Eps 8 Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen
Baca online Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen
Cersil Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen.
Itu waktu ia telah menghajarnya, tapi keburu dapat ditolong oleh Tay Siang Siansu.
Maka taruh kata tidak karena urusan Bek Lian, pun kalau berjumpa dengan Yan-chiu, ia tentu masih hendak menghukumnya.
Sebenarnya Yan-chiu tadipun hanya sekedar untuk melampiaskan kemengkalannya saja, se-kali2 tidak bermaksud hendak menghina subonya.
Tapi, justeru hal itu telah kebetulan sekali bagi Kiang Siang Yan.
Yan-chiu mundur, ia maju.
"Budak hina, diantara 4 orang ini, kaulah yang lehih dulu binasa!"
Serunya sambil maju mengulurkan tangan mencengkeram lengan sinona.
Dalam gugupnya, Yan-chiu enjot tubuh melejit lolos.
Selama 3 bulan berada, dengan Tay Siang Siansu, berkat kecerdikannya, sigenit telah berhasil mengeruk banyak sekali ilmu lwekang hweshio itu.
Ilmu lwekang yang dipelajari Siansu itu mendasarkan pada ketenangan dan konsentrasi (pemusatan) pikiran.
Sembarang saat dia dapat menggunakan menurut sekehendak hatinya.
Dapat mematahkan segala kekuatan, dapat menggempur segala, kekerasan.
Digunakan untuk ilmu mengentengi tubuh, tubuhnya dapat bergerak kemana, sang hati maukan.
Itu kalau sudah mencapai tingkat kesempurnaan yang terpuncak.
Tay Siang Siansu sendiripun masih belum mencapai tingkatan itu.
Apalagi Yan-chiu yang hanya mencukil sepintas lalu saja.
Tapi oleh karena, Kiang Siang Yan keliwat memandang rendah anak jadi serangannya tadi telah dapat dihindari oleh sigenit.
(Oo-dwkz-TAH-oO) BAGIAN 30 .
PUNGGUNG DAN TUMIT "Bagus, tak heran makanya kalian berani menjual Lian-ji.
Kiranya hanya karena mengandalkan barang satu dua macam, kepandaian begitu!"
Damprat Kiang Siang Yan dengan meradang.
Sekali tubuhnya, bergerak, dia meluncur dipermukaan tanah (kami gunakan istilah "meluncur") karena ia tidak meloncat melainkan meluncur seperti orang main ski.
Tanah disitu naik turun tak rata, namun ia tetap dapat meluncur seperti ditanah rata, Jadi ia tak gunakan ilinu mengentengi tubuh tapi ilmu lwekang tingkat tinggi.
Begitu tiba, ia ulurkan tangan mentengkeram, berbareng itu tangannya kiri menampar punggung Yan-chiu.
Hendak Yan-chiu lari, tapi tiba2 punggungnya sakit.
la tahu kali ini tentu celaka, Masa kelihatannya diserang dari muka, kok punggungnya yang terasa nyeri?
Sampai disini baru ia tahu berapa jauh selisih kepandaiannya dengan sang subo itu.
Dari pada lari tentu akan lebih menderita kesakitan lagi, lebih baik ia menjorok jatuh kemuka saja.
Kini pergelangan tangannya kena dicengkeram oleh sang subo yang sementara itupun sudah angkat sebelah tangannya untuk menampar kepala sigenit.
Tio Jiang seperti semut diatas wajan panas.
Hendak menolong, tak keburu.
Syukur pada detik2 yang berbahaya itu, Kui-ing-cu berseru .
"Tahan !"
"Kau hendak memasang perangkap apa lagi ? Setelah mereka satu per satu mati, baru paling belakang giliranmu!"
Sahut Kiang Siang Yan sembari berpaling.."Kiang Siang Yan, kalau kami katakan tempat beradanya anak perempuan kesayanganmu itu, lalu bagaimana ?"
Seru Kui-ing-cu. Menilik ucapan Kang Siang Yan "menjual Lian-ji"
Tadi, tahulah Kui-ing-cu bahwa disitu tentu terselip kesalahan faham. Dia menduga keras, tentu lagi2 The Go yang menyelomoti nyonya aneh itu.
"Hem, itu harus tunggu sampai kuketemukan Lian-ji dan menanyainya jelas baru bisa memberi keputusan. Tapi kutahu sudah, kalau tipu muslihat itu tentu budak hina yang mengaturnya, maka biar sekarang kuberinya sedikit rasa!"
Sahut Kiang Siang Yan.
"Sayang kecerdasanmu itu menjadi suatu kelimbungan, karena mudah dikelabuhi orang!"
Kui-ing-cu menghela napas.
"Apa ? Dikelabuhi orang ?"
Tanya Kiang Siang Yan makin marah.
"Coba jawablah, bagaimana kau bisa tahu kalau kami berada disini ?"
Tanya Kui-ing-cu.
"Cian-bin Long-kun The Go yang mengatakan !"
Mendengar disebutnya nama orang itu, Tio Jiang dan Nyo Kong-lim berbareng sama menggerung keras. Sebaliknya karena dugaannya benar, Kui-ing-cu tertawa gelak2, ujarnya ;
"Anak itu memang lihay. Dia tahu kalau kami tentu berada disini. Karena dia sendiri takut datang, maka dia telah menipu kau supaya kemari !"
Perangai yang eksentrik dari wanita itu angot lagi. Dikatakan limbung lalu diejek kena diakali orang, rambutnya sama menjigrak.
"Mulutmu berminyak lidahmu benar2 licin! Bagaimana aku bisa diakali orang?"
Kui-ing-cu tetap berjenaka dan menyabut.
"Jangan meradang dulu, dengarkanlah penjelasanku!"
Ringkas jelas Kui-ing-cu tuturkan segala yang telah terjadi.
Bagaimana The Go telah tukarkan Bek Lian dengan pedang Kuan-wi yang ternyata berada ditangan kepala suku Thiat-theng-biau, telah dibentangkan se-jelas2nya.
Akhirnya dia memperteguhkan keterangan itu.
"Kalau kau tak percaya, mustika batu itu masih berada disini, mayat Tan It-ho juga masih terhampar disini. Apakah itu tidak bisa dibuat bukti teguh?"
"Tapi mengapa, Cian-bin Long-kun mengatakan padaku bahwa kalian telah menukarkan Lian-ji dengan dua ekor orang utan itu ?"
Tanya Kiang Siang Yan dengan setengah kurang percaya.
"Siapa yang suruh kau mempercayai omongan manusia itu?!"
Tiba2 tanpa sengaja Yan-chiu telah kelepasan menyeletuk.
"Jadi suruh aku mempercayai omonganmu saja, ya?"
Kiang Siang Yan mendampratnya dengan tajam, hingga Yan-chiu yang pernah merasa bersalah pada subonya itu, menjadi bungkam dalam seribu bahasa.
"Subo, biar kucarinya sampai ketemu mustika batu itu, rasanya kau baru percaya!"
Kata Tio Jiang sembari terus pergi. Ternyata Kiang Siang Yan setuju.
"Baik, kalau kau dapatkan mustika batu itu, baru aku dapat mempercayaimu. Aku tak percaya orang she The itu mempunyai nyali begitu besar berani menipu aku. Dia kata hendak pulang ke Ko-to-san untuk mengundang Ang Hwat cin-jin menolongi Bek Lian!"
Kui-ing-cu tertawa, serunya.
"Tu, bukti kebohongannya! Kalau benar dia bermaksud hendak menolong anak kesayanganmu, begitu berjumpa dengan kau, bukankah sudah lebih dari cukup? Mengapa dia harus perlu ke Ko-to-san ?"
Kiang Siang Yan terbungkam, mengakui logika (nalar) itu. Cengkeramnya pun setengah dikendor, walaupun begitu tetap Yan-chiu masih meringis kesakitan serunya.
"Subo, Tio suko sudah pergi mencari bukti, harap kendorkan tangankulah!"
Kiang Siang Yan mendorong, dan Yan-chiu ter-huyung2 beberapa tindak kemuka.
Setelah bebas, nona genit itu tak berani buka mulut lagi.
Begitulah mereka berempat kini menantikan kedatangan Tio Jiang.
Tapi sampai setengah jam lamanya, belum juga anak itu kelihatan datang.
Kala itu rembulan memancarkan cahayanya yang gilang gemilang.
Suasana disitu, sunyi senyap sekali.
Andaikata Tio Jiang mencabuti rumput atau semak2, tentu terdengar juga suaranya.
Tapi mengapa tidak sama sekali?
"Biar kususulnya!"
Nyo Kong-lim yang tak sabaran segera berseru, terus ayunkan kakinya kearah jalan yang ditempuh Tio Jiang tadi, yaitu menuju tempat persembunyian.
The Go semalam.
Pegunungan Sip-ban-tay-san situ, jarang dijelajahi manusia, rumput2nya hampir setinggi orang.
Seperginya Nyo Kong-lim, kini yang tertinggal hanya Kui-ing-cu, Yan-chiu, Kiang Siang Yan dan Toa-wi.
Siao-wi rupanya berada diluar mencari angin.
Sampai sekian lama, Nyo Kong-limpun tak muncul datang.
Kiang Siang Yan mulai terbit kecurigaannya.
Tak henti2nya ia tertawa sinis.
Yan-chiu segera menghampiri kedekat Kui-ing-cu, lalu berkata keras2 seorang diri.
"Tio suko dan Nyo toako, adalah orang2 yang dapat dipercaya Mereka tentu akan mencari benda itu sampai ketemu. Oleh karena harus mencari diseluruh gunung yang masih belantara ini, jadi memerlukan tempo panjang. Kalau orang menduga jelek, itulah salah!"
Untuk menandakan kalau ia bicara pada dirinya sendiri, sigenit itu tak memandang pada siapa2 tapi tundukkan kepala.
Sekalipun begitu, sengaja dia lantangkan suaranya agar Kiang Siang Yan dapat mendengarinya.
Melihat kecerdikan nona itu, Kui-ing-cu ganda tertawa.
"Jangan kalian berdua kegirangan dulu! Kalau mereka berdua tak kembali, kamulah yang mengganti!"
Ujar Kiang Siang Yan dengan bengis.
Adalah selama tadi, Kui-ing-cu selalu membawa sikap mengalah.
Tapi oleh karena Siang Yan makin sombong seolah2 memandang dirinya (Kui-ing-cu) sebagai makanan empuk, sudah tentu lama2 dia marah juga, serunya.
"Kiang Siang Yan, aku masih ada urusan tak sempat menemanimu. Kita tetapkan saja satu hari, untuk mengundang para orang gagah dalam dunia persilatan menyaksikan. Kita boleh adu segala macam kepandaian, untuk mengetahui siapa yang sebenarnya lebih unggul. Main bersombong mulut, apa gunanya ? "Mau adu apa lagi ?"
Kiang Siang Yan tertawa dingin.
"Mengapa tidak ?"
Sahut Kui-ing-cu. Kiang Siang Yan menuding pundak lawan, serunya.
"Gila, pundakmu itu pernah berkenalan dengan tangan siapa ?"
"Siapa yang merampas barang ditanganmu?!"
Balas Kui-ing-cu. Demikianlah kedua tokoh itu, sahut menyahut saling tak mau mengalah. Sampai diklimaksnya, Kiang Siang Yan menantang.
"Kalau mau adu kepandaian, sekarangpun boleh, mengapa harus tunggu lain waktu? Apakah karena kau hendak cari guru lagi ?"
"Baik, kepingin sekali aku menerima pengajaran ilmu thay-im-kang dari Lam-hay Hu Liong Po!"
Sahut Kui-ingcu.
Dengan ucapan itu, Kui-ing-cu se-olah2 hendak mengatakan bahwa sebenarnya kepandaian Kiang Siang Yan itu biasa saja.
Adalah karena kebetulan, maka ia telah berhasil mempelajari ilmu kepandaian dari wanita gagah Lam-hay itu.
Sebaliknya jangan lagi siapa gurunya orang tak mengetahui, sedang siapakah nama sebenarnya dari tokoh Kui-ing-cu sendiri, tiada manusia yang tahu.
Karena tak dapat balas menyemprot, Kiang Siang Yan menjadi marah-marah.
"Baik, silahkan memulai dulu"
Serunya dengan sungkan, tapi ia sendiri terus pasang kuda2.
Sampai disitu, terpaksa Kui-ing-cu tak dapat melihat jalan lagi kecuali harus berkelahi.
Tiba2 dari arah muka sana tampak berkelebat sesosok bayangan.
Buru2 dia berseru.
"Engkoh Tio, kaukah?"
Sret......, seorang loncat datang dan bluk.........
tahu2 menghantam pantat Toa-wi, hingga binatang itu menggerang kesakitan lalu berputar kebelakang menerjangnya.
Tapi orang itu lincah sekali, sret......., dia loncat menghindar untuk menjotos dada Siao-wi, bluk!
Binatang inipun surut kebelakang, sebaliknya orang itu tertawa gelak2, serunya.
"Kui-ing-cu, kutahu setelah mendapatkan ceng-ong-sin, kau tentu datang kemari. Kau suruh aku berlatih sam-ciat-kun-hwat selarna 3 bulan itu, bukankah karena hendak menipu aku ?"
Orang itu bukan lain adalah siorang tua kate yang limbung, Sik Lo-sam.
"Sik Lo-sam, sini, sini, kuperkenalkan pada ini Kiang Siang Yan yang namanya begitu cemerlang itu!"
Buru2 Kui-ing-cu berseru.
"Sudah tahu!"
Sahut orang tua aneh itu. Sedangkan Yan-chiu yang mengetahui hari sudah terang tanah, lalu berkata.
"Hai, mengapa kedua orang itu belum kunjung datang? Biar kususulnya!"
"Tidak! Kau juga mau ngacir bukan?"
Bentak Kiang Siang Yan. la menduga dirinya hendak diselomoti.
"Siao Chiu, jangan pergi, jangan biarkan orang tak memandang mata pada kita!"
Kui-ing-cu menasehati, lalu berkata kepada Sik Lo-sam.
"Sik Lo-sam, ilmu permainan sam-ciat-kun-hwat itu masih kurang satu jurus, kau kepingin belajar tidak ?"
"Sudah tentu ingin sekali!"
Sahut Sik Lo-sam berjingkrak sembari lolos sam-ciat-kun dari pinggangnya, terus dikibaskan kebelakang.
Justeru tepat pada saat itu Toa-wi dan Siao-wi hendak membalas kesakitannya tadi, hingga kedua binatang itu terpaksa loncat-mundur lagi.
"Ajarkanlah!"
Teriak silimbung.
"Itu sih mudah, tapi kau lebih dulu harus mengerjakan satu kali!"
Sahut Kui-ing-cu.
"Lekas katakan!"
Seru Sik Lo-sam, tak sabaran.
"Seorang hweshio yang bertubuh tinggi besar dan seorang anak muda tadi pergi kesekeliling gunung ini mencari sesuatu benda, tapi sampai sekarang belum kembali. Coba kau cari mereka!"
Kata Kui-ing-cu. Kali ini Sik Lo-sam keluar kecerdikannya, dia deliki mata membantah.
"Mengapa kau sendiri tak mencarinya? Tentu akan menipu aku lagi ya?"
"Sik Lo-sam, ada satu orang yang melarang kita pergi, karena kuatir kita lolos!"
Menyelutuk Yan-chiu.
"Ho, siapa orangnya yang bernyali besar itu ? Biar dia rasakan gebukanku ini seru Sik Lo-sam sembari mainkan sam-ciat-kun dalam jurus cu-kong-theng-yau, salah satu jurus dari permainan sam-liong-toh-cu."
Kui-ing-cu mendapat akal.
Tadi sebenarnya dia hendak suruh sikate limbung itu mencari Tio Jiang dan Nyo Kong-lim, tapi rupanya kini bisa digunakan untuk menghadang Kiang Siang Yan, jadi dapat menghemat tenaga dari pada dia sendiri harus bertempur.
Dia cukup tahu, Sik Losam meskipun seorang limbung, tapi ilmunya silat tidak lemah.
Andai kata kalah, silimbung itu tentu masih bisa meloloskan diri tak sampai kena apa2.
"Kau suruh dia makan gebukanmu? Hem, jangan2 kau sendiri yang harus menelan 10 kali pukulannya!"
Dia mulai memasukkan minyak tanah (membikin panas hati orang).
"Edan, suruh dia kemari coba2!"
Ternyata Sik Lo-sam mulai terbakar hatinya. Kui-ing-cu menunjuk pada Kiang Siang Yan, serunya.
"Itulah!"
Sret......, sekali Sik Lo-sam loncat, tanpa banyak cingcong lagi dia kemplang kepala Kiang Siang Yan, siapa karena tak mengira orang begitu ugal2an hendak menggemplangnya, sudah menjadi gusar sekali.
"Telur busuk macam kau, mau jual lagak?"
Sik Lo-sam melayang turun, melancarkan serangan lagi, serunya "Aku telur busuk ini, tidak mau jual lagak apa2, melainkan mau suruh kau rasakan tongkatku satu kali saja!"
GAMBAR 55 Karena diadu dombakan oleh Kui-ing-cu, tanpa pikir Sik Lo-sam terus sabetkan toyanya sambil membentak.
"Rasakan senjataku ini!"
Kiang Siang Yan mendongkol, tapi geli juga.
la loncat menghindar.
Tapi Sik Lo-sam mengejarnya dengan sebuah serangan lagi kearah pinggang.
Melihat kedua orang itu sudah bertempur, lekas2 Kui-ing-cu menarik Yan-chiu diajak pergi.
"Kita cari dulu kedua orang itu, biarkan mereka bertempur disini, nanti kita lihat lagi!"
Yan-chiu tertawa riang atas kecerdikan Kui-ing-cu itu.
Sebaliknya Kiang Siang Yan sangat mendongkol.
Beberapa kali ia hendak cari kesempatan hendak mengejar, tapi selalu diganggu oleh sam-ciat-kun sikate.
Malah saking gencarnya permainan sam-ciat-kun itu, Kiang Siang Yan sam pai terkepung tak dapat lolos.
"Budak hina, lain kali janganlah sampai bertemu dengan aku. Kalau sampai berjumpa lagi, kau tentu mengalami penderitaan hebat!"
Satu2nya jalan ia hanya dapat mendamprat.
Walaupun tahu kalau Kiang Siang Yan itu subonya, tapi oleh karena selama ini ia selalu mendapat siksaan, maka iapun hendak balas menyahuti, tapi dicegah oleh Kui-ing-cu.
Terpaksa Yan-chiu batalkan kata2nya, dan segera ajak kedua binatang piaraannya untuk mengikut.
Melihat orang tangkapannya pergi, kini Kiang Siang Yan tumpahkan kemarahannya pada Sik Loo-sam.
Sebaliknya, silimbung pun tak mau mengerti.
Sam-ciat-kun dimainkan terlebih gencar lagi, sembari mulutnya tak putus2nya berseru.
,Rasakan tongkatku ini satu kali saja dan kau boleh pergi!"
Seenaknya saja si limbung itu mengucap.
Dia tak mau memikirkan bahwa ilmunya Iwekang sangat jempol, apalagi sam-ciat-kun itu terbuat dari besi pilihan, sudah tentu tiada seorangpun yang sudi disuruh mandah digebuk satu kali.
Karena biar satu kali, tapi cukup meremukkan tulang belulang, malah salah2 bisa kabur jiwanya.
Kiang Siang yan lepaskan pikirannya untuk mengejar kedua orang yang diduga tentu sudah jauh.
Kini ia hendak menghajar sikakek yang limbung itu.
Membarengi tangan kiri dibalik, tangannya kanan menghantam datangnya sam-ciat-kun, trang......
terpentallah sam-ciat-kun itu.
Adakah Sik Loo-sam kurang hebat lwekangnya?
Adakah samciat-kun kurang keras bahannya?
Adakah lwekang Kiang Siang Yan tak terlawan?
Bukan begitu.
Sebenarnya seperti yang telah kami paparkan tadi, barang siapa kena terhantam sam-ciat-kun Sik Lo-sam, tentu akan remuk tulangnya.
Hal ini tak terkecuali juga bagi Kiang Siang Yan yang cukup menginsyafi hal itu.
Maka ketika ia sambut serangan itu, ia gunakan siasat meminjam tenaga.
Begitu sam-ciat-kun datang, lekas2 ia turunkan tangannya menghindar, lalu secepat kilat menghantam.
Jadi yang membentur sam-ciat-kun itu adalah samberan lwekangnya, bukan tangannya.
Hanya orang yang sudah menguasai ilmusilat tinggi, berani mengambil resiko yang sedemikian berbahayanya.
Karena gusar sekali, Kiang Siang Yan baru lancarkan serangan maut itu.
Kini kita ikuti reaksi Sik Lo-sam.
Begitu sam-ciat-kun terpental balik hendak menghantam dadanya sendiri, kaget silimbung itu tak terkira.
Syukur dia memiliki ber-macam2 cabang ilmusilat.
Buru2 dia miringkan tubuh, lalu menghuyungkan diri kesamping dengan jurus hong-cu-may-ciunya Ang Hwat cinjin.
Berbareng dengan itu, sam-ciat-kun dikebutkan lempang kemuka untuk menutuk jalan darah te-ki-hiat dibetis Kiang Siang Yan.
Juga Kiang Siang Yan tak kurang kagumnya melihat permainan yang luar biasa dari musuhnya itu.
Cepat2 ia menghindar.
Kini dia dapat menilai kepandaian orang.
Lawan kaya dengan variasi permainan yang luar biasa, tapi kalah tinggi lwekangnya dengan dia.
la memutuskan, harus adu kekerasan.
Kalau tidak, tentu entah kapan pertandingan itu akan berakhir.
Maka, setelah menghindar, tubuhnya menurun, kelima jarinya diulur untuk merebut sam-ciat-kun.
Namun ilmu permainan hong-cu-may-ciu itu kaya dengan gerak perobahan, Sik Lo-sam dapat meyakinkannya lebih sempurna dari The Go maupun Tio Jiang.
Kala Kiang Siang Yan menurunkan tubuhnya, dia sudah loncat keatas untuk menghantam batok kepala.
Luput menangkap, Kiang Siang Yan makin marah.
la menjerit se-keras2nya sehingga memekakkan telinga Sik Lo-sam, siapa menjadi terkesiap sejenak.
"Satu kali saja, cukuplah. Kalau tidak aku tentu ditertawai Kui-ing-cu nanti!"
Serunya sembari masih teruskan rangsangannya. Dia tidak mengetahui sama sekali, bahwa dengan jeritannya tadi, Kiang Siang Yan sudah mengeluarkan Y-seng"
Salah satu jurus yang paling lihay sendiri dari ilmupukulan Iwekang thay-im-lian-seng.
Sesaat itu Sik Lo-sam merasa ada angin berseliweran disisi tubuhnya, dia kira kalau Kiang Siang Yan yang menyelinap, tapi kiranya wanita itu masih tampak disebelah muka.
Tanpa banyak pikir lagi, dia segera menyapu dengan sam-ciat-kun.
Terang serangannya itu tepat mengenai sasaran, tapi hai kemana wanita itu tadi?
Dia menghantam angin, tapi berbareng pada saat itu punggungnya, dirasakan sakit sekali.
Suatu hawa dingin, menyerang masuk kedalam tulangnya.
Celaka, dia mengeluh dalam hati terus buru2 kerahkan lwekang untuk menutup jalan darahnya.
Berputar kebelakang, disana dilihatnya sepasang mata Kiang Siang Yan tampak memancarkan sorot ke-hijau2an, menyeramkan sekali.
Benar Sik Lo-sam itu pikirannya limbung.
Tapi dalam soal ilmu silat, dia cukup lihay.
