Eps 7 Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen
Baca online Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen
Cersil Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen.
Atau lebih tepat dikatakan 'si kera dan buaya' mengangkat saudara.
(Dalam dongeng kanak2, kera dan buaya itu saling bermusuhan, jadi kalau mereka mengangkat saudara, itu hanya pulasan saja).
Oleh karena Tan It-ho pernah tua, jadi dia yang menjadi toako (saudara tua).
Setelah merayakan upacara itu dengan 3 tegukan arak, mereka lantas hendak masuk tidur.
Tiba2 brak....., terdengar pintu terbuka dan masuklah seorang lelaki tinggi besar kedalam ruangan situ.
Begitu masuk orang itu segera menghamburkan makian.
"Jahanam, kakek moyanglu 18 turunan ! "
Mendengar suara orang itu, The Go tampak gugup, lalu bertanya kepada Tan It-ho.
"Toako, apakah kau membawa topeng muka?"
Tan It-ho mengeluarkan sebuah topeng kulit muka.
Begitu dipakai, pemuda The Go yang tampan segera menjadi seorang yang buruk rupa.
Setelah itu, baru The Go berani mendongak mengawasi kemuka dan tak kuat menahan gelinya lagi.
Orang lelaki kasar tadi mengawasinya sejenak, lalu memaki.
"Bangsat, apanya yang lucu?"
Tan It-ho hendak membalas, tapi secara diam2 dicegah The Go, hingga membuat yang tersebut duluan heran.
Memang tindakan The Go itu beralasan, karena sikasar itu bukan lain adalah Nyo Kong-lim, itu pemimpin dari ke 72 Cecu Hoa-san.
Entah bagaimana dia bisa datang ketempat itu.
Brewok janggutnya tinggal separoh, mukanya pun belang hitam putih, rambutnya yang sebelah kiripun (separoh) sudah kelimis, sehingga kulit kepalanya tampak jelas.
Barang siapa melihatnya, jangan tanya tentu akan kaku perutnya karena geli.
Dari wajahnya, dia tengah dirangsang kemurkaan.
The Go tahu ilmu silat ketua Hoa-san itu cukup tangguh, maka siapa yang berani mempermainkannya?
Ah, jangan2 Kang Siang Yan?!
Teringat akan nama Kang Siang Yan, The Go kucurkan keringat dingin.
Dia bergidik sendiri kala membayangkan apabila rencananya keji itu sampai ketahuan Kang Siang Yan, tentu mayatnya tiada tempat untuk mengubur lagi!
Tapi ah...., mana Kang Siang Yan sempat untuk mem-perolok2 orang kasar itu ?
Demikian karena sudah berganti rupa, maka dengan tenangnya The Go duduk mengawasi.
Nyo Kong-lim kelihatan mengambil sebuah tempat duduk, lalu bung...., bung...., bung...., tinjunya berlincahan diatas meja dan mulutnya ber-kaok2.
"Hayo, lekas bawakan, arak dan daging "
Jongos yang tadinya sudah siat-siut matanya, minta ditidurkan itu, begitu melihat kedatangan sikasar dan sikapnya yang bengis itu, segera buyar rasa kantuknya.
Ter-sipu2 dia membawakan barang pesanan itu.
Nyo Kong-lim usap2 kepalanya yang gundul separoh itu, lalu meng-elus2 janggutnya yang tinggal separoh itu juga.
"Jahanam .....", tiba2 dia berhenti merenung sejenak lalu melanjutkan lagi.
"Jahanam, apakah bukan sibudak perempuan itu yang main gila padaku?"
Tapi sesaat lagi, dia menyahut sendiri.
"Tidak, tidak, budak itu bersama siaoko pergi ke Sip-ban-tay-san, masakan dia bisa kemari mengolok2kan aku ? !"
Berkata begitu, wajahnya tampak agak tenang, kemudian se-konyong2 dia tertawa ter-bahak2 sendiri, seperti orang setengah gila. Baru separoh ketawa, dia lantas berhenti dan berkata sendirian.
"Rupanya budak itu galang-gulung rapat dengan si siaoko, biar kutanyakan pada suhunya, bilakah aku dapat minum arak kebahagiaannya (menikah) ?"
Habis berkata, dia kembali ter-bahak2 seorang diri.
Bermula The Go dan Tan It-ho anggap ketua Hoasan itu tolol tapi menyenangkan.
Tapi lama kelamaan didengarnya suara ketawanya itu bukan seperti orang ketawa lagi, melainkan menyerupai orang menangis.
Ketika keduanya mengawasi tajam2, mereka segera merasa kaget.
Walaupun Nyo Kong-lim masih tengah ketawa, tapi sepasang matanya tampak mendelik, kaki tangannya ber-jingkrak2, sikapnya kesakitan sekali.
Sebagai seorang murid dari Ang Hwat cinjin, tokoh besar dalam ilmu menutuk jalan darah itu, mata The Go yang tajam segera mendapat tahu bahwa dalam sekejab waktu barusan tadi, sikasar itu telah ditutuk jalan darahnya oleh seseorang.
Justeru yang diarah adalah jalan darah 'tertawa'.
Maka walaupun terus menerus ketawa, tapi nada ketawanya itu menyerupai orang merintih kesakitan.
The Go terkesiap.
kaget.
Didalam ruangan situ hanya terdapat 4 orang.
Dia berdua dengan It-ho terang tak melakukan.
Adakah sihweshio penidur itu seorang tokoh persilatan yang bersembunyi ?
Tapi yang luar biasa, mengapa Nyo Kong-lim sampai tak mengetahui kalau dirinya dibokong orang, pada hal kaum persilatan mengenal dia sebagai jago silat yang mahir ilmu lwekang.
Sihweshio itu masih tetap terkulai menggeros, mulutnya ngiler seperti kelebuh benar2 di dalam pulau kapuk.
"Biar kau tahu rasa sekarang!"
Demikian diam2 The Go girang menampak keadaan Nyo Kong-lim yang dibencinya itu.
Tapi baru dia mempunyai perasaan begitu se-konyong2 pinggangnya terasa lentuk, celaka......
secepat merasa secepat itu pula dia empos semangatnya untuk kerahkan tenaga perlawanan.
Tapi sudah kasip, sekali mulutnya pecah "ha...., ha..., hi..., hi...", terus menerus dia bergelak ketawa tak berkeputusan juga.
Tapi adalah karena kelihayan pelajaran ilmu tutuk Ang Hwat cinjin, sehingga walaupun tertawa, namun The Go masih dapat berdaya untuk menyalurkan lwekang guna menindas rasa ketawanya itu.
Tepat pada saat itu, Nyo Kong-limpun sudah berhenti ketawa.
Dengan melotot mata, dia mendelik gusar kearahnya.
"Hiante, apakah kau juga kena bokongan orang ?"
Tanya Tan It-ho ketika merasa keadaan yang tidak wajar itu. Belum The Go menyahut, Nyo Kong-lim sudah menggerung keras sembari menerjang datang.
"Jahanam, kiranya kau!"
Sembari memaki tangannya menghantam.
Ketika dirinya diketahui, The Go tak mau menangkis serangan yang dahsyat itu.
Sekali tangannya menekan meja, tubuhnya segera melambung setombak keatas.
Juga Tan It-ho yang melihat gelagat jelek, segera mundur menyingkir.
"Bang..., bang....! karena orangnya sudah menyingkir, maka meja itulah yang menjadi sasaran pukulan Nyo Kong-lim, sehingga hancur ber-keping2. Sikuasa hotel ketakutan seperti melihat setan. Dia ber-ingsut2 lari keluar dan ter-kencing2 mendeprok ditanah......... Melihat pukulannya menemui tempat kosong, Nyo Kong-lim cepat mencabut ruyung sam-ciat-kun, yang terus dikibaskan lempang kemuka kearah The Go dan Tan It-ho.
"Bangsat, kau berani mempermainkan loya, mengapa sekarang takut berkelahi ? Mari, kau rasakan ruyungku ini sekali saja!"
Serunya sembari mengayunkan sam-ciat-kun dalam gerak "heng soh cian kun" (menyapu ribuan lasykar).
Ujung ruyung bergeliatan, terpencar menutuk kedua orang itu.
Mendengar itu, tahulah The Go kalau sikasar itu sebenarnya belum mengetahui siapakah dirinya itu.
Nyo Kong-lim itu kasar orangnya, seribu satu alasan dia tentu tak mau menerima, maka lebih baik diladeni saja.
Begitu ruyung tiba, The Go mendak kebawah sembari menyingkir kesamping, lalu secepat kilat dia julurkan kelima jarinya untuk menerkam dada orang.
Ternyata itulah.
suatu gerakan yang istimewa lihaynya.
Kelima jari itu sebenarnya dipencar untuk menutuk jalan darah orang masing2 pada kiok-kwat, siangwan, ki-bun, tiong-wan dan kian-li, lima tempat.
"Lihay benar ilmu tutukanmu!"
Seru Nyo Kong-lim sembari menarik pulang ruyung dan mundur 3 langkah kebelakang.
Tanpa disengaja, tubuhnya yang menyurut kebelakang itu telah menatap kepala sihweshio, hai gila betul rupanya hweshio itu.
Disekitarnya terjadi ribut2, malah kepalanya juga dibentur tubuh orang, tapi masa dia masih enak2 tidur seperti babi mati.
Hidungnya masih tetap mendengkur keras seperti cerobong kapal.
Sebagai seorang persilatan yang sudah kenyang makan asam garam, heran Nyo Kong-lim melihat ilmu tutukan yang menyerangnya itu.
Sepanjang pengetahuannya, ilmu tutukan macam itu, hanya dimiliki oleh Ang Hwat cinjin seorang saja.
Oleh karena dia benci sekali kepada The Go, jadi Ang Hwat cinjinpun turut2an dibencinya.
"Anak jadah (haram), kiranya kau masih sanak kadangnya Ang Hwat sikeledai gundul itu ya!"
Serunya sembari kibaskan sam-ciat-kun.
Kini dia lancarkan serangan istimewa.
Sembari menghantamkan sam-ciat-kun tangannya kiripun ikut menebas bahu Tan It-ho, blek......
It-ho yang tak ber-jaga2 itu termakan dulu.
Sekali menjerit 'aduh...., mati', separoh tubuhnya seperti mati-rasa.
Melihat itu The Go sangat gugup.
Dia masih perlu dengan tenaga It-ho, sedapat mungkin jangan sampai orang itu keburu kehilangan jiwa dulu.
"Tan-heng lekas lari sendiri, aku setuju rencanamu, jangan sampai membikin kapiran !"
Serunya kepada It-ho.
Walaupun It-ho merasa aneh akan kejadian dalam ruangan penginapan situ, namun dia, turut juga perentah The Go itu.
Begitu Nyo Kong-lim tengah sibuk menangkis serangan The Go yang mengarah pinggangnya, It-ho cepat menyelinap keluar meloloskan-diri.
Nyo Kong-lim terperanjat mendengar kata2
"jalankan menurut rencana"
Dari The Go tadi.
Walaupun dia tak tahu apa maksudnya, namun karena nada suara The Go itu seperti pernah dikenalnya, ia menjadi tersentak sejenak.
Keayalan ini, menyebabkan perutnya hampir dimakan tutukan tangan The Go.
"Keparat....., siapa kau ini ?"
Serunya sembari sapukan sam-ciat-kun mundur selangkah.
Karena terpaksa tadi secara spontan The Go telah mengucapkan kata2, hal mana telah menimbulkan kecurigaan musuh terhadap dirinya.
Musuh menegas, sudah tentu dia tak mau bicara lagi.
Dalam pada itu, dia ambil putusan hendak lekas2 menyelesaikan pertempuran itu.
Karena kalau terlibat lama, ada kemungkinan rombongan Ceng Bo siangjin akan keburu datang disitu.
Dengan kehilangan seorang tiang pengandal macam Li Seng Tong, sudah tentu dia tak berdaya menghadapi kawanan orang gagah itu.
Cepat diambilnya sepasang sumpit, menyelinap kebelakang Nyo Kong-lim lalu menutuk dua buah jalan darah dipunggungnya.
"Ilmu tutukan yang bagus!"
Seru Nyo Kong-lim sembari kibaskan sam-ciat-kun keatas.
Sam-ciat-kun atau tongkat 3 ros (buku), merupakan 3 batang tongkat pendek yang disambung2.
Tapi dalam tangan Nyo Kong-lim senjata itu merupakan senjata yang dapat digerakkan sesuka hatinya.
Sam-ciat-kun ber-putar2 melibat Iengan The Go.
The Go memuji ketua Hoasan itu yang walaupun kasar tapi ternyata mempunyai kepandaian berisi.
Tanpa berayal, dia enjot kakinya untuk loncat menghindar, tapi tiba2 telapak kakinya terasa kesemutan.
Serupa dengan jalan darah siauyau-hiat (tertawa) tadi, kini jalan darah hian-kia-hiat pada telapak kakinyapun kenaa ditutuk orang.
Oleh karena terperanjat, The Go jadi menurun kebawah dan berbareng pada saat itu, sam-ciat-kun menyapu datang.
Terpaksa dia gunakan gerak tiat-pian-kio (jembatan gantung) lemparkan tubuhnya kebelakang, lalu menyusul dengan ilmu mengentengi tubuh i-heng-huan-wi, dia letikkan tubuhnya kesamping.
Cara penghindaran itu ternyata berhasil bagus sekali didalam menghadapi serangan sam-ciat-kun yang dilancarkan dengan jurus2 istimewa yakni "bintang pagi menjulang balik"
Dan diteruskan "air terjun memancar jatuh"
Untuk kegirangannya, setelah menghindar, telapak kakinyapun sudah sembuh dari rasa kesemutan.
Ini disebabkan karena The Go memiliki lwekang ajaran Ang Hwat cinjin yang luar biasa.
Maka ketika serangan sam-ciat-kut menyambar lagi, dia melintas maju lalu menutukkan sumpit kearah jalan darah si-tiok-hiat.
Tiba2 sihweshio penidur tadi tampak bergerak pinggang, tangannya diangkat keatas dengan jari2nya ditekuk kebelakang.
Tampaknya seperti orang ngolet (bergeliat), namun anehnya Nyo Kong-lim dan The Go berdua segera rasakan ada angin keras menyambar kearah mereka.
Sebagai orang persilatan, Nyo Kong-lim dan The Go segera sama terperanjat Terang oletan sihweshio itu merupakan pukulan lwekang biat-gong-ciang.
Mau tak mau terpaksa keduanya sama mundur sampai 3 tindak.
"Aku hanya ingin tidur sekejab saja, mengapa kalian ribut2 tak keruan itu? Huh, kurang ajar!"
Tiba2 sihweshio itu mengangkat kepala berkata.
"Ho, kiranya kau! Hampir saja aku keliru memukul orang yang tak bersalah!"
Seru Nyo Kong-lim dengan murka, lalu menarikan sam-ciat-kun merangsang sihweshio.
Sebaliknya sihwesio tampaknya seperti tiada kejadian suatu apa, enak2 saja dia beresi jubahnya yang kucal2 itu.
Amboi, deru tarian sam-ciat-kun yang begitu dahsyat, baru sampai ditengah jalan tiba2 terkulai kebawah, hingga hampir makan kakinya, sendiri.
Sudah tentu The Go yang mengawasi dengan perdata, menjadi terkejut tak terkira.
Terang tadi dilihatnya hweshio itu hanya mengangkat tangannya keatas sedikit, mengapa Nyo Kong-lim yang bertenaga seperti kerbau itu, tak kuat lagi mencekal sam-ciat-kunnya?.
Jadi nyata sampai dimana kesaktian sihweshio itu.
Tapi seingatnya, tokoh persilatan manakah yang memiliki kepandaian begitu itu?
Rasanya tidak ada.
"Kepala gundul, aku tak mau hidup ber-sama2 dalam satu dunia dengan kau!"
Seru Nyo Kong-lim sambil ber-jingkrak2 untuk menghindar dari serangan sam-ciat-kunnya sendiri.
Habis itu, dia lalu serangkan lagi senjatanya.
Tapi dengan langkah lenggang, hweshio itu lari keluar tak mau menghiraukan.
"Ada kau tiada aku, ada, aku tiada kau, sama dengan ada rambut dikepalamu tiada rambut dikepalaku".
"Kalau kupangkas lagi rambutmu yang tinggal separoh itu, aku tentu dapat enak2 menikmati kaki-anjing panggang!"
Serunya ketika berlari itu.
"Anjing kepala gundul, jadi kaulah yang memangkas rambutku ini? Hampir saja kusalah duga kalau sibudak perempuan itu!"
Seru Nyo Kong-lim sembari mengejar keluar.
Sembari sahut2an, kedua orang tersebut sudah jauh dari rumah penginapan situ.
Melihat keduanya sudah berlalu, The Go legah hatinya.
Sedangkan sipelayan tadipun berani masuk kedalam lagi.
Ketika dia sedang mengomel panjang pendek karena meja kursinya hancur, tiba2 diatas meja sihweshio tadi dilihatnya ada setumpuk perak, sekira 5 tail beratnya.
Wajah sipelayan yang kecut tadi, seketika berobah riang lagi.
Sedang The Gopun lalu masuk kekamarnya.
Didalam kamar Bek Lian tidur dengan enak sekali.
Rupanya tengah menantikan kedatangan The Go, karena lampunya masih menyala.
Karena tak mau membuat terkejut, The Go mendekati pe-lahan2, tapi rupanya Bek Lian mengetahui lalu menggeliat kesamping, dan tidur lagi.
Demi melihat wajah Bek Lian, berdeburlah jantung The Go.
"Didunia ini tak kurang dengan wanita cantik. Hanya dengan barter secara yang diusulkan Tan It-ho tadi, barulah aku dapat memiliki pedang pusaka itu. Aku belum resmi mengikat perkawinan dengannya, tapi sudah mempunyai anak, ah kalau hal ini sampai diketahui orang, kemana hendak kutaruh mukaku ? Kalau tidak kejam itu bukan lelaki! Persetan!"
Demikian pikiran jahat merangkum hati, The Go. Dan saking kerasnya getaran hati, kakinya turun dibanting, hal ini telah mengejutkan Bek Lian.
"Engkoh Go, tidurlah lekas, sudah jauh malam!"
Seru sinona.
Sebaliknya The Go yang sudah dirangsang racun kata2 Tan It-ho tadi segera suruh Bek Lian bangun.
Dengan alasan menghindar dari kejaran musuh yang hendak melakukan pembalasan, malam itu juga The Go ajak Bek Lian tinggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanan lagi.
Kita tengok Nyo Kong-lim sisembrono itu.
Ternyata dia mengalami pengalaman seperti petang hari tadi lagi.
Dirinya dipermainkan oleh sihweshio, saking gusarnya dia mengejar.
Tapi biar dia kencangkan larinya sedang sihweshio itu hanya enak2 saja tampaknya, namun tetap tak dapat mencandaknya.
Begitu dengan keadaan pada saat itu.
Setiba dihutan.
yang sepi, Nyo Kong-lim kehabisan bensin.
"Anjing kepala gundul, kenapa kau tak pangkas sekali sisa rambutku ini ?'' makinya dengan keras. Sihweshio tertawa cekikikan.
"Aku bosan jadi hweshio, hendak kembali lagi menjadi orang biasa. Tapi kalau belum mencari pengganti kau, mana aku dapat lepaskan kedudukanku ?"
Sahutnya.
"Tapi mengapa separoh kepalamu tak tumbuh rambutnya?"
Tanya Nyo Kong-lim.
"Kalau tumbuh, lalu bagaimana ?"
Sahut sihweshio.
Sikasar tertegun, heran dia mengapa didunia bisa terdapat, kejadian begitu?
"Baik, kalau benar separoh bagian dari kepalamu itu bisa keluar rambutnya, rambutku yang separoh ini biar kau cukur sekali!"
Serunya dengan geram. Sihweshio tertawa, ujarnya.
"Sekali taytianghu (lelaki sejati) mengeluarkan kata2........"
"Laksana kuda lari sukar diburu!"
Sambung Nyo Kong-lim serentak. Sihweshio kembali tertawa. Dia ulurkan tangannya merabah keatas kepala dan se-konyong2 berseru.
"Lihatlah!" (Oo-dwkz-TAH-oO) BAGIAN 25 . BATU MUSTIKA Waktu mengawasi, Nyo Kong-lim berjingkrak kaget. Begitu diusap, separoh bagian dari kepala gundul sihweshio itu, sudah tumbuh rambutnya.
"Setan atau manusia kau ini ? Lekas katakan!"
Tanya Nyo Kong-lim dengan menjerit.
"Kau sudah berjanji bukan? Setelah kucukur rambutmu baru nanti kuterangkan!"
Kata sihweshio. Nyo Kong-lim adalah seorang lelaki yang tegas.
"Bilang hitam....... ya hitam, bilang putih....... ya putih. Sini, cukurlah !"
Sihweshiopun tampaknya tak sungkan2an. Dengan beringsut2 memakai sepatu rumput, dia menghampiri lantas cekal kepala Nyo Kong-lim. Tapi sikasar itu segera marah2 .
"Mau memangkas, mengapa mencabuti ?"
"Habis kalau tak mencekal kepala, bagaimana bisa memangkas ?"
Sahut sihweshio.
Nyo Kong-lim bohwat tak dapat cari alasan lagi, kecuali meringis.
Sihweshio keluarkan pisau cukur dan srit...., srit...., sekejab saja kepala sikasar menjadi kelimis.
Terasa silir, Nyo Kong-lim merabah kepala, hai......
lagi2 dia meringis monyet.
Rambucang dipegang dalam tangan kiri sihweshio, lalu dilontarkan keatas di-iringi dengan tiupan angin, ribuan lembar rambut itu bertebaran ke-mana2.
Tapi seperti disulap, tiba2 separoh bagian kepala sihweshio yang masih gundul itu, tumbuh lagi rambutnya!
Bahna herannya Nyo Kong-lim segera berseru.
"Bangsat gundul,......"
Tapi tiba2 dia batalkan kata2nya itu. Makian, itu tidak mengenai sihweshio tapi kena dia sendiri.
"Hweshio, kau ini sebenarnya manusia atau setan?"
Cepat dia alihkan pertanyaannya.
"Bukan orang, bukan setanI"
Sahut sihweshio dengan tertawa.
Tiba2 Nyo Kong-lim tersentak kaget sendiri.
Dia teringat dalam dunia persilatan ada seorang tokoh luar biasa yang bergelar Kui-ing-cu (bayangan setan).
Wataknya keliwat eksentrik, suka ber-olok2.
"Adakah kau ini Kui-ing-cu?"
Akhirnya dia bertanya. Sihweshio bergelak-gelak, sahutnya.
"Benar, aku memang si Kui-ing-cu yang kau suruh mencukur kelimis kepalamu menjadi hweshio!"
Mendengar itu, diam2 Nyo Kong-lim rnengeluh.
"Mati aku"
Petang tadi Nyo Kong-lim berpapasan dengan Tio Jiang dan Yan-chiu yang hendak menuju kegunung Sip-ban-tay-san.
Tampak sikap kedua anak, itu begitu mesra, tanpa tedeng aling2 lagi, dia segera bertanya.
"Siao-a-thau (anak perempuan kecil) dengan siaoko (engkoh kecil) begini mesranya, apa sudah memilih hari baik ya?"
Bagi Nyo Kong-lim yang polos blak2an itu, apa yang sang hati memikir mulutnya segera mengatakan.
Tapi dalam penerimaan Yan-tihiu yang genit lincah bicara itu, sudah tentu tak mau mandah dibegitukan saja.
"Toacecu, mengapa kau tak mencari seorang wanita kawan ber-cumbu2an?"
