Badai Awan Angin Pendekar Sejati 6

Eps 6 Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen

Baca online Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen

Cersil Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen.

"Jadi kau dan Liong Sen sudah berjanji akan sehidupsemati sampai tua. Karena memandang muka keponakanku, hari ini kau kuampuni! Cepat kau pergi dari sini! Selanjutnya jika aku bertemu lagi denganmu, pasti nyawamu akan kucabut!"

Kata Beng Cit Nio.

Sekalipun Beng Cit Nio tidak sepaham dengan Seng Cap-si Kouw, tetapi dia juga sangat sayang kepada Seng Liong Sen.

Cincin itu rupanya hadiah dari Beng Cit Nio pada Seng Liong Sen untuk pertunangannya.

Ci Giok Hian tertegun dan termangu-mangu di tempatnya.

Dia tahu saat itu telah terjadi kesalah pahaman lagi.

Ci Giok Hian ingin memberi penjelasan, tetapi Beng 685 Cit Nio dalam keadaan gusar telah mengusir dia dengan kasar, sehingga mana mungkin Beng Cit Nio mau mendengarkan penjelasan dari Ci Giok Hian.

Ci Giok Hian terkejut bukan main, saat mendengar sebuah suara lirih dan samar-samar masuk ke telinganya.

"Cepat! Cepat pergi! Jika terlambat kau akan celaka!"

Kata suara lirih itu. Ci Giok Hian kaget bukan main. Dia menoleh ke kiri dan kanan. Saat dia memandang ke satu arah, dia lihat Pouw Yang Hian masih duduk tersandar ke dinding ruang batu.

"Suara siapa itu?"

Pikir Ci Giok Hian.

Tiba-tiba Ci Giok Hian mendengar suara tawa terbahakbahak.

Sekarang dia melihat seorang lelaki tua di ujung lorong sedang berjalan mendatangi ke arahnya.

Orang itu tidak lain See-bun Souw Ya adanya.

Pada saat See-bun Souw Ya sedang tertawa terbahak-bahak, Ci Giok Hian mendengar lagi suara lirih itu.

"Cepat pergi, kau harus pergi ke arah Timur!"

Bisik orang itu. Ci Giok Hian seolah mengenali suara lirih itu, tetapi tidak ada waktu baginya untuk berpkir lagi, karena See-bun Souw Ya sudah terdengar berkata dengan suara lantang.

"Nona Tik Khim, kau memang seorang yang berkepandaian tinggi, tetapi kenapa kau menyulitkan muridku?"

Kata See-bun Souw Ya.

Untung See-bun Souw Ya tidak mendengar suara bisikan lirih yang terdengar ke telinga nona.

Ci Giok Hian.

Rupanya ilmu yang digunakan orang yang membisikinya adalah ilmu Thian-tun-coan-im (Ilmu Getaran Langit 686 Untuk Menyampaikan Suara).

Ilmu Thian-tun-coan-im lebih hebat darHimu Coan-imjip-pek, dengan ilmu Thian-tun-coan-im orang yang bersangkutan bisa khusus mengirim suara kepada orang yang bersangkutan, sedangkan Coanim-jip-pek tidak bisa.

Oleh karena itu ilmu Thian-tun-coan-im lebih sulit dipelajari dibanding dengan ilmu Coan-im-jip-pek.

Orang yang menggunakannya juga pasti memiliki lwee-kang yang tinggi.

Dari ayahnya Ci Giok Hian pernah mendengar ilmu itu, tetapi tidak pernah menyaksikan orang mempelajarinya.

Sekarang dia mendengar suara orang yang menggunakan ilmu itu.

Sekarang dia sadar ada orang berilmu tinggi sedang melindungi dirinya.

Orang itu sayang sekali tidak memperlihatkan diri, mungkin ilmu silatnya masih kalah jauh dari See-bun Souw Ya.

Ci Giok Hian dengan tak banyak bicara langsung melesat pergi ke arah Timur.

Tapi See-bun Souw Ya membentaknya.

"Hai! Kau mau lari ke mana?"

Bentak See-bun Souw Ya.

See-bun Souw Ya menyambit dengan dua buah senjata rahasia ke arah Ci Giok Hian.

Yang sebuah diarahkan ke arah Ci Giok Hian sedang yang sebuah lagi ke arah Pouw Yang Hian, muridnya Saat itu Ci Giok Hian sedang melesat di udara, jelas dia tidak akan mampu mengelak serangan See-bun Souw Ya itu.

Sedang senjata yang satunya mengenai Pouw Yang Hian, hingga orang ini berteriak.

"Aaah!"

Pouw Yang Hian berteriak bukan karena kesakitan terkena senjata itu, tetapi totokannya kini telah dibebaskan oleh gurunya.

Sedangkan senjata rahasia yang ditujukan ke arah Ci Giok Hian meluncur cepat, namun tiba-tiba dari ruang tahanan pun meluncurlah guci arak ke arah senjata itu.

"Tang!"

Senjata rahasia yang mengarah ke tubuh Ci Giok Hian beradu dengan guci arak, dan langsung jatuh ke lantai.

Celakanya guci arak yang berbenturan dengan senjata rahasia See-bun Souw Ya itu, justru jatuh dan menimpa ke kepala Pouw Yang Hian.

"Duk! Prang!"

Guci arak beradu dengan kepala Pouw Yang Hian sehingga dalam seketika kepala Pouw Yang Hian terluka parah, darah mengucur dari kepalanya dan membasahi wajahnya Pada saat yang bersamaan Beng Cit Nio muncul dari kamar tahanan sambil berkata dengan suara dingin.

"Bagus, kau ingin melampiaskan kedongkolan muridmu, ya?' kata Beng Cit Nio.

"Oh, maaf aku tidak berani!"

Kata See-bun Souw Ya.

"Hm! Terima kasih karena See-bun Sian-seng tidak banyak bertanya, kalau begitu, silakan!"

Kata Beng Cit Nio.

Ucapan itu sama seolah Beng Cit Nio telah mengusir See-bun Souw Ya agar segera meninggalkan tempat itu.

Bukan pergi tetapi See-bun Souw Ya malah melangkahkan kakinya dua langkah sambil berkata dengan dingin.

"Ini masalah kecil tidak perlu diungkit lagi,"

Kata See-bun Souw Ya. Kening Beng Cit Nio berkerut.

"Oh! Kalau begitu masih ada urusan besar yang lain?"

Kata Beng Cit Nio. See-bun Souw Ya mendengus.

"Hm! Aku hanya mau bertanya, mau apa kau ke mari?"

Kata See-bun Souw Ya. Beng Cit Nio tertawa dingin.

"Ini tempat tinggalku, aku bebas mau ke mana aku suka!"

"Kau sudah mengatakan bahwa penjagaan terhadap Han Tay Hiong menjadi tugasku, tetapi mengapa kau ikut campur lagi dalam masalah ini?"

Kata See-bun Souw Ya.

Beng Cit Nio mengeluarkan suara dingin dari hidungnya "Hm!

Aku akui aku memang wanita berhati sempit, juga aku sebal melihat kalian bertingkah di tempatku ini!

Jika aku ikut campur lalu kau mau apa?"

Kata Beng Cit Nio. See-bun Souw Ya tertawa dengan tawa liciknya.

"Aku tidak bisa mencegahmu, jika Cit Nio mau ikut campur aku mohon petunjuk darimu!"

Kata See-bun Souw Ya. Beng Cit Nio tertawa dingin.

"Oh! Jadi kau ingin menjajal ilmu silatku?"

Saat keduanya sedang adu bicara, Ci Giok Hian sudah melompat ke pagar tembok dan sudah pergi jauh.

Saat dia berlari ke arah timur, terlihat Chu Kiu Sek muncul dari arah barat.

Chu Kiu Sek muncul karena mendengar suara tawa See-bun Souw Ya.

Sekalipun dia melihat Ci Giok Hian melewatinya, tapi dia tidak mengejarnya Tapi saat di ruang tahanan, pewarna yang menyamarkan wajah nona Ci telah dihapus, ini membuat Chu Kiu Sek jadi mengenalinya.

Melihat hal itu dia tidak rela Ci Giok Hian lolos dari tangannya.

Tiba-tiba Chu Kiu Sek 689 mengayunkan tangan, maka meluncurlah senjata rahasia ke arah Ci Giok Hian.

"Seeer! Seer!"

Namun suara itu disusul oleh suara.

"Tang!Ting!"

Chu Kiu Sek tidak mengira senjata rahasianya terpukul oleh batu kerikil sehingga senjata rahasia itu berjatuhan ke lantai dengan sia-sia. Chu Kiu Sek kaget bukan kepalang.

"Hm! Rupanya Beng Cit Nio menyembunyikan pesilat tinggi di tempat ini?!"

Pikir Chu Kiu Sek. Baru saja Chu Kiu Sek berpikir begitu dia mendengar suara pertarungan di ruang tahanan. Oleh sebab itu buruburu Chu Kiu Sek melompat ke arah ruang tahanan sambil berteriak.

"Tangkap gadis itu!"

Teriak Chu Kiu Sek.

Begitu teriakan Chu Kiu Sek sirna, tampak dua orang melesat ke arah Ci Giok Hian.

Yang seorang membawa sebilah pedang sedang yang seorang lagi bertangan kosong.

Selain kedua orang itu tampak ada tiga orang lagi yang baru muncul.

Mereka langsung menghadang dan mengepung nona Ci.

Maka apa boleh buat Ci Giok Hian harus menerjang para penghadangnya itu.

Melihat nona Ci maju dengan nekat ke arah mereka, para penghadang itu kaget bukan kepalang.

Mereka tahu nona Ci anak buah Beng Cit Nio.

Bagi orang yang tidak tahu tentang Beng Cit Nio, mereka menganggap Beng Cit Nio ini Iblis Wanita yang sering membunuh orang tanpa belas kasihan.

Malah See-bun Souw Ya mau pun Chu Kiu Sek sangat hormat kepada wanita ini.

Sedang kedua orang yang menghadang Ci Giok Hian, mereka bawahan See-bun 690 Souw Ya dan Chu Kiu Sek.

Sudah jelas mereka berdua tidak berani melakukan kesalahan terhadap Beng Cit Nio.

Tadi mereka telah mendapat perintah dari Chu Kiu Sek untuk menangkap nona Ci, mau tidak mau mereka harus ikut membantu menghadang Ci Giok Hian.

Ketika mereka menyaksikan Ci Giok Hian dengan ganas menerjang ke arah mereka, kedua orang itu jadi serba salah.

Jika mereka turun tangan dengan kejam mereka khawatir akan melukai nona Ci.

Jika mereka tidak turun tangan, malah merekalah yang akan celaka oleh Ci Giok Hian.

Berhubung kedua orang itu ragu-ragu, ketika serangan dari Ci Giok Hian mendadak sampai, terpaksa mereka menangkis serangan nona Ci itu.

Tetapi sesudah tangan mereka bentrok, tanpa terasa mereka terhuyung ke belakang.

Ini sebuah kesempatan yang baik.

Ci Giok Hian segera mempergunakan kesempatan baik itu.

Dia segera melakukan serangan yang kedua.

Ternyata kepandaian nona Ci lebih tinggi dari kedua anak buah See-bun Souw Ya itu.

Tidak heran tak lama kedua orang itu roboh di tangan Ci Giok Hian.

Tidak berapa lama kelihatan ada enam orang bermunculan dari suatu tempat.

Begitu mereka melihat nona Ci berhasil melukai rekan-rekannya, salah seorang dari ketujuh orang itu berteriak.

"See-bun Sian-seng sedang bertarung dengan Beng Cit Nio kita jangan sungkan-sungkan terhadap pelayannya ini!"

Kata orang itu.

Salah seorang yang bersenjata pedang langsung menyerang ke arah Ci Giok Hian.

Nona Ci segera berkelit, 691 dia ulurkan tangannya akan merebut pedang di tangan penyerangnya itu.

Dengan gesit luar biasa Ci Giok Hian berhasil merebut pedang dari tangan musuhnya.

Nona Ci lalu menggunakan jurus Pek-hoa-kiam-hoat untuk menyerang lawanlawannya.

Pedang di tangan nona Ci berkelebat.

"Aduuh!"

"Aaah!"

"....Aaah"

Dalam waktu singkat Ci Giok Hian berhasil merobohkan mereka. Saat Ci Giok Hian akan melompat pergi dari tempat itu, mendadak terdengar sebuah bentakan.

"Jangan lari gadis liar!"

Teriak orang itu.

Dua bayangan melesat ke arah Ci Giok Hian.

Melihat gerakan dua sosok bayangan itu Ci Giok Hian terperanjat.

Ci Giok Hian mengenali salah seorang dari kedua sosok bayangan itu, orang itu tidak lain dari The Yu Po, murid kedua See-bun Souw Ya.

Sedangkan yang seorang lagi tidak dikenalinya.

Tapi orang yang tidak dikenalnya itu yang membentak ke arah nona Ci.

Suara bentakan orang itu membuat telinga Ci Giok Hian terasa sakit.

Itu pertanda lweekang orang itu cukup tinggi dan mungkin lebih tinggi dari lwee-kang The Yu Po.

Dari pelayan-pelayan lain Ci Giok Hian pernah mendapat keterangan, bahwa kepandaian The Yu Po lebih tinggi dibandingkan dengan kepandaian Pouw Yang Hian.

Ketika Ci Giok Hian melihat The Yu Po muncul, malah bersama orang yang ilmu silatnya tinggi, diam-diam hati Ci Giok Hian cemas juga.

Dia yakin akan sulit mengatasi kedua orang itu.

Sungguh sulit bagi Ci Giok Hian bisa melarikan diri dari tempat itu.

Selain kedua orang tangguh, 692 masih ada enam orang lain yang harus dihadapi oleh nona Ci.

Mereka semuanya membawa senjata tajam yang cahayanya gemerlapan.

Tiba-tiba Ci Giok Hian mendengar ada suara benda jatuh.

"Buk!"

Ketika diperhatikan ternyata benda yang jatuh itu sebuah batu yang jatuh tepat di sebelah kanan Ci Giok Hian.

Orang yang mengejar Ci Giok Hian mengira serangan dengan batu itu ulah temannya, dengan demikian dia jadi tidak begitu curiga.

Sebaliknya Ci Giok Hian, dia jadi keheranan sekali.

"Mungkin ini perbuatan orang yang membantuku dengan diam-diam! Mungkin dia menginginkan agar aku lari ke arah yang ditunjukkannya?'' pikir Ci Giok Hian. Maka dengan tidak berpikir panjang lagi Ci Giok Hian lalu berlari ke arah kanan. Saat Ci Giok Hian sudah lari cukup jauh dan dia sampai di sebuah gunung-gunungan, dia mendengar ada orang yang memberinya peringatan.

"Cepat masuk ke dalam!"

Kata suara itu.

Di depan nona Ci sudah tidak ada jalan, sedangkan dari belakang nona Ci kelihatan para pengejarnya sedang mengejar dia.

Dengan demikian sudah tidak ada jalan lain untuk nona Ci meloloskan diri, selain dia menuruti nasihat itu.

Maka masuklah Ci Giok Hian ke dalam goa di balik gununggunungan.

Baru saja Ci Giok Hian melintas masuk ke pintu goa, tiba-tiba dia mendengar batu besar bergeser dan menutupi lubang goa itu.

"Bum!"

Ketika The Yu Po sampai ke tempat Ci Giok Hian melarikan diri, The Yu Po sudah tidak melihat nona Ci lagi.

Malah bayangannya pun tidak ada!

Dia heran dan bingung, dia sadar kalau dia sedang dipermainkan oleh seseorang.

Sedang Ci Giok Hian yang sudah di dalam goa, matanya terbelalak kaget.

Ternyata goa itu buntu selain jalan yang tertutup batu besar itu.

Tetapi di situ terdapat sebuah batu yang terletak di sudut kiri.

Lalu Ci Giok Hian mendorong batu itu dan dia berhasil menggeser batu itu ke samping.

Dari situ ada sebuah lubang.

Ci Giok Hian masuk ke dalam lubang itu, Dia berjalan sampai di ujung lorong goa itu.

Tahu-tahu sekarang nona Ci ada di sebuah halaman.

Dari dalam goa Ci Giok Hian masih mendengar suara teriakan dan seruan anak buah See-bun Souw Ya.

Mereka terdengar sedang berusaha mendorong batu besar untuk membuka pintu goa itu.

"Sudah! Sudah, jangan buang tenaga percuma. Mari kita asapi saja lubang goa itu sebanyak-banyaknya. Aku yakin dia akan kepengapan dan pingsan atau dia keluar. Sesudah itu jika dia tidak keluar baru kita coba membuka lubang goa itu dan kita bawa dia!"

Kata salah seorang dari mereka.

"Jangan! Cara begitu sangat berbahaya, bagaimana kalau nona itu sampai mati karena pengap? Chu Sian-seng menginginkan agar kita membawa dia dalam keadaan hidup. Jika nona itu tertangkap hidup kita bisa mengorek rahasia darinya!"

Kata yang lain.

Ternyata orang yang datang bersama-sama dengan The Yu Po itu bernama Cok Tay Ju, majikan muda perkampungan Cok-kee-cung.

Keluarga Cok sangat terkenal ilmu goloknya.

Cok Tay Ju seorang kepala piauw-su yang terkenal, dia ditarik oleh See-bun Souw Ya untuk bergabung dengan si Iblis Tua ini.

Orang ini sangat berpengalaman, saat dia melihat batu besar dia tahu batu itu pasti penutup lubang goa.

"Tidak masuk akal kalau saat gadis itu masuk ke dalam goa lalu batu besar itu justru menggelinding dan menutupi lubang goa itu?"

Pikir Cok Tay Ju.

"Aah, jangan-jangan di dalam goa itu ada jalan rahasianya?"

"Saudara The, kalian bersama anak buahmu tetap di sini, sedang aku dan saudara Gan akan menyelidiki keadaan di luar goa. Siapa tahu nona busuk itu sudah ada dHuar, kami akan berusaha menangkap dia!"

Kata Co Tay Ju.

"Baik,"

Jawab The Yu Po. Memang dugaan Cok Tay Ju benar. Saat itu Ci Giok Hian sudah ada dHuar goa sedang masuk ke hutan. Setelah berada dHuar goa dan ada di tengah hutan, hati Ci Giok Hian merasa lega.

"Sebenarnya siapa yang telah membantuku?"

Pikir nona Ci.

"Tampaknya dia mendapat kesulitan, dengan demikian dia tidak berani memperlihatkan diri. Ditambah lagi dia sangat faham keadaan tempat ini. Jika dia tidak tahu keadaan di sini, bagaimana dia bisa tahu di dalam goa itu terdapat jalan keluar?"

Setelah berpikir agak lama Ci Giok Hian berkata sendiri.

"Tidak salah, pasti dia orangnya!"

Begitu pikir nona Ci.

Saat dia ingat orang itu tiba-tiba wajahnya berubah merah.

Orang yang diingat oleh nona Ci itu Seng Liong Sen.

Sedangkan Beng Cit Nio piauw-kouwnya, tidak heran jika 695 dia mengenal keadaan di tempat itu.

Ci Giok Hian memperhatikan cincin pemberian pemuda itu, dan Beng Cit Nio yang memakaikan cincin itu ke jari tangannya.

Ternyata cincin itulah yang telah menyelamatkan nyawanya.

Tetapi tiba-tiba nona Ci jadi jengah bukan main.

"Mungkin Seng Liong Sen bermaksud baik, tetapi Beng Cit Nio malah salah faham, dan menganggap Liong Sen mencintaiku. Aaah! Kejadian ini membuat aku jadi malu sekali! Hm! Apakah Seng Liong Sen memang bermaksud begitu? Dengan memberi cincin dia ingin menunjukkan isi hatinya?"

Pikir nona Ci.

Hati nona Ci kacau bukan main.

Tapi tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki orang dan dia tahu orang itu pasti sedang mengejar dia.

Malah Ci Giok Hian yakin bahwa langkah kaki itu langkah Seng Liong Sen.

"Walau bagaimana aku harus berterima kasih kepadanya,"

Begitu pikir nona Ci.

"Tetapi haruskah aku menyalahkan dia? Dia menyelamatkan aku, maka sudah seharusnya aku berterima kasih kepadanya, bukan menyalahkan dia! Tetapi cincin ini... .Cincin ini... Aaah! Sudah saatnya aku berterusterang kepadanya, bahwa aku sudah mempunyai seorang pria idaman agar dia tidak memikirkan aku!"

Diam-diam nona Ci melepas cincin itu, dia bermaksud mengembalikannya Tetapi tiba-tiba dia mendengar suara bentakan nyaring.

"Gadis busuk kau mau kabur ke mana?"

Kata suara bentakan itu dari belakang si nona.

Saat nona Ci menoleh dilihatnya dua orang sedang mendatangi ke arahnya, salah seorang dari kedua orang itu 696 aalah Cok Tay Ju, sedang kawannya bukan Seng Liong Sen.

Buru-buru nona Ci menyimpan cincin itu, lalu menghunus pedangnya.

Sedangkan Cok Tay Ju berbisik pada kawannya.

"Saudara Gan kau harus waspada, siapa tahu gadis busuk ini masih punya kawan!"

Kata Cok Tay Ju.

"Baik,"

Kata kawan Cok.

Cok Tay Ju langsung menyerang ke arah Ci Giok Hian dengan goloknya Mendapat serangan itu, nona Ci tidak berkelit, melainkan menangkis golok itu dengan jurus "Giok Li Toh Cun " (Gadis cantik menunjuk jalan).

"Trang!"

Golok dan pedang beradu dengan keras.

Nona Ci merasakan telapak tangannya sakit sekali.

Buru-buru nona Ci menarik pedangnya tetapi sekaligus menyerang lagi dengan jurus "Eng-cui-pou-ceng " (Bunga terapung di permukaan air).

Itu adalah salah satu jurus Pek-hoa-kiamhoat yang sangat lihay.

Pedang nona Ci berkelebat cepat luar biasa.

Cok Tay Ju tidak berani menangkis serangan pedang nona Ci itu, ia buru-buru mundur selangkah ke belakang.

Ternyata gerakan ilmu pedang Pek-hoa-kiam-hoat sangat cepat.

Melihat hebatnya serangan nona Ci mata Cok Tay Cu dan kawannya membelalak keheranan.

Bahkan teman Cok Tay Ju berseru.

"Ilmu pedang yang lihay! Orangnya pun cantik sekali! Saudara Cok aku harap kau jangan bunuh dia, tangkap saja dia hidup-hidup!"

Kata kawan Cok Tay Ju.

Cok Tay Ju tertawa sambil terus bertarung dengan hebat.

Lama-lama nona Ci mulai kehabisan tenaga karena tadi tenaganya telah terkuras saat dia bertarung melawan beberapa orang musuh.

"Jangan khawatir saudara Gan, tidak sulit untuk menangkap nona ini dalam keadaan hidup!"

Kata Cok Tay Ju sambil tertawa.

Cok Tay Ju mulai menyerang ke arah Ci Giok Hian secara bertubi-tubi, serangan ini membuat Ci Giok Hiajadi terdesak dan harus mundur terus.

Cok Tay Ju saat menyerang menggunakan jurus Cap-pwee-lu-to-hoat (Ilmu golok delapan belas arhat).

Ilmu golok ini sangat terkenal di kalangan kangouw.

Serangan-serangan Cok Tay Ju membuat Ci Giok Hian harus mundur, tanpa terasa punggung nona Ci membentur sebuah pohon besar.

Sedangkan lawannya terus mendesaknya.

Saat itu kelihatan Ci Giok Hian sudah tidak mampu melakukan perlawanan lagi.

Melihat lawannya mulai gugup Cok Tay Ju tertawa terbahak-bahak.

"Nona, apa kau tidak mau menyerah. Lebih baik kau menyerah sebelum aku melukaimu, nona!"

Kata Cok Tay Ju.

Pada saat itu tanpa disadari Cok Tay Ju menginjak sesuatu hingga kakinya terpeleset dan dia nyaris jatuh.

Rupanya yang terinjak oleh Cok Tay Ju buah pohon itu.

Cok Tay Ju kaget bukan kepalang karena tubuhnya seolah-olah akan ngusruk ke depan.

Hal ini membuat Cok Tay Ju jadi ragu-ragu dan dia tidak berani maju lagi ke arah Ci Giok Hian.

Tentu saja kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Ci Giok Hian.

Dengan cepat Ci Giok Hian menusukkan pedangnya ke arah Cok Tay Ju.

"Aaah!"

Terdengar teriakan Cok Tay Ju. Teriakan kaget Cok Tay Ju itu disusul dengan teriakan lain.

"Aduh!"

Ternyata bahu Cok Tay Ju tertusuk oleh pedang Ci Giok Hian, darah mengucur deras dari bahunya.

Kawan Cok Tay Ju ketika menyaksikan kejadian itu jadi terkejut bukan main.

Buru-buru dia maju akan menolongi kawannya.

Kawan Cok Tay Ju yang bernama Gan Ceng Kou ini menggunakan rantai yang pada ujungnya terdapat bola besi.

Dia segera menyerang nona Ci dan rantai berujung bola besi itu meluncur deras sekali.

Tetapi nona Ci segera berkelit dan dia juga langsung menyerang dan menangkis rantai itu dengan pedangnya.

"Tang!"

Pedang yang ada di tangan Ci Giok Hian somplak sedikit, karena tenaga Gan Ceng Kou ini sangat besar, tangkisan Ci Giok Hian membuat pedangnya berbenturan dengan keras.

Saat itu Cok Tay Ju membentak dengan keras.

"Nona busuk, kau sungguh kejam! Aku tak tega mencabut nyawamu kau malah melukaiku! Baiklah, terpaksa aku akan membunuhmu!"

Kata Cok Tay Ju.

Setelah membalut lukanya dengan kain, dia siap akan maju lagi.

Sekarang serangan Cok Tay Ju jadi semakin ganas, tetapi karena salah satu bahunya telah terluka, gerakan Cok Tay Ju jadi agak terganggu, sehingga gerakan Cok Tay Ju ini kurang gesit dibanding tadi.

Sambil menangkis dua serangan dari Cok Tay Ju dan serangan bola besi dari Gan Ceng Kou, nona Ci mundur tiga langkah ke belakang.

Tiba-tiba Ci Giok Hian menyerang ke arah Cok Tay Ju dengan cepat.

Serangan yang mendadak dari Ci Giok Hian ini membuat Cok Tay Ju yang tidak mengira akan diserang demikian jadi kewalahan.

Saat itu perut Cok Tay Ju terancam akan tertusuk oleh pedang Ci Giok Hian.

Gan Ceng Kou menyerang punggung Ci Giok Hian dengan hebat.

Saat ada desiran angin di bagian bahunya, Ci Giok Hian terkejut bukan kepalang.

Jika dia meneruskan serangannya pada Cok Tay Ju, dia yakin orang she Cok itu akan terluka parah oleh pedangnya.

Tetapi punggung nona Ci pun akan menjadi korban bola besi dari Gan Ceng Kou.

Ini berbahaya dan dia pasti akan terluka parah.

Terpaksa Ci Giok Hian membatalkan serangan kepada Cok Tay Ju, ini dia lakukan untuk menyelamatkan diri dari serangan Gan Ceng Kou.

Ci Giok Hian pun buru-buru berkelit ke samping.

Tadi Gan Ceng Kou mengira Cok Tay Ju terluka oleh srangan Ci Giok Hian karena kehebatan nona itu.

Sedikitpun dia tidak mengira kalau Cok Tay Ju sedang dipermainkan.

Maka itu dia berpikir.

"Jika aku tidak bisa menangkapnya hidup-hidup, aku harus membunuhnya."

Pikir Gan Ceng Kou.

Setelah berpikir begitu Gan Ceng Kou bergabung dengan Cok Tay Ju, mereka sudah bertekad bulat akan membunuh Ci Giok Hian.

Maka tidak heran serangan kedua lelaki ini demikian dasyatnya.

Ini membuat Ci Giok Hian jadi terdesak sekali.

Melawan seorang saja Ci Giok Hian sudah agak kewalahan, apalagi sekarang harus melawan kedua orang itu.

Tentu saja dia jadi sangat kewalahan.

Makin lama Ci Giok Hian semakin terdesak saja, tangkisan dan serangan nona Ci semakin tidak karuan.

Ini membuat Cok Tay Ju kegirangan dan dia tertawa terbahak-bahak.

"Kita harus menangkap dia hidup-hidup, aku belum puas jika belum membeset kulitnya!"

Kata Cok Tay Ju.

"Aku tidak boleh jatuh ke tangan mereka,"

Pikir Ci Giok Hian.

"jika aku tidak dapat melukai mereka, lebih baik aku bunuh diri saja!"

Pada saat itu tiba-tiba bertiup angin kencang, hal ini membuat buah-buah di atas pohon besar berjatuhan ke tanah.

Sungguh kebetulan dari sekian puluh buah yang jatuh itu, ada buah yang menimpa tepat pada jalan darah Thian-eng-hiat di kepala Gan Ceng Kou.

Seketika itu juga kepala Gan Ceng Kou seolah tertimpa sebuah batu besar dan sakitnya bukan kepalang.

Menyaksikan Gan Ceng Kou sedang kesakitan, betapa girangnya Ci Giok Hian, tanpa pikir panjang lagi dia menyerang dengan pedangnya.

Saat serangannya dihindarkan, tapi tidak urung ujung pedang Ci Giok Hian mengarah ke lengan lelaki itu.

Gan Ceng Kou kaget, buruburu dia menarik lengannya, tapi celaka jari tangannya terbabat oleh pedang Ci Giok Hian hingga kutung, dan senjatanya terlepas!

Melihat kegesitan nona Ci yang berhasil melukai kawannya, Cok Tay Ju khawatir nona itu akan kembali menyerang Gan Ceng Kou, sehingga nyawa sang kawan ada dalam bahaya.

Oleh karena itu buru-buru Cok Tay Ju melancarkan serangan hebat ke arah nona Ci dengan tujuan untuk melindungi kawannya itu.

Untung salah satu bahu Cok Tay Ju sudah terluka, oleh karena itu gerakannya j adi agak lambat, jika tidak demikian Ci Giok Hian pasti akan terluka oleh serangannya itu.

Sebenarnya saat Cok Tay Ju melancarkan serangannya, dia juga berpikir.

"Aah, gadis busuk ini bukan tandinganku! Aku heran bagaimana dia bisa menusuk bahuku? Entah kenapa Gan Ceng Kou, pada saat dia hampir berhasil melukai nona itu, mendadak dia tersentak menahan sakit. Celakanya dua jarinya terpapas kutung oleh gadis busuk itu. Kami berdua mengeroyok gadis busuk itu. Jika khabar ini sampai terdengar di luaran, apa kami masih punya muka saat bertemu sahabatsahabat kami di Dunia Persilatan?"

Pikir Cok Tay Ju.

Saat itu pikiran Cok Tay Ju benar-benar sedang kacau.

Dia ingin meninggalkan gelanggang sendirian, tetapi dia merasa tidak enak hati pada Gan Ceng Kou.

Dia juga merasa tidak tega meninggalkan kawannya yang terluka itu.

Pada saat Cok Tay Ju tidak tahu harus berbuat apa, terdengar suara bentakan keras.

"Nona busuk, kau berani mempermainkan aku! Aku akan membeset kulitmu, dan terimalah seranganku!"

