Pendekar Latah 16

Eps 16 Pendekar Latah - Liang Ie Shen

Baca online Pendekar Latah - Liang Ie Shen

Cersil Pendekar Latah - Liang Ie Shen.

siau-go-kian-kun bersikap pura2 kaget dan segera ulur tangan menjabat tangan orang, namun belum lagi Cun-seng Hoat-ong sempat menggenggam tangannya begitu kedua telapak tangan mereka bersentuhan terus ditariknya dan tersurut mundur tiga langkahi katanya.

"Terima-kasih Hoat-ong sudi memandang diriku, rakyat jelata memberi hormat."

Dengan Iwekang tingkat tinggi siau-go kian-kun punahkan tenaga telapak tangan cun-seng Hoat-ong, namun dia tetap terg entak mundur tiga langkahi darah bergolak dirongga dadanya, keruan kejutnya bukan main.

Cun-seng Hoat-ong ngakaki katanya.

"Ternyata sahabat ini adalah jago silat maaf Iolap kurang hormat."

Tujuannya menuntut balas, cuma tidak enak bicara secara blak2an, maka diapun pura2 baru mengetahui bahwa siau-gokian kun adalah orang jago silat, baru dia ada alasan untuk mengajaknya bertanding.

Petugas pajak itu orang sipil, namun dia cukup lama berkecimpung dalam bidang kemiliteran dengan berbagai tugas2 berat, maka tidak heran akan persoalan ini, katanya.

"orang2 ini berani berdagang dalam suasana peperangan yang kacau ini, sudah tentu harus memiliki kepandaian berarti. Hoat-ong adalah jago nomor satu di seluruh dunia, kebetulan hari ini sampai berhadapan, kaupun boleh mohon pengajaran kepada beliau. Hasilnya akan bermanfaat selama hidupmu."

Kata2nya yang terakhir ditujukan kepada siau-go kian-kun. Hoat-ong tertawa, ujarnya.

"Penilaianmu kurang betul, saudara ini bukan hanya memiliki kepandaian saja. Malah jago2 barisan mas kita tiada yang kuat menandingi dia. Memberi pengajaran aku tidak berani, marilah, mari Kita bertanding beberapa jurus."

Sudah tentu siau-go-kian-kun maklum apa yang dimaksud dengan "Bertanding"

Oleh Cun-seng Hoat-ong. Tapi urusan sudah selarut ini mau menyingkir tak mungkin lagi, terpaksa dia menjawab.

"Aku hanya bisa main silat cakar ayam saja mana berani bertanding dengan jago nomor satu diseluruh dunia?"

"Tak usah sungkan,"

Ujar cun-seng Hoat-ong.

"Kau tak usah kuatir, aku tidak akan merenggut jiwamu."

Tiba2 Hong-lay-mo-li menimbrung.

"Hoat-ong kau adalah jago nomor satu, bagaimana kalau kami suami istri maju bersama mohon pengajaran kepadamu? Dua lawan satu supaya tidak menurunkan derajatmu."

Mendengar Koksu mereka hendak bertanding dengan seorang saudagar, banyak serdadu dan Busu Mongol sama merubung maju, Melihat Hong-lay-mo-li juga mau turun gelanggang seketika meceka bersorak dan tepuk tangan, disana sini menyambut baik dan memberi aplus.

sudah tentu Busu2 Mongol itu tidak tahu sampai dimana kepandaian silat Hong-lay-mo-li, mereka ada yang mohon keringanan kepada Hoat-ong supaya tidak melukai nyonya yang cantik molek ini.

Hanya Cun seng Hoat-ong sendiri yang diam2 mengeluh dalam hati.

Pulang pergi Cun-seng Hoat-ong disanjung sebagai jago nomor satu, memangnya dia mau merendahkan diri dihadapan orang banyak?

Terpaksa dia bilang.

"Baiklah, kan hanya bertanding saja, silakan kalian suami istri maju bersama."

Sudah tentu arti bertanding yang dia katakan sekarang jauh pula bedanya, malah dia kuatir kalau Liu dan Hoa menjatuhkan pamornya dihadapan umum.