"Setan! Mulutmu benar2 tipis, macam Kui-ing-cu. Tapi biar Kui-ing-cu, kalau benar2 bermulut tipis, nanti pada suatu hari aku tentu akan mencukur kelimis batok kepalanya, biar dia menjadi bangsat gundul. Coba biar kulihat, kau masih berani bermulut tipis lagi tidak!"
Kata Nyo Kong-lim tertawa.
"Kalau aku tetap tipis mulut bagaimana?"
Menantang Yan-chiu.
"Juga kucukurl rambutmu, supaya menjadl nikoh (paderi wanita) !"
Dengan cepat Nyo Kong-lim memberi keputusan.
Mereka bertiga, tertawa geli.
Celaka!
Kui-ing-cu yang muncul perginya tak berketentuan itu, kebetulan pada saat itu berada ditempat situ, tapi menyembunyikan diri.
Apa yang diperolokkan oleh Kong-lim, didengarnya semua.
Dia tahu Nyo Kong-lim itu seorang kasar sembrono, tapipun seorang yang suka bergurau.
Maka diam2 diikutinya ketua Hoa-san itu.
Untuk meramaikan "permainannya", dia tutupi kepalanya dengan semacam sarung kepala, hingga kepalanya gundul seperti seorang hweshio.
Selagi Nyo Kong-lim tidur disebuah hutan, dicukurnya kepala dan janggut ketua Hoa-san itu.
Tapi, tidak semua, hanya separoh bagian.
Jadi setelah itu, Nyo Kong-lim hanya mempunyai sesisi rambut disebelah kanan dan sesisi janggut disebelah kiri.
Habis itu, sengaja dia bangunkan sisembrono, kemudian dia sendiri lalu ber-lari2 menuju kedalam rumah makan penginapan tadi.
Justeru pada saat itu, The Go dan Tan It-ho tengah rnerundingkan rencananya.
Tahu kalau kedua orang itu juga kaum persilatan, Kui-ing-cupun hendak mempermainkannya.
Dia pura2 tidur mendengkur dan karena itu tanpa disengaja dia telah dapat mencuri dengar apa yang dibicarakan oleh The Go dan Tan It-ho itu.
Ceng Bo siangjin bukan melainkan termasyhur karena ilmu kepandalannya, tapi juga karena perilakunya yang luhur budiman.
Kaum persilatan sangat mengindahkan akan peribadi siangjin itu.
Kui-ing-cupun tak terkecuali.
Mendengar anak perempuan dari siangjin itu menghadapi bahaya, dia menjadi sibuk.
Pada saat itu juga sebenarnya dia sudah hendak turun tangan, tapi telah dirusak oleh kedatangan sisembrono Nyo Kong-lim.
Segera dia robah rencananya, lebih dulu mengocok sisembrono, baru nanti memberesi kedua orang busuk itu.
Pikirnya, masakan kedua orang itu dapat lolos dari tangannya.
Tapi siapa tahu, karena terlibat oleh Nyo Kong-lim, rencananya kedua betul2 menjadi kapiran.
Tapi hal itu termasuk dibagian belakang dari cerita ini.
Sekarang mari kita ikuti bagaimana sisembrono Nyo Kong-lim menghadapi Kui-ing-cu.
Tahu dengan siapa dia berhadapan, ketua Hoa-san itu tak berani memaki lagi.
Tapi sebaliknya Kui-ing-cu malah menagih, ujarnya.
,Bocah gede, mengapa kau tak jadi memaki keledai gundul ?"
Nyo Kong-lim usap2 kepalanya yang kelimis, lalu meringis.
"Bagaimana aku ini, kalau nanti ketemu orang?"
"Jangan kuatir,"
Sahut Kui-ing-cu sembari lolos jubahnya.
"pakailah ini, setengah atau satu tahun menjadi hweshio apa keberatannya?"
Sisembrono terpaksa menurut lalu tukar2an pakaian dengan Kui-ing-cu.
Tapi oleh karena tubuhnya tinggi besar, maka jubah itu hanya sampai kebatas lutut saja.
Sudah tentu hal ini makin mengocok perut siapa yang melihatnya.
"Bocah gede, siapakah panggilanmu ?"
Tanya Kui-ing-cu setelah itu.
"Aku yang kasar ini orang she Nyo nama Kong-lim, orang menggelari Thiat-kim-kong (sibesi keras)!"
Mendengar nama itu, Kui-ing-cu agak terkesiap.
Kaum persilatan menyohorkan sisembrono itu seorang lelaki yang perwira dan jujur.
Diam2 diapun taruh perindahan dan sesalkan perbuatannya tadi.
Tapi karena olok2 tetap olok2 atau nasi sudah menjadi bubur, jadi sukar untuk menarik kembali.
Syukurlah, dia hanya mencukur rambut kepala dan separoh rambut janggutnya serta tak keliwat merugikan orang.
Nyo-heng, tadi aku keliwat kurang adat, harap suka maafkan!"
Melihat perobahan sikap orang, Nyo Kong-lim pun sesali dirinya sendiri. Kalau tadi dia tak begitu sembrono mengoceh, tentu takkan mengalami pengalaman pahit seperti itu.
"Cianpwe mengapa begitu merendah!"
Sahutnya ter-sipu2.
Tu lihat!
Baru beberapa detik yang lalu, keduanya masib bersitegang leher pukul2an, kini sudah saling begitu mengindahkan.
Kui-ing-cu tertawa, ujarnya.
,Jangan Nyo-heng merendah juga, tadi permainanmu ruyung, sudah cukup sempurna.
Keras dan dahsyat sudah cukup memenuhi syarat, tapi dalam soal kelemasan dan ketenangan masih kurang.
Bagaimana pendapat Nyo heng sendiri ?"
Nyo Kong-lim penasaran hatinya.
Tapi terkilas pula lain pikiran dalam hatinya, turut anggapan kaum persilatan ilmu kepandaian dari Kui-ing-cu itu telah mencapai batas yang sukar diukur.
Dia sendiripun pernah mendengar bagaimana dengan dibantu dari jauh oleh tokoh itu, Yan-chiu telah berhasil mengalah ketiga tianglo dari Ci-hun-si.
Dia merasa bakatnya terbatas, jadi sukar untuk memperoleh kemajuan lagi dalam ilmu lwekang, maka bukankah itu suatu keberuntungan besar kalau dia sampai bisa mendapat pengajaran beharga dari tokoh lihay itu?
Dengan kesimpulan itu, buru2 dia menyahut.
"Kiranya sukalah cianpwe memberi petunjuk yang berharga."
Habis berkata, dengan tanpa diminta lagi dia terus menyerahkan sam-ciat-kun pada Kui-ing-cu, siapa tampak tertawa saja dan berkata.
"Orang katakan kau ini limbung, tapi ternyata tidak!"
"Harap cianpwe jangan menertawakan!"
Kata Nyo Kong-lim dengan merah kemaIu2an. Tiba2 wajah Kui-ing cu berobah sungguh2 dan berkata.
"iImu sam-ciat-kun itu, berasal dari pengajaran Cin Siok Po itu orang gagah no. 7 pada jaman ahala Tong. Orang hanya mengetahui kalau Cin Siok Po itu hanya pandai menggunakan tombak, tapi siapapun tak mengetahui kalau pada waktu dia belajar ilmu silat, per-tama2 adalah belajar ilmu sam-ciat-kun ini. Ilmu permainan itu, disebuat "sam liong toh cu" (3 naga berebut mustika). Keindahannya terletak pada perbawa kekerasannya yang mengandung gaya kelemasan juga. Sebatang sam-ciat-kun dapat dipergunakan menjadi 3 batang tongkat pendek.
"Kau lihatlah!"
Nyo Kong-lim seperti orang mengimpi kala mendengarkan uraian itu.
Diapun segera pasang mata mengawasi betul2.
Begitu Kui-ing-cu tegak, sam-ciat-kun itu segera pe-lahan2 naik keatas, tampaknya lemah tak bertenaga.
Tapi sekali tangan Kui-ing-cu diturunkan, Nyo Kong-lim terbelalak kesima.
Biasanya kalau orang dapat menggunakan dua batang kun dari sam-ciat-kun itu untuk menyerang lawan, itu sudah tergolong lihay sekali.
Tapi gerakan Kui-ing-cu itu, dapat membuat batang kun yang ditengah, bergerak menjulur juga.
Kalau dijulurkan sampai jauh, dapat mengundurkan 3 orang musuh.
Kalau hanya dekat saja dapat menyerang sekali gus 3 bagian tubuh lawan.
Kesaktiannya bukan alang kepalang.
Oleh karena Nyo Kong-lim sudah mempunyai dasar kokoh dalam ilmu sam-ciat-kun itu, jadi sekali lihat, dia dapat mencatatnya dalam hati.
Habis itu, Kui-ing-cu mainkan jurus kedua, begitulah dalam sesingkat waktu, 14 jurus telah dia mainkan semua.
Setiap jurus mengandung kesaktian2 yang sukar dilukis.
Nyo Kong-lim juga seorang yang gemar mati2an pada ilmu silat, maka apa yang dipertunjukkan Kui-ing-cu itu telah membuatnya kegirangan setengah mati.
Dia tumplek betul2 seluruh perhatiannya untuk mengingat setiap gerak dari permainan yang gayanya lain dari yang lain.
Begitu selesai, dia terus hendak meminta sam-ciat-kun itu guna berlatih satu kall, 'tapi tiba2 ada seseorang berteriak keras.
"Kui-ing-cu, berikan sam-ciat-kun itu, Sam-thay-ya mau berlatih sebentar!"
Nyo Kong-lim terperanjat sekali.
Dikiran ya kalau mulutnya yang mengucap perkataan itu tanpa disadarinya.
Karena memang dalam kebatinan dia memikir hendak mengatakan begitu.
Tiba2 terdengar suara menderu dan muncullah seorang tua kate.
Rambut janggutnya, menjulai panjang sampai ketanah, tangannya mencekal sehelai sabuk hijau yang dijulur surutkan.
Entah benda apa yang dibuat main2 itu !
Tapi Kui-ing-cu segera "memberikan"
Sam-ciat-kun itu kepada siorang kate dengan sebuah serangan sam-liong-toh-cu jurus pertama, yakni yang disebut cu-kong-theng-yau (sinar mustika menjulang keatas) "Sik Lo-sam, apa hukumannya orang yang mencuri lihat pelajaran lain -orang!"
Serunya. Wut......, tiba2 tubuh sikate melambung keatas menghindar.
"Kui-ing-cu, bilamanakah kau menerima murid seorang-hweshio ? Mengapa tak mengundang Sam-thay-ya ?"
Gelak tertawa sikate membatu roboh. Wajah Nyo Kong-lim merah padam, sebaliknya Kui-ing-cu tanpa menyahut sepatahpun, lalu jolokkan sam-ciat-kun keatas.
"Celaka pantatku ! Kui-ing-cu, kalau kau tak hentikan seranganmu, akan kulepas ceng-ong-sin untuk menggigitmu !"
Sik Lo-sam ber-kaok2 gugup. Dan ternyata ancamannya itu berhasil.
"Sik Lo-sam, dari mana kauperoleh ular sakti itu ?"
Seru Kui-ing-cu sembari hentikan serangan. Sik Lo-sam ter-kekeh2 girang, sahutnya.
"Sudah tentu Sam-thay-ya punya akal!"
"Katakan dulu, hukuman apa karena kau mencuri lihat permainanku sam-ciat-kun tadi ?"
Tanya pula Kui-ing-cu.
Seperti telah diterangkan dibagian muka, sikate Sik Lo-sam itu, sangat senang ilmu silat seperti jiwanya.
Seperti tempo dipulau kosong tempo hari, dia paksa Tio Jiang mengajarkan ilmu pedang "to-hay-kiam-hwat."
Kebetulan tadi dia bersemburnyi disekitar situ dan dapat mencuri lihat permainan sam-ciat-kun yang luar biasa dari Kui-ing-cu, hal mana telah membuat girang aetengah mati.
"Sam-thay-ya tak dapat memikir, kau katakanlah !"
Sahutnya.
"Kalau suruh aku yang mengatakan, dikuatirkan kau tak mau menuruti !"
Kata Kui-ing-cu pula. Tapi Sik Lo-sam itu lebih linglung lagi dari Nyo Kong-lim. Dibikin panas oleh Kui-ing-cu tanpa banyak pikir serentak dia berseru dengan geram.
"Siapa katakan Sam-thay-ya bermulut lancang (palau) ?"
"Bagus, memang siapakah yang tak tahu kalau Sik Lo-sam itu seorang lelaki sejati, bilang satu tetap satu. Kini terimalah hukumanmu. serahkan ceng-ong-sin itu kepadaku!!!"
"Kentut !"
Menjerit Sik Lo-sam serentak.
"Ha...., ha...., benar tidak kalau kau ini seorang bermulut lancang !"
Kui-ing-cu menertawainya.
"Baik, mari ambillah!"
Sik Lo-sam menjerit seraya ayunkan tangan.
Ditimpah cahaya rembulan, seutas sinar hijau melayang kearah Kui-ing-cu.
Orang aneh ini letakkan sam-ciat-kun, lalu tegak berdiri memandang kemuka deagan penuh perhatian.
Sebelum sinar hijau itu melayang tiba, dia sudah maju menyongsong untuk julurkan kelima jarinya tangan kiri dan tali hijau itu segera terjepit, lalu melingkar2 dijari, tapi secepat itu tangannya kanan segera memijat sebelah ujung tali itu.
Tali itu ternyata adalah seekor ular tiok-yap-ceng yang besarnya hanya sama dengan sebuah jari tangan tapi panjangnya hampir dua meter !
Pada lazimnya ular tiok-yap-ceng itu hanya 7 atau 8 dim panjangnya, itu saja kalau menggigit tentu membinasakan orang.
Tapi siraja tiok-yap-ceng itu begitu panjang, kepalanya berbentuk segi tiga, lidahnya semerah darah, jadi bagaimana ganasnya dapat di-kira2kan sendiri.
Setelah memereksa sejenak, berkatalah Kui-ing-cu.
"Sik Lo-sam, dengan meminta ceng-ong-sin darimu, kau tentu penasaran..."
"Sudah tentu penasaran !"
Tukas Sik Lo-sam dengan kontan. Kui-ing-cu tertawa, ujarnya.
"Tentu merugikan jerih payahmu mencarinya!"
"Jangan pura2 jadi orang baik ! Setengah tahun yang lalu, sebenarnya sudah dapat kutangkapnya, tapi telah diganggu oleh sitengeng Tio Jiang. Coba kala itu aku sudah berhasil menangkapnya, tentu tak kan kau hukum begini. Biar kucari anak tengeng itu nanti!"
Sahut Sik Lo-sam. Diam2 Kui-ing-cu mengeluh, kalau benar orang kate limbung itu mencari Tio Jiang, anak itu tentu bukan lawannya.
"Kau sendiri yang bersalah, mengapa timpahkan lain orang? Lekas fahamkan ilmu kun-hwat!"
Serunya.
Sik Lo-sam buru2 memungut sam-ciat-kun, lalu mulai berlatih.
Dari samping Kui-ing-cu memberi petunjuk mana2 yang kurang benar, hal mana membantu banyak bagi Nyo Kong-lim juga untuk memahami ilmu permainan kun tersebut.
Haripun sudah terang tanah dan tiba2 teringat Kui-ing-cu akan The Go, katanya.
"Sik Lo-sam, ilmu kun-hwat ini sangat sakti. Kau harus mencari tempat yang sunyi untuk menyakinkannya lagi, baru dapat kau fahami benar2. Hayo! lekas pergi sana!"
Sik Lo-sam yoing sangat linglung itu, mengira kalau ucapan Kui-ing-cu itu sesungguhnya, maka sekali berseru "Ha-ya, Sam-thay-ya akan pergi!", dia cepat angkat kaki.
Setelah itu, baru Kui-ing-cu memberitahukan kepada Nyo Kong-lim tentang yang didengarnya dirumah penginapan tadi.
"Hai, kemarin ketika berjumpa dengan siaoko dan siao-ahthau, merekapun mengatakan begitu. Hayo, kita harus lekas2 cari si The Go!"
Seru Nyo Kong-lim dengan kaget.
Bergegas2 keduanya balik kerumah penginapan.
Siapa nyana, ketika ditanya sikuasa penginapan hanya a-u a-u tak dapat ber-kata2 demi nampak kedatangan kedua orang itu.
Ya, mengapa kini siorang tinggi besar (Nyo Kong-lim) berobah menjadi hweshio, sebaliknya siorang kurus (Kui-ing-cu) dari hweshio berganti menjadi orang preman?
Setelah pulih kejutnya, barulah sikuasa itu menerangkan bahwa orang she The itu sudah meninggalkan tempat itu.
Kui-ing-cu dan Nyo Kong-lim melakukan pengejaran sampai berpuluh li, tapi tak berhasil.
"Anak itu licin benar"
Akhirnya Kui-ing-cu terpaksa mengakui. Nyo Kong-lim tuturkan juga bagaimana Thay-san sin-tho Ih Liok, Ceng Bo siangjin dan dia sendiri pernah merasakan muslihat orany, she The itu.
"Sayang, anak muda yang secerdik itu, telah memilih jalan sesat!"
Kui-ing-cu memberi komentar. Nyo Kong-lim usulkan supaya menuju kegunung Sip-ban-tay-san.
"Apakah Nyo-heng mengetahui tempat kediaman suku Thiat-theng-biau itu?"
Tanya Kui-ing-cu. Atas pertanyaan itu Nyo Kong-lim menerangkan, turut keterangan Tio Jiang, suku Biau itu bertempat tinggal dipuncak Tok-ki-nia. Kui-ing-cu terperanjat dan menegaskan.
"Ya, memang Tok-ki-nia, apakah cianpwe mengetahuinya?"
Sahut Nyo Kong-lim. Kui-ing-cu menggeleng kepala, ujarnya.
"Hanya pernah mendengar cerita orang saja yang mengatakan bahwa Tok-ki-nia (puncak tunggal) itu sebenarnya disebut Bu-ki-nia (tanpa puncak). Tiada yang berani menghuni tempat itu. Jangan2 hal itu disebabkan karena disitu ditinggali suku Thiat-theng-biau itu !"
Nyo Kong-lim menyatakan tak jelas, lalu ulangi usulnya supaya menuju kesana saja.
Kui-ing-cu sayang akan kecerdikan The Go.
Mungkin kalau diinsyafkan anak muda itu akan dapat kembali kejalan yang benar.
Maka diapun setuju.
Ketika lewat disebuah hutan bambu, Kui-ing-cu mengambil sebatang bambu untuk memasukkan ular cen sin-ong kedalamnya.
Setelah itu mereka lanjutkan perjalanan lagi kegunung Sip-ban-tay-san.
Kini kita ikuti perjalanan Tio Jiang dan sumoaynya.
Ketika itu mereka berpapasan dengan Nyo Kong-lim, lalu menceritakan peristiwa The Go.
Setelah itu mereka lanjutkan perjalanan lagi ke Sip-ban-tay-san, sedang Nyo Kong-lim hendak mencari Ceng Bo.
Tak antara berapa lama kemudian, karena hari sudah mulai gelap, bermula Yan-chiu mau mengajak cari rumah penginapan, tapi Tio Jiang menolak karena harus lekas sampai ditempat tujuan.
"Apakah perut kita ini juga tak perlu diisi ?"
Bantah Yan-chiu dengan mulut menjebir, Tio Jiang lekas2 mengeluarkan dua potong roti kering dan menyuruh Yan-chiu mendaharnya.
"Siapa suruh makan roti yang sedemikian kering dan keras itu. Aku ingin dahar daging yang empuk lezat!"
Yan-chiu marah2.
"Adikku yang baik setelah selesai urusan ini, nanti aku tentu menemanimu makan. Karena urusan ini sangat penting, kita harus lekas2 lanjutkan perjalanan ?"
Tio Jiang coba menjelaskan.
"Urusan apa yang kau anggap sedemikian penting itu ?"
"Siao Chiu, kau ini bagaimana ? Lian suci kena halangan, mengapa tak mau lekas2 menolong ?"
Seru Tio Jiang sambil hentikan langkah.
Dulu kalau didengarnya sang suko menggigau nama "Lian suci", Yan-chiu hanya anggap dia itu ter-gila2, pantas diketawai.
Tapi kini serta ia sendiri terjerat asmara kepada sang suko, sudah tentu hatinya menjadi tertusuk.
Tapi karena memang sifatnya suka mengolok orang, maka iapun berlaga pilon, tanyanya .
"Halangan apa sih ?"
"The Go tentu setuju usul Tan It-ho untuk menyerahkan Lian Suci kepada Kit-bong-to!"
Sahut Tio Jiang seraya mem-banting2 kaki. Yan-chiu tetap mau menggodanya.
"Bagaimana kau tahu kalau The Go tentu menuruti usul Tan It-ho? Taruh kata menurut, diapun tak nanti dapat datang lebih dahulu dari kita! Dan andaikata mereka ternyata telah mendahului kita pun Lian suci itu bukan seorang anak kecil, masa menuruti saja segala kehendaknya?"
Dibombardeer oleh Yan-chiu, sesaat Tio Jiang melongo karena tak dapat ber-kata2.
"Tapi biar bagaimana juga, kalau belum tiba di Tok-ki-nia, rasanya aku tak dapat makan enak, tidur pulas!"
Akhirnya Tio Jiang meradang. Tapi si genit tak ambil pusing, malah senang melihat sukonya mulai uring2an itu.
"Suko, dalam lubuk hati Lian suci hanya di tempati oleh The Go seorang. Dimisalkan kau berhasil menolong, iapun tak mau menjadi isterimu, mengapa kau begitu ngotot ?"
Lagi2 Tio Jiang knock-out. Tapi sekilas berpikir, dia segera menyahut.
"Siao Chiu, omonganmu itu salah. Lian suci adalah saudara seperguruan kita, apalagi puterinya subo. Suhu telah melimpahkan budi sebesar gunung pada kits, masa kita hanya berpeluk tangan saja ? Kau sangka, karena cinta saja maka aku begini ter-buru2 ? Aku tak bermaksud menikah padamu, tapi mengapa aku menolongmu didasar lembah tempo hari ?"
Kini giliran Yan-chiu yang terpukul kena, hatinya seperti disiram es.
"Suko, mengapa kau berkata sembarangan begitu ? Siapakah yang mempunyai hasrat menjadi isterimu ?"
Katanya.
dengan wajah ke-merah2an.
Karena Tio Jiang mengatakan kata2nya yang menusuk tadi, terpaksa untuk menutup malu, Yan-chiu juga balas mengejeknya, walaupun itu berlawanan dengan suara hatinya.
Tapi setelah mengucap begitu, dia terdiam lalu berjalan lagi.
Sampai sekian besarnya, baru saat itu dia merasa berkenalan dengan apa yang dikatakan 'derita kalbu'.
Tio Jiang terkejut, dia merasa tak mengatakan apa2 yang kurang sedap didengar, mengapa sumoaynya marah begitu ?
Ketika menyusul langkah sang sumoay, tampak pada sepasang mata sigenit itu ber-linang2 air mata, tampaknya seperti orang yang menderita.
Pikir Tio Jiang, mengapa tadi sangat menyakiti hatinya ?
Jangan2 apakah ...........apakah.......
Bagaimana tololnya seorang pemuda, tapi dalam keadaan seperti itu, dapat juga Tio Jiang menarik kesimpulan.
"Adakah Siao Chiu itu diam2 menaruh hati padaku ? Kalau tidak, masa mendengar kata2ku 'tak bermaksud menikahnya', dia lantas begitu murung tampaknya ?"
Demikian sesaat Tio Jiang berpikir, tapi pada lain saat, dia membantah sendiri.
"Ah, tidak. Bagaimana bisa begitu ? Jangan2 dia sendiri yang melamun tak keruan, salah2 bisa menerbitkan buah ketawaan !"
Dengan pikiran begitu, Tio Jiang tak terlalu menaruh dihati terhadap kejadian itu.
Ah, Tio Jiang, Tio Jiang, mengapa kau tak mengerti hati seorang dara ?
Saat itu Yan-chiu kencangkan larinya.
Dua tetes air mata, tak dapat dicegah mengalir dari kelopak matanya.
Diam2 ia bersyukur bahwa ketika didalam bio tadi dia tak jadi membuka rahasia 'memalsu jadi Bek Lian'.
Teranglah sukonya itu tak menaruh hati padanya, kalau sampai mengetahui rahasia itu, dia tentu akan gusar.
Tanpa terasa tangannya merogoh kedalam baju untuk meraba butir mustika batu puayam (giok) yang pada malam itu Tio Jiang memberikannya karena menganggap dirinya (Yan-chiu) itu adalah Bek Lian sesungguhnya.
Setelah meraba, ia menarik napas panjang.
Selama ber-tahun2 berkumpul dengan Yan-chiu diatas gunung, sumoaynya itu adalah seorang gadis periang yang lincah.
Dimana Yan-chiu tampak, disitulah la tentu membawakan tertawa.
Maka betapa herannya ketika dilihat sang sumoay itu mengucurkan air mata dan menghela napas panjang.
Tapi sedikitpun Tio Jiang tak menduga kalau sang sumoay itu telah kucurkan air mata jeritan kalbu!
Singkatnya setelah beberapa hari menempuh perjalanan, sampailah mereka dikaki gunung Sip-ban-tay-san.
Dinamakan Sip-ban-tay-san atau selaksa gunung, karena pegunungan itu mempunyai puncak yang tak terhitung jumlahnya, dihias dengan hutan belantara yang membujur dari Kwitang sampai ke Kwisay.
Ketika mendongak mengawasi keatas, puncak2 dari pegunungan itu sama menjulang dengan megah dan angker.
Dikaki gunung situ tiada perdesaan sama sekali, jadi masih tetap belantara yang belum dihuni orang.
Yang ada hanya beberapa rumah kediaman pemburu, dengan didekatnya ada sebuah saluran air kecil.
Setelah memutari sekali namun tak berhasil menemukan jalanan, berkatalah Tio Jiang "Siao Chiu, mari kita tanya pada penduduk disini saja!"
Dalam beberapa hari ini, Yan-chiu telah mengambill putusan untuk mengikis bibit asmara yang bersemi dalam hatinya.
Namun 'Amour vincit omnia' atau Cinta menangkan segala', demikian kata sebuah peribahasa.
Jangan lagi hanya seorang Yan-chiu, sedangkan seorang dewa atau maha wiku yang salehpun, masih sering sukar untuk menangkis serangan panah asmara.
Makin ingin melupakan, makin keras sang hati meronta.
"Mengapa aku harus mengalami penderitaan, ini? Terang dia hanya menyintai Lian suci, mengapa aku tak dapat melupakannya?"
Demikian pertentangan yang terdapat dalam hati Yan-chiu selama beberapa hari dalam perjalanan itu.
Oleh karena keras memikiri, dalam beberapa hari ituu saja, tubuhnya bertambah kurus.
Tio Jiang mau menanyakan jalanan, hanya dijawab dengan tawar saja.
"Apakah didalam rumah ini ada penghuninya? Tolong tanya sebentar!"
Seru Tio Jiang ketika sudah berdiri dimuka pintu sebuah pondok. Seorang muncuI dari dalam pondok itu. Setelah sekian jenak Mengawasi Tio Jiang, orang itu menyahut.
"Siaoko, kau hendak perlu apa?"
Melihat dandanan orang itu sebagai seorang pemburu, Tio Jiang terangkan maksud keperluannya.
"Tolong tanya, apakah To k-ki-nia masih jauh dari sini?"
Orang yang memakai celana kulit macan tutul, tangannya mencekal sepasang senjata garu untuk berburu dan wajahnya jujur, tiba2 berobah wajahnya, sahutnya.
"Siaoko, apa kau hendak ber-olok2 dengan aku ?"
"Tidak!"
Serentak Tio Jiang menyahut ter-sipu2.
Tapi sipemburu hanya tertawa tawar, lalu merogoh keluar selembar kulit kelinci untuk menggosok senjatanya.
Tio Jiang tertumbuk, fahamnya, tak tahu harus bagaimana.
Adakah penduduk disitu itu sedemikian koukati (egois) wataknya, hingga sampai jalanan saja tak mau menunjukkan?
Demikian pikir Tio Jiang.
"Berhubung laoko lama menetap disini, rasanya tentu mengetahui letak puncak Tok-ki-nia itu, maka dapatkah sekiranya laoko memberitahukan padaku ?"
Tio Jiang terpaksa ulangi lagi permintaannya.
"Siaoko! Jika kau terus ngaco belo, aku tak mau sungkan lagi,"
Bentak sipemburu sambil deliki mata. Sampai disitu, Yan-chiu tak kuat hatinya lagi.
"Suka tidak memberitahukan jalan, itu terserah padamu. Jangan jual gertak! Apa kau kira tiada lain, orang kecuali kau yang dapat memberitahukan?"
Sahut Yan-chiu. Sipemburtu tertawa dingin, sahutnya.
"ya, memang silahkan saja tanya pada lain rumah!"
Tengah mereka ribut2 itu, tiba2 dari dalam rumah terdengar suara orang batuk2.
"A-ji, siapa yang kau ajak ribut2 itu?"
Menyusul suatu suara orang tua berseru. Sipemburu yang ternyata bernama A-ji itu segera menyahut.
"Ayah ada dua orang hendak menanyakan Tok ........"
Baru sampai disitu, tiba2 dia berhenti, tak mau melanjutkan nama Tok-ki-nia itu selengkapnya.
Melihat gelagat itu, timbul kecurigaan Yan-chiu.
Tapi ia segera mendapat kesan lain, mungkin karena suku Thiat-theng-biau itu keliwat ganas, maka rakyat setempat menjadi ketakutan.
Memang mana ia bisa mengetahui akan bom waktu yang dipasang oleh Lim Ciong yang sudah sekarat itu ?
Pada saat itu, dari dalam ruangan tengah, muncul seorang tua dengan mencekal sebatang tongkat.
Menurut taksiran, dia sudah berumur 80-an tahun.
"Ada apa dengan kedua tetamu itu ?"
Tanyanya. Sipemburu muda menyilahkan supaya orang tua itu, menanyakan sendiri.
"Lo-yacu (pak tua), mohon tanya dimanakah ke Tok-ki-nia itu.?"
Buru2 Tio Jiang maju menghampiri. Ternyata pendengaran orang tua itu masih tajam, diapun tampaknya terkesiap.
"Apakah kalian ini sudah bosan mempunyai nyawa ?"
Katanya balas bertanya.
"Lo-yacu, Iekaslah beritahukan, kami mempunyai urusan penting!"
Menyela Yan-chiu dengan tak sabar. Mata siorang tua menyapu sejenak kearah sinona, ujarnya.
"Oh, kiranya nona ini ahli dalam ilmu silat, 'tu pinggangnya menyelip pedang. Tigapuluh tahun berselang, pernah aku bertemu dengan seorang anak muda yang membawa pedang, hebat nian kepandaiannya .............."
"Mengambil jalan dari mana, harap kau lekas katakan!"
Tukas Yan-chiu demi mengira orang tua itu melantur tak keruan. Tapi siorang tua itu tampak geleng2kan kepala, tiada mau menyahut. Sebaliknya sipemburu muda tadi tak kurang sengitnya segera menjawab.
"Kalau kamu berkeras hendak pergi, setelah melintasi gunung ini kemudian 17 buah puncak lagi, barulah kau sampai ke Tok .............. ah, tapi kita pun hanya menurut keterangan orang saja, dan belum pernah kesana sendiri."
Tio Jiang tak mau membuang tempo lagi. Begitu mengucapkan terima kasih, dia terus ajak sumoaynya berlalu. Masih terdengar siorang tua itu berkata sendiri kepada anaknya itu.
"Tempat itu, tiada seorang yang berani mendatangi. Tigapuluh tahun yang lalu, anak muda yang pergi kesana itu belum tampak kembali lagi !"
Mau tak mau Tio Jiang menanyakan pikiran sang sumoay, tapi nona genit yang tak kenal takut itu hanya menyahut bahwa mungkin penduduk disitu takut akan keganasan suku Thiat-theng-biau.
Begitulah dalam waktu tak lama saja, keduanya sudah melintasi 5 buah puncak.
Kala.
itu sudah tengah hari, untuk melepaskan lapar dan dahaga.
Mereka makan ransum kering dan minum air mata air.
Keadaan ditempat situ, lelap sekali.
Sana-sini penuh ditumbuhi dengann ber-macam2 puhun aneh yang diramaikan oleh kicauan kawanan burung.
Puncak yang menjulang dihadapan mereka sana, tampak dibungkus dengan kabut yang tebal, hingga memberi kesan yang seram.
"Siao Chiu, dalam menghadapi perjalanan selanjutnya, kita harus hati2, kata Tio Jiang sehabis mengawasi pemandangan dipuncak itu.
"Mati ada lebih baik!"
Sahut sinona. Mendengar itu Tio Jiang terkesiap, tanyanya.
"Sumoay, mengapa kau berkata begitu?"
Tapi Yan-chiu ibarat orang yang sudah sunyi hatinya, maka dengan segan ia menyahut.
"Kalau tetap kukatakan begitu, habis mau apa?"
Tio Jiang terbentur batu, cep kelakep tak bisa berkata apa.
Demikianlah keduanya lalu melanjutkan perjalanannya lagi.
Menurut perhitungan rnereka kini sudah medaki 10 buah puncak dan haripun sudah gelap.
Oleh karena sangat berbahaya melakukan perjalanan malam, terpaksa mereka mencari sebuah gua untuk ternpat beristirahat.
Setelah mencari ranting2 kayu untuk dijadikan alas pembaringan, begitu menggeletak.
Yan-chiu terus menggeros.
Melihat beberapa hari ini Yan-chiu selalu kurang senang, Tio Jiang mengira kalau disebabkan setiap hari hanya makan roti kering saja.
Maka dia tak mau turut tidur, melainkan hendak mencari beberapaa ekor binatang yang hendak dibakarnya untuk Yan-chiu.
Tak seberapa jauh dari situ, dia berhasil menangkap dua ekor kelinci.
Laksana seorang pahlawan pulang membawa kemenangan, dia ber-gegas2 pulang.
Tiba2 ketika sampai ditengah perjalanan dilihatnya ada sebuah batu besar yang berbeda dengan lain2nya.
Batu itu tampaknya licin bersih, seperti dipangkas orang.
Dengan keheranan, dia maju menghampiri.
Kiranya batu itu empat pesegi bentuknya, penuh ditumbuhi pakis (lumut).
Karena tak ada lain2 keistimewaan pada batu itu, maka Tio Jiang segera hendak berjalan lagi.
Tapi selagi dia memutar tubuh, tiba2 matanya tertumbuk akan sesuatu yang aneh.
Ternyata salah satu ujung batu tersebut yang menempel pada gunung, berlainan dengan ketiga ujung' lainnya.
Tampaknya seperti tak rata, macam pahatan huruf.
Maka dihampiri pula dan dari dekat memang bagian yang legak-leguk itu mirip benar dengan huruf.
Karena ditutupi oleh pakis yang tumbuh tebal2 diatasnya, jadi tak kelihatan jelas.
Saking ketarik, Tio Jiang letakkan kelinci lalu meng-usap2 pakis dan kiranya memang disitu tampak ada duapuluh huruf yang berbunyi.
"Biji kuning didalam batu, seribu tahun kemudian boleh dimakan, benda itu jarang terdapat, membuat tubuh enteng umur panjang, siapa yang berjodoh pasti dapat menemukannya."
Sedang pada bagian bawah terdapat dua buah tanda tangan Tat Mo.
Bermula Tio Jiang tak mengerti apa yang disebut biji kuning itu.
Tapi demi dilihatnya tulisan itu ditulis dengan guratan jari, dia sangat terperanjat.
Suatu ilmu lwekang yang belum pernah didengar seumur hidupnya.
Dan ketika melihat nama dari tanda tangan itu, dia berjingkrat kaget.
Teringat dia apa yang pernah dikatakan sang suhu.
Tat Mo Cuncia itu orang dari Thian-tiok (India) yang datang ke Tiongkok pada ahala Tang Cin.
Dia pernah menjadi paderi digereja Kong-hau-si di Kwiciu, kemudian dengan gunakan kepandaian ilmu mengentengi tubuh yang tinggi dia dapat melintasi sungai menetap digereja Siao Lim Si Hokkian.
Sembilan tahun lamanya dia bertekun menghadapi tembok, akhirnya berhasil memiliki suatu ilmu lwekang yang sakti.
Sejak itu, entah tiada ketahuan rimbanya.
Adakah benar2 dia Pernah bertamasya kegunung Sip-ban-tay-san situ dan tinggalkan tulisan itu?
Tanpa menghiraukan kelincinya lagi, Tio Jiang serentak ber-lari2 kegua untuk mendapatkan Yan-chiu.
"Siao Chiu, lekas ikut aku, ada sebuah benda mustika!"
Serunya sambil mlengguncang lengan sumoaynya. Tapi sinona itu hanya sekali buka matanya dengan kurang senang, lalu tidur lagi. Tio Jiang meng-guncang2kannya lagi.
"Ada apa sih?"
Tanyanya dengan acuh tak acuh. Tapi demi Tio Jiang tuturkan apa yang dilihatnya tadi, Yan-chiu terbeliak kaget.
"Jadi diatasnya tertulis 'biji kuning dalam batu' ?"
Tanyanya menegas. Tio Jiang mengiakan. Dalam soal ilmu surat, Yan-chiu lebih pandai. Dia banyak membaca buku2.
"Dalam kitab Poa-bu-cu ada tertulis, biji kuning dalam batu itu hanya terdapat didalam batu besar. Kalau batu itu dipecah, maka akan tampak sebuah benda merah ke-kuning2an, mirip dengan kuning didalam telur. Kalau tak lekas2 disantap, benda itu akan keras menjadi batu,"
Akhirnya Yan-chiu berkata.
Atas pertanyaan sang suko tentang khasiat makan biji kuning itu, Yanchiu menerangkan bahwa benda itu merupakan suatu mustika yang jarang terdapat didunia.
Barang siapa yang menyantapnya akan bertambah panjang usianya serta tubuhnya akan menjadi enteng sekali.
"Bagus, Siao Chiu, lekas mari ikut aku, biar kau yang memakannya!"
Seru Tio Jiang dengan gembira. Melihat kebaikan budi sang suko yang sedemikian besar itu, tergeraklah hati Yan-chiu, pikirnya mengeluh.
"Huh, tolol lu. Apakah kau kira dengan memperoleh mustika itu hatiku menjadi gembira? Hem....., hanya kalau kau ucapkan sepatah kata 'aku cinta padamul kepadaku, barulah hatiku benar2 menjadi gembira!"
Demi tiba disana, Yan-chiu menyatakan sukarnya untuk memecah batu sebesar itu. Tio Jiang coba gunakan lwekang untuk menghantam, namun batu itu sedikitpun tak bergeming.
"Percuma saja, kurasa diatas bumi ini hanya ada sepasang pedang dari suhu dan subo yang dapat digunakan untuk membelahnya. Ilmu lwekang yang bagaimana lihaynya tetap tak dapat mengerjakannya,"
Akhirnya Yan-chiu menyatakan pendapat.
"Benar, kita, harus cari suku Thiat-theng-biau itu, kalau si The Go belum keburu datang, kita rebut juga pedang itu dari Kit-bong-to!"
Kata Tio Jiang.
Begitulah kedua suko dan sumoay itu lalu kembali lagi kedalam goanya.
(Oo-dwkz-TAH-oO) BAGIAN 26 .
ORANG UTAN Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan lagi.
Tetapi tiada seorang manusiapun yang mereka jumpai.
Puncak gunung yang didakinya itu, makin jauh makin tinggi, maka menjelang petang hari mereka baru tiba dipuncak yang ke 17.
Mendongak keatas, tampak puncak gunung yang ke 17 itu sangatlah tingginya.
Tio Jiang heran mengapa dipuncak situ, yang menurut anggapannya adalah puncak Tok-ki-nia, tiada terdapat seorangpun juga.
"Hayo kita naik keatas!"
Seru Yan-chiu setelah mengawasi sejenak.
Pada hari itu karena naik turun 7 buah gunung yang tinggi2, keduanya merasa lelah sekali.
Sampai dipuncak, mereka makin lelah dan duduk disebuah batu karang besar.
Angin disitu meniup kencang, sehingga, keduanya merasa agak kedinginan.
"Mengapa tiada seorangpun disini, adalah kita ini tersesat ?"
Lagi2 Yan-chiu menggerutu.
Tapi baru saja ia ucapkan kata2 itu, dari tengah lereng gunung dibawah sana tiba2 terdengar semacam suara ketawa aneh, menyeramkan sekali.
Apalagi karena seat itu sudah magrib, jadi suasananya makin menakutkan.
Mendengar itu otomatis Yan-chiu duduk merapat disisi sang suko.
Keduanya saling berpandangan, tapi tak berani membuka mulut.
Sesaat kemudian, suara aneh itu lenyap dan suasana kembali sunyi lelap.
"Suko, suara manusiakah itu?"
Bisik Yan-chiu. Tio Jiang yang pasang telinga mendengari, dapatkan kalau suara itu nyaring dan bening sekali, bukan seperti suara orang. Tapi dia sendiri tak mengetahui suara apakah itu. Sahutnya.
"Mungkin bukan suku Thiat-theng-biau, sumoay siapkanlah pedangmu untuk menghadapi segala kemungkinan!"
Kedua anak muda itu kini siap dengan pedang ditangan.
Tak berapa lama kemudian, suara ketawa itu terdengar lagi.
Tapi kali ini suara itu ber-susun2 tak kurang dari 10 tempat munculnya.
Kanan kiri, muka belakang sahut menyahut.
"Suko, kawanan orang itu hebat sekali ilmunya mengentengi tubuh!"
Kata Yan-chiu.
Tio Jiang mengiakan.
Sewaktu tukar bicara itu, mereka tak begitu merasa ketakutan, maka mereka lalu sambung lagi dengan beberapa pembicaraan.
Lama kelamaan suara2 itu tak terasa menakutkan kedengarannya.
Oleh karena keliwat lelah, Yan-chiu terus saja rebahkan diri.
Tapi baru saja tubuhnya merebah, tiba2 dilihatnya sekira 3 tombak terpisah dari tempat situ, seperti tampak ada dua buah lentera hijau ber-gerak2 kian kemari, sehingga dengan serentak dia bangun lagi dan menunjukkannya kepada sang suko.
Tio Jiang membungkuk kebawah dan terkejut jugalah ia.
"Sumoay, hati2lah!"
Bisiknya.
Tapi tepat dia mengeluarkan kata2 itu, se-konyong2 dari semak2 rumput disebelah sana terdengar suara berisik dan berbareng itu tampak sesosok bayangan hitam menonjol naik, lebih dari setombak tingginya.
Yan-chiu menjerit kaget dan susupkan kepalanya kedada sang suko.
"Siao Chiu, jangan takut!"
Kata Tio Jiang sembari mengawasi benda itu dengan perdata.
Makhluk itu mirip orang bukan orang, kera bukan kera.
Rambutnya terurai kacau balau, sepasang lengannya panjang hampir sampai ditanah.
Tiba2 Tio Jiang teringat akan sesuatu dan dengan gugupnya segera berseru.
"Siao Chiu, lekas lari! Itulah orang utan, tentu bukan hanya seekor ini. Ah, makanya sipemburu tadi tak berani menyebut nama Tok-ki-nia, kiranya karena disini terdapat orang utan. Larilah lekas, biar kuhadangnya dial"
Mendengar kata2 'orang utan' hati Yan-chiu makin gelisah.
Pernah didengarnya bahwa binatang ituu termasuk binatang yang berotak terang, kulitnya keras, tenaganya bukan kepalang.
Mereka paling suka bergerombol, apabila sudah menetap disebuah tempat, mereka tak mau pergi lagi.
Setiap gerombol tak kurang dari tiga sampai limapuluh ekor banyaknya.
Tenaga dua orang, terang tak dapat melawan.
Tapi kalau disuruh lari sendirian, biar bagaimana dia tak mau.
"Suko, kalau harus binasa, biarlah kita berdua bersama2!!! sahut Yan-chiu sembari mainkan pedangnya. Melihat sinar pedang, orang utan itu perdengarkan ketawanya yang seram. Dengan pentang kedua lengannya dia maju menubruk Yan-chiu. Saking besarnya tubuh, tubrukan ituu sampai menerbitkan suara men-deru2. Tio Jiang dan Yan-chiu lekas2 berpencar menghindar. Karena tubrukannya kosong, makhluk itu mengaung keras. Tapi karena tak dapat menguasai gerakannya, binatang itu menyeruduk kemuka sampai beberapa tombak baru dapat berhenti tegak lagi. Pada saat itu, Yan-chiu tarik tangan sukonya untuk diajak bersembunyi diantara batu2 karang. Melihat kedua anak muda itu lenyap secara tiba2, kembali orang utan ituu mengaung keras. Menyusul dari empat penjurupun segera terdengar kumandang suaranya. Dan sesaat kemudian, dari tengah lamping gunung sanapun terdengar suara macam begitu. Dari nada suaranya, jelas kalau beberapa auman itu dari bawah menuju keatas. Secepat kilat, tiga empat ekor orang utan menyusul datang. Mereka tampak men-jerit, seperti laku orang yang tengah berunding. Setelah itu, mereka pencar diri keempat penjuru, mencabuti rumput dan puhun. Dari sikapnya se-olah2 hendak mencari jejak Tio Jiang dan Yan-chiu. Dahan sebesar mangkok, dengan mudah dapat diputuskan. Keparatlah bangsat Lim Ciong itu, dia telah menipu kita datang kemari. Kalau sampai binasa, aku hendak menjadi setan untuk mencekiknya mampus!"
Yan-chiu meng gigit giginya bahna gusar.
GAMBAR 51 Dalam keadaan kewalahan, tiba2 Tio Jiang merasa tubuhnya dipegang sepasang tangan yang kuat, ia kaget ketika melihat dihadapannya sudah berdiri seekor orang hutan raksasa.
"Celaka, jangan2 Nyo-toa-cecu itu nanti juga kesasar kesini!"
Sahut Tio Jiang dengan berbisik.
Tengah pikirannya menimang begitu, se-konyong2 sinar hijau sebesar telur ayam tadi menyorot kearah matanya.
Kiranya tahu2 seekor orang utan tampak berdiri dihadapannya.
Dalam sibuknya, Tio Jiang segera serangkan pedangnya dengan jurus ,Ho Pek kuan hay", salah satu dari jurus ilmu pedang To-hay-kiam-hwat, maju menusuk.
Begitu dekat sekali jaraknya ketika itu, maka bagaimanapun juga lihaynya seorang musuh, sukar kiranya untuk menghindar dari tusukan itu.
Juga orang utan itu, walaupun tergolong jenis binatang yang bagus otaknya, namun binatang tetap binatang.
Bet....., demikian kedengaran semacam suara dan kedua lentera tadi padam seketika.
Kiranya tusukan Tio Jiang tadi telah diarahkan kearah mata.
Hasilnya, sebelah mata dari orang utan itu telah kena tertusuk buta.
Melihat serangannya berhasil, Tio Jiang buru2 tarik Yan-chiu untuk diajak bersembunyi kesamping.
Tertusuk buta matanya, saking kesakitan orang utan itu menjadi bluddruk (darah tinggi alias gusar).
Dua buah batu yang beratnya tak kurang dari 1000 kati, dilemparkan oleh orang utan itu, sembari mulutnya menggerung keras2.
Disana segera susul menyusul terdengar suara menyambut dann ber-gegas2 naik keatas.
Sudah tentu Tio Jiang dan Yan-chiu makin tak berani bernapas lagi.
Siorang utan yang terbutakan matanya tadi, masih mengamuk kalang kabut.
Seekor orang utan kecil yang lari paling muka dari kawanan orang utan yang datang membantu itu, telah kena disamplok oleh gontaian sepasang lengannya yang panjang itu, hingga terpental jatuh sampai kebawah lagi.
Sekawan orang utan segera mengerumuni kawannya yang buta tadi.
Mereka sama ber-cuwit2 dan bercoa2 seperti bicara tingkahnya.
Dan nyatanya, siorang utan yang buta tadi segera berhenti menghantam kalang kabut.
Dengan ber-ingsut2 dia menghampiri sebatang puhun dan duduk dibawahnya.
Melihat kawanan orang utan itu, lupa Yan-chiu kalau ia sedang dalam suasana yang berbahaya.
"Suko, orang utan itu menyerupai monyet. Kuat dan menyenangkan. Hayo, kita tangkap seekor untuk dipelihara!"
Ujarnya. Tapi sebaliknya sang suko malah membentaknya.
"Siao Chiu, jangan bicara keras2!"
Kini kawanan orang utan yang baru datang tadi, yang jumlahnya antara 7 atau 9 ekor, segera mewakili pekerjaan kawannya yang buta tadi.
Mereka mencabuti puhun2 dan membalikkan batu2, rupanya hendak mencari jejak kedua anak muda itu.
Tapi sampai sekian lama, Tio Jiang dan Yan-chiu dapat lolos dari mereka.
Ini berkat keduanya menggunakan ilmunya mengentengi tubuh.
Dan kedua kalinya, kawanan orang utan itu mempunyai cacad yang khas.
Mata mereka hanya dapat digunakan memandang kemuka, tak dapat kekanan kiri.
Kalau hendak berpaling kebelakang atau kekanan kiri, tubuhnya pun harus turut diputar.
Inilah keuntungan dari Tio Jiang berdua, mengapa sampai sekian lama tak dapat diketemukan.
Tak antara berapa lama, salah seekor orang utan besar dari kawanan bala bantuan tadi mengaung keras.
Mungkin karena tak menjumpai kedua anak muda tadi, mereka terus hendak turun gunung lagi.
Tio Jiang menghela napas lega.
Tapi kelegahan itu segera berganti dengan rasa kaget yang tak terhingga, demi menoleh kesamping didapatinya Yan-chiu tiada disitu.
Mengawasi keseluruh penjuru, kira2 setombak jauhnya dari situ, Yan-chiu tengah mendekap seekor anak orang utan kecil.
Melihat itu Tio Jiang banting2 kaki.
Mengapa dalam keadaan jiwanya sendiri masih belum berketentuan, tapi mau memelihara seekor anak orang utan!
Rupanya anak orang utan itu tak mau, lalu loncat setombak jauhnya.
Dan Yan-chiu yang tak kenal bahaya, memburunya.
Sudah tentu Tio Jiang makin terkejut dan terpaksa loncat memburu.
Tadi sebenarnya orang utan itu sudah hendak turun gunung lagi, tapi begitu mendengar suara rintihan anaknya, mereka berpencar mencarinya lagi.
Berbareng dengan tersingkap awan yang menutupi rembulan, maka suasana dipuncak situ menjadi seperti siang terangnya.
Segeraa mereka selihat seorang nona tengah mengejar seekor anak orang utan.
Pecahlah aum dan gerung yang hebat dan laksana barisan raksasa, kawanan orang utan itu menyerbu.
Pada saat itu, baru Yan-chiu tersadar.
Hendak ia lari balik, tapi ia telah diputari oleh sekawan orang utan yang saling bercekalan tangan seperti orang mengedangkan lengan.
Ber-puluh2 mata sebesar telur ayam yang me-mancar2 cahaya ke-hijau2an, diarahkan kepadanya.
Benar sejak dua bulan yang lalu ini, Yan-chiu mendapat kemajuan pesat dalam kepandaiannya, tapi menghadapi kepungan orang utan yang menyerupai hantu malam itu, hatinya menjadi tercekat dan kakinya serasa lemas tak bertulang.
Pelahan tapi tentu, kawanan orang utan itu maju meng~ hampiri dan lingkungan kepungan mereka menjadi makin sempit.
Biasa dalam keadaan berbahaya, orang tentu timbul dayanya.
Demikian juga Yan-chiu.
Setelah empos semangat, dia enjot tubuhnya melambung sampai satu tombak tingginya.
Baru ia hendak berjumpalitan memblerosot keluar, tahu2 belasan ekor orang utan itu loncat keatas juga, malah lebih tinggi dari sinona.
Yan-chiu mengeluh, segera, ia berdaya gunakan cian-kin-tui (tindihan seribu kati) meluncur turun.
Dan ternyata berhasil baik.
Sebagai bangsa monyet yang hidup dipegunungan, orang utan itu hebat sekali kepandaiannya berloncat, jauh melebihi dari akhli mengentengi tubuh.
Tapi mereka tak dapat menurun lekas2.
Maka ketika Yan-chiu sudah menginjak tanah, mereka masih melayang diatas.
Yan-chiu tak mau berayal, dengan.
gunakan gerak "18 kali bergelundungan ditanah", dia menggelundung setombak jauhnya.
Dan tepat ketika Yan-chiu sudah lolos dari kepungan, Tio Jiangpun menghampiri datang.
Jika waktu itu, mereka terus lari, rasanya tentu akan terhindar.
Tapi dasar sigenit Yan-chiu seorang anak yang nakal, maka demi dilihatnya sianak orang utan tadi berada didekat situ, ia hendak memberi hajaran.
"Binatang celaka!"
Serunya sembari menghantam, buru2 Tio Jiang menarik sang sumoay, tapi sudah terlambat.
Berbareng dengann jeritan binatang kecil itu, maka ada tiga empat ekor orang utan memburu.
Malah seekor yang dimuka sendiri, sudah lantas lancarkan hantamannya kearah Yan-chiu.
Tio Jiang dan Yan-chiu segera menyambutnya masing2 dengan To-hay-kiam-hwat dan Hoan-kang-kiam-hwat.
Namun siorang utan itu deliki mata dan biarkan saja lengannya dipapas, bluk.....
celaka, tidak apa2, nyata kulit mereka kebal sekali.
Tio Jiang sebat sekali sudah mencari lain sasaran dibagian pantat, namun binatang itu tak menghiraukannya.
Maju selangkah, kelima jari siorang utan yang hampir satu meter panjangnya itu merangsang hendak merebut pedang Tio Jiang.
Dengan gugup, Tio Jiang surut kebelakang sembari mengirim pukulan yang tepat mengenai dada sibinatang.
Benar kulit binatang itu tebal dan, keras, namun karena Tio Jiang, memukul se-kuat2nya, tak urung orang utan itu menggerung kesakitan.
Tujuh atau, delapan ekor kawannya segera memburu datang.
"Siao Chiu, jangan berpisah lagi!"
Dalam keadaan begitu, sudah tentu Yan-chiu tak berani membantah lagi..
Kini keduanya bahu membahu.
Kawanan orang utan itu, kembali mengepung seperti caranya tadi, saling bercekalan tangan, sembari maju menghampiri.
Tio Jiang menusuk keperut salah seekor, siapa kedengaran menjerit kesakitan.
Kiranya perut adalah bagian yang lemah dari orang utan itu..
Lubang kesempatan itu digunakan se-baik2nya oleh Yan-chiu yang telah berhasil mendesak mundur pengepungnya.
Tapi begitu serangannya agak kendor sedikit saja, kawanan orang utan itu ber-teriak2 keras dan maju mengepung lagi.
Sehari menempuh perjalanan yang begitu sukar, Tio Jiang dan Yan-chiu sudah sangat letih.
Baru mereka hendak tidur, atau sudah dipaksa bertempur dengan kawanan orang utan yang lihay.
Maka setelah bertahan setengah jam saja, keduanya sudah kehabisan tenaga.
"Suko, dalam saat2 dimana kita tentu takkan dapat lolos dari bahaya ini, aku hendak memberitahukan padamu suatu hal penting,"
Tiba2 Yan-chiu mengelah napas. la hendak mencurahkan, isi hatinya.
"Siao Chiu jangan pikiran yang tidak2, hadapilah musuh, dengan sekuat tenaga!"
Sahut Tio Jiang yang pantang menyerah.
Tapi diluar dugaan, begitu mendengarkan pembicaraan mereka, kawanan orang utan itu menjerit keras dan, dari mengepung mereka berganti menyerang.
Karena dari delapan penjuru terdengar samberan deru serbuan mereka, Tio Jiang dan Yan-chiu tak dapat menghindar lagi.
Dan yang lebih merepotkan Tio Jiang, waktu itu Yan-chiu sudah tak mau melawan lagi.
Pedangnya dikulaikan dan orangnya menggelandot pada Tio Jiang.
Tio Jiang mengira kalau sumoaynya itu ketakutan, jadi diapun tak tegah untuk memarahi atau mendorongnya.
Tiba2 ketika dalam saat2 dimana kawanan orang utan itu sudah mengulurkan tangannya maut, mereka mundur lagi kebelakang.
Sesaat kemudian, maju lagi tapi pada ketika sudah maju merapat dan hendak julurkan tangan, mereka mundur lagi.
Hal itu terjadi berulang kali.
Tahulah kini Tio Jiang dan Yan-chiu apa sebabnya.
Disebabkan karena tubuhnya sangat besar, maka begitu mereka maju merapat, tubuhnya saling berbenturan tak dapat mendekati korbannya.
Sebenarnya cukup dua ekor saja yang maju, tentu bereslah.
Tapi dasar binatang, mereka, tak mempunyai pikiran begitu.
Yan-chiu timbul lagi nyalinya.
Untuk keuntungan kedua anak muda itu, keadaan berobah lucu.
Karena belasan kali maju mundur begitu, kawanan orang utan itu marah sendiri, bukan marah kepada sang korban tetapi kepada kawan2nya.
Bluk...., bluk...., bluk..., mereka berhantam sendiri, karena sama2 saling menyalahkan.
Melihat kesempatan itu, Yan-chiu lekas2 ajak sukonya lolos.
Dengan ber-jengket2 supaya tak menyolok, keduanya surut kebelakang dan begitu agak jauh, mereka segera gunakan ilmu berlari cepat untuk lari kebawah gunung.
Oleh karena masih saling hantam2an sendiri dengan dahsyatnya, kawanan orang utan itu tak menghiraukan sang korban lagi.
Sampaipun ketika Tio Jiang dan sumoaynya sudah tiba di-tengah2 lamping gunung, masih mereka mendengar suara gemuruh dari kawanan orang utan yang berhantam diatas puncak itu.
Ketika hendak meneruskan turun gunung, Yan-chiu berpaling kebelakang sebentar dan hai sianak orang utan itu mengikutinya.
Yan-chiu sudah tak berhasrat hendak memeliharanya lagi, malah kini ia memberi persen dua buah pukulan.
Tio Jiang hendak mencegah, tapi sudah kasip.
Anak orang utan itu melengking kesakitan dan tahu2 muncullah seekor orang utan yang lebih besar lagi dari yang dipuncak gunung tadi.
Dua tiga kali berloncatan, orang utan itu sudah menghadang dihadapan Tio Jiang dan Yanchiu serta ayunkan kedua kakinya menendang.
Tio Jiang' menghindar kesamping, tapi tepat ada sebuah bafu melayang jatuh menyerempet telinganya, sehingga rasanya telinganya itu seperti pecah.
Malah menyusul dengan itu, dari atas berguguran beberapa batu.
Namun siorang utan tak menghiraukan hujan batu itu, dan tetap merangsang maju.
Tio Jiang dan Yan-chiu terpaksa memberi perlawanan.
Tapi setiap kali ujung pedang mereka menusuk kulit sibinatang, rasanya seperti menusuk batu saja.
Dalam berapa jurus saja, tangan Yan-chiu sudah lemah lunglai, pedangnyapun dapat direbut oleh siorang utan, krek.........
putuslah pedang itu.
Yan-chiu nekat, kutungan tangkai pedang yang masih dipegangi itu, ditimpukkan kearah mata siorang utan, tapi dengan sebatnya binatang itu dapat menyampoknya jatuh.
Kini dengan ulurkan tangannya dia maju menerkam ..........
Tio Jiang kaget dan terus berjibaku.
Dengan sepasang tangannya mencekal, dia tusuk bagian perut siorang utan.
Tapi sayang karena gugup, jadi tusukan itu tak tepat mengenai bagian yang berbahaya, hanya kena dibagian atasnya.
Sekalipun perut binatang itu tak sampai bobol, namun karena Tio Jiang menusuk se-kuat2nya, binatang itupun menggerang kesakitan.
Serentak dengan itu Tio Jiang rasakan ada suatu tenaga pukulan-balik yang hebat sekali.
Buru2 dia berjumpalitan kebelakang.
Dari situ dia tarik sang sumoay untuk diajak lari.
Oleh karena pedangnya kutung separoh, yang sebagianpun dibuangnya sama sekali.
Tapi orang utan itu ternyata sebat dan tangkas sekali.
Cepat sekali dia sudah dapat menyusul kedua anak muda kita.
Karena tak mencekal senjata, Tio Jiang dan Yan-chiu gunakan ilmu mengentengi tubuh berlincahan menghindar.
Tapi lama kelamaan, saking lelahnya gerakan loncat mereka itu makin lambat, beberapa kali mereka hampir kena diterkam siorang utan.
Untuk menolong sang sumoay, terpaksa berulang kali Tio Jiang menerjang bahaya, hingga kini pakaiannya pun sudah robek dicakar siorang utan dan pahanya pun luka terkena kuku, sakitnya jangan dikata.
Untuk beberapa saat, keduanya masih kuatkan hati untuk bertahan.
Sebaliknya orang utan itu makin lama makin mengganas tandangnya.
Sedang sianak orang utan tadi ber-cuat-cuit mengawasi dipinggir, rupanya seperti ber-sorak2 kegirangan karena fihaknya menang.
"Bangsat kecil, hati2 kau nanti tentu kubeset kulitmu!"
Maki sinona.
Mendengar, itu Tio Jiang terpaksa menyeringai mendelu sekali.
Sepuluh jurus kemudian, tiba2 orang utan itu tertawa.
aneh macam orang menjerit.
Celaka, keluh Tio Jiang., Satu saja sudah sedemikian berbahaya, kalau nanti kawan2nya datang, tentu lebih2 lagi.
Dia cepat mengirim sebuah hantaman, kemudian loncat keatas untuk menutuk biji mata.
Tapi siorang utan itu hanya miringkan kepala, tetap masih tertawa.
Sekejab kemudian, disana sini terdengar, ketawa macam begitu sahut menyahut.
Nyata itulah kawanan orang utan yang menyahuti dan menuju kesitu.
Tio Jiang cepat ambil putusan.
Setelah melancarkan sebuah hantaman, secepat itu dia sawut tubuh Yan-chiu untuk dilemparkan keluar gelanggang.
Jadi teranglah maksudnya.
Biar dia tetap menghadang siorang utan, asal Yan-chiu bisa lolos.
Tapi rencana itu telah gagal, bahkan mengalami kerugian besar.
Karena tenaganya habis, lontaran yang dikiranya dapat melemparkan Yan-chiu sampai dua tombak tingginya itu ternyata hanya mencapai setombak kurang.
Sekali tangan siorang utan menyambar kedua kaki Yan-chiu segera dapat dicengkeramnya.
Dengan mencengkeram kaki sinona, orang utan itu mendongak tertawa keras2.
Saking terperanjatnya, Tio Jiang, menjadi ter-longong2 dan tahu2 dia telah dirangkul oleh, seekor orang utan lain.
Begitu pelukan itu terasa kencang, barulah Tio Jiang gelagapan namun tak berdaya untuk meronta lagi.
Dua buah lengan besar yang penuh bulu, telah mengangkat tubuhnya keatas dibarengi dengan suara ketawa keras.
Buru2 Tio Jiang kerahkan lwekang untuk bertahan dan hal ini meringankan juga kesakitannya.
Bukan menghiraukan dirinya yang terancam bahaya, sebaliknya dia selalu cemaskan keselamatan sang sumoay.
"Siao Chiu, bagaimana kau."
Tapi ternyata Yan-chiupun kuatirkan keselamatan sang suko.
"Suko, kau bagaimana?"
Tanyanya juga.
Jadi kedua anak muda itu saling pikiran keselamatan kawannya, bukan.
dirinya sendiri.
Hanya saja rasa kekuatiran mereka itu, berbeda.
Yan-chiu mencurahkan suara kalbunya, sebaliknya, Tio Jiang hanya didorong oleh kecintaan saudara seperguruan saja.
Kawanan orang utan lainnya sama tampak ber-jingkrak2 dan ber-teriak2.
Rupanya seperti hendak merayakan kemenangannya.
Karena tangannya masih bebas, Yan-chiu menghantam kalang kabut kearah kepala siorang utan itu, tapi sedikitpun binatang itu tak berasa dan tetap, tertawa.
Karena tak mempunyai daya lain, Tio Jiang ikuti juga cara Yan-chiu tadi.
Baru.
dia hendak kerahkan tenaga untuk menendang, tiba2 telinganya mendengar semacam suara halus yang melengking sekali.
"Buyung dan budak, jangan bergerak sembarangan!"
Girang Tio Jiang sukar dilukis.
Itulah suara Kui-ing-cu, ya tak salah lagi.
Kiranya tokoh aneh itu bersama seorang hweshio tampak bersembunyi dibalik sebuah batu besar.
Ketika Tio Jiang berpaling kearah sang sumoay, dilihatnya sumoaynya pun sudah berhenti menghantam.
Ah, tentu iapun mendengar juga perintah orang aneh itu.
Tapi kuatir kalau belum mendengarnya, buru2 Tio Jiang menyerukan.
"Siao Chiu, jangan takut! Kui-ing-cu locianpwe dan seorang hweshio datang menolong kita!"
"Tak usah kauberitahukan, akupun sudah tahu! Huh, siapa yang kaukatakan hweshio itu! Dia kan Nyo-toa-cecu, entah bilamana dia masuk menjadi hweshio", sahut Yanchiu. Tio Jiang mengawasi dengan perdata, dan diapun heran juga. Lagi2 pembicaraan itu menimbulkan reaksi pada beberapa orang utan itu. Orang utan adalah sejenis binatang yang cerdas otaknya. Biarpun belum pernah mendengarkan kata2 orang, tapi dari nada kedua anak muda yang begitu longgarnya, orang utan yang mencengkeram kaki Yan-chiu, cepat berhenti ketawa. Sepasang lengannya dipentang keluar, maksudnya hendak merobek tubuh shiona, siapa coba kerahkan lwekang untuk bertahan, tapi kalah kuat.
"Locianpwe, lekas tolong jiwaku!"
Teriaknya ketakutan.
Sesuai dengan gelarannya Kui-ing-cu atau Bayangan Setan, tahu2 bagaikan bayangan Kui-ing-cu sudah muncul keluar.
Dua titik bintang melayang kearah perut bagian bawah dari sibinatang, dan aaaahhhh........
menjeritlah binatang itu, terus berputar kebelakang untuk mencari penyerangnya.
Kita tahu siapakah tokoh Kui-ing-cu itu.
Sekalipun kulit binatang itu keras dan tebal, namun menerima timpukan batu yang dilancarkan sekuat tenaga olehnya itu, biar bagaimana binatang itu menderita kesakitan hebat juga.
Tapi sekalipun seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi, namun terperanjat juga Kui-ing-cu menampak wajah siorang utan yang sedemikian menyeramkan itu.
"Nyo-heng, terimalah ini!"
Serunya lebih dahulu melemparkan bumbung bambu yang berisi ular ceng-ong-sin kearah Nyo Kong-lim.
Sekali tubuhnya menjulang keatas, dia hantam dada siorang utan itu dengan sebuah pukulan "tongcu-pay Hud" (anak menyembah Budha).
Jurus ini sebenarnya termasuk jurus biasa, sehingga setiap orang yang belajar silat tentu dapat mengenalnya.
Tapi dimainkan Kui-ing-cu, perbawanya begitu dahsyat sekali.
Rupanya siorang utan itu tahu selatan juga.
Melihat kedahsyatan yang mengancam, dia mundur selangkah.
Namun Kui-ing-cu tetap membayanginya.
Belum jurus tongcu-payhud dilancarkan penuh, tubuhnya sudah ikut maju merapat musuh dan robah serangannya menjadi thian-li-san-hoa (bidadari menebarkan bunga), buk...., buk...., buk....
siorang utan menjerit kesakitan karena bawah perutnya kena terhantam, otomatis tangannya menurun!
(Oo-dwkz-TAH-oO) BAGIAN 27 .
SI RAJA ULAR Tubuh siorang utan ter-huyung2 tak dapat berdiri tegak.
Rupanya pekakas dalam tubuhnya terluka kena hantaman Kui-ing-cu itu.
Melihat kesempatan itu, Yan-chiu tak mau men-sia2kan.
Sekali meronta, ia enjot kakinya keatas lengan siorang utan dan melayang lepas dari cengkeraman.
Baru kakinya menginjak tanah, ia segera terkejut bukan kepalang melihat keadaan disekelilingnya situ.
Kiranya sewaktu rubuh hendak meregang jiwa tadi, siorang utan yang terkena pukulan dahsyat Kui-ing-cu itu, menggaum dengan kerasnya, hingga membuat terkejut seluruh orang utan digunung situ.
Entah berapa puluh ekor jumlahnya, kini mereka sama berbaris rapat mengepung beberapa manusia yang memusuhinya itu.
Ada seekor orang utan jenis betina yang segera rubuh menelungkupi orang utan yang putus jiwanya sambil ngak-nguk....
ngak-nguk....
me-ngiang2 dengan pilu sekali.
Kala itu Tio Jiang masih tetap dicengkeram oleh orang utan tadi, wajahnya merah padam karena dia sedang kerahkan lwekang untuk menahan cengkeraman maut itu.
Melihat itu Yan-chiu bertanya, pada Kui-ing-cu, siapapun tak mempunyai daya apa.
"Siao Chiu, kau apungkan diri menyerang sepasang mata dari binatang itu, untuk menolong siaoko. Pertama gunakanlah jurus hong-hong-sam-tiam-thau lalu song-liong-jongcu!"
Seru Kui-ing-cu kemudian.
"Bocah perempuan lihay, pelajaran dari Tay Siang Siansu telah dapat dipelajarinya!"
Seru Kui-ing-cu memuji ketika Yan-chiu enjot tubuhnya melakukan perintahnya tadi.
Buru2 dia membantunya dengan maju menyapu kaki siorang utan.
GAMBAR 52 Sekali meloncat, Yan-chiu hindarkan tubrukan binatang buas itu, sementara itupun Kui-ing-cu cepat memburu maju buat menolong.
Yan-chiu turut nasehat Kui-ing-cu.
Belum jurus hong-hong-sam-tiam-thau diserangkan tiba2 sudah terus diganti dengan jurus song-liong-jong-cu.
Dua buah jarinya mengancam sepasang mata siorang utan, tapi telah meleset, mengenai pelipis keningnya karena binatang itu miringkan kepalanya menghindar.
Diluar dugaan, tusukan jari yang tetap menutuk jalan darah thay-yang-hiat itu, merupakan tutukan fatal (maut).
Siorang utan menggerung keras, dia lepaskan salah satu tangan yang mencengkeram Tio Jiang untuk dibuat menyawuti Yan-chiu, tapi sinona itu menekan tangannya kearah badan siorang utan, meminjam tenaga tekanan itu untuk loncat menghindar.
Ketika siorang utan hendak memburu, sapuan kaki Kui-ing-cupun sudah tiba.
Sapuan kaki yang bergaya jurus te-tong-thui (menyapu ruangan bumi) adalah ilmu yang pertama kali dipelajari Kui-ing-cu sewaktu dia baru mulai belajar silat.
Peyakinannya selama ber-puluh2 tahun itu, telah mencapai tingkat kesempurnaan yang tiada taranya lagi.
Dalam pertemuan kaum persilatan daerah Kwiciu yang diadakan pada beberapa tahun berselang, pernah dia gunakan jurus sapuan kaki untuk menendang patah 49 batang tonggak bwe-hoa-cung.
Adakah kaki siorang utan melebihi kerasnya dari tonggak kayu, rasanya tentu tidak.
Maka krek......, sebelah kaki siorang utan telah tertendang putus, ter-huyung2 terus rubuh ketanah.
Begitu Tio Jiang meronta lepas, dia susuli dengan sebuah hantaman yang dahsyat.
Kini tak ampun lagi, siorang utan itu jatuh terkulai ditanah.
"Suko, kita akan binasa berempat!"
Seru Yan-chiu ketika menyongsong sukonya. Mendengar itu Kui-ing-cu tertawa dingin, serunya.
"Kita berempat harus bertahan dengan saling merapat bahu, jangan kasih kesempatan pada mereka mendekati kita!"
Perentah itu diturut.
Kini mereka merapat satu sama lain, masing2 menghadap kesatu arah mata angin ke utara selatan barat timur.
Yan-chiu tepat berdiri disebelah Nyo Kong-lim.
Ternyata keadaan yang sedemikian berbahayanya itu, tak mengurangkan rasa heran sinona genit yang segera menanyakan Nyo Kong-lim mengapa masuk menjadi hweshio itu.
Sudah tentu yang ditanya menjadi merah padam mukanya.
"Sumoay, awas!"
Tiba2 Tio Jiang berseru sembari lancarkan sebuah pukulan pada seekor orang utan yang hendak menerkam Yan-chiu.
Melihat itu, kini Yan-chiu tak berani usil mulut lagi.
Seluruh perhatiannya ditumpahkan kearah musuh.
Kini keadaannya berlainan.
Kawanan orang Utan itu tak berani merapat dekat2 karena jeri akan pukulan biat-gong-ciang dari Kui-ing-cu yang teramat dahsyatnya.
Dua jam berselang, haripun makin terang.
Kalau kawanan orang utan itu makin lama tetap beringas, adalah Kui-ing-cu berempat menjadi kehabisan tenaga.
Sepasang lengan masing2 sudah terasa, lemah lunglai kesemutan.
Sejak keluar dari rumah perguruan, entah sudah beberapa banyak kaum persilatan yang pernah dijatuhkan.
Tapi selama itu, belum pernah dia keluarkan tenaga habis2an seperti ketika menghadapi kawanan orang utan pada saat tersebut.
Setengah jam kemudian, tampak cakrawala menjadi terang benderang menyongsong kedatangan matahari.
Waktu sempat menghitung jumlahnya, ternyata kawanan orang utan tak kurang dari 190 ekor jumlahnya.
Kalau pukulan Kui-ing-cu agak lemah, kawanan orang utan itu maju menghampiri dekat2.
Malah ada beberapa ekor yang berada dibarisan depan sendiri, hampir dapat menyengkeram Yan-chiu.
"Ah, binatang2 ini sekalipun tokoh silat yang sakti, rupanya tetap tak dapat menghadapinya. Siaoko, mengapa kau katakan pada bocah besar (Nyo Kong-lim) kalau suku Thiat-theng-biau itu tinggal ditempat ini?"
Tanya Kui-ing-cu dengan menghela napas.
"Yang mengatakan begitu adalah Hun-ou-tiap Lim Ciong!"
Sahut Tio Jiang seraya lancarkan dua buah pukulan kepada seekor orang utan yang hendak coba mendekati rapat2.
"Kalian berdua telah ditipu oleh bangsat itu! A-thau, kau berotak cerdas, mengapa sampai kena ditipu orang?"
Kata Kui-ing-cu.
Tapi Yan-chiu tak banyak luang untuk menyahut.
Dengan mandi keringat, dia terus bertahan dengan gigih.
Kui-ing-cu cukup mengetahui, bahwa sekalipun pada saat itu datang bantuan berupa tokoh silat yang sakti, tapi rasanya tak nantl dapat menolong keadaan mereka.
Tapi sebagai seorang yang kenyang makan asam garam, tak mau dia unjukkan perasaannya.
Mati hidup tak dipandangnya secara serious (sungguh2).
Maka diapun tak henti2nya gerakkan tangannya untuk melawan.
Dalam pada itu, dia memberitahukan Tio Jiang.
"Sikate tolol Sik Lo-sam ketika kurampas ularnya ceng-ong-sin, sebenarnya akan menantang 3 bulan lagi yalah setelah dia dapat memahami ajaranku ilmu sam-liong-toh-cu-kun-hwat. Tapi ah......, siaoko, apakah kita masih bernapas pada waktu itu ?"
Tio Jiang kagum kepada tokoh aneh itu. Dalam menghadapi saat2 kematian, tokoh itu masih bergurau. Diapun menaulad, sahutnya.
"Pada 5 bulan yang lalu ketika Sik locianpwe sedang menangkap ceng-sin-ong di Lo-hu-san, telah kukejutkan hingga gagal"
Sampai disini tiba2 Tio Jiang teringat akan sesuatu, serunya.
"Kui locianpwe!"
"Ho, ho, sekejab lagi binasa ditangan kawanan binatang itu, mungkin aku benar2 menjadi Kui (setan) locianpwe, ini!"
Kui-ing-cu tetap ber-olok2.
"Lo-cianpwe, jangan menertawakan dulu! Ketika dibiara rusak kudengar sibangsat Lim Ciong menyebutkan nama Tok-ki-nia, saat itu akupun rasanya teringat akan kata2 yang pernah diucapkan oleh Sik Loo-cianpwe. Pernah dia, di Lo-hu-san kala itu, sayang tak berhasil menangkap ular ceng-sin-ong, coba ya, dia hendak ajak aku pesiar ke Tokki-nia.
"Ya....!, kini aku ingatlah!"
Kata Tio Jiang.
Adalah karena ber-cakap2 itu, Tio Jiang agak lengah, wek.....lengan bajunya telah kena dicakar robek oleh seekor orang utan, sehingga lengannyapun mengucurkan darah karena turut tergurat kuku.
Buru2 Tio Jiang mendak kebawah, sedang Kui-ing-cu lekas2 datang menghantam hingga binatang itu ber-teriak2 kesakitan dan mundur.
"Apa kata Sik Lo-sam lagi?"
Tanyanya kepada Tio Jiang, siapa menyatakan tidak ada lagi.
"Kui lo-cianpwe, bagaimana kepandaian Sik Lo-sam di banding dengan kau ?"
Tiba2 Yan-chiu menimbrung. Kui-ing-cu tengah meneliti maksud yang tersimbul dalam kata Sik Lo-sam itu, ketika Yan-chiu bertanya begitu, tiba2 dia tersadar.
"Siao-ah-thau, rupanya Giam Ong locu (raja akherat) tak mau menerima kita!"
Serunya.
Yan-chiu cerdas, tapi Kui-ing-cu lebih pintar lagi.
Meskipun ia tak tahu maksud yang sesungguhnya dari kata2 Kui-ing-cu itu, namun ia percaya tokoh aneh itu tentu sudah mempunyai apa2.
Maka semangatnyapun timbul.
lagi, Beda dengan Nyo Kong-lim dan Tio Jiang yang kasar tolol, yang masih minta keterangan lagi pada Kui-ing-cu.
Tapi dari pada menjawab, tokoh aneh itu segera merampas bumbung bambu yang dicekal Nyo Kong-lim.
Begitu sumbatnya ditekan jari, lalu dilemparkan ketanah, sist......, sist......, sist......, mendesis2-lah ceng-ong-sin keluar.
Tubuhnya yang hijau kemilau, bagaikan batang bambu muda yang habis disiram hujan, segar bugar menyedapkan mata.
Siapakah orangnya yang menyangka kalau binatang itu merupakan ular yang Maha beracun!
Begitu ceng-ong-sin atau Malaekat Raja Hijau keluar, Kawanan orang utan yang berjumlah banyak itu, laksana terkena sihir, sama porak poranda mundur.
Malah begitu siraja ular merayap berlingkaran, barisan orang utan yang terdepan, sama menggigil.
"Siao-ceng-coa, lekas gigitlah siorang utan besar itu! Ha, kiranya makhluk yang sebegitu besarnya, takut juga kepada seekor ular kecil!"
Yan-chiu berseru kegirangan.
Tio Jiang dan kedua tokoh itu pun sudah beristirahat, sama menantikan perkembangan lebih jauh.
Setelah ber-putar2 beberapa kali, tiba2 ekor ular itu menekan tanah dan kepala tegak berdiri keatas, lidahnya menjulur mengeluarkan desisan.
Barisan orang utan yang berada paling depan sendiri tampak menekuk lutut duduk seperti orang menjura tiada berani bergerak.
Kepala siular menjulur kemuka dan memagut leher seekor orang utan, siapa lalu rubuh terjungkal.
Setelah itu, siular memagut lainnya.
Anehnya, korban itu tak berani bergerak sama sekali.
Dalam sekejab saja, sudah ada lima enam ekor yang rubuh.
Kawanan orang utan yang lain, memandang terIongong2 kearah keempat orang itu dengan sorot mata minta dikasihani.
"Setiap benda atau apa saja didunia yang tergolong pusaka, tentu mempunyai gaya kesaktian yang sedemikian hebatnya. Tapi meskipun kawanan orang utan itu sangat ganas, asal orang tak mengganggunya, merekapun tak mengganggu, jadi tak apalah, lebih baik bebaskan mereka!"
Akhirnya Kui-ing-cu menghela napas. Kalau Nyo Kong-lim dan Tio Jiang menyetujui, sebaliknya Yan-chiu mengajukan syarat, katanya.
"Untuk mengampuni mereka sih mudah, tapi asal aku dapat membawa dua ekor untuk dipelihara! "
Dalam ber-kata2 itu , sudah ada 3 ekor orang utan lagi yang digigit mati oleh ceng-ong-sin.
Pada setiap luka gigitan dileher mereka, tentu mengalirkan darah yang berwarna hitam.
Suatu pertanda bagaimana hebat bisa dari ular itu.
"Dengan memiliki ceng-ong-sin, masakan mereka tak mau menurut. Kiranya Sik Lo-sam juga mempunyai rencana untuk memelihara orang utan, makanya dia begitu telaten mencari ceng-ong-sin!"
Kata Kui-ing-cu seraya memburu maju dan, dengan suatu gerakan yang luar biasa sebat sebatnya, dia ulurkan ketiga jari untuk memencet, bagian telinga siular dan membareng itu tangannya kiripun memijat bagian ekornya.
Hanya beberapa kali ular itu tampak menggeliat, lalu tak dapat berkutik.
Begitu sang momok sudah dibelenggu, hiruk pikuklah kawanan orang utan itu berbangkit sembari berjingkrak kegirangan.
Kui-ing-cu suruh Yan-chiu pilih dua ekor orang utan yang dikehendakinya.
Tanpa diulang lagi, Yan-chiu memilih dua ekor yang berbulu kelabu ke-putih2an.
"Binatang, lekas ikut pada nona itu. Kalau berani membangkang, kawan2mu akan dihabiskan!"
Seru Kui-ing-tiu. Anehnya, orang utan itu seperti mengerti maksud perkataan orang. Mereka mengangguk dengan patuh. Yan-chiu memberi nama "Toa-wi" (kelabu besar) kepada yang lebih besar dan "Siaowi"
Kepada yang kecil.
"Toa-wi, siao-wi, lekas ikut aku"
Serunya sembari loncat kebelakang.
Benar juga, kedua ekor orang utan itu mengikutinya dengan serta merta.
Saking girangnya Yan-chiu berloncatan menari.
Kui-ing-cu bertigapun ketarik juga.
Sekejab kemudian, Thio Jiang mengajak lekas2 turun gunung.
"Entah bagaimanaa jadinya dengan Lian suci!"
Katanya.
"Uh...., lagi2 Lian suci!"
Seru Yan-chiu sambil jebikan bibirnya.
"Siao Chiu kau ini bagaimana? Kan kita sudah terlambat sehari semalam ini!"
Tanya Tio Jiang keheranan.
Tapi Yan-chiu sendiri juga tak tahu sebabnya, mengapa ia kurang senang mendengar sang suko menyebut nama sucinya.
Memang kata2 sukonya itu benar, namun ia tak mau mengakui kesalahannya.
Adalah Kui-ing-cu yang segera tergelak2 ujarnya.
"Jika melintasi gunung dan puncak2 yang tinggi, kalian bertiga, pasti menghamburkan tenaga dalam. Sekali kurang hati2, bisa kesasar tiba ditempat yang berbahaya. Lebih baik lekas jalankan semadhi, nanti 3 jam kemudian baru boleh melanjutkan perjalanan lagi! Dan lagi kita harus perlu menanyakan tempat kediaman suku Thiat-theng-biau itu pada penduduk setempat."
Tio Jiang tak berani berayal. Dengan lekas dia mencari sebuah batu besar untuk melakukan latihan bersemadi.
"Siaoko, kuucapkan selamat padamu!"
Se-konyong2 Kui-ing-cu berkata, demi menyaksikan cara Tio Jiang mengambil napas.
Tio Jiang hanya bersenyum saja.
Tahu dia kalau tokoh lihay itu tentu sudah mengetahui bahwa ilmunya lwekang kini hebat sudah.
Memang caranya dia menarik napas, tiada sama dengan latihan lwekang yang kebanyakan.
Nyo Kong-lim yang belum mencapai kesempurnaan dalam ilmu Iwekang, agak terganggu sedikit tapi akhirnya dia sudah dapat menguasai tenaganya lagi.
Begitu pula karena memikirkan maksud dari pada kata2 Kui-ing-cu tadi, hatinya kacau pikirannya me-layang2.
Syukur akhirnya ia dapat juga menguasai ketenangan semadhinya.
Melihat ketiga kawannya duduk melakukan gerakan napas, Kui-ing-cu cari bumbung bambu tadi untuk memasukkan ceng-sin-ong.
Kui-ing-cu memikirkan bagaimana harus mengajar kedua orang utan muda itu agar kelak disertai tenaganya yang maha kuat itu, dapat kedua binatang itu menjadi pengawal yang kokoh kuat.
Ah, baiklah dia kuajarkan ilmu silat "silat siorang tolol"
Terdiri dari 7 jurus.
Setelah itu lalu dia melambai si Toa-wi supaya datang kepadanya.
Setelah mengucap beberapa patah, Kui-ing-cu lalu mainkan jurus mondar-mandir.
Kedua orang itu meniru gerakannya.
Memang kera atau monyet itu paling gemar menaulad perbuatan orang.
Misalnya dahulu ada sebuah dongeng begini.
Adalah seorang penjual topi hendak kekota menjual barang dagangannya.
Dalam perjalanannya melalui sebuah rimba, ada sekawanan kera ramai2 mengeroyok dagangannya.
Setiap kera memakai sebuah topi, lalu sama memanjat puhun.
Sipenjual itu mendongkol dan meringis.
Tiba2 dia mendapat pikiran bahwa bangsa kera monyet itu paling suka me-niru2 perbuatan orang.
Maka sipenjual itu mengambil topi yang dipakai diatas kepala, lalu dibanting ketanah.
Benar juga kawanan kera itu segera sama membanting topinya kebawah dan dipungutilah lagi topi2 itu oleh sipenjual.
Orang utan itu juga sejenis bangsa monyet kera, jadi merekapun tak ubahnya dengan kelakuan bangsa kera.
Dalam 3 jam kemudian, kedua orang utan piaraan Yan-chiu itu sudah dapat mempelajari habis 7 jurus ilmu silat "pukulan orang tolol".
"Dengan mempunyai pengawal dua ekor orang utan yang dapat bersilat itu rasanya kita tak perlu kuatir lagi akan pertempuran dihari Pehcun nanti!"
Kata Tio Jiang.
"Suko, kalau matamu menjadi merah (iri), yang satu kuberikan padamu!"
Sahut Yan-chiu dengan tertawa. Tapi dengan serentak Tio Jiang menolak, katanya.
"Binatang yang sedemikian buruknya, aku tak sudilah!"
"Hem....., tunggu saja beberapa, hari nanti. Kalau sudah kubuatkan pakaian, orang utan itu tentu akan kusulap menjadi seorang lelaki gagah!"
Yan-chiu membantahnya. Melihat Nyo Kong-lim juga sudah berdiri bangun, Kui-ing-cu tertawa ter-bahak2, serunya.
"Nyo-heng, a-thau itu memakimu seperti binatang!"
Dengan terkejut sekali Yan-chiu berpaling.
Memang perawakan Nyo Kong-lim yang tinggi besar itu menyerupai siorang utan.
Teringat kata2nya tadi, iapun geli juga.
Sebaliknya ketua Hoa-san itu tak marah, malah turut tertawa gelak2.
Begitulah mereka berempat lalu turun kekaki bukit.
Tiba2 Tio Jiang menanyakan soal ,mustika didalam batu"
Kepada Kui-ing-cu, siapa lalu menerangkan.
"Mustika dalam batu"
Itu jauh lebih hebat dari ular ceng-sin-ong.
Siapa yang memakannya, badan ringan napas panjang, besar khasiatnya.
Kita dapat suruh Toa-wi dan Siao-wi memanggulnya bergiliran.
Hayo lekas kita kesana jangan sampai kedahuluan orang lain.
Kalau didapatkan oleh orang jahat, bahayanya besar sekali!"
Walaupun Tio Jiang tak percaya ada lain orang yang mengetahui batu itu, namun dia segera ber-gegas2 ajak ketiga kawannya menuju kesana.
"Itulah, hanya ........"
Belum Tio Jiang melanjutkan kata "30-an tombak jauhnya"
Dia sudah berseru kaget.
"Hai, mengapa ada orang?"
Mengikuti arah yang ditunjuk Tio Jiang, ketiga orang itupun melihat jelas bahwa disamping batu besar itu ada seorang lelaki tengah membacoki bagian yang disebutkan Tio Jiang itu dengan sebilah pedang yang memancarkan sinar ke-hijau2an.
"Cian-bin long-kun The Go! Tentu Lian suci sudah dijualnya, kalau tidak masa dia membawa sebilah pedang pusaka macam begitu?!"
Yan-chiu yang melihat jelas lebih dahulu segera berteriak.
Sebagai jawaban, Tio Jiang sudah enjot tubuhnya kemuka.
Tapi karena jaraknya masih ada 30-an tombak, jadi sebelum dia berhasil menyergap, The Go sudah mendengar jeritan si Yan-chiu tadi.
Dia membacok lebih gencar.
Oleh karena seperti membacok kayu saja, maka dalam beberapa kejab saja batu itu sudah menjadi satu elo persegi besarnya.
Cepat The Go pegang batu itu lalu mengangkatnya, tapi tepat pada saat itu Tio Jiangpun sudah tiba.
"Cian-bin Long-kun, jadi kau sudah menjual Lian suci untuk sebuah pedang? Kau takkan dapat menginjak bumi persilatan lagi!"
Serunya.
Memang The Go menjalankan rencana Tan It-ho dan ajak Bek Lian ke Thiat-nia, yang ternyata terletak disebelah pinggir dari puncak Tok-ki-nia.
Mereka tiba ditempat itu kira2 setengah jam lebih dahulu dari tibanya Tio Jiang dan Yan-chiu di Tok-ki-nia.
Dikaki puncak Thian-nia situ ternyata ada sebuah batu karang yang hitam warnanya.
Diatasnya penuh ditumbuhi dengan puhun rotan yang berwarna hijau gelap.
"Engkoh Go, apakah disini Ko-to-san ?"
Tanya Bek Lian yang tak mengetahui akan rencana keji dari kekasihnya itu.
The Go hanya menyeringai iblis.
Syukur karena hari sudah gelap, jadi Bek Lian tak mengetahui akan senyum iblis sang kekasih.
Tahunya, karena tak dijawab, ia menjadi heran lalu menanyakan lagi.
"Engkoh Go, dimanakah gereja Ang-hun-kiong itu? Apakah Ang Hwat cinjin tak mengetahui kalau kau mau datang kemari ?"
Memang perangi Bek Lian itu sangat tinggi (sombong).
Kecuali The Go, ia tak mau memandang mata pada semua orang.
Sampaipun sucou (kakek guru) dari The Go, hanya dipanggil begitu saja tanpa, sebutan menghormat.
The Go menjawab sekenanya saja, tapi dalam hati dia mengumpat caci nona itu.
Kalau sampai didengar sucou, mungkin tubuhmu tak dapat dikubur nanti, demikian pikirnya.
Itulah mentaliteit seorang pemuda mata keranjang macam The Go.
Bukan sekali dua kali saja Bek Lian menyebut nama Ang Hwat cinji tanpa memakai embel2 gelaran-nya, tapi dahulu The Go menganggap biasa saja malah tetap sedap didengar.
Tapi kini setelah rasa, cintanya hilang, berganti dengan kebencian, dia anggap ucapan sinona itu suatu kesalahan besar.
Memang kalau sedang menyinta, loyang dikatakan emas, akan dianggap loyang kalau orang ysudah bosan atau benci.
Mendengar The Go memberi jawaban dengan nada yang tawar, Bek Lian berhenti.
"Engkoh Go, mengapa dalam beberapa hari ini kau bersikap tawar terhadapku ?"
Tanyanya. The Go merasa makin muak, sahutnya.
"Lian-moay, perlu apa ucapan macam begitu? Bagaimana kau katakan aku bersikap tawar kepadamu ?"
"Tidak, engkoh Go, kau harus menerangkan yang jelas!"
Desak Bek Lian demi mendengar kata2 The Go itu makin, tak sedap.
Sudah tentu The Go tak menghendaki rencananya yang sudah 90 persen berhasil itu akan menjadi terbengkalai oleh sebab2 kecil saja.
Maka cepat dia member!
kan muka tertawa seraya maju merapat, lalu merayunya.
"Lian-moay, jangan pikir yang tidak2, nanti menggannggu kesehatanmu ah!"
Julukannya adalah Cian-bin Long-kun atau Sianak muda, berwajah seribu.
Jadi pandai sekali bersandiwara.
Apalagi Bek Lian hanya ributi soal nada, ucapannya yang tawar, maka dalam sedetik saja hatinya, pun dapat terebut lagi.
,Engkoh Go, entah laki entah perempuan anak kita nanti itu ya?", bisiknya seraya bersandar kepada sang kekasih.
"Kalau lelaki bagaimana, kalau perempuan bagaimana?"
Kata The Go. Karena sudah berbadan dua, rasa keibuan sudah menyelubungi hati Bek Lian.
"Entahlah, aku sendiripun tak tahu. Tapi aku mengharapkan seorang anak lelaki yang menyerupai dirimu dan kunamakan Siao Go!"
Ujarnya, Untuk menimbanginya agar jangan kentara, sebaliknya The Go menjawab.
"Tapi aku menghendaki seorang anak perempuan saja yang menyamai kau dan kunamakan Siao Lian !"
Bek Lian tertawa puas.
la anggap The Go masih tetap menyintainya.
Walaupun sejak mengandung itu, tubuhnya makin kurus, namun Bek Lian tetap cantik seperti bidadari menjelma.
The Go terkesiap memandangnya.
Diam2 dia bersangsi mengapa harus menurutkan rencana Tan It-ho itu?
Tapi setelah dipikir pula, mendapat 10 Bek Lian lebih mudah dari sebatang pedang pusaka, dia segera pimpin tangan Bek Lian untuk diajak meneruskan perjalanannya.
Begitu tiba dikaki puncak, se-konyong2 sebatang anak panah.
melayang kearahnya.
The Go tahu bahwa panah dari suku, Thiat-theng-biau itu dicelup racun, yang luar biasa ganasnya, maka dia gunakan kipasnya untuk menyampok seraya, berseru.
"Akulah!"
Sebagai sambutan disana terdengar orang bicara kak....kik-kuk...., kik-kuk...., entah berkata apa. Tapi pada lain saat segera terdengar orang berseru.
"Hiante (adik), apakah kau yang datang ?"
The Go kenal, itu sebagai suara Tat It-ho, kakak angkatnya.
"Toako, kau sudah disitu? Apa kata Kit-bong-to ?"
Serunya dengan kegirangan. Sesosok tubuh melesat dan muncul dari balik sebuah batu.
"Bermula dia tak mau, tapi setelah kuomongi, dia mau lihat dulu barangnya!"
Seru orang itu yang bukan lain Tat It-ho adanya.
"Ah, bereslah!"
Sahut The Go.
"Siapa Kit-bong-to ? Apanya 'mau atau tidak' itu ?"
Tukas Bek Lian.
"Oh, It-ho-heng hendak meminjam suatu barang pada Kit-bong-to, bukan urusan apa2,"
Sahut The Go dengan tertawa.
Bek Lian tak mau menanyakan lagi, tapi, begitu ia mengawasi kemuka, kagetlah ia.
Dibelakang Tan It-ho tampak tiga orang kata yang memakai pakaian rotan macam keranjang warna hitam.
Juga kulitnyapun, hitam, jadi kalau malam tentu seperti bangsa setan tuyul.
Cepat2 Bek Lian Menempel rapat2 pada, The Go.
"Lian-moay, usah takutlah. Kawanan orang liar itu, adalah sahabat karib It-ho-heng. Nanti kita mengunjungi kepala suku mereka. Kepala suku itu amat ramah tamah, mungkin kita nanti akan diberi barang2 yang luar biasa!"
Buru2 The Go menghibur. Bek Lian tak bercuriga lagi, hanya bertanya.
"Jadi belum sampai ke Ang-hun-kiong?"
"Masih harus melintasi beberapa puncak lagi. Malam ini kita terpaksa tak dapat mencapai kesana!"
Sahut The Go.
Tan It-ho lega hatinya, mengetahui diplomasi yang licin dari saudaranya angkat itu, Untuk tak mem-buang2 waktu dia segera2 ajak The Go naik kepuncak.
(Oo-dwkz-TAH-oO) BAGIAN 28 .
ISTERI DI TUKARKAN PEDANG Dengan diiring oleh ketiga orang Biau kate itu, The Go bertiga mendaki keatas.
Sampai ditengah perjalanan, tampak pada tepi sebuah lapangan ada ber-puluh2 gua batu besar dan kecil seperti di-jajar2 merupakan sebuah lingkaran.
Drum atau tambur, ramai ditabuh orang.
Rupanya suku Thiat-theng-biau itu tengah mengepung sebuah api unggun sembari me-nari2.
Tan It-ho segera ajak The Go dan Bek Lian menuju 'kesalah sebuah gua yang paling besar.
Gua itu berlainan dengan gua lain2nya, mulut gua ditutupi dengan sebuah kere' terbuat dari rotan besi hitam.
Begitu tiba dimuka pintu, Tan It-ho bicara dengan bahasa Biau dan dari dalam segera terdengar suara, penyahutan.
"Hayo, kita masuk!"
Tan It-ho, mengajak The Go.
Waktu masuk kedalam, ternyata disitu alat2nya serba sederhana, hanya ada sebuah meja batu.
Sedang.
dibawahnya tampak duduk seorang suku Biauw bertubuh kate, tapi kepalanya besar.
Sepasang matanya mendelik beringas, buas dan menakutkan sekali.
Begitu melihat ketiga tetamunya, dia segera ber-kata2 dengan suara keras yang me-lengking2 dipendengaran orang.
Rupanya dia pandai ilmu silat juga.
Tan It-ho silahkan The Go dan Bek Lian duduk ditanah.
Melihat wajah yang menakutkan dari kepala suku itu, Bek Lian segera ajak The Go lekas2 berlalu.
Tapi The Go menghiburnya.
"Kepala suku sudah begitu baik hati menjamu, masa kita menolaknya? Kita terpaksa bermalam disini."
Karena tak curiga, Bek Lian menurut saja. GAMBAR 53
"Jangan takut Lian-moay, sebentar lagi kau tentu akan biasa dengan mereka,"
Kata The Go dalam usahanya menjual"
Bek Lian.
Sudah tentu kepala suku Biau itu lantas kesemsem oleh kecantikan sigadis.
Orang Biau itu memang Kit-bong-to.
Tan It-ho yang lebih dahulu datang kesitu, sudah membicarakan hal itu kepada-nya.
Demi menampak Bek Lian, kepala suku itu setuju sekali.
Sudah tentu Tan It-ho sangat girang.
"Karena jauh2, datang kemari, hiante dan nona Bek tentu lelah. Setelah minum arak, apakah tidak ingin beristirahat?"
Tanyanya, sembari mengangsurkan dua% cawan kecil.
Bek Lian yang tak biasa minum arak, sudah tentu menolak.
Tapi The Go yang mengetahui kalau arak yang disuguhkan kepada Bek Lian itu tentu berisi obat pembius yang dapat membuat orang tak sadarkan diri sampai 3 hari, buru2 mendesaknya.
"Lian-moay, arak ini teramat manis apalagi tak enaklah hati kita untuk menolak kebaikan tuan rumah. Hayo, minumlah saja!"
Bek Lian menjilat sedikit, dan memang benar arak itu semanis madu.
Pikirnya, cawan yang begitu kecil masakan dapat memabukkan.
Dan sekali teguk ia keringkan isi cawan itu.
The Go dan Tan It-ho saling melihat dengan wajah ber-seri2.
Melihat Bek Lian sudah meminum obat pembius, Kit-bong-to berbangkit untuk mengambil sebatang pedang.
Begitu dilolos dari sarungnya, pedang itu ber-sinar2 hijau kemilau.
Melihat itu, Bek Lian terkesiap.
Mengapa, ya, mengapa, pedang itu serupa dengan pedang milik ayahnya?
Baru iaa hendak berbangkit melihati, kepalanya serasa, pening sekali.
Namun masih ia, paksakan diri untuk berbangkit dan berseru.
"Engko Go, badanku kurang enak!"
Tapi segera ia rasakan sekelilingnya ber-putar2 dan sekali ia melihat suasana menjadi gelap, rubuhlah ia tak sadarkan diri lagi.
Cepat2 The Go hendak menghampiri untuk memeriksa pernapasan hidungnya, tapi sret...........
pedang pusaka itu menusuk kearahnya.
Sudah tentu dia gugup sekali menghindar.
"Kit-bong-to mengatakan, bahwa nona jelita itu sudah menjadi miliknya. Kau tak boleh sembarangan menyentuhnya!"
Kata Tan It-ho. Sebaliknya dari gusar atau menyesal, The Go malah tertawa riang, sahutnya.
"Toako, suruh dia serahkan pedang itu !!! "
Begitu Tan It-ho menyampaikan permintaan The Go itu, ternyata orang Biauw yang masih liar itu menjunjung kepercayaan.
Pedang dan sarungnya sekalian diberikan.
The Go dapatkan pedang itu aneh bentuknya.
Badan pedang itu yang separoh bentuknya bulat, sedang telinga (palang tangkai) pun hanya sesisih saja.
Datasnya terukir dua buah huruf "Kuan-wi".
Setelah tercapai idam2annya, The Go ber-gegas2 minta diri, tapi Kit-bong-to mencegahnya, hingga kedua orang itu terpaksa bermalam disitu.
Besok pagi sore, baru mereka diidinkan pergi.
Ternyata Bek Lian sudah diangkut pergi kelain gua.
Kepada Tan It-ho, Kit-bong-to menyampaikan undangan.
"Tiga hari kemudian setelah sicantik itu tersadar, perkawinan akan segera dilangsungkan. Harap kalian datang menyaksikan upacaranya."
Walaupun mengiakan, namun The Go dan Tan It-ho takkan sudi datang kesitu lagi.
Begitulah, dengan berlari, keduanya turun kebawah gunung.
Setelah melintasi beberapa puncak, tibalah mereka didekat batu besar yang berisi mustika tadi.
Sebenarnya The Go pun takkan mengetahui coba disitu tak ada bekas darah kelinci yang ditangkap Tio Jiang.
Sebagai seorang durjana, sudah tentu The Go tak mau lewatkan begitu saja keanehan itu.
Menghampiri kedekatnya, diapun segera mengetahui akan bagian batu yang pikisnya sudah dikupas habis oleh Tio Jiang.
Oleh karena mahir dalam ilmu sastera, maka diapun pernah baca juga bagian kitab Pao-bu-cu yang mengatakan begini.
"Mustika dalam batu itu, sebenarnya memang ada. Berada didalam batu besar, yang selalu lembab tak pernah kering. Begitu batu itu dipecah, maka didalamnya akan ada sebuah benda yang macamnya seperti telur kuning. Harus lekas2 diminum, kalau tidak, akan mengeras seperti batu."
Juga diketahuinya akan khasiat benda itu bagi orang yang telah meminumnya.
Banyak nian orang persilatan yang mengiler akan benda itu, tetapi tiada seorangpun yang berani mengimpikan untuk memperolehnya.
Bahwa kini dirinya telah berhasil mendapatkan penemuan itu, bukankah itu suatu karunia Allah?
Demikian pikir The Go sembari ter-menung2 disitu.
Tan It-ho menjadi heran, serunya.
"Hiante, mengapa terus berada disitu saja?"
Masih The Go me-nimang2.
Syukur dia sudah berhasil memiliki sebatang pedang pusaka, kalau tidak mana dia dapat mengambil pusaka yang berada didalam batu sebesar itu?
Agaknya, segala jalan telah dibuka untuknya.
Tapi, hai bagaimana dengan Tan It-ho yang selalu membuntuti kemana perginya itu?
Terkilas dalam ingatannya, bahwa peristiwa dirinya dengan Bek Lian dan Kit-bong-to itu, hanya Tan It-ho seorang yang mengetahuinya.
Tiga hari kemudian apabila Bek Lian tersedar, ia tentu tak sudi diperisteri Kit-bong-to.
Berurusan dengan seorang liar ganas macam Kit-bong-to, Bek Lian tentu akan kehilangan jiwanya.
Ini berarti suatu penuduh atau saksi yang kuat, telah lenyap.
Tapi masih ada seorang saksi lagi, yakni Tan It-ho.
Bukankah dia bakal merupakan bahaya besar terhadap dirinya dikemudian hari?
Adanya Bek Lian sampai jatuh hati, adalah karena menampak wajah The Go itu sangat cakap.
Memang benar, Cian-bin Long-kun The Go itu seorang pemuda yang cerdik, tampan dan gagah.
Tapi sayang, hatinya berlawanan dengan wajahnya.
licik, culas dan ganas.
Asal yang menguntungkan dirinya, apapun dia sanggup melakukan.
Kini keputusan telah dijatuhkan.
"Toa-ko, kemarilah, memang disini terdapat sesuatu yang luar biasal"
Tan It-ho menghampiri, bermula dengan wajah ber-seri girang, tapi pada lain saat, dia segera mengeluh dalam hati.
"Hiante, aku tak mau benda itu. Hiante boleh memakannya semua!"
Serunya dengan gugup.
"Ah......., mengapa berkata begitu ?"
The Go tertawa.
Semula Tan It-ho merasa lega mendengar nada ucapan The Go, namun dia tetap mau menyingkir saja.
Tapi baru tubuhnya berputar, tiba2 matanya disilaukan oleh sebuah sinar hijau kemilau.
Sinar yang hijau kemilau itu ternyata adalah sinar pedang Kuan-wi, tanpa disangka .........
tahu2 sudah menembus tenggorokan Tan it-ho.
GAMBAR 54 Mendadak sinar hijau berkilau dan tembuslah tenggorokan Tan It-ho oleh pedangnya The Go yang keji.
Begitu pedang itu ditarik, kaki The Go berbareng diayunkan kemuka, dan ...........bum .....
tubuh Tan it-ho terhampar sampai setombak lebih jauhnya.
Tan it-ho adalah seorang durjana yang licik sekali, tapi tokh dia harus mati ditangan durjana lainnya juga.
Dan yang paling tragis, dia yang merencanakan sehingga The Go, berhasil memiliki pedang pusaka itu, tapi dia pula yang merasakan buah dari perbuatan keji itu.
Memang tepat apa yang dikatakan oleh sebuah peribahasa.
"Barang siapa yang memasang lubang jebakan, dia sendiri tentu akan terperosok kedalamnya."
Habis menyelesaikan saudaranya angkat, dia mencoba ketajaman pedang Kuan-wi dan hai......, kiranya batu itu dapat dipapas dengan mudahnya.
Dengan 3 kali bacokan, dia papas empat ujung dari batu itu.
Tapi ketika dia mulai hendak membelah, disebelah sana kedengaran jeritan Yan-chiu, memberitahukan kepada Tio Jiang tadi.
Malah untuk kekagetannya, Kui-ing-cu dan Nyo Kong-limpun ikut serta.
Cepat2 dia kerjakan pedangnya.
Berkat ketajaman pedang kuan-wi, dalam beberapa, detik saja batu itu hanya tinggal satu elo pesegi besar, tapi pada saat itu Tio Jiangpun keburu sudah datang.
Saking gugupnya, The Go segera bawa batu itu bersama melarikan diri.
Tio Jiang juga tak kurang gugupnya.
Celaka, kalau, mustika.
itu sampai termakan The Go, dia tentu laksana harimau tumbuh sayap, makin ke-liwat2 ganasnya.
Apalagi didorong oleh kemarahannya bahwa Bek Lian tentu sudah ditukar dengan pedang pusaka yang dicekal siorang muda itu, maka sekali enjot sang kaki Tio Jiang maju menerjangnya.
Tapi si The Go sudah mendahuluinya lari.
Selagi dia mengejar dari sisihnya terasa ada angin menderu.
Ketika diperdatakan, kiranya itulah Kui-ing-cu yang hendak mendahuluinya.
Sudah tentu hatinya, sangat legah.
Sebaliknya ketika The Go berpaling kebelakang, kagetnya bukan kepalang.
Dia masih membawa batu besar yang tak kurang dari seratus kati beratnya.
Kalau kali ini tertangkap musuh, jiwanya tentu melayang.
Tiba2 dilihatnya mayat Tan It-ho membujur ditengah jalan.
Cepat mayat itu disongkeInya dengan kaki, terus dilemparkan kearah Kui-ing-cu.
Kali ini Kui-ing-cu yang cerdik, terpaksa mengakui kelicinan The Go.
Pertama Kui-ing-cu mengira, kalau The Go, itu hanya seorang diri.
Kedua disebabkan hari malam, jadi tak dapat melihat dengan jelas.
Maka tubuh Tan It-ho yang melayang itu dikiranya adalah si The Go yang akan menyerangnya.
"Bagus!"
Seru Kui-ing-cu sembari menyingkir kesamping.
Sekali berputar dia kirim sebuah hantaman, bluk......
dada The Go kena terhantam tepat sekali, sehingga pekakasnya dalam menjadi porak poranda terhampar ditanah.
Tapi Kui-ing-cu segera menjadi curiga.
Masa orang diam saja dipukul, tiada menghindar tiada menangkis.
Maka dipereksanya tubuh itu dan "Hai, ini Tan It-ho bukan The Go!"
Tiba2 Tio Jiang yang itu saat sudah datang mendahuyui bertereak. Kui-ing-cu terbelalak. Dengan banting2 kaki, dia menggeram.
"Hem, mana bisa dia lolos dari tanganku? Hayo, kita berpencar mencarinya!"
Tio Jiang, Yan-chiu dan Nyo Kong-lim segera turut perentah itu.
Mereka berempat mengadakan penyelidikan yang teliti sekali diempat penjuru.
Namun bagaimana juga, pegunungan Sip-ban-tay-san itu sangatlah liar, rumputnya hampir setinggi orang, apalagi diwaktu malam, jadi sukarlah untuk mencarinya.
Hampir dua jam lamanya, mereka tak memperoleh hasil suatu apa.
Terpaksa mereka balik ketempatnya semula lagi.
"Sungguh ku tak nyana, dikolong langit ini masih ada orang yang sedemikian cerdiknya,"
Kata Kui-ing-cu, suatu pengakuan yang betul2 keluar dari setulus hatinya.
Karena tiada daya untuk menemukan jejak The Go, terpaksa mereka hendak mencari penduduk disitu, guna minta keterangan tempat kediaman suku Thiat-theng-biau itu.
Tapi ketika berjalan baru beberapa puluh tindak, kedua ekor orang utan itu mendadak berhenti, hidungnya berkembang kempis.
"Hai, mengapa kamu berdua tak mau jalan?"
Seru Yan-chiu terus hendak memukul kedua binatang itu.
Mendengar itu, pikiran Kui-ing-cu bekerja.
Alat pembau dari binatang itu tentu jauh lebih tajam dari manusia.
Biar bagaimana The Go tentu takkan dapat menyingkir jauh dari situ.
Hanya karena suasana tempat itu yang sangat lebat, jadi mereka tak dapat menemukan.
Tapi rasanya kedua orang utan itu tentu dapat mencium bau orang buronan tersebut.
"Bukankah kamu mencium bau orang? Dimana dia?"
Ujar Kui-ing-cu.
Seperti mengerti ucapan orang, Toa-wi dan Siao-wi segera lari kemuka.
Hanya sebentar saja kedua binatang itu mencabuti semak2 puhun, atau dibalik sebelah sana tampak sebuah mulut goa kecil.
Kui-ing-cu yakin kedua orang utan itu tentu sudah dapat mencium jejak The Go.
"Jaga mulut goa ini, jangan sampai orang itu lolos!"
Serunya pula kepada kedua binatang.
Tio Jiang, Yan-chiu dan Nyo Kong-lim sangat benci sehali kepada The Go.
Sudah tentu mereka bertiga menjadi kegirangan sekali.
Tapi ketika mereka hendak berpencar, tiba2 didengarnya Toa-wi menggerung kesakitan seraya mundur dengan lengannya kanan berlumuran darah.
Berbareng itu, tampak seorang mahasiswa tengah melesat keluar sembari bolang balingkan pedang.
Bertemu dengan musuh lama, merah mata Tio Jiang.
"Tahan!"
Serunya dengan gusar seraya memungut dua buah batu kecil terus ditimpukkan kemuka.
Mahasiswa yang bukan lain adalah si The Go menangkis dengan pedangnya, tring, tring, kedua batu itu tersampok jatuh.
Tapi karena keayalannya sedikit untuk menangkis itu, maka Kui-ing-cu sudah menghadang dibelakangnya.
The Go sapukan pandangan mata keempat jurusan.
Tiba2 dia tertawa keras2 sambil menyarungkan pedangnya.
Sikapnya berobah tenang sekali.
"Bajingan, kau ketawa apa? !"
Bentak Yan-chiu dengan marahnya.
Namun The Go tetap ketawa tak mau menghiraukan, malah kedua tangannya digendong dipunggung, seperti orang tengah ber-jalan2 mencari angin saja.
Melihat The Go tak menyahut, Yan-chiu bertindak sebagai hakim dengan membeber panjang lebar tentang kejahatan dan kedosaan orang itu.
Dengan bakat lidahnya yang tajam disertai kebenciannya kepada orang itu, maka Yan-chiu dapat menelanjangi habis2an si Cian-bin Long-kun yang dipersamakan martabatnya sebagai babi dan anjing yang hina dina.
Namun wajah The Go tetap tak berobah, hanya mengulum senyum mengawasi saja.
Begitu Yan-chiu sudah puas memaki, barulah dengan tenangnya dia bertanya.
"Lalu nona hendak berbuat apa kepada aku orang she The?"
Yan-chiu tertegun. Tak kira ia kalau orang muda itu sedemikian tebal kulit mukanya.
"Bunuh mati sampah masyarakat macam kau ini!"
The Go tertawa gelak2, matanya ber-kilat2 melirik kearah empat orang itu.
"Silahkan nona turun tangan!"
Sahutnya dengan tenang.
Sepasang tangannya pun tetap masih digendong dipunggung, seperti orang yang sudah ikhlas menyerahkan nyawa.
Yan-chiu sudah gerakkan tangan hendak menghantam, tapi demi tampak The Go diam saja, ia tertegun bentaknya.
"Bangsat, kenapa kau tak mau menangkis ?"
The Go ketawa, sahutnya.
"Bukankah nona tahu kalau sepasang tangan itu sukar melawan delapan tangan, bukan? Aku hanya, seorang, fihakmu ada 4 masih ditambah dengan dua ekor orang utan itu. Perlu apa aku harus lakukan kerjaan yang sia2? Lebih baik lekaslah bunuh orang she The ini, agar jangan sampai ditertawai kaum persilatan nanti!"
Yan-chiu tak dapat berkutik dengan tangkisan mulut yang tajam, itu. Sebaliknya Kui-ing-cu segera bertanya.
"Dimana kau sembunyikan mustika batu itu ?"
Cukup diketahui oleh The Go bahwa diantara keempat orang itu, hanya Kui-ing-cu ini yang paling lihay sendiri. Mendengar pertanyaan itu, pura2 dia bersikap kaget.
"Hai, jadi mustika batu itu kepunyaan lo-cianpwe ?"
Tanyanya. Kui-ing-cupun terbungkam dengan mulut si The Go, siapa kedengaran berkata lagi dengan tertawa.
"Testamen Tat Mo Cuncia yang mengatakan 'barang siapa berjodoh dialah yang menemukan' itu bohong belaka. Kiranya siapa yang lebih kuat, dialah yang berhak mendapatkan!"
Tu lihat ketajaman lidah Cian-bin Long-kun.
Orang mengira dia sungguh2 meng-olok2 Tat Mo Cuncia, tapi maksud yang sebenarnya dia menuduh Kui-ing-cu berempat itu sudah mengandalkan kekuatannya berjumlah banyak, hendak merampas hak orang lain.
Lagi2 Kui-ing-cu terkancing mulutnya.
"Kalian berempat, mengapa tak lekas2 maju mengeroyok aku?"
Tanyanya pula dengan sinis.
The Go faham, bahwa musuhnya berempat itu adalah orang2 persilatan yang menjunjung kesusilaan adat persilatan sengaja dia keluar kata2 itu, supaya mereka janggan mengeroyok, tapi satu lawan satu saja.
"Orang she The, jangan berlagak, biarlah aku seorang yang menjadi wakil!"
Tiba2 Tio Jiang yang jujur, berseru. Pernyataan itu diluar persangkaan The Go, maka ia pun tak mau sia2kan ketika yang baik itu lagi, tanyanya "Siaoko, apakah ucapanmu itu boleh dipercaya?"' "Tentu!"
Sahut Tio Jiang dengan kontan, tapi berbareng dengan itu Kui-ing-cu sudah memperingatnya.
"Siaoko, jangan kena perangkapnya!"
Tapi peringatan Kui-ing-cu itu sudah kalah dulu dengan janjinya tadi, apalagi disana The Go sudah menjurah dengan menghaturkan kemenangannya.
"Sam-wi, dengarlah. Pada saat ini aku orang she The hendak bertempur satu lawan satu dengan murid Ceng Bo siangjin, mati hidup terserah pada nasib, masing2 tak boleh penasaran!"
Dengan ucapannya itu The Go hendak desak Kui-ing-cu, Nyo Kong-lim dan Yan-chiu jangan menghalangi pertandingan itu.
Yan-chiu deliki mata pada sang suko, yang dianggapnya, keliwat sembrono hingga termakan tipu musuh.
Tapi Tio Jiang tak menghiraukan.
Biar bagaimana, dia hendak mengadu jiwa pada orang yang sangat dibencinya itu.
Tio Jiang tak mau buang banyak tempo.
Begitu sepasang tangan dirangkapkan kedada, dia segera lancarkan pukulan pertama.
The Go menghindar kesamping, tangan kiri mendorong maju sedang tangan kanan melolos pedang Kuan-wi.
Dengan gerak heng-soh-cian-kun, menyapu ribuan lasykar, dia babat pinggang orang.
Karena kepolosannya, Tio Jiang tak mengira kalau begita bergebrak musuh terus hendak gunakan senjata.
Karena jaraknya begitu dekat, sudah tentu dia tak keburu menghindar.
Pinggangnya serasa nyeri, ketika tangannya meraba kiranya berlumuran kena darah.
Ter-sipu2 dia mundur 3 langkah untuk memereksa lukanya.
Pinggang itu terluka antara 3 inci dalamnya, syukur hanya terluka luar saja.
Dengan mata menyala-nyala, Nyo Kong-lim bertiga mengawasi Tio Jiang.
Tapi mereka tak dapat berbuat apa2, karena didesak oleh kata2 The Go yang tajam.
Melihat serangannya pertama berhasil, The Go tak mau memberi hati.
Bergerak maju, dia menusuk keulu hati.
Dengan tahankan kesakitannya, Tio Jiang beralih kesamping seraya ayunkan sepasang tangan, yang kanan memukul batok kepala dengan tok-biat-Huasan, yang kiri dengan gerak siao-kin-na-chiu mencengkeram siku tangan kanan musuh.
The Go tertawa, tiba2 dia rubuhkan diri kesamping untuk menusuk perut lawan.
Tio Jiang kenal jurus itu sebagai "menarik penampan mengambil poci"
Dari ilmusilat hong-cu-may-ciu.
Setelah mempelajari ilmusilat itu, Tio Jiang bertekun mempelajari sari2 keindahannya, maka diapun tak gentar menghadapi serangan macam begitu.
Bukannya menghindar, dia berbalik malah gunakan ilmu, tendangan wan-yang-lian-hoan, menendang keatas.
Selagi The Go bersorak dalam hati melihat lawan diam saja, tiba2 sepasang kaki melayang kedadanya.
Benar kalau dia teruskan tusukannya, lawan pasti akan terjungkal, tapi sendiripun akan, pecah kepalanya, Sudah tentu dia tak mau.
Tangan ditarik kebelakang, terus diganti dengan jurus it-ho-jong-thian (burung ho menobros langit) untuk membabat kaki lawan.
Sambil bertahan, menyerang.
Demikian kegunaan jurus yang lihay itu.
Dia lihay, tapi iImu tendangan, musuh lebih lihay lagi.
Tendangan tadi hanya kosong, begitu musuh robah serangan, diapun menghadapinya dengan lain gaya.
Setelah dengan cian-kin-tui (tindihan seribu kati) tubuhnya menurun, lalu dilanjutkan dengan ko-chiu-poa-kin (puhun tua melingkar akar) menyapu kaki lawan, bluk........
terjungkallah The Go dengan telak sekali.
Bahkan lukanya, lebih sakit dari luka pinggang Tio Jiang tadi.
Memang tadi dia hanya, tumpahkan perhatiannya kearah gerakan sang pedang, jadi per-tahanan kaki kosong, ini dapat dimasuki Tio Jiang secara tepat sekali.
Tapi sesaat itu Tio Jiang rasakan lukanya gatal, tapi tidak sakit.
Tapi dia tak mempunyai banyak waktu untuk memereksanya, karena kala itu The Go sudah siap menghadapi lagi.
Pertempuran kali ini makin seru dalam tempo yang cepat.
Sekejab saja sudah berlangsung belasan jurus.
Jurus2 'an' dilancarkan oleh masing2 fihak, jurus berbahaya semua.
Malah ada beberapa kali, kedua seteru itu se-olah2 hendak mati bersama.
Serangan Tio Jiang makin lama makin dahsyat.
Ilmu 1wekangnya kini sudah melebihi The Go, jadi sekalipun orang she The itu membekal pedang pusaka, namun dia tak dapat berbuat banyak.
Tapi lewat beberapa saat lagi, hati Tio Jiang terasa bingung, tenaganya berkurang.
Melihat The Go hendak menyapu kakinya, dia malah menurunkan tubuh se-olah2 hendak mendekati maju.
Justeru dia lewat disisi Yan-chiu siapa kedengaran berseru keras.
"Suko, mengapa, luka dipinggangmu itu darahnya berwarna hitam?"
Tio Jiang terkesiap dan berbareng rasa gatalpun menyerang hebat. Habis melancarkan pukulan, tenaganya terasa habis. The Go biarkan pundaknya dihantam, tapi diapun berhasil menusuk pundak lawan.
"Bangsat, mengapa kaupolesi racun pada senjatamu?"
Damprat Tio Jiang sembari surut kebelakang. Apa? Baru kemaren saja senjata ini kuterima, bagaimana aku dapat memberinya racun? Jiwamu tak dapat ditolong, jangan penasaranlah!"
Sahut The Go.
Juga Kui-ing-cu melihat keanehan luka Tio Jiang.
Demi tampak Tio Jiang tertusuk lagi, cepat sekali dia sudah ulurkan tangan untuk mencengkeram tangan The Go.
Sekali pijat, The Go rasakan lengannya kesemutan dan pedangnyapun jatuh ketanah.
"Ha...., ha...., memang telah kukatakan tadi, orang gagah itu paling susah menghadapi keroyokan!"
The Go berbalik ketawa dengan tak gentar.
"Cuh....."
Kui-ing-cu menyemburkan ludahnya kearah The Go.
"Kau anggap dirimu itu orang gagah dari mana?"
The Go miringkan kepala untuk menghindar, tapi tak keburu.
Mukanya serasa panas membara, nyerinya bukan alang kepalang.
Benar dugaannya tadi, tokoh ini jauh lebih sakti dari Ceng Bo siangjin.
Untuk menghadapinya harus gunakan diplomasi lidah yang tajam.
,Bukantah tadi engkoh Tio itu sendiri yang mengatakan hendak bertepur satu lawan satu.
Kalau sememangnya dia rendah kepandaian, memangapa aku yang dipersalahkan?"
Kui-ing-cu kendorkan cengkeramannya dan sekali dorong, The Go terlempar jatuh sampai setombak lebih jauhnya. Setelah itu dia injak pedang Kuan-wi tadi, dia mengancam.
"Hai, anak muda jangan lari! Lekas ambilkan obat pemunah bisa!"
Ketika memereksa luka Tio Jiang, didapatinya sang daging sudah merekah, penuh digenangi dengan air hitam, Cepat2 Kui-ing-cu tutup jalan darah ditiga bagian.
Tio Jiang rubuh ditanah tak dapat berkutik.
Hati Yan-chiu serasa hancur, sambil memereksa luka itu ia menyesali sang suko.
"Mengapa kau begitu gegabah? Kalau kita berempat maju, masa The Go akan dapat berkutik. Andaikata hendak berkelahi satu lawan satu, toh juga harus Kui lo-cianpwe yang maju. Kau tangan kosong, diia mempunyai pedang pusaka, kan sangat berbahaya sekali!"
Tio Jiang diam saja dilleyleri Sang sumoay itu.
Karena dia merasa salah tadi sudah keliwat sembrono.
Ya, maklumlah karena dia sangat benci sekali kepada orang she The All.
Pada saat itu, kaki dan tangannya kiri serasa mati-rasa, jadi diet tak menghiraukannya.
"Siao-ah-thau, sudahlah. Karena siaoko sendiri yang menghendaki, jadi kalau harus binasa itupun sudah layak, tak perlu kau sesalkan!"
Kata Kui-ing-cu Mendengar Kui-ing-cu mengucap begitu, Yan-chiu terbeliak matanya tak dapat ber-kata2 lagi.
Sebaliknya disebelah sana, The Go yang juga dapat mendengarnya, segera menimbrung.
,Memang para cianpwe dalam dunia persilatan itu selalu menjunjung kepercayaan dan janji.
Nah, aku yang rendahpun hendak minta diri."
Habis mengucap, dia terus hendakk angkat kaki, tapi dilarang oleh Kui-ing-cu.
"Aneh, bukankah kita sudah janji? Bukankah telah dijanjikan terlebih dahulu ?"
Tanya The Go pura2 heran.
"Benar, memang yang telah dijanjikan tadi yalah fihak kita takkan maju 4 orang sekaligus, tapi tidak dijanjikan tentang adanya kedua ekor orang utan itu, bukan?"
Sahut Kui-ing-cu bergelak tawa.
The Go melirik kearah binatang yang dimaksud itu Bersoraklah dia didalam hati.
Yang besar tadi, telah termakan tusukan pedangnya.
Disebabkan, karena tubuhnya kuat, jadi binatang itu masih dapat bertahan.
Tapi saat bekerjanya racun itu, rasanya tak lama lagi.
Masih seekor yang kecil, kiranya mudah diatasi.
"Jadi binatang itupun mau coba2 juga?"
Tanyanya dengan sinis.
"Hm.....,"
Kui-ing-cu perdengarkan dengus hidung karena geramnya.
"yang besar sudah kena tusukanmu, tak usah berkelahi. Cukup kau melawan yang kecil saja!"
Habis itu dia lalu memberi aba2 pada Siao-wi, sikecil.
"Siao-wi, robeklah orang itu!"
Melihat kakaknya terluka, Siao-wi marah.
Begitu menerima perintah Kui-ing-cu dia terus melangkah dan menghantam.
Tapi baru sampai ditengah jalan, dirobah menjadi sebuah tamparan kearah kepala.
Itulah jurus pertama dari ilmusilat ,Mondar mandir".
Sudah tentu hilang semangat The Go dibuatnya.
Karena pedang kuan-wi masih diinjak oleh Kui-ing-cu, jadi terpaksa dia menghindar kesamping.
Diluar dugaannya, walaupun tubuh orang utan itu keliwat besar, tapi gerakannya tetap lincah tangkas melebihi orang.
Serangan pertama luput, serangan kedua sudah menyusul.
Dua belah tangannya yang besar dipentang untuk berbareng menghantam The Go.
The Go ke-heran2an, masakan orang utan dapat bersilat.
Cepat dia rogoh keluar kipas terus maju menurun untuk menutuk jalan darah ki-hay-hiat dirusuk sibinatang.
Kalau Siao-wi belum mempelajari ilmusilat "Ih-jin-kun" (Silat si Tolol), mungkin kala itu dia akan sudah dapat ditutuk.
Ilmusilat itu terdiri dari 7 jurus yang dapat digunakan untuk bertahan dan menyerang.
Jurus kedua tak kena, jurus ketiga sudah menyusul lagi, kini menjotos kepala lawan.
Sebelum The Go sempat melancarkan tutukannya, belakang kepalanya terasa ada angin menyambar.
Saking kagetnya, dia menyelinap masuk di-sela2 kaki sibinatang untuk memberosot lari kebelakang.
Kemudian disitu, dia memutar diri dan menutuk jalan darah wi-liong-hiat.
Biar bagaimana, Siao-wi itu tetap seekor binatang.
Begitu serangannya ketiga tak mengenai, diapun heran mengapa musuh tak kelihatan disebelah muka.
Tapi secara otomatis, diapun mainkan juga jurus yang keempat dan ini sudah tentu memberi keuntungan pada The Go.
Sekali menghantam dan menusuk, dapatlah The Go mencapai tujuannya..........
(Oo-dwkz-TAH-oO) BAGIAN 29 .
KALAH DAN MENANG Kalau lwekang The Go tangguh, tutukan dan pukulan itu tentu akan sudah dapat menyelesaikan Siao-wi.
Tapi nyatanya tidak, karena Siao-wi hanya menderita kesakitan hebat dan mengaum keras dengan geramnya.
Begitu memutar, dia terus main terkam.
Sakit tadi telah menyebabkan ke 7 jurus ilmusilat "Ih-jin-kun"
Hilang dari ingatannya.
Gerakannya kini tidak menyerupai lmusilat lagi dan karena itu dalam beberapa saat saja, ia telah menerima lagi beberapa hantaman.
Adalah karena kulitnya keras, jadi kesemuanya itu tak dihiraukan.
Pada fihak The Gopun tak kurang gelisahnya.
Terang tadi dia sudah berhasil menutuk jalan darah wi-liong-hiat, tapi mengapa binatang itu tak kurang suatu apa.
Melirik kearah Kui-ing-cu didapatinya tokoh lihay itu masih menginjak pedang kuan-wi.
Ah, rasanya pedang itu sukar kembali ketangannya, mengapa tak kabur saja ?
Mustika batu itu sudah dia sembunyikan dalam suatu tempat yang tak nanti diketemukan oleh keempat orang itu.
Setelah rencana ditetapkan, dia mengolok Tio Jiang.
"Engkoh Tio, lewat dua hari lagi Lian sucimu akan melangsungkan perkawinan dengan kepala suku Thiat-theng-biau si Kit-bong-to. Apa kau tak ingatan datang meminum arak-kebahagiaannya ?"
"Dimana tempat kediaman suku Biau itu ?"
Tanya Tio Jiang tersentak kaget.
"Disamping dari Tok-ki-nia, pada puncak yang ketiga, terdapat sebuah batu yang bercat hitam tiada tumbuhan rumput sama sekali, itulah ........tempatnya !"
Mendengar itu Tio Jiang terus serentak akan berangkat, tapi ditertawai Kui-ing-cu.
"Usah begitu kesusu, kan masih ada 2 hari. Biarkan anak itu mati konyol lebih dahulu."
"Rasanya tak mudah!"
Kedengaran The Go menyeringai, lalu menghantam pula pada Siao-wi sampai mundur, baru, berkata lagi.
"yang nyata, racun pedang itu sudah bekerja, dikuatirkan meskipun obat pemunah ada tapi sudah, kasip!"
Perang urat syaraf si The Go itu, memaksa Kui-ing-cu, harus memperhatikan Tio Jiang. Daging pada bagian lukanya itu memang sudah berwarna hitam, benar seperti yang dikatakan si The Go.
"Bangsat, kau harus turut serta ke Thiat-nia sana, kemudian setelah balik kemari lalu bertempur lagi dengan Siao-wi. Coba kumau tahu, kau mati lelah, tidak nanti!"
Seru Kui-ing-cu. The Go menginsyafi bahwa untuk lolos, tak semudah seperti yang direncanakan. Satu2nya harapan yalah mengulur, waktu, mudah2an nanti terjadi perobahan yang tak terduga.
"Janji adalah janji! Pergi ya pergi, perlu apa harus kuatir!"
Sahutnya.
Kui-ing-cu tak mengira sama sekali kalau si The Go berani memberi penyahutan begitu, mengartikan ucapannya (Kui-ing-cu) tadi suatu janji.
Sebagai seorang cianpwe, diapun tak mau kalah hawa.
Disuruhnya Siao-wi berhenti, dan menggendong Toa-wi, sedang Nyo Kong-lim memanggul Tio Jiang.
Sekali menjentik dengan ujung kaki, maka pedang kuan-wi segera disongsongnya dan mulutnya memerintah.
"Berikan sarungnya!"
Tanpa ragu2 The Go lemparkan sarung itu kepada Kui-ing-cu, siapa setelah memasukkan pedang kedalamnya lalu menyerahkan pada Yan-chiu.
"Jaga baik2, jangan sampai kena diselomoti oleh bangsat itu!"
"Apa dia bisa?"
Bantah Yan-chiu.
"Ah......, jangan pandang rendah dia!"
Bentak Kui-ing-cu. Mendengar itu, The Go tertawa, ujarnya.
"Terima kasih, locianpwe begitu menghargakan pada orang she The ini!"
"Hm .......,"
Kui-ing-cu mendengus, lalu menggusur The Go dan, menyuruhnya berjalan, menuju kepuncak Thiat-nia tempat kediaman suku Thiat-theng-biau.
Menjelang terang tanah, sampailah mereka kesana.
Ternyata suku Thiat-theng-biau itu mengasingkan diri dengan, dunia luar.
Orang asing dilarang kesana.
Hampir tiba disarang mereka, kelima orang itu sudah disambut dengan 3 batang anak panah beracun.
Syukur Nyo Kong-lim yang berjalan paling depan dapat menghalaunya.
Menyusul dengan itu, 3 orang Biau muncul, Melihat The Go datang lagi dengan membawa seorang gadis (Yan-chiu), mereka menjadi hiruk pikuk sendiri.
Oleh karena kelima orang itu tak mengerti bahasa mereka, jadi digunakan bahasa isyarat tangan, yang maksudnya mereka hendak mengunjungi kepala suku.
Rupanya ketiga orang Biau itu mengerti, lalu membawa mereka naik kepuncak.
Ketika tiba dipertengahan lamping gunung yang ternyata menjadi tempat kediaman suku Thiat-theng-biau, terdengarlah genderang ramai dibunyikan.
Beratus-ratus orang Thiat-theng-biau tengah mengelilingi sebuah tonggak, pada tonggak mana diikat seseorang.
Ada 4 orang Biau, tengah main lempar2an tombak disisi orang itu.
Begitu dekat sekali tombak2 itu berseliweran disisi siorang, hingga orang yang melihatnya tentu akan mengucurkan keringat dingin.
Kira2 4 meter jauhnya dari tonggak itu, duduk seorang Biau yang tubuhnya juga kate, tapi kepalanya besar.
Dia tengah berteriak2 dengan kerasnya.
Melihat wajah orang yang diikat itu, Tio Jiang terus saja berteriak.
"Lian suci!"
Orang itu rupanya mendengar dan dongakkan kepala.
Hai, memang Bek Lianlah adanya!
Mengapa ia sudah tersadar, padahal, obat bius Kit-bong-to yang terkenal manjur itu, akan dapat menidurkan orang sampai 3 hari?
Kiranya obat itu hanya tepat kemanjurannya apabila digunakan terhadap orang biasa.
Terhadap orang yang mengerti lwekang macam Bek Lian, dalam dua hari saja, yakni pada hari kedua tengah malam, ia sudah tersadar.
Ini disebabkan ketika merasa limbung, cepat2 ia kerahkan lwekang untuk menahan.
Sebaliknya hal itu malah membuat Kit-bong-to kegirangan.
Seketika itu juga dia hendak melangsungkan pernikahan.
Sudah terang, Bek Lian menolaknya.
Dalam perkelahian, Kit-bong-to kena ditampar dua kali, saking gusarnya dia bersuit keras.
Dalam sekejab saja, ratusan orang Biau segera datang.
Sudah tentu Bek Lian kalah dan lalu diikat pada sebatang tonggak.
Kit-bong-to perintahkan 4 orang untuk main lempar tombak.
Bermula jaraknya 2 meteran dari Bek Lian, tapi lama2 makin dekat.
Ketika kelima orang tadi datang, jarak itu hanya tinggal berapa dim saja.
Hanya sekali Kui-ing-cu enjot tubuhnya kedekat tonggak dan empat batang tombak itu sudah terpegang ditangannya.
Kit-bong-to serentak berbangkit dengan marahnya, tapi serta dilihatnya dibelakang tetamu pengacaunya ada dua ekor orang utan, dia duduk kembali.
Suku Thiat-theng-biau bertetangga dengan "kerajaan"
Orang utan, jadi tahu bagaimana kelihayan orang utan itu.
Melihat ada setitik harapan, Kui-ing-cu pondong Tio Jiang kemuka kepala suku itu.
Sembari menunjukkan lukanya, dia gunakan bahasa isyarat meminta obat.
Rupanya Kit-bong-to mengerti, dia tundukkan kepala memeriksa.
Setelah mengucap beberapa patah kata, dia lalu berbangkit pergi.
Kui-ing-cu cemas, kalau kepala suku itu tak mau memberi obat, celakalah anak itu.
Tangkap penjahat, harus tangkap kepalanya, demikian pikirnya.
Dia memburu sembari gunakan siao-kin-na-chiu untuk menangkap siku tangan Kit-bong-to.
Tapi karena bagian tubuh itu dibungkus dengan rotan besi, terkaman Kui-ing-cu itu tak dapat menekan uratnya.
Malah sekali gerakkan tangan, Kit-bong-to balas menghantam.
"Ho, kau berani memukul ?"
Damprat Kui-ing-cu menarikk se-kuat2nya, hingga Kit-bong-to terbanting jatuh. Kui-ing-cu loncat menghampiri untuk menariknya bangun sembari mempelintir tangannya kebelakang.
"Ambilkan obat!"
Ternyata Kit-bong-to itu se-dikit2 juga mengerti bahasa Han.
"Hohan, ampunilah jiwaku!"
Dia meratap. Kui-ing-cu tertawa dingin serunya.
"Siapa maukan......."
Baru sampai disini, tiba2 terdengar jeritan melengking, seperti suara Yan-chiu.
Kiranya tadi karena hendak buru2 menolong Bek Lian, dia sudah lepaskan The Go.
Kala itu dengan sebatnya, The Go segera menyerang Yan-chiu, siapa karena sedang memperhatikan sang suci, jadi sudah tak keburu menghindar.
Mukanya tertampar dan tahu2 pinggannya ditarik, sekali hantam tali pengikat sarung pedang kuan-wi putus, dan pedang itu dengan cepatnya sudah beralih ditangan The Go.
Saking gusarnya Yan-chiu sampai pucat pilas.
Ia kirim dua hantaman, tapi terpaksa tak berani meneruskan karena, The Go tangkis dengan pedang pusaka.
Nyo-kong-lim menggendong Tio Jiang, sedang Siao-wi memanggul Toa-wi, jadi mereka sama tak berdaya.
Kui-ing-cu sembari menangkap tangan Kit-bong-to terus hendak loncat memburu, tapi dihadang oleh kawanan orang Biau yang sama mengepungnya.
Mereka hiruk pikuk berisik sekali.
Beberapa kali Kuiing-cu hendak menobros, selalu gagal.
Selama berpuluh tahun berkelana didunia persilatan, baru pertamakali itu Kui-ing-cu menjadi gelisah.
,Kit-bong-to, lekas suruh orang2mu mundur!"
Kit-bong-to sombong dan ganas.
Dipelintir oleh Kui-ing-cu, dia sangat gusar sekali.
Lebih baik mati bersama daripada menyerah.
Maka setelah bertereak beberapa kali, kawanan orang Biau itu bukannya bubar, malah makin mengepung rapat2 pada keempat orang itu.
Ada beberapa yang men-julur2kan tombak, se-olah2 hendak menyerang.
Sampai pada saat itu, Kui-ing-cu benar2 habis kesabarannya.
Bang...., bang.......
sebuah batu yang berada disebelah situ menjadi hancur.
Kui-ing-cu gunakan seluruh kekuatannya untuk menghantam dan betapapun kerasnya batu itu, akhirnya porak lebur bertebaran.
Walaupun orang2 Thiat-theng-biau itu masih liar, tapi menghadapi kejadian sedahsyat itu, mereka terperanjat jeri juga.
Setelah ber-tereak2 secara aneh, tampaknya kepungan mereka menjadi agak kendor.
"Lekas suruh orangmu ambil obat penawar racun, tentu kuampuni jiwamu. Kalau tidak, masa kepalamu sekeras batu itu?"
Kui-ing-cu mengancam.
Baru kini Kit-bong-to mengerti maksud kedatangan tetamunya itu.
Daripada jiwanya, terancam, dia lekas suruh orangnya mengambilkan obat itu.
Sewaktu Kui-ing-cu mengawasi kedalam rombongan suku Biau itu, The Go sudah tak kelihatan bayangannya lagi.
Dia banting2 kaki, karena sekali ini sukarlah untuk membekuk anak muda yang licin itu.
Yan-chiu tetap cemberut, tapi pada lain saat ia tertawa, katanya.
"Kita pergi tunggui dia ketempat tadi, masakan dia tak datang mengambil mustika batu itu lagi?"
"Mungkin kalau lain orang, tentu berbuat begitu. Tapi Masakan The Go tak dapat memperhitungkan kalau kita, tentu datang menungguinya disitu?! Jangan buang tenaga sia2!"
Ujar Kui-ing-cu.
Yan-chiu tak dapat membantah kecuali memaki kalang kabut pada The Go.
Tak antara berapa lama obat telah diambilkan.
Setelah diminumkan, Tio Jiang dan Tao-wi menjadi sembuh.
Kit-bong-to pun lepaskan Bek Lian.
Sampai detik itu, nona itu tetap belum mengetahui keculasan The Go.
"Engkoh Go? Tadi dia masih disini, mengapa tak kelihatan.?"
Tanyanya. Yan-chiu tertawa dingin menyahut "Mana engkoh Gomu berani bertemu kau lagi? Dia tukarkan dirimu dengan pokiam dari orang liar sini, mengapa kau masih tak tahu? "
Bek Lian terkesiap.
Memang selama dalam perjalanan itu sikap The Go tak sewajarnya.
Tapi pada lain saat, ia tentang sendiri kecurigannya itu "Siao Chiu, jangan omong sembarangan.
Biar kamu membencinya, tapi aku tidak !"
Melihat sikap Bek Lian yang keras kepala begitu, Kui-ing-cu dan Nyo Kong-lim geleng2 kepala.
Kui-ing-cu paling benci terhadap orang yang bertingkah begitu, maka dia dongakkan kepala tak melihatnya lagi.
Tio Jiang coba menyadarkan, katanya dengan nada ber-sungguh2 .
"Lian suci, jika kau tetap mempercayai bangsat itu, celakalah dirimu!"
"Jangan ngoceh tak keruan! Sewaktu hidup, aku menjadi orangnya. Kalau binasa, pun aku akan menjadi setannya. Mengapa kau larang aku memperhatikan dia? Mamah bilang, siapa saja yang mencegah hubungan kami berdua itu, dialah musuhnya!"
Sahut Bek Lian dengan murka.
Kui-ing-cu terpaksa terkejut juga.
Menilik perangai yang aneh dari Kang Siang Yan, tentu ia benar2 mengeluarkan pernyataan begitu.
Apalagi nyonya itu keliwat menyayangi puterinya, serta terpengaruh oleh rupa dan sikap baik yang dibawakan oleh The Go.
"Siaoko,"
Kata Kui-ing-cu kepada Tio Jiang dengan menghela napas.
"kewajiban kita untuk menolong orang sudah selesai. Kini mari kita cari suhumu saja. Pertemuan hari pehcun sudah tinggal 10 hari lagi!"
Nyo Kong-lim setuju, karena dia benci juga kepada, Bek Lian yang kepala batu itu. Sebaliknya dengan Tio Jiang, yang meminta sang suci supaya ikut rombongannya.
"Siapa sudi turut pada rombonganmu? Aku dapat mencari jalan sendiri!"
Serunya sembari membalik tubuh terus turun kebawah. Mata Kit-bong-to beringas hendak mencegahnya, tapi tak berani. Kui-ing-cu kedengaran menghela napas, serunya seorang diri.
"Kalau memang sejak lahir jahat, itu dapat dimaafkan. Tapi kalau kejahatan itu timbul dari perbuatannya sendiri, tak pantas hidup didunia ini!"
Itulah kata2 Kui-ing-cu ketika dia berjumpa dengan The Go dan Bek Lian dihutan. Mendengar itu hati Yan-chiu tergerak, tanyanya.
"Bagaimana dapat dikatakan timbul dari perbuatannya sendiri itu?"
Kui-ing-cu tak menyahut.
Diam2 Yan-chiu mengacai perbuatannya sendiri.
Ia mencintai sang suko, tapi tak berani menyatakan terang2an, hingga sang suko tak mengerti, akibatnya ia menderita sendiri.
Adakah itu pantas digolongkan pada ucapan kedua dari Kui-ing-cu tadi?
Dalam berpikir begitu, dia mendongak mengawasi Tio Jiang.
Demi tampak apa yang dilakukan sang suko pada saat itu, hatinya tawar lagi.
Kiranya saat itu Tio Jiang tengah memandang kebawah, memaku pandangan matanya kearah bayangan Bek Lian.
Sepintas pandang, tampaknya memang Tio Jiang masih lekatkan hatinya kepada sang suci, seperti yang diduga oleh Yan-chiu.
Tapi sebenarnya tidak demikian.
Kalau dia mengawasi itu, hanyalah karena kuatir akan keselamatan sang suci, bukan sebagai kecintaan tapi sebagai saudara seperguruan.
Oleh, karena sifatnya yang polos, dia sudah begitu berduka karena Bek Lian masih gelap pikirannya.
Sejak ketika dikaki Hoasan dia melihat Bek Lian dan The Go begitu mesranya, dia sudah tersadar bahwa cinta itu tak boleh dipaksa, Sikap Bek Lian beberapa, detik tadi, makin memperkokoh keinsyafannya.
Teringat bagaimana selama itu dia begitu, ter-gila2, dia geli sendiri.
Tapi hal itu tak diketahui Yan-chiu, siapa masih menyangka dia tetap menyintai sang suci.
Begitulah mereka berempat segera tinggalkan puncak Thiat-nia situ.
Turut perhitungan kala itu sudah tanggal 20, bulan 4, jadi tinggal setengah bulan lagi dengan waktu pertemuan hari pehcun itu.
Sebenarnya pertemuan atau tantangan berkelahi itu, dibuat antara The Go dengan Kiao To.
Tapi dalam setengah tahun ini, perkembangan menjadi lebih bih luas, hinggaa banyaklah kaum persilatan yang hendak mencari The Go.
Dalam hal itu sudah tentu fihak Ang Hwat cinjin akan bertempur mati2an untuk menjaga gengsi.
Oleh karena itu selama dalam perjalanan, Kui-ingcu memberi gemblengan terus pada ketiga orang itu.
"Siao-ah-thau, apakah kau mengerti apa "yang disebut daIam ilmu perang yang kosong itu berisi, yang berisi itu kosong" ?"
Tiba2 Kui-ing-cu menanyai Yan-chiu. Pikiran nona, itu tengah penuh sesak dihimpit oleh ber-macam2 lamunan, maka sembarang saja ia menyahut.
"Sudah tentu tahu!"
"Bagus,"
Seru Kui-ing-cu bertepuk tangan.
"kita duga The Go tentu tak sebodoh itu untuk kembali mengambil mustika batu, maka kita putuskan tak pergi kesana. Tapi dia memperhitungkan tindakan kita itu, jadi dia tentu datang kesana, benar tidak?"
"Benar!"
Sahut Yan-chiu tanpa berpikir lagi. Malah Nyo Kong-lim serentak sudah menggembor.
"Kita kesana lekas"' Kala itu mereka sudah tiba dekat tempat pertempuran kemarin malam. Maka mereka cepat membiluk ketimur menuju kesana untuk me-lihat2.
"Toa-wi, Siao-wi periksalah apa bangsat itu tadi bersembunyi disini?"
Tanya Yan-chiu kepada kedua piaraannya.
Toa-wi yang baru sembuh, pikirannya masih belum terang.
Tapi Siao-wi segera membau beberapa, kali mencari kesekeliling tempat situ, tapi tak dapat menemukan suatu apa.
Kui-ing-cu tampak berpikir.
"Orangnya tidak ada, batu mustikanya tentu masih ada. Hayo kita berpencar mencarinya,"
Katanya.
"Tapi keadaan gunung sini penuh dengan bermacam batu, kemana kita harus mencari? Lebih baik saja dia disini sampai beberapa hari, masa dia takkan datang ?"
Yan-chiu membantah. Tapi Nyo Kong-lim segera deliki mata.
"Andaikata dia tak datang, apa kau akan menungguinya sampai setahun dua tahun?"
Tanyanya. Oleh karena hati Yan-chiu sedang dilamun keresahan, jadi seenaknya saja dia membalas.
"Setahun dua tahun, takut apa ?"
Nyo Kong-lim yang kasar polos, sebaliknya malah memuji sambil tunjukkan ibu jarinya.
"Nona kecil, kau sungguh hebat. Baik, aku temani kau menungguinya disini!"
"Toacecu, tadi aku hanya bergurau saja, masa betul2 mau menungguinya sampai begitu lama?"
Yan-chiu sungkan sendiri dan menyusuli kata2nya. Sudah tentu Nyo Kong-lim yang polos itu tak mengerti sikap sinona, lalu menggerutu.
"Siao-ah-thau, mengapa kau menjadi belut? Masa bicara bolak balik begitu ?"
Yan-chiu hanya ganda tertawa saja.
Akhirnya keempat orang itu sependapat tak usah lama2 menunggui disitu.
Oleh karena jejak Ceng Bo itu tak berketentuan tempatnya, maka diputuskan mereka akan berpencar mencarinya.
Baru saja mereka hendak angkat kaki, tiba2 dari kejauhan terdengar suara melengking tajam, hingga membuat jantung orang berdebur keras.
Suara itu makin lama makin dekat dan tampak sebuah bayangan berkelebat.
Namun sesaat bayangan itu terlihat, secepat itu juga ada serangkum angin keras menyambar datang.
Saking kagetnya, keempat orang itu cepat2 menghindar.
Hanya Kui-ing-cu yang sempat pula melancarkan sebuah hantaman.
Begitu dirasai kekuatannya berimbang, tahulah ia dengan segera, siapakah yang datang itu.
Baru dia hendak membuka mulut, atau sudah kedengaran suara pukulan keras melancar.
Berbareng itu, Toa-wi dan Siao-wi mengaum keras.
Kiranya sipendatang itu begitu tiba sudah melancarkan 6 buah pukulan tanpa bersuara.
Kalau keempat orang tadi dapat lekas2 menyingkir, adalah kedua ekor orang utan itu yang termakan, hingga ter-huyung2 mundur.
Orang yang muncul itu, rambutnya terurai jatuh diatas pundak dan bukan lain memang Kang Siang Yan adanya.
Melihat subonya, Tio Jiang dan Yan-chiu ter-Sipu2 hendak memberi hormat, tapi Kui-ing-cu yang melihat gelagat jelek, buru2 menyerukan kedua anak muda itu supaya berhati2.
Memang jitu rabahan Kui-ing-cu itu!
Baru kedua anak muda tadi berjongkok kui memberi hormat, dengan tertawa seram Kang Siang Yan ayunkan sepasang tangannya.
Kanan untuk Tio Jiang, kiri kepada Yan-chiu.
Yanchiu dengan tangkas sudah enjot tubuh loncat keatas.
Sebaliknya Tio Jiang yang kurang waspada, begitu tubuhnya hendak berjongkok sudah ditendang oleh Kui-ing-cu sampai terpental setombak jauhnya.
Ini lebih enak bagi Tio Jiang daripada menerima hantaman Sang Subo, Sudah tentu pukulan Kang Siang Yan itu jatuh ditempat kosong.
Ia tertawa meringkik, ujarnya.
"Kiu-ing-cu yang jempol, mengapa kau seorang cianpwe yang terhormat, lakukan juga perbuatan yang sedemikian rendahnya? Siapa lagi, tentu kau yang menjadi biang keladinya. Hari ini thay-im-ciang hendak mengunjungi padamu!"
"Kang Siang Yan, apa yang kau ocehkan itu?"
Balas Kui-ing-cu.
Dia duga disitu tentu terselip apa2 yang kurang beres.
Tapi belum mengucap habis, pukulan tanpa-suara dari Kiang Siang Yan yang hebat itu sudah menghantarnnya.
Karena sudah pernah merasakan kedahsyatan ilmu pukulan itu, Kui-ing-cu tak berani menyambut dan melainkan mundur sampai beberapa tindak, lalu balas mengirim hantaman.
Itulah ilmu pukulan lwekang sakti juga yang disebut biat-gong-ciang.
Kiang Siang Yan tak berani adu kekerasan.
Dengan melengking tajam dan rambutnya sama tegak berdiri, ia menurun kebawah lalu menyelinap beberapa tombak.
Dari situ kembali ia mengirim sebuah hantaman kearah dada orang.
"Kiang Siang Yan, kau sungguh tak tahu aturan!"
Seru Kui-ing-cu sembari menyingkir dari serangan orang.
Tapi Kiang Siang Yan sudah susuli lagi dua buah serangan berbareng dari tangan kanan dan kiri.
Kelihayan dari serangannya itu, setiap hantaman itu tidak mengeluarkan suara apa2, gerak perobahannya sangat cepat sekali, sehingga orang tak sempat bernapas.
Kui-ing-cu juga seorang tokoh yang sudah tergolong dalam tingkat cianpwe.
Tapi toh dalam menghadapi serangan yang luar biasa itu, dia kelabakan juga.
Terpaksa dia enjot kakinya melambung keatas sampai 5 tombak tingginya.
Tapi ternyata Kiang Siang Yan tetap membayangi kemana perginya.
Lawan loncat keudara, iapun menyusuInya.
Tapi kedudukan Kui-ing-cu yang berada disebelah atas lebih menguntungkan.
Wut......, sebuah hantaman dilancarkan turun.
Kiang Siang Yan tak dapat berkelit, terpaksa dia kibaskan tangannya kanan menangkis.
Begitu kedua tangan saling berbentur, keduanya sama berjumpalitan.
Secepat kaki menginjak bumi, keduanya sama2 berputar tubuh dengan sigap sekali.
Kini kedua tokoh yang lihay itu saling berhadapan.
Mereka berdua adalah tokoh persilatan terkemuka pada jaman itu.
Dalam sekejab mata, tadi mereka sudah bergebrak dalam 3 jurus, semua terdiri dari jurus2 yang berbahaya dan istimewa.
Sudah tentu Nyo Kong-lim tahu diri.
Tak berani dia turut campur karena merasa kepandaiannya terpaut jauh sekali.
"Kui-ing-cu, harini aku hendak membasmi suatu racun dunia, mengapa kau katakan tak tahu aturan? Terhadap kawanan bangsat yang begitu keji macam kalian ini, perlu apa harus pakai aturan ini itu ?"
Kiang Siang Yan mendamprat tajam.
"Siapa yang kau namakan kawanan bangsat keji itu? Anak menantumu yang bagus itulah tepatnya!"
Kui-ing-cu marah2. Rambut Kiang Siang Yan menjigrak, bentaknya.
"Jangan ngoceh yang tidak2, kau mengapakan Lian-ji Itu?"
"Siapa yang tahu? Jangan2 sudah menghadap Giam-ong, juga mungkin!"
Sahut yang ditanya.
Bukan tak ada sebabnya Kiang Siang Yan mencari rombongan Kui-ing-cu itu.
Ia bukan seorang wanita yang suka bergurau, sebaliknya Kui ing-cu adalah tokoh yang gemar ber-olok2.
Maka olok2 Kui ing-cu itu telah dianggap sesungguhnya oleh Kiang Siang Yan.
"Kalau begitu, kalian harus mengganti jiwa. Kamu berempat tiada seorangpun yang boleh pergi!"
Mulutnya mengancam bengis, sedang tubuhnyapun sudah lantas melesat rnenerjang Nyo Kong-lim bertiga.
Begitu cepat serangan itu dilancarkan, sehingga ketiga orangytu talc sempat menghindar dan tahu2 kena tertutuk rubuh.
Dan tak kurang sebatnya pula, Kiang Siang Yan sudah lancarkan pukulan thay-im-ciang kepada Kui-ing-cu.
Gerakan yang sedemikian tangkas dan hebat itu, sungguh sukar dicari bandingannya.
Mungkin Lam-hay Hu Liong Bo pada jamannya, tak sedemikian Iihaynya.
Belum Kui-ing-cu hilang kagetnya karena tak dapat menolong ketiga kawannya yang tertutuk rubuh itu, atau dia sendiri sudah terima serangan yang dahsyat.
Terpaksa dia gunakan tangkisan istimewa.
Begitu menangkis, berbareng tangannya yang satu menghantam, gerakan itu waktunya sama.
Tapi lawanpun berbuat sama.
Serangan pertayma tadi disusul dengan kedua.
Blak.......dua buah pukulan saling berbentur dengan hebatnya.
Dua buah jari Kiang Siang Yan bengkok kesamping hendak menutuk jalan darah yang-ko dan yang-ti lawan.
Sebaliknya kelima jari Kui-ing-cu dikatupkan menjadi tinju.
Begitu diturunkan untuk menghindar tutukan, lalu diteruskan menjotos dada orang.
Kiang Siang Yan tak berani menangkis dan tak sempat pula menghindar.
Terpaksa ia tarik pulang kedua tangan untuk mengacip lengan lawan.
Sudah tentu Kui-ing-cu tak mau membiarkan tangannya diperbuat begitu.
Sekali enjot kaki, dia loncat mundur.
Demikianlah dalam sekejab waktu saja, kedua seteru itu mulai lagi merapat maju.
Dan 4 jurus kembali sudah dilancarkan.
Dalam pertempuran selanjutnya, Kui-ing-cu harus mengakui kelihayan wanita gagah itu.
Thay-im-ciang dilancarkan ber-tubi2 bagaikan hujan mencurah, hingga sukar dibedakan mana yang isi mana yang kosong.
Kui-ing-cu terpaksa harus tumplek perhatian untuk menjaga bagian tubuhnya yang berbahaya.
Tak jarang selama dalam pertempuran itu keduanya harus adu benturan, dan setiap kali Kui-ing-cu selalu mendapat kesan bahwa tenaga lembek dari Iwekang musuh itu hebat sekali.
"Kelemahan dapat menundukkan kekerasan,"
Demikian dalil yang berlaku dalam ilmu lwekang.
Kiang Siang Yan dapat menguasai sari kelemahan lwekang itu, pertanda kalau lwekangnya sudah mencapai tingkat kesempurnaan yang teratas.
Sayang adatnyapun berobah sedemikian eksentriknya.
Selama kedua tokoh itu bertempur dengan Serunya, ketiga orang yang ditutuk tadipun telah dapat pulih lagi.
Yang pertama mendapat kepulihannya adalah Tio Jiang, siapa lalu menolongi Nyo Kong-lim dan Yan-chiu.
Setelah itu dia menghampiri kedua tokoh yang sedang asyik bertempur.
"Suko, kau hendak mengapa?"
Tanya Yan-thiu. Tapi Tio Jiang tak mau menyahut. Menghampiri kesisi gelanggang, dia berseru.
"Subo, sukalah dengarkan omongan ku sebentar."
Kiang Siang Yan tengah pusatkan perhatiannya menempur Kui-ing-cu.
Demi melihat kedatangan Tio Jiang, dia terperanjat juga.
Diam2 ia merasa heran, mengapa begitu cepat anak itu telah mendapat kepulihannya.
Benar tutukannia tadi tidak berat, tapi toh cukup membuat orang lemas sampai berapa jam, Jangan2 anak itu memiliki kepandaian istimewa, sekarang, demikian pikirnya.
Memang sejak mempelajari ilmu thay-im-lian-seng, ia berobah menjadi seorang yang banyak curiga.
Oleh karena pikirannya hendak mencari tahu, gerakannya terpengaruh menjadi lambat.
Wut....., hampir saja ia termakan pukulan Kui-ingicu, untung ia masih bisa, loncat meloloskan diri, walaupun dengan susah payah.
Kini Kiang Siang Yan tak mau menghampiri Kui-ing-cu lagi, sebaliknya, menyongsong kedatangan Tio Jiang, Karena tak mengandung maksud jahat, jadi Tio Jiangpun tak jeri.
Diam2 ia, mengetahui kalau anak itu telah memiliki dasar ilmu lwekang yang kokoh, ini terbukti dari pancaran matanya yang ber-api2, heran ia dibuatnya karena terang yang pasti saja, tentu bukan Hay-te-kau atau suaminya itu yang mengajari, sebab setahunya sang suami itu tak memiliki lwekang macam begitu.
"Apakah kepandaianmu sekarang ini, suhumu yang mengajarkan?"
Tanyanya dengan dingin. Terhadap sang suhu, Ceng Bo siangjin, Tio Jiang telah mengabadikan hormat dan ketaatannya. Tanpa ragu2 lagi dia menyahut.
"sudah barang tentu, subo.........."
"Hem....., didalam rumah keluarga In, mana ada pelajaran lwekang jahat macam kepunyaanmu itu!"
Tukas Kiang Slang Yan serentak.
Kiranya pelajaran dari Hay-te-kau itu adalah warisan dari keluarga In, ialah ayah Kiang Siang Yan.
Sebenarnya kepandaian itu merupakan warisan keluarga In, tak pernah diturunkan pada orang luar.
Tapi karena ayah Kiang Slang Yan mengetahui Hay-te-kau itu seorang pemuda yang berbakat bagus dan lurus hati, maka dia telah diterima menjadi murid.
Jadi Kiang Siang Yan cukup mengetahui jelas akan hal itu.
Tio Jiang ter-longong2 tak dapat menjawab.
Syukur Kui-ing-cu keburu menolongnya dengan berseru.
"Kiang Siang Yan, jangan bicara yang tidak2. Mengapa tidak hujan tidak angin kau cari perkara pada kami?"
"Jawab! Kau kemanakan Lian-ji itu? Kalau tak memberi keterangan jelas, jangan harap kalian berempat ini dapat bernyawa lagi!,"
Bentak Kiang Siang Yan dengan murka. Sampai pada saat itu, Yan-chiu tak kuat bersabar lagi, terus saja ia hamburkan kemengkalannya.
"Wah, kata2 yang besar!"
Tio Jiang kaget dan buru2 hendak memberi isyarat dengan ekor mata, tapi sudah terlambat.
"Budak hina, kalau tak percaya cobalah!"
Kiang Siang Yan sudah kedengaran berseru, sepasang matanya beringas menatap anak itu.
Yan-chiu terperanjat sekali.
la tadi hanya, mengomong sendirian, tak mengira kalau sampai didengar sang subo.
Saking kagetnya, ia mundur beberapa tindak.
Sememangnya terhadap anak itu, Kiang Siang Yan masih mempunyai rekening kemarahan yang belum dihimpaskan.
Yalah ketika tempo hari telah diselomoti oleh Kui-ing-cu hingga sampai menurunkan ilmupedang Hoan-kang-kiamhwat.
Baca Juga: Pendekar Pemetik Harpa 7
Baca Juga: Pendekar Pemetik Harpa 8