Kata orang itu.

Tidak lama terdengar pukulan dan bau amis menyebar.

Orang yang baru muncul itu adalah The Yu Po, murid kedua See-bun Souw Ya.

Dia telah berusaha keras menghabiskan tenaga, baru berhasil menggeser batu besar yang menutupi lubang goa itu.

Ketika dia menemukan jalan di dalam lorong, dia yakin Ci Giok Hian lari lewat lorong itu.

Gusarnya bukan kepalang saat dia melihat Ci Giok Hian sedang berhadapan dengan Cok Tay Ju dan Gan Ceng Kou.

Tidak heran dia langsung menyerang ke arah Ci Giok Hian dengan ilmu Hua-hiat-to.

Kepandaian The Yu Po lebih tinggi dibandingkan dengan Pouw Yang Hian.

Serangan bau amis dan berbahaya ini hanya mampu ditangkis oleh Ci Giok Hian sebentar, tetapi lama-kelamaan 702 dia pun jadi tidak tahan oleh bau amis itu.

Bau amis itu membuat mata Ci Giok Hian berkunang-kunang, dan kepalanya pening, Tidak heran jika ilmu pedangnya pun jadi kacau sekali.

Gan Ceng Kou sibuk mengobati luka pada jarinya.

Sambil mengobati lukanya Gan Ceng Kou berpikir.

Dia tidak habis pikir dan semakin dipikirkan jadi semakin aneh, maka itu dia berseru pada The Yu Po.

"The Toa-ko, nona busuk ini aneh, kau harus waspada terhadap serangan gelapnya!"

Begitu Gan Ceng Kou memperingatkan temannya.

"Nona ini masih berbau susu ibunya, mana mampu dia lolos dari telapak tanganku? Mana mungkin dia mampu melakukan serangan gelap?... .Aduh!"

Mendadak The Yu Po menjerit karena kesakitan.

Kiranya dia terompah buah yang tiba-tiba jatuh dan tepat mengenai kepalanya, Seperti kebetulan buah itu mengenai jalan darah Thian-leng-kay.

Sekalipun lwee-kangnya tinggi, tetapi The Yu Po tetap merasa sakit sekali dan kepalanya pun benjol.

Mata Gan Ceng Kou terbelalak.

Tiba-tiba dia sadar pada satu hal.

Maka itu dia segera membentak ke arah pohon besar.

"Melancarkan serangan gelap untuk melukai orang, itu sudah terhitung orang gagah macam apa? Ayo, jika kau punya nyali cepat keluar!"

Kata Gan Ceng Ko dengan suara nyaring.

Saat itu terdengar suara tawa terbahak-bahak, dan seseorang lompat turun dari atas pohon besar.

Orang itu adalah Seng Liong Sen, keponakan Seng Cap-si Kouw.

-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 26 Melihat Seng Liong Sen muncul, Ci Giok Hian langsung mengangguk.

Dia girang ternyata orang yang selama ini melindunginya adalah pemuda itu.

"Hm! Ternyata dia orangnya!"

Pikir nona Ci girang.

Memang sejak semula Ci Giok Hian sudah mencurigai orang yang membantu dia diam-diam, pasti itu Seng Liong Sen.

Dia pun bersyukur karena setiap kali dia ada dalam bahaya, pemuda itu muncul menolonginya.

Sudah tentu munculnya pemuda itu agak membuat Ci Giok Hian kaget dan girang sekali.

Menyaksikan seorang pemuda tampan muncul di hadapan mereka dan gerakannya lincah luar biasa, The Yu Po dan kawan-kawannya sangat terkejut.

Seng Liong Sen tertawa menyaksikan orang keheranan itu.

"Aku ada di tempat ini sudah cukup lama, kalian baru tahu sekarang. He, he, he!"

Kata Seng Liong Sen sambil tertawa.

"Kalian yang buta, malah kalian menyalahkan aku? Akulah yang menggunakan beberapa buah pohon ini untuk mempermainkan kalian! Tetapi sebaliknya kalian katakan aku melakukan serangan gelap dan melukai kalian. Bukan menyalahkan kebodohan kalian malah kau menyalahkan aku! Itu jika ketahuan umum akan jadi bahan tertawaan orang hingga giginya rontok?"

Semua orang itu bengong, dan Seng Liong Sen melanjutkan kata-kata pedasnya itu.

"Kalian cuma bisa menyalahkan orang lain, bukan sebaliknya, salahkan saja kepandaian kalian yang masih rendah? Kalian bilang aku bukan ksatria sejati dan bukan orang gagah, kalian benar aku memang bukan orang gagah! Tetapi aku ingin bertanya kepada kalian bertiga, apa kalian bertiga terhitung orang-orang gagah? Padahal kalian bertiga 704 mengeroyok seorang wanita, itukah yang dinamakan orang gagah?"

Kata Seng Liong Sen pedas bukan main. Mendengar ejekan dan hinaan itu The Yu Po langsung membentak dengan nyaring.

"Aku tidak ingin adu bicara denganmu, terimalah pukulanku!"

Kata The Yu Po. Ucapan dan serangan The Yu Po itu hanya ditanggapi oleh Seng Liong Sen sambil tertawa.

"Baiklah, aku sudah menyaksikan kehebatan pukulanmu!"

Kata Seng Liong Sen.

Saat The Yu Po menyerang Seng Liong Sen mengulurkan jari tangannya ke arah jalan darah Lau-kiong-hiat di telapak tangan The Yu Po.

Bagi orang yang mempelajari ilmu pukulan telapak tangan beracun, sungguh paling pantangan jika jalan darah itu tertotok oleh lawan, karena jika tertotok orang itu akan celaka dan terluka parah.

Bisa kita bayangkan betapa kagetnya The Yu Po saat mengetahui Seng Liong Sen mengarahkan ujung jarinya ke jalan darah Lau-kiong-hiat tersebut.

Buru-buru Yu Po menarik telapak tangannya agar tidak terserang oleh lawan, dia juga langsung mundur beberapa langkah ke belakang.

Melihat musuh membatalkan serangannya, bahkan musuhnya itu mundur, Seng Liong Sen tertawa mengejek.

"Eh, bukankah kau ingin mengadu kepandaian denganku. Tapi kenapa malah kau mundur? Apa kau hanya berani kepada kaum wanita saja sedang kepadaku kau tidak bersedia bertarung? He, he, he!"

Begitu Seng Liong Sen menyindir.

Mendengar ejekan itu bukan main gusarnya The Yu Po saat itu.

Kembali dia maju untuk menyerang.

Sedikitpun 705 Seng Liong Sen tidak bergerak di tempatnya.

Tetapi setelah lawannya dekat kepadanya, kembali Seng Liong Sen mengulurkan jari tangannya menotok ke jalan darah Hu-kenghiat The Yu Po, tepat di bahu lawannya itu.

Jika totokan itu mengenai The Yu Po, maka pemuda itu akan cacat seumur hidup.

Keringat dingin membasahi dahinya, buru-buru Yu Po mundur selangkah, dia mencoba menghindar dari serangan yang berbahaya itu.

Menyaksikan adegan perkelahian kedua pemuda itu Ci Giok Hian terkejut dan girang.

"Dia murid kesayangan Bun Tay-hiap, Bu-lim-beng-cu dari daerah Kang-lam. Gurunya akhli totok jalan darah dan bergelar Tiat-pit Su-seng. Menyaksikan gerak-geriknya memang benar nama Tiat-pit Su-seng bukan hanya omong kosong!"

Pikir Ci Giok Hian. Melihat lawan kembali membatalkan serangannya Seng Liong Sen tertawa.

"Jika kau selalu mundur setelah kau menyerang, bagaimana kau bisa menjajal kepandaianku?"

Kata Seng Liong Sen tersenyum sindir. Tiba-tiba saking kesal The Yu Po berteriak nyaring.

"Sudah! Sudah!"

Kata Yu Po dengan keras.

Tiba-tiba tubuhnya bergerak dan melesat pergi tanpa menoleh lagi.

Sedang kawannya Cok Tay Ju dan Gan Ceng Kou sudah terluka tidak berdaya.

Ditambah lagi tadi mereka sudah menyaksikan betapa lihaynya Seng Liong Sen sehingga dengan mudah dia bisa mempermainkan mereka.

Sudah jelas mereka tidak berani maju untuk melawan Seng Liong Sen.

Begitu mereka lihat The Yu Po sudah kabur, mereka berdua pun ikut kabur juga.

"Hm! Baik, kalian boleh pergi!"

Kata Seng Liong Sen. Sambil berkata begitu Seng Liong Sen melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah lawan-lawannya.

"Bum!"

Pukulan itu sengaja dilakukan oleh Seng Liong Sen untuk mempertunjukkan kelihayannya pada Ci Giok Hian.

Celakanya Gan Ceng Kou yang lari paling belakang terkena hajaran pukulan Seng Liong Sen ini.

Gan Ceng Kou tersambar angin pukulan Seng Liong Sen, dia terdorong ke depan, dan tubuhnya terasa sakit, sedang matanya langsung kabur dan berkunang-kunang.

Tiba-tiba Gan Ceng Kou roboh ke tanah sambil bergulingan.

Melihat kawannya terhajar oleh pukulan lawan dari jarakjauh, The Yu Po berhenti dan kembali lagi.

Dia sambar tubuh Gan Ceng Kou untuk dibawa kabur.

Sedangkan Cok Tay Ju yang ingin segera kabur jauh dari tempat itu, malah sial!

Dia tersandung batu hingga dia tidak bisa menahan diri dan jatuh terguling-guling di tanah.

Buruburu Cok Tay Ju bangun, lalu lari dengan cepat seperti sedang dikejar setan.

Menyaksikan kejadian itu Seng Liong Sen tertawa terbahakbahak.

Melihat musuhnya sudah kabur Seng Liong Sen tidak mengejar mereka.

Dia menoleh ke arah Ci Giok Hian, lalu memberi hormat pada Ci Giok Hian.

"Maaf, aku datang terlambat sehingga kau mendapat kaget!"

Kata Seng Liong Sen. Wajah Ci Giok Hian tiba-tiba saja berubah jadi merah.

"Terima kasih atas pertolonganmu, Seng Kong-cu!"

Kata Ci Giok Hian dengan agak tersipu-sipu Setelah mengucapkan terima kasih dia lepaskan cincin pemberian Seng Liong Sen dari jari tangannya, kemudian dia kembalikan pada Seng Liong Sen dengan wajah merah.

Seng Liong Sen tersenyum.

"Nona Ci, sebaiknya kau simpan saja cincin itu!"

Kata Liong Sen.

"Maaf, aku tidak bisa menerima pemberian cincin ini,"

Kata nona Ci tegas.

"karena cincin ini hadiah dari Beng Cit Nio untukmu. Lebih baik kau yang menyimpannya, kelak kau boleh memberikannya pada gadis yang lebih baik dariku!"

Mata Seng Liong Sen terbelalak.

"Eh, apa Beng Cit Nio memberitahumu tentang asal-usul cincin ini?"

Kata Seng Liong Sen. Ci Giok Hian menganggukkan kepalanya.

"Benar, oleh karena itu aku tidak bisa menerima cincin ini. Lagipula kau jangan sembarangan memberikan cincin ini kepadaku!"

Kata Ci Giok Hian. Wajah Seng Liong Sen mendadak berubah merah kemudian dia tertawa.

"Aku harap kau jangan menyalahkan aku. Aku....aku khawatir kau mendapat bahaya, karena aku tahu sikap Beng Cit Nio yang sangat aneh, maka aku... .aku...."

Tetapi sebelum kata-kata pemuda itu yang kelihatan gugup selesai, Ci Giok Hian sudah langsung memotong kata-katanya.

"Aku paham,"

Kata Ci Giok Hian.

"cincin ini ternyata bisa menyelamatkan nyawaku. Sekarang sudah tidak ada gunanya bagiku. Ditambah pula aku tidak pantas menerima 708 cincin pusaka ini. Aku harap kau mau menerimanya kembali!"

Dengan sangat kecewa terpaksa Seng Liong Sen menerima kembali cincin itu. Kelihatan dia sangat kecewa. Tetapi kemudian dia berpikir.

"Bagaimanapun dia telah terkesan baik terhadapku,"

Pikir Liong Sen.

"sekalipun dia sudah punya pria idaman itu tidak masalah!"

"Terima kasih atas pengertianmu, Nona Ci,"

Kata Seng Liong Sen.

"kau tidak menyalahkan aku pun, itu sudah membuat hatiku lega. Tetapi kita tidak boleh lama-lama di tempat ini, lebih baik segera kita tinggalkan tempat ini!"

Otak nona Ci berpikir.

Pemuda itu telah menyelamatkan nyawanya dari maut, ditambah lagi banyak masalah yang ingin ditanyakan nona Ci pada pemuda itu, maka itu dia bersedia berjalan bersama-sama dengan Seng Liong Sen.

Seolah Seng Liong Sen mengetahui apa yang ada di otak nona ini, maka itu dia langsung berkata pada Ci Giok Hian.

"Mengenai masalah yang kau hadapi sekarang ini, pasti kau merasa aneh, bukan?"

Kata pemuda itu.

"Kau benar. Kedatanganku ke tempat ini justru ingin menyelamatkan Han Tay Hong, tidak aku duga malah aku mencelakainya,"

Kata Ci Giok Hian dengan lesu.

"Kejadian itu sudah aku duga sejak awal,"

Kata Seng Liong Sen.

"Han Tay Hiong orangnya keras kepala dan kukuh. Aku tahu dia tidak akan tunduk kepada Piauwkouwku, tidak heran jika piauw-kouw membunuhnya! Harus kau ketahui Han Tay Hiong ini tokoh terkenal dalam Dunia Persilatan masa ini. Sungguh menyesal aku tidak punya kesempatan untuk menyelamatkannya!"

"Tidak! Beng Cit Nio tidak membunuhnya"

Kata Ci Giok Hian.

"Dia mati karena Han Tay Hiong meminum arak Kiuthian-sun-yang Pek-hoa-ciu yang aku bawa dari rumahku. Tetapi aku tidak menyangka kalau arak itu sudah dicampur racun!"

Seng Liong Sen mengangguk.

"Oh! Jadi kau kira Han Tay Hiong belum mati?"

Kata Liong Sen.

"Kau mengira dia hanya keracunan? Kalau begitu piauwkouwku belum membunuhnya. Aku juga tidak tahu entah dengan cara apa lagi dia akan menyiksanya? Aku tahu pasti mereka berdua sama-sama keras kepala! Mungkin saja nyawa Han Tay Hiong akan melayang di tangan Beng Cit Nio?"

Semula Ci Giok Hian mengira Seng Liong Sen sudah mengetahui, kalau yang menaruh racun ke dalam arak Kiuthian-sun-yang Pek-hoa-ciu itu Cap-si Kouw, bibi-misannya yang satu lagi.

Maka itu Ci Giok Hian berharap Seng Liong Sen akan mengatakan hal yang sebenarnya kepadanya.

Tetapi tidak diduga oleh Ci Giok Hian, Seng Liong Sen tetap menganggap yang berbuat jahat dan ingin membunuh Han Tay Hiong itu ialah Beng Cit Nio.

Hal itu membuat Ci Giok Hian jadi tidak sabaran.

"Bukan Beng Cit Nio yang menaruh racun ke dalam arak itu,"

Kata Ci Giok Hian.

"tetapi orang lain!"

Mendengar keterangan itu Seng Liong Sen tertegun.

"Bagaimana kau bisa mengetahui bukan Beng Cit Nio yang menaruh racun itu ke dalam arak? Bukankah dia yang memberimu arak itu dan dia pula yang menyuruhmu mengantarkannya ke kamar tahanan Han Tay Hiong dan puterinya?"

Kata Seng Liong Sen.

Sekarang Ci Giok Hian mulai berpikir, memang sudah lama arak Kiu-thian-sun-yang Pek-hoa-ciu itu ada di tempat Beng Cit Nio.

Jika dikatakan Beng Cit Nio yang menaruh racun, itu masuk akal sekali!

Akan tetapi sudah selama tiga hari tiga malam Ci Giok Hian ada di tempat Beng Cit Nio.

Dengan demikian dia tahu jelas sekali kalau Beng Cit Nio ingin menyelamatkan Han Tay Hiong.

Ketika Han Tay Hiong keracunan, dia kelihatan begitu berduka dan sangat penasaran, tidak mungkin dia berpura-pura.

Setelah berpikir begitu Ci Giok Hian menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku tidak yakin Beng Cit Nio yang melakukannya!"

Kata Ci Giok Hian.

"Jika kau bertanya apa sebabnya? Aku juga tidak bisa menjelaskannya kepadamu..."

"Kalau begitu, siapa yang kau curigai melakukannya?"

Tanya Seng Liong Sen.

"Sebelum aku datang ke tempat Beng Cit Nio, Kouwkouwmu Seng Cap-si Kouw memberiku sebungkus obat bubuk, kata dia itu obat bubuk pemunah racun Huahiat-to. Dialah yang menyuruh aku mencampur arak obat Kiu-thiansun-yang Pek-hoa-ciu yang akan aku berikan kepada Paman Han. Kata dia lagi, arak yang sudah dicampur obat bubuk pemunah racun pemberiannya itu, katanya bisa segera memulihkan kesehatan Han Tay Hiong!"

Kata Ci Giok Hian menjelaskan. Mata Seng Liong Sen terbelalak.

"Oh, begitu ceritanya! Jadi kau mencurigai Seng Cap-si Kouw pelaku utamanya?"

Kata Seng Liong Sen.

"Terus-terang semula aku tidak mencurigai kouw-kouwmu itu,"

Kata Ci Giok Hian.

"Namun, setelah mendengar kata-kata Beng Cit Nio, sudah jelas aku jadi mencurigai Seng Cap-si Kouw! Seng Kong-cu, apa kau tidak menyalahkan aku berkata begitu?"

Seng Liong Sen yang mulai yakin kalau Seng Cap-si Kouwlah pelaku utama yang meracun Han Tay Hiong, wajahnyajadi berubah.

"Jika demikian, aku kira tidak salah kau mencurigai Kouwkouwku itu!"

Kata Seng Liong Sen.

"Tetapi aku belum yakin benar Kouw-kouwku yang turun tangan, sebab aku sering mendengar cerita Kouw-kouwku, dia sangat menghormati Han Tay Hiong dan dia kawan akrabnya! Coba kau pikir! Siapa tahu Kouw-kouwku benar memberi obat bubuk pemunah racun, sedang Beng Cit Nio sudah lebih dulu menaruh racun yang tidak berwarna maupun berbau. Apa kau pikir tidak bisa jadi begitu?"

Ci Giok Hian menghela napas panjang.

"Yaah, masalah ini membuatku jadi bingung sendiri. Tetapi yang jelas Han Tay Hiong sudah tidak bisa bertalian hidup lebih lama lagi. Kalau begitu kita tidak perlu menyelidiki siapa pelaku pembunuhan itu?"

Kata Ci Giok Hian.

Ci Giok Hian berkata begitu tetapi dari nada ucapannya seolah dia tetap menuduh Seng Cap-si Kouwlah pelaku kejahatan itu.

Hal ini membuat Seng Liong Sen jadi berpikir dan ikut mencurigai bibi-misannya seperti Ci Giok Hian.

"Tidak mungkin Han Tay Hiong akan mati tanpa meninggalkan bekas!"

Kata Seng Liong Sen.

"Saat aku menerjang keluar, See-bun Souw Ya sudah bertarung dengan Beng Cit Nio. Aku lihat Chu Kiu Sek pun datang dan pergi ke sana! Sekalipun ilmu silat Beng Cit Nio tinggi, aku yakin sulit baginya menghadapi kedua Iblis Tua itu! Aku tidak yakin dia akan mampu melindungi Han Tay Hiong?!"

Kata Ci Giok Hian.

Dari ucapan Ci Giok Hian jelas dia yakin Beng Cit Nio pasti akan melindungi Han Tay Hiong.

Tetapi jika bukan Seng Capsi Kouw maupun Beng Cit Nio yang turun tangan jahat terhadap Han Tay Hiong, lalu siapa?

Mendengar ucapan Ci Giok Hian ini Seng Liong Sen tertawa.

"Kau cuma mengerti sedikit saja masalah ini,"

Kata Seng Liong Sen.

"Ingat kedua Iblis Tua itu sangat lihay, tetapi kepandaian piauw-kouwku pun tidak rendah. Ditambah lagi ada kemungkian kedua piauw-kouwku akan saling membantu. Kau tidak bersama Beng Cit Nio bertarung melawan kedua Iblis Tua itu, kenapa kau harus merasa takut pada kedua Iblis Tua itu?"

Mendengar kata-kata itu Ci Giok Hian kaget.

"Apa? Kou-kouwmu Seng Cap-si Kouw juga ke sana?"

Kata Ci Giok Hian.

"Kau benar! Karena Kouw-kouw Seng Cap-si Kouw ke sana, maka aku jadi tidak berani muncul dan datang ke sana!"

Kata Seng Liong Sen.

"Kenapa?"

Tanya Ci Giok Hian.

"Aku sudah bilang kali ini aku pulang aku tidak akan ke rumah Bibi-misan Beng Cit Nio, maka itu aku tidak ingin dia memergokiku!"

Kata Seng Liong Sen.

Tampak Seng Liong Sen berat untuk berterus terang pada Ci Giok Hian, ditambah lagi Ci Giok Hian tidak ingin menanyakan masalah pribadi pemuda itu, maka dia pun tidak banyak bertanya lagi.

"Jika aku bisa menyelamatkan Han Tay Hiong dan Han Pwee Eng, lega hatiku! Apa Kouw-kouwmu akan membantu Beng Cit Nio?"

Tanya Ci Giok Hian.

"Beng Cit Nio sahabat baik Han Tay Hiong. Aku yakin dia akan menyelamatkan Han Tay Hiong. Tetapi aku khawarir, setelah dia berhasil menolong Han Tay Hiong, lalu dia tidak akan melepaskannya!"

Kata Seng Liong Sen.

"Jadi Beng Cit Nio akan tetap membunuh Han Tay Hiong atau tidak, aku tidak bisa memastikannya,"

Kata Ci Giok Hian.

"Malah sebaiknya kitajangan memikirkannya! Tetapi sekarang Han Tay Hiong telah keracunan!"

"Kouw-kouwku dan piauw-kouwku akhli-akhli racun,"

Kata Seng Liong Sen.

"Jika Piauw-kouwku yang memberinya racun, maka Kouw-kouwku bisa mengobatinya, asal piauw-kouwku tidak menghalangi dan mencegahnya!"

Ci Giok Hian menatap ke arah Seng Liong Sen.

"Kenapa kau mencurigai Beng Cit Nio yang meracun Han Tay Hiong?"

Kata Ci Giok Hian. Mendengar pertanyaan itu Seng Liong Sen menghela napas panjang.

"Ini soal cinta! Karena Han Tay Hiong dan Beng Cit Nio merupakan sepasang kekasih, tetapi entah mengapa, Han Tay Hiong malah menikahi gadis lain! Oleh sebab itu Beng Cit Nio benci kepada Han Tay Hiong, malah dia bersumpah akan menuntut balas pada Han Tay Hiong, Isteri Han Tay Hiong meninggal karena diracun olehnya!"

Kata Seng Liong Sen.

Mengenai kisah cinta antara Han Tay Hiong ini Ci Giok Hian pernah mendengar kisahnya dari Seng Cap-si Kouw.

Tetapi tentang Beng Cit Nio meracuni isteri Han Tay Hiong, tentu saja Ci Giok Hian baru mendengarnya sekarang dari Seng Liong Sen.

"Bagaimana kau bisa mengetahui masalah ini begitu jelas? Apakah Kouw-kouwmu yang memberitahumu?"

Kata Giok Hian.

"Ya, aku yakin Kouw-kouw tidak akan membohongiku!"

Kata Seng Liong Sen sambil mengangguk. Seketika itu bulu kuduk Ci Giok Hian merinding karena ngeri.

"Hm! Jadi Seng Cap-si Kouw tega membohongi keponakannya ini, malah membohonginya sampai sang keponakan begitu percaya padanya. Wanita itu sungguh berbahaya sekali dan sangat menakutkan!"

Pikir Ci Giok Hian.

Dalam hal ini Ci Giok Hian salah terka, mulut Seng Liong Sen berkata begitu, tapi sebenarnya hatinya malah mencurigai Seng Cap-si Kouw.

Kecurigaan Seng Liong Sen muncul, saat dia mengantarkan Ci Giok Hian yang akan pergi ke tempat Beng Cit Nio.

Ketika dia pulang, Seng Liong Sen sebenarnya sudah siap menerima teguran dari bibinya.

Tetapi aneh sekali Seng Cap-si Kouw malah diam saja dan tidak menegur Seng Liong Sen.

Bahkan berturutturut selama dua hari setelah kejadian itu, Seng Liong Sen selalu melihat wajah Seng Cap-si Kouw selalu murung dan tidak tampak berseri-seri.

Malah bisa dikatakan wajah Seng Cap-si Kouw sangat menakutkan sekali.

Saat Tik Bwee mendapat perintah dari Seng Cap-si Kouw untuk mengantarkan Ci Giok Hian ke tempat Beng Cit Nio, pelayan itu telah dipesan agar Seng Liong Sen tidak mengetahui saat nona Ci berangkat.

Ketika ketahuan Seng Liong Sen malah tahu dan mengantarkan nona Ci saat akan pergi, Seng Cap-si Kouw tidak menegur Tik Bwee.

Namun, hati Tik Bwee jadi tidak tenang dan berdebar-debar terus.

Malamnya tanpa sengaja Tik Bwee menjatuhkan sebuah cawan yang terbuat dari batu giok, akibatnya cawan batu giok itu sedikit cacat.

Hal itu membuat Tik Bwee jadi sangat ketakutan.

Seng Liong Sen mengetahui betapa takutnya Tik Bwee saat itu, maka itu dia mencoba menghibur pelayan itu.

"Jangan cemas, hanya rusak sedikit suruh orang memperbaikinya pasti tidak akan ketahuan,"

Bisik Seng Liong Sen pada Tik Bwee.

Saat itu tanpa mereka sadari Seng Cap-si Kouw muncul,dia langsung merampas cawan batu giok itu dari tangan Tik Bwee dan langsung membantingnya ke lantai hingga hancur berantakan.

Bukan main kagetnya Tik Bwee melihat cawan batu giok itu hancur berantakan di lantai.

Dia langsung menjatuhkan diri dan berlutut di hadapan Seng Cap-si Kouw dengan tubuh gemetaran.

Melihat pelayannya mandi keringat dingin dan tubuhnya gemetar karena ketakutan, Seng Cap-si Kouw berkata dingin.

"Sudah, jangan takut! Aku yang menghancurkan cawan itu tidak ada urusannya denganmu!"

Kata Seng Cap-si Kouw.

"Kouw-kouw, cawan arak itu masih bisa dipergunakan, kenapa kau menghancurkannya?"

Tanya Seng Liong Sen. Mendengar ucapan keponakannya itu Seng Cap-si Kouw tertawa dingin.

"Cawan arak itu sudah cacat, mengapa harus terus dipakai? Sifatku ini sama dengan Piauw-kouwmu!"

Kata Seng Cap-si Kouw. Ingat kejadian itu Seng Liong Sen tersentak sejenak.

"Mengapa Kouw-kouw tidak ingin aku tahu tentang misi Nona Ci Giok Hian? Semalam dia gunakan obat bius untuk membiusku, apakah ini karena dia khawatir aku akan merusak semua rencananya untuk menyelamatkan Han Tay Hiong dan puterinya itu? Atau malah ada sebab lain? Lalu apa maksud dia mengatakan bahwa cawan arak dari batu giok itu sudah cacat, dan untuk apa dipakai terus? Apa barangkali kata-kata Kouw-kouw ini bukan ditujukan pada cawan arak itu, tetapi untuk perumpamaan lain?"

Begitu Seng Liong Sen berpikir keras.

"Kouw-kouwku itu cantik jelita, kenapa dia tidak mau menikah? Apa dia juga mengalami nasib seperti Piauwkouwku Beng Cit Nio? Ah, barangkali dia juga sangat mencintai Han Tay Hiong, karena tadi dia bilang dia seperti Kouw-kouw Beng Cit Nio? Apa kata-katanya itu dia tujukan pada Han Tay Hiong? Ci Giok Hian mencurigai Seng Cap-si Kouw yang menaruh racun ke dalam arak yang akan diberikan kepada Han Tay Hiong. Aku yakin dia menuduh begitu tidak mungkin tanpa ada sebabnya?"

Pikir Seng Liong Sen yang tiba-tiba saja jadi merinding bulu kuduknya.

Sebaliknya Ci Giok Hian, dia sedang memikirkan kejadian yang menimpa nasib Han Tay Hiong dan dia tidak berdaya menolonginya.

Selain itu Ci Giok Hian teringat pada Ci Giok Phang yang sekarang berada dalam bahaya, maka dia ingin segera pergi dari tempat itu untuk menolongi sang kakak.

Kedua muda-mudi itu tercekam oleh masalah mereka masing-masing dan tanpa sadar mereka saling menatap.

Wajah Ci Giok Hian berubah kemerah-merahan.

"Nona Ci, sekarang kau mau ke mana?"

Kata Liong Sen. Bukan menjawab Ci Giok Hian malah balik bertanya.

"Oh ya, aku ingin bertanya kepadamu, apa kau masih akan ke markas Kay-pang dHok-yang atau tidak?"

Kata Ci Giok Hian. Seng Liong Sen mengangguk.

"Ya, aku masih ada urusan di sana!"

Jawab pemuda itu.

"Aku dengar sekarang Kay-pang punya harta yang tidak ternilai jumlahnya,"

Kata Ci Giok Hian.

"aku juga mendengar harta itu akan diantarkan untuk biaya para pejuang melawan musuh, kau sudah mendengar soal itu?"

Seng Liong Sen tertegun.

"Nona Ci, kau cepat sekali kau mendapat berita itu!"

Kata Seng Liong Sen.

"Begitulah, tetapi kau tidak perlu tahu dari mana aku memperoleh khabar itu, tetapi masalah ini sangat penting! Dari nada kata-katamu, masalah ini memang serius, iya kan?"

Kata Giok Hian. Seng Liong Sen mengangguk mengiakan.

"Kau benar, Liok Pang-cu pernah menceritakan masalah ini kepadaku,"

Kata Seng Liong Sen secara jujur.

"Aku dengar yang melindungi harta itu dalam perjalanan menuju ke tempat para pejuang ialah Jen Thian Ngo. Aku dengar Jen Thian Ngo ini seorang jago persilatan yang berilmu tinggi. Oleh karena itu aku yakin tidak akan terjadi apa-apa pada harta itu!"

Mendengar keterangan Seng Liong Sen itu Ci Giok Hian berseru tak tertahan.

"Celaka! Celaka!"

Kata Ci Giok Hian.

"Eh, kenapa kau bicara begitu?"

Kata Seng Liong Sen.

"Kau tidak tahu masalahnya, justru karena dia yang mengawal harta itu, maka di tengah perjalanan akan terjadi 718 malapetaka yang sudah mereka rencanakan!"

Jawab Ci Giok Hian. Mendengar jawaban nona Ci itu bukan kepalang kagetnya Seng Liong Sen, matanya terbelalak karena herannya.

"Aku dengar Jen Thian Ngo memiliki jurus pedang Cit-siukiam-hoat yang sangat lihay, aku dengar dia juga sangat cerdik dan lihay sekali!"

Kata Seng Liong Sen.

"Itu benar,"

Kata Ci Giok Hian sambil mengangguk.

"tetapi justru dia bersekongkol dengan orang-orang Mongol!"

Kata Ci Giok Hian. Bukan main terkejutnya Seng Liong Sen.

"Apa? Kau tahu dari mana soal ini? Benarkah begitu?"

Demikian Seng Liong Sen bertanya secara bertubi-tubi pada nona Ci karena sangat penasaran.

"Tadi pagi Jen Thian Ngo sengaj a mengutus seorang muridnya yang bernama Ih Hoa Liong datang ke tempat kouw-kouwmu. Murid Jen Thian Ngo datang untuk menemui kedua Iblis Tua itu, namun See-bun Souw Ya belum pulang dari suatu perjalanan. Dia hanya bertemu dengan salah satu Iblis Tua, yaitu Chu Kiu Sek! Saat mereka sedang merundingkan masalah akan menghadang kiriman harta itu, semua telah kudengar sendiri. Ketika itu aku bersama Pik Po yang mendengarnya langsung!"

Kata Ci Giok Hian. Mendengar keterangan ini Seng Liong Sen jadi bertambah kaget.

"Apa saja yang mereka bicarakan?"

Kata Liong Sen semakin penasaran ingin tahu.

Ci Giok Hian membeberkan semua rencana Jen Thian Ngo yang dia sampaikan lewat muridnya pada Chu Kiu Sek, sesudah selesai bercerita Ci Giok Hian menambahkan.

"Coba kau bayangkan, betapa liciknya Jen Thian Ngo itu. Dia menyuruh kedua Iblis Tua itu menjadi perampok harta karun itu. Mereka merencanakan merampas harta itu di tengah perjalanan. Sedangkan Jen Thian Ngo yang menjadi pengawal akan berpura-pura bertarung mati-matian untuk mempertahankan harta itu. Kemudian Jen Thian Ngo akan berpura-pura tidak sanggup melawan kedua perampok yang lihay itu, bahkan dia bersedia dilukai untuk mengelabui orang Kay-pang agar tidak mencurigainya! Dengan demikian sekalipun dia gagal melindungi harta itu, siapa yang akan mencurigainya. Malah dia akan merasa bangga sekalipun dia gagal melindungi harta itu, karena namanya tetap harum sebagai pahlawan sejati. Padahal pengatur perampokan keji itu dia!"

Kata Ci Giok Hian. Seng Liong Sen benar-benar terkejut.

"Tidak kusangka Jen Thian Ngo demikian liciknya,"

Kata Seng Liong Sen.

"Aku dengar selain Jen Thian Ngo yang mengawal harta itu ada lagi dua Hiang-cu Kay-pang, aku yakin mereka berdua akan celaka!"

"Benar, dalam rencana itu mereka akan menghabisi semua orang yang terlibat dalam pengantaran harta itu. Dengan demikian jejak mereka tidak akan terlacak oleh siapa pun! Dari seluruh pengawal harta yang selamat hanya Jen Thian Ngo. Tahukah kau, di antara para pengawal harta itu terdapat Kakakku, Ci Giok Phang. Secara pribadi aku harus ikut terlibat dalam masalah ini."

Kata Ci Giok Hian.

"Lalu...."

"Aku harus ke markas Kay-pang menemui para ketua Kay-pang untuk menjelaskan masalah ini kepada mereka. Maka aku ingin tahu, bersediakah kau mengantarkan aku ke sana atau tidak?"

Kata Ci Giok Hian.

"Maksudku ke sana untuk menyampaikan informasi ini kepada Liok Pang-cu!"

Seng Liong Sen tertegun sejenak.

"Aku dengar sekarang kota Lok-yang sedang dikepung oleh pasukan Mongol. Tetapi mungkin saja kita bisa menyelinap masuk ke dalam kota untuk menyampaikan kabar! Aku kira tidak gampang kita bisa masuk ke dalam kota. Malah aku tidak yakin Liok Pang-cu percaya begitu saja pada keterangan kita...."

Kata Seng Liong Sen.

"Lalu apa akal kita sekarang?"

Tanya Ci Giok Hian.

"Menurut pendapatku, alangkah baiknya jika kita kejar rombongan Jen Thian Ngo yang mengawal harta karun itu. Untung kedua Iblis Tua itu masih ada di sini. Walau mereka berdua berhasil mengalahkan Beng Cit Nio, tetapi tetap makan waktu tidak sedikit! Jika kita bisa menyusul rombongan Jen Thian Ngo, maka tidak Sulit untuk membereskan masalah ini!"

Kata Seng Liong Sen.

Sebenarnya yang ada di otak Ci Giok Hian pun sama seperti yang dipikirkan oleh Seng Liong Sen, tetapi tadi Ci Giok Hian merasa tidak enak untuk menyampaikan niatnya itu.

Ketika Ci Giok Hian mendengar ajakan Seng Liong Sen akan menyusul rombongan pengantar harta itu, bukan main girangnya Ci Giok Hian.

"Ah, kalau begitu mari kita berangkat!"

Kata Ci Giok Hian.

"Tetapi, apakah ini tidak mengganggu tugasmu?"

"Urusanku di Lok-yang telah selesai,"

Jawab Seng Liong Sen.

"tugasku cuma tinggal melapor kepada Guruku. Tetapi demi masalah ini dan urusanmu, biar aku tunda 721 keberangkatanku menemui Guruku. Setelah masalah ini selesai baru aku pulang ke Kang-lam!"

Ci Giok Hian mengangguk. Tak lama Seng Liong Sen bicara lagi.

"Sekarang kau sudah bebas dari bahaya,"

Kata pemuda itu.

"sedangkan aku tidak perlu buru-buru menemui Guruku. Jangankan hanya untuk dua tiga hari, sepuluh hari pun aku tidak pulang ke Kang-lam pun, tidak masalah!"

Kata-kata Seng Liong Sen mirip seorang pria sedang mencurahkan isi hatinya kepada seorang kekasih, maka itu tidak heran kalau wajah Ci Giok Hian tiba-tiba berubah jadi merah.

Ci Giok Hian jadi bingung, dia tidak tahu harus bilang apa.

Sedang pemuda itu tertawa riang.

"Nona Ci, kau jangan anggap aku memanfaatkan masalah ini untuk menekanmu. Kau suka atau tidak kepadaku itu masalah lain. Sekarang jika aku bisa melakukan perjalanan bersama-sama denganmu saja, hatiku sudah senang bukan main."

Kata Seng Liong Sen. Mendengar ucapan pemuda itu Ci Giok Hian diam saja.Karena hatinya sudah menjadi milik orang lain, diajadi tidak tertarik kepada pemuda itu. Namun, dia berpikir.

"Seng Liong Sen murid jago silat aliran lurus, aku yakin dia bisa menjaga kesopanan selama dalam perjalanan. Jika aku berjalan bersamanya beberapa hari, aku kira aku tidak bersalah kepada Kok Siauw Hong!"

Pikir Ci Giok Hian.

-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Sementara itu di tempat lain.....

Beng Cit Nio sedang bertarung dengan sengit melawan See-bun Souw Ya.

Iblis Tua itu menggunakan jurus Hua-hiatto tingkat delapan, sedang semua pukulan yang dia lancarkan selain berbahaya juga berbau amis.

Menghadapi serangan ilmu Hua-hiat-to yang ganas Beng Cit Nio menggunakan hawa mumi untuk menghadapinya.

Beng Cit Nio menangkis semua serangan berbahaya dari See-bun Souw Ya dengan cara mengibaskan lengan bajunya yang panjang.

Yang mengherankan wajah Beng Cit Nio tidak berubah saat diserang oleh See-bun Souw Ya, bahkan tampak biasa saja.

Sedikitpun Beng Cit Nio tidak kelihatan keracunan atau pusing oleh bau amis karena serangan musuh.

Tidak heran ketika See-bun Souw Ya menyaksikan lawannya tidak terpengaruh oleh serangannya, dia jadi berpikir keras.

"Nenek ini lihay dan hebat sekali, jika aku jatuh di tangannya, pasti Chu Kiu Sek akan mentertawakan aku!"

Pikir See-bun Souw Ya saat itu.

Oleh karena See-bun Souw Ya khawatir akan kehilangan muka di depan sahabatnya, See-bun Souw Ya terpaksa mempercepat serangannya.

Sebaliknya Beng Cit Nio, pada saat bertarung yang dia khawatirkan ialah jika See-bun Souw Ya bergabung dengan Chu Kiu Sek dan mereka mengeroyoknya.

Jika dia dikeroyok pasti akan kalah.

Saat serangan See-bun Souw Ya semakin hebat, Beng Cit Nio terpaksa mengerahkan hawa murninya untuk melindungi jantungnya, tetapi karena itu tenaga serangannya jadi tidak sedahsyat tadi.

Selain harus berhatihati Beng Cit Nio pun harus tetap waspada terhadap serangan gelap dari Chu Kiu Sek.

Sesudah mereka 723 bertarung puluhan jurus, sekarang mulai kelihatan Beng Cit Nio terdesak oleh lawannya.

"Seerr! Week!"

Tanpa ampun ujung pakaian Beng Cit Nio robek terkena serangan lawan. Melihat dia berhasil merobek pakaian lawan, See-bun Souw Ya tertawa terbahak-bahak.

"Cit Nio, demi Han Tay Hiong kenapa kau harus bertarung mati-matian melawanku?"

Kata See-bun Souw Ya.

Pada saat yang bersamaan terdengar suara tawa beberapa orang.

Kiranya saat itu murid-murid See-bun Souw Ya sudah berkumpul di tempat itu.

Mula-mula semua murid See-bun Souw Ya diam karena merasa segan kepada Beng Cit Nio.

Saat melihat See-bun Souw Ya sudah berhasil menekan lawan dan See-bun Souw Ya sudah ada di atas angin, timbul keberanian mereka sehingga mereka berani mentertawakan lawan See-bun Souw Ya.

Salah seorang dari mereka menyindir sambil tertawa.

"Nenek ini selalu memikirkan Han Tay Hiong, sedangkan Han Tay Hiong sekarang sudah menjadi orang cacat! Aku yakin Han Tay Hiong tidak akan mau menerima budi dan pertolongannya!"

Kata orang itu. Yang seorang lagi ikut bicara.

"Dia sudah berumur limapuluh tahun, mana mungkin dia masih disukai. Lihat saja pipinya pun sudah keriput lho!"

Kata orang itu. Orang yang lain lagi ikut bicara.

"Semakin tua semakin jadi, banyak gadis cantik yang tidak bisa dibandingkan dengannya, lho!"

Kata orang itu.

"Han Tay Hiong memang beruntung, lebih baik See-bun Sian-seng mengampuni nenek ini..."

Kata orang lain lagi. Tiba-tiba See-bun Souw Ya berteriak.

"Hati-hati, kalian cepat menyingkir!"

Tak lama terdengar suara teriakan orang-orang yang disuruh menyingkir oleh See-bun Souw Ya itu.

"Aduuh!"

"Aaahk!"

"Aduuh!"

"Oh, celaka, aduh!"

Demikian terdengar berbagai teriakan kesakitan di manamana dan saling susul.

"Siapa yang masih banyak mulut dia harus mampus!"

Kata Beng Cit Nio dengan suara dingin.

Empat orang anak buah See-bun Souw Ya yang tadi mengejek Beng Cit Nio, sekarang sudah tergeletak di tanah, tubuhnya berlumuran darah.

Kelihatannya nyawa mereka telah putus.

Pada kepala mereka kelihatan darah mengucur, itu berarti batok kepala mereka semua tertembus oleh senjata rahasia milik Beng Cit Nio.

Senjata rahasia Beng Cit Nio berupa jarum yang sangat halus.

Jarum itu dinamakan jarum Bunga Bwee yang telah direndam di dalam racun.

Beruntung See-bun Souw Ya lihay, dia berhasil menangkis beberapa jarum beracun yang lihay itu, jika tidak dia juga pasti sudah akan tergeletak di tanah tidak bernyawa.

Setelah serangan gelap Beng Cit Nio berhasil membunuh empat orang itu, beberapa orang yang tadi ikut menyaksikan pertarungan See-bun Souw Ya melawan Beng Cit Nio, sekarang sudah menyingkir semua.

Mereka khawatir akan terkena jarum Bunga Bwee yang sangat lihay itu.

Sekarang di tempat yang agak jauh dari tempat pertarungan mereka mengawasi ke arena pertarungan, 725 tetapi mulut mereka bungkam tidak ada yang berani bersuara lagi.

"Baik,"

Kata See-bun Souw Ya.

"mari kita lanjutkan lagi pertarungan kita agar bisa ditentukan siapa yang lebih unggul!"

Tiba-tiba See-bun Souw Ya melancarkan serangan dahsyat dengan jurus Hua-hiat-tonysL, seketika itu tercium bau amis yang menyesakkan.

Jurus yang dia pergunakan adalah jurus dari tingkat yang ke delapan.

Serangan See-bun Souw Ya ini sangat berbahaya, tidak heran kalau Beng Cit Nio jadi agak kewalahan juga diserang secara demikian, Tidak heran jika sekarang kembali Beng Cit Nio berada di bawah angin.

Menyaksikan keadaan di arena pertarungan dimenangkan oleh See-bun Souw Ya, nyali para anak buah See-bun Souw Ya yang tadi mulai ciut hatinya, sekarang kembali bangkit keberaniannya.

Mereka sekarang saling berbisik di antara kawan-kawannya, namun mereka tidak ada yang berani bersuara.

Tiba-tiba mereka terkejut karena mendengar sebuah teriakan.

"Minggir!"

Kata suara itu.

Ternyata itu suara dua pelayan yang segera mendorong orang-orang itu.

Dua pelayan itu Pik Khi dan Pik Po.

Di antara orang-orang itu ada Pouw Yang Hian, dia pernah merasakan kelihayan Pik Po, oleh karena itu Pouw Yang Hian tidak berani bergerak.

Di arena pertempuran Beng Cit Nio sedang sibuk menangkis setiap serangan See-bun Souw Ya yang sangat berbahaya Kelihatan jelas Beng Cit Nio sudah sangat terdesak.

Orang-orang yang didorong oleh Pik Po dan Pik 726 Khi, salah seorangnya mahir ilmu Tiat-pu-san.

Saat kedua pelayan itu mendorong mereka, orang itu berpikir.

"Saat ini Beng Cit Nio sedang terdesak, jarak dari sini ke arena pertarungan cukup jauh. Jika Beng Cit Nio menyerang dengan jarum Bunga Bwee pun, jarum itu tidak akan bisa mengenaiku. Kenapa aku harus takut kepada dua pelayan ini? Di sini banyak orang, jika aku tidak mampu mengalahkan dua pelayan ini, aku akan jadi bahan tertawaan,"

Begitu pikir orang ini.

"Minggir! Cepat minggir!"

Teriak Pik Po.

"Kau menyuruh kami minggir? Hm! Itu tidak mudah aku ingin melihat sampai di mana kepandaianmu?"

Kata orang itu. Dia segera menyerang ke arah Pik Po dan hendak mencengkramnya. Sasaran yang dia tuju bahu Pik Po, tapi sayang gerakan Pik Po lebih cepat dari orang itu.

"Plak!"

"Aduuh!"

Teriak orang itu. Ternyata tangan Pik Po melayang ke pipi orang itu, tamparan ini keras sekali, mata orang itu tiba-tiba jadi berkunang-kunang.

"Hm! Kau bertanya bagaimana kepandaianku?"

Kata Pik Po. Orang itu marah bukan main. Saat dia akan melancarkan serangan lagi, tampak sebuah tangan kembali melayang ke arah pipinya "Plak!"

Kali ini yang menampar pipi orang itu Pik Khi.

"Hm! Kau ingin mencoba kepandaian kami, maka aku tampar mulutmu!"

Kata Pik Khi.

Sejak kecil dua pelayan ini sudah ikut dengan Beng Cit Nio, tidak heran jika mereka berdua sudah sangat mahir ilmu silat yang tinggi.

Jika kedua pelayan ini hanya melayani jago silat biasa, mereka tidak akan bisa mengalahkan kedua pelayan ini.

Orang itu penasaran bukan main, dia menyerang lagi dengan hebat.

Pik Khi tertawa dingin.

"Jangan salahkan kami, kau yang mencari mampus!"

Kata Pik Khi. Serangan orang itu ditangkis oleh Pik Khi, lalu balas menyerang orang itu dengan cepat. Serangan Pik Khi sangat cepat tak heran orang itu terlambat berkelit.

"Plok! Plaak!"

"Aduuuh! Tolong!"

Teriak orang itu.

Dia langsung roboh bergulingan di tanah dengan sangat kesakitan.

Dia menjerit-jerit bagaikan seokor babi yang baru dipotong.

Dua kawan lelaki itu kaget bukan kepalang.

Mereka berdua menghunus pedang mereka lalu maju mendekati kawannya yang tergeletak sambil menjerit-jerit.

Maksud mereka akan menolongi kawannya itu.

Pik Po tertawa cekikikan.

Melihat dua lelaki itu menghunus pedang Pik Po berkata pada Pik Khi.

"Kak Pik Khi, biar aku yang menghadapi dua anjing ini!"

Kata Pik Po.

Tanpa banyak mulut Pik Po menghunus sepasang pedangnya dan langsung menyerang kedua laki-laki yang hendak menolongi kawannya itu.

Serangan Pik Po yang bertubi-tubi membuat kedua lelaki itu kaget bukan main.

"Aaah! Aduh!"

"Aduh!"

Kedua lelaki itu telah tertusuk oleh pedang Pik Po.

Mereka roboh dengan tubuh mandi darah.

Kejadian ini membuat orang-orang di tempat itu kaget.

Mereka buruburu menghindar dari tempat itu.

Sekarang tidak ada yang berani menghalangi majunya Pik Po dan Pik Khi.

Sesampai di arena pertarungan Pik Khi menerjang masuk, dia melemparkan sebuah tongkat ke arah Beng Cit Nio sambil berseru nyaring.

"Majikan! Pukul Iblis Tua itu dengan tongkat ini!"

Kata Pik Khi.

See-bun Souw Ya kaget melihat dua pelayan itu maju.

Saat tongkat dilemparkan oleh Pik Khi, See-bun Souw Ya berniat merebut tongkat itu.

Tetapi lemparan Pik Khi itu sebuah lemparan yang istimewa.

Saat tangan See-bun Souw Ya terjulur ingin menyambar tongkat itu, mendadak tongkat itu berputar ke arah lain.

Dengan demikian tangan See-bun Souw Ya menyambar ke tempat kosong.

Sedang tongkat itu tepat jatuh ke tangan Beng Cit Nio.

Sesudah berhasil memegang tombak berkepala naga itu semangat Beng Cit Nio bangkit lagi.

Tiba-tiba tongkat berkepala naga itu berkelebat cepat luar biasa, tongkat itu mengarah ke See-bun Souw Ya.

Pengalaman See-bun Souw Ya sangat luas, tetapi gerakan tongkat Beng Cit Nio belum diketahuinya.

Dia mencoba menangkis serangan dahsyat dari Beng Cit Nio dengan sekuat tenaganya.

Tak lama terdengar suara benturan sangat keras.

"Tang!"

Setelah menangkis serangan Beng Cit Nio yang hebat itu See-bun Souw Ya merasakan darahnya bergolak tidak karuan, sedangkan tangannya terasa sakit bukan main.

Sebaliknya Beng Cit Nio pun terhuyung ke belakang dua langkah.

Tetapi kelihatan luka Beng Cit Nio tidak separah luka yang diderita oleh See-bun Souw Ya.

Iblis Tua itu terkejut bukan kepalang.

"Nenek ini benar-benar hebat!"

Pikir See-bun Souw Ya.

"Kepandaiannya tidak di bawah kepandaianku!"

Sesudah mengetahui Beng Cit Nio memiliki ilmu tongkat yang lihay, See-bun Souw Ya sadar.

Dia harus mengubah taktik saat menghadapinya.

Sekarang dia kembali melakukan serangan hebat.

Tetapi jika tidak sangat terpaksa dia tidak menangkis langsung serangan Beng Cit Nio yang dahsyat itu.

"Pik Khi, Pik Po! Kalian jaga ruang tahanan, jangan biarkan orang masuk ke sana!"

Teriak Beng Cit Nio.

"Baik Majikan!"

Kata kedua pelayan itu sambil mengangguk.

Mereka berdua langsung menuju ke kamar tahanan dan melakukan penjagaan sesuai perintah dari Beng Cit Nio.

Rupanya dua pelayan ini ditugaskan untuk melindungi Han Tay Hiong dan Han Pwee Eng.

Menyaksikan perubahan yang terjadi di arena pertarungan, Pouw Yang Hian khawatir gurunya akan kalah.

Maka itu Pouw Yang Hian segera berteriak-teriak pada anak buahnya.

"Cepat! Cepat panggil Chu Lo Sian-seng dan Khong-tong Sam-eng (Tiga Elang Khong-tong) ke mari! Cepaaat!"

Teriak Pouw Yang Hian panik bukan main.

Khong-tong Sam-eng murid tingkat dua dari Khong-tongpay Mereka bertiga berilmu tinggi, sekarang mereka bergabung dengan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek.

Mendengar teriakan murid See-bun Souw Ya ini Beng Cit Nio sadar, tidak lama lagi akan bermunculan lawanlawan yang sangat tangguh.

Dia memutuskan untuk mengakhiri pertarungan itu dengan cepat melawan See-bun Souw Ya.

Beng Cit Nio mengeluarkan ilmu tongkat Loan-po Hong (Ilmu Tongkat Angin dan Badai).

Memang luar biasa ilmu tongkat ini, ternyata dia berhasil menekan See-bun Souw Ya.

Kelihatan See-bun Souw Ya tidak bisa melakukan serangan lagi, dia hanya mampu menangkis dan mundur teratur.

Dengan ilmu Hua-hiattonya dia mampu bertahan.

Sedang Beng Cit Nio harus terus melindungi jantungnya, tidak heran jika pertarungan itu jadi seimbang.

Tiba-tiba terdengar Pouw Yang Hian berteriak girang, dari jauh tampak mendatangi Chu Kiu Sek.

Sambil tertawa Chu Kiu Sek berkata nyaring.

"Ternyata nenek in lihay juga, saudara See-bun jangan takut aku akan membantumu!"

Kata Chu Kiu Sek. See-bun Souw Ya mendengus dingin.

"Hm! Sekalipun dia lihay belum tentu aku akan kalah olehnya, lebih baik kau lihat saja Han Tay Hiong sedang apa!"

Kata See-bun Souw Ya. Mendengar kata-kata See-bun Souw Ya tentu saja Beng Cit Nio terperanjat bukan kepalang.

"Han Tay Hiong sedang sekarat, jika si Iblis Tua ke sana mana mungkin mereka selamat?"

Pikir Beng Cit Nio.

"Sekarang Pik Po dan Pik Khi ada di sana, tapi aku tidak yakin mereka akan mampu menghadapi Chu Kiu Sek!"

Tiba-tiba Beng Cit Nio meludah dan membentak dengan sengit.

"Dasar manusia tidak tahu malu!"

Kata Beng Cit Nio. Tiba-tiba tongkatnya berkelebat, dia langsung menyerang ke arah Chu Kiu Sek. Setelah berkelit dari serangan berbahaya itu Chu Kiu Sek tertawa terbahak-bahak.

"Saudara See-bun, Han Tay Hiong telah kau totok jalan darahnya hingga tidak berdaya, masakan dia bisa kabur.?"

Kata Chu Kiu Sek.

"Sekarang lebih baik kita bereskan dulu nenek busuk ini!"

Chu Kiu Sek paham ilmu Siu-lo-im-sat-kang sampai tingkat delapan.

Tiba-tiba dia melancarkan sebuah pukulan, saat itu terasa ada hawa dingin menyerang.

Sekalipun lweekang Beng Cit Nio tinggi tidak urung dia merasakan hawa dingin itu.

Tetapi ilmu tongkat Beng Cit Nio tetap masih mampu mengimbangi pukulan Chu Kiu Sek itu.

Beng Cit Nio merangsek maju.

Tetapi Chu Kiu Sek sambil tertawa berkata nyaring.

"Cit Nio, sebenarnya kita sehaluan! Kaulah yang mengundang kami ke mari untuk menangkap Han Tay Hiong, tetapi aneh sekali sekarang kau ingin melindunginya dan berganti haluan! Kau jangan salahkan kami jika kami mengeroyokmu!"

Kata Chu Kiu Sek.

"Sungguh sial! Karena mataku buta hingga aku mengundang srigala masuk ke dalam rumahku! Aku sungguh menyesal, sekarang mari kita adu jiwa, paling sial aku mati di tangan kalian!"

Kata Beng Cit Nio sengit bukan main.

Dengan ilmu tongkatnya yang lihay Beng Cit Nio langsung menyerang See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek.

Serangan Beng Cit Nio sangat berbahaya dan mematikan, dari sikapnya kelihatan Beng Cit Nio siap mati bersamasama dengan kedua lawannya.

Tiba-tiba terdengar suara seruan dari orang-orang yang sedang menyaksikan pertarungan itu.

"Oh, Khong-tong Sam-eng sudah datang!"

Kata suara itu.

Khong-tong Sam-eng jago dari Khong-tong-pay.

Anggota mereka bertiga masih saudara kandung.

Kelompok ini terdiri yang tertua bernama Cie Tian, yang kedua bernama Cie Ceng sedang yang paling muda bernama Cie Liak.

Ayah mereka salah satu dari Khong-tong-ji-khi (Dua orang Aneh dari partai Khong-tong).

Ketiga jago Khong-tong-pay ini musuh besar Hong Lay Mo Lie dan Siauw Auw Kan Kun.

Pada waktu Khong-tong Sam-eng turun gunung, maksud mereka akan pergi ke Kimkee-leng untuk mengadakan perhitungan dengan Hong Lay Mo Lie dan Siauw Auw Kan Kun.

Di tengah perjalanan mereka malah bertemu dengan Cong Siauw Hu dan Siangkoan Po Cu suami isteri, yaitu bawahan Hong Lay Mo Lie.

Dengan demikian perkelahian tidak terhindarkan.

Sayang Khong-tong Sam-eng kalah oleh suami isteri tersebut.

Menghadapi anak buah Hong Lay Mo Lie saja sudah kalah, bagaimana mereka mampu menghadapi Hong Lay Mo Lie sendiri.

Saat itu mereka baru sadar kalau kepandaian mereka masih rendah.

Kebetulan Khong-tong Sam-eng bertemu dengan See-bun Souw Ya, si Iblis Tua ini tahu bahwa Khong-tong Sameng ingin balas dendam pada Hong Lay Mo Lie dan Siauw Auw Kan Kun, maka itu See-bun Souw Ya mengajak mereka bergabung dengannya Mengetahui See-bun Souw Ya inHihay ditambah mereka juga mengaguminya, maka mereka bertiga akhirnya bersedia bergabung dengan See-bun Souw Ya.

Sebenarnya Beng Cit Nio tidak gentar terhadap Khongtong Sam-eng, namun sekarang saat dalam bahaya Beng Cit Nio mau tidak mau cemas juga Dia sangat khawatir jika Khongtong Sam-eng ke kamar tahanan Han Tay Hiong dan puterinya, mereka akan mencelakai Han Tay Hiong dan puterinya.

Sedangkan saat itu dia tidak bisa meninggalkan gelanggang pertarungan, karena sedang menghadapi dua Iblis Tua yang lihay.

Dugaan Beng Cit Nio ternyata benar, begitu Khong-tong Sam-eng tiba di tempat pertarungan, dia melihat Beng Cit Nio sedang dalam keadaan terdesak oleh Chu Kiu Sek maupun See-bun Souw Ya.

Mereka pikir tidak ada gunanya mereka membantu mengeroyok Beng Cit Nio.

Namun, tibatiba mata mereka memandang ke arah kamar tahanan.

Sekalipun mereka tahu di depan kamar tahanan ada dua orang pelayan Beng Cit Nio yang cukup tangguh.

Mereka sudah mendengar dua pelayan itu berhasil melukai kawankawan mereka.

Tetapi mereka tidak gentar.

Mereka siap masuk ke kamar tahanan Han Tay Hiong.

Khong-tong Sam-eng orang yang tinggi hati dan mempertahankan gengsi mereka.

Itu sebabnya mereka akan masuk ke kamar tahanan tidak bersama-sama untuk menghadapi dua pelayan Beng Cit Nio itu.

Orang yang akan masuk hanya Lo-sam (Saudara ketiga) untuk menjajal kepandaian kedua pelayan itu.

Menurut tingkatan di Dunia Persilatan, Khong-tong Sameng ini tergolong pesilat kelas dua.

Jelas kepandaian mereka berada di atas kedua pelayan Beng Cit Nio.

Saat salah satu dari Khong-tong Sam-eng muncul, Pik Po dan 734 Pik Khi langsung menerjangnya.

Mereka tidak mengetahui berapa tinggi kepandaian anggota dari Khong-tong Sam-eng itu.

Cie Liak yang diserang secara beruntun oleh dua pelayan Beng Cit Nio inHangsung menangkis serangan itu dengan senjata sepasang gelangnya.

"Trang!"

Pedang Pik Po yang ditangkis dengan keras ternyata buntung.

Pada saat yang bersamaan Pik Khi menyerang Cie Liak dengan pedangnya.

Sebenarnya kepandaian Pik Khi lebih tinggi dari Pik Po, namun dia tetap bukan tandingan Cie Liak yang lihay.

Setelah bertarung belasan jurus kedua pelayan itu benarbenar mulai terdesak oleh Cie Liak.

Jika sedikit lengah kedua pelayan itu akan celaka di tangan Cie Liak.

Saat dalam keadaan kritis tiba-tiba terdengar suara tawa nyaring.

"Hm! Tak tahu malu menghina gadis kecil, ternyata cuma seperti itu kalian berani mengaku Sam Eng?"

Saat suara itu belum sirna tak lama tampak sesosok bayangan berkelebat.

Ketika itu Cie Liak merasakan ada serangan angin yang dasyat menerjang punggungnya.

Cie Liak terkejut bukan main.

Dia tidak melihat jelas siapa orang itu, tapi tahu-tahu bahunya terasa sangat sakit.

Kiranya tulang pipenya tercengkram orang itu, tak lama tubuhnya terasa melayang karena dilemparkan oleh orang itu.

Orang itu kiranya Seng Cap-si Kouw.

Betapa kagetnya Lo Toa Cie Tian.

"Siapa kau, beraninya kau melukai adikku?"

Kata Cie Tian.

Cie Tian yang juga bersenjata gelang baja langsung menyerang pada Seng Cap-si Kouw.

Gelang baja Cie Tian berkelebat menyambar-nyambar ke arah lawan.

Menyaksikan serangan itu Seng Cap-si Kouw tertawa dingin.

"Kau buta tidak mengenaliku, tapi kau berani buang lagak di tempat ini!"

Bentak Seng Cap-si Kouw.

Cap-si Kouw mencoba merebut gelang baja di tangan Cie Tian, tetapi usahanya ini gagal karena Cie Tian cukup lihay.

Dengan cepat Cie Tian menarik serangannya, lalu balas menyerang ke arah tangan Seng Cap-si Kouw.

Pada saat yang bersamaan Seng Cap-si Kouw pun membalikkan tangan dan dengan lengan bajunya dia mengibas dengan hebat.

"Trang!"

Ujung lengan baju Seng Cap-si Kouw menghantam gelang baja di tangan Cie Tian.

Seketika itu juga Cie Tian merasakan telapak tangannya sakit dan ngilu sekali, hampir saja gelang baja di tangannya terlepas dari cekalannya.

Segera Cie Tian mundur tiga langkah, matanya menatap ke arah Seng Cap-si Kouw dengan tajam dan sedikit terbelalak karena terkejut oleh kekuatan pukulan wanita tua itu.

Melihat lawannya itu Seng Cap-si Kouw tertawa menghina.

"Hm! Kau berhasil menghindar dari seranganku, itu tandanya kau cukup lihay, sekarang enyah kau dari sini"

Bentak Seng Cap-si Kouw bengis.

"Perempuan siluman aku akan mengadu jiwa denganmu!"

Kata Cie Tian gusar sekali.

Tiba-tiba dia menyerang kembali.

Pada saat yang bersamaan, Cie Ceng, saudara kedua dari Khong-tong Sameng datang bantu menyerang.

Melihat lawannya bertambah seorang Seng Cap-si Kouw tertawa dingin.

"Aku ingin mengampuni kalian, tetapi sebaliknya kalian mencari mampus sendiri!"

Kata Seng Cap-si Kouw.

Tiba-tiba tampak sinar hijau berkelebat, itulah pedang bambu Cui-giok-tek (Bambu Giok Hijau) yang digunakan Capsi Kouw untuk menangkis serangan kedua lawannya.

Pedang seperti itu biasanya pedang-pedangan mainan anakanak, sedangkan senjata gelang yang digunakan oleh kelompok Khong-tong Sam-eng terbuat dari baja.

Pedang terbuat dari baja pun pasti buntung jadi dua jika terkena gelang baja mereka, apalagi pedang bambu.

Tetapi sungguh mengherankan, ternyata gelang baja itu tak mampu mematahkan pedang bambu milik Cap-si Kouw yang lihay, malah sebaliknya Cie Tian dan Cie Ceng jadi kewalahan dan terdesak oleh serangan balasan dari Cap-si Kouw, bahkan sibuk untuk menangkis berbagai serangan pedang bambu hijau itu.

"Tang! Tang!"

Suara benturan senjata tajam dengan pedang bambu terdengar nyaring. Tiba-tiba Seng Cap-si Kouw membentak dengan nyaring.

"Kena!"

Kelihatan cahaya hijau berkelebat kian-ke mari, kelihatan Cie Tian dan Cie Ceng sibuk menangkis dan melompat kian ke mari dan gerakannya mulai kacau-balau.

Tiba-tiba Cie Tian merasakan tangannya sakit bukan kepalang, sedangkan Cie Ceng berdiri termangu di tempat.

Kiranya pakaian mereka telah terkoyak-koyak, ini membuat Cie Ceng jadi setengah telanjang.

Untung yang digunakan oleh Seng Cap-si Kouw hanya sebuah pedang bambu, jika pedang yang terbuat dari baja murni yang tajam, saat itu Cie Ceng pasti sudah mandi darah dan tidak bernyawa lagi.

Seng Cap-si Kouw tertawa dingin.

"Hm! Apa kalian masih berani mengadu jiwa denganku?"

Kata Seng Cap-si Kouw sambil tersenyum dingin.

"Baik, kau kuberi kesempatan untuk istirahat sejenak, sesudah itu mari kita lanjutkan lagi pertarungan ini!"

Cie Tian sebenarnya sudah tertotok jalan darahnya, hal ini membuat Seng Cap-si Kouw pun sedikit kaget, mengapa Cie Tian tidak roboh oleh totokannya? Cie Tian membentak dengan suara keras.

"Kau telah membunuh adik ketiga kami, maka kau harus aku bunuh agar aku bisa membalaskan sakit hati saudara kami!"

Kata Cie Tian. Melihat Cie Tian akan berbuat nekat, Cie Ceng meneriaki saudaranya itu.

"Toa-ko, sabar! Sam-tee (adik ketiga) belum mati, dia hanya tertotok jalan darahnya oleh perempuan siluman ini!"

Kata Cie Ceng.

Saat Cie Liak diserang oleh Seng Cap-si Kouw dan dilemparkan hingga roboh terlentang di tanah, Cie Ceng segera menghampiri saudara ketiganya dan memapahnya, lalu memeriksa lukanya.

Tetapi saat itu Cie Tian langsung menyerang ke arah Cap-si Kouw, dengan demikian dia tidak mengetahui kalau Cie Liak masih hidup.

Seng Cap-si Kouw tertawa dingin.

"Kau boleh membebaskan totokanku di tubuh Cie Liak! Jika kalian masih ingin bertarung aku bersedia meladeni kalian!"

Kata Seng Cap-si Kouw dengan dingin.

Sesudah berkata begitu dengan tidak mempedulikan mereka Seng Cap-si Kouw berjalan dengan tenang ke arah kamar tahanan.

Begitu sampai Seng Cap-si Kouw langsung bicara.

"Aku datang terlambat hingga kalian jadi kaget,"

Kata Seng Cap-si Kouw sambil tertawa. Melihat Seng Cap-si Kouw tiba Pik Khi girang bukan main."Syukur Cian-pwee telah datang!"

Kata Pik Khi.

"Bagaimana keadaan Han Tay Hiong?"

Tanya Seng Capsi Kouw.

"Tampaknya beliau seperti keracunan, sekarang beliau masih pingsan,"

Jawab Pik Khi.

Pik Khi ini pelayan pribadi Beng Cit Nio, tak heran jika dia mengerti mengenai racun.

Dia tahu Han Tay Hiong keracunan namun Pik Khi tidak mengetahui kalau yang menaruh racun itu Seng Cap-si Kouw.

Seng Cap-si Kouw manggut-manggut.

"Baik, akan aku periksa keadaannya!"

Kata Cap-si Kouw.

"Cian-pwee, sebaiknya kau membantu dulu majikan kami yang sedang bertarung melawan kedua Iblis Tua itu!"

Kata Pik Po.

Pik Po pelayan kesayangan Beng Cit Nio, tidak heran kalau saat melihat majikannya sedang dikepung oleh dua Iblis Tua itu jadi khawatir, maka itu dia memohon pada Cap-si Kouw agar Cap-si Kouw mau menolongi dulu 739 majikannya.

Sebenarnya Pik Po tahu kalau Beng Cit Nio, majikannya, kurang cocok dengan Seng Cap-si Kouw.

-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Sementara itu di tengah gelanggang pertarungan Beng Cit Nio terus berusaha mencurahkan perhatiannya melawan See-bun Souw-ya dan Chu Kiu Sek.

Tidak heran jika dia seolah tidak menyaksikan kehadiran Seng Cap-si Kouw di tempatnya.

Tapi saat dia tahu Seng Cap-si Kouw mendatangi, Beng Cit Nio langsung berkata dingin.

"Piauw-ciku (Kakak misanku, red), kau tidak perlu datang ke mari untuk berpura-pura jadi orang baik!"

Kata Beng Cit Nio Mendengar teguran itu Seng Cap-si Kouw tertawa.

"Adik misanku yang baik, kalau begitu kau anggap aku sebagai orang luar! He, he, he! Sekalipun kau salah paham terhadapku, namun bagaimana aku tidak mau mempedulikan kau? Biar bagaimana kita tetap saudara misan!"

Kata Seng Cap-si Kouw.

See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek telah melihat bagaimana Khong-tong Sam-eng telah roboh di tangan Seng Cap-si kouw, mereka segera bersiap-siap untuk menghadapi Seng Cap-si Kouw bila perlu.

Tetapi, gerakan Seng Cap-si Kouw begitu cepat, tahu-tahu pedang bambunya menyerang ke arah See-bun Souw Ya.

Sekalipun Cap-si Kouw sedang bicara tak urung pedang bambunya menyerang secepat kilat.

See-bun Souw Ya kaget oleh serangan itu, segera ia menggunakan jurus Pan-liong Jiauw-pou (Naga melangkah) untuk memukul lengan Seng Cap-si Kouw yang memegang pedang bambu hijau.

Di luar dugaan See-bun Souw Ya saat diserang Seng Cap-si Kouw sudah mengubah serangannya, kali ini dengan jurus Ihseng-hoan-wi (Menggerakkan tubuh mengubah posisi).

Kelihatan tubuh Seng Cap-si Kouw bergerak ke belakang Chu Kiu Sek, bersamaan dengan itu pedang bambunya ditusukkan pada orang she Chu itu.

Sasaran Cap-si Kouw adalah punggung Chu Kiu Sek.

Saat Cap-si Kouw menyerang ke arah See-bun Souw Ya, serangan Cap-si Kouw ini sungguh berbahaya mengarah ke arah kedua mata See-bun Souw Ya, hal itu membuat See-bun Souw Ya mandi keringat saking kagetnya.

See-bun Souw Ya menangkis dengan ilmu Hua-hiat-tonya.

Ini pun membuat Seng Cap-si Kouw kaget, karena serangan See-bun itu membuat perutnya mual hingga mau muntah karena bau amis yang luar biasa itu menyerang ke hidungnya.

Sebaliknya Chu Kiu Sek kaget karena dia merasakan ada angin yang mengarah ke punggungnya, segera dia membalikkan tangannya untuk melancarkan sebuah pukulan ke belakang.

Pukulan Chu Kiu Sek ini membuat Seng Cap-si Kouw merinding, namun ujung pedang bambu Cap-si Kouw berhasil merobek pakaian Chu Kiu Sek.

Pada saat yang bersamaan, Seng Cap-si Kouw segera melompat mundur beberapa langkah, dia kembali ke pintu ruang tahanan.

Dalam dua gebrakan itu memang Seng Cap-si Kouw berada di atas angin, tetapi dia sadar ilmu Hua-hiat-to maupun Siu-lo Im-sat-kang itu sangat lihay.

Jika Seng Capsi Kouw ingin mengalahkan kedua Iblis Tua itu, mau tak mau dia harus bergabung dengan Beng Cit Nio, tapi mungkin mereka harus bertarung sampai seratus jurus baru bisa mengalahkan mereka.

Tiba-tiba Seng Cap-si Kouw jadi tidak sabar dan ingin segera melihat keadaan Han Tay Hiong, maka itu dia berteriak ke arah Beng Cit Nio.

"Adik misan, hati-hati kau bertarung melawan mereka. Aku yakin mereka tidak akan mampu mengalahkanmu dalam waktu singkat, nanti kau akan kubantu!"

Kata Seng Cap-si Kouw.

Di luar dugaan serangan yang dilancarkan oleh Seng Cap-si Kouw ternyata telah membuat kedua Iblis Tua itu kelabakan, tak heran jika Beng Cit Nio jadi berada di atas angin.

Sedangkan Seng Cap-si Kouw sambil tertawa memasuki ruang tahanan untuk melihat keadaan Han Tay Hiong.

-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 27 Saat itu tubuh Han Tay Hiong semakin dingin.

Sedang Han Pwee Eng mencoba memeluknya erat-erat, kelihatan saat itu seakan-akan Han Pwee Eng takut sepasang tangannya terlepas dari tubuh ayahnya yang semakin dingin saja.

Han Pwee Eng sangat takut kalau tiba-tiba ayahnya akan pergi untuk selama-lamanya.

Saat dHuar kamar tahanan terjadi pertarungan yang hebat antara Beng Cit Nio dan Dua Iblis Tua, semua tidak diketahuinya.

Hanya....

Tiba-tiba saja tangan yang lembut membelai-belai rambut Han Pwee Eng, kemudian terdengar suara bisikan ke telinga nona Han.

"Nona Han jangan takut, coba aku periksa keadaan ayahmu,"

Kata suara itu.

Han Pwee Eng tersentak kaget.

Dia langsung menoleh.

Dilihatnya seorang wanita berwajah lembut berdiri di 742 hadapannya Sekalipun perempuan itu sudah tua, namun wajahnya masih kelihatan cantik.

Han Pwee Eng tertegun sejenak, dia merasa tidak kenal dengan wanita itu, nona Han lalu bertanya.

"Kau siapa?"

Tanya Han Pwee Eng. Sebelum wanita tua cantik itu menjawab Pik Khi sudah mendahului wanita itu menjawab.

"Ini Seng Cap-si Kouw, Nona Han! Beliau Kakak-misan majikan kami. Dia datang untuk mengobati ayahmu,"

Kata Pik Khi. Seng Cap-si Kouw mengawasi Han Tay Hiong, setelah menghela napas dia brkata.

"Aaakh! Keterlaluan.... Majikan kalian sungguh kejam sekali, dia menyiksanya sampai begini!"

Kata Seng Cap-si Kouw.

Memang Beng Cit Nio pernah menyiksa Han Tay Hiong.

Ketika mendengar kata-kata Seng Cap-si Kouw, Pik Khi maupun Pik Po tidak bisa berkata apa-apa.

Seng Cap-si Kouw mengeluarkan sebatang jarum emas, lalu dengan jarum emas itu dia menusuk jalan darah Thayyang-hiatnya.

Han Pwee Eng terkejut bukan kepalang ketika melihat apa yang dilakukan wanita itu.

"Kau mau apakan Ayahku?"

Bentak Han Pwee Eng. Seng Cap-si Kouw tersenyum.

"Jangan takut kugunakan jarum emas ini untuk mengeluarkan racun yang ada di tubuh ayahmu agar dia selamat!"

Kata Cap-si Kouw. Dalam waktu bersamaan Han Tay Hiong terdengar mengelah napas panjang, sesudah itu perlahan-lahan matanya terbuka. Han Pwee Eng girang bukan kepalang.

"Ayah! Ayah!"

Mata Han Tay Hiong kelihatan gugup dan panik."Cap-si Kouw, kau.....kau .."

Kata Han Tay Hiong dengan suara bergetar.

"Ayah, Cap-si Kouw yang mengobatimu, Ayah!"

Kata Han Pwee Eng. Sesudah berkata begitu Han Pwee Eng tersentak dan jadi berpikir.

"Ternyata mereka sudah saling mengenal, kenapa Ayah tidak bercerita padaku?"

Pikir nona Han.

Tiba-tiba Han Pwee Eng ingat masa kecilnya, ketika dia ditunangkan dengan Kok Siauw Hong.

Tiga hari setelah Kok Siauw Hong meninggalkan rumahnya di Lok-yang, mereka kedatangan seorang tamu wanita yang ingin menemui ayahnya.

Namun, ayahnya tidak mau menemui wanita itu hanya ibu Han Pwee Eng yang menerima kedatangan tamu perempuan itu.

Ketika itu Han Pwee Eng baru berumur lima tahun.

Ketika Han Pwee Eng mendengar kedatangan tamu wanita itu, dia berlari ke ruang tamu akan melihat tamu itu.

Kelihatan tamu perempuan itu sangat cantik, Han Pwee Eng lalu mendekati wanita itu dan merangkulnya dengan manja.

Melihat kelakuan Han Pwee Eng ibunya kelihatan tidak senang, lalu memarahi nona Han dan dikatakan tidak tahu aturan, nona Han ditariknya agar tidak mendekati tamu atau wanita cantik itu.

Tetapi tamu wanita itu kelihatan sangat menyukai Han Pwee Eng, dia memuji ibunya punya anak perempuan yang cantik.

Pada saat mau pergi, tamu wanita itu menghadiahkan sebuah mainan 744 untuk Han Pwee Eng, sebuah burung-burungan yang terbuat dari batu giok.

Menerima burung dari batu giok itu Han Pwee Eng girang sekali.

Tetapi setelah wanita cantik itu meninggalkan rumahnya, ibu Han Pwee Eng mengambil mainan burung batu giok itu dari tangan Han Pwee Eng.

"Aku larang kau menyimpan mainan dari wanita itu!"

Kata ibunya Ketika itu wajah ibu Han Pwee Eng kelihatan dingin dan bengis.

Menyaksikan sikap ibunya yang kaku itu Han Pwee Eng tercengang, karena ia tahu ibunya sangat lemah-lembut dan tidak pernah marah.

Tapi hari itu dia marah besar.

Burung terbuat dari batu giok itu oleh ibu Han Pwee Eng dibanting ke lantai dan hancur berantakan.

Ketika itu Han Pwee Eng yang masih kecil hanya bisa menangis, karena jengkel selama beberapa hari dia tidak mau mendekati ibunya apalagi bicara.

Beberapa hari kemudian wajah ibu Han Pwee Eng berubah tidak sedap dipandang, hal itu membuat Han Pwee Eng j adi takut sekali.

"Ibu marah padaku, dia tidak memperdulikan aku lagi, apa yang harus kulakukan?"

Pikir Han Pwee Eng. Tiba-tiba malam itu mendadak ibu Han Pwee Eng memeluk puterinya erat-erat, kemudian berkata perlahan.

"Nak, kau masih marah pada Ibu?"

Kata ibu Han Pwee Eng.

"Bu, apa Ibu masih sayang padaku?"

Kata nona Han.

"Tentu, memang kenapa nak?"

"Kalau begitu selanjutnya aku tidak akan menerima barang pemberian orang lain, tetapi dulu Ibu tidak pernah melarang aku menerima pemberian orang lain,"

Kata Han Pwee Eng sambil terisak sedih. Ibu Han Pwee Eng mencium kening puterinya dengan mesra.

"Bagaimana Ibu tidak sayang kepadamu, hari ini Ibu yang salah. Ibu tidak menyalahkan kau, tapi Ibu menyalahkan wanita itu!"

Kata ibunya. Dengan keheranan Han Pwee Eng lalu bertanya pada ibunya yang dia kira sudah tidak memarahinya "Bu, wanita itu baik dan lembut, kenapa Ibu membencinya?"

Kata Han Pwee Eng.

"Kau masih kecil, nak. Sekalipun Ibu ceritakan padamu, kau tidak akan mengerti. Kelak setelah kau dewasa pasti akan Ibu beritahukan padamu."

Sayang sebelum Han Pwee Eng dewasa dua tahun kemudian ibunya telah meninggal....

Ingat kejadian itu Han Pwee Eng segera memperhatikan wajah Seng Cap-si Kouw.

Semakin diperhatikan wanita itu, semakin mirip dengan tamu wanita ketika dia masih kecil.

"Tidak salah, pasti dia! Tetapi kenapa Ayah kelihatan seperti takut kepadanya?"

Pikir Han Pwee Eng.

Han Pwee Eng sama sekal tidak mengerti apa yang terjadi di antara kedua orang itu.

Sementara itu Han Tay Hiong terus menatap ke arah Seng Cap-si Kouw, dia diam saja.

Tak lama bam dia bicara.

"Kau, kaukah yang menyelamatkan jiwaku?"

Kata Han Tay Hiong. Seng Cap-si Kouw menghela napas panjang.

"Aakh! Tay Hiong, aku tahu selama ini kau terus mencurigaiku tentang kejadian itu. Semua itu kau anggap perbuatanku, kan? Sekarang kau telah dicelakakannya, 746 seharusnya kau sudah tahu siapa orang itu?!"

Kata Seng Capsi Kouw.

"Jadi maksudmu adik-misanmu yang telah meraciuninya?"

Kata Han Tay Hiong.

Mendengar pertanyaan Han Tay Hiong seketika itu Pik Khi dan Pik Po terkejut bukan kepalang.

Han Pwee Eng terlebihlebih lagi kagetnya, karena ayahnya pernah mengatakan kepadanya bahwa ibunya meninggal karena diracun orang.

"Hm! Beng Cit Nio yang menaruh racun! Siapa yang diracunnya? Apakah dia yang mencelakakan Ibuku?"

Pikir Han Pwee Eng.

"Aku tidak berani menuduh dia! Tetapi aku pikir orang yang meracunimu hari ini pasti orang yang meracuni isterimu!"

Kata Seng Cap-si Kouw.

Ucapan Cap-si Kouw ini jelas ingin mengatakan, bahwa pelaku peracunan itu adalah Beng Cit Nio.

Mendengar jawaban Cap-si Kouw, Pik Khi yang tidak tahu apa-apa jadi bingung.

Kemudian dengan memberanikan diri dia bertanya langsung kepada Han Tay Hiong.

"Han Toa-ya, bukankah yang meracunimu itu See-bun Souw Ya?"

Kata Pik Khi.

"Bukan! Seorang pelayan mengantarkan makanan berikut seguci arak ke kamar tahananku, tidak kusangka ternyata arak itu beracun. Aku kenal pelayan itu. Dia seusia dengan puteriku, pasti dia bukan orang yang meracuni isteriku!"

Kata Han Tay Hiong memastikan. Tik Khi kaget dan gusar.

"Jadi maksud Han Toa-ya yang meracunimu itu pelayan Tik Khim? Tidak! Aku tidak percaya, dia itu orang baik. Ditambah lagi Tik Khim pelayan yang baru tiba dari tempat Seng Cap-si Kouw. Jika benar dia yang meracunimu. Han Toa-ya tidak boleh menuduh majikanku yang meracunimu!"

Kata Tik Khi dengan berani. Mendengar kata-kata pelayan itu Seng Cap-si Kouw tertawa.

"Pantas Beng Cit Nio sangat menyayangimu!"

Kata Seng Cap-si Kouw.

"Ternyata kau sangat setia pada majikanmu. Jadi kau tidak senang orang lain memburuk-burukkan nama majikanmu. Tetapi aku kira kau tidak tahu masalahnya, kunasihatkan lebih baik kaujangan ikut bicara! Tay Hiong, coba kau pikir baik-baik, pelayan itu melakukan perintah siapa mengantarkan arak kepadamu? Jangan lupa, orang yang memiliki racun seperti itu hanya kami berdua. Jika bukan aku yang meracunimu pasti dia! Aku sama sekali tidak menyangka dia akan menyuruh pelayan itu mengantarkan arak beracun kepadamu! Tetapi terserah kau saja, apa kau mau percaya padaku atau tidak?"

Pertama-tama memang Han Pwee Eng mencurigai Beng Cit Nio yang meracuni ibunya.

Namun, setelah bertatap muka dan bercakap-cakap dengan Beng Cit Nio, kecurigaan itu lambat laun semakin berkurang.

Tetapi, setelah mendengar tuduhan Seng Cap-si Kouw tadi, Han Pwee Eng mulai yakin lagi bahwa Beng Cit Nio-lah yang meracuni ibunya.

Han Pwee Eng sependapat dengan Pik Khi, tidak mungkin Ci Giok Hian yang berniat mencelakakan ayahnya?

Arak Kiu-thian-sun-yang Pekhoa-ciu sudah beberapa hari berada di kamar Beng Cit Nio, jika ditarik kesimpulan yang logis, memang lebih mungkin Beng Cit Nio yang menaruh racun ke dalam guci arak itu.

Jika benar demikian, jelas Beng Cit Nio ini wanita yang kejam dan 748 sangat menakutkan.

Sekarang dia dituduh meracuni ayahnya, bukan tidak mungkin dia juga yang meracun ibunya?

Jelas baik Pik Khi, maupun Han Tay Hiong dan Han Pwee Eng, mereka tidak mengetahui bahwa Cap-si Kouwlah yang mengatur siasat ini, karena dia ingin agar baik Han Tay Hiong maupun Han Pwee Eng akan mengambil kesimpulan demikian.

Bahwa pembunuh isteri Han Tay Hiong adalah Beng Cit Nio!

Hanya sayang dalam siasatnya itu Seng Cap-si Kouw tidak memperhitungkan kemungkinan lain.

Dia terlalu yakin bahwa Beng Cit Nio akan membunuh Ci Giok Hian si gadis malang yang dia peralat itu, kalaupun tidak paling tidak pasti Beng Cit Nio akan meracun gadis itu.

Perhitungan Cap-si Kouw hampir sempurna sekali, tetapi sayang sekali cincin pemberian Seng Liong Sen pada gadis she Ci itu, justru telah menyelamatkan nyawa Ci Giok Hian dari maut.

Saat itu hati Han Tay Hiong bimbang bukan main.

Selang sesaat baru dia bicara.

"Aku dibingungkan oleh kejadian dulu dan sekarang. Mudah-mudahan saja semua misteri ini kelak akan jelas juga. Tetapi sekarang aku tidak ingin memikirkannya!"

Kata Han Tay Hiong. Mendengar kata-kata Han Tay Hiong, Seng Cap-si Kouw tertawa dingin.

"Aku tahu di otakmu kau masih ingat pada adikmisanku,"

Kata Cap-si Kouw.

"Namun, saat ini musuh yang tangguh berada di depan mata, kau memang tidak perlu banyak berpikir. Lebih baik kau istirahat saja! Mungkin 749 sebentar lagi aku harus minta bantuanmu. Bagaimanapun Beng Cit Nio itu adik-misanku, aku harus membantu dia!"

Saat Seng Cap-si Kouw bicara dengan Han Tay Hiong di ruang tahanan, di luar Beng Cit Nio sedang bertarung matimatian melawan dua iblis tua yang ganas itu.

Beng Cit Nio tahu benar adak kakak-misannya yang licik dan keji.

Sejak Cap-si Kouw masuk ke kamar tahanan, hati Beng Cit Nio jadi tidak tentram.

Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Seng Cap-si Kouw terhadap Han Tay Hiong dan puterinya.

Sebenarnya Beng Cit Nio sedang terdesak oleh kedua iblis tua itu, sekarang ditambah lagi hatinya sedang bimbang.

Tidak heran jika sekarang Beng Cit Nio berada dalam bahaya.

Sekalipun See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek sudah di atas angin, tetapi mereka belum berani turun tangan karena masih waswas.

Semua itu disebabkan karena mereka tahu bahwa Seng Cap-si Kouw dan Beng Cit Nio itu dua kakak beradikmisan.

Sekalipun mereka tahu di antara mereka berdua terdapat salah paham, namun tetap mereka masih saudara misan.

Jika benar-benar Seng Cap-si Kouw keluar dan mereka harus berhadapan satu lawan satu, mereka tidak yakin akan bisa mengalahkan kedua wanita gagah itu Ini yang membuat kedua Iblis Tua itu harus segera mengambil putusan, sebelum Seng Cap-si Kouw muncul mereka harus sudah bisa membereskan Beng cit Nio, atau paling tidak melukainya.

Sesudah itu mereka langsung menyerang bersama-sama.

Kelihatan wajah Beng Cit Nio mulai pucat-pasi.

"Uaah!"

Dari mulut Beng Cit Nio menyembur darah segar.

"Aah nenek busuk itu sudah terluka!"

Teriak Chu Kiu Sek.

Segera Chu Kiu Sek mengerahkan ilmu Siu-lo Im-satkangnya hingga ke tingkat yang ke delapan.

Dia memukul dengan cepat ke arah Beng Cit Nio dengan maksud ingin menghabisi nyawa Beng Cit Nio seketika itu juga.

Di luar dugaan, pukulan Chu Kiu Sek ini bukan hanya tidak membinasakan Beng Cit Nio, mengenai tongkatnya saja tidak!

Malah sebaliknya terdengar suara keras....

"Bum!"

Telapak tangan Chu Kiu Sek tiba-tiba berdarah dan tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah.

Rupanya sambaran tongkat Beng Cit Nio luar biasa cepat dan kerasnya.

Kekuatan Beng Cit Nio ini tiba-tiba saja muncul.

Dia tahu bahwa Seng Cap-si Kouw akan segera muncul membantu dirinya.

Tetapi dia sadar, sebelum Capsi Kouw muncul barangkali dia sudah jadi mayat di tangan Chu Kiu Sek.

Penyebab lain yang membuat tenaga Beng Cit Nio tiba-tiba terkumpul, bahwa dia tidak ingin mendapat bantuan dari Seng Cap-si Kouw.

Maka itu dalam keadaan ki desak, dia jadi nekat dan lupa menjaga keselamatan sendiri.

Dia mengeluarkan hawa dari aliran sesatnya semacam ilmu yang sangat aneh.

Ilmu itu diberi nama Thian-mo-koi-thi-tay-hoat (Ilmu Iblis Langit Membebaskan Diri).

Ilmu Thian-mo-koi-thi-tay-hoat ini bisa merusak diri sendiri, tapi ilmu ini tentu saja bisa menambah satu bagian tenaga, hanya tidak bisa tahan lama, sebab setelah sekian lama tenaganya sendiri akan musnah bahkan Beng Cit Nio akan terluka.

Beng Cit Nio yakin bahwa dia akan dikalahkan oleh kedua Iblis Tua itu.

Dia pikir daripada mati di tangan kedua iblis itu dengan penasaran, lebih baik dia mengerahkan kemampuan terakhirnya.

Dia juga berharap jika terluka maka kedua lawannya pun akan terluka.

Dengan demikian dia jadi tidak perlu meneima budi Seng Cap-si Kouw lagi.

Serangan yang dilakukan oleh Beng Cit Nio dengan ilmu Thian-mo-koi-thi-tay-hoat itu memang berhasil mendesak kedua Iblis Tua itu hingga keduanya terperanjat bukan kepalang.

Namun, keduanya berusaha agar mereka tidak terluka oleh serangan-serangan dari Beng Cit Nio.

Ditambah lagHwee-kang See-bun Souw Ya maupun Chu Kiu Sek sangat tinggi.

Siasat ini ternyata berhasil.

Dua Iblis Tua itu agak terdesak karena tenaga Beng Cit Nio bertambah hebat.

Namun hal ini bukan berarti Beng Cit Nio akan mampu mengalahkan kedua iblis itu.

Ini terbukti karena lambat-laun tenaga Beng Cit Nio semakin berkurang, ini dirasakan sekali oleh Beng Cit Nio.

Tetapi mendadak dia mendengar suara keras.

"Adik-misan, kau sudah tahu aku tidak akan membiarkan kau bertarung sendirian, mengapa kau menyusahkan dirimu sendiri? Untung aku datang belum terlambat!"

Kata Seng Capsi Kouw.

Sebelum sirna suara itu, Seng Cap-si Kouw sudah muncul.

See-bun Souw Ya tang sudah merasakan kelihayan Seng Cap-si Kouw, sebelum dia muncul See-bun Souw Ya sudah bersiap-siap menghadapinya.

Begitu Seng Cap-si Kouw muncul dia langsung melancarkan serangan ke arah Seng Cap-si Kouw.

Tetapi gerakan Seng Cap-si Kouw sangat cepat.

Dia mampu bergerak untuk menghindari serangan 752 See-bun Souw Ya dan langsung melancarkan serangan susulan, kali ini yang jadi sasarannya adalah Chu Kiu Sek.

Chu Kiu Sek pun saat itu sudah siaga, begitu serangan Seng Cap-si Kow datang Chu Kiu Sek berkelit ke samping, lalu menyerang dengan jurus Siu-io-im-sat-kang dengan sepenuh tenaga ke arah Seng Cap-si Kouw.

Saat itu juga terasa ada hawa dingin menyerang ke arah Seng Cap-si Kouw.

DHuar dugaan ikat pinggang Chu Kiu Sek yang terserang oleh pedang bambu hijau Seng Cap-si Kouw langsung putus.

Tetapi Seng Cap-si Kouw yang sadar serangan Chu Kiu Sek itu sangat berbahaya, tidak berani maj u terus.

Dia bergerak laksana kilat membalikkan tubuhnya dan menyerang ke arah See-bun Souw Ya.

Seng Cap-si Kouw sadar bahwa kedua iblis itu sangat lihay, khususnya pukulan beracun mereka.

Itu sebabnya dia tidak berani sembarangan menyerang, karena itu berarti buang tenaga percuma saja Dia bertarung dengan mengandalkan kegesitan tubuhnya yang ramping.

Bertarung dengan cara demikian membuat tenaga murni Seng Cap-si Kouw tetap terjaga.

Karena serangan Chu Kiu Sek maupun See-bun Souw Ya belum berhasil mengenai dirinya.

Lain lagi dengan Beng Cit Nio, karena telah mengerahkan tenaga terakhirnya karena itu dia terluka sehingga dia tidak tahan oleh serangan hawa dingin Iblis Tua.

Tidak heran jika sekujur tubuhnya begitu menggigil.

Untung tenaganya belum habis seluruhnya hingga dia masih mampu bertahan sedikit.

Seng Cap-si Kouw bertarung dengan cara bergerak terus kian-kemari, gerakannya juga gesit luar biasa.

Sedangkan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek tidak segesit Seng Capsi Kouw, tidak heran jika kedua iblis tua ini agak kewalahan 753 menghadapHawannya itu, Bahkan pedang bambu hijau Seng Cap-si Kouw pun nyaris melukai keduanya.

Beng Cit Nio tidak mau ketinggalan sekalipun tenaganya sudah agak berkurang, dia juga melancarkan seranganserangan hebat ke arah kedua iblis tua itu; akibatnya kedua iblis itu terdesak mundur.

Jelas tampak Seng Cap-si Kouw dan Beng Cit Nio akan berhasil mengalahkan Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya.

Tapi dHuar dugaan Khong-tong Sam-eng yang tadi dikalahkan sekarang telah maju pula ke gelanggang pertarungan.

"Perempuan siluman!"

Bentak Cie Tian.

"Memang benar tadi kami kau kalahkan karena serangan gelapmu, jangan kau kira kami takut kepadamu! Hari ini kami akan bertarung matimatian melawanmu. Dengan demikian kita bisa mengetahui siapa yang paling gagah di antara kita!"

Kata Cie Tian.

Sekalipun Khong-tong Sam-eng tidak tergolong jago kelas utama dalam Dunia Persilatan, tetapi mereka sangat lihay saat menggunakan gelang besi apalagi jika mereka bergabung bertiga serangan mereka akan mampu untuk menghadapi para pesilat tinggi sekalipun.

Seng Cap-si Kouw belum pernah melihat atau mendengar kalau Khong-tong Sam-eng memiliki jurus Gabungan Gelang Bertiga itu, maka itu dia jadi tertawa dingin.

"Phui! Kalian sedang bicara apa? Apa kalian masih berani bertarung denganku?"

Kata Seng Cap-si Kouw.

Mendengar ejekan itu Cie Tian gusar bukan kepalang, dia langsung menyerang Cap-si Kouw dengan gelangnya.

Seng Cap-si Kouw tidak mau kalah dia juga menggunakan pedang bambu hijaunya menangkis serangan Cie Tian itu.

"Hm! Apa hebatnya gelang karatanmu itu?"

Kata Seng Capsi Kouw.

Pada saat yang bersamaan tampak cahaya putih berkelebat, rupanya Cie Ceng dan Cie Liak pun ikut maju menyerang ke arah Seng Cap-si Kouw untuk mengeroyok jago wanita tua ini.

Tadi Seng Cap-si Kouw sangat meremehkan kemampuan ketiga jago dari Khong-tong itu.

Tetapi setelah dia diserang oleh ketiga jago Khong-tong itu, diajadi terperanjat, karena setiap kali Seng Cap-si Kouw menyerang, serangannya itu selalu berhasil ditangkis oleh ketiga jago muda Khong-tong Sam-eng tersebut.

Sekarang Seng Cap-si Kouw sudah tidak berani menganggap remeh mereka lagi.

Lalu Seng Cap-si Kouw mengerahkan gin-kangnya untuk menghadapi mereka bertiga.

Sekarang tampak bayangan pedang bambu hijau Seng Cap-si Kouw berkelebat kian ke mari, terkadang meliuk-liuk bagaikan seekor ular hijau yang ganas menyerang ke arah ketigajago Khong-tong Sam-eng itu.

Di tengah gelanggang terjadi perubahan besar, karena Khong-tong Sam-eng maju melawan Seng Cap-si Kouw, sekarang Beng Cit Nio harus menghadapi Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya seorang diri.

Celakanya ilmu Thian-mo-koi thi-tay-hoat yang mampu menambah tenaganya sekarang sudah semakin melemah.

Tidak heran jika Beng Cit Nio kewalahan dan hampir tidak mampu menghadapi kedua iblis tua yang ganas itu.

Baik Chu Kiu Sek maupun See-bun Souw Ya telah melihat bahwa Khong-tong Sam-eng mampu menghadapi Seng Cap-si Kouw, maka itu mereka jadHega.

Sekarang mereka berkonsentrasi untuk merobohkan Beng Cit Nio yang bertarung hanya sendirian melawan mereka.

Sekalipun Beng Cit Nio sudah terluka dalam dia masih mencoba bertahan, namun dari bibirnya telah mengeluarkan darah segar.

Tetapi perubahan itu tidak lepas dari penglihatan Seng Cap-si Kouw yang mengkhawatirkannya.

Kelihatan Seng Cap-si Kouw amat kecewa.

"Kalau tahu bakal jadi begini aku akan muncul lebih awal lagi!"

Pikir Seng Cap-si Kouw.

Andai kata Seng Cap-si Kouw tidak terlambat muncul, pasti dia akan mencegah Beng Cit Nio menggunakan ilmu Thianmo-koi-thi-kay-hoat yang berbahaya itu.

Sekarang Beng Cit Nio sudah terluka dalam dan ini berbahaya sekali.

Kelihatan kekuatan Beng Cit Nio semakin berkurang, malah kelihatannya tidak lama lagi Beng Cit Nio akan roboh di tangan kedua Iblis Tua itu, sebaliknya Seng Cap-si Kouw saat itu belum mampu merobohkan jago Khong-tong Sam-eng.

Keadaan saat itu sungguh sangat berbahaya sekali bagi Beng Cit Nio.

Sekarang satu-satunya harapan Seng Cap-si Kouw hanya pada Han Tay Hiong.

"Berdasarkan lwee-kang yang dimilikinya, aku yakin sekarang Han Tay Hiong telah pulih sebahagian. Tetapi aku khawatir tidak tahan lama Kecuali jika Han Tay Hiong mampu mengalahkan lawan dalam waktu singkat, jika tidak sulit bagi kita meloloskan diri!"

Pikir Seng Cap-si Kouw.

-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Setelah Seng Cap-si Kouw memunahkan racun yang ada di dalam tubuh Han Tay Hiong, tak lama Han Tay Hiong sudah langsung duduk bersila untuk menghimpun hawa murninya Selang sesaat dia rasakan hawa murninya telah 756 pulih kembali.

Ini tandanya tenaga dia telah pulih kembali tujuh sampai delapan bagian.

"Tidak aku kira Seng Cap-si Kouw menyelamatkan aku dengan sungguh-sungguh hati!"

Pikir Han Tay Hiong. Han Tay Hiong bangun dan berkata pada Han Pwee Eng.

"Eng, mari kita pergi!"

Kata Han Tay Hiong.

"Baik, Ayah,"

Jawab puterinya.

"Nona Han pedangku untukmu saja!"

Kata Pik Khi.

Han Pwee Eng menyambut pedang pemberian Pik Khi lalu dia mengikuti Han Tay Hiong berjalan ke luar.

Chu Kiu Sek terkejut ketika melihat Han Tay Hiong berjalan keluar dari ruang tahanan.

Segera dia maju untuk mewakili Khong-tong Sam-eng menghadapi Seng Cap-si Kouw, sambil langsung memberi perintah.

"Cepat kalian tangkap tua bangka she Han itu!"

Kata Chu Kiu Sek dengan lantang.

Rupanya Chu Kiu Sek masih jerih menghadapi Han Tay Hiong yang dia ketahui kepandaiannya sangat tinggi.

Selain itu dia masih ragu dan belum tahu berapa bagian Han Tay Hiong sudah pulih dari keracunannya.

Itu sebabnya dia menyuruh Khong-tong Sam-eng menangkap Han Tay Hiong mencobanya dulu.

Kebetulan saat itu Khong-tong Sam-eng sedang terdesak oleh serangan Seng Cap-si Kouw, mereka sebenarnya seolah sudah sulit untuk bernapas.

Betapa senangnya mereka saat mendengar Chu Kiu Sek bersedia menggantikan mereka.

Tak lama Chu Kiu Sek sudah bertarung dengan Seng Cap-si Kouw.

Khong-tong Sam-eng mengira melawan Han Tay Hiong akan lebih mudah karena mereka mengira Han Tay Hiong 757 masih terluka dan tenaganya berkurang.

Mereka mengira dalam waktu singkat mereka akan mampu mengalahkan jago tua she Han itu, mereka juga mengira Chu Kiu Sek berniat baik bersedia menggantikan mereka melawan Seng Cap-si Kouw yang jelas tidak dapat mereka kalahkan dengan mudah.

Sudah lama Han Tay Hiong terkurung dalam kamar tahanan, baru hari ini dia bisa melihat sinar matahari.

Maka itu bukan main girangnya Han Tay Hiong ketika itu.

Selama itu dia tidak dapat melampiaskan kekesalannya.

Tidak heran ketika Han Tay Hiong melihat Khong-tong Sam-eng maju menghampirinya dan langsung menyerang, Han Tay Hiong pun langsung berteriak nyaring.

"Hm! Tikus-tikus bau, kalian berani menghinaku? Rasakan pukulanku!"

Kata Han Tay Hiong.

Tanpa banyak bicara lagi Han Tay Hiong langsung menyerang ke arah lawan.

Menyaksikan gerakan Han Tay Hiong yang gesit serta bentakannya yang nyaring hal itu membuat Cie Tian kaget bukan main.

Tanpa sadar Cie Tian mundur beberapa langkah ke belakang.

Tetapi saat itu serangan Han Tay Hiong sudah tertuju kepadanya.

Cie Tian kaget dia langsung menangkis serangan itu dengan gelang besinya Bersamaan dengan itu terdengar suara nyaring.

'Tang!"

Saat itu juga Cie Tian merasakan telapak tangannya sakit bukan main, tanpa disadari gelang besi di tangannya terlepas dari genggamannya.

Ketika itu dengan cepat Han Tay Hiong memutar tubuhnya dan menyerang ke arah Cie Ceng.

Pukulan Han Tay Hiong seperti tadi ditangkis oleh 758 Cie Ceng.

Bersamaan dengan itu kembali suara keras terdengar.

"Tang!"

Benturan gelang besi itu mengagetkan Cie Ceng, karena tangkisan Cie Ceng malah berbalik ke arahnya.

Cie Ceng terkejut bukan main.

Oleh karena serangan gelang bajanya sendiri yang mengarah ke dirinya, ini membuat Cie Ceng harus berusaha menahan serangan balik atau senjatanya yang makan tuan itu.

Dia mencoba menahan agar sepasang gelang baja itu tidak menghantam ke dadanya sendiri.

"Kreek!"

Karena terlalu banyak mengerahkan tenaganya Cie Ceng mendapat luka yang cukup parah.

Kedua lengannya patah hingga akhirnya dia menjerit-jerit karena kesakitan.

Sesudah kedua lawannya tidak berdaya, Han Tay Hiong membentangkan kedua tangannya dan menyerang ke arah See-bun Souw Ya.

Serangan yang tiba-tiba ini membuat See-bun Souw Ya kaget setengah mati.

Rupanya Han Tay Hiong menggunakan jurus Kim-kong-ciang, suatu pukulan tingkat tiggi dan sangat lihay.

"Dia telah aku totok dengan totokan yang sangat istimewa, tetapi dia mampu membebaskan diri dari totokanku. Kelihatannya bukan hanya luka dalamnya yang telah sembuh, malah tenaganya pun sudah pulih kembali. Celaka hari ini aku bisa binasa di tangannya!"

Pikir See-bun Souw Ya yang mulai cemas bukan kepalang.

Di tempat lain kelihatan Beng Cit Nio sudah kewalahan menghadapi Chu Kiu Sek yang tampak semakin ganas serangannya.

Beng Cit Nio sudah terdesak, seumpama untuk bernapas saja sulit baginya.

Tetapi begitu Beng Cit 759 Nio melihat Han Tay Hiong muncul ke gelanggang pertarungan, semangatnya langsung bangkit sendiri.

"Tay Hiong, lukamu sudah sembuh. Syukurlah!"

Teriak Beng Cit Nio. Seng Cap-si Kouw tertawa dingin mendengar teriakan Beng Cit Nio itu.

"Syukur! Syukur! Adik-misan yang baik, maksudmu sekarang telah tercapai. Jika aku tahu kau mencintai Han Tay Hiong, aku tidak perlu berbuat begini!"

Kata Seng Capsi Kouw "Hai, apa maksud ucapanmu Kakak-misan?"

Kata Beng Cit Nio. Kembali Seng Cap-si Kouw tertawa dingin.

"Tidak bermaksud apa-apa! Seandainya kau tidak mencintainya, mana mungkin kau mengucapkan kata syukur padanya!"

Kata Seng Cap-si Kouw. Di tempat lain See-bun Souw Ya jadi berpikir.

"Aku harus menangkap Beng Cit Nio untuk kujadikan sandera. Dengan demikian barangkali aku bisa memperoleh kemenangan!"

Pikir See-bun Souw Ya.

Tiba-tiba See-bun Souw Ya melancarkan serangan dahsyat ke arah Beng Cit Nio.

Ketika itu Beng Cit Nio masih ingin adu mulut dengan Seng Cap-si Kouw, tahutahu dia diserang oleh See-bun Souw Ya dengan hebat.

Terpaksa dia bungkam dan harus berkonsentrasi pada serangan See-bun Souw Ya dan menghadapinya dengan hati-hati.

Ucapan Seng Cap-si Kouw tadi artinya jadHain.

Beng Cit Nio tidak mengerti maksud kata-kata kakak-misannya itu, namun Han Tay Hiong langsung mengerti.

Menurut 760 pendapat Han Tay Hiong di balik ucapan itu, Seng Cap-si Kouw ingin mengatakan bahwa Beng Cit Nio hanya berpura-pura menjadi orang baik, padahal dialah yang meracuni Han Tay Hiong.

Saat itu Beng Cit Nio dianggap sedang berpura-pura baik dan mengucapkan rasa syukurnya bukan sebaliknya.

Namun, Han Tay Hiong agak sedikit heran karena baik dari nada ucapan Beng Cit Nio, maupun raut wajahnya sedikitpun tidak menunjukkan kepura-puraan seperti yang dituduhkan oleh Seng Cap-si Kouw kepadanya.

Sebab Han Tay Hiong melihat langsung, saat muncul, Beng Cit Nio melihatnya, dia kelihatan terkejut dan girang.

Air muka demikian tidak bisa dibuat-buat atau untuk berpura-pura.

Memang di benak Han Tay Hiong pun dia tidak yakin Beng Cit Nio yang meracuni dirinya.

Namun, Beng Cit Nio yang menyuruh Ci Giok Hian mengantarkan arak beracun itu kepadanya.

Sebaliknya yang memunahkan racun yang ada di tubuhnya adalah Seng Cap-si Kouw.

Kejadian ini amat sulit dianalisa oleh Han Tay Hiong, sekalipun dia yakin dalam masalah ini ada yang tidak beres.

Namun Han Tay Hiong tidak mengetahui apa yang tidak beres itu hingga membuatnya termangu-mangu di tempat.

Saat Han Tay Hiong sedang bertarung dengan Cie Tian dan Cie Ceng, puterinya Han Pwee Eng berlari ke arah Cie Liak yang segera dia serang.

Ilmu silat yang diandalkan Khongtong Sam-eng adalah Loan-hoan-koat (Ilmu Gelang Gabungan), konon ilmu silat ini mampu untuk menghadapi pesilat tinggi manapun jika mereka bergabung saat bertarung.

Sebaliknya gelar Han Tay Hiong Kiam-ciang-coat, tidak heran jika Han Pwee Eng memiliki ilmu pedang yang sangat lihay warisan ayahnya.

Saat Han Pwee Eng 761 bertarung dengan Cie Liak gadis ini berada di atas angin Tetapi untuk mengalahkan Cie Liak tidak mudah Han Pwee Eng bisa mengalahkannya jika pertarungan berjalan sampai seratus jurus.

Cie Liak yang melihat kedua saudaranya sudah terluka oleh Han Tay Hiong, Cie Liak jadi tidak tenang, sekarang dia semakin terdesak oleh serangan dahsyat dari Han Pwee Eng.

Begitu gugupya Cie Liak sehingga diluar dugaan bahunya terluka oleh tusukan pedang Han Pwee Eng, masih untung serangan Han Pwee Eng tidak sepenuh hati hingga lukanya tidak terlalu parah, tetapi hal ini cukup membuat nyali Cie Liak ciut juga Cie Liak buru-buru mundur beberapa langkah ke belakang.

Pada saat yang bersamaan Cie Tian berteriak.

"See-bun Sian-seng, kepandaian kami masih rendah, kami tidak dapat membantumu lagi. Kami malu berada terus di sini. Terpaksa kami akan pergi!"

Kata Cie Tian. Sesudah itu mereka langsung meninggalkan tempat itu. Sesudah mengalahkan Cie Liak segera nona Han menghampiri ayahnya.

"Ayah bagaimana keadaanmu? Kita harus segera pergi!"

Kata nona Han.

Saat itu Han Tay Hiong masih berdiri termangu-mangu dia tidak menyahut.

Melihat ayahnya diam saja Han Pwee Eng mengira penyakit ayahnya kambuh lagi, barangkali karena tadi ayahnya bertarung dan mengerahkan tenaga terlalu banyak.

"Kedua Iblis Tua itu sangat lihay, jika Ayah ingin menuntut balas masih ada lain hari!"

Kata Han Pwee Eng. Sesudah itu nona Han menarik tangan ayahnya dengan maksud akan mengajak ayahnya pergi dari situ. Tapi Han Tay Hiong malah berkata dengan lembut.

"Ayah tidak kenapa-napa, baiknya kau tunggu aku sebentar!"

Kata Han Tay Hiong. Han Tay Hiong berjalan ke arah Chu Kiu Sek, lalu berkata pada si Iblis Tua itu.

"Chu Kiu Sek, hutang satu pukulan harus dibayar dengan satu pukulan! Hari ini aku menagih satu pukulan itu, sedangkan bunganya boleh kau bayar kelak!"

Kata Han Tay Hiong dingin. Chu Kiu Sek tertawa dingin.

"Baik, tantanganmu aku terima. Apakah kau akan bertarung secara bergilir. Atau kau dan puterimu juga kedua kekasihmu maju bersama-sama tetap aku terima! Aku tidak takut!"

Kata Chu Kiu Sek mengejek. Mendengar ejekan Chu Kiu Sek mendadak Seng Cap-si Kouw membentak dengan keras.

"Hai kau bicara apa?"

Kata Seng Cap-si Kouw.

Seeer!

Saat itu juga Seng Cap-si Kouw langsung menyerang ke arah Chu Kiu Sek.

Dia kelihatan gusar sekali, namun hatinya justru girang bukan main karena Chu Kiu Sek mengatakan bahwa dia dan Beng Cit Nio kekasih Han Tay Hiong.

Tidak heran saat dia menyerang Chu Kiu Sek, sudut matanya melirik ke arah Han Tay Hiong karena dia ingin tahu bagaimana reaksi pria itu atas kata-kata Chu Kiu Sek tersebut.

Ternyata Han Tay Hiong hanya berkata hambar.

"Anjing memang hanya bisa menggonggong, kau tidak perlu gusar kepadanya... .Cap-si Kouw harap kau mundur, Eng kau juga jangan maju!"

Kata Han Tay Hiong.

Tiba-tiba tangan Han Tay Hiong bergerak membentuk sebuah lingkaran yang disertai suara keras saat dihentakkan ke arah Chu Kiu Sek.

Dulu mereka berdua pernah bertarung beberapa kali dengan demikian masing-masing telah menderita luka Sekarang tidak heran jika mereka jadi waspada dan sudah tahu berapa tinggi kepandaian masing-masing.

Melihat sikap dan gerakannya Han Tay Hiong memang lebih unggul jika dibandingkan dengan Chu Kiu Sek, sedang andalan Chu Kiu Sek dia memiliki ilmu pukulan yang sangat beracun.

Kebetulan sampai detik itu Han Tay Hiong belum mampu memecahkan ilmu pukulan beracun lawannya ini.

Tidak heran kalau pertarungan kedua jago itu jadi berimbang.

Chu Kiu Sek yang sudah tahu bagaimana lihaynya pukulan Han Tay Hiong sudah tentu tidak berani beradu pukulan dengan lawannya ini.

Tetapi saat Chu Kiu Sek melihat wajah Han Tay Hiong masih pucat dan lesu, Chu Kiu Sek berpikir.

"Aku kira tenaganya belum pulih benar, dia sedang sakit. Aku kira tidak mungkin tenaganya masih seperti dulu!"

Pikir Chu Kiu Sek.

Ilmu Siu-lo-im-sat-kang akan ampuh dan dahsyat jika tepat mengenai tubuh lawan, jika tidak demikian keampuhannya akan berkurang.

Itu sebabnya sejak tadi serangan Chu Kiu Sek ditujukan ke tubuh Han Tay Hiong.

Saat itu Seng Cap-si Kouw berdiri di tepi gelanggang sedang mengawasi pertarungan itu.

Chu Kiu Sek sadar Seng Cap-si Kouw ini keji.

Itu sebabnya Chu Kiu Sek tetap 764 waspada dia takut kalau tiba-tiba Cap-si Kouw melancarkan serangan gelap terhadapnya.

Harapan Chu Kiu Sek hanya satu, dia harus segera bisa merobohkan Han Tay Hiong jika dia tidak ingin dikeroyok hingga binasa Duajago tua ini menggunakan ilmu mereka yang dahsyat.

Serangan demi serangan sangat berbahaya.

Tibatiba terdengar suara benturan yang sangat keras.

"Buum!"

Rupanya dua jago ini telah mengadu pukulan mereka.

Kelihatan tubuh Han Tay Hiong bergoyang-goyang, wajahnya kelihatan kehijau-hijauan.

Sebaliknya Chu Kiu Sek, juga terhuyung-huyung ke belakang enam tujuh langkah jauhnya.

Kemudian dia membuka mulutnya dan menyemburkan darah segar!

Di luar dugaan kekuatan Han Tay Hiong telah pulih tujuh bagian, hingga tenaga murni Chu Kiu Sek terserang hingga terluka ditambah lagi tadi dia telah bertarung melawan Beng Cit Nio dan Seng Cap-si Kouw yang lihay, dengan demikian pukulan Siu-lo-im-sat-kangnya.]adi sedikit kurang ampuh.

Ketika itu jelas Han Tay Hiong mendapat sedikit keuntunganya karena Han Tay Hiong pernah keracunan, malah sakit beberapa tahun lamanya karena pukulan Siu-loim-sat-kang Chu Kiu Sek.

Tidak heran sekarang dia jadi agak kebal terhadap pukulan Chu Kiu Sek yang tenaganya sangat berkurang.

Saat terjadi benturan keras Chu Kiu Sek-lah yang mendapat kerugian besar.Melihat ayahnya berhasil mendesak dan memukul Chu Kiu Sek dengan hebat, Han Pwee Eng girang bukan kepalang, tetapi nona ini pun kaget ketika melihat wajah ayahnya berubah kehijau-hijauan.

"Ayah, apa kau tidak kenapa-napa? Ayah, Iblis Tua itu sudah mundur jangan maju lagi!"

Han Pwee Eng memperingatkan ayahnya "Aku tidak apa-apa anak Eng, tetapi di tempat ini masih ada satu lagi Iblis Tua!"

Kata Han Tay Hiong.

Han Tay Hiong langsung melesat ke samping Beng Cit Nio dan langsung mengerahkan pukulan ke arah See-bun Souw Ya.

Melihat Han Tay Hiong maju menyerang lawan yang sedang dihadapinya Beng Cit Nio berseru.

"Tadi kau berdua mengeroyok aku, sekarang aku pun tidak akan memakai aturan kalangan Kang-ouw lagi!"

Kata Beng Cit Nio.

Ucapan Beng Cit Nio ini bukan saja ditujukan pada See-bun Souw Ya tapi juga ditujukan pada Han Tay Hiong, dia khawatir Han Tay Hiong akan menyuruh dia mundur seperti tadi dia menyuruh Seng Cap-si Kouw dan Han Pwee Eng yang dilarang membantunya, maka itu dia berteriak lebih dulu memberi peringatan bahwa dia tidak mau mundur.

Tongkat besinya langsung menyerang See-bun Souw Ya dengan jurus Liok-cutcan-san (Enam tongkat Membelah Gunung).

Kelihatan tongkat berkepala naga itu berkelebat-kelebat ke arah enam jalan darah See-bun Souw Ya.

See-bun Souw Ya sadar bahwa Han Tay Hiong sangat lihay, itu sebabnya dia hanya berkonsentrasi pada serangan Han Tay Hiong, maka yang dia lakukan ialah menutup semua jalan darahnya sedangkan serangan dari Beng Cit Nio tidak diabaikannya, tapi dia kerahkan seluruh kekuatannya untuk menangkis serangan dari Han Tay Hiong.

Di luar dugaan See-bun Souw Ya serangan Beng Cit Nio yang seolah akan menotok jalan darahnya, tiba-tiba 766 berubah, kali ini tongkat berkepala naga itu justru dipukulkan ke arahnya.

Sekalipun lwee-kang See-bun Souw Ya lebih tinggi jika dibandingkan dengan Chu Kiu Sek, tetapi mana mungkin dia akan mampu menangkis dua pukulan dari Han Tay Hiong maupun Beng Cit Nio sekaligus.

"Bum!"

"Kraak!"

Dua buah tulang rusuk See-bun Souw Ya terhantam oleh tongkat berkepala naga Beng Cit Nio hingga patah, sedangkan tubuh See-bun Souw Ya terpental karena terkena pukulan Kim-kong-ciang yang dilancarkan oleh Han Tay Hiong.

See-bun Souw Ya sungguh luar biasa, sekalipun dia terluka dan tulang rusuknya patah, tetapi dia masih sempat melarikan diri sebelum dia mati konyol di tangan sepasang jago tua itu.

Saat itu Beng Cit Nio sedang terhuyunghuyung sejauh tiga langkah, dia terdorong oleh serangan See-bun Souw Ya dan pakaian tahan senjata dari lawan.

Beng Cit Nio bebas dari maut dan secara kebetulan penyelamatnya adalah Han Tay Hiong.

Dia juga melihat kekuatan Han Tay Hiong sudah pulih itu membuat hati Beng Cit Nio girang bukan kepalang.

Luapan kegembiraannya yang luar biasa itu ternyata menyebabkan dadanya terasa sakit.

Maka itu dia berusaha menahan rasa sakit itu.

"Tay Hiong, syukurlah kita masih bisa bertemu lagi! Aku ingin bicara denganmu!"

Kata Beng Cit Nio lembut. Seng Cap-si Kouw mencibirkan mulutnya dan menyela katakata Beng Cit Nio dengan pedas.

"Benar, memang kau harus menjelaskannya perlahanlahan. Aku tidak ingin mengganggu kalian. Selamat tinggal!"

Kata Seng Cap-si Kouw.

Ucapan Beng Cit Nio itu tulus, dia ingin menjelaskan masalah yang sebenarnya, maksudnya untuk membersihkan dirinya dari tuduhan yang bukan-bukan dari Han Tay Hiong terhadapnya.

Tetapi sebelum dia bicara Seng Cap-si Kouw telah mendahuluinya, dia bilang memang Beng Cit Nio harus mmberi penjelasan.

Ucapan Seng Cap-si Kouw ini sangat tajam dan penuh arti tertentu.

Bukan main gusarnya Beng Cit Nio saat itu.

Langsung dia maju dan membentak dengan sengit pada Seng cap-si Kouw.

Matanya mengawasi dengan berapi-api.

"Seng Jau Ih! Kau harus tetap di tempat! Kau jangan seenaknya pergi begitu saja!"

Bentak Beng Cit Nio sengit sekali.

Seng Jau Ih merupakan nama kecil Seng Cap-si Kouw.

Saat masih kecil dia selalu dipanggil dengan nama itu.

Mendengar bentakan saudara-misannya Seng Cap-si Kouw tertawa dingin.

"Bukan aku yang ingin bicara dengannya, tapi kau! Kenapa aku tidak boleh pergi?"

Kata Seng Cap-si Kouw. Tiba-tiba Han Pwee Eng menyela.

"Ayah, mari kita pergi!"

Entah apa sebabnya Han Pwee Eng jadi merasa ngeri melihat kedua wanita itu, malah sekujur badannya tiba-tiba saja jadi merinding.

Itu sebabnya dia ajak ayahnya pergi.

Han Tay Hiong tiba-tiba tersentak sadar.

"Benar, semua masalah dulu telah sirna bagaikan uap. Mengapa harus aku pikirkan lagi? Aku tidak ingin melibatkan diriku dengan mereka berdua agar hal ini tidak jadi masalah bagi almarhum isteriku dan anakku Pwee Eng!"

Pikir Han Tay Hiong. Saat itu seolah Han Tay Hiong baru sadar dari mimpi buruknya "Cit Nio, sudah tidak ada yang harus kita bicarakan lagi! Terima kasih atas semua pelayananmu!"

Kata Han Tay Hiong.

Han Tay Hiong mengibaskan lengan jubahnya lalu mengajak Han Pwee Eng pergi dengan tidak menoleh lagi.

Kelihatan Beng Cit Nio sangat kecewa dan menyesal bukan main.

Dia menyesal karena masalah yang melibatkan Han Tay Hiong itu disebabkan oleh perbuatannya bersekongkol dengan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek untuk menangkap Han Tay Hiong.

Tidak heran kalau Han Tay Hiong sangat benci pada Beng Cit Nio.

Sedangkan Beng Cit Nio kesal karena Seng Capsi Kouw tertawa dingin di hadapannya dan itu menyebabkan Han Tay Hiong pergi tanpa pamit lagi kepadanya.

Seng Cap-si Kouw tertawa.

"Adik-misan yang baik sekarang aku boleh pergi, kan?"

Kata Seng Cap-si Kouw.

Beng Cit Nio emosi sekali, hal ini menyebabkan tubuhnya jadi sempoyongan dan nyaris roboh.

Melihat majikannya hampir roboh Pik Khi terkejut, dia segera memapah majikannya sambil menatap ke arah Cap-si Kouw "Cap-si Kouw, kali ini kami memang harus berterima kasih karena Cap-si Kouw telah menyelamatkan majikan kami.

Akan tetapi tidak selayaknya Cap-si Kouw membuat kesal majikan kami!"

Kata Tik Khi. Seng Cap-si Kouw tertawa dingin.

"Baik, terserah keinginan majikanmu, apakah aku harus tetap di sini?"

Kata Cap-si Kouw. Wajah Beng Cit Nio tampak kehiijau-hijauan.

"Jau Ih! Kau membuat aku menderita sekali! Pasti aku akan membuat perhitungan denganmu!"

Kata Beng Cit Nio. Seng Cap-si Kouw kembali tertawa dingin.

"Adik-misanku yang baik, kau tidak perlu membuat perhitungan denganku, sebab paling sedikit kau harus istirahat selama tiga tahun. Bagaimanapun kau tetap adikmisanku, aku tidak akan menghinamu!"

Kata Seng Cap-si Kouw.

Ucapan Seng Cap-si Kouw ada benarnya karena terluka parah paling sedikit Beng Cit Nio harus beristirahat selama tiga tahun.

Dalam tempo tiga tahun ilmu silat Seng Cap-si Kouw pasti sudah bertambah maju, dan dia bukan tandingan Beng Cit Nio lagi.

"Kau... .Kau...."

Kata Beng Cit Nio sambil menuding dengan tangan gemetar.

Saking gusar Beng Cit Nio tidak bisa berkata-kata, sedangkan Cap-si Kouw tertawa dingin kemudian melesat pergi.

Beng Cit Nio mengawasi kepergian Seng Cap-si Kouw yang kian lama kian jauh.

Hati Beng Cit Nio terasa hampa.

Dia tidak tahu apakah ia benci atau cinta, juga dia tidak 770 tahu apakah harus girang atau berduka?

Berbagai macam perasaan galau dalam benaknya.

Orang yang sangat dia cintai telah pergi, demikian juga orang yang sangat dibencinya.

Dia bisa hidup dan bersemangat kembali karena demi Han Tay Hiong.

Tetapi orang yang sangat dia cintai itu telah pergi dalam keadaan tidak memahami dirinya.

Lalu bagaimana dia tidak berduka?

-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Sementara itu di perjalanan Han Tay Hiong yang sedang berjalan dengan puterinya hatinya jadi galau.

Dia tidak mengira semua kejadian akan berakhir demikian, tetapi masih meninggalkan teka-teki dan misteri di hatinya.

Siapa yang meracunnya, dia boleh tidak menyelidikinya.

Tetapi sekarang rumahnya telah habis terbakar.

Semua pembantu yang ada di rumahnya telah binasa, kini tinggal puteri satu-satunya Han Pwee Eng.

Dia bingung di mana dia akan berteduh?

Tidak disangka-sangka seorang yang gagah bisa mengalami pukulan batin yang demikian hebat di hari tuanya.

Saat itu Han Tay Hiong benar-benar berduka.

Di sepanjang jalan Han Pwee Eng terus memperhatikan sikap ayahnya ini.

Selang sesaat Han Pwee Eng bertanya pada ayahnya.

"Ayah, wajahmu kelihatan pucat-pasi. Apa Ayah merasa tak enak badan?"

Kata Han Pwee Eng. Han Tay Hiong hanya tersenyum.

"Wajah Ayah pucat mungkin karena Ayah baru saja bertarung dengan musuh tangguh dan kita bisa lolos dari marabahaya. Barangkali wajah Ayah jadi kelihatan begitu karena itu?"

"Kau j angan cemas, Ayah baik-baik saja! Nak, Ayah ingin tahu apakah Lok-yang sudah jatuh ke tangan bangsa Mongol atau belum?"

"Aku tidak masuk ke dalam kota, hingga aku tidak tahu jelas keadaan di sana,"

Jawab Han Pwee Eng.

"Tetapi di sepanjang jalan aku melihat banyak pengungsi. Mereka bilang tentara Mongol memang hampir tiba di kota Lokyang!"

Sesudah berpikir sejenak Han Pwee Eng melanjutkan ceritanya.

"Hari itu, ketika aku pulang kebetulan aku bertemu dengan Paman Ong yang akan mengungsi. Kata Paman Ong waktu itu tentara Mongol sudah sampai ke kota Hoan-sui. Hari ini sudah delapan hari berlalu, sedang kota Hoan-sui dan kota Lok-yang hanya berjarak seratus li. Mungkin sekarang tentara Mongol sudah menyerbu kota Lok-yang!"

Kata Han Pwee Eng. Han Tay Hiong manggut-manggut, tapi tiba-tiba dia bertanya lagi.

"Di mana Kok Siauw Hong berada?"

Kata Han Tay Hiong.

Pertanyaan Han Tay Hiong itu membuat Han Pwee Eng jadi gelagapan dan tersentak.

Tidak tahu apakah dia masih bisa membohongi ayahnya atau tidak?

Tapi Han Pwee Eng segera menyahut sekenanya.

"Aku.. .Aku tidak tahu!"

Kata nona Han. Mendengar jawaban puterinya itu Han Tay Hiong tertegun.

"Eh, bagaimana kau bisa tidak tahu?"

Kata sang ayah. Ketika Han Pwee Eng mengawasi wajah ayahnya, dia lihat wajah sang ayah pucat-pasi.

"Ah, jika aku bisa membohongi Ayah sekalipun untuk sesaat, lebih baik Ayah aku bohongi saja. Aku harap saat ini Ayah jangan sampai tahu hal yang sebenarnya!"

Pikir Han Pwee Eng.

"Saat itu dia bilang dia akan ke markas cabang Kay-pang di Lok-yang untuk menemui Lau Hiang-cu. Sekarang dia masih di sana atau sudah pergi aku tidak tahu!"

Jawab Han Pwee Eng.

"Kalau begitu situasi Lok-yang dalam keadaan gawat,"

Kata Han Tay Hiong.

"aku yakin pihak Kay-pang akan mati-matian melawan pasukan Mongol. Aku juga tahu sifat Siauw Hong, dia sama dengan ayahnya berjiwa patriot. Jika dia ada di markas cabang Kay-pang, pasti tidak akan tinggal diam, dia pasti akan bertarung membantu pihak Kay-pang secara matimatian!"

Sesudah itu kelihatan Han Tay Hiong terdiam, dia rasakan darah hangat di kerongkongannya seolah bergolak.

Ketika itu hari sudah pagi, cuaca pun cerah.

Matahari mulai merayap naik.

Cahayanya merah dan terasa menyehatkan.

Malam yang kelam telah berlalu.

Seluruh insan di bumi saat itu menyaksikan alam yang ceria.

Bangkit dan runtuhnya sebuah negara menjadi masalah yang besar bagi rakyatnya.

Masalah pribadi yang menyangkut dendam dan budi tidak bisa dibandingkan dengan masalah negara.

Darah hangat yang bergelora di rongga dada Han Tay Hiong saat itu, membuat kegagahan dan keberaniannya di masa muda muncul kembali.

"Anakku Eng, mari kita pergi mencari Siauw Hong!"

Kata ayahnya. Mendengar kata-kata ayahnya Han Pwee Eng terkejut bukan kepalang.

"Ayah, lebih baik rawat dirimu dulu sebelum kita mencari Siauw Hong. Sesudah Ayah lebih sehat baru kita cari dia. Aku kira itu belum terlambat!"

Kata Han Pwee Eng. Han Tay Hiong tersenyum mendengar kata-kata puterinya itu.

"Hm! Aku tahu, jadi kau takut Ayahmu akan tidak kuat melawan pasukan Mongol? Sekalipun Lok-yang sudah jatuh ke tangan musuh, Ayah tetap akan pergi ke Lok-yang menerjang pasukan Mongol. Ayah harus mempertaruhkan jiwa ayah yang tua ini!"

Kata Han Tay Hiong.

Han Tay Hiong tidak mengetahui kenapa Han Pwee Eng mencegah dia ke Lok-yang, sebenarnya Han Pwee Eng tidak ingin bertemu dengan Kok Siauw Hong.

Selain itu dia juga sangat mengkhawatirkan kesehatan ayahnya.

Sekalipun wajah ayahnya berseri-seri, tetapi masih terlihat agak pucat, dan tiba-tiba berubah kemerah-merahan seperti orang sedang menderita sakit keras, bahkan seolah hampir menemui ajal.

Hal itu yang membuat Han Pwee Eng jadi sangat khawatir.

Tiba-tiba wajah ayahnya berubah.

"Ayah!"

Seru Han Pwee Eng.

"Ayah kenapa?"

Setelah selesai mengatakan bahwa dia akan menerjang pasukan Mongol, tiba-tiba tubuh Han Tay Hiong sempoyongan seolah akan roboh.

Han Pwee Eng buru-buru memeluk dan memapah ayahnya.

Terdengar napas ayahnya memburu.

Sesaat kemudian terdengar Han Tay Hiong bicara.

"Hm! Barangkali jiwaku yang sudah tua ini sudah tidak berguna lagi!"

Kata Han Tay Hiong.

"Tidak seharusnya aku jadi begini?" 'Tenang Ayah! Mungkin saat kau bertarung tadi, Ayah terlalu banyak mengeluarkan tenaga. Coba Ayah himpun hawa murnimu, aku akan menjaga Ayah!"

Kata Han Pwee Eng.

Han Tay Hiong mengangguk, lalu dia duduk dan bersila.

Mendadak tangan dan kakinya terasa ngilu.

Kelihatan Han Tay Hiong terkejut sekali, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata.

"Oh tidak! Tidak benar!"

Katanya. Mendengar keluhan ayahnya itu membuat Han Pwee Eng kaget bukan kepalang.

"Ayah kenapa? Apa yang tidak benar Ayah?"

Kata Han Pwee Eng.

"Aku ternyata tidak terluka dalam, namun sepertinya aku...."

Han Tay Hiong tidak meneruskan kata-katanya sedang Han Pwee Eng langsung memotong.

"Kenapa Ayah?"

Saat Han Tay Hiong mau bicara, tiba-tiba terdengar suara orang bicara.

"Tidak kusangka ternyata arak beracun pemberian Beng Cit Nio itu demikian lihay! Racun yang bersarang di tubuh ayahmu itu ternyata belum punah seluruhnya Rupanya racun itu sekarang mulai bereaksi lagi!"

Kata Seng Cap-si Kouw.

Han Pwee Eng menoleh ke arah suara yang sudah sangat dikenalnya itu.

Ternyata orang yang bicara itu Seng Cap-si Kouw yang bicara sambil berlari ke arah mereka.

Melihat 775 kedatangan Seng Cap-si Kouw tentu saja Han Pwee Eng girang sekali.

"Seng Li-hiap, cepat tolongi Ayahku!"

Teriak si nona.

Saat itu Han Pwee Eng telah menganggap bahwa Seng Cap-si Kouw adalah penyelamat ayahnya.

Ia tidak menyadari justru Seng Cap-si Kouwlah yang mengerjai ayahnya.

Memang Seng Cap-si Kouw ini akhli racun dan dia mampu memunahkan racun dengan jarum emasnya, bahkan dia bisa memindah-mindahkan racun yang ada di dalam tubuh manusia dari bagian yang satu ke bagian lainnya.

Saat Han Tay Hiong berada di kamar tahanan, rupanya dia tidak memusnahkan racun yang ada di dalam tubuh Han Tay Hiong tapi ia hanya memindahkan racun itu ke bagian tubuh Han Tay Hiong yang lain.

Memang untuk sementara perbuatan itu bisa memulihkan kekuatan Han Tay Hiong, tetapi hanya sementara.

Tidak heran sekarang racun itu mulai bekerja kembali.

"Aku menyusul kalian karena hal ini,"

Kata Seng Cap-si Kouw. Segera Seng Cap-si Kouw mengeluarkan jarum emas, dengan jarum itu dia menusuk ke beberapa jalan darah di tubuh Han Tay Hiong.

"Bagaimana rasanya sekarang?"

Tanya Seng Cap-si Kouw. Han Tay Hiong saat itu merasakan tubuhnya lebih nyaman, tetapi dia masih malas dan tidak bersemangat.

"Ya, aku merasa lebih baik.. .Tapi... ."

Jawab Han Tay Hiong.

"Tapi kenapa?"

Kata Han Pwee Eng sangat khawatir atas keselamatan ayahnya.

"Karena Ayahmu tidak bisa mengerahkan tenaga. Iya kan?"

Kata Seng Cap-si Kouw. Han Tay Hiong menghela napas panjang.

"Aaah! Nak, barangkali Ayah tidak bisa terus menemanimu mencari Siauw Hong...,"

Kata ayahnya. Han Pwee Eng kaget matanya terbelalak.

"Aku sudah berusaha sebatas kemampuanku,"

Kata Seng Cap-si Kouw.

"Tetapi racun yang dipakai oleh Beng Cit Nio sangat lihay. Sedang ayahmu memaksakan diri dan mengerahkan tenaganya bertarung dengan kedua Iblis Tua itu. Sekarang racun itu telah merasuk ke dalam tulang!"

Mendengar keterangan Seng Cap-si Kouw, Han Pwee Eng kaget bukan kepalang. Sebelum Seng Cap-si Kouw selesai bicara Han Pwee Eng memotong.

"Seng Li-hiap, apakah Ayahku masih bisa ditolong, tolong selamatkan Ayahku!"

Kata Han Pwee Eng. Sambil manggut-manggut Seng Cap-si Kouw berkata perlahan.

"Memang masih bisa ditolong,"

Kata Seng Cap-si Kouw.

"Namun, untuk membersihkan racun yang bersarang dalam tubuh ayahmu, tentu membutuhkan waktu lama...."

"Berapa lama?"

Desak Han Pwee Eng.

"Paling sedikit butuh waktu tiga bulan. Jika menghendaki tenaganya pulih seperti sediakala mungkin butuh waktu setahun lebih,"

Kata Seng Cap-si Kouw menambahkan. Setelah mengawasi ke arah Han Pwee Eng sejenak, Seng Cap-si Kouw berkata lagi.

"Tay Hiong, rumahmu telah musnah. Saat ini kau membutuhkan tempat yang tenang agar kau bisa berobat dengan tentram. Jika kau tidak merasa keberatan kuundang kau ke rumahku, bagaimana pendapatmu?"

Han Tay Hiong diam. Sedangkan Han Pwee Eng hatinya lega ketika mendengar ayahnya masih bisa ditolong.

"Ayah, urusan sepenting apa pun tidak sepenting kesehatanmu, Ayah. Seng Li-hiap demikian baik mau memperhatikan Ayah....Kalau begitu Ayah boleh berlega hati dan tinggal di rumahnya untuk diobati. Aku tidak perlu mencari Siauw Hong lagi dan bisa tetap menemani Ayah. Boleh kan?"

Kata Han Pwee Eng.

Sebenarnya Han Tay Hong tidak keberatan tinggal di rumah Seng Cap-si Kouw, tetapi dia sadar sekarang dia tidak bisa berjalan jauh.

Saat itu hati Han Tay Hiong benarbenar kacau bukan main.

Dia kelihatan sedang berpikir, baru kemudian berkata.

"Anakku Eng, bagaimanapun kau harus mencari Siauw Hong! Tiga bulan kemudian setelah perang ini selesai, kau boleh datang mencariku untuk menemaniku!"

Kata Han Tay Hiong. Sebenarnya Seng Cap-si Kouw berharap Han Pwee Eng segera meninggalkan mereka berdua, lebih cepat lebih baik, oleh karena itu dia langsung ikut bicara.

"Legakan hatimu Nona Han, aku pasti akan mengurus ayahmu dengan baik!"

Kata Seng Cap-si Kouw.

Han Pwee Eng mengawasi ke arah ayahnya, dia lihat ayahnya berkeras menyuruh dia segera pergi mencari Siauw Hong, sedang nona Han tahu benar adat ayahnya.

Jika dia 778 tidak segera pergi ada kemungkinan ayahnya mencurigainya.

Maka nona Han pun akhirnya berpikir.

"Seng Lo-cian-pwee ini dengan tidak menghiraukan nyawanya bertarung melawan kedua iblis tua itu. Bahkan dia juga telah cekcok dengan saudara misannya Beng Cit Nio. Dia yang menyelamatkan kami dari ruang tahanan. Pasti dia akan mengobati luka Ayahku dengan sepenuh hati hingga sembuh. Ditambah lagi aku tidak mengerti ilmu pengobatan apalagi tentang racun, jadi jika aku diam bersama Ayahpun aku tidak bisa berbuat apa-apa?"

Pikir Han Pwee Eng.

"Kalau begitu baiklah Ayah, aku menuruti perintah Ayah. Tetapi izinkan aku mengantarkan Ayah dulu sampai di rumah Seng Lo-cian-pwee, setelah itu baru aku pergi!"

Kata Han Pwee Eng.

"Sebaiknya kau segera pergi mencari Siauw Hong,"

Kata ayahnya dengan suara lemah.

Han Pwee Eng mengangguk.

Sesudah itu mereka langsung berangkat ke rumah Seng Cap-si Kouw.

Begitu sampai Han Pwee Eng melihat rumah Cap-si Kouw itu bagus sekali, Han Pwee Eng girang melihat rumah itu.

Seng Cap-si Kouw menyilakan Han Tay Hiong masuk ke sebuah kamar.

"Tay Hiong, lihatlah! Apa kau cocok dengan kamar ini?"

Kata Seng Cap-si Kouw sambil tertawa.

Han Pwee Eng mengawasi keadaan kamar itu dengan seksama..

Tiba-tiba mata nona Han terbelalak.

Dia lihat di dinding kamar itu bergantungan lukisan-lukisan milik ayahnya.

Sedangkan tata ruangan itu dibuat sama dengan tata ruangan di rumah Han Tay Hiong.

Han Pwee Eng 779 benar-benar kaget seolah dia mengira dia berada dalam alam mimpi saja.

"Aku tahu kau sangat menyukai lukisan. Ketika aku mendengar khabar rumahmu akan diserang musuh, aku buruburu ke sana! Tetapi sayang aku tiba terlambat di rumahmu, ternyata kau telah jatuh ke tangan Beng Cit Nio. Malah merekajuga sedang mencari-cari hartamu. Sayang aku tidak berhasil melindungimu, namun aku masih berhasil menyelamatkan benda-benda kesayanganmu. Aku bawa lukisan-lukisan itu ke rumahku ini!"

Kata Seng Cap-si Kouw.

Begitu Han Tay Hiong melihat lukisan-lukisan itu, dia seolah merasa bertemu kembali dengan kawan lamanya, tentu saja Han Tay Hiong girang sekali.

Tetapi dalam girang hati Han Tay Hiong tercekam oleh sesuatu.

Dia tahu Seng Cap-si Kouw banyak akalnya Belasan tahun yang lalu, dengan mendadak isterinya meninggal diracun orang.

Siapa yang meracuni isterinya sampai sekarang belum terjawab.

Memang Han Tay Hiong pernah mencurigai Seng Cap-si Kouw sebagai pelakunya.

Tetapi pengalaman hari ini, telah timbul kembali keragu-raguan Han Tay Hiong tentang pelaku pembunuh isterinya itu.

Dalam hati Han Tay Hiong berpikir, bagaimanapun Seng Cap-si Kouw lebih menakutkan dibanding Beng Cit Nio, sekalipun Seng Cap-si Kouw telah menyelamatkan nyawanya dan begitu baik kepadanya.

Hati Han Tay Hiong begitu kacau dan akhirnya dia bicara.

"Terima kasih atas kebaikanmu. Aku sekarang merasa berada di rumahku sendiri..."

Kata Han Tay Hiong. Mendengar ucapan ayahnya yang tulus Han Pwee Eng merasa girang.

"Kalau begitu, Ayah aku mohon pamit!"

Kata puterinya.

"Dengar anakku, jika kau tidak bisa masuk ke kota Lokyang, kau boleh temui anggota Kay-pang untuk minta keterangan dari mereka. Bagaimanapun kau harus menemukan Kok Siauw Hong!"

Kata Han Tay Hiong.

"Baik, Ayah!"

Jawab Han Pwee Eng sambil mengangguk.

"Maaf Nona Han, aku tidak mengantarkanmu,"

Kata Seng Cap-si Kouw yang kelihatan girang karena Han Pwee Eng akan segera meninggalkan mereka. Kemudian dia menoleh ke arah Tik Bwee sambil berkata.

"Tik Bwee kau antarkan Nona Han sampai turun gunung!"

Kata Seng Cap-si Kouw.

"Baik, Majikan!"

Jawab Tik Bwee.

Bersama-sama dengan Han Pwee Eng dia berjalan meninggalkan rumah majikannya.

Selang sesaat Han Pwee Eng seolah mengenali pelayan Tik Bwee ini.

Ketika dia akan menegur pelayan itu, malah Tik Bwee mendahuluinya bicara.

"Nona Han, apakah kau masih ingat padaku? Hari itu akulah yang mengantarkan Nona Ci ke tempatmu ditahan, saat nona Ci akan berpura-pura menjadi pelayan Beng Cit Nio,"

Kata Tik Bwee.

"Oh, jadi kau itu! Pantas aku merasa kenal padamu!"

Kata Han Pwee Eng.

"Nona Han aku kira Nona Ci itu kawan baikmu, dia berani menempuh bahaya untuk menyelamatkan kalian!"

Kata Tik Bwee.

"Kau benar! Dia dan aku seperti saudara kandung saja,"

Jawab Han Pwee Eng.

Tetapi sesudah bicara begitu Han Pwee Eng merasa tidak enak hati pada Ci Giok Hian.

Sekarang dia yakin sekali Ci Giok Hian bukan orang yang meracuni ayahnya, tetapi dia dan ayahnya telah menuduh dia sebagai orang yang meracun ayahnya.

Saat Han Pwee Eng sedang terkenang pada Ci Giok Hian tiba-tiba Tik Bwee bicara lagi.

"Nona Han, sebenarnya aku ingin menitipkan sesuatu padamu,"

Kata Tik Bwee.

"Menitipkan apa?"

Tanya Han Pwee Eng.

"Sebuah benda untuk Siauw-ya kami,"

Jawab Tik Bwee. Mendengar ucapan Tik Bwee nona Han jadi tertegun.

"Tapi aku tidak kenal dengan Siauw-ya kalian!"

Kata Han Pwee Eng.

"Dia bersama Nona Ci pergi bersama-sama. Aku dengar mereka sudah bertunangan. Jika Nona Han bertemu dengan Nona Ci, pasti kau akan bertemu dengan dia!"

Kata Tik Bwee. Mendengar kata-kata itu hati Han Pwee Eng agak tersentak, nyaris dia tidak percaya pada kata-kata pelayan itu.

"Eh, kau bilang apa? Nona Ci dan Siauw-yamu sudah bertunangan?"

Kata Han Pwee Eng agak kaget. -o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 28 Sambil menunduk malu pelayan Seng Cap-si Kouw itu mengangguk perlahan. Dia awasi nona Han dengan tajam lalu berkata dengan perlahan pula.

"Ya, mereka telah bertunangan,"

Jawab Tik Bwee.

"Sebenarnya akupun tidak menduga hal itu akan terjadi, karena mereka baru saling kenal tidak lebih dalam sehari saja! Malam itu mereka bertemu, keesokan harinya mereka sudah, sudah...."

Tik Bwee tidak bisa meneruskan kata-katanya, mungkin hatinya berat untuk mengatakan mereka sudah bertunangan.

Han Pwee Eng teringat kejadian saat ayahnya minum arak yang dibawa oleh Ci Giok Hian, dan ayahnya keracunan.

Tibatiba Beng Cit Nio muncul di kamar tahanan dengan gusar ingin membunuh Ci Giok Hian.

Tanpa sengaja Beng Cit Nio melihat cincin yang ada pada Ci Giok Hian, karena cincin itu Beng Cit Nio batal membunuh Ci Giok Hian.

Saat itu seolah Han Pwee Eng mendengar Beng Cit Nio mengatakan sesuatu, dia bilang dengan memandang cincin itu dia tidak akan membunuh Ci Giok Hian.

Han Pwee Eng juga ingat Beng Cit Nio menyebut nama seseorang, karena saat itu Han Pwee Eng sedang panik melihat ayahnya keracunan jadi dia tidak mendengar apa yang dikatakan Beng Cit Nio denganjelas.

"Siapa nama Siauw-ya kalian itu?"

Tanya Han Pwee Eng.

"Seng Liong Sen,"

Jawab Tik Bwee. Mendengar nama itu disebut Han Pwee Eng berseru tidak tertahan.

"Benar, Beng Cit Nio memang menyebutkan nama itu!"

Kata Han Pwee Eng. Tik Bwee tertawa.

"Pasti begitu! Cincin itu hadiah dari Beng Cit Nio untuk Siauw-ya kami, cincin khusus untuk pertunangannya,"

Kata Tik Bwee. Sesudah itu kelihatan wajah Tik Bwee berubah pilu.

"Benarkah itu cincin pertunangan antara Ci Giok Hian dan Seng Liong Sen? Ah, tidak mungkin! Karena demi cintanya pada Kok Siauw Hong, Ci Giok Hian telah menghancurkan pertunanganku dengan Kok Siauw Hong. Malah kejadian itu telah menimbulkan badai di lembah Pek-hoa-kok. Apa mungkin tiba-tiba dia berganti kekasih bahkan bertunangan dengan laki-laki yang baru dikenalnya. Tapi, ketika Beng Cit Nio melihat cincin itu Beng Cit Nio batal membunuh Ci Giok Hian. Jadi apa yang dikatakan pelayan ini pasti bukan untuk mengada-ada."

Pikir Han Pwee Eng.

Saat Han Pwee Eng sedang berpikir, hatinya jadi bertambah bingung, sehingga dia tidak mendengar Tik Bwee tertawa.

Sedangkan Tik Bwee tidak memperhatikan perubahan wajah nona Han.

Tiba-tiba Han Pwee Eng mendengar Tik Bwee bicara lagi.

"Itu yang dinamakan jodoh, sekalipun jauhnya ribuan li tetap akan bertemu! Nona Han kenapa kau tidak ikut gembira untuk mereka?"

Kata Tik Bwee. Han Pwee Eng tersentak kaget.

"Oh! Tentu aku ikut bergembira, malah gembira sekali! Tetapi aku belum yakin atas kejadian itu?!"

Kata Han Pwee Eng.

"Tetapi setelah kau bertemu dengan mereka pasti kau akan percaya kata-kataku,"

Kata Tik Bwee meyakinkan nona Han.

"Lalu kau mau titip apa untuk Siauw-yamu itu?"

Kata Han Pwee Eng. Tik Bwee merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kantung terbuat dari kain.

"Ini barang titipan dari Siauw-yaku, dia lupa membawanya, maka benda ini aku titipkan padamu untuk kau serahkan pada Siauw-yaku!"

Kata Tik Bwee.

Melihat kantung terbuat kain itu Han Pwee Eng tercengang, sebab dia lihat kantung kain itu hanya benda biasa, tetapi dia heran kenapa Tik Bwee menganggap kantung kain itu bagaikan sebuah pusaka.

Rupanya diamdiam Tik Bwee mencintai Seng Liong Sen.

Sedang Tik Bwee berharap setelah Seng Liong Sen melihat kantung kain itu, Liong Sen akan tetap ingat padanya.

"Sekalipun aku hanya seorang pelayan, tetapi aku harus tetap bisa dipercaya, maka itu benda ini harus aku kembalikan kepadanya,"

Kata Tik Bwee. Saat itu hati Han Pwee Eng pun telah terganjal oleh berbagai masalah, maka itu dia tidak banyak bertanya. Kemudian nona Han menyimpan kantung kain itu ke sakunya.

"Baiklah, jika aku bertemu dengan mereka, pasti benda itu akan aku sampaikan kepadanya,"

Kata Han Pwee Eng.

"Nah, sampai bertemu!"

Keduanya lalu berpisahan. Han Pwee Eng meneruskan perjalanannya. Di sepanjang jalan Han Pwee Eng masih berpikir.

"Ooh, entah di mana mereka sekarang? Setelah aku bertemu dengan mereka maka masalah ini baru akan jelas!"

Pikir Han Pwee Eng.

-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Hari itu saat Ci Giok Hian dan Tik Po mendengarkan pembicaraan murid Jen Thian Ngo dengan Chu Kiu Sek.

Ih Hua Liong, murid Jen Thian Ngo berjalan keluar bersama Chu Kiu Sek.

Tiba-tiba Chu Kiu Sek mendengar suara di balik gunung-gunungan.

Tetapi mereka tidak yakin itu suara orang.

Ih Hua Liong ini licik tetapi banyak akalnya mirip dengan gurunya.

Segera dia memberi isyarat pada Chu Kiu Sek.

Tidak lama kelihatan Ih Hoa Liong membisiki Chu Kiu Sek, rupanya dia sedang memberi keterangan tentang rute perjalanan yang akan ditempuh oleh rombongan pembawa harta untuk para pejuang.

Saat itu Ih Hua Liong yang tahu ada orang ikut mendengarkan pembicaraan mereka, dengan sengaja dia mengatakan jalur perjalanan yang salah, agar orang yang mendengar tentang perjalanan rombongan itu tersesat, karena jalur yang dikatakannya jalur palsu.

Tidak heran sekalipun Ci Giok Hian sangat cerdas, namun sedikitpun dia tidak menduga bahwa dia disesatkan oleh murid Jen Thian Ngo yang licik itu, dengan demikian Ci Giok Hian dan Seng Liong Sen telah mengambil jalan yang salah, malah mereka semakin menjauhi lokasi yang sebenarnya.

Di tempat lain Ci Giok Phang sebagai wakil Jen Thian Ngo sedang bertugas mengawal harta.

Ketika itu yang diketahui Ci Giok Phang bahwa Jen Thian Ngo adalah tokoh tua yang patriotik, dan tidak menyangka bahwa Jen Thian Ngo telah mengatur siasat busuk bersekongkol 786 dengan Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya untuk menguasai harta itu.

Jarak kota Lok-yang ke tempat para pejuang sekitar limaratus li jauhnya.

Sekalipun jaraknya tidak terlalu jauh namun perjalanan itu sangat sulit, karena rombongan itu harus melewati pegunungan yang licin dan curam.

Bukan saja jalannya sukar, kereta yang mengangkut hartapun berat, tidak heran jika perjalanan jadi sangat lambat dan tersendat-sendat.

Kelambatan ini ditambah lagi oleh karena mereka dilarang berjalan malam oleh Jen Thian Ngo.

Bahkan Jen Thian Ngo seolah-olah sangat hati-hati.

Jika mereka akan menempuh jalan yang sukar, dia mengutus orang dulu untuk menyelidikinya, apakah jalan itu aman atau tidak.

Setelah mendapat laporan bahwa jalan aman baru rombongan diperbolehkan melanjutkan perjalanan.

Tidak heran jika hal itu sangat menyita waktu.

Setiap hari mereka hanya mampu menempuh lima sampai enampuluh li.

Ci Giok Hian kelihatan tidak sabar, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena tahu tanggung-jawab Jen Thian Ngo memang berat sekali, jadi prinsip Jen Thian Ngo lebih baik lambat asal selamat, maka itu Ci Giok Phang harus taat pada perintah Jen Thian Ngo.

Sebenarnya Jen Thian Ngo sedang gelisah, karena sudah melakukan perjalanan sekitar tujuh hari, kenapa Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya belum juga muncul?

Oleh karena itu Jen Thian Ngo kebingungan dan gugup sekali.

Hari itu rombongan Jen Thian Ngo sudah sampai di lembah Cing Liong (Lembah Naga Hijau, Red).

Begitu rombongan ini keluar dari lembah Naga Hijau berarti mereka sudah akan memasuki wilayah kekuasaan para pejuang.

Tahu bahwa rombongan itu hampir sampai Jen Thian Ngo bertambah gugup, tiba-tiba dia mengeluarkan perintah agar rombongan berhenti dengan alasan semakin 787 dekat ke markas para pejuang, situasi akan bertambah berbahaya.

Maka itu dia bilang akan menyelidiki situasi dulu sebelum meneruskan perjalanan.

"Kita hampir sampai ke tempat para pejuang, kenapa harus berhenti? Aku khawatir jika kita berhenti di sini siapa tahu akan terjadi sesuatu yang tidak terduga?"

Kata Ci Giok Phang pada Jen Thian Ngo.

"Justru karena kita hampir sampai kita harus lebih waspada! Dengan demikian perjalanan kita jadi tidak siasia!"

Jawab Jen Thian Ngo. Di tendanya Jen Thian Ngo tampak panik.

"Celaka! Apakah Ih Hua Liong tidak bertemu dengan Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya? Jika hari ini mereka tidak muncul, habis sudah kesempatan baik ini!"

Pikir Jen Thian Ngo. Tiba-tiba Ci Giok Phang menemuinya, menanyakan apakah perjalanan akan diteruskan atau tidak.

"Sudah aku katakan kita bersabar dulu, selidiki dulu situasi di sekitar tempat ini!"

Kata Jen Thian Ngo.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita kirim orang ke tempat para pejuang untuk menghubungi mereka, katakan kita sudah sampai di sini sekalian kita minta bantuan dari mereka untuk mengangkut harta ini!"

Kata Ci Giok Phang. Jen Thian Ngo berpikir sejenak kemudian dia manggutmanggut.

"Baik, kalau begitu kau saja yang ke sana!"

Kata Jen Thian Ngo.

Perintah ini sengaja dia berikan pada Ci Giok Phang karena sebenarnya Jen Thian Ngo ingin agar Ci Giok Phang tidak ada di dekatnya, sebab jika ada kesempatan 788 baik dia bisa turun tangan tanpa mendapat gangguan dari pemuda itu.

"Baik,"

Kata Ci Giok Phang.

Tapi mendadak terdengar suara hiruk-pikuk.

Suara itu disusul oleh derap kaki kuda.

Tak lama mereka menyaksikan banyak orang yang berlari ke arah rombongan mereka Ternyata para penunggang kuda itu adalah pasukan berkuda tentara Mongol.

Sebagai pemimpin pasukan Mongol itu kiranya See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek.

Tidak heran hanya dalam sekejap mata tentara Kay-pang sudah langsung terkepung.

Melihat kedatangan tentara Mongol bersama Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya, tentu saja Jen Thian Ngo girang bukan kepalang, namun hal itu tidak diperlihatkan.

Malah Jen Thian Ngo pura-pura kaget dan gusar, dia memacu kudanya ke depan sambil membentak.

"Jen Thian Ngo berada di sini! Aku tidak akan membiarkan kalian bertingkah di tempat ini!"

Kata Jen Thian Ngo dengan gagah.

Rupanya kedatangan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek terhambat karena harus bertarung melawan Beng Cit Nio maupun Seng Cap-si Kouw dan Han Tay Hiong.

Hal inilah yang membuat mereka terlambat dua hari.

Ditambah lagi mereka terluka.

Sesudah meloloskan diri dari Han Tay Hiong mereka berdua membawa pasukan berkuda Mongol pilihan, dan langsung memacu ke tempat yang mereka janjikan.

Ternyata Jen Thian Ngo dan rombongan pembawa harta sudah hampir mendekati tempat para pejuang saat mereka tiba di sana.

Jen Thian Ngo mencabut pedangnya dan menyerang dua penunggang kuda prajurit Mongol, seketika itu dua prajurit itu terjungkal dari kudanya, sekalipun pedang Jen Thian 789 Ngo berhasil merobek pakaian lapis baja tentara Mongol itu, namun kedua prajurit itu tidak terluka.

"Bagus Jen Thian Ngo!"

Bentak See-bun Souw Ya.

"Sebenarnya kau bukan orang Kay-pang, kenapa kau membantu orang Kay-pang? Kau sangat kurangajar aku ingin mencoba kelihayanmu!"

Sesudah itu See-bun Souw Ya langsung menyerang ke arah Jen Thian Ngo, seketika itu tercium bau amis yang luar biasa.

Dua orang anak buah Kay-pang yang ada di sisi kanan dan sisi kiri Jen Thian Ngo ketika mencium bau amis itu langsung pingsan.

"Kalian mundur semua, biar aku yang menghadapi kedua Iblis Tua ini!"

Teriak Jen Thian Ngo.

"Ha, ha, ha, hari ini adalah urusan Mongol dengan Tay Song (Kerajaan Song yang besar, Red),"

Kata Chu Kiu Sek.

"Siapa yang akan bertarung denganku satu lawan satul"

Tak lama Chu Kiu Sek memerintahkan pasukan Mongol yang membawa panah untuk segera memanah lawan.

"Panah! Panah mereka!"

Teriak Chu Kiu Sek.

Serempak sesudah itu terjadi hujan anak panah.

Di sanasini mulai terdengar suara jeritan orang-orang yang terluka terkena panah.

Banyak anggota Kay-pang yang roboh terpanah.

Tetapi dengan gagah berani anggota Kaypang yang lain terus maju bertarung menghadapi pasukan berkuda bangsa Mongol.

Maka terjadilah pertarungan yang sangat dasyat antara anggota Kay-pang dengan tentara berkuda Mongol.

Jen Thian Ngo yang berada di atas kudapun dihujani anak panah.

See-bun Souw Ya tertawa terkekeh mentertawakan Jen Thian Ngo yang sibuk menangkis serangan anak panah.

"Hm, Tua Bangka, sekarang baru kau tahu lihaynya kami!"

Kata See-bun Souw Ya.

"Iblis Tua, rasakan ilmu pedang Cit-siu-kiam-hoatku ini!"

Teriak Jen Thian Ngo sengit.

Pedang di tangan Jen Thian Ngo berkelebat-kelebat membentuk tujuh bunga pedang.

Ujung pedang Jen Thian Ngo berhasil melukai sepasang kaki kuda yang ditunggangi See-bun Souw Ya dan membuat kuda itu terjungkal ke tanah.

Untung See-bun Souw Ya sendiri berhasil melompat menyelamatkan diri.

"Orang lain boleh takut pada ilmu pedang Cit-siu-kiamhoatmu, tetapi aku tidak!"

Kata See-bun Souw Ya.

"Apa hebatnya ilmu pedangmu itu, aku ingin melihat apa yang bisa kau lakukan terhadapku?"

Sepasang telapak tangan See-bun Souw Ya berkelebat, bergerak di antara bayangan pedang Jen Thian Ngo.

Pertarungan yang pura-pura ini jadi kelihatan seperti sungguhan dan kelihatan hebat sekali.

Pertarungan itu mengakibatkan batu kerikil di tempat itu berterbangan tersampok oleh angin pukulan mereka berdua.

Ci Giok Phang saat itu juga sedang bertarung, dia menggunakan ilmu pedang Pek-hoa-kiam-hoat.

Tubuhnya bergerak kian ke mari tanpa henti-henti, dia mencoba menyerang kaki kuda tentara Mongol dengan pedangnya yang lihay.

Akibat dari banyaknya kuda-kuda tentara Mongol yang terluka oleh sabetan pedang Ci Giok Phang, sekarang 791 terpaksa tentara Mongol itu bertarung dengan anggota Kaypang sambil jalan kaki.

Melihat kelihayan Ci Giok Phang itu Chu Kiu Sek yang melihatnya langsung tertawa.

"Hm! Kiranya bocah busuk ini, kau adalah pecundangku, apa kau masih berani berlagak di depanku?"

Kata Chu Kiu Sek.

"Iblis Tua kebetulan kita bertemu di sini! Aku ingin membuat perhitungan denganmu! Hari ini jika bukan kau yang mampus, akulah yang mati di tanganmu!"

Kata Ci Giok Phang dengan gagah. Chu Kiu Sek tertawa mendengar tantangan itu.

"Hm! Hanya dengan kepandaianmu itu, mana mungkin kau bisa mengalahkan aku?"

Kata Chu Kiu Sek.

Ci Giok Phang mengertakkan giginya dan langsung menyerang dengan sengit.

Chu Kiu Sek menangkis dan membalas menyerang dengan ilmu Siu-lo-im-sat-kang.

Suara serangan mereka terdengar menderu saking dasyatnya.

Jika jarak mereka dekat Ci Giok Phang merasakan ada hawa dingin menyerang ke arahnya.

Wajah Ci Giok Phang yang terkena serangan Chu Kiu Sek berubah kehijauan.

Rupanya Ci Giok Phang sudah terkena pukulan Chu Kiu Sek yang dahsyat dan beracun.

Sekalipun demikian ilmu pedang Ci Giok Phang tidak jadi kacau oleh karena serangan itu.

Tentu saja apa yang disaksikan Chu Kiu Sek karena Ci Giok Phang tidak segera roboh, dia jadi keheranan bukan kepalang.

"Baru lewat beberapa bulan saja sejak aku bertarung dengannya, bagaimana mungkin kepandaian bocah ini bisa bertambah demikian maju?"

Pikir Chu Kiu Sek.

Chu Kiu Sek tidak perlu heran jika dia sadar bahwa setelah dia bertarung melawan Han Tay Hiong dua hari yang lalu, jelas hawa murninya sedikit buyar.

Ini bukan karena kepandaian Ci Giok Phang yang bertambah maju melainkan kehebatan Siu-lo-im-sat-kang Chu Kiu Sek menjadi kurang keampuhannya.

Ditambah lagi Ci Giok Phang sering minum arak Kiu-thian-sun-yang-Pek-hoa-ciu, tidak heran jika tubuh pemuda ini agak tahan terhadap serangan racun.

Chu Kiu Sek sudah melancarkan serangan lebih dari tigapuluh jurus, tetapi Ci Giok Phang tetap mampu bertahan dari serangannya itu.

Tetapi sesudah lewat beberapa jurus lagi mulai kelihatan Ci Giok Phang mulai sedikit goyah dan tubuhnya kedinginan, sedangkan giginya beradu gemeretuk.

Di tempat lain pertarungan antara anggota Kay-pang melawan tentara Mongol semakin seru saja.

Sekalipun sudah banyak tentara Mongol yang binasa, tetapi tentara Mongol itu masih cukup banyak, dan diperkirakan jumlah tentara Mongol jauh lebih banyak dibanding anggota Kaypang yang dihadapinya.

Tidak heran kalau anggota Kaypang mendapat kesulitan besar.

Melihat anggota Kay-pang mulai kewalahan Ci Giok Phang jadi gugup bukan kepalang.

Ketika Ci Giok Phang sedang panik Chu Kiu Sek menyerangnya.

Jangankan dia bisa menolong anggota Kay-pang yang sedang terdesak tentara Mongol, menyelamatkan diri sendiripun dia sulit bukan main.

Chu Kiu Sek tertawa.

"Bocah busuk, hari itu kau lolos dari tanganku, tapi hari ini ajalmu sudah sampai! Tidak mungkin ada orang yang bisa menolongimu. Ha, ha, ha! Sekalipun kau memiliki saya pun kau tidak akan bisa lolos dari tanganku. Apa kau tidak mau menyerah?"

Kata Chu Kiu Sek.

Kali ini Ci Giok Phang benar-benar putus asa, dia sudah menyaksikan banyak anggota Kay-pang yang telah kehilangan jiwanya Tiba-tiba terlihat tiga orang penunggang kuda mendatangi dengan cepat.

Penunggang kuda yang paling depan sudah langsung membentak.

"Iblis Tua, ternyata kalian sedang berlagak di tempat ini. Bagus! Hari ini kalian harus bertarung dengan kami sampai ada kepastian!"

Kata penunggang kuda itu.

Tiga orang penunggang kuda itu ternyata Kong-sun Po.

Kiong Mi Yun dan Kok Siauw Hong.

Chu Kiu Sek pernah bertarung dengan kedua pemuda dan pemudi itu, tetapi Kiong Mi Yun tidak diperhitungkan oleh si Iblis Tua.

Kepandaian Kong-sun Po dan Kok Siauw Hong tidak berada di bawah kepandaian Chu Kiu Sek.

Sekalipun kepandaian Kiong Mi Yun tidak diperhitungkannya, tetapi Kiong Mi Yun ini puteri pulau Hek-hong, tentu saja Chu Kiu Sek agak segan pada nona Kiong ini, terutama pada ayahnya Hek-hong To-cu.

Sekarang tiba-tiba kiong Mi Yun muncul bersama kedua pemuda gagah itu.

Sekalipun Chu Kiu Sek berilmu tinggi dan bernyali besar tak urung dia kaget juga.

Ketika Kok Siauw Hong tidak berhasil menemukan Ci Giok Hian dan kakaknya, dia bertemu dengan Kong-sun Po dan Kiong Mi Yun.

Lalu mereka bertiga ke tempat Kaypang untuk mencari keterangan.

Saat berjalan bersama suatu ketika Kiong Mi Yun berkata pada Kok Siauw Hong dengan terus terang.

"Kok Toa-ko, aku paling tidak tahan menyimpan sesuatu dalam hatiku. Kau jangan menyalahkan aku jika aku kelepasan bicara!"

Kata Kiong Mi Yun. Kok Siauw Hong sudah tahu adat Kiong Mi Yun yang bicaanya blak-blakan. Dia tersenyum pada nona Kiong.

"Kau ingin bilang apa, silakan saja!"

Kata Kok Siauw Hong.

"Menurut pendapatku, pamanmu itu bukan orang baikbaik,"

Kata nona Kiong. Mendengar ucapan nona Kiong tentu saja Kok Siauw Hong jadi tertegun.

"Mengapa kau berpendapat begitu?"

Kata Kok Siauw Hong.

"Sadarkah kau, mengapa kau tidak bisa menemukan Nona Ci? Terus-terang aku katakan, Nona Ci pergi karena tertipu oleh Pamanmu itu!"

Jawab Kiong Mi Yun.

Kemudian Kiong Mi Yun menceritakan mengenai apa yang didengarnya ketika dia bersembunyi di kolong tempat tidur di kamar Han Pwee Eng.

Setelah mendengar cerita Kiong Mi Yun, barulah Kok Siauw Hong sadar bahwa pamannya telah mengarang cerita bohong, bahwa dia sedang menemui Han Pwee Eng dengan diam-diam, kemudian dia pergi bersama Han Pwee Eng entah ke mana.

Kemudian nona Kiong melanjutkan ceritanya.

"Aku melihatnya pada saat pamanmu datang ke rumah Han Tay Hiong dan aku tahu dia berniat tidak baik! Aku lihat sendiri pamanmu membongkar semua peti yang ada di rumah Han Tay Hiong. Aku tidak tahu apa yang dia cari. Kelihatan dari sikapnya dia ingin merampok harta milik Han Tay Hong!"

Kata Kiong Mi Yun Sebenarnya Kok Siauw Hong sendiri kurang menyukai pamannya itu, bahkan dia juga mencurigai sang paman ini. Kemudian dia berpikir.

"Paman Jen pernah memburuk-burukan nama Paman Han di depanku, dia bilang Paman Han bersekongkol dengan bangsa Mongol. Sekarang terbukti tuduhannya itu tidak benar! Mengapa dia menuduh Paman Han begitu? Apa karena dia salah paham ata sebab lain? Ibuku juga tidak cocok dengan Paman Jen ini, tetapi Ibu bilang Paman Jen itu orang jujur, malah kata Ibu dia seorag Bu-lim Cianpwee yang sangat terkenal dalam Dunia Persilatan. Jadi tidak mungkin kalau dia menginginkan harta Paman Han!"

Pikir Kok Siauw Hong.

Malam itu mereka telah tiba di tempat tujuan.

Bersama para pengungsi mereka masuk ke dalam kota Lok-yang.

Malam itu juga mereka bertemu dengan Liok Kun Lun, ketua perkumpulan Kay-pang.

Dari Liok Kun Lun inilah Kok Siauw Hong baru mengetahui bahwa Ci Giok Phang telah sampai ke markas Kay-pang, malah sekarang Ci Giok Phang bersama Jen Thian Ngo sedang mengawal harta yang akan disumbangkan kepada para pejuang.

Mendengar keterangan ini Kok Siauw Hong terkejut bukan kepalang, sedangkan Kiong Mi Yun malah tertawa dingin.

"Bagaimana Han Toa-ko, apa kau masih belum percaya pada kata-kataku?"

Kata nona Kiong. Liok Kun Lun tertegun mendengar ucapan nona Kiong itu.

"Apa maksud kata-kata Nona Kiong?"

Kata Liok Kun Lun. Kok Siauw Hong sadar ini masalah besar, maka dia tidak berani membohongi Liok Kun Lun.

"Terus terang Nona Kiong mencurigai Pamanku, katanya Pamanku itu mengincar harta itu! Ucapan Nona Kiong cukup beralasan karena dia melihat sendiri Paman Jen membongkar semua peti yang ada di rumah Paman Han!"

Jawab Kok Siauw Hong. Sambil menggelengkan kepala Liok Kun Lun berkata lirih.

"Jen Lo Cian-pwee saat ini merupakan tokoh persilatan tua yang gagah berani, bahkan namanya sangat terkenal. Mana mungkin dia berbuat seperti itu?"

Sanggah Liok Kun Lun. Kiong Mi Yun tertawa dingin mendengar sanggahan itu.

"Hm! Kelak saat kalian percaya pada kata-kataku, maka menyesal pun aku kira sudah terlambat!"

Kata Kiong Mi Yun sinis. Kok Siauw Hong menyela.

"Maksud Nona Kiong baik,"

Kata Kok Siauw Hong.

"Sekalipun ternyata dia salah menilai Pamanku, aku tidak akan menyalahkan dia! Liok Pang-cu, bagaimana kalau kami bertiga pergi menyusul rombongan yang membawa harta itu. Siapa tahu kami bisa membantu mengawal harta itu dengan selamat?"

Kong-sun Po pun ikut bicara.

"Saudara Kok benar, ini bukan karena kami mencurigai Paman Jen tetapi jika bertambah orang yang mengawal harta itu aku kira itu lebih baik lagi. Dengan demikian kita bisa mengurangi bahaya yang mengancam harta itu!"

Kata Kong-sun Po.

Sebenarnya Liok Kun Lun sangat percaya pada Jen Thian Ngo.

Tetapi setelah mendengar keterangan Kok Siauw Hong dan Kiong Mi Yun dan melihat Kok Siauw Hong pun mencurigai pamannya, Liok Kun Lun lalu berpikir.

Tak lama Liok Kun Lun mengambil keputusan.

"Baiklah! Jika kalian bersedia membantu tentu saja lega hatiku!"

Kata Liok Kun Lun.

Maka berangkatlah Kok Siauw Hong ditemani oleh Kong-sun Po dan Kiong Mi Yun.

Tak lama mereka sudah berhasil menyusul rombongan Jen Thian Ngo.

Ketika mereka tiba Kok Siauw Hong melihat Jen Thian Ngo sedang bertarung sengit sekali melawan See-bun Souw Ya.

Dia kaget tetapi hati anak muda itu sedikit lega.

"Ah, ternyata aku salah telah mencurigai Paman Jen?"

Pikir Kok Siauw Hong.

Saat itu situasi yang dihadapi Jen Thian Ngo maupun Ci Giok Phang benar-benar berbahaya.

Menyaksikan hal itu hati Kok Siauw Hong jadi cemas bukan main.

Dia segera berkata pada Kong-sun Po.

"Kong-sun Toa-ko, aku akan membantu Pamanku melawan See-bun Souw Ya, kau yang melawan Chu Kiu Sek!"

Kata Kok Siauw Hong.

"Baik,"

Jawab Kong-sun Po.

Sesudah itu Kong-sun Po bergerak maju ke arah Chu Kiu Sek, dengan jurus Ki-hwee-soh-thian (Mengangkat obor membakar langit), Kong-sun Po menyerang Chu Kiu Sek dengan ujung payungnya yang lihay.

Tahu lihaynya payung Kong-sun Po si Iblis Tua buru-buru berkelit dan langsung balas menyerang Kong-sun Po dengan sebuah pukulan yang dasyat.

Sesudah Ci Giok Phang bisa meloloskan diri dari hadapan Chu Kiu Sek, dia bisa langsung bergabung dengan Kiong Mi Yun dan langsung menyerang tentara Mongol yang sedang mengepung anggota Kay-pang.

Mereka berhasil menolong anggota Kay-pang yang terkepung oleh tentara Mongol yang ganas itu.

Dalam pertarungan yang kacau itu sekarang pihak Kay-pang tidak terdesak lagi seperti tadi.

Melihat Kong-sun Po mampu menghadapi Chu Kiu Sek, Kok Siauw Hong lega hatinya.

Tapi mendadak Kok Siauw Hong mendengar teriakan Jen Thian Ngo yang sengit.

"Iblis Tua, aku akan adu jiwa denganmu!"

Bentak Jen Thian Ngo dengan gagah.

Ketika Kok Siauw Hong menoleh ke arah suara pamannya, dia lihat Jen Thian Ngo terhuyung, dia terkena pukulan yang dilancarkan oleh See-bun Souw Ya, tapi beruntung Jen Thian Ngo berhasil menusuk dengan pedangnya ke arah See-bun Souw Ya dan berhasil melukai bahu kanan si Iblis Tua See-bun Souw Ya.

"Oh sayang, tusukanku tidak mengenai tulang pipe si Iblis Tua!"

Kata Jen Thian Ngo sedikit kecewa.

"Jen Thian Ngo, aku ingin tahu berapa hebatnya kau mampu menangkis pukulan Hua-hiat-to ini!"

Kata See-bun Souw Ya sambil meringis kesakitan.

Kembali keduanya bertarung dengan hebat.

Tapi dari mulut Jen Thian Ngo kelihatan darah segar mengalir.

Menyaksikan hal itu tentu saja Kok Siauw Hong kaget bukan kepalang.

Buru-buru pemuda itu menerjang ke arah kedua jago tua yang sedang bertarung itu, tetapi gerakan Kok Siauw Hong agak terhambat oleh serbuan prajurit Mongol yang langsung menghadang pemuda ini.

Dengan gagah Kok Siauw Hong menerjang dan mengayunkan pedangnya ke berbagai penjuru, dia menyerang tentara Mongol dengan hebat.

Serangan Kok Siauw Hong ini hebat sekali, dia berhasil memporak-porandakan para pengepungnya dengan mudah sekali.

Tetapi tidak urung kepungan tentara Mongol itu tetap menyita waktu yang tidak sedikit.

Saat itu baik Jen Thian Ngo maupun See-bun Souw Ya sedang saling menyerang dengan hebat; serangan-serangan dari kedua ago tua ini sangat dasyat dan mengerikan.

Kelihatan See-bun Souw Ya melancarkan serangan maut, dan serangan itu berhasil mengenai dada Jen Thian Ngo.

Sebaliknya serangan Jen Thian Ngo pun berhasil melukai perut See-bun Souw Ya, hingga pakaian si Iblis Tua iu berlumuran darah.

Kok Siauw Hong melesat ke arah See-bun Souw Ya.

"Iblis Tuajangan buang lagak di sini!"

Bentak Kok Siauw Hong sengit bukan kepalang.

Kok Siauw Hong langsung melancarkan serangan dengan jurus Cit-siu-kiam-hoat.

Pedang Kok Siauw Hong menyerang ke arah tujuh jalan darah See-bun Souw Ya dengan ganas.

Menyaksikan serangan itu See-bun Souw Ya tertawa dingin.

"Bocah busuk! Sia-sia saja kau datang ke mari, kau hanya akan mengantarkan jiwamu saja!"

Kata See-bun Souw Ya.

"Kebetulan memang aku akan mengantarkan nyawa kalian berdua ke neraka!"

Melihat serangan Kok Siauw Hong hampir mengenai dirinya, See-bun Souw Ya berkelit sekaligus menyerang.

Tak lama tercium bau amis yang luar biasa.

Tentu saja serangan See-bun Souw Ya ini membuat mual Kok Siauw Hong, akibatnya nyaris pemuda ini muntah-muntah.

Buruburu Kok Siauw Hong menggunakan jurus Siauw-yang-sinkang, sesudah itu dia baru merasa lega.

Sekalipun dia mampu mengatasi pukulan si Iblis Tua namun Kok Siauw Hong tetap cemas.

Dia berpikir keras.

"Si Iblis Tua sudah dua kali terkena tusukan Paman Jen, tetapi heran sekali dia masih begitu hebat dan mampu melancarkan serangan mautnya. Kalau begitu hari ini aku harus adu jiwa dengannya!"

Pikir Kok Siauw Hong. Sesudah mengambil putusan akan adu jiwa, hati Kok Siauw Hong jadi tenang luar biasa. Di pihak lain See-bun Souw Ya tak kalah kagetnya.

"Ilmu Hua-hiat-to tidak bisa melukai bocah busuk ini. Jika aku ingin mengalahkan dia mungkin aku harus bertarung sampai lebih dari seratus jurus dan aku juga khawatir, apakah pihak Kay-pang akan mengirim balabantuan atau tidak? Jika mereka minta bantuan dan muncul lagi para pesilat tinggi, maka pekerjaanku hari ini sia-sia saja!"

Dua hari yang lalu See-bun Souw Ya telah mengadu kepandaian melawan Han Tay Hiong, tidak heran kalau hawa muminya belum pulih lagi.

Sebaliknya Kok Siauw Hong ahli ilmu Siauw-yang-sin-kang, dan ilmu itu khusus untuk menghadapi ilmu silat Siu-lo-im-sat-kang.

Jadi kehebatan ilmu itu akan berkurang jika berhadapan dengan ilmu Hua-hiat-to milik See-bun Souw Ya.

Untung saat itu kesehatan See-bun Souw Ya belum pulih benar, tidak heran jika Kok Siauw Hong mampu menghadapinya.

Jen Thian Ngo yang terkena serangan See-bun Souw Ya yang dasyat itu telah roboh, tapi sekarang dia sedang berusaha bangkit kembali dan berusaha mendekati keponakannya, sedangkan wajahnya basah oleh keringat.

"Paman Jen istirahat saja, biar aku sendiri yang menghadapi Iblis Tua ini!"

Kata Kok Siauw Hong dengan gagah.

"Siauw Hong, kau mundur saja! Kau anak satu-satunya dari keluarga Kok, jika terjadi sesuatu atas dirimu, mana mungkin aku bisa menemui ibumu? Paman sudah tua, matipun aku tidak akan penasaran! Biar aku yang mengadu jiwa dengan Iblis Tua ini!"

Kata Jen Tian Ngo.

Kemudian tanpa menghiraukan cegahan Kok Siauw Hong, orang she Jenm ini maju, dia gerakkan pedangnya menyerang See-bun Souw Ya.

See-bun Souw Ya tertawa terkekeh-kekeh ketika menyaksikan Jen Thian Ngo berusaha menyerangnya.

"Eh! Rupanya kalian berdua saling berebut ingin buruburu ke neraka, baiklah aku akan mengabulkan keinginan kalian berdua!"

Kata See-bun Souw Ya sambil tertawa.

See-bun Souw Ya langsung melancarkan dua pukulan ke arah Jen Thian Ngo.

Sadar kalau pamannya sedang terluka, Kok Siauw Hong maju untuk menyambut pukulan si Iblis Tua itu.

Sama sekali Kok Siauw Hong tidak sadar kalau pamannya itu sedang main sandiwara di depannya.

Sebenarnya Jen Thian Ngo tidak terluka parah, begitu pun See-bun Souw Ya.

Si Iblis Tua itu hanya terluka ringan pada bahu kanannya, sedangkan tusukan ke arah perut See-bun Souw Ya itu hanya tusukan tipuan.

Kiranya See-bun Souw Ya yang licik telah menaruh sepotong daging yang sengaja dibungkus dan masih berdarah.

Tentu saja ketika 802 tertusuk oleh Jen Thian Ngo bungkusan itu mengeluarkan darah!

Di tempat lain Kong-sun Po sedang bertarung matimatian melawan Chu Kiu Sek.

Kepandaian Chu Kiu Sek lebih tinggi setingkat dibanding dengan Kong-sun Po.

Berhubung hawa murni Chu Kiu Sek telah terkuras dua hari yang lalu, yaitu saat menghadapi Beng Cit Nio, Seng Cap-si Kouw dan Han Tay Hiong, jadi tenaganya belum pulih benar.

Hari itu dia tidak mengira akan berhadapan dengan Kong-sun Po yang masih muda dan gagah berani.

Tidak heran pertarungan kedua orang ini jadi seimbang.

Di tangan Kong-sun Po tergenggam payung pusakanya yang lihay.

Jika dalam keadaan terlipat payung itu bisa berfungsi sebagai pedang maupunpoan-koan-pit untuk menotok jalan darah lawan.

Sebaliknya jika payung itu mengembang, payung itu bisa digunakan untuk menangkis pukulan yang dilancarkan oleh lawan maupun senjata rahasia lawan.

Tidak heran lama-lama Chu Kiu Sek yang tak mampu melukai penmuda itu akhirnya kewalahan juga.

Dengan jurus Tay-mok-hu-eng (Uap Rase Gurun Pasir) Kong-sun Po menggunakan payungnya untuk menusuk tenggorokan Chu Kiu Sek.

"Hai bocah busuk, kau berani menghinaku?!"

Bentak Chu Kiu Sek.

Mendadak dia nmenggunakan jurus Tay-kin-na-ciu-hoat (Ilmu Cengkraman) dan berusaha untuk merebut payung yang ada di tangan Kong-sun Po, sedangkan tangan kiri Chu Kiu Sek digunakan pukulan dari jurus Siu-lo-im-satkang untuk menghantam lengan Kong-sun Po.

Ilmu pedang yang digunakan Kong-sun Po jurusjurusnya sangat aneh.

Sekalipun telah berusaha sekuat 803 tenaga ternyata Chu Kiu Sek tidak berhasil merebut payung yang ada di tangan Kong-sun Po, tetapi pukulan Siu-lo-imsat-kangnya yang ada di tangan kiri Chu Kiu Sek hanya mengenai payung pemuda itu.

Tiba-tiba terdengar suara nyarung.

"Buum!"

Chu Kiu Sek kaget dia merasakan tulang lengannya seperti patah, sakitnya bukan kepalang. Tiba-tiba Chu Kiu Sek ingat kalau payung yang ada di tangan Kong-sun Po itu terbuat dari baja murni.

"Bocah keparat! Walau pun kau menggunakan payung itu kau kira aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadapmu? Hari ini aku bersumpah, jika aku tidak bisa membunuhmu, aku tidak akan menemui orang lagi!"

Kata Chu Kiu Sek bersumpah.

Chu Kiu Sek yang gusar lupa menghemat tenaga, dia terus menyerang dan menyerang.

Dia kerahkan jurus Siu-lo-im-satkang sampai tingkat delapan.

Melihat musuh menggunakan ilmu andalannya Kong-sun Po buru-buru membentangkan payungnya untuk menangkis serangan lawan.

Tetapi selain menangkis pemuda ini pun balas menyerang lawan.

Angin serangan keduanya terdengar menderu-deru.

Sekalipun payung baja itu mampu menangkis serangan si Iblis Tua, tetapi Kong-sun Po tetap menggigil kedinginan karena serangan pukulan lawan.

"Iblis Tua kau memang bukan manusia!"

Bentak Kongsun Po.

"Baiklah, kau boleh keluarkan seluruh kepandaianmu, aku ingin tahu apa yang bisa kau perbuat terhadapku?"

Serangan Chu Kiu Sek telah dilancarkan secara bertubitubi, namun Kong-sun Po belum mampu dia robohkan.

Sebaliknya Kong-sun Po tampak tegar dan bersikap biasa-804 biasa saja.

Tak lama kelihatan pemuda itu maju sambil membentak nyaring.

"Jika kau bisa melancarkan pukulan beracun, apa kau kira aku tidak bisa?"

Bentak Kong-sun Po dengan sengit.

"Sekarang terimalah pukulan beracunku!"

Kong-sun Po menurunkan payung besinya, lalu dia membentangkan telapak tangan kanannya yang tampak memerah, dia langsung melancarkan pukulan yang dasyat dengan mengeluarkan bau amis.

Melihat pukulan Kong-sun Po itu, Chu Kiu Sek kaget bukan kepalang, kiranya Kong-sun Po menggunakan jurus Hua-hiatto, yang jelas dikenal Chu Kiu Sek dengan baik.

Saat melihat telapak tangan Kong-sun Po terlihat merah darah, dia bertambah kaget sebab ilmu Hua-hiat-to yang dimiliki Kongsun Po lebih tinggi dari ilmu Hua-hiat-to milik See-bun Souw Ya.

Jelas ini membuat Chu Kiu Sek terkejut dan gentar sekali.

Payung besi di tangan kiri Kong-sun Po bergerak menghalangi supaya Chu Kiu Sek tidak bisa menghindar dari serangan pukulan dasyatnya, Kong-sun Po yang mengarah ke tubuh Chu Kiu Sek bisa dikatakan dia hampir tak ada jalan untuk mengelak.

Tampak Chu Kiu Sek gugup dan panik sekali.

Dengan tidak menghiraukan rasa malu lagi, Chu Kiu Sek merunduk hampir menyentuh tanah, kemudian menerobos kabur meninggalkan Kong-sun Po lewat di bawah payung besi.

Gerakannya cukup gesit jika tidak tubuhnya akan terhajar oleh payung besi itu.

Sekalipun dia lolos dari pukulan dasyat Kong-sun Po dan bisa meloloskan diri, tapi tak urung punggungnya tetap tergores oleh ujung payung.

Dengan demikian darah segar mengalir dari tubuhnya yang 805 terluka.

Walau sakit dia tidak berani menjerit atau mengeluarkan suara.

Chu Kiu Sek tidak mengira kalau Kong-sun Po bisa ilmu Hua-hiat-to bahkan lebih lihay dari See-bun Souw Ya, rupanya Chu Kiu Sek lupa, bahwa lwee-kangnya lebih tinggi dari See-bun Souw Ya.

Maka itu jika tadi dia berani mengadu pukulan dengan Kong-sun Po, sekalipun tenaganya belum pulih dia tidak akan terluka seperti itu.

Menyaksikan Kong-sun Po berhasil mengalahkan Chu Kiu Sek, Kiong Mi Yun dan Ci Giok Phang sangat girang.

Semangat kedua muda-mudi ini segera bangkit.

Mereka langsung menyerang tentara Mongol dengan hebat hingga banyak tentara Mongol yang terluka atau binasa di tangan mereka.

Di pihak lain See-bun Souw Ya yang mengetahui Chu Kiu Sek telah terjungkal di tangan Kong-sun Po tentu saja dia kaget bukan kepalang, dengan keras See-bun Souw Ya membentak.

"Bagus, tua bangka Jen Thian Ngo, aku akan mencabut nyawa tuamu. Sesudah itu baru aku bereskan bocah busuk itu!"

Kata See-bun Souw Ya sengit.

"Hm! Ternyata sudah waktunya aku mengakhiri sandiwara ini,"

Pikir Jen Thian Ngo.

Dengan sikap nekat Jen Thian Ngo maju seolah dia sudah tidak sayang pada jiwanya sendiri.

Saat See-bun Souw Ya menyerangnya dia tidak berkelit atau menghindar, dia malah maju menerjang dengan pedangnya ke arah See-bun Souw Ya.

"Iblis Tua, aku akan mengadu jiwa denganmu!"

Kata Jen Thian Ngo. Tetapi tak lama kemudian terdengar suara jeritan Jen Thian Ngo.

"Aduh! Aduh!"

Jen Thian Ngo terpukul oleh pukulan See-bun Souw Ya, dan pedang di tangannya pun terpental ke udara, dari mulut Jen Thian Ngo menyembur darah segar.

Melihat Jen Thian Ngo terpukul dan terluka parah, Kok Siauw Hong yang tidak jauh dari situ, buru-buru memburu dan memeluk tubuh pamannya.

Saat Kok Siauw Hong memeluk Jen Thian Ngo, kesempatan ini digunakan oleh si Iblis Tua untuk menyerang Kok Siauw Hong.

Karena tangan kanannya sedang memeluk pamannya, Kok Siauw Hong terpaksa bertarung melawan See-bun Souw Ya dengan hanya menggunakan tangan yang satunya.

Sudah tentu pertarungan ini jadi tidak seimbang, dan Kok Siauw Hong mulai kewalahan.

Melihat Kok Siauw Hong dalam bahaya, Kiong Mi Yun dan Ci Giok Phang segera melompat ke arah Kok Siauw Hong untuk membantunya.

Di tempat lain Kong-sun Po terus menghadang Chu Kiu Sek, dengan demikian Chu Kiu Sek tidak bisa membantu See-bun Souw Ya.

Tiba-tiba Kok Siauw Hong menjerit, bahu kirinya terhajar oleh pukulan See-bun Souw Ya, lukanya pun cukup parah.

Tapi untung Kok Siauw Hong masih sempat menusuk dengan pedangnya ke arah See-bun Souw Ya.

See-bun Souw Ya sedikit pun tidak mengira kalau Kok Siauw Hong dalam keadaan terluka parah, masih bisa melancarkan serangan yang berbahaya, dan dia berani mengadu jiwa dengannya.

Tentu saja See-bun Souw Ya tidak siap, saaat pedang Kok Siauw Hong menusuknya, tapi sayang pedang itu tidak tepat mengenai sasaran ke tubuh See-bun Souw Ya.

Dengan demikian See-bun Souw Ya 807 hanya terluka ringan, tetapi ini pun cukup membuat dia terhuyung ke belakang karena terkejut.

Saat Ci Giok Phang dan Kiong Mi Yun sampai, Kiong Mi Yun langsung menyerang See-bun Souw Ya dengan jurus Cit-satciang.

See-bun Souw Ya mengenali jurus itu berasal dari Hekhong-to.

"Beberapa bocah ini punya asal-usul yang luar biasa. Aku tidak boleh tidak waspada!"

Pikir See-bun Souw Ya.

Tenaga See-bun Souw Ya yang dua hari lalu bertarung melawan Han Tay Hiong cs, tentu saja keadaannya belum pulih, dan diajadi agak keder, ditambah lagi dia belum tahu berapa tinggi kepandaian anak-anak muda itu?

Demikian pula dengan kepandaian Kiong Mi Yun, ditambah lagi ilmu pedang Ci Giok Phang pun hebat.

Itu sebabnya See-bun Souw Ya tidak berani maju, dia hanya menangkis setiap serangan.

Sedangkan tujuan Kiong Mi Yun dan Ci Giok Phang hanya ingin menolongi Kok Siauw Hong, dan tidak bermaksud untuk bertarung dengan See-bun Souw Ya.

Kebetulan See-bun Souw Ya pun tidak maju menyerang tapi hanya menangkis saja serangan mereka.

Itu justru yang diinginkan Kiong Mi Yun maupun Ci Giok Phang.

Segera Ci Giok Phang memapah Kok Siauw Hong yang terluka bahunya.

Ci Giok Phang kaget menyaksikan wajah Kok Siauw Hong yang kelihatan pucat-pasi.

"Saudara Kok, bagaimana keadaanmu?"

Kata Ci Giok Phang. Racun Hua-hiat-to sangat lihay. Dada Kok Siauw Hong terasa panas seperti terbakar. Tak lama sekujur tubuhnya terasa ngilu. Untung dia masih sadar.

"Seorang pria harus gagah, bagaimana aku akan membiarkan nama baik Pamanku terhina orang!"

Pikir Kok Siauw Hong.

Di luar dugaan Kok Siauw Hong, pamannya yang terkenal patriot itu ternyata telah bersekongkol dengan musuh, dan itu yang menyebabkan sekarang Kok Siauw Hong terluka parah.

Sambil mengeluh kesakitan Kok Siauw Hong berkata perlahan.

"Aku tidak apa-apa, cepat kau selamatkan Pamanku!"

Kata Kok Siauw Hong. Sesudah bergulingan beberapa kali Jen Thian Ngo berusaha untuk bangun.

"Jangan pedulikan aku,"

Kata Jen Thian Ngo.

"aku sudah siap untuk mati di tempat ini! Aku akan mengadu jiwa dengan si Iblis Tua itu!"

Dia berjalan hendak menghadapi See-bun Souw Ya, tetapi baru dua langkah mulutnya sudah memuntahkan darah sgar.

Seperti juga Kok Siauw Hong yang tak menyadari kecurangan Jen Thian Ngo, Ci Giok Phang pun begitu, dia hanya mengetahui bahwa Jen Thian Ngo lukanya lebih parah dari Kok Siauw Hong.

"Dia pimpinan rombongan pengantar harta ini, bagaimana aku bisa tinggal diam?"

Pikir Ci Giok Phang.

Sekalipun Ci Giok Phang merasa khawatir pada keadaan Kok Siauw Hong, namun terpaksa dia melepaskan Kok Siauw Hong untuk menolong Jen Thian Ngo.

Ci Giok Phang mendekati Jen Thian Ngo dan memapahnya.

Tapi tiba-tiba Jen Thian Ngo membentak.

"Ingat, harta untuk para pejuang itu jangan sampai jatuh ke tangan musuh!"

Kata Jen Thian Ngo memperingatkan.

"Baik, pasti akan kami pertahankan,"

Kata Ci Giok Phang. Siauw Hong berseru pada pamannya.

"Paman, kau akan dipapah oleh Giok Phang menerjang keluar!"

Kata Siauw Hong. Tiba-tiba Jen Thian Ngo muntah darah, dia berpura-pura gusar.

"Apa? Kau bilang apa? Aku tidak akan membiarkan kalian berbuat begitu!"

Kata Jen Thian Ngo.

Diam-diam Jen Thian Ngo mengerahkan lwee-kangnya agar bisa memuntahkan darah, dengan demikian kepura-puraannya tidak diketahui orang.

Tak lama kelihatan Jen Thian Ngo lesu tidak bersemangat, dan pura-pura pingsan.

Dia bersandar ke bahu Ci Giok Phang.

Di tempat lain Chu Kiu Sek yang telah dikalahkan oleh Kong-sun Po tidak berani maju, dia bergabung dengan See-bun Souw Ya.

Chu Kiu Sek memang pernah bertarung dengan beberapa anak muda itu, maka itu dia tahu Kiong Mi Yun yang berkepandaian paling rendah dari para mudamudi itu.

"Saudara See-bun, gadis itu bisa kuhadapi!"

Kata Chu Kiu Sek yang licik memilih lawan yang rendah ilmu silatnya..

"Silakan kau bereskan yang lain!"

Kong-sun Po mengejar Chu Kiu Sek, tapi dihadang oleh See-bun Souw Ya.

Sekarang dia berhadapan dengan See-bun Souw Ya yang sudah tahu siapa Kong-sun Po ini, yaitu putera Kong-sun Khie.

See-bun Souw Ya sadar saat itu 810 hanya Kong-sun Po yang mampu menandingi dia.

Sambil mengertakan gigi dia berpikir.

"Jika aku tidak segera membinasakan bocah ini, maka kelak tidak akan ada hari yang tenang bagiku!"

Pikir See-bun Souw Ya.

"Bocah keparat!"

Bentak See-bun Souw Ya.

"Jalan ke surga tidak kau tempuh, tetapi jalan ke neraka yang tidak berpintu kau datangi! Apa kau ingin mampus?"

See-bun Souw Ya langsung menyerang dia menggunakan dua macam jurus beracun.

Tangan kanannya menggunakan Hua-hiat-to, sedang tangan kirinya menggunakan jurus Hukut-ciang.

Tak lama tercium bau amis.

Sejak dia belajar ilmu racun baru kali ini See-bun Souw Ya menggunakannya bersama-sama.

Kong-sun Po pun telah berlatih jurus Hua-hiat-to bahkan mencapai tingkat delapan, tetapi dia belum menguasai Hu-kutciang, dengan demikian dia tidak berani menggunakan ilmu itu untuk menangkis serangan See-bun Souw Ya.

Dengan cepat dia menggerakkan payung bajanya, lalu dengan jurus Hian-ciau-hua-sah (Burung Mengaduk Pasir), jurus ini dia pelajari dari Liu Goan Cong, jurus ilmu pedang khusus untuk menyerang jalan darah lawan.

Melihat serangan itu See-bun Souw Ya terperanjat.

"Eh, ilmu silat bocah ini ternyata campur-aduk sekali?!"

Pikir See-bun Souw Ya.

Tetapi See-bun Souw Ya sudah berpengalaman, begitu menyaksikan jurus tersebut dia langsung waspada, dan dia tidak berani meemehkan kepandaian Kong-sun Po, malah dia bertarung dari jatrak jauh dan tidak berani mendekat, dia hanya menyerang dari jarak jauh saja.

Kebetulan tenaga dalam See-bun Souw Ya belum pulih, sedang Kong-sun Po pun baru berhadaan dengan Chu Kiu Sek, tentu saj a pertarungan yang mati-matian itu cukup menguras tenaga Kong-sun Po.

Untung Kong-sun Po memegang payung baja sehingga dia bisa bertarung seimbang melawan See-bun Souw Ya.

Di tempat lain Kiong Mi Yun bertarung melawan Chu Kiu Sek.

Jelas Kiong Mi Yun merupakan lawan empuk bagi Chu Kiu Sek.

Sekalipun Chu Kiu Sek telah terluka, namun jurus Siu-loim-sat-kang yang dilancarkannya masih cukup hebat, dan mengeluarkan hawa dingin yang luar biasa.

Melihat Kiong Mi Yun terdesak Ci Giok Phang yang sedang memapah Jen Thian Ngo ikut membantu, tetapi tentu tidak bisa maksimal karena Ci Giok Phang harus menjaga Jen Thian Ngo agar dia tidak terserang oleh lawan.

Tentu saja mereka masih tetap kewalahan.

Sekarang tentara Mongol sudah mengurung anggota Kay-pang yang bertarung mati-matian.

Karena anggota Kay-pang lebih sedikit dibanding tentara Mongol, tidak heran kalau mereka akhirnya terdesak juga.

Lama-lama anggota Kay-pang makin berkurang karena ada yang terluka maupun binasa, sebaliknya tentara Mongol masih berjumlah besar.

Untuk menahan racun yang ada di tubuhnya Kok Siauw Hong mengerahkan Siauw-yang-sin-kang, dia maju dan bertarung melawan tentara Mongol.

Tetapi sesudah Kok Siauw Hong berhasil membunuh beberapa orang tentara Mongol, tubuhnya terkena senjata lawan hingga lukanya bertambah dengan beberapa luka baru.

Ini tentu saja ikut menghalangi kelincahannya.

Saat itu kereta-kereta yang mengangkut harta telah jatuh ke tangan tentara Mongol.

Dengan menahan sakit Kok Siauw Hong berseru.

"Jangan hiraukan harta itu, yang penting selamatkan Pamanku!"

Teriak Kok Siauw Hong.

"Cepat, bawa Pamanku ke markas cabang Kay-pang dan laporkan kejadian di tempat ini!"

Kong-sun Po menyaksikan anggota Kay-pang sudah tidak berdaya untuk melawan musuh, dia melompat ke arah Kiong Mi Yun, sekaligus melancarkan pukulan ke arah Chu Kiu Sek, dengan demikian Chu Kiu Sek terpaksa harus mundur.

Saat See-bun Souw Ya memburu ke arah Kong-sun Po, pukulan See-bun Souw Ya tertangkis oleh payung baja Kong-sun Po.

Ci Giok Phang yang mencemaskan keadaan Kok Siauw Hong, langsung berseru pada Kong-sun Po.

"Kong-sun Toa-ko, kau jaga saudara Kok!"

Kata Giok Phang.

Kong-sun Po berhenti bertarung.

Saat dia akan mendekati Kok Siauw Hong, mendadak Kok Siauw Hong bersiul panjang.

Tak lama terlihat seekor kuda menerjang ke arahnya.

Begitu kuda itu sampai di hadapannya, Kok Siauw Hong langsung melompat ke punggung kuda itu dan menerjang keluar kepungan tentara Mongol.

-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 29 Hati Kok Siauw Hong telah bulat hendak menerjang musuh, karena sadar telah terluka parah.

Sikapnya itu .karena dia tidak ingin merepotkan kawan-kawannya.

Jika 813 dia tidak menerjang musuh, pasti Ci Giok Phang dan Kongsun Po akan berusaha melindunginya, dan itu berbahaya sekali karena akan memecah perhatian mereka.

"Musuh sangat kuat, sedangkan aku dalam keadaan lemah. Belum lagi mereka harus melindungi Pamanku yang terluka parah. Aku tidak yakin mereka berhasil menerjang keluar! Bagaimana aku harus merepotkan mereka untuk melindungiku?"

Pikir Kok Siauw Hong.

Kok Siauw Hiong mengira luka Jen Thian Ngo lebih parah dari lukanya, itu sebabnya dia mengambil keputusan untuk mengorbankan diri, asalkan pamannya bisa diselamatkan.

Siauw-pek-liong kuda yang ditunggangi Kok Siauw Hong seekor kuda istimewa dan sudah terlatih.

Begitu mendengar siulan majikannya, kuda itu langsung menerjang mendekati majikannya.

Kok Siauw Hong yang terluka parah tidak mampu melompat ke atas punggung kuda itu.

Tubuhnya melorot ke bawah.

Tetapi kuda itu sangat cerdik, dia membungkukkan tubuhnya, dengan demikian Kok Siauw Hong berhasil naik ke atas punggung kuda istimewa itu.

Pada saat itu beberapa tentara Mongol berusaha menghalangi gerakan kuda itu, bahkan di antaranya ada yang ingin merebut kuda istimewa itu.

Melihat hal itu Kong-sun Po terkejut, segera dia melompat menyerang tentara Mongol tersebut.

Melihat Kong-sun Po hendak menolong Kok Siauw Hong, See-bun Souw Ya tidak tinggal diam, dia bergerak menyusul Kong-sun Po dan menyerangnya.

Mendadak kuda yang ditunggangi Kok Siauw Hong meringkik, dia mengelak menghindari beberapa tusukan tombak tentara Mongol, langsung menerjang keluar kepungan.

Tak lama beberapa tentara berkuda Mongol mencoba mengejar Kok Siauw Hong.

Sekalipun kuda itu terlatih, tapi Kok Siauw Hong terluka parah, dan harus memegang kendali kuda erat-erat, sehingga kuda itu tidak bisa dilarikan dengan cepat.

Selang sesaat beberapa pengejar itu sudah hampir dapat mengejar Kok Siauw Hong.

Ternyata benar saja Kok Siauw Hong akhirnya terkejar juga "Siapa yang mendekat akan binasa!"

Teriak Kok Siauw Hong dari atas kudanya.

Dua tentara Mongol mencoba menusuk dengan tombak mereka, tetapi dua tombak itu tertangkap oleh Kok Siauw Hong, sesudah itu Kok Siauw Hong menariknya dengan dihentakkan, kedua tentara Mongol itu tertarik, dan seketika itu terdengar suara jeritan.

Seorang tentara Mongol terkena pukulan Kok Siauw Hong, dia terjungkal dari atas kudanya Seorang perwira Mongol bernama Taluwa maju menyerang Kok Siauw Hong dengan pedangnya Dia mahir memanah dan ilmu silatnya cukup tinggi.

Dia juga pernah ikut Jenghis Khan menyerang ke beberapa negara tetanggabangsa Mongol.

Atas keberanian dan kegagahannya itu dia diangkat sebagai pengawal kelas satu.

Kali ini dialah pemimpin pasukan yang menghadang rombongan pembawa harta itu.

"Hm! Kau harus mengenal kehebatan anak panahku!"

Kata Taluwa sambil tertawa.

Dia membentangkan tali busurnya, tak lama tampak tiga halang anak panah menyambar cepat sekali ke arah Kok Siauw Hong.

Sebatang anak panah itu berhasil dihindarkan oleh Kok Siauw Hong, dengan pedangnya anak panah yang kedua pun dia rontokkan.

Namun, karena tenaga Kok Siauw Hong sudah banyak terkuras, dia gagal menangkis 815 anak panah yang ke tiga, hingga anak panah itu menghajar kudanya.

Kuda itu kesakitan dia meringkik keras lalu melompat.

Kemudian kuda itu berlari kencang bagaikan kilat, hal ini membuat tubuh Kok Siauw Hong terpental ke atas kemudian jatuh melayang ke dalam lembah.

Saat itu Kong-sun Po dan Ci Giok Phang sedang bertarung mati-matian melawan tentara Mongol.

Tapi mereka selalu memperhatikan Kok Siauw Hong yang mereka lihat dipanah oleh Taluwa, dan terpental jatuh ke dalam jurang.

Mereka bertarung semakin sengit, dan berhasil merampas kuda tentara Mongol.

Tapi untuk memburu ke arah Kok Siauw Hong mereka tak mampu keluar dari kepungan tentara Mongol.

Sementara itujumlah anggota Kay-pang semakin berkurang saja, karena banyak yang binasa maupun terluka.

"Asalkan ada gunung masih hijau, jangan takut kekurangan kayu bakar!"

Teriak salah seorang anggota Kaypang.

"Di antara kita harus ada yang meloloskan diri untuk melaporkan kejadian yang terjadi di sini!"

Terdengar Jen Thian Ngo mengeluh memilukan, kini dia berada dalam pengawalan Ci Giok Phang.

Tak lama Jen Thian Ngo bersandar ke bahu anak muda itu.

Mendengar keluhan Jen Thian Ngo tentu saja Ci Giok Phang terkejut.

"Ada apa Jen Lo-cian-pwee?"

Kata Giok Phang.

Jen Thian Ngo berpura-pura lukanya semakin parah, dia membuat napasnya memburu dan samar-samar menjawab hingga Ci Giok Phang tidak bisa mendengar jelas katakatanya.

Ci Giok Phang khawatir Jen Thian Ngo terpanah oleh musuh.

Tetapi sesudah ada anggota Kaypang yang memberitahu bahwa Jen Thian Ngo tidak terpanah, hati Ci Giok Phang jadi lega.

Ketika Kok Siauw Hong terpanah dan jatuh ke dalam lembah, Ci Giok Phang ingin menolongnya, tetapi karena mendengar keluhan Jen Thian Ngo tadi, dia membatalkan niatnya itu.

Dia berpikir.

"Aku wakil Jen Lo-cian-pwee, kamilah yang memimpin para anggota Kay-pang mengawal harta. Sekarang Jen Thian Nngo terluka parah, maka akulah yang harus memikul tanggung jawab ini!"

Pikir Ci Giok Phang.

Ketika dia mendengar teriakan anggota pengemis yang mengatakan "jika masih ada gunung yang hijau, jangan takut kekurangan kayu", Ci Giok Phang berpendapat katakata itu benar.

Dia berpikir harus ada yang bisa kembali ke markas cabang Kay-pang untuk melaporkan kejadian di tempat itu.

Selain itu Ci Giok Phang pun masih harus melindungi para anggota Kay-pang yang belum terluka, serta berusaha agar mereka bisa meloloskan diri dari kepungan musuh.

Sedang tugas lainnya, dia menerima pesan Kok Siauw Hong harus melindungi Jen Thian Ngo, apapun yang terjadi.

"Kok Siauw Hong terjatuh ke dalam lembah,"

Pikir Ci Giok Phang.

"kemungkinan masih hidup pun kecil. Jika aku ke sana dan menemukan mayatnya, tetap tidak ada gunanya! Benar dia calon suami adikku, tetapi mana boleh demi dia seorang aku mengabaikan nyawa orang banyak?"

Tadi Kok Siauw Hong melarikan kudanya dengan mengambil jalan yang menuju ke markas para pejuang.

Tetapi karena jalan itu sudah dijaga ketat oleh tentara Mongol, akhirnya Kok Siauw Hong menemui ajalnya di lembah yang dalam itu.

Sekarang, jika Ci Giok Phang ingin menyelamatkan anggota Kay-pang yang masih hidup, salah seorang harus bisa lolos untuk memberi laporan, dengan mengambil jalan lain yang berlawanan dengan jalan yang ditempuh oleh Kok Siauw Hong.

Sesudah berpikir sejenak 817 sambil menangkis setiap serangan tentara Mongol, Ci Giok Phang berseru.

"Kita harus menerjang keluar dari kepungan musuh!"

Teriak Ci Giok Phang.

Mendengar seruan itu Kong-sun Po langsung maju ke depan, dia membuka payung besinya untuk menjaga serangan anak panah dari tentara Mongol.

Sesudah itu disusul oleh Ci Giok Phang, Kiong Mi Yun dan sisa anggota Kay-pang ikut maju menyerang.

Di pihak musuh tentara Mongol sudah berhasil merampas kereta harta.

Dengan demikian tujuan utama mereka telah berhasil.

Maka itu sekarang mereka tidak berniat bertarung mati-matian seperti tadi.

Namun, See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek ingin sekali membunuh Kongsun Po dan Ci Giok Phang.

Tapi sayang karena mereka telah terluka parah, saat Kong-sun Po dan kawan-kawannya menerjang keluar kepungan, mereka tidak berani menghalanginya Demikian pula tentara Mongol, mereka pun tidak merintanginya.

Tidak heran kalau Kong-sun Po dan kawan-kawannya mampu menerobos keluar dari kepungan tentara Mongol.

Sesudah itu mereka berlari kencang beberapa lamanya tidak ada yang mengejar mereka menghentikan lari mereka.

Jen Thian Ngo yang dipondong oleh Ci Giok Phang diletakan di suatu tempat.

Jen Thian Ngo sangat pandai berpura-pura, saat itu dia kelihatan seperti orang yang terluka parah, sehingga baik Kong-sun Po maupun Ci Giok Phang jadi merasa kasihan.

Mereka tidak mengira kalau itu hanya tipuan belaka.

Ci Giok Phang segera memberi sebuah pil pada Jen Thian Ngo, sedang Kong-sun Po membantu menyembuhkannya dengan tenaga dalamnya.

Selang sesaat 818 Jen Thian Ngo purapura siuman.

Dia memuntahkan darah segar dan kental.

Kemudian duduk, tidak lama dia berkata menyalahkan Ci Giok Phang dan Kong-sun Po.

'Sudah kubilang kalian jangan mempedulikan aku, mengapa kalian tidak menurut?

Di mana Kok Siauw Hong?

Di mana dia?

Aakh, demi aku dia...

Jika terjadi sesuatu atas dirinya, bagaimana aku masih punya muka menemu ibunya?"

Keluh Jen Thian Ngo. Mendengar makian itu Ci Giok Phang jadi pilu.

"Oh, bagaimana jika Jen Lo-cian-pwee tahu Kok Siauw Hong telah binasa?"

Pikir Ci Giok Phang. Terpaksa Ci Giok Phang membohongi Jen Thian Ngo.

"Legakan hatimu, Lo Cian-pwee, Saudara Kok lolos dari kepungan musuh..."

Kata Ci Giok Phang. Kelihatan Jen Thian Ngo tidak percaya.

"Kalau dia berhasil keluar dari kepungan musuh, kenapa dia tidak bersama-sama dengan kalian?"

Kata Jen Thian Ngo.

"Dia berpisah dengan kami karena akan pergi ke markas para pejuang,"

Kata Ci Giok Phang membohongi Jen Thian Ngo.

"sedangkan kami membawa Lo-cian-pwee ke markas cabang Kay-pang di Lok-yang. Kami akan melapor pada ketua Kay-pang mengenai apa yang telah terjadi atas harta yang kita kawal itu. Mudah-mudahan saja Kok Siauw Hong sampai ke markas para pejuang dan berhasil membawa bala-bantuan ke mari. Dia menunggang kuda istimewa aku yakin tentara Mongol tidak akan mampu mengejar dia!"

Jen Thian Ngo menarik napas lega sambil menggelengkan kepalanya dan berkata.

"Tetapi hati ku tetap tidak tenang,"

Kata Jen Thian Ngo.

"Dia hanya seorang diri menerjang keluar dari kepungan musuh, entah dia selamat atau tidak, masih teka-teki! Kecuali kalian menemukan dia dan membawanya menemuiku, baru hatiku bisa tenang!"

"Pasti dia akan kami cari, tetapi sekarang kau dalam keadaan terluka parah. Setelah Lo Cian-pwee sembuh, baru kami akan cari dia!"

Kata Ci Giok Phang.

"Aah, gara-gara aku yang bodoh,"

Keluh Jen Thian Ngo.

"aku malah jadi menyusahkan Kok Siauw Hong, juga merepotkan kalian! Cepat kau ke markas Kay-pang, kalian jangan repot-repot mengurus aku!"

"Tidak bisa Lo-cian-pwee,"

Kata Giok Phang.

Saat Jen Thian Ngo akan menunjukkan wajah pura-pura kecewa tiba-tiba terdengar derap kaki kuda yang ramai.

Buruburu Ci Giok Phang memapah Jen Thian Ngo untuk bersembunyi, begitu juga Kong-sun Po dan yang lainnya.

Tetapi setelah tentara Mongol itu lewat menuju ke selatan, baru mereka menarik napas lega.

Ci Giok Phang mengira tentara Mongol itu sedang mengejar mereka.

Tiba-tiba Kong-sun Po berseru.

"Celaka!"

"Apa yang celaka?"

Tanya Kiong Mi Yun.

"Pasukan Mongol itu menuju ke Selatan, mungkin kota Lokyang sudah jatuh ke tangan mereka?"

Kata Kong-sun Po. Saat mereka meninggalkan Lok-yang justru kota itu dalam bahaya. Sekarang sudah lewat seminggu, jika Lokyang jatuh ke tangan musuh memang tidak mengherankan.

"Baru saja jalur jalan ini dilewati angkatan perang besar Mongol, mungkin masih ada pasukan Mongol yang akan lewat di sini! Jika kita mengambil jalan ini kita akan 820 bertemu dengan musuh, dan pasti kita akan menghadapi badai besar. Lebih baik, biar aku dulu yang pergi menyelidiki situasinya!"

Kata C i Giok Phang.

"Baik, kau pergilah. Biar aku yang menjaga Jen Lo Cianpwee, legakan hatimu!"

Kata Kong-sun Po.

Karena mereka harus menjaga Jen Thian Ngo terpaksa malam itu Kong-sun Po dan Kiong Mi Yun bermalam di hutan.

Malam itu Kong-sun Po tetap mengobati Jen Thian Ngo dengan lwee-kangnya.

Ini tentu membuat Jen Thian Ngo girang, karena tenaga dalam Kong-sun Po sangat bermanfaat baginya.

Keesokan harinya...

Baca Juga: Pedang Pusaka Dewi Khayangan 3

Baca Juga: Pendekar Bayangan Setan 10

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger