, jikalau kita menggunakan kekerasan, mungkin kita tidak kalah tetapi tidak dapat dicegah andaikata ada di antara mereka yang bisa lolos dan kabur..."
Tiang Cun bersangsi meski ia ketahui di pihaknya ada Kiauw Siauw Siauw dan Hu Kun Cip yang lihai itu. Tengah orang lagi berpikir itu. tiba-tiba datang lapuran.
"Losianseng Kiauw Pak Beng datangi!"
Bukan main girangnya Tiang Cun.
"Dengan dalangnya Kiauw Losianseng. empat orang itu sudah menjadi kura-kura di dalam korang!"
Serunya.
Lantas dia memburu keluar, untuk menyambut.
Kiauw Pak Beng muncul bersama-sama Le Kong Thian.
Dia tertawa terbahak-bahak .
Kiauw Siauw Siauw pun girang sekali, hingga ia menghampirkan sambil berkata.
"Oh, ayah! Kedua kaki ayah pun sudah sembuh!"
"Jikalau bukan karena kedua kakiku, siang-siang aku sudah datang di sini!"
Berkata ayah itu.
Kiauw Pak Beng terluka kena dikepung Hok Thian Touw suami isteri serta Thio Giok Houw dan Liong Kiam Hong, ia dapat meloloskan diri karena ia menggunakan Siulo Imsat Kang, lantas ia mengundurkan diri, mencari tempat untuk beristirahat dan berobat.
Ia mesti menggunakan tempo sembilan hari sembilan malam, baru ia sembuh, bahwa kaki kirinya sembuh sekalian.
Itu artinya, sakit lumpuhnya telah sembuh.
Hu Kun Cip mengetahui baik orang tua ini, ia berlaku sangat hormat.
"Malam ini kami handak menangkap orang jahat, kami memohon sangat bantuan Losianseng,"
Katanya.
"Orang jahat macam apa itu yang hendak dibekuk hingga mesti aku turut bersama?"
Tanya Pak Beng jumawa. Kun Cip memberitahukan siapa-siapa yang hendak ditawan.
"Melainkan itu beberapa bocah?"
Kata pula Pak Beng sambil menggeleng-geleng kepala.
"Sebenarnya kedatangan aku si orang tua ke Selatan ini ada dengan niat menempur Thio Tan Hong, atau sedikitnya Hok Thian Touw dan isterinya apabila suami isteri itu bergabung menjadi satu... Jikalau lain orang, hm! Mereka tidak ada di mataku, jikalau aku turun tangan maka aku membikin turun juga derajatku!"
"Empat bocah itu,"
Kata Tiang Cun, turut bicara.
"meski mereka anak-anak muda merekalah yang memegang peranan penting dalam perampasan pelbagai bingkisan untuk Sri Baginda, maka jikalau mereka itu dapat diringkus, pasti nama Losianseng akan tersohor diseluruh negeri serta Sri Baginda juga niscaya akan menghadiahkan sesuatu kepada Losianseng."
"Ya, ayah, cukup asal kau turut mengantar kami!"
Kata Siauw Siauw kepada ayahnya, membantu suara. Kiauw Pak Beng berpikir.
"Baiklah!"
Bilangnya kemudian.
"Malam ini aku akan menemani kamu, untuk membantu meramaikan, andaikata kamu tidak berhasil, tidak apalah aku turut turun tangan juga. taklah terlambat..."
Pak Beng berkata demikian sebagai pelabi saja, maksudnya yang benar ialah ia datang untuk membantu anaknya mendapatkan nama.
Ia telah mendapat tahu Hok Thian Touw sudah pulang ke Thiansan.
maka ia tidak berkuatir lagi.
Umpama kata Thian Touw ada bersama, dengan penyakitnya sudah sembuh, ia tidak takut.
Ia telah memikir mengandalkan anaknya dan Le Kong Thian guna membekuk Sin Cu beramai yang telah pergi ke kota raja, ia cuma hendak membantu secara diam-diam.
Bukan main girangnya Kun Cip mendengar Pak Beng suka membantu, ia lantas menjamu jago tua itu.
Pula di situ ia lantas mengatur rencana penyerbuan, guna membekuk Ie Sin Cu semua.
Karena ia kuatir nanti kurang tenaga, ia menambah bantuan, di antaranya delapan wisu terpandai dari keraton.
Habis berjamu, orang masih menanti, baru pada jam dua, mereka mulai berangkat.
Tatkala mereka lewat di depan gedung Keng Sim, di sana terdengar suara pendeta sedang bersembahyang, suatu tanda orang tengah mengurus jenazah orang she Tiat itu.
Dengan tertawa dingin Chian Tiang Cun berkata.
"Bocah itu takut bersalah, dia membunuh diri! Dengan tidak adanya dia, jasa tidak akan terbagi kepada lebih banyak orang, inilah ada baiknya untuk kita!..."
Kiauw Siauw Siauw sebaliknya ingat kepada kedua pengikutnya Bhok Lin, yang ia curigai, maka ia memberitahukannya kepada ayahnya.
Ia bicara bisikbisik.
Pak Beng terkejut mendengar ada orang dapat mengalahkan anaknya itu yang sudah mengerti Siulo Imsat Kang.
maka ia kata di dalam hatinya.
"Sebentar, sesudah pulang, aku cari orang itu, untuk mencoba kepadanya!"
Rombongan, yang berjumlah besar, dipecah empat.
Tujuan mereka langsung ke Sesan, Gunung Barat.
Selama di tengah jalan, mereka tidak bertemu sama orang, atau orang-orang yang mencurigakan.
Kira jam tiga, mereka tiba di kaki gunung.
"Kecewa Ie Sin Cu dan Thio Giok Houw telah hidup banyak tahun dalam dunia Kangouw,"
Kata Hu Kun Cip tertawa "Lihat, bagaimana teledor mereka menjaga diri!"
"Tetapi,"
Berkata Chian Tiang Cun.
"mana mereka ketahui tindakan kita ini? Mimpi pun tidak mereka bahwa kita bakal datang mengepung mereka!"
Segera juga empat rombongan berkumpul semua, mereka terus mengurung kuil Hianbiauw Koan.
Untuk sekian lama, mereka tidak mendengar suara apa-apa dari dalam kuil itu.
Mau atau tidak, mereka menjadi heran.
"Coba kamu masuk dan melihat,"
Chian Tiang Cun lantas menitahkan dua wisu dari Taylwee, keraton.
Ia memilih dua orang yang lihai ilmu ringan tubuhnya.
Perlu diselidiki, Sin Cu beramai lagi bikin apa di dalam kuil.
Tongniadari Gilimkun itu tidak mau lancang menyerbu.
Ia tahu Sin Cu lihai bunga emasnya tak sudi ia nanti jatuh kurban-kurban dipihaknya.
Kedua wisu itu masuk ke dalam kuil dengan melompati tembok pekarangan.
Mereka seperti terjun ke dalam laut atau kejeblus ke dalam lumpur.
Lama mereka tidak kembali, tidak terdengar juga suaranya "Taruh kata mereka kena dibokong, mereka tentu bisa kabur atau berteriak..."
Pikir Tiang Cun, yang menjadi menduga-duga "Mereka pun lihai ilmu ringan tubuh mereka Mustahil mereka tidak dapat meloloskan diri?"
Sekian lama Tiang Cun masih menanti, lantas ia mengirim dua orang lain.
yang dipesan untuk berhatihati.
Segera juga ternyata, dua wisu yang belakangan ini juga tidak ada gerak-geriknya seperti dua yang pertama Semua orang menjadi heran, semua menjadi penasaran.
"Aku tidak takut pada bunga emas Ie Sin Cu, nanti aku yang masuk berdua Le Kong Thian,"
Kata Kiauw Siauw Siauw kemudian.
"Nanti aku usir mereka keluar, kamu menjagalah hati-hati, agar mereka tidak dapat lolos!"
Tiang Cun semua setuju Siauw Siauw yang masuk ke dalam kuil.
Pemuda itu lantas mengajak Le Kong Thian.
Ia menyiapkan kipasnya yang lihai, guna menjaga diri dari serangan bunga emas.
Kuil Hianbiauw Koan gelap dan sunyi.
Tidak terlihat apa-apa, tidak terdengar apa-apa juga.
Siauw Siauw dan Kong Thian masuk terus ke dalam.
Mereka lantas mencari atau memeriksa belasan kamar.
Mereka tidak memperoleh sesuatu.
Kuil itu kosong dari manusia "Mungkinkah mereka telah mendengar selintingan dan lantas kabur lebih dulu?"
Tanya Siauw Siauw kepada kawannya. Le Kong Thian tidak dapat membilang apa-apa "Di sana masih ada pendopo Lokun Tian, mari kita pergi melihat,"
Dia mengajaki. Siauw Siauw setuju. Maka bersama-sama mereka pergi ke pendopo yang disebutkan itu. Pintu pendopo dikunci.
"Pantasnya mereka sembunyi di dalam!"
Kata Kong Thian tertawa. Lantas ia memanggil, suaranya jumawa.
"Eh, Sin Cu! Kau mau keluar atau tidak?"
Tidak ada jawaban, hanya samar-samar terdengar suara tertawa mengejek.
"Mari kita masuk!"
Kong Thian berkata.
"Hati-hati untuk senjata rahasianya!"
Kata-kata yang belakangan ini nasihat untuk Siauw Siauw.
Lantas dengan bonekanya yang berkaki satu, ia menolak daun pintu.
Cuma dengan satu tolakan keras, daun pintu, yang berlapis besi, lantas terpentang.
Di dalam pendopo dipuja patung dari Thay Siang Li Lo Kun, yang diapit delapan belas patung malaikat guntur dan lainnya.
"Terang aku mendengar suara orang tertawa, kenapa sekarang tidak ada orangnya?"
Kata Siauw Siauw.
Kong Thian memasang matanya tajam, hingga ia melihat di kedua samping ada masing-masing patung yang luar biasa romannya.
Kedua patung itu kusut rambutnya dan hidungnya bengkung, dan kulit mereka, yang satu putih, yang lain hitam.
"Entah malaikat sesat apa ini?"
Pikir si manusia raksasa matanya memandang si malaikat muka hitam.
Tiba-tiba ia menjadi heran.
Ia melihat mata malaikat itu bergerak terbuka dan mukanya tersungging senyuman.
Ia heran tapi hanya sejenak, lantas ia sadar.
"Siapa main gila menyaru jadi malaikat di sini?"
Ia membentak seraya lantas menyerang.
Hebat tenaga Kong Thian, maka itu pukulannya ini ada pukulan berat seribu kati, kalau tubuh si malaikat kena terhajar, mesti tubuh itu hancur lebur.
Tapi "malaikat"
Itu tidak berdiam saja.
Setelah mata dan mukanya dapat bergerak, juga tubuhnya, lalu sembari tertawa aneh, dia mengangkat tangannya.
Sungguh aneh, dia dapat menahan turunnya boneka si manusia raksasa.
Justeru itu, Kiauw Siauw Siauw juga mendapatkan keanehan pada malaikat yang bermuka putih, ia hanya sangat licik, ia tidak mau bertindak sembrono seperti Le Kong Thian.
Tanpa membuka suara lagi.
ia menekan alat rahasia pada kipasnya, maka itu melesatlah dua batang panah beracunnya, menyamber ke dada si malaikat...
Jitu sekali serangan membokong ini, kedua anak panah mengenai dadanya si malaikat muka putih itu.
yang matanya bisa dibuka, yang mukanya dapat bersenyum.
Hanya aneh, walaupun serangan mengenai tepat, malaikat itu tidak terluka.
hanya kedua anak panah yang runtuh sendirinya, jatuh kelantai.
Tidak kepalang kagetnya anak Pak Beng ini.
Adalah di ketika itu, dengan berbareng kedua malaikat itu membuka mulutnya, untuk tertawa nyaring dan berkata keras.
"Ke sorga ada jalannya, kamu tidak mau pergi! Neraka tidak ada pintunya, kamu lancang memasukinya! Hai kamu dua setan cilik, kamu hebat!"
Dalam kagetnya Le Kong Thian sudah lantas lompat mundur.
Berbareng dengan itu terlihat sinar hijau berkeredep menyamber dari tangannya si malaikat hitam, menyerang si manusia raksasa Itulah tongkat Lektiok thung.
Kong Thian mengangkat tokkak tongjin.
untuk menangkis.
Kedua senjata beradu keras, nyaring suaranya.
Boneka itu berat dan kuat tetapi toh tongkat hijau itu meninggalkan bekas karena benturan itu.
bahkan Kong Thian kaget sebab telapakan tangannya bergemetar dan terasakan nyeri, hampir dia membikin senjatanya itu terlepas dari pegangannya Juga si malaikat muka putih berlompat maju untuk menyerang.
Kiauw Siauw Siauw tidak berlaku berani dan sembrono seperti Kong Thian, dia bahkan menunjuki kelicikannya.
Itulah disebabkan heran dan kagetnya.
Ia tidak menangkis, ia berkelit ke samping, dari situ, ia membalas menyerang.
Tiga kali beruntun ia menotok ke jalan darah wito, kwichong dan kikoat.
Karena ia lihai, lihai sekali totokannya itu.
gesit dan hebat.
Kalau totokan mengenai, celakalah lawannya.
Ia sengaja segera bertindak demikian karena ia tahu pasti dua "malaikat"
Itu mestinya lihai sekali.
Dengan mengasi dengar suara, ketiga totokan itu mengenai sasarannya saling susul, akan tetapi untuk herannya Kiauw Siauw Siauw, kurban totokannya itu tidak roboh, sebaliknya ia merasakan tolakan yang keras, hingga ia sempoyongan ke depan hampir ia roboh, syukur ia masih dapat mempertahankan diri, sedang telapakan tangannya terasakan kaku.
Si malaikat muka putih tertawa bergelak.
"Kiranya begini saja totokannya si siluman tua she Kiauw!"
Katanya mengejek.
Maka ternyatalah, dia sengaja mengasi dirinya tertotok cuma untuk menguji totokan orang yang istimewa.
Siauw Siauw kaget hingga hatinya menjadi ciut, ia lantas memutar tubuhnya, untuk pergi menyingkirkan diri.
Ketika itu ia mendengar suara tingting-longtong, dari beradunya tokkak tongjin Le Kong Thian dengan Lektiok thung si malaikat muka hitam, tujuh atau delapan kali beruntun.
Menyusul itu terdengar kedua malaikat itu berseru berbareng.
"Anak tolol! Kau telah tiba di sini, apakah kau masih memikir untuk kabur?"
Kata-kata itu disusul sama lompatan tubuh yang tinggi, melewati Kiauw Siauw Siauw berdua.
Sebab Kong Thian pun mau turut lari keluar memenuhi ajakan majikan mudanya Kedua tangannya masing-masing malaikat itu lantas menyamber!
Ketika itu Hu Kocn Cip semua, di luar kuil, telah mendapat dengar suaranya senjata beradu.
Chian Tiang Cun, yang terkejut berbareng girang, berkata.
"Mereka tengah bertempur! Mari kita masuk!"
Ia mengibaskan tangannya, sebagai titah maju.
Seorang pemimpin Gilimkun, yang bersenjatakan gembolan, mengibaskan juga senjatanya, maka semua orang lantas bergerak memasuki kuil itu.
Kiauw Pak Beng menyangka orang lagi menempur Sin Cu berempat, ia tidak menghiraukannya, ketika kemudian ia mendengar suara semakin riuh, baru ia heran bahkan kaget, maka sambil berseru, ia turut maju.
Dengan satu lompatan tinggi dan jauh, ia mendahului belasan busu.
Maka di lain saat, ia telah masuk ke dalam Hianbiauw Koan.
Hpe Kun Cip bersama delapan wisu terlihay tiba paling dulu di dalam pendopo Lokun Tian.
justeru mereka tiba, justeru mereka menyaksikan tubuhnya Le Kong Thian dilemparkan lawan, menyusul mana.
dua pembantunya juga kena dicekuk dan dilemparkan saling susul.
Mereka ini, dengan tidak mengenal takut, sudah lantas maju menyerang, hanya baru beberapa gebrak, mereka sudah tersamber dan kena dilemparkan itu.
Dalam heran dan kagetnya, Hu Kun Cip memasang mata kepada kedua malaikat itu.
"Hek Pek Moko!"
Akhirnya ia berteriak dengan kaget. Tidak ayal lagi, ia memutar tubuh, untuk mengangkat tubuhnya Le Kong Thian, buat dibawa pergi.
"Kau juga rebah!"
Berteriak Hek Moko sambil tertawa besar.
Bentakannya itu disusuli serangannya.
Hu Kun Cip menyekal pedangnya dengan sebelah tangan, ia menyambut serangan dengan satu tabasan.
Hek Moko berkelit, habis berkelit.
duajari tangannya menusuk ke kedua mata orang.
Pahlawan raja itu menjadi repot.
Tak dapat ia melakukan perlawanan, meski ilmu pedangnya lihai.
Terdesak secara demikian, ia melenggak.
Sia-sia belaka ia berkelit.
Hek Moko menyusul padanya, maka di lain saat; tubuhnya pun roboh terkapar tak berdaya...
Hek Pek Moko biasa berdagang dengan orang-orang kaum Rimba Hijau, meski begitu, terhadap kaum Jalan Hitam dan Jalan Putih yang tidak lurus, mereka biasa berlaku telengas, karena mereka lihai.
mereka tidak takut siapa juga.
Bahkan karena sikapnya itu, mereka ditakuti.
Sebenarnya sudah beberapa tahun mereka tidak pernah muncul, hingga ada yang menduga mereka sudah berhenti dagang, sudah mencuci tangan dan pulang ke negerinya untuk hidup sebagai hartawan-hartawan yang berbahagia, maka tidak disangka-sangka, sekarang mereka muncul di kota raja ini.
Dengan dirobohkannya Hu Kun Cip, semua wisu dan orang Gilimkun, juga kawanan busu, menjadi kaget dan jeri.
Sekarang mereka semua mengenali itu dua jago dari India.
Tidak ragu-ragu lagi, mereka memutar tubuh, untuk menyingkir dari kuil Hianbiauw Koan itu.
Chian Tiang Cun menyaksikan kejadian itu.
ia kaget dan heran.
Ia mencoba berteriakan.
mencegah orangorangnya mengangkat kaki, ia tidak berhasil.
Ia lantas lari ke depan, untuk menghalang-halangi.
Ia mengharap tibanya Kiauw Pak Beng, guna membikin tetap hati mereka itu.
Hek Pek Moko tertawa berkakak sesudah ia merobohkan Hu Kun Cip.
Selagi ia tertawa itu, mendadak ia merasakan serangan yang keras, yang datangnya dari arah belakang.
Ia terkejut.
Ia menduga kepada musuh yang lihai.
Cepat sekali ia memutar tubuh ke belakang, guna menangkis.
Maka ia lantas merasakan tangannya membentur sesuatu yang dingin seperti es.
Ia heran dan kaget, lantas ia berkelit dengan ilmu yoga, setelah mana, ia membalas menyerang!
Itulah serangan di luar dugaan, walaupun si penyerang secara membokong itu lihai, dia toh kena terhajar hingga tubuhnya terangkat tinggi dan mental.
Tapi karena menghadapi lawan tangguh, Hek Moko juga terhuyung mundur tiga tindak!
Nyatalah penyerang gelap itu Kiauw Pak Beng adanya.
Pak Beng telah mencapai Siulo lmsat Kang tingkat ke tujuh, dia beda jauh dari puteranya maka itu, karena hajarannya itu, Hek Moko merasakan seluruh tubuhnya menjadi dingin.
Maka syukur untuknya, ia masih dapat bertahan, ia juga bisa membikin lawannya terpental.
Karena ini keduanya insaf bahwa mereka lagi menghadapi lawan tangguh.
Hek Moko lantas mengenali lawannya, ia berkata.
"Siluman tua she Kiauw, mari, mari! Kita belum kalah atau menang, mari kita main-main pula sampai tiga ratus jurus!"
Kiauw Pak Beng tidak menjawab tantangan itu, sebab begitu ia menginjak tanah habis ia terpental itu.
terus berjumpalitan, ia terus menerjang ke arah Pek Moko.
Sebab ketika itu, Pek Moko lagi mengejar Siauw Siauw yang licik dan lincah, yang tidak kena disamber untuk dilemparkan.
Kiauw Siauw Siauw mengerti tipu silat "Ieheng hoanwi."
Atau "Memindahkan wujud, mengubah kedudukan,"
Maka melebihi Le Kong Thian, bisa ia berkelit dari setiap samberannya si malaikat muka putih.
Tiga kali ia lolos dari serangan, tempo ia didesak terus, ia kewalahan juga.
Begitulah, ketika ia lari ke undakan tanggalorak, iagagal, kali ini ia kena tersampok hingga tubuhnya terhuyung, bajunya pun robek.
Ketika itu terdengarlah seruannya Hek Moko menyebut "siluman tua she Kiauw,"
Mendengar mana.
gerakan Pek Moko menjadi lambat, hingga Siauw Siauw tidak terhajar lebih jauh.
sebaliknya Pak Beng telah tiba, maka mereka berdua lantas bergebrak.
Ketika tangan mereka bentrok, ia mundur tiga tindak, sedang Kiauw Pak Beng mundur dua tindak.
Hanya di samping itu, ia merasakan serangan hawa dingin, hingga ia mesti mengempos semangat, untuk melawan, tetapi tidak urung, untuk sejenak ia menggigil juga.
"Bagus, Hek Pek Moko!"
Kemudian Kiauw Pak Beng mengasi dengar suaranya.
"Nyata kamu berani menghina anakku! Mari, mari! Mari hari ini kita mengambil keputusan siapa jantan siapa betina!"
Tanpa menjawab, Hek Moko menggeraki tongkat hijaunya, ia bergerak dalam jurus "Naga berlompat keluar dari dasar laut."
Tongkatnya itu bersinar hijau, sasarannya ialah punggung lawan.
Kiauw Pak Beng telah mencoba tenaga orang, maka itu ia bisa menduga, kali ini serangan mestinya berbahaya.
Orang pun tidak ada di sebawahannya, ia menjadi tidak boleh memandang enteng.
Maka segera ia berkelit dengan gerakannya "Naga melingkar mengangkat kaki."
Karena orang bersenjata ia pun tidak mau bertangan kosong terus, dari itu sambil bertindak, tangannya menyamber sebuah hiolouw atau tempat abu besi, sembari memutar diri, ia memutar itu.
guna membuat perlawanan.
Di saat itu.
Pek Moko sudah dapat memperbaiki diri.
Ia tidak mau berdiam saja, ia maju untuk membantui kakaknya.
Dengan Pektiok thung, tongkat kemala putih, ia menyerang.
Ia kena menghajar hiolouw lawan, sedang tongkatnya Hek Moko mengenai juga.
Maka terdengarlah suara nyaring dua kali dari bentroknya ketiga senjata, suaranya hiolouw mengaung bagaikan genta gereja...
Pertempuran ini pun menyebabkan meja terbalik dan patung-patung malaikat pada jatuh ke lantai.
Semua busu kagum dan kaget melihat hebatnya pertempuran itu, mereka jadi jeri.
lantas mereka berebut mengundurkan diri, untuk menyingkir.
Kiauw Siauw Siauw berlari-lari keluar dengan bercampuran sama orang banyak, ketika tiba di lorak tangga, ia memikir untuk melihat Le Kong Thian guna menyaksikan bagaimana lukanya kawan itu.
Justeru itu kupingnya lantas mendengar satu suara nyaring dan panjang, disusul sama senandung terang dan bersih.
"Pedang mustikaku tak puas mengikuti aku sehingga tua, di dalam sarungnya dia masih bergeram bagaikan naga!"
Bukan main kagetnya ia, karena ia segera ingat kepada seorang orang.
Lupa kepada Le Kong Thian, ia kabur terus.
Baru ia tiba di luar kuil maka ia menampak keadaan yang kacau di antara kawanan busu dari pelbagai propinsi serta pemimpin barisan Gilimkun.
Mereka itu lari serabutan.
mulut mereka memperdengarkan seruan-seruan kaget.
Seperti juga mereka telah menghadapi musuh, atau musuh-musuh, yang terlebih tangguh daripada Hek Pek Moko.
la lantas mengangkat kepalanya, untuk memandang ke depan.
Atau tiba-tiba ia terkejut pula.
Entah kapan datangnya, mendadak di hadapannya berdiri seorang berusia empat puluh lebih, pakaiannya putih, gerak-geriknya halus sebagai seorang sastrawan.
Orang itu tidak beroman bengis, sebaliknya, dia bersenyum berseri-seri.
Ia kaget karena ia lihai akan tetapi ia tidak mendapat tahu munculnya orang itu.
"Kiauw Siauw Siauw!"
Berkata orang itu sambil bersenyum.
"tadi siang kita telah bertemu satu dengan lain, apakah kau masih ingat?"
Lagi-lagi puteranya Kiauw Pak Beng kaget.
Ia ingat lagu suara orang ini.
Dialah si orang tua yang tadi dibawa sebagai pengikut oleh Bhok Lin, cuma sekarang roman orang, dandanannya juga, berbeda.
Sekarang dia tak mirip-miripnya dengan si hamba pengiring tua tadi siang.
"Kau... kau siapakah?"
Ia menanya, suaranya sedikit parau. Sastrawan pakaian putih itu tertawa.
"Aku mendengar kabar orang tuamu datang dari tempat yang jauh,"
Dia menyahut manis.
"katanya dia sengaja hendak mencari aku, maka itu, sekarang kau bertemu sama aku. Kenapa kau tidak mengenali aku?"
Lagi-lagi Siauw Siauw kaget. sekarang bukan main kagetnya itu.
"Kau... kaukah Thio Tan Hong?"
Ia menanya dengan suara bergemetar. Sastrawan itu tertawa.
"Tidak salah, akulah Thio Tan Hong!"
Jawabnya "Sekarang kau berdiamlah bersama aku di sini!"
Kiauw Siauw Siauw tidak ingat apa-apa lagi kecuali untuk membela dirinya, untuk mendapatkan kebebasannya.
Tanpa membilang apa juga ia menekan pesawat rahasia pada kipasnya yang lihai, maka menyusuli itu belasan batang tulang kipasnya lantas berubah menjadi seperti anak-anak panah beracun, yang melesat menyamber ke arah sastrawan itu.
Ia tahu yang ia tidak bakal dapat melukakan Thio Tan Hong tetapi ia hendak menggunakan siasat ini untuk ia bisa mengangkat kaki.
Thio Tan Hong seperti telah dapat menerka hati orang, ketika serangan datang, ia mengedut dengan tangan bajunya membikin semua anak panah itu mental tinggi ke udara.
Tidak ada sebatang juga yang berbal i k menyamber kepada pemiliknya oleh karena tidak ada niatnya untuk membikin orang terluka.
Dengan dikibaskan ke udara, dapatlah dicegah anak panah yang berbahaya itu melukai siapajuga.
Kiauw Siauw Siauw menjalankan siasatnya itu seraya ia lantas berlompat, untuk menyingkir dari Tan Hong, atau belum tubuhnya melesat, tahu-tahu ia merasakan iganya kaku.
Ia tidak melihat bagaimana Thio Tan Hong bergerak, ia cuma tahu ia telah lantas tertotok hingga tubuhnya roboh tanpa berdaya.
Habis merobohkan pemuda itu.
dengan tidak perdulikan orang-orang yang kabur itu.
Tan Hong bertindak ke arah kuil untuk memasukinya, sambil tertawa ia lantas berkata.
"Saudara-saudara Hek Pek. silahkan kamu keluar untuk melakukan penangkapan! Aku mengharap kamu jangan membikin lolos barang seorang jua! Tentang si siluman tua. kau serahkanlah dia padaku!"
Ketika itu Hek Pek Moko justeru lagi mengepung Kiauw Pek Beng.
Jago tua itu belum kalah tetapi dia sudah sangat terdesak, umpama kata tidak dapat dia membuang napas.
Dia mendengar suara orang.
Ketika Hek Pek Moko menghentikan pengepungannya dengan lantas menarik pulang tongkat mereka tahu-tahu dia mendapat Thio Tan Hong sudah berada dihadapannya.
Dua saudara Moko itu sudah lantas meninggalkan pendopo L ookun Tian itu.
Kiauw Pak Beng mencoba mengendalikan hatinya yang berdebaran keras, ia pun mencoba menyalurkan pernapasannya maka dengan begitu, dia mendapat kesempatan untuk memandangi orang di depannya itu.
"Adakah kau Thio Tan Hong?"
Dia menanya.
Dia mendapat ketika untuk menegur terlebih dahulu karena orang berdiri mengawasi padanya.
Dia agaknya heran.
Dia telah mendengar nama kesohor dari Tan Hong, tidak tahunya orang masih berumur muda...
Tan Hong mengangguk, terus tertawa "Aku mendengar kabar kau mencari aku untuk menguji padaku."
Ia menyahut.
"Aku mau menghaturkan terima kasih padamu yang telah menghargai sekali padaku. Mana dapat aku membuatnya kau hilang pengharapan? Maka itu sekarang sengaja aku datang menemui kau, supaya kau tak usahlah berjalan jauh pergi ke gunung Chongsan!"
Ia berhenti sejenak, ia melirik kepada jago tua itu. Lagi-lagi ia tertawa dan berkata, menambahkan.
"Aku tidak mau menang sendiri! Barusan kau telah bertempur sama Hek Pek Moko, dari itu suka aku memberikan, ketika padamu untuk beristirahat dulu! Ah, benar, baru aku ingat, di sini aku mempunyai sebutir pel Siauwhoan Tan. Inilah obat yang dulu hari aku diberikan oleh ketua dari Siauwlim Si. Benar obat ini bukannya obat dewa yang mempunyai kemustajaban membuat hidup lagi orang yang telah meninggal dunia, tetapi ini sedikitnya ada faedahnya untuk menambah kesegaran, untuk memperkuat semangat. Tegasnya, obat ini besar faedahnya. Ini, kau boleh makan, sebentar kita bisa lekasan sedikit mengadu tenaga!"
Kiauw Pak Beng mempercayai Thio Tan Hong.
Sebagai orang gagah di jamannya itu.
tidak nanti Tan Hong mau berlaku licik dengan main racun.
Ia sendiri seorang yang berkepala besar, tetapi ia dapat menggunakan otaknya.
Coba lain orang, pastilah orang tak kesudian menerima obat kuat dari Tan Hong itu.
Coba Tan Hong itu lain orang, pasti Pak Beng tidak sudi menerima budinya.
Tapi ia memikir lain.
Ia menginsyafi inilah saat mati dan hidupnya.
Jadi ia memerlukan tenaga yang sempurna.
Bukankah tadi menghadapi Hek Pek Moko ia sudah mengeluarkan tenaga besar luar biasa, hingga ia merasa letih?
Maka itu tanpa sungkan-sungkan, ia menyambuti pel Siauw Hoan Tan dari Tan Hong, lantas ia menelannya.
Tan Hong pun senang melihat kelakuan orang itu.
Diam-diam ia memuji Pak Beng sebagai seorang gagah.
Pantas dia disebut orang si kepala iblis!
Ia memang ingin bertempur selagi orang segar-segar, agar ia bisa menguji kepandaian orang itu, agar kalau orang kalah, orang kalah dengan puas dan ichlas.
Ketika Kiauw Pak Beng sudah menelan pel itu, dengan lantas ia merasakan hawa panas di dalam perutnya hawa yang tersalurkan ke segala penjuru dari sekujur tubuhnya.
Ia turut menyalurkan pernapasannya, maka juga di dalam tempo yang pendek sekali, ia merasa kesegarannya telah pulih kembali, melebihkan daripada biasanya.
Bahkan kaki kirinya, yang jalan darahnya belum bekerja, sekarang turut bekerja pula, hingga ia tidak merasakan sesuatu rintangan lagi.
"Marilah!"
Katanya selang sesaat seraya ia menepuk thiehiolouw, ialah tempat abu besi, yang menjadi senjatanya yang luar biasa. Ia menantang dengan suara tinggi.
"Apakah senjatamu itu tepat?"
Tan Hong tanya.
"Kaulah seorang guru besar dari satu jaman,"
Menyahut Kiauw Pak Beng.
"dan aku juga bukannya orang tra mempunyai nama, maka itu di dalam hal menggunakan senjata, tidak usah kita terlalu rewel!"
"Baiklah!"
Tan Hong bilang.
"Karena kau tetamu dari jauh, silahkan kau yang mulai!"
Kiauw Pak Beng tidak mau berlaku sungkan, tak sudi ia mengalah.
"Maafkan kelancanganku!"
Katanya seraya ia mengangkat senjatanya yang luar biasa itu, terus ia menghajar. Hiolouw itu turun dari atas. mengarah ke batok kepala. Tan Hong tertawa.
"Hebat!"
Katanya.
"Sudah hampir sepuluh tahun tidak pernah aku menggunakan pedang, kali ini aku berlaku dengan melanggar kebiasaan itu, terhadapmu hendak aku menggunakannya!"
Pedang Cengbeng kiam orang she Thio ini telah dihadiahkan kepada Sin Cu, muridnya maka sekarang ia memakai pedang Cengkong kiam yang ia buatnya sendiri.
Selekasnya senjata lawan tiba, ia lantas menangkis ke atas.
"Traang!"
Demikian suara beradunya kedua senjata. Dengan satu gerakan "Mengangkat obor menerangi langit,"
Hiolouwnya Pak Beng telah ditangkis, walaupun senjata istimewa itu berat lima puluh kati.
toh telah kena dibikin mental ke samping dan meninggalkan tanda bekas dari pedang yang kecil dan panjangnya cuma tiga kaki, pula itu bukannya pedang mustika Pak Beng kaget, di dalam hatinya ia kata.
"Thio Tan Hong kesohor bukan nama kosong belaka di dalam ilmu tenaga dalam, dia berada di atasan Hek Pek Moko!"
Tapi juga Tan Hong, dia tidak mau memandang enteng kepada lawannya ini.
Benar dia bisa menangkis, akan tetapi sedikit hawa dingin telah menyerang kepadanya Hawa dari Siulo Imsat Kang dari Pak Beng.
yang sudah mencapai tingkat ke tujuh, tersalurkan ujung pedang yang bentrok dengan hiolouw, tiba di telapakan tangan, mengalir ke nadi, terus ke seluruh tubuh terutama bagian dalam.
Tan Hong menjadi kagum, di dalam hatinya, ia kata "Ini siluman tua benar-benar lihai, dengan hawa dinginnya itu dia dapat menyerang dengan perantaraan senjata.
Di antara kaum sesat, dialah yang terlihail"
Dengan lantas Tan Hong mengerahkan semangatnya, untuk membuyarkan hawa dingin itu.
Sebenarnya ia sudah menutup diri, tidak urung hawa itu dapat menyerang kepadanya.
Maka untuk bertempur terus, ia tetap menutup dirinya.
Merekalah jago lawan jago, pertempuran mereka lantas menjadi seru sekali.
Setiap pukulan mereka ada pukulan dari kematian, dari itu bisa dimengerti jikalau mereka masing-masing bersiap sedia menjaga diri.
Baru lewat kira tiga puluh jurus, Tan Hong sudah merasakan seluruh pedangnya menjadi dingin bagaikan sepotong es, tetapi ia sudah bersedia, tubuhnya sendiri terhindar dari ancaman bahaya dingin itu.
"Eh. siluman tuasheKiauw!"Tan Hong menegur sambil tertawa.
"apakah kau tidak takut nanti telah menggunakan tenaga berlebihan? Umpama kata Siulo Imsat Kang tidak dapat melukai aku, kau toh akhirnya bakal mendapat sakit berat!"
Kiauw Pak Beng kaget bukan main.
Siulo Imsat Kang itu ia pelajari dari sebuah kitab warisannya seorang guru besar dari kaum Lhama Putih, ia ketahui baik lihainya itu, akan tetapi sekarang Tan Hong membuka rahasianya.
Sebenarnya kebanyakan guru silat, jangan kata mengetahui caranya melawan ilmunya itu.
mendapat tahu namanya saja jarang, tetapi Tan Hong ini, selain dapat melawan, juga telah mendapat tahu apa yang bakal jadi akibatnya Ia heran dan kagum.
Ia pun mesti mengakui kebenaran perkataannya Tan Hong ini.
Memang, ia sekarang telah berkelahi sungguh-sungguh dan itu berarti ia menggunakan tenaga berlebihan, kesudahannya itu, apabila ia gagal, akan membuatnya mendapat sakit.
Tapi ia bagaikan seorang yang menunggang hariman, turun salah, bercokol terus di punggung harimau, juga salah.
Tidak ada lain jalan, ia mesti berkelahi terus, sedikitnya supaya sama-sama binasa..
Hebat lweekang, atau tenaga dalam, dari Tan Hong.
Dia telah mencapai puncak yang dinamakan.
"bertemu musuh kuat menjadi kuat sendirinya, karena serangan dapat membalas menyerang, dan menarik pulang atau menyerang dapat menurut sesukanya hati."
Kiauw Pak Beng tetap menggunakan Siulo Imsat Kang.
setingkat demi setingkat.
Ia mencoba mendesak.
Maka itu, sering sekali senjata mereka bentrok satu pada lain, hingga saban-saban terdengar suara yang nyaring dan berisik, yang membikin telinga ketulian.
Tan Hong telah menyerang hebat, ia senantiasa mencari lowongan, tetapi tidak bisa ia lantas mengalahkan lawannya itu.
Dengan hiolouwnya.
Pak Beng dapat membela diri dengan baik.
dia pun bisa membikin pedang saban-saban terpental.
Karena seringnya senjata mereka mengadu kekuatan, hiolouw itu menjadi bertambah cacadnya, sampai puluhan bekasnya tikaman atau babatan.
Di dalam ruang Lokun Tian itu duajago mengadu kepandaiannya, di luar kuil itu pun berlaku pertempuran hebat yang dinamakan "Kawanan kambing melawan harimau."
Semua orang lihai dari istana, dari pasukan Gilimkun, beserta sekalian busu dari pelbagai propinsi, kaget sekali menampak munculnya Hek Pek Moko dan Thio Tan Hong saling susul, tanpa dapat dikendalikan pula oleh Chian Tiang Cun, mereka kabur serabutan, akan tetapi mereka menyingkir belum jauh, mereka sudah kena dicandak Hek Pek Moko.
"Sekalian sahabat, jangan kamu takut!"
Berkata Hek Moko sambil tertawa.
"Kamu telah datang kemari, maka aku minta sukalah kamu berdiam di sini untuk beberapa hari!"
Pek Moko pun berseru.
"Kamu telah datang kemari tanpa diundang! Sekarang tuan rumah memohon kamu berdiam di sini, tidak dapat kamu tidak berdiam!"
Lantas dua saudara ini melompat maju, untuk memulai penyerangan mereka.
Mereka menerjang bukan dengan main tinju atau menendang, mereka hanya main menyamber, setiap orang yang kena disamber, lantas dibanting, hingga orang roboh tanpa berkutik lagi.
Di dalam tempo yang pendek telah roboh kurban-kurban, seperti tiga wisu dari Taylwee, keraton, empat pemimpin Gilimkun, dan tujuh busu.
Chian Tiang Cun tidak dapat memegang kendali lagi, lantaran orang pada kabur, ia juga turut membuka langkah panjang.
Tengah ia berlari itu, mendadak ia merasakan angin menyamber di belakang batok kepalanya.
Ia kaget sekali.
Ia tahu atas datangnya serangan.
Dengan terpaksa ia mengibas ke belakang, untuk menangkis.
Hek Moko adalah orang yang menyerang itu.
Dia ini membiarkan tangan mereka bentrok.
Sebagai akibat dari itu, Tiang Cun mental tiga tombak, tubuhnya terhuyunghuyung, hampir jatuh.
"Bagus!"
Berseru Hek Moko, memuji.
"Kau dapat menangkis satu pukulanku, kau dapat dihitung sebagai seorang hoohan! Nah, kau sambutlah satu kali lagi!"
Kata-kata ini dibarengi sama melesatnya tubuh sangat pesat. Chian Tiang Cun baru menaruh kaki kanannya, baru kaki kirinya mau menyusul, atau kupingnya segera mendengar pula perkataan orang.
"Dengan tanganku, akan aku menepuk igamu yang kanan! Dengan jeriji tanganku, akan aku menusuk dadamu berbareng dengan kakiku akan menendang dengkulmu! Maka kau berhatihatilah menjaga dirimu! Jikalau kau dapat membebaskan diri, akan aku membebaskannya terus!"
Chian Tiang Cun tidak dapat membade orang omong benar-benar atau melainkan menggertak, ia tidak mau menduga-duga.
ia mengambil jalan yang paling selamat, ialah ia memutar kedua tangannya untuk membela diri saja.
Ia menggunakan tipu silat "Sepasang tangan menolak."
Hek Moko bukan menggertak, benar-benar ia menyerang ke tempat-tempat yang ia sebutkan barusan, ialah sebelah tangannya meluncur keigadan sebelah kaki menendang ke dengkul!
Chian Tiang Cun kaget, ia putus asa.
Tapi ia mesti membela diri, maka ia membelanya dengan terpaksa.
Sudah terang ia bukanlah tandingan orang India itu.
Ia pikir, kalau ia bisa menolong dirinya, Hek Mrko pastilah akan tidak menelan pula kata-katanya.
Sebagai tongnia, komandan, dari pasukan Gilimkun, Tiang Cun bukanlah seorang lemah.
Ia lantas bergerak untuk melindungi diri.
Ia mengelit tubuhnya, mengelit juga kakinya.
Ia dapat bergerak dengan sebat.
Ia dapat menghindarkan diri dari kedua serangan itu.
Tinggal totokan ke arah dadanya.
Ia pikir, setelah menyerang ke iga, sulit untuk Hek Moko menotok dadanya.
Atau lawan itu mesti menggunakan tangannya yang lainnya.
Karena ini, ia memusatkan perhatiannya kepada tangan kiri musuhnya itu.
Hebat Hek Moko.
Ia berkelahi berbareng dengan menggunakan ilmu yoga, tubuhnya jadi dapat bergerak sangat cepat dan lincah.
Ia pun dapat menduga Tiang Cun bakal menjagai tangan kirinya setelah kegagalan dengan tangan kanannya ke iga itu.
"Mengapa kau tidak percaya perkataanku?"
Kata orang India ini sambil tertawa, tangan kanannya mendadak meluncur ke dada.
Tiang Cun kaget bukan kepalang, ia menjadi gugup.
Tidak sempat ia berkelit atau menangkis, maka kenalah ia tertotok dadanya, di mana ada jalan darah, yang membuatnya roboh tanpa berdaya!
Semua orang Gilimkun dan busu kaget bukan main.
Pula, dengan tidak ada kepalanya, mereka menjadi bingung.
Tidak ayal lagi, mereka lari seraya memencar diri.
Mereka percaya Hek Pek Moko tidak bisa memecah tubuh untuk mengejar mereka.
Tinggallah nasib mereka, siapa yang apes, dia pasti bakal kena dibekuk.
Hek Pek Moko bekerja terus.
Mereka merobohkan siapa yang mereka bisa candak.
Kemudian barulah mereka tidak mengejar terlebih jauh, sambil berdiri di depan kuil, mereka tertawa berkakakan mengawasi orang orang yang lari tunggang langgang itu.
Serombongan busu kabur ke arah timur.
Baru mereka tiba di mulut gunung, di mana mereka pikir akan dapat memerdekakan diri mereka, tiba-tiba mereka mendengar suara nyaring tetapi halus dari seorang wanita.
"Maaf! Aku minta sukalah kamu berdiam di sini untuk dua hari!"
Semua orang lantas mengangkat kepala mereka, maka terlihatlah oleh mereka Ie Sin Cu berdiri menghadang di mulucalan itu di mana dia muncul secara tiba-tiba Lim Kim Goan, busu dari propinsi Hokkian.
lantas berkata.
"Ie Lihiap, kau telah merampas bingkisan, mengapa sekarang kau masih hendak membasmi kita habis?"
"Lim Locianpwee, kau salah mengerti!"
Menyahut nyonya muda itu.
"Aku justeru hendak menolongi kamu semua! Di belakang hari maka kamu akan ketahui sendiri tentang sepak terjang kami ini."
Tidak ada orang yang mau percaya perkataan itu.
Mereka pun takut sangat Hek Pek Moko nanti menyusul mereka.
Merasa pasti bahwa Sin Coc tidak bakal mengasi mereka lewat, dengan serentak mereka berseru dan maju.
"Kamu tidak percaya aku, nah, maaf!"
Berkata Sin Cu.
"Aku terpaksa mesti menahan kamu dengan cara paksa!"
Kata-kata itu dibarengi sama terayunnya tangan, lalu terlihat barang-barang berkilauan menyamber ke arah pelbagai busu itu.
itulah kimhoa, atau bunga-bunga emas, yang sekali ayun dilepaskan dalam jumlah belasan.
Hebat kesudahannya serangan senjata rahasia itu.
Setiap busu yang kena tertimpuk tidak merasakan sakit, hanya tubuh mereka bagaikan terputar, terus mereka roboh tak sadarkan diri.
Sebab Sin Cu tidak mau melukai mereka, ia hanya menyerang apa yang dinamai jalan darah pingsan.
Sekalian busu yang tidak kena terserang menjadi j eri sekali.
Mereka memang ketahui sangat baik lihainya wanita di depannya itu.
Tidak ada jalan lain untuk mereka daripada menyingkirkan diri, maka itu, semua lantas memutar tubuh, untuk menyingkir dari lain tempat.
Selagi mereka yang di timur ini dirintangi Ie Sin Cu, mereka yang kabur ke selatan juga dihalang-halangi seorang wanita muda, ialah nona Liong Kiam Hong.
Ia pun muncul secara mendadak.
Ia membuatnya orang kaget dan jeri.
Beberapa busu lantas mengenali ia.
Sebab ialah yang bersama-sama Thio Giok Houw yang pertama kali mencegat dan merampas pelbagai bingkisan.
Hanya kali ini, mereka takut berbareng mendongkol dan gusar, lantaran mereka sudah mogok!
Wi Kok Ceng, busu dari Kwisay, lantas maju di muka.
Ia mengandalkan pada ilmu panahnya yang lihai.
Selagi bertindak maju, ia sudah bersiap sedia.
Tiba di jarak tujuh atau delapan tombak, ia lantas menarik tali panahnya, untuk menyerang terlebih dulu!
Ia menggunakan busur besi dan anak panahnya dapat dilepaskan beruntun-runtun.
Liong Kiam Hong tertawa menyaksikan aksi orang itu.
"Dengan cara baik aku mau menahan sekalian tetamu, kalian justeru menggunakan kekerasan!"
Katanya.
"Benarkah?"
Lantas nona ini maju.
Dengan tangan kirinya ia mengibas-ibaskan sehelai kain sutera merah, dengan tangan kanannya ia memutar pedangnya.
Biasanya anak panah Wi Kok Ceng dapat menembuskan lima lapis kulit akan tetapi kali ini, disampok pergi pulang suteranya si nona, semua anak panahnya runtuh, jatuh di tanah tanpa daya.
Ia menjadi kaget sekali, herannya bukan buatan.
Ia baru melepaskan anak panah yang ke delapan atau si nona sudah datang dekat padanya, lantas lengannya kena tersampok.
Ia kaget dan merasa sakit maka tanpa ampun lagi, busurnya terlepas jatuh.
Belum ia sempat bergerak lebih jauh, sutera si nona telah menarik padanya, maka seketika juga ia roboh, atas mana Kiam Hong maju mendupak dengkulnya, di mana ada jalan darah yang membuatnya tenaganya habis, dari itu selanjutnya ia rebah tak berkutik, cuma mulutnya bisa dipentang untuk mencaci kalang-kabutan!
Semua busu lainnya kaget.
Siapa yang jeri, mereka berdaya untuk melarikan diri.
siapa yang gusar dan penasaran, lantas maju.
untuk memaksa membuka jalan, guna dapat meloloskan diri.
Terhadap mereka yang nekat ini, Kiam Hong lantas melakukan penyerangan, dengan pedangnya, dengan suteranya juga.
Dengan pedangnya ia menangkis dan menikam ke arah jalan darah, dengan suteranya ia menangkis dan menarik, guna merampas senjata orang.
Ia dapat bergerak dengan leluasa sekali, karena di samping lihainya ilmu pedangnya, tubuhnya juga sangat ringan, hingga ia bisa berlompatan dengan gesit.
Dalam tempo yang pendek, beberapa busu yang nekat itu telah kena dirobohkan, hingga yang lainnya, sambil menjerit, lantas melarikan diri!
Mereka yang kabur ke arah barat, jumlahnya ialah yang terbanyak.
Di antara mereka ada empat wisu dari istana serta tiga pemimpin Gilimkun.
Yang lainnya ialah belasan busu.
Mereka semua dipegat oleh Cit Seng Cu.
tianglo dari Butong Pay.
Imam ini justeru sangat membenci Chian Tiang Cun, yang sudah membekuk keponakan muridnya, maka itu menghadapi rombongan pelarian ini, ia berlaku bengis.
Sambil berteriak keras, ia berlompat maju, untuk memapaki semua wisu dan busu itu.
Hebat Cit Seng Cu menggeraki kebutannya yang lihai.
Belum apa-apa tangannya dua wisu sudah kena dikebut hingga berdarah, sedang dua pemimpin Gilimkun, kena dibikin patah tangannya disebabkan terkena hajaran tipu silat Hunkin Coku Ciuhoat, ilmu memisah otot dan tulang.
Menampak demikian, yang lain-lain menjadi takut, dengan lantas mereka memutar tubuh mereka, untuk lari kabur!
Di arah utara, orang yang memegat kawanan busu yang merat itu ialah Thio Giok Houw.
Ia berpikir untuk menawan hidup-hidup, makajuga ia tidak mau menggunakan senjata tajam.
Ia bersilat dengan tangan kosong, dengan ilmu silat Lohan Ngoheng Sinkun ajarannya Hek Pek Moko serta ilmu jari tangan Itci Siankang ajarannya Ouw Bong Hu.
Gesit dia bergerak, kepalannya seperti angin, jeriji tangannya bagaikan kilat.
Seorang pemimpin Gilimkun lantas saja patah sebuah tulang rusuknya.
Seorang wisu bisa menangkis hingga tiga kali beruntun, tetapi pada ke empat kalinya, dia tertotok roboh pingsan.
Habis itu Giok Houw berseru nyaring.
"Aku bermaksud baik menahan para tetamu, sama sekali aku tidak berniat membikin kamu celaka, tetapi, jikalau kamu memaksa mau pergi juga tidak bisa lain, kepalanku tidak dapat berlaku sungkan lagi!"
Mendengar itu ada beberapa busu yang mempercayainya, mereka lantas meletakkan senjata mereka.
Tapi ada juga yang bersangsi, mereka ini lantas mencari jalan untuk kabur.
Mereka yang mencoba kabur mengalami kesulitan.
Mereka sudah terkurung di empat penjuru, sedang di tengah-tengah ada Hek Pek Moko dua saudara.
Dengan bergeraknya Sin Cu berlima, kurungan menjadi semakin rapat.
Hek Pek Moko bertindak terlebih jauh.
Siapa yang datang dekat, mereka merobohkannya dengan Kimna ciu, Tangan Menangkap, dan siapa yang mencoba lari, mereka timpuk dengan batu hingga orang roboh terguling.
Berdua mereka mencari musuh-musuh yang paling tangguh.
Hebat dan kacau pertempuran kali ini.
Dalam takutnya, kawanan wisu, serdadu Gilimkun dan busu, melawan dengan terpaksa, dengan pikiran tidak tenang.
Dengan begitu, walaupun mereka nekat, mereka tidak dapat berkelahi dengan sempurna.
Maka itu, pertempuran pun tidak berjalan terlalu lama.
Semua wisu dan anggauta Gilimkun terbckuk Hek Pek Moko, banyak busu yang roboh di tangannya Ie Sin Cu, Liong Kiam Hong, Thio Giok Houw dan Cit Seng Cu.
Sisa yang lainnya, semua meletakkan senjata dan menyerah.
Dalam sepuluh bagian, mereka yang menyerah ada dua atau liga bagian, yang lainnya semua kena dilukakan dan dirobohkan.
Hu Kun Cip dan Chian Tiang Cun mengepalai orangorangnya hampir seratus jiwa.
tidak ada satu di antaranya yang lolos.
"Tuan-tuan. jangan kamu takut,"
Berkata Sin Cu kemudian.
"Jikalau kami menghendaki jiwa kamu, pastilah kami sudah mengambilnya semenjak siangsiang. Sayangnya ialah banyak di antara kamu yang tidak suka mempercayai kami. Sekarang terpaksa kami meminta kamu menanti selama dua atau tiga hari!"
Sin Cu beramai jalan mengitari semua orang tawanan itu berikut mereka yang menyerah dengan baik, siapa yang masih penasaran dan terlihat mau berontak, lantas ditotok.
siapa yang berdiam saja, tidak diganggu.
Di akhirnya, mereka semua digiring masuk ke dalam kuil, untuk dikurung di dalam kamar kosong.
Mereka dipesan untuk jangan coba minggat.
Hek Pek Moko tertawa.
Mereka menarik tangannya Thio Giok Houw.
"Siauw Houw Cu, mari kita lihat gurumu!"
Kata mereka.
Lantas mereka mengajak pergi kependopo Lokun Tian di mana pertempuran masih berlangsung di antara Thio Tan Hong dan Kiauw Pak Beng.
Sinar pedang terus berkilauan, angin dingin bersiur-siur.
Hati Pak Beng bercekat ketika ia melihat munculnya rombongan Hek Pek Moko itu.
Tahulah ia bahwa itu artinya pihaknya sudah habis --meski ia tidak tahu bagaimana dan dengan cara bagaimana pihaknya itu dikalahkan.
Munculnya mereka itu, berarti bahwa mereka sudah memperoleh kemenangan besar, jikalau tidak, tidak nanti mereka datang berkumpul, sedang roman mereka itu tenang tetapi riang.
Karena ini, permainan silat jago tua ini menjadi sedikit kalut.
Thio Tan Hong dapat menduga hati orang.
"Siluman tua she Kiauw, tidak usah kau berkuatir!"
Ia berkata, tertawa.
"Aku telah berjanji bahwa kali ini aku tidak bakal menganggu anakmu yang menjadi mustikamu! Kau keluarkanlah semua kepandaianmu!"
Kiauw Pak Beng memang cuma memperhatikan anaknya, tentang sekalian busu, ia tidak memperdulikan orang hidup atau mati, maka itu mendengar perkataannya Tan Hong itu, ia berpikir.
"Mereka itu kalah, apa sangkutannya mereka dengan aku? Asal aku menang dari Thio Tan Hong, walaupun dalam satu atau setengah jurus, aku akan menjagoi di kolong langit ini! Thio Tan Hong menjadi guru besar dari suatu cabang persilatan, tidak nanti dia dihantui Hek Pek Moko..."
Setelah berpikir begitu, ia lantas menenangkan diri.
Tidak perduli jumlah musuh besar, sekarang ia cuma menganggap Tan Hong satu orang.
Maka ia lantas mulai menyerang pula.
Kali ini ia manjat ke tingkat ke tujuh dari Siulo Imsat Kang, tingkat penghabisan dari peryakinannya dalam ilmu silat yang luar biasa itu.
Pertempuran berjalan hebat terus menerus.
Tanpa merasa, mereka sudah melewati lima ratus jurus.
Di atasan kepalanya Thio Tan Hong terlihat hawa putih menghembus naik.
Pada Kiauw Pak Beng sebaliknya nampak wajahnya menjadi hitam, makin gelap, dan peluhnya mengalir di dahinya, jatuh ketes demi ketes ke lantai, hingga di lantai, yang berbatu hijau, terlihat nodanoda hitam.
Thio Giok Houw memasang mata tajam.
Ia dapat menduga yang Kiauw Pak Beng sudah mengeluarkan semua kepandaiannya.
Tanpa merasa, ia berkuatir juga untuk gurunya.
Ia tidak tahu bahwa ketika itu sang guru lagi menggunakan tenaga dalamnya yang mahir untuk membuyarkan hawa dinginnya Pak Beng, yang disalurkan dengan perantaraan pedangnya.
Tidak lama.
Giok Houw merasakan hawa dingin menyamber kepadanya.
Liong Kiam Hong demikian juga.
Inilah disebabkan tenaga dalam mereka yang belum sempurna.
Dengan sendirinya mereka menggigil.
Hek Pek Moko mendapat tahu muda-mudi itu tidak sanggup bertahan untuk hawa dinginnya Kiauw Pak Beng, mereka mencekal tangannya muda-mudi itu, untuk menyalurkan tenaga dalam mereka, untuk membantu memberi hawa hangat.
Giok Houw ketahui bantuannya dua orang kosen itu, ia pun membantu menguatkan diri dengan menggunakan ilmu yoga, sedang Kiam Hong melatih diri dengan ilmu tenaga dalam dari Thiansan Pay, guna membikin hawa panas mengalir diseluruh tubuhnya, untuk membikin hangat tubuhnya.
Dengan begitu dapatlah mereka mempertahankan diri dari hawa dingin.
Oleh karena ini juga, mereka menginsafi lihainya hawa dingin dari Siulo Imsat Kang dari si orang tua she Kiauw itu.
Di saat sangat tegang dari pertempuran itu.
mendadak saja terdengar Thio Tan Hong tertawa nyaring dan panjang, terus tubuhnya mencelat tinggi, lalu selagi, tubuhnya itu turun, tangannya menikam kebawah kepada 1awannya.
Kiauw Pak Beng melihat tikaman itu.
Sebelumnya, ia telah mendengar tertawa musuhnya itu.
Dengan cepat ia mengangkat hiolouwnya, untuk menangkis.
Untuk kesekian kalinya, kedua senjata beradu, suaranya terdengar nyaring.
Kali ini suara itu mendengung lama, tanda dari serangan dahsyat dan tangkisan sama dahsyatnya.
Tapi kali ini adalah tangkisan yang terakhir.
Di antara suara "trang"
Yang nyaring itu, terdengar juga suara bergomprang pecah.
Sebab hiolouw itu, yang telah banyak lubangnya bekas tusukan, atau goresan pedangnya Tan Hong, tidak dapat bertahan terlebih jauh.
Hiolouw itu pecah dan pecahannya jatuh hancur ke lantai!
Tak dapat ditahan lagi, Thio Giok Houw bertepuk tangan berulang-ulang.
"Bagus! Bagus!"
Dia berseru-seru. Maka tercenganglah Kiauw Pak Beng. Thio Tan Hong tertawa. Dia bukan mengejek, hanya dia bergurau.
"Bagaimana, siluman tua she Kiauw?"
Dia bertanya.
"Kau takluk atau tidak?"
Cuma sebentar jago tua itu melengak, lantas ia mengasi lihat roman dinginnya.
"Kau tidak berani beradu tangan denganku, aku tidak mau menyerah!"
Dia menyahut.
Pak Beng memang tidak puas.
Dia mengandalkan sangat Siulo Imsat Kang.
Benar dia dapat menyalurkan hawa dinginnya kepada Tan Hong dengan perantaraan pedang si orang she Thio, tetapi menurut anggapannya itu tidak sama dengan mereka tangan beradu tangan.
Penyaluran hawa dingin dengan perantaraan senjata tidak sempurna.
Thio Tan Hong tertawa pula.
Lantas ia melemparkan pedangnya ke lantai.
"Kau majulah!"
Ia berkata, menerima tantangan.
Tanpa menjawab lagi.
Kiauw Pak Beng menyambuti.
Dengan luar biasa sebat, kedua tangannya bergerak, berbareng sama majunya tubuhnya, tangan kirinya sudah lantas menyerang.
Serangan ini diiringi dengan angin menghembus.
Tan Hong berlaku berani.
Ia menangkis.
Kiauw Pak Beng tidak mau mengasikan tangannya kena ditangkis, sambil menarik pulang tangan kirinya itu, ia menyerang pula dengan tinju kanannya.
Kedua tinju itu pergi dan pulang dengan cepat sekali.
"Bagus!"
Berseru Tan Hong, yang menangkis pula.
Kali ini ia berlaku luar biasa sebat.
Pak Beng tidak sempat menarik pulang tinjunya seperti semula, sepasang tinjunya itu kena ditangkis.
Maka terdengarlah suara beradunya kedua tangan, sedang hembusan anginnya ada sampai jauh Thio Giok Houw dan Liong Kiam Hong membawa dirinya menyender ke tembok.
Mereka merasakan tembok seperti bergoyang.
Meskipun mereka mundur, mereka toh melihat dua orang yang bertempur itu.
Keduanya sama-sama berlompat mundur, hanya parasnya si orang she Kiauw pucat seperti abu, dia layu seperti merungkutnya ayam jago yang kalah berkelahi.
"Kau menyerah atau tidak?"
Tan Hong menanya, suaranya dalam. Kiauw Pak Beng berpikir.
"Aku belum menyerah!"
Sahutnya sedetik kemudian. Alisnya pun terbangun.
"Tidak tahu malu!"
Giok Houw mencaci dalam hatinya. Ia mendongkol karena orang tidak berani mengaku kalah.
"Kenapa kau tidak menyerah?"
Tanya Tan Hong, tertawa.
"Sekarang ini aku mempelajari Siulo Imsat Kang baru sampai di tingkat ke tujuh."
Pak Beng menjawab.
"kau tunggu sampai aku sudah mencapai tingkat ke sembilan, di waktu mana kita nanti bertempur pula, jikalau kau berani menyambuti satu tinjuku, baru aku mau mengakui kaulah jago nomor satu dikolong langit ini dan nama Kiauw Pak Beng bolehlah dicoret hapus!"
"Untuk kau dapat mempelajari sampai tingkat ke sembilan itu, berapa lama tempo diperlukan olehmu?"
Tan Hong menegaskan.
"Sedikitnya tiga tahun, atau lambatnya lima tahun!"
Menjawab Pak Beng.
"Baiklah, nanti aku tunggu kau sampai tiga atau lima tahun!"
Berkata Tan Hong.
"Hanyalah aku kuatir sekali, selagi kau sampai kepada tingkat ke sembilan itu, kau sudah tersesat hingga kau terjerumus dalam bencana!"
Hatinya Pak Beng terkesiap. Itulah kekuatiran yang beralasan. Tetapi ia menebalkan kulit mukanya "Itulah urusanku sendiri!"
Bilangnya.
"Aku mempunyai kepandaian untuk aku menjaga diriku, hingga tak usahlah kau menguatirkannya!"
Tan Hong tertawa.
"Jikalau kau berhasil mencapai tingkat ke sembilan itu, hingga yang sesat dan yang lurus dapat dipersatukan,"
Ia berkata.
"maka di dalam kalangan ilmu silat jadi tambah lagi selembar riwayatnya! Bukankah itu bagus? Baiklah, aku bersiap untuk menantikanmu! Tapi hendak aku membilangi kau, kalau itu waktu kita bertempur pula, aku tidak bakal berlaku sungkan seperti sekarang ini! Nah, kau pergilah! Aku mengasi perkenan untuk kau bawa juga anak mustikamu itu!"
Tanpa mengucap sepatah kata, Kiauw Pak Beng mengeloyor pergi dengan tindakannya yang lebar dan cepat sekali, hingga, menyaksikan ketangguhan orang itu, Hek Pek Moko menjadi kagum.
Thio Giok Houw dan Ie Sin Cu pergi ke pintu di mana mereka berdiri diam, mereka menyaksikan Kiauw Pak Beng membawa pergi Siauw Siauw dan Le Kong Thian.
bukan main mereka merasa sayang.
Akan tetapi karena merasa pasti ada alasannya mengapa guru mereka memerdekakan ketiga orang itu, mereka tidak berani mencegah.
Ketika mereka menoleh pada guru mereka, mereka mendapatkan guru itu tertawa.
"Puas, aku puas!"
BerkataThioTan Hong.
"Semenjak pertempuranku samaCi Hee Tojin di Chongsan. sudah sepuluh tahun belum pernah aku bertemu lawan semacam ini!"
Tapi begitu habis berkata, dia lantas menjatuhkan diri berduduk di lantai.
Giok Houw terkejut, ia lari menghampirkan.
untuk mengawasi muka orang, la mendapatkan di antara alis gurunya itu ada tanda hitam samar-samar, sedang di atasan embun-embunnya ada berkumpul hawa putih.
Kira sepasangan sebatang hio, barulah hawa hitam di alis itu lenyap, dengan perlahan-perlahan.
Menyusul itu, Tan Hong berlompat bangun.
Ia tertawa dan kata.
"Benarbenar Siulo Imsat Kang lihai, melebihkan apa yang aku duga!"
"Bagaimana, suhu?"
Tanya Giok Houw, yang masih berkuatir.
"Tidak apa-apa."
Menyahut guru itu.
"Aku melainkan kehilangan tenagaku bahagian peryakinan satu tahun. Tidak demikian dengan itu siluman tua she Kiauw. Kecuali dia hilang tenaga peryakinannya satu tahun, sepulangnya dia juga bakal mendapat sakit berat."
Giok Houw semua saling mengawasi, mereka heran sekali.
Bukankah hebat hanya disebabkan pertempuran dua gebrak itu, Tan Hong mesti rugi demikian besar?
Bukankah itu menandakan lihainya Kiauw Pak Beng?
"Sebenarnya Siulo Imsat Kang berasal dari negaraku,"
Berkata Hek Moko.
"cuma di negaraku, ilmu itu sudah lenyap lama. Siapa sangka sekarang ilmu itu muncul di Tiongkok! Pelajaran ilmu itu sangat memakan tenaga dalam dan pula ada larangannya, yaitu kecuali sampai di saat sangat penting, orang dilarang menggunakannya. Menurut aku, meskipun Siulo Imsat Kang sangat lihai, lebih baik kita tidak mempelajarinya."
Mendengar ini barulah Giok Houw mengerti kenapa ketika Kiauw Pak Beng dikurung di dalam selat, dia sudah tidak mau menggunakan ilmu silatnya yang lihai itu.
"Siauw Houw Cu,"
Berkata Tan Hong tertawa.
"kali mi perbuatan kau sangat luar biasa, maka tidaklah kecewa yang aku dan kedua saudara Hek Pek telah mendidikmu untuk beberapa tahun!"
Lalu ia menambahkan kepada Hek Pek Moko.
"Kamu berdua juga telah mendapatkan satu usaha dagang yang besar tak bandingan!"
Mendengar itu, Hek Pek Moko bersenyum.
Dua saudara ini telah pergi ke gunung Chongsan menjenguk Thio Tan Hong, di sana mereka mendengar tentang perampasan bingkisan pelbagai propinsi untuk kota raja, ketika mereka mendapat tahu perampasan itu di kepalai oleh Ciu San Bin serta Thio Giok Houw, muridnya, mereka girang bukan kepalang.
Usaha mereka memang perdagangan barang-barang permata di antara kaum Rimba Hijau, inilah kebetulan sekali.
Dengan lantas mereka turut Thio Tan Hong pergi ke kota raja, untuk berkumpul bersama Sin Cu semua.
Sin Cu sendiri, dua hari sebelumnya pertemuan di Kiapkok, sudah menerima surat dari gurunya, surat mana dibawa dengan perantaraan kaum Kaypang, maka ia telah memenuhkan janji pertemuan itu.
Bahkan ia berani memikul tugas berdaya menolongi pelbagai busu.
Ia datang bersamasama Cit Seng Cu.
Kemudian Thio Tan Hong menanya apa semua wisu.
orang Gilimkun dan busu, telah kena ditawan atau tidak.
Mendengar pertanyaan itu, Hek Pek Moko tertawa.
"Urusan demikian kecil, mustahil tidak dapat diurus sempurna?"
Katanya.
"Tidak ada seorang juga yang lolos! Kau jangan kuatir!"
"Ada atau tidak yang terluka parah?"
Tan Hong tanya pula.
"Cuma seorang wisu yang tangannya patah, yang lainnya kena ditotok. Ada beberapa orang saja yang terluka enteng,"
Menyahut Hek Moko.
"Bagus! Sekarang tolong kau tolongi wisu yang tangannya patah itu. untuk disambung pula. Kau, Siauw Houw Cu. pergi kau obati mereka yang terluka enteng itu, kemudian kau giring mereka semua ke dalam kuil ini."
Hek Pek Moko dan Siauw Houw Cu semua lantas bekerja.
Mereka menggunakan tempo sekira setengah jam.
lantas mereka kembali bersama semua orang tawanan, berikut Chian Tiang Cun dan Hu Kun Cip.
Jumlah mereka telah dihitung, semuanya terdiri dari delapan puluh tujuh orang.
Thio Tan Hong menghadapi semua orang tawanan itu, ia bersikap ramah terhadap mereka.
Ia tertawa dan berkata.
"Tuan-tuan, kamu adalah tetamu-tetamu yang sebenarnya tidak dapat diundang datang walaupun kamu diundang, maka kami bersyukur sekali yang hari ini kita telah berkumpul di sini. Tuan-tuan. kami minta sukalah kamu berdiam di sini untuk beberapa hari saja. Sama sekali tidak usahlah tuan-tuan menguatirkan apa juga."
Orang semua mengawasi.
Mereka bersangsi untuk mempercayai yang mereka tidak bakal dibikin susah.
Bukankah mereka telah ditangkap dengan paksa?
Cuma sebab mereka telah menjadi orang-orang tawanan, mereka tidak bisa membilang apa-apa mereka menyerah untuk segala pengaturannya Thio Tan Hong itu.
Kuil Hianbiauw Koan besar dan luas, ada cukup kamar untuk memernahkan mereka semua.
Thio Giok Houw adalah yang mengatur penempatan mereka.
Taylwee Congkoan Hu Kun Cip serta Gilimkun Tongnia Chian Tiang Cun mendapat perlakuan istimewa, berdua mereka diberikan sebuah kamar.
Walaupun demikian, mereka tetap ragu-ragu, hati mereka tidak tenteram.
Biar bagaimana, mereka tetap orang tawanan.
Kapan Thio Tan Hong sudah menerima laporan yang semua orang tangkapan telah selesai di berikan tempat, dengan mengajak dua muridnya, ia pergi ke kamarnya Hu Kun Cip dan Chian Tiang Cun.
"Jiwi tayjin, aku mohon maaf, sukalah kamu menerima apa adanya,"
Ia berkata sambil tertawa.
"Thio Tayhiap."
Berkata Hu Kun Cip.
"kau lihai sekali, aku yang rendah kagum sekali terhadapmu. Hanya sekarang ingin aku menanya. Kau telah menawan hampir seratus orang, kau telah menahannya di sini, apakah maksudmu?"
Tan Hong tertawa.
"Maaf, tayjin, inilah rahasia alam yang tidak dapat dibocorkan!"
Ia menjawab manis.
"Aku harap tayjin suka bersabar, paling lama lima hari, bakal ada penjelasannya yang tayjin akan mengetahuinya sendiri Tayjin boleh percaya, akhirnya itu akan ada kebaikannya untuk kamu semua!"
Hu Kun Cip berdiam. Ia mau percaya Tan Hong, sebab tidak nanti tayhiap ini mendustainya. Karena ini, hatinya mulai tenang.
"Hu Congkoan."
Berkata Tan Hong kemudian.
"kalau sudi, aku ingin minta keteranganmu tentang satu orang. Umpama kata dia dapat diundang datang kemari maka aku tanggung tayjin semua bakal bebas siang-siang!"
"Siapakah dia itu?"
Tanya Hu Kun Cip, heran.
"Dialah Khoan Ki yang dulu hari pernah menjadi Liangouw Yamoensu"
Mendengar nama itu, Kun Cip melengak.
"Untuk apa Thio Tayhiap menanyakan halnya dia itu?"
Ia menanya.
"Kita ada orang-orang terhormat maka di antara kita tidak layak ada omongan dusta!"
Berkata Tan Hong. Tetapi ia tertawa.
"Kedua muridku ini telah datang ke kota raja. Bukankah Khoan Ki itu yang melaporkannya?"
Terpaksa Hu Kun Cip mengangguk.
"Benar dia yang memberi kabar,"
Sahutnya.
"Dia mengharap mendapat pulang pangkatnya maka itu diadatang padaku."
"Baiklah. Sekarang aku minta kau menulis surat padanya untuk memanggil dia datang."
Kun Cip suka meluluskan permintaan itu.
Di antara dia dan Khoan Ki tidak ada hubungan yang berarti, karena sekarang ia berada di dalam genggaman orang, tidak perlu ia memperhatikan pula bekas yamoensu itu.
Ia lantas menulis suratnya.
Tan Hong mengucap terima kasih, dengan membawa suratnya, congkoan itu, ia berlalu bersama kedua muridnya.
"Siauw Houw Cu."
Kata Sin Cu sambil tertawa.
"barubaru ini kau menyesalkan aku telah berbicara sama Khoan Ki, sekarang kau tentulah mengerti maksudnya perbuatanku itu. Aku memang mau pinjam mulutnya Khoan Ki itu untuk melaporkan tentang kita, supaya Hu Kun Cip mengumpulkan orang-orangnya menyerbu kita, supaya mereka masuk ke dalam jaring."
"Kau terlalu!"
Kata Giok Houw, menyesalkan kakak seperguruan itu.
"Sekian lama kau mendustai aku, kau tidak mau mengasi tahu bahwa suhu telah datang ke kota raja ini, hingga sekian lama aku berkuatir tidak keruan..."
Sin Cu tertawa, juga yang lain-lain.
"Sekarang kau boleh pergi melihat Bhok Lin."
Berkata Tan Hong pada muridnya itu.
"Di sana pun ada seorang lain yang kau ingin sekali menemuinya."
"Siapakah dia. suhu?"
Si murid tanya, heran. Tan Hong tertawa.
"Untuk sekarang ini, aku juga tidak mau memberitahukan."
Menyahut guru itu.
"Kau terkalah sendiri! Tidak sampai satu jam, kau bakal bertemu sama dia itu, jadi umpama kata kau tidak dapat membade. kau juga tak usahbergelisah!"
Siauw Houw Cu tidak menanya pula.
"Sekarang."
Berkata lagi Tan Hong.
"saudara-saudara Hek Pek dan Cit Seng Totiang, aku mohon sukalah kamu bertiga berdiam di sini untuk menjaga."
"Baiklah."
Sahut Cit Seng Cu, cepat.
"Siapa berani kabur, akan aku bikin patah kedua kakinya! Thio Tayhiap, tentang di sini, kau boleh tetapkan hatimu, hanya perihal kedua keponakan muridku itu. tolong kau memperhat i kanny a."
Thio Tan Hong mengangguk, lantas ia pergi.
Ia mengajak Sin Cu, Giok Houw dan Kiam Hong, untuk pergi kepada Bhok Lin.
Hek Pek Moko bertiga terus berdiam di kuil, guna menjagai orang-orang tawanan mereka.
Ketika itu Bhok Lin berada di gedungnya di mana ia justeru lagi menantikan.
Layonnya Tiat Keng Sim berada di ruang depan.
Rombongan hweeshio dan tosu baru saja selesai dengan upacara sembahyang mereka dan telah mengundurkan diri.
Putera Bhok Kokkong itu duduk seorang diri dengan pikirannya tidak tenteram, maka ia bertindak keluar dengan tidak keruan rasa.
Di kepala peti ia melihat dua buah pelita yang apinya kelak-kelik.
Suasana sangat sunyi dan menyedihkan.
Ia mengusapusap peti seraya hatinya berkata-kata.
"Benarkah di dalam dunia ini ada obat yang demikian mujarab, yang membuatnya orang sudah mati dapat hidup pula? Jikalau obat itu gagal, tidaklah urusan menjadi cade..."
"Tengah pangeran muda ini kebat-kebit hatinya, mendadak ia mendengar suara tertawa geli. yang datangnya dari belakang peti mati, di mana ada alingan sehelai cita yang lebar, lalu terlihat munculnya orangnya yang terus berkata.
"Siauwkongtia, apakah kau hendak membuka tutup peti untuk melihatnya?"
Kaget Bhok Lin hingga dia lompat berjingkrak. Ia segera mengawasi tajam.
"Eh, mengapa kau masih berdiam di sini?"
Ia tanya akhirnya.
"Apakah pel Pekleng Tan kepunyaan kau itu benar-benar mujarab?"
Orang itu, seorang wanita, tertawa.
"Cihu-mu telah bernapas pula, kau tahu?"
Sahutnya.
"Aku telah mendengarnya! Ah, kau tidak percaya aku. habis apa kau tidak percaya juga gurumu?"
Wanita itu ialah Nona Leng In Hong atau Nyonya Hok Thian Touw.
Setelah dia berpisah dari Hok Thian Touw, suaminya, seorang diri dia menuju ke kota raja, Pakkhia.
Dari orang Kaypang dia mendapat tahu halnya Thio Tan Hong telah mendapat ketahui urusan Bhok Lin dan Tiat Keng Sim.
Ketika itu hari Bhok Lin pergi dari rumahnya dan sampai sekian lama belum juga kembali, ia sebenarnya memenuhkan janji pertemuan lama Tan Hong.
Demikian sudah terjadi, dengan menyamar sebagai pengikutnya Bhok Lin, dia bersama Tan Hong telah pergi menghadiri pestanya Chian Tiang Cun.
Thio Tan Hong sudah menduga pasti bahwa Chian Tiang Cun bakal mempersulit Tiat Keng Sim, maka itu siang-siang ia telah mengatur tipu dayanya.
Ia menyuruh Leng In Hong berpura-pura menghaturkan sepucuk surat yang katanya surat dari seorang toaya dari Ciatkang Hweekoan, berbareng dengan itu diserahkan juga dua butir pel Pekleng Tan.
Perbuatan itu dilakukan dengan sebat hingga tak ada yang mendapat lihat Surat itu juga cuma memuat anjuran untuk Keng Sim berpura-pura mati, dan caranya dijelaskan dengan ringkas.
Keng Sim makan obat itu selagi ia membaca surat, yang ia bawa ke mukanya, hingga mukanya itu kena teralingkan.
Setelah itu, dengan melukai nadinya, ia membunuh diri.
Cara membunuh diri itu tidak dicurigai siapajuga, sebab nadinya putus dan ia mengeluarkan darah dari mulut, hidung dan lainnya.
Pel Pekleng Tan itu buatan Tan Hong sendiri, antara campuran obatnya ada soatlian, teratai salju, maka pel itu bisa melawan racun dan melindungi jantung.
Ketika Thio Tan Hong, yang menyamar sebagai pengikut tua, memondong tubuh Keng Sim, untuk dibawa pulang, berbareng ia menutup pelbagai jalan darah Keng Sim, untuk melindungi jiwanya.
Walaupun demikian, Keng Sim mesti mati hingga tiga hari.
Lega hati Bhok Lin mendengar keterangannya In Hong itu.
Akal muslihat ini sangat berbahaya,"
Katanya kemudian, tertawa.
"Inilah akal muslihat yang hebat sekali! Dengan kesudahannya ini, kesatu cihu bisa meloloskan diri dari segala sangkutan, kedua kita bersama-sama dapat pulang ke Inlam."
Bhok Lin mengatakan demikian disebabkan raja ingin Tiat Keng Sim memangku pangkat di kota raja serta ia pun berdiam di kota raja juga.
Keinginan raja itu ialah pertama-tama dia menghargai kepandaiannya Keng Sim dan kedua untuk membikin si pangeran muda dari Inlam terikat di kota raja, guna mengikat Bhok Kokkong.
Dengan Bhok Lin dan Keng Sim berada di kota raja, Bhok Kokkong tentulah akan tetap bersetia kepada raja.
Bhok Lin masih muda tetapi ia dapat menerka maksudnya raja itu.
"Masih ada lain kebaikannya yang besar sekali,"
In Hong menambahkan sambil tertawa.
"Dengan tindakan ini, pertama kita dapat menolongi semua busu yang tersangkut dalam angkutan bingkisan, dan kedua cihu kau itu dapat dibikin mati cita-citanya untuk memperoleh pangkat tinggi dan kemuliaan."
Bhok Lin heran.
"Aku dapat memahamkan yang kedua itu."
Katanya.
"Bagaimana dengan yang pertama? Bagaimana kawanan busu dapat ditolongi?"
"Gurumu segera akan kembali, nanti kau ketahui sendiri,"
Sahutnya. Selagi mereka bicara itu, dari arah luar terdengar suara tindakan kaki. Mendadak Bhok Lin menjadi girang sekali.
"Suhu pulang!"
Ia berkata nyaring. Ia mau bertindak keluar, untuk menyambut. Leng In Hong sebaliknya mengasi dengar seruan terkejut.
"Bukan!"
Lantas ia nelusup pula ke belakang peti.
untuk bersembunyi di tempat yang tadi.
Hampir berbareng dengan itu, satu orang terlihat bertindak masuk.
Dia bukannya Thio Tan Hong hanya Yang Cong Hay!
Bhok Lin tercengang.
Inilah ia tidak sangka.
Terhadap Yang Cong Hay.
ia memang tidak berkesan manis, bahkan ia membencinya.
Coba ia menuruti adatnya, tentulah ia sudah lantas mengusir tetamu yang tidak diundang ini.
Disebabkan urusan cihu-nya.
dapat ia menyabarkan diri.
Ia menjadi tidak enak hati, sebisanya ia bersikap tenang.
Dengan terpaksa, ia menyambut.
"Malam-malam Yang Toacongkoan datang kemari, ada apakah pengajaranmu?"
Ia menanya. Biar bagaimana, suaranya dingin.
"Aku mendengar kabar Tiat Tayjin menutup mata secara mendadak,"
Menyahut Cong Hay, suaranya berduka "mulanya aku tidak percaya, sampai sekarang aku menyaksikan sendiri.
Aku sangat berduka dan menyesal.
Dengan Tiat Tayjin, persahabatanku ada persahabatan belasan tahun.
Aku sangat mengagumi kecerdasan tayjin, aku tidak menyangka sekali ia berumur pendek seperti Gan Hwee.
Dengan begini aku si orang she Yang kehilangan seorang sahabat kekal..
Ah, bagaimana aku tidak berduka?
Siauwkongtia tolong aku.
ingin aku membuat pertemuan yang penghabisan kali dengan Tiat Tayjin..."
Mendengar itu. Bhok Lin mendongkol sekali, hingga ia mendamprat di dalam hatinya.
"Cihu paling membencimu, kau justeru mengaku menjadi sahabat karib!"
Tapi, untuk namanya pri kehormatan, ia tidak dapat menampik permintaan itu.
"Mari!"
Ia mengajak dengan terpaksa.
Ia lantas memimpin masuk.
Sebenarnya Yang Cong Hay tidak percaya Tiat Keng Sim mati, maka itu ia telah datang berpura-pura menjenguk, lapernah menjadi taylwee congkoan, sekalian wisu di istana adalah bekas orang-orang sebawahannya, maka itu, ia lantas mendengar kabar hal kematian Keng Sim itu.
Sebenarnya Chian Tiang Cun mencoba merahasiakannya tetapi tidak dapat, bekas congkoan ini lihai sekali.
Ia menyangsikan Keng Sim membunuh diri untuk lain orang, walaupun sahabat, maka itu, ia datang guna mendapatkan bukti sendiri.
"Tutup peti telah dipaku, tidak dapat tayjin membuka dan melihatnya,"
Berkata Bhok Lin.
"Aku minta tayjin memasang hio saja."
Yang Cong Hay menurut.
Ia memasang hio dan menjura dengan sikapnya yang sangat menghormat, perlahan gerak-geriknya.
Tapi justeru dengan begini, ia memasang mata dan kupingnya, memperhatikan peti mati.
Ia mendapatkan peti mati tercat mengkilap, suatu tanda peti itu peti dari kayu nanmu yang mahal, tetapi sebenarnya itulah peti yang tercat sempurna, untuk mengabui matanya bukan ahli.
Di kota raja ada banyak bekas orang besar atau bekas hartawan, yang tidak mau apes, maka itu kalau dia kematian sanaknya, dia membeli kayu mahal yang palsu, yang dipulas sempurna.
Tetapi Yang Cong Hay lain.
dia bermata lihai, dengan lantas dia melihat peti palsu itu.
Maka berpikirlah dia.
"Kalau Keng Sim benar mati. kenapa ia dibelikan peti buruk ini?"
Karena heran, diamenjadi bercuriga.
maka itu, dia menghampirkan peti mati sampai dekat sekali, di depan peti ia mengulur tangannya, untuk mengusap usap.
kelakuannya menunjuki ia sangat berduka dan menyesal, sebagai ia mau mengambil selamat berpisah untuk penghabisan kali.
Sebagai seorang yang mempunyai latihan puluhan tahun, kupingnya segera mendengar suara apa-apa, yang sangat perlahan.
Itulah suara napas Keng Sim di dalam peti.
Ia jadi semakin curiga.
"Kecuali persahabatanku dengan Tiat Tayjin,"
Ia berkata.
"kita pun telah mempunyai janji untuk bertemu lagi dalam tiga hari, maka sungguh aku tidak menyangka, manusia itu benar-benar seperti ujarnya peribahasa. Langit mempunyai angin dan meganya yang tidak dapat diduga-duga, manusia mempunyai saat beruntung dan celaka satu siang dan satu malam! Sayang tayjin berialu dengan cara begini... Kami mempunyai persahabatan yang luar biasa, aku mesti mendapat lihat lagi wajahnya, satu kali saja!..."
Sedih suaranya Cong Hay tetapi pun keras dan tetap.
Lantas setelah berkata begitu, ia maju untuk membuka tutupnya peti.
Bhok Lin kaget sekali, untuk mencegah, ia tak berdaya.
Tepat di saat sangat tegang itu, ada suara orang membentak keras.
"Siapa berani lancang mengganggu peti matinya tayjin kami?"
Dan lantas orangnya muncul.
Ialah Leng In Hong, yang menyamar sebagai hamba pengiring.
Karena ia sangat membenci Yang Cong Hay, ia lantas menyerang dengan babatan pedangnya.
Yang Cong Hay kaget tidak terkira.
"Hai!"
Teriaknya.
"Kau satu budak, kau begini kurang ajar?"
Dia pun lantas berkelit.
In Hong tidak menyahuti, ia menyerang pula, terus beberapa kali.
Yang Cong Hay menjadi mendongkol, setelah main berkelit saja, ia menghunus pedangnya, untuk menangkis, guna membuat perlawanan.
Hingga di situ mereka jadi bertempur.
Bhok Lin lantas bersandiwara.
"Inilah Yang Tayjin!"
Ia berkata kepada "hambanya"
Itu.
"Siauwjiko, jangan kurang ajar! Lekas kau omong baik-baik!"
Kepada Yang Cong Hay, ia pun berkata.
"Yang Tayjin, kau sudah pasang hio, kau sudah mengunjuk hormatmu, aku rasa itu sudah cukup, maka itu, tak usahlah kau melihat lagi wajahnya cihu! Aku percaya cihu di tempat baka pasti mengetahui kedatanganmu ini!..."
Tentu sekali In Hong tidak meladeni perkataannya Bhok Lin itu, sedang Cong Hay menjadi penasaran.
Ia heran untuk ilmu silat dari si hamba ini.
Masih Bhok Lin berpura-pura memisahkan, ketika ternyata ia tidak memperoleh hasil, ia lantas bersandiwara terlebih jauh.
Kali ini ia berpura-pura gusar.
"Hai, kenapa kamu tidak mau mendengar perkataanku?"
Ia berseru.
"Aku tahu maksud kamu, ialah yang satu setia kepada majikannya, yang lain menyintai sahabatnya, tapi janganlah kamu bertempur terusterusan! Mari bicara! Eh, eh, apakah kamu masih tidak mau berhenti juga? Kalau begitu, masa bodoh, pergi kamu bertempur terus, aku tidak perduli lagi!"
Kata-kata ini hebat untuk kupingnya Yang Cong Hay.
Ini bekas congkoan merasa bahwa dia diperlakukan sama seperti si hamba itu.
Sementara itu, dia menjadi bertambah curiga, hingga akhirnya ia merasa pasti Keng Sim benar-benar belum mati, bahwa matinya itu hanyalah pura-pura belaka, pada itu mesti ada sebabnya.
Ia percaya betul hamba ini salah seorang Rimba Persilatan yang kenamaan, karena kalau tidak, orang tidak bisa demikian gagah.
Ia cuma tidak dapat lantas menduga atau mengenali Leng In Hong.
Dulu hari pernah In Hong menempurjago she Yang ini, ia kalah satu tingkat, tetapi sekarang, setelah berselang delapan tahun dan ia sudah meyakinkan ilmu pedangnya secara sungguh-sungguh, walaupun Yang Cong Hay berlatih juga, mereka menjadi berimbang.
Lekas sekali mereka sudah bertarung hampir tiga puluh jurus.
Cong Hay penasaran, mendadak ia menggunakan akal.
Ialah satu kali ia berlompat ke samping, terus dia menikam kepada peti, hingga ia mendapatkan bukti bahwa kayu peti itu benar-benar bukan kayu nanmu.
Hampir dia menikam tembus peti itu ke tubuhnya Keng Sim, syukur In Hong lekas menikam dia, hingga dia mesti berkelit.
"Kurang ajar!"
Membentak In Hong.
"Kau berani mengganggu jenazah Tiat Tayjin! Kau mesti dibunuh!"
Bentakan itu ditutup sama serangan jurus "Thiansan soatpeng,"
Atau "Gempurnya salju gunung Thiansan."
Pedang berkilau mengkeredep dan menyamber luar biasa cepatnya.
Sebab itulah salah satu jurus ilmu pedang bersatu padu, yang ia telah pelajarkan bersama Hok Thian Touw, yang biasanya digunakan bersama oleh ia dan suaminya itu.
Yang Cong Hay terkejut, dia menangkis.
Tapi kedudukannya rada sulit, dia berayal sedikit, tenaganya tidak terkerahkan sempurna, maka itu, pedangnya kena dibikin mental, pedangnya si "hamba"
Meluncur terus, walaupun ia mencoba berkelit, rambut kepalanya kena terpapas segumpal an!
Bukan main kagetnya bekas congkoan dari istana ini Baru sekarang ia ingat samar-samar bahwa ia pernah bertempur sama orang ini.
Karena ini juga, ingatannya seperti mendadak menjadi tajam, hingga ia segera mengenali Leng In Hong.
"Hebat, hebat!"
Pikirnya begitu lekas ia ingat In Hong.
"Tiat Keng Sim berkonco dengan Leng In Hong dan Ie Sin Cu, sekarang sudah pasti Keng Sim belum mati, jikalau dia muncul dan dia bergabung sama In Hong mengepung aku, tak usah Sin Cu datang, pasti sukar untuk aku menyingkir dari sini, mungkin aku tidak bisa menolongjiwaku lagi!..."
Oleh karena ini, ia menjadi mendapat pikiran untuk jangan membuka rahasianya In Hong.
Sekarang ia jadi memikir daya untuk mengangkat kaki.
Tepat di itu waktu, dengan kupingnya yang lihai, Cong Hay mendengar tindakan kaki dari beberapa yahengjin, ialah orang-orang yang biasa keluar malam, dan suara tindakan mereka itu menandakan mereka bukan sembarang orang.
Ia kaget hingga keberaniannya menjadi ciut.
"Mungkinkah mereka telah mengatur tipu daya untuk menjebak aku?"
Pikirnya.
Saking curiga, ia menjadi menduga begitu rupa.
Maka dari itu tanpa berayal lagi, ia berkelit sambil berlompat, untuk berlompat lebih jauh ke atas genting, guna melarikan diri.
Syukur untuknya, baru ia menghilang, Tan Hong muncul bersama tiga kawannya, hingga tidak sampai kepergok.
Sin Cu melihat In Hong, ia girang bukan main, lantas ia menubruk dan memeluk.
"Enci, kenapa kau ada di sini?"
Ia menanya.
"Rambutmu kusut sekali, sama siapa kau bertempur?"
Giok Houw pun girang sekali melihat Nyonya Hok itu.
Tahulah ia, si nyonya muda ialah orang yang gurunya tadi sebut ia ingin menemuinya.
Maka sebelum nyonya itu menjawab Sin Cu, ia sudah berkata sambil tertawa.
"Ah, aku menyangka kau ditarik Hok Toako diajak pulang ke Thiansan! Mungkinkah karena kau tidak mau mewujudkan itu pepatah 'Suami bernyanyi, isteri mengikuti,' maka kamu jadi berkelahi?"
"Cis"
In Hong berludah.
"Jangan kau ngaco, Siauw Houw Cu!"
Sin Cu tertawa. Ia berkata.
"Siauw Houw Cu, kau sungguh tidak mengerti urusan! Perselisihan di antara suami dan isteri adalah soal lumrah, mustahil karena berselisih lantas orang bertempur?"
In Hong pun tidak gusar. Bahkan ia segera memberikan keterangannya.
"Yang barusan datang ialah bekas Tay hwee Congkoan Yang Cong Hay, baru saja aku membikin dia kabur!"
Demikian katanya.
"Ah, sayang, sayang!"
Kata Giok Houw.
"Sayang kita terlambat setengah tindak! Kalau tidak, sekalian saja kita bekuk dia!"
In Hong lantas tuturkan halnya kedatangannya Yang Cong Hay barusan, yang rupanya menyangsikan kebinasaannya Tiat Keng Sim, maka dia hendak membuka tutup peti, hingga ia mesti merintanginya sebab Bhok Lin tidak sanggup mencegahnya Setelah itu, ia diajak bicara pula oleh Sin Cu.
"Pantas itu hari kau tidak muncul, kiranya kau telah memikir lain dan seorang diri datang ke Pakkhia ini,"
Berkata Nyonya Yap.
"Aku kuatir Hok Toako nanti menyesalkan aku dan menduga, karena kau berat sama saudara angkat, kau lantas tidak menghendaki suamimu lagi..."
Matanya In Hong dibuka lebar.
"Ah, kau pun masih mau main-main!"
Katanya "Kenapa kau tidak mau bicarakan urusan yang benar?"
"Aku mau omong dari hal urusan yang benar,"
Menyahut Sin Cu bersenyum.
"Aku menghendaki kamu suami isteri mencari jalan yang baik agar kamu menjadi akur pula, supaya ada pemecahan di antara kamu berdua."
In Hong menghela napas.
"Terhadapnya aku hampir putus harapan,"
Ia berkata.
"Baik urusan besar maupun urusan kecil, pandangannya dan pandanganku sukar mendapat kecocokan, sedang aku, aku tidak bersedia untuk menuruti saja kehendaknya. Aku pikir dengan kita berpisah kita menjadi kurangan pusingnya."
Sin Cu berdiam sebentar.
"Sebenarnya Hok Toako bukan seorang buruk,"
Katanya sesaat kemudian.
"Kalau dibanding sama Tiat Keng Sim, dia jauh terlebih baik. Kau lihat Keng Sim, dia bukannya seorang yang tidak ada obatnya untuk menolongnya, apapula Hok Toako..."
"Dia dan Keng Sim lain. Dengan Keng Sim kita bersahabat, tetapi aku dengan Thian Touw suami isteri. Mengenai sahabat, asal ada sedikit kebaikannya, dapat kita mengingat, terhadap suami, permintaanku lain lagi, aku meminta lebih banyak, walaupun tak usah sampai sesempurna-sempurnanya, sedikitnya asal di antara kita ada kecocokan hati..."
Kembali Sin Cu berdiam. Apa ia bisa bilang lagi? In Hong pun berdiam. Sampai selang sekian lama. baru ia menghela napas.
"Sudah, kita jangan menyebut-nyebut Thian Touw,"
Katanya.
"Mari kita bicara urusan Keng Sim. Tahukah kau bahwa dia 'binasa' untukmu?"
In Hong lantas menuturkan jelas duduknya hal sampai Keng Sim "membunuh diri"
Itu.
"Meskipun benar inilah mati pura-pura tetapi perbuatannya itu mesti dilakukan dengan keberanian luar biasa,"
Kata pula In Hong.
"Coba dia bernyali kecil, meskipun ada obat mujarab, dia pasti gagal. Pula, bagaimana kalau obat itu tidak menolong hingga dia mati benar-benar? Keng Sim telah melakukan sesuatu yang luar biasa. Sebenarnya aku tidak berkesan manis terhadapnya tapi sekarang aku mesti menghormati dia"
Sin Cu lantas ingat lelakonnya sendiri dengan Keng Sim dulu hari, ia menjadi terharu hatinya.
"Sifatnya Keng Sim itu campur baur,"
Katanya.
"Semoga setelah kejadian ini dia nanti dapat mengubah itu, kalau itu terjadi, kita yang menjadi sahabatnya harus bergirang."
Selagi Sin Cu bicara sama In Hong, Giok Houw bicara asyik sama Bhok Lin.
Siauw Houw Cu, dengan disertai gerakan kaki tangannya, menuturkan bagaimana gurunya menempur Kiauw Pak Beng, bagaimana Hek Pek Moko yang gagah membekuk orang-orang kosen dari istana, bagaimana rombongannya Chian Tiang Cun dan Hu Kun Cip kena ditawan semua.
Bukan main girangnya Bhok Lin, dia sangat bergembira.
Thio Tan Hong sendiri, selama itu.
berduduk seorang diri.
Ia agaknya lagi berpikir keras, hingga ia tidak memperdulikan aksinya itu rombongan orang muda.
Adalah kemudian, mendadak dia menanya Bhok Lin.
"Apakah suratmu untuk raja sudah di kirim?"
"Sudah sedari siang-siang,"
Menjawab itu murid.
"Kita sekarang tinggal menunggu keluarnya firman Sri Baginda Raja."
"Untuk apakah surat itu?"
Tanya Giok Houw.
"Jikalau seorang menteri menutup mata, menurut aturan, hal itu harus disampaikan kepada raja,"
Bhok Lin memberi keterangan.
"Demikian dengan cihu-ku meski benar dia baru berpangkat tingkat ketiga. Dia menjadi Hutongnia dari pasukan Gilimkun. dan padanya ada tersangkut kedudukan dari ayahku. Suhu juga menganjurkan aku mengirim surat. Sebagai alasan dikemukakan bahwa cihu mati lantaran sakit. Sekalian dengan itu aku mesti minta perkenan untuk membawa pulang jenazah cihu untuk dikubur di kampung halaman kami."
"Ah, orang mati demikian sulit urusannya!"
Berkata Siauw Houw Cu.
"Dengan begitu apakah bukan berarti kita masih harus berdiam di sini untuk beberapa hari lagi?"
"Memang kita harus berdiam di sini lagi beberapa hari!"
Sin Cu nimbrung sambil tertawa.
"Lain-lain kepusingan kita mesti mendayakan untuk menjauhkannya tetapi kepusingan semacam ini, kita cari pun sukar untuk didapatkannya!"
Giok Houw heran, otaknya lantas bekerja Sebagai seorang cerdik, ia segera mendapat jawabannya.
Maka ia bersenyum.
Dengan lantas ia dapat menerka siasatnya gurunya ini.
Sementara itu Cu Kian Cim.
ialah Kaisar Hian Cong, heran bukan main kapan ia telah menerima surat pemberitahuan atau rekes dari Bhok Lin itu.
"Tiat Keng Sim itu segar bugar, dia juga bukan miripnya orang berusia pendek, mengapa dia meninggal secara begini tiba-tiba?"
Demikian pikirnya. Ketika ia menerima surat, sudah magrib, itu waktu sudah selang dua jam dari "matinya"
Keng Sim.
Ia lantas mengirim orang, untuk mencari tahu.
Tidak lama, orangnya itu sudah kembali, menuturkan halnya Keng Sim mati membunuh diri di rumahnya Chian Tiang Cun, bahwa kematian itu disaksikan sendiri oleh sekalian wisu dan busu, jadi itulah bukan kematian palsu.
"Heran!"
Pikir raja ini.
"Aku tidak menyangka dia mati secara demikian macam. Syukur Bhok Lin tidak berani banyak bicara, dia cuma menyebutkan kematian lantaran sakit, jikalau tidak, urusan bisa menjadi sulit. Dengan memandang kepada Bhok Kokkong, baiklah, urusan ini tidak usah ditarik panjang."
Maka raja lantas mengeluarkan putusannya menuruti kebiasaan umum.
Ia mengirim tanda turut berduka cita.
Keng Sim diberi pangkat mati, ialah Jipin Liongki Touwoet.
Di hari kedua.
Bhok Lin diijinkan untuk datang menghadap ke istana, untuk dihiburkan, guna diberi perkenan membawa pulang layon iparnya itu.
Senang Bhok Lin atas putusan raja itu.
Ia merasa bagaimana raja memperlakukannya dengan baik.
Bukankah beberapa kali ia telah dipanggil menghadap ke istana?
Hanya kali ini ia datang untuk sekalian berpamitan.
Oleh raja, ia diterima menghadap di kamar tulis dalam keraton.
Ia pun dipandang seperti keponakan, hingga ia tidak usah menjalankan banyak adat peradatan.
Raja sendiri, selama dia menantikan datang menghadapnya Bhok Lin, telah menerima suatu warta lain.
Itulah mengenai sepak terjangnya Chian Tiang Cun dan Hu Kun Cip, congkoan dan tongnia-nya, yang mengepalai beberapa puluh wisu pilihan, pemimpinpemimpin dari Gilimkun serta beberapa puluh busu dari pelbagai propinsi, untuk pergi menangkap orang-orang yang dicurigai sebagai penjahat-penjahat perampas pelbagai bingkisan.
Bahwa sampai itu waktu, mereka itu masih belum kembali, serta tidak ada kabar ceritanya Walaupun kejadian itu aneh sekali, raja tidak lantas menyangka jelek.
Bukankah Hu Kun Cip membawa jumlah yang besar dan semuanya orang-orang pilihan?
Bukankah mereka itu berada di kota raja?
Di mana kawanan penjahat telah ketahuan tempat mondoknya, bukankah gampang untuk meringkus mereka semua?
Tidak ada alasan bahwa mereka bakal menampak kegagalan.
Mungkin ada sesuatu yang membikin mereka terlambat, hingga mereka belum kembali...
Begitulah, meski aneh duduknya hal, raja tidak berkuatir.
Baru saja thaykam yang mengantar juru pelapor itu mengundurkan diri, lantas tertampak munculnya Bhok Lin, yang diiringi dua thaykam lainnya.
Kian Cim membiarkan Bhok Lin menjalankan kehormatan di antara menteri dan junjungannya, habis itu ia memberi ijin untuk orang berduduk, kemudian ia pandang pangeran muda itu.
Ia mendapatkan air muka orang seperti biasa saja.
"Dasar bocah belum mengerti apa-apa"
Pikir raja ini.
"Cihu-mu telah menutup mata, kau pandang kejadian itu seperti tidak terjadi sesuatu. Sebenarnya, taruh kata kau tidak memikirkannya, dihadapan tim mestilah kau mengunjuki roman berduka..."
Raja memikir demikian karena ia tidak tahu Keng Sim mati palsu. Dan walaupun dia tahu orang mati membunuh diri, iajuga berpura-pura.
"Cihu-mu itu mati lantaran sakit apa?"
Demikian ia tanya "Kenapa dia meninggalnya demikian cepat?"
Bhok Lin mendusta ketika ia menjawab.
"Dua hari terlebih dulu daripada itu dia mendapat bisul kecil di hidungnya, jintiong, bisul itu tidak sakit dan juga tidak gatal, dia tidak perhatikan itu. Di luar dugaan, itulah bisul yang beracun. Kemarin lohor, bisul itu bekerja dengan mendadak, ketika tabib diundang dan datang, dia sudah keburu menutup mata."
Raja mengangguk.
"Memang, bisul di jintiong biasa berbahaya,"
Berkata raja, yang turut main sandiwara.
"Menurut ilmu tabib, bisul itu dinamakan bisul mulut kuda Sebenarnya bisul demikian tidak dapat dipandang enteng."
"Luas pengetahuan Sri Baginda,"
Berkata Bhok Lin.
"Tabib pun membilang demikian. Sayang kami mengetahuinya sesudah terlambat."
Cu Kian Cim menghela napas.
"Tiat Logisu seorang menteri yang setia,"
Ia berkata pula.
"Perbuatannya mendakwa Ong Cin telah menggemparkan negara. Ia cuma mempunyai seorang putera, tidak disangka putera itu pendek umurnya. Sungguh sayang! Apakah ada pesannya cihu-mu itu ketika ia hendak melepaskan napasnya yang penghabisan?"
Bhok Lin melanjuti sandiwaranya.
"Cihu membilang bahwa keluarganya dua turunan, ayah dan anak, telah menerima budi besar dari negara, ia menyesal tidak dapat membalasnya,"
Ia menyahut.
"maka itu ia memesan untukku belajar surat dengan rajin dan belajar silat dengan sungguh-sungguh, supaya kemudian hambamu dapat melakukan sesuatu untuk Sri Baginda."
"Sungguh setia Keng Sim!"
Raja memuji.
"Sampai di saat kematiannya, dia masih tidak melupakan budi Junjungannya! Sungguh sukar dicari menteri sebagai dia! Dia memang gagah dan pandai bekerja. Lihat saja, dari demikian banyak bingkisan yang diantar ke kota raja, cuma bagianmu yang dia dan kau dapat melindunginya dengan sempurna. Sebenarnya tim hendak memberikan dia kedudukan lebih penting, sayang dia mati muda. Dengan kematiannyatim kehilangan seorang menteri gagah dan pandai, sungguh tim menyesal..."
"Dia meninggalkan pesan,"
Berkata Bhok Lin, menggunakan saatnya ini.
"agar jenazahnya dikubur di kaki gunung Sesan di kota Kunbeng, di tepinya pengempang Tiantie. maka itu hamba pikir, lagi dua hari akan berangkat membawa jenazahnya itu pulang, supaya lekas-lekas dapat dikebumikan."
"Itulah sudah seharusnya. Hanyalah perjalanan ke Inlam itu jauh laksaan li, kau seorang diri yang mengantarkannya, hatiku tidak tenteram. Apakah kau menghendaki ditambah pengantar wisu untuk menemani kamu?"
"Terima kasih, itulah tidak usah,"
Berkata Bhok Lin, menyahuti.
"Sekarang ini Sri Baginda yang memerintah, negara aman sentosa, umpama kata toh ada kawanan kurcaci, hambamu mempunyai sejumlah pengiring yang dapat melayani mereka. Maka itu hamba tidak berani mengganggu kepada sekalian wisu dari istana."
Biar bagaimana, raja merasa tersinggung juga dengan itu kata-kata "negara aman sentosa."
Bukankah bingkisan pelbagai propinsi telah kena dirampas penjahat dan cuma bingkisan dari Inlam sendiri yang selamat?
Tapi, mendapatkan pangeran muda ini demikian pandai bicara, ia tidak mau membilang apa-apa Ia bilang saja.
"Jikalau demikian, tim akan mengirim saja seorang wakil, selagi layon hendak diberangkatkan, biarlah dia mewakilkan tim turut bersembahyang. Di samping itu nanti tim membekali sepucuk firman, supaya semua pembesar negeri dipelbagai tempat dan kota yang dilewati nanti membantu mengantarkan dan melindungi."
Kembali Bhok Lin menghaturkan terima kasihnya Sampai di situ, raja memanggil seorang thaykam, yang dititahkan menyuguhkan teh harum untuk pangeran muda itu.
"Tim mendengar kau suka sekali bergaul sama orangorang gagah yang hidup merdeka di luaran,"
Kata raja kemudian.
"sekarang ini ada satu di antaranya yang berdiam di Inlam, tahukah kau tentang dia atau tidak?"
"Entah siapa itu yang Sri Baginda tanyakan?"
Tanya Bhok Lin.
"Dulu hari semasa peperangan di Touwbokpo,"
Menyahut raja.
"di sana ada seorang rakyat gagah bernama Thio Tan Hong. Dialah juru pemikir dari Koklo Ie Kiam. Ketika Sri Baginda almarhum menampak kesusahan, dialah yang bersama-sama le Kiam mendayakan dan menyambutnya pulang. Sayang Ie Kiam telah mati penasaran, maka juga selekasnya tim naik ditahta, tim sudah lantas membersihkan kehormatannya Thio Tan Hong sendiri masih hidup, untuk jasanya dulu hari itu, tim belum membalasnya, maka itu untuk banyak tahun senantiasa tim memperhatikan dia. Sekarang ini, menurut kabar yang dapat dipercaya, dia tinggal menyendiri di gunung Thiam Chong di Inlam, maka itu, entahlah kau pernah bertemu dengannya atau tidak."
Selagi berbicara itu, raja memperhatikan wajah si anak muda.
Ia tahu Thio Tan Hong gagah dan pintar, ia kuatir orang nanti kena dipakai oleh Bhok Kokkong, hingga kelak dikemudian hari, ia bisa mendapat susah dari orang cerdik pandai itu, maka sekarang ingin ia mendengar hal dia itu dari pangeran ini.
Bhok Lin menunjuki sikapnya tenang.
Ia meletakkan cawan tehnya, dengan sikap sangat hormat, ia memberikan jawabannya.
Katanya.
"Harap Sri Baginda mengetahuinya, orang yang Sri Baginda sebutkan itu kebetulan hamba mengenalnya. Jikalau Sri Baginda ingin memanggil dia datang menghadap, nanti hamba pergi mencari dia."
Raja terperanjat mendengar jawaban itu.
Inilah di luar dugaannya Karena ini hendak ia menanya pula atau seorang thaykam datang menghampirkan untuk terus berbisik di telinganya.
Dengan lantas air mukanya berubah menjadi pucat dan guram bergantian.
Kabar itu adalah kabar tentang Hu Kun Cip dan Chian Tiang Cun.
Congkoan dan tongnia itu, berserta rombongannya, masih belum juga kembali serta tidak ada kabar ceritanya.
Katanya, kecuali itu, beberapa kali telah di kirim orang, untuk pergi mencari tahu, tetapi semua pesuruh itu pergi tanpa satu di antaranya pulang.
Hingga mereka mirip batu besar yang dilemparkan ke dalam laut.
Di samping itu, ada lagi lain kejadian.
Inilah yang membikin raja itu kaget, gusar, masgul dan berkuatir, hingga air mukanya itu menjadi berubah.
Berita yang terakhir ini ialah.
Kantor dari sekalian wisu di tempatkan di pendopo Engbu tian di luar keraton, ialah di dalam istana.
Di sana ada terjadi sesuatu.
Wisu yang bertugas di sana merasa heran atas "lenyapnya"
Rombongan Hu Kun Cip itu, maka dia mengadakan rapat untuk membicarakannya.
Tengah rapat berjalan maka dapatlah diketahui sesuatu itu.
Di balok penglari tertampak sebuah pedang pendek, tak tahu siapa yang menancapnya di situ.
Pedang itu lantas dicabut, dikasih turun.
Segera orang mengenali, itulah pedangnya Hu Kun Cip.
Semua orang menjadi kaget dan heran.
Mereka memangnya bukan sembarang orang Kangouw.
Sekarang, tanpa mencari tahu lagi.
tahulah mereka bahwa Hu Kun Cip semua telah menjadi orangorang tawanan lawan yang belum dikenal, hanyalah entah di mana mereka tertawannya, dan setahulah di mana sekarang mereka lagi disekap.
Pedang ini pastilah telah di kirim oleh musuh.
Dan oleh musuh yang lihai sekali sebab harus diketahui, Hu Kun Cip semua berjumlah banyak dan semuanya juga lihai.
Dan musuh yang mengantar pedang ini tanpa ketahuan, mesti lihai juga.
Mendengar laporan ini, Cu Kian Cim tergetar hatinya.
Ia bukannya orang Kangouw tetapi ia menginsafi apa artinya itu.
Tapi ia justeru membicarakan halnya Thio Tan Hong, yang diketahui Bhok Lin, ia mencoba menenangkan diri.
Ia menunda urusan Hu Kun Cip itu.
Ia pun lantas menyuruh mundur orang-orang kebirinya itu.
"Kau bilang bahwa Thio Tan Hong itu dapat dicari, di mana adanya dia sekarang?"
Kemudian Kian Cim tanya puteranya Bhok Kokkong.
"Lagi dua hari kau bakal berangkat pulang, apakah kau masih berkesempatan mencari dia?"
Pangeran muda itu bersenyum.
"Tuan Thio itu sekarang berada di sini,"
Ia menjawab. Raja kaget hingga ia berjingkrak bangun.
"Dia di sini?"
Dia berseru.
"Wisu, lekas!"
Selagi raja itu kelabakan, Bhok Lin berlaku tenang.
"Tidak salah, Tuan Thio berada di sini,"
Sahutnya.
"Tuan Thio berada di luar, ia lagi menantikan titah panggilan dari Sri Baginda..."
Raja tidak memperdulikannya.
Ia segera berteriakteriak memanggil para pahlawannya.
Tapi ia tidak memperoleh jawaban, tidak ada seorang wisu juga yang muncul.
Di lain pihak lantas terdengar satu suara tertawa perlahan tetapi terang dan pintu kamar segera tertolak terbuka, dari situ terlihat masuknya satu orang dengan sikapnya yang tenang dan tindakannya ayal tetapi tetap.
Dia lantas menjura dalam dan berkata.
"Thio Tan Hong menerima panggilan dan sekarang ia datang menghadap Sri Baginda!"
Memang benar, dialah Thio Tan Hong, yang lagi disebut-sebut itu.
Raja mundur satu tindak, matanya terbuka lebar, mengawasi orang she Thio itu.
Ketika ia melihat roman orang sabar, sama sekali tidak ada tanda-tandanya orang berniatan busuk, hatinya menjadi sedikit lega.
Ia lantas berduduk pula.
"Thio Sianseng, cara bagaimana kau datangnya kemari?"
Ia tanya. Ia heran dan rasa herannya tidak bisa lantas lenyap. Tan Hong tertawa.
"Tentu saja dengan jalan bertindak,"
Sahutnya tenang.
"Aku ingat hal pada sepuluh tahun yang lampau. Ketika itu Sri Baginda masih menjadi putera mahkota. Ketika itu aku pernah dipanggil menghadap. Itulah budi Sri Baginda, yang hingga sekarang tidak dapat aku lupakan. Sekarang Sri Baginda telah naik di atas tahta kerajaan, sudah selayaknya saja aku datang untuk memberi selamat!"
Raja merasa tidak enak hatinya Ia tentu tidak ketahui yang Thio Tan Hong datang dengan mengikut Bhok Lin, mengikut tetap sebagai pengiring tetiron.
Sebenarnya Bhok Lin datang dengan beberapa pengiring, antaranya Tan Hong.
Mereka tidak diperkenankan turut masuk menghadap raja, mereka dipernahkan di sebuah kamar thaykam dengan diawaskan oleh beberapa wisu.
Akan tetapi, setelah Tan Hong menduga saatnya sudah tiba, dengan kesehatannya, dengan kelihaiannya, ia totok roboh semua wisu pengawas itu, lantas ia masuk ke dalam.
Di muka kamar tulis raja ada menjaga dua wisu lain, yang terlebih lihai, juga mereka itu berdua dapat dirobohkan dengan gampang.
Maka juga, begitu mendengar suaranya Bhok Lin yang terakhir, ia menolak pintu dan bertindak masuk.
Dalam herannya Cu Kian Cim berpikir.
"Dia dapat memasuki istana yang pintunya berlapis-lapis, teranglah dia telah merobohkan semua pahlawanku, kalau sekarang aku memanggil-manggil lagi orang, niscaya percuma saja. Siapa bisa datang dan melawannya? Bahkan itu membikin dianya ketahui bahwa aku takut..."
Maka itu, justeru Tan Hong menyebut-nyebut peristiwa dulu, hatinya menjadi jauh terlebih tenteram.
"Silahkan duduk, Thio Sianseng!"
Ia mengundang. Tan Hong menerima undangan itu.
"Tim baru naik di atas tahta tim mencari orang pandai bagaikan tim berdahaga,"
Ia berkata kemudian.
"kebetulan Sianseng datang, inilah saatnya yang baik untuk tim memohon pengajaran."
"Istana Sri Baginda penuh dengan menteri-menteri bun dan bu, yang pintar dan gagah, sebenarnya tidak ada perlunya Sri Baginda dengan orang hutan sebagai aku."
Tan Hong menjawab.
"Jangan kau merendahkan diri, Thio Sianseng,"
Berkata raja "Tim ketahui baik sekali. Sianseng adalah orang pintar dan gagah di jaman ini! Sebenarnya tim sangat mengagumimu."
"Jikalau benar Sri Baginda tidak merasa malu untuk bertanya terhadapku,"
Kata Tan Hong kemudian.
"maka itu aku si orang she Thio yang cupat pandangannya suka aku bicara. Aku minta sudilah Sri Baginda memaafkan yang aku hendak bicara secara terus terang."
"Kalau ada sesuatu ajaranmu, Sianseng, suka tim mendengarnya,"
KataCu Kian Cim.
"Silahkan minum tehnya dulu!"
Di saat seperti itu, untuk mendapat kesan baik dari Thio Tan Hong, raja melupakan derajatnya sebagai kaisar, ia sendiri yang menuangkan teh dan menyuguhkannya.
Tan Hong tidak berlaku sungkan, ia menyambuti teh dan meminumnya.
"Pada sepuluh tahun dulu itu,"
Kemudian ia mulai berkata.
"aku dan Sri Baginda telah menyebut-nyebut tiga soal, entah Sri Baginda masih ingat itu atau tidak..."
"Aku ingat itu,"
Berkataraja.
"Yang pertama ialah supaya Ie Koklo dihilangkan penasarannya. Yang kedua yaitu supaya Yap Seng Lim dibiarkan merdeka di pulaunya serta diberi pangkat dengan perjanjian kedua pihak tidak saling menyerang. Dan yang ketiga agar Toan Teng Chong dibiarkan menjabat terus kedudukan raja muda turun temurun serta semua suku dan pembesar diwilayah Tali tetap berada di bawah kekuasaannya, supaya kedua suku Han dan Pek hidup damai untuk selama-lamanya. Ketika itu adalah ayahandaku yang masih memerintah, aku tidak dapat berbuat apa-apa, tetapi sekarang, setelah aku yang naik di tahta, semua tiga soal itu telah aku mewujudkannya Tentang Toan Teng Chong menjadi raja muda Sri Baginda almarhum sudah mengeluarkan firmannya, titah pun telah diumumkan, dan ketika aku naik di singgasana, aku juga sudah bertindak terlebih jauh, aku telah menambah anugerah. Kabarnya sudah beberapa tahun Thio Sianseng hidup menyendiri di gunung Chongsan, maka tentulah Sianseng sudah mendapat tahu semua hal itu."
"Inilah bagian yang pertama, yang mengenai Keluarga Toan itu,"
Berkata Tan Hong.
"Sekarang aku ingin mendengar penjelasan hal yang dua lagi. Bagaimana dengan yang kedua?"
"Begitu tim naik di atas tahta, lantas tim memerintahkan mencuci penasarannya Ie Koklo itu."
Menyahut raja "Tentang itu tim sudah menyiarkan maklumat ke seluruh negeri agar semua rakyat mengetahuinya, serta juga di Hangciu telah dibangun rumah abu untuk memuliakan Ie Koklo yang setia itu.
Tentang ini tentulah Thio Sianseng telah mengetahuinya juga."
"Dan yang ketiga?"
Tang Hong masih menegaskan.
"Yap Seng Lim mengambil kedudukan di pulau-pulau, dia tidak menerima panggilan kami untuk datang menakluk,"
Menjawab raja.
"Kalau dia diberi perkenan mengangkat dirinyamenjadi raja, maka tindakan itu tidaklah tepat, tidak cocok dengan aturan pemerintah, meskipun demikian, tim tidak menitahkan untuk menghukum dia. Thio Sianseng, apabila Sianseng dapat membikin Seng Lim menakluk kepada pemerintah, hingga dia suka tunduk di bawah perintah sunbu dari Ciatkang, maka tim pastilah tidak berkeberatan akan memberikan dia sesuatu pangkat."
"Aku bukannya hendak memohonkan pangkat untuk Yap Seng Lim,"
Berkata Thio Tan Hong, yang terus menjelaskan.
"Sebenarnya dia berjasa untuk negara Sekarang ini dia lagi menugaskan diri mewakilkan negara menjaga serbuan perompak-perompak bangsa kate. Untuk itu dia tidak meminta rangsum atau biaya dari negara. Sepak terjangnya itu, untuk negara, ada baiknya, tidak ada jahatnya. Maka itu, seandai Sri Baginda tidak dapat mengijinkan dia menjadi raja di pulau-pulau itu, sedikitnya adalah selayaknya jikalau Sri Baginda melarang tentera pemerintah menyerang pula padanya. Tapi tentang ini baiklah ditunda dulu. Mengenai tiga hal itu, yang katanya Sri Baginda telah melakukan semuanya, menurut aku. sebenarnya Sri Baginda baru melakukan satu di antaranya..."
"Bagaimanakah itu?"
Raja tanya.
"Yang telah dilakukan ialah baru urusan menganugerahkan Toan Teng Chong di Tali,"
Kata Tan Hong.
"Usaha mencuci bersih penasarannya Ie Koklo, itu dilakukan karena terpaksa, hal itu tidak dapat tidak dilakukan. Sri Baginda melakukannya bukan dengan kesungguhan hati."
Parasnya raja berubah. Ia merasa sangat tersinggung.
"Thio Sianseng menegur tim, tidakkah itu keterlaluan?"
Katanya. Di dalam keadaannya seperti itu, tidak dapat ia menggunakan kekuasaannya sebagai seorang raja.
"Mengapa Sianseng membilangnya tim tidak sungguh-sungguh?"
"Ie Koklo mempunyai hanya seorang anak perempuan, namanya Sin Cu, dan suaminya ialah Yap Seng Lim pemimpin dari tentera rakyat suka rela,"
Tan Hong mengasi keterangan.
"Jikalau Sri Baginda benar-benar menghargakan jasa Ie Koklo, yang demikian menyinta negara, mengapa menyuruh demikian banyak wisu istana dan barisan Gilimkun pergi menawan dia dengan tuduhan dialah seorang pemberontak?"
Mendengar itu. Cu Kian Cim kaget.
"Apa? Puterinya Ie Koklo itu ialah Ie Sin Cu?"
Tanyanya.
"Tim cuma menerima laporan Hu Congkoan tentang halnya seorang penjahat wanita yang katanya bersangkut paut sama perampasan bingkisan pelbagai propinsi, tapi perihal dia pergi menangkapnya atau tidak, Tim tidak tahu apa-apa. Memang hebat penjahat itu yang berani mengganggu pelbagai bingkisan, mereka kurang ajar sekali! Kenapa puterinya Ie Koklo berada di antara orang-orang jahat itu? Inilah aneh! Harap saja itu bukannya hal yang benar!"
Mendengar kata-kata raja itu, Thio Tan Hong bersikap tawar.
"Ie Sin Cu itu bukan saja benar telah merampas pelbagai bingkisan,"
Ia berkata.
"bahkan dia bersama seorang adik seperguruannya adalah orang yang memimpin perampasan itu."
Inilah hal yang raja sudah ketahui, tetapi ia berpurapura. Sengaja ia mengeprak meja dan berseru berulang kali.
"Seorang wanita cantik menjadi penjahat, inilah sungguh di luar dugaan! Sungguh di luar dugaan!"
"Tahukah Sri Baginda kenapa mereka itu merampas bingkisan itu?"
Tan Hong tanya. Ia menanya tapi tidak menanti jawaban, selagi raja mengawasi padanya, ia menambahkan.
"Itulah untuk dapat membelanjai tentera rakyat. Ciu San Bin bekerja di utara mewakilkan Sri Baginda menjaga serangan bangsa Ouw yang galak, dan Yap Seng Lim, di selatan, membendung gangguan perompak-perompak kate. Untuk usahanya itu, guna memelihara tentera, mereka itu tidak mau melakukan perampokan, mereka mengandal pada usaha sendiri membuka tanah ladang dan menangkap ikan di laut. Usaha itu tidak dapat mencukupi biaya mereka, maka itu mereka terpaksa merampas pelbagai bingkisan untuk Sri Baginda itu. Sri Baginda agung dan mulia sebagai raja, kaya raya mempunyai empat penjuru lautan, dan di dalam gudang istana bertumpuk barang-barang permata bagaikan gunung, maka untuk Sri Baginda, pelbagai bingkisan itu, banyak tidak terlalu banyak, sedikit tidak berarti kesedikitan, daripada membiarkan itu tersimpan di dalam gudang dengan tidak ada faedahnya, lebih baik dibiarkan semua itu diambil mereka. Bahkan untuk Sri Baginda itu menjadi ada kebaikannya yang besar!"
"Thio Sianseng, mengapa Sianseng mengetahui hal begini jelas?"
Tanya raja. Thio Tan Hong bersenyum.
"Baiklah Sri Baginda mendapat ketahui,"
Sahutnya.
"Ie Sin Cu serta adik seperguruannya itu, Thio Giok Houw, keduanya murid-muridku, dan usaha mereka itu merampas pelbagai bingkisan disetujui pula olehku. Dulu hari itu harta besar simpanan yang menjadi warisan leluhurku telah dihadiahkan kepada Pemerintah Agung dipakai biaya tentara menangkis penyerbuan bangsa Watzu, dan sekarang murid-muridku mengambil pelbagai bingkisan Sri Baginda diperuntukkan rangsum tentera rakyat! Yang satu dipersembahkan, yang lain diambil, tetapi dua-duanya itu sama saja artinya, semua untuk keperluan negara, maka itu, jikalau Sri Baginda hendak mempersalahkan mereka, silahkan persalahkan aku saja!"
"Mana dapat tim mempersalahkan Sianseng?"
Kata Kian Cim cepat. Ia hening sejenak, lalu ia menambahkan.
"Jikalau demikian adanya, dengan memandang kepada Ie Koklo, apabila Ie Sin Cu itu kena ditawan oleh sebawahannya Hu Congkoan, nanti tim mengeluarkan firman supaya dia dimerdekakan secara diam-diam..."
Thio Tan Hong tertawa.
"Ie Sin Cu itu tidak kena dibekuk Hu Congkoan,"
Katanya.
"sebaliknya dialah yang datang sendiri!"
Kian Cim heran hingga dia terkejut.
"Apa? Apakah Ie Sin Cu pun datang ke sini?"
Tan Hong mengangguk.
"Hari ini aku masuk ke istana,"
Katanya, menerangkan.
"lalu kedua muridku itu ingin membikin luas pandangan matanya, mereka meminta sangat untuk turut padaku, lantaran aku tidak sampai hati untuk menolak, terpaksa aku ajak mereka datang kemari!"
Setelah berkata begitu, dengan membikin keras suaranya, ia menoleh ke arah luar dan menambahkan.
"Sin Cu! Siauw Houw Cu! Mari lekas menghadap Sri Baginda Raja!"
Belum lagi berhenti suaranya guru ini, pintu kamar sudah lantas ditolak terpentang, dari situ muncul sepasang pria dan wanita, ialah Sin Cu dan Thio Giok Houw.
Sin Cu lantas memberi hormat dengan liamjim, dengan merangkap kedua tangannya, sedang Thio Giok Houw cuma menjura saja.
Kemudian tanpa menanti perintah lagi, keduanya berdiri di kedua samping raja itu.
Kian Cim kaget berbareng mendongkol.
Tapi ia tidak berdaya, terpaksa ia menahan hawa amarahnya.
Sebaliknya, ia mengasi lihat sikap tenang dan sabar.
"Dulu hari itu ayahmu berjasa kepada negara, tetapi dia meninggal secara penasaran, sebenarnya hati tim tidak enak,"
Ia berkata pada Sin Cu, halus.
"maka itu setelah naik di tahta, tim sudah lantas mencuci bersih penasarannya itu. Sebetulnya tim lagi memikir untuk mencari tahu Ie Koklo mempunyai putera dan puteri atau tidak, maka dengan sekarang tim bertemu sama puterinya, sungguh tim girang sekali. Sebab ternyata maksud hati tim telah kesampaian..."
"Sinli tidak mengharap anugerah, sinli cuma mengharap diberi maaf,"
Berkata Sin Cu lekas. Ia menyebutnya sinli, artinya, menteri wanita "Tentang kamu merampas bingkisan, barusan Thio Sianseng telah membicarakannya,"
Berkata raja.
"mengenai itu, tim sudah lantas memberikan keampunan kepada kamu. Syukur sekali orang-orang sebawahannya Hu Congkoan belum sampai dapat menawan kamu..."
Mendengar kata-kata raja itu. Thio Giok Houw tertawa bergelak.
"Hus!"
Thio Tan Hong menegur muridnya.
"Di depan Sri Baginda, jangan kurang ajar!"
"Suhu,"
Berkata Siauw Houw Cu, yang nakal dan Jenaka.
"sesungguhnya aku tidak dapat menahan untuk tidak tertawa!"
"Sri Baginda tinggal di dalam istana,"
Kata Tan Hong.
"istana itu berlapis sembilan, terpisah dari dunia luaran, jadinya tidak heran kalau Sri Baginda kurang pendengaran, oleh karena itu tidak dapat kau mentertawakannya."
Raja sangat mendongkol dan gusar melihat kelakuannya Thio Giok Houw, yang dia anggap sangat kurang ajar, sebenarnya dia hendak mengutarakan kemurkaannya, tetapi Thio Tan Hong telah mendahuluinya menegur murid itu.
Karena itu, dia pun lantas ingat suatu apa.
Maka batal dia hendak menegur.
Toh dia tetap mendongkol dan lantas menanya Tan Hong.
"Di dalam hal apa tim kurang pendengaran hingga tim mesti ditertawai murid Sianseng?"
Tan Hong tidak menjawab, karena ia pun sudah lantas berkata kepada muridnya yang satunya lagi.
"Sin Cu, mengapa kau masih tidak mau lekas memohon maaf dari Sri Baginda?"
Sin Cu menurut, ia bertindak ke depan raja "Sinli mohon Sri Baginda memberi maaf, nanti barulah sinli berani bicara,"
Ia berkata Raja tengah mendongkol, maka itu ketika ia menjawab nona ini, ia kata.
"Bukankah tadi tim telah membilang, dengan memandang kepada ayahmu dan gurumu juga, dalam hal perampasan bingkisan, tim sudah memberi ampun padamu?"
"Tetapi ini bukanlah untuk urusan yang kecil itu,"
Menerangkan Sin Cu. Ia sengaja menyebut perampasan bingkisan itu urusan ketil. Raja terkejut.
"Apakah dia telah melakukan lagi sesuatu yang terlebih hebat daripada perampasan bingkisan itu?"
Katanya dalam hatinya, membade-bade.
"Adakah urusan yang lebih besar dan menggemparkan?"
Tapi ia mesti menjawab.
Ia mesti menghargai keagungannya sebagai seorang kaisar.
Maka ia berkata "Kau tuturkan segala apa biar terang, tim dapat menimbangnya dengan adil.
Singkatnya tim memberi kau kebebasan dari hukuman mati."
Kembali Thio Giok Houw tertawa, dingin suaranya. Ia pun kata.
"Dari hukuman mati dapat dibebaskan, dari hukuman hidup toh tidak dapat diampunkan, bukan?"
"Siauw Houw Cu, jangan banyak omong!"
Tan Hong menegur.
"Pendeknya kau dengar saja putusan Sri Baginda nanti!"
"Harap Sri Baginda mendapat ketahui,"
Sin Cu berkata, menerangkan.
"tadi malam sinli telah bertemu sama Sri Baginda empunya Taylwee Congkoan serta Gilimkun Tongnia, begitupun dengan delapan wisu istana serta tujuh belas pemimpin Gilimkun yang di kepalai mereka itu!"
Kembali raja terkejut di dalam hatinya. Tanpa menanti Sin Cu berbicara terlebih jauh, dengan tidak menunggu kalau-kalau raja mau meminta keterangan, Thio Giok Houw lantas campur bicara.
"Bukan melainkan mereka itu semua!"
Katanya pemuda ini.
"Kita juga telah bertemu sama beberapa puluh busu pelbagai propinsi, dan mereka ini turut menderita bersama-sama mereka itu! Sri Baginda, congkoan serta tongnia Baginda itu, karena urusan kami, mereka sudah menggeraki sebuah angkatan perang, dan sepak terjang mereka itu membuatnya kami merasa sangat girang dan berbahagia!"
Raja masih bersangsi, ia bingung. Tapi ia berkata.
"Mereka itu tidak mengetahui bahwa kaulah puterinya Ie Koklo, mereka menyangka kamulah penjahat-penjahat tukang rampas yang biasa, maka itu mereka pergi untuk melakukan penangkapan. Tetapi kamu telah dapat meloloskan diri, ya, sudah saja! Bagaimana dengan mereka itu?"
Raja menanya begitu sedang di dalam hatinya ia mendamprat Hu Keen Cip dan Chian Tiang Cun karena mereka tidak mempunyai guna, dengan mengepalai puluhan pembantu, mereka tidak sanggup membekuk Sin Cu dan kawannya.
Sekarang adalah Sin Cu yang memberikan penyahutan.
"Sri Baginda, mereka itu ditahan kami,"
Katanya, tenang. Raja heran bukan main.
"Apa?"
Tanyanya.
"Kamu telah menahan mereka? Apakah artinya perkataanmu ini?"
"Ah, apakah Sri Baginda masih belum mengerti?"
Giok Houw menyelak pula.
"Mereka itu datang menyateroni kami, untuk menangkap kami, akan tetapi sebaliknya, mereka yang kena kami bekuk!"
Mukanya kaisar pucat. Itulah hebat! Tan Hong lantas turut bicara. Ia kata dengan tawar.
"Itulah sudah terjadi karena menuruti pikiranku. Merekalah orang-orang berpangkat, kami tidak tega hati membunuh mereka, maka itu kami telah minta kepada mereka untuk berdiam untuk beristirahat beberapa hari di tempat kami. Berhubung dengan itu maka muridku ini memohon maaf serta kebebasan dari dosanya sudah menawan mereka itu. Aku sendiri, aku juga mau mohon Sri Baginda memberi maaf sebab aku sudah lancang berani menahannya."
Bukan main herannya raja ini.
Puluhan wisu dan pemimpin Gilimkun, yang semuanya pilihan, dan mereka dibantu juga begitu banyak busu, hingga jumlah mereka mendekati seratus jiwa, telah kena di tawan rombongannya Tan Hong ini!
Itulah tak dapat dipikirkan!
Tidak heran, pikirannya menjadi butek.
"Benarkah itu?"
Akhirnya dia menanya, suaranya bergetar.
"Mereka telah kena ditawan kamu?"
Thio Giok Houw tertawa "Mereka kena dibekuk semua, seorang pun tidak ada yang lolos!"
Ia menggantikan Sin Cu atau gurunya menjawab.
"Jikalau Sri Baginda tidak percaya, di sini ada yauwpay mereka yang aku bawa!"
Dari dalam sakunya.
Giok Houw mengeluarkan sebuah bungkusan, ia lantas membuka itu dan melepaskannya maka, dengan menerbitkan suara berisik, sekumpulan yauwpay jatuh ke lantai dengan bunyinya yang nyaring.
"Yang delapan ada kimpay dari wisu dari keraton,"
Berkata Giok Houw kemudian.
"Yang tujuh belas ialah ginpay dari pemimpin-pemimpin Gilimkun! Sri Baginda, cobalah tolong hitung, mungkin ada yang kurang, umpama kata sepotong..."
Untuk wisu dari keraton, Taylwee.
guna memasuki keraton, melakukan tugas penjagaan, mereka memerlukan kimpay, pertanda yang terbuat dari emas, yang diberikan oleh raja Untuk barisan Gilimkun, pay itu terbuat dari perak.
Thio Giok Houw menyebutkan jumlah yang tepat, maka Kian Cim melongo.
Tak perlu, tak ada pikirannya, untuk menghitung semua yauwpay itu.
Selagi raja menjublak dengan mata dan mulut dipentang lebar, Thio Tan Hong berkata.
"Masih ada satu barang kepunyaannya Taylwee Congkoan Hu Kun Cip. Untuk dia, buat mundar-mandir di dalam keraton, dia tidak membutuhkan kimpay, jadi semua kimpay itu tidak termasuk kepunyaannya Dari dia itu, aku cuma mengambil pedangnya, pedang mana aku sudah kirim ke pendopo Engbu Tian, mungkin pedang itu sudah dapat diketemukan oleh wisu yang bertugas di pendopo itu. Hal ini sekalian saja aku memberitahukannya, supaya dengan begitu tidak usahlah mereka mencapekan diri mencari aku. Pula aku hendak memberitahukan, aku mempunyai dua sahabat yang telah mewakilkan aku melayani semua tetamu, maka itu umpama kata dari sini ada di kirim orang untuk menjenguk mereka, pastilah pesuruh itu, pergi satu ditahan satu, pergi dua ditahan sepasang. Piehee pastilah mempunyai lain-lain wisu lagi di keraton ini, maka itu sengaja aku mengirimkan pedangnya Hu Congkoan, sebagai nasihat untuk mereka agar mereka tidak usah pergi menyusul pula!..."
Lagi-lagi hati raja bercekat.
Yang di kirim itu, yang di kepalai Hu Kun Cip dan Chian Tiang Cun, semualah yang terpilih, maka itu, yang masih ada di istana bukanlah tenaga yang lihai.
Raja mengetahui ini, tidak heran kalau hatinya gentar dan ciut.
Maka masih sekian lama ia duduk bengong saja.
Baru kemudian ia paksakan untuk bicara, hingga ia mesti bicara dengan menyeringai.
"Thio Sianseng,"
Katanya, suaranya tidak tegas.
"cara bergurau kau ini rada-rada keterlaluan!..."
Tan Hong segera menjura.
"Hambamu bersalah, terserah kepada keputusan Sri Baginda,"
Ia kata.
Ia menunjuki roman berkuatir.
Melihat kelakuan gurunya, Giok Houw tidak dapat tidak tertawa Kian Cim menjadi likat sekali.
Ia mengerti bahwa ia tengah dipermainkan itu guru dan murid-muridnya.
"Thio Sianseng."
Ia berkata terpaksa.
"tolong kau membagi muka kepadaku, tolonglah kau merdekakan mereka..."
"Sungguh mudah untuk berbicara!"
Berkata Giok Houw selagi gurunya belum menyahuti.
"Mereka dapat dimerdekakan tetapi mereka tidak bakal melepaskan kami!"
"Segala yang telah lewat, tim bakal tidak menarik panjang,"
Berkata raja.
"Tim cuma mohon mereka itu dimerdekakan! Lain-lainnya hal mudah untuk didamaikan."
"Kata-kata Sri Baginda ialah kata-kata emas,"
Berkata Tan Hong.
"Bukankah Sri Baginda mengatakannya segala kejadian yang telah lewat tidak ditarik panjang? Kenapa kamu tidak mau lekas menghaturkan terima kasih?"
Kian Cim menjadi jengah sekali.
Ia telah melepaskan kata-katanya itu.
Sin Cu dan Giok Houw lantas memberi hormat mereka, dan raja itu terpaksa menerimanya "Thio Sianseng, dapatkah mereka segera dimerdekakan?"
Ia bertanya.
"Di dalam hal ini masih ada sesuatu yang sulit,"
Tan Hong berkata.
"Apakah itu?"
"Gampang untuk memerdekakan mereka,"
Berkata orang she Thio ini.
"Apa yang dikuatirkan ialah wisu dan pemimpin Gilimkun itu nanti tidak berani pulang. Mereka itu telah menerima titah untuk melakukan penangkapan kepada orang jahat! Bukankah si penjahat tidak dapat dibekuk dan bingkisan yang hilang tidak dapat dirampas pulang? Mereka itu takut dianggap bersalah, cara bagaimana mereka berani kembali untuk menyerahkan tugas?"
"Tadinya tim tidak mengetahui duduknya hal, tim menyangka perampasan terjadi oleh penjahat biasa saja,"
Berkata raja "Sekarang tim telah mendapat tahu bingkisan itu sebenarnya dipakai oleh Sianseng dan murid-muridmu bertiga, maka pasti sekali tim bakal mengeluarkan putusan untuk menghapus perkara itu.
Leluhur Sianseng dulu hari pernah menghadiahkan barang permata, maka sekarang pun anggap tim telah mengembalikannya kepada Sianseng.
Tidakkah urusan menjadi beres karenanya?"
"Terima kasih banyak untuk kebaikan Sri Baginda ini,"
Tan Hong bilang.
"Hanya aku masih mempunyai satu urusan yang memusingkan kepada Sri Baginda..."
Benar-benar raja merasai kepalanya sakit.
"Silahkan menyebutkan itu, Sianseng,"
Katanya, terpaksa.
"Mengenai perampasan bingkisan itu, Sri Baginda telah berjanji akan tidak menarik panjang,"
Berkata Tan Hong.
"Berhubung dengan itu, juga semua wisu dan pemimpin Gilimkun telah memperoleh kebebasannya Sekarang tinggal itu sekalian busu dari pelbagai propinsi, mereka masih belum bebas, sedang juga sunbu dari pelbagai propinsi itu masih belum mendapat tahu tentang keputusan menyudahi perkara perampasan itu. Oleh karena ini bisa terjadi sekalian sunbu itu nanti tetap memaksa semua busu itu bertanggung jawab hingga mereka tetap dimestikan mencari pulang semua bingkisan yang telah dirampas itu."
"Tentang itu mudah,"
Berkata raja "Tim nanti menyiarkan pemberitahuan kepada semua propinsi untuk menghabiskan urusan itu, supaya semua busu memperoleh kebebasannya"
Kian Cim berbuat begini dengan terpaksa.
Kalau ia membebaskan semua wisu dan perwira Gilimkun, semua sunbu pun harus membebaskan semua busu itu.
Thio Tan Hong senang mendengar kata-kata raja itu.
Ini memang maksudnya kenapa ia menawan dan menahan rombongannya Hu Kun Cip itu.
"Thio Sianseng, semua permintaanmu telah diterima baik,"
Berkata raja kemudian.
"maka itu sekarang tim minta supaya Sianseng melepaskan semua wisu, perwira Gilimkun dan busu itu. Kalau hal ini lambat diurusnya, apabila urusan sampai tersiar dan diketahui oleh orang banyak, itulah tidak bagus."
Tan Hong tertawa.
"Baiklah Sri Baginda tidak menguatirkan itu,"
Ia berkata "Pasti besok mereka akan dibebaskan. Hanya sekarang aku masih mau minta Sri Baginda suka membebaskan juga dua orang."
"Siapakah mereka itu?"
Tanya raja "Merekalah dua orang murid dari Butong Pay,"
Menyahut Tan Hong.
"Yang satu Ko In Tojin, yang lain Ku Kiu Gi. Mereka itu ialah yang mengantarkan bingkisan dari propinsi Ouwpak. Chian Tiang Cun tidak menghargai jasa mereka itu, bahkan karena salah mengerti, mereka sudah ditangkap dan ditahan hingga sekarang ini."
"Inilah gampang,"
Berkata raja.
"Nanti tim mengirim seorang siwi ke kantor wisu untuk menitahkan mereka itu dimerdekakan!"
Raja bersikap begini gampang karena hatinya sudah tawar.
Ingin sekali ia agar Tan Hong bertiga lekas-lekas meninggalkan keraton, supaya semua wisu dan anggauta Gilimkun lantas pulang.
Baru raja mengatakan demikian, atau mendadak ia menjadi melengak.
Ia ingat bahwa tadi ia memanggil wisu, tidak ada wisu yang muncul.
Ia tidak mendapat jawaban dari sekalian wisu-nya, entah ke mana perginya mereka itu.
Ia mau menduga bahwa sekalian wisu itu juga tentulah sudah dipengaruhkan Thio Tan Hong.
Habis, wisu yang mana yang dapat dipanggil untuk dititahkan?
Tan Hong mengawasi raja, ia bisa membade hati orang.
Ia bersenyum.
"Apakah Sri Baginda hendak mencari wisu?"
Ia tanya.
"Sudah ada beberapa orang yang pulang."
Lantas ia berteriak.
"Hai, kenapa kamu masih tidak mau masuk kemari?..."
Kata-kata itu belum habis diucapkan, atau mendadak pintu ditabrak hingga menjeblak dan mengasi dengar suara berisik, lantas beberapa orang nerobos masuk seraya mereka memutar golok dan pedang, untuk menerjang.
Melihat datangnya orang-orang itu, Ie Sin Cu menyambut dengan kimhoa.
Hebat kesudahannya serangan bunga emas itu.
Beberapa orang itu, ialah wisu semuanya, lantas pada berdiri diam dengan pelbagai sikap mereka.
ada yang kakinya lagi bertindak, ada yang tangannya diulurkan, ada yang matanya dibuka lebar.
Mereka semua berdiam bagaikan patung.
Sebenarnya merekalah beberapa wisu, yang tadi keluar dari kantornya untuk meronda.
Mereka tidak melihat datangnya Tan Hong bertiga.
Ketika mereka tiba di sebuah kamar thaykam di sisi Engbu Tian, mereka melihat kawan-kawannya lagi berdiri menjublak di depan pintu.
Mereka menjadi heran dan curiga, lantas mereka menduga jelek.
Satu di antaranya lantas menghampirkan, guna menolak tubuh rekan itu.
Begitu ditolak, beberapa wisu itu roboh tak berdaya Mereka menjadi kaget, lantas mereka menduga duduknya hal.
Kurban-kurban itu tidak dapat bicara dan tidak bisa berkutik juga Sebab tadi mereka sudah kena ditotok oleh "pengiringnya"
Bhok Lin, ialah Thio Tan Hong!
Dalam kagetnya, beberapa wisu itu menjadi ketakutan.
Itu artinya telah ada orang jahat memasuki istana dan keraton.
Itulah berbahaya.
Mereka menguatirkan keselamatannya raja.
Ketika mereka tidak berdaya menyadarkan rekan-rekan itu, mereka memburu ke dalam, dengan niat melihat dan melindungi junjungan mereka.
Setibanya mereka di muka kamar tulis raja, kembali mereka kaget.
Mereka mendapatkan dua wisu, yang menjadi kepala dan pembantunya juga berdiri diam bagaikan patung-patung hidup.
Mereka ini juga tak berkutik matanya Teranglah mereka pun sudah kena ditotok seperti yang lain-lain.
Ketika itu dari dalam kamar terdengar suara orang bicara.
Mereka mengenali suara raja, hati mereka mulai lega.
Lantas mereka memasang kuping.
Mereka tidak berani lancang masuk karena mereka tahu raja lagi berbicara sama pangeran muda Bhok Lin.
Hanya suaranya si pangeran yang tidak terdengar sama sekali, sebab selama itu Bhok Lin terpaksa berdiam saja.
Sementara itu, Tan Hong sudah mendengar suara orang dan ia dapat menduga siapa mereka itu, maka itu, setelah tiba saatnya, ia mengasi dengar panggilannya itu.
Tidak beruntung untuk semua wisu itu, begitu menerobos, mereka disambut Sin Cu, hingga merekajuga mesti berdiri diam sebagai patung-patung dengan pelbagai sikapnya itu!
Tan Hong mengawasi mereka, ia tertawa dan berkata.
"Rupa-rupanya mereka ini menganggap kami sebagai orang-orang jahat yang hendak membinasakan mereka! Aku harap Sri Baginda suka mengasi keterangan pada mereka tentang siapa adanya kami."
Biar bagaimana, Kian Cim kaget, hingga mukanya pucat. Ia telah menyaksikan lihainya Sin Cu. Diam-diam ia menyedot hawa dingin, katanya di dalam hati.
"Muridnya Thio Tan Hong begini lihai, pantas orangorang kosen dari istana kena mereka tawan! Jikalau mereka berniat jahat, mana bisa aku duduk diam dengan selamat?"
Selagi raja belum sadar, Tan Hong tertawa dan kata pada muridnya.
"Sin Cu, mereka tidak tahu duduknya hal, mereka tidak dapat dipersalahkan. Kau bukalah jalan darah mereka!"
Sin Cu menurut.
Lebih dulu ia pergi memunguti semua bunga emasnya, habis mana ia menepuk setiap wisu itu, untuk membebaskan mereka dari totokan, hingga sekejap kemudian, mereka itu mendapat pulang kemerdekaan mereka Dengan malu dan tunduk, mereka menyimpan senjatanya masing-masing, lantas mereka pada berdiri dipinggir.
Lekas juga raja mendapat pulang ketabahannya.
"Thio Sianseng ini ialah sahabat karib tim,"
Ia lantas berkata.
"jangan kamu berlaku kurang ajar terhadapnya."
Kata-kata ini sudah tidak perlu lagi, bukan saja semua wisu itu sudah mengerti duduknya hal, mereka pun baru saja mendapat ajaran. Mereka terus berdiri diam dengan likat.
"Juga bebaskanlah kedua tuan wisu yang berada di luar pintu,"
Kata Tan Hong pada muridnya.
"Mereka sudah berdiri terlalu lama di sana."
Giok Houw yang menyahuti gurunya, ia lantas pergi keluar, guna membawa masuk kedua wisu itu, lalu di depannya raja, ia membebaskan mereka Bukan main malunya mereka, dengan jengah mereka lantas berdiri di pinggiran, mulut mereka bungkam.
"Sekarang ada orang yang dapat dititahkan,"
Berkata Tan Hong, untuk menyadarkan raja.
"Silakan Sri Baginda menitahkan untuk memerdekakan dan mengambil Ko In Tojin dan Ku Kiu Gi."
Raja terpaksa menurut.
Ia tanya dulu dengan jelas tentang kedua orang Butong Pay itu, lantas ia menulis firmannya, guna membebaskan mereka itu, kemudian ia suruh seorang busu lekas pergi menjemput mereka Thio Giok Houw lantas berkata.
"Di Engbu Tian sana ada beberapa wisu yang tertotok suhu, baiklah minta beberapa tuan ini pergi membebaskan mereka, dengan begitu tak usahlah kita berabe pergi kesana lagi."
"Kami tidak dapat membebaskan totokannya Thio Sianseng,"
Berkata beberapa wisu itu, tunduk.
"Itulah gampang,"
Kata Tan Hong.
"Siauw Houw Cu, kau ajarilah mereka ini."
Giok Houw menurut.
Ia mengajak beberapa wisu itu ke samping, di situ ia memberi petunjuk kepada mereka.
Ia menggunakan tempo sekian lama, baru mereka itu mengerti.
Raja menyaksikan semua itu, ia merasa sangat tidak enak.
Pikirnya.
"Semua hamba ini tim telah pilih dengan susah payah, siapa tahu di tangannya Thio Tan Hong, mereka hanyalah segala tahang nasi!"
Tentu sekali, sambil menantikan, ia tidak bisa membungkam saja, ia pun jengah sendirinya, dari itu dengan memaksakan diri, ia berbicara sama Tan Hong.
Ia menanyakan urusan ketentaraan dan pemerintahan, guna mengurus negara.
Tan Hong suka melayani raja bicara, ia mengasi dengar perundingannya yang membikin kaisar itu kagum, hingga dia mendengarinya dengan sungguh-sungguh hati.
Selang satu jam.
Ko In Tojin dan Ku Kiu Gi dibawa masuk.
Heran mereka melihat Tan Hong duduk bersama raja.
Tan Hong lantas tertawa terhadap mereka itu dan berkata.
"Paman guru kamu sekalian lagi menantikan kamu, sekarang sudah bukan siang lagi, lekas kamu menghaturkan terima kasih kepada Sri Baginda Raja, lantas lekas-lekas kamu berangkat pergi!"
Walaupun merekatidak mengerti, dua murid Butong Pay itu menurut kata-kata orang she Tan ini. Raja pun mengangkat cawan araknya mengajak tetamunya minum, sebagai tanda mengantarkan tetamunya pergi.
"Terima kasih!"
Berkata Sin Cu pada raja.
Ia menghaturkan terima kasih bual pelbagai bingkisan yang dirampas itu, yang perkaranya disudahi saja.
Bhok Lin.
yang sekian lama terus berdiam saja, turut mengucapkan terima kasih.
Tan Hong memberi hormat pada raja, untuk pamitan, setelah itu, ia mengundurkan diri, diturut oleh muridmuridnya itu terhitung Bhok Lin.
Raja mengawasi orang berlalu, hatinya tidak enak.
Mengenai Bhok Lin, ia pun bercuriga.
Orang berjalan keluar dengan melewati taman.
Sampai di situ barulah Ku Kiu Gi, yang tidak mengerti duduknya perkara, minta keterangan dari Tan Hong.
Sesudah tayhiap itu memberi penjelasan, baru ia ketahui duduknya hal.
Di samping kagumnya bersama-sama Ko In ia menghaturkan terima kasih pada Tan Hong dan Sin Cu semua Thio Giok Houw tertawa Ia kata pada Ko In.
"Ko In Laoto, tanpa berkelahi kita tidak berkenalan, maka sekarang tidak seharusnya kau membenci pula padaku!"
Imam itu jengah tetapi hatinya lega. Tengah mereka berjalan dengan gembira, di depan mereka terlihat mendatanginya serombongan wisu.
"Eh. apakah itu bukannya Yang Cong Hay?"
Giok Houw tanya selagi ia mengawasi.
Salah seorang benarlah Cong Hay, dia kaget melihat rombongan Tan Hong, dengan cepat dia lari ke antara pohon-pohon bunga.
Sin Cu sebal, ia menimpuk dengan sebiji kimhoa tetapi ia gagal.
Sudah jarak mereka masih terlalu jauh, Cong Hay pun gesit sekali.
Sebenarnya Cong Hay itu, sehabisnya kabur dari rumahnya Tiat Keng Sim karena diusir In Hong, kecurigaannya bertambah keras.
Ia menjadi sangat penasaran.
Karena ini ia pergi ke istana, ia ingin mengajukan laporan rahasia kepada raja Ia sudah tidak menjadi congkoan lagi, tapi sebab banyak kenalannya, ia bisa masuk ke istana, ada wisu yang suka mengantarkan dia Ia tidak sangka di situ-di dalam taman-ia bertemu sama rombongannya Thio Tan Hong.
Begitu ia melihat mereka itu, lantas ia menyelundup pergi.
Sin Cu penasaran, ia menimpuk sampai tiga kali, semuanya gagal.
Thio Tan Hong tertawa.
"Sudah, Sin Cu, tak usah kau kejar dia!' berkata guru ini.
"Jikalau kau kuatir dia nanti banyak bacot, nanti aku yang membiarkan dia tidur sebentaran!"
Guru ini dengan sebat menjumput sepotong batu, dengan dua jarinya ia segera menyentil ke arah tempat ke mana Cong Hay menyingkir.
Menyusul itu terdengar suara tubuh roboh serta terlihat banyak bunga rontok berhamburan.
Sebab Cong Hay kena terhajar punggungnya, terkena jalan darahnya, hingga dia roboh tak sadarkan diri, robohnya merusak banyak pohon bunga, hingga ada cabangnya yang lagi berkembang, melesat dan mental.
Yang Cong Hay ialah bekas taylwee congkoan, pada belasan tahun yang lalu ialah salah seorang dari ke empat kiamkek, ahli pedang, yang kesohor, sekarang dia kena dirobohkan secara demikian gampang oleh Tan Hong, sedang dia sudah menyingkir dan menyembunyikan diri di antara pepohonan, maka itu beberapa wisu, yang berada bersamanya, menjadi ketakutan sekali, mereka bersembunyi berpencaran, tidak ada seorang juga yang berani bersuara.
"Dia terkena apa yang dinamakan jalan darah tidurnya."
Berkata Tan Hong kepada sekalian wisu itu.
"dia bakal tidur satu hari dan satu malam, nanti dia bebas sendirinya Jangan ada di antara kamu yang usil, yang mencoba menolongi dia sebelum waktunya dengan begitu, dia bisa menjadi celaka karenanya, untuk selamanya dia tak akan sadar lagi!"
Di antara beberapa wisu ada yang mengenali Tan Hong, apabila mereka mendapat kenyataan Tan Hong tidak mengganggu mereka dia menyahuti bahwa dia mengerti, lalu mereka mengangkat tubuh Cong Hay buat dibawa pergi dari gombolan pohon bunga itu.
Tan Hong tertawa, lantas bersama murid-muridnya ia berjalan terus meninggalkan taman.
Sekalian wisu itu cuma bisa mengawasi mereka.
Sekeluarnya dari pintu belakang, mereka berlalu dijalan besar.
"Yang Cong Hay jahat sekali, mengapa suhu mengasihani dia?"
Tanya Bhok Lin.
"Di dalam dunia ini ada terlalu banyak manusia semacam Yang Cong Hay,"
Sahut sang guru bersenyum.
"mereka terlalu kemaruk sama uang dan pangkat, cukup jikalau mereka diberi peringatan saja Yang penting untukmu sekarang ialah lekas-lekas membawa cihu-mu berlalu dari kota raja dikuatirkan, kalau Cong Hay mendusin, dia nanti ngoceh tidak keruan di depan raja"
"Menurut keterangan enci In Hong tadi, mungkin Yang Cong Hay sudah mengetahui Keng Sim mati berlagak,"
Berkata Sin Cu.
"maka itu apa tidak mungkin, selama Cong Hay datang ke istana, dia sudah membocorkan rahasia?"
"Jikalau itu benar, itulah rahasia yang dia ketahui sendiri."
Tan Hong bilang.
"dengan begitu, mestinya dia sendiri juga yang akan membuka rahasia kepada kaisar, hingga takkan mungkin dia sudah membocorkan rahasia itu."
Mereka bicara terus sambil bicara, tiba di rumah Keng Sim, hari sudah magrib.
Kiam Hong keluar menyambut.
Kapan Ko In Tojin dan Ku Kiu Gi melihat nona itu, yang mereka kenali, merekajengah.
Mereka ingat bagaimana mereka pernah dipermainkan nona yang lihai, cerdas dan Jenaka itu.
Tapi Kiam Hong berlaku manis.
"Sudah beberapa hari jiwi berdiam di kantor Gilimkun, kamu membikin bergelisah paman guru kamu!"
Dia berkata tertawa.
"Dia sedang menantikan kamu!"
"Apakah dia bersendirian saja?"
Tanya Tan Hong.
"Ya, dia sendiri saja,"
Jawab Kiam Hong.
"Sudah berapa lama dia datang?"
"Belum lama..."
Tan Hong agaknya heran.
Ia cepat bertindak masuk ke dalam.
Cit Seng Cu lantas dapat diketemui.
Dia beroman kucai.
Ku Kiu Gi dan Ko In Tojin maju, untuk memberi hormat, tetapi dia tidak nampak gembira.
Dia cuma berkata.
"Syukur Thio Tayhiap mengatur tipu daya yang bagus untuk menolong kamu! Kamu telah menderita, pergilah kamu beristirahat."
Tan Hong sebaliknya mengawasi imam itu.
"Eh. kau bertempur sama siapa?"
Ia tanya.
"Aku tahu Khoan Ki tidak begitu lihai hingga dia dapat melukakanmu."
Tan Hong telah minta Cit Seng Cu pergi menawan Khoan Ki.
Untuk itu.
imam itu diminta membawa suratnya Hu Kun Cip.
Tan Hong ingin memberi ajaran adat pada Khoan Ki lantaran dialah yang membuka rahasia kedatangan Sin Cu ke kota raja.
Karena ingin memangku pangkat pula, Khoan Ki sudah melupakan persahabatannya dan berbuat chianat itu.
Benar ayah Khoan Ki ialah salah satu dari tiga jago Pakkhia tetapi Tan Hong tahu betul Khoan Ki sendiri tidak gagah, ia anggap dapatlah Cit Seng Cu menawannya.
Siapa tahu, Khoan Ki itu licik dan dia membuatnya orang terluka dengan dia sendiri bebas.
"Bagaimana duduknya, susiok?"
Tanya Kiu Gi heran. Ko In pun kaget dan turut menanyakan paman guru itu. Cit Seng Cu tertawa menyeringai, ia memberikan keterangannya seperti berikut.
"Ini dia yang dibilang, perahu karam dikobakan! Khoan Ki sangat licin. Ketika aku pergi padanya dengan membawa suratnya Hu Kun Cip, aku berniat memancing dia keluar dari rumah, untuk terus digiring kemari. Dia tinggal di rumah seorang bekas rekannya, aku tidak ingin membekuk dia di sana, supaya aku tidak usah membikin banyak berisik. Aku percaya, asal dia keluar dari rumah rekannya itu, dapat aku menguasai dia."
"Apa mungkin pada suratnya Hu Kun Cip itu ada sesuatu tanda untuk mengisiki dia?"
Giok Houw tanya.
"Aku pernah lihat surat itu, aku tidak dapatkan apaapa yang mencurigai,"
Kata Sin Cu.
"Justeru surat itu yang membuka rahasia. Kalau tahu begitu, begitu bertemu muka, aku bekuk padanya!"
"Apakah itu yang membuka rahasia?"
Sin Cu tanya.
"Sesudah Khoan Ki membaca suratnya Hu Kun Cip, dia tidak mengasi kentara apa-apa. Dia bilang, karena dia dipanggil oleh 'Hu Tayjin,' dia perlu salin pakaian. Dia lantas masuk ke dalam dan aku duduk menanti di kamar tetamu. Siapa tahu, begitu dia berada di belakang pintu, dia segera menutup dan mengunci pintu itu. Kedua daun pintu terbuat dari besi. Aku lantas mau mendobrak pintu, guna meloloskan diri keluar dari situ. Justeru itu, aku diserang dengan anak panah yang beracun. Di dalam kamar itu, sulit untuk aku berkelit. Aku paksa menggempur tembok. Tepat tembok gempur, sebatang panah mengenai lenganku. Itu waktu aku mendengar Khoan Ki tertawa dan berkata mengejek padaku. 'Kau dapat mendustai lain orang, tidak aku! Jikalau aku tidak menjelaskan, mati pun kau tidak puas! Di surat itu ada tanda minyak! Di atas meja di dalam keraton, mana ada minyak? Maka pastilah itu minyak dari meja di dalam kuil!'"
Inilah benar di luar dugaan.
Sebenarnya Thio Tan Hong sudah berlaku terliti, ia menggunakan kertas tulis yang bersih, tetapi waktu ditulis, kertas diletaki di atas meja abu kuil dan di sana ada sisa minyak.
Maka ia menghela napas.
"Inilah kekeliruanku,"
Ia akui.
"Khoan Ki cerdik sekali, dia sebenarnya pandai, sayang dia sesat jalan."
"Aku telah terkena panah, Khoan Ki menyangka aku bakal terbinasa,"
Cit Seng Cu melanjuti ceriteranya.
"Tapi aku bisa menyerbu tembok, aku dapat lolos, bahkan aku berhasil melukakan beberapa busu di dalam rumah itu. Dia ketakutan, dia lari. Jikalau aku tidak kuatirkan racunnya anak panah nanti keburu bekerja, tentulah aku sudah susul dan hajar dia hingga mampus. Demikian terpaksa aku membiarkan dia kabur."
"Bagaimana sekarang dengan luka susiok?"
Tanya Kiu Gi.
"Khoan Ki bukan ahli panah, biar panahnya beracun, dia tidak dapat membinasakan aku dengan racunnya itu. Pula itulah bukan panah beracun yang dapat segera membinasakan orang. Aku membikin darah kotor kumpul di jari tengah, lalu jari itu aku belek, untuk mengeluarkan semua racun, kemudian aku pakai obat. Di situ juga aku bisa membikin bahaya itu hilang, tetapi selama itu, Khoan Ki sudah lari pergi."
"Khoan Ki bukan si orang penting, aku pun cuma ingin menghajar adat padanya, karena dia sudah pergi, biarlah,"
Kata Tan Hong.
"Mari kita lihat Keng Sim."
Mereka masuk ke dalam.
Segera tutup petinya Keng Sim dibuka, maka di dalam situ kelihatan dia rebah, mukanya bersemu kuning dan alisnya hitam, di ujung hidungnya ada beberapa tetes keringat, sedang napasnya terdengar menggeros.
Bhok Lin segera mengasi bangun, selama mana, dari tenggorokannya terdengar suara gerijukan.
Kedua matanya terus tertutup rapat.
Itu artinya dia sudah hidup pula tetapi belum sadar.
Sin Cu terharu.
Ia ingat orang membela padanya, hingga orang tidak takut berkurban.
Benar dulu hari itu, perbuatan Keng Sim kurang tepat, tetapi itu dapat dimaafkan.
Karena ini ia mendekati, untuk memeriksa jalan napas di hidung orang.
Ia mendapatkan hembusan napas dingin.
Ia berkuatir juga.
"Dia mengandali soatlian, jiwanya dapat dijamin,"
Katanya pada gurunya.
"Bagaimana dengan tenaga dan ilmu silatnya? Bukankah ia membutuhkan tempo tiga tahun untuk pulih kembali?"
"Tidak, itulah tiada halangannya sama sekali,"
Menyahut Tan Hong. Ia merebahkan orang di dipan, ia menambahkan.
"Dia sebenarnya mesti mendusin selang tiga hari, tetapi besok Bhok Lin mesti segera berangkat, dia tidak dapat diantapkan saja."
Sin Cu tahu, inilah disebabkan Cong Hay.
Kalau besok bekas congkoan itu tersadar, dia bisa mengadu pada raja, kalau raja ketahui Keng Sim mati palsu, itulah rewel dan berbahaya, taruh kata raja mendiamkan, kepusingan lainnya mesti ada.
Dari itu, paling benar dia segera diberangkatkan pergi.
Tan Hong berdiam, tetapi tangannya bekerja, untuk menguruti tubuh Keng Sim, untuk membikin semua jalan darahnya tersalurkan, supaya darahnya jalan dengan baik, agar dia lekas mendusin.
Benar, selang tidak lama, Keng Sim mengasi dengar suaranya yang pertama seperti seruan, dia memuntahkan darah, sedang kedua matanya ditutup rapat.
"Keng Sim, jangan berbicara!"
Berkata Tan Hong.
"Kau sabar, akan aku menyalurkan nadimu, supaya kau mendusin dan sehat seperti biasa. Cuma kau mesti bertahan untuk sedikit penderitaan."
Dengan telapakan tangannya, Tan Hong lantas menekan punggung di mana ada jalan darah kwichong hiat.
Dengan cepat Keng Sim merasakan hawa hangat, yang terus menjadi panas, hingga ia mengeluarkan peluh yang menetes besar.
Tan Hong melanjuti menekan atau mengurut-urut, akan kemudian dengan menggunakan ilmu silat Itci Siankang, ia menyalurkan semua tiga puluh enam jalan darah.
Dengan pertolongan soatlian, teratai salju, dari gunung Thiansan, jiwa Keng Sim dapat dipertahankan, tetapi ia telah terluka pada nadinya, maka itu dia membutuhkan pertolongan tersebut dari Tan Hong.
Ia merasakan hawa sangat panas, ia mencoba melawannya, meski begitu, saking sakitnya, ia merintih.
Tadinya ia menutup rapat matanya, satu kali ia membuka itu, di antaranya ia melihat Sin Cu, dan ia mendapatkan si nona terharu.
Ia merasa lega hatinya.
Sekarang ia tidak tergila-gila lagi terhadap Nona Ie itu, yang telah menjadi Nyonya Yap Seng Lim, tetapi ia terhibur.
Dulu-dulu belum pernah ia menyaksikan sinar mata, atau roman, demikian dari Sin Cu.
Maka itu ia kata di dalam hatinya.
"Asal dia mengetahui aku bersengsara ini untuknya, ada harganya aku menderita begini..."
Karena terhibur itu, penderitaannya seperti berkurang sendirinya. Ia malah bersedia Tan Hong memperlambat atau memperpanjang tempo pertolongannya itu..."
Lewat lagi sekian lama, sesudah jalan darahnya tersalur sempurna, hilang rasa sakit dan hawa panasnya Keng Sim, sebaliknya, ia merasakan tubuhnya lega sekali. Ia seperti telah sembuh seseluruhnya.
"Bagus !"
Kata Tan Hong tertawa.
"Kau bangunlah!"
Keng Sim benar-benar berbangkit, lantas ia merapikan pakaiannya, sesudah itu, ia menjura pada Tan Hong, untuk memberi hormat, guna menghaturkan terima kasihnya yang hangat.
Ia melihat bajunya tayhiap itu bermandikan keringat, ia menyangka orang telah mengeluarkan terlalu banyak tenaga, ia tidak tahu, berbareng dengan itu, Tan Hong sudah kehilangan latihannya sekira satu tahun.
"Sekarang pergi kau ke kamar istirahat, kau harus meyakinkan ilmu dalammu,"
Kata Tan Hong.
"Coba kau lihat, tenagamu telah pulih atau belum."
Sebenarnya Keng Sim ingin bicara sama Sin Cu, banyak yang ia hendak perkatakan, akan tetapi karena titahnya Tan Hong ini, terpaksa ia membatalkannya, lalu ia meminta diri kepada semua kawan itu, untuk ia mengundurkan diri bersama Bhok Lin ke ruang dalam.
Cit Seng Cu juga perlu beristirahat, maka itu ia pun mengundurkan diri bersama kedua keponakan muridnya.
Dengan begitu Tan Hong jadi berada bersama kedua muridnya serta Kiam Hong, jumlah mereka menjadi tinggal berempat.
"Hebat Keng Sim kali ini,"
Kata tayhiap itu.
"Dibanding sama dulu hari dia menolongi tentara rakyat, ia sekarang lebih menderita."
"Untuknya, penderitaan ini ada baiknya."
Sin Cu bilang.
"Katanya gurunya, Cio Losianseng, telah pulang dari luar negeri,"
KataTan Hong.
"Benar. Sekarang Cio Losianseng lagi membantui Seng Lim."
"Keng Sim cerdas, jikalau dia bisa buang cita-citanya mencari pangkat dan ia tukar itu untuk meyakinkan sungguh-sungguh ilmu silat gurunya. KengTo Kiamhoat, dia bisa manjat tinggi."
Tan Hong berhenti sejenak, lantas ia memandang In Hong.
"Bagaimana dengan Thian Touw selama yang belakangan ini?"
Ia tanya Nona Leng.
"Apakah dia telah berhasil menciptakan ilmu pedangnya. Thiansan Kiamhoat?"
Ditanya begitu, mata In Hong menjadi merah.
"Selama yang belakangan ini ia telah berhasil menciptakan pelbagai tipu silat baru, hanya karena itu, .tabiatnya jadi makin menyendiri..."
Ia menyahut.
"Begitu?"
KataTan Hong tertawa "Tetapi inilah tidak aneh. Kamu tinggal menyendiri di gunung yang sunyi, tidak aneh tabiatnya itu."
"Dia bertujuan satu, dia bertekad bulat, untuk menjadi guru besar dari suatu ilmu pedang tersendiri, karenanya segala urusan lain, urusan luar, ia lantas tidak perdulikan lagi!"
"Pikirannya itu bukannya pikiran jelek,"
Tan Hong bilang.
"Hanya kalau semua-semua ia tidak mengambil mumat urusan luar, itulah berlebihan. Siapa hidup di dalam dunia, yang pertama-tama diutamakan ialah bagaimana kita harus menjadi manusia. baru kemudian mengutamakan pelajaran."
"Suhu benar,"
Kata Giok Houw. turut bicara.
"Lihat Kiauw Pak Beng! Dia demikian lihai tetapi terhadap lain orang, dia membahayakan, tidak menolong. Tentu sekali aku tidak membandingkan dia dengan Hok Toako. aku cuma mau menunjuk tak ada harganya dia hidup sebagai manusia pandai. Ya suhu, mengapa kau tidak mau mengajarkan enci Leng semacam ilmu pedang yang istimewa, supaya ia pun dapat membangun suatu partai baru hingga ia bisa menindih suaminya itu?"
Tan Hong tertawa.
"Kamu anak-anak muda, kamu lucu!"
Ia kata.
"Kamu selalu mau main pemenang menang, lantas kamu berkelahi!"
Mukanya In Hong menjadi merah, ia membungkam.
Sin Cu lantas menuturkan kepada gurunya tentang perbedaan pendapat dari Leng In Hong dengan Hok Thian Touw, suami isteri itu, bahwa si isteri mau belajar pedang tapi tanpa melupakan kawan dan tugas menolong negara dan sesamanya sebaliknya sang suami ingin belajar dulu hingga berhasil cita-citanya menciptakan suatu partai baru, baru dia mau mencampuri urusan umum, karena mana mereka itu jadi berselisih dan pada membawa maunya sendiri.
Tan Hong berpikir, memikirkan soal itu.
Suami isteri itu memang mempunyai masing-masing kebenarannya.
"In Hong,"
Katanya sesaat ke mudian.
"coba kau menjalankan ilmu silat Thiansan Kiamhoat untuk aku lihat."
In Hong suka mengasi lihat ilmu silatnya, bahkan ia girang sekali.
Ia lantas pergi ke paseban, untuk mulai bersilat.
Di antara berkeredepannya sinar pedangnya.
Ia mempertontonkan kegesitannya.
Tan Hong menonton, lantas ia mengangguk-angguk.
"Memang ilmu silat ini belum mencapai kemahirannya"
Ia berkata.
"tetapi benar dia telah menggenggam sarinya ilmu silat pelbagai partai lainnya, maka di belakang hari pastilah ini akan menjadi suatu sinar terang dalam kalangan persilatan!"
In Hong bersilat sekian lama, baru dia berhenti. Setelah menyimpan pedangnya, ia menghampirkan Tan Hong.
"Aku mohon sukalah tayhiap memberi petunjuk padaku,"
Ia minta.
"Untuk memberi petunjuk, itulah aku tidak berani,"
Sahut Tan Hong bersenyum.
"Bicara terus terang, kalau nanti kamu sudah berhasil meyakinkan ilmu silat kamu ini, kamu pasti akan dapat mengatasi Hian Kee Kiamhoat dari guruku. Cuma sekarang masih ada bagiannya yang belum terperinci."
Ia berhenti sebentar, lantas ia tertawa dan kata dengan sungguh-sungguh.
"Ilmu silat kau ini mengutamakan jurus-jurus yang aneh gerak-gerakannya. Pernah aku melihat Thian Touw bersilat, maka dapat aku bilang, di antara kamu berdua, banyak persamaannya, sedikit perbedaannya. Ruparupanya ini disebabkan kau tidak selamanya menuruti ajarannya Thian Touw, kau rupanya juga mempunyai angan-angan untuk menciptakan suatu ilmu pedang tersendiri, guna membangun suatu partai baru seperti cita-citanya Thian Touw itu. Baiklah, mari aku menyempurnakan cita-citamu! Cuma, jikalau nanti kau sudah berhasil, ilmu pedangmu ini berlainan dengan ilmu pedangnya Thian Touw, sebaliknya, apabila kamu menggunakannya bersama, bergabung, maka faedahnya tak terkira-kirakan besarnya."
Sin Cu tertawa mendengar perkataannya guru itu, ia girang sekali.
"Itulah bagus!"
Murid ini memuji.
"Cuma aku harap janganlah itu sampai menindih semangatnya Hok Toako. Dengan begitu pastilah Hok Toako tidak bakal dapat meninggalkan enci InHong!"
Sin Cu tetap hendak melindungi keakuran In Hong dengan Thian Touw, ia tidak menghendaki perpecahan di antara suami isteri itu.
hingga ia tidak memikirkan apa yang bakal terjadi kelak di kemudian hari.
Tan Hong lantas berdiam, la berpikir keras.
Selang sekian lama, baru ia berbicara.
"Thian Touw bersama ayahnya telah bekerja keras sekali mengumpul sarinya pelbagai macam ilmu pedang, sekarang usaha itu dilanjuti Thian Touw sendiri dan ia telah berhasil, untuknya tinggallah saat mencapai kemahirannya, oleh karena itu. tidak dapat aku tidak berlaku tahu diri, tidak berani aku lancang memberi petunjukku, maka itu, aku ingin minta seorang guru besar yang nanti memberi petunjuk itu kepadamu."
Kata ia. In Hong heran, juga yang lainnya.
"Di jaman ini, siapakah yang dapat melebihkan tayhiap?"
Tanya Nyonya Thian Touw.
"Dunia ini luas sekali, di dalamnya ada banyak orang pandai,"
Berkata Tan Hong.
"Sekarang ini, yang aku hendak minta bantuannya, ialah seorang yang telah meninggal dunia. Leluhurku, yaitu Thio Su Seng, serta Cu Goan Ciang, kaisar yang membangun Kerajaan Beng ini, semua pernah belajar silat di bawah pimpinannya. Ialah PhengHweeshio. Aku telah berhasil mendapatkan sebuah kitab Hiankong Yauwkoat peninggalannya guru besar itu. kitab itu dapat aku pinjamkan kepadamu untuk kau pahamkan. Pada dasarnya. ilmu silat semua sama saja. demikian kitab ini, yang tidak mengutamakan melulu ilmu pedang. Jikalau kau telah membaca dan memahamkannya, setelah kau berhasil, maka besar faedahnya itu untuk ilmu pedangmu."
In Hong girang sekali, buru-buru ia menghaturkan terima kasih.
Tan Hong tidak cuma memberi pinjam bukunya itu.
ia juga memberikan pelbagai petunjuk lainnya, maka itu, pertemuan mereka itu berjalan sampai jam tiga.
"Sekarang aku mesti pergi ke kuil Hianbiauw Koan."
Katanya kemudian.
"aku mesti memberitahukan Hek Pek Moko untuk dia membebaskan semua orang kurungan kita itu. Karena besok kita mesti berangkat pagi-pagi, sekarang kamu baiklah beristirahat."
Thio Giok Houw mau turut gurunya pergi ke kuil, maka itu, Sin Cu lantas berkemas berdua In Hong, untuk besok pagi tak usah mereka repot lagi.
Mereka tidak dapat tidur, sedang In Hong lantas membeber Hiankong Yauwkoat, untuk dibaca.
Sin Cu tidak mau mengganggu kawannya itu.
sebab ia tidak berniat tidur, ia lantas pergi keluar kamar, terus ke paseban.
Segera kupingnya mendengar, di antara angin malam, suaranya cabang-cabang bergoyang-goyang dan daun-daun rontok.
Ia heran.
Itulah bukan suara wajar, hingga ia mau menduga pada yahengjin, ialah orang yang bisa keluar malam.
Tidak bersangsi lagi, ia lompat ke tembok pekarangan, maka lantas ia melihat, di antara sinarnya si Puteri Malam, Keng Sim tengah berlatih silat seorang diri di dalam taman bunga.
Keng Sim beda daripada In Hong, tetapi ilmu silatnya juga menarik hati, mempunyai keistimewaan sendiri.
Kalau dia berlatih rajin dan sungguh-sungguh, dia pasti bakal memperoleh kemajuan berarti.
"Kau baru sembuh, apakah kau tidak letih?"
Ia menanya sambil menghampirkan. Ia bicara sambil tertawa. Keng Sim menoleh dengan terkejut, silatnya lantas dihentikan. Melihat Sin Cu. ia girang dan heran dengan berbareng.
"Sudah jauh malam, apakah kau juga belum tidur?"
Baca Juga: Pendekar Gelandangan 3
Baca Juga: Lentera Maut 7