Walaupun lekas2 dia salurkan Iwekang untik mrnahan rasa sakit pada bagian tubuh yang kena, hantaman tadi, namun sesaat itu separoh tubuhnya seperti direndam dalam es, dingin, dingin.........
sekali.
Sampaipun ketika berkelahi, giginya bergemeretukan karena menggigil.
Tahu dia bagaimana lihaynya lawan.
Tapi oleh karena limbungnya, dia tak merasa kalau ditipu Kui-ing-cu, bahkan mengakui kebenaran ucapan Kui-ing-cu, serunya.
"Aya, lihay nian wanita ini. Kui-ing-cu benar. Aku tak dapat menggebukmu, malah aku telah makan tinjumu satu kali, masih ada 9 kali lagi. Kau masih lanjutkan tidak?" (Oo-dwkz-TAH-oO) BAGIAN 31 . YAN CHIU BERJUDI Melihat wajah Sik Lo-sam sudah ke-hijau2an tapi mulutnya masih mengoceh tak keruan, Kiang Siang Yan tak mau menghiraukannya lagi, berputar diri terus ayunkan langkah, Ternyata ilmu lwekang "cap ji si hang kang sim ciat"
Yang dimiliki Sik Lo-sam itu dipelajarinya dari seorang sakti yang luar biasa.
Separoh tubuh bagian kiri meskipun sudah mati-rasa, tapi yang sebelah kanan masih dapat digunakan.
Dia mendongkol orang tinggalkan begitu saja.
"Hai, rasakan dulu gebukanku satu kali!"
Serunya sembari maju menyapu.
Tapi karena lukanya berat, jadi tenaganyapun berkurang.
Karena tak menduga orang masih bisa bergerak, Kiang Siang Yan sudah terkena tumit kakinya.
Saking sakitnya, ia mendumprah jatuh terduduk, dua buah tulangnya kena disabet patah.
Sehabis menghantam, Sik Lo-sam puas, ia mundur beberapa tindak.
Tapi disitu dia tak kuat lagi, dia terduduk ditanah dan napasnya memburu keras.
Sejak keluar dikalangan persilatan, Kiang Siang Yan selalu bahu membahu dengan sang suami.
Selama itu, belum pernah ia mendapat luka.
Baru pertama kali ini ia rasakan bagaimana rasanya kalau tulang patah namun hal itu tak terlalu dihiraukan karena, hanya luka luar.
Sekalipun begitu, ia harus beristirahat juga untuk sementara waktu.
Bermula ia kuatir jangan2 nanti orang tua kate itu jual cerita diluaran kalau berhasil melukai Kiang Siang Yan.
Tapi serta dilihatnya silimbung itu duduk bersila meramkan mata, tahulah ia kalau orang itu telah termakan thay-im-ciang.
Dengan kepandaian yang dipunyai orang itu, terang dia takkan dapat sembuh.
Soalnya hanya tinggal tunggu saat baik saja.
Yakin kalau orang limbung itu bakal binasa, Kiang Siang Yan terus hendak menghantam lagi tapi tiba2 Sik Lo-sam membuka mata berseru .
"Kiang Siang Yan ! Lihay nian pukulanmu itu. Apa suka memberikan pelajaran itu padaku ?"
Kiang Siang Yan tertegun.
Tangannya yang siap diayun itu, diturunkan lagi.
Membunuh seorang limbung macam begitu, takkan ada faedahnya.
la hanya urut2 tumitnya yang patah tadi, setelah itu lalu loncat menghilang.
Sedang saat Sik Lo-sam rasakan hawa dingin itu mulai menyerang separoh tubuhnya yang kanan.
Hingga sampaipun membuka mata, dia tak berani karena sedang bergulat keras untuk salurkan lwekang menahan.
--oodwkz0tahoo--Kita tinggalkan dulu Sik Lo-sam untuk mengikuti perjalanan Kui-ing-cu dan Yan-chiu.
Membiluk dibalik sebuah batu besar, tiba disebuah semak rumpucang hampir menyamai orang tingginya, mereka tertegun.
Kiranya dihadapan mereka terbentang sebuah rawa2 besar.
Airnya yang ke-hitam2an memberi kesan akan dalamnya yang sukar diduga.
Mereka menduga, Tio Jiang dan Nyo Kong-lim pasti takkan melintasi rawa itu, jadi tentunya melanda (menasak) semak rumput itu.
Tapi mengapa disitu tiada kelihatan bayangan mereka ?
Sebaliknya mereka berdua masih lapat2 mendengar berisik suara pertempuran antara Sik Lo-sam dan Kiang Siang Yan.
"Huh, apa ada setan penunggunya sini ?"
Tanya Yan-chiu. Tapi sebaliknya Kui-ing-cu yang menduga tentu terjadi suatu hal yang luar biasa, membantahnya.
"Habis Tio suko dan Nyo cecu lari kemana? Mustika Watu itu berada dimana?"
Tanya Yan-chiu. Kui-ing-cu melakukan pemeriksaan yang teliti disekeliling tempat situ. Waktu itu dilihatnya tegas2 The Go lari kearah semak2 rumput, situ.
"Siapa tahu jangan2 The Go lemparkan mustika itu kedalam rawa?!"
Katanya. Yan-chiu menunjang pernyataan itu. Tapi sebaliknya Kui-ing-cu nyatakan keheranannya.
"Kalau begitu apa mungkin silimbung berdua itu menduga juga begitu, Ialu terjun kedalam rawa?"
Kembali Yan-chiu mengiakan, tapi berselang sejenak dia membantah sendiri.
"Tidak, locianpwe. Kalau mereka terjun kedalam rawa, ini saat tentu sudah muncul keatas. Kalau tidak, tentu mendapat kecelakaan disitu!"
Kui-ing-cupun mencemaskan kemungkinan itu. Namun dia hiburi nona itu. ,Jangan kuatir, mungkin kedua orang itu benar2 hendak gunakan kesempatan untuk lolos dari ancaman Kiang Siang Yan saja!"
Tapi Yan-chiu yang cerdas dapat mengetahui, isi hati Kui-ing-cu yang sebenarnya.
Tanpa terasa air matanya membanjir turun.
Tidak mungkin.
Tio suko bukan orang macam begitu.
Tentu dirawa ini ada siluman atau binatangnya ganas yang telah menyeret suko kedalam.
"Ah, aku telah mencelakainya!"
Ujarnya dengan ter-isak2. Kui-ing-cu menanyakan maksud ucapan sinona, siapa tanpa malu2 lagi segera menerangkan.
"Selama dalam perjalanan, aku senantiasa marah2 padanya karena dia tak mengerti kalau aku suka padanya. Adalah karena mulutku mengomelinya, sampai dia berhasil menemukan mustika batu itu. Kalau sekarang dia mengalami kecelakaan hingga mayatnya pun hilang, bukankah aku yang menyebabkannya?"
Bermula Kui-ing-cu hanya ganda tertawa mendengari.
Tapi begitu mulut sigenit mengatakan mayatnya hilang lenyap, diapun terkesiap.
Dia sayang akan sifat2 anak muda itu serta bakatnya yang bagus.
Dikemudian hari, anak itu tentu menjadi seorang gagah yang luhur.
Sampai sekian saat, dia ter-longong2 tak dapat ber-kata2.
Melihat Kui-ing-cu kesima, Yan-chiu makin berduka.
Ter-bayang2 ia, akan kejujuran dan kebaikan sukonya itu.
Entah sudah berapa banyak, ia memper-olok2 sukonya itu, sampaipun sudah berani juga membuat lelucon "tukar cincin palsu".
Ia merasa berdosa, dengan seribu satu penyesalan yang tak terhingga.
Air matanya makin mengucur deras bagaikan air sumber.
Sembari mewek2, ia menyatakan hendak menebus dosa "Kalau benar Tio suko binasa, aku bersumpah, akan menjadi paderi, tak mau menikah seumur hidup!"
Hendak Kui-ing-cu menertawakan sigenicang masih bersifat seperti anak kecil itu.
Tapi demi dilihatnya betul2 sigenit itu sangat berduka sekali, dia tak jadi ketawa.
Sampai sekian saat, baru kedengaran dia menghela napas, ujarnya menghibur.
"Siao Chiu, sudah jangan menangis. Taruh kata Tio sukomu, benar binasa, kau tangisipun tiada berguna. Tapi kalau dia belum binasa, bukankah sia2 saja air matamu itu?"
Yan-chiu ternyata mau menurut. Tapi sesaat kemudian ia menangis lagi, katanya.
"Kalau Tio suko binasa, aku akan menangis terus!"
"Tio suko dan Nyo-cecu bukan orang yang lemah, mana mereka begitu gampang menyerahkan jiwanya ? Bukan mustahil saat ini dia bersembunyi disuatu tempat!"
Ujar Kui-ing-cu lalu berteriak keras2 sampai beberapa kali.
Namun tiada berbalas.
Disekeliling tempat situ hening ditelan kelelapan abadi.
Mendadak Kui-ing-cu terkejut, mengapa tiada mendengar suara pertempuran kedua tokoh tadi?
Menduga mereka tentu sudah pergi, ia lantas menyelidiki lagi seluruh tempat semak2 rumput itu.
Yan-chiu hanya mengikuti saja seperti orang yang kehilangan semangat.
Tiba2 didekat rawa, dilihatnya air disitu berwarna hijau gelap hingga sepintas pandang seperti hitam.
Kui-ing-cu pungut sebuah, batu untuk dilemparkan kedalam air, blung........
seketika timbul busa, batu itu tenggelam kedalam dasar rawa yang sukar diketahui dalamnya itu.
Melihacan-chiu masih terus menerus menangis, Kui-ing-cu menanyainya kalau2 ia pandai berenang.
Yan-chiu menyahut tidak dapat.
GAMBAR 56
"Sudahlah, Siao Chiu, jangan menangis, bila sibuyung Tio Jiang sudah mati, percuma kau menangisinya, jika belum mati, tangismu juga sia2 ujar Kui-ing-cu.
"Sang Suhu bergelar Hay-te-kau, masa sang murid takut air? Malu ah!"
Kui-ing-cu menghela napas. Yan-chiu tertawa, tapi pada lain kali ia segera cemberut mengangkut awan kesedihan lagi, serunya.
"Orang sedang susah, masa cianpwe malah membanyol begitu!"
"Siao Chiu, aku mempunyai firasat kalau Sukom tidak mati. Dia tentu disebabkan sesuatu hal, lalu menyingkir. Lebih baik kita cari suhumu untuk ber-sama2 menuju ke Ko-to-san yang tinggal 10 hari saja waktunya!"
Akhirnya Kui-ing-cu menyatakan pikirannya.
Apa boleh buat, Yan-chiu terpaksa menurut.
Baru keluar dari tempat situ, Kui-ing-cu segera dapati Sik Lo-sam duduk bersila dengan wajah tegang dan tubuh bergemetaran.
Rambut janggutnya turut bergoncangan.
"Astaga! Aku telah mencelakainya!"
Seru Kui-ing-cu sembari menghampiri.
"Sik Lo-sam kau bagaimana?"
Tanyanya.
Kala itu Sik Lo-sam tengah berjoang mati2an kerahkan lwekang untuk menahan hawa maut-dingin itu.
Satu2nya harapan, supaya Kui-ing-cu datang kesitu.
Bukan karena mengharapkan pertolongan, tapi karena hendak menyampaikan suatu omongan yang penting.
"Kui-ing-cu,"
Serunya kegirangan demi mendengar orang yang dinantikan tiba.
"wanita itu benar lihay, tapi ia telah menerima gebukanku satu kali ditumitnya, Dengan pincang sebelah kaki, ia ngacir pergi, lucu, lucu!"
Kui-ing-cu menghela napas penyesalan.
Dia hanya ber-olok2 supaya mereka bertempur untuk sementara, Tahu sudah dia kalau Sik Lo-sam itu bukan lawannya, Kiang Siang Yan, tapi ternyata orang, limbung tu tak kenal bahaya malah terus menerus membayanginya "kena satu kali gebukanmu, tapi kau sendiri?"
Tanyanya. Sik Lo-sam ulurkan lengan kanannya, sembari kibas2kan dia menunjuk kearah bahu kirinya.
"Pundakmu ini termakan pukulannya, lihay benar!"
Ujarnya.
Kui-ing-cu terperanjat, buru2 dia pinjat jalan darah leng-thay-hiat dipunggung silimbung.
Jalan darah itu tembus dihati.
Begitu tangannya memijat, dirasakan debur jantung Sik Lo-sam sangat lemah, sebelah kakinya sudah kaku.
Dia sangsi adakah kepandaian cukup untuk menolong orang, tapi biar bagaimana dia harus memberi pertolongan sekuat usahanya.
Benar Kui-ing-cu itu seorang tokoh yang suka ber-olok2, malah kadang membohongi orang.
Tapi sebenarnya dia bukan seorang jahat.
Dia ambil putusan, akan menyelamatkan jiwa Sik Lo-sam.
Dengan menyalurkan lwekang, dia pijat jalan darah leng-thay-hiat itu, hingga seketika Sik Lo-sam menjerit kesakitan.
"Kui-ing-cu, jangan menyiksa begitu. Mati biar mati, takut apa? Jangan bikin badanku panas dingin begini, nanti belum menghadap Giam-lo, aku sudah teler2!"
Mendengar itu Kui-ing-cu makin terharu. Dia menyesal mengapa mencelakai seorang limbung yang sedemikian putih hatinya. Makin teguh niatnya hendak menebus kesalahannya, ujarnya.
"Sik Lo-sam, kalau lwekang kita, berdua dipersatukan masa tak dapat menghalau thay-im-ciang. Jangan bicara lagi, kerahkan lwekangmu menolak!"
Sik Lo-sam menurut. Berkatalah Kui-ing-cu kepada Yan-chiu.
"Siao Chiu, aku hendak menolong Sik Lo-sam, sebelum setengah bulan, terpaksa, aku tak dapat ke-mana2. Kalau kau mau menemani disini, boleh. Tapi kalau kau hendak menuju ke gereja Ang-hun-kiong untuk menghadiri pertempuran itu pun silahkan!"
Katanya dengan menghela napas, lalu melanjutkan kata2nya.
"Setengah, bulan kemudian, luka Sik Lo-sam tentu sembuh. Walaupun tenaga lwekang kita berdua tak sampai habis, tapi juga akan tinggal separoh saja. Tinggalkan Toa-wi dan Siao-wi padaku dan kau bawalah ceng-ong-sin untuk melindungi dirimu, setuju tidak ?"
Yan-chiu mengatakan ia takut ular. Kui-ing-cu menertawainya.
"Takut apa! Pijat angsangnya, tentu menurut. Tapi ingat, jangan se-kali2 sampai kena tertusuk sisik kulitnya yang tajam. Ceng-ong-sin merupakan ular berbisa yang nomor satu didunia. Menghadapi lawan tangguh, kalau kau kewalahan, lepaskan binatang itu, tentu menang tahu?"
Yan-chiu masih mengandung setitik harapan kalau2 Tio Sukonya masih hidup dan bersembunyi dilain tempat.
Kalau sedemikian halnya, nanti di gereja Ang-hun-kiong, tentu ada harapan bisa menjumpainya.
Maka ia segera menyambuti lumbung bambu yang terisi ular ceng-ong-sin.
Kui-ingcu pesan kalau dapat, supaya dalam perjalanan nanti Yanchiu cari katak untuk memberi makan pada ular itu.
Tapi Sik Lo-sam buru2 menyelutuk.
"Ceng-ong-sin paling gemar dengan kutu bambu, beri saja makanan itu!"
Sebagai seorang anak perempuan sudah tentu Yan-chiu ngeri dengan bangsa kutu.
Ia tanyakan bagaimana cara untuk mencari kutu bambu itu, Sik Lo-sam hendak memberi keterangan, tapi karena hawa dingin merangsang keras, terpaksa dia tutup mulut.
Kui-ing-cu memberi pesanan macam2 pada nona itu, katanya.
"Kalau ditengah jalan tak menemui halangan, nanti setiba di Ko-to-san tentu belum jatuh hari pehcun. Tunggulah dibawah gunung, jangan naik sendirian. Ditengah perjalananpun jangan cari onar, tahu ?"
Tokoh itu mempunyai persamaan perangai dengann sigenit.
Dia anggap Yan-chiu tak ubahnya seperti anak perempuannya sendiri.
Begitulah menerima pesanan akan beberapa hal, Yan-chiu segera minta diri.
--oodwkz0tahoo--Menjelang tengah hari, ia sudah jauh dari pegunungan Sip-ban-taysan.
Sorenya ia, sudah tiba di Ko-ciu-hu gedung thay-siu (bupati) yang terletak dikota, Bo-bing-koan.
Didaerah situ merupakan dataran subur.
Didalam kota amat ramai, sana-sini rumah makan menghias sepanjang jalan.
Oleh karena perutnya me-ronta2 menagih janji, buru2 Yan-chiu menghampiri kesebuah rumah makan.
Melihat ada tetamu datang, buru2 sipemilik menyambutnya dengan hormat.
Hal mana sebaliknya telah membuacan-tihiu tertegun.
Kiranya selama dalam perjalanan dengan sukonya tempo hari, ia tak membelkal uang sepeserpun juga.
Tapi oleh karena selama itu, Tio Jiang yang mengurus makan tidurnya, jadi ia tak usah sibuk2.
Tapi kini berlainan halnya.
Adakah sipemilik rumah makan mau tak dibayar?
Maka kakinya yang sudah melangkah diambang pintu itu, segera disurutkan keluar lagi.
Sipemilik menjadi heran dan mengawasi dengan tak mengerti.
"Aku salah masuk!"
Kata Yan-chiu ter-sipu2 merah padam mukanya.
"Nona, papan merk yang tergantung dimuka rumah ini cukup besar, masakan. kau tak melihatnya?"
Tanya sipemilik dengan mendongkol.
"Habis kalau memang salah masuk, apa tidak boleh?!"
Yan-chiu menyahut dengan ketus.
Melihat sifat ke-kanak2an sigenit itu, pemilik rumah makan bergelak2.
Bermula Yan-chiu hendak memberi hajaran, tapi teringat akan pesan Kui-ing-cu supaya jangan terbitkan onar, ia hanya deliki sipemilik itu lalu ngeloyor pergi.
Sekeluarnya dijalanan, Yan-chiu uring2an.
Dimisalkan hendak "pinjam"
Uang-nya hartawan kejam, juga harus menanti sampai malam hari.
Namun untuk menunggu sampai waktu itu, perutnya sudah keroncongan.
Perutnya berkerucukan, sehingga orang2 yang berselisih jalan se-olah2 dapat mendengarkan.
Buru2 ia menuju kesebelah gang kecil untuk menjauhkan diri dari bau masakan rumah makan yang bisa, menerbitkan air liur.
Tapi perutnya tetap berontak.
Teringat ia akan pembilangan orang bahwa perut kosong dapat ditahan kalau ikat pinggang dikencangkan.
la lakukan itu, sembari tak henti2nya menelan ludah.
Sudah dua hari satu malam ini ia tak makan apa2.
Selama itu karena mengandal pada lwekangnya, masih dapat ia bertahan.
Tapi pada saat itu, benar2 ia tak kuasa lagi.
Selagi bingung seorang diri, tiba2 dari dalam sebuah gedung yang besar mewah, terdengar suara gelak ketawa orang.
"Aku kalah!"
Kedengaran suara orang mengeluh dengan putus asa dan pada lain saat ada dua orang tampak keluar. Yan-chiu menanyai orang itu.
"Tolong tanya, apa kerja orang2 didalam itu?"
Kedua orang itu rupanya kalah main (judi). Sampaipun pakaiannya hampir berindil. Dengan uring2an mereka menumpahkan kemarahannya.
"Ada apa? Kepa......."
Baru hendak memaki, mereka mendongak. Ketika melihacang bertanya itu seorang nona cantik, mereka cengar-cengir menyahut.
"Disitu tempat judi, apa nona mau kesitu ?"
Yan-chiu anggap orang yang membuka rumah perjudian itu tentu bukan orang baik2. Untuk memberi hajaran pada mereka, juga sudah sepantasnya.
"Ya, aku kepingin lihat2!"
Sahutnya.
Kedua orang itu menjadi kegirangan.
Bahwa seorang nona masuk kerumah perjudian, adalah suatu hal yang langka.
Meskipun kalah, mereka berdua ingin mengikuti juga.
Mereka lalu tawarkan sebagai pengantar.
Memasuki pintu, terdapat sebuah halaman kecil yang ditanami bunga dan sebatang puhun delima yang sudah berbunga.
Dibelakang halaman itu terdapat sebuah ruangan besar.
Kira2 ada 2 atau 30-an orang tengah berkerumun disitu.
Seorang lelaki tengah memainkan dua buah mangkok, sembari ber-seru2.
"Mulai lagi! Mulai lagi! Siapa mau kaya, lekas pasang!"
Melihat cecongor orang itu, Yan-chiu sudah benci. Sebaliknya kedua pengantarnya tadi buru2 ingin melihat keramaian seorang nona main judi, maka begitu masuk mereka lalu berseru.
"Oey Bi-long, daganganmu bakal laris, ada pembeli besar!"
Orang2 disitu sama heran, mereka kira kedua orang yang habis2an itu bertemu dengan seorang tuan uang.
Tapi sewaktu melihacang diantar itu hanya seorang nona kecil dari 16-an tahun umurnya, ada yang meludah dengan jemunya, seraya memaki.
"Lo Sam, Lo Su, mengapa kau dah kalap membawa seorang budak perempuan kemari? Kalah ya sudahlah, mengapa cari lain korban ?"
Melihat semua mata ditujukan kepadapya, Yan-ciu sikap seperti penjudi ulung, iapun turut2an berseru.
"Oey Bi-long, daganganmu laris benar!"
Kembali ruangan itu gempar dengan gelak tertawa, Yan-chiu tak ambil mumet, ia menghampiri meja, pertaruhan, Disitu terdapat banyak tumpukan uang perak dan beberapa barang berharga.
Anggauta2 Thian Te Hui terdiri dari beberapa macam golongan, dari orang gagah sampai kaum penjudi.
Pernah didengarnya dari mulut mereka, rumah judi itu ada dua macam.
Yang hanya memakai taruhan uang dan yang pakai taruhan barang.
Rupanya rumah judi disitu itu tergolong yang kedua, yakni boleh majukan barang perhiasan sampaipun pakaian untuk taruhan.
Teringat akan batu giok (pualam) pemberian Tio Jiang tempo hari, ia segera merogohnya keluar dan diterimakan pada Oey Bi-long siapa telah memeriksa sejenak lalu memberi harga 5 perak.
Karena hadiah itu pemberian sang suko yang dicintainya, Yan-chiu.
tak mau menjuaInya.
Akhirnya benda itu hanya digadai untuk 5 chi.
Oey Bi-Iong lepaskan benda itu dari atas, dan borkerontanganlah mustika itu diatas meja.
"Setan, hati2 kau, kalau sampai memecahkannya!"
Seru Yan-chiu.
Namun si Bi-long itu hanya sapukan ekor mata mengejek.
Sebagai seorang penjudi ulung, Oey Bi-long tahu akan adanya suatu pepatah yang berlaku dikalangan persilatan, yakni "3 jangan".
Jangan menghina kaum wanita, jangan mempermainkan kaum pertapaan dan jangan main2 pada kaum Oey Poan.
Yang dimaksudkan dengan Oey Poan ialah orang2 yang tubuhnya lemah kurus, tapi mempunyai kepandaian tinggi.
Kalau seorang kaum wanita berani keluyuran diluaran, tentulah ia memiliki kepandaian yang lihay.
Oey Bi Long mainkan gundu (macam kelereng kecil) yang segera ditutup dengan mangkok.
Ketika dibuka, ternyata, dua buah gundu terletak pada nomor 2 dan yang sebuah pada nomor 1.
Orang2 yang taruhkan uangnya pada tanda besar"
Segera diambil oleh sang bandar. Melihat dirinya kalah, Yan-chiu marah2 serunya. ,Mustikaku itu tak boleh kau, ambiI, jangan bergerak!"
"Nona, sekalipun barang milik raja, kalau sudah dipertaruhkan kalah, juga tak boleh diambil kembali !"
Oey Bi long menyeringai. Yan-chiu kalah suara, Tiba2 la memperoleh akal. Diambilnya bumbung tempat ular yang menggantung dipunggung, katanya.
"Didalam bumbung ini terdapat mustika hidup yang lebih berharga, aku hendak mempertaruhkannya dengan harga besar!"
"Benda apa aku harus melihatnya dulu !"
Kata Oey Bi-long.
"Jangan, kau tentu takut nanti!"
Sahucan-chiu.
"takut apa sih ? !"
"Baik,"
Akhirnya Yan-chiu menjentik sumbat bambu.
Melihat hawa terang, ceng-ong-sin segera merayap keluar.
Yan-chiu pijak angsangnya, saking sakitnya ular itu segera menyabet dengan sang ekor hingga bambu tempatnya tadi mencelat, tepat jatuh diatas kepala seorang gundul.
"Aduh mak....! Mati aku.....!"
Orang itu menjerit. Tapi orang2 tak mempedulikan dia, melainkan mengawasi ular yang dicekal sinona dengan terperanjat.
"Nona jangan bergurau. Aku membuka rumah perjudian bukan membuka rumah pergurauan!"
Kata Oey Bi-long dengan wajah berobah.
"Siapa Yang main2 padamu? Serapa harga ular ini, katakan!"
Sahucan-chiu sambil deliki mata. Baru Oey-Bi-long hendak membantah lagi, tiba2 ada seorang Yang berwajah buruk maju mendekati dan bertanya.
"Nona, apa kau hendak jual ular itu ?"
Tampak wajah orang itu, diam2 Yan-chiu geli. Masa didunia terdapat orang yang berwjah sedemikian jeleknya. Tapi oleh karena orang itu menanyakan harga, iapun seegera Menjadi girang, sahutnya.
"Sebenarnya tidak ada ingatan akan kujual, hanya hendak kubuat taruan main seharga 500 tail perak!"
Diluar dugaan, orang itu menerima.
"Oey Bi-long, jadilah. Kalau kau menang ular itu menjadi milikku, Kalau kalah, aku yang membayar 500 perak encer!"
Tapi Oey Bi-long bersangsi, karena dia belum kenal orang itu, siapa rupanya tahu akan perasaan orang, katanya.
"Kau kuatir jangan2 aku tak punya uang bukan ?"
Orang itu tertawa.
"Inilah!"
Serunya sembari mengeluarkan sebuah kim-goan-po (kepingan emas) kira 20 tail lebih beratnya.
Sepotong keping emas saja sudah berharga 25 tail keping perak, jadi kim-goan-po itu berharga 500 tail perak.
Heran Oey Bi-long makin menjadi.
Ada seorang nona datang berjudi, ada pula seorang bermuka jelek yang punya banyak uang.
Yan-chiu tak mau banyak bicara lagi, terus pasangkan uangnya dihuruf "toa" (besar).
Dan klutuk2 setelah mengocok sebentar, Oey Bi-long lalu buka mangkoknya.
Satu dinomor 5, satu pada nomor 6 dan satu pada nomor 3, jadi sama sekali 14 mata, tepat tiocok dengan huruf "Toa" !
"Mana berikan kim-goan-po itu!"
Seru Yan-chiu kegirangan.
Simuka jelek memberikan sembari bertanya pula kalau2 nona itu maeih mau bertaruh lagi.
Pikir punya pikir Yan-chiu terpikat.
Kalau kalah, paling banyak kim-goan-po tadi kembali pada yang empunya.
Tapi jika menang, berarti la, mendapat dua kim-goan-po.
Yan-chiu mengiakan, tapi simuka jelek itu mengajukan syarat.
"Kalau kalah, kau harus menyerahkan ular itu padaku !"
Katanya.
Yan-chiu tahu kalau ceng-ong-sin itu merupakan sebuah mustika ular.
Kawanan orang utan yang begitu ganas, takut kepada ular itu.
Andaikata tadi kalah, iapun tak bersedia, menyerahkan ular itu.
"Tidak main lagi !"
Sahutnya menggeleng.
Simuka jelek tak dapat berbuat apa2.
Para penjudi lain yang melihat ia memperoleh kemenangan sedemikian besar, sama mengerumuni sigenit.
Malah sikepala gundul yang kepalanya tertimpa bambu tempat ular tadi segera merengek .
"Nona, lihatlah! Karena ularmu menyabet, maka bambunya telah mengenai kepalaku, aduh sakitnya !"
Yan-chiu menerima bambu itu lalu memasukkan ceng-sin-ong. Diberinya orang itu sekeping perak hancur.
"Kalau kau biarkan kepalamu terketuk bambu ini sampai 3 kali, akan kuberimu 50 tail perak!"
Sigenit hendak ber-olok2. Bukan main girangnya orang yang gundul itu. Dengan serta merta dia pasang kepalanya.
"Ketuklah!"
Katanya.
Yan-chiu tertawa cekikikan.
Ketika masih berada di Lo-hu-san, ia tak mengerti sampai dimana pengaruhnya uang itu pada manusia.
Maka tadi ia anggap masa orang mau diketuk kepalanya sampai 3 kali dengan hanya diberi 50 tail perak.
Pada hal 50 tail perak, merupakan jumlah yang besar bagi kaum penjudi ditempat itu.
Tuk...., tuk...., tuk..., habis mengetuk 3 kali, la lalu tukarkan uangnya pada oey Bi-long, kemudian memberikan 50 tail perak pada sigundul.
"Siapa lagi yang mau ? 3 ketukan, 50 tail!"' seru sinona yang tak mengerti harganya uang. Maka berebut-rebutanlah para penjudi itu menawarkan kepalanya. Sibuk juga Yan-chiu meng-gerak2kan tangannya mengetuk. Selagi permainan itu berjalan dengan riangnya, tiba2 simuka jelek tadi berseru.
"Nona, tahan dulu!"
"Mengapa ? Perakku cukup banyak!"
Sahucan-chiu. Simuka jelek tertawa dingin, ujarnya.
"Coba nona hitung, sudah mengetuk berapa kepala ? !"
Ketika Yan-chiu menghitung, ia berseru kaget.
Kiranya ia sudah mengetuk 12 kepala orang, pada hal perak hanya 500 tail, terang tak mencukupi.
Kalau hendak mengurangi jumlah hadiahnya, dia sungkan.
Kalau ia bingung terdiam, adalah orang2 yang kepalanya sudah diketuk tadi sama hiruk pikuk karena mengetahui uang sinona tak cukup.
"Ribut2 apa ? Nonamu mau main lagi!"
Bentak Yan-chiu dengan gusar.
Yang 450 tail dibagikan pada 9 orang, sisanya dua orang masih diutang 100 tail, sama mengawasi Yan-chiu dengan mata lebar.
Simuka jelek terus saja mengeluarkan kim-goan-po lagi, katanya.
"Nona mau pegang "toa"
Atau "siao"
"Yang besar !"
Sahucan-chiu seraya meletakkan bumbung bambu pada bagian toa (besar).
Melihat peristiwa yang aneh itu, Oey Bi-long tak mau ladeni lain orang lagi melainkan khusus untuk kedua orang itu saja.
Setelah mengocok 3 kali, tiba2 dia berseru.
"Buka!" -Lagi2 jumlahnya 11, jadi Yan-chiu menang pula! Hai....., adakah benar2 Yan-chiu sedang tangan naik (mujur dalam perjudian)? Bukan demikian. Soalnya, kalau sinona yang menang, Oey Bi-long tentu dapat persen uang. Tapi kalau simuka jelek yang menang, dia tak dapat apa2. Maka sewaktu mengopyok tadi, dia telah gunakan siasat. Bagi seorang bandar, kepandaian untuk menentukan kalah menang itu, menjadi darah daging (kebiasaan).
"Manakah uangmu itu !"
Seru Yan-chiu dengan girang sekali. Tapi kali ini simuka jelek itu menggebrak meja mendamprat.
"Oey Bi-long, besar nyalimu berani main curang!"
"Tuan kalah, lebih baik angkat kaki saja, jangan sampai ditertawai orang!"
Sahut Oey Bi-long dengan ketus. Simuka jelek itu tampak gusar sekali, tapi pada lain saat tenang kembali, katsnya.
"Tadi tidak terpakai, ganti lain orang yang memainkan.!!"
Sudah tentu Yan-chiu marah, dampratnya.
"Bangsat, kau mau main gila ya ?"
Plak....., ia memukul meja judi, hingga sekeping perak hancur, melesek masuk didalam meja.
Melihat itu penjudi lainnya sama terkejut.
Yang nyalinya kecil, siang2 Sudah angkat kaki.
Juga Oey Bi-long sendiri terbeliak matanya.
Tapi simuka jelek sebaliknya malah loncat keatas meja.
Kini tegas dilihat oleh Yan-chiu bahwa didalam baju simuka jelek itu ada benda menonjol, terang tentu senjata tajam.
Kalau bukan pedang tentu golok.
Jadi dia tentu orang persilatan juga!
Begitu berada diatas meja, simuka jelek lalu ulurkan tangannya menerkam Oey Bi-long, siapa ternyata juga mengerti sedikit ilmu silat lantas hendak menyingkir.
Tapi ternyata gerakan simuka jelek itu tangkas sekali.
Baru Oey Bi-long gerakkan tubuhnya, dia sudah maju memburu dan dapat menerkam dengan tepatnya.
Oey Bi-long rasakan bahunya seperti dijepit jepitan besi.
Saking kesakitannya, jidatnya sampai mengucurkan keringat ber-ketes2 turun membasahi pakaiannya.
"Mengapa kalian diam saja tak lekas2 panggil suhu !"
Oey Bi-long menereaki orangnya seraya berusaha se-kuat2nya untuk meronta.
Melihat kekacauan itu Yan-chiu tak ambil peduli.
Yang penting dia segera ambil kim-goan-po, memberikan 100 tail perak pada kedua orang tadi (yang diketuk kepalanya), lalu menggerombol pada orang banyak yang tengah melihat keributan itu.
Makin Oey Bi-long meronta, makin simuka jelek itu perkeras cengkeramannya sembari memaki.
"Bangsat busuk!"
Baru suara itu diucapkan, Yan-chiu terkejut dan segera berseru keras.
"Hai, The Go, kau juga berada disini ?"
Mendengar itu simuka jelek teramat kaget, lalu merobah nadanya.
"Nona, kau panggil siapa ? jangan pergi dulu, kita main lagi sampai habis!"
Terang tadi Yan-chiu mendengar nada suara The Go, maka ia segera mencari keeekeliling tempat situ, namun tak menjumpainya.
Apaboleh buat ia terpaksa kembali ketempatnya tadi lagi.
Saat itu kedengaran simuka jelek masih me-maki2 dengan nada melengking.
"Oey Bi-long, berani benar kau main gila dihadapan tuan besarmu ini. Kau masih sayang kulitmu yang kuning pucat itu tidak ?"
Mendengar makian sang lucu itu, Yan-chiu tertawa geli. Tapi dalam pada itu dari luar pintu terdengar suara orang menggerung dengan keras ya.
"Siapa yang berani mengacau disini? Apa sudah sediakan peti mati hingga tak jeri pada nama yang menggetarkan dari Cui-kim-liong (naga emas mabuk ) ini !"
Yan-chiu mengawasi orang yang sumbar2 itu. Seorang lelaki gemuk, perutnya gendut, melangkah masuk kedalam ruangan situ. Baru dia muncul, orang banyak segera berseru.
"Simuka jelek itu tentu diremuk tulangnya oleh Cui-kim-liong!"
Tapi berbareng dengan dugaan orang banyak itu, tiba2 terdengar suara mengaduh keras dan sesosok tubuh gemuk dilemparkan keluar.
Bluk..., rupanya keras yuga jatuhnya, hingga sigemuk itu tak hentinya mengerang.
Menyusul dengan itu, sesoeok bayangan berkelebat.
Simuka jelek tadi dengan menjinjing Oey Bi-long, loncat keluar.
"Semua orang tak boleh meninggalkan tempat ini ! Biar menjadi saksi. Oey Bi-long, jawablah tadi kau bermain curang tidak ?"
Kata simuka jelek.
Mengetahui suhunya, Cui-kim-liong, dihajar jatuh bangun, Oey Bi-long insyaf kalau hari itu ketemu dengan jago yang lihay.
Tapi untuk mengakui tuduhan simuka jelek tadi, terang dia tak mau.
Karena begitu mengaku bermain curang, orang tentu tak mau datang kerumah penjudian yang diusahakannya itu.
Maka biar menderita kesakitan, dia tetap menggigit gigi tak mau mengaku.
Dalam pada itu, Yan-chiu me-nimang2.
Kalau si Bi-long mengaku curang, ia sendiri juga kena akibatnya harus mengembalikan kim-goan-po tadi.
Di-pikir2 lari adalah yang paling selamat.
Begitu keputusan diambil, ia segera menyelinap pergi diantara orang banyak.
Menyusur gang kecil, sampailah ia dijalan besar.
Kini dengan mengantongi uang, sikapnya berlainan.
Untuk menuruti nafsu kemengkalannya, ia kembali lagi ketempat rumah makan, dimana ia pernah diejek oleh si pemilik karena tak membawa uang tadi.
"Nona, lihatlah yang benar, jangan kesalahan masuk lagi !"
Kata sipemilik demi melihat kedatangan Yan-chiu. Yan-chiu hanya mendengus, sahutnya dengan adem.
"Suruh orangmu menyediakan meja yang bersih !"
"Begitu saja kan sudah cukup,"
Sahut sipemilik. Tapi Yan-chiu segera deliki matanya membentak.
"Bagaimana ?"
Trang......, kim-goan-po dibanting diatas meja. Saking kagetnya sipemilik rumah makan sampai berjingkrak. Seketika itu juga wajahnya berganti raut, dari kecut menjadi ber-seri2 girang.
"Harap nona suka tunggu sebentar!"
Serunya dengan ter-sipu2, sembari memanggil pelayan untuk meladeni Yan-chiu.
Setelah menumpahkan kemengkalan hatinya tadi, Yan-chiu menjadi puas.
Kim-goan-po dikantongi lagi, lalu ikut pada sipelayan.
la dipersilahkan duduk disebuah tempacang bersih.
"Jangan banyak cakap, lekas bawa daftar makanan kemari!"
Aerunya.
"Bakpao daging anjing, nona suka dahar tidak?"
Tanya sipelayan.
"Suka saja! Bakpao daging orangpun juga makan!"
Sahucan-chiu.
Siao-ji, sipelayan itu terbelalak matanya.
Diam2 dia membatin, rupanya sih cantik tapi mengapa nona itu bicara tak keruan.
Sekalipun berpikir begitu, pela yan itu tak berani bercuit.
Tak berapa lama, Siao-ji membawa penampan besar bak-pao daging anjing.
Kata orang "kalau lapar segala apapun enak".
Bagaikan macan menerkam korbannya, Yan-chiu segera menyapu bersih bakpao itu.
Kini dia betul kenyang.
Diam2 dia mendongkol melihat sikap sipemilik rumah makan tadi.
Melihat berkilaunya uang, sipemilik itu berminyak matanya, pertanda bagaimana rakus hatinya itu.
Oleh karena kebetulan senggang, Yan-chiu hendak memberi pengsajaran pada orang itu.
Otaknya bekerja untuk mencari akal.
"Jongos!"
Akhirnya ia berseru memanggil Siao-ji.
Kedatangan Yan-chiu kerumah makan situ, telah menarik perhatiaan orang.
Pertama ia keluarkan kim-goan-po, setelah duduk lalu ber-kaok2 keras dan makan bakpao, mulutnya berkecap-kecup dengan kerasnya.
Sipemilik telah memesan pada Siao-ji supaya melayani baik2 pada nona itu.
Mendengar panggilan Yan-chiu, sipelayan segera ter-sipu2 menghampiri .
"Nona hendak suruh apa ?"
"Suruh sipemilik kemari !"
Kata Yan-chiu. Oleh karena sejak tadi sipemilik selalu taruh perhatian pada sinona, maka dengan serentak dia menyahut.
"Nona ada pesanan apa memanggil aku ?"
Katanya sembari menghampiri.
"Apa namanya rumah makanmu ini ? Apakah yang terbesar dikota ini ?"
Tanya Yan-chiu.
"Diseluruh Ko-ciu-hu sini, tak nanti dapat dicari yang melebihi dari rumah makanku ini,"
Sahut sipemilik sambil meng-urut2 janggut.
"Jadi tentunya kau bersedia segala macam masakan, bukan ?"
"Sudah tentu ! Kecuali limpa2 naga atau hati burung hong, kami bersedia lengkap. Entah apa yang nona hehdak kehendaki ? Untuk satu orang, atau mau mengadakan pesta"
Yan-chiu tertawa cekikikan, ujarnya .
"Aku hendak pesan, masakan telur Ho-pau-tan (mata sapi), Telur itu harus dipilihkan yang ulam !"
"Ah, itu urusan kecil,"
Sahut sipemilik.
"Jangan omong besar dulu. Telur bungkus itu kau iris separoh. Separoh kumakan separoh kutinggalkan. Hanya saja, Dua2nya harus tetap ada kuning telornya, Kalau sampai kurang mencocoki seleraku, kau harus ganti kerugian satu tail perak. Tapi jika mencocoki, nanti kuberi persen 2 tail perak setiap orang!"
Mendengar pesanan istimewa itu, sipemilik terkesiap kaget.
Telur mata sapi itu, kalau dipotong, (karena setengah matang) kuningnya tentu turut mengalir.
Melihat sipemilik rumah makan diam saja, Yan-chiu meradang.
"Bagaimana ? Tadi kau telah buka suara kecuali limpa2 naga dan hati burung hong, rumah makanmu itu serba lengkap persiapannya. Masakan hanya telur mata sapi saja kau tak mampu ? Rumah makan apa ini ? Hayo, lekas turunkan papan namanya !"
Melihacan-tihiu seorang nona muda itu membawa sekian banyak uang, sipemilik mengira kalau dia sedang berhadapan dengan puteri seorang pembesar tinggi.
Kala itu, suasana negara sedang dalam kekalutan.
Tentara Ceng baru masuk Kwiciu sudah berhenti, disebabkan Li Seng Tong berpaling haluan, jadi daerah Kwisay tak sampai mengalami gangguan apa2.
Adalah pembesar2 Beng itu sendiri yang tak tahu diri.
Sedangn ya negara tengah menghadapi bencana, mereka masih berpesta pora menikmati kesenangan.
Memeras rahayat guna mengisi kantongnya dewek.
Anak2 didaerah situ sama ber-main2 sebuah pameo .
"Baru si Biru pergi, si Hijau datang. Kasihanlah...... sang padi, kasihanlah....... sang padi!"
"Sihijau"
Diartikan tentara pecundang kerajaan Beng. Sedang sibiru, dimaksudkan tentara yeng.
"Padi"
Arti kiasan bagi rahayat jelata.
Karena anggapannya tadi, sipemilik rumah makan makin tak berani menyalahi Yan-chiu.
Kuatir kalau mendapat hukuman berat, dia segera perintahkan juru masaknya untuk mengerjakan pesanan aneh dari sinona.
Habis memesan, Yan-chiu duduk dengan garangnya, Dia memandang kekanan, mengawasi kekiri, se-olah2 tak menganggap pada orang2 yang berada disitu lagi.
Oleh karena cemas, sipemilik rumah makan segera pergi kedapur untuk Menilik pekerjaan tukang masak.
"Tuan, lihatlah bagai mana ini ?"
Kata situkang masak.
Ternyata sudah ada 18-an telur mata sapi yang digoreng, tapi begitu diiris, tentu kuningnya turut mengalir keluar.
Dicobanya dengan pisau kecil, juga tetap sama.
Arhirnya dia menghampiri Yan-chiu dan menghela papas, ujarnya.
"Begitu Ho-pau-tan itu diiris, kuningnya tentu ikut mengalir. Apa nona tak keberatan untuk memakannya separoh bagian saja ?"
"Tidak mau !"
Sahucan-chiu dengan kegirangan.
Dengan meringis, pemilik itu berdiri menjublek tak dapat berbuat apa2.
Para tetamu lainnya sama berisik membicarakan hal itu.
Ada beberapa langganan lama yang kenal baik dengan pemilik itu coba menerangkan pada Yan-chiu.
"Ho-pau-tan yang nona kehendaki itu, mungkin dalam dunia ini tiada seorangpun yang dapat mengerjakan. Jangan bergurau!"
"Kalau ada orang yang sanggup mengerjakan, lalu bagaimana?"
Yan-chiu menantang.
"Papan rumah makan ini harus diturunkan !"
Sahut orang itu. Yan-chiu menerima perjanjian itu, katanya.
"Baik, Iihat nanti aku yang mengerjakan. Kalian ikut kemari semua!"
Orang itu bersama sipemilik rumah makan lalu mengikucan-chiu kedapur. Didekat wajan ada setumpuk 30-an Iebih butir telur, sedang didalam wajan tampak ada sebutir.
"Tolol!"
Dampracan-chiu, terus memegang susuk.
Ia jemput sebilah pisau dapur lalu dipanggang diatas api.
Setelah panas, telur disusuk keluar lalu dipotong dengan pisau tadi.
Oleh karena pisau itu masih panas habis dipanggang, kuning telur jadi mengental tak bisa mengalir keluar.
Jadi dua potong Ho-pau-tan atau telur mata sapi itu sama ada kuning telurnya.
Habis mengerjakan itu tanpa menanyai apa2, ia terus melangkah keluar dan turunkan papan merknya.
Walaupun si pemilik rumah makan mengeluh dalam hati, tapi dia tak berani berkata apa2.
Puas membalas pada sipemilik rumah makan, iapun lalu angkat kaki.
Sekeluarnya dari rumah makan situ, haripun menjelang gelap.
Ia cari rumah penginapan.
Kiranya peristiwa dirumah makan dan menang judi tadi cepat tersiar.
Begitu masuk kesebuah rumah penginapan, orang2 dirumah penginapan itu segera ter-sipu2 melayaninya.
Setelah cuci muka, ia hendak masuk kedalam kamarnya, tiba2 pengurus rumah penginapan itu menghampirinya dan membisikinya.
"Nona, tadi ada seorang yang bermuka jelek menanyakan tentang kamarmu. Harap nona suka ber-hati2!"
Setelah menanyakan tentang ciri2 simuka jelek itu, di ketahui oleh Yan-chiu kalau sijelek yang kalah main tadilah.
Karena itu, iapun tak ambil perhatian lagi.
Bumbung yang berisi ceng-ong-sin diselipkan kebawah bantal, lalu berbaring.
Oleh karena kurang tidur, baru menggeletak, dia sudah cepat menggeros.
Entah berselang berapa lama Ia tidur, ketika layap2 bangun ia seperti mendengar ada sebuah Suara berkeretekan.
Yan-chiu buka mata lebar2 dan mengeluarkan seruan tertahan karena melihat disela jendela kamar memancar sebuah sinar.
Begitu ia bersuara, sinar itupun lenyap.
Yan-chiu terkejut karena mengira ceng-ong-sin terlepas.
Tapi ketika ia mengambil bumbung dan tempelkan ditelinganya, ternyata masih terdengar ada suaranya.
GAMBAR 57 Maksud hati hendak tidur, tapi sang pikiran justeru terbayang akan sang suko Tio Jiang, yang tak diketahui kemana perginya kini.
Tapi karena terbangun itu, ia tak dapat tidur lagi.
Ingatannya me-layang2 pada Tio Jiang.
Kemana suko itu ?
Ia yakin suko dan Nyo-cecu itu tentu tak mau berlaku licik hendak lolos dari Kiang Siang Yan.
Ia sangat harap kedua orang itu tak kurang suatu apa dan nantinya dapat datang ke Ko-to-san.
--oodwkz0tahoo--Teringat Ko-to-san, Yan-chiu terus buru2 hendak lanjutkan perjalanannya lagi.
Tapi mendadak suara tadi terdengar, disusul dengan memancarnya sinar dari sela jendela.
Kini Yan-chiu sudah terjaga betul2, tidak seperti tadi masih layap2.
Ternyata jelas dilihatnya bahwa sinar ke-hijau2an yang menyusup masuk itu berasal dari sebuah pedang pusaka.
Dan hai....., itu kan pedang kuan-wi yang direbut oleh The Go tempo hari?!
Jelaslah kiranya kalau bukan The Go tentu juga salah satu kambratnya yang hendak bermaksud jahat terhadap dirinya itu.
Yan-chiu mendapat akal.
Ia pura2 menggeros lagi dengan men-dengkur keras.
Tapi ternyata sitetamu malam itu juga bukan orang tolol.
Baru dia hendak loncat masuk, atau dia sudah menyurut balik karena mendengar dengkuran sinona.
Seorang nona dari 16-an tahun, berbadan kurus, mana bisa mendengkur begitu keras ?
Ah......., tentulah hanya di-buat2 saja.
Yan-chiu terkesiap, ketika didengarnya suara tadi sirap.
Sebenarnya ia sudah siap menerkam, begitu sipenjahat masuk.
Saking tak sabarnya, dia segera timpukkan bantal ke-arah jendela.
Oleh karena sekarang lweekangnya bertambah maju, maka walaupun dengan bantal namun dapat membuat daun jendela itu terbuka.
Menyusul dengan itu, Yan-chiu loncat keluar jendela, ia tepat jatuh diatas wuwungan rumah karena letak kamar Yan-chiu, di loteng, namun tiada melihat seorangpun juga.
Tapi ketika ia hendak balik kembali kedalam kamar, dari belakang kepalanya terasa ada angin menyamber.
Buru2 ia loncat kemuka pada sebuah wuwungan.
Tapi belum lagi ia sempat memutar tubuh, suara senjata sudah melayang tiba pula.
Sejak mengikut Tay Siang Siansu, ilmunya mengentengi tubuh maju pesat.
Tapi sipenjahat itu sudah dapat mengikuti laksana bayangan, jadi dapat dikira2kan bagaimana lihay orang itu.
Karena tak membekal senjata, terpaksa Yan-chiu mendak kebawah.
"Bagus !"
Serunya demi senjata itu menabas diatas kepalanya.
Tanpa berayal, ia balikkan tangan mengirim sebuah hantaman.
Ternyata serangan Yan-chiu itu cepat dan tak terduga, hingga orang itu tak dapat menghindar.
Prak......, sebuah genting telah terinjak remuk.
Tatkala Yan-chiu berputar mengawasi, kiran ya pen yerangnya gelap itu bukan lain adalah simuka jelek yang empunya kim-goan-po tadi.
Tangannya mencekal pedang kuan-wi.
"Dari mana kau peroleh pedang itu ?"
Bentak Yan-chiu, Orang itu tak menyahut hanya bolang-balingkan pedangnya untuk menyerang lagi.
Melihat ilmu permainan pedang simuka jelek sedemikian aneh seperti bukan ilmu permainan pedang, bermula Yan-chiu kaget, tapi pada lain saat ia segera berseru.
"Bangsat, kau si The Go bukan ?!"
Orang itu tetap membisu.
Habis 4 kali serangan, dia kembali menyerang lagi.
Kali ini ujung pedang ditusukkan kejalan darah jin-tiong-hiat.
Dibawah cahaya rembulan, pedang itu ber-kilau2an menyeramkan bulu roma.
Tadi saja untuk 4 buah serangan itu, Yan-chiu sudah setengah mati menghindarnya.
Kini lebih runyam lagi.
Pokok kelemahan Yan-chiu disebabkan karena tak membekal senjata.
Paling banyak ia hanya dapat andalkan kelincahannya untuk berputar2 menghindar.
Kemudian setelah berhasil menghindar, segera ia cabut bumbung bambu yang tergantung dibelakang punggungnya.
Simuka jelek terkesiap.
GAMBAR 58
"Bangsat, bukankah kau The Go adanya?"
Bentak Yan-chiu sembari menghindari serangan orang yang bertubi2.
"Siapa sebenarnya kau ini ? Kalau tak mau bilang, awas akan kulepaskan ceng-ong-sin ini !"
Yan-chiu mengancam. Orang itupun tertegun tak berani menyerang dan menyahut dengan nada tajam .
"Bagaimana kau bisa kenal si The Go?"
"Bangsat itu dibenci oleh semua orang persilatan, masa aku tak kenal ?!"
Kata Yan-chiu.
"Ah, The sute bukan orang jahat begitu !"
Kata orang itu.
"Oh, jadi kau ini sukonya ?"
Orang itu mengiakan.
Tahu2 dia sudah menggeliat seperti mau rubuh kearah Yan-chiu, tapi yang sebenarnya yalah hendak menutuk jalan darah ki-bun-hiat pada dada orang.
Yan-chiu ke-merah2an muka, ta empos dadanya.
Tapi tiba2 tangannya dirasakan sakit dan tangan kiri sijelek itu sudah menerkam bumbung ular yang dipegangnya.
Kini baru Yan-chi insyaf, bahwa tutukan tadi hanya serangan kosong, serangan yang sebenarnya yalah hendak merebut bumbung ular.
Dalam gusarnya, Yan-chiu gunakan wan-yang-lian-thui, sepasang kakinya berbareng menendang, tapi tangannya ditarik kebelakang dengan sekuat tenaga.
Ternyata orang itu membandel dan berkeras handak merebut ular ceng-ong-sin.
Begitulah kedua orang itu saling membetot adu tenaga.
Bumbung bambu itu sudah tentu tak tahan dibuat tarikan oleh dua orang yang mempunyai ilmu lwekang.
Krek......., putuslah bambu itu.
Karena keduanya saling keluarkan tenaga besar, maka masing2 sama terjerembab surut kebelakang sampai dua tindak.
Tangan masing2 mencekal separoh kutungan bambu.
Sedang ditanah tampak ular ceng-ong-sin melingkar sembari julangkan kepaIanya keatas.
lidahnya menjulur surut diantara bunyi desisan yang keluar dari mulutnya.
"Bajingan, kau tak beda dengan sutemu. Ceng-ong-sin lolos, jiwamu tentu amblas!"
Serunya sembari maju hendak menangkap ular itu.
Tapi sebatang pedang hijau kemilau tiba2 menusuknya, hingga ia terpaksa tarik pulang tangannya.
Kiranya orang Itu telah serangkan pedangnya dengan tangan kiri, sedang tangannya kanan juga akan menangkap ular ceng-ong-sin.
Saking gusarnya, Yan-chiu timpukkan kutungan bambu tadi kearah siorang jelek sembari menyusuli dengan sebuah serangan.
Simuka jelek mau, tak mau terpaksa mundur menghindar.
Hendak dibuat rebutan, ceng-ong-sin marah juga.
Dengan buasnya binatang Itu meregangkan kepalanya, siap sedia menggigit siapa yang berani main gila padanya.
"Ceng-ong-sin, gigitlah bangsat itu !"
Seru Yan-chiu.
Maksudnya hendak menyuruh ular itu menggigit simuka jelek.
Ia yakin ular itu tentu menurut.
Tapi jadinya malah kebalikannya.
KaIau tadi ia diam saja, itu sih baik.
Begitu ia buka suara, ceng-ong-sin terus berputar menghadapi Yan-chiu.
Kiranya ular ceng-ong-sin itu mempunyai daya ingacang kuat sekali.
Selama disekap dalam bumbung yang begitu sempit, beberapa kali ia mendengar suara Yan-chiu.
Begitu tadi Yan-chiu buka suara lagi, binatang itu segera mengenalnya, itulah orangnya yang menyiksa ia didalam bumbung.
Yan-chiu yang tahu akan keganasan ceng-ong-sin, sudah tentu menjadi terperanjat takut.
Buru2 ia hendak bersiap Iari, tapi ular itu secepat kilat sudah merangsang memagut padanya.
Yan-chiu menghindar kesamping, hingga pagutan ular itu lewat disisi tubuhnya.
Sekalipun begitu saking lihaynya, lengan baju Yan-chiu yang kesrempet telah menjadi robek separoh.
Luput menerjang, ular itu meluncur sampai dua meter jauhnya baru dapat berhenti dan berputar diri terus maju menyerang lagi dengan dahsyatnya, Untuk menghindar, terpaksa Yan-chiu loncat sampai 3 meter tingginya.
Namun siular juga merangsang memburu keatas.
Syukur Yan-chiu dapat melompat -lebih tinggi dari rangsangan siular, lalu terus melayang kesamping.
Namun dengan cepat sekali, siular sudah meluncur hendak menggigit kaki sinona.
Dengan mengandal kelincahannya, lagi2 Yan-chiu loncat kesamping.
Sebaliknya simuka jelek yang mengawasi kejadian itu, tak henti2nya tertawa ter-kekeh2.
Yan-chiu mendongkol bukan buatan.
Ia menghendaki orang itu supaya rasakan kelihayan ceng-ong-sin juga.
Sekali enjot sang kaki, ia loncat kesamping simuka jelek.
Ceng-ong-sin terkenal sebagai raja sekalian ular berbisa.
Kalau digunung, tak pernah ia luput menerkam, korbannya.
Segala jenis binatang kalau berjumpa dengan ular itu, tentu akan sudah lemas badannya.
Tapi dua kali ular itu menyerang sinona tanpa berhasil, telah menyebabkan ia (ular) marah sekali.
Dengan Was dan men-desis2, ular itu kembali menyerang.
Sebaliknya begitu berada disamping simuka jelek; Yan-chiu segera mengirim dua buah hantaman.
Ketika orang itu hendak menangkis, cepat luar biasa Yan-chiu sudah menyelinap kebelakangnya.
Inilah suatu siasat yang lihay.
Biar bagaimana ular ceng-ong-sin itu tetap seekor binatang, jadi tak dapat membedakan orang.
Karena tak melihat Yan-chiu, binatang itu menyerang simuka jelek, siapa sudah tentu menjadi kelabakan setengah mati.
Dengan.
gugupnya, dia memutar pedang.
Ternyata ular itu kenal lihay juga.
Ia mundur menyurut.
sampai dua meter.
Ular dapat menghindar mundur, sungguh suatu hal yang langka.
Sebenarnya hal itu disebabkan karena bagian perut ular itu tumbuh sisik yang dapat dipergunakan sebagai alat berjalan.
Setelah mengundurkan ular, simuka jelek membacok Yan-chiu.
Karena tak dapat menangkis, terpaksa Yan-chiu menghindar.
Tapi begitu ia bergerak, ceng-ong-sin sudah maju menyerang lagi.
Dan berbareng pada saat itu, pedang simuka jelekpun melayang datang.
Jadi kini Yan-chiu diserang dari muka belakang.
Tadi menghadapi seekor ceng-ong-sin saja, Yan-chiu sudah amat sibuk.
Apalagi kini masih ditambah dengan seorang musuh manusia yang tangguh.
Dapat dibayangkan bagaimana sukar kedudukannya pada saat itu.
Dengan susah payah, ia masih dapat bertahan sampai dua serangan.
Tapi pada lain serangan, pakaiannya kena disambar robek oleh ceng-ong-sin lagi.
Kembali simuka jelek membacok punggung, sedang ceng-ong-sinpun menyerang dari muka pula.
Yan-chiu benar2 tak dapat loncat menghindar lagi.
Jalan satu2nya yalah loncat tinggi2 keatas.
Diatas udara, ia pijakkan kaki kiri pada kaki kanannya untuk loncat naik lebih tinggi lagi.
Dari situ, dia terus meluncur turun kebawah tanah.
Sewaktu meluncur turun, ia masih sempat memandang ketempat pertempuran tadi.
Ternyata pada saat itu, ceng-ong-sin tengah menyerang simuka jelek, tapi kena didesak oleh pedang pusakanya.
Begitu tiba ditanah, Yan-chiu menjejak lagi untuk melambung keatas wuwungan.
la mendekam ditempacang gelap untuk melihat jalannya pertempuran.
Ceng-ong-sin menggeliat kekanan-kiri, untuk mencari kesempatan memagut korbannya, Sekalipun simuka jelek membekal sebilah pedang pusaka ditangan, namun tak mudah juga hendak menebas siular.
Malah beberapa kali orang itu terpaksa harus menyingkir dari terjangan siular sangat dahsyatnya.
Yan-chiu girang dan mendongkol terhadap simuka jelek itu.
la lepaskan sebuah genting, lalu dipecahnya menjadi beberapa keping.
Sekali merangkum dengan 3 buah jari, Yan-chiu.
segera timpukkan pecahan2 genting itu kedaerah jalan darah leng-thay-hiat dipunggung orang.
la benci sekali terhadap orang bermuka jelek itu.
Maka timpukannya itu dilancarkan dengan sekuat tenaganya, KaIau orang itu tak dapat menghindar, tentu akan terluka atau tentu kena digigit siular.
Dan ternyata harapannya itu nampaknya terkabul.
Orang itu diam saja, hanya tumpahkan perhatian melayani terjangan siular.
Dengan putar pedang, mendesak ceng-ong-sin mundur dan bluk ........
punggungnya termakan pecahan genting.
Tapi hai....., mengapa tak apa2 ?
Orang itu tetap menghadap kemuka, sedikitpun tak menghiraukan punggungnya yang terkena timpukan itu.
Yan-chiu tersadar.
Oleh karena orang itu adalah suko dari si The Go, jadi tentu dia yuga murid Ang Hwat cinjin yang faham ilmu i-hiat-hwat (memindah jalan darah).
Hingga kalau orang biasa bagian itu merupakan jalan darah berbahaya, tapi bagi dia tidak.
Namun Yan-chiu tak mau mundur putus asa.
Tiga keping pecahan genting kembali ditimpukkan.
Rupanya orang itu dapat juga mendengar samberan angin timpukan Yan-chiu, tapi oleh karena dari muka siular tengah merangsang lagi, terpaksa dia tak mau berpaling kebelakang.
Melihat orang itu terpaksa mandah menerima timpukan nya, Yan-chiu kegirangan sekali.
Karena lwekangnya bertambah maju, sekalipun orang itu dapat menutup jalan darahnya, namun tak urung tubuhnya terasa sikit juga terkena timpukan genting itu.
Lama2 orang itu mendongkol juga.
Kalau -mau, sekali tabas dapat dia menguntungi kepala si ceng-ong-sin, tapi rupanya dia hendak menangkap hidup2an binatang istimewa itu.
Hujan pecahan genting itu, lama2 membuatnya kesakitan juga.-Akhirnya tak dapat dia bertahan sakit lagi.
Sekali enjot kakinya, dia berjumpalitan melesat kebelakang, terus menyerangnya.
Kaget Yan-chiu tak terkira.
Kalau hendak menyurut kebelakang, orang itu tentu tetap membayangi.
Maka terpaksa la gunakan gerak tiat-pian-kio, buang dirinya kebelakang.
Sewaktu pedang itu menyambar lewat diatas tubuhnya, ia rasakan ada serangkum hawa dingin menyampoknya.
Dingin dan seram rasanya, hingga ada beberapa lembar rambutnya menjadi rontok.
Terang suatu pusaka yang tiada taranya didunia.
Luput menabas, orang itu turunkan tangkai pedangnya kebawah untuk menutuk jalan darah ki-bun-hiat didada Yan-chiu.
Cepat dan ta.n,gkss sekali gerakan itu dilakukan hingga Yan-chiu tak sempat menghindar.
Terpaksa ia gunakan cian-kin-thui (tekanan kati) untuk menekankan kakin ya keatas genting, brak ......tubuhnya melesak jatuhkedalam rumah!
"Maling...., maling....!"
Se-konyong2 seorang perempuan didalam ruangan situ menjerit.
' Yan-chiu ber-gegas2 merayap bangun.
Tanpa pedulikan perempuan yang menjerit-jerit ketakutan, ia terus loncat keluar jendela, dari situ ia loncat pula keatas wuwungan.
Saat itu dilihatnya simuka jelek mengulaikan tangannya kebawah, se-olah2 hendak membuka bagian dadanya.
Ceng-ong-sin bagaikan sebatang anak panah, meluncur dengan pesatnya akan menggigit kening orang.
Yan-chiu terperanjat girang.
Terang orang itu tentu akan melayang jiwanya.
Tapi se-konyong2 suatu kejadian ajaib terjadi.
Baru kepala siular merangsang maju, sebat sekali tangan orang itu sudah menyambar angsangnya dan mengibaskan kesamping dengan se-kuat2nya.
Tanpa disengaja, tangannya telah menyamplok muka dan tiba2 serongsong topeng muka tersingkap jatuh, lalu disambar mulut siular yang terus menggigitnya dengan geram sekali.
Bermula Yan-chiu mengira kalau benda Itu adalah besetan kulit muka siorang jelek, tapi begitu diawasi dengan perdata, mulutnya segera ternganga kaget.
Kiranya orang bermuka jelek itu bukan lain adalah si The Go!
Adalah kalau Yan-chiu sudah begitu kesima, sebaliknya The Go sudah begitu kegirangan sekali.
Sehabis perdengarkan tertawanya panjang, dia segera menghilang ditempat kegelapan.
Kini teringatlah Yan-chiu suasana dirumah perjudian.
Pertama kali melihat gerak gerik simuka jelek itu, Yan-chiu sudah merasa pernah mengenalnya.
Malah pada saat itu, dia pun mendengar suara si The Go.
Tapi oleh karena kelicinan anak muda itu, jadi Yan-chiu tak berdaya membuktikan kecurigaannya, Pedang pusaka kuan-wi, seekor ular ceng-ong-sin yang keramat, dua2nya hilang didalam tangannya.
Dua2nya kena direbut mentah2 oleh The Go.
Bagaimana marah dan kebenciannya.
Sekali enjot tubuh, ia lari mengejar.
Tapi karena berayal sejenak tadi, sang rase sudah menghilang.
Saking bingungnya, terpaksa Yan-chiu balik kedalam biliknya.
Sudah tentu ia tak dapat tidur lagi.
la menduga keras, The Go tentu menuju ke Ko-to-san untuk mengadakan persiapan pertempuran hari pehcun nanti.
Saat itu, Yan-chiu segera berkemas berangkat menuju ke Ko-to-san.
Syukur bisa ketemu ditengah jalan, kalau tidak masih mempunyai kesempatan.
lagi untuk berjumpa di Ko-to-san.
Singkat ceritanya, dua hari kemudiaa tibalah Yan-chiu dikaki gunung Ko-to-san.
Bulan yang lalu, dia pernah datang kesitu bereama eukon ya, jadi ia sudah faham akan jalan2nya.
Setelah mencari keterangan pada penduduk disitu, diketahuinya kalau belum ada seorsng kaum persilatanpun jua yang datang digunung tersebut.
Ceng Bo Siangjinpun belum nampak tiba.
Yan-chiu indahkan pesanan Kui-ing-cu, yaitu menunggu kedatangan rombongan sang suhu dikaki gunung itu.
Tapi pada lain saat terkilas suatu pikiran lain dibenaknya.
Celaka, kalau sampai rombongan suhunya mengetahui tentang peristiwa pedang Kuan-wi dan ular ceng-ong-sin yang sudah kena dirampas The Go, ia (Yan-chiu) tentu akan disesali kawan2, demikian pikirnya, Ah...., toh mereka belum datang, kiranya tak apa kalau ia coba menyelidiki Keats gunung.
Siapa tahu kalau nanti ia berhasil merebut kembali kedua benda pusaka itu.
Dengan demikian, dapatlah ia mengembalikan kehilangan muka itu.
Ia hanya merasa kepandaiannya telah memperoleh kemajuan yang besar.
Tapi sedikitpun ia tak mau tahu atau memang benar2 tak mengetahui bahwa orang2 gereja Ang-hun-kiong itu terlebih lihaynya!
Oleh karena saat itu masih pagi, Ia mencari sebuah pandai besi minta supaya dibuatkan seperangkat rantai dan bandringan liu-ce-chui serta sebilah pedang!
--oodwkz0tahoo--BAGIAN 32 .
MASUK SARANG HARIMAU Setelah selesai, dicobanya kedua alat itu oleh Yan-chiu.
Setelah memuaskan, ia lalu berangkat ke Ko-to-san.
Menjelang magrib, nun jauh disebelah muka, tampak tembok merah dari gereja itu merebut pandangan mata.
Mata Yanchiu yang tajam segera dapat melihat bahwa dipintu dari gereja itu banyak sekali orang2 yang 'keluar masuk.
Oleh karena itu waktu, masih terang hari, terpaksa Yan-chiu mencari sebuah puhun rindang untuk beristirahat.
Untuk jangan diketahui orang, ia panjat keatas bersembunyi, nanti setelah hari gelap, baru ia memasuki gereja itu.
Selagi ia me-nimang2 tentang keadaan gereja Ang-hunkiong yang begitu besarnya, se-konyong2 terdengar dahan dibawah berkerotakan dan batang puhun itu ber-goyang2.
Cepat2 ia siapkan bandringan, tapi mendadak sebuah nada suara yang kasar terdengar berkata.
"Sam-suheng, rupanya gereja Ang-hun-kiong itu. kelak tentu jatuh pada The Go. Kau dan aku, meskipun tergolong supehnya (paman guru), tapi tak dapat menyamai-nya!"
Yan-chiu terkesiap, batal menggerakkan tangannya.
"Lo Su, apa kau penasaran ? Orang kan punya tiang andalan! Kali ini biar kita. lihat, kalau kita berempat tampil, bagaimana suhu akan memutuskan ? Hem......, kemaren Kuan Hong dan Wan Gwat mengatakan, suhu telah memutuskan hendak menurunkan ilmu pedang Khit-sat-kiam-hwat padanya!"
Kata pula seorang. Terang dua orang yang dibagian bawah dahan itu adalah orang2 Ang-hun-kiong.
"Apa benar begitu? Rasanya tidak, ah! Kita yang sudah ber-tahun2 mengikut suhu, belum juga menerima pelajaran itu."
Sahut kawannya. Tapi orang tadi menetapkan kebenaran keterangannya, katanya.
"Sudah tentu benar! Suhu rupanya berat sebelah. Kali ini entah dari mana anak itu berhasil membawa sebuah pedang pusaka. Sekali meminta, suhu terus meluluskan!"
Yan-chiu yang cerdas segera dapat menduga siapakah kedua orang itu.
Mereka tentulah supeh dari The Go, juga muridnya Ang Hwat cinjin.
Kalau mereka tak puas terhadap The Go, terang menandakan bahwa anak itu memang jahat benar2.
Dari sebutan yang diucapkannya yakni "samsuheng" (kakak seperguruan ketiga) dan "Lo Su" (nomor 4), adalah salah seorang Su Mo (empat iblis) Ang-hun-kiong yang bernama Sam-mo Long Tek-san dan Su-mo Im Thian-kui.
Yang tak dimengerti Yan-chiu yalah kata2 mereka yang mengatakan bahwa The Go mempunyai tiang andalan itu.
Untuk mengetahui lebih jauh, ia pasang telinga dengan penuh perhatian.
Lewat sejenak, Sam-mo (iblis ke 3) Long Tek-san berkata pula.
"Entah apa sebabnya, sumoay sudah meninggal, namun suhu masih begitu sayang sekali terhadap anak itu!"
Su-mo atau Iblis ke-4 Im Thian-kui tertawa, ujarnya .
"Ah, si 'kuda binal', punya gara2, kalau tidak masa jisuheng sedemikian cepat meninggal dunia dan suhu lalu melanggar pantangan menerimanya (sumoay) sebagai murid !"
"Lo Su, hati2lah bicara! Suhu tak senang orang mengungkat sebab2 kematian The suheng. Jangan sampai didengarnya, celaka nanti!"
Long Tek-san buru memperingatkan. Tapi Im Thian-kui tertawa sinis, ujarnya pula.
"Kalau sudah melarang begitu, apakah dikira tiada orang yang mengetahuinya? Masa apa ada perempuan yang tidak menangis waktu suaminya meninggal? Setelah suaminya meninggal 11 bulan, kemudian ia malah melahirkan anak. Huh, siapa yang mau mempercayai kalau anak itu bibit tinggalan sang suami ? Orang jangan hanya memandang suhu itu seorang saleh yang berilmu tinggi. Orang gagah paling sukar kalau menghadapi wanita cantik. Namanya saja The Go itu cucu murid, tapi sebenarnya dia itu entah apanya suhu!"
Merah padam muka Yan-chiu mendengari pembayaraan yang agak cabul itu.
Namun karena mengenai persoalan The Go, jadi iapun terpaksa mendengarinya juga.
Tiba2 ia teringat akan kejadian di Lo-hu-san setengah tahun yang lalu.
Itu waktu Kiau To telah mengejek The Go dengan kata2
"ibu dan anak ber-sama2 belajar", yang menyebabkan si The Go berobah wajahnya dan lalu menantangnya. Pertempuran hari pehcun nanti itu, adalah gara2 ejekan Kiau To itu. Diam2 Yan-chiu mendapat kesan, diantara The Go dan Ang Hwat cinjin itu tentu ada hubungan luar biasa. Kalau tidak, masa murid yang sudah 20-an tahun belajar tidak diberi pelajaran ilmupedang Khit-sat-kiam-hwat, sebaliknya The Go diberi? Ji-mo atau iblis ke 2 dari Ang-hun-kiong itu bernama The Ban-li, sudah lama meninggal. Sedang iblis pertama bernama Wi Tay-bing kini sudah berusia 50-an tahun. Tapi entah siapa nama dari si "kuda binal"
Yang di-sebut2 tadi.
Jangan2 ibu dari The Go, tapi masa begitu tak sedap didengar julukannya, demikian Yanchiu berpikir.
Pada lain saat, terdengar genta gereja Ang-hun-kiong ber-talu2.
Kedengaran Im Thian-kui mengajak suhengnya menghadiri pelajaran malam.
Ketika Yan-chiu mengintip di-sela2 daun, kedua orang itu ternyata berdandan seperti tosu.
Yang seorang bertubuh tinggi besar, yang satunya pendek bermuka bersih.
Ketika talu genta gereja itu sirap, lampu2nya pun mulai dipadamkan.
Itu waktu kira2 pukul 10 malam, Yan-chiu anggap sudah waktunya untuk mulai bekerja.
Dengan hati2 ia menghampiri pintu gereja.
Kira2 pada jarak 4 tombak dari pintu itu, ia mengumpat disalah sebuah tempat yang agak gelap.
Dua buah thing (pavilyun) tampak sepi"
Saja.
Pada saat itu, Yan-chiu agak menyesal.
Kalau jauh2 hari tahu hari itu hendak menyelidiki, tentu dulu tempo datang kegereja situ ia perhatikan betul keadaan disitu.
Teringat juga ia tempo hari, begitu datang dipintu sudah disambut oleh kedua anak-murid gereja yakni Kuan Hong dan Wan Gwat, jadi terang kalau penjagaan disitu teramat kerasnya.
Tak mau ia keluar pintu besar, tapi mengambil jalan mengitari tembok.
Tembok gereja itu lebih dari satu tombak tingginya.
Semuanya terbuat dari batu merah yang mengkilap, jadi sukar untuk dipanjat.
Setelah tempelkan telinga ketembok dan dapatkan didalam tiada kedengaran suara orang, baru Yan-chiu enjot tubuhnya loncat keatas.
Ia gunakan ilmu loncat dari Tay Siang Siansu.
Ketika berada diatas tembok, ia berjumpalitan melayang turun kedalam.
Tatkala berada didalam tembok, Yan-chiu agak terkesiap heran.
Boleh dikata ruangan2 disitu hampir sama satu dengan yang lain.
Sampaipun lankan terali pagar modelnya sama semua.
Kemana ia hendak mencari The Go?
Tengah Yan-chiu ter-mangu2, dilihatnya disebelah muka sana ada sebuah cahaya penerangan.
Kalau tak masuk sarangnya, tentu tak bisa mendapatkan anak harimau, Yan-ciu mengambil keputusan.
Kesanalah ia ayunkan langkahnya.
Tapi setelah melewati dua buah kamar, ia menjadi bingung dibuatnya, kepalanya terasa pening.
Tak dapat ia membedakan arah mata angin lagi.
Diempat penjuru, semuanya kamar dan lorong serambi.
Diam2' terbitlah sesalnya, mengapa tak mau mendengarkan nasehat Kui-ing-cu.
Kalau malam itu tak dapat lolos, terang ia tentu akan menghadapi bahaya.
Hendak ia balik lagi ketempat tadi, tapi ber-putar2 sampai sekian lama tetap ia tak dapat menemukan jalannya.
Cahaya lampu yang dilihatnya, pun tiada tampak lagi.
Selagi ia mengeluh, se-konyong2 dari arah belakang terasa ada orang menyerang.
Buru2 ia hendak maju selangkah, tapi untuk kekagetannya, sebilah pedang telah menghadangnya.
Yang mengacungkan pedang itu ternyata seorang anak kecil.
Yan-chiu tak gentar, terus ia dorongkan tangannya untuk menangkap anak itu.
Gerakan itu disebut "gong chiu toh peh jim", dengan tangan kosong merebut senjata musuh.
Duapuluh tahun lamanya setelah menderita kekalahan dari suami isteri Hay-te-kau dan Kiang Siang Yan, Tay Siang Siansu bersembunyi digunung Hoa-san untuk menciptakan ilmu tersebut yang kelak sedianya hendak digunakan merebut pedang sepasang suami isteri itu.
Tapi akhirnya, dengan bertambah dalamnya kebatinan Siansu itu, dia telah kikis habis rasa dendam itu.
Oleh karena tak jadi melakukan pembalasan, jadi ilmu itu belum pernah digunakan.
Yanchiulah yang beruntung mempraktekkan.
Bermula Yan-chiu yakin tentu akan dapat merampas senjata anak itu, tapi diluar dugaan anak itu tangkas sekali.
Sekali surut kebelakang, anak itu menghilang.
Yan-chiu hendak memburu, tapi tiba2 dibelakangnya ada sesosok tubuh kecil menusuk dengan pedang.
Yan-chiu terperanjat.
Ketika ia hendak ulurkan tangan merampas, dari arah belakang punggungnya kembali sudah terdengar suara senjata melayang.
Tak mau ditelan mentah2 disamping jangan sampai menerbitkan suara gaduh, Yan-chiu enjot tubuhnya naik keatas genteng.
Tapi baru sang kaki menginjak genteng, tiba2 serasa genteng itu longsor kebawah dan sudah tentu iapun ikut terperosok jatuh kebawah, bum.......
Tapi anehnya, genteng itu tampak secara otomatis menyerampang lagi.
Yan-chiu leletkan lidah mengagumi kelihayan Ang Hwat cinjin.
Sampaipun genteng atau atap rumah juga berupa alat jebakan.
Tempat dimana ia jatuh itu, ternyata merupakan sebuah kamar kecil yang tiada jendelanya sama sekali.
Yan chiu coba mendorong dindingnya, tapi sedikitpun tak bergeming.
Yan-chiu makin gelisah.
Dengan se-kuat2-nya ia hantam dinding itu dengan bandringan, bang....
dinding itu hanya berkerontang macam besi terpukul tapi tak kena apa.
Yan-chiu mulai kalap.
Ia putar bandringan menghantam keseluruh ruangan itu, tapi setiap bagian yang terkena bandringan, tentu berbunyi keras dan bandringannya pun terpental balik.
Jadi terang ruangan itu terbuat daripada besi yang kokoh.
Setengah jam kemudian, Yan-chiu rasakan tangannya capai kesemutan.
Akhirnya ia hanya dapat menghela napas panjang dan berhenti menghantam.
Baru dia berbuat begitu, atau dari atas tembok segera terbuka sebuah pintu kecil.
Lekas2 Yan-chiu mengumpat dipojok kamar sambil siapkan bandringannya.
Tak peduli siapa yang kelihatan masuk, tentu dibunuhnya.
Tapi sampai sekian saat tak ada sebuah bayanganpun yang masuk, kecuali sebuah ketawa dari anak kecil.
Yan-chiu terkesiap heran.
Berselang beberapa saat lagi, kedengaran ada suara orang ber-kata2.
"Kau masuk dulu!"
"Ditilik dari potongan tubuhnya, dia tadi seperti seorang wanita. Huh, aku takut, jangan2 setan!"
"Fui, kau saja yang masuk dulu. Masa akupun tak takut juga!"
Sahut yang seorang. Nada kedua orang itu bening nyaring macam suara kanak2. Yan-chiu tergerak hatinya dan kedengaran suara ketawa cekikikan lagi.
"Lekaslah masuk, jangan sampai digegeri sucou yang tentu mendamprat kita ini hanya tahu ber-main2 saja, tapi disuruh tangkap pencuri tak mampu!"
Kata salah seorang. Yan-chiu agaknya pernah mengenal suara orang itu. Tiba2 ia teringat dan menjadi girang bukan buatan, serunya.
"Bukantah disitu Kuan Hong dan Wan Gwat berdua siaototiang?, Mengapa masukkan aku disini, kemarilah lekas!"
Begitu ia bersuara, disana orang diam tak menyahut.
Yan-chiu ulangi lagi seruannya dan barulah tampak ada sebuah kepala menongol kedalam.
Hai, itulah kepala seorang anak berumur 14-an tahun, wajahnya terang, bibirnya ke-merah2an.
Ya, tak salah lagi, itulah to-thong (murid imam) yang dijumpai tempo ia datang kesitu dahulu.
Setelah masuk, anak gereja itu segera menyulut lampu dengan korek.
"Siao-totiang, mengapa aku dijebluskan disini?"
Pura2 Yan-chiu menegur dengan marah. Dasar anak2, to-thong itu menjadi ke-merah2-an mukanya, lalu berseru kesebelah atas.
"Wan Gwat, mengapa tak lekas datang kemari. Kita telah kesalahan menangkap orang baik2, inilah cici yang tempo hari datang kemari hendak mencari The suko!"
Selamanya Yan-chiu hanya memanggil suko atau suci. Belum pernah ia dipanggil cici oleh orang. Maka dipanggil taci, saat itu girang Yan-chiu tak terkira.
"Wan Gwat totiang, apa benar kau tak mau turun kemari ?"
Katanya. Sebagai jawaban, seorang tothong kecil menobros masuk, siapa dengan ke-merah2-an wajah segera membuka mulut.
"Cici hendak cari The suko, mengapa datang pada waktu begini malam? Untung berjumpa dengan kami berdua, kalau lain orang tentu repot!"
Yan-chiu biarkan saja kedua anak itu menganggap begitu. Malah menurutkan lagu mereka, ia segera menyahut.
"Ya, aku cari Cian-bin Long-kun karena ada urusan penting. Kukira begitu datang kemari, tentu bakal ada orang yang memberitahukan. Siapa tahu, kalian berdua telah menyambutku dengan serangan, malah genteng diatas rumah ini juga dipasangi perangkap!"
Tu lihat bagaimana pintarnya sigenit. Ia yang salah, tapi dengan cerdiknya ia timpahkan kesalahan itu pada kedua anak tersebut.
"Cici jangan heran. Peraturan digereja sini memang demikian. Bila ada orang yang berani datang menggelap, tentu akan diringkus dan dimasukkan dalam kamar tahanan. Hukumannya menunggu keputusan toa-supeh. Atap gereja ini asal yang berwarna hijau tentu merupakan alat jebakan. Hanya yang berwarna merahlah yang tidak dipasangi perangkap!"
Menerangkan kedua tothong itu.
Takut kalau Yan-chiu marah, kedua anak itu tanpa diminta telah membuka rahasia alat jebakan digereja situ.
Walaupun hatinya girang, tapi Yan-chiu tentu membuat wajahnya bengis, ujarnya.
"Kalau begitu, lekas antarkan aku ketempat Cian-bin Long-kun! Jangan menelantarkan urusan penting ini. Apa kalian tak mengetahui tentang pertempuran dihari pehcun nanti?"
Digertak begitu, kedua tothong itu ter-sipu2 menyahut.
"The suko saat ini masih berada ditempat sucou sana untuk meyakinkan ilmupedang Khit-sat-kiam-hwat. Dia pesan, siapa saja tak boleh menemuinya. Maafkan, harap cici jangan sesalkan kami berdua !"
"Huh, kalian tahu apa? Urusan ini teramat penting sekali! Kalah atau menang fihak Ang-hun-kiong, tergantung pada urusan ini, jangan kau main percaya kalau sucoumu itu tak bisa terkalahkan. Ketahuilah, bahwa tokoh2 macam Hay-te-kau, Kang Siang Yan, Siang Siansu, Kui-ing-cu dan beberapa tokoh lainnya akan datang kemari. Masa fihak gereja sini takkan kelabakan nantinya. Huh, kalian ini tahu apa!"
Yan-chiu menyomel. Karena mengira benar2 begitu, kedua tothong itu tak berani berayal lagi. Cepat2 mereka ajak Yan-chiu memanjat keluar dari lubang pintu diatas tadi.
"Cici, kalau tiba pada tiang kuningan sana, kau biluk kesebelah kiri, nanti tentu sampai disebuah paseban besar. Disamping paseban itu, ada sebuah ruangan kamar. disitulah The suko dan sucou sedang berlatih. Kami sedang bertugas jaga malam, maaf tak dapat menemani. Ini kuberi sebuah tong-pay (pertandaan), kalau ada orang yang menghadang, tunjukkan saja tong-pay ini, tentu beres kata kedua anak itu demi sudah keluar. Kuan Hong dan Wan Gwat adalah murid dari Sam-mo Long Tek-san. Biasanya kedua anak itu amat cermat sekali dan ilmu silatnya pun lumayan. Oleh karena tempo pertama kali Yan-chiu berkunjung kegereja itu telah meninggalkan kesan yang baik pada mereka, maka itu dengan mudah sekali ia dapat membuat kedua to-thong itu percaya keterangannya. Bahkan telah memberinya tong-pay atau pertandaan jaga malam dari gereja Ang-hun-kiong itu. Tong-pay itu hanya sebesar telapak tangan orang saja. Dipermukaannya diukir dengan lukisan beberapa gumpal awan merah (ang hun), sedang disebaliknya terdapat tulisan "Ang Hun Kiong"
"Nanti bila berjumpa dengan Cian-bin Long-kun aku tentu akan mengemukakan budi pertolonganmu ini. Bukankah kalian mengagumi ilmu kepandaian-nya?"
Tanya Yan-chiu.
"Ya, kami ingin sekali mendapatkan pelajarannya ilmu silat hong-cu-may-ciu itu!"
Dasar anak2, kedua to-thong itu menyatakan apa yang dikandung dalam hati.
Yan-chiu menyanggupi, lalu ayunkan langkah kemuka.
Memang setelah diamat2i dengan perdata, pada setiap dua atau tiga buah kamar, tentu ada sebuah tiang yang terbuat daripada kuningan.
Dari situ, ia membiluk kekiri dan terdengar seseorang menegurnya.
Yan-chiu terperanjat.
Ada suaranya, tapi mengapa tak tampak orangnya.
Yan-chiu tak tampak orangnya.
Yan-chiu tak mau menyahut, melainkan tunjukkan tong-pay keatas di-goyang2kan beberapa kali, tapi sembari teruskan langkahnya.
Kira2 berjalan beberapa meter jauhnya, didengarnya dari arah belakang ada dua orang ber-cakap2.
Kata yang seorang.
"Huh, mengapa seorang anak perempuan? Aneh sekali ni!"
Yang-chiu terkesiap, tapi ada seorang lain kedengaran berkata.
"Peduli apa denganmu ? Ia membawa lengpay, itu sudah cukup. Kalau banyak usil, kau tentu dibenci orang. Sucoupun tentu tak mau turunkan pelajaran Khit-sat-kiam-hwat padamu!"
Diam2 Yan-chiu mendapat kesan, bahwa Ang Hwat cinjin itu berat sebelah.
Dia keliwat manjakan The Go, sehingga menimbulkan ketidak-puasan anak murid Ang-hunkiong lainnya.
Setelah melalui penjagaan yang sangat gawat itu, dengan legahnya Yan-chiu terus menuju kemuka.
Beberapa kali ia kesamplokan dengan penjaga2, tapi berkat tongpay yang berpengaruh besar itu, dapatlah ia tiba dipaseban besar.
Dipaseban itu terdapat sebuah patung, dimukanya ada 3 batang lilin sebesar lengan orang.
Tiada seorang yang tampak disitu.
Kuatir kalau dipergoki orang, buru2 Yan-chiu melintasi paseban itu.
Benar juga disebelah muka sana terdapat sebuah ruangan yang tampak ada penerangannya.
Lapat2 terdengar suara orang bermain pedang.
Menduga kalau The Go tentu berada disitu, ia dengan ber-jengket2 menghampiri.
Ruangan rumah itu empat kelilingnya mempunyai pintu.
Tapi semuanya ditutup rapat.
Yan-chiu tempelkan mukanya kejendela dan mengintip dari sela2nya.
Tapi seperti orang dipagut ular, ia segera menyurut kebelakang.
Kiranya sewaktu ia mengintip kedalam itu, ia belum sempat melihat apa2.
Yang tampak, hanya ada sepasang mata ber-kilau2-an, ber-api2 memandangnya.
Ia kira kalau perbuatannya itu telah diketahui orang, maka buru2 ia menyurut tadi.
Itulah karena ia keliwat ber-hati2, jadi menyangka yang tidak2.
Sebenarnya, mata itu tak memandang padanya, hanya karena keluar-biasanya, jadi se-olah2 seluruh ruangan itu tercangkum dalam sorotannya.
Tiba2 dari sebelah dalam kedengaran The Go bertanya.
"Sucou, apakah gerakan jurus yang tadi sudah benar?"
Anehnya, pertanyaan itu tiada orang yang menyahut, hanya lagi2 kedengaran suara samberan pedang.
Yan-chiu tak dapat bersabar lagi, lalu mengintip disela jendela.
Yang pertama tampak padanya, lagi adalah sorot sepasang mata yang berapi luar biasa itu.
Kali ini Yan-chiu tak menghiraukan dan mengawasi dengan perdata keadaan didalam situ.
Kini tegas dilihatnya The Go sedang memainkan pedang kuan-wi.
Ilmu pedang yang dimainkan itu aneh sekali gerakannya.
Disudut ruangan sana, ada sebuah kursi thay-su (guru besar) yang diduduki oleh seorang yang bermuka jelek sekali.
Mulut lebar, hidung pisek, rambut kepalanya ke-merah2an, mengenakan jubah pertapaan berwarna merah.
Yang luar biasa pada orang itu, adalah sepasang matanya yang ber-kilat2 laksana memancarkan api.
Yan-chiu menduga, imam itu tentulah Ang Hwat cinjin, kepala gereja Ang-hun-kiong, yang sangat termasyhur didunia persilatan.
Dari sorot matanya yang sedemikian hebatn ya, terang kalau lwekang dari imam itu telah mencapai tingkat kesempurnaan.
"Go-ji, dalam pertemuan hari pehcun nanti, harus menang tak boleh kalah. Kau mengerti ?"
Tiba2 Ang Hwat cinjin kedengaran berkata dengan pelahan, namun lengking suaranya menusuk kedalam telinga, terus menggetarkan hati.
"Cucu murid mengerti,"
Sahut The Go. Ang Hwat ciinjin menghela napas, ujarnya pula.
"Go-ji, setelah dapat memahamkan Khit-sat-kiam-hwat itu, kepandaianmu lebih tinggi dari ketiga supehmu. Pesan dari marhum ayahmu, kiranya tak sampai kuabaikan!"
Mendengar itu, The Go kedengaran berhenti bermain pedang, katanya.
"Su-cou, kuingat kaupernah mengatakan bahwa menggunakan ular sebagai jwan-pian (ruyung lemas) saktinya bahkan terkira. Adakah ular ceng-ong-sin itu tak memenuhi sarat?"
Ang Hwat mengiakan, sahutnya.
"Memang tepat sekali. Tapi dalam pertempuran nanti, apabila fihak musuh terdapat tokoh yang tangguh, sudah tentu aku tak dapat berpeluk tangan. Ilmu itu, kelak saja masih belum terlambat kuajarkan. Sekarang rasanya mustika dalam batu itu yang lebih penting, harus kau cari dulu!"
The Go memberi jaminan bahwa tempat dia sembunyikan mustika itu, tiada seorangpun yang dapat mengetahuinya. Ang Hwat menyatakan syukur, kemudian menerangkan.
"Rawa2 yang kau sebutkan itu, namanya Hek-cui-tham (rawa air hitam). Dahulu aku pernah datang kesana, ya memang sangat aneh sekali!"
Yan-chiu terpikat sekali perhatiannya hendak mendengarkan keterangan Ang Hwat tentang keadaan rawa itu lebih jauh, tapi untuk kemengkalannya, Ang Hwat tak membicarakan lagi hal itu, melainkan suruh The Go berlatih lagi.
Demi sangat memikirkan diri Tio Jiang dan Nyoo Kong-lim yang hilang lenyap dirawa itu, Yan-chiu lupa diri, lupa untuk menahan napasnya.
Memang bagi seorang biasa, tarikan napas lain orang tentu tak dapat terdengar.
Tapi tidak demikian dengan Ang Hwat cinjin.
Se-konyong2 cinjin itu tampak kerutkan sepasang alisnya yang menjulai panjang itu, sehingga bengis sekali tampaknya.
Yan-chiu masih enak2 mengintip, ketika sepasang mata cinjin itu lekat2 memandang kearahnya.
Rasanya tidak kecewa Yan-chiu dianggap seorang nona yang cerdas.
la mendapat firasat, ada sesuatu yang kurang beres.
Menduga keras kalau Ang Hwat cinjin telah mengetahui dirinya, secepat itu juga ia terus enjot kakinya loncat keatas.
Tapi tepat ketika tubuhnya tengah melambung itu, sebuah titik putih melayang keluar dari jendela, tepat mengenai zool sepatu Yan-ciu, terus meluncur masuk kedalam dinding.
GAMBAR 59 Sekali Ang Hwat Cinjin membusungkan dadanya, tiba2 Yan-chiu merasa suatu tenaga maha besar menumbuk kearahnya, tanpa kuasa lagi tubuhnya me-layang2 jauh Yan-chiu makin gugup.
Ia menginsyafi dirinya telah dipergoki.
Seperti dikejar setan, ia segera lari keluar.
Saat itu cuaca sangat gelap.
Tahu2 ia merasa seperti membentur benda yang sangat lunak.
Ketika mendongak mengawasi kemuka, hai..., hai..., itulah rambut gimbal dari Ang Hwat cinjin!
Saking terkejutnya, Yan-chiu seperti melihat momok disiang hari dengan gugup ia hendak lari kebelakang tapi Ang Hwat cinjin sudah dongakkan kepala tertawa.
Anehnya, walaupun mulutnya menganga, tapi tak kedengaran suara ketawanya, hanya perutnya yang tampak mengial-ngial.
Yan-chiu segera rasakan ada sebuah tenaga dahsyat menggempurnya.
Buru2 Yan-chiu loncat keatas, namun ketika berada diatas udara, ia sudah menjadi seperti sebuah layang2 putus.
Andaikata tiada ada pagar tembok tentu ia sudah melayang jauh entah jatuh dimana.
Terbentur dengan tembok itu, sakitnya bukan kepalang.
Cepat2 ia empos semangatnya untuk menahan kesakitannya.
Begitu jatuh ketanah, diantara pandangan matanya yang ber-kunang2 itu, tampak Cian-bin Long-kun sudah menghampirinya.
"Oh, kiranya nona Liau!"
Serunya. Walaupun dalam hati sangat membenci sekali, namun lahirnya terpaksa Yan-chiu memain senyum diwajah.
"Cian-bin long-kun, apakah kau baik2 saja selama ini?"
Tanyanya. The Go tertawa iblis, sahutnya mengejek.
"Syukurlah tak sampai digigit mati oleh ceng-ong-sin!"
Yan-chiu terpepet ditembok, jadi tak dapat lolos. Ang Hwat cinjin kembali masuk kedalam ruangan belajar silat tadi, sembari memerintah.
"Go-ji, ringkus dia lebih dulu!"
Sembari mengiakan, The Go sudah lantas memampaskan pedangnya kelengan Yan-chiu, siapa walaupun tampak tak mau melawan, tapi diam2 nona itu telah mengatur siasat.
Dilihatnya Ang Hwat sudah masuk kedalam, selagi The Go menduga, ia hendak menerjangnya.
"Nona Liau, berikan tanganmu untuk diikat!"
Kata The Go.
Yan-chiu ulurkan kedua tangannya lurus kemuka.
Walaupun tidak secantik Bek Lian, namun paras Yan-chiu cukup menggiurkan.
Biasanya nona itu genit dan tajam mulut, maka saat itu The Go hendak balas mempermainkan.
Pedang dipindah ketangan kiri, lalu ulurkan tangan kanan untuk men-jawil2.
Saking murkanya Yan-chiu hampir mati dibuatnya.
Tapi ia tak mau lewatkan ketika sebagus itu.
Baru tangan The Go merabah tangan kiri Yan-chiu, nona itu segera balikkan tangannya kanan kemuka.
Gayanya aneh, mendorong bukan mendorong, menebas tidak.
Itulah ilmu ajaran Tay Siang Siansu yang diciptakan sendiri.
Yakni salah satu jurus dari "gong chiu toh peh jim"
Yang disebut "merogoh kantong mengambil barang".
Siku kiri The Go tepat dapat dicengkeramnya.
Ilmu ciptaan Tay Siang Siansu itu, ternyata tak bernama kosong.
Dahsyatnya tak terkira.
Tangan The Go dirasakan lemas lunglai, mau tak mau kelima jarinya terbuka dan tahu2 pedang kuan-wi telah berpindah ketangan Yan-chiu.............
Dalam kegirangannya, Yan-chiu sudah terus hendak gerakkan pedang, tapi pergelangan tangannya kiri terasa sakit lemas lunglai.
Demi merasa diakali sinona, cepat sekali The Go pijat se-keras2 pergelangan tangan orang.
Sudah tentu gerakan Yan-chiu sangat terganggu.
"Kalau tak kau lepaskan cekalanmu itu, tentu akan kutabas!"
Yan-chiu mengancam dengan pelahan.
GAMBAR 60 Sambil masih mencengkeram tangan kiri sigadis, dengan geramnya The Go berusaha, merebut kembali Kuan-wi-kiam, tapi Yan-chiu tidak kalah tangkasnya, cepat ia tarik pedang itu terus menusuk Biasanya The Go selalu mempedaya orang, sudah tentu kali ini dia marah sekali.
Diancam begitu, dia malah perkeras pijatannya, sembari gunakan ilmu siao-kin-na-chiu untuk merebut pedang.
Juga Yan-chiu tak mau begitu gampang2 menyerahkan pedang pusaka itu.
Dengan gunakan jurus Kut-cu-tho-kang dari ilmupedang Hoan-kang-kiamhwat ajaran Kang Siang Yan, ia babat jari orang.
The Go kaget dan buru2 tarik pulang tangannya, tapi Yan-chiu mengejarnya dengan jurus kiang-sim-poh-lo, menusuk kaki.
Jarak begitu dekat sekali, terpaksa The Go harus memilih satu diantara dua.
Biarkan kakinya terbatas, atau lepaskan cengkeramnya pada pergelangan tangan sinona.
Sebenarnya The Go boleh memilih jalan kedua, toh disitu masih ada Ang Hwat cinjin.
Sekalipun ada 10 Yan-chiu, tetap takkan dapat lolos.
Tapi dasar orang ganas, sembari loncat menghindar sabetan pedang, dia gunakan jari kelingking untuk menutuk pergelangan tangan sinona.
Tutukan itu hebat akibatnya, dapat menembus sampai keurat jantung dan orangnya tentu menjadi limbung pikirannya.
Yan-chiu segera merasa separoh tubuhnya menjadi mati rasa, jantungnya berdebur keras.
Ia menjadi kalap.
Dengan sisa tenaganya yang masih, ia menusuk.
The Go miringkan tubuh, tapi lengan bajunya kena tertusuk pecah, malah lengannyapun kena tertusuk sedikit hingga mengucurkan darah.
Tapi dalam pada itu, dia menusuk lagi lebih keras.
Jantung Yan-ciu seperti me-lonjak2 mau loncat keluar.
Dadanya serasa manis.
Yan-chiu membuladkan tekad.
Kalau tak mengadu jiwa, sukarlah rasanya untuk lolos.
Dengan tahan rasa sakitnya, Yan-chiu menabas tangan si The Go yang mencengkeram pergelangannya itu.
Gerak tabasan itu tak menurut gerakan ilmu silat lagi, pokok asal dapat mengenai saja.
The Go terkejut, Kalau hendak menghindar, dia harus lepaskan cengkeramannya.
Tapi dia tak kurang akal.
Sebat sekali tangan Yan-chiu itu ditariknya kemuka.
Kalau Yan-chiu teruskan babatannya, bukan The Go yang kena, tapi tangan Yan-chiu sendirilah.
Yanchiu tahu akan hal itu, maka lekas2 ia balikkan siku untuk menahan pedangnya, kemudian dari situ ia babatkan kemuka.
--oodwkzOTAHoo--BAGIAN 33 .
LOLOS DARI LUBANG JARUM Sudah tentu The Go tak mau biarkan dirinya dibabat seperti batang pisang.
Dengan sekali dua langkah, dia sudah melejit kebelakang sinona, sembari pelintir-tangan orang.
Yan-chiu meringis kesakitan, hendak ia membacok kebelakang, tapi Tho Go berlincah kian-kemari, jadi sia2 saja.
Dalam keputusan daya itu, Yan-chiu mengambil putusan nekad.
Daripada kena ditawan hidup2an dan menerima, lebih baik ia mati ber-sama2 dengan musuh.
Begitu pedang diangkat kemuka, ia terus hendak membabat dirinya sendiri.
Pikirnya biar tubuhnya terkutung, tapi musuhpun pasti kena juga.
Tapi rencananya itu, dapat diketahui The Go, siapa menjadi terperanjat sekali.
Hanya karena mentaati pesanan sang sucou supaya menangkap hidup2an nona itu, maka dia tak mau mencelakai Yan-chiu.
Andaikata tidak begitu, dari tadi2 dia, sudah dapat mempelintir putus lengan sinona.
Buru2 The Go melejit kehadapan sinona lagi.
Belum Yan-chiu sempat merobah gerakannya, sebat luar biasa The Go ulur tangan hendak merebut.
Tapi tak kalah sebatnya, Yanchiu sudah lantas membabat kearah pinggang orang.
Saking gugupnya, gerakan Yan-chiu itu sudah tak menurut gerakan ilmu pedang lagi.
Dalam keadaan begitu, mau tak mau The Go terpaksa loncat kebelakang dan lepaslah cengkeramannya itu.
Terlepas dari cengkeram besi, Yan-chiu pulih semangatnya.
Cepat ia memburu dengan serangan it-wi-tok-kiang.
Saking kuncup nyalinya, The Go terus hendak panjangkan langkah, tapi tiba2 Ang Hwat cinjin kedengaran berseru "Go-ji, apa sudah selesai?"
Dapat dibayangkan betapa bingung The Go pada saat itu.
Bukannya dapat meringkus, tapi pedangnya malah dapat direbut sinona.
Dia tahu watak Ang Hwat itu sangat aneh sekali, yalah mengindahkan sekali pada bangsa orang gagah.
Kalau keadaannya itu sampai ketahuan Ang Hwat, dia tentu akan dipandang hina.
Maka dengan keraskan hati, dia menyahut.
"Ya, sudah hampir!", seraya menerjang pada Yan-chiu. Kini tangannya itu sudah tambah dengan sebuah kipas yang hendak digunakan menutuk jalan darah ing-hiang-hiat. Bermula Yan-chiu tertegun mendengar suara Ang Hwat tadi. Tapi begitu melihat The Go maju menyerang, ia tabaskan pedang, terus melarikan diri. Tapi pada saat itu, The Go sudah lancarkan ilmusilat hong-cu-may-ciu. Dia rangsang sinona rapat sekali. Beberapa, kali Yan-chiu berusaha hendak lolos, tapi selalu gagal untuk menembus serangan lawan yang begitu gencar itu. Lama2 Yan-chiu murka, pedang dipindah ketangan kiri, lalu dengan jurus Pah-ong-oh-kiang, ia menusuk tenggorokan orang. Munculnya serangan ilmu pedang Hoan-kang-kiam-hwat itu telah merobah situasi pertempuran. Dari menyerang, kini The Go beralih diserang, malah untuk menghindar dari serangan itu, dia nampaknya sangat susah payah sekali. Sebaliknya Yan-chiu makin dapat hati. Melihat serangannya berhasil, ia susuli lagi dengan lain jurus dari ilmu pedang itu yang disebut kiang-cui-kiu-jiok. Saat itu, betul2 The Go mati kutu. Dari satu kelain tempat main menghindar, tak terasa dia sudah mundur sampai satu tombak lebih jauhnya. Yan-chiu maju dua langkah lagi. Pedang diangkat, terus hendak dibacokkan lagi. Tapi baru pedang itu melayang, orangnya sudah loncat keluar. Maksudnya hendak lari membiluk ditikungan lorong. Tapi se-konyong2 ada sesosok tubuh, melayang kearahnya dan tahu sudah mencengkeram bahu sinona. Kiranya orang itu bukan lain Ang Hwat sendiri adanya. Karena keliwat lama, dia menjadi tak sabaran lagi. Apalagi didengarnya diluar ruangan situ agaknya seperti ada suara pertempuran, dia segera keluar menjenguk. Astagafirullah, bukannya murid kesayangannya itu meringkus sinona, 'tapi' sebaliknya dia pontang panting didesak oleh ceceran pedang sinona yang bermain dalam jurus kiang-cui-kiujiok tadi. Rencana melarikan diri dari Yan-chiu itu siang2 sudah diketahui oleh Ang Hwat, siapa segera mendongak keatas ketawa yang tiada terdengar suaranya itu. Tahu2 bagaikan segumpal awan merah, dia sudah melayang menyerang sinona yang segera dicengkeram bahunya itu. GAMBAR 61 Tahu2 Yan-chiu merasa segumpal awan merah menimpah dari udara, tiba2 Ang Hwat Cinjin menubruk, kearahnya, segera pundaknya terasa kesakitan dan pedangpun terjatuh ...................... Merasa, bahunya keliwat, sakit seperti dijepit oleh kait besi, Yan-chiu berpaling kebelakang. Demi tampak rambut gimbal merah, hidung pisek mulut lebar menghias muka Ang Hwat yang sedemikian jeleknya itu, Yan-chiu serasa terbang semangatnya. Trang....... jatuhlah pedang kuan-wi kelantai dari tangannya yang lemas seperti tak berurat lagi itu. Sekali tangan Ang Hwat bergerak, Yan-chiu terhuyung2 sampai beberapa meter kemuka. Untung Ang Hwat masih ingat kedudukannya sebagai tokoh ternama. Kalau tidak, dia tentu sudah gunakan 8 bagian kekuatannya untuk mendorong tadi. Dengan kepandaian yang dipunyai Yan-chiu pada waktu itu, kalau tidak terbanting hancur tentu remuk bubuk tulang belulangnya. Seperti telah diterangkan dibagian atas, Ang Hwat mempunyai watak aneh, menaruh perindahan pada orang gagah, Dia tak percaya kalau sinona itu dapat merebut pedang The Go. Maka tadi dia hanya mendorong sedikit, karena hendak menanyai lebih jelas. Maka walaupun jatuh tersungkur, namun Yan-chiu tak sampai terluka berat. Sebaliknya, The Go segera cepat2 memungut pedang itu. Mukanya ber-seri2 girang sekali. Mengira kalau dirinya bakal tak dapat lolos dari bahaya, Yan-chiu tak mau unjuk rasa takut. Setelah bangkit, ia berdiri dengan bertolak pinggang.
"Go-ji, mengapa pedangmu dapat direbut oleh budak perempuan itu ?"
Tanya An-g Hwat sembari bergantian memandang kepada The Go dan Yan-chiu. The Go mengeluh. Kalau terus terang, tentu bakal terima makian. Maka dia sengaja mengarang cerita, katanya.
"Ketika cucu murid agak lengah, budak itu segera menyambar pedang yang kutaruh diujung tembok!"
"Itu masuk akal!"
Nada suara Ang Hwat berobah tenang tak sebengis pertanyaannya tadi.
Kini dapatlah Yan-chiu menarik kesimpulan mengenai diri kepala gereja Ang-hunkiong itu.
Dengan tak mau membanting se-keras2nya, terang kalau imam kepala itu sangat menjunjung kehormatan nama.
Apalagi dari kesimpulan pembicaraannya dengan The Go tadi, cinjin itu sangat menganggap dirinya sebagai tokoh persilatan yang mempunyai kedudukan tinggi, maka diapun menempatkan cucu muridnya itu sebagai jago kelas tinggi juga.
"Orang she The, apa kau mempunyai rahi gedek (bermuka tebal)? Kalau tak kurampas dari tanganmu, apa pedang itu kurebut dari cengkeram binatang kura2 ?"
Dampratnya nyaring2 agar didengar Ang Hwat. Wajah The Go berubah pucat, sedang sepasang mata Ang Hwat menjadi beringas sekali.
"Sucou, jangan percaya ocehan budak itu. la hendak membikin provokasi supaya kau marah. Budak macam dia, mana bisa merebut pedang didalam tanganku!"
Buru2 The Go menyanggapi. Yan-chiu tertawa gelak2. Nada ketawanya bening dan congkak sekali. Dengan tak mengunjukkan perobahan air muka, Ang Hwat berseru.
"Budak perempuan, dari perguruan manakah kau ini, malam2 berani mengadu biru digereja sini? "
Pertanyaan kepala gereja itu, memberi kesempatan pada Yan-chiu untuk merangkai siasat. Serta merta ia memberi hormat pada Ang Hwat lalu menghaturkan keterangan.
"Hopwe (aku) adalah murid dari Ceng Bo siangjin, kepala gereja Cin-wan-kuan dipuncak Giok-li-nia gunung Lo-husan! Aku dititahkan suhu untuk menghadap pada cianpwe disini guna menetapkan waktu dari pertempuran dihari pehcun itu."
"Dua negara yang bermusuhan, tak boleh membunuh seorang utusan". Berpegang pada dalil itulah maka Yan-chiu menyatakan dirinya sebagai seorang duta. Kedengaran Ang Hwat mendenguskan suara hidung. Untung tadi The Go tak jadi meringkusnya, kalau tidak, tentu akan menjadi buah tertawaan orang persilatan. Tapi diapun tak gampang2 mempercayai keterangan itu.
"Adakah kau membawa surat dari suhumu?"
Tanyanya. Yan-chiu tertegun sejenak, tapi dengan tangkasnya ia segera menyahut.
"Kaum gagah dari dunia persilatan, mulutnya berharga seperti emas. Mengapa mesti pakai surat!"
Suatu jawaban yang tangkas dan tepat. Tapi sejenak ia tertegun tadi, telah dipegang oleh The Go, siapa dengan tertawa dingin lalu memberi bantahan pada sucounya.
"Sucou, jangan kena diakali. Memang benar ia adalah murid dari Ceng Bo siangjin. Sampai pada malam ini, siangjin itu bersama rombongannya belum tiba dikaki gunung, bagaimana bisa menyuruh budak itu memberitahukan kemari? Apalagi pertempuran hari pehcun itu, sudah jelas dijanjikan secara lisan. Perlu apa diterangkan lagi? Kuyakin, disitu tentu terselip rencana keji. Ceng Bo siangjin dan kawan2nya itu, tentu mengiri akan kebesaran nama dari su-cou. Kedatangan mereka kegunung ini, rasanya tentu dengan maksud lain lagi. Bukan mustahil mereka hendak merebut gereja Ang-hun-kiong yang sedemikian bagusnya ini!"
Mendengar uraian The Go, rambut Ang Hwat sama menjigrak semua. Tapi Yan-chiu masih coba berlaku tenang, katanya dengan tertawa tawar.
"Orang she The, oleh karena takut kau digegeri sucoumu karena pedangmu dapat kurampas, maka sengaja kau karang cerita itu, supaya cianpwe menumpahkan kemarahannya padaku, bukan?"
Diam2 The Go mencaci maki Yan-chiu. Dia cukup faham akan watak perangai sucounya itu. Dan kekuatirannya itu ternyata benar. Rupanya Ang Hwat terpengaruh oleh kata,2 sinona, katanya kepada The Go.
"Go-ji, tak peduli dengan maksud apa ia datang kemari ini, tapi kata2nya yang menekankan bahwa ia telah berhasil merebut pedangmu itu tadi, sungguh keliwatan. Sekarang coba kau main2 beberapa jurus dengan dia, apa ia mampu merebut pedangmu itu tidak!"
Mendengar keputusan sucounya itu, legalah hati The Go.
Tapi karena Yan-chiu sudah tak berdaya, maka dia agak lengah.
Akibatnya sinona telah dapat merebut pedang kuan-wi.
Kini biar bagaimana, sinona tentu tak mampu melakukan hal itu.
Maka begitu mulutnya mengiakan, pedangnya sudah segera menusuk keulu hati Yan-chiu, hingga sinona genit tak sempat ber-kata2 lagi.
Gerak serangan The Go itu diambil dari salah satu jurus ilmupedang Chit-sat-kiam-hwat yang baru saja dipelajari itu.
Ilmu pedang yang kebanyakan, jurus pembukaan tentu bergaya menyerang musuh.
Tapi ilmupedang chit-sat-kiahwat itu, berlainan halnya.
Bukan saja jurus pembukaannya, tapipun seluruh permainan yang terdiri dari 49 jurus itu, semuanya merupakan jurus serangan yang berantai ber-tubi2 susul menyusul.
Sebagai achli penutuk jalan darah, Chit-sat-kiam-hwat buah ciptaan Ang Hwat cinjin itu selalu mengarah jalan darah lawan.
Merupakan ilmupedang yang serba guna.
Maka, Ang Hwat belum mau menurunkan ilmu pedang sakti itu, sebelum The Go berhasil mendapatkan pedang pusaka.
The Go berotak cerdas.
Setelah mendengarkan penjelas Ang Hwat dan kemudian melakukan satu kali gerakannya, dapatlah sudah dia mainkan ilmupedang sakti itu dengan baiknya.
"Jurus pertama "hiong mia ce hian" (nasib jelek bintang mengunjuk) nampaknya menjuju kedada Yan-chiu, tapi begitu melayang tiba, ujung pedang sudah mengarah juga jalan darah thian-tho-hiat ditenggorokan orang. Yan-chiu masih belum jelas akan maksud Ang Hwat menyuruh The Go bertempur dengan ia lagi itu. Tapi turut kesimpulan yang layak, kalau ia dapat merebut pedang si The Go, tentulah akan diberi kebebasan. Dengan membawa harapan itu, Yan-chiu tumplak seluruh perhatiannya untuk menghadapi serangan lawan. Untuk ujung pedang yang hendak menusuk tenggorokan itu, Yan-chiu segera miringkan kepalanya menghindar. Hanya 3 dim saja ujung pedang itu lalu disisi leher Yan-chiu, dan dengan girangnya The Go jungkatkan pedang untuk menutuk jalan darah hong-tihiat dibelakang batok kepala sinona. Untuk itu, terpaksa Yan-chiu turunkan tubuhnya kebawah dan lagi2 dapatlah ia menghindar. Dua buah serangan The Go itu teramat lihainya. Semuanya merupakan serangan maut. Dan Yan-chiupun mengetahui akan hal itu. Begitu tubuh menurun, ia segera melangkah satu tindak kesamping. Sebelum The Go sempat mengirim serangan baru, ia sudah lancarkan jurus kiang-cui-kiu-jiok, kiang-cui-kui-tang, yakni 2 jurus terakhir dari ilmu pedang Hoan-kang-kiam-hwat. Oleh karena ilmupedang itu dimainkan dengan tangan kiri, jadi sukarlah lawan menduga arah yang hendak diserang. Ya, memang permainan pedang dengan tangan kiri sangat membingungkan orang. Serangan yang istimewa gairahnya itu, telah membuat The, Go gugup kebingungan. Tapi pada lain saat, dia menertawai, kebodohannya sendiri. Dia mencekal pedang pusaka, mengapa jeri menghadapi pedang lawan yang terbuat dari besi, baja biasa? Dengan kelebihan itu, The Go tak mau berbanyak hati lagi. Begitu menghindar, dia terus angkat pedangnya menabas pedang Yan-chiu, siapa baru tersadar atas maksud The Go ketika keadaan sudah kasip. Tiba2 Yan-chiu mendapat sebuah siasat bagus.
"Trang ........ sengaja ia angkat pedangnya supaya ditabas musuh, tapi pada, lain saat berbareng dengan kutungnya pedang itu, The Go kedengaran menggerung keras dan ketika keduanya saling loncat kebelakang, pedang kuan-wi sudah berada didalam tangan Yan-chiu.
"Ang Hwat locianpwe, sudah jelas bukan?"
Tanya sinona dengan garang. The Go hendak maju menyerang lagi, tapi telah didesak, mundur oleh tabasan pedang Yan-ciu. Sementara Ang Hwatt cinjin sendiri juga kedengaran berseru.
"Go-ji, berhentilah! "
Tampak wajah sang sucou menjadi bengis, The Go bercekat dan tak berani bergerak lagi.
Apa yang telah terjadi, dalam pertempuran itu, telah dilihat jelas oleh Ang Hwat.
Ketika Yan-chiu sengaja umpankan pedangnya supaya ditabas The Go, Ang Hwat sudah mengetahui apa yang bakal terjadi.
Namun sebagai seorang cianpwe dunia persilatan, sudah tentu dia tak mau merosotkan gengsinya untuk membantu sang cucu murid.
Maka terpaksa dia melihati saja dengan hati mendelu.
Tatkala pedang Yan-chiu tertabas kutung, cepat bagai, kilat, Yan-chiu timpukkan kutungan tangkai pedangnya keperut lawan.
Jarak keduanya sangat dekat sekali, timpukan Yan-chiu cepat dan keras.
The Go buru2 miringkan tubuhnya kesamping dan dari situ dia sudah merencanakan hendak menghabisi jiwa sinona dengan sebuah tusukan.
Tapi adalah pada saat tubuhnya miring kesamping itu, Yan-chiu sudah julurkan tangan kiri untuk mencengkeram siku lengan The Go.
Gerakan Yan-chiu itu disebut "long tiong co biat"
Dalam kantong tangkap kura2.
Salah satu jurus dari ilmu gong-chiu-to-peh-jim (dengan tangan kosong merebut senjata) ciptaan Tay Siang Siansu.
Seperti telah kami paparkan terlebih dahulu, ilmu gong-chiu-to-peh-jim itu sengaja diciptakan oleh Tay Siang Siansu chusus untuk merebut pedang pusaka yap-kun dan kuan-wi dari sepasang suami isteri Hayte-kau dan Kiang Siang Yan itu.
Mengingat betapa tajamnya kedua pedang itu, maka setiap gerakan dari ilmu silat itu harus menurut timing dan arah sasaran yang tepat.
Sewaktu kelima jari Yan-chiu memijat siku lengan The Go, The Go segera merasa kesemutan.
Dan secepat tangannya merangsang maju dan mencekal tangkai pedang kuan-wi, terus dibetotnya kebelakang.
The Go hanya melongo saja ketika pedang kuan-wi itu pindah ditangan sinona.
Ang Hwat melihatnya dengan jelas.
Tentang ilmu kepandaian silat, sinona itu biasa saja.
Meskipun memiliki ilmupedang yang luar biasa, belumlah dapat digolongkan lihay.
Tapi ilmu merebut senjata tadi itulah yang luar biasa.
Karena kagum dia larang The Go bertempur lagi.
Yan-chiu girang sekali.
la cukup tahu tak mungkin dapat membawa pergi pedang pusaka itu, maka ditancapkannya pedang itu ditanah, lalu berkata.
"Rasanya persoalan hopwe masuk kegereja sini, sudah selesai. Maka hendak Mohon diri!"
Dengan sebuah bungkukan badan memberi hormat, Yan-chiu telah membuat Ang Hwat tak dapat berbuat apa2.
Malah untuk mengunjukkan gengsinya sebagai seorang cianpwe yang terhormat, dia perentah The Go antarkan sinona keluar.
Muka The Go merah padam, namun tak dapat berbuat apa2 kecuali mengiakan.
Terpaksa dia iringkan Yan-chiu keluar.
Yan-chiu tak mau lewatkan kesempatan untuk meng-olok2, ujarnya.
"Cian-bin long-kun, maafkan, hari ini aku berlaku kurang sopan padamu!"
Biasanya selalu The Go yang mengocok orang, tapi berhadapan dengan sigenit lincah dari Lo-hu-san, dia meringis seperti monyet kena terasi.
Setelah keluar dari pintu, Yan-chiu tak mau berayal lagi terus ber-gegas2 turun gunung, dan mencari sebuah penginapan.
Teringat akan avontuurnya (petualangan) tadi, dimana jiwanya hampir saja melayang, ia bergidik sendiri.
Keesokan harinya, belum juga Ceng Bo siangjin dan rombongannya kelihatan datang.
Memang hari pehcun masih kurang seminggu.
Syukur ia masih mempunyai uang cukup, jadi tidak sampai kerepotan.
--oodwkzOTAHoo-Kini marilah kita tengok keadaan Ceng Bo siangjin yang sudah lama kami tinggalkan.
Setelah berpisah dengan Nyo Kong-lim, Ki Ce-tiong serta Kiauto, dia menuju ke Hud-kong tempat kediaman ayah dari Ko Kui, itu Cecu dari markas no.
1 gunung Hoa-san yang telah gugur ditangan The Go.
Mendengar kisah kematian sang putera yang mengenaskan itu, Sin-eng (garuda sakti) Ko Thay seperti disambar petir.
Malam itu juga dia ajak Ceng Bo siangjin menuju ke Ko-to-san.
Sebenarnya kedua tokoh itu belum kenal mengenal, tapi karena keduanya adalah orang2 gagah yang berwatak ksatrya, maka dalam sekejab saja mereka sudah menjadi seperti kenalan lama.
Gelar dari Ko Thay adalah "sin eng".
Ilmunya mengentengi tubuh luar biasa hebatnya.
Senjatanya juga luar biasa, sepasang eng-jiao-thau (sarung cakar garuda), dapat dibuat menutuk 80 buah jalan darah orang.
Hebatnya bukan, terkira.
Begitulah setelah tiba di Kwiciu, lebih dahulu Ceng Bo ajak Ko Thay singgah kegereja Liok-yong-si.
Tapi disitu baik Tay Siang Siansu maupun Kiau To, sudah tak tampak.
Kini mereka lanjutan perjalanannya dengan perahu.
Menjelang petang hari, tibalah mereka, dikota Sun-tik.
Ko Thay yang sedang dirangsang oleh hawa kemarahan karena kematian puteranya, tampak berdiri dihaluan perahu sambil memandapg alun riak gelombang sungai.
Begitu bernafsu rupanya jago tua itu, hingga seandainya bisa, saat itu ingin dia sudah berada di Koto-san untuk mengadu jiwa dengan Ang Hwat cinjin, kemudian mencincang Cian-bin Long-kun.
Tahu akan perasaan hati orang, Ceng Bopun tak mau menggerecok.
Begitulah diatas geladak, kedua orang itu sama2 diam tak ber-kata2.
Se-konyong2 dari hulu sungai disebelah muka sana tampak meluncur sebuah perahu kecil.
Tapi walaupun hanya kecil, perahu itu dapat meluncur dengan pesatnya.
Siorang yang mengemudikan perahu itu, mencekal sebatang galah bambu.
Rupanya dia galak sekali.
Setiap ada lain perahu yang menghadang jalanannya, sekali congkel dapat diterbalikkan semua.
GAMBAR 62 Sedang Ceng Bo Siangjin dan Ko Thay mengawasi suasana sungai itu dihaluan perahu, tiba2 dilihatnya di depan sana lagi mendatangi sebuah perahu lebih kecil, seorang dengan galah panjang tampak membikin perahu2 nelayan disampingnya menjadi pontang-panting.
Ceng Bo dan Ko Thay marah atas perbuatan orang itu, yang dari dandanannya agaknya adalah bangsa paderi.
Tubuhnya kecil kurus tapi pakaiannya besar.
Galah itu hampir satu tombak panjangnya, namun dia dapat memainkannya dengan leluasa sekali, jadi terang kalau memiliki kepandaian yang berarti juga.
Dengan cepatnya, perahu itu telah meluncur kearah perahu Ceng Bo.
Kembali tampak galah diangkat keatas dan beberapa perahu mayang (tangkap ikan) terbalik.
Beberapa nelayan men-jerit2 kalang kabut kecebur dalam air.
Ceng Bo tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Sekali enjot, dia loncat kearah tali temali perahunya.
Dengan sekali sentak, putuslah tali temali tiang besar dari perahu itu, hingga kini, perahu itu berputar membujur ditengah sungai.
Tepat pada saat itu, perahu kecil tadipun sudah tiba.
Kiranya siorang ganas tadi adalah seorang hweshio yang Ceng Bo dengan segera dapat mengenalinya sebagai To Kong hwatsu, itu salah seorang dad sam-tianglo gereja Ci-hunsi dari gunung Lam-kun-san.
Sebaliknya To Kong belum mengetahui siapakah Ceng Bo dan Ko Thay itu.
Yang diketahuinya, ada sebuah perahu besar menghadang ditengah jalan, maka galah segera diturunkan kedalam air lalu disentakkan keatas mencongkel haluan perahu penghadang itu.
Belum Ceng Bo bertindak, Sin-eng Ko Thay sudah tertawa dingin seraya enjot tubuhnya melayang jatuh diatas galah.
Sekali gunakan tenaga menginjak, maka tangan sihweshio yang memegangi, itu menjadi terkulai.
"Bangsat gundul, orang katakan kaum pertapaan itu menjunjung welas-asih mengagungkan peri-kebajikan. Tapi ternyata kau adalah kebalikannya, apa artinya itu ?"
Seru Ko Thay seraya perdengarkan suara ketawa yang dingin.
To Kong terbeliak kaget.
Masa seorang tua yang bertubuh kate dan nampaknya tak punya kepandaian apa2 itu, dapat membuat tangannya terkulai lemas.
"Ho....!, tua bangka yang tak tahu diri, besar nyalimu berani mengusik tuanmu ini!"
Seru To Kong sembari kibaskan tangannya.
Jangan pandang kalau ketiga hweshio Ci-hun-si bertubuh kurus2, tapi tenaga mereka luar biasa mengagumkan.
Sekali gerakkan tangannya tadi, galah berikut Ko Thay yang menginjak diatasnya, sama terlempar setombak tingginya.
Air disungai situ deras sekali arusnya, kala itu perahu sihweshio sudah merapat, kedekat perahu Ceng Bo.
Ceng Bo yakin bahwa Ko Thay cukup dapat mengatasi sihweshio, maka diapun tak menaruh kekuatiran melihat kejadian tadi.
Sebaliknya dia malah lemparkan sauh untuk mengait perahu sihweshio.
Suara gerodakan yang keras dari sauh itu, telah membuat dua orang hweshio muncul diatas geladak.
Mereka bukan lain adalah To Ceng dan To Bu.
Berbareng pada saat itu, dipermukaan air terdengar suara keras dari, benda yang kecemplung.
Kiranya itulah suara galah dan Ko Thay yang jatuh kedalam air.
Tapi tak kecewalah Ko Thay mendapat julukan si Garuda Sakti (Sin-eng).
Kira2 terpisah beberapa inci dari permukaan air, dia goyangkan tubuhnya dalam gerak hui-yan-liap-bo (burung walet menobros ombak), melesat naik setombak tingginya, kemudian disambung dengan gerak ko-cu-boan-sim (burung merpati membalik diri) dia sudah injakkan kaki diatas haluan perahu.
"Bek-heng, ketiga bangsat gundul itu keliwat jahat! "
Tapi belum Ceng Bo membuka mulut, diperahu sana To Ceng sudah berseru dengan mengejek.
"Ceng Bo siangjin, apakah kau hendak cari perkara dengan pinceng bertiga ini? Kiranya ketiga hweshio itu mempunyai urusan penting hendak ber-glegasi! menuju kegereja Ang-hun-si di Ko-to-san. Sedikitpun mereka tak menyangka, kalau ditengah perjalanan itu kesamplokan dengan Ceng Bo dan Ko Thay. Atas pertanyaan sihweshio tadi, Ceng Bo tak ambil perhatian, Ko Thay mengawasi tajam2 kearah ketiga hweshio itu.
"Bek-heng, siapakah ketiga bangsat gundul itu?"
Tanyanya.
"Oh, mereka adalah sam-tianglo dari Ci-hun-si!"
Sahut Ceng Bo.
"Bukankah mereka sudah berhamba pada tentara Ceng? Ah, kebenaran sekali, jangan lepaskan mereka!"
Kata Ko Thay.
"Ha, macam kau mau unjuk tingkah!"
To Kong perdengarkan ketawa menghina.
Mereka rupanya tak mau lama2 tertahan disitu.
Sembari ber-kata2 tadi, To Kong sudah angkat tanganya yang berwarna ke-hitam2an untuk menabas rantai sauh yang menahan perahunya.
Ko Thay tertawa meringkik.
Sekali mengayun tubuh, dia, injak rantai itu dengan sebelah kakinya, yakni dalam sikap Kim-kee-tok-lip (ayam emas berdiri dengan sebelah kaki).
Tanpa jeri2 akan riak arus sungai yang begitu derasnya, dia tendang tangan To Kong tadi.
Menampak tendangan orang itu mengarah jalan darah yang-ko-hiat, tahulah To Kong bahwa dia berhadapan dengan seorang achli tutuk yang jempol.
Tarik tangannya kebelakang, dia berganti menghantam betis orang.
Ketika diinjak tadi, rantai ber-goyang2 kian kemari.
Dengan meminjam gerak ayunan rantai itu, Ko Thay enjot tubuhnya keatas sampai satu tombak tingginya.
Sudah tentu hantaman To Kong tadi mengenai angin.
Buru2 hweshio itu surut kebelakang, tapi diatas umbun2 kepalanya terasa ada angin menyambar.
Selagi melayang diatas, jari tengah Ko Thay menjulur kebawah untuk menutuk jalan darah peh-hui-hiat sihweshio.
To Ceng dan To Bu terperanjat, serempak mereka maju menolong dengan menghantam pada Ko Thay.
Turut situasinya, karena berada diatas udara, Ko Thay tentu sukar untuk menghindar, Tapi Garuda Sakti itu hebat sekali ilmumengentengi tubuhnya.
Hanya sedikit dia menyurut kebelakang, lalu melayang turun.
Kedudukan tubuhnya tetap, berada diatas kepala kedua orang tadi, siapa buru2 menyingkir kesamping.
"Bangsat gundul, sepasang hay-kim-eng-jiao-thau itu, mengapa bisa berada padamu?!"
Tiba2 Ko Thay berseru dengan bengis demi dilihatnya senjata marhum puteranya terselip dipinggang To Ceng hweshio.
Sebagaimana diketahui, setelah Ko Kui meninggal, maka sepasang cakar garuda itu telah diberikan Nyo Kong-lim kepada Tio Jiang.
"Tanya saja pada Ceng Bo siangjin,"
Sahut To Ceng dengan dingin.
"Apakah senjata itu kau dapat rampas dari Tio Jiang? Dimana anak itu ?"
Ceng Bo bertanya dengan kaget. To Ceng ter-kekeh2, sahutnya.
"Dimana anak itu, sebagai suhunya kau tak mengetahui, bagaimana suruh kami mengetahui? Apakah dia tidak menjadi orang hutan dipegunungan Sip-ban-tay-san sana?"
Memang pada jaman itu, pegunungan Sip-ban-tay-san masih merupakan daerah yang belum terbuka.
Adalah suatu hal yang kebenaran saja, kata2 mengejek dari To Ceng itu, memang tepat dengan kenyataannya.
Karena kala itu Tio Jiang sedang ikut pada Kui-ing-cu menjelajah digunung tersebut guna menolong Bek Lian.
"Mengapa dia berada di Sip-ban-tay-san? Kau apakan dia?"
Tanya Ceng Bo pula.
Sebagai orang alim, dia tak mengerti jatuhnya kata2 sihweshio yang sebenarnya hanyalah suatu kiasan saja.
--oodwkzOTAHoo-Sebaliknya Ko Thay yang begitu mendukai kematian puteranya itu, tak dapat bersabar lagi.
Dia tumpahkan seluruh kemarahannya pada diri ketiga hweshio itu.
Dengan menggerung laksana seekor harimau kelaparan, se-konyong2 dia loncat keatas udara.
Sejenak berputar-putar, tangannya sudah pakai sepasang sarung cakar garuda atau eng-jiao-thau.
Sret...., sret...., sret...., senjata itu sudah berkelebat mengarah jalan darah peh-hui-hiat di-umbun2 ketiga hweshio.
Terperanjat ketiga hweshio itu, bukan alang-kepalang.
Perahu sedemikian kecilnya, sukar untuk menghindar.
Mereka mempunyai urusan penting, tak mau tertahan lama2.
Apalagi demi ditilik dari gerak-geriknya yang sedemikian lihaynya, mereka menduga, orang-tua itu tentulah Sin-eng Ko Thay, maka tanpa ajak2an lagi, mereka segera buang dirinya kebelakang, dan blung...., blung...., blung.....
ketiganya sama mencebur kedalam sungai.
"Hendak lari kemana, kau bangsat gundul?"
Seru Ko Thay sembari menyusul terjun kedalam air.
Dengan gunakan ilmu mengentengi tubuh sakti "li hi thian liong bun" (ikan le-hi loncat kepintu naga), dia melesat dipermnukaan air dan menyamber punggung To Ceng yang hendak menyelam kedalam.
To Ceng hendak kerahkan lwekangnya untuk melawan, tapi Ko Thay cepat sudah membuatnya tak berdaya, dengan menutuk jalan darah sin-to-hiat di punggungnya.
Sekali melempar, tubuh To Ceng melayang jatuh diatas geladak perahu, kepalanya pusing tujuh keliling.
GAMBAR 63
"Bangsat gundul, jangan lari !"
Bentak Ko Thay sambil meloncat keatas dan memakai sepasang sarung tangannya "Eng-jiau-thiau"
Atau sarung cakar elang, terus menyerang ketiga Hweshio itu.
Hendak Ko Thay menangkap dua, hweshio lainnya, tapi mereka ternyata sudah menghilang lenyap didalam arus.
Apa boleh buat .......
Ko Thay loncat kembaii keatas perahu.
Begtu mencabut eng-jiao-thau yang terselip dipinggang To Ceng, dia mendupak dengan ujung kakinya, kepunggung orang, hingga walaupun jalan darahnya tadi dapat dibebaskan namun orangnya bergelundungan diatas geladak.
Ko Thay susuli lagi dengan sebuah tendangan dan blung .......
tubuh To Ceng terlempar kedalam sungai.
Begitu jatuh kedalam air, To Ceng terus menyelam.
Untunglah ketika itu tepat ada sebuah perahu berjalan disitu.
Cepat2 dia menggelandoti bagian bawahnya untuk lolos.
Ko Thay rupanya sudah puas menumpahkan hawa kemarahannya.
Dia tak mau mengejar lagi.
"Bek-heng, kau mengapa ?"
Malah dia segera menegur Ceng Bo demi dilihatnya siangjin itu diam ter-longong2 saja..
"Senjata itu berada pada muridku, entah bagaima mereka telah dapat merampasnya. Tadi mereka mengatakan, muridku itu berada di Sip-bon-tay-san, kukuatir jangan2 dia mendapat bahaya"
Sahut Ceng Bo.
Ko Thay dapat mengerti perasaan orang, Oleh karena hari pehcun masih agak lama, dia usulkan pergi dulu kepegunungan itu.
Sudah tentu ajakan itu disambut dengan gembira oleh Ceng Bo, siapa ternyata hanya lahirnya saja berlaku bengis tetapi dalam batinnya dia sangat menyayang akan muridnya yang jujur dan berbudi itu.
Begitulah mereka segera mendarat.
Kurang lebih 4 hari saja, tibalah sudah mereka dipegunungan Sip-ban-tay-san.
Kala itu, tepat saatnya Yan-chiu ambil selamat berpisah dengan Kui-ing-cu dan Sik Lo-sam.
Andaikata ia berangkat 2 jam kemudian, tentulah dapat ber-junipa dengan Suhunya.
Melihat keadaan pegunungan Sip-ban-tay-san yang hutan belantaranya sedemikian luas itu, Ceng Bo sudah setengah putus asa.
Untuk mencari seseorang dalam tempat macam begitu, adalah laksana hendak mencari sebatang jarum ditengah laut.
Tapi suatu kejadian yang tak di-sangka2 muncul.
Tengah kedua orang itu tertumbuk fahainmnya (tak tahu harus berbuat bagaimana), secara kebenaran mereka bersua dengan dua orang pemburu, seorang tua dan seorang masih muda.
Ceng Bo menyakan hal itu kepada sipemburu tua.
"Ada..., ada...! Rupa2nya dalam beberapa hari terakhir ini Sip-ban-tay-san mendapat kunjungan beberapa orang asing. Beberapa hari yang lalu, ada seorang pemuda bersama seorang nona yang cantik sekali naik keatas. Menyusul ada 4 orang lagi, seorang nona, seorang pemuda, seorang lelaki tinggi besar dan seorang lelaki setengah tua, menuju kelembah pegunungan ini,"
Menerangkan sipemburu tua itu.
Ceng Bo hanya dapat menduga kalau seorang tinggi besar itu tentulah Nyo Kong-lim, sipemuda dalam rombongann kedua itu tentulah Tio Jiang sedang sinona itu tentu Yan-chiu.
Tapi yang Iain2nya, dia tak dapat mengira-ngirakan siapa adanya.
Tapi dia yakin orang2 itu tentu ada suatu urusan penting digunung situ.
Maka setelah menanyakan jalanan dan mengucapkan terima kasih, Ceng Bo dan Ko Thay minta diri dari sipemburu tua yang makin tak habis mengerti.
--oodwkzOTAHoo--Menjelang tengah hari, keduanya sudah berada di-tengah2 hutan pegunungan situ.
Tiba2 dilihatnya ada sesosok bayangan berkelebat.
Dari potongan tubuh, terang orang itu seorang wanita.
"Hai....., siapa', itu?!"
Seru Ko Thay.
Ceng Bo lebih terperanjat lagi.
Dari potongan tubuhnya yang langsing dan dandanannya, tahulah dia kalau wanita itu adalah puterinya sendiri, si Bek Lian.
Apa yang disebut oleh sipemburu tua tentang seorang nona cantik, tentulah Bek Lian.
Dan pemuda cakap yang datang bersama dengan Bek Lian itu, siapa lagi kalau bukan The Go.
"Tahan!"
Tiba dia berseru nyaring hingga menggemparkan suasana pegunungan yang sedemikian lelapnya itu.
Wanita yang berkelebat disebelah depan tadi, memang Bek Lian adanya.
(Oo-dwkz-TAH-oO) BAGIAN 34 .
SETAN BERKEPALA DUA Seperti telah diterangkan dibagian atas, dengan angkuh dan getasnya Bek Lian tak mau ikut dengan rombongan Kui-ing-cu.
Begitu tinggalkan puncak Thiat-nia, ia segera keluar masuk menyusup hutan pegunungan situ.
Karena tak kenal jalanan, ia ke-sasar2 tak karuan.
Setengah harian berjalan itu, ia merasa lelah dan lapar.
Duduklah ia diatas sebuah batu, sambil memakan biji buah siong untuk penahan lapar.
Sambil duduk melepaskan lelah, pikirannya melayang akan diri Cian-bin Long-kun.
Teringat ia akan sikap dan perbuatan kekasihnya itu selama mengajaknya keatas gunung.
Aneh, mengapa tahu kalau ia (Bek Lian) tak pernah minum, tapi kekasih itu memaksanya?
Aneh-pula mengapa setelah ia tersadar sang kekasih itu sudah tak nampak disitu ?
GAMBAR 64 Sesudah ubek2an kian kemari, achirnya Bek Lian merasa letih, ia daduk ter-menung2 diatas sebuah batu memikirkan kelakuan kekasihnya yang aneh Bagi orang yang sadar, tentu segera, dapat menarik kesimpulan apa yang telah terjadi.
Tapi karena perangainya yang angkuh, sombong itu, tambahan pula ia sudah buta dengan asmara, maka biar bagaimana juga tak mau ia menuduh sang kekasih itu sebagai orang jahat!
Sekalipun begitu, hatinya mulai bersangsi juga.
Pada waktu itu ia sudah hamil, 4 bulan lebih, jadi mulai malas2an.
Dihempas oleh siliran angin yang nyaman ditengah pegunungan sunyi itu, ia merasa tenteram.
Ia rebahkan diri dan tertidurlah ia dengan pulasnya.
Keesokan harinya ketika hari sudah tinggi, barulah ia terjaga.
Baru ia hendak lanjutkan perjalanannya lagi, se-konyong2 dari sebelah muka sana tampak ada dua orang mendatangi.
Salah seorang yang memakai pakaian pertapaan itu, adalah ayahnya sendiri.
Sudah tentu ia menjadi ketakutan dan lekas2 menyelinap kesamping untuk bersembunyi.
Tak jauh dari situ dilihatnya ada sebuah sela2 lubang batu yang tiba cukup untuk dimasuki satu orang.
Disekitar sela batu itu, penuh ditumbuhi dengan semak2 rumput, sedang disana sini akar2 rotan me-lingkar2 menutupinya.
Kalau orang tak memperhatikan dengan perdata, tentu tak mengetahui adanya sebuah sela sempit itu.
Karena tak mempunyai lain pilihan lagi, Bek Lian segera lari masuk kesitu.
Tepat ia menyelinap masuk, tepat terdengar seruan Ceng Bo yang menggetarkan empat penjuru itu.
Ternyata sela sempit itu merupakan pintu masuk dari sebuah lorong gua yang dalam sekali.
Dengan ber-ingsut2, ia masuk agak kedalam.
"Hai, kemana budak hina itu bersembunyi ?"
Tiba2 kedengaran Ceng Bo berseru.
Dan sret, kedengaran sesosok tubuh loncat keatas sebuah puhun.
Rupanya seseorang hendak meninjau kesekeliling tempat itu dari atas.
Bek Lian makin ketakutan dan ber-ingsut2 makin kedalam.
Heran, lorong yang bermula sedemikian sempitnya itu, makin kedalam makin lebar.
Ia terus masuk makin jauh dan suara Ceng Bopun makin tak kedengaran jelas.
Nyata ayahnya sudah tak berhasil menemukan tempat persembunyiannya itu.
Legalah hati Bek Lian.
Bek-heng, tak jauh dari sini, ada seorang wanita ber-urai rambut tampak sedang berjalan dengan ilmu mengentengi tubuh yang niengagumkan sekali!"
Seru Ko Thay dari atas sebatang puhun.
Kiranya yang kedengaran loncat kepuhun tadi, dialah.
Ceng Bo segera dapat menduga, wanita itu tentulah isterinya, Kang Siang Yan.
Sejak berpisah di Hoasan, dia belum berjumpa lagi dengan sang isteri itu.
Entah sudah dapatkah ia mencari pedang pusakanya itu?
Diapun menduga kalau Bek Lian tentu bersama dengan ibunya itu.
Biar bagaimana dia tak suka melihat wajah puterinya itu.
"Ko-heng, mari kita lanjutkan perjalanan lagi!"
Dengan menghela napas, ia segera ajak sahabatnya itu berlalu. Pernah juga Ko Thay mendengar tentang peristiwa perpecahan suami isteri Hay-te-kau dan Kiang Siang Yan, maka tanyanya.
"Bek-heng, apakah jangan2 wanita itu Kiang Siang Yan adanya?"
Benar, 10 tahun lamanya ia meyakinkan ilmu Thay-im-lian-seng dari Lam-hay Hu Liong Po. Kini ia lebih lihay dari kita berdua, hanya sayang perangainya berobah aneh, ah......."
Ceng Bo menghela napas, lalu menuturkan tentang kelakuan puterinya yang telah tersesat jatuh cinta pada The Go, serta bagaimana isternya itu (Kiang Siang Yan) memihak puterinya.
Ko Thay pun seorang jantan yang berhati blak2an, kontan dia menge-luarkan isi hatinya.
"Amboi, ah..... kalau begitu aku harus lekas2 mencari anak itu. Kalau dia, sudah terlanjur menjadi menantumu, tentu aku tak dapat melampiaskan dendam puteraku!"
Ceng Bo siangjin tertawa kecut.
"Harap Ko-heng lapangkan dada, aku tentu akan membantumu!"
Ceng Bo memberikan janjinya. Baru kurang lebih setengah bulan kedua orang itu saling berkenalan, tapi Ko Thay cukup mengetahui peribadi tokoh siangjin yang berbudi luhur itu, ujarnya.
"Bagus, itulah laku seorang sahabat sejati!" --oodakzOTAHoo--Mereka tak lanjutkan pengejarannya lagi kepada Bek Lian, Setelah melintasi sebuah puncak, didengarnya dari hutan yang disebelah muka sana ada suara auman binatang buas. Bagi kedua orang, hal itu tak dihiraukan. Tapi baru berjalan beberapa langkah, se-konyong2 terdengar sebuah suara jeritan aneh, menyusul seekor orang utan besar menyerang keluar. Ceng Bo yang luas pengalamannya, segera tahu makhluk itu tak boleh dibuat main2. Secepat mencabutt pedang yap kunnya, ia melesat menyongsong maju. Kiranya orang utan itu adalah si Toa-wi, itu binatang piaraan Yan-chiu. Rupanya binatang itu tahu juga akan kelihayan pedang pusaka yap-kun. Dengan menguak2, dia segera berputar kebelakang melarikan diri. Sewaktu Ceng Bo dan Ko Thay mengejar, mereka segera terperanjat melihat tak jauh disebelah muka sana, tampak Sik Lo-sam dan Kui-ing-cu duduk bersila. Wajah Sik Lo-sam, tampak mengerut dahinya yang penuh becucuran butir2 keringatnya sebesar biji kacang. Sedang Kui-ing-cu tampak meram melek, ubun2 kepalanya mengeluarkan segumpal hawa panas. Ceng Bo dan Ko Thay adalah tokoh persilatan yang berilmu tinggi. Sekali melihat tahulah mereka kalau Sik-Losam itu sedang menderita luka dalam yang parah. Sementara Kui-ing-cu tengah bantu mengobati dengan cara penyaluran tenaga lwekang. Benar cara itu dapat memberi hasil bagus, tapi orang yang mengobati itu tentu menderita sendiri, tenaga-murninya banyak hilang dan salah2 bisa menjadi seorang yang tanpaguna lagi. Ceng Bo pernah berjumpa dengan Kui-ing-cu ketika diluitay gunung Gwat-siu-san, Sebaliknya Ko Thay tak kenal sama sekali akan kedua tokoh itu. Tapi keduanya (Ceng Bo dan Ko Thay) adalah tokoh2 persilatan yang luhur budi, menampak ada lain kaum persilatan yang mendapat kesusahan, tanpa diminta lagi mereka ulurkan bantuannya, Ceng Bo menghampiri dan ulurkan tangannya, hingga tangan Kui-ing-cu tadi tergeser kesamping sedikit. Kini kedua orang itu bersama meletakkan telapak tangannya dipunggung Sik Lo-sam bagian jalan darah leng-thay-hiatnya. Ko Thay tak mau ketinggalan. Diapun lalu menempelkan tangannya kearah jalan darah ban-kay-hiat didada, Sik Losam. Kini ketiga tokoh itu salurkan lwekangnya untuk bantu mengobati luka Sik Lo-sam. Segera Ceng Bom engetahui kalau sikate limbung itu terkena pukulan lwekang thay-im-ciang yang lihay. Tanpa terasa dia menghela napas. Sebaliknya setelah mendapat bantuan kedua tokoh lihay itu, Kui-ing-cu merasa enakan, ujarnya dengan riang.
"Hayte-kau, aneh juga mengapa kalian sepasang suami isteri itu, berlainan perangai!"
Ceng Bo tertawa kecut, sahutnya.
"Harap Kui-heng jangan menertawainya!"
Mendengar disebutnya nama itu, Ko Thay sangat terperanjat, tanyanya.
"Jadi kau ini orang she Kui ?"
"She apa aku ini sebenarnya, lupalah aku sudah. Tapi orang hanya menyebutku si Kui-ing-cu saja!"
Sahut Kuiing-cu dengan tertawa.
"Ah, lama nian aku mengagumimu!"
Kata Ko Thay. Sebaliknya Kui-ing-cupun segera balas menanya.
"Bukankah cunke (anda) ini Sin-eng Ko Thay?"
Ko Thay gembira sekali mendapatkan orang yang dikagumi itu, ternyata juga seorang jantan yang jujur suka berterus terang.
Maka dengan serta merta dia mengiakan.
Mendengar itu, segera Kui-ing-cu berkata.
"Ko-heng tentu juga akan hadir dalam pertemuan di Ko-tosan. Dengan adanya gangguan ini, walaupun tak sampai terlambat datang kesana, tapi sangat merugikan tenaga Ko-heng! Menjengkelkan adalah tua bangka kate ini, kepandaiannya kecil, tapi merugikan besar pada lain orang !"
Sejak mendengar ketiga orang itu berbicara, Sik Lo-sam sudah kepingin turut omong. Maka begitu Kui-ing-cu memakinya, segera tak tahan lagi dia.
"Kui~ing-cu, mungkin saja kau bisa memberi sebuah gebukan pada wanita itu, tapi aku sudah menggebuknya satu kali!"
Dia menjerit.
"Sik Lo-sam, bagaimana kalau kau kancing dulu mulutmu itu.?"
Sahut Kui-ing-cu sambil tertawa.
Sik Lo-sam menurut.
Memang setelah mendapat penyaluran lwekang dari ketiga tokoh lihay itu, hawa dingin yang menyerang tubuhnya mulai berkurang, berganti dengan hawa hangat.
Ketika malam tiba, dia sudah separoh bagian baik, terus mengorak sila hendak berdiri.
Melihat kalau sikate limbung itu belum sembuh betul, ketiga orang itu-memaksanya supaya duduk bersila lagi, Keesokan harinya, barulah ketiga orang itu lepaskan tangannya dan menghela napas legah.
Sehari semalam menyalurkan lwekang itu, mereka bertiga menjadi lelah sekali, karena hal itu sama dengan bertempur ma'Li2an.
Betul tenaga mereka tak hilang sama sekali, tapi toh separoh bagian lenyap.
Kepulihannya memerlukan waktu ber-bulan2.
Se-malam2an itu, Kui-ing-cu telah menuturkan pengalamannya memasuki daerah suku Thiat-theng-biau digunung Sip-ban-tay-san situ.
Setelah itu, dia bertanya bagaimana Ceng Bo juga datang kesitu.
Mendengar keterangan bahwa Ceng Bo telah ditipu oleh To Ceng, Kui-ing-cu tertawa gelak2.
Keesokan harinya dapatlah Sik Lo-sam bebas dari hawa maut-yang merangsang tubuhnya itu.
"Aku diberi mata, kalau sampai tak dapat melihat keramaian di Ang-hun-kiong itu, bukantah penasaran sekali?!"
Seru silimbung seenaknya sendiri.
Setelah beristirahat sebentar, mereka menuju kerawa Hek-cui-than.
Tapi sampai sekian lama menyelidiki, mereka tak berhasil menemukan jejak Tio Jiang dan Nyo Kong-lim.
Menduga kalau mereka berdua sudah tinggalkan gunung itu menuju ke Ko-to-san, ke-empat tokoh itu segera tinggalkan pegunungan Sip-ban-tay-san berangkat ke Ko-to-san.
--oodwkzOTAHoo--Sekarang Mari kami ajak pembaca menengok keadaan Bek Lian.
Makin masuk kedalam gua, makin ia tak mendengar lagi suara ayahnya.
Ternyata jalanan disitu, lebar sempit tak berketentuan, ber-liku2 bahkan ada persimpangannya juga.
Merasa sudah cukup lama bersembunyi, ia yakin ayahnya tentu sudah pergi.
Tapi ketika ia berjalan balik ternyata ia tak dapat menemukan lubang pintu tadi.
Bek Lian makin gelisah, Diketahuinya tempat itu adalah lamping dari sebuah puncak gunung yang tinggi.
Kalau ia sampal tak berhasil menemukan pintu keluar tadi, bukankah akan celaka nanti?
la percepat kakinya menyusuri lorong jalan itu, tapi ber-jam2 lamanya, ia tetap tak berhasil.
Malah pada saat itu ia berada disebuah tempat yang gelap.
Disekelilingnya merupakan batu karang, agaknya seperti berada disebuah gua.
Jalanan disitu sebentar agak lebar, tapi ada kalanya, hanya tiba cukup untuk dilalui oleh seorang saja.
Saking putus asa, Bek Lian mendumprah ditanah, menangis ter-sedu2.
Entah sudah berapa, lama ia menangis Aitu.
Ketika didengarnya disana sini riuh rendah dengan kumandang suara tangisannya, ia menjadi ketakutan sendiri lalu berhenti menangis.
Kini ia berbangkit untuk berjalan lagi.
la telah menetapkan arah jalannya, yaitu terus berjalan lempang takk mau mem-biluk2 lagi.
Tak berapa lama kemudian, ia mendengar ada suara air mengalir.
Maju lagi beberapa meter, kakinya terasa dingin, ketika dirabanya, ternyata, tanah disitu becek berair, kiranya ada beberapa inci tingginya.
Rupanya air itu berasal dari tengah gunung yang tak dapat mengalir keluar sampai ber-tahun2.
Karena sangat haus, tanpa hiraukan bersih tidaknya, Bek Lian segera merangkumnya sepasang lengan mengambil air, lalu diminumnya.
Nyaman juga air itu rasanya, sehingga tubuhnya terasa segar.
Disebelah muka sana dilihatnya air makin banyak.
Dan ketika dihampirinya, air sampai merendam betis tingginya.
Makin melangkah kemuka, Bek Lian rasakan tanah rendah, jadi makin dalam airnya.
la sudah segera akan balik.
ketika samar2 dilihatnya disebelah muka sana seperti ada.
bagian permukaan air yang kilau kemilau tertimpa sinar.
Diam-diam, ia menjadi girang.
Kalau tiada lubang menembus keluar, Masakan ada sinar matahari dapat menemblis kesitu?
Ah, siapa tahu kalau2 disana ia akan berhasil menemukan jalan keluar.
Dengan tangan menempel pada dinding gua itu, ia maju kemuka.
Kira2 3 -4 tindak jauhnya air sudah sampai kebatas perut, Bek Lian bersangsi, baik teruskan atau tidak.
Kalau surut balik, terang ia bakal terkurung disitu seumur hidup, ah......, lebih baik ia maju saja, siapa tahu mungkin ada harapan.
Ternyata setelah itu, tanah yang terendam air itu agak rata.
Baru ia tersadar kalau dirinya berada di-tengah2 sebuah gua berair.
Oleh karena sekian lama berada ditempat gelap, lama2 ia sudah biasa dengan keadaan dan samar2 dapat juga melihat keadaan disekelilingnya.
Entah berapa dalam air disebelah muka nanti, karena pada saat itu air sudah sampai dibatas dada dalamnya.
Lama kelamaan Bek Lian merasa lelah juga.
Ia berhenti sejenak, bersandar pada dinding gua sembari meramkan mata.
Ketika ia hendak mengheningkan pikiran memulang, semangat, tiba2 didengarnya disebelah muka sana ada suara air beriak beberapa kali.
Waktu membuka mata mengawasi, kagetnya bukan alang kepalang.
Kiranya dimulut gua sana, terpisah kira2 3 tombak jaraknya dari tempat Bek Lian, ada semacam makhluk aneh sedang mondar mandir.
Dikatakan aneh karena walaupun ditilik dari bentuknya makhluk itu adalah seorang manusia, tapi sebatas pundaknya kebawah terendam air.
Tapi diatas pundaknya itu terdapat dua buah kepala!
Bermula Bek Lian mengira kalau matanya yang ber-kunang2, maka lalu di-sapu2 dengan tangannya.
Tapi ketika diawasinya dengan perdata lagi, ah..., benar2 orang itu mempunyai dua buah kepala........
Saking, takutnya, jantung Bek Lian terasa berdetakan keras.
Barang siapa masuk kedalam perut gunung yang mysterius (pelik) itu tentu takkan hidup lama.
Kalau toh disana ada makhluk manusia yang sedemikian anehnya, tak salah lagi tentu bangsa, siluman, demikian pikir Bek Lian.
Dengan ber-ingsut2 ia segera balik mundur ketempatnya tadi.
Yakni dibagian yang dangkal airnya.
Sekalipun sudah jauh, masih juga ia kuatir jangan2 siluman itu akan mengejarnya.
Maka ia diam menahan nafas untuk mencari akal.
Namun sampai sekian lama, tiada tampak ada kejadian apa2.
Achirnya Bek Lian menyangsikan.
dirinya, jangai2 tadi ia sudah salah melihat Bangsa siluman apapun juga, tiada ada yang berkepala dua.
Mundur kembali, hanya gelap gulita yang dijumpainya.
Sebaliknya disebelah muka sana, tampak ada cahaya penerangan.
la putuskan, maju lagi.
Lebih baik bila perlu bertempur dengan siluman, dari pada mati konyol diperut gua.
Tiba ditempat tadi, kembali ia melihat bayangan makhluk aneh itu, masih mondar mandir dimulut gua, Sebatang kepalanya berada ditengah pundak, sedang yang sebuah lagi melekat dipundak kirinya.
Tapi anehnya, pada lain saat kepala dipundak kiri itu bisa beralih kepundak kanan.
Setelah lama mengawasi dengan seksama, ketakutan Bek Lian berkurang.
Ia menyusur maju.
Syukur air disitu hanya sebatas dada saja tingginya.
Rupanya makhluk aneh itu mendengar juga suara riak air yang diterjang Bek Lian.
Tiba2 dia berpaIing kearahnya.
Jelas tampak oleh Bek Lian, bahwa mata dari makhluk itu-ber-kilat2 memancarkan cahaya, banyak menyerupai mata dari seorang yang memiliki lwekang tinggi dari pada suatu siluman.
Kalau saja makhluk itu tidak, mempunyai dua buah kepala, siang2 Bek Lian tentu sudah berseru memanggilnya.
Untuk keheranannya, makhluk itu hanya mengawasi kearahnya, tapi tak mau mengeluarkan suara.
Malah pada lain saat, makhluk aneh itu mundur dan lenyap dari pemandangan.
Hai, kiranya makhluk itu takut juga pada manusia.
Nyali Bek Lian menjadi besar, lalu terus menyeberang mengejarnya.
Air disitu ternyata hanya sampai sebatas janggutnya saja.
Kira2 setengah jam kemudian, tibalah ia dimulut gua.
Begitu memandang keluar, mulut Bek Lian segera mengeluh.
"Ah, celaka!"
Kiranya dimuka mulut gua situ, terbentang tujuh atau delapan jalanan, yang kesemuanya gelap gulita keadaannya.
Adanya dimulut gua itu agak terang tadi, adalah karena disebelah atasnya ada sedikit celah lubang.
Tapi tinggi celah itu beberapa tombak, jadi sukar untuk dicapai.
Bermula Bek Lian mengira, begitu mencapai mulut gua, ia tentu akan tertolong dari penjara alam itu.
Tapi ternyata harapannya itu hanya suatu chayal kosong belaka.
Ceng Bo menumpahkan seluruh kasihnya kepada puterinya tunggal itu.
Jadi sewaktu digunung Giok-li-nia, Bek Lian sangat manja sekali, segala kehendaknya harus diluluskan.
Ketika turun gunung dan berjumpa dengan The Go, iapun dimanjakan dengan sanjung rayuan mulut si Cian-bin Long-kun yang ter-gila2 akan kecantikannya itu.
Jadi boleh dikata sampai sebesar itu, Bek Lian belum pernah merasakan apa yang dinamakan kepahitan hidup itu.
Maka pada saat menghadapi kesukaran itu, hancur luluhlah keangkuhannya, dihanyutkan oleh sang air mata yang membanjir turun.
Untuk menumpahkan kekesalan hati, ia menangis gerung2.
Tapi berbareng dengan pecah tangisnya itu, disebelah muka sana terdengar benda kecemplung didalam air dan menyusul dengan suara bergerutukan, macam benda tenggelam didasar air.
Bek Lian serentak tersadar dari tangisnya.
la berada di tempat terang sedang simakhluk aneh ditempat gelap, sudah tentu celaka ia, kalau tak lekas2 berpindah tempat.
Cepat2 ia melangkah kesalah sebuah lorong jalan yang airnya hanya sampai sebatas betis.
Tertiup oleh hembusan angin gunung, ia rasakan tubuhnya dingin sekali.
Dilihatnya simakhluk aneh itu berenang lagi kedalam gua, tapi pada lain saat sudah berenang balik lagi.
Bek Lian putus asa.
Ia merasa kali ini ajalnya tentu datang.
Teringat akan orok yang dikandungnya itupun akan turut meninggal sebelum sempat melihat sinar matahari, ia, mengeluh dengan duka-citanya.
Tapi suara keluhan itu, telah menarik perhatian simakhluk aneh yang segera menuju kearahnya.
Kali ini Bek Lian berada ditempat gelap, mengawasi kearah tempat yang terang.
Jadi penglihatannya jauh lebih jelas.
Begitu mengawasi, mulutnya terpecah tawa.
Kiranya makhluk itu bukan bangsa siluman yang mempunyai dua buah kepala, tetapi melainkan hanya seorang manusia biasa.
Hanya saja orang itu tengah menyanjung sebuah batu sebesar kepala orang, diatas kepalanya.
Orang baikkah atau orang jahatkah dia itu, bukan soal.
Yang penting nyata2 mereka itu senasib, jadi harus kerja sama.
Baru ia hendak membuka mulut menegur, orang itu sudah mendahuluinya bersuara.
"Siapa yang disitu itu? Setan atau manusia atau bahurekso (malaekat penunggu) disini ?"
Dalam tempat yang mirip dengan sebuah penjara alam, Bek Lian dapat berjumpa dengan seorang lain yang senasib, itu sudah cukup membesarkan hati.
Apalagi ketika mendengar nada suara yang tak asing lagi baginya itu, ia lalu berjingkrak kegirangan, serunya.
"Sute, kaukah? Ini aku, bukan setan bukan bahurekso!"
Ya, memang benar, orang itu bukan lain adalah Tio Jiang, siapa segera berseru dengan kaget sekali.
"Suci, ah....... kiranya benar kau! Tak heran tadi aku agak mengenal suara tarikan napasmu. Tapi mengapa kau bisa berada disini?"
Bek Lian tak mau mengatakan kalau beradanya disitu itu disebabkan lari bersembunyi melihat ayahnya, maka ia segera berbalik bertanya.
"Kau beritahukan dulu, mengapa kau bisa berada disini, apakah namanya tempat ini? Mengapa diperut gunung ini banyak sekali jalan tembusannya begitu ? Hayo, kita lekas keluar dari sini dulu, baru nanti bercerita!"
Tio Jiang kedengaran menghela napas.
"Suci, apakah tempatmu disitu airnya tak dalam ? Terendam air sedingin itu, tentu sangat kedinginan,"
Tanya Tio Jiang tak mau menyahut pertanyaan yang ber-tubi2 dari sucinya tadi.
"Memang disini airnya dangkal, tapi cukup dinginlah, karena ada hembusan angin!"
"Ada angin menghembus?"
Seru Tio Jiang dengan terkejut kegirangan. --oodwkzOTAHoo--BAGIAN 35 . TULISAN DI BATU "Ya, ada angin berembus saja masa kau begitu kegirangan ?"
Bek Lian ber-sungut2, Tio Jiang menyahut.
"Ah, suci tak tahu, si Cian-bin Long-kun The Go itu ........."
"Dia berada dimana ?"
Tukas Bek Lian serentak memutus kata2 orang. Tio Jiang tak mengerti kemana jatuhnya pertanyaan sang suci itu, maka diapun cepat menegas.
"Siapa ? "
Bek Lian mendongkol, lalu berteriak nyaring2.
"Engkoh Go ! Kecuali dia, siapa lagi yang akan kutanyakan ? !"
Diam2 Tio Jiang geli dibuatnya.
Kalau beberapa bulan yang lalu, hatinya pasti sakit mendengar ucapan sang suci begitu itu.
Tapi setelah dia campur gaul dengan manusia2 jantan macam Kui-ing-cu dan Nyo Kong-lim, dia tawar sudah akan perilaku Bek Lian yang sedemikian rendah martabatnya itu.
Macam bidadari menjelma dimayapada pun, Tio Jiang tak tergerak hatinya lagi pada sang suci itu.
Malah dia sesali dirinya sendiri, mengapa tempo hari sampai ter-gila2 membabi buta pada sang suci.
"Ah, entahlah kemana dia!"
Katanya dengan tawar.
"Sute, hayo kita lekas2 keluar dari sini!"
Akhirnya Bek Lian tampak bergelisah. Tio Jiang enjot tubuhnya melayang diatas dinding lorong jalan itu. Benar juga disitu, dia rasakan siliran angin menghembus.
Baca Juga: Sukma Pedang 5
Baca Juga: Pendekar Pemetik Harpa 9