"Maaf, aku akan gunakan senjata"

Kata Hong-lay-mo-li.

"BoIeh gunakan senjata apa saja,"

Sambut Cun-eng Hoatong.

"aku hanya layani dengan sepasang telapak tangan saja, silakan."

Untuk menjaga nama dan kedudukan, walau hatinya gentar, namun lahirnya Cun-seng Hoat-ong tetap bersikap angkuh.

"sret"

Hong-lay-mo-Ii melolos pedangnya terus menusuk lebih dulu, Cun-seng Hoat-ong keraskan lengan baju menangkis, badan bergerak langkah berpindah, tahu2 dia mendesak kedepan siau-go-kian-kun seraya menampar kemuka orang, inilah cara pukul ketimur menggempur dibarat, kedua pihak sama2 gunakan serangan keras.

siau-go-kian-kun gunakan Hud-hun-jiu untuk memunahkan pukulan lawan, tak kira pukulan telapak tangan cun-seng Hoat-ong ini adalah Liong-bun-sam-koh long, sekali pukul mengandung tiga gelombang tenaga gempuran, gempuran pertama tidak terasakan apa2, namun gempuran kedua tambah keras, untung siau-go-kian-kun berhasil memunahkannya, baru saja hendak balas menyerang, tahu2 gempuran ketiga menerjang sedahsyat gugur gunung, betapapun ampuh dan tangguh Iwekang siau-go-kian-kun, tak urung dia terdorong mundur sempoyongan.

Mencelos hati siau-go-kian-kun, baru sekarang dia sadari benar2 bahwa Iwekang Cun-seng Hiiat-ong memang bukan olah2 lihaynya.

syukur dia dibantu Hong-lay-mo-li, kalau tidak terang dirinya bukan tandingan.

Kalau siau-go-kian-kun terkejut, cun-seng Hoat-ong sendiri juga tersirap darahnya.

Kekalahannya di Ki-lian-san tempo hari lantaran setelah beruntun melawan Bu su-tun dan lain2 tiga babak, maka dia tidak terima dan merasa penasaran akan kekalahannya dulu, dia kira kalau dirinya dalam keadaan segar bugar, cukup sekali pukul pasti dapat merobohkan dan mengalahkan siau-go-kian-kun.

Kini kenyataan membuktikan, kekuatan pukulan yang dilandasi setaker tenaganya, walau sedikit unggul namun hanya membuat lawan sempoyongan, tak mampu merobohkannya.

itu berarti bahwa kekuatan siau-go-kian-kun yang sebenarnya masih berada diatas penilaiannya.

Baru saja ujung pedang Hong-lay-mo-li disampuk miring, kebut ditangan kiri sudah terayun pula, kebutannya ini lunak namun mengandung kekerasan, ujung benang2 kebutnya laksana tajam ujung jarum menusuk ke berbagai Hiat-to ditubuh Cun-seng Hoat-ong, Cun-seng Hoat-ong cukup luas pengalaman dan pengetahuan namun belum pernah dia melihat dan menghadapi serangan Thian-lo-hud-tim-sek yang lihay ini.

Baru saja cun-seng Hoat-ong menggempur siau-go-kiankun, sehingga tenaga gempuran ketiga sudah hampir lenyap.

maka sekadarnya saja dia hanya mampu menyampuk pergi kebut Hong-lay-mo-li, namun tak kuasa balas menyerang.

Cepat sekali siau go-kian-kun sudah menarik kipasnya, begitu mundur terus mendesak maju pula dengan jurus Tiang-lio-lohijit, kipasnya tiba2 terpentang tahu2 mencakup Iagi, beruntun dia kembangkan kepandaian Ngo-hing kiam dan jurus2 permainan Boan-koan-pit kipas terlempit laksana golok, menabas tulang pergelangan lawan, ujung kipas terus menuding menutuk Ih-khi-hiat Cun-seng Hoat-ong.

kekang siau-go-kian-kun memang bukan tandingan lawan, namun jurus tipu permainannya terang lebih bagus dari Cunseng Hoat-ong.

Terutama kepandaian menutuk dengan kipas terang jauh lebih lihay dari ilmu kebut Hong-Lay-mo-li yang peranti menutuk Hiat-to juga.

Cun-seng Hoat-ong putar dan kebas kedua lengan bajunya, kebut Hong-lay-mo-li terpental baliki kipas siau-go-kian-kun juga ditolak kesamping, namun Iengan bajunya tergores sobek oleh kipas siau go-kian-kun.

Kejut dan gusar cun-seng Hoat-ong, dia kembangkan seluruh perbendaharaan kepandaiannya untuk menghadapi keroyokan Liu dan Hoa.

Gun goan-it-sat-kang sudah diyakinkan sampai puncak tertinggi tidak mudah senjata Liu dan Hoa untuk melukai badannya.

Suatu ketika sepasang senjata Liu dan Hoa merangsak bersama dari kiri kanan, kelihatannya Cun-seng Hoat-ong sudah tidak akan mampu bertahan dan harus mengaku kalah Mendadak Cun-seng Hoat-ong lancarkan serangan balasan untuk mempertahankan diri dengan suatu gerakan aneh dia cukul Hong-lay-mo-li mundur sekaligus mematahkan serangan lihay siau-go-kian-kun.

Gebrakan ini berlangsung amat sengit dan menegangkan, setelah berhasil patahkan serangan musuh, tiba2 Cun-seng Hoat-ong rasakan pergelangan tangan lemas kesemutan.

ternyata Hiat-tonya kena tertusuk oleh seutas benang kebut Hong-lay-mo-li.

semula para Busu Mongol sama bersorak, namun pertempuran semakin sengit sehingga mereka menonton dengan kesima dan melongo, belakangan lupa memberi pujian dan tepukan pula.

sudah tentu mereka tidak tahu betapa hebat dan menakjubkan gebrakan terakhir yang seru ini.

Dalam suasana hening itulah tiba2 terdengar sebuah suara serak tua memuji.

"Bagus"

Orang ini adalah seorang laki2 tua berjubah hijau, entah kapan tahu2 dia berada dalam gerombolan para Busu itu.

Karena asyik menonton para Busu itu tidak menyadari akan kehadiran orang tua itu, setelah orang bersuara baru mengejutkan mereka, dua Busu terdekat sekilas melenggong, namun tanpa berjanji mereka lantas mencengkram sambil membentak.

"siapa kau? siapa idzinkan kau kemari?"

Seorang lagi memaki.

"Tua bangka kau ini tahu apa? Berani gembar gembor disini?"

Belum lenyap suara mereka, tahu2 badan mereka sudah gedebukanjatuh terguling saling tindih, Laki2 tua ini tidak bergeraki kedua tangan tetap tersembunyi didalam lengan bajunya, jelas bukan dia yang memukul roboh kedua Busu itu.

Busu lain yang tidak tahu duduk persoalannya menjadi geli, dikira mereka saling tubrukan sendiri, keruan semua orang bertepuk tertawa geli, ada yang menarik temannya bangun ada pula yang merubung kearah silaki2 tua.

Kejut dan girang hati Hong-lay-mo-li, kiranya laki2tua ini bukan lain adalah ayahnya, yaitu Liu Goan-cong adanya.

Mimpipun tak pernah diduganya bahwa ditempat ini dia bisa bertemu dengan ayahnya hampir saja dia memanggil "Ayah"

Untung siau-go-kian-kun segera memberi isyarat kedipan mata.

Cun-seng Hoat-ong sendiri juga tidak kepalang kejut dan merasa aneh, maklumlah sebagai ahli silat dia tahu jatuhnya kedua Busu itu lantaran laki2 tua ini menggunakan ilmu Canih-capwe-thiat Iwekang tingkat tinggi yang bisa bikin orang yang menyentuh bajunya jatuh terguling, untung dia tidak kerahkan tenaganya, kalau tidak kedua Busu itu pasti terluka dan konyol.

Hong-lay-mo-li berdua sudah mundur, sehingga gebrakan tidak dilanjutkan, 2 Busu maju hendak mengusir orang tua jubah hijau.

Mumpung ada kesempatan cun-seng Hoat-ong segera mundur teratur teriaknya.

"Jangan kurang ajar, silakan siansing ini kemuka."

Segera dia maju menghampiri Liu Goan-cong, sudah tentu Liu dan Hoa juga merasa lega bahwa pertempuran ini berhenti.

Karena tertusuk benang kebut pada Hiat-tonya, rasanya sudah tentu tidak enak namun kepandaian cun-seng Hoat-ong amat tinggi maka gerak geriknya tetap wajar, orang lain tiada yang tahu, Memang ada maksud menjajal kepandaian laki2 tua ini, maka Cun-se-ng Hoat-ong segera membeli salam hormat, katanya.

"Orang kosen berkunjung, maaf tidak menyambut selayaknya."

Dengan membungkuk hormat ini.

cun-seng Hoat-ong kerahkan Gun-goan-it sat-kang, kekuatannya masih cukup mampu membelah piliar.

Tak nyana, dilihatnya jubah Liu Goan-cing hanya sedikit melambai, orangnya seperti tidak merasakan apa2.

Kata Liu Goan-cong.

"Orang awam dari gunung, mana berani diapulkan sebagai orang kosen?"

Diapun balas memberi hormat, Cun-seng Hoat-ong diam2 sudah siaga dan berjaga2 namun tak terasa perlawanan orang, baru saja dia geli akan prasangkanya yang keliru, tahu2 segulung hembusan angin sepoi2 menimbulkan reaksi pada pusarnya, semula terasa sedikit hangat dan semakin panas, dalam sekejap hawa panas ini mengalir keseluruh badan.

Cun-seng Hoat-ong terperanjat girang, kiranya karena tertutuk Hiat-tonya, darah dalam badannya kurang lancar dan semangat menjadi sedikit lumpuh, dada terasa muaki namun aliran hawa hangat yang timbul dari pusar ini laksana hembusan angin musim semi yang menyegarkan, seketika bangkit kembali semangatnya.

Baru sekarang cun-seng Hoat-ong menyadari bahwa orang pakai Iwekang tingkat tinggi bantu dirinya melancarkan darah yang terganggu.

Umumnya cara urut dan pijat melancarkan jalan darah bagi setiap tokoh silat kosen harus tangan menyentuh badan orang.

Cara seperti yang diperlihatkan Liu Goan-cong sungguh belum pernah terjadi, jarak mereka ada setombak, namun orang mampu kerahkan tenaga untuk membuka Hiat-to dan melancarkan jalan darahnya, keruan cun-seng Hoat-ong kagum bukan kepalang.

sedikitpun Liu Goan-cong tidak memajukan tanda2 gerakan apa2 dan secara diam2 menyembuhkan luka2 Cunseng Hoat-ong, sehingga gengsi dan pamornya tidak jatuh, sudah tentu hatinya amat haru dan berterima kasih, tapi juga kejut dan curiga lekas dia berkata.

"Lo-siansing harap tunggu sebentar, kau, siapa kau?"

Sembari bicara dia maju menghampiri, ulur tangan menarik Liu Goan-cong. Tarikannya ini disamping ingin menjajal Iwekang Liu Goancong, juga ingin menahannya untuk bersahabat.

"Hoat-ong jangan terlalu banyak adat"

Ujar Liu Goan-cong, badannya tidak bergeming, tangan diulur lantas berjabatan dengan cu-seng Hoat-ong, mendadak tiga jarinya sudah menekan dan mengincar keurat nadi orang.

Tadi karena orang menyembuhkan luka2nya Cun-seng Hoat-ong tidak menaruh prasangka jelek lagi terhadap Liu Goan-cong, maka dengan lega hati dia uIur tangan ajak berjabatan.

Tak nyana mendadak Liu Goan-cong mencengkram urat nadinya, sudah tentu kejutnya bukan main.

Maklumlah kalau urat nadi kena dipencet, betapapun tinggi ilmu silatnya tak berguna lagi, terpaksa pasrah nasib dan biarkan orang berbuat sesuka hatinya.

semula Cun-seng Hoat-ong kira Liu Goan-cong hendak menjatuhkan dan membuat dirinya konyol dihadapan orang banyaki tak kira perbuatan dan sikap Liu Goan-cong selanjutnya sekali lagi berada diluar dugaannya.

Disaat sanubarinya bergetar itu, Liu Goan-cong sudah lepaskan jari2nya pula tampak seutas benang kebut terbang mengikuti gerakkan jari2 tangannya, urat nadi dan Hiat-to Cun-seng Hoat-ong yang merasa pegal tadi segera lenyap.

badan merasa segar dan nyaman.

Baru sekarang dia insaf bahwa kembali Liu Goan-cong kembangkan Iwekang tingkat tinggi dikombinasikan dengan ilmu kedokterannya yang lihay, benang kebut yang menusuk Hiat-tonya telah dia cabut keluar.

Benang kebut sekecil itu, orang lain tidak perhatikan, sudah tentu tiada yang tahu akan kejadian ini.

Tiba2 diantara gerombolan para Busu sana menerobos keluar seorang sambil tertawa, katanya.

"Hoat-ong, apakah kau belum kenal Lo-siansing ini? Losian-sing ini adalah Liu Goan-cong Liu-locianpwe yang dicari oleh Khan agung"

Hong-lay mo-li kenal orang yang bicara ini adalah siangkoan Hok ayah siangkoan Pocu, Waktu mudanya dulu Liu Goan cong bersahabat dengan siangkoan-Hok, cuma dia tidak tahu peristiwa yang menyangkut siangkoan Hok belakangan ini, kini bertemu ditengah padang rumput, sudah tentu dia merasa diluar dugaan.

Cun-seng Hoat-ong kegirangan, katanya.

"Kiranya Liu-lo-siansing, memang tidak bernama kosong Tabib nomor satu diseluruh dunia. Khan agung ingin kau memeriksa penyakitnya kini kebetulan kau sudah berada disini, bagaimana juga sukalah kau mampir sebentar."

Karena tak bisa menolaki Liu Goan-cong terpaksa terima undangan orang dan memeriksa penyakit Jengis Khan.

Petugas pajak meminta putusan Hoat-ong atas beberapa pedagang ini, siangkoan Hok segera tampil dan beikata.

"Koksu harus menemani Liu-siansing memeriksa penyakit Khan agung, soal sepele ini masakah harus diurusnya lagi? Biarlah mereka pergi saja"

Siangkoan Hok adalah tamu agung didalam pasukan Mongol ini, cun-seng Hoat-ong mengangkatnya sebagai tangan kanan cun-seng Hoat-ong, tidak enak menentang perkataannya, terpaksa dia mengiakan.

siangkoan Hok berkata kepada Hong-lay-mo-li.

"Apakah kalian bisa mencarikan serenteng mutiara mestika (Pocu) yang terbaik? Berapa harganya terserah. Boleh kalian bawa kemari"

Siangkoan Hok sudah mengenali Hong-lay-mo-li berdua, dia tahu Hong-lay-mo-li kenal baik putrinya, sengaja dia bantu kesulitannya supaya leluasa tinggal pergi.

Namun kata2nya mengandung dua arti, secara tidak langsung mengisiki Honglay mo supaya ikut bantu mencarikan putrinya.

Hong lay mo-li menjawab.

"Baik, akan kubantu mencarinya, namun mutiara sulit didapat, belum tentu kita bisa menemukannya."

"Aku tahu. Cukup asal kau ikut bantu mencarikan, aku berterima kasih. Kapan saja kau temukan, aku bisa menunggu. Baiklah sekarang kalian berangkat."

Hudapi sendiri yang antar Liu dan Hoa berempat.

Liu Goancong, merasa lega, diiringi Cun-seng Hoat-ong dan siangkoan Hok mereka memasuki kemah tempat tinggal Jenghis Khan.

Begitu memaski sebuah kemah besar bersusun warna mas, suasana disini amat hikmat dan lengang, para Wisu yang berjaga sama menggoyang tangan supaya mereka tidak bersuara.

Cun-seng Hoatong segera menghentikan langkah, katanya.

"Khan besar sedang berdoa, tunggu sebentar lagi."

Mendengar suara doa2 dan mantra dalam bahasa Mongol, ilmu kedokteran Liu Goan-cong amat tinggi, hanya mendengar suara Jenghis Khan dari balik kemah, dia lantas tahu, bahwa orang sudah menjelang ajal.

Tiba2 terdengar suara Jengis Khan ber-teriak2.

"Aku hendak bikin dunia ini menjadi padang gembala bangsa Mongol, siapa berani melawan perintahku? Aku harus tetap hidup"

Siangkoan Hok menyingkap kerai melangkah masuki katanya.

"Lapor Khan besar, Liu-losiansing tabib nomor satu dikolong langit kini sudah tiba, dia pasti bisa menyembuhkan penyakitmu."

Dalam perjalanan menyerbu kesehe, kuda merah tunjangan Jengis Khan, karena terkejut terperosok dan melemparkan Jengis Khan yang sudah berusia 70-an, sejak itu dia jatuh sakit, dan karena sakitnya ini, maka rencana mencaplok Tionggoan sementara ditangguhkan, dia pulang untuk merawat penyakitnya.

Anak buahnya disebar ke-mana2 untuk mengundang tabib sakti, namun tiada seorangpun yang bisa menyembuhkan-nya.

siangkoan Kok tahu betapa tinggi dan lihay ilmu pengobatan Liu Goan-cong, maka dia perkenalkan tabib sakti ini kepada Jengis Khan, maka secara rahasia Jengis Khan keluarkan perintah untuk mencari dan mengundang Liu Goan-cong.

setelah memeriksa denyut nadi Jengis Khan, Liu Goancong berkata.

"Nafsu Khan besar terlalu besar dan tidak terlampias ambisinya, pikiran sesat memucak keotak, sehingga pikiran pepat dan semangat lumpuh maka badanpun terasa penat dansakit2an.

urat mengkeret darah berdenyut lebih cepat lidah mengeras, perut membuncit dan banyak lagi sumber penyakit yang sukar disebutkan satu persatu.

semalam Khan besar bermimpi buruk lagi, sehingga perasaan lahir batin bergoncang dan kontras satu sama lain, amarah memuncak dan banyak kekuatiran didepan mata terbayang2 berbagai khayalan kosong.

Entah apa benar yang kukatakan?"

Terbeliak kaget Jengis Khan, hatinya girang, katanya.

"siansing memang tabib sakti, sedikitpun tidak salah apa yang kau katakan. Harap siansing, menolongku."

"Mati hidup umat manusia sudah menjadi suratan takdir. Losiu hanya bisa mengobati penyakit tak bisa mengobati jiwa, hanya bisa kunasehati Khan besar untuk mengurangi nafsu membunuh, laksanakan kebijaksanaan dan kebajikan, tentramkan hati dan pikiran, membina diri kembali menjadi manusia yang ber-Tuhan, dengan sendirinya ketentraman hati akan menunjang hidup beberapa lama lagi."

Jengis Khan naik pitam, serunya.

"Kau... kau tak mampu mengobati penyakit? Hm, bijaksana dan bajik segala, hanya pandangan kaum cendekia kutu buku saja yang punya pikiran lapuk ini jikalau tidak kubunuh musuh sampai mereka ketakutan, mana bisa aku berlanglang buana berkuasa diseluruh jagat? Hm, aku mendapat firman Thian untuk menyatukan seluruh jagat, umpama aku ingin mampus ragaku tidak akan lapuk untuk selamanya."

"Khan tidak mau mendengar nasehatku, terpaksa biarlah mengundang tabib sakti lainnya saja"

"Baik,"

Seru Jenghis Khan mengulap tangan.

"tidak sudi aku kau obati, pergilah, enyah dari hadapanku memangnya tanpa pungobatanmu aku bisa mati"

Belum habis dia bicara tiba2 matanya mendelik badan mengejang dan berkelejotan, mulut berbusa dan jatuh semaput.

Para selir Jenghis Khan dan ke empat putranya Yuji Calagai, ogotai dan Tuli dan 2 orang putrinya yang belum menikah ikut merubung maju sambil ter-isak2 dan pecahlah jerit tangis orang banyak.

Cun-seng Hoat-ong berkata.

"Liu-losiansing, mohon suka bantu, sadarkanlah Khan kita, meski hanya sekejap lagi dia bisa bertahan hidup,"

Dengan jarum perak Liu Goan-cong tusuk beberapa Hiat-to Jengis Khan, tak lama kemudian pernapasan Jengis Khan mulai teratur, matapun terpentang lalu mendelik, kelihatannya ingin memaki entah kepada siapa, namun suaranya tidak keluar dari mulutnya yang megap2.

suasana dalam kemah mas menjadi ribut dan tiada orang yang perhatikan Liu Goan-cong lagi.

Cun-seng Hoat-ong mohon maaf lalu berkata sambil antar Liu Goan-cong keluar kemah.

"Harap Liu-losiansing tidak membocorkan keadaan Khan yang menguatirkan ini."

Setelah menyampaikan pesannya, bergegas dia kembali kedalam kemah untuk pimpin upacara berdoa untuk keselamatan dan kesehatan Jengis Khan, cun-seng Hoat ong tahu kemungkinan inilah doa terakhir yang harus dia panjatkan atas junjungannya ini.

secara diam2 siangkoan Hok ikut keluar dan mengantar Liu Goan-cong.

Kata Liu Goan-cong.

"siangkoan-heng, biasanya kau hidup kelana dan bebas, kenapa sekarang terima menjadi antek bangsa lain dan kemaruk harta dan pangkat orang Mongol? Jengis Khan sudah mendekati keruntuhan, peribahasa ada bilang pohon tumbang kerapun tercerai berai dan saling rebutan kekuasaan dan kedudukan takkan bisa dihindari diantara mereka, kau adalah orang Han buat apa harus terlibat didalam petaka ini?"

Siangkoan Hok tertawa getir, katanya.

"Aku punya kesulitanku sendiri, Loheng tidak akan bisa memahami kegetiranku."

Liu Goan-cong tahu orang punya ganjelan hati, katanya.

"siang-koan heng, masih ada omongan apa yang ingin kau utarakan? Terus terang kedua orang tadi adalah putri dan mantuku, tak bisa aku lama2 disini, segera hendak kususul mereka."

"Aku sudah tahu. Aku ingin mohon bantuan kepada putrimu, namun dihadapan cun-seng Hoat-ong tidak enak kuucapkan, biarlah aku titip kepada Loheng saja."

Lalu dia keluarkan sebuah kotak cendana dikerahkan Liu Goan-cong, katanya.

"serahkan kotak-ini kepada putrimu, supaya disampaikan kepada Pocu, putriku"

"Baiklah. silakan kau kembali"

Setelah keluar dari markas Liu Goan-cong lantas kembangkan Ginkang tingkat tinggi, sekaligus dia lari puluhan li jauhnya, dari jauh didengarnya tiupan tanduk saling bersahutan, suaranya panjang mendelu dan memilukan.

Agaknya Jengis Khan sudah mangkat, laksaan orang Mongol sekaligus berdoa dan membacakan mantram untuk mengantar abahnya kealam baka.

Lekas sekali Liu Goan-cong menyusul Liu dan Hoa, sudah tentu bukan kepalang senang mereka, kata Hong-lay-mo-li.

"Ayah bagaimana kau bisa berada disini? Mana guruku? Apa beliau baik?"

"Gurumu sudah sembuh, sengaja kami menyusul kalian ke Ki-lian-san dan dari sana kutahu akan perjalanan kalian ini, maka kususul kalian ke Mongol."

"Jadi ayah sudah ke Kilian-san, bagaimana keadaan mereka? Aku kenal seorang sahabat baru, apa ayah ketemu dia?"

"Mereka baik semua. Apakah temanmu bernama siangkoan Pocu?"

"Ayah sudah ketemu dia?"

"Tidaki Barusan ayahnya titip sebuah kotak supaya diserahkan kepadamu untuk di sampaikan kepada putrinya."

Hong-lay-mo-li menghela napas sambil terima kotak itu, lalu dia ceritakan hubungan siangkoan Hok dengan ceng-ling suthay dan Ceng-ling-cu.

"Bagaimana dengan tugasmu kau temukan suhengmu?" .

"Kongsun Ki sudah meninggal."

"Kongsun Ki memang setimpal menerima ganjarannya, Gurumu hanya punya seorang putra, sekembali-mu harus menghiburnya."

"sudah tentu. Apakah beliau ada di ki-lian-san?"

"Dia ingin menginap beberapa hari disana lalu kembali ke pangkalanmu. Katanya setelah kalian pulang akan segera menjadi wali melangsungkan pernikahan kalian, maka kalian tidak usah pergi ke Ki-lian-san."

Merah muka Hong-lay-mo-li, katanya.

"Agaknya beliau lebih ter-gesa2 dari aku."

Liu Goan-cong gelak2.

Tanpa menemui rintangan mereka akhirnya tiba di pangkalan.

sudah tentu Kongsun In amat berduka mendengar kabar kematian anaknya, namun dia memang sudah menduga akibat yang bakal dialami putranya, walau sedih, namun dia masih kuat menerima pukulan batin ini.

siau-go-kan-kun dan Hong-lay-mo-li laksana putra putrinya sendiri karena sibuk menyiapkan pernikahan mereka, maka kematian putra nyapun lekas sekali dilupakan.

sehari menjelang pernikahan Liu dan Hoa, Bu-lim-thiankiau suami istri datang, siang-nya Thi-pit-su-seng Bun Yathong juga tiba, perjamuan segera dilangsungkan.

Dalam suasana riang gembira itulah seorang pelayan masuk melapor "Bu-pangcu suami istri telah tiba"

Dengan kegirangan Hong-lay-mo-li berlari keluar menyambut kedatangan mereka, teriaknya.

"Hun-cici, kenapa selambat ini kalian datang?"

"Kau tanya su-tun saja"

Jawab Hun Ji-yan .

Setelah habiskan tiga cawan arak Busu-tun baru buka suara katanya "Apa kalian ingin mendengar kabar dari Mongol?

setelah Jengis Khan mati, Tanah kekuasaannya dibagi empat masing2 dikepalai oleh ke-empat putranya.

Para saudara itu menerima warisan sesuai pesan ayahnya dan mengangkat ogotai sebagai Khan agung.

kekuatan MongoI sekarang jadi bertambah besar, Berita yang kuterima tadi siang mengatakan, ogotai perintahkan keponakannya Bartu putra subotai pimpin tentara menuju ke barat menyerbu Eropa, menurut rencana setelah Eropa dicaplok mereka akan putar balik menelan Tiong Goan"

"Untuk sementara kita boleh lega hati, namun harus lebih waspada dan himpun segala kekuatan untuk membendung musuh kuat ini. Maaf ya menjelang hari baik pernikahan kalian, aku membawa kabar yang kurang menyenangkan ini."

"Menentramkan hati untuk memikirkan bahaya, ini adalah jamak-Hayolah minum, minum sepuasnya"

Seru siau-go kian kun.

Malam itu juga pernikahan berlangsung dengan meriah setelah perjamuan bubar, dengan diiringi banyak orang siau go-kian kun dan Hong-lay-mo-li sepasang mempelai di gusur masuk kamar.

Dibawah cahaya sinar lilin merah mereka duduk bersanding ditepi ranjang tangan saling genggam dan sama tatap dengan kasih mesra.

TAMAT Semarang, 31 Desember 1974.

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com .

Baca Juga: Naga Dari Selatan 6

Baca Juga: Pendekar Pemetik Harpa 17

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger