Naga Dari Selatan 9

Eps 9 Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen

Baca online Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen

Cersil Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen.

"Suci, jangan terburu nafsu dulu. Ceritakan dululah dari mana kau. Masuk kemari ini ! ". Bek Lian terkesiap. Dulu sutenya itu takut2 berbicara dengannya, tapi mengapa kini sikapnya berlainan sekali ? "Adakah kau ini benar Tio Jiang ?"

Ia bertanya dengan aneh.

"Sudah tentu, ya. Suci, kau rupanya kedinginan. Kita harus lekas2 keluar dari sini, maka coba, ceritakanlah padaku darimana kau masuk tadi."

Terpaksa Bek Lian menurut dan lalu menutur.

"Sekian banyak jalanan gunung dan gua yang kau lalui tadi, mana2 saja yang terasa ada angin menghembus ?"

Tanya Tio Jiang. Atas itu, Bek Lian menerangkan hanya satu dua saja, tapi lupalah ia dibagian yang mana.

"Lian suci, aku ini disebabkan sibangsat The Go ......."

"Sute!"

Cepat2 Bek Lian membentak, Tio Jiang ganda tersenyum, lalu melanjutkan kata2nya.

"Karena dia merampas mustika didalam batu dan disembunyikan entah dimana, maka Kui-ing-cu lo-cianpwe suruh aku mencarinya.........."

"Apa itu sih mustika dalam batu ? Apakah mustika yang disebut dalam kitab Pao-bu-cu itu ?"

Kembali Bek Lian memutus.

"Benar. Karena melihat dia keluar dari sebuah celah batu, maka aku segera masuk dari celah itu. Tapi sampai berhari2, aku tak bisa keluar lagi !"

"Ah, tak berguna mem-buang2 ludah sampai setengah harian ini. Kiranya kau juga tak dapat keluar dari sini!"

Ujar Bek Lian dengan putus asa.

"Jangan keburu putus asa dulu. Sewaktu kau masuk dari celah yang tembus keluar itu, tentu ada angin berembus, bukan ?"

Tanya Tio Jiang. Bek Lian mengiakan dengan acuh tak acuh.

"Sewaktu aku gelisah tak dapat keluar dari sini, tiada ter-sangka2 aku telah berhasil menemukan mustika batu itu terletak disebuah gua kecil. The Go tentu yang menyembunyikannya. Dia dapat keluar, sebaliknya aku tidak. Sehari penuh aku mengitari tempat ini, tapi tetap tak berhasil. Sewaktu aku tak habis mengerti, kini dapatlah aku memecahkannya. Ini suatu bukti, bahwa The Go itu mempunyai bakat dan otak yang cerdas, jauh beberapa kali lebih jempol dari aku."

Sampai pada saat itu, dalam benak Bek Lian hanya terlukis diri The Go seorang.

Maka ketika tadi Tio Jiang memakinya "The Go sibangsat", ia menjadi kurang senang.

Kini sewaktu sutenya itu memuji sang kekasih, segera Bek Lian berseru dengan riang gembira ."Itu sudah terang.

Kecerdasan engkoh Go, siapa yang bisa menyamai ?"

Tio Jiang seorang anak yang lurus polos. Apa yang hatinya mengatakan, mulutnya segera menyatakan.

"Benar, hanya sayang kecerdikannya itu dicerdiki oleh kesalahannya!"

Bek Lian kurang puas, tapi karena tak dapat mencari alasan membantah, maka cepat2 ia alihkan pembicaraan .

"Tadi kau menyatakan sudah bisa memecah rahasia tempat ini, nah bilanglah lekas!"

"Entah benar tidak pemecahanku itu, harap suci yang lebih cerdik dari aku, suka turut menimbangnya. Kupikir jalanan yang terasa ada hembusan angin itu, kalau kita turutkan, tentu akan dapat menuju keluar dari gunung."

"Benar,"

Seru Bek Lian. Kembali Tio Jiang berkata .

"Kupercaya The Go tentu untuk beberapa saat tersesat disini, tapi dalam sesingkat waktu saja dia sudah dapat memecahkan rahasianya. Sebaliknya aku memerlukan satu setengah hari baru dapat memecahkannya. Dan kau sendiri bagaimana, Lian suci ? !"

Bek Lian ke-malu2an.

Ia beradat tinggi.

Tak pernah ia memandang mata pada sutenya yang dianggap tolol itu.

Sudah tentu ia tak unjuk ketololannya dihadapan sutenya itu.

Dengan beberapa alasan, ia coba mau memintari.

Walaupun kini Tio Jiang sudah tawar terhadap sang suci, namun ikatan saudara seperguruan masih melekat.

Melihat sang suci masih tetap membawa sikap mau menang dewek, dia hanya ganda tertawa saja.

"Teoriku itu juga belum tentu berbukti kebenarannya, tapi marilah kita coba saja,"

Kata Tio Jiang sembari ajak sang suci menuju kelorong jalan disitu.

Tiba diujung penghabisan jalan itu, kembali disana terdapat lagi 7 atau 8 buah persimpangan jalan.

Kedelapan simpang jalan itu disusurinya.

Akhirnya, pada salah sebuah jalan terasa ada hembusan angin.

Kearah saulah mereka menyusur kemuka.

Pada ujung jalan itu kembali terdapat sebuah gua dan sehabis melalui gua itu, kembali terdapat 10 buah persimpangan jalan.

Oleh karena sudah menetapkan rencana, jadi merekapun mencari salah sebuah jalan yang terasa ada hembusan anginnya.

Tio Jiang menjunjung batu yang terisi mustika itu diatas kepalanya.

Sembari berjalan, diam2 dia me-nimang2.

"Terang sudahlah kalau Lian suci ini menyintai The Go dengan segenap jiwa raganya. Kalau begitu, mana boleh aku menjadi perintangnya. Peristiwa tukar panjar itu harus kubatalkan saja."

Setelah mengambil putusan, segera dia berkata.

"Lian suci, aku ada sebuah barang yang hendak kukembalikan padamu!"

"Barang apakah itu ?"

Tanya Bek Lian keheranan.

Tio Jiang merogoh kedalam dada bajunya dan mengambil keluar peniti kupu2an milik Bek Lian.

Sampai detik itu Tio Jiang menganggap kalau barang itu adalah pemberian dari Bek Lian sendiri.

Ketika dihadapan Kiang Siang Yan, Bek Lian menyangkal keras, Tio Jiang masih tetap mengira sang suci itu waktu sedang marah.

"Sute, sebenarnya darimana kau peroleh peniti itu ?"

Bek Lian ulangi pertanyaan yang memang sudah lama ia kepingin mengetahuinya.

Kini Tio Jiang baru betul2 keheranan, apakah benar2 sang suci itu tak tahu menahu soal itu.

Dengan jelas dituturkan duduk perkaranya dan kemudian menambahkan.

"Sebagai penukaran, aku telah berikan padamu sebuah batu pualam milik suhu yang diberikan padaku !"

"Huh, kau mimpi bertemu setan barangkali. Itu waktu aku sedang dalam perjalanan dan bertemu dengan engkoh Go......"

Berkata sampai disini, wajah Bek Lian berseri girang terkenang akan peristiwa yang romantis itu.

"Lian suci, apakah benar2 pada malam itu kau tak berada di Gwat-siu-san ?"

Tio Jiang meminta penegasan lagi. Sudah tentu hal itu membuat Bek Lian mendongkol dan serunya dengan uring2an ."Perlu apa aku membohongimu!"

"Jika bermimpi, mengapa tanganku mencekal peniti itu ? Kalau tidak bermimpi, siapa yang ber-olok2 dengan aku itu ?"

Tio Jiang menggerutu seorang diri.

"Huh, selain Siao Chiu, siapa lagi !"

Kata Bek Lian, yang membuat Tio Jiang terkesiap dan mengakui memang benar begitu.

Tio Jiang tak mau bertanya Iagi kepada suci-nya.

Kira2 dua jam kemudian, mereka tiba disebuah jalan sempit yang terasa banyak hembusan anginnya.

"Inilah dianya!"

Seru Tio Jiang kegirangan.

Benar juga setelah melalui jalan sempit itu, mereka dapat keluar dari perut gunung tadi.

Kala itu rembulan sudah menampakkan diri dilangit.

Karena keliwat lelah ber-putar2 didalam perut, gunung yang mempunyai ber-puluh2 jalanan kecil itu.

mereka lalu duduk beristirahat disebuah batu.

Dahulu kalau berada berduaan dengan sang suci, Tio Jiang tentu menjadi seperti orang pekok, yaitu orang yang tak dapat bicara lancar.

Setiap kali Bek Lian tentu menertawai kelakuannya itu.

Kini berlainan halnya.

Walaupun hanya berdua orang, tapi rasanya Tio Jiang tak mempunyai kata yang hendak diucapkan.

Baru berselang beberapa jenak kemudian, dia kedengaran bertanya.

"Lian suci, kau hendak menuju kemana ?"

Sebenarnya Bek Lian hendak mencari The Go, tapi kalau mengatakan hal itu -dihadapan sang sute, seperti sang ayah, sute itu tentu membencinya.

"Kau tak usah mengurus diriku!"

Akhirnya ia menyahut. Dan benarlah, setelah pulang semangatnya, Bek Lian tampak berbangkit terus hendak angkat kaki.

"Suci, nanti dulu!"

Seru Tio Jiang.

"Apa kemauanmu ?"

Bek Lian berpaling sembari kerutkan sepasang alisnya.

"Kau seorang diri melakukan perjalanan, dikuatirkan nanti berjumpa dengan orang jahat "

Sebenarnya Tio Jiang bermaksud baik, tapi oleh Bek Lian telah diartikan lain. Ia anggap sutenya itu menghina kalau ilmunya rendah, maka dengan tertawa dingin ia menukas kata2 orang .

"Terima kasih atas perhatianmu. Bertemu dengan penjahat apapun, biarlah kuhadapinya sendiri, tak usah kau mengurusi !"

Mendapat semprotan yang begitu ketus, Tio Jiang ter-mangu2 diam.

Sebaliknya, Bek Lian makin gusar, berputar diri terus angkat kaki.

Apa boleh buat Tio Jiang terpaksa tak dapat berbuat apa2.

--oodwkzOTAHoo--Setelah berlatih sebentar, dia loncat keatas sebatang puhun untuk tidur disitu.

Keesokan harinya, dia segera ber-gegas2 berangkat ke Ko-to-san.

Dia juga memikirkan bagaimana akhir pertempuran antara Kui-ing-cu dengan Kiang Siang Yan itu.

Karena pegunungan Si-ban-tay-san itu tiada mempunyai jalanan sama sekali, jadi Tio Jiang hanya menentukan arah barat daya sebagai tujuan langkahnya.

Menjelang tengah hari, tibalah dia pada sebuah puncak gunung.

Disitu dilihatnya ada sebuah batu bercat hitam.

,,Hai, apakah ini bukan puncak Thiat-nia ?"

Tanyanya seorang diri.

Tapi dia heran mengapa keadaan tempat itu berlainan dengan Thiat-nia yang pernah didatangi tempo hari.

Kiranya Tio Jiang tiba disebelah belakang dari puncak Thiat-nia.

Sebaliknya Tio Jiang merasa kini sudah mendapatkan jalan keluar dari pegunungan raya itu, maka dengan girang sekali, dia berlari cepat2 turun gunung.

Begitu tiba dikaki gunung, tahu2 sebatang anak panah telah menyambarnya.

Teringat Tio Jiang akan pembilangan Kui-ing-cu bahwa suku Thiat-theng-biau itu paling gemar menggunakan senjata panah yang.

dicelup dengan racun istimewa.

Maka buru2 dia menghindar saja seraya berseru .

"Mengapa tanpa bertanya hitam putihnya, lalu main membokong orang saja ?" . Empat orang suku Thiat-theng-biau muncul keluar. Mereka bercuwat-cuwit mulutnya, tapi Tio Jiang tak mengerti.

"Lekas menyingkir, aku mempunyai urusan penting, hendak lekas2 melanjutkan perjalanan!"

Serunya.

Berkat lwekangnya makin tinggi, maka seruan.

Tio Jiang itu terdengar menggeledek bunyinya, hingga karena telinganya sakit keempat suku Biau itu berjingkrak kaget.

Mereka berpencar, lalu masing2 melepaskan anak panah.

Tio Jiang mendongkol geli.

Dipotesnya sebatang dahan pohon, lalu dengan memainkan jurus hay-li-long-huan dia hantam jatuh anak panah itu, kemudian sekali melesat maju, ia segera mainkan dahannya untuk menutuk jalan darah wi-tiong-hiat dari keempat orang itu.

Tapi tutukan Tio Jiang itu hanya menerbitkan suara tuk..., tuk..., tuk..., tuk saja, yakni macam membentur kayu.

Pakaian rotan yang dikenakan oleh keempat suku Biau itu, senjata tajampun tak dapat menembusinya, jangan lagi hanya tutukan dahan.

Lain halnya kalau yang menutukkan itu tokoh sakti macam Tay Siang Siansu, Kui-ing-cu atau Kang Siang Yan dan lain2.

Namun walaupun tak selihay mereka, Iwekang Tio Jiang yang sudah bertambah maju itu, dapat membuat keempat orang itu meringis kesakitan juga.

Saking murkanya, keempat orang Biau itu segera cabut golok dan serempak maju menyerang.

Golok mereka itu aneh bentuknya, yaitu seperti bintang sabit, melengkung panjang sampai setengahan meter.

Tio Jiang tak mau melukai mereka, cukup asal memberi sedikit hajaran saja.

Baru dia hendak maju menyambut, salah seorang dari mereka yang bertubuh agak tinggi, sudah maju menabas dengan goloknya.

Tio Jiang angkat dahannya untuk menangkis, tapi se-konyong2 orang Biau itu robah gerakannya.

Begitu siku tangan diturunkan, secepat kilat golok-sabitnya telah masuk menyerang sepasang betis Tio Jiang.

Dengan bentuk goloknya yang istimewa, jurus serangan itu sangat surup sekali.

Saking gugupnya terpaksa Tio Jiang tekankan dahan ketanah, lalu loncat menyingkir jauh.

Diam2 dia heran memikirkan serangan orang Biau yang istimewa itu.

Ilmu pedang to-hay-kiam-hwat yang sudah berpuluh tahun menggetarkan dunia persilatan itu, kiranya hanya begitu saja.

Sebaliknya serangan ilmu golok dari orang Biau liar tadi sedemikian luar biasanya, entah dari mana mereka mempelajarinya ?

GAMBAR 65 Dengan aksi, Tio Jiang melambung keatas hendak menangkap golok2 melengkung ke-empat lawannya Kala dia lagi merenung, orang Biau tadi kembali sudah datang dengan sebuah tabasan lagi.

Kali ini Tio Jiang sudah bersiaga.

Dia miringkan tubuh menghindar, dan nantikan bagaimana tindakan lawan itu lebih jauh.

Setelah tabasannya luput, orang Biau itu berseru keras2, se-konyong2 goloknya diturunkan dan wut....., tahu2 membabat kaki Tio Jiang, gayanya seperti tadi juga!

Tio Jiang sudah memperhitungkan lebih dahulu.

Baru orang gerakkan tangan dia sudah melambung keatas, begitu golok melayang dibawah kakinya, dengan gunakan cian-kin-tui (tindihan seribu kati) dia menurun dan tepat menginjak golok orang Biau itu ditanah.

Ternyata orang Biau itu juga fanatik sekali.

Terang dia tak dapat menarik golok yang dipijak kaki sianak muda itu, namun tangannya tetap tak mau melepaskannya.

Melihat kawannya dipecundangi, ketiga orang Biau lainnya segera maju berbareng.

Tapi cukup dengan mainkan dahannya, Tio Jiang telah dapat menghalau mereka, kemudian dengan gerak liok-ting-gui-san, disusuli menghantam bahu siorang Biau yang tinggi besar tubuhnya tadi.

Tio Jiang gunakan 3 bagian tenaganya, maka kali ini orang Biau itu terpaksa lepaskan cekalannya, ter-huyung2 jatuh.

kebelakang.

Tio Jiang pungut golok-sabit orang, lalu menyerang ketiga orang Biau tadi dengan tiga buah serangan ajaran Sik Lo-sam.

Trang..., trang..., trang..., ketiga orang Biau itu coba menangkis, tapi golok mereka telah terpental jatuh.

Tio Jiang mau unjuk demonstrasi.

Batu yang terisi mustika, dikempit dalam ketiak kanan.

Sekali enjot tubuhnya dia loncat keatas.

Kedua tangannya dijulurkan kemuka untuk mencekal 4 batang golok tadi.

Selagi melayang turun, tangannya kiri timpukkan dua batang golok kearah sebuah puhun besar yang berada didekat situ.

Dua batang golok itu tepat menancap masuk kedalam batang puhun, hingga sampai separoh bagian.

Sedang separoh bagian tangkainya, tampak ber-goncang2.

Keempat orang Biau itu ter-longong2 heran, tapi sebaliknya Tio Jiang sendiripun merasa aneh.

(Oo-dwkz-TAH-oO) Tadi dia melihat siorang Biau tinggi besar itu mainkan goloknya dalam gaya menyerang yang luar biasa.

Begitu pula ketiga orang Biau lainnya itu, pun memainkan jurus pertahanan yang luar biasa juga.

Inilah yang membuatnya heran.

Segala ilmu pedang apa saja!

sampaipun itu to-hay-kiam-hwat, tentu terdapat ciri2 cacadnya (mempunyai kelemahan).

Tapi ilmu golok dari orang Biau itu, dapat digunakan untuk menyerang dan bertahan secara mengagumkan sekali.

Dia ambil putusan hendak menjumpai Kit-bong-to, kepala suku mereka, untuk meminta penjelasan lebih jauh mengenai ilmu itu.

Maka dia segera memberi isyarat gerakan tangan supaya diantar kepuncak gunung, tapi rupanya keempat orang Biau itu menolak.

"Aku mau bertemu dengan Kit-bong-to!"

Akhirnya terpaksa Tio Jiang berseru mendongkol.

Tanpa disangka, begitu mendengar orang menyebut nama ,Kit-bong-to", sikap keempat orang Biau itu berobah ramah dan tertawa.

Salah kedua diantara mereka menuding kearah golok yang dicekal Tio Jiang, siapa rupanya mengerti kehendak orang dan lalu memberikannya, Sedang kedua kawan mereka yang lain, menghampiri batang puhun tadi untuk mencabut golok mereka.

Tapi bagainianapun mereka berdua gunakan seluruh tenaganya untuk mencabut, namun tetap tak mampu.

Separoh bagian dari golok itu telah menyusup kedalam batang puhun tua yang keras sekali kayunya, hingga wajah mereka sampai merah padam.

"Mari kutolong!"

Seru Tio Jiang seraya menghampiri.

Tanpa pedulikan wajah mereka yang mengunjuk kesangsian dan, sekali kerahkan Iwe.karig Tio Jiang segera mencabutnya keluar.

Setelah itu, dia cabut lagi golok yang lainnya.

Kini keempat orang Biau itu tunduk betul2 pada sianak muda.

Dengan hormat sekali, mereka segera membawa Tio Jiang kepuncak Thiat-nia.

Adalah karena mengunjungi kepala suku Thiat-theng-biau itu, maka Tio Jiang agak terlambat datangnya ke Koto-san.

Coba dia tak pergi kegunung itu, tentu siang2 sudah sampai kesana dan Yan-chiupun tak nanti keisengan coba2 memasuki gereja Ang-hun-kiong.

Setengah jam kemudian, tibalah Tio Jiang ditempat kediaman suku Thiat-theng-biau.

Keempat orang pengantarnya tadi segera lari lebih dahulu untuk menghadap Kit-bong-to yang tampak sedang duduk bersila ditempatnya.

Dengan meng-gerak2kan golok, rupanya keempat orang Biau tadi tengah menceritakan tentang demonstrasi kepandaian yang diunjuk oleh Tio Jiang tadi.

Kit-bong-to masih ingat bahwa Tio Jiang itu adalah salah seorang dari rombongan yang membebaskan calon mempelainya (Bek Lian).

Sudah tentu dia tak menyukai anak muda itu.

Dengan membentak keras2, dia suruh keempat orangnya tadi mundur, kemudian bertanya pada Tio Jiang.

"Apa maksudmu datang kemari lagi ini ?"

Sesaat Tie Jiang tersentak kaget.

Memang dia tak mempunyai kepentingan istimewa datang kesitu itu.

Hanyalah karena melihat ilmu permainan golok keempat orang Biau tadi, dia merasa ketarik dan hendak menanyakan lebih lanjut kepada kepala suku itu.

Apa boleh buat, Tio Jiang menceritakan maksudnya.

Wajah Kit-bong-to berobah seketika, tapi pada lain saat air mukanya berseri lagi, serunya dengan ramah.

"Maaf tak dapat memberi sambutan apa2 kepada tetamu jauh. Hanya teh keluaran gunung ini, tentu dapat menghilangkan rasa dahaga!"

Tanpa sungkan2 lagi Tio Jiang segera menyambuti cawan teh terus hendak diminumnya.

Tiba2 dibaunya teh itu luar biasa wanginya, tapi dalam keharuman itu seperti ada bau lain yang istimewa, maka dia, tak jadi meminumnya lalu melirik kearah kepala suku itu.

"Apakah hohan kuatir kalau teh itu dicampuri racun?"

Tanya Kit-bong-to yang rupanya mengerti akan kesangsian orang.

Malah tanpa tanya jawaban lagi, dia segera rebut cawan yang dipegang Tio Jiang itu terus diminumnya.

Setelah meneguk habis separo cawan, lalu diberikan pada Tio Jiang, katanya.

"Lekas minumlah, asal usul ilmu golok itu memang aneh sekali. Setelah minum, segera kubawamu kesana."

Sebagai lelaki jujur, sudah tentu Tio Jiang menjadi sungkan.

Disambutinya cawan itu, dan demi dilihat isinya memang hanya tinggal sedikit, dia terus hendak meminumnya.

Adalah pada saat cairan itu sudah menempel dibibirnya, dia mencuri lihat sikepala suku, yang ternyata dengan mata mendelik tengah mengawasi dirinya dengan wajah yang beringas, se-olah2 tak sabar lagi supaya Tio Jiang lekas2 meminumnya.

Tio Jiang bersangsi lagi.

Jangan2 kepala suku itu hendak main gila.

Tapi karena sudah menyatakan hendak meminum, jadi Tio Jiang mencari akal.

Cepat dia mengambil keputusan.

Diam2 dia kerahkan ilmu lwekang ajaran Sik Lo-sam yakni "cap ji si hang kang sim ciat", hawa murni disalurkan kearah tenggorokan, kemudian, sekali teguk dia habiskan isi cawan itu.

Teh itu benar masuk kedalam mulut, tapi hanya berhenti ditenggorokan, tidak masuk keperut.

"Mari ikut padaku!"

Seru Kit-bong-to dengan girangnya, demi dilketahui sang tetamu sudah meminumnya.

Dia kedengaran menjerit beberapa kali dan kawanan orang Biau itu lalu me-nari2 dengan hiruk pikuknya.

Adalah sewaktu mendapat kesempatan, Tio Jiang segera muntahkan teh.

tadi keluar.

Tenggorokannya dirasakan gatal, manis2 serak.

Dia ikut Kit-bong-to naik kepuncak gunung.

GAMBAR 66 Tio Jiang dihantar oleh kepala suku Biauw itu kepuncak gunung yang tandus gilap itu untuk melihat rahasia ilmu golok satu jurus yang lihay itu.

Dinamakan Thiat-nia atau puncak besi, karena memang keadaan gunung itu aneh sekali.

Makin keatas, makin tiada terdapat tumbuhan apa2.

Batu2 disitu sama ke-hitam2an warnanya.

Tak berapa lama, sampailah mereka dipuncak.

Kecuali gundul, puncak itu tiada.

Lain keistimewaannya, tapi anehnya sikap Kit-bong-to sedemikian hormatnya seperti berhadapan dengan malaekat yang dipujanya.

Dengan berlutut ditanah, dia kedengaran berdoa.

Diam2 Tio Jiang merasa geli juga.

Se-konyong2 Kit-bong-to loncat bangun, dari pinggangnya dia cabut sebatang golok-sabit terus dibuat menabas dan tiba2 dirobah dengan hantaman kebawah.

Melihat demontrasi itu, Tio Jiang bertanya.

"Dapatkah kau memberitahukan asal usulnya ilmu golok itu?"

"Siaoko, kau harus bersumpah dulu bahwa didalam 10 hari kau takkan mengatakan pada lain orang tentang apa yang kau lihat hari ini!"

Tio Jiang heran.

Dia tak mengerti Kit-bong-to hendak menunjukinya rahasia apa saja, maka dia harus bersumpah begitu.

Didalam 10 hari tak boleh memberitahukan lain orang, tapi bagaimana setelah lewat waktu itu?

Dia tak tahu bagaimana jawabannya, tapi oleh karena kepala suku itu telah menaruh kepercayaan padanya, sebagai orang yang berhati jujur, diapun segera mengikrarkan sumpah itu.

Dengan berseri girang, Kit-bong-to segera ajak dia maju.

beberapa tindak lagi.

"Lihatlah!"

Tiba2 dia berseru sembari menunjuk kearah sebuah batu besar yang kelimis halus tiada ditumbuhi apa"

"Ada apanya?"

Tanya Tio Jiang dengan keheranan demi mengawasi batu itu tiada ada apa2nya.

Kit-bong-to segera menabas bagian atas dari batu hitam itu.

Kiranya bagian atas dari batu itu dilumuri dengan tanah liat, maka sekali papas dapatlah Kit-bong-to menghilangkan lapisan tanah itu.

Dan ketika permukaan batu itu kelihatan, Tio Jiang menjadi, terkejut.

Kiranya disitu terdapat lukisan-ukir dari sebatang golok yang macamnya mirip dengan golok-sabit Kit-bong-to itu, Dibawah lukisan itu terdapat guratan2 huruf yang ternyata merupakan keterangan dari sebuah ilmu golok.

Tulisan disitu, menerangkan menyerang badan bagian atas lalu setengah jalan dirobah menyerang kaki orang.

Serangan itu dapat dirobah menjadi pertahanan yang indah.

Tio Jiang ulangi memeriksa tulisan itu.

Dia dapatkan sari keindahan dari ilmu golok itu, sukar dilukiskan.

"Kit-bongto, lekas bersihkan lapisan tanah liat itu semua. Ilmu golok ini, tiada ternilai saktinya"

Buru2 Tio Jiang meminta. Namun Kit-bong-to tertawa menyahut. ,Hanya ada satu jurus itu saja! "

Tio Jiang memeriksanya, kiranya benar yang dikatakan kepala suku itu.

"Entah bilamana ilmu golok itu tertera di atas batu ini,"

Kata Kit-bong-to.

"sejak kaum Thiat-thengbiau kami menetap disini, ilmu golok itu sudah ada. Kaum kami gunakan ilmu golok itu untuk menghadapi serangan binatang buas dan hasilnya memuaskan sekali! "

Sampai sekian saat, Tio Jiang ter-longong2 mengawasi huruf2 itu.

Mendadak serasa dia seperti pernah melihat huruf itu, ah.....

benarlah!

Buru2 dia memeriksa batu berisi mustika yang dibawanya itu dan hai....., memang sama gayanya!

Siapa lagi yang menciptakan ilmu golok luar biasa itu kalau bukan Tat Mo Cuncia.

Tapi anehnya, mengapa hanya terdiri sejurus saja?

Dia kini sudah memiliki dasar2 ilmu silat yang dalam, sembari memeriksa dengan perdata akan pelajaran ilmu golok dibatu itu, diam2 dia telah menelaah sari keindahannya.

Tak seperti dengan suku Biau yang hanya asal menurutkan gerak2annya saja, tanpa mengerti dimana letak kegunaannya yang sejati.

Akhirnya sampailah Tio Jiang pada suatu kesimpulan, bahwa andaikata adalagi satu jurus, ilmu golok itu pasti merupakan ilmu golok yang tiada taranya didunia.

"Kit-bong-to, apakah benar2 hanya ada satu jurus ini saja?"

Tanyanya menegas. Saat itu Tio Jiang tengah terbenam dalam renungan yang dalam, jadi sedikitpun dia tak mengetahui akan sikap orang yang berobah aneh pada saat itu.

"Ah, ilmu golok ini memang sangat sakti, sayang tiada punya nama,"

Kedengaran Tio Jiang menyatakan perasaannya sendiri.

"Ada, disebaliknya,"

Sahut Kit-bong-to, Tio Jiang buru2 mengikutinya kebalik batu itu dan disitu didapatinya ada 3 buah huruf "it to hwat" (ilmu golok tunggal).

Tio Jiang, makin tak habis mengerti.

Sesuai dengan namanya, ilmu golok itu jadi hanya terdiri dari sejurus saja.

Aneh, mengapa sejurus bisa merupakan sebuah ilmu golok yang lengkap ?

"Siaoko, batu bertulisan ini hanya aku seorang yang melihatnya.

Kuajak kau kemari ini, adalah karena aku hendak minta bantuanmu menjelaskan ilmu golok itu,"

Demikian Kit-bong-to.

Kiranya berulang kali Kit-bong-to pernah turun gunung mengembara didunia persilatan.

Setiap kaum persilatan yang menyaksikan permainan goloknya, tentu sama memuji dan kagum akan kebagusannya.

Tapi oleh karena hanya terdiri dari sejurus saja, mereka anggap mungkin kepala suku Biau itu hanya dapat mencuri belajar saja, jadi mereka tak menaruh perhatian lebih lanjut.

Disebabkan karena Kit-bong-to tak mengerti ilmu lwekang, jadi sekalipun ilmunya golok istimewa, tapi tak lebih tak kurang dia hanya setanding dengan kaum persilatan biasa saja.

Yang mengherankan, turun menurun suku bangsaThiat-theng-biau itu memiliki suatu kode pelajaran ilmu golok yang disebut "it to hwat, sip-to-hwat, peh-to-hwat, cian-to-hwat dan ban-to-hwat."

Tetapi tiada seorangpun yang dapat menjelaskan bagaimana arti kode2 itu.

Kit-bong-to yakin, disitu tentu terdapat sesuatu hal yang istimewa, tapi oleh karena dia tak suka orang2 Han main gila, jadi rahasia itu dibiarkan tertutup begitu saja.

Adalah tadi dengan kedatangan Tio Jiang yang dianggapnya sebagai seorang pemuda jujur serta menaruh perhatian akan ilmu golok itu, timbullah suatu ilham dalam perasaannya, mungkin pemuda yang ke-tolol2an inilah yang dapat menolong menyingkap tabir rahasia itu.

Tapi ternyata sampai hampir setengah harian, pemuda itu belum juga dapat menjelaskan.

"Yu-tio (kepala suku) aku juga tak dapat menerangkan!"

Akhirnya Tio Jiang menyatakan dengan sejujurnya.

Melihat sikap dan lagu ucapan anak muda itu menandakan ketulusan hatinya, Kit-bong-to merasa suka dan malah menyuruhnya tinggal disitu dulu untuk sementara hari.

"Siaoko, tinggallah dulu beberapa hari supaya dapat merenungkan dengan tenang !"

Katanya.

(Oo-dwkz-TAH-oO) BAGIAN 36 .

TULISAN DI BATU HITAM Oleh karena masih cukup temponya, Tio Jiang terima baik tawaran itu..

Tiga hari lamanya dia menetap dipuncak Thiat-nia situ.

Siang malam, baik makan maupun mau tidur, ya pendek kata setiap saat, dia selalu merenung untuk memecahkan intisari daripada pelajaran yang tertulis diatas batu itu.

Tapi ternyata dia selalu gagal.

Akhirnya karena hari pehcun sudah mendekat, maka dia segera minta diri pada kepala suku Biau itu.

"Kit yu-tio, aku telah mengadakan janji adu kepandaian dengan seseorang pada nanti hari pehcun digereja Ang-hun-kiong. Sudah tentu aku tak dapat mengingkari janji itu. Setelah dapat kupecahkan rahasia tulisan dibatu itu, aku tentu akan datang kemari lagi,"

Katanya.

"Pergilah, tapi ingat akan sumpahmu !"

Kit-bong-to berkata dengan dingin didahului dengan sebuah helaan napas.

Tio Jiang memberi jaminan takkan membocorkan rahasia selama 10 hari ini kepada lain orang.

Kit-bong-to lalu suruh dua orangnya untuk mengantar dia turun gunung.

Ternyata kala itu hari pesta air (pehcun) sudah menjelang tiba.

Tio Jiang ber-gegas menuju ke Ko-to-san, tapi oleh karena dia kelamaan tinggal di Thiat-nia, jadi hampir saja dia terlambat datangnya.

Tiba dikaki gunung Ko-to-san haripun sudah terang tanah.

Dia coba bertanya pada beberapa penduduk kota kecil situ, tapi mereka seperti menutup rapat2 mulutnya, tak mau memberi keterangan suatu apa.

Dia mondar mandir bertanya kebeberapa.

tempat, pun idem.

Akhirnya dia tiba pada kesimpulan bahwa rombongan suhunya, tentu sudah naik keatas gunung.

Penduduk itu tentu mengetahui hal itu, hanya disebabkan karena mereka jeri akan keganasan orang2 Ang-hun-kiong, jadi mereka tak berani memberitahukan.

Maka setelah mengisi perut, ber-gegas2 dia mendaki keatas.

Dia pernah sekali mengunjungi Ang-hun-kiong, maka belum tengah hari disebelah muka sana segera kelihatan tembok merah dari gereja itu.

Kemudian setelah mengitari sebuah gunung, tibalah dia dimuka pintu dari Ang-hun-kiong.

Disitu ternyata tampak banyak orang berkerumun.

Begitu menghampiri dekat, didengarnya Yan-chiu berteriak keras2.

"Kiau susiok, jangan terkena tipunya!"

Dia tahu pertempuran sudah dimulai, maka dia segera lari cepat2.

Mata Yan-chiu yang tajam segera dapat melihat bayangan sukonya itu.

Saking girangnya, selebar mukanya menjadi ke-merah2an.

Lupa kalau disitu ada banyak orang, lupa kalau antara kaum hawa dan adam itu masih terhalang dengan dinding adat istiadat, sigenit itu segera mencekal tangan sukonya.

Dari kaki sampai keujung rambut, sigenit meng-amat2i sang suko sedemikian rupa, hingga membuat Tio Jiang kikuk sendiri.

"Siao Chiu, jangan membuat gaduh!"

Akhirnya dia memberi peringatan.

"Orang begitu kegirangan akan kedatanganmu, masa kau malah mengatakan begitu! Kemana saja kau selama ini, hingga baru sekarang datang ? Ah, betul2 kau tak mau mengerti kesibukan orang memikirkan dirimu!"

Mulut Yan-chiu berhamburan dengan kata2.

Tio Jiang cukup mengenal watak sumoaynya itu.

Kalau berterus terang, tentu sumoay itu menanyakan ini itu tak habis2nya, maka sembari tertawa dia hanya menyahut ringkas saja.

"Lewat beberapa hari lagi, nanti kuceritakan padamu!"

GAMBAR 67 Melihat kedatangan sang Suheng, saking girangnya Yan-chiu ber-lari2 memapaki.

Habis itu Tio Jiang segera menghampiri suhunya.

Disitu ternyata tampak hadir Kui-ing-cu, Ki Ce-tiong, Thaysan sin-tho Ih Liok dan masih ada seorang tua bertubuh kate yang belum dikenalnya.

Setelah suhunya mengenalkan, barulah diketahui kalau orang tua itu adalah Sin-eng Ko Thay adanya.

Kiau To dan The Go sudah tampak ber-putar2 ditengah sebuah lapangan.

Sedang difihak sana, tampak ada 3 orang Ang-hun-kiong.

Ang Hwat cinjin tak kelihatan.

Rupanya dia masih memegang teguh derajatnya sebagai cianpwe persilatan.

Tio Jiang menganggap Ceng Bo siangjin itu bukan melainkan sebagai suhu saja, tapi juga sebagai seorang bapak kandungnya sendiri.

Dia girang sekali bertemu dengan sang suhu yang dihormatinya itu.

Setelah memberi hormat kepada sekalian orang, dia lalu menghaturkan batu yang berisi mustika itu seraya berkata.

"Murid telah menemukan sebuah batu yang terisi mustika, mohon suhu memberi keputusan bagaimana hendak memperbuatnya."

Tio Jiang yakin suhunya tentu bergirang hati, tapi diluar dugaan, siangjin itu hanya mendengus "hem"

Sekali, lalu tak mengacuhkan.

Kini baru Tio Jiang sempat memper hatikan bagaimana air muka suhunya, Kui-ing-cu, Thaysan sin-tho, Ko Thay dan lain2 sama mengunjuk kegelisahan.

Heran dia dibuatnya.

Kepandaian The Go toh hanya setingkat dengan Kiau To dan andaikata Kiau susiok itu kalah, toh masih ada dia yang menurut keyakinannya tentu dapat menundukkan The Go.

Taruh kata menguatirkan Ang Hwat cinjin akan muncul kegelanggang, toh keempat tokoh lihay itu, akan dapat menghadapi juga, mengapa begitu diresahkan?

Karena tak berani langsung menanyakan pada suhunya, dia lalu mendekati sang sumoay dan bertanya dengan bisik2 .

"Siao Chiu, ada apa dengan suhu itu ? Apakah fihak lawan keliwat lihay ?"

"Entahlah, kalau aku bicara nanti dikatakan ceriwis, buat apa membuka mulut dengan sia2"

Sahut Yan-chiu dengan mengkal.

"Siao Chiu, kau ini kenapa ?"

Tio Jiang makin kebingungan. Rupanya kasak kusuk kedua anak muda itu telah diketahui Kui-ing-cu siapa segera bertanya.

"Siaoko, mana Nyo-cecu ?"

"Nyo-cecu ?"

Sahut Tio Jiang dengan kaget.

"entahlah aku tak tahu !"

"Tak lama setelah kau mencari mustika batu itu, diapun lalu menyusulmu, mengapa bisa tak bertemu ?"

Menerangkan Kui-ing-cu. Teringat akan keadaannya selama diperut gunung itu, dia menduga keras Nyo Kong-lim tentu juga terkurung disitu.

"Aya, celaka!"

Serunya tak tertahan lagi.

Kui-ing-cu buru2 menanyakan dan Tio Jiang segera menuturkan pengalamannya diperut gunung itu.

Rupanya Ceng Bo siangjin dan beberapa tokoh lainnya sama terperanjat juga.

Mereka saling melihati satu sama lain.

"Biarkan kita rundingkan lagi nanti. Saat ini kita tak sempat untuk mengurusi,"

Akhirnya Kui-ing-cu menyatakan Oleh karena terlambat datang, jadi Tio Jiang tak mengetahui apa yang telah terjadi dalam pertempuran itu.

Baru dia hendak bertanya, atau tiba2 terdengar Yan-chiu menjerit, hingga terpaksa dia berpaling kebelakang.

Kiranya ketika Tio Jiang datang, Kiau To dan The Go sudah bertempur.

Pada saat itu The Go tampak menusuk kearah tenggorokan Kiau To.

Oleh karena Yan-chiu kenal serangan The Go itu menggunakan ilmupedang Chit-sat-kiam-hwat, maka tadi ia menjerit kaget.

Dalam beberapa bulan ini, Kiau To berusaha untuk menjumpai Tay Siang Siansu.

Tapi oleh karena Siansu itu sukar dicari.

jejaknya, jadi dia tak berhasil.

Berhubung hari pertempuran sudah dekat, terpaksa dia menuju ke Ko-to-san untuk menggabungkan diri dengan rombongan orang gagah lainnya.

Pertempuran itu, menurut tantangan yang telah disetujui, adalah antara The Go melawan Kiau To dan Tio Jiang.

Tadi karena Tio Jiang terlambat, jadi Kiau To lah yang maju lebih dahulu.

Kiau To cukup mengetahui, bahwa pertempuran hari itu, penting sekali artinya.

Maka dalam pertempuran, dia berlaku hati2 sekali.

Tampak ilmu permainan pedang lawan luar biasa, ditambah pula menggunakan pedang pusaka kuan-wi, dia tak berani menangkis dengan jawan-piannya.

Dengan gunakan gerak tiat-pian-kio dia buang tubuhnya kesamping, kemudian secepat kilat menyabet betis lawan.

The Go bersenyum ewa, sikapnya sangat yakin sekali.

Begitu tusukannya luput, cepat dia balikkan pedang membabat pinggang Kiau To, sedang kakinya melangkah kesamping untuk menghindar jwan-pian Kiau To.

Gerakannya begitu lemah gemelai, laksana seorang mahasiswa mengayun langkah.

Dalam pandangan tokoh2 yang menyaksikan pertempuran itu, Kiau To sukar mencapai kemenangan.

Hal inipun diinsyafi juga oleh Kiau To.

Kelemahannya adalah terletak dalam senjatanya ruyung lemas (jwan pian) itu.

Untunglah ruyung itu cukup panjang serta ilmu ruyung Liok-kin-pian-hwat itu cukup kaya dengan gerak perobahan.

Jadi dapatlah dia memaksa lawan tertahan dalam jarak satu tombak.

Mengetahui lawan hendak maju merapat, dia segera melesat kebelakang.

Pian di-kibas2kan, tidak untuk menyerang tapi untuk melindungi diri.

The Go bukan tak mengetahui kalau lawan hendak merebut kemenangan dengan ketenangan.

Dia lemparkan pedangnya keudara, begitu tangannya menyambuti, mulutnya tertawa mengejek.

"Kiau loji, mengapa tak maju menyerang lagi ?"

Habis berkata itu dia maju kemuka, tapi cepat mundur lagi.

Sikapnya congkak sekali.

Kiau To tak mau hiraukan propokasi orang.

Tanpa membalas sepatah pun, dia putar jwan-pian, orang bersama senjata berbareng maju menyerang.

Itulah salah satu jurus istimewa dari permainan Liok-kin-pian-hwat, orang dan pian dapat menunggal jadi satu.

Tapi kini The Go telah berhasil memiliki ilmu pedang Chit-sat-kiam-hwat yang amat ganas aekali.

Ditambah dengan mencekal sebuah pedang pusaka macam pedang kuan-wi-kiam, dia tak jerikan segala apa.

Begitu Kiau To dan jwan-piannya merangsang datang, dia menyabet kalang kabut.

Sepintas pandang, gerakannya itu kacau balau tak keruan, tapi pada hakekatnya itulah salah sebuah jurus Chit-sat-kiam-hwat yang paling istimewa, yakni yang disebut chit-che-tay-hwe (7 bintang saling bertemu).

Didalam kegencarannya, mengandung seribu satu gerak perobahan yang berbahaya.

Melihat orang menyambut dengan pedang, Kiau To buru2 tarik pulang serangannya.

Kalau pedang lawan itu pedang yang kebanyakan, seratus persen tentu dapat dia hantam jatuh.

Tapi pedang kuan-wi-kiam, bukan pedang sembarang pedang.

Pedang itu dapat menabas segala mat yam logam, semudah menabas tanah liat.

Sudah terang jwan-pian akan terbabat kutung.

Begitu tarik pulang tangannya, dia pun loncat kesamping, sembari mengancamkan jwan-pian.

Ancaman itu kosong, hanya diperuntukkan melindungi diri saja.

The Go tak mau melepaskan lawan.

Dia bolang balingkan pedang untuk di-main2kan sebentar diatas, kemudian secepat kilat ditusukkan kedada orang.

Dibawah ancaman pedang kuan-wi-kiam yang sakti itu, terpaksa Kiau To main mundur terus.

Tio Jiang yang menyaksikan pertempuran itu berkerut kening, sebaliknya Yan-chiu mendongkol bukan kepalang.

"Hanya mengandalkan sebatang pedang tajam saja, apanya sih yang harus dibuat bangga!"

Serunya mengumpat.

Tapi pada lain saat, dia teringat bahwa pedang itu adalah milik subonya yang telah berpuluh tahun mengangkat nama didunia persilatan.

Dengan umpatannya tadi, bukantah juga berarti mengatakan suhu dan subonya tak mempunyai kepandaian yang berarti kecuali mengandalkan pedang pusakanya itu ?

Memikir sampai disini, Yan-chiu bercekat sendiri.

Untunglah semua orang tengah memusatkan perhatian pada jalannya pertempuran itu.

Dalam pada itu, The Go sudah kembangkan permainan pedang Chit-sat-kiam-hwat.

Pedangnya tampak berkelebat kesana sini dengan gencarnya; makin lama makin rapat mengepung lawan.

Betapapun Kiau To hendak merebut inisiatip, tapi tetap gagal.

Jalan satu2nya, dia hanya dapat memainkan jwan-pian dengan lebih seru, agar jangan sampai kena diberobosi senjata lawan.

Sekalipun begitu, keadaan tetap genting.

The Go mempunyai pedang pusaka, dia tak jerikan jwan-pian, malah berulang kali sengaja hendak adu senjata.

Kiau To terdesak dalam dua kesukaran menjaga serangan, menghindar bentrokan senjata.

Dia selalu main mundur saja.

Begitu seru pergumulan itu berlangsung, hingga yang tertampak hanya sebuah lingkaran sinar hijau merangsang sinar kuning.

Dalam sekejab saja, mereka sudah bertempur lima enampuluh jurus.

The Go semakin garang, mulutnya tak putus2nya mengejek, sedang Kiau To hanya diam saja.

Sebenarnya saat itu sudah ketahuan kekuatan masing2.

Tapi sebagai seorang jantan, Kiau To pantang menyerah.

Lebih2 dia penasaran sekali karena kekalahan itu tak sewajarnya, hanyalah karena lawan memiliki senjata ampuh saja.

Kembali 3 jurus sudah berlangsung, Kiau To berlaku nekad.

Maju selangkah, begitu mementang tangan kiri, tangan kanannya menghantamkan jwan-pian.

Dia tak menghiraukan lagi pertahanan-nya bagian dadanya terbuka.

The Go bersorak dalam hati.

Tak mau dia menusuk, melainkan membabat jwan-pian orang.

Disini dapat diketahui betapa kecerdikan orang she The itu.

Dia cukup tahu Kiau To itu bukan jago sembarangan, sedikitnya juga mempunyai nama besar didunia persilatan.

Kalau dada sengaja dibuka, tentu disitu ada apa2nya.

Dia kendalikan diri, sembari mundur sembari membabat dulu senjata lawan.

Dan perhitungannya itu tern yata tepat sekali.

Siasat Kiau To telah kena disiasati.

Dalam kedudukan kala itu, tak mungkin Kiau To menarik lagi jwan-piannya dan terpapaslah oleh pedang si The Go hingga kutung menjadi dua, Kiau To makin kalap.

Kutungan tangkai jwan-pian yang dipegangnya itu segera dilingkarkan kebawah untuk menutuk jalan darah peh-hui-hiat dikepala orang.

Tapi The Go lebih cepat lagi.

Ujung pedangnya ditekuk kebawah dan tahu2 Kiau To rasakan pahanya sakit, hingga buru2 dia surut kebelakang.

Kiranya pahanya telah ketusuk, sedang jwan-piannya belum sempat ditutukkan.

"Kiau-heng, mundurlah!"

Ceng Bo siangjin dengan gugup menereaki.

Sedangkan Tio Jiang dengan sebatnya sudah loncat kehadapan Kiau To sembari gerakkan tangannya.

The Go rasakan ada samberan angin yang berat menyerangnya, tapi dengan tertawa dingin dia menyabet tangan orang.

Tio Jiang cepat tarik tangannya, diganti dengan sebuah tendangan kaki kanan kearah siku tangan orang.

GAMBAR 68 Dengan pedang pusaka lawan pedang wasiat, Tio Jiang menggantikan Kiau To menempur The Go dengan senjatanya dalam pertandingan di Ang-hun-kiong itu.

The Go kaget dan ter-sipu2 mundur selangkah.

Diam2 dia merasa heran, mengapa dalam beberapa waktu yang begitu singkat, saingannya itu mencapai kemajuan yang begitu pesat.

Juga Ceng Bo menjadi girang melihat kemajuan sang murid itu.

Dalam dua jurus tadi, walaupun hanya dengan tangan kosong tapi Tio Jiang dapat mendesak mundur lawannya, pedang pusaka yap-kun-kiam dilolos dari sarungnya.

"Jiang-ji, pedang ini untukmu!"

Serunya sembari angsurkan pedang itu kepada Tio Jiang, siapa sangatlah girangnya.

"Terima kasih suhu!"

Pedang dibuat mainan sebentar, lalu berseru.

"Cian-bin Long-kun, hati2lah !"

Itulah watak ksatrya muda dari Lo-hu-san. Dia sangat benci kepada The Go, namun tak mau dia tinggalkan tata kesopanan pertempuran.

"Kita telah saling berjanji, hanya akan adu kepandaian, bukan adu mulut. Kalau mau menyerang, seranglah ! Apa itu 'hati2' sih ?"

Sebaliknya The Go malah mengejek kejujuran orang.

Tio Jiang tak mau berbantah, begitu maju selangkah, ia rangkapkan kedua tangannya kemuka dada macam seorang imam berdoa.

Kemudian pedang diturunkan lalu secepat kilat dikibaskan keatas diimbangi oleh gerak tangan kirinya.

Itulah salah satu jurus dari ilmupedang to-hay-kiam-hwat yang disebut boan-thian-kok-hay.

Sinar pedang yap-kun-kiam beda sedikit dari Kuan-wi-kiam, yalah sinar hijau itu mengandung sedikit warna bianglala.

Tusukan yang diarahkan ketenggorokan The Go itu necis dan berwibawa sekali, karena kedudukan orangnya tegak kokoh.

bagaikan gunung.

Sampaipun The Go sendiri, menjadi terkesiap.

Sambil miringkan kepala, dia gerakkan pedangnya untuk membacok bahu lawan.

Luput menusuk, segera Tio Jiang turunkan pedangnya, trang .....

sepasang pedang saling beradu, deringnya sedemikian gemerencing bening.

Keduanya loncat mundur, untuk memeriksa senjata masing2.

Ternyata sepasang pedang itu sama ampuh, sama kokohnya.

Kini keduanya saling berhadapan lagi.

Anehnya, The Go tidak maju kemuka, tapi malah mundur.

Sedang Tio Jiang tetap tegak laksana sebuah gunung.

Sekalian yang hadir, sama menahan napas untuk menantikan pertempuran itu.

Sedang Ceng Bo diam2 puas akan kemajuan muridnya yang ternyata kini sudah dapat menyingkap intisari dari pelajaran ilmupedang to-hay-kiam-hwat.

Tenang laksana gunung, bergerak laksaria kelinci lincah.

Demikian pokok2 dari ilmupedang itu.

Tak berapa saat kemudian, tiba2 The Go menyerang maju.

Sampai ditengah jalan, pedang baru dimainkan dengan gencar, sehingga tampaknya orangnya telah bersatu kedalam lingkaran sinair pedangnya, Namun.

Tio Jiang hanya mengawasi sembari palangkan pedangnya kemuka, saja, ia masih tegak-tenang.

Kira2 beberapa depa jaraknya dengan Tio Jiang, se-konyong2 The Go hentikan permainan pedangnya secara mengagumkan sekali.

Tio Jiang terkesiap.

Tapi dalam detik itu, The Go sudah lancarkan serangan Chit-sat-kiam-hwat tiga kali ber-turut2, menyerang atas, tengah dan bagian bawah dari orang.

Adalah Yan-chiu sigenit itu yang lagi2 tersentak kaget.

Waktu dalam gebrak permulaan tadi, kedua seteru itu sudah beradu senjata, tahulah ia bahwa mereka bertempur mati2an.

Sudah tentu ia mend yadi kebat kebit juga hatin ya.

Kelima jari tangannya bergiliran digigiti, sedang matanya terpaku ketengah gelanggang.

Kala dilihatnya sdng suko se-olah2 tak menginsyafi akan maut yang dibawakan serangan The Go itu, tanpa terasa ia telah menjerit.

Tio Jiang menangkis keatas, tapi secepat itu pedang The Go sudah beralih menyerang kearah perut, hingga terpaksa Tio Jiang mundur selangkah.

Berbicara tentang nilai kedua ilmu pedang yang -dimiliki oleh kedua anak muda itu dapatlah secara ringkas diterangkan begini.

Dalam hal kebagusannya, Chit-san-kiam-hwat tak dapat menandingi To-hay-kiam-hwat.

Tapi Chit-sat-kiam-hwat itu jauh lebih mudah dipelajari.

Apalagi otak The Go memang cerdas.

Dalam 7 atau 8-hari saja dia sudah hampir seluruhnya mengerti.

To-hay-kiam-hwat hanya terdiri dari 7 jurus.

Sebenarnya baik dalam ilmu silat maupun ilmupedang, makin sedikit jurusnya, makin banyaklah gerak perobahan didalamnya.

Dan disitulah letak intisari yang sukar dipelajari.

To-hay-kiam-hwat dengan ke 7 jurusnya itu mudah dipelajari, yang sukar adalah gerak perobahannya itu.

Apakah serangannya itu kosong atau sesungguhnya, harus disesuaikan dengan keadaan.

Sewaktu masih di Lo-hu-san, Tio Jiang belum pernah bertemu dengan musuh yang tangguh.

Setelah turun gunung, walaupun pernah mengalami berulang kali pertempuran, tapi sebagian besar hanya berhadapan dengan kawanan tentara Ceng yang tak mempunyai kepandaian berarti.

Pertempuran dengan pedang satu lawan satu, baru pertama kali dengan The Go itu.

Sebaliknya The Go sejak kecil boleh dikata sudah berkecimpung didunia persilatan, jadi dia sudah banyak pengalaman berkelahi.

Dengan mundurnya Tio Jiang kebelakang itu, The Go sudah dapat mengambil inisiatip pertempuran.

Kuan-wi-kiam dibolang-balingkan, tahu2 tham-tiong, ji-hiat, ki-kwat, siang wan dan ki-bun, lima buah jalan darah didada Tio Jiang telah diancam akan ditutuk.

Tio Jiang baru saja dapat memperbaiki posisi kakinya, tapi sebelum sempat melancarkan jurus cing-wi-tiam-hay, sudah dirangsang begitu rupa oleh ceceran senjata The Go tadi, hingga terpaksa Tio Jiang putar pedang untuk melindungi dadanya.

The Go menggereng dengan geramnya.

Rangsangannya yang selebat hujan dalam jurus ngo-lo-jay-kiau tadi, hanya dengan perobahan secara mendadak saja Tio Jiang sudah dapat menutup rapat2 dirinya, Dalam kemarahannya itu, tak urung dia kagumi jua kepandaian lawan.

Tapi dia tak mau berhenti sampai disitu saja.

Begitu ber-gerak2, dia sudah melejit kebelakang lawan, disitu tanpa berayal Iagi dia segera menusuk punggung orang.

Tio Jiang tak mau memutar tubuh, karena kalau berbuat begitu tentu kena didahului musuh.

Dia hanya menjerumus kemuka sedikit, sembari hantamkan pedangnya kebelakang melalui sisi pinggangnya.

Kiranya serangan The Go itu walaupun tampaknya biasa saja, tapi sebenarnya mempunyai gerak perobahan yang sukar diduga.

Jurus itu disebut "cong hong poan sat" (berlaku gila pura2 tolol).

Kala itu dia berada dibelakang lawan jadi kedudukannya lebih menguntungkan.

Untuk tabasan kebelakang dari Tio Jiang tadi, sengaja dia menangkis.

Tio Jiang terperanjat dan buru2 kerahkan lwekang kearah pedangnya, sebaliknya tangkisan, The Go tadi hanya suatu pancingan aaja, karena selekas itu juga dia tarik, puIang pedangnya.

Oleh karena tak menyangka musuh berbuat begitu, Tio Jiang tak sempat menarik lwekangnya, hingga dia terjerembab kebelakang.

Jadi keadaannya adalah begini, bukan The Go yang perlu cape2 menusuk tapi Tio Jiang sendiri yang, hendak menjatuhi pedang Iawan !

Menilai, kepandaian mereka berdua, sebenarnya kini Tio Jiang lebih unggul setingkat.

Hanya sayang sebelum dia dapat memperkembangkan permainan pedang To-hay-kiam-hwat, telah didesak begitu rupa oleh lawan.

Sekali ada bagian tubuh yang kena diancam lawan, berarti seluruh tubuhnya kena dikuasai ancaman itu.

Sekali sebuah serangan kena ditindas, maka jurus2 selanjutnya pasti akan dikuasai lawan.

Begitulah dalil2 yang berlaku dalam ilmu silat.

Tahu bakal celaka, buru2 Tio Jiang tekankan ujung kakinya kemuka, lalu ayunkan keras2 tubuhnya kemuka.

Tapi The Go tak mau melepaskan sang korban.

Pedangnya dijujukan kemuka, terpisah hanya dua dim dari punggung orang.

Suatu jarak yang laksana seperti selembar rambut digantungi dengan ribuan kait bahayanya.

Sampai Yan-chiu yang melihatnya, kucurkan keririgat dingin.

Tio Jiang ayunkan tubuhnya sampai setombak kemuka, tapi belum sempat dia membalik tubuh, The Go sudah mengikutinya seperti sesosok bayangan.

Pedangnya tetap mengiring kemana punggung Tio Jiang bergerak.

Tio Jiang tak berdaya membalik badan, juga tak dapat balas menyerang.

Dia rasakan hawa dingin dari pedang kuan-wi-kiam itu ber-putar2 dipunggung.

Tak berani dia berayal, lalu enjot lagi tubuhnya loncat kemuka, tapi The Go tetap membayanginya.

Begitulah dalam gelanggang itu segera terjadi permainan berloncatan saling mengudak.

Lima kali Tio Jiang memutari gelanggang itu, namun tetap tak berdaya untuk menghindari ancaman musuh.

Memang jurus cong-hong-poan-sat yang digunakan The Go itu, lihaynya bukan kepalang.

Seluruh jalan darah berbahaya dipunggung Tio Jiang se-olah2 tercengkeram dalam ancaman ujung pedangnya.

Asal sedikit berayal, habislah riwayat Tio Jiang.

Diantara orang2 yang menyaksikan pertempuran itu, Yan-chiulah yang paling gelisah sendiri.

Diam2 ia sudah siapkan bandringannya dan terus hendak loncat ketengah gelanggang, tapi dicegah oleh suhunya.

Walaupun menurut tapi bibir sigenit menyeringai geram.

Dalam anggapannya terhadap orang macam The Go, mengapa harus berlaku sungkan menetapi tata-susila kaum persilatan.

Dia sih belum cukup menyelami peribadi suhunya.

Ceng Bo siangjin memang senantiasa berpegang pada garis kelurusan.

Jangan sampai dia menyalahi orang, sebaliknya dia lebih suka memaafkan orang.

Inipun berlaku terhadap seorang yang tak kenal kesopanan persilatan macam The Go.

Ketiga orang yang berdiri disebelah sana itu, adalah murid2 Ang Hwat cinjin yaitu ketiga Ang-hun su-mo (4 Iblis dari Ang-hun-kiong), Toa-mo Ciang Tay-bing, Sam-mo Long Tek-san dan Su-mo Im thian-kui.

Melihat bagaimana keangkeran The Go sewaktu memainkan ilmupedang Chit-sat-kiam-hwat itu, bukannya mereka bertiga menjadi girang tapi sebaliknya malah mendongkol.

Toa-mo Ciang Tay-bing paling kentara perasaannya, karena mimik wajahnya mengunjuk kemarahan besar.

Tapi oleh karena tak mengetahui persoalannya, maka rombongan fihak Ceng Bo hanya menganggap mereka bertiga itu separtai dengan The Go, jadi tentunya turut perihatin akan kemenangan The Go.

Beberapa kali, gagal untuk melepaskan diri itu, tiba2 Tio Jiang memaki dirinya sendiri yang sudah berlaku begitu goblok itu.

Mengapa dia hanya terus menerus loncat kemuka saja......

ya...., mengapa tak mau loncat kesamping?

Bukantah dia mengerti juga akan ilmusilat hong-cu-may-ciu (sigila menjual arak), itu ilmu pusaaka dari kaum Ang-hun-kiong ?

Mengapa dia tak menggunakannya ?

Secepat mendapat keputusan, setelah loncat lagi sekali kemuka, dia terus miringkan tubuhnya kesamping, dari situ lalu buang dirinya.

kemuka.

Begitu tangannya kiri dibuat menekan tanah, sepasang kakinya bergerak dalam ilmu tendangan wan-yang-lian-thui, menjejak kaki The Go.

The Go kaget juga, lalu buru2 papaskan pedangnya kebawah untuk menyambut tendangan orang, tapi kali Ini dia tertipu.

Tendangan Tio Jiang tadi hanya ancaman kosong, begitu dilihatnya pedang musuh menurun, dia tekankan tangannya kiri.

keras2 pada tanah dan sepasang kakinya segera melayang keatas lalu berjumpalitan kebelakang, terus berdiri tegak berhadapan muka dengan lawan.

Disebelah sana terdengarlah siulan kagum dari ketiga sam-mo Ang-hun-kiong, disebelah sini terdengar helaan napas longgar dari rombongan Ceng Bo, bahkan Yan-chiu malah bertepuk tangan seraya berseru memuji kepandaian yang diunjuk oleh sukonya itu.

Tapi Tio Jiang tak sempat menghiraukan segala sorak pujian itu.

Begitu terlepas dari ancaman, begitu pedangnya sudah bergerak dalam jurus "Tio Ik cu hay", dan sebelum lawan menangkis dia sudah robah gerakannya, dalam jurus boan-thian-kok-hay.

Sekali gerak, dua buah serangan susul menyusul, sehingga dari menyerang kini The Go ber-balik diserang tanpa mempunyai kesempatan untuk balas menyerang lagi.

Tio Jiang tak mau memberi hati.

Ceng-wi-tiam-hay dan Ho-pak-kuan-hay, susul menyusul dirangsangkan pada musuh.

Keistimewaan daripada, ilmupedang To-hay-kiam-hwat yalah jurus yang menyusul selalu lebih hebat dari, jurus yang dimukanya.

Sempat memperkembangkan permainan ilmupedang ajaran sang suhu, Tio Jiang susuli lagi dengan jurus hay-siang-tiau-go, ujung pedang membacok kaki lawan tapi se-konyong2 dihentikan.

The Go mengira terbuka lubang kesempatan, kuan-wi-kiam hendak dijungkatkan ke-atas.

Tapi ternyata berhentinya gerak Tio Jiang tadi hanya dalam sekejapan mata saja.

Belum The Go sempat menggerakkah pedangnya, Tio Jiang sudah menusuk tenggorokannya.

Dalam kagetnya, dengan gugup The Go mendak kebawah, srat ......yap-kun-kiam Tio Jiang telah menusuk kain kepala The Go hingga berlubang besar.

Tio Jiang jungkatkan ujung pedangnya keatas hingga kain kepala lawan terjumput lepas, lalu lanjutkan dengan jurus hay-li-long-huan.

Disinilah Tio Jiang membuat blunder (kesalahan besar).

Dengan jurus hay-li-long-huan yang sedianya hendak dipapaskan kerusuk lawan itu, terpaksa Tio Jiang harus berhenti setengah jalan, karena pedangnya harus memakan sedikit waktu untuk melingkar turun, The Go sudah loncat kebelakang untuk menghindar.

Andaikata Tio Jiang tadi gunakan jurus hay-lwe-sip-ciu untuk memotong turun, dapat dipastikan The Go akan sudah terbelah kepalanya atau bahunya.

Walaupun mengucurkan keringat dingin, namun The Go dapat lolos dari maut.

Melihat musuh loncat kebelakang, Tio Jiang tak mau mengejar.

Lagi2 jago muda dari Lo-hu-san itu unjuk sifat ksatryaannya.

Lupa sudah dia bahwa tadi musuh telah berlaku begitu ganas, meng-ubar2 punggungnya.

"Biarkan dia mengambil napas, merebut kemenangan secara jujur adalah lebih ksatrya,"

Demikian pikirnya.

Sebaliknya The Go girang karena musuh tak mengejar.

Tangannya meraba kebelakang lehernya dan mencabut sebatang bambu kira2 satu meter panjangnya.

Kalau Tio Jiang tak mengerti gerak gerik orang, adalah Yan-chiu dan Kui-ing-cu dengan segera dapat mengetahuinya.

"Ceng-ong-sin!"

Teriak sigenit. Tio Jiang terkesiap, heran dia mengapa ceng-ong-sin sampai jatuh ketangan The Go.

"Siaoko, hebat nian ilmupedangmu itu, mari maju lagi lah!"

Seru The Go dengan mengejek riang.

"Baik,"

Sahut Tio Jiang.

Tapi baru mulutnya mengucap begitu, tiba2 terdengar suara angin men-deru2, menyusul ada 3 sosok tubuh lewat ditempat situ.

terus masuk kedalam gereja.

Yang dimuka sendiri mengenakan pakaian jubah imam berwarna merah, gerakannya pesat laksana sebuah bola api ditiup angin.

Dua orang yang mengikuti, walaupun tak selihay yang dimuka tadi, tapi juga tak lemah ilmunya.

Mereka berdua mengenakan pakaian yang aneh coraknya, bukan jenis paderi bukan macam imam.

Tio Jiang berpaling mengawasi kearah suhunya dan Kui-ing-cu.

Tampak kedua tokoh itu berkerut kening, se-olah2 ada peristiwa genting.

Sebaliknya ketika mengawasi kemuka, dilihatnya The Go tertawa ber-seri2.

Tak berapa lama kemudian, kembali ada 3 orang yang naik kepuncak situ.

Tio Jiang kenal mereka sebagai sam-tianglo dari gereja Ci-hun-si di Lam-kun-san, yalah To Ceng, To Kong dan To Bu hweshio.

Ketiga hweshio itu deliki mata kearah Ceng Bo dan Ko Thay.

Rupanya mereka masih mendendam akan peristiwa ditengah sungai itu.

Kedatangan ketiga hweshio itu segera disambut oleh Ang-hun sam-mo yang mengantar mereka masuk kedalam gereja.

Tak berapa lama, tampak Toa-mo Ciang Tay-bing keluar lagi dan berkata kepada The Go.

"Go-tit, sucou titahkan supaya pertempuran ini dihentikan dahulu, karena dia orang tua ada omongan penting padamu !"

The Go mengiakan, sembari masukkan bumbung bambu kedalam leher baju, dia memberi hormat kepada rombongan tetamu seraya berkata.

"Harap jangan pergi dulu, sebentar lagi siaoya akan datang lagi untuk menyelesaikan pertempuran ini!"

Tio Jiang terlalu jujur untuk balas mengejek.

Sedangkan Ceng Bo dan Ko Thay, tetap mau pegang gengsinya, jadi mereka pun tak mau mengurusi soal kecil itu, dan melainkan hanya tertawa dingin saja.

Hanya si Bongkok Ih Liok dan Kui-ing-cu yang tak mau tinggal diam untuk menyemprot The Go, serunya.

"Kami tak pergi, tapi kaupun jangan ngacir!"

Dan tanpa ajak2an lebih dahulu, kedua tokoh kukway itu segera enjot tubuhnya loncat kemuka.

Yang satu dari sebelah kiri dan yang lain dari sebelah kanan, dan sama ulurkan tangan untuk mencengkeram The Go.

The Go pernah rasakan tangan si Bongkok, maka dia sesali mulutnya tadi yang sudah begitu lancang, hingga sampai menimbulkan kemarahan kedua tokoh lihay itu.

Sekalipun Ang Hwat cinjin nanti keluar, dia tentu akan sudah disiksa oleh kedua momok itu.

Maka seperti diuber setan, dia bolang balingkan pedangnya, lari tunggang langgang kedalam gereja.

Tiba diambang pintu, didengarnya dari arah belakang ada, suara orang ketawa ter-bahak2.

Ketika dia beranikan diri berpaling, mendongkolnya bukan alang kepalang.

Kiranya cengkeram Kui-ing-cu dan si Bongkok tadi, hanya ancaman kosong belaka.

Nyatanya kini mereka masih berdiri tegak ditempat masing2 sembari tekan perutnya karena geli melihat The Go lari ter-kencing2.

Lebih2 sigenit Yan-chiu.

Saking gelinya tubuh nona itu sampai ter-huyung2 maju mundur.

Sembari menekan perut, ia berseru mengejek.

"Cian-bin Long-kun, hebat sekali ilmu mengentengi tubuhmu sekarang ini ya!"

The Go meringis geram.

"Awas, nanti tentu kuhajar kau setengah mampus,"

Pikirnya sembari rnelangkah masuk kedalam. Sebaliknya dengan masih tertawa, Yan-chiu kedengaran mengomeli sang suko.

"Suko, mengapa terang2an tadi kau mempunyai kesempatan untuk menghajarnya, tapi membiarkan dia lari begitu saja ?"

Belum Tio Jiang menyahut, Kui-ing-cu sudah mendahului.

"Siaoko sih orangnya jujur, tidak seperti kau budak perempuan yang segenit itu, segala apa tiada takut !"

Yan-chiu mengunjukkan "muka setan"

Kepada tokoh aneh itu, siapa hanya menyeringai saja, karena merasa diapun serasi perangainya dengan anak perempuan itu.

"Persoalan hari ini, berkembang begini jauh, tidak melulu berkisar pada diri The Go seorang. Bek-heng dan Kui-heng serta Ko enghiong karena menolong Sik Lo-sam, kini masih belum pulih dari kehilangan tenaga. Tay Siang Siansu belum dapat diketemukan, sedang kaki tangan pemerintah Ceng sudah berkumpul disini. Rasanya kita bakal menghadapi kesukaran besar nanti!"

Akhirnya si Bongkok berkata.

Tio Jiang seperti diguyur air dingin waktu, mendengar ucapan itu.

Bukantah Li Seng Tong sudah berpaling haluan melawan pemerintah Ceng, hingga didaerah Kwitang sini tiada terdapat pengaruh Ceng, lagi, tapi mengapa masih ada kaki tangan mereka ?

Sungguh Tio Jiang tak habis mengerti persoalannya.

Adalah Kiau To yang ternyata tak terluka berat itu, segera menyatakan pendapatnya.

"Bek-heng, turut pendapatku, lebih baik aku turun gunung mencari suhuku. Kalau tak berhasil menjumpainya, aku hendak menuju ke Kwiciu untuk meminta agar Li Seng Tong suka mengirimkan pasukan kemari!" (Oo-dwkz-TAH-oO) BAGIAN 37 . PERJAMUAN DARAH "Ah, Kiau-heng,"

Kedengaran Ceng Bo menghela napas.

"sebenarnya Li Seng Tong bersungguh hati tinggalkan Ceng untuk mengabdi pada Beng. Tapi kerajaan Beng sudah tak mau mempercayainya dan siang2 telah mengirimnya kedaerah utara untuk menghadapi pasukan Ceng. Percuma saja mencarinya di Kwiciu!"

Saking gusarnya, Kiau To sampai tak dapat ber-kata2. Sebaliknya si Bongkok nyatakan keheranannya.

"Ah, makanya pemerintah Ceng gerakkan kawanan kaki tangannya secara besar2an untuk menumpas kita beberapa gelintir manusia ini. Kiranya mereka tak memandang mata pada kaisar Ing-lek itu !"

"Sudah tentu tak terbatas pada kita beberapa orang ini saja. Para pahlawan dari segala aliran didunia persilatan, sama menaruh sympati dan menunjang Ki dan Kiau-heng untuk membentuk Thian-te-hui lagi. Maka dalam beberapa hari lagi, kawanan kaki tangan Ceng itu tentu akan tiba kemari. Ah, sayang Ang Hwat cinjin itu. Disebabkan karena turuti hawa nafsu ingin menang dalam urusan The Go ini, maka dia telah diperalat oleh kaki tangan pemerintah Ceng itu!"

Kata Ceng Bo. Ki Ce-tiong yang sedari tadi diam saja, kini turut mengeluarkan suara.

"Bek-heng, turut pendapatku yang cupat, kita lebih baik tinggalkan tempat ini saja dulu. Kelak kalau kita sudah berhasil menghimpun kekuatan, kita datang kesini lagi !"

"Ki lotoa, dengan-ngacir secara begitu, entah dikemudian hari apa kita masih ada muka bertemu orang lagi ?"

Si Bongkok menyanggah.

Ki Ce-tiong menghela napas, tak mau berbantah lagi.

Kini baru tahulah Tio Jiang sebab2nya mengapa tadi wajah suhu dan para cianpwe itu sama mengunjuk kegelisahan.

Tapi dia masih tetap tak mengerti mengapa harus jerikan kekuatan fihak Ang-hun-kiong yang masih mendapat tambahan seorang dua tenaga bantuan itu?

Maka dia beranikan diri bertanya.

"Siapakah dua kaki tangan yang dikirim kemari oleh pemerintah Ceng itu ?"

"Itulah yang tadi masuk kedalam gereja bersama Ang Hwat cinjin! Kabarnya mereka berdua adalah benggolan besar dari daerah utara, sepasang suami isteri. Kalau bertempur mereka merupakan pasangan tunggal, mahir dalam ilmu lwekang jit-gwat-im-yang-kang, saktinya bukan main"

Baru Kui-ing-cu menerangkan sampai disitu, Ko Thay sudah menyela.

"Apakah bukan yang digelari "Swat Bwe Hwat Siau (hantu salju siluman api ) berdua itu ?"

"Benar, apakah Ko-heng pernah juga mendengar nama mereka ?"

Tanya Kui-ing-cu. Ko Thay mengertak gigi, ujarnya.

"Susiok-ku ketika di Hopak telah binasa ditangan mereka. Jadi aku mempunyai dendam kaum-perguruan pada mereka !"

Ketika rombongan orang gagah itu sedang berunding, Toa-mo Ciang Tay-bing kembali keluar dan mempersilahkan tetamunya.

"Suhu mengundang para tetamu sekalian supaya masuk kedalam. Oleh karena kebetulan saat ini kami sedang kedatangan tetamu lainnya, terpaksa pertandingan dipertangguhkan sampai besok. Apabila sekalian tak memandang rendah, sudilah beristirahat kedalam."

"Jangan terkena tipu muslihat!"

Cepat Kui-ing-cu menukas. Sudah tentu sekalian orang sama terkesiap dan menanyakan keterangan. Kui-ing-cu menerangkan lebih lanjut.

"Konon kabarnya didalam Ang-hun-kiong itu banyak sekali dipasangi alat2 jebakan. Boleh dikata setiap ruangan, merupakan semacam barisan "seng si hui beng tin" (barisan mati hidup gelap-terang), yang lihaynya bukan kepalang. Sekali masuk kita tentu terlibat dalam kesukaran !". Yan-chiu ketarik, sedangkan Kiau To segera berkata.

"Kalau tak memasuki sarang harimau, bagaimana dapat memperolen anak harimau?"

"Kiau-loji, lakukanlah rencanamu, tadi. Kalau dapat menemukan Tay Siang Siansu itulah paling baik. Kalau tidak, minta pada Li Seng Tong supaya mengirim tentara kemari, juga baik!"

Kata Kui-ing cu. Ceng Bo siangjinpun menyetujui, maka Kiau Topun mengiakan.

"Apakah kalian memang tak suka masuk kedalam ?"

Rupanya Toa-mo Ciang Tay-bing tak sabar lagi. Kui-ing-cu mendongkol dan menyemprotnya.

"Siaocu (anak kecil), kau mau jual lagak ? Kami masih hendak tunggu beberapa sahabat yang belum datang!"

Ciang Ta-bing mendongok tertawa keras.

Dia sudah berusia 50-an tahun.

Wajahnya keren, didalam Ang-hun-kiong selain Ang Hwat cinjin sendiri, dialah orang nomor dua.

Nada ketawanya tadi, mengunjuk bahwa ilmunya cukup tinggi.

Habis ketawa, dia berkata.

"Oh, kiranya hanya-hohan palsu, enghiong gadungan. Sampai ditempat ini, masuk saja tidak berani, ha...., ha...., ha...., orang bisa mati karena geli!"

Ejekan itu keliwat takeran.

Sekalipun golongan pou-sat (dewa) tak nanti tahan mendengar itu.

Sekali enjot kakinya, Ko Thay melayang kemuka, berbareng itu Kui-ing-cu dan si Bongkokpun dengan gunakan ilmu mengentengi tubuh, tahu2 sudah meluncur maju.

Tio Jiang dan Yan-chiu juga tak mau ketinggalan menyusul.

Hanyalah Ceng Bo dan Ki Ce Tiong yang melangkah masuk kedalam gereja dengan ayunan kakinya.

Sementara Mau To, begitu tadi telah mendapat persetujuan orang banyak, sudah turun gunung.

Berkat ejekan tawa Ciang Tay-bing, ketujuh orang gagah itu menobros masuk kedalam halaman gereja.

Tekad mereka, sekalipun memasuki sarang harimau, kubangan naga, mereka tetap tak gentar.

Setiba diambang pintu, mereka berhenti sejenak kemudian terus hendak melangkah masuk.

Se-konyong2 dari arah belakang terdengar sebuah lengking makian yang nyaring sekali .

"Minggir ! Mengapa berkerumun didepan pintu ?"

Ceng Bo lah yang terlebih dahulu berpaling kebelakang dan .

"Hong-moay, kau juga turut kemari ?"

Katanya dengan kaget demi dilihatnya sang isterilah yang berseru itu.

Tapi rupanya Kang Siang Yan tak mau menghiraukannya.

Selebar mukanya penuh dengan hawa kemurkaan.

Semua orang gagah tahu betapa eksentrik adat wanita aneh itu.

Mereka tak berani buka suara menanyakan.

Sepasang biji mata Kiang Siang Yan menyoroti ke-orang2 itu, lalu tiba2 menuding kearah Ciang Tay-bing, serunya.

"Apakah kau ini orang Ang-hun-kiong? Dimana Ang Hwat loto dan The Go?"

Ciang Tay-bing tak kenal siapa Kiang Siang Yan itu. Datang2 terus mendamprat begitu kasar menyebut Suhunya sebagai "Ang Hwat loto (iman tua bangka)"

Sudah tentu dia sangat marah. Dia juga seorang yang mabuk kehormatan, kecuali terhadap Ang Hwat cinjin, tiada lain orang yang diindahkan.

"Perempuan busuk, kau ngoceh......."

Belum ucapan itu diselesaikan dengan kata "apa", Kiang Siang Yan sudah ayunkan tangannya, tar.......

tahu2 Ciang Tay-bing rasakan selebar wajahnya geriming2 panas sekali.

Itu saja Kiang Siang Yan hanya ringan2 saja menampar, tidak gunakan pukulan thay-im-ciang.

Sekalipun begitu, Ciang Tay-bing, sudah tak tahan, separoh mukanya degap, mulutnya serasa mengunyah sesuatu benda dan ketika dimuntahkan, kiranya dua buah gigi mukanya, telah copot !

Toa-mo atau Iblis kesatu dari Ang-hun-kiong itu ganas dan kejam.

Menderita kesakitan semacam itu, sudah tentu dia seperti kerangsokan setan.

Tangan diangkat akan diayun, tiba2 terdengar seruan The Go.

"Supeh, tahan dulu, orang sendiri !"

Sembari berseru, The Go ber-lari2 menghampiri Kiang Siang Yan dan menjura dihadapannya secara khidmat sekali seraya, berkata.

"Gak-bo (mertua perempuan) yang mulia, siao-say (menantu menghaturkan sembah !"

Sehabis melakukan upacara itu, dengan serta The Go memegang tangan Bek Lian, dengan ter-iba2 mencumbu rayu, berkatalah dia .

"Lian-moay, oh kau pun datang. Aku tahu bahwa gakbo tentu dapat menolongmu dari sarang macan, sungguh hampir mati aku memikirkan dirimu !"

Bagaikan tersapu angin, awan "kesangsian yang merundung hati Bek Lian, seketika lenyap.

Lupa sudah bagaimana ia mengalami pederitaan selama pergi dari Thiat nia (tempat kediaman suku Thiat-theng-biau) itu, tanpa menghiraukan sekian banyak orang yang hadir disitu, pecahlah tangisnya ketika ia lari jatuhkan diri kedalam pelukan The Go.

"Lian-ji, bukankah kau mengatakan kalau dia itu kau curigai ?"

Tanya Kang Siang Yan. Tapi bagaikan musafir di padang pasir yang dirangsang dahaga, ia telah dapat menemukan "sumber air"

Didalam rayuan si Cian-bin Long-kun. Hilang lenyap semua kesangsian terhadap sang kekasih yang "bergas"

Itu.

"Ma, itulah karena aku dipengaruhi oleh orang2 yang membencinya. Nyata2 engkoh Go bukan orang semacam begitu !"

Kata Bek Lian. Diam2 The Go bercekat dalam hati. Dia cukup tahu, kunci "kemenangannya", terletak pada Bek Lian, maka dengan membawa sikap terkejut, dia bertanya.

"Lian-moay, kau sangsikan aku dalam soal apa ? Siapakah yang 'memancing di-air keruh' dalam peristiwa yang kita, alami itu ?"

"Ada orang mengatakan, kau telah tukarkan Lian-ji dengan pedang kuan-wi-kiam pada suku Thiat-theng-biau digunung Sip-ban-tay-ban, benarkah itu ?"

Tanya Kiang Siang Yan. Jantung The Go bergoncang keras, tapi wajahnya tetap membawa ketenangan yang mengagumkan. Dengan tertawa gelak2, dia menjawab lantang2.

"Hatiku terhadap Lian-ji, hanya Tuhan yang tahu. Kalau ada sedikit perasaanku yang nyeleweng, biarlah aku, binasa hancur lebur didasar lembah yang dalam dengan tak menginjak bumi!"

Mendengar orang telah mengucapkan sumpah yang sedemikian beratnya, Kiang-Siang Yan percaya.

Mana dia tahu akan kelicinan sang menantu yang manis itu ?

Jatuh binasa didasar lembah tanpa menginjak bumi, sungguh mustahil akan terjadi !

Tapi anehnya semua orang yang hadir disitu, tiada yang dapat memikir dalam2 akan "sumpah istimewa"

Dari The Go itu.

Kui-ing-cu, Tio Jiang dan Yari-chiu saking gusarnya menampak ketengikan The Go, sampai tak dapat mengucap apa2.

Lebih2 Ceng Bo siangjin, wajahnya berobah keren.

Dengan menerima hormat-sembah dari The Go tadi berarti secara de facto isterinya menerima The Go sebagai menantu, Ko Thaypun diam.

The Go cukup menginsyafi kalau Kiang Siang Yan terlalu lama dibiarkan berkumpul dengan fihak lawan, tentu terjadi sesuatu yang tak menguntungkan dirinya.

"Gak-bo, siaosay telah menyimpan kuan-wi-kiam itu yang hendak kuserahkan pada gak-bo. Sucou sedang menerima dua orang tetamu yang ternama, silahkan gak-bo beristirahat didalam, biarlah siao-say mendapat kesempatan untuk melayani gak-bo !"

Sejak perangai Kiang Siang Yan berobah aneh, dia mudah diselomoti orang.

Disuguhi permainan dari seorang aktor besar macam The Go, dia menjadi terpikat.

Ia masih mendendam untuk hantaman sam-ciat-kun dari Sik Lo-sam yang mengenai kakinya itu, hingga untuk luka tersebut ia harus beristirahat sampai beberapa hari.

Tampak sang suami berada dengan orang yang dibencinya itu (Kui-ing-cu), ia menjadi kurang senang.

Tanpa menghiraukan kecintaan suami isteri lagi, Kiang Siang Yan ikut mengikuti The Go masuk kedalam.

Dengan adanya peristiwa itu, fihak Ceng Bo siangjin dan kawan2 bertambah berat bebannya.

Sebenarnya Ciang Tay-bing mendongkol sekali terhadap The Go yang sudah tak memandang mata terhadap dirinya itu.

Tapi dia tak berani melanggar perentah Ang Hwat cinjin, lalu ajak ketujuh tetamunya itu kedalam sebuah rumah yang terletak disamping.

"Disinilah tempat ruangan para tetamu yang terhormat, sebaiknya jangan melarikan diri!"

"Lekas bikin rata mukamu yang benjal-benjul itu, jangan urusi yang tidak2!"

Sahut Kui-ing-cu.

Sudah tentu Ciang Tay-bing segera angkat kaki dengan ke-malu2an.

Tadi Yan-chiu mendengarkan keterangan Kui-ing-cu bahwa gereja Ang-hun-kiong itu diatur menurut barisan seng-si hui-beng-tin yang lihay, maka sewaktu masuk, Yan-chiu telah memperhatikan dengan seksama keadaan dalam gereja ini.

la masih ingat akan keterangan kedua to-thong Kuan hong dan Wan Gwat bahwa setelah tiba pada tiang kuning dan membiluk tentu akan sampai keruangan besar.

Yan-chiu mendengarkan keterangan Kul-ing-cu bahwa gereja Ang-hun-kiong itu diatur menurut barisan seng-si hui-beng-tin yang lihay, maka sewaktu masuk, Yan-chiu telah memperhatikan dengan seksama keadaan dalam gereja ltu.

Ia masih ingat akan keterangan kedua to-thong Kuan Hong dan Wan Gwat bahwa setelah tiba pada tiang kuningan dan membiluk tentu akan sampai keruangan besar.

Tapi ia segera menjadi terkejut kerna diantara ke 10 tiang digereja situ, tidak ada sebuahpun yang terbuat dari pada kuningan.

Kesemuanya bercat merah.

Diam2 ia menarik kesimpulan, jangan2 fihak Ang-hun-kiong telah mengetahui perbuatan kedua to-thong itu dan lalu mencat kedua tiang kuningan itu dengan warna merah juga.

Jadi percuma sajalah informasi (keterangan) yang diperolehnya dulu itu.

Rumah atau pavilyun untuk tetamu itu, terdiri dart 3 ruangan, perabotannya serba bagus.

Meja dan kursi terbuat daripada kayu puhun li.

Tak antara berapa lama, datanglah seorang to-thong kecil untuk melayani tetamu2 itu.

Yan-chiu buru2 mencekal to-thong itu dan menanyainya.

"Kuang Hong dan Wan Gwat berdua itu, sekarang berada dimana?"

Si to-thong tak menyahut. Orang2 sama heran dan menanyakan siapakah Kuan Hong dan Wan Gwat itu.

"Tempo aku masuk kegereja ini, aku telah berjumpa dengan kedua to thong itu!"

Sahut Yan-chiu. Tio Jiang terkejut dan buru2 menepis.

"Jadi kau pernah datang kemari?"

"Ya,"

Sahut Yan-chiu Ke-bangga2an.

"seorang diri!"

Ia lalu menceritakan pengalamannya tempo hari.

Dan sejak lobs dari gereja itu, ia tak berani bikin onar lagi.

Tak berapa hari kemudian, Ceng Bo dan Ko Thay tiba, kemudian tanggal 5 bulan 5 sore, baru Kisau To, Thaysan sin-tho Ih Liok dan Ki Ce-tiong muncul.

Kala itu Ki Ce-tiong bertanya pada Ceng Bo apakah Siangjin itu mengetahui bahwa kawanan kaki tangan pemerintah Ceng telah datang digereja Ang-hun-kiong untuk menggabungkan diri dengan Ang Hwat cinjin dan sam-tianglo dari Ci-hun-si.

Ceng Bo yang kesamplokan dengan ketiga tianglo Cihun-si, disungai tempo hari, percayan akan berita yang dibawa oleh Ki Ce-tiong itu.

Mengingat bahwa didalam flhaknya, dia sendiri, Kui-ing-cu dan Ko Thay, telah kehilangan banak tenaga lwekang karena menolong Sik Lo-sam, maka dia kemukakan hendaknya dalam pertempuran besok harus berlaku hati2.

Setelah hari pertempuran Itu, akan ada lagi kaum hohan sahabat persilatan yang menggabungkan diri.

Mereka adalah pejuang2 yang anti penjajah Ceng.

Karena inilah, maka fihak pemerintah Ceng telah mengirim benggolan2 kaki tangan untuk menumpas kawanan orang gagah anti penjajah itu.

Begitulah keesokan harinya, mereka bertujuh naik ke Ko-to-san.

Tiba digereja Ang-hun-kiong, matahari baru saja naik.

Dimuka pintu gereja itu tampak ada 4 orang sudah menunggu.

Yang dimuka sendiri, ternyata adalah The Go.

Mata sekalian orang menjadi merah melihat penghianat licin itu.

Sekali enjot, si Bongkok Thaysan sin-tho sudah melesat maju seraya menghantam.

The Go menghindar kesamping, sedang salah seorang dari 3 kawannya yang berada dibelakangnya, yakni yang bertubuh gemuk pendek, terus akanmaju.

"Ih-heng, tahan dulu!"

Ceng Bo Siangjin yang tak ingin melihat kegaduhan buru2 mencegahnya. Mendengar Itu The Go tertawa dingin, serunya mengejek.

"Ceng Bo Siangjin ternyata masih menjunjung tatasusila persilatan, tak seperti itu bangsa bebodoran dunia persilatan!"

Ucapan itu telah membuat si Bongkok mengeluarkan hawa uap di-umbun2 kepalanya, tapi Kiau To sudah menghadang dimukanya.

"Ih-heng, jangan turuti hawa amarah. Ang Hwat cinjin masih belum keluar. Mereka diperkuat oleh kawanan kaki tangan pemerintah Ceng. Kalau sekarang belum2 sudah kena dipropokasi, kita akan rugi!"

Katanya.

Si Bongkok terpaksa tahan hatinya dan melainkan deliki matanya kepada The Go.

Kemaren malam The Go telah diberitahukan oleh sucounya tentang kekuatan masing2 pihak, jadi dia tahu kalau fihak Ang-hun-kiong akan mendapat tambahan dua tenaga yang tangguh.

Sekalipun dia belum mengetahui akan kelemahan Ceng Bo Siangjin, Kui-ing-cu dan Ko Thay bertiga disebabkan menolong Sik Lo-sam itu, namun dia sudah yakin kemenangan tentu berada difihaknya.

Jadi dia kini umbar kecongkakannya.

"Kalau Thaysan sin-tho masih penasaran, baiklah kita berdua main2 beberapa juruse dulu!"

Dia tantang si Bongkok.

Sampat disini, seluruh anggauta rombongan Ceng Bo tak dapat mengendalikan kesabarannya lagi.

Walaupun dalam rombongannya, Ceng Bo bukan terhitung yang paling lihay sendiri, namun dia adalah seorang lelaki jantan yang penuh dengan sifat2 kesatryaan, jadi dengan sendirinya se-olah2 dia itu menjadi pemimpin rombongannya.

Maju selangkah dia membentak dengan bengis.

"The Go, kau mau berlagak ya?"

Nada seruan Siangjin itu sangat berwihawa.

Tapi kali ini ibarat seekor ikan dalam air, The Go tak jeri berulang kali dia menerlma pil pahit dan bahkan dua.

kali hampir dibunuh oleh siangjin itu, maka kali ini dia hendak tumpahkan dendamnya.

Dengan mendongak tertawa ter-bahak2 dia menuding kearah ketiga orang yang berada dibelakang seraya berseru.

"Ceng Bo Siangjin, sam-wi (bertiga orang) ini adalah Susiok dan supehku, orang menggelari tiga serangkai dari Hong-hun su-mo. Sucou kebenaran masih mempunyai urusan, jadi belum dapat keluar. Mau berkelahi sekarang apa masih tunggu bantuan lagi, bilanglah yang tegas. Atau kalau mau adu suara besar pun boleh!"

Wajah Ceng Bo berobah keren, tapi dia tetap mempertahankan gengsitnya.

Dihadapan Hong-hun su-mo itu, tak mau dia adu lidah dengan The Go.

Maka sembari memberi salam kepada ketiga imam Ang-hun-kiong itu dia betrkata.

"Lama sudah aku mendengar nama besar dari su-mo. Leng-su (gurumu) sedang mempunyai urusan lain belum dapat keluar, sehingga memberi kesempatan pada bangsa siaojin (orang rendah) untuk mengubar kecangkakan, sungguh harus disayangkan karena hal itu merugikan kebesaran nama Ang-hun-kiong!"

Dalam kebatinan mereka bertigapun tak puas dengan The Go.

Tapi oleh karena sutit (keponakan murid).

itu telah dlmanjakan oleh Ang Hwat cinjin dengan pelajaran yang sakti, jadi mereka tak betani berbuat apa2.

Mendengar itu yapan Ceng Bo Siangjin itu, tanpa merasa mereka telah nyatakan suara hatinya.

"Ya, benar!"

Tapi baru saja mengucap begitu mereka sudah insyaf akan kesalahan lidahnya dan buru2 menyusuli kata2.

"suhu kami sedang turun gunung untuk menyambut kedatangan dua orang sehabat, tapi hari ini akan sudah pulang!"

Mendengar jawaban pertama dari ketiga supehnya itu, The Go murka sekali.

Namun lahirnya, dia tak mengunjuk Perubahan air muka.

Ceng Bo anggap pertandingan boleh segera dilangsungkan, maka dia segera memberi isyarat kepada Kiau To, siapa tanpa berayal lagi segera tampil kemuka dan berseru.

"Pertempuran hari ini, kaulah yang menantangnya. Hendaknya jangaen kau melarikan diri nanti"

Habis berkata Itu, Kiau To kibaskan jwan-pian lurus kemuka.

Melangkah beberapa tindak kesamping, dia berputar tubuh sembari ayunkan jwan-piannya keatas itulah jurus pembukaan dari ilmu ruyung Liok-kin-pian-hwat.

Gayanya memang lain dari yang lain.

Sebaliknya The Go malah tertawa keras dan berseru.

"Empat penjuru dari Anghun-kiong sini tiada dapat menyembunyikan orang, berlainan dengan puncak Giok-li-nia di Lo-hu-san. Hati2lah, Kiau-loji!"

Dengan ucapan itu The Go hendak menyindir Iawan, yang setengah tahun yang lalu telah berhasil menjatuhkan dirinya (The Go) dl Lo-hu-san berkat adanya bantuan orang orang lain (Tio Jiang).

Meskipun Kiau To murka, tapi dia cukup tahu bahwa pertempuran hari itu jiwa pertaruhannya.

Siapa yang kena dibikin panas, tenaga murninya akan buyar, akibatnya tentu akan kalah.

Oleh karena itu, tak mau adu mulut lagi.

Dengan kerahkan seluruh tenaganya, dia beberapa kali mengibaskan jwan-piannya.

The Go tenang2 saja sikapnya.

Maju selangkah, tangannya mencabut kearah punggung dan sring ..........

bagaikan ringkikan naga, sebuah pedang pusaka yang memancarkan sinar ke-hijauaan tampak berada didalam tangannya.

Munculnya senjata itu, telah membuat Ceng Bo siangjin terkeslap melongo.

Juga Kian Topun bercekat.

Rupanya The Go tahu akan perasaan fihak lawan, maka dengan tertawa dingin dia segera ber-putar2 dua kali lingkaran.

Sedang Kiau To memakukan pandangan matanya kearah gerak gerik lawan.

Adalah pada saast itulah tadi, Tio Jiang tiba disitu.

Ketiga sosok orang yang secepat angin lewat digelanggeng situ terus masuk kedalam gereja adalah Ang Hwat dan sepasang suami isteri Swat-bwe Hwat-Sisu.

Menyusul dengan itu ketiga tianglo dari Ci-hun-si.

Demikianlah kejadian2 sebelum Tio Jiang datang kepuncak Ko-to-san situ.

Bagaiamana achirnya pertempuran itu, telah kami tuturkan disebelah atas tadi.

--oodwkz0TAHoo--Sekarang marilah kita ikuti lagi perkembangan ketika Ceng Bo dan kawan2 beristirahat dalam ruangan gereja Ang-hun-kiong yang chusus disediakan untuk para tetamu.

Disitu mereka sangat perihatin.

Menilik perkembangannya, terang keadaan sudah tak menguntungkan bagi fihaknya.

Ketambahan lagi kini rupanya Kiang Slang Yan telah terpikat dalam perangkap dan persentasinya tentu membantu fihak The Go.

Jadi dalam pertempuran nanti fihak Ceng Bo dan kawan2 itu tentu kalah.

Kalau semua orang berdiam diri karena perihatin, adalah Yan-chiu sendiri yang tetap dengan kelincahannya.

Ia selalu.

menatapkan pandangan matanya kearah sang suko saja.

Banyak nian kata2 yang hendak diucapkan kepada sukonya itu, tapi dihadapan sedan banyak orang, ia merasa likat juga.

Sampai sekian lama ias berhasil juga untuk menguasai perasaannya, tapi achirnya lama2 tak kuat juga dan mulutnyapun segera berseru memanggil.

"Jiang suko!"

Karena orang memanggil secara tiba2, Tio Jiang menjadi kaget. Oleh karena dihadapan sang suhu, Tio Jiang ber-hati2 sekali membawa tingkah lakunya.

"Ada apa?"

Sahutnya dengan berbisik. Yan-chiu ter-sipu2 merah mukanya, tapi dengan tangkas ia sudah mengalihkan pembicaraan.

"Berdiam diri didalam ruangan sini, bukan suatu penyelesaian yang baik. Hayo, kita keluar cari anginlah!" . Tio Jiang tak berani segera menyahut tapi lebih dahulu melirik pada sang suhu, slapapun menyetujui pendapat Yanchiu tadi.

"Ya, kalian berdua boleh makan angin diluar sana. Tapi Ingat, jangan terbitkan onar dan lekas kembali lagi,"

Ujar Ceng Bo.

Dengan kegirangan sekali Yan-chiu segera tarik tangan sukonya terus diajak keluar.

Keadaan diluar situ sunyi2 saja.

Setelah membiluk disebuah ujung tembok, Yan-chiu hentikan langkahnya dan bertanya.

"Suko, sewaktu kau sendirian tersesat dalam perut gunung, apa saja yang kau pikirkan kala Itu?"

Tio Jiang tak mengerti kalau pertanyaan sumoaynya itu mengandung maksud tertentu, maka dengan seenaknya saja ia menjawab.

"Tidak memikirkan apa2, kecuali bagaimana dapat keluar dari penjara alam itu untuk menghaturkan mustika itu pada suhu."

Yan-chiu menghela napas.

"Ah, jadi dia tak mengimbangi perasaan hatiku yang selalu memikirkan dirinya,"

Pikirnya.

Dengan berdiam diri ia ayunkan langkah kemuka.

Hati Tio Jiang kosong, dia tak memikirkan yang tidak2.

Maka dia anggap sumoaynya itu tengah perithatin keras menghadapi fihak Ang-hun-kiong yang tangguh.

Yan-chiu begitu terbenam dalam lamunan sang dara dihempas asmara.

Ya, siapakah yang tak lara kalau cintanya hanya dibalas dengan rasa kecintaan sebagai saudara seperguruan saja?

Dia berjalan sambil tundukkan kepala, sehingga tak tahu sama sekali ketika ditikungan, tiba2 muncul sebatang pedang menghadang.

Coba Tio Jiang tak segera lekas2 menereaki pasti ia masih tak mengetahui akan adanya ujung pedang yang terpisah hanya setengah setengah meteran dimukanya itu.

"Siapa? !"

Serunya dengan kaget. Seruan itu disambut dengan munculnya dua orang imam yang beroman bengis. Yang satu membawa pedang dan seorang mencekal kapak besar.

"Sejak bilamana Ang-hun-kiong mengidinkan kalian berjalan seenaknya sendiri itu? Apa masih tak lekas2 kembali?"

Seru mereka.

"Ang Hwat cinjin telah menerima kami sebagai tetamu, mengapa kau berani kurang ajar?"

Balas Yan-chiu dengan gusarnya. Kedua imam itu tertawa keras, serunya.

"Sebagai tetamu? Ha......., ha........! Ibarat kura2 dalam jaring, masih menjual lagak!"

Tio Jiang terkesiap mendengar ucapan yang diserukan dalam lafal utara oleh kedua imam itu.

Terang mereka itu bukan orang daerah selatan sini.

Dia ajak sumoaynya cepat kembali melapor pada suhunya.

Tapi baru saja mulutnya hendak menyatakan, atau Yan-chiu sudah loncat kemuka dan menghantam dengan bandringan kearah kedua imam itu.

Yan-chiu mengira kalau kedua orang itu, hanyalah imam kecil dari gereja situ, sekali hantam sedlkitnya tentu dapat merubuhkan mereka.

Trang......

tiba2 Yan-chiu merasa lengannya kesemutan ketika salah seorang imam itu menangkis dengan kapaknya.

Bandringanpun mencelat keatas.

Buru2 ia tekan bandringannya itu kebawah.

"Hu, kembali tidak?"

Kata mereka dengan tertawa dingin. Mereka tak mau menyerang pada Yan-chiu yang ter-longong2 kesima itu. Tio Jiang kenal gelagat. Dia tahu kedua orang itu tentu bukan imam gereja situ.

"Kembali ya kembali !"

Serunya keras sembari memberi isyarat dengan ekor mata kepada sang sumoay, siapa terpaksa menurut.

GAMBAR 69 Karena kebebasannya dirintangi, dengan gusar Yan-chiu hantamkan banderingannya kearah orang itu yang cepat ditangkis olehnya dengan senjata kapak yang besar.

Tiba dimuka pintu ruangan tetamu, Tio Jiang dan Yan-chiu tak mau masuk, tapi sengaja terus berjalan kesebelah muka.

Kembali dibagian sana juga ada dua penghadang.

Yang satu mempunyai lafal suara orang Suchwan, yang lain me-maki2 dalam bahasa Boan-ciu.

Karena sudah banyak pengalamannya bertempur dengan serdadu Ceng, jadi Tio Jiang dan sumoaynya segera mengetahui bahwa kedua pencegatnya Itu adalah kaki tangan pemerintah Ceng yang menyaru sebagal imam.

Kini tanpa diberitahukan oleh sukonya, Yan-chiu sudah mengetahui sendiri dan memutar tubuhnya kembali kedalam ruangan tetamu.

Baru melangkah masuk, Yan-chiu sudah berseru.

"Suhu, Ang Hwat telah mempersiapkan entah berapa, banyak kaki tangan pemerintah Ceng yang menyaru jadi imam gadungan, untuk menumpas kita!"

Tio Jiang tuturkan apa yang telah dijumpainya tadi. Ceng Bo dan Kui-ing-cu serta lain2 orang, saling mengawasi satu sama lain.

"Oleh karena yang akan datang ini bukan kebahagiaan melainkan kecelekaan, maka kita harus tenang2 mempersiapkan kewaspadaan. Dalam hal tenaga, Siaoko dan Siao Chio tergolong, yang terlemah diantara kita, maka sebaiknya mustika dalam batu itu berikan saja kepada mereka separoh2, siapa tahu akan menambah kekuatan mereka!"

Hui-ing-cu menyatakan pendapatnya.

Ternyata semua orang setuju.

Bermula Tio Jiang menolak tapi diperingatkan oleh suhunya.

Malah Ceng Bo Siangjin segera mencabut pedang yap-kun-kiam yang terselip dipinggang Tio Jiang.

Yan-chiu disuruh memegangi batu itu, lalu Ceng Bo pe-lahan2 membelahnya.

Tak antara lama tampak sebuah lubang dan menghempuslah keluar suatu hawa yang luar biasa wanginya.

"Lekas tuangkanlah kedalam mulutmu!"

Buru2 Ceng Bo menyuruh sigenit meminumnya.

Yan-chiu cepat tempelkan bagian lubang ltu kemulut dan sekali menyedot se-kuat2nya berkerucukanlah tenggorokannya menelan suatu-benda cair.

Seketika dirasakan tulang belulang seluruh tubuhnya menjadi sedemikian nyaman dan ringan sekali.

Buru2 ia kerahkan cin-wan (tenaga murni) dan cin-khi (hawa murni), setelah itu lalu berikan batu kapada sang suko.

Begitu Tio Jiang menyambutnya, terus ditempelkan kemulut dan disedotnya.

Tapi hanya angin saja yang didapatinya.

Dengan keheranan, dia turunkan batu itu.

Kui-ing-cu dengan segera dapat mengetahui apa yang terjadi, katanya.

"Siaoko, mungkin sudah suratan nasib, bukankah air mustika itu sudah dihirup habis oleh kui-ahthau (dara jelek) itu ? Kau tidak kecewa, bukan ?"

Tlo Jiang tak pernah mempunyai perasaan iri. Dia adalah seorang suko dan sute yang pengalah.

"Seharusnyalah diberikan pada sumoay, karena dia lebih lemah!"

Sahutnya dengan setulus hatitnya.

Mendengar itu, semua orang mengagumi ketulusan hati pemuda itu.

Ketika sama mengawasi Yan-chiu tampak selebar wajah nona itu ke-merah2an memancarkan cahaya gemilang.

Seperti keringat bukan keringat, sehabis menyalurkan perdarahannya, ia rasakan seluruh tubuhnya mengalirkan hawa panas, hingga untuk setengah jam ia tampak seperti dalam keadaan samar2 ingat.

Baru setelah perasaan menyalur rata keeseluruh tubuh, ia tampak berloncat bangun seraya berseeru.

"Amboi.......! nyaman sekali seperti orang mati rasanya. Suko, kau. minum sedikit tadi, apa tak berasa apa2?"

Nona itu tak mengetahui kalau Tio Jiang tak kebagian setetespun jua.

Air mustika yang jarang terdapat didunia itu, telah habis dihirupnya semua.

Baru setelah sang suko menjelaskan, ia ke-merah2an mukanya dan menyatakan penyesalannya.

"Maaf, aku tak sengaja berbuat begitu!"

"Ho, sungkan juga sih? Asal kau berjanji kelak tak menghina sukomu seperti yang dilakukan oleh sucimu, itu sudah cukup!"

Seru Kui-ing-cu.

Kembali wajah Yan-chiu merah padam ke-malu2an, diperolok Kui-ing-cu itu.

Kini ia merasa tubuhnya sangat enteng sekali.

Apabfla menyalurkan darah atau pernapasan, juga sangat mudah dengan leluasanya.

Rupanya lwekangnya dalam sekejab waktu saja teIah maju pesat, suatu hal yang membuatnya girang bukan kepalang.

"Suko, kau sungguh baik sekali kepadaku!"

Diam2 hatinya berterima kasih.

--oodwkz0tahoo--Kala itu sudah sore hari.

Genta gereja kedengaran bertalu 3 kali.

Anehnya keadaan disitu tak nampak seperti sedang kumpulan-malam (sembahyang malam).

Ketika semua rombongan fihak tetamu keheranan, tiba2 dari arah luar ter-dengar ada orang berseru.

"Suhu mengundang tamu sekalian supaya datang kepaseban belakang!"

Kui-ing-cu tahan napas, dengan gunakan ilmu menyusupkan suara "thoan im jip bi"

Dia berseru kepada kawan2nya.

"Kartu segera akan terbuka, entah lo-tosu itu hendak main apa?"

Sekalian orang mengerti maksud peringatan itu. Ceng Bo segera berseru keras.

"Silahkan saudara mengantar!"

Walaupun lwekangnya berkurang banyak, namun suara yang diserukan oleh hawa napas itu, cukup nyaring.

Begitu pintu dibuka, ternyata disitu sudah menunggu ketiga Ang-hun su-mo.

Ji-mo atau iblis kedua (ayah The Go?) sudah meninggal, namun gelaran mereka masih tetap menggunakan Ang-hun su-mo (4 iblis dari Ang hun-kiong), walaupun seebenarnya mereka itu hanya berjumlah 3 orang.

Dengan Ceng Bo siangjin berjalan dimuka dan Kui-ing-cu, yang paling belakang sendiri, ketujuh rombongan tetamu itu segera berjalan menurutkan Ang-hun su-mo.

Sepanjang lorong yang dilalui itu, mereka dapat memperhatikan.

Tapi setelah dua kali membiluk, hilanglah pengetahuan mereka akan arah mata angin.

Semua yang tampak disitu, dari ruangan, lorong serambi, tiang dan lankan, sama semuanya, sukar dibedakan.

Setelah setengah jam lama berbilak biluk, mereka melalui sebuah ruangan kecil dan se-konyong2 terbentanglah sebuah lapangan luas yang berlantai batu marmar hijau.

Luas lapangan itu tak kurang 10-an tombak pesegi.

Pada ujung lapangan itu tampak sebuah meja pat-sian (8 segi), dengan dikitari oleh 8 orang, yakni Ang Hwat cinjin, Kiang Siang Yan, Bek Lian, The Go, dan sam-tianglo dari Ci-hun-si.

Mereka rupanya tengah menghadapi hidangan.

Tapi sekalipun melihat kedatangan rombongan Ceng Bo Siangjin, mereka bersikap acuh tak acuh.

Yang diherankan Ceng Bo bukan sikap mereka yang mengejek secara begitu menyolok, tapi adalah Itu kedua benggolan kaki tangan Pemerintah Ceng, yakni sepasang suami-isteri Swat Bwe dan Hwat Kuay, mengapa tak hadir disitu.

Ketiga Ang-hun su-mo menghampiri Ang Hwat cinjin dan berbicara beberapa patah kata.

Mungkin orang mengira tadi Ang Hwat cinjin benar2 tak mengetahui kedatangan rombongan Ceng Bo itu.

Tapi kini setelah mendapat, laporan dari Ciang Tay-bing, dia tentu sudah mengetahui.

Namun dia masih enak2 duduk saja.

Malah mengangkat cawan arak dan berkata kepada Kiang Siang Yan.

"In lihiap, untuk merayakan pertemuan yang jarang terjadi ini, marilah kita keringkan cawan!"

Orang2 yang mengitari meja itu sama menyambut dengan gembira.

Ciang Tay-bing masih tegak terpaku disitu.

Kui-ing-cu dan kawan2, adalah tokoh2 persilatan yang bernama, sudah tentu mereka mendongkol sekali diperlakukan begitu.

Sin-eng Ho Thay tertawa dingin, tangannya mencekal pada lankan, krek ......

tahu2 saja sudah memutuskan patah sebuah terali kayu lankan itu, lalu ditimpukkan kearah meja pat-kwa mereka.

Juga Kui-ing-cu dan si Bongkok tanpa ajak2an, membarengi dengan saebuah biat-gong-ciang (pukulan lwekang) kearah kutungan kayu tadi.

Dengan mendapat dorongan dari lwekang ketiga tokoh Iihay itu, kutungan kayu meluncur dengan pesatnya.

Kalau saja kayu itu menimpa meja, hidangan disitu tentu akan porak poranda.

Tapi baik Ang Hwat cinjin maupun Kiang Siang Yan rupanya tak mengacuhkan ancaman itu.

Sambil mengangkat cawan, mereka berdua segera menyiramkan arak keudara yang tepat mengenai kutungan kayu tadi.

(Oo-dwkz-tah-oO) BAGIAN 38 .

SETERU LAMA GAMBAR 70 Karena tak disambut sewajarnya, dengan gusar Ko Thay menimpukan sepotong kayu kearah meja perjamuan.

Tapi dengan tenaga lwekang Ang Hwat Cinjin dan Kiang Siang Yan muncratkan isi cawan mereka keudara.

Siraman arak dari Ang Hwat cinjin dan Kiang Siang Yan itu menggunakan lwekang.

Sebenarnya kalau meniIai soal kepandaian, Kui-ing-cu setanding dengan Kiang Siang Yan, si Bongkok berdua dengan Ko Thay dapat menghadapi Ang Hwat cinjin.

Sayang lwekang dari Kui-ing-cu sebagian besar sudah habis karena menolong Sik Lo-sam itu.

Jadi dalam adu lwekang tadi, ketiga orang dari fihak tetamu, telah kalah.

Begitu terciprat arak, kutungan kayu tadi segera miring kesamping dan jatuh ketanah.

Dari gebrak itu saja, cukuplah sudah diketahui tentang kekuatan masing2.

Dan yang paling dibuat sayang, kini nyata2 Kiang Siang Yan sudah kena, dibohongi The Go dan berdiri difihak Ang Hwat, Ceng Bo siangjin pedih hatinya.

"Hong-moay kau........", saking terharunya dia tak dapat melanjutkan kata2nya apalagi kala itu Kiang Siang Yan sedikitpun tak mau menghiraukan dan melainkan tertawa dingin. Ceng Bo sadar bahwa pertempuran hari itu merupakan soal hidup atau mati. Ber-hari2 dia mondar mandir kesana Mini untuk menjumpai beberapa sahabat persilatan yang mempunyai tujuan sama. Berhasil atau tidaknya usaha mereka untuk mengusir kaum penjajah Ceng dari bumi Tiongkok, adalah mengandalkan tenaga persatuan dari para kaum pahlawan pencinta negeri itu. Ah, mengapa dia masih berat dipengaruhi hubungan suami-isteri serta ayah-anak lagi ? Demi sang hati terbuka, pikirannyapun longgar. Tak lagi dia merasa pedih.

"Ang Hwat cinjin, bukankah kau mengundang kami kemari, mengapa begitu macam cara penyambutanmu ? Kau adalah seorang soko-guru dari dunia persilatan, mengapa masih dilekati sifat2 tak kenal aturan begitu ?"

Serunya.

Setiap patah dari ucapan Ceng Bo itu, memang sukar dibantah.

Memang rencana untuk membuat panas hati para tetamu itu, adalah keluar dari pikiran The Go.

Menurut rencana, begitu musuh panas hati, dia terus jalankan program yang ditetapkan menurut rencana The Go itu.

Tapi ternyata Ang Hwat bukan The Go.

Dia adalah seorang cianpwe dari dunia persilatan yang mempunyai gengsi agung.

Walaupun dia mau merendah sedikit, turun gunung menyambut kedatangan sepasang suami-isteri Swat Bwe dan Hwat Siau yang dikirim oleh pemerentah Ceng itu, namun dia tetap bukan golongan orang rendah macam The Go.

Maka demi mendengar cercaan Ceng Bo tadi, seketika dia berbangkit dan berseru.

"Siapkan sebuah meja perjamuan lagi!"

Dalam sebentar saja perentah itu telah dilaksanakan.

"Silahkan hadirin sekalian duduk,"

Katanya sambil memberi hormat kepada para tetamunya, kemudian duduk pula.

Menurut anggapannya, perbuatannya itu sudah cukup dari menghormat.

Ceng Bo tak mau banyak peradatan lagi, segera maju mengambil tempat duduk.

Jarak antara kedua meja mereka itu, hanya terpisah satu meteran.

Kalau sewaktu2 Ang Hwat menyerang, tentu sukarlah baginya untuk lolos.

Namun sedikitpun siangjin itu tak mengunjuk rasa jeri.

Lain2 kawannyapun segera menaulad tindakannya itu.

Kui-ing-cu menyentuh Yan-chiu, katanya.

"Siao-ah-thau, hatimu mendongkol tidak ?"

"Sudah tentu, Ang Hwat siimam tua itu benar2 kutu besar!"

Sahut Yan-chiu.

"Kuajarkan kau cara untuk melampiaskan kemendongkolanmu itu. Kau adalah seorang anak, mereka dibatasi dengan kedudukannya, tentu tak dapat meng-apa2kanmu. Kalau nanti suhumu menggegeri kau, akulah yang menanggung!"

Kata Kui-ing-cu, seraya membisiki beberapa patah, kata kedekat telinga sigenit.

Yan-chiu berseri girang.

Sembari sebelah tangan mencekali bandringan yang tergantung dipinggang, ia ikut Kui-ing-cu menghampiri ketempat meja Ceng Bo tadi.

Setiba, ditepi meja, tiba2 ia memutar tubuh dan berseru.

"Ang Hwat locianpwe, subo dan Lian suci!"

Ketiga orang itu terkejut mendengar panggilan itu.

Tanpa merasa mereka sama mendongakkan kepala.

Bek Lian agaknya malu sendiri, maka lalu tundukkan kepala.

Ang Hwat cinjin dan Kiang Siang Yan terpaksa mengulum suara tenggorokan "hem", yalah dimaksud sebagai jawaban.

Adalah selagi kedua tokoh ini lengah karena memberi jawaban itu, tangan Yan-chiu sudah kibaskan bandringan melayang disisi punggung To Ceng dan To Bu, lalu menyusup kebawah meja mereka.

Sekali tangan menyentak, maka buk ........

bola bandringan itu tepat menghantam bagian bawah permukaan meja.

Hantaman itu tak kurang dari berpuluh kati beratnya.

Selagi Ang Hwat cinjin dan Kang Siang Yan bersuara tenggorokan tadi, tahu2 cawan dan mangkok piring diatas mejanya sama berhamburan keatas, Serambut dibelah tujuh, mereka tak mengira sama sekali kalau Yan-chiu berani melakukan perbuatan ugal2an itu.

Buru2 Ang Hwat meniup keras2 dengan mulut untuk menghalau kuah panas yang hendak menyemprot mukanya, namun tak urung rambut kepalanya juga kena tersiram.

Adalah Kiang Siang Yan yang paling tangkas.

Begitu melihat ancaman datang, ia segera gunakan ilmu mengentengi tubuh thay-im-i-seng yang sakti, menarik Bek Lian untuk menghindar kesamping.

Jadi hanya pakaiannya yang kena kesiraman sedikit.

Yang paling runyam, adalah ketiga tianglo dari Ci-hun-si itu dan The Go.

Muka dan rambut mereka basah kuyup dikeramasi kuah (gulai).

Oleh karena tak menyangka sama sekali dan gerakan Yan-chiu tadi datangnya secara tiba2 dan cepat sekali, jadi walaupun keramas dengan kuah panas namun keempat orang itu tetap ter-longong2 tak tahu apa yang telah terjadi.

Dan selagi mereka berempat terlongong2 keheranan itu, tepat tiupan hawa mulut Ang Hwat cinjin tadi tiba.

Oleh karena gusar, jadi cinjin itu meniup se-kuat2nya.

Menurut tingkat kepandaian Ang Hwat, sekali meniup, bulu ayam sisik Man ataupun setitik air dapat berobah menjadi suatu senjata rahasia yang sangat hebat.

Sam-tianglo dari Ci-hun-si itu duduknya tepat berhadapan dengan Ang Hwat, jadi keadaannya tepat seperti yang dikatakan orang 'sudah jatuh dihimpit tangga pula'.

Sudah tadi muka dan rambut mereka gebes2 dikeramasi kuah panas, kini dihujani semburan air panas oleh Ang Hwat, aduh mak, kalau badan lagi sial .............

Mereka menjerit rubuh ketanah, lalu bergelundungan kian kemari!

Masih untung The Go berlaku sebat.

Begitu mendengar tiupan mulut Ang Hwat, dia terus loncat menghindar.

Ini berarti dia mendapat keringanan dari siksaan.

Tidak kecewa dara dari Lo-hu-san itu digelari nona genit tangkas dan lincah.

Lincah lidahnya, tangkas tangannya.

Ia dapat membandring dengan cepat tanpa diketahui orang, tapi iapun dapat menarik balik bandringannya itu dengan tak kurang cepatnya juga.

Seperti tak terjadi suatu apa, dengan lenggang ia mengambil tempat duduk.

Olok2 sigenit itu, telah dimainkan dengan hebat dan luar biasa bagusnya.

Si Bongkok, Kui-ing-cu, dan lain2nya, sampai kaku perutnya karena ketawa.

Sampaipun Ceng Bo siangjin yang biasanya tak suka bergurau, kali ini seperti di-kitik2 dan tak tahan mengekang tawanya.

Dia melirik kearah muridnya yang nakal itu, siapa mengerti akan maksud sang suhu.

Oleh karena diantara sekian orang itu hanya ia sendiri yang tak tertawa, maka untuk jangan sampai kentara, iapun turut tertawa cekikikan.

Didalam fihak tuan rumah, Ang Hwat dan Kiang Siang Yan adalah tokoh2 persilatan kelas utama.

Cepat2 keduanya dapat menguasai kejutnya tadi.

Mendengar dimeja tetamu orang sama tertawa lepas2, tahulah mereka berdua kalau tadi perbuatan ugal2an itu adalah dari fihak tetamu yang melakukan.

Tapi keduanya merasa malu dan heran sendiri.

Mereka yakin akan tingginya kepandaiannya, namun apa dan bagaimana peristiwa tadi terjadi, benar2 keduanya tak mengetahui.

Jadi terpaksa mereka diam menahan kemurkaan.

Ang Hwat perentahkan The Go supaya menggotong sam-tianglo Ci-hun-si.

Ketiga tianglo itu benar memiliki lwekang yang tak lemah, namun karena Ang Hwat yang meniup, jadi mereka bertigapun parah juga lukanya.

Ada beberapa kerat tulang ayam yang menyusup kedalam mukanya.

Sewaktu satu per satu dicabuti, mereka sama mengerang2 kesakitan.

Karena keadaannya setengah mati, terpaksa mereka digotong orang masuk kedalam kamar.

Dengan marahnya Ang Hwat titahkan lagi menyiapkan sebuah meja hidangan, kemudian suruh Ang-hun su-mo bertiga duduk mengisi kursi sam-tianglo yang kosong itu.

Selagi keadaan menjadi tenang kembali, tiba2 Kui-ing-cu berseru keras.

"Siao-ah-thau, terhadap orang yang tak tahu adat, memang begitulah caranya memperlakukan. Hayo, cucilah tanganmu dulu, nanti aku yang per-tama2 akan memberi selamat dengan secawan arak!"

Gelarnya saja dia itu hendak memberi selamat dengan arak, tapi pada hakekatnya sengaja dia suruh Ang Hwat dan Kiang Siang Yan mendengarkan jelas, bahwa yang melakukan perbuatan ugal2an tadi bukanlah tokoh2 lihay dari golongan fihak tetamu, melainkan hanya seorang anak perempuan dara yang tak ternama!

Mendengar itu benar juga wajah Ang Hwat berobah, mengangkat cawannya dia kedengaran tertawa gelak2 dan berseru .

"Ceng Bo siangjin, lama nian orang menyohorkan bahwa dua pedang pusaka suami-isteri kalian tiada tandingannya dikolong jagad ini. Harini sebagai tuan rumah, pinto hendak lebih dulu menghaturkan selamat secawan arak dadamu !"

Habis berkata begitu, dia taruhkan cawan keatas telapak tangan dan tiba2 telapak tangannya itu dicekungkan kebawah.

Cawan arak itu memangnya sudah kecil, maka hampir separoh cawan itu seperti masuk kedalam telapak tangan Ang Hwat.

Kemudian entah bagaimana caranya, tahu2 begitu telapak tangan itu dijunkatkan lagi keatas, wut........

cawan itu mumbul setengah meter tingginya.

Setelah sejenak berhenti diatas, cawan itu pe-lahan2 melayang kearah tempat duduk Ceng Bo.

Namanya saja Ang Hwat itu hendak memberi selamat dengan arak, tapi hal yang sebenarnya dia itu hendak membuat malu pada Ceng Bo.

Cawan itu tampaknya melayang dengan pelahan, tapi Ceng Bo dan kawan2 cukup mengetahui bahwa tadi Ang Hwat telah gunakan ilmu melempar senjata rahasia tingkat tinggi.

Sedikitnya dia telah gunakan 8 bagian dari tenaganya lwekang, untuk mengantar cawan arak itu.

Jangan lagi kini lwekang Ceng Bo siangjin sudah lumpuh daya lebih dari setengah bagian, sekalipun masih utuh, juga belum ketahuan apakah dia itu dapat menyambuti 'persembahan arak' istimewa itu.

Dia tahu kalau berani menyambuti dengan lwekang, lengannya pasti akan putus.

Baik disambuti atau tidakkah persembahan itu ?

Dia dirundung kesangsian.

Kalau disambuti, resikonya lengan putus.

Kalau tidak menyambutnya, Ang Hwat tentu akan menyusuli lagi persembahan yang kedua.

Jadi tanpa adu kepandaian, berarti dia sudah kalah ini.

Jarak kedua meja itu hanya satu meteran.

Tempat duduk Ceng Bo tepat berhadapan dengan tuan rumah, jaraknya hanya kira2 satu tombak.

Cawan arak itu walaupun pelahan melayangnya, namun dalam beberapa detik saja pasti akan sudah tiba.

Ceng Bo mengambil putusan, lebih baik binasa daripada malu.

Tapi ketika dia hendak, kerahkan seluruh sisa lwekangnya untuk menyambuti, tiba2 kedengaran Kui-ing-cu tertawa dan berseru lantang.

"Aku yang rendah inipun hendak balas memberi hormat pada tuan rumah Anghun-kiong sini dengan secawan arak."

Sekali kelima jarinya dibuka, maka cawan arak yang digenggamnya itupun meluncur kemuka, tring.......

tepat membentur cawan Ang Hwat.

Kui-ing-cu tadi telah gunakan seluruh lwekangnya.

Begitu berbentur, kedua cawan itu berhenti sebentar.

Cawan Kui-ing-cu melayang kesamping, sementara cawan Ang Hwat masih tetap melayang kearah tujuannya semula (kearah Ceng Bo), tapi daya kekuatan-nya sudah berkurang separoh bagian.

Sekalipun begitu, kala Ceng Bo menyambuti, lengannya dirasakan kesemutan nyeri sekali.

Buru2 dia meneguknya habis.

Ketika mengawasi kearah cawan Kui-ing-cu yang melayang kearah Ang Hwat cinjin, tampak cinjin itu ulurkan tangan untuk menyambuti, pyah.......

tahu2 cawan itu pecah berantakan jatuh kebawah.

Kiranya sewaktu melayangkan cawan tadi, Kui-ing-cu telah gunakan akal.

Tatkala saling berbentur dengan cawan Ang Hwat, cawannya itu tak sampai pecah.

Ini karena kedua tokoh itu telah menggunakari ilmu lwekang sakti dengan perhitungan yang sangat tepat.

Waktu me-layang2, cawan itu biasa saja, tapi begitu saling berbentur kedua benda itu keras bagai baja, maka tak sampai pecah.

Kalau tak hujan tak angin begitu tiba dihadapan Ang Hwat, cawan itu terus pecah sendiri, itu juga permainan yang lihay dari Kui-ing-cu.

Ini dimaksud untuk memper-olok2 Ang Hwat untuk yang kedua kalinya.

Dari kejadian itu, dapatlah ditarik kesimpulan sampai dimana tinggi rendahnya kepandaian Kui-ing-cu.

Dia adalah setingkat dengan Ang Hwat cinjin, Tay Siang Siansu dan Kang Siang Yan.

Tapi dalam soal peyakinan, mungkin Ang Hwat lebih lama.

Sudah 50-an tahun dia berkecimpung dalam peyakinannya itu.

Jauh2 ketika masih dalam jaman pemerentahan Beng, namanya sudah berkumandang diseluruh negeri.

Dia pernah menerima undangan dari fihak pimpinan kim-i-wi (pasukan bayangkari istana) untuk datang kekota raja dan mengunjukkan kegagahan yang mengagumkan.

Kalau mau, dulu2 dia sudah diangkat menjadi kepala kim-i-wi.

Ini kejadian pada beberapa puluh tahun yang lampau.

Kini peyakinannya makin sempurna lagi.

Tapi dengan begitu, belumlah menjadi jaminan bahwa kebatinannya makin tinggi.

Dalam beberapa tahun yang terachir ini, dia selalu mengeluh dalam batin, mengapa sampai dihari tua masih jadi "orang hutan"

Atau orang yang tinggal digunung saja. Maka ketika berkenalan dengan sam-tianglo Ci-hun-si yang berhamba pada pemerentah Ceng, dia rupanya penuju juga.

"Makin tua makin gila", rupanya pembilangan orang begitu itu, memang beralasan. Ang Hwat tak mau memegang buntut kucing (mendapat malu) untuk yang kedua kalinya. Cepat2 dia rangkumkan sepasang tangan kearah pecahan cawan dan arak yang berhamburan kebawah itu, sekali menyedot, pecahan cawan. dan arak itu naik lagi meluncur kedalam mulutnya, krucuk........., krucuk..........demikian bunyi tenggorokannya. Se-konyong2 mulutnya menganga dan fui......... pecahan keramik putih menyembur keluar, cret....., cret......, semua berhamburan menyusup pada sebuah tiang besar yang jauhnya antara satu tombak. Itulah pecahan cawan arak tadi. Walaupun Kui-ing-cu seorang tokoh yang paling suka berolok2, tapi dia itu juga seorang lelaki jantan perwira. Melihat Ang Hwat mengunjuk demonstrasi kepandaian yang luar biasa itu, serta merta dia berseru memuji.

"Ilmu kepandaian yang hebat!"

Serunya. Tapi pada lain saat dia kedengaran berkata pula.

"Sayang sekali tak menjalankan didikan keras, hingga anak muridnya telah menodai kebesaran nama Ang-hun-kiong!"

Memang lihay kepandaian Kui-ing-cu, selihay itu pula mulutnya.

Sedang.

Tio Jiang dan Yan-chiu sama terlongong2 mengawasi pertunjukan istimewa itu.

Kalau tak menyaksikan sendiri, mungkin mereka tak mau percaya bahwa didunia ini ternyata terdapat ilmu kepandaian macam begitu.

Memang apa yang dipertunjukkan Ang Hwat cinjin itu, luar biasa sekali.

Kalau orang meneguk arak itu sih biasa.

Tapi Ang Hwat telah meneguk arak yang bercampur dengan keping pecahan cawan.

Kalau dia tak memiliki .

ilmu lwekang yang tinggi, tentu mulutnya akan pecak rowak terkena tajamnya pecahan keramik.

Tapi Ang Hwat telah memperhitungkan lebih dahulu.

Begitu keping pecahan itu masuk kemulut, dia tiup dengan tekanan lwekang, hingga kepingan cawan itu menjadi hancur seperti bubuk.

Setelah arak ditelan, bubuk cawan itu disemburkan keluar.

Dia hanya tertawa dingin mendengar tetamu (Kui-ing-cu) memujinya.

Berpaling kearah Kui-ing,cu, dia berseru.

"Cunke telah menghaturkan hormat dengan secawan arak, pinto haturkan terima kasih. Murid Ang-hun-kiong dari tingkatan ke 3, juga akan mewakili pinto untuk membalas hormat."

Habis berkata begitu, mulutnya berkicup kearah The Go.

tahu kalau sucounya itu menyuruhnya unjuk kepandaian.

Heran juga dia dibuatnya, mengapa dalam waktu dan tempat begitu, orang masih hendak main hormat2an dengan cawan arak ?

Terlebih heran pula mengapa sucounya menyuruh dia yang keluar ?

Tapi walaupun heran, dia terpaksa harus menurut perentah sucounya itu.

Dituangnya arak penuh2 kedalam sebuah cawan, tanpa mengeluarkan tenaga apa2, diapun lemparkan cawan itu kearah Kui-ing-cu.

Tapi membarengi dengan itu, Ang Hwat kedengaran batuk2 dan suatu tenaga dahsyat terasa menyambar kearah cawan yang segera seperti berhenti sejenak diatas udara.

Ah, kiranya sang sucou diam2 memberi bantuan, agar Kui-ing-cu mendapat malu.

Kalau cawan arak itu dihaturkan pada Ceng Bo siangjin, mungkin rencana Ang Hwat itu akan memberi hasil.

Tapi yang diarah itu adalah Kui-ing-cu, si Setan Tanpa Bayangan yang cerdik tangkas itu.

Dalam gelanggang segenting itu Ang Hwat suruh The Go maju, dia sudah menduga tentu ada udang dibalik batu.

Setelah merenung sebentar dan mendengar Ang Hwat batuk2, cepat dia sudah dapat mencium bau.

"Murid angkatan ketiga dari Ang-hun-kiong menghaturkan arak, murid angkatan kedua dari Cin-wan-kuan yang hendak meminumnya!"

Serunya sembari memberi isyarat ekor mata kearah Yan-chiu dan lalu menampar kearah cawan arak itu.

Benar kala itu lwekangnya tak sehebat Ang Hwat, tapi kalau Ang Hwat mengeluarkan lwekang dengan berbatuk2, adalah dia dengan sebuah tamparan biat-gong-ciang.

Deru samberan anginnya telah membuat arah cawan itu miring kesamping jalannya.

Juga Yan-chiu tak mengerti apa kemauan Kui-ing-cu tadi.

Tapi serta tampak cawan arak itu melayang kearahnya, tahulah ia sudah.

Sekali tangan menekan pada sandaran kursi, tubuhnya melayang keatas menyongsong datangnya cawan.

Ia sudah mempunyai dasar latihan ilmu mengentengi cukup baik dari Ceng Bo siangjin, kemudian dapat mempelajari ilmu itu dari Tay Siang Siansu dan masih pula meminum mustika batu yang menambah kekuatan dan memperkokoh lwekang, maka bagaikan seekor burung waled ia melayang-layang.

Dilihatnya gerak-layang dari cawan itu masih cukup keras jadi tentu belum melayang kebawah.

Untuk mencoba bagaimana kwaliteit ilmu mengentengi tubuhnya, ia mau unjuk demonstrasi.

Selagi masih melayang, ia injakkan kaki kanan keatas tapak kaki kiri dan meminjam tenaga pijakan itu, tubuhnya segera lurus menjulang keatas sampai 2 meter tingginya.

Dari situ ia menekuk tubuh membujur kemuka, dengan gunakan jurus gan-lok-ping-sah (burung meriwis jatuh dipasir datar), ia meluncur kemuka kesamping cawan itu, crup sekali hirup habis isi cawan itu diminumnya.

Tangannya diulur menyambuti cawan yang kosong itu, begitu sang kaki menginjak tanah, ia enjot tubuhnya melayang kembali ketempat, duduknya semula.

Gerakan sinona tadi itu, sedikitpun tak mengeluarkan suara.

Ia melayang maju mundur bagaikan seorang bidadari turun dari kahyangan saja.

Sungguh indah sedap dipandang mata nian gerak layang dara dari Lo-hu-san itu.

Sampaipun Kiang Siang Yan yang sejak tadi diam saja, kini tanpa terasa mengeluarkan suara tertahan ditenggorokan, suatu pujian secara diam2.

Bek Lian segera membisiki beberapa patah kata kedekat telinga ibunya.

Melihat itu The Go menduga, nona itu tentu mengiri akan kepandaian Yan chiu yang secara begitu tiba2 telah maju pesat sekali.

"Lian-moay, itu kan hanya permainan anak2 saja, apanya yang perlu dikagumi. Beberapa tahun lagi, kita berdua tentu akan dapat melebihinya!"

The Go menghibur. Bek Lian puas. Tiba2 datanglah seorang tosu melapor.

"Ma Cap-jit dari Hoasan, cong-piauthau (pemimpin kantor pengantar barang) Liok Toa piaukiok dari Hui-ciu, Liat-hwat-cian Tiat Leng-koan serta Empat persaudaraan Li dari Haylam, telah tiba kemari !"

Mendengar itu Ceng Bo ber-gegas bangun untuk menyambut sahabat2 yang memang diundangnya itu.

"Celaka.!"

Seru Kui-ing-cu, tapi dalam pada itu tampak Ma Capjit situkang tebang puhun dengan pikulannya sudah melangkah masuk.

Yang disebut Tiat Leng-koan bergelar Liathwat-cian (panah api) itu adalah seorang yang bertubuh gemuk pendek.

Sedang keempat persaudaraan Li itu mengenakan pakaian yang serba aneh, berasal dari kepulauan Haylam, pandai menggunakan senjata, rahasia.

Ceng Bo mempersilahkan mereka duduk pada sebuah meja yang sudah disiapkan lagi dengan hidangan lengkap.

Tak antara berapa lama, haripun malam.

Karena Ang Hwat masih tetap duduk menikmati arak, tahulah Ceng Bo bahwa semalam-malaman nanti tentu tiada orang yang tidur.

Benar juga, perjamuan itu diteruskan sampai keesokan hari malah tidak cukup hanya sehari semalam saja, tapi berlangsung sampai 3 hari 3 malam tanpa mengaso.

Bek Lian dan Ang-hun su-mo tampaknya sudah tak tahan lagi.

Tapi orang2 yang lihay kepandaiannya, tetap menghadiri perjamuan itu dengan ber-cakap2 sembari ter-tawa2.

Pada hari ketiga, kembali datang lagi sepuluhan sahabat2 persilatan yang diundang Ceng Bo.

Kini ruangan luas itu sudah penuh diisi dengan meja2 perjamuan, dan hanya tinggal tempat, kosong seluas dua tombak pesegi saja.

Pada hari keempat, tiba2 Ang Hwat cinjin tampak berbangkit.

Setelah menyapukan pandangan matanya kearah semua tetamunya, dia berkata kepada Ceng Bo siangjin.

"Siangjin, apakah sahabat2mu yang kau undang itu sudah lengkap hadir semuanya?"

Ceng Bo dapatkan bahwa sahabat2 yang diundang itu boleh dikata sebagian besar sudah datang, maka menyahutlah dia.

"Entah cinjin hendak memberi pesan apa, fihak kami sudah hadir semua."

Ang Hwat mendengus.

Ratusan mata ditujukan kearah kepala gereja Ang-hun-kiong itu untuk mendengarkan apa pembicaraannya.

Dalam perjamuan itu ternyata Ceng Bo telah berhasil mengundang beberapa tokoh persilatan dari berbagai daenzh.

Jadi perjamuan itu merupakan suatu pertemuan tokoh persilatan yang jarang terjadi.

Maka berkatalah Ang Hwat Cinjin kemudian .

"Pertandingan silat pada, hari pehcun ini, sebenarnya adalah antara murid angkatan ke 3 dari gereja ini lawan ketua kedua Thian Te Hui dan murid dari Ceng Bo Siangjin Menantang bertanding ilmusilat, sesungguhnya adalah suatu persoalan kecil. Tapi mengapa Ceng Bo siangjin telah mengundang sekian banyak tokoh2 persilatan. datang kemari ? Apakah maksudnya hendak merobohkan pendirian gereja kami yang sudah ber-puluh2 tahun ini"

Ceng Bo dapat menduga kemana arah tujuan kata2 tuan rumah itu, yalah hendak menimpahkan segala kesalahan pada fihak tetamu, agar dalam pandangan kaum persilatan menuduh Ceng Bo mempunyai maksud tertentu untuk merebut gereja Ang-hun-kiong.

Se-kali2 bukan berjuang untuk kepentingan rakyat.

Maka berdirilah Ceng Bo dari kursinya dan berkata dengan nada berat.

"Kedatangan kami kegereja Ang-hun-kiong ini; pertama-tama hendak menyelesaikan dendam kesumat para pejoang rakyat terhadap murid cinjin yalah The Go itu. Kedua, setelah urusan ttu selesai, dalam pertemuan ini kami hendak membangun lagi Thian Te Hwe untuk melanjutkan perjuangan melawan penjajah Ceng. Soal itu tak mempunyai hubungan dengan cinjin dan kini mari kita kembali kepersoalan The Go. Biarlah para hadirin disini sama mendengar jelas tentang kedosaannya. Diantara sekian kejahatan yang dilakukan dalam dunia persilatan, yang paling besar yalah sebagai orang Han dia telah sudi ber-hamba menjadi budak penjajah Ceng dengan menyediakan diri sebagai penyuluh membawa tentara Ceng masuk kewilayah Kwiciu. Dunia persilatan tak dapat mengampuni adanya bebodoran macam begitu!"

Ceng Bo hanya mendamprat The Go, tapi dalam pendengaran Ang Hwat, tiap patah kata dari siangjin itu bagaikan duri tajam yang menusuk ulu hatinya.

Sehabis mendengarkan kata2 orang, mukanya yang sejelek itu telah berobah makin menyeramkan.

Dia tertawa dingin.

"Begitu gagah perwira siangjin ini menjual jiwa pada pemerintah Beng, tidakkah itu juga berarti menjadi kaki tangan kerajaan tersebut ?"

Ceng Bo mendongak tertawa keras, serunya.

"Menentang penjajah Ceng, setiap orang Han mempunyai kewajiban. Kalau kerajaan Beng betul2 memperhatikan kepentingan rakyat, kamipun tak segan2 untuk menggabungkan diri. Walaupun tidak demikian, asal rakyat berdiri dipihak kita, dan bersatu melawan penjajah, maka kita takkan terpatahkan se-lama-2nya !"

Kata2 ber-api2 dari Ceng Bo siangjin itu disambut dengan gelora tepukan sorak sorai dari para orang gagah.

Namun wajah Ceng Bo tetap tenang, tak mengunjuk kesombongan.

Kembali Ang Hwat menyambutnya dengan sebuah tertawa dingin, kemudian berkata.

"Kata'2 yang tiada berguna, lebih baik jangan dikeluarkan. Silahkan siangjin mengatakan, bagaimana urusan ini hendak diselesaikan!"

Habis berkata, Ang Hwat segera duduk kembali sebaliknya Ceng Bo merenung dalam2.

Pikirnya, tiada dengan kekerasan, persoalan ini takkan selesai.

Namun kalau menggunakan kekerasan, meskipun berjumlah banyak tapi hanya sedikit sekali orang2 difihaknya yang mempunyai kepandaian berarti.

Sedangkan fihak tuan rumah telah mendapat tambahan tenaga dua orang tokoh sepasang suami-isteri Swat Moay dan Hwat Siau yang chusus dikirim oleh pemerintah Ceng sebagai perintis untuk masuk kewilayah Kwiciu lagi.

Disamping itu masih ada lagi kaki tangan pemerintah Ceng yang menurut Yan-chiu sudah berkumpul digereja sau dengan menyaru sebagai tosu.

Kalau kawanan kaki tangan musuh itu mengunjukkan diri, itu sih mudah diselami kekuatan mereka.

Tapi yang mencemaskan, sampai pada saat ini mereka masih menyembunyikan diri, jadi sukar diduga gerak geriknya.

Ratusan mata telah ditujukan kearah diri siangjin itu, siapa nampaknya belum dapat mengambil suatu keputusan yang dirasa tepat.

Dia cukup sadar, sekali salah jalan akan hancur binasalah tiang sendi pejuang kemerdekaan itu dibasmi oleh musuh.

Pecahnya Thian Te Hwe, bobolnya ke 72 markas Hoasan, semua karena salah jalan.

Kegagalan itu harus merupakan pelajaran bagi perjuangan sekarang dan kemudian hari.

Lewat sejenak kemudian, achirnya barulah Ceng Bo siangjin berkata.

"Dalam pertempuran pada 4 hari yang lalu, muridku dengan The Go masih belum ada kesudahannya. Sebaiknya kedua orang itu bertempur lagi sajalah!"

Mendengar kata2 suhunya itu, Tio Jiang serentak bangun, tapi Ang Hwat mencegahnya.

"Tunggu dulu!"

Ketika semua hadirin tampak keheranan, barulah Ang Hwat kedengaran berkata pula dengan pe-lahan2.

"Bagaimana kalau menang dan bagaimana kalau kalah ?"

Kini Kui-ing-cu tak dapat bersabar lagi, serunya.

"Kalau The Go kalah, jangan harap The Go masih bernyawa lagi! Kami setiap orang akan mengunyah dagingnya!"

"Kalau dia menang? !"

Tanya Ang Hwat dengan tetap jumawa.

"Terserah padamu!"

Sahut Kui-ing-cu.

"Baik! Go-ji, keluarlah ketengah gelanggang!"

Seru Ang Hwat kepada The Go, siapa segera berbangkit dari tempat duduknya.

Itu waktu dia mengenakan pakaian mahasiswa yang disulam indah sekali, ikat kepala yang bertaburkan permata dan sepasang sepatu yang bagus.

Wajahnya berseri gemilang, matanya bagai sebuah bintang kejora, sikapnya gagah ke-agung2an.

Benar2 dia itu seorang pemuda yang tampan dan gaya.

Siapakah yang akan mengira, kalau dia itu adalah seekor serigala yang berselimutkan kulit domba?

"Engkoh Go, hati2lah!"

Sepasang mata Bek Lian. berkicup mesra merayu pesan.

"Suko, jangan lepaskan dia lagi!"

Juga disebelah sana Yan-chiu menitipkan pesannya kepada sang suko.

Tio Jiang tahu bahwa pertempuran hari itu, beriklim genting penting.

Tujuh puluhan jiwa orang gagah dari dunia persilatan dipertaruhkan kebahunya.

Kini kedua seteru besar itu, saling berhadapan muka dengan muka.

Mereka saling bertukar pandangan mata yang tajam.

Dalam pandangan seorang achli, walaupun dandanan dan wajah The Go itu menyolok dan menarik perhatian orang, namun tak dapat menandingi perbawa kegagahan anak Lo-hu-san yang serba sederhana itu.

The Go melolos kuan-wi-kiam dan Tio Jiang mencabut yap-kun-kiam.

"Harap siap!"

Kata Tio Jiang.

Dia tak pandai bicara, apalagi memang tak ingin bicara banyak2.

Begitu gitu memperingatkan lawan, dia segera menusuk.

Tring ..........

The Go menangkis dengan pedangnya yang ditujukan kebagian gigir pedang lawan.

Agaknya dia tak memandang mata pada Tio Jiang.

Kalau lain orang, tentu akan sudah naik darah diperlakukan begitu.

Tapi tidak demikian dengan Tio Jiang.

"Biar kau membawa tingkah bagaimana, juga, harini aku harus mengalahkanmu!"

Pikirnya.

Dia cepat tarik pulang yap-kun-kiam, lalu diputar menjadi sebuah lingkaran sinar, dan tiba2 ujungnya menusuk ketenggorokan The Go.

(Oo-dwkz-tah-oO) BAGIAN 39 .

MAUT MULAI MENGINTAI The Go bersiul nyaring, pundaknya bergerak dan tubuhnya berputar menghindar.

Dia tidak mengetahui kala itu Tio Jiang sudah memainkan To-hay-kiam-hwat, maka sengaja dia masih main aksi.

Tio Jiang telah mendapat kemajuan besar dalam peyakinannya ilmupedang.

Jurus pertama tadi adalah "Tio ik cu hay".

Jurus itu mempunyai 7 gerak serangan berisi dan 7 serangan kosong.

Kesemuanya itu telah difahami olehnya.

Memang sepintas pandang, ketujuh jurus dari ilmupedang To-hay-kiam-hwat itu, yang satu makin lihay dari yang lain, Tapi dalam soal gerak perobahannya, adalah kebalikannya, yalah jurus pertama adalah yang paling lihay sendiri dari keenarn jurus lainnya.

To-hay-kiam-hwat, adanya dapat menjagoi dalam dunia perpedangan, adalah disebabkan susunan runtutannya yang aneh dan dibalik itu.

Kalau ketujuh jurus itu dimainkan berulang kali, lawan akan sukar menangkap intisari keindahannya.

' Karena pernah bertempur dengan Tio Jiang, The Go menganggap dia cukup faham akan ilmupedang lawan.

Dia mengira kalau jurus pertama "Tio Ik cu hay"

Itu biasa saja, tiada mempunyai keistimewaan apa2.

Maka dalam menghindar tadi, dia sengaja tempatkan dirinya hanya seperempat meter dari ujung pedang lawan.

Maksudnya dia hendak unjuk demonstrasi kelincahannya.

Tapi begitu Tio Jiang balikkan tangan, dia segera dikaburkan oleh sinar pedang Tio Jiang yang berkelebatan memenuhi segala jurusan.

Baru kini dia (The Go) gelagapan dan terus hendak loncat keluar dari kalangan, tapi ternyata sudah terlambat.

Terpaksa dia menangkis dengan pedangnya.

Tio Jiang cepat robah gerakannya dalam jurus Boan-thian-kok-hay.

Begitu indah dan cepat pedang yap-kun-kiam itu seperti muncul dari punggungnya, sehingga The Go tak menyangkanya sama sekali, sret ........

tahu2 pundak The Go telah kesabet sampai terluka satu senti dalamnya.

Baru 3 gebrak mereka bertempur dan The Go sudah menderita luka.

Sekalian hadirin sama bersorak girang, sedang Ceng Bo sendiripun tak menyangkanya sama sekali.

Juga Tio Jiang sendiripun girang, namun wajahnya tetap tenang.

Begitu maju, dia kirim lagi sebuah serangan dalam jurus "Cing Wi tiam hay".

Tapi kini The Go tak mau menderita lagi.

Belum lawan menyerbu datang, dia sudah pendakkan tubuh dan memainkan ilmupedang Chit-sat-kiam-hwat.

Sebuah lingkaran sinar hijau, maju menyongsong.

Dua2 sama merangsang hebat dan trang........

belasan kali kuan-wi-kiam dan yap-kun-kiam itu harus saling menguji ketajamannya.

Nyata dalam, sekejap waktu saja, keduanya telah bertempur tak kurang dari 20-an jurus.

Bagi orang yang masih dangkal ilmunya, tentu mengira kalau kedua pemuda itu bertempur mati2an.

Tetapi sebaliknya Kui-ing-cu, Sin-eng Ko Thay timbul kecurigaannya.

Juga Ceng Bo mendapat kesan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Diantara sekian banyak macam senjata, pedang adalah yang paling sukar sendiri diyakinkan.

Juga ilmu permainannya paling kaya dengan gerak perobahan.

Pada umumnya, ilmupedang itu tentu berpokok pada "kelincahan"

Dan "ketangkasan".

Kedua seteru itu bertempur secara mati2an, jadi tentu saling menggunakan seluruh kepandaian masing2.

Ditilik dari nilai kepandaian kedua anak muda itu, tak nanti mereka begitu sering membenturkan pedang pada pedang musuh.

Tapi oleh karena mereka bertempur secara rapat, maka hanya sinar dan bunyi benturan kedua pedang itu saja yang kelihatan, dan bagaimana cara mereka menggunakan jurus masing2, sukar dilihat.

Memang dalam pandangan, pertempuran itu amat seru sekali.

Para hadirin sama menahan napas menyaksikannya.

Kira2 7 atau 8 puluh jurus kemudian, barulah keduanya 'tampak berpencar.

Tampak wajah Tio Jiang agak terkejut heran, sebaliknya The Go kelihatan tertawa iblis.

Luka dipundak kirinya sudah tak berdarah lagi, hanya separoh dari leher bajunya berlumuran darah.

Selang beberapa jenak kemudian, Ti Jiang putar pedangnya lagi, maju menusuk.

Anehnya The Go sudah bergerak tak menurut permainan ilmupedang lagi.

Dia angkat pedangnya, menabas kebawah.

Tio Jiang tak menduga dan tak keburu pula untuk merobah gerakannya, trang...........

lagi2 kedua pedang mereka saling beradu.

Tio Jiang turunkan pedang kebawah, untuk membabat paha lawan, tapi yang hendak dibabat itu cepat hadangkan pedangnya kemudian mencongkel keatas, trang........

kembali sebuah benturan terjadi.

Kini baru sekalian orang menjadi jelas.

Terdengarnya berulang kali adu benturan senjata ketika kedua lawan itu bertempur rapat2 tadi, tentulah dari perbuatan The Go yang rupanya sengaja menjalankan siasat itu.

Kejadian itu mengherankan sekalian orang.

Kalau siasat The Go itu dimaksud untuk melelahkan tenaga Tio Jiang, terang salah besar.

Karena nyata2 kini lwekang Tio Jiang setingkat lebih tinggi dari The Go.

Tapi mengapa dia berbuat begitu ?

Dalam waktu orang2 sama mencari jawaban atas dugaannya itu, kembali didalam gelanggang terdengar belasan kali gemerontang dari suara senjata saling beradu.

Kini mau tak mau, Tio Jiang bercuriga juga.

Lewat 20 jurus kemudian, Tio Jiang mendapat pikiran.

Terang kenyataaan membuktikan bahwa kini dia menang kekuatan dari lawan, mengapa tidak menurutkan saja siasat lawan.

Adu ya adu, tentu dia dapat memukul jatuh senjata lawan.

Dengan keputusan itu, dia tak mau menghindar lagi, tapi malah menghantam senjata lawan.

Me-lengking2 dering benturan kedua pedang pusaka itu, sehingga membuat hati para hadirin turut bergetar.

Kini Tio Jiang menusuk lagi dengan jurus Hay-li-long-huan dan kembali The Go hadangkan pedangnya untuk menangkis.

"Bagus!"

Seru Tio Jiang sembari kerahkan lwekang kearah lengannya, lalu mengibas se-kuat2nya.

Tapi diluar dugaan, begitu saling melekat, secepat itu pula The Go tarik pedangnya kebawah, hingga membuat Tio.

Jiang terhuyung.

Syukur kini kepandaiannya bertambah pesat, jadi walaupun dalam gugup masih dapat dia mempertahankan kakinya lalu kejarkan pedangnya kebawah untuk menindas pedang lawan.

The Go yang cerdik tak mau sia2-kan kesempatan sebagus itu.

Tenaga lawan tadi telah terbuang percuma dan kini baru mulai menghimpun lagi, maka sebelum sempat mengerahkannya, dia sudah mendahului menangkiskan pedang keatas se-kuat2nya kemudian berbareng itu dia pakai dua buah jari tangan kirinya untuk menutuk jalan darah ki-bun-hiat yang terletak disebelah tetek lawan.

Bukan main terkejutnya Tio Jiang.

Hendak menghindari tutukan orang, terang tak keburu.

Untunglah pada saat itu pedang mereka sudah saling menempel, maka dia segera kerahkan lwekangnya untuk menindas pedang lawan sehingga The Go seketika itu rasakan lengannya kesemutan nyeri sekali.

Sudah tentu dengan sendirinya jari tangan kirinya yang hendak dibuat menutuk tadi batal, berkat tekanan yang diderita oleh tangan kanannya tadi.

Kini dia pentang kelima jari tangan kiri untuk mencengkeram siku tangan Tio Jiang.

Cengkeram itu luar biasa sekali gayanya.

Telunjuk, jari tengah dan jari manis tepat hendak mengarah jalan darah yang-ko, yang-hwat dan yang-ti.

Karena sedang kerahkan lwekang untuk menindih tangan orang, maka Tio Jiang tak mengira kalau lawan akan berbuat begitu.

Terpaksa dia gunakan tangan kiri untuk menabas, tapi dengan sebatnya The Go tarik lengannya kiri kebelakang.

Kini sepasang tangan Tio Jiang telah digunakan semua, jadi perhatiannyapun terpecah.

Lubang kesempatan itu, dipergunakan se-baik2nya oleh The Go.

Dia kerahkan seluruh Iwekang kearah pedangnya, berbareng itu kakinya menendang.

Tio Jiang menghindar kesamping, sembari hantamkan tangan kiri kedada orang.

Tapi pada saat itu The Go perhebat gerakannya pedang, hingga Tio Jiang rasakan tangannya kanan kesemutan.

Ketika dia hendak perkeras lwekangnya untuk menindih lagi, tangan kiri lawan menangkis tangan kirinya hendak dibuat menghantam dada tadi, kemudian malah terus hendak menutuk jalan darah cun-kwanhiat disikunya.

Tio Jiang kibaskan sikunya, tapi The Go berlaku nekad.

Tak peduli separoh tubuhnya dapat dihantam musuh, dia terus menyodokkan jarinya kemuka dan berhasil juga akhirnya untuk menutuk siku lawan itu.

Seketika itu juga siku tangan kanan Tio Jiang serasa lunglai, tanganpun kendor dan sekali sentak dapatlah The Go membuat pedang lawan terpental keudara.

Tio Jiang terkejut sekali, cepat dia miringkan tubuh, kelima jari tangan kanan mencengkeram dada orang, sedang tangan kiripun menghantam tepat mengenai pundak kanan The Go, aduh........

sekali The Go mengerang kesakitan, tahu2 pedangnya kuan-wi-kiampun terpental jatuh.

Tio Jiang membarengi gerakkan kakinya untuk menendang keluar pedang lawan itu.

Sesosok bayangan hitam melesat menyanggapi kuan-wi-kiam.

Kiranya itulah Kiang Siang Yan yang sudah tinggalkan tempat duduk menyanggapi pedang kesayangannya.

Sementara pedang yap-kun-kiam tadipun dapat disambut oleh Sin-eng Ko Thay.

Kini kedua anak muda itu tak mencekal senjata lagi.

Rupanya pundak kanan The Go yang termakan hantaman Tio Jiang tadi sakit sekali, sehingga tak dapat digerakkan.

Jadi turut nilai, Tio Jiang sudah menang.

Namun wajah The Go tak mengunjuk rasa jeri.

Oleh karena pertempuran itu besar sekali artinya, jadi kesudahan tadi belum berarti berakhirnya pertempuran.

Tiba2 Bek Lian mengambil pedang kuan-wi-kiam dari tangan Kiang Siang Yan dan berseru kepada The Go.

"Engkoh Go, maukah kau terima pedang ini lagi ?"

Mendengar itu Yan-chiupun tak mau kalah hawa.

"Suko, ini pedangmu, guratkanlah dua buah luka pada tubuh manusia itu!"

Serunya. Tapi belum Tio Jiang menyatakan apa2, dengan garang The Go sudah menyahuti tawaran Bek Lian tadi.

"Lian-moay, tak usah pakai pedang lagi. Karena sudah terlepas, masa masih tak sungkan menggunakannya lagi?"

Mendengar itu, tiba2 Kui-ing-cu berseru tertahan.

"Celaka ! "

Yan-chiu cepat2 menanyakan dan Kui-ing-cupun segera menyahut.

"Bangsat itu mendesak dengan kata2, supaya kedua fihak tak menggunakan pedang lagi. Entah dia mempunyai simpanan apa yang lihay, maka begitu garang sekali!"

Teringat akan sesuatu, jantung Yan-chiu berdetak keras.

Serangkum hawa dingin menyelubungi dada sampai keujung kakinya, wajahnyapun pucat lesi.

Kui-ing-cu menjadi heran.

Siwsanya nona itu sangat lincah, tak kenal takut.

Mengapa kini tiba2 menjadi ketakutan sedemikian rupa ?

Berpaling kearah gelanggang, dia dapati Tio Jiang dan The Go masih saling tukar pandangan mata.

Rupanya mereka sedang menghembus napas, mengerahkan lwekang masing2.

The Go berusaha menyalurkan lwekang supaya lengan kanannya dapat digerakkan lagi.

Sedang Tio Jiang tak henti2nya meng-gerak2kan siku tangannya untuk membuka jalan darahnya yang kena tertutuk tadi.

"Siao-ah-thau, kau kenapa ?"

Tanya Kui-ing-cu berpaling kearah Yan-chiu.

"Kalau Kui-ing-cu tak menanyakan, paling banyak Yan-chiu hanya berdiam diri saja. Tapi begitu ditanya, tiba2 mata sigenit itu ber-kicup2 dan mengucurkan dua tetes air mata.

"Suko, aku telah mencelakai dirimu.!"

Katanya sembari ter-isak2.

"Apa itu, lekas katakan. Mumpung masih ada tempo, kita bisa cari daya!"

Desak Kui-ing-cu.

"Ceng-ong-sin! Ceng-ong-sin!"

Yan-chiu mengoceh seperti orang gila.

Mendengar itu, Ceng Bo siangjin dan lain2nya sama terkesiap kaget.

Benar juga ketika mereka memandang kearah gelanggang, dilihatnya The Go sudah mengeluarkan sepasang sarung tangan hitam.

"Siaoko, lekas lepaskan bajumu!"

Seru Kui-ing-cu dengan gugup, Tio Jiang heran, tapi demi didengarnya suara Kui-ing-cu tadi mengunjuk kecemasan, diapun menurut.

Baru, dia lepas baju, disana The Go sudah mengeluarkan sebuah bumbung bambu.

Sekali menyentil tutupnya, maka seekor ular tiok-yap-ceng (hijau daun) sebesar jari tangan, segera menjulurkan kepalanya keluar.

Secepat kilat The Go segera ulurkan tangan untuk mencengkeram ekor ular itu.

Ular itu menggeliat dan menjulurkan kepalanya keatas hendak merangsang muka The Go, tapi dengan sebat sekali The Go, kibaskan tangannya, sembari maju kemuka.

Kibasan itu tepat sekali, ular tak dapat menggigit mukanya tapipun tak sampai remuk tulangnya (siular).

Begitu terkibas kemuka dan melihat Tio Jiang, ular itu segera hendak memagut Tio Jiang, siapa dengan gugup menghindar.

Kini tahulah Tio Jiang mengapa Kui-ing-cu tadi menyuruhnya membuka baju.

Dalam tangan Tio Jiang, baju lemas itu dapat merupakan suatu senjata lihay yang apabila dikebutkan dapat mengeluarkan samberan angin yang dahsyat.

Kala itu suasana diperjamuan situ menjadi hiruk pikuk.

"Jahanam, sungguh keji sekali kau. Masakan benda macam begitu hendak dijadikan alat membunuh orang!"

Salah seorang yang berangasan kedengaran memaki.

Namun The Go tulikan telinga.

Serangan pertama tak memberi hasil, dia maju beberapa langkah kemudian ter-huyung kesamping dan sekali loncat dia sudah berada dibelakang Tio Jiang.

Ceng-ong-sin dikibaskan supaya menggigit tulang punggung orang, siapa karena tak keburu berputar tubuh segera gunakan jurus hong-cu-may-ciu ter-huyung2 kesamping.

Kemudian dari situ, dengan gerakan kaki soh-tong-thui, dia menyapu kaki lawan.

The Go tertawa mengejek.

Ceng-ong-sin ditarik kebawah.

Sedikit saja Tio Jiang ayal, pahanya tentu akan rowak.

Ini disebabkan karena tubuh ular itu mempunyai sisik tajam yang berbisa sekali.

Kecuali diobati dengan empedu dari ular itu sendiri, walaupun tabib semasyhur Hwa To dari jaman Sam Kok hidup lagi, pun tak nanti dapat menolong jiwa orang yang terluka.

Ternyata maksud keji The Go itu tak sampai mengenai sasarannya.

Tapi diapun tak mau berhenti sampai disitu saja.

Secepat kilat, dia kibaskan lagi ular itu kemuka.

Rupanya setelah di-obat-abitkan beberapa kali oleh The Go, ular itu menjadi buas.

Tanpa tunggu sampai tangan The Go mendorongkannya kemuka, otomatis ular itu sudah merangsang kemuka.

Sebelum Tio Jiang sempat mengebutkan baju, ular itu sudah menggigit pada celananya.

Saking terkejutnya, Ceng Bo siangjin dan kawan2nya serentak sama berbangkit.

Malah Yan-chiu sudah menjerit keras.

"Jiang suko!"

Sekali tangannya menekan meja, ia segera melesat maju.

"Manusia iblis macam begitu, mana boleh dibiarkan hidup didunia persilatan!"

Berbareng itu terdengar suara makian dan se-konyong2 seorang gemuk pendek, loncat kemuka dengan menghunus golok.

Kala itu Tio Jiang rasakan celana kakinya mengencang dan bulu kakinya berdiri.

Tapi dalam pada itu dia rasakan daging betisnya masih tak merasa sakit, maka secepat kilat dia menarik kuat2 kebelakang, wekkk........

celana kakinya telah robek dowak2, namun untung betisnya tak sampai termakan ular.

Keringat dingin mengucur membasahi tubuhnya.

The Go heran dibuatnya mengapa lawan masih bisa lolos.

Tapi segera dia tahu sebabnya, yakni gigitan mulut siular tadi tak sampai kebagian daging, hanya kurang beberapa dim jaraknya.

Sedang Yan-chiu serasa longgar sekali dadanya dari himpitan sebuah batu besar, jantungnya berdebar2 seperti hendak loncat keluar.

Ia terkesiap diam, termangu2 berdiri disitu.

Tapi silelaki gemuk pendek tadi maju terus dan datang2 lalu membacok The Go.

Baru saja goloknya diangkat, se-konyong2 ada segumpal asap merah meluncur pesat sekali kearahnya.

The Go dan Yan-chiu yang kenal akan barang lihay, buru2 loncat menghindar.

Tidak demikian dengan sigemuk pendek tadi.

Dia masih enak2 berdiri ditempatnya, tapi pada lain saat, kedengaran suara jeritan seram dan tubuh sipendek itu terhampar, bum.......hanya sekali dia menggerang, terus diam tak berkutik lagi.

Kini sekalian hadirin sama mengetahui, bahwa gumpalan asap, merah tadi, ternyata adalah tubuh Ang Hwat cinjin yang melesat laksana sesosok bayangan.

Setelah cepat membanting sipendek, cinjin itu tegak dengan tenangnya.

Saat itu, dari salah sebuah kursi, tampak ada seorang loncat kemuka gelanggang, lalu menubruk ketubuh pendek yang sudah tak bernyawa itu, menangis tersedu sedih.

Kini baru tahulah Ceng Bo siangjin bahwa sigemuk pendek itu adalah tokoh persilatan dari daerah Kwisay.

Dia bernama Yo Ngo-long yang bersama sutenya digelari orang sebagai Chiu san song-kiat (sepasang orang gagah dari gunung Chiu san).

Yang menangisi jenazahnya itu, yalah sang sute bernama Lau Hong.

Melihat kini Ang Hwat cinjin sudah turun kegelangang, semua orang sama berdiri dari tempat duduknya.

Kedengaran cinjin itu tertawa dingin, katanya.

"Satu lawan satu, tak boleh ada lain orang yang membantu. Orang itu telah merusak tata cara persilatan, apalagi hendak turun tangan secara kejam, maka mati itupun sudah selayaknya!"

Yo Ngo-long dengan sebatang golok, bukannya tokoh yang tak ternama.

Dalam dunia perusahaan antar barang (piau kiok), namanya sangat terkenal.

Perbuatan Ang Hwat yang sudah membunuhnya tadi, telah menerbitkan kemarahan orang banyak.

Tapi karena cinjin itu dapat menindas kemarahan orang banyak dengan kata2nya yang tajam, terpaksa sekalian orang tak dapat berbuat apa2 kecuali menahan diri.

Namun Lou Hong tak dapat bersabar.

Tak peduli Ang Hwat cinjin itu bagaimanapun lihaynya, tapi karena suhengnya dibinasakan orang, dia kalap betul.

"Ang Hwat loto, orang she Lau hendak mengadu jiwa dengan kau !"

Serunya sembari maju menyerang dengan sepasang poan-koan-pit.

Melihat itu sekalian orang gagah hendak mencegah tapi sudah tak keburu.

Ang Hwat tenang2 saja berdiri ditempatnya.

Begitu sepasang pit Lau Hong tiba didadanya, Ang Hwat gerakkan tangannya dan tahu2 sepasang pit kepunyaan lawan itu sudah pindah ditangannya.

Kalau Lou Hong mau sudah dengan begitu saja tentulah takkan sampai mengalami hal2 yang mengenaskan.

Tapi dia sudah terlanjur umbar kemarahan, tekadnya sudah bulat untuk mengadu jiwa.

GAMBAR 71 Sungguh celaka bagi Lau Hong, bukannya Ang Hwat Cinjin roboh kena pukulannya, sebaliknya ia sendiri yangi kena disengkelit kelantai hingga terbanting mampus.

Dia ayunkan kepalan kanan untuk menjotos dada Ang Hwat, bluk............

suaranya seperti memukul kayu lapuk, dan lengan Lau Hong itu terkulai kebawah.

Masih dia tak mau sudah, tangannya kiri menyusul menampar muka Ang Hwat.

Kali ini Ang Hwat tak mau memberi ampun lagi.

Sekali sawut tangan orang, dia segera melontarkannya.

Ada beberapi orang gagah hendak maju menolongi, tapi sudah kasip karena cara Ang Hwat menggerakkan tangannya tadi sungguh istimewa.

Lau Hong tergelapar jatuh dilantai, tiada bernyawa lagi.

Tulang belulangnya remuk.

"Siapa yang berani hendak membantu kedua orang yang bertempur itu, akan mengalami nasib serupa dengan kedua orang ini. Barangsiapa yang tidak terima, silahkan tampil kemuka, pinto bersedia untuk menemani main2 beberapa jurus!"

Ang Hwat cinjin sumbar2 dengan suara nyaring.

Kumandang suara cinjin itu disambut dengan hening diseluruh medan perjamuan itu.

Setiap orang insyaf bukan tandingan Ang Hwat, jadi sama berdiam diri.

Hanya Ceng Bo siangjin seorang diri yang berpendapat lain.

Kalau saat itu dia tak unjuk diri, kelak bagaimana dia hendak berjumpa dengan orang2 persilatan?

Terang dia bukan tandingannya Ang Hwat, tapi dia tak boleh tinggal diam saja karena takut mati.

"Yang satu tadi karena salah hendak membantu orang bertempur, harus dibinasakan. Tapi untuk orang yang kedua, mengapa juga diperlakukan sedemikian kejamnya ?"

Serentak dia berseru lantang. Ang Hwat tertawa ter-kekeh2, sahutnya.

"Siapa yang suruh dia tak tahu diri, berani kurang adat pada pinto. Apakah siangjin tidak puas ?"

Ang Hwat mempunyai perhitungan yang amat cermat.

Dia tahu walaupun bukan yang tergolong lihay sendiri, tapi peribadi Ceng Bo itu mempunyai wibawa besar yang secara otomatis menempatkan dirinya sebagai pemimpin dari para orang gagah yang hadir disitu.

Mereka adalah anasir2 penentang pemerintah Ceng.

Kalau Ceng Bo dilenyapkan, persekutuan mereka tentu goncang.

Dan ini suatu pembuka jalan untuknya memperoleh pahala dari pemerintah Ceng.

Maka sengaja dia pancing siangjin itu dalam suatu pertempuran.

Juga Ceng Bo tetap berpegang pada pendiriannya tadi.

Sekali enjot, dia melesat maju.

Kui-ing-cu dan si Bongkok insyaf bagaimana pentingnya peran Ceng Bo dalam membangun Thian Te Hwe nanti.

Kala Ceng Bo menyatakan suaranya tadi, mereka sudah amat gelisah.

Mereka yakin, siangjin itu tentu berpantang mundur.

Maka begitu menampak Ceng Bo hendak bergerak maju, mereka berdua segera hadangkan tangan hendak mencegah.

Namun rupanya Ceng Bo sudah bulad tekad, yap-kun-kiam dikibaskan kekanan kiri untuk memapas kedua lengan bajunya yang dipegangi oleh kedua tokoh tadi, lalu terus loncat ketengah gelanggang.

Kui-ing-cu makin gugup.

Dalam keadaan seperti saat itu, dia tak mau main pegang aturan macam apa saja, lalu loncat mengikuti Ceng Bo.

Tapi se-konyong2 Ceng Bo lintangkan pedangnya sembari berseru.

"Siapapun tak boleh ikut2an !"

Kui-ing-cu terkesiap, sedang Ceng Bo melanjutkan lagi kata2nya.

"Walaupun pertempuran saat ini bukan lagi bersifat adu kepandaian menurut kebiasaan orang persilatan, namun peraturan tetap peraturan, tak boleh dilanggar. Harap sekalian sahabat turut menyaksikan saja, jangan ikut camnur!"

Kui-ing-cu tak dapat berbuat apa2 lagi, melainkan terpaksa duduk.

Dia dan si Bongkok menganggap, siangjin itu terlalu memegang teguh sifat ksatryaannya.

Semua mata dari yang hadir, ditujukan kearah Ceng Bo dan Ang Hwat.

Saat itu The Go sudah menyimpan ceng-ong-sin, sedang Tio Jiangpun menyisih kepinggir.

Sembari mencekal pedangnya, Ceng Bo memberi hormat.

"Cinjin, silahkanlah!"

"Harap siangjin mulai lebih dahulu,"

Ang Hwat pun membalas hormat seraya menyilahkan.

Suasana dalam medan perjamuan itu menjadi genting.

Semua orang tahu bahwa Ceng Bo tentu kalah.

Tio Jiang gelisah bukan main.

Dia memandang kearah Bek Lian, hatinya makin pedih geram, karena suci itu hanya selalu memperhatikan The Go saja, sedikitpun tak ambil mumet akan keselamatan ayahnya.

Malah ibunya (Kiang Siang Yan) yang walaupun sorot matanya dingin, tapi mau juga mengawasi kearah Ceng Bo.

"Maaf!"

Seru Ceng Bo sembari maju menusuk.

Ang Hwat rangkapkan kedua tangan, lalu mendak kemuka hendak menutuk jalan darah than-tiong-hiat lawan.

Dengan cepat Ceng Bo tarik pulang pedang dan mundur setindak.

Pedang diputar dalam bentuk lingkaran sinar dan dengan jurus "Ceng Wi tiam hay", dia lancarkan serangan yang kedua.

Ang Hwat tetap tak mau menyingkir, sekali tangan menghantam kemuka, serangkum angin menderu dahsyat hingga seketika itu Ceng Bo rasakan tangannya kesemutan dan pedangnya hampir saja terlepas.

Buru2 dia kerahkan tenaga untuk mencekalnya erat2, tapi ujung pedang mencong arahnya.

Ang Hwat tak tahu kalau Ceng Bo baru saja hamburkan lwekang untuk menolong Sik Lo-sam.

Demi diketahui kepandaian Ceng Bo hanya begitu saja, dia tertawa gelak2, serunya.

"Kukira Hay-te-kau itu sungguh2 lihay, kiranya hanya sebuah kulit kosong saja!"

Karena pedangnya miring, dada Ceng Bo terancam dengan tutukan jari lawan, maka terpaksa dia mundur lagi beberapa tindak.

"Hay-te-kau ternyata hanya bernama kosong saja, tak lebih dari kekuatan sebuah jari tanganku saja!"

Kembali Ang Hwat menghina lawan.

Walaupun tahu Ceng Bo diperlakukan begitu, namun sekalian orang tak berani turun tangan.

Lebih2 Tio Jiang, dia seperti semut diatas kuali panas.

Mendapat angin, Ang Hwat tak mau sungkan lagi.

Sekali melesat, dia menerjang lagi.

Tapi Ceng Bo segera menyambutnya dengan 3 buah jurus permainan pedang, Ang Hwat tak berani gegabah hantam kromo.

Dia berhenti sebentar untuk mengirim sebuah pukulan lwekang.

Tapi 'dengan se bat sekali Ceng Bo teruskan lagi dengan 3 buah serangan berantai.

Tio Jiang tak mengerti letak kelihayan dari ke 6 serangan berantai sang suhu itu.

Juga diseluruh medan perjamuan itu tak seorangpun yang tahu kecuali Kiang Siang Yan seorang.

Itulah salah suatu gerak perobahan yang paling sakti dari ilmupedang To-hay-kiam-hwat.

Dari 3 dan 3, menjadi 7 dan 7.

Kalau bukan Ang Hwat cinjin, lain orang pasti sukar untuk menghindar dari serangan itu.

Mata Ang Hwat yang tajam segera mengetahui bahwa lwekang lawan itu lemah sekali, maka dia melesat kesamping orang dan menghantam.

Tapi kali ini Ceng Bo sudah bersiap.

Begitu samberan pukulan lawan tiba, dia cepat turunkan pedang terus menusuk.

Ang Hwat perdengarkan ketawa dingin, dan membalas dengan dua buah hantaman lwekang lagi.

Kedahsyatan pukulan itu, ibarat dapat menghancurkan batu gunung.

Seketika Ceng Bo rasakan ada suatu tenaga gempuran maha dahsyat menyerangnya.

Goyah lah kuda2.

kakinya kena tergempur, lalu melejit kesamping.

Ang Hwat tak mau memberi hati, dia memburu maju untuk menutuk dengan sebuah jarinya lagi.

Untuk kesekian kalinya, terpaksa Ceng Bo mundur pula.

(Oo-dwkz-kupay-oO) BAGIAN 40 .

BERSATU KEMBALI Ang Hwat nekad tak mau tarik pulang jarinya.

Kakinya bahkan mengisar maju dan gerakkan tangan kiri menghantam.

Diburu oleh jari dan kepelan itu, Tieng Bo terpaksa main mundur sembari bolang balingkan pedang untuk melindungi diri.

Ber-turut2 dia mundur sampai belasan tindak, jadi hampir separoh dari gelanggang itu habis sudah diputarinya.

GAMBAR 72 Sekali Ang Hwat Cinjin bergerak, cepat ia merangsang maju.

Tapi Ceng Bo Siangjin sempat putar pedangnya sambil melangkah mundur.

"Entah bagaimana Hay-te-kau dapat memperoleh kemasyhuran nama itu ya ?!"

Kembali Ang Hwat mengejek dengan tertawa.

Sudah sejak bergebrak tadi, Kui-ing-cu mendongkol sekali atas sikap kepala gereja Ang Hun Kiong yang sedemikian sombongnya itu.

Kali ini, tiba2 pikirannya tergugah.

Buru2 dia melirik kearah Kang Siang Yan dan dapatkan nyonyah itupun unjukkan wajah kurang puas.

"Semalam menjadi suami isteri, akan terkenang sampai mati". Rupanya hal itupun berlaku pada Kang Siang Yan. Walaupun ia dapat dikelabui The Go sehingga marah terhadap suaminya (Ceng Bo) yang disangka memusuhi Bek Lian dan The Go itu, namun kecintaan suami isteri tak mudah dihapus begitu saja. Ah, masih ada setitik harapan, demikian Kui-ing-cu mengasah otaknya. Pada saat keadaan Ceng Bo makin payah dan gerakan pedangnya makin lambat seperti tertindih tenaga berat, Kuiing-cu segera bertindak.

"Ang Hwat cinjin, kata2mu itu benar, Hay-te-kau memang hanya sebuah 'kantong nasi' saja!"

Serunya. Mendengar itu, sekalian orang sama terbeliak kaget. Sebaliknya diam2 Ang Hwat gembira. Dia mengira, belum lagi dia jatuhkan Hay-te-kau, kini pikiran orang sudah banyak berpaling haluan.

"Sudah tentu benar!"

Sahutnya. Kui-ing-cu girang, pancingn ya sudah mulai termakan.

"Tapi aku tak habis mengerti, mengapa dahulu Tay Sian Siansu pernah menderita kekalahan dari dia?"

Serunya pula.

Ang Hwat berkeputusan untuk menjelaskan pertanyaan Kui-ing-cu pada saat dan tempat seperti waktu itu.

Kalau tidak, orang2 tentu masih menjunjung Ceng Bo dan tak mengindahkan dianya.

Kubu kekuatan anti penjajah Ceng, bagaikan rumput liar yang sukar dibasmi habis.

Benar dengan terbasmi rombongan Ceng Bo, kekuatan gerakan itu akan terpatahkan sebagian, tapi alangkah baiknya kalau tenaga2 itu dapat digunakan lagi untuk kepentingan barisan kontra perlawanan itu.

Dan inilah kesempatan yang sebagus2nya untuk memikat mereka, demikian pikir Ang Hwat.

Sembari terus mendesak Ceng Bo, dia tertawa menyahut.

"Itulah karena kelemahan Tay Siang Siansu sendiri."

"Sepasang ilmu pedang hoan-kang-kiam-hwat dan to-haykiam-hwat, telah menggetarkan dunia persilatan selama lebih 30 tahun lamanya, masakan hanya bernama kosong saja? Ada sebuah pameo dalam dunia persilatan. Hay-te-kau -Kang Siang Yan, sepasang pedang malang melintang didunia persilatan, hoan-kang (menjungkirkan sungai) to hay (membalikkan laut) selama 30 tahun! Masakan kau tak tahu akan hal itu ?"

Kui-ing-cu tetap mengulur umpan. Di-kili2 begitu, lupalah sesaat Ang Hwat bahwa Kang Siang Yan berada disitu, mulutnya segera berlincah.

"Apa itu sih, Hay-te-kau Kang Siang Yan! He, he, dalam pandangan pinto (aku), mereka 'kantong nasi' semua!"

Kui-ing-cu hampir berjingkrak karena girangnya.

Benar juga seketika itu bangkitlah Kang Siang Yan dengan serentak.

Wajahnya sudah menampil kemarahan hebat.

Kui-ing-cu tak mau sia2kan kesempatan itu.

Dia siram lagi api kemarahan Kang Siang Yan itu dengan minyak.

Sembari tertawa ter-kekeh2 dia berseru nyaring2.

"Amboi! Kiranya bukan hanya Hay-te-kau seorang yang jadi 'kantong nasi', Ha......, haaa......, sungguh penipuan nama besar2an! Ucapan cinjin sedikitpun tak salah, aku mengertilah sekarang!"

Hebat ilmu silatnya, aneh watak perangainya dan tajam juga lidahnya. Itulah tokoh Kui-ing-cu. Tu lihat, Kang Siang Yan sudah "terbakar"

Olehnya.

"Ang Hwat cinjin, coba kau perdatakan siapa yang disini ini "

Seru Kang Siang Yan dengan sinis.

"Mah, kau ini bagaimana ?"

Buru2 Bek Lian memperingatkan. Juga The Go terkejut bukan alang kepalang dan cepat2 berseru .

"Gak-bo !"

Kang Siang Yan anggap dirinya tak dibawah Ang Hwat. Dihina terang2an dihadapan sekian banyak orang persilatan, mana ia mau tinggal diam saja.

"Diam!"

Bentaknya kepada Bek Lian dan The Go, sehingga kedua anak muda itu tak berani bercuit lagi.

Saat itu Ang Hwat seperti diguyur air dingin.

Insyaflah kini dia kalau kena dipermainkan oleh Kui-ing-cu hingga bikin marah pada Kang Siang Yan.

Dengan gengsinya sebagai datuk persilatan yang dimalui orang, masakan dia ada muka untuk menarik kembali kata2nya yang sudah diucapkan dihadapan sekian banyak orang itu!

Namun dengan berbuat begitu, artinya dia membuka permusuhan dengan wanita yang lihay itu.

Dalam keadaan serba salah itu, sesaat tak dapat dia menjawab pertanyaan Kang Siang Yan tadi.

"Astagfirullah! Jadi Kang Siang Yan dan Hay-te-kau itu 'kantong nasi' semua. Gila, baru sekarang aku mengetahui!"

Kui-ing-cu berseru tinggi-rendah dengan nada di buat2.

"Tutup mulutmu!"

Bentak Kang Siang Yan dengan murkanya. Kui-ing-cu ber-kuik2 seperti babi hendak disembelih, serun ya.

"Oi...., oi....., mengapa....., kan bukan aku yang mengatakan tapi Ang Hwat cinjin! Semua orang sampaipun pintu yang gagu itu menjadi saksinya. Kalau tak berani sama yang mengatakan, jangan tumpahkan kemarahan padaku si 'kantong nasi' kecil lho!"

Pandai benar Kui-ing-cu ber-olok2, sehingga para hadirin sama menekan perut saking gelinya. Api kemarahan Kang Siang Yan berkobar sungguh. Maju dua langkah kemuka, ia berseru.

"Ang Hwat imam tua, mengapa kau begitu tak memandang sebelah mata pada orang ?"

Keadaan Ang Hwat seperti seorang gagu yang makan getah.

Sakit, tapi sukar mengatakan.

Kalau dia diam tak menyahut, berarti akan kehilangan muka dan diam2 dianggap mengakui kesalahannya.

Tapi pada lain saat, timbullah ke-angkuhannya.

"Ya, memang benar mengatakan, lalu bagaimana?"

Ujarnya dengan keras. Sret......., tangan Kang Siang Yan sudah menyiapkan pedang, serunya.

"Bagus! Imam tua, biarlah kini kau ketahui bagaimana tempo dahulu Tay Siang Siansu menderita kekalahannya. ---oodwkz0tkupayoo---Sebuah sinar bianglala ber-kilap2 dari atas kebawah melayang keulu punggung Ang Hwat. Salah sebuah jurus dari ilmu pedang hoan-kang-kiam-hwat yang disebut pah-ong-oh-kang sudah dilancarkan oleh Kang Siang Yan. Dan secara kebenaran sekali, ketika perhatian Ang Hwat terpecah karena melayani percakapan tadi, Ceng Bo lancarkan serangan pembalasan. Dan tepat dikala pedang Kang Siang Yan menari dalam gerak pah-ong-oh-kang tadi, Ceng Bopun bergerak dengan salah satu jurus ilmu pedang to-hay-kiamhwat yang disebut thio-ik-cut-hay. Sudah 10-an tahun lamanya sapasang pedang pit-i-songhong-kiam itu tak muncul didunia ramai. Kini sekali muncul, mereka bahu membahu bersatu kembali. Kang Siang Yang kini memiliki ilmu lwekang sakti thay-im-lian-seng. Sedang lwekang Ceng Bopun sudah banyak kemajuannya, Maka gerak permainan sepasang pedang itu, jauh lebih dahsyat dari 10 tahun yang lalu. Ang Hwat hendak menghantam kemuka untuk menghalau pedang yap-kun-kiam, tapi sesaat itu punggung terasa. disambar hawa dingin, kuan-wi-kiam hanya terpaut satu dim dari kulit punggungnya. Sudah tentu dia tak jadi melancarkan hantamannya tadi itu. Syukurlah dia faham akan segala ilmu silat berbagai aliran, tambahan pula ilmunya mengentengi tubuh sangat sempurna. Dengan gerak han-te-pat-jong, dia enjot kakinya loncat lurus sampai setombak lebih tingginya. Kini dia tak berani bertempur dengan tangan kosong lagi. Membarengi masih melayang diudara, cepat cabut sebuah benda dari belakang punggungnya. Benda itu berwarna hitam legam, sebesar lengan orang, panjang hanya setengah meteran. Entah benda apa itu. Melihat isterinya membantuinya, girang Ceng Bo sukar dilukis. Kala Ang Hwat masih berada diudara, dia. segera berseru dengan pelahan.

"Hong-moay!"

Dipanggil begitu, terkenanglah sesaat Kang Siang Yan akan kebahagiaan kehidupan suami isteri mereka pada 10 tahun berselang.

Tapi hanya untuk beberapa kejab saja kenangan bahagia itu dirasainya, karena pada saat itu Ang Hwat sudah melayang turun dan menutuk bahunya dengan benda hitamnya.

Buru2 ia miring kesamping, lalu balas menusuk.

Tapi ternyata tutukan Ang Hwat itu hanya gertakan saja.

Begitu Kang Siang Yan menusuk, buru2 dia putar tubuhnya untuk secepat kilat menutuk pada Ceng Bo.

Sebenarnya saat itu, demi dilihatnya sang isteri sudah bergerak dengan jurus kedua, Ceng Bopun segera gerakkan pedangnya dalam jurus hoan-thian-kok-hay.

Jadi sepasang pedang itu, menyerang berbareng.

Ang Hwat memusatkan, serangannya kepada Ceng Bo, karena diketahuinya kepandaian siangjin itu lebih rendah dari Kang Siang Yan.

Membarengi dengan sebuah hantaman tangan kiri, benda hitam yang ternyata ber-buku2 (ros2an) se-konyong2 menjulur maju sendiri, hingga hampir saja Ceng Bo termakan, kalau dia tak lekas2 menghindar.

Tapi walaupun demikian, tak urung gerakan kakinya menjadi kacau.

Sepasang ilmu pedang itu harus dimainkan dengan gerakan kaki yang tepat.

Sedikitpun tak boleh kacau atau selisih.

Sayang kepandaian Ceng Bo tak menyamai Kang siang Yan tadipun gagal tak menemui sasarannya.

Ang Hwat getarkan tangannya dan wut......

benda hitam berbuku itu lagi2 menjulur setengah meter panjangnya menyerang Ceng Bo.

Dalam keadaan terdesak itu, Ceng Bo segera gunakan gerak thiat-pian-kio (jembatan gantung), tubuhnya telentang membalik kebelakang.

Hanya dua tiga dim saja senjata Ang Hwat itu lewat diatas dada Ceng Bo.

Setelah bangun, Ceng Bo segera lancarkan ceng-wi-tian-hay, yalah jurus ketiga dari to-hay-kiam-hwat.

Dan tepat pada waktunya; kebenaran juga Kang Siang Yanpun lancarkan jurus yang ketiga pula.

Ang Hwat terpaksa gunakan jurus Kwan Kong melolos jubahnya, Ang Hwat ber-putar2 menghindar.

Anehnya senjatanya benda hitam tadi, tahu2 menyurut sendiri pulang seperti sediakala panjangnya.

Oleh karena terpisah dekat sekali, jadi Kang Siang Yan dan Ceng Bo dapat melihat tegas senjata aneh berbuku milik Ang Hwat itu.

Oleh karena ujung senjata itu agak halus dari bukunya, maka tahulah suami isteri itu kalau didalam senjata itu tentu dipasangi alat2 veer.

Jadi sekali menekan, ujungnya dapat menjulur keluar sendiri, bukan hanya satu dua buku, bahkan sampai tujuh delapan buku.

Setiap buku panjangnya hampir setengah meter.

Jadi dapat dibayangkan betapa lihaynya senjata itu.

Kedua suami isteri itu saling mengicupkan ekor mata.

Tigapuluh tahun berselang ketika mereka baru turun gunung untuk masuk kedunia persilatan, senantiasa mereka bertempur bahu membahu.

Didorong oleh darah muda, mereka selalu bernapsu untuk menang, dan untuk mencapai maksudnya itu mereka telah menetapkan kode dengan kicupan ekor mata.

Baca Juga: Badai Awan Angin Pendekar Sejati 6

Baca Juga: Pendekar Pemetik Harpa 10

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger