Pendekar Pedang Dari Butong 1

Eps 1 Pendekar Pedang Dari Butong - Liang Ie Shen Tjan Id

Baca online Pendekar Pedang Dari Butong - Liang Ie Shen Tjan Id

Cersil Pendekar Pedang Dari Butong - Liang Ie Shen Tjan Id.

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com Karya . Liang Yu Sheng Saduran . TJAN ID ~Pendekar Pedang Dari Bu-tong~

Jilid KE SATU PENDAHULUAN Bayar hutang sebelum masalah jelas Sang bayi sebatang kara Kabut tebal menyelimuti angkasa, tiada terdengar suara angin dan gesekan dedaunan, akankah hujan segera turun?

Jalanan yang menembus hutan terasa sepi, tidak nampak manusia yang berlalu-lalang, awan putih semakin menggelayut di angkasa, dimanakah desaku?

Di saat hujan menjelang datang, ketika rombongan burung sudah balik ke sarangnya, dari balik keheningan yang mencekam tanah pegunungan terlihat ada dua orang menempuh perjalanan tanpa berkata-kata.

Mereka bukan tamu yang datang dari negeri seberang, juga bukan pengembara yang tidak tahu harus beristirahat dimana.

Kedua orang itu adalah sepasang suami-istri muda, yang pria tampan dan bertubuh tegap, sementara yang perempuan cantik, elok bagaikan sekuntum bunga, pasangan yang amat serasi.

Sayang status mereka sebagai suami-istri belum mendapat persetujuan dan pengakuan orang lain.

Sejak setahun berselang, di luar pengetahuan orang rumah, mereka telah kabur, melarikan diri bersama.

Cuaca selalu berubah, apalagi kehidupan manusia.

Ketika pertama kali meninggalkan desa kelahirannya, mereka menyangka selamanya tidak bakal balik lagi, siapa tahu baru lewat setahun, mereka telah menginjak kembali ke jalan lama, balik lagi ke kampung halaman.

Bila kau tanya mengapa mereka kembali?

Mungkin mereka hanya akan tertawa getir sebagai jawaban.

Saat ini si pria memang sedang tertawa getir, walau hanya di dalam hati.

Coba kalau bukan istrinya berulang kali memohon, bagaimanapun bernyalinya dia tidak bakal berani balik kembali ke sana.

Dia tidak berani membayangkan kesulitan apa yang bakal dia hadapi ketika pertama kali menginjakkan kakinya kembali di pintu perguruan.

Tentu saja perasaan kuatir, perasaan tidak tenang itu tidak sampai dia kemukakan di wajahnya.

Ketika mencoba melirik paras istrinya, dia melihat wajah istrinya lebih mendung daripada cuaca di langit, tanpa terasa dia berpikir, 'Tampaknya perasaan adik Yan tidak jauh lebih baik daripadaku.' "Ai, lebih baik kita tidak usah pulang!"

Belum sempat perkataan itu meluncur keluar, tiba-tiba suara guntur yang menggelegar keras memotong niatnya.

Tampaknya perempuan itu dibuat terkejut oleh suara guntur, sambil menjerit melengking, nyaris dia terjungkal ke tanah.

Buruburu si pria memeluk dan merangkulnya.

"Keng, Keng-long, aku.... aku takut!"

"Masa pendekar wanita dari dua telaga takut dengan suara guntur? Untung di sini tidak ada orang, kalau tidak, cerita ini pasti akan jadi bahan lelucon dalam dunia persilatan!"

Boleh dibilang hampir seluruh umat persilatan mengenal nama besarnya Ho Ki-bu, Ji-ouw Tayhiap (Pendekar besar dua telaga), dia adalah salah satu murid preman dari Bu-tong-pay yang amat termashur kehebatannya, konon ilmu pedang Jit-cap-ji-jiu-lian-hoantoh-beng-kiam-hoat (72 jurus ilmu pedang berantai pencabut nyawa) yang dikuasainya jauh lebih hebat di bandingkan dengan kemampuan yang dimiliki Ciang-bunjin Bu-tong-pay saat itu.

Yang perempuan adalah putri tunggalnya yang bernama Ho Giokyan, sementara yang lelaki adalah murid keduanya yang bernama Keng King-si.

Mereka masih mempunyai seorang Toa-suheng yang bernama Ko Ceng-kim.

"Putri Ji-ouw Tayhiap?"

Terdengar Ho Giok-yan tertawa getir.

"hm, hm.... putri Ji-ouw Tayhiap.... aku telah melakukan perbuatan yang sangat memalukan nama perguruan, tidak pantas bagiku untuk mengaku sebagai putri Ji-ouw Tayhiap!"

"Semua ini adalah kesalahanku, akulah yang telah membuat kau ikut menderita,"

Keng King-si menundukkan kepalanya rendahrendah.

"Kaulah yang telah mencelakai aku!"

Seru Ho Giok-yan sambil mendepakkan kakinya. Sebenarnya Keng King-si sudah menunjukkan rasa penyesalan yang mendalam, tapi ucapan "mencelakai"

Dari Ho Giok-yan dirasakan begitu menusuk perasaan hatinya, membuat dia tertegun. Lama kemudian baru ujarnya dengan sedih.

"Bagaimanapun kita sudah hampir setahun hidup sebagai suami-istri, masa kau belum mau memaafkan aku?"

Ho Giok-yan jadi tidak tega, sembari memukul jidatnya perlahan dia berbisik.

"Tolol, kalau aku tidak memaafkan dirimu, kenapa minta kau pulang bersamaku? Aku tidak bermaksud ini itu.... hm, coba kalau bukan kau yang mencelakai aku, tidak nanti aku nyaris jatuh karena mesti menempuh perjalanan berbukit."

Mendadak seperti teringat akan sesuatu, Keng King-si segera berseru.

"Ah benar, aku betul-betul tolol, masa anak sendiri pun sampai terlupakan. Coba kudengarkan dulu suara jejak kakinya."

Sembari berkata dia tempelkan telinganya di atas perut istrinya, kemudian lanjutnya sambil tertawa.

"Nah, sudah kudengar suaranya, dia sedang menendang dalam perutmu, setelah dewasa nanti, dia pasti akan menjadi seorang tokoh persilatan."

"Jangan cengar-cengir,"

Tukas Ho Giok-yan sambil mendorong tubuhnya.

"aku tidak berminat melihat tampang jelekmu! Lihatlah, mendung telah menggelayut, sebentar lagi hujannya pasti sangat deras, ayo cepat berangkat!"

"Eh, jangan terlalu cepat, hati-hati dengan anak kita!"

"Jalanan ini aku lebih hapal daripada kau, bahkan tempat yang paling curam dan berbahaya pun sudah hapal di luar kepala, tidak usah kuatir, aku tidak bakal terpeleset."

Setelah jalanan yang paling berbahaya dan curam terlalui, benarkah jalan di depan sana lebar dan datar?

Tentu saja jalanan yang sedang dibayangkan Ho Giok-yan dalam benaknya bukanlah jalanan ini.

Sejujurnya dia sendiri pun tidak yakin dengan apa yang bakal terjadi.

Tidak tahan dia menghela napas panjang.

"Ai, seandainya bukan demi bocah ini...."

Dia tidak bicara lebih lanjut, tapi Keng King-si sangat memahami apa yang dimaksud.

Justru karena Ho Giok-yan merasa dirinya sudah hamil dan hidup nun jauh dari kerumunan keluarga dan teman, maka dia sangat berharap bisa pulang kembali ke rumah.

"Coba lihat, awan mendung semakin menyelimuti angkasa, mungkin kita tidak sempat mencapai rumah, lebih baik cari tempat dulu untuk berteduh dari hujan angin,"

Usul Keng King-si. Tapi Ho Giok-yan seakan tidak mendengar, dia berjalan makin cepat. Cahaya halilintar berkilat dari balik lapisan mendung, menyusul suara guntur yang menggelegar dari ujung langit.

"Kalau mau hujan, cepatlah turun hujan yang deras,"

Umpat Ho Giok-yan tiba-tiba.

"melulu suara guntur tanpa hujan, benar-benar membikin hati jadi mendelu!"

"Kalau kau merasa kesal, biar kumainkan seruling untuk menghilangkan rasa kesalmu itu."

Sambil berkata Keng King-si mengeluarkan sebuah seruling dan mulai memainkan lagu kegemaran nona itu. Mengikuti irama seruling, Ho Giok-yan pun bersenandung.

"Di ujung malam nan dingin Burung gagak terpekur di ujung ranting. Rembulan tergantung di tepi langit, sepi, sendiri. Cahaya berkilauan terpercik bagai kaitan emas.... Tertidur dalam pembaringan bersulam indah. Harum bunga semerbak, menyebar di balik kelambu. Kudengar suara langkah di luar jendela. Tidak kulihat kekasihku, dimana kau telah bersembunyi."

Semakin bersenandung, nona itu nampak semakin tidak tenang, hatinya semakin gundah dan kalut. Akhirnya dia tidak sanggup menahan diri lagi, tiba-tiba berteriak.

"Jangan kau lanjutkan, makin lama hatiku makin gundah!"

"Kenapa kau?"

Tanya Keng King-si melengak, tapi begitu melihat perubahan raut mukanya, pemuda itu segera mengerti apa gerangan yang terjadi, katanya setelah menghela napas.

"Jadi kau masih marah padaku?"

Benar, sebenarnya lagu ini merupakan lagu favorit Ho Giok-yan, karena lagu ini pula dia terpesona dan hanyut oleh Ji-suhengnya.

Di malam yang hening dan sepi, mereka telah melakukan perbuatan dosa, perbuatan yang berakibat fatal.

Pada malam itu pula, untuk pertama kalinya dia meneguk arak, bukan....

bukan arak, tapi cawan kegetiran dari kehidupan mereka.

"Tidak ingin melakukan pun sudah terjadi, apalagi yang bisa dikatakan?"

Keluh Ho Giok-yan.

"aku bukan marah kepadamu, hanya merasa tidak punya muka untuk bertemu dengan ayahku juga diriku sendiri."

"Sejujurnya,"

Mendadak Keng King-si berkata.

"aku merasa sedikit takut. Aku takut setibanya di rumah nanti, kita tidak bakal menjadi suami-istri lagi. Lebih baik kita balik ke Liauw-tong, kita kembali ke sini setelah anak kita lahir nanti."

"Sejelek apapun wajah seorang menantu, akhirnya toh harus bertemu juga dengan sang mertua, biar takut pun kau harus menjumpainya. Betul ayah berhati keras dan disiplin, tapi aku tahu dia sangat mencintaiku. Kini nasi telah menjadi bubur, siapa tahu memandang wajah bakal cucunya, paling dia hanya mencaci-maki padamu habis-habisan, pada akhirnya toh tetap memaafkan dirimu. Eeei.... Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Aku.... aku tidak memikirkan apa-apa,"

Sahut Keng King-si tergagap.

"haah, hujan lebat telah tiba, cepat, cepat kita mencari tempat berteduh."

Kali ini tidak ada suara guntur, tiba-tiba saja hujan turun dengan amat derasnya.

Mereka bersembunyi di bawah sebuah dinding bukit yang menonjol keluar dari sebuah tanah pebukitan, hujan turun makin deras, sementara Ho Giok-yan hanya duduk termangu, entah terbuai oleh suasana hujan atau sedang tenggelam dalam pikiran lain.

Tiba-tiba dia teringat kembali kepada Toa-suhengnya, Ko Cengkim, ketika meninggalkan rumah waktu itu, di saat berpisah dengan Ko Ceng-kim, hujan pun turun sangat deras, sederas saat ini.

Dia merasa tidak punya muka untuk bertemu orang, sebenarnya bukan malu bertemu ayahnya, tapi malu bertemu Toa-suhengnya.

"Ehm, Toa-suheng.... di saat dia sedang membayangkan sosok Ko Ceng-kim, tiba-tiba Keng King-si buka suara. Kontan Ho Giok-yan merasakan hatinya bergetar keras, teriaknya.

"Kau tidak usah menyembunyikan perkataan yang ingin kau ucapkan, katakan saja kepadaku terus terang!"

"Sejujurnya, yang kutakuti adalah Toa-suheng,"

Bisik Keng Kingsi.

"Jangan kuatir, dia pasti bersedia memaafkan dirimu."

"Tidak, tidak mungkin, aku tahu, dia tidak akan melepaskan aku!"

"Percayalah padaku, sesungguhnya Suheng sudah memaafkan dirimu sejak dulu."

"Darimana kau tahu?"

"Kau tidak pernah mau percaya ucapanku, memangnya baru mau percaya jika Toa-suheng sudah mengutarakan sendiri kepadamu?"

Pada saat itulah cahaya halilintar berkelebat, mendadak mereka lihat ada dua orang sedang berlarian menuju ke arah mereka.

Bahkan orang yang berlari di depan tidak lain adalah Toa-suheng mereka, Ko Ceng-kim.

Orang yang mengikut di belakangnya adalah si pelayan tua Ho Liang, lantaran sudah berumur, lari Ho Liang sangat lambat, ketika dia masih berada di kaki bukit, Ko Ceng-kim sudah muncul di hadapan mereka berdua.

Ho Giok-yan merasa sangat keheranan, rumah mereka berada di sebuah dusun lebih kurang lima li selatan bukit, mengapa mereka datang ke atas bukit?

Mungkinkah mereka pandai meramal hingga sudah menduga akan kedatangan mereka, khusus datang menyambut kepulangannya?

Ai, mengapa wajah Ko Ceng-kim nampak dingin, gelap dan menyeramkan?

Dia tidak berbicara, sorot matanya yang dingin bagaikan tusukan pisau beralih dari tubuhnya ke tubuh Keng King-si, menatapnya tanpa berkedip seakan sedang mengawasi musuh besar yang telah membantai seluruh anggota keluarganya.

Hujan yang turun mulai mereda, langit pun tidak seberapa gelap.

Namun Ho Giok-yan langsung bergidik melihat mimik muka Ko Ceng-kim, bulu kuduknya bangun berdiri.

Jauh lebih bergidik, jauh lebih merinding daripada terhembus hujan angin tadi.

Dia cukup memahami perasaan Ko Ceng-kim yang terluka, tapi tidak mengerti dengan sikap dingin, kaku, menyeramkan yang ditampilkan saat ini.

Sejak dulu hingga kini, ia belum pernah melihat sorot mata Ko Ceng-kim yang dipenuhi rasa benci dan dendam yang begitu mendalam.

Ko Ceng-kim tidak berbicara, dia pun semakin tidak berani bersuara.

Pemandangan setahun berselang kembali melintas dalam benaknya, waktu itupun dia berpisah dengan Ko Ceng-kim di tengah hujan deras, dia bahkan melihat air mata yang meleleh dari kelopak matanya.

Namun sorot mata itu tiada rasa benci maupun dendam, tapi kini paras mukanya jauh lebih gelap, jauh lebih menyeramkan daripada dulu!

"Bisa dimaklumi dia merasa sedih sekali melihat aku dan Keng-si balik.

Tapi tidak seharusnya dia tunjukkan rasa sedih yang jauh lebih mendalam dari-pada waktu perpisahan tempo hari!

Waktu itu aku tidak punya rencana untuk balik lagi, dia pun menyangka tidak bakal bertemu aku lagi untuk selamanya.

Tapi dia tetap berbesar hati, tetap mengampuni kesalahan kami.

Dan sekarang kami telah kembali, kenapa dia justru bersikap begitu?

Jangan-jangan ada kejadian lain yang jauh lebih menyedihkan, jauh lebih tragis daripada hari perpisahan kita waktu itu?"

Dia merasa tidak sanggup menghadapi sorot mata Ko Ceng-kim yang begitu dingin membeku, kendatipun sorot mata itu bukan tertuju kepadanya. Akhirnya dengan memberanikan diri dia menyapa.

"Toa-suheng, kami telah kembali!"

Saat itulah Ko Ceng-kim baru berpaling, sahutnya hambar.

"Sudah seharusnya kau kembali sejak dulu!"

Dia mengatakan kalau "kami"

Telah kembali, tapi jawaban dari Ko Ceng-kim justru hanya menyinggung tentang "kau".

Dia tidak berani mempercayai pandangan matanya, juga tidak berani mempercayai pendengarannya.

Ternyata apa yang terjadi jauh berbeda seperti apa yang dibayangkan semula!

Sekarang dia mulai merasa, dan ternyata rasa kuatir Keng King-si bukan rasa khawatir tanpa alasan.

Setelah termangu beberapa saat, katanya lagi dengan nada gemetar.

"Toa-suheng, kami tahu, kami telah berbuat salah kepadamu...."

"Kau sudah pernah mengutarakan persoalan ini, jadi tidak usah diulang untuk kedua kalinya. Aku sendiri pun belum pernah menyalahkan kau karena urusan ini."

Lagi-lagi dia hanya menyinggung dirinya seorang! Sekali lagi Ho Giok-yan memberanikan diri, katanya.

"Toa-suheng, lalu bagaimana dengan perkataan yang pernah kau katakan itu?"

"Apa yang telah diucapkan pasti akan kulaksanakan, tidak pernah kuulang untuk kedua kalinya!"

"Terima kasih atas janji Toa-suheng yang selalu ditepati,"

Timbul kembali setitik harapan di hati Ho Giok-yan.

"Keng-si, cepat beri hormat kepada Toa-suheng...."

Mendadak perkataannya seperti membeku ditengah jalan, tidak sanggup dilanjutkan lagi.

Paras muka Ko Ceng-kim masih kelihatan dingin, kaku dan membeku, hanya saja di balik sorot mata yang tertuju ke wajahnya terselip beberapa bagian rasa iba, kasihan dan sedih.

Tampaknya Keng King-si sendiri pun dibuat kaku membeku karena sikap aneh itu, dia sama sekali tidak bergerak.

Bergidik hati Ho Giok-yan, teriaknya tanpa sadar.

"Toa-suheng, masa kau lupa, bukankah hari itu kau berkata sendiri kepadaku...."

"Aku tidak lupa,"

Tukas Ko Ceng-kim cepat.

"setiap patah kata yang pernah kuucapkan tidak pernah kulupakan, yang melupakan justru kau sendiri!"

Lupa?

Mana mungkin dia lupa?

Pemandangan saat itu seakan terpampang kembali di depan mata!

Sama seperti saat ini, hujan turun dengan derasnya, persis seperti sekarang, dia pun berdiri di hadapan sang Toa-suheng, yang beda hanya waktu itu Keng King-si tidak hadir.

Sikap Ko Ceng-kim tidak jauh berbeda seperti sikapnya barusan, menatapnya tanpa berkata-kata.

Tanpa peduli air hujan yang masih turun dengan derasnya, cepa t dia menjatuhkan diri berlutut.

"Suko, akubeisalah kepadamu.... aku.... aku...."

"Kenapa kau? Kalau ingin bicara, bicaralah secara baik-baik, tidak usah begitu!"

"Aku merasa tidak punya muka untuk bicara denganmu, aku hanya memohon...."

Tiba-tiba Ko Ceng-kim menghela napas panjang, ujarnya.

"Apakah kau hendak pergi bersama Ji-sute?"

"Suko, jadi kau sudah tahu?"

Seru Ho Giok-yan dengan tubuh bergetar. Ko Ceng-kim manggut-manggut, wajahnya ter-lihat jauh lebih gelap, jauh lebih kelam daripada cuaca di langit.

"Suko, aku tidak dapat menjadi istrimu!"

Seru Ho Giok-yan sambil menangis terisak.

"aku tidak berani memohon pengampunan darimu, aku hanya berharap lepaskanlah dia."

"Ai.... sejak awal sudah kuduga bakal terjadi peristiwa ini,"

Ko Ceng-kim menghela napas.

"Ji-sute pintar, berbakat dan pandai merebut hatimu. Aku memang kalah dibanding dia!"

"Suko, bukannya aku ingin berubah pikiran. Sejak kecil ayah telah menjodohkan aku kepadamu, seharusnya aku pun ingin sekali menjadi istrimu. Aai.... padahal tidak ada gunanya kusinggung lagi persoalan ini sekarang, karena biar kukatakan pun belum tentu kau mau percaya."

Berkilat sepasang mata Ko Ceng-kim.

"Jadi maksudmu kau kena bujuk rayunya? Kau tertipu oleh siasat busuknya?"

"Semua kejadian ini tidak bisa menyalahkan dia, kalau mau disalahkan, salahkan nasibku yang jelek, kenapa ditakdirkan harus menerima aib seperti ini!"

"Maksudmu, sesungguhnya kau pun menyukainya?"

"Suko, kau tidak usah bertanya lagi. Bila kau bersedia memaafkan kami, biarkan kami pergi dari sini. Kalau enggan memberi maaf, aku sudah siap menerima hukuman yang kau jatuhkan!"

Karena dia bersedia menanggung semua resiko akibat kesalahan yang telah diperbuatnya, tentu saja Ko Ceng-kim tidak bisa bertanya lebih jauh.

Akhirnya Ko Ceng-kim mengulap tangannya berulang kali sambil berkata.

"Kalian boleh pergi, selama Ji-sute benar-benar baik kepadamu, aku pun tidak akan menyalahkan dia, cuma....

"Cuma kenapa?"

"Apa rencana kalian selanjutnya?"

"Hidup mengasingkan diri, pergi ke ujung dunia dan tukar nama."

"Aai.... kenapa mesti berbuat begitu?"

Ko Ceng-kim menghela napas panjang.

"Kau bukannya tidak tahu tabiat ayahku, apalagi selama inipun dia tidak menyukai King-si. Bila kejadian ini sampai ketahuan, aku sebagai putrinya mungkin bisa lolos dari kematian, tapi King-si.... aku takut, paling tidak ilmu silatnya bakal dimusnahkan!"

"Kalau begitu menyingkirlah sementara waktu, bila rasa gusar Suhu sudah mereda, biar kubantu kalian membujuknya. Cuma orang persilatan banyak yang licik dan berhati keji, sementara kalian masih muda, belum berpengalaman, dalam pergaulan di dunia persilatan berhati-hatilah bercampur dengan orang, jangan salah berkenalan, jangan salah bergaul hingga menyimpang dari norma kebenaran, kalian jangan merusak nama baik ayahmu."

"Suko tidak usah kuatir, kami pun takut kalau sampai tertangkap ayah. Jadi mana mungkin berani meminjam nama besarnya untuk membuat keonaran di dunia persilatan? Aku toh pernah berkata, kami sudah memutuskan untuk hidup mengasingkan diri, memendam nama, hidup nun jauh di ujung langit. Yang penting kami bisa hidup aman dan tenteram."

"Padahal kalian tidak perlu putus asa dan berkecil hati, memang benar tabiat Suhu keras dan kaku, tapi aku percaya dia tetap akan memaafkan kalian bila balik lagi besok. Saat itu kalian masih bisa menjadi sepasang pendekar muda-mudi yang termashur."

"Semisal bakal terjadi seperti itu, aku rasa itu akan terjadi pada delapan sampai sepuluh tahun mendatang."

"Sekalipun Ji-sute takut pada Suhu, tidak seharusnya dia ketakutan sampai begitu, padahal kalian tidak perlu...."

"Aku tahu. Kepergian kami tanpa sepengetahuannya, mungkin hal ini bisa membuat dia orang tua semakin gusar. Tapi posisiku sekarang ibarat kawin dengan ayam ikut ayam, yang bisa kulakukan hanya mengikuti pendapat King-si."

Padahal sesungguhnya ada satu masalah yang tidak berani dia katakan kepada Ko Ceng-kim, dia tahu orang yang sesungguhnya paling ditakuti Keng King-si bukanlah ayahnya, melainkan Ko Cengkim itu.

"Kalau memang kau sudah bertekad akan pergi bersamanya, aku pun tidak akan menghalangi lagi,"

Ujar Ko Ceng-kim kemudian.

"aku hanya berharap kau selalu ingat pada ucapanku."

"Aku akan mengingatnya selalu di dalam hati. Suko, bila kau tidak ada persoalan lain, biarlah aku pergi sekarang juga."

Tidak disangka setahun baru lewat, mereka telah kembali lagi.

Yang lebih di luar dugaan ternyata apa yang selama ini dikuatirkan suaminya, kini telah menjadi kenyataan.

Pemandangan di sekeliling tempat itu masih tetap seperti sedia kala, mengapa nada bicara Ko Ceng-kim sama sekali telah berubah.

Dengan nada sedikit mendongkol, segera tegurnya.

"Toa-suheng, aku melupakan apa?"

"Aku pernah berkata, aku bisa memaafkan perbuatan Keng Kingsi yang merampas kau dari sisiku, tapi belum pernah berkata dapat memaafkan setiap perbuatan yang dia lakukan! Apakah kau ingin aku mengulang sekali lagi perkataan ini?"

"Tapi kami tidak melakukan perbuatan sesat, kami tidak terjerumus ke jalan serong, bahkan kami tidak pernah menodai nama baik ayah!"

"Aku tidak mengatakan kau!"

Dengan wajah tanpa perasaan Ko Ceng-kim menukas ketus.

Keng King-si tidak tahu apa saja yang telah mereka bicarakan waktu itu, dia hanya tahu Ko Ceng-kim tidak bakal melepaskan dia.

Ditatap sedemikian rupa oleh Ko Ceng-kim yang sorot matanya dingin membeku, lama kelamaan King-si tidak kuasa menahan diri, tiba-tiba teriaknya.

"Sumoy, kau tidak perlu memintakan ampun lagi. Toa-suheng, aku tahu, aku memang bersalah kepadamu, hukuman apa yang ingin kau jatuhkan kepadaku, lakukan-lah sesuka hatimu!"

"Hm, kau bukan bersalah kepadaku, kau telah bersalah kepada Suhu!"

"Apa katamu?"

Teriak Keng King-si terperanjat.

"Darimana aku bisa bersalah terhadap Suhu?"

Ko Ceng-kim tidak menjawab.

Sementara itu Ho Liang si pelayan tua telah menyusul sampai di situ.

Ho Liang adalah pelayan setia mereka, dia sangat setia terhadap ayahnya, bicara soal tingkatan, dia masih jauh di bawahnya.

Dengan napas tersengal Ho Liang menuding ke wajah Keng Kingsi sambil mengumpat.

"Kau.... kau bukan cuma telah berbuat salah, kau.... kau bajingan laknat!"

"Paman, kau jangan mencaci-maki dulu,"

Cegah Ko Ceng-kim cepat.

"lebih baik kita tanya dulu sampai jelas sebelum bicara lebih jauh."

"Apalagi yang mesti ditanya? Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri!"

Tampaknya Keng King-si mulai panas hatinya, agak gusar serunya.

"Kalau bicara yang jelas, apa yang kau saksikan? Kenapa kau memakiku bajingan laknat?"

"Persoalan ini pasti akan kuungkap sampai jelas,"

Kata Ko Cengkim sambil mengulapkan tangan.

"sumoy, lebih baik pulanglah dulu bersama Ho-toasiok!"

"Tidak, aku sudah hidup sebagai suami-istri dengan King-si, persoalannya adalah persoalanku juga, aku akan tetap tinggal di sini menemaninya!"

"Siocia, tahukah kau perbuatan apa yang telah dia lakukan?"

Teriak Ho Liang gusar.

"kalau sudah tahu tapi masih berusaha melindunginya, jangan salahkan kalau aku.... aku...."

"Apa yang hendak kau lakukan terhadapku?"

Ho Liang memang menyaksikan sendiri gadis itu tumbuh hingga dewasa, selama ini boleh dibilang dia sangat sayang dan mencintainya bahkan memperhatikan segala keperluan gadis itu hingga detilnya, kini walau-pun darah segar meleleh dalam hatinya, namun dengan nada yang lembut ujarnya.

"Siocia, aku percaya kau telah ditipu habis-habisan oleh bajingan laknat ini. Kau adalah seorang gadis ceria yang saleh dan berhati lembut, tidak mungkin berbuat seperti dia, gila, sinting dan tidak punya peri kemanusiaan!"

Maksud perkataannya sangat jelas, andai dia mengetahui perbuatan suaminya atau dia masih mempercayai ucapan suaminya, maka dia sendiri pun sudah gila, sinting dan tidak berperi kemanusiaan!

Kejut bercampur tercengang mencekam hati Ho Giok-yan, segera bentaknya.

"Sebenarnya apa yang telah dia lakukan? Cepat katakan!"

"Sumoy,"

Bujuk Ko Ceng-kim.

"tidak ada salahnya kau tetap tinggal di sini, tapi hal ini akan semakin menusuk perasaan hatimu!"

"Biar langit ambruk pun aku tak bakal takut!"

Sahut Ho Giok-yan lantang, sementara dalam hati pikirnya, 'Tatapan mata kalian yang begitu dingin menyengat pun sudah menusuk perasaanku, rangsangan apalagi yang tidak bisa kutahan?' "Baiklah,"

Kata Ko Ceng-kim kemudian.

"kalau begitu aku minta kau menjawab pertanyaanku dengan sejujurnya, kemarin malam apakah kau ada bersama Keng King-si?"

"Toa-suheng, mau apa kau menanyakan persoalan ini?"

Seru Ho Giok-yan dengan wajah bersemu merah.

"Jawab pertanyaanku!"

Hardik Ko Ceng-kim keras.

"Kalau aku tidak bersama dia, lalu bersama siapa?"

"Apakah semalaman suntuk dia selalu berada di sisimu?"

Bergetar keras perasaan Ho Giok-yan.

'Toa-suheng, dia....

darimana dia bisa tahu?

Apakah dia sudah mengetahui jejak kami sejak awal hingga semalam pun datang mengintai?' pikirnya.

Ternyata kemarin malam, ada sesaat Keng King-si memang tidak berada di sampingnya.

Mereka menginap di sebuah losmen kecil, ketika terbangun di tengah malam Ho Giok-yan tidak melihat suaminya berada di sampingnya, kurang lebih setengah jam kemudian suaminya baru muncul kembali.

Ho Giok-yan sendiri pun tidak tahu kemana dia telah pergi.

Kini dia dihadapkan pada pertanyaan itu, haruskah menjawab dengan sejujurnya atau lebih baik berbohong?

Untuk sesaat Ho Giok-yan jadi bimbang dan tidak tahu bagaimana mesti menjawab.

Tiba-tiba Keng King-si bangkit berdiri, serunya.

"Aku percaya tidak pernah melakukan perbuatan memalukan yang takut diketahui orang, tidak perlu ditutupi lagi. Benar, semalam aku telah meninggalkan rumah penginapan karena harus menyelesaikan satu urusan pribadi."

"Hm, kau masih berani mengatakan tidak melakukan perbuatan yang malu diketahui orang, menurutku kau memang manusia gila yang sinting dan tidak punya otak!"

Ko Ceng-kim segera mengulap tangannya mencegah Ho Liang bicara lebih lanjut. Ho Liang menurut dan segera menyingkir ke samping, tapi dia tetap mengomel.

"Kalau masih ingin diperiksa, periksa saja. Padahal bukti seberat bukit sudah tertera di depan mata, kenapa mesti diperiksa lagi!"

Ko Ceng-kim tidak menanggapi, dia berpaling dan tanyanya kepada Keng King-si.

"Urusan pribadi apa?"

"Menjumpai seorang sahabat."

"Siapa orang itu?"

"Kau tidak berhak mengetahui urusan pribadiku! Aku toh bukan seorang narapidana, jangan kau menanya aku seperti memeriksa seorang terpidana."

Kemarin malam, Keng King-si pun menggunakan jawaban yang sama untuk menanggapi pertanyaan istrinya. Ho Giok-yan mulai curiga bercampur tidak tenang, lamat-lamat dia mulai merasa gelagat tidak beres.

"Keng-long!"

Buru-buru dia membujuk.

"kalau memang tidak pernah melakukan perbuatan jahat, kenapa kau tidak berani berterus terang kepada Toasuheng?"

"Masa kau pun tidak percaya kepadaku?"

Keng King-si tertawa getir. Mendadak Ho Liang menjerit keras.

"Aku tidak sanggup menahan diri lagi, Ko-siauya, biar kau melarang aku berbicara pun aku tetap akan bicara. Bajingan laknat dari marga Keng, setelah melakukan perbuatan busuk yang teramat berdosa, kau masih berlagak pilon? Kau.... kau benar-benar bedebah, bangsat keparat!"

Umpatan terakhir dia ucapkan sambil menuding wajah Keng King-si.

"Baiklah,"

Ujar Ko Ceng-kim pula.

"kalau dia tidak berani mengakui, biar aku yang mewakilinya bicara!"

"Ho-toasiok!"

Teriak Ho Giok-yan dengan perasaan tercengang.

"apakah kau tahu perbuatan apa yang telah dia lakukan semalam?"

"Tentu saja aku tahu, semalam dengan mata kepala sendiri kusaksikan perbuatannya, kusaksikan semua perbuatan terkutuk yang telah dia lakukan, jangan harap dia bisa memungkirinya!"

"Sebenarnya perbuatan apa yang telah dia lakukan? Tolong katakan kepadaku, bagaimanapun aku berhak mengetahuinya bukan?"

Sementara itu air mata telah jatuh bercucuran membasahi wajah Ho Liang, tapi nada suaranya masih kedengaran dingin dan tajam.

"Kemarin malam dia sama sekali tidak pergi menjumpai sahabatnya, dia kembali ke rumahmu dan membunuh ayahmu!"

Waktu itu hujan telah berhenti.

Tapi perkataan Ho Liang bagaikan guntur yang menggelegar di siang hari bolong, membuat Ho Giok-yan terperana, tertegun dan melongo.

Dia seolah tidak percaya dengan pendengaran sendiri, lama setelah tertegun, tanyanya.

"Ho-toasiok, kau.... apa kau bilang?"

"Tahukah kau, dia adalah musuh besar pembunuh ayahmu?"

Ho Giok-yan mundur sempoyongan, dengan susah payah akhirnya dia berhasil menenangkan diri, jeritnya.

"Aku tidak percaya! Aku tidak percaya! Mana mungkin ayah tewas di tangannya?"

Sambil menghela napas Ho Liang menggeleng kepala berulang kali, katanya.

"Kapan toasiok pernah membohongimu? Kau tidak mau percaya pun tetap harus percaya. Ayahmu benar-benar telah tewas dibunuh bajingan laknat itu. Dan bajingan laknat itu tidak lain adalah...."

"Tidak, tidak mungkin bajingan laknat itu adalah dia!"

Potong Ho Giok-yan cepat.

"Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mana mungkin salah?"

Sikap Keng King-si waktu itu sangat tenang, bahkan tenangnya luar biasa. Ujarnya perlahan.

"Toa-suheng, sewaktu Suhu terbunuh, apakah kau pun berada di rumah?"

"Hm, kalau aku berada di rumah, mana mungkin bajingan laknat itu dapat melarikan diri?"

Sahut Ko Ceng-kim sambil menggigit bibir.

"Kalau begitu bolehkah aku mengajukan beberapa pertanyaan kepada Ho-toasiok?"

"Tentu saja boleh."

Dengan hawa amarah yang masih meluap Ho Liang mendengus dingin.

"Kau masih mencoba menyangkal?"

Jengeknya.

"Pertanyaan saja belum kuajukan, darimana kau tahu kalau aku akan menyangkal?"

"Baik, kalau begitu tanyalah!"

"Jam berapa Suhu dibunuh orang semalam?"

"Kurang lebih mendekati kentongan kedua."

"Semalam kami tinggal di dusun Gou-bin-tin."

Dengan perasaan tidak sabar Ho Liang kembali menukas.

"Jarak dusun Gou-bin-tin dengan rumah kita hanya selisih dua puluh lima li, dengan ilmu meringankan tubuh yang kau miliki hanya butuh waktu setengah jam untuk mencapainya."

"Kemarin, sejak kentongan kedua hingga kentongan ketiga dusun Gou-bin-tin ditimpa hujan deras, waktu itu kau ada di rumah, apakah hujan juga sedang turun di situ?"

"Betul, memang sedang hujan."

"Aku masih ingat, Suhu punya kebiasaan tidur lebih awal, apakah waktu itu dia sudah tertidur?"

"Aku tidak tahu apakah saat itu dia sudah tertidur atau belum, tapi aku mendengar dia seperti menjerit kaget dalam mimpinya, ketika aku menyusul ke dalam kamar, saat itu kau si bajingan laknat telah membunuhnya!"

Berulang kali Ho Liang mengatakan kalau dia menyaksikan semua peristiwa itu dengan mata kepala sendiri, seakan sudah tidak ada peluang lagi bagi lawan untuk membantah atau menyangkal.

Tiba-tiba Keng King-si bertanya.

"Sumoy, apakah ayahmu punya kebiasaan tidur dengan lentera tetap menyala?"

"Tentu saja tidak!"

"Ho-toasiok, ketika kau mendengar Suhu menjerit kaget, tentunya kau tidak memasang lentera terlebih dulu sebelum menyusul ke sana bukan?"

"Betul, aku memang tidak sempat melihat jelas raut mukanya, tapi aku melihat bayangan punggungmu. Waktu itu kau sedang melompat keluar lewat daun jendela! Kau masuk perguruan pada usia sepuluh tahun, sedang tahun ini baru berusia dua puluh dua tahun. Aku melihat kau tumbuh dewasa, aku telah melihatmu selama dua belas tahun, biar mataku rabun pun tidak bakal salah melihat orang!"

"Lumrah bila di hari biasa kau dapat mengenaliku hanya melihat dari bayangan punggung, tapi semalam...."

"Semalam kenapa?"

"Semalam hujan turun sangat deras, langit gelap tidak berbintang tidak berembulan. Menurut penuturanmu, aku pun saat itu sedang melarikan diri dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, mana mungkin hanya memandang sekilas bayangan punggungku kau lantas dapat mengenali aku?"

"Benar,"

Ucap Ho Giok-yan pula dengan perasaan lega.

"Toasiok, mungkin kau sudah punya rasa sentimen terhadapnya, maka...."

"Keng King-si, kau sangka dengan berbelit-belit lantas bisa lolos dari tuduhan dan kecurigaan?"

Hardik Ho Liang makin sewot.

"betul, waktu itu aku memang tidak melihat dengan jelas, tapi aku dapat mendengar dengan jelas sekali!"

"Apa yang kau dengar?"

Tanya Ho Giok-yan.

"Sewaktu aku berlari masuk ke dalam kamar, saat itu kudengar ayahmu sedang mengumpat, dasar binatang busuk, sudah kuwariskan ilmu silat kepadamu, ternyata kau justru menggunakannya.... Belum selesai dia mengumpat, ayahmu sudah keburu putus nyawa."

Kata umpatan "binatang"

Biasanya hanya digunakan untuk memaki anak durhaka atau murid sendiri yang murtad.

Jika apa yang dikatakan Ho Liang tidak bohong, dapat dipastikan kecuali Keng King-si, memang tidak ada pembunuh lain.

Berubah hebat paras muka Keng King-si, sesudah termangu beberapa saat tiba-tiba ia bertanya.

"Toa-suheng, semalam kenapa kau tidak berada di rumah?"

Belum sempat Ko Ceng-kim menjawab, dengan amarah yang meluap Ho Liang telah berkata lebih dulu.

"Kurangajar, tampaknya kau berniat balik menggigit Suhengmu? Kau tahu, ayah Giok-yan justru jatuh sakit lantaran kau telah menipu dan melarikan putrinya. Semalam Ko-siauya pergi ke dusun untuk membeli obat, dia baru balik menjelang kentongan keempat."

"Aku mendatangi warung obat untuk membeli beberapa jenis obat, tauke warung bisa jadi saksi, waktu itu kentongan ketiga baru menjelang,"

Ko Ceng-kim menerangkan. Keng King-si menghela napas panjang.

"Sayang aku tidak punya saksi, tampaknya aku mesti terima nasib, menjadi kambing hitam!"

"Bajingan keparat,"

Umpat Ho Liang semakin gusar.

"dengan berkata begitu, kau maksudkan aku dan Suhengmu memang sedang bersekongkol mencelakaimu?"

Dalam gusar dia langsung menerkam maju sambil melepaskan satu tempelengan keras. Dengan sigap Keng King-si mengegos ke samping, serunya.

"Hotoasiok, mengingat kau sudah lama melayani Suhu, selama ini aku selalu menghormatimu sebagai seorang angkatan tua. Tolong jangan buka mulut langsung memaki, goyang tangan langsung menampar, kalau tidak...."

"Kalau tidak kenapa?"

Jerit Ho Liang makin gusar.

"kau membunuh Suhu sendiri, mengkhianati perguruan, saking bencinya aku ingin mencincang tubuhmu dan menggigit dagingmu!"

Walaupun ilmu silatnya jauh ketinggalan dibanding Keng King-si, namun dengan mempertaruhkan nyawa dia tetap menerkam ke depan dan memeluk tubuh pemuda itu kencang-kencang, bukan cuma begitu, dia benar-benar pentang mulut dan mulai menggigit.

Tampaknya Keng King-si sendiri pun tidak sanggup menguasai emosi, dia segera pentang lengannya ke samping, lalu mendorong tubuhnya kuat-kuat.

"Blukkkk!" , Ho Liang terpental ke belakang dan jatuh terduduk. Buru-buru Ko Ceng-kim membangunkan Ho Liang dari tanah, siapa tahu ketika diperiksa denyut nadinya, ternyata orang tua itu sudah putus nyawa. Berubah hebat paras muka Ko Ceng-kim, dengan wajah hijau membesi dia membaringkan tubuh Ho Liang ke lantai, lalu sambil melolos pedang dia membentak.

"Keng King-sin, kau ingin membunuh orang menghilangkan saksi? Jangan lupa, masih ada aku!"

Tidak terlukiskan rasa kaget Ho Giok-yan, jeritnya.

"Apa? Hotoasiok, dia.... dia sudah meninggal?"

Dalam waktu sekejap Keng King-si sendiri pun dibuat tertegun saking kagetnya.

Ketika mendorong tadi, dia merasa tenaga yang digunakan tidak terlampau besar, mungkinkah dia sudah kesalahan hingga benar-benar mencabut nyawanya?

Belum sempat ingatan itu melintas.

"Sreeeet!" , tusukan maut pedang Ko Ceng-kim telah meluncur datang. Buru-buru Keng King-si mencabut pedangnya sambil menangkis, teriaknya.

"Mendorong Ho Liang sampai mati mungkin memang kesalahanku. Tapi aku tidak mau mengakui sebagai pembunuh Suhuku sendiri!"

Ho Giok-yan sendiri pun dibuat terperanjat hingga gugup, serunya.

"Toa-suheng, kenapa kau tidak memberi kesempatan kepadanya untuk membela diri?"

"Apalagi yang bisa dia katakan?"

"Paling tidak kau harus tanya dulu kenapa dia membunuh Suhu sendiri? Benar, kami memang telah melakukan perbuatan yang merusak nama baik perguruan, kejadian itu bisa jadi membuat dia orang tua gusar. Tapi aku tidak bakal percaya kalau King-si melakukan perbuatan biadab dan terkutuk ini gara-gara kuatir ditegur ayah."

"Tentu saja tidak mungkin hanya dikarenakan urusan ini saja."

"Lalu karena apa? Karena apa?"

"Kau bersikeras ingin tahu?"

Seru Ko Ceng-kim sambil menarik muka.

"Benar, aku harus tahu!"

Ko Ceng-kim menghela napas panjang, katanya.

"Aku kuatir kau tidak tahan, sebenarnya aku tidak ingin kau tahu persoalan ini...."

"Ayah sudah meninggal, Ho-toasiok pun sudah mati, peristiwa apalagi yang dapat membuat aku tidak tahan?"

Keluh Ho Giok-yan sambil terisak.

"Ai, sebenarnya aku tidak ingin kau tahu persoalan ini,"

Lanjut Ko Ceng-kim.

"tapi kalau tidak kukatakan, kau pasti akan menuduhku membalas dendam karena sakit hati pribadi. Baiklah, kalau kau memang ingin tahu, aku pun akan memberitahu secara terus terang. Karena dia sebenarnya adalah mata-mata bangsa Boan!"

Pukulan batin kali ini benar-benar sangat besar dan berat, membuat Ho Giok-yan limbung dan tidak sanggup berdiri tegak. Setelah jatuh terduduk di lantai, seru Ho Giok-yan dengan suara gemetar.

"Toa-suheng, kau.... apakah kau punya bukti kalau.... kalau dia...."

"Setahun berselang, kalian bertempat tinggal dimana?"

"Sebuah dusun nelayan di tepi sungai Song-hoa."

"Kenapa kalian pergi ke wilayah kekuasaan bangsa Boan?"

Hardik Ko Ceng-kim.

"Untuk menghindari pertemuan dengan orang-orang yang dikenal,"

Jawab Ho Giok-yan cepat.

"Keng King-si, aku minta kau yang menjawab!"

"Sumoy telah mewakili menjawab, kenapa kau minta aku untuk menjawab lagi?"

"Aku kuatir kau pun telah mengelabui dia! Katakan terus terang, kenapa kau lari ke tempat itu? Biar lebih aman dan menguntungkan bila bertemu dengan pembelimu?"

Sekulum senyuman getir tersungging di ujung bibir Keng King-si, sementara sinar buas memancar keluar dari balik matanya.

"Ternyata dugaanku tidak salah,"

Serunya.

"Toa-suheng, rupanya kau memang sengaja mencari alasan untuk membunuhku!"

Ooo)*(ooO Pertempuran sengit pun segera berkobar, kedua orang sesama perguruan itu terlibat dalam baku hantam yang amat seru.

"Tolonglah, sementara waktu kalian jangan baku hantam dulu,"

Pinta Ho Giok-yan setengah menjerit.

"Toa-suheng, aku ingin bicara denganmu, aku ingin bicara denganmu, tolong...."

"Sumoy, tidak usah memohon kepadanya. Dia tidak bakal melepaskan aku,"

Teriak Keng King-si. Sementara Ko Ceng-kim menyahut setelah menghela napas panjang.

"Sumoy, kau masih belum percaya kalau dia orang jahat? Baiklah, bila ada pertanyaan yang kau ragukan, katakan saja!"

"Di tempat itu kami hidup sebagai nelayan, rakyat yang hidup dalam dusun yang sama pun hampir semuanya nelayan,"

Ho Giokyan menerangkan.

"selama satu tahun penuh tinggal di situ, kami tidak pernah berjumpa dengan pejabat bangsa Boan biarpun hanya seorang. Kalau dibilang di situ ada 'pembeli', dia hanya seorang pembeli yang membeli semua hasil tangkapan kami."

"Untuk merekrut mata-mata, memang tidak perlu seorang pejabat resmi yang turun tangan sendiri."

"Tidak banyak jumlah penduduk dusun itu, dia pun jarang sekali berhubungan dengan orang luar. Aku tidak pernah menjumpai seseorang yang mencurigakan."

"Bukankah di sana terdapat seorang lelaki kekar bermata segitiga dengan telinga yang besar? Kau kenal dia bukan?"

"Orang itu bernama Huo Bu-tou, dia seorang pembeli ikan di dusun kami, semua ikan hasil tangkapan kami diborong olehnya. Ada apa dengan orang itu?"

"Peristiwa itu terjadi pada setengah tahun berselang, setengah tahun berikut tiba-tiba orang itu menghilang bukan?"

Untuk sesaat Ho Giok-yan merasa terkejut bercampur ragu, tapi kemudian sahutnya juga.

"Betul, konon pasar ikan di dusun itu sudah berganti pembeli lain, tapi aku tidak tahu kenapa mesti berganti orang, apalagi kami memang tidak suka mencampuri urusan orang, jadi tidak pernah menanyakannya. Toa-suheng, apakah kau tahu siapa orang ini?"

"Aku belum pernah bertemu orang ini, tapi tahu dengan jelas asal-usul dan posisinya!"

"Oh, siapa dia? Apa kedudukannya?"

"Dia adalah salah satu jago tangguh dari aliran Tiang-pek-san, sebelum jadi pedagang ikan, kedudukannya semula adalah pengawal pribadi Nurhaci Khan dari negeri Kim."

Diam-diam Ho Giok-yan merasa sangat terkejut, mimpi pun dia tidak menyangka kalau orang yang berwajah begitu jelek dan lucu, bahkan sepintas mirip seorang pedagang ikan biasa itu tidak lain adalah seorang jagoan tangguh yang berilmu tinggi.

Terdengar Ko Ceng-kim berkata lebih lanjut.

"Tapi jabatan dia yang sesungguhnya adalah perekrut mata-mata yang diutus bangsa Boan. Dia mendapat perintah khusus dari Nurhaci Khan dan saat ini melakukan pergerakan di kotaraja kerajaan Beng kita. Untuk mempermudah dan memperlancar gerakannya, dia malah berganti nama dengan memakai nama bangsa Han, sekarang bernama Kwik Bu."

"Toa-suheng, sekalipun apa yang kau katakan itu benar, tapi apa sangkut-pautnya dengan kami?"

"Kita memang sama sekali tidak tahu jabatan sebenarnya dari orang itu,"

Tukas Ko Ceng-kim.

"kau pun mungkin tidak tahu, tapi Keng King-si tahu dengan jelas!"

Kemudian sambil menatap tajam lawannya, dia membentak lagi.

"Keng King-si, apakah sampai sekarang kau masih belum mau mengaku?"

"Kau suruh aku mengaku apalagi?"

"Kenapa kau balik kemari setelah menyingkir jauh ke luar perbatasan?"

"Toa-suheng, bukankah sudah kujelaskan? Akulah yang mengajak dia balik. Karena aku sudah hamil, karena aku kangen rumah...."

Pipinya berubah jadi merah padam lantaran jengah, tapi demi menyelamatkan jiwa suami, dia tidak ambil peduli lagi dengan segala pantangan dan rasa malu.

"Sumoy, kau sudah ditipu olehnya, sepintas kelihatannya dia balik karena permintaanmu, padahal alasan yang sebenarnya adalah karena dia telah menerima sepucuk surat rahasia dari Huo Bu-tou. Huo Bu-tou lah yang menyuruh dia balik kemari!"

Dengan perasaan ragu bercampur kaget Ho Giok-yan berseru.

"Masa ada surat rahasia seperti itu? Kenapa aku tidak pernah mendengar? Kenapa....?"

Setajam mata pedang Ko Ceng-kim menatap lekat wajah Keng King-si, sahutnya ketus.

"Tentu saja dia tidak akan mengatakan kepadamu."

Lalu sambil meninggikan suaranya dia melanjutkan.

"Keng Kingsi, urusan sudah sampai di sini, seharusnya kau pun mengerti bahwa kelicikanmu tidak bakal berhasil mengelabui aku. Berani kau mengatakan kalau tidak pernah menerima surat rahasia semacam ini? Berani kugeledah sakumu? Aku tahu surat itu akan kau gunakan sebagai tanda pengenal, jadi mustahil sudah kau bakar habis. Kalau bukan berada dalam sakumu, pasti kau sembunyikan dalam buntalanmu itu!"

Sewaktu berteduh dari hujan serangan tadi, buntalan yang selalu digembol Keng King-si itu diletakkan di bawah tonjolan batu yang berada di sisi tebing, darimana Ho Giok-yan setiap saat dapat menyentuhnya.

Benar saja, begitu disinggung, paras muka Keng King-si kontan berubah hebat, tanpa sadar dia melirik sekejap ke arah buntalannya.

Kelihatannya Ho Giok-yan sudah termakan oleh perkataan itu, pikirnya, 'Seandainya dia memang sudah sejahat apa yang dikatakan Toa-suheng, tidak seharusnya aku berusaha melindungi dia.' Berpikir begitu, sambil menggertak gigi dia segera membuka buntalan milik suaminya itu.

Begitu buntalan dibuka, benar saja, dia segera menemukan sepucuk surat.

Di atas surat itu tertulis.

"Siaute berada di kotaraja dan beruntung berhasil merebut posisi tinggi, tidak tertutup kemungkinan suatu hari bisa mencapai jabatan terhormat. Bila kakak berhasil menyelesaikan tugas besar, silakan datang ke kotaraja untuk bersua. Tertanda, tanpa nama."

Walaupun surat itu tidak dicantumkan nama seseorang, namun Ho Giok-yan dapat mengenalinya sebagai gaya tulisan Huo Bu-tou.

Di masa lalu, dia sering menjual ikan kepada Huo Bu-tou, malah dia pun sering membeli keperluan lain melalui orang ini, hingga tidak heran kalau dia banyak menerima bon tulisan Huo Bu-tou dan mengenali tulisannya.

Begitu selesai membaca surat itu, sekujur badan Ho Giok-yan gemetar keras, tubuhnya menggigil bagaikan terperosok ke gudang es, tanyanya dengan nada gemetar.

"Su.... surat ini...."

Rasa panik dan takut yang diperlihatkan Keng King-si saat ini sudah tidak sehebat tadi, dibalasnya tatapan mata istrinya sambil berkata.

"Surat itu memang benar-benar ada. Aku tidak memberitahu kepadamu karena ada alasan lain yang terpaksa. Tapi aku yakin tidak melakukan hal-hal yang melanggar aturan dan norma...."

Sambil tertawa dingin Ko Ceng-kim segera menukas perkataannya yang belum selesai, kepada Ho Giok-yan, ujarnya.

"Sumoy, sekarang kau sudah melihat dengan jelas bukan bahwa surat itu bukan surat biasa. Kini surat sudah ada di depan mata, apakah kau masih curiga kalau perkataanku semua hanya bohong?"

Akan tetapi Ho Giok-yan masih nampak ragu dan penuh tanda tanya, tiba-tiba tanyanya sambil mengangkat wajah.

"Toa-suheng, bukankah kau mengatakan kalau tidak kenal Huo Bu-tou?"

"Betul. Aku memang belum pernah bertemu dengan orang itu. Bentuk mukanya pernah kudengar dari pembicaraan orang lain."

"Urusan wajah hanya masalah kedua. Yang membuat aku tidak habis mengerti adalah darimana kau tahu kalau dia memberikan sepucuk surat untuk King-si? Bahkan seolah-olah kau pun sudah mengetahui dengan jelas isi surat itu! Kalau memang surat itu isinya sangat rahasia, tidak mungkin dia sembarangan memberitahukan kepada orang lain, kecuali terhadap sahabatnya yang paling karib, bukankah begitu?"

"Belum tentu harus sahabat karibnya baru tahu isi surat itu, musuhnya pun dapat mengetahui isi surat itu,"

Dengus Ko Ceng-kim dingin.

"Apa maksud perkataanmu itu?"

"Jangan lupa, ayahmu adalah Ji-ouw Tayhiap, di samping itu dia pun seorang tokoh pimpinan Bu-tong-pay. Sekalipun dia tidak berada di kotaraja, bukan berarti di kotaraja tidak terdapat anak murid Bu-tong-pay! Gerak-gerik Huo Bu-tou sangat mencurigakan, tidak lama setibanya di ibukota, rahasia asal-usulnya sudah berhasil diketahui orang."

"Maksudmu, ada anak murid Bu-tong-pay yang melaporkan rahasia Huo Bu-tou ini kepada ayah? Mungkin saja rahasia asalusulnya mudah diselidiki, tapi darimana pula kau bisa mendapat tahu tentang rahasia surat itu?"

"Dia bukan berhasil menyelidiki, tapi menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Kau tidak usah gugup atau panik, dengarkan dulu penjelasanku, kau pasti akan tahu dengan sejelasnya."

"Surat itu dibawa pulang oleh seorang pembantu kepercayaan Huo Bu-tou, orang yang mendapat tugas mengawasi gerak-gerik Huo Bu-tou segera melakukan penguntitan secara diam-diam atas pembantu itu. Hari ketiga setelah pembantu itu meninggalkan kotaraja, dia berhasil ditangkap hidup-hidup!"

"Kalau memang pembawa surat itu sudah ditangkap anak murid Bu-tong-pay, kenapa surat ini bisa diantar sampai ke tangannya?"

Tanya Ho Giok-yan.

"Tentu saja murid Bu-tong-pay itu tidak akan membunuh si pembawa surat, dia hanya menotok jalan darah 'In-hiat' (jalan darah tersembunyi) di tubuh orang itu, apa akibatnya bila In-hiat tertotok, rasanya aku tidak perlu menjelaskan lagi kepadamu bukan?"

Partai Bu-tong terkenal dengan ilmu totokan yang luar biasa, bila In-hiat seseorang sampai tertotok, maka akibatnya walaupun orang itu masih bisa bergerak seperti biasa, namun bila dia mencoba menghimpun tenaga dalam, maka perutnya akan kesakitan seperti disayat pisau.

Bila In-hiat sudah tertotok, maka luka dalamnya kian hari kian bertambah dalam, jika selewat tujuh hari belum ada murid Bu-tong-pay yang membantu membebaskan pengaruh totokan orang itu, maka dia akan tersiksa dan kesakitan setengah mati sebelum akhirnya mati secara mengenaskan.

Tentu saja Ho Giok-yan memahami persoalan itu, katanya kemudian.

"Jadi dia memang sengaja dibiarkan hidup agar orang itu bisa berlagak tidak ada kejadian apa-apa dan tetap mengantarkan surat?"

"Betul, kalau tidak berbuat begitu, mana mungkin bisa memancing murid murtad ini masuk perangkap?"

"Siapakah anggota Bu-tong-pay yang kau maksud?"

"Ting-susiok!"

Yang dimaksud sebagai Ting-susiok adalah Sam-sute dari Ho Kibu, ayah Ho Giok-yan, orang itu bernama Ting Im-hok, sekalipun ilmu silat yang dimiliki Ting Im-hok masih kalah jauh dibandingkan kungfu kakak seperguruannya, namun dia terkenal sebagai seorang jagoan Bu-tong-pay yang cerdas dan banyak akal.

"Kenapa Ting-susiok harus mengeluarkan tenaga begitu besar untuk memancing King-si balik kemari?"

"Pertama, dia masih belum tahu secara pasti apakah Keng King-si sudah bertekad akan mengkhianati perguruan atau tidak, dia hanya kuatir termakan oleh rencana busuk lawan yang sengaja diatur begitu. Baginya membersihkan nama baik perguruan merupakan wewenang Suhu, maka dia tak ingin mencampurinya."

"Ai.... tapi tidak disangka kejadian ini mengalami perubahan yang luar biasa, perubahan itu sama sekali di luar dugaannya, walaupun si murid murtad berhasil dipancing balik, namun Suhu justru tewas dicelakai murid durhaka itu."

"Aku tidak pernah mencelakai Suhu,"

Teriak Ken King-si keras.

"surat itupun bukan surat pengantarku untuk menjadi mata-mata bangsa Boan! Aku berani bersumpah...."

"Hehe.... siapa yang percaya dengan sumpah palsumu?"

Ejek Ko Ceng-kim sambil tertawa dingin, di tengah senyuman dinginnya dia kembali menatap wajah Ho Giok-yan.

Ho Giok-yan sendiri pun tidak berani mengatakan "aku percaya", meskipun begitu, dalam hati kecilnya dia masih tetap setengah percaya setengah tidak.

Sehabis menghindari tatapan mata Ko Ceng-kim yang dingin sadis, ujarnya lirih.

"Aku masih mempunyai satu pertanyaan yang meragukan."

"Katakan saja!"

"Si pengantar surat adalah orang kepercayaan Huo Bu-tou, sementara Ting-susiok pun tidak membunuhnya, kenapa dia tidak balik melaporkan kejadian ini kepada Huo Bu-tou?"

Maksud perkataannya adalah jika Huo Bu-tou sudah mengetahui kejadian ini, semestinya dia akan berusaha untuk mengabarkan peristiwa ini kepada Keng King-si, dan mana mungkin Keng King-si mau mengantar diri masuk perangkap?

"Sumoy, jalan pikiranmu sungguh terlalu kekanak-kanakan!"

Sela Ko Ceng-kim.

"Mohon Toa-suheng memberi petunjuk."

"Betul, perkataan seorang lelaki sejati harus ditaati, tapi itupun tergantung kepada siapa kita berjanji, janji terhadap seorang sahabat tentu berbeda sekali dengan janji terhadap musuh!"

"Berarti Ting-susiok tidak pernah membebaskan totokan jalan darahnya?"

"Mana mungkin Ting-susiok membiarkan orang semacam itu hidup lebih lama? Begitu dia melangkah pergi meninggalkan dusun itu, Ting-susiok segera menghabisi nyawanya."

"Lantas dimana Ting-susiok sekarang?"

"Seperti yang aku katakan tadi, telah terjadi banyak perubahan setelah peristiwa itu, mungkin yang sama sekali tidak terduga oleh Ting-susiok adalah dia justru mati terbunuh lebih dulu sebelum ayahmu dibunuh orang!"

"Apa? Ting-susiok juga terbunuh?"

"Aku sendiri pun baru mendapat berita ini pagi tadi, sekembali ke kotaraja Ting-susiok ditemukan tewas terbunuh. Tidak ditemukan bekas luka di sekujur badannya, tapi bagi jagoan silat yang berpengalaman, semua orang dapat melihat kalau dia tewas karena terkena pukulan Hong-lui-ciang (pukulan angin guntur) dari aliran Tiang-pek-san!"

Untuk sesaat Ho Giok-yan berdiri termangu, bukan saja dia merasa sedih karena Susioknya mati terbunuh, yang lebih penting lagi adalah satu-satunya sisa harapan yang dia miliki, berharap perkataan Ko Ceng-kim tidak benar seratus persen, kini ikut pupus dengan kejadian itu.

Ting-susiok telah mati terbunuh, kemana dia harus mencari saksi lain?

Tampaknya Ko Ceng-kim dapat membaca jalan pikiran gadis itu, katanya dingin.

"Ting-susiok mampir ke rumah kita lebih dulu sebelum balik ke kotaraja. Apalagi isi surat itu hanya beberapa baris, sekilas pandang dia sudah menghapalkan di luar kepala, maka waktu bertemu ayahmu, dia langsung membeberkan isi surat itu, waktu itu aku pun berada di samping Suhu."

"Siaute berada di kotaraja dan beruntung berhasil merebut posisi tinggi, tidak tertutup kemungkinan suatu hari bisa mencapai jabatan terhormat. Bila kakak berhasil menyelesaikan tugas besar, silakan datang ke kotaraja untuk bersua."

Benar saja, dia pun dapat menghapal isi surat itu di luar kepala, sepatah kata pun tidak ada yang salah.

"Berhasil menyelesaikan tugas besar? Bukankah tugas besar itu tidak lain menunggu kelahiran keturunan kalian?"

Ko Ceng-kim sama sekali tidak mengendorkan tekanannya dengan bertanya kepada sang Sumoy.

"Lalu.... lalu menurut kau.... apa.... apa yang dimaksud?"

Suara Ho Giok-yan semakin gemetar.

"Masa perlu aku jelaskan? Seharusnya kau bisa berpikir sendiri! Mengkhianati perguruan demi mencari kedudukan, tentu saja yang paling penting lagi adalah menyelamatkan diri!"

Maksud perkataan ini sudah jelas sekali, lantaran kuatir Suhunya melakukan pembersihan terhadap murid yang berkhianat, maka Keng King-si turun tangan lebih dahulu menghabisi nyawa Suhunya!

Sebenarnya analisa ini sangat masuk akal dan gampang dicerna, namun bagi Ho Giok-yan, mana mungkin dia bisa menerima kenyataan yang begitu sadis dan kejam?

"Tidak, tidak, sekalipun dia telah salah jalan, aku tidak percaya kalau dia berani membunuh ayahku!"

Sayang, biar tidak percaya pun mau tidak mau dia harus percaya juga, sebab sekarang dia sudah tidak dapat menemukan alasan apa pun untuk membantah pernyataan Ko Ceng-kim.

"Keng King-si!"

Akhirnya sambil menggertak gigi dia berseru.

"aku.... aku benar-benar telah salah menilaimu, kau.... kau.... apalagi yang ingin kau katakan?"

"Adik Yan!"

Keng King-si tertawa getir.

"kalau kau pun tidak percaya lagi kepadaku, aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Cuma...."

"Cuma kenapa?"

Bentak Ko Ceng-kim.

"Toa-suheng, tolong beri aku waktu sepuluh hari. Setelah sampai batas waktunya, aku pasti akan balik kemari dan menerangkan semua duduk persoalan dengan sejelasnya kepada kalian!"

Perkataan itu mengandung dua arti yang berbeda, pertama, pada saat dan kondisi sekarang dia merasa tidak leluasa untuk menerangkan duduk persoalan yang sebenarnya, kedua, ketika dia memohon kepada Ko Ceng-kim, istilah yang digunakan adalah "kalian", tentu saja dia berharap istrinya bisa ikut memaklumi akan kesulitannya.

Diam-diam Ho Giok-yan memperhatikan sorot matanya.

Dengan cepat dia dapat merasakan kepedihan hati yang dialami suaminya, tapi di balik kepedihan sama sekali tidak terselip perasaan malu atau tidak senang, malah sebaliknya menyongsong tatapan matanya dengan pasrah.

Satu ingatan segera melintas dalam benak perempuan itu, pikirnya, 'Orang yang telah melakukan kesalahan atau perbuatan yang memalukan, tidak mungkin berani membalas tatapanku dengan pasrah, jangan-jangan....

dia memang menyimpan kesulitan yang susah dijelaskan?' Tapi sekarang posisi Keng King-si, dari suami telah berubah menjadi tersangka pembunuh ayahnya, dalam keadaan seperti ini bagaimana mungkin dia bisa mengabulkan permintaannya itu?

Tanpa sadar sorot matanya dialihkan ke wajah Ko Ceng-kim.

Sambil tertawa dingin Ko Ceng-kim segera berkata.

"Kau tidak bakal balik lagi kemari, anak kecil saja tidak percaya apalagi kami! Hehehe.... setelah menghabisi nyawa Suhu, kau masih ingin berusaha meloloskan diri? Perhitunganmu sungguh kelewatan, bila aku mesti melepas kau pergi dari sini, arwah Suhu di alam baka pun tidak akan mengampuni diriku!"

Sudah jelas perkataan inipun sengaja ditujukan pada Ho Giokyan, dalam keadaan begini, apalagi yang bisa dikatakan perempuan itu?

Akhirnya sambil mengeraskan hati dan menggigit ujung bibir, ujarnya dengan suara gemetar.

"Toa-suheng, seharusnya akulah yang berkewajiban membalas dendam sakit hati ayahku. Tapi hari ini.... terpaksa.... terpaksa.... aku harus minta bantuanmu!"

"Sreeet!" , diiringi desingan angin tajam, Ko Ceng-kim telah melolos pedangnya sambil melancarkan sebuah tusukan kilat ke tubuh Keng King-si. Sementara Ho Giok-yan menutup wajah sambil menangis terisak.

"Traang!" , dengan cekatan Keng King-si menangkis datangnya tusukan kilat itu, tiba-tiba ujarnya sambil menghela napas panjang.

"Toa-suheng, padahal sudah kuduga kalau kau memang tidak sabar ingin menghabisi nyawaku, aku tahu, kau sudah sangat lama menantikan kesempatan ini. Bukankah begitu Toa-suheng?"

"Aku ingin membunuhmu karena ingin membalas dendam atas kematian Suhu, siapa bilang aku melakukan ini karena urusan pribadi?"

Tukas Ko Ceng-kim gusar.

"kau telah membunuh Suhu, membunuh Ho Liang, jangan salahkan kalau aku pun tidak akan memberi muka kepadamu!"

Sementara berbicara, secara beruntun dia telah melancarkan serangan berantai, ancaman pedangnya makin lama semakin cepat, tujuh puluh dua jurus ilmu pedang berantainya dilancarkan bagaikan deru angin topan.

"Sreeeet!" , desingan tajam membelah bumi, tahu-tahu bahu Keng King-si sudah termakan satu tusukan, meski tidak sampai melukai tulangnya, namun darah segar bercucuran keluar dengan derasnya. Ho Giok-yan melengos ke arah lain, dia tidak tega menyaksikan adegan itu. Terdengar Keng King-si berseru lagi dengan nyaring.

"Toasuheng, sebenarnya tidak patut aku bertarung melawanmu, tapi aku tidak ingin membiarkan putraku lahir tanpa ayah, bagaimanapun aku tidak akan mati dengan mata meram sebelum dapat menyaksikan putraku. Toa-suheng, kalau kau memang bersikeras ingin membunuhku, jangan salahkan kalau aku pun tidak akan mengalah lagi!"

"Hm, siapa suruh kau mengalah? Kalau memang merasa hebat, kenapa tidak sekalian bunuh diriku juga!"

Suara bentrokan senjata kembali bergema silih berganti, tiba-tiba terdengar dengusan tertahan, Keng King-si mundur dengan sempoyongan, kelihatan sekali kuda-kudanya tergempur dan dia berdiri dengan gontai.

"Kena!"

Bentak Ko Ceng-kim nyaring.

Pedangnya bagai gelombang samudra menggulung tiba dengan hebatnya, langsung membabat pinggang lawan.

Serangan ini dilancarkan secepat sambaran petir, bahkan dilontarkan di saat Keng King-si belum sempat berdiri tegak.

Dalam anggapan Ko Ceng-kim, babatan mautnya kali ini paling tidak akan berhasil mematahkan dua kerat tulang iga lawan.

Siapa sangka meski tubuh Keng King-si nampak gontai, seolaholah tidak sanggup berdiri tegak, namun ketika dia melakukan putaran dengan gerakan melingkar, tahu-tahu ancaman maut dari kakak seperguruannya telah berhasil dihindari.

Ko Ceng-kim mendengus dingin, pikirnya, 'Tidak disangka baru berpisah satu tahun, ilmu meringankan tubuh yang dimiliki bajingan cilik ini telah mengalami kemajuan pesat!

Hm, tapi sayangnya, biar ilmu meringankan tubuhmu lebih hebat, jangan harap bisa menandingi tujuh puluh dua jurus serangan berantaiku.' Benar saja, baru dua puluhan jurus serangan yang dia gunakan, sekujur tubuh Keng King-si sudah terkurung di balik bayangan serangannya.

"Kena!"

Sekali lagi Ko Ceng-kim membentak nyaring, pedangnya berputar satu lingkaran, lalu dengan gaya bacokan sebilah kwanto, dia bacok batok kepala lawannya kuat-kuat.

Inilah jurus Lip-pit-hoa-san (membacok lurus bukit Hoa-san), salah satu jurus andalan Ko Ceng-kim untuk menghabisi nyawa lawannya, dengan pedang sebagai golok, bacokannya keras, ganas dan mematikan.

Dalam perkiraannya, tenaga dalam yang dimilikinya masih satu tingkat lebih unggul daripada lawan, berarti bagaimanapun usaha Keng King-si untuk menangkis, mustahil adik seperguruannya berhasil membendung ancaman itu.

Siapa tahu di saat tenaga serangan pedangnya sudah mencapai puncaknya, ketika mata senjata tinggal tujuh inci dari batok kepala lawan dan segera akan membelah batok kepalanya, tahu-tahu Keng King-si memutar ujung pedangnya dengan membentuk gerakan satu lingkaran, entah bagaimana tahu-tahu serangan yang maha dahsyat itu telah berhasil dipunahkan begitu saja.

Ko Ceng-kim sangat terperanjat, pikirnya, 'Rasanya aku belum pernah melihat jurus pedang ini, dari-mana dia mempelajarinya?' Sebagaimana diketahui, Ko Ceng-kim adalah murid pertama, ketika Keng King-si masuk perguruan pertama kalinya, selama dua tahun pertama dia malah pernah mewakili Suhunya mengajarkan ilmu silat kepadanya.

Kemudian walaupun Keng King-si dibimbing langsung oleh Suhunya, namun sebagai suheng, mereka masih sering berlatih bersama, tentu saja dia pun memikul tanggung jawab sebagai pembimbing dan pengawasnya.

Oleh sebab itulah posisi Ko Ceng-kim boleh dibilang masih terhitung setengah guru Keng King-si.

Tapi sekarang ternyata Keng King-si dapat menggunakan jurus serangan yang selama hidup belum pernah disaksikan olehnya, tidak heran dia dibuat terkejut bercampur keheranan.

Siapa sangka kejadian mencengangkan justru masih ada di bagian belakang, begitu Keng King-si memutar posisi pedangnya, jurus serangan yang digunakan pun sama sekali berubah.

Tampak gerak serangan pedangnya berputar bagai lingkaran, sebentar dia bergerak melingkar di timur, kemudian membuat lingkaran di sisi barat, lingkaran besar, lingkaran kecil, dalam lingkaran terdapat lingkaran lain, betapa hebat dan ganas serangan yang dilancarkan Ko Ceng-kim ternyata semuanya punah dan terbendung oleh gerak lingkaran itu, betapapun hebatnya gerak serangan yang digunakan, nyaris tidak satu pun mampu memperlihatkan keampuhannya.

Yang lebih aneh lagi adalah gerak melingkar yang dilakukan Keng King-si seolah memiliki daya sedot yang kuat, lambat-laun tanpa disadari gerak serangan pedang nya pun bergeser dan bergerak mengikuti gerakan lawannya.

Ketika tidak mendengar suara bentrokan senjata, Ho Giok-yan pun merasa keheranan, tanpa terasa dia membuka matanya kembali untuk menonton.

Terkejut bercampur curiga, tidak tahan Ko Ceng-kim membentak nyaring,.

"Oh, rupanya selama di wilayah Liauw-tong, kau sudah belajar dari perguruan lain, tidak heran berani amat mengkhianati perguruan sendiri!"

"Hm, percuma kau jadi Ciangbun Suheng!"

Jengek Keng King-si sambil tertawa dingin.

"Apa maksud perkataanmu itu?"

Dalam pada itu Ho Giok-yan telah berseru tertahan.

"Toa-suheng, ilmu pedang yang dia gunakan adalah ilmu pedang perguruan sendiri!"

Seakan baru menyadari akan sesuatu, Ko Ceng-kim berteriak keras.

"Bu.... bukankah ilmu itu adalah Thay-khek-kiam-hoat perguruan kita?"

"Menurut pendapatku, rasanya memang begitu."

Ternyata perguruan Bu-tong-pay memiliki dua macam ilmu pedang yang menggetarkan sungai telaga, yang pertama adalah tujuh puluh dua jurus ilmu pedang berantai Jit-cap-ji-jiu-Lian-hoantoh-beng-kiam-hoat, dan yang lain adalah ilmu pedang Thay-khek/ kiam-hoat.

Ilmu pedang yang seringkali dijumpai dalam dunia persilatan adalah ilmu pedang Lian-hoan-toh-beng-kiam-hoat, sedangkan mengenai Thay-khek-kiam-hoat, jangan lagi umat persilatan, bahkan anggota perguruan sendiri pun (khususnya dari kalangan murid preman) jarang atau malah tidak pernah melihatnya.

Tentu saja dalam hal ini ada penyebabnya.

Sebagaimana diketahui, ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat merupakan ilmu pedang yang diciptakan Thio Sam-hong, Couwsu pendiri Bu-tong-pay di masa tuanya, berhubung ilmu pedang ini mengandung intisari yang sangat mendalam dengan perubahan yang tidak terkirakan, maka setiap orang yang ingin mempelajari ilmu pedang itu harus memiliki dasar tenaga dalam yang kuat, di samping tentu saja orang itu harus memiliki bakat yang bagus.

Oleh karena itulah setiap anak murid Buy-tong-pay diwajibkan mempelajari dulu ilmu pedang Jit-cap-ji-jiu-Lian-hoan-toh-bengkiam-hoat, bila ilmu itu telah berhasil dikuasai, barulah atas bimbingan Suhunya, mereka mulai mempelajari ilmu pedang Thaykhek-kiam-hoat.

Karena ilmu itu diwariskan atas dasar bakat, sudah barang tentu tidak setiap orang dapat mempelajarinya.

Ho Ki-bu, ayah Ho Giok-yan termasuk jago silat yang mengerti ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat, tapi karena pertama, murid paling besarnya belum berhasil menguasai ilmu pedang Jit-cap-ji-jiu-Lian-hoan-toh-beng-kiam-hoat dengan sempurna maka dia tidak ingin muridnya naik tingkat secara tidak semestinya.

Kedua, dia pun ingin mentaati peraturan perguruan dengan membiarkan anak muridnya berkelana dulu dalam dunia persilatan, kemudian secara diam-diam menilai tingkah-laku dan sifatnya, di saat dia menganggap seseorang sudah saatnya menerima, ilmu itu baru diwariskan.

Untuk menghindari muridnya panik atau kesemsem, biasanya dia melatih ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat di tengah malam buta, berlatih seorang diri di ruang belakang.

Sayang, biarpun dia melarang muridnya melihat, bukan berarti putrinya tidak mengetahui hal itu, maka dia hanya bisa memperingatkan putrinya agar tidak menuntut belajar secara tidak lazim.

Belajar silat memang harus berurutan menurut tingkatan.

Itulah sebabnya Ho Giok-yan hanya mengenal ilmu pedang Thaykhek-kiam-hoat, tapi tidak mengerti ilmu pedang itu.

Kalau mengerti saja tidak, mana mungkin bisa menggunakannya.

Berubah hebat paras muka Ko Ceng-kim begitu tahu ilmu pedang yang digunakan Keng King-si adalah Thay-khek-kiam-hoat, pikirnya, 'Kelihatannya saja Suhu tidak begitu menyukai bocah keparat itu, tidak disangka secara diam-diam dia malah mewariskan Thay-khekkiam-hoat kepadanya.

Hm!

Aku adalah Ciangbun-tecu, murid paling tua, kusangka Suhu pasti akan mewariskan semua ilmu simpanannya kepadaku, tidak disangka ternyata Suhu pilih kasih!' Terbakar rasa iri yang menggelora, tanpa berpikir apakah kemampuannya mampu mengalahkan Sutenya atau tidak, kembali dia merangsek maju sambil melepaskan serangkaian serangan berantai.

Secara tiba-tiba Keng King-si bisa menggunakan ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat, bukan cuma Ko Ceng-kim yang dibuat tercengang, Ho Giok-yan sendiri pun terheran-heran dibuatnva.

Sama seperti Ko Ceng-kim, sebelum kejadian hari ini Ho Giok-yan juga tidak tahu kalau Keng King-si telah menguasai ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat.

Dalam sangkaan Ko Ceng-kim, Suhunya pasti pilih kasih dengan mewariskan ilmu itu secara diam-diam kepada Sutenya, tapi, andaikata benar-benar ada kejadian seperti itu, mungkinkah sang ayah juga mengelabui putri sendiri?

Berulang kali Ko Ceng-kim melancarkan serangan berantai, matimatian dia merangsek maju, tapi setiap serangan dan desakan yang dilancarkan, hampir semuanya berhasil dipatahkan oleh gerakan pedang Keng King-si.

Sayangnya, biarpun tekanan yang dialami Keng King-si bertambah ringan dan enteng, tekanan batin Ho Giok-yan justru makin lama semakin berat.

Darimana dia mempelajari ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat?

Kenapa dia selalu merahasiakannya kepada-ku?' Di antara sepasang suami-istri memang tidak seharus nya ada rahasia, tapi sekarang, Ho Giok-yan menemukan persoalan yang dirahasiakan suaminya bukan hanya satu saja.

Selama ini dia pun merahasiakan surat yang dikirim Huo Bu-tou kepadanya.

Semalam, lagi-lagi dia keluar kamar pergi menjumpai seseorang, siapa yang dia jumpai?

Tidak pernah hal ini dia jelaskan kepada istrinya.

Dan sekarang ditambah lagi dengan ilmu pedang Thay-khekkiam-hoat, Ho Giok-yan betul-betul tercengang, terperangah dan penuh curiga.

"Ai.... berapa banyak lagi rahasia yang dia lakukan untuk mengelabui diriku?"

Betul sampai sekarang dia masih tidak percaya bahwa Keng Kingsi adalah pembunuh ayahnya, tapi membayangkan suaminya selama ini banyak mengelabui dirinya, banyak persoalan yang sengaja dirahasiakan terhadap dirinya, hal ini sudah cukup membuatnya bersedih hati, cukup membuatnya jengkel, marah dan mendongkol.

Mendadak perutnya terasa amat sakit, pukulan batin telah membuat kondisi badannya tidak berimbang atau karena masalah lain, kandungannya tiba-tiba saja terasa bergerak.

Rasa sakit yang makin lama makin menjadi membuat perempuan ini tidak sanggup menahan diri.

Biarpun dia belum berpengalaman melahirkan, tapi dia segera sadar rasa sakit itu merupakan pertanda datangnya saat persalinan.

Dalam pada itu, setiap kali Keng King-si mundur satu langkah, dia berhasil memunahkah satu serangan maut yang dilancarkan sang Suheng, dan kini dari posisi bertahan sudah berubah jadi posisi menyerang.

Saat itu Ko Ceng-kim sedang melancarkan serangan dengan jurus Ki-hwe-liau-thian (mengangkat obor menerangi langit), gerakan pedang membentuk setengah lingkaran busur seketika berhasil membelenggu senjata itu hingga tidak mampu bergerak.

"Suheng!"

Bentak Keng King-si nyaring.

"kalau kau tidak segera lepas tangan, jangan salahkan kalau aku tidak kenal ampun!"

Asal dia melanjutkan gerakannya dengan setengah lingkaran busur lagi, niscaya lengan milik Ko Ceng-kim akan terpapas kutung.

Pada saat itulah dia mendengar suara rintihan Ho Giok-yan yang sedang mengerang kesakitan....

"Adik Yan, kenapa kau?"

Dengan perasaan terkejut Keng King-si menegur.

"Aku mohon.... aku mohon.... kalian jangan berkelahi lagi pinta Ho Giok-yan sambil merintih.

"Aku.... aku hampir mati.... aduh.... cepat tolong aku!"

Suara rintihan tiba-tiba terputus di tengah jalan, menyusul kemudian terdengar suara tangisan orok yang amat nyaring....

tangisan orok yang baru lahir dari rahim ibunya.

Bukan kematian, tapi kelahiran, seorang anak telah lahir.

Keng King-si terkejut bercampur girang, tanpa mempedulikan keadaan di sekelilingnya lagi dia memburu ke hadapan sang istri.

Dengan pedang dia potong tali pusar orok itu, lalu membopongnya.

"Haah, seorang bayi lelaki!"

Teriaknya kegirangan.

Di saat rasa gembira dan kaget bercampur-aduk dalam hati itulah mendadak dia merasakan hawa dingin yang sangat membekukan, rasa dingin membekukan yang merasuk hingga ke tulang sumsum.

Ternyata ujung pedang milik Ko Ceng-kim telah menusuk dari punggungnya hingga tembus ke jantungnya.

Menyusul kemudian terdengar suara Ko Ceng-kim yang lebih dingin membekukan daripada mata pedang berkumandang.

"Sumoy, jangan kau salahkan aku telah membunuhnya, dia tidak pantas menjadi ayah anak itu!"

Ho Giok-yan terduduk kaku bagai patung batu, dia seolah tidak mendengar ucapan Ko Ceng-kim, bahkan jalan pikiran pun ikut membeku kaku.

Dalam waktu sekejap, seluruh otak, seluruh pikirannya seolaholah kosong melompong, tiba-tiba saja jadi kosong dan putih bersih.

Tusukan pedang itu datang sangat cepat, tampaknya Keng Kingsi sendiri pun masih belum sadar akan peristiwa yang telah menimpa dirinya, dia hanya berjongkok dengan wajah bingung, lalu tubuhnya gontai dan perlahan-lahan roboh ke tanah.

Bayi laki itu masih dipeluknya erat-erat.

Ketika bayi itu menyentuh permukaan tanah, pantatnya segera terluka karena gesekan pasir dan batu.

Sekali lagi suara tangisan orok berkumandang memecah keheningan.

Sambil membungkukkan badan, Ko Ceng-kim menepis tangan Keng King-si yang sedang memegang tubuh orok itu, setelah berhasil merebut bayi itu, ujarnya dingin.

"Sudah kuberi kesempatan untuk melihat kelahiran anakmu, sekarang kau bisa mati dengan meram. Jangan salahkan aku, toh kau sendiri yang berkata begitu."

Ho Giok-yan seakan baru tersadar kembali dari mimpi buruknya karena suara tangisan bayinya, segera jeritnya.

"Berikan kepadaku, berikan kepadaku!"

"Adik Yan,"

Bisik Ko Ceng-kim sambil tertawa paksa.

"coba lihat, orok ini mirip sekali denganmu."

Tiada cucuran air mata di wajahnya ketika Ho Giok-yan menerima kembali bayinya, tapi nada suaranya justru jauh lebih pilu, jauh lebih mengenaskan daripada suara tangisan.

"Oh.... anakku yang bernasib malang.... begitu lahir kau telah kehilangan ayah, kehilangan ibu...."

"Sumoy, jangan berpikir sembarangan buru-buru Ko Ceng-kim menukas. Dengan penuh kasih sayang Ho Giok-yan mencium mesra pipi lembut bayinya, kemudian katanya lagi.

"Suko, aku bersalah kepadamu. Maukah kau kabul kan satu permintaanku?"

"Apapun permintaanmu, pasti kukabulkan."

"Aku percaya kau pasti akan membalas dendam bagi kematian ayahku, karenanya aku tidak ingin minta kepadamu untuk membalas dendam atas terbunuhnya ayah. Permintaanku ini.... mungkin akan jauh lebih sulit daripada tugas balas dendam."

"Katakan saja, sesulit apa pun, pasti akan kulaksanakan dengan sepenuh tenaga."

"Bagus, hatiku sangat lega mendengar janjimu itu. Aku mohon, rawatlah anak ini baik-baik, rawatlah dia hingga dewasa...."

"Sumoy, aku pasti akan bantu kau merawat bocah ini. Apalagi sebenarnya kita adalah.... adalah.... bila kau tidak keberatan, aku berharap kau mau mengabulkan permintaanku, biar aku menjadi ayah dari bocah ini!"

Ho Giok-yan tertawa getir.

"Benar, aku memang tidak bisa jadi istrimu, aku hanya berharap kau bisa menjadi ayah bocah itu!"

Bisiknya. Sepintas perkataan itu terdengar amat bersahaja dan tidak ada yang aneh, padahal belum tentu arti sebenarnya begitu. Terdengar Ho Giok-yan berkata lebih lanjut.

"Boleh saja kau merahasiakan identitas ayah aslinya, tapi bila tidak keberatan, tolong berikan nama untuk bocah itu, ehm.... panggil saja dia Giokkeng."

Giok-keng!

Bukankah nama ini merupakan penggabungan nama Keng King-si dan Ho Giok-yan?

Tidak usah Ho Giok-yan melukis kaki di gambar ular pun Ko Ceng-kim sudah menangkap arti sebenarnya nama itu.

Sekalipun perempuan itu tidak berharap si bocah tahu nama sebenarnya dari sang ayah, namun nama yang dia berikan, bagaimanapun tetap mengandung kenangan kedua orang tuanya.

Bila dibayangkan lebih mendalam, bukankah nama itu terkandung juga luapan perasaan cintanya terhadap Keng King-si?

Semakin terbukti bahwa dia sama sekali tidak memandangnya sebagai musuh besar pembunuh ayahnya, dia masih mengakuinya sebagai suami.

Kecut juga perasaan hati Ko Ceng-kim setelah mendengar perkataan itu, sudah barang tentu dia pun menangkap apa yang dimaksud "kalau tidak keberatan"

Dari Sumoynya itu. Perasaan Ko Ceng-kim saat ini amat kalut, namun dalam situasi seperti ini, sanggupkah dia menegur perempuan itu? Sambil tertawa paksa katanya.

"Nama yang kau usulkan sangat bagus, tapi jika kau bisa mendidik dan membimbingnya sendiri, mungkin akan jauh lebih baik lagi."

"Aaisuara Ho Giok-yan makin lama makin lirih.

"ternyata hidup itu menderita, maafkanlah aku karena harus menyerahkan semua kerepotan kepadamu. Aai....! Suko, terlalu banyak aku berhutang kepadamu, bahkan sebelum mati pun harus.... harus...."

"Sumoy, kau.... kau harus hidup terus!"

Jerit Ko Ceng-kim keras.

Tapi sayang sudah terlambat, belum selesai perkataan Ho Giokyan diucapkan, tubuhnya sudah roboh ke dalam pelukannya dan....

tewas!

Di saat dia memejamkan mata untuk terakhir kalinya, bocah itu sudah terlepas dari genggaman, pandangan matanya yang terakhir adalah di saat melihat Ko Ceng-kim menerima sodoran bocah itu!

Semua isi alam jagad, seluruh isi kolong langit, semuanya seakan jadi hening, jadi sepi!

Di atas tanah terbujur kaku jenazah Ho Liang, ada pula jenazah Keng King-si, dan sekarang ditambah pula dengan sesosok mayat lain, jenazah Ho Giok-yan.

Satu-satunya suara yang kedengaran hanya suara tangisan si orok yang tidak berdosa.

Sambil membopong bayi itu, Ko Ceng-kim berdiri dengan kening berkerut.

Aai....!

Membesarkan si bocah hingga dewasa?

Masalahnya tidak segampang itu, 'merepotkan' saja.

Bayi itu masih menangis, mulai mencakar wajah sendiri.

Ko Ceng-kim pun termangu, dia hanya bisa mengawasi wajah si bocah dengan pandangan mendelong.

Bocah yang baru lahir memang sulit untuk dibedakan apakah lebih mirip wajah ayahnya atau lebih mirip wajah ibunya.

Aah!

Bocah ini putra Keng King-si, tapi dia pun darah daging Ho Giok-yan!

Entah karena keterkaitannya dengan seseorang atau memang pada dasarnya bocah itu memang menyenangkan, tanpa sadar sikapnya pun telah berubah seolah-olah dia memang ayah kandungnya, rasa kasih, rasa sayangnya terhadap bayi itupun bertambah besar.

"Sudah.... cup.... cup.... jangan menangis, jangan menangis, sayang.... oooh.... sayang!"

Bisiknya dengan penuh kasih sayang.

Dia mulai menepuk, menggoda dan menina-bobokan si bayi dengan penuh kemesraan.

Tapi bocah itu masih juga menangis terus.

Masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan, tapi persoalan paling penting sekarang ini adalah bagaimana menempatkan si bocah itu di suatu tempat yang aman.

Dia tidak tahu apakah bayi yang baru lahir bisa menunjukkan rasa 'lapar', tapi bagaimanapun dia toh mesti mencari sesuatu untuk diberikan kepada bayi itu.

Apalagi dia pun tidak bisa membiarkan bayi itu telanjang menahan terpaan hawa dingin yang menggigilkan.

Untung saja orang yang bepergian jauh biasanya selalu membawa bekal air dan makanan, dari sisi tubuh Ho Giok-yan, Ko Ceng-kim berhasil menemukan kantung air yang dibawa, isi air masih ada setengah, dia pun menuang sedikit lalu dilolohkan ke mulut si bayi.

"Kasihan benar kau,"

Bisiknya sambil tertawa getir.

"baru lahir tapi tidak bisa mengisap susu ibu, terpaksa anggap saja air ini sebagai susu ibu."

Benar saja, setelah diberi air sedikit, bayi itupun berhenti menangis (Gb 1).

Tentu saja air tidak bisa menggantikan susu ibu, apalagi bayi itu lahir belum cukup umur, kecil, kurus lagi, benar-benar mengenaskan.

Ko Ceng-kim tidak punya pengalaman menyusui bayi, dia pun tidak tahu kalau bayi yang dilahirkan belum cukup umur membutuhkan susu ibu untuk menopang hidupnya, seandainya bukan susu ibu kandungnya pun paling tidak harus ada susu dari perempuan lain.

Hujan telah berhenti, suasana senja pun lambat-laun menyelimuti angkasa.

Kabut tipis mulai muncul dari kaki bukit dan menyelimuti permukaan.

Tiba-tiba seperti teringat akan sesuatu, dia segera berseru.

"Ha, bukankah di depan mata sudah ada seorang ibu? Kenapa tidak terpikirkan olehku sejak tadi?"

Di bawah bukit hidup sepasang suami-istri muda, suaminya bernama Lan Kau-san, seorang pemburu, sedang istrinya sangat trampil melakukan pekerjaan kasar, dia terhitung seorang wanita yang kuat dan bertenaga.

Lan-toaso kebetulan baru melahirkan seorang putri beberapa hari berselang.

Ko Ceng-kim kenal baik suami-istri itu, bahkan suatu kali pernah membantu Lan Kau-san membunuh seekor harimau putih yang buta sebelah matanya.

Kala itu, walaupun senjata trisula Lan Kau-san berhasil menghujam tubuh harimau itu, tapi kulit badan sang harimau yang tebal dan kasar membuat hewan liar itu semakin buas, setelah terluka parah, andaikata Ko Ceng-kim tidak datang tepat waktu dan menyelamatkan jiwanya, mungkin dia sudah tewas diterkam sang harimau.

Kembali Ko Ceng-kim berpikir, 'Lan-toaso bertubuh sehat dan kuat, rasanya lebih dari cukup air susunya untuk menyusui dua orang bayi.

Lan-toako termasuk orang jujur yang bisa dipercaya, terlepas aku pernah melepas budi kebaikan kepadanya, dia pun masih terhitung sahabat karibku semenjak kecil, aku percaya dia pasti akan bantu aku merahasiakan kejadian ini."

Begitu selesai mengambil keputusan, dia pun mengambil satu stel pakaian dari dalam buntalan milik Keng King-si dan dibungkuskan ke tubuh sang bayi, kemudian dengan terburu-buru dia beranjak pergi untuk mencari Lan Kau-san.

Persis seperti apa yang diduganya semula, permintaannya langsung disanggupi Lan Kau-san berdua.

Ko Ceng-kim pun mengarang sebuah cerita untuk mengelabui kejadian sebenarnya, dia mengaku telah menemukan seorang bayi yang dibuang orang di tepi gunung.

Orang polos yang selama hidup tidak pernah berbohong inipun segera menyanggupi permintaannya.

Mereka berjanji, setelah bocah itu berusia enam tujuh tahun, Ko Ceng-kim baru akan datang untuk mengajaknya pergi.

Pulang pergi tidak sampai sepuluh li, selepas dari rumah keluarga Lan, Ko Ceng-kim balik kembali ke tempat semula, saat itu langit belum gelap, segala sesuatu masih sama seperti sebelum dia pergi dari situ, kalau dibilang ada perbedaan, maka perbedaan itu kecil sekali.

Sewaktu tadi dia meninggalkan tempat itu, jenazah Ho Giok-yan dan Keng King-si terbujur kaku di dua tempat yang terpisah, meskipun selisih jarak itu tidak terlampau jauh.

Tapi sekarang, jenazah mereka berdua nyaris berjajar dan berhimpitan satu sama lainnya, salah satu tangan Ho Giok-yan menggenggam tangan Keng King-si yang terjulur ke depan.

Apakah waktu itu mereka berdua belum mati sungguhan?

Atau karena ada orang yang telah menggeser posisi jenazah itu?

Tidak ditemukan bekas jejak kaki asing di atas tanah, Ko Ceng-kim juga percaya mustahil ada orang yang akan melakukan perbuatan yang membingungkan semacam itu.

Maka dengan kening berkerut dia pisahkan kembali genggaman tangan kedua jenazah itu, lalu dengan menggunakan sekop yang baru dipinjam dari keluarga Lan untuk membuat sebuah liang besar.

Ketika liang kubur telah siap, dia pun menggotong jenazah Sumoynya untuk dikebumikan, saat itulah timbul perasaan sedih di hati kecilnya.

"Sumoy.... oooh, Sumoy.... pergilah dengan hati lega, aku pasti akan menganggap bocah itu seperti anak kandungku sendiri. Aai....! Ketika kau berpamitan dulu, aku tidak dapat mengantar kepergianmu, tidak disangka, hari ini kita harus berpisah untuk selamanya."

Waktu itu malam telah menjelang tiba, sebenarnya mengubur sepasang suami-istri itu dalam satu liang adalah tindakan yang paling menghemat waktu.

Namun secara tiba-tiba Ko Ceng-kim terbayang kembali adegan dimana Sumoynya menggenggam kencang tangan Keng King-si di saat ajalnya, perasaan iri dan cemburu seketika menyelimuti hatinya.

"Hm!"

Kata batinnya, 'biarpun di saat hidup kau berhasil menipunya dan membawanya kabur, aku tidak rela membiarkan kalian terkubur dalam satu liang di saat telah mati...."

Selesai mengubur jenazah Sumoynya, menguruk kembali tanah dan menggunakan sebuah batu sebagai batu nisan, dia pun mulai menggali liang kedua.

Baru menggali setengah jalan, mendadak ter-dengar suara langkah kaki bergema datang.

Dengan perasaan tercekat, buru-buru Ko Ceng-kim mendongakkan kepala, tampak seorang Tosu berjenggot panjang tahu-tahu sudah muncul di depan mata.

Buru-buru dia melepaskan sekopnya, bangkit berdiri dan menyapa sambil memberi hormat.

"Bu-kek Supek, maaf bila Tecu terlambat menyambut!"

Ternyata Bu-kek Totiang adalah pemimpin Bu-tong-sam-lo (tiga sesepuh Bu-tong), dia menempati posisi kedua setelah Ciangbunjin Bu-siang Totiang dalam jajaran Bu-tong-pay.

Waktu itu Bu-kek Totiang berlarian mendekat dengan sangat tergesa-gesa, bukan saja jidatnya telah basah oleh keringat, napasnya juga tersengal-sengal.

Kejadian ini membuat Ko Ceng-kim semakin keheranan, pikirnya, 'Tenaga dalam yang dimiliki Bu-kek Supek sangat tinggi dan sempurna, biarpun baru saja menempuh perjalanan jauh, seharusnya langkah kakinya tidak bakal limbung, napas pun mustahil tersengal-sengal seperti dengus napas kerbau.

Aneh, kenapa dia bisa berubah seperti itu?"

Dengus napas Bu-kek Totiang masih tersengal bagai kerbau, begitu tiba di tempat itu, sorot matanya langsung dialihkan ke atas jenazah Keng King-si.

Paras mukanya yang sudah nampak kuning kepucat-pucatan, kini terlihat semakin tidak sedap.

Ko Ceng-kim semakin tidak tenang, apalagi sesudah menyaksikan perubahan mimik mukanya yang aneh.

Belum sempat dia melaporkan peristiwa itu, terdengar Bu-kek Totiang telah bergumam dengan nada sedih.

"Aah! Ternyata kedatanganku terlambat!"

Menyusul ucapan itu, dia menghela napas panjang.

"Lapor Supek,"

Buru-buru Ko Ceng-kim berseru.

"aku telah mewakili Suhu membersihkan perguruan dari murid murtad. Ceritanya panjang sekali, Keng King-si.... dia.... sewaktu di wilayah Liauw-tong...."

"Tidak usah dilanjutkan,"

Tukas Bu-kek sambil mengulap tangannya.

"ketika Ting-susiok baru balik dari Liauw-tong tempo hari, dia telah melaporkan kejadian ini kepada Ciangbunjin, saat itu aku hadir di situ, jadi semua persoalan telah kuketahui dengan jelas!"

Seharusnya Ko Ceng-kim dapat menduga kalau Bu-kek Totiang sudah tahu tentang peristiwa ini.

Sebagaimana diketahui, kasus Keng King-si bersekongkol dengan bangsa Boan merupakan satu peristiwa besar, Ting Im-hok lah yang berhasil mendapat tahu rahasia itu.

Menghadapi peristiwa yang begitu besar dan serius, selain memberitahukan persoalan ini kepada Suhu Keng King-si, yakni Jiouw Tayhiap Ho Ki-bu, tentu saja dia pun harus melaporkan hal ini kepada ketua partai.

Padahal posisi Bu-kek Totiang dalam jajaran Bu-tong-pay adalah orang kedua setelah Ciangbunjin, kecuali sang ketua enggan berunding dengan pihak ketiga, kalau tidak, orang pertama yang akan diajak berunding pastilah Bu-kek.

Jelas dalam peristiwa ini ketua Bu-tong-pay tidak berani memutuskan sendiri, dia pasti akan mengundang para sesepuh partai untuk diajak berunding.

Teori ini bukannya tidak terpikirkan oleh Ko Ceng-kim.

Tapi persoalannya, begitu datang kata pertama yang dilontarkan Bu-kek Totiang adalah "aku datang terlambat" , dia takut Supeknya menegur dia karena telah membunuh adik seperguruan, maka sebelum sang Supek mengemukakan kalau dia sudah tahu persoalan itu, dia merasa lebih baik memberi lapor terlebih dulu.

'Aha....

baguslah kalau sudah tahu,' pikir Ko Ceng-kim lagi dengan perasaan lega, 'sudah menjadi kewajiban setiap orang untuk menghukum mati murid murtad, tidak semestinya kau marah kepadaku bukan karena aku telah membersihkan perguruan?' Tampaknya Bu-kek Totiang dapat membaca jalan pikirannya, setelah menghela napas panjang, gumamnya.

"Aai.... aku sendiri pun tidak tahu apakah kau telah salah membunuh atau tidak...."

Sesudah memandang wajah Ko Ceng-kim sekejap dan termenung beberapa saat, lanjutnya lebih jauh.

"Terdapat banyak sekali titik mencurigakan dalam peristiwa ini, sayang aku tidak punya waktu untuk menjelaskan lebih terperinci, satu hal yang bisa kukatakan adalah, pertama, ternyata Huo Bu-tou bukan bangsa Boan!"

"Tapi Ting-susiok telah mengusut dengan jelas kalau dia adalah murid Tiang-pek-pay, bekas pengawal pribadi Nurhaci Khan dari negeri Boan,"

Bantah Ko Ceng-kim keheranan.

"Betul, Nurhaci Khan sendiri pun menyangka dia berasal dari etnis sukunya, kalau bukan begitu, mana mungkin dia bisa diangkat jadi pengawal pribadinya? Tapi kenyataan dia adalah bangsa Han, bahkan pada dua puluh tahun berselang ayahnya masih terhitung seorang jago pedang yang tersohor. Pernah tidak kau mendengar nama Kwik Tang-lay?"

"Maksud Supek, Cang-ciu-kiam-khek (jago pedang dari Cang-ciu) Kwik Tang-lay yang lenyap di luar perbatasan (Kwan-gwa) pada dua puluh tahun lalu?"

"Betul, Kwik Tang-lay meninggal di luar perbatasan, sementara Huo Bu-tou tumbuh dewasa karena ikut ayah angkatnya, kebetulan ayah angkatnya berasal dari etnik Nizhen, oleh ayah angkatnya dia pun diberi nama bangsa Boan, hanya saja she Huo yang dipakai Huo Bu-tou masih kedengaran senada dengan she aslinya Kwik (dalam lafal terbaca Kuo)"

"Jadi lantaran dia adalah keturunan seorang pendekar bangsa Han, maka Supek curiga kalau orang itu belum tentu benar-benar setia kepada Nurhaci Khan? Tapi pepatah mengatakan, dekat gincu jadi merah, dekat tinta jadi hitam. Lagi pula dia sendiri pun belum tentu tahu asal-usulnya yang sebenarnya?"

"Perkataanmu memang masuk akal, aku sendiri pun tidak mengetahui terlalu banyak tentang asal-usulnya. Bahkan aku pun tidak tahu siapakah ayah angkatnya itu. Itulah sebabnya aku tidak berani mengata kan 'meski dia berada di wilayah Cho-cho, hatinya berada di wilayah bangsa Han', sekalipun begitu, kita juga tidak bisa menuduh dia pasti seorang mata-mata dan pengkhianat!"

Jika status Huo Bu-tou saja masih belum pasti seorang pengkhianat, bagaimana mungkin dia bisa bersikeras menuduh Keng King-si pasti seorang mata-mata?

Telapak tangan Ko Ceng-kim mulai berkeringat dingin.

"Tapi dalam surat Huo Bu-tou yang dikirim ke Keng King-si jelas tertulis kalau dia sudah mendapat jabatan tinggi di kotaraja, lalu minta Keng King-si setelah selesai melakukan 'pekerjaan besar' diminta bergabung dengannya di ibukota,. Bagaimana pula dengan penjelasannya? Bukankah di balik nada ucapan itu seolah terselip satu intrik, satu rencana busuk?"

Seru Ko Ceng-kim mencoba mengemukakan pandangannya.

"Ya, aku sendiri pun tidak jelas urusan besar apa yang dikemukan dalam surat itu,"

Ucap Bu-kek Totiang.

"intrik atau rencana besar jelas ada, tapi bukan berarti Keng King-si pasti telah mengkhianati perguruan!"

"Belum tentu, berkhianat bukankah berarti dia pasti akan mengkhianati perguruan!"

"Ceng-kim! Jangan kau sangka aku membela Keng King-si,"

Tukas Bu-kek Totiang tiba-tiba.

"justru karena aku sendiri pun tidak berani mengambil kesimpulan, maka aku baru mengatakan semoga kau tidak salah membunuh!"

Ko Ceng-kim membungkam tanpa menjawab. Terdengar Bu-kek Totiang berkata lebih jauh.

"Persoalan kedua yang perlu kusampaikan padamu adalah Ting-susiok ternyata bukan tewas di tangan jago Tiang-pek-pay!"

"Apa?"

Ko Ceng-kim terperanjat.

"konon tidak ditemukan bekas luka di jenazah Ting-susiok, darimana bisa tahu kalau bukan hasil perbuatan jago-jago Tiang-pek-pay?"

"Kau sangka hanya ilmu pukulan Hong-lui-ciang (pukulan angin guntur) dari Tiang-pek-pay saja yang bisa membunuh orang dengan memukul remuk isi perutnya tanpa meninggalkan bekas?"

"Pengetahuan Tecu sangat cupat, seingatku Suhu pernah berkata begitu."

"Kapan dia berkata begitu kepadamu?"

"Tiga tahun berselang, Waktu itu Tecu baru lulus dari perguruan dan secara khusus Suhu menerangkan berbagai kelebihan ilmu silat berbagai aliran untuk menambah pengetahuan, lantaran saat itu Tiang-pek-pay dari luar perbatasan dan sedang berseteru dengan semua perguruan besar di daratan Tionggoan, maka dalam hal ilmu pukulan Hong-lui-ciang dari Tiang-pek-san, Suhu menerangkan lebih jelas dan terperinci."

"Ai.... seandainya saat ini Suhumu mengajak bicara lagi soal ilmu silat berbagai aliran, mungkin dia tidak akan berkata demikian,"

Kata Bu-kek Totiang. Ko Ceng-kim melongo, dia seperti tidak paham ucapan itu, tapi belum sempat mengucapkan sesuatu, lagi-lagi Bu-kek Totiang memberi tanda agar tidak berisik, lalu berkata.

"Dengarkan dulu keteranganku lebih lanjut. Akulah orang pertama yang menemukan jenazah Ting-sute, dia dicelakai orang dalam sebuah losmen kecil, ketika menemu kan jenazahnya, waktu itu jenazahnya itu sudah dingin dan kaku. Meski begitu, sekilas pandang saja aku sudah tahu kalau dia tewas karena dibunuh anggota perguruan sendiri!"

Ko Ceng-kim semakin terkesiap, tidak terlukiskan rasa kagetnya kali ini.

"Jadi pembunuhnya berasal dari perguruan sendiri?"

Jeritnya.

"Supek, dari.... darimana kau.... kau tahu?"

"Bila ilmu Thay-khek yang dilatih seseorang sudah mencapai puncak kesempuraan, dia pun bisa membunuh orang tanpa meninggalkan jejak. Bedanya, pukulan Thay-khek bersifat lembek sedang pukulan Hong-lui-ciang bersifat keras, oleh sebab itu meski sama-sama tidak meninggalkan bekas luka di luar badan, namun bila kita lakukan pemeriksaan, dapat diketahui isi perut korban pukulan Hong-lui-ciang pasti hancur remuk, sementara isi perut korban Thay-khek-ciang tetap utuh seperti normal. Bagiku, tidak usah dilakukan pemeriksa-an pun sekilas pandang aku dapat membedakannya."

Beberapa saat setelah berhasil mengendalikan rasa kagetnya, dengan agak tergagap bisik Ko Ceng-kim.

"Aku hendak melaporkan satu kejadian aneh yang menakutkan pada Supek, ternyata Keng King-si pun dapat menggunakan ilmu pedang Thay-khek-kiamhoat."

"Sebelum menggunakan ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat, apakah dia terlebih dulu menggunakan ilmu pedang Lian-hoan-tohbeng-kiam-hoat?"

"Betul, justru lantaran dia tidak dapat menangkan aku dengan ilmu pedang Lian-hoan-toh-beng-kiam-hoat, maka akhirnya dia keluarkan Thay-khek-kiam-hoat."

"Kalau begitu, pembunuhnya pasti bukan dia. Memang, untuk mempelajari Thay-khek-kiam-hoat dibutuhkan dasar tenaga dalam perguruan kita, tapi untuk bisa mencapai tingkat kemampuan Thaykhek-ciang yang sanggup menghabisi nyawa Ting-susiok paling tidak dibutuhkan tenaga dalam yang sudah mencapai puncak kesempurnaan. Kenyataan, tenaga dalamnya belum sanggup mengungguli dirimu, berarti dia pun belum mencapai taraf sehebat itu. Aku tahu, di masa lalu Suhumu berhasil melatih ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat hingga mencapai tingkat kesempurnaan, aku pun yakin dengan tenaga dalamnya dia sanggup melepaskan pukulan Thay-khek-ciang. Tapi tenaga dalam toh mustahil bisa diwariskan kepada muridnya dalam waktu singkat!"

Sekarang Ko Ceng-kim baru paham apa yang dimaksud sang Supek, sebagaimana diketahui ilmu silat Suhunya baru mencapai kemajuan pesat sejak tahun lalu, berarti pada tiga tahun berselang, Suhunya pun belum paham akan perbedaan hasil pukulan Thaykhek-ciang dan Hong-lui-ciang.

Setelah lama termangu, kembali ujarnya.

"Tapi pembunuh yang telah menghabisi nyawa Ting-susiok sudah pasti bukan Suhu!"

"Tentu saja bukan Suhumu!"

Bu-kek Totiang menghela napas panjang.

"andai Suhumu masih hidup, keadaan pasti lebih mendingan! Dan aku pun tidak usah terburu-buru datang mencarimu!"

"Sebenarnya Tecu sedang bersiap-siap melaporkan tentang kematian Suhu, ternyata Supek malah sudah tahu."

"Betul, aku sudah sampai di rumah Suhumu dan justru lantaran Suhumu sudah meninggal maka aku buru-buru menyusul kemari."

"Supek sudah memeriksa penyebab kematian Suhu?"

"Ilmu silat yang digunakan pembunuh untuk menghabisi nyawa Suhumu pun merupakan ilmu silat aliran perguruan kita!"

"Kalau begitu Ho Liang memang tidak salah melihat!"

"Ho Liang melihat wajah pembunuh itu?"

"Justru karena Ho Liang sempat bertemu dengan murid durhaka pembunuh Suhu, maka pengkhianat itu menghabisi pula nyawa Ho Liang."

Untuk sesaat Bu-kek Totiang hanya termenung tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kembali Ko Ceng-kim berkata.

"Terdorong ingin membalas dendam atas kematian Suhu, Tecu berpendapat, bila tidak segera mengambil tindakan, bisa jadi murid durhaka ini akan kabur dari jaring hukuman, itulah sebabnya aku putuskan untuk menghabisi dulu nyawanya, kemudian baru melapor kejadian ini kepada Ciangbunjin, Supek, harap maafkan kesalahan Tecu ini."

Bu-kek Totiang hanya tertawa getir, sama sekali tidak bicara. Melihat sang Supek tidak memberi komentar, Ko Ceng-kim tidak kuasa menahan diri, serunya.

"Supek, sudah terbukti murid durhaka inilah yang membunuh Suhu, bahkan ada saksi mata, kenapa kau orang tua masih sangsi?"

"Kelihatannya aku tidak bisa mewakilimu untuk balik ke bukit dan melaporkan peristiwa ini kepada Ciangbunjin."

"Kenapa?"

Tanya Ko Ceng-kim terkejut.

"Apa alasannya biar kujelaskan di kemudian hari saja. Sekarang yang ingin kuketahui adalah apa benar Ho Liang telah menyaksikan secara jelas?"

Ko Ceng-kim mulai merasa hatinya tidak tenteram, namun sahutnya juga.

"Meskipun semalam turun hujan, namun Ho Liang melihatnya sejak kecil hingga tumbuh dewasa, Tecu yakin dia tidak bakal salah melihat. Selain itu, kalau bukan karena dia kuatir jejaknya ketahuan, kenapa pula dia harus membunuh Ho Liang untuk menghilangkan jejak?"

Oleh karena takut sang Supek menegur dan menyalahkan tindakannya yang ceroboh dan gegabah, membunuh orang sebelum melakukan penyelidikan secara jelas, terpaksa Ko Ceng-kim merahasiakan keadaan yang sesungguhnya, kalau Ho Liang hanya sempat menangkap bayangan punggungnya saja.

Tampaknya Bu-kek Totiang seperti memikirkan sesuatu, sesaat kemudian katanya.

"Jika Ho Liang mengaku telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, seharusnya laporan ini tidak perlu diragukan lagi, tapi "

Tapi kenapa?"

Bu-kek Totiang tidak menjawab, tiba-tiba dia melancarkan sebuah pukulan, langsung menabok ke tubuhnya.

Ko Ceng-kim terkejut, sekuat tenaga dia melancarkan serangan balasan untuk menangkis.

Menghadapi ancaman yang bisa membahayakan jiwanya, tentu saja tangkisan ini dilakukan dengan mengerah kan segenap kekuatan yang dimiliki.

Padahal saat itu Bu-kek Totiang hanya menggunakan tiga bagian tenaga dalamnya, biarpun begitu, tidak urung tubuh Ko Ceng-kim sempoyongan juga dibuatnya.

Lekas Bu-kek Totiang memayang tubuh, berkata.

"Kau tidak usah gugup atau panik, aku hanya ingin menjajal kekuatan tenaga dalammu."

Sementara berbicara, lagi-lagi dia menggeleng kepala berulang kali, seolah pada saat bersamaan dia sedang membayangkan sesuatu. Dengan hati masih kebat-kebit segera Ko Ceng-kim berseru.

"Ketika Suhu terbunuh semalam, Tecu tidak ada di rumah, waktu itu Tecu sedang di dalam kota."

"Tentu saja aku tidak akan mencurigaimu,"

Tukas Bu-kek Totiang tertawa.

"aku sengaja menjajal tenaga dalam-mu hanya ingin membuktikan satu hal."

"Soal apa?"

"Keng King-si bukan pembunuh Suhunya!"

Sebelum Ko Ceng-kim mengajukan pertanyaan, selesai membuat kesimpulan, kembali Tosu itu melanjutkan penjelasannya.

"Pembunuh itu melancarkan serangan dengan sebuah jurus Lianhoan-toh-beng-kiam-hoat yang diubah menjadi sebuah pukulan, kelihatan jelas dari tanda yang tertinggal di tubuh Suhumu kalau dia tewas dalam satu gebrakan saja!"

Agaknya Ko Ceng-kim mengerti apa yang dimaksud sang Supek, segera dia menimpali.

"Saat itu Suhu sedang sakit, juga agaknya dia tidak menyangka orang yang membunuhnya adalah...."

Mendadak dia seperti teringat kalau sang Supek telah mengambil kesimpulan bahwa pembunuhnya bukan Keng King-si. Terpaksa kata "Keng King-si"

Yang sudah menempel di ujung bibir pun ditelan kembali.

"Betul,"

Ujar Bu-kek Totiang lebih lanjut.

"pasti lantaran pembunuhnya adalah orang yang sangat dikenal maka saat itu Suhumu tidak melakukan persiap-an, akibatnya dia dicelakai secara mudah. Tapi.... dengan tenaga dalam yang dimiliki Suhumu, kendatipun dalam keadaan sakit, tidak seharusnya dia mati terbunuh hanya dalam sekali pukulan saja. Apalagi tenaga dalam yang dimiliki orang itu masih lebih rendah daripada pembunuh yang membantai Ting-susisok, tapi masih sedikit lebih kuat daripada kau. Jadi aku pikir.... tidak mungkin salah lihat!"

Ko Ceng-kim menghembuskan napas lega, pikirnya, 'Masih untung kau tidak mencurigai aku!' Kembali Bu-kek Totiang berkata lebih jauh.

"Tenaga dalam yang dimiliki orang itu masih lebih kuat darimu, sedang tenaga dalam yang dimiliki Keng King-si jauh di bawahmu, jadi mana mungkin dialah pembunuhnya?"

"Jangan-jangan Ho Liang berbohong?"

Agar bisa cuci tangan dari tanggung jawab kesalahan, ternyata Ko Ceng-kim tetap berusaha untuk merahasiakan detil kejadian.

"Aku rasa masih terdapat hal aneh yang mencurigakan di balik semua itu, sayang Ho Liang sudah keburu tewas hingga sulit bagiku untuk melacak lebih jelas. Namun dari semua kejadian yang sudah kita ketahui, paling tidak kita bisa menyimpulkan satu hal, terdapat murid murtad dalam perguruan kita! Bahkan murid yang berkhianat itu bukan hanya satu orang. Pertama adalah pembunuh yang telah menghabisi nyawa Ting-susiok, orang kedua adalah pembunuh yang menghabisi nyawa Suhumu, mungkin saja masih ada orang ketiga...."

"Jangan-jangan orang ketiga adalah Keng King-si?"

Cepat Ko Ceng-kim menambahkan. Terbayang bahwa kemungkinan besar dia telah salah membunuh, tanpa sadar nada suaranya kedengaran agak gemetar.

"Aku tidak berani mengatakan kalau dia bukan murid pengkhianat ketiga, aku hanya mengatakan kalau tidak percaya bahwa dia adalah salah satu di antara kedua pembunuh itu."

Tampaknya dia sedikit kelelahan, setelah mengatur sejenak napasnya yang tersengal, lanjutnya kembali.

"Namun terlepas dia murid murtad atau bukan, toh sekarang sudah mati, maka tindakan terpenting yang harus kita lakukan bukanlah menyelidiki apa benar dia telah berkhianat atau bukan, tapi segera melaporkan semua peristiwa yang telah kita ketahui kepada Ciangbunjin!"

Ko Ceng-kim tidak menjawab, dia membungkam. Terdengar Bu-kek Totiang berkata lagi.

"Kemampuan yang dimiliki murid durhaka pembunuh Suhumu masih terhitung tidak seberapa, justru murid murtad yang membunuh Ting-susiok itu sangat berbahaya, kesempurnaan tenaga dalamnya luar biasa, tenaga pukulan Thay-khek-ciang-hoat miliknya telah mencapai puncak kesempurnaan, malah aku sendiri pun masih bukan tandingan dia!"

Ko Ceng-kim benar-benar terkejut bercampur ngeri, tidak tahan berseru.

"Padahal tidak seberapa orang dalam perguruan yang memiliki kemampuan sehebat Supek...."

Di Bu-tong-pay, selain Bu-siang Tojin sebagai Ciangbunjin, hanya Bu-si Tojin dan Bu-liang Tojin yang berada satu angkatan dengan Bu-kek Totiang, memang benar dari murid preman masih terdapat enam-tujuh orang yang satu angkatan dengan mereka, namun setiap anggota Bu-tong-pay pasti tahu bahwa kemampuan silat yang dimiliki murid preman tidak pernah bisa menandingi kemampuan murid bukan preman.

Oleh sebab itu yang dimaksud 'tidak seberapa orang' dalam hal ini, sesungguhnya cuma terdiri dari tiga orang.

Hanya saja sudah barang tentu Ko Ceng-kim tidak berani berbicara lebih terperinci.

Bu-kek Totiang menggeleng kepala berulang kali, katanya murung.

"Urusan ini besar sekali dampaknya, aku tidak berani menduga secara sembarangan, begitu juga kau. Lagi pula belum tentu hanya angkatan tua macam kami saja yang bisa mencapai taraf kemampuan seperti itu. Pepatah mengatakan orang yang sungguh berilmu tidak akan menampakkan diri, yang menampakkan diri belum tentu berilmu. Kalau toh para pengkhianat itu bertindak hati-hati, selalu menunggu saat untuk mencelakai rekan seperguruan nya, aku rasa biarpun dia telah berhasil menguasai kungfu yang hebat pun belum tentu mau pamer kemampuannya di depan orang. Aku harap kau camkan baik-baik perkataanku ini, kecuali terhadap Ciangbunjin, jangan kau bicarakan dengan siapa pun."

"Baik, Tecu mengerti."

Tampaknya Bu-kck Totiang sudah kehabisan tenaga hingga kekuatan untuk bicara pun sudah payah, namun dia tetap melanjutkan perkataannya.

"Bila kita menarik kesimpulan dari kenyataan yang berhasil kita temukan, murid murtad pembunuh Ting-susiokmu itulah dalang dari semua ini, ilmu silatnya juga yang paling menakutkan, meskipun aku tidak berani sembarangan menduga siapakah dia, namun yakin kalau dia sudah cukup lama menyelinap di dalam kuil Sam-cing-koan di bukit Bu-tong, kau mesti peringatkan Ciangbunjin agar tidak dibokong juga! Sedangkan mengenai orang yang telah membunuh Suhumu itu, aku rasa orang itu hanya mampu menguasai ilmu pedang Jit-cap-ji-jiu-Lian-hoantoh-beng-kiam-hoat, walaupun kemampuannya sudah hebat dan matang, tapi aku yakin kemung-kinan besar dia adalah jagoan tangguh dari kalangan preman. Sudahlah, apa yang harus kukatakan telah kusampaikan, segera selesaikan upacara penguburan Suhumu, lalu esok pagi segera berangkat ke Bu-tongsan dan melaporkan kejadian ini kepada Ciangbunjin!"

"Kenapa bukan Supek sendiri yang balik ke Bu-tong?"

Tanya Ko Ceng-kim terkejut. Bu-kek Totiang menghela napas panjang.

"Masa kau belum melihat kalau aku pun sudah terluka dalam sangat parah? Aai.... semisal Suhumu masih hidup atau aku masih bisa hidup setengah sampai setahun lagi.... tapi kini keadaanku ibarat lampu yang kehabisan minyak! Apalagi yang ingin kau tanyakan, cepat ajukan!"

Sebenarnya Ko Ceng-kim pun sudah tahu kalau sang Supek menderita luka dalam cukup parah, namun dia tidak menyangka kalau lukanya separah itu. Dalam kaget, cepat dia berseru.

"Supek, kau tidak boleh mati, cepatlah obati lukamu dengan tenaga dalam. Meski kemampuan Tecu cetek, tapi tecu yakin masih mampu memikul tanggung jawab melindungi dirimu."

"Aai.... kau tidak perlu membuang banyak waktu dan tenaga,"

Bu-kek Totiang menghela napas panjang.

"jalan darah pentingku sudah terhajar Am-gi (senjata rahasia) yang dilontarkan dengan tenaga dalam Bu-khek, kini luka itu sudah menembus jalan darah dan melukai jantungku. Hanya mengandalkan kekuatan sendiri rasanya sulit untuk menyelamatkan diri dari kematian, kecuali ada orang bertenaga dalam tinggi bersedia membantu aku menembus semua nadi dan urat penting dalam tubuhku. Aai.... sementara kau...."

Dia tidak melanjutkan kembali kata-katanya, namun Ko Ceng-kim bukan orang bodoh, tentu dia paham apa yang diartikan.

Sebagaimana diketahui, jangankan menggunakan tenaga dalam Thay-khek untuk menembus nadi sang Supek, bahkan ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat pun belum pernah dipelajari Ko Ceng-kim, padahal untuk bisa membantu Bu-kek Totiang dibutuhkan penguasaan kunci ilmu itu.

Sekarang dia baru mengerti kenapa begitu tiba di sana, kata pertama yang dilontarkan sang Supek adalah "aku datang terlambat!" , rupanya keluhan itu bukan saja dilontarkan lantaran dia tidak berhasil mencegah pembunuhan atas Keng King-si, bersamaan itu dia pun menyesal atas kematian Suhunya.

Terlepas dari semuanya itu, Ko Ceng-kim merasa terperanjat juga karena tidak menyangka kalau sang Supek terluka oleh tenaga dalam Thay-khek, lekas dia bertanya.

"Supek, siapa orang yang telah mencelakaimu?"

"Aai, orang itu tidak lain adalah pembunuh yang telah mencelakai Ting-susiokmu!"

Ko Ceng-kim berdiri melongo, dia mengawasi wajah sang Supek tanpa bicara. Kelihatannya Bu-kek Totiang mengerti apa yang sedang dipikirkan keponakan muridnya, cepat dia menambahkan.

"Meskipun belum pernah bersua dengan pembunuh itu, tapi aku tahu orangnya pasti sama!"

Setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya.

"Waktu itu aku sedang memeriksa luka yang diderita Ting-sute, tidak nyana dia membokongku dengan melontar kan sebatang mata uang dari luar jendela. Begitu terhajar Am-gi, aku merasa bagaikan dihantam seorang jagoan dari perguruan kita dengan tenaga pukulan Bukhek. Buru-buru kugunakan segenap tenaga dalam hasil latihanku selama puluhan tahun untuk mengendalikan gejolak dalam dadaku hingga beruntung tidak sampai tewas di tempat. Dalam keadaan begini, tentu mustahil bagiku untuk melakukan pengejaran. Aai.... dengan mengandalkan segenap kekuatan yang kumiliki, akhirnya aku berusaha datang kemari untuk menyampaikan berita ini kepada Suhumu, sebab umurku paling hanya bisa bertahan tiga hari lagi. Kini saat ajalku telah tiba, Suhumu juga telah mati, tampaknya masalah selanjutnya harus kuserahkan kepadamu. Yang kumaksud 'urusan selanjutnya' bukan berarti badan kasarku ini, aku minta kau laporkan kejadian ini secepatnya kepada Ciangbunjin...."

Rupanya dia kuatir Ko Ceng-kim salah mengartikan maksudnya hingga membuang banyak waktu hanya demi mengurus jenazahnya, karena itu sekali lagi dia mengulangi pesannya.

"Supek, masih ada satu hal lagi tiba-tiba Ko Ceng-kim berseru. Waktu itu kelopak mata Bu-kek Totiang sudah hampir terkatup rapat, mendengar teriakan itu, sekali lagi dia membuka mata sambil berkata.

"Cepat katakan, ada urusan apa?"

"Biarpun Supek belum tahu manusia macam apa ayah angkat Huo Bu-tuo, tentunya kau sudah tahu bukan dimana dia berada sekarang?"

Bu-kek Totiang tidak habis mengerti mengapa di saat yang amat penting itu, pertanyaan terakhir yang diajukan justru merupakan satu masalah yang tidak penting dan sama sekali tak ada keterkaitannya dengan peristiwa ini.

Sayang jiwanya sudah di ujung tanduk, dalam keadaan begini dia tidak punya kekuatan lagi untuk berpikir lebih jauh.

Dengan mengerahkan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia berbisik.

"Orang itu.... orang itu.... dulu.... dulu Linggal di.... di satu bagian da.... dari jeram Liau-ji-kau.... tapi.... tapi...."

"Tapi kenapa?"

Ko Ceng-kim harus menempelkan telinganya di tepi bibir sang Supek sebelum dapat mendengar kata berikut.

"dia.... dia telah mati!"

Bu-kek Totiang menghembuskan napasnya yang penghabisan, saat dia memberitakan kematian orang lain, nyawa sendiri pun ikut melayang.

Sumoy telah dikebumikan, namun di atas tanah masih berjajar jenazah Keng King-si dan Ho Liang, kini kembali jenazah Bu-kek Totiang membujur kaku di sampingnya.

Begitu banyak orang yang telah meninggal, kematian beruntun sejak pertama kali diperoleh kabar bahwa Keng King-si telah mengkhianati perguruan dan menjual negara.

Dimulai dari Ting Im-hok yang curiga, sampai Bu-kek Totiang, orang terakhir yang berusaha mencuci dosa Keng King-si, walaupun belum dapat membuktikan dia pasti bukan seorang mata-mata, namun telah membuktikan kalau dia bukan seorang pembunuh, sudah begitu banyak orang tewas gara-gara masalah itu.

Dengan pikiran kalut Ko Ceng-kim mencoba berhitung.

Tingsusiok telah mati, Suhunya telah mati, lalu Sumoynya Ho Giok-yan, Sutenya Keng King-si, pelayan tuanya Ho Liang.

Selain itu, seperti yang telah diketahui, orang yang membawa surat Huo Bu-tuo telah tewas, ayah angkat Huo Bu-tuo juga telah mati, bahkan setiap orang yang mengetahui persoalan ini nyaris telah mati semua, kini yang masih hidup tinggal dia, walaupun ketua Bu-tong-pay juga mengetahui akan peristiwa ini, tapi dia belum tahu kalau dirinya, telah salah membunuh orang.

Setelah menghembuskan napas panjang, kembali pikirannya kalut.

Ya, di dunia saat ini memang tidak seorang pun tahu kalau dia telah salah membunuh, tapi, apakah tidak ada yang tahu berarti dapat mengurangi dosa dan kesalahannya?

Dia telah berjanji kepada Bu-kek Totiang, menyampaikan apa yang telah diketahui sang Supek kepada Ciangbunjin.

Seandainya hasil penyelidikan di kemudian hari membuktikan bahwa Keng Kingsi selain bukan pembunuh, juga bukan mata-mata, apa yang harus dilakukan?

Memang, salah membunuh tidak akan sampai menghilangkan nyawanya, apalagi kesalahan membunuh dalam situasi seperti ini, dapat dipastikan Ciangbunjin akan mengampuni kesalahannya.

Semisal dijatuhi hukuman yang terberat pun paling dia disuruh menghadap tembok selama satu tahun dan tidak sampai diusir keluar perguruan.

Namun ketika semua peristiwa telah terkuak, bukankah Keng Giok-keng, putra Keng King-si dengan Sumoynya akan mengetahui juga akan kejadian ini?

Mungkinkah Keng Giok-keng akan menganggapnya sebagai musuh besar pembunuh ayahnya?

Tentu saja yang paling penting lagi adalah rasa tanggung jawab terhadap liangsim sendiri, mampukah pikiran dan perasaan hatinya menjadi tenang?

Perkataan sang Supek memang tidak salah, hal terpenting yang harus dia lakukan adalah melaporkan kejadian ini kepada Ciangbunjin, agar ketua partai tahu bahwa dalam perguruannya, paling tidak tersembunyi dua orang pengkhianat, bahkan salah satu di antaranya memiliki kepandaian silat yang ampuh dan cara kerja yang keji dan telengas.

Sedangkan masalah Keng King-si itu seorang pengkhianat atau bukan, saat ini memang belum perlu diselidiki secara tergesa-gesa, sebab bagaimanapun toh manusianya telah mati.

Bisa saja dia mengelabui Ciangbunjin dengan tidak menyinggung masalah ini secara detil, tapi....

sanggup-kah dia berbuat begitu?

Langit makin gelap, angin dingin berhembus makin kencang, namun Ko Ceng-kim berdiri tidak berkutik di tengah bukit, seolah tubuhnya telah berubah menjadi sebuah patung batu, tidak seorang pun tahu apa yang sedang dia pikirkan saat itu.

Dia baru tersadar dari lamunan ketika angin dingin kembali menerpa wajahnya, 'Yang mati telah mati, biar-lah mereka beristirahat dengan tenang di dalam tanah.

Sudah saatnya bagiku untuk pergi juga.' Kembali dia pungut sekop dari tanah dan melanjutkan galiannya pada liang yang belum selesai.

Biarpun ada tiga sosok mayat yang belum dike-bumikan, Ko Ceng-kim merasa tidak punya waktu untuk menggali tiga liang kubur.

Namun kalau membiar kan jenazah Supek, Sute dan Ho Liang berjajar dalam satu liang pun dia merasa sedikit tidak tenang.

Setelah ragu beberapa saat, akhirnya dia turunkan jenazah Bukek Totiang terlebih dulu, diikuti membujurkan jenazah Ho Liang di sisi kiri sang Supek, diam-diam doanya, 'Supek, kau adalah seorang iman yang berjiwa besar, sesuai dengan amanatmu sebelum meninggal, aku hanya bisa mengubur jenazahmu apa adanya.

Paman Ho, kematianmu yang paling tidak berharga....

tapi aku akan membiarkan kau menemani Supek, tentu arwahmu di alam baka tidak akan menyalahkan aku bukan.' Terakhir sorot matanya dialihkan ke tubuh Keng King-si, mendadak satu ingatan melintas dalam otaknya.

"Setelah sekali melakukan kesalahan, aku tidak boleh mengulang kesalahan yang sama, aku telah salah membunuhnya, tidak semestinya kuhalangi keinginannya terkubur bersama jenazah Sumoy."

Namun untuk mengubur jenazahnya di samping Ho Giok-yan sama artinya dia harus menggali kembali tanah kubur yang telah diratakan, padahal langit semakin gelap.

Setelah berpikir berulang kali, akhirnya dia membaringkan tubuh Keng King-si di sisi kanan sang Supek.

Di saat dia akan menimbun kembali liang kubur itu, tiba-tiba satu ingatan kembali melintas, sekali lagi dia membopong naik jenazah Keng King-si.

Bukan karena dia berubah pikiran ingin mengubur Sutenya satu liang dengan Sumoynya, tapi dia ingin mengambil surat dari Huo Bu-tuo dan membawanya pergi.

Tapi aneh, dia tidak berhasil menemukan surat itu!

Apakah surat itu telah dicuri orang saat dia sedang berkunjung ke rumah keluarga Lan?

Ataukah terbang dibawa angin?

Padahal dia masih ingat dengan jelas, Keng King-si telah mengambil kembali surat itu dari tangan Sumoynya, tapi sayang dia tidak ingat apakah Keng King-si menyimpan kembali surat itu ke dalam sakunya atau tidak.

Waktu itu dia sedang gusar lantaran Sumoynya terlalu membela sang Sute, disusul kemudian dia menyerang adik seperguruannya itu secara kalap.

Dalam keadaan begini, tidak sempat lagi baginya untuk memperhatikan keberadaan surat itu.

Mungkinkah surat itu terjatuh di saat Keng King-si bertarung sengit?

Surat tidak didapat dia justru menemukan seruling kemala dari dalam saku Keng King-si.

Seruling yang sering digunakan Sutenya untuk merayu dan memancing sang Sumoy, yang seharusnya merupakan calon istrinya.

Sambil menggigit bibir, mendadak dia lakukan satu tindakan emosi yang membuat pipinya menjadi merah setiap kali teringat di kemudian hari, sekuat tenaga dia hantamkan seruling kemala itu di atas batu hingga hancur berkeping-keping, kemudian hancuran itu dia buang ke dalam liang kubur.

Selesai melakukan tindakan itu, tiba-tiba dia baru mendusin, pikirnya, 'Kenapa aku mesti membenci seruling itu?

Aah, yang benar aku iri karena Sute lebih pintar dan tahu seni daripada aku, iri karena dengan seni dia berhasil menggaet hati Sumoy....

Aai, tadi aku terburu napsu ingin membunuhnya, apakah hal inipun disebabkan dorongan perasaan iri?"

Ketika tanah terakhir selesai dituang ke dalam liang kubur, dia menutup liang yang telah mengubur Sute serta Supeknya.

Berdiri termangu sambil mengawasi sekeliling tempat itu, dia merasa seolah tubuhnya ikut terkubur dalam liang itu.

Seolah langit dan bumi sudah tidak ada harganya untuk dinikmati lagi.

Keng King-si sama seperti dia, sama-sama tumbuh dewasa di kediaman Suhunya.

Yang membedakan mereka hanya lebih awal dan lebih akhir menggabungkan diri.

Saat dia masuk perguruan, Sumoynya belum lahir, sedang saat Keng King-si masuk perguruan, Sumoynya baru berusia tujuh tahun.

Jadi sebenarnya sejak dilahirkan dari rahim ibunya, dia selalu berkumpul bersama adik seperguruannya itu, termasuk juga Sutenya.

Mungkin hubungan batinnya dengan sang Sute tidak sebanding dengan hubungan batinnya terhadap sang Sumoy, tapi terlepas semua budi dan dendam, hubungannya dengan sang Sute tetap sedalam hubungannya terhadap sanak sendiri, tapi sekarang, semua orang yang paling dekat dengannya telah pergi.

Dia ingin menangis, namun tiada air mata yang meleleh, dia memang tidak punya waktu lagi untuk bersedih.

Karena dia harus secepatnya pulang, di rumah masih ada seorang 'sanak' lagi yang menanti kedatangannya, sanak yang telah melepas banyak budi kepadanya, menunggu untuk dikebumikan olehnya!

Aai, selama banyak tahun dia sudah terbiasa menganggap rumah Suhunya sebagai rumah sendiri.

Tapi kini, anggota rumah itu, kecuali dia seorang, semuanya telah mati, penghuni rumah ini benar-benar telah punah.

Biar langit begitu luas, kemana lagi dia harus pergi untuk menemukan sebuah rumah yang hangat bagi dirinya?

Dia tidak berani berpikir lebih lanjut, yang dirasakan saat ini hanya kesepian, perasaan hampa yang aneh!

Ooo)*(ooO BAB I Dengan pikiran bersih bertemu Bu-siang Tiga pantangan mengikat Put-ji Gunung Bu-tong terletak di propinsi Ouw-pak, disebut juga gunung Som-sang atau Thay-hap-san.

Pegunungan yang indah dan megah meliputi wilayah seluas empat ratusan li, puncak tertinggi mencapai seribu tujuh ratus meter dari permukaan laut dengan tujuh puluh dua puncak, tiga puluh enam tebing dan dua puluh empat jeram.

Di puncak gunung Bu-tong berdiri dua buah tugu prasasti, satu berasal ahala Yong-lok tahun ke-16 (th 1418) yang bertuliskan "Prasasti peringatan jalan setapak bukit Thay-gak-thay-hap-san".

Tulisan itu digunakan Kaisar Yong-lok untuk melambangkan hubungan "Tin-bu-tay-te"

Yang tercantum dalam kitab agama To dengan Bu-tong-san.

Di sana dikatakan pula bahwa dia bersama ayah Hong-bu (Cu Goan-ciang) berhasil menguasai dunia dan pernah memanjatkan doa di "Tin-bu".

Maka dia sengaja membangun sebuah To-koan di gunung Bu-tong sebagai lambang untuk menunjukkan kesaktiannya.

Prasasti ke-2 berasal dari ahala Ka-cing tahun ke-32 (th 1553) yang merupakan prasasti untuk memperingati dibangunnya kembali ruang istana di Thay-hap-san.

Di kaki gunung Bu-tong, Kaisar Ka-cing mendirikan pula sebuah tugu yang bertuliskan "Ci-si-hian-gak", orang setempat menyebutnya sebagai pintu "Hian-gak-bun".

Selewatnya tugu batu itu, akan sampai di ruang Gi-tin-kiong.

Ruang Gi-tin-kiong dibangun Kaisar Beng Seng-cu untuk memperingati Thio Sam-hong, Couwsu pendiri partai Bu-tong.

Antara pintu Hian-gak-bun dengan ruang Gi-tin-kiong berdiri pula sebuah patung tembaga yang menggambarkan Thio Sam-hong mengena kan topi bambu dan bersepatu rumput.

Pada saat itulah terlihat ada dua orang Tosu kecil sedang berdiri di depan patung Couwsu sambil mengaguminya.

Tosu yang lebih tua sedang bercerita tentang kisah Sucouwnya kepada sang adik seperguruan, katanya.

"Tahukah kau, Thio-cinjin termasuk seorang manusia aneh, dia tidak pernah mau menuruti tata cara, orang menyebutnya "

La-ta Thio " (Thio si dekil), bukan saja tidak terlalu perhatian terhadap segala tetek-bengek tata cara, bahkan dia gemar berkumpul dan bergaul dengan para kuli, rakyat dusun dan orang rendah lainnya.

Padahal beberapa kali Kaisar Hong-bu dan Yong-lok mengutus orang untuk mengunjunginya dan mengundang dia masuk istana, anehnya, tiap kali dia selalu menghindar.

Coba bayangkan, aneh tidak manusia semacam ini?"

"Suhuku pernah bercerita tentang hal ini,"

Tosu yang agak kecil menimpali.

"konon sewaktu beliau berpesiar menjelajahi empat penjuru, beliau sempat berkenalan dengan seorang Pangeran, putra Hong-bu-te yang bernama Siok-sian-ong. Menurut Suhu, Thio-cinjin adalah manusia luar biasa yang tidak berpegang teguh pada aturan. Dalam pandangannya, kedudukan kaisar dan rakyat kecil itu sama saja. Dalam berteman dia lebih mengutamakan soal joduh, bukan dikarenakan pihak lawan adalah seorang kaisar maka dia sengaja menghindar."

Tosu yang usianya lebih tua hatinya jadi tidak senang, apalagi melihat Sutenya jauh lebih menguasai cerita yang dia kemukakan, untuk menjaga gengsi, sebagai seorang kakak seperguruan, setelah mendengus kemudian berkata.

"Hm, tahukah kau Thio-cinjin berasal darimana?"

"Kalau bukan Ouw-pak tentunya dari Ouw-lam bukan?"

Tosu yang lebih tua tertawa dingin.

"Dugaanmu meleset jauh sekali, sesungguhnya Thio-cinjin kita berasal dari wilayah Liauw-tong!"

"Oh, ternyata Couwsu Bu-tong-pay adalah orang Liauw-tong? Kenapa aku tidak pernah mendengar Suhu bercerita tentang hal ini?"

Merasa mendapatkan muka kembali, dengan bangga Tosu yang lebih tua itu berkata lebih lanjut.

"Kau sangka aku berbohong? Thiocinjin benar-benar orang Liauw-tong, malah semua murid Bu-tongpay yang berusia tiga puluh tahun ke atas mengetahui akan hal ini."

"Apa hubungannya dengan masalah usia?"

Tanya Tosu kecil itu kebingungan.

"Siapa bilang tidak ada hubungannya? Menurut peraturan perguruan, hanya mereka yang sudah memasuki usia Yok-koan (sekitar dua puluh tahun ke atas) yang bisa diterima menjadi murid agama To. Kalau dibilang murid yang berusia tiga puluh tahun ke atas, berarti paling tidak dia harus sudah masuk perguruan selama sepuluh tahun lebih. Sementara kau baru bergabung selama enam tahun, sekarang pun belum mencapai usia dua puluh tahun, tentu saja tidak ada yang memberitahukan kepadamu."

"Suheng, kau makin bicara semakin membingungkan. Bukankah kisah hidup Couwsu merupakan kewajiban setiap murid untuk mengetahuinya. Kenapa harus menung gu sepuluh tahun baru berhak mendapat tahu kisah ini?"

"Sebenarnya bukan harus masuk perguruan selama sepuluh tahun lebih dulu baru boleh tahu kisah ini. Ini semua disebabkan pada sepuluh tahun berselang, daerah asal Sucouw bukan merupakan pantangan yang tidak boleh dibicarakan, tapi sekarang justru merupakan larangan. Jadi semua orang enggan menyinggungnya kembali. Coba kalau bukan aku yang memberitahu, mungkin lewat sepuluh tahun lagi pun belum tentu kau akan tahu!"

"Kenapa sekarang jadi tabu?"

Tanya Tosu kecil itu tidak habis mengerti.

"Mumpung di sini tidak ada orang luar, tidak ada salahnya aku beritahukan, tahukah kau...."

Baru saja dia akan bercerita mengapa sekarang jadi tabu, mendadak dilihatnya ada seorang asing muncul di sana.

Orang itu adalah seorang lelaki berusia dua puluh tahunan yang memiliki mata besar dan alis tebal, dandanannya seperti orang udik, sinar matanya mendelong seperti orang bloon, kelihatan sekali kalau dia seperti orang sinting, sewaktu berjalan mendekat pun langkahnya gontai mirip orang idiot.

"Hei, sebenarnya kau tahu aturan tidak?"

Tiba-tiba Tosu yang lebih tua itu menghardik sambil melotot sekejap ke arahnya.

"Aturan apa?"

Lelaki itu balik bertanya dengan wajah melengak.

"Sebagai pernyataan rasa hormatnya terhadap Thio-cinjin, Kaisar Yong-lok memberi ijin kepada partai Bu-tong kami untuk menetapkan sebuah peraturan khusus, hampir semua orang persilatan tahu akan peraturan itu, hm! Aku rasa kau sedang berlagak pilon!"

"Aku benar-benar tidak tahu."

"Kau tidak tahu aturan, tapi bisa membaca bukan?"

"Asal bukan tulisan yang terlalu dalam, aku memang bisa membaca sedikit."

"Ketika naik gunung tadi, bukankah kau lewat di samping gardu pelepas pedang? Tulisan Ciat-kiam-teng tertera besar sekali di tengah gardu, masa kau tidak melihatnya?"

"Rasanya tidak melihat."

"Hm!"

Tosu itu membentak gusar.

"berarti kau memang sengaja melanggar walau sudah tahu!"

Tampaknya lelaki itupun dibuat gusar oleh ulah lawan, sahutnya hambar.

"Sebenarnya peraturan mana yang telah ku-langgar? Sudah coba kutanyakan tapi kau sendiri pun tidak bisa menjawab. Maaf, aku masih ada urusan lain, kalau kau cuma tahunya mengumpat orang, maaf kalau aku enggan melayani."

"Kalau tadi sudah lewat di samping gardu Ciat-kiam-teng, masa kau masih belum mengerti maksud 'melepas pedang'? Sesuai peraturan Bu-tong-pay, siapa pun dilarang naik gunung sambil menggembol pedang!"

Ketika mengucapkan kata "dilarang" , tahu-tahu Tosu itu sudah melolos pedangnya dan secepat sambaran kilat melepaskan sebuah tusukan ke tubuh lelaki itu.

Dengan serangan itu dia tidak bermaksud merenggut nyawa lawan, sebetulnya Tosu ini hanya ingin pamer kepandaian dengan memotong putus tali ikat pinggang lelaki itu hingga pedang yang digembolnya jatuh ke tanah.

Dengan serangan secepat sambaran petir, menurut perkiraannya pemuda dusun itu niscaya tidak mampu menghindarkan diri, pikirnya, 'Perlukah aku melukai sedikit kulit luarnya sebagai tanda pelajaran?' Pada hakikatnya dia tidak pernah membayangkan kalau pihak lawan bakal melakukan serangan balasan.

Benar saja, sama sekali di luar dugaan, tusukan pedangnya mengenai sasaran kosong.

Jangan dilihat pemuda dusun itu seperti orang bloon, sesungguhnya dia terhitung seorang lelaki berwatak keras, biarpun tahu maksud lawan, namun dia tidak rela diperlakukan semenamena, lagi pula dia pun tidak sadar, dalam keadaan menghadapi sergapan mendadak dari lawan, secara otomatis dia sendiri memberikan reaksinya dengan mencabut pedang melakukan tangkisan.

"Traang!" , ketika sepasang pedang saling membentur terjadilah suara dentingan nyaring diiringi percikan bunga api.

"Hei, apa-apaan kau!"

Bentak pemuda dusun itu gusar.

"kenapa kau tidak memberi kesempatan kepada-ku untuk bicara, aku...."

Dalam keadaan tidak menduga, Tosu itu nyaris terluka karena harus menerima sebuah serangan balasan, untung reaksinya cukup cepat hingga terhindar dari malu.

Dalam keadaan malu bercampur gusar, mana mungkin dia mau mendengarkan perkataan lawan.

Lagi-lagi sebuah serangan kilat dilontarkan.

"Ooh, rupanya kau memang berniat menghina perguruan Butong kami?"

Serunya gusar.

"buat apa banyak bicara!"

Tusukannya kali ini jauh lebih cepat dan ganas, sasarannya adalah sepasang mata pemuda dusun itu.

Sepintas pemuda itu kelihatan tercecar dan kewalahan sampai kemampuan untuk berbicara pun tidak ada, namun begitu pedangnya membuat satu gerakan melingkar, tahu-tahu ancaman lawan berhasil dipunahkan begitu saja.

Sadar musuh bukan orang sembarangan, Tosu itu mulai terkesiap, pikirnya, 'Aneh, kenapa jurus serangannya seakan merupakan tandingan dari jurus Tiang-ho-lok-jit (matahari tenggelam di sungai panjang), salah satu jurus ampuh dalam ilmu pedang Lian-hoan-toh-beng-kiam-hoat?"

Sayang pertarungan telah berlangsung makin sengit, tidak ada peluang lagi baginya untuk berpikir lebih jauh.

Secara beruntun pemuda dusun itu mundur sejauh tiga langkah, setiap mundur selangkah dia selalu berhasil mematahkan ancaman yang datang, setelah mundur sejauh tiga langkah, akhirnya dengan susah-payah berhasil juga dia berdiri tegak.

Baru saja akan mengucapkan sesuatu, tiba-tiba jurus serangan Tosu itu kembali berubah, dari ilmu pedang Lian-hoan-toh-bengkiam-hoat berubah jadi ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat.

Gerak serangannya melingkar bagaikan gelang, lingkaran demi lingkaran menggulung tiba bagaikan gulungan ombak di tepi sungai Tiang-kang, begitu dahsyat datangnya tekanan membuat pemuda dusun itu mau tidak mau harus memusatkan perhatiannya untuk menangkis dan tidak mampu memberi penjelasan lagi.

Melihat musuhnya tercecar hebat, Tosu itu bangga bercampur puas, kembali pikirnya, 'Hm!

Ternyata dia adalah seorang murid preman yang belum sempurna menguasai ilmu perguruan.

Huh, kalau memang anggota perguruan, kenapa sikapmu tidak menghormat kepadaku?

Manusia macam begini memang pantas diberi hukuman.

Ada baiknya aku rontokkan dulu pedangnya."

Siapa tahu biarpun ilmu pedang yang dimiliki pemuda dusun itu masih belum mumpuni, bukan berarti gampang untuk merontokkan senjata lawan begitu saja.

Ternyata pemuda dusun itu bukan lain adalah Ko Ceng-kim.

Andaikata dia tidak pernah melihat ilmu pedang Thay-khek-kiamhoat, niscaya dalam sepuluh gebrakan saja dia sudah dibuat keok.

Untung bukan saja dia pernah melihat bahkan pernah bertarung melawan Keng King-si yang menggunakan ilmu pedang Thay-khekkiam-hoat, ditambah lagi selama beberapa bulan terakhir dia selalu berusaha menelusuri rahasia ilmu pedang itu, kendatipun belum mampu menggunakannya, paling tidak dia sudah memahami beberapa bagian.

Jadi tidak heran kalau Tosu itu tidak mampu mengalahkan lawannya dalam waktu singkat.

Sekejap kemudian lima puluh gebrakan sudah lewat, Tosu kecil yang menonton dari tepi arena mulai berteriak.

"Suheng, kelihatannya ilmu pedang yang digunakan orang ini mirip dengan...."

"Kau tidak usah ikut campur,"

Hardik Tosu yang lebih tua itu nyaring.

"perhatikan baik-baik aku menggunakan ilmu pedang Thaykhek-kiam-hoat untuk mengalahkan dia!"

Pertama, karena Tosu itu keder dengan wibawa Suhengnya, kedua, karena dia pun ingin belajar ilmu pedang Thay-khek-kiam/ hoat, maka begitu dibentak kakak seperguruannya, dia benar-benar tidak berani bersuara lagi.

Lima puluh gebrakan kemudian, Ko Ceng-kim mulai tercecar hebat dan hampir tidak sanggup menahan diri.

Kembali Tosu itu melancarkan satu jurus serangan dengan tiga lingkaran pedang, lingkaran padat yang seketika membungkus seluruh tubuh Ko Ceng-kim, bentaknya.

"Lepas pedang!"

Jurus ini disebut Sam-coan-hoat-lun (tiga kali memutar roda hukum), ketika 'roda hukum' berputar untuk ketiga kalinya, pedang di tangan Ko Ceng-kim pasti akan terlepas dari genggaman.

Pada saat itulah mendadak terdengar seseorang membentak nyaring.

"Put-pay, hentikan seranganmu!"

Bentakan itu tidak terlampau keras, nada suaranya pun tidak terlalu berwibawa, namun begitu masuk pendengaran Tosu itu, sekujur tubuhnya seketika bergetar keras, terperanjat luar biasa.

Ternyata Tosu tua itu tidak lain adalah Bu-siang Cinjin, Ciangbunjin Bu-tong-pay.

Saat itu kebetulan Tosu itu sedang melontarkan lingkaran pedang yang ketiga, lingkaran yang seketika menjepit pedang milik Ko Ceng-kim, ketika hatinya terkesiap, tanpa sadar gerakan pedangnya jadi sedikit melambat, lingkaran pedang yang tercipta pun jadi miring tidak berbentuk, menggunakan kesempatan ini Ko Ceng-kim dengan jurus Tay-mo-ku-yan (asap tunggal di tengah gurun), ujung pedangnya mencongkel ke tengah lingkaran dan....

"Trangg!"

Pedang milik Tosu itupun mencelat dan jatuh ke tanah.

Pada saat bersamaan Ko Ceng-kim berpikir juga, 'Baru dari tingkatan 'Put' saja dia sudah begitu hebat dan luar biasa, jelas bukan murid sembarangan.

Aku tidak boleh membuat dia kehilangan muka.' Begitu ingatan itu melintas, buru-buru dia berlagak tidak kuat menahan tenaga gempuran lawan dengan membuang pedang miliknya ke tanah.

Sepasang pedang itu hampir pada saat yang bersamaan rontok ke tanah.

Walaupun dia dapat mengelabui Tosu kecil itu, ternyata tidak mampu mengelabui sepasang mata Bu-siang Cinjin, ketua Bu-tong-pay inipun berpikir, 'Orang ini mampu menghadapi serangan Thay-khek-kiam-hoat dengan menggunakan ilmu pedang Lian-hoan-toh-beng-kiam-hoat, dalam deretan murid murid perguruan rasanya belum ada orang kedua yang sanggup melakukannya.

Ehm, belakangan perguruan banyak kehilangan orang berbakat, padahal aku sedang risau karena urusan ini.

Dilihat dari bakatnya, orang ini bagus untuk mempelajari ilmu silat tingkat tinggi, yang aku kuatirkan adalah wataknya yang licik dan pandai melihat situasi, orang semacam ini bisa baik, bisa juga jahat.

Kalau jadi baik dia akan jadi manusia paling berbakat untuk perguruan, tapi kalau jadi jahat, dia malah bisa jadi bencana.

Ehm, terpaksa aku harus membuang lebih banyak pikiran untuk mendidiknya."

Berpikir sampai di situ, dia pun segera menegur.

"Apa yang telah terjadi?"

"Lapor Ciangbun Supek,"

Dengan ketakutan buru-buru Tosu itu menyahut.

"dia naik gunung dengan menggembol pedang, padahal sudah kusuruh untuk melepaskan senjatanya, tapi dia tidak mau menurut, malah mengajak aku bertarung!"

"Hm! Masa tidak kau lihat bahwa dia adalah murid seperguruan? Kalau dia bukan orang luar, kenapa harus melepaskan pedang?"

Merah jengah wajah Tosu itu.

"Dia tidak menerangkan hal ini kepada Tecu, justru Tecu baru tahu kalau dia berasal dari satu perguruan setelah terjadi pertarungan tadi."

Dalam hati tentu saja Bu-siang Cinjin tahu kalau Tosu itu tidak bicara jujur.

Kalau bukan Tosu ini yang menyerang duluan, mana mungkin Ko Ceng-kim melayani pertarungannya?

Cuma saja karena Tosu ini adalah murid pertama Bu-liang Tojin, salah satu dari tiga sesepuh Bu-tong-pay, memandang wajah Sutenya dia tidak ingin kelewat menegur muridnya.

Maka dengan suara hambar ujarnya.

"Sudah sejak lama aku ingin menghapus peraturan ini, tapi lantaran aturan itu merupakan anugerah Kaisar Yong-lok, terpaksa peraturan serta gardu pelepas pedang kupertahankan sampai sekarang. Tapi aku berharap kalian bisa memaklumi maksud hatiku, selanjutnya jangan berlindung di balik perlindungan dan kasih sayang kerajaan dengan menganiaya orang luar, mengajak orang berkelahi hanya dikarenakan orang luar melanggar peraturan."

Tosu itu jadi serba kikuk, buru-buru dia berlutut sambil menyahut.

"Terima kasih banyak atas nasehat Ciangbunjin."

Ko Ceng-kim sendiri pun buru-buru ikut berlutut seraya berseru.

"Lapor Ciangbunjin, sesungguhnya semua ini merupakan kesalahan Tecu, Tecu kelewat bodoh dan lamban pikiran! Sewaktu Suheng ini bertanya apakah aku paham peraturan atau tidak, untuk sesaat ternyata aku lupa dengan peraturan ini, jadi tidak heran kalau Suheng ini memberi pelajaran kepadaku." (Gb 2) "Kalau memang hanya salah paham, anggap saja urusan selesai,"

Kata Bu-siang Cinjin kemudian dengan kening berkerut.

"apalagi kedatanganku juga bukan untuk menuntut pertanggung jawaban kalian. Ayo, semuanya bangkit!"

Lalu kepada Ko Ceng-kim tanyanya.

"Siapa Suhumu? Apakah kau baru kali pertama ini naik ke Bu-tong-san? Kenapa datang seorang diri?"

Sesuai peraturan yang berlaku dalam Bu-tong-pay, murid preman yang untuk pertama kali datang menyambangi Ciangbunjin harus didampingi Suhu atau angkatan tua dari lingkungannya.

"Lapor Ciangbunjin, Tecu Ko Ceng-kim, Suhuku adalah...."

"Ooh, rupanya kau adalah murid pertama Ho Ki-bu,"

Segera Busiang Cinjin menukas.

"tahukah kau, justru aku sedang menanti kedatanganmu."

Seperti kaget karena mendapat perlakuan istimewa, setelah tertegun sejenak, seru Ko Ceng-kim.

"Jadi Ciangbunjin sudah tahu kalau hari ini Tecu akan kemari?"

"Benar, sebab Bu-kek Supekmu seharusnya sudah tiba di gunung sejak dua hari berselang, karena dia tidak datang, seharusnya Suhumu yang datang. Tapi mereka berdua tidak ada yang datang menjumpai aku, berarti kaulah yang seharusnya datang kemari. Oleh karena kuatir kau baru pertama kali naik gunung, masih asing bagi semua orang di sini dan untuk menjumpai aku pun harus melalui beberapa pos penjagaan, maka secara khusus aku turun gunung menanti kedatanganmu, biar kau tidak usah repot melewati pos penjagaan dan bisa langsung menemui aku."

"Lapor Ciangbunjin, Bu-kek Supek serta Suhu bicara sampai di sini dia melirik sekejap memperhatikan paras muka ketuanya, kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya.

"Soal ini.... soal ini.... panjang sekali untuk diceritakan."

"Baguslah, kalau memang panjang ceritanya, sekarang ikut aku balik dulu ke atas bukit, selesai beristirahat baru perlahan kau laporkan semua kejadian kepadaku."

Diam-diam Ko Ceng-kim bersyukur karena dugaannya tidak meleset, kembali pikirnya, 'Masih untung aku pandai menilai perubahan wajah Ciangbunjin dan tidak langsung memberi laporan.

Padahal di sana masih hadir dua orang Tosu bau itu, kalau sampai salah tafsir hingga mengungkap hal yang tidak seharusnya mereka ketahui, waah....

tentu bakal celaka."

Sebagaimana diketahui, dengan status Bu-siang Cinjin yang begitu terhormat sebagai seorang Ciang-bunjin, tentu saja kedatangannya ke bawah bukit untuk menyambu t kedatangan Ko Ceng-kim bukan hanya disebabkan untuk menghapus aturan sewaktu memberikan laporan, tapi lebih menitik beratkan pada keseriusan masalah yang hendak disampaikan.

Dia kuatir pemuda itu segera akan membeberkan rahasia besar itu kepada seluruh anggota Bu-tong-pay begitu tiba di sana.

Beruntung Ko Ceng-kim meski masih muda namun jalan pikirannya justru jauh lebih matang, sejak awal dia sudah memperkirakan hal itu.

Satu-satunya persoalan yang membuat dia ragu hanyalah apakah dia harus melaporkan dulu masalah kematian Suhunya kepada ketuanya atau tidak.

Sebab menurut peraturan yang berlaku dalam dunia persilatan, pembunuhan terhadap Suhu sama beratnya dengan pembunuhan atas orang tua sendiri, sebagai murid yang menghadapi tragedi semacam itu, menjadi kewajiban baginya untuk melaporkan berita duka ini kepada sang ketua, bahkan seharusnya dia menangis tersedu begitu bertemu sang Ciangbunjin.

Tapi sekarang dia dapat merasa lega, sebab baik ditinjau dari perubahan mimik muka Ciangbunjin atau dari nada pembicaraan yang dilontarkan, dia tahu tindakan yang dilakukannya sudah sangat tepat.

Rupanya dalam menghadapi persoalan istimewa, berlaku pula peraturan istimewa.

Berbeda dengan kedua orang Tosu itu, mereka tidak memahami sebab musabab di balik semua itu, betapa tercengang dan tertegunnya mereka ketika melihat ketuanya melanggar kebiasaan dengan menyam-but sendiri kedatangan seorang murid preman.

Dalam keadaan begini, buru-buru mereka memperkenalkan diri kepada Ko Ceng-kim.

Ternyata Tosu yang berusia lebih besar itu adalah Put-pay, murid pertama Bu-liang Tojin, sementara Tosu yang lebih muda adalah Put-hu, murid ketiga Bu-si Tojin.

"Ko Ceng-kim,"

Kata Bu-siang Tojin tiba-tiba.

"baru pertama kali ini naik gunung bukan? Cepat beri hormat dulu kepada Couwsu."

Menunggu Ko Ceng-kim selesai memberi hormat pada patung Couwsu mereka, dia pun mengajaknya naik gunung.

Put-pay serta Put-hu yang tidak mendapat perintah dari Ciangbunjinnya tentu saja tidak berani sembarangan membuntuti.

Ko Ceng-kim yang berjalan mengikut di belakang sang Ciangbunjin pun tidak berani sembarangan bicara, selewatnya istana Gi-tin-kiong, mendadak Bu-siang Cinjin menegur lagi.

"Ceng-kim, ketika menyembah di hadapan Couwsu tadi mimik mukamu kelihatan sangat aneh, sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?" 'Tajam benar pandangan mata Ciangbunjin,' diam-diam Ko Cengkim terkesiap, 'ternyata apa pun yang sedang kupikir tidak dapat mengelabui dirinya!' Agak tergagap buru-buru sahutnya.

"Lapor Ciangbunjin, Tecu ingin menanyakan satu hal tapi tidak tahu harus dimulai darimana?"

"Tanyakan saja!"

"Benarkah Couwsu kita, Thio-cinjin berasal dari Liauw-tong?"

"Betul. Apalagi yang ingin kau ketahui?"

"Kalau begitu Thio-cinjin termasuk bangsa Boan atau bangsa Han?"

"Couwsu adalah bangsa Han yang lahir di wilayah Liauw-tong, kenapa kau bertanya soal ini?"

"Tecu merasa sedikit keheranan ketika mendengar kedua orang Suheng itu membicarakan asal-usul Couwsu."

"Apa yang aneh?"

"Kenapa murid yang baru masuk perguruan dilarang mengetahui daerah asal Couwsu? Tecu dengar sepuluh tahun berselang tidak ada peraturan semacam ini."

"Sekarang pun tidak ada peraturan semacam ini. Mereka tidak berani menyinggung soal daerah asal Couwsu lantaran perasaan mereka sendiri yang punya kendala!"

"Apa yang dimaksud kendala dalam hati? Harap Ciangbunjin bersedia memberi petunjuk untuk membuka kebodohan Tecu."

"Hukum alam berkata, kehidupan di dunia itu sederajat. Meskipun itu merupakan ajaran Buddha, namun asalnya ajaran Buddha maupun agama To adalah satu aliran. Manusia adalah salah satu bagian dari kehidupan, kalau kehidupan saja sederajat, apalagi antara manusia satu daerah dengan manusia dari daerah lain. Tidak ada manusia yang sejak lahir sudah dibedakan kaya miskin, terhormat atau hina, tidak ada baik tidak ada buruk, yang penting adalah pikiran dan perasaanmu sendiri. Kalau sejak awal kau sudah berpendapat bangsa Han adalah orang baik sementara bangsa Boan adalah orang jahat, maka pandangan inilah yang merupakan kendala bagimu!"

Ko Ceng-kim seperti sedang meresapi perkataan itu, dia terbungkam seribu bahasa.

"Sejak sepuluh tahun berselang, meski Nurhaci Khan dengan membawa pasukan bangsa Boan sudah mulai mengusik garis batas negeri kita,"

Ujar Bu-siang Cinjin lebih jauh.

"namun kerajaan Taybeng kita hanya menganggap kejadian itu sebagai gangguan kecil, oleh sebab itu pada sepuluh tahun lalu partai kita masih tidak menganggap daerah asal Thio-cinjin di wilayah Liauw-tong sebagai satu hal yang tabu. Kemudian, setelah Nurhaci mendirikan negara dan mengangkat diri jadi Khan, kini dia secara resmi menjadi musuh besar kerajaan Tay-beng kita. Situasi pertempuran antar dua negara makin lama makin gawat, wilayah pertempuran pun semakin melebar, pada saat seperti inilah timbul pikiran di antara sebagian murid perguruan bahwa mengakui Couwsu sebagai orang yang berasal dari Liauw-tong merupakan satu kejadian yang mencoreng nama baik kita, kendatipun Couwsu dilahirkan sebagai seorang bangsa Han."

"Oh, rupanya urusan tabu berasal dari kejadian ini?"

"Padahal biar kau tidak menyinggung soal inipun bukan berarti orang lain tidak tahu. Tabu semacam ini tidak lebih hanya pikiran orang dungu. Padahal yang terpenting bukan daerah asal Thiocinjin, melainkan watak serta tindak-tanduknya!"

"Selama hidup Thio-cinjin bijaksana dan jujur, satu fakta yang tidak terbantahkan!"

"Bukan lantaran bijaksana dan jujur saja,"

Sahut Bu-siang Cinjin sambil manggut-manggut.

"tahukah kau apa sebabnya semenjak Kaisar Tay-cou Huante dan kaisar dinasti Beng berikutnya, semuanya menghormati Thio-cinjin?"

Seakan menjawab pertanyaan sendiri dia melanjutkan.

"Dalam prasasti yang didirikan Kaisar Yong-lok dikatakan kalau keberhasilannya merebut kembali tanah air karena mendapat perlindungan dari Kaisar langit Tin-bu-tay-te, padahal kenyataan ucapan itu hanya bualan belaka, sesungguhnya di balik itu semua terdapat sebab-musabab lain. Ketika kaisar Tay-cu mengusir bangsa Mongol dan merebut kembali tanah air dulu, Bu-tong-pay yang didirikan Thio-cinjin pernah menyum-bang kekuatannya untuk membantu dia. Hanya saja Thio-cinjin bukan jenis orang yang menuntut jasa atas pengorbanannya. Oleh sebab itu ketika sekarang bangsa Boan sudah menjadi musuh negara, rasa hormat kaisar saat ini terhadap Thio-cinjin pun masih mengikuti adat lama, sementara para pendekar di kolong langit pun tidak menganggap lantaran Thio-cinjin berasal dari wilayah Liauw-tong maka kejadian ini dianggap memalukan! Aku berharap kau pun jangan punya pandangan picik seperti kebanyakan orang, mau membedakan seseorang jangan menilai dari dia berasal dari etnis Boan atau Han melainkan nilailah dari baik-buruknya watak seseorang!"

"Jangan menilai dari turunan Boan atau Han, melainkan nilailah dari baik-buruknya watak seseorang!"

Gumam Ko Ceng-kim.

"Betul, di antara bangsa Han ada juga orang jahat, di antara bangsa Boan pun ada orang baik. Bukankah teori ini sebenarnya sangat sederhana?"

Tanpa terasa keringat dingin jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuh Ko Ceng-kim.

Sebagaimana diketahui, Keng King-si dicurigai sebagai mata-mata lantaran pemuda itu hidup mengasingkan diri di wilayah Liauw-tong.

Di antara bangsa Boan terdapat juga orang baik, apalagi hanya bertempat tinggal di wilayah bangsa Boan?

Bukankah dasar alasan kecurigaannya jadi goyah?

Tidak berdasar sama sekali?

Walau begitu, kunci semua persoalan ini tetap berada di tubuh Huo Bu-tou seorang.

Sekarang telah diketahui bahwa dia adalah bangsa Han kelahiran Liauw-tong, keadaan itu tidak jauh berbeda dengan riwayat Thio Sam-hong, Couwsu Bu-tong-pay di masa lalu.

Jadi masalahnya adalah apakah dia benar-benar telah menjadi mata-mata bangsa Boan atau bukan.

Tidak salah, dia memang pernah menjadi penga-wal pribadi Nurhaci Khan, tapi siapa tahu dia justru "biar tubuh berada di sarang Cho-cho, jiwa tetap di pihak bangsa Han"?

Ketika Bu-kek Supek dan dia sendiri tahu asal-usul Huo Bu-tou, kemudian langsung menuduhnya sebagai mata-mata bangsa Boan, apakah tindakan ini termasuk pandangan yang mendahului kenyataan?

Padahal kunci semua peristiwa itu berada dalam isi surat yang dikirim Huo Bu-tou untuk Keng King-si, mereka harus mengetahui terlebih dulu pekerjaan apa yang harus Keng King-si lakukan, lalu apa pula jabatan resmi yang dia pangku di kotaraja?

Apa pula tujuannya berbuat begitu?

Asalkan beberapa hal ini diketahui secara jelas, saat itulah mereka baru bisa membuktikan apakah Keng Kingsi itu seorang mata-mata atau bukan.

Tapi kini semua orang yang berhubungan dengan peristiwa itu sudah mati, satu-satunya saksi hidup rasanya tinggal Huo Bu-tou seorang.

Padahal dari mulut Huo Bu-tou bukan saja bakal diketahui semua rahasia besar itu, bahkan bisa jadi dapat diketahui pula siapa matamata dan pengkhianat yang menyusup ke dalam perguruan mereka, jelas kebera-daan Huo Bu-tou sangat penting, jelas dia merupakan saksi kunci.

Kelihatannya Bu-siang Cinjin berpikir juga ke sana, bahkan sudah menduga semua kemungkinan yang bakal terjadi jauh sebelum Ko Ceng-kim memikirkannya.

Dia mengajak Ko Ceng-kim masuk ke dalam kamar semadinya, setelah menanyakan semua persoalan dengan jelas, dia pun menghela napas seraya berkata.

"Kini, kita hanya mempunyai seorang saksi kunci yaitu Huo Bu-tuo, dia sangat penting artinya untuk mengungkap semua kejadian ini, semoga saja dia tidak dicelakai orang!"

Begitu mendengar ucapan terakhir, Ko Ceng-kim sangat terperanjat, bisiknya tanpa sadar.

"Maksud Ciangbun si pengkhianat yang telah mencelakai Bu-kek Supek sedang bersiap hendak mencelakai dia?"

"Belum tentu orang ilu turun tangan sendiri."

"Kalau begitu, perlu tidak segera mengirim orang ke kotaraja untuk mencarinya? Kalau hasil penyelidikan terbukti dia bukan mata-mata atau pengkhianat, kita bisa segera menghubungi murid Bu-tong-pay yang ada di ibukota untuk melindunginya, atau menyuruh dia cepat menyembunyikan diri. Bila tidak ada orang yang mau melaksanakan tugas ini, Tecu bersedia melakukan perjalanan untuk melaksanakan perintah."

"Kau tidak perlu menguatirkan persoalan ini. Mana sempat kalau sekarang baru mengirim orang ke kotaraja?"

"Aah, rupanya Ciangbunjin telah mengutus orang?"

Seru Ko Ceng-kim terkejut bercampur girang.

"Benar, orang yang kuutus adalah murid tertuaku yang paling bisa dipercaya, Put-coat. Aku rasa dalam sehari dua hari mendatang dia seharusnya sudah kembali."

"Ooh, berarti dia sudah diutus jauh sebelum Ting-susiok terbunuh?"

"Benar, aku berbuat begini bukan lantaran sudah menduga sebelumnya, waktu itu aku masih belum tahu bakal berhadapan dengan lawan yang begitu lihai. Ketika mengutus Put-coat berangkat ke kotaraja waktu itu, tujuan utama adalah menyelidiki kejadian yang sebenarnya, kemudian baru berjaga-jaga kalau dia dicelakai orang. Ehm, tapi sekarang keadaan sudah jauh berbeda."

Walaupun Bu-siang Cinjin tidak menjelaskan lebih lanjut, Ko Ceng-kim cukup mengerti apa yang dimaksud "jauh berbeda".

Kini setelah diketahui ada musuh tangguh yang menyelinap masuk ke dalam perguruan, tentu saja semua sepak-terjang harus diperhitungkan matang-matang.

Bila sekarang Bu-siang Cinjin akan mengutus orang ke kotaraja, jelas orang itu harus memiliki kungfu yang sangat hebat, karena tujuannya adalah melindungi keselamatan jiwa Huo Bu-tuo.

Mendadak Ko Ceng-kim merasa kata "lawan"

Yang digunakan Busiang Cinjin barusan sedikit mencurigakan, segera tanyanya.

"Menurut analisa Bu-kek Supek, ilmu pukulan Thay-khek-ciang yang digunakan pembunuh yang mencelakai Ting-susiok maupun dirinya sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, jelas orang itu adalah jago tangguh dari perguruan sendiri. Apakah Ciangbunjin masih menaruh perasaan sangsi atau curiga atas kejadian ini?"

Sebagaimana diketahui, bila sudah disimpulkan dalam partai telah muncul orang yang dicurigai, maka istilah yang digunakan seharusnya "pengkhianat"

Dan bukan kata "lawan".

"Rasanya dalam partai kita, hanya beberapa gelintir manusia yang memiliki kemampuan sehebat itu,"

Sahut Bu-siang Cinjin.

"tapi setelah dipikir pulang pergi, rasanya tidak seorang pun yang patut dicurigai. Oleh sebab itu aku tidak berani memastikan orang itu pastilah pengkhianat yang menyusup ke dalam partai kita."

"Tapi ilmu pukulan Thay-khek-ciang adalah ilmu rahasia perguruan yang tidak diajarkan kepada orang luar, mana mungkin orang luar bisa mempelajarinya?"

"Sudah hampir dua ratus tahun lamanya Thio-cinjin mendirikan perguruan kita.

Selama dua ratus tahun, murid penganut agama To maupun murid preman yang mempelajari ilmu pukulan Thay-khekciang meski tidak terhitung terlalu banyak, jumlahnya pun tidak sedikit.

Tidak menjamin ada satu dua orang yang mengajarkan ilmu itu kepada orang luar.

Sebagai contoh, ada orang yang keranjingan belajar ilmu silat, biasanya mereka akan melupakan segala pantangan maupun larangan perguruan ketika melihat ada ilmu silat aliran lain yang lebih tangguh, seringkali mereka justru rela bertukar ilmu silat perguruan sendiri dengan pihak lain.

"Selama dua ratus tahun ini, asal ada satu atau dua orang saja yang berbuat begitu, diam-diam mengajarkan ilmu rahasia itu kepada orang luar, kemudian orang itu mewariskan juga ilmu tadi kepada generasi berikutnya selama beberapa puluh tahun ini, tidak tertutup kemungkinan bukan kalau ada orang luar yang berhasil menguasai ilmu Thay-khek-ciang jauh melebihi kita semua? Satu kejadian yang tidak aneh."

Rasa bingung semakin menyelimuti perasaan Ko Ceng-kim, pikirnya, 'Ternyata Bu-kek Supek belum pernah berpikir sampai ke situ.' Cepat ujarnya kemudian.

"Kalau sampai begitu, bukankah urusan jadi bertambah ruwet?"

"Aku tidak berani mengatakan benar atau tidak, pokoknya secara keseluruhan, masih banyak hal yang mencurigakan dan belum dapat kupecahkan. Ai.... semoga saja perbuatan terkutuk ini bukan hasil perbuatan pengkhianat dari partai kita. Kau pun tidak usah sembarangan menduga atau berprasangka, toh dalam satu dua hari mendatang Put-coat sudah kembali, siapa tahu dia berhasil menemukan sedikit titik terang."

Baru selesai berbicara, mendadak seseorang mendorong pintu sambil melangkah masuk.

Ko Ceng-kim terkesiap, dia tidak tahu siapa orang bernyali yang berani memasuki ruang rahasia Ciangbunjin, tapi dapat diduga pastilah seorang tokoh penting dalam perguruan.

Baru saja ingatan itu melintas, teka-teki itu segera terbongkar sudah.

Tampak seorang Tosu setengah umur memasuki ruang rahasia itu sambil menyapa.

"Suhu!"

Sementara matanya mengawasi terus ke arahnya tanpa berkedip. Bu-siang Cinjin segera tertawa tergelak.

"Baru saja menyebut Cho-cho, ternyata Cho-cho sudah datang. Put-coat, kami sedang menunggu kedatanganmu. Dia adalah murid paling tua Ho-susiokmu, bernama Ko Ceng-kim. Kalau ada yang ingin dilaporkan, cepat katakan saja."

Tanpa peduli Ko Ceng-kim yang sedang memberi hormat kepadanya, tergopoh-gopoh seru Put-coat.

"Lapor Suhu, Tecu telah melaksanakan perintah dengan mendatangi kotaraja, sayang kedatanganku terlambat!"

"Bagaimana keadaan Huo Bu-tuo?"

Seru Bu-siang Cinjin terkesiap.

"Sudah mati! Sehari sebelum kedatangan Tecu di kotaraja, tibatiba dia terserang penyakit dan tewas!"

"Mati terserang penyakit? Mana mungkin ada kejadian yang begitu kebetulan? Jangan-jangan dia mati dibunuh orang, sudah kau selidiki?"

"Lapor Suhu, rasanya persoalan ini agak mencurigakan, Tecu sendiri tidak tahu apakah dia benar-benar mati dibunuh orang atau dia cuma pura-pura mati!"

"Apa maksud perkataanmu itu?"

Buru-buru Bu-siang Cinjin bertanya dengan mata berkilat.

"Seperti apa yang Suhu perintahkan, begitu sampai di kotaraja, Tecu segera menyambangi Sik Cu, Congpiautau perusahaan ekspedisi Ceng-wan-piaukiok yang telah pensiun, dia adalah orang lama di kotaraja, hampir semua orang dia kenal. Ketika Tecu minta tolong untuk mencari tahu soal Huo Bu-tuo, benar saja, tidak sampai beberapa lama, dari mulut beberapa orang kurcaci diperoleh satu kabar yang sama sekali tidak terduga!"

"Ooh, kejadian tidak terduga macam apa yang kau peroleh? Coba ceritakan secara detil, lalu kita bahas bersama-sama."

"Begundal yang memberi laporan adalah seorang pencuri barang kuburan, dia terbiasa membongkar kuburan baru dan merampok barang berharga yang ada dalam peti mati. Huo Bu-tuo adalah orang yang belum lama datang ke kotaraja, tanpa sanak tanpa saudara, membongkar kuburan orang macam begini adalah pekerjaan dengan resiko sangat kecil. Oleh sebab itu meski Huo Butuo termasuk salah seorang pengawal Kim-ih-wi, dia tetap berani membongkar kuburannya pada malam kedua setelah hari pemakaman. Akhirnya yang dia peroleh hanya kesialan. Coba terka apa yang terjadi? Bukan saja dia tidak menemukan barang berharga dalam peti mati itu, pakaian halus pun tidak dijumpai sepotong pun. Bahkan yang lebih di luar dugaan adakah ketika peti mati itu dibongkar, ternyata di situ tidak ditemukan jenazah!"

"Ooh, tidak ditemukan jenazah? Lantas siapa yang melakukan pemakaman itu?"

"Konon beberapa orang rekan sesama pengawal Kim-ih-wi yang mengurus layonnya, salah satu di antaranya adalah sobat lama Sik Cu. Menurut penuturan orang itu, dengan mata kepala sendiri dia saksikan jenazah Huo Bu-tuo dimasukkan ke dalam peti mati!"

"Menurut kebiasaan, rasanya tidak pernah ada yang mencuri jenazah seseorang!"

"Tapi ada satu kemungkinan,"

Sahut Put-coat cepat.

"bila orang itu mati karena keracunan. Mungkin saja orang yang meracuninya takut bakal menimbulkan masalah di kemudian hari, maka dia sengaja memusnahkan jenazah itu agar sukar dilacak."

Melihat tampang Ko Ceng-kim yang bodoh dan kuatir pemuda itu tidak mengerti apa yang dimaksud, cepat tambahnya lagi.

"Biasanya tulang-belulang orang yang mati keracunan berwarna hitam, oleh sebab itu walau sudah mati lama, gejala itu masih dapat ditemukan. Bisa jadi pembunuh itu kuatir ada orang yang bakal membongkar peti mati untuk melakukan pemeriksaan di kemudian hari, maka cara terbaik untuk menutup rahasia ini adalah turun tangan lebih dahulu, mencuri jenazahnya dan membakar sampai punah."

"Kemungkinan seperti ini bukannya tidak ada, tapi menurutku, bisa jadi dia hanya pura-pura mati,"

Kata Ko Ceng-kim.

"Itulah sebabnya aku mengatakan kalau kasus ini sangat mencurigakan, dia mati sungguhan? Atau pura-pura mati? Dibunuh? Atau mati lantaran sakit? Tidak gampang buat kita untuk menyimpulkan!"

"Aai.... semoga saja dia hanya pura-pura mati,"

Ko Ceng-kim menghela napas panjang.

"kalau tidak, titik terang terakhir yang kita miliki pun bakal lenyap."

Entah mengapa, walaupun di luar dia menghela napas, namun dalam hati kecilnya justru seolah merasa lega karena kehilangan beban berat.

"Mana surat yang ditulis Huo Bu-tuo untuk Keng King-si? Apakah masih berada di tanganmu?"

Tiba-tiba Bu-siang Cinjin bertanya.

"Surat itu sudah hilang!"

"Kenapa bisa hilang?"

Seru Bu-siang Cinjin tertegun.

"apakah tidak digembol Keng King-si? Atau lenyap setelah berada di tanganmu? Atau belum berhasil ditemukan? Aku rasa mustahil kau tidak menggeledah sakunya bukan?"

"Dia memang membawanya, cuma Tecu sendiri pun tidak jelas kenapa bisa mendadak hilang,"

Secara ringkas dia pun menceritakan keadaan yang dialaminya waktu itu kepada Bu-siang Cinjin. Bu-siang Cinjin menghela napas panjang sehabis mendengar penuturan itu, gumamnya.

"Tidak kusangka, setelah menjumpai satu teka-teki besar, kini muncul teka-teki yang lain. Bila surat itu benar-benar dicuri orang, akan semakin sulit bagi kita untuk melacak kejadian yang sebenarnya."

"Tapi.... bukankah Suhu sudah pernah mendengar isi surat itu dari penuturan Ting-susiok?"

Tanya Put-coat.

"Yang aku butuhkan adalah tulisan tangan Huo Bu-tuo sendiri. Tahukah kau? Biarpun dia sudah mati, tapi masih sangat berguna."

"Maaf Tecu makin lama makin bingung, Tecu tidak berhasil menemukan apa kegunaannya,"

Kata Put-coat.

"Bila di kemudian hari kita dapat menemukan catatan harian atau surat yang ditinggalkan Huo Bu-tou, maka kita bisa mencocokkan gaya tulisan di surat itu dengan catatan lainnya, dengan begitu kita bisa tahu apakah tulisan surat itu asli atau palsu,"

Ko Ceng-kim menerangkan.

"Aah, betul! Ternyata otakmu jauh lebih encer daripada aku!"

Seru Put-coat tanpa terasa. Sebetulnya dia memandang sebelah mata terhadap Ko Ceng-kim, tapi sekarang, pandangannya berubah seratus persen.

"Ceng-kim, apa rencanamu selanjutnya?"

Tanya Bu-siang Cinjin kemudian.

"Tecu tidak punya sanak tidak punya keluarga, rumah pun tidak punya, jadi tiada rencana apapun."

"Baiklah, kalau begitu tinggal saja di sini. Aku akan mengatur semuanya untukmu."

"Terima kasih atas budi kebaikan Ciangbunjin!"

Apa yang bakal diatur Ciangbunjin untuknya?

Lamat-lamat dia dapat menebaknya beberapa bagian.

Oleh sebab itu meski perasaannya saat itu dicekam kepedihan, namun di balik kepedihan sedikit banyak dia bersyukur juga untuk masa depan sendiri.

"Baik, sekarang kau boleh ikut aku pergi melaporkan berita duka ini kepada kedua orang Tianglo yang lain,"

Ajak Bu-siang Cinjin.

Tiga hari kemudian, di atas bukit Bu-tong telah muncul seorang murid baru dari aliran agama To.

Dalam perguraan Bu-tong-pay sebenarnya terdapat beratus orang murid Tosu, bertambah seorang murid baru bukanlah suatu kejadian yang aneh, tapi murid baru yang satu ini justru telah melanggar peraturan yang berlaku selama ini.

Pertama, menurut aturan Bu-tong-pay, untuk menjadi murid aliran agama To, seseorang harus masuk perguruan sejak usia kecil atau paling tidak usianya tidak melebihi 15 tahun.

Tapi murid baru itu sudah berusia dua puluh tujuh tahun.

Kedua, murid itu sama sekali bukan orang luar, sebelumnya dia adalah murid preman dari perguruan Bu-tong-pay.

Ketiga, yang paling mencolok adalah murid itu ternyata diterima Bu-siang Cinjin, sang Ciangbunjin sebagai murid penutup.

Murid preman yang berpindah jadi murid aliran agama To bukannya tidak ada, tapi murid yang diterima Ciangbunjin boleh dibilang sangat langka.

Murid baru itu tidak lain adalah Ko Ceng-kim.

Bu-siang Cinjin adalah seorang Ciangbunjin yang dihormati dan disegani anak muridnya, tentu saja apa yang dia lakukan tidak berani dibantah atau diprotes orang lain.

Kendatipun begitu, tidak urung sekelompok murid diam-diam berkasak-kusuk juga mengenai kejadian itu.

Sesaat sebelum Ko Ceng-kim resmi menjadi pendeta, berita kematian yang menimpa Bu-kek Tianglo serta Ji-ouw Tayhiap Ho Kibu tersebar luas.

Yang dimaksud tersebar luas tentu saja hanya sebatas kematian mereka karena menderita sakit, sementara alasan sesungguhnya tidak pernah disebar luaskan.

Tahun ini usia Bu-kek Totiang sudah lebih enam puluh tahun, meskipun belum terbilang kelewat tua, namun masih terhitung panjang usia (sebagaimana diketahui, usia orang jaman kuno jauh lebih pendek daripada usia manusia jaman modern), usia Ho Ki-bu baru lewat lima puluh tahunan, jadi seusianya belum terhitung terlalu tua.

Akan tetapi lantaran berita kematian karena sakit ini berasal dari Ciangbunjin sendiri, tentu saja tidak seorang pun berani mencurigai Ciangbunjin mereka sedang berbohong.

Malah ada sementara murid yang menyangka Ciangbunjin mereka masih terkenang dengan kemampuan Ho Ki-bu, sehingga menerima murid pertama Ho Ki-bu itu sebagai murid sendiri.

Kini Ko Ceng-kim menyandang gelar kepende-taan, Put-ji Tosu, dia bukannya tidak tahu kalau banyak orang sedang berkasak-kusuk di belakangnya membicarakan persoalan itu, namun selama ini dia hanya berlagak pilon.

Sebagai orang yang pada dasarnya memang tidak gemar banyak bicara, sesudah menjadi murid Ciangbunjin, dia semakin membungkam dan jarang bicara.

Sepintas dia seperti seorang yang sudah hambar memandang masalah dunia, padahal bukan berarti dia sama sekali tidak memikirkan persoalan apa pun.

Dia selalu teringat pesan Suhunya di saat melantik dia menjadi seorang pendeta.

"Setelah memasuki perguruan, kau harus menjaga tiga pantangan, pantangan rakus, pantangan marah dan pantangan bertindak bodoh. Keputusan utama selalu di hati, biarkan jalan menyimpang berjalanlah sesuai kebutuhan. Tiada godaan tidak akan menimbulkan napsu, tiada kecurigaan tidak akan menumbuhkan penyesalan."

Mengulang kembali pesan itu dalam hatinya, tanpa terasa dia pun tertawa getir, pikirnya, 'Tiga pantangan rakus, bertindak bodoh dan marah, hampir semuanya pernah kulanggar.

Tiada godaan tidak akan menimbulkan napsu?

Jelas ini merupakan pelajaran agama To tingkat tinggi, semudah itukah aku dapat mencapai tingkatan seperti itu?"

Kemudian pikirnya lebih jauh, 'Keputusan utama selalu di hati, biarkan jalan menyimpang berjalanlah sesuai kebutuhan.

Suhu memberi aku gelar Put-ji (tiada penyimpangan), apakah dia kuatir aku tidak dapat mengendalikan diri hingga kembali terjerumus ke jalan sesat?"

Hari itu dia mendapat tugas mencari daun obat di bukit belakang, tugas itu dilewatkan dengan pikiran kalut dan tidak menentu, tanpa terasa sang surya telah tenggelam di langit barat.

Tiba-tiba terdengar seseorang menegur.

"Put-ji Sutit, apakah ada sesuatu pikiran yang mengganjal?"

Ketika Put-ji mendongakkan kepala, dia lihat seorang Tianglo perguruannya, Bu-liang Tojin telah berdiri di hadapannya.

Semenjak kematian Bu-kek Tojin, Tosu ini telah naik pangkat menjadi pimpinan para sesepuh, kedudukannya hanya di bawah Ciangbunjin.

"Tecu tidak memikirkan apa-apa!"

Dengan perasaan terkesiap buru-buru Put-ji menyahut.

"Syukurlah kalau tidak ada masalah. Namun bila kau merasa ada ganjalan, janganlah kau kelabui diriku!"

"Tecu tidak berani mengelabui Tianglo,"

Kembali Put-ji menyahut, sementara dalam hati dia berpikir keheranan, 'aneh, kenapa dia bertanya begitu kepada-ku?' "Tentunya kau sudah tahu bukan kalau Suhumu Ho Ki-bu dan aku mempunyai guru yang sama, meski-pun kami dibedakan karena satu preman satu Tosu, namun sesungguhnya dia adalah sahabat karib-ku."

"Tecu tahu akan hal itu,"

Put-ji manggut-manggut, sementara dalam hati ia berpikir penuh curiga, 'benar, walaupun Suhu dan dia sama-sama merupakan murid Hian-khong Cinjin, Ciangbunjin generasi sebelumnya, tapi orang yang sering disinggung Suhu bukan dia melainkan Bu-si Supek.

Dan lagi orang yang selama ini berhubungan akrab dengan Suhu pun bukan dia, melainkan Bu-si Supek!"

Tampaknya Bu-liang Tojin dapat membaca suara hatinya, kembali dia berkata.

"Akrab tidaknya hubungan seseorang tidak bisa dinilai dari kerap tidaknya seseorang berhubungan, apalagi belakangan aku sedang membantu Ciangbun Suheng mempelajari Sim-hoat tenaga dalam perguruan, tidak heran aku jarang sekali berkunjung ke rumah Ho-sute. Walau begitu, semua persoalan yang menimpa dirinya, baik urusan besar maupun urusan kecil, tidak satu pun yang bisa mengelabui diriku. Khususnya di saat dia sedang menghadapi masalah yang tidak terpecahkan, dia selalu mengajakku berunding. Sekali pun kami tidak saling berjumpa, dia selalu mengutus orang mengirim surat atau titip pesan untukku."

Ho Ki-bu adalah pemimpin murid preman, sedang Bu-liang Tojin adalah sesepuh partai, apalagi mereka berdua berasal dari guru yang sama.

Tidaklah aneh kalau mereka berdua sering berhubungan kabar meski jarang bertemu muka.

Dalam posisi begini, Put-ji tidak berani menaruh curiga, terpaksa dia mengiakan berulang kali.

Setelah menghela napas panjang, kembali Bu-liang berkata.

"Suhumu hanya mempunyai seorang putri, dia sengaja menjodohkan putrinya kepadamu karena dia berharap di kemudian hari kalian bisa mendapat keturunan untuk melanjutkan generasi keluarga Ho. Aai.... siapa tahu perhitungan manusia tak bisa melawan kehendak langit...."

Berdebar keras detak jantung Put-ji sesudah mendengar ucapan itu, pikirnya.

"Dari nada bicaranya, jangan-jangan dia sudah tahu tentang sebab-musabab kematian Suhu?"

Perlu diketahui, walaupun Bu-siang Cinjin sempat mengumumkan berita kematian yang menimpa Ho Ki-bu, namun kepada kedua orang Tianglo itupun dia tidak pernah menerangkan sebab kematian yang sebenarnya.

Belum selesai ingatan itu melintas, kembali terdengar Bu-liang Tojin melanjutkan kata-katanya.

"Mereka ayah beranak telah mati lebih dulu!"

Ternyata yang dia maksudkan "perhitungan manusia tidak bisa melawan kehendak langit"

Hanyalah menunjukkan kematian ayah beranak itu.

Hanya saja, sekalipun dia tidak mengetahui penyebab kematian Ho Ki-bu, namun perkataan itu masih tetap mendatangkan rasa bingung yang luar biasa.

Kaburnya Ho Giok-yan dan Keng King-si tahun berselang jelas merupakan aib keluarga yang tidak mungkin diceritakan Ho Ki-bu kepada orang luar.

Tapi sayang 'api tidak mungkin dibungkus kertas', bau busuk tidak mungkin bisa terbungkus rapi, setelah lewat satu tahun, akhirnya banyak juga orang luar yang menge-tahui kejadian ini.

Tapi lantaran itu pula, murid-murid Bu-tong-pay yang mengetahui peristiwa itu tidak ada yang berani mengungkit masalah Sumoy premannya di hadapan Put-ji, karena mereka tahu Sumoynya itu dulu adalah calon istrinya.

Mereka sangka Ho Giokyan dan Keng King-si masih bersembunyi di tempat jauh dan belum berani pulang.

Tapi sekarang ternyata Bu-liang Tianglo sudah tahu bahwa Sumoynya telah meninggal.

"Darimana dia tahu? Apa Ciangbun Suhu yang memberitahu? Atau dia mendapatkan sendiri beritanya?"

"Berapa banyak yang telah dia ketahui?"

Semakin mendengar Put-ji merasa semakin terkejut, makin mendengar dia merasa Tianglo ini semakin misterius dan sukar diraba. Setelah menghela napas panjang, kembali Bu-liang Tojin melanjutkan.

"Sebetulnya kau dan Sumoymu merupakan pasangan yang amat serasi, aai.... kalau bukan peristiwa setahun berselang, tidak mungkin kau jadi Tosu!"

"Peristiwa yang sudah lewat biarlah lewat, kini Tecu sudah menjadi orang beribadah, tolong Tianglo jangan mengungkitnya kembali."

"Murid aliran agama To dari Bu-tong-pay jauh berbeda dengan murid aliran lain, bukankah dulu Thio-cinjin juga banyak mengurusi urusan keduniawian dengan statusnya sebagai orang beribadah."

"Mereka semua telah meninggal dunia."

"Tapi ada sementara orang masih hidup, ada sementara urusan yang belum selesai meski orangnya telah tiada."

"Apa yang Tianglo maksud dan siapa orangnya?"

"Seharusnya kau lebih tahu daripada aku, siapa lagi manusia di dunia ini yang membutuhkan perawatan dan perhatianmu!"

Put-ji tertegun! Belum sempat mengucapkan sesuatu, kembali Bu-liang berkata sambil menatapnya tajam.

"Masih ada orang yang butuh perhatian dan perawatanmu, masa kau ingin mengelabui diriku? Siapa tahu aku bisa membantumu membebaskan beban pikiran itu? Keputusan utama selalu di hati, biarkan jalan menyimpang berjalanlah sesuai kebutuhan. Put-ji, mari ikut aku!"

Seolah terkena hipnotis, tanpa sadar Put-ji berjalan mengintil di belakangnya.

Berjalan tidak seberapa lama, setelah melewati sebuah lereng gunung, terlihatlah sebuah bangunan rumah penduduk berdinding tanah berpintu bambu, rumah itu tidak jauh berbeda dengan rumah penduduk mana pun.

Suara tangisan bayi terdengar berkumandang dari balik ruangan, tangisan itu amat keras dan nyaring.

Entah mengapa tiba-tiba Put-ji merasa isak tangis bayi itu seperti sangat dikenalnya, satu perasaan aneh seketika menyelimuti hatinya.

Tidak lama kemudian terdengar suara seorang lelaki berkata.

"Aai, kenapa bocah ini menangis melulu? Masa dia tahu sejak dilahirkan sudah kehilangan orang tua?"

"Biar aku saja yang membopongnya,"

Sahut suara seorang wanita.

"anak sayang, jangan menangis, jangan ribut, sebentar paman pasti akan datang menjengukmu."

"Aai.... sudah tiga hari kita datang kemari, kenapa dia masih belum kemari untuk menengok bocah ini?"

Kembali lelaki itu menghela napas.

"jangan-jangan...."

Bu-liang Totiang segera mendorong Put-ji, bisiknya.

"Orang yang harus kau rawat dan lindungi berada dalam rumah itu, kenapa kau masih tidak masuk menjenguknya...."

Padahal Put-ji sudah tidak perlu diingatkan, apalagi didorong orang, karena dia sudah mengenali suara suami-istri itu, dia pun sudah tahu siapa gerangan bocah yang sedang menangis.

Setelah termangu beberapa saat, akhirnya bagaikan segulung angin berpusing cepat dia membuka pagar bambu dan menerobos masuk ke dalam rumah itu.

Ternyata dugaannya tidak salah, bayi yang sedang digendong perempuan itu tidak lain adalah anak Ho Giok-yan!

Di atas pembaringan batu berbaring pula seorang bayi lain, bayi itu sudah terlelap tidur.

Tidak salah lagi, suami-istri itu tidak lain adalah suami-istri keluarga Lan, pemburu yang telah dititipi anak tempo hari.

Tampak Lan Kau-san agak tertegun sejenak, kemudian teriaknya kegirangan.

"Ko-toako, ternyata kau muncul juga!"

Put-ji tidak sempat menanyakan apa arti "ternyata"

Itu, cepat serunya.

"Lan-toaso, biar aku yang menggendongnya."

Setelah membopong bayi itu, ingatan masa lalu pun kembali melintas dalam benaknya, membayangkan kembali saat-saat dimana Sumoynya menitipkan bocah itu, rasa sedih yang luar biasa seketika mencekam hatinya, tapi dia berusaha keras menahan diri, ibu jarinya segera dijejalkan ke mulut bayi itu dan membiarkannya menghisap.

"Ko-toako,"

Istri Lan Kau-san berseru sambil tertawa.

"kelihatannya ibu jarimu jauh lebih bermanfaat daripada puting susuku, coba lihat, dia tidak menangis lagi, malah membuka matanya lebar-lebar untuk memandangmu. Hahaha.... dia seperti sudah mengenali dirimu, kenal kalau kau adalah satu-satunya sanak yang dia miliki."

Perempuan ini lahir dan hidup di tengah lereng gunung, tidak heran cara berbicaranya kasar, spontan dan tanpa tedeng alingaling.

Put-ji tertawa getir.

'Asal setelah dewasa nanti dia tidak menganggapku sebagai musuh besar, aku sudah amat bersyukur,' demikian pikirnya, tapi di luar dia menyahut.

"Aku sudah menjadi pendeta, kini aku sudah bukan Ko Ceng-kim lagi. Namaku kini Put-ji!"

"Put-ji?"

Gumam Lan Kau-san.

"aku tidak terbiasa dengan panggilan itu. Terserah kau sudah menjadi pendeta atau tidak, selama ada dalam rumah, aku masih tetap akan memanggilmu sebagai Ko-toako."

"Terserahlah. Aku hanya ingin tahu, kenapa kalian bisa sampai di sini?"

"Hei, bukankah kau sendiri yang menyuruh kami datang kemari?"

"Aku?"

Put-ji terkejut bercampur keheranan.

"Setengah bulan berselang, datang seorang Totiang ke rumah kami, dia mengabarkan kalau kau sudah menjadi pendeta di Butong-san, agar bisa bertemu bocah itu setiap saat, katanya secara khusus kau titipkan uang dan pesan untuk kami dan minta kami segera pindah ke Bu-tong-san. Masa perkataan Totiang itu bohong? Masa dia menipu kami?"

"Macam apa Totiang itu?"

"Berusia tiga puluh tahunan, alis matanya tebal sekali, badannya tinggi agak gemuk, di sisi bibirnya terdapat sebuah tahi lalat besar."

Tosu itu tidak lain adalah Put-pay, Tosu yang pernah bertarung melawannya ketika pada hari pertama dia naik ke Bu-tong-san, Putpay adalah murid tertua Bu-liang Tianglo.

Berpikir sampai di situ, Put-ji pun segera sadar dan memahami apa yang telah terjadi, pikirnya.

"Tak heran aku tidak menjumpai Suheng ini ketika hari upacara pengangkatan murid tempo hari, padahal semua anggota Bu-tong-pay hadir dan memberi selamat, rupanya dia sedang turun gunung menjalankan tugas."

Maka dengan berlagak baru teringat akan hal itu, sahutnya cepat.

"Aah, betul, betul, Tosu yang kau maksud bernama Put-pay. Padahal waktu itu aku hanya sempat berkeluh-kesah di hadapannya dan bilang kalau aku sangat kangen pada kalian dan bocah itu, tidak disangka dia telah membantu aku memenuhi keinginan ini dengan berlagak disuruh aku menyampaikan pesan dan uang untuk kalian."

"Kalau begitu, benar sudah, aku sempat memikirkan soal ini, mana ada manusia di kolong langit yang mau mengeluarkan uang untuk berbohong, yang ada selama ini hanya orang yang berbohong untuk mendapatkan duit."

"Totiang itu baik sekali,"

Kata istri Lan Ko-san pula.

"bukan saja dia telah mengeluarkan uang untuk membantu kami pindah rumah, bahkan sudah mengaturkan pula penghidupan kami selanjutnya."

"Hah, bagaimana mengaturnya?"

"Setelah tiba di sini, dia segera mengajak kami bertemu dengan Totiang yang mengurusi masalah dapur, dia mengaku kami sebagai orang sedusun dan minta Totiang itu memberi sebidang tanah untuk kami tanamani sayuran."

Perlu diketahui, jumlah Tosu yang hidup di Bu-tong-san mencapai ribuan orang banyaknya, selama ini rangsum mereka sebagian besar diperoleh dari derma para jemaah yang datang berkunjung atau membelinya di bawah gunung, namun sayuran segar harus diperoleh dengan menanam sendiri di atas gunung.

Untuk memenuhi kebutuhan itu, anggota perguruan telah membuka hampir seribuan hektar tanah yang ditanami sayursayuran, tanah itu sebagian diberikan kepada orang yang naik bukit dan bersedia menanaminya tanpa memungut uang sewa.

Tapi justru karena tidak dipungut uang sewa, maka kebanyakan orang yang mendapat jatah tanah adalah orang-orang yang mempunyai hubungan dekat atau kerabat dari murid-murid Bu-tong-pay.

"Sebenarnya aku adalah seorang pemburu,"

Kata Lan Kau-san lagi.

"aku pun amat senang bekerja sebagai seorang pemburu, tapi setelah pikir punya pikir, rasanya hidup dengan menanam sayur jauh lebih tenang dan tenteram daripada hidup sebagai seorang pemburu, apalagi usiaku makin hari makin tua, sudah tidak bertenaga lagi hidup berburu, untuk menanam sayuran rasanya masih cukup kuat. Selain itu, biarpun aku sendiri tidak takut menghadapi resiko dan ancaman bahaya sewaktu berburu, akan tetapi aku tidak berharap kedua orang bocah itu ikut menghadapi resiko. Dan yang lebih penting lagi adalah dengan berpindah kemari, kau pun bisa lebih sering bertandang kemari dan bermain dengan bocah itu."

"Betul, perkataanmu betul sekali,"

Put-ji mengangguk berulang kali.

"Put-pay Toheng memang seorang sobat yang hebat, tidak nyana dia bisa berpikir sesempurna itu untuk kalian. Nanti aku mesti berterima kasih kepadanya. Baiklah, kalau begitu hiduplah dengan tenang di sini. Sekarang hari sudah gelap, aku akan berkunjung lagi lain hari."

Dengan perasaan sangsi, curiga dan tidak habis mengerti Put-ji meninggalkan rumah keluarga Lan, setelah berbelok ke lereng bukit, dia lihat Bu-liang Totiang masih menanti kedatangannya di tempat semula.

"Put-ji,"

Terdengar Bu-liang Totiang menegur.

"sudah kau jumpai sobat dan bocah itu? Akulah yang menitahkan Put-pay dengan mencatut namamu dan memboyong mereka datang kemari."

"Ya, Tecu sudah tahu."

"Bocah itu adalah cucu luar Suhumu, bahkan terhitung satusatunya darah daging keturunan Ho-sute yang masih hidup. Tentunya kau tidak marah bukan karena aku ikut campur masalah ini?"

"Sumoy memang menyerahkan bayi itu kepadaku dan minta aku merawatnya. Aku rasa jalan pikiranku sama persis dengan jalan pikiran Susiok, dengan membiarkan bocah ini hidup di sisi kita, tentulah perawatan terhadapnya akan lebih terjamin."

"Jadi kau merasa puas dengan semua pengaturan yang telah kulakukan?"

Tanya Bu-liang Totiang tersenyum.

"Terima kasih banyak Tianglo Susiok, pengaturan semacam ini memang amat sempurna."

Walaupun waktu mengucapkan perkataan itu dia harus menahan senyuman getir, namun apa yang diucapkan sama sekali tidak bertentangan dengan jalan pikirannya.

Dia memang pernah punya ingatan untuk memindahkan keluarga Lan ke atas Bu-tong-san, namun andaikata dia sendiri yang melakukan hal itu, sudah pasti tindakannya ini akan menimbulkan kecurigaan rekan-rekan seperguruan lainnya.

Tapi sekarang Tianglo sendiri yang mengatur semua ini, bukan saja memindahkan keluarga Lan ke atas gunung, bahkan memberinya sebidang tanah untuk nafkah hidup, jelas hal ini akan semakin mempermudah dirinya berhubungan dengan mereka di kemudian hari.

Tapi kecurigaan lain segera memenuhi benaknya, darimana Buliang Totiang tahu kalau bocah itu berada di tangan keluarga Lan?

Padahal selama ini dia tidak pernah melaporkan kejadian itu termasuk masalah kelahiran anak Sumoynya kepada Ciangbun Suhu.

"Jangan-jangan.... jangan-jangan hari itu Bu-liang Susiok juga berada di Boan-liong-san? Itu berarti dia telah menyaksikan semua perbuatan yang telah kulakukan?"

Satu pemikiran lain yang lebih menakutkan melintas pula dalam benaknya.

"Mungkinkah surat Huo Bu-tuo telah diambil olehnya? Atau.... atau.... jangan-jangan pembunuh yang bersembunyi dalam perguruan adalah dirinya? Tapi.... tapi rasanya tidak mungkin! Bukek Supek adalah sahabat karibnya selama puluhan tahun, jika dia adalah pembunuh gelap itu, ketika membokong Bu-kek Supek, kendatipun waktu itu Bu-kek Supek tidak sempat melihat wajahnya, semestinya dia mengenali sobat karibnya ini, tapi kenyata-an sampai saat ajalnya pun Bu-kek Supek masih belum bisa menebak siapa yang telah melakukan pembunuhan ini. Namun.... sang pembunuh dan orang yang telah mencuri surat itu belum tentu merupakan orang yang sama, bukan jaminan dia yang telah mencuri surat itu...."

Semakin dipikir dia merasa semakin kalut dan tidak berhasil menarik kesimpulan apa pun.

Tentu saja semua kecurigaan itu tidak berani dia kemukakan di hadapan Bu-liang Totiang, bahkan dia pun tidak berani menunjukkan perubahan mimik muka.

Tampaknya Bu-liang Totiang dapat membaca jalan pikirannya, seakan sengaja tidak sengaja dia berkata.

"Keputusan utama selalu di hati, biarkan jalan menyimpang berjalanlah sesuai kebutuhan. Tiada godaan tidak akan menimbulkan napsu, tiada kecuri-gaan tidak akan menumbuhkan penyesalan. Bukankah petuah ini pernah disampaikan Ciangbunjin kepadamu? Ehm, hampir semua orang mempunyai pikiran yang sama, terkadang ada sementara persoalan yang tidak ingin diucapkan kepada siapa pun, termasuk kepada sanak sendiri bila keadaan belum mendesak, mereka selalu berpendapat bila ada orang menaruh curiga maka urusan itu adalah urusan orang lain. Bahkan ada sementara persoalan yang harus dihadapi dengan perasaan bimbang, tidak yakin apakah yang telah diperbuat itu benar atau salah, namun selama kau yakin bahwa dirimu tidak pernah punya ingatan untuk melakukan kesalahan, maka kau tidak perlu menyesal atau banyak curiga. Semua masalah, semua keruwetan pada akhirnya toh akan jelas dengan sendirinya."

Sepintas perkataan Bu-liang Totiang ini seperti sebuah petuah yang diberikan seorang angkatan tua terhadap murid yang baru bergabung, namun bagi Put-ji, semua perkataan itu sangat mengena di hatinya, bahkan setiap kata, setiap ucapannya seolah memang sengaja ditujukan kepadanya.

Berdasarkan analisa yang dilakukan Put-ji, perkataan itu paling tidak mengandung tiga maksud, Dia sudah mengetahui semua perbuatan yang dilakukan Put-ji, termasuk salah bunuh yang telah dia lakukan terhadap adik seperguruannya.

Dia sudah dapat membaca jalan pikiran Put-ji, yaitu takut kalau orang lain mengetahui rahasia besar yang tersimpan dalam hatinya.

Oleh sebab itu dia memberi kisikan kepada Put-ji agar jangan banyak bertanya, artinya kau tak perlu bertanya kepadaku kenapa aku bisa tahu anak itu sudah jatuh ke tangan keluarga Lan, sampai waktunya aku pasti akan memberitahukan kepadamu.

Sebab kalau kau pun mempunyai rahasia yang tidak ingin diketahui orang lain, begitu juga dengan diriku!

Kalau keadaan sudah begini, apalagi yang bisa dia lakukan kecuali mengiakan berulang kali.

"Apakah suami-istri keluarga Lan sudah tahu asal-usul bocah itu?"

Tiba-tiba Bu-liang Totiang bertanya.

"Tidak, mereka hanya tahu bocah itu adalah putra seorang sahabatku."

"Kalau begitu Lan Kau-san juga tidak tahu siapa ayah-ibu bocah itu?"

"Aku rasa tidak perlu memberitahukan hal ini kepadanya."

"Baiklah, kalau begitu hanya kau dan aku yang mengetahui rahasia ini,"

Bu-liang Totiang menandaskan.

"Bagaimana dengan Put-pay Suheng?"

"Aku hanya memerintahkan dia memindahkan keluarga Lan Kausan kemari. Kepandaian muridku ini memang kurang bagus, tapi dia memiliki satu kelebihan, yakni amat setia kepadaku. Kalau aku tidak memberitahukan sesuatu kepadanya, dia tidak pernah berani banyak bertanya."

Kini Put-ji dapat merasa sedikit lega, namun sayang, walaupun dia berhasil menyingkirkan sebuah batu yang menindih hatinya, tapi ada batu lain yang jauh lebih berat justru makin menghimpit perasaannya.

Hanya Bu-liang Totiang seorang yang mengetahui rahasianya, hal ini bukankah sama artinya kalau sejak saat itu dia berada dalam kekuasaan Tosu itu?

Bukan begitu saja, kecuali rahasia ini, mungkinkah Bu-liang Totiang masih mengetahui rahasia pribadinya yang lain?

Sebab kalau didengar dari nada bicaranya, dia seolah bukan cuma tahu soal rahasia itu saja, bahkan bisa jadi seluruh peristiwa yang terjadi di Boan-liong-san hari itu telah diketahui semua olehnya.

Entah Bu-liang Totiang dapat membaca jalan pikirannya atau tidak, tiba-tiba dia berkata sambil tersenyum.

"Jangan sembarangan berpikir, waktu sudah larut, lebih baik cepatlah pulang."

Senyuman itu kelihatan ramah, lembut dan penuh kedamaian.

Sekembali ke To-koan, langit sudah gelap.

Buru-buru Put-ji menangsal perut dengan hidangan malam, kemudian pergi menjumpai Suhunya, sebagai murid baru yang belum lama bergabung, dia harus belajar lebih giat, selain belajar di siang hari, dia pun harus belajar di malam hari.

Waktu itu Bu-siang Cinjin sedang duduk bersemedi, mendengar dia masuk kamar, sambil membuka mata, dia menyapa.

"Ehm, kau telah kembali."

"Lapor Suhu, hari ini Tecu mencari daun obat di bukit belakang sana, sampai agak malam baru kembali,"

Jawab Put-ji cepat, sementara di hatinya dia merasa agak berdebar, takut ditanyai sang Suhu.

"Aku tahu,"

Sahut Bu-siang Cinjin sambil mengangguk.

"aku dengar hasil buruanmu hari ini cukup bagus, dua batang Lengci itu tidak gampang ditemukan."

Kembali Put-ji tertegun, seingatnya bahan obat-obatan yang diperolehnya hari ini hanya daun obat biasa, darimana datangnya Lengci?

Tapi dengan cepat dia tersadar kembali, petugas yang mengurusi soal pengumpulan bahan obat adalah Put-tay salah satu murid Buliang Totiang, jelas prestasi yang dilaporkan atas namanya adalah laporan palsu yang dibuat Put-tay, sedang Put-tay bisa berbuat begitu tidak ragu lagi tentu karena mendapat perintah dari Suhunya.

Kembali Bu-siang Cinjin berkata sambil ter-senyum.

"Aku dengar Bu-liang Susiok yang menemanimu kembali ke sini? Dia sangat memuji kemampuanmu."

Sekarang Put-ji baru mengerti, ternyata yang melaporkan prestasi palsunya itu bukan Put-tay, melainkan Bu-liang Cinjin.

Diam-diam dia menertawakan ketololan sendiri, masalah mendapat Lengci hanya masalah kecil, tentu saja pengurus obatobatan tidak bakal melaporkan hal ini secara khusus pada Ciangbunjin, atau dengan perkataan lain pastilah Bu-liang Totiang yang telah berkunjung ke sana dan berbincang dengan Suhunya.

"Tecu tidak punya kelebihan apa-apa, apa yang dibanggakan Buliang Susiok?"

Dengan perasaan tidak tenang dan pura-pura malu Put-ji menyahut. Sekali lagi Bu-siang Cinjin tersenyum.

"Kau ingin tahu apa yang dipujikan Bu-liang Susiokmu itu? Dia memujimu pintar, giat belajar. Dia bilang kau sangat menguasai teori ilmu silat dari perguruan, bahkan yang lebih hebat lagi, kau bisa memberikan analisa dan pandangan pribadi."

"Aah. Bu-liang Susiok kelewat memujiku. Padahal Tecu belum sampai sebulan mempelajari ilmu silat, pengetahuanku sangat terbatas, kalau dibilang ada kemajuan, semuanya ini juga berkat bimbingan serta jasa Suhu."

"Aku senang orang yang bicara terus terang, tapi paling muak mendengar sanjungan,"

Kata Bu-siang Cinjin dengan kening berkerut.

"walaupun kau hanya sebulan mengikuti aku, seharusnya cukup paham watakku ini."

Kemudian setelah berhenti sejenak, dengan senyuman tersungging di ujung bibirnya dia melanjutkan.

"Aku memang bisa saja mengajarkan ilmu silat kepadamu, tapi bakat dan kemampuan toh tetap tergantung dirimu sendiri."

"Ada satu hal Tecu bingung harus ditanyakan atau tidak?"

Dengan memberanikan diri Put-ji berkata.

"Tanyakan saja!"

"Tanggal enam bulan berselang apakah Bu-liang Susiok berada di Bu-tong-san?"

Hari itu adalah hari kedua setelah Ho Ki-bu tewas dibunuh orang, atau hari dimana dia telah salah membunuh Keng King-si dan Bukek Totiang tewas karena luka dalamnya yang parah.

"Buat apa kau menanyakan soal ini?"

Tanya Bu-siang Cinjin keheranan.

"Tecu tidak berani berbohong, terus terang timbul sedikit rasa curiga dalam hatiku, konon ilmu pukulan Thay-khek-ciang yang diyakini Bu-liang Susiok tidak berada di bawah Suhu...."

Tiba-tiba Bu-siang Cinjin menukas dengan wajah serius dan suara dalam.

"Sejak hari pertama kau naik gunung, bukankah telah kukatakan bahwa dalam perjalanan sejarah perguruan selama dua ratus tahunan, tidak tertutup kemungkinan ada murid yang gila silat telah membarter ilmu perguruan kita dengan orang luar. Thay-khekkun, Thay-khek-kiam semua nya merupakan ilmu rahasia, jadi tidak heran kalau ada orang lain yang mampu menguasai ilmu itu setara dengan kemampuanku. Masa kau berani mencurigai Tianglo perguruan sendiri?"

"Tecu tahu salah, tidak seharusnya Tecu mengajukan pertanyaan seperti itu."

"Tapi sekarang kau telah mengatakannya, kalau tidak kujelaskan mungkin rasa curigamu masih belum hilang. Untuk melatih tenaga dalam tingkat atas dari perguruan kita, sejak tiga bulan berselang Bu-liang Sute sudah menutup diri, dia baru keluar dari kamar semadinya sehari sebelum kedatanganmu di sini. Hampir tiga bulan lamanya dia tidak pernah keluar dari kamarnya barang selangkah pun."

Ting Im-hok menemui ajalnya tiga bulan lalu, sementara Bu-kek Tojin terluka parah oleh tenaga pukulan Thay-khek-ciang pada saat Ting Im-hok sudah tewas lebih dulu, berarti terlepas apakah pembunuhnya merupakan orang yang sama atau tidak, yang pasti orang itu bukan Bu-liang Totiang.

Kalau pembunuhnya bukan dia, berarti pula orang yang mencuri surat pun sudah pasti bukan dia, sebab peristiwa itu baru terjadi pada tanggal enam.

'Heran, kalau bukan dia, kenapa Bu-liang Susiok seakan telah menyaksikan semua peristiwa itu dengan mata kepala sendiri?' Putji semakin berpikir semakin bingung dan tidak habis mengerti, namun dia tidak berani mencurigai Bu-liang Totiang walau dipandang dari sudut mana pun.

"Malam ini kau tidak usah belajar lagi,"

Kata Bu-siang Cinjin tibatiba.

"pergilah istirahat lebih awal. Besok akan kusuruh Bu-si Sute mewakiliku mengajarkan ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat padamu."

"Suhu,"

Seru Put-ji agak tertegun.

"Tecu baru saja selesai mempelajari teori ilmu pedang darimu, kenapa harus Sam-susiok yang menggantikan?"

"Aku ingin kau lebih cepat berhasil. Ilmu pedang yang berhasil dikuasai Bu-si Sute adalah yang paling jago dalam perguruan, bahkan dia lebih unggul daripada diriku sendiri. Ditambah pula di masa lalu dia adalah sahabat paling karib mendiang Suhumu, bisa dipastikan dia akan mendidikmu dengan lebih seksama. Mulai besok aku harus menutup diri selama tiga bulan, kalau tidak minta bantuannya untuk mendidikmu, khawatir kemajuan ilmu silatmu justru akan ter-kendala."

Bu-si Totiang adalah salah satu di antara ketiga Tianglo Bu-tong-pay yang usianya paling muda, tahun ini dia baru berusia empat puluh delapan tahun.

Wataknya periang, sangat terbuka dan mudah bergaul, tidak heran murid-murid angkatan muda paling suka bergaul dengannya.

Ketika Ho Ki-bu masih hidup dulu, setiap tahun paling tidak satudua kali dia berkunjung ke rumah keluarga Ho, oleh karena itu di antara angkatan para Susiok dan Supek dari kuil Sam-cing-koan, dia terhitung orang yang paling dikenalnya.

Ketika keesokan harinya Put-ji datang berkunjung ke tempat tinggalnya, dia pun segera berkata.

"Sebetulnya Suhumu itu berencana dalam satu dua tahun mendatang akan mewariskan ilmu pedang Thay-khek-kiam kepadamu, sayang dia keburu mening-gal, aai....

bukan saja jiwanya telah melayang, bahkan putus keturun-an pula, baiklah, biar mulai hari ini aku menganggap kau seperti putraku sendiri.

Semisal tidak ada perintah dari Ciangbunjin pun, aku masih tetap akan mewakilinya mewariskan ilmu pedang ini kepadamu, anggap saja sebagai upayaku memenuhi keinginan hatinya.

"Cuma kau mesti ingat, bila latihanmu jelek atau hasilnya kurang memadai, aku tidak segan menghajar pantatmu. Ehm, jangan kau anggap aku sedang bergurau!"

Ketika mengatakan kata "bergurau", dia sendiri malah tertawa geli terlebih dulu.

Ditinjau dari pembicaraan Bu-si Tojin, tampaknya dia sudah tahu bahwa adik seperguruan serta Sumoynya telah meninggal dunia.

Tapi dia agaknya belum tahu Ho Giok-yan telah melahirkan seorang putra, sebab kalau tidak begitu tak mungkin dia mengatakan keluarga Ho telah putus keturunan.

Selesai mendengar perkataan itu, di satu sisi Put-ji merasa sangat lega, namun di sisi lain dia justru merasakan tekanan yang semakin berat dari pihak Bu-liang Totiang.

"Biasanya semakin galak seorang Suhu, hasil pelajaran yang diperoleh sang murid akan semakin maju,"

Segera Put-ji menyahut.

"kini Susiok mewakili Suhu mengajarkan ilmu pedang itu kepada Tecu, justru Tecu berharap Susiok bisa mendidik lebih galak...."

"Hahaha.... baguslah, aku sendiri pun tidak berharap menabok pantatmu. Baik, kalau begitu kita mulai sekarang juga. Teori ilmu pedang Thay-khek-kiam tentunya sudah diajarkan Ciangbun Suheng bukan?"

"Pernah diajarkan satu kali, semoga Susiok mau memberi petunjuk."

"Dasar ilmu pukulan Thay-khek-kun maupun Thay-khek-kiam sebenarnya sama. Kalau Thay-khek-kun lebih mengutamakan pada mengendalian musuh di akhir serangan, sedang ilmu pedang Thaykhek-kiam lebih mengutamakan pada pengendalian lawan di saat awal serangan. Niat munculnya jurus menyusul, mana dahulu mana belakangan merupakan kebalikan. Tapi intinya adalah meminjam tenaga lawan untuk mengen-dalikan musuh, gerakan ikutan yang disertakan tidak lebih hanya untuk memperberat kekuatan serta daya serangan yang ditimbulkan. Berat bagaikan tindihan Thay-san, ringan bagaikan hembusan angin sejuk. Thay-khek itu tiada awal tiada akhir, perubahan dalam gerakan pedang pun tiada habisnya. Asal kau bisa menguasai teori tentang ketenangan, maka segala sesuatunya bisa kau kuasai secara gampang. Di saat latihanmu sudah mencapai puncak kesempurnaan, bisa jadi semua jurus serangan akan kau lupakan. Cuma.... sampai sekarang jarang ada orang yang berhasil mencapai tingkatan seperti itu, termasuk aku sendiri. Maka berlatihlah dari dasar yang paling bawah, karena setiap jurus serangan dibutuhkan penguasaan yang paling sempurna, kau harus bisa melatih diri dari ada menjadi tiada, ada adalah benar-benar ada, tiada justru bukan benar-benar tiada. Kau paham apa yang ku-maksud?"

Put-ji dapat merasakan penjelasan yang diberikan paman gurunya ini jauh lebih jelas dan mendetil daripada penjelasan Suhunya, tanpa terasa dia mengangguk berulang kali.

"Semua penjelasan Susiok dapat Tecu terima, hanya masalahnya benar-benar mengerti atau tidak, Tecu sendiri pun tidak jelas."

"Betul, bila kau mengatakan benar-benar mengerti, aku justru akan memaksamu untuk berlatih beberapa kali lagi. Sebab biarpun dilatih berulang kali pun tidak seharusnya kau benar-benar mengerti, teori saja tidaklah cukup, kalau bisa ditambah pengalaman menghadapi beberapa orang musuh, jelas hal ini akan semakin bagus."

Kemudian setelah tertawa dan menarik napas panjang, lanjutnya.

"Sayang penganut agama To lebih mengutamakan kehidupan yang tenang, aku pun tidak berharap kau bisa memperoleh kesempatan cukup untuk berhadapan dengan musuh. Baiklah, sekarang coba perhatikan contohku."

Dengan penuh seksama Put-ji memperhatikan Susioknya mempraktekkan ilmu pedang Thay-khek, tampak gerakan pedangnya melingkar bagai gelang, bergerak saling menyambung, lembut halus bagaikan aliran air.

Diam-diam dia merasa sangat kagum.

'Tidak heran Ciangbun Suhu amat memuji kehebatan ilmu pedangnya, sekarang aku yang belum menguasai intisari ilmu itupun sudah dibuat mabuk kepayang, apalagi yang sudah memahaminya,' demikian dia berpikir.

Tapi entah mengapa, secara lamat-lamat dia merasa ilmu pedang yang dimiliki Bu-si Tojin jauh berbeda dengan ilmu pedang yang dipelajari Bu-siang Cinjin, hanya saja bila ditanya dimana letak perbedaannya, susah baginya untuk menjawab.

Sejak itu setiap hari dia mempelajari satu jurus, gerakan yang diajarkan pun makin lama semakin lambat, sementara teori yang diberikan pun makin banyak dan detil.

Setelah berlatih puluhan hari lamanya, hari itu ketika dia melatih jurus Pek-hok-liang-ci (bangau putih pentang sayap), Put-ji baru mulai memahami dimana letak perbedaan itu.

Ketika Bu-siang Cinjin yang mempraktekkan jurus serangan itu, sepasang kakinya selalu menempel di atas tanah, sebaliknya kaki Bu-si Tojin justru tiga inci meninggalkan permukaan tanah sehingga daya bacokan yang timbul pun jauh lebih besar dan kuat.

Di samping itu serangan pedang Bu-siang Cinjin lambat tanpa menimbulkan deru angin, sementara gerakan pedang Busi Tojin cepat dan menimbulkan suara desingan tajam.

Sekarang Put-ji mulai mengerti, walaupun perbedaannya sangat tipis dan kecil, ternyata kekuatan yang dihasilkan sama sekali berbeda.

Bila Bu-siang Cinjin yang mengajarkan jurus serangan itu paling hanya bisa menggoreskan luka memanjang di lengan lawan, sebaliknya bila menggunakan jurus serangan yang diajar kan Bu-si Tojin, besar kemungkinan dia dapat memo-tong lengan musuh jadi dua bagian.

Setelah menemukan titik perbedaan ini, dia pun dapat mengambil kesimpulan secara menyeluruh.

Ilmu pedang Bu-siang Cinjin termasuk tenang dan penuh kedamaian, sementara ilmu pedang Bu-si Tojin cenderung tajam dan ganas, jika dipraktekkan untuk menghadapi musuh, sudah jelas ilmu pedang ajaran Bu-si Tojin jauh lebihnyata dan bermanfaat.

Sekarang dia pun mulai mengerti kenapa Ciangbun Suhu memerintahkan dia untuk belajar ilmu pedang dari Bu-si Tojin, tampaknya dia berharap dirinya bisa mempelajari ilmu pedang yang lebih bermanfaat dan nyata sehingga di kemudian hari dapat digunakan untuk membalas dendam kematian Suhunya.

Membayangkan sampai di sini, dia merasa sedikit bingung dan kabur.

Di balik perasaan terima kasih, terasa pula perasaan menyesal bercampur kecewa.

Sekarang dia mulai menyadari, ternyata di dasar lubuk hatinya tidak tersimpan harapan atau keinginan yang kuat untuk membalas dendam kematian Suhunya.

Ketika Bu-si Tojin menyaksikan pemuda itu berdiri melamun, segera tegurnya.

"Apakah kau merasa ada sedikit perbedaan antara yang diajarkan aku dengan Suhumu? Bahkan ajaranku sedikit tidak sesuai dengan teori ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat?"

"Tecu tidak berani menduga."

"Tidak masalah, katakan saja menurut pikiran....."

"Aku hanya merasa, walaupun ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat mengutamakan ketenangan untuk mengendalikan gerak, namun tenang dan gerak tidak berarti cepat atau lambat, tenang dan gerak pun harus dibedakan secara nyata, karena di balik ketenangan terdapat gerak, di balik gerak terdapat ketenangan. Oleh sebab itu ilmu pedang yang dimiliki Suhu dan Susiok meski berbeda, sesungguhnya sama!"

Sesaat Bu-si Tojin tampak tertegun, pujinya.

"Tidak kusangka begitu cepat kau dapat menyelami makna sebenarnya dari ilmu ini, ketika pertama kali mempelajarinya dulu, aku tidak pernah bisa membayangkan hal semacam itu."

"Lalu dalam pandangan Susiok, seperti apa bakat yang Tecu miliki?"

Tanya Put-ji memberanikan diri.

"Sejak awal, tentu saja aku pun tahu kau adalah seorang murid yang sangat berbakat. Namun sama-sama berbakat pun masingmasing memiliki kelebihan serta kelemahan yang berbeda. Aku dengar ketika hari pertama naik gunung tempo hari, kau sempat bertarung seimbang melawan Put-pay yang menggunakan ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat dengan hanya mengandalkan ilmu pedang Lian-hoan-toh-beng-kiam-hoat?"

"Aah, waktu itu aku berhasil seimbang berkat Put-pay Suheng yang selalu mengalah."

"Tidak, aku mengetahui wataknya, tidak mungkin dia mau mengalah kepada siapa pun! Justru karena mendengar kemampuanmu itu, maka terpikir olehku untuk memanfaatkan kelebihan yang kau miliki itu. Bakatmu adalah dengan menyerang mengatasi pertahanan, dengan keras menaklukkan lembek. Biarpun dalam teori ilmu silat dikatakan lembek bisa menaklukkan keras, namun hal ini bisa dilakukan bila seseorang telah mencapai tingkat yang luar biasa. Berarti sebelum seseorang berhasil mencapai tingkatan seperti itu, keras masih mampu menaklukkan lembek."

Makin bicara dia semakin bersemangat, pelajaran yang diberikan pun makin detil.

Tapi sayang Put-ji seolah mulai kehilangan konsentrasi, semangat belajarnya pun makin lama semakin mengendor.

Bu-si Tojin mengira dia kelewat lelah, maka katanya kemudian.

"Selama beberapa hari ini kau belajar siang malam tidak kenal lelah, sekarang sudah saatnya untuk beristirahat sejenak. Karena kalau dipaksakan lagi, bukan kemajuan yang diperoleh, bisa jadi semangat belajarmu akan hilang. Baiklah, hari ini kita berlatih sampai di sini saja. Besok setelah kau pelajari jurus Pek-hok-liang-ci hingga lebih sempurna, datanglah mencari aku lagi."

Tadi sempat turun hujan yang cukup deras.

Put-ji yang berjalan di atas tanah berlumut beberapa kali nyaris terjungkal, hal ini bukan disebabkan jalan bukit yang licin, namun karena pikirannya sedang kalut.

Jalanan gunung itu berliku-liku, begitu juga dengan jalan pikirannya.

Dia seperti berjalan di kegelap-an malam yang pekat, berusaha mencari jalan keluar, berusaha menemukan kebebasan.

Lalu apa yang sedang Dia pikirkan?

Sebuah pemandangan yang selama ini tersimpan dalam lubuk hatinya kembali terpampang di depan mata.

Ia mendongakkan kepala, memandang sekejap kegelapan malam yang mencekam, lalu teringat kembali suasana hari itu....

hujan yang tidak pernah terlupakan, saat hujan baru reda, saat dia harus bertarung sengit melawan Sutenya, Keng Kingsi.

Ilmu pedang Thay-khek-kiam yang tiba-tiba digunakan Keng King-si membuat dia terdesak kalang-kabut.

Saat itu cahaya pedang Sutenya begitu cepat bagaikan sambaran kilat, mimpi pun tidak pernah disangka kalau ilmu pedang Sutenya begitu lihai dan menakutkan, tindakan apa pun yang telah dilakukannya ternyata tidak sanggup membendung ancaman itu.

Andaikata konsentrasi Sutenya waktu itu tidak bercabang karena mendengar suara tangisan orok yang baru lahir, tidak bisa dia bayangkan apa akibat yang menimpanya ketika menghadapi serangan maut itu.

Namun 'tidak bisa dibayangkan' pun pada akhirnya harus dia bayangkan.

Dan sekarang dia tidak perlu membayangkan lagi karena dia sudah tahu bagaimana akhir dari semua ini, jika serangan itu berlanjut, bisa dipastikan lengan kanannya pasti akan terbabat kutung.

Tungkai kaki meninggalkan tanah, gerak pedang menyambar selembut angin, cepat bagai sambaran petir, dahsyat bagai angin puyuh bercampur guntur!

Itulah jurus Pek-hok-liang-ci yang baru saja diajarkan Bu-si Tojin kepadanya.

"Tidak kusangka, ternyata seorang orok yang baru lahir telah menyelamatkan nyawaku!"

Pikirnya sambil tertawa getir.

Kalau waktu itu dia tidak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi, maka sekarang dia baru sadar bahwa nyawanya nyaris lenyap di ujung senjata lawan, drama mengerikan yang tidak pernah bisa terlupakan untuk selamanya, horor yang akan membuatnya berulang kali bermimpi buruk.

Kini dia sudah mengerti mengapa ketika Bu-si Tojin memainkan ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat di hadapannya, dari hati kecilnya selalu timbul perasaan kurang beres.

Ternyata perasaan kurang beres itu bukan disebabkan karena permainan pedang Ciangbun Suhu yang berbeda, melainkan karena dia merasa seakan pernah mengenal gerakan itu.

Terbukti Thay-khek-kiam-hoat yang dimainkan Keng King-si ternyata sama persis seperti ilmu pedang yang diajarkan Bu-si Tojin kepadanya, membuat Tosu muda ini merasa sangsi bercampur kaget.

Dari siapa Keng King-si mempelajari ilmu pedang itu?

Mungkin-kah tokoh misterius itu adalah Bu-si Tojin?

Tentu saja kecurigaan itu hanya bisa tersimpan di dalam hati, dia tidak berani menanyakannya secara langsung kepada Bu-si Tojin.

Kendatipun pikiran dan perasaan hatinya bergolak bagaikan gulungan ombak di samudra, namun kehidupannya selama di Butong-san amat tenang tanpa gejolak.

Selama ini Bu-si Tojin selalu mengajarkan ilmu pedang kepadanya dengan sabar dan teliti, rasa sayangnya bagaikan terhadap putra sendiri, dia seolah sama sekali tidak tahu dalam hatinya pernah timbul kecurigaan seperti itu.

Semenjak saat itu Bu-liang Totiang sendiri pun tidak pernah datang menghubunginya.

Karena Bu-liang Totiang tidak pernah datang mencarinya, rasa curiga di hatinya pun berangsur berkurang, namun sikap tanpa curiga yang diperlihatkan Busi Tojin justru membuat rasa sangsi dan curiganya berkembang makin meluas.

Semakin lama dia belajar ilmu pedang dari Bu-si Tojin, dia semakin merasa ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat yang pernah digunakan Keng King-si waktu itu pada hakikatnya sama persis seperti apa yang dipelajarinya sekarang.

Biarpun Ciangbun Suhunya pernah berkata bahwa tidak aneh jika ada jago dari perguruan lain ikut menguasai ilmu pedang Thaykhek-kiam-hoat, namun dia tidak yakin kalau kebetulan yang terjadi bisa begitu pas, sampai perubahan kecil yang diciptakan Bu-si Tojin sendiri pun secara kebetulan bisa diciptakan pula oleh orang luar itu, bahkan sama persis satu dengan lainnya.

Di saat Suhunya masih hidup dulu, Bu-si Tojin memang terhitung tamu yang sering datang berkunjung, apabila selama ini secara diam-diam dia telah mewariskan ilmu pedang kepada Keng King-si, bisa saja perbuatannya itu mengelabui orang lain, tapi mengapa Keng King-si mengelabui juga istrinya sendiri?

Tapi persoalan yang paling membuatnya tidak tenteram adalah mengapa Bu-si Tojin harus mengelabui pula dirinya?

Kalau dulu dia berbuat begini, mungkin saja lantaran tidak ingin dia merasa iri terhadap adik seperguruannya, tapi sekarang Keng King-si sudah meninggal dan dia pun sedang belajar pedang dari orang yang sama, mengapa Bu-si Tojin masih tetap membungkam seribu bahasa?

Sudah barang tentu dia tidak akan mencurigai Busi Tojin sebagai pembunuh misterius itu, pertama, karena Bu-si Tojin adalah sahabat paling karib Suhunya, kedua, menurut kenyataan yang diketahui, pembunuh itu menghabisi nyawa lawannya dengan mengandalkan ilmu pukulan Thay-khek-kun dan bukan menggunakan ilmu pedang, padahal dari ketiga Tianglo itu, tenaga pukulan yang dimiliki Bukhek Tojin terhitung nomor wahid.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, kini dia telah mempelajari seluruh ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat, Bu-si Tojin sendiri pun sudah tidak mengajarkan apa-apa lagi, berarti dia harus melatih diri sendiri.

Akan tetapi teka-teki itu masih mengendon di dalam lubuk hatinya.

Satu kejadian lain yang sedikit di luar dugaannya adalah pada tahun ketiga, ketika untuk kedua kalinya Ciangbun Suhunya akan menutup diri, sebenarnya dia minta Bu-liang Totiang mengajarkan tenaga dalam kepadanya, ternyata waktu itu Bu-liang Totiang menolak permintaan itu.

Bicara sejujurnya, dia memang sedikit takut terhadap Bu-liang Totiang, dia kuatir sesepuh itu mengguna kan boroknya untuk mengompas dirinya, ternyata Bu-liang Totiang melepaskan kesempatan itu, melepaskan peluang berduaan dengan dirinya, meski kenyataan itu membuatnya tercengang, namun perasaannya justru jauh lebih tenang.

Masih untung keinginan pribadinya berjalan sesuai dengan rencana, bayi itu tumbuh di dalam keluarga Lan, ketika berusia tiga tahun dia diangkat menjadi Gihu (ayah angkat) nya dan di usia ke-7 Ciangbunjin memberi ijin kepadanya untuk menerima bocah itu sebagai murid.

Dalam masalah ini, ada satu hal yang dia telah melanggar pesan terakhir Sumoynya, dia tidak ingin bocah itu mengetahui asal-usul sebenarnya, karenanya dia minta Lan Kau-san mengaku sebagai ayah bocah itu.

Karenanya dia tidak memberi nama Keng Giok-keng kepada bocah itu, melainkan Lan Giok-keng.

Hingga detik itu kasus pembunuhan berantai itu belum berhasil terkuak, mati hidup Huo Bu-tuo pun masih menjadi tanda tanya besar, bahkan semenjak kematian keluarga Ho, tidak ada orang yang menying-gung kembali kejadian itu.

Semua orang seolah-olah sudah melupakannya, semua orang seakan sudah menganggap peristiwa itu hanya merupakan sebuah kejadian kelam yang sudah berlalu.

Sayang Put-ji tidak pernah melupakannya, apalagi di saat hujan sedang turun dengan derasnya.

Ooo)*(ooO BAB II Dengan intrik merahasiakan kejadian Curiga dengan asal usulnya Musim gugur kembali menjelang, angin yang berhembus kencang menggugurkan dedaunan kering dan menggoyangkan rerumputan, saat senja telah tiba.

Gunung nan hijau terbentang jauh di depan sana, matahari senja kembali memancarkan cahayanya yang kemerah-merahan.

Di atas sebuah bukit, jauh dari keramaian manusia, terlihat seseorang sedang menghela napas.

Mengapa dia menghela napas?

Apakah karena umat manusia yang datang silih berganti?

Atau karena angin kencang kembali berhembus di musim gugur ini, seolah hendak mengubah suasana dalam kehidupan dunia?

Di puncak bukit itulah, persis di tempat orang itu berdiri sekarang, telah terjadi sebuah kasus pembunuhan yang sangat istimewa dan menggemparkan dunia persilatan pada enam belas tahun berselang.

Dibilang "istimewa"

Karena kejadian itu selain sebuah kasus pembunuhan yang 'tragis', boleh dibilang termasuk juga sebuah kasus yang penuh diliputi 'teka teki'.

Dua orang murid Ji-ouw Tayhiap Ho Ki-bu saling bunuh di tempat itu, pertarungan yang berakibat si kakak seperguruan berhasil menghabisi nyawa adik seperguruannya.

Tapi mengapa terjadi pembunuhan itu?

Apakah dikarenakan sang Sute telah melakukan perbuatan terkutuk hingga pantas dibunuh, ataukah karena pihak Suheng salah membunuh Sutenya?

Tidak ada yang tahu, tidak seorang pun yang tahu, bahkan pihak Suheng yang telah melakukan pembunuhan itupun tidak tahu.

Masih ada seorang tokoh dunia persilatan lagi yang ikut terkubur di puncak bukit itu, seorang Bu-lim Cianpwe yang tersohor di kolong langit, Bu-kek Tojin, ketua Tianglo perguruan Bu-tong.

Nama besar Bu-kek Tojin termashur di seantero jagad, tapi hanya beberapa orang yang tahu kalau dia juga tewas karena pembunuhan, dan tidak ada yang tahu kalau dia juga tewas di puncak bukit itu.

Malah di antara orang-orang yang tahu bahwa dia mati dibokong orang, entah karena urusan apa dia mendatangi puncak bukit itu sehingga tewas di sana pun tidak tahu siapakah pembunuhnya.

Yang lebih mengerikan lagi adalah kematian dari hampir seluruh tokoh yang berhubungan dengan kasus pembunuhan ini, tokohtokoh itu di antaranya mencakup Ji-ouw Tayhiap Ho Ki-bu, putrinya Ho Giok-yan serta Ting Im-hok, seorang tokoh Bu-tong-pay.

Satu-satunya orang yang masih hidup hingga kini, satu-satunya orang yang terlibat dalam kasus pembunuhan itu rasanya tidak lain hanya murid tertua Ho Ki-bun yang bernama Ko Ceng-kim.

Hanya saja Ko Ceng-kim adalah 'nama preman' nya pada enam belas tahun berselang, kini dia sudah menjadi murid penutup Bu-siang Cinjin, ketua Bu-tong-pay, dengan gelar Put-ji.

Orang yang sedang menghela napas ringan saat inipun merupakan seorang Tosu dari Bu-tong-pay, malahan kebetulan merupakan kakak seperguruan Put-ji.

Orang itu bukan lain adalah murid tertua Bu-siang Cinjin, Putcoat.

Setelah kita tahu identitasnya, mungkin saja dapat kita pahami kenapa dia menghela napas saat itu.

Tapi masakah kedatangannya ke sana hanya untuk menghela napas?

Biarpun Bu-siang Cinjin tidak pernah secara resmi mengangkatnya sebagai murid Ciangbunjin, tapi siapa pun tahu kalau di kemudian hari dialah yang bakal dipilih Bu-siang Cinjin untuk meneruskan jabatannya sebagai ketua partai, karena bukan saja dia merupakan murid tertua, kecerdasan dan keuletannya boleh dibilang sangat menonjol, selama belasan tahun terakhir nyaris seluruh urusan partai, baik urusan besar maupun urusan kecil telah diserahkan pelaksanaannya kepada dirinya.

Sebagai seorang tokoh penting yang mempunyai posisi strategis dalam partai Bu-tong, karena urusan apa dia mendatangi bukit terpencil itu?

Tentu saja dia datang karena ada urusan penting, tapi apa persoalannya?

Bahkan dia sendiri pun merasa keheranan!

Dia mendapat perintah dari Ciangbun Suhu untuk menggali jenazah Bu-kek Tojin.

Sang ketua memerintahkan dia untuk mengangkut balik sisa tulang belulang bekas ketua Tianglo itu agar bisa dikebumikan di atas gunung Bu-tong.

Selama ini, hampir semua Tianglo Bu-tong-pay dikebumikan di atas gunung terkecuali Bu-kek Tojin.

Sekalipun tidak ada peraturan tertulis yang mewajibkan setiap Tianglo harus dikebumikan di atas gunung, namun Bu-siang Cinjin sebagai seorang ketua, tampaknya tidak ingin saudara seperguruannya itu terkubur di tempat jauh.

Tapi yang membuat Put-coat tidak habis mengerti adalah kenapa gurunya tidak melimpahkan tugas ini kepada Sutenya, Put-ji?

Bukankah pada enam belas tahun berselang, Put-ji (waktu itu masih bernama Ko Ceng-kim) yang telah mengebumikan Bu-kek Tojin di tempat itu.

Baca Juga: Naga Dari Selatan 8

Baca Juga: Taruna Pendekar 10